Kelana Buana 3

Eps 3 Kelana Buana - Liang Ie Shen

Baca online Kelana Buana - Liang Ie Shen

Cersil Kelana Buana - Liang Ie Shen.

"Kenapa kau marah begitu besar?"

Memiringkan tubuh ia berkelit ke samping, sementara kedua lengannya terkembang laksana seekor burung bangau pentang sayap, tahu-tahu sebuah telapak tangannya meluncur tiba mengarah ke bawah dagu lawan, sementara telapak tangan yang lain membacok ke tulang pundaknya.

Tulang pundak adalah salah satu tempat terlemah di tubuh manusia, kalau sampai kena dipukul remuk, betapapun tinggi kepandaianmu, selanjutnya bakal menjadi cacat dan punahlah ilmu silatnya.

Apalagi pukulan Toan Siu-si ini dilandasi oleh kekuatan racun, mana Song Theng-siau mandah dirinya dijadikan sasaran empuk?

Mencelos hati Song Theng-siau, pikirnya.

"Waktu ayah masih hidup, sering memberi petunjuk, setiap kali menghadapi musuh jangan gugup dan gelisah, kenapa aku melupakan wejangan beliau."

Seiring dengan jalan pikirannya, secepat kilat menyambar, tiba-tiba ia lancarkan gaya Uikau-jong-thian (burung jalak melambung ke udara), kontan tubuhnya melejit tinggi.

"wut"

Pukulan telapak tangan Toan Siu-si menyambar lewat dari bawah kakinya.

Untung Song Theng-siau bisa melejit begitu cepat, terlambat sedetik lagi, seandainya tulang pundak tidak terpukul hancur, paling tidak kedua kakinya tidak bisa diselamatkan, pasti akan remuk redam.

Terdengar Toan Siu-si berseru memuji.

"Gerakan bagus!"

Song Theng-siau memang bukan lawan lemah, belum lagi badannya hinggap di tanah, tahu-tahu pedang panjangnya sudah menukik turun menusuk ke bawah, cepat Toan Siu-si menggunakan gaya menekuk pinggang menancapkan dahan Liu, badannya merebah ke sebelah belakang, maka tampak sinar kemi-lauan menyilaukan mata, beruntung sekali tusukan Song Theng-siau hanya menyelonong lewat di depan mukanya terpaut serambut saja.

Untung gaya permainannya cukup lincah dan gesit lagi, kalau tidak tentu mukanya sudah berlubang, entah bagaimana akibatnya.

Terdengar Toan Siu-si memuji sekali lagi.

"Bagus!"

Dua telapak tangan bergerak bersama melancarkan Im-yang-siang-jong-ciang, sekaligus kedua telapak tangan bersama menabok ke jalan darah Thay-yang-hiat di pelipis kepala Song Theng-siau.

Berdiri tegak alis Song Theng-siau, tiba-tiba ia merendahkan tubuh, sekaligus ia balas menyerang dengan tipu Heng-sau-jian-kun (menyapu ribuan tentara), pedangnya beruntun dipelintir membacok tiga kali ke bagian bawah Toan Siu-si.

Tangkas sekali Toan Siu-si menggeliatkan badan membalik ke sebelah kanan, sementara telapak tangan mengiris ke jalan darah Hiat-hay-hiat di lambung bawah Song Theng-siau, dengan cara menyerang untuk membela diri, sekaligus ia punahkan rangsangan pedang Song Theng-siau yang liehay.

Begitulah mereka bertempur sengit, pukulan melawan pedang serang menyerang dengan hebatnya, yang terlihat hanya sambaran pedang dan bayangan kepalan tangan, masing-masing membekal kepandaian yang sama liehay dan bagusjiya.

Pakaian Song Theng-siau melambailambai, permainan pedangnya pun teramat lincah seperti menari layaknya.

Diam-diam Toan Siu-si harus berpikir.

"Tak heran nama bocah she Song ini waktu di Siau-kimjwan sejajar dengan Beng Goan-cau. Meski ilmu pedang tidak seganas dan semantap permainan ilmu golok Beng Goan-cau yang berat dan kuat, tapi cara perubahannya yang aneh sulit diraba juga, dalam hal ini agaknya ilmu golok Beng Goan-cau tidak kuasa menandinginya juga. Sementara Song Theng-siau sendiri juga mengeluh dalam hati, pikirnya.

"Meski aku menggunakan pedang pusaka namun aku tidak kuasa mengalahkan sepasang telapak tangan kosongnya!"

Pertempuran kira-kira berjalan sesulutan dupa wangi, menurut perhitungan Toan Siu-si bagaimana juga Song Theng-siau tidak akan mampu mengejar suhengnya lagi, maka ia bergelak tertawa, serunya.

"Song-tayhiap! Kau hendak adu jiwa dengan aku, sebaliknya aku tiada niat mempertaruhkan jiwaku. Maaf, aku tidak melayani lebih lanjut!"

Habis kata-katanya sebat sekali Toan Siu-si membalik tubuh.

kakinya melangkah laksana angin cepatnya, ia berlari ke arah yang berlawanan dengan arah Pok Thian-tiau, satu ke timur yang lain ke arah barat.

Ginkang Song Theng-siau tidak kalah dibanding Toan Siu-si, tapi dalam keadaan yang serba sulit dan mengenaskan begini, kalau dia mengejar Toan Siu-si, berarti ia menuju ke arah yang berlawanan dengan Pok Thian-tiau yang membawa lari Nyo Hoa, bukankah jaraknya semakin jauh malah?

Bagi Song Theng-siau yang terpenting segera harus merebut kembali Nyo Hoa dari cengkeraman musuh.

Dan lagi, seumpama ia berhasil menyan-dak Toan Siu-si, paling-paling hanya berimbang tidak kuasa mengalahkan dia, apa gunanya?

Demikian batin Song Theng-siau.

Di saat Song Theng-siau ragu-ragu dan sulit mengambil keputusan itulah, dalam sekejap saja bayangan Toan Siu-si sudah jauh dan tidak kelihatan lagi.

Setelah lari rada jauh, melihat Song Theng-siau tidak mengejar, berpikirlah Toan Siu-si.

"Tampang suheng lucu dan menakutkan, jangan-jangan bocah itu bisa ketakutan."

Sebelumnya ia sudah berjanji dengan Pok Thian-tiau untuk bertemu di suatu tempat yang ditunjuk, maka segera ia memutar haluan, cepat-cepat menyusul ke tempat yang dijanjikan.

Sambil mengempit Nyo Hoa, Pok Thian-tiau lari bagai terbang.

Nyo Hoa berkaok-kaok.

"Kunyuk buruk, lepaskan aku, lepaskan!"

"Kau maki aku buruk, justru aku tidak mau lepaskan!"

Sahut Pok Thian-tiau.

"Baiklah aku tidak memaki kau. Kau adalah orang baik, lekas lepaskan aku,"

Pinta Nyo Hoa.

"Tidak memaki juga tidak kulepaskan. Memangnya aku bukan orang baik-baik". Nyo Hoa jadi nekad, makinya.

"Bagus, kau ini manusia jelek memang jahat, coba kau mau lepaskan tidak."

Mendadak ia menggigit lengan Pok Thian-tiau yang penuh bulu hitam.

Sudah tentu Pok Thiantiau tidak menduga sebelumnya, sehingga lengannya kena digigit berdarah, saking kesakitan ia menjerit keras-keras.

Nyo Hoa tertawa senang.

Keruan Pok Thian-tiau gusar, makinya.

"Anak keparat, sudah menggigit berani tertawa lagi, biar kau pun tahu keliehayanku."

Baru saja ia angkat tangan hendak menggablok pantatnya tiba-tiba dilihatnya Toan Siu-si berlari kencang mendatangi dari kejauhan membentak.

"Jangan kau sakiti bocah itu!"

Meski Pok Thian-tiau sebagai suheng, namun karena ilmu silat dan pengalaman kalah daripada sutenya, selalu ia dengar dan patuh pada sutenya ini.

Karena bentakan Toan Siu-si ini terpaksa ia urungkan niatnya, tapi rasa gusarnya belum terlampias, omelnya.

"Bocah ini benar-benar nakal dan kurang ajar, kalau tidak dihajar tentu tidak kapok."

Toan Siu-si tertawa ujarnya.

"Kenapa Pok suheng meladeni bocah kecil? Begitu keras watak bocah ini, aku malah senang padanya!"

"Aku tidak peduli dan tidak sudi kalian senangi,"

Seru Nyo Hoa.

"Aku hendak kembali mencari paman Song saja."

Toan Siu-si mengelus-elus kepalanya katanya.

"Kau tidak akan bisa menemukan paman Song, anak baik, kau sudah letih, jangan takut kau tidur saja!"-Belum selesai ia bicara, benar juga Nyo Hoa lantas menutup kedua matanya tertidur pulas. Ternyata di saat Nyo Hoa tidak siaga mendadak Toan Siu-si menotok jalan darah Hun-swe-hiat. Dari tangan suhengnya, Toan Siu-si menerima Nyo Hoa, serta katanya tertawa.

"Untung kau tidak menyakiti bocah ini."

Pok Thian-tiau tersentak sadar, serunya.

"Benar, kita kan hendak menuntut balas kepada Beng Goan-cau dengan menyandera bocah ini, sudah tentu tidak boleh menyakitinya. Bagus, sekarang juga mari kita labrak Beng Goan-cau. Ha-ha-ha, suruh dia berlutut dan menyembah tiga kali kepada kita."

Mendadak Toan Siu-si berkata dingin.

"Tidak, sekarang kita kembali ke Tiam-jong!"

Pok Thian-tiau melengak, serunya.

"Apa, sekarang juga kita kembali ke Tiam-jong-san? Lalu kau tidak ingin mencari Beng Goan-cau menuntut balas?"

Berkata Toan Siu-si pelan-pelan.

"Aku hendak mendidik bocah ini menjadi muridku. O, ya, bagaimana kalau kau pun menjadi salah seorang gurunya? Kita mendidiknya bersama."

Pok Thian-tiau uring-uringan, sahutnya.

"Bocah ini nakal dan sulit dilayani, tadi aku hanya menggendong sebentar lantas kena digigit olehnya, wah rasanya sakit bukan main, apa perluku menerima dia sebagai murid? Hm, aku tidak mau menelan kesukaran belaka. Tapi jangan kau salahkan aku terlalu cerewet, ingin aku bertanya kepadamu, sungguh aku tidak paham, untuk apa kau berbuat demikian, apakah benar-benar kau sudah tertarik pada bocah ini?"

"Pertama memang aku sudah tertarik pada bocah ini, kedua adalah untuk menuntut balas pada ayahnya."

Pok Thian-tiau garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal, katanya.

"Aku jadi semakin bingung, kau mendidik dan mengasuh anaknya Beng Goan-cau, cara bagaimana bisa dikatakan untuk menuntut balas?"

"Kau tak usah gelisah, pelan-pelan kujelaskan,"

Dengan kalem Toan Siu-si menjelaskan.

"Beng Goan-cau adalah buronan pihak kerajaan, Tiam-lam-su-hou yang malam itu meluruk ke rumah Beng Goan-cau sebelum kita tiba adalah kaki tangan pemerintah yang mendapat tugas untuk membekuknya. Hal ini kukira kau sudah tahu."

"Ya, Tiam-lam-su-hou kena dilabrak kocar-kacir dan melarikan diri oleh siau-sumoay Beng Goan-cau, hal itu aku pun melihat sendiri. Percakapan mereka pun kudengar sendiri. Lalu ada sangkut paut apa kejadian itu dengan urusan kita?"

"Akhirnya di waktu kita melarikan diri dari taman bunga itu, kudapati pula seseorang sedang sembunyi di sana. Kukira kau tidak memperhatikan bukan?"

Waktu itu Pok Thian-tiau lari terbirit-birit keadaannya sangat mengenaskan, mana ada perhatian mengawasi keadaan sekelilingnya, mendengar ucapan sutenya, tak urung merah mukanya, katanya.

"Sungguh memalukan, sedikit pun aku tidak tahu. Apakah orang itu menguntit di belakang kita?"

"Bukan. Dia pun melarikan diri. Dia lari ke arah yang berlawanan dengan kita."

"Siapakah dia?"

"Ciok Tio-ki itu wakil komandan Gi-lim-kun."

Pok Thian-tiau heran, tanyanya heran.

"Gembong penjahat tunggal Ciok Tio-ki yang kenamaan di kangouw itu maksudmu?"

"Sedikit pun tidak salah, memang dia itulah. Dia adalah atasan Tiam-lam-su-hou."

"Aneh, konon kepandaian Ciok Tio-ki cukup liehay, kenapa dia berpeluk tangan menonton saja? O, aku paham sekarang, mungkin melihat kita pun kena dikalahkan saking ketakutan ia pun mencawat ekor melarikan diri tanpa berani tampil ke depan. Hm, kalau begitu kiranya.orang itu hanya bernama kosong belaka, bahwasanya nyalinya kecil seperti tikus!"

"Belum tentu begitu. Tapi bagaimana perhitungan Ciok Tio-ki sebenarnya kita tidak usah peduli padanya. Bahwa Beng Goan-cau menjadi buronan pemerintah kerajaan hidupnya tidak akan tenang, seumpama Ciok Tio-ki sendiri tidak berani mencari perkara padanya, masih ada jago-jago Bhayangkari pihak istana raja yang terus mengejar jejaknya."

"Kau bicara setengah harian, aku masih belum paham. Kenapa kelihatannya kau rada menguatir-kan keselamatan Beng Goan-cau malah?"

"Benar, memang aku menguatirkan keselamatannya, tebakanmu sedikit pun tidak meleset! Bila dia seorang diri sih masih mending, kalau membawa-bawa bocah ini, celakalah dia!"

"O, jadi kau hendak mewakili Beng Goan-cau memikul bebannya ini, supaya bocah ini selamat dan dia pun tidak kerepotan mengurus anaknya."

"Suheng, kali ini kelihatannya kau menjadi pintar malah, tebakanmu tepat semua. Tapi bocah ini memang mungil dan menarik sekali."

Pok Thian-tiau garuk-garuk kepala lagi, ujarnya.

"Tidak kau katakan sih mending, mendengar ucapanmu ini aku semakin bingung. Bukankah kau hendak menuntut balas kepada Beng Goancau? Tapi tindakanmu ini, berbalik akan membuat Beng Goan-cau hormat dan berterima kasih akan kebaikan budimu."

"Benar, memang aku hendak membuat musuh kita hutang budi dan berterima kasih pada kita."

"Kenapa?"

"Membikin musuh hutang budi dan merasa haru adalah cara membalas dendam yang paling baik. Coba kau pikir, semula dia anggap kita sebagai musuh, mendadak datang suatu ketika, kita sudah mendidik dan mengasuh anaknya sampai besar, mengajarkan kepandaian silat tinggi lagi, baru-setelah tamat kita bawa pulang' dan {(diserahkan kepadanya. Coba bayangkan betapa kikuk dan risi keadaannya waktu itu? Haha, dan lagi setelah menerima hutang budi kita dia pun tidak akan mampu membalas kebaikan ini. Cara balas dendam demikian bukankah cukup menyenangkan?"

"Sute, jalan pikiranmu sungguh aneh. Tapi kalau toh begitu rencanamu, aku pun akan menurut saja."

"Kita bisa ajarkan segala ilmu silat yang kita bekal umpamanya Ling-wan-pou-hwatmu itu, pada jaman ini tiada orang yang dapat menandingi kau, bila bocah ini sudah mempelajari kepandaianmu, dia bisa menyebar luaskan namamu bukan."

Dasar Pok Thian-tiau seorang dungu, pikirannya pun terlalu sederhana, mendengar umpakan sutenya ini ia jadi berjingkrak kegirangan, pikirnya.

"Memang, untuk memulihkan seluruh kepandaianku seperti sediakala, jelas tiada harapan lagi. Bila bersama sute dapat mendidik seorang murid yang jempolan aku pun bakal menerima pujian orang. Mendadak ia mendapat suatu akal, tanpa merasa Pok Thian-tiau tertawa terbahak-bahak. Tawanya ini bikin Toan Siu-si bingung dan heran, tanyanya.

"Suheng, apa yang kau tertawakan?"

"Aku punya akal. Bukankah bocah ini belum tahu ayah kandungnya sendiri? Kita pun tidak perlu beritahu kepadanya, setelah dia tamat mempelajari seluruh kepandaian kita, suruh dia pergi menantang kepada Beng Goan-cau untuk adu kepandaian. Sute, menurut pendapatmu, setelah bocah ini mendapat gemblengan dari seluruh kepandaian kita, mungkin bisa mengalahkan ayahnya tidak?"

"Bagus! Bagus!"

Puji Toan Siu-si.

"Tak nyana kau pun bisa memikirkan suatu akal yang lucu dan menyenangkan ini. Bila bocah ini dapat belajar semua kepandaian kita, tanggung pasti bisa mengalahkan ayahnya. Tatkala itu bukan saja Beng Goan-cau akan hutang budi pada kita, dia pun akan memuji dan kagum. Hahaha, dia kena dikalahkan oleh murid kita, berarti jauh lebih berarti dari kita sendiri yang menuntut balas padanya."

"Tapi aku kuatir watak bocah ini yang keras kepala sulit ditundukkan, entah dia mau tidak kita jadikan murid?"

"Kupikir bocah biasanya sulit menaruh kebencian, asal sikap kita halus dan baik-baik menghadapinya, setelah sekian lama, akhirnya dia pasti mau ajak kita bicara."

Tidur Nyo Hoa sangat pulas, Pok Thian-tiau mengelus-elus kedua pipinya yang montok merah laksana delima, serta merta timbul rasa iba dan sayangnya. Katanya tertawa.

"Aneh, sekarang aku pun merasa tertarik dan sayang kepada bocah ini. Sute jangan tergesa-gesa kau buka totokan jalan darahnya, biar dia tidur lebih lama, marilah sekarang kita pulang."

Apakah Nyo Hoa mau menjadi murid Tiam-jong-siang-sat, cerita ini kita teruskan di sebelah belakang.

Kini marilah kita mengikuti pengalaman Song Theng-siau selanjutnya.

Di saat Tiam-jong-siang-sat dengan riang gembira membopong Nyo Hoa pulang, adalah saat itu Song Theng-siau mendelu bukan main, ingin menangis air mata tidak dapat keluar, hatinya gundah dan pikiran pepat.

Dengan kedua kakinya yang terasa berat selangkah demi selangkah, ia melanjutkan ke depan me-nyelusuri jalan pegunungan yang semalam dilalui oleh Hun Ci-lo, jalanan kecil di pegunungan ini dulu entah sudah berapa kali pernah ia lalui.

"Anak mereka hilang di tanganku, cara bagaimana aku ada muka menemui mereka? Tapi betapapun menantu jelek harus menghadap pada bapak mertua,"

Demikian pikir Song Theng-siau sambil tertawa getir, lalu terpikir pula olehnya.

"Entah darimana asal-usul kedua orang aneh itu, untuk apa mereka merebut anak Goan-cau? Goan-cau jauh lebih jelas terhadap sesama kaum persilatan, mungkin dia bisa tahu siapa mereka adanya. Bagaimanapun juga urusan sudah terjadi, terpaksa harus kujelaskan duduk perkaranya kepada mereka. Kita bertiga bisa berpencar untuk mencarinya, cara ini lebih baik daripada aku luntang-lantung tanpa tujuan tertentu."

Segumpal awan menutupi bulan sabit yang memang hanya memancarkan sinar redupnya, dengan menempuh hujan gerimis diam-diam Song Theng-siau menyelundup masuk ke taman bunga keluarga Hun.

Awan mendung dan hujan gerimis rintik-rintik, keadaan ini persis benar waktu Song Theng-siau pamit kepada Hun Ci-lo untuk pergi ke Siau-kim-jwan bersama Beng Goan-cau.

Keadaan malam itu seperti terbayang di depan mata, mereka berdiri berendeng di bawah teras kembang, diam tak bersuara Hun Ci-lo mendengarkan kata-katanya.

Lampu lampion di pojok emperan bergoyang gontai dihembus angin malam, sembari mendengar penjelasannya Hun Ci-lo meremas-remas kelopak kembang, habis penjelasan tampak tanah sekitar kakinya penuh ditaburi kelopak kembang.

Masih segar dalam ingatan Song Theng-siau seluruh adegan malam itu.

Waktu itu adalah malam perpisahan, malam ini dia kembali, tapi sama-sama malam yang gerimis, perasaan yang sama pula.

Namun keadaan taman bunga itu sudah jauh berbeda, teras kembang itu sudah roboh, lampion yang tergantung di emperan rumah pun sudah tiada, cuma di atas loteng kecil sana kelihatan sinar pelita.

"Ci-lo tentu berada di atas loteng itu bersama Goan-cau,"

Demikian batin Song Theng-siau.

Berdiri di bawah teras kembang yang sudah roboh, badan Song Theng-siau semakin kuyup ditimpa hujan gerimis, angin malam menghembus lalu, tiba-tiba Song Theng-siau bergidik kedinginan.

Tersentak sanubarinya, benarkah perasaanku sama seperti dulu?

Tidak, seharusnya aku berani mengakui bahwa perasaannya sekarang jauh lebih sedih dari malam perpisahan itu.

Di kala berpisah dengan Hun Ci-lo dulu, meski ia merasa sedih namun ia membawa setitik harapan.

Kini harapan itu sudah luber, malah ditambah malu menyesal dan tidak tentram lagi.

Karena ia kehilangan anak Goan-cau dari tangannya.

Tapi bagaimana juga akhirnya ia memberanikan diri beranjak maju sampai di bawah jendela loteng kecil itu.

Setelah batuk-batuk ia lalu membuka mulut memanggil.

"Goan-cau, Goan-cau!"

Suaranya lirih dan tertahan.

Karena kuatir Hun Ci-lo pun berada di atas loteng maka ia tidak berani main terobosan naik ke atas loteng.

Sesuatu di luar dugaan terjadi, mendadak daun jendela terbuka muncul seraut wajah gadis ayu rupawan.

Gadis ini terang bukan Hun Ci-lo, dilihat dari sebelah samping hampir mirip dengan Lu Su-bi, tapi dia bukan Lu Su-bi.

Perempuan yang kenal sama Beng Goan-cau hanya dua orang yaitu Hun Ci-lo dan Lu Su-bi, hal ini Song Theng-siau tahu benar.

Lalu siapakah gadis rupawan ini?

Kenapa dia sembunyi di kamar loteng Beng Goan-cau?

Di kala Song Theng-siau masih tertegun kaget, gadis itu sudah menggunakan gaya burung walet menerobos kerai gesit sekali tiba-tiba tubuhnya jumpalitan melampaui pagar meluncur ke bawah dan hinggap di hadapannya.

Waktu Song Theng-siau menegasi memang gadis yang belum pernah dikenalnya, seperti dirinya pula gadis ini mengunjuk rasa heran dan kaget menatap dirinya.

"Siapa kau?"

Hampir bersama kedua pihak mengajukan pertanyaan.

"Aku she Song. Aku adalah sahabat Beng Goan-cau, sengaja aku menyusul kemari mencarinya!"

"Aku pun sedang mencari Beng Goan-cau. O, kau she Song? Jadi kaulah Song Tayhiap Song Theng-siau yang dulu bersama Beng Goan-cau berada di laskar gerilya di Siau-kim-jwan?"

Semakin heran Song Theng-siau dibuatnya, katanya.

"Agaknya aku belum pernah melihat kau, apakah nona juga dari Siau-kim-jwan?" --Pikirnya.

"Mungkin dia salah seorang thaubak perempuan yang terjun ke dalam laskar gerilya setelah aku meninggalkan Siau-kim-jwan, kini mendapat perintah dari Ling Tiat-jiau dan Siau Ci-wan untuk menemui Beng Goan-cau?"

Demikian ia menduga-duga dalam hati. Gadis itu tersenyum, ujarnya.

"Aku belum pernah ke Siau-kim-jwan, sudah tentu kau tidak bisa melihat aku."

"Kalau begitu maaf akan kece-robohanku, entah siapa nama harum nona? Kapan pula kau berkenalan dengan Beng Goan-cau?"

"Aku she Lim, bernama Bu-siang. Dengan Beng Goan-cau aku juga belum kenal."

Terbelalak mata Song Theng-siau, serunya tergagap.

"Jadi kau, kau..."

"Mungkin kau heran kenapa aku mencari Beng Goan-cau bukan? Aku diminta bantuan seorang sahabat untuk menyampaikan sepucuk surat kepadanya."

"Siapa orang itu?"

"Sahabat itu pun tidak kenal kalian, tapi mungkin kalian pernah dengar namanya."

Benar-benar suatu kejadian di luar dugaan umumnya, seorang yang tidak kenal sama Beng Goan-cau minta bantuan seorang gadis yang belum pernah ketemu Beng Goan-cau mengantar surat.

Bahna heran bertanyalah Song Theng-siau.

"Dari penuturan nona Lim ini, kukira orang itu tentu seorang tokoh yang cukup kenamaan dan punya kedudukan serta wibawa di bulim, entah siapakah dia?"

"Tepat dugaanmu, orang itu tak bukan tak lain adalah Kini Tayhiap Kim Tiok-liu yang kenamaan itu."

Tak urung terkejut pula Song Theng-siau dibuatnya, ternyata Kim Tiok-liu adalah putra tunggal Kim Si-ih maha guru dari salah satu aliran tersendiri, suhengnya Kang Hay-thian kini sudah diakui sebagai tokoh silat nomor satu di seluruh bulim.

Tapi belakangan ini ada orang pernah bilang bahwa kepandaian silat Kim Tiok-liu sudah lebih unggul dari suhengnya.

Pendek kata Kim Tiok-liu dan Kang Hay-thian adalah dua tokoh silat kenamaan yang paling dikagumi oleh Song Theng-siau.' Bahwa gadis belia ini ternyata adalah sahabat Kim Tiok-liu, tanpa sadar Song Theng-siau menaruh hormat dan bersikap lembut kepadanya.

Akan tetapi dalam benak Song Theng-siau masih dirundung rasa curiga, pergaulan Kim Tiok-liu dan Kang Hay-thian teramat luas sekali, kenapa dia minta bantuan seorang gadis muda untuk mengantarkan suratnya?

Meski bagi kaum persilatan paling tidak mengindahkan adat istiadat yang serba kaku, tapi bila menyuruh salah seorang lelaki yang punya sedikit hubungan dengan pasukan gerilya dari Siam-kim-jwan bukankah jauh lebih tepat?

Sudah tentu tidak enak ia kemukakan perasaan hatinya ini, setelah berpikir sejenak Song Theng-siau berkata pula.

"Kim Tayhiap mengutus nona mengantar surat, tentu ini menyangkut suatu persoalan amat penting?"

Kata Lim Bu-siang.

"Istri Kim Tiok-liu adalah Pangcu Liok-hap-pang yang bernama Su Ang-ing, aku menjadi sahabat kental dengan mereka suami istri. Sebelum aku kemari beberapa bulan terakhir ini, aku menetap di rumah mereka.

"Kukira Song Tayhiap juga tahu bahwa Liok-hap-pang merupakan Pang (sindikat) yang paling terbesar di kangouw, banyak mata kupingnya yang tersebar luas di mana-mana, beritanya cukup cekatan dan cepat. Mereka mendapat sebuah berita yang dapat dipercaya, bahwa jagoan kosen yang diutus oleh pihak kerajaan punya maksud-maksud tertentu terhadap Beng Goan-cau, jelasnya maksud itu amat merugikan bagi dia."

"Menurut berita, jagoan kosen yang diutus keluar kali ini bukan satu dua orang saja, mereka terdiri dari dua rombongan. Salah satu di antara mereka mungkin merupakan lawan tangguh yang sulit dihadapi oleh Beng Goan-cau sendiri. Aku terlalu senggang tinggal di rumah mereka, maka Kim-hujin lantas berunding dengan aku, toh aku memang tidak punya kerjaan, maka dia mohon bantuanku untuk mencapaikan diri menyampaikan berita buruk ini kemari. Bilamana benar-benar kebentur dengan orang itu. aku dapat mewakili dia menghadapinya."

Lim Bu-siang sama seperti Lu Su-bi gadis remaja yang polos dan sederhana, meski usianya mungkin rada lebih besar dari Lu Su-bi, tapi jauh lebih kurang pengalaman dalam pergaulan.

Maka apa yang pernah dibicarakan oleh Kim Tiok-liu suami istri tanpa tedeng aling-aling lagi ia sampaikan begitu saja.

Sudah tentu beberapa patah kata yang diucapkannya itu bagi pendengaran Song Theng-siau cukup menusuk perasaannya.

Berpikirlah Song Theng-siau.

"Musuh yang Beng-toako tidak mampu menghadapi, masakah kau lantas mampu menghadapinya?" -Kepandaian silat Beng Goan-cau yang tinggi dan hebat itu Song Theng-siau sudah tahu benar. Paling banyak usia Lim Bu-siang baru menanjak dua puluh dua. dua puluh tigaan, sudah tentu ia tidak mau percaya bahwa kepandaian silat Lim Bu-siang ini jauh lebih tinggi dari kemampuan Beng Goan-cau. Sudah tentu Song Theng-siau merasa, uring-uringan, tanyanya.

"'Orang macam apa saja. jagoan kosen yang diutus pihak kerajaan, di antara mereka, siapa pula yang paling liehay? Kukira Liok-hap-pang tentu sudah menyirapi dengan jelas, apakah nona Lim boleh beri-tahu kepada aku?" 'Rombongan pertama adalah wakil komandan Gi-lim-kun Ciok Tio-ki yang memimpin Tiam-lamsu-hou."

Song Theng-siau tertawa lebar, ujarnya.

"Tiam-lam-su-hou, julukannya Su-hou (empat harimau), dalam pandangan kami tidak lebih hanya empat ekor kucing pilek. Kabarnya kepandaian Ciok Tio-ki memang cukup hebat, tapi belum tentu Beng-toako tidak mampu menghadapi dia."

Dasar Song Theng-siau punya sifat-sifat congkak, setiap ucapannya tidak memberi angin kepada orang, kata-katanya cukup tajam mengandung sindiran.

Tapi dasar berhati polos, sedikit pun Lim Bu-siang tidak merasakan bahwa sindiran tajam itu ditujukan kepada dirinya.

Sebagai gadis yang kurang pergaulan dan tidak punya pamrih apa-apa, mendengar sanggahan Song Theng-siau, dia malah kagum dan manggut-manggut.

Katanya.

"Kisah kepahlawanan kalian waktu berada di Siau-kim-jwan, Kim Tayhiap suami istri ada menceritakan kepadaku, dalam pandangan kalian Tiam-lam-su-hou sudah tentu hanya empat ekor kucing yang sakit-sakitan belaka."

Song Theng-siau maklum bahwa orang memang merasa kagum dan takjub benar-benar, setelah mendengar pujiannya ini, ia jadi rikuh dan kikuk sendiri, cepat ia menambahkan.

"Kalau Kim Tayhiap dibanding kami berdua, wah, betul-betul membuat kami malu diri. Entah orang kosen macam apa pula rombongan kedua yang diutus pihak kerajaan?"

"Rombongan kedua ini hanya terdiri satu orang, sebetulnya tidak terhitung rombongan, soalnya aku hanya mengiring kata saja dan salah menggunakan istilah."

"O, hanya seorang?"

"Benar, tapi orang ini justru tokoh yang teramat liehay, jauh lebih liehay berlipat ganda dari Ciok Tio-ki."

"Siapakah dia?"

Lim Bu-siang rada sangsi, batinnya.

"Menurut berita yang disampaikan dari Su Ang-ing, lapat-lapat bahwa orang itu adalah sukong dari Boh-piauso, tapi belum dapat dipastikan, piauso dan piauko paling pantang urusan kita diketahui orang luar, tak enak bila aku salah mengatakan orang "

"Apakah nona Lim tidak tahu?"

Tanya Song Theng-siau lebih lanjut.

"Su Ang-ing cici hanya mengatakan demikian, ia tidak menjelaskan nama orang itu kepadaku."

Tambah heran dan curiga pula Song Theng-siau dibuatnya, pikirnya.

"Entah bagaimana asalusul nona Lim ini, agaknya berhubungan kental dengan Pangcu Liok-hap-pang atau istri Kim Tayhiap? Dari lagak lagunya dia memang seorang gadis polos yang jujur, tak mungkin dia tahan harga, sengaja hendak main sembunyi?"

Maka ia lantas berkata.

"Nona, harap maaf bila aku agak sembrono. Kalau toh orang itu amat liehay, apakah Kim-hujin begitu lega hati menyerahkan tugas ini kepadamu untuk menghadapi orang itu?"

Lim Bu-siang mengunjuk rasa malu-malu gadis remaja umumnya, katanya tertawa.

"Aku tahu kepan-daianku kurang becus, tapi Ang-ing cici menganjurkan dan memberi dorongan kepadaku, supaya aku tidak usah takut, katanya seharusnya aku bisa menghadapi orang itu. Aku sendiri pun tidak tahu apakah ucapannya itu benar atau umpakan belaka, tapi selama aku menetap di rumahnya, banyak kulihat orang-orang gagah dalam pangnya itu, siapa saja yang tidak berani mati? Kupikir kalau toh Ang-ing cici menyerahkan tugas penting ini kepadaku, kalau aku takuttakut segala, masa ada muka aku menjadi tamu pihak Liok-hap-pang. Maka aku memberanikan diri meluruk kemari."

Bahwasanya ada persoalan tersembunyi yang tidak diketahui oleh Lim Bu-siang, bahwa Kim Tiok-liu suami istri menganjurkan dia datang bukan saja memang untuk menghadapi orang yang dimaksud itu, di balik persoalan, mereka punya tujuan tertentu.

Pikir mereka biarlah dengan kesempatan ini supaya Lim Bu-siang bisa berkenalan dengan Beng Goan-cau.

Seluk beluk mengenai persoalan ini baiklah kami tuturkan di sebelah belakang.

Mendengar uraiannya itu, diam-diam Song Theng-siau merasa kagum, batinnya.

"Kelihatannya dia seorang gadis yang tidak tahu urusan, bahwasanya ternyata seorang perempuan gagah dan pemberani yang lemah di luar, keras di dalam."

Berkatalah Lim Bu-siang lebih lanjut.

"Dan lagi kedatanganku ini hanya memberi kabar saja, belum tentu bakal bentrok langsung dengan orang itu,"

Di balik kata-katanya ia mau berkata, meski Kim-hujin ada bilang ia mampu menghadapi orang itu, sebenarnyalah dalam hati ia sendiri tidak punya pegangan yang mantap.

Kini Song Theng-siau maklum bahwa gadis remaja ini bukan ngelantur kepadanya, cuma belum pengalaman dan tidak tahu seluk beluk sesuatu perkara, lambat laun kesannya cukup mendalam dalam sanubarinya, maka ia lantas tanya.

"Berapa lama kau tiba di sini?"

"Kira-kira baru setengah jam!"

"Kau tidak ketemu Beng Goan-cau?"

"Tidak! Entah dia sudah tinggal pergi atau kebetulan sedang keluar. Aku sedang menulis sepucuk surat untuk kutinggalkan di sini, tahu-tahu kau pun sudah tiba.*' "

Song Theng-siau berpikir.

"Goan-cau hendak menunggu kabar berita yang dibawa Kwi-hwethio, kecuali ia sudah bertemu dengan Hun Ci-lo, kalau tidak, tidak mungkin meninggalkan rumah begitu saja." ---Tanyanya.

"Adakah kau ketemu dengan seorang perempuan?"

"Perempuan macam apa?"

"Perempuan itu bernama Hun Ci-lo, kira-kira berusia dua puluh tujuh, dua puluh delapan, mengenakan pakaian berkabung."

"Waktu aku beranjak memasuki perkampungan ini, memang aku ada bertemu dua gadis pemetik teh yang pulang terlambat, tapi perempuan yang seperti kau lukiskan, aku tidak pernah melihatnya."

Song Theng-siau jadi putus asa, perasaan hatinya yang tegang pun menjadi kendor seketika, karena dia tidak perlu segera menghadapi perasaan kikuk yang mengenaskan.

Begitu bayangan Cong Sin-liong muncul dan hinggap di tanah, ia lantas membentak.

"Beng Goan-cau, kalau nyalimu besar, mari keluar bertanding pedang dengan aku!"

Diam-diam Song Theng-siau membatin dalam hati.

"Mungkinkah mereka sudah minggat ke tempat yang jauh?"

Lim Bu-siang seperti dapat meraba jalan pikirannya, katanya.

"Maksud kedatanganku hanya hendak memberi tahu bahwa bencana bakal menimpa dirinya, dan akan kubujuk supaya dia lekas menyingkir ke tempat yang jauh. Jikalau benar dia sudah pergi, malah lebih baik dan melegakan hatiku. Kua-tirnya kalau dia hanya kebetulan keluar saja, dan belum mendapat berita akan bahaya ini, sebentar tentu dia akan pulang kembali."

Song Theng-siau tertawa besar, ujarnya.

"Beng Goan-cau adalah laki-laki yang tidak mengenal rasa takut, dia tidak akan gentar menghadapi segala bencana. Tapi aku yakin bahwa dia memang sudah meninggalkan tempat ini."

Lim Bu-siang jadi heran, tanyanya.

"Kenapa dia meninggalkan rumahnya?"

Song Theng-siau membatin.

"Liku-liku persoalan ini tidak enak aku menjelaskan kepadamu."

Baru saja ia hendak mencari alasan sebagai jawaban, tiba-tiba sayup-sayup didengarnya dari kejauhan ada suitan panjang. Kontan Lim Bu-siang berubah air mukanya, katanya.

"Celaka, orang itu sudah datang! Song Tayhiap, kau, lekas kau sembunyi saja!"

Bertaut alis Song Theng-siau, katanya.

"Nona Lim, demi seorang yang tidak kau kenal, kau berani tampilkan diri menanggulangi kesukaran orang, hubunganku dengan Goan-cau laksana saudara sekandung sendiri, mana bisa aku diam saja tinggal berpeluk tangan? Bila Goan-cau berada di sini, dia tentu tidak akan menyembunyikan diri, aku pun tidak bisa bikin malu dan menurunkan pamornya, meski aku bukan tandingan musuh betapapun aku harus mewakili Goancau menghadapinya. Nona Lim, kebaikanmu ini kuterima setulus hati, kalau aku memang tidak ungkulan, silakan kau maju membantu!"

Lim Bu-siang tercengang, batinnya.

"Kalau aku berebutan dengan dia, mungkin dia salah paham anggap aku pandang rendah dirinya. Didengar dari suara suitannya itu, yang datang jelas memang Cong Sin-liong adanya. Biarlah aku bekerja melihat gelagat."

Suitan panjang itu laksana auman singa seperti jeritan naga, dari jauh semakin dekat, semula kedengaran masih berada di puluhan li jauhnya, dalam sekejap mata seorang laki-laki tinggi berjenggot cabang tiga tahu-tahu sudah muncul di dalam taman bunga.

Setelah dekat suara suitan terasa mendengung memekakkan telinga, benar-benar suaranya tiba orangnya pun datang, wibawanya memang mengejutkan orang.

Lim Bu-siang sembunyi di belakang batu gunung-gunungan palsu, waktu mengintip keluar diam-diam bercekat hatinya, pikirnya.

"Kiranya benar Cong Sin-liong adanya."

Ternyata dia sealiran tapi lain cabang dengan Cong Sin-liong, dinilai dari tingkatan Cong Sinliong ini adalah sukong (bapak guru) dari piausonya, berarti pula paman gurunya.

Begitu badan Cong Sin-liong muncul dan melayang tiba, segera ia membentak.

"Beng Goancau, kalau kau berani mari layani adu pedang dengan aku!"

Tanpa keder Song Theng-siau melesat terbang memapak ke depan, hardiknya.

"Siapa kau, berani menantang adu pedang dengan Beng Tayhiap?"

Cong Sin-liong menyeringai dingin, jengeknya.

"Membahasakan diri sebagai Tayhiap segala, sungguh tebal mukamu! He, he, kabarnya kau pernah ke Tay-liang-san, bila kau belum pernah melihat aku paling tidak tentu sudah pernah dengar perihal diriku! Lohu adalah Cong Sin-liong dari Hu-siang-pay, Tiok Siang-hu si kakek tua itu tentu pernah bercerita kepadamu bukan? Hm, kucari kau mengadu pedang terhitung sudah mengangkat namamu."

Memang Song Theng-siau meninggalkan Siau-kim-jwan lebih dulu.

Di saat ia meninggalkan Siau-kim-jwan itulah kebetulan Beng Goan-cau mendapat tugas sebagai kurir ke Tay-liang-san untuk mencari hubungan dengan sebuah laskar gerilya di sana.

Maka apa yang dikatakan Cong Sin-liong ini hakikatnya Song Theng-siau tidak tahu menahu.

Kiranya pimpinan laskar gerilya yang berada di Tay-liang-san bernama Tiok Siang-hu, ilmu silatnya amat tinggi dan pernah menggetarkan bulim, kaum persilatan umumnya sama mengakui beliau sebagai salah satu dari sepuluh tokoh kosen pada jaman itu.

Tapi waktu Cong Sin-liong bertanding pedang dengan dia, ia menang sejurus.

Kejadian ini terjadi setelah Beng Goan-cau tidak lama tiba di Tay-liang-san.

Tapi walaupun Song Theng-siau tidak tahu orang macam apa sebenarnya Cong Sin-liong ini, namun ia pernah juga mendengar perihal ilmu pedang dari Hu-siang-pay.

Dia cuma tahu bahwa pihak Hu-siang-pay punya seorang ciangbunjin yang bernama Boh Cong-tiu, bersahabat kental dengan Kim Tiok-liu.

Malah kabarnya kepandaian ilmu pedang Boh Cong-tiu tidak di sebelah bawah Kim Tiok-liu yang diagungkan sebagai tokoh silat maha sakti.

Memang begitu mendengar orang menyebut 'Hu-siang-pay' bercekat hati Song Theng-siau, diam-diam ia berpikir.

Usia Boh Cong-tiu konon baru tiga puluhan, usia orang ini jauh lebih tua dari Boh Cong-tiu, mungkinkah salah seorang angkatan tua pihak mereka?

Kabarnya ilmu pedang Hu-siang-pay sangat liehay dan aneh, sulit diselami, aku harus hati-hati * dan waspada."

Dasar watak Song Theng-siau tinggi hati, meski ia sudah waspada dan berlaku hati-hati, anggap musuh sebagai musuh besar yang tangguh, namun air mukanya tetap mengunjuk rasa sombong dan pongah, jengeknya dingin.

"Aku hanya tahu di kalangan kangouw ada Su-hay-sinliong Ki Kian-ya, kau ini barang apa, berani mencatut nama gelaran beliau? Hm, selamanya belum pernah kudengar orang macam tampangmu ini! Seekor belut juga berani menimbulkan gelombang!"

Julukan 'Sin-liong' (naga sakti) dari Su-hay-sin-liong Ki Kian-ya merupakan gelar kebesarannya, sementara 'Sin-liong' dari Cong Sin-liong adalah nama aslinya.

Tapi sekarang Song Theng-siau sengaja melibatkan kedua nama dan julukan yang sama ini, dikatakan bahwa tidaklah setimpal dia menjajarkan namanya itu dengan kebesaran tingkat Ki Kian-ya.

Keruan olokolok yang menghina ini membuat Cong Sin-liong gusar mencak-mencak seperti kebakaran jenggot.

"Baik,"

Teriak Cong Sin-liong murka.

"Bocah keparat tak bernama seperti kau biar merasakan keliehayanku."---Baru saja ia hendak melolos pedang, mendadak ia berseru heran, bentaknya pula.

"Siapa kau? Hm. ternyata bocah keparat kau ini adalah Beng Goan-cau tiruan!"

Ternyata walau Cong Sin-liong belum pernah melihat Beng Goan-cau, namun ia pernah melihat gambar pada maklumat kerajaan.

Soalnya cahaya bulan pada saat itu pudar, baru sekarang ia melihat tegas pemuda yang menantang dirinya ini ternyata jauh berlainan dengan gambar yang pernah dilihatnya.

Song Theng-siau terloroh-loroh, ujarnya.

"Kapan aku pernah mengatakan aku ini Beng Goancau? Seorang laki-laki berjalan tidak mengubah nama, duduk tidak berganti she, Song Theng-siau adalah aku, aku adalah Song Theng-siau!"

"Tak!"

Pedang Cong Sin-liong yang sudah terlolos separuh disarungkan kembali, katanya tertawa dingin.

"Cokak sebotol tidak bergoyang, setengah botol cokak bergoyang. Ternyata kau bukan Beng Goan-cau, dalam hal ini tidak bisa salahkan kau bernyali begitu besar tidak tahu tingginya langit tebalnya bumi. Baik, karena kau bukan Beng Goan-cau biar dengan tangan kosong kuberi kesempatan tiga jurus kepadamu."

Nama Beng Goan-cau dan Song Theng-siau selama di Siau-kim-jwan sama diagulkan, kini Cong Sin-liong sengaja mengagulkan Beng Goan-cau dan merendahkan Song Theng-siau, begitulah ia gunakan cara orang menghina dirinya tadi membalas dengan tidak kalah tajamnya.

Song Theng-siau berkata tawar.

"Memotong ayam masa perlu menggunakan golok kerbau, untuk menghadapi kau memang tidak perlu Beng Goan-cau sendiri tampil."

Lahirnya ia bicara begitu, namun dalam hatinya merasa terbakar dan malu.

"Jangan cerewet lagi, silakan turun tangan,"

Demikian bentak Cong Sin-liong.

"Cabut pedangmu, siapa suruh kau mengalah?"

Cong Sin-liong memicingkan mata memiringkan kepala memandang ke arah dirinya, tiba-tiba ia kibaskan lengan bajunya ke arah muka Song Theng-siau, jengeknya.

"Bocah she Song, kau tidak mau turun tangan, awas aku tidak kenal sungkan lagi kepadamu."

Kibasan lengan baju ini sebenarnya mengandung jurus-jurus ilmu pedang, begitu angin kibasannya menyampuk muka rasanya sakit seperti di ris senjata tajaim, keruan Song Theng-siau terkejut, tak sabar lagi "sret"

Tiba-tiba pedangnya menusuk ke depan, sembari menyerang ia membarengi membentak.

"Baik, akan kulihat cara bagaimana kau bertangan kosong melawan tiga jurus pedangku?"

Song Theng-siau didesak untuk menggunakan pedang melawan Cong Sin-liong, sudah tentu ia merasa direndahkan dan menurunkan gengsi.

Di luar tahunya bahwa Cong Sin-liong sendiri juga mengeluh dalam hati.

Ilmu pedang Song Theng-siau mengutamakan kelincahan dan gerak ringan yang amat cepat, tusukan pedang ini cepat laksana kilat menyambar, tampaknya sejurus namun di dalam jurus tersembunyi tipu-tipu liehay yang dapat dirubah secepat kilat tanpa bisa diselami sebelumnya, cukup sejurus serangan tipu pedangnya, tujuh tempat jalan darah di tubuh Cong Sin-liong sudah terancam oleh ujung pedangnya.

Lekas-lekas Cong Sin-liong me-ngebutkan lengan bajunya, gelombang angin deras segera menerpa ke depan sehingga ujung pedang Song Theng-siau menceng sedikit, sekilas kesempatan ini, sebat sekali ia berhasil menerjang keluar dari libatan sinar pedang Song Theng-siau.

Song Theng-siau sendiri tidak berani pandang ringan musuh dan tidak sembarangan merangsak lebih lanjut, ia hentikan kakinya seraya membentak.

"Keluarkan pedangmu!"

Hampir saja badan Cong Sin-liong berlubang, keruan ia berkeringat dingin batinnya.

"Tak nyana, ilmu pedang bocah ini juga begitu liehay, untung aku hanya membatasi mengalah tiga jurus padanya." -Tapi dapatkah ia menyambut atau melayani dua jurus ilmu pedang Song Thengsiau yang lain, setelah merasakan jurus pertama ini keyakinannya menjadi goyah. Tapi tadi ia sudah mengagulkan diri sebagai salah seorang Bulim Cianpwe yang sudah bermulut besar, sudah tentu ia harus mengeraskan kepala, maka bentaknya dengan suara berat.

"Masih dua jurus, lekas turun tangan!"

Lenyap suaranya mendadak Cong Sin-liong melejit ke atas udara, dengan tipu Liong-jiau-jiu dari jurus Yu-Iiong-tam-jiau, ia lancarkan serangan aneh seperti pukulan bukan pukulan, seperti pedang bukan pedang, namun tangannya mencengkeram datang cepat sekali mengarah batok kepala Song Theng-siau.

Sebetulnya ia mendesak Song Theng-siau lekas turun tangan, kenyataan ia turun tangan lebih dulu, ini cara menyerang sebagai pembelaan diri, kalau dibicarakan secara aturan, sudah tentu tindakannya ini cukup memalukan sebagai seorang angkatan tua.

namun ia sudah tidak hiraukan gengsi tingkatan segala.

"Bagus sekali!"

Song Theng-siau pun membentak, dengan jurus awan melintang memotong puncak, menyongsong ke arah lengan lawan pedangnya membabat ke atas.

Gebrak kedua ini karena Cong Sin-liong menyerang lebih dulu, jadi ia menempatkan diri pada posisi yang lebih menguntungkan, begitu pedang Song Theng-siau mengiris miring ke atas.

cepat sekali ia mengiringi gaya serangan pedang lawan, menekuk lutut memutar langkah, tahu-tahu tubuhnya membalik sementara sikutnya menerjang ke depan seperti martil mengarah lambung Song Theng-siau.

Lekas Song Theng-siau mengembangkan gerakan tubuh Menyelinap Kembang Memutari Pohon, sementara kakinya melangkah menurut kedudukan Ngo-heng-pat-kwa, tubuhnya berkelit miring, sementara pedang panjangnya ikut berputar selingkaran menusuk ke pundak kanan lawan.

"Biar matamu terbuka!"

Cong Sin-liong membentak gusar, berbareng ia ayunkan kedua lengan bajunya, sekonyong-konyong laksana dua ekor ular besar melegot mematuk ke muka Song Thengsiau, jurus ini dinamakan Tok-coa-to-sin (ular berbisa menjulurkan lidah), itulah jurus-jurus permainan dari Siang-koh-kiam.

Di antara sambaran sinar pedang yang terlibat dalam bayangan lengan baju itu, terdengarlah suara "Cras"

Yang cukup nyaring, dua bayangan mereka tiba-tiba mencelat mundur bersama, masing-masing tersurut pula tiga langkah.

Lengan baju Cong Sin-liong yang panjang ternyata sudah terpapas sebagian, mukanya kaku membesi hijau.

Waktu Song Theng-siau menunduk, kancing di depan dadanya ternyata sudah kena dicomot hilang oleh cengkeraman lawan, keruan jantungnya berdebur keras.

Sesaat lamanya kedua pihak sama melotot pandang seperti dua jago aduan tanpa bersuara, tak lama kemudian, dua-duanya sama mengeluarkan jengek dan tawa dingin.

Dalam hati Cong Sin-liong mengucapkan 'syukur', ejeknya.

"Bagaimana, bukankah aku sudah beri kesempatan tiga jurus padamu dengan bertangan kosong!"

Sementara dalam hati Song Theng-siau pun merasa gegetun, tapi mulutnya pun tidak kalah dinginnya.

"Kepandaian Khong-jiu-jip-pek-tomu aku sudah belajar kenal, setiap jurusnya tadi tentu kau menyerang lebih dulu, tapi toh kau tidak bisa mengambil keuntungan dari aku."

Ajaran ilmu silat sebenarnya mempunyai keunggulan masing-masing, semua tidak terdapat dalam satu aliran yang sama, ada orang yang mahir menggunakan golok atau pedang, ada pula yang ahli dalam ilmu pukulan atau tendangan, ilmu Khong-jiu-jip-pek-to dalam pertempuran antara tokoh-tokoh kosen adalah kejadian yang sudah biasa, tidak perlu diagulkan.

Dalam hati Song Theng-siau mengakui bahwa kepandaian silat lawan lebih tinggi dari kemampuan sendiri, namun wataknya memang sangat keras dan sombong lagi, bagaimana juga dan apapun yang bakal terjadi, sekali-kali ia pantang mengakui kekalahan di hadapan musuh, oleh karena itu meski dalam hati ia mengeluh, lahirnya toh bersikap ketus dan sengaja ia bicara kasar.

Memang apa yang diucapkan tidak salah, ketiga jurus serang menyerang tadi, antar pedang lawan pukulan, memang sedikit pun Cong Sin-liong tidak memperoleh keuntungan apa-apa.

Tapi harus dimaklumi pula bahwa keahlian Cong Sin-liong memang bukan dalam ilmu Khong-jiu-jippek-to, meski dia sendiri merupakan seorang tokoh pedang yang cukup ahli dalam bidangnya ini.

Tapi sebelumnya Cong Sin-liong sudah mengagulkan diri sebagai seorang angkatan tua yang sudah membuka mulut besar hendak beri kesempatan tiga jurus kepada lawan mudanya, kenyataan lengan bajunya kena terpapas sebagian oleh pedang lawan, jelas ia sudah dibikin malu habis-habisan.

Dari malu Cong Sin-liong menjadi gusar, seringainya dingin.

"Aku tidak akan adu mulut dengan kau, tiga jurus bertangan kosong aku sudah menjajalnya. Sekarang tiba saatnya kau belajar kenal dengan ilmu pedangku."

"Memang sejak tadi sudah kusuruh kau mencabut pedangmu.""

Cong Sin-liong mendengus, sekali pedang digentakkan, ujung pedangnya bergetar mengeluarkan suara mendengung; bentaknya.

"Seranglah!"

Song Theng-siau tidak berani ayal, sembari memuji, pedangnya bergerak miring melancarkan sejurus tipu pedang yang mengandung perubahan rumit dan sulit diselami. Cong Sin-liong menjengek dingin.

"Mutiara sebesar beras juga berani bersinar!"--Sekonyongkonyong tampak sinar perak berputar-putar laksana kilat menyambar di tengah udara, sebilah pedangnya itu sekaligus melancarkan berlapis-lapis bayangan pedang, meski Song Theng-siau pun termasuk seorang ahli kosen dalam bidang ilmu pedang, namun dalam sekejap itu, ia sendiri menjadi bingung tak tahu dari jurusan mana pedang lawan menusuk ke arah dirinya. Untung Song Theng-siau mahir mengembangkan ginkang Menyelinap Kembang Mengitari Pohon, dan lagi kemahiran ilmu pedangnya sendiri pun cukup hebat pula, meski ia tidak tahu jalan permainan ilmu pedang lawan, namun tidak begitu gampang dirinya kena dilukai oleh pedang lawan. Melejit berloncatan berkelebat selincah kera. menggeser kedudukan merubah jurus serangan, beberapa gerakan ini sekaligus dilakukan dalam satu gebrakan, gerak perubahan permainan Song Theng-siau sendiri boleh dikata juga cukup cekatan dan lincah sekali, dari perubahan rumit untuk menyerang musuh dalam kejap lain berubah jurus-jurus sederhana cukup untuk membela diri, memang tipu permainan ilmu pedangnya ini kelihatannya sangat sepele dan gampang tapi di dalam penjagaan boleh dikata amat rapat dan tidak terbobolkan. Melihat serang menyerang yang amat ramai ini, diam-diam Lim Bu-siang yang mengintip dari belakang gunung-gunungan palsu memuji di dalam hati. pikirnya.

"Masih kuingat waktu Ang-ing cici bilang kepadaku bahwa di waktu pertama kali Kim-toako bentrok dengan piauko, hampir saja dia pun kena dirugikan, akhirnya mereka berimbang. Song-toako ini belum pernah melihat ilmu pedang Hu-siang-pay kami, namun dia mampu bertahan beberapa jurus, meski Cong Sin-liong sendiri tidak setanding piaukoku, tapi ilmu pedang Song-toako boleh terhitung cukup liehay pula."

Teringat pada sang piauko, perasaan Lim Bu-siang jadi mendelu dan hambar, pikirnya pula.

"Piauko menikah sudah tiga empat tahun, namun sekian lamanya aku belum pernah ketemu mereka. Entah apakah mereka sudah tahu bahwa aku pun sudah tiba di Tionggoan? Kabar mengenai piauko kudengar dari Kim toako, apakah Kim-toako akan memberi kabar piauko mengenai keadaanku? Semoga dia tidak menyinggung diriku di hadapan piauko."

Mendadak Lim Bu-siang teringat akan isi hatinya, serta merta perhatiannya pada pertempuran di tengah taman itu menjadi kendor.

Song Theng-siau hanya menjaga diri tanpa balas menyerang, tenaga yang dikeluarkan tidak begitu besar, namun demikian, setelah tiga puluh jurus kemudian lama kelamaan ia merasa tenaga tidak memadai dengan tekad tempurnya.

Ternyata ilmu pedang Hu-siang-pay ini, sudah semenjak dinasti Tong terbawa keluar lautan oleh maha guru besar Giu-jan-khek, di daerah Tionggoan sudah lama putus turunan.

Maka jalan permainannya jauh berlainan dengan ilmu pedang dari berbagai aliran di Tionggoan, namun ada beberapa petilan ilmu pedangnya ini ada mencakup beberapa inti dari ilmu pedang yang paling umum di kalangan persilatan di Tionggoan.

Song Theng-siau belum pernah melihat ilmu pedang Hu-siang-pay, terasa betapa hebat perubahannya yang aneh, dalam sekejap saja mampu menggunakan ratusan perubahan gaya yang berlainan satu sama lain, terutama beberapa petilan gerak pedangnya yang hampir mirip dengan ilmu pedang dari aliran Tionggoan yang paling umum jauh lebih membingungkan dan sulit dijajaki oleh Song Theng-siau.

Gempuran Cong Sin-liong yang hebat sekian banyak jurus tidak mampu menjebol pertahanan lawan, mendadak pedangnya lurus ke depan terus menusuk datang waktu itu Song Theng-siau sendiri sedang kerepotan menghadapi serbuan yang gencar itu, melihat tusukan lurus dari depan ini termasuk gaya ilmu pedang dari aliran Thian-san-pay yang bernama Tay-bok-hou-yam, maka tanpa banyak pikir, sebat sekali pedang panjangnya ia gerakkan memutar pula.

membalas dengan serangan Tiang-ho-loh-jit.

Gaya putaran pedang dari Tiang-ho-loh-jit dari serangan Song Theng-siau ini memang jurus untuk memunahkan serangan kurus dari Tay-bok-hou-yam yang dilancarkan Cong Sin-liong, di dalam ilmu pedang benar-benar merupakan jurus mengatasi jurus yang paling setimpal, tak nyana ujung pedang Cong Sin-liong mendadak berubah di tengah jalan, dari serangan lurus berubah menjadi rangsakan berputar membundar, sehingga gaya pelintiran dari perubahan gerak membundar kedua pihak saling gubat dan bentrok dengan dahsyatnya.

Lwekang Cong Sin-liong lebih tinggi maka ia mengambil keuntungan.

Terdengar Cong Sin-liong membentak.

"Lepas pedang!"

Dalam sekejap pedang kedua lawan saling gubat dan beruntun sudah berbenturan sebanyak tujuh delapan belasan, Song Theng-siau tidak kuasa menahan diri dari gempuran tenaga dalam lawan, terasa telapak tangan pedas, pedang hampir saja terlepas, lekas-lekas ia jejakkan kaki jumpalitan ke belakang dengan gaya Burung Dara Membalik Badan, sejauh tiga tombak.

Seketika itu juga ia merasa pundaknya silir dingin, entah apakah sudah terluka?

Cong Sin-liong membentak pula.

"Lari ke mana?"-Bicara lambat kenyataan teramat cepat, bagaikan bayangan mengikuti bentuknya ia sudah menubruk maju pula. Begitu tiba, segera Cong Sin-liong membentak pula.

"Biar bocah keparat ini tahu betapa liehay ilmu pedang dari Hu siang-pay kami!" --Sejurus Pek-hong-koan-jit, pedangnya terjulur ke depan bergerak laksana lembayung langsung menusuk ke uluhati dari sebelah punggung Song Theng-siau. Kepandaian Song Theng-siau pun tidak lemah, gesit sekali ia melompat, kebetulan ia dapat menangkap pedang panjangnya yang meluncur turun dari udara, begitu kaki menyentuh tanah, dengan kaki kanan sebagai poros badannya berputar setengah lingkaran, langsung pedangnya membalik terus membabat miring, mulutnya pun menghardik.

"Biar aku mengadu jiwa dengan kau."

Itulah cara tempur yang menginginkan gugur bersama, Song Theng-siau tahu bahwa dia bukan tandingan lawan, namun bagaimana juga, ia sendiri tidak sudi dilukai musuh tanpa dia sendiri pun mampu membuat musuhnya cedera.

Dalam keadaan gawat yang hampir menentukan seperti anak panah yang sudah dipentang pada busurnya tinggal melepaskan saja.

dan yang jelas bentrokan secara kekerasan ini terang bakal mengakibatkan Song Theng-siau menderita luka parah, sementara Cong Sin-liong sendiri juga sulit terhindar dari cedera, seandainya tidak luka berat paling tidak pasti terluka ringan.

Karena mendengar bentakan Cong Sin-liong itulah maka Lim Bu-siang tersentak sadar dari lamunannya, begitu terkejut secepat kilat ia melompat keluar.

Di saat ujung pedang Cong Sin-liong sudah hampir mengenai punggung Song Theng-siau, sementara Song Theng-siau juga sudah memasang kuda-kuda membalikkan pedang seperti orang bergaya hendak memanah itulah, mendadak dilihatnya selarik sinar putih laksana rantai perak, tahu-tahu Lim Bu-siang sudah tiba laksana seekor burung besar mendesak di tengah-tengah kedua orang.

Badan Lim Bu-siang bergerak mengikuti pedangnya, belum lagi Cong Sin-liong melihat tegas siapa pendatang ini.

"sret!"

Laksana kilat tahu-tahu ujung pedang itu sudah mengancam jalan darah Jian-kin-hiat di pundak Cong Sin-liong.

Serangan ini memang khusus melabrak musuh supaya dia menyelamatkan diri lebih dulu daripada berusaha melukai lawan.

Cong Sin-liong adalah seorang ahli silat yang sangat liehay, meski belum melihat tegas siapa pendatang ini.

namun ia cukup memahami bahwa jurus yang dilancarkan pendatang ini amat hebat, bercekat hatinya, terpaksa ia batalkan niatnya melukai Song Theng-siau, telapak kiri menepuk sementara pedang di tangan kanan ditarik ke samping, di mana ia pelintir tajam pedangnya, ia punahkan lebih dulu rangsakan pedang Lim Bu-siang yang ganas.

Dalam pada itu Song Theng-siau sedang berputar dengan kaki kanan sebagai poros, tubuhnya baru saja berputar setengah lingkaran, belum lagi ia sempat berdiri tegak, badannya kena tergetar oleh pukulan Bik-khong-ciang Cong Sin-liong, tak tertahan, ia sempoyongan mundur tiga tindak.

Di saat ia terhuyung'tiga langkah, dalam waktu yang begitu singkat itu, sementara Lim Bu siang dan Cong Sin-liong masing-masing sudah serang menyerang tiga jurus.

Ketiga jurus ini dilaksanakan dalam waktu yang amat singkat dan cepat sekali, Lim Bu-siang menyerang untuk menjaga diri, menghindari yang isi menggempur yang kosong, beruntun ia meluputkan diri, dua jurus serangan pedang Cong Sin-liong, namun jurus ketiga Cong Sin-liong adalah Liong-bun-sam-tiap-long (tiga gelombang menggempur pintu naga), tipu pedang kebanggaannya.

Lim Bu-siang sulit berkelit terpaksa harus menyambut secara kekerasan, maka terdengarlah suara "tring", Lim Bu-siang tersuruk miring tiga langkah, sementara badan Cong Sinliong tergeliat, tak urung akhirnya ia pun terpental mundur satu tombak.

Song Theng-siau melihat pertarungan sengit ini dengan jelas sekali, keruan kejut dan girang pula hatinya, diam-diam ia malu dan gegetun, pikirnya.

"Ilmu pedang nona Lim ini benar-benar jauh lebih liehay dari aku!", teringat akan sikap sombongnya tadi tanpa terasa mukanya panas membara. Di luar tahunya bahwa Lim Bu-siang pun sebenarnya mengeluh dalam hati, pikirnya.

"Untung Song Tayhiap sudah menempurnya sekian lama sehingga banyak menguras tenaga muminya, kalau tidak, jurus ketiga itu walaupun aku mampu mematahkannya, tak usah diragukan aku pasti kena dikalahkan olehnya."

Setelah melihat lawannya hanya seorang gadis remaja, hati Cong Sin-liong lebih terkejut, batinnya.

"Bagaimana mungkin gadis kecil yang masih pupuk bawang, ilmu pedangnya jauh berada di atas kemampuanku!"--Timbul rasa takutnya, tak berani ia menyerang lebih lanjut, sambil melintangkan pedangnya segera ia membentak.

"Siapa kau? Mengandal budak kecil ingusan ini juga berani turut campur urusan orang lain!"

Sekali melompat dengan gaya burung dara jumpalitan, Lim Bu-siang melayang ke hadapan Cong Sin-liong, katanya tawar.

"Apakah paman Cong tidak kenal tit-li lagi?" --Tit-li berarti keponakan perempuan. Di saat Lim Bu-siang melayang tiba tadi, pakaiannya melambai dan tersingkap di ujung bajunya tersulam seekor ikan terbang yang mencelat keluar dari gelombang' lautan, gambar sulaman ini terlihat jelas oleh Cong Sin-liong. Keruan Cong Sin-liong kaget, baru sekarang ia paham, pikirnya.

"Sungguh aku amat ceroboh, kenapa aku tidak teringat akan putri Hwi-hu-tocu?"

Ternyata Hu-siang-pay didirikan oleh Giu-jan-khek di luar lautan sejak dinasti Tong, usianya sampai sekarang sudah ribuan tahun, sudah tentu bukan kecil segala perubahan dan kejadian dalam dunia selama seribu tahun ini, bukan saja buku pelajaran pukulan dan buku ilmu pedang peninggalan cikal bakal mereka Giu-jan-khek tinggal beberapa lembaran petilan yang tidak lengkap lagi, para muridnya pun sudah tersebar luas di luar lautan, dan terjadilah satu aliran tiga cabang, masing-masing berdiri sendiri.

Maka seringlah terjadi di antara sesama perguruan sendiri yang tidak saling kenal meski mereka saling bertemu.

Tapi Cong Sin-liong dengan ayah Lim Bu-siang yaitu Hwi-hu Tocu merupakan kenalan lama.

Leluhur keluarga Lim adalah cosu Boh Jong-liong generasi kedua dari Hu-siang-pay, mereka ada menyimpan tiga

Jilid buku pelajaran pukulan tangan dan ilmu pedang yang petil-petil tidak lengkap, secara tradisi buku pelajaran ini turun temurun sampai pada generasi terakhir yaitu ayah Lim Bu-siang yang bernama Lim Pak-bing.

Karena di pulau Hu-siang sendiri mereka sulit menetap, terpaksa mereka sekeluarga pindah ke sebuah pulau gersang yang tidak berpenghuni, selama beberapa tahun bekerja giat tidak mengenal lelah, lambat laun mereka mengumpulkan beberapa keluarga nelayan, bersama-sama membuka dan membangun pulau kosong itu, ada yang bertani ada yang menjadi nelayan.

"selama lima tahun mereka berjerih payah, akhirnya pulau kosong itu sudah merupakan tempat subur dan perkampungan nelayan yang serba berkecukupan, hari ke hari mereka hidup dengan tentram dan sejahtera. Lim Pak-bing menamakan pulau ini Hwi-hu-to (pulau ikan terbang), karena berhasil memukul beberapa kali bajak laut, lama kelamaan nama Hwi-hu tocu Lim Pak-bing mulai terkenal dan tersiar luas di luar lautan. Waktu itu Cong Sin-liong sedang mengagulkan diri sebagai salah seorang maha guru dari alirannya, malang melintang di lautan luar, belum pernah mendapatkan musuh yang benar-benar tangguh, maka namanya amat tenar. Terjadilah seorang bajak laut yang pernah dikalahkan oleh Lim Pak-bing datang minta bantuan kepadanya, disogok dengan harta benda yang cukup bernilai, ia minta orang suka membalaskan dendam sakit hatinya. Dasar Cong Sin-liong kemaruk harta dan suka mengagulkan gengsi, kuatir orang usil mulut mengatakan dirinya tidak"

Berani menghadapi Hwi-hu Tocu, akhirnya ia kena dibujuk oleh kepala bajak laut itu, serta merta meluluskan .permohonan orang.

Tapi Cong Sin-liong ini pun seorang licik dan licin, waktu tiba di Hwi-hu-to ia hanya mengatakan rasa kagumnya untuk berkenalan, ingin mohon petunjuk tiga jurus atau dua gebrakan kepada Hwi-hu Tocu untuk menjajal ilmu silat masing-masing.

Sekecap pun tidak menyinggung soal membantu teman mewakili orang menuntut balas segala.

Dengan cara ini, bila ia menang bisa minta tambahan hadiah dari kepala bajak itu, sebaliknya kalau kalah, nama dan gengsinya tidak sampai runtuh total.

Begitu mereka mulai saling gebrak, masing-masing lantas tahu bahwa mereka sama menghadapi anggauta satu aliran lain cabang, akhirnya sebelum menanjak jurus ke tiga puluh, Cong Sin-liong sudah kena dikalahkan.

Tergerak akal licik Cong Sin-liong, setelah kalah segera membahasakan "suheng"

Kepada Hwi-hu Tocu, dikarangnya pula sebuah cerita obrolan, dikatakan bahwa sejak lama ia sudah sangsi bahwa Hwi-hu Tocu Lim Pak-bing adalah saudara seperguruannya dari cabang lain, maka sengaja ia berkunjung untuk membuktikan dengan menjajal kepandaian masing-masing.

Hwi-hu Tocu percaya akan obrolannya, ia tertawa tergelakgelak, begitulah mereka lantas mengikat hubungan dengan kedudukan setingkat, Cong Sin-liong merendah diri sebagai sute.

Malah tanpa merasa sayang Lim Pak-bing ada memberi petunjukpetunjuk seperlunya mengenai ajaran perguruan yang dapat diselaminya kepada sutenya ini, sudah tentu Cong Sin-liong mendapat manfaat yang tidak kecil artinya.

Di waktu Cong Sin-liong menjajal kepandaian silat bersama Lim Pak-bing, Lim Bu-siang juga hadir menonton, tapi tatkala itu Lim Bu-siang masih seorang anak perempuan kecil yang belum genap berusia sepuluh tahun, maka begitu ketemu lantas ia kenal pada Cong Sin-liong, sebaliknya Cong Sin-liong tidak mengenalnya lagi.

Kini Lim Bu-siang menunjukkan gambar sulaman tanda kebesaran dari ikan terbang di ujung bajunya, maka Cong Sin-liong baru tahu siapa dia adanya.

Setelah Cong Sin-liong tahu siapa adanya Lim Bu-siang, tak terasa bercekat hatinya, dengan tertawa dibuat-buat ia maju berkata.

"Ternyata kau adalah Bu-siang titli, sekarang tumbuh sedemikian besarnya, paman sudah pangling kepadamu. Em, konon ayahmu juga sudah sampai di Tionggoan, sayang aku tidak tahu di mana kalian tinggal, tak sempat aku bertandang ke rumah kalian!"

Lim Bu-siang berkata tawar.

"Sudah lama ayah menutup pintu menggantungkan, pedang, menyibukkan paman saja untuk datang ke rumah kami!"

Mendengar jawaban ini diam-diam Cong Sin-liong bersorak dalam hati, pikirnya.

"Asal Lim Pakbing si kakek tua itu tidak datang, masa perlu aku takut menghadapi budak cilik ini?"-Ternyata ia pura-pura menanyakan ayah Lim Bu-siang hanya hendak mengorek keterangannya saja. Kalau toh ayahnya sudah menutup pintu menggantungkan golok, sudah tentu tidak akan keluar ikut mengurus segala tetek bengek lagi. Tapi ia hanya sebagian saja merasa lega, rasa kuatirnya masih belum bisa hilang begitu saja. Kalau Lim Bu-siang dan Song Theng-siau bergabung mengeroyok dirinya, belum tentu dia punya keyakinan untuk mengalahkan mereka berdua. Karena adanya rasa kuatir ini, Cong Sin-liong tidak berani bertingkah lagi, katanya sambil tertawa besar.

"Ini benar-benar umpama air bah melanda kelenteng naga, orang sendiri tidak kenal dengan orang sendiri. Bu-siang titli, maafkan bila aku bertanya secara sembrono, bocah she Song ini apamu, kenapa kau bantu dia untuk bermusuhan dengan aku?"

"Baru saja aku berkenalan dengan Song Tayhiap!"

Sahut Lim Bu-siang.

"'Kalau begitu kenapa sikutmu kau tekuk keluar? Tidak melihat muka hwesio harus pandang muka Budha, jelek-jelek aku ini adalah angkatan tua dari perguruan kita!'"

"Paman Cong, ucapanmu ini hanya benar separuh saja!"

Cong Sin-liong melengak, tanyanya.

"Apa maksud ucapanmu ini?'"

"Memang kau kenalan ayahku, usiamu jauh lebih tua dari aku, cukup pantas kalau aku menghormatimu sebagai orang yang lebih tua. Tapi kau bukan angkatan tua dari perguruan kita!"

Berubah air muka Cong Sinliong.

dampratnya.

'"Apa berani kau.

punya mata tidak pandang orang, angkatan tua dari perguruan sendiri tidak diakui lagi?

Ayahmu sendiri pernah berhubungan kental sebagai saudara seperguruan sama tingkat, pernah memanggil aku sute lagi!

Berani kau katakan bahwa aku bukan dari Hu-siang-pay?'"

"Dulu memang, tapi sekarang bukan lagi. Paman Cong, tadi kau menyalahkan aku bertentangan dengan kau, baiklah aku bicara terus terang kepadamu. Sedikit pun aku tiada niat bermusuhan denganmu, cuma tidak suka aku melihat orang luar mencatut nama kebesaran Husiang-pay kita!"

Keruan Cong Sin-liong berjingkrak gusar, bentaknya.

""Kau, besar nyalimu! Angkatan tertua dari Hu-siang-pay termasuk aku dan ayahmu saja, berani kau menuduh aku mencatut nama kebesaran Hu-siang-pay segala?"

Lim Bu-siang berlaku tenang, katanya.

"Betapapun tinggi kedudukanmu, kau pun harus patuh pada keputusan Ciangbunjin. Bukankah Boh-ciangbun sudah mengumumkan mengusir kau dari ikatan perguruan kita? Berita ini aku diberitahu oleh Kim Tayhiap. masa harus disangsikan?"

Ternyata sejak tiga tahun yang lalu.

karena kemaruk harta dan kedudukan, Cong Sin-liong terima diperbudak oleh pihak kerajaan.

maka atas nama Ciangbunjin Hu-siang-pay, Cong Sin-liong sudah diusir dari perguruan.

Waktu itu Cong Sin-liong harus berjuang me-nempur Boh Cong-tiu mati-matian, namun akhirnya ia kena dikalahkan, maka ia harus menerima hukumannya ini.

Kim Tiok-liu adalah salah satu saksi yang hadir pada waktu itu.

Cong Sin-liong tertawa dingin, jengeknya.

"Sejak mula Hu-siang-pay memang tidak punya Ciangbunjin, Boh Cong-tiu hanya mengangkat dirinya sendiri sebagai Ciangbunjin, kau tahu tidak?"

"Yang kutahu seluruh anak murid Hu-siang-pay semua sudah mengakui dia sebagai Ciangbunjin. Meski ada anak murid yang kurang ajar dan berlaku serampangan hendak membangkang main kekerasan, masa kuat dia menumbangkan keadilan sesama perguruan."

Cong Sin-liong mendengus, ejeknya.

"Belum tentu! Tapi aku pun segan main debat dengan kau..."

Sampai di sini, mendadak ia terkekeh-kekeh tiga kali. lalu katanya lebih lanjut.

"Keponakanku yang baik, begitu kukuh kau membela Boh-toaciangbunmu, sayang Bohtoaciangbun mengabaikan kebaikan hatimu ini!"

Seketika berubah pucat selebar muka Lim Bu-siang, desisnya.

"Paman Cong, apa-apaan maksudmu ini?"

"Masa kau belum tahu bahwa Boh Cong-tiu sudah menikah dengan orang lain, orang itu bukan lain adalah teman baikmu Lian Jay-hong?'"

Kata-kata ini laksana sebatang panah menghunjam ke ulu hati Lim Bu-siang.

Ternyata sejak lama secara diam-diam memang Lim Bu-siang sudah jatuh cinta kepada piaukonya itu, dan perasaan hati ini sejak lama sudah terpendam di dalam lubuk hatinya, bahwa akhirnya dia meluruk ke Tionggoan bersama ayahnya, adalah karena untuk mencari Boh Cong-tiu.

Selintas kenangan yang pahit kembali terbayang di dalam sanubari Lim Bu-siang, masih teringat olehnya, waktu itu ia mendengar berita pernikahan piaukonya di dalam perjamuan pernikahan Kim Tiok-liu dengan Su Ang-ing.

Selama tiba di Tionggoan Lim Bu-siang belum pernah bertemu dengan sang piauko, namun dalam suatu kesempatan yang kebetulan ia berkenalan dengan Kim Tiok-liu suami istri, setelah saling bicara dan memperkenalkan diri masing-masing, baru ia tahu bahwa Kim Tiok-liu adalah sahabat piaukonya.

Maka ia mohon bantuan Kim Tiok-liu untuk ikut menyirapi berita dan jejak piaukonya.

Hari itu ia menghadiri perjamuan pernikahan Kim Tiok-liu, sekaligus pun untuk menyirapi berita.

Kim Tiok-liu kelihatan rikuh dan serba kesulitan untuk menjelaskan, akhirnya ia mendengar berita ini dari seorang tamu lain yang tidak mengetahui seluk beluk mengenai lika-liku kedatangannya ke Tionggoan ini.

Bahwa orang lain sedang berpesta pora dengan riang gembira, justru ia mendengar berita yang mengetuk sanubari dan membuat hatinya pedih.

Betapa rikuh dan rawan hati Lim Bu-siang pada waktu itu, tidak perlulah kami lukiskan di sini.

Masih segar pula dalam ingatan Lim Bu-siang, waktu itu ia berusaha membendung air matanya meleleh keluar, sehingga ia tidak memperoleh malu dalam perjamuan itu.

Dia pun ingat, mempelai perempuan Su Ang-ing demi menghibur dirinya, dia rela mencapaikan diri semalam suntuk mengajak dia bicara serta membujuknya sehingga kenikmatan dari kedua pengantin ini terbuang demikian saja.

Sungguh tidak gampang untuk menyembuhkan penyakit hatinya ini selama beberapa lama ini, kini penyakit yang hampir sembuh kena ditusuk pula oleh kata-kata Sin-liong yang tajam seperti anak panah yang mengandung racun pula.

Bu-siang mengertak gigi, katanya gemetar.

"Paman Cong, kau, kau membual apa, kau mengadu biru!"

Cong Sin-liong terbahak-bahak, serunya.

"Keponakan baik, isi hatimu jangan harap bisa mengelabui mataku. Tentunya kau pun tahu bahwa piausomu memanggil su-kong (bapak guru) kepadaku, maka aku bisa membuat dia tidak bisa menikah dengan Boh Congtiu sesuai dengan keinginan dan cita-citamu, asal kau mau kerja sama dengan aku, akan kurebut seorang suami untuk kau!"

Saking gusar badan Lim Bu-siang sampai gemetar, makinya sambil menuding Cong Sin-liong.

"Kau, kau, kuhormati kau sebagai paman, bila berani kau membuka mulutmu yang kotor, jangan kau salahkan aku tidak sungkan lagi kepadamu!"

Cong Sin-liong menyangka kata-katanya bakal mengetuk sanubari Lim Bu-siang, tak duga hasilnya malah sebaliknya, sejenak ia terlongong, katanya tertawa dingin.

"Wah, air susu dibalas dengan air tuba, kau tidak tahu kebaikan orang, Bu-siang, coba kau pikir-pikir dulu, bukankah kita saling kait mengait, bisa saling memanfaatkan satu sama lain!"

Tak tertahan lagi air mata menetes dari kelopak mata Lim Bu-siang.

"Sret"

Segera ia menusuk dan menyerang dengan kalap serta bentaknya.

"Kau! Menggelindinglah kau pergi!"

Lim Bu-siang menjengek dingin, katanya.

"Paman Cong, sedikit pun aku tiada maksud bermusuhan dengan kau, cuma aku tidak suka melihat orang luar mencatut nama kebesaran Husiang-pay kita."

Song Theng-siau yang mendengar perdebatan mereka dengan melongo, tiba-tiba tersentak sadar, tak tahan ia pun membentak.

"Mulut anjing tidak akan tumbuh gading, nona Lim jangan kau percaya akan obrolannya!"

Cong Sin-liong tertawa dingin, ejeknya.

"O, ternyata kau sudah punya..."

Belum lenyap suaranya pedang Lim Bu-siang sudah menyelonong tiba pula menusuk ke jantungnya, sementara Song Theng-siau pun sudah menubruk tiba menyerang dengan jurus Che-han-hu-jak, dua batang pedang sekaligus hampir dalam waktu yang bersamaan menyerang tempat mematikan di tubuh Cong Sin-liong.

Cong Sin-liong insyaf bahwa dirinya tidak punya keyakinan dapat menang, di saat hati Lim Busiang belum lagi tenang, sebat sekali ia melompat jumpalitan setombak lebih ke belakang, jengeknya.

"Baik, aku pergi, aku pergi. Kau tidak mau dengar nasehatku, jangan kelak kau menyesal!"

Lenyap suaranya menghilang pula bayangannya.

"Nona Lim, beruntunglah malam ini aku mendapat bantuanmu!"

Demikian ujar Song Theng-siau kemudian. Lim Bu-siang menyeka air mata, sahutnya.

"Song Tayhiap, aku pun harus segera berangkat!"

Sebetulnya Song Theng-siau ingin menahannya, tapi mengingat kata-kata terakhir Cong Sinliong tidak enak ia membuka mulut, sesaat baru ia berkata.

"Nona Lim, kau hendak ke mana?"

"Aku hendak pulang ke rumah Kim Tayhiap. Oh ya, bila kau ada bertemu dengan.Beng Tayhiap harap tolong sampaikan salam dan maksud baik Kim Tayhiap kepadanya!"

"Tidak usah nona berpesan lagi, kalau aku ketemu Beng-toako, segera kami akan datang ke rumah Kim Tayhiap untuk menyatakan terima kasih kami. Di hadapan Kim Tayhiap harap kau pun menyampaikan salam dan pernyataan hormat kami!"

Lim Bu-siang tiada hasrat banyak bicara dengan Song Theng-siau, setelah berpesan beberapa patah kata, segera ia menjura terus buru-buru tinggal pergi.

Saat mana rembulan sudah doyong ke sebelah barat, tak lama lagi, sang surya bakal muncul di ufuk timur.

Tanpa merasa diam-diam Song Theng-siau menghela napas dan membatin dalam hati.

"Segala kejadian di dunia ini memang sukar diraba dan diketahui sebelumnya, tak nyana nona Lim ini punya penyakit yang sama dengan diriku!"

Seorang diri Song Theng-siau berdiri terlongong di taman kembang belukar keluarga Hun, entah berapa lama sudah berselang. waktu ia angkat kepala, langit sana sudah menyorotkan setabir cahaya terang.

"Hari ini cuaca ternyata sangat baik, aku pun harus segera pulang ke rumah,"

Demikian pikir Song Theng-siau.

Entah karena dia mendapat kawan yang punya penyakit yang sama dengan keadaan dirinya, di waktu Song Theng-siau beranjak keluar dari rumah gedung keluarga Hun, perasaannya tidak seberat dan segundah waktu datangnya tadi.

-ooo0dw0ooo-Song Theng-siau mendadak pulang ke rumah, badannya yang kotor serta parasnya yang kurus dan tidak terurus itu membuat ibunya kaget berjingkrak.

"Bu, semalam aku sudah tiba. Aku mencari Beng-toako lebih dulu, tidak ketemu, hujan turun rintik-rintik, sehingga bajuku kena kotoran di kebun keluarga Hun.'"

"O, jadi kau mencari Beng Goan-cau. Kenapa tidak pulang rumah lebih dulu!"

"Bu, kau tidak marah bukan. Aku punya urusan amat penting harus bertemu dengan Bengtoako, tunggulah sebentar aku ganti pakaian dulu, nanti kujelaskan perlahan-lahan."

"Sudah tentu ibu tidak menyalahkan kau, sayang kau tidak tahu..."

"Tahu apa?"

"Kau tidak usah tergesa-gesa ganti pakaian, ibu pun ada sebuah urusan penting yang perlu kubicarakan dengan kau."

"Urusan apa?"

Tanya Song Theng-siau. Mendengar kata-kata ibunya yang tidak juntrungan ini, Song Theng-siau jadi heran. Kata Song-hujin.

"Rumah kita kedatangan seorang tamu, coba kau terka siapa dia?"

"Mana aku bisa menebak, tapi pasti bukan Beng-toako?"

"Darimana kau bisa berpendapatan demikian?"

"Jikalau Beng-toako, begitu mendengar suaraku, tentu bergegas memburu keluar."

Song-hujin tersenyum, ujarnya.

"Ucapanmu memang tidak salah, tamu ini adalah seorang yang tidak akan terpikir dalam benakmu!"

"Siapakah tamu itu? Bu, beritahukan kepadaku, masa perlu aku main tebak segala."

Song-hujin tertawa geli, katanya.

"Orang itu..."

Kata-katanya sudah sampai di ujung mulut tibatiba ditelannya kembali, katanya.

"Sementara tidak kuberitahu, mari kau ikut aku!"

Song Theng-siau jadi melongo, katanya.

"Masa aku harus bertemu dengan tamu dengan pakaian sekotor ini?"

"Kukira tidak menjadi soal, tamu itu pun sedang menunggu-nunggu kau, ia ingin bertemu langsung dengan kau!"

Song-hujin adalah keturunan dari keluarga besar yang paling mematuhi aturan tradisi keluarganya, sejak menikah ke keluarga Hun, adat istiadat kekeluargaan dipegang amat teguh.

Pendidikan terhadap anaknya biasanya sangat keras dan sangat mementingkan tata krama.

Maka Song Theng-siau sangat heran mendengar ibunya menyuruh dia tidak usah ganti pakaian untuk menemui tamu.

"Bu, urusan penting yang kau maksudkan tadi ada hubungannya dengan tamu kita itu?"

"Boleh dikatakan demikian!"

"Bu, aku tidak paham akan maksudmu. Sebetulnya ada urusan apa?"

"Kenapa begitu gugup? Setelah kau bertemu dengan orang itu, segala urusan kau akan paham sendiri!"

Melihat sikap ibunya yang lucu dan main sembunyi-sembunyi ini, Song Theng-siau rada heran, namun ia pun cukup lega, maka pikirnya.

"Meski urusan ini cukup penting, tapi bukan urusan mendesak yang harus segera diselesaikan, kenapa ibu mendesak aku untuk lekas-lekas menemui tamu itu?"

Lalu terpikir pula olehnya.

"Kalau dugaanku tidak meleset, urusan ini tidak begitu penting atau mendesak, dari sini dapatlah direka bahwa tamu ini bukan tamu luar atau tamu agung yang harus dihormati dengan segala tata krama sekadarnya. Kalau bukan Beng-toako lalu siapakah dia?"

Selama percakapan itu mereka sudah berhenti di muka sebuah kamar yang dauri pintunya cuma dirapatkan dari luar, perlahan-lahan ibu mengetuk pintu, maka terdengarlah sebuah suara nyaring dari mulut seorang orang gadis bertanya.

"Apakah bibi Song?"

Sahut Song-hujin.

"Su-bi, lihatlah siapa yang datang? Anak Theng, kenapa melongo, lekaslah masuk!"

Song Theng-siau melongo, tanpa sadar ia mendorong pintu dan menerobos masuk. Maka terdengarlah teriakan bersama dari kedua mulut mereka.

"Siau-sumoay!"

"Song-suko!"

Ternyata gadis ini bukan lain adalah siau-sumoay Lu Su-bi yang setiap hari luntang-lantung antara mereka bertiga dengan Beng Goan-cau sewaktu berada di Siau-kim-jwan dulu.

Tampak muka Lu Su-bi yang pucat pasi seperti kertas itu bersemu kemerah-merahan, keruan Song Theng-siau amat terkejut, teriaknya.

"Siau-sumoay, kenapa kau? Jatuh sakit?"

Melihat Song Theng-siau yang kurus dan baju penuh debu berle-potan lumpur lagi, Lu Su-bi juga terkejut, teriaknya.

"Song-suko, kenapa kau? Kau berkelahi dengan siapa?"

Kedua orang sama mengajukan pertanyaan yang sama, setelah suara mereka hilang mereka saling berpandangan, tanpa terasa akhirnya mereka bergelak tertawa geli.

Melihat adegan yang lucu dan menyenangkan ini, Song-hujin merasa riang dan gembira dalam hati, ujarnya.

"Theng-ji, ucapan ibu tidak salah bukan, tamu yang tidak kau duga bukan?"

"Benar-benar tidak duga. Siau-sumoay, kau dulu bercerita, angin apa yang meniup kau kemari? Eh, agaknya kau memang terluka?" --Baru sekarang ia melihat tegas bahwa di tengah-tengah alis Lu Su-bi ada sejalur hawa hitam.

"Beng-suko yang mengantar aku kemari. Kemarin malam aku kurang berhati-hati, kena dilukai oleh pukulan berbisa Toan Siu-si, salah satu dari Tiam-jong-siang-sat, luka ringan saja tidak menjadi soal."

Kejut dan heran pula Song Theng-siau, katanya.

"Beng-toako yang antar kau kemari! Lalu ke mana Beng-toako sekarang?"

Segera Song-hujin menyeletuk bicara.

"Goan-cau tidak mau tinggal, dia sudah pergi. Katanya ada urusan penting yang harus dia kerjakan maka harus buru-buru berangkat. Aku sudah menahannya, namun ia bertekad harus pergi."

Baru sekarang Song Theng-siau paham, batinnya.

"Tak heran ibu menyalahkan aku kenapa tidak pulang lebih dulu, kalau sehari lebih pagi aku sampai di rumah, pasti aku dapat bertemu mereka berdua."

"Song-suko kenapa keadaanmu sedemikian rupa?"

Tanya Lu Su-bi.

"Siau-sumoay, apakah kau datang dari rumah keluarga Hun sana bersama Beng-toako?"

"Benar!"

"Tak heran semalam aku tidak bisa menemukan dia."

"Jadi kau pun sudah meluruk ke sana?"

"Ya, aku pun berkelahi di kebun keluarga Hun, untunglah tidak sampai terluka."

"Siapa saja yang bentrok dengan kau?"

Song Theng-siau tertawa, katanya.

"Aku sangat ingin mengetahui kejadian yang kalian alami lebih dulu, coba kau dulu yang bercerita."

Dengan ringkas dan jelas Lu Su-bi menuturkan kisahnya waktu berada di rumah keluarga Hun kepada Song Theng-siau, lalu menambahkan.

"Aku sudah menelan Siau-hoan-tan pemberian Beng-suko, luka-luka ringan ini kukira tidak menjadi soal lagi. Tapi kemungkinan harus istirahat sepuluh hari baru bisa sembuh. Beng-suko mendapat tugas sebagai kurir untuk mencari hubungan dengan para enghiong dan para ksatria bangsa, aku kuatir aku menjadi beban saja baginya sehingga menelantarkan urusan besar. Akhirnya Beng-suko teringat bisa membawa aku kerumahmu untuk merawat luka-luka ini, maka tanpa sungkan-sungkan lagi aku ikut kemari, membuat repot Song-pekboh saja."

"Keponakan yang baik, jangan kau bicara begitu sungkan, umpama kumohon kau kemari belum tentu kau sudi datang ke rumah kami. Kukira kau pun sudah tahu hubungan keluarga Lu, Hun dan Beng bertiga, di waktu aku bersama ayah Theng-siau berhubungan kental dengan ayah ibumu, kau sendiri belum lagi lagi lahir. Terutama ibumu seperti kakak adik sekandung saja dengan aku, sejak berpisah, dua puluh tahun tak pernah lagi berjumpa sampai sekarang, sungguh aku rindu dan kangen. Sekarang melihat kau sama juga melihat ibumu. Em, kau cantik dan sudah besar seperti ibumu di waktu muda, malah rasanya lebih ayu dan rupawan dari kecantikan ibumu dulu."

Merah muka Lu Su-bi, katanya.

"Bibi baru saja aku datang kau lantas menggoda aku, aku tidak akan menurut lagi kepadamu!"

Song-hujin tertawa, ujarnya.

"Sedikit pun aku tidak membual, di muka ibumu aku juga berani berkata demikian. Tapi kemarin waktu kau baru saja tiba, aku rada ber-kuatir bagi kau!"

"Oh, ya bu, aku belum lagi tanya kepadamu. Apakah kau sudah mengundang tabib untuk memeriksa luka-luka siau-sumoay? Apa benar tidak menguatirkan?"

"Masa perlu kau tegur lagi padaku, kemarin sudah kupanggil Han-tayhu kemari memeriksa keadaannya. Han-tayhu tidak tahu racun apa yang mengeram dalam tubuhnya, tapi cuma dikatakan bahwa dari rabaan denyut nadinya bahwa kadar racun sudah mulai lemah dalam tubuhnya, asal istirahat dan tidak banyak pikiran, satu bulan pasti akan sembuh seluruhnya. Dikatakan pula bahwa badan nona Lu sangat kekar dan sehat, selamanya belum pernah dilihatnya ada perempuan yang punya badan begitu baik. Kalau tidak untuk menyembuhkan penyakitnya ini, paling sedikit harus memakan tempo setengah tahun!"

"Lwekang siau-sumoay sudah lebih tinggi dari aku, meski Han-tayhu seorang tabib kenamaan, mungkin dia tidak tahu akan hal ini. Tidak heran dia merasa heran akan badan siau-sumoay yang kuat itu."

Lu Su-bi menghela napas, katanya.

"Aku berdoa, supaya lekas sembuh dalam setengah bulan, satu bulan terlalu lama bagi aku! Song-suko kau hanya menempel emas di mukaku saja."

"Kau sendiri harus cukup puas akan keadaanmu sekarang. Kemarin waktu Goan-cau memayangmu masuk, mukamu sedikit pun tidak kelihatan warna darah, waktu itu aku betul-betul amat kuatir akan keadaanmu. Sekarang, coba kau berkaca, tanpa mengenakan pupur mukamu sudah kelihatan semu merah."--Lalu sambungnya pula.

"Seharusnya Goan-cau sejak lama sudah mengantar kau kemari, seumpama dia sendiri tidak punya tugas apa-apa, di sana dia pun tiada seorang pembantu untuk merawat penyakitmu ini!"

Beng Goan-cau membawa Lu Su-bi ke rumah keluarga Song, memang tujuannya supaya ada orang yang menjaga dan merawat penyakitnya.

Tapi kecuali maksud-maksud ini, Beng Goan-cau memang ada maksud merangkap perjodohan Song Theng-siau dengan siau-sumoaynya cuma ia tidak menjelaskan secara langsung kepada Song-hujin.

Namun maksud Goan-cau ini secara kebetulan justru sama dengan isi hati Song-hujin.

Song-hujin celingak-celinguk mengamati Lu Su-bi dan Song Theng-siau yang duduk di sampingnya ini, semakin senang hatinya, batinnya.

"Sejak kecil Theng-siau menyukai Hun Ci-lo, hal itu aku tahu, Ci-lo cukup baik, sayang dia sudah menikah. Aku sedang kuatir akan perjodohan Theng-ji, kebetulan bila tabiat dan perangainya bisa cocok dengan nona Lu, kelihatannya malah lebih cocok daripada Hun Ci-lo, kalau aku bisa memperoleh mantu macam ini, aku puas dan senang."

Sudah tentu Lu Su-bi tidak tahu, jalan pikiran Song-hujin, tapi melihat orang selalu mengawasi dirinya sambil tersenyum-senyum, ia jadi malu dibuatnya, katanya.

"Song-suko, kini giliranmu yang bercerita, dengan siapa kau berkelahi?"

"Tiam-jong-siang-sat yang kau maksud, apakah di antaranya ada seorang yang berbentuk seperti monyet..."

"Ya, benar!"

"Tiga hari yang lalu aku sudah berkelahi dua kali, yang pertama aku melawan Tiam-jong-siangsat itulah!"

"Tiam jong-siang-sat yang kau sebut tadi, apakah mereka tahu siapa kau adanya? Cara bagaimana bisa berkelahi?"

Song Theng-siau jadi melengak, pikirnya.

"Apakah aku harus bicara terus terang perihal mereka merebut putra Goan-cau dari tanganku?"

Setelah dipertimbangkan, akhirnya ia berkeputusan sementara waktu tidak beritahu kepada siau-sumoay, katanya.

"Aku pun tidak tahu apa sebabnya, begitu tiba mereka lantas menyerang aku. Mungkin mereka sudah tahu bahwa aku adalah sahabat kental Beng-toako?" -.

"Song-suko kepandaian silatmu sungguh maju pesat. Malam itu bila tidak ditolong oleh seorang perempuan berkedok yang tidak diketahui asal-usulnya, aku bersama Bengsuko mungkin bisa terjungkal di tangan Tiam-jong-siang-sat."

Diam-diam Song Theng-siau merasa malu diri, katanya.

"Sebetulnya aku hanya mengandal ginkang yang kita latih bersama dulu waktu di Siau-kim-jwan, beruntung tidak sampai terluka."

Song-hujin sudah dengar penuturan Beng Goan-cau akan kejadian malam itu, tak tahan lekas ia menyela bertanya.

"Oh, ya, kemarin aku terlupa tanya kepada Beng-sukomu, meski asal-usul perempuan berkedok itu tidak diketahui, paling tidak mesti pernah dilihatnya sebelum ini?"

"Aku pun berpikir demikian. Kalau tidak kenal kenapa perempuan itu tanpa sebab mau mengulurkan tangan mencabut pedang membantu kesulitan kami? Tapi Beng-suko berkata bahwa dia tidak pernah kenal dan melihat perempuan itu. Mungkin dia sendiri sudah lupa."

"Adakah dia mengatakan ada mencurigai seseorang?"

Tanya Song-hujin.

"Dia tidak mengatakan."

"Kalau begitu kejadiannya, sungguh amat mengherankan!"

Sebaliknya Song Theng-siau maklum dalam hati, pikirnya.

"Perempuan hitam berkedok itu, siapa lagi kecuali Hun Ci-lo?"-Tapi demi menutupi sikap Beng Goan-cau terpaksa ia tertawa dibuatbuat, katanya.

"Banyak kejadian yang sulit dimengerti oleh kita di dalam dunia ini. Semalam waktu di rumah Beng-toako, aku ada bertemu dengan seorang gadis remaja yang belum pernah kenal Beng-toako datang untuk mencari dia!"

Timbul rasa heran Lu Su-bi, katanya tertarik.

"Sungguh mirip kejadian ini, apakah dia pun seperti perempuan berkedok hitam yang membantu Beng-suko, tanpa bicara sepatah kata lantas tinggal pergi begitu saja?"

"Kalau begitu tidak sama. Bukan saja dia bicara dengan aku, malah dia bantu aku berkelahi!"

"Perempuan berkedok hitam itu pun bantu Beng-suko mengalahkan musuh kami."

"Perempuan yang kutemui ini ada menjelaskan kenapa dia harus menemui Beng-toako kepadaku."

"Siapakah namanya, kenapa tidak kenal Beng-suko kok mencarinya, bolehkah kau beritahu kepadaku?"

"Sudah tentu boleh, dia bernama Lim Bu-siang, sahabat karib Kim Tayhiap Kim Tiok-liu suami istri."

Maka Song Theng-siau lantas menceritakan kejadian semalam, cara bagaimana ia melihat Lim Bu-siang membantu dia menggebah lari Cong Sin-liong, serta ucapan Lim Bu-siang mengenai tujuannya mencari Beng Goan-cau atas petunjuk Kim Tiok-liu.

Begitulah ia ceritakan apa yang pernah dilihat dan dialaminya."

"Sungguh sangat kebetulan,"

Demikian kata Lu Su-bi.

"Keberangkatan Beng-suko kali ini memang menuju ke Tang-ping untuk mencari Kim Tiok-liu, tak kira Kim Tiok-liu sudah mengutus orangnya untuk mencari dia."

"Kalau begitu mereka bisa jumpa di tengah jalan, karena Lim Bu-siang juga akan pulang ke rumah Kim Tiok-liu. Seandainya tidak ketemu di jalan, pasti bisa jumpa di rumah Kim Tayhiap!"

"Nona Lim itu cantik tidak?"

Tanya Lu Su-bi. Song Theng-siau tertawa, sahutnya.

"Nona Lim ini rada-rada mirip dengan kau!"

"Apa benar? Jangan kau nge-lantur dan membual belaka?"

"Sedikit pun aku tidak menipu kau, semalam waktu berada di teras kembang aku melihat mukanya muncul dari jendela, hampir saja aku berteriak memanggil kau. Tapi usianya lebih tua dari kau, sikap dan tindak-tanduknya kelihatan murung dan lesu, dalam hal ini ia jauh berlainan dengan kau."

Lu Su-bi merengut, katanya.

"Song-suko, kau tertawakan aku tidak besar-besar lagi. Tapi aku ini memang tidak kenal murung atau duka segala. Mungkin derita dan sengsara yang kualami sudah cukup banyak, urusan sebesar langit pun bisa kuanggap sepele saja." --Tanpa disadari di waktu mengucapkan kata-katanya ini, ia sudah membawa nada sebagai seorang besar, anak gadis yang sudah menanjak dewasa. Bagi pendengaran Song Theng-siau, diam-diam hatinya jadi mendelu dan hambar. Ucapan Lu Su-bi ini seolah-olah mengibaratkan sebuah pepatah yang berbunyi.

"Cinta ini bisa ditunda untuk mengejar kenangan, cuma waktu itu keadaan sudah hambar."-Tanpa sengaja Lu Su-bi mengucapkan kata-katanya, namun hal ini menimbulkan perasaan lama Song Theng-siau kambuh kembali, pikirnya.

"Semoga aku bisa seperti keadaan siau-sumoay, segala urusan dapat berpandangan jauh dan lapang dada. Tidak baik bila selalu terkenang pada Hun Ci-lo!"

"Benar harus demikian baru bisa bahagia dan membawa rejeki,"

Demikian ujar Song-hujin tertawa, waktu bicara entah sengaja atau tidak matanya melirik ke arah putranya. Maka tertawalah Lu Su-bi, katanya.

"Ini benar-benar hanya ada satu kejadian tunggal!"

"Kejadian tunggal apa maksudmu?"

Tanya Song Theng-siau keheranan.

"Maksudku perangai Beng-suko. Di waktu berada di Siau-kim-jwan, Beng-suko selalu, murung dan bermuram durja, entah pikiran apa yang selalu mengganggu benaknya? Kini mendengar penjelasanmu ini, pasti nona Lim ini sama keadaannya dengan Beng-toako, entah dia pernah mengalami kejadian apa yang menyebabkan hatinya berduka dan sedih?"

Dalam hati berpikirlah Song Theng-siau.

"Sebetulnya waktu masih di Siau-kim-jwan, aku pun membekal perasaan hati yang sama, cuma aku tidak terlalu memperlihatkan di muka."

"Kalau demikian,"

Ujar Song Hujin.

"Tabiat dan perangaimu justru mirip sekali dengan Thengsiau, apakah ini tidak boleh dikatakan satu kejadian tunggal?" --Ucapan Song-hujin cukup gamblang ke mana juntrungnya, keruan muka Song Theng-siau dan Lu Su-bi merah malu. -ooo0dw0ooo Sejak Lim Bu-siang berpisah dengan Song Theng-siau, ia tinggalkan rumah keluarga Hun terus melanjutkan perjalanan ke arah datangnya semula seorang diri, perasaannya pun sama, murung dan mendelu. Terbayang olehnya di masa, kecil di mana ia bersama Boh Cong-tiu bermain-main begitu mesra dan intim sekali, waktu itu mereka bertetangga Mungkin terlalu berkelebihan kalau dikata, pasangan asmara sejak kecil, karena usia Boh Cong-tiu jauh lebih tua tujuh delapan tahun, dia sering mengajak piaukonya bermain, terpaksa Boh Cong-tiu harus menerima ajakannya bermain apa saja.

"Ai, piauko selalu anggap aku masih bocah kecil saja, apakah dia sedikit pun tidak mengetahui isi hatiku terhadapnya?"

Demikian Lim Bu-siang berpikir dalam hati. Angin pagi menghembus lewat, Lim Bu-siang merasa rada kedinginan, mendadak terpikir olehnya persoalan yang belum pernah dia pikirkan.

"Apakah aku betul-betul mencintai piauko?"

Kalau setengah bulan yang lalu ada orang mengajukan pertanyaan ini, seumpama dia tidak sudi menjawab, mau tidak mau ia harus berkata demikian dalam hati.

"Apa perlu ditanyakan lagi! Sejak aku tahu urusan, dalam sanubariku tidak terdapat bayangan laki-laki kedua, hanya piauko saja. Sudah tentu aku menyintainya."

Tapi sekarang bila dipikir-pikir, jawaban ini rasanya sulit diketengahkan.

Kenapa pula sekarang harus disangsikan?

Karena ia teringat akan beberapa patah kata ucapan Su Ang-ing kepadanya, waktu itu belum sempat ia berpikir secara cermat, sekarang mau tidak mau ia harus menyelusuri kembali kejadian beberapa waktu yang lalu.

Pada suatu malam kira-kira setengah bulan yang lalu, di waktu ia mengobrol dengan Kim Tiokliu suami istri, masuklah seorang murid dari Kaypang memberi sebuah laporan kepada Kim Tiokliu, laporan itu adalah sebuah berita yang tidak menguntungkan bagi Beng Goan-cau, yaitu perihal penangkapan dari pihak kerajaan atas dirinya.

Setelah murid Kaypang itu berlalu, Kim Tiok-liu suami istri lantas berunding untuk mengutus seseorang memberi kabar ini kepada Beng Goan-cau, pikir punya pikir, belum mendapat pilihan yang tepat, mendadak pandangan mereka suami isteri sama tertuju ke arah Lim Bu-siang.

"Ada sudah!"

Ujar Su Ang-ing.

"Benar!"

Timbrung Kim Tiok-liu.

"maksud yang baik sekali."

Tatkala itu Lim Bu-siang jadi -keheranan, tanyanya.

"Kim-toako, kau tahu apa yang dimaksud oleh Ang-ing cici?"

"Sudah tentu aku tahu. Ang-ing, jangan kau jelaskan dulu, mari kita tulis nama orang itu di telapak tangan masing-masing dan diperlihatkan bersama kepada Bu-siang, apakah maksud kita sama!"-Lalu mereka beradu punggung, setelah menulis, mereka membuka telapak tangan masingmasing di hadapan Lim Bu-siang, tampak di telapak tangan kedua orang sama tertulis "Lim Busiang"

Tiga huruf.

Di lain kesempatan, akhirnya Lim Bu-siang tanya sendiri kepada Su Ang-ing, kenapa mereka bisa sama tahu apa yang terkandung di dalam pikiran masing-masing.

Makna dari jawaban Su Ang-ing benar-benar meresap dalam sanubarinya, katanya.

"Jangan kau tertawakan mukaku tebal, kata-kata 'hati bertaut' kukira kau sudah pernah dengar bukan? Kalau aku tidak tahu apa yang dia pikirkan dalam benaknya, masa mungkin aku mau menikah dengan dia? Adikku yang baik, jikalau kau benar-benar mencintai seorang laki-laki, maka kau wajib mengetahui segala-galanya mengenai dirinya, seperti kau mengenal dirimu sendiri."

Sekarang mendadak teringat oleh Lim Bu-siang akan kata-kata ini, hatinya menjadi hampa.

"Apakah aku sudah mengenal piauko betul-betul? Sewaktu-waktu aku merasa dia adalah sanak famili yang terdekat denganku, namun ada kalanya pula aku merasa dia seorang asing yang belum pernah kukenal sebelumnya. Dia sekarang memikir apa, tahukah aku? Ai"

Jangan kata sekarang, waktu kecil aku bermain sama dia, apa yang dia pikir, masakah aku pernah menyelaminya?"

Maka terpikir pula oleh Lim Bu-siang suatu kejadian sebelum percakapan ini.

Suatu hari, dia bersama Su Ang-ing berjalan-jalan di taman belakang, sang surya baru saja terbit, kabut pagi belum lagi sirna, di keremangan kabut memandang kelopak-kelopak kembang di dalam kebun, kelihatan begitu indah mempesona.

Dia limpahkan perasaan hatinya ini kepada Su Ang-ing.

Berkatalah Su Ang-ing tertawa.

"Begitulah hidup manusia, ada kalanya sesuatu barang yang tidak jelas dipandang, kau bisa merasa dia begitu cantik rupawan. Mungkin memang dia betul-betul cantik, tapi dalam waktu yang lebih panjang terasa adanya khayal. Tapi bila kau dekati, setelah kau melihatnya jelas, kemungkinan dia tidak secantik seperti apa yang kau barusan bayangkan!"

"Apakah cintaku terhadap piauko hanya cinta remang-remang seperti itu? Bayangan piauko yang timbul dalam lubuk hatiku, cuma seperti bayangan bulan di dalam permukaan air, laksana kembang di dalam kabut?"

Lim Bu-siang gundah dan seperti kehilangan akal, begitulah ia bertanya kepada hati sendiri, namun ia toh tidak kuasa menjawabnya.

Akan tetapi, Su Ang-ing pernah memberikan jawaban ini.

Letak rumah Kim Tiok-liu di pesisir danau Tang-ping, pagi hari itu, timbul hasrat Su Ang-ing jalan-jalan, ia ajak Lim Bu-siang putar kayun pelan-pelan, dari ujung taman ke ujung yang lain, seolah-olah mereka tidak mengenal lelah, dan akhirnya ia seret Lim Bu-siang pergi jalan-jalan di pinggir danau Tang-ping.

Kabut di permukaan danau sedang mulai buyar, laksana asap enteng mengepul tinggi menghilang dihembus angin lalu, sehingga lama kelamaan pandangan gunung serta permukaan air yang indah semakin jelas kelihatan.

Burung mandarin di tengah danau sedang berlaju saling kejar, di pinggir danau pohon Liu meliuk lemah gemulai.

Menghadapi panorama pagi nan indah ini tak terasa Lim Bu-siang bersorak memuji.

Agaknya Su Ang-ing ingat apa-apa, mendadak ia pandang Lim Bu-siang, katanya.

"Pernahkah timbul perasaan macam itu di dalam lubuk hatimu? Panorama di seberang sana selalu kelihatan lebih bagus, tapi setelah kau berada di seberang sana, kau akan merasa sebelah sini jauh lebih bagus?"

Lim Bu-siang berpikir sebentar lalu sahutnya tertawa.

"Iya, sering aku merasa heran, bahwasanya panorama kedua pihak semestinya sama-sama bagus, sama-sama indahnya!"

"Itulah karena terpaut oleh permukaan danau yang luas ini. Pohon Liu di sebelah sana tidak dapat kau sentuh, kelopak kembang di sana, kau tidak akan bisa memetiknya. Maka kau akan merasa panorama sebelah sana jauh lebih baik dari sebelah sini."

"Uraianmu ini sungguh menyegarkan perasaan!"

"Sebetulnya tidak segar, bukankah ada sebuah kata-kata kuno yang bilang, barang yang tak dapat kau peroleh ada kalanya lebih bagus bukan? Tapi ini pun hanya satu pihak saja."

Lim Bu-siang seperti sadar dan mengerti, katanya.

"Ya, pihak yang lain karena berada di seberang terpaut sebuah danau ini!"

"Tidak salah,"

Ujar Su Ang-ing.

"Kau merasa panorama sebelah sana lebih elok, ada beberapa bagian karena kau tambahi dengan pikiran khayalmu sendiri. Aku masih punya sebuah perumpamaan, ini hampir mirip sebuah kenangan terhadap kejadian yang sudah lalu.""' Melonjak hati Lim Bu-siang, katanya.

"Kenangan terhadap kejadian yang sudah lalu?"-Diamdiam ia membatin dalam hati.

"Mungkinkah dia hanya mencari judul untuk bercerita dan mengorek isi hatiku?"

"Benar!"

Demikian sahut Ang-ing.

"Kenangan selalu indah dan madu selalu manis, bukan?"

Berpikir Lim Bu-siang.

"Benar, waktu kecil aku sering bertengkar dengan piauko, kalau dipikirkan sekarang rasanya amat mesra dan menggelikan, semoga sang waktu bisa putar balik kembali, ingin rasanya bertengkar lagi seperti dulu kala waktu masih kecil, rasanya memang cukup menggairahkan." -Memang sulit bagi Bu-siang untuk menutupi perasaan hati sendiri, terpikir akan hal ini, tanpa sadar kepalanya manggut-mang-gut. Berkata Su Ang-ing lebih lanjut.

"Kau merasa panorama di seberang lebih cantik, karena kau dipisahkan oleh sebuah danau, kau merasa kenangan lama madu mesra, karena sudah terpaut sekian lamanya.

"Mesra"

Yang kau rasakan ini ada beberapa bagian justru mengandalkan khayalan yang kau limpahkan bersama dalam perasaanmu itu."

Kini dengan hampa dan mende-lu Lim Bu-siang beranjak di jalanan seorang diri, teringat olehnya kata-kata yang pernah diucapkan oleh Su Ang-ing itu, diam-diam ia lantas menerawang.

"Sejak berpisah dengan piauko sampai sekarang sudah sepuluh tahun berselang, piauko yang sekarang masihkah sama seperti piauko yang dulu? Mungkin piauko yang kusukai itu, hanyalah bayangan dalam kalbuku? Ditambah oleh khayalanku sendiri, kenangan terhadap seseorang yang tidak menjadi kenyataan."

Sinar surya tinggi menyilaukan pandangan mata, relung hati Lim Bu-siang yang dirundung kegelapan menjadi terbuka lebar terang benderang seperti disinari cahaya matahari yang mulai cemerlang.

"Kenapa aku tidak pergi menemuinya? Setelah jumpa dengan dia, bukankah dapat menjawab pertanyaan lubuk hatiku ini?"

Ternyata dia punya suatu kesempatan untuk bisa bertemu dengan Boh Cong-tiu, persoalan ini, kini sedang bergejolak di dalam sanubarinya.

Kesempatan itu adalah bahwa Boh Cong-tiu hendak mendirikan partai atau aliran tersendiri di Tionggoan, yaitu bahwa dia hendak membangun kembali Hu-siang-pay di tanah leluhur nan luas dan besar ini.

Waktunya sudah ditentukan yaitu pada bulan sembilan tanggal sembilan.

Jarak waktu masih satu bulan.

Tempatnya ditentukan di puncak Thay-san.

Membuka aliran mendirikan partai adalah sebuah peristiwa besar, maka sejak beberapa waktu yang lalu Boh Cong-tiu sudah menyebar luaskan undangan kepada para ciangbunjin dari golongan dan aliran besar, para Pangcu atau ketua dari berbagai Pang dan Hwe besar dan kecil, tidak lupa para tokoh-tokoh kenamaan di bulim.

Sudah tentu Kim Tiok-liu suami istri merupakan orang-orang yang tercantum di dalam daftar undangan untuk menyaksikan dan merestui pendirian partai baru ini.

Lim Bu-siang adalah murid dari Hu-siang-pay, adalah jamak bila dia hadir di dalam pendirian kembali aliran perguruannya, tapi karena dia ingin menghindari pertemuannya dengan piaukonya, tempo hari waktu Su Ang-ing memberi kabar ini kepadanya, dia hanya tunduk diam tidak memberi jawaban dan reaksi.

Mungkin Su Ang-ing hendak menghindari kedukaannya, selanjutnya ia pun tidak pernah menyinggung persoalan ini lagi.

Tak lama kemudian terjadilah urusan mengenai keselamatan Beng Goan-cau ini.

Maka Kim Tiok-liu suami istri lantas minta bantuannya untuk memberi kabar kepada Beng Goan-cau.

"Ang-ing cici minta aku menerima tugas ini datang ke Soh-ciu, mungkin untuk memberikan alasan kepadaku untuk menghindari pertemuan di puncak Thay-san,"

Begitulah Lim Bu-siang mereka-reka dalam hati. Mendadak teringat pula olehnya ucapan Su 'Ang-ing kepadanya sebelum mereka berpisah. Su Ang-ing berkata kepadanya.

"Beberapa tahun terakhir kau jarang kelana, di kangouw, kecuali datang ke rumahku, kau selalu menutup diri di rumah memperdalam ilmu pedang, apakah kau tidak merasa kesepian ?"

"Sudah biasa, sedikit pun tidak terasa lagi olehku."

"Ada lebih baik kau sering luntang-lantung di luaran. Beberapa tahun sudah kau kembali ke Tionggoan, namun selama ini kau belum banyak mengikat persahabatan dengan orang lain?"

"Waktu di luar lautan aku pun tidak punya sahabat. Cuma di waktu berada di Hwi-hu-to, ada seorang sahabat laksana saudara sekandung saja."--Sahabat yang dia maksud adalah Lian Jayhong yang kini sudah menjadi piausonya.

"Tak heran kau selalu jadi terkenang saja kepada piauko!"

Goda Su Ang-ing tertawa.

"Maaf kalau aku bicara terus terang, menurut anggapanku, bila kau ada berkenalan dengan beberapa sahabat lain, perasaanmu pasti lebih terbuka dan lapang."

Kini teringat akan kata-kata itu, otak Lim Bu-siang tiba-tiba terbayang wajah Song Theng-siau, serta merta mukanya merah.

"Kenapa mendadak aku teringat kepadanya?"

Song Theng-siau adalah seorang pemuda yang cakap'ganteng dan lemah-lembut, begitu setia terhadap kawan, teringat akan hal-hal itu, mau tidak mau Lim Bu-siang harus mengakui bahwa ia mulai merasa simpatik terhadapnya.

"Selamanya belum pernah timbul bayangan laki-laki kedua dalam benakku, mungkin karena itulah, maka aku beranggapan sendiri terlalu mencintai-piauko."

Tapi teringat pula beberapa patah kata Su Ang-ing yang lain.

Pada suatu hari ia duduk mengobrol dengan Su Ang-ing, lama kelamaan bicara asyik dari hati ke hati, diceritakan oleh Su Ang-ing bahwa sebelum ia berkenalan dengan Kim Tiok-liu, ia sudah pernah menaruh simpatik terhadap dua sahabat laki-lakinya yang lain.

Sebetulnya Lim Bu-siang tiada niat mengorek rahasia pribadinya, namun mendengar ceritanya ini ia jadi tertarik katanya.

"Begitu? Siapa pula kedua orang itu?"

"Salah seorang adalah Li Tun yang sekarang menjadi Hu-pangcu Liok-hap-pang kita, seorang yang lain adalah Thocu Ang-ing-hwe sekarang Le Lam-sing.

"Kedua orang ini adalah tokoh kosen yang tenar di kangouw, terutama Le Lam-sing adalah tokoh muda yang menjulang bersama Kim Tiok-liu, sangat disegani oleh sesama sahabat bulim. Diam-diam terpikir oleh Lim Bu-siang.

"Lethocu dan Kim-toak.o adalah sahabat kental, sungguh sulit dimengerti bahwa di antara mereka tidak pernah timbul bentrok atau pertikaian."

Su Ang-ing melanjutkan.

"Li Tun sesuai dengan namanya, sikapnya jujur dan polos, lemahlembut lagi. Dengan Le Lam-sing justru berlawanan, gagah perkasa dan besar cita-citanya. Waktu kecil aku sering bergaul sama Li Tun, para thaubak di dalam pang kita sama menyangka bahwa aku sudah jatuh hati terhadapnya, sebetulnya aku hanya menganggapnya sebagai toakoku sendiri. Sementara Le Lam-sing sama tujuan dan satu cita-cita denganku, suatu ketika hubunganku amat erat dengannya, sampai pernah suatu ketika Tiok-liu salah paham menyangka aku sudah jatuh cinta kepadanya. Akhirnya, baru paham duduknya perkara. Hubungan eratku dengan Lam-sing tidak lebih hanya sebagai teman kental belaka, cinta kasih antara saudara sekandung cinta sesama kawan, dan cinta antara suami istri sebetulnya mempunyai perbedaannya sendiri-sendiri, tapi kalau kau sendiri belum pernah mengalami ujian akan ketiga perasaan yang tidak sama itu, mungkin suatu ketika kau bisa dibikin pusing tujuh keliling."

Tujuan Su Ang-ing adalah bicara secara kenyataan di depan mata, diam-diam ia memberi kisikan kepadanya, perasaannya terhadap Boh Cong-tiu tidak lebih hanya perasaan persaudaraan antar ikatan kekeluargaan belaka, berarti termasuk cinta kasih antara saudara sekandung belaka; Namun teringat akan kata-kata penjelasan itu, timbul kesan lain dalam sanubari Lim Bu-siang.

Simpatik kadang kala bisa berkembang menjadi perasaan cinta terhadap seseorang, tapi bukan termasuk asmara, sekarang Lim Bu-siang mulai paham dan menyadari akan perbedaan ini.

Dia mengakui bahwa dia rada simpatik terhadap Song Theng-siau, namun Song Theng-siau tidak lebih masih merupakan laki-laki yang asing dalam relung hatinya.

Meski lubuk hatinya terbayang akan Song Theng-siau, namun tidak terasakan olehnya bahwa hatinya jadi sedih atau murung setelah mereka berpisah.

"Tapi sejak aku ditinggalkan piauko, aku amat berduka, mungkinkah ini hanya perasaan cinta kasih antara persaudaraan belaka?"

Tapi lalu terpikir pula olehnya.

"Kenapa aku bisa memikirkan lakilaki kedua? Kenapa aku mulai curiga pada relung hatiku sendiri bahwa benarkah aku betul-betul mencintai piauko?"

"Bagaiamana jua,"

Demikian batin Lim Bu-siang.

"Boh Cong-tiu adalah piaukoku, ciangbunjin dari Hu-siang-pay kita, bagaimana juga aku tidak akan bisa selalu menghindari pertemuan dengan dia."

Terpikir pula olehnya.

"Cong Sin-liong amat benci terhadap piauko, kini dia sudah terima diperalat oleh pihak kerajaan, kini piauko hendak mendirikan partai menegakkan aliran, bila diketahui oleh dia, mungkin dia bakal menuntut balas di muka umum, bukan mustahil ini bisa terjadi."-Terpikir sampai di sini pikiran Lim Bu-siang menjadi mantap dan bulat tekadnya. Dia berkeputusan untuk hadir dalam pertemuan besar di Thay-san nanti.

"Cuma kalau aku tidak kembali dulu ke rumah Kim-toako, tentu dia menyangka terjadi sesuatu atas diriku? Kuatirnya aku tidak keburu menyusul tiba di Thay-san, bagaimana baiknya? Em, orang hidup sering mengalami kejadian yang di luar dugaan, Kim toako menyuruh aku beri kabar kepada Beng Goan-cau, sebaliknya aku hanya bertemu dengan sahabat baiknya Song Theng-siau, sebetulnya aku tidak sudi bertemu lagi dengan piauko, sekarang mau tidak mau aku harus memburu waktu menyusul ke Thay-san. Beng Goan-cau itu sebetulnya orang macam apa?" --Begitulah Lim Bu-siang melayangkan pikirannya, tanpa terasa ia sudah menempuh perjalanan yang cukup jauh. Waktu itu, Beng Goan-cau pun sedang menempuh perjalanan seorang diri, seperti keadaan Lim Bu-siang, hatinya pun sedang bergejolak, sulit ia menentramkan pikirannya. Debu mengepul tinggi terhembus angin besar mengotori seluruh badannya. Sembari mengebutngebut kotoran debu di atas badannya, Beng Goan-cau melangkah lebar melanjutkan-.ke depan, waktu itu ia beranjak di jalan raya di dataran rendah di daerah Hway-pak. Ini terjadi pada hari ke empat setelah ia meninggalkan Soh-ciu, waktu itu sudah lama ia menyeberangi sungai Tiangkang. Meski hanya terpaut sebuah sungai, namun pemandangan antara selatan dan utara kedua sisi sungai besar ini jauh berbeda sekali. Kedua jalan ini tiada terdapat pepohonan yang rindang, jalan yang gundul pelontos tak berujung pangkal ini cuma terdapat rumput liar yang sudah menguning dilumuri debu-debu tebal. Tapi pemandangan sih tidak sejelek itu, karena padang lalang nan luas dan belukar ini di manamana terbentang rumput-rumput merah yang menambah semaraknya kehidupan di musim rontok ini. Rumput merah adalah tumbuhan liar yang paling aneh cara hidupnya di daerah Hway-pak ini, punggung daunnya bewarna hijau gelap, sedang permukaan daunnya warna merah menyolok tumbuh memanjang seperti dedaunan rumput alang-alang, kalau tumbuh lurus tingginya ada yang sampai enam kaki, lebih tinggi dari kepala manusia. Waktu itu memang musim subur dari tetumbuhan rumput-rumput merah ini, selayang pandang padang lalang yang tidak berujung pangkal ini, semua ditaburi oleh warna merah. Keadaan sanubari Beng Goan-cau saat itu pun seperti keadaan alam di sekelilingnya, pedih dan mendelu, namun dalam keperihan hatinya itu mengandung segulung api yang menyala. Pemandangan kampung halaman sudah tidak kelihatan lagi di belakang sana tertutup oleh mega putih, namun kenangannya terhadap beberapa orang masih timbul tenggelam dalam sanubari Beng Goan-cau, tidak mau lenyap dan hilang. Teringat akan kejadian malam itu, tak terasa ia menghela napas, pikirnya.

"Perempuan baju hitam itu kecuali Hun Ci-lo, tak mungkin orang lain. Tapi kenapa dia harus menyingkirkan diri dari hadapanku? Meski tidak bisa melanjutkan hubungan mesra kami dulu, apa halangannya ia bertemu muka dengan aku! Ai, setiap saat, setiap hari teramat rindu, namun begitu jumpa seperti tidak kenal! Kecerobohan-kulah jang harus disalahkan sendiri. Sekarang dia sudah punya suami punya anak, menempuh jarak jauh meluruk datang seorang diri menjenguk aku tanpa perduli omongan kotor orang, sungguh sulit terjadi pada lain orang!"

Dalam lintasan lain terbayang olehnya Lu Su-bi, teringat olehnya siau-sumoay yang lincah jenaka ini mau tidak mau sanubarinya rada dicekam rasa menyesal, batinnya.

"Orang yang pernah gagal seperti aku, sulit untuk bangkit kembali. Terpaksa aku harus menampik kebaikan siausumoay, semoga siau-sumoay bisa menjalin ikatan mesra dengan Song Theng-siau, kelak pasti hidup rukun bahagia sampai di hari tua. Dengan Theng-siau dia jauh lebih cocok daripada dengan aku."

Di saat ia beranjak dengan pikiran kusut dan perasaan bergolak itulah mendadak didengarnya kelintingan kuda, tampak di padang luas di sebelah sana, rumput-rumput merah tumbuh tinggi subur itu seperti tersaruk menyingkir ke samping, dari sebelah dalamnya menerjang keluar seekor kuda gagah.

Itulah seekor kuda suri merah yang berbulu merah gagah perkasa, keempat kakinya berbulu putih.

Yang menunggang di atas punggungnya adalah seorang laki-laki kekar kasar berjambang bauk lebat dan kaku.

"Kuda yang amat bagus! Laki-laki penunggang kuda yang berperawakan kekar gagah ini mungkin seorang enghiong dari kalangan begal."-Sebentar saja terlihat oleh Beng Goan-cau kuda itu sudah tiba di jalan raya, sekejap saja sudah berlari lewat dari samping tubuhnya, secepat angin lesus! Di saat lewat di samping Beng Goan-cau, laki-laki kekar itu mendadak berseru heran, kedua biji matanya yang tajam laksana sepasang gunting tajam menatap ke arah dirinya, agaknya ia hendak bicara apa-apa, namun diurungkan, sekejap saja kudanya sudah lari jauh dan tidak kelihatan lagi. Kalau orang ini cuma pelancong biasa, tidak mungkin mencong-klang kudanya di padang rumput tanpa melalui jalan raya. Namun akhirnya ia ambil jalan raya yang datar ini. Tiba-tiba melonjak hati Beng Goan-cau.

"Mungkinkah dia meluruk kepada diriku? Kalau dugaanku tidak salah, nanti sebentar tentu ia akan kembali."

Betul juga tidak berselang sesu-Iutan dupa, terdengar derap kuda sayup-sayup dihembus angin, tampak laki-laki berjambang bauk itu mengaburkan kudanya mendatangi pula.

"Ternyata benar meluruk kepada diriku!"

Demikian batin Beng Goan-cau.

Dasar cerdik dan cermat, segera ia lantas memikirkan asal-usul orang yang mencurigakan ini, terdapat dua kemungkinan; pertama, kemungkinan orang ini adalah begal tunggal dari kangouw, bertujuan membegal harta bendanya.

Sudah pergi kembali lagi, bertujuan menyelidiki keadaan dirinya, setelah jelas dan pasti baru akan turun tangan.

Kemungkinan kedua,, laki-laki kekar ini adalah cakar alap-alap pihak kerajaan, mendengar kabar lantas mengejar jejaknya.

Cuma orang masih belum berani ambil kepastian bahwa dirinya adalah benar Beng Goan-cau adanya.

Berpikir Beng Goan-cau.

"Kalau dugaan yang pertama, tiada halangannya aku bicara terus terang kepadanya, bahwa dia sudah salah mata. Aku bukan kambing gemuk, hanyalah seorang pelajar rudin yang tidak punya bekal apa-apa. Kalau dugaan kedua, hehe, berarti dia sudah bosan hidup, terpaksa aku harus mencuci golokku dengan darah segarnya!"

Sekejap saja laki-laki kekar berjambang itu sudah menghentikan kudanya di hadapan Beng Goan-cau, matanya yang tajam mengamat-amati Beng Goan-cau, lalu bertanya dingin.

"Kau sahabat dari kalangan mana?"

Pertanyaan ini benar-benar di luar dugaan Beng Goan-cau, umumnya kaum begal memang suka mengajukan pertanyaan macam itu terhadap mangsanya, sebaliknya bila cakar alap-alap kerajaan tidak mungkin punya nada yang lain dari kebiasaan mereka.

Sejenak Beng Goan-cau melongo, diam-diam ia menerawang.

"Mungkinkah dia orang dari kalangan kitayang sama?"

Waktu dengan dingin ia balas menatap, dilihatnya kedua biji mata laki laki kekar berjambang ini lapat-lapat mengandung hawa membunuh, jelas kedatangannya bertujuan kurang baik.

Beng Goan-cau sendiri sekarang sudah merupakan buronan pemerintah, begitu mendapat tahu tujuan orang yang tidak mengandung maksud baik, tidak bisa tidak ia harus hati-hati dan bersiaga, pikirnya.

"Peduli siapa dia, aku harus mencari akal dan ngelantur saja, akan kulihat bagaimana reaksinya. Sebetulnya akulah yang mengajukan pertanyaannya tadi."

Setelah berkeputusan Beng Goan-cau tidak mau memperkenalkan diri lebih dulu, maka dengan sikap tidak mengerti dan bodoh, ia berkata.

"Apa katamu? Aku bukan pedagang keliling, aku tidak membawa barang bekal berharga apa-apa?"

Laki-laki kekar berjambang dapat melihat bahwa Beng Goan-"

Cau membekal kepandaian silat, hidungnya lantas mendengus, pikirnya.

"Keparat ini jelas pura-pura belaka!"

Tapi walau dia tahu Beng Goan-cau bukan orang biasa, namun belum jelas akan haluan Beng Goan-cau, maka ia pun tidak berani terlalu semberono. Menahan sabar matanya mendelik, katanya keras.

"Kutanya kau, apa kerjamu?"

Beng Goan-cau menjawab.

"Aku sedang jalan, tidak melanggar kesalahan apa-apa!"

Laki-laki berjambang bauk menjadi naik pitam, pikirnya.

"Bangsat ini kiranya pandai pura-pura, dia anggap aku opas yang hendak menangkap buronan!"

Melihat air muka orang berubah, diam-diam Beng Goan-cau berseru dalam hati.

"Nah mulai!", diam-diam ia genggam gagang pedang yang dia sembunyikan di dalam bajunya, ia sudah siaga. Tak duga laki-laki kekar itu cuma menggigit bibir, hawa amarahnya kelihatannya dapat dikekang, akhirnya berkata tawar.

"Baiklah, kalau kau tidak mau menjelaskan, ya sudah. Aku cuma ingin tanya, adakah kau pernah lihat seorang laki-laki yang menunggang kuda kuning lewat dari jalan raya ini?"

Kiranya laki-laki berjambang bauk ini semula hendak membekuk Beng Goan-cau dan mengompes keterangannya, namun akhirnya ia berpikir lain.

"Bangsat ini kelihatannya bukan orang baik-baik, tapi bukan mustahil pandangan mataku yang salah lihat. Beberapa teman lama sama menasehati aku, katanya watakku yang kasar dan berangasan harus cepat-cepat diubah, kenapa penyakit lamaku hendak kumat kembali?"

Beng Goan-cau menjawab.

"Sudah setengah harian aku menye-lusuri jalan raya ini, kaulah orang pertama yang kujumpai menunggang kuda. Orang macam apa dan apa kerja orang itu, apakah temanmu?"

Bertaut alis laki-laki berjambang bauk, katanya.

"Kalau kau tidak melihatnya, tidak usah kau cerewet!", sementara dalam hati ia membatin.

"Sekarang aku tiada tempo mengobrol dengan kau, sekembaliku nanti akan kucari kesempatan untuk menyelidiki asal usulmu."

Tahu-tahu cambuknya terayun ia keprak kudanya terus berlari kencang ditelan debu tebal yang mengepul di belakangnya. Beng Goan-cau pura-pura menggerutu, gumamnya.

"Kau yang cerewet atau aku yang cerewet? Huh, kata-kata ini seharusnya terbalik diucapkan"-Setelah melihat laki-laki berjambang bauk itu sudah pergi jauh, dalam hati ia lantas membatin.

"Ternyata pandanganku pun meleset"

Sebetulnya dia sudah siap untuk bergebrak dengan laki-laki berjambang bauk, tak duga setelah bertanya beberapa patah, orang tidak menunjukkan gerak-gerik, malah terus tinggal pergi habis perkara, keruan ia jadi heran dan uring-uringan.

Tapi Beng Goan-cau sendiri punya tugas khusus yang harus segera dilaksanakan, kalau toh laki-laki itu sudah tinggal pergi, maka ia pun tidak ambil dalam hati.

Begitulah dia melanjutkan perjalanan, waktu magrib mendatang ia tiba di sebuah kota yang dinamakan Jiat-sio, maka di kota ini ia mencari hotel untuk menginap.

Jiat-sio terletak di persimpangan jalan yang menuju ke utara dan selatan, merupakan kota perdagangan yang ramai, maka meski kotanya kecil namun penduduknya amat padat.

Beng Goancau berhasil menemukan sebuah penginapan, ternyata kamar penginapan di sini jauh lebih bagus dari kota-kota di karesidenan, bangunan penginapan ini berbentuk persegi, terdiri dari puluhan kamar yang berderet-deret, di sebelah samping terdapat kandang kuda.

Di waktu Beng Goan-cau memasuki penginapan ini, pandangannya mendadak menjadi terang, tampak di pekarangan samping sana dilihatnya seorang laki-laki berpakaian baju hitam sedang menuntun seekor kuda kuning.

Laki-laki baju hitam itu sedang bicara dengan pemilik hotel, kelihatannya dia pun tamu yang baru tiba dan hendak mencari kamar.

Terdengar laki-laki baju hitam berkata.

"Kuda tungganganku ini harap kau rawat baik-baik, dua hari ini agaknya dia rada kurang wajar, aku kuatir malam hari dia kedinginan, paling baik kalau bisa menempatkan di kandang sebelah tumpukan jerami."-Sembari berkata ia merogoh keluar sekerat uang perak, terus dijejalkan ke tangan pemilik hotel. Sekerat uang perak seharga puluhan hari uang sewa kamar, agaknya pemilik hotel tidak mengira orang begitu royal, sekali keluar uang lantas sedemikian banyaknya, keruan tertegun, kilas lain ia sudah membungkuk-bungkuk seraya berseri tawa kegirangan. Berkatalah pemilik hotel pura-pura mengambil hati.

"Itu adalah tugas dalam bagian kami, kenapa tuan harus mengeluarkan ongkos segala?"-Mulut bicara sementara tangan sudah diulurkan menerima uang perak itu terus dimasukkan ke dalam saku bajunya. Kejap lain ia sudah menuntun kuda kuning itu masuk ke istal. Laki-laki baju hitam ikut masuk ke dalam istal dengan suara lirih ia berkata.

"Kuharap sekedar bantuanmu pula!"

"Silakan katakan saja!"

Ujar pemilik hotel.

"Kalau ada orang mencari tahu kepadamu mengenai diriku, jangan sekali-kali kau katakan aku menginap di rumah penginapanmu. Orang itu adalah familiku yang rudin, dia mencariku hendak minta pinjam sejumlah uang yang cukup banyak, maka aku tidak suka menemui dia. Malam ini aku sembunyi di dalam kamar, besok pagi-pagi aku segera harus berangkat, untuk menghindari pertemuan dengan dia."

Pemilik hotel mengiakan berulang-ulang, katanya lebih lanjut.

"Memang famili rudin sangat menyebalkan, aku paham akan keadaan tuan. Kalau ada orang tanya kepadaku, biarlah kukatakan tidak pernah melihat orang macam kau, habis perkara."

"Dan lagi, jangan kau biarkan tamu lain masuk ke dalam istalmu ini, aku kuatir dia dapat mengenali kudaku ini."

"Merawat kuda tunggangan adalah tugas kami bagi setiap tamu pengunjung, biasanya jarang ada tamu yang masuk ke istal menuntun kudanya sendiri. Kalau kau merasa kuatir, aku punya sebuah akal, biar kutumpuk kotoran kuda di ambang pintu, baunya sangat busuk menusuk hidung, kukira tamu itu tidak akan menutup hidungnya melongok kemari."

"Benar!"

Kata laki-laki baju hitam.

"Akalmu memang baik!"

Mereka bicara di dalam istal dengan suara lirih, orang di luar memang tidak akan bisa dengar, namun Beng Goan-cau pernah berlatih mendengar angin membedakan senjata, kupingnya yang tajam melebihi orang biasa dapat mendengar percakapan itu amat jelas.

Diam-diam Beng Goan-cau membatin.

"Kiranya orang ini sudah tahu bahwa orang sedang menguntit jejaknya, maka aku pun tidak perlu turut campur urusan mereka."' Pakaian yang dikenakan Beng Goan-cau terbuat dari kain kasar, para pelayan hotel segera menyambut kedatangannya. Beng Goan-cau cukup minta sebuah kamar yang bertarip sedang saja, setelah makan malam, ia mengunci diri di dalam kamar, duduk samadi berlatih lwekang. Belum lama ia latihan, kira-kira sudah menjelang kentongan kedua, tiba-tiba didengarnya suara telapak kaki kuda mendatangi dan berhenti di depan penginapan. Lalu disusul terdengarlah suara gedoran pintu yang keras. Terdengar pemilik rumah penginapan menggerutu.

"Sudah begini malam, masih mencari penginapan!"

Cepat ia memburu keluar. Tak lama kemudian terdengar sebuah suara berkata.

"Kudaku ini kau harus merawatnya baikbaik, berikan sebuah kamar kelas satu kepadaku!'"

Semula Beng Goan-cau tidak begitu memperhatikan, setelah mendengar suara ucapan orang baru ia terkejut, karena orang itu bukan lain adalah laki-laki berjambang bauk itu.

Dalam hati Beng Goan-cau membatin.

"Kiranya ia mengejar tiba sampai di sini. untung laki-laki baju hitam itu sudah waspada. Entahlah apa bakal terjadi keributan, pokoknya malam ini aku jangan tidur terlalu pulas!"

Laki-laki berjambang bauk tidak banyak bicara terhadap pemilik hotel, dia pun tidak pergi ke istal, begitu mendapat kamar setelah membersihkan badan ia minta sepoci arak terus istirahat di kamarnya.

Beng Goan-cau berjaga-jaga bila terjadi sesuatu, di luar dugaan, kira-kira kentongan ketiga sudah lalu, namun ia belum lagi merebahkan diri.

duduk di atas ranjang ia masih melanjutkan latihannya.

Sekonyong-konyong didengar ketokan amat lirih di pintu kamarnya, Beng Goan-cau berpikir.

"Tentu laki-laki berjambang bauk itu, belum lagi ia menemukan jejak orang yang dicarinya, kini hendak mencari gara-gara dulu kepadaku!"

Sembari menghunus goloknya, Beng Goan-cau berdiri di belakang pintu, tanyanya dengan suara berat.

"Siapa?"

Terdengar orang di luar pintu berkata lirih.

"Beng Tayhiap harap suka buka pintu."

Di luar dugaan Beng Goan-cau orang yang mengetuk pintunya ini ternyata adalah laki-laki baju hitam. Beng Goan-cau jadi terheran-heran.

"Bagaimana ia bisa mengetahui diriku?"

Karena tertarik segera ia membuka pintu.

Laki-laki baju hitam cepat menyelinap masuk kamar, terus menutupnya pula, mendadak ia menjatuhkan diri berlutut dan menyembah di hadapan Beng Goan-cau serta ratapnya.

"Beng Tayhiap tolonglah aku!"

Beng Goan-cau terperanjat, cepat ia menariknya bangun, katanya.

"Mana aku berani terima. Kalau ada omongan mari kita bicarakan baik-baik. Siapakah kau, agaknya aku belum pernah melihat kau sebelum ini."

"Aku adalah pedagang obat yang biasa mondar-mandir antara Kwi-chiu dengan Su-jwan,"

Begitulah laki-laki baju hitam itu menutur.

"Tiga tahun yang lalu aku pernah ke Siau-kim-jwan untuk membeli bahan obat-obatan, beruntung di sana dapat melihat keperwiraan Beng Tayhiap. Kami tahu bahwa Beng Tayhiap suka membela yang lemah serta menolong kesulitan orang, maka kami memberanikan diri kemari mohon pertolongan."

Siau-kim-jwan memang tempat penghasil beberapa macam obat-obatan yang amat mahal dan mujarab, sering dikirim keluar daerah untuk mendapat imbalan yang cukup tinggi nilainya, maka meski sekitar pegunungan dikepung ketat oleh tentara kerajaan, namun ada pula beberapa pedagang obat-obatan yang bernyali cukup besar, mengundang orang-orang kosen dari perusahaan ekspedisi untuk melindungi barang dagangannya, secara diam-diam diselundupkan keluar.

Para pedagang obat-obatan itu, setiba di Siau-kim-jwan, kebanyakan suka bertandang menyambangi para pimpinan laskar gerilya.

Tapi tidak teringat oleh Beng Goan-cau apakah benar ia pernah melihat orang ini.

"Mungkin waktu itu dia berkunjung kepada Ling-toako, meski aku tidak mengiringi menyambut kedatangan para tamu, tapi dia keluar masuk perkemahan laskar kita, bukan mustahil pernah melihat diriku."--Pedagang obat macam itu amat banyak, meski mereka tidak kenal Beng Goan cau. demikian pula Beng Goan-cau tidak kenal mereka, hal itu adalah kejadian yang jamak dan tidak perlu dianggap aneh. Hilang rasa curiga Beng Goan-cau. tanyanya.

"Kau ada persoalan apa minta aku membantu?"

Laki-laki baju hitam itu berkata.

"Laki-laki berjambang bauk yang baru datang tadi, kukira Beng Tayhiap sudah melihatnya bukan?"

"Dia kenapa?"

"Dia hendak membunuh aku!"

Berpikir Beng Goan-cau.

"Dugaanku ternyata tidak meleset, bangsat itu kiranya seorang begal besar."

Namun lahirnya diam saja, tanyanya.

"Kenapa?"

"Bangsat itu pernah menjabat pelatih tentara di daerah Jwan-pak, mungkin sekarang sudah dimutasikan, kembali ke daerah perbatasan di sebelah selatan sini. Dia tahu aku pernah menuju ke Siau-kim-jwan, maka dia hendak mencelakai jiwaku."

Penjelasan ini benar-benar di luar dugaan Beng Goan-cau pula. Timbul amarah Beng Goan-cau, dengusnya.

"Kalau begitu, bangsat itu lebih jahat dari para perampok .umumnya!"

"Siapa bilang tidak? Perampok biasanya mengincar harta belum tentu mencelakai jiwa orang. Tapi keparat itu bukan saja mengincar barang-barangku, hendak mencelakai jiwaku pula, kalau sampai aku kena dibekuk olehnya, tentu dituduh berkomplot dengan kaum pemberontak lagi!"

Timbul rasa setia kawan Beng Goan-cau, katanya.

"Baik, malam ini boleh kau tidur bersamaku saja, besok pagi-pagi, kuantar kau pergi. Meski aku harus mempertaruhkan jiwaku ini, jangan harap keparat itu dapat mengganggu seujung rambutmu."

Laki-laki baju hitam diam-diam bersorak dalam hati, pikirnya.

"Beruntung dia sedikit pun tidak bercuriga dan berjaga-jaga terhadap diriku, kalau aku membokong, sembilan puluh persen pasti dapat berhasil. Tapi kuatirnya bangsat berjambang bauk itu benar-benar sudah mengetahui jejakku, belum tentu aku kuasa melawan dia. Lebih baik aku bekerja menurut rencana semula saja, biar mereka saling bunuh sendiri, aku dapat mengambil keuntungan dari bentrokan mereka ini."

Belum lenyap pikirannya, mendadak didengarnya orang membentak di luar.

"Orang she Ciok, jangan harap kau bisa sembunyi, ayo menggelinding keluar!"

Itulah suara laki-laki berjambang bauk. Bercekat hati laki-laki baju hitam, diam-diam ia bersyukur dalam hati, pikirnya.

"Untung aku tidak bekerja secara sembrono!"

Beng Goan-cau segera menghunus golok balas membentak.

"Bagus kedatanganmu!", baru saja ia hendak terjang keluar, tiba-tiba "biang"' pintu kamarnya sudah ditendang terpental oleh orang dari luar. Kontan laki-laki baju hitam mengayun tangan menyambitkan tiga batang piau dengan formasi huruf "ping", satu di atas dua di bawah berjajar, masing-masing mengarah tiga tempat mematikan di tubuh laki-laki berjambang bauk. Di waktu tengah malam gelap gelita dia dapat menyambitkan senjata rahasia dengan sasaran yang tepat. Bagi seorang ahli sekali turun tangan lantas diketahui isi kosong kepandaian orang, Beng Goancau sendiri memang bukan ahli dalam menyambit senjata rahasia, namun pandangannya cukup tajam, begitu laki-laki baju hitam turun tangan, seketika ia terkejut dibuatnya.

"Kepandaian pedagang obat ini kiranya tidak lemah,"

Demikian Beng Goan-cau berpikir.

Sebetulnya para pedagang obat yang berani mencari obyek ke Siau-kim-jwan memang kebanyakan memiliki kepandaian silat yang cukup lumayan.

Tapi kepandaian laki-laki baju hitam ini bukan saja baik, malah rada aneh, jauh di luar dugaan Beng Goan-cau.

Bagi seorang tokoh yang mem-bekal kepandaian cukup tinggi, meski menghadapi bencana betapa pun hebatnya, untuk mohon bantuan kepada orang sebetulnya tidak perlu harus merendahkan derajat sendiri begitu rupa, lain halnya lakilaki baju hitam ini terima berlutut untuk mohon bantuan Beng Goan-cau.

Tapi keadaan cukup gawat, Beng Goan-cau tiada tempo untuk menganalisa persoalan sedemikian jauh.

Di dalam waktu sekejap itulah, segera terdengar suara tring-tring tiga kali, ketiga batang piau kena disampuk kembali, terdengar laki-laki berjambang bauk tertawa dingin katanya.

"Mengandal kepandaian senjata rahasiamu ini, berani bertingkah dan jual lagak di hadapanku."

Kuping' Beng Goan-cau cukup tajam untuk mendengar jelas, bahwa ketiga Lian-cu-piau itu kena diselentik balik oleh Tam-ci-sin-thong lawan.

Bagi pandangan Beng Goan-cau bahwa sambitan Lian-cu-piau laki-laki baju hitam yang mengarah tepat jalan darah itu sudah termasuk kepandaian kelas tinggi, siapa tahu di pandangan laki-laki berjambang bauk kiranya tidak berharga sepeser pun.

Di atas langit ada langit yang lebih tinggi, di atas orang masih ada orang lain yang lebih liehay, keruan Beng Goan-cau amat terkejut dibuatnya, pikirnya.

"Tak heran laki-laki she Ciok ini mohon bantuanku dan kelihatan amat takut kepadanya. Kepandaian silat laki-laki berjambang bauk ini benar-benar jarang kulihat selama hidupku, mungkin aku pun bukan tandingannya."

Cepat sakali laki-laki berjambang bauk itu sudah menerjang masuk membobol pintu, sementara laki-laki baju hitam lekas menggunakan gaya Kim-li-coan-poh (ikan lehi menembus gelombang), cepat-cepat menerjang jendela melompat keluar melarikan diri.

Dalam kegelapan di dalam pintu tampak sinar golok berkelebatan, terdengar laki-laki berjambang bauk itu mendengus, jengeknya.

"Kiranya benar dugaanku semula!"

Dugaan apa tidak ia katakan, namun memang tiada kesempatan bagi dia untuk menjelaskan.

Tapi dari nada ucapannya ini, lapat-lapat Beng Goan-cau, dapat menangkap sedikit ke mana juntrungan kata-katanya itu, yaitu orang menyangka bahwa Beng Goan-cau adalah sekomplotan dengan laki-laki baju hitam.

Dalam hati Beng Goan-cau berteriak.

"Salah dugaanmu!", tapi karena dia tadi sudah meluluskan untuk bantu kesulitan laki-laki baju hitam, dan lagi kedua pihak sudah turun tangan, tiada kesempatan bagi dia untuk mendebatnya. Kedua pihak sama adalah tokoh kosen dalam bidang permainan golok, selamanya Beng Goancau amat bangga akan permainan golok kilatnya, tak duga laki-laki berjambang bauk ini pun menggunakan senjata golok, malah kalau dibandingkan, dirinya masih kalah setingkat, sudah tentu ia jadi terdesak di bawah angin. Hanya dalam sekejap mata itu, laki-laki berjambang bauk sudah memberondong dengan kecepatan kilat membacok enam kali enam tiga puluh enam golok, terpaksa Beng Goan-cau harus melancarkan Yu-sin-pat-kwa-to yang terkenal akan keruwetan perubahannya di bulim. Untuk menghadapinya, setiap jurus permainan goloknya sama mengandung tiga perubahan tipu-tipu yang liehay, beruntun ia pun sudah melancarkan sembilan jurus dua puluh tujuh kenibangan yang rumit. Kedua pihak sama menggunakan serangan golok cepat, maka terdengarlah suara "cras"

Golok laki-laki berjambang-bauk boleh dikata tepat sekali memapas miring menyerempet pundak Beng Goan-cau, tajam goloknya berhasil mengiris sobek bajunya.

Kontan Beng Goan-cau angkat kaki menendang meja minuman yang terdapat di dalam kamar mencelat terbang menerjang lawan.

"Trak"

Golok laki-laki berjambang bauk membacok amblas tiga dim kena meja, karena terlalu bernafsu ia tidak berhasil membacok hancur meja tebal itu.

Sementara Beng Goan-cau dapat mencelat mundur ke pojok kamar berkesempatan mengganti napas.

Sebuah Boan-koan-pit laki-laki baju hitam terpental terbang ke tengah udara, golok cepat Utti Keng laksana kilat membacok tiba ke arah punggungnya.

Lekas Beng Goan-cau membentak.

"Jangan tertingkah masih ada aku!"

Meski laki-laki berjambang bauk berada di atas angin, namun hatinya rada terkejut juga.

Ternyata biasanya ia sudah malang melintang di utara dan selatan mengandal kehebatan golok kilatnya, selama hidup belum pernah ketemu tandingan, tak duga malam ini ia terbentur dengan Beng Goan-cau, pemuda yang baru berusia dua puluhan, namun dapat melancarkan permainan golok cepat pula untuk melawan dirinya, sekaligus ia tadi melancarkan tiga puluh enam jalan ilmu goloknya, paling-paling cuma berhasil mendesak mundur Beng Goan-cau beberapa langkah.

Timbul rasa sayang di dalam benak laki-laki berjambang bauk, mendadak ia tersentak sadar, pikirnya.

"Orang she Ciok itu merupakan buronan yang penting, kenapa aku berkutat saja dengan pemuda ini?"--Seiring dengan pikirannya, tenaga segera dikerahkan, sekali gertak kontan ia bikin meja tebal itu terbacok berkeping-keping, sigap sekali ia memutar tubuh terus menerobos ke pekarangan luar mengejar ke arah laki-laki baju hitam. Pecahan kayu meja yang beterbangan ada secuil yang mencelat mengenai badan Goan-cau, meski latihan lwekang Beng Goan-cau cukup tinggi ternyata ia merasa kesakitan juga. Lebih terkejut Beng Goan-cau dibuatnya, pikirnya.

"Bukan saja ilmu golok laki-laki jambang bauk ini lebih liehay dari aku, lwekangnya pun jauh lebih unggul."' Namun Beng Goan-cau pernah meluluskan laki-laki baju hitam untuk membantu kesulitannya, ia bersumpah untuk mengorbankan jiwa sendiri pula, meski ia tahu dirinya bukan bandingan orang, namun sedikit pun ia tidak gentar ikut mengejar keluar, batinnya.

"Seorang laki-laki harus menepati janji, masa aku harus mundur menghadapi kesulitan?"

Waktu Beng Goan-cau berlari berlari keluar, tampak si jambang bauk itu sudah melabrak lakilaki baju hitam di tengah jalan raya.

Senjata laki-laki baju hitam adalah sepasang boan-koan-pit, sinar perak berkilauan di kegelapan malam ditarikan begitu kencang membayangkan sinar perak berlapis-lapis laksana lingkaran badan ular putih yang pentang mulut siap mematuk mangsanya.

Bersorak girang hati Beng Goan-cau, pikirnya.

"Walau kepandaian laki-laki baju hitam ini bukan tandingan lawan, terpautnya juga tidak terlalu jauh, jika aku bergabung dengan dia, meski tidak bisa menang, agaknya sulit bisa dikalahkan begitu saja."

Sembari melabrak lawannya, laki-laki berjambang bauk berkaok-kaok, suaranya yang lantang serta rangsakan senjatanya yang hebat benar-benar menciutkan nyali orang, mendadak ia bacokkan goloknya dari sebelah atas, lekas laki-laki baju hitam angkat potlot-nya menangkis, begitu saling bentur.

"trang!"

Bunga api beterbangan, kontan salah sebuah potlot laki-laki baju hitam mencelat terbang ke tengah udara.

"Lari ke mana?"

Bentak laki-laki berjambang bauk, tebasan goloknya laksana kilat, memburu maju langsung ia membacok ke belakang punggung laki-laki baju hitam yang berusaha melarikan diri.

Tepat saat itu Beng Goan-cau memburu tiba, bentaknya.

"Jangan pongah, masih ada aku!"-Tiba suaranya datang pula sambaran goloknya membacok ke punggung laki-laki berjambang bauk. Potlot laki-laki baju hitam tinggal satu batang, lari sudah terang tidak mungkin, diam-diam ia mengeluh dalam hati, apa boleh buat demi menyelamatkan jiwa ia sampukkan potlotnya ke belakang untuk menangkis. Dengan sepasang potlot andalannya tadi ia tidak mampu melawan permainan golok cepat musuh, apa lagi kini senjatanya tinggal satu, mana mampu dia melawan? Terdengar pula "trang"

Yang keras, batang potlot di tangan kanan laki-laki baju hitam tergumpil sebagian oleh golok pusaka lawan, namun tidak sampai tergetar lepas.

Keruan kejadian ini cukup membuat laki-laki baju hitam melengak heran di luar dugaan.

Soalnya Beng Goan-cau menyusul tiba pada waktunya, laki-laki berjambang bauk pernah menjajal kepandaian goloknya, sudah tentu ia tidak berani pandang rendah musuh mudanya ini.

Memang hebat kepandaian ilmu golok laki-laki jambang bauk, begitu liehay dan cepatnya permainan goloknya sampai sulit dilukiskan dengan kata-kata, begitu ia merasa kesiur angin menyerang dirinya dari belakang, lekas sekali ia membalikkan goloknya menyampuk miring golok cepat Beng Goan-cau, berbareng kakinya menjejak tanah badannya lantas melejit ke depan, belum lagi kakinya menyentuh tanah goloknya sudah terangkat tinggi di atas kepala terus membacok ke batok kepala laki-laki baju hitam.

Meski kepandaian laki-laki baju hitam setingkat di bawahnya, namun kepandaiannya pun cukup tinggi, apalagi mendapat bantuan Beng Goan-cau dari sebelah belakang, sedikit banyak menghambat gerak geriknya, maka ia berkesempatan menjangkitkan ujung kakinya membuat senjata potlotnya yang terjatuh di tanah mencelat ke atas serta berhasil diraihnya.

Dengan bersenjata sepasang potlotnya, nyalinya bertambah besar.

tidak lari kini ia membalikkan badan, dengan jurus Siang-liong-jut-hay (sepasang naga keluar dari laut), menyerang untuk membela diri, beruntung ia dapat mengatasi serangan golok cepat si jambang bauk.

Beng Goan-cau sudah menubruk maju pula.

Keruan laki-laki jambang bauk menjadi murka, hardiknya.

"Kulihat usiamu masih terlalu muda, maka sengaja kuberi kelonggaran dan mengampuni jiwamu, kini kau meluruk datang pula untuk mengantar kematian!"

"Demi kawan, pundak tertusuk golok juga rela, berkorban pun tidak menjadi soal!"

Belum lenyap suaranya, permainan golok cepat kedua pihak sudah saling bentur tujuh delapan kali, begitu keras benturan kedua golok mereka sehingga kuping laki-laki baju hitam mendengung dan pekak rasanya.

Diam-diam laki-laki baju hitam bersorak syukur, batinnya.

"Untung aku tadi tidak keburu turun tangan menamatkan jiwa orang she Beng ini, kalau tidak, mungkin aku sekarang pun sudah menjadi setan gentayangan oleh golok cepat si jambang bauk."

Bukan saja ilmu golok si jambang bauk tinggi, pengalaman tempurnya pun cukup luas, sedikit pun ia tidak jadi terhalang perhatian dan melepaskan laki-laki baju hitam karena tekanan golok cepat Beng Goan-cau.

Di dalam pertempuran sengit itu, tampak goloknya yang berpunggung tebal itu bermain amat lincahnya, menuding timur membacok ke barat, menunjuk selatan menabas ke utara, dua pihak sama dapat diatasinya dengan sempurna, setiap jurus permainan tipu goloknya pun amat serasi dan tepat pula pada incarannya, sungguh ajaib dan menakjubkan.

Beng Goan-cau bergabung dengan laki-laki baju hitam sedikit berada di atas angin, namun karena lwekang si jambang bauk berada di atas mereka, setiap kali senjata mereka saling bentur, Beng Goan-cau selalu merasa telapak tangannya tergetar sakit dan kesemutan, tiga puluh jurus kemudian, jantungnya berdetak semakin keras, hampir saja ia susah bernapas.

Bercekat hati Beng Goan-cau, pikirnya.

"Dalam seratus jurus, kalau kami belum mampu' mengalahkan dia, mungkin kami sendiri yang bakal kena dikalahkan olehnya."

Memperoleh posisi tempur yang lebih menguntungkan, tiba-tiba si jambang bauk menggeleng kepala serta berkata.

"Sayang, sayang!"

Dalam hati Beng Goan-cau juga membatin.

"Kaulah yang harus disayangkan, memiliki kepandaian setinggi ini, terima diperbudak dan menjadi anjing alap-alap bangsa penjajah!"-Karena desakan si jambang bauk amat ketat, bernapas pun rasanya sukar, kata-kata yang terkandung dalam benaknya ini jadi sulit diutarakan. Begitu mendengar perkataan si jambang bauk, bercekat hati laki-laki baju hitam, diam-diam ia membatin.

"Bualanku hanya dapat mengelabuhi sementara saja, kalau si jambang bauk ini sampai banyak bicara dengan bocah she Beng ini, membuka rahasia diriku, aku bakal mati tanpa ada liang kubur lagi."

Karena pikirannya ini, hatinya menjadi menjadi jeri.

"Tiga puluh enam jalan, lari adalah akal yang paling tepat! Mumpung bocah she Beng masih belum mengetahui bualanku, biar dia saja yang menjadi setan gentayangan mewakili aku."

Setelah hatinya bertekad, cepat kedua potlotnya dimainkan lebih gencar mendesak lawan, tiba-tiba ia mencelat mundur terus putar tubuh melarikan diri.

Tatkala itu si jambang bauk kebetulan dapat mengubah situasi sama setanding dan berimbang, laki-laki baju hitam sulit dapat mengalahkan musuhnya, namun untuk melarikan diri kiranya bukan soal sulit.

Tanpa memberi aba-aba sebelumnya lelaki baju hitam ini terus melarikan diri meninggalkan Beng Goan-cau seorang diri.

Sudah tentu Beng Goan-cau menjadi kurang senang, namun dia seorang polos yang paling suka menepati janji, dalam hati ia berpikir.

"Sebagai seorang yang punya keluarga, ia jadi ketakutan oleh labrakan musuh, tidak bisa kusalahkan dia mengutamakan keselamatan jiwa sendiri lebih dulu. Siapa suruh aku begitu gegabah meluluskan permohonannya? Baiklah, biar dia yang hutang budi kepadaku, namun aku tidak bisa ingkar janji kepadanya!"

Untuk melindungi laki-laki baju hitam itu, permainan golok Beng Goan-cau lebih dipergencar dan seperti ingin mengadu jiwa.

Permainan golok cepat Beng Goan-cau meski tidak bisa meng-ungkuli lawan, tapi gerak perubahan dan variasi permainannya jauh lebih unggul dari ilmu golok musuh, dalam waktu singkat sulit si jambang bauk dapat menjebol pertahanan lawan mudanya yang kokoh dan hebat ini, karena itu ia jadi murka, bentaknya.

"Kau bocah busuk ini memang tidak tahu kebaikan, baiklah, kalau kau suka terima dihukum tertusuk golok kedua pundakmu demi keselamatan kawan, biar tuan besar menyempurnakan keinginanmu!"

Mereka bertempur dan berkaok-kaok di jalan raya, yang bernyali kecil sama mengkeret di dalam selimut, sementara yang bernyali besar segera mencuri lihat dari jendela, tapi serta melihat si jambang bauk begitu garang dan buas menakutkan, meski nyali mereka besar, siapa yang berani keluar memisah perkelahian mereka.

Di jalan raya ini terdapat dua rumah penginapan, letaknya tidak jauh dari hotel tempat Beng Goan-cau menginap, di dalam penginapan yang lain ini, terdapat seorang tamu perempuan berusia dua puluhan, begitu mendengar suara pertempuran, timbul rasa tertariknya, saat mana ia pun ikut membuka jendela dan memandang keluar.

Begitu ia melihat jelas, seketika ia terkejut pikirnya.

"Kiranya paman Utti, sungguh kebetulan. Entah siapakah pemuda itu, begitu liehay juga permainan goloknya dapat menandingi golok cepatnya."

Ternyata laki-laki jambang bauk ini adalah sahabat ayahnya, karena mendengar suara gerungan dan kaok-kaok si jambang bauk inilah maka dia membuka jendela.

Golok si jambang bauk semakin kencang, dikembangkan semakin cepat laksana gelombang sungai Tiangkang, bergulung-gulung tak berkeputusan.

Saking bernafsu tiba-tiba ia menghardik keras laksana geledek, disusul dengan bacokan golok yang mematikan!

Beruntun ia menghardik tiga kali, beruntun Beng Goan-cau pun tersurut mundur sembilan langkah.

Boleh dikata serangannya laksana kilat dan geledek murka, pertahanan bagai tanggul baja yang sekokoh gunung, yang satu menyerang yang lain membela diri, kedua pihak sama hebat dan cekatan, sungguh menakjubkan sekali.

Walaupun Beng Goan-cau tersurut sembilan langkah, dalam waktu pendek, si jambang bau pun tidak mampu melukainya.

Akan tetapi, tak urung Beng Goan-cau bermandikan peluh dibuatnya.

Berpikir Beng Goan-cau.

"Laki-laki baju hitam itu tentu sudah pergi jauh, aku sudah bekerja sekuat kemampuanku, terhitung sudah membantu kesulitannya sesuai dengan janjiku. Kalau pertempuran dilanjutkan, mungkin jiwaku sendiri sulit diselamatkan!"

"Lari ke mana?"

Bentak si jambang bauk.

"Wut"

Goloknya pun membacok tiba. Lekas Beng Goan-cau membelakangi tubuh sembari melancarkan tipu Pek-ho-jan-ci.

"Trang"

Dua golok saling bentur, badan Beng Goan-cau terhuyung maju ke depan, agaknya hampir roboh terjerembab, namun ternyata kakinya menggunakan gerak langkah Cui-pat-sian, meminjam dorongan tenaga besar lawan, lekas kakinya menutul bumi enteng seperti bangau putih pentang sayap badannya melejit terbang ke depan terus melambung naik hinggap di wuwungan rumah orang.

Dalam hati si jambang bauk memuji.

"Ginkang yang bagus!"

Tubuhnya pun ikut mencelat lurus ke atas, ia mengejar dengan cepat sekali sembari menusukkan goloknya, tusukan goloknya ini sebetulnya secara kebetulan dapat menusuk telapak kaki Beng Goan-cau, namun tiba-tiba pikirannya berubah, serta merta cara tusukannya menjadi merandek sedikit, hanya terpaut setengah dim, hampir saja kaki Beng Goan-cau sudah berlubang.

Begitu hinggap di atas rumah si jambang bauk angkat kepala, dilihatnya Beng Goan-cau melarikan diri ke arah barat, arah yang berlawanan dengan laki-laki baju hitam melarikan diri.

Tujuan Beng Goan-cau amat jelas, dia menghendaki si jambang bauk sulit membagi diri, jikalau mengejar dirinya, berarti ia tidak bisa mengejar laki-laki baju hitam itu.

Sebetulnya si jambang bauk menaruh sayang dan kagum kepada Beng Goan-cau, namun karena dia merintangi usahanya, keruan membuat amarahnya berkobar.

"Bocah keparat ini rela menjual jiwa bagi junjungannya, hm, tentu bukan manusia baik-baik pula. Tapi kalau aku tidak melepaskan dia, berarti memberi keuntungan bagi buruanku yang utama."

Tengah ia beragu diri, tiba-tiba didengarnya sebuah seruan nyaring merdu.

"Paman Utti!"

Seorang gadis menerjang keluar dari sebuah jendela. Utti Keng menjadi kejut dan girang pula, teriaknya.

"Bu-siang, kaukah itu?"

Ternyata gadis ini bukan lain adalah Lim Bu-siang yang meluruk ke Soh-ciu hendak memberi kabar kepada Beng Goan-cau.

Sayang dia tidak kenal orang yang hendak dicarinya baru saja berada di hadapannya.

Si jambang bauk girang dan heran pula, katanya.

"Bu-siang, kenapa kau pun berada di sini?"

"Kalau dibicarakan amat panjang, siapakah orang yang bergebrak dengan kau?"

"Urusanku bila dibicarakan pun cukup panjang. Bu-siang titli, coba kau bantu aku lebih dulu, bicara belakang."

"Silakan paman katakan!"

"Kejarlah bocah itu, kepandaian silat bocah itu amat tinggi, kau harus hati-hati!"

Lim Bu-siang mengiakan. Sementara dalam hati ia membatin.

"Paman Utti berhati sirik dan benci akan kejahatan, orang itu tentu seorang penjahat besar yang keliwat takaran dosanya!"

Begitu mengiakan, tanpa banyak kata Lim Bu-siang segera angkat langkah mengejar ke jurusan Beng Goan-cau melarikan diri.

Baru saja si jambang bauk berniat kembali ke hotel, menunggang kuda suri merahnya untuk mengejar laki-laki baju hitam, tiba-tiba tergerak hatinya, maka dengan menggunakan mengirim gelombang suara jarak jauh ia berseru kepada Bu-siang sambil mengerahkan lwekangnya.

"Kau harus hati-hati melayaninya, tidak perlu kau bunuh dia, lebih baik kalau bisa melibat dia sekian waktu supaya dia tidak mampu lari, sebentar aku akan menyusul tiba."

"Aku tahu!"-Dalam pada itu Lim Bu-siang sudah berlari keluar dari kota kecil itu, jawabannya itu ia pun kirim menggunakan ilmu yang sama sambil mengerahkan lwekang dari kejauhan. Kata-kata 'aku tahu' seolah-olah dikatakan di pinggir kuping si jambang bauk. Keruan si jambang bauk melengak dan tertawa senang, pikirnya.

"Bu-siang si budak ini benar-benar membuat aku takluk lahir batin, terpaut baru tiga tahun, latihan lwekangnya sudah maju begitu pesat, boleh dikata hampir melampaui diriku. Bocah itu sudah bertempur dengan aku sekian lama, seandainya Bu-siang tidak mampu mengalahkan dia, pasti tidak akan terkalahkan oleh dia!"

Legalah hati si jambang bauk, lekas ia berlari masuk ke dalam istal, menuntun keluar kuda suri merahnya.

Di ambang pintu istal sudah ditumpuk kotoran kuda, si jambang bauk berwatak berangas-an lagi, seperti angin lesus saja ia memburu masuk ke dalam istal, sedikit pun tidak memperhatikan sekitarnya, keruan kaki dan pakaiannya berlepotan kotoran kuda, baunya sungguh tak sedap dirasakan.

Dongkol dan uring-uringan pula si jambang bauk dibuatnya, makinya dalam hati.

"Entah bangsat keparat atau bocah busuk itu yang melakukan, berani mempermainkan Locu! Hm, pendek kata satu di antara mereka, tidak mungkin orang ketiga. Orang she Ciok itu bila sampai teringkus di tanganku, paling ringan harus kubeset kulitnya kubetot uratnya, sementara bocah busuk itu akan kujejal kotoran kuda mulutnya!"-Sedikit pun tidak terpikir olehnya bahwa orang yang menumpuk kotoran kuda di muka pintu adalah pemilik rumah penginapan itu. -ooo0dw0ooo-Beng Goan-cau berlari-lari bagai terbang di jalan raya, hatinya pun sedang uring-uringan dan dongkol. Baru pertama kali ini selama ia kelana di kangouw kena dikalahkan begitu mengenaskan. Sedikit banyak ia gegetun terhadap laki-laki baju hitam yang tidak tahu kebaikan.

"Kalau nyalinya tidak sekecil tikus, melarikan diri lebih dulu, mengandal kekuatan kami berdua, rasanya takkan sampai terkalahkan dan harus melarikan diri,"

Demikian batin Beng Goan-cau.

Waktu Beng Goan-cau uring-uringan, tiba-tiba dirasakan di sebelah belakang seperti ada orang mengejar datang.

Waktu Beng Goan-cau berpaling ke belakang, dilihatnya yang mengejar datang itu adalah seorang gadis muda, sejenak ia tercengang, pikirnya.

"Nona ini usianya paling-paling sebaya dengan siau-sumoay, ginkangnya ternyata begitu tinggi! Kalau aku tidak pernah melatih mendengar angin membedakan senjata, hampir saja aku tidak tahu ada orang menguntit di belakangku. Tapi untuk apa dia mengejar aku? Apakah dia juga cakar alap-alap pihak kerajaan? Tidak! Tidak mungkin! Nona secantik itu tidak mungkin terima diperbudak oleh kaum penjajah. Kenapa aku boleh sembarang menduga."

Di saat Beng Goan-cau merasa jalan pikiran sendiri yang rada tidak benar itu, sesaat ia jadi sulit berkeputusan. Sementara gadis itu melihat dia berpaling segera membuka suara lebih dulu.

"Kau tidak akan bisa lolos! Berdiri di tempatmu!"

Beng Goan-cau terkejut, katanya.

"Tak nyana, ternyata kau se-komplotan dengan laki-laki bangsat jambang bauk itu!"

"Jangan sembarang menista!"

Hardik Lim Bu-siang.

"Kalau ingin hidup, lekas letakkan senjata, dan terima kuringkus saja."

Melihat sorot mata tajam Beng Goan-cau serta alisnya yang tegak berdiri, berwajah halus dan putih cakap, tidak seperti tampang penjahat, diam-diam ia membatin dalam hati.

"Paman Utti hanya menyuruh aku melibatnya saja, aku pun tidak ingin melukainya, semoga aku dapat menghindari pertumpahan darah!"

Lim Bu-siang menyuruh orang meletakkan senjata, maksud tujuannya adalah baik. Tapi bagi pendengaran Beng Goan-cau malah sebaliknya, keruan ia naik pitam, serunya bergelak tertawa.

"Aku orang she Beng malang melintang di utara dan selatan sungai besar, entah berapa banyak para enghiong yang pernah kujumpai, selama itu belum pernah terjadi ada orang berani menyuruh aku meninggalkan senjataku! Hm! Kulihat kau kaum hawa aku tidak sudi berpandangan secupat kau, kalau kau mampu mengejar, marilah susul aku, maaf aku tidak bisa mela-yanimu lebih lama!"

Lim Bu-siang paling sirik bila ada orang memandang rendah dirinya, keruan ia pun menjadi marah, dampratnya.

"Baik! Berani kau pandang ringan nonamu! Agaknya kau lebih suka diberi arak hukuman daripada arak suguhan!"

Beng Goan-cau memang sengaja hendak menjajal ginkang orang, lekas ia percepat langkah kakinya.

Dikembangkannya ginkang tingkat tinggi Pat-pou-kan-sian, diluar tahunya setelah mengalami pertempuran sengit belum lama ini, tenaganya sudah banyak terkuras habis, sebetulnya ginkangnya masih setingkat dan berimbang dengan Lim Bu-siang, tapi setelah sesulutan dupa kemudian, lama kelamaan ia kena terkejar oleh Lim Bu-siang.

Menggunakan gaya lompatan yang indah, Lim Bu-siang melejit terbang melewati samping tubuh Beng Goan-cau terus mencegat jalan larinya, katanya tertawa dingin.

"Kukatakan kau tidak akan mampu lolos kau tidak percaya, huh! Coba berani kau pandang ringan orang lain?"

"Bisa lolos atau tidak kau harus bertanya dulu kepada golok pusakaku ini,"

Demikian jengek Beng Goan-cau.

"Terlalu pagi sekarang kau membuka mulut lebar!"

"Baik! Silakan turun tangan!"

Tantang Lim Bu-siang. Beng Goan-cau menggenggam gagang goloknya, katanya tawar.

"Mana boleh aku mengambil keuntunganmu, bukankah kau hendak meringkus aku? Jangan cerewet, ayo seranglah!"

Berang Lim Bu-siang dibuatnya, pikirnya.

"Bangsat ini tidak tahu kebaikan, terpaksa aku harus membuatnya sedikit terluka!"

"Sret!"

Segera pedangnya menusuk seraya membentak.

"Sambut seranganku!"--Tusukan pedang yang dilancarkan ini adalah salah satu jurus terliehay dari ilmu pedang Hu-siang-pay yang sekaligus dapat menotok jalan darah musuh. Semula Beng Goan-cau juga rada memandang ringan lawannya, serta melihat tusukan pedang Lim Bu-siang yang amat liehay ini, baru ia insyaf sudah kebentur lawan tangguh, di antara sinar golok dan bayangan pedang berkelebat terdengarlah suara "cras!", baju Beng Goan-cau tahu-tahu berlubang tertembus ujung pedang Lim Bu-siang. Sedang pedang Lim Bu-siang keburu kena dibentur oleh punggung golok Beng Goan-cau sehingga batang pedangnya tergen-tak mendengung, telapak tangan pun terasa kesemutan. Gebrak babak pertama ini kedua pihak sama dibuat kaget dan mencelos hati masing-masing. Beng Goan-cau tidak menduga ilmu pedang Lim Bu-siang sedemikian lincah dan liehay. Diamdiam ia menyesal akan sifatnya yang takabur, rasa memandang ringan lawan segera kuncup dari sanubarinya. Demikian juga Lim Bu-siang, diam-diam mengeluh dalam hati, pikirnya.

"Dia sudah bertempur sengit sekian lamanya dengan paman Utti, tenaganya masih sedemikian hebat! Tugas berat ini sudah diserahkan kepada aku oleh paman Utti, kalau dia sampai berhasil lolos mana ada muka aku menemui Paman Utti? Untung tidak lama lagi paman Utti bakal menyusul datang. Tidak perlu aku terlalu bernafsu mengalahkan lawan, yang penting aku harus bisa mengulur waktu saja!"

Setelah berketetapan, gerak permainan pedang Lim Bu-siang dirubah, gerak pedangnya seperti menari mengutamakan kelincahan, bajunya melambai, kakinya melangkah, seperti terbang, bergerak di tengah udara, maju mundur ke barat atau ke timur, bergerak menyesuaikan gerakan pedang seolah-olah pedang dan tubuhnya sudah bersatu padu.

Pertahanannya, kokoh rapat seperti awan mengembang air mengalir, tak putus-putus sedikit pun tidak bisa disentuh..Beng Goan-cau pun mengembangkan ilmu goloknya yang ampuh dan serba kilat, sekaligus ia membacok dan membabat tiga puluh enam serangan, namun ujung baju Lim Bu-Siang saja ia tidak mampu menyentuhnya, untuk melepaskan diri tidak mungkin lagi, lama kelamaan ia menjadi gelisah dan gundah.

Ternyata Lim Bu-siang mematuhi pesan laki-laki jambang bauk, ia hanya berusaha melibat Beng Goan-cau sehingga tidak kuasa melarikan diri, tiada niatnya hendak mengadu jiwa dengan lawannya.

Cara gebrakannya selalu menggunakan serangan gertakan, sedikit menyentuh lawan lantas ditarik mundur.

Tak peduli ke mana saja Beng Goan-cau berada, ujung pedangnya selalu menuding kesa-sarannya dengan tepat.

Beng Goan-cau sendiri sebaliknya tidak ingin melukai orang, cara bagaimana ia harus meloloskan diri?

Semakin dipikir hati Beng Goan-cau semakin gelisah, batinnya.

"Berlaku bajik terhadap musuh berarti berlaku kejam terhadap diri sendiri, kalau toh aku sudah tahu bahwa dia adalah cakar alapalap kerajaan, kenapa aku harus menaruh belas kasihan segala?"

Terpikir sampai di sini, tiba-tiba ia kertak gigi, permainan goloknya semakin gencar, setiap jurus bacokan goloknya tentu menggunakan tenaga besar dan tipu-tipu yang mematikan.

Lim Bu-siang sendiri lama kelamaan pun merasa kepayahan, badannya basah kuyup oleh keringat, akhirnya ia pun kertak gigi, serunya.

"Kau memang mendesak aku untuk melukaimu!"

Jelas tidak mungkin ia bermain mengalah atau berlaku sabar lagi, mendadak ia berputar gerakan pedangnya, beruntun ia lancarkan sejurus tipu pedang yang peranti untuk gugur bersama musuh.

Ilmu pedang Hu-siang-pay banyak berlainan dengan ilmu pedang Tionggoan umumnya tipu gugur bersama ini dilancarkan secara aneh dan dari sasaran yang sulit diduga sebelumnya, dalam keadaan bernafsu menyerang tanpa hiraukan keselamatan diri sendiri itu, mana Beng Goan-cau mampu meluputkan diri?

Cras, ujung pedang lawan berhasil menggores sebuah luka panjang di lengan kiri Beng Goan-cau.

Tatkala itu bila Lim Bu-siang mau mengerahkan sedikit tenaganya, seluruh lengan kiri Beng Goan-cau tanggung berpisah dari badannya, tapi Lim Bu-siang tidak tega turun tangan secara kejam, dalam hati malah ia berpikir.

"Kecuali terpaksa, paman Utti ada berpesan supaya aku jangan melukainya. Kenapa aku harus membuatnya cacat?"

Karena jalan pikirannya ini, serta merta gerakan ujung pedangnya menjadi lamban dan lekas ditarik mundur.

Beng Goan-cau sedang menubruk maju dengan nekad dan bertempur cara mengadu jiwa, mendadak ujung pedang lawan tahu-tahu sudah menuding tiba di depan dadanya.

Untuk berkelit terang tidak mungkin lagi, kontan ia menggerung keras, goloknya membacok dari atas dengan kekuatan penuh.

Tapi sebelum goloknya tiba mengenai sasarannya, terasa lengan kirinya hanya teriris luka seperti digigit semut, tidak begitu sakit, secepat kilat pula tahu-tahu ujung pedang lawan sudah ditarik balik.

Sebagai seorang ahli silat yang cukup tinggi kepandaiannya, sudah tentu Beng Goan-cau tahu bahwa pihak lawan sebetulnya cukup mampu mengu-tungi sebelah lengannya, bahwa Lim Bu-siang tiba-tiba menarik kembali pedang dan mengendor-kan tenaganya benar-benar di luar dugaannya.

"Masakah aku hendak bunuh dia, malah dia menaruh belas kasihan kepada aku?"

Demikian batin Beng Goan-cau.

Jalan pikirannya itu berlangsung amat cepat, meski bacokan goloknya ini tidak mampu ditariknya kembali, dan membacok terus ke arah musuh, namun tenaga bacokannya sudah banyak ditarik sebagian besar.

"Trang", golok dan pedang saling beradu, bunga api berpercik, dengan gaya Sip-hiong-kiau-hoan-hun (menarik dada jumpalitan di tengah mega) Lim Bu-siang lekas-lekas jumpalitan ke belakang tiga tombak jauhnya. Kalau bacokan golok ini jadi dilancarkan menggunakan seluruh tenaganya, meski Lim Bu-siang berhasil menabas kutung sebelah lengannya, namun dia sendiri bukan mustahil bakal terluka parah, malah mungkin jiwanya melayang di bawah bacokan golok maut Beng Goan-cau yang hebat itu. Kepandaian silat Lim Bu-siang sendiri tidak di sebelah bawah kemampuan Beng Goan-cau. Syukur Beng Goan-cau tidak menggunakan setaker tenaganya, dikejap pada saat kedua senjata mereka saling bentur itu, Lim Bu-siang lantas menyadari hal ini. Seperti pula Beng Goan-cau ia pun melengak keheranan.

"Agaknya orang ini bukanlah bangsa penjahat yang berhati culas dan kejam!"

Demikian batin Lim Bu-siang.

"Apa kau masih tidak mau memberi jalan?"

Bentak Beng Goan-cau. Setelah jumpalitan itu, Lim Bu-siang masih tetap menghadang di depan Beng Goan-cau. Merah muka Lim Bu-siang, katanya.

"Terima kasih akan kemurahan hatimu, tapi bila kau ingin lari betapapun tidak bisa! Aku sudah berjanji kepada paman Utti untuk menahan kau supaya tidak melarikan diri!"

Bertaut alis Beng Goan-cau, katanya.

"Kau tidak mengutungi lenganku, aku paham dan mengerti. Kau pun tidak perlu menerima terima kasihku, begitu pula aku pun tidak merasa hutang budi kepadamu, hitung saja kita seri dan sama' impas. Tapi kalau toh kau memang mempersulit diriku, jangan salahkan bila aku tidak sungkan lagi terhadap kau. Kau hendak bunuh aku atau tidak, kalau kau tidak minggir, maka aku harus menyingkirkan kau, bila perlu terpaksa main bunuh habis perkara!"

Lim Bu-siang menghela napas, ujarnya.

"Sayang kepandaianmu yang tinggi ini. Kudengar nada bicaramu agaknya tidak mau insyaf dan bertobat. Ai, apa boleh buat, aku kuasa mengalahkan kau atau tidak, yang terang kau harus tetap kucegah melarikan diri, pendek kata kalau bukan aku yang mati biarlah kau yang mampus!"

Dalam benak Lim Bu-siang merasa sayang dan kasihan akan kesesatan pikiran Beng Goan-cau, serta merta perasaan ini ia limpahkan pada mimik wajahnya.

Beng Goan-cau tergerak hatinya, tak urung berpikir ia dalam hati.

"Dia rada mirip siau-sumoay, cuma dipandang air mukanya saja begitu polos dan jujur seperti lagak siau-sumoay! Ai, siapa duga dia rela berbuat kejahatan demi mengejar kedudukan dan pangkat bagi kaum penjajah!"-Terpikir sampai di sini, tak terasa ia pun menghela napas, katanya dingin.

"Sayang! Sayang!"

Terangkat alis Lim Bu-siang, tanyanya sambil menekan gagang pedang.

"Sayang apa?"

"Perempuan secantik dan segagah kau, ternyata juga rela diperbudak dan menjadi bangsat!"

"Apa maksud perkataanmu?"

Sentak Lim Bu-siang.

"Sayang nona secantik kau ini, rela diperbudak dan menjadi anjing alap-alap pihak kerajaan!"

Demikian maki Beng Goan-cau lantang.

"Apa katamu? Aku adalah anjing alap-alap pihak kerajaan?"

Mendadak berdebur keras jantung Lim Bu-siang, teringat olehnya Kim Tiok-liu pernah menjelaskan bahwa Beng Goan-cau terkenal namanya dan malang melintang mengandal permainan golok cepatnya.

"Golok cepat orang ini mampu menandingi paman Utti, agaknya tadi ia pun memperkenalkan diri she Beng?"

"Kau she apa?"

Mendadak Lim Bu-siang bertanya.

Beng Goan-cau melengak, tidak duga olehnya Lim Bu-siang bakal mengajukan pertanyaan demikian, sejenak ia melenggong, lalu dengan pandangan tidak habis mengerti ia tatap Lim Busiang, katanya.

"Bukankah kau sudah tahu bahwa aku buronan pemerintah lalu mengejar dan hendak menangkap aku? Seorang laki-laki sejati berjalan tidak mengubah nama, duduk tidak mengganti she. Aku adalah Beng Goan-cau, Beng Goan-cau adalah aku!"

Bukan kepalang kejut Lim Bu-siang, teriaknya.

"Jadi kau adalah Beng Goan-cau, benar-benar suatu kesalahpahaman yang tidak terduga!"

"Salah paham apa?"

Tanya Beng Goan-cau.

"Beberapa hari yang lalu aku pernah datang ke rumahmu, tidak ketemu mencarimu."

"Untuk apa kau mencari aku?"

"Ada anjing alap-alap pihak kerajaan hendak mencari kesulitan pada kau, Kim Tiok-liu minta aku menyampaikan kabar ini kepadamu!"

"Maksudmu Kim Tayhiap Kim Tiok-liu dari karesidenan Tang-ping di propinsi Shoatang?"

"Benar! Mereka suami istri mendapat berita jelek ini, lalu menyuruh aku menyampaikan kabar ini kepadamu!"

Beng Goan-cau ragu-ragu, setengah percaya setengah tidak. Tanyanya menegas.

"Apa benar ucapanmu?"

"Kenapa aku menipumu, di rumahmu aku bertemu dengan sahabat baikmu Song Theng-siau! Kalau tidak percaya, kelak kau boleh bertanya kepadanya!"

Kejut dan girang pula hati Beng Goan-cau, katanya.

"'Ternyata Theng-siau juga sudah kembali ke Soh-ciu, apa saja yang dia katakan kepadamu? Ada seorang maling sakti yang kenamaan di kangouw bernama Kwi-hee-thio adakah pulang bersama dia?"

Sekilas dilihat oleh Lim Bu-siang luka-luka Beng Goan-cau masih mengeluarkan darah, hatinya menjadi tidak enak lekas ia berkata.

"Aku hanya bertemu dengan Song Theng-siau, hanya dia saja sendirian. Em, malam itu kalau dituturkan cukup panjang. Marilah biar kubalutkan dulu lukalukamu. Ai, akulah yang salah terhadapmu, sehingga melukai kau, sakit tidak?"

Lekas Bu-siang menyarungkan pedang serta mengeluarkan Kim-jong-yok, terus menghampiri Beng Goan-cau serta membubuhi obat pada luka-lukanya.

Setelah, selesai ia balut pula luka-luka itu dengan kain sobekan lengan bajunya.

Pepatah kuno ada bilang.

"Janganlah timbul rasa jahatmu terhadap orang, sebaliknya tingkatkan kewaspadaanmu terhadap orang lain!"

Luka-luka Beng Goan-cau masih mengalirkan darah, kalau Lim Bu-siang punya niat jahat terhadapnya, cukup asal dia membubuhi luka-lukanya dengan obat beracun, betapapun tinggi Iwekang Beng Goan-cau, seketika jiwanya pasti mampus.

Tapi kalau dibicarakan memang rada aneh.

Sudah tentu Beng Goan-cau cukup paham akan kelicikan dan keculasan hati orang-orang kangouw, namun menghadapi Lim Bu-siang sedikit pun tidak timbul rasa was-was atau curiganya, begitu melihat mimik wajahnya yang penuh penyesalan dan sikap gugupnya itu, dari lubuk hatinya yang paling dalam diam-diam sudah>mau percaya akan itikad baiknya, dengan wajar dan sikap polos ia ulurkan lengannya untuk dibubuhi obat olehnya.

Bahwasanya luka-luka di lengan Beng Goan-cau hanyalah luka luar yang ringan saja, dia sendiri pun ada membawa Kim-jong-yok, sebetulnya tidak perlu Lim Bu-siang bantu merawat lukalukanya itu.

Soalnya Beng Goan-cau hendak memberi pengertian kepada Bu-siang bahwa dia percaya betul kepadanya, maka dia terima kebaikan orang.

Tapi sebagai gadis yang polos dan jujur, sedikit pun Lim Bu-siang tidak berpikir sampai sedemikian jauh.

Memangnya luka-luka itu tidak berat begitu tersentuh jari-jari Lim Bu-siang yang runcing dan halus, terasa segulung hawa hangat segera menjalar ke seluruh badannya, sungguh nikmat dan menyegarkan badan.

Kata Beng Goan-cau dengan tertawa.

"Obatmu amat mujarab, sekali dibubuhi rasa sakitnya lantas hilang!"

Lim Bu-siang cekikikan tawa, ujarnya.

"Mana bisa sembuh begitu cepat, jangan kau membual terhadapku."

Sedang mereka berhadapan dan berkelakar itulah tiba-tiba didengarnya derap kaki kuda yang dikaburkan amat kencang mendatangi, kontan Lim Bu-siang berteriak.

"Paman Utti, kau sudah kembali!"

Laki-laki jambang bauk begitu melihat sikap mereka yang intim dan bersendau gurau, sesaat ia melongo, cepat ia sudah melompat turun serta teriaknya.

"Bu-siang, kau, kau, apakah yang telah terjadi?"

"Paman Utti,"

Ujar Lim Bu-siang tertawa.

"Kali ini kau salah menilai orang!"

Kata-katanya ini sekaligus membuat laki-laki berjambang bauk terkejut demikian juga Beng Goan-cau, tanpa berjanji, mereka berteriak bersama.

"Siapakah dia?"

Sementara itu Lim Bu-siang sudah selesai membalut luka-luka Beng Goan-cau, segera ia turunkan tangan serta menjawab.

"Paman Utti, pengalamanmu luas pengetahuan tinggi, tentunya kau sudah tahu bahwa di Siau-kim-jwan ada seorang tokoh pendekar muda yang bernama Beng Goan-cau bukan?"

Kejut dan girang si jambang bauk, serunya.

"Jadi kaulah Beng Goan-cau."

"Benar, akulah adanya!"

Laki-laki jambang bauk tertawa bahak-bahak, ujarnya.

"Kalau tidak berkelahi tidak bakal berkenalan!"

Mendengar Lim Bu-siang memanggil orang paman Utti, tiba-tiba teringat oleh Beng Goan-causeseorang, serunya terkejut.

"Apakah tuan Koan-tang Tayhiap Utti Keng?"

Semakin keras celak tawa laki-laki berjambang bauk, serunya.

"Tayhiap apa segala, yang terang usiaku jauh lebih tua dari kau. Aku tidak perlu main sungkan terhadap kau, kau boleh panggil aku toako, dan aku panggi kau lote saja!"

Keruan girang Beng Goan-cau bukan main, dalam hati ia membatin.

"Orang sering bilang bahwa watak Koan-tang Tayhiap Utti Keng amat kasar berangasan tapi jujur dan berjiwa pendekar, perkasa lagi, benar-benar tidak bernama kosong!"

Ternyata Utti Keng sebetulnya kelahiran dari seorang bandit tunggal yang suka merampok kuda di Koan-tang, pernah melakukan berbagai peristiwa besar yang menggegerkan dunia, umpamanya merampok barang upeti dari Ceng-hay, mencuri kado Sat Hok-ting itu komandan Bhayangkari istana raja, kedua peristiwa besar yang bisa mengeringkan mulut orang yang suka bercerita ini adalah buah karyanya yang terbesar pada tahun-tahun terakhir ini.

Demikian pula di dalam Tionggoan ia pernah melakukan berbagai aksi yang membuat situasi bergolak.

Beberapa tahun yang lalu secara diam-diam ia kembali ke Liautang dan di sana ia menjadi pemimpin dari tiga belas perusahaan peternakan.

Kali ini Beng Goan-cau mendapat tugas sebagai kurir untuk mencari hubungan dengan para orang-orang gagah dari berbagai tempat.

Koan-tang Tayhiap Utti Keng adalah salah satu tokoh utama yang harus dia hubungi.

"Baiklah,"

Ujar Beng Goan-cau.

"aku menurut perintah dan mengangkat diri. Utti toako, kalau tidak kujelaskan tentu kau tidak tahu, bahwa siaute memang mendapat perintah dari Leng Tiatjiau dan Siau Ci-wan untuk menemui kau di Liau-tang. Tak nyana bisa bersua di sini, sungguh beruntung dan menggirangkan!"

"Lote tidak usah sungkan. Beberapa tahun ini namamu pun cukup tenar. Tapi ada sebuah hal yang tidak dapat kupahami, kau merupakan seorang tokoh kenamaan di Siau-kim-jwan, kenapa pula kau membela bangsat she Ciok itu mati-matian?"

"Siapakah dia?"

Tanya Beng Goan-cau.

"O, jadi kau tidak tahu siapa dia? Cara bagaimana kau bisa kena ditipu olehnya?"

Segera Beng Goan-cau menceritakan akal muslihat laki-laki baju hitam itu secara gamblang, keruan Utti Keng dongkol dan geli pula dibuatnya, katanya.

"Bangsat keparat pintar membual, ketahuilah dia adalah cakar alap-alap pihak kerajaan, namun membalik persoalan menuduh akulah jadinya! Kelak bila kena kubekuk, pertama-tama akan kujejal kotoran kuda pada mulutnya, baru kupatahkan tulangnya dan kubeset kulitnya."

Kotoran kuda pada pakaian Utti Keng sudah dibersihkan, namun baunya yang sedap masih terendus sedikit. Beng Goan-cau tahu pasti perbuatan pemilik hotel itu, diam-diam ia menjadi geli, katanya tertawa.

"Utti toako. kau belum lagi menjelaskan siapakah sebenarnya bangsat kurang ajar itu?"

"Bangsat itu bukan lain adalah wakil komandan Gi-lim-kun Ciok Tio-ki. Semula ia pun kelahiran seorang bandit tunggal, sudah lama kenal dengan aku. Kali ini kuluruk kemari karena aku ada mendengar kabar bahwa dia pernah muncul di daerah Soh-ciu, kuduga dalam dua hari ini, pasti ia berangkat pulang menyeberang sungai, maka kukun-tit jejaknya."

Terperanjat Beng Goan-cau, pikirnya.

"Dia pernah muncul di Soh-ciu? Bukan mustahil kedatangannya itu karena aku?"

Sebagai seorang cerdik dan cermat, segera Beng Goan-cau menjadi paham duduknya perkara, katanya.

"O, jadi, dia gunakan tipu meminjam golok membunuh orang!"--Teringat dirinya pernah hendak tidur sekamar dan satu ranjang, diam-diam hatinya mencelos. Dengan penuh kebencian Utti Keng berkata.

"Entah ke mana kura-kura itu menyembunyikan diri, bila sejak lama kutahu kau adalah Beng Goan-cau, aku harus mencari beberapa lingkaran lagi menemukan jejaknya."

Ternyata karena kuatir bagi keselamatan Lim Bu-siang, maka setelah dia menye-lusuri dua cabang jalan sampai puluhan li tanpa menemukan Ciok Tio-ki, lekas-lekas ia berlari balik menyusul kemari.

"Paman Utti!"

Ujar Lim Bu-siang tertawa.

"Orang yang kau cari untuk menagih hutangnya selamanya belum pernah lolos dari kejaranmu, terutama kuda dan golokmu yang serba cepat itu, kalau ini gagal, paling-paling kau biarkan bangsat itu hidup beberapa hari lebih lama, sudahlah tidak perlu marah-marah."

Utti Keng menjadi geli dan tertawa senang akan banyolannya, katanya.

"Mulut kecilmu ini ternyata memang pandai mengoceh, baik, tak perlu menyinggung bangsat keparat itu lagi. Busiang, aku ingin tanya kau malah, cara bagaimana pula kau bisa berkenalan dengan Beng-lote?"

"Tiok-liu toako ada menyuruh aku pergi mencari dia, mereka ada bilang bahwa Beng toako juga bersenjata golok dengan permainan yang amat cepat lagi, sebetulnya sejak pertama tadi aku sudah ingat bahwa dia adanya."

Begitulah Lim Bu-siang lantas bercerita mengenai pengalamannya di kebun keluarga Hun itu kepada Beng Goan-cau, tapi karena dia tidak suka menyiarkan borok keluarga kepada orang luar, maka dia tidak menjelaskan persoalannya bahwa Cong Sin-liong sebenarnya adalah susioknya.

Sungguh dongkol, gegetun dan girang pula Beng Goan-cau mendengar ceritanya itu.

Dongkol karena anjing alap-alap kerajaan serombongan demi rombongan sama meluruk datang hendak meringkus atau membunuh dirinya.

Tapi ada dua persoalan yang membikin girang hatinya, pertama bahwa Kim Tayhiap Kim Tiok-liu yang sudah lama dikaguminya itu ternyata begitu prihatin pada keselamatan dirinya, berjerih payah demi keselamatannya, malah mengutus orang untuk membantu dirinya mengatasi kesulitan ini.

Kedua, bahwa Song Theng-siau pun sudah kembali ke Soh-ciu, jelas harapannya bakal bisa terlaksana, dan semoga sukses.

Saat ini mungkin Theng-siau sedang bercakap-cakap bersendau gurau dengan siau-sumoay, atau mungkin sedang bersenandung bernyanyi riang gembira untuk menghilangkan kerisauan hatinya.

Demikian pikir Beng Goan-cau.

Segera Beng Goan-cau menyatakan terima kasih pula kepada Lim Bu-siang, katanya.

"Memang aku hendak menyambangi Kim Tayhiap, tak nyana kau datang lebih dulu."

Sekilas Utti Keng pandang Lim Bu-siang lalu katanya.

"Kalau begitu kebetulan kalian bisa kembali bersama."

"Tidak!"

Sahut Lim Bu-siang.

"Aku ingin pergi ke lain tempat. Beng toako, kalau kau ketemu mereka tolong kau jelaskan sekadarnya pada mereka, mereka pasti paham."

Tiba-tiba Utti Keng berkata.

"Beng-lote! Orang-orang yang harus kau hubungi kecuali aku, Kim Tiok-liu suami istri, masih adakah yang lain?"

"Masih ada suheng Kim Tayhiap yaitu Kang Tayhiap, demikian juga Lim To-kan Kaucu dari Thian-li-hwe, Le Lam-sing Thocu dari Ang-ing-hwe dan lain-lain."

Utti Keng tertawa ujarnya.

"Kalau begitu kau tidak perlu ke rumah Kim Tayhiap."

Beng Goan-cau melengak, tanyanya.

"Kenapa?"

"Pernahkah kau dengar nama Hu-siang-pay?"

"Konon kabarnya adalah aliran pedang yang didirikan oleh Jan-bau-khek, itu maha guru silat pada dinasti Tong, ciangbunjin aliran ini yang bernama Boh Cong-tiu sudah tiba di Tionggoan."

Utti Keng manggut-manggut, ujarnya.

"Apa yang kau katakan memang benar, tapi sebelum ini Hu-siang-pay sebetulnya tidak punya ciangbunjin, setelah berada di Tionggoan, karena mendapat dukungan dan memang kepandaian dan namanya yang menjulang tinggi itu, akhirnya Boh Congtiu diangkat menjadi pimpinan aliran itu oleh para anak murid aliran mereka. Orang dalam atau orang luar sudah sama menganggap dia sebagai ciangbunjin, maka tanpa sungkan-sungkan ia pun anggap dirinya sebagai ciangbunjin habis perkara. Bahwasanya kedudukan ciangbunjinnya ini sebetulnya belum diadakan pengangkatan secara resmi, itu berarti perlu suatu upacara pengangkatan secara resmi dan mendapat pengakuan dari golongan persilatan besar di kalangan kangouw pada umumnya. Maka Boh Cong-tiu berkeputusan hendak mendirikan aliran menurut ajaran murni perguruannya di Tionggoan, dia tetapkan pada bulan sembilan tanggal sembilan diadakan upacara besar di puncak Thay-san, dia ada mengundang para tokoh-tokoh persilatan sebagai undangan yang ikut menyaksikan dan memberi restu pada kedudukan dan alirannya itu."

Beng Goan-cau menjadi paham dan mengerti, katanya.

"Jadi Kim Tayhiap juga akan menuju Thay-san untuk ikut merestui pendirian aliran mereka?"

"Benar. Bukan saja Kim Tiok-liu akan hadir di sana, mungkin orang-orang yang hendak kau cari itu pun bakal berada di sana semua. Maka kukatakan kau tidak perlu meluruk ke rumah Kim Tiokliu lagi, lebih baik langsung menyusul ke Thay-san saja di sana sekaligus kau bisa menemui mereka."

Beng Goan-cau menjadi amat girang, pikirnya.

"Kalau begitu memang jauh lebih baik dan menghemat tenaga,"

Katanya.

"Tapi aku tidak kenal Boh Cong-tiu, tidak mendapat undangannya pula."

Utti Keng tertawa bahak-bahak, katanya.

"Soal itu tidak perlu kau kuatirkan, nona Lim ini adalah anak murid dari Hu-siang-pay, malah dia adalah piaumoay Boh Cong-tiu."

Lalu ia berpaling ke arah Lim Bu-siang serta berkata.

"Tadi kau katakan hendak menuju ke tempat lain, tentunya hendak ke Thay-san untuk menghadiri upacara besar pendirian partai kalian bukan?"

Di hadapan Beng Goan-cau, Lim Bu-siang segan memperbincangkan persoalan perguruan sendiri, tapi setelah ditanyakan oleh Utti Keng, tidak enak ia main sembunyi-sembunyi lagi, terpaksa ia menjawab.

"Benar, aku memang punya rencana demikian."

"Baik sekali, kalau begitu kalian bisa jalan bersama ke tempat yang sama pula,"

Ujar Utti Keng.

"Boh Cong-tiu adalah piaukomu, kau boleh terhitung setengah majikan, dengan bersama kau Beng-Iote bisa ikut hadir tanpa menggunakan undangan lagi."

Tujuan Utti Keng amat gamblang, yaitu hendak merangkap perjodohan mereka.

Tujuannya ini ternyata sama dengan maksud Kim Tiok-liu suami istri.

Tapi istri Kim Tiok-liu, Su Ang-ing, adalah seorang kawakan dalam bidang asmara, dia lebih bisa menyelami jiwa dan pikiran seorang gadis umumnya, oleh karenaa itu meski punya tujuan baik ini tapi di saat ia minta bantuan Lim Bu-siang untuk memberi kabar kepada Beng Goan-cau, ia gunakan alasan yang tepat dan tidak bicara secara gamblang, hanya samar-samar saja.

Tidak demikian halnya dengan Utti Keng yang bicara tanpa tedeng aling-aling.

Betapapun Lim Bu-siang seorang gadis yang punya harga diri dan gengsi, setelah mendengar kata-kata Utti Keng, serta terbayang olehnya kata-kata Su Ang-ing kepadanya tempo hari, tanpa merasa mukanya merah malu dan menundukkan kepala.

Sebetulnya Beng Goan-cau adalah laki-laki yang bersifat lapang dan gagah perwira, tapi gagah dan kelapangan sifatnya itu berlainan dengan perangai Utti Keng, di antara sifat-sifat gagah dan lapangnya itu, dia masih rada malu-malu dan kikuk.

Kalau Utti Keng tidak bicara secara gamblang itulah mending, tapi setelah dibuka terang-terangan, ia jadi merasa jengah dan risi.

Diam-diam berpikirlah Beng Goan-cau.

"Kaum persilatan memang tidak perlu terlalu mengukuhi adat istiadat lama, tapi aku baru saja berkenalan dengan nona Lim ini, kalau melakukan perjalanan begitu jauh bersama, betapapun kurang leluasa. Meski aku berjiwa terbuka dan terus terang, tapi sebagai anak perempuan betapapun ia akan malu mendengar kabar angin dari para mulut-mulut usil."

"E, eh, kenapa kalian bungkam tidak bicara?"

Tanya Utti Keng.

"Kupikir, kupikir..."

Beng Goan-cau ragu-ragu bicara. Bertaut alis Utti Keng, tanyanya.

"Apa yang kau pikir?"

"Kupikir lebih baik aku bertandang ke rumah Kim Tayhiap dulu di Tang-ping. Dia menyuruh nona Lim mencari aku, kalau aku tidak ke rumahnya menyatakan terima kasihku atas perhatian dan pertolongannya ini, bukankah aku jadi berlaku kurang hormat? Kalau Kim Tayhiap hendak pergi ke Thay-san, biarlah kami berangkat bersama dari rumahnya."

"Mungkin di kala kau sampai di rumahnya, dia sudah berangkat,"

Demikian kata Utti Keng.

"Terpaksa aku menyusul ke Thay-san seorang diri, toh aku juga mengenal jalan."

Alis Utti Keng berkerut semakin dalam, katanya.

"Beng-heng, tak nyana kau ini laki-laki yang serba plintat-plintut seperti kaum perempuan! Baiklah, kalau kau berkukuh pada pendapatmu, terserah pada kehendakmu. Tapi aku jadi berpikir cara bagaimana kelak kau hendak menyusul hadir dalam pertemuan besar di Thay-san itu?"

Sampai di sini, mendadak ia berjingkrak mendapat akal, serunya seraya menepuk paha.

"Ada! Ada!"

Lim Bu-siang menghela napas lega, tanyanya tertawa .

"Ada apa?"

"Beng-heng,"

Kata Utti Keng.

"Kudaku ini meski bukan Jian-li-ma tapi sehari pernah berlari tiga lima ratus li tanpa mengenal lelah. Kalau kau tidak menampik, kuda tungganganku ini kuberikan kepadamu."

Beng Goan-cau terkejut, katanya.

"Hadiah sedemikian besarnya mana bisa aku terima?"

"Seekor kuda terhitung apa,"

Semprot Utti Keng cemberut marah.

"Barang yang lebih mahal lagi pun tidak akan lebih berharga dari hubungan persahabatan antar sesama kawan? Kalau kau tidak sudi terima, berarti kau tidak pandang sebelah mata kepadaku."

"Bukan aku suka main plintat-plintut,"

Lekas Beng Goan-cau menjelaskan.

"Kalau aku terima kuda tungganganmu lantas kau naik apa?"

"Kau tidak usah kuatir bagi diriku, masa kau tidak tahu aku dilahirkan sebagai rampok kuda, keahlianku justru mencuri kuda-kuda jempolan milik orang lain!"

Beng Goan-cau jadi tertawa geli akan banyolan orang, katanya.

"Baiklah, kalau begitu aku tidak sungkan lagi menerimanya."

Utti Keng menjadi girang, katanya tertawa lebar.

"Sebetulnya aku tidak perlu banyak memeras otak untuk main curi segala, ada seekor kuda yang memang sudah siap disediakan tinggal aku menuntunnya kemari saja. Kuda kuning milik Ciok Tio-ki itu masih ketinggalan di dalam hotel tidak sempat dibawanya pergi, meski kuda itu kalah dibanding Suri Merahku ini, tapi menurut penilaianku, terpautnya juga tidak terlalu jauh. Kau terima punyaku, aku ambil milik orang lain, hahaha, sungguh lucu!"

"Terima kasih Utti toako, baiklah siaute minta diri lebih dulu."

Tiba-tiba Utti Keng seperti teringat apa-apa, katanya.

"Beng-heng, ada sebuah hal hampir lupa kuberitahu kepadamu, adakah kau punya seorang sahabat kental yang bernama julukan si Maling Sakti Kwi-hwe-thio?"

"Benar, di mana toako berkenalan dengan dia?"

Tanya Beng Goan-cau. Bahwa Utti Keng menyinggung Kwi-hwe-thio membuat pikirannya teringat pada kenangan lama.

"Kami berkenalan di Pakkhia. Orang itu tidak jelek, paling mengutamakan kebesaran jiwa seorang pendekar, malah bersama dia kami bekerja sama melakukan sebuah perdagangan gelap."

"Paman Utti, kapan kau berganti menjadi maling kecil? Barang apa yang kalian curi?"

Goda Lim Bu-siang tertawa.

"Sekarang belum bisa kujelaskan,"

Ujar Utti Keng tertawa.

"Tapi boleh kuberitahu kepada Bengheng, bahwa Kwi-hwe-thio amat segan dan menaruh hormat kepadamu, katanya kau pernah membantu kerepotannya, setiap saat dia selalu berpikir dan berdaya upaya hendak membalas kebaikanmu itu. Dari mulutnyalah aku mulai mengenal martabat dan sepak terjangmu."

"Itu hanya urusan kecil saja, sulit dimengerti kenapa dia selalu mengingatnya saja,"

Demikian ujar Beng Goan-cau merendah hati.

Sebetulnya kejadian itu bukan termasuk urusan kecil, karena suatu ketika Kwi-hwe-thio pernah melakukan pekerjaan besar, dia sedang dikejar dilabrak oleh para pengawal yang diundang oleh pemilik barang, hampir saja jiwa melayang, untung secara kebetulan Beng Goan-cau sempat menolongnya.

Kata Utti Keng.

"Kami berkenalan di Pakkhia, itu terjadi kira-kira dua bulan yang lalu. Katanya dia hendak memburu waktu menyusul ke Soh-ciu bertemu denganmu, entahlah apakah dia sekarang berada di Soh-ciu?"

"Aku sudah pernah ketemu dengan dia, tapi akhirnya dia pergi ke Siok-ciu lagi, sampai sekarang belum lagi pulang!"

"Dalam waktu dekat ini adakah dia bakal kembali ke Soh-ciu?"

"Mungkin tidak. Dia seperti seekor kuda liar, jikalau tiada sesuatu urusan-yang mengikat dirinya, dia tidak akan menetap lama di sesuatu tempat."

Seperti diketahui dia pernah titip sepucuk surat supaya disampaikan kepada Nyo Bok, serta menyirapi berita mengenai Hun Ci-lo, kini Hun Ci-lo pernah meluruk datang sendiri, maka Kwi-hwe-thio rasanya tidak perlu menyusul pulang menyampaikan laporan kepadanya lagi.

Teringat akan persoalan itu, tak terasa Beng Goancau jadi mendelu hambar.

Utti Keng menghela napas, ujarnya.

"Dia benar-benar seorang kawan yang patut selalu dikenang, sayang dia sekarang sudah tiada di Soh-ciu lagi. Kalau tidak, tempat ini tidak terlalu jauh dari Soh-ciu, sebetulnya ingin aku mencari dia."

Melihat semangat Beng Goan-cau tenggelam dan tiada selera bicara, dia kira Beng Goan-cau sudah buru-buru hendak melanjutkan perjalanan, lekas ia berkata.

"Jikalau kau bertemu dengan Kwi-hwe-thio, harap sampaikan salamku. Cuaca segera bakal terang tanah, aku harus lekas kembali mengambil kuda Ciok Tio-ki itu. Baiklah, sampai di sini kita ambil perpisahan."

Setelah Beng Goan-cau naik kuda suri merah dan mencongklang jauh, Utti Keng seperti sedang memikirkan apa-apa, tiba-tiba seperti tertawa seperti tidak ia berkata kepada Lim Bu-siang.

"Busiang, aku ingin tanya sepatah kata kepadamu?"

Melihat air muka Utti Keng berlainan, Lim Bu-siang melongo, katanya.

"Paman, apa yang hendak kau tanyakan? Tapi aku tidak suka kau berkelakar padaku."

"Iya, kau sangka apa yang hendak kutanyakan kepadamu? Sudah tentu yang hendak kubicarakan adalah urusan penting."

"Baik, silakan kau katakan saja."

"Menurut pendapatmu bagaimana karakter Boh Cong-tiu itu?"

Pertanyaan ini betul-betul di luar prasangka Lim Bu-siang. Ternyata semula ia menyangka Utti Keng hendak bertanya adakah dia menyukai Beng Goan-cau. Utti Keng melanjutkan.

"Kau berhubungan sejak kecil dengan Boh Cong-tiu, maka kau jauh lebih mengenal jiwa dan perangainya dari aku."

Teringat akan rangkaian kata-kata Su Ang-ing kepadanya tempo hari, hati Lim Bu-siang menjadi risau, sesaat baru ia bersuara.

"Yang kukenal hanyalah Boh-piauko di masa masih kecilnya dulu, bagaimana keadaannya sekarang, mana bisa aku tahu? Bicara terus terang, bagaimana jiwa dan karakternya, dulu aku pun tidak mampu memberi jawaban. Di kala kami berpisah usiaku belum lagi genap sepuluh tahun."

"Memang benar ucapanmu,"

Demikian ujar Utti Keng menghela napas.

"Menggambar harimau menggambar kulitnya, sukar menggambar tulang-tulangnya, tahu orangnya tahu mukanya tidak tahu hatinya."

Lim Bu-siang melcnggong, tanyanya.

"Paman Utti, apa maksud kata-katamu ini?"

Berkata Uti Keng.

"Setelah kau tiba di Tionggoan selama ini kau belum pernah berjumpa dengan Boh Cong-tiu, sebaliknya aku pernah bertemu dengan dia. Bukan saja bertemu, kami pun pernah berjuang bersama menanggulangi kesulitan. Semula kusangka dia seorang enghiong, seorang ksatria yang perwira, tapi sekarang mau tidak mau timbul setitik rasa kecurigaanku kepadanya."

Lim Bu-siang terkejut, tanyanya dengan jantung berdebar.

"Apa yang paman curigai?"

Perlahan-lahan Utti Keng berkata.

"Aku curiga bahwa secara diam-diam ia ada main intrik dengan pihak kerajaan!"

Hampir Lim Bu-siang tidak mau percaya akan pendengaran kupingnya sendiri, sejenak kemudian baru dia kuasa menenangkan pikirannya, katanya.

"Paman, berdasarkan apa kau berani kemukakan alasanmu ini?"

"Memang aku belum memperoleh bukti-bukti yang nyata, tapi kejadian itu bukan kudengar dari kabar angin. Biar kuberitahu sebuah kejadian, kejadian ini bertalian erat dengan kuda yang kuberikan kepada Goan-cau, dan dari sanalah aku harus mulai ceritaku ini."

"Ada hubungan apa persoalan Boh-piauko dengan kuda tunggangan itu?"

"Coba kau terka asal-usul kuda itu? Semula kuda itu adalah tunggangan Komandan Gi-lim-kun!"

"Jadi kau curi kuda tunggangan Komandan Gi-lim-kun?"

Teriak Lim Bu-siang, baru sekarang ia sedikit paham, pikirnya.

"Tak heran paman Utti tidak mau bicara terus terang di hadapan Beng Goan-cau, kiranya dia kualir kalau Beng Goan-cau tahu, dia pasti tidak mau terima!"

"Bukan hasil kerjaku seorang diri saja,"

Demikian Utti Keng menjelaskan.

"Kami bekerja sama melakukan pekerjaan ini dengan Kwi-hwe-thio yang kusebutkan tadi."

"Dari cerita Kim toako, aku pun pernah dengar Kwi-hwe-thio ini. Konon dia adalah maling sakti yang tiada taranya dan tiada tandingannya di seluruh kolong langit ini, puluhan tahun yang lalu pernah ada seorang maling sakti tua bernama Ki Hiau-hong, Kwi-hwe-thio ini adalah murid tunggal dari Ki Hiau-hong secara tidak langsung. Kepandaiannya sekarang kiranya tidak lebih rendah dari sucounya dulu."

"Komandan Gi-lim-kun yang bernama Pakkiong Bong adalah tokoh merah di hadapan sang junjungan, dia jauh lebih dimanjakan oleh raja daripada Sat Hok-ting, Congkoan Bhayangkari istana raja. Tahun yang lalu entah dia mendirikan pahala apa, raja junjungannya itu segera menganugerahkan sepasang singa jade kepadanya, tak usah dijelaskan, terang bahwa singa jade itu tentu tidak ternilai harganya."

"Jadi Kwi-hwe-thio sedang mengincar sepasang singa jade itu?"

"Benar, aku hendak mencuri kuda dia hendak mencuri barang pusaka itu, berarti kami samasama punya tujuan dalam sasaran yang sama, maka tanpa tanggung-tanggung kami lantas kerja sama!"

"Malam itu kami berpencar mengerjakan tugas masing-masing, aku meluruk ke kandang kuda sementara dia meluruk masuk ke dalam gedung. Cara ini meski umpama ketahuan oleh tuan rumah, sekaligus akan membikin merejca ribut dan kebingungan."

"Baru saja aku berhasil, mendadak kudengar ada seorang bicara. 'Menggorok ayam buat apa menggunakan golok jagal, biar aku mewakili Tayjin meringkus pencuri cilik ini.* Suaranya datang dari balik pekarangan dalam, ternyata jejak Kwi-hwe-thio sudah diketahui oleh mereka."

"Kulihat Kwi-hwe-thio lari keluar seperti dikejar setan, di belakangnya mengejar seseorang.

"sret!"

Langsung orang itu menusukkan pedangnya, kulihat tegas cara tipu serangannya dari pihak Hu-siang-pay kalian."

Lim Bu-siang terperanjat, katanya.

"Orang dari Hu-siang-pay, apakah kau tidak salah lihat?"

Utti Keng jadi kurang senang, katanya.

"Mana bisa aku salah lihat? Jangan kau lupa bahwa aku pernah bergebrak dengan Cong Sin-liong, pernah pula melihat ilmu pedang permainan Boh Congtiu. Ilmu pedang Hu-siang-pay kalian jauh berlainan dengan ilmu pedang dari berbagai golongan dan aliran di Tionggoan, sekali lihat aku lantas tahu dan dapat membedakan."

"Bagaimana akhirnya?"

"Sudah tentu berhasil lolos. Kalau tidak mana bisa aku berada di sini bicara dengan kau? Mana bisa pula Kwi-hwe-thio datang ke Soh-ciu menemui Beng Goan-cau?"

"Yang kutanya adalah orang itu?"' "Orang itu. Ha ha ha, dia merasakan sedikit keliehayanku. Sekali pukul dengan Bik-khong-ciang aku bikin dia terjungkal jatuh dari atas genteng, sayang Pakkiong Bong segera juga mengejar keluar, terpaksa aku harus ajak Kwi-hwe-thio lekas naik kuda melarikan diri, tak sempat aku menghabisi jiwanya."

"Aneh?"

Ujar Lim Bu-siang.

"Bagaimana mungkin seseorang dari kalangan Hu-siang-pay kami berada di dalam tempat kediaman Komandan Gi-lim-kun?"

Lalu ia menambahkan.

"Tapi menurut penuturanmu, kepandaian orang itu hanya biasa saja, jadi pasti bukan salah satu dari Hu-siangcit-cu." --Hujsiang-cit-cu adalah gerombolan tujuh orang yang dipimpin oleh Cong Sin-liong, lima tahun yang lalu mereka sama meluruk datang ke Tionggoan dari luar lautan. Akhirnya Husiang-cit-cu terpecah menjadi dua golongan, tiga di antaranya angkat Boh Cong-tiu sebagai pemimpinnya, sementara tiga yang lain masih setia mengikuti jejak Cong Sin-liong."

"Siapa orang itu kini sudah kuselidiki dan jelas."

"Siapa dia?"

Lim Bu-siang tersipu-sipu.

"Dia adalah utusan dari Boh Cong-tiu piaukomu itu."

"Darimana kau bisa tahu?"

"Di waktu Kwi-hwe-thio mencuri barang pusaka itu, kebetulan ada mendengar percakapan mereka di dalam kamar rahasia."

"Pakkiong Bong sebagai Komandan Gi-lim-kun, ilmu silatnya tentu bukan olah-olah hebatnya, mana bisa dia tidak tahu ada orang mencuri dengar?"

"Begitulah, maka Kwi-hwe-thio cukup hanya mendengar dua patah perkataannya saja."

"Bagaimana kedua perkataan itu?"

"Kedua patah kata itu diucapkan oleh Pakkiong Bong sambil tertawa. Katanya. 'Boh-siansing hendak mendirikan aliran partai di Tionggoan? Ha ha ha, bagus sekali!"

"Hanya kedua patah kata itu saja?"

"Apakah kedua patah kata itu belum cukup? Dari kedua patah kata itu kita dapat menyimpulkan banyak persoalan."

"Harap paman suka memberi penjelasan."

"Pertama, kenapa Boh Cong-tiu harus mengutus orangnya membe-ritahu kepada Pakkiong Bong? Jelas hendak minta dukungan dan kepercayaannya. Kedua, sekaligus hal itu dapat membuktikan bahwa sebelum ini mereka memang sudah ada hubungan dan ikatan, kalau tidak buat apa Boh Cong-tiu harus mengirim orangnya! Ketiga, ketiga..."

Sulit ia mencari alasan yang ketiga. Lim Bu-siang tertawa, katanya.

"Siapa tahu kalau orang itu datang ke sana menurut kehendaknya sendiri, jadi bukan utusan piauko. Konon beberapa tahun terakhir ini piauko ada menerima banyak murid baru, sulit diketahui bahwa di antara mereka terdapat orang-orang jahat atau antek kerajaan."

"Tidak mungkin! Kalau benar seperti yang kau katakan ini, buat apa Pakkiong Bong harus memuji bagus? Itu pertanda bahwa dia amat setuju piaukomu mendirikan aliran! Pihak kerajaan paling jeri menghadapi kaum bulim, sebagai Komandan Gi-lim-kun sudah terang dia amat simpatik terhadap maksud tujuan piaukomu. seandainya orang itu bukan utusan langsung dari piaukomu, bagaimana juga kejadian ini cukup mencurigakan."

Lim Bu-siang termenung sekian saat, katanya. '"Urusan memang rada mencurigakan, tapi aku masih belum bisa percaya." '"Bagaimana pula menurut taf-siran dan analisamu?"

"Aku masih terlalu muda dan cetek pengalaman, pendapat sih aku tidak berani kemukakan. Tapi aku hanya bisa mencari sebuah alasan lain untuk menyanggah tuduhanmu."

"Menyanggah bagaimana?"

"'Boh-piauko dengan Cong Sin-liong seperti api dan air, keduanya tidak mungkin gaul dan tidak mungkin masuk dalam satu wadah. Menurut apa yang kuketahui, bahwa Cong Sin-liong kini sudah terima diperbudak oleh pihak kerajaan, tujuannya adalah hendak menuntut balas kepada Bohpiauko! Mana mungkin piauko sudi mengekor jejaknya, ikut membungkuk-bungkuk kepada kerajaan? Masa dia tidak takut Cong Sin-liong mencelakai jiwanya?"

"'O, jadi belakangan ini kau ada bertemu dengan Cong Sin-liong?""

Lim Bu-siang mengiakan. Segera ia menceritakan pengalamannya menempur Cong Sin-liong di kebun keluarga Hun kepada Utti Keng.

"Hah. jadi Cong Sin-liong keparat itu benar-benar sudah pulih ilmu silatnya!"

Kata-katanya ini amat mendadak dan tidak terduga-duga, sehingga Lim Bu-siang keheranan dibuatnya. Kata Utti Keng selanjutnya.

""Bahwa Boh Cong-tiu ada mengikat dendam sama Cong Sin-liong sejak lama sudah kuketahui. Tadi kukatakan bahwa aku pernah berjuang bersama piaukomu yang kumaksud adalah mengenai persoalan ini. Empat tahun yang lalu aku mewakili pemimpin laskar gerilya yang berada di Tay-Iiang-san di bawah pimpinan Tiok Siang-hu, aku pergi ke Ceng-hay untuk mencari hubungan dengan seorang raja tanah di sana, sementara Cong Sin-liong dengan kedudukan dari wakil Congkoan Bhayangkari Sat Hok-ting kebetulan juga hadir di sana. Akhirnya terjadilah suatu pertempuran sengit, di saat-saat yang tegang itulah mendadak Boh Cong-tiu muncul, langsung ia mencabut pedang membantu kami. Akhirnya ia berhasil memukul remuk tulang pundak Cong Sin-liong. Akhirnya kudengar katanya Cong Sin-liong mendapat koyok penyambung tulang dari simpanan di istana selama ribuan tahun, sehingga ia terhindar dari badan cacat."

"Itulah, kalau demikian, kenapa pula kau masih berkukuh mengatakan bahwa piaukoku ada sekongkol dengan pihak kerajaan?"

"Nah, dalam hal ini kau hanya tahu satu tidak tahu yang kedua. Memang Cong Sin-liong adalah antek dari Sat Hok-ting, tapi Sat Hok-ting itu lahirnya saja akrab, bahwasanya dia bersaing berat dengan Komandan Gi-lim-kun Pakkiong Bong. Di belakang mereka masing-masing mendapat sandaran orang dalam umpamanya pangeran raja dan lain yang menjadi tulang punggung mereka, secara diam-diam mereka sedang berlomba saling berebut kekuasaan. Pernah terjadi Sat Hok-ting kena diserang habis-habisan sehingga kedudukan congkoan Bhayang-karinya kena dicopoti, betapa ia susah payah berusaha akhirnya baru direhabilitir kembali. Tapi sampai sekarang, kekuasaannya masih lebih asor dari Pakkiong Bong."

"Ada apa pula mengenai hal itu?"

"Utusan Boh Cong-tiu menghadap kepada Pakkiong Bong. Jelas dia menjadikan kekuasaan dan wibawa Pakkiong Bong sebagai sandaran, menjadi tulang punggung, bukan saja dia tidak usah takut sama Cong Sin-liong, malah dia bisa berkesempatan menyingkirkan Cong Sin-liong."

Berdiri alis Lim Bu-siang, katanya.

"Paman Utti, menurut hematku piauko tidak akan berbuat seperti yang kau katakan? Jelek-jelek dia pernah membantu pihak laskar gerilya dan ada hubungan kental lagi dengan kaum pendekar. Dan lagi, bukankah dia bersahabat baik dengan Tiok-liu toako?"

"Semoga dia tidak sampai tersesat jalan. Tapi seseorang pasti bisa berubah, mana kau tahu apakah Boh Cong-tiu yang sekarang masih sama dengan Boh Cong-tiu empat tahun yang lalu? Kalau toh aku menemukan seorang utusannya di dalam gedung Komandan Gi-lim-kun, mana bisa aku tidak menaruh curiga dan menyelidikinya biar jelas?"

"Seseorarjg pasti bisa berubah."

Mendengar kata-kata ini, secara langsung mengetuk sanubari Lim Bu-siang pula, hatinya menjadi hambar dan bingung, sesaat ia tidak bersuara.

Melihat muka orang pucat, diam-diam Utti Keng menarik napas dan membatin dalam hati.

"Budak cilik ini masih belum bisa melupakan rasa cintanya terhadap piaukonya."

Untuk menghibur Lim Bu-siang, segera ia bicara lagi dengan nada yang lebih sabar katanya.

"Maka tadi juga kukatakan bahwa aku belum mendapat bukti-bukti yang nyata, semoga urusan ini akan menjadi beres secepatnya, sekaligus membuktikan bahwa piaukomu bahwasanya tidak ikut terlibat di dalamnya. Tapi kalau kejadian seperti dugaan semula, kuharap pula kau tidak usah bersedih, anggap saja kau tidak punya piauko macam dia."

"Kalau benar, tidak setimpal aku harus bersedih bagi kesesatannya."

Mendengar nada orang yang tegas, legalah hati Utti Keng, katanya tertawa.

"Benar. Kau benarbenar keponakanku yang baik. Oh ya, bukankah kau hendak menyusul ke Thay-san untuk menghadiri upacara pendirian partai, kebetulan kesempatan ini dapat kau lakukan, bantulah aku menyelidiki biar jelas. Kau mau tidak?"

Lim Bu-siang manggut-mang-gut, katanya.

"Akij sendiri pun ingin mencari tahu duduk perkara sebenarnya, sudah pasti aku tidak akan bekerja menurut bisikan hatiku. Tapi bukankah paman juga hendak ke sana?"

"Aku akan tiba sedikit terlambat. Dan lagi kalian adalah saudara seperguruan, kau bisa mencari tahu pada sesama saudara perguruan yang lain, kiranya jauh lebih mudah bekerja daripada aku."

"Ke mana sekarang kau hendak pergi? Kenapa harus terlambat datang?"

"Aku hendak mencari sumber penyelidikan, menemukan bukti-bukti yang nyata."

"Cara bagaimana kau hendak mencarinya, bolehkah beritahu kepadaku?"

"Sumber penyelidikan terdapat pada Ciok Tio-ki itu. Dia adalah wakil komandan Gi-lim-kun, soal ini tentu dia juga tahu jelas. Aku rada curiga bahwa kedatangannya kali ini pun ada sangkut pautnya dengan Boh Cong-tiu. Setelah kuambil kuda tunggangannya, aku harus mencari dia sampai ketemu."

Habis bicara dia terus ambil berpisah dengan Lim Bu-siang, lekas ia pulang ke hotel dan mengambil kuda itu.

Bagaimana persoalan Boh Cong-tiu yang penuh lika-liku itu belum jelas, tapi rekaan Utti Keng mengenai diri Ciok Tio-ki sama sekali meleset.

Kiranya meski Ciok Tio-ki menjadi wakil Pakkiong Bong, tapi sebetulnya dia adalah mata-mata yang ditanam oleh Sat Hok-ting.

Secara langsung Ciok Tio-ki adalah pion yang ditanam di bawah pimpinan Pakkiong Bong untuk mengawasi gerak geriknya pula.

Bukan Pakkiong Bong tidak tahu, cuma ia bisa berpikir panjang, apalagi mengingat sandaran kuat yang menjadi tulang punggung di belakang Sat Hok-ting maka sementara ini dia diam saj[a tanpa menindaknya.

Apalagi secara diam-diam ia pun ada menanam beberapa buah pion di samping Sat Hok-ting, meski kedudukannya tidak terlalu tinggi, namun jumlahnya rada banyak.

Persoalan rumit bagi kalangan orang-orang berpangkat yang saling gasak dan sepak ini bagaimanapun sebagai orang kangouw kasaran Utti Keng sulit dapat memahaminya.

Dengan menunggang kuda pemberian Utti Keng, segera Beng Goan-cau keprak kudanya berlari kencang seperti naik angin, kira-kira tiga hari kemudian, tibalah dia di karesidenan Tang-ping di wilayah Soa-tang.

Kim Tiok-liu membangun rumahnya di atas sebuah bukit di pinggir Tang-ping-ouw, rumahnya menghadap ke danau dan membelakangi gunung, pemandangan indah hawa pun amat sejuk.

Begitu tiba di bawah gunung, tampak oleh Beng Goan-cau gunung gemunung terbentang memanjang di hadapannya dengan panorama yang mempesonakan, air danau jernih sebersih permukaan kaca, pohon-pohon berderet sepanjang tepi danau, rumput dan kembang-kembang bertaburan di sepanjang pegunungan, jalanan kecil yang menanjak ke atas gunung tertutup oleh suburnya tetumbuhan yang memagari kedua tepinya.

Dari daerah Hoay-pak yang belukar dan berdebu, Beng Goan-cau tiba di tempat yang rindang sejuk dan nyaman lagi, semangatnya jadi terbangkit, hilang rasa letihnya, pikirnya.

"Kim Tiok-liu dan Su Ang-ing sepasang suami istri adalah jodoh yang setimpal yang sangat mendapat pujian dari sesama kaum bulim, mereka menetap di tempat yang indah laksana sorga begini, boleh dikata laksana hidup di alam kedewataan saja."

Untuk menunjukkan rasa hormat dan segannya terhadap Kim Tiok-liu, Beng Goan-cau tidak berani naik kuda, dari bawah gunung, ia tuntun kudanya naik ke atas bukit.

Rumah keluarga Kim dibangun membelakangi gunung, di luar pintu besarnya terdapat tanah lapang yang dilandasi batu-batu gunung yang menjulur ke depan dari dalam hutan sejuk dari sebelah samping sana.

Waktu Beng Goan-cau tiba di tengah gunung, jauh-jauh di depan sana didengarnya^ percakapan suara orang, waktu ia angkat kepala dilihatnya ada seseorang kebetulan sedang beranjak di lapangan batu itu.

Begitu pintu besar terbuka, dari dalam rumah keluarga Kim berjalan keluar dua orang, masing-masing bersoja serta berbasa-basi sekadarnya.

Tak lama kemudian orang itu sudah ikut kedua orang marga keluarga Kim masuk ke dalam rumah.

Jaraknya masih terlalu jauh, Beng Goan-cau kurang jelas apa yang tadi mereka perbincangan, tapi dilihat gelagatnya orang itu seperti dirinya juga, tak perlu disangsikan datang untuk bertandang kepada Kim Tiok-liu.

Beng Goan-cau berpikir.

"Pergaulan Kim Tay-hiap amat luas, namun orang yang setimpal menjadi tamunya tentu bukan orang semba-rangan, siapakah dia?"

Demikian Beng Goan-cau menerka-nerka, sementara kakinya terus beranjak ke depan tiba di lapangan batu, ia ikat kuda suri merah di atas batang pohon, baru saja ia hendak mengetok pintu dan memperkenalkan diri mohon bertemu dengan tuan rumah, orang di dalam mendengar ringkik kuda lantas buru-buru keluar menyambut tamunya.

Yang menyambut kedatangannya adalah seorang laki-laki hitam yang kasar berperawakan sedang, kedua biji matanya berkilat terang, sekilas pandang lantas diketahui bahwa orang itu pasti seorang tokoh kosen yang memiliki kepandaian silat tinggi.

Begitu melihat Beng Goan-cau serta kuda tunggangan suri merahnya, wajah laki-laki itu mengunjuk rasa heran dan tidak habis mengerti, segera ia merangkap tangan serta sapanya lebih dulu.

"Tuan ini adalah..."

"Cayhe adalah Beng Goan-cau dari Siau-kim-jwan, sengaja menyambangi Kim Tayhiap."

Lekas Beng Goan-cau memperkenalkan diri serta balas menghormat. Agaknya orang itu rada terkejut, kilas lain ia sudah tertaWa lebar, serunya.

"Ternyata Bengheng adanya, sudah lama kudengar nama kebesaranmu. Aku ini Li Tun dari Liok-hap-pang, kemarin dulu waktu Kim Tayhiap keluar pintu sebelumnya pernah pesan wanti-wanti kepadaku, beliau suruh aku siap menyambut kedatangan Beng-heng, tak nyana hari ini Beng-heng betulbetul tiba, aku jadi berlaku kurang hormat!"

Istri Kim Tiok-liu yang bernama, Su Ang-ing adalah pangcu Liok-hap-pang, sementara Li Tun ini adalah wakil pangcu dari Su Ang-ing, hubungan kekeluargaan dengan Kim Tiok-liu suami istri juga amat intim, sering dia menetap beberapa lama di rumah keluarga Kim.

"Kiranya Li-hiangcu, selamat bertemu, selamat bertemu!"

Sekali lagi ia unjuk hormat pertemuan dengan Li Tun, selanjutnya ia berkata pula.

"Kalau begitu kedatanganku ini jadi kurang kebetulan."

Kata Li Tun.

"Meski Kim Tayhiap tidak di rumah, tapi pangcu kami belum lagi keluar pintu. Beng-heng sudah tiba di sini, bagaimana kalau kami silakan untuk bertemu muka dengan pangcu kami?"

"Sudah lama aku kagum akan Kim-hujin sebagai ksatria di kalangan perempuan, memang seharusnyalah aku menghadap padanya."

Begitulah Li Tun sebagai penunjuk jalan, mereka berjajar melewati dua deretan pintu samping, terus menuju ke sebuah ruang tamu yang terletak di sebelah belakang, keadaan ruang tamu ini dipajang amat indah dan serasi benar.

Segera Beng Goan-cau keluarkan kartu namanya yang sudah dipersiapkan kepada Li Tun.

Kata Li Tun.

"Pangcu kebetulan sedang ada tamu, harap Beng-heng duduk sebentar menunggunya."

"Tak perlu sungkan-sungkan, aku sendiri tiada urusan penting yang harus segera diselesaikan,"

Demikian kata Beng Goan-cau, sementara dalam hati ia membatin.

"Mungkin tamu itu tidak suka bertemu dengan orang lain, maka Li Tun membawa aku ke ruang tamu kecil di sebelah belakang ini, untuk menghindari supaya tidak bertemu dengan dia."

Agaknya Li Tun dapat meraba jalan pikirannya, segera ia menjelaskan.

"Tamu itu datang dari tempat yang jauh, kami sendiri pun belum kenal dia, mungkin sebentar saja dia sudah minta diri."

Lalu ia panggil seorang pelayan tua, lalu menyerahkan kartu nama Beng Goan-cau kepadanya, menyuruhnya masuk ke dalam memberi laporan.

Maksud kata-kata Li Tun secara tidak langsung ada memberi kisik-an kepada Beng Goan-cau, soalnya mereka tidak kenal siapa tamu itu sebenarnya, sementara Beng Goan-cau merupakan buronan pemerintah, maka tidak enak dan kurang leluasa bertemu dengan Beng Goan-cau.

Sedang Beng Goan-cau juga berpikir.

"Kabarnya Li Tun seorang yang cermat dan kawakan, ternyata memang tidak bernama kosong. Tapi kenapa dia tidak mau beritahu nama tamu itu kepadaku?"

Bagi kaum persilatan ada banyak pantangan, persoalan yang tuan rumah tidak mau membicarakan, sebagai tamu sudah tentu dia tidak enak mencari tahu.

Tapi di saat Li Tun menyerahkan kartu namanya kepada pelayan tua itu, secara diam-diam ia ada memperhatikan, dilihatnya Li Tun seperti ada memberi tanda kedipan mata kepada pelayan tua itu, segera pelayan tua itu manggut-manggut, katanya.

"Ya. Setelah tamu itu pergi segera aku masuk menyampaikan laporan."

Setelah pelayan tua itu mengundurkan diri masuk ke kamar sebelah belakang, mendadak didengarnya seseorang berkata.

"Siapa tamu itu, Hu-pangcu kita sendiri yang melayaninya, tentu dia seorang tamu agung? Hehe, tak heran sejak pagi aku ada mendengar kicauan burung di pucuk pohon, hari ini benar-benar hari baik, dua tamu agung berkunjung tiba dalam waktu yang bersamaan tanpa berjanji sebelumnya."

Dari nada bicaranya jelas bahwa orang itu pun hanyalah sebangsa pelayan.

"Ssst! Pelan sedikit!"

Segera pelayan tua itu mencegah temannya bicara keras.

"Coba kau terka siapa dia? Ketahuilah tamu itu bukan lain adalah Beng Goan-cau!"

Kata-kata terakhir ini ia katakan berbisik di pinggir kuping temannya.

Tapi sebagai tokoh silat yang pernah berlatih mendengar angin membedakan senjata rahasia, pendengaran Beng Goan-cau jauh lebih tajam dari orang biasa, ia dengar percakapan itu jelas sekali.

Serta merta timbul rasa heran Beng Goan-cau, pikirnya.

"Di dalam rumah Kim Tayhiap apakah perlu berjaga-jaga terhadap mata-mata musuh? .Kenapa mereka takut namaku didengar oleh orang lain? Mungkinkah tamu itu yang mereka kuatirkan?"

Begitulah Li Tun ajak Beng Goan-cau mengobrol, ditanyakan pula keadaan laskar gerilya di Siau-kim-jwan, kira-kira sesulutan dupa kemudian, pelayan tua itu keluar pula serta berkata.

"Liya, Pangcu menyilakan kau masuk."-Tapi tidak mengundang Beng Goan-cau. Sudah tentu Beng Goan-cau menjadi rikuh dan risi, diam-diam ia membatin.

"Entah tamu itu sudah pergi belum? Kabarnya Kim-hujin seorang yang berjiwa terbuka di kalangan kaum hawa, suami istri sama simpatik dan ramah tamah terhadap para tetamunya, kenapa dia harus bertemu dulu dengan Li Tun, baru akhirnya menemui aku?"

Agaknya sikap Li Tun juga rada kikuk, katanya.

"Beng-heng, harap kau suka tunggu sebentar lagi."

Ia ulapkan tangannya kepada pelayan tua katanya.

"Kenapa tidak kau undang Cin-hiangcu kemari untuk menemani tamu."

"Jangan sungkan. Kita sesama orang dalam satu kalangan, kenapa harus terikat akan segala tata peradatan."

"Tiada jeleknya kau berkenalan dengan Cin-toako yang kusebutkan ini."

Tengah mereka bicara, orang she Cin yang dimaksud sudah tiba.

Kiranya dia adalah Cin Tiong yang berkedudukan sebagai Hu-pangcu pula dan menduduki kursi ketiga di dalam Liok-hap-pang.

Sejak lama Beng Goan-cau sudah tahu julukan Cin Tiong ini adalah Pit-lek-hwe (si berangasan), seorang jujur polos dan suka usil mulut.

Tapi di kala mereka saling memperkenalkan nama masing-masing, Cin Tiong ada menunjukkan mimik yang aneh, bicaranya juga rada hati-hati dan seperti kuatir pada sesuatu.

Diam-diam mendelu hati Beng Goan-cau, pikirnya.

"Orang yang punya watak seperti dia ini pasti suka diumpak dan diagulkan."

Maka segera ia ajak bicara menggunakan bahan-bahan yang didengarnya mengenai sepak terjang keperwiraan Cin Tiong dulu. Benar juga Cin Tiong menjadi senang, katanya tertawa lebar.

"Lote, jangan kau menempel lapisan emas di kulit mukaku, kau berjuang demi keselamatan keluarga perguruan dengan matimatian menempur lima tokoh kosen dari pasukan Bhayangkari, peristiwa itu aku pun sudah tahu. Kaulah baru seorang angkatan muda yang harus dipuji dan dikagumi."

Pembicaraan mereka semakin getol dan cocok, tiba-tiba Cin Tiong berkata.

"Beng-lote, kau ada bergaul dan berkenalan dengan kaum gagah di seluruh dunia, adalah kau tahu di daerah Siok-ciu ada seorang busu ternama yang bernama Nyo Bok?"

Sejenak Beng Goan-cau tertegun, katanya.

"Sudah lama kudengar, cuma belum pernah bertemu."

Pertanyaan ini sesungguhnya di luar dugaan Beng Goan-cau.

"Kenapa secara tiba-tiba dia mengajukan persoalan Nyo Bok dengan diriku? Apakah dia sudah tahu rahasia hubunganku dengan Hun Ci-lo?"

Demikian batin Beng Goan-cau. Tapi kejap lain ia jadi geli akan kecurigaan hatinya yang tidak berdasar ini.

"Theng-siau sedemikian dekat dan erat denganku saja tidak tahu menahu persoalan ini, orang luar yang tiada sangkut-pautnya mana mungkin bisa tahu?"

"Satu bulan yang lalu,"

Demikian Cin Tiong melanjutkan.

"Mendadak Nyo Bok jatuh sakit dan meninggal dunia, tentunya kau pun pernah mendengar berita ini?"

Beng Goan-cau terkejut teriaknya.

"Apa? Nyo Bok sudah mati?"

Maklum sebagai tokoh buronan pemerintah, jejak Beng Goan-cau ke mana saja harus dilakukan secara rahasia, tidak gampang dia mencari hubungan dengan kaum persilatan umumnya.

Maka berita yang sudah menggemparkan dunia persilatan beberapa lamanya ini baru pertama kali ini Beng Goan-cau mendengarnya.

"O, jadi kau belum lagi tahu,"

Ujar Cin Tiong.

"Kabarnya istri Nyo Bok adalah perempuan cantik yang tiada bandingannya, entah benar tidak?"

Lebih terkejut pula Beng Goan-cau dibuatnya, katanya.

"Cin-heng, untuk apa kau ingin tahu seluk beluk hal ini?"

"Jangan lote menertawakan aku terlalu iseng, bukan aku ingin mencari tahu borok dan rahasia rumah tangga orang. Cuma aku ada dengar katanya kematian Nyo Bok dicelakai oleh istrinya."

Lagi-lagi Beng Goan-cau terkejut dibuatnya, hatinya rada dongkol pula, katanya.

"Pasti berita bualan yang dibawa oleh kaum penganggur yang tidak tahu malu."

Cin Tioug menatap Beng Goan-cau, katanya.

"Darimana kau tahu bahwa berita itu kabar angin melulu?"

Saking uring-uringan hampir saja Beng Goan-cau hendak membongkar hubungannya dengan Hun Ci-Io sejak kecil kepada orang, tapi setelah dipertimbangkan akhirnya ia berpikir.

"Buat apa aku beritahu kepada seorang luar yang tiada hubungan dengan aku?"

Maka dengan suara datar ia berkata.

"Aku pun ada dengar bahwa Nyo-hujin adalah seorang sekolahan yang tahu tata peradatan, seorang perempuan yang pintar dan berbudi luhur, tidak mungkin dia sampai hati mencelakai jiwa suaminya sendiri."

Cin Tiong bergelak tertawa, katanya.

"Apakah Nyo-hujin bijaksana dan bajik aku tidak tahu. Tapi mengenai urusan ini lote, kata-katamu justru tepat kena sasarannya."

"Lalu siapakah durjana pembunuhnya, apakah sudah diselidiki dan dibikin terang duduknya perkara?"

"Bahwasanya tiada pembunuhan segala."

Tak tertahan Beng Goan-cau melengak, tanyanya.

"Jadi Nyo Bok memang mati karena penyakitnya?"

Baru sekarang Cin Tiong bicara secara terus terang.

"Bahwasanya Nyo Bok tidak mati. Dia hanya pura-pura mati, kini telah hidup kembali."

Heran Beng Goan-cau, tanyanya.

"Apakah yang telah terjadi? Kenapa dia harus pura-pura mati?"

"Iyas kejadian aneh begini, setua ini baru pertama kali ini kudengar. Tapi meski aku tidak tahu seluk beluk duduknya perkara, tapi kuduga pasti ada sangkut pautnya dengan istrinya yang cantik itu?"

Dengar kata-kata terakhir ini, isi perut Beng Goan-cau rasanya hendak berontak keluar, tak tertahan sikapnya menjadi dingin, je-ngeknya.

"Cin-hiangcu, kau sendiri kan belum pernah bertemu dengan Nyo-hujin, darimana kau berani mengatakan obrolanmu?"

Begitu dingin sikap dan nada suaranya, kedengarannya amat menusuk kuping pendengarannya sendiri, serta merta ia merasakan pula akan sikapnya yang kaku dan kurang wajar ini.

Cin Tiong mandah tertawa-tawa, katanya.

"Aku hanya menerka-nerka menurut beberapa persoalan yang kudengar. Pepatah kuno ada bilang, wajah cantik memang sering menimbulkan bencana, sebenarnyalah uraian seperti itu tidak bisa tidak dikatakan sebagai kabar angin. Beng Lote, sekali bertemu kita seperti sahabat lama saja, ada sepatah kata entah pantas tidak kuajukan kepadamu?"

"Nah mulai!"

Demikian batin Beng Goan-cau, alisnya lantas berkerut, katanya lantang.

"Silakan Cin-hiangcu katakan saja!"

Pelan-pelan Cin Tiong meletakkan cangkir tehnya serta berkata kalem.

"Pemuda yang baru menanjak dewasa, harus dapat membatasi diri akan permainan paras cantik. Setelah menikah dengan seorang istri yang cantik rupawan belum tentu pasti bahagia. Peristiwa Nyo Bok yang kita hadapi ini merupakan bukti yang nyata. Beng-heng, ucapanku ini benar atau tidak?"

Beng Goan-cau bergelak tertawa, ujarnya.

"Aku punya sepatah kata entah patut tidak kuucapkan?"

"Aku paling suka berkawan dengan orang yang bersifat polos jujur dan lapang dada, silakan Beng-heng katakan!"

Baca Juga: Rahasia 180 Patung Mas 10

Baca Juga: Hadiah Membawa Bencana 2

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger