Eps 4 Kelana Buana - Liang Ie Shen
Baca online Kelana Buana - Liang Ie Shen
Cersil Kelana Buana - Liang Ie Shen.
"Pangcu kalian semua unggul dalam segala bidang, paras cantik pengetahuan tinggi ilmu silat hebat. Perjodohannya dengan Kim Tayhiap membawa nama harum dan bahagia, siapa saja yang tidak menjadi iri karenanya. Jadi istilah wajah cantik sering menimbulkan bencana hanyalah isapan jempol belaka."
Debatan yang jitu ini membikin mulut Cin Tiong tertutup kencang, dalam hati ia membatin.
"Dia pura-pura pikun, perlukah aku bicara terus terang kepadanya?"
Di dalam gusarnya Beng Goan-cau sendiri pun merasa curiga, dia pun berpikir.
"Jelas dia sedang mengorek keterangan dan menyindir diriku, dia curiga bahwa aku ada berbuat sesuatu hal yang memalukan dengan Hun Ci-lo. Aneh, kenapa dia bisa punya kecurigaan ini? Perlukah aku bicara secara gamblang padanya?"
Di saat kedua pihak menjadi kikuk dan serba salah itu, mendadak didengarnya pintu besar bagian luar terbuka, satu suara menyambung suara yang lain beruntun berteriak.
"Antar tamu! Antar tamu!"
Itulah suatu tata kehormatan besar untuk mengantar tamu pulang.
Waktu Beng Goan-cau angkat kepala memandang keluar lewat aling-aling jendela, dilihatnya Li Tun sedang mengantar seorang tamu, kebetulan mereka lewat dari pekarangan luar.
Tamu itu berusia tiga puluhan, ia mengenakan mantel tebal berkulit rase, kepalanya mengenakan topi kulit biruang, topinya ditarik rendah, matanya jelilatan celingukan ke kanan kiri agaknya sedang mencari sesuatu.
Sebenarnya Cin Tiong sudah hampir membuka mulut, begitu mendengar teriakan 'mengantar tamu', lekas-lekas ia telan kembali kata-katanya.
Ia angkat cangkir tehnya terus ditenggaknya, kelakuannya ini terang untuk menutupi gerak-gerik dan sikapnya yang serba runyam.
Tanpa merasa Beng Goan-cau menjadi heran dan curiga pula dibuatnya.
"Kenapa dia seperti takut dilihat oleh tamu itu?"
Sementara itu tamu itu sudah beranjak keluar dari pintu besar, namun terdengarlah suaranya berkata.
"Mana Cin-hiangcu tadi? Aku ingin pamitan padanya?"
"Kebetulan Cin-hiangcu ada urusan, nanti kalau kembali biar kusampaikan padanya,"
Demikian sahut Li Tun. Bertambah heran pula Beng Goan-cau.
"Jadi Cin Tiong tadi sudah bertemu muka dengan dia, kenapa pula sekarang dia harus menyingkir dari hadapannya?"
Mana bisa dia menduga, bukan Cin Tiong sengaja hendak menyingkir dari tamu itu, ia menyembunyikan diri supaya Beng Goan-cau tidak sampai terlihat oleh tamu itu.
Setelah kembali dari mengantar tamunya, Li Tun seperti dibebaskan dari tugas beratnya, katanya sambil menghela napas lega.
"Maaf Beng-heng, membuat kau menunggu terlalu lama. Pangcu kami sudah tahu akan kedatangan Beng-heng, beliau amat girang, mari silakan Beng-heng masuk ke dalam bicara padanya."
Li Tun dan Cin Tiong segera membawa Beng Goan-cau ke balairung, seorang pelayan segera disuruh lapor ke dalam.
Tak lama kemudian terdengar suara gemericik, pandangan Beng Goan-cau mendadak menjadi terang, tahu-tahu seorang perempuan pertengahan sudah berjalan keluar, begitu bertemu muka, kesan pertama memberikan rasa hormat dan agung.
Diam-diam Beng Goan-cau merasa kagum, batinnya.
"Ksatria perempuan yang tersohor di seluruh jagat ini, sikap dan wibawanya memang lain daripada yang lain."
Setelah Su Ang-ing keluar, Li dan Cin segera mengundurkan diri.
Menurut kebiasaan umum, Su Ang-ing sebagai Pangcu perempuan, di waktu menghadapi tamu pria, paling tidak salah seorang thaubak bawahannya pasti ikut hadir sebagai pengiringnya.
Kini Li dan Cin berdua sama mengundurkan diri, tidak perlu dijelaskan, bahwa waktu berada di sebelah belakang tadi pasti Su Ang-ing sudah memberi pesan pada mereka.
Serta merta bertambah pula rasa sangsi dan ganjalan hati Beng Goan-cau.
"Dia menghadapi aku seorang diri, apakah ada sesuatu urusan pribadi yang perlu disampaikan pada aku?"
Setelah sekadar basa-basi, berkatalah Su Ang-ing tertawa.
"Beng-siauhiap, kau hanya datang seorang diri? Mana nona Lim itu? Kuminta dia ke Soh-ciu menyambut kau, kukira kalian sudah bertemu bukan?"
Jawab Beng Goan-cau.
"Di waktu ia datang kebetulan aku tiada di rumah, tapi akhirnya kami bertemu di tengah jalan!"
"O, ada kejadian yang begitu kebetulan, lalu ke mana dia sekarang, kenapa tidak pulang bersama kau?"
"Dia langsung menuju ke Thay-san."
Heran Su Ang-ing, katanya.
"Dia langsung ke Thay-san? Semula kukira dia tidak mau ke sana, sungguh di luar dugaanku malah. Cara bagaimana kalian bisa bertemu di tengah jalan?"
Karena tidak tahu seluk beluknya, Beng Goan-cau hanya merasa keheranan, sahutnya.
"Kalau dibicarakan secara kebetulan ditambah kebetulan saja, di waktu aku bertemu dengan nona Lim di tengah jalan, aku pun bersua pula dengan Utti tayhiap yang datang dari Koan-tang."
"O, Utti Keng juga sudah tiba? Cara bagaimana dia bisa kenal kau?"
"Aku malah berkelahi dengan dia!"
Ujar Beng Goan-cau, lalu dia ceritakan pengalamannya hari itu kepada Su Ang-ing secara ringkas jelas. Su Ang-ing mendengarkan dengan cermat dan penuh perhatian, lalu katanya tertawa.
"Kalau begitu tanpa berkelahi kalian tidak akan berkenalan. Demikian juga waktu aku berkenalan dengan Tiok-liu dulu."
Semula Beng Goan-cau anggap kata-kata 'tanpa berkelahi tidak berkenalan' adalah menunjuk dirinya dengan Utti Keng, baru akhirnya dia tahu bahwa yang dimaksud kiranya adalah Lim Busiang, keruan merah malu selebar mukanya.
Berkata Su Ang-ing lebih lanjut.
"Jadi kalian pun bentrok dengan wakil komandan Gi-lim-kun, kapan peristiwa itu terjadi?"
Beng Goan-cau menekuk jarinya menghitung, sahutnya.
"Empat hari yang lalu."
Terunjuk rasa kebingungan pada wajah Su Ang-ing, katanya heran.
"Empat hari yang lalu, kejadian agaknya rada janggal."
Beng Goan-cau pun heran, tanyanya.
"Apanya yang janggal dan mengherankan?"
Kata Su Ang-ing.
"Ada seorang empat hari yang lalu juga bertemu dengan Ciok Tio-ki, tapi tempat yang dia tunjuk berlainan. Masakah Ciok Tio-ki punya ilmu membagi tubuh?"
Beng Goan-cau juga merasa heran, tanyanya.
"Siapakah orang itu?"
Su Ang-ing tatap Beng Goan-cau lalu sahutnya.
"Yaitu tamu yang baru saja datang itu, malah dia pun ada menyinggung dirimu!"
Melengak heran Beng Goan-cau dibuatnya, serta merta ia bertanya.
"Aku toh tidak kenal dia, bagaimana dia bisa menyinggung aku? Siapakah dia?"
"Dia bukan lain adalah busu kenamaan dari Siok-ciu, Nyo Bok adanya."
Berdetak jantung Beng Goan-cau, batinnya.
"Kiranya Nyo Bok!"
Baru sekarang ia paham duduk perkara sebenarnya.
"Tak heran Cin Tiong bicara begitu rupa kepadaku."
"Peristiwa Nyo Bok pura-pura mati adakah kau pernah dengar?"
"Baru saja kudengar dari penuturan Cin-hiangcu."
"Memang katanya dia menanam permusuhan dengan Ciok Tio-ki, Ciok Tio-ki tahu bahwa dia ada menentang kebijaksanaan pemerintah kerajaan, maka hendak menangkapnya. Terpaksa untuk menghindari penangkapan itu ia pura-pura mati, tak nyana usahanya masih sia-sia, akhirnya empat hari yang lalu mereka toh bentrok juga, di bawah Kim-kee-nia dia kena dipukul satu kali oleh Ciok Tio-ki, malah terluka pula. Untunglah berhasil melarikan diri."
Kim-kee-nia terletak di sebelah barat karesidenan Tang-ping.
Empat hari yang lalu tempat Beng Goan-cau melihat Ciok Tio-ki sebaliknya terletak di sebelah selatan karesidenan Tang-ping, kedua tempat ini tidak mungkin bisa dicapai dalam perjalanan satu hari.
Ternyata kuatir ceritanya menunjukkan lubang-lubang kelemahannya, dan lagi karena rumah Beng Goan-cau berada di Soh-ciu, kalau Nyo Bok mengatakan di luar kota Soh-ciu bersua dengan Ciok Tio-ki, mungkin bisa menimbulkan kesangsian, maka seenaknya saja dia menyebut nama sebuat tempat lain.
Tempatnya dia ganti maka waktunya pun dia ganti pula, jarak antara Kim-keenia ke tempat kediaman Kim Tiok-liu saja memerlukan waktu empat lima hari perjalanan, maka menurut kelincahan lidahnya ia mengatakan empat hari yang lalu.
Sungguh mimpi juga ia tidak menyangka, kejadian justru begitu amat kebetulan sekali, bahwa tepat pada hari itu Beng Goancau pun ada bertemu dengan Ciok Tio-ki.
"Nyo Bok. Dia, apa yang dia katakan mengenai diriku?"
"Adakah kau kenal dengan istrinya itu?"
"Tidak salah, kenal sejak masih kanak-kanak."
Tatapan Su Ang-ing semakin tajam, katanya seperti tertawa tidak tertawa.
"Katanya kau membawa lari istrinya!"
Beng Goan-cau berjingkrak bangun, teriaknya.
"Dia, dia begitu menjelekkan namaku?"
"Kau jangan gugup, marilah bicara perlahan-lahan. Jadi maksudmu belakangan ini kau tidak pernah melihat,istrinya."
Gejolak hati Beng Goan-cau tenang kembali, hatinya menerawang.
"Memang kenyataan Hun Ci-lo pernah ke Soh-ciu menjenguk aku, tidaklah heran bila suaminya menaruh salah paham kepadaku."
Melihat sikap dan mimiknya tidak tenang, Su Ang-ing menjadi sangsi dan rada curiga pula. Setelah menenangkan pikiran, Beng Goan-cau berkata.
"Bicara terus terang, aku memang pernah melihat istrinya, meski waktu itu malam hari, apalagi dia mengenakan kedok muka, tidak bicara lagi kepada aku. tapi aku tahu pasti dia adanya. Dia adalah sahabat kecilku sejak kanakkanak, tapi sejak dia menikah, aku tidak pernah melihat dia lagi. Apalagi melakukan perbuatan yang durhaka terhadap Nyo Bok."
Sebagai perempuan yang cerdik dan luas pengalaman, setelah mendengar uraiannya, Su Anging jadi berpikir.
"Persoalannya dengan Nyo-hujin, bukan mustahil mirip benar dengan keadaan Lim Bu-siang dengan piaukonya? Cuma pihak sana yang laki-laki sudah menikah, sementara pihak sini yang perempuan yang sudah menikah?"
Beng Goan-cau ragu-ragu sejenak, lalu melanjutkan.
"Di waktu mudanya dulu, aku bersama Nyo-hujin pernah terjadi suatu, suatu... rahasia hubungan asmara kami dulu selamanya belum pernah kutu-turkan kepada orang lain, kini dengan setulus hati suka aku menjelaskan kepada hujin."
Cepat Su Ang-ing menggoyangkan tangan, katanya.
"Aku percaya bahwa kau seorang laki-laki sejati yang berlapang dada dan berjiwa besar, urusan pribadimu aku tidak usah tahu. Tak perlu kau tuturkan kepada aku!"
Anggapannya analisanya tepat dan persis, di luar tahunya bahwa, likaliku hubungan asmara Hun Ci-lo dengan Beng Goan-cau justru jauh lebih ruwet dan berbelit-belit dibanding hubungan Lim Bu-siang dengan Boh Cong-tiu.
Beng Goan-cau tertawa getir.
katanya.
"Kalau begitu, jadi Nyo Bok kemari mohon kalian suami istri suka memberi keadilan kepadanya?"
"Ya, Tiok-liu tidak di rumah, terpaksa aku mendengar pengaduannya. Sungguh tidak nyana bisa terjadi kebetulan ini, baru saja dia mengatakan kau membawa lari istrinya, kartu namamu lantas diantar ke hadapanku, untung dia tidak melihat, kalau tidak wah membuat aku si tuan rumah ini menjadi serba runyam dan susah."
Beng Goan-cau menjadi kikuk, selebar mukanya merah jengah, diam-diam ia berpikir.
"Meski aku tidak melakukan perbuatan maksiat, tapi sebelum Nyo Bok berhasil menemukan Hun Ci-lo, meski aku punya kesempatan memberi penjelasan kepadanya, mungkin dia pun tidak akan mau percaya."
Agaknya Su Ang-ing seperti tahu jalan pikirannya, ujarnya tersenyum.
"Apakah Beng-siauhiap merasa cara keputusanku tadi kurang tepat?"
Karena mengandung kekuatiran terpaksa Beng Goan-cau bicara blak-blakan.
"Seharusnya aku memberi penjelasan kepada Nyo Bok secepatnya, tapi sekarang belum tepat datang saatnya untuk aku menampilkan pembelaanku. Terima kasih akan bantuan pangcu yang telah melindungi nama baik dan mukaku, sehingga kami tidak bertemu dalam keadaan rikuh dan runyam. Tapi yang kukuatirkan, dia mengadukan ke tempat ini, pasti pula mengadukan hal ini kepada para bu-lim cianpwe lainnya, ini, ini..."
"Yang jelas bahwa perbuatan sendiri tidak mendurhakai kebajikan, kenapa harus takut menghadapi obrolan orang lain. Urusan bakal menjadi beres pada suatu ketika, Beng-siauhiap tidak usah kuatir. Dan lagi menurut hematku, Nyo Bok mungkin juga tidak suka urusannya itu tersiar luas di luaran. Di hadapan beberapa bulim cianpwe itu, aku bisa memberi penjelasan bagi kemurnian jiwamu."
Sebagai suatu pimpinan yang cerdik pandai dan sigap bekerja, namun dalam menghadapi persoalan ini, perhitungan dan tafsiran Su Ang-ing meleset sama sekali.
Meski pepatah ada bilang 'keburukan keluarga pantang tersiar keluar", tapi Nyo Bok sudah terima menjadi antek kerajaan, bahwa Nyo Bok harus menyiarkan keburukan keluarganya seluasluasnya adalah mengikuti petunjuk dan perintah atasan Nyo Bok yaitu wakil komandan Gi-Iim-kun Ciok Tio-ki.
Tujuannya adalah hendak menista dan mencelakai Beng Goan-cau, merusak nama baiknya di hadapan kaum persilatan!
Pertama, Nyo Bok sudah tidak kuasa lagi pada diri sendiri, kedua, karena rasa jelus dan cemburunya terhadap Beng Goan-cau sudah menghayati sanubarinya, terpaksa tanpa malu-malu lagi ia tanggalkan kedok mukanya melaksanakan rencana Ciok Tio-ki.
Diam-diam hati Beng Goan-cau mengeluh dan bersyukur pula mendengar kata-kata Su Ang-ing terakhir, pikirnya.
"Walau aku tidak pernah melakukan perbuatan haram yang mendurhakai Nyo Bok dengan Hun Ci-lo, tapi rasa rinduku terhadapnya selama delapan tahun ini belum pernah lenyap dan tersapu dari relung hatiku."
Kata Su Ang-ing.
"Dalam menghadapi persoalan ini, bukan sengaja aku hendak berpihak kepadamu, soalnya martabat dan sepak terjangmu selama ini, kami suami istri sudah lama tahu. Nyo Bok memang punya nama dan disegani sesama kaum bulim di daerah Siok-ciu, namun betapapun aku masih rada asing mengenai karakter dan jiwanya."
Beng Goan-cau menjadi terharu, katanya.
"Sebagai generasi muda yang masih cetek pengalaman seperti aku ini, entah bagaimana aku harus menyatakan terima kasihku terhadap Kim Tayhiap dan hujin atas penghargaannya terhadap diriku."
Su Ang-ing tertawa-tawa, ujarnya.
"Sebetulnya, aku pun sudah tahu sebelumnya bahwa istrinya itu bukan kau bawa lari."
Beng Goan-cau tertegun, tanyanya.
"Mengapa?"
Berkata pula Su Ang-ing pelan-pelan.
"Karena ada orang pernah lihat Hun Ci-lo istri Nyo Bok itu berada di Thay-ouw."
Jejak rahasia Hun Ci-lo yang selama ini sedang diraba-raba kini terbongkar dari mulut Su Anging, benar-benar suatu berita yang selama ini menjadi keinginan Beng Goan-cau untuk mencari sumber berita yang serba kesulitan.
Keruan kejut dan girang pula hati Beng Goan-cau, katanya.
"Ada orang pernah melihat dia di Thay-ouw? Kenapa dia bisa menuju ke Thay-ouw? Siapa pula orang itu?"
Maklum keluarga Hun Ci-lo adalah kaum persilatan pula, namun dia bukan perempuan kelana kangouw umumnya, sanak kadang atau famili keluarganya sudah sama meninggal.
Kaum persilatan umumnya tidak mungkin bisa mengenalnya.
Maka Beng Goan-cau menjadi merasa heran dan mengajukan pertanyaannya itu.
"Dia adalah seorang sahabatku dan Tiok-liu yang paling dapat dipercaya,"
Demikian Su Ang-ing menjelaskan.
"Bahwasanya dia pun tidak tahu menahu terhadap pertikaian Nyo Bok dan istrinya, namun dia justru mengenal Sip-hun-kiam hoat dari keluarga Hun!"
"Jadi dia pernah melihat Hun Ci-lo memainkan pedangnya?"
"Ya, di Tong-ting-san sebelah barat Thay-ouw dia pernah melihat seorang perempuan berpakaian hitam sedang bertarung pedang dengan orang, ilmu pedang yang dilancarkan itu adalah Sip-hun-kiam hoat. Siapa yang menjadi musuhnya, dia tidak tahu, tapi menurut katanya kepandaian orang itu pun rada lumayan, sampai pada jurus terakhir yaitu Heng-hun-toan-hong (awan melintaYig memotong puncak) baru perempuan baju hitam itu berhasil mengalahkan lawannya.
"Dua hari yang lalu sahabat kental ini pernah datang ke rumah kami, dia mengajak Tiok-liu berangkat menghadiri upacara kebesaran di Thay-san, entah bagaimana dia pernah menyinggung soal ini, waktu itu karena mereka tergesa-gesa hendak berangkat, maka aku tidak mencari tahu lebih lanjut."
Sebetulnya Beng Goan-cau ingin tahu lebih banyak, sayang apa yang Su Ang-ing ketahui dan yang dituturkan kepadanya hanya itu-itu saja.
Siapa nama sahabat itu, dia pun tidak menyebutnya.
Betapapun Beng Goan-cau baru pertama kali ini bertemu dengan tuan rumah, kalau toh orang tidak mau menjelaskan, sudah tentu Beng Goan-cau tidak enak menanyakan.
Su Ang-ing menenggak air tehnya, lalu menyambung.
"Ayah mertua Nyo Bok adalah Hun Ciong-san, Hun Ciong-san adalah ahli waris langsung dari Sip-hun-kiam hoat, dia cuma punya seorang anak putri, hal-hal ini sejak lama sudah kuketahui. Maka di kala Nyo Bok mengatakan hendak mencari istrinya, maka aku lantas berani berkepastian bahwa perempuan baju hitam yang dilihat oleh sahabat kami di Tong-ting-san di sebelah barat Thay-ouw itu tentu istri Nyo Bok yaitu Hun Ci-lo adanya."
"Adakah hujin memberitahu berita ini kepada Nyo Bok?"
Beng Goan-cau bertanya dengan perasaan gundah.
"Sejak mula aku sudah merasa bahwa di belakang layar peristiwa Nyo Bok dengan istrinya ini pasti ada apa-apanya, apalagi aku tidak mengenal benar karakter dan sepak terjangnya selama ini, maka untuk sementara waktu aku tidak ingin memberitahukan kepadanya. Nanti setelah duduk perkaranya sudah jelas, baru aku bisa berkeputusan perlukah aku menyampaikan hal ini kepadanya!"
Demikian sahut Su Ang-ing. Beng Goan-cau menghela napas lega, seolah-olah batu besar yang menindih jantungnya sudah dicopot turun. Sesaat ia jadi merasa menyesal dan terketuk sanubarinya.
"Kenapa aku tidak suka Nyo Bok mengetahui jejak Ci-lo?"
Berkatalah S u Ang-ing lebih lanjut.
"Tapi kalau dikatakan sekarang menjadi tidak begitu penting mempersoalkan sebab musabab pertikaian Nyo Bok suami istri. Yang penting aku ingin tahu akan kebenaran pengaduan Nyo Bok bahwa dia benar ada dikejar dan hendak ditangkap oleh pihak kerajaan. Kenapa dia harus menipu aku dikatakan dia terkena pukulan oleh Ciok Tio-ki? Beng-siauhiap, coba katakan benar tidak?"
Pikiran Beng Goan-cau sendiri lagi gundah, ia jadi gelagapan, sahutnya.
"Ini, ini, aku jadi tidak leluasa ikut bicara dalam persoalan ini. Cuma aku percaya kalau toh Hun Ci-lo rela menikah dengan dia, pastilah dia bukan orang jahat."
Mendengar orang membela Nyo Bok, Su Ang-ing tertawa geli, katanya.
"Agaknya kau amat yakin dan percaya benar terhadap Nyo-hujin. Tapi urusan di dunia sulit diduga, apalagi hati manusia sukar diraba lagi, banyak kejadian yang justru terjadi di luar kesadaran pikiran manusia. Ada lebih baik kita berlaku hati-hati dan waspada."
Merah muka Beng Goan-cau, ia tidak berani banyak kata lagi, terpaksa ia mengiakan saja. Su Ang-ing tertawa,, ujarnya mengawasi Beng Goan-cau.
"Urusan ini kurasa amat penting bagi kau. Karena peristiwa Nyo Bok kehilangan istri secara langsung ada menyangkut dirimu."
Beng Goan-cau segan membual, sahutnya.
"Benar, aku memang ingin selekasnya membereskan pertikaian ini."
"Konon kau menjadi wakil bagi Siau-kim-jwan untuk mencari hubungan dengan para enghiong di berbagai tempat, apa benar?"
Beng Goan-cau seperti tersentak sadar, cepat ia mengiakan dengarn hormat. ' "Lalu hendak ke mana kau lebih lanjut? Pergi ke Thay-san atau menuju ke Thay-ouw?"
"I... ini, aku..."
Pertanyaan Su Ang-ing amat mendadak diajukan, sesaat Beng Goan-cau jadi sulit berkeputusan untuk memberi jawaban.
"Dalam waktu dekat sulit kau mengambil keputusan, maka tidak perlu kau segera menjawab pertanyaanku ini. Setelah kau pikirkan secara cermat baru ambil ah keputusan kukira waktunya masih belum terlambat."-Bicara sampai di sini Su Ang-ing seperti ingat apa-apa, berhenti sebentar ia mengganti sebuah cangkir air teh panas untuk Beng Goan-cau, lalu ia melanjutkan.
"Pertemuan besar di Thay-san bakal dihadiri oleh para enghiong dari seluruh jagat, bahwa kau sebagai kurir dari laskar gerilya hendak mencari hubungan dengan mereka, inilah saatnya paling tepat. Tapi aku pun bisa membayangkan, sehari sebelum pertikaian ini belum dibikin jelas, sehari kau tidak akan hidup tenteram. Maka bila kau mencari tahu lebih dulu ke Thay-ouw kurasa juga lebih baik."
"Juga baik"
Yang dia maksud tanpa dijelaskan sudah gamblang bahwa dia mengharap supaya Beng Goan-cau menghadiri pertemuan besar di Thay-san itu lebih dulu.
Beng Goan-cau menjadi bingung dan hambar, sesaat baru ia berkata.
"Terima kasih akan perhatian pangcu memberitahu banyak urusan kepadaku. Waktu amat mendesak, aku mohon diri saja."
"Tidak salah, tak peduli menuju ke Thay-san atau pergi ke Thay-ouw, kau perlu buru-buru menempuh perjalanan. Baiklah, aku pun tidak menahan kau lebih lama lagi."
Setelah berada di luar rumah keluarga Kim, Beng Goan-cau beranjak seorang diri, bolak-balik sebuah pikiran sedang bergejolak dalam sanubarinya.
"Ke mana aku harus pergi lebih dulu?"
Penyakit rindu selama delapan tahun, kesempatan dibuang demikian saja, kini betapa sulit memperoleh berita jejak Hun Ci-lo berada, bisakah aku membuang-buang kesempatan baik ini?
Tapi kalau dia mengabaikan kesempatan pertemuan di Thay-san, kelak dia harus bertandang satu persatu ke rumah para enghiong dari berbagai tempat yang tersebar luas itu malah belum tentu bisa ketemu di rumahnya, bukankah lebih banyak memakan waktu dan tenaga-Selamanya Beng Goan-cau bisa berlaku tegas dalam setiap keputusan, tapi kini dia di libat oleh pertanyaannya itu, jadi merasa sangsi dan ragu-ragu, tujuan utama menjadi kabur oleh kerisauan hatinya.
-ooo0dw0ooo-"Ke manakah aku harus menuju?"
Persoalan yang membikin Beng Goan-cau gundah pikiran juga sedang bergolak dalam benak Hun Ci-lo.
Pagi hari itu setelah dia menghindari pertemuan dengan Beng Goan-cau, melangkah di tanah kelahiran kampung halamannya dia beranjak ke depan, seperti pula keadaan Beng Goan-cau sekarang, pulang pergi ia sedang memikirkan pertanyaannya itu, tidak berani berpaling, namun rasa hati sudah remuk redam.
Rumah suami tidak mungkin dia pulang ke sana, putra kandung pun direbut orang lain, jejak ibunya pun tidak keruan paran, kekasih pun tidak berani ditemui lagi.
"Meski besar dunia ini, ke mana aku harus menempatkan diriku?"
Teringat akan hal-hal yang menyedihkan tak tertahan lagi air mata mencucur deras dari kelopak mata Hun Ci-lo, kedua kaki seperti diganduli beban berat tak tahu ke mana harus melangkah?
Di saat Hun Ci-lo menempuh perjalanan dengan hati risau dan perasaan remuk redam melalui jalan kampung itulah, di tengah jalan ia bertemu dengan seorang pemuda desa yang sedang mengejar waktu menuju pasar memikul dagangan sayur putih untuk dijual.
Begitu melihat Hun Cilo, tiba-tiba ia bersuara heran dan berhenti di hadapan Hun Ci-lo.
Hun Ci-lo tersentak sadar oleh seruan kaget orang, waktu ia angkat kepala, dilihatnya seorang pemuda yang berotot kekar berkulit hitam, seolah-olah sudah amat dikenalnya wajah si pemuda ini cuma dalam waktu yang dekat ia lupa dan tidak teringat siapakah dia adanya.
Setelah melenggong sebentar, pemuda itu meletakkan pikulan sayurnya serta berkata.
"Bukankah kau Hun-kokoh, kau sudah pulang? Aku adalah Siau-gu-ji, masa kau tidak ingat lagi?"
"Ternyata kau adalah Siau-gu-ji,"
Ujar Hun Ci-lo tertawa.
"Pada waktu aku meninggalkan rumah kuingat kau masih bocah kecil yang masih ingusan, sekarang sudah begini besar, apakah ibumu baik?"
Ternyata Siau-gu-ji ini adalah putra Ong-toama tetangganya itu, waktu mereka ibu beranak meninggalkan rumah, pernah berpesan kepada Ong-toama untuk mengurus kebun dan rumah mereka, waktu itu Siau-gu-ji ini masih berusia tujuh delapan tahun.
Siau-gu-ji mengunjuk rasa kikuk malu-malu, katanya tertawa.
"Hun-kokoh, kabarnya kau sudah menikah dengan seorang yang kenamaan di daerah utara, kukira kau sudah melupakan kami, sudah sekian tahun lamanya kau tidak pernah pulang menjenguk kami. Em, coba biar kuhitung, waktu itu aku berusia hampir delapan, sampai sekarang jadi sudah delapan tahun berselang."
Walaupun Hun Ci-lo sedang dirundung kesedihan serta melihat anak tetangga, secara tidak terduga ia merasa senang dan terhibur, katanya tertawa.
"Mana bisa aku melupakan kau? Oh ya, memang aku sedang mencari ibumu, tapi sekarang mungkin dia belum bangun, maka tidak berani aku mengganggunya sepagi ini, kini kebetulan bertemu kau beberapa uang perak yang tidak berarti ini, kuharap kau suka terima dan bawa pulang berikan kepada ibumu sebagai oleh-olehku dari tempat jauh, jangan lupa sampaikan terima kasihku akan jerih payahnya atas bantuannya merawat rumahku."
Siau-gu-ji merah malu, katanya.
"Terima kasih apa? Beberapa tahun ini, kami ibu beranak terlalu sibuk pada pekerjaan kampung, kebun dalam rumahmu kami jadi tiada kesempatan untuk merawatnya. Uang ini aku pun tidak berani terima."
"Kau harus menerimanya, karena kedatanganku terlalu tergesa-gesa, maka tidak kubawakan barang oleh-oleh, anggaplah uang ini untuk beli barang keperluan untuk ibumu."
Karena tidak bisa menolak, terpaksa Siau-gu-ji menerima, katanya.
"Kau sudah pulang ke rumah belum, kenapa sepagi ini sudah keluar pula? Beng-toako sudah pulang, kau tahu tidak?"
Pedih hati Hun Ci-lo, katanya.
"Tahu, aku sudah bertemu dengan dia. Kali ini aku hanya menjenguk sebentar saja, aku masih punya urusan penting lainnya, maka tidak bisa tinggal di rumah terlalu lama."
Siau-gu-ji berkata heran.
"Mana boleh terus berangkat begitu tergesa-gesa?"
Tiba-tiba teringat olehnya penuturan ibunya dulu, katanya Beng-toako dengan Song-toako yang tinggal di kota itu dulu sama menyukai Hun-kokoh ini.
Pemuda berusia lima enam belasan memang saatnya akil balik dan mekar kembang asmaranya, dia berpikir.
"O, paham aku, dia sudah menikah dengan orang lain, sudah tentu tidak leluasa tinggal bersama dalam satu rumah dengan Beng-toako. Tapi kenapa dia tidak pulang bersama suami?"
Siau-gu-ji ingin mengajukan pertanyaan ini, tapi tidak tahu apakah patut ia bertanya, kedua matanya membelalak besar mengawasi Hun Ci-lo. Hun Ci-lo menahan kepedihan hatinya, katanya.
"Siau-gu-ji, kau tidak akan paham. Aku harus segera berangkat."
Siau-gu-ji pura-pura bersikap amat paham, katanya.
"Aku mengerti. Guru dalam kampung pernah mengatakan, perempuan seperti kau yang bisa membaca dan mengenal huruf adalah pantas mematuhi segala adat dan tata krama keluarga segala, setelah menikah harus patuh terhadap suami, benar tidak? Kau sudah punya rumah dan keluarga dengan suami, maka tidak bisa tingal lagi di rumah ibumu?"
Hun Ci-lo menjadi jengkel dan geli pula akan obrolan bocah kampung ini, katanya.
"Siau-gu-ji, kau harus lekas menjual dagangan di pasar, aku pun hendak melanjutkan perjalanan, lain kesempatan biar aku pulang menjenguk kalian. Ingat sampaikan salamku kepada ibumu."
Baru saja Hun Ci-lo hendak berangkat, tiba-tiba Siau-gu-ji berkata.
"Hun-kokoh, tunggu sebentar. Ada sebuah hal belum lagi kusampaikan kepadamu!"
"Ada urusan apa?"
"Adalah seorang perempuan she Siau, kira-kira berusia tujuh delapan belas, dia datang bersama seorang pemuda she Cau. Pemuda itu tidak bicara, hanya dia saja yang mengajukan beberapa pertanyaan."
Tergerak hati Hun Ci-lo, tanyanya.
"Seorang perempuan she Siau? Apa yang dia tanyakan?"
"Katanya dia adalah famili keluargamu, sengaja kemari hendak mencari kau. Kuberitahu kepadanya bahwa kalian ibu beranak sudah beberapa tahun yang lalu pergi meninggalkan rumah, kelihatannya dia amat kecewa."
"Adakah dia memberitahu di mana dia tinggal?"
Siau-gu-ji menggaruk-garuk kepala, katanya.
"Katanya dia tinggal di daerah di sebuah gunung entah apa namanya di daerah Thay-ouw, nama gunung itu ada huruf "barat"nya, Waktu itu aku masih ingat benar, kini mendadak sudah lupa."
"Apakah Tong-ting-san bagian barat?"
"Ya, ya benar. Tong-ting-san barat, ha, kini aku ingat kembali, agaknya waktu itu dia menduga aku bakal terlupa akan nama gunung itu, katanya bila sesaat kau terlupa, cukup asal kau katakan kepadanya, bahwa aku sudah pulang ke rumah ayah, dia pasti sudah tahu dan paham. Tatkala itu aku merasa heran, putra-putrinya kembali, sudah tentu pulang ke rumah ayahnya, masakah perlu dijelaskan lagi?"
"Aku tahu sekarang. Siau-gu-ji, terima kasih akan keteranganmu ini. Begitu tiba di rumah ingat sampaikan salamku kepada ibumu."
Berita tak terduga ini memberikan rasa riang dan senang Hun Ci-lo.
Setelah berpisah dengan Siau-gu-ji ia beranjak menempuh jalan menyongsong terbitnya matahari, kabut yang membalut hatinya juga seperti buyar tersorot sinar matahari.
Dalam hati ia berpikir.
"Ini benar-benar seperti sebuah pepatah kuno yang berkata. Gunung buntu air terbentang tiada jalan lagi, pohon liu gelap kembang mekar cemerlang kembali pada sebuah pedesaan. Perempuan she Siau itu jelas adalah piaumoayku, yang belum pernah kulihat itu. Aku sedang risau dan gundah ke mana aku harus berteduh, kini terpaksa aku harus minta perlindungan pada bibi sementara waktu."
Ternyata ibu Hun Ci-lo punya seorang adik sepupu yang menikah pada sebuah keluarga she Siau di Tong-ting-san barat, suaminya bernama Siau King-hi, seorang tokoh persilatan yang punya nama pula di kalangan kangouw.
Kedua saudara sepupu ini masing-masing menikah di dua tempat berjauhan tempatnya satu di selatan yang lain di sebelah utara.
Apalagi karena ayah Hun Ci-lo yaitu Hun Ciong-san secara rahasia sudah menjadi anggauta laskar gerilya, maka sejak menikah kedua saudara sepupu ini jadi putus hubungan.
Akhirnya Hun Ciong-san tidak bisa bercokol lagi di daerah utara, terpaksa membawa keluarga pindah ke Soh-ciu, sepihak karena ada seorang teman karibnya Song Sip-lun tinggal di Soh-ciu ini, pihak lain karena jarak Thay-ouw ke Soh-ciu rada berdekatan, setelah tinggal di Soh-ciu, saudara sepupu yang sudah sekian lama berpisah gampang bertemu atau berkumpul setiap waktu bila dikehendaki.
Tak nyana di kala mereka datang ke Tong-ting-san barat mencari sanaknya itu, baru mereka tahu bahwa keluarga Siau sudah lama pindah ke tempat lain, entah pindah ke mana.
Di waktu Hun Ci-lo pindah ke Soh-ciu, usianya baru delapan tahun, waktu itu hanya ayah dan ibunya saja yang berangkat mencari familinya, dia tidak ikut serta.
Dalam relung hatinya, sedikit pun tidak meninggalkan kesan macam apa sebenarnya bentuk wajah bibinya itu, hal itu pun ia dengar dari cerita ibunya, sedikit pun tidak pernah ia perhatikan dalam pikirannya.
Maka setelah ayahnya meninggal, Beng Goan-cau datang lagi, dia pun tidak pernah bicarakan hal ini kepada Beng Goan-cau.
Sebelum bertemu dengan Siau-gu-ji, bahwasanya Hun Ci-lo belum tahu bahwa dia punya seorang adik misan, tapi kalau toh perempuan remaja yang mencari dirinya itu she Siau, mengaku sebagai familinya lagi, rumahnya tinggal di Tong-ting-san barat lagi, maka tidak perlu disangsikan bahwa dia pasti adalah piaumoaynya.
"Sungguh suatu kejadian yang amat aneh, menurut Siau-gu-ji piaumoayku itu baru berusia tujuh belasan, jadi di kala aku pindah ke Soh-ciu berarti dia belum lagi lahir. Kukira di waktu dia kemari mencari aku, dalam benaknya tentu terkandung rasa kangen dan ingin tahunya. Kini tibalah giliranku mencari dia. Entah dia sudah menikah belum? Kalau bibi merelakan dia datang bersama pemuda she Cau itu, pastilah pemuda itu adalah calon suaminya?"
Demikian Hun Ci-lo menerka-nerka dalam hati.
Karena ingin benar bertemu dengan bibi dan piaumoaynya, hari itu juga habis lohor ia kembali ke Soh-ciu dari dermaga Ban-lian-kiau ia menyewa perahu terus menuju ke Thay-ouw.
Luas Thay-ouw ada tiga puluh enam ribu hektar, luasnya menjangkau dua propinsi di wilayah sebelah timur, teringat pada waktu pesiar di See-ouw dulu, pemandangan di sini berlainan pula corak dan bentuknya.
Begitu perahu berlaju di lepas pantai memasuki alunan ombak di tengah danau, tampak puncak-puncak tinggi yang berjumlah tujuh puluh dua saling berlomba menjulang tinggi menembus awan, panorama di sini sulit dibandingkan dengan pemandangan alam yang pernah dilihatnya di See-ouw dulu, indahnya sulit dilukiskan dengan kata-kata.
Serta merta terasa lapang dada Hun Ci-lo, kerisauan hati beberapa hari ini, seketika sirna tanpa bekas, pikirnya.
"Ikan bisa berenang berloncatan di lautan nan luas, burung bisa terbang di udara nan sejuk, itulah dunia bebas yang sedang dikejar kehidupan manusia. Beberapa tahun belakangan ini, aku selalu mengunci diri di dalam rumah, seperti burung di dalam sangkar, jiwa dan pandanganku pun hampir saja menjadi sempit"
Sekonyong-konyong sepoi-sepoi didengarnya suara harpa berdencing dari kejauhan, seiring dengan nada lagu petikan harpa didengarnya pula orang bersenandung dengan suara lantang dan tinggi.
Cepat Hun Ci-lo jelajahkan pandangan matanya, tampak sebuah perahu lain sedang berlaju mendekat mengikuti hembusan angin, di atas perahu terdapat dua orang, seorang adalah laki-laki yang berjubah kuning, sedang seorang lain adalah pemuda yang mengenakan mantel berbulu rase putih.
Yang memetik harpa dan bersenandung adalah pemuda itu.
Hun Ci-lo pernah bersekolah, pandai sastra dan mengenal teori musik lagi, mendengar petikan harpa dan senandung pemuda itu, tanpa merasa hatinya terbawa ke alam kehampaan, lapat-lapat ia merasa makna dari syair yang disenandungkan si pemuda juga mengandung perasaan seperti keadaan dirinya sekarang.
Terbayang olehnya kenangan waktu dia bersama Beng Goan-cau dan Song Theng-siau tamasya di See-ouw dulu, demikian juga keadaan waktu itu seperti si pemuda, cuma suasana lebih riang gembira tanpa mengenal kerisauan hati.
Terpikir oleh Hun Ci-lo.
"Entah di mana sekarang Beng Goan-cau berada? Tapi dia ada siausumoaynya sebagai teman bicara, kiranya tidak akan kesepian. Mungkinkah dia bisa memikirkan diriku yang tiada punya tempat meneduh ini?"-Hun Ci-lo anggap Beng Goan-cau sekarang ditemani sumoaynya Lu Su-bi, di luar tahunya yang sedang menemani siau-sumoaynya Lu Su-bi justru adalah Song Theng-siau teman baik Beng Goan-cau. Apalagi ia tidak tahu di mana Beng Goan-cau sekarang berada, sebaliknya kini Beng Goan-cau sudah tahu jejak dirinya. Sedang pikirannya melayang-layang, senandung lagu pemuda itu pun sudah berakhir, terdengar laki-laki jubah kuning itu segera bertepuk seraya memuji.
"Nadanya tinggi dan jernih, berisi lagi, sayang di tempat ini sulit dicari seorang ahli musik, terpaksa biarlah aku orang tidak mengenal seni ini memberi penilaian kepadamu. Entah siapakah orang yang kau rindukan itu lote?""
Merah muka si pemuda, katanya.
"Paman Miao menggoda saja. siautit hanya kebetulan berdendang lagu itu secara sambil lalu saja, bukan menunjukkan sesuatu yang kenyataan.'"
Laki-laki jubah kuning tertawa besar, katanya.
"Aku tidak percaya, putri-putri dari keluarga Siau dan Cau keduanya sama cantik rupawan, masa kau tidak tertarik pada mereka? He he, hubungan kita sudah puluhan tahun, di hadapan ayahmu, kau panggil aku paman dan aku pun anggap kau sebagai keponakan. Tapi kini hanya tinggal kita berduaan, tak perlu kau main sungkan, anggap saja aku sebagai toakomu yang tua bagaimana? Tidak usah kuatir, bicara saja, kau lebih suka yang mana, aku bisa menjadi comblang bagi kau."
Pemuda baju putih tertawa, katanya.
"Paman Miao seorang perkasa yang tidak terikat oleh adat istiadat, mana siautit berani menjajarkan diri."
Laki-laki jubah kuning menggeleng kepala, katanya tertawa.
"Tak kira pemuda perlente serba romantis seperti kau ini, wataknya ternyata malu-malu dan pura-pura segala. Baiklah, kau suka atau tidak panggil aku paman, atau toako, terserah. Tapi kau belum lagi menjawab pertanyaanku, putri keluarga Siau atau putri keluarga Cau. yang mana yang kau sukai? Sudah jangan pura-pura kikuk dan malu-malu, katakan saja."' Perahu yang dinaiki kedua orang ini laju ke depan terbawa arus, kebetulan lewat sejajar dengan perahu yang ditumpangi Hun Ci-lo, jarak antara kedua perahu kira-kira puluhan tombak, pembicaraan mereka dapat didengar semua oleh Hun Ci-lo dengan jelas, demikian juga raut wajah kedua orang itu sudah dilihatnya, tampak pemuda baju putih itu berwajah putih halus lemah lembut seperti pohon terhembus angin, ditambah pakaiannya yang mewah seperti tokoh pewayangan di atas panggung saja lagaknya. Sedang laki-laki jubah kuning beralis tebal bermata besar, berjenggot pendek bermulut lebar bibir tebal seperti mulut singa, sikapnya gagah dan kereng. Sebagai seorang ahli silat, sekilas pandang Hun Ci-lo tahu bahwa kedua orang ini sama mem-bekal kepandaian silat, dapatlah diperkirakan bahwa laki-laki jubah kuning itu tentu seorang kawakan kangouw yang sudah biasa luntang-lantung di Bulim. Hun Ci-lo sembunyi di dalam perahu, dia mencuri lihat dari belakang kerai yang disingkap sedikit, sudah tentu kedua orang itu tidak melihat dirinya. Lebih tidak tahu lagi bahwa Hun Ci-lo sedang mencuri dengar pembicaraan mereka, tapi setelah mendengar pembicaraan mereka, mau tidak mau tergetar pikirannya.
"Bibiku menikah dengan keluarga Siau, laki-laki jubah kuning mengatakan putri keluarga Siau, bukan mustahil piaumoayku yang dimaksud. Entah siapa pula putri keluarga Cau itu, didengar dari pembicaraan mereka mungkin menetap di sekitar Thay-ouw pula,"
Demikian Hun Ci-lo berpikir dalam hati. Pemuda baju putih sulit membuka kata, laki-laki jubah kuning mengerut kening katanya.
"Sebenarnya kau suka yang mana? Kedua nona itu sama pintar dalam segala bidang, apakah satu di antara mereka tiada yang mencocoki seleramu?"
"Paman Miao, bukan begitu persoalannya..."
Sahut si pemuda tertawa.
"Baik, coba katakan. Ingin aku dengar cara bagaimana aku harus bicara?"
"Memang kedua nona itu sama cantik pintar dan berkepandaian silat lagi, mana berani aku mengatakan tidak menyukai mereka?"
"Ya, itu sudah cukup. Tapi kan harus ada salah satu di antaranya yang lebih kau sukai?"
Usianya jauh lebih tua dari pemuda baju putih puluhan tahun, tapi wataknya ternyata jauh lebih keras dan tergesa-gesa, belum sempat orang bicara habis ia sudah menukas dengan pertanyaannya.
Perlahan-lahan si pemuda meneruskan.
"Kedua nona aku sama suka, tapi aku pun hanya bisa anggap mereka sebagai adik kecilku saja."
Laki-laki baju kuning bergelak tertawa, sekian lama baru berhenti, katanya.
"Untung sekarang aku tidak sedang mengunyah makanan, kalau tidak makanan dalam mulutku bisa menyemprot keluar mengotori mukamu. Berapa sih umurmu, paling-paling lebih besar berapa tahun dari mereka, bicaramu sudah anggap dirimu sudah seorang kawakan? Cara bicara demikian lebih cocok bagi seleraku. Kau tidak suka nona kecil, masa kau lebih suka nyonya tua setengah umur?"
Merah raut wajah si pemuda, katanya.
"Paman Miao selalu berkelakar. Yang benar, aku lebih suka nona yang bisa tahu urusan."
Laki-laki jubah kuning menggeleng, katanya.
"Di kolong langit ini mana ada perempuan yang serba sempurna, harus cantik, harus pintar, harus bisa bekerja lagi, wah aku si comblang ini jadi sulit melaksanakan."
"Paman Miao,"
Tiba-tiba si pemuda tertawa geli.
"Kau hanya pintar mentertawakan orang lain, kenapa tidak kau bicarakan dirimu sendiri. Kalau lirikan matamu tidak terlalu tinggi kenapa sampai sekarang kau belum juga memper-sunting teman hidup? Paman, biarlah aku minta ayah menjadi perantara bagi perkawinanmu, baik tidak?"
"Wah adikku yang bagus, tak kira lidahmu pun cukup tajam juga, berbalik kau menggoda aku malah,"
Demikian ujar laki-laki jubah kuning.
"Aku bicara serius. Usiamu lebih tua dari aku, kalau dikatakan aku sudah patut menikah, bukankah kau lebih harus cepat-cepat pula mencari jodoh?"
Si jubah kuning tertawa besar, ujarnya.
"Justru karena paman Miaomu ini sudah terlalu tua, putri keluarga siapa yang sudi menikah dengan aku?"
"Aku pernah dengar cerita ayah, katanya ayah Kim Tayhiap Kim Tiok-liu yaitu Kim Si-ih baru empat puluhan lebih menikah, beliau sudah bertunangan dengan ciang-bunjin Bin-san-pay Kok Cihoa selama dua puluh tahun, baru melangsungkan upacara nikah. Paman Miao, kau sendiri sekarang belum lagi genap empat puluh, dibanding Kim-locianpwe waktu menikah dulu masih jauh lebih muda."
"Mana bisa aku dibanding dengan Kim-locianpwe. Em, kita tidak usah bicara soal itulah, coba kau melagukan sebuah nyanyian lain saja."
"Paman Miao,"
Ujar si pemuda.
"Liong-ling-kangmu merupakan ilmu tunggal dalam bu-Iim yang tiada keduanya, silakan kau bernyanyi keras, biar aku mengiringi dengan petikan harpa."
"Aku hanya bisa berkaok dan gembar-gembor sekadarnya, mana bisa nyanyi dan tahu musik segala. Air tinta dalam perutku pun amat terbatas, mana bisa dibanding kau yang bisa ingat begitu banyak syair."
"Paman Miao biasanya kau bersikap periang dan terbuka, kenapa hari ini bersikap sungkan terhadapku? Siapa tidak tahu bahwa paman Miao ini seorang cerdik pandai serba bisa dalam bidang sastra dan ilmu silat!"
"Jangan kau menempel emas di mukaku, biar kupikir sebentar lagu apa yang hendak kunyanyikan. Kalau aku nyanyi sembarangan jangan kau salahkan bila iringan harpamu tidak karuan."
"Kau sembarangan nyanyi aku pun bisa sembarangan memetik harpaku. Sudah ingat belum lagu apa yang kau nyanyikan?"
"Tadi kau menyanyikan Kenangan Kekasih, maka biarlah sekarang aku nyanyikan sebuah lagi 'Pujaan Hatiku'."
"Baik marilah dimulai, cobalah kau ambil suara dulu."
Lalu coba-coba ia petik suara harpanya untuk mencari nada lagunya.
Tiba-tiba si jubah kuning membuka mulut batuk-batuk beberapa kali, lalu bersuit panjang, suaranya melengking tinggi menjulang ke langit bergema di tengah angkasa, seolah-olah gerungan harimau seperti gemboran naga, tiba titik ketinggian lalu menukik turun lagi, semakin jauh semakin tinggi, laksana derap langkah ribuan kuda, seperti laksaan tentara berderap ke medan laga, lapat-lapat seperti damparan ombak mengamuk menerpa tepian karang.
Waktu itu perahu mereka sudah lewat jauh mengikuti arus, jaraknya sudah cukup jauh, namun suara suitan itu masih terasa mendengung di pinggir telinga Hun Ci-lo, kalau toh Hun Ci-lo yang membekal ilmu silat saja merasakan kehebatan suitan itu, apalagi si tukang perahu, cepat ia menghentikan mendayung, kedua tangan jarinya menyumpal kedua kupingnya, serunya.
"Suitan orang itu sungguh buruk dan jelek didengar? Hm, mungkin dia sudah gila!"
Hun Ci-lo menjadi geli, pikirnya.
"Lwekang orang ini benar-benar sudah cukup mengejutkan. Konon aliran Hud-bun ada semacam Say-cu-hong-kang, dapat menggunakan suara menyedot sukma lawannya, Liong-ling-kang orang ini agaknya sejenis dengan Say-cu-hong itu Semula kuanggap hanya dongeng orang-orang kangouw belaka, tidak nyana hari ini aku melihat dan mendengar sendiri."
Meski sudah menyumpal kupingnya, namun tukang perahu masih sangat menderita, untunglah suitan itu segera berhenti.
Begitu lenyap suara suitan, laki-laki jubah kuning segera mulai dengan lagunya.
Suaranya lantang berisi dan penuh perasaan.
Sambil mendengar, diam-diam Hun Ci-lo memuji dalam hati.
"Bukan saja lwekang orang ini sudah amat tinggi, agaknya dia pun seorang yang punya cita-cita besar."
Lalu terpikir pula olehnya.
"Selama delapan tahun ini aku lepas dari pergaulan kangouw, tak kira banyak bermunculan tokoh-tokoh aneh dan liehay dalam bulim, sungguh pandangan menjadi cupat pengetahuan pun menjadi cetek."
Habis lagu orang itu, perahunya pun sudah amat jauh dan tidak terdengar pula suara percakapan mereka.
Tukang perahu yang ditumpangi Hun Ci-lo seperti terbebas dari sebuah belenggu, katanya sambil menarik napas.
"Gembar-gembor seperti setan penasaran membuat hatiku gundah, kalau dia berkaok-kaok lebih lama lagi mungkin aku tidak kuasa lagi mengendalikan perahu."
Hun Ci-lo tersenyum, katanya.
"Membuat kau letih saja, untunglah segera sudah sampai ke tempat tujuan, nanti kupersen lebih banyak kepadamu."
Tak lama kemudian perahu sudah menepi, Hun Ci-lo memberi ongkos sewa lipat ganda kepada tukang perahu, dengan langkah enteng ia naik ke atas darat.
Di saat sinar surya hampir terbenam di ufuk barat, dia beranjak naik ke Tong-ting-san barat.
Tong-ting-san barat memang tidak setinggi lima gunung lainnya yang kenamaan di Tiongkok, namun keadaannya yang curam, lembahnya yang subur dan batu-batu cadas di sini amat aneh bentuknya, memberi kesan dan perasaan lain di dalam sanubari orang.
Selepas mata memandang dari puncak gunung ke alam sekitarnya, permukaan Thay-ouw laksana kaca bening dan tenang, cahaya surya berkilauan memantul dari pantulan alunan air danau, suasana hening lelap, pemandangan indah permai.
Hun Ci-lo terpesona akan panorama yang menakjubkan ini, terasa betapa besar lingkungan alam semesta ini.
Pohon buah-buahan tumbuh subur dan penuh sesak saling berjejal meliputi seluruh pegunungan Tong-ting-san barat ini, bau harum kembang pun menjulang ke angkasa terbawa angin pegunungan yang sepoi-sepoi, sungguh suatu tempat sejuk yang segar dan nyaman.
Sebetulnya ingin Hun Ci-lo mencari orang untuk tanya jalan, tapi karena hari sudah menjelang magrib, para petani di atas pegunungan siang-siang sudah pulang ke rumah masing-masing, sampai nona-nona gunung yang pekerjaannya memetik daun-daun teh pun sudah tidak tampak lagi, dalam waktu dekat ini ia jadi sulit menemukan seorang pun jua.
Tengah ia beranjak dalam sebuah hutan tiba-tiba didengarnya suara seorang gadis tengah berseru di dalam hutan.
"Di antara mega putih di atas sungai kuning nan jauh,"
Lalu terdengar pula suara gadis lain menyambuti.
"Sebuah kota terpencil di puncak Ban-kiat-san!"
Lalu disusul terdengar berdencingnya dua senjata tajam yang saling beradu. Hun Ci-Jo jadi heran, batinnya.
"Nona-nona itu sembari bersenandung sedang beradu pedang, sungguh luar biasa. Kebetulan malah aku sedang mencari orang untuk tanya jalan kenapa tidak ke sana menengok mereka."
Karena tidak ingin mengganggu keasyikan orang, diam-diam Hun Ci-lo hendak tanya jalan kepada mereka setelah pertandingan pedang mereka berakhir baru akan keluar mohon petunjuk jalan.
Maka dengan mengembangkan ginkang tingkat tinggi menginjak salju tanpa bekas, secara diam-diam ia merunduk-runduk menyelinap masuk ke dalam hutan untuk mencuri lihat pertandingan pedang mereka.
Tapi sekilas pandang kontan ia menjadi terkejut.
Yang sedang bertanding pedang ternyata adalah dua gadis remaja yang sebaya, yang seorang mengenakan pakaian warna merah jam-bon, sedang yang lain mengenakan serba putih mulus.
Kedua gadis itu sama-sama cantik rupawan, berdiri berhadapan dan sedang saling serang dengan jurus-jurus pedang yang mereka senandungkan.
Yang mengejutkan hati Hun Ci-lo bukan karena kecantikan mereka atau keserasian pakaian yang mereka kenakan, adalah permainan ilmu pedang mereka yang benar-benar amat menakjubkan.
Tampak setelah gadis pakaian putih mendendang 'sebuah kota terpencil di Ban-kiat-san' ujung pedangnya mendadak bergetar, berpentalan kuntum kembang dari sinar pedangnya, beterbangan di tengah udara, mengurung rapat seluruh badannya, begitu rapat pertahanannya seumpama hujan angin pun tidak akan dapat menembus masuk, sungguh pertahanan sekokoh tembok baja.
Dan lagi gaya gerak pedangnya pun amat mantap dan kuat, lapat-lapat ada mengandung tipu-tipu tersembunyi yang bisa balas menyerang dengan dahsyat dalam jangka waktu yang tidak tertentu.
Gerak-gerik tipu permainannya sungguh serasi dengan syair yang didendangkannya.
Gadis baju merah jambon memuji.
"Bagus!"
Disusul ia berdendang lagi di ringi dengan dua gerak jurus pedang.
"Sret, sret"
Dua tusukan pedang menggunakan gaya Membagi Kembang Menyampuk Dahan, tipu serangan yang mengandung jurus perubahan yang amat liehay, kelihatannya lemah gemulai namun mengandung kekuatan yang keras, kelihatannya hanya merupakan jurus serangan yang amat sederhana, namun kenyataan adalah rangsakan pedang yang mengandung banyak perubahan yang amat rumit dan sulit dijajaki.
Begitu melancarkan serangan, permainan pedang gadis baju merah jambon tidak putus-putus.
Baru saja Hun Ci-lo merasa kuatir bagi gadis baju putih, terdengar gadis itu pun balas berdendang, mulut bicara, sementara Ccng-kong-kiam di tangannya itu tiba-tiba bergerak memutar setengah lingkaran terus melintang, dan "Trang"
Tepat sekali pedangnya berhasil menangkis jurus serangan lawannya.
Tapi tak urung badannya tergeliat mundur menunjukkan lubang kelemahannya.
Melihat kedua gadis yang bertanding pedang ini sambil bersenandung, diam-diam Hun Ci-lo membatin dalam hati.
"Kiranya jurus pedang mereka digerakkan menurut syair yang mereka dendangkan, makna dari syair itu mereka kombinasikan dalam gerakan pedang yang indah seperti menari saja layaknya. Ilmu pedang tingkat tinggi macam ini betul-betul merupakan aliran pedang tersendiri yang lain dari yang lain dan belum pernah dilihatnya selama ini. Sayang kelihatannya latihan mereka belum cukup matang, sehingga tidak bisa lancar dan wajar dalam cara penggunaannya."
Mendadak tergerak sanubarinya, pikirnya.
"Darimana datangnya dua gadis rupawan yang berilmu pedang tingkat tinggi berada di Tong-ting-san barat ini? Satu di antara mereka pasti adalah piaumoayku dari keluarga Siau itu!"
Belum lenyap jalan pikirannya, maka didengarnya gadis merah jambon itu berkata.
"Siautoamoay-cu, kenapakah kau hari ini? Kulihat kau seperti punya pikiran hati apa?"
Mimik bicaranya seperti tertawa tidak tertawa, sepasang matanya yang jeli dengan nanar menatap gadis baju putih. Merah malu wajah gadis baju putih bersih, sahutnya.
"Jangan kau main tebak segala, siapa bilang aku punya pikiran hati?"
"Lalu kenapa jurusmu yang ketiga tadi kelihatan titik lubang kelemahan yang amat menyolok sekali?"
"Memang aku tidak sepintar otakmu yang cerdik, iatihanku belum lagi matang, hari ini biarlah aku mengaku kalah kepadamu, kau cukup puas tidak?"
Kata gadis baju merah jambon.
"Pertandingan beberapa hari yang lalu, aku selalu kena kau kalahkan dalam jurus permainan itu melulu, aku sendiri merasa selama ini belum mendapat kemajuan apa-apa, kenapa hari ini kau kena kuka-lahkan? Watakmu yang keras itu masa mandah terima dikalahkan oleh orang lain? He he, kurasa dalam hal ini pasti ada apa-apanya yang aneh?"
"Apanya yang aneh?"
Jelilatan mata bening gadis baju merah jambon, dengan lirikan penuh arti ia berkata dengan nada dibuat-buat.
"He he, masa tiada yang aneh? Aku jadi ingin bertanya kepadamu, kenapa mendadak kau jadi gemar mengenakan pakaian warna putih?"
"Justru pertanyaanmu ini yang aneh, aku suka mengenakan pakaian warna apa peduli amat pada kau? Apakah ada sesuatu yang kurang benar?"
"Belum tentu demikian, mungkin karena si dia pun suka mengenakan pakaian putih, maka kau pun ikut-ikutan, benar tidak?"
Gadis baju putih menjadi jengkel, semprotnya.
"Apa-apaan maksudmu ini?"-Nadanya kedengaran tidak wajar, air mukanya pun berubah ketus. Gadis baju merah jambon berkata dingin.
"Tan-jikongcu dijuluki Pek-bau-kiam-khek. Sebelum dia datang, belum pernah kudengar kau mengatakan menyukai warna putih metah!"
"Kau, apa katamu? Kau sangka aku hendak mencari hati kepada Tan-kongcu itu."
"Hatimu sendiri yang paham,"
Jengek gadis baju merah jambon.
"Memangnya Tan-kongcu dari keluarga persilatan yang kenamaan, ayahnya adalah Tan Thian-ih, engkohnya adalah Tan Kongcau, ilmu silat dan ilmu sastra Tan-jikongcu sendiri pun boleh dibanggakan, mana bisa engkohku dibandingkan dia, tidaklah heran bila ada orang yang suka yang baru melupakan yang lama!"
Demikian sindirnya. Berpikir Hun Ci-lo.
"Kiranya pemuda yang memetik harpa itu adalah putranya Tan Thian-ih, kedua gadis ini sedang bertengkar karena jelus terhadap pemuda tampan itu. Tapi maksud mereka agaknya menjadi kabur karena daun jatuh ada maksud, air berlalu tiada membawa cinta."
Ternyata Tan Thian-ih adalah seorang bulim cianpwe yang berkedudukan tinggi dan terpandang serta disanjung puji oleh sesama kaum persilatan, beliau sama kedudukan dan sama tingkat dengan ayahnya Kim Tiok-liu yaitu Kim Si-ih.
Tan Thian-ih punya dua orang putra.
Putra pertama Tan Kong-cau merupakan tokoh kenamaan di kalangan kartgouw juga, usianya sudah mendekati empat puluh tahun.
Anaknya bungsu dilahirkan di waktu Tan Thian-ih sudah mencapai umur pertengahan, tahun ini baru berusia duapuluhan tahun.
Keluarga Tan tinggal di Bok-siusiang yang terletak di pinggir Thay-ouw, termasuk warga kota Soh-ciu bersama keluarga Song dari leluhur Song Theng-siau.
Kedua keluarga sama-sama keluarga persilatan pula, di waktu ayah Song Theng-siau masih hidup, Song Theng-siau pernah ikut ayahnya bertamu ke rumah keluarga Tan.
Maka Hun Ci-lo juga pernah dengar perihal keluarga Tan ini dari cerita Song Theng-siau.3' Mendengar sampai di situ sedikit banyak Hun Ci-lo sudah dapat menyimpulkan sesuatu.
Bahwa gadis baju putih she Siau, tidak perlu disangsikan lagi pasti adalah piaumoaynya.
"Pemuda she Cau yang dituturkan Siau-gu-ji itu, mungkin adalah abang dari gadis baju merah jambon ini. Engkohnya itu menyukai piaumoayku, mungkin belum ada ikatan perjodohan, kini piaumoay ternyata jatuh hati pada Tan kongsi, sudah tentu gadis baju merah jambon merasa penasaran dan marah bagi engkohnya,"
Demikian batin Hun Ci-lo.
"Keduanya sama kusukai, tapi aku hanya bisa anggap mereka sebagai adik kecilku saja."
Teringat kata-kata pemuda jubah putih itu, tanpa merasa Hun Ci-lo tertawa getir bagi pertengkaran yang lucu ini.
Menurut rencana Hun Ci-lo begitu pertandingan pedang kedua gadis ini selesai segera ia hendak unjukkan diri, untuk berkenalan dengan piaumoaynya ini, secara tidak sengaja ia sudah mencuri dengar rahasia relung hati mereka, ia jadi kurang enak untuk segera muncul pada waktu itu juga.
Gadis baju merah jambon mendesak demikian rupa, kata-katanya memang rada menusuk perasaan, apa lagi kata-kata 'mendapat yang baru melupakan yang lama', keruan berganti-ganti air muka gadis baju putih, merah-hijau dan pucat, tak tahan lagi ia sudah hampir meledak kemarahannya.
Sejak kecil kedua nona ini memang sudah biasa dimanjakan dan diumbar secara bebas, gadis baju merah jambon merasa sirik dan dongkol tak tahan ia limpahkan perasaan hatinya secara gamblang, tanpa kepalang tanggung malah ia menambahkan.
"Tepat mengenai borok hatimu bukan. Huh. Kau marah pun aku tidak takut, aku harus bicara secara blak-blakan, engkoh-ku bersikap begitu baik kepadamu, namun sekarang kau begitu cepat lantas kena penyakit rindu terhadap orang luar yang baru saja kau kenal, apakah sikapmu ini dapat kau pertanggung jawabkan kepada engkohku?"
Memang kemarahan gadis baju putih sudah hampir meledak, mendengar nistaan yang begitu memalukan dan menusuk perasaan, seperti api disiram minyak, seketika berkobar besar amarahnya, jengek-nya dingin.
"Kenapa pula bila eng-kohmu memang baik dengan aku? Coba kau tanyakan kepada dia, pernahkah aku meluluskan sesuatu kepadanya? Tapi kau pun tidak perlu kuatir, aku tidak akan berebut kekasih dengan kau?"
"Kau, apa katamu?"
Damprat gadis baju merah jambon dengan muka beringas.
"Isi hatimu kau kira dapat mengelabui aku?"
Demikian balas sindir gadis baju putih.
"Kau sendiri yang ingin menikah dengan Tan-kongcu itu, kau kira aku tidak tahu? Hm, jauh-jauh mengundang Miao Tiang-hong untuk menjadi comblang, sayang orang tidak suka kepadamu!"
Olok-olok ini pun cukup pedas, keruan gadis baju merah jambon naik pitam, alisnya berdiri, semprotnya tertawa dingin.
"Lalu dia penujui kau ya?"
"Kau kira aku tidak tahu malu seperti kau, menyuruh orang tuanya mengundang orang bertamu ke rumahnya sendiri."
"Kau, kau, coba kau katakan lagi, katakan lagi..."
Damprat gadis baju merah jambon berjingkrak gusar.
Setelah bicara dan melihat sikap orang, baru gadis baju putih menyadari mulutnya terlalu mengumbar adat, diam-diam ia merasa menyesal, namun melihat gadis baju merah jambon naik pitam, dia pun tidak mau unjuk kelemahan.
"Anggapmu aku tidak berani mengatakan. Apakah kau hendak ajak berkelahi?"
"Siau Gwat-sian!"
Bentak gadis baju merah jambon.
"Kau kira aku takut menghadapi kau! Baik, loloskan pedangmu, mari kita lanjutkan pertandingan ini."
"Cau Ci-hwi!"
Gadis baju putih juga tidak kalah perbawa.
"Tadi kau mengolok latihan ilmu pedangku kurang matang, memang aku ingin mohon petunjuk dari kau, mari kita lanjutkan pertandingan ini secara sungguh-sungguh! Nah, bertanding ya bertanding memangnya kau anggap aku takut kepadamu?"
Begitulah damprat mendamprat, keadaan kaku ini menjadi tegang seperti anak panah yang sudah dipentang di atas busur tidak bisa tidak harus dilepas, kedua pihak sama-sama melolos pedang, ternyata bukan main-main mereka bertempur secara sungguh-sungguh.
Maka terdengarlah benturan senjata berulang-ulang, sekejap saja kedua pedang mereka sudah saling bentur tujuh delapan belas kali.
Gadis baju merah jambon me-rangsak dengan sengit, pedangnya menyerang dari kiri dan kanan, tipu-tipu pedang yang didendangkan tadi sekaligus dilancarkan dengan gencar, tapi gadis baju putih pun bertahan dengan kokoh kuatnya, permainan pedangnya pun menggunakan tiputipu pedang yang dimainkan mengiringi bunyi syair yang didendangkan tadi, namun di samping membela diri ia pun balas menyerang.
Masing-masing menggunakan dua jurus serangan, namun keempat jurus serang-menyerang ini jauh berbeda dari permainan latihan tadi.
Hun Ci-lo jadi berpikir.
"Tak heran Tan Kong-si anggap mereka masih berjiwa kanak-kanak, masih belum tahu urusan. Kalau keributan ini dilanjutkan terus mereka pasti akan semakin kalap, tidak mungkin aku berpeluk tangan saja."
Di saat Hun Ci-lo hendak keluar melerai inilah, tiba-tiba ada seorang menerobos keluar dari hutan sebelah sana, serunya.
"Wah ramai benar pertempuran ini, sungguh bagus. Ayo serang, gasak saja! Eeh, kenapa tidak diteruskan? Apakah tamu tidak diundang aku ini mengganggu kalian?"
Hun Ci-lo sembunyi di belakang sebuah pohon mencuri lihat, tampak seorang laki-laki besar yang mengenakan topi kulit biruang yang lancip tinggi, mengenakan mantel berbulu dari kulit musang, punggungnya melembung besar, terang ia menyoreng senjata, yang disembunyikan di balik mantelnya itu.
Hun Ci-lo rada terkejut, batinnya.
"Kapan orang ini tiba di sana, sedikit pun aku tidak tahu."
Soalnya perhatiannya terlalu ditumpahkan kepada kedua gadis yang sedang bertempur itu.
Tapi bahwa laki-laki ini bisa muncul di pinggir gelanggang baru bisa diketahui olehnya, sudah tentu kepandaian silatnya tidak sembarangan.
Sebetulnya Siau Gwat-sian dan Cau Ci-hwi sudah tidak ingin melanjutkan lagi, kini diganggu pula oleh kedatangan orang asing ini, kebetulan mereka lantas menghentikan pertempuran.
Keduanya sama-sama menarik pedang dan mundur selangkah serta membentak.
"Siapa kau?"
Kata laki-laki itu.
"Kalian sudah cukup belum bertempur? Bagus, sekarang aku bisa tanya kepada kalian!"
"Apakah sudah tuli?"
Semprot Siau Gwat-sian.
"Kutanya kau, siapa kau? Kau dengar tidak?"
"Sudah dengar. Tapi aku harus tanya kalian lebih dulu, setelah kalian menjawab pertanyaanku baru kujawab pertanyaanmu!"
Siau Gwat-sian menggenggam gagang pedang dengan kencang, pedang melintang di depan dada, matanya mendelik gusar, dengusnya.
"Kau ini barang apa, berani bertingkah di tempat ini."
Cau Ci-hwi sendiri juga menjadi uring-uringan, namun ia berlaku rada kalem, katanya marah.
"Adik Siau, biar kita dengar dulu apa yang hendak dia tanyakan."
Kata laki-laki itu.
"Apakah Miao Tiang-hong datang kemari bersama Tan Kong-si, pernah bertamu dan menginap di rumah kalian bukan?"
"Kalau benar mau apa? Kalau tidak, kau mau apa pula?"
Tanya Cau Ci-hwi.
"Ke mana dia sekarang? Apakah pulang ke rumah keluarga Tan lagi?"
Tanya laki-laki itu lebih lanjut.
"Kau bertanya begitu berbelit-belit, apa tujuanmu?"
Jengek Cau Ci-hwi. Laki-laki itu menyeringai, katanya dingin.
"Sekarang, akulah yang bertanya kepada kalian, kalau tahu diri kalian budak-budak kecil ini harus menjawab pertanyaanku dengan baik, kalau tidak..."
"Hwi-ci, masa kau mandah terima dihina begini. Main ancam segala, hm, kalau tidak kau mau apa?"
Damprat Siau Gwat-sian.
"Kalau tidak bicara secara terang-terangan mengenai jejak Miao Tiang-hong, ayah bunda kalian pun akan terseret di dalam persoalan ini."
Mendadak Cau Ci-hwi tertawa dingin.
"sret"
Pedangnya lantas menusuk kepada orang, serunya.
"Aku sih ingin menjawab, cuma pedangku ini tidak kenal siapa kau, boleh kau tanya kepadanya lebih dulu."-Ternyata Cau Ci-hwi berwatak lebih berangasan, ia tidak tahan lagi mengendalikan amarahnya. Pertama ia merasa tertarik, kedua ia pun ingin mempermainkan laki-laki ini, maka dia suka dengar pertanyaan yang bertumpuk-tumpuk itu. Cau Ci-hwi seumpama kuda pingitan yang belum pernah kelana jauh dari rumahnya, biasanya kalau latihan pedang bersama engkoh-nya, engkohnya selalu mengalah kepadanya, para tamu yang sering datang hilir mudik pun suka memuji kepandaiannya cukup hebat, dikatakan tunas muda yang berkecimpung di dunia persilatan jarang yang setanding dengan kepandaiannya sekarang, dia percaya semua obrolan-obrolan dan puji-pujian orang-orang itu, di saat melancarkan serangan, dalam hati masih takut-takut, kuatir cara turun tangannya tidak mengenal batas, sekali tusuk ia bikin mampus laki-laki ini. Maka ia membatin.
"Lebih baik membikinnya terluka sedikit saja, mengampuni jiwanya untuk ditanyai keterangannya."
Di luar tahunya bahwa laki-laki besar ini ternyata adalah seorang ahli silat dalam kalangan bulim, meski latihan ilmu pedang Cau Ci-hwi tingkat tinggi yang liehay, sayang lwekangnya masih terlalu rendah, kalau dibanding lawannya, terpautnya amat jauh sekali.
Begitu Cau Ci-hwi menusuk dengan pedangnya, laki-laki besar itu bergelak tertawa, serunya.
"Budak cilik yang belum tahu tingginya langit dan tebalnya bumi, biar kau tahu keliehayanku."
Menanti ujung pedang sudah dekat hampir mengenai badannya, tiba-tiba ia selentik-kan jari tengahnya.
"creng"
Pedang Cau Ci-hwi kena diselentik dan terpental miring, seketika ia rasakan telapak tangannya pedas dan sakit bukan main, hampir saja ia tidak kuasa memegangi pedangnya lagi.
"Hwi-ci jangan gugup!"
Segera Siau Gwat-sian berseru sambil menubruk maju.
"Biar kubantu kau!"
Tusukan pedangnya menyambar deras mengeluarkan deru angin. Dalam hati diam-diam Hun Ci-lo memuji.
"Meski usia piaumoay lebih muda, namun ilmu pedangnya ternyata lebih matang dan mahir dari nona Cau!"
Laki-laki itu pun tercekat hatinya, pikirnya.
"Nona cilik ini ternyata tidak boleh dipandang rendah."
Mundur selangkah tiba-tiba ia membalik badan, mendadak ia lancarkan pukulan tangan terobosan, kepalannya menjurus ke atas menghantam ke muka orang.
Jurus pukulan ini punya nama khusus yaitu Jong-thian-bau (bom menembus langit), cara pukulannya keras menggunakan tenaga kasar lagi, maka dapatlah diperkirakan perba-wanya.
Meski ilmu pedang Siau Gwat-sian tidak lemah, sedikit pun tidak punya pengalaman menghadapi musuh tangguh, kapan ia pernah melihat atau menghadapi cara pertempuran yang garang dan ganas macam ini, keruan hatinya menjadi gugup.
Cepat Cau Ci-hwi berteriak.
"Gunakan jurus Sebuah Kota Terpencil! Adik Siau, mari kita menyerang dan menjaga bergantian, gempur dia dari dua jurusan tidak usah takut!"-Memang kematangan ilmu pedangnya tidak sebanding Siau Gwat-sian, tapi hatinya lebih tabah dan besar nyalinya, meski tadi hampir saja kena dikerjai lawan, namun sikapnya amat tenang, setelah mundur segera ia merangsek maju lagi lebih gencar.
"Cras!"
Ujung pedangnya menusuk tiba pula dengan gaya rada miring, ujung pedangnya langsung menusuk ke depan dengan cara serangan yang ganas dan keji, yang digunakan adalah jurus permulaan dari ilmu pedang yang dilatihnya tadi.
Karena peringatan itu lekas Siau Gwat-sian mengempos semangat, sebat sekali ia gunakan Hong-tiam-thau, berkelit seraya mengubah jurus permainannya, tahu-tahu Ceng-kong-kiam bergerak mem-bundar satu lingkaran, seketika berpetalah sinar pedang berkeredep membawa sambaran hawa dingin, penjagaan yang rapat diselingi serangan yang cepat pula, begitu rapat pertahanannya, tidak tertem-buskan oleh hujan badai pun.
Diam-diam Hun Ci-lo memuji dalam hati.
"Bagus! Jurus pedang piaumoay ini dilancarkan jauh lebih bagus dari latihannya tadi. Kalau begitu, di waktu latihan tadi memang pikirannya tidak tenang. Jadi tuduhan nona Cau itu ternyata tidak semena-mena."
Laki-laki itu pun seorang ahli silat, melihat Siau Gwat-sian lancarkan jurus pedang yang mengandung pertahanan kokoh kuat ini, jotosannya itu jadi tidak berani diteruskan.
Cepat ia merubahnya dengan gaya Jiu-hwi-bi-ba (jari-jari memetik senar harpa), sekaligus ia sampuk pergelangan tangan Cau Ci-hwi, berbareng badannya berputar, mengebaskan lengan bajunya, sekaligus ia menyampuk miring ujung pedang Siau Gwat-sian.
Kepandaian silat orang ini cukup tinggi, namun di bawah rang-sakan gencar Siau dan Cau berdua dari dua jurusan, melawan dengan bertangan kosong lagi, lama kelamaan ia merasa kewalahan juga.
Semula Hun Ci-lo sudah siap menerjunkan diri, setelah melihat mereka di pihak yang unggul, ia menghela napas lega, dengan segala perhatian ia menyaksikan dengan cermat.
Tadi Cau Ci-hwi diolok-olok orang, begitu ia berada di atas angin ia jadi takabur, jengeknya dingin.
"Mulut bicara besar, ternyata hanya begini saja kemampuanmu! Hm, hm, ingin aku lihat siapakah yang tidak tahu tingginya langit tebalnya bumi!"-Tidak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi adalah kata olok-olok yang digunakan laki-laki tadi, kini ia membalas olok-olok menggunakan istilah yang sama. Mulut bicara sementara gerak permainan pedangnya sedikit pun tidak menjadi kendor karenanya, dalam kejap bicara itu, beruntun Cau Ci-hwi sudah melancarkan tujuh serangan berantai. Sebaliknya sambil menjaga diri permainan pedang Siau Gwat-sian mengandung tipu-tipu penyerangan pula, beruntun dia pun sudah lancarkan empat jurus sembilan tipu rang-sakan. Pada jurus terakhir mereka menemukan titik keserasian kerja sama yang amat ketat, begitu hebat dan indah sekali perpaduan jurus-jurus ilmu pedang yang dilancarkan bersama ini, maka terdengarlah suara "Brett"
Yang panjang, lengan baju orang itu kena terpapas sobek sebagian besar, di mana sinar pedang berkelebatan amat cepatnya cuilan kain itu seketika kena terpapas hancur beterbangan seperti kupu-kupu melayang di tengah udara.
Mendadak laki-laki itu mencelat keluar dari gencetan perpaduan rangsakan pedang yang liehay itu, bentaknya marah.
"Biar budak-budak cilik seperti kalian ini rasakan keliehayanku!"
Baru saja Cau Ci-hwi hendak mengejar, tampak olehnya orang itu sudah keburu mengeluarkan sepasang boan-koan-pit, dengan tangan bersenjata, seperti harimau kelaparan laki-laki itu segera menyerbu dengan garangnya.
Begitu membagi sepasang senjatanya, yang kiri langsung meno-tok ke Hiat-to Ki-bun-hiat Cau Ci-hwi, sementara senjatanya yang kanan menotok Hiat-hay-hiat Siau Gwat-sian.
Terdengarlah "trang, trang"
Dua kali, dua batang Ceng-kong-kiam berhasil disampuknya terpental ke samping.
Begitu laki-laki ini melancarkan ilmu potlofnya, posisi pertempuran seketika berubah sama sekali, cukup sejurus saja, bukan saja ia berhasil memunahkan rangsakan pedang kedua lawannya, beruntun ujung potlotnya malah mengancam dua jalan darah di tubuh mereka.
Caranya yang tepat dan ganas sungguh amat mengejutkan, Hun Ci-lo yang menonton dari tempatnya sembunyi jadi terkejut.
Beruntun terdengarlah benturan senjata yang nyaring berulang-ulang, begitu keras sampai memekakkan telinga.
Memang jurus permainan pedang Siau Gwat-sian amat rapat pertahanannya, tapi toh kena dijebol berantakan, suara benturan keras itu berbunyi di saat potlot lawan berhasil membobol pertahanannya, di mana pedang dan potlot saling beradu dengan keras, seketika kedua senjata itu sudah saling bentur tujuh belasan kali.
Orang itu tertawa dingin, jengeknya.
"Hah! Kukatakan kalian tidak tahu tingginya langit tebalnya bumi, tidak salah bukan penilaianku? Tapi aku jadi bingung sendiri entah siapa di antara kalian yang harus kugondol pergi, sulit aku ambil pilihan!"
Tiba-tiba Cau Ci-hwi berteriak.
"Ayah, ada orang menganiaya putrimu, lekaslah datang!"
Siau Gwat-sian pun ikut berteriak.
"Ibu, lekas bantu aku!"
Orang itu tertawa dingin, ejeknya.
"Kaok-kaok kau panggil ayah bunda pun tidak berguna, kecuali kalian menjelaskan jejak Miao Tiang-hong kepadaku, kalau tidak salah satu di antara kalian harus kubawa pergi, dengan kalian sebagai sandera, masa aku tidak bisa menemukan jejak Miao Tiang-hong. Nona cilik, kau mau menjelaskan tidak? Nona cilik kau mau menerangkan tidak?"
Batang potlotnya mendadak menuding ke arah Cau Ci-hwi, tiba-tiba potlotnya yang lain menusuk kepada Siau Gwat-sian, beruntun ia menggerakkan senjatanya sambil mengajukan pertanyaannya.
Cau Ci-hwi mengertak gigi, dia melawan dengan tabah, adalah Siau Gwat-sian yang naik pitam, makinya.
"Kentutmu busuk, kau kira kami sudi menjual kawan minta ampun kepadamu, jangan kau mimpi di siang hari bolong!"
"Bagus!"
Seru orang itu.
"Budak kau ini bermulut lebih tajam, aku justeru ingin bicara kepadamu, mari kau saja yang ikut aku!"-Tiba-tiba ia pukulkan kedua potlotnya sendiri, sekaligus ia berhasil menangkis jatuh pedang Siau Gwat-sian. Begitu senjata Siau Gwat-sian kena dilucuti segera ia, putar tubuh hendak lari. Laki-laki itu segera membentak.
"Lari ke mana kau?"
Seperti elang kelaparan menubruk kelinci, tubuhnya tiba-tiba berkelebat ke depan mengejar di belakang Siau Gwat-sian, kedua senjatanya dipindahkan ke tangan kanan, cepat tangan kiri diulurkan meraih ke depan mencengkeraan ke tulang pundak Siau Gwat-sian.
Cepat-cepat Cau Ci-hwi memburu maju, dia sudah terlambat setindak.
Hun Ci-lo mengeluh dalam hati, baru saja ia hendak menyambitkan sebuah uang tembaga yang sudah digenggamnya sejak tadi, tiba-tiba didengarnya seorang membentak.
"Menganiaya anak perempuan terhitung orang gagah macam apa kau!"--Lenyap suaranya orangnya pun sudah tiba, laksana anak panah melesat datang langsung menerjang ke arah laki-laki.
"Toako!"
Teriak Cau Ci-hwi.
"Syukurlah kau datang, hati-hati! Awas ilmu totoknya liehay!"
Ternyata pendatang ini adalah engkohnya yang bernama Cau Ho-lian.
Senjata yang digunakan Cau Ho-lian adalah sebatang pedang yang berpunggung tebal dan berat, mengayun pedangnya digunakan membacok seperti golok umumnya, langsung ia menyerang ke batok kepala orang itu.
Melihat serangan yang keras dan ganas ini, tak sempat lagi orang itu mencengkeram kepala Siau Gwat-sian, lekas ia membagi kedua senjatanya di kedua tangannya, dengan jurus Ki-hwe-liau-thian (angkat obor menerangi langit), ia menyongsong ke arah bacokan pedang lawan.
Berpikir Hun Ci-lo.
"Pemuda ini menerjang kalap tanpa hiraukan keselamatan sendiri, sepak terjangnya memang gagah dan berani, cuma sayang tidak punya akal, mungkin dia pun bukan tandingan orang itu."
Belum lenyap jalan pikirannya, didengarnya suara "trang!"
Yang keras, bunga api beterbangan. Pedang panjang tebal Cau Ho-lian tergumpil sedikit, kena disampuk keluar oleh tangkisan sepasang potlot lawan.
"Bagus,"
Seru orang itu.
"Kau meluruk datang mau unjuk gagah-gagahan, ingin aku lihat betapa, tinggi kepandaianmu?"
Kedua potlotnya bergerak cepat ke kiri ke kanan seperti orang sedang bercocok tanam di ladang, begitu berhasil menyampuk miring pedang lawan, tanpa ampun segera ia melancarkan serangan ganas yang mematikan.
Mau tidak mau Hun Ci-lo terkejut pula dibuatnya, batinnya.
"Agaknya permainannya itu adalah Keng-sin-pit-hoat yang pernah dituturkan ayah kepada aku itu!"
Ternyata Keng-sin-pit-hoat adalah i}mu potlot tunggal dari keluarga Lian di Hopak, merupakan ilmu potlot peranti menotok jalan darah yang tiada taranya dan tiada bandingannya di dunia persilatan.
Ayah Hun Ci-lo hanya pernah dengar cerita orang lain, paling-paling hanya tahu sedikit kelie-hayannya, beliau sendiri pun belum pernah melihat secara langsung.
Letak keliehayan Keng-sin-pit-hoat ini pada setiap kali totok sekaligus ia dapat melukai urat nadi dan jalan darah lawan, betapapun tinggi lwekang orang tidak akan mampu bertahan dari totokan ini.
Tipu permainan dari rangkaian ilmu totok potlot ini terletak pada Su-pit-tiam-pat-meh (empat potlot menotok delapan urat nadi), jurus ini harus dilancarkan dengan gabungan dua orang, kerja sama dari empat potlot dalam satu jurus sekaligus dapat menotok dan melukai urat nadi lawannya dalam waktu yang bersamaan.
Keluarga Lian mengandal kemahirannya ini malang melintang dan meninggalkan nama harum di bulim, selama malang melintang itu hanya ayah Kim Tiok-liu yaitu Kim Si-ih seorang saja yang dulu mampu memecahkan Su-pit-tiam-pat-meh dari Keng-sin-pit-hoat itu.
Untunglah Su-pit-tiam-pat-meh ini harus dilancarkan bersama oleh dua orang, seorang saja tidak akan mampu digunakan.
Namun demikian, jurus permainan Su-pit-tiam-pat-meh orang ini cukup membuat Cau Ho-lian, pemuda hijau yang belum cukup pengalaman ini tidak mampu menandinginya.
Kedua potlot orang itu menusuk ke depan dengan bersilang, kini mendadak ditarik balik terus berkembang kedua samping, yang kiri menotok lima jalan darah di urat nadi Jin-tok, sementara yang kanan menotok empat jalan darah dari dua urat nadi Siau-yan dan Yang-bin, asal satu di antara sekian jalan darah yang di ncar terkena totokan ujung senjatanya, kalau tidak mati paling tidak Cau Ho-lian pasti terluka parah.
Karena urat nadi yang dijadikan sasaran itu adalah urat penting yang langsung menembus ke hati dan jantung, sekali terluka dalam maka dapatlah dibayangkan akibatnya pasti sangat fatal.
Di saat gawat yang hampir menentukan jiwa Cau Ho-lian itulah, keadaan yang amat berbahaya itu, mendadak terdengar suara "Ting", sebuah uang tembaga menyambar datang tepat sekali membentur potlotnya yang hendak menotok jalan darah Bing-bun-hiat di tubuh Cau Ho-lian tersampuk miring, dalam waktu yang bersamaan Ceng-kong-kiam Cau Ci-hwi pun sudah menusuk tiba mengarah punggungnya.
Bercekat hati orang itu.
bentaknya.
"Budak busuk kau ini juga main timpuk senjata rahasia, memangnya kau sudah bosan hidup ya!" --Dia menyangka senjata rahasia itu adalah timpukan Cau Ci-hwi, keruan ia jadi keheranan, pikirnya.
"Budak ini berkepandaian silat rendah, mungkinkah tadi dia sengaja tidak mau pamer kepandaian simpanannya?"-Tusukan pedang Cau Ci-hwi menggunakan tipu Giok-li-to-soh, ujung pedangnya sudah mengancam Hong-hu-hiat di punggungnya, lekas ia putar balik sebatang potlotnya menangkis.
"trang", Ceng-kong-kiam di tangan Cau Ci-hwi tidak kuasa lagi dipegangnya, terbang lepas ke tengah udara. Baru sekarang Hun Ci-lo unjukkan diri, jengeknya.
"Akulah yang lepas senjata rahasia!"
Kedatangan Hun Ci-lo yang tak terduga-duga ini membikin dua pihak yang bertempur melengak heran. Sambil melirikkan matanya orang itu berkata kepada Hun Ci-lo.
"Siapa kau turut campur urusan kami? He, he, perempuan ayu seperti bidadari macam kau, aku jadi segan melukai kau!"
Berdiri alis Hun Ci-lo, katanya tawar.
"Nona Cau, sementara kuharap kau mundur ke samping, rawatlah luka-luka engkohmu." --Mendadak ia membentak.
"Keng-sin-pit-hoat yang kenamaan di kolong langit itu kenapa buat menggertak nona-nona cilik, apakah tidak membikin pamor keluarga Lian kalian disapu bersih oleh perbuatan rendahmu ini ? Mari biar aku mohon petunjuk ilmu leluhurmu yang liehay, silakan kau keluarkan semua kemampuanmu bila mampu melukai aku!"
Orang itu tertawa, katanya.
"Perempuan bawel seperti kau ini ternyata besar mulut, baik, biar aku pun berkenalan dengan kepandaianmu."
Belum suaranya hilang, Hun Ci-lo sudah mengayun pedangnya ke tengah udara, berkembanglah titik-titik sinar pedang menyerupai kuntum bunga, tahu-tahu selarik sinar putih menukik turun terus menusuk ke arah orang itu.
Jurus Liu-sing-cui-goat ini kelihatannya dimainkan secara sederhana dan biasa saja, namun di situlah letak intisari keampuhan Sip-hun-kiamhoat dari keluarga Hun, secara tidak terduga dalam tipu permainan yang sederhana itu tersembunyi tipu sergapan yang amat liehay, jauh berlainan dengan jalan permainan ilmu pedang golongan atau aliran partai pedang lainnya.
Tampak ujung pedangnya tergetar memetakan tiga kuntum sinar kembang, ke sebelah kiri menusuk Pek-hayhiat, kanan menusuk Ih-gi-hiat, yang yang menjurus ke tengah menusuk ke Sian-ki-hiat.
Meski belum membandingi Siang-pit-tiam-su-meh orang itu, namun dalam sejurus saja sekaligus dapat mengancam sembilan jalan darah pada dua urat nadi yang mematikan, sekali tusukannya, mengambang sulit diraba sasaran yang diarahnya, kelihatannya ke kiri tahu-tahu ke kanan, demikian bolak-balik membuat orang bingung, gerak perubahannya yang aneh ini, jelas bahwa kiamhoatnya ini terang lebih unggul dari Pit-hoat permainan lawannya.
Ujung potlotnya tadi kena ditimpuk oleh uang tembaga Hun Ci-lo, diam-diam orang itu sudah menginsyafi bahwa kepandaiannya pasti jauh di atas ketiga lawan ciliknya tadi, namun ia masih belum tahu bahwa ilmu pedangnya ternyata sedemikian liehay dan menakjubkan, sekilas dilihatnya cahaya putih menyilaukan mata, keruan bercekat hatinya, pikirnya.
"Mungkinkah Siphun-kiamhoat dari keluarga Hun? Sungguh hebat dan liehay benar."
Tersipu-sipu ia lintangkan kedua potlotnya untuk menangkis, terdengarlah suara nyaring sambung menyambung, kedua pihak sama merasakan tenaga dalam lawan yang menggetar telapak tangan masing-masing.
Potlot orang itu kena tergores memanjang oleh pedang pusaka, pergelangan tangannya terasa sakit, lekas ia kerahkan tenaga dalamnya, menggunakan tenaga sentakan, ia sam-puk terlepas pedang pusaka Hun Ci-lo.
Sementara tergetar oleh tenaga perlawanan lawan, Hun Cilo sendiri pun merasa pemapasannya rada sesak, dalam hati ia membatin.
"Aku harus menggunakan pedang kilat menyerangnya!"
Bicara lambat kenyataan amat cepat sekali, pedang pusaka Hun Ci-lo melayang membundar, menghilangkan tenaga sentakan lawan, dengan sejurus Surya Membundar Tenggelam di Ujung Sungai Panjang, sinar pedangnya seperti gelang-gelang besar kecil berputar, tahu-tahu menyapu keluar terus menggulung ke pinggang lawan.
Kedua potlot orang itu terpental bersilang, yang kanan ke arah kiri sementara yang kiri tertuju ke arah kanan, dengan sejurus Coh-yu-kay-kong (kanan kiri mementang busur), balas menyerang untuk membela diri, beruntun ia berhasil mematahkan tiga rangkaian serangan pedang Hun Ci-lo yang amat liehay.
Cau Ci-hwi insyaf bahwa kepandaian sendiri terlalu tidak becus, apalagi senjata sudah terlepas, untuk membantu Hun Ci-lo tidak mungkin bisa dan tidak perlu, dilihatnya pula Hun Ci-lo mampu menandingi laki-laki itu, maka dengan berlega hati ia mundur melihat keadaan engkohnya.
Cau Ho-lian menggayut membelakangi sebatang pohon besar, mukanya pucat, lengan bajunya berlepotan darah.
Sekali pandang jelas diketahui bahwa dia sudah terluka.
Ternyata timpukan mata uang Hun Ci-lo meski tepat menyampuk miring ujung potlot orang itu, namun karena lwekang mereka setanding, betapapun kekuatannya belum mampu menahan daya serangan orang itu, maka lengan kanan Cau Ho-lian tidak urung tergores luka juga oleh ujung potlot yang runcing itu sepanjang tiga dim.
Tapi untung juga potlot musuh tersampuk menceng oleh timpukan mata uang Hun Ci-lo, sehingga Cau Ho-lian terhindar dari kena jalan darahnya yang mematikan, lukanya pun hanya luka kulit yang amat ringan.
Cau Ci-hwi amat prihatin akan keselamatan engkohnya, keruan ia menjadi kaget melihat darah yang membanjir keluar itu, tanyanya .
"Koko, bagaimana keadaanmu?"
Cau Ho-lian tertawa getir, sahutnya.
"Tidak apa-apa, kalian tidak kurang suatu apa, aku menjadi lega hati."
"Adik Siau, dia terluka karena kau, ayo lekas membalut lukanya!"
Demikian teriak'Cau Ci-hwi.
Sikap Siau Gwat-sian serba kikuk dan malu-malu karena perang mulutnya tadi, nada bicara Cau Ci-hwi seolah-olah menyalahkan dirinya pula, ia jadi lebih tidak enak.
Tapi melihat Cau Ho-lian terluka karena dirinya, hatinya menjadi gugup dan menyesal, meski rasa kikuk, terpaksa ia datang menghampiri serta mengeluarkan obat hendak membalut luka-lukanya itu.
Tiba-tiba Cau Ho-lian menje-ngek dingin, katanya.
"Tak usah merepotkan kau, kau punya obat, biarlah aku balut sendiri!"
Cau Ci-hwi tertegun, katanya.
"Koko, kau ini... ai, kau..."
"Tidak apa-apa,"
Sentak Cau Ho-lian dengan suara sumbang.
"Lukaku toh tidak berat, mana berani aku membikin capai nona Siau besar ini untuk merawat luka-lukaku. Dan lagi masakah aku. punya keberuntungan sedemikian besar."
Dia sudah berusaha untuk bicara rada kalem dan enak didengar, namun nada suaranya toh mengandung rasa jelus dan kemarahan hatinya.
Panggilan yang biasanya manis mesra kini ganti jengekan yang menusuk perasaan.
Siau Gwat-sian jadi melongo di tempatnya, air mata sudah berlinang di kelopak matanya, tak tahan lagi akhirnya ia memutar tubuh, serunya.
"Kau marah apa, aku kan bukan budak keluarga kalian, kenapa aku harus mengambil hatimu. Huh, tidak tahu kebaikan hati orang. Kau tidak mau dibalut masa aku sudi hiraukan kau!"
Biasanya Cau Ho-lian amat penurut padanya, kini karena rasa jelus dan marah, kata-kata pun sudah terlanjur dilontarkan, menyesal pun sudah terlambat.
Serta mendengar kata-kata Siau Gwatsian, ia membatin.
"Kiranya dia masih prihatin terhadapku."
Tapi kata-kata Siau Gwat-sian itu lebih ketus, meski melimpahkan rasa perhatiannya, namun kata-katanya mengandung duri runcing yang menusuk ulu hatinya.
Karena Siau Gwat-sian membalik tubuh, keadaan menjadi kaku.
Ingin Cau Ho-lian minta maaf, namun mulut tak sampai mengucapkannya.
Cau Ci-hwi yang menjadi kerepotan, sembari membubuhi obat, ia mengomel panjang pendek.
Untuk menghibur dan merujukkan kembali sesaat ia jadi kehilangan akal dan kata-kata.
Entah apa yang harus dia ucapkan.
Tiba-tiba didengarnya benturan senjata yang nyaring memekakkan telinga.
Ternyata, pertempuran Hun Ci-lo melawan laki-laki itu sudah mencapai titik yang menentukan, dengan sejurus Tay-mo-hou-yan, pedangnya menusuk lurus laksana anak panah lurus ke depan, namun laki-laki itu sempat mengatupkan sepasang potlotnya, di tengah berdentangnya suara keras, bunga api terpercik diselubungi cahaya pedang yang berhamburan.
Pedang pusaka Hun Ci-lo kena tertangkis miring, sementara batang potlot laki-laki itu bertambah sebuah goresan panjang lagi.
Cahaya pedang memutih yang panjang seperti seuntai kain sutra lemas membungkus gerakan ketat sepasang potlot lawan yang berkilau kehitaman, seperti naga laut muncul di permukaan air memainkan gelombang, bergulung-gulung di antara damparan ombak yang membuih putih.
Pertempuran sengit yang menegangkan hati ini, seketika menarik perhatian ketiga remaja yang sedang diamuk perasaan ini.
Ilmu pedang Sip-hun-kiamhoat Hun Ci-lo mengutamakan kelincahan dan kecepatan, kini di ujung pedangnya seakan-akan tergantung benda yang amat berat, tunjuk ke timur membabat ke barat, gerak-geriknya jauh lebih lambat dari permulaan pertempuran tadi.
Meski jauh lebih lambat, namun permainan pedangnya justru lebih aneh hampir dikata setiap jurusnya dilancarkan dengan serangan dari jurusan yang sulit diduga sebelumnya.
Ternyata maksud Hun Ci-lo semula hendak menggunakan pedang cepat untuk mencecar musuhnya, secepat mungkin menyelesaikan pertempuran ini dengan kemenangan gemilang, tapi karena lwe-kang sendiri kalah kuat, setelah .menyerang gencar malah sering ia sendiri menghadapi mara bahaya, terpaksa ia ambil cara bertempur dengan strategi yang lebih mantap, dengan keanehan pelajaran ilmu pedangnya ia yakin pasti dapat mengalahkan lawan.
Laki-laki ini adalah seorang tokoh dalam bidang ilmu totok, tak mengira kepandaian Siang-pittiam-su-meh (sepasang potlot menotok empat urat nadi) yang biasanya sangat diagulkan itu kini sedikit pun tidak mampu menjebol pertahanan tabir cahaya pedang Hun Ci-lo, lambat laun hatinya menjadi gelisah, sepasang potlotnya itu lantas dimainkan seperti dua naga keluar laut yang sedang dirundung kemarahan, merangsak dengan seluruh kekuatannya, sinar potlotnya yang berkilauan sambung menyambung berlapis-lapis seperti ribuan banyaknya.
Dalahi waktu dekat keduanya sama kuat dan saling serang dengan hebatnya, sulit dibedakan siapa lebih unggul atau asor.
Hun Ci-lo tahu bahwa lwekang sendiri kalah dibanding lawan, maka ia kerahkan tenaga murninya ke ujung pedang.
Sip-hun-kiam-hoat segera dikembangkan, dengan bekal ilmu pedangnya ini keyakinan Hun Ci-lo bertambah mantap, kelihatannya gerak pedangnya memang jauh lebih lambat, namun gaya serangannya justru jauh lebih ganas dan berbahaya, di saat-saat ia menjaga diri dengan ketat ia pun balas menyerang dengan tipu-tipu yang liehay mematikan, namun sekali ia berkesempatan balas menyerang, kilatan pedangnya sulit diukur kecepatannya.
Terdengarlah angin menderu berpadu dengan hembusan angin pegunungan, kilat menyambar menyongsong cahaya matahari yang hampir terbenam, sinar pedang dan bayangan potlot berkutat kencang timbul tenggelam saling libat, daun-daun pohon sekitar gelanggang berhamburan rontok, kelopak kembang bertaburan membundar di sekeliling gelanggang.
Lambat laun pohon-pohon di sekitar gelanggang menjadi gundul pelontos tinggal dahan-dahannya saja.
Pertempuran pedang lawan sepasang potlot ini betul-betul amat sengit dan jarang terjadi selama ini, Cau Ho-lian, Siau Gwat-sian dan Cau Ci-hwi menjublek dan terbelalak di tempatnya.
Lenyap perasaan dongkol Cau Ho-lian, tanpa sadar ia bicara kepada Siau Gwat-sian.
"Di waktu ayah dan bibi mengajarkan ilmu pedang kepada kita, pernah menerangkan ilmu pedang tingkat tinggi setiap kali bergerak harus dapat selincah kelinci, setenang permukaan kaca. Waktu itu, ibarat yang dikatakan ini bagiku terlalu dibumbu-bumbui dan kurang cocok dengan kenyataan, hanya khayalan belaka, tak tahu aku cara bagaimana manusia harus bergerak selincah kelinci, tenang seperti permukaan air? Kini setelah melihat ilmu pedang perempuan ini, baru aku sadar dan paham, kiranya begitulah jadinya."
Siau Gwat-sian pun sudah melupakan rasa marahnya tadi, sahutnya.
"Aneh, entah siapa perempuan ini, darimana pula? Kenapa dia meluruk datang membantu kesulitan kita?"
Sebaliknya Cau Ci-hwi jadi rada kuatir, katanya.
"Meski ilmu pedang perempuan ini amat ketat aneh dan kokoh, namun musuh pun terlalu kuat, belum tentu dia dapat menghalau lawannya. Apakah perlu kita maju membantunya?"
"Mungkin kita tidak kuasa mencampuri pertempuran mereka ini. Kenapa ibu belum lagi datang?"
"Seharusnya ayah sudah mendengar teriakanku, kenapa belum kunjung tiba juga? Hm, kalau mereka terlambat datang, meski bukan lawannya, kita harus melabraknya juga."
Belum habis ia bicara, tiba-tiba didengarnya sebuah suara serak berkata.
"Siapa berani bertingkah di tempat kediamanku ini?"-Lalu disusul suara perempuan tua menyambung.
"Siapa berani menganiaya putriku?"
Belum lagi bayangan mereka kelihatan, suaranya sudah berkumandang dari jauh, sedemikian keras seperti guntur suara itu sehingga kuping mereka seperti mendengung.
Ketiga muda mudi itu menjadi berjingkrak girang, sebaliknya laki-laki itu menjadi kaget.
Sebagai seorang ahli silat sekali dengar orang menggunakan ilmu gelombang suara jarak jauh, ia cukup mampu untuk menilai betapa tinggi kepandaian silat orang itu.
Mau tidak mau ia harus berpikir.
"Konon Cau Siok-toh adalah seorang ahli lwekang, suara laki-laki itu terang dia adanya, sungguh tidak bernama kosong. Entah siapa pula perempuan itu, namun dari nada gelombang suaranya tadi, ilmu silatnya agaknya tidak lebih rendah dari kemampuanku sendiri."
Belum habis ia berpikir, tampak dari pinggir hutan sana berbareng muncul seorang laki-laki tua berjenggot putih panjang dengan seorang perempuan pertengahan yang berpakaian perlente.
Laki-laki tua ini memang ayah Cau Ho-lian dan Cau Ci-Kwi yaitu Cau Siok-toh, sedang perempuan pertengahan itu adalah ibu Siau Gwat-sian yang bernama Gui Kok-ing.
"Ibu lekas kemari!"
Segera Siau Gwat-sian berteriak.
"Ayah lekas!"
Cau Ci-hwi pun tidak mau kalah suara.
"Koko terluka!"
Sedemikian lama bertempur tidak mampu mengalahkan Hun Ci-lo, hati laki-laki ini sudah gelisah, kini mendadak melihat pihak sana kedatangan bala bantuan dua orang kosen, keruan hatinya semakin gugup.
Mendadak Hun Ci-lo membentak.
"Kena!"
Sinar pedangnya membelit bundar seperti gelang secepat kilat memapas miring, kontan laki-laki itu menggerung keras, seraya jumpalitan mundur setombak lebih, lengan bajunya berlepotan darah juga, kiranya lengan kirinya sudah tertabas luka oleh pedang Hun Ci-lo.
Diam-diam Hun Ci-lo bersorak akan serangannya yang berhasil baik, ternyata dia sudah selesai melancarkan jurus-jurus ilmu Sip-hun-kiamhoat yang terakhir yaitu Heng-hun-toan-hong, jurus terakhir inilah yang berhasil melukai musuh.
Melihat Hun Ci-lo melancarkan ilmu pedang ini, sesaat Siau-hujin jadi melongo keheranan, dalam hati ia membatin.
"Bukankah itu jurus Sip-hun-kiamhoat? Apakah dia Ci-lo adanya? Ai, sayang, sayang!"
Ternyata jikalau jurus Heng-hun-toan-hong (awan melintang memutus gunung) dilatih sampai puncak yang sempurna, serangannya tadi pasti bisa menabas kutung lengan lakilaki itu.
Karena melongo ini Siau-hujin jadi lupa mencegat jalan lari laki-laki itu, tapi Cau Siok-toh sudah lari mengejarnya.
Bagaikan angin lesus laki-laki itu merebut jalan berlari lintang pukang seraya membentak.
"Siapa berani merintangi aku, biar aku adu jiwa padanya!"
"Jago yang sudah keok juga berani berkaok-kaok segala?"
Dengus Cau Siok-toh, bicara lambat kejadian amat cepat, laki-laki itu sudah menyerang dengan Sing-cay-hu-cay, menggunakan lengan kanannya yang tidak terluka.
"Serr,"
Potlotnya menusuk ke tenggorokan Cau Siok-toh.
Cau Siok-toh tidak membekal senjata, di saat serangan laki-laki itu hampir mengenai dirinya, tangkas sekali ia memotes sebatang dahan pohon sebesar jari kelingking terus digunakan sebagai pedang, kebetulan ia songsong kedatangan potlot musuh.
"Krak!"
Dahan pohon itu putus menjadi dua potong, namun potlot laki-laki itu pun terbang terpental ke tengah udara, seperti meteor jatuh ke dalam lembah. Sungguh kejut orang itu bukan kepalang, batinnya.
"Kakek tua she Cau ini benar-benar memiliki lwekang yang hebat di atas kemampuanku."
Sementara Cau Siok-toh sendiri juga terkejut, pikirnya.
"Tak heran putraku bisa terluka oleh senjata potlotnya, kiranya orang dari keluarga Lian."
Keluarga Lian adalah keluarga persilatan yang sulit diajak berembuk, suka ugal-ugalan lagi, maka Cau Siok-toh tidak ingin mengikat permusuhan dengan mereka.
setelah berhasil memukul lepas sebatang potlotnya, ia pun tidak mengejar lebih lanjut.
Namun Siau-hujin belum lagi mengetahui asal usulnya, segera ia membentak.
"Lari ke mana?"
Badannya melesat mengejar seperti anak panah, sekejap saja dengan ilmu ginkangnya yang hebat tahu-tahu ia sudah berputar menghadang di depan orang itu.
Senjata orang itu tinggal sebatang potlot, dalam keadaan yang mendesak tak sempat memindahkan senjata, terpaksa ia gunakan tangan kirinya yang terluka melancarkan Keng-sin-pithoat dengan jurus Hian-niau-hoat-sa (burung menggaruk pasir), ujung potlotnya seperti menutul seperti menusuk, menusuk ke urat nadi Siau-hujin.
"Serangan bagus!"
Puji Siau-hujin, dia tidak membawa senjata, cepat sekali ia melolos ikat pinggangnya, dengan gerak tangan yang luar biasa cepat ia kebutkan ikat pinggangnya menggulung ke depan.
Maka terdengarlah suara robekan yang keras, ikat pinggang dari kain sutra itu tertusuk berlubang dan sobek panjang dari batas tengah-tengahnya, tapi potlot di tangan laki-laki itu pun kena tergulung lepas dari cekalannya.
Cukup sedikit sendai saja potlot rampasan itu ditimpuk balik oleh Siau-hujin, lekas laki-laki itu menggunakan Hong-tiam-thau menghindar, senjata potlot sendiri melesat terbang lewat di atas kepalanya terpaut beberapa mili saja, terus terbang jatuh ke dalam jurang.
Setelah menang dalam gebrakan ini diam-diam Siau-hujin bercekat pula hatinya, pikirnya.
"Tak heran jurus Heng-hun-toan-hong Ci-lo tadi belum berhasil membuat orang ini terlalu parah, dia sudah terluka, namun masih mampu menusuk ikat pinggang sutraku."
Keruan kaget laki-laki itu seperti arwah sudah copot dari badan kasarnya, tanpa hiraukan babak belur, kontan ia menggelundung dari ketinggian batu karang sana terus meluncur ke lereng bukit di bawah sana.
Untunglah tidak kebentur batu-batu runcing, dan lagi ia ada berlatih Hou-teh-sinkang yang sudah punya dasar yang lumayan, paling-paling hanya luka-luka kulit bagian luar saja yang tidak berarti.
Sudah tentu Siau-hujin tidak sudi mengejar ke bawah meniru perbuatannya itu, tengah ia bersangsi dilihatnya Cau Siok-toh memberi kedipan mata kepadanya.
"Musuh gampang di kat sulit dilerai, biarkan dia pergi!"
Bahwa Cau Siok-toh tidak mau memperpanjang urusan, laki-laki itu tidak mau terima kebaikannya ini, setelah bergelundungan sampai di lereng bukit, untung luka-luka kecil saja, setelah menenangkan hati rasa marahnya membesarkan nyalinya pula maka dari kejauhan di bawah bukit, ia berseru lantang.
"Tua bangka she Cau, aku orang she Lian tidak sudi kau beri muka, hari ini aku mengaku kalah karena kalian keroyok, akan tiba suatu ketika, aku akan meluruk kemari bertanding dengan kau."
Kesabaran Cau Siok-toh sebenarnya amat baik, namun orang ini begitu tidak kenal aturan dan kebaikan, seketika membuat ia naik pitam, menggunakan ilmu mengirim gelombang suara jarak jauh ia menyahut.
"Baik, sewaktu-waktu kutunggu kedatanganmu, kau panggil teman untuk membantu juga boleh, seorang diri datang juga kulayani, aku hanya melawan kau seorang, biar ditentukan siapa unggul siapa asor."
Setelah pertempuran sengit berakhir, perasaan semua orang menjadi longgar, segera Siau Gwat-sian maju menghaturkan terima kasih kepada Hun Ci-lo katanya.
"Bu, sebelum kau datang tadi, sungguh keadaan kami amat berbahaya, untunglah cici ini lantas muncul membantu kami. Aih! Bu, kenapa kau! Kenapa kau tatap orang begitu rupa, kenapa kau tidak wakili aku mengucapkan terima kasih kepadanya?"
"Terima kasih apa segala?"
Ujar Hun Ci-lo.
"Aku adalah piaucimu, Bibi! Masihkah kenal padaku'"
Siau-hujin memicingkan kedua matanya, tersenyum lebar, katanya "Kiranya Ci-lo adanya, coba bi.u aku melihat lebih tegas, terakhir aku melihat kau sampai sekarang mungkin sudah dua puluh tahun lamanya?
Waktu itu kau masih orok kecil yang masih mengalirkan air liur, Gwat-sian belum lagi lahir, tak nyana hari ini baru kita bisa jumpa pula.
Kabarnya kau sudah menikah di utara, siapakah suamimu, punya anak belum?"
Pertanyaan ini seolah-olah sembilu yang menusuk pecah luka-luka Hun Ci-lo yang belum sembuh seluruhnya, sesaat ia jadi kemek-mek, tak tahu bagaimana ia harus memberi penjelasan.
Tahu orang yang menolong dirinya ternyata adalah piauci, seperti anak kecil yang mendapat permen saja lagaknya, Siau Gwat-sian berjingkrak sambil menarik lengan Hun Ci-lo, digoyanggoyangkan serta serunya tertawa.
"Piauci, aku pernah ke Soh-ciu mencari kau, apa kau sudah tahu? Siapakah piauci-hu, kenapa kau tidak datang bersama dia?"
"Ya, Siau-gu-ji yang membuka pintu itu sudah memberitahu kepadaku. Katanya kau bersama pemuda she Cau itu datang bersama, apakah Cau-toako itu?"
Baru saja Siau Gwat-sian adu mulut dengan Cau Ho-lian, sikapnya menjadi kikuk, sahutnya.
"Kiranya Siau-gu-ji itu masih ingat. Em, aku jadi lupa menanyakan keadaan bibi besar, kabarnya paman sudah meninggal, apakah bibi baik-baik saja? Apakah beliau tinggal bersama kalian suami istri?"
Siau-hujin ikut menimbrung.
"Selama puluhan tahun ini aku selalu terkenang pada kalian, hari ini kita bisa kumpul lagi, anggap saja aku sebagai ibu kandungmu. Oh ya, kenapa ibumu tidak ikut datang? Apakah kau datang seorang diri?"
Serentetan pertanyaan ini membuat Hun Ci-lo kebingungan, entah pertanyaan mana yang harus dia jawab lebih dulu, terpaksa ia tertawa dibuat-buat, sahutnya.
"Kalau dibicarakan amat panjang, kedatanganku kali ini sengaja memang mohon perlindungan kepada bibi, duduk persoalannya biarlah lain kesempatan kujelaskan saja!"
"Benar,"
Ujar Siau-hujin.
"Aku setua ini memang sudah pikun, ku-lupa baru saja kau habis bertempur sengit. Kau letih tidak, nanti di rumah kita bicara lebih lanjut."
Sanak kadang saling bertemu, sudah tentu Cau Siok-toh tidak enak menimbrung bicara, apalagi ia prihatin akan luka-luka putranya, segera ia menghampiri ke sana memeriksa luka-luka Cau Holian, setelah memeriksanya, ternyata hanya luka kulit yang ringan saja, baru legalah hatinya, tanyanya.
"Ho-lian, cara bagaimana kalian bisa bertempur dengan orang she Lian itu?"
"Yah, koko datang belakangan. Biar aku yang jelaskan, orang itu kemari hendak mencari paman Miao."
"Kalau toh dia kenalan paman Miao-mu, kenapa kalian ajak dia berkelahi?"
"Yah, kau belum lagi mendengar penjelasanku lebih lanjut. Didengar dari nada bicara orang itu, naga-naganya ia bermaksud buruk terhadap paman Miao, kalau tidak salah seperti hendak menuntut balas, jadi bukan sahabatnya!"
"Apa saja yang dia katakan?"
"Sebenarnya dia sih tidak menjelaskan permusuhannya dengan paman Miao, cuma dengan garang dia mendesak kami mengatakan jejak paman Miao kepadanya. Karena jengkel melihat kelakuan kasarnya itu, akhirnya kami berkelahi."
Cau Siok-toh menarik napas, ujarnya.
"Setelah bermusuhan dengan keparat ini, banyak kesulitan yang harus kita hadapi kelak."
Cau Ci-hwi memonyongkan mulut, serunya.
"Yah, masa kau takut?"
"Sudah tentu tidak takut. Tapi kelak bila kalian kelana di kangouw harus hati-hati!"
"Perkara kelak, kelak kita, bicarakan lagi. Yah, mari ke sana, sudah sepantasnya kami menghaturkan terima kasih kepada penolong kami itu."
Cau Siok-toh mengiakan, lalu ia gandeng putra putrinya datang menghampiri, katanya.
"Selamat kalian sanak famili bersua kembali. Hun-lihiap, beruntunglah atas bantuanmu sehingga putraku tertolong jiwanya, membikin kesulitan saja bagi kau."
"Ah, paman ini mengumpak saja, yang terang ilmu pedang putramu ini yang hebat, sebetulnya tingkat permainannya tidak di sebelah bawah orang itu, cuma tiada pengalaman menghadapi musuh tangguh, kalau orang itu tidak bertempur dulu melawan putra putri dan piaumoayku, mungkin aku sendiri juga tak ungkulan melawannya, bukan mustahil aku pun bakal terluka oleh senjata potlotnya."
Segera Siau-hujin memperkenalkan.
"Cau-siansing adalah sahabat kental pamanmu waktu beliau masih, hidup, mereka pun menjadi tetangga kami selama beberapa tahun terakhir ini."
Hun Ci-lo melenggong, katanya.
"Jadi paman juga sudah meninggal?"
Siau-hujin menghela napas, katanya.
"Kalian pindah ke Soh-ciu pada tahun Kakcu, ya bukan? Pamanmu wafat setahun sebelum kalian datang. Oleh karena itu pula untuk beberapa tahun lamanya kami meninggalkan rumah di sini, biarlah lain kesempatan kujelaskan juga kepadamu."
Melihat Siau Gwat-sian tidak mau hiraukan dirinya, mereka ibu beranak sedang sibuk bicara dengan Hun Ci-lo, dirinya sulit ikut menimbfumg bicara pula, maka Cau Ho-lian pura-pura tenaga lemah karena luka-lukanya itu, dia ketinggalan di sebelah belakang.
"Siok-toh,"
Ujar Siau-hujin.
"Apakah kau sudah tahu asal-usul orang itu?"
"Sudah tahu, laki-laki itu bermarga Lian. Menurut dugaanku, mungkin dialah yang dijuluki Liankeh-pek-bi (si alis putih dari keluarga Lian) Lian Kam-peh."
Siau-hujim mengerut kening, katanya.
"Pernahkah Miao Tiang-hong beritahu kepadamu, bahwa dia pernah mengikat permusuhan dengan keluarga Lian?"
"Miao Tiang-hong hidupnya kelana di kangouw, kawannya banyak tersebar luas, sudah tentu musuhnya pun tidak sedikit, mana bisa dia menjelaskan semua pengalamannya secara terperinci. Menurut wataknya yang keras dan pandang kejahatan sebagai musuh besarnya, bukan mustahil dia mengikat permusuhan dengan Lian Kam-peh."
"Aku sudah terlalu asing akan segala peristiwa kangouw,"
Demikian ujar Siau-hujin.
"tapi kudengar katanya selama dua puluhan tahun ini, keluarga Lian mereka sudah tutup pintu dan tidak mengikuti percaturan kaum persilatan lagi, jadi tidak pernah bertingkah lagi menggunakan kekuasaan dan wibawa keluarga mereka? Entah kenapa Lian Kam-peh ini tidak mematuhi aturan dan undang-undang keluarganya?"
"Memang menurut apa yang kutahu, begitulah kejadiannya. Kira-kira dua puluh tahun yang lalu, ciangbunjin Lian-keh-pit mereka yaitu Lian Seng-hou pernah sudi diperbudak oleh Coh Cinyong dorna yang berkuasa pada waktu itu, disogok harta dan pangkat ia tinggalkan kedudukan ciangbun-jinnya, terima bertekuk lutut menjadi pengawal pribadi si dorna itu. Suatu ketika dia disuruh Coh Cin-yong mengantarkan kado kepada Say Bing-hiong panglima besar yang berkuasa di Se-jiang, maka para pendekar berikrar hendak memberi sedikit hukuman kepadanya, akhirnya Le Lam-sing thocu Ang-ing-hwe sekarang turun tangan bersama Li Tun, hu-pangcu dari Liok-happang sekarang, dia dicegat di tengah jalan, Lian Seng-hou, terkalahkan di bawah pedang Le Lamsing, lambungnya terluka pula oleh jarum berbisa Li Tun, ilmu silatnya punah sama sekali. Akhirnya Lian Seng-hou bersumpah untuk memperbaiki cara hidupnya, sejak saat itu menutup pintu menanggalkan senjata, Li Tun baru mau memberikan obat pemunah.
"Setelah mengalami pengalaman pahit ini, Lian Seng-hou mematuhi janjinya itu, sejak itu menyembunyikan diri tidak pernah muncul di kangouw. Malah dia memperingatkan kepada anak muridnya, melarang mereka membuat onar di luaran. Maka wibawa keluarga Lian semakin tenggelam dan pudar selama beberapa tahun belakangan ini."
Kata Siau-hujin.
"Mungkin karena tertekan oleh keadaan di luar maka Lian Seng-hou sementara terima menutup pintu menggantung senjata, sebetulnya hatinya ingin berontak, sikap diamnya itu hanya pura-pura belaka, secara sembunyi-bunyi ia masih mengikat hubungan rahasia dengan pihak kerajaan."
"Jadi kau curiga Lian Kam-peh ini memperoleh petunjuk pamannya, secara diam-diam bekerja bagi kepentingan kerajaan?"
Demikian tanya Cau Siok-toh.
"Entah apakah Miao Tiang-hong seorang tokoh dari pahlawan melawan pemerintah kerajaan atau melanggar undang-undang apa?"
"Hubunganku dengan Miao Tiang-hong cukup kental, tapi rahasia macam itu dia tidak akan mau bicara dengan aku.Tapi menilai wataknya yang keras amat benci terhadap kejahatan, kedua reka-anmu tadi kemungkinan besar bisa terjadi."
Siau-hujin menghela napas, ujarnya.
"Kalau rekaanku tidak meleset, hidup kita selanjutnya pasti menghadapi banyak kesulitan."
"Beberapa hari lagi biar kuber-tamu ke rumah Tan Thian-ih, kuharap dari sana bisa mencari berita yang kita perlukan."
Siau-hujin ibu beranak bersama Hun Ci-lo dan Cau Siok-toh berjalan di sebelah depan sambil bicara panjang lebar mengenai peristiwa Lian Kam-peh tadi, sementara Cau Ho-lian dan adiknya ketinggalan jauh di belakang, mereka pun sedang bicara bisik-bisik.
Karena Siau Gwat-sian tidak menghiraukan, Cau Ho-lian merasa kikuk dan serba salah, sengaja ia berjalan lambat biar ketinggalan di belakang.
Cau Ci-hwi tahu engkoh-nya ini masih ada ganjalan hati, maka ia pun perlambat langkahnya, secara bisik-bisik ia bertanya.
"Koko, kenapa kau hari ini? Hawa sejuk udara nyaman, keadaanmu sebaliknya seperti cuaca di musim semi, hujan angin atau terang tak menentu."
"Apa maksud kata-katamu ini?"
Tanya Cau Ho-lian dongkol.
"Masa ucapanku salah? Dengan nekad kau berusaha menolong jiwa adik Siau, kenapa pula kau jadi marah kepadanya?"
"Kau sendiri sudah tahu, pura-pura tanya segala?"
"Aku tahu apa?"
"Pertengkaran kalian tadi aku mendengar semua!"
Merah muka Cau Ci-hwi, katanya.
"Akulah yang harus disalahkan. Sebetulnya tujuanku demi kebaikanmu, maka sengaja hendak kukorek isi hatinya, sayang lidahku kaku mulutku lugu tidak pandai bicara, tahu-tahu lantas ajak dia bertengkar. Kukira kata-katanya di waktu bertengkar dengan aku pasti diucapkan dengan rasa kemarahan, kenapa kau anggap sungguh-sungguh?"
T "Dalam berbagai bidang memang aku tidak ungkulan dibanding orang, hal ini aku tahu sendiri."
Cau Ci-hwi amat menyesal, katanya.
"Koko, jadi kau sedang marah kepadaku. Akulah yang berkata demikian. Tapi dia toh tidak ikut mengatakan begitu, juga tidak mengatakan tidak suka kepadamu, cuma dia tidak mau mengakui berhubungan intim dengan kau, sebagai anak perempuan adalah jamak kalau mukanya tipis, di mulut ia tidak banyak bicara, namun hatinya amat baik terhadapmu. Tadi bukankah dia hendak membalut lukamu? Ai, kau sendirilah yang bersikap kasar menolak maksud baiknya. Koko, cukup asal kau minta maaf kepadanya urusan kan beres!"
Cau Ho-lian mendengus ringan, katanya.
"Kau tidak perlu membela boroknya, bagaimana sikapnya terhadap aku, aku sendiri paham."
Cau Ci-hwi angkat pundak, ujarnya.
"Koko, aku sudah salah karena banyak curiga terhadapnya. Kau sendiri pun jangan terlalu banyak hati."
Di sebelah depan pembicaraan Siau-hujin kebetulan sedang berhenti, lapat-lapat ia mendengar suara dengusan Cau Ho-lian ini, sontak ia sadar dan berkata.
"Aku jadi lupa Ho-lian terluka, apakah bisa jalan?"
Lekas Cau Ho-lian menjawab.
"Tidak apa-apa, hanya luka kecil saja terima kasih akan perhatian bibi."
Siau-hujin memperlambat langkah menunggu mereka kakak beradik menyusul datang, katanya tertawa.
"Anak muda seharusnya berkumpul dengan anak muda, Gwat-sian, Lian-kokomu terluka, kenapa tidak kau temani dia?"
Siau Gwat-sian menyahut tawar.
"Piauci baru datang, aku terlalu asyik bicara dengan dia, jadi lupa!"
"Aku tidak akan segera pergi, masih banyak waktu untuk bicara, lekaslah kau rawat luka-luka Cau-toako,"
Demikian timbrung Hun Ci-lo.
"Hun-Iihiap,"
Kata Cau Ho-lian.
"Terima kasih akan bantuan dan pertolonganmu, lukaku ini hanya luka ringan saja, tidak banyak mengganggu kesehatanku, tidak usah dirawat segala."-Nada bicaranya kedengaran kaku dan dingin, semua orang merasakan hal ini. Siau Gwat-sian menggigit bibirnya, tidak banyak bicara lagi. Rumah kediaman keluarga Siau dan Cau berderetan menjadi tetangga, sambil bicara itu tahutahu mereka sudah tiba di ambang pintu rumah, segera Siau-hujin mengundang.
"Apakah kalian tidak mampir sebentar?"
"Tidak usahlah, keponakanmu baru datang, kami tidak banyak mengganggu lagi."
"Baiklah, anak Lian malam ini kau harus istirahat baik-baik, besok biar kuajak Sian-ji menilik kau."
"Terima kasih!"
Sahut Cau Ho-lian tawar. Kali ini ayahnya pun merasakan sikap kaku dan nada bicaranya yang dingin. Cau Siok-toh lantas deliki putranya, katanya.
"Lihat betapa bibi Siau amat prihatin akan kesehatanmu, kau harus tahu banyak di untung."
Sampai di dalam rumah, berkatalah Siau-hujin.
"Sian-ji, apakah kau tadi bertengkar dengan engkoh Lianmu?"
"Tidak, dia tidak mau hiraukan aku, masa aku harus membungkuk-bungkuk terhadapnya?"
"Lha, itu kan bertengkar? Kalau tidak bertengkar masa saling purikan segala. Ai, aku jadi tidak paham apa saja persoalan di antara kalian, hari ini baik, besok berteng-' kar, selalu ada persoalan saja."
Siau-hujin menyangka hanya purikan muda mudi umumnya saja, di luar tahunya bahwa peristiwa hari ini justru lain dari biasanya.
Piauci-moay yang selamanya belum pernah bertemu hari ini berkumpul, seharusnya hal ini merupakan suatu yang menggembirakan, namun karena peristiwa tadi siang, hati Siau Gwat-sian menjadi masgul.
Setelah makan malam, duduk sebentar ajak bicara dengan piaucinya, lantas dia berkata kepada ibunya.
"Bu, kepalaku pening."
Lalu pergi tidur lebih dulu. Siau-hujin geleng-geleng kepala, katanya menghela napas.
"Bocah ini memang memusingkan kepala! Di kata besar belum dewasa, dikatakan kecil sudah cukup umur, segala tingkah lakunya, harus selalu kuawasi!"
"Putra keluarga Cau itu cukup baik,"
Demikian ujar Hun Ci-lo.
"Kenapa bibi tidak lekas-lekas mengikat perjodohan mereka saja."
"Beberapa tahun yang lalu usia piaumoaymu masih rada kecil, semula aku hendak menunggu setelah dia menanjak usia delapan belas baru mengikat pertunangan, siapa sangka belakangan ini mereka kelihatannya tidak akur malah, entah mengapa selalu purikan, membuat aku kuatir saja."
"Meski sering bertengkar atau purikan biasa, jikalau mereka memang saling cinta pertunangan tetap boleh dilangsungkan. Tapi tunggu satu dua tahun lagi setelah mereka lebih dewasa baru mengikat jodoh ini juga lebih baik,"
Hun Ci-lo tahu seluk beluk pertengkaran itu, cuma ia tidak bicarakan kepada bibinya, dalam hati ia membatin.
"Nanti setelah perasaan piaumoay sudah tentram, pasti dia bisa berpikir dengan cermat siapakah yang harus menjadi pilihannya. Semoga dia tidak seperti keadaanku yang mengesampingkan jodoh setimpal."
"Benar,"
Ujar Siau-hujin.
"kau belum lagi beritahu kepadaku, kau menikah dengan putra keluarga siapa? Apakah kalian suami istri bisa hidup rukun, kenapa kali ini kau tidak datang bersama suamimu, apakah ada ganjalan hati yang sulit kau jelaskan?"
Memang Hun Ci-lo punya ganjalan hati yang sulit diterangkan, kata-kata bibinya ini justru menusuk ke ulu hatinya yang terluka, serta merta merah kedua matanya. Kata gadis baju merah jambon.
"Pertandingan beberapa hari yang lalu, aku selalu kena kau kalahkan dalam jurus permainan itu melulu, aku sendiri merasa selama ini belum mendapat kemajuan apa-apa, kenapa hari ini kau kena kuka-lahkan? Watakmu yang keras itu masa mandah terima dikalahkan oleh orang lain? He he, kurasa dalam hal ini pasti ada apa-apanya yang aneh?"
"Apanya yang aneh?"
Jelilatan mata bening gadis baju merah jambon, dengan lirikan penuh arti ia berkata dengan nada dibuat-buat.
"He he, masa tiada yang aneh? Aku jadi ingin bertanya kepadamu, kenapa mendadak kau jadi gemar mengenakan pakaian warna putih?"
"Justru pertanyaanmu ini yang aneh, aku suka mengenakan pakaian warna apa peduli amat pada kau? Apakah ada sesuatu yang kurang benar?"
"Belum tentu demikian, mungkin karena si dia pun suka mengenakan pakaian putih, maka kau pun ikut-ikutan, benar tidak?"
Gadis baju putih menjadi jengkel, semprotnya.
"Apa-apaan maksudmu ini?"-Nadanya kedengaran tidak wajar, air mukanya pun berubah ketus. Gadis baju merah jambon berkata dingin.
"Tan-jikongcu dijuluki Pek-bau-kiam-khek. Sebelum dia datang, belum pernah kudengar kau mengatakan menyukai warna putih metah!"
"Kau, apa katamu? Kau sangka aku hendak mencari hati kepada Tan-kongcu itu."
"Hatimu sendiri yang paham,"
Jengek gadis baju merah jambon.
"Memangnya Tan-kongcu dari keluarga persilatan yang kenamaan, ayahnya adalah Tan Thian-ih, engkohnya adalah Tan Kongcau, ilmu silat dan ilmu sastra Tan-jikongcu sendiri pun boleh dibanggakan, mana bisa engkohku dibandingkan dia, tidaklah heran bila ada orang yang suka yang baru melupakan yang lama!"
Demikian sindirnya. Berpikir Hun Ci-lo.
"Kiranya pemuda yang memetik harpa itu adalah putranya Tan Thian-ih, kedua gadis ini sedang bertengkar karena jelus terhadap pemuda tampan itu. Tapi maksud mereka agaknya menjadi kabur karena daun jatuh ada maksud, air berlalu tiada membawa cinta."
Ternyata Tan Thian-ih adalah seorang bulim cianpwe yang berkedudukan tinggi dan terpandang serta disanjung puji oleh sesama kaum persilatan, beliau sama kedudukan dan sama tingkat dengan ayahnya Kim Tiok-liu yaitu Kim Si-ih.
Tan Thian-ih punya dua orang putra.
Putra pertama Tan Kong-cau merupakan tokoh kenamaan di kalangan kartgouw juga, usianya sudah mendekati empat puluh tahun.
Anaknya bungsu dilahirkan di waktu Tan Thian-ih sudah mencapai umur pertengahan, tahun ini baru berusia duapuluhan tahun.
Keluarga Tan tinggal di Bok-siusiang yang terletak di pinggir Thay-ouw, termasuk warga kota Soh-ciu bersama keluarga Song dari leluhur Song Theng-siau.
Kedua keluarga sama-sama keluarga persilatan pula, di waktu ayah Song Theng-siau masih hidup, Song Theng-siau pernah ikut ayahnya bertamu ke rumah keluarga Tan.
Maka Hun Ci-lo juga pernah dengar perihal keluarga Tan ini dari cerita Song Theng-siau.3' Mendengar sampai di situ sedikit banyak Hun Ci-lo sudah dapat menyimpulkan sesuatu.
Bahwa gadis baju putih she Siau, tidak perlu disangsikan lagi pasti adalah piaumoaynya.
"Pemuda she Cau yang dituturkan Siau-gu-ji itu, mungkin adalah abang dari gadis baju merah jambon ini. Engkohnya itu menyukai piaumoayku, mungkin belum ada ikatan perjodohan, kini piaumoay ternyata jatuh hati pada Tan kongsi, sudah tentu gadis baju merah jambon merasa penasaran dan marah bagi engkohnya,"
Demikian batin Hun Ci-lo.
"Keduanya sama kusukai, tapi aku hanya bisa anggap mereka sebagai adik kecilku saja."
Teringat kata-kata pemuda jubah putih itu, tanpa merasa Hun Ci-lo tertawa getir bagi pertengkaran yang lucu ini.
Menurut rencana Hun Ci-lo begitu pertandingan pedang kedua gadis ini selesai segera ia hendak unjukkan diri, untuk berkenalan dengan piaumoaynya ini, secara tidak sengaja ia sudah mencuri dengar rahasia relung hati mereka, ia jadi kurang enak untuk segera muncul pada waktu itu juga.
Gadis baju merah jambon mendesak demikian rupa, kata-katanya memang rada menusuk perasaan, apa lagi kata-kata 'mendapat yang baru melupakan yang lama', keruan berganti-ganti air muka gadis baju putih, merah-hijau dan pucat, tak tahan lagi ia sudah hampir meledak kemarahannya.
Sejak kecil kedua nona ini memang sudah biasa dimanjakan dan diumbar secara bebas, gadis baju merah jambon merasa sirik dan dongkol tak tahan ia limpahkan perasaan hatinya secara gamblang, tanpa kepalang tanggung malah ia menambahkan.
"Tepat mengenai borok hatimu bukan. Huh. Kau marah pun aku tidak takut, aku harus bicara secara blak-blakan, engkoh-ku bersikap begitu baik kepadamu, namun sekarang kau begitu cepat lantas kena penyakit rindu terhadap orang luar yang baru saja kau kenal, apakah sikapmu ini dapat kau pertanggung jawabkan kepada engkohku?"
Memang kemarahan gadis baju putih sudah hampir meledak, mendengar nistaan yang begitu memalukan dan menusuk perasaan, seperti api disiram minyak, seketika berkobar besar amarahnya, jengek-nya dingin.
"Kenapa pula bila eng-kohmu memang baik dengan aku? Coba kau tanyakan kepada dia, pernahkah aku meluluskan sesuatu kepadanya? Tapi kau pun tidak perlu kuatir, aku tidak akan berebut kekasih dengan kau?"
"Kau, apa katamu?"
Damprat gadis baju merah jambon dengan muka beringas.
"Isi hatimu kau kira dapat mengelabui aku?"
Demikian balas sindir gadis baju putih.
"Kau sendiri yang ingin menikah dengan Tan-kongcu itu, kau kira aku tidak tahu? Hm, jauh-jauh mengundang Miao Tiang-hong untuk menjadi comblang, sayang orang tidak suka kepadamu!"
Olok-olok ini pun cukup pedas, keruan gadis baju merah jambon naik pitam, alisnya berdiri, semprotnya tertawa dingin.
"Lalu dia penujui kau ya?"
"Kau kira aku tidak tahu malu seperti kau, menyuruh orang tuanya mengundang orang bertamu ke rumahnya sendiri."
"Kau, kau, coba kau katakan lagi, katakan lagi..."
Damprat gadis baju merah jambon berjingkrak gusar.
Setelah bicara dan melihat sikap orang, baru gadis baju putih menyadari mulutnya terlalu mengumbar adat, diam-diam ia merasa menyesal, namun melihat gadis baju merah jambon naik pitam, dia pun tidak mau unjuk kelemahan.
"Anggapmu aku tidak berani mengatakan. Apakah kau hendak ajak berkelahi?"
"Siau Gwat-sian!"
Bentak gadis baju merah jambon.
"Kau kira aku takut menghadapi kau! Baik, loloskan pedangmu, mari kita lanjutkan pertandingan ini."
"Cau Ci-hwi!"
Gadis baju putih juga tidak kalah perbawa.
"Tadi kau mengolok latihan ilmu pedangku kurang matang, memang aku ingin mohon petunjuk dari kau, mari kita lanjutkan pertandingan ini secara sungguh-sungguh! Nah, bertanding ya bertanding memangnya kau anggap aku takut kepadamu?"
Begitulah damprat mendamprat, keadaan kaku ini menjadi tegang seperti anak panah yang sudah dipentang di atas busur tidak bisa tidak harus dilepas, kedua pihak sama-sama melolos pedang, ternyata bukan main-main mereka bertempur secara sungguh-sungguh.
Maka terdengarlah benturan senjata berulang-ulang, sekejap saja kedua pedang mereka sudah saling bentur tujuh delapan belas kali.
Gadis baju merah jambon me-rangsak dengan sengit, pedangnya menyerang dari kiri dan kanan, tipu-tipu pedang yang didendangkan tadi sekaligus dilancarkan dengan gencar, tapi gadis baju putih pun bertahan dengan kokoh kuatnya, permainan pedangnya pun menggunakan tiputipu pedang yang dimainkan mengiringi bunyi syair yang didendangkan tadi, namun di samping membela diri ia pun balas menyerang.
Masing-masing menggunakan dua jurus serangan, namun keempat jurus serang-menyerang ini jauh berbeda dari permainan latihan tadi.
Hun Ci-lo jadi berpikir.
"Tak heran Tan Kong-si anggap mereka masih berjiwa kanak-kanak, masih belum tahu urusan. Kalau keributan ini dilanjutkan terus mereka pasti akan semakin kalap, tidak mungkin aku berpeluk tangan saja."
Di saat Hun Ci-lo hendak keluar melerai inilah, tiba-tiba ada seorang menerobos keluar dari hutan sebelah sana, serunya.
"Wah ramai benar pertempuran ini, sungguh bagus. Ayo serang, gasak saja! Eeh, kenapa tidak diteruskan? Apakah tamu tidak diundang aku ini mengganggu kalian?"
Hun Ci-lo sembunyi di belakang sebuah pohon mencuri lihat, tampak seorang laki-laki besar yang mengenakan topi kulit biruang yang lancip tinggi, mengenakan mantel berbulu dari kulit musang, punggungnya melembung besar, terang ia menyoreng senjata, yang disembunyikan di balik mantelnya itu.
Hun Ci-lo rada terkejut, batinnya.
"Kapan orang ini tiba di sana, sedikit pun aku tidak tahu."
Soalnya perhatiannya terlalu ditumpahkan kepada kedua gadis yang sedang bertempur itu.
Tapi bahwa laki-laki ini bisa muncul di pinggir gelanggang baru bisa diketahui olehnya, sudah tentu kepandaian silatnya tidak sembarangan.
Sebetulnya Siau Gwat-sian dan Cau Ci-hwi sudah tidak ingin melanjutkan lagi, kini diganggu pula oleh kedatangan orang asing ini, kebetulan mereka lantas menghentikan pertempuran.
Keduanya sama-sama menarik pedang dan mundur selangkah serta membentak.
"Siapa kau?"
Kata laki-laki itu.
"Kalian sudah cukup belum bertempur? Bagus, sekarang aku bisa tanya kepada kalian!"
"Apakah sudah tuli?"
Semprot Siau Gwat-sian.
"Kutanya kau, siapa kau? Kau dengar tidak?"
"Sudah dengar. Tapi aku harus tanya kalian lebih dulu, setelah kalian menjawab pertanyaanku baru kujawab pertanyaanmu!"
Siau Gwat-sian menggenggam gagang pedang dengan kencang, pedang melintang di depan dada, matanya mendelik gusar, dengusnya.
"Kau ini barang apa, berani bertingkah di tempat ini."
Cau Ci-hwi sendiri juga menjadi uring-uringan, namun ia berlaku rada kalem, katanya marah.
"Adik Siau, biar kita dengar dulu apa yang hendak dia tanyakan."
Kata laki-laki itu.
"Apakah Miao Tiang-hong datang kemari bersama Tan Kong-si, pernah bertamu dan menginap di rumah kalian bukan?"
"Kalau benar mau apa? Kalau tidak, kau mau apa pula?"
Tanya Cau Ci-hwi.
"Ke mana dia sekarang? Apakah pulang ke rumah keluarga Tan lagi?"
Tanya laki-laki itu lebih lanjut.
"Kau bertanya begitu berbelit-belit, apa tujuanmu?"
Jengek Cau Ci-hwi. Laki-laki itu menyeringai, katanya dingin.
"Sekarang, akulah yang bertanya kepada kalian, kalau tahu diri kalian budak-budak kecil ini harus menjawab pertanyaanku dengan baik, kalau tidak..."
"Hwi-ci, masa kau mandah terima dihina begini. Main ancam segala, hm, kalau tidak kau mau apa?"
Damprat Siau Gwat-sian.
"Kalau tidak bicara secara terang-terangan mengenai jejak Miao Tiang-hong, ayah bunda kalian pun akan terseret di dalam persoalan ini."
Mendadak Cau Ci-hwi tertawa dingin.
"sret"
Pedangnya lantas menusuk kepada orang, serunya.
"Aku sih ingin menjawab, cuma pedangku ini tidak kenal siapa kau, boleh kau tanya kepadanya lebih dulu."-Ternyata Cau Ci-hwi berwatak lebih berangasan, ia tidak tahan lagi mengendalikan amarahnya. Pertama ia merasa tertarik, kedua ia pun ingin mempermainkan laki-laki ini, maka dia suka dengar pertanyaan yang bertumpuk-tumpuk itu. Cau Ci-hwi seumpama kuda pingitan yang belum pernah kelana jauh dari rumahnya, biasanya kalau latihan pedang bersama engkoh-nya, engkohnya selalu mengalah kepadanya, para tamu yang sering datang hilir mudik pun suka memuji kepandaiannya cukup hebat, dikatakan tunas muda yang berkecimpung di dunia persilatan jarang yang setanding dengan kepandaiannya sekarang, dia percaya semua obrolan-obrolan dan puji-pujian orang-orang itu, di saat melancarkan serangan, dalam hati masih takut-takut, kuatir cara turun tangannya tidak mengenal batas, sekali tusuk ia bikin mampus laki-laki ini. Maka ia membatin.
"Lebih baik membikinnya terluka sedikit saja, mengampuni jiwanya untuk ditanyai keterangannya."
Di luar tahunya bahwa laki-laki besar ini ternyata adalah seorang ahli silat dalam kalangan bulim, meski latihan ilmu pedang Cau Ci-hwi tingkat tinggi yang liehay, sayang lwekangnya masih terlalu rendah, kalau dibanding lawannya, terpautnya amat jauh sekali.
Begitu Cau Ci-hwi menusuk dengan pedangnya, laki-laki besar itu bergelak tertawa, serunya.
"Budak cilik yang belum tahu tingginya langit dan tebalnya bumi, biar kau tahu keliehayanku."
Menanti ujung pedang sudah dekat hampir mengenai badannya, tiba-tiba ia selentik-kan jari tengahnya.
"creng"
Pedang Cau Ci-hwi kena diselentik dan terpental miring, seketika ia rasakan telapak tangannya pedas dan sakit bukan main, hampir saja ia tidak kuasa memegangi pedangnya lagi.
"Hwi-ci jangan gugup!"
Segera Siau Gwat-sian berseru sambil menubruk maju.
"Biar kubantu kau!"
Tusukan pedangnya menyambar deras mengeluarkan deru angin. Dalam hati diam-diam Hun Ci-lo memuji.
"Meski usia piaumoay lebih muda, namun ilmu pedangnya ternyata lebih matang dan mahir dari nona Cau!"
Laki-laki itu pun tercekat hatinya, pikirnya.
"Nona cilik ini ternyata tidak boleh dipandang rendah."
Mundur selangkah tiba-tiba ia membalik badan, mendadak ia lancarkan pukulan tangan terobosan, kepalannya menjurus ke atas menghantam ke muka orang.
Jurus pukulan ini punya nama khusus yaitu Jong-thian-bau (bom menembus langit), cara pukulannya keras menggunakan tenaga kasar lagi, maka dapatlah diperkirakan perba-wanya.
Meski ilmu pedang Siau Gwat-sian tidak lemah, sedikit pun tidak punya pengalaman menghadapi musuh tangguh, kapan ia pernah melihat atau menghadapi cara pertempuran yang garang dan ganas macam ini, keruan hatinya menjadi gugup.
Cepat Cau Ci-hwi berteriak.
"Gunakan jurus Sebuah Kota Terpencil! Adik Siau, mari kita menyerang dan menjaga bergantian, gempur dia dari dua jurusan tidak usah takut!"-Memang kematangan ilmu pedangnya tidak sebanding Siau Gwat-sian, tapi hatinya lebih tabah dan besar nyalinya, meski tadi hampir saja kena dikerjai lawan, namun sikapnya amat tenang, setelah mundur segera ia merangsek maju lagi lebih gencar.
"Cras!"
Ujung pedangnya menusuk tiba pula dengan gaya rada miring, ujung pedangnya langsung menusuk ke depan dengan cara serangan yang ganas dan keji, yang digunakan adalah jurus permulaan dari ilmu pedang yang dilatihnya tadi.
Karena peringatan itu lekas Siau Gwat-sian mengempos semangat, sebat sekali ia gunakan Hong-tiam-thau, berkelit seraya mengubah jurus permainannya, tahu-tahu Ceng-kong-kiam bergerak mem-bundar satu lingkaran, seketika berpetalah sinar pedang berkeredep membawa sambaran hawa dingin, penjagaan yang rapat diselingi serangan yang cepat pula, begitu rapat pertahanannya, tidak tertem-buskan oleh hujan badai pun.
Diam-diam Hun Ci-lo memuji dalam hati.
"Bagus! Jurus pedang piaumoay ini dilancarkan jauh lebih bagus dari latihannya tadi. Kalau begitu, di waktu latihan tadi memang pikirannya tidak tenang. Jadi tuduhan nona Cau itu ternyata tidak semena-mena."
Laki-laki itu pun seorang ahli silat, melihat Siau Gwat-sian lancarkan jurus pedang yang mengandung pertahanan kokoh kuat ini, jotosannya itu jadi tidak berani diteruskan.
Cepat ia merubahnya dengan gaya Jiu-hwi-bi-ba (jari-jari memetik senar harpa), sekaligus ia sampuk pergelangan tangan Cau Ci-hwi, berbareng badannya berputar, mengebaskan lengan bajunya, sekaligus ia menyampuk miring ujung pedang Siau Gwat-sian.
Kepandaian silat orang ini cukup tinggi, namun di bawah rang-sakan gencar Siau dan Cau berdua dari dua jurusan, melawan dengan bertangan kosong lagi, lama kelamaan ia merasa kewalahan juga.
Semula Hun Ci-lo sudah siap menerjunkan diri, setelah melihat mereka di pihak yang unggul, ia menghela napas lega, dengan segala perhatian ia menyaksikan dengan cermat.
Tadi Cau Ci-hwi diolok-olok orang, begitu ia berada di atas angin ia jadi takabur, jengeknya dingin.
"Mulut bicara besar, ternyata hanya begini saja kemampuanmu! Hm, hm, ingin aku lihat siapakah yang tidak tahu tingginya langit tebalnya bumi!"-Tidak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi adalah kata olok-olok yang digunakan laki-laki tadi, kini ia membalas olok-olok menggunakan istilah yang sama. Mulut bicara sementara gerak permainan pedangnya sedikit pun tidak menjadi kendor karenanya, dalam kejap bicara itu, beruntun Cau Ci-hwi sudah melancarkan tujuh serangan berantai. Sebaliknya sambil menjaga diri permainan pedang Siau Gwat-sian mengandung tipu-tipu penyerangan pula, beruntun dia pun sudah lancarkan empat jurus sembilan tipu rang-sakan. Pada jurus terakhir mereka menemukan titik keserasian kerja sama yang amat ketat, begitu hebat dan indah sekali perpaduan jurus-jurus ilmu pedang yang dilancarkan bersama ini, maka terdengarlah suara "Brett"
Yang panjang, lengan baju orang itu kena terpapas sobek sebagian besar, di mana sinar pedang berkelebatan amat cepatnya cuilan kain itu seketika kena terpapas hancur beterbangan seperti kupu-kupu melayang di tengah udara.
Mendadak laki-laki itu mencelat keluar dari gencetan perpaduan rangsakan pedang yang liehay itu, bentaknya marah.
"Biar budak-budak cilik seperti kalian ini rasakan keliehayanku!"
Baru saja Cau Ci-hwi hendak mengejar, tampak olehnya orang itu sudah keburu mengeluarkan sepasang boan-koan-pit, dengan tangan bersenjata, seperti harimau kelaparan laki-laki itu segera menyerbu dengan garangnya.
Begitu membagi sepasang senjatanya, yang kiri langsung meno-tok ke Hiat-to Ki-bun-hiat Cau Ci-hwi, sementara senjatanya yang kanan menotok Hiat-hay-hiat Siau Gwat-sian.
Terdengarlah "trang, trang"
Dua kali, dua batang Ceng-kong-kiam berhasil disampuknya terpental ke samping.
Begitu laki-laki ini melancarkan ilmu potlofnya, posisi pertempuran seketika berubah sama sekali, cukup sejurus saja, bukan saja ia berhasil memunahkan rangsakan pedang kedua lawannya, beruntun ujung potlotnya malah mengancam dua jalan darah di tubuh mereka.
Caranya yang tepat dan ganas sungguh amat mengejutkan, Hun Ci-lo yang menonton dari tempatnya sembunyi jadi terkejut.
Beruntun terdengarlah benturan senjata yang nyaring berulang-ulang, begitu keras sampai memekakkan telinga.
Memang jurus permainan pedang Siau Gwat-sian amat rapat pertahanannya, tapi toh kena dijebol berantakan, suara benturan keras itu berbunyi di saat potlot lawan berhasil membobol pertahanannya, di mana pedang dan potlot saling beradu dengan keras, seketika kedua senjata itu sudah saling bentur tujuh belasan kali.
Orang itu tertawa dingin, jengeknya.
"Hah! Kukatakan kalian tidak tahu tingginya langit tebalnya bumi, tidak salah bukan penilaianku? Tapi aku jadi bingung sendiri entah siapa di antara kalian yang harus kugondol pergi, sulit aku ambil pilihan!"
Tiba-tiba Cau Ci-hwi berteriak.
"Ayah, ada orang menganiaya putrimu, lekaslah datang!"
Siau Gwat-sian pun ikut berteriak.
"Ibu, lekas bantu aku!"
Orang itu tertawa dingin, ejeknya.
"Kaok-kaok kau panggil ayah bunda pun tidak berguna, kecuali kalian menjelaskan jejak Miao Tiang-hong kepadaku, kalau tidak salah satu di antara kalian harus kubawa pergi, dengan kalian sebagai sandera, masa aku tidak bisa menemukan jejak Miao Tiang-hong. Nona cilik, kau mau menjelaskan tidak? Nona cilik kau mau menerangkan tidak?"
Batang potlotnya mendadak menuding ke arah Cau Ci-hwi, tiba-tiba potlotnya yang lain menusuk kepada Siau Gwat-sian, beruntun ia menggerakkan senjatanya sambil mengajukan pertanyaannya.
Cau Ci-hwi mengertak gigi, dia melawan dengan tabah, adalah Siau Gwat-sian yang naik pitam, makinya.
"Kentutmu busuk, kau kira kami sudi menjual kawan minta ampun kepadamu, jangan kau mimpi di siang hari bolong!"
"Bagus!"
Seru orang itu.
"Budak kau ini bermulut lebih tajam, aku justeru ingin bicara kepadamu, mari kau saja yang ikut aku!"-Tiba-tiba ia pukulkan kedua potlotnya sendiri, sekaligus ia berhasil menangkis jatuh pedang Siau Gwat-sian. Begitu senjata Siau Gwat-sian kena dilucuti segera ia, putar tubuh hendak lari. Laki-laki itu segera membentak.
"Lari ke mana kau?"
Seperti elang kelaparan menubruk kelinci, tubuhnya tiba-tiba berkelebat ke depan mengejar di belakang Siau Gwat-sian, kedua senjatanya dipindahkan ke tangan kanan, cepat tangan kiri diulurkan meraih ke depan mencengkeraan ke tulang pundak Siau Gwat-sian.
Cepat-cepat Cau Ci-hwi memburu maju, dia sudah terlambat setindak.
Hun Ci-lo mengeluh dalam hati, baru saja ia hendak menyambitkan sebuah uang tembaga yang sudah digenggamnya sejak tadi, tiba-tiba didengarnya seorang membentak.
"Menganiaya anak perempuan terhitung orang gagah macam apa kau!"--Lenyap suaranya orangnya pun sudah tiba, laksana anak panah melesat datang langsung menerjang ke arah laki-laki.
"Toako!"
Teriak Cau Ci-hwi.
"Syukurlah kau datang, hati-hati! Awas ilmu totoknya liehay!"
Ternyata pendatang ini adalah engkohnya yang bernama Cau Ho-lian.
Senjata yang digunakan Cau Ho-lian adalah sebatang pedang yang berpunggung tebal dan berat, mengayun pedangnya digunakan membacok seperti golok umumnya, langsung ia menyerang ke batok kepala orang itu.
Melihat serangan yang keras dan ganas ini, tak sempat lagi orang itu mencengkeram kepala Siau Gwat-sian, lekas ia membagi kedua senjatanya di kedua tangannya, dengan jurus Ki-hwe-liau-thian (angkat obor menerangi langit), ia menyongsong ke arah bacokan pedang lawan.
Berpikir Hun Ci-lo.
"Pemuda ini menerjang kalap tanpa hiraukan keselamatan sendiri, sepak terjangnya memang gagah dan berani, cuma sayang tidak punya akal, mungkin dia pun bukan tandingan orang itu."
Belum lenyap jalan pikirannya, didengarnya suara "trang!"
Yang keras, bunga api beterbangan. Pedang panjang tebal Cau Ho-lian tergumpil sedikit, kena disampuk keluar oleh tangkisan sepasang potlot lawan.
"Bagus,"
Seru orang itu.
"Kau meluruk datang mau unjuk gagah-gagahan, ingin aku lihat betapa, tinggi kepandaianmu?"
Kedua potlotnya bergerak cepat ke kiri ke kanan seperti orang sedang bercocok tanam di ladang, begitu berhasil menyampuk miring pedang lawan, tanpa ampun segera ia melancarkan serangan ganas yang mematikan.
Mau tidak mau Hun Ci-lo terkejut pula dibuatnya, batinnya.
"Agaknya permainannya itu adalah Keng-sin-pit-hoat yang pernah dituturkan ayah kepada aku itu!"
Ternyata Keng-sin-pit-hoat adalah i}mu potlot tunggal dari keluarga Lian di Hopak, merupakan ilmu potlot peranti menotok jalan darah yang tiada taranya dan tiada bandingannya di dunia persilatan.
Ayah Hun Ci-lo hanya pernah dengar cerita orang lain, paling-paling hanya tahu sedikit kelie-hayannya, beliau sendiri pun belum pernah melihat secara langsung.
Letak keliehayan Keng-sin-pit-hoat ini pada setiap kali totok sekaligus ia dapat melukai urat nadi dan jalan darah lawan, betapapun tinggi lwekang orang tidak akan mampu bertahan dari totokan ini.
Tipu permainan dari rangkaian ilmu totok potlot ini terletak pada Su-pit-tiam-pat-meh (empat potlot menotok delapan urat nadi), jurus ini harus dilancarkan dengan gabungan dua orang, kerja sama dari empat potlot dalam satu jurus sekaligus dapat menotok dan melukai urat nadi lawannya dalam waktu yang bersamaan.
Keluarga Lian mengandal kemahirannya ini malang melintang dan meninggalkan nama harum di bulim, selama malang melintang itu hanya ayah Kim Tiok-liu yaitu Kim Si-ih seorang saja yang dulu mampu memecahkan Su-pit-tiam-pat-meh dari Keng-sin-pit-hoat itu.
Untunglah Su-pit-tiam-pat-meh ini harus dilancarkan bersama oleh dua orang, seorang saja tidak akan mampu digunakan.
Namun demikian, jurus permainan Su-pit-tiam-pat-meh orang ini cukup membuat Cau Ho-lian, pemuda hijau yang belum cukup pengalaman ini tidak mampu menandinginya.
Kedua potlot orang itu menusuk ke depan dengan bersilang, kini mendadak ditarik balik terus berkembang kedua samping, yang kiri menotok lima jalan darah di urat nadi Jin-tok, sementara yang kanan menotok empat jalan darah dari dua urat nadi Siau-yan dan Yang-bin, asal satu di antara sekian jalan darah yang di ncar terkena totokan ujung senjatanya, kalau tidak mati paling tidak Cau Ho-lian pasti terluka parah.
Karena urat nadi yang dijadikan sasaran itu adalah urat penting yang langsung menembus ke hati dan jantung, sekali terluka dalam maka dapatlah dibayangkan akibatnya pasti sangat fatal.
Di saat gawat yang hampir menentukan jiwa Cau Ho-lian itulah, keadaan yang amat berbahaya itu, mendadak terdengar suara "Ting", sebuah uang tembaga menyambar datang tepat sekali membentur potlotnya yang hendak menotok jalan darah Bing-bun-hiat di tubuh Cau Ho-lian tersampuk miring, dalam waktu yang bersamaan Ceng-kong-kiam Cau Ci-hwi pun sudah menusuk tiba mengarah punggungnya.
Bercekat hati orang itu.
bentaknya.
"Budak busuk kau ini juga main timpuk senjata rahasia, memangnya kau sudah bosan hidup ya!" --Dia menyangka senjata rahasia itu adalah timpukan Cau Ci-hwi, keruan ia jadi keheranan, pikirnya.
"Budak ini berkepandaian silat rendah, mungkinkah tadi dia sengaja tidak mau pamer kepandaian simpanannya?"-Tusukan pedang Cau Ci-hwi menggunakan tipu Giok-li-to-soh, ujung pedangnya sudah mengancam Hong-hu-hiat di punggungnya, lekas ia putar balik sebatang potlotnya menangkis.
"trang", Ceng-kong-kiam di tangan Cau Ci-hwi tidak kuasa lagi dipegangnya, terbang lepas ke tengah udara. Baru sekarang Hun Ci-lo unjukkan diri, jengeknya.
"Akulah yang lepas senjata rahasia!"
Kedatangan Hun Ci-lo yang tak terduga-duga ini membikin dua pihak yang bertempur melengak heran. Sambil melirikkan matanya orang itu berkata kepada Hun Ci-lo.
"Siapa kau turut campur urusan kami? He, he, perempuan ayu seperti bidadari macam kau, aku jadi segan melukai kau!"
Berdiri alis Hun Ci-lo, katanya tawar.
"Nona Cau, sementara kuharap kau mundur ke samping, rawatlah luka-luka engkohmu." --Mendadak ia membentak.
"Keng-sin-pit-hoat yang kenamaan di kolong langit itu kenapa buat menggertak nona-nona cilik, apakah tidak membikin pamor keluarga Lian kalian disapu bersih oleh perbuatan rendahmu ini ? Mari biar aku mohon petunjuk ilmu leluhurmu yang liehay, silakan kau keluarkan semua kemampuanmu bila mampu melukai aku!"
Orang itu tertawa, katanya.
"Perempuan bawel seperti kau ini ternyata besar mulut, baik, biar aku pun berkenalan dengan kepandaianmu."
Belum suaranya hilang, Hun Ci-lo sudah mengayun pedangnya ke tengah udara, berkembanglah titik-titik sinar pedang menyerupai kuntum bunga, tahu-tahu selarik sinar putih menukik turun terus menusuk ke arah orang itu.
Jurus Liu-sing-cui-goat ini kelihatannya dimainkan secara sederhana dan biasa saja, namun di situlah letak intisari keampuhan Sip-hun-kiamhoat dari keluarga Hun, secara tidak terduga dalam tipu permainan yang sederhana itu tersembunyi tipu sergapan yang amat liehay, jauh berlainan dengan jalan permainan ilmu pedang golongan atau aliran partai pedang lainnya.
Tampak ujung pedangnya tergetar memetakan tiga kuntum sinar kembang, ke sebelah kiri menusuk Pek-hayhiat, kanan menusuk Ih-gi-hiat, yang yang menjurus ke tengah menusuk ke Sian-ki-hiat.
Meski belum membandingi Siang-pit-tiam-su-meh orang itu, namun dalam sejurus saja sekaligus dapat mengancam sembilan jalan darah pada dua urat nadi yang mematikan, sekali tusukannya, mengambang sulit diraba sasaran yang diarahnya, kelihatannya ke kiri tahu-tahu ke kanan, demikian bolak-balik membuat orang bingung, gerak perubahannya yang aneh ini, jelas bahwa kiamhoatnya ini terang lebih unggul dari Pit-hoat permainan lawannya.
Ujung potlotnya tadi kena ditimpuk oleh uang tembaga Hun Ci-lo, diam-diam orang itu sudah menginsyafi bahwa kepandaiannya pasti jauh di atas ketiga lawan ciliknya tadi, namun ia masih belum tahu bahwa ilmu pedangnya ternyata sedemikian liehay dan menakjubkan, sekilas dilihatnya cahaya putih menyilaukan mata, keruan bercekat hatinya, pikirnya.
"Mungkinkah Siphun-kiamhoat dari keluarga Hun? Sungguh hebat dan liehay benar."
Tersipu-sipu ia lintangkan kedua potlotnya untuk menangkis, terdengarlah suara nyaring sambung menyambung, kedua pihak sama merasakan tenaga dalam lawan yang menggetar telapak tangan masing-masing.
Potlot orang itu kena tergores memanjang oleh pedang pusaka, pergelangan tangannya terasa sakit, lekas ia kerahkan tenaga dalamnya, menggunakan tenaga sentakan, ia sam-puk terlepas pedang pusaka Hun Ci-lo.
Sementara tergetar oleh tenaga perlawanan lawan, Hun Cilo sendiri pun merasa pemapasannya rada sesak, dalam hati ia membatin.
"Aku harus menggunakan pedang kilat menyerangnya!"
Bicara lambat kenyataan amat cepat sekali, pedang pusaka Hun Ci-lo melayang membundar, menghilangkan tenaga sentakan lawan, dengan sejurus Surya Membundar Tenggelam di Ujung Sungai Panjang, sinar pedangnya seperti gelang-gelang besar kecil berputar, tahu-tahu menyapu keluar terus menggulung ke pinggang lawan.
Kedua potlot orang itu terpental bersilang, yang kanan ke arah kiri sementara yang kiri tertuju ke arah kanan, dengan sejurus Coh-yu-kay-kong (kanan kiri mementang busur), balas menyerang untuk membela diri, beruntun ia berhasil mematahkan tiga rangkaian serangan pedang Hun Ci-lo yang amat liehay.
Cau Ci-hwi insyaf bahwa kepandaian sendiri terlalu tidak becus, apalagi senjata sudah terlepas, untuk membantu Hun Ci-lo tidak mungkin bisa dan tidak perlu, dilihatnya pula Hun Ci-lo mampu menandingi laki-laki itu, maka dengan berlega hati ia mundur melihat keadaan engkohnya.
Cau Ho-lian menggayut membelakangi sebatang pohon besar, mukanya pucat, lengan bajunya berlepotan darah.
Sekali pandang jelas diketahui bahwa dia sudah terluka.
Ternyata timpukan mata uang Hun Ci-lo meski tepat menyampuk miring ujung potlot orang itu, namun karena lwekang mereka setanding, betapapun kekuatannya belum mampu menahan daya serangan orang itu, maka lengan kanan Cau Ho-lian tidak urung tergores luka juga oleh ujung potlot yang runcing itu sepanjang tiga dim.
Tapi untung juga potlot musuh tersampuk menceng oleh timpukan mata uang Hun Ci-lo, sehingga Cau Ho-lian terhindar dari kena jalan darahnya yang mematikan, lukanya pun hanya luka kulit yang amat ringan.
Cau Ci-hwi amat prihatin akan keselamatan engkohnya, keruan ia menjadi kaget melihat darah yang membanjir keluar itu, tanyanya .
"Koko, bagaimana keadaanmu?"
Cau Ho-lian tertawa getir, sahutnya.
"Tidak apa-apa, kalian tidak kurang suatu apa, aku menjadi lega hati."
"Adik Siau, dia terluka karena kau, ayo lekas membalut lukanya!"
Demikian teriak'Cau Ci-hwi.
Sikap Siau Gwat-sian serba kikuk dan malu-malu karena perang mulutnya tadi, nada bicara Cau Ci-hwi seolah-olah menyalahkan dirinya pula, ia jadi lebih tidak enak.
Tapi melihat Cau Ho-lian terluka karena dirinya, hatinya menjadi gugup dan menyesal, meski rasa kikuk, terpaksa ia datang menghampiri serta mengeluarkan obat hendak membalut luka-lukanya itu.
Tiba-tiba Cau Ho-lian menje-ngek dingin, katanya.
"Tak usah merepotkan kau, kau punya obat, biarlah aku balut sendiri!"
Cau Ci-hwi tertegun, katanya.
"Koko, kau ini... ai, kau..."
"Tidak apa-apa,"
Sentak Cau Ho-lian dengan suara sumbang.
"Lukaku toh tidak berat, mana berani aku membikin capai nona Siau besar ini untuk merawat luka-lukaku. Dan lagi masakah aku. punya keberuntungan sedemikian besar."
Dia sudah berusaha untuk bicara rada kalem dan enak didengar, namun nada suaranya toh mengandung rasa jelus dan kemarahan hatinya.
Panggilan yang biasanya manis mesra kini ganti jengekan yang menusuk perasaan.
Siau Gwat-sian jadi melongo di tempatnya, air mata sudah berlinang di kelopak matanya, tak tahan lagi akhirnya ia memutar tubuh, serunya.
"Kau marah apa, aku kan bukan budak keluarga kalian, kenapa aku harus mengambil hatimu. Huh, tidak tahu kebaikan hati orang. Kau tidak mau dibalut masa aku sudi hiraukan kau!"
Biasanya Cau Ho-lian amat penurut padanya, kini karena rasa jelus dan marah, kata-kata pun sudah terlanjur dilontarkan, menyesal pun sudah terlambat.
Serta mendengar kata-kata Siau Gwatsian, ia membatin.
"Kiranya dia masih prihatin terhadapku."
Tapi kata-kata Siau Gwat-sian itu lebih ketus, meski melimpahkan rasa perhatiannya, namun kata-katanya mengandung duri runcing yang menusuk ulu hatinya.
Karena Siau Gwat-sian membalik tubuh, keadaan menjadi kaku.
Ingin Cau Ho-lian minta maaf, namun mulut tak sampai mengucapkannya.
Cau Ci-hwi yang menjadi kerepotan, sembari membubuhi obat, ia mengomel panjang pendek.
Untuk menghibur dan merujukkan kembali sesaat ia jadi kehilangan akal dan kata-kata.
Entah apa yang harus dia ucapkan.
Tiba-tiba didengarnya benturan senjata yang nyaring memekakkan telinga.
Ternyata, pertempuran Hun Ci-lo melawan laki-laki itu sudah mencapai titik yang menentukan, dengan sejurus Tay-mo-hou-yan, pedangnya menusuk lurus laksana anak panah lurus ke depan, namun laki-laki itu sempat mengatupkan sepasang potlotnya, di tengah berdentangnya suara keras, bunga api terpercik diselubungi cahaya pedang yang berhamburan.
Pedang pusaka Hun Ci-lo kena tertangkis miring, sementara batang potlot laki-laki itu bertambah sebuah goresan panjang lagi.
Cahaya pedang memutih yang panjang seperti seuntai kain sutra lemas membungkus gerakan ketat sepasang potlot lawan yang berkilau kehitaman, seperti naga laut muncul di permukaan air memainkan gelombang, bergulung-gulung di antara damparan ombak yang membuih putih.
Pertempuran sengit yang menegangkan hati ini, seketika menarik perhatian ketiga remaja yang sedang diamuk perasaan ini.
Ilmu pedang Sip-hun-kiamhoat Hun Ci-lo mengutamakan kelincahan dan kecepatan, kini di ujung pedangnya seakan-akan tergantung benda yang amat berat, tunjuk ke timur membabat ke barat, gerak-geriknya jauh lebih lambat dari permulaan pertempuran tadi.
Meski jauh lebih lambat, namun permainan pedangnya justru lebih aneh hampir dikata setiap jurusnya dilancarkan dengan serangan dari jurusan yang sulit diduga sebelumnya.
Ternyata maksud Hun Ci-lo semula hendak menggunakan pedang cepat untuk mencecar musuhnya, secepat mungkin menyelesaikan pertempuran ini dengan kemenangan gemilang, tapi karena lwe-kang sendiri kalah kuat, setelah .menyerang gencar malah sering ia sendiri menghadapi mara bahaya, terpaksa ia ambil cara bertempur dengan strategi yang lebih mantap, dengan keanehan pelajaran ilmu pedangnya ia yakin pasti dapat mengalahkan lawan.
Laki-laki ini adalah seorang tokoh dalam bidang ilmu totok, tak mengira kepandaian Siang-pittiam-su-meh (sepasang potlot menotok empat urat nadi) yang biasanya sangat diagulkan itu kini sedikit pun tidak mampu menjebol pertahanan tabir cahaya pedang Hun Ci-lo, lambat laun hatinya menjadi gelisah, sepasang potlotnya itu lantas dimainkan seperti dua naga keluar laut yang sedang dirundung kemarahan, merangsak dengan seluruh kekuatannya, sinar potlotnya yang berkilauan sambung menyambung berlapis-lapis seperti ribuan banyaknya.
Dalahi waktu dekat keduanya sama kuat dan saling serang dengan hebatnya, sulit dibedakan siapa lebih unggul atau asor.
Hun Ci-lo tahu bahwa lwekang sendiri kalah dibanding lawan, maka ia kerahkan tenaga murninya ke ujung pedang.
Sip-hun-kiam-hoat segera dikembangkan, dengan bekal ilmu pedangnya ini keyakinan Hun Ci-lo bertambah mantap, kelihatannya gerak pedangnya memang jauh lebih lambat, namun gaya serangannya justru jauh lebih ganas dan berbahaya, di saat-saat ia menjaga diri dengan ketat ia pun balas menyerang dengan tipu-tipu yang liehay mematikan, namun sekali ia berkesempatan balas menyerang, kilatan pedangnya sulit diukur kecepatannya.
Terdengarlah angin menderu berpadu dengan hembusan angin pegunungan, kilat menyambar menyongsong cahaya matahari yang hampir terbenam, sinar pedang dan bayangan potlot berkutat kencang timbul tenggelam saling libat, daun-daun pohon sekitar gelanggang berhamburan rontok, kelopak kembang bertaburan membundar di sekeliling gelanggang.
Lambat laun pohon-pohon di sekitar gelanggang menjadi gundul pelontos tinggal dahan-dahannya saja.
Pertempuran pedang lawan sepasang potlot ini betul-betul amat sengit dan jarang terjadi selama ini, Cau Ho-lian, Siau Gwat-sian dan Cau Ci-hwi menjublek dan terbelalak di tempatnya.
Lenyap perasaan dongkol Cau Ho-lian, tanpa sadar ia bicara kepada Siau Gwat-sian.
"Di waktu ayah dan bibi mengajarkan ilmu pedang kepada kita, pernah menerangkan ilmu pedang tingkat tinggi setiap kali bergerak harus dapat selincah kelinci, setenang permukaan kaca. Waktu itu, ibarat yang dikatakan ini bagiku terlalu dibumbu-bumbui dan kurang cocok dengan kenyataan, hanya khayalan belaka, tak tahu aku cara bagaimana manusia harus bergerak selincah kelinci, tenang seperti permukaan air? Kini setelah melihat ilmu pedang perempuan ini, baru aku sadar dan paham, kiranya begitulah jadinya."
Siau Gwat-sian pun sudah melupakan rasa marahnya tadi, sahutnya.
"Aneh, entah siapa perempuan ini, darimana pula? Kenapa dia meluruk datang membantu kesulitan kita?"
Sebaliknya Cau Ci-hwi jadi rada kuatir, katanya.
"Meski ilmu pedang perempuan ini amat ketat aneh dan kokoh, namun musuh pun terlalu kuat, belum tentu dia dapat menghalau lawannya. Apakah perlu kita maju membantunya?"
"Mungkin kita tidak kuasa mencampuri pertempuran mereka ini. Kenapa ibu belum lagi datang?"
"Seharusnya ayah sudah mendengar teriakanku, kenapa belum kunjung tiba juga? Hm, kalau mereka terlambat datang, meski bukan lawannya, kita harus melabraknya juga."
Belum habis ia bicara, tiba-tiba didengarnya sebuah suara serak berkata.
"Siapa berani bertingkah di tempat kediamanku ini?"-Lalu disusul suara perempuan tua menyambung.
"Siapa berani menganiaya putriku?"
Belum lagi bayangan mereka kelihatan, suaranya sudah berkumandang dari jauh, sedemikian keras seperti guntur suara itu sehingga kuping mereka seperti mendengung.
Ketiga muda mudi itu menjadi berjingkrak girang, sebaliknya laki-laki itu menjadi kaget.
Sebagai seorang ahli silat sekali dengar orang menggunakan ilmu gelombang suara jarak jauh, ia cukup mampu untuk menilai betapa tinggi kepandaian silat orang itu.
Mau tidak mau ia harus berpikir.
"Konon Cau Siok-toh adalah seorang ahli lwekang, suara laki-laki itu terang dia adanya, sungguh tidak bernama kosong. Entah siapa pula perempuan itu, namun dari nada gelombang suaranya tadi, ilmu silatnya agaknya tidak lebih rendah dari kemampuanku sendiri."
Belum habis ia berpikir, tampak dari pinggir hutan sana berbareng muncul seorang laki-laki tua berjenggot putih panjang dengan seorang perempuan pertengahan yang berpakaian perlente.
Laki-laki tua ini memang ayah Cau Ho-lian dan Cau Ci-Kwi yaitu Cau Siok-toh, sedang perempuan pertengahan itu adalah ibu Siau Gwat-sian yang bernama Gui Kok-ing.
"Ibu lekas kemari!"
Segera Siau Gwat-sian berteriak.
"Ayah lekas!"
Cau Ci-hwi pun tidak mau kalah suara.
"Koko terluka!"
Sedemikian lama bertempur tidak mampu mengalahkan Hun Ci-lo, hati laki-laki ini sudah gelisah, kini mendadak melihat pihak sana kedatangan bala bantuan dua orang kosen, keruan hatinya semakin gugup.
Mendadak Hun Ci-lo membentak.
"Kena!"
Sinar pedangnya membelit bundar seperti gelang secepat kilat memapas miring, kontan laki-laki itu menggerung keras, seraya jumpalitan mundur setombak lebih, lengan bajunya berlepotan darah juga, kiranya lengan kirinya sudah tertabas luka oleh pedang Hun Ci-lo.
Diam-diam Hun Ci-lo bersorak akan serangannya yang berhasil baik, ternyata dia sudah selesai melancarkan jurus-jurus ilmu Sip-hun-kiamhoat yang terakhir yaitu Heng-hun-toan-hong, jurus terakhir inilah yang berhasil melukai musuh.
Melihat Hun Ci-lo melancarkan ilmu pedang ini, sesaat Siau-hujin jadi melongo keheranan, dalam hati ia membatin.
"Bukankah itu jurus Sip-hun-kiamhoat? Apakah dia Ci-lo adanya? Ai, sayang, sayang!"
Ternyata jikalau jurus Heng-hun-toan-hong (awan melintang memutus gunung) dilatih sampai puncak yang sempurna, serangannya tadi pasti bisa menabas kutung lengan lakilaki itu.
Karena melongo ini Siau-hujin jadi lupa mencegat jalan lari laki-laki itu, tapi Cau Siok-toh sudah lari mengejarnya.
Bagaikan angin lesus laki-laki itu merebut jalan berlari lintang pukang seraya membentak.
"Siapa berani merintangi aku, biar aku adu jiwa padanya!"
"Jago yang sudah keok juga berani berkaok-kaok segala?"
Dengus Cau Siok-toh, bicara lambat kejadian amat cepat, laki-laki itu sudah menyerang dengan Sing-cay-hu-cay, menggunakan lengan kanannya yang tidak terluka.
"Serr,"
Potlotnya menusuk ke tenggorokan Cau Siok-toh.
Cau Siok-toh tidak membekal senjata, di saat serangan laki-laki itu hampir mengenai dirinya, tangkas sekali ia memotes sebatang dahan pohon sebesar jari kelingking terus digunakan sebagai pedang, kebetulan ia songsong kedatangan potlot musuh.
"Krak!"
Dahan pohon itu putus menjadi dua potong, namun potlot laki-laki itu pun terbang terpental ke tengah udara, seperti meteor jatuh ke dalam lembah. Sungguh kejut orang itu bukan kepalang, batinnya.
"Kakek tua she Cau ini benar-benar memiliki lwekang yang hebat di atas kemampuanku."
Sementara Cau Siok-toh sendiri juga terkejut, pikirnya.
"Tak heran putraku bisa terluka oleh senjata potlotnya, kiranya orang dari keluarga Lian."
Keluarga Lian adalah keluarga persilatan yang sulit diajak berembuk, suka ugal-ugalan lagi, maka Cau Siok-toh tidak ingin mengikat permusuhan dengan mereka.
setelah berhasil memukul lepas sebatang potlotnya, ia pun tidak mengejar lebih lanjut.
Namun Siau-hujin belum lagi mengetahui asal usulnya, segera ia membentak.
"Lari ke mana?"
Badannya melesat mengejar seperti anak panah, sekejap saja dengan ilmu ginkangnya yang hebat tahu-tahu ia sudah berputar menghadang di depan orang itu.
Senjata orang itu tinggal sebatang potlot, dalam keadaan yang mendesak tak sempat memindahkan senjata, terpaksa ia gunakan tangan kirinya yang terluka melancarkan Keng-sin-pithoat dengan jurus Hian-niau-hoat-sa (burung menggaruk pasir), ujung potlotnya seperti menutul seperti menusuk, menusuk ke urat nadi Siau-hujin.
"Serangan bagus!"
Puji Siau-hujin, dia tidak membawa senjata, cepat sekali ia melolos ikat pinggangnya, dengan gerak tangan yang luar biasa cepat ia kebutkan ikat pinggangnya menggulung ke depan.
Maka terdengarlah suara robekan yang keras, ikat pinggang dari kain sutra itu tertusuk berlubang dan sobek panjang dari batas tengah-tengahnya, tapi potlot di tangan laki-laki itu pun kena tergulung lepas dari cekalannya.
Cukup sedikit sendai saja potlot rampasan itu ditimpuk balik oleh Siau-hujin, lekas laki-laki itu menggunakan Hong-tiam-thau menghindar, senjata potlot sendiri melesat terbang lewat di atas kepalanya terpaut beberapa mili saja, terus terbang jatuh ke dalam jurang.
Setelah menang dalam gebrakan ini diam-diam Siau-hujin bercekat pula hatinya, pikirnya.
"Tak heran jurus Heng-hun-toan-hong Ci-lo tadi belum berhasil membuat orang ini terlalu parah, dia sudah terluka, namun masih mampu menusuk ikat pinggang sutraku."
Keruan kaget laki-laki itu seperti arwah sudah copot dari badan kasarnya, tanpa hiraukan babak belur, kontan ia menggelundung dari ketinggian batu karang sana terus meluncur ke lereng bukit di bawah sana.
Untunglah tidak kebentur batu-batu runcing, dan lagi ia ada berlatih Hou-teh-sinkang yang sudah punya dasar yang lumayan, paling-paling hanya luka-luka kulit bagian luar saja yang tidak berarti.
Sudah tentu Siau-hujin tidak sudi mengejar ke bawah meniru perbuatannya itu, tengah ia bersangsi dilihatnya Cau Siok-toh memberi kedipan mata kepadanya.
"Musuh gampang di kat sulit dilerai, biarkan dia pergi!"
Bahwa Cau Siok-toh tidak mau memperpanjang urusan, laki-laki itu tidak mau terima kebaikannya ini, setelah bergelundungan sampai di lereng bukit, untung luka-luka kecil saja, setelah menenangkan hati rasa marahnya membesarkan nyalinya pula maka dari kejauhan di bawah bukit, ia berseru lantang.
"Tua bangka she Cau, aku orang she Lian tidak sudi kau beri muka, hari ini aku mengaku kalah karena kalian keroyok, akan tiba suatu ketika, aku akan meluruk kemari bertanding dengan kau."
Kesabaran Cau Siok-toh sebenarnya amat baik, namun orang ini begitu tidak kenal aturan dan kebaikan, seketika membuat ia naik pitam, menggunakan ilmu mengirim gelombang suara jarak jauh ia menyahut.
"Baik, sewaktu-waktu kutunggu kedatanganmu, kau panggil teman untuk membantu juga boleh, seorang diri datang juga kulayani, aku hanya melawan kau seorang, biar ditentukan siapa unggul siapa asor."
Setelah pertempuran sengit berakhir, perasaan semua orang menjadi longgar, segera Siau Gwat-sian maju menghaturkan terima kasih kepada Hun Ci-lo katanya.
"Bu, sebelum kau datang tadi, sungguh keadaan kami amat berbahaya, untunglah cici ini lantas muncul membantu kami. Aih! Bu, kenapa kau! Kenapa kau tatap orang begitu rupa, kenapa kau tidak wakili aku mengucapkan terima kasih kepadanya?"
"Terima kasih apa segala?"
Ujar Hun Ci-lo.
"Aku adalah piaucimu, Bibi! Masihkah kenal padaku'"
Siau-hujin memicingkan kedua matanya, tersenyum lebar, katanya "Kiranya Ci-lo adanya, coba bi.u aku melihat lebih tegas, terakhir aku melihat kau sampai sekarang mungkin sudah dua puluh tahun lamanya?
Waktu itu kau masih orok kecil yang masih mengalirkan air liur, Gwat-sian belum lagi lahir, tak nyana hari ini baru kita bisa jumpa pula.
Kabarnya kau sudah menikah di utara, siapakah suamimu, punya anak belum?"
Pertanyaan ini seolah-olah sembilu yang menusuk pecah luka-luka Hun Ci-lo yang belum sembuh seluruhnya, sesaat ia jadi kemek-mek, tak tahu bagaimana ia harus memberi penjelasan.
Tahu orang yang menolong dirinya ternyata adalah piauci, seperti anak kecil yang mendapat permen saja lagaknya, Siau Gwat-sian berjingkrak sambil menarik lengan Hun Ci-lo, digoyanggoyangkan serta serunya tertawa.
"Piauci, aku pernah ke Soh-ciu mencari kau, apa kau sudah tahu? Siapakah piauci-hu, kenapa kau tidak datang bersama dia?"
"Ya, Siau-gu-ji yang membuka pintu itu sudah memberitahu kepadaku. Katanya kau bersama pemuda she Cau itu datang bersama, apakah Cau-toako itu?"
Baru saja Siau Gwat-sian adu mulut dengan Cau Ho-lian, sikapnya menjadi kikuk, sahutnya.
"Kiranya Siau-gu-ji itu masih ingat. Em, aku jadi lupa menanyakan keadaan bibi besar, kabarnya paman sudah meninggal, apakah bibi baik-baik saja? Apakah beliau tinggal bersama kalian suami istri?"
Siau-hujin ikut menimbrung.
"Selama puluhan tahun ini aku selalu terkenang pada kalian, hari ini kita bisa kumpul lagi, anggap saja aku sebagai ibu kandungmu. Oh ya, kenapa ibumu tidak ikut datang? Apakah kau datang seorang diri?"
Serentetan pertanyaan ini membuat Hun Ci-lo kebingungan, entah pertanyaan mana yang harus dia jawab lebih dulu, terpaksa ia tertawa dibuat-buat, sahutnya.
"Kalau dibicarakan amat panjang, kedatanganku kali ini sengaja memang mohon perlindungan kepada bibi, duduk persoalannya biarlah lain kesempatan kujelaskan saja!"
"Benar,"
Ujar Siau-hujin.
"Aku setua ini memang sudah pikun, ku-lupa baru saja kau habis bertempur sengit. Kau letih tidak, nanti di rumah kita bicara lebih lanjut."
Sanak kadang saling bertemu, sudah tentu Cau Siok-toh tidak enak menimbrung bicara, apalagi ia prihatin akan luka-luka putranya, segera ia menghampiri ke sana memeriksa luka-luka Cau Holian, setelah memeriksanya, ternyata hanya luka kulit yang ringan saja, baru legalah hatinya, tanyanya.
"Ho-lian, cara bagaimana kalian bisa bertempur dengan orang she Lian itu?"
"Yah, koko datang belakangan. Biar aku yang jelaskan, orang itu kemari hendak mencari paman Miao."
"Kalau toh dia kenalan paman Miao-mu, kenapa kalian ajak dia berkelahi?"
"Yah, kau belum lagi mendengar penjelasanku lebih lanjut. Didengar dari nada bicara orang itu, naga-naganya ia bermaksud buruk terhadap paman Miao, kalau tidak salah seperti hendak menuntut balas, jadi bukan sahabatnya!"
"Apa saja yang dia katakan?"
"Sebenarnya dia sih tidak menjelaskan permusuhannya dengan paman Miao, cuma dengan garang dia mendesak kami mengatakan jejak paman Miao kepadanya. Karena jengkel melihat kelakuan kasarnya itu, akhirnya kami berkelahi."
Cau Siok-toh menarik napas, ujarnya.
"Setelah bermusuhan dengan keparat ini, banyak kesulitan yang harus kita hadapi kelak."
Cau Ci-hwi memonyongkan mulut, serunya.
"Yah, masa kau takut?"
"Sudah tentu tidak takut. Tapi kelak bila kalian kelana di kangouw harus hati-hati!"
"Perkara kelak, kelak kita, bicarakan lagi. Yah, mari ke sana, sudah sepantasnya kami menghaturkan terima kasih kepada penolong kami itu."
Cau Siok-toh mengiakan, lalu ia gandeng putra putrinya datang menghampiri, katanya.
"Selamat kalian sanak famili bersua kembali. Hun-lihiap, beruntunglah atas bantuanmu sehingga putraku tertolong jiwanya, membikin kesulitan saja bagi kau."
"Ah, paman ini mengumpak saja, yang terang ilmu pedang putramu ini yang hebat, sebetulnya tingkat permainannya tidak di sebelah bawah orang itu, cuma tiada pengalaman menghadapi musuh tangguh, kalau orang itu tidak bertempur dulu melawan putra putri dan piaumoayku, mungkin aku sendiri juga tak ungkulan melawannya, bukan mustahil aku pun bakal terluka oleh senjata potlotnya."
Segera Siau-hujin memperkenalkan.
"Cau-siansing adalah sahabat kental pamanmu waktu beliau masih, hidup, mereka pun menjadi tetangga kami selama beberapa tahun terakhir ini."
Hun Ci-lo melenggong, katanya.
"Jadi paman juga sudah meninggal?"
Siau-hujin menghela napas, katanya.
"Kalian pindah ke Soh-ciu pada tahun Kakcu, ya bukan? Pamanmu wafat setahun sebelum kalian datang. Oleh karena itu pula untuk beberapa tahun lamanya kami meninggalkan rumah di sini, biarlah lain kesempatan kujelaskan juga kepadamu."
Melihat Siau Gwat-sian tidak mau hiraukan dirinya, mereka ibu beranak sedang sibuk bicara dengan Hun Ci-lo, dirinya sulit ikut menimbfumg bicara pula, maka Cau Ho-lian pura-pura tenaga lemah karena luka-lukanya itu, dia ketinggalan di sebelah belakang.
"Siok-toh,"
Ujar Siau-hujin.
"Apakah kau sudah tahu asal-usul orang itu?"
"Sudah tahu, laki-laki itu bermarga Lian. Menurut dugaanku, mungkin dialah yang dijuluki Liankeh-pek-bi (si alis putih dari keluarga Lian) Lian Kam-peh."
Siau-hujim mengerut kening, katanya.
"Pernahkah Miao Tiang-hong beritahu kepadamu, bahwa dia pernah mengikat permusuhan dengan keluarga Lian?"
"Miao Tiang-hong hidupnya kelana di kangouw, kawannya banyak tersebar luas, sudah tentu musuhnya pun tidak sedikit, mana bisa dia menjelaskan semua pengalamannya secara terperinci. Menurut wataknya yang keras dan pandang kejahatan sebagai musuh besarnya, bukan mustahil dia mengikat permusuhan dengan Lian Kam-peh."
"Aku sudah terlalu asing akan segala peristiwa kangouw,"
Demikian ujar Siau-hujin.
"tapi kudengar katanya selama dua puluhan tahun ini, keluarga Lian mereka sudah tutup pintu dan tidak mengikuti percaturan kaum persilatan lagi, jadi tidak pernah bertingkah lagi menggunakan kekuasaan dan wibawa keluarga mereka? Entah kenapa Lian Kam-peh ini tidak mematuhi aturan dan undang-undang keluarganya?"
"Memang menurut apa yang kutahu, begitulah kejadiannya. Kira-kira dua puluh tahun yang lalu, ciangbunjin Lian-keh-pit mereka yaitu Lian Seng-hou pernah sudi diperbudak oleh Coh Cinyong dorna yang berkuasa pada waktu itu, disogok harta dan pangkat ia tinggalkan kedudukan ciangbun-jinnya, terima bertekuk lutut menjadi pengawal pribadi si dorna itu. Suatu ketika dia disuruh Coh Cin-yong mengantarkan kado kepada Say Bing-hiong panglima besar yang berkuasa di Se-jiang, maka para pendekar berikrar hendak memberi sedikit hukuman kepadanya, akhirnya Le Lam-sing thocu Ang-ing-hwe sekarang turun tangan bersama Li Tun, hu-pangcu dari Liok-happang sekarang, dia dicegat di tengah jalan, Lian Seng-hou, terkalahkan di bawah pedang Le Lamsing, lambungnya terluka pula oleh jarum berbisa Li Tun, ilmu silatnya punah sama sekali. Akhirnya Lian Seng-hou bersumpah untuk memperbaiki cara hidupnya, sejak saat itu menutup pintu menanggalkan senjata, Li Tun baru mau memberikan obat pemunah.
"Setelah mengalami pengalaman pahit ini, Lian Seng-hou mematuhi janjinya itu, sejak itu menyembunyikan diri tidak pernah muncul di kangouw. Malah dia memperingatkan kepada anak muridnya, melarang mereka membuat onar di luaran. Maka wibawa keluarga Lian semakin tenggelam dan pudar selama beberapa tahun belakangan ini."
Kata Siau-hujin.
"Mungkin karena tertekan oleh keadaan di luar maka Lian Seng-hou sementara terima menutup pintu menggantung senjata, sebetulnya hatinya ingin berontak, sikap diamnya itu hanya pura-pura belaka, secara sembunyi-bunyi ia masih mengikat hubungan rahasia dengan pihak kerajaan."
"Jadi kau curiga Lian Kam-peh ini memperoleh petunjuk pamannya, secara diam-diam bekerja bagi kepentingan kerajaan?"
Demikian tanya Cau Siok-toh.
"Entah apakah Miao Tiang-hong seorang tokoh dari pahlawan melawan pemerintah kerajaan atau melanggar undang-undang apa?"
"Hubunganku dengan Miao Tiang-hong cukup kental, tapi rahasia macam itu dia tidak akan mau bicara dengan aku.Tapi menilai wataknya yang keras amat benci terhadap kejahatan, kedua reka-anmu tadi kemungkinan besar bisa terjadi."
Siau-hujin menghela napas, ujarnya.
"Kalau rekaanku tidak meleset, hidup kita selanjutnya pasti menghadapi banyak kesulitan."
"Beberapa hari lagi biar kuber-tamu ke rumah Tan Thian-ih, kuharap dari sana bisa mencari berita yang kita perlukan."
Siau-hujin ibu beranak bersama Hun Ci-lo dan Cau Siok-toh berjalan di sebelah depan sambil bicara panjang lebar mengenai peristiwa Lian Kam-peh tadi, sementara Cau Ho-lian dan adiknya ketinggalan jauh di belakang, mereka pun sedang bicara bisik-bisik.
Karena Siau Gwat-sian tidak menghiraukan, Cau Ho-lian merasa kikuk dan serba salah, sengaja ia berjalan lambat biar ketinggalan di belakang.
Cau Ci-hwi tahu engkoh-nya ini masih ada ganjalan hati, maka ia pun perlambat langkahnya, secara bisik-bisik ia bertanya.
"Koko, kenapa kau hari ini? Hawa sejuk udara nyaman, keadaanmu sebaliknya seperti cuaca di musim semi, hujan angin atau terang tak menentu."
"Apa maksud kata-katamu ini?"
Tanya Cau Ho-lian dongkol.
"Masa ucapanku salah? Dengan nekad kau berusaha menolong jiwa adik Siau, kenapa pula kau jadi marah kepadanya?"
"Kau sendiri sudah tahu, pura-pura tanya segala?"
"Aku tahu apa?"
"Pertengkaran kalian tadi aku mendengar semua!"
Merah muka Cau Ci-hwi, katanya.
"Akulah yang harus disalahkan. Sebetulnya tujuanku demi kebaikanmu, maka sengaja hendak kukorek isi hatinya, sayang lidahku kaku mulutku lugu tidak pandai bicara, tahu-tahu lantas ajak dia bertengkar. Kukira kata-katanya di waktu bertengkar dengan aku pasti diucapkan dengan rasa kemarahan, kenapa kau anggap sungguh-sungguh?"
T "Dalam berbagai bidang memang aku tidak ungkulan dibanding orang, hal ini aku tahu sendiri."
Cau Ci-hwi amat menyesal, katanya.
"Koko, jadi kau sedang marah kepadaku. Akulah yang berkata demikian. Tapi dia toh tidak ikut mengatakan begitu, juga tidak mengatakan tidak suka kepadamu, cuma dia tidak mau mengakui berhubungan intim dengan kau, sebagai anak perempuan adalah jamak kalau mukanya tipis, di mulut ia tidak banyak bicara, namun hatinya amat baik terhadapmu. Tadi bukankah dia hendak membalut lukamu? Ai, kau sendirilah yang bersikap kasar menolak maksud baiknya. Koko, cukup asal kau minta maaf kepadanya urusan kan beres!"
Cau Ho-lian mendengus ringan, katanya.
"Kau tidak perlu membela boroknya, bagaimana sikapnya terhadap aku, aku sendiri paham."
Cau Ci-hwi angkat pundak, ujarnya.
"Koko, aku sudah salah karena banyak curiga terhadapnya. Kau sendiri pun jangan terlalu banyak hati."
Di sebelah depan pembicaraan Siau-hujin kebetulan sedang berhenti, lapat-lapat ia mendengar suara dengusan Cau Ho-lian ini, sontak ia sadar dan berkata.
"Aku jadi lupa Ho-lian terluka, apakah bisa jalan?"
Lekas Cau Ho-lian menjawab.
"Tidak apa-apa, hanya luka kecil saja terima kasih akan perhatian bibi."
Siau-hujin memperlambat langkah menunggu mereka kakak beradik menyusul datang, katanya tertawa.
"Anak muda seharusnya berkumpul dengan anak muda, Gwat-sian, Lian-kokomu terluka, kenapa tidak kau temani dia?"
Siau Gwat-sian menyahut tawar.
"Piauci baru datang, aku terlalu asyik bicara dengan dia, jadi lupa!"
"Aku tidak akan segera pergi, masih banyak waktu untuk bicara, lekaslah kau rawat luka-luka Cau-toako,"
Demikian timbrung Hun Ci-lo.
"Hun-Iihiap,"
Kata Cau Ho-lian.
"Terima kasih akan bantuan dan pertolonganmu, lukaku ini hanya luka ringan saja, tidak banyak mengganggu kesehatanku, tidak usah dirawat segala."-Nada bicaranya kedengaran kaku dan dingin, semua orang merasakan hal ini. Siau Gwat-sian menggigit bibirnya, tidak banyak bicara lagi. Rumah kediaman keluarga Siau dan Cau berderetan menjadi tetangga, sambil bicara itu tahutahu mereka sudah tiba di ambang pintu rumah, segera Siau-hujin mengundang.
"Apakah kalian tidak mampir sebentar?"
"Tidak usahlah, keponakanmu baru datang, kami tidak banyak mengganggu lagi."
"Baiklah, anak Lian malam ini kau harus istirahat baik-baik, besok biar kuajak Sian-ji menilik kau."
"Terima kasih!"
Sahut Cau Ho-lian tawar. Kali ini ayahnya pun merasakan sikap kaku dan nada bicaranya yang dingin. Cau Siok-toh lantas deliki putranya, katanya.
"Lihat betapa bibi Siau amat prihatin akan kesehatanmu, kau harus tahu banyak di untung."
Sampai di dalam rumah, berkatalah Siau-hujin.
"Sian-ji, apakah kau tadi bertengkar dengan engkoh Lianmu?"
"Tidak, dia tidak mau hiraukan aku, masa aku harus membungkuk-bungkuk terhadapnya?"
"Lha, itu kan bertengkar? Kalau tidak bertengkar masa saling purikan segala. Ai, aku jadi tidak paham apa saja persoalan di antara kalian, hari ini baik, besok berteng-' kar, selalu ada persoalan saja."
Siau-hujin menyangka hanya purikan muda mudi umumnya saja, di luar tahunya bahwa peristiwa hari ini justru lain dari biasanya.
Piauci-moay yang selamanya belum pernah bertemu hari ini berkumpul, seharusnya hal ini merupakan suatu yang menggembirakan, namun karena peristiwa tadi siang, hati Siau Gwat-sian menjadi masgul.
Setelah makan malam, duduk sebentar ajak bicara dengan piaucinya, lantas dia berkata kepada ibunya.
"Bu, kepalaku pening."
Lalu pergi tidur lebih dulu. Siau-hujin geleng-geleng kepala, katanya menghela napas.
"Bocah ini memang memusingkan kepala! Di kata besar belum dewasa, dikatakan kecil sudah cukup umur, segala tingkah lakunya, harus selalu kuawasi!"
"Putra keluarga Cau itu cukup baik,"
Demikian ujar Hun Ci-lo.
"Kenapa bibi tidak lekas-lekas mengikat perjodohan mereka saja."
"Beberapa tahun yang lalu usia piaumoaymu masih rada kecil, semula aku hendak menunggu setelah dia menanjak usia delapan belas baru mengikat pertunangan, siapa sangka belakangan ini mereka kelihatannya tidak akur malah, entah mengapa selalu purikan, membuat aku kuatir saja."
"Meski sering bertengkar atau purikan biasa, jikalau mereka memang saling cinta pertunangan tetap boleh dilangsungkan. Tapi tunggu satu dua tahun lagi setelah mereka lebih dewasa baru mengikat jodoh ini juga lebih baik,"
Hun Ci-lo tahu seluk beluk pertengkaran itu, cuma ia tidak bicarakan kepada bibinya, dalam hati ia membatin.
"Nanti setelah perasaan piaumoay sudah tentram, pasti dia bisa berpikir dengan cermat siapakah yang harus menjadi pilihannya. Semoga dia tidak seperti keadaanku yang mengesampingkan jodoh setimpal."
"Benar,"
Ujar Siau-hujin.
"kau belum lagi beritahu kepadaku, kau menikah dengan putra keluarga siapa? Apakah kalian suami istri bisa hidup rukun, kenapa kali ini kau tidak datang bersama suamimu, apakah ada ganjalan hati yang sulit kau jelaskan?"
Memang Hun Ci-lo punya ganjalan hati yang sulit diterangkan, kata-kata bibinya ini justru menusuk ke ulu hatinya yang terluka, serta merta merah kedua matanya. (Bersambung ke
Jilid 2)
Jilid 2 Siau-hujin menghela napas lalu melanjutkan.
"Yang kukuatirkan bahwa budak itu jatuh cinta terhadap pemuda yang tidak patut dia cintai, tak perlu kita persoalkan dia melukai hati Ho-lian, hubungan kami dua keluarga juga bakal dia bikin berantakan."
Hun Ci-lo termenung sebentar, lalu katanya.
"Hubungan antara muda mudi memang sulit diselami, istilah jodoh memang sudah ditakdirkan, dulu aku tidak mau percaya, kini aku dipaksa untuk mempercayainya. Menurut penda-patku, perjodohan putra putri biarlah mereka berkembang dengan sewajarnya. Persoalan seperti ini sulit dapat diatasi dengan kekuatan manusia."
"Benar sekali ucapanmu, memang aku pun membiarkan saja perkembangan hubungan mereka."
Bicara sampai di sini tiba-tiba Siau-hujin pandang Hun Ci-lo sambil tersenyum aneh, katanya lebih lanjut.
"Tapi bicara mengenai jodoh, Ci-lo, jangan kau marah ya, aku ingin melimpahkan isi hatiku malah."
Hun Ci-lo melenggong, sahutnya.
"Aku sudah menjadi janda, masa bisa bicara tentang jodoh segala?"
"Lain kau lain aku, usiamu masih muda belia lantas jadi janda, dalam keadaan seperti kau sekarang, menurut pendapatku, jikalau kau memperoleh seseorang yang mencocoki hatimu lebih baik menikah lagi saja."
Merah muka Hun Ci-lo, katanya.
"Bibi, kau mana boleh bicara demikian? Perutku lagi mengandung darah daging keluarga Nyo mereka."
Kata Siau-hujin sungguh-sungguh.
"Menurut aturan memang tidak pantas aku bicara demikian, namun aturan dan kesusilaan dalam ajaran-ajaran agama kita jauh bedanya, jangan kau terikat pula oleh undang-undang bobrok yang tidak laku itu. Kau sebagai putri kaum persilatan tidak perlu terkekang oleh aturan itu."
Hun Ci-lo menjadi geli mendengar uraian panjang lebar yang tengik itu, katanya.
"Wah bikin bibi mengeluarkan teori-teori dalam buku saja. Tapi, tapi..."
Sebetulnya alasan Hun Ci-lo tidak mau menikah lagi bukan karena terikat oleh aturan-aturan tengik itu.
Sudah tentu Siau-hujin tidak akan mengerti alasannya, melihat orang tergagap segera ia menukas, sambungnya.
"Tapi apa? Aku tahu kau sedang mengandung darah daging keluarga Nyo, justru karena orok yang bakal lahir itulah maka kuanjurkan kau menikah lagi."
"Usiamu sekarang baru dua puluhan tahun, orok dalam kandunganmu itu harus kau asuh selama sepuluh dua puluh tahun baru dewasa. Kau sekarang tidak punya tempat meneduh tiada punya sandaran, hanya aku seorang familimu. Usiaku sudah lima puluh lebih, entah berapa tahun lagi dapat hidup bersama kau? Apalagi bila kau sudah mendapat sandaran kan jauh lebih baik, setelah lanjut usia kau punya teman hidup untuk mengecap hari tua bersama."
"Terima kasih akan perhatian bibi, namun hatiku sudah beku seperti tonggak kayu, hakikatnya tidak pernah timbul angan-angan untuk menikah lagi dalam sanubariku."
"Sudah tentu orang yang kumaksudkan harus mencocoki seleramu. Aku tidak akan paksa kau, namun cobalah dengar penjelasanku, tiada halangannya bukan?"
Terpaksa Hun Ci-lo diam saja, Siau-hujin lantas bicara lagi.
"Orang ini bukan saja Bun-bu-coancai (serba pintar dalam bidang ilmu silat dan sastra), cita-citanya besar berjiwa luhur dan pikiran terbuka, cukup berwibaw a lagi, boleh dikata merupakan seorang suami idaman setiap perempuan, dialah seorang laki-laki sejati, seorang gagah perwira."
"Begitu keliwat 'serba' bibi memuji orang itu, aku percaya tidak akan salah. Tapi sayang aku..."
"Kau ingin tahu siapa dia bukan? Dia tak lain tak bukan adalah Miao Tiang-hong yang pernah kau lihat di atas perahu itu!"
Tak urung tertawa getir sanubari Hun Ci-lo, pikirnya.
"Ternyata yang dimaksudkan adalah Miao Tiang-hong. Memang orang itu sesuai apa yang dipujikan tadi. Tapi betapapun dia baik, aku tidak mungkin bisa menikah padanya. Jangan kata suamiku masih hidup, meski Nyo Bok benar-benar mati, hatiku ini toh sudah menjadi milik orang lain."
Sudah tentu jalan pikirannya ini tidak mungkin ia kemukakan kepada bibinya. Melihat orang tertunduk diam seperti hatinya sudah tergerak, Siau-hujin mendapat angin, katanya lebih lanjut.
"Tadi kau mengatakan aku mengobral teori, sebetulnya itu hanya pendapat yang pernah kudengar dari Miao Tiang-hong. Ci-lo, tadi kau ada menyinggung persoalan Ho-lian dengan Gwat-sian, kau pernah mengatakan biarlah hubungan mereka berkembang sesuai dengan jodoh yang ditakdirkan, maka aku lantas merasa pendapatmu ini amat cocok dengan teori yang pernah dia ke mukakan, seperti yang dia jelaskan orang macam kau inilah justru yang sedang dia cari."
"Kalau orang lain tak berani aku menjadi comblang, namun lain pula halnya pada Miao Tianghong ini, perbuatannya sesuai dengan kata-katanya, apapun yang pernah dia ucapkan pasti ditepati dan aku berani tanggung dia pasti menyukai kau, untuk itu tak usah kau kuatir dia bakal merendahkan kau sebagai seorang ibu yang sudah mengandung."
"Terima kasih akan maksud baik bibi, apa boleh buat hatiku ini laksana permukaan air yang sudah tenang, air sumur yang tidak akan bergelombang lagi."
Melihat sikapnya kaku dan dingin, Siau-hujin menghela napas, ujarnya.
"Baiklah, kalau begitu anggap saja aku tidak pernah menyinggung persoalan ini."
Memang, sejak itu bibinya tidak pernah menyinggung persoalan Miao Tiang-hong kepada Hun Ci-lo.
Tanpa terasa tujuh hari sudah berselang, Cau Siok-toh belum juga kembali.
Pagi hari itu Hun Ci-lo bangun pagi-pagi benar, karena terlalu iseng seorang diri ia jalan-jalan memasuki hutan bunga Bwe.
Bunga sedang mekar, berwarna merah harum semerbak, selayang pandang warna merah bertaburan di mana-mana, perasaan kesal Hun Ci-lo seketika tersapu oleh kesegaran hawa sejuk dan pemandangan yang melapangkan dada.
Berpikir Hun Ci-lo.
"Sudah beberapa hari aku tidak pernah berlatih pedang, tiga jurus pedang cepat ajaran ayah itu, sejak mengalahkan Tiam-jong-siang-sat, agak dapat kuselami intisarinya yang utama serta gerak variasinya, selama ini belum sempat kucoba-coba lagi, cuaca pagi ini sedemikian baiknya biarlah kucoba-coba tipu-tipu baru yang kupahami itu."
Begitukah dalam hutan bunga Bwe itu ia mulai mengembangkan ilmu pedangnya,, saking bernafsu akhirnya kakinya mencelat naik, pedangnya berkilat memapas sekuntum bunga Bwe.
Namun dahan pohon rada tergetar sedikit, kecuali kuntum kembang yang terpapas itu, melayang jatuh pula dua lembar daun pohon.
Hun Ci-lo menggeleng kepala, batinnya.
"Ilmu pedangku ternyata belum matang dan sempurna betul."
Ternyata ilmu pedang warisan keluarganya yaitu Sip-hun-kiam-hoat paling mengutamakan kelincahan.
Banyak aliran pedang besar kecil di Tionggoan masing-masing punya kebaikan dan keunggulan masing-masing, namun bila bicara soal kelincahan dan kecepatan, Sip-hun-kiamhoat dari keluarga Hun ini justru tiada bandingannya.
Terutama tiga jurus pedang cepat cip-taan ayahnya itu, meski perubahannya sangat banyak dan rumit, namun dapat dilancarkan sekaligus dalam serentetan tipu-tipu yang amat cepat dan lincah.
Ketiga jurus ilmu pedang itu kalau dilatih secara sempurna, dapat seenaknya menurut keinginan hati memapas sekuntum kembang di atas dahan pohon yang bertaburan bunga itu, dahan tidak bergeming, daun tidak rontok.
Kelopak kembang lain dalam kuntum bunga yang terpapas itu pun tidak sampai rusak.
Sekarang Hun Ci-lo bisa memapas sekuntum kembang, namun dua daun pohon ikut rontok, ini pertanda bahwa latihan ilmu pedangnya masih jauh dikatakan sempurna.
Hun Ci-lo memusatkan pikiran dan menghimpun semangat, setelah hati kosong dan konsentrasi penuh, maksud hati berpadu dengan semangat, sementara semangat berpadu pula dengan batang pedangnya, pelan-pelan mulai lagi ia mengembangkan tipu-tipu pedang baru yang diselami belum lama ini, sampai babak terakhir, sesuai dengan keinginan hatinya ia berhasil memapas tiga kuntum kembang, tanpa merontokkan daun-daun pohon.
Tiba-tiba didengarnya seorang memuji.
"Ilmu pedang bagus!"
Hun Ci-lo berjingkrak kaget, waktu ia angkat kepala, dilihatnya seorang laki-laki berjambang bauk pendek mengenakan jubah kuning tahu-tahu sudah berdiri di hadapannya.
Laki-laki jubah kuning berjambang bauk ini bukan lain adalah Miao Tiang-hong.
Tak tertahan jengah muka Hun Ci-lo, seakan isi hatinya kena dikorek oleh orang, ia menunduk malu.
Miao Tiang-hong segera menjura, ujarnya.
"Sebetulnya tidak pantas aku mencuri lihat latihan pedang nona, cuma ilmu pedang permainan nona tadi memang amat menakjubkan, tak tertahan lagi aku jadi terpesona dan menonton lebih lanjut."
Lekas Hun Ci-lo balas menghormat, katanya.
"Miao-siansing terlalu memuji, ilmu pedang ajaran-ku ini sebenarnya jauh dikatakan sempurna, apalagi dikembangkan di hadapan Miaosiansing sungguh aku malu diri."
Miao Tiang-hong terlongong, katanya.
"Maaf akan kecerobohanku, kuberanikan diri bertanya nama nona yang harum. Agaknya sebelum ini kita belum pernah bertemu?"
Hatinya heran, entah dari mana Hun Ci-lo bisa tahu namanya.
"Aku yang rendah she Hun bernama Ci-lo. Siau-hujin adalah bibiku, baru beberapa hari ini aku tiba di sini."
"Kiranya begitu, tak heran beberapa hari yang lalu aku pernah datang, namun belum kulihat nona!"
"Dari penuturan bibi aku pernah dengar, katanya Miao-siansing datang bersama Tan-jikongcu."
"Tidak salah, namun kali ini aku datang karena urusanku sendiri. Tan-kongcu punya urusan lain, kali ini tak bisa dia menemani aku bertamu ke rumah keluarga Cau."
"Kebetulan paman Cau juga sedang pergi setelah kedatanganku hari kedua, katanya hendak bertandang ke rumah Tan Tayhiap, apakah kalian tidak bertemu?"
"O, begitu, kalau begitu aku jadi kehilangan kesempatan untuk bertemu dengan Cau Siok-toh!"
Lalu ia melanjutkan.
"Cau Siok-toh tidak di rumah, biarlah aku bertemu dengan bibimu juga sama saja. Entah apakah nona Hun masih hendak latihan pedang?"
"Mari kuantar Miao-siansing menemui bibiku."
Begitulah mereka berdua beranjak keluar dari hutan Bwe. Tiba-tiba Miao Tiang-hong berkata.
"Baru pertama kali ini aku bertemu dengan nona, ada sebuah kata-kata entah patut tidak kutanyakan kepada nona?"
Hati Hun Ci-lo sedang risau, batinnya.
"Entah soal apa yang hendak dia tanyakan?"
Sebetulnya dia seorang pendekar perempuan yang berjiwa lapang dan terbuka, bukan nona pinggitan yang suka mengagulkan diri dan jual mahal, maka dengan sikap wajar dan tenang ia berkata.
"Silakan Miao-siansing katakan!"
"Ilmu pedang Sip-hun-kiam-hoat nona tadi mengutamakan kelincahan dan kecepatan, laksana kuda terbang mengarungi angkasa, tidak bisa terkendali. Agaknya jauh berbeda dengan sikap dan tindak tanduk nona di waktu melancarkan jurus-jurus tadi."
Maksudnya ia ingin bertanya, kenapa dalam berlatih ilmu pedang yang hebat lincah itu bersikap murung dan masgul. Dengan tawar Hun Ci-lo menjawab.
"Tidak apa-apa, soalnya aku jadi tidak tega telah merontokkan dan mengobrak-abrik banyak kelopak-kelopak kembang Bwe yang berserakan di tanah itu, maka terbayanglah akan kata-kata yang menyedihkan."
"Selamanya aku suka ngelantur bicara, harap nona tidak merasa janggal. Maklumlah hidup manusia tidak selalu diliputi kesenangan, tiba saatnya dia harus dirundung kepedihan, namun banyak bersedih lalu mereras diri bukanlah menjadi idaman hidup kaum persilatan macam kita ini, terutama di atas bukit Tong-ping-san nan indah permai ini, panorama yang elok ini seharusnya membikin hati kita terbuka lebar. Ah, aku banyak membual saja, nona jangan salahkan pengetahuanku yang sempit."
Laki-laki yang baru saja dikenal berani bicara secara terbuka dan gamblang, benar-benar membuat Hun Ci-lo harus berpikir.
"Tidak jelek orang macam demikian dijadikan kawan."
Maka katanya tertawa.
"Aku percaya aku bukan perempuan macam begitu, namun nasehat emas Miaosiansing betapapun akan selalu kuingat dan banyak terima kasih."
Miao Tiang-hong bergelak tertawa, ujarnya.
"Mungkin aku terlalu biasa kelana di kangouw. Meski ada kerisauan hati setinggi gunung, dalam sekejap saja dapat kulupakan!"
Begitulah sambil bercakap-cakap mereka beranjak, tanpa sadar pembicaraan satu sama lain teramat cocok, tahu-tahu Hun Ci-lo sudah tiba di depan rumah bibinya.
Melihat Hun Ci-lo kembali bersama Miao Tiang-hong, semula Siau-hujin merasa melengak, namun kilas lain ia unjuk seri tawa lebar, katanya.
"Angin apa yang menghembus kau kembali lagi? Em, kau sudah kenal keponakan perempuanku, jadi tidak perlu kuperkenalkan lagi padamu."
Setelah masing-masing duduk, berkatalah Miao Tiang-hong.
"Aku datang pula untuk menyirapi sebuah persoalan."
Siau-hujin adalah seorang yang bersifat gugup, selanya.
"Nanti dulu, aku juga ingin mencari tahu kepada kau. Kau datang dari rumah keluarga Tan?"
Miao Tiang-hong mengiakan, lalu katanya.
"Tan Thian-ih dan Tan Kong-si katanya hendak pergi ke Thay-san menghadiri berdirinya partai Hu-siang-pay di daerah Tionggoan maka Tan kongcu tidak bisa ikut aku pula."
"Yang kutanyakan bukan Tan-kongcu, yang ingin kutanyakan, apakah Cau Siok-toh pernah datang ke rumah keluarga Tan?"
"Aku tidak tahu. Aku tidak pernah melihatnya."
"Kapan kau meninggalkan rumah keluarga Tan?"
"Tiga hari yang lalu."
Siau-hujin jadi rada kuatir, ujarnya.
"Cau Siok-toh sudah tujuh hari meninggalkan rumah, menurut perhitungan dalam dua hari dia sudah bisa sampai di rumah Tan Thian-ih, namun kau tidak melihatnya, lalu ke mana saja dia?"
"Ilmu silat Cau Siok-toh cukup tinggi, pengalaman kangouwnya pun cukup matang, masa kau takut dia bakal hilang? Kupikir mungkin dia langsung menuju ke Thay-san juga. Konon ciangbunjin Hu-siang-pay Boh Cong-tiu, kali ini hendak mendirikan partai dan menegakkan aliran kakek moyangnya untuk mengembangkan perguruan, dia mengundang banyak tokoh-tokoh persilatan umumnya. Meski Cau Siok-toh tidak menerima undangan, adalah karena Boh Cong-tiu tidak tahu alamatnya. Kukira saudara Cau ada mendengar berita ini, pula ingin ke sana untuk menemui para kawan yang biasanya sulit ditemukan, kukira dia tidak perlu kuatir Boh Cong-tiu bakal menolak kedatangannya yang tidak diundang."
Siau-hujin berpikir.
"Ya. untuk menyirapi jejak putranya adalah lebih baik Siok-toh langsung pergi ke Thay-san daripada mencari ke rumah keluarga Tan."
Maka segera ia tertawa, katanya.
"Lalu kenapa kau sendiri tidak meluruk ke sana?"
"Sudah tentu aku ingin ke sana, namun aku harus kembali kemari dulu untuk mencari tahu sesuatu hal, maka tidak mungkin aku menyaksikan keramaian itu."
Dalam hati Siau-hujin sudah paham.
"Mungkin dia hendak mencari tahu tentang Lian Kampeh."
Betul juga, Miao Tiang-hong berkata lebih lanjut.
"Siau-toaso. setelah aku pergi, adakah seorang laki-laki she Lian yang mencari aku kemari?"
"Benar, ada seorang laki-laki she Lian yang datang kemari bertingkah kasar. Orang ini tidak tahu diri, berani dia main paksa dan kekerasan minta orang kepada kami. Mungkin dia adalah musuhmu bukan?"
"Bagaimana akhirnya?"
"Kau harus berterima kasih kepada keponakanku ini. Ci-Iolah yang bantu menggebah lari orang she Lian itu. He, he, orang itu berani mencari perkara kepadamu, kukira kepandaian silatnya tentu amat liehay, siapa nyana cukup Ci-lo yang turun tangan terpaksa dia harus melarikan diri mcncawat ekor. Bahwasanya kepandaian silat orang itu memang cukup tinggi. Untunglah Ci-lo mengembangkan Sip-hun-kiamhoat, kalau tidak, mungkin tidak mudah menggebah-nya lari."
Hun Ci-lo menjadi kikuk, katanya.
"Kepandaian Siang-pit-tiam-su-meh orang-itu memang cukup hebat, betapa sulitnya, sampai babak terakhir baru aku berhasil menang sejurus, akhirnya paman Cau dan bibilah yang mengusirnya pergi."
"Tak nyana membikin kesulitan saja bagi kalian,"
Demikian ujar Miao Tiang-hong.
"Adalah kalian tahu asal usul orang she Lian ini?"
"Paling-paling dia anak murid dari Keng-sin-pit keluarga Lian, meski aku kaum perempuan, kepandaian cetek lagi, masa aku gentar menghadapi keluarga Lian mereka."
"Siau-toaso, kau adalah pendekar perempuan, andai kata paman Lian Kam-peh sendiri dulu belum dibuat cacat oleh Kim Tiok-liu dan Le Lam-sing, Lian Seng-hou itu pun belum tentu menjadi tanding-anmu. Tapi yang ditakuti bukan keluarga Lian."
"Lalu siapa dia?"
"Menurut apa yang kutahu, Lian Kam-peh sudah terima menghamba di bawah pimpinan Pakkiong Bong, itu Komandan Gi-lim-kun!"
Siau-hujin terkejut, katanya.
"Maksudmu bahwa dia sudah menjadi anjing alap-alap pihak keraja-an?"
Sementara dalam hati ia membatin.
"Ternyata rekaan Cau Siok-toh tepat dan menjadi kenyataan."
"Benar, dia bekerja secara gelap bagi kepentingan kerajaan, sesama kawan kangouw belum banyak yang tahu. Masih banyak lagi sampah persilatan seperti dia itu. Ciok Tio-ki yang mendadak menghilang dan tak terdengar pula namanya di kangouw pun merupakan salah satu tokoh macam mereka itu."
Meski Siau-hujin simpatik terhadap tokoh-tokoh pahlawan melawan pemerintah kerajaan, namun dia sendiri segan terlibat di dalam pertikaian itu secara langsung. Diam-diam ia berpikir.
"Dendam sakit hati suamiku belum lagi kutuntut balas, jikalau menjadi buronan pemerintah, bakal menambah kesulitan saja bagi kami."
"Siau-toaso, aku jadi tidak enak hati, merembet dan bikin susah kalian saja. Ai, tempat ini mungkin kalian tidak bisa tinggal lebih lama lagi."
Betapapun Siau-hujin seorang perempuan yang berjiwa patriot, meski rada kuatir, namun ia bisa berpikir.
"Urusan sudah terlanjur, apa gunanya main takut-takut?"
Karena pikirannya ini, timbul keberaniannya, katanya tertawa.
"Yang terang kami sudah biasa luntang-lantung, anggap empat lautan sebagai tempat berteduh kami. Tapi, Miao-toako, sebelum ini aku masih belum tahu, bahwa kau adalah seorang tokoh dari pasukan pergerakan malah."
"Tokoh-tokoh dari pasukan pergerakan ada beberapa orang yang kukenal, bicara masuk pasukan pergerakan menjadi seorang thaubak umpamanya, rasanya aku masih belum setimpal!"
"Ah, Miao-siansing terlalu sungkan,"
Timbrung Hun Ci-lo.
"Bukan sungkan, aku seumpama kuda liar yang tidak sudi dipingit, seumpama aku ada keinginan masuk menjadi anggauta pasukan pergerakan, belum tentu mereka sudi menerima diriku."
Habis berkata ia bergelak tertawa.
"Lalu untuk apa pula I^ian Kam-peh itu kemari hendak menangkap kau, adakah perselisihan pribadi saja?"
Tanya Siau-hujin.
"Perselisihan pribadi memang ada, namun bukan perkara besar. Kira-kira lima tahun yang lalu, pada suatu hari aku lewat di Lian-keh-cheng, kebetulan kusaksikan dia sedang bentrok berebutan jalan dengan seorang petani. Waktu itu, mungkin Keng-sin-pit-hoatnya belum lagi berhasil dilatihnya, belum lagi terima menghamba di bawah perintah Pakkiong Bong."
"Bersama petani itu mereka mendatangi dari dua jurusan yang berlawanan, akhirnya bertemu di atas sebuah jembatan tunggal yang terbuat dari dahan pohon. Petani itu memikul dua tahang berisi kotoran manusia, sudah tentu dia tidak leluasa berputar atau mundur kembali. Sementara dia sendiri pun tidak mau mengalah."
"Karena dua pihak sama-sama kukuh lalu bertengkar, adalah lazim kalau bertengkar pasti kelepasan mulut memaki dengan kata-kata kotor, demikianlah petani itu telah memakinya. Keruan Lian Kam-peh naik pitam, jengeknya dingin. 'Baik, kau tidak mau mengalah, silakan kau berdiri di sini saja!"
Ringan-ringan saja kipas lipatnya bergerak menotok jalan darah petani itu, lalu dengan sikap yang dibuat-buatnya dia mengolok-olok.
'Baiklah, terserah berapa lama kau suka berdiri di sini, kecuali kau minta ampun kepadaku, mohon aku membebaskan dirimu, kalau tidak jangan harap kau bisa jalan pulang, tiada orang yang mampu menolong kau pula.' Habis berkata lalu ia mengencangkan celana dan melipat jubahnya melompat terbang melampaui atas kepala si petani."
"Aku jadi dongkol melihat kelakuannya yang gila-gilaan dan takabur menghina dan menganiaya petani yang tidak bisa apa-apa. maka sengaja aku ingin mempermainkannya. Di saat ia melambung tinggi melampaui atas kepala si petaju menggunakan gaya Ui-kiau-jong-thian (burung kuntul melambung ke langit), kusambitkan dua butir batu ke dalam gantang besar yang berisi kotoran manusa itu, sehingga kotorannya menciprat keluar dan mengotori jubahnya yang putih."
"Sudah tentu dia menjadi murka dan mencak-mencak seperti kebakaran jenggot, dengan muka merah padam meluruk ke arah diriku, namun akhirnya toh dia tidak berani mengumbar adatnya."
Hun Ci-lo menjadi tertarik dan merasa lucu, katanya tertawa.
"Laki-laki kasar yang tidak aturan dan main kekerasan seperti dia itu memang pantas dihajar adat, cara itu memang tepat sekali. Kenapa dia tidak berani mengumbar adatnya?"
"Di lain kejap kusambitkan pula sebutir kerikil membebaskan totokan jalan darah si petani. Bahwa mendadak bisa bergerak dan jalan lagi sudah tentu si petani amat keheranan, disangkanya dia telah disihir dan dipermainkan dengan ilmu hitam, ilmu hitamnya itu kebetulan dibebaskan oleh malaikat yang kebetulan lewat dan menolong dirinya. Maka sambil menggerutu dan mengumpat caci, dia pikul kedua gantang kotoran manusia itu pulang ke rumahnya."
"Melihat aku bisa, membebaskan ilmu toloknya Lian Kam-peh tidak berani segera mengumbar amarahnya, dia tanya namaku. Baru sekarang berkesempatan kujelaskan kepadanya, bukan sengaja aku hendak mencari permusuhan dengan dia, soalnya tadi kau mengatakan ilmu totokmu tiada orang yang mampu membebaskannya, maka baru aku memberanikan diri mencoba-coba. Mungkin Lian Kam-peh sudah tahu di kalangan kangouw adanya orang macam tampangku ini, setelah mendengar namaku, tanpa banyak bicara ia tinggal mengeloyor pergi."
"Bagi seorang rendah yang merasa dihina, dan kena malu selalu mesti menuntut balas,"
Demikian ujar Siau-hujin.
"Tapi konon ilmu totok keluarga Lian mereka merupakan ilmu tunggal yang tiada bandingannya di bulim yang tidak diturunkan kepada orang luar, cara bagaimana pula kau membebaskan totokannya itu?"
"Keng-sin-pit-hoat dari keluarga Lian memang tidak bernama kosong, namun ilmu ini harus dilancarkan bersama dua orang, melancarkan ilmu Su-pit-tiam-pat-hiat, baru bisa mengembangkan perba-wanya yang tulen. Lian Kam-peh sendiri belum lagi sempurna mempelajari Keng-sin-pit-hoat, dia ' hanya seorang saja, tempat yang dia totok pun bukan jalan darah yang tersembunyi, maka dapatlah aku membebaskannya. Kalau bertempur sungguhan, bentrok dengan Su-pit-tiam-pat-meh, mungkin aku hanya bisa berjaga melindungi diri supaya tidak sampai tertotok oleh mereka."
"Meski begitu, kau mampu memecahkan ilmu totok keluarga Lian yang tunggal itu, pengetahuan ilmu silatmu ini sudah boleh dikata cukup dalam dan luas, sungguh harus dipuji,"
Demikian ujar Siau-hujin.
"Siau-toaso,"
Ujar Miao Tiang-hong.
"terima kasih akan tempelan emas ke kulit mukaku, untunglah kulit mukaku cukup tebal, kalau tidak selebar mukaku ini bisa merah padam saking malu."
Di luar tahunya bahwa Siau-hujin memang sengaja hendak memujinya di hadapan Hun Cilo. Berkatalah Hun Ci-lo.
"Hari itu dengan garang dia meluruk datang, jikalau hanya karena persoalan sekecil ini kukira urusan tidak bakal terjadi begitu menegangkan."
"Memang sudah tentu bukan hanya perkara kecil saja lantas dia meluruk kemari, sekarang dia adalah pembantu Pakkiong Bong, di dalam Gi-lim-kun dia punya tugas-tugas khusus yang tidak terdaftar. Boleh dikata dia bekerja hanya demi kepentingan pribadinya pula, meminjam tugas dia hendak menuntut balas sakit hatinya dulu. Soalnya meski aku tidak masuk pasukan pergerakan, beruntunglah karena aku terpandang oleh Pakkiong Bong, di dalam daftar buku hitamnya aku pun dicantumkan sebagai buronan pemerintah kerajaan yang utama pula."
Siau-hujin terkejut, tanyanya.
"Cara bagaimana kau bisa menjadi buronan pemerintah?"
"Beginilah duduk perkaranya. Di kalangan kangouw terdapat sebuah Thian-li-hwe, apakah kalian tahu mengenai perkumpulan ini?"
"Kabarnya Thian-li-hwe merupakan sebuah kumpulan orang-orang gagah melawan pemerintah kerajaan, pejabat thocu yang sekarang bernama Lim To-kan, usianya belum mencapai tiga puluh tahun, dia adalah murid Kang Hay-thian tokoh nomor satu di seluruh dunia persilatan. Apakah benar apa yang kuketahui ini?"
Demikian tutur Siau-hujin.
"Benar. Kang Hay-thian punya empat murid. Murid terbesar Yap Boh-hoa menjadi wakil pimpinan gerilya di Tay-liang-san, murid kedua Ibun Hiong adalah pendekar kelana di kangouw, Lim To-kan berkedudukan nomor tiga, dia masih punya seorang sute bernama Li Kong-he, menjabat wakil thocu dari Thian-li-hwe pula. Dengan Kang Hay-thian atau murid-muridnya aku tidak kenal, namun di dalam Thian-li-hwe aku punya seorang kawan lama, orang ini benama Cai Moh. Ayahnya adalah Cai Kin pernah menjabat congpiauthau dari Tin-wan Piaukiok yang berkedudukan di kota raja."
Siau-hujin kembali terkejut, serunya.
"Bukankah pejabat congpiauthau Tin-wan Piaukiok yang terdahulu bernama Han Ki-gwan?"
"Justru Cai Kin ini kena disikut oleh Han Ki-gwan, jabatan cong-piauthaunya jauh lebih dulu dari Han Ki-gwan. Sudah tentu mengapa dia meninggalkan usahanya mempunyai sebab-sebab tertentu, di sini tidak perlu kujelaskan secara terperinci."
Siau-hujin berlega hati, batinnya.
"Kiranya begitu, jadi dia pun punya pertikaian dengan musuh besarku. Kalau tidak, bila bicara dengan Miao Tiang-hong paling tidak ada ganjalan yang perlu kuperhatikan juga."
Miao Tiang-hong melanjutkan.
"Tahun yang lalu pernah aku ke Poting, ke markas besar Thianli-hwe menyambangi Cai Moh, maksudku semula ingin sekali berkenalan dengan Lim dan Li kedua thocunya. Tak nyana kebetulan Lim To-kan dan Li Kong-he kebetulan tiada di rumah, di dalam Thian-li-hwe aku bertamu beberapa hari menunggu mereka pulang, siapa tahu, malam ketiga mendadak kami kena disergap dan diserang."
Bercekat hati Siau-hujin, tanyanya.
"Siapa yang bernyali begitu besar, berani menyerang ke markas besar Thian-li-hwe?"
"Mereka adalah tokoh-tokoh kuat dari pasukan Gi-lim-kun yang diutus datang oleh Pakkiong Bong, seluruhnya berjumlah delapan belas orang, yang menjadi pimpinan adalah suheng Pakkiong Bong yang bernama Sebun Soh, ilmu silat orang ini katanya lebih rendah dari sutenya, namun Hian-im-ciang yang dia latih sungguh amat ganas dan berbisa. Lim dan Li kedua cocu tiada di rumah, musuh terlalu tangguh, Cai Moh dan aku berjuang mati-matian di garis depan melindungi para saudara Thian-li-hwe melarikan diri. Dalam pertempuran yang sengit itu Cai Moh terluka parah dan akhirnya meninggal. Aku berhasil memukul mati tujuh jagoan kosen, namun terkena pula sekali pukulan Sebun Soh, untung aku masih sempat melarikan diri. Namun sejak saat itu menjadi buronan .pemerintah juga."
Lalu dia membuka baju sebelah atas, tampak di tengah dadanya bercap sebuah telapak tangan seperti dicap dengan besi panas. Miao Tiang-hong tertawa getir, katanya.
"Inilah tanda yang diberikan oleh Sebun Soh pada malam itu. Untung baru saja aku berhasil melatih Hou-teh-sin-kang, kalau tidak sungguh aku tidak berani membayangkan akibatnya."
Melihat bekas pukulan telapak tangan itu, tak urung Siau-hujin dan Hun Ci-lo sama kaget dan merinding. Kata Miao Tiang-hong.
"Tahun yang lalu Lian Kam-peh ini mencantumkan namanya di dalam Gi-lim-kun dengan pangkat tituler (preman), jadi dia menjadi anjing alap-alap secara sembunyi yang bertugas dengan cara menggelap pula. Malam itu dia tidak meluruk datang bersama Sebun Soh."
"Pakkiong Bong dan Sebun Soh tidak tahu asal-usul serta nama dan riwayat hidupku, menurut rekaanku, mungkin Lian Kam-peh yang mengagulkan diri suka bekerja bagi pemerintah kerajaan hendak meringkus aku. Hanya ia seoranglah yang kenal aku di antara bawahan Pakkiong Bong yang sekian banyaknya. Secara langsung tugas ini menjadi tanggung jawabnya pula."
Beberapa hari yang lalu kebetulan dia kena kita gebah lari, malah sedikit kena luka, kukira tidak mungkin bisa begitu cepat mengundang bantuan tokoh kosen meluruk balik pula.
Maka lebih baik kau tinggal saja beberapa hari di sini, setelah Cau Siok-toh pulang, biar kita merancang cara menghadapi mereka lebih lanjut."
"Kalau paman Cau langsung pergi ke Thay-san, entah berapa lama lagi baru akan kembali,"
Demikian timbrung Hun Ci-lo. Miao Tiang-hong tahu bahwa Siau-hujin berat meninggalkan rumahnya, katanya.
"Waktu datang aku sudah mendapat sebuah akal. Tidak perlu aku takut mereka datang, yang kukuatirkan justeru mereka tidak datang."
"Rencana apa yang akan kau lakukan?"
Tanya Siau-hujin heran.
"Kalau mereka berani meluruk datang biar aku yang menyelesaikan persoalan ini dengan mereka. Bagaimanapun dan apa saja yang terjadi jangan sekali-sekali kalian ikut turun tangan. Dengan demikian persoalanku ini tidak akan menyangkut paut kalian."
Siau-hujin merengut, katanya kurang senang.
"Meski aku kaum hawa, namun pundakku masih kuasa memikul tugas dan tanggung jawab seringan itu."
"Bukan begitu persoalannya, mana aku berani pandang rendah toaso, aku cuma tidak suka merembet kalian saja. Dan lagi kalau ada cara penyelesaian yang baik dan menguntungkan dua pihak, kenapa pula kalian harus ikut terjun dalam persoalan ini? Siau-toaso, kalau kau tidak setuju, terpaksa sekarang juga aku minta diri saja."
Siau-hujin menjadi geli, ujarnya.
"Kalau begitu, kuharap orang she Lian itu tidak cepat-cepat datang kemari malah, lebih baik dalam tempo satu setengah tahun baru akan datang, dengan demikian kau bisa lebih lama menetap di rumahku."
"Yang kukuatirkan justru aku menunggu secara sia-sia, karena mungkin aku hanya bisa menetap paling lama satu bulan di sini. Kalau aku sudah pergi baru mereka meluruk datang, itu berarti membikin kesulitan bagi kalian. Maka, demi keselamatan kalian sudah kupikirkan pula suatu akal yang baik sekali."
"Aku tahu ilmu silatmu cukup tangguh, tak nyana kau pun seorang cerdik pandai yang pintar memutar otak."
"Kuharap toaso sendiri tidak merasa direndahkan, karena akal yang kusimpulkan ini mungkin bisa membuat kalian risi."
Lalu dikeluarkannya beberapa lembar kedok muka yang tipis lembut, katanya lebih lanjut.
"Inilah kulit muka palsu yang kudapat dari Biau-kiang pada sepuluh tahun yang lalu, buatannya amat bagus, lemas lembut dan halus bisa memuai lebih besar dan mengkeret lebih kecil, bisa dibuka dan dipakai di muka kita, tanggung tidak akan dikenal oleh orang lain. Waktu itu aku hanya merasa senang karena cukup menarik buat mainan, maka kukumpulkan sepuluh buah dengan corak yang berlainan pula, ada beberapa lembar sudah kuberikan kepada para teman, sekarang kebetulan sisa empat lembar untuk kalian berempat. Jikalau aku tidak sempat menunggu lebih lama lagi, tiada kesempatan untuk menyelesaikan pertikaianku dengan mereka, ada lebih baik kalian lekas-lekas meninggalkan tempat ini saja."
"Tak nyana sedemikian cermat dan seksama kau pikirkan keadaan kami,"
Demikian ujar Siauhujin.
Maklumlah Siau-hujin, Hun Ci-lo berempat semua sudah pernah dilihat dan bertemu muka secara langsung dengan Lian Kam-peh, terutama Siau-hujin sendiri yang cukup dikenal oleh beberapa kalangan persilatan di kangouw, kalau toh hendak menyingkir ke tempat lain yang jauh, ada lebih baik jangan sampai diketahui muka aslinya oleh orang.
"Jikalau kalian mengenakan kedok palsu ini, kutanggung sahabat karibmu pun tidak akan kenal lagi pada kau,"
Demikian ujar Miao Tiang-hong.
"Cuma ada suatu hal yang kumohon maaf pada kalian, majikan dari beberapa lembar kedok palsu ini sama adalah perempuan-perempuan buruk yang menjijikkan."
"Aku toh nenek tua yang sudah berkeriput dan berambut ubanan, masa perlu mempersoalkan baik buruk muka orang? Cuma keponakanku yang berparas sedemikian cantik laksana bidadari ini, kini harus berganti muka seburuk kuntilanak, sungguh harus merendahkan derajatnya saja."
Hun Ci-lo menimbrung bicara-.
"Kalau mengenakan kedok palsu ini, aku kuatir aku bisa mual dan muntah-muntah."
"Kalau bisa menghindari penggunaannya sudah tentu lebih baik,"
Demikian ujar Miao Tianghong.
"Tapi tiada jeleknya kita bersiap lebih dulu."
Terpaksa Hun Ci-lo menerima pemberian orang, ia nyatakan terima kasih akan hadiah yang diterimanya itu.
"Kenapa putrimu dan nona Cau tidak kelihatan?'"
Tanya Miao Tiang-hong.
"Mungkin sedang main-main di luar, biar sebentar kupanggil mereka pulang."
"Biar aku saja yang panggil mereka. Mereka sudah kenal akan Liong-ling-kangku."
Lalu ia bersuit panjang, suaranya menjulang tinggi ke angkasa seperti naga berpekik.
Siau-hujin merasa kupingnya mendengung dan tergetar.
Sebaliknya Hun Ci-lo yang sudah pernah dengar Liong-lingkangnya ini di danau tempo hari tidak merasa heran.
Adalah Siau-hujin, merasa sangat kagum, pikirnya.
"Tak heran Siok-toh sering memuji akan bakatnya yang tinggi, seorang jenius dalam bidang ilmu silat. Usianya belum mencapai empat puluh tahun, tapi mengandal hasil latihan Lwekangnya ini, kiranya sudah berada di atasku."
Tak lama kemudian tampak Siau Gwat-sian dan Cau Ci-hwi berlari-lari pulang. Dari kejauhan segera Siau Gwat-sian berseru.
"Aku sedang latihan pedang di belakang gunung sama Hwi-ci, tidak tahu bila paman Miao sudah datang pula. Bu. kenapa kau tidak lekas-lekas panggil kami pulang?"
Sementara Cau Ci-hwi tidak melihat kehadiran Tan Kong-si diam-diam hatinya amat kecewa.
"Kali ini aku datang sendirian, aku kuatir kalian tidak akan mau menyambut kedatanganku,"
Lalu ia jelaskan, bahwa Tan Thian-ih bersama Tan Kong-si hendak pergi ke Thay-san, kepada mereka. Kena ditebak isi hatinya, merah muka Ci-hwi, katanya.
"Paman Miao suka menggoda saja, kami sedang latihan ilmu pedang, memangnya sedang mengharap-harap petunjuk seorang ahli pedang kau ini."
"Ahli pedang memangnya sudah berada di rumah kalian, kenapa harus minta bantuan dari luar segala?"
Goda Miao Tiang-hong.
"Miao-siansing terlalu sungkan, aku sendiri pun ingin mohon petunjuk beberapa jurus pedang kepada kau,"
Demikian pinta Hun Ci-lo. Memang Siau-hujin sedang mengharap keakraban hubungan mereka, lekas ia ikut bicara.
"Tepat sekali. Sedikit sekali orang luar yang mengenal Sip-hun-kiamhoat warisan keluarga Ci-lo. Sekali pandang kau lantas mampu menyebut namanya, memangnya aku sedang merasa heran. Tidak heran banyak orang sama mengatakan bahwa pengetahuanmu mengenai ilmu silat amat luas dan dalam, ternyata memang tidak bernama kosong. Kau tidak usah sungkan-sungkan, pandanglah mukaku dan berilah beberapa petunjuk padanya."
"Toaso kau menempel emas di mukaku lagi. Intisari dan rahasia ajaran dari Sip-hun-kiamhoat aku hanya tahu kulitnya saja, sebaliknya nona Hun mendapat warisan langsung, kalau mau bicara soal minta petunjuk seharusnya istilah ini dibalik saja."
Siau Gwat-sian terkikik geli, ujarnya.
"Paman Miao biasanya kau cukup toleran dan terbuka, belum pernah kulihat kau bersikap plintat-plintut main diplomasi segala. Sudahlah tidak perlu sungkan-sungkan, tidak perlu menggunakan istilah 'petunjuk', marilah kami sama menjajal kepandaian masing-masing saja, kalian boleh jajal ilmu pedang masing-masing supaya kami berdua tambah pengalaman."
Hari kedua benar juga Miao Tiang-hong bersama Hun Ci-lo bertiga pergi latihan pedang ke hutan bunga Bwe. Kata Cau Ci-hwi.
"Paman Miao, kau tidak membawa pedang, cara bagaimana latihannya? Sementara silakan pakai saja pedangku?"
"Tidak usahlah!"
Sahut Miao Tiang-hong. lalu dipotesnya sebatang dahan pohon, katanya.
"Nona Hun, silakan kau kembangkan Sip-hun-kiamhoat, serang saja sekuat tenagamu, jangan kuatir!"
Hun Ci-lo tahu ilmu silat orang memang tangguh, maka dia tidak usah kuatir pedangnya bakal melukai orang, cuma dalam hati berpikir.
"Pedangku ini bukan pedang pusaka yang dapat mengiris besi seperti lempung, namun dahan pohon itu sedikit terpapas pasti kutung, masa mungkin dia mampu bermain sedemikian rupa sehingga senjata kayunya itu tidak sampai terbentur dengan pedangku?"
Demikian ia bertanya-tanya dalam hati.
"Silakan!"
Ujar Miao Tiang-hong, dahan pohon di tangannya memantul kian kemari lalu pelanpelan bergerak dengan gaya permulaan yang paling umum yaitu jurus yang mempersilakan lawan.
Kuatir sekali gebrak pedangnya berhasil mengutungi dahan pohon, jikalau hal ini sampai terjadi tentu menjatuhkan pamor orang, maka ia bergerak dengan strategi menghindar yang berisi menyergap yang kosong, ujung pedangnya tergetar miring menghindari pantulan dahan pohon lawan.
"sret"
Tahu-tahu ujung pedangnya menukik turun menusuk jalan darah Hoan-tiau-hiat di lutut orang.
Siapa nyana dahan pohon di tangan Miao Tiang-hong ternyata bisa bergerak selincah ular sakti yang hidup, melejit dan maju mundur seperti lidah ular jang molor mengandung perubahan yang sulit diraba, keruan tusukan pedang Hun Ci-lo mengenai tempat kosong, sementara dahan pohon lawan mendadak sudah menusuk tiba dari arah yang tidak terduga sebelumnya.
Bagi orang yang belajar ilmu silat adalah jamak setiap kali menghadapi serangan musuh pasti bergerak cepat secara reflek untuk melawan atau menangkis serangan musuh itu, dalam keadaan yang cukup gawat, tanpa banyak pikir Hun Ci-lo segera menarik pedang serta memutarnya satu lingkaran, merubah tipu balas menyerang.
"Bagus!"
Miao Tiang-hong berseru memuji.
Gesit sekali dalam waktu yang amat pendek ia sudah menggeser kedudukan, dahan pohonnya sedikit pun tidak kena tersentuh oleh lawan, tahutahu me-nyelonong tiba pula dari arah yang tidak terduga.
Hun Ci-lo tahu tipu serangan yang digunakan ini adalah jurus pedang Bu-tong-pay yang dinamakan Sing-han-hu-cai, di sebelah atas menusuk tenggorokan serta memapas miring mengiris kedua biji mata, jurus yang amat keji, tanpa ayal sigap sekali ia gunakan tipu serangan dari Siphun-kiamhoat untuk memunahkan serangan lawan.
Tak duga dahan pohon di tangan Miao Tianghong mendadak mengganti gaya di tengah jalan, kelihatannya seperti Sing-han-hu-cai, namun kenyataan bukan sama sekali, maka terdengarlah suara "Cras", lengan baju Hun Ci-lo kena tersampuk oleh dahan pohonnya.
Kontan merah Hun Ci-lo.
lekas ia melompat mundur tiga langkah, katanya.
"Ilmu pedang Miao-siansing betul-betul hebat dan menakjubkan. Aku sudah kalah sejurus."
Miao Tiang-hong tertawa, katanya.
"Soalnya kau sendiri masih ragu-ragu dan kuatir segala, jadi belum kalah betul-betul. Mari diulangi sekali lagi!"
Adu pedang babak kedua ini sudah tentu Hun Ci-lo tidak berani pandang ringan senjata dahan pohon lawan, karena rasa ragu dan kuatirnya sudah tiada, dia dapat mengembangkan Sip-hunkiamhoat sampai puncak kesempurnaan latihannya."
Makin bertempur lama kelamaan Miao Tiang-hong merasa kagum dan memuji dalam hati.
"Agaknya Sip-hun-kiamhoat yang dimainkan ini lebih banyak perubahan variasi yang lebih mendalam setelah berhasil diwarisi olehnya. Lika-liku intisarinya yang terpenting dulu masih banyak yang belum bisa kuselami. Em, perempuan cerdik yang dapat mengolah dan memupuk ke puncak kesempurnaan sua-tu ajaran murni seperti dia ini sungguh sukar didapat dan tiada keduanya."
Demikianlah pandangan Miao Tiang-hong terhadap Hun Ci-lo.
Adalah lain pula pandangan Hun Ci-lo terhadap Miao Tiang-hong, sungguh ia merasa tunduk lahir batin, terasa olehnya permainan ilmu pedang orang terlalu sulit untuk diselami.
Tampak setiap jurus ilmu pedang yang dimainkan terdiri dari beberapa partai silai yang kenamaan, mendadak melancarkan ilmu pedang dari Siaulim-pay, tiba-tiba pula milik Bu-tong-pay, lalu dirubah lagi dengan permainan pedang dari Ngo-bipay, terus diganti pula dari Khong-tong-pay, ilmu pedang dari beberapa partai dan golongan itu meski amal rumit dan campur aduk, aneh dan sukar sekali dipelajari, namun seluruhnya dapat dimainkan secara beruntun sambung menyambung tidak kenal putus, setiap jurus setiap tipunya seperti ajaran langsung dan murni dari perguruan masing-masing, namun di balik kesempurnaan permainannya itu, kelihatannya jauh lebih menakjubkan dari aslinya.
Baca Juga: Hikmah Pedang Hijau 1
Baca Juga: Pendekar Cacad 5