Kelana Buana 5

Eps 5 Kelana Buana - Liang Ie Shen

Baca online Kelana Buana - Liang Ie Shen

Cersil Kelana Buana - Liang Ie Shen.

Sekejap saja tiga lima puluh jurus sudah berlalu, dahan pohon di tangan Miao Tiang-hong diputar kencang mengeluarkan deru angin kencang, lincah laksana naga hidup, meski dahan pohon amat lemas dan dapat memantul, namun kekuatannya ternyata tidak lebih asor dari batang pedang yang terbuat dari besi atau baja.

Karena setiap serangannya membuat lawan harus membela atau menjaga diri lebih dulu sebelum berusaha melukai lawan.

Hun Ci-lo terdesak untuk membela diri dan bertahan saja, kira-kira sesudah tiga lima puluhan jurus, pedangnya belum berhasil memapas dahan pohon lawan.

Sekonyong-konyong Miao Tiang-hong menyodorkan dahan pohonnya menusuk datang, itulah jurus dari Sip-hun-kiamhoat pula yang digunakan, setiap gerakan ilmu pedang perguruan sendiri sudah amat hafal di luar kepala Hun Ci-lo, tanpa ayal dengan seenaknya secara reflek ia sudah bergerak dengan serangan balasan yang khusus .untuk mematahkan jurus serangan lawan.

Tak nyana serangan yang dilancarkan Miao Tiang-hong ini sudah ditambah variasi perubahan yang diciptakan sendiri olehnya, tahu-tahu sudah menusuk tiba pula dari tempat yang tak pernah terpikirkan oleh Hun Ci-lo.

Keruan kejut Hun Ci-lo bukan kepalang, dalam gugupnya lekas ia gunakan Hong-biao-loh-hoa, gerakan tubuh yang amat cepat dan gesit, beruntung ia masih sempat berkelit.

Terdengar Miao Tiang-hong berkata.

"Jurus seranganku ini aku menggunakan aturan yang berlawanan. Kalau menurut ajaran pedang perguruan kalian, gerak pedang harus lambat dulu baru cepat, namun kugubah menggunakan kecepatan lebih dulu baru lambat, entah akan adakah manfaatnya kulancarkan?"

"Miao-siangsing dapat berkarya mengikuti ajaran murni dari ilmu yang asli, sungguh harus dipuji. Tapi kalau Iwekang sendiri kurang memadai untuk melandasi gerakan yang kuat dan berisi itu, kukira tiada manfaatnya sama sekali."

Sudah tentu kata-katanya memuji kepada Miao Tianghong, maksudnya.

bilamana tokoh silat kelas rendahan yang memainkan, tiada punya landasan Iwekang sekuat Miao Tiang-hong sekarang, adalah tidak mungkin mampu melancarkan jurus pedang sesuai dengan hasil karya yang dikemukakan Miao Tiang-hong tadi.

Sepihak ia memuji orang, di lain pihak ia pun ajukan pendapatnya.

Setelah ia selesai dengan omongannya, baru Hun Ci-lo menyadari kelepasan omong dan merasa tidak enak hati dan rikuh, pikirnya.

"Aku baru saja berkenalan dengan dia, pengetahuan ilmu silatnya pun jauh lebih luas dan dalam dari aku, entah tepat tidak penilaianku tadi."

Ternyata Miao Tiang-hong menjadi senang kelihatannya, ujarnya.

"Ucapan nona Hun memang tidak salah."

Beberapa jurus lagi, lagi-lagi Miao Tiang-hong melancarkan tipu serangan dari gubahan Sip-hun-kiamhoat.

Kali ini Hun Ci-lo sudah siap sebelumnya, sigap sekali melancarkan salah satu jurus dari tiga jurus pedang cepat ciptaan ayahnya, dalam hati ia membatin.

"Kali ini betapapun gerak perubahanmu, pedangku pasti bisa memapas kutung dahan pohonmu."

Belum lenyap jalan pikirannya, benar juga dahan pohon Miao Tiang-hong kena tersentuh oleh Cengkong-kiamnya.

Akan tetapi dahan pohon di tangan orang seolah-olah menjadi selembar daun kayu yang menempel di punggung pedangnya, kontan Hun Ci-lo merasakan suatu tenaga lunak yang punya daya lengket amat kuat, serta merta Ceng-kong-kiamnya ikut terseret ke samping, jadi dahan pohon tidak berhasil dipapasnya kutung.

Mendadak Miao Tiang-hong melompat keluar kalangan terus membuang dahan pohon di tangannya, katanya tertawa.

"Kali ini aku betul-betul kalah. Sip-hun-kiamhoat nona Hun memang amat menakjubkan, tak mampu aku mengatasinya."

Nona Cau dan Siau sampai menjublek dan terlongong, begitu terpesona mereka menyaksikan pertandingan pedang yang tiada taranya ini, setelah Miao Tiang-hong membuang dahan pohonnya baru mereka tersentak sadar.

"Paman Miao,"

Seru Siau Gwat-sian keheranan.

"jelas jurus tadi kaulah yang menang, kenapa kau bilang dia yang menang malah?"

"Aku hanya lebih unggul dalam bidang lwekang dari piaucimu, bicara ilmu pedang sebetulnya aku sudah kena ditundukkan, tidak bisa tidak aku harus mengaku asor."

"Miao-siansing, kukira ucapanmu ini kurang tepat,"

Demikian ujar Hun Ci-lo.

"Memang Sip-hunkiamhoat masing-masing punya gerak perubahan variasinya sendiri-sendiri, sedapat mungkin aku berhasil main coba dengan kau. Jelas sekali kau paham dan fasih sekali mainkan ilmu pedang dari berbagai partai dan aliran, dalam hal ini aku betul-betul harus mengaku asor pula."

"Yang jelas permainan ilmu pedang kalian sudah membuka lebar kedua mataku, tidak sedikit manfaat yang kuperoleh, kalian tidak perlu main sungkan segala. Darimana kau bisa memainkan ilmu pedang dari berbagai perguruan yang luas dan banyak ragamnya itu secara keseluruhannya. Dalam kolong langit ini mungkin sulit dicari keduanya."

Miao Tiang-hong bergelak tertawa, ujarnya.

"Untung tiada orang lain hadir di sini, kalau ucapanmu ini didengar orang lain, gigi orang bisa ompong karena geli."

"Aku tidak percaya ada tokoh mana yang lebih unggul dari kau dalam bidang ilmu pedang,"

Demikian ujar Cau Ci-hwi.

"Entah berapa banyak tokoh-tokoh kosen yang mahir ilmu pedang jauh di atas kemampuanku sendiri. Umpamannya Kini Tiok-liu, Le Lam-sing atau Boh Cong-tiu dan lain-lain. Mereka sama adalah jagoan ahli pedang yang tersohor, jauh lebih unggul dari kepandaianku."

"Kau pernah gebrak dengan mereka?"

Tanya Siau Gwat-sian.

"Ketenaran nama tentu tiada kenyataan yang kosong, kenapa harus saling gebrak baru bisa menentukan lebih ungul atau asor?"

"Siapa tahu bila nama tenar sesungguhnya tidak berisi? Apalagi seumpama benar seperti yang kau ucapkan, tidak lebih mereka hanya seorang kenamaan dari aliran ilmu pedang ajaran perguruan mereka masing-masing, adalah kau paham dan menyelami intisari ilmu pedang dari berbagai partai dan golongan?"

Miao Tiang-hong tertawa.

"Ucapanmu tidak benar. Pertama. terhadap ilmu pedang dari berbagai partai itu aku hanya tahu dan menyangkok kulitnya saja, masih jauh dikatakan hafal dengan sempurna. Kedua. puncak tertinggi dari ilmu silat adalah harus dapat meng-kombinasikan ajaran dari ratusan cabang, lalu membuka sendiri sebuah cabang aliran yang tersendiri dengan memungut sari-sari penting dari semua cabang-cabang itu. Untuk memperoleh dari ratusan cabang itu aku masih belum mampu, apa lagi menciptakan aliran tersendiri dari hasil kombinasi itu, lebih tidak mungkin lagi. Lalu mana pula bisa aku dijajarkan dengan para tokoh-tokoh pimpinan cabang?"

Dalam hati Hun Ci-lo berpikir.

"Ada kalanya orang ini bersikap takabur, namun mempunyai sikap rendah hati pula, sungguh sulit ada orang demikian."

Akan tetapi, meski tahu ucapannya itu main sungkan belaka, namun dari apa yang dikatakan soal "kombinasi dari ratusan cabang serta menciptakan aliran tersendiri", diam-diam ia merasa sangat takjub dan tidak sedikit manfaat yang dia peroleh secara diam-diam.

Adalah Cau Ci-hwi dan Siau Gwat-sian mempunyai jalan pikiran lain yang bersamaan pula, kemarin mereka ada mendengar Miao Tiang-hong menyinggung pertemuan besar di Thay-san, kini otak mereka jadi berangan-angan.

"Boh Cong-tiu adalah tuan rumah dari pertemuan kali ini, paman Miao tadi mengatakan bahwa Kim dan Le berdua orang itu adalah tamu agungnya, selain itu entah masih berapa banyak tokoh-tokoh persilatan yang tak terhitung jumlahnya? Tan Kong-si sudah pergi ke sana bersama ayahnya. Ai, jikalau aku pun bisa hadir dalam pertemuan besar untuk membuka pandangan mata betapa baiknya."

Setelah Miao Tiang-hong datang, Siau Gwat-sian dan Cau Ci-hwi sudah pindah ke rumahnya, kamar tamu keluarga Cau mereka sediakan untuk tempat tidur Miao Tiang-hong.

Sementara mereka tidur bersama di kamar Siau Gwat-sian, sedang Hun Ci-lo tidur sekamar bersama Siauhujin.

Malam itu kuatir bibinya terlalu banyak ngobrol, dikatakan dirinya tidak mau dengar nasehatnya, pagi-pagi Hun Ci-lo sudah berbaring dan pura-pura tidur.

Kira-kira menjelang tengah malam, mendadak sayup-sayup jauh dari arah hutan sana kumandang suara suitan panjang.

Jelas suitan datang dari arah hutan kembang Bwe, Hun Ci-lo menjadi heran, pikirnya.

"Suitan kumandang dari arah beberapa li jauhnya, namun masih terdengar jelas sekali, tentu suitan Liongling-kang Miao Tiang-hong. Tengah malam buta rata, untuk apa dia bersuitan ke tempat yang jauh di tengah hutan sana?"

Belum lenyap suara suitan itu, tiba-tiba didengarnya pula dua macam suara aneh yang berkumandang saling susul, seperti lolong serigala, seperti pekik kokok beluk tidak enak didengar kuping, ketiga suara jadi saling berkutat dan saling bentrok seperti sedang saling gasak.

Seolaholah suitan Miao Tiang-hong sedang terkepung oleh kedua macam suara buruk itu, berusaha menjebol kurungan dan berontak dengan kekuatan maha besar, nadanya kedengaran semakin jernih menjulang.

Sekonyong-konyong suitan kumandang semakin keras seperti naga berteriak murka, laksana pasukan terkepung yang sedang bertempur gagah mati-matian, berusaha membobol kepungan ketat musuh.

Sebagai seorang ahli silat, sepintas dengar saja Hun Ci-lo menjadi kaget, bergegas ia melompat bangun, katanya.

"Bibi, coba dengar! Mungkin Miao Tiang-hong menghadapi musuh tangguh!"

Sejak tadi Siau-hujin sudah bangun duduk, sahutnya.

"Benar, kedua orang itu mungkin dua orang tokoh kosen yang masing-masing melatih dua macam Iwekang yang amat liehay, tapi kau tidak usah kuatir, kukira Miao Tiang-hong masih mampu bertahan menghadapi mereka. Ci-lo, apa yang hendak kau lakukan?"

Ternyata Hun Ci-lo sedang membuka jendela.

"Biar kutengok ke sana!"

"Apakah kau sudah lupa akan pesannya? Sultannya itu justru menganjurkan kita lekas menyembunyikan diri. Kalau mau hanya akulah yang patut ke sana."

"Bibi, kau adalah tertua di antara kita, sepatutnya kau tetap berada di rumah melindungi piaumoay dan nona Cau, biarlah aku saja yang menyusul ke sana."

"Aku percaya Miao Tiang-hong cukup mampu bertahan, kalau dia tidak kuat bertahan belum terlambat kita turun tangan. Apalagi, kau, kau..."

Maksudnya hendak berkata "kau sedang mengandung,"

Namun belum sempat diucapkan Hun Ci-lo sudah melompat keluar dari jendela. Terdengar ia menyahut dari luar.

"Siapa tahu yang datang bukan hanya dua musuh saja? Meski dia mampu menghadapi mereka, masa kita harus berpeluk tangan melihat dia berjuang matimatian menghadapi musuh!"

Beberapa patah kata-katanya diucapkan sambil berlari kencang dan melompat tinggi melewati pagar tembok, kejap lain dia sudah jauh di luar rumah.

Sebetulnya Siau-hujin hendak merintanginya, namun lantas terpikir.

"Marabahaya bisa mengikat cinta asmara, bukankah aku sedang berusaha merangkap perjodohan mereka? Biarkan saja hubungan ini tumbuh secara wajar!"

Namun di samping itu, diam-diam ia pun merasa menyesal, batinnya.

"Usiaku sudah agak lanjut, jiwa kependekaranku sudah lumpuh tiada sebanding dengan mereka yang masih muda!"

Begitu Hun Ci-lo beranjak memasuki hutan kembang Bwe dirasakan hawa menjadi panas, angin menderu keras, belum lagi tampak bayangan orangnya, tampak kembang Bwe beterbangan bergulung-gulung di tengah udara.

Hun Ci-lo terus beranjak maju ke arah datangnya suara, setelah rada dekat, sekonyongkonyong dirasakannya segulung gelombang angin panas menerjang ke arah dirinya, seperti angin panas yang terhembus keluar dari tungku besar, kulit terasa terbakar.

Baru saja ia bercekat, tibatiba dirasakan pula segulung hawa dingin menerpa datang, seolah-olah dari depan tungku yang sedang panas membara, tiba-tiba memasuki gua di gunung es yang dingin, meski Iwekang Hun Ci-lo cukup ampuh, tak urung dia bergidik dibuatnya.

Waktu ia angkat kepala pandang ke depan, tampak tiga warna bayangan terdiri dari merah hitam dan kuning saling berkutat seperti bergumul menjadi satu, tiba-tiba berloncatan pencar menjauh lalu menubruk maju pula dengan ketat, pertempuran berjalan seru dan sengit.

Ternyata kedua orang yang mengeroyok Miao Tiang-hong, seorang adalah busu yang mengenakan mantel kulit warna hitam, sementara seorang yang lain adalah seorang hwesio gundul yang rrtengenakan kasa merah.

Bahwa kasa si hwesio berwarna merah menyala, demikian juga kedua telapak tangannya berwarna merah darah amat menakutkan, setiap kali tangan bergerak menyerang, angin pukulannya terasa panas membara.

Adalah lain cara berkelahi si busu bermantel hitam, jauh tidak segarang dan sesengit si hwesio, pukulannya dilancarkan secara ringan dan enteng, seolah-olah tidak bertenaga dan tidak membawa kesiur angin, namun gelombang hawa dingin yang bisa membekukan darah selalu menerpa datang mengikuti setiap gerak telapak tangannya, datang secara tiba-tiba tanpa membawa suara sedikit pun.

Walaupun Hun Ci-lo belum latihan mencapai ilmu tingkat tinggi, namun sekali pandang ia cukup mengerti, lika-liku keadaan gelanggang pertempuran, diam-diam ia membatin.

"Ucapan bibi memang tidak salah, kedua orang ini ternyata memang sama meyakinkan dua macam ilmu sesat yang tunggal, busu bermantel hitam itu agaknya jauh lebih matang dan sempurna latihan ilmunya. Kepandaianku sendiri jauh dibanding mereka, meski bersenjata pedang pusaka juga belum tentu bisa bergerak mendekati tubuh mereka."

Di bawah keroyokan kedua musuhnya, sepasang telapak tangan Miao Tiang-hong menari-nari dengan lincahnya, tenaga pukulannya selalu berubah-ubah, kadang-kadang keras tiba-tiba lunak, ada kalanya menerjang bagai damparan ombak, namun bisa berubah pula seperti angin menghembus sepoi-sepoi menyamankan tubuh.

Perubahan antara keras dan lunak sulit ditentukan dan diraba sebelumnya.

Bagi orang lain yang menonton di luar gelanggang, agaknya dia terdesak di bawah angin, bahwasanya kedua pihak sama-sama bertahan sama kuatnya, masing-masing punya kekuatiran menghadapi ilmu lawan.

Beruntun busu mantel hitam melancarkan tujuh pukulan berantai, kekuatan lwekangnya seperti gugur gunung dahsyatnya menerjang keluar dari telapak tangannya, merangsak secara langsung, maka terdengarlah suara "krak, krak"

Berulang-ulang ganti berganti, dahan-dahan pohon di sekitar gelanggang sejauh tiga tombak semua kena terpukul hancur berantakan oleh kekuatan pukulan tangan yang dahsyat.

Tapi setiap pukulan tangannya ditepukkan dengan cara yang enteng dan seperti melayang, sedikit pun tidak membawa deru angin!

Lambat laun di atas kepala Miao Tianghong menguap putih yang bergulung-gulung seperti asap di atas tungku yang airnya mendidih, semakin lama semakin bergolak dan tebal asap putih itu, agaknya ia sedang mengerahkan Iwekang tingkat tinggi untuk menahan hawa dingin yang membekukan dari pukulan musuh, pertahanannya kelihatan sudah amat payah.

Akan tetapi si busu mantel hitam merasa pula bahwa pertahanan Iwekang lawan ternyata begitu kokoh kuat dan liat tak terputuskan, seolah-olah ia menghadapi pagar baja yang kokoh teguh, bagaimana kuat dan garang ia menerjang dan menyerang, pertahanan lawan yang ketat tidak bisa ditembusnya.

Tiba-tiba Miao Tiang-hong merangkap kedua telapak tangan terus diputar satu lingkaran, jengeknya dingin.

"'Sebun Soh, meski kau sudah berhasil melatih Hian-im-ciang. ditambah Hweliong-kang si gundul ini, apa pula yang kalian kuasa berbuat atas diriku? Apakah kalian ingin diteruskan cara tempur yang begini saja, tapi kalau di sini aku jadi bosan melayani kalian."

Bentak Sebun Soh.

"Katamu kau tidak takut, kenapa hendak lari?"

Satu di belakang yang lain di depan, bersama si hwesio ia cegat jalan lari Miao Tiang-hong. Miao Tiang-hong tertawa dingin, ujarnya.

"Aku cuma tidak suka bikin rusak hutan kembang Bwe dan merusak pemandangan indah di sini, memangnya kau sangka aku takut pada tampangmu? Kalau berani mari ikuti aku. kita mencari tempat lain yang lebih cocok, biar nanti ditentukan siapa jantan siapa betina! Boleh kalian berlega hati, aku orang she Miao tidak akan mencari pembantu."

Hun Ci-lo menyembunyikan dirinya di belakang sebatang pohon tua yang cukup besar, dalam hati ia berpikir.

"Mungkin Miao Tiang-hong sudah tahu akan kedatanganku, kata-katanya itu memang sengaja ditujukan kepadaku secara tidak langsung. Dia hendak memancing kedua musuhnya ke tempat lain, supaya aku tidak terlibat di dalam pertempuran seru dan terembet perkara. Tapi dalam keadaan demikian, untuk lari agaknya sulit juga buat dia. masa aku harus berpeluk tangan saja."

Benar juga didengarnya Sebun Soh membentak.

"Di sini amat cocok untuk menggali liang kuburmu, kenapa harus cari tempat lain segala?"

Hwesio itu pun membentak.

"Terserah mulutmu mengeluarkan kata-kata manis, untuk lari jangan harap!"

Begitulah kerja sama pengepungan mereka semakin ketat dan seru. Miao Tiang-hong bergelak tertawa, serunya.

"Betapa sih tinggi kepandaianmu berani sesumbar begitu congkak?"

Ringan saja ia tepukan sebuah telapak tangannya, sekaligus ia punahkan kekuatan tenaga pukulan kedua lawannya.

Sebun Soh sedang melancarkan ilmu Hian-im-ciang pada tingkat ke tujuh, tiba-tiba dirasakan hembusan angin sepoi-sepoi, seperti hembusan angin sejuk di musim semi, seketika ia rasakan badannya seperti menjadi malas dan ingin tidur.

Keruan kejut Sebun Soh bukan kepalang, batinnya.

"Mungkinkah dia sudah berhasil melatih Thay-cengkhi-kang?"

Thay-ceng-khi-kang adalah ilmu lwekang tingkat tinggi dari aliran To-keh (tao) sementara Liong-ling-kang kelahiran cabang Say-cu-hong dari Hudbun (Budhis).

Sebelum Hun Ci-lo datang tadi Miao Tiang-hong sudah menggunakan Liong-ling-kang untuk gebrak dengan kedua musuhnya, kini ia menggunakan pula Thay-ceng-khi-'kang secara mudah dan seperti tidak bertenaga memunahkan kedua gempuran dahsyat dari kedua lawannya.

Meski Sebun Soh berkepandaian silat tinggi, pandangan luas dan pengetahuan mendalam, tak urung bercekat pula hatinya.

Mau tidak mau Sebun Soh harus berpikir.

"Ilmu silat keparat ini benar-benar campur aduk dan amat luas sekali, tak heran sute yang biasanya jarang dan tidak suka memuji orang, kali ini suka mengakui bahwa dia merupakan orang pertama pada jaman ini yang membekal berbagai ragam ilmu silat, memang namanya tidak kosong-Bukan saja dia hafal dan pandai memainkan ilmu pedang dari berbagai partai dan golongan, malah ahli pula menggunakan ilmu lwekang murni yang lurus dari Hud-keh dan To-keh yang paling dalam ajarannya! Kelihatannya kalau hari ini aku tidak berani menyerempet bahaya menyergapnya, bukan mustahil pihak kami sendiri yang bakal terjungkal."

Ketiga orang ini bertarung sengit mengandal ilmu tunggal bekal mereka dari golongan lurus dan sesat.

Hian-im-ciang Sebun Soh seperti musim dingin yang membekukan, sebaliknya Hwe-liongkang si hwesio laksana sinar matahari di musim panas yang memancar membara.

Adalah Thayceng-khi-kang Miao Tiang-hong laksana hembusan angin musim semi yang sepoi-sepoi menyamankan badan menyegarkan pikiran.

Hawa dingin beku yang merangsang, dengan damparan gelombang panas yang memuncak, semua kena dihembus sirna oleh angin musim semi.

Memang Sebun Soh hebat sekali, terkena tekanan Thay-ceng-khi-kang, ia hanya tergentak mundur dua tindak, cepat ia kerahkan Hian-kang, sekejap saja, hawa murninya sudah berputar menyelusur tiga puluh enam jalan darah besar di seluruh tubuhnya, menyapu habis perasaan malas dan mengantuk yang tidak tertahankan.

Kilas lain telapak tangannya terangkap dan telunjuk jarinya terulur keluar menotok ke Hian-ki-hiat di dada Miao Tiang-hong.

Sudah tentu Miao Tiang-hong tidak begitu gampang bisa kena tertotok, di mana dadanya berkembang kempis, serta merta badannya berkisar ke pinggir tepat sekali menghindari totokan lawan.

Akan tetapi meski tidak terkena secara telak, saat itu pula ia rasakan dadanya seperti disambar kilat, sehingga seluruh badan menjadi panas.

Terasa angin menderu hebat, si hwesio mengerahkan kedua telapak tangannya menyerbu dengan pukulan berantai.

Orang ini melatih , Hwe-liong-kang, angin pukulannya seperti damparan suhu panas yang teruar keluar dari tungku yang sedang menyala besar, keruan Miao Tiang-hong merasa kepanasan dan payah, tak tertahan beruntun ia menyurut mundur tujuh delapan langkah.

Tak urung Miao Tiang-hong pun terkejut dibuatnya, maklumlah pukulan Hian-im-ciang Sebun Soh biasanya mengeluarkan hawa dingin yang beracun, jauh berlainan dengan tenaga totokan yang menggunakan tenaga keras yang dilandasi Khi-kang positif.

Betapapun tinggi seseorang tokoh silat, adalah amat sulit untuk dalam waktu yang begitu singkat bisa memutar balik ganti berganti menggunakan dua macam ilmu Iwekang yang berlawanan satu sama lain.

Diam-diam berpikir Miao Tiang-hong.

"Kalah sih tidak mungkin, tapi setelah pertempuran ini berakhir, bukan mustahil aku bakal ambruk dan sakit keras."

Di luar tahunya, Lui-sin-ci yang dipelajari Sebun Soh ini bahwasannya belum lagi berhasil dilatihnya sempurna, secara kekerasan ia cepat mengganti Hian-im-cing dengan totokan Lui-sin-ci yang harus dilandasi tenaga positif yang panas, hawa murni tubuhnya sendiri terkuras bukan sedikit, maka jurus-jurus selanjutnya jelas dia tidak akan berani menggunakan lagi.

Adalah setiap tapak kakinya melangkah mundur secara langsung Miao Tiang-hong mengimpas sebagian dari tekanan tenaga lawan, setelah tujuh delapan langkah, perpaduan rangsakan tenaga panas dingin lawan sudah dibikin lenyap sama sekali.

Hun Ci-lo kurang paham akan intisari dan rahasia dari ilmu tingkat tinggi, sembunyi di belakang pohon dia menunggu kesempatan untuk menerjunkan diri, melihat Miao Tiang-hong beruntun mundur delapan langkah, dari kaget hatinya menjadi gugup.

Bahna kejutnya, tanpa banyak pikir lagi Hun Ci-lo merogoh tiga biji mata uang, terus disambitkan ke arah Sebun Soh.

Kepandaian menimpuk Kim-ci-piau dari keluarga Hun juga merupakan ilmu tunggal tersendiri dari bulim.

Ketiga biji mata uang itu masing-masing mengarah Thay-yang-hiat di pelipis Sebun Soh, di tengah mengarah Gi-khi-hiat dan bagian bawah menyerang Kui-ciang-hiat, di malam buta rata namun sasaran yang diarah ternyata telak dan tepat sekali.

Terdengar Sebun Soh menggerung gusar.

"Siapa berani main bokong?"

Sekonyong-konyong ketiga mata uang itu tahu-tahu sudah menyambar balik pula ke arah Hun Ci-lo.

Bukan saja mata uang melesat balik, malah di belakangnya didorong segelombang angin pukulan yang dahsyat bagai gugur gunung.

Sudah tentu Hun Ci-lo tidak kuat bertahan dari terjangan kekuatan yang dahsyat ini, dalam kejutnya lekas ia kembangkan ilmu ginkang-nya, dengan gaya menyedot dada jumpalitan di tengah awan, tangkas sekali ia melejit tinggi, tangan meraih dahan pohon Bwe, meminjam daya pantul dari dahan pohon itu ia jumpalitan di tengah udara ke sebelah belakang kira-kira setombak lebih!

Untung latihan lwekangnya sudah punya dasar yang kuat, mengiringi dorongan tenaga dahsyat itu secara enteng ia melayang turun, sehingga tidak sampai terbanting jatuh.

Akan tetapi ketiga biji mata uang yang'menyambar balik itu seperti bayangan mengikuti bentuknya mengejar tiba ke arah dirinya, baru saja kakinya menginjak tanah, ketiga mata uangnya sudah menyambar tiba.

Syukur Hun Ci-lo bisa mendengar angin membedakan senjata rahasia, didengarnya daya luncuran ketiga mata uang ini sudah jauh lebih lambat, dia tidak kuasa berkelit dari ketiga mata uang yang menyambar dari tiga jurusan, maka cepat ia ulur jari menyelentik.

"Creng"

Beruntun tiga kali ia selentik jatuh ketiga mata uangnya.

Mata uang memang berhasil diselentik jatuh, namun begitu jari Hun Ci-lo menyentuh mata uang itu, seketika ia rasakan segulung hawa dingin meresap masuk ke dalam tubuhnya terus menerjang ke jantung, tak tertahan ia bergidik kedinginan.

Tiba-tiba terasa sebuah tangan terulur ke depan dari sebelah belakang terus menyeretnya dibawa lari sipat kuping.

Rasa kejut Hun Ci-lo belum lagi hilang, kini dibuatnya kaget lagi.

Baru saja ia hendak meronta, dari sebelahnya terdengar suara Siau-hujin berkata.

"Jangan gugup, inilah aku!"

Dengan Bik-khong-ciang-lat Sebun Soh mematahkan ketiga sambitan ketiga mata uang Hun Cilo, peluang ini menjadikan Miao Tiang-hong mendapat kesempatan turun tangan, sebat sekali ia me-rangsak maju, telapak tangannya memukul miring mengarah tulang pundak orang.

Di bawah ancaman maut serangan lawan tangguh, Sebun Soh tidak berani berlaku nekad untuk gugur bersama, untunglah kepandaian silatnya sudah mencapai taraf yang bisa dikendalikan sesuka hati, kedua telapak tangannya sedang terjulur lurus ke depan tiba-tiba ia tekuk sikutnya dan terus menyanggah ke atas.

Terdengarlah "blang!"

Kedua telapak tangan Sebun Soh terangkap menggencet telapak tangan Miao Tiang-hong.

Tenaga dalam Miao Tiang-hong tergetar, sementara seluruh lengan Sebun Soh terasa panas terbakar dan lemas, cepat-cepat ia lepas kedua tangan, sebat sekali selincah kelinci tiba-tiba Miao Tiang-hong memutar badan, beruntun ia gerakkan kedua telapak tangannya, ke sepuluh jarinya seperti gantolan besi, beruntun terdengarlah suara "Cras", kebetulan si hwesio sedang menyerang ke arah dirinya, seketika bentrok dengan gempuran membalik dari tenaga telapak tangan dan jari-jarinya.

Betapapun cepat si hwesio berusaha berkelit, tak urung kasa merah yang dipakainya itu berlubang-lubang dan kena tercakar sobek sebagian.

Diam-diam Miao Tiang-hong merasa amat bersyukur, pikirnya.

"Kalau Hun Ci-lo tidak membantu aku secara menggelap, mungkin aku belum begitu gampang bisa meloloskan diri. Akan tetapi bagaimana dan apapun yang terjadi aku tidak boleh lagi mempersulit dia!"

Siau-hujin menyeret Hun Ci-lo ke arah hutan yang lebih dalam, omelnya.

"Ci-lo, mana boleh kau begitu menempuh bahaya, apa kau tidak kuatir menggugurkan kandunganmu?"

Belum Hun Ci-lo sempat menjawab, mendadak didengarnya sebuah suitan panjang melengking tinggi seperti pekik naga di tengah angkasa.

Dalam sekejap mata Miao Tiang-hong sudah berlari kencang meninggalkan hutan kembang Bwe.

Sebun Soh dan si hwesio mengejar dengan kencang.

Suasana hutan Bwe kembali tenang setelah pertempuran berlalu, keadaan kembali menjadi sunyi lengang.

"Bibi,"

Ujar Hun Ci-lo.

"tak usah kau hiraukan aku, Miao-siansing mungkin..."

Belum selesai ia bicara, seolah-olah ia mendengar Miao Tiang-hong sedang bicara di pinggir kupingnya.

"Aku tidak apa-apa, terima kasih akan bantuan kalian. Lekas bekerja menurut pesanku kemarin."

Miao Tianghong bicara menggunakan ilmu mengirim gelombang suara dari jauh.

Bahwa orang masih begitu fasih menggunakan ilmu tingkat tinggi dengan nyata dan jelas, hati Hun Ci-lo menjadi lega dan bersyukur.

"Nah kau sudah lega belum, sejak tadi sudah kukatakan Miao Tiang-hong akan mampu menghadapi kedua musuhnya. Aih, kenapa kau? Telapak tanganmu kok begini dingin?"

"Tidak apa-apa, mungkin aku masuk angin!"

Dengan kencang Siau-hujin genggam telapak tangannya, dengan tenaga murni sendiri ia salurkan ke tubuh orang untuk bantu mengusir hawa dingin di dalam badannya.

Kira-kira setelah sesulutan dupa, keringat dingin sebesar kacang berketes-ketes bercucuran dari jidat Hun Ci-lo.

Lambat laun air muka Hun Ci-lo kembali berse-mu merah seperti sedia kala.

Siau-hujin menarik napas lega, katanya.

"Ternyata kau terserang hawa berbisa dari Hian-imkang, masih main pura-pura hendak mengelabuhi aku, untung kau baru hamil dua bulan, orok dalam kandungan belum lagi berbentuk, hawa berbisa yang meresap ke dalam tubuhmu pun tidak terlalu banyak, kalau tidak, meski kau terhindar dari luka dalam yang parah, orok dalam kandunganmu tentu sulit diselamatkan lagi. Ai, aku pun tidak menduga musuh ada sedemikian liehay!"

Hun Ci-lo tertunduk dan bersyukur dalam hati, ia berpikir.

"Nyo Bok. sangat mengharap punya anak darah daging sendiri, untunglah aku masih berhasil melindungi orok dalam kandunganku, kalau tidak betapa sesal nuraniku terhadapnya."

Setelah Siau-hujin menegurnya, ingin dia mengubah suasana yang rada panas ini, lalu katanya tertawa.

"Ci-lo, katamu hatimu sudah beku seperti tonggak kayu, sebenarnya hatimu masih membara! Setelah peristiwa malam ini, kukira Miao Tiang-hong tidak akan bisa melupakan dirimu lagi."

Merah muka Hun Ci-lo, ujarnya.

"Aku hanya menitik beratkan persoalannya, kalau toh dia cukup setimpal dijadikan kawan, seumpama orang lain, aku pun akan berbuat dengan cara yang sama."

Siau-hujin tersenyum, untuk menghindari sikap kikuk dan risi keponakannya, lekas ia bicara pula.

"Bekerja demi kawan memang amat penting, namun kau pun harus bisa menyayangi badan dan jiwa sendiri. Peristiwa malam ini sudah berselang, selanjutnya kau harus bertindak hati-hati."

Hun Ci-lo bertunduk, ujarnya.

"Pesan bibi akan kuperhatikan baik-baik."

"Sekarang marilah kita bicarakan urusan yang serius, seruan Miao Tiang-hong tadi kau pun ada mendengar, menurut hematku besok pagi-pagi kita harus segera meninggalkan tempat ini."

Baru saja bicara, tampak Siau Gwat-sian dan Cau Ci-hwi berlari-lari datang dengan napas ngosngosan, masing-masing menyo-reng sebilah pedang, begitu melihat Siau-hujin dari kejauhan lantas berseru.

"Di mana paman Miao? Mari lekas kita bantu dia berkelahi."

"Paman Miao sudah menggebah lari musuh-musuhnya, masa perlu bantuan kalian lagi. Lebih baik lekas kalian pulang bebenah, bawa barang-barang yang perlu saja,"

Demikian ujar Siau-hujin. Siau Gwat-sian melongo, serunya.

"Mengemasi barang, mau ke mana?"

"Tempat ini sudah tidak bisa buat tempat tinggal seterusnya, aku ingin bawa kalian pulang ke kare-sidenan Sam-ho untuk sementara kita menyembunyikan diri di sana saja."

Cau Ci-hwi segera menyeletuk bicara.

"Ayah dan engkohku belum pulang, kalau kita tinggal pergi, cara bagaimana kita bisa memberi kabar kepada mereka?"

Siau-hujin mengerut alis ujarnya.

"Justru karena soal itulah aku jadi kurang lega hati, sampai sekarang belum kuperoleh cara yang sempurna. Ai, terpaksa kita menyingkir dulu urusan belakang."

"Bu, aku punya akal malah."

"Budak segede kau hanya pintar bermain saja, masa punya akal apa? Coba kau katakan biar kami pertimbangkan."

"Menurut paman Miao, kemungkinan besar paman Cau dan Cau-toako pergi ke Thay-san, ikut menghadiri pertemuan berdirinya Hu-siang-pay, maka, kupikir, kupikir..."

"Kau pun ingin menyusul ke Thay-san untuk melihat keramaian bukan?"

"Bu, bagaimana kalau kau ijin-kan aku ke sana? Kupakai kedok palsu ini, tentu tiada seorang pun yang akan kenal padaku. Kalau kau masih kurang lega, biarlah Hwi-ci pergi bersama aku."

"Kukira akal apamu yang baik? Ternyata hanyalah mencari alasan untuk pergi membuat keributan saja. Tidak boleh!"

"Kenapa tidak boleh?"

Rengek Siau Gwat-sian merengut.

"Aku berjanji tidak akan membuat onar."

"Pertemuan yang begitu ramai dan besar, entah berapa banyak tokoh-tokoh persilatan yang kenamaan akan hadir di sana, memangnya kau anggap main-main? Kau sendiri tidak punya pengalaman kelana di kangouw, bila kau tidak membuat onar, justru perkara yang akan selalu mengejar dan melibat kalian! Sudah jangan banyak cerewet, tidak boleh ya tidak boleh!"

Siau Gwat-sian menjadi amat kecewa, namun melihat sikap ibunya yang tegas, dia tidak berani merengek lagi.

"Akalmu itu sudah pernah kupikirkan, akhirnya toh aku tidak berani berkeputusan,"

Demikian ujar Siau-hujin seraya berpaling dan menarik lengan Hun Ci-lo, katanya.

"Kerabat Tin-wan piaukiok dan Su-hay-sin-liong Ki Kian-ya pasti juga hadir di sana, walau aku tidak perlu takut terhadap mereka, namun keadaan macam begitu tidak cocok untuk aku mencari kesempatan menuntut balas."

"Bibi,"

Ujar Hun Ci-lo tiba-tiba.

"menurut hematku, biarlah aku saja yang ke sana."

Siau-hujin berjingkat, serunya.

"Kau hendak pergi?"

"Pertama. di kalangan kangouw aku tidak punya musuh,"

Demikian Hun Ci-lo coba menjelaskan.

"Kedua. aku mengenakan kedok palsu, meski tidak bisa mengelabui ketajaman mata Su-hay-sin-liong, betapapun dia adalah angkatan tua dari sanak kadangku, kukira beliau tidak akan mempersulit diriku. Ketiga. di dalam pertemuan besar macam itu, bukan mustahil aku bisa ketemu dengan beberapa kawan karib mendiang ayahku, dari mereka aku ingin mencari berita mengenai ibu."

Sembari berkata secara diam-diam ia acungkan kedua jarinya kepada Siau-hujin, maksudnya bahwa dirinya baru mengandung dua bulan, soal ini bibi tidak perlu kuatir.

"Apa kau tidak takut bentrok dengan kambrat-kambrat Lian Kam-peh dan menunjukkan kelemahanmu?"

Tanya Siau-hujin kuatir.

"Di dalam pertemuan di Thay-san itu, hadir pula pendekar-pendekar besar seperti Kim Tiok-liu, Le Lam-sing dan lain-lain tokoh kenamaan di bulim, meski para kaki tangan anjing alap-alap ada yang menyelundup ke sana juga mereka tidak akan berani main gegabah."

"Kabarnya pertemuan di Thay-san bakal dibuka tanggal sembilan bulan sembilan, aku kuatir kau sudah terlambat menyusul ke sana."

"Pertemuan besar macam itu betapapun mesti berlangsung beberapa hari lamanya, kalau tidak keburu biar aku tunggu saja di bawah gunung menanti paman Cau dan lain-lain kembali."

Memang Siau-hujin juga berhasrat menemukan kembali ayah anak keluarga Cau, melihat sikap Hun Ci-lo tegas dan teguh keinginannya, meski rada kurang lega, akhirnya ia meluluskan juga.

Maka ia berjanji dengan Hun Ci-lo, jikalau berhasil menemukan Cau Sioktoh dan putranya, lantas bertiga mereka langsung menyusul ke rumah leluhur keluarga Hun yang terletak di karesidenan Sam-ho.

Seperti datangnya semula terpaut jangka sepuluh hari, seorang diri Hun Ci-lo naik perahu mengarungi Thay-ouw, pemandangan indah di tengah perairan luas itu tidak berkesan sedikit pun di dalam sanubarinya, karena pikiran sedang gejolak.

"Pertemuan besar dari orang-orang gagah di seluruh dunia, sungguh sulit dicari kesempatan sebagus ini bukan mustahil Goan-cau dan Thengsiau pun ikut hadir di sana?"

Demikian pikirnya.

Ternyata masih terdapat sebuah rahasia isi hati Hun Ci-lo yang belum pernah ia kemukakan kepada bibinya.

Bahwa dia memang ingin mencurahkan tenaganya untuk mencari ayah beranak keluarga Cau, tapi harapan yang paling mendorong hasratnya ikut hadir di dalam pertemuan besar itu karena dia masih ingin melihat Beng Goan-cau yang terakhir.

Luka dalam sanubarinya sudah tentu sulit disembuhkan atau dilupakan demikian saja, akan tetapi perasaannya kali ini jauh lebih terbuka dan tidak sepedih waktu datangnya tempo hari.

Sekarang meski dia masih merasa sedih bila mengenang masa lalu, namun perasaan dadanya sudah banyak longgar, ganjalan hati pun sudah terbuka.

Dalam perjalanan menuju ke Thay-san ini, mendadak terpikir sesuatu yang aneh.

"Goan-cau bersikap tenang mantap dan teguh, seperti pula gunung Thay-san yang berdiri dengan megah dan perkasa. Bila berada di sampingnya tiada sedikit pun perasaan takut. Akan tetapi Miao Tiang-hong justru seperti luasnya danau Thay-ouw ini, luas dan banyak muatannya, berada di sampingnya perasaan bisa menjadi longgar dan terbuka tanpa terkekang. Goan-cau bisa menjadi seorang suami yang baik, suami teladan, sayang selama hidup ini aku jelas tiada berjodoh lagi dengan dia! Miao Tiang-hong boleh dijadikan kawan yang paling karib, seperti pula keadaanku bersama Song Theng-siau. Dia tidak kenal sama Goan-cau, jikalau mereka pun bisa menjadi kawan kental, betapa baik dan menyenangkan!"

Begitulah ia jadi kangen kepada Miao Tiang-hong, meski mereka baru kenal beberapa hari lamanya.

Kecuali Beng Goan-cau, dalam sanubarinya baru terisi bayangan seorang laki-laki lain pula.

Song Theng-siau adalah sahabat laki-laki yang paling lama dikenalnya, namun di dalam pandangannya, seolah-olah tidak lebih mengenal pribadinya daripada Miao Tiang-hong mengenal dan memahami dirinya.

Beberapa patah kata-kata Miao Tiang-hong seolah-olah masih terngiang di pinggir kupingnya.

"Hidup manusia sering dihadapi aral rintang yang menyedihkan sanubari setiap insan, ada kalanya seseorang akan berkesan pada sesuatu yang menyedihkan hati dan menghampakan perasaan. Tapi banyak bersedih dan bermuram durja bukanlah menjadi idaman hidup bagi kaum persilatan macam kita ini. Terutama berada di puncak Tong-ting-san barat ini, selayang pandang terbentang luas alunan ombak Thay-ouw yang bergelombang halus dan luas, maka jiwa dan perasaan kita pun harus semakin lapang dan terbuka bukan?"

Bahwa sekarang justru Hun Ci-lo berada di atas perahu di bawah permainan-alunan ombak Thay-ouw yang halus lembut, maka kata-kata itu meresap semakin mendalam di relung hatinya.

Di kala ia terkenang akan ucapan Miao Tiang-hong yang berkesan itu, tiba-tiba sebuah pikiran merasuk dalam benaknya.

"Kenapa selama hidup ini aku harus pantang bertemu muka dengan Beng Goan-cau? Memeras dan menyiksa diri sendiri! Andaikata aku tidak bisa menjadi suami istri dengan Beng Goan-cau, aku pantang pula menjadi sahabat baiknya?"

Tiba-tiba berkelebatlah bayangan seorang gadis berpakaian serba putih. Itulah bentuk Lu Su-bi yang pernah dilihatnya di atas loteng Beng Goan-cau. Pikirannya melayang lagi.

"Kini belum tiba saatnya aku bertemu dengan dia, aku hanya bisa berdaya mohon bantuan Song Theng-siau untuk menyampaikan isi hatiku. Ai, bersama dengan siau-sumoaynya yang lincah dan ayu rupawan, betapa bahagia hatinya, mana boleh aku merintangi perjodohan mereka yang setimpal? Untuk meneruskan persahabatanku dengan Goan-cau, terpaksa aku harus menunggu setelah mereka melangsungkan pernikahan."

"Kalau Goan-cau hadir dalam pertemuan di Thay-san ini pasti dia datang bersama siausumoaynya. Aku sekarang sedang terkenang padanya, adakah dia pun terkenang kepadaku? Semoga dia dapat melupakan diriku, bukankah begitu lebih baik0"

Bahwa Hun Ci-lo menyangka Beng Goan-cau pasti berada bersama siau-sumoaynya, di luar tahunya bahwa saat mana Beng Goan-cau pun sedang menempuh perjalanan menunggang kuda seorang diri, dia pun sedang mengejar waktu mengeprak tunggangannya untuk menghadiri pertemuan besar di Thay-san.

Sebaliknya siau-sumoaynya sedang sakit ditemani Song Theng-siau di rumah keluarga Song.

Sepanjang jalan ini hati Beng Goan-cau pun amat risau, seperti pasang surutnya air laut yang bergelombang turun naik.

Sudah tentu yang paling dikenangnya adalah Hun Ci-lo.

"Setelah urusan di Thay-san selesai aku harus cepat-cepat mencarinya di Thay-ouw, umpama ibarat kaca bundar yang sudah pecah betapapun aku harus melihatnya sekali lagi."

Orang kedua yang dikenangnya adalah Lu Su-bi.

"Watak dan perangai Theng-siau jauh lebih cocok padanya, semoga mereka kelak hidup bahagia."

Tapi terdapat pula bayangan seorang gadis lain yang tidak begitu mudah bisa dihapus dari ukiran relung hatinya.

Walaupun dia baru mengenalnya belum lama ini, namun tidak bisa tidak, Beng Goan-cau pun mengenangnya juga.

Sudah tentu orang ketiga yang dikenang oleh Beng Goan-cau betapapun Hun Ci-lo tidak akan bisa mengetahuinya.

Karena dia hanya tahu adanya Lu Su-bi seorang, tidak diketahuinya bahwa masih terdapat Lim Bu-siang.

"Nona Lim ini lincah polos dan jujur, sifatnya rada mirip dengan siau-sumoay, tapi tidak seriang siau-sumoay, mungkin dia sekarang sudah berada di Thay-san."

Tiba-tiba teringat oleh Beng Goan-cau.

"Waktu aku berhadapan dengan Kim-hujin, berulang kali dia menyinggung Bu-siang, bukan mustahil kejadian kali ini memang menjadi rencana mereka suami istri supaya aku berkenalan dengan nona Lim ini?"

Dasar cerdik bisa berpikir dengan cermat lagi, lapat-lapat Beng Goan-cau merasa maksud tujuan Utti Keng dan Kim Tiok-liu suami istri.

Betapapun Beng Goan-cau seorang pendekar yang sudah mengecap pahit getir kehidupan manusia, bahwa putusnya cinta asmara, memberikan pukulan batin yang berat baginya, namun dia adalah seorang laki-laki sejati yang bisa menjinjing dapat meletakkannya kembali.

Kini dia sedang berangan-angan betapa meriah dan semaraknya pertemuan besar di puncak Thay-san, maka jiwa keperwiraan yang terkandung dalam sanubarinya jauh lebih melandasi semangatnya untuk menghilangkan persoalan cinta muda-mudi.

Meski kabut gelap masih menutupi lubuk hatinya, lama kelamaan menjadi buyar pula seperti disongsong oleh cahaya matahari yang menyala bagai bara.

Kuda suri merah yang ditunggangi Beng Goan-cau ini mulanya adalah milik Pakkiong Bong, komandan Gi-lim-kun, setelah tercuri oleh Utti Keng lalu dihadiahkan kepadanya.

Setelah meninggalkan rumah Kim Tiok-liu, takut terlambat sepanjang jalan ia bedal tunggangannya secepat angin, tiga hari kemudian dari daerah timur ia sudah mencapai wilayah karesidenan Thayan di sebelah barat Soatang.

Sedang Thay-san terletak di sebelah utara Thay-an, dari jauh puncaknya sudah kelihatan.

Dua hari lagi baru tanggal sembilan bulan sembilan, Beng Goan-cau boleh berlcga hati, pikirnya.

"Tak nyana kuda ini dapat berlari demikian pesat, aku jadi tiba dua hari lebih pagi dari waktu yang ditentukan. Tapi aku bisa berkesempatan berkenalan lebih banyak dengan para orangorang gagah dari berbagai kalangan."

Begitulah semakin dekat Beng Goan-cau semakin bernafsu me-ngeprak kudanya.

Di saat ia mengaburkan tunggangannya itu, tiba-tiba dilihatnya di sebelah depan sana terdapat tiga ekor kuda yang sedang berlari kencang laksana angin.

Kuda bagus, golok pusaka merupakan idaman setiap orang gagah.

Kuda jempolan macam itu sukar dilihat sembarangan waktu, seribu ekor belum tentu terdapat seekor seperti kuda tunggangannya ini, kini secara berbareng dilihatnya tiga ekor di kejauhan depan sana, keruan kejut dan girang pula hati Beng Goan-cau, pikirnya.

"Ketiga orang itu tentu seperti diriku, sedang memburu waktu menuju ke Thay-san, tiada halangannya aku berkenalan dengan mereka."

Pertama dia ingin berkenalan dengan ketiga orang itu, kedua ingin pula menjajal kekuatan lari dan tenaga kuda tunggangannya ini dapatkah mengungkuli ketiga kuda di depan itu, maka Beng Goan-cau mengaburkan kudanya lebih pesat lagi, laksana meteor terbang mengejar rembulan saja layaknya.

Ketiga penunggang kuda di depan itu dua di antaranya adalah perempuan seorang lagi adalah laki-laki.

Yang jalan paling depan adalah seorang nyonya muda yang mengenakan pakaian sederhana.

Dua penunggang di sebelah belakang jalan berjajar, jaraknya sangat dekat merapat, kelihatannya amat mesra, mungkin sepasang suami istri.

Yang laki-laki memelihara jenggot kambing, sementara yang perempuan menggelung rambutnya di atas kepalanya, usia mereka di antara empat puluhan, dandanannya tidak seperti penduduk Tionggoan umumnya.

Begitu dari kejauhan mendengar derap kaki kuda yang lari mendatangi kedua orang suami istri ini lantas berpaling, kejap lain kuda suri merah Beng Goan-cau sudah mencongklang mendekat.

Begitu melihat jelas kedua suami-istri sama terkejut, laki-laki itu mendadak menghardik.

"Kuda suri merahmu ini kau dapat dari mana?"

Tanpa berjanji suami istri ini sama putar haluan, kudanya menghadapi Beng Goan-cau yang mendatangi, mereka berpencar ke kanan kiri menjepit Beng Goan-cau di tengah.

Pertanyaan orang betul-betul di luar dugaan Beng Goan-cau, maksudnya semula begitu menyusul dekat ia lantas hendak menyapa dan memperkenalkan diri, maka tidaklah heran sesaat ia melenggong mendengar hardikan yang kasar ini.

Maklum Beng Goan-cau seorang buronan, dan lagi ia tahu bahwa kuda tunggangannya itu adalah hasil curian Utti Keng, asal mulanya adalah milik komandan Gi-lim-kun Pakkiong Bong.

Maka di samping melenggong seketika timbul rasa was-was dan kewaspadaannya.

Sejenak terlongong segera Beng Goan-cau balas bertanya.

"Siapa tuan ini? Untuk apa kau tanya kudaku ini?"

Laki-laki jenggot pendek itu berkata.

"Peduli siapa kami, lekas bicara sejujurnya!"

Goan-cau menjadi dongkol, segera ia balas menjengek dingin.

"Cara bagaimana kuperoleh kuda ini, peduli apa pula pada kalian."

Perempuan pertengahan menjadi gusar, dengusnya.

"Tak kau jelaskan pun kuketahui kudamu ini kau peroleh dari tangan Utti Keng si bangsat tua itu bukan? Yang ingin kami ketahui, kuda ini diberikan kepadamu? Atau kau rebut dari tangannya? Lekas katakan, supaya tidak terjadi salah paham!"

Laki-laki itu menyambung dengan jengekan.

"Mengandal kepandaian bocah hijau ini, mana mampu merebut kuda tunggangan Utti Keng? Kukira kau tidak usah banyak tanya lagi."

Begitu buka mulut kedua orang ini lantas memaki Utti Keng, jelas dapat diperkirakan bahwa pastilah mereka dari antek-antek kerajaan, keruan ia menjadi gusar, bentaknya.

"Aku tidak peduli siapa kalian, kalian mencegat jalanku, apa sih maksudnya?"

Laki-laki itu pun balas membentak.

"Tinggalkan kirda suri merah ini, kulepas kau lewat!"

Beng Goan-cau menyeringai dingin, kudanya ditepuk terus menerjang ke depan, hardiknya.

"Kalau kau mampu silakan kau menahannya!"

Belum lenyap suaranya, sekonyong-konyong selarik sinar hijau berkelebat, kiranya laki-laki jenggot kambing itu sudah melolos pedang dan menusuk ke depan menyongsong terjangannya.

Lekas Beng Goan-cau lintang-kan goloknya menangkis "Trang"

Bunga api berpercik, kuda suri merah tunggangannya terus menerjang ke depan.

Gebrak sejurus ini dua pihak sama kuat dan setanding, namun kuda tunggangan Beng Goancau lebih unggul setingkat, maka kelihatannya Beng Goan-cau ada setingkat di atas angin.

"Lari ke mana!"

Perempuan pertengahan itu membentak, begitu ia menyapukan pedang ke depan lalu mcnggentaknya, sarung pedangnya lantas terlolos terbang.

Itulah gentakan yang dilandasi tenaga dalam, sehingga batang pedang melesat terbang dari sarungnya jauh berlainan dengan gaya melolos pedang umumnya.

Kelakuan yang lucu dari kebiasaan ini betul-betul membuat Beng Goan-cau merasa di luar dugaan, sekonyong-konyong terasa cahaya putih gemerdep menyilaukan mata hawa terasa dingin, tak urung ia jadi terkejut, batinnya.

"Perempuan galak ini ternyata membeka! lwekang yang cukup ampuh!"

Seiring dengan jalan pikirannya itu, golok cepat Beng Goan-cau sudah membacok ke depan, begitu keras pedang dan golok saling bentur, sehingga pedang itu terpental terbang balik.

Sementara jarak mereka sudah lebih dekat.

Tampak ia memiringkan tubuh berkelit, di mana ia putar pergelangan tangannya, pedang panjangnya sendiri sudah kena diraihnya, cara gerakan yang lincah dan gesit memang bukan olah-olah liehaynya.

Mau tidak mau Beng Goan-cau harus berpikir.

"Kedua suami istri ini, cukup tangguh, masih ada pula nyonya muda itu, mungkin merupakan lawan tangguh pula. Musuh banyak jumlahnya, aku seorang diri dikerubut, harus bertindak cepat dan meloloskan diri."

Golok bergerak menurut keinginan hati, ia kerahkan setaker tenaganya terus menyerang dengan jurus Ngo-ting-kay-san (Ngo-ting membuka gunung).

Pedang panjang perempuan pertengahan umur itu berputar satu lingkaran, terdengarlah suara "Trang tring!"

Sambung menyambung memekakkan telinga, ternyata dalam sekejap itu pedang dan golok sudah saling bentur puluhan kali.

Jurus yang digunakan perempuan pertengahan umur adalah Hoat-lun-sam-coan, permainan pedang berantai menggubat golok Beng Goan-cau yang cepat, secara langsung gaya putaran kencang ini berhasil memunahkan sebagian besar tenaga dalam Beng Goan-cau yang memberondong ke arahnya melalui senjatanya.

Akan tetapi meski lwekang perempuan pertengahan umur ini cukup ampuh, betapapun tenaga murninya masih kalah dibanding Beng Goan-cau, sekuat tenaga baru ia dipaksa untuk memunahkan serangan musuh dengan susah payah.

Telapak tangan sudah pecah.

Meski bukan luka berat, namun darah sudah merembes keluar dan mengotori lengannya sendiri.

Melihat sang istri terluka, lakilaki berjenggot kambing itu menjadi murka, bentaknya.

"Bukan saja aku harus menahan kuda suri merah ini, jiwamu pun harus kau tinggalkan."

"Apa iya?"

Olok Beng Goan-cau.

"Silakan kau coba apa mampu kau menahan diriku!"

Sementara kuda suri merahnya sudah membedal ke arah depan, sedang di sebelah depan sana masih terdapat nyonya muda, tanpa menoleh mendadak ia membalikkan tangan mengayun pecutnya ke arah dirinya.

Pecut panjang orang menderu melecut ke arah lehernya, begitu mendengar deru angin lawan lantas Beng Goan-cau tahu bahwa Iwekang nyonya muda ini lebih unggul di atas perempuan pertengahan itu, kira-kira seimbang dan setingkat dengan laki-laki berjenggot kambing.

Kuda suri merah adalah kuda jempolan yang sudah banyak pengalaman di medan laga, begitu mendapat serangan mendadak tanpa diberi aba-aba majikannya, tangkas sekali ia menerobos lewat ke samping.

Dalam pada itu laki-laki jenggot kambing sudah membedal kudanya memburu tiba, kontan ia menyerang dengan jurus Tui-jiang-bong-gwat (mendorong jendela memandang rembulan), pedang panjangnya meluncur lurus menusuk dada.

Cepat Beng Goan-cau gunakan Ting-li-jion-sim badannya miring bergelantung di tempat duduk kudanya, sembari berkelit ia balas menyerang, golok cepatnya menahas miring ke lambung lawan.

Tajam goloknya berputar satu lingkaran, bagi orang di samping kelihatannya ia hanya balas menyerang satu jurus, kenyataan dalam sekejap permainan sejurus itu, ia gunakan kembangan tiga belas macam tipu-tipu yang campur aduk.

soalnya permainan goloknya teramat cepat, sehingga orang lain hanya melihat tabir sinar goloknya yang menyambar secepat kilat, mengaburkan pandangan.

Laki-laki jenggot kambing men-celos hatinya, diam-diam ia membatin.

"Golok cepat bocah ini agaknya tidak lebih asor dari permainan golok Utti Keng dulu, apakah dia murid Utti Keng? Tapi gerak permainan dan tipu-tipu goloknya jauh berlainan."

Teringat akan ilmu pedang sendiri yang dilatihnya selama beberapa tahun terakhir ini.

tujuannya adalah untuk menghadapi ilmu golok Utti Keng, kini menghadapi anak muda ini saja dia tidak ungkulan, bila pemuda ini benar-benar adalah murid Utti Keng, bukankah kepandaian ilmu golok Utti Keng lebih maju berlipat ganda?

Terpikir sampai di sini, mau tidak mau ia jadi putus asa dan patah semangat.

Kejadian berlangsung amat cepat, sementara perempuan pertengahan umur juga sudah keprak kudanya memburu datang, Beng Goan-cau tahu di antara ketiga lawannya ini kepandaian perempuan pertengahan umur ini adalah yang terlemah, maka besar tekadnya hendak membobol kepungan ketiga lawannya dari sasaran yang lemah ini, tidak berkelit ia malah menyongsong maju, kedua kakinya mengempit perut kuda lebih keras, kuda suri merah tahu maksud majikannya, tiba-tiba ia melompat tinggi, kebetulan Beng Goan-cau pun melejit berdiri di atas punggung kuda, rnembarengi dengan lompatan kuda tunggangannya, goloknya membawa sambaran angin menderu dari posisi sebelah atas membacok secara ganas ke arah batok kepala perempuan pertengahan.

Tak nyana meski lwekang perempuan pertengahan setingkat di bawahnya, namun dia seorang ahli dalam bidang mengatasi kekerasan dengan kelemasan, tenang mengatasi gerakan, begitu situasi tidak menguntungkan segera ia mengubah gerak tipunya, laksana capung menutul di permukaan air, sekali berkelebat melesat lewat, di saat badannya menyerempet lewat ujung pedangnya tahu-tahu sudah mengarah sepasang mata kuda suri merah.

Untung kuda ini sudah pengalaman dalam medan laga, begitu cahaya menyilaukan menyambar matanya, kedua kaki depannya lantas ditekuk berlutut sementara punggung golok Beng Goan-cau lekas mengetuk turun, namun sigap sekali perempuan pertengahan umur sudah menarik balik pedangnya dan berkelebat lewat dengan cepat.

Begitu kuda suri merah melompat dan berlutut, untunglah Beng Goan-cau banyak pengalaman dan menguasai tehnik menunggang kuda, namun demikian hampir saja ia terlempar dari punggung kuda.

Akan tetapi perempuan pertengahan umur itu juga mencucurkan keringat dingin, beruntung ia berhasil luput dari bacokan yang mematikan.

"Bagus ya, kalian main keroyok,"

Hardik Beng Goan-cau gusar.

"Memangnya kalian sangka aku takut! Marilah kalian maju bersama sekaligus!"

Baru sekarang nyonya muda itu membalikkan kudanya, katanya dingin.

"Ciok-susiok, dan bibi Siang, silakan kalian mundur dulu, biar kujajal betapa tinggi kepandaian enghiong ini. Em, kalau kau dapat mengalahkan pecut di tanganku boleh kau lewat sesuka hatimu!"

Suami istri pertengahan umur itu berseru bersama.

"Baik, tapi untuk menjaga bocah ini tidak melarikan diri, kami akan berjaga di luar kalangan!"

Artinya bila Beng Goan-cau bermaksud melarikan diri, terpaksa mereka akan turun tangan pula.

Nyonya muda itu membahasakan paman guru dan bibi guru kepada suami istri pertengahan umur, namun kenyataan kepandaian ilmu silatnya jauh lebih kuat dan tinggi dari mereka, senjata pecut lemasnya dimainkan begitu lincah dan hidup seperti ular sakti, malah di dalam permainan pecutnya kadang-kadang diselingi gerak tipu ilmu golok dan pedang, di saat ia mengerahkan tenaga pada batang pecut itu, pecut yang lemas menjadi kaku lurus, seakan-akan seperti sebilah pedang yang runcing.

Dalam teori persilatan biasanya paling ditakuti apa yang dinamakan tombak takut membundar, pecut takut membujur lurus, bagi seorang tokoh yang dapat memainkan pecut mencapai tingkat sedemikian sempurna, sudah boleh dikata mencapai taraf tertinggi.

Bila satu lawan satu jelas Beng Goan-cau tidak terkalahkan oleh nyonya muda ini, namun masih ada dua lawan tangguh berjaga-jaga di pinggir dan merupakan tekanan pula bagi dirinya, sedikit banyak membawa pengaruh juga.

Di kala ia terkejut akan kehebatan permainan pecut lawan, tiba-tiba dari kejauhan didengarnya seseorang berteriak.

"Lian-cici, berhenti!"

Begitu mendengar suara itu, sungguh kejut dan girang pula hati Beng Goan-cau, kiranya pendatang ini adalah Lim Bu-siang.

Nyonya muda itu segera berseru girang pula, cepat ia melompat turun dari atas kuda, teriaknya juga.

"Bu-siang, kaukah itu! Betapa susahnya aku mencari kau, kabarnya kau sudah tiba di Tionggoan, ke mana saja kau menyembunyikan diri selama ini?"

Sahut Lim Bu-siang mengeprak kudanya mendekat.

"Ayah tinggal di kampung nelayan, tapi dua tahun terakhir tinggal di rumah Kim Tiok-liu. Entah apakah dia ada datang?"

Nyonya muda itu heran, ujarnya.

"Jadi kalian tinggal di rumah Kim-tayhiap? Kenapa dia tidak pernah beritahu kepada kami? Kim-tayhiap kemarin sudah tiba."

Lim Bu-siang tertawa getir dalam hati, pikirnya.

"Setengah bulan yang lalu, aku sendiri pun tidak menyangka berubah haluan, meluruk datang menghadiri pertemuan besar ini!"

Ternyata justru karena Kim Tiok-liu mengetahui jalan pikirannya, tahu bahwa dia tidak sudi bertemu muka dengan piauko-nya, maka Kim Tiok-liu tidak memberitahukan berita mereka kepada Boh Cong-tiu suami istri.

Tatkala itu, perempuan pertengahan umur pun sudah maju mendekat, segera ia menyapa.

"Lim-sumoay, apakah supek baik-baik? Upacara kebesaran perguruan kita kali ini, entah beliau orang tua apa sudi hadir?"

Sembari bicara matanya melirik ke arah Beng Goan-cau.

"Ayah sudah berusia lanjut dan berbadan lemah, sejak lama sudah tidak turut campur urusan dunia, mungkin beliau tidak akan hadir!"

Demikian sahut Lim Bu-siang. Baru saja ia hendak memperkenalkan Beng Goan-cau, nyonya muda keburu berkata.

"Oh, ya, aku jadi lupa mohon tanya nama besar enghiong ini. Lim-sumoay, kalian adalah..."

Lim Bu-siang tertawa, segera ia memperkenalkan.

"Beng-toako ini datang dari Siau-kim-jwan, dia adalah sahabat karib Kim Tiok-liu, sengaja datang menjadi tamu agung kita, kau sebagai tuan rumah kenapa ajak tamu berkelahi malah."

Nyonya muda itu menjadi risi dan kikuk, merah mukanya, katanya.

"Kiranya Beng-tayhiap, aku jadi teringat kata-kata yang tepat berada di hadapan kita sekarang, punya mata tidak tahu tingginya gunung Thay-san."

Beng Goan-cau tersipu-sipu membalas hormat dan merendah diri, ujarnya.

"Sedikit salah paham belaka."

Sementara dalam hati ia merasa heran, Lim Bu-siang membahasakan taci adik dengan nyonya muda ini, sementara nyonya muda memanggil paman dan bibi guru kepada suami istri pertengahan umur, sebaliknya Lim Bu-siang adalah sumoay mereka suami istri.

"Entah ada pertalian hubungan apa di antara mereka, begitu berbelit-belit,"

Demikian batin Beng Goan-cau. Maka berkatalah Lim Bu-siang.

"Dia adalah piausoku, atau tuan rumah perempuan, dalam pertemuan besar di Thay-san ini. Yang ini adalah Ciok-suheng, bernama tunggal Heng. Dan dia adalah suci Siang Ceng."

Baru sekarang Beng Goan-cau tahu bahwa nyonya muda ini ternyata adalah istri Boh Cong-tiu, Boh-hujin bernama Lian Jay-hong.

Di waktu Lim Bu-siang bertemu pertama kali dengannya tempo hari pernah menceritakan dirinya.

Ciok Heng tertawa menyengir, ujarnya.

"Memang akulah yang gegabah, cuma kuda suri merah tunggangan Beng-heng ini..."

Baru sekarang Lim Bu-siang paham, katanya.

"Kiranya kalian salah paham akan asal-usul kuda suri merah ini, sehingga terjadi salah pengertian?"

Ciok Heng tercengang, katanya.

"Lim-sumoay, kau pun tahu asal-usul kuda suri merah ini?"

Sahut Lim Bu-siang.

"Kuda ini adalah tunggangan pribadi Pakkiong Bong, komandan Gi-lim-kun, akhirnya kena dicuri oleh Utti Keng, benar tidak?"

"Benar!"

Siang Ceng menyela bicara.

"Apakah kau pun tahu bahwa kami ada pertikaian dengan Utti Keng?"

Lim Bu-siang mengunjuk rasa heran, katanya memandang Suso-nya.

"Kudengar kalian sudah berpisah dengan Cong Sin-liong, apakah kalian masih bertugas bagi kepentingan Sat Hok-ting atau Pakkiong Bong?"

Persoalan inilah yang ingin diketahui oleh Beng Goan-cau, namun ia rada risi untuk mengajukan pertanyaan ini, lekas ia pasang kuping mendengar dengan cermat. Ciok Heng mendengus sekali, ujarnya.

"Dulu kami suami istri terima diperintah dipermainkan oleh Cong Sin-liong, sungguh bodoh dan gegabah sekali. Akan tetapi, meski sekarang sudah kembali dalam keadaan bebas tidak punya ikatan, tidak mendapat tekanan dan perintah lagi dari orang lain, tapi permusuhan kami dengan Utti Keng betapapun harus diperhitungkan! Sumoay!, ketahuilah betapa Utti Keng bertingkah menghina dan merendahkan kami suami istri..."

Lim Bu-siang tersenyum manis, ujarnya.

"Hal itu sejak lama aku sudah tahu."

"Cara bagaimana kau bisa tahu?"

Tanya Ciok Heng heran.

"Utti Kenglah yang bicara dengan ayah. Ada sebuah hal yang mungkin belum kalian ketahui, di waktu ayah bersamaku kembali ke Tionggoan, orang pertama yang terikat menjadi sahabat ayah adalah Utti Keng. Ayah pernah berpesan kepadaku, katanya bila kelak ada kesempatan bertemu dengan kalian, supaya menyampaikan beberapa pesan beliau. Kata ayah bagi seorang yang punya pendirian dan menghadapi persoalan dia pantang berlaku ceroboh dan membawa adatnya sendiri, urusan kecil tidak perlu diperbesar dan diperpanjang sampai bertele-tele. Apalagi musuh gampang di kat sulit dilerai, kenapa hanya persoalan gengsi dan nama yang kecil saja harus bermusuhan dan saling dendam. Maka ayah mengharap pertikaian antara kalian dengan Utti Keng, bila sudi pandang muka beliau sukalah berda-mai dan bikin habis sampai di sini saja!"

Di dalam kalangan Hu-siang-pay, kedudukan ayah Lim Bu-siang cukup tinggi, tidak bisa tidak Ciok Heng suami istri harus memberi muka kepadanya, sesaat lamanya baru Ciok Heng bersuara.

"Bahwa Lim-supek punya harapan begitu besar, masa kami berani mengingkari kebaikan hatinya. Baik, sejak kini anggap saja urusan ini tidak ada dan jangan disinggung lagi!"

Lahirnya memang dia berkata begitu, nada bicaranya terasa amat dipaksakan, sampai Lim Busiang gadis polos yang tidak mengenal kelicikan hati manusia pun merasa nada bicaranya yang kurang wajar.

Beng Goan-cau sendiri memang tidak tahu mengenai seluk beluk Hu-siang-pay, hatinya dirundung berbagai pertanyaan yang sulit mendapat jawaban, pikirnya.

"Boh Cong-tiu mendirikan partai menegakkan aliran di Tionggoan, dia undang seluruh tokoh-tokoh silat dari seluruh dunia untuk hadir memberi restu dan sebagai saksi, dia merupakan sahabat karib Kim-tayhiap lagi, maka tidak perlu diragukan sebagai aliran murni yang lurus (ceng-pay). Kenapa pula sebagian anggauta perguruannya ada yang main sekongkol dan menjadi kaki tangan pihak kerajaan, terima diperbudak menjadi anggauta Gi-lim-kun segala? Entah pertikaian apa pula yang menyebabkan Utti Keng bermusuhan dengan laki-laki she Ciok suami istri ini."

Karena baru saja berkenalan jadi sungkan mengajukan pertanyaan, terpaksa ia telan bulat-bulat rasa curiganya.

"Bu-siang,"

Ujar Lian Jay-hong tertawa.

"beberapa hari yang lalu, piaukomu pernah menyinggung kau, katanya amat kangen kepadamu. Marilah kita berjalan cepat-cepat."

Bu-siang tertawa dibuat-buat, sahutnya.

"Benar, aku belum lagi makan minum perjamuan kalian berdua!"

"Kapan kau tahu kalau kami sudah menikah, kau tidak akan menyangka aku bakal menjadi piau-somu bukan?"

"Benar-benar tidak menyangka, namun aku benar-benar ikut girang bagi perjodohan kalian,"

Dalam bicara mereka sudah cemplak tunggangan masing-masing dan jalan berjajar.

Tunggangan mereka sama kuda-kuda pilihan yang larinya amat cepat, kira-kira tengah hari mereka berlima sudah tiba di kaki gunung Thay-san.

Untuk persiapan pendirian partai ini, Boh Cong-tiu sudah bekerja sejak beberapa tahun, segalanya diatur sangat rapi, di bawah gunung sejak lama sudah didirikan sebuah rumah penginapan sebagai pos pertama untuk menyambut kedatangan para tamu, di sini ia menugaskan beberapa orang yang cekatan dan pandai bekerja.

Cara pengaturannya yang cermat dan serba sempurna ini adalah untuk memata-matai setiap tamu yang dicurigai hendak berbuat onar atau sesuatu yang tidak menguntungkan pertemuan besar kali ini.

Setelah tiba di penginapan, Lian Jay-hong berkata.

"Para tamu yang sudah datang sekarang hanyalah para sahabat dekat piaukomu, jumlahnya belum banyak. Tapi lusa adalah hari pembukaan, besok tentu banyak tamu yang berdatangan dari berbagai tempat. Para murid-murid baru yang baru masuk perguruan mungkin masih asing dan belum kenal terhadap anggauta perguruan kita, maka terpaksa aku dan Ciok-supek berdua harus tinggal di penginapan ini untuk menyambut dan melayani para tamu. Bu-siang, kau boleh terus naik gunung saja bersama Bengtayhiap. Mumpung piaukomu sekarang belum begitu sibuk, kalian dua saudara yang sejak kecil berpisah bisa bertemu dan omong-omong. Dia benar-benar amat kangen kepadamu!"

Sungguh sulit dilukiskan perasaan hati Lim Bu-siang.

Piauko yang sudah sekian tahun berpisah dan sejak kecil dipuja-pujanya bakal bertemu sebentar lagi, namun tak terduga olehnya mereka bakal bertemu dalam situasi dan keadaan demikian ini, entah manis atau getir perasaan hatinya, mungkin kecut juga.

Sedang pikirannya gundah dan risau, belum lagi sempat menjawab, Beng Goan-cau sudah tertawa riang dan berkata lebih dulu.

"Baik, katanya Kim Tayhiap sudah tiba, aku pun ingin bertemu padanya lebih cepat."

Karena kata-katanya ini sudah tentu Lim Bu-siang terpaksa menemaninya naik gunung.

Thay-san dijuluki sebagai gunung tertinggi dan terindah pemandangan di antara Ngo-gak (lima gunung) lainnya, meski bagi pandangan orang-orang modern sekarang sudah bukan termasuk gunung yang paling tinggi, namun pada jaman dulu di mana lalu lintas belum begitu berkembang, Thay-san merupakan salah satu puncak gunung yang menjadi pujaan para pelancong dan pujangga-pujangga, merupakan puncak gunung yang sangat erat dan punya ikatan yang mendalam dengan jalannya sejarah kerajaan dari beberapa dinasti di Tiongkok.

Beng Goan-cau dan Lim Bu-siang naik dari kaki gunung sebelah selatan, melewati deretan pohon-pohon Pek-tong yang berjajar di kedua pinggiran jalanan, langsung menanjak ke lamping Thay-san di mana terdapat sebuah Tiong-thian-bun (pintu langit tengah).

Jurang di sebelah bawah sana dinamakan Ing-jiu-jiam, puncak-puncak mencuat tinggi di atas jurang dinamakan Liong-houphan.

Di atas Tiong-thian-bun terdapat Hek-hong-gou (mulut angin hitam), batu-batu besar menjulang ke langit, masing-masing dinamakan Toa-thian-to-hong (tonggak besar penyanggah langit) dan Siau-thian-to-hong, bentuknya seolah-olah sepasang lilin tersulut yang mencakar langit, setiap kali awan mega mengembang lewat menyelimuti pohon-pohon siong tua di puncak, laksana lilin yang terpasang di langit ini mengepulkan asapnya.

Sepanjang jalan Beng Goan-cau menikmati panorama yang elok serta mengagumi batu-batu ukiran dari syair para pujangga dari jaman lampau, sedemikian terpesona sampai kadang-kadang berdiri diam sekian lamanya, mengelus-elus serta memujinya tidak kepalang tanggung.

Lim Bu-siang menjadi geli, katanya tertawa.

"Jalan dengan caramu ini, mungkin setelah cuaca gelap belum lagi tiba di Giok-hong-koan di puncak sana!"

Letak Tiong-thian-bun di puncak karang yang menonjol keluar, memandang ke atas mega tebal mengembang meliputi puncak tinggi, ada kalanya seluruh puncak Thay-san terbungkus rapat oleh awan gelap, ada orang mengatakan keadaan semacam itu sebagai puncak Thay-san mengenakan topi, ini pertanda bakal turunnya hujan.

Memang cuaca tiba-tiba menjadi mendung, kabut semakin tebal, selepas mata memandang kabut melulu tidak terlihat pemandangan apa-apa.

Cuma Giok-hong-koan yang tertinggi di sana lapat-lapat kelihatan, laksana sebuah pulau yang terpencil di tengah lautan.

"Thay-san mengenakan topi, mungkin sebentar bakal turun hujan!"

Demikian ujar Beng-Goancau.

Memang tidak lama kemudian benar-benar turun hujan.

Untunglah hanya hujan rintik-rintik, di saat-saat hujan rintik-rintik ini, mereka terus melanjutkan naik ke sebelah atas.

Lautan mega bergulung-gulung seperti air mendidih, tiba-tiba kumpul menebal lain saat tersebar menipis, memetakan pemandangan berbagai gambaran yang aneh dan lucu-lucu, seolah-olah seperti harimau atau singa, seperti pula seekor rajawali yang pentang sayap, laksana kuda liar yang pentang ke empat kakinya berlari kencang dan lain-lain pemandangan yang sulit di kuti satu per satu.

Lim Bu-siang sampai terlo-ngong, dalam hati ia membatin.

"Awan mega banyak berubah, seperti pula kejadian di dunia ini. Tapi apakah piauko banyak perubahan seperti awan yang tidak bisa diraba dan diduga?"

Karena pikiran kurang tenang, tiba-tiba kakinya menginjak tempat kosong, hampir saja ia terperosok masuk ke dalam jurang, untunglah Beng Goan-cau meraihnya. Kata Beng Goan-cau tertawa.

"Mega di atas Thay-san, meski merupakan pemandangan aneh, namun kabut tebal membungkus puncak sehingga pandangan orang sulit melihat apa-apa. Nona Lim, hati-hatilah sedikit. Eh, apa yang sedang kau pikirkan?"

Pertanyaan yang tidak sengaja, namun bagi yang ditanya merasa adanya maksud tertentu, sesaat Lim Bu-siang melongo, sahutnya.

"Terima kasih akan peringatanmu, aku tidak pernah pikirkan apa-apa."

Untung kabut amat tebal, Beng Goan-cau tidak melihat jelas air mukanya yang bersemu merah malu. Beng Goan-cau tertawa, ujarnya.

"Kau tidak punya pikiran, aku justru sedang pikirkan sebuah urusan!"

"Urusan apa, boleh bicarakan dengan aku?"

Demikian tanya Lim Bu-siang, sementara dalam hati ia berpikir.

"Sepanjang jalan ia berdiam diri tidak banyak bicara, mungkinkah punya persoalan pribadi apa?"

Wataknya memang jujur dan berhati suci, punya rasa simpatik dan iba terhadap sesama kawan, oleh karena itu meski ia tahu bahwa Utti Keng sedang berdaya hendak merangkap perjodohannya dengan Beng Goan-cau, sedikit banyak membuat kerisauan dan keraguan dalam sanubarinya, saat mana, sedikit pun ia tidak pernah memikirkannya lagi atau menjadi ganjalan dalam lubuk hatinya.

Agaknya Beng Goan-cau mengerti apa yang dia pikirkan, katanya.

"Bukan urusan mengenai persoalan pribadiku, yang kupikir adalah urusan partai kalian. Sepak terjang beberapa orang anggauta partai kalian benar-benar membuat aku serba bingung dan tidak mengerti, entah pantaskah aku mohon penjelasan kepada kau?"

Lim Bu-siang memang tidak curiga dan menaruh prasangka terhadap seseorang yang sudah dikenalnya baik, tapi hal ini bukan berarti otaknya bodoh atau tumpul.

Setelah mendengar penjelasan ini ia baru paham dan berkata.

"Utti Keng adalah sahabat kental ayah dan Kim Tayhiap, namun menjadi musuh besar dari suheng dan susoku, apakah kau merasa persoalan ini rada janggal?"

"Entah cara bagaimana terjadinya ikatan permusuhan ini?"

"Untuk menjelaskan cukup panjang ceritanya, terpaksa harus mulai dari sejak mula Hu-siangpay kita pulang ke daerah Tionggoan. Asal usul partai kami, kukira kau sudah cukup jelas bukan?"

"Kabarnya didirikan oleh Jan-bau-khek maha guru silat di luar lautan pada dinasti Tong dulu."

"Benar. Cikal bakal partai kami adalah Jan-bau-khek pada dinasti Tong, semula beliau punya cita-cita hendak meluruk kembali ke Tionggoan dan berkuasa di sini, akhirnya melihat Tong Thaycong Li Si-bin berkuasa, tahulah dia bahwa daerah Tionggoan sudah punya calon junjungan agung yang asli, maka beliau lantas mengasingkan diri di luar lautan untuk memperdalam ilmunya, pulau di mana beliau bersemayam diberi nama Hu-siang-to. Muridnya yang terbesar adalah maha guru generasi kedua dari partai kami yang bernama Boh Jong-liong, beliau adalah nenek moyang langsung dari piaukoku."

"O, ternyata begitu, tak heran partai kalian menjunjung piaukomu sebagai angkatan yang lebih muda sebagai ciangbunjin, ini berarti sesuai dan mengikuti tradisi."

"Begitulah, maka susiokku Cong Sin-liong tidak terima dan tidak mau tunduk."

"Sejak dinasti Tong sampai sekarang, partai kami sudah didirikan ribuan tahun lamanya, kini terpecahlah menjadi tiga cabang, semua tersebar di luar lautan, anggauta seperguruan sendiri ada kalanya tidak saling mengenal. Piaukoku termasuk dari cabang yang asli murni, ayahku dari cabang lain, demikian pula Cong Sin-liong dan Ciok-suko beramai dari cabang yang lain pula."

"Kami ayah beranak lebih dulu tiba di Tionggoan, rombongan kedua adalah Cong Sin-liong dan enam orang suheng dan suci, mereka bergelar Hu-siang-cit-cu. Piausoku Lian Jay-hong semula termasuk salah satu dari Hu-siang-cit-cu itu."

"Pertama kali tiba di Tionggoan, Hu-siang-cit-cu tidak tahu situasi dan keadaan, maka dengan mudah mereka kena dipelet dan disogok oleh pihak kerajaan, dalam hal ini secara langsung menguntungkan Sat Hok-ting, lama kelamaan Cong Sin-liong menjadi tangan kanan dan pembantunya yang paling dipercaya, secara suka rela dia terima diperbudak dan tunduk pada perintahnya."

"Utti Keng merupakan begal kuda, penjahat yang harus diringkus oleh pihak kerajaan, suatu ketika dia bentrok dengan Hu-siang-cit-cu. Cong Sin-liong kena dikalahkan oleh permainan ilmu golok cepat Utti Keng, Ciok-suko suami istri juga terluka oleh sambitan senjata rahasia Jian-jiukoan-im Ki Seng-in, istri Utti Keng, sejak itulah mereka mengikat permusuhan yang mendalam.

"Namun dalam menghadapi persoalan terima menghamba dan menjual jiwa bagi pihak kerajaan, Hu-siang-cit-cu sendiri masing-masing terbit perselisihan pendapat, tujuh orang terbagi tiga pendapat yang berlainan, maka akhirnya ketiga kelompok orang ini terpecah dan hidup sendiri-sendiri."

"Siapa saja ketiga kelompak itu?"

"Kelompok pertama berpendapat, berhubungan erat dengan Sat Hok-ting bisa memperoleh sedikit keuntungan dan bisa mendapat fasilitas pula, kalau toh kedua pihak bisa mendapat keuntungan masing-masing, apa salahnya hubungan dilanjutkan lebih kental. Akan tetapi, betapapun mereka sudah kena diperalat oleh orang, sedikit banyak menurunkan derajat sebagai tokoh kosen persilatan. Kelompok kedua semula secara gegabah saja mengekor pada kehendak Cong Sin-liong, akhirnya memisahkan diri. Dan yang terakhir adalah antek-antek yang patuh dan setia menjadi ekor Cong Sin-liong. Ciok-suheng suami-istri adalah kelompok pertama, piauso Lian Jay-hong adalah kedua dan tiga orang yang lainnya mengikuti jejak Cong Sin-liong, mereka termasuk kelompok ketiga."

"Akhirnya Lian Jay-hong menikah dengan piauko dan tertarik ke pihaknya, sejak saat itu, Husiang-cit-cu secara resmi terpecah dan mencari jalan hidupnya sendiri-sendiri. Cong Sin-liong dan piauko-ku merupakan dua pihak yang bermusuhan. Semula, aku tidak tahu akan peristiwa ini, Kim Tiok-liu toakolah yang menceritakan kepada aku."

"Piausoku waktu kecil adalah tetangga kami, akhirnya kami ayah beranak kembali ke Tionggoan dan berpisah dengannya. Entah bagaimana akhirnya dia menjadi murid Cong Sin-liong, namun akhirnya dia berkhianat terhadap perguruan dan menikah sama piauko. Sejak kecil kami sudah membahasakan laci adik, maka tidak perlu mempersoalkan tingkat dan kedudukan segala."

"Bahwa Ciok-suko dan piausomu sudah paham dan sadar dari kesesatan, kenapa pula mereka masih begitu dendam terhadap Utti Keng?"

"Selamanya mereka amat mengagulkan diri dan memang bersifat congkak, beberapa tahun yang lalu Kim-toako pernah mengucapkan kata-kata yang menyinggung perasaan mereka, maka terjadilah perkelahian yang seru!"

"Dalam mendirikan partai dan menegakkan aliran perguruan kali ini, adakah piaukomu mengundang kelompok Cong Sin-liong?"

"Hal ini aku tidak tahu!"

Sejenak Lim Bu-siang berpikir lalu tambahnya.

"Beng-toako, kabarnya kau adalah pahlawan dari pasukan gerilya di Siau-kim-jwan, apa benar?"

"Mana berani aku disebut "pahlawan"

Segala, yang benar aku hanya sedikit menyumbangkan tenagaku bagi kepentingan pasukan pergerakan belaka."

"Kim Tiok-liu toako dan paman Utti Keng sama punya hubungan yang erat dengan pihak laskar gerilya, menurut apa yang pernah kudengar dari cerita Kim toako, piaukoku pun ada sedikit kontak dengan pasukan pergerakan, namun hubungan mereka jauh berlainan pula dengan hubungan Kim-toako dengan pihak laskar gerilya, apa kau paham akan maksudku?"

Beng Goan-cau tersentak sadar, pikirnya.

"Benar. Boh Cong-tiu hanya boleh dianggap sahabat pihak laskar gerilya, atau dikatakan saja sedikit menaruh simpatik pada pasukan pergerakan. Tidak semestinya aku terlalu menaruh harapan besar terhadapnya. Anggauta perguruannya banyak yang tidak cocok dengan kaum pendekar, kukira hal ini tidak perlu dibuat heran."

Sementara Lim Bu-siang sendiri pun sedang berpikir.

"Sudah beberapa tahun piauko pulang ke Tionggoan, hubungannya begitu kental dengan Kim-toako, seharusnya dia sudah dapat membedakan mana buruk mana yang baik, betapapun dia tidak akan mengingkari diri terhadap para sahabat dari kaum pendekar dan laskar gerilya, sebaliknya terima mengekor terhadap pihak kerajaan."

Masing-masing punya jalan pikiran yang berlainan, begitulah mereka beranjak terus naik ke atas gunung.

Jalan pegunungan di sebelah atas semakin licin dan sempit amat berbahaya, akhirnya tibalah mereka pada daerah yang dinamakan Cap-pwe-ban (delapan belas lingkaran), jalan di sini justru yang paling terkenal amat berbahaya, sedikit lena elmaut menanti jiwa orang.

Dinamakan Cap-pwe-ban karena jalanan di sini melingkar-lingkar dan berlika-liku naik turun di lamping gunung yang terjal.

Ada sebuah pepatah yang melukiskan betapa berbahayanya jalanan Cappwe-ban ini.

"Bila yang di depan menoleh ke belakang, yang kelihatan hanyalah kepala manusia, sebaliknya orang yang di belakang mendongak ke atas yang kelihatan hanyalah kaki depannya."

Kabut semakin tebal, cuaca semakin pekat, meski kepandaian mereka tinggi, tak urung jantung jadi kebat-kebit dan was-was, beberapa kejap lagi, tiba-tiba seperti mendapatkan sesuatu apa Beng Goan-cau berseru keheranan.

Lim Bu-siang menyangka kakinya hampir terpeleset, cepat ia menarik lengannya serta katanya.

"Awas, hati-hati lumut di atas batu licin sekali."

Cepat Beng Goan-cau mendesis dan berkata lirih.

"Coba kau dengar, lapat-lapat kudengar beradunya sesuatu benda."

Di sebelah depan sana mereka bakal melewati sebidang hutan siong, angin pegunungan menghembus deras sehingga suaranya bersuitan membisingkan telinga, seperti damparan ombak laut yang pasang, laksana derap kaki kuda di medan laga.

Lim Bu-siang tertawa, katanya.

"Mungkin pendengaranmu yang salah, bukan mustahil hembusan angin mematahkan daun-daun pohon."

"Mari coba kita ke sana, hati-hati ringankan langkah kakimu!"

Sambil berindap-indap mereka memasuki hutan siong yang menjulang tinggi. Berkata Lim Bu-siang.

"Pohon-pohon siong di sini tinggi besar dan rimbun daunnya, dahan sama dahan saling berdempetan sambung menyambung sehingga menutupi angkasa, tempat yang cocok untuk berteduh."

Tak lama kemudian mereka sudah keluar dari hutan, hujan sudah berhenti, maju lebih lanjut mereka dihadang sepasang puncak menjulang yang mengapit jalan kecil yang harus mereka lewati, dari lamping kedua puncak ini masing-masing tumbuh menjulur keluar sebatang pohon siong yang cukup besar.

Jarak antara kedua pohon ini kira-kira puluhan tombak jauhnya.

Tiba-tiba Lim Bu-siang berseru.

"Lekas kau lihat dengan seksama, di atas pohon itu kelihatannya ada bayangan orang."

Tampak di antara jarak kedua pohon itu, ada beberapa dahan pohon sedang saling sambar pergi datang berseliweran, sekonyong-konyong kilat menggeleger, betul-betul juga samar-samar kelihatan di atas kedua pucuk pohon itu masing-masing bersembunyi seseorang di dalam semak dedaunan yang rimbun.

Beng Goan-cau berkata setengah berbisik.

"Agaknya kedua orang ini sedang bertanding pedang, jangan kita mengganggu keasyikan mereka."

Sebetulnya tidak perlu Beng Goan-cau memperingatkan, Lim Bu-siang sudah berdiri menjublek dengan mulut melongo takjub.

Kedua orang itu duduk di puncak dahan pohon yang rada kecil, tangan masing-masing menyekal sebatang dahan pohon, sementara di tengah udara ada empat batang pohon sedang meluncur pergi datang bolak-balik.

Setiap kali dahan pohon meluncur datang kedua orang itu lantas menyampukkan dahan pohon di tangan mereka masing-masing, maka dahan pohon yang melayang datang itu kena disampuk balik ke arah lawan.

Setiap kali kena disampuk balik, dahan pohon itu meluncur dengan kecepatan deras mengeluarkan deru angin keras, dari sini dapatlah membuktikan bahwa Iwekang kedua orang ini bukan olah-olah hebatnya.

Dan yang membuat orang lebih heran, kelihatannya mereka sedang adu menyambit senjata rahasia, namun bagi pandangan seorang ahli silat, dapatlah orang tahu bahwa kedua orang ini sedang bertanding ilmu pedang tingkat tinggi.

Setiap menyampuk terbang dahan pohon, masing-masing melancarkan tipu yang banyak perubahan dan mengandung variasi yang serba rumit.

Ada kalanya dahan pohon itu meluncur kencang seperti anak panah, tiba di tengah jalan mendadak bisa membelok, yang diarah pertama adalah tenggorokan musuh, namun tahu-tahu menukik menusuk ke perut, semula mengarah Thay-yang-hiat di pelipis lawan, tiba-tiba membelok ke arah Hoan-tiau-hiat di lutut orang.

Ke empat dahan pohon itu simpang siur meluncur cepat namun tidak pernah saling bentur di tengah udara, kelihatannya pasti saling bertumbukan namun tiba-tiba membelok ke arah lain terus menerjang ke arah lawan.

Seolah-olah seperti dua tokoh pedang yang menyembunyikan diri sedang bertanding pedang di tengah angkasa, bisa mengendalikan senjata masing-masing seenak menurut nurani masing-masing, perubahannya banyak ragam dan sulit dimengerti.

Beng Goan-cau tahu kedua tokoh yang sembunyi di atas pohon, Iwekangnya sudah mencapai puncak tertinggi, maka mereka mampu menggunakan dahan pohon sebagai batang pedang untuk mengendalikan dahan-dahan pohon itu meluncur ke arah lawan, tenaga yang digunakan amat tepat dan persis sekali.

Begitu terpesona ia menonton adegan adu pedang yang menakjubkan ini, hatinya lantas berpikir.

"Pertunjukan hebat yang menggunakan tenaga dalam dikombinasikan dengan permainan pedang dan sambitan senjata rahasia dalam gebrak yang bersamaan terpaut antara dua lamping gunung, benar-benar belum pernah saksikan atau dengar. Siapakah mereka ini?"

Lalu terpikir pula olehnya.

"Di atas langit masih ada langit, orang pandai ada yang lebih pandai, kata-kata ini ternyata memang tidak meleset. Waktu di Siau-kim-jwan pernah kusaksikan permainan pedang Siau Ci-wan dari partai Ceng-seng-pay, aku harus mengaku asor. Beberapa hari yang lalu bentrok dengan Utti Toako, golok cepatnya membuat aku tunduk lahir batin, kini pertunjukan ilmu pedang kedua orang ini begini hebat dan liehay, jauh di atas kemampuan Siau Ci-wan dan golok cepat Utti Keng. Em, tusukan pedang ini menyelonong tiba dari arah yang tidak terduga oleh lawan kalau aku sendiri yang menghadapi, sungguh tak tahu cara bagaimana harus membela diri?"

Kabut bergulung-gulung semakin tebal, jarak mereka masih puluhan tombak, kedua tokoh kosen itu agaknya sedang mengkonsentrasikan diri menghadapi pertandingan pedang tingkat tinggi, agaknya belum mengetahui akan kedatangan mereka yang sudah sembunyi tak jauh di tempat pertandingan.

Bahwa Beng Goan-cau sudah merasa takjub, sebaliknya Lim Bu-siang lebih keheranan dan melongo.

Kalau Beng Goan-cau amat kagum dan terpesona akan permainan adu pedang dari tingkat tinggi, sebaliknya Lim Bu-siang melongo karena yang dia lihat adalah permainan pedang tingkat tinggi dari perguruannya.

Dahan pohon timbul tenggelam di tengah udara laksana dua ekor naga yang sedang bergulat, begitu mendekat lantas kena disampuk mental oleh orang yang sembunyi di atas pohon, terbang balik ke arah lawan, lincah dan gesit, seolah-olah sedang beradu pedang sungguhan.

Adalah jurus-jurus permainan pedang ini, jauh berbeda dengan jalan tipu-tipu pedang dari aliran Tionggoan yang ada.

Beng Goan-cau tidak tahu dan tidak bisa menyelami di mana letak intisari dari kehebatan ilmu pedang ini, sebaliknya Lim Bu-siang tumplek seluruh perhatiannya, sekali pandang lantas ia tahu bahwa jurus tipu adu pedang ini jelas adalah ilmu pedang perguruannya.

Kedua orang itu sembunyi di semak-semak rimbunnya dedaunan pohon, kabut tebal lagi, sehingga Lim Bu-siang tidak bisa melihat jelas, siapakah kedua orang ini.

Tapi di antara sekian banyak anggauta perguruannya, siapa yang mampu dan punya latihan yang setaraf demikian tinggi, rasanya tiada, hal ini ia jelas mengetahui.

"Kecuali ayah, Cong Sin-liong tidak mungkin mencapai taraf begitu tinggi, mungkin piauko adanya? Lalu siapa pula lawannya?"

Di saat pikirannya meraba-raba dan belum memperoleh pemecahannya, tiba-tiba didengarnya suara "krak!", dua batang dahan saling bentrok di tengah udara, satu di antaranya patah menjadi dua, sementara batang yang lain masih meluncur terus ke arah lawannya.

Orang yang sembunyi di pohon sebelah kanan segera menyampuk jatuh dahan yang meluncur datang itu serta berseru.

"Kim-heng, aku sudah menggembleng diri selama tiga tahun, betapapun aku harus mengaku asor setingkat di bawahmu."

"O, ternyata Kim Toako adanya, bagaimana mungkin dia pun bisa memainkan ilmu pedang perguruan kami?"

Demikian Lim Bu-siang bertanya-tanya dalam hati. Belum lenyap pikirannya, sekonyong-konyong didengarnya seseorang berseru memuji.

"Bagus!", suaranya seperti benturan senjata keras yang memekakkan telinga, jelas sekali. Ternyata kedua orang yang bertanding pedang ini adalah Kim Tiok-liu dengan Boh Cong-tiu, Kim Tiok-liu amat berbakat dan pintar luar biasa, dari keturunan keluarga persilatan yang membekal ilmu luas dan tinggi lagi. Ilmu pedang dari, berbagai partai dan golongan, asal dia pernah melihatnya, tentu tidak akan dilupakannya. Bukan saja dia tidak melupakan apa yang pernah dilihatnya, malah bisa pula diolah sendiri serta dikombinasikan dengan ilhamnya lalu menciptakan sesuatu jurus pedang baru yang lain dari yang lain. Banyak kaum persilatan yang berpendapat bahwa kepandaian silatnya sekarang sudah jauh melampaui Kang Hay-thian, suhengnya, jago silat nomor satu pada jaman itu. Sejak berkenalan dengan Boh Cong-tiu, setiap kali bersua, seperti menjadi tradisi mereka pasti akan saling menjajal ilmu pedang masing-masing, maka terhadap inti sari ilmu pedang pihak Husiang-pay, lambat laun ia berhasil menyelami semakin dalam. Tapi karena selamanya dia tidak pernah menyinggung soal ini kepada Lim Bu-siang, maka walaupun Lim Bu-siang menetap di rumahnya sekian lamanya, sedikit pun ia tidak tahu bawa Kim Tiok-liu bisa pula memainkan ilmu pedang dari perguruannya. Begitu keras seru pujian orang itu sehingga suaranya bergema sambung menyambung di lembah pegunungan. Keruan Kim Tiok-liu terkejut, teriaknya.

"Tokoh kosen darimanakah, silakan keluar untuk berkenalan!"

Baru saja Beng Goan-cau kegirangan, pikirnya.

"Kiranya benar Kim-tayhiap adanya."

Namun karena kebetulan terbentur peristiwa ini, yang dipersilakan keluar oleh Kim Tiok-liu adalah tokoh kosen itu, maka ia jadi beragu diri, entah perlukah dia.segera keluar untuk bertemu dengannya.

Dalam detik yang amat pendek itulah, tiba-tiba didengarnya desiran angin senjata rahasia yang menyambar datang, kiranya Boh Cong-tiu memetik beberapa dahan pohon, menggunakan sambitan Lian-cu-cian menyambit ke arah Beng Goan-cau.

Bila latihan lwekang sudah mencapai puncak tertinggi, orang bisa memetik daun menerbangkan kelopak kembang untuk melukai orang' sampai mati.

Meski Boh Cong-tiu sendiri belum mencapai tingkatan setaraf itu, kemampuannya sekarang sudah termasuk kelas wahid yang cukup hebat, dahan pohon yang disambitkan laksana anak panah itu meluncur pesat mengeluarkan suara mendesing keras.

Keruan Beng Goan-cau terperanjat, untunglah kepandaian permainan golok cepatnya amat sempurna, begitu goloknya terlolos dari sarungnya, beruntun ia menyampuk jatuh dahan-dahan pohon yang menyambar tiba.

Golok cepatnya membabat dan memotong cepat luar biasa, maka terdengarlah suara gemerincing yang nyaring bersambung, itulah goloknya berhasil memapas kutung dahan-dahan pohon yang menyambar datang menjadi berkeping-keping.

Sekaligus Beng Goan-cau berhasil memapas tujuh batang dahan sambitan Boh Cong-tiu, namun masih dua batang yang lain meluncur datang dari arah yang tidak terduga olehnya Kedua batang pohon ini mengarah kedua jalan darah mematikan di tubuhnya, baru saja Beng Goan-cau mengeluh 'celaka', tak nyana suatu keanehan yang ajaib mendadak terjadi, sungguh berada di luar dugaannya, kedua batang dahan pohon itu mendadak membelok arah menancap di atas batang pohon di sebelah belakangnya.

Tempat kedudukan Kim Tiok-liu dengan Boh Cong-tiu memang terpaut puncak gunung, jarak di antara keduanya tidak lebih hanya beberapa tombak saja, sekali lompat Kim Tiok-liu bisa mencapainya dengan mudah, sebelum Boh Cong-tiu bergerak ia sudah mendahului melompat datang tiba di tempat persembunyian Beng Goan-cau.

Segera Boh Cong-tiu berteriak.

"Kim-heng, ringkus saja hidup-hidup biar nanti kukompes keterangannya. Hm, ingin aku melihat orang macam apa yang begitu besar nyalinya berani mencuri lihat ilmu pedangku!"

Lekas Lim Bu-siang meloncat keluar dari belakang batu cadas, serunya.

"Kim-toako, inilah Beng Tayhiap Beng-toako yang kau suruh aku mengantar kabar kepadanya."

Kim Tiok-liu bergelak tertawa, serunya.

"Boh-heng, kau salah terka. Lekas kau kemari lihatlah siapa dia?"

Boh Cong-tiu melengak, sekian saat ia mengamati Lim Bu-siang, akhirnya baru berteriak kejut.

"Kau, kau, kaukah Bu-siang?"

"Tidak salah!"

Sahut Lim Bu-siang.

"Piauko, tak nyana kau masih kenal aku."

"Tadi apakah bukan saudara Beng ini yang berseru memuji?"

Tanya Boh Cong-tiu.

"Orang itu sudah pergi jauh,"

Ujar Kim Tiok-liu. Diam-diam Boh Cong-tiu malu diri, katanya.

"Ke mana orang itu melarikan diri aku tidak tahu, malah hampir saja melukai saudara Beng ini!"

Kim Tiok-liu menghela napas, ujarnya.

"Orang itu pergi datang tanpa meninggalkan jejak, benar-benar seorang aneh seperti naga yang kelihatan ekornya tidak tampak kepalanya. Sayang tidak mau unjukkan diri berkenalan dengan kita."

Boh Cong-tiu seperti memikirkan apa-apa, katanya sesaat kemudian.

"Di antara para tamu undangan kecuali kau, betapapun tiada seorang kosen setinggi itu-Ya, kukira kedatangannya ini pasti punya sesuatu tujuan tertentu, mau tidak mau aku harus berjaga-jaga dan waspada."

Tergerak hati Kim Tiok-liu, katanya.

"Boh-heng, adakah kau sudah tahu siapakah orang itu?"

Sementara dalam hati ia berpikir.

"Kalau tidak sebagai seorang tuan rumah, begitu mendengar suara lantas turun tangan secara keji. Masakah dia tidak kuatir salah melukai orang?"

"Dulu di waktu aku pertama kali tiba di Tionggoan, pernah bertemu dengan seorang aneh,"

Demikian tutur Boh Cong-tiu.

"Waktu itu entah apakah dia sengaja hendak mencoba-coba ilmu silatku atau sengaja hendak mencelakai jiwaku, kami bertemu muka di suatu jalan pegunungan yang licin dan berbahaya, mendengar aku dari Hu-siang-pay, mendadak mengajak aku bertanding silat dan terus gebrak tanpa memberi aba-aba, setiap jurus permainannya amat telengas, terpaksa aku harus adu jiwa melawannya di atas jurang. Akhirnya aku kena terpukul olehnya dan jatuh sakit tiga bulan, namun dia pun mendapat sedikit cedera olehku. Sampai sekarang aku masih belum tahu asal-usulnya."

Kim Tiok-liu heran, katanya.

"Ada tokoh sekosen itu yang mampu melukai kau. namun sedikit pun aku tidak tahu, sungguh heran!"

Maklum Kim Tiok-liu dan suhengnya Kang Hay-thian punya persahabatan yang amat luas dengan orang-orang gagah dari seluruh dunia, tokoh-tokoh bulim yang kenamaan tiada yang tidak mereka kenal, bila benar-benar ada seseorang aneh seperti yang dituturkan oleh Boh Cong-tiu ini, dan belum diketahuinya, paling tidak suhengnya pasti tahu.

Tapi yang mengherankan Kim Tiok-liu bukan karena dia tidak tahu adanya tokoh seliehay itu, adalah kejadian yang barusan dialami ini, kenapa baru sekarang Boh Cong-tiu mau menceriterakan orang itu?

Karena dialah pertama yang paling erat hubungannya dengan Boh Cong-tiu sejak pertama kali dia tiba di Tionggoan, sudah sekian tahun lamanya mereka kenal satu sama lain, sering Boh Cong-tiu minta petunjuk nama serta riwayat tokoh-tokoh kangouw yang kenamaan padanya, tapi kenapa dia sendiri tidak pernah menyinggung orang aneh yang pernah membuatnya jatuh sakit tiga bulan.

Memangnya Kim Tiok-liu seorang yang simpatik terhadap teman, beberapa tahun terakhir ini di bawah petunjuk dan nasehat suhengnya, dia sudah banyak maju dan tahu banyak mengenai selukbeluk kehidupan kaum persilatan.

Diam-diam ia berpikir.

"Mungkin dia punya kesulitan yang tidak mungkin dikemukakan kepada orang luar, tidak enak aku perlu mengetahui seluk beluk rahasia pribadi orang."

Maka ia lantas berkata.

"Kalau tahu demikian, sebetulnya tidak perlu aku merintangi kau turun tangan!"

Boh Cong-tiu tertawa tergelak-gelak, katanya.

"Untung dua kali kau merintangi aku turun tangan, kalau tidak jadi berbuat salah terhadap saudara Beng ini. Beng-heng, harap kau suka maafkan kesalahan pahamku."

Baru sekarang Beng Goan-cau tahu bahwa tadi Boh Cong-tiu sekaligus menyambitkan senjata rahasianya kedua jurusan, sementara dahan pohon yang disambitkan ke arah dirinya secara diamdiam telah disampuk miring dan kendor tenaga luncurannya karena rintangan tenaga dalam yang dikebutkan oleh lengan baju Kim Tiok-liu.

Namun demikian di kala ia memapas kutung dahandahan pohon sambitan Boh Cong-tiu dengan golok cepatnya, telapak tangannya sampai tergetar sakit kesemutan, diam-diam bercekat hatinya, pikirnya.

"Kim Tayhiap dijuluki jago nomor satu di seluruh jagat, kiranya memang tidak bernama kosong, secara diam-diam ia sudah menolong jiwaku tanpa kusadari, ai, dulu pandanganku terlalu cupat seperti duduk dalam sumur memandang langit, tak tahu betapa besarnya dunia ini, tak nyana di dunia ini terdapat tokoh silat yang sedemikian liehaynya. Kepandaian Kim Tayhiap jelas jauh berada di atas diriku, meski Boh Congtiu sendiri pun aku tidak bakal bisa mengungkulinya meski berlatih sepuluh tahun lagi."

Setelah Boh Cong-tiu ajak Kim Tiok-liu mengobrol sebentar, lalu ia bicara lagi.

"Sudah lama aku mengagumi para pahlawan dari Siau-kim-jwan, kebetulan Beng-heng sudi datang, sehingga partai kami mendapat pandangan yang lebih cemerlang, kelak harap Beng-heng suka memberi beberapa petunjuk!"

Selama itu Lim Bu-siang tiada kesempatan ikut menimbrung bicara, hatinya jadi merasa hampa dan mendelu.

Beberapa tahun ini dia sering berpikir, entah bagaimana keadaannya bila dirinya benar-benar bertemu dengan sang piauko?

Rasa cintanya masa kecil yang remang-remang dulu sudah menjadi bayangan gelap yang tak dapat dilukiskan lagi, kawan bermain di waktu kecil, sekali tempo berjumpa sudah tentu sulit menahan perasaan riang dan haru hatinya.

Dalam pada itu Boh Cong-tiu selalu menyibukkan diri bicara dengan Kim Tiok-liu mengenai urusan upacara besar yang akan tiba besok lusa, memang dia sulit menahan perasaan senang dan haru hatinya, namun perasaan hatinya ini dia tujukan kepada seorang pemuka muda dari pahlawan laskar gerilya yang penting kedudukan-.nya yang sudi berkunjung pada pertemuan besar perguruan, jadi bukan karena pertemuannya dengan Lim Bu-siang.

Tak lupa ia pun membicarakan orang aneh yang pergi datang tidak meninggalkan jejak itu, sehingga di dalam rasa senang dan harunya itu tanpa disadari ia melimpahkan pula perdsaan gugup dan gelisah hatinya.

Rasa gugup atau gelisah itu sendiri kadang-kadang sulit dibedakan dengan rasa kaget dan heran, tapi peduli gugup atau keheranan, bagi Lim Bu-siang sangat jelas dan dia dapat menyelami, bahwa perasaan itu bukan ditujukan karena kehadirannya.

Kecuali rasa di luar dugaan yang sekejap di waktu melihat dirinya tadi, bahwasanya piaukonya kini seolah-olah sudah mengabaikan kehadirannya di antara mereka.

Kenangan indah yang berkesan dalam relung hatinya masa lalu kini seperti gelembung buih yang pecah menghilang tanpa bekas, bukanlah mustahil kalau Lim Bu-siang harus merasa hampa dan mendelu karenanya.

Adalah Kim Tiok-liu yang menyadari telah bersikap dingin kepadanya, tiba-tiba ia sadar dan berseru tertawa.

"Boh-heng, kau tidak menduga bakal bertemu dengan piaumoaymu bukan! Bicara terus terang aku sendiri pun tidak menyangka Bu-siang bakal hadir."

Kim Tiok-liu benar-benar terkejut dan heran akan kedatangan Bu-siang, semula dia masih kuatir, kalau kedua orang ini saling bertemu, luka-luka lubuk hati Lim Bu-siang bisa kumat lagi.

Sekarang dilihatnya Lim Bu-siang sedemikian tenangnya, hal inilah yang benar-benar membuatnya di luar dugaan.

"Maksud Ang-ing memang benar, agaknya akalnya memindah kembang menyambung dahan ini bakal sukses, agaknya Bu-siang sudah melimpahkan cintanya ke sasaran lain,"

Demikian pikir Kim Tiok-liu.

Dia tidak tahu bahwa Beng Goan-cau baru saja bertemu dengan Lim Bu-siang di bawah gunung, dikiranya mereka datang bersama dari Soh-ciu.

Maka di kala ia melihat Lim Bu-siang mengintil di belakang Beng Goan-cau tanpa bersuara, ganjalan hatinya selama ini dengan sendiri menjadi buyar, serta merta ia mengunjuk senyum manis dan senang.

Boh Cong-tiu seperti tersentak, katanya.

"Bu-siang. kita sudah puluhan tahun tidak bertemu bukan! Kini sudah tumbuh begini besar. Apakah kau sudah bertemu dengan piausomu?"

"Tadi di bawah gunung sudah ketemu. Piauko, kusampaikan selamat kepadamu!"

"Nanti kalau piausomu pulang, biar kita bicara kekeluargaan lebih lanjut. Dua hari ini aku rada sedikit repot."

Berkata Lim Bu-siang tawar.

"Kita kau bukan orang luar, silakan kau urus kesibukanmu, tidak perlu main sungkan padaku."

Di mulut ia bicara 'bukan orang luar', namun dalam hati ia merasa bahwa piaukonya ini tidak ubahnya seperti orang luar sudah.

Setelah hujan cuaca kembali cerah.

Boh Cong-tiu berjalan paling depan menuntun jalan, beriring mereka naik ke atas.

Setelah melewati Cap-pwe-ban yang paling berbahaya, tibalah mereka pada pintu gerbang terakhir dari puncak Thay-san yaitu pintu gerbang Lam-thian-mui.

Hembusan angin barat daya dengan kencang menghembus keluar dari lubang pintu Lam-thianbun, pakaian mereka melambai berbunyi, membuat orang seakan-akan merasa berjalan terbang di tengah angkasa.

Setelah keluar dari Lam-thian-bun, memandang ke bawah, pemandangan kelihatan lain dari yang lain, amat mempesonakan, seluas mata memandang dataran rendah terbentang menghijau tak berujung pangkal, jauh di ufuk timur sana tampak sesuatu keputihan, yang bergerak-gerak pulang pergi berkilauan, itulah deburan ombak di lautan timur yang jaraknya ratusan li.

Seketika terasa lapang perasaan Lim Bu-siang, katanya tertawa.

"Beng-toako, sekarang tepat sekali kalau dikatakan dari ketinggian melongok bukit-bukit menjadi kecil!"

Kim Tiok-liu nyeletuk bicara.

"Besok kalian harus bangun pagi-pagi, di puncak Thay-san melihat matahari terbit, pemandangan'aneh jauh lebih menakjubkan!"

"Apa benar?"

Sahut Lim Bu-siang.

"Kalau begitu biarlah besok kau panggil aku!"

"Besok mungkin aku harus turun gunung menyambut kedatangan Tan Kong-cau dan Tan Kongsi dua bersaudara, keluarga Tan di Soh-ciu ini punya ikatan erat dengan keluargaku. Lebih baik kau ajak Beng-toako saja!"

Lain pula Boh Cong-tiu sedang memikirkan persoalan dirinya, sesaat ia menyela bicara.

"Kupikir seluruh orang-orang gagah seluruh jagat berkumpul bersama di puncak Thay-san kalau bisa menjagoi dan memimpin seluruh dunia persilatan, berjuang mencapai suatu cita-cita luhur, kukira hal ini bisa dibandingkan dengan kemegahan puncak Thay-san ini."

Tiok-liu tertawa, katanya.

"Kalau aku malah ingin bisa hidup bebas kelana di antara gunung, sungai dan bumi nan subur luas ini, sedikit pun tiada punya cita-cita ambisi yang sedemikian tingginya, hal itu kupasrahkan kepada kau saja Boh-heng!"

"Kim-heng suka berkelakar saja. Yang kukejar hanyalah menjabat ciangbunjin sesuatu aliran belaka, dan itu sudah cukup berkelebihan bagiku."--Meski begitu ia bicara, namun Lim Bu-siang merasakan pada nada bicaranya, betapa besar ambisinya hendak bersimaharaja sendiri. Dari Lam-thian-bun maju lebih lanjut tibalah mereka di Giok-hong-ting, puncak tertinggi dari Thay-san. Di puncak Giok-hong terdapat sebuah Giok-hong-koan, biara besar ini dipinjam Boh Cong-tiu untuk melayani dan tempat tinggal para tamu-tamu agungnya, sekitarnya didirikan pula barak-barak darurat untuk tempat tinggal para tamu-tamu yang datang dari berbagai tempat. Boh Cong-tiu sudah mengatur tempat tinggal Lim Bu-siang, sebuah kamar mungil yang terletak deretan kamar belakang di sebelah samping biara besar itu. Semula tempat ini disediakan untuk istri Kang Hay-thian, terang Kang-hujin tidak akan datang, maka kebetulan malah diperuntukkan Lim Bu-siang. Boh Cong-tiu sendiri yang membawa Lim Bu-siang ke kamar itu, mendadak Boh Cong-tiu bertanya.

"Piaumoay malam nanti apakah kau hendak tidur pagi-pagi?"

Sekilas Lim Bu-siang tercengang, sahutnya.

"Ada urusan apa?"

"Tidak apa-apa, ada omongan yang perlu kusampaikan kepadamu, tapi mungkin setelah lewat tengah malam baru aku ada kesempatan kemari!"

"Begitu pun baik. Tapi setelah kentongan kedua terpaksa aku tinggal tidur."

"Sudah tentu,"

Ujar Boh Cong-tiu tertawa.

"Kalau lewat kentongan kedua sudah tentu aku tidak akan kemari."

Setelah kentongan kedua Lim Bu-siang menunggu secara sia-sia, piaukonya tidak kunjung tiba.

Di saat Lim Bu-siang keisengan dan melayangkan pikirannya yang kacau balau, entah urusan apa yang hendak dibicarakan piaukonya, mendadak didengarnya kicauan nyaring, tengah malam buta rata sudah tentu Lim Bu-siang menjadi terkejut, waktu ia angkat kepala dilihatnya pada daun jendelanya bertengger seekor burung kecil berbulu putih kehijauan mulus, sementara paruhnya yang panjang berwarna merah seperti sebentuk jamrut delima.

Kalau dikatakan memang aneh, burung kecil ini agaknya mengerti watak manusia, tahu Lim Busiang senang padanya, begitu dipandang dengan senyum manis, kicauannya semakin merdu, malah manggut-manggut kepala ke arah Lim Bu-siang.

Mendadak timbul sifat kekanakan Lim Bu-siang, segera ia maju menghampiri hendak menangkapnya, cepat burung kecil itu terbang keluar dan hinggap di atas dahan pohon serta berkicau lagi ke arah dirinya.

Umumnya burung sekecil ini malam-malam tidak akan beterbangan, maka Lim Bu-siang semakin keheranan, katanya tertawa.

"Apakah kau sengaja hendak bermain dan menjadi teman dengan aku?"

Sembari bicara segera ia mengejar keluar.

Lim Bu-siang melambatkan kakinya, begitu tiba di bawah pohon, tiba-tiba ia kembangkan ginkangnya dengan gaya lt-ho-cong-thian (burung bangau menjulang ke langit) kontan tangannya meraih ke arah burung kecil yang hinggap di atas dahan.

Begitu dahan tergetar, tahu-tahu burung kecil terbang lari ketakutan.

"Eh, burung kecil, tak usah gugup jangan takut, aku hanya ingin berkawan dengan kau."

Aneh seperti bisa mendengar dan tahu maksud kata-katanya, burung kecil itu terbang berputar tiga lingkaran, pelan-pelan terus berputar-putar terbang di atas kepalanya.

Lim Bu-siang tidak berhasil memegangnya, namun ia tidak tega menyambit dengan batu, katanya tertawa.

"Kalau kau pun suka kepadaku, silakan kau turun sendiri."

Alhasil kali ini burung kecil itu tidak mau dengar kata-katanya, pelan-pelan ia terbang pergi ke arah depan sana, tak lama kemudian ia hinggap di atas pohon di depan sana.

Memang sifat Jenaka Lim Bu-siang masih belum lepas, karena godaan yang melucu ini menarik hatinya, katanya pula.

"Biar kulihat kau hendak membawa aku ke mana?"

Tanpa sadar ia mengejar terus sampai memasuki sebelah dalam hutan yang belukar, tahu-tahu entah ke mana pula jejak burung kecil itu, tidak kelihatan pula bayangannya.

Tiba-tiba Lim Bu-siang teringat masa kecilnya waktu bersama piaukonya memanjat pohon menggerayangi sarang burung, tanpa merasa ia tertawa geli sendiri, pikirnya.

"Tadi kalau dilihat oleh piauko, entah dia akan mentertawakan kelakuanku? Ai, sayang dia berpikir menjadi orang gagah yang lebih diagungkan dari kemegahan Thay-san, mana mungkin sudi mengenang kejadian masa kecil yang nakal dulu?"

Cahaya bulan masih remang-remang, bintang kelap kelip di cakrawala, puncak-puncak Thaysan yang tersebar luas kelihatan jauh lebih menyegarkan dan sederhana.

Menghadapi keadaan yang serba sederhana ini, pikiran muluk-muluk seketika tersapu bersih di luar kepala.

Terasakan sesuatu keindahan lain dari kelebihan yang semarak.

Berpikirlah Lim Bu-siang.

"Memangnya aku tidak bisa tidur, biarlah aku jalan-jalan sebentar di sini!"

Malam gulita suasana hening lelap, duduk di bawah pohon Lim Bu-siang layangkan pikirannya, entah berapa lama berselang, tiba-tiba didengarnya seperti ada orang sedang mendatangi ke arahnya.

Lamunan Lim Bu-siang tersentak buyar dari derap kaki orang, dengan cermat ia lalu pasang kuping dan meningkatkan kewaspadaannya, lapat-lapat dilihatnya dua bayangan orang sedang lewat di selat gunung sebelah sana.

Meski yang dilihat hanyalah bayangan punggung orang, namun ia masih dapat membedakan dengan jelas, salah satu di antara kedua orang itu adalah piaukonya.

Seorang yang lain mengenakan baju dan celana panjang warna hitam yang ketat, kepalanya mengenakan topi beludru yang lebar, Lim Bu-siang tidak tahu dan tidak kenal orang macam apakah dia ini.

Kebetulan angin pegunungan sedang menghembus ke arah dirinya, lapat-lapat Lim Bu-siang mendengar suara piaukonya sedang berkata.

"Setelah lewat selat gunung ini, ada sebuah jalan kecil yang tembus ke bawah gunung."

Segera orang itu menyahut.

"Aku tahu, silahkan Boh-heng kembali saja"-Boh Cong-tiu berkata pula.

"Biar kuantar lebih lanjut."

Bicara sampai di sini kedua orang itu sudah memasuki selat gunung dan tidak kelihatan bayangannya, apa yang mereka perbincangkan lebih lanjut, ia pun sudah tidak mendengar lagi.

Lim Bu-siang menjadi heran, pikirnya.

"Apakah orang itu bukan tamu undangan piauko untuk menghadiri pertemuan besar? Upacara kebesaran berdirinya partai besok lusa akan dibuka, kenapa dia tidak menunggu setelah peristiwa besar ini berlangsung lantas pergi? Untuk pergi sepantasnya di waktu siang secara terang-terangan, kenapa pula harus melalui jalan sempit di tengah malam buta rata lagi."

Sekian lama Lim Bu-siang tidak berhasil memperoleh jawaban berbagai pertanyaan itu.

Tibatiba teringat olehnya cerita yang didengarnya dari peristiwa yang dialami Utti Keng, tanpa merasa ia bergidik dan merinding.

"Apakah orang itu adalah kurir yang diutus mencari hubungan dengan dia dari pihak sana? Jadi utus mengutus bolak-balik mematangkan rencana kedua pihak, bukan mustahil... bukan mustahil..."

Lim Bu-siang tidak berani memikirkan lebih lanjut. Betapapun ia masih amat percaya kepada piaukonya, lantas terpikir pula.

"'Tidak mungkin, tidak mungkin. Piauko baru akan mendirikan partai menegakkan aliran, bersahabat dengan seluruh orang-orang gagah seluruh jagat, mana mungkin dia berhubungan secara rahasia dengan kurir pihak kerajaan, apakah dia tidak takut nama runtuh badan hancur? Agaknya aku hanya mereka-reka secara membabi buta belaka."

Pikirannya timbul tenggelam, entah bagaimanaa jalan pikirannya, mendadak berubah haluan kepada Beng Goan-cau.

"Beng-toako adalah seorang yang punya pengertian mendalam, sayang aku tidak bisa merundingkan persoalan ini padanya."' Lalu terpikir pula olehnya.

"Janji piauko hendak menemui aku mungkin sudah batal, lebih baik aku tidur lebih pagi, supaya besok pagi tidak terlambat bangun untuk melihat matahari terbit di Giok-hong-ting. Em, mungkin sekarang dia sudah kelelap dalam impiannya, tak nyana aku justru berada di semak belukar menikmati panorama malam yang menyejukkan ini?"

Rekaan Lim Bu-siang ternyata meleset sama sekali, ia anggap Beng Goan-cau sudah tidur kelelap, di luar tahunya bahwa Beng Goan-cau saat mana ternyata sedang berada di atas gunung pula.

tempatnya cuma terpaut satu selat gunung di sebelah sana dari tempat sekarang ia berada.

Malam ini seperti pula keadaan Lim Bu-siang, Beng Goan-cau merasa kurang tentram, hatinya gundah gulana gulak-gulik tidak bisa pulas.

Kira-kira mendekati kentongan ketiga, lapat-lapat seperti didengarnya lambaian pakaian orang yang tertiup angin terbang lewat dari atas genteng kamarnya.

Sebagai seorang ahli silat yang punya pengalaman di kangouw.

lantas ia tahu bahwa ada seseorang berjalan malam sedang berada di sekitarnya, entah apa kerjanya.

Keruan ia terkejut dan heran pula.

'Orang-orang gagah seluruh jagat sedang berkumpul di sini, mungkinkah orang jalan malam ini sedang main selidik dari pihak musuh?

Tapi kalau dia pihak orang sendiri, untuk apa pula berindap-indap pada tengah malam buta rata secara sembunyi?"

Sang waktu berjalan amat cepat.

Beng Goan-cau tiada tempo banyak pikir, bergegas ia melompat bangun mengenakan pakaian terus mengejar keluar menguntit orang jalan malam itu.

Cahaya bulan remang-remang, bayangan hitam tampak sedang menuju ke arah barat laut, sekejap saja sudah menghilang masuk hutan.

Berpikir Beng Goan-cau.

"Kalau orang itu adalah seorang cian-pwe kosen dari kaum pendekar, mengetahui aku sedang menguntit dia, wah rasanya tidak enak hati."

Maka dengan main sembunyi-sembunyi di setiap benda-benda yang dapat menutupi badannya, ia berindap-indap maju terus ke depan mengikuti jejak orang. Tiba-tiba didengarnya seseorang bicara.

"Meskipun Boh Cong-tiu tidak dapat memberikan harapan seluruhnya sesuai pemintaan kita, tapi dia sudah berjanji tidak akan mempersulit pihak kita. Su-hay-sin-liong si tua bangka itu besok pagi naik gunung, kau harus hati-hati dan sepintar mungkin memainkan peranan sandiwaramu."

Kata-kata orang ini diucapkan amat lirih dan enteng bahwasanya ia mengucapkan kata-katanya berbisik di pinggir kuping temannya.

Soalnya Beng Goan-cau pernah berlatih mendekam di tanah mendengarkan suara, maka dengan jelas ia dapat mendengar setiap patah ucapan orang.

"Aih, suara orang ini seperti amat kukenal, agaknya pernah kudengar entah di mana,"

Beng Goan-cau menjadi keheranan dan bingung. Maka didengarnya seorang yang lain juga menjawab lirih.

"Ciok-tayjin, legakan hatimu. Tapak tangan di dadaku belum lagi hilang, tua bangka itu pasti percaya padaku."

Bicara orang ini pun amat lirih, logatnya membawa nada kampung halamannya di daerah Ciatkang utara, dalam menyebutkan kata-kata "Ciok"

Seolah-olah seperti membaca huruf "Yap."

Hanya lapat-lapat saja Beng Goan-cau mendengar "Ciok-tayjin", tiba-tiba tergerak hatinya, tibatiba teringat olehnya.

"Ciok-tayjin? Kiranya adalah wakil komandan Gi-lim-kun yang bernama Ciok Tio-ki itu, tak heran suaranya Seperti amat kukenal?"

Ciok Tio-ki adalah laki-laki baju hitam yang memalsu jadi pedagang obat-obatan itu, dia putar balik kenyataan, menuduh Utti Keng sebagai cakar alap-alap pihak kerajaan, sementara dikatakan dirinya punya hubungan intim dengan pihak pasukan pergerakan di Siau-kim-jwan, maka dia dikejar-kejar oleh alap-alap antek-antek kerajaan.

Sehingga timbul kesalah pahaman antara Beng Goan-cau dan Utti Keng, mereka bertempur sendiri di tengah jalan.

Bahwa wakil komandan Gi-lim-kun menyelundup di antara sekian banyak orang-orang gagah ikut menghadiri pertemuan besar orang-orang gagah di Thay-san, malah ada hubungan dan kontak rahasia dengan tuan rumahnya Boh Cong-tiu.

Bagi Beng Goan-cau penemuannya sudah tentu bukan kepalang mengejutkan hatinya.

Sebab meski percakapan mereka amat lirih, mengandal kepandaian mendekam di tanah mendengarkan suara, Beng Goan-cau mencuri dengar pembicaraan mereka, tapi tidak begitu jelas.

Maka Beng Goan-cau menjadi ragu-ragu dan makin curiga sendiri.

"Apakah benar Ciok Tio-ki adanya?"

Berpikir Beng Goan-cau.

"Entah yang dikatakan orang itu Ciok-tayjin atau Yap-tayjin Kalau aku yang salah dengar, tidak pantas aku main mencurigai orang!"

Cahaya bulan masih remang-remang, hutan cukup lebat lagi, suasana jadi rada redup guram, besar hasrat Beng Goan-cau membongkar kedok orang, maka terpaksa ia harus berani menempuh bahaya.

Entah kedua orang itu sudah tahu bahwa mereka dikuntit, mendadak mereka mempercepat langkah kakinya dan lari.

Kebetulan Beng Goan-cau tiba di bagian atas dari selat gunung, dari ketinggian ia jelas melihat ke bawah, samar-samar dilihatnya punggung orang itu, betul juga adalah laki-laki baju hitam yang ditemuinya malam itu.

Malah dandanannya juga mirip, berpakaian serba hitam, kepalanya mengenakan topi beludru berpinggir lebar.

Bahna kejutnya tanpa hiraukan segalanya segera ia terjun ke bawah dan mengejar.

Namun begitu kakinya baru saja menginjak bumi, tiba-tiba dirasakannya segulung angin menerjang tiba, seorang yang lain ternyata mencegat jalan dan membokong dirinya.

Lekas Beng Goan-cau membalikkan telapak tangan balas memukul sekali, agaknya tenaga pukulan orang itu tidak ungkulan melawan dirinya, terdengar hidungnya mendengus, lalu memaki.

"Mata-mata yang bernyali besar!"

Tubuhnya tiba-tiba berkisar memutar secepat kilat merangsak maju, sekaligus ia merabu dengan tiga puluh enam jalan pukulan.

Permainan pukulan lawan berkembang amat gesitnya, melayang timbul tenggelam tidak menentu, tenaga pukulannya kadang-kadang lunak, ada kalanya keras, sekonyong-konyong seperti gelombang pasang mengamuk, tiba-tiba berubah seperti lambaian daun pohon yang halus lembut.

Belum pernah Beng Goan-cau melihat ilmu pukulan macam ini, sesaat ia jadi kerepotan dicecar secara gencar oleh rangsakan aneh ini, pandangan mata serasa kabur.

Terpaksa Beng Goan-cau kerahkan tenaga pukulannya, sekali hantam ia bikin lawannya tergentak mundur satu tombak lebih, begitu ia melihat tegas lawannya, hatinya terkejut bukan kepalang.

Ternyata lawannya ini bukan orang lain, tidak lain tidak bukan adalah Nyo Bok yang pernah dilihat Beng Goan-cau waktu di rumah Kim Tiok-liu tempo hari.

Mimpi pun Beng Goan-cau tidak mengira di tempat ini bakal bertemu dengan suami Hun Ci-lo, sesaat ia melenggong dan berdiri mematung.

Sebaliknya Nyo Bok merasa mendapat kesempatan menubruk maju pula dengan rangsakan hebat, karena tidak berjaga-jaga Beng Goan-cau kena digebuknya sekali, untung ia mengandal kekebalan lwekangnya, meski terasa sakit tapi tidak sampai terluka.

Tapi pukulan orang seketika menyadarkan lamunannya malah.

Sigap sekali Beng Goan-cau melompat menyingkir setombak, teriaknya.

"Tahan, berhenti sebentar. Apakah kau Nyo Bok dari Soh-ciu?"

Nyo Bok pun melenggong, bentaknya.

"Siapa kau?"

Beng Goan-cau tersentak sadar, pikirnya.

"Nyo Bok sedang menyebar kabar burukku di manamana, dikatakan aku memelet istrinya, kalau aku menerangkan siapa diriku, mungkin urusan berlarut-larut semakin sulit diselesaikan!"

Setelah melenggong Nyo Bok pun lantas sadar, tiba-tiba ia berpikir.

"Percakapanku dengan Ciok Tio-ki, entah dicuri dengar tidak oleh keparat ini. Peduli siapa dia, bunuh saja menutup mulutnya habis perkara."

Sementara Beng Goan-cau menjadi ragUi-ragu.

"Kalau aku melukai dia, betapa tidak enak hatiku terhadap Hun Ci-lo."

Namun Nyo Bok tidak memberi kesempatan ia memberi penjelasan, serangannya semakin gencar dan ganas.

Beng Goan-cau tidak berani melukainya, terpaksa hanya main mundur membela diri saja.

Begitu gencar rangsakan lawan sehingga ia susah ganti napas, sudah tentu tidak mungkin pula ia membuka mulut.

Seorang diri Lim Bu-siang mondar-mandir di dalam hutan, hatinya gundah dan risau, baru saja ia putar balik hendak pulang tidur, tiba-tiba didengarnya derap langkah menginjak daun-daun kering mendatangi, tahu-tahu muncul ah sesosok bayangan orang.

Keruan Lim Bu-sia'ng terkejut, teriaknya.

"Piauko, o, kau!"

Agaknya Boh Cong-tiu juga amat terkejut, ia pun berteriak bersamaan.

"Bu-siang piaumoay, ternyata kau!"

Di bawah cahaya rembulan yang remang-remang, wajah Boh Cong-tiu kelihatan berubah kaku membeku, kedua biji matanya berkilat menatap Lim Bu-siang.

Entah mengapa, mendadak nurani Lim Bu-siang merasa sang piauko rada menakutkan.

Setelah menenangkan hati, segera Boh Cong-tiu berkata.

"Bu-siang, kenapa kau belum tidur, tengah malam buta rata mondar-mandir seorang diri di sini untuk apa?"

Sebetulnya Lim Bu-siang hendak menjawab.

"Kenapa pula kau tengah malam buta rata mengantar tamu?"

Namun dalam sekejap itu seolah-olah ia merasa sang piauko ini amat asing bagi dirinya, dan menakutkan sekali, untunglah kata-katanya itu segera ditelannya kembali.

"Bukankah tadi siang kau mengatakan hendak bicara dengan aku? Kutunggu kau tidak kunjung tiba, tidak bisa tidur lagi terpaksa keluar jalan-jalan. Hm, lihatlah panorama Thay-san di waktu malam, ternyata jauh lebih elok dibanding siang hari."

Lim Bu-siang tidak biasa berbohong dan bermuka-muka, tidak urung nada bicaranya rada gemetar dan ganjil kedengarannya. Untung Boh Cong-tiu tidak menyadari hal ini, katanya tertawa.

"Watakmu masih seperti kecil dulu, suka duduk seorang diri di malam nan sunyi, entah apa saja yang sedang kau pikirkan?"

"Kejadian di waktu kecil masakah kau masih ingat?"

Ujar Lim Bu-siang mendelu. Agaknya Boh Cong-tiu seperti teringat sesuatu, katanya.

"Sekarang jangan kita membicarakan urusan masa kecil dulu. Tadi kau mengatakan apa, menunggu aku tidak kunjung datang bukan?"

"Ya, kukira kau kelupaan atas janjimu kepadaku. Setelah kutunggu sampai kentongan ketiga, bayangan pun tidak kelihatan,"

Demikian sahut Lim Bu-siang. Ganjalan hati Boh Cong-tiu seketika buyar sirna, pikirnya.

"Biasanya Bu-siang tidak biasa membual, menuruti wataknya bila dia melihat aku, tentu jauh-jauh sudah mengejar datang dan memanggil aku."

Maka segera ia berkata.

"Mana bisa aku melupakan janjiku kepada kau. Soalnya ada tamu ajak mengobrol, sampai sekian lama dia tidak mau mundur aku pun sungkan menyilakan sang tamu pergi. Untunglah sekarang kau belum tidur, kebetulan malah bersua di sini."

"Ada omongan apa yang perlu kau sampaikan kepadaku?"

"Kita sudah berpisah sekian tahun, entah berapa banyak kata yang perlu kukatakan, tak tahu aku dari soal apa mulai pembicaraan ini."

Lim Bu-siang tertawa getir dalam hati, batinnya.

"Tidak tahu mulai bicara dari soal apa, ucapanmu ini memang amat tepat."

Maka dengan tawar ia pun berkata.

"Piauko, kau seorang agung yang selalu sibuk akan tugas-tugas penting, urusan yang tidak begitu penting, umpamanya kenangan pada urusan lama, bagaimana keadaan selama berpisah ini dan lain-lain, tak perlu disinggung lagi. Silakan kau katakan saja keperluan apa yang hendak kau katakan kepadaku."

Boh Cong-tiu tercengang sebentar, katanya.

"Kukira kau sama seperti dulu, kiranya rada berubah juga."

"Dalam hal apa aku berubah?"

"Sejak kapan kau pun pintar bicara secara tajam begitu, sekali ketemu lantas main sindir dan berolok-olok kepadaku. Orang agung terlalu sibuk akan tugas segala, betapapun aku masih merupakan piaukomu seperti dulu itu!"

Seperti tertawa tidak tertawa berkatalah Lim Bu-siang.

"Kukira agak berbeda bukan? Dulu kau hanyalah seorang piauko, sekarang lain, kau adalah ciangbunjin. Aku memang tidak pintar bicara, ciangbunjin boleh kuanggap orang teragung bukan?"

Berubah sungguh-sungguh sikap Boh Cong-tiu katanya.

"Busiang, sudah jangan berkelakar. Tapi, bicara persoalan ciangbunjin, baiklah aku bicara secara terbuka kepada kau!"

"Bicara terbuka dalam hal apa?"

Tanya Bu-siang, agaknya ia rada diluar dugaan.

"Sebetulnya-jabatan ciangbunjin ini lebih cocok diduduki ayahmu, selama beberapa tahun terakhir ini aku selalu mencari beliau."

"Sudah lama ayah menanggalkan senjata menutup pintu, jangan kata jabatan ciangbunjin dia emoh mendudukinya, seumpama kau mengangkatnya menjadi raja pun dia tidak akan sudi!" .

"Aku memang tahu bahwa beliau orang tua hendak menutup pintu hidup tentram mengenyam hari tua, maka terpaksa aku menerima sokongan dan dukungan para anggauta perguruan. Namun betapapun persoalan perguruan kita aku harus mohon petunjuk dan bantuan beliau orang tua."

"Kau sudah tahu ayah tidak turun gunung lagi, bantuan apa yang dia bisa lakukan bagi kepentinganmu?"

"Tidak perlu beliau sendiri yang turun tangan, asal, em, asal kau saja yang mewakili beliau bicara beberapa patah kata, katakan..."

Sifat Bu-siang terlalu lincah dan polos tidak kenal kesesatan, namun otaknya cukup cerdik, sekilas ia melenggong, kejap lain ia sudah paham ke mana juntrungan maksud kata-kata Piaukonya. Katanya.

"Apakah kau ingin supaya aku mewakili ayah menjunjung kau sebagai ciangbunjin kita?"

Boh Cong-tiu rada kikuk, katanya.

"Ayahmu adalah angkatan tertua dari perguruan kita, cukup se-patah dua patah sambutan ayahmu, aku baru berani menjabat ciangbunjin ini dengan hati lapang dan lega."

Diam-diam terpikir oleh Lim Bu-siang.

"Di antara sekian banyak anggauta perguruan kami, tiada orang kedua yang cukup setimpal menjadi calon ciangbunjin kecuali piauko, pamun dia pandang kedudukan ciangbunjin ini sedemikian berharganya, tingkah laku menjadi kurang wajar dan aneh, jauh sekali bedanya dengan perangai dan martabatnya di masa lalu."

Maka dengan tertawa ia berkata.

"Piauko, kenapa kau main sungkan segala, masakah hal yang sedemikian gampang seperti mendorong perahu menurut arus air saja aku tidak mampu? Selamanya ayah pun sama-sama mengagumi dan memuji kau!"

Lega terhibur dan riang pula hati Boh Cong-tiu, katanya.

"Piaumoay, sudah berapa tahun kita berpisah, betapa senang dan terima kasihku kepadamu, bahwa pertemuan kali ini seperti pula keadaan masa lampau, kau tidak merasa asing kepadaku. Ada beberapa patah kata-kata lubuk hatiku yang perlu kusampaikan kepada kau, kuharap kau tidak anggap aku terlalu banyak mulut."

Berdebar jantung Lim Bu-siang, katanya.

"Kata-katamu ini justru anggap aku ini orang asing saja. Silakan katakan!"

Sementara dalam hati ia menerawang.

"Kata-kata hati apa yang dia hendak sampaikan kepadaku?"

"Kabarnya Utti Keng amat akrab dengan ayahmu, betulkah hal ini?"

Lim Bu-siang tidak kira yang ditanyakan adalah hal ini, secara langsung ia lantas menjawab.

"Benar, Utti Keng adalah sahabat ayah pertama waktu kami pulang ke Tionggoan dulu. Terhadap kawan dia begitu simpatik, pernah dia membantu kesukaran kami ayah beranak."

Pelan-pelan Boh Cong-tiu berkata.

"Meski demikian, kunasehat-kan kepada kau jangan bergaul terlalu dekat kepadanya."

"Memangnya kenapa?"

"Apa kau tidak tahu dia buronan pemerintah kerajaan?"

Ucapan ini benar-benar di luar dugaan Lim Bu-siang, sejenak ia melenggong, lalu katanya dingin.

"Piauko kau takut kena kerembet perkara?"

"Bukan aku takut, aku bertindak demi kepentinganmu. Oh, ya, masih ada sebuah hal perlu kutanya kau, cara bagaimana kau berkenalan dengan Beng Goan-cau yang datang dari Siaurkimjwan itu? Kulihat hubungan kalian begitu intim, ya toh?"

Merah malu muka Lim Bu-siang, seketika timbul rasa dongkol dan alemannya, katanya.

"Kim tayhiaplah yang menyuruh aku mengirim surat kepadanya baru aku berkenalan dengan dia. Hubungan kami biasa saja, baik atau buruk peduli apa sih?"

"Memang hal ini adalah urusan pribadimu, tidak pantas aku banyak turut campur. Tapi sebagai calon ciangbun, demi kepentingan perguruan kita pula, mau tidak mau aku harus memberi nasehat kepadamu, jangan terlalu sering hubungan dengannya. Pemuda gagah yang jantan tidak kurang jumlahnya, masih banyak yang jauh melebihi Beng Goan-cau gampang kau cari, kau paham maksudku tidak?"

Lim Bu-siang tidak tahan lagi, katanya tertawa dingin.

"Ucapanmu ini terlalu aneh sekali, budak bodoh seperti aku ini sedikit pun tidak paham! Ingin kutahu, kenapa kalau aku berhubungan dengan Beng Goan-cau merugikan kepentingan perguruan kita?"

Boh Cong-tiu anggap dia sebagai anak kecil belaka, katanya memberi nasehat.

"Beng Goan-cau adalah tokoh penting di dalam laskar gerilya, Hu-siang-pay kita baru akan tanam akar berdiri tegak di Tionggoan, tujuannya adalah menegakkan aliran dan mengembangkan perguruan, menjagoi di seluruh bulim, maka menjadi pantangan bagi kita mencari gara-gara dan bermusuhan dengan pihak kerajaan yang berkuasa. Sudah tentu di balik kata-kataku ini bukan aku mau bilang bahwa kita harus berhadapan sebagai musuh dengan pihak laskar gerilya. Boleh kau merasa simpatik kepada mereka, cuma jangan terlalu dekat pergaulanmu dengan mereka, supaya tidak menjadi incaran atau dicurigai oleh pihak kerajaan. Ketahuilah, perguruan yang kita dirikan ini belum lagi berakar dan tumbuh kuat, mana kuasa menahan tekanan dan ancaman pihak kerajaan?"

"Sebaliknya kenapa kau sendiri berhubungan begitu intim dengan Kim tayhiap? Bukankah dia pun begitu dekat dengan pihak laskar gerilya? Kemarin bukankah kau sendiri begitu akrab menyambut kedatangan Beng Goan-cau? Masa kau tidak takut dicurigai pihak kerajaan?"

Boh Cong-tiu jadi kikuk dan menyengir, sesaat baru ia bicara pula.

"Lain kau lain aku, aliran putih golongan hitam tiada seorang pun yang akan mencurigai diriku."

"Golongan hitam"

Biasanya menunjuk orang-orang dari kalangan begal atau perampok, tapi di dalam ucapan Boh Cong-tiu artinya seratus delapan puluh derajat berubah, yang dimaksud 'golongan hitam' olehnya adalah kaum cendekia dan kaum pendekar yang berpihak dengan pasukan pergerakan, namun Bu-siartg bisa memahami ke mana juntrungan kata-kata ini.

Maka pikirnya.

"Aliran putih yang dimaksud piauko tentu cakar alap-alap atau kaki tangan pihak pemerintah kerajaan adanya."

Teringat akan kejadian yang diceritakan oleh Utti Keng tempo hari, tak terasa timbul rasa curiganya.

"Kenapa pihak kerajaan tidak akan mencurigai piauko?"

Agaknya Boh Cong-tiu seperti dapat meraba jalan pikirannya, segera ia melanjutkan.

"Bu-siang, tidak usah kau banyak curiga. Pendek kata aku punya rencana kerja dan cita-cita luhur demi perguruan kita, sehingga tidak terlibat di dalam persoalan ini, kedua pihak tidak akan curiga kepadaku."

Benak Lim Bu-siang jadi diganjal sesuatu pengertian lain yang belum atau tidak dapat ia selami, kalau menurut wataknya dulu, secepat mungkin ia harus mencari jawaban, sekarang ia berhadapan langsung dengan piauko sendiri, namun bukan lagi piauko masa kecilnya dulu, piauko yang dihadapinya sekarang adalah seorang asing yang serba misterius dan banyak akal tipu muslihatnya, terpaksa ia simpan berbagai pertanyaan ini di dalam hatinya.

Pada saat itulah mendadak didengarnya orang membentak-bentak dan suara bertempur di selat gunung sebelah sana, Lim Bu-siang terkejut, teriaknya.

"Itulah Beng-toako! Aih! Dengan siapa dia berkelahi?"

Boh Cong-tiu pun terkejut, batinnya.

"Bagaimana Nyo Bok bisa berkelahi dengan Beng Goancau?"

Ternyata setelah mengantar Ciok Tio-ki turun gunung Boh Cong-tiu langsung balik pulang.

Sementara Nyo Bok memang sembunyi di jalanan ini menunggu kabar dari Ciok Tio-ki mengenai hasil pembicaraannya dengan Boh Cong-tiu, Boh Cong-tiu sendiri tidak tahu menahu mengenai kejadian ini.

Kim-kong-lak-yang-jiu kepandaian Nyo Bok merupakan ilmu tunggal dari dunia persilatan, Beng Goan-cau hanya membela diri tanpa balas menyerang, sudah tentu ia terdesak di bawah angin oleh cecaran lawan sehingga susah bernapas, lama kelamaan ia naik pitam, serta merta ia tambah tenaga kedua tangannya, tiba-tiba "Wut"

Ia balas menggempur sekali, angin pukulannya melanda, kuping Nyo Bok sampai mendengung, kulit muka pun terasa panas terbakar, keruan kejutnya bukan kepalang, cepat ia mundur beberapa langkah.

Dalam pada itu Boh dan Lim berdua sudah memburu datang, segera Boh Cong-tiu berteriak.

"Tahan, tahan! Beng-heng berhenti!"

Mendengar Boh Cong-tiu memanggil lawannya ini orang she 'Beng', sesaat Nyo Bok melenggong, serunya.

"Siapa orang ini?"

Boh Cong-tiu bergelak tertawa, serunya.

"Ternyata kalian masih belum kenal, tak heran terjadi salah paham. Mari, mari kuperkenalkan saudara ini adalah guru silat kenamaan dari Soh-ciu Nyo Bok, engkoh cilik ini adalah Beng Goan-cau dari Siau-kim-jwan!"

Membalik kedua biji mata Nyo Bok, mendadak ia terloroh-loroh aneh, nada tawanya menusuk pendengaran.

"He, he, hehe! Jadi kau inilah Beng Goan-cau, sungguh amat kagum sekali, tak nyana kita bisa bertemu di sini!"

Beng Goan-cau berkata tawar.

"Aku pun tidak duga bisa melihat kau lagi di sini!"

Dia menekankan kata-kata 'lagi', secara tidak langsung ia memperingatkan kepada Nyo Bok, bahwa di lain tempat aku pernah melihat kau. Betapa cerdik pandai otak Nyo Bok, sudah tentu ia paham, pikirnya.

"Kabarnya hubungan Kim Tiok-liu dengan dia amat kental, waktu aku berada di rumah keluarga Kim tempo hari, Li Tun mencegah aku menemui tamunya yang lain, bukan mustahil bocah keparat ini adanya? Waktu belum tiba, sementara biarlah aku tidak bekerja gegabah!"

"Kiranya kalian sudah lama sama mengagumi masing-masing, sesuai dengan pepatah yang mengatakan. kalau tidak berkelahi tidak' akan berkenalan. Entah kenapa pula kalian bisa terjadi kesalah paham ini?"

Beng Goan-cau berpikir.

"Urusan ini amat penting, betapapun aku harus mencari tahu secermat dan seksama mungkin biar urusan menjadi terang."

Maka segera ia berkata.

"Nyo-busu maafkan bila aku berlaku sembrono, aku ingin mengetahui sebuah persoalan, ingin aku tanya kepada kau."

Nyo Bok tahu bahwa orang bertujuan mengorek keterangannya, keruan hatinya tergetar, namun ia masih bersikap cukup tenang, sahutnya.

"Mengenai soal apa?"

"Siapakah orang yang bersama kau tadi?"

"Kau menyelidiki asal-usul orang ini, apa tujuanmu?"

"Agaknya aku rada kenal orang itu."

Diam-diam tercekat hati Boh Cong-tiu, batinnya.

"Mungkinkah kedok Cio Tio-ki sudah ketahuan olehnya?"

Cepat ia bersikap pura-pura tidak tahu menahu menyela bicara.

"Hari ini berdatangan banyak kawan-kawan baru, bukan mustahil di antara mereka yang sudah Bengheng kenal. Entah siapakah yang kau maksudkan?"

Beng Goan-cau mengertak gigi, sahutnya pelan.

"Orang ini adalah Ciok Tio-ki yang terkenal sebagai begal tunggal di kalangan kangouw, apakah dia salah seorang tamu agung undangan Boh-heng?"

Bahwa Ciok Tio-ki sudah menjadi wakil komandan Gi-lim-kun, walaupun kaum persilatan sudah tahu namun jumlahnya amat terbatas.

Karena memandang muka Boh Cong-tiu, maka ia sungkan dan segan membongkar kedoknya, maka ia coba main selidik saja untuk menjajaki.

Boh Cong-tiu bersikap amat tercengang dan berseru heran.

"Ciok Tio-ki? Aku tidak pernah mengundangnya. Partai kami mengadakan upacara besar pendirian partai, meski kawan-kawan dari golongan hitam banyak yang datang, tapi karena nama pribadi Ciok Tio-ki tidak begitu baik di kalangan kangouw, maka siaute tidak berani mengundangnya," --Dia pura-pura pikun tidak mengetahui asal usul Ciok Tio-ki. Nyo Bok segera menggeram dengan kereng, katanya.

"Kalau benar Ciok Tio-ki keparat itu berani menyelundup kemari, tidak usah Beng-heng mencapaikan diri, sejak tadi pasti sudah kubekuk dia!"

"O, apakah Nyo Busu ada permusuhan dengan dia?"

Tanya Boh Cong-tiu. Kata Nyo Bok sambil kertak gigi.

"Karena menghindari kejaran balas dendamnya, terpaksa siaute pura-pura mati, soal ini kukira kalian sudah pernah mendengar. Bicara terus terang, musuh besar yang kumaksudkan adalah Ciok Tio-ki."

Boh Cong-tiu cukup cerdik, lapat-lapat ia sudah dapat meraba bahwa di antara Ciok Tio-ki dan Nyo Bok pasti ada sekongkol, sekali lagi ia berrpura-pura terkejut, katanya.

"Karena persoalan apa Nyo-heng sampai mengikat permusuhan dengan keparat itu?"

Kata Nyo Bok pula.

"Kalau dibicarakan cukup panjang, besok lusa setelah upacara besar berdirinya partai kalian selesai diadakan, aku ingin memberi penjelasan kepada para sahabat yang hadir secara terbuka!"

Tanya jawab kedua orang yang disengaja ini, membuat Beng Goan-cau bingung dan heran, pikirnya.

"Mungkinkah penglihatanku yang keliru?"

Agaknya Nyo Bok tahu jalan pikiran Beng Goan-cau, segera ia menambahkan.

"Memang tadi aku bersama seseorang, potongan badannya memang rada mirip dengan Ciok Tio-ki. Beng-heng ingin mengetahui asal-usul orang ini, silakan tanya kepada Boh-ciangbun!"

Boh Cong-tiu melengak, katanya tertawa.

"Aku belum lagi tahu siapakah yang ditanyakan?"

Nyo Bok berhadapan dengan Boh Cong-tiu, biji matanya berputar, hanya setan yang tahu ia sudah memberikan kedipan rahasia kepada Boh Cong-tiu, katanya.

"Dia bukan lain adalah Yaphiangcu."

Boh Cong-tiu pura-pura menjadi paham dan mengerti, ia tertawa terbahak-bahak, katanya.

"O, kiranya dia, kalau begitu jadi Beng-heng memang salah paham. Yap-hiangcu yang dimaksud adalah murid dari partai kita, malam ini kebetulan mendapat perintahku untuk meronda ke bawah gunung."

Pihak Hu-siang-pay memang ada seseorang seperti yang dikatakan ini, namun apa yang dikatakan Boh Cong-tiu bukanlah kenyataan, orang itu sedang meronda di atas gunung malah berada di sebelah Ing-jiu-ciam sana, jadi bukan di puncak sebelah sini.

Bahwa Boh Cong-tiu memutar balik kenyataan, jelas ia membantu Nyo Bok membual.

Pikirnya Beng Goan-cau tidak nanti minta orang itu diseret keluar untuk dipertemukan, seumpama dipertemukan, orang itu toh tangan kanan kepercayaannya, betapapun tidak akan membongkar mulutnya yang bohong.

Kata Nyo Bok.

"Yap-hiangcu meronda ke bawah gunung, sepanjang jalan ini aku menemaninya sambil beromong-omong. Tak duga Beng-heng ini tiba-tiba menerobos keluar, semula kusangka mata-mata musuh. Beng-heng, maaf akan keteledoranku."

Logat Nyo Bok dari Soh-ciu dalam menyebut kata Ciok dan Yap hampir sama, Beng Goan-cau sendiri mau tidak mau jadi sangsi, pikirnya.

"Mungkinkah aku salah dengar? Tapi jelas sekali aku dengar dia panggil orang itu sebagai Ciok-tayjin, seumpama aku keliru dengar antara huruf "Yap"

Itu, tapi seorang hiangcu mana bisa dibahasakan tayjin (panggilan kepada orang berpangkat), masakah aku pun salah dengar akan kedua huruf berbeda ini?

Dan lagi kenapa begitu aku menerjang keluar orang itu lantas lari?

Meski punya tugas maha penting untuk meronda ke bawah gunung, tidaklah pantas di saat menemukan seseorang yang dicurigai kok lantas lari menyingkir."

Akan tetapi karena secara langsung Boh Cong-tiu si tuan rumah memberikan kesaksian kepada Nyo Bok, meski hati Beng Goan-cau dirundung kecurigaan, demi memberi muka kepada Boh Cong-tiu, kiranya tidak leluasa ia mengorek keterangan Nyo Bok secara langsung.

Terpaksa Beng Goan-cau menjura serta minta maaf, ujarnya.

"Siaute yang salah melihat orang, sehingga terjadilah salah paham ini. Harap Nyo-heng tidak ambil di hati."

"Peristiwa kecil saja, setelah dibikin terang anggap saja tiada kejadian ini, kenapa harus merasa ganjalan dalam hati segala?"

Demikian ujar Boh Cong-tiu.

"'O, ya, Beng-heng, besok pagi-pagi kau hendak menemani Bu-siang melihat matahari terbit, hari sudah larut malam, sudah saatnya kita pulang istirahat."

Ternyata meski rabaannya jitu bahwa Nyo Bok adalah komplotan Ciok Tio-ki, namun ia masih belum begitu lega, ingin dia mengorek keterangannya lebih jelas, maka suruh Beng dan Lim pulang lebih dulu, secara berhadapan ia hendak bicara dengan Nyo Bok.

Setelah keluar dari hutan, tiba-tiba Lim Bu-siang berkata.

'"Beng-toako, sepanjang jalan ini hatiku rada kurang tentram antarkan aku sebentar, kau mau tidak?"

Beng Goan-cau tahu orang pasti ada omongan yang perlu dibicarakan padanya, segera ia mengiakan, begitu mereka berendeng maju ke depan, setelah cukup jauh dan kira-kira Boh Congtiu berdua tidak mendengar pula percakapan mereka, segera Lim Bu-siang membuka suara lagi.

"Beng-toako, orang yang kau curigai tadi, bukankah ia berpakaian hitam, mengenakan topi bundar yang lebar pinggirnya?"

Semula Beng Goan-cau melengak, sahutnya.

"Benar, kau pun ketemu orang itu?" ' Aku melihatnya, sebaliknya dia tidak melihat aku. Piaukolah yang mengantarnya turun gunung, lewat hutan sebelah samping sana."

Beng Goan-cau terkejut, katanya.

"Piaukomu sendiri yang mengantarnya turun gunung? Wah urusan menjadi semakin mengherankan, apakah kau tidak salah lihat?"

"Mana bisa aku salah lihat terhadap piauko, malah kudengar pula dia memberi petunjuk jalan untuk turun gunung!"

"'Kalau toh dia seorang Hiangcu, mendapat tugas meronda ke bawah gunung, mana mungkin tidak hafal akan jalanan sehingga perlu diberi petunjuk piaukomu?"

"Maka itu, aku pun merasa heran dan tidak mengerti, kukira malam-malam piauko mengantar tamunya pulang."

Beng Goan-cau berdiam diri, otaknya sedang menerawang.

Bagi dirinya persoalan ini amat aneh!

Mana bisa Boh Cong-tiu mengikat hubungan dengan seorang yang menjabat wakil komandan Gi-lim-kun?

Kalau hal ini tidak ia dengar dari keterangan Lim Bu-siang, bagaimana juga ia tidak akan mau percaya.

Pertanyaan Lim Bu-siang di pinggir kupingnya membuat ia tersentak kaget.

"'Orang macam apakah sebetulnya Ciok Tio-ki itu?"

"Dia adalah wakil komandan Gi-lim-kun."

Sepatah demi sepatah Beng Goan-cau menjawab dengan jelas dan pelan.

Sebetulnya kedudukan dan asal-usul Ciok Tio-ki, Lim Bu-siang sudah tahu dari penuturan Utti Keng tempo hari, bahwa sekali lagi ia bertanya kepada Beng Goan-cau hanyalah minta ketegasan dan pembuktian yang lebih kongkrit.

Bukti sudah kenyataan, perasaan Lim Bu-siang menjadi hampa kosong, lama kelamaan menjadi masgul dan risau pula.

"Apa yang dikatakan paman Utti kiranya tidak salah, piauko benar-benar ada intrik dengan pihak kerajaan, entah sepak terjangnya ini apakah demi Hu-siang-pay kita? Atau demi mencari pangkat dan nama pribadinya?"

Demikian pikirnya. Tapi lantas terpikir pula olehnya.

"Tidak, tidak pantas aku mencurigai piauko, bukankah tadi ia sudah menjelaskan, bahwa dia hanya ingin berdiri di luar kalangan, tidak terseret dalam pertikaian?"

Hati Lim Bu-siang kalut dan gelisah, semakin dipikir semakin kalut, tiba-tiba ia teringat pula akan ucapan Su Ang-ing kepadanya.

"Kita harus mengusir penjajah dan mengembalikan kejayaan negeri kita. Bagi setiap putra putri bangsa, tidak bisa ia berdiri di luar kalangan tanpa ikut menanggung kewajiban, tugas dan tanggung jawab atas keruntuhan negerinya!"

"Kalau toh Piauko ingin berdiri di luar garis dan tidak mau terlibat, jelas sikapnya ini sudah tidak betul,"

Demikian pikir Lim Bu-siang lebih lanjut. Agaknya Beng Goan-cau tahu akan' kerisauan hatinya, katanya.

"Nona Lim, kau jangan terlalu banyak pikiran, peristiwa malam ini, jangan kau sembarangan katakan kepada orang lain. Biar aku berunding dulu dengan Kim-toako, aku akan berusaha menyelidiki biar terang duduk perkaranya."

"Aku tahu. Baiklah, kita berpisah di sini, besok pagi-pagi jangan lupa mencari aku!"

Tatkala itu sang putri malam sudah tinggi bercokol tepat di tengah angkasa, Beng Goan-cau memang tidak ingin dilihat orang bahwa dia sudah mengantar Lim Bu-siang pulang supaya tidak menimbulkan omongan iseng, la memberikan janjinya, sebelum matahari terbit mereka akan bertemu di luar Giok-hong-koan.

Setelah Beng Goan-cau pergi, seorang diri Lim Bu-siang beranjak sendirian ke depan dengan perasaan yang tidak bisa tentram.

Tiba-tiba didengarnya kicauan yang merdu, begitu angkat kepala tampak burung kecil tadi kini muncul pula di hadapannya.

Lim Bu-siang tertawa, katanya.

"Kukira kau sudah menghilang, kiranya sembunyi di sini, apakah kau kangen padaku dan sengaja mencari diriku?"

Kalau dibicarakan memang aneh, burung kecil ini memang seperti amat berat meninggalkan dirinya, terbang rendah berputar-putar di atas kepalanya.

Hati Lim Bu-siang sedang gundah, kini mendapat teman dan dapat menghibur hatinya, melihat dia terbang di depannya pelan-pelan, tanpa terasa timbul sifat kanak-kanaknya, katanya tertawa.

"Tadi tidak dapat kukejar kau, kini kau terbang balik menggodaku lagi, coba ingin kulihat ke mana kau memancing diriku?"

Burung kecil ini seperti bisa mendengar ucapan manusia, kalau Lim Bu-siang memburu cepat maka ia pun terbang lebih pesat, kalau Lim Bu-siang memperlambat langkah ia pun terbang lambat, Lim Bu-siang digoda dan dipermainkan, lama kelamaan ia jadi kesal dan gatal hatinya, tanpa sadar ia kembangkan ginkang tingkat tinggi, di antara batu-batu gunung dan semak-semak belukar ia berloncatan dengan lincah dan tangkas, ia kejar dan kuntit terus ke mana saja burung kecil ini terbang.

Entah berapa jauh dan lama kejar mengejar ini terjadi, tiba-tiba pandangan Lim Bu-siang menjadi terang, ternyata tanah di sebelah depan menjadi lapang dan subur menghijau, bentuknya seolah-olah sebuah lembah kecil yang dikelilingi puncak-puncak pendek, dari lamping gunung sebelah samping sana tumpah sejalur air terjun, airnya yang berbuih tertimpa sinar bulan menjadi berkilau putih laksana mutiara, pemandangan jernih dan nyaman.

Lim Bu-siang tertawa pula, ujarnya.

"Banyak terima kasih kau bawa aku ke tempat ini, betulbetul kehidupan di luar dunia lain.", belum lenyap suaranya, tiba-tiba suatu keanehan terjadi, burung kecil itu tiba-tiba menerobos air terjun dan menyusup hilang ke dalam sana entah ke mana. Keruan Lim Bu-siang tertegun heran, pikirnya.

"Kiranya di belakang air terjun ini terdapat sebuah gua? Burung ini tidak membuat sarangnya di puncak pohon, masakah membuat penginapan di dalam gua, jarang terjadi hal macam ini."

Timbul rasa ingin tahunya segera ia kembangkan ginkangnya pula, terus ikut menerobos tirai air dan kejap lain ia sudah berada di belakang air terjun.

Ternyata benar di mana ia berdiri merupakan sebuah gua bermulut sempit yang berbentuk seperti buli-buli.

Memangnya Lim Bu-siang berhati polos tidak punya prasangka, bahwasanya tidak pernah terpikir olehnya dirinya bakal dibokong orang, dengan langkah lebar ia langsung melangkah masuk, katanya tertawa pula.

"Ingin kulihat ke mana kau dapat terbang lagi?"

Belum habis ia bicara, tiba-tiba didengarnya suara gemuruh dan "blum!"

Suaranya menggetarkan seluruh gunung, tahu-tahu sebuah batu besar menggelinding jatuh dan tepat sekali menyumbat mulut gua, seketika pemandangan menjadi gelap.

Tidak akan terjadi sesuatu kejadian yang begitu kebetulan di dunia ini, batu sedemikian besar, tidak sejak dulu atau besok, kenapa di saat Lim Bu-siang baru saja menginjak ke dalam lantas menggelinding jatuh dan menyumbat mulut gua.

Meski Lim Bu-siang berhati jujur, lapat-lapat ia dapat meraba juga bahwa batu ini tentu ada seseorang yang sengaja mendorongnya jatuh menyumbat jalan keluarnya.

Kejut dan gelisah pula hati Lim Bu-siang, dengan sekuat tenaga ia coba dorong batu itu apakah bisa dibukanya jalan keluarnya nanti?

Namun bergeming pun tidak.

Disekap di dalam gua, suara gemuruh air terjun kedengaran bergema keras di dalam gua laksana geledek di waktu hujan lebat, jangan kata di dalam pegunungan sepi tiada orang akan tiba di tempat itu, meski ada orang di luar pun tidak akan mendengar teriakannya di dalam gua.

Mau tidak mau mencelos hati Lim Bu-siang, pikirnya.

"Tempat ini amat jauh dari Giok-hong-koan, mana mungkin mereka bisa mencariku ke sini, berteriak minta tolong juga tidak berguna."

Burung kecil itu tidak muncul lagi, Lim Bursiang jadi naik pitam, tak terasa ia mengumpat dalam hati.

"Kuanggap dia sebagai teman, sebaliknya dia memancing aku dan menjebak diriku di sini."

Tiba-tiba ia tersentak sadar.

"Eh, mana bisa burung sekecil itu mengatur jebakan? Tentu seseorang telah memelihara dan mendidiknya sedemikian rupa, serta memberi petunjuk padanya untuk memancingku kemari."

Karena jelas tidak mungkin bisa keluar, apa boleh buat Lim Bu-siang lantas melolos pedangnya untuk menjaga keselamatan, meminjam cahaya kilauan batang pedangnya, ia berjalan merambat maju ke depan, ingin dia melihat ada keanehan apa di dalam gua sebelah dalam sana.

Tak lama kemudian, tiba-tiba dilihatnya di pojokan sana ada benda yang berkilauan memancarkan sinar, waktu ia menghampiri dan menjemputnya kiranya serenteng Ya-bing-cu yang bundar-bundar besar.

Pengetahuan Lim Bu-siang mengenai nilai-nilai benda-benda mestika amat cetek, meski kelihatannya kotor dan tidak terlalu menyolok, namun serenteng mutiara ini sama memancarkan cahaya kemilau yang menyilaukan mata, tahulah dia bahwa itulah benda mestika yang tak ternilai harganya.

Karena merasa bagus untuk mainan, ia tenteng rentengan mutiara itu di antara jari-jari tangannya.

Serenteng mutiara mustika ini, bila diketemukan orang lain pasti bisa kesenangan seperti putus lotere sepuluh juta, namun berada di tangan Lim Bu-siang, dalam hati ia cuma tertawa getir saja, pikirnya.

"Aku terkurung di dalam gua yang gelap ini, mungkin tiada harapan untuk melihat cahaya matahari lagi. Meski Ya-bing-cu ini tiada ternilai, apa pula gunanya bagi diriku?"

Di dalam gua yang begitu gelap sebenarnya tidak bisa melihat apa-apa, untunglah cahaya kemilau dari pancaran rentengan mutiaranya itu sedikit memancarkan penerangan meski tidak berjarak terlalu jauh dan tidak sebanding lentera umumnya, lapat-lapat dapat juga melihat keadaan sekelilingnya dan mengenal setiap benda yang dekat di sekitarnya.

Mengandal sinar mutiara mengganti sinar lampu Lim Bu-siang meraba-raba maju terus, tak tertahan ia tertawa geli, ujarnya.

"Meski mutiara ini tidak bisa dimakan mengenyangkan perut, namun masih cukup berguna juga."

Mendadak dilihatnya dinding di kedua sampingnya halus licin seperti kaca, lapat-lapat seperti ada ukiran di atasnya.

Timbul rasa ingin tahu Lim Bu-siang, waktu ia maju mendekat dilihatnya ukiran itu ternyata adalah gambar dua sosok tubuh manusia.

Gambar sebelah kiri adalah seorang laki-laki berewok bermata bundar seperti mata harimau, sikapnya kereng berwibawa, sedang gambar di sebelah kanan adalah perempuan cantik bermuka bundar panjang seperti buah tho, alis lentik bertubuh ramping, tindak-tanduknya kelihatan amat mesra terhadap laki-laki berewok, gambar ini begitu nyata dan bagus sekali seolah-olah hidup.

Yang mengherankan bahwa tangan mereka masing-masing menyekal sebatang pedang, meski sikap si perempuan begitu mesra penuh rasa cinta, namun gaya keduanya jelas sedang bertanding pedang, malah ujung pedang perempuan itu menuding tepat di atas jalan darah penting di tubuh si laki-laki.

Walau Lim Bu-siang bukan seorang ahli silat tingkat tinggi, namun sekali pandang cukup diketahui bahwa jurus permainan pedang ini adalah tipu serangan yang amat liehay dan keji.

Lim Bu-siang merasa wajah laki-laki berewok ini seolah-olah sudah pernah dilihatnya entah di mana, dalam hati ia berpikir.

"Aneh, entah di mana aku pernah melihat orang ini?"

Sekonyong-konyong ia teringat bahwa gambar laki-laki berewok di dinding ini bukan lain adalah maha guru silat atau cikal bakal dari perguruannya yaitu Jan-bau-khek adanya.

Ayah Lim Bu-siang ada menyimpan sebuah lukisan suconya ini sebagai barang antik yang amat berharga, tidak gampang-gampang ia mau mengeluarkan dipertontonkan kepada orang luar, Lim Bu-siang sendiri pun hanya pernah melihatnya sekali.

"Tak heran aku seperti sudah kenal dan pernah melihat beliau, ternyata cosu adanya."

Tersipu-sipu Lim Bu-siang berlutut terus menyembah tiga kali.

"Siapa pula perempuan cantik ini,"

Demikian dalam hati ia bertanya-tanya.

"Dari penuturan ayah, sejak jaman dahulu sampai sekarang perguruan kita mengisahkan bahwa cosu hanya hidup sebatang kara sampai hari tua tidak pernah menikah. Em, peduli siapa dia, coba kulihat cara bagaimana ia melawan dan bertanding pedang dengan cosu?"

Kedua dinding di kiri kanan itu terdapat tiga belas lukisan, setiap gambar terdapat dua orang yang masing-masing sedang bergaya bertanding ilmu pedang.

Dari gambar pertama Lim Bu-siang mulai memeriksa dengan cermat dan penuh perhatian, sekejap saja tanpa disadari ia sudah tenggelam seperti orang kehilangan kesadaran dalam menikmati ajaran-ajaran ilmu pedang maha tinggi.

Terasa olehnya gaya permainan ilmu pedang keduanya betapa tinggi, hebat, dan sulit dijajaki, sampai pun gerak badan dan langkah kakinya pun bukan olah-olah menakjubkan, seolah-olah ajaran khayal yang masuk di akal.

Ternyata ketiga belas gambar yang berderet-deret itu merupakan gambar bersambung yang berurutan dari satu kedua dan seterusnya, gaya dan gerak-geriknya pun merupakan suatu rangkaian gerak pedang yang lengkap, semula Lim Bu-siang tidak menyadari hal ini, namun lambat laun baru ia sadar dan paham, dari tingginya intisari ilmu pedang ia maju lebih lanjut mendalami intisari gerak badan dan langkah kakinya yang merupakan perpaduan yang bertalian erat satu sama lainnya.

Sudah tentu penemuannya ini menjadikan Lim Bu-siang kegirangan setengah mati seperti putus lotre dua puluh juta, seolah-olah rejaki nomplok berjatuhan di atas dirinya.

Maka terasa rentengan mutiara yang bersinar di tangannya ini menjadi benda yang kecil dan tidak berharga sepeser pun bila dibanding penemuan ilmu silat perguruan yang paling tinggi ini.

Meski kegirangan, pikiran Lim Bu-siang tetap jernih, mendadak tergerak hatinya, pikirnya.

"Bukan mustahil orang itu sengaja menggunakan burungnya memancing aku kemari?"

Begitulah dengan segala perhatian dan semangatnya Lim Bu-siang terus mempelajari ilmu pedang yang berada di ukiran dinding, lupa waktu lupa makan, seperti orang mabok, seperti orang linglung pula, sayang cahaya yang terpancar dari rentengan mutiara itu betapapun tidak seterang sinar lampu biasanya, ia jadi merasa amat berat dan harus mengerahkan seluruh kekuatan tajam matanya, namun yang dilihatnya toh hanya samar-samar belaka.

Entah berapa lama berselang, tiba-tiba terasa pandangannya menjadi terang.

Ternyata sudah tiba hari kedua, cuaca di luar sudah terang tanah.

Dalam gua itu memang terdapat celah-celah batu gunung yang berlubang dan menembus selarik sinar matahari yang menyinari seluruh gua.

Teringat oleh Lim Bu-siang akan janjinya dengan Beng Goan-cau, dalam hati ia membatin.

"Tentu dia sedang mencari aku ke mana-mana, sayang aku tidak bisa menemaninya melihat matahari terbit di puncak Giok-hong-ting. Ai, hari ini aku berhasil mempelajari intisari ilmu pedang perguruan kami yang paling murni dan lengkap, meski mati kelaparan di dalam gua ini pun apa halangannya?"

Dari celah batu di pojokan sana terdapat tetesan air, Lim Bu-siang membuka mulutnya di sebelah bawah sehingga tetesan air masuk ke dalam mulutnya, setelah minum seteguk air gunung yang dingin, hilanglah rasa dahaga dan gelisah hatinya selama ini, namun perut sedikit pun belum terasa lapar.

Lambat laun cahaya matahari sudah menyinari seluruh gua, pandangannya menjadi terang, gambar-gambar lukisan di atas dinding kini dapat dinikmatinya lebih jelas.

Lim Bu-siang menyimpan rentengan mutiara itu, lalu mulai lagi ia periksa dari gambar permulaan sampai akhir, berturut-turut dua kali, sekarang setelah cahaya terang baru didapatinya bahwa di setiap gambar-gambar itu di bawahnya ada diberi keterangan beberapa huruf-huruf kecil-kecil sebesar beras.

Pada gambar pertama di bawah kaki laki-laki itu ada tertulis.

'lewat Kan-bun masuk Le-wi', sedang di bawah kaki perempuan tertulis.

'Memutar ke Tam-bun mundur ke Tln-wi'.

Lim Bu-siang berpikir.

"Ternyata gerak langkah mereka mengikuti posisi Ngo-heng-pat-kwa, untung ayah pernah mengajarkan kepada aku!"

Setelah berhasil menyelami gerak langkah dan gerak-gerik permainan jurus dan tipu-tipu pedang di atas ukiran dinding, maka lebih mendalam pula pengetahuannya terhadap ketiga rangkaian gerak ilmu pedang yang tercantum di sana.

Kiranya gerak pedang si wanita cantik justru berlawanan dan merupakan lawan tertangguh terhadap ilmu pedang Hu-siang-pay mereka, sementara ilmu pedang Jan-bau-khek merupakan jurus-jurus pedang pemunah dan peranti balas menyerang yang hebat pula, semakin berubah dengan berbagai ragam aneh dan liehay.

Akhirnya keduanya sama kuat dan setanding.

Diam-diam Lim Bu-siang membatin.

"Ternyata yang kupelajari dulu hanyalah kulitnya saja dari ajaran asli dan murni dari ilmu pedang perguruan kita, kalau digunakan untuk menghadapi wanita ini, mungkin setengah gebrak saja tidak akan mampu bertahan."

Begitulah dengan cermat dan seksama Lim Bu-siang mengulangi dari depan pula, sampai beberapa kali, sehingga akhirnya sudah hafal di luar kepala benar-benar, lalu ia duduk bersimpuh seperti orang samadi serta mengulanginya pula teori ajaran murni perguruannya di .dalam benaknya, meraba dan menyelaminya lebih mendalam.

Sekonyong-konyong didengarnya suara gemuruh seperti bom meledak, seketika ia melonjak bangun saking kaget, waktu ia angkat kepala, tampak batu besar yang menyumbat mulut gua ternyata sudah terserok minggir ke samping, maka air terjun yang mencurah dari atas berhamburan muncrat masuk ke dalam gua, seketika mukanya basah oleh cipratan air dingin.

Segera Lim Bu-siang bersoja ke tengah udara serta berseru.

"Terima kasih akan petunjuk cianpwe yang mulia, sehingga aku dapat mempelajari rahasia pelajaran inti silat perguruan kami." -Belum lenyap suaranya, mendadak dirasakannya seperti ada orang berbisik di pinggir kupingnya.

"Jangan sampai diketahui oleh piaukomu."

Cepat Lim Bu-siang menerobos keluar gua dan menerjang keluar pula dari tabir air terjun.

Begitu berada di luar, tampak alam sekelilingnya hening tenang hanya terdengar hembusan angin pegunungan yang mengejutkan burung-burung keluar beterbangan dari sarangnya, mana ada tampak bayangan manusia seorang pun?

Lim Bu-siang tahu bahwa tokoh kosen yang membantunya itu tidak sudi mengunjukkan dirinya, diminta pun tiada gunanya.

Terpikir oleh Lim Bu-siang.

"Tentu mereka sedang mencariku ke mana-mana, biarlah segera aku kembali saja, kesempatan lain biar aku putar balik lagi."

Belum habis ia berpikir maka didengarnya seorang berteriak nyaring di kejauhan sana.

"Bu-siang, Bu-siang ?", itulah suara istri Boh Cong-tiu, Lian Jay-hong adanya. Cepat Lim Bu-siang mengiakan dengan suara melengking.

"Aku ada di sini!"

Di kejauhan sana terdengar pula Lian Jay-hong berteriak.

"Nah itu, sudah ketemu!", disusul ia menyambitkan sebatang panah berasap ke tengah angkasa. Kejap lain Lim Bu-siang sudah memapak maju, serunya tertawa.

"Piauso, kau sudah pulang. Kenapa begitu tegang kelihatannya?"

"Pagi tadi baru aku pulang, kudengar katanya kau semalam menghilang, sungguh aku ikut kuatir. Mereka sedang mencarimu ke segala pelosok gunung. Kau malah enak-enak jalan-jalan di sini."

Lim Bu-siang menjadi menyesal, ujarnya.

"Wah membikin repot kalian saja, sungguh membuat hatiku kurang enak."

"Semalam kau sembunyi di mana? Piaukomu mengira semalam kau menikmati panorama padang rembulan dengan Beng Goan-cau sampai lupa pulang. Tadi pagi waktu Beng Goan-cau mencari kau tidak ketemu, baru dia menjadi gugup dan kebingungan."

Merah muka Lim Bu-siang, katanya.

"Waktu semalam aku pulang, di tengah jalan kulihat seekor burung kecil mungil yang elok sekali, aku ingin menangkapnya, tanpa sadar tahu-tahu kukejar sampai di sini."

Lian Jay-hong menjadi geli, ujarnya.

"Setan kecil seperti kau ini masih kekanak-kanakan seperti dulu saja."

Tengah mereka bicara, tampak Boh Cong-tiu dan Beng Goan-cau sedang berlari mendatangi, berkata Lian Jay-hong tertawa.

"Coba lihat, bukan aku saja yang ikut menjadi gugup!"

Setelah dekat berkatalah Boh Cong-tiu menghela napas.

"Untunglah akhirnya ketemu. Pagi-pagi benar Beng-toako sudah mencari kau, sungguh membuatnya gelisah setengah mati! Ya, kelihatannya kalian berkelakar begitu senang, soal apa yang kalian bicarakan?"

Segera Lian Jay-hong menceritakan apa yang dia dengar dari Lim Bu-siang kepada suaminya. Dengan heran Boh Cong-tiu berkata.

"Sudah beberapa bulan aku menetap di sini, selamanya belum pernah kulihat burung seperti itu. Tapi bila kau tidak bisa menangkap burung itu seharusnya lekas kembali, kenapa sampai menginap semalam di sini, dan sampai sudah lohor baru mau pulang?"

Teringat oleh Lim Bu-siang akan pesan orang itu, namun ia sendiri orang yang polos dan tidak pernah bohong, sesaat ia sangsi, terpaksa menyahut.

"Di belakang air terjun terdapat sebuah gua, kulihat burung itu menembus air terjun dan menghilang kesana, maka kukejar masuk ke sana pula."

Boh Cong-tiu kelihatan terkejut, serunya.

"Apa yang kau temukan di dalam gua?"

"Keadaan gua itu amat gelap, di tengah malam buta rata lagi, mana dapat melihat apa-apa?"

Begitu terang tanah aku lantas berlari keluar, karena bingung dan gelisah tanpa sadar aku lantas kesasar jalan."

Demi menepati pesan orang itu terpaksa ia berbohong, sementara jari-jarinya menyentuh rentengan mutiara yang ia simpan di dalam kantong bajunya serta merta panas kulit mukanya.

Bertambah heran dan tertarik Boh Cong-tiu dibuatnya, sejenak ia termenung lalu tiba-tiba bertanya.

"O, di sekitar sini terdapat sebuah gua seperti itu, ingin aku masuk ke sana untuk memeriksanya. Di mana letak air terjun itu, tentu kau masih ingat bukan. Marilah sekarang juga kau bawa kami ke sana untuk memeriksanya."

Lian Jay-hong mengerut kening, katanya.

"Piaumoay sudah kelaparan satu malam dan setengah harian ini, biarlah dia pulang dulu mengisi perutnya baru datang kemari lagi toh belum terlambat."

"Kau tahu apa,"

Sentak Boh Cong-tiu.

"soal ini amat penting, mana boleh dibuat lambatlambat."

"Terima kasih akan perhatian piauso, perutku memang belum terasa lapar,"

Terpaksa Lim Busiang angkat bicara supaya piausonya tidak bertengkar dengan piaukonya, sementara dalam hati ia membatin.

"Agaknya piauko sudah tahu rahasia di dalam gua itu, maka kelihatannya dia begitu tegang? Tapi ukiran dinding itu tidak akan bisa lari sendiri, kenapa pula dia begitu gugup? Ai, betapapun piauko yang kuhadapi sekarang sudah bukan lagi piauko di masa kecilku dulu."

Begitulah sembari membatin Lim Bu-siang mengembangkan ginkangnya berlari kencang tanpa banyak bersuara lagi langsung membawa Boh Cong-tiu beramai ke tempat air terjun itu, katanya.

"Gua itu berada di belakang air terjun ini!"

Boh Cong-tiu segera unjuk seri tawa lebar, ujarnya.

"Piaumoay, untunglah ada kau, kalau tidak secara kebetulan kau main terobosan dan menemukan gua ini, mungkin aku harus banyak memeras keringat untuk mencarinya pun belum tentu bisa ketemu."

Tak tahan lagi, bertanyalah Lian Jay-hong.

"Sebetulnya apakah yang sedang kau cari?"

"Setelah berada di dalam kau tahu sendiri. Sekarang aku sendiri juga belum tahu apakah barang yang kucari benar ada di dalam gua?", maka ia mendahului menerobos tabir air terjun menyusup ke dalam gua. Dengan merasa tertarik dan keheranan Beng Goan-cau mengintil di belakang Lim Bu-siang ikut masuk ke dalam gua. Tiba-tiba Boh Cong-tiu berseru terkejut, katanya.

"Beng-heng, kau juga ikut kemari."

Baru sekarang Beng Goan-cau tersentak sadar.

"Mungkinkah di dalam gua terdapat sesuatu rahasia, dia hendak merahasiakan terhadap diriku?"

Di saat ia serba salah dan kikuk, mendadak didengarnya Boh Cong-tiu berteriak kaget.

"Celaka!"

Lim Bu-siang juga amat terkejut, waktu ia menegasi baru didapatinya bahwa gambar ukiran di atas dinding kini sudah menjadi lenyap licin.

Tampak di tanah bertumpukan debu bekas kerukan batu-batu dinding, tak perlu disangsikan lagi bahwa ukiran di atas dinding sudah dikerik rata licin oleh seseorang.

Lim Bu-siang menjadi paham, pikirnya.

"Tentu perbuatan tokoh kosen aneh itu. Baru setengah jam yang lalu aku meninggalkan tempat ini, secepat itu pula dia sudah mengerik licin dinding bergambar ini, diam-diam ia merasa bersyukur dan menyesal pula, pikirnya.

"Ternyata tokoh kosen itu tidak menghendaki piauko menemukan dan mempelajari rahasia intisari ilmu silat perguruan kami, untunglah aku tadi tidak terlanjur memberitahukan kepadanya."

Sementara Lian Jay-hong yang menjadi keheranan dan bingung.

"Apanya yang celaka?"

Boh Cong-tiu menarik napas, katanya.

"Tiada halangannya sekarang kuberitahukan kepada kalian. Kalian tahu kakek moyang leluhurku yaitu Boh Jong-liong adalah murid terbesar dari cosu kita, Jan-bau-khek. Beliau secara rahasia ada mewariskan kepada kita sebuah rahasia yang hanya diketahui marga Boh kita. Katanya cosuya ada meninggalkan pelajaran silat perguruan kita di dalam sebuah gua di gunung Thay-san. Tapi beliau sendiri pun belum pernah menyaksikan sendiri."

"Dari mana kau bisa tahu bahwa gua inilah yang dimaksud?"

Demikian Lian Jay-hong menegas.

"Bukan mustahil inti ajaran silat itu tersembunyi di dalam gua yang lain?"

Sementara diam-diam Boh Cong-tiu sedang mereka-reka.

"Bu-siang tidak akan membual terhadapku. Dia tidak membawa senjata tajam lagi, mengandal kekuatan telapak tangannya tidak mungkin bisa mengikis dinding batu ini sedemikian licinnya, perbuatan siapakah ini? Mungkinkah perbuatan orang yang bersuit dan memuji semalam itu? Yang jelas di atas dinding ini sebelumnya pasti ada apa-apanya, entah apakah intisari pelajaran silat perguruan kita?"

Demikian hatinya menjadi kurang tenteram dan was-was, segera ia menjawab pertanyaan istrinya.

"Semoga seperti apa yang kau katakan. Sekarang sudah jelas di ?sini tiada apa-apa yang dapat kita temukan, marilah kita pulang. Jangan kau lupa..."

"Benar, besok sudah tiba hari yang ditentukan, masih ada beberapa tamu agung yang belum tiba, kukira hari ini pasti mereka bisa tiba, marilah kita lekas pulang menyambut kedatangan mereka,"

Demikian ujar Boh Cong-tiu.

Tanpa hiraukan sikap istri dan yang lain-lain ia mendahului menerobos keluar.

Belum jauh mereka menempuh perjalanan, benar juga dilihatnya seorang murid Hu-siang-pay berlari-lari mendatangi, serunya.

"Boh-ciangbun, silakan cepat pulang, ada tamu agung datang."

"Tamu agung siapa?"

Tanya Boh Cong-tiu.

"Ada beberapa orang. Di antaranya terdapat Su-hay-sin-liong Ki Kian-ya. Ada lagi Tan Tayhiap bertiga ayah beranak kini sudah tiba semua,"

Demikian lapor murid itu. Boh Cong-tiu kegirangan, katanya.

"Tan Tayhiap adalah pemimpin bulim daerah Kanglam, kukira sulit dapat mengundang beliau untuk hadir, tak nyana beliau orang tua bukan saja datang, malah membawa kedua puteranya sekalian. Demikian juga Ki-loenghiong, biasanya ia suka mengembara tanpa menentu jejaknya, kukira undangan yang kukirim belum bisa sampai di tangannya, kiranya beliau pun sudah tiba, sungguh amat menggirangkan."

Boh Cong-tiu sudah hafal jalan pegunungan, segera ia kembangkan ginkang memimpin di sebelah depan menunjukkan jalan.

Tak lama kemudian mereka tiba di hutan pohon siong, kebetulan bersua sama Ciok Heng yang membawa keempat tamu agung menuju ke atas gunung.

Setelah mengadakan basa-basi sekadarnya berturut-turut Boh Cong-tiu memperkenalkan para tamu kepada Beng Goan-cau beramai.

Waktu mendengar nama Beng Goan-cau, Su-hay-sin-liong Ki Kian-ya terdengar mendengus dan membuang muka.

Beng Goan-cau tidak tahu bahwa kakek tua ini masih ada ikatan famili jauh dengan Nyo Bok, kini baru pertama kali berkenalan, sikapnya kok kelihatan kurang senang terhadap dirinya, keruan ia melengak heran.

Setelah menjengek, Ki Kian-ya melirik serta tertawa dingin kepada Beng Goan-cau.

"Ternyata kau inilah Beng Goan-cau, beberapa tahun terakhir ini cukup besar juga namamu menggetarkan kangouw!"

Beng Goan-cau keheranan, terpaksa ia melayani dengan sikap rada sungkan, sahutnya.

"Tidak berani. Para sahabat kangouw memang suka menempel emas di mukaku, terlalu mengagulkan dari kenyataan. Harap lo-cianpwe suka memberi petunjuk."

Ki Kian-ya menyahut tawar.

"Aku sudah tua tidak berguna. Mana berani mengagulkan diri sebagai lo-cianpwe segala di hadapan eng-hiong muda yang perwira? Soal petunjuk jangan diharapkan lagi!", sementara dalam hati ia membatin.

"Nanti setelah kuselidiki jelas duduk perkaranya kepada Nyo Bok, betapapan harus kuberi hajaran setimpal kepada arak muda kurang ajar ini!"

Untunglah di saat Beng Goan-cau merasa kikuk dan risi, kebetulan Kim Tiok-liu pun sedang mendatangi.

Kim Tiok-liu punya hubungan akrab dan kental secara kekeluargaan dengan Tan Thian-ih ayah beranak, sudah tentu ia pun kenal baik pada Ki Kian-ya.

Setelah memberi hormat dan saling sapa lantas berkatalah Kim Tiok-liu.

"Saudara Beng ini datang dari Siau-kim-jwan, laskar gerilya mereka beberapa tahun ini berjuang menggempur penjajah secara gemilang, pahalanya saudara Beng ini tidaklah kecil."

"Ya, Siau Ci-wan dan Leng Thiat-jiau dan pemimpin laskar gerilya lainnya selamanya amat kukagumi,"

Demikian ujar Ki Kian-ya.

"cuma sayang kedua orang ini sama punya cacat dan kelemahan, yaitu tidak begitu keras dan berdisiplin memimpin anak buahnya, sehingga di antara naga-naga itu tercampur beberapa ekor ular, baik dan buruk tercampur aduk. Memang tidak sedikit orang-orang gagah atau para enghiong dalam laskar gerilya, namun bukan mustahil terdapat beberapa bajingan tengik suka mencatut nama."

Sindiran pedasnya ini jelas ditujukan secara gamblang, sudah tentu Beng Goan-cau amat terperanjat.

Kim Tiok-liu pun tidak kurang herannya, entah dari mana juntrungan kata-kata orang.

Tak tahan lagi berkatalah Beng Goan-cau.

"Anggauta laskar gerilya ada laksaan banyaknya, ada buruk dan ada yang baik campur aduk adalah tidak mungkin dihindari lagi. Entah Ki-locianpwe ada mendengar dari mana tentang siapa pula yang berkelakuan kurang senonoh sehingga memalukan gengsi dan nama baik laskar gerilya, harap sukalah bicara gamblang. Kelak pasti akan kulaporkan kepada Leng-toako supaya dijatuhkan hukuman yang setimpal."

Ki Kian-ya menjengek dingin.

"Tunggulah saatnya setelah aku mendapatkan bukti-bukti yang nyata, tentu akan kulaporkan kepada Leng-toako kalian."

Kim Tiok-liu tahu dalam persoalan ini tentu terselip sesuatu keganjilan yang perlu diselidiki secara cermat, namun karena ia tidak begitu kenal pada pribadi Ki Kian-ya tak enak ia banyak bertanya, pikirnya.

"Tay-pi Siansu dari Siau-lim-pay adalah sahabat karib tua bangka ini, biar kelak kuminta bantuannya, tentu persoalan dapat dibikin terang."

Sementara ia kesampingkan persoalan ini."

Segera ia menyapa kepada Tan Thian-ih, katanya.

"Paman Tan, saudara Beng ini meski bukan kelahiran Soh-ciu asli, namun sejak kecil dibesarkan di Soh-ciu. Boleh kalian terhitung setengah sanak dalam kampung halaman yang sama."

Mendadak Tan Thian-ih pun berkata.

"Diluar kota Soh-ciu, ada seorang lo-enghiong bernama Hun Ciong-san, apakah saudara Beng kenal pada beliau?"

Hun Ciong-san adalah ayah Hun Ci-lo, mendengar Tan Thian-ih menyinggung beliau tak terasa kecut rasa hati Beng Goan-cau, sahutnya.

"Sayang Hun-loeng-hiong sudah lama wafat."

"Aku tahu, aku pun merasa menyesal di saat Hun-loenghiong masih sehat dulu tidak sempat bertemu dengan beliau. Soalnya belakangan ini aku ketemu seorang sahabat lama, baru teringat kepada Hun-loenghiong ini. Kim-siheng, bicara soal sahabat kental ini dia amat ingin berkenalan dengan kau."

"Sahabat kental paman Tan tentu seorang kaum persilatan yang cukup ternama juga, entah cianpwe siapakah dia?"

"Hubungan kami memang cukup rapat sejak lama, usianya baru menanjak empat puluh. Namanya Miao Tiang-hong, apakah kau pernah dengar namanya?"

"Apakah Miao Tayhiap yang pernah membantu pihak Thian-li-hwe di Poting dan membunuh tujuh jagoan Bhayangkari itu?"

"Benar, dialah adanya. Tahun itu kebetulan ia bertamu di Thian-li-hwe, di Poting, kebetulan kebentur jago-jago Bhayangkari yang diutus kerajaan menggerebek markas besar Thian-li-hwe. Untunglah mendapat bantuannya sehingga banyak anggauta Thian-li-hwe yang diselamatkan jiwanya."

Kim Tiok-liu menghela napas, ujarnya.

"Kabarnya orang ini gagah perwira, seorang jejaka kangouw yang berjiwa pendekar. Sayang aku hanya kenal namanya belum ada jodoh berkenalan padanya."

"Dalam pertemuan besar kali ini sebetulnya dia pun ingin ikut datang bersama kami, namun mendadak ia terhalang oleh suatu urusan lain hendak ke Tong-thing-san di Se-ouw."

Boh Cong-tiu ikut menyela bicara.

"Kabarnya ada seorang lo-enghiong yang bernama Siau King-hi bertempat di Tong-thing-san sebelah barat juga?"

"Siau King-hi sudah lama wafat,"

Demikian Tan Thian-ih menjelaskan.

"istrinya adalah kakak istri Hun Ciong-san. Siau King-hi hanya punya seorang putri tunggal. Ibu beranak keluarga Siau memang masih menetap di Tong-thing-san sebelah barat. Miao Tiang-hong adalah kenalan lama dengan keluarga Siau itu."

Sampai di sini ia berseri tawa lalu menunjuk Tan Kong-si dan melanjutkan.

"Kim-siheng, bicara terus terang, semula Miao Tiang-hong ingin menjadi comblang melamarkan putraku ini, yang dimaksud adalah putri keluarga Siau itulah."

"Oh, selamat,selamat!"

Ujar Kim Tiok-liu tertawa senang. Merah malu selebar muka Tan Kong-si, katanya.

"Aku belum lagi ingin kawin. Hal ini sudah kubicarakan dengan paman Miao."

"O, jadi kau tidak menyukai putri keluarga Siau itu,"

Tan Thian-ih menegas.

"Apakah kau menyukai putri keluarga Cau?"

"Usia paman Miao sudah sedemikian lanjut toh belum menikah. Yah, kenapa kau begitu gelisah memikirkan diriku? Kedua nona itu baru saja kukenal, masa lantas mempersoalkan suka atau cinta segala?"

"Soal pernikahan adalah urusan maha besar, biarlah mereka mencari jodohnya sendiri saja,"

Demikian timbrung Kim Tiok-liu.

"Orang-orang tua tidak perlu bercapek lelah mencarikan jodoh putra putrinya. Entah siapa pula keluarga Cau itu?"

"Dia adalah sahabat karib Siau King-hi semasa hidupnya yang bernama Cau Siok-toh. Kedua keluarga adalah bertetangga, kedua nona keluarga mereka berusia sebaya."

Percakapan Tan Thian-ih dan Kim Tiok-liu begitu asyik, hingga Beng Goan-cau tidak sempat menyela bicara, namun pikirannya justru sudah melayang mengenang Hun Ci-lo.

"Ternyata Ci-lo punya bibi yang menetap di Tong-thing-san, tak heran Kim-hujin bilang ada orang pernah melihat dia di sana. Ai, jejaknya boleh dikata sudah kuketahui, entah kapan baru aku bisa menyusul ke sana menemui dia?"

Demikian renung Beng Goan-cau, tanpa terasa langkah kakinya menjadi lambat dan ketinggalan di belakang, Lim Bu-siang juga mengendorkan langkahnya, di saat Boh Cong-tiu bicara dengan Tan Thian-ih secara diam-diam ia berbisik kepada Beng Goan-cau.

"Besok pagi-pagi, kuharap kau menunggu aku di hutan Bwe!"

Beng Goan-cau tersentak sadar dari renungannya, bayangan Hun Ci-lo seketika sirna, kini berganti bentuk Lim Bu-siang yang terpancang di depan matanya. Serta merta raut wajahnya mengunjuk senyum getir.

"Kau dengar tidak?"

Tanya Lim Bu-siang menegas.

"Ingat besok pagi-pagi tunggulah aku di hutan kembang Bwe!"

Sudah tentu Beng Goan-cau menjadi keheranan, ia berpikir.

"Upacara besar berdirinya Husiang-pay diadakan besok pagi sebelum matahari terbit, jelas tidak mungkin dia ajak aku melihat matahari terbit di Giok-hong-ting. Masa dia masih ada waktu senggang dan rasa isengnya untuk bertemu dengan aku walau hanya sekejap sebelum upacara besar itu dibuka? Em, mungkin ada sesuatu urusan maha penting yang perlu dia katakan kepadaku?"

Mendadak dari arah depan sana dilihatnya ada seorang murid Hu-siang-pay berlari mendatangi dengan langkah tergesa-gesa. Kata Kim Tiok-liu tertawa.

"Tamu agung siapa lagi yang datang?"

Murid itu segera melapor kepada Boh Cong-tiu.

"Ada seorang yang bernama Cau Siok-toh, katanya dia tidak punya kartu undangan namun ingin menghadiri upacara berdirinya perguruan kita. Tapi beliau bilang ada kenal baik dengan Tan Tayhiap."

"Tan Tayhiap!"

Ujar Boh Congtiu tertawa.

"Sungguh amat kebetulan sekali. Cau-locianpwe yang baru saja kau singgung kini kebetulan sudah tiba."

Lalu ia berpaling memberi pesan kepada murid itu.

"Hayo lekas kau undang Cau-locianpwe itu naik ke atas gunung."

Hari ini para orang-orang gagah dari seluruh jagat mulai berdatangan memenuhi seluruh puncak Thay-san.

Beng Goan-cau diminta membantu menyambut dan melayani para tamu, ia ikut repot satu hari penuh.

Mungkin karena kelelahan satu hari tadi, Beng Goan-cau gulak-gulik di atas ranjang tidak bisa tidur.

"Besok setelah pertemuan di sini bubar aku bisa cepat-cepat menyusul ke Thay-ouw mencari Ci-lo. Tapi entah Nyo Bok hendak mencari kesulitan padaku? Dia sedang mencari istrinya, perlukah aku memberitahu berita ini kepadanya?"

Lalu terpikir pula olehnya.

"Tugas yang diberikan Leng-toako padaku untuk mencari hubungan dengan orang-orang gagah seluruh jagat sudah kulaksanakan hampir seluruhnya, hari ini tidak leluasa aku bicara dengan mereka, setelah pertemuan bubar terpaksa aku harus minta bantuan Kim-tayhiap untuk menemani aku mencari mereka, apa boleh buat, demi tugas aku harus menunda perjalanan ke Se-ouw beberapa hari lagi."

Lain kejap ia berpikir pula.

"Belum lama aku berkenalan dengan Bu-siang, namun begitu intim dan besar kepercayaannya kepada aku. Ai, dia memang seorang nona jelita yang lincah dan menyenangkan, sayang hatiku sudah kuserahkan kepada Ci-lo, walau tiada berjodoh menjadi suami istri dengan Ci-lo, namun hatiku ini tidak mungkin kuberikan lagi kepada orang lain. A i, Cilo, Ci-lo, entah kapan baru bisa jumpa lagi dengan kau?"

Begitulah pikirannya melayang-layang sehingga hati gundah pikiran tidak tenang, semalam suntuk ia tidak bisa tidur, tahu-tahu cuaca sudah mulai terang.

Sebetulnya seumpama Beng Goan-cau bisa tidur pulas dan bermimpi, meski mimpi ia pun tidak akan menduga bahwa Hun Ci-lo ternyata sudah tiba di Thay-san juga.

Hari itu setelah Hun Ci-lo berpisah dengan bibinya, di sebuah kota kecil yang terletak di sebelah utara Thay-ouw ia membeli seekor kuda, di kota kecil macam itu sudah tentu tidak bisa memperoleh kuda bagus, namun di siang hari bolong Hun Ci-lo tidak leluasa mengembangkan ginkangnya berlari pesat, terpaksa ia menunggang kuda kurus yang dibelinya dengan harga cukup mahal.

Untunglah menurut rencana semula Hun Ci-lo tidak ingin menghadiri pertemuan besar ini, maksudnya cuma hendak menunggu di bawah gunung saja, harapannya di sana ia bisa ketemu dengan Cau Siok-toh dan memberitahu keadaan bibinya.

Sudah tentu ia pun mengharap bisa melihat Beng Goan-cau, cuma tidak bersedia bertemu secara berhadapan.

Kudanya kurus larinya lambat jadi tidak menjadi soal baginya.

Dia mengenakan kedok muka pemberian Miao Tiang-hong, hari itu ia sudah memasuki wilayah Cou-yang yang termasuk propinsi Soatang, kira-kira masih dua ratusan li dari puncak Thay-san.

Saat mana ia sedang melewati jalan padang rumput liar yang tiada kelihatan ujung pangkalnya.

Di saat ia mencongklang kudanya lambat-lambat, mendadak didengarnya sebuah suitan, sekonyongkonyong dari rumput-rumput liar di sekelilingnya serempak beterbangan senjata rahasia yang tidak terhitung banyaknya, seluruhnya meluruk ke arah dirinya.

Untunglah Hun Ci-lo bisa berlaku sigap dan cekatan menghadapi kejadian yang tidak terduga ini, meski dibokong secara mendadak, hatinya kaget namun tidak menjadi gugup karenanya, secepat kilat ia melolos pedangnya bergerak dengan sejurus Ya-can-pat-hong, terdengarlah suara trang tring yang riuh dan ramai, tiga batang piau terbang dan dua batang pisau terbang sekaligus kena disampuk-nya jatuh.

Tapi sambaran senjata rahasia cukup banyak dan deras seperti kunangkunang beterbangan, sulit diraba dan diduga sasarannya, kalau bisa menyelamatkan diri sebaliknya kuda tunggangannya pasti celaka, betul juga kudanya terkena sebatang panah beracun yang jahat seketika jatuh tersungkur dan melayang jiwanya.

Hun Ci-lo ikut terguling jatuh dari punggung kuda.

Orang-orang yang membokongnya itu menyangka dia pun terkena sambitan am-gi, beramai-ramai mereka menerjang keluar dari semaksemak rumput liar, bertepuk tangan seraya bersorak.

"Roboh roboh!" -?-"Haha, perempuan galak macammu ini berani berjuluk Jian-jiu-koan-im segala, hari ini kau menerima ganjaranmu yang setimpal."

Tiba-tiba dengan gaya ikan mas meletik Hun Ci-lo melejit berdiri, berbareng ia menyampuk jatuh pula dua batang anak panah.

Masih ada pula beberapa macam senjata rahasia yang bobotnya jauh lebih ringan dan kecil sudah berjatuhan lebih dulu sebelum mengenai sasarannya karena jarak terlalu jauh.

Tiba-tiba di antara mereka ada seorang berteriak.

"Wah, salah, salah. Jangan kalian sembrono, bukan perempuan ini yang kita incar!" -Tampak tiga ekor kuda mencongklang datang, salah satu di antaranya pernah bentrok secara langsung dengan Jian-jiu-koan-im, maka dia mengenal raut muka orang, orang ini pula yang menjadi pimpinan gerombolan orang-orang jahat ini. Maka terdengar pula salah seorang berteriak.

"Hai, benar, memang salah orang!"

Tapi seorang lain pun berseru.

"Kalau sudah salah biar salah, hayo ganyang saja jangan kepalang tanggung, perempuan ini belum mampus jangan kita biarkan dia hidup, bikin mampus saja!"

Si pemimpin tadi lantas menunjang.

"Benar, kita harus bikin tamat jiwanya! He, he, jangan kau sesalkan tindakan kami yang tidak kenal kasihan, anggap saja nasibmu yang sial kebentur di tangan kami."

Senjata rahasia berbondong-bondong meluruk pula menghujani tubuh Hun Ci-lo, terutama sambitan senjata rahasia ketiga penunggang kuda itu jauh lebih keras dan telak mengincar tempat-tempat mematikan.

Hun Ci-lo harus mengembangkan ginkangnya berloncatan selincah kupu segesit kera berusaha berkelit dari berondongan senjata rahasia musuh, tapi ke mana pun ia berkelit tak mungkin ia dapat keluar dari berondongan senjata rahasia yang begitu banyak.

Lama kelamaan telapak tangannya menjadi pegal kesemutan menangkis setiap senjata rahasia sambitan ketiga penunggang kuda yang kuat itu.

Mau tidak mau mencelos hati Hun Ci-lo, batinnya.

"Tak nyana jiwaku bakal mampus di tangan kawanan berandal ini."

Di saat-saat yang amat kritis ini, Hun Ci-lo sudah pasrah nasib dan jelas jiwanya tidak akan dapat tertolong lagi, mendadak didengarnya suara kelintingan yang nyaring mendatangi dari kejauhan, dari semak-semak rumput padang lalang di depan sana muncul pula seekor kuda putih yang dibedal kencang, di atas punggungnya menunggang seorang perempuan pertengahan umur, belum lagi orangnya tiba, dari kejauhan suaranya sudah terdengar lantang.

"Jian-jiu-koan-im di sini, para kunyuk yang tidak tahu malu berani kurang ajar dan bertingkah!"

Si pemimpin itu segera mengayun tangan dan memberi aba-aba.

"Lekas, sambut dia dengan berondongan senjata rahasia! Hati-hati jangan tergesa-gesa dan gentar!"

Maka sasaran hujan senjata rahasia beralih arah, semua disambitkan ke arah perempuan pertengahan timur yang mendatangi.

Saking banyak senjata rahasia yang disambitkan seolah-olah perempuan itu disongsong kembang-kembang salju yang bertaburan di tengah angkasa.

Jian-jiu-koan-im tertawa dingin, ejeknya.

"Kepandaian badut bermain di gelanggang murahan juga berani diunjukkan di depan seorang ahli?"

Tampak sebelah tangannya mengayunkan pecut sementara tangan yang lain bergerak selincah kupu menari menyambut dan menangkap senjata rahasia yang berterbangan mendatang, begitu tertangkap lantas disambitkan balik, maka dalam sekejap saja terdengarlah jerit dan pekik kesakitan dari berbagai penjuru saling bersahutan.

Ada beberapa orang di antara musuh roboh kena senjata rahasia sambitan sendiri, keruan mereka menjadi ketakutan dan bergelundungan masuk semak-semak rumput, sambil menahan rasa sakit ngacir pergi.

Demikian pula yang tidak terluka menjadi ciut nyalinya, beramai-ramai mereka lari tunggang langgang mencawat ekor.

Hun Ci-lo bukan seorang ahli penyambit senjata rahasia, namun dia pun cukup liehay dalam bidang ini.

Melihat kepandaian perempuan pertengahan umur yang begitu hebat sesaat ia jadi terlongong, diam-diam ia kagum dan memuji dalam hati.

"Tak heran diberi nama julukan Jian-jiukoan-im, ternyata tidak bernama kosong!"

Melihat para bawahannya yang terluka sama berkelejetan, yang lari pontang-panting, si pemimpin menjadi gopoh juga, terpaksa ia membalikkan kuda tunggangannya hendak melarikan diri pula.

Jian-jiu-koan-im segera tertawa dingin.

"Kukira siapa, ternyata adalah kunyuk-kunyuk yang terima menjual jiwa bagi kepentingan Cong Sin-liong. Hm, Cong Sin-liong sendiri tidak berani muncul, kini kalian yang disuruh mengantarkan jiwa. Masa begitu gampang kau hendak melarikan diri? Marilah berikan tanda mata!"

Seiring dengan kata-katanya, beruntun tangannya terayun menyambitkan tiga batang senjata rahasia.

Kepandaian dan gerak-gerik orang itu ternyata cukup tangkas juga, dengan gaya Teng-lijang-sin (sembunyi ke bawah perut kuda), ia berkelit dari sambaran anak panah yang mengincar Thay-yang-hiat bagian atas, berbareng dengan itu goloknya dilintangkan menyampuk jatuh Tohkut-ting yang menyerang bagian tengah, akan tetapi toh tidak kuasa meluputkan diri dari sambitan pisau terbang yang menyerang bagian bawah, di mana pisau terbang menyambar lewat daging pahanya kena terkupas sebagian besar.

Saking kesakitan kontan orang itu terjungkal jatuh dari punggung kudanya.

Untunglah kudanya itu berlari jajar dengan seorang temannya yang lain, dengan sigap temannya itu meraih dan menjinjingnya, sementara tangan yang lain menghunjamkan belati di tangannya ke pantat kuda.

Tusukannya menggunakan tenaga yang pas dan persis, sehingga tidak melukai tulang pantatnya, namun karena kesakitan kuda itu berlari membe-dal seperti dikejar setan.

Cepat Jian-jiu-koam-im maju menyapa.

"Cici ini, harap tunggu sebentar."

Segera ia keprak kudanya menyusul kuda musuh yang ditinggalkan dan sedang berlari-lari di tengah padang lalang.

Begitu dekat Jian-jiu-koan-im lantas melompat ke atas punggungnya.

Semula kuda itu seperti marah dan membedal-bedal dan melompat-lompat setinggi satu tombak.

Jian-jiu-koan-im memegang erat bulu surinya serta menepuk-nepuk lehernya, kejap lain kuda itu menjadi tenang, setelah entah dibisiki apa-apa kini membelok balik ke arah sini dan menjadi jinak.

Hun Ci-lo amat tertarik, pikirnya.

"Ternyata bukan saja Jian-jiu-koan-im ahli dalam kepandaian senjata rahasia, dia pun seorang ahli juga menjinakkan kuda."

Memangnya dia tidak tahu bahwa Jian-jiu-koan-im Ki Seng-in adalah istri Utti Keng, Utti Keng adalah begal kuda yang terkenal di Kwantang, kepandaian menjinakkan kuda Ki Seng-in ini ia pelajari dari suaminya.

Setelah berhadapan Ki Seng-in segera memperkenalkan diri.

"Aku bernama Ki Seng-in. Kawanan penjahat itu semula hendak menyergap aku. hampir saja kau yang menjadi korban, sungguh aku menjadi kurang enak hati. Kau kehilangan kuda, biarlah kuganti dengan kuda ini. Sekarang dia sudah kujinakkan, bolehlah berlega hati kau menunggang kuda ini."

Habis berkata ia melompat turun terus berikan kuda itu kepada Hun Ci-lo.

"Terima kasih akan pertolongan Ki-lihiap sehingga jiwaku diselamatkan, betapa terima kasihku, mana pula berani menerima pemberian ini?'"

"Yang terang aku toh merampas milik orang lain pula, kenapa kau main sungkan? Watakku suka terus terang, kau ketimpa bencana karena diriku, toh aku belum lagi mengucapkan banyak terima kasih kepada kau! Cici, siapakah nama harummu? Ke mana kau hendak pergi?'"

Segera Hun Ci-lo mengarang sebuah nama palsu, katanya.

"Aku bernama Beng Hoa-nio, tujuanku ke Thay-an!""

"Kepandaianmu cukup hebat juga. Maaf akan keteledoranku, harap tanya bukankah kau hendak menonton keramaian di Thay-san?"

"Boh Cong-tiu mendirikan partai menegakkan alirannya di Thay-san, peristiwa ini pernah kudengar dari orang lain. Tapi aku sendiri belum setimpal menjadi tamu undangannya. Aku punya seorang teman yang mungkin akan hadir di sana, maka aku hendak pergi ke Thay-san untuk menunggunya di sana setelah dia pulang."

"Kenapa begitu mempersulit diri, marilah kau ikut aku saja. Aku sendiri pun tidak punya surat undangan, tapi kutanggung kau pasti dapat dan leluasa tiba di atas gunung."

Melihat orang cukup supel dan polos, Hun Ci-lo jadi tertarik untuk mengikat persahabatan, diam-diam ia membatin.

"Aku mengenakan kedok mukaku ini, kukira Beng Goan-cau tidak akan bisa mengenali diriku."'-Maka ia berkata.

"'Kalau lihiap sudi membawa aku untuk membuka pandanganku, sungguh amat kebetulan sekali."

Begitulah mereka segera cemplak kuda masing-masing terus berangkat berjajar. Di tengah jalan bertanyalah Hun Ci-lo.

""Siapakah kawanan penjahat itu?"

"Pemimpin mereka bernama Cong Sin-liong, tapi tadi belum muncul. Orang she Cong itu adalah cakar alap-alap utama dari Sat Hok-ting, itu komandan pasukan Bha-yangkari di istana raja, cuma belum banyak para sahabat kangouw yang mengetahui hal ini. Dia merupakan susiok dari Boh Cong-tiu, ciangbunjin Hu-siang-pay sekarang. Bahwa kali ini Boh Cong-tiu mendirikan partai kukira pasti dia akan datang, maka cepat-cepat kususul tiba ke Thay-san."

Hun Ci-lo bertanya heran dan tidak mengerti.

"Bukankah Boh Cong-tiu termasuk kaum pejuang yang berjiwa pendekar? Kenapa susioknya..."

"Sudah lama Boh Cong-tiu bertengkar dan bentrok dengan susioknya ini, tapi..."

"Tapi apa?"

Sebenarnya Ki Seng-in hendak bilang.

"Tapi Boh Cong-tiu bukanlah seorang yang benar-benar berjiwa pendekar seperti yang kau bayangkan."

Meski wataknya polos dan supel betapapun ia baru berkenalan dengan Hun Ci-lo maka ia urungkan ucapannya itu, dan menjelaskan.

"Tapi tahu orangnya melihat mukanya tidak tahu hatinya. Boh Cong-tiu seorang ciangbunjin yang baru saja pulang dari luar lautan, seluk beluknya aku pun tidak begitu jelas."

Sudah tentu penjelasan ini tidak menarik bagi Hun Ci-lo karena yang diperhatikan hanyalah Beng Goan-cau.

Maka dia pun tidak bertanya lebih lanjut mengenai pribadi Boh Cong-tiu.

Untunglah Hun Ci-lo mendapat ganti tunggangan kuda jempolan, larinya jauh lebih pesat dari kuda , yang dibelinya.

Begitulah mereka melanjutkan perjalanan dengan cepat, hari ketiga pagipagi mereka sudah tiba di bawah Thay-san.

Tatkala itu kebetulan tiba Boh Cong-tiu mengadakan pembukaan berdirinya partai Hu-siangpay, upacara besar yang hidmat dan besar-besaran sedang berlangsung.

Di puncak Giok-hong-ting di Thay-san pagi hari itu penuh sesak berjubel-jubel orang-orang gagah dari berbagai penjuru dunia yang memenuhi seluruh pelosok.

Sudah tentu Beng Goan-cau dan Lim Bu-siang ada di antara mereka.

Gumpalan awan putih melayang di tengah angkasa, puncak Giok-hong-ting seperti dibungkus selendang putih, cuaca masih gelap, keadaan hening lelap.

Tapi menembus celah-celah awan yang mengembang enteng di angkasa, jauh di ufuk timur sana mencorong setabir cahaya merah kegelapan.

Cuma sang surya belum lagi muncul keluar dari peraduannya.

Upacara kebesaran berdirinya partai Hu-siang-pay ditentukan di saat matahari terbit.

Maka banyak tamu-tamu yang sekaligus hendak melihat panorama terbitnya matahari pagi, sejak cuaca masih amat gelap sudah berdatangan dan duduk berjubel di atas rumput.

Di mana saja yang terdapat tempat luang di situ sudah penuh diduduki orang.

Seperti pula keadaan Beng Goan-cau, semalam, Lim Bu-siang pun tidak pernah terpejam matanya.

Hubungan rahasia piaukonya dengan Ciok Tio-ki sudah menjadi kenyataan dan diketahuinya dengan pasti, meski ia belum berani memastikan bahwa piaukonya benar ada intrik dengan pihak kerajaan, akan tetapi bagaimana juga sudah menimbulkan rasa curiganya.

Teringat olehnya janji yang dia berikan kepada Utti Keng, tanpa merasa hatinya menjadi gundah dan gelisah.

"Betulkah aku harus bermusuhan langsung dengan piauko?"

Hal ini selamanya belum pernah dan berani ia pikirkan.

"Ai, semoga kecurigaanku ini tidak menjadi kenyataan."

Terpaksa Lim Bu-siang menyimpulkan ke arah yang baik.

Sebelum dia tiba di tanah lapang berumput, dia sudah bertemu di dalam hutan kembang Bwe dengan Beng Goan-cau, sesuai apa yang pernah ia janjikan semalam.

Dalam pertemuan rahasia inilah Lim Bu-siang menceritakan apa yang dia ketemukan di dalam gua secara aneh itu serta mengutarakan isi hatinya kepada Beng Goan-cau.

Beng Goan-cau sendiri juga tidak berani menuduh bahwa Boh Cong-tiu adalah orang jahat, namun rasa curiganya jauh lebih tebal dan banyak dibanding Lim Bu-siang.

Demi menjaga segala kemungkinan dan bencana, dia mengajukan suatu saran kepada Lim Bu-siang.

Sarannya itu ialah.

Jangan membiarkan Boh Cong-tiu menjabat ciangbunjin Hu-siang-pay mereka.

"Kalau bukan dia yang menjabat ciangbunjin, lalu siapa?"

"Kau!"

"Aku?"

Mimpi juga Lim Bu-siang tidak pernah memikirkan Beng Goan-cau bakal menyuruh dirinya menjabat sebagai ciangbun, itu berarti secara langsung ia harus berdiri di tempat yang berlawanan dengan piaukonya, sudah tentu hal ini merupakan peristiwa yang tidak berani dipikirkan olehnya, apalagi untuk merebut tempat kedudukan ciangbun?

"Benar, kau.

Pikir punya pikir, aku jadi berpikir untuk mencari calon lain untuk menjabat ciangbunjin, jangan sekali-kali membiarkan Boh Cong-tiu menjadi ciangbun kalian, dan calon ini hanya kaulah yang cocok dan setimpal.

Ayahmu merupakan cianpwe tertinggi dari Hu-siang-pay kalian, kedudukan tinggi, namanya tenar dan diagungkan oleh seluruh anggauta partai kalian.

Kalau kau yang tampil untuk merebutkan kedudukan ciangbun ini dengan dia, anak murid perguruan kalian meski banyak yang menjunjung dan mengagulkan Boh Cong-tiu, , mau tidak mau mereka harus memberi muka pula kepada ayahmu, betapapun mereka tidak akan berani melawan secara terang-terangan.

Kalau jabatan harus ditentukan mengandal kepandaian silat, kebetulan kau sudah mempelajari intisari ilmu pedang perguruanmu dari peninggalan cosu kalian, mustahil kau tidak mampu menundukkan dia."

"Akan tetapi..."

"Tapi apa?"

"Bukan mustahil dia punya "

Tujuan lain yang tidak kita ketahui sehingga dia mengikat hubungan rahasia dengan Ciok Tio-ki. Bahwasanya martabatnya masih tidak sejelek seperti yang dikatakan oleh paman Utti."

"Ai, toh sudah kujelaskan, yang terang kita harus berjaga akan segala kemungkinan. Daripada meninggalkan bencana di kelak kemudian hari, lebih baik sekarang kita tidak bekerja kepalang tanggung."

"Aku, apapun aku tidak tahu, mana bisa menjadi ciangbun?"

"Kami semua akan membantu kau menyelesaikan segala kesulitan."

"Baru kemarin aku dapat menyelami intisari pelajaran silat peninggalan cosu di atas dinding itu, masih jauh dikatakan 'sempurna', belum tentu dalam bidang ilmu pedang aku bisa mengalahkan dia."

"Aku percaya kau pasti dapat mengalahkan dia. Meski tidak mungkin, apa halangannya kau coba-coba, toh tidak merugikan!"

"Ai, aku..."

"Soal ini amat penting, kau harus bisa berpikir secara obyektif dan demi kepentingan orang banyak, jangan kau sekali-kali dilibat oleh perasaan pribadimu. Bu-siang, sudahlah jangan kau ragu-ragu."

Dalam percakapan di hutan Bwe itu Beng Goan-cau sudah memberi bekal keberanian serta membentangkan untung ruginya kepada Lim Bu-siang.

Tapi Lim Bu-siang masih sangsi dan belum berani ambil keputusan.

Tatkala itu ia duduk berendeng bersama Beng Goan-cau di atas rumput di tengah-tengah sekian banyak orang yang berkerumun, keadaan menyebabkan Beng Goan-cau tidak leluasa bicara dengan dia.

"Hai, lihat, matahari terbit!"

Entah siapa di antara sekian banyak orang telah bersorak kegirangan.

Pandangan seluruh hadirin serempak tertuju ke ufuk timur.

Pembukaan upacara besar berdirinya partai sudah ditentukan oleh Boh Cong-tiu pada saat matahari terbit, maka segera upacara akan dimulai.

Mendadak Beng Goan-cau menggenggam erat tangan-Lim Bu-siang, serta berbisik di pinggir kupingnya.

"Bu-siang gairahkan semangat dan bangkitkan keberani-anmu!"

Melihat matahari terbit di puncak Thay-san sungguh merupakan suatu panorama aneh yang menakjubkan, lambat laun di ufuk timur terpancar cahaya merah keemasan semakin menyala terang, dari celah-celah mega pelan-pelan muncul keluar bola bundar sedikit demi sedikit, semakin lama naik ke atas meninggalkan garis pertemuan langit dan bumi.

Seluruh alam semesta ditaburi cahaya merah keemasan yang bertebaran seperti menari legatlegot di tengah angkasa, sebentar ke timur, mendadak ke arah barat mengikuti bergeraknya awan, semakin lama gumpalan mega berkumpul semakin tebal, seolah-olah membentuk sebuah istana megah di tengah angkasa yang keemasan.

Dunia menjadi terang benderang dan puncak Thay-san pun seperti terbangun dari kepulasan semalam suntuk, hawa segar dan menyamankan badan.

Betapa indah dan semaraknya pemandangan matahari terbit ini sulitlah dilukiskan dengan katakata.

Pendek kata begitu bola api sebesar gantang mencelat keluar dari peraduannya, murid Husiang-pay yang mengatur upacara sembahyangan segera berseru seperti senandirhg.

"Hu-siang terbit laksana matahari, menyinari seluruh dataran besar, di puncak tinggi Thay-san. kita menegakkan aliran mendirikan partai!"

Dimulailah pembukaan upacara besar berdirinya partai Hu-siang-pay di Tionggoan. Para hadirin terdengar sama berbisik.

"Sepak terjang Boh Cong-tiu sungguh amat takabur dan keterlaluan dengan pameo tengik segala!", tapi ada pula orang yang berkata.

"Meski nadanya takabur, namun Hu-siang baru pulang dari luar lautan, betapapun merupakan suatu hal yang harus dicanangkan bagi perkembangan kaum persilatan khususnya."

Di tengah tembang sanjung murid pemimpin upacara, pelan-pelan Boh Cong-tiu melangkah naik ke atas panggung batu yang didirikan di tengah-tengah lapangan rumput.

Pertama-tama ia menju-ra ke empat penjuru, lalu mulailah ia membuka kata-kata sambutan.

Kata sambutannya kedengaran amat sungkan dan prihatin, pertama-tama ia mengucapkan banyak terima kasih kepada para cianpwe dari berbagai partai, para ciangbun dan orang-orang gagah yang hadir dari berbagai penjuru dunia, akan kesudiannya meluangkan waktu menghadiri pembukaan berdirinya partai Hu-siang-pay mereka.

Selanjutnya ia ceritakan sejarah berdirinya Hu-siang-pay di bawah pimpinan cikal bakal mereka yaitu Jan-bau-khek sejak dinasti Tong pada seribu tahun yang lalu, tak lupa, ia jelaskan juga perkembangan selama ini di luar lautan, dan bersyukurlah bahwa hari ini akhirnya bisa kembali ke tanah leluhur dan berdiri dengan disaksikan seluruh kaum persilatan seluruh dunia.

Sejarah Hu-siang-pay sudah banyak orang mengetahui, maka ceritanya yang panjang lebar membuat banyak hadirin menggerutu dan .

tidak sabar.

Sudah tentu bagi yang belum mengetahui, mendengarkan dengan penuh perhatian.

Bahwa banyak hadirin yang sudah tidak sabar dan merasa sebal, sudah tentu keadaan tidak bisa tahan tenang dan hening hikmat lagi.

Yang hadir dalam pertemuan besar ini terdiri dari kaum persilatan yang tersebar dari mana-mana, biasanya amat sulit bisa ketemu satu sama lain.

Kini secara serempak mendadak bisa bertemu dan jumpa, maka banyak di antaranya yang berjubelan di antara mereka untuk mencari sahabat atau kenalan lama untuk ajak bicara.

Beng Goan-cau menggenggam tangan Lim Bu-siang semakin kencang, bisiknya lagi.

"Bu-siang, tekadmu sudah teguh belum?"

Lim Bu-siang mandah tertawa getir.

Pertanyaan ini sudah kedua kalinya diajukan oleh Beng Goan-cau, namun tekadnya belum lagi bulat.

Di saat hatinya gundah gulana itulah, ada seseorang mendesak maju ke dekatnya dan menepuknya pelan-pelan katanya tertawa.

"Bu-siang, betapa sulit aku mencari kau!"

Sungguh terkejut dan girang pula Lim Bu-siang.

"Bibi, kiranya kau. Mana paman Utti?"

Ternyata orang yang mendesak maju di sampingnya ini adalah seorang nyonya pertengahan umur, dia bukan lain adalah Ki Seng-in, istri Utti Keng. Jawab Ki Seng-in.

"Pamanmu tidak datang, aku datang dengan seorang teman lain. Apakah dia Beng Goan-cau, Beng Tayhiap? Em, persoalan kalian, suamiku sudah membicarakan dengan aku. Katanya dia menguatirkan Beng Tayhiap tidak keburu menyusul kemari untuk bertemu dengan kau nona Lim!"

Setelah Beng Goan-cau menjura memberi hormat kepada Ki Seng-in, ia berkata.

"Terima kasih atas pemberian kuda jempol oleh suamimu, baru kemarin aku tiba."

"Soal kecil saja kenapa dibuat sungkan. Kau tidak tahu, mencuri atau membegal kuda orang lain adalah keahlian kami suami istri. Kalau dibicarakan sungguh amat kebetulan, di tengah jalan aku berkenalan dengan seorang kawan, kuda tunggangannya adalah pemberianku hasil rampasanku dari seorang alap-alap kerajaan."

"O, ya, di mana kawan bibi itu, kenapa tidak diundang kemari saja?"

"Dia berada di sana. Soalnya dia tidak punya undangan jadi ikut aku kemari, maka tidak ingin banyak bergerak supaya tidak menimbulkan perhatian orang lain. Kami baru saja berkenalan, banyak kata-kata yang perlu dibicarakan tidak leluasa diperbincangkan di hadapannya, maka kebetulan kalau dia tidak mau kemari, aku pun tidak enak memaksanya."

Lim Bu-siang dan Beng Goan-cau berbareng berpaling ke arah yang ditunjuk Ki Seng-in, tampak seorang nyonya muda yang berpakaian hitam seorang diri duduk di pojokan sana, kepalanya tertunduk entah sedang merenungkan apa.

Mungkin karena dia mengenakan pakaian berkabung, maka tiada seorang pun yang ajak bicara padanya.

Tergerak hati Beng Goan-cau, pikirnya.

"Eh, perempuan ini seperti pernah kulihat entah di mana?"

Karena Hun Ci-lo mengenakan kedok muka palsu, sehingga mengelabuhi mata orang akan muka aslinya, di tengah kelompok sekian banyak orang, Beng Goan-cau menemukan dirinya, namun ia belum dapat mengenalnya secara pasti.

"Bibi, siapakah nama temanmu itu? Kulihat dia duduk seorang diri pasti kesepian, sungguh amat kasihan,"

Demikian ujar Lim Bu-siang.

"Dia she Beng bernama Hoa-nio. Katanya dia kemari hendak mencari seorang teman, mungkin belum ketemu, Bu-siang, sudahlah jangan mencampuri urusan tetek bengek, aku ada sebuah urusan maha penting yang perlu kurunding-kan dengan kau. Mari dekatkan kupingmu!"

"Bibi ada urusan apa kelihatannya begitu tegang?"

Melihat sikap orang yang serius diam-diam bercekat hatinya, lapat-lapat ia sudah dapat menduga sebagian.

Maka segera ia menggeser tempat duduknya lebih dekat ke arah Ki Seng-in dan mendengarkan dengan penuh perhatian.

Ki Seng-in mengerahkan lwekangnya, dia himpun suaranya menjadi satu garis dan suaranya menjadi amat lirih dan kuat.

Setiap patah katanya masuk ke telinga Lim Bu-siang.

Ilmu tingkat tinggi mengirim gelombang suara macam ini, bisa dilakukan dalam jarak puluhan tombak, mengirim suara masuk ke telinga orang tertentu tanpa kedengaran oleh orang lain meski orang itu berada di dekatnya.

Apalagi kini Ki Seng-in duduk berdampingan dengan Lim Bu-siang, bicara langsung di pinggir telinga orang yang begitu dekat lagi, meski Beng Goan-cau duduk cukup dekat, paling-paling ia hanya melihat bibir orang bergerak-gerak tanpa mendengar apa yang diucapkannya.

Sudah tentu Beng Goan-cau tidak ingin mencuri dengar pembicaraan mereka, tanpa merasa sorot matanya tertuju ke arah tempat duduk Hun Ci-lo di pojokan sana.

Semakin dipandang semakin mirip, namun mimpi juga ia tidak menduga bahwa orang yang diamat-amatinya ini adalah Hun Ci-lo adanya.

Mimpi pun Beng Goan-cau tidak akan menduga bahwa Hun Ci-lo bakal berada di puncak Thaysan ini, duduk seorang diri termenung-menung, tanpa merasa ia tertawa geli sendiri, batinnya.

"Hun Ci-lo jauh berada di Thay-ouw, mana mungkin dia. Ai, mungkin aku terlalu rindu kepada Cilo, melihat perempuan yang perawakannya hampir mirip dia lantas mencurigai dia adanya. Bahwasanya perempuan ini hanya perawakannya saja yang mirip, mana bisa dibandingkan wajahnya yang cantik rupawan?"

Maria dia tahu bahwa Hun Ci-lo memang mengenakan kedok muka, dengan rona wajah yang tidak menunjukkan perasaan hatinya, sudah tentu ia bisa mengelabui pandangan orang, tidak tahunya bahwa sanubarinya sedang membara seperti bola api.

Hun Ci-lo menunduk terpekur, entah apa yang dipikirkan, seolah-olah ia tidak ambil perhatian akan keadaan sekelilingnya.

Hakikatnya ia pun sedang melirik secara diam-diam ke arah Beng Goan-cau yang sudah dilihatnya sejak ia datang tadi.

"Kiranya dia bersama dengan siau-sumoaynya, harapanku ternyata tidak menjadi sia-sia. Ah, bukan, agaknya bukan siau-sumoaynya. Lalu siapakah gadis itu?"

Bentuk wajah Lim Bu-siang memang rada mirip Lu Su-bi, sekilas pandang tadi hampir saja Hun Ci-lo salah mengenali orang, disangkanya Lim Bu-siang adalah Lu Su-bi adanya.

Setelah tahu akan kesalahan pandangannya, tanpa merasa hatinya menjadi hampa.

Seperti Beng Goan-cau, seorang diri Hun Ci-lo melayangkan pikirannya, tanpa merasa ia pun tertawa geli dalam hati.

"Asal dia menemukan seorang gadis yang mencocoki hatinya, entah dia siau-sumoaynya atau gadis lain, sudah sepantasnya aku ikut senang dan bahagia bagi mereka. Kenapa aku peduli siapa dia? Ai, kenapa dia selalu mengamati aku? Mungkin, mungkinkah dia sudah mengenali diriku?"

Pada saat ia berpikir sampai di sini, tiba-tiba dilihatnya Beng Goan-cau sudah berpaling ke arah lain.

Ternyata Ki Seng-in sudah menyampaikan urusan penting yang hendak dibicarakan kepada Lim Bu-siang, saat mana Lim Bu-siang sedang bicara kepada Beng Goan-cau.

"Hah kiranya dia belum mengenali diriku. Mana mungkin dia bisa kenal aku? Mungkin tadi dia mengawasi orang lain, hanya akulah yang banyak curiga."

Sebetulnya Hun Ci-lo tidak mengharap Beng Goan-cau mengenali dirinya, tapi entah mengapa, bahwa Beng Goan-cau benar-benar tidak mengenali dirinya, sedikit banyak malah membuat hatinya kecut dan mendelu, serta merta ia tertawa getir dalam hati.

Sekonyong-konyong didengarnya seseorang bisik-bisik di tengah gerombolan orang di sebelah sana.

"E, eh, bukankah itu Nyo Bok, guru silat dari Soh-ciu itu? Coba kau lihat biar tegas, apakah mataku yang salah lihat?"

"Benar, memang dia. Aneh, bukankah Nyo Bok sudah dikabarkan mati?"

Pertama mendengar orang menyebut nama Nyo Bok, hampir saja Hun Ci-lo berjingkrak kaget.

Orang yang berbisik-bisik itu berjarak tidak terlalu jauh dari tempatnya.

Lekas ia memandang ke arah pandangan mereka, benar juga di antara, kelompok hadirin sebelah kanan sana dilihatnya suaminya duduk di sana.

Gejolak hati Hun Ci-lo jauh lebih hebatkan tak tertahankan lagi waktu melihat Nyo Bok dibanding sewaktu dia melihat Beng Goan-cau tadi.

Bahwa dia melihat Beng Goan-cau di tempat ini adalah suatu kejadian yang sudah diduga sebelumnya, bahwa di tempat ini pula dia bakal melihat suaminya, adalah di luar dugaannya.

"Bagaimana dia pun datang kemari? Untuk apa dia kemari? Bukankah dia minta aku jangan membocorkan rahasia mati pura-puranya? Kenapa pula di hadapan sekian banyak orang-orang gagah dari seluruh dunia mengunjukkan diri secara terang-terangan?"

Sungguh kaget, sangsi dan curiga pula Hun Ci-lo dibuatnya, terpaksa ia berdoa dalam hati.

"Semoga tidak terjadi onar dan bentrokan langsung antara dia dengan Goan-cau."

Nyo Bok duduk bersama dua murid Hu-siang-pay, waktu itu kedua murid itu sedang maju mendekat ke arah panggung.

Kebetulan kata-kata sambutan Boh Cong-tiu yang panjang lebar selesai diucapkan, dengan sikap gelisah kedua murid itu datang menghampiri serta melapor dengan suara lirih.

"Cong Sinliong membawa para kambrat-kambratnya kemari, termasuk beberapa susiok perguruan kita."

Meski suaranya lirih, orang-orang yang duduk di paling depan dapat mendengar dengan jelas, seketika hal ini tersiar luas ke seluruh gelanggang.

Seperti sebuah batu tercebur ke dalam air seketika menimbulkan riak gelombang di seluruh hadirin.

Semua orang sama membelalakkan mata ingin menyaksikan cara bagaimana Boh Cong-tiu hendak menghadapinya.

Boh Cong-tiu berkata tawar.

"Dia sudah bukan lagi anggauta perguruan kita, tapi masih termasuk kaum persilatan, kalau dia hendak "

Hadir menyaksikan upacara besar ini, silakan saja dia datang! Ciok-suheng, silakan kau sambut mereka, jangan kita berlaku kurang hormat terhadap tamu."

Ciok Heng mengiakan, bersama kedua murid tadi terus melangkah pergi.

Semua orang diamdiam memuji akan tindakan Boh Cong-tiu yang bijaksana ini.

Maklumlah mendirikan partai menegakkan aliran adalah sebuah peristiwa yang menyenangkan, kalau bisa menghindari terjadinya pertikaian sampai bentrokan berdarah adalah hal yang baik.

Rombongan Cong Sin-liong tiba, kebetulan murid yang memimpin upacara sedang berseru.

"Para murid perguruan, menghadap sembah pada cosu!"

Di tengah panggung batu ada tergantung sebuah gambar besar yang melukiskan cosu mereka Jan-bau-khek, waktu Lim Busiang menegas, benar juga mirip benar dengan gambar ukiran yang dia lihat di atas dinding dalam gua itu.

Segera Cong Sin-liong ikut maju berdesakan, Boh Cong-tiu segera bertindak.

"Kawan Cong, silakan duduk di sebelah sana!"

Secara hormat dan sungkan ia menyapa Cong Sin-liong sebagai kawan, ini berarti ia pandang Cong Sin-liong sebagai tamu biasa, tidak mengakuinya sebagai angkatan tua perguruan sendiri.

Cong Sin-liong mendengus, je-ngeknya.

"Boh Cong-tiu, peduli kau mau mengakui aku sebagai susiok kalian. Aku datang untuk menyembah kepada cosu, mengandal apa kau berani menghalangi?"

Tiba-tiba kedua lengannya disiakkan ke samping, ia mendorong minggiT Ciok Heng yang menyambut kedatangannya.

Kambrat-kambrat yang dibawanya segera berbondong-bondong maju mendekat ke depan panggung.

Seru Boh Cong-tiu.

"Sejak lama kau sudah diusir dari perguruan, masa tidak malu kau masih hendak menyembah kepada cosu kita?"

Cong Sin-liong menyeringai dingin, jengeknya pula.

"Boh Cong-tiu, sekarang kau belum lagi menjabat ciangbun! Mengandal kedudukan apa kau berani mengusir aku yang menjadi susiokmu?"

Beruntun dua kali Cong Sin-liong bertanya mengandal apa ia berani bertindak, seketika Boh Cong-tiu gelagapan tak mampu menjawab.

Haruslah diketahui kedudukan ciangbun Boh Cong-tiu, meski mendapat pengakuan umum dari seluruh anggauta perguruan Hu-siang-pay, namun belum diangkat secara resmi di hadapan kaum persilatan umumnya, betapapun masih belum bisa diakui sebagai ciangbun yang resmi.

Boh Cong-tiu berpikir dalam hati.

"Biarlah setelah upacara ini selesai, barulah dengan kedudukan ciangbun resmi mengumumkan dia diusir dari perguruan."

Karena itu sementara ia menahan amarah, sahutnya tawar.

"Mengingat kau masih mengindahkan cosu, biarlah kuberi ijin kau menghadap dan menyembah kepada cosu."

Tak nyana bukan saja Cong Sin-liong sendiri yang menyembah, seluruh orang-orang yang dia bawa sama berlutut menyembah kepada gambar Jan-bau-khek.

Di antara mereka cuma dua orang yang termasuk Hu-siang-chit-cu, yang lain tiada yang dikenal oleh Boh Cong-tiu.

Pertama tidak baik terjadi huru-hara dalam upacara besar yang hikmat ini, kedua meski orang dari aliran lain sudi menghormat kepada cosu perguruan sendiri juga tidak berkelebihan, maka jikalau menggunakan kekerasan merintangi hasrat mereka, jadinya pihak tuan rumah sendiri yang berlaku kurang hormat.

Maka Boh Cong-tiu membiarkan mereka berlutut dan menyembah hormat kepada cosu.

Setelah penghormatan kepada cosu selesai, murid pemimpin upacara berseru lantang pula.

"Harap ciangbunjin Boh Cong-tiu menempati tempat duduknya, harap seluruh murid memberi hormat dan selamat!"

Mendadak Cong Sin-liong membentak keras.

"Tunggu dulu!"

Boh Cong-tiu menggoyang-goyangkan kipasnya, katanya sombong.

"Orang she Cong, apaapaan maksudmu ini?"

Kipas itu adalah senjatanya, dalam hati ia berpikir.

"Perang mulut atau perang tanding dengan kekerasan masakah aku kuatir tak dapat mengalahkan dia. Meski kau sengaja hendak membuat gaduh di sini, apa pula yang perlu kutakuti?"

Cong Sin-liong menyeringai dingin, serunya.

"Kedudukan ciangbun ini siapa yang mengangkat kau?"

Kini kelihatan belangnya, seperti dugaan semua orang, kiranya Cong Sin-liong memang datang hendak memperebutkan jabatan ciangbun. Cepat Ciok Heng yang memberi jawaban.

"Boh ciangbun adalah kita seluruh murid Hu-siang murni yang mengangkatnya."

Seluruh murid Hu-siang-pay segera merubung maju, semua sama mendelik dan bersorak dan membentak kepada Cong Sin-liong.

"Boh Cong-tiu,"

Jengek Cong Sin-liong dingin.

"kau suruh mereka bersorak memberi applaus kepada kau, lantas kau kira bisa merebut kedudukan ciangbun ini secara semena-mena?"

Lekas Boh Cong-tiu mengulapkan tangan suruh murid-murid itu mundur, katanya.

"Urusan perguruan kita, orang luar dilarang turut campur. Orang she Cong, kalau kau sengaja hendak membuat keributan tanpa alasan di sini, jangan kau sesalkan aku bertindak kasar kepada kau."

"Membuat keributan tanpa alasan apa? Buka mulut perguruan, tutup mulut kau ucapkan perguruan, aku sebagai susiokmu kau desak keluar dari perguruan kita. perbuatanmu ini jelas tidak punya aturan!"

"Sebagai ciangbunjin, sekarang biar kuumumkan kau diusir dari perguruan kita!"

Demikian seru Boh Cong-tiu. Cong Sin-liong bergelak tertawa, serunya.

"Jabatan ciangbunmu ini tidak lebih pengangkatan pribadimu sendiri yang sekongkol dengan para begundalmu, mana bisa menundukkan khalayak ramai? Kalau kau hendak menegakkan keadilan, maka tidak sepantasnya kau mengagulkan diri sebagai ciangbun lebih dulu."

"Baik, ingin aku mendengar aturan apa yang hendak kau kemukakan. Ada omongan lekas katakan, ada kentut lekas lepaskan!"

"Apakah tadi kau katakan kau diangkat oleh seluruh murid perguruan kita?"

"Benar. Meski anak murid kita ada satu dua orang yang menjadi brandal dan tidak genah ikut mengekor kepada kau, boleh dikata dia hanya merupakan dahan-dahan pohon yang sudah layu belaka."

Kata-katanya ini secara gamblang ditujukan kepada dua orang Hu-siang-chit-cu yang terima menjadi antek Cong Sin-liong.

"Baik, kalau begitu ingin aku tanya lebih lanjut. Kecuali Ciok Heng suami istri, kalian suami istri dan Lim Bu-siang berlima memang berasal dari Hu-siang-pay, murid-murid yang lain ini darimana mereka?"

"Mereka adalah murid-murid baru yang kuterima beberapa tahun belakangan ini."

Lagi-lagi Cong Sin-liong bergelak tertawa, katanya sambil menuding orang-orang yang dibawanya itu.

"Mereka pun murid-muridku yang baru kuterima beberapa tahun belakangan ini, boleh kau tanya mereka, apakah mereka suka angkat dan menjunjung kau?"

Orang-orang itu segera berteriak bersama.

"Mengandal angkatan dan kedudukan, mengandal ilmu silat, tidaklah tiba saatnya kau orang she Boh setimpal menjadi ciangbun!"

Benar juga ternyata mereka mengemukakan alasan dan aturan-aturan nyeleweng yang tidak semestinya.

Akan tetapi alasan ini toh bukanlah alasan brutal yang tidak masuk di akal karena secara resmi tidaklah mungkin Boh Cong-tiu mengandal kedudukan ciang-bunnya mengusir Cong Sin-liong dari perguruan.

Maka kalau murid-murid yang diterima Boh Cong-tiu termasuk muridmurid perguruan Hu-siang-pay, maka murid-murid yang diterima Cong Sin-liong adalah jamak kalau dianggap pula sebagai murid-murid dari perguruan Hu-siang-pay.

Cepat Ciok Heng tampil ke depan, serunya.

"Hanya orang yang cukup bijaksana dan berbudi luhurlah yang setimpal menjadi ciangbun, kedudukan atau angkatan serta tinggi rendah martabatnya merupakan persoalan kedua...'"

Belum selesai ia bicara, Cong Sin-liong sudah meludah dan menukas.

"Dalam pandangan kalian Boh Cong-tiu adalah seorang laki-laki sejati, seorang kuncu, di dalam pandanganku tidak lebih hanyalah seorang siaujin yang rendah. Belum tentu sepak terjangnya jauh lebih bisa diketengahkan daripada kelakuanku."

"Kentutmu busuk!"

Damprat Ciok Heng gusar.

"Kau ini barang apa. berani menjajarkan diri dengan Boh ciangbun?"

Cong Sin-liong berlaku kalem, katanya menyeringai.

"Dosa kekurangajaranmu terhadap angkatan tua ini pelan-pelan biar kuperhitungkan kelak. Sekarang biar kujelaskan kepadamu, meski sepak terjang dan martabatku tidak berani kukatakan jauh lebih baik dari Boh Cong-tiu, kalau dijajarkan dan dibandingkan sama dia betapapun tidak akan merendahkan derajat dan gengsinya!'"

"Ciok suheng,'"

Baca Juga: Pedang Pusaka Dewi Khayangan 12

Baca Juga: Tangan Berbisa 7

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger