Ceritasilat Novel Online

Tangan Berbisa 7

Eps 7 Tangan Berbisa - Khu Lung Tjan Id

Baca online Tangan Berbisa - Khu Lung Tjan Id

Cersil Tangan Berbisa - Khu Lung Tjan Id.

"Jie ciangbunjin, bagaimana anggapan ciangbunjin tentang kelakUan pendekar berbaju biru Jie kun ?"

Wajah Jie cek Bun berubah, katanya dengan suara berat.

"Aku anggap dia baik, kenapa ?"

"Boaopwee pernah lihat ia berada bsrsama-sama dengan salah satu dari dua belas putri itu, sudah tentu pendekar berbaju biru itu orang dari golongan baik-baik dan dari golongan kebenaran-mungkin setelah ia mengetahui rencana jahat siluman wanita itu segera sadar akan dirinya hanya Jie ciangbunjin dalam hal ini harap suka sedikit waspada"

Berkata cin Hong dengan suara perlahanSepasang mata Jie cek Bun memancarkan sinar tajam, wajahnya kembali berubah, kemudian dengan tiba-tiba menundukan kepalanya.

"Boanpwe bukanlah sengaja mengeluarkan ucapan ini untuk merusak nama baik partay ciangbunjin, harap ciangbunjin suka maafkan."

Lama Jie cek Bun berdiam, baru terdengar elahan napasnya, kemudian angkat kepala dan memandang bergiliran kepada lima ketua partay, barulah berkata sambil tertawa getir.

"Aku siorang sheJie, sebetulnya tidak suka menceritakan kejadian yang memaluKan dalam partaiku sendiri. karena hari ini cin Siaohiap Sudah menceritakan, maka aku siorang she Jie tidak perlu menutupi rahasia ini lagi...."

Ketua lima partay dengan serentak bertanya dengan sikap terheran-heran.

"Bagaimana?"

"Kunci emas yang kusimpan, pada beberapa hari berselarg telah dirampas orang dan orang itu justeru murid Suteku sendiri Nie-kun"

Lima ketua partay ketika mendengar ucapan itu seperti mendengar suara geledek disiang hari belong, semuanya terkejut dan terheran-heran-Tay-hie totiang dari cong-lam-pay lalu bangkit dan berkata sambil tertawa terbahak-bahaK.

"Hah?, sudahlah.. Sudahlah... Dengan terus terang kuberitahukan kepada kalian semua, kunci emas yang pinto simpan juga pada sebulan berselang telah dirampok oleh murid durhakaku sendiri"

"Aku siorang she Tee masih mengira bahwa orang yang kehilangan kunci emas itu hanya aku seorang diri saja"

Berkata TeePo Heng ketua dari partay Lam-hay-pay.

Kini tiga ketua partay itu baru tahu, bahwa cara kehilangan kunci emas mereka hampir sama, semuanya diwaktu sedang bersemedi, lalu diserang dengan tiba-tiba oleh muridnya sendiri kemudian diambil kuncinya......

Ketua Hoa San-pay Yu Hoa liong, berkata sambil angkat pundak.

"orang-orang golongan Kalong berusaha mencuri kunci emas, tetapi sebaliknya sudah menyiarkan berita tentang tertawannya kakek gelandangan didalam rumah penjara rimba persilatan, coba kalian pikir apakah artinya ini?"

Cin Hong lalu berkata.

"Ini mungkin adalah salah satu rencana busuk mereka, PangCu golongan Kalong mengira bahwa para ketua partay setelah tahu kehilangan anak kuncinya, mungkin akan letakkan pengharapannya kepada kakek gelandangan, dikiranya mereka akan lantas pergi kerumah penjara untuk menantang bertanding. Mereka tahu bahwa kakek gelandangan ada mempunyai penyakit gila yang sebentar kumat sebentar sembuh, sudah pasti tidak sanggup melawan kepandaian penguasa rumah penjara rimba persilatan, maka ia tak perlu kuatirkan kakek itu keluar dari rumah penjara, lalu mengutus orang-orangnya menyiarkan berita itu, supaya dapat memancing ketua partay yang kehilangan kunci emaSnya pergi ke rumah penjara rimba persilatan untuk menolong kakek gelandangan, dengan demikian . .."

"Dengan begitu, kita semua mau disuruh jadi salah satu dari tawanan dalam rumah penjara itu. IHehehe, aku siorang she Yu,justeru tidak begitu bodoh"

Kata Yu Hoa liong sengit. ceng Hong cinjin berdiam, seperti berpikir dia sejenak. baru berkata.

"Tapi, kalau kita bisa menolong keluar kakek gelandangan, juga merupakan salah satu jalan yang tepat untuk membuka kunci kotak wasiat itu. Asal kita dapat makan obatnya yang disimpan dalam kotak Wasiat itu, dan melatih ilmu silatnya, tidak susah rasanya untuk menolong mengeluarkan ketua kita yang tertawan didalam rumah penjara itu."

"Aku si orang she Yoe ada satu akal, tetapi barangkali ciangbunjin sekalian anggap Cara ini terialu rendah....."

Berkata Yoe Hoa liong.

Yoe Hoa liong sifatnya tidak gemar nama dan kedudukan, tetapi ia memiliki kecerdikan otak.

maka ketika ia berkata ada mempunyai rencana, semua tertarik dan perhatikan keterangannya lebih lanjut.

Tetapi Yoe Hoa liong mendadak alihkan pandaagan matanya kepada cin Hong, kepada pemuda ini katanya.

"cin Siaohiap. jikalau aku menolak perbuatanmu yang hati-hati seperti tadi satu kali ini saja, dapatkah kau memberi maaf kepadaku?"

Cin Hong tersenyum dan segera bangkit dari tempat duduknya, berkata sambil memberi hormat.

"Yoe ciangbunjin mengapa bertanya demikian? ciangbunjin sekalian hendak merundingkan soal kotak wasiat, beanie sudah tentu harus menyingkir"

Setelah berkata demikian, kembali memberi hormat kepada para ketua partay ia lantas berjalan keluar dari ruangan ceng-sin-tong Padri muda Ngo-beng, seorang diri masih duduk termenung di atas sebuah kursi rotan, tampak cin Hong keluar dari ruangan, buru-buru bangkit dan berkata sambil memberi hormat.

"Sicu mengapa kembali lebih dulu?"

Cin Hong duduk di atas kursi rotan, menjawab sambil tertawa.

"ciangbunjin Suhu sekalian sedang merundingkan urusan penting dengan lima ciangbunjin partay besar, maka terpaksa harus keluar lebih dahulu."

Diwajah Ngo-beng menunjukkan sikap aneh, seperti tidak tenang, memandang kepada cin Hong sejenak. kemudian berkata.

"Sioceng tak tahu bahwa sicu adalah murid It-hu Sianseng, tadi atas bantuan sicu, disini siaoceng ucapkan banyak terima kasih."

Cin Hong membalas pernyataan terima kasih itu dengan sikap merendah.

"Entah ada keperluan apa hari ini sicu berkunjung kegereja kami?"

Bertanya pula Ngo-beng dengan hati tak tenang.

"Tidak ada apa-apa hanya main-main Saja."

"Tadi ketika siaoceng berada dikamar, sicu agaknya bendak mengucapkan sesuatu yang takut siaoceng dengar?"

"Benar, ucapan itu kupikir tak ada faedahnya untuk didengar bagi orang seperti kalian yang mensucikan diri, oleh karena itu, maka disini. .. ."

Ngo-beng ketika mendengar ucapan cin Hong yang terakhir, wajahnya berubah.

Mengapa?

Sebab, kata-kata itu ia dahulu pernah di ucapkan oleh perempuan Cabul utusan golongan Kalong, dan cin Hong yang ingin mengetabui reaksi dari paderi itu, juga sengaja meniru ucapannya, tak diduga, perbuatan itu segera menimbulkan pikiran jahat bagi Ngo-beng.

"Kalau sicu memang ingin main-main harap tinggal beberapa hari disini... ."

"Aku justru pikir hendak mengganggu suhu sekalian untuk berdiam beberapa hari seandai disini tidak keberatan... ."

"Sicu jangan kata begitu, mari siaoceng ajak sicu untuk beristirahat kedalam kamar."

Cin Hong yang ingin mengetahui tindakan apa yang akan dilakukan oleh Ngo-beng, maka lantas menurut, Sebab ia pikir diwakiu tengah hari belong, paderi itu tentunya tidak berani bertindak apa-apa.

Ngo-beng ajak dia masuk kedalam sebuah kamar yang bersih dan sunyi.

cin Hong lalu membuka baju luarnya, dan Ngo-beng telah menyambutnya dengan sikap hormat, kemudian undurkan diri.

cin Hong yang sudah melakukan perjalanan beberapa hari kemarin dikata hampir tanpa mengaso, juga sudah merasa letih, maka begitu rebah dipembaringan, tanpa disadari olehnya benar-benar sudah lantas tidur.

Entah berapa lama ia tertidur, tiba-tiba tangan kanannya merasa sakit, ketika ia mendusin, dan membuka mata, tampak ketua gereja Siau-lim-si Tie-kong Taysu dan enam ketua partay lainnya beserta Ngo-beng berdiri disisi tempat tidurnya, dan pergelangan tangannya sedang digenggam erat-erat oleh Tie-kong Taysu hingga sekujur badannya merasa lemas tak bertenaga.

Waktu itu tampak Tie-kong Taysu dengan wajah keren, menguasai dirinya, kemudian berkata.

"Siau-sicu kiranya adalah anggota golongan Kalong nomor seratus sembilan hampir saja pinceng sekalian tertipu olehmu"

Cin Hong berusaha untuk duduk, katanya dengan perasaan bingung.

"ciangbunjin Taysu, apa artinya ucapan ini? Aku yang rendah bukanlah orang dari golongan Kolong"

Tie-kong Taysu menunjukkan sebuah plat kuningan keCil berbentuk segi panjang, katanya sambil tertawa dingin.

"Siao-sicu lihatlah, ini barang apa?"

Cin Hong memeriksa plat kuningan itu diukir dengan tulisan anggota nomor seratus sembilan golongan Kalong.

Bukan kepalang terkejutnya, ia lalu mengerti bahwa benda itu pasti merupakan tanda dan nomor anggota dari Hek motong, tetapi ia tidak mengerti bagaimana barang itu digunakan untuk menuduh dirinya sebagai anggota golongan Kalong, maka ia segera bertanya.

"Dari mana ciangbun-taysu dapatkan barang ini?"

Tie-kong Taysu mengawasi baju luar cin Hong yang bergantung didinding, katanya.

"Pinceng dapatkan dari dalam baju siau-sicu itu"

"Kenapa ciangbunjin menggeledah pakaian aku?"

Tanya cin Hong heran. Ngo-beng yang berdiri dibelakang enam ketua partay lantas menyambungnya.

"Itu adalah siaoceng yang menemukan ketika tadi siaoceng bantu menanggaikan baju luar sicu....."

Cin Hong kini mengerti sudah, bahwa itu adalah perbuatan Ngo-beng yang hendak memfitnah dirinya, maka dalam marahnya itu ia sebaliknya tertawa dan berkata.

"Bagus benar, engkoh Beng ini apakah tidak takut akan masuk keneraka?"

Tie-kong Taysu tidak mermperhatikan ucapan cin Hong yang menyebut Ngo-beng menjadi engkoh Beng, waktu itu lantas menggengam semakin erat pergelangan tangannya dan berkata.

"Sicu hari ini dengan menyamar sebagai murid It-hu Sianseng masuk kegereja kami, entah apa maksudnya? apakah juga ingin mencuri anak kunci yang berukiran huruf harimau dari tangan pinceng?"

Cin Hong yang tak dapat melepaskan tangan dari genggaman paderi itu, rasa sakitnya telah membuat ia mengalami penderitaan hebat.

hingga keringat dingin bercucuran membasahi jidatnya, tetapi ia menahan rasa sakit itu, dan dengan tangan kiri menunjuk Ngo-beng ia berkata.

"orang yang hendak mencuri anak kuncimu itu, justru dia itu?"

Tie-kong Taysu berpaling mengawasi Ngo-beng sejenak. Ngo-beng buru-buru menundukkan kepala dan merangkapkan kedua tangannya, katanya dengan suara gugup.

"omitohud, harap sicu jangan menuduh sembarangan, jangan mencoba mengarahkan dosa Sicu keatas diri siaoceng"

Cin Hong sangat marah mendengar ucapan itu, ia berpaling dan berkata kepada Tie-kong taysu.

"Apa Ciangbun-taysu tak percaya kalau aku ini adalah murid It-hu Sianseng?"

"Kalau ditilik dari perbuatan orang angkatan muda berbagai partay, yang sudah menghianati partay sendiri, murid It-hu Sianseng belum tentu kalau tak bisa masuk menjadi anggota golongon Kalong"

Cin Hong mendadak marah, katanya.

"Kalau kau tidak percaya yah, Sudah, kenapa kau pegangi terus tanganku?"

"Anak kunci emas dari ketua partay cong-lam, Khongtong dan Lam-hay, harus diminta kembali, jikalau kau mau menceritakan dimana letak markas besar golongan Kalong, pinceng sekalian tidak akan menyulitkan dirimu."

Cin Hong benar-benar sudah tidak dapat kendalikan hawa amarahnya, oleh karenanya maka ia lantas memejamkan matanya tidak menghiraukan ucapan ketua Siao-lim ini.

Ketua partay Hoa-sanpay Yu Hoa liong lalu berkata.

"ciangbun-taysu mengapa tidak berikan ia sedikit hajaran? Jikalau tidak mau mengaku, terpaksa menggunakan siksaan"

Cin Hong dalam hati bergidik, ia lalu membuka mata dan mengawasi padanya, kemudian berkata sambil tertawa menyindir.

"Yu ciangbunjin selamanya terkenal dengan keCerdasannya, tidak disangka juga bisa berbuat demikian-"

La sebetulnya ingin memaki dia berbuat demikian bodoh, tetapi la merasa tak pantas mengeluarkan perkataan tidak sopan terhadap seorang ketua partay, maka akhirnya tak jadi dikeluarkan ucapan itu.

Yu Hoa liong yang semula diangkat dan kemudian disanjung, dalam hati merasa girang.

Tetapi perkataan cin Hong yang belakangan benar-benar telah membuatnya mendongkol maka ia lalu berkata dengan usulnya .

"ciangbun Taysu coba geledah dulu tubuhnya, mungkin masih ada barang apa-apa yang dapat digunakan sebagai bukti....."

Tie-kong Taysu sebagai seorang ketua satu Partay besar dan sebagai tuan rumah, sudah tentu tidak mau menggeledah diri seorang angka muda, maka ia lalu berpaling dan memerintahkan Ngo-beng yang menggeledahnya.

Ngo-beng menurut, dan cin Hong karena tidak mempunyai tenaga untuk melawan, ia hanya maki-maki dengan mulutnya.

"Padri Cabul, perbuatanmu malam itu dikelenteng Kowtee-blo dibawah gunung Kiu-hua..."

Ketika cin Hong hendak melanjutkan ucapannya, diamdiam jari tangan Ngo-beng sudah menotok cin Hong, disamping itu ia berkata padanya dengan Sikap keren.

"Sicu mengapa selalu hendak memusuhi siaoceng saja? Siaoceng tidak berbuat Salah terhadapmu "

Sementara itu, dari dalam diri cin Hong ia sudah menemukan se

Jilid kitab tipis, maka lalu diberikan kepada Tie-kong Taysu, Ketua gereja Siao-lim Sie itu telah menyambut dan melihatnya, mengeluarkan seruan terkejut, kemudian berkata.

"Tay-seng-hong-sin-San, dari mana kau dapatkan kitab pelajaran ilmu silat ini ?"

Cin Hong diam-diam bersukur karena kitab itu tidak tertulis nama dewa persilatan Thay-pek sian-ong Kiat Thian Bin, jikalau tidak ia tentu dianggapnya mencuri lagi.

Saat itu ia berkata sambll ketawa dingin.

"Bigaimanapun juga toh bukan barang curian? Jikalau kau Tay-suhu suka, biarlah kuberikan padamu "

Tie-kong Taysu mengeluarkan suara dari hidung, kemudian kitab itu dikembalikan padanya, suatu tanda bahwa ia tidak sudi menerima pemberian itu.

Sementara itu Ngo-beng kembali sudah menemukan sebuah barang ...ialah sebuah anak kunci emas.

Ketika enam pasang mata dari enam kedua partay besar itu tertuju kepada anak kunci emas itu, sesaat wajah mereka pada berobah dan mengeluarkan seruan terkejut.

Tie-kong Taysu dengan cepat sudah menyambar anak kunci dari tangan Ngo-beng, katanya dengan mata terbelalak.

"Ini adalah anak kunci yang berukiran huruf liong, anak kunci milik ketua partay oey-pay. Mengapa bisa berada didalam tubuhmu?"

Lima ketua partay yang lainnya juga terkejut dan terheran-heran, mereka benar-benar tak menduga bahwa anak kunci berukiran huruf Liong yang sudah menghilang selama dua puluh tahun lebih, tiba-tiba bisa muncul diatas diri cin Hong, ini benar-benar suatu hal yang tidak habis dimengerti.

Mereka meskipun beleh saja menganggap bahwa anak kunci berukiran huruf Liong yang digunakan sebagai barang hadiah dalam sayembara oleh penguasa rumah penjara rimba persilatan itu adalah barang palsu, tetapi apabila mau dikata bahwa anak kunci yang tulen itu sudah dirampas oleh Ho-ong, bagaimana sekarang bisa diberikan kepada anak muda dihadapan mata mereka ini, yang di anggapnya hanya seorang berkedudukan rendah didalam golongan Kalong?

Ketua partay Bu-tong ceng-hong cinjin setelah berpikir agak lama, lantas angkat kepala mengawasi Tie-kong Taysu kemudian berkata.

"ciangbun-taysu, beleh kah taysu melepaskkan tangannya?"

Tie-kong taysu segera melepaskan cin Hong, katanya sambil tertawa yang dibuat-buat.

"Pinceng bukan takut ia akan lari, melainkan hendak paksa ia menjawab terus terang"

Cin Hong menggerak-gerakkan tangan kanannya yang sudah kesemutan, waktu itu ia ingin sekali rasanya dapat menampar muka Tie-kong taysu.

Dengan sikap ramah tamah ceng-hong cinjin bertanya.

"sudikah kiranya Siausicu menceritakan bagaimana Siausicu mendapatkan anak kunci ini?"

"Maaf tak bisa"

Mennjawab cin Hong hambar.

"Pinto karena melihat siaosicu tak mirip dengan orang dan golongan sesat, maka pinto menanya dengan baik-baik, mengapa sicu tidak kenal kebaikan orang?"

Kata ceng Hong cinjin dengan wajah berubah.

"Dengan sejujurnya aku menerima sikap Totiang ini, Sayang aku tak dapat memberitahukan"

"Bagaimana artinya ucapan ini?"

"Sebab asal usul diriku sendiri terlalu ruwet dan tak jelas, dari waktu masih dalam gendongan, telah ditolong oleh Suhu dari dalam perahu yang terbalik disungai ciang-yang kang, waktu itu anak kunci ini sudah dikalungksn dileherku"

Ceng-hong cinjin terkejut mendengar keterangan itu, katanya. cin Hong menganggukan kepala. Tie-kong taysu saat itu juga merasa bahwa anak muda itu tak mirip dengan orang jahat. maka lalu bertanya.

"JikalaU taysu bertanya demikian, maaf aku masih tak mau menjawab"

Berkata cin Hong hambar. Tie-kong taysu mengerutkan alisnya, ia menundukkan kepala memeriksa anak kunci emas ditangannya kemudian, angkat muka dan bertanya bertanya kepada lima ketua partay.

"Pinceng anggap bahwa anak kunci ini harus segera dikembalikan kepada oey san-pay, bagaimana pikiran ciangbunjin sekalian?"

"Pinto setuju"

Berkata ketua partay cong-lam Tay-hie Totiang.

"Taysu beleh mengutus orang pergi kegunung oey-san untuk minta Kwa ciangbunjin datang, asal Kwa ciangbunjin datang, apa yang diucapkan oleh bocah ini benar ataukah bohong. segera dapat diketahui"

Berkata ketua partay Lamhay Bu-yu Sianjin-cin Hong tak mau membungkam lagi katanya.

"Kwa ciangbunjin sudah terbinasa seCara mendadak pada delapan hari berselang."

Enam ketua partay terkejut mendengar ucapan itu. mereka bertanya dengan serentak.

"Bagimana Cara kematiannya?"

"Mati ditangan ketua terdahulu It-yang-cie Siauw can Jin-...."

Cin Hong sudah melupakan pesan orang tua pedang emas, lalu menceritakan seluruh peristiwa yang terjadi digunung oey-san, enam ketua partay yang mendengarkan pada saling berpandangan, mereka semua adalah orangorang yang berkedudukan tinggi, walaupun dalam hati terkejut dan terheran-heran tetapi tak suka mengeluarkan perkataan yang bersifat mencela atas perbuatan Siauw can Jin, sebab hal itu adalah rumah tangga dalam partay orang lain, sehingga siapapun tak berhak untuk turut Campur tangan.

Setelah semua orang hening sekian lama, lalu terdengar perkataan ceng-hong cinjin sambil menghela napas panjang.

"Kalau begitu kita undang orang tua pedang emas cie Kay Yan datang, dia adalah orang yang akan menggantikan jabatan clang-bunjin partay itu"

"orang tua pedang emas sudah pergi ke rumah penjara rimba persilatan untuk menantang bertanding"

Kata cin Hong. Semua ketua partay kembali dikejutkan oleh keterangsn cin Hong itu, ketua partay Hoa San-pay Yu Hoa liong berkata sambil angkat pundak.

"Maksudnya bukankah hendak masuk kerumah penjara untuk menanya kepada Siauw can Jin ? Apa sebab ia membinasakan Kwa ciangbunjin?"

Cin Hong menganggukkan kepala sebagai jawaban-Tay-hie Totiang berkata sambil menghela napas.

"Kalau begitu kita undang saja orang tua senjata perat cu Giok Tian-Dia adalah orang kedua yang bakal menggantikan kedudukan cianbunjin "

Baru saja menutup mulut, dari luar berjalan masuk seoraag padri yang menyampaikan kepada Tie-kong Taysu tentang kedatangannya orang tua senjata perak cu Giok Tian dari oey-san-pay.

Kedatangan cu Giok Tian kegereja Siao-lim-sie, tepat pada waktunya yang sedang dibutuhkan oleh para ketua partay.

Sudah tentu Tie-kong Taysu bura-buru lantas keluar untuk menyambut kedatangan tamunya itu.

cin Hong yang mendengar kedatangan cu Giok Tian, hatinya lantas kebat-kebit, ia pikir orang tua itu bagaimana bisa tahu bahwa orang yang mencelakakan diri Kwa cianbunjin adalah SiauW can Jin-Apa lagi kalau diingat ia sekarang sudah membawa anak kunci emas milik oey sanpay, ini benar-benar menyulitkan kedudukannya.

Ia segera teringat pada Leng Bie Sian dahulu, jikalau bukan gadis itu berada didampingnya, ia sendiri pasti sudah terbinasa digunung oey-san-Akan tetapi kali ini walaupun ia berada didampingnya, mungkin juga tidak bisa berbuat apa-apa.

Tak lama kemudian, dari luar terdengar suara orang berjalan, Tie-kong Taysu sudah berada diruangan kamar bersama cu Giok Tiancu Giok Tian setelah bersalaman dengan lima ketua partay, lalu berjalan mendekati cin Hong, dengan sikap aneh mengawasinya sejenak.

tiba-tiba berkata dengan air mata berlinang-linang .

"Beberapa hari berselang aku telah bertemu dengan orang tua pedang emas, tentang kematian ciangbunjin kami, dan segala apa yang terjadi, telah diceritakan semua olehnya, waktu itu aku masih agak sangsi, tetapi tadi baru saja aku mendapat keterangan dari Tie-kong Taysu bahwa kau ada memiliki anak kunci emas berukiran huruf liong milik partay kami, sekarang aku hendak menanyakan satu hal kepadamu, kau ini sebetulnya orang she cin ataukah shee Kim? Dimana ibumu sekarang berada?"

Cin Hong terkejut dan terheran-heran mendengar pertanyaan itu, dalam hati berpikir sendiri.

"Mengapa banyak orang semua anggap shenya cin sebagai Kim? Apakah ayahnya sendiri itu seorang she Kim? Apakah sewaktu suhunya menolong ia dari atas perahu yang akan tenggelam juga telah salah dengar ibunya menyebut Kim Hong sebagai cin Hong? Kalau demikian halnya, penguasa rumah penjara rimba persilatan atau Tamu tak diundang dari luar daerah dan orang tua senjata perak dihadapan matanya ini, tentunya semua tahu asal asul dirinya. tetapi tiga orang ini beleh dikata tidak mempunyai hubungan sama sekali dengan dirinya."

La segera lompat bangun dari tempat tidurnya, juga tidak melupakan adat istiadat untuk memberi hormat, Segera menceritakan semua kejadian pada delapan belas tahun berselang, kemudian bertanya.

"cu-locianpwe pasti tahu ayah bunda beanie, sudikah kiranya locianpwe memberitahukan kepada beanie?"

Dengan wajah sedih Cu Giok Tian menengadah dan menghela napas, ia juga tidak menjawab pertanyaan Cin Hong, sebaliknya berkata kepada diri sendiri.

"Kalau begitu, dia benar-benar sudah mati...."

Cin Hong sudah tentu mengerti apa yang dimaksudkan dengan dia itu, tentunya dimaksudkan dengan ibunya sendiri, teringat kematian yang mengenaskan dari ibunya, saat itu ia lalu mengucurkan air mata.

Cu Giok Tian memberi hormat kepada enam ketua partay disekitarnya, setelah itu berkata.

"ciangbunjin sekalian, pinto ingin berbicara empat mata dengan anak ini, apakah ciangbunjin sekalian tak keberatan?"

Enam ketua partay semua menganggukkan kepala dan keluar dari kamar, Ngo-beng juga ikut ketuanya keluar.

Sikapnya Cu Giok Tian waktu itu sudah tidak seperti sikapnya pada beberapa hari berselang digunung oey san yang memusuhi Cin Hong, sekarang ia menunjukan sikapnya yang menyayang dan ramah tamah, ia menepok perlahan bahu Cin Hong, ditariknya duduk disampingnya, kemudian berkata dengan suara perlahan.

"Anak. ketua kita Siauw ceng ciangbunjin sebelum minta kau bawa surat untuk disampaikan kepada Kwa ciangbunjin, tahukah ia bahwa dibadanmu ada sebuah anak kunci emas ini?"

Cin Hong menjawab sambil menggelengkan kepala.

"Tidak ia hanya tahu beanie adalah murid It-hu sianseng"

"Benar, pada delapan belas tahun berselang suhumu karena berkunjung kegunung oey-san satu kali, waktu itu kita boleh dikata tidak mendapat kesempatan untuk berbicara dengan Suhumu, hmm......"

Cin Hong terkejut, tanyanya.

"Locianpwe benar, waktu Suhu pergi kegunung oey San-Siauw ciangbunjin tidak mengijinkan locianpwe sekalian berbicara dengan suhu.?"

"Bukan begitu, hanya caranya Siauw ciangbunjin menyambut Suhumu agak luar biasa, dengan seorang diri ia ajak suhumu masuk kedalam kamar untuk berbicara, selesai pembicaraan lalu dengan seorang diri mengantar Suhumu turun gunung......"

"Kalau begitu ia sengaja hendak memblokir bocornya sesuatu berita?"

"Sekarang kalau hal ini kita pikirkan memang begitu, tetapi waktu itu kita sama sekali tidak mengetahui apa yang dibicarakan oleh mereka, hanya merasa karena ciangbunjin tidak menghendaki kami tahu, maka kami juga tidak mau tahu"

"Waktu itu justru lantaran dileherku ada menggantung sebuah anak kunci emas berukiran huruf Liong ini lalu menduga pasti bahwa ayah bunda beanie ada hubungan erat dengan partay oey-san-pay. oleh karenanya, maka suhu lalu pergi kegunung oey-san untuk mencari keterangan, akan tetapi menurut keterangan Siauw ciangbunjin waktu itu, diantara anak murid golongan oey-san tidak ada seorang pun yang menghilang"

"Jikalau waktu itu ia bertanya kepadaku jawabannya sudah lain"

"Siapa yang hilang?"

Bertanya Cin Hong dengan perasaan tegang.

"Anak bodoh, Sudah tentu ibumu"

Jawab Cu Giok Tian sambil menghela napas. Hati Cin Hong berdebaran, tanyanya.

"Ibuku itu siapa namanya ?"

"Suma Siu Khim anak perempuan ciangbunjin generasi enam belas partai kita Suma Cin"

Cin Hong berseru kaget, selanjutnya ia bertanya pula.

"Kalau begitu siapakah ayah boanpwe?"

"Hal ini aku juga tidak tahu, Sebab itu adalah persoalan yang sangat ruwet, jikalau kau bisa menemukan seorang yang bernama Kim Hoong, ia mungkin bisa memberitahukan padamu."

"Kalau locianpwe berkata demikian, apakah ibuku itu..."

"Ya, sebelum ibumu kawin dengan seseorang dia sudah melahirkan kau. Waktu itu dia baru berusia delapan belas tahun. Aku tetapi....ibumu adalah seorang perempuan yang sangat baik"

Cin Hong menundukkan kepala dan berdiam diri, dalam hatinya mulai membayangkan keadaan ibunya dimasa berusia delapan belas tahun.

"Aaaa Suhu kata bahwa ibuku sangat Cantik, waktu itu pasti ada seorang pemuda yang ingin mendapatkannya, dan pemuda itu pasti juga tampan dan gagah, maka ibu berhubungan baik dengannya, dan orang itu lantas membohongi ibu dan setelah itu lalu kabur, maka waktu itu melahirkan aku lantas bawa aku pergi mencari dia dan akhirnya telah menemukan bahaya, perahu yang ditumpanginya tenggelam, ibu juga terbinasa......"

Cu Giok Tian berdiam sebentar, tiba-tiba bangkit berdiri dan berkata dengan sikap dan suara agak bengis.

"Cin Hong Kau dengan partay kami ada mempunyai hubungan sangat dalam tapi kau telah berani masuk menjadi anggota golongan Kalong dan membantu mereka melakukan kejahatan, maka hari ini aku tidak dapat tinggal diam"

Cin Hong juga bangkit, dan berkata dengan suara terisakisak.

"Boanpwe tidak menjadi anggota golongan Kalong, itu adalah Ngo-beng suhu yang berdiri dibelakang enam ketua partay itu, yang memfitnah diri boanpwe."

Setelah itu lalu menceritakan semua apa yang dilihat tentang diri padri Ngo-beng yang terjurumus oleh paras Cantik dan melakukan perbuatan tidak senonoh dalam kelenteng Kow-tee-bio dikaki gunung Kiu-hoa-San, waktu itu Ngo-beng sudah menerima permintaan perempuan dari golongan Kalong yang digunakan untuk memikat padri itu dan berjanji hendak mencuri anak kunci emas berukiran gambar harimau dari tangan Tie-kong Taysu, waktu itu ia telah mengambil keputusan hendak memberitahukan soal ini kepada Tie-kong Taysu, dan kedatangannya kali ini juga dengan maksud baik untuk memberitahukan kepada ketua gereja Siao-lim-sie itu, tak diduga sudah tertipu oleh Ngobeng dan tidur didalam kamar itu, kemudian diam-diam dimasukan tanda golongan Kalong nomor seratuS sembilan didalam saku baju luarnya.

Cu Giok Tian yang mendengar penuturan itu tampak berpikir, kemudian berkata.

"Apakah Tie-kong taysu tidak perCaya keteranganmu?"

"Ia selalu menganggap bahwa paderi-paderi gereja siaulim-si tak mungkin ada orang yang berkhianat, hm."

Menjawab Cin Hong dengan gemas. Cu Giok Tian tersenyum mendengar ucapan ini, katanya.

"Kalau begitu jangan kau perdulikan dia. Tinggallah disini berapa hari, nanti kita bicarakan lagi"

"Apakah mereka hendak menahan boanpwe disini?"

"Tunggu nanti aku pergi tanya"

Setelah berkata demikian, Cu Giok Tian berjalan keluar dari kamarnya.

Setelah Cu Giok Tian berlalu, seorang diri Cin Hong lalu memikirkan rahasia yang diberitahukan tentang dirinya oleh orang tua tadi.

Kalau begitu ibunya sendiri itu bernama Suma Siu Khim, dan Suma Cin itu adalah Kakek luarnya.

Tetapi siapakah orang yang dinamakan Kim Hong itu?

Dan dimana harus mencari orang itu?

Dengan tiba-tlba ia teringat sesuatu mulutnya menggumam sendiri.

"Suma Siu Khim. Suma Siu Khim...."

Ia juga ingat ucapan penguasa rumah penjara rimba persilatan waktu itu yang berkaok-kaok seorang diri.

"Siu Kim Siu Khim Jangan menyanyi lagi Jangan menyanyi lagi....."

"Ya Allah Apakah ibuku belum mati? Apakah ia dikurung dalam kamar rahasia rumah penjara itu?"

Ia bertanya-tanya pada diri sendiri.

Mendadak ia lompat bangun dan lari keluar seperti orang gila.

Baru tiba dipintu, tiba-tiba terdorong oleh suatu kekuatan tenaga dalam yang sangat besar dalam hatinya terkejut, dan Waktu ia memandang keluar, tampak diluar pintu ada berdiri seorang paderi tua beralis tebal bermata lebar, dengan sikap agung paderi itu berkata padanya sambil merangkapkan kedua tangannya.

"Siau-sicu harap tenang sedikit, beberapa ciangbunjin sekarang ini sedang merundingkan caranya bagaimana untuk menghadapi Siao-sicu, dibebaskan atau ditawan, selambat-lambatnya besok malam baru dapat diambil keputusan yang pasti. Mengapa Siao-sicu tidak beristirahat dulu?"

"Kau siapa?"

Tegur Cin Hong marah.

"Pinceng mengawasi geraja Tie-hui,"

Menjawab paderi tua sambil membongkokkan badan.

"Apakah ketua kalian yang mengutus kau disini untuk mengawasi aku?"

"Tidak berani, harap siao-sicu suka memberi bantuan."

Cin Hong sudah pikir akan memukul paderi itu, tetapi kalau dipikir lagi bahwa perbuatan itu nanti akan memperdalam salah paham terhadap dirinya, maka akhirnya ia menahan hawa marahnya dan rebah lagi dipembaringan.

Malam tiba, ketika ada paderi kecil mengantarkan hidangan malam, telah disantap habis oleh Cin Hong, selagi hendak tidur lagi, tiba-tiba terdengar suara genta berbunyi, ia buru-buru lompat bangun lagi dan pergi bertanya kepada Tie-hui taysu?

"Apakah para ciangbunjin itu sudah akan pergi?"

"Ya"

Jawab Tie-hui-taysu sambil menganggukkan kepala.

"Dan bagaimana dengan diriku?"

"Yah bagaimana siao-sicu toh tidak ada urusan penting, berdiam disini toh beberapa hari apa salahnya?"

"Tapi aku juga ada urusan penting"

"Jikalau siao-sicu tidak ingin dianggap sebagai anggota nomor seratus sembilan dari golongan Kalong berlalu dari gereja kami, sebaiknya sabar satu dua hari"

"Sekalipun aku dianggap sebagai anggota golongan Kalong nomor satu nol Sembilan, kalian berani apa?"

"Itu berarti kau lebih sulit keluar dari sini."

Cin Hong tidak bisa menahan sabarnya lagi, ia lalu membentak sambil mengeluarkan kipas dari sakunya.

"Nah Apa kau kira aku tidak bisa menerjang keluar dari gereja Siao-lim Si ini?"

Tie-hui Taysu berkata sambil tertawa.

"Siao-sicu barang kali terlalu memandang rendah kepada gereja kami"

Selagi Cin Hong hendak menggunakan kipasnya untuk menyerang paderi itu, tiba-tiba terdengar suara yang sangat halus didalam telinganya.

"Cin Hong, Sabar sedikit, besok pagi dari sini juga belum terlambat"

Suara itu meskipun sangatperlahan, tetapi terdengar nyata dalam telinganya, suara itu mirip dengan suaranya tamu tidak diundang dari luar daerah yang sangat misteri itu.

Dalam hati Cin Hong terkejut, ia segera menarik kembali kipasnya dan ketika matanya ditujukan keluar kamar, ternyata sepi tidak terdapat seorangpun kecuali Tiehui-taysu.

Meski dalam hati merasa heran.

tetapi ia tidak berani bertanya, lalu menyimpan kipasnya lagi dan masuk kembali kedalam kamarnya.

Setelah waktunya membaca doa bagi para paderi dalam gereja Siao-lim-sie sudah lewat, Suasana dalam gereja itu sunyi kembali, malam semakin larut.......

Tie-hui taysu yang ditugaskan menjaga Cin Hong, duduk diatas sebuah kursi rotan sambil membaCa doa, sebentar ia membuka matanya dan mengawasi keudara terbuka kemudian menundukkan kepalanya lagi melanjutkan pekerjaannya membaCa doa......

Lewat jam dua tengah malam, dari atas genteng gereja Siao-lim-sie tampak melayang turun sesosok bayangan orang kecil langsing dengan tidak mengeluarkan SUara sedikitpun juga , melayang turun dihadapan Tie-hui Taysu sejauh lima kaki.

Tie-hui Taysu adalah salah Seorang tokoh terkuat dari gereja Siao-lim-sie, namun waktu itu ada berada dekat dihadapannya masih tidak tahu sama sekali, paderi tua ilu masih tetap memejamkan matanya sambil membaCa doa.

Dibawah Sinar rembulan purnama, tampak orang yang melayang turun itu adalah seorang perempuan yang sangat muda sekali, wajahnya Cantik, kulitnya putih bersih, mengenakan pakaian berwarna ungu.

Ia berdiri didepan Tie-hui Taysu, matanya mengawasi pintu kamar yang tertutup rapat, kemudian mengawasi lagi kepada Tie-hui Taysu dengan demikian lewat lagi sejenak, tiba-tiba menggigit bibirnya dan perlahan-lahan mengangkat tangan kanannya....

Bertepatan pada saat mana tiba-tiba terdengar suara halus yang masuk kedalam telinga perempuan sangat muda itu.

"Nona, biarlah ia tidur nyenyak banyak barang sebentar saja."

Wajah perempuan muda yang cantik itu menunjukkan sikap kaget, kemudian sudah melesat naik lagi keatas genteng dan dalam sekejap sudah menghilang.

oleh karena gerakannya terlalu cepat, hingga suara menimbulkan suara berkibarnya pakaian-Tie-hui Taysu yaag mendadak sadar juga dapat melihat berkelebatnya bayangan naik ke-atas genteng, maka lalu ia bangkit dan mengejar, namun sudah tidak nampak lagi siapapun disitu.

Ada maksudnya hendak mengejar keatas genteng, tetapi khawatir Cin Hong nanti kabur, setelah bersangsi sejenak.

dari lorong sebelah kanan tiba-tiba tampak orang lari mendatangi, ia adalah suhengnya sendiri, Tie Kak Taysu yang ditugaskan menjaga diruangan penyimpan kitab, maka segera ditegurnya.

"Suheng ada urusan apa demikian tergesa-gesa ?"

"Sute, apakah dalam kamarmu masih ada menyimpan pel son-hau wan?"

Bertanya Tie-kak taysu. Pel Son-hau wan adalah obat untuk menyembuhkan luka dalam buatan gereja Siao-lim-si sendiri, Tie-hui Taysu yang mendengar pertanyaan itu terkejut, ia lalu balas bertanya.

"Siapa yang terluka?"

"ciangbunjin"

"Kenapa bisa terluka? Dan diserang oleh siapa?"

"Bukan orang luar, melainkan Ngo-beng sibangsat durhaka itu, ia menggunakan kesempatan selagi ciangbunjin duduk bersemedi, lalu melancarkan serangan dari belakang. setelah itu ia merampas anak kunci emas berukiran gambar harimau dari dalam badannya"

Tie-hui Taysu mendadak marah, katanya.

"Apa ia sudah kabur?"

"Belum Sewaktu aku mengejar keluar, terdengar suara jeritan yang sangat mengerikan, waktu aku memburu, tampak ia sudah mati dibawah sebuah pohon cemara, orang yang membunuh mati padanya telah meninggalkan tanda tulisan dengan pedang dan huruft Eng dipohon-......"

Berkata Tie-kak Taysu.

"Tamu tak diundang dari luar daerah"

Berseru Tie-kak Taysu.

"Luka dalam ciangbunjin tampaknya parah sekali, obatmu San-hoa-wan itu ditaruh dimana?"

"Ditaruh dipeti pakaian kedua belakang tempat tidur, Suheng ambillah sendiri"

Tie-kak taysu menerima baik, lalu berangkat menuju kekamar Tie-hui Taysu "Taysu, numpang tanya sekarang aku dengan status sebagai muridnya It-hu Sianseng apa boleh keluar dari kamar ini?"

Muka Tie-hui Taysu menunjukkan perasaannya yang tak enak, ia menjaWab sambil merangkapkan kedua tangannya.

"PinceCg hanya melakukan tugas, sebentar ciangbunjin kami sudah tentu akan mengambil tindakan adil terhadap siao-sicu......"

"sekarang bagaimana kalau kita keluar bersama-sama buat tengoki ciangbunjin taysu?"

Tie-hui Taysu berpikir, kemudian menganggukan kepala dan ajak Cin Hong bejalan kelorong kanan.

Cin Hong yang mengikutinya dalam hati diam-diam menyumpahi Tie-kong Taysu yang seharusnya mendapat nasib seperti itu.

Tak lama kemudian-mereka tiba diluar kamar Tie-kong Taysu, tampak diluar kamar sudah berdiri banyak paderi, dipintu juga ada dua paderi tua yang menjaga keras.

Tie-hui Taysu menganggukkan kepala kepada dua paderi tua itu, kemudian bersama Cin Hong masuk kedalam kamar.

Tie-kong Taysu Waktu itu sedang duduk diatas pembaringan sambil bersila, wajahnya pucat, Tie-kak Taysu sedang memberikan kepadanya pel berwarna merah, ketika Tie-kong Taysu tampak Cin Hong masuk kamar, wajahnya menunjukkan perasaan menyesal, kemudian ia memejamkan mata untuk mengatur pernapasan.

Tie-hui Taysu berjalan mendekati Tie-kak Taysu, tanyanya dengan perlahan.

"Bagaimana dengan anak kunci itu?"

"Aku sudah menggeledah badan murid penghianat itu, tapi anak kunCinya sudah tak ada lagi dibadannya"

Jawab Tie-kak Taysu sambil menghela napas.

"Apakah sudah dirampas oleh Tamu tidak diundang dari luar daerah?"

Tanya Tie-hui Taysu. Tie Kak Taysu menganggukkan kepala dan berkata.

"Kecuali dia sudah tidak ada orang lain hanya kalau benar ia yang mengambil anak kunci itu. bagaimana pula berani meninggalkan tanda dengan huruf Eng? Urusan ini benar-benar tidak habis dimengerti."

"Apakah ia sedang menantang Siao-lim-si?"

"Jlkalau benar begitu, apa alasannya? Menurut apa yang pinceng tahu, Tamu tidak diundang dari luar daerah itu agaknya bukan seorang yang bertindak tanpa dipikir.. .."

Cin Hong yang sejak tadi mendengarkan pembicaraan mereka, lantaS berkata.

"Tamu tidak diundang dari luar daerah ada dua orang, yang asli dan yang palsu, orang yang malam ini datang kemari mungkin yang palsu"

Tie-kak Taysu tiba-tiba berpaling mengawasi padanya dan bertanya dengan heran.

"Tamu tak diundang dari luar daerah ada yang palsu?"

Cin Hong menganggukan kepala dan berkata.

"Dia adalah anggota pelindung hukum golongan kalong, menyamar menjadi tamu tak diundang dari luar daerah demikian miripnya sehingga Ilmu pedangnya huruf Eng juga bisa menggunakan dengan baik"

"Mengapa ia perlu menyamar jadi Tamu tak diundang dari luar daerah?"

Bertanya Tie-hui Taysu heran-"Tentang itu aku tak tahu, biar bagaimana dia itu bukan orang baik"

Kata Cin Hong sambil menggelengkan kepala.

Tie-hui Taysu berpaling dan berkata kepada Suhengnya "Tadi pinceng melihat ada orang jalan malam yang masuk melalui atas genteng, tetapi sebentar saja sudah menghilang, mungkin dia"

Tie-kong Taysu yang sudah makan obat pel San-hoawan, dan setelah beristirahat sebentar. waktu itu sudah membuka mata dan berkata.

"Barang kali bukan, itu adalah seorang perempuan yang lain"

Begitu mendengar ucapan ketua Siau-lim-si Tie-hui. Tiekak Taysu tiba-tiba berpaling dan bertanya kepada ketuanya.

"Apakah ciangbunjin sudah lihat"

Tie-kong Taysu menggeleng-gelengkan kepala, berkata sambil tertawa getir.

"Tidak, sesaat ketika Ngo-beng turun tangan terhadapku, dengan tiba-tiba aku dengar suara seorang perempuan dari luar kamar yang menyampaikan peringatan kepadaku.

"ciangbunjin hati-hati Aku masih belum sempat memahami maksud peringatannya Ngo-beng sudah menyerang dengan Lo-han-ciang yang kuajarkan kepadanya,... hahaha...."

Tie-hui Taysu terkejut, tanyanya.

"Apakah ciangbunjin tahu siapa lie-sicu itu?"

"Tidak tahu, tapi dari suara agaknya lie-sicu itu masih sangat muda"

Menjawab Tie-kong Taysu.

Dua paderi tua itu pada terheran-heran, demikian pula Cin Hong, sebab seorang wanita berusia sangat muda ternyata sudah memiliki ilmu menyampalkan suara kedalam telinga didalam rimba persilatan.

sebetulnya jarang sekali ada, ia segera teringat pada diri Leng Bie Sian, mungkin hanya gadis itu yang memiliki kepandaian ilmu semaCam itu, akan tetapi sekarang ini ia mungkin sudah berada didamping suhunya, bagaimana bisa datang kemari?

Tie-kong Taysu angkat kepala memandang Cin Hong, kemudian berkata sambil menghela napas panjang.

"Siao-sicu pukulan yang pinceng terima ini sebetulnya sudah seharusnya ?"

"ciangbun Taysu tidak perlu sesalkan diri sendiri, dengan sebetulnya perbuatan khianat Ngo-beng suhu itu, jlkalau tidak melihatnya seCara kebetulan, aku juga tidak berani perCaya ia bisa melakukan perbuatan semaCam itu"

Berkata Cin Hong sambil tersenyum.

"Jlkalau siaosicu tidak menolak. nanti sesudah terang tanah, tujuh puluh dua jenis ilmu simpanan gereja Kami, siao-sicu boleh pilih salah satu yang siao-sicu sukai"

Berkata Tie-kong Taysu sambil menghela napas.

"Terima kasih atas keCintaan ciangbun Taysu, namun urusan ini aku tidak berani menerimanya, aku hanya mohon taysu mengijinkan aku keluar dari Sini dengan status sebagai murid It-hu Sianseng, itu saja sudah cukup "

"Pinceng merasa sangat malu terhadap siao-sicu, Sedangkan anak kunci emas berukiran huruf Liong itu, pinceng juga sudah berikan kepada orang tua senjata perak dari oey-san-pay."

"Tidak apa, itu memang benda milik oey San-pay, Sudah seharusnya kalau dikembalikan kepada pemiliknya "

Tie-kak taysu turut bicara sambil memandang wajah ketuanya "ciangbunjin, anak kunci berukiran harimau sudah hilang, sekarang bagaimana kita harus mencarinya kembali?"

"Benda sampiran, sudah hilang ya sudah saja"

Jawab Tiekong taysu sambil tersenyum.

Cin Hong diam-diam merasa geli sebab dianggapnya enam ketua partay itu mungkin sudah merundingkan soal yang hendak pergi merampas kakek gelandangan, maka anak kunci emas itu tidak dipandang penting lagi.

oleh karena para ketua partay dari Hoa-sanpai, Bu-tong dan Lam-hay sudah ada disitu, maka ia pikir tidak perlu pergi lagi kesana sedangkan ketua dari Khong-tong-pay tidak lama lagi mungkin bisa mendapat kabar tentang rencana golongan Kalong yang hendak mencuri anak kunci emas, dan setelah terang tanah ia pikir hendak kembali kerumah penjara rimba persilatan, disamping hendak menanyakan tentang wanita yang barnama Siu Khim yang mungkin adalah ibunya, juga akan melihat dengan cara bagaimana para ketua partay itu hendak menolong keluar turunan dewa persilatan-.

Diwaktu terang tanah, dengan diantar oleh ketua gereja siau-lim dan beberapa paderi yang berkedudukan tinggi, Cin Hong meninggalkan gereja Siau-lim Sie, dan pergi kerumah penjara rimba persilatan-Tadi malam digereja Siau-lim-sie ia tidak bisa tidur pulas, semakin dipikir ia semakin dalam kesannya bahwa perempuan yang bernama Siu Khim itu tentu adalah ibunya sendiri.

Kalau ia tanyakan kepada penguasa rumah penjara rimba persilatan, mungkin tidak mau diberitatahukan-Tetapi ia mendapat hak istimewa boleh berdiam dirumah penjara itu selama sepuluh hari lamanya, bahkan boleh berjalan sesukanya diseluruh rumah penjara.

Selagi masih menyusuri jalanan daerah pegunungan Siong San, ditepi sebuah sungai tiba-tiba tampak seorang perempuan muda berbaju putih yang bertubuh langsing sedang duduk dengan tangan memegang sepotong ranting kayu pohon untuk memainkan air disungai, dari belakang tampaknya seperti salah satu anggota dua belas putri golongan Kalong, yang dahulu pernah memikat paderi pengkhianat gereja Siau-lim-si yang dipanggilnya engkoh Beng.

Cin Hong mendadak berhenti, dalam hatinya berpikir.

"Bagus, siluman perempuan ini masih menunggui engkoh Bengnya disini. Ng hari ini biar bagaimana aku akan memberi hajaran padamu"

Ia berjalan indap-indap kebelakangnya, terdengar perempuan itu menggumam sendiri.

"Setan alas benar.. Kenapa sampai begini lama dia masih belum datang juga ? Besok sore sudah akan membuka pertemuan besar digunung ong ok-san, kalaupada waktunya aku tak dapat memberikan anak kunci emas berukiran huruf Houw itu, Ho-ong pasti akan sesalkan diriku...."

Cin Hong diam-diam terkejut tmendengar ucapan itu, dalam hati berpikir.

"Entah ada keperluan apa dengan golongan Kalong hendak mengadakan pertempuran digunung ong ok-san, Besok pagi aku sekalian kesana untuk melihat. Tapi bagaimana sekarang dengan siluman perempuan ini Kalau dibunuh mati dia, rasanya kurang tepat. Bagaimana aku boleh membunuh orang, terutama perempuan yang begini cantik....."

Lama ia bersangsi, tanpa disadari ia sudah mengeluarkan keluhan.

"Aiiii "

Perempuan berbaju putih itu, benar adalah perempuan yang disebut adik Eng.

ketika mendengar suara keluhan Cin Hong, bukan kepalang terkejutnya, ia lompat dan memutar tubuhnya, baru tahu bahwa yang berada dibelakang dirinya itu adalah pemuda yang dahulu pernah bertempur dengannya dikawah kaki gunung Tong San Wajahnya lalu berubah, dan berkata.

"Hayah Kiranya adalah kau....."

"Apa kau kaget sekali?"

Perempuan muda itu telah menenangkan pikirannya, lalu unjukkan senyumnya yang manis katanya sambil tersenyum.

"Ya, benar-benar manusia ini dimana saja bisa ketemu. Dahulu Sejak kita perpisahan di gunung oey-San, aku selalu pikir pasti akan berjumpa lagi dengan Kongcu, hari ini benar saja kita bertemu secara tak diduga-duga. Apakah selama ini kau baik-baik saja?"

Muka Cin Hong menjadi merah, katanya marah.

"Kau jangan mengoceh. Apa kau tak takut akan terguling dan terluka lagi hidungmu?"

"Hari ini kau tidak boleh demikian perlakukan aku lagi. Dahulu, aku harus menggunakan obat selama empat lima hari baru bisa sembuh seperti biasa,. dalam waktu beberapa hari aku hampir tidak berani keluar dari dalam kamar"

Berkata perempuan muda itu sambil menundukkan kepala, Cin Hong semakin marah, bentaknya.

"cis...Jikalau kau masih berpura-pura lagi, aku nanti benar-benar akan hajar kau sampai mampus Kau lihat saja nanti"

"Aku tak perCaya"

"Apa? Tidak perCaya?"

"Aku tak perCaya kau bisa bunuh mati aku"

"Apa kau kira aku ini ada seorang perempuan baik?"

"Sudah tentu aku adalah perempuan baik-baik, belum pernah sekalipun aku melakukan perbuatan jahat?"

"omong kosong Kalau begitu, aku sekarang hendak tanya padamu, sekarang kau duduk disini sedang menunggui siapa?"

"Tidak menunggu siapapun juga , aku duduk disini cuma buat menonton ikan-ikan yang sedang berenang"

"Pergi kau Kau telah memancing Ngo-beng Hwesio dan menyuruh dia mencuri anak kunci emas berukiran harimau dari tangan Tie-kong Taysu, apa kau kira aku tidak tahu perbuatanmu itu?"

Perempuan itu terkejut, hingga wajahnya pucat pasi, ia mundur selangkah dan berkata "Haaa Bagaimana kau tahu?"

"Sembilan hari berselang. kalian didalam kelenteng Kowtee-bio dibawah kaki gunung Kiu-hoa-san-... hehem, semua aku dengar"

"Juga melihat?"

Cin Hong meludai muka perempuan itu sambil menyemprot dengan kata-katanya.

"Pui"

Kemudian berkata.

"Siapa sudi menyaksikan perbuatanmu yang tidak tahu malu itu?"

Muka perempuan itu sedikitpun tak berubah jadi merah, hanya pelototkan matanya dan bertanya dengan heran.

"Jadi kau selanjutnya lantaS datang kegereja Siau-lim-si untuk menggagalkan urusanku?"

"Benar, bahkan aku masih akan hajar mampus kau siluman perempuan yang suka mencelakakan orang ini"

SepaSang mata perempuan itu berkedip-kedip. tiba-tiba mengucurkan air mata, dan kemudian berkata.

"Baik, aku yang ditugaSkan untuk merampas anak kunci berukiran harimau dari tangan ketua siao-limpay ini, memang suatu tugas yang berat dan sial, dengan susah payah baru dapat memanCing seorang paderi, tetapi akhirnya semua usaha itu sudah kau gagalkan, sekarang dengan cara bagaimana aku harus pulang untuk menjelaskan ini? ya Allah......."

Ia bicara sambil menangis dan membanting-banting kaki, dan akhirnya menangis meng-gerung2 seperti anak keciL Cin Hong merasa mendongkol tetapi juga jadi geli sendiri, kini nampak sikapnya yang menyedihkan demikian, ia juga tidak tega hati untuk membinasakannya, maka saat itu dengan terpaksa ia berkata "Kalau kau takut dihukum oleh pangcumu, kau kabur saja bukankah sudah cukup?"

Perempuan itu angkat kepala dan berkata dengan air mata terlinang-linang.

"Aku adalah seorang perempuan lemah, kau suruh aku kabur kemana?"

"Menurut pandanganku. kau sedikit juga tidak lemah, kau ingin kabur berapa jauh, boleh saja menurut kehendakmu"

Perempuan itu nampak berpikir, kemudian memesut air matanya dan berbalik tertawa, lalu ia berkata.

"Heh ucapanku seorang diri tadi, apakah kau juga dengar?"

"Kalau dengar, lalu mau apa?"

"Aku pikir hendak menurut usulmu tadi untuk kabur ketempat jauh. Sudikah kau menolong aku membawakan sebuah barang kegunung ong-ok-san untuk diberikan kepada enciku?"

"Siapa kah encimu itu?"

"Dia adalah perempuan yang dahulu bersama-sama pendekar berbaju biru Ie-kun mandi ditelaga Cui Sim-ouw, ia dengan aku adalah saudara sekandung"

"Kau akan mengantarkan barang apa?"

"Bukan barang berharga apa-apa, hanya sepotong sapu tangan ... ."

"Untuk apa?"

"Berikan kepadanya sebagai kenang-kenangan, sebab dengan kaburnya hari ini, mungkin kami bersaudara selama hidup ini sudah tidak bisa bertemu muka lagi"

Cin Hong mengerutkan alisnya samhil berpikir keras, lalu bertanya pula.

"BENARKAH kau hendak melepaskan diri dari golongan Kalong dengan sejujurnya?"

Perempuan itu menganggukkan kepala. Melihat Cin Hong tidak mau menunjukkan sikap perCaya penuh, maka ia lalu berlutut dihadapannya dan bersumpah.

"Tuhan Yang Maha Esa, aku Thia Ay Eng jikalau tidak melepaskan diri dari golongan Kalong, biarlah aku nanti akan mati disambar geledek"

Karena perempuan itu berani mengucapkan sumpah, maka Cin Hong mulai perCaya, katanya sambil menganggukan kepala.

"Baiklah, aku nanti akan antarkan barang darimu kepada encimu"

Perempuan itu mengeluarkan sehelai sapu tangan berwarna merah jambu, berjalan kehadapan Cin Hong, saputangan itu dikibarkan di hadapan hidungnya dan berkata sambil tertawa.

"Ambillah, terima kasih kuucapkan Sebelumnya kepadamu"

Cin Hong baru hendak menyambutnya, hidungnya tibatiba mencium bau sangat harum dan kemudian kepalanya merasa pening, hingga dalam hati terkejut, ia segera tahu sudah tertipu oleh akal busuk perempuan itu.

Ada niatnya untuk lompat mundur, namun semua persendian badannya sudah lemas semua, hingga tubuhnya terhuyung-huyung dan akhirnya jatuh ditanah.

Perempuan itu menengadah dan tertawa girang, selanjutnya dengan sikap bengis dan bertolak pinggang ia berkata sambil tertawa terkekeh-kekeh.

"Sekarang kau rupanya baru tahu betapa lihay nonamu Karena kau sudah menggagalkan urusanku, maka aku akan tangkap dan bawa kau kegunung ong-ok-san"

Kepala Cin Hong dirasakan berat, rasanya mengantuk sekali, tetapi pikirannya masih jernih, waktu itu sambil menggigit bibir ia memaki-maki.

"Perempuan siluman Perempuan rendah Perempuan kejam Perempuan tak tahu malu...."

"Kalau kau berani memaki lagi, aku nanti akan buka pakaianmu dan gantung kau diatas pohon"

Cin Hong yang mendengar hendak ditelanjangi saat itu ia terkejut hingga lantas jatuh pingsan-Perempuan itu tertawa girang, kemudian jongkok disamping Cin Hong, lalu mengulurkan tangan mengeluselus wajah Cin Hong, dan memuji ketampanan wajah pemuda itu.

la melongok kekanan kekiri, ketika melihat tidak ada orang, lalu menundukan kepala menciumi Cin Hong, pada akhirnya ia telah tempelkan mukanya dengan muka Cin Hong untuk memuaskan nafsu yang tertahan dalam dirinya, Pada saat itu, didalam sebuah rimba dekat situ, tiba-tiba muncul seorang wanita berbaju ungu yang berwajah buruk.

perempuan itu dengan kecepatan bagaikan kilat Sudah tiba di samping perempuan Siluman tadi, lalu mengulurkan tangannya dan menjambret bahu kanan perempuan siluman tadi, kemudian dibalikkan mukanya setelah itu lalu ditamparnya dua kali.

Ditampar secara tiba-tiba, sudah tentu perempuan Siluman itu terkejut dan kelabakan, sejenak setelah kepalanya dirasakan puyeng, baru berseru sambil pendelikan matanya.

"Aya Kau, Kau...."

Perempuan wajah buruk itu kembali menampar semakin kencang pada pipi kanan dan kiri perempuan Siluman itu.

Perempuan siluman itu sebetulnya hendak menangkis, tetapi sekujur badannya kesemutan tidak bisa bergerak.

sebab ketika bahu kanannya dijambret tadi.

tempat yang dijambret itu justru terletak dibagian jalan darah Kian kinhiat.

la Sudah tidak mempunyai tenaga untuk melawan, terpaksa menangis dan minta-minta ampun.

"Enciku yang baik. ampunilah adikmu. Kau memukul aku seperti ini, kalau gigiku rontok bagaimana?"

Perempuan wajah buruk itu menghentikan tangannya dan berkata dengan nada suara dingin.

"Kalian golongan Kalong besok akan mengadakan pertemuan digunung ong-ok-san hendak merundingkan urusan?"

"Aku tidak tahu...."

Berkata perempuan siluman itu sambil menangis. Perempuan wajah buruk itu kembali angkat tangannya hendak menampar lagi, perempuan siluman ketakutan setengah mati, maka lalu menjerit-jerit.

"Benar, aku hanya tahu sedikit Saja"

"Sedikit yang mana?"

"Pangcu kami ada mempunyai seorang permaisuri dan tiga selir, Satu diantaranya yang dipanggil Lin Kui Jin, kalau siang hari selalu sembunyikan diri dari pangcu tidak mau keluar. maka pangcu dengan menggunakan kesempatan mengadakan pertemuan, hendak mendekati dia."

"Mengapa kalau siang hari ia sembunylkan diri terhadap pangcu kamu?"

"sebab pangcu kami kalau siang hari adalah seorang lakilaki"

"Bohong"

"Benar aku tidak membohongimu"

"Bagaimana kalau Lin Kui Jin itu tidak menghadiri pertemuan itu?"

"Pangcu akan mengeluarkan perintah menangkap dan menghukum mati dia."

"Ini adalah satu acara sampiran dalam pertemuan besar itu. Bagaimana acara lainnya? Ada yang lebih penting?"

"Kita punya dua belas puteri besok harus menyerahkan anak kunsi emas..."

"Urusan ini toh juga tidak perlu mengadakan pertempuran besar? Kau sebetulnya mau bicara terus terang atau tidak?"

"Sudah tentu masih ada hal yang penting lainnya, tapi aku benar-benar tidak tahu sebab aku hanya seorang kecil saja dalam perkumpulan itu"

"Kalau begitu, orang yang akan menghadiri pertempuran besar itu semua berapa banyaknya?"

"Anggota perkumpulan yang berpangkat Tongcu keatas semua harus hadir, yang tidak datang akan diperlakukan sebagai pengkhianat. Maka itu, enciku yang baik, tolonglah kau bebaskan adikmu ini "

Perempuan wajah buruk itu mengeluarkan suara dari hidung.

kemudian menotok dua bagian jalan darah ditubuh perempuan siluman tadi lalu ditarik rambutnya diletakan ketempat rerumputan, setelah itu ditanah dekat dirinya menulis beberapa kata-kata, dan kemudian berjalan pergi sambil memondong Cin Hong ketepi sungai, Ia jalan dengan kaki timpang.

Dengan perlahan ia letakan Cin Hong di tepi sungai, seperti juga kelakuan perempuan siluman tadi, ia menengok kanan kiri dan ketika mengetahui benar-benar tidak ada orang lain, lalu membungkukan tubuhnya dan menciumi muka Cin Hong berulang kali, kemudian ia terjun kedalam sungai, kedua tangannya mengambil air, dan disiramkan kemuka Cin Hong, sehingga Cin Hong sudah bisa bergerakgerak ia baru kabur......

Cin Hong yang mukanya merasa dingin,, tak lama kemudian lantas sadar, ketika ia membuka mata, dapatkan dirinya rebah telentang ditepi sungai, ia lalu bangun dan mengawasi keadaan sekitarnya, dari situ ia menemukan perempuan siluman tadi rebah telentang ditanah rumputan sepasang matanya terbuka dan berputaran, namun tubuhnya tidak bisa bergerak.

sebab sudah tertotok oleh orang bagian jalan darahnya "Hei Apa sebetulnya yang telah terjadi?"

Demikian Cin Hong bertanya-tanya kepada dirinya sendiri.

la loncat kesamping perempuan siluman tadi.

Selagi hendak menanyakan apa sebabnya sampai terjadi Semua itu, tiba-tiba tampak didekat tubuh perempuan itu tulisan yang berbunyi "jalan darah peremouan siluman ini sudah tertotok.

dalam tiga hari terbuka sendiri.

GUnung ong-oksan sebaiknya jangan kau datangi, terlalu berbahaya"

Hanya itu saja, tulisan itu ditulis miring miring, seolaholah sengaja ditulis demikian hanya tidak disebutkan siapa yang menulisnya.

Cin Hong sangat terkejut ia tidak dapat menduga siapa orangnya yang menolong dirinya, waktu itu ia lalu menendang perempuan siluman tadi dan membentaknya.

"Hei Siapa orang itu tadi?"

Perempuan itu kedip-kedipkan matanya, menunjukan sikap takut dan minta dikasihani, mulutnya tidak bisa berbicara, murgkin jalan-darahnya kaku sudah ditotok.

ci Hong membungkukkan badan hendak membuka totokan jalan darahnya akan tetapi Ca menotok orang itu luar biasa anehnya, ia berusaha lama sekali tak berhasil membuka totokkannya, terpaksa sekali lagi berkata.

"Sekarang ucapan yang hendak kutanyakan padamu, kalau benar kau boleh kedipkan matamu, jlkalau tidak benar tak usah bergerak. kau harus menjawab dengan sejujurnya, jlkalau tidak.... jlkalau tidak aku nanti akan robek hidungmu hingga menjadi buruk, mengerti?"

La berdiam dulu sejenak baru mulai melontarkan pertanyaan.

"orang itu tadi apakah seorang pengemis tua yang satu tangannya membawa gulungan tikar rombeng?"

Sepasang mata wanita siluman itu terus melotot tidak dikedipkan. Cin Hong lalu bertanya lagi.

"Kalau begitu apakah seorang wanita yang berusia msih muda ?"

Wanita itu kedipkan matanya Sebagai tanda membenarkan pertanyaannya. Dalam hati Cin Hong lalu berpikir.

"Perempuan ini pasti adalah yang tadi malam di-gereja Siau-lim-si memperingatkan Tie-kong Taysu dengan mempergunakan ilmu menyampaikan suara kedalam telinga."

Maka ia lalu bertanya lagi.

"Kau kenal padanya atau tidak?"

Wanita itu diam saja tak mengedipkan matanja.

"Apakah dia itu cantik ?"

Wanita tadi masih diam saja tak bergerak.

"Apakah dia mengenakan pakaian warna ungu?"

Wanita siluman itu mengedipkan matanya dua kali.

"Diatas kepalanya mengenakan topi rumput Warna kuning yang sangat indah?"

Wanita itu kembali mengedipkan mata dua kali.

Cin Hong diam-diam menyebut nama Leng Bie Sian, dalam hati merasa sangat heran, tetapi ia juga tak berani perCaya sepenuhnya, kemudian otaknya dikerjakan dengan lekas dan didapatkanlah olehnya sebuah akal, maka ia lalu bertanya lagi.

"Apa dia itu seorang perempuan timpang yang jalannya terpincang-pincang?"

Perempuan itu kembali kedip-kedipkan matanya seolaholah mau berkata "Benar, ia adalah seorang perempuan timpang"

Cin Hong lantas marah, menendang perempuan itu hingga dua kali, kemudian berseru.

"Pui Kiranya kau bohong semuanya Kau lihat, akan kurobek hidungmu"

Dengan sikap marah ia mengambil sebuah batu hendak di gosokkan kehidung perempuan itu.Justru pada saat itu, dibelakang dirinya tiba-tiba terdengar suara orang tertawa geli, kemudian terdengar kata-katanya.

"Dia tidak membohongi kau, aku memang benar seoang perempuan timpang"

Cin Hong mendengar suara itu lalu berpaling, ketika matanya ditujukan ketempat di belakang dirinya, sesaat itu ia lantas menjadi terCengang.

Kiranya orang yang berdiri dibelakang dirinya, sesaat itu ia lantas menjadi terCengang.

Kiranya orang yang berdiri dibelakang dirinya itu bUkanlah Leng Bie Sian yang selalu dipikirinya itu, melainkan seorang wanita muda berpakaian warna ungu yang wajahnya sangat buruk.

wanita itu usianya kira-kira baru dua puluh tahunan, tetapi tatkala Cin Hong hendak menegasi lagi, perempuan itu sedang mengangkat tangan dan menarik turun kedok kulit manusia yang tadi berbentuk sangat burak.

dan kini tampaklah wajah cantik yang aslinya, dan dia itu bukan lain adalah seorang perempuan berwajah cantik bagaikan bidadari.

Wanita cantik itu sepasang matanya bening halus, tubuhnya langsing, kepalanya memakai topi rumput berwarna kuning, mengenakan gaun berwarna ungu.

Kesan pertama bagi orang yang melihatnya ialah sikapnya yang mencerminkan lemah lembut dan tampaknya sangat agung Tetapi di balik wajah yang cantik itu.

tampaknya diliputi oleh perasaan sedih.

Ketika menampak Cin Hong berpaling mengawasi dirinya, tangannya mementil mandolin yang dibawa ditangan lain hingga mengeluarkan suara merdu tetapi memilukan hati, setelah itu ia lalu berkata sambil tersenyum.

"Apa kau tak ingin tahu namaku?"

Wajah Cin Hong saat itu menjadi merah, katanya sambil memberi hormat.

"Nama nona yang mulia?"

"Lim Keng He "

Menjawab Wanita itu sambil tersenyum.

"Terima kasih atas bantuan nona Lim kepadaku tadi,"

Berkata pula Cin Hong sambil menyoja.

"Secara kebetulan saja, perlu apa Kongcu demikian merendahkan diri?"

Kata Lim Keng Hee sambil membalas hormat, Cin Hong mendengar ucapannya bahwa tadi secara kebetulan ia telah melihat dirinya dibuat mabuk oleh perempuan Siluman diam-diam juga terkejut, tanyanya pula.

"oh, apakah tadi malam yang masuk ke-gereja Siaolim Si adalah nona?"

Lim Keng Hee menggelengkan kepala dan berkata.

"Untuk apa aku pergi kegereja Siao lim-si. Jika aku ingin mensucikan diri sudah cukup untuk mencari biara"

Cin Hong tertawa getir, dalam hati berpikir, nona ini bicaranya ada sedikit aneh ternyata telah dapat memikirkan soal mensucikan diri segala. Lim Keng Hee berkata pula sambil tersenyum.

"Apakah juga perlu harus aku tanyakan dulu baru kau mau menyebutkan namamu?"

"Aku yang rendah bernama Cin Hong,"

Jawab Cin Hong sambil tertawa. Lim Keng Hee mengangguk-anggukkan kepala dan berkata seolah-olah pada dirinya sendiri.

"Usiaku lebih tua dari kau, kalau menjadi encimu barangkali toh tak ada keberatan bukan?"

Cin Hong bingung. sesaat ia bungkam tak tahu bagaimana harus menjawab. Lim Keng Hee tersenyum manis, katanya.

"Kau jangan Salah paham. Aku hanya sedang mengingat sesuatu hal, aku takut kau memikirkan yang bukanbukan...."

Kembali Cin Hong tercengang, dalam hati bertanyatanya kepada diri sendiri.

"Bagaimana aku bisa memikirkan yang bukan-bukan? Bicaranya nona ini benar-benar semakin lama kedengarannya semakin aneh"

Lim Keng Hee agaknya juga merasa bahwa ucapannya tadi agaknya terlalu menuruti emosinya sendiri, hingga saat itu wajahnya menjadi merah, dan berkata sambil menengadahkan kepalanya.

"Hei, kau ingin pergi ke gunung ong ok-san atau tidak?"

"Benar, bagaimana nona Lim tahu kalau aku hendak pergi ke gunung ong-ok-san?"

"Aku sudah dengar"

"oh"

Berkata Cin Hong, lalu menengok dan mengawasi perempuan siluman yang tengah menggeletak ditanah rumputan setelah itu ia berpaling dan menjura lagi kepada Lim Keng Hee Seraya berkata.

"Nona Lim. apa boleh aku mohon diri?"

"Terserah"

Jawab Lim Keng Hee sambil menganggukkan kepala dan tersenyum. Cin Hong lalu mengucapkan "Sampai ketemu lagi,"

Lantas berlalu, dibelakangrya terdengar suara gerakkan kaki. Ia lalu berpaling tampak perempuan itu berjalan terpincangpincang mengikuti dibelakangnya, hingga ia berhenti lagi dan bertanya.

"Apa nona Lim terganggu kakinya?"

Lim Keng Hee kembali menganggukkan kepala dan berkata sambil tersenyum.

"Tadi malam karena kurang hatihati sehingga terjatuh"

"Nona Lim hendak kemana?"

"Sama tujuan dengan kau .... kegunung ong-ok-san"

Cin Hong terperanjat, tanyanya dengan sikap terheranheran.

"Maap. boleh kah aku tahu siapa suhumu?"

Lim Keng Heejalan terus sambil mengenakan lagi kedok kulit manusianya, hingga kini berdiri berendeng dengan Cin Hong, katanya sambil tersenyum.

"Boleh, tetapi belum tentu aku bisa memberitahukan padamu terus terang"

"Mengapa kau mengenakan lagi kedok muka yang seburuk ini?"

"Aku suka diriku sendiri berubah buruk, aku pikir hendak supaya aKu berwajah buruk. mungkin aku bisa mendapat sedikit kebahagiaan-..."

Menjawab Lim Keng Hee hambar.

Dua orang itu berjalan berdampingan-Lim Keng Hee juga sudah mulai menceritakan riwayat hidup dirinya.

Tapi nada suaranya itu tenang dan hambar, seolah-olah sedang menceritakan kisah yang sedikitpun tidak ada hubungannya dengan dirinya sendiri.

Ternyata dia itu adalah penduduk kota Tiang-an, tempat tinggalnya dikampung yang bernama Ma-leng, sejak masih kanak-kanak sudah ditinggal mati oleh ibunya.

Ia pandai memainkan alat musik semacam mandolin, dalam sekolahan namanya sangat terkenal kemudian mengikuti ayahnya pergi mengembara, ayahnya itu berpindah-pindah dari satu kota kelain kota dan pangkatnya dari seorang kepala desa naik menjadi residen dalam jangka waktu enam tahun, Waktu itu ia sudah berusia sembilan belas tahun.

Pada musim panas dua tahun yang lalu, ayahnya telah menghukum rangket kepada anak seorang pembesar negeri yang merampok seorang gadis keluarga baik-baik, Tanpa memandang pemuda itu anaknya seorang pembesar negeri yang waktu itu besar sekali pengaruhnya, ia Dertindak seadil-adilnya.

sudah tentu hal mana menggembirakan dan memuaskan sekali hati rakyat Sehingga mendapat pujian oleh rakyatnya sebagai pembesar yang jujur dan berani bertindak tegas.

Tetapi justeru lantaran itu juga , sehingga membuat ayahnya kehilangan kedudukannya, oleh karenanya, sejak saat itu ayahnya telah menjadi sakit dan dalam perjalanannya pulang kekampung telah menutup mata, waktu itu sungguh kasihan sekali keadaannya sebab uang simpanan yang tidak seberapa jumlahnya sudah habis terpakai, terpaksa untuk mengubur jenazah ayahnya, ia lalu menjadi penyanyi didalam sebuah taman hiburanoleh karena ia pandai memainkan alat musik semacam mandolin itu, lagi pula wajahnya cantik dan pandai menyanyi, maka tidak berapa lama namanya sudah kesohor dan menggemparkan seluruh kota.

Tak kurang pula banyak pemuda-pemuda anak orang penggede pada berkunjung dan mendekatinya tetapi ia Sedikit-pun tidak tergerak hatinya, ia meng harap dapat mencari seorang pemuda jujur yang mau kawin dengannya.......

Akhirnya harapan itu telah terkabul ia dapat menemukan pemuda yang diidam-idamkan olehnya Dia adalah Seorang laki-laki gagah dan tampan berusia tiga puluh tahun lebih, tampaknya lelaki itu gagah tampan dan jujur, mereka terkenalan setengah bulan, mereka cocok satu sama lain, dan akhirnya lelaki itu telah menebus dirinya dengan menggunakan uang berjumlah besar, guna mengeluarkannya dari rumah hiburan-Setelah itu, ia baru tahu bahwa lelaki itu adalah seorang rimba persilatan yang memiliki kepandaian sangat tinggi, selanjutnya ia juga mulai mengajarkan ilmu silat kepadanya,., akan tetapi....

Lim Keng Hee bercerita sampai disitu, air mata mengalir bercucuran sehingga membasahi sepasang pipinya yang buruk.

Cin Hong terheran-heran dan bertanya.

"Kau yang berbahagia, mengapa sebaliknya malah menangis?"

"Benar aku bahagia..."

"Apakah kisah itu belum selesai?"

"Ng. Selamanya tidak akan selesai"

Menjawab Lim Keng Hee sambil menganggukkan kepala.

"Mengapa tidak diteruskan ?"

Lim Keng Hee meng geleng kan kepala dan berkata "Kalau diceritakan terus, aku tidak bisa berbicara lagi "

Cin Hong garuk-garuk kepaia, tanyanya.

"Dia siapa ?"

Lim Keng Hee menggelengkan Kepala tidak menjawab.

"Mengapa kau hendak memberitahukan kepadaku tentang ini?"

Bertanya pula Cin Hong sambil menghela napas.

"Aku tidak lihat bahwa kau adalah seorang pemuda dari golongan baik-baik maka aku tidak tahan untuk tidak menceritakan kesedihan dalam hatiku kepadamu. Kau tentunya tida akan mentertawakan aku. bukan."

Berkata Lim Keng Hee sedih.

"Mana bisa? Kalau begitu apa kau hendak pergi kegunung ong ok-san?"

"Mencari pengalaman. Dan kau?"

"Aku juga tidak ada urusan penting, Sekarang ini aku hendak pergi kerumah penjara rimba persilatan untuk menengok suhu. oleh karena sekalian jalan, maka hendak melihat golongan Kalong itu dalam pertemuan tersebut hendak melakukan kejahatan macam apa lagi?"

"Kalau begitu kita seperjalanan dan satu tujuan-Kau panggil saja aku Lim Toa-ci, dan aku akan panggil kau Cin Siaote. Maukah kau?"

"Baik."

Ucapan baik itu baru saja diucapkan Cin Hong. tiba-tiba tangan kanannya terasa ditarik olehnya, dalam hati terkejut, selagi hendak mengibas, terdengar suaranya yang perlahan tapi agak Cemas.

"Lihat, dua orang yang mendatangi dari sana itu mungkin adalah musuhmu "

Cin Hong tunjukan matanya ketempat yang ditunjuk.

Tampak olehnya didepan, dijalan raya ada dua pemuda berusia tiga puluh tahunan, telah berjalan Cepat mendatangi dengan berdampingan, mereka semua diatas punggungnya menyoreng pendang panjang yang satu wajahnya tirus putih, sikapnya menunjukkan seperti seorang dari golongan sesat, yang lain matanya sipit.

tubuhnya gemuk seperti babi.

Dua orang itu ternyata sama-sama memiliki kepandaian ilmu meringankan tubuh, hingga waktu berjalan tidak menimbulkan abu yang mengepul.

Cin Hong tidak kenal mereka, maka bertanya kepada Lim Keng Hee.

"Aku tak kenal mereka, Apa kau kenal?"

Lim Keng Hee menganggukkan kepala dan berkata.

"Ng.. Yang berwajah tirus dan putih itu adalah Toksiu cay Leng Kho dan yang gemuk itu adalah Siluman malam Tang Lok mereka adalah sepasang maling cabul yang doyan wanita"

Dahulu Cin Hong sebetulnya pernah melihat Tok siu cay ini dikota Hang-ciu, tetapi waktu itu ia sebagai seorang anggota dari golongan Kalong.

dan waktu itu mengenakan pakaian seperti Kalong dan mengenakan kerudung muka warna hitam, maka tidak mengenal wajah aslinya, kini setelah mendengar dia adalah Tok Siu-cay yang namanya terkenal sebagai maling cabul yang gemar paras cantik, maka timbullah perasaan benCinya, diam-diam mengeluarkan kipaS dari dalam sakunya.

Tok siu-cay dan siluman malam sebentar saja sudah tiba didepan Cin Hong berdua, ketika kedua pihak berpapasan.

Tok sui-cay menunjukkan sikap seolah-olah kenal hingga ia mengawasi Cin Hong sejenak.

sebaliknya dengan Siluman malam, telah dikejutkan oleh wajah buruk dari Lim Keng Hee, maka segera berpaling dan meludah, seolah-olah ketakutan menyaksikan setan perempuan hingga buru-buru hendak melanjutkan lagi perjalanannya.

Cin Hong mengira mereka mungkin hendak menyambut Siluman perempuan yang dipanggil adik Eng itu, dan jikalau mereka menemukan perempuan itu dalam keadaan tidak berdaya, perjalanannya kegunung ong ok-san itu sudah tentu juga tidak bisa dilanjutkan, oleh karena itu maka ia lalu berpaling dan memanggil.

"Tok siu-cay, apakah kau sudah tidak mengenali aku?"

Tok siu-cay dan siluman malam merandek dan perlahanlahan memutar tubuh mereka, mereka menunjukkan sikap heran dan mengawasi Cin Hong sebentar, kemudian ia berkata seperti orang baru bangun tidur.

"ouw.. Pantaslah kalau rasa-rasanya aku seperti sudah pernah lihat mukamu. Kau muridnya To Lok Thianbukan? IHe-heh, kau berani membangkitkan ingatanku, tampaknya nasibmu memang sudah begitu?"

Cin Hong berjalan menghampiri dan berkata sambil tertawa.

"Apakah kau ingin membunuh aku?"

"Tidak... akan kutangkap kau hidup,hidup rasanya harganya lebih besar,"

Berkata Tok siu-cay sambil tertawa besar.

"Kalau begitu kau ternyata lebih baik dari padaku, sebab aku sebaliknya mau membunuh mu disini"

Berkata Cin Hong sambii tersenyum. Tok siu-cay menghunus pedangnya, lalu berpaling dan berkata kepada kawannya si Siluman malam.

"Lo Tang kau bereskan yang perempuan itu"

Siluman malam menggeleng-gelengkan kepala dan berkata dengan tak senang.

"Tidat ada artinya Lihat saja sudah bikin aku mau muntah"

Tok siu-cay tertawa terbahak-bahak kemudian berkata "Lo Tang, kau masih anggap dirimu adalah seorang Kang-ouw kawakan, mengapa seorang yang mengenakan kedok kuiit manusia saja masih mengenali?"

Orang she Tang itu terkejut, ia mengamat-amati wajah Lim Keng Hee sebentar, tiba-tiba tertawa Cekikikan sendiri, dan lalu menghampiri padanya.

Cin Hong yang menyaksikan sikap tengik dari orang she Tang itu, timbul hawa amarahnya, lalu memutar tubuh menyambutnya sambil membentak.

"Maling cabul.. Aku bereskan dulu kau sama juga "

Sebelum bergerak.

tiba-tiba dihadapan matanya tampak berkelebat sesosok bayangan orang, Lim Keng Hee sudah berada didepannya menghadapi siluman yang gemuk itu kemudian berpaling dan berkata sambil tertawa.

"Cin siaote, kau bunuhlah Tok siu-cay itu, biar aku yang bereskan siluman malam ini, lihat siapa yang lebib dulu berhasil"

Cin Hong masih belum tahu sampai berapa tinggi kepandaian ilmu silat Lim Keng Hee, ia berkata dengan penuh perhatian.

"Apakah Lim-toaci sanggup?"

Lim Keng Hee tidak menjawab, ia mendekati siluman malam, kemudian menyerbu dengan senjatanya yang aneh ialah alat musik serupa mandolin itu, gerakannya itu perlahan dan agaknya biasa saja, diluar dugaan siluman malam itu telah dibuatnya sangat repot, sehingga dengan menggunakan berbagai gerak tipu dan Cara baru berhasii melepaskan diri dari ancaman senjata seperti mandolin itu, sedangkan mulutnya mengeluarkan suara.

"Eh,"

Akan tetapi ia adalah seorang yang namanya sangat terkenal digolongan hitam, dalam hidupnya juga sudah mengalami entah berapa banyak pertempuran.

Seorang seperti ia, dengan cara mudah sekali satu kali diserang sudah harus menghadapi kerepotan seperti itu, ini adalah pengalaman yang pertama kali baginya, maka ia tahu bahwa hari ini ia telah ketemu dengan seorang lawan yang tangguh dan menakutkan, ia tidak berani berlaku ayal, maka secepat kilat sudah menghunus pedangnya untuk melayani Lim Keng IHee dengan sepenuh tenaga.

Cin Hong juga tidak menduga kepandaian ilmu silat Lim Keng Hee ternyata demikian tingginya, maka dalam hati diam-diam juga terkejut, disamping itu juga timbulah timbullah semangatnya untuk menjatuhkan lawannya lekaslekas lebih dahulu, maka jalannya pertempurannya juga Cepat, dengan senjata kipasnya, ia menyerang Tok siu-cay dengan menggunakan gerak tipu yang pertama dalam ilmu kipasnya.

Sejak ia menemukan kitab ilmu kipas itu, baru menggunakan dua kali saja, setiap kali dalam satu jurus sudah berhasil mengenakan lawannya.

oleh karena itu.

maka kepercayaannya kepada ilmu kipasnya sendiri semakin tebal.

Kini ia sudah bertekad hendak membinasakan Tok siu-cay, Sudah tentu menggunakan ilmunya lebih hebat, ia anggap bahwa pada kali ini pasti akan dapat membinasakan lawannya lebih dulu dari Lim Keng IHee.

maka begitu kipasnya digerakan, dalam hati diam-diam me rasa girang, akan tetapi pada saat kipasnya digerakkan, Tok siu-cay agaknya sudah tahu bahwa ilmu kipasnya itu sulit untuk dilawan, maka secepat kilat tubuhnya menengadah kebelakang, bersamaan dengan itu ia menendang perut Cin Hong dengan kaki kanannya Tindakan Tok siu-cay itu sesungguhnya diluar dugaan Cin Hong oleh karena dalam keadaaa biasa kedua pihak baru bergebrak.

tidak ada yang menggunakan siasat semacam itu, yang seolah-olah hendak hancur atau mati bersama-sama, maka itu ketika Tok-siu-cay dalam keadaan terkejut serangannya tadi sudah mengenakan tempat kosong sedangkan tendangan kaki musuhnya sudah hampir mencapai keperutnya sendiri bagaimanapun juga sudah sulit sekali baginya untuk dapat mengelak.

Dalam keadaan demikian bukan kepalang terkejutnya Cin Hong.

Sambil mengeluh ia pejamkan mata untuk menantikan kematiannya .

Diluar dugaannya ia menunggu lama tetapi tidak ada gerakan apa-apa dari Tok-siu-cay ketika ia membuka mata untuk melihatnya tampak Tok-siu-cay sudah rebah celentang dengan sepasang mata melotot ternyata sudah tidak bernafas lagi.

Kejadian itu sangat aneh, maka ia lalu mengeluarkan suara terkejut dan mundur lima enam langkah.

Disamping itu, ia juga berpaling untuk menengok kearah Lim Keng Hee dan siluman malam itu juga sudah berakhir, yang tersebut belakangan ini keadaannya sama juga dengan Tok-siu-cay, rebah celentang ditanah dalam keadaan tidak bernyawa, sedang Lim Keng Hee saat itu sedang membongkokkan badan untuk mencabut sebuah jarum halus berwarna hitam dari tengah-tengah dada siluman malam yang gemuk itu.

Karena tangannya mengenakan sarung kulit maka setelah mencabut jarum halus itu lalu ditancapkan lagi kedalam senjata mandolinnya barulah menghampiri Tok siu-cay dan mencabut jarum serupa tadi dari tubuh Tok siucay yang kemudian ditancapkan lagi kedalam mandolinnya, setelah itu baru menghampiri Cin Hong dan berkata sambil bersenyum berseri-seri.

"Cin siaote, kematian dua orang maling cabul ini sudah seharusnya bukan? Dan kau tentunya toh tidak akan anggap aku ini terlalu kejam, bukan?"

Cin Hong sesaat berdiri terCengang barulah berkata.

"Lim-toaci.... kepandaian ilmu silatmu hebat sekali"

Lim Keng Hee membuka sarung tangannya dimasukkan kedalam kantongnya, kemudian berkata sambil tertawa.

"Kepandaian ilmu silatku tidak lebih tinggi dirimu, hanya aku ada mempunyai benda ini"

"Apakah mandolin itu bisa mengeluarkan senjata rahasia?"

Lim Keng Hee mengangukkan kepala dan berkata sambil tertawa.

"Ng, alat musik ini dapat mengeluarkan dua jenis senjata rahasia, yang ada racunnya dan yang tidak beracun"

Dari keadaan tubuh Tok Siu-cay dan siluman malam itu, Cin Hong tahu bahwa jarum yang digunakan oleh Lim Keng Hee tadi sudah pasti adalah senjata rahasia yang sangat berbisa.

Dengan sikap termangu-mangu ia memandang Lim Keng Hee, ia baru merasa bahwa perempuan dihadapannya ini ternyata adalah perempuan misteri yang kepandaiannya sesungguhnya sukar dijajaki tingginya.

Lim Keng Hee tertawa dan berkata.

"Kau jangan mengawasi aku begitu. sekarang kau bukalah pakaian Tok siu-cay dan tanda anggotanya serta semua barang-barangnya jangan lupa juga pedang panjangnya itu tidak boleh kau buang ..."

"Perlu apa mengambil barangnya?"

Tanya Cin Hong heran.

"Bukankah kau hendak pergi kegunung ong ok-san? Aku pikir sewaktu orang-orang golongan Kalong itu mengadakan pertemuan besar, mungkin semua mengenakan pakaian Kalongnya dan mukanya memakai kerudung hitam, jika kau turut hadir dengan kedudukan sebagai Tok Siu-cay, bukankah itu lebih baik?"

Cin Hong sangat girang, segera turun tangan membuka pakaian Tok siu-cay dan barang-barangnya juga diambil, dari dalam sakunya ia menemukan sebuah plat kuningan, diatas plat itu diukir dengan kata-kata "Anggota golongan Kalong Hitam nomor satu".

Sungguh bebat.

Ternyata Tok siu-cay ini merupakan anggota golongan Kalong yang berkedudukan hanya dibawah Tongcu saja.

Lim Keng Hee mengeluarkan sebuah botol kecil berwarna hitam.

lalu dituangkan di atas dua bangkai orang tadi, barang cair warna hitam menyiram kedua bangkai tadi, dalam waktu tidak lama, dua orang jahat yang namanya menggetarkan rimba persilatan dalam sekejap sudah berubah menjadi cairan kuning dan hilang kedalam tanah.

Cin Hong yang menyaksikan itu semua bukan kepalang terkejutnya, dia benar-benar hampir tidak mau perCaya kepada penglihatannya sendiri, bahwa seorang perempuan berusia demikian muda ternyata adalah seorang ahli dalam melakukan pembunuhan-Lim Keng Hee mengawasi kepadanya sejenak kemudian berkata sambil tertawa.

"PerCaya atau tidak terserah padamu, ini adalah untuk pertama kalinya aku membinasakan dua orang, aku sendiri juga merasa heran, mengapa dapat melakukan demikian gegabah?"

Cin Hong melihat sikap Lim Keng Hee itu yang penuh kejujuran, maka lalu berkata sambil menganggukanggukkan kepala.

"Aku perCaya padamu, Lim Toaci"

Lim Keng Hee diam dan mengawasi padanya sekian lama. tiba-tiba menundukkan kepala dan berkata dengan Suara gemetaran.

"Cin Siaote, aku menyesal, tidak bisa ikut padamu kegunung ong ok-san"

Sehabis berkata demikian, lalu memutar tubuh dan berlalu dengan Cepatnya, ia bergerak demikian gesit, hingga dalan sekejap mata sudah berada sejauh sepuluh tombak lebih.

Cin Hong terheran-heran dan tidak mengerti maksudnya, ia mengejar beberapa langkah sambil memanggil-manggiu "Lim Toaci Lim Toaci Kau kenapa?"

Tetapi Lim Keng Hee sudah menghilang ke dalam rimba lebat.

Diatas gunung ong ok-San, dipuncak yang dinamakan ciat-thian-than, hari itu tiba-tiba tampak kira-kira seraus orang yang semuanya mengenakan pakaian seperti Kalong dan memakai kerudung muka hitam dan putih, kalau mau dikata sebenarnya, mereka itu adalah lebih mirip kalau disebut sebagai binatang Kalong, sebab pakaian mereka semua bersayap lebar mirip Kalong, dan kepalanya mengenakan kerudung seperti kepala tikus, sehingga bentuk mereka itu tidak ubahnya bagaikan binatang Kalong saja.

orang-orang seperti Kalong itu terbagi dalam warna hitam danputih, mereka berkumpul di sebuah tanah datar di luar goa Hek-Liong-tong, dari pembicaraan mereka dapat dibedakan bahwa orang-orang yang mengenakan pakaian Kalong berwaroa hitam semua adalah lelaki.

dan yang mengenakan warna putih semua adalah perempuan-Mereka pada berdiri menghadap keselatan, ternyata disitu ada dua orang yang diikat diatas dua buah tiang dalam keadaan telanjang bagian atasnya, dua orang itu satu lelaki tua, yang satu lagi pemuda.

Wajah dua orang itu semua menunjukkan sikapnya yang marah, dua pasang mata mendelik menakutkan-Dari dalam pembicara an mereka, dapat diketahui bahwa orang tua itu adalah orang tua senjata perak Cu Giok Tian dan dari partay oey-san, sedang yang muda adalah murid golongan biasa dari partaiBu-tong, yang bernama Ma Liong Po, kabarnya Cu Giok Tian tadi malam tertangkap oleh anggota pelindung hukum golongan kalong lm Liat Hong, tetapi setelah digeledah seluruh badannya tidak dapat menemukan anak kunci emas berukiran huruf Liong, maka Im Liat Hong mencurigai bahwa anak kunci itu sudah ditelan oleh Cu Giok Tian, dengan demikian, maka lantas ditangkap hidup,hidup dan dibawa kemari untuk diselesaikan lebih jauh....

Sedangkan pemuda yang bernama Ma-Liong-po itu ialah salah seorang anggota partai Bu-tong golongan muda yang dipikat oleh salah seorang dari dua belas putri golongan Kalong, tetapi kemudian pemuda itu setelah mengetahui maksud perempuan siluman yang hendak memperalat dirinya untuk merampas anak kunci emas berukiran huruf monyet ditangan ketuanya, lantas meninggalkan perempuan jahat itu akhirnya juga tertangkap kembali dan dibawa kegunung ini.

Bagaimana Caranya mereka hendak membebaskan dua orang itu, ini adalah merupakan salah Satu acara dalam pertemuan besar golongan Kalong hari ini.

Pada saat itu.

selagi orang-orang sedang riuh membicarakan soal itu.

dari dalam goa Hek-Liong-tong tiba-tiba tampak berjalan keluar tiga orang berpakaian merah.

Yang berdiri ditengah-tengah adalah seorang tua berusia sudah sekitar sembilan puluh lebih, rambutnya putih seluruhnya, namun wajahnya menunjukkan ia seorang kejam, dia adalah anggota pelindung hukum golongan Kalong yang dinamakan Lam-khek sin-kun Im Liat Hong.

Dua orang yang berada dikedua sisinya adalah sepasang suami isteri dari golongan Lo-hu-pay dahulu, mereka suami istri juga mengenakan pakaian seperti Kalong berwarna merah, hanya diwajah mereka juga sama keadaannya seperti dengan Im Liat Hong yang tidak mengenakan kerudung.

Ketika tiga orang itu keluar dari goa Hek liong-tong, Semua anggota golongan Kalong lantas diam, bahkan masing-masing pada berdiri berbaris, memecah menjadi dua kelompok.

Lam-khek sin-kun Im Liat Hong menunggu setelah mereka berdiri, baru membuka suara berkata.

"Atas perintah pangcu sekarang kuperkenalkan lebih dulu dengan ketua Tongcu golongan Kita....."

Ia menunjuk Kha Gee San yang berada disamping kanannya.

"Ini adalah Tongcu Heksbok-tong yang baru diangkat oleh Pangcu, Kha Gee San yang mempunyai nama julukan binatang Kie-lin merah."

Kembali menunjuk Pa cap Nio yang berdiri disebelah kirinya.

"Dan in adalah Tongcu Pek-hok-tong Pa cap Nio......."

Ia berhenti sebentar, selanjutnya berkata lagi.

"Kamu sekalian mulai hari ini, harus menurut dan mentaati perintah kedua Tongcu ini,sekarang kedua tongcu kita akan mulai melakukan absen, kedua Tongcu akan menyebutkan nomor anggotanya, kamu harus menyebutkan sendiri nama masing-masing"

Sebabis berkata demikian, ia menyapu kepada semua anggotanya sejenak. lalu berjalan masuk kedalam goa. Sepasang Suami istri dari golongan Lo-hu masingmasing mengeluarkan se

Jilid buku absen. lalu berjalan kehadapan anak buahnya.

"Apakah Hu Tongcu ada?"

Dari golongan Kalong hitam tiada seorang yang menjawab.

Satu sama lain hanya saling berpandangan.

Tetapi itu sebetulnya juga tidak ada gunanya, sebab semuanya mengenakan kerudung muka, siapapun tidak dapat melihat wajah masing-masing.

Kha Gee San mengerutkan alisnya, kembali ia berkata sambil tertawa dingin.

"Mungkin aku memanggil terlalu merendahkan diri... anggota golongan Kaloog hitam nomor satu "

Dari barisan Kalong hitam segera terdengar suara orang menyahut.

"Ada, Leng Kho disini"

Kha Gee San mengawasi orang itu, kemudian berkata sambil tertawa dingin.

"Mengapa tidak jalan kemari?"

Seorang dari barisan Kalong hitam berjalan keluar dan memberi hormat kepadanya. Kha Gee San dengan sinar mata yang tajam mengawasi padanya sejenak, setelah itu ia kata sambil tersenyum.

"Kau orang she Leng jikalau ada perasaan kurang puas boleh ajukan saja kepada pangcu, aku tak percaya kau lupa dengan kedudukan sebagai Hu Tongcu"

Tok-siu-cay Leng Kho menjawab sambil memberi hormat.

"Tongcu harap jangan marah, aku yang rendah oleh karena tadi agak meleng sehingga tidak dengar, harap Tongcu maafkan"

Kha Gee San hanya mengeluarkan suara "oh"

Begitu saja, matanya kembali ditujukan kepada buku absennya dan memanggil lagi dengan suara nyaring.

"Anggota Kalong hitam nomor dua."

Dari barisan Kalong hitam terdengar menyahut.

"Ada, Yu Phian Peng"

Kha Gee San memandangnya sebantar, kemudian memanggilnya lagi anggota nomor tiga dan setelah itu berturut-turut nomor empat dan selanjutnya.

Tapi sewaktu dia menyebut nomor empat, tiada orang yang menyahut.

Kha Gee San merasa tidak senang, lalu bertanya kepada Tok-siu-cay Leng Kho.

"Aku dengan kabar bahwa anggota nomot empat siluman malam Tan Lok dengan kau Hu Tongcu pergi bersama2 kegunung Siong-san untuk menyambut putri nomor tujuh, apa kalian terus berpencaran ?"

Tok-siu-cay berpikir dulu, lalu baru menjawab.

"Ya, Lo Tang hingga sekarang belum kembali, mungkin menemukan kejadian diluar dugaan-....."

Kha Gee San lalu memberi tanda diatas nama anggota nomor empat, kemudian melanjutkan lagi. Tak lama kemudian, Pa cap Nio berjalan menghampiri dan berkata.

"Mengapa orang ku kurang tujuh belas jiwa? Apa artinya ini?"

"Barang kali sedang diutus keluar untuk bertugas"

Menjawab suaminya.

"Tidak. tadi sewaktu Touw Kui-hui menyerahkan buku ini kepadaku, pernah berkata bahwa dua belas putri anggota golongan kalong putih dan tiga puluh delapan pocu semua akan datang hadir. akan tetapi waktunya sekarang ini telah tiba, bagaimana masih bisa kurang tujuh belas orang ?"

"Ini aku tidak tahu, asalkan kau laporkan siapa yang tidak hadir, bukankah sudah Cukup?"

Menjawab sang suami sambil angkat pundak.

Pa cap Nio menghela napas, lalu berjalan kembali dan masuk kedalam goa Hak-Liong-tong.

Tak lama kemudian dari dalam goa itu berjalan serombongan orang.

Yang pertama-tama keluar adalah Pa Cap Nio, kemudian anggota pelindung hukum Im Liat Hong, setelah itu adalah anggota pelindung hukum juga , tamu tidak diundang dari luar daerah, Satupersatu selanjutnya lagi ialah Liu Kui-pin, To Kong-hui dan akhirnya seorang perempuan setengah umur yang mengenakan pakaian warna emas.

Perempuan setengah umur berpakaian warna emas itu jelas adalah permaisuri Ho ong itu Jie Hiang Hu, dari wajahnya kelihatan seperti sudah berusia empat puluh tahunan, tetapi waktu itu memakai bedak dan gincu begitu medok, hanya dari tampangnya tampak ia itu seorang perempuan galak dan kejam, begitu dilihat sudah bisa diketahui bukanlah perempuan baik-baik.

Se Waktu ia berjalan keluar dari dalam goa, sudah menunjukkan sikapnya marah-marah sedang mulutnya nyerocos mengeluarkan kata-kata yang tak enak didengar.

"Dia selalu tergila-gila kepada barang buruk itu, nanti kalau timbul hawa amarahku, biarlah kubinasakan padanya...."

To Kui-hui yang mendengar ucapan itu lalu berpaling dan menyambungnya.

"Permaisuri benar, siao-moay juga merasa bahwa hati perempuan busuk itu sudah lama tidak ada dari golongan kita, lebih cepat kita singkirkan dia lebih baik,jangan sampai menimbulkan hal-hal yang tidak dlinginkan "

Sang permaisuri menganggukkan kepala dan berkata sambil tertawa dingin.

"Kalian tunggu dan lihat saja nanti."

Lima orang itu tiba didepan batu sembahyang, lantas berdiri kekanan kiri.

Sepasang Suami istri partay Lo-hu telah membawa anggota golongan Kalong putih dan hitam berdiri berbaris didua sisi meja sembahyang , seolah-olah hendak menyambut kedatangan raja.

Tak lama kemudian, didalam goa Hek-liong-tong tibatiba terdengar suara musik mengalun kemudian dari dalam tampak berjalan keluar seorang lelaki memakai pakaian warna emas dan seorang perempuan cantik mengenakan pakaian warna perak.

dihadapan mereka ada dua perempuan berpakaian seperti pelayan istana, masingmasing memegang kipas sutera.

Lelak berpakaian warna emas usianya kira-kira tiga puluh lima tahun, wajahnya putih bersih, namun tampak sangat dingin.

Seperti wajah orang mati.

Dia bukan lain dari pada Ho ong Jie Hlong Hu.

juga dengan nama lain Jie Biauw Kow, dan sekarang menjadi pangcu golongan Kalong.

Perempuan berpakaian warna perak usianya kira-kira dua puluh satu tahunan, parasnva cantik namun waktu itu tampak diliputi oleh rasa sedih, bahkan masih tampak tanda air mata,jelas tadi pernah habis menangis sedih.

Perempuan berpakaian baju perak itu begitu baru muncul.

telah membuat Tok-siu-cay Leng Kho yang berdiri dibarisan golongan Kalong hitam berjengit lantaran terkejut hampir ia menjerit.

Apa sebabnya ?

Kiranya, perempuan cantik berpakaian warna perak itu adalah perempuan berpakaian UngU yang menyebut diri sebagai Lim Keng Hee yang kemarin dibawah kaki gunung Siong-san unjuk diri dan pernah menolong diri Cin Hong.

Pantas kemarin sikapnya sangat misteri, ternyata dia adalah salah satu dari tiga selir pangcu golongan Kalong yang bernama Lim Hujin, pantas kepandaian ilmu silatnya demikian tinggi dan pantas ketika ia menceritakan kisahnya waktu ditolong keluar oleh seorang pemuda dari rumah hiburan, sudah tidak tahan menahan rasa sedihnya dan mengucurkan air mata.....

Tok-siu-cay Leng Kho yang sebetulnya adalah Cin Hong sendiri, menghela napas perlahan, ia menundukkan kepala tidak berani melihat wajah sedih perempuan itu lagi.

Pangcu golongan Kalong dan Lim Hujin berjalan berdampingan kedepan batu sembahyang, Sang Pangcu seorang diri jalan naik terus keatas tangga batu, duduk disebuah kursi emas yang sudah disediakan diatas batu, dua pelayan perempuan juga mengikutinya sambil terus mengipasi dirinya.

suasana disitu sesaat tampak sunyi senyap.

Hek Tongcu Kha Gee San lalu maju beberapa langkah dan berlutut untuk melaporkan bahwa anggota kalong hitam yang jumlah seorang ialah anggota nomor empat Tang Lok yang tidak datang, kemarin diutus pergi kegunung Siong-san untuk menyambut putri ketujuh, entah apa sebabnya belum kembali.

Pangcu yang mendengar laporan itu hanya menganggukkan kepala, kemudian memerintahkan Tongcu itu mengundurkan diri.

Setelah itu ada giliran Tongcu golongan Kalong putih ialah Pa cap Nio yang maju memberi lapor bahwa anggota dalam golongannya semua berjumlah tiga puluh tiga orang, ada tujuh belas yang belum datang, Satu adalah puteri ketujuh Thia Ay Eng.

yang lainnya semua adalah Tecu berbagai daerah, apa sebab mereka tidak datang, belum diketahui olehnya.

Pangcu hanya mengeluarkan suara dari hidung, sepasang matanya memancarkan sinar tajam, setelah itu ia perlahanlahan berpaling dan bertanya kepada tamu tak diundang dari luar daerah yang berdiri dibarisan kanan-"Yo Hok Hoat bagaimana pandanganmu dalam urusan ini?"

Tamu tak diundang dari luar daerah itu menjawab sambil bungkukkan badan.

"Urusan ini terjadinya diluar dugaan semua orang, sebelumnya juga tidak ada tanda apa-apa, hamba tidak berani menduga sembarangan-..."

Kembali pangcu bertanya kepada Im Liat Hong yang berdiri disebelah kiri.

"Dan bagaimana dengan pandangan cho Hok-hoat?"

IM Liat Hong menjawab juga sambil membungkukkan badan.

"Hamba juga tidak dapat menduga, tetapi hamba percaya mereka tidak berani tidak datang tanpa sebab"

Pangcu menganggukkan kepala dan berpikir sekian lama, kemudian berpaling dan bertanya. kepada Pa cap Nio.

"Golongan kita berdiri lama, hingga sekarang hanya mempunyai cabang dilima puluh dua tempat, enam belas Pocu yang tidak hadir, dari daerah-daerah mana saja?"

"Dari daerah An-hui. Ho-lam dan ouw-pak"

Menjawab Pa cap Nio.

"Apakah dari tiga propinsi itu tidak seorangpun yang datang?"

Bertanya pula sang pangcu.

"Ya, mungkin mereka mnegambil tindakan serupa.....lari ikut orang lain"

Jawab Pa Cap Nio.

"Ikut siapa?"

Tanya Pangcu sambil tertawa dingin.

"Itu hanya dugaan saja. mungkin mereka sudah bosan dengan kehidupan dunia, hingga masing-masing mencari lelaki lain."

Sepasang mata pangcu terbelalak kemudian membentak.

"Itu hanya kau mengoceh sendiri?"

Pa Cap Nio terkejut.

dan buru-buru menganggukkan kepala minta maaf.

Pangcu memerintahkan Pa Cap Nio undurkan diri, kemudian memerintahkan dua belas putri menyerahkan anak kunci emas yang sudah didapatkan.

Pa Cap Nio kembali kerombongannya, lalu dari buku absen membayangkan dan memanggil orang-orang yang tersebut namanya.

"Putri pertama Kim Tiap Hoa, yang ditugaskan untuk mengambil anak kunci yang berukiran huruf tikus dari partay Thian-shia-pay, sudah berhasil mendapatkan atau tidak?"

Dari rombongan Kalong putih terdengar suara sahutan, kemudian berjalan keluar seorang anggotanya kedepan meja sembahyang, dari dalam sakunya mengeluarkan anak kunci emas.

diletakkan keatas meja setelah itu mengundurkan diri lagi.

Pa cap Nio menyebutkan pula nama-nama selanjutnya.

"Putri kedua. Ciu wanjie yang ditugaskan untuk mengambil anak kunci berukiran huruf kerbau dari partay Ngo-bie, sudah dapat atau belum?"

Dari rombongan Kalong putih terdengar suara orang menyahut, kembali tampak seorang keluar sambil menyerahkan anak kunci emaS di atas meja dan setelah itu undurkan diri.

Dengan demikian satu demi satu dipanggilnya menurut urutan nomor.........

Dari dua belas anak kunci emas ini, hanya anak kunci yang didalam tangan para ketua Siao-lim, Bu -tong dan oeysan, yang belum berhasil diketemukan.

Kecuali putri ketujuh Thia Ay Eng yang belum datang, putri-putri yang lainnya tampak berlutut dihadapan meja pangcunya untuk menantikan hukumannya.

Mereka semua bergiliran dan ketakutan setengah mati.

Pangcu setelah menerima delapan buah anak kunci, kemudian bertanya kepada tiga putri sambil tertawa dingin.

"Coba kalian ceritakan kenapa sampai tak bisa jalankan tugas itu?"

Putri nomor empat Tio Kui Hong dengan tubuh dan suara gemetaran menjawab.

"harap pangcu maafkan, pemuda yang bernama Ma Liong Po itu terlalu keras adatnya, hamba sudah berusaha sekuat tenaga juga tidak bernasil menggerakkan hatinya....."

Pangcu lalu berkata.

"Baik, aku tahu Kau sudah berusaha keras ....pergilah"

Putri nomor empat itu mendengar putusan demikian merasa girang, buru-buru menjura mengucapkan terimakasih, kemudian lari kembali kerombongannya.

Pangcu lantas memanggii putri nomor delapan, tanyanya dingini "Dan kau?"

Putri nomor delapan Tie Siauw Lian melapor sambil menjura.

"Harap pangcu maafkan, anak kunci berukiran huruf Liong partai oey-san sudah hilang pada dua puluh tahun berselang, hamba telah berusaha untuk mencari keterangan juga tidak didapat."

"Baik, kau juga mundur"

Demikian pangcu golongan Kalong mengeluarkan perintahnya. Kini tibalah gilirannya putri ke sepuluh Lo Tay Cie harus memberi laporan, wanita itu memberi laporannya sambil menangis.

"Mobon maaf kepada pangcu, anggota angkatan muda partai Hoa-San, tiada Sstu yang dapat mendekati ketuanya, hamba sesungguhnya tak dapat menemukan orang yang dapat digunakan...."

"Apa kau hanya mau mencari yang muda saja?"

Tanya pangcu sambil tertawa dingin. Lo Tay cie menggelenggelengkan kepala dan menjawab.

"Tidak, tidak Yang tua juga sudah didekati tapi mereka ada yang pendelikkan mata kepada hamba, ada yang sama sekali tak mengerti kebaikan hamba, mereka itu tampaknya bodoh seperti kerbau"

Pangcu mendengarkan dengan tenang dan berpikir, kemudian berkata dengan dingin.

"Kau menjalankan tugas kurang baik, sekarang dihukum harus menghibur anggota Kalong hitam sepuluh malam lamanya"

Lo Tay Cie gemetaran dan berulang-ulang menjura dan minta di ampuni, tapi tak dihiraukan oleh pangcunya, bahkan memerintahkan Tongcu Pa Cap Nyo agar dibawa pergi.

Kemudian sang pangcu bertanya pada Im Liat Hong.

"Bagaimana Cho Hok Hoat tahu bahwa anak kunci berukiran huruf Liong itu sudah balik kembali ketangan orang partai oey San?"

Im Liat Hong berpaling mengawasi Cu Giok Tian yang diikat di tiang dan berkata.

Dari pembicaraan mereka hamba dapat tahu sebagian, katanya, anak kunci itu selama sebelas tahun terus berada di tangan murid It-hu Sianseng yang bernama Cin Hong, dua hari berselang Cu Giok Tian telah berjumpa dengan Cin Hong di gereja Siao-lim Sie, dengan tidak disengaja telah menemukan anak kunci itu didalam badannya.

Ketika hamba mendengar kabar itu, lalu mengikuti diam-diam, setelah Cu Giok Tian berpisahan dengan Ceng-hong Cinjin barulah hamba unjuk diri dan minta kepadanya.

Akhirnya, meskipun hamba berhasil menjatuhkan dia tetapi tak dapat menemukan anak kunci emas itu, maka terpaksa hamba gusur saja dia kemari"

"Apa kau sudah tanya kepadanya?"

"Dia tak mau mengatakan"

"Kalau begitu rangket dulu padanya. Dan masih ada satu yang muda itu?"

Im Liat Hong berpaling mengawasi Kha Gee San, dan yang tersebut belakangan itu segera memerintahkan dua anggota kalong hitam pergi menjalankan hukuman-Anggota angkatan muda partay Bu-tong Ma Liong Po begitu melihat ada dua orang berpakaian hitam menghampiri sambil membawa rotan, sikapnya sebaliknya berubah menjadi tegang, ia berpaling dan mengawasi kepada Cu Giok Tian disampingnya dan berkata sambil tersenyum.

"Cu-locianpwe, coba locianpwe katakan hari ini kita mau menangkan pertempuran ini atau tidak?"

Cu Giok Tian juga tidak menunjukkan rasa takut, jawabnya sambil tersenyum.

"Sudah tentu harus menang, tulang-tulangku yang sudah bangkotan ini yakin masih sanggup menerima rangketan itu"

Dua orang dari golongan Kalong hitam Saling berpandangan, lalu mulai menjalankan hukumannya, ketika cemeti itu jatuh ditubuh mereka, darah lantas mengucur keluar, Cu Glok Tian dan Ma Liong Po hanya mengerutkan saja alisnya, kemudian memejamkan matanya.

Cemeti bergerak makin lama makin gencar, dua tubuh dua orang itu juga sudah berlumuran darah.....

Tak lama kemudian tubuh dua orang itu sudah pecah semuanya, darah membasahi badan dan celananya, namun mereka keras kepala, sedikitpun tidak mengeluarkan rintihan, seolah-olah yang dihajar itu bukan tubuh mereka, Pangcu yang menyaksikan sikap mereka itu sangat marah, maka lalu memerintahkan supaya disiram dengan air garam.

Ma Liang Po tertawa terbahak-babak dan berkata.

"Jikalau tuan besarmu she Ma ini mengeluarkan sedikit rintihan saja, bukanlah anak murid golongan Bu-tong "

Seorang anggota Kalong hitam membawa satu ember air garam, Cu Giok Tian yang melihat itu menggelengkan kepala dan berkata pada Ma Liong Po sambil tersenyum.

"Ma-laote, inilah pertandingan yang kedua "

Selagi Ma Liong Po hendak membuka mulut, air garam sudah disiramkan diatas kepalanya, hingga timbul sedikit rasa sakit Sehingga tubuhnya merah membara, giginya terkatup, darah mulai mengalir keluar dari mulutnya.....

Ketikamangkok kedua disiramkan, badannya gemetaran semakin hebat, kepalanya perlahan-lahan menunduk.

akhirnya diam.

Pangcu golongan Kolong lalu mengeluarkan suara bentakan.

"Cu Giok Tian, dimana anak kunci itu kau simpan?"

Cu Giok Tian tertawa tertawa terbahak-bahak kemudian menjawab.

"Haha, didalam perutku Kau dodet saja kalau mau ambil"

Pangcu memerintahkan anak buannya supaya menyiram dengan air garam.

Semangkok air haram lalu disiramkan dari atas kepalanya, lalu memgalir kebadannya.

Dimana air garam itu mengaliri tubuh yang sudah berlumuran darah itu lalu bergerak-gerak.

namun meskipun demikian Wajah orang tua itu masih tersenyum-senyum, seolah-olah disiram oleh air biasa saja.

Sang pangcu lalu memerintahkan untuk menyiram lagi.

SELAGI hendak menyiram yang kedua kalinya, Tok-siucay yang berdiri dibagian depan dalam barisan Kalong hitam, tak tahan hawa amarahnya, lalu berjalan maju selangkah.

Dan juga tepat pada saat itu, tiba-tiba di tengah udara terdengar suara siulan aneh, dan kemudian tampak muncul sesosok bayangan orang, dari tengah udara melayang turun seorang pengemis tua langsung menuju kedepan batu sembahyang.

Pengemis tua itu rambut dan kumisnya sudah putih semua, ia mengenakan pakaian kain kasar yang penuh tambalan, diketiaknya ada mengempit segulung tikar rombeng, sikapnya sangat aneh, namun tampaknya gagah Sekali, ia bukan lain dari pada pengemis aneh yang mendapat julukan pengemis tikar rombeng Lu Bong Kong, yang beberapa hari berselang datang di gereja siau-lim-si kemudian berlalu tanpa pamit, katanya hendak pergi kerumah penjara rimba persilatan untuk menantang bertanding untuk menolong keluar It-hu Sianseng Ketika tiba didepan batu sembahyang, ia dengan sikapnya yang angkuh menengok kekanan kiri kemudian berseru.

"Heheh, akhirnya kuketemukan juga kalian orang-orang dari golongan ini benar-benar bagus sekali perbuatan kalian.. Perempuan-perempuan itu kalian sekap dimana? Lekas bebaskan sekarang juga "

Oleh karena kedatangannya dari udara secara tiba-tiba, hingga disitu terjadi sedikit kericuhan, dan anggota pelindung hukum kiri dan kanan dengan cepat menghampiri padanya sedang tamu tak diundang dari luar daerah lalu menegur sambil menggenggam pedangnya keras-keras.

"Tuan ini siapa?"

Pengemis tua itu dengan mata menyipit nmengawasi padanya sejenak. kemudian berkata sambil tertawa dingin.

"Kau barangkali adalah itu orang yang dinamakan Tamu tidak diundang dari luar daerah bukan?"

"Sekarang adalah aku yang bertanya padamu"

Berkata Tamu tak diundang dari luar daerah. Lam-khek sin-kun Im Liat Hong berkata sambil tertawa menyindir.

"Dia adalah pengemis aneh tikar rombeng Lu Bong Kong, seorang bekas ketua Satu partay yang sudah kehilangan namanya"

Pengemis tua itu memandang padanya dengan sikap dingin, kemudian berkata.

"Apakah kau hendak coba menyambut seranganku pengemis tua ini?"

Im Liat Hong dengan sikap seolah-olah memandang rendah berkata sambil meluruskan kedua tangannya.

"Apakah ilmu seranganmu angin puyuh dari gunung pasir ada perobahan baru yang perlu sekali harus diperlihatkan kepada kami?"

Mulut pengemis aneh itu mengiakan sedang kaki kirinya sudah bergerak tmaju setengah langkah, tangan kanannya diangkat kemudian dengan mendadak sudah melancarkan serangan melalui udara.

Im Liat Hong juga menggunakan tangannya untuk menyambut serangan itu.

Kedua pihak terpisah sangat dekat, ketika kedua kekuatan tenaga saling beradu, lalu menimbulkan suara hebat, beberapa kaki seputar tempat mereka berdiri telah timbul angin mengulung-gulung seperti angin puyuh, hingga angin dan debu pada beterbangan keatas.

Pengemis aneh itu hanya bergoyang sedikit lantas berdiam, sedangkan Im Liat Hong tubuhnya berputaran seperti roda, kemudian seperti orang baru baik sakit, tubuhnya terhuyung-huyung hingga hampir saja jatuh ditanah.

Im Liat Hong adalah seorang iblis kenamaan dalam rimba persilatan pada waktu itu, dalam hidupnya entah pernah menghadapi berapa banyak lawan tangguh, kecuali beberapa tahun yang lalu ia pernah satu kali terjatuh dari tangan penguasa rumah penjara rimba persilatan belum pernah ia menjumpai seorang lawan setangguh ini, terutama kalah dibawah tangan pengemis tua yang bekas pecundangnya It-hu Sianceng benar-benar ia merasa malu sekali.

Dalam keadaan demikian, ia menjadi naik pitam, hingga rambutnya yang putih kelihatan sampai pada berdiri, ia maju lagi hendak mengadu jiwa.

Pangcu dari golongan Kalong perlahan-lahan bangkit dari tempat duduknya dan memerintahkan supaya anggota pelindung hukumnya itu segera mundur.

Im Liat Hong tampak sangsi sejenak.

tetapi kemudian terpaksa membatalkan maksudnya dan mengawasi sang pangcu untuk menantikan petunjuk lebih lanjut.

Pangcu golongan Kalong berkata dengan nada suara dingin.

"Pengemis tikar rombeng Munculnya kau di dalam rimba persilatan untuk kedua kalinya ini, tidak kuduga sudah membekal kepandaian demikian hebat, benar-benar merupakan suata hal yang patut dibangga, maka lebih dulu aku haturkan selamat padamu "

Pengemis tua itu mengebut debu di atas bajunya, setelah itu baru berkata sambil tertawa "Ah, kau terlalu memuji, hanya hasil yang tidak berarti saja"

"Tadi kau minta kami melepaskan perempuanperempuan, perempuan mana yang kau maksudkan?"

Tanya Sang pangcu.

"Bukankah selama dua hari ini, didaerah propinsi Sansee dengan beruntun sudah ada delapan belas perempuan yang lenyap? Kalau bukan kalian perbuatan siapa lagi?"

"ohhh, jadi ada kejadian serupa itu?"

"Kaujangan berpura-puralah... Hari ini jikalau kau tidak membebaskan dengan segera delapan belas perempuan itu, aku terpaksa akan bertindak"

"AKu Jie Hlong Hu meskipun juga sering melakukan perbuatan semacam itu, tetapi kali ini. perempuanperempuan itu bukanlah diculik orang-orangku. Kukira, terhadap orang seperti kau ini, masih belum ada harganya bagiku untuk mengadakan bantah-bantahan?"

"Kalau begitu, kecuali kau masih ada siapa lagi yang biasa melakukan perbuatan rendah semacam itu?"

"Tidak tahu.. Bolehlah kau menceritakan kejadiannya lebih jelas Sedikit"

"Delapan belas perempuan itusemuanya adalah istri-istri atau anak perempuan orang rimba persilatan-diwaktu lenyap tidak meninggalkan sedikit bekaspun. seolah-olah mereka itu. pergi di rencana lebih dulu......."

"Apakah mereka itu berlalu dengan membawa barangbarang kesukaannya?"

"Tidak! MakSudku ialah orang-orang itu berbuat demikian rapi."

Pangcu golongan Kalong lalu berpaling dan bertanya kepada anggota pelindung hukum tangan kanannya ialah Tamu tidak di undang dari luar daerah.

"Co Hok hoat anggap urusan ini apakah tidak mungkin ada hubungannya dengan tidak hadirnya enam belas lie tocu dari perkumpulan kita?"

Tamu tidak diundang dari luar daerah balas menanya.

"Apakah Pangcu anggap mereka juga sudah diculik?"

Sang pangcu menganggukkan kepala dan menjawab sambil tertawa dingini "Jikalau tidak. sekalipun mereka bernyali lebih besar lagi juga rasanya tak mungkin sampai berani tidak hadir"

Tamu tidak di undang dan luar daerah itu menundukkan kepala untuk berpikir, kemudian berkata.

"Mungkin ada hubungannya, hanya yang membuat kita tak habis mengerti ialah orang-orang rimba persilatan pada dewasa ini yang memiliki kemampuan melakukan perbuatan seperti itu dan berani melakukan maksudnya kecuali golongan Kita, boleh dikata sudah tak ada, sebab sebaglan besar orang-orang rimba persilatan sudah tertawan dalam rumah penjara."

Pangemis tua yang mendengarkan itu menunjukkan sikap terkejut dan terheran-heran, tanyanya.

"Apa? Jadi kalian dalam golongan Kalong juga kehilangan anggota Wanita?"

Pangcu golongan Kalong menganggukkan kepala mengiyakan-Pengemis aneh itu mengawasi keadaan sekitarnya sejenak, kemudian menggenggam erat-erat tikar dibawah ketiaknya dan berjalan turun ke bawah gunung, sambil ucapnya.

"Kalau begitu, hitung-hitung aku si pengemis tua kesalahan alamat, sekarang aku headak minta diri."

Pangcu golongan Kalong berjalan turun dari atas batu seraya berkata "Tunggu sebentar"

Pengemis tikar rombeng itu merandek dan bertanya.

"Ada apa ?"

Pangcu golongan Kalong dengan nada suara dingin berkata sepatah demi sepatah.

"Ilmu serangan tanganmu angin puyuh dari gurun pasir apa benar ada mempunyai permainan baru? Aku sungguh tertarik sekali, mudah-mudahan benar-benar kau mempunyai permainan baru itu "

Pengemis tua itu sangat girang, ia lalu meletakan tikar rombengnya ditanah, dan berkata sambil tepok-tepok tangan.

"Mari, mari, mari Aku sipengemis tua memang sudah lama ada itu maksud, cuma merasa tidak enak untuk buka mulut "

Pangcu golongan kalong lambat-lambat berjalan kedepannya sejauh kira-kira lima kaki baru berhenti, dan kemudian mempersilahkan Pengemis tua itu supaya turun tangan lebih dulu.

Pengemis tikar rombeng menampak sikapnya yang acuh tak acuh, bahkan suruh ia turun tangan lebih dalu, karena marah lalu berkata "Usiaku lebih tua darimu, seharusnya kau yang buka serangan lebih dulu"

"Kepandaian ilmu silatku lebih tinggi darimu, seharusnya kau yang membuka serangan dulu"

Kata Pangcu golongan Kalong, Pengemis tua itu marah, telah mengeluarkan suara siulan aneh, sepasang tangannya bergerak dan kaki digeser maju, setelah itu ia membuka kerangannya dengan tangan kanan, Dahulu ia terkenal namanya dalam rimba persilatan dengan ilmu serangan tangannya yang dinamakan angin puyuh digurun pasir, Waktu itu kalau melancarkan serangannya hanya menimbulkan suara menderu-deru seperti benar-benar ada angin puyuh yang menggulunggulung, tapi kali ini setelah kembali dari perantauannya, dan muncul didaerah Tlong-goan lagi meskipun ilmunya masih sama, tetapi dari ilmu serangan yang menimbulkan suara berubah tidak ada suara, hingga membuat orang lain sulit untuk meraba kemana arahnya kekuatan tenaga yang tercampur dalam gulungan angin hebat itu, maka seorang kuat seperti Lam-kek-sin-kun Im Liat Hong, juga dalam segebrakan saja sudah hampir jatuh ditangannya, tetapi meskipun pengemis tikar rombeng itu adatnya angkuh dan anggap kepandaian sendiri sangat tinggi, namun waktu itu ia sesudah menghadapi iblis nomor satu dalam rimba persilatan juga tidak berani berlaku gegabah.

Maka pada serangannya itu ia sudah menggunakan kekuatan tenaga seratus persen.

Mulutnya pangcu golongan Kalong mengeluarkan suara aneh yang sangat perlahan, dengan mendadak tubahnya memutar bagaikan kitiran tampaknya seperti terdorong oleh putaran yang keluar dari serangan tangan pengemis tikar rombeng, tetapi, Sebetulnya gaya mutarnya itu menuju kearah kebalikannya dan mendesak dekat kepada pengemis tikar rombeng, Saat itu tampak tangan kanannya diangkat, cepat bagaikan kilat menepok kearah pelipis pengemis tikar rombeng.

Dengan cara demikian dia menghadapi ilmu angin puyuh digurun pasir.

sesungguhnya merupakan suatu cara yang belum pernah dilihat dan didengar, jelas bahwa pangcu itu sudah mengetahui kehebatan dan letaknya kekuatan ilmu angin puyuh itu, maka bukan saja terdorong atau terbawa putaran angin lawannya, sebaliknya malah berhasil memunahkan kekuatan tenaga dari daya putar itu untuk menyambut dan melancarkan serangannya ilmu Kuiim-hek-kut-ciang yang pernah menggetarkan rimba persilatan-Pengemis tikar rombeng itu tidak menduga bahwa pangcu golongan Kalong ini ternyata seorang ahli dalam ilmu Silat, maka wajahnya lantas berubah, buru-buru lompat miring setengah langkah, menyerang dari ataS kepala dengan menggunakan tangan kiri kemudian dari bawah menyerang lagi kedada kiri lawannya.

Tidak kecewa ia sebagai seorang bekas ketua partay kenamaan.

Setelah serangan pertamanya gagal, sudah tahu bahwa serangan yang dilancarkan seperti biasa tidak berdaya menghadapi lawannya, maka kali ini ia merobah siasatnya, dari atas mendorang kebaWah rupanya lawannya tidak bisa meminjam tenaganya lagi.

Benar saja serangan dengan cara baru itu membawa hasiL Pangcu itu kali ini rupanya tak dapat lagi meraba akan kemana berputarnya angin yang keluar dari serangan itu.

Akan tetapi sebagai seorang jago kenamann ia sedikitpun tidak gugup tubuhnya nampak bergoyanggoyang seperti ikan berenang dalam air, sambil membungkukkan badan, tangannya menyambar sepasang kaki pengemis tua itu.

Pengemis tikar rombeng tertawa panjang sepasang kakinya dipentang.

tubuhnya melesat setinggi empat lima kaki, bersamaan dengan itu sepasang tangannya melancarkan serangan dengan berbareng, untuk menggempur leher dan punggung lawannya.

Tak disangka baru saja sepasang tangannya hendak melancarkan serangan tahu-tahu kehilangan bayangan lawannya, bersamaan dengan itu tiba-tiba dibelakang punggungnya merasakan ada hembUsan angin dingin, maka itu ia terkejut.

Ternyata pangcu golongan Kalong menggunakan kesempatan selagi pengemis tadi melesat dengan kecepatan bagaikan kilat sudah menyusup melalui selangkangan pengemis tadi, sebelum pengemis itu menginjakkan kakinya ketanah, pangcu golongan Kalong sudah memutar tubuh dan balik menyerang bagian jalan darah dibagian punggung sipengemis tersebut.

Serangannya secara itu benar-benar sangat kejam dan ganas serta diluar dugaan orang pula.

Dalam keadaan terkejut.

pengemis tua itu sudah tahu sulit baginya untuk mengelakkan serangan itu, maka buru-buru tubuhnya melekuk kedepan kekuatan tenaganya lantas dipusatkan kedalam telapak tangannya, dan balik menyerang melalui bawah selangkangan sendiri.

Menghadapi lawan dengan cara demikian berarti sudah mengambil keputusan untuk rubuh bersama-sama dengan lawannya.

Tetapi pangcu golongan Kalong yang cerdik sudah tentu tidak sudi menjual jiwanya, dari mulutnya mengeluarkan suara tertawa dingin, tangan kanannya buruburu di tarik kembali, setelah ia melompat menyingkir untuk mengelakkan serangan pengemis tua yang menggunakan tenaga sepenuhnya, setelah mana tangan kirinya menyusul untuk menekan belakang punggung lawannya.

Pengemis tua itu menekuk lutut kaki kanannya sampai ketanah, dan balas menyerang dengan segera, Pertempuran ini berjalan seru dan hebat, setiap gerak menunjukkan betapa hebat dan berbahayanya serangan dari kedua pihak sehingga semua anggota golongan Kalong yang menyaksikan pada melongo, tiada seorangpun yang berani bernapas.

Dari jalannya pertempuran, tampaknya pangcu golongan Kalong lebih banyak melancarkan serangan dan sedikit sekali melakukan penjagaan, benar-benar tampaknya menang setingkat dari pada pengemis tikar rombeng.

Tapi yang tersebut belakangan ini juga bukan orang Sembarangan, setiap kali menjumpai serang yang sangat berbahaya, ia juga menggunakan serangan yang mengandung maksud hendak rubuh sama-sama bahkan kadang-kadang diiuar dugaan banyak orang.

Dalam waktu amat singkat, pertempuran sudah berlangsung seratus jurus lebih.

Pengemis tikar rombeng kelihatannya seperti berada dibawah angin, tetapi sampai dengan saat ini masih belum menunjukkun kekalahan yang nyata, hingga pangcu golongan Kalong jadi benar-benar sangat penasaran, tiba-tiba dari dalam sakunya ia mengeluarkan sebatang seruling berbintik-bintik entah terbuat dari bahan apa, diputarnya sejenak hingga mengeluarkan suara irama yang mengalun dengan nada amat merdu.

Suara seruling itu semakin lama semakin merdu, sehingga membuat yang mendengarkannya terbenam dalam pikiran yang bukan-bukan dan dalam otak masing-masing terbayanglah satu gambaran yang timbul dari lamunan, seolah-olah ada banyak perempuan cantik dalam keadaan telanjang bulat menari dan mengitari dirinya.

sudah tentu menimbulkan perangsang nawa nafsu yang sangat hebat.

orang-orang seperti permaisuri, tiga selir dan dua anggota pelindung hukum sepasang suami istri dari Lo-hupay, masih dapat mengerahkan ilmunya untuk menahan diri, tetapi anggota dari golongan putih dan hitam, semuanya sudah seperti orang mabuk arak.

dan mulai bergerak-gerak dan menari-nari seperti orang gila.

Suara seruling itu dari lambat berubah menjadi cepat, sehingga membuat orang timbul napsu birahinya yang hampir tidak terkendalikan, hati mereka berdebar semakin keras, seolah-olah belum akan merasa puas sebelum dapat tercapai maksudnya.

Dengan demikaan, orang-orang dari rombongan Kalong putih dan Kalong hitam pada akhirnya menjadi kalut, seperti dua rombongan yang sedang berjumpa dimedan perang, seperti kalap pada menyerbu, sehingga dalam waktu sangat singkat, keadaan menjadi kacau balau, orangorang dari golongan Kalong putih pada memeluk orangorang golongan Kalong hitam dan orang-orang dari golongan kalong hitam pada menyerbu dan segera menindih tubuh orang-orang golongan kalong purih, sesaat itu suara robekan baju hampir memenuhi suasana, yang lelaki pada memburu napasnya, yang perempuan merintihrintih.

Cin Hong yang menyamar menjadi Tok Siu-cay, menggunakan kesempatan dalam keadaan sangat kacaubalau seperti itu, diam-diam berjalan mendekati tiang, dan berbisik ketelinga Cu Giok Tian.

"Cu-locianpwe, aku Cin Hong. Locianpwe masih sanggupkah bertahan?"

Semangat imam itu terbangun seketika, ia membelalakkan matanya dan bertanya terhetan-heran.

"Kau,...bagaimana kau bisa datang kemari?"

"Aku meminjam.... nama Tok Siu-cay... .dan menyusup kemari...,.."

Jawab Cin Hong dengan suara gelagapan.

"Sungguh terlalu berbahaya.. Lekas kau pergi "

"Tidak Aku hendak menolong Locianpwe dan saudara Ma itu"

"Tak ada gunanya, aku sudah tidak mempunyai tenaga untuk bergerak. tidak dapat melarikan diri......"

Cin Hong mengulurkan tangannya diletakkan ditiang lalu berkata.

"coba-coba saja, aku akan memutuskan tali pengikat tubuhmu lebih dahulu."

Imam tua itu membuka matanya dan berkata dengan suara marah.

"Kukata jangan ya jangan.. Kalau kau memaksa juga dan tak mau lekas pergi, aku nanti akan berteriak"

Cin Hong terkejut, hingga tangannya di tarik kembali.Justru pada saat itulah, suara yang menggoda hati itu mendadak hilang.

Ketika menengok, tampak sipengemis tikar rombeng juga sudah tak sanggup menahan pangcu golongan Kalong dengan seruling gaibnya itu, kali ini benar-benar ia memaki-maki dengan membawa tikar rombengnya dan lari turun kebawah gunung.

Anggota-anggota Kalong putih dan hitam yang pakaiannya sudah pada robek compang-camping waktu itu juga kelihatan sudah pada merangkak bangun.

Anggota Kalong putih ialah kaum wanita yang agak tahu malu pada nampar laki-laki yang tadi bergumul dengan dirinya sendiri untuk menunjukkan bahwa bukanlah pihaknya yang berdosa, akan tetapi ada juga yang malas bertindak, saking asyik hingga masih saja saling berpelukan dalam keadaan pura-pura masih mabuk.

Tongcu golongan Kalong hitam Kha Gee san tiba-tiba meleset kehadapan Cin Hong dan bertanya sambil tertawa menyindir.

"Leng Hu-tongco, bagaimana aku melakukan tiadakan yang aneh ini?"

Cin Hong diam-diam menarik napas, ia segera berusaha untuk bersikap tenang, jawabnya sambil tertawa "Tidak apa-apa, aku takut mereka akan bunuh diri dengan menggigit lidah sendiri, maka itu aku kemari untuk melihat,..."

Pangcu golongan Kalong yang sedang masukkan serulingnya kedalam saku, mendengar suaranya dengan mendadak berpaling kearahnya dengan sinar mata tajam, bertanya "Kau siapa?"

"hamba anggota nomor satu golongan Kalong hitam, Tok Siu-cay"

Menjawab Cin Hong, sambil meluruskan tangan dan membungkukan badan.

Mendengar jawaban itu, Sang pangcu mendadak tertawa dingin dua kali lalu berpaling lalu berkata kearah Kha Gee San, suaranya kedengaran dalam sekali waktu ia memerintah "Tangkap"

Kha Gee San menurut, maju dua langkah.

dengan cepat mengulur tangannya dan menyambar pergelangan tangan Cin Hong.

Cin Hong yang sudah slap.

kakinya agak digeser mundur, kipasnya sudah dikeluarkan dan menyambut gerakan Kha Gee San dengan serangan kipasnya.

Kha Gee San mengira babwa orang itu adalah seorang muda yang tidak diketahui asal-usulnya, betapapun lebih tinggi lagi ilmu silatnya juga tidak bisa sampai terlalu tinggi, dengan kepandaian yang djmilikinya, tentu saja amat mudah kalau mau menangkapnya.

Tapi sayang sedikit waktu ia turun tangan, sedikitpun tak ada piKiran untuk berjaga-jaga, Begitulah, dengan mendadak ia meraSakan bayangan kipaS di depan matanya itu bergerak dengan amat cepatnya dalam terkejutnya ia waktu itu, hendak mundurpun sudah tak keburu lagi, sehingga setelah terdengar suara plak, dadanya terkena serangan kipas dengan telak, hingga kakinya tidak dapat dipertahankan lagi, terpaksa mundur terhuyung-huyuhg sampai tiga langkah.

Pa cap Nio yang menyaksikan keadaan itu wajahnya tampak pucat pias, la iu terdengar suaranya yang berseru kaget.

"Suamiku apa kau tidak halangan?"

"Tidak apa-apa"

Jawab sang suami sambil menggelengkan kepala.

Bersamaan dengan itu ia sudah merandek dan maju lagi, tangannya diangkat dan lancarkan serangan bertubi-tubi.

Cin Hong yang kurang pengalaman menghadapi musuh tangguh, waktu itu ketika diserang hebat seCara bertubitubi, dalam hati agak gugup hingga sudah terdesak mundur sampai tujuh langkah.

Waktu itu Cu Gick Tian sudah membentak padanya.

"Kau tidak lekas lari juga ?"

Cin Hong tak mau lari, tiba-tiba mengeluarkan suara bentakan keras, kipasnya dipentang, ia menggunakan ilmu kipas Tay seng-hong sin-San-hoat, lalu melancarkan serangan balik.

Ilmu kipasnya Tay-seng-bong Sin-san itu adalah salah satu ilmu silat terampuh pada dewasa ini, maka dalam waktu sekejap mata Kha Gee San sudah terdesak mundur hingga tujuh langkah, bahkan kali ini bahunya sudah terkena pukulan kipas dengan telak.

Pukulan kali ini ternyata tidak ringan, tampak Kha Gee San mengeluarkun seruan tertahan, tubuhnya terhuyunghuyung hampir saja jatuh rubuh ditanah.

Semua orang yang ada disitu, yang menyaksikan pertempuran itu pada berubah wajahnya masing-masing, pangcu golongan Kalong dengan penuh perhatian masih menyaksikan pertandingan antara kedua orang itu.

kemudian memerintahkan supaya Tongcunya mundur, Kha Gee San dengan muka merah lantas lompat mundur sejauh dua tombak lebih.

Pangcu golongan Kalong lalu berpaling dan berkata kepada Lam-kek-sin-kun Im Liat Hong.

"Co Hok-hoat, coba kau maju"

Lam-kek-sin-kun terima baik permintaan itu, selangkah demi selangkah berjalan kedepan Cin Hong, setelah itu ia berkata dengan suara yang seram.

"Bocah bukalah dahulu kerudung dimukamu itu, biar aku slorang tua menyaksikan bagaimana bentuk rupamu sebenarnya"

Cin Hong membuka kerudungnya dan berkata sambil tertawa terbahak-bahak.

"Kita kenalan-kenalan lama. Apa kau merasa heran?"

Lam-kek-sin-kun berseru kaget, anggota golongan Kalong yang pernah bertemu muka dengan Cin Hong juga pada mengeluarkan suara kaget, oleh karena semua sudah tahu bahwa It-hu Sianseng terkenal dalam rimba persilatan dengan ilmu tangan kosongnya, hari ini apabila tak menyaksikan dengan mata kepala sendiri, siapapun tidak ada yang menduga bahwa ilmu kipas itu adalah warisan dewa persilatan yang juga merupakan salah satu dari dua belas jenis ilmu terampuh yang menjadi idaman setiap orang rimba persilatan-Sang Pangcu sendiri juga terheran-heran tanyanya.

"Cin Hong, ilmu kipasmu itu dapat belajar dari mana ?"

Cin Hong merasa kali ini terpaksa ia haruss membohong, maka lalu berkata sambil tertawa bangga.

"Sudah tentu aku dapat belajar dari Suhuku sendiri. Pertanyaanmu ini sungguh aneh"

"Ng... Aku tak percaya jikalau suhumu memiliki kepandaian ilmu kipas semacam ini mengapa ia tidak sanggup melawan penguasa rumah penjara rimba persilatan yang baru dilancarkan sepuluh jurus saja?"

Dalam kagetnya Cin Hong diam-diam merasa girang. pikirnya.

"Yah, jikalau aku menggunakan ilmu kipas ini untuk menantang bertanding kepada penguasa rumah penjara, kemungkinan besar dapat menyambut serangannya sampai sepuluh jurus, dengan demikian bukankah aku dapat mengeluarkan suhu dan lain-lainnya dari rumah penjara ?"

Sementara itu Pangcu golongan kalong sudah berkata lagi "co Hok-hoat, cobalah kau main-main dulu barang beberapa jurus dengannya, tapi tidak boleh menggunakan ilmu tenaga dalam"

Lam-khek Sin-kun lompat menyerbu, telapak tangan kirinya melancarkan serangan gerakan, sedang lima jari tangan kanannya sudah dipentang, bagaikan kilat cepatnya menyambar Cin Hong meskipun tidak menggunakan kekuatan tenaga, tapi serangan dari jari tangan itu masih tetap hebat.

Cin Hong yang menghadapi musuh tangguh perasaannya sangat tegang, tidak menenggu sampai serangan lawannya mengenakan dirinya kipas ditangannya sudah digerakkan dengan menggunakan gerak tipu angin menyapu daun rontok.

Gerak tipu semacam ini biasanya khusus digunakan untuk menyerang tulang pergelangan tangan lawan, gerak tipu yang sifatnya hampir serupa dengan bacokan senjata golok, barang siapa yang terkena tulang tangan pasti patah.

Lam-kek Sin-kun tadi yang menonton dari samping dengan cara bagaimana Cin Hong mengalahkan Kha Gee San, maka terhadap pengaruh dan kekuatan ilmu kipas itu ia sudah berlaku sangat hati-hati, melihat seringan kipas itu demikian Cepat sudah tentu tidak berani menyambuti, maka buru-buru menarik kembali tangan kanannya.

Bersamaan dengan itu jari tangan kiri dengan gerak tipu sepasang naga merebut mutiara.

hendak mencolok sepasang mata Cin Hong.

Tadi ia telah mengalami kekalahan ditangan si pengemis tikar rombeng.

maka kali ini ia berlaKu hati-hati, disamping khawatir akan jatuh lagi, juga ingin dapat membalas Sakit hati dan memperbaiki namanya lagi.

Cin Hong yang melancarkan serangan dengan cepat, sebaliknya malah tertipu oleh lawannya, hendak merubah siasat menyerang lagi namun jari tangan lawannya sudah mengancam mata sendiri hingga ia terkejut dan berseru kaget, dengan kerepotan lalu menendang dengan kaki kanannya.

Tendangannya yang dilakukan secara serampangan itu, ternyata membawa hasil diluar dugaannya.

Karena Lamkek-sin-kun yang tidak menduga Cin Hong akan bertindak demikian tampak terkejut, baru saja hendak menyambar kakinya, Cin Hong sudan menggunakan kipasnya untuk menutup tubuh bagian atasnya, kemudian ia memutar lagi hingga terlepas dari bahaya.

Selanjutnya Cin Hong sudah menggunakan ilmu kipasnya itu dengan beruntun,.

hingga Lam-kek-sin-kun terdesak mundur.

Dalam waktu sekejap mata tujuh puluh dua gerakan dari ilmu kipas Tay-seng hong-sin-san sudah hampir digunakan seluruhnya, Sekalipun lawannya itu terdesak mundur terus menerus tetapi Cin Hong juga tidak berdasil mengenakan sasarannya, hingga dalam hati mulai gelisah sendiri.

Ternyata Lam-kek-sin-kun sengaja memanCing Cin Hong mengeluarkan seluruh ilmu kipasnya untuk mengetahui sampai dimana hebatnya ilmu kipas itu.

Maka ia selalu mengelak dengan jalan mundur, sekali saja tidak pernah melancarkan serangan pembalasan.

Saat itu ketika menampak Cin Hong sudah mulai Cemas, ia anggap bahwa waktunya sudah sampai, maka ia lalu mengeluarkan suara bentakan keras, dengan baju kirinya digerakkan untuk menangkis kipas Cin Hong, sedang tangan kanannya lantas digerakkan guna menyambar bahu anak muda ini.

Cin Hong tidak menduga sang lawan itu bisa dengan mendadak menangkis kipasnya.

Ia benar-benar terkejut.

waktu itu jalan darah diatas bahunya sudah tersambar oleh lawannya hingga sesaat itu sekujur badannya merasa kesemutan.

dan kipasnya juga sudah terlepas dari tangannya, Lam-kek-sin-kun yang sudah berhasi menangkap lawannya, unjukkan tertawa hingga kemudian berpaling dan bertanya kepada pangcu golongan Kalong.

"Pangcu pikir bagaimana hendak menyelesaikan bocah ini?"

"Bawa satu tiang lagi dan ikat dia diatasnya"

Begitu perintah sang pangcu.

Tak lama kemudian, dua anggota Kalong hitam tampak memikul sebuah tiang kayu lagi, lalu dipancang disisi tiang kayu yang dipakai guna menyiksa Ma Liong Po.

Seselah itu Cin Hong dibuka baju atasnya dan diikat ditiang kayu.

Pada Saat itu, Ma Liong Po sudah sadarkan diri, ia mengetahui disampingnya ada seorang kawan yang harus menerima hukuman semaCam dia, dimukanya menunjukkan sikap terkejut dan bertanya.

"hei, kau Siapa?"

"Aku Cin Hong,"

Jawab Cin Hong sambil tertawa.

"Cin Hong? Bukankah salah satu dari empat Cerdik pandai di daerah Kang-lam yang terkenal dengan julukannya pelukis tangan dewa?"

Cin Hong balas dengan anggukan kepala dan senyumannya. Ma Liong Po tiba-tiba berpaling dan membentak kepada Pangcu golongan Kalong.

"lblis Kau terhadap seorang sastrawan yang lemah saja juga sampai begitu perlunya bertindak, apakah itu perbuatan dari seorang gagah?"

Pangcu golongan Kalong angkat pundak dan berkata sambil tersenyum.

"Sastrawan lemah? Hmm Kepandaian ilmu silatnya masih jauh lebih tinggi dari pada kau tahu?"

Ma Liong Po tercengang, ia berpaling dan bertanya kepada Cin Hong dengan sikap terheran-heran.

"Apakah Cin caycu juga pandai ilmu silat?"

Cin Hong menganggukkan kepala dan menjawab sambil tersenyum getir "Hanya sedikit saja, Suhuku adalah It-hu Sianceng."

Sementara itu pangcu golongan Kalong sudah berjalan kedepan Cin Hong, ia menunjukkan kitab pusaka ditangannya dan bertanya sambil tertawa.

"Cin Hong, kau takut dirotan dengan Cemeti atau tidak?"

Cin Hong menganggukkan kepala dan menjawab.

"Takut"

"Kalau begitu lekaslah kau jawab. Kitab ilmu kipas Tayseng-hong-sin-san ini darimana kau dapatkan?"

"Tidak mau"

Ma Liong Po tertawa terbahak-bahak dan lalu berkata.

"Itulah baru seorang gagah, Cin-caycu"

Pangcu golongan Kalong memberi isyarat dengan mata kepada anak buahnya yang mencekal cemeti, ia sendiri mundur beberapa langkah, dan orangnya itu segera menghampiri Cin Hong dan menghajar badan Cin Hong dengan Cemetinya.

Cin Hong yang belum pernah mengalami siksaan demikian, segera merasakan sakit yang amat sangat di sekujur badannya, hingga mulut sampai mengeluarkan seruan, tetapi Ma Liong Po sudah berkata sambil mengarutkan alis "Jangan berteriak, Cin-cay cu"

Cin Hong merasa sangat malu, mengawasinya dan bertata sambil tertawa getir "Maaf Tapi biarpun aku berteriak. tidak akan kujawab pertanyaannya"

Anggota golongan Kalong kembali memutar cemetinya dan memukuli badan Cin Hong dan pemuda ini karena merasa sakit kembali mengeluarkan suara teriakan-...Lim Kui-jin yang sejak tadi terus berdiri sambil menundukkan kepaia, saat itu dengan tiba-tiba angkat muka dan berseru dengan suara gemetaran.

"Pangcu....."

Pangcu dari golongan Kalong berpaling dan balas bertanja "Ada apa?... ."

Lim Kui-jin kembali menundukkan kepala dan sikapnya menunjukkan kepedihan hatinya, katanya.

"Kalau memang dia sudah tidak mau beri keterangan sampai mati, perlu apa harus disiksa lagi? Aku. ...aku takut mendengar suara jeritannya itu...."

Baru saja Pangcu itu menyahut "Ng", untuk menerima baik usul Lim Kui Jin-sang permaisyri tiba-tiba mengeluarkan suara tertawa tergelak dan sudah lari kedepan tiang, ia merebut cemeti dari tangan salah seorang anggota Kalong hitam, dan membentak dengan suara keras.-"Biar aku saja yang pukul dia"

Permaisuri ini benci sekali terhadap Lim Kui Jin yang mendapat Cinta kasih yang berlebih-lebihan dari si Pangcu, maka ia bermaksud hendak membikin susah selir yang cantik ini.

cemetinya itu digerakan demikian cepat dan ganas sekali, hingga mengejutkan dan menakutkan semua orang yang ada disitu.

Dengan tiba-tiba terdengar suara bentakan.

"Tahan "

Suara itu meskipun tidak nyaring tapi jelas terdengar dalam telinga setiap orang.

Suara itu bukanlah suara pangcu golongan Kalong, melainkan suara yang datang dari tengah udara, hingga kedengarannya seperti turun dari langit.

Semua orang angkat kepala dan ditujukan keangkasa, tampak seorang dengan mengenakan kerudung muka dan berpakaian hitam muncul dari belakang batu diatas gunung, dan perlahan-lahan berjalan keluar.

orang itu mengenakan topi hitam, sepatunya juga hitam.

Badannya sedang, Sikapnya tenang, dengan gerakan lambat-lambat berjalan kelapangan, Seolah-olah masuk kedaerah yang tidak ada orangnya.

Pangcu golongan Kalong melihat kedatangan orang itu sangat terkejut, tanpa disadari telah mundur beberapa langkah dan berseru kaget.

"Kau ,.,penguasa rumah penjara rimba persilatan "

Sedikitpun tidak salah, orang yang baru muncul itu memang benar adalah pengnasa rumah penjara rimba persilatan digunung Tay-pa-san, seorang manusia misteri yang selama sepuluh tahun lebih tidak dapat dijajaki sampai dimana tingginya ilmu kepandaiannya.

Munculnya penguasa rumah penjara rimba persilatan dengan tiba-tiba, sesaat membuat hati semua orang yang ada disitu tergetar hebat.

Seolah-olah akan menghadapi bencana besar, hingga satu sama lainsaling berpandangan dengan perasaan takut.

Sebab tidak perduli penguasa rumah penjara rimba persilatan itu ada orang dari golongan baik atau sesat, oleh karena ia tidak pernah terjun kedunia Kang-ouw, sehingga memberikan kepada orang-orang rimba persilatan bahwa ia itu selamanya tidak suka mencampuri urusan orang lain, ini juga merupakan salah satu sebab mengapa Ho-ong Jie Hloag Hu berani balik kembali kedaerah Tiong-goan-Akan tetapi, hari ini orang misteri itu ternyata turun gunung secara mendadak bahkan tiba dilapangan tempat mana golongan Kalong untuk pertama kalinya mengadakan pertemuan besar.

Andaikata kedatangannya hari ini hendak mencampuri urusan golongan Kalong, sekalipun golongan Kalong mengerahkan seluruh orang dan kekuatannya, barang kali tidak bisa berbuat apa-apa terhadapnya.

Pangcu golongan Kalong setelah dalam keadaan panik, dengan cepat sudah bisa tenang kembali, saat itu ia lalu menganggukkan kepala berkata sambil tertawa.

"Penguasa rumah penjara rimba persilatan hari ini dengan tiba-tiba meninggalkan markasnya digunung Taypa-san, ini akan merupakan suatu berita yang menggemparkan rimba persilatan"

Penguasa rumah penjara rimba persilatan mengawasi Cin Hong, lalu dengan suara tenang menjawab.

"Benarkah itu? Tapi aku toh belum pernah bersumpah tidak akan meninggalkan gunung Tay-pa-san bukan?"

"Kita diibaratkan air sungai yang tidak mengganggu air sumur, ada keperluan apa hari ini laocu datang berkunjung kemari?"

Tanya pula sang Pangcu sambil tertawa.

"Ada urusan sedikit ingin bicara denganmu"

"Urusan apa?"

Tanya si Pangcu kaget.

"Aku juga malas untuk bertanya padamu apa maksud dan tujuan membentuk golongan Kalong ini, tetapi jikalau kau tidak akan memperalat banyak orang-orang golongan putih yang kutawan dalam rumah penjara, bahkan jikalau kau tidak akan membuka rahasiaku bahwa aku tidak suka turun gunung melakukan kejahatan, kupercaya kau tidak nanti berani membentuk golongan Kalong ini, hal ini biar bagaimana toh sudah merupakan suatu kenyataan-..."

"Aku tidak mengerti maksud ucapanmu ini"

"Maksudku ialah. Kau Jie Biauw Kow sedikit banyak harus berterima kasih padaku. Bukankah begitu ?"

"Kau katakan bagaimana aku barus mengucapkan terima kasih padamu ?"

"Aku menghendaki tiga orang ini"

Berkata penguasa rumah penjara rimba persilatan sambil menunjuk tiga orang yang diikat diatas tiang. Hati Pangcu merasa lega, ia dapat menarik napas lega, dan lalu berkata sambil tertawa.

"he-he tak kusangka penguasa rumah penjara rimba persilatan juga bisa timbul hati bajaknya, ini kembali merupakan suatu berita besar yang akan menggemparkan rimba persilatan"

"sekarang aku akan mendengar jawabanmu sendiri. Terima atau tidak ?"

"Jika aku mengatakan tidak, lalu kau mau apa?"

"Aku tunggu penolakanmu yang resmi, setelah itu tentu aku sudah bisa beritahukan padamu"

Pangcu golongan Kalong berdiam sejenak. agaknya sedang berpikir, setelah itu baru berkata.

"Aku ada syarat, tidak tahu kau laucu ada mempunyai kesabaran untuk mendengarnya atau tidak?"

"Apakah kau masih akan mengukuhi keputusanmu tadi? Kukira tidak begitu, bukan?"

Sang Pangcu tampak bersangsi.

"coba kau katakan-Jika aku tidak bisa terima, aku toh bisa segera menggunakan tindakan untuk memberitahukan kepadamu "

Pangcu golongan Kalong memberi isyarat kepada kedua anggota pelindung hukumnya.

Lam-kek-sin-kun dan sepasang suami istri dari partai Lo-hu lekas mengerti maksudnya, semua lalu bergerak maju, hanya tamu tidak diundang dari luar daerah yang tidak lihat, sebab ia sedang bicara dengaa Cin Hong entah apa yang dibicarakan.

Penguasa rumah penjara rimba persilatan tertawa dingin, perlahan-lahan mendongakkan kepala, sikapnya sangat tenang sekali, agaknya tak pandang mata sama sekali orangorang yang mengepung dirinya, seolah-olah tak tahu dirinya sudah terkurung oleh kawanan iblis jahat dan ganas.

Pangcu golongan kalong batuk-batuk sebentar, kemudian berkata sambil tertawa "Sebetulnva syaratku ini tak menyulitkan kau.

Asal kau terima baik permintaanku, untuk selanjutnya tidak akan mencampuri urusan golongan kami, Sudahlah cukup "

Ketika ia mengucapkan perkataan terakhir kakinya digeser mundur, agaknya berjaga-jaga kalau umpamanya diserang penguasa rumah penjara secara tiba-tiba.

Tak disangka bahwa apa yang terjadi lalu seluruhnya malah kebalikannya dari apa yang diperkirakannya.

Tampak penguasa rumah penjara rimba persilatan tertawa terbahak-bahak dan kemudian berkata "Kukira syarat apa dan bagaimana yang akan kau ajukan itu tak tahunja cuma begitu, Dengan terus terang, sekali pun kau minta-minta kepadaku, aku belum tentu mau mencampuri urusanmu.Jadi kau boleh tak usah kuatir.

Langsungkan saja terus perbuatanmu yaag terkutuk itu"

Maka pangcu golongan Kalong menunjukkan sinar terang, Kemudian memerintahkan Tongcu Kalong hitam Kha Gee San supaya lekas membebaskan tiga orang yang terikat ditiang kayu itu.

Kha Gee San memerintahkan anak buahnya membebaskan tiga orang tersebut, dan mengambil pakaian mereka.

Ma Liong Po tidak lantas memakai pakaiannya, mengaWasi lebih dulu penguasa rumah penjara rimba persilatan sejenak.

lalu berkata dengan suara nyaring.

"hei, penguasa rumah penjara rimba persilatan, Kita juga harus bicara dulu dengan tenang. Kau menolong aku boleh juga . Akan tetapi jikalau nanti dikemudian hari kau minta aku melakukan apa-apa, aku tidak mau, lho"

Cin Hong juga berkata dengan suara nyaring.

"Aku juga begitu.Jadi. sebaiknya kau jelaskan saja dulu apa maksudmu"

PenguaSa rumah penjara rimba persilatan berkata Sambil tertawa.

"Syarat dariku ialah hendak mengundang kalian makan bersama-sama. Bagaimana"

Ma Liong Po tercengang, katanya.

"Baik kalau cuma Untuk itu, Apakah kau bisa pegang janjimu ini?"

"Sudah tentu"

Kata penguasa rumah penjara sambil menganggukan kepala, Tiga orang itu lalu mengenakan baju masing-masing, dan Cin Hong setelah memakai pakaiannya, lalu memungut kipasnya dan kemudian berjalan menghampiri pangcu golongan Kalong.

seraya berkata sambil mengulurkan tangannya "Kembalikan kitab pusaka itu padaku."

Pangcu golongan Kalong berpaling dan bertanya kepada penguasa rumah penjara rimba persilatan.

"Apa ini juga termasuk dalam syaratnya?"

Penguasa rumah penjara rimba persilatan menatap sang pangcu sejenak. lalu berkata sambil geleng-gelengkan kepala "Aku tak mau tahu soal itu."

Pangcu golongan Kalong sangat girang, lalu berpaling dan berkata pada Cin Hong "Kalau begitu, aku katakan disini, aku tidak akan kembalikan kepadamu"

"Kau tahu malu tidak?"

Tanya Cin Hong marah.

"Tidak "

Penguasa rumah penjara rimba persilatan tertawa terbahak-bahak kemudian.

"Kau lihat. Memang ada juga orang yang mempunyai kedudukan demikian tapi toh masih tidak tahu malu. Biarlah, mari sekarang semua ikut aku turun gunung"

Cin Hong marah dan berkata.

"Tidak bisa!! Barang itu kuberikan kepada siapa saja boleh, tapi tidak boleh dia yang ambil"

Penguasa rumah penjara rimba persilatan berhenti tertawa, kemudian mundur selangkah dan berkata.

"Kalau begitu kau coba rampas sajalah dulu dari tangannya, aku menunggu kau disini"

Cin Hong mengira bahwa orang misteri itu akan mau membatalkan dirinya juga pasti mau membantu untuk minta kembali kitab Pusakanya, tetapi melihat ia benarbenar telah berpeluk tangan, diam-diam menguatirkan kepandaian sendiri tidak sanggup melawan pangcu golongan Kalong, maka itu hawa amarahnya berkurang dengan sendirinya, hingga untuk sesaat ia merasa serba salah.

orang tua senjata perak lantas membuka mulut bertanya padanya.

"Cin Hong, apakah barang itu penting sekali?"

Cin Hong menganggukan kepala.

"Penting sekali"

Sahutnya. Ma Liong Po lalu berkata sambil menghunus pedangnya.

"Kalau begitu kami akan bantu kau merampas kembali"

Cin Hong tahu bahwa mereka sudah mengeluarkan darah banyak. tidak mungkin buat melakukan pertempuran lagi, selagi hendak menolak dengan halus, tiba-tiba terdengar suara orang berkata.

"Kabar baik!!! Berita baik Urusan dalam dunia sesungguhnya banyak sekali terjadi perobahan. Barang Siapa yang senang berkelahi, sekarang tempat baik untuk memberi kesempatan bagi mereka"

Suara itu diucapkan seperti sedang menyanyi, kemudian dari dalam rimba dekat goa Hek-liong-tong.

muncul seorang tua berpakaian kelabu yang bermuka bopeng, orang tua itu berusia kira-kira enam puluh tahun, matanya lebar alisnya tebal, namun Wajahnya bopeng, sikapnya sangat gagah dan agak sedikit lucu.

begitu melihat sudah dapat diduga bahwa orang tua itu adalah seorang yang bersifat agak berandalan dan suka berlaku jenaka.

Ditangan kiri orang tua itu dan membawa segulungan kertas kuning, Sedang tangan kanan menenteng ember yang penuh dengan lem.

Sekeluarnya dia dari dalam rimba, dan setelah memberi hormat kepada orang banyak.

kemudian meletakkan embernya dan mengeluarkan kertas kuningnya itu.

kemudian ditempelkan disamping mulut goa Heh-Liong-tong.

Pangcu golongan Kalong yang menyaksikan perbUatan itu mengeluarkan suara seruan kaget kemudian berpaling dan berkata kepada penguasa rumah penjara rimba persilatan.

"Kakek bopeng Bwe Hwee Houw An dari gunung Lauw San ini, yang juga merupakan salah seorang akhli racun berbisa dari enam akhli racun bukankah sudah tertawan dalam rumah penjaramu?"

"Memang betul. Tapi beberapa hari berselang ia menantang bertanding dan sanggup menyambut seranganku sampai sepuluh jurus, jadi ia berhak dapat kebebasannya mulai hari ini juga "

Sang pangcu kembali mengeluarkan suara seruan kaget, sebab ini benar-benar merupakan satu berita yang mengejutkan.

Perlu kiranya diketahui, seratus lebih tawanan dalam rumah penjara itu, meskipun selama itu banyak diantaranya yang sudah coba menempuh bahaya untuk menantang lagi, akan tetapi belum pernah ada seorangpun yang sanggup menyambut hingga sepuluh jurus dan mendapat kebebasan.

Meskipun penetapan peraturan penguasa rumah penjara itu sebetulnya bukanlah suatu batas yang terlalu berat.

Tetapi dalam mata dan hati semua orang.

apabila ada yang sanggup memenuhi syarat itu dan bisa mendapat kebebasan, tentulah yang berasal dari tawanan orang-orang yang di taruh didalam kamar naga, dan kakek bopeng ini meskipun juga salah seorang tokoh kuat dalam rimba persilatan, tetapi dengan kepandaian yang dimiliki, kalau harus mampu menyambut serangan sepuluh jurus itu dari penguasa rumah penjara, masih merupakan suatu syarat yang terlalu berat baginya.

Akan tetapi sekarang kenyataannya ia sudah bebas.

Bukankah itu merupakan suatu kejadian yang aneh danpatut kalau menggemparkan rimba persilatan?

Kertas kuning yang di tempelkan oleh orang tua bopeng itu, ternyata merupakan sebuah pengumuman, tentang berdirinya sebuah rumah penjara rimba persilatan yang baru di-puncak gunung Sin-lie-hong di gunung Bu San-Pengumuman itu sangat ganjil, memang tak Salah kalau dikatakan suatu berita yang menggemparkan rimba persilatan-Dalam pengumuman itu disebutkan peraturannya yang terdiri dari enam pasal, dan dituturkan dengan lengkap berturut sebagai berikut, Satu .

orang-orang rumah penjara itu sejak didirikannya sudah menyebar anggota-anggotanya yang kuat untuk merampas istri dan anak perempuan orang-orang rimba persilatan, barang siapa yang kehilangan istri atau anak perempuan, dalam waktu satu tahun harus datang sendiri kerumah penjara rimba persilatan di gunung Bu san untuk menantang bertanding, seliwat batas waktu yang ditetapkan kalau tidak datang, dianggap sudah melepaskan haknya dan istri atau anak perempuannya akan digunakan sebagai hadiah bagi siapapun yang berhasil mendapat kemenangan dalam pertandingannya dengan penguasa rumah penjara.

Dua .

Penguasa rumah penjara atau Laocu tiap waktu bersedia menyambut kedatangan orang-orang yang hendak mengadakan pertandingan, baik laki-laki maupun perempuan, tua atau muda terutama maksudnya ditujukan terhadap orang-orang dari angkatan muda.

Tiga .

Barang siapa yang mampu menyambut Satu kali saja dari serangan laucu bisa dianggap sebagai pemenang dan boleh membawa pulang istri atau anak perempuannya.

Yang tidak mempunyai istri atau anak perempuan, boleh memilih sesukanya salah satu perempuan atau laki-laki sebagai pasangannya, bahkan laucu sendiri yang akan melangsungkan upacara Perkawinan disitu.

Empat .

Barang siapa yang datang menantang bertanding dan tidak sanggup menyambut serangan Laucu, harus masuk penjara untuk dikurung seumur hidup, tidak diberi kesempatan untuk menantang lagi.

Lima .

Rumah penjara tidak akan menerima orang yang hendak menengok atau melawat orang-orang yang di penjarakan disitu apabila diketahui ada orang yang datang dengan memaksa, akan segera di bunuh mati.

Enam.

Peraturan ini dijalankan sejak hari diumumkannya, apabila akan diadakan perobahan akan diumumkan lagi.

Semua orang sehabis membaca pengumuman itu pada berdiri ter-mangu2, tiada seorangpun yang berani buka mulut.

Kha Gee San sebagai orang pertama yang beradat tak sabaran, lantas berkata sambil tertawa lebar.

"Hahaha, tak disangka bahwa dalam rimba persilatan juga bisa muncul rumah penjara yang kedua. Benar sangat lucu Laki-laki dan perempuan yang ingin mendapatkan jodoh boleh tertawa lebar"

Ucapan itu di sambut oleh banyak orang, dengan tertawa riuh, Pangcu golongan Kalong lalu berkata kepada penguasa rumah penjara rimba persilatan dengan penuh sindiran.

"Laucu sudah lihat atau belum? Satu jurus saja? Heheh, laucu ini rupanya ada maksud hendak atau sengaja hendak bersaing denganmu."

Penguasa rumah penjara rimba persilatan hanya mengeluarkan suara dari hidung, kemudian berjalan menghampiri si kakek bopengan, Semua orang yang ada disitu sudah membayangkan akan terjadinya suatu pertempuran hebat, tetapi kakek bopeng itu dengan sikap acuh tak acuh membawa gulungan kertasnya yang masih belum ditempel, dan mengangkat lagi embernya, Setelah memberi hormat kepada orang banyak, kemudian berlalu dari situ.

"Tunggu sebentar."

Panggil penguasa rumah penjara rimba persilatan yang sudah menghadang di hadapannya, setelah itu ia berkata lagi sambil tertawa dingin.

"Bwe Houw An Siapa yang suruh kau melakukan pekerjaan ini?"

Kakek bopeng dengan sikap tidak takut, dan menunjukkan tertawanya yang ringan segera menjawab.

"sudah tentu laucu kami, hal ini seharusnya tidak perlu ditanyakan-"

"Siapa kah dia itu?"

"Jikalau kau tidak marah, aku juga ingin tanya sedikit, kau laucu dari rumah penjara rimba persilatan di gunung Tay-pa-san apakah pernah menjawab pertanyaan orang demikian?"

Penguasa rumah penjara rimba persilatan marah sekali, tetapi sebaliknya malah tertawa "Heh Apa kau tidak takut mati?"

"Aku sudah tua bangkotan, tetapi tokh tidak mungkin kalau tidak takut mati.Jikalau kau mau mengompres atau membunuh mati seorang pion kecil tak berarti dari rumah penjara gunung Bu-san, sekalipun aku harus mati juga tidak menyesal"

Penguasa rumah penjara rimba persilatan meskipun tinggi kepandaian ilmu silatnya, akan tetapi agaknya kurang pandai dalam soal adu lidah, maka mendengar ucapan itu lantas tercengang, lama sekali baru berkata.

"Kalau begitu, begini saja kita tetapkan. Kau lantas berita hukan laucumu itu, katakan padanya apabila ia mempunyai keberanian boleh datang kegunung Tay-pa-san untuk mengadakan pertandingan denganku"

Kakek bopeng membungkukkan badan dan dengan lekas berkata.

"Sudah tentu aku nanti akan sampaikan, hanya pengharapannya barang kali tipis sekali sebab laucu kami selamanya belum pernah menginjak dunia Kang ouw, dia juga sedang menantikan dan mengharap dengan sangat kedatanganmu, laucu. supaya sudi berkunjung kegunung Bu-san untuk menantang bertanding dengannya"

Sehabis mengucapkan demikian, ia sudah lari turun gunung.

Penguasa rumah penjara rimba persilatan itu lalu menghampiri pengumuman itu dan dirobek-robeknya, setelah mana ia lalu mengajak Cu Giok Tian, Ma Liong Po dan Cin Hong turun gunung.

Empat orang itu turun gunung ong-ok San-Berjalan kebarat kira-kira satu pal lebih, penguasa rumah penjara rimba persilatan mendadak berhenti dan berkata kepada Ma Liong Po sambil tertawa "hei, sekarang kau sudah boleh pergi sendiri "

Ma Liong Po terCengang, tanyanya.

"Apa laucu tak akan mengundang makan aku lagi ?"

Laucu mengangguk sambil berkata.

"Dikemudian hari akan kuundang lagi rasanya juga belum terlambat benar, tapi sekarang ini aku tidak sempat"

"Apa laucu pikir hendak menantang bertanding dirumah penjara gunurg Bu-san?"

"hm, dia mana ada harganya untuk bertanding denganku?"

Berkata penguasa rumah penjara sambil tertawa dingin. Ma Liong Po merasa seperti keterlepasan omong, buruburu menjura dan berkata.

"Ucapan laucu memang benar. Perbuatan orang itu sesungguhnya terlalu rendah sekali. Sekalipun kepandaian ilmu silatnya tinggi sekali juga tak dapat disamakan dengan laucu, maka laucu rasanya memang tak perlu menurunkan derajad sendiri untuk pergi menantang pertandingan"

"Ng... Apa kau anggap aku ini orang baik?"

Bertanya penguasa rumah penjara. Ma Liong Po menganggukanggukan kepala dan menjawab.

"Ng? Dahulu meskipun aku pernah dengar pembicaraan orang banyak yang mengatakan dan menggambar laucu sebagai sekarang iblis yang tak mempunyai perasaan kemanusiaan, tetapi sekarang aku sudah tidak percaya dengan omongan itu iagi, sekalipun suruh aku mati, aku benar-benar tak berdaya lagi "

"Sebaiknya kau percaya saja."

Berkata penguasa rumah penjara dingin. Ma Liang Po hanya tertawa saja, kemudian berpaling dan menjura kepada Cin Hong seraya berkata.

"Sudah lama kudengar bahwa Cin-caycu adalah seorang Cerdik pandai yang kenamaan, tak kusangka lebih dari itu Cin-caycu masih memiliki kepandaian ilmu silat demikian tinggi, Hari ini aku dapat berjumpa dengan Cin-caycu, aku meraSa sangat beruntung, kepergianku kali ini bisa beruntung tidak mati, dilain Waktu apa bila bertemu lagi dengan Cin-caycu, dan apabila Cin Cayku tidak memandang rendah kepada diriku slorang She Ma boleh kah nanti kita menjadi sahabat akrab?"

Cin Hong balas menjura dan mengatakan kata-kata yang merendahkan diri, kemudian bertanya.

"Saudara Ma hendak kemana?"

"Kepuncak sin-lie-hong digunung Bu San-"

Jawab Ma Liong Po lekas.

"Apakah saudara Ma hendak pergi menantang bertanding?"

Tanya lagi Cin Hong dalam rupa terkejutnya. Ma Liong Po menganggukkan kepala dan berkata.

"Benar, penguasa rumah penjara rimba persilatan yang baru itu, telah bertindak keterlaluan terhadap kaum wanita yang tidak mengerti iimu silat, perbuatan semaCam itu sesungguhnya adalah perbuatan rendah dan sangat memalukan, aku seorang she Ma maksud belajar ilmu silat mempunyai cita-cita, ialah hendak menolong yang lemah dan membasmi yang kuat, meskipun aku tahu bahwa kepandaianku masih tidak tinggi, tetapi urusan ini kalau dibiarkan berlarut-larut dan tidak diperdulikan bagaimana aku masih ada muka untuk berkelana di rimba persilatan?"

Cin Hong yang mendengarkan itu darahnya bergolak, sesaat semangatnya lantas terbangun, maka lalu berkata sambil menepok-nepok tangan.

"Bagus sekali? Siaote ingin mengikuti kau bersama saudara pergi kegunung Bu-san untuk menantang bertanding"

Sebabis berkata begitu ia lantas mau pergi dan minta diri kepada penguasa rumah penjara rimba persilatan dan orang tua senjata perak. Penguasa rumah penjara rupanya marah dan segera berkata.

"Jangan bergerak. Apa kau gila semua?"

Cin Hong terCengang, tetapi kemadian berkata sambil membusungkan dada.

"Aku tidak gila, hanya orang yang tidak berani pergi menantang bertanding itu barulah seorang laki-laki pengecut"

PENGUASA Rumah Penjara itu marah dan berkata.

"Kalau begitu coba kau pergi. Kalau tak kuhajar kau segera, lihat saja "

Orang senjata perak melihat gelagat kurang baik buruburu Campur tangan, katanya.

"Anak. aku tidak menentang kau buat pergi menantang bertanding, tapi kau rasanya masih ada suatu urusan yang kelupaan belum kau selesaikan "

Cin Hong kini baru ingat bahwa asal-usul dirinya yang sudah mulai mendapat sedikit keterangan, seharusnya hari itu sekalipun tidak ketemu penguasa Rumah Penjara Rimba Persilatan, ia sendiri juga memang sedang melakukan perjalanan kesana, untuk mencari keterangan tentang seseorang wanita yang bernama siu Khim meskipun sebagai seorang Kang-ouw tidak mementingkan urusan pribadi, tetapi untuk menantang bertanding kegunung Bu San rasanya juga tidak usah terburu-buru, apabila ia sendiri dapat menemukan dulu ayah bundanya dan kemudian pergi ke gunung Bu-San.

sekalipun nanti dikalahkan, dan dipenjarakan seumur hidup, juga sudah bisa merasa tenang.

Berpikir sampai disitu, pikirannya semula yang hendak pergi ke gunung Bu-san sudah mulai berkurang.

Tetapi, ia juga tidak berani lantas menanyakan kepada penguasa Rumah Penjara tentang perempuan yang bernama Siu Khim itu, sebab ia takut kalau ditanya sekarang, Penguasa Rumah Penjara itu sebaliknya nanti tidak mengijinkan ia masuk lagi kerumah penjara.

orang tua senjata perak itu tahu bahwa Cin Hong sudah mengerti maksudnya, maka dari lobang hidungnya mengeluarkan sebuah anak kunci emas yang segera disesapkan kedalam tangan Cin Hong, setelah mana ia baru menarik tangan Ma Liong Po dan berkata sambil tertawa.

"Ma-laote, mari jalan, aku akan mengawani kau melakukan pertempuran yang pertama ini"

Ma Liong Po menerima baik, keduanya seperti sahabat akrab, lari menuju kegunung Bu-san sambil tertawa-tawa.

Cin Kong mengawasi berlalunya mereka dengan hati sedih, dan penguasa Rumah Penjara Rimba Persilatan mendekati padanya dan ajak diajalan-"Kemana?"

Bertanya Cin Hong sambil mengawasi padanya.

"Ke Rumah Penjara"

"Untuk apa ?"

Cin Hong pura-pura tidak mengerti.

"Kalau sudah pergi, kau nanti akan tahu sendiri."

Cin Hong diam-diam melangkahkan kakinya diikuti oleh penguasa Rumah Penjara Rimba persilatan yang berjalan disampingnya.

Tiba-tiba bertanya lagi.

Penguasa Rumah Penjara Rimba Persilatan kepada Cin Hong.

"Apa kau tidak ingin tanya kenapa hari ini aku datang kesini?"

"Kau Ceritakanlah "

Berkata Cing Hong tenang.

Penguasa Rumah Penjara Rimba Persilatan menampak sikap Cin Hong yang dingin dan tenang itu tampak sedikit marah, ia mengeluarkan suara dari hidung dan tidak bertanya lagi.

Cin Hong sebaliknya merasa agak menyesal ia bertanya sambil berpaling mengawasi Penguasa Rumah Penjara Rimba Persilatan itu.

"Laucu, aku sedang menantikan Ceritamu. Bagaimana sebetulnya ?"

Kali ini adalah Penguasa Rumah Penjara yang tidak menjawab seolah-olah tidak mendengar ucapannya. Cin Hong merasa kesal, berkata.

"Aku tahu, pasti adalah muridmu yang pulang memberitahukan padamu"

"Beritahukan apa padaku?"

Akhirnya penguasa rumah penjara membuka mulut juga .

"Ia memberitahukan padamu kemana aku hendak pergi, maka kau lantas turun gunung dan datang kemari"

Menjawab Cin Hong sambil tertawa.

"Apa kiramu aku perhatikan dirimu?"

Balas tanya Penguasa rumah penjara rimba persilatan sambil memperdengarkan suara tertawanya yang geli. Cin Hong yang mendengar itu jadi terCengang, diamdiam berpikir.

"Ya benar, aku dengannya bukan sanak bukan kadang, biar pernah melukiskan gambar wajah seseorang, itupun juga dengan syarat. Buat apa ia perhatikan diriku. UCapanku tadi sebenarnya sangat menggelikan"

"Hai, Cin Hong Kau dengar... Bagaimana kesanmu terhadap muridku?"

Tiba-tiba Penguasa rumah penjara Rimba parsilatan bertanya kepada Cin Hong.

"Baik Saja."

"ceritakan agak jelas sedikit"

"cantik, lemah-lembut, juga pintar mempermainkan orang"

"Apakah ia permainkan dirimu?"

"Ng ..ia sama dengan beberapa nona-nona suka sekali menggoda orang dengan sengaja, tetapi setelah orang itu berlutut dihadapannya ia lantas unjukkan sikap dari seorang yang mendapat kemenangan, lalu menendang orang itu dengan kakinya."

Penguasa rumah penjara rimba persilatan itu tiba-tiba seperti kehilangan tenaganya, langkah kakinya juga terhuyung-huyung, dan akhirnya jatuh di tanah.

Cin Hong terkejut, buru-buru memapahnya sambil bertanya.

"hei, kenapa?"

Penguasa rumah penjara rimba persilatan menundukkan kepala, tiba-tiba mengeluarkan suara tangisan yang menyedihkan.

"Kapan aku permainkan kau? Kau jangan memfitnah orang baik2"

Dalam hati Cin Hong terkejut, ia membuka kerudung muka diwajah penguasa rumah penjara itu, begitu melihat, lantas berseru kaget.

"Kau.....Leng Bie Sian"

Penguasa rumah penjara rimba persilatan yang kini ditarik kerudung mukanya oleh Cin Hong, ternyata bukan lain adalah Leng Bie Sian yang menyaru.

Waktu ini tampak wajah gadis itu yang cantik sudah basah dengan air mata, sikapnya sangat memilukan-Tidak lagi seperti iblis besar rimba persilatan yang sikapnya dingin, ia telah berubah demikian lemah dan tak bertenaga, dengan ke-dua tangan menunjang tanah, menundukkan kepalanya rendah sekali dan ia menangis dengan sedihnya, seolah-olah seoran-gadis lemah yang ditinggalkan oleh pacarnya.

Cin Hong yang sebetulnya masih memikirkan dia walaupun membenCinya tapi kali ini melihat orang dirinduinya ini, barulah sadar kalau tadi ia tahu telah berlaku salah besar, maka ia berdiri terCengang sekian lama, baru mengulurkan kedua tangannya membimbing bangun dan mengelus-elus kedua pundaknya, katanya dengan suara perlahan.

"Bie Sian, Bie Sian, aku benar-benar harus mampus Maafkanlah aku... ."

Leng Bie Sian mendadak lompat bangun, dan lari bagaikan terbang. Cin Hong mengejar dan memanggil-manggil dengan suara nyaring.

"Bie Sian, jangan lari "Leng Bie Sian tidak sungguh-sungguh mengerahkan ilmunya meringankan tubuh maka dengan Cepat sudah terkejar oleh Cin Hong, pemuda itu berkata sambil menarik tangan Leng Bie Sian.

"Bie sian, kuulangi sekali lagi. Harap kau suka maafkan aku "

Leng Bie Sian menghentikan kakinya, ia melepaskan tangannya dari genggaman Cin Hong, lalu berkata.

"Sebaiknya kau panggil aku nona Leng saja ..."

"Mengapa ?"

Tanya Cin Hong heran--"Sebab aku tidak Suka padamu "jawabnya dingin.

"Baik, kalau begitu jawablah beberapa pertanyaaaku "

Leng Bie Sian hanya mengeluarkan suara dari hidung, menantikan pertanyaannya.

"Ai Bolehkah aku numpang tanya nona Leng? Sejak kita berpisah dibawah kaki gunung Kiu-hoa-san, kau kembali kerumah penjara rimba persilatan atau tidak ?"

"Tidak."

"Bagaimana dengan orang tua pedang mas?"

"Ia sudah pergi "

"Bukankah kau kata hendak mengajak ia kesana ?"

"Kemudian aku mengambil keputusan lain, tidak jadi pulang. Hanya kutulis sepucuk surat, kubawakan padanya ..."

"Kemudian ke mana kau pergi?"

"Hal ini tidak perlu kau tahu."

"Ha ? Apakah diam-diam kau mengikuti terus jejakku ?"

"Kalau ya bagaimana ?"

"Jadi, orang yang diam-diam masuk kegereja Siao-lim-sie kemarin malam itu adalah kau juga , bukan ?"

"Kalau ya mau apa ?"

"Untuk apa kau masuk ?"

"Apa perdulimu ?"

"orang yang membunuh mati Ngo-beng Hweeshio itu betul tamu tidak diundang dari luar daerah yang tulen atau bukan ?"

"Tidak tahu, aku tidak menyaksikan "

"Tadi malam aku telah dibikin pingsan oleh siluman perempuan dari golongan Kalong. Apakah kau tidak lihat?"

"Melihat, cis......"

"Ai, itu apa yang dibuat geli?"

"Aku justru ingin tertawa "

"Dan lagi, apa sebab kau tadi tidak membantu aku minta kembali kitab pelajaran ilmu silat itu?"

"Pangcu golongan Kalong itu meskipun takut kepada suhuku, tetapi aku sudah melihat bahwa ia tidak akan rela melepaskan kitab pelajaran ilmu silat itu. Bila kuminta dengan kekerasan, mungkin ia akan melawanku. Dan kalau sampai terjadi hal demikian bukankah kita akan habis semuanya?"

"Baiklah kalau begitu. Sekarang, pertanyaanku yang terakhir. Apa sebab kau terus mengikuti jejakku? "

"Kau tak usah tahu."

"Ha ha, jikalau kau tidak memberi penjelasannya, ini suatu tanda bahwa kau suka kepadaku "

"Ngoceh!!! Suhuku yang perintahkan aku mengikuti kau "

"Mengapa dia perintahkan kau mengikuti aku?"

"Entahlah, kalau kau kembali kerumah penjara, boleh kau tanyakan sendiri kepada suhuku "

"Bagaimana kalau aku tidak mau ikut pulang?"

"Itu.... aku berkata akan ikat dan seret kau "

"Baik kau cobalah "

"cis, aku hanya main-main denganmu. Bolehkah kau jangan berlaku demikian?"

"Haha...."

Tiba disatu kota mereka menginap satu malam.

Dihari kedua, pagi-pagi sekali mereka sudah melanjutkan perjalanannya ke propinsi San-see.

Disepanjang jalan mereka menemukan pengumuman-pengumuman tentang berdirinya rumah penjara rimba persilatan yang baru di gunung Bu-san, juga mendengar berita tidak putus-putusnya tentang lenyapnya beberapa orang wanita.

Setiap kali mereka memasuki rumah makan, tak lain yang dibicarakan oleh para tamu hanyalah soal berdirinya rumah penjara rimba persilatan yang baru itu.

Benar-benar merupakan suatu berita yang dapat membuat panik orang, seolah-olah semua orang Sedang dihadapi dengan dua pilihan, hidup dan bencana maut.

Jelas juga , bahwa berita berdirinya rumah penjara rimba persilatan baru di gunung Bu-san itu, bagaikan halilintar di Siang hari bolong, juga bagaikan sebuah batu besar dilemparkan ke air danau yang tenang, jelas sudah menimbulkan kegemparan hebat, membuat seluruh rimba persilatan diliputi kembali oleh suasana tidak tenang dan panik.

Berita tentang hilangnya beberapa orang Wanita terus mengalir bagaikan gelombang air laut, dari propinsi An wie terus kepropinsi Ho-lam, dari Ho-lam masuk ke San-see dengan terang-terang, akhirnya sampai juga kedaerah perbatasan propinsi San-see, yang merupakan tempat adanya rumah penjara rimba persilatan yang lama.

Konon kabarnya, dalam waktu tiga hari, sudah terjadi penculikan terhadap beberapa orang wanita, jelasnya dua puluh orang lebih.

bahkan orang-orang yang hilang diculik itu merupakan kaum wanita yang masih muda dan berwajah jelita.

Yang lebih aneh lagi ialah, mereka itu kebanyakan adalah istri-istri atau anak perempuan orangorang rimba persilatan yang cukup punya nama.

Mereka telah menghilang secara sangat misterius, tidak terdengar suara jeritan mereka, tidak tertinggaikan jejak atau bekas-bekas mereka yang sudah dijadikan pegangan untuk membuat perkara.

Hari itu petangnya, Cin Hong bersama Leng Bie Sian tiba dikota Tiang-an.

Ketika mereka sedang masuk kerumah makan dan sedang duduk makan, kebetulan dapat mendengar dua orang laki-laki berpakaian dinas sebagai anggota keamanan, yang duduk disebelah mereka, sedang pembicarakan soal yang cukup unik.

Baca Juga: Perkampungan Hantu 2

Baca Juga: Bulu Merak 2

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert