Eps 8 Tangan Berbisa - Khu Lung Tjan Id
Baca online Tangan Berbisa - Khu Lung Tjan Id
Cersil Tangan Berbisa - Khu Lung Tjan Id.
Di dalam kota Tiang-an itu ada sebuah perusahaan pengangkutan yang bernama Sun-hong piauw-kiok.
Kepala barisan pengangkutan yang bernama Liu In coan dengan julukan jago pedang empat penjuru lautan adalah seorang piauwsu, seorang jago muda yang sangat terkenal.
Pada waktu belakangan ini Liu In coan telah mengawini seorang perempuan Cantik, oleh karena takut isterinya yang Cantik itu nanti kena diculik selagi dia melakukan tugasnya maka dia sengaja menolak mentah-mentah semua barang antaran yang diserahkan padanya.
Dengan begitu setiap hari gawenya jadi hanya nongkrong saja di rumah menunggui isterinya.
fsterinya mau kemanapun selalu diikutinya.
Tindakannya untuk melindungi isteri itu telah ditiruoleh beberapa piauwsu dari perusahaan pengangkutan yang mempunyai istri agak cantik, hingga dengan demikian perusahaan pengangkutan untuk sementara terpaksa tutup pintu, hal itu sudah tentu sangat merugikan bagi kaum pedagang yang biasa mengirimkan barang-barangnya ke kota jauh.
Cin Hong mendengar Cerita itu merasa geli maka berkata kepada Leng Bie Sian dengan suara pelahan.
"Nona Leng, bila kawanan piauwsu itu terus-terusan dengan Cara demikian melindungi isterinya masing-masing bukankah lama kelamaan akan kehabisan semua juga harta bend yang untuk dimakan nganggur saja?"
"Kau jangan tertawakan orang lain-coba hal itu menimpa dirimu sendiri, barang kali kau pun bisa juga berbuat demikian"
Kata Leng Bie Sian sambil tertawa.
"Mana bisa? Aku justru tidak bisa berbuat begitu"
Berkata Cin Hong dengan muka merata.
"Heh Kukira meskipun para piauwsu itu setiap hari menjaga dan melindungi para isteri dan anak perempuannya, tetapi aku tidak perCaya kalau orang-orang dari dalam penjara rimba persilatan yang baru ini, sudah sama sekali tidak bisa lagi turun tangan untuk menculik anak istri mereka. Bagaimana kalau malam ini kita meronda satu malaman di kota Tiang-an ini? Kalau dapat kita tangkap salah seorang dari kaum penculik itu, bukankab merupakan satu jasa juga ?"
"Itu benar, kita cari sebuah penginapan dulu, nanti tunggu hingga tengah malam baru keluar pintu"
Berkata Cin Hong girang.
Sehabis makan mereka turun dari tangga loteng, lalu pesiar dijalan-jalan ramai dalam kota Tiang-an itu, kemudian mencari rumah penginapan untuk menginap.
setelah malam tiba, mereka tidur di kamar masing-masing untuk menantikan datangnya waktu malam.
Waktu tengah malam, Cin Hong mendengar ketukan tiga kali sebagai kode dari Leng Bie Sian yang tidur di kamar sebelahnya, maka ia buru-buru bangun dan lantas berpakaian tapi setelah itu membuka daun jendela dan lompat keluar.
Begitu keluar dari kamarnya, ia lihat Leng Bie Sian juga sudah keluar dan lompat keatas genteng, maka ia juga mengikuti jejaknya, dari situ lepaskan pandangan matanya ke empat penjuru, namun keadaan sunyi sepi, bulan yang terang menyinari seluruh jagat, begitu suasana kota Tiangan diwaktu malam.
Masih pula tertampak lampu-lampu dijalan, di beberapa bagian kota masih terdengar suara orang yang bercakap-cakap atau tertawa-tawa.
Leng Bie Sian menggapaikan tangannya ke arah Cin Hong, lantas melayang turun ke satu sudut jalanan kota, kemudian menyelinap ketempat gelap yang tidak mendapat penerangan sinar lampu.
Cin Hong melayang turun kebawah, bertanya dengan suara perlahan.
"Nona Leng, bagaimana bila kita bertemu dengan polisi peronda malam?"
"Kalau melihat mereka mendatangi, kau menyingkir saja tokh sudah cukup "
"Apa kita tidak lebih baik berjalan bersama-sama saja ?"
Tanya Cin Hong.
"Kita tokh bukan sedang pesiar? Perlu apa mesti berjalan bersama-sama ?"
Balas bertanya Leng Bie Sian sambil tertawa.
"Aku pikir sebaiknya berjalan bersama-sama saja, sebab seandai ..."
"Apa kau masih kuatir kalau-kalau aku juga diculik orang ?"
"Ng Meskipun kepandaian ilmu silatmu lebih tinggi daripadaku, tetapi aku takut para penculik itu ada mempunyai permainan lain-. ."
Menjawab Cin Hong sambil menganggukkan kepala.
"Jangan kuatir Malam ini, kalau kawanan penculik itu ketemu denganku, pasti akan kubuat mereka tidak barkutik "
"Baiklah, coba kau katakan bagaimana kau hendak mencari ?"
"Di kota Tiang-an ini ada tiga buah perusahaan pengantar barang, kau coba pergi ke Sun-hong-piauw-kiok untuk melihat-lihat, aku sendiri akan pergi keperusahaan yang lain, dalam waktu satu jam kita kembali dan bertemu di tempat ini lagi "
Sehabis berkata demikian, Leng Bie Sian lompat melesat, secepat kilat sudah naik ke atas genteng di rumah seberangnya, dengan dua kali lompatan sudah menghilang dari pandangan mata Cin Hong.
Cin hong juga lompat ke atas genteng, berlari-larian di atas genteng rumah orang, terus menuju ke Sun-hong piauw-kiok.
Tiba diatas genteng dekat San-hong-piauw-kiok.
ia mencari suatu tempat yang cukup tinggi dan tersembunyi untuk duduk, dari sana dapat melihat keadaan disekitarnya dengan nyata, ia melihat juga gedung Sun-hong piauw-kiok yang besar, namun gelap gulita dan Sunyi senyap.
tidak ada rasa aneh sedikitpun juga .
Ia duduk Sambil pasang mata dan telinga, akhirnya merasa bosan karena menunggu terlalu lama.
Tiba-tiba, di luar dinding tembok perusahaan pengangkutan itu, disatu sudut gelap muncul kepala seseorang, orang itu perlahanlahan menggeser kebawah dinding tembok bagian kiri, selanjutnya dari situ juga muncul seorang yang lain, yang perlahan-lahan menggeser kekanan.
Dua orang itu saling mendekati Satu sama lain, kira-kira terpisah satu kaki lantaS berhenti, agaknya sedang berbicara dengan suara sangat perlahan.
Tak lama kemudian lantas berpencar lagi, mereka masing-masing berjalan menuju ketempat semula, gerakan sangat tenang, diperhatikan terus oleh Cin Hong sampai menghilang di tempat gelap.
Menyaksikan perbuatan dua orang itu, Cin Hong mulai merasa tegang perasaannya, baru Saja hendak menyaksikan apa yang dilakukan oleh mereka, dijalan-.raya tiba-tiba terdengar suara roda kereta berjalan, dan sesaat kemudian, tampak sebUah kereta kuda yang tendanya diturunkan, kusir keretanya adalah seorang laki-laki yang kelihatannya jujur, ia terus menjalankan keretanya dan berhenti didepan pintu perusahaan pengangkutan Sun-hong piauw-kiok.
setelah kereta itu berhenti ia membuka tenda kereta, agaknya hendak melihat tetamunya, bahkan jelas sekali bahwa kereta itu dipesan oleh pihak Sun-hong piauw-kiok, Begitu kereta itu berhenti, dari tempat gelap mendadak bermunculan dua sosok bayangan orang yang masingmasing dari sebelah kiri dan kanan.
Cepat bagaikan kilat menyerbu kereta itu.
Ketika mereKa mendekati kereta, Cin Hong baru melihat nyata daripakaian mereka, ternyata bahwa mereka adalah dua polisi peronda malam, hingga diam-diam ia merasa malu sendiri.
coba tadi ia turun menyerbu mereka, tentunya mereka berbalik anggap ia sebagai orang jahat.
Dua anggota polisi ronda itu tiba dldepan kereta, satu diantaranya mendekati kusir dan bertanya.
"Dari mana ?"
"Dari perusahaan kereta Tok-heng dikota Sebelah timur."jawab sang kusir sambil memberi hormat. Polisi ronda malam itu mengamat-amati kusir sejenak. dan bertanya pula.
"Tengah malam buta kau membawa kereta kemari, ada keperluan apa ?"
"Liu Piauw-tauw sendlri yang menghendaki."
Jawab sang kuslr.
"Apa Ia suruh kau membawa keretanya pada waktu tengah malam seperti ini ?"
Tanya pula pollsl itu heran-Sang kusir hanya mengangguk.
Pada Saat itu, pintu gedung Sun-hong-piauw-kiok tibatiba terbuka, dari dalam berjalan keluar seorang laki-laki setengah umur yang berwajah tampan, sedang memimpin seorang perempuan muda yang sangat cantik.
Perempuan itu dibimbing dengan sikap mesra oleh yang lelaki, berjalan turun dari undakan depan pintu, menuju kereta, Dua anggota polisi peronda memberi hormat kepada lelaki setengah umur itu sambil berkata.
"Liu Piauw-tauw, bolehkah kami numpang tanya? Tengah malam buta seperti ini Liu Piauw-tauw sebenarnya hendak melakukan perjalanan kemana?"
Laki-laki setengah umur itu lantas membalas hormat dan menjawab.
"Bapak-bapak tentunya sudah terlalu cape aku seorang she-Liu oleh karena merasa bahwa selama beberapa hari ini keadaan sangat gawat, maka hendak memulangkan istriku pulang kekampung, hendak menyingkir untuk sementara, Supaya aku dapat melakukan usahaku dengan hati tenang, harap jangan bapak-bapak jadikan bahan tertawaan "
Dua anggota polisi itu saling berpandangan sejenak. Satu diantaranya berkata sambil tertawa.
"Kalau Liu Piauw-tauw mempunyai maksud menjaga secara demikian, kami berdua jadi tidak perlu menjaga disini lagi."
Laki-laki setengah umur itu mengucapkan beberapa patah kata merendahkan diri, lalu membimbing istrinya naik kereta dengan diikuti olehnya sendiri.
Kusir kereta juga segera lompat naik ke atas keretanya kembali, setelah itu mulai menjalankan keretanya kembali.
Dua polisi peronda tadi menunggu sampai kereta itu berjalan cukup jauh, satu diantaranya yang tak tahan rasa gelinya, berkata kepada kawannya.
"Ha ha, pantas ia itu demikian khawatir dan ketakutan, memang benar istrinya itu tidak jelek"
Yang lain menyahut sambil tertawa.
"Bukan cuma tidak jelek saja, aku dalam hidupku sampai sebegini tua, boleh dibilang baru pertama kali ini menyaksikan seorang perempuan yang begitu cantik."
Polisi yang berkata lebih dulu tadi berkata lagi sambil tertawa terbahak-bahak.
"Kau jangan mengiri, mungkin jauh lebih baik keadaanmu sekarang ini. Kau harus tahu mempunyai istri cantik, lebih banyak harus menjalani siksaan hidup, Kau lihat saja contohnya ia selama beberapa hari ini kukira benar-benar tidak enak makan tidak enak tidur, hidupnya selalu diliputi oleh kekuatiran dan ketakutan, takut dan kuatir kalau-kalau sampai terjadi istrinya diculik orang. Aku kira, dari pada hidup semacam itu, ada lebih baik kawin dengan seorang perempuan yang jelek sama sekali"
"Pui Lantaran kau sendiri sudah menikah dengan perempuan jelek tentunya. Dan ucapanmu itu cuma untuk menghibur dirimu sendiri bukan?"
Mereka berjalan sambil mengobrol dan menuju kejalan raya, Cin Hong juga merasa tidak ada perlunya berdiri lama-lama disitu.
Tapi, selagi hendak keluar mencari Leng Bie Sian, tiba-tiba terdengar suara nyaring dipintu gedung Sun-hong-piauw-kiok, setelah itu tampak seorang laki-laki setengah umur lari keluar dari dalam dan berseru dengan sikap gelisah.
"oh Tuhan oh Tuhan Istriku diculik orang..... Istriku diculik orang....."
Laki-laki setengah umur itu lari menuju kejalan raya, ketika wajahnya disinari oleh sinar rembulan, membuat Cin Hong dan dua polisi itu terheran-heran.
Wajah laki-laki itu ternyata sama benar dengan laki-laki setengah umur yang dianggap sebagai Liu in coan kepala piauwsu perusahaan pengangkutan yang tadi bersama istrinya naik kereta, wajah dua orang itu seolah-olah Pinang dibelah dua.
Dua polisi tadi segera lari baiik dan bertanya kepadanya dengan terheran-heran.
"hei Kau siapa?"
Laki-laki setengah umur tadi berdiri di tengah jalan raya dengan sikap sangat Cemas tubuhnya tampak sempoyongan-Sambil membanting-banting kaki, mulutnya berseru tidak hentinya.
"Istriku In Gie, istriku In Gie, kemana kau? Kemana kau?"
Dua anggota polisi tadi maju menghampiri dan bertanya lagi padanya.
"hei Tengah malam buta rata seperti ini kau berteriakteriak macam itu, apa perlunya, kau sebetulnya siapa?"
Laki-laki setengah umur itu terheran-heran, katanya.
"Mengapa bapak berdua tidak mengenali aku Si orang she Liu lagi?"
"Haaaa.. Jadi kau kepala piauwsu Sun-hong piauw-kiok Liu in coan?"
Bertanya anggota polisi tadi terheran-heran-Laki-laki setengah umur tadi mengangguk-anggukkan kepala dan berkata dengan wajah muram.
"Ya Aku baru saja bangun tidur, baru mengetahui bahwa istriku sudah tidak ada disampingku. Apakah bapak-bapak berdua ada melihat dia tadi disekitar tempat ini ?"
Dua poliSi tadi membelalakkan matanya, dengan suara gelagapan menjawab.
"Aaaa, apa artinya ini? Kami berdua baru saja menyaksikan kau bersama nyonyamu pergi ke luar kota menaik kereta, kau Liu Piauwtauw bahkan masih mengatakan hendak bawa nyonya mau pulang ke kampung untuk menyingkir sementara waktu"
Liu in coan menunjukkan sikap kaget, katanya dengan suara ketakutan-.
"Mereka menuju kemana?"
Polisi tadi mengacungkan tangannya menunjuk ke ujung jalan, Liu in coan berseru dan lantas mengejar ke tempat yang ditunjukkan tadi.
Tetapi Cin Hong bergerak lebih Cepat dari padanya, belum mendengar habis keterangan polisi tadi, ia sudah melesat, dengan melalui genteng genteng rumah orang pergi mengejar kearah tadi, gerakannya itu demikian cepat hingga seperti anak panah melesat dari busurnya.
Dalam waktu sekejap mata saja, Cin Hong sudah mengejar sampai di bawah pintu kota, disitu tampak olehnya dua tentara penjaga pintu sedang hendak menutup pintu kota, wajah dua orang itu jelas menunjukkan sikap girang mungkin mereka baru saja mendapat persenan besar.
Cin Hong menggunakan kesempatan selagi mereka belum menutup pintu kota itu seluruhnya, bagaikan aSap melesat melalui pintu tadi, Setelah keluar dari pintu kota, segera menampak Sebuah kereta sedang dilarikan kencang menuju kejalan raya yang masih kira-kira setengah pal jauhnya.
Malam itu udara diterangi Sinar rembulan, oleh karena kuda yang menarik kereta itu lari terlalu cepat, keretanya jadi bergoncang-goncang hebat.
Cin Hong mengejar terus, tak lama kemudian, perlahanlahan sudah mendekati kereta itu, hingga terpisah beberapa puluh tombak saja.
Tepat pada saat itu jalannya kereta itu mendadak jadi perlahan, seperti sebuah kereta yang tidak ada pengendalinya, dengan sendirinya gerakannya mulai lambat.
Dan pada akhirnya, berhenti sama sekali.
Cin Hong lompat kedepan, dan mulai pasang mata, tetapi ditempat duduk kusir sudah tidak tampak lagi lakilaki yang mengendalikan kuda.
ia lalu maju membuka tutup kereta itu ternyata kosong melompong, sudah tidak terdapat seorangpun Tetapi ada satu yang dilihatnya.
Di tempat duduk kusir, tampak olehnya ada sepotong kertas yang di atasmya ditulis dengan huruf-huruf yang berbunyi sebagai berikut.
"Untuk mengambil kembali istrimu, silahkan datang kepuncak Sin-lie-hong di gunung Bu-San, Pergilah menantang bertanding ke rumah penjara rimba persilatan yang baru "
Kertas itu merupakan Suatu bukti bahwa istri kepala piausu sudah diculik oleh komplotan rumah penjara rimba persilatan yang baru di gunung Bu-san, kabarnya mereka setiap kali merampok atau menculik seorang wanita, lalu meninggalkan sepotong surat yang demikian bunyinya.
Cin Hong jadi tidak habis mengerti.
Kapan keluarnya mereka dari dalam kereta?
Lebih-lebih ia tidak tahu, kearah mana mereka lari?
Tapi ia tak mau berpikir lama-lama, segera lompat ke atas kereta danpasang mata.
Tapi apa yang dilihatnya?
Disekitar tempat itu hanya ada tanah belukar yang diliputi oleh suasana malam, sama sekali tidak tampak bayangan seorangpun Tak lama kemudian, dari pintu kota yang tadi dilaluinya mendadak lari seorang yang menuju kearah kereta yang kosong ini.
Orang itu adalah Liu in coan, kepala piauw-tauw yang kehilangan istrinya, Liu in coan lari terus sambil menenteng pedangnya, wajahnya menunjukkan sikap marah yang amat sangat, sepasang matanya mendelik seperti orang gila.
Cin Hong kuatir kalau-kalau terjadi kesalah pahaman, maka buru-buru lompat menyingkir ketepi jalan dan segera balik kembali kedalam kota melalui jalan kecil.
Tiba-tiba didalam kota, ia lari ke perusahaan pengangkutan lainnya, namun tak bisa menemukan Leng Bie Sian, terpaksa balik kembali ketempat yang sudah dijanjikan oleh mereka untuk menunggu.
la menunggu terus, Satu jam telah berlalu, namun tidak tampak bayangan Leng Bie Sian kembali kesitu.
la mulai merasa tidak tenang, Saban-saban harus melongokan kepalanya dan berjalan mundar mandir sambil mengepal-ngepal tangannya.
Lewat lagi sebentar, Leng Bie Sian masih tetap belum kembali.
Cin Hong semakin merasa gelisah, hatinya terasa pedih seperti diiris-iris.
la mendongakkan kepala mengawasi rembulan purnama, dalam perasaannya seolah-olah sang rembulan sedang mengawasi dirinya sambil tersenyum.
Lamelihat lagi bintang-bintang dilangit, namun bintang bintang itu seolaholah tidak menghiraukan keadaannya.
ia menghela napas panjang pendek.
dan akhirnya bertanya kepada diri sendiri.
"Apakah dia menemukan jejak musuh yang lainnya dan sedang mengejarnya ?"
Pertanyaan itu akhirnya dijawab sendiri olehnya.
"Mungkin ya ... ."
Tapi lain pertanyaan timbul dalam hatinya "Apakah tidak mungkin kalau ia diculik?"
Pertanyaan itu kembali dijawab olehnya Sendiri.
"Rasanya tidak mungkin kepandaiannya demikian tinggi....."
Kalau begitu, kenapa apa sebab dia hingga sekarang belum juga kembali ?
Ia memikirkan segala kemungkinan yang bisa terjadi atas diri Leng Bie Sian, tapi sekian lama tetap tidak mendapatkan jawaban-Beberapa kali ia ingin pergi mencari kemana saja yang sekiranya Leng Bie Sian bisa diketemukannya, tetapi ia juga tidak berani meninggalkan tempat itu.
Bagaimana kalau sewaktu ia berlalu gadis itu sampai disitu?
Ia khawatir kelak Leng Bie Sian tidak melihat dirinya lalu cemas, dan akhirnya ia teringat kepada suatu kisah begini.
"Dahulu kala adalah seorang pemuda bernama Hui Seng yang mengadakan perjanjian akan bertemu dengan kekasihnya di bawah tiang di tepi sungai. Sang kekasih lama tak kunjung datang, hingga ketika air sungai meluap tinggi dan merendam tiang itu, ia masih terus saja menunggu sambil memeluki tiang pada akhirnya ia kerendam dan mati."
Ia suka dengan kisah itu, juga mengagumi keteguhan hati pemuda itu, hingga terbinasa, masih tidak mau mengingkari janjinya, oleh karena teringat oleh kisah tadi, maka ia mengambil keputusan untuk menunggu lagi, sehingga Leng Bie Sian balik kembali.
Tetapi hingga terang tanah, Leng Bie sian tetap belum kembali.
Jalan raya mulai ramai oleh orang berlalu-lalang, semua orang yang lewat disitu pada mengawasi padanya dengan sinar mata terheran-heran.
Ia tidak berani menunggu terus lagi, terpaksa diam-diam kembali ke rumah penginapannya dan membereskan pakaiannya, setelah meninggalkan sepotong uang perak.
ia diam-diam berlalu meninggalkan rumah penginapan, dan menuju ke gunung Tay-pa-san-Ia menduga pasti Leng Bie Sian sudah diculik oleh orang-orang Rumah Penjara Rimba Persilatan di gunung Bu-san-PiKirnya, jalan paling baik ialah lekas kembali ke gunung Tay-pa-san untuk memberitahukan berita itu pada suhunya, kemudian ia sendiri akan pergi menantang ke Rumah Penjara Rimba Persilatan yang baru di gunung Busan.
Hari kedua tengah hari, untuk kedua kalinya ia tiba di depan pintu batu Rumah Penjara Rimba Persilatan di gunung Tay-pa-san, kunjungannya untuk kedua kalinya ini jika dihitung dari kunjungannya yang pertamanya hanya terpaut kurang lebih dua bulan saja.
Tetapi ia teringat kepada suhunya, subonya, sumoaynya, dan seorang wanita yang bernama Siu Khim yang ia ingin ketahui siapa sebetulnya, hingga ia merasa Waktu dua bulan itu seperti dua tahun saja lamanya.
Melihat kedatangan Cin Hong, Tiat-oe Siangsu unjukkan sikap sangat senang sekali, begitu bertemu muka sudah mengeluarkan suara dengan Sikapnya yang sangat ramah tamah.
"Cin Siaohiap. kudamu telah kupelihara baik-baik sampai menjadi gemuk"
Cin Hong mengucap terima kasih, kemudian berkata sambil tertawa.
"Apakah laucu kalian ada ?"
"Ada Ada Laucu lama sudah pesan lohu, setiap waktu kalau Cin siaohiap datang, harus disambut sebaik-baiknya. Sekarang lohu hendak antar kau naik ke lembah, marilah "
"Aku tidak berani merepotkan siangsu, biarlah aku pergi sendiri saja "jawab Cin Hong. Thiat-oe Siangsu karena tugasnya yang harus menjaga pintu gerbang, maka juga tidak mengukuhi kehendaknya, tetapi ia masih memerintahkan seorang pegawai penjara untuk mengawani tamunya. Kali ini Cin Hong tidak perlu mengeluarkan uang persenan. dengan lancar sudah masuk ke dalam lembah, dan akhirnya masih tetap bersama-sama orang yang ditugaskan sebagai Tay-giam-ong masuk keruangan tamu rumah penjara rimba persilatan-Tak lama kemudian, penguaSa rumah penjara juga sudah masuk di ruang tamu. Penguasa rumah penjara begitu melihat Cin Hong datang sendiri, agak terkejut juga , tanyanya terheran-heran-"Ee, dimana Sian-jie?"
Cin Hong dalam hati merasa geli, ia balas bertanya sambil memberi hormat.
"Sejak kapankah laucu menyerahkan muridmu kepadaku ?"
Laucu itu hanya mengeluarkan suara oh, mungkin karena merasa malu sendiri, lalu katanya sambil tertawa.
"Aku perintahkan dia diam-diam mengikuti kau, Kukira dia pasti tak dapat kendalikan perasaannya dan unjuk diri untuk bertemu denganmu, kiranya dugaanku itu keliru sama sekali ..."
"Dugaan laucu tidak keliru "
"Tapi dimana dia sekarang ?"
"Sukakah laucu kasih penjelasan lebih dahulu apa sebabnya laucu perintahkan dia mengikuti aku ?"
Laucu itu seperti kebiasaannya berjalan lebih dahulu kejendela, lalu berdiri disitu, kemudian baru menjawab dengan sikap tenang dan Cerdik.
"Asal tidak mengandung maksud jahat rasanya sudah Cukup, urusan ini tidak ada perlunya dijelaskan "
Cin Hong berpikir sebentar kemudian baru berkata.
"Baiklah. Apakah kau pernah dengar pada waktu belakangan ini dipuncak Sin-lie-hong gunung Bu San, telah dibangun lagi sebuah rumah penjara rimba persilatan yang baru?"
"Tahu, sampaipun surat selebarannya juga sudah kubaCa "
Jawab penguasa rumah penjara sambil menganggukangguk. Cin Hong bertanya sambil menatap wajah penguasa rumah penjara.
"Bagamana kesan laucu?"
"Perbuatan orang-orang golongan hitam, tidak ada harganya untuk dibicarakan."
"Maksudmu, apakah hanya rumah penjara yang kau bangun ini saja yang asli ?"
Penguasa rumah penjara rimba persilatan mengangguk pula.
"Tetapi, mereka telah menyebarluaskan orang-orangnya, sudah menculik beberapa orang wanita, semua itu jelas menunjukkan perbuatan mereka yang terkutuk dan lebih jahat dari pada rumah penjara kalian di gunung Tay-pa San ini dengan lain perkataan, mereka rupanya sengaja hendak menantang terhadap kau, laucu "
"Aku tidak ada waktu untuk menguruSi mereka "
"Apabila murid perempuanmu diculik oleh mereka bagaimana ?"
"Kukira tidak mungkin "
"Kau jangan terlalu percaya dirimu sendiri, murid perempuanmu itu barang kali sudah diculik oleh mereka ..."
Sikap penguasa rumah penjara nampak tegang, ia berdiri tegak. sepasang matanya memancarkan sinar tajam berkilauan, perlahan-lahan lalu katanya.
"Apa katamu ?"
Cin Hong menceritakan semua pengalamannya dan apa yang pernah dilihat dan didengar oleh mata dan telinganya sendiri.
Sekujur tubuh penguasa rumah penjara tampak gemetaran karena menahan marah, sepasang matanya menatap Cin Hong sekian lama, berkata sambil menggertak gigi.
"Anak baik, terhadap saorang anak perempuan saja kau sudah tidak dapat melindungi, Ing Ing..."
Cin Hong merasa malu, katanya.
"Aku semula hendak pergi mencari bersama-sama dia, tapi dia kukuh hendak jalan mencar. Apa yang bisa aku perbuat?"
"Kau bohong omong kosong Kalau ia kukuh, kau juga harus kukuh, tahu? Kau harus suruh ia dengar katamu "
Bentak Penguasa rumah penjara yang sudah mulai marah. Cin Hong terkejut dan berkata.
"Dia bukan adik seperguruanmu, kau tahu... ."
Penguasa rumah penjara dengan sikap lunglai jatuhkan diri diatas sebuah kursi dan duduk. mulutnya menggumam.
"Sudah, sudah... Kali ini bagaimana aku harus berbuat....."
Seorang iblis besar seperti Penguasa rumah penjara rimba persilatan ini, juga ada waktunya mengeluh.
"Bagaimana aku harus berbuat,"
Ucapan itu apabila tersiar dikalangan Kang-ouw, pasti tiada seorangpun yang akan perCaya, sebab dalam kesan orang-orang rimba persilatan, kepandaian dan kekuatan tenaga itu adalah barang yang paling berharga di dalam dunia.
Cin Hong sebetulnya juga khawatirkan keselamatan Leng Bie Sian, tapi saat itu menampak sikap gelisah dari Penguasa rumah penjara, entah mengapa dalam hatinya timbul perasaan senang yang sangat aneh, saat itu ia malah bisa berkata sambil tertawa.
"Jikalau kau tidak suka merendahkan ksedudukanmu pergi sendiri ke gunung Bu San menantang bertanding, aku boleh mewakili kau kesana. Tapi... ."
Penguasa rumah penjara mendadak bangkit dari tempat duduknya dan berkata.
"Benar!! Aku akan segera menurunkan ilmu kepandaianku kepadamu "
"Maksudku bukan begitu, aku hanya minta supaya kau ijinkan aku menemui seseorang"
Menjawab Cin Hong sambil menggelengkan kepala.
"Waktu pertama kali aku masuk ke rumah penjara ini, dimalam hari aku pernah mendengar suara seorang wanita yang sedang menyanyikan lagu Siao-tho-hong. Kemudian aku dengar kabar ia itu bernama Siu Khim. Aku ingin ketemu dia"
"ow Ada perlu apa kau dengan dia?"
"Aku ingin tahu siapa dia itu"
Penguasa rumah penjara rimba persilatan tampak diam dan berpikir, kemudian berkata.
"Apa sebab kau hendak mengetahui dia itu siapa?"
Cin Hong takut apabila ia mengutarakan alasannya, mengakui terus terang bahwa wanita yang bernama Siu Khim itu benar-benar adalah ibunya sendiri.
Penguasa rumah penjara itu malah tak akan mengijinkan ia bertemu muka dengannya.
oleh karena itu maka ia pura-pura berlaku acuh tak acuh, katanya.
"Aku hanya tertarik oleh perasaan heran saja"
Penguasa rumah penjara itu kembali terdiam, akhirnya berkata sambil menggelengkan kepala dan dengan suara tegas berkata.
"Kalau kau tak mau menjelaskan alasannya yang benar, aku takkan mengijinkan kau bertemu dengannya"
Dalam hati Cin Hong merasa sangat kecewa, tetapi diluarnya masih bersikap acuh tak acuh, katanya sambil pentang kedua tangannya.
"Kalau begitu yah sudah, sekarang apa aku boleh pergi menengok suhuku?"
Penguasa rumah penjara itu tidak menjawab, dengan mendadak berjalan masuk ke pintu kiri ruangan tamu itu.
Cin Hong dahulu pernah mendapat persetujuannya, untuk datang lagi ke rumah penjara dan berdiam beberapa hari, kini ketika melihat ia berlalu juga , sedikitpun tidak menghiraukan padanya dan berjalan masuk ke pintu sebelah kanan maka ia jadi tak ragu lagi.
Seolah-olah ia pulang kerumahnya sendiri, dengan Cekatan ia membuka alat untuk naik turun ke dalam lembah, tak lama kemudian, ia sudah tiba didaerah kamar tawanan naga.
Waktu itu adalah pertengahan musim panas.
Hawa udara panas sekali.
Dilubang-lubang jendela setiap kamar tawanan, tidak nampak seorang tawanan pun yang tongolkan kepala.
Cin Hong terus lari sampai hampir ke dekat kamar tawanan nomor sembilan, teringat segera akan bertemu muka dengan Yo in in, maka dengan perasaan sangat girang memanggil-manggil nama gadis itu.
"In-jie, aku datang"
Akan tetapi kamar tawanan nomor sembilan itu tetap sepi sunyi tak terdengar suara orang.
ia lari lompat kebawah jendela, ketika kepalanya melongok ke dalam, saat itu ia berdiri terpaku.
Di dalam kamar tawanan itu sudah tidak tampak lagi diri sumoaynya, melainkan Seorang nenek berambut putih yang dahulu pernah bertempur dengannya digunung Bie cionglan-Waktu itu nenek itu sedang rebah-rebahan di satu sudut, ketika mendengar suara panggilan perlahan-lahan membuka dan mengucek-ngucek matanya, tampak Cin Hong datang, ia lalu bangun dan berseru dengan sikap kegirangan.
"Ai, bocah Apakah kau datang buat menengoki aku ?"
Cin Hong bingung dan menggaruk-garuk kepalanya sendiri, kemudian balas bertanya.
"Mengapa jadi kau yang ada disini ? Dimana sumoayku ?"
Nenek rambut putih itu tampak terCengang dan bertanya.
"Siapa sumoaymu?"
"Sumoayku semula berdiam dikamar ini, kemana perginya dia sekarang ?"
Nenek rambut putih itu menggelengg-gelengkan kepala dan berkata.
"hal ini aku sinenek tidak tahu, aku hanya tahu kamar ini sejak setengah bulan berselang sudah menjadi tempat kediamanku yang tetap."
Cin Hong Cemas, ia segera lompat kebawah jendela kamar delapan.
Dikamar delapan ini tampak olehnya, Swat Po-po didalam jendela satu jari tangan kanannya diletakkan dibibirnya dan berkata dengan suara perlahan.
"Ssst Perlahan sedikit, Suhumu Si setan tua itu sekarang sedang melatih ilmu silatnya"
Cin Hong mengeluarkan suara "oh,"
Lalu memberi hormat kepada Swat Po-po dan bertanya dengan suara perlahan .
"subo, kemana In-jie pergi ?"
Swat Po-po menghela napas dahulu, baru berkata.
"Panjang Ceritanya kalau kau mau tahu. Hari keempat setelah kau berlalu dari sini ia mengira sudah sanggup menyambut serangan Penguasa Rumah Penjara sampai sepuluh kali, hingga tanpa sabar sudah pergi menantang bertanding kepada Penguasa Rumah Penjara ..."
"Akhirnya ia berhasil menyambut berapa kali ?"
"Delapan kali "
"Kalau begitu tohk masih tetap menjadi tawanan naga juga ?"
"Tujuh hari berselang, ada seorang pemuda bernama Siu, datang kemari menengok suhumu dari pemuda itu mendapat berita tentang dirimu. ia bergirang dan bersemangat, kembali mengelabui aku, diam-diam pergi menantang bertanding."
Cin Hong kembali menjadi tegang dan bertanya.
"Dalam pertandingan kedua ini ia berhasil menyambut berapa kali?"
Swat Po-po menghela napas panjang dan berkata.
".....seperti biasa "
"Kalau begitu, juga masih tetap menjadi tawanan dikamar penjara naga "
Nenek Swat Po-po berkata lagi.
"Lima hari berselang, malam harinya ia mimpi melihat kau ditangkap oleh orang golongan Kalong, dan melihat kau dirotan, maka begitu terang tanah, ia pergi menantang bertanding lagi. Aku memaki-makinya, tapi tak dihiraukan, ia kata segalanya ia tidak mau perduli lagi."
Cin Hong yang mendengar ucapan itu hatinya berdebaran, katanya dengan hati Cemas.
"Ini adalah yang terakhir, bagaimasa kesudahannya ?"
"Empat kali, Sekarang kamar tawanan naga ini juga sudah tidak bisa menerima dia lagi "
Berkata Soat Po-po dengan airmata berlinang.
"Kalau begitu, dia sekarang masih berdiam di kamar tawanan ular ?"
"hm, bocah Dimana liangsimmu ? Kau tahu dia dipindahkan kekamar tawanan ular mengapa malah kegirangan ?"
"Subo tidak tahu, terakhir kali jikalau dia tidak diturunkan tingkatnya dan berpindah di kamar tawanan ular, akan menjadi tawanan se-umur hidup, Pindahnya dia kekamar tawanan ular, itu berarti masih mendapat kesempatan untuk menantang bertanding satu kali lagi "
Swat Po-po tampaknya merasa bingung, tanyanya.
"Mengapa begitu ?"
"oleh karena tingkatannya berbeda, dia diturunkan lagi ke kamar penjara ular, lantas boleh dipandang sebagai orang yang pertama akan pergi menantang, maka masih punya hak menantang satu kali lagi. Kalau hal itu digunakan terus menerus secara begitu, jadi tidak akan ada habisnya. Inilah cacad dari peraturan rumah penjara rimba persilatan ini. Tee-cu dalam hal ini sudah lama tahu."
"Kalau begitu, semua orang juga boleh menggunakan akal itu, untuk menantang beberapa kali kepada penguasa rumah penjara, bukan?"
"Ya, teecu dahulu lupa menceritakan ini-Biarlah nanti teecu akan berita hukan kepada seluruh tawanan kamar naga ini tentang cara-cara tersebut, suruh mereka setiap hari menantang penguasa rumah penjara, biar dia kecapean menyambut, dan jadi lelah sendiri."
Swat Po-po pikir ucapan Cin Hong itu makin beralasan, maka ia berkata.
"Ya, ini sangat interesan, besok atau lusa aku akan menantang bertanding kepadanya Ai, setiap hari berdiam disini, alangkah kesalnya ..."
Si nenek lalu menanyakan apa kerja Cin Hong diluaran, kenapa begitu cepat sudah balik kembali.
Cin Hong menceritakan satu persatu, hanya tidak mengatakan bahwa ia pernah anggap Leng Bie Sian sebagai Yo In In dan bahkan sudah mulai tergoyah hatinya oleh murid penguasa penjara rimba persilatan itu.
"Ha ...?Jadi kau sudah mengetahui bahwa wanita bernama Siu Khim adalah iba kandungmu ?"
"Ya Menurut ucapan penguasa rumah penjara sendiri, jikalau aku menceritakan alasannya yang sebenarnya, dia akan mengizinkan aku bertemu muka dengannya. coba subo pikir, teecu boleh berkata terus terang atau tidak ?"
"hal ini, kau sebaiknya tanya kepada Suhumu saja, aku juga tidak tahu bagaimana seharusnya ..."
Cin Hong lalu berjalan kebawah kamar nomor tujuh, tampak suhunya sudah menantikan kedatangannya di lubang jendela sambil tersenyum, maka ia buru-buru memberi hormat dan berkata.
"Sahu sudah selesai berlatih?"
It-hu Sianseng tersenyum, dan berkata.
"suhumu tidak melatih ilmu apa apa "
"Mengapa Subo tadi mengatakan....."
Cin Hong rupanya keheranan.
"Ia membohongi kau. Mungkin ia terlalu kesal, mau mencari orang yang dapat diajak beromong-omong. Melihat kau datang, ia takut kau hanya pergi menengok aku dan berbicara denganku, maka ia lalu menggunakan akal licik....."
Soat Po-po yang mendengar jelas pembicaraan mereka, lalu memaki-maki.
"Tua bangka.. Kau berani menjelek-jelekan diriku didepan muridmu? Hm Kau nanti akan mati seCara tidak wajar "
It-hu Sianseng tidak menghiraukan ocehan soat Po-po, tenang sekali ia berkata kepada Cin Hong.
"Anak. semua ucapanmu tadi telah kudengar. Tentang urusan itu, suhumu anggap sebaiknya tak usah kau Ceritakan"
"Ya, teecu akan mencari akal sendiri untuk menemui wanita itu "
"Tentang rumah penjara rimba persilatan yang baru dibangun di gunung Bu San itu, sebetulnya bagaimana keadaannya?"
Cin Hong menceritakan apa yang diketahuinya, akhirnya berkata.
"Kalau teecu sudah berhasil menemukan ayah dan ibu, baru akan mengambil keputusan untuk menantang bertanding. Rumab penjara rimba persilatan yang baru itu benar-benar terlalu terkutuk. biar bagaimana kita harus berusaha menolong keluar wanita-wanita yang diculik oleh mereka "
"Baiklah, dalam urusan ini suhumu juga tidak suka mencegah kau. Demi keadilan dan kebenaran, kalau sampai ditawan, setidak-tidaknya ada lebih baik dari pada ditawan lantaran mencari nama "
Kata It-hu Sianseng sambil menghela napas.
Cin Hong mengangguk-angguk karena merasa apa yang hendak dikata sudah diceritakan habis semua dan otaknya mulai teringat kepada diri In-jie, maka dalam hati ingin sekali lekas-lekas pergi menengoknya.
Tetapi ia tidak enak untuk menyatakan kepada suhunya.
It-hu Sianseng sudah tentu dapat menebak isi hatinya maka lalu berkata sambil tersenyum.
"Sekarang pergilah kau tengoki In-jie, budak itu rupanya sudah jatuh hati benar kepadamu "
Tentu Saja Cin Hong merasa girang, baru hendak memutar tubuh untuk berlalu, mendadak can-sa-sian Sie Koan, pemimpin pengemis sudah tongolkan kepalanya yang mesum dan awut-awutan rambutnya, katanya dengan suara nyaring.
"Hai, kau masih belum membicarakan tentang diri murid ku"
Cin Hong buru-buru menjura dan berkata padanya.
"Siepangcu baik-baik sajakah? Murid mu sekarang sedang membantu boanpwe, pergi memberitahukan kepada partai-partai Ngo-bie, Kun-lun, Klong-lay, Kang-lam, Swatsan dan Thian-shia, minta mereka supaya waspada atas gerakan orang-orang golongan Kalong. Selama ini entah bagaimana hasilnya."
"Kalau kau nanti ketemu lagi dengannya suruhlah ia pergi menantang bertanding ke rumah penjara rimba persilatan yang baru,"
Kata can-Sa-sian.
Cin Hong menyatakan baik, lalu memUtar tubuh dan berlari turun, sewaktu ia meliwati jendela kamar sembilan, nenek berambut putih tongolkan kepala dan tangannya, katanya dengan suara aneh.
"Hai, bocah Kemarilah kau, kita beromong-omong dulu eh, kau lari? Kau lari? Anak busuk Ah... .coba dulu aku tidak dengar ucapanmu, sekarang tentunya tidak jadi begini... ."
Cin Hong berlagak tidak dengar, ia menundukkan kepala dan terus lari menuju ke bawah, setelah mengitari jalan berliku-liku di dalam lembah, barulah tiba di kamar nomor seratus lima, karena melihat kamar tawanan itu tidak ada orangnya, buru-buru undurkan diri dan balik ke kamar nomor empat, disitu juga tidak ada orang, barulah ingat bahwa kamar ini dahulu adalah kamarnya si bopeng Bwee Houw An, Si bopeng itu berhasil keluar setelah menantang bertanding, maka ia lalu balik lagi kekamar nomor empat, didalam kamar itu juga tampak ada duduk seorang laki-laki setengah umur yang sangat mesum, kepadanya Cin Hong tanya sambil memberi hormat.
"Tuan numpang tanya, kemana orangnya yang berdiam di kamar nomor lima ini?"
"Apakah nona Yo?"
Balas bertanya lelaki setengah umur itu dengan suara datar.
"Benar, kemana ia pergi?"
"Sedang bekerja didalam lembah "
Cin Hong mengucapkan terima kasih, ia segera berlalu.
Dahulu ia tidak mendapat kesempatan untuk turun ke lembah, kali ini benar-benar ingin melihat para tawanan itu sebetulnya melakukan pekerjaan berat apa.
Ia pikir tawanan itu semuanya memiliki kepandaian ilmu silat yang cukup, apa sebab penguasa rumah penjara rimba persilatan itu memikirkan suatu cara untuk menyusahkan mereka?
Dari atas melongok ke bawah lembah, samar-samar tampak ada beberapa puluh titik hitam, sedang beberapa barang yang mirip dengan batu cadas, tampak bergerak perlahan-lahan.
agaknya diantaranya masih ada orangorang yang sedang memikul apa-apa.
Apa yang sedang dilakukan mereka?
Sedang menggiling beraskah?
Ouw, apabila itu benar, ini juga boleh dikata makan tenaga sendiri.
Mana boleh dihitung bekerja berat?
Ia lari turun terus sambil berpikir, sebentar saja sudah ada dibawah lembah, kini setelah melihat keadaan seluruhnya, lantas menghentikan langkahnya dan berdiri terpaku ditempatnya.
Yang dilihat Cin Hong dari atas tadi adalah orang-orang yang sedang menggali batu dengan besi, bukan seperti apa yang diperkirakannya sebagai orang menggiling padi atau gandum.
orang-orang disitu sedang menggali lubang dari dalam goa yang bulat, dari situ mengeluarkan batu-batu cadas.
pada waktu itu, para tawanan yang sedang melakukan pekerjaannya terbagi-bagi dalam beberapa kelompok.
Kelompok pertama adalah orang yang sedang mengeluarkan batu-batu dari goa, kelompok kedua mengangkut batu-batu itu kedalam satu kuali besar yang sedang menyala apinya.
Apa sebetulnya yang sedang dilakukan oleh mereka?
Cin Hong tidak tahu dan juga tidak mengerti malah tidak mau memikirkan semua itu, sebab diantara sekian banyak orang-orang tawanan itu, ia sudah dapat menemukan Sumoaynya itu.
Gadis itu sedang melakukan pekerjaan mencuci, rambutnya terurai sampai ke bawah, wajahnya penuh keringat, ia seolah-olah takut jari-jarinya nanti menjadi kasar, kerjanya dilakukan sangat hati-hati, bahkan sepasang matanya sebentar-bentar melirik kepada seorang tua berjubah merah yang bertindak sebagai petugas mandor.
Kalau dilihatnya mandor itu berpaling ia buru-buru melakukan pekerjaannya, pura-pura rajin, tapi begitu mandor itu menengok ke la in jurusan, ia segera menghentikan pekerjaannya.
Cin Hong merasa kasihan, tapi diam-diam juga merasa geli, waktu itu ia sedang berjalan terus menuju ke belakang diri Yo In In dan tiba-tiba memanggil dengan Suara perlahan.
"In-jie"
Yo In In cepat berpaling, begitu melihat kekasihnya, mungkin karena terlalu girang, lalu berseru dan jatuhkan diri ke dada Cin Hong, katanya sambil tertawa dan mengeluarkan air mata.
"Engkoh Hong, aku sedang memikirkan kau benar-benar aku sedang memikirkan dirimu"
Para tawanan yang menyaksikan Yo In In memeluk seorang pemuda di hadapan umum, semua lantas berhenti bekerja malah ada yang lantas berdiri termangu-mangu, di samping yang berteriak-teriak keCewa.
orang tua berjubah merah itu menggerak-gerakkan pecut ditangannya sambil berteriak-teriak.
"Ada apa ? ini ada apa ?"
Kini In-jie baru sadar bahwa ia telah berbuat terlalu menyolok di hadapan umum, karena merasa malu lalu buru-buru melepaskan tangannya dan memutar tubuh mengawasi para tawanan yang lainnya.
Rupanya semua orang tawanan itu takut sekali kepada Yo in in, karena begitu melihat gadis itu marah, tidak berani lagi mereka tertawa-tawa atau berteriak-teriak mulai lantas melakukan pekerjaan lagi.
orang tua berjubah merah menghampiri Cin Hong dan membentak keras.
"Hei kau pemuda dari mana ?"
Cin Hong memberi hormat dan menyahuti.
"Locianpwe harap jangan marah, aku yang rendah adalah tamu laucu kalian "
In-jie lalu menyambung.
"Hei, cap-giam-ong, suhengku ini datang hendak menengok aku, sekarang aku hendak pergi berbicara dengannya"
"Tidak bisa, diwaktu kerja tidak boleh menemui tamu "
In-jie merasa tidak senang, ia berpaling dan berkata kepada Cin Hong sambil memberi isyarat dengan matanya.
"Engko Hong, penguasa rumah penjara ini tentunya sudah mengizinkan kau menengok aku, bukan ?"
CIN HONG menganggukkan kepala, tapi dalam hati merasa geli sudah membohonginya. In-jie selanjutnya berkata.
"Kalau begitu kau pulang saja, beritahukan kepada penguasa penjara bahwa cap-giam ong tidak mengizinkan kau melihat aku "
Wajah cap-giam-ong berubah, ia bertanya sambil menatap Cin Hong.
"Benarkah laucu telah mengizinkan kau datang kemari ?"
"Ya, jikalau tidak. mana bisa aku turun kemari ?"
"Baik, kalau kalian hendak beromong-omong juga , pergilah jauhan Sedikit, tetapi ingat, kalian hanya diberi waktu satu jam."
Kata cap-giam Ong.
In-jie sangat girang, sambil menarik tangan Cin Hong ia berlalu dari tempat kerja.
Mereka meninggaikan tempat kerja itu jauh sekali, dan duduk di suatu tempat yang membelakangi batu cadas.
Injie seperti balik kembali kepangkuan ibunya yang sudah lama berpisah, begitu mereka berdua duduk.
segera jatuhkan kepalanya di dada Cin Hong sambil menangis dengan sedihnya.
Cin Hong mengeluarkan sapu tangan mengeringkan air matanya, menghiburi gadis itu dengan kata-katanya.
"Jangan menangis In-jie. Aku tahu kau seorang gadis gagah berani, bukankah begitu ?"
"Aku sebenarnya tidak takut menderita. Biarlah aku bicara terus terang kepadamu, engkoh Hong, aku benarbenar selalu ingat kau. Malah ada kalanya begitu hebatnya aku memikirkan dirimu, Sampai..."
Kata In-jie sambil menangis. Cin Hong merasa terharu, juga merasa malu kepada diri sendiri, diluar kekuasaannya sendiri, menundukkan kepala dan mencium bibir in-jie, katanya dengan suara gemetaran.
"In-jie, untuk selanjutnya aku akan bersamamu selamalamanya, sekalipun langit rubuh aku juga akan bersamamu "
In-jie hampir tidak bisa bernapas, mendorong perlahan tubuh Cin Hong sambil tersenyum girang.
"Kau sudah menengok suhu ?"
"Sudah. Suhumu sebetulnya marah padamu tetapi setelah kuberi penjelasan padanya, sekarang jadi tidak marah lagi "
"oh, bagaimana kau bilang ?"
"Aku kata bagus sekali perbuatanmu yang menantang bertanding untuk kali yang terakhir itu. Sebab, kalau kau tidak dapat menyambut penuh serangan sepuluh kali, atau tidak bisa menyambut lima kali serangan keatas, kau baru akan menjadi tawanan seumur hidup, Tapi sebelum lima jurus kau jatuh, bisa balik kembali ke kamar tahanan ular."
"Benar. waktu itu aku merasa sangat tegang sekali, begitu turun tangan segera merasa bahwa kali ini aku lebih tidak baik lagi keadaanku, maka aku lalu bertanya kepada penguasa rumah penjara bila aku dipindah ke kamar tahanan ular, masih ada kemungkinan untuk menantang lagi atau tidak. Ia kata boleh, maka setelah menyambut serangannya yang ke empat kalinya, lalu turun sendiri "
"Sekarang kau boleh segera pergi menantang. Kalau kau dipindahkan lagi ke kamar tahananan naga, kau akan mendapat bak menantang tiga kali lagi "
"cis, beberapa hari nanti sajalah kita bicarakan itu lagi, sebetulnya dalam kamar tawanan ular ini,jauh lebih menyenangkan daripada kamar tahanan naga. Aku tidak suka Selalu berdiam di dalam kamar, apa lagi suhuku suka mencampuri urusanku."
"Penguasa rumah penjara rimba persilatsn dahulu bukankah sudah menerima baik permintaanku, kau tidak perlu turut melakukan pekerjaan berat?"
"Tetapi itu aku sendiri yang suka turut bekerja, aku merasa senang Sekali berada bersama-sama mereka."
"Apa mereka tidak lagi menghina kau?"
"Mana mereka berani? Kepandaian ilmu silatku di dalam kamar tahanan ular ini adalah yang paling tinggi"
"Itu memang benar"
"Semula ada seorang tawanan yang buta matanya ingin mengganggu aku, akhirnya kupukul wajahnya sampai matang biru, sejak waktu itu dan selanjutnya, Siapapun tidaK ada yang berani mengganggu aku lagi. Tapi ....tapi ada satu orang yang terkecuali....."
"Siapa?"
"Kalau kusebutkan kau tidak boleh marah ya?"
"Aaaa? Mengapa aku harus marah?"
"Dia adalah seorang tawanan juga yang masih muda, namanya Liu siao chiu Nama julukannya Laki-laki Kasar. Dia selalu mengejar-ngejar aku, ada satu kali ia berlutut di hadapanku, katanya ia terlalu kesepian. cobalah kau pikir,-lucu tidak? Sudah tentu aku tidak mau menghiraukannya, benar-benar aku hanya melihat dan merasa kasiban sekali padanya hingga tidak tega untuk mengusir dan membentak...."
"Jangan bicarakan soal itu lagi,-sekarang aku hendak tanya padamu beberapa persoalan."
"Tidak perlu tanya, aku hanya suka kau seorang Benarbenar, kecuali kau, aku tidak suka orang lain"
"oh, aku tidak tanya padamu soal ini, jangan kau terpengaruh dahulu oleh perasaanmu sendiri"
In-jie perlahan-lahan angkat muka, menggerakkan biji matanya yang besar menatap Wajah Cin Hong, kemudian berkata dengan Sikap kemalu-maluan.
"PeraSaanku agak tegang, aku takut kau mendengar Cerita orang, Sebab para tawanan itu paling suka menimbulkan urusan"
"Asal kau tidak melakukan kesalahan, takut apa kepada omongan orang lain?"
"Biarlah, aku sama sekali tidak berbuat salah. Tapi aku masin kuatir juga , sebab para tawanan itu paling suka menimbulkan huru-hara....."
Cin Hong periahan-lahan mengelus-elus rambut Yo In In dan berkata.
"Kukata sekali lagi, jangan terlalu tegang. sekarang beritahukanlah kepadaku beberapa soal yang sebentar lagi akan kutanyakan pada-mu....."
Belum habis ucapannya di tengah udara terdengar suara bergeraknya orang dan kemudian disusul oleh turunnya sesosok bayangan orang dari tengah udara dan jatuh tepat di depan kedua orang itu.
Orang yang baru turun dari atas itu adalah seorang tawanan yang masih muda usianya rambutnya awutawutan, pakaiannya compang-camping, namun wajahnya cukup tampan sikap juga gagah.
Ia menunjukkan sikapnya yang marah, dengan mendelikan sepasang matanya, menatap In-jie, sikap orang itu seolah-olah ingin menembusi hati In-jie.
In-jie juga merasa tegang, buru-buru melepaskan diri dari pelukan Cin Hong dan lompat berdiri sambil bertanya.
"Hai, kau memandang aku secara itu, apa sebetulnya artinya?"
"Kau takut?"
Balas tanya tawanan muda itu sambil tertawa dingin. Cin Hong juga segera bangkit dari tempat duduknya, bertanya Sambil menatap Wajah Yo in in.
"In-jie, siapa dia?"
Yo In in tidak menjawab, sebaiknya malah begitu marah sikapnya, berkata sambil membanting-banting kaki.
"Pergi..Pergi Pergi...Aku tokh sudah memberitahukan padamu, aku tidak bisa menyukai kau, bukan? Kenapa kau selalu mengejar-ngejar orang yang tidak suka kepadamu?"
"Ouw, begitu? Sayang aku Liu Siao chiu bukan seorang tuli. Sejak kapan kau beritahukan kata-kata itu padaku?"
Tanya pemuda itu Sambil tertawa dingin.
"Sejak bermula kukenal kau Apa itu saja kau lupa?"
Berkata In-jie dengan suara tajam. Pemuda itu mendadak marah, ia mengangkat tangannya dan berkata sambil menuding Yo In In.
"Yo In In, kuberitahukan padamu, bagiku segalanya tidak apa, akan tetapi kau tidak seharusnya menipu aku, tidak seharusnya mempermainkan Cinta orang lain, hm... .hm Apa kau kira Cinta orang laki itu tidak ada harganya? Kau, kau perempuan berhati kejam"
Yo In In tampak sangat gelisah hingga menangis menggerung-gerung sambil berkata dengan suara terisakisak.
"Kau jangan ngaco-belo, kalau kau ngoceh lagi, kuhajar kau nanti "
Pada saat itu cap-giam-ong yang bertugas sebagai mandor telah datang dengan membawa pecutnya, ia msmbentak sambil tuding Liu Siao chiu .
"Hei Kau tidak bekerja? Perlu apa kemari?"
Liu Siao chiu berdiri tegak. cap-giam-ong menggerakkan pecutnya menghajar dirinya, sambil perintahnya.
"Kembali Kau sungguh berani mati, heh Apakah kau kira dalam rumah penjara ini kau boleh mengejar-ngejar perempuan? "
Liu Siao chiu masih tetap berdiri tegak tidak bergerak. cap-giam-ong jadi sengit dan berkata lagi.
"Bagus Aku mau lihat, adatmu ataukah pecutku yang lebih keras....."
Sesaat kemudian, pecut turun sangat gencar, menghajar tubuh pemuda she Liu itu, hingga pakaian dan kulitnya hancur dan darah membasahi seluruh tubuhnya, tetapi Liu Siao chiu tetap tidak bergerak.
bagaikan sebuah patung.
Cin Hong jadi tidak tega.
lalu berkata padanya sambil memberi hormat.
"Saudara Liu, bila sumoayku ini berlaku salah terhadapmu, biarlah disini aku yang mintakan maaf untuknya. Sebaiknya kau lekas balik dan lakukanlah pekerjaanmu sebagaimana mestinya, Caramu yang mudah itu sesungguhnya tidak berharga sama sekali. Kau ketahuilah itu"
Liu Siao chiu sedikitpun tidak menghiraukan pecut sudah menghajar habis mukanya, tapi akhirnya ia menganggukkan kepala juga lambat-lambat, dan menggumam sendiri "Benar, tak disangka aku si laki-laki kasar Liu siao chiu bisa mandah terima pecutan lantaran perempuan-....Benarbenar terlalu menggelikan.
..."
Sambil berkata demikian, ia menggeser kakinya dan berjalan pergi sambil menundukkan kepala.
Setelah Liu Siao chiu berlalu bersama cap-giam-ong, Yo In In dengan perasaan takut mengawasi Cin Hong, seperti seorang pencuri keCil yang tertangkap basah, hingga tidak bisa mungkir dari tuduhan dan sedang menanti hukumannya.
Cin Hong dalam hati sangat mendongkol, tetapi kalau diingat ia sendiri juga pernah main api Cinta dengan Leng Bie Sian, pikirannya jadi tenang, ia menarik tangan Yo In In dan duduk lagi di atas batu, katanya dengan sabar.
"In-jie kau tidak usah takut. Sekarang kau beritahukanlah padaku apa sebetulnya yang telah terjadi?"
Mengetahui Cin Hong tidak marah, Yo In In benarbenar merasa sangat bersyukur, sambil senderkan kepalanya di dada Cin Hong, ia berkata dengan suara terisak-isak.
"Aku bukanlah sengaja, pertama kali aku ikut melakukan kerjaan berat itu, aku dengar kata orang banyak yang panggil-panggil dia lelaki kasar, dalam hatiku lalu berpikir sendiri, aku tidak perCaya di dalam dunia ini ada lelaki yang kasar."
"Dan kau lantas menggoda dia ?"
In-jie mengangguk.
"Ya ,pertama dia tidak hiraukan aku, aku lalu ganggu dia lagi, dia maSih tenang tidak hiraukan aku. Dalam hatiku sangat mengaguminya, pikirku nama julukan laki-laki kasar itu benar-benar tidaklah bohong. Siapa tahu, setelah beberapa hari lewat sejak hari itu ..."
"Dia yang berbalik cari kau ?"
"Ng, dia diam-diam memberitahukan padaku bahwa dia bukanlah lelaki kasar dan dingin seperti apa yang dibayangkan oleh orang banyak. dia hanya berusaha sekuat tenaga untuk menindas perasaannya sendiri, padahal sebetulnya dalam hatinya hangat sekali, dia butuh Cinta. Dia kata lagi bahwa pertama kali melihat aku, hatinya berdebar keras, sebetulnya ingin seperti biasa dengan sikapnya yang acuh tak acuh, tapi setelah ditindasnya perasaan itu akhirnya dia merasakan bahwa dia telah berobah, dia ingin berlaku baik terhadap aku ..."
"Lalu bagaimana kau jawab dia ?"
"Dalam hati sebenarnya aku merasa geli, tapi waktu itu aku merasa bahwa aku sudah berada di atas punggung harimau, Sulit untuk turun lagi, terpaksa berpura-pura berlaku baik terhadapnya. Hm.. Siapa suruh dia berhati demikian keras."
"Ini adalah kau yang tidak benar, lain kali tidak boleh ganggu-ganggu orang lagi"
"Ya, aku sedikitpun tidak berani mengganggu orang lakilaki lagi. Hei, tak kusangka laki yang mendapat sebutan laki-laki kasar, juga demikian sulit dihadapinya, benarbenar tidak sanggup, . ."
"Ucapan dia itu benar, perasaan Cinta orang laki-laki bukanlah barang yang sudah tidak berharga lagi sama sekali "
Yo In In merasa malu, berkata.
"Sekarang tak usah bicarakau soal ini lagi, kau kata hendak menanyakan aku beberapa hal, sebetulnya urusan apa ?"
"Pertama. orang tua pedang emas dari gunung oey Sanpernah datang kemari menantang bertanding belum ?"
"Mengapa tidak? Waktu pertama kali dia dilembah ini melakukan pekerjaan berat, entah apa sebabnya cekcok dengan It-yang-cie Siauw canJin, dari cekcok mulut sampai terjadi pertempuran, akhirnya kedua-duanya terluka parah. Penguasa rumah penjara rimba persilatanlah yang menolong orang tua pedang emas, tapi dia memukul kepala siauw canJin sehingga hancur dan otaknya berantakan "
"Aaa ... begitu ?"
"Kedua ?"
"Kedua.., . kedua .... biarlah kupikir dahulu. oh ya, kamar sebelahmu simuka bopeng Bwee Bauw An itu dengan Cara bagaimana bisa menantang bertanding dan malah bisa keluar dari sini ?"
"orang tua gilalah yang mengajarinya semaCam ilmu silat "
"Aneh, orang tua gila bagaimana mengerti ilmu silat? Dia adalah salah satu dari manusia berbisa "
"Siapa tahu ? Aku tanya padanya, dia tak mau kata apa ?"
"Apakah dia masih menurunkan ilmu silat kepadamu ?"
"Tidak!! dia memaki aku bodoh. Sebetulnya aku mana seorang bodoh ? Aku hanya kurang dalam hal kekuatan tenaga dalam saja, hingga tak dapat menyambut sampai sepuluh kali . ."
"ketiga, pekerjaan apa yang kalian lakukan? Mengapa batu-batu cadas itu dihancurkan dan kemudian ditempa ?"
"ciS, apa kau tidak mengerti ?"
"Benar-benar aku tidak mengeeti. Aku pikir, bekerja berat juga seharusnya melakukan pekerjaan yang ada artinya, bekerja semaCam itu benar-benar terlalu membosankan "
"Kau kata apa, kau ini benar-benar kutu buku kenapa begitu bodoh sekali?"
"Hus, apakah menghancurkan batu cadas juga ada gunanya ?"
"Jadi kau belum mengerti juga ? Baiklah kalau begitu, kuterangkan uutukmu. Dengar, ya. Mereka sedang menempa emas "
"Haaa ? Menempa emas ?"
"Ya, batu cadas itu mengandung bahan logam emaS, setelah dihancurkan lalu dicuci bersih dan ditempa dengan air, logam emas itu terendap. jadilah hancuran emas yang berkilauan "
"ooo begitu ? Pantas penguasa rumah penjara rimba persilatan begitu kaya, siapa yang menang dalam pertandingan dapat hadiah seributail uang emas ..."
"Kau masih hendak tanya apa lagi ?"
"Tidak ada."
Baru berkata demikian, tiba-tiba terdengar suara orang dari belakang batu cadas.
"Kalau sudah tidak ada, sekarang ikut aku naik keatas"
Cin Hong dan In-jie lompat bangun dengan berbareng, tampak dibelakang batu besar itu muncul Tay-giam-ong, berkata sambil tolak pinggang.
"Haha, kamu sembunyi di tempat ini untuk mengadakan pertemuan, he ? Kau anggap rumah penjara ini sebagai tempat apa ?"
Yo in in kemalu-maluan hingga merah mukanya, pendelikkan matanya kearah Tay-giam-ong itu, agaknya hendak segera menegur mandor itu yang sudah mencuri pembicaraan mereka.
Tapi Cin Hong bersikap hormat terhadap mandor kepala itu, ia bertanya sambil menjura memberi hormat.
"Taygiam-ong ada urusan apa ?"
"Ikutlah dulu aku naik keataa, nanti kita bicara lagi "
In-jie menarik tangan Cin Hong dan berkata.
"Jangan pergi waktu satu jam masih belum Cukup "
"Kira-kira sudah berapa lama ?"
Bertanya Cin Hong-"Setengah jam saja belum."
"Kalau begitu sebentar aku akan datang menengok kau lagi."
Kata Tay-giam-ong Sambil terjenyum.
"Kau jangan pedulikan kami kenapa sih?"
Tay-giam-ong dari tersenyum sampai jadi tertawa terbahak-bahak. dan lalu berkata "Boleh Boleh... Jikalau kau senang, aku malah boleh meminjamkan rantai untukmu "
In-jie terCengang, tanyanya "Untuk apa rantai ?"
Cin Hong buru-buru berkata.
"Tay-giam-ong, janganlah kau menggoda orang keterlaluan, sekarang sajalah aku ikut kau naik keatas "
La menghiburi in-jie dengan beberapa patah kata, kemudian berjalan naik dengan mengikut. Tay-giam-ong masuk ke-alat naik keatas lembah.
"Aku dengar laocu kata bahwa kau hendak menemui perempuan yang menyanyi itu, apakah itu benar ?"
Tanya Tay-giam-ong.
"Ya, lalu?"
"Setelah kau ketemu dia apa kau lantas suka pergi kegunung Bu San untuk menolong keluar nona Leng ?"
"Kalau ya, bagaimana ?"
"Sekarang juga aku akan ajak kau menengok dia "
"Jadi laucu kalian sudah menerima baik permintaatku?"
Tay-giam-ong mengangguk, tidak berkata apa-apa lagi.
Ketika alat itu tiba diatas, keduanya berjalan keluar.
Taygiam ong hendak ajak dia keruangan tamu, tetapi tiba-tiba didalam ruangan itu terdengar suara penguasa rumah penjara.
"Lao Sun ceng, kau bawa saja dia, tunggu setelah bertemu dengan nona Khim, lalu kau ajak lagi dia kemari untuk ketemu denganku"
Tay-giam-ong menerima baik dan merandek lalu menggapai kepada Cin Hong, setelah mana ia baru memutar tubuh dan berjalan naik ke atas tangga batu yang gelap disamping alat naik turun itu.
Cin Hong mengikuti di belakang Tay-giam ong, pikirannya semakin tegang, setiap melangkahkan kakinya ke atas, seolah-olah menginjak hati sendiri, darah sekujur badannya bergolak, hingga kedua kakinya gemetaran, hampir saja tidak mempunyai tenaga untuk melanjutkan perjalanannya .
"Benarkah dia itu ibuku? Bila benar demikian, bagaimana aku harus berbuat? Kalau bukan ibunya tentunya sudah...."
Di sepanjang jalan Cin Hong berpikir pada akhirnya tidak berani memikirkan lagi, pikirannya menjadi kalut sendiri.
Apalagi jalanan naik ke atas itu tampaknya begitu panjang sekali dan berbelok-belok serta gelap dan dingin pula, hingga dirasakan semakin berat baginya.
Melalui satu tikungan, tiba-tiba terdengar suara barang bergerak.
seolah-olah alat naik turun ke lembah itu sedang bergerak.
hingga ia agak heran, ia pikir alat itu rupanya bukan Cuma ada satu saja,, tetapi yang lain itu tidak tahu naik turun disebelah mana?
Untuk menyingkirkan perasaannya sendiri yang kalut, maka ia lantas bertanya kepada Tay -giam-Ong .
"Aaaa, itu suara apa?"
"Jangan banyak tanya, ikut saja aku?"
"Kedengarannya seperti suara dari alat naik turun ke lembah, apakah kalian masih punya lain alat lagi?"
"Kukata jangan banyak tanya, kenapa begitu rewel? Ikut saja aku"
Cin Hong masih tidak meng hiraukan, katanya pula sambil tertawa "oya, aku sekarang ingat, nona Leng pernah memberitahukan padaku....."
Tay-giam-ong mendadak berhenti dan bertanya dengan perasan tegang.
"Nona Leng pernah memberitahukan, kau apa aaja?"
"la kata.....ia kata bahwa di rumah penjara kalian ini masih ada satu tempat rahaSia lain-...."
Cin Hong mulai mengarang suatu Cerita bohong.
"Kurang ajar Bagaimana ia bisa memberitahukan padamu tentang ini?"
"Nona Leng baik sekali padaku, antara kami berdua hampir tidak ada satu rahasia pun yang kami sembunyikan, ia masih berkata......"
Berkata sampai disini Cin Hong lalu pura-pura angkat pundak.
"Ia kata apa lagi?"
"katanya lagi, bahwa Suhunya itu sebenarnya adalah seorang wanita"
Muka Tay-giam-ong berubah menjadi keren dan membalikkan tubuhnya dan memegang bahu Cin Hong dan bentaknya "Eh? Apa-apaan nih?"
Tanya Cin Hong kaget berCampur heran-Tay-giam-ong menarik padanya dan berjalan turun, katanya dengan sikap galak.
"Kau jangan harap bisa menemui perempuan yang bernama Siu Khim itu"
Cin Hong berontak dan bertanya.
"Kenapa? Toh sudah diijinkan oleh laucumu sendiri, bukan?"
Tay-giam-ong terus menarik turun dan berkata dengan sangat mendongkol.
"Kau bocah, hatimu tidak jujur Kau berani menghina laucu, akan kuajak kau menghadap laucu, disana kau boleh bicara"
Cin Hong jadi begitu gelisah, ia mengulurkan tangannya menjambret dinding seraya berkata.
"Hai, taruhlah aku salah omong, anggap saja aku tadi main-main denganmu, jangan begitu galak kenapa?"
Tay-giam-ong mengendorkan tangannya, katanya sambil tertawa dingin.
"Nona Leng masih memberitahukan apa lagi padamu?"
"la tidak memberitahukan apapun juga kepadaku, semua tadi juga adalah aku yang karang, aku pikir hendak mainmain denganmu"
Jawab Cin Hong sambil menggeleng -gelengkan kepala. Tay-giam-ong melepaskan tangannya, berkata sambil pendelikkan matanya.
"Jikalau tidak mengingat usiamu yang masih terlalu muda, aku benar-benar tidak akan mengampuni kau"
Cin Hong menjura berulang-ulang seraya berkata.
"Ya, atas pertolongan Tay-giam-ong disini kuucapkan terima kasih banyak-banyak"
Hawa amarah Tay-giam-ong mulai reda, katanya sambil mengulapkan tangan.
"Sekarang naiklah baik-baik, tidak boleh banyak bicara lagi, kalau kau berani banyak mengeluarkan suara, nanti akan kutarik turun lagi kau"
Cin Hong menyatakan baik, lalu memutar tubuh dan mendaki keatas, meskipun dalam hati mendongkol, tetapi iapun tidak berani berkata apa-apa lagi.
Setelah melewati tiga undakan batu, dihadapannya mulai tampak sebuah lorong panjang yang terang benderang, lorong yang panjangnya sepuluh tombak lebih itu dipancang rupa-rupa gambar dan tulisan, semua tiang-tiang diukir dengan ukiran naga yang dibungkus emas, keadaan itu seperti ruangan dalam istana, disebelah kiri terdapat sederetan kamar tidur kira-kira ada sepuluh buah lebih, setiap kamar, diluarnya dijaga oleh seorang tawanan penjara yang berdiri tegak.
Cin Hong menampak keadaan demikian, Setelah berpiklr, ia segera mengetahui bahwa tempat yang memiliki kamar demikian banyak ini pasti adalah kamar tidur sepuluh Giam lo-ong yang ditugaskan sebagai mandor, tentunya setiap orang satu kamar.
Tapi perempuan yang bemama Siu Khim itu entah dimana berdiam?
Dalam otaknya timbul pertanyaan begitu maka segera merandek.
Sebab ia pikir apa bila perempuan yang bernama siu Khim itu juga berdiam ditempat itu, bagaimana suaranya bisa mengalun kebawah lembah?
Selagi berpikir begitu Tay-giam-ong yang berada dibelakangnya sudah mendorongnya sambil berseru.
"Hayo jalan.. Kenapa berdiri bengong disini? "
Cin Hong terkejut, terpaksa melanjutkan perjalanannya melalui lorong panjang itu.
Ketika berjalan sampai di kamar terakhir, Tay-giam ong tiba-tiba berjalan mendahuluinya lalu mengetuk pintu, dan berkata dengan suara perlahan.
"Nona siu Khim ada di dalam?"
Dari dalam kamar terdengar sahutan Seorang perempuan yang bersuara merdu.
"Ada.. Tay-giam-ong perlu apa?"
Cin Hong yang mendengarjawaban dari dalam kamar itu, ternyata adalah suara seorang wanita, hatinya jadi berdebaran semakin keras suara itu dikenalnya betul, sed ikitpun tak salah lagi adalah Suara shiu Khim yang malam itu memperdengarkan suara nyanyiannya.
Meskipun ia hanya pernah mendengar satu kali, akan tetapi, suara yang halus merdu dan yang dapat membangkitkan rasa iba itu, sesungguhnya telah memberikan kesan terlalu dalam kepadanya, jadimendengar suara itu lagi dengan seCdirinya ia lantas tahu.
Tay-giam-ong memperlihatkan tertawa ny a yang aneh memandang Cin Hong sejenak.
lalu berkata lagi ditujukan kearah dalam kamar.
"Nona siu Khim, laucu perintahkan aku ajak seorang pemuda menemui kau"
Nona Siu Khim dalam kamar hanya meng eluarkan suara ouw yang sangat perlahan kemudian bertanya dengan suara lemah lembut.
"Seorang pemuda? Ada perlu apa ia hendak menemui aku?"
"Kalau nona siu Khim ingin menemui dia boleh tanyakan sajalah padanya, ini orangnya"
Berkata lagi Taygiam-ong. Dari dalam kamar terdengar suara elahan perlahan dari nona Siu Khim, kemudian terdengar lagi kata-katanya.
"Baiklah, Suruh dia masuk "
Tay-giam-ong lalu memberi isyarat dengan tangan kepada Cin Hong, dan setelah itu berlalu.
Cin Hong menarik napas dalam-dalam, ia mengetokpintu sangat perlahan kemudian mendorongnya perlahan-lahan juga , dengan diikuti oleh pandangan matanya yang tajam kearah dalam kamar itu.
Dari mulai masuk.
ia sudah perhatikan benar-benar keadaan didalam kamar, akhirnya ia sudah dapat menyaksikan segalagalanya dalam kamar itu.
Keadaan itu luar biasa anehnya, dalam kamar itu dihiasi sangat bersih dan indah, kecuali alat-alat biasa, masih terdapat kitab, pedang, alat-alat tetabuhan musik, biji Catur, lukisan-lukisan dan tulisan orang ternama dijaman dahulu, hal ini tak mirip dengan kamar seorang wanita lebih tepat kalau dikatakan kamarnya seorang pria dan dari kaum sastrawan.
Wanita yang disebut nona Siu Khim duduk disebuah kursi yang membelakangi pintu, ia agaknya tanggung melakukan suatu pekerjaan, hingga sama sekali tidak menoleh kearah tamunya.
Wanita itu memiliki bentuk tubuh yang sangat indah, mengenakan pakaian panjang putih bagaikan salju, dari raut mukanya yang dipandang dari samping diperkirakan usianya kurang lebih tiga puluhan tahun.
Cin Hong tidak berani lancang masuk, ia berdiri diluar pintu dan berkata sambil menjura.
"Siu.....nona Siu Khim..... aku yang rendah......ingin menjumpai kau......"
Nona siu Khim tanpa menoleh sedikitpun juga , pun tidak menghentikan pekerjaannya yang mungkin sedang tanggung, menjawab dengan tenang "Kau maSuk dulu dan tunggulah, Setelah aku menyelesaikan kerjaanku ini baru bicara denganmu."
Cin Hong menyatakan baik, lalu masuk ke dalam kamar, duduk disebuah kursi disebelah kanan perempuan itu.
Pada saat itu, ia sudah dapat melihat nyata raut muka perempuan itu.
Sebuah muka yang Cantik ayu, disamping kecantikan mukanya.
sikap dan segala-galanya menunjukan wataknya yang lemah lembut, seolah-olah lukiaan dari sebuah tangan yang sangat pandai.
Akan tetapi, mana kala pandangan mata Cin Hong dialihkan tanpa sengaja kepada sulaman kain-kain diatas meja, tiba-tiba hatinya berdebar semakin heran.
Ternyata, perempuan itu sedang menyulam membuat gambar muka orang, dan muka orang yang disulam itu mirip benar dengan muka pemuda yang pernah dilukis oleh Cin Hong atas permintaan penguasa rumah penjara rimba persilatan Saat itu wanita umur tiga puluhan itu sudah hampir menyelesaikan sulamannya berupa muka pemuda itu, hanya kurang dibagian mata kanannya saja.
Perempuan itu agaknya sadang memusatkan seluruh pikiran dan perhatiannya untuk menyulam.
Hingga Cin Hong yang duduk disebelahnya juga tidak dihiraukannya sama sekali, seolah-olah ia sudah lupa bahwa tadi ia pernah menyuruh seorang masuk kedalam kamarnya.
Cin Hong merasa bahwa mata yang disulam oleh perempuan itu kurang tepat, dipandangnya seperti mata seorang bodoh, hingga ia menggumam sendiri.
"Bagaimana biji mata......Biji matanya kurang bagus...."
"Kurang baik bagaimana?"
Cin Hong bangkit dan menjawab sambil membungkukkan badan.
"Matanya kurang hidup, kurang bercahaya. kalau nanti kau pancang sulaman itu diatas dinding, mungkin bisa mengetahui bahwa matanya itu sedang menghadap ke tanah. coba sajalah "
Siu Khim tampak agak berdiri alisnya, berkata dengan sikap seperti sedih.
"Ada kalanya begitulah orang laki suka melihat ke tanah, tidak melihat jauh."
Cin Hong terkejut mendengar jawaban demikian, angKat muka dan bertanya.
"Kalau begitu, apakah kau sengaja menyulam demikian?"
"Tidak... Kalau keadaannya benar-benar seperti apa yang kau kata, itu adalah tidak disengaja,"
Kata Siu Khim sambil menggelengkan kepala dan tertawa getir.
"Menyulam wajah seseorang sama dengan melukis. kau harus pusatkan perasaanmu dalam sulaman itu, dengan cara demikian barulah dapat menyelesaikan satu hasil kesenian yang bermutu sangat tinggi "
Perempuan itu hanya tertawa hambar, kemudian berkata.
"Sudah kupusatkan semua perasaanku "
"Kau pernah melihat orangnya?"
Tanya Cin Hong tibatiba. Perempuan itu mengangguk-anggukkan kepala menghela napas perlahan, agaknya merasa sangat terharu.
"Apa betul begitu rupa orangnya?"
Tanya Cin Hong lagi. Perempuan itu kembali menganggukkan kepala, menusukkan jarumnya dikain sulam, dengan tangannya ia menunjuk Cin Hong supaya duduk lagi, kemudian bertanya dengan suara lemah-lembut.
"Apa namamu? Datang dari mana?"
Cin Hong berusaha keras untuk menenangkan pikirannya, menjawab.
"Namaku Cin Hong, datang dari tepi sungai cian-tang-kang "
"Ada keperluan apa kau menengok aku?"
Bertanya perempuan iiu lagi sambil tetap menundukkan kepala.
Cin Hong akhirnya tidak berdaya menindas perasaannya, ia berkata dengan suara agak gemetaran "Hendak.....dengar kau.
...menceritakan suatu kisah....."
Perempuan itu menatap wajah Cin Hong dalam-dalam, lalu bertanya.
"Hendak mendengar aku menceritakan suatu kisah? Kisah tentang apa maksudmu?"
"Kisah tentang dirimu sendiri. Sudikah kau menceritakannya?"
Cin Hong dengan emosi meluap-luap mengeluarkan kata-katanya.
"Mengapa kau hendak mendengar kisahku?"
Tanya perempuan itu sambil menatap wajah Cin Hong dengan penuh perhatian-"Sebab aku pikir kau pasti mempunyai suatu kisah yang sangat menarik ... ."jawab Cin Hong dengan muka merah.
"Dari mana kau tahu bahwa aku mempunyai kisah yang sangat menarik?"
"Aku pernah dengar suara nyanyianmu, dari situ agaknya kau hendak menumpahkan rasa.,..terhadap seseorang ..,"
"Rasa kenangan kau maksudkan ?"
Balas bertanya perempuan itu dengan tenang.
Cin Hong mengangguk.
Tampak sikap perempuan itu yang sangat tenang, dalam hati mulai timbul perasaan keCewa, ia mula curiga mungkin bukanlah perempuan misterius seperi apa yang dibayangkan olehnya.
ia mungkin adalah istri penguasa rumah penjara rimba persilatan, hanya seorang perempuan yang pesimistik dan suka menyanyi saja.
Sepasang mata perempuan itu yang lembut dan tajam menatap wajah Cin Hong sekian lama, bertanya dengan maksud agaknya ingin mengorek keterangan darinya.
"Dalam anggapanmu, aku ada mempunyai suatu kisah yang bagaimana?"
"Seperti apa yang kau ucapkan sendiri tadi kisahmu itu mungkin mengandung suatu kenangan terhadap seseorang, jikalau ucapanku ini ada salah, harap kau maafsan ... ."
Perempuan itu mendadak menarik napas perlahan, berkata dengan nadanya yang mengandung suara pilu.
"Dugaanmu tidak salah. Tapi aku heran, mengapa kau ingin benar-benar mengetahui kisah itu ?"
Cin Hong tidak tahu bagaimana harus menjawab, dalam hati merasa menyesal, mengapa tidak mempersiapkan jawabannya yang Cukup beralasan kalau ditanyai seperti ini.
Tadi ia baru menggunakan kata-kata karena merasa tertarik ketika menjawab pertanyaan Penguasa rumah penjara rimba persilatan istilah itu tidak mudah untuk memaksa seseorang menceritakan kisahnya sendiri tanpa perasaan kuatir, maka ia sekarang tidak berani menggunakan istilah itu lagi.
Perempuan itu menampak sikap Cin Hong yang agak gelisah, lalu bertanya sambil tertawa hambar.
"Lantaran merasa tertarik ?"
"Bila alasan seperti itu tidak cukup kuat, harap ijinkan aku untuk berpikir lagi."
Perempuan itu tertawa, berkata sambil menganggukkan kepala.
"Itu memang benar kurang cukup alasanmu, tapi aku suka buat memenuhi perasaan tertarikmu itu"
"Terima kasih. Kalau begitu, maukah kau ceritakan kisahmu sekarang juga ?"
Cin Hong jadi kegirangan-Perempuan itu menganggukkan kepala, ia lalu berkata "Sebenarnya, kisah ini sangat pendek.
tapi perlu banyak berpiklr, juga tidak memerlukan banyak berpikir dan banyak waktu....tapi ada satu hasil kau harus tahu, aku perlu merahasiakan nama-nama pelaku dalam kisah itu, sebab kita satu sama lain belum pernah kenal pada sebelumnya.
Apa lagi orang dalam sesuatu kisah sebenarnya tidaklah penting, betul tidak?"
Berdiam ia sebentar lalu melanjutkan, begini "Kisahnya terjadi kepada dua puluh tahun berselang, waktu itu aku baru berusia enam belas tahun.
Boleh dikata aku baru saja menanjak dewasa.
Tapi, dalam usia sebegitu aku telah mengerti beberapa persoalan, Ayahku adalah seorang rimba persilatan yang mempunyai nama dan kedudukan baik, ia hanya mempunyai seorang anak perempuan ialah diriku sendiri.
oleh sebab itu ayah sangat Cinta sekali padaku, ia memberikan pelajaran ilmu silat padaku, bahkan untuk aku, ayah menerima seorang murid lakllaki muda, jadi suhengku.
Aku kata untuk aku, kau mengerti bukan maksudnya?
Dia adalah seorang muda yang sangat pintar gagah dan jujur, ia sangat sayang padaku dan selalu memperhatikan segala keperluanku, begitu juga dia lekas mengerti apa saja kesulitanku.
la memiliki suatu perasaan hangat yang sangat aneh, rela berkorban diri asal untuk aku.
Tapi, dari sini juga mulainya kisahku ini.
Benarbenar Cinta itu sangat aneh, aku tidak jemu melihatnya, tapi akupun tidak tahu kenapa aku tak suka dia.
Aku tahu ia memiliki banyak kebaikan, tapi tak tahu kenapa, kebaikannya itu tidak menarik bagiku, jadi boleh dibilang aku bergaul dengannya seperti dalam keadaan terpaksa.
Sehingga pada suatu saat, aku berkenalan dengan seorang pemuda, aku baru merasa sebab apa aku tidak menyukai suhengku itu.
Kalau kuceritakan, mungkin kau bisa tertawa kan aku.
Aku tidak suka padanya sebenarnya ialah karena ia terlalu jujur, terlalu banyak peraturan, sedikitpun tak mengerti apa artinya romantis.
Sebaliknya, pemuda yang aku kenal itu, baik wajah, sikap.
maupun pengetahuannya boleh dibilang seimbang kalau mau dibanding-bandingkan dengan suhengku.
Tapi pemuda itu membuat aku tergilagila, apa sebab?
Sebabnya ia sangat lincah, sangat bebas, tata bahasanya pun sangat menarik...
.Kalau mau tahu siapa pemuda itu?
Inilah orangnya, pemuda yang sekarang sedang kusulam Wajahnya.
ouw, jangan terkejut dan heran, ia benar-benar merupakan seorang yang sangat aneh.
ASal kau mau tahu bagaimana aku kenal dia, beginilah ceritanya....
Pada suatu pagi di musim semi, waktup agi hari itu aku sudah pergi dari rumah untuk mengejar-ngejar seekor kupu-kupu yang indah Warnanya di atas gunung.
Kupu-kupu itu sangat licik, kukejar dia lama sekali masih tak berhasil menangkapnya, yang menyebalkan ialah kalau aku berhenti mengejar, ia juga berhenti, kalau kukejar lagi dia berlari.
Kemudian aku jadi kesal, kuambil sebuah batu kecil lalu aku timpuk dia.
Kupu-kupu itu jatuh, tetapi ketika aku pungut, aku baru tahu bahwa ia sama sekali bukan terluka karena timpukanku.
sebab, di tubuhnya ada kulihat sebatang jarum kecil menembusi perutnya,jadi kupu-kupu itu sudah mati seketika itu juga -Selagi aku merasa terheran-heran, seorang pemuda yang sangat misteri tiba-tiba muncul dihadapanku.
Ketika pertama kali aku melihatnya, merasa sedikit takut.
Sebab ia sangat lincah dan tampan, bahkan mempunyai tubuh tegap dan sangat menarik hati, semuanya itu tidak kudapatkan barang kali untuk selamanya pada diri siapapun juga , tidak pada suhengku.
Waktu itu karena pikiranku gugup hingga aku pura-pura marah, aku tanya dia kenapa dia bunuh kupu-kupu itu?
Penanyaanku dijawab olehnya sambil tersenyum dan angkat pundak, -Bukankah kamu mau dia mati?
-Tentu saja kujawab segera.
Siapa kata?
Aku cuma mau melukainya saja.
-Pemuda itu menimpali kata kataku.
Mana mungkin biSa?
kau menggunakan batu untuk menimpuk sudah pasti kupu-kupu itu akan hancur.
Bukankah itu sangat sayang?
-Dengan cepat aku lalu membantah kata-katanya.
Tak mungkin bisa hancur tubuhnya -Pemuda itu berkata sambil tersenyum.
Jangan bohong, memang aku tahu kau memiiiki kepandaian ilmu silat yang tidak tercela tapi belum sampai waktunya kau dapat membinasakan Kupu-kupu itu tanpa membikin hancur tubuhnya -Aku jadi dongkol, maka kubalas kata-katanya dengan sikap ketus.
Jadi kau tidak pandang mata orang, heh?
-Pemuda itu tidak marah, ia berkata lagi.
Tidak, apa yang aku ucapkan adalah hal yang sebenarnya -Semakin tambah dongkolku, maka kutantang dia.
Kau berani bertanding denganku?
-Pemuda itu menjawab dengan tenang.
Mengapa tidak?
Tapi kalau kau kalah, tidak boleh menangis ya?
-Akhirnya jadi juga kami mengadakan pertandingan, ia benar hebat, baru tiga empat jurus saja ia sudah menjatuhkan aku.
Seperti kataku tadi, waktu itu baru enam belas tahun usiaku tidak tahan kalau tidak menangis.
Pemuda itu buru-buru minta maaf kepadaku, tapi aku tidak menghiraukannya.
Dalam keadaan begitulah aku ditinggal pergi....Hari kedua pagi-pagi, kembali aku pergi gunung yang sama untuk pergi bermain.
Aku diam-diam berkata pada diriku sendiri, aku tidak akan mencari dia.
Tetapi, dalam otakku entah mengapa selalu memikirkan dia, bahkan sudah mulai membayangkan mungkin ia juga sudah datang ke gunung itu.
Benar saja apa yang kupikirkan itu menjadi kenyataan, begitu aku tiba diatas gunung aku lantas dapat melihatnya yang sedang duduk di atas sebuah batu besar, dan sedang memandangiku sambil tersenyum-senyum......
Selanjutnya kami lantas menjadi sahabat akrab, hampir setiap hari kami bertemu diatas gunung itu.
Usianya lebih tua sepuluh tahun dariku.
Ia juga memberitahukan alamat kediamannya dan namanya, ia kata bertempat tinggal disini...
.ialah Lembah Kunci Besi di gunung Tay-pa-san ini"
Cin Hong yang mendengar sampai disitu tidak dapat mengendalikan perasaannya, maka lalu membuka mulut untuk memotong dan bertanya.
"Siapa namanya?"
Perempuan itu berdiam agak lama, lalu berkata dengan tenang.
"Jikalau perlu, akan kuberitahukan nanti setelah habis ceritaku, Toh masih belum terlambat bukan?"
Setelah itu ia lalu melanjutkan Ceritanya pula.
"Setelah kami berkenalan selama dua bulan lamanya, pada suatu hari dia mengutarakan isi hatinya, dan katanya hendak meminang diriku. Aku suruh dia ketemukan ayah, dan dia bilang besok saja. Tapi, di hari kedua tiba-tiba terjadi perobahan besar, ayahku dengan Cara mendadak telah kedapatan mati di atas gunung. sebelum kematian ayahku, dia rupanya sudah mendapat firaSat lebih dulu, sebab dia pernah pesan padaku begini. Kapan saja kau melihat ayahmu mati mendadak. kau bersama suhengmu harus segera tinggalkan rumah tanggamu, pergilah sejauhjauhnya dari tempat kediamanmu . , Ai, kau mungkin dapat membayangkan sendiri, dalam usia semuda itu ditinggal mati ayah, betapakah hebatnya penderitaan bathin seperti itu, Waktu itu aku benar-benar sudah seperti orang gila. Waktu pikiranKu masih gelap. suhengku membawa aku berlalu dari kediamanku. Kami seolah-olah menyingkir dari kejaran musuh, Sepanjang jalan kami harus beberapa kali menukar pakaian dan menyamar melakukan perjalanan enam hari enam malam terus menerus, akhirnya kami tiba di gunung Hwee-kie-san dan bersembunyi disitu. Di luar dugaanku pemuda itu pun ikut dan perlihatkan diri disitu, dia menggunakan kesempatan selagi suhengku turun gunung untuk membeli persedian bahan makanan, menanyakan padaku apa sebetulnya yang telah terjadi, Bahwa kematian ayah mungkin atas perbuatan jahat orang, dia telah berjanji hendak menuntut balaskan, dan mencari musuh ayah dan minta kepadaku supaya aku meninggalkan suheng dan pergi bersama-sama dia. Permintaan gila itu tentu saja lantas kutolak. Dengan cara bagaimara aku dapat meninggilkan Suheng secara mendadak dalam keadaan seperti itu ? Maka kami masih tetap seperti dahulu kala, mengadakan pergaulan dengannya di luar tahu suheng. Tak lama kemudian, kembali ia menyatakan maksudnya kepadaku, tapi aku tetap menolak. Aku sesungguhnya tak tahu dan merasa berat sekali, dengan cara bagaimana aku harus membuka mulut terhadap suheng. Karena ia terlalu baik sekali terhadapku, maka aku jadi tidak tega kalau menyaksikan ia menderita pukulan bathin atas perbuatanku....Beberapa lama kemudian, untuk ketiga kalinya ia menyataktan maksudnya. Ketika aku masih dalam keadaan ragu-ragu, ia telah menangkap Cintaku. Aaaa, ia sebetulnya terlalu gila-gilaan, adatnya juga menunjukkan kekerasan hatinya. Mendadak ia jadi seperti binatang liar yang sedang marah.....Untuk Selanjutnya kami lantas liwatkan penghidupan bahagia yang wajar diluar tahu suhengku. Pada suatu hari, aku bersama suhengku sedang melatih ilmu pedang, aku telah kehabisan tenaga dan jatuh, suheng lalu pondong diriku, pada saat itulah ia muncul. Ini mungkin sudah diatur oleh nasib, sebab itu adalah untuk pertama kalinya ia berhadapan dengan suheng. Ketika ia melihat aku dipondong oleh suheng, ia merasa begitu rupa kepadaku, dan hampir saja aku dibunuhnya. Ia memaki-maki diriku, mengatakan aku tidak mau meninggalkan suheng lantaran dianggapnya ada mempunyi perhubungan gelap. aku tidak diberikan kesempatan sedikitpun juga untuk memberikan penjelasan, ia lantas pergi, pergi jauh dan untuk selamalamanya...... Suhengku tidak marah, ia pondong aku kembali kerumah, ia kata bahwa ia sudah tahu segala-galanya tentang kami, ia bersedia untuk mencarikan ia supaya kembali, bahkan berkata apabila ia tidak kembali, ia malah mengusulkan Supaya aku menunggu setelah melahirkan anak baru turun gunung mencarinya. Demikianlah, Suheng juga pergi meninggalkan aku seorang diri diatas gunung sampai aku melahirkan seorang arak laki-laki mereka berdua semua tidak kembali...... Aku tidak menunggu sampai anakku berusia satu bulan aku sudah berbenah dan turun gunung maksudku hendak mencari dia. Sudah direncanakan, hendak berkunjung kegunung Tay-pa-San-Tak disangka-sangka baru menyebrang sungai ciang-tang-kang, telah mengalami nasib buruk. Kapal yang kutumpangi terbalik dan karam. Tapi, aku masih ingat sewaktu kami ibu dan anak tenggelam, anakku ditarik oleh seorang laki-laki setengah umur, aku sendiri telah terlempar oleh gelombang air hingga beberapa pal jauhnya. Masih untung bagiku, waktu itu aku ditolong oleh seorang nelayan. Tapi, aku sudah tidak bisa menemukan anakku. Aku menggunakan Waktu dua tahun mencari-cari anakku kemana-mana, tidak juga menemukan terpaksa pergi kegunung Tay-pa-san ini untuk mencari dia. Tapi dia juga sudah lama tidak berdiam disini. Aku pergi kemana-mana, juga tidak menemukan kemudian dengan tidak disengaja aku mendapat suatu akal, karena dengan mendadak aku ingat mungkin ia pada suatu hari bisa kembali kegunung Tay-pa San maka aku lalu mengambil keputusan kembali disini untuk menantikan kedatangannya. Dua belas tahun berselang. Penguasa rumah penjara rimba persilatan yang sekarang telah tiba ditempat ini dan membangun rumah penjaranya, ia melihat keadaanku yang patut dikasihani, maka mengijinkan aku tinggal terus ditempat ini.... .Inilah seluruh kisah yang menyangkut diriku, kisah ini hanya merupakan suatu kisah Cinta pribadi seseorang, tidak ada bagian yang menarik juga tidak ada yang memberikan kesan dalam bagi orang lain, setelah kau mendengar kisah ini, mungkin kau bisa merasa kecewa. Tapi yang kutahu jelas, bagaimanapun juga toh aku sudah memenuhi perasaanmu yang tertarik dan merasa heran-Bukankah begitu?"
Namun Cin Hong yang mendengarkan sudah sejak tadi tergoncang hebat jantungnya, ia berusaha sekuat tenaga untuk menindas perasaannya hingga mendengarkan kisahnya sampai habis, setelah ditanya demikian, ia tidak dapat menahan lagi mengucurnya air mata, dengan air mata berlinang-linang ia berkata dengan suara keras.
"Siapa dia ? Siapa dia ? Siapakah dia itu?"
Mata perempuan itu juga sudah basah digenangi air mata, dengan perasaan tegang menatap wajah Cin Hong, kemudian baru menjawab.
"Dia bernama Kim Hong "
Cin Hong membuka lebar matanya dan berseru.
"Apakah kau adalah ...anak perempuan tetua partay oey san-pay Suma Cin yang bernama Suma Siu Khim?"
Air mata perempuan itu mengalir semakin deras, ia bangkit dari tempat duduknya dan berjalan kedepan Cin Hong lalu mengulurkan tangannya dan meraba-raba leher anak muda itu, lalu berkata dengan suara tergetar.
"Tidak ada kunci emasnya yang berukiran huruf Liong. Kau tidak mempunyai kunci-kunci serupa itu . , .."
Cin Hong buru-buru mengeluarkan anak kunci berukiran huruf Liong bersama rantai emasnya dan diberikan kepada perempuan itu kemudian berlutut dihadapannya.
Suma siu Khim menjadi seperti orang kalap menubruk Cin Hong dan memeluknya ia memeluk erat-erat, kedua orang itu dalam waktu sekejap mata kemudian pada saling berpelukan dan menangis dengan amat sedihnya...
"Aaaaaa ibu... Kau ibu... Kau adalah ibuku"
Demikian kata-kata itu akhirnya terCetus juga dari mulut Cin Hong.
"Ya, anakku yang kukasihani, dugaan Penguasa rumah penjara rimba persilatan ternyata tidak salah, kau benarbenar adalah anakku...,"
"ibu, ibu......."
"Anak......"
Hari itu keadaan seperti biasa, tiada ada orang datang menantang pertandingan, tiada orang merasakan bahwa keadaan itu ada perbedaan apa dengan hari-hari biasa juga tiada orang tahu bahwa didalam rumah Penjara rimba persilatan itu sudah terjadi suatu kejadian yang tidak biasa Akan tetapi ketika sinar matahari sudah menyilam seluruhnya keufuk barat satu kejadian lain yang tidak biasa telah terjadi lagi.
Dengan tiba tiba, suara bunyi tanda telah nyaring, satu tanda bahwa telah datang pula orang yang menantang mengadakan pertandingan-Suara tanda itu menggema diseluruh rumah penjara juga sudah masuk kedalam kamar tidur Suma Siu Khim.
"Hong-jie, kau pergi melihat, ada orang yang datang menantang pertandingan lagi"
Demikian Suma Siu Khim telah berkata kepada anaknya.
"Perduli apa dengan itu, ibu aku hendak bicara lagi denganmu."
"Anak bodoh, hari masih banyak, apa kau takut kau tidak ada. waktu untuk bicara lagi denganku?"
"Tetapi pertandingsn itu ada apa yang patut disaksikan? Bukan hanya satu dua jurus saja sudah terpukul jatuh oleh penguasa rumah penjara......."
Waktu itu dengan mendadak bunyi tambur itu berbunyi nyaring untuk kedua kalinya....
"Aaaa Ada dua orang yang datang menantang, anak. lekas kau pergi lihat?"
"Sudahlah, ibu, ibu beritahukan dulu kepada anak, PenguaSa rumah penjara itu seorang bagaimana wataknya?"
"Aih, ibumu sendiri juga kurang jelas...."
Tiba-tiba terdengar pula untuk ketiga kalinya suara tambur, tanda ada orang datang menantang.
"Aaaa orang ketiga datang lagi. lekas pergi lihat"
"Baiklah, tetapi jangan tergesa-gesa, ibu, ibu berdiam disini sudah dua puluh tahun lamanya, bagaimana tidak tahu siapakah orangnya PenguaSa Rumah Penjara ini?"
"Ini disebabkan ibumujarang sekali bertemu muka dengannya, haa... ."
Kembali terdengar suara tambur, ini adalah untuk ke empat kalinya.
"Heran, hari ini bagaimana ada demikian banyak orang datang menantang? Anak. lekas kau pergi melihat"
"Benar-benar sangat menjemukan ibu, cobalah ibu katakan, apa sebab Penguasa Rumah penjara itu mendirikan rumah penjara ditempat ini?"
"Entahlah, ibu juga pernah bertanya padanya tetapi ia mengatakan ada sesuatu sebab, sekarang kau pergi lihat dulu......heee"
Kembali terdengar suara tambur.
"Sudah lima orang yang datang menantang Haa, PengUasa Rumah Penjara hari ini akan repot benar-benar"
"Anak jangan berkata yang buKan-bukan"
"Ya, ibu. Mungkin besok pagi kita berlalu dari sini, sukakah ibu bersama-sama saja pergi mencari ayah?"
Kembali terdengar suara tambur untuk ke-enam kalinya.
"Ya Allah, Sudah enam orang yang datang menantang hari ini bagaimana bila demikian banyak orang datang ?"
"Mungkin masih ada, biarlah kita menunggu lagi, ibu, sukakah ibu besok kita meninggalkan tempat ini ?"
"Tidak Ibumu tidak akan meninggalkan tempat ini untuk selama-lamanya "
"Kenapa ?"
Saat itu terdengar pula suara bunyi tambur, inilah yang untuk ketujuh kalinya.
"Sudah tujuh orang, anak sebabnya ibumu tidak mau meninggalkan tempat ini, ialah hendak menantikan kedatangan ayahmu untuk menyambut aku "
"Akan tetapi dengan cara bagaimana ayah bisa tahu ibu tinggal disini menantikan kedatangannya "
Suara tambur terdengar pula inilah yang untuk kedelapan kalinya.
"Kedelapan ...hem,jikalau ayahmu taktahu ibumu berada disini, aku tidak percaya "
"Itu apa sebabnya?"
Saat itu terdengar pula suara tambur berbunyi...."Ah, yang Kesembilan.......
sebab, anak.....sebab dia dahulu memang berdiam di lembah kunci besi gunung Taypa-san ini, sekarang tempat ini sudah diduduki oleh Penguasa Rumah Penjara, setidak-tidaknya ia juga harus datang untuk menantang bertanding."
Kembali terdengar suara tambur yang amat nyaring.
"ouW yang kesepuluh....... hari ini keadaan ada sedikit aneh, lekas kau pergi melihat apa-apa saja orang yang datang menantang itu"
"Tunggu lagi sebentar, ibu, apakah kepandaian ilmu silat ayahku tinggi? Apakah didalam rimba persilatan ayah mempUnyai nama baik?"
"Menurut ibumu, kepandaian ilmu silatnya masih lebih tinggi dari kakekmu, akan tetapi dahulu ketika ayahmu pergi mencari keterangan didalam rimba persilatan semuanya selalu mengatakan belum pernah mendengar seorang yang bernama Kim Hoong itu....."
Sementara itu, sudah terdengar lagi suara tambur berbunyi.
"inilah yang kesebelas kalinya......ibu mungkinkah ayah itu menggunakan nama palsu untuk menipu ibu?"
"Tidak bisa Aku duga ia masih mengandung perasaan salah paham terhadap ibumu, cobalah kau katakan dengan sejujurnya, apakah ibumu harus mencari dia, ataukah dia yang harus mencari ibumu?"
"Sudah tentu ayah yang harus mencari ibu"
Terdengar pula suara tambur Untuk kedua belas kalinya.
"Kedua belas kali..... maka itu, anak maka ibumu sudah bersumpah tidak akan meninggalkan tempat ini, hendak menunggu terus hingga ia datang menyambut aku, kecuali.......kecuali apabila ibumu mendapat kenyataan bahwa ia sebetulnya sudah meninggal"
"Haaa, oya ibu, waktu anak bertemu muka dengan seorang yang menamakan diri Tamu tidak diundang dari luar daerah yang tulen, ia pernah mendengar nama anak Cin Hong di anggapnya sebagai Kim Hong, dari sini dapat diduga bahwa ia pasti mengetahui diri ayah"
"Benarkah?"
"Benar Di lain hari anak akan mencari Tamu tak diundang dari luar daerah yang tulen untuk mencari keterangan tentang jejak ayah, kemudian anak akan mencari ayah lebih dulu, dan anak pasti akan menangkapnya untuk aku bawa kesini"
"Baiklah, sekarang, tambur itu sudah tidak berbunyi lagi, lekas kau pergi melihat"
"Baik Apakah ibu tidak suka turut keluar untuk melihat"
"Tidak, ibumu selamanya tidak menghiraukan soal-soal demikian"
"Kalau begitu anak juga malaS untuk melihat, anak akan mengawani ibu untuk mengobrol disini"
"Tidak boleh Kau harus melihat, sekarang lekas kau pergi lihat "
Cin Hong yang sekarang seharusnya di rubah menjadi she Kim, menjadi bernama Kim Hong.
Dengan sangat girang ia keluar kamar ibunya, seCepat kilat meninggalkan lorong yang panjang, lari turun dari tangga batu, ketika ia tiba dikamar tamu rumah penjara, ia menonton melalui lobang jendela dikamar tamu itu.
Pandangan matanya ditujukan keatas tujuh senar yang terbuat dari kawat besar, tampak diseberang sungai diatas panggung ada berdiri sebaris yang terdiri dari dua belas orang tua.
Terpisah dengannya hanya enam tujuh belas tombak saja, maka masih dapat menyaksikan dengan jelas bahwa mereka itu terdiri dari seorang perempUan tua, dua paderi tiga imam dan enam orang biasa, diantara ia masih mengenali tujuh orang.
dan tujuh orang itu adalah.
Tie-keng Taysu ketua partay Siao-lim-pay, ceng-hong Cinjin ketua partay Bu-tong.
Thay-hie Tiong keua partay cong-lam.
Yu Hong liong ketua partay Hoa-san-pay.
Jie cek Bun ketua partay Kong-thong-pay.
Yap It ciu ketua partay Lam-hay-pay.
ciang Thay Peng wakilpejabat ketua partay oey-san-pay.
Lima orang yang lainnya meskipun la belum pernah bertemu muka, tetapi karena bersama-sama ketujuh orang yang semuanya berkedudukan sebagai ketua partay, dapat diduga mereka tentunya adalah.
Leng-sim Sangjin ketua partay Ngo-bie-pay.
Pek-cui Cinjin ketua partay Kun-lun-pay.
Lu Pa Kong ketua partay Thian-Shia-pay.
Kam Giok Thian ketua partay clong-lay-pay.
Tong-hong Jie Nio ketua partay Swat-san-pay.
Sungguh aneh, dua belas partai besar pada dewasa itu, dengan mendadak telah muncul dirumah penjara rimba persilatan untuk menantang pertandingan, ini adalah merupakan peristiwa terbesar selama didirikannya rumah penjara itu.
Apa sebab mereka datang semua untuk mengadakan tantangan pertandingan?
pada waktu Cin Hong berada digereja Siao-lim-sie.
pernah dengar kata ketua partay Hoa-san-pay, bahwa ia ada mempunyai suatu rencana yang dapat menolong Keluar anak dewa persilatan kakek gelandangan Kiat Hian, apakah yang dimaksudkan rencana itu ialah menantang penguasa rumah penjara dengan dua belas ketua berbareng ini??
APABILA benar demikian halnya, ini benar-benar merupakan suatu rencana kosong.
Mereka toh tidak bisa turan tangan dengan berbareng?
Tetapi diantara dua belas ketua partay, Siapa orangnya yang sanggup menyambut serangan Penguasa Rumah penjara hingga sepuluh jurus?
Sekalipun ada yang sanggup sampai sepuluh jurus itupun juga hanya dapat menolong keluar tawanan-tawanan yang berada dalam kamar tahanan golongan naga dan ular, bagaimana Penguasa Rumah Penjara mau membebaskan seorang tawanan istimewa seperti kakek gelandangan itu ?
Cin Hong selagi masih belum habis mengerti memikirkan hal itu tiba-tiba bahunya ada orang yang menepok perlahan, ketika ia berpaling, Penguasa Rumah Penjara sudah berada dibelakang dirinya.
Penguasa itu dengan pandangan mata ditujukan keluar jendela, bertanya dengan nada suara tenang.
"Sudah ketemu dengan nona Siu Khim?"
Kim Hong menganggukkan kepala dan berkata.
"Sudah, kalau kuberitahukan padamu, mungkin kau akan terkejut. ia adalah ibuku "
Tetapi penguasa rumah penjara yang mendengar ucapan itu sedikitpun tidak menunjukan sikap terkejut, bahkan tertawa dan berkata "Apa yang dibuat bangga? Sudah lama aku dapat menebak sebagian"
"Berdasar atas apa kau bisa menebak bahwa dia adalah ibuku?"
Bertanya Cin Hong heran-"Sekarang aku tak ada waktu untuk menjawab pertanyaanmu ini, tunggu setelah aku masukkan penjara satu persatu dua belas orang yang datang menantang itu, aku akan mempelajari soal bagaimana menolong muridku"
Sehabis berkata demikian, ia lompat melesat melalui lubang jendela, dan melayang turun diatas senar besar itu.
Baru ia melayang turun diatas senar kawat besi, lalu bergerak dan berdiri dibagian tengah senar besi itu, setelah itu ia baru bertanya kepada para ketua.
"siapakah yang akan maju lebih dahulu?"
Dari pihak penantang, tampak ketua partay Soat-san-pay Tong-hong Jie Nio yang keluar dan sudah melesat keatas senar besi itu.
Dia adalah seorang nenek yang usianya sudah lanjut dan bertubuh terokmok, meskipun demikian, gerakannya masih gesit dan lincah sekali, melesat setinggi tiga tombak seolah-olah bukan berarti apa-apa buat dia.
Ia berdiri tegak diatas senar besi, dengan tangan kiri menolak pinggang tangan kanannya menuding penguasa rumah penjara sedang mulutnya berkata dengan suara galak.
"Kau penguasa rumah penjara rimba persilatan, sudah terlalu banyak sekali melakukan kejahatan, hari ini aku sengaja datang dari gunung Soat-san yang jauh, hanya untuk memberi pelajaran kepadamu lekas kau kemari untuk menerima gebukkan"
Penguasa rumah penjara hanya mengeluarkan suara dari hidung, ujung kaki kirinya menggait senar, hingga menimbulkan suara mengaung, suara itu nyaring mengalun jauh lama tidak berhenti.
Sungguh aneh, Tong-hong Jie Nio juga turut tergetar dengan getaran suara senar tadi, ternyata, suara getaran itu bisa menimbulkan perasaan gatal bagi orang yang mendengarkan, maka saat itu wajahnya segera berubah dan secepat kilat lompat kesenar yang lain, kembali ia membuka mulut dan memaki-maki.
"Kau setan pejajaran, kalau mau berkelahi lekas turun tangan, jangan menggunakan ilmu hitam atau ilmu gaib segala untuk menjatuhkan lawan"
Penguasa rumah penjara tetap tidak mau menghiraukan, secepat kilat sudah lompat dan berdiri disenar itu, kembali kaki kanannya menggaet, dan terdengar pula suara getaran dari senar itu.
Kali ini lebih hebat dari pada yang pertama, hingga Tong-hong Jie Nio tak dapat berdiri tegak.
buru-buru lompat meleset kelain senar, sedang mulutnya terus memaki-maki.
"Pui Setan, kau menggunakan ilmu gaib semula kukira kau memiliki kepandaian yang benar-benar, ternyata hanya menggunakan ilmu untuk mencundangi lawan-lawanmu. pui apa kau kira aku juga takut gatal? Aku justeru tak takut.....aya"
Penguasa rumah penjara dengan mendadak melesat dan terbang mengitari dirinya dengan dalam waktu sekejap mata dengan beruntun sudah menyentuh tujuh batang senar besi itu, hingga seperti terdengar suara dimedan pertempuran.
Tong-hong Jie Nio yang tak menduga-duga tubuhnya lalu miring, hampir saja terjatuh ke bawah lembah, hingga ia mengeluarkan suara jeritan kaget seperti diatas tadi, Sebetulnya ia juga tahu benar bahwa suara senar yang ditimbulkan oleh penguasa rumah penjara rimba persilatan itu hebat sekali, maka ia tak berani memaki lagi, dengan mengerahKan seluruh kepandaiannya untuk menghadapi lawan luar biasa ini, dengan mengendalikan kegesitan dan kelincahan tubuhnya, ia lompat kesana kemari, untuk menghindarkan serangan aneh dari lawannya, Suara terpentiknya senar besi dengan ujung kaki penguasa rumah penjara itu semakin gencar, hingga menimbulkan perasaan bagi lawan-lawannya seperti sedang dimedan perang, membuat hati berdebaran dan perasaan tegang.
Sebelas orang ketua partay pada duduk di tempat masing-masing dilain seberang, semua pada bersemedhi untuk melawan suara hebat itu.
Kim Hong yang berada diruangan tamu juga merasa terkena pengaruhnya suara itu, hingga perasaannya menjadi tidak tenang, dan akhirnya jatuh dilantai ruangan tamu.
Entah berapa telah berlalu, suara senar itu mendadak berhenti, Penguasa rumah penjara dengan gerakannya yang gesit sekali sudah berada dihadapan Tong-hong Jie Nio dan menepuk padanya dengan sangat perlahan.
Waktu itu pikiran dan perasaan Tong-hong Jie Nlo sudah lama kabur, melihat tangan penguasa rumah penjara datang hendak menepok, dengan sendirinya mengangkat tangan untuk menyambut, akan tetapi baru saja tangannya diangkat dengan mendadak merasakan bahwa dari depannya ada satu kekuatan tenaga yang sangat hebat, dan yang tidak terwujud telah menggempur dirinya bagaikan gelombang air laut, sedang serangan yang dilancarkan oleh kekuatan tenaganya sendiri seperti tetesan air hujan yang jatuh diair laut, sedikitpun tidak ada gunanya, sebaiknya tubuhnya sudah terangkat tinggi dan terbang keudara oleh kekuatan tenaga lawannya lagi.
Tong-hong Jie Nlo mengeluarkan suara pekikan nyaring, kedua lengannya melakukan gerakan jumpalitan kemudian dengan mendadak melesat dan bagaikan gerakan burung walet terbang melayang keatas senar yang berada diujung paling kanan.
Penguasa rumah penjara terus mengejar, kembali melancarkan serangannya yang ringan seolah-olah ilmu pukulan Thay-kek-koen.
Tong-hong Jie Nio menggeram, kedua tangannya bergerak dengan berbareng tapi sesaat kemudian sudah mundur lagi dan lompat yang kesenar yang kedua.
Tak ia sangka baru kedua kakinya yang melesat dari senar yang diinjak.
Penguasa rumah penjara sudah bergerak melayang menyerang dengan tangan kirinya, Serangan itu mengancam pinggangnya, sehingga tubuh Tong-hong Jie Nlo yang gemuk terokmok bagaikan bola menggelinding terjatuh kebawah.
Baru saja ia jatuh dari senar ketua partay Kiong-lay-pay Kam Giok Thian sudah melesat keatas senar, tanpa banyak bicara, tangan dan kakinya sudah bergerak berbareng menyerang penguasa rumah penjara.
Penguasa rumah penjara dig anda dengan ketawa, tubuhnya memutar cepat balas menyerang dengan satu tangan, namun sudah berhasil menahan serangan ketua partay Kiong-lay.
Kam Giok Thian mundur sebentar, tapi sudah maju lagi, kedua tangannya diputar bagaikan kitiran sedang dua kakinya melakukan tendangan dengan beruntun, mulutnya berteriakkan.
"Kalau kau tidak menyentil senar setidaktidaknya aku bisa menjadi penghuni dikamar golongan naga "
Penguasa rumah penjara dengan gikapnya tidak berubah, menyambar kaki tangan lawannya dengan tangan kanan, sementara mulutnya berkata sambil tertawa besar "Baik Ini jurus kedua"
Kam Giok Thian kembali terdesak mundur selagi hendak maju lagi, penguasa rumah penjara mendadak mengeluarkan suara pekikan nyaring tubuhnya bergerak menyerbu tangan kirinya melancarkan serangan bagaikan kilat cepatnya, serangan itu ditujukan kebahu kiri Kam Giok Thian.
Serangan itu benar-benar luar biasa cepatnya, walaupun Kam Giok Thian juga dapat berobah posisinya dengan cepat, tetapi selagi ia miringkan pundaknya untuk mengelak, namun sudah tidak keburu bahu kirinya kesambar serangan penguasa rumah penjara hingga saat tubuhnya miring kebelakang, kakinya tidak berhasil pertahankan kudanya hingga terhuyung-huyung jatuh dari atas senar.
Tetapi kedua tangan Kam Giok Thian luar biasa gesitnya, dengan satu gerakan yang sangat cekatan, ia berhasil menyambar senar besi itu, setelah itu ia memutar dan secepat kilat melesat kesenar yang lain-Tetapi penguasa rumah penjara tidak memberikan kesempatan padanya untuk berdiri tegak.
darijauh melancarkan serangan kepada senar yang diinjak oleh kaki Kam Giok Thian, sementara mulutnya berkata.
"Ini jurus ketiga, lompatlah"
Kam Giok Thian tak berdaya, sebab saat itu kecuali melompat untuk mengelakkan serangan lawannya, sudah tak ada jalan lain lagi.
maka terpaksa ia melompat juga .
Penguasa rumah penjara menggunakan kesempatan itu menyerang dari samping, sementara mulutnya berkata sambil tertawa terbahak-bahak.
"Jurus keempat, turun"
Kam Giok Thian mengeluarkan suara aneh tubuhnya melayang turun kadalam lembah Ketua partay Thian-shia-pay Lu Pa Kong adalah orang ketiga yang melayang keatas senar.
ia menggunakan sebilah pedang, seperti juga dengan Kam Giok Thian, begitu berada diatas senar, sudah lantas menyerang dengan pedangnja.
dengan berbagai gerak tipu, menikam, membabat, membacok menyontek sekaligus sudah melancarkan lima enam kali serangan, setiap serangannya dilakukan dengan aneh dan ganas sekali.
Penguasa rumah penjara yang menghadapi serangan demikian gencarnya dan ganas, terpaksa mengelak kekanan kekiri dengan sikap luar biasa tenangnya, dan ia menantikan hingga Lu Pa Kong menghabiskan serangannya, secepat kilat sudah maju menyerbu sambil membentak.
"Kau juga harus coba sambuti lima kali seranganku"
Setelah itu, tangan kanannya bergerak sesaat kemudian tangan itu seolah-olah berubah menjadi ribuan banyaknya, hingga dalam waktu sekejap mata, Lu Pa Kong sekujur tubuhnya sudah terkurung oleh bayangan tangan Penguasa Rumah Penjara, terpaksa ia harus mundur dalam keadaan kekalutan.
Sementara itu, ketua partay Kun-lun-pay, Pekscui Cinjin, sudah lompat melesat keatas senar dengan menggunakan senjata kebutannya, menyapu mUka penguasa rumah penjara.
Dengon lengan jubahnya Penguasa Rumah Penjara menyambut serangan kebutan tadi, ternyata sudah berhasil mendesak ketua Kun-lun-pay menarik kembali serangannya dan lompat mundur setombak lebih.
Kim Hong semakin menonton semakin keCewa, ia pikir para ketua partay ini benar-benar hanya mempunyai kegagahan tapi tidak mempunyai akal, mereka toh sudah tahu tidak dapat melawan, namun masih satu persatu naik keatas untuk melawan, pertempuran semaCam itu, apa artinya untuk ditonton?
Ada lebih baik kalau kembali kekamar ibunya untuk mengobrol.
Setelah berpikir demikian, ia memutar tubuh dan berlari menuju kekamar enam, baru saja tiba dari depan pintu, tampak Tay-giam-ong sudah berdiri diambang pintU, tubuhnya yang gemuk.
sudah menutupi pintu itu.
Kim Hong menjura padanya dan berkata.
"Tay-giam-ong numpang jalan"
"Mau kemana?"
Bertanya Tay-giam-ong.
"Aku hendak pergi menemui ibuku... nona... Siu Khim itu adalah ibuku"
"Aku sudah dengar"
Ia berkata.
"akan tetapi kau tadi toh baru bertemu muka dengannya apa perlunya kau ngerecok lagi?"
Berkata Tay-giam ong marah.
"ibu dan anak yang baru bertemu dan sudah bicara mengobrol mengapa dikatakan mengerecok?"
Bertanya Kim hong heran-Wajah Tay-giam-ong unjukkan senyumnya, ia berkata sambil menganggukkan kepala.
"Taruhlah tidak menggerecok. itu juga tidak perlu terus menerus didampingi ibunya, apakah kau masih perlu menetek ?"
Dengan wajah merah Kim Hong menjawab.
"Tay-giamong jangan menggoda kami ibu dan anak baru saja bertemu muka setelah beberapa lama menghilang, sudah tentu banyak kata-kata hendak diucapkan...."
"Kalau kau benar anak nona Siu Khim, biar bagaimana toh terhitung orang dalam rumah penjara ini, ng....apa kau bisa main catur ?"
Kim Hong tercengang, jawabnya sambil menganggukkan kepala.
"Mengerti sedikit kenapa ?"
"Sudah lama aku tidak main catur, tanganku sangat gatal, kawani aku bermain sepapan saja, kemudian aku akan ijinkan kau pergi menemui ibumu lagi "
Agak merasa berat Kim Hong menjawab.
"Tay-giam-ong hendak main catur, lain hari aku kawani main berapa saja kau suka akan kulayani, bagaimana kalau hari ini kau izinkan aku melihat ibuku dulu?"
"Tidak bisa Tanganku sudah gatal, kalau dalam keadaan demikian aku sudah tak mengenal sanak saudara lagi, kalau kau tidak mengawani aku main, jangan harap kau bisa masuk"
Dalam hati Kim Hong sangat mendongkol tetapi ia tak berani bertindak terpaksa berkata sambil menghela napas.
"Baiklah, kalau kau hendak main catur lekaslah dimana kita main?"
"Kita main saja didalam kamar yang dahulu pernah kau pakai sebagai kamar tidur"
Keduanya lalu berjalan masuk kepintu sebelah kiri, setelah melalui lorong panjang, tiba dikamar tidur nomor lima, mereka lalu masuk kedalam dan mulailah melakukan permainan caturnya.
Tay-giam-ong permainan caturnya ternyata sangat lambat, tiap kali hendak meletakkan biji caturnya, selalu dipikir lama sekali, bahkan kadang-kadang harus menggerutu segala.
Kim Hong yang menyaksikan permainan lambat dari Tay-giam-ong itu, diam diam terkejut, ia pikir apabila menunggu sampai habis permainan caturnya, bukankah harus main semalam suntuk?
"Hei, Tay-giam-ong Harap main lekas sedikit bolehkah?"
Demikian akhirnya ia mendesak.
"Jangan keburu nafsu, kalau main lambat baru ada artinya, beng...."
Demikian jawaban tenang.
"Aiii, main seperti cara demikian, harus menggunakan waktu beberapa lama baru selesai?"
"Jangan kesusu, perlahan-lahan baru ada artinya, heng...."
Demikian ia mengulang ucapannya. Kim Hong diam-diam menghela napas, terpaksa purapura tidur sedang telinganya samar-samar terdengar suara saling bentak dari medan pertempursn.
"entah berapa orang lagi yang terjatuh dilembah ?"
Tay-giam-ong mengira Kim Hong tidur benar-benar, ia mendorongnya dan berkata.
"Hei, jangan tidur, mengapa kau tidak mengerti aturan ?"
Kim Hong buru-buru membuka mata dan melanjutkan permainannya katanya sambil tersenyum.
"Aku tidak tidur, aku sedang memikirkan apa sebab para ketua partai itu tidak pergi menantang kerumah penjara rimba persilatan yang baru digunung Bu San ?"
"Kau ngoceh, rumah penjara digunung Tay-pa-san inilah baru yang tulen, siapa yang ingin menantang bertanding harus datang kesini"
"Ini bukan soal tulen atau tidak tulen bukan soal merek lama atau merek baru, setiap orang rimba persilatan yang datang kerumah penjara gunung Tay-pa-san ini menantang pertandingan selalu disebabkan lantaran ingin mendapat nama harum, sekarang aku pikir daripada kita tertawan lantaran ingin mendapat nama harum, ada lebih baik kalau tertawan lantaran membela kebenaran dan keadilan, itulah yang baru ada artinya "
Tay-giam ong tidak bisa menjawab. dengan perasaan mendongkol berkata.
"Sudah jangan banyak omong lagi Sekarang waktunya main catur "
Baru saja habis berkata pintu telah terbuka, Penguasa rumah penjara rimba persilatan dengan sikap tenang berjalan masuk.
Tay-giam-ong begitu melihat Penguasa rumah penjara masuk kekamarnya buru-buru bangkit dan berkata sambil tertawa.
"Apakah dua belas ketua partay itu sudah jatuh semua?"
Penguasa rumah penjara rimba persilatan hanya menyahut.
"ng"
Mengambil sebuah kursi dan duduk, suatu tanda bahwa ia hendak melanjutkan permainan catur itu, kemudian berkata.
"Dua belas orang ketua partai dengan mendadak datang menantang bertanding secara berbareng, urusan ini agak aneh, selama beberapa hari ini kau perhatikan mereka dan perintahkan kepada cicng Keng Tong untuk sementara jangan suruh mereka turut bekerja menempa emas"
"Aku sekarang akan pergi melihat, apakah laucu ada kegembiraan untuk melanjutkan permainan catur ini?"
Berkata Tay-giam-ong.
Penguasa rumah penjara menganggukkan kepala dan Tay-giam-ong lantas meninggalkan kamar tidur itu.
Kim Hong menggunakan kesempatan itu telah membuyarkan caturnya, setelah itu bangkit dan berkata sambil memberi hormat.
"Kita tak usah main catur lagi, aku lebih dulu kuucapkan selamat kepadamu, kemudian aku masih ada suatu permintaan-..."
"Terima kasih apa?"
Bertanya penguasa rumah penjara rimba persilatan dengan sikapnya yang tetap dingin.
"ibuku selama sepuluh tahun lebih berada disini, maka kuucapkan terima kasih atas kebaikanmu yang sudah memberi tempat dan hidup kepadanya, hal ini maka aku toh tidak boleh tidak ia menyatakan terima kasih ku kepadamu?"
"Kau masih ada mempunyai permintaan lain apa lagi?"
"Aku tahu kau hendak berunding soal menolong muridmu itu kepadaku, urusan ini bolehkah kita bicarakan besok pagi saja, berikanlah izin aku lebih dulu untuk menemui ibuku, kemudian aku masih akan pergi kekamar tawa nan naga dan ular untuk memberitahukan berita ini kepada SUhu dan sumoayku."
"Jangan buru-buru, aku hanya hendak menanya kau dua patah"
Berkata Penguasa rumah penjara dengan suara lemah lembut.
"Dua patah kata apa ?"
"Kesatu. Kau sudah berjanji hendak menolong Sian-jie, apakah kau menyesal ?"
"Bagaimana aku menyesal? Hanya sekarang ini aku merasa agak sulit......."
"Mengapa sulit ?"
"Untuk menolong muridmu, merupakan suatu hal yang tidak boleh ditunda lagi, akan tapi, aku masih perlu hendak mencari ayahku kemana-mana supaya ia datang, apabila aku pergi kegunung Bu San lebih dahulu, pergi menantang pertandingan apabila aku tidak sanggup melawan dan harus dipenjarakan ini bukankah aku tidak dapat pergi mencari ayahku ?"
PenguaSa rumah penjara itu perdengarkan suara tertawanya dua kali, kemudian berkata.
"Inilah soal kedua yang aku hendak tanyakan kepadamu, apabila kau suka mempelajari ilmu kepandaianku, aku jamin kau pasti dapat menolong Sian-jie keluar dari rumah penjara"
Kim Hong menganggukkan kepala dan berkata.
"Baik, aku terima baik permintaanmu. Sekarang biarlah aku pergi menengok ibuku lebih dulu, bagaimana ?"
"Mengapa kau tidak pergi menengok suhumu lebih dulu, kembalinya dari sana kau boleh saja mengobrol dengan ibumu semalam suntuk"
Kim Hong pikir itu juga benar, maka ia lalu keluar dari kamar, secepat kilat sudah lari menuju kekamar tawanan suhunya dan sumoaynya, untuk memberitahukan tentang pertemuan dengan ibunya.
setelah itu ia lari menjumpai Injie."
Yo in in waktu itu sudah kembali kekamarnya, mendapat kabar bahwa Kim Hong sudah berhasil menemukan ibunya, merasa girang, juga merasa tegang perasaannya, katanya.
"Apakah itu benar? Bagaimana rupanya ibumu itu ?"
Kim Hong merasa bangga, katanya.
"ibuku hanya baru berusia tiga puluh tahun lebih, ia cantik sekali "
"Bolehkah minta ia menengok aku ?"
"Baik besok aku akan undang ia tengok kau kemari "
In-jie tampak berpikir, tiba-tiba ia berkata sambil menggelengkan kepala.
"Sudahlah sebaiknya tunggu aku hendak menantang bertanding dan sekeluar dari sini aku pergi menengok dia ."
"Kenapa ?"
"Sudah lama aku tidak mandi, barangkali ibumu anggap aku terlalu buruk...,."
"Itu tidak bisa, hari ini aku akan beritahukan kepadanya dan bantu kau omong baik dihadapannya lebih dulu"
"Kalau begitu besok aku pergi menantang bertanding supaya dipindahkan ketingkat kamar golongan naga, ada kau disini mungkin aku dapat menyambut sampai sepuluh jurus"
"Baiklah, sekarang aku hendak pergi menengok dua belas ketua partay, tahukah kau dimana mereka ditutup?"
"Disebelah sini dikamar nomor seratus enam, oleh karena kamar tawanan belum dibangun, mereka ada yang sementara dua orang menempati satu kamar, tadi ada banyak tawanan yang pada berteriak-teriak bahwa perlakuan itu tidak adil"
Kim Hong lalu geser kakinya berjalan menuju kekamar nomor seratus enam didalam kamar itu ada duduk ketua partay Soat-san-pay Tong-hong Jie Nlo, nenek itu tidak kenal padanya maka ia berjalan terus hingga kekamar nomor seratus delapan, baru tampak ketua partay Siao-lim dan Bu-tong, mereka baru saja sebagai orang orang berkedudukan sebagai ketua partay dan kini menjadi orang tawanan yang harus mengenakan rantai ditangan dan kakinya, sudah tentu sikapnya sangat mengenaskan, tampak Kim Hong datang keduanya semakin merasa malu.
Kim Hong memberi hormat sambil menganggukkan kepala kepada mereka menanyakan keselamatannya .
Ketua partay Siao-lim Tie Kong Taysu balas menganggukkan kepala dan berkata sambil tertawa getir.
"Siao-siecu, kali ini kembali dapat masuk kerumah penjara rimba persilatan, mengapa demikian baik huburrgan siecu dengan penguasa rumah penjara?"
Kim Hong buru-buru menceritakan semua sebab musababnya, terakhir dia balas bertanya.
"ciangbunjin sekalian hari ini dengan beruntung datang menantang pertandingan, boleh kah aku numpang tanya apa sebabnya?"
Tie-kong Taysu berpaling mengawasi ketua partai Butong ceng-hong Cinjin, yang tersebut belakangan ini lalu berkata sambil tertawa.
"Itu tidak ada tujuannya hanya ingin mengadu kekuatan dengan sekaligus saja"
Kim Hong tahu mereka pasti ada mengandung maksud namun ia seolah tak enak untuk bertanya, maka ia kembali pergi menengok pada semua ketua partai yang ia kenal selanjutnya ia masuk ke alat naik turun kebawah lembah itu.
Waktu itu malam telah tiba, ia langsung menuju kamar ibunya dan dahar malam bersama-sama, kemudian mengobrol didalam kamar.
"Anak, bagaimana kesanmu terhadap Penguasa Rumah Penjara?"
Demikian Sang ibu bertanya.
"Buruk sekali"
Jawabnya.
"Ha, mengapa?"
"Menurut pandangan anak. ia sebetulnya seperti bukan orang jahat, tetapi, dengan mengandalkan ilmunya yang tanpa tandingan, ia berbuat sesuka hatinya, perlu apa membangun rumah penjara ini dan memenjarakan orangorang rimba persilatan hingga suatu perbuatan yang tak pantas"
"Akan tetapi ia tokh, tidak paksa orang datang menantang"
"Tetapi ia dapat menangkap kelemahan orang-orang rimba persilatan"
"Apakah kau tidak bisa merobah pandanganmu terhadap dia"
"Heng, kecuali ia merobah syaratnya rumah penjara ini"
"ibu, apakah anggap ia itu orang baik?"
"Eng, aku merasa ia baik, ia belum pernah menyiksa tawanannya"
"Akan tetapi ia membuat banyak orang terpisah dengan anak istrinya, membuat orang jahat menggunakan kesempatan itu melakukan kejahatan di dunia Kang ouw"
"Hal ini aku tidak perduli"
"Kenapa?"
"ouw, ouw, kataku hal ini seharusnya bukanlah ia yang tanggUng jawab, sebab biar bagaimana ia toh tidak pernah memaksa orang datang untuk menantang pertandingan orang-orang itu apabila tahu kewajibannya sebagai orang Kang-ouw harus mementingkan perbuatan baik dan perlaku sebagai pendekar sejati, tidak ada perlunya pergi menantang bertanding toh tidak apa bukan?"
"ibu, bagaimana ibu selalu membela dia?"
"Sebab aku merasa dia seorang baik"
"Tidak, ibu, apabila ibu tidak marah. hendak berkata bahwa pandangan ibu salah"
"Hem"
"Aaa, ibu jangan marah"
"Aku justeru mau marah, kau sama dengan ayahmu yang keras hati dan keras kepala, kau orang muda yang keras kepala juga "
"Mana, ibu, ayah barangkali benar-benar ada sedikit keras kepala, akan tetapi anak sedikitpun tidak"
"Hii Tadi kau justeru menunjukkan sikapmu yang keras kepala"
"Rasanya toh tidak ibu."
"Semua orang takut kepada penguasa rumah penjara rimba persilatan, hanya kau seorang yang acuh tak acuh terhadapnya ini merupakan salah satu bukti dari sifatmu yang keras kepala, kedua ibu katakan dia baik, tetapi kau sebaliknya mengatakan ia seorang jahat, inilah juga merupakan sifatmu yang keras kepala itu"
"Keras kepala karena membela kebenaran, apa salahnya?"
"Kebenaran apa? Ayahmu telah salah paham terhadapku, begitu pergi meninggalkan aku sudah dua puiuh tahun tidak mau kembali, aku benci sekali kepadanya, dan sekarang kuiihat sifatmu juga mirip dengan dia, maka aku juga merasa agak benci terhadapmu"
"Ayah memang benar ada sedikit kesaiahan, akan tetapi...."
"Aiii, kuharap kita ibu dan anak berdua didalam suatu hal bisa mendapat kesesuaian paham"
"Ya, ibu aku akan berusaha supaya menunjukan sikap baik terhadap penguasa rumah penjara."
"Sudah maiam, sekarang kau pulang kekamarmu dan tiduriah"
Maiam telah iarut, dari kamar tawanan terdengar suara ribut-ribut bahwa dua beias ketua partay telah berusaha hendak meiarikan diri dengan membobol kamar tahanan masing-masing .
Kim Hong dikejutkan dari mimpinya, ia iaiu turun dari tempat tidurnya dan iari keruangan tamu, disitu tampak Tay-giam-ong iari keluar dari dalam lorong, sedangkan penguasa rumah penjara ia juga keluar dari kamar sebelah kanan ruangan tamu.
Penguasa rumah penjara memancarkan sinar matanya yang tajam, berkata kepada Tay-giam-ong .
"Lao Sun ceng, apa yang telah terjadi?"
"Mereka dengan serentak telah merusak kamar tahanan dan melarikan diri, sekarang ini sedang menyerbu dan berusaha hendak menolong kakek gelandangan dari kamar tahanan istimewa. Lo Kiu dan Lo cap tak sanggup menahan, keduanya terluka parah dan terkapar di tanah,..."
Menjawab Tay-giam-ong Cemas.
Tanpa menunggu keterangan Tay-giam-ong lebih jauh, penguasa rumah penjara sudah lompat meleset lari kedalam lorong, Kim Hong hendak mengikuti, tetapi dicegah oleh Taygiam-ong, katanya.
"Tidak ada urusanmu, pergilah kau tidur"
"Apakah laucumu bisa membinasakan mereka?"
Bertanya Kim Hong khawatir.
"Jangan banyak tanya, pulanglah dan tidur kekamarmu sendiri"
"Aku tidak bisa tidur, aku ikut kau turun kebawah lembah untuk melihat saja, bagaimana?"
"Tidak bisa Tidak bisa Lekas kembalikan kekamarmu sendiri"
Kim Hong agak mendongkol, ia duduk di atas kursi dan berkata "Aku juga tak akan turun juga tidak akan tidur, kau Taygiam-ong silahkan pergi saja."
Tay-giam-ong terpaksa berlalu, baru jalan dua langkah, tiba-tiba seperti teringat sesuatu buru-buru merandek dan berpaling mengawaSi Kim Hong Sejenak.
kemudian berkata, ia agaknya khawatir meninggalkan pemuda itu seorang diri.
"Kau hendak ikut aku turun juga boleh hanya jangan sekali-kali kau turutcamput tangan bagaimana?"
Kim Hong sangat girang, ia lompat dari tempat duduknya dan berkata.
"Baik Aku akan berdiri sebagai penonton saja"
Tay-giam-ong antar ia keluar kamar alat naik turun keiembah, tak disangka alat itu sudah digunakan oleh penguasa rumah penjara terlebih duiu, saat itu masih berhenti dilembah bagian bawah.
la lalu menekan alatnya didinding, hingga alat itu dari bawah naik keatas iagi, keduanya iaiu menggunakan alat itu turun kelembah.
Tiba didalam lembah, Tay-giam-ong lompat keluar lebih dahulu, dengan cepat lari ke bawah melalui jalanan tangga yang berputaran itu.
Kim Hong mengikuti dibelakangnya, tidak didepan sebuah lobang goa, dibawah sinar rembulan tampak dimulut goa ada rebah menggeletak dua orang tua mereka ternyata adalah ketua partay Kong-thong-pay Jie cek Bun ketua partay Lam-hay-pay Bu-yu Sianjin Yap It ciu.
mereka rebah dengan mata terbelalak.
jeias ini sudah ditotok jalan darahnya.
Tay-giam-ong agaknya takut Kim Hong turun tangan pergi menolong, maka ia segera menarik tangannya dan lari masuk kedalam goa.
jalan didalam goa itu tidak dalam, masuk kira-kira tiga tombak sudah menikung kekanan masuk lagi kira-kira enam tujuh beias tombak.
tibaliah dibagian terakhir, disitu tampak sebuah kamar tahanan yang kokoh dan kuat.
sebuah pelita yang memancarkan sinar apinya yang lemah, dapat melihat keadaan diluar tahanan itu, ada menggeletak sepuluh lebih orang tua, sedangkan penguasa rumah penjara berdiri ditengah-tengah mereka dengan sikap tenang dan sedikitpun tidak bergerak.
Sungguh cepat sekali, dalam waktu yang sangat singkat saja, ia sudah berhasil menjatuhkan dua belas orang ketua partay.
Kim Hong maju melongok, tampak dua batang besi besar yang digunakan untuk palang pintu kamar tahanan sudah bengkok, lobang-lobang dari sela-sela besi itu dapat digunakan untuk diri seorang keluar masuk, akan tetapi tawanan aneh yang berada dalam kamar....ialah kakek gelandangan Kiat Hian sebaliknya masih duduk disatu sudut dengan tenangnya, sepasang matanya kedap-kedip.
agaknya tidak menghiraukan apa yang terjadi diluar kamarnya, sikapnya itu menunjukkan betapa ketenangan hatinya.
Rantai yang digunakan untuk merantai kaki dan tangannya luar biasa besarnya, rantai-rantai itu mungkin ada dua ratus kati beratnya, dilehernya juga dirantai sepanjang kira-kira enam kaki, diikat dengan tiang besar didalam kamar tawaaannya, cara memasung orang demikian ini sekali pun mempunyai kepandaian luar biasa juga tidak dapat meloloskan diri.
pada saat itu Penguasa rumah penjara mengeluarkan suara batuk-batuk perlahan, berkata sambil mengawasi kakek gelandangan.
"Hei, tadi mengapa tidak mencoba ?"
"Tidak perlu mencoba, kalau aku meronta saja sudah lantas terbuka..."
Menjawab kakek gelandangan acuh tak acuh.
"Mengapa tidak kau lalukan ?"
"ouw....tidak. aku merasa begini lebih enak. kulihat aku seperti suka dengan kamar ini"
"Kau ngoceh, ada apa yang dibuat suka dalam kamar ini?"
"Aku berdiam disini tidak ada orang yang datang mengganggu, aku boleh memikirkan segala urusan yang suka aku pikirkan "
Sehabis berkata demikian ia berpaling dan bertanya kepada Kim Hong.
"Hei bocah, apakah kau yang bernama Cin Hong ?"
Kim Hong menjawab Sambil menjura.
"Ya, tapi boanpwe sekarang sudah berobah shenya menjadi she Kim, sebab boanpwe sudah menemukan ibu boanpwe"
"Aku tidak perduli kau she Kim atau she Cin, kuberitahukan padamu. kawan perempua-mu itu bodoh sekali, ia......"
Kim Hong takut ia akan menceritakan urusannya yang mengajarkan ilmu silat kepada In-jie, maka buru-buru memotong dan berkata dengan suara keras.
"Aku tahu.. Aku tahu... Dia sekarang kembali diturunkan kekamar tahanan golongan ular"
Kakek gelandangan menganggukkan kepalanya berkata dengan wajah berseri-seri.
"Kenapa? Hei kau berani menantang bertanding kepadanya? Kemudian ditawan olehnya didalam kamar tahanan golongan ular?"
Kim Hong melirik penguasa rumah penjara sejenak. berkata sambil menganggukkan kepala.
"Jikalau perlu sudah tentu boanpwe berani"
Penguasa rumah penjara hanya memperdengarkan suara dari hidung, lalu berpaling dan berpesan kepada Tay-giamong.
"Jaga baik-baik dua belas tawanan ini. nanti setelah terang tanah aku akan hukum mereka dihadapan umum "
Sehabis berkata demikian dengan mendadak menarik tangan Kim Hong dan berlalu, langsung masuk kealat naik keatas lembah.
"Laucu, tahukah kau apa sebab mereka hendak menolong kakek gelandangan?"
Demikian Cin Hong bertanya.
"Suruh ia membuka kotak rahasia batu Giok "
"Nah, sekarang kau pikir hendak meng hukum mereka dengan Cara bagaimana "
"Aku hendak hukum mati mereka dihadapan semua tawanan, jikalau tidak bagaimana aku dapat mengandalikan semua tawanan itu?"
"sebaiknya berikan hukuman agak ringan sedikit "
"Tidak bisa "
"Harap kau suka pikir dulu, ibuku suruh aku merobah pandanganku terhadap kau "
"Aku tidak perduli bagaimana anggapanmu terhadap diriku "
"Apakah kau sudah tidak bisa diajak berunding lagi ?"
"Ini bukan salahku, mereka telah merusak peraturan rumah penjara"
"Itu karena terpaksa, sebab golongan Kalong sudah berhasil merampas delapan buah anak kunci dari dua belaS anak kunci emas itu kau tahu bahwa Pangcu golongan Kalong itu bukan orang baik"
"Aku tidak perdulikan itu semua "
"Baik, kalau kau berani menghukum mereka, aku akan menantang bertanding dengan kau"
"Kalau kau berani menantang kunanti akan hajar mampus dirimu "
"Kau tunggu saja, lihat setelah terang tanah, aku berani menantang kau atau tidak"
"Hm, bocah apa kau tidak menepati janjimu untuk menolong muridku ?"
"Aku merasa sangat menyesal, dua belas nyawa kalau dibanding dengan muridmu, membuat aku tidak berdaya, mau tak mau aku harus mengingkari janjiku sekali ini "
"Apa kau kira kalau kau menantang bertanding sudah dapat mencegah aku untuk menghukum mati mereka?"
"Setidak-tidaknya aku sudah melaksanakan tugasku dan kewajibanku "
"Omong kosong "
"Banyak omong tidak gunanya, kita tunggu sampai besok hari saja"
Esok harinya, Kim Hong begitu bangun tidur sudah lari keluar hendak memberitahukan kepada ibunya tentang maksudnya hendak menantang bertanding dengan penguasa rumah penjara, tak ia sangka begitu tiba didepan pintu ibunya, tampak dua Giam ong ialah Hoan Thian Tiauw dengan sikapnya yang garang duduk di atas kursi rotan, sedang tangan kanannya mengurut-urut kumisnya dan brewoknya yang lebat.
Kim Hong menganggukkan kepala padanya, namun tidak tampak ibunya didalam kamar hingga dalam hati merasa heran-ia lalu berpaling dan bertanya "Jie Giam-ong, numpang tanya, kemana ibu pergi?"
"ibumu tidak mau menjumpai kau?"
Jawab Jie Giam-ong sambil tersenyum.
"Apa sebab ibu tidak mau menemui aku?"
Bertanya Kim Hong terkejut. Jie Giam ong mengeluarkan sepotong kertas dari dalam sakunya, diberikan kepada Kim Hong seraya berkata.
"Kau baca ini, ini adalah ibumu yang minta aku sampaikan kepadamu"
Kim Hong menyambutnya dan membaca tulisannya yang sangat singkat saja isinya.
"Hong jie, jikalau kau menantang bertanding dengan laucu, ibumu tidak akan menemui kau untuk selamalamanya."
Kim Hong terkejut, ia lompat dan berkata.
"Lekas beritahukan kepadaku, kemana ibuku pergi?"
"Kau boleh duga sendiri apakah aku bisa memberitahUkan kepadamu?"
Balas bertanya Jie Giam-ong dengan sikap acuh tak acuh.
"Apakah kalian sudah menawan ibu?"
Bertanya Kim Hong marah.
"Kami terhadap nona Siu Khim selamanya sangat menghormat, demikian pula dengan laucu kami"
Menjawab Jie Giam-ong sambil menggelengkan kepala.
"Kalau begitu kau beritahukan padaku kemana ia pergi, aku hendak memberi penjelasan kepadanya"
"Penjelasan tidak akan menantang pertandingan?"
"Penjelasan apa sebab aku hendak menantang bertanding"
Jie Giam-ong tertawa dan berkata sambil menggelenggelengkan kepala.
"Kalau begitu, Segalanya tak usah dibicarakan lagi"
Kim Hong marah, katanya "Kurang ajar, ini pasti perbuatan kalian semua"
"Aku kata, kami orang-orang yang ada di sini Selamanya menghormati ibumu, kami tidak bisa memaksa ia menentang kau mengadakan pertandingan, lagi pula kau bukanlah seorang yang hebat, laucu kami tidak ada perlunya mencegah kau menantang"
Kim Hong pikir bahwa ucapan itu juga ada benarnya, maka ia meraSa serba salah, sambil menundukkan kepala air matanya mengalir tidak berhentinya.
Jie Giam ong mengulurkan tangannya dan menunjuk sebuah kursi kosong disebelahnya seraya berkata.
"Kau boleh duduk sebentar untuk memikirkan dulu baikbaik, pikirkanlah apa sebab ibumu hendak mencegah kau menantang bertanding?"
Kim Hong menurut duduk dikursi yang ditunjuk, ia memulai memikir dengan tenang, Agak lama ia berpikir, barulah bangkit dari tempat duduknya Jie Giam-ong bertanya padanya dengan penuh perhatian.
"Sudah pikir masak?"
"Sudah"
"Lalu, putusanmu, tidak jadi menantang?"
"Tidak aku mengambil keputusan tetap hendak menantang bertanding"
Jie Giam-ong mendadak marah, ia bangkit dari tempat duduknya dan mengambil sikap mengusir, bentaknya.
"Pergi kau bocah ini benar-benar sudah tidak ada obatnya lagi, pergi mampus sana"
Kim Hong memutar diri dan berjalan kembali keruangan tamu, tampak Penguasa Rumah Penjara berdiri didepan jendela, ketika mendengar suara langkah kakinya, berpaling mengawasi Kim Hong dan bertanya sambil tertawa.
"Mengapa matamu merah ?"
"ibu tidak mau menemui aku "
"Kenapa ?"
"Ia kata apabila aku menantang bertanding padamu ia tak mau menemui aku selamanya."
"Kalau begitu kau tidak jadi menantang lagi ?"
"Tidak. aku tetap hendak menantangmu "
"Jadi kau tidak mau dengar ucapan ibumu, ini berarti anak tidak berbakti "
"Tidak berbakti? Tuhan yang tahu...."
Penguasa Rumah Penjara sangat marah, ia berkata sambil menunjuk keluar jendela.
"Bagus sekali. Sekarang kau pergi memukul tambur"
Kim Hong lompat melesat dari lobang jendela, ketika kakinya menginjak kesenar besi lalu melompat kepanggung disebelah sana, untuk pertama kalinya ia harua menghadapi Penguasa Rumah Penjara yang kesohor namanya juga untuk pertama kalinya ia berdiri diatas tujuh senar besi yang terpancang di atas lembah, ketika kepalanya menunduk kebawah, bagian bawah itu tampak seperti tak ada dasarnya hingga didalam hatinya timbul rasa takut, ketika berada diatas panggung sekujur tubuhnya Sudah mengucurkan keringat dinginla menarik napas lega, lalu berjalan ke-tambur besar dan memukul dan memukul tambur hingga lima kali.
Banyak tawanan masih tidur dengan lelapnya, ketika mendengar suara bunyi tambur pada melongok melalui lobang jendela dari bawah tampak seperti biji buah anggur yang tergantung di dinding lembah.
Sementara itu penguasa rumah penjara pun sudah melesat keluar melalui lubang jendela, lalu melayang turun ke atas senar dan berjalan menghampiri Kim Hong.
Kim Hong mengeluarkan kipas, Untuk kedua kalinya ia melompat ke atas senar, menyambut kedatangan Penguasa Rumah Penjara.
Penguasa Rumah Penjara menghampiri Kim Hong, memandangnya sejenak lalu berkata dengan suara tenang dan sambil senyum.
"Beranikah kau mendengar irama yang akan kusentil dari senar ini?"
Kim Hong paling takut mendengar suara irama senar besi itu tetapi karena ditanya berani atau tidak. bagaimana ia bisa menunjukan kelemahannya? Maka ia lalu berkata dengan menebalkan muka.
"Aku justru ingin belajar kenal, kau sentillah saja"
Penguasa rumah penjara rimba persilatan dengan sangat lincahnya mulai bergerak-gerak diatas senarnya, hingga senar besi itu menimbulkan irama mengalun di udara.
Irama itu mendengarkan suaranya perlahan-lahan, maka getaran kawat besar itu juga tidak terlalu hebat, Kim Hong yang berdiri ditengah bagian tengah kawat, memejamkan mata menenangkan pikiran, ia berusaha untuk menindih perasaannya jangan sampai memperhatikan irama itu, akan tetapi tak lama kemudian dengan tiba-tiba ia merasa suara irama itu sedikitpun tak hebat, sebaliknya malah perdengarkan suara yang merayu dan indah sekali.
Selanjutnya, ia seperti seorang anak yang baru pulang kepangkuan ibunya sedang menceritakan pengalamannya diluar suka duka, semuanya ada.......
Semuanya itu telah membawa padanya tenggelam dalam dunia lamunan yang senang dan ada kalanya duka.
Dengan mendadak Kim Hong menjerit dan menubruk bayangan ibunya, dalam lamunannya tak ia sangka kakinya menginjak tempat kosong, hingga ia tidak dapat pertahankan lagi dirinya.
saat itu ia telah terjatuh dari atas senar dan melayang turun kebawah lembah.
Ketika terjatuh diatas jaring, tubuhnya terumbangambing, waktu ia membuka mata, ia baru tahu bahwa dirinya berada didalam jaring, ia baru terkejut, dan memikirkan kembali apa yang telah terjadi, tapi ia tetap tidak ingat bagaimana dirinya bisa terjatuh dijaring kaWat itu.
Perlahan-lahan ia merayap bangun, ketika angkat muka tampak Jie Giam-ong berdiri dihadapannya dengan tangan membawa rantai besi, ia terkejut dan bertanya padanya .
"Hei, aku tadi dapat menyambut berapa jurus?"
Didalam Jie Giam-ong merantai tangan dan kaki Kim Hong katanya sambil tertawa.
"Anak bodoh, kali ini kau sudah merasa puas?"
"Ini kamar nomor berapa?"
"Kamar nomor seratus enam."
Sehabis berkata demikian,jie Giam-ong lantas mengunci pintunya dan meninggalkan Kim Hong seorang diri. Jie Giam-ong tertawa dan berkata padanya dengan nada mengejek.
"Tidak tahu malu. Sejak berdirinya rumah penjara rimba persilatan ini, kaulah satu-satunya orang yang paling jelek ...satu jurus belum sampai sudah terjatuh sendiri kedalam jaring ini"
Kim Hong malu sekali, hingga wajahnya menjadi merah, katanya dengan suara gelagapan.
"Itu pasti lantaran aku dengar irama senar tadi hingga pikiranku kalut. jikalau tidak. paling sedikit aku juga bisa menyambut lima jurus keatas......."
"sekarang jangan banyak bicara lagi ikutlah aku pergi"
Diam-diam ia terpaksa mengikuti Jie Giam-ong masuk kelubang sebuah goa, berjalan berliku-liku sebentar, tibalah didepan pintu kamar tahanan Jie Giam ong mengeluarkan serenceng kunci membuka pintu batu kemudian suruh Kim Hong masuk kedalam.
Kim Hong berjalan kebawah jendela.
tampak dinding dibawah jendela ada tanda pecah ia tahu bahwa tadi malam Tong-hong Jie Nio pasti pernah merusak dinding itu.
Saat itu ia lalu memanggil-manggil In-jie melalui lubang jendela.
In-jie yang ditawan dalam kamar nomor seratus lima, mendengar panggilan itu segera menyahut.
"Apakah disana engkoh Hong? Dari mana kau memanggil aku?"
"Dari kamar nomor seratus enam, aku sekarang telah ditawan "
In-jie berseru kaget, tanyanya.
"Apa? Apakah orang yang menantang pertandingan tadi adalah kau ?"
"Ya, sebab penguasa rumah penjara hendak menghukum mati dua belas ketua partay, dalam marahku aku segera menantang bertanding padanya, siapa tahu satu jurus belum berlangsung aku sudah terjatuh kebawah "
"Baik, baru saja aku pikir hendak mencari kau, sekarang kau sudah jatuh disini lalu sekarang bagaimana?"
"Tidak apa, naiklah kau "
"sekarang perlu apa aku masih naik? Aih."
"In-jie kau jangan menghela napas, lantaran aku menantang bertanding, hingga timbul sedikit perselisihan dengan ibu, kalau kau menghela napas lagi, aku semakin terasa tidak enak "
"Baik, baik, aku tidak menghela napas, sekarang kau pikir hendak berbuat apa?"
Kim Hong masih belum menjawab, tiba-tiba terdengar ia berseru terkejut.
"Hai, engkoh Hong, coba kau tengok keatas, lihat mereka sedang berbuat apa?"
Kim Hong menolongakkan kepala, tampak diatas senar setinggi beberapa puluh tombak.
beberapa pegawai rumah penjara sedang menggantung beberapa orang dibawah jaring, orang-orang itu ditelikung kedua tangannya dan kakinya, hingga seperti babi bergelantungan dibawah jaring.
Satu persatu dihitung oleh Kim Hong, Semuanya berjumlah dua belas orang....
Itu adalah dua belas ketua partay yang tadi malam hendak membobol kamar tahanan.
Kim Hong terkejut dan berkata.
"celaka. Penguasa rumah penjara itu benar-benar hendak menghukum mati mereka "
"Mereka benar-benar tidak tahu malu. ingin kabur, Sebetulnya juga harus dihukum mati"
Berkata In-jie.
"Kau ngoceh, rupanya kau juga sama dengan orang semaCam Penguasa Rumah Penjara ini"
Berkata Kim Hong marah.
"Apa aku salah? Mereka tokh sudah be rani menantang bertanding, seharusnya mempunyai keberanian untuk menerima hukuman......"
Berkata In-jie gugup, Kim Hong memotong ucapannya dan berkata.
"Kedatangan mereka ia hendak menolong keluar Kiatlocianpwe, tahukah kau?"
"Siapakah Kiat-locianpwe?"
"Dia adalah orang tawanan yang mendiami kamar istimewa yang dahulu pernah mengajarkan kau ilmu silat, dia adalah anak laki-laki dewa persilatan"
"oouw, kiranya dia, ia sudah beberapa hari tidak berbicara denganku"
Sementara itu, dari atas terdengar suara orang berkata dengan nyaring.
"Para tawanan semua dengar, tadi malam ada dua belas orang tahanan hendak melarikan diri dengan membobol kamar tahanan, semua sudah ditangkap kembali oleh laucu, perbuatan semacam ini, seharusnya dihukum mati dengan segera, untuk menjaga nama baik peraturan kami, hanya, laucu masih ingat Tuhan, maka perintahkan padaku untuk minta pikiran kalian, apabila ada jumlah separo keatas dari kalian yang setuju menghapuskan hukuman mati, maka laucu akan menghukum ringan, masing-masing akan dipotong satu jari tangannya, jika tidak, maka menurut peraturan akan dihukum mati, Sekarang kalian boleh mulai pikir masak-masak sebentar kita akan datang mengunjungi kalian satu persatu, untuk mengambil keputusan"
Kim Hong segera berseru.
"Tak perlu dipikir, kami setuju kalau mereka tidak dihukum mati"
In-jie juga berkata dengan suara nyaring.
"Aku juga setuju mereka jangan di hukum mati."
Para tawanan yang lainnya juga mulai ribut-ribut berteriak-teriak dan ada yang menyatakan tidak setuju, ada yang menyatakan setuju, yang tidak setuju, karena menganggap bahwa mereka sebagai ketua partai besar, ternyata berani melakukan perbuatan hendak melarikan diri dengan jalan membobol kamar tahanan, perbuatan itu tidak bedanya sebagai perbuatan kawanan berandaL Karena sama-sama pada berpendapat demikian, maka banyak suara yang menyetujui mereka dihukum mati.
Antara suara yang menentang dan yang setuju terdengar semakin ramai, tetapi umumnya pada setuju dihukum mati, Kim Hong yang mendengar itu tampak cemas dan gusar, katanya dengan suara nyaring.
"In-jie, sekarang bagaimana? Rupanya yang menyetujui hukuman mati jumlahnya lebih banyak dari yang tak setuju?"
"Apa boleh buat, orang-orang ini biasanya hidup sangat kering, sekarang telah menganggap membunuh orang itu sebagai kesenangan"
Menjawab In-jie.
"Dengan demikian, apakab dua belas ketua partay itu sudah pasti dihukum mati?"
"Lalu, kalau menurut kau bagaimana kita harus berbuat?"
"Ya, bagaimana harus berbuat? Ini merupakan suatu hal yang memerlukan pemikiran keras."
Ia sangat gelisah, tetapi tidak dapat menemukan suatu cara yang baik, dalam keadaan cemas, tanpa disadari olehnya, dengan menggunakan rantai ditangannya ia memukul-mukul dinding seperti orang gila.
Pada saat itu tiba-tiba terdengar suara seorang tua halus sekali bagaikan nyamuk terbang masuk kedalam telinganya.
"Hei, apakah kamar nomor enam sudah ada penghuninya lagi?"
Kim Hong terperanjat ia segera teringat bahwa itu pasti adalah suara kakek gelandangan yang disampaikan kepadanya melaiui ilmu menyampaikan suara kedalam telinga yang dikeluarkan dari kamar tahanannya yang istimewa, maka saat itu ia segera tenggukup disatu sudut dan berkata dengan suara keras.
"Aku disini Kim Hong, apakah kau Kiat-locianpwee?"
Kini telinganya mendengar pula jawaban seorang tua.
"Benar, bocah sejak kapan kau berobah menjadi tawanan ?"
"baru saja aku terjatuh dibawah lembah ini"
Menjawab Kim Hong.
"Kim Hong, otakmu cukup cerdas, sedikit saja sudah mengerti "
Berkata si kakek gelandangan sambil tertawa. Kim Hong tidak dapat mengerti maksud orang tua itu, tanyanya dengan suara keras.
"Kiat-locianpwee, apa kata locianpwe tadi ?"
"Bukankah kau turun kepenjara ini hendak belajar padaku ilmu silat ?"
Kim Hong tercengang ia menjawab dengan terus terang.
"Tidak. sebab Penguasa Rumah Penjara ini hendak menghukum mati dua belas ketua partay, maka boanpwe barulah menantang padanya, bukanlah hendak belajar ilmu silatmu, Sengaja boanpwe minta ditawan "
"oh kiranya begitu, apakah mereka sudah dihukum mati oleh Penguasa Rumah Penjara ?"
"Belum, ia sedang minta pendapat para tahanan semua, akan tetapi sebagian besarpara tahanan setuju mereka dihukum mati sekarang coba locianpwe pikir, bagaimani harus bisa berbuat?"
"Ngg, biarlah kupikir dulu . ."
Sesaat kemudian, dari kamar In-jie tiba-tiba terdengar suaranya yang sangat gembira.
"Engkoh Hong, aku ada akal untuk menolong mereka "
Sementara itu, suara ribut-ribut dari para tawanan juga sudah mulai sirap sebab ada beberapa penjaga rumah penjara sudah mulai datang berkunjung untuk menanyakan pikiran mereka.
Kim Hong sangat gelisah, tanyanya.
"In-jie kau ada mempunyai akal apa lekas kau ceritakan"
"Baik engkoh Hong, suaramu lebih nyaring dari padaku bukan?"
"Ya, kenapa?"
Bertanya Kim Hong heran.
"Kalau begitu, aku akan mengucapkan sepatah kata kau lalu sampaikan kepada semua tawanan dengan suaramu yang nyaring"
Kembali Kim Hong terkejut tanyanya.
"Menyampaikan bagaimana?"
"Saudara-saudara senasib dengar ..."
Kim Hoag segera mengerti apa yang hendak dikatakan oleh gadis itu, hanya ia tidak tahu apa yang akan dikatakan, maka ia segera menuruti ucapan In-jie tadi disampaikan kepada para tawanan semua, Karena kekuatan tenaga dalamnya sudah cukup baik, maka dengan suaranya itu, benar saja bisa disampaikan kepada semua tawanan dalam golongan kamar ular itu, mendengar suara itu, suara ribut-ribut dari mereka tadi menjadi sirap hingga suasana jadi tenang.
Sementara itu Injie sudah berkata lagi.
"Atas perintah Soat-lie-ang Yo In In-"
Dalam hati Kim Hong diam-diam terkejut terpaksa ia menyampaikan suara Yo In In itu dengan suaranya sendiri. Semua tawanan ketika mendengar suara itu suasana semakin tegang. In-jie berkata lagi.
"Semua harus memberi suara menentang dihukum matinya dua belas ketua partay ...."
Dalam hati Kim Hong merasa sangat girang ia kembali menyampaikan ucapan In-jie tadi dengan menggunakan suaranya sendiri, In-jie berkata pula.
"Jikalau kalian berbuat demikian, dilain waktu apabila sedang bekerja, aku akan menyanyikan lagu yang amat merdu untak kalian semua"
Kim Hong diam-diam memuji kepintaran In-jie, kembali ia menyampaikan ucapan itu dengan suaranya sendiri. Injie sementara itu sudah berkata lagi.
"Jikalau tidak demikian, hehem, kalian boleh dan saksikan sendiri apa nasib kalian nanti."
Kim Hong merasa bahwa ucapan itu kurang tepat, tetapi ia masih menyampaikan juga dengan suaranya sendiri.
Para tawanan telah tenang agak lama, tiba-tiba dari antara mereka ada yang berkata dengan suara keras.
"Ya, melihat orang dibunuh mati ada lebih baik kita dengar nona Yo bernyanyi inilah baru ada artinya, aku tidak....tidak setuju dua belas ketua partay itu dihukum mati."
"Jikalau nona Yo sudah perintahkan demikian, aku juga setuju mereka tidak dihukum mati"
Demikian terdengar pula orang yang mendukung Yo In In-Diantara gemuruhnya suara orang banyak tiba-tiba terdengar suara orang yang minta supaya In-jie menyanyi Sekarang juga .
Usul itu segera disambut dengan suara gempar oleh semua tawanan, hingga lembah itu dirasakan seperti mau rubuh.
In-jie, terkejut dan bertanya kepada Kim Hong.
"Engkoh Hong, apakah aku harus menyanyi?"
"Ya, menyanyi... Harus menyanyi"
Berkata Kim Hong dengan suara nyaring.
"Kalau begitu kau suruh mereka tenang"
Kim HONG Segera berkata dengan suara nyaring.
"Tenang Tenang Nona Yo kini hendak menyanyi "
Suara Kim Hong disampaikan satu persatu oleh para tawanan kepada yang lain, hingga dalam waktu sekejap mata, seluruh lembah itu sudah pulih kembali menjadi tenang.
Setelah itu, suara nyanyian In-jie yang sangat merdu mengalun diudara, didengar oleh semua telinga para tawanan didalam lembah selesai menyanyi, mendapat sambutan hangat dari para tawanan, hingga suara riuh memenuhi lembah itu.
Sekarang penguasa rumah penjara rimba persilatan mau tak mau harus mentaati ucapannya sendiri, tak lama kemudian, setelah perhitungkan pemungutan suara selesai dua belas ketua partay itu masing-masing dikutungi sebuah jarinya sebagai hukuman, kemudian dibawa kembali kekamar tahanan masing-masing.
Kim Hong karena kegirangan, maka segera memberi pujian kepada In-jie, dengan sangat girang In-jie berkata.
"Aku sendiri tidak tahu bagaimana bisa memikirkan akal semacam itu, sebetulnya, aku seharusnya sejak tadi sudah memikirkan bahwa para tahanan itu memang dahulu semua pada dengar kataku "
Selagi Kim Hong hendak menjawab. telinganya kembali terdengar saara seorang tua yang sangat halus.
"Bocah, sahabat perempuanmu itu, sifatnya begitulah yang kurang menyenangkan orang, ia suka membual, suka bangga, sudah jelas akal itu adalah aku yang mengusulkan padanya, tapi sebaliknya ia anggap punyanya sendiri...,"
Dalam hati Kim Hong juga merasa geli, ia segera berjalan kesatu sudut dan berkata dengan suara nyaring.
"Kalau begitu terima kasih kepadamu, lo-cianpwee"
"Tidak usah mengucapkan kata-kata yang tidak perlu, sekarang aku akan menurunkan satu jenis ilmu silat, jenis apakah yang kau suka pelajari?"
Terdengar suara kakek gelandangan dari sebelah sana.
"Terserah, boanpwe sudah mempelajari semacam ilmu silat locianpwe"
Berkata Kim Hong.
"Kau mempelajari ilmu silatku yang mana?"
Demikian terdengar pertanyaan kakek gelandangan agaknya heran.
"Ilmu kipas Tay-seng-bong-sin San, itu adalah ketika boanpwe pergi mengejar pangcu golongan Kalong dahulu, sewaktu tiba digunung Bie-ciong-san, peliharaan locianpwe yang bernama Peksie Siu-su telah menggali se
Jilid kitab dari dalam tanah dan diberikanpada boanpwe"
"Ah, monyet kurang ajar, ia berani-berani mengambil putusan sendiri..."
Terdengar suara kakek gelandangan yang agak marah, tapi setelah diam sejenak terdengar pula suaranya.
"Baiklah, ia mungkin melihat kau bukanlah orang jahat, maka dengan rela memberikan kepadamu, hanya kalau kau sudah memahami ilmu kipas Tay-seng-hong-sin-san mengapa tidak sanggup menahan serangan Penguasa rumah penjara hingga sepuluh jurus ?"
Kim Hong merasa malu dengan jawabannya.
"Boanpwe Sama sekali belum pernah melakukan pertandingan dengannya, entah dengan cara bagaimana, dengan mendadak telah jatuh oleh karena mendengar suara irama sentilan senar kawat."
"Ng. kalau perasaanmu demikian lemah, barangkali juga tidak ada gunanya bagimu mempelajari seluruh ilmu kepandaianku....."
"Lalu, sekarang bagaimana?"
"Jikalau kau ingin segera keluar dari tahanan, aku akan mengajarkan kau suatu cara"
"Baiklah, cara apa ?"
"Sebelum kuajarkan padamu, lebih dulu kau harus berjanji melakukan suatu tugas untukku"
"Tugas apa "
"Pergi kegunung Tay-pek-san, disana ada sebuah danau yang dinamakan danau Tay-pek-tie, disebelah selatan danau Tay-pek-tie ada sebuah tempat yang banyak batu cadas, disitu kau pergi melihat, karena aku pernah meninggalkan beberapa tulisan orang lain, kau harus lekas pulang beritahukan padaku, sedikitpun tidak boleh membuang waktu, apakah urusan ini kau dapat melakukan ?"
"Baik, Boanpwe pasti sanggup melakukan-"
Setelah diam tidak ada suaranya sebentar dari kakek gelandangan, kemudian terdengar suaranya.
"Jikalau kau ingia mempelajari ilmu silat-ku lagi, boleh pergi kegunung Bie-ciong-san suruh Pek sie-siu-su menggali kitab ilmu pedang keluarga Kiat supaya diberikan padamu, apabila ia tidak mau kau boleh menyanyikan syair pujangga Touw Pho, itu adalah syair yang suka kunyanyikan-"
"Terima kasih atas hadiah locianpwe, tetapi urusan ini tidak begitu tergesa-gesa, tadi pelajaran apa yang locianpwee katakan hendak ajarkan kepada boanpwee...."
"cara ini ialah. Asal kau menggunakan kain basah untuk menutup lubang telingamu, kau dapat menyambut serangan penguasa rumah penjara hingga sepuluh jurus."
Kim Hong pikir cara itu memang masuk akal, maka dengan sangat kegirangan ia berkata.
"Ya benar, mengapa semula tidak memikirkan cara demikian?"
Terdengar suara tertawa kakek gelandangan, kemudian kata-katanya.
"Sekarang kau boleh naik pergi menantang bertanding lagi"
Kim Hong sangat gembira, lalu ia lompat kemulut jendela dan berkata kepada in-jie.
"In-jie mari kita naik keatas lembah untuk menantang bertanding"
Sesaat kemudian, terdengar pula suara tambur berbunyi lima kali, suatu tanda orang datang menantang bertanding lagi.
Baru sirap suara tambur dari lubang jendela ruangan tamu penguasa rumah penjara tampak melesat keluar sesosok bayangan hitam dan sebentar kemudian sudah berada diatas senar besi.
Kim Hong yang berdiri di atas panggung sebrang lain, bersama In-jie saling berpandangan dan tertawa, yang tersebut duluan membentur siku yang tersebut belakangan seraya berkata.
"In-jie, kau naik lebih dulu"
In-jie miring kan kepalanya dan bertanya "Apa katamu?"
Kim Hong baru ingat bahwa lubang telinga mereka sudah ditutup oleh kain basah sudah tentu tidak dapat dengar apa yang di ucapkan olehnya, maka ia lalu mendorongnya dengan suatu tanda suruh ia naik lebih dulu.
In-jie mengerti, ia segera menggunakan ilmunya dari golongan Thian-san, melayang yang tinggi sejauh tiga tombak, kemudian melayang turun lagi keatas senar besi itu, lebih dulu ia menjura memberi hormat kepada penguasa rumah penjara, lalu berkata Sambil tertawa.
"Laucu, aku hendak mengganggu kau lagi"
Dengan sinar mata merah Penguasa rumah penjara berkata.
"Hm, kau budak ini orangnya kecil nyalinya besar, kali ini rumah penjara hampir kau kacau balau tidak karuan macam hari ini bagaimanapun juga kau akan turun kekamar tahanan seumur hidup, kulihat kau masih bisa mengacau atau tidak?"
In-jie yang tidak dapat mendengar, sudah tentu tidak tahu apa yang diucapkan, sambil miring kan kepala ia bertanya.
"Apa katamu?"
"Hm..., adakah kau sudah tuli?"
Berkata Penguasa Rumah Penjara marah. In-jie menggeleng-gelengkan kepala, lalu menganggukkan kepala dan tertawa geli sendiri, setelah itu ia berkata.
"Hei, tidak usah bicara yang bukan-bukan sekarang kau boleh mulai menyentik senarmu, kali ini sekalipun kau menyentil dengan irama apa saja, aku juga tidak takut"
Penguasa Rumah Penjara bergerak.
benar saja dengan gerakan sangat lincah ia bergerak-gerak kakinya di atas senar.
Senar itu mengeluarkan irama mengalun, sebentar memperdengarkan iramanya yang merdu merayu, sebentar kemudian memperdengarkan irama berduka, sehingga bagi orang yang mendengarkannya merasa pilu hati...,.
Akan tetapi In-jie sedikitpun tak menunjukkan rasa pilu atau risau, dengan gerakannya yang sangat lincah ia lompat-lompatan di atas senar sedikitpun tak terganggu irama senarnya.
Penguasa Rumah Penjara menyaksikan gadis itu benar saja tidak tergerak hatinya oleh suara senarnya, mengeluarkan suara terkejut, tiba-tiba menghentikan gerakkannya lalu menyerbu dan menyerang dengan tangan kanannya.
In-jie sambut dengan sikap tenang, dengan gerakannya yang sangat lincah ia mengelak serbuan itu, lompat meleset kesenar sebelah kanannya, sedang tangannya bergerak balas menyerang bagian jalan darah didekat pinggangnya.
Serangannya itu dilakukan dengan cepat dan indah sekali, hingga secepat kilat sudah sampai kebagian yang diarah hanya tinggal tiga dim saja.
Tubuh penguasa rumah penjara agak memutar, ia menyampok tangan In-jie dengan lengan bahu kirinya, disamping itu, tangan kanannya bergerak dan menyambar leher, seraya berkata sambil tertawa.
"Huh, kau bocah ini selama beberapa hari ini ternyata sudah mendapat banyak kemajuan"
Dengan gerakannya yang sangat indah ia berhasil mengelakkan samberan tangan penguasa rumah penjara, disamping itu ia merobah gerak tipunya untuk balas menyerang lagi.
Kali ini bergerak kedua tangannya, tangan kiri menyerang bagian jalan darah Im-ciong, tangan kanan menyerang bagian jalan darah Kie-bun-hiat, serangannya itu dilakukan dengan tepat dan bagus Sekali, Sedikitpun tidak menunjukan kekalutan-Kiranya sejak ia mendapat pelajaran ilmu dari kakek gelandangan, ia sudah bertekad hendak keluar dari rumah penjara maka setiap hari kalau ada waktu senggang ia telah melatihnya dengan tekun, meskipun pernah beberapa kali menantang dan mengalami kegagalan, tetapi semua itu kalah dibawah irama senar besi yang digerakkan oleh penguasa rumah penjara, jikalau ditilik dari ilmu kepandaian silatnya, sebetulnya ia tidak dibawah suhunya sendiri ialah Soat Po-po.
Sudah tentu, penguasa rumah penjara sudah lama tahu bahwa pukulan tangannya itu adalah dapat pelajaran dari kakek gelandangan, tapi terhadap itu ia tidak mau peduli, sebab dalam rumah penjara itu tidak ada larangan bagi para tawanan untuk melatih ilmu silat.
dalam waktu cepat dua orang itu sudah bertanding delapan jurus, asal In-jie dapat menyambut dua jurus lagi, ia akan menjadi orang kedua yang berhasil keluar dari rumah penjara rimba persilatan itu dengan mengandalkan ilmu kepandaiannya.
Pengurus rumah penjara dengan mendadak mengeluarkan suara pekikan panjang badannya meleset tinggi keatas lima tombak.
kemudian memutar balik, secepat kilat menyergap kepala In-jie.
In-jie menampak serangan itu datangnya demikian hebat, sudah tentu merasa agak gugup, selagi tidak tahu bagaimana harus mengelak, tampak sang kekasih yang diseberang sana membuka mulut berteriak-teriak sambil memberi tanda dengan tangannya menyuruh ia lompat keatas.
dalam hati merasa girang, buru-buru ia lompat miring kesamping, menggunakan ilmunya cit ciong-hui dari golongan Thian-san, melayang setinggi tiga tombak tetapi dapat mengelakan serangan hebat dari penguasa rumah penjara.
Penguasa rumah penjara agaknya sangat marah.
ia tidak memberikan kesempatan baginya, sehingga In-jie melayang turun lagi keatas senarnya, tangan kirinya sudah bergerak melancarkan serangan, ditujukan kepada In-jie yang masih ditengah udara dengan ilmunya serangan tangan tanpa wujud yang hingga saat itu masih belum diketahui apa namanya.
Kim Hong yang menyaksikan itu perasaannya sangat tegang, hatinya hampirsaja lompat keluar, ia berseru-seru.
"Ini jurus kesepuluh, In-jie lompat lagi ke atas "
Sudah tentu In-jie tidak dapat dengar apa yang diucapkan olehnya, lagi pula ia sudah bertempur hingga sepuluh jurus itu keadaannya sebetulnya sudah terlalu letih saat itu tubuhnya mengapung ditengah udara, tampak penguasa rumah penjara menyerang dengan melalui jarak jauh, Sudah mengeluarkan suara jeritan kaget, belum memikirkan caranya untuk menghadapi satu kekuatan tenaga yang sangat lunak sudah nenyentuh tubuhnya, hingga saat itu ia sendiri terangkat tinggi sejauh tujuh delapan kaki, kemudian ia baru melayang turun lagi dengan cepatnya, hampir jatuh kira-kira satu tombak dari senar besi.
dengan mendadak tubuhnya itu telah tertahan oleh semacam tenaga gaib, hingga gerakkannya menjadi terlambat.
Ia sudah tidak mempunyai kesempatan lagi untuk berpikir apa sebetulnya yang telah terjadi, hanya merasa kan bahwa masih ada kesempatan untuk berusaha menghindarkan diri dari kekalahan, ia buru-buru pentang kedua lengannya dan berusaha mati-matian untuk menyambar senar besi.
Kim Hong memberi dorongan semangat, dengan berteriak-teriak sambil mengepal tinjunya.
"Sambar kawat itu Sambar kawat senar"
In-jie melirik, benar saja ia berhasil menyambar sebuah senar besi, tapi lantaran menurunnya terlalu keras hampir saja terlepas dan jatuh kebawah, hingga bergelantungan, keadaannya benar-benar sangat berbahaya.
Penguasa rumah penjara perdengarkan suara tertawa dingin, lalu mundur beberapa kaki dan berkata dengan nada Suara dingin.
"Hitung-hitung nasibmu yang bagus, bangunlah "
In-jie dengan kakinya menggait senar besi kemudian lompat keatasnya, tanyanya dengan suara masih gemetaran.
"Aku bukanlah sudah menang?"
Penguata rumah penjara menganggukkan kepala dan memerintahkan ia undurkan diri. In-jie girang sekali, seperti lompat-lompat ia menghampiri Kim Hong, darijauh sudah berteriak-teriak.
"Engkoh Hong, aku sudah menang, sekarang tiba giliranmu."
Kim Hong merasa girang juga merasa tegang, mengeluarkan kipasnya dan terbang lompat keatas senar besi, dengan mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya, selangkah demi selangkah menghampiri penguasa rumah penjara.
"Hm, tadi pagi kau sejurus pun belum menyambut sudah terjatuh kebawah, dan sekarang berani menantang lagi, apakah kau tidak takut akan menjadi tawanan seumur hidup?"
Berkata penguasa rumah penjara sambil tertawa dingin.
Kim Hong tidak dapat mendengar apa yang diucapkan, ia hanya berkata semaunya sendiri "Jangan banyak bicara yang bukan-bukan, sekarang kau boleh mulai menyentil senarmu .
"Apa kau juga tidak takut suara senarku?"
Kim Hong miringkan kepala dan bertanya.
"Kau sebetulnya berkata apa?"
Penguasa rumah penjara mendadak marah ia maju menghampiri dan melancarkan satu serangan Seraya membentak.
"Sambuti seranganku. Aku tidak perlu menyentil senar juga sudah bisa pukul kau jatuh "
Kim Hong semula mengira ia juga akan menyentil senarnya baru turun tangan, kali ini melihat penguasa rumah penjara mendadak melancarkan serangannya.
apa lagi serangannva itu demikian cepat dan aneh, hingga terkejut dan hampir tidak keburu menyambut, maka ia buru-buru lompat melesat kesenar lain-Sementara itu In-jie yang diseberang sana sudah berkata sambil menepuk tangan.
"Bagus, jurus kesatu"
Penguasa rumah penjara menggeram, ia melesat mengejar Kim Hong, kembali melancarkan serangannya yang kedua.
Kim Hong memutar kipasnya untuk menyambut, sehingga sesaat kemudian berlangsunglah suatu pertempuran sengit .......
Ilmu kipas Tay-seng-hong-sin-San benar-benar luar biasa hebatnya, dengan beruntun membalas serangan tiga kali, sudah melangkah kepada penguasa rumah penjara rimba persilatan yang oleh rimba persiiatan dewasa itu dipandang sebagai dewa.
Penguasa rumah penjara rimba persilatan benar-benar tidak menduga bahwa Kim Hong dapat mainkan kipasnya demikian indah dan hebat, maka ia bertanya dengan sikap terheran-heran.
"Hei, darimana kau dapat mempelajari ilmu kipas ini?"
Karena Kim Hong tidak mendengar, maka tidak menghiraukan pertanyaannya, sebaliknya terus menyerang dengan hebatnya.
PenguaSa rumah penjara tampaknya sangat marah, sambil mengeluarkan suara pekikan, ia juga melancarkan serangangya dengan hebat.
Pertempuran antara tangan kosong dengan kipas telah berlangsung dengan sejurus demi sejurus ..,Setelah berlanggung kejurus tujuh dan delapan, kini memasuki kejurus sembilan-.
"Lekas mengelak ke keri, benar Sudah jurus kesembilan-"
Demikian terdengar suara seruan In-jie dari lain seberang.
"Tinggal satu jurus, engkoh Hong lekas jongkok . ... sudah, ayaaaah"
Demikian In-jie berteriak-teriak lagi, namun bagaimanapun juga tak dapat didengar oleh Kim Hong.
Akhirnya Kim Hong telah terjatuh.
oooya tidak.
yang jatuh hanya kipasnya.
Sebab ia sudah terdesak demikian hebat, dengan mati-matian ia telah mempertahankan sambil memeluk senar besi, seolah-olah tidak mau melepaskannya sampai mati, maka mau tak mau harus melepaskan kipasnya dari tangannya.
In-jie yang menyaksikan itu semua, dapat menghela napas lega, ia lompat-lompat dan berteriak-teriak sambil menepuk-nepuk tangan kegirangan-"Bagus Sepuluh jurus sudah penuh"
Penguasa rumah penjara lompat beberapa kaki, setelah Kim Hong berdiri lagi diatas senarnya, ia berkata dengan nada suara dingin.
"Sekarang kau boleh buka sumbatan kain lubang telingamu, hendak tanya padamu beberapa patah kata"
Kim Hong yang baru agak tenang perasaannya, lalu mencoba mengucapkan terima kasih kepadanya.
Penguasa rumah penjara rimba persilatan merasa geli dan menolongkol, terpaksa menunjuk telinganya sendiri sebagai tanda agar ia membuka sumbatan ditelinganya.
Kim Hong tak menduga bahwa penguasa rumah penjara itu sudah mengetahui bahwa lubang telinganya di sumbat oleb kain basah, waktu itu ia merasa sangat malu, hingga wajahnya menjadi merah, ia lalu mengeluarkan sumbatan dilubang telinganya dan berkata dengan perasaan malu "Kau tokh tak ada aturan melarang orang yang menantang menggunakan kain untuk menyumbat lubang telinganya bukan?"
In-jie juga membuka sumbatannya dan berkata gembira "Engkoh Hong, kita boleh menolong keluar sepuluh orang tawanan atau menerimakan hadiah dua ribu tail uang emas, apabila kau hendak menolong orang, ataukah uang emas?"
"sudah tentu hendak menolong orang"
Menjawab Kim Hong. In-jie lompat turun kesenar besi lari menghampiri padanya dan berkata sambil tertawa.
"Bagaimana kalau kita setengah untuk menolong keluar orang tawanan dan setengahnya kita menerima uang mas?"
Kim Hong menggelengkan kepala dan menjawab. Tidak bisa, aku akan menolong orang semua"
"Aku tokh juga ada hak mengapa kau demikian egoistis?"
Kim Hong terkejut dan berkata.
"Menolong orang lebih penting, mengapa kau demikian rakus dengan harta?"
Wajah In-jie tampak kemerah merahan, ia berkata sambil pendelikan matanya.
"Baiklah, kau suka bagaimana kau lakukan saja, aku akui bahwa kau hebat...."
Penguasa rumah penjara rimba persilatan tak dapat menahan rasa gelinya, maka tertawa terbahak-bahak.
kemudian dengan tiba-tiba memutar tubuh dan berjalan menuju kelobang jendela, Sebelum berlalu ia berkata.
"Sekarang kamu boleh turun kelembah untuk menolong orang, kemudian kau datang lagi keruangan tamu untuk menemui aku"
Sehabis berkata demikian, secepat kilat sudah lompat masuk melalui lubang jendela.
Kim Hong dan In-jie bergandeng tangan dan kegirangan setengah mati lari turun kebawah lembah, dan sebentar kemudian sudah tiba di daerah kamar tawanan golongan Liong.
Mereka masing-masing lari kelobang jendela suhu sendiri-sendiri, It-hu Sianseng setelah mendengar habis ucapan Kim Hong, dengan tegas berkata sambil menggelengkan kepala.
"Tidak boleh, suhumu tidak bisa ikut kamu keluar"
"Kenapa, ini ada hubungan apa?"
Bertanya Kim Hong cemas.
Baca Juga: Bakti Pendekar Binal 9
Baca Juga: Kedele Maut 2