Ceritasilat Novel Online

Kedele Maut 2

Eps 2 Kedele Maut - Khu Lung

Baca online Kedele Maut - Khu Lung

Cersil Kedele Maut - Khu Lung.

"Kisah kematian Thio bungkuk karena sakit tidak begitu kupahami secara jelas, tapi aku dapat memberitahukan kepadamu, lebih setengah bulan berselang, Bok sian tianglo ketua Tat mo wan dari Siau lim si telah datang menyambangi suhu, bahkan telah terjadi keributan dantara dia dg Thio bungkuk..."

Tergerak hati Kho Beng setelah mendengar keterangan itu, buruburu ia bertanya.

"Karena persoalan apakah sehingga terjadi keributan diantara mereka...?"

"Waktu itu, kecuali suhu, Bok sian tanglo dan sibungkuk sendiri, dalam kamar Thio bungkuk tiada orang keempat, lagi pula pintu jendela tertutup rapat, maka dari itu selain kadangkala terdengar suara bentakan marah dari sibungkuk, persoalan lain tak pernah diketahui orang luar...."

"Berapa lamakah selisih waktu antara kejadian tersebut dg saat kematian Thio bungkuk?"

Tanya Kho Beng sesudah berpikir sejenak.

"Sejak sore itu Thio bungkuk pantang makan minum, setiap orang dilarang memasuki kamarnya, kemudian setelah suhu melakukan pemeriksaan sendiri, barulah diumumkan bahwa Thio bungkuk telah sakit keras dan melarang siapapun datang mengganggunya. Pada keesokan harinya tahu-tahu suhu memerintahkan orang untuk menyiapkan petimati. Aaaaai.....sungguh tak disangka Thio bungkuk telah dikebumukan pagi hari ketika itu juga, menurut suhu Thio bungkuk menghembuskan napas terakhir ditengah malam dan suhu sendiri yg memasukkan jenasahnya kedalam peti mati."

"Tatkala jenasah Thio suhu dimasukkan kedalam peti mati, selain ciangbunjin, adakah orang kedua yg turut menyaksikan?"

"Menurut apa yg kuketahui, disaat Thio bungkuk menghembuskan napas terakhir, tiada rang kedua yg tahu."

"Kapan pula Bok sian tianglo dari Siau lim si meninggalkan tempat ini?"

Tanya Kho Beng lagi.

"Dipagi hari saat suhu mengumumkan kematian dari Thio bungkuk."

Ketika berbicara sampai disitu, tiba-tiba dia berseru lagi dg perasaan terkejut bercampur keheranan.

"Saudara Kho, apakah kau menaruh curiga kalau sebab kematian Thio bungkuk mencurigakan dan suhu kau curigai terlibat dalam peristiwa ini...."

Kontan saja Kho Beng tertawa dingin.

"He....he....he....menurut pendapatmu benarkah suhu bungkuk meninggal karena terserang penyakit?"

Nyoo To li menghela napas panjang.

"Aaaai....cuaca dilangitpun susah diduga, apalagi nasib manusia, siapakah yg bisa menjamin seorang manusia tetap sehat walafiat sepanjang masa?"

Kho Beng mendengus dingin.

"Hmmm....suatu jawaban yg sangat bagus tapi sayang belum bisa melepaskan kecurigaanku terhadap gurumu sebagai pembunuh dari Thio suhu."

"Saudara Kho!"

Nyoo To li berseru dg nada tercengang.

"Kenapa kau berpendapat demikian? Dihari-hari biasa suhu selalu menaruh sikap hormat kepadanya, mana mungkin beliau berniat membunuhnya?"

"Murid membelai gurunya, hal ini memang lumrah dan tak aneh."

Kata Kho Beng sambil tertawa dingin.

"Tapi hati manusia sukar diduga, tiada anginpun bisa timbul masalah, siapa yg bisa menjamin kelak hubungan antara gurumu dg Thio suhu disamping rasa setia kawan, masih terselip pula hubungan lain?"

Sementara Nyoo To li masih dibuat termangu-mangu, Kho Beng telah berkata lebih jauh.

"Terima kasih banyak atas pemberitahuan saudara Nyoo pada malam ini, kini ari sudah larut malam, biar siaute mohon diri lebih dulu!"

Selesai berkata dia segera menjura dan berjalan keluar dari balik hutan.

Jilid 06 Buru-buru Nyoo To li membalikkan badan seraya berseru.

"Saudara Kho, selanjutnya kau hendak kemana?"

Tanpa berpaling sahut Kho Beng.

"Langit sangat luas, dimanapun aku pergi disitulah aku menuju, tolong sampaikan kepada gurumu, Kho Beng akan berkunjung dulu ke Siau lim si, tiga bulan kemudian aku pasti akan berkunjung lagi kemari, pokoknya sebelum persoalan ini berhasil kuselidiki hingga tuntas, aku tak akan berdiam diri saja!"

Selesai berkata dia segera mempercepat langkah mengitari pagar pekarangan dan segera melesat turun kebawah bukit.

Apakah Kho Beng benar-benar hendak berangkat ke Siau lim si?

Benar, tapi bukan sekarang.

Saat ini dia sedang melaksanakan siasatnya dg sengaja melepaskan tabir untuk menyembunyikan jejak sendiri.

Begitu sampai dibawah bukit, dia segera mencari rumah makan untuk mengisi perut, kemudian dg memanfaatkan kegelapan malam dia balik kembali keatas bukit.

Kali ini dia meninggalkan jalan gunung yg lebar dan menggunakan ilmu meringankan tubuhnya yg sempurna, ia bergerak diantara semak belukar yg rimbun, dg gerakan yg sagat berhati-hati dia bergerak menuju ke perkampungan Cui wi san.

Cerita tentang kematian si Unta sakti berpunggung baja menimbulkan pelbagai kecurigaan dalam hati Kho Beng, dia sadar dibalik peristiwa tersebut tentu terdapat hal-hal yg tidak beres.

Ia belum dapat menduga tenaga dalam siapakah diantara ketua Sam goan bun dg Thio bungkuk yg lebih tinggi, karenanya semula dia cuma menaruh kecurigaan saja terhadap ciangbunjin dari Sam goan bun tersebut.

Sebab dia berpendapat bahwa dg kemampuan seorang ketua sam goan bun, rasanya tidak besar kesempatan baginya untuk berhasil membinasakan si Unta sakti berpungung baja yg mempunyai nama amat termasyur didalam dunia persilatan.

Tapi setelah mendengar keterangan dari Nyoo To li, anggota perguruan Sam goan bun itu, Kho Beng merasa bahwa apa yg dicurigai sudah hampir mendekati kenyataan.

Sebab bila ia ditambah dg kemampuan Bok sian tianglo seorang jago lihay dari Siau lim si, maka kemungkinan berhasil didalam usaha pembunuhan itu menjadi bertambah besar.

Yg menjadi persoalan sekarang tinggal siapakah pembunuh utama dan siapakah pembantunya diantara Bok sian tianglo dg ketua Sam goan bun itu.

Bintang dan rembulan bersinar cerah, meskipn sudah malam namun waktunya masih dini.

Dg hapal sekali Kho Beng menelusuri jalan setapak menuju kebelakang perkampungan, kemudian melompat keatas dan menyembunyikan diri diatas sebatang pohon besar, dari situlah dia mengintip keadaan dalam gedung.

Tampak olehnya dapur dalam gedung dimana selama banyak tahun ia pernah berdiam, kini bermandikan cahaya lentera, banyak orang nampak berlalu lalang disitu.

Jelas, saat ini masih belum saatnya untuk melakukan penyelidikan.

Diam-diam Kho Beng duduk diatas dahan pohon sambil menanti, mendadak teringat olehnya akan seseorang yg dirasakan penting dalam usahanya melakukan penyelidikan kali ini, agaknya ia teringat dg selembar wajah gemuk yg merah segar.

Sambil bertepuk tangan pelan, diam-diam serunya.

"Ya betul! Aku harus mencari sigemuk Oh, meskipun suhu bungkuk jarang berbicara dan bergurau dg orang lain, tapi dia cocok sekali dg sikoki ini, seringkali mereka duduk menum arak sambil berbincang bincang. Disamping itu, kamar tidur sigemuk Oh persis terletak disebelah kamar tidur suhu bungkuk, siapa tahu dia mengetahui sedikit banyak tentang latar belakang peristiwa tersebut...."

Ketika keputusan diambil, waktu sudah menunjukkan kentongan pertama, lambat laun sinar lentera dalam gedung itupun mulai redup.

Kho Beng segera menghimpun tenaga dalamnya sambil melejit naik keatas wuwungan rumah, dari situ dia menyusup masuk kedalam gedung dekat dapur.

Saat itu sinar lentera didalam dapur telah padam, suasana disekeliling sana amat hening dan tak nampak sesosok bayangan manusiapun, tapi dibalik jendela kamar sigemuk Oh terlihatlah sinar lentera masih menerangi ruangan, jelas dia belum tidur.

Dg suatu gerakan ringan Kho Beng mendekati pintu, mendorongnya, menyelinap masuk kemudian merapatkan kembali pintu kamarnya.

Tampak sigemuk Oh sedang duduk seorang diri sambil minum arak, diatas meja telah dihidangkan dua tiga macam sayur.

Ketika melihat Kho Beng menyerbu masuk kedalam ruangan secara tiba-tiba, ia sama sekali tidak nampak terkejut atau keheranan malah sambil tertawa serunya.

"Baru setengah tahun tak bersua, nampaknya kau sudah berubah seperti orang lain, ehm..tampaknya memang memperoleh kemajuan amat pesat...."

Penampilan seperti ini sudah barang tentu sangat mencengangkan Kho beng, dia jadi tertegun dan serunya keheranan.

"Oh suhu, nampaknya kau seperti telah menduga kalau aku bakal datang kemari?"

Sigemuk Oh segera manggut-manggut, sahutnya sambil tertawa.

"Cuma aku tak menyangka kedatanganmu begitu awal, nah silahkan duduk, sayur dan arak telah kupersiapkan, mari kita bersantap sambil berbincang-bincang."

"Tidak!"

Tampik Kho Beng dg perasaan sangat tegang.

"Oh suhu, walaupun aku pernah menjadi seorang pembantu dari Sam goan bun, tapi sekarang telah berubah menjadi duri dalam daging bagi ciangbunjin, karenanya aku tak berani berdiam terlalu lama, aku hanya ingin bertanya tentang sesuatu."

Sigemuk Oh meneguk araknya secawan kemudian balik bertanya.

"Apakah dikarenakan persoalan sibungkuk?"

Air mata segera jatuh berlinang membasahi wajah Kho Beng, ujarnya dg sedih.

"Oh suhu, kalau toh kau telah memahami maksud kedatanganku, tolong beritahukanlah kepadaku keadaan yg sebenarnya, sesungguhnya apa yg menyebabkan kematian suhu bungkuk?"

Oh gemuk segera menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Dalam soal ini aku sigemuk pun kurang jelas, tapi sibungkuk memang meninggalkan pesan agar kusampaikan kepadamu."

"Apa pesannya?"

Buru-buru Kho Beng bertanya dg semangat berkobar kembali. Oh gemuk menyumpit sebuah daging dan dikunyahnya lebih dulu, setelah ditelan ia baru berkata.

"Dia menyuruh aku bertanya dulu kepadamu, dalam bidang ilmu silat, apakah kau telah berhasil mencapai apa yg diharapkan?"

Kho Beng manggut-manggut.

"Beruntung sekali aku dapat memenuhi pengharapan suhu bungkuk, itulah sebabnya aku baru berani pulang untuk menjenguk dia orang tua, sungguh tak disangka dia telah berpulang kealam baka...."

Ia tak dapat menahan rasa sedihnya lagi sehingga air matanya jatuh bercucuran membasahi pipinya. Dg nada serius Oh gemuk segera berseru.

"Lote, sekarang bukan saat bagimu untuk menangis, kalau toh kau mengatakan tidak menyia-nyiakan harapan sibungkuk, coba tunjukkan dulu kemampuanmu itu dihadapan aku sigemuk."

Berbicara sampai disitu, dia segera mengeluarkan sebuah batu sebesar telur ayam yg diletakkan diatas meja sambil katanya.

"Inilah cara mencoba kepandaianmu yg dipesankan sibungkuk, sekarang remas dulu batu itu sampai hancur!"

Dg termangu-mangu Kho Beng menerima batu tadi kemudian mengerahkan tenaga dalamnya ketelapak tangannya, sekali pencet batu tersebut segera hancur menjadi bubuk dan berserakan lewat celah-celah jari tangannya.

Melihat keberhasilan pemuda tersebut, Oh gemuk segera manggut-manggut, kemudian sambil menunding kearah lilin yg berada dimeja, ia berkata lagi.

"Sekarang coba kau papas kutung separuh batang lilin ini menjadi enam potong, tapi hal ini harus kau lakukan dalam sekali gerakan, lagipula setiap potong harus mempunyai panjang yg sama. Bila kutungan lilin tersebut tak sampai ambruk dari tumpukannya, hal tersebut baru dianggap berhasil!"

Kho Beng menjadi tertegun.

"Memotong lilin tanpa roboh serta mempunyai kepandaian yg sama tidak terlalu sulit untuk kukerjakan, tapi mana mungkin dalam sekali tebasan pedang lilin tersebut dapat dipapas menjadi enam potongan?"

"Sibungkuk telah berpesan, cara ini bukan saja menguji kepandaian silatmu, juga menguji kecerdasan otakmu, bila kau tidak lulus maka pesannya tak boleh disampaikan kepadamu, pesan tersebut baru dapat kusampaikan apabila hal mana sudah kau pahami."

Kho Beng menjadi terbungkam dalam seribu bahasa, dia tahu kata-kata yg dirahasiakan sigemuk pasti mempunyai arti penting dg dirinya, tapi bagaimana mungkin dia dapat memapas kutung separuh batang lilin menjadi enam bagian dalam sekali tebasan saja?

Dalam lamunannya mendadak dia teringat kembali dg catatan ilmu silat pemberian Thio bungkuk tempo hari, diantaranya tercantum sebuah jurus pedang dari Hoa san pay yg disebut "Angin puyuh menggulung debu", gerakan pedang itu didasari pada gerakan berputar, apabila pedangnya tidak ditarik, tubuhnya memang akan berputar sebanyak enam kali, bukankah gerakan tersebut cocok sekali dg sekali tebasan enam kali memapas?

Berpikir sampai disitu, dia tak berani membuang waktu lagi, pedangnya segera diloloskan dari sarungnya, kemudian setelah memusatkan seluruh perhatiannya, dia himpun hawa murninya kedalam pedang dan pedangnya langsung dibabat kearah separuh batang lilin itu diiringi perputaran badan.

Tampak cahaya tajam berkilauan, dalam waktu singkat Kho Beng telah menarik pedangnya, lalu sambil menyarungkan kembali pedangnya, ia berkata.

"Silahkan Oh suhu memeriksanya."

Lilin itu nampak masih tetap utuh seperti sedia kala dan sama sekali tidak kelihatan cacad.

Sambil melototkan matanya lebar-lebar, sigemuk Oh mengangkat lilin tersebut pada bagian paling ujung, ternyata bagian tersebut sudah terpapas kutung.

Demikian seterusnya, ternyata lilin tadi memang terbagi menjadi enam potong dg panjang yg sama, hal ini menandakan kalau permainan pedang pemuda tersebut memang sudah amat mantap.

Si gemuk Oh segera bersorak memuji.

"Suatu kepandaian yg sangat hebat lote, meskipun aku sigemuk belum pernah belajar silat, namun jarang sekali kujumpai kehebatan seperti ini, kau memang sangat hebat...."

Padahal Kho Beng sendiripun tidak terlalu yakin dg kemampuan sendiri, kini dia baru dapat menghembuskan napas lega, buru-buru katanya.

"Oh suhu, semua syarat telah berhasil kulaksanakan, sekarang tolong sampaikan pesan terakhir dari dia orang tua."

Sigemuk Oh segera manggut-manggut.

"Sibungkuk berpesan . Jika kedua ujian tersebut berhasil kau atasi, silahkan datang kekuburannya untuk bersembahyang."

Kho Beng menjadi tertegun.

"Siang tadi aku telah berjiarah kesitu!"

Serunya.

"Tak ada salahnya kau berjiarah sekali lagi, jika menemukan sesuatu pergilah ke pohon siong ketiga disisi kiri kuburan, disana akan kau temukan barang yg dibutuhkan."

"Hanya perkataan ini saja?"

Tanya Kho Beng tercengang. Sekali lagi sigemuk Oh manggut-manggut.

"Yaa, hanya kata-kata itu, sekarang semua pesan sibungkuk telah kusampaikan kepadamu, mumpung waktu sudah larut dan orang lain belum menyadari akan kehadiranmu pergilah kesana dg cepat."

Kho Beng memang ingin secepatnya mengetahui benda apakah yg berada dibawah pohon ketiga disisi kiri kuburan, tentu saja diapun tak ingin berdiam terlalu lama disitu sambil menjura segera ujarnya.

"Terima kasih banyak atas bantuanmu, budi kebaikan ini pasti akan kubalas dikemudian hari."

Selesai berkata, dia segera membalikkan badan dan membuka pintu, kemudian setelah celingukan sekejap kesekeliling sana, dg suatu gerakan cepat tubuhnya melesat pergi meninggalkan tempat itu.

Suasana tengah halaman gedung amat sepi, Kho beng berhasil keluar dari dinding pekarangan tanpa menjumpai kesulitan apa-apa.

Setelah masuk kedalam hutan, sesuai dg petunjuk dia menuju kepohon siong ketiga disisi kiri kuburan dan melompat naik keatas, tapi setelah diperiksa sekejap dia menjadi tertegun.

Apakah diatas pohon tak ada barangnya?

Bukan, barang tersebut memang berada disana, tapi jenisnya sama sekali diluar dugaan Kho Beng, sebab benda itu ternyata tak lain adalah sebuah sekop bulat.

Selain sekop bulat, disana tidak ditemukan benda lain.

Kho Beng menjadi kecewa sekali, pada mulanya dia mengira benda yg disembunyikan si Unta sakti berpunggung baja diatas pohon itu meski tiada hubungan dg asal usulnya paling tidak menyangkut sebab-sebab kematiannya.

Sungguh tak disangka ternyata benda itu adalah sebuah benda yg sama sekali tak ada sangkut pautnya dg masalah tersebut.

Lalu sekop bulat yg karat ini melambangkan apa?

Mungkinkah sigemuk Oh sedang bergurau dgnya?

Kho Beng merasa sangat curiga, tapi setelah dipikirkan lebih jauh, dia merasa tak mungkin sigemuk Oh sengaja bergurau dgnya, mengingat persoalan ini menyangkut suatu masalah yg besar.

Lagipula ditinjau dari wataknya sehari-hari biasa yg terbuka dan polos, tak mungkin dia sengaja menyiapkan rencana busuk untuk menjebaknya.

Kho Beng segera mencabut keluar sekop bulat itu, lalu dalam keadaan bimbang dia melayang turun kembali kebawah pohon.

Dalam keadaan begini tanpa terasa dia teringat kembali dg pesan kedua si gemuk Oh.

"....tak ada salah kau berjiarah kepusara tersebut, bila menemukan sesuatu..."

Berpikir sampai disitu, dia segera menggelengkan kepalanya sambil menghela napas panjang, pikirnya.

"Bila menemukan sesuatu, apakah benda yg kubutuhkan adalah sekop bulat ini? Apakah Thio bungkuk menyuruh aku menggali kuburan da merampok isi peti mati? Benar-benar suatu kejadian yg membingungkan hati!"

Sambil berpikir Kho Beng mundur terus hingga didepan kuburan, dia mencoba untuk memperhatikan keadaan disekeliling tempat itu, namun kuburan itu masih utuh seperti sedia kala, bentuknya tak berbeda seperti apa yg dilihatnya siang tadi.

Memandang pusara yg sendu tanpa terasa pemuda itu teringat kembali dg pengalaman hidupnya selama ini, bagaimanapun juga mereka telah hidup bersama hampir delapan belas tahun lamanya.

Kini memandang gundukan tanah yg sepi, rasa sedih tiba-tiba menyelimuti perasaannya, dia segera berlutut dan diam-diam berkata.

"Cianpwee, bila kau benar-benar mati dibunuh, mati lantaran urusanku, beristirahatlah dg tenang, aku bersumpah akan membalaskan dendam bagi kematianmu, akan kugusur pembunuh tersebut dan membunuhnya dihadapan pusaramu...."

Baru selesai dia berdoa, mendadak berkilat sepasang mata Kho Beng, dia seperti telah menemukan sesuatu.

Apa yg dijumpanya ternyata tulisan Unta sakti berpunggung baja diatas batu nisan itu mirip sekali dg gaya tulisan sibungkuk sendiri.

Penemuan yg sama sekali tak terduga ini bukan saja membuat Kho Beng terperanjat, bahkan semakin menambah perasaan bingungnya.

Mana mungkin ada orang mati yg bisa mengukir batu nisan sendiri, jelas hal ini tak mungkin terjadi.

Menurut pengakuan Nyoo To li, jenasah Thio bungkuk dikubur sendiri oleh ketua Sam goan bun, ini berarti tulisan diatas batu nisan tersebut seharusnya merupakan tulisan dari ketua Sam goan bun, tapi mungkinkah gaya tulisan dari ketua Sam goan bun mirip sekali dg gaya tulisan Thio bungkuk?

Atau mungkinkah dia telah salah melihat?

Cepat-cepat Kho Beng memburu kedepan dan mengamati gaya tulisan diatas batu nisan itu lebih seksama, makin dipandang dia merasa tulisan itu makin mirip dg gaya tulisan Thio bungkuk.

Dalam sekejap mata Kho Beng segera teringat kemabli dg sekop bulat yg berada disisinya, dg cepat hatinya bergetar keras, segera pikirnya.

"Dia bilang kalau ditemukan sesuatu, benda yg kau butuhkan berada diatas pohon siong ketiga disisi kiri kuburan....yaa benar, kalau begitu dia orang tua telah memutuskan agar aku menggali kuburan ini untuk melakukan pemeriksaan terhadap jenasahnya!"

Sekarang dia baru merasa mustahil ada orang mati yg menyiapkan batu nisannya sendiri, satu-satunya dugaan yg masuk diakal adalah si Unta sakti berpunggung baja telah menduga akan kematiannya, maka menyiapkan batu nisan lebih dulu dan secara diam-diam berpesan kepada Oh gemuk untuk menyiapkan sekop bulat ditempat yg telah ditunjuk....

Jelas sudah semua persiapan yg dilakukan secara cermat dan rahasia ini disamping untuk menyelamatkan jiwa Oh gemuk, selain itu juga merupakan petunjuk yg kuat bahwa asal kuburan itu dibongkar maka siapa pembunuh dia orang tua yg sebenarnya akan segera terbongkar.

Bahkan bisa jadi teka teki sekitar asal usulnya juga akan diperoleh jawaban dari dalam peti mati itu....

Makin berpikir Kho Beng merasa hatinya semakin tegang, dia segera bangkit berdiri, menyambar sekop dan m ulai mencangkuli kuburan tersebut.

Pada saat itulah, tiba-tiba terdengar seseorang membentak keras dari dalam hutan.

"Manusia keparat! Besar amat nyalimu, malam-malam begini berani datang bongkar kuburan, Hmmm! Cepat hentikan perbuatanmu itu!"

Menyusul suara bentakan itu, tampak belasan sosok manusia bermunculan dari balik hutan, semuanya bersenjata pedang dan secepatnya menerjang kedepan kuburan melakukan pengepungan.

Dg perasaan terkesiap, Kho Beng membuang sekopnya sambil meloloskan pedang, tapi apa yg kemudian terlihat membuat paras mukanya berubah hebat.

Ternyata kawanan manusia tersebut bukan lain adalah anggota perguruan Sam goan bun sedang sebagai pemimpinnya tak lain adalah ketuanya sendiri, Sun Thian hong.

Begitu bersua dg Sun Thia hong, hawa amarah Kho Beng segera berkobar kembali, serunya sambil tertawa dingin.

"Ciangbunjin, tajam benar kabar beritamu."

Dg wajah dingin kaku bagaikan salju, Sun Thian hong membentak keras.

"Bocah keparat, sudah berulang kali kuperingatkan kepadamu, jangan mencoba-coba datang lagi keperkampungan Cui wi san ceng, tak nyana kau begitu berani datang menyatroni kami, bahkan berniat untuk menggali kuburan....hmmm!"

"He....he....he.....boleh aku bertanya kepada ciangbunjin, apakah bukit ini milik pribadimu?"

Jengek Kho Beng sambil tertawa dingin. Kemudian setelah berhenti sejenak, dia berkata lebih jauh dg suara ketus.

"Pokoknya, asal Kho Beng tidak melangkah masuk kedalam perkampungan Cui wi san ceng, rasanya aku toh belum sampai melanggar janjiku terhadap ciangbunjin?"

Dg penuh kegusaran, ketua Sam goan bun berseru.

"Tajam betul selembar mulutmu! Aku tak mengira kau adalah seorang manusia yg tak kenal budi, air susu dibalas dg air tuba....."

"Tutup mulut!"

Dg kening berkerut Kho Beng membentak nyaring.

"Aku Kho Beng adalah seorang lelaki sejati, siapa menanam pohon kebaikan akan ku balas dg kebajikan, siapa menanam pohon kejahatan akan kubayar pula dg uah kejahatan. Tapi kau mesti tahu, usahaku membongkar kuburan malam ini tak ada sangkut pautnya dg budi dan dendam, harap ciangbunjin jangan mencampur baurkannya menjadi satu masalah yg sama...."

Dg suara menyeramkan ketus, Sun Thian hong tertawa keras.

"Bagus...bagus sekali, kalau toh kau sudah tahu budi harus dibalas dg budi, mengapa kau berniat membongkar kuburan? Kau toh tahu, siapa yg telah mati dia yg harus dihormati, apalagi setelah masuk ketanah, sudah sepantasnya diberi kedamaian dan ketentraman, apalagi Thio bungkuk mempunyai budi kepadamu...."

Kho beng segera tertawa bergelak.

"Ha...ha....ha....perkataan ciangbunjin kali ini memang sangat tepat, justru karena aku tak rela si bungkuk cianpwee mati penasaran diakhirat sehingga tak bisa beristirahat dg mata meram, maka aku telah bersiap-siap akan membongkar kuburan serta memeriksa jenasahnya."

Mendadak nada pembicaraan ketua Sam goan bun itu berubah menjadi dingin menyeramkan, serunya .

"Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bungkuk mati karena terserang penyakit gawat, apalagi yg hendak kau periksa?"

"Hmmm, siapa yg berani menjamin akan kebenaran hal ini?"

Jengek pemuda itu dingin.

"Toh aku yg mengetakan si bungkuk mati karena sakit, tentu saja aku berani menjamin,"

Jawab Sun Thian hong marah.

"Tapi siapa pula yg berani menjamin kebenaran dari perkataan ciangbunjin?"

Jengek Kho Beng lagi sambil tertawa dingin. Sun Thian hong segera berkerut kening, dg mata melotot besar karena marah ia membentak.

"Oooh, jadi kau anggap sibungkuk mati dibunuh dan akulah sipembunuhnya?"

"Tidak berani, sebelum melakukan pemeriksaan, Kho Beng tak berani mencurigai siapa saja, tapi tak bisa pula menghilangkan rasa curigaku terhadap setiap orang."

Mendadak Sun Thian hong mendongakkan kepalanya lalu tertawa tergelak, ditundingnya Kho Beng dg ujung pedang, lalu serunya.

"Bagus sekali Kho Beng, beranikah kau bertaruh dgku?"

"Bagaimana bertaruhnya?"

Sahut Kho Beng, meski agak tertegun didalam hatinya.

"Mari kita bongkar kuburan it, jika keadaannya sesuai dg apa yg kau curigai, saat itu juga aku akan menggorok leher untuk bunuh diri, tapi kalau tak sesuai dg apa yg kau duga, maka kau harus mendirikan gubuk disini dan hidup mengasingkan diri selama tiga puluh tahun tanpa boleh meninggalkan tempat ini selangkah pun. Beranikah kau menerima tantanganku ini?"

Orang bilang.

Jika seseorang telah melakukan kejahatan, maka dia pasti ragu da cemas dalam setiap perkataan maupun tindakan, tapi perkataan Sun Thian hong sekarang diucapkan secara gagah dan tegas, tentu saja hal ini membuat Kho Beng menjadi tertegun.

Tanpa terasa pandangannya semula mulai goyah, dia mulai ragu dg penilaian sendiri, tapi sebagai pemuda cerdik, setelah termenung sebentar ia segera menggeleng.

"Maaf jika Kho Beng tiada kegembiraan untuk melayani taruhanmu itu..."

Sun Thian hong segera tertawa mengejek, tukasnya .

"Aku tahu kau tak berani menerima taruhanku ini karena kau belum mempunyai keyakinan, nah sekarang kuperingatkan kepadamu untuk terakhir kalinya, segera tinggalkan tempat ini daripada mendatangkan maut bagi diri sendiri!"

Dg dingin Kho Beng menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Maaf kalau aku tak bisa menuruti keinginanmu, aku telah bertekad akan membongkar kuburan tersebut, sekalipun ada ancaman seperti apapun, tekadku ini tak akan berubah."

"Kho Beng!"

Bentak Sun Thian hong sambil melotot.

"Kau harus tahu, kesabaran orang ada batasnya..."

Setelah ciangbunjin dari Sam goan bun ini berulang kali berusaha menghalangi niatnya, kepercayaan Kho Beng yg semula mulai goyah kini menjadi mantap kembali.

Mendengar perkataan tersebut, ia segera menjawab dg suara dingin.

"Kho Beng pun hendak memperingatkan kepada ciangbunjin, bila ciangbunjin merasa tak pernah melakukan kesalahan, seharusnya kau tidak menghalangi niatku untuk membongkar kuburan."

"Aku tak bisa membiarkan kau berbuat semena-mena."

Kembali Sun Thian hong membentak keras.

"Aku tak tega menyaksikan sahabatku selama puluhan tahun yg telah mati ternyata tak bisa peroleh ketenangan diakhir hayatnya, bahkan setelah dikuburpun, kuburannya masih dibongkar orang...."

Dg angkuh Kho beng segera bangkit berdiri, kemudian serunya.

"Ciangbunjin tak usah banyak bicara lagi, pokoknya segala sesuatunya biar aku seorang yg menanggung."

Agaknya kesabaran Sun Thian hong pun telah mencapai puncaknya, dg mata mendelik karena marah, dia berseru penuh nada menyeramkan.

"Jadi kau memaksa akan bertarung melawanku?"

Kho Beng tertawa seram.

"Bila keadaan memang menghendaki demikian dan bagi Kho Beng tiada pilihan lain, terpaksa aku akan pertaruhkan selembar jiwaku untuk menghadapi ancaman macam apapun."

Dg pedang terhunus Sun Thian hong maju dua langkah kedepan, kemudian serunya.

"Bagus, bagus sekali, wahai Kho Beng asal kau sanggup melampaui diriku, segala sesuatunya terserah kehendakmu sendiri!"

Selesai berkata ia segera melintangkan pedangnya sambil bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan yg tidak diinginkan. Menyaksikan hal tersebut, Kho Beng segera menjura seraya berkata.

"Sudah lama Kho Beng mengagumi kelihayan ilmu pedang Sam goan kiam hoat, beruntung sekali aku bisa peroleh petunjuk langsung pada hari ini sehingga tidak menyia-nyiakan serih payahku selama setengah tahun. Ciangbunjin sebagai angkatan lebih tua silahkan turun tangan lebih dulu!"

Sun Thian hong tidak malu menjadi seorang ketua dari suatu perguruan, menghadapi pertarungan yg segera berkobar ternyata ia tak nampak gusar atau mendongkol, tidak panik ataupun gelisah, sikapnya kelihatan sangat tenang dan penuh kemantapan, tak malu menjadi seorang tokoh ilmu pedang yg berpengalaman.

Dg sikap yg dingin dan hambar dia berseru.

"Kau tak perlu sungkan-sungkan, dg usiaku diatas enam puluh tahun bila sampai melancarkan serangan terlebih dahulu kepada seorang pemuda ingusan macam kau, berita yg tersiar dalam dunia persilatan dikemudian hari bisa mambuat aku malu menjadi seorang ciangbunjin lagi!"

Kho Beng segera mendengus dingin.

"Hmmm, kalau begitu maafkan aku!"

Pedangnya segera diangkat keatas kemudian dg langkah Bwee hong poh dia mendesak maju kemuka secepat hembusan angin dan sebuah bacokan kilat dilancarkan.

Deru angin tajam menyambar ditengah udara, sinar tajam berkilauan menusuk pandangan mata, menyusul perbuatan tersebut, pedangnya membentuk satu gerakan lingkaran huruf besar.

Inilah jurus angin berhembus debu menggulung dari aliran Hoa san pay.

Menyaksikan gerak serangan Kho Beng tersebut, Sun Thian hong menjadi sempat terperanjat, dia bukannya takut dg gaya pengaruh jurus ilmu pedang tersebut, tapi kaget dan bingung setelah melihat hembusan hawa pedang yg begitu kuat dari ujung senjata lawan.

Biarpun ketua yg berusia lanjut ini memiliki pengalaman yg cukup luas dalam dunia persilatan, bagaimanapun juga dia tak menyangka kalau seorang pemuda ingusan seperti ini ternyata memiliki tenaga dalam yg jah lebih sempurna daripada tenaga dalam yg dimilikinya.

Apalagi menurut apa yg diketahuinya, pada setengah tahun berselang Kho Beng baru sempat mempelajari dasar-dasar tenaga dalam saja, mana mungkin dalam waktu singkat ini kemampuan tenaga dalamnya dapat meningkat sehebat ini?

Sementara itu serangan pedang dari Kho Beng sudah keburu datang sehingga tidak memberi kesempatan lagi bagi ciangbunjin tersebut untuk berpikir lebih jauh.

Namun bagaimanapun juga , jahe yg tua memang lebih pedas, dalam waktu yg amat singkat inilah ketua Sam goan bun telah mengambil keputusan bagaimana cara untuk mengatasi keadaan tersebut.

Tampak dia menghindar kesamping, kemudian diantara hembusan angin serangan lawan, pedangnya melakukan tangkisan berulang kali dan secara beruntun melancarkan tiga buah serangan berantai untuk memunahkan semua ancaman yg datang dari Kho Beng.

Setelah itu diiringi suara bentakan keras, tak menanti sampai Kho Beng berubah gerak serangan, tubuhnya telah mendesak maju dg melancarkan serangan menggunakan jurus sam goan ci ti.

Secara beruntun dia melepaskan tiga buah serangan berantai hingga dalam waktu singkat cahaya berkilauan telah menciptakan selapis kabut pedang yg mengurung tubuh Kho Beng rapat-rapat.

Ilmu pedang sam goan kiam hoat terdiri dari tiga kali tiga jurus berantai dg enam jurus terbalik, sedangkan keistimewaannya adalah menyerang dalam bertahan dan sekali menyerang tiga jurus serangan akan meluncur secara berantai sehingga tidak memberi kesempatan kepada musuhnya untuk melancarkan serangan balasan.

Setelah menderita kekalahan ditangan kedele maut dalam pertarungan yg pertama, sedikit banyak Kho Beng merasa tegang juga menghadapi pertarungan kali ini tapi dia tak pernah menyangka kalau begitu bertarung segera akan terlibat dalam suatu pertarungan yg sengit.

Berulang kali dia mencoba untuk menembusi pertahanan lawan dg menerjang kekiri dan kekanan, namun selalu tak berhasil.

Dalam keadaan begini terpaksa dia harus mengandalkan kesempurnaan tenaga dalam untuk mempertahankan diri sehingga tak sampai menderita kekalahan total....

Benarkah Kho Beng bukan tandingan dari ketua Sam goan bun?

Tidak!

Kecuali merasa agak tegang diapun merasa agak sangsi.

Kesangsian ini membuat hatinya jadi ragu-ragu untuk mengeluarkan ilmu pedang Lui siu jit si yg maha dahsyat itu.

Sekalipun ketua Sam goan bun ini dicurigainya sebagai pembunuh Unta sakti berpunggung baja, namun diapun telah melepaskan budi pemeliharaan dan pendidikan selama delapan belas tahun, oleh karena itu sebelum duduk persoalannya menjadi jelas, dia tak tega untuk melancarkan serangan secara keji, kuatirnya bila salah bertindak maka akibatnya dia akan menanggung penyesalan sepanjang masa.

Tapi Sun Thian hong, ketua dari Sam goan bun itu justru tidak memahami bagaimana perasaan lawannya, pedang digetarkan dg enteng dan cekatan, begitu sepuluh jurus lewat sedangkan serangan yg digunakan Kho Beng pulang pergi hanya tiga jurus tersebut sehingga sama sekali tidak memiliki kekuatan untuk melancarkan serangan balasan, tanpa terasa semangatnya menjadi berkobar kembali.

Sambil tertawa seram dia segera berseru.

"Tadinya kukira kau sudah memiliki kepandaian yg luar biasa sehingga berani melakukan perlawanan, tak tahunya hanya sedikit kepandaian tersebut saja yg kau miliki, hmmm....mengingat aku telah memeliharamu selama delapan belas tahun asal kau bersedia meyesali perbuatan ini, akupun bersedia pula memberi sebuah jalan kepadamu."

Kho Beng yg sebetulnya sedang bimbang karena pertentangan batinnya, kini menjadi naik darah setelah mendengar perkataan itu, dia merasa tak bersalah lalau apa yg mesti ditakuti?

Tiba-tiba saja dia menyadari bahwa pertarungan ini bukan perebutan menang kalah, juga bukan pertarungan antara hidup mati tapi memperebutkan kebenaran.

Apabila dia tetap ragu untuk mengambil keputusan sehingga menyebabkan menderita kekalahan, soal mati hidup jangan dibicarakan dulu, tapi yg pasti soal misteri kematian si Unta sakti berpunggung baja akan tetap tenggelam didasar liang untuk selamanya, sedangkan niatnya yg luhur bukan saja tak bakal dipahami orang lain, malah sebaliknya akan dituduh orang sebagai manusia berdosa.

Dalam waktu singkat pertentangan batin dalam hatinya lenyap tak berbekas, sambil tertawa nyaring segera serunya.

"Ilmu pedang Sam goan kiam hoat memang nyata sekali kehebatannya tapi menang kalah belum diketahui, kalau ingin membicarakan masalah tersebut rasanya terlalu dini, harap ciangbunjin merasakan pula serangan balasan yg akan kulancarkan segera."

Belum selesai perkataa tersebut diucapkan, gerak serangan pedangnya telah berubah, dg jurus "Seratus aliran kembali ke samudra"

Dia lancarkan serangan balasan terhadap ketua dari Sam goan bun tersebut.

Begitu serangan tersebut dilancarkan, nyata sekali perbedaannya, dalam waktu singkat seluruh angkasa telah dipenuhi dg kilauan cahaya pedang yg menyusup seperti ular perak, begitu dahsyat dan banyak kilauan cahaya tadi sehingga sudah untuk diikuti secara pasti.

Kejadian tersebut bukan saja mengejutkan ketua sam goan bun tersebut, bahkan dari posisi menyerang dia harus merubah taktik menjadi posisi bertahan, selapis kabut pedang yg kuat melindungi seluruh tubuhnya secara ketat dan kuat.

Sementara itu belasan anggota Sam goan bun yg menonton jalannya pertarungan dari sisi arena pun sama-sama berseru kaget , perasaan tegang pun segera mencekam wajah mereka semua.

Kho Beng semakin bersemangat lagi setelah jurus serangannya yg pertama membawa hasil, keberaniannya juga semakin meningkat.

Secara beruntun dia segera mengeluarkan jurus-jurus serangan "Ombak dahsyat menghantam karang"

Dan "Air terjun bunga terbang"

Untuk mencecar lawannya, serangan demi serangan seperti gulungan air sungai Tiang kang, membanjir tiba tiada habisnya.

Perubahan jurus yg dahsyat dan hebat ditambah pula dg desingan angin tajam yg memekakkan telinga, segera membuat ketua Sam goan bun in harus mempertahankan diri secara cermat dan berhati-hati sekali.

Ketujuh jurus serangan dahsyat yg diciptakan oleh Bu wi lojin ini sengaja diberi nama tujuh jurus air mengalir karena begitu serangan pedang dilancarkan, maka seperti gulungan bah yg mengalir, semua lobang dan celah akan dimasuki dan sebuah benda akan terhanyut olehnya.

Kendatipun pertahanan yg dilakukan Sun Thian hong boleh dibilang cukup tangguh, nyatanya dia toh tak sanggup mempertahankan diri terhadap desakan lawannya, setelah mempertahankan dri sebanyak tiga jurus secara payah, dia mulai merasakan matanya berkunang-kunang dan hatinya berdebar-debar keras.

Pada saat jurus keempat dilancarkan itulah, medadak.....

"Traang! Traang! Traang!"

Secara beruntun terjadi tiga kali bentrokan nyaring, tahu-tahu pedang Sun Thian hong sudah terpental ketengah udara dan berubah menjadi serentetan cahaya perak yg terjatuh sejauh tiga kaki dari posisinya.

Peristiwa ini tentu saja menggemparkan segenap anggota Sam goan bun yg hadir disana.

Ditengah suara jeritan kaget, tahu-tahu pedang Kho Beng telah digetarkan kemuka dan ujung pedang tersebut telah menempel diatas dada Sun Thian hong.

Pantulan cahaya perak yg memancar dari balik pedang, menyinari paras muka Sun Thian hong yg pucat pias seperti mayat, membuat segenap anggota Sam goan bun terbungkam dalam seribu bahasa dan detak jantungnya serasa hampir berhenti.

Kini menang kalah sudah terlihat dg jelas.

Kalau tadi yg tua bersikap angker dan menegur secara kasar!

Sedang yg muda berusaha melawan dg posisi dibawah angin.

Maka sekarang justru kebalikannya, yg tua nampak loyo dan masgul seperti orang yg kehilangan semangat, sebaliknya yg muda justru sampak gagah perkasa.

Perubahan yg sangat mendadak ini segera membuat ketua Sam goan bun menjadi lemas dan tiba-tiba menghela napas panjang, katanya kemudian dg suara gemetar.

"Yaa sudahlah...selama hidupku aku berusaha bertindak secara hati-hati, sungguh tak disangka karena kurang berhati-hati, nama baik yg sudah kupupuk selama puluhan tahun akhirnya harus hancur dalam semalam!"

"Apakah ciangbunjin tidak puas?"

Seru Kho Beng sambil tertawa dingin. Sun Thian hong tertawa getir.

"Ilmu pedang Lui sui Jit si memang suatu ilmu pedang yg menggetarkan seluruh jagat, menang kalah kini sudah ditentukan, terbukti akulah yg berada dipihak yg kalah,kenapa mesti tak puas? Kho Beng kau boleh turun tangan dg segera."

Dg suara dingin yg menyeramkan, Kho Beng berkata.

"Mengingat ciangbunjin telah memeliharaku selama delapan belas tahun, akupun menyudahi persoalan ini sampai disini saja, kuharap ciangbunjin dapat melaksanakan janji semula dg tidak menghalangi pekerjaanku lagi."

Selesai berkata dia segera menarik kembali pedangnya dan segera membalikkan badan berjalan menuju ketepi kuburan.

Sementara itu belasan anggota Sam goan bun yg berada didepan kuburan telah memisahkan diri menjadi dua rombongan, mereka berdiri dg wajah serius dan pedang terhunus.

Melihat hal ini, Kho Beng segera berhenti lalu menegur dg kening berkerut.

"Toako sekalian harap segera kembali keperkampungan, seusai bekerja nanti, siaute pasti akan mohon maaf kepada kalian."

Kawanan anggota Sam goan bun itu tetap membungkam diri dalam seribu bahasa dan berdiri serius ditempat tanpa berkutik terhadap teguran Kho Beng tersebut, mereka bersikap seolah-olah tidak mendengar.

Seketika itu juga Kho Beng mengerutkan dahinya rapat-rapat, kemudian bentaknya.

"Suhu kalian telah memberikan janjinya dan kurasa toako sekalian telah mendengar secara jelas, bila kalian tidak menyingkir lagi, jangan salahkan kalau Kho Beng akan menggempur kalian dg kekerasan......"

Sekalipun ancaman telah diberikan, namun reaksi tak jauh beda seperti permulaan tadi, kawanan anggota Sam goan bun itu tetap tak bergerak dari posisi semula.

Kho Beng semakin gusar, namun dalam amarahnya diapun merasa serba salah.

Semua anggota Sam goan bun yg berdiri dihadapannya sekarang boleh dibilang merupakan sahabat-sahabatnya yg sudah banyak tahun hidup bersama serta memiliki hubungan persahabatan yg erat, apabila mereka bersikeras akan menghalanginya, apakah dia benarbenar akan menggempur mereka dg kekerasan?

Dia mengerti, dg tenaga dalam yg dimilikinya sekarang, untuk menghadapi kawanan jago dari Sam goan bun tersebut bukanlah suatu pekerjaan yg sulit.

Yg menjadi masalah sekarang adalah dia tega tidak untuk menggempur sahabat-sahabatnya itu?

Dalam waktu singkat pelbagai ingatan telah melintas didalam benaknya, mendadak dia teringat, bisa jadi sikap dari anggota Sam goan bun ini terpaksa dilakukan karena telah mendapat perintah dari ketuanya untuk bersikap begitu.

Bedebah ciangbunjin itu!

Dg penuh amarah, Kho Beng membalikkan tubuhnya, dia saksikan Sun thian hong masih berdiri kaku ditempat tanpa terasa hardiknya.

"Ciangbunjin! Apakah semua perkataan yg telah kau ucapkan masih bisa dipercaya?"

Bagaikan baru mendusin dari impian, Sun Thian hong segera menghela napas panjang, tiba-tiba serunya kepada segenap anggota Sam goan bun yg berdiri dimuka kuburan itu.

"Masih ingatkah kalian dg pesanku tadi?"

"Tecu masih teringat"

Sahut segenap anggota Sam goan bun bersama-sama.

"Kalau memang masih ingat, kenapa tidak segera turun tangan?"

Perkataan yg terakhir ini sekali lagi mengobarkan hawa amarah Kho Beng, dia tak sanggup menahan diri lagi.

Dia menganggap sikapnya sudah cukup bijaksana mengingat kesetiaan kawan, tapi kenyataannya musuh begitu munafik dan tak tahu malu.

Sekarang jelas sudah duduknya persoalan, Sun thian hong pasti kuatir dia membongkar kuburan tersebut sehingga perbuatan kejinya ketahuan.

Dalam keadaan begini, otomatis dia harus menghadapi setiap perubahan sesuai dg keadaan, disamping itu diapun ingin tahu permainan busuk apakah yg sedang dilakukan lawan?

Berpikir sampai disini, Kho Beng segera tertawa seram penuh kegusaran, matanya berapi-api da mukanya meringis, dia bertekad akan membekuk Sun Thian hong lebih dulu untuk memaksa anak buahnya menyingkir semua dari sana.

Dg pedang terhunus diapun bersiap-siap untuk mendesak maju kemuka, tapi sebelum perbuatan tersebut sempat dilakukan, tibatiba dari belakang tubuhnya terdengar suara jeritan kesakitan berkumandang silih berganti.

Dg perasaan tertegun ia segera berpaling, tapi apa yg kemudian terlihat segera membuatnya menjadi tertegun.

Ternyata belasan anggota Sam goan bun itu telah berdiri saling berhadapan dan tusuk menusuk sendiri, tentu saja tusukan itu bukan bermain sandiwara, tapi benar-benar dilaksanakan, dari bekas tusukan setiap orang nampak darah segar memancur keluar dg derasnya.

"Hey, apa-apaan kalian semua?"

Pemuda itu segera menegur dg kening berkerut. Tiada jawaban yg terdengar selain teriakan dari Sun Thian hong.

"Kalian cepat kembali keperkampungan dan balut luka tersebut...."

Serentak belasan jago dari Sam goan bun itu membalikkan badan dan mengundurkan diri dari situ sambil memegangi bekas luka dilengannya.

Kho Beng benar-benar dibikin kebingungan dan tak habis mengerti terhadap peristiwa tersebut, ketika melihat Nyoo To li yg semalam pernah dijumpainya lewat disisi tubuhnya, cepat-cepat dia menarik tangan pemuda tersebut sambil bertanya.

"Saudara Nyoo, sebenarnya permainan apa sih yg sedang kalian perbuat?"

Luka yg diderita Nyoo To li waktu itu terletak diatas bahunya, karena ditarik Kho Beng dia segera mengeluh kesakitan, kemudian sambil tertawa getir sahutnya.

"Inilah siasat menyiksa diri dari suhu ! "

Habis berkata cepat-cepat dia memburu rekan lainnya meninggalkan tempat tersebut.

"Siasat menyiksa diri ? "

Sekali lagi Kho Beng berpikir dg wajah termangu.

"Apaka dia menggunakan siasat menyiksa diri ini untuk menghadapi diriku ? "

Berpikir sampai disini, pemuda tersebut segera berteriak keras .

"Ciangbunjin, harap tunggu sebentar ! "

Sun Thian hong yg berjalan paling belakang segera menghentikan langkanya, setelah mendengar seruan tersebut, tanyanya sambil berpaling .

"Siauhiap masih ada pesan apa ? "

"Huuuh, cepat benar dia merubah panggilannya terhadapku ? "

Pikir Kho Beng diam-diam sambil tertawa dingin. Kemudian dg suara dalam ia berkata.

"Aku harap ciangbunjin tetap tinggal disini."

"Apakah kau kuatir aku kabur ? "

Seru Sun Thian hong sambil tertawa pedih.

"Hmmm, susah untuk dikata ! Jika duduknya persoalan telah menjadi jelas, sedang ciangbunjin sudah keburu melarikan diri, bukankah aku mesti meluangkan waktu lagi untuk melakukan pengejaran terhadapmu...."

Seketika itu juga Sun Thian hong tertawa seram.

"Ha...ha...ha...kau tak usah kuatir, sekalipun si hwesio sudah kabur, dia tak akan kabur dari kuil. Asal kau berhasil menemukan sesuatu, akan kutunggu kedatanganmu dalam perkampungan."

Selesai berkata dia meneruskan perjalanannya kembali, dalam waktu singkat bayangan tubuhnya telah lenyap dibalik kegelapan.

Kho Beng menjadi tertegun setelah menyaksikan kejadian ini, pikirnya kemudian.

"Persoalan yg paling mendesak saat ini adalah membuka peti mati tersebut secepatnya, setelah duduk persoalannya menjadi jelas, rasanya tidak sulit untuk bertindak selanjutnya...."

Terpengaruh oleh tindak tanduk orang-orang Sam goan bun yg dinilai sangat aneh ini, dg membawa perasaan tak tenang, Kho Beng memungut kembali sekopnya dan menggunakan kecepatan paling tinggi untuk membongkar kembali kuburan tersebut.

Waktu berlalu dg cepatnya.

Kuburan yg semula merupakan gundukan tanah tinggi, kini telah berubah menjadi sebuah liang yg sangat dalam.

Akhirnya sudut peti mati pun mulai kelihatan.

Dg terlihatnya peti mati tersebut, Kho Beng merasa hatinya semakin tegang, dia tak tahu jenasah didalam peti mati tersebut telah berubah menjadi seperti apa?

Adakah luka bekas bacokan ?

Atau sama sekali tak ada luka ?

Bagaimana seandainya jenasah itu telah membusuk sehingga sukar dilakuka pemeriksaan ?

Dg hati-hati sekali dia membersihkan penutup peti mati itu dari tanah liat, lalu setelah berdoa sebentar dg perasaan tegang, dia memegang penutup peti mati itu, mengerahkan tenaga dalamnya dan mengangkatnya kuat-kuat keatas.

"Kraaaakk..... ! "

Penutup peti mati itu segera terbuka lebar.

Meminjam cahaya rembulan yg memancar masuk dia mencoba mengintip kedalam peti mati itu tapi ia segera tertegun dan cepatcepat membuang penutup peti mati tadi kesamping.

Dibawah sinar rembulan yg redup, dapat terlihat bahwa dibalik peti mati tersebut sama sekali tidak ada mayatnya, tapi terdapat sepucuk surat dan sebuah bungkusan.

Dalam bungkusan tersebut entah berisi apa, tapi pada sampul surat tersebut tertera dg jelas beberapa huruf yg berbunyi demikian.

"Ditujukan kepada Kho Beng. Dari Thio bungkuk"

Apa yg terjadi dg cepat membuat Kho Beng semakin termangumangu lagi, dia benar-benar tak habis mengerti terhadap peristiwa yg berlangsung didepan matanya sekarang.

"Mungkinkah sibungkuk belum mati? Tapi apa sebab ketua Sam goan bun mengumumkan kematiannya dan mendirikan batu nisan baginya?"

Satu hal yg membuatnya tak mengerti adalah mengapa sibungkuk meninggalkan surat baginya itu didalam peti mati?

Siapakah yg telah mengatur segala sesuatunya ini?

Dg perasaan bimbang, cepat-cepat dia merobek sampul surat tersebut dan mengeluarkan isinya.

Terbacalah surat itu, berbunyi demikian.

"Kho Beng jika kau dapat membaca surat ini berarti kau dapat melenyapkan semua rintangan yg ada, ini menunjukkan kalau tenaga dalammu secara paksa masih dapat menghadapi segala sesuatu. Saat ini perasaanmu tentu diliputi rasa cemas, bingung dan tidak habis mengerti bukan ? Tapi aku dapat memberitahukan kepadamu sesungguhnya aku sibungkuk belum mati...."

Ketika membaca sampai disini, meskipun Kho Beng semakin tak habis mengerti, namun rasa sedih yg semula mencekam perasaannya seketika tersapu lenyap tak berbekas. Cepat-cepat dia membaca lebih jauh .

"....selama puluhan tahun terakhir ini sudah banyak kesulitan yg kualami dan banyak masalah pelik yg pernah kuhadapi, namun belum pernah mengalami situasi pelik seperti apa yg kualami pada beberapa hari belakangan ini, kesulitan dan kepelikan tersebut terjadi karena aku harus memenuhi janjiku kepadamu, yakni menanti selama tiga tahun. Namun oleh karena situasi yg begitu mendesak sehingga memaksa aku mau tak mau harus meninggalkan Sam goan bun, padahal aku harus bertemu lagi dgmu, maka aku semakin bertekad untuk memenuhi janjiku dulu kepadamu. Setelah berpikir keras dua malam, akhirnya akupun membuat batu nisan dan liang kubur untuk melaksanakan siasat ini. Andaikata apa yg terjadi kemudian diluar dugaanku sehingga kau tak dapat membaca surat ini, yaa...kita hanya bisa dikatakan takdir menghendaki demikian. Sekarang, semua rahasia asal usulmu berada dalam bungkusan itu, bila benda itu dapat kau terima, anggaplah aku sibungkuk dapat memberikan pertanggungan jawabnya. Selesai membaca tulisan ini, kau jangan emosi dan tak usah melakukan perbuatan ceroboh yg bisa menimbulkan amarah umat persilatan, cukup selidikilah otak dibelakang layar yg mendalangi semua peristiwa tersebut, dg begitu kau akan menghibur arwah kedua orang tuamu dialam baka. Nah, aku tak ingin membuang waktumu lagi, akhirnya aku dapat memberitahukan kepadamu, asal usulmu sudah menjadi jelas dalam dunia persilatan, saat itulah merupakan waktu kita untuk bersua kembali. Tertanda . Thio Bungkuk "

Selesai membaca tulisan tersebut, Kho Beng menjadi terkejut bercampur gembira, cepat-cepat dia mengambil bungkusan tersebut dan membukanya.

Ternyata isi bungkusan itu adalah sebuah kain putih dan sebuah baju penuh noda darah.

Kain putih itu sudah menguning, jelas benda tersebut sudah lama tersimpan, sedang diatasnya terlihat beberapa tulisan yg dibuat dg darah, isinya adalah sebagai berikut.

"Tahun Ka sang, anak Beng persis berusia satu tahun ketika serombongan jago menyerbu perkampungan gara-gara kitab Thian goan bu boh, segenap jago perkampungan yg memberikan perlawanan tewas tertumpas musuh. Daam gawatnya kuserahan putra putriku kepada mak inang nyonya Hee dan pelayan Kho Po koan untuk melindungi nyawanya serta melarikan diri. Moga-moga Thian maha pengasih dan melindungi anak keturunanku ini, jika mereka dapat lolos dari maut, masing-masing telah diberi sebuah tanda sebagai tanda pengenal mereka setelah dewasa nanti. Dikemudian hari yg perempuan harus selalu emakai bunga seruni putih diatas sanggulnya, empat musim bunga tersebut tak boleh dirubah, sedang yg lelaki mempunyai lencana Liong pit dan panji kebesaran. Bagaimana nasib putra putriku dimasa mendatang, biarlah Thian yg menentukan, anggap suratku ini sebagai pesan yg terakhir, Tertanda . Kho Bun sin Pemilik Hui im ceng "

Setelah membaca tulisan ini, pucat pias wajah Kho Beng, hampir saja ia menangis tersedu, sekarang dia baru tahu ternyata dia memang putra Kho Bun sin, majikan dari perkampungan Hui im ceng.

Jilid 07 Dalam sedihnya dia mengeluarkan pula baju darah yg penuh dg noda darah hitam itu, diatas baju itupun tertera beberapa huruf yg berbunyi demikian.

"Aku adalah Hee si, mak inangmu, sebelum menemui ajal kuberitahukan kepadamu, sekalipun kau hidup dalam kesederhanaan, tapi jangan lupa bahwa dirimu adalah sau cengcu dari perkampungan Hui im ceng, putra kesayangan dari Kho Bu sin, pendekar besar yg namanya menggetarkan seluruh dunia persilatan. Biarpun dendam kesumat sedalam lautan tak bisa dituntut balas, kau harus beristri dan punya anak keturunan sebagai kelanjutan dari keturunan keluargamu... Ketika membaca sampai disini, Kho Beng merasakan darah yg mengalir didalam tubuhnya mendidih, bibirnya digigit kencang, setitik darahpun bercucuran membasahi ujung bibirnya. Sekalipun Ko Po koan adalah pelayan keluargamu namun dalam kenyataan dia mempunyai hubungan yg lebih akrab daripada sesama saudara dg ayahmu, untuk menyelamatkan jiwa kalian berdua, dia telah mengorbankan putra putrinya demi keselamatan kalian, dia memerintahkan putrinya membopong puta putri sendiri untuk memancing perhatian jago sementara kalian telah dibawa kabur dg selamat.... Mambaca sampai disini, tanpa terasa pemuda itu teringat kembali dg kematian yg menimpa Kho Po koan dalam perkampungan Hui im ceng tempo hari. Ia menjadi sedih sekali, sehingga hampir saja menangis tersedusedu, namun dg sekuat tenaga pemuda itu menahan diri, dg mata yg berkaca-kaca dia membaca surat wasiat tersebut lebih jauh... ...Oleh sebab itu kau sama artinya dg memikul dendam kesumat dua keluarga, baik-baiklah menjaga diri setelah dewasa nanti. Untuk menempuh perjalanan jauh tanpa berhenti, ditambah pula setiap hari dicekam rasa takut dan ngeri, jiwa dan semangat akhirnya runtuh dan hancur, sekalipun kami berhasil lolos dalam keadaan selamat..... Tulisan tersebut terhenti ditengah jalan, jelas mak inang yg setia ini baru menemui ajalnya sebelum sempat menyelesaikan tulisannya itu. Kini segala sesuatunya telah menjadi jelas, bila teringat kembali dg pemberian uang dan surat dari Li sam yg belum pernah ditemuinya itu, serta ulah Kho Po koan yg menyaru jadi setan diperkampungan Hui im ceng, nyata sekali kalau kesemuanya ini mempunyai hubungan yg erat sekali dg dirinya. Rasa sedih dan terkejut membuat Kho Beng termangu-mangu entah berapa lamanya. Ia merasa dirinya begitu mengenaskan dimasa lalu, betapa tidak, selama delapan belas tahun hidup tanpa mengetahui asal usul sendiri, baru sekarang segala sesuatunya menjadi jelas kembali. Teringat akan kehidupannya selama delapan belas tahun, tanpa terasa dia teringat dg ketua Sam goan bun, Sun Thian hong yg telah memeliharanya selama ini, tanpa terasa dia berpikir kembali.

"Mengapa dia tidak memberitahukan kesemuanya ini kepadaku? Atau mungkinkah diapun turut ambil bagian dalam pembunuhan berdarah itu?"

Dalam waktu singkat dia terbayang pula dg peristiwa yg dialami setengah tahun berselang, andaikata Thio bungkuk tidak memintakan ampun, niscaya tangan kanannya sudah kutung.

Tanap sadar pemuda itu berpikir lebih jauh.

"Hmmmm, dia tahu secara pasti bahwa aku gemar belajar silat, namun engga mewariskan kepadaku, diapun berusaha keras menghalangi niatku untuk membongkar kuburan, kalau begitu dia juga yg memaksa Thio bungkuk cianpwee untuk meninggalkan perkampungan Cui wi san ceng serta berusaha memutuskan pengharapanku untuk mengetahui asal usulku yg sebenarnya....bukankah kesemuanya membuktikan kalau dia mempunyai dendam dgku atau paling tidak terlibat peristiwa ini?"

Berpikir sampai disitu, Kho Beng tak sanggup mengendalikan diri lagi, dg cepat dia masukkan baju berdarah, kain putih serta surat peninggalan Thio bungkuk kedalam sakunya, setelah itu memapas kutung baru nisan didepan kuburan dan meninggalkan tempat tersebut dg cepat, langsung menuju keperkampungan Cui wi san ceng.

Siapa sangka baru saja dia siap melompat naik keatas wuwungan rumah, mendadak tampak sesosok bayangan manusia meluncur datang dan berdiri dihadapannya.

Waktu itu Kho Beng telah diliputi perasaan gusar yg membara, dalam kagetnya dg cepat dia melintangkan pedangnya didepan dada lalu mengawasi lawannya dg seksama.

Ternyata orang itu tak lain adalah Nyoo to li yg bahunya kini dibalut kain putih.

Sambil tertawa dingin ia segera menegur dg suara dalam.

"Ooooh, rupanya saudara Nyoo yg menunggu kedatanganku dg membawa luka, apakah kau berniat menghalangi usahaku memasuki perkampungan ini?"

Nyoo to li tertawa getir dan menggelengkan kepalanya berulang kali, sahutnya.

"Harap saudara Kho jangan salah paham, suhu sudah tahu kalau kau pasti datang kembali oleh sebab itu sengaja menitahkan kepadaku untuk menanti."

"He...he.....he..."

Kho Beng segera tertawa dingin.

"Kalau tadi gurumu sudah melaksanakan siasat menyiksa diri sekarang siasat apa pula yg hendak dilakukan?"

Padahal pemuda inipun tidak habis mengerti mengapa ketua Sam goan bun memerintahkan anak buahnya saling melukai. Terdengar Nyoo to li menghela napas panjang.

"Aaaai...tampaknya kesalah pahamanmu sudah terlalu mendalam, sebetulnya perbuatan suhu bukan ditujukan kepadamu, dikemudian hati kau bakal mengetahui dg sendirinya."

Selesai berkata dia lantas membalikkan badan dan melayang turun dari wuwungan rumah, kemudian tanpa berhenti dia melangkah masuk kedalam perkampungan.

Kho Beng sendiripun telah mengambil keputusan untuk menjadikan Sun Thian hong, ketua dari Sam goan bun ini sebagai sasaran pertama dalam usaha penyelidikannya, oleh sebab itu diapun tidak banyak berbicara dan mengikuti dari belakang dg mulut membungkam.

Sepanjang jalan, dg sinar mata yg tajam dia memperhatikan terus keadaan disekelilingnya, kewaspadaan ditingkatkan, dia tak ingin sampai dipecundangi musuh.

Setibanya dihalaman keempat, dimuka rumah kediaman ciangbunjinnya, Nyoo to li berhenti dan mengetuk pintu.

Tapi sebelum pintu sempat dibuka, Kho Beng dg sekali tendangan telah mendobrak pintu serta menyerbu masuk kedalam ruangan.

Tampak olehnya ketua sam goan bun itu duduk bersila diatas sebuah pembaringan dg wajah serius tapi tenang, saat itu dia sedang mengawasi anak muda tersebut tanpa menunjukkan sesuatu reaksi.

Dg langkah cepat Kho Beng memburu kehadapannya dan menempelkan ujung pedang diatas tenggorokan Sun Thian hong, setelah itu bentaknya.

"Sun Thian hong! Aku tak ingin banyak berbicara, aku harap kau sendiri yg mengungkapkan semua peristiwa tersebut dg sejujurjujurnya...."

Tampaknya Sun Thian hong sudah tidak memikirkan mati hidup sendiri sama sekali tidak terpengaruh oleh gertakan tersebut, malah ujarnya dg tenang.

"Kau telah berhasil membongkar kuburan, asal usulmu juga telah menjadi jelas, apalagi yg mesti kukatakan?"

Dg suara yg menyeramkan Kho Beng segera tertawa dingin.

"Terlalu banyak persoalan yg tidak kupahami, jika aku bermaksud tak mengetahui sampai jelas, mungkin batok kepalamu sekaran telah berpisah dg badan."

"Ooooh, tampaknya kau telah menganggap diriku sebagai musuh besarmu....?"

Tegur Sun Thian hong dg tenang. Kho Beng tertawa seram.

"Kalau tidak menganggap bajingan tua macam kau sebagai musuh besarku, memangnya aku mesti menganggapmu sebagai teman atau angkatan yg lebih tua?"

"Kho Beng"

Sun Thian hong segera menegur dg wajah serius.

"Bagaimanapun juga aku telah memeliharamu selama delapan belas tahun...."

"Tapi kaupun telah membohongi aku selama delapan belas tahun"

Tukas Kho Beng cepat.

"Aku ingin tahu apa sebabnya kau merahasiakan asal usulku hingga sekarang?"

Sekujur badan Sun Thian hong gemetar keras, tapi setelah menghela napas panjang, katanya.

"Aku berniat untuk melenyapkan sebuah badai pembunuhan yg mengerikan dari dunia persilatan, ketahuilah bila balas membalas berlangsung terus, maka dunia persilatan tak akan pernah mengalami kedamaian..."

Kho Beng tertawa seram.

"He....he....he....perkataanmu itu kedengarannya menarik hati, siapa tahu kau masih mempunyai tujuan lain? Kau kuatir Kho Beng melakukan pembalasan dendam bukan?"

Sun thian hong tersenyum, tiba-tiba ia balik bertanya.

"Coba pikirkan persoalan ini dg kepala dingin, bila berniat membunuhmu, bukankah hal ini lebih baik kulakukan disaat kau masih orok dulu?"

Kho Beng tertegun sejenak, kemudian serunya.

"Siapa tahu kau tak berani melakukannya waktu itu?"

"Mengapa aku tak berani?"

"He....he....he....bukankah waktu itu si Unta sakti locianpwee juga hadir disana?"

Jengek Kho Beng sambil tertawa dingin.

"Betul disaat mak inang pengasuhmu sampai diperkampungan, dia memang hadir pula disini."

Sebetulnya Kho Beng hanya bermaksud melakukan penyelidikan, siapa tahu apa yg diduga ternyata benar, sambil tertawa dingin ia berkata.

"Kau anggap si Unta sakti locianpwee akan membiarkan dirimu berbuat kejahatan dg seenaknya?"

"Aku dapat memberitahukan kepadamu waktu itu si Unta sakti baru sembuh dari luka dalam akibat keracunan, seandainya aku berniat membunuhmu hal tersebut dapat kulakukan tanpa membuang banyak tenaga."

Karena merasa tak mampu mengunggulinya, hawa amarah Kho Beng segera memuncak, bentaknya.

"Sekalipun kau pandai bersilat lidah, jangan harap bisa melenyapkan kecurigaan didalam hatiku, andaikata kau tidak pernah berbuat kejahatan, mengapa pula kau paksa si Unta sakti locianpwee sehingga pergi meninggalkan tempat ini?"

"Kau salah menduga, kepergian si bungkuk sama sekali tiada sangkut pautnya dgku."

"Lalu ada sangkut pautnya dg siapa?"

Sun Thian hong menghela napas panjang.

"Aku rasa kaupun sudah tahu, dia adalah Bok sian tianglo dari Siau lim pay."

Kontan saja Kho Beng tertawa seram.

"Hmmm...kau anggap aku adalah seorang bocah berusia tiga tahun yg gampang dibohongi?"

"Aku hanya mengucapkan keadaan yg sesungguhnya."

"Sesungguhnya?"

Kembali Kho Beng membentak keras.

"hmmm...walaupun tianglo dari Siau lim si mempunyai nama dan kedudukan terhormat, namun dia bukan ketua dari Sam goan bun, andaikata dia tidak bersekongkol dg tuan rumah sebagai tamu, apakah dia berani berbuat semena-mena? Apakah dia tak kuatir diusir?"

Sun Thian hong menghela napas panjang.

"Kau belum lama terjun kedalam dunia persilatan, tentu saja tidak memahami situasi dunia persilatan yg sebenarnya, ketahuilah semenjak perguruan kami kehilangan tiga jurus ilmu pedang yg paling diandalkan, selama tiga generasi ini nama kami sudah dicoret dari urutan tujuh partai besar, daya pengaruh kamipun bertambah lemah, seandainya aku tidak menjaga diri baik-baik dan mengurangi ruang gerak kami, mungkin perkampungan Cui wi san ceng sudah sejak lama tidak bisa dipertahankan lagi."

"Kau memang tak malu menjadi seorang ciangbunjin, tak nyana kau bisa membantah dg mempergunakan kata-kata yg begitu tak bersemangat."

Dg wajah serius Sun Thian hong berseru.

"Biarpun aku hidup dalam kesempitan, tapi bukan berarti mau diperintah orang lain."

"hmmm..bukannya jawabanmu ini menjadi mencle-mencle tak karuan....?"

"Sesungguhnya kepergian sibungkuk secara tiba-tiba dikarenakan alasan lain."

"Apa alasannya?"

"Bok sian tianglo mendesaknya agar mengungkapkan identitasmu yg sebenarnya, tapi sibungkuk selalu menolak untuk menjawab, akhirnya peristiwa tersebut menyebabkan terjadinya pertarungan diantara mereka berdua."

"Kau sebagai tuan rumah, mengapa tak berusaha melerai?"

Tanya Kho Beng sambil tertawa dingin. Sun Thian hong menghela napas panjang.

"Waktu itu tiada tempat untuk turut berbicara."

"hmmm, jelek-jelek Sam goan bun termasuk sebuah perguruan, kalau kau membiarkan orang lain bertempur dirumahmu, apakah tidak takut hal ini akan menimbulkan tertawaan dari umat persilatan?"

Sun Thian hong tertawa getir.

"Siau lim pay adalah pimpinan dari tujuh partai, tulang punggung dari dunia persilatan, aku tak sanggup untuk menghadapi mereka, sedang sibungkuk orangnya tinggi hati dan keras, apalagi dalam marahnya, mana mau dia turuti nasehatku? Kecuali berpeluk tangan belaka, apapula yg bisa kuperbuat."

"Akhirnya siapa pula yg unggul dan kalah?"

"Sibungkuk kelewat memandang enteng musuhnya, sehingga menderita kekalahan total."

"Menang kalah adalah satu persoalan, pergi atau tidak semestinya adalah persoalan lain."

"aaai...panjang sekali untuk menceritakan keadaan yg sebenarnya...."

"Aku tak ingin mendengarkan cerita yg bertele-tele, harap kau membicarakan yg penting-penting saja."

"Aku tak terbiasa berbicara seperti itu, lebih baik kau saja yg mengajukan pertanyaan dan aku menjawabnya."

Kho Beng berpikir sebentar, kemudian katanya.

"Kalau toh sibungkuk cianpwee hanya terlibat dalam pertarungan melawan Bok sian tianglo, apa sebabnya dia harus angkat kaki dari sini?"

Sun Thian hong menghela napas panjang.

"Sibungkuk tidak seharusnya terlalu yakin dg kemampuan sendiri sehingga termakan oleh siasat memanaskan hati dari Bok sian tianglo..."

"Bagaimana cara Bok Sian tianglo menggunakan siasatnya?"

"Bok sian tianglo mengusulkan agar mereka saling beradu tenaga satu kali, dia bertanya kepada sibungkuk apakah berani bertaruh sebelum bertarung, sibungkuk yg tinggi hati tentu saja menerima tantangan tersebut."

"Apa yg mereka pertaruhkan."

Setelah menghela napas panjang dg suara dalam Sun Thian hong berkata.

"Pihak yg kalah harus melaksanakan dua permintaan dari pihak yg unggul, aaai...sungguh tak disangka sembilan bagian tenaga pukulan Kim khong khi dari sibungkuk ternyata kalah ditangan sepuluh bagian Bu sian singkanng dari Bok sian taysu."

"Setelah kemenangan diraih oleh Bok sian taysu, apa yg mesti dilaksanakan oleh sibungkuk?"

Tanya Kho Beng tegang.

"Pertama sibungkuk harus mengatakan asal usulmu."

"Apakah sibungkuk cianpwee telah mengatakannya?"

Tanya pemuda itu tegang. Sun Thian hong manggut-manggut.

"Selama hidup sibungkuk enggan mengingkari janji, setelah dia berada dipihak yg kalah, tentu saja apa yg dijanjikan harus dipenuhi olehnya."

Kho Beng menekan perasaan hatinya, segera sambungnya.

"apa yg harus dilakukan kemudian?"

"Bok sian taysu bertanya kepada sibungkuk, apakah kau sudah memahami asal usulnya, sibungkuk menjawab hal tersebut belum sempat dijelaskan kepadamu, maka Bok sian taysu pun minta kepada sibungkuk untuk meninggalkan dirimu serta tidak bertemu lagi dgmu untuk selamanya, bahkan pula minta jaminannya."

"Menurut pendapatmu, sibungkuk terpojok sehingga dia penuhi semua permintaannya?"

"Itupun tidak ."

"Apakah sibungkuk telah merahasiakan sebagian dari asal usulku...?"

Tanya Kho Beng tertegun.

"Sibungkuk tidak merahasiakan apa-apa, tapi ada hal telah dilakukan secara jitu."

"Bagaimana jitunya?"

Kedua hal tersebut tidak dijawab oleh sibungkuk dg perkataan melainkan dg tindakan, terhadap pertanyaan Bok sian taysu yg pertama sibungkuk hanya menyerahkan sebuah panji Hui im ki leng kepadanya sambil berkata kepada pendeta tersebut.

"Apa yg ditanyakan taysu semuanya berada disini."

Selesai berkata diapun tidak memberi penjelasan lagi."

"Apa itu panji hui im ki leng?"

Tanya Kho Beng dg wajah tertegun.

"Panji Hui im ki leng adalah salah satu benda yg ditinggalkan mak inang untuk mu, yakni tanda pengenal ayahmu dimasa jaya dulu. Tapi berhubung sibungkuk yakin Bok Sian tianglo belum tahu tentang siasat yg telah dilakukan pelayan keluargamu dg menukar kalian putra putrinya, maka meskipun dia hanya mengeluarkan panji tersebut sebagai jawaban, Bok sian taysu sama sekali tidak menaruh curiga."

"Jadi menurut pendapatmu, Bok sian taysu sama sekali tidak mencurigai diriku sebagai putra dari Hui im cengcu?"

"Tentu saja, orang yg mengetahui isi surat wasiat peninggalan pengasuhmu selain aku dan sibungkuk tiada orang ketiga yg mengetahuinya. Padahal menurut apa yg diketahui khalayak ramai, hanya empat orang yg berhasil lolos dari perkampungan Hui im ceng ketika itu, yakni mak inangmu, Kho Po koan serta putra putrinya. Waktu itu Bok sian taysu hanya mencurigai dirimu sabagai putra dari pelayan setia perkampungan Hui im ceng, tentu saja dia tidak menyangka kalian telah ditukar dan orang lain telah menggantikan dirimu untuk menerima maut."

Setelah berhenti sejenak, dia berkata lagi lebih jauh.

"Untuk memenuhi perintah kedua dari Bok Sian taysu, sibungkuk telah putar otak selama dua hari semalam, sebelum berhasil menemukan suatu siasat yg sempurna untuk mengatasinya."

"Maksudmu siasat sibungkuk cianpwee yg menyiapkan kuburan untuk dirinya sendiri?"

"Benar, membuat kuburan untuk diri sendiri adalah sebagai jaminan kepada Bok sian taysu bahwa dia akan mentaati janjinya, tapi dia justru memasukkan semua benda yg kau butuhkan kedalam peti mati tersebut dg harapan kau bisa menemukannya sendiri, dg begitu diapun tidak sampai mengingkari janjinya dg dirimu."

"Kalau toh kau telah mengetahui semua periapannya ini, mengapa hal tersebut tidak kau jelaskan padaku sejak pertemuan kita yg pertama..?"

Tanya Kho Beng sambil berkerut kening.

Sun Thian hong kembali menghela napas panjang "Disinilah letak kemulyaa hati sibungkuk, dia sadar kekuatan Sam goan bun sangat minim, dia tak ingin menyeret diriku terlibat pula dalam pertikaian tersebut, karenanya dia tidak menyuruh aku yg menyampaikan pesannya kepadamu, tapi menyuruh sikoki Oh gemuk.

Padahal sewaktu kau pergi mencari si Oh gemuk, aku telah mengetahui semua gerak gerikmu secara jelas, Cuma saja aku tetap berlagak pilon."

Kho Beng tertawa dingin.

"Hmmm..tampaknya selain memikirkan keselamatan dari perguruan Sam goan bun, kau sama sekali tidak menaruh niat jahat terhadapku?"

"Kalau toh kau sudah memahami perasaanku, tariklah kembali pedangmu itu?"

Kho Beng mendengus dingin.

"Seandainya kau benar-benar tidak berniat jahat, mengapa pula kau menghalangi niatku untuk membongkar kuburan?"

"aku sengaja menghalangi niatmu karena aku sedang berusaha melindungi keselamatan jiwamu, kalau diriku saja tak mampu kau hadapi, setelah mengetahui asal usulmu sendiri, bukankah hal tersebut bukannya menguntungkan malah merugikan?"

Sekali lagi Kho beng mendengus.

"Tapi dilihat dari sikapmu memaksa aku turun tangan, rasanya bukan Cuma bermaksud mencoba saja."

Sun Thian hong menghela napas panjang.

"Benar, sebelum pergi dari sini Bok sian taysu telah berpesan kepadaku agar mengawasi gerak gerikmu, diapun memperingatkan kepadaku, bila aku berani membongkar rahasia kuburan kosong itu, berarti aku hendak memusuhinya. Sebagai orang yg tetap berada diluar garis tentu saja aku mesti berusaha untuk memberikan pertanggung jawaban kepada Bok sian taysu agar dia tidak menaruh curiga."

"Waah, kalau begitu kau adalah seorang manusia plin plan yg berpihak sana sini?"

Jengek Kho Beng sambil tertawa dingin.

"Aku bukan manusia tak tahu malu, bukankah sudah kau saksikan sendiri persiapan yg kulakukan? Siasat menyiksa diri yg kulakukan dg menyuruh anak muridku saling menusuk tak lain merupakan sebagai usahaku memberikan pertanggungan jawab kepada Siau lim pay.

"Kau mesti memaklumi keadaanku sekarang, aku hanya bisa menandingimu secara sungguh-sungguh, jika tidak bagaimana mungkin orang lain mau percaya? Apalagi dg sikapku ini justru mendatangkan manfaat dan keuntungan bagimu."

Sampai disini, Kho Beng baru memahami secara jelas semua kejadian yg sesungguhnya.

Pelan-pelan dia menarik kembali pedangnya, tapi rasa curiganya terhadap Sun Thian hong belum hilang sama sekali, katanya lagi dingin.

"Moga-moga saja sehala sesuatunya hanya merupakan kecurigaanku sendiri. Kalau toh hanya ciangbunjin dan sibungkuk cianpwee yg mengetahui asal usulku, darimana tianglo dari Siau lim si itu bisa memperoleh kabar tentang diriku? Dan lagi mengetahui juga hubungan sibungkuk dgku?"

Sampai saat inilah ketua Sam goan bun baru dapat menghembuskan napas panjang, mendengar pertanyaan itu dia segera menjawab.

"Dalam soal ini aku sendiripun merasa heran, yg lebih aneh lagi darimana Bok sian taysu bisa menduga kalau kau adalah anak murid sibungkuk...?"

"Ketika mendengar perkataan tersebut, Kho Beng jadi sangat terperanjat, segera pikirnya.

"Sewaktu berada diperkampungan Hui im san ceng, pernah kuungkapkan kalau guruku adalah Unta sakti berpunggung baja, jangan-jangan mereka berdua yg menyampaikan kabar ini kepada Siau lim si?"

Ia lantas teringat kembali dg peristiwa lama, dimana sipedang tanpa bayangan serta sastrawan berkipas kemala telah melakukan penyelidikan keperkampungan Hui im san ceng ditengah malam.

Lalu teringat pula lenyapnya lencana Siong im giok leng milik Kho Po koan dan hilangnya kitab pusaka yg disimpan Bu wi lojin, bukankah kesemuanya ini menunjukkan kalau sipedang tanpa bayangan serta sastrawan berkipas kemala amat mencurigakan?

Diam-diam ia menghentakkan kakinya sambil tertawa getir, mimpipun tak pernah disangka bahwa akhirnya dia bahkan siap menjual nyawa untuk mereka.

Berpikir sampai disitu, dia baru sadar bahwa kecurigaannya terhadap Sun Thian hong sebenarnya tidak beralasan, maka dg wajah bersungguh-sungguh katanya.

"Terima kasih banyak atas penjelasan ciangbunjin pada malam ini, budi kebaikanmu pasti akan kubalas dikemudian hari, aku hanya berharap, disaat Kho Beng melakukan pembalasan dendam nanti, harap ciangbunjin tidak melibatkan diri dalam pertikaian itu. Sun Thian hong menghela napas panjang.

"membangun suatu perguruan adalah sulit, aku sadar kalau tak punya harapan lagi untuk membangun perguruanku lebih besar, oleh sebab itu harapanku sekarang tinggal mencari pewaris buat jabatanku ini, buat apa aku melibatkan diri dalam pertikaian seperti ini?"

"Ciangbunjin, dapatkah kau jelaskan siapa-siapa saja yg terlibat dalam penyerbuan dan penumpasan terhadap Hui im ceng pada masa itu...?"

Sun Thian hong menggelengkan kepalanya.

"Sejak aku menjabat sebagai ketua sam goan bun hingga kini kami tak pernah tinggalkan pintu perguruan baran selangkah pun, terhadap musibah yg menimpa gedung kalianpun hanya kudengar beritanya saja. Tapi yg pasti musuhmu sangat banyak dan mencakup banyak dan mencakup banyak perguruan kenamaan, kalau menurut nasehatku bertindaklah dg hati-hati dan tak usah gegabah, apalagi kau sudah tahu kalau Siau lim si terlibat didalamnya, tak salah jika kau lakukan penyelidikan lewat situ, aku yakin tak sulit bagimu untuk mengetahui duduk persoalan yg sebenarnya."

Dg jawaban tersebut, sama artinya dia menolak untuk memberi jawaban.

Dari perkataan tersebut, Kho Beng segera memahami maksudnya, dia mengerti bahwa Siau lim si mempunyai daya pengaruh yg besar dan kuat, rasanya sulit untuk mencari urusan dg mereka, ini berarti lebih baik mencari sasaran lain yg lebih lemah untuk melakukan penyelidikan tersebut.

Tiba-tiba ia teringat kembali dg sastrawan berkipas kemala, bukankah orang ini merupakan satu-satunya titik terang yg bisa digunakan sebagai langkah pertama penyelidikannya?

Berpikir sampai disitu, cepat-cepat dia menjura seraya berkata.

"Kalau memang ciangbunjin merasa keberatan, akupun tak akan memaksa lebih jauh tapi dapatkah kau memberi petunjuk dimanakah alamat seseorang?"

"Coba kau sebutkan namanya?"

"Apakah ciangbunjin mengetahui seseorang yg bernama Sastrawan berkipas kemala?"

Sun Thian hong segera manggut-manggut.

"Sastrawan berkipas kemala Beng Yu berdiam di Hway sang, tak ada salahnya kau mencari tahu disekitar kota Yang ciu, mungkin alamatnya segera akan kau temukan."

"Terima kasih atas pemberitahuanmu dan akupun hendak mohon diri lebih dulu."

Kata Kho Beng seraya menjura. Dg cepat dia membalikkan badan dan siap beranjak pergi dari situ. Tiba-tiba terdengar Sun Thian hong berkata.

"Aku tak bisa memberi apa-apa kepadamu, hanya kudoakan semoga kalian kakak beradik dapat segera berkumpul kembali dan membangun perkampungan Hui im san ceng seperti dahulu."

Kho Beng sudah hampir melangkah kelar dari pintu ketika mendengar perkataan tersebut, dg cepat dia menghentikan langkahnya, sementara perasaan hatinya bergetar keras.

Apakah ada sesuatu yg tak beres dg perkataan dari Sun Thian hong itu?

Tidak!

Tapi kata "Semoga kalian kakak beradik dapat segera berkumpul kembali"

Membuat Kho Beng teringat kembali dg kedele maut, terutama sekuntum bunga putih yg menghiasi sanggulnya.

Bukankah bunga putih tersebut mirip sekali dg bunga putih yg dipesankan ayahnya dulu?

"Bunga serunai putih menghiasi sanggul, siang malam empat musim tak pernah berubah..."

Benarkah kedele maut yg menggemparkan dunia persilatan selama ini sesungguhnya adalah kakak perepuannya?

Penemuan yg mendadak dan sama sekali tak terduga ini segera membuat Kho beng terperanjat dan gemetar keras saking emosinya.

Dg suatu gerakan cepat pemuda itu berpaling kearah Sun Thian hong, kemudian serunya.

"Ciangbunjin, apakah kabar tentang kedele maut yg kusampaikan kepadamu pagi telah kau sebarkan luaskan?"

Ketika melihat perubahan diatas wajah Kho Beng, diam-diam Sun Thian hong ikut terkejut, berbicara sesungguhnya ia merasa tak sanggup menghadapi pemuda ini. Karenanya cepat-cepat dia menjawab.

"Sesudah kau meninggalkan diriku tadi, berita tersebut segera kusebar luaskan dg mengutus beberapa orang muridku."

Dg wajah berubah hebat Kho Beng segera membentak.

"Harap ciangbunjin segera menarik kembali berita tersebut."

Sun Thian hong menjadi tertegun, dg keheranan ia segera bertanya.

"Apakah ada sesuatu yg tak beres?"

Tentu saja Kho Beng tak ingin menjelaskan kalau kedele maut sebetulnya adalah enci kandungnya dg keras dia membentak lagi.

"Tidak ada yg tak beres! Aku hanya menyuruh kau menarik kembali berita tersebut secepatnya."

Sun thian hong mulai tak tahan dg sikap kasar itu, dg suara dalam dia berkata pula.

"Kho Beng, berita tersebut telah kusebarkan kemana-mana, bahkan kujelaskan pula kalau orang yg berhasil menemukan raut wajah kedele maut adalah kau. Begitu hal tersebut merupakan suatu pahala besar. Dg begitu bukan saja pihak Siau limsi akan mengurangi sikap tegangnya dg dirimu, seluruh umat persilatan pun akan mengetahui jasa mu terhadap dunia persilatan. Ini berarti akan mempersulit juga niat Siau lim pay untuk menyusahkan dirimu, masa dalam hal inipun kau menaruh curiga kepadaku?"

Dg perasaan tak sabar Kho Beng berkata.

"Aku tidak butuh segala macam jasa atau pahala, kau tak usah ribut lagi, cepat kirim orang untuk menghentikan penyebaran berita tersebut, selain itu akupun minta kepadamu untuk menarik kembali segenap anggota Sam goan bun yg ditugaskan mengawasi kedele maut, apakah kau sanggup melaksanakan hal tersebut?"

Mendengar perkataan ini, Sun Thian hong menjadi tertegun.

Tapi bagaimanapun juga jahe makin tua makin pedas, setelah embayangkan kembali gambaran tentang kedele maut yg didengarnya dari Kho Beng pagi tadi, kemudian menyaksikan sikap tegang dari pemuda tersebut, jago tua tersebut segera dapat menduga apa yg teradi.

Tapi berhubung Kho Beng enggan menjelaskan, Sun Thian hong pun tak ingin membongkarnya pula, dg nada yg sangat tenang dia berkata.

"Kalau toh kau tak ingin kulakukan hal tersebut, tentu saja akan kuturuti kehendakmu itu, Cuma aku kuatir sudah tak sempat lagi."

"Kenapa tak sempat?"

Seru Kho Beng sambil melotot.

"Aku telah mengutus tiga orang yg terbagi dalam tiga jurusan untuk menyampaikan berita tersebut, dua jurusan menuju ke bu Tong pay dan Siau lim pay, tapi karena perjalanan yg jauh mungkin juga mereka masih bisa dicegah kembali, tapi yg menuju kearah Tong ting oh justru paling sukar dikejar sebab jaraknya dekat sekali, hanya dua ratus li. Sekalipun dikejar belum tentu dapat disusul."

Kho Beng menjadi sangat gelisah, setelah berpikir sejenak buruburu katanya.

"Kalau begitu harap ciangbunjin segera mengirim orang untuk memanggil pulang utusanmu yg pergi ke Bu Tong pay dan Siau lim pay, sedang aku akan mengejar kearah Tong ting oh."

Tanpa membuang waktu lagi dia segera melompat keluar dari pintu dan secepat kilat menuruni bukit.

Fajar telah menyingsing.

Sudah semalam suntuk Kho Beng menempuh perjalanan cepat tanpa beristirahat, dia tak ingin kakak kandungnya terancam bahaya gara-gara perbuatannya.

Maka tanpa mengenal lelah, dia menempuh perjalanan terus tanpa berhenti, begitu tiba dikota dia membeli ransum dan dua ekor kuda, kemudian meneruskan pengejaran kearah telaga Tong ting.

Tapi setelah melakukan pengejaran seharian, tiba-tiba pemuda itu jadi tertegun, rupanya karena begitu tergesa-gesa menempuh perjalanan dia telah lupa untuk menanyakan siapa yg membawa berita untuk wilayah Tong ting oh dan kemanakah dia mesti menemukan orang tersebut?

Namun nasi sudah jadi bubur, sekalipun kesal dan murung Kho Beng tak bisa berbuat apa-apa.

Untung saja dia cukup kenal dg setiap anggota Sam goan bun, asalkan sebelum orang itu tiba ditelaga Tong ting, dia yakin orang tersebut pasti dikenalinya.

Namun pemuda tersebut lupa akan satu hal, jika dia mampu melakukan perjalanan cepat, apakah orang lain pun tak mampu melakukan hal yg sama?

Apalagi sebelum dia mulai melakukan pengejaran, orang itu sudah menempuh perjalanan sejauh seratus li lebih, betapapun cepatnya pengejaran yg dilakukan mana mungkin bisa menyusul orang tersebut?

Sambil mengayunkan cambuknya, Kho Beng melarikan kudanya cepat-cepat, satiap kali satu jam lewat, dia segera menukar kudanya dg kuda yg lebih segar.

Begitu seterusnya sehingga menjelang senja, telaha Tong ting sudah nampah dikejauhan sana.

Dalam waktu sehari dia telah menempuh perjalanan sejauh dua ratus li, jarak tersebut boleh dibilang cukup cepat, tapi Kho Beng tetap merasa kesal dan kecewa.

Sebab sepanjang jalan dia sudah memasang mata baik-baik, namun tak seorangpun anggota sam goan bun yg ditemukan.

Keadaan sudah semakin jelas, biarpun dia telah berusaha melakukan pengejaran, namn hasilnya dia masih tetap ketinggalan satu langkah.

Tiba ditepi telaga Tong ting, kedua ekor kudanya sudah mandi peluh dan berbuih dari mulutnya, begitu lemas kedua ekor binatang tersebut sehingga boleh dibilang tak berkekuatan lagi untuk meneruskan perjalanan.

Demikian pula dg Kho Beng sendiri, seluruh tubuhnya sudah basah kuyup oleh keringat, napasnya tersengal sengal dan matanya terasa berat sekali.

Biarpun pemandangan alam disekelilingnya tampak indah dibulan ketiga ini, Kho Beng sama sekali tak berminat untuk menikmatinya, sambil mementangkan matanya yg berat dan penat, ia memperhatikan sekeliling tempat itu penuh rasa tegang dan panik.

"Apa yg harus kulakukan sekarang?"

Sambil termangu mangu dia mengawasi kedua ekor kudanya yg tergeletak ditepi jalan itu tanpa berkedip.

Pertama-tama dia harus dapat menduga lebih dulu kemanakah tujuan berita yg dikirim ketua Sam goan bun untuk wilayah telaga Tong ting itu?

Bila hal ini tak dapat terpecahkan, maka sekalipun dia panik dan bingung pun tak ada gunanya.

Dalam keadaan begini, terpaksa Kho Beng harus beristirahat sejenak, dia ingin menggunakan kesempatan tersebut untuk menenangkan kembali pikirannya serta berusaha untuk mencari jalan guna mengatasi persoalan ini....

Pada saat itulah, tiba-tiba ia mendengar ada suara langkah manusia berhenti disisi tubuhnya, menyusul kemudian terdengar seseorang menyapa.

"Hey sobat, kalau kulihat tubuhmu basah oleh keringat dan kudamu tergeletak kepayahan ditepi jalan, apakah ada suatu berita penting yg hendak kau sampaikan kemari?"

Dg perasaan tertegun, cepat-cepat Kho Beng membuka matanya kembali, terlihatlah tiga otang telah berdiri dihadapannya.

Ketiga orang itu rata-rata berusia tiga puluh tahunan, bertubuh kekar berwajah keren dan berbaju ringkas berwarna kuning, sebuah ruyung emas bersinar kekuningan memancar ari pinggangnya.

Saat itu mereka dg keenam sorot matanya sedang mengawasi Kho Beng tanpa berkedip, bila dilihat dari wajahnya yg gelisah seakan-akan mereka ingin mengetahui sesuatu dg cepat.

Dalam lelahnya Kho Beng merasa pikirannya agak bebal melihat keadaan tersebut, dia segera berseru.

"Apakah kalian bertiga sedang bertanya kepadaku?"

Melihat hal ini lelaki yg berada ditengah itu segera tertawa terbahak bahak"

"Ha...ha....ha....walaupun kita tak pernah bersua, umat persilatan kan bersumber satu, apalagi setelah kami saksikan wajahmu gelisah bercampur panik, itulah sebabnya secara gegabah kami telah menegur anda untuk itu harap anda jangan marah atas kecerobohan kami bertiga ini."

Setelah mendengar perkataan tersebut, pikiran Kho Beng jga menjadi sadar, setelah berpikir sejenak ia segera menjadi paham kembali. Karenanya dg sikap tegang Kho Beng segera menjawab.

"Benar aku memang membawa berita penting, tapi bolehkan aku tahu siapa nama anda bertiga?"

Lelaki ditengah itu segera tertawa terbahak-bahak.

"Ha....ha....ha....siaute adalah Kim Han bersama Liat dan Kim Yog disebut orang sebagai Kim kong sam pian(tiga ruyung raksaa), tapi orang diwilayah Sam siang memanggil kami Kim toa, Kim ji dan Kim sam, boleh aku tahu siapa nama anda?"

Kim lotoa mempunyai suara yg lantang sedang ketiga bersaudara itu sama-sama mempunyai perawakan tubuh yg tingi besar seperti raksasa, memang sesuai sekali dg nama julukannya.

Sebelum tersenyum, Kho Beng segera menjura, katanya.

"Oooh, rupanya tiga pendekar dari keluarga Kim, selamat bersua, selamat bersua, siaute Kho Beng."

Begitu namanya disebutkan, paras muka tiga bersaudara dari keluarga Kim ini segera berubah hebat, tubuh mereka bergetar keras dan keenam buah mata mereka bersama mengawasi wajah Kho Beng tanpa berkedip.

Selang beberapa saat kemudian Kim lotoa baru menjura lagi seraya berkata dg sikap sangat menghormat.

"Oooh, rupanya anda adalah Kho sauhiap, sejak masih berada dikota Gak yang tadi, siaute sudah mendengar tentang nama besar anda yg dikirim dari bukit Kun san, sungguh tak disangka baru saja namanya terdengar, orangnya sudah tiba, beruntung sekali kami tiga bersaudara dapat bertemu dgmu secepat ini."

Berbicara sampai disini, dia segera berpaling kekiri kanan sambil membentak.

"Loji, losam mengapa kalian tidak segera maju untuk memberi hormat kepada Kho siauhiap? Mari kita pergunakan kesempatan ini untuk bersahabat lebih akrab dgnya."

Kho Beng sangat terkejut setelah mendengar perkataan yg penuh sanjungan itu, buru-buru dia membalas hormat Kim lotoa sambil cegahnya.

"Kalian tiga bersaudara tak usah banyak adat..."

Tapi kim loji dan Kim losam telah keburu maju kemuka dan menjura seraya berkata.

"Kho siauhiap tak usah merendah, kami bertiga bisa berkenalan dulu dg siauhiap jauh sebelum umat persilatan lain mengenalimu, boleh dibilang hal ini merupakan suatu keberuntungan dan kehormatan bagi kami."

Terpaksa Kho Beng membalas hormat sekali lagi, kemudian dg berlagak keheranan dia berseru.

"Kita belum pernah bersua, lagipula aku tak pernah berjasa apaapa, mengapa kalian bertiga menaruh sikap begitu hormat kepadaku?"

Kim loji segera tertawa terbahak-bahak.

"Ha...ha...ha...sekalipun orang pandai segan menunjukkan kepandaiannya, namun sikap saudara Kho kelewat merendah, dalam setengah tahun terakhir ini, ulah si kedele maut sudah cukup menggetarkan seluruh dunia persilatan dan membuat hati orang tak pernah tenang, tapi hanya saudara seorang yg berhasil menyelidiki iblis tersebut serta menyingkap wajah aslinya. Jasamu besar sekali dan namamu telah menggetarkan selurh dunia persilatan, bukan hanya kami tiga bersaudara yg menaruh perasaan kagum kepadamu, aku percaya setiap umat persilatan akan menyanjung serta menghormatimu..."

Sesungguhnya perkataan ini sangat memabukkan dan bisa membuat seseorang dalam alam nirwana, tapi bagi Kho Beng, ucapan tersebut seperti guntur membelah bumi disiang hari bolong, seketika membuat hatinya tercekat dan senyumannya menjadi getir.

Kenyataan membuktikan bahwa apa yg dikuatirkan selama ini memang nyata terbukti, anggota Sam goan bun yg ditugaskan menyampaikan berita tersebut telah tiba lebih dulu guna menyebar luaskan berita itu kemana-mana.

Ini berarti gerak gerik encinya dikemudian hari akan memperoleh hambatan yg sangat besar, malah bisa jadi jiwanya akan terancam bahaya maut.

Sekalipun perasaan Kho Beng saat ini sangat gelisah, namun perasaan tersebut tidak sampai diperlihatkan diwajahnya, sambil tertawa paksa segera ujarnya.

"Jihiap terlalu memuji diriku, padahal kejadian tersebut hanya kuketahui secara kebetulan, jadi bukan atas dasar kemampuan sendiri, urusan sekecil ini tidak sepantasnya disanjung sanjung."

Kim Lotoa dan Kim loji telah angkat bicara, maka Kim losam pun tak tahan ikut menyanjung pula.

"Ha...ha....ha...saudara benar-benar kelewat merendah, padahal pihak Siau lim si telah menyiapkan Budha emas, pihak Bu Tong pay menyiapkan panji kebesaran, semuanya itu dihadiahkan bagi para pendekar yg berjasa. Siapa sih yg tak ingin memperoleh penghormatan seperti ini? Dan sekarang anda telah mendapat penghormatan itu, apakah hal ini tak pantas disanjung? Ha...ha....ha...."

"Tapi siaute sama sekali tidak berharap mendapatkan panji emas atau perak, aku tidak mengharapkan apa-apa."

Kim Lotoa jadi termangu, kemudian serunya keheranan.

"Harap anda jangan salah mengerti, Budha emas dan panji perak bukan saja menjadi lambang penghormatan umat persilatan kepadanya, juga menjadi lambang rasa hormat dan kagum tujuh partai besar kepadanya. Dg membawa Buddha emas panji perak tersebut, kemanapun anda hendak pergi disitulah segala sesuatu akan tersedia bagimu, bila menghadapi kesulitan macam apapun dg memperlihatkan kedua macam benda itu, maka semua kesulitan akan hilang dg sendirinya, kami tiga bersaudara berharap bisa mendapatkannya pun tak punya kesempatan, masa kau malah menolak pemberian itu."

Sekarang Kho Beng baru tahu, rupanya hal tersebut bisa mendatangkan penghormatan sedemikian tinginya, tak heran kalau ketua Sam goan bun menyebutnya sebagai suatu pahala besar dan umat persilatan banyak yg rela mempertaruhkan jiwa raga untuk mendapatkannya.

Tapi apa yg bisa diperolehnya sekarang?

Sekalipun ingin mendapatkannya pun belum tentu mampu diterimanya.

Rasa masgul dan kesal yg menyelimuti perasaan hatinya sekarang sungguh tak terlukiskan dg kata-kata, cepat-cepat dia mengalihkan pembicaraan tersebut kesoal lain, katanya.

"Sudah setengah harian lamanya kita berbicara, tapi hampir saja melupakan suatu persoalan penting, boleh aku tahu saat ini anggota Sam goan bun yg bertugas menyampaikan berita itu berada dimana?"

"Sebenarnya siauhiap telah membawa berita apa lagi?"

Kim lotoa segera bertanya dg perasaan tegang. Kho Beng segera menggeleng.

"Dijalanan banyak telinga dan mata, tak baik kita bicara ditempat semacam ini."

Kim loji segera manggut-manggut.

"Ya betul! Bagaimana kalau kita pergi kerumah makan Ui hok lu didepan sana..."

Kho Beng jadi tertegun.

"apakah Ui hok lo bukan tempat umum yg lebih terbuka dg aneka macam manusia? Mau apa kita kesana?"

Kim Losam tersenyum.

"Tampaknya Kho Siauhiap masih belum tahu tentang duduk persoalan yg sebenarnya, kini segenap umat persilatan yg sedang mencari jejak iblis tersebut telah berkumpul semua ditelaga Tong ting ini dg mengangkat Liong kiong siancu Kiong Ceng san loya cu dari Kan san sebagai pimpinan sambil melanjutkan usahanya mencari jejak iblis tersebut. Hari ini sudah mencapai hari ketiga, kiong tayhiap sengaja menjadi tuan rumah borong rumah makan Ui hok lo tersebut, selain untuk menjadi tuan rumah yg baik hingga bisa menjamu sesama rekan persilatan dg sebaik-baiknya, disamping itu juga bisa digunakan sebagai tempat bertukar pendapat, kami justru sedang mendapat tugas untuk menerima tamu sebelum bertemu dg siauhiap secara kebetulan tadi."

Dg perasaan terperanjat buru-buru Kho Beng berseru.

"Jadi semua rekan persilatan telah berkumpul diwilayah ini, apakah kalian telah menemukan sesuatu."

Kim Lotoa menghela napas panjang, katanya.

"Lima hari berselang, Tui hun jit kiau(tujuh keahlian pengejar nyawa) Cia tayhiap telah menemui ajalnya dikota Gak yang, oleh sebab itu Siau lim tianglo yg bertanggung jawab dalam soal ini segera menurunkan perintah agar segenap umat persilatan berkumpul disekitar telaga Tong ting dan kota Gak yang sembari melakukan pengepungan, dg cara demikian diharapkan si kedele maut segera akan unjukkan diri, sehingga berita yg anda kirim boleh dibilang tiba tepat pada saatnya, nah silahkan."

Kho Beng semakin gelisah lagi setelah mendengar perkataan itu, dia tak mengira kalau peristiwa tersebut akan berkembang sampai begini, tak heran kalau ketua Sam goan bun mengirim utusan khusus ke telaga Tong ting.

Namun segala urusan menjadi gawat dan amat mendesak untuk beberapa saat pun dia tak berhasil menemukan cara terbaik untuk menanggulangi kejadian tersebut, sampai-sampai berita penting yg semula telah dipersiapkan secara matangpun sekarang jadi bubar tak karuan.

Ya, hal ini memang bisa dimaklumi, persoalannya sudah menyangkut keselamatan jiwa kakak kandungnya tapi semakin dia panik, pikirannya semakink alut dan tak mampu dikonsentrasikan kembali, otomatis diapn tak berhasil menemukan suatu jalan keluarnya.

Sementara itu tiga ruyung raksasa telah mempersilahkan Kho Beng untuk berjalan didepan sedang mereka bertiga mengiring disampingnya, melihat rumah makan Ui hok lo kian lama bertambah dekat, hampir saja Kho Beng kabur dari situ agar bisa berpikir secara tenang.

Tapi dia mengerti, keadaan dan kondisi tidak mengijinkan dia berbuat begini, terpaksa dia melompat langkahnya dg sengaja, agar waktu yg tersisa itu dapat dimanfaatkan untuk mencari jalan keluar.

Betapapun panjangnya jalan yg harus dilalui, akhirnya bakal habis juga, apalagi jarak sejauh seratus kaki sebetulnya dekat sekali.

Akhirnya Kho Beng melangkah masuk kedalam pintu gerbang rumah makan Ui hok lo, pakaiannya yg kering terhembus angin kini basah lagi oleh keringat.

Tapi yg mengalir sekarang bukan keringat panas melainkan keringat dingin karena dia kelewat tegang dan gelisah.

Meski begitu diapun berhasil juga menemukan dua cara terbaik untuk menangulangi dua kemungkinan yg terjadi.

Setelah masuk kepintu gerbang Ui hok lo, Lo sam dari tiga ruyung raksasa dg memburu masuk lebih dulu kedalam ruangan.

Menanti Kho Beng sudah naik ketangga, terdengar suara Kim losam berseru lantang.

"Cianpwee dan rekan-rekan sekalian, Kho siauhiap yg berhasil menemukan jejak iblis itu sudah tiba dibawah loteng ini, kini ia ditemani toako dan jiko ku, siaute sengaja mengabarkan dulu sehingga kita dapat memberikan sambutan yg meriah."

Perkataan itu diucapkan dg penuh rasa bangga dan gembira seakan-akan bisa berjalan bersama Kho Beng sudah merupakan suatu kebanggaan baginya.

Menanti Kho Beng mencapai ujung loteng, tampaklah lima puluhan jago yg berada dalam ruangan tersebut seretak telah bangkit berdiri untuk memberikan sambutannya.

Sambutan yg begitu meriah dan diluar dugaan ini benar-benar mengejutkan Kho Beng, sekalipun dia sudah mempunyai gambaran sebelumnya dari pembicaraannya dg ketiga ruyung raksasa tersebut.

Dibawah sinar lentera yg terang benderang menerangi seluruh ruangan, ditengah ruangan sudah disediakan enam buah meja perjamuan.

Laki perempuan, tua muda meski tidak menunjukkan sikap yg sama ada yg menatap ada juga yg berdiam, ada yg gagah tapi ada juga yg tenang, naun sorot mata mereka rata-rata tajam seperti sembilu.

Dari sini dapat diketahui bahwa sebagian besar yg hadir adalah jago-jago persilatan kelas satu yg memiliki kepandaian silat amat tinggi didalam dunia persilatan.

Tampak seorang kakek bermuka merah berjenggot panjang yg duduk dimeja tengah segera menjura kepada Kho beng sambil tertawa terbahak-bahak, kemudian serunya.

"Baru siang hari tadi beritanya tiba, kini orangnya sudah mncul, siauhiap benar-benar naga diantara manusia, mewakili segenap umat persilatan yg hadir kuucapkan salut dan kegembiraan kami untuk menyambut kedatangan anda."

Kim Lotoa yg berada disisinya segera menyela.

"Siauhiap, cianpwee ini adalah Liong kiong sincu, Kiong tayhiap dari Kun san yg termasyur diseantero jagat."

Kho Beng segera menjura pula kepada kakek itu sambil sahutnya.

"Kiong locianpwee terlalu memuji, padahal menyelidiki jejak iblis sudah menjadi kewajiban dari kita umat persilatan, janganlah bersikap begitu menghormat, aku yg muda menjadi rikuh rasanya...."

Kemudian sambil menjura kepada kawanan jago lainnya, ia berkata pula.

"Silahkan cianpwee sekalian melanjutkan daharnya, maaf bila kehadiran aku yg muda telah mengganggu kegembiraan kalian."

Lima puluhan jago persilatan itu segera membalas hormat, suasana menjad gaduh. Sambil tertawa tergelak kembali Kiong Ceng san berkata.

"Bagus, bagus sekali, meski membuat pahala namun tidak sombong, memang begitulah ciri sejati dari seorang pendekar muda, mari kita siapkan tempat duduk buat Kho siauhiap, aku mesti menghormatinya dg tiga cawan arak."

Seruan tersebut segera disambut dg kerepotan sangat, para pelayan segera menyiapkan kursi sumpit dan cawan, sementara para jago yg duduk dimeja utama sama-sama bergeser untuk meluangkan sebuah tempat kosong.

Tiga ruyung raksasa segera mempersilahkan Kho Beng enempati meja perjamuan utama, persis duduk bersebelahan dg Liong kiong sincu, sementara mereka sendiri duduk diluar lingkaran meja perjamuan yg tersedia.

Situasi seperti ini tentu saja amat mengejutkan Kho Beng, sampai dia menjadi tegang sekali.

Sejak kecil dia sudah hidup terlantar dan menyendiri, setelah terjun kedalam dunia persilatan, diapun belum pernah menjumpai keadaan seperti ini, terutama sanjungan serta penghormatan seperti yg begini tinggi.

Apalagi setelah dia saksikan pembagian tenpat duduk berbentuk bunga bwee itu, sekalipun sepintas lalu tak nampak perbedaannya, namun dalam kenyataan pembagian dalam tingkatan kedudukan dilakukan sangat telit.

Seperti halnya dg tiga ruyung raksasa, mereka hanya kebagian tempat duduk diurutan paling bawah dekat mulut tangga, jelas menunjukkan kalau kedudukan mereka adalah tingkat paling rendah diantara para jago yg hadir.

Padahal saat ini dia duduk dikursi utama, hal ini menunjukkan kalau dia sangat dihormati,

Jilid 08 Apa sebabnya dia bisa peroleh penghormatan setinggi ini?

Tak perlu ditebak pun sudah jelas.

Hal ini disebabkan Kho Beng berhasil membongkar kedok rahasia daei si Kedele Maut hingga membuat sebuah pahala besar.

Atau dg kata lain dialah yg kemungkinan besar akan mendapatkan Buddha Emas dari Siau lim pay dan panji perak dari Bu tong pay, jelas masa depannya amat cemerlang.

Tapi siapa pula yg menduga bahwa sesungguhnya Kedele Maut adalah kakak kandung Kho Beng sendiri?

Kho Beng yang berada dibawah perhatian beratus mata benarbenar merasa sangat tidak tenang, bagaikan duduk dikursi berjarum, dia tidak bisa melukiskan bagaimanakah perasaannya waktu itu.

Ketika melihat Kiong ceng san menghormatinya dg arak, meski Kho Beng tak pandai minum, dalam keadaan demikian dia memang perlu meminjam pengaruh alkohol untuk membangkitkan semangatnya, maka tanpa berpikir panjang dia meneguk tiga cawan arak dan membalas dg tiga cawan pula.

Setelah enam cawan masuk keperut, mukanya mulai merasa panas dan semangatnya berkobar pula, tapi ketika jago lain ikut menghormatinya dg arak, pemuda itu mulai mengeluh.

Bila ditolak hal ini berarti tidak menghormati orang lain, jika tidak ditampik, ia pasti akan mabuk padahal keselamatan jiwa encinya sedang terancam...

Untunglah disaat inilah tiga ruyung raksasa dapat menyelamatkan Kho Beng dari kesulitan.

Buru-buru Kim lotoa berdiri seraya berkata.

"Para cianpwee dan saudara sekalian, baru saja Kho siauhiap tiba disini, sewaktu ditemukan kedua ekor kudanya sudah roboh dan siauhiap sendiri mandi peluh, konon ada berita yang lebih penting lagi hendak disampaikan, aku rasa kita tidak boleh menunda-nunda kesempatan siauhiap untuk berbicara. Ternyata perkataan tersebut segera mendatangkan hasil yg luar biasa, diiringi seruan kaget para jago bersama-sama menghentikan perbuatannya dan duduk kembali dg wajah tegang. Dibawah perhatian begitu banyak orang, seketika itu juga Kho Beng merasakan tekanan yg sangat berat, buru-buru dia berkata.

"Yaa, hampir saja aku melupakan suatu persoalan besar padahal sejak pagi tadi aku menyusul kemari dg menggunakan dua ekor kuda secara bergantian dg menempuh perjalanan sejauh dua ratus li lebih, sebetulnya ada berita tentang Kedele Maut yg hendak kusampaikan..."

Begitu perkataan tersebut diucapkan, seruan kaget kembali bergema memenuhi seluruh ruangan. Sekali lagi paras muka Liong kiong sincu Kiong ceng san berubah hebat, segera tanyanya.

"Apakah kau berhasil mendapatkan penemuan baru?"

Dg berlagak serius Kho Beng berkata.

"Pagi tadi aku telah mendapat serangan gencar, pihak lawan dg segenggam kedele yg dusebarkan seperti bunga hujan mengancam tubuhku dg hebat, andaikata aku tidak tahu diri dan pandai menunggang kuda, mungkin jiwaku telah melayang sejak pagi tadi."

Dg wajah berubah hebat Liong kiong sincu berseru tertahan.

"Kau mengatakan si Kedele Maut telah menyergapmu?"

Kho Beng manggut-manggut.

"Yaa, yg kumaksudkan memang Kedele Maut, disamping itu akupun perlu menerangkan kepada cianpwee sekalian bahwa Kedele Maut telah muncul dg wajah aslinya, ternyata dia adalah seorang peempuan berambut hitam yg berusia tiga puluhan dan bermuka jelek seperti kuntil anak, sebaliknya dua perempuan yg meski berparas agak lumayan namun dandananya justru kebanci-bancian, mirip sekali dg bocah bodoh..."

Keterangan bohong yg diutarakan olehnya ini segera menimbulkan seruan kaget daris seluruh jago yg ada. Tak tahan lagi Liong kiong sincu berseru.

"Menurut utusan yg dikirim dari Sam goan bun dijelaskan bahwa Kedele Maut adalah seorang nona berusia dua puluhan berwajah cantik jelita dan menggunakan payung sebagai senjata, sedang dua orang dayangnya menggunakan ikat pinggang perak, apakah utusan dari Sam goan bun telah salah menyampaikan...? "Tidak, berita dari utusan Sam goan Bun memang begitulah keterangannya."

"Lalu apa sebabnya wajah kedele maut bisa berubah lagi?"

Tanya Liong kiong sincu tak habis mengerti.

"Menurut dugaanku, bisa jadi Kedele maut yg kujumpai untuk yg pertama kalinya dikota Tong sia tempo hari adalah wajah penyamaran mereka."

Mendengar keterangan tersebut, Liong kiong sincu segera menghela napas panjang.

"Aaaai, kalau begitu pengepungan kita yg ketat disekitar Gak yang dan telaga Tong ting kembali akan sia-sia belaka?"

"Kiong tayhiap jangan keburu putus asa!"

Mendadak dari sisi Kho Beng berkumandang seruan yg berat tapi penuh bertenaga.

Cepat-cepat Kho Beng berpaling, ternyata sipembicara adalah seorang pendeta tua beralis mata putih yg waktu itu sedang mengawasi kearahnya dg pandangan tajam.

Kho Beng sangat terkejut setelah menghadapi kejadian ini, dia tak tahu siapakah pendeta tua ini sebab Kiong ceng san belum sempat memperkenalkan kawanan jago itu satu persatu kepadanya.

Yg membuat dia tak tenteram adalah ketajaman mata sang pendeta yg ibarat pisau tajam siap menyayat hatinya itu, pandangan semacam itu terasa tajam dan menggidikkan hati.

Dia seakan-akan mencurigai Kho Beng tapi seperti juga sedang mencari sesuatu dari tubuh pemuda tersebut, pokoknya pandangan tersebut mengartikan banyak sekali tapi justru karena banyak mengandung maksud hingga pada hakekatnya susah dicernakan dg begitu saja.

Satu ingatan dg cepat melintas dalam benak Kho Beng, pikirnya.

"Mungkinkah dibalik keteranganku tadi terdapat titik kelemahannya? Ataukah mungkin dia sudah mengetahui rencanaku?"

Sementara dia termenung, pendeta tua itu sudah berkata dg suara dalam.

"Siau sicu banyak hal yg tidak kupahami, bersediakah sicu memberi keterangan?"

"Tentu saja, silahkan taysu bertanya?"

"Darimana siau sicu bisa mengatakan bahwa orang yg menyerangmu pagi tadi adalah si kedele maut?"

Terhadap pertanyaan semacam ini Kho Beng memang telah menyiapkan jawabannya, maka sambil tersenyum segera jawabnya.

"Dalam dunia persilatan dewasa ini, selain Kedele Maut, siapa pula yg menggunakan biji kedele sebagai senjata rahasianya? Apalagi sekalipun wajahnya telah berubah namun senjata yg digunakan tetap berupa payung bulat, kalau tidak mana berani kukatakan seyakin ini?"

Pendeta itu segera manggut-manggut, dia kembali berkata.

"Perkataan itu benar juga, apalagi jika dilihat dari tindakan Kedele Maut yg melanggar kebiasaannya dg menyerangmu disiang hari, jelas kalau dia telah berniat membunuhmu, hanya saja masalah yg ingin kuketahui adalah atas dasar apa sicu dapat mengatakan secara yakin bahwa kedele maut yg kaujumpai hari ini adalah wajah aslinya sedang wajah yg kau jumpai dikota Tong sia adalah wajah palsu hasil penyaruannya?"

Dg cepat Kho Beng telah menyadari akan kelihaian si pendeta tua ini, sebab setiap pertanyaannya boleh dibilang seperti pisau tajam yg langsung menusuk ulu hati, andaikata ia tidak melakukan persiapan secara matang sudah pasti semua kebohongannya akan terbongkar.

Maka dg wajah yg kalem dia menjawab.

"Memang sangat beralasan bila taysu mengemukakan kecurigaannya, tapi aku bisa berkata demikian karena berdasarkan dua buah kesimpulan yg kubuat. Pertama, kejadian yg berlangsung pada hari ini terjadi dipagi hari, aku dapat melihat wajahnya dg lebih jelas, terbukti pihak lawan memang tidak mengadakan penyamaran karena kulit wajahnya sewarna dg kulit tangannya, jadi dia tidak mungkin memakaii kedok, sebaliknya dikota Tong sia, hal itu terjadi tengah malam, segala sesuatu yg terlihat sukar dipastikan kebenarannya. Dg dua kali perjumpaan dalam saay yg berbeda serta bentuk yg berbeda pula, maka setelah kupikirkan kembali secara masak-masak, akhirnya kusimpulkan penampilannya pagi tadi barulah merupakan wajah aslinya. Kedua, biarpun dalam dua kali perjumpaan ia muncul dg dua wajah yg berbeda, semua senjata yg digunakan tak berubah, sedang jumlah mereka yg bertiga satu majikan dua dayang pun tak berbeda pula, ditambah lagi nada perkataannya sewaktu hendak membunuhku, sudah pasti dia adalah Kedele Maut. Nah, atas dasar dua hal inilah kusampaikan beritaku tadi. Apakah taysu masih ada yg tidak jelas?"

Pendeta tua itu terbungkam dalam seribu bahasa, tapi wajahnya masih susah diduga bagaimanakah perasaannya sekarang, mukanya tetap tawar dan tatapan matanya tetap tajam, kesemuanya ini membuat Kho Beng tak bisa menduga apa gerangan yg sedang dipikirkan hwesio tersebut.

Liong kiong Kiong ceng san segera menghela napas panjang, katanya.

"Sekalipun penjagaan dan pengepungan yg kita lakukan sangat rapat, mata-mata tersebar dimana-mana dan pos penjagaan berlapis-lapis, namun setelah dilihat dari kenyataannya sekarang, sekalipun Kedele maut belum sampai lolos dari wilayah disekitar sini, rasanya untuk berhasil menangkap mereka pun belum tentu menjadi kenyataan."

Para jago lainnya sama-sama terbungkam dg wajah lesu, jelas keputus asaan Kiong ceng san telah mencerminkan pula perasaan dari kawanan jago lainnya.

Kho Beng segera merasa inilah saat baik untuknya mengundurkan diri, mencari tempat dan berdiam sendirian untuk berpikir lebih jauh, dia ingin memeriksa apakah semua rencananya telah sempurna atau belum, bila terjadi perubahan berarti dia masih sempat menghadapinya dg cara kedua yg telah dipersiapkan.

Tapi ia percaya, dg perbuatannya itu maka tujuannya mengacaukan berita yg sesungguhnya telah tercapai, paling tidak, hal tersebut akan menambah kesulitan dan kebingungan kawanan jago tersebut.

Dg demikian iapun berhasil pula merebut sedikit waktu, agar kakak kandungnya berupaya untuk meloloskan diri dari kepungan pengawasan kawanan jago yg berada seratus li disekeliling telaga Tong ting dan kota Gak yang.

Maka dg berlagak sangat lelah karena menempuh perjalanan jauh, ia menjura kepada para jago disekeliling tempat itu sambil katanya lagi.

"Sejak mengalami penyergapan sampai melakukan perjalanan jauh ketempat ini, aku yg muda belum sempat beristirahat barang sekejappun, aku merasa amat lelah dan mohon maaf jika aku yg muda harus undur diri lebih dulu untuk beristirahat."

"Aaaai benar! Aku tidak berpikir sampai kesitu."

Liong kiong sincu Kiong ceng san segera berkata.

"Kalau begitu biar kumohon tiga bersaudara Kim untuk menemani siauhiap beristirahat ditepi telaga, besok pagi aku akan mengirim orang lagi untuk mengundang sauhiap."

Kho Beng mengucapkan terima kasih dan segera meninggalkan tempat duduknya.

Saat itulah pemuda itu merasa ada sepasang mata yg amat tajam sedang mengawasinya tanpa berkedip.

Pandangan semacam itu delapan puluh persen persis seperti pandangan si pendeta tua tadi.

Pandanga itu beraal dari meja kedua dekat dinding, maka buruburu ia melirik sekejap kesana, ternyata dia adalah seorang sastrawan setengah umur yg memakai baju hitam, wajah orang itu terasa asing baginya.

Sekali lagi Kho Beng merasakan hatinya bergetar keras, tanpa terasa kewaspadaannya ditingkatkan...

Ia sadar, berhasil atau tidaknya tipu daya yg sedang dilaksanakan untuk melindungi keselamatan jiwa encinya, bisa jadi akan tergantung pada tindakan yg akan dilakukan sastrawan berbaju hitam serta pendeta tua itu.

Biarpun hati kecilnya merasa terkejut, namun paras mukanya sama sekali tidak berubah, dg langkah yg amat santai ia menuruni rumah makan Ui hok lo.

Dibawa bimbingan tiga cambuk Kim kong sam pian, berangkatlah pemuda itu menuju kewisma yg berada ditepi telaga.

Jarak antara wisma dg rumah makan Ui hok lo hanya beberapa kaki, bangunan itu menghadap kearah telaga dg sisi kanannya menghadap pintu gerbang kota Gak yang, sebelah kiri menghadap rumah makan Ui hok lo dan belakangnya menempel bukit Kun san.

Sesungguhnya tempat itu merupakan tempat yg amat strategis.

Akhirnya Kho Beng diajak masuk keruang sebelah kiri dideretan kedua wisma itu.

Sebelum berpamitan, Kim lotoa sempat berpesan.

"Sauhiap, bila kau membutuhkan sesuatu, silahkan saja minta kepada petugas wisma, besok pagi kami akan datang menjenguk sauhiap lagi."

Buru-buru Kho Beng mengucapkan terima kasih.

Sepeninggalnya Kim kong sam pian, iapun menutup pintu dan naik kepembaringan untuk mengendorkan urat-urat badan.

Walaupun rasa lelah dan mengantuk datang menyerang secara bertubi-tubi, Kho Beng tak berani memejamkan mata barang sekejappun, sorot mata sastrawan berbaju hitam dan pendeta tua yg tajam mengiriskan itu selalu berkecamuk didalam benaknya.

Kesemuanya itu membuat anak muda ini mau tidak mau mesti meningkatkan kewaspadaannya agar dapat menghadapi setiap perubahan setiap saat.

Maka dia memaksakan diri menahan rasa kantuk dan lelah yg luar biasa dan duduk bersila diatas pembaringan, lalu mengatur napas menurut ajaran si Unta sakti berpunggung baja.

Setelah mengatur pernapasannya tiga kali, pelan-pelan Kho Beng mulai merasakan hatinya tenang, pikirannya kosong dan memasuki tahap lupa akan sekelilingnya.

Siapa tahu pada saat itulah tiba-tiba pintu kamar dibuka orang, kemudian tampaklah sesosok bayangan manusia menyusup kedalam kamar...

Mendengar desingan suara itu segera Kho Beng membuka matanya kembali, ternyata orang yg menyusup kedalam ruangannya tak lain adalah sastrawan berbaju hitam.

Dg perasaan terkesiap cepat-cepat ia melompat bangun lalu dg lagak keheranan ia menegur.

"Ooooh rupanya saudara, ada urusan apa sih?"

Setelah merapatkan kembali pintu kamar, Sastrawan berbaju hitam itu mengawasi wajah Kho Beng dg pandangan yg amat tajam, kemudian pelan-pelan ia baru bertanya dg suara berat dan dalam.

"Aku hanya ingin bertanya kepada sauhiap, apakah dalam sakumu terdapat suatu benda?"

"Benda apa yg saudara maksudkan?"

Tanya Kho Beng setelah diam-diam tertegun sejenak.

"Sebuah lencana kemala hijau bergambar naga."

Sekali lagi Kho beng merasakan hatinya bergetar keras, segera tegurnya dg suara dalam.

"apa maksudmu menanyakan persoalan ini?"

Dg sikap yg tetap dingin dan kaku, sastrawan berbaju hitam itu berkata.

"Sauhiap masih ingat dg orang yg meninggalkan uang di Kwan tong dan tak pernah muncul kembali?"

Kho Beng menjadi tertegun, setelah agak ragu sejenak, bisiknya.

"Jadi kau....kau adalah..."

"Aku Li sam"

Tukas sastrawan berbaju hitam itu.

"Nah sekarang sauhiap dapat memberi penjelasan."

"Li sam..? Li sam..?"

Kho Beng mengulangi nama tersebut sampai beberapa kali. Mendadak ia merasakan semangatnya berkobar, kejut dan gembira segera serunya.

"Jadi kau adalah Li sam yg dimaksudkan Kho lo tia."

Sikap sastrawan berbaju hitam yg semula dingin dan kaku, tibatiba saja berubah menjadi amat sedih, bisiknya lirih.

"Kalau begitu, sauhiap adalah majikan kecil dari Li sam, sungguh amat sengsara hamba mencari jejakmu..."

Sembari berkata, ia segera menjatuhkan diri berlutut diatas lantai... Buru-buru Kho Beng membangunkannya, seraya berbisik.

"Kakak Li sam, harap kau jangan memanggil aku dg sebutan tersebut, bolehkah aku tahu apa hubunganmu dg Kho lo tia?"

"Kami adalah guru dan murid"

Sahut Li sam dg sikap menghormat.

"Hamba sudah lima belas tahun lamanya belajar silat dari dia orang tua..."

"Kho lo tia sangat berhati baik dan setia kepada ayahku, diapun banyak melepaskan budi kebaikan kepada aku Kho beng, dan selanjutnya kita saling menyebut saudara saja, biar kusebut kau Sam toako."

Beberapa patah kata itu diucapkannya dg nada tulus dan jujur. Dg perasaan gugup Li sam segera berseru.

"Aaaah, hal ini mana boleh jadi? Selama lima belas tahun terakhir hamba selain mendengar suhu membicarakan soal majikan muda, ia minta kepadaku untuk berbakti dan setia kepadamu, hubungan kami tak boleh lebih dari hubugnan antara majikan dan hamba, biar hamba bernyali setinggi langit pn tak berani membangkang pesan guruku ini."

Dalam keadaan seperti ini Kho Beng enggan ribut dgnya, maka kembali ujarnya dg sedih.

"Apakah kau sudah tahu bahwa Kho lo tia tewas dibokong orang?"

Dg air mata bercucuran Li sam mengangguk.

"Gara-gara ada urusan, hamba datang terlambat, waktu majikan telah pergi meninggalkan tempat tersebut. Tapi dari penyelidikan hamba sudah terbukti bahwa suhu tewas dikarenakan jarum pembeku darah penghancur tulang Kiang Thian kut, kini jenasah suhu sudah kukebumikan!"

"Sam ko, segala sesuatunya tak usah terburu-buru diselesaikan,"

Hibur Kho Beng dg suara dalam.

"Semua dendam sakit hati mari kita catat dulu menjadi satu, kemdian baru kita tuntut balas satu persatu, mari kita duduk dulu sambil berbincang bincang.

"Tidak"

Tukas Li sam cepat.

"Kedatangan hamba kemari karena ingin memberitahukan suatu urusan penting kepadamu, Majikan kau segera meninggalkan tempat ini!"

"Sebenarnya apa sih yg terjadi?"

"Tahukah majikan muda bahwa Kedele Maut yg digembar gemborkan orang selama ini sesungguhnya enci kandungmu sendiri?"

Kho Beng segera menghela napas panjang.

"Aaaai...justru lantaran aku terlambat mengetahui asal usulku yg sebenarnya sehingga kesalahan yg amat besar ini telah kuperbuat. Justru karena persoalan inilah tergesa-gesa aku datang kemari dg maksud hendak menanggulanginya secepat mungkin..."

"Majikan muda"

Kata Li sam sambil menghela napas pula.

"Walaupun tindakanmu ini sangat pintar, namun dapatkah kau kelabui kawanan rase-rase tua itu? Mumpung sekarang masih ada kesempatan, cepatlah pergi meninggalkan tempat ini, aku kuatir bila sedikit terlambat lagi, kau tak akan punya waktu untuk meloloskan diri."

Biarpun dalam hati kecilnya Kho Beng merasa amat tegang, namun setelah dipikir sebentar, segera jawabnya lekas.

"Tidak! Aku mesti menyelesaikan dulu persoalan ini sampai sejelas-jelasnya, aku rasa bohongku barusan sangat rapi dan tiada hal-hal yg mencurigakan, bagaimana mungkin mereka bisa mengetahui kebohonganku itu?"

"Majikan muda, walaupun alasan yg kau kemukakan memang sangat jitu dan hebat, namun gerak gerikmu justru sangat mencurigakan."

"Apakah maksudmu si pendeta tua yang menaruh curiga kepadaku?"

Tanya Kho Beng kemudian sambil berkerut kening. Li sam manggut-manggut.

"Majikan muda, tahukah kau siapakah si keledai gundul itu?"

"Siapakah dia?"

"Dia adalah Bok sian tianglo, salah satu diantara Ngo heng ngo cun lima sesepuh lima unsur dari ruang Tat mo wan kuil Siau lim si"

Kho Beng merasa terperanjat sekali, serunya tertahan.

"Aaai, rupanya dialah Bok isan tianglo dari Siau lim pay, waaah....celaka!"

"Persoalannya mah belum sampai serunyam itu, meski si keledai gundul itu sudah menaruh kecurigaan terhadap majikan muda, namun ia belum berani memastikan secara seratus persen bahwa apa yg dikatakan majikan hanya bohong belaka."

"Sebetulnya dari persoalan manakah, si keledai gundul itu bisa menemukan penyakitku?"

"Keledai gundul itu beranggapanmeski apa yg dikatakan majikan masih sukar dibedakan antara sungguh dan tidaknya, namun tindakanmu datang ketelaga Tong ting ini justru menimbulkan masalah besar. Sebab kalau dibilang kau sedang kabur menyelamatkan diri, jalan raya yg menebus keseluruh negeri toh luas dan banyak, mengapa kau justru begitu kebetulan memilih jalan yang yang menuju ketelaga Tong ting? Sebaliknya kalau dibilang kau khusus datang kemari untuk menyampaikan kabar, mengapa berita tersebut tidak kau sampaikan dulu kepada rekan-rekan persilatan yg lain tapi justru jauh-jauh datang ketelaga Tong ting ini? Bukankah tindakan semacam ini jauh dari kebiasaan?"

Kho Beng segera merasakan hatinya menjadi lega setelah mendengar perkataan itu, katanya sambil tertawa ringan.

"Siapa bilang didunia ini tiada kejadian yg kebetulan? Kalau hanya masalah ini yg menjadi titik pangkal kecurigaan keledai gundul itu, aku percaya masih mampu merebut kepercayaan orang lain terhadap diriku!"

"Majikan"

Kembali Li sam memperingatkan dg suara dalam,"konco sikeledai gundul itu sudah mengetahui asal-usulmu yg sebenarnya, malah sejak mula pertama ia sudah menaruh curiga kalau sikedelai maut sebenarnya adalah enci kandungmu.

Atas dasar inilah ia lantas menduga kalau kedatanganmu kemari bisa jadi ada sangkut pautnya dg Keledai Maut itu!"

Sekali lagi Kho Beng merasakan hatinya tercekat, agak terperanjat ia berseru.

"Lihay benar bajingan gundul itu, jadi persoalan inilah yg kau kuatirkan? Tahukah kau tindakan apakah yg hendak mereka perbuat terhadap diriku?"

"Tadi Bok sian sipendeta bajingan itu telah menyelenggarakan rapat rahasia dg ketua istana naga sekalian beberapa orang penanggung jawab dalam operasi ini, hasil rapat tersebut ditetapkan bahwa penjagaan yg dilakukan sekarang tetap dilangsungkan seperti semula, bahkan mereka pun akan mengutus orang untuk mengawasi majikan secara diam-diam, setelah itulah mereka akan mengirim utusan menuju ke Pek eng tong."

"Mengapa mengirim utusan ke Pek eng tong?"

"Dewasa ini, hanya anak murid yg berasal dari Gin san siancu (Dewi payung perak) yg mempergunakan senjata payung dan angkin sebagai senjata andalannya untuk mengarungi dunia persilatan. Oleh sebab itulah keledai gundul itu memutuskan akan mengirim utusan kesana untuk mencari bukti atas hal tersebut."

"Apakah enciku memang anak murid Dewi payung perak?"

Li sam manggut-manggut.

"Yaa benar, dugaan mereka kali ini memang tepat sekali."

Kho Beng segera menghela napas panjang.

"Aaaai....kalau begitu, asal usul cici bakal terbongkar sama sekali...?"

"Dalam soal ini majikan tidak perlu kuatir"

Kata Li sam sambil tersenyum.

"Keberangkatan mereka ke Pek eng tong kali ini pasti tidak menghasilkan apa-apa!"

"Mengapa demikian?"

"Sebab Dewi payung perak telah menghadiahkan segenap tenaga dalam yg dimiliki kepada cicimi dg ilmu Kay goan koan tong, atas perbuatannya ini beliau telah menghembuskan napasnya yang terakhir, itulah sebabnya utusan mereka bakal Cuma menemukan sebuah kuburan dg batu nisan belaka."

"Darimana sam toako bisa memperoleh begitu banyak kabar berita?"

Tanya Kho Beng sesudah termangu sejenak. Sekulum senyum bangga segera menghiasi wajah Li sam.

"Saat ini hamba sudah menjadi salah satu orang kepercayaan dari Bok sian sibajingan gundul itu, jadi semua rahasia mereka tak akan lolos dari pendengaranku, he...he....he...., tentu saja mereka tidak pernah akan menduga kalau aku Li sam adalah mata-mata dari Kedele Maut!"

"Bagus sekali perbuatanmu ini"

Puji Kho Beng sambil menepuk -nepuk bahunya.

"Perbuatan sam toako memang tak bakal diduga sama sekali olehnya, mereka pasti akan kebobolan kali ini.."

"Ketika hamba kemari mereka sedang melakukan perundingan rahasia"

Tukas Li Sam tiba-tiba ,"Aku rasa perundingan itu sudah pasti sudah usai sekarang, nah majikan muda kau harus segera mengambil keputusan!"

Setelah termenung sejenak, Kho Beng bertanya lagi.

"Sam toako, dimanakah ciciku sekarang?"

"Nona masih berada didalam kota Gak yang. Aaai....sebenarnya ia telah memutuskan akan berangkat malam ini, tapi sejak berita yg dibawa pihak Sam goan bun tiba disini, ketua istana naga Kiong Ceng san telah menyebar luaskan identitas Kedele Maut kepada segenap umat persilatan yg berada diseputar kawasan ini, aku rasa penjagaan yg mereka lakukan telah diperketat sehingga sulit rasanya bagi nona untuk meloloskan diri."

Baru selesai itu diutarakan, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki manusia bergema dari luar pintu kamar. Li sam kelihatan amat terkejut, buru-buru bisiknya lagi.

"Ada orang datang, hamba tak bisa berdiam lagi disini. Majikan, lebih baik kau segera tinggalkan tempat ini, soal keselamatan nona serahkan saja kepada hamba, nah aku pergi dulu."

Habis berkata ia segera membuka jendela belakang, lalu tanpa menimbulkan sedikit suarapun ia menyelinap dan lenyap dibalik kegelapan sana.

Sementara itu suara langkah menusia telah tiba dimuka pintu, Kho Beng berpikir sejenak lalu cepat-cepat naik keatas pembaringan, melepaskan pakaian dan sepatunya lalu menyelimuti badannya dg selimut dan pura-pura tidur.

Hampir pada saat yg bersamaan tiba-tiba pintu kamar dibuka orang dan masuklah seorang pendeta gundul beralis putih yg membawa sebuah tongkat.

Ternyata orang ini tak lain adalah Bok sian tianglo dari Siau lim pay, orang yg mendatangkan was-was bagi Kho Beng.

Disatu pihak Kho beng baru saja berpura-pura tidur, dipihak lain pintu dibuka orang secara tiba-tiba, kedua kejadian tersebut boleh dibilang berlangsung pada saat yg hampir bersamaan.

Diam-diam Kho Beng merasakan hatinya berdebar keras, ia tak tahu siapakah yg munculkan diri waktu itu, sedang dalam hati kecilnya diam-diam mengkuatirkan identitas sendiri yg terbongkar.

Sementara itu Bok sian tianglo nampak agak tertegun ketika melihat Kho Beng sedang tidur nyenyak diatas pembaringan, alis matanya segera berkerenyit, selintas perasaan bimbang menguasai hatinya.

Tapi sesaat kemudian ia telah menegur dg lirih.

"Sau sicu, apakah kau belum mendusin?"

Dari suara teguran itu, Kho Beng segera mengenali suara Bok sian tianglo, jantungnya berdetak makin keras.

Dalam detik itu, ia tak bisa menduga apa maksud dan tujuan kedatangan hwesio itu kedalam kamarnya, iapun tak tahu jawaban apa yg mesti diberikan atas pertanyaan itu, menyahut?

Ataukah membungkam saja?

Dalam waktu singkat ia dapat menarik kesimpulan, andaikata ia bangun untuk memberikan jawaban, perbuatannya ini bakal mendatangkan banyak titik kelemahan, tapi andaikata berlagak pulas dg nyenyak, hal inipun dangat mencurigakan, sebab mana ada orang persilatan yg tidak menaruh kewaspadaan meski selagi pulas?

Dari dua pertimbangan ini, Kho Beng merasa lebih baik memilih sikap yg lebih gampang dihadapi, ia merasa ada baiknya segera bangun dari tidurnya dan menghadapi hwesio tersebut.

Sebab ia berpendapat, bila ia tetap berlagak tidur terus, tindakan ini dimata seorang jago kawakan yg berpengalaman luas justru akan menimbulkan kecurigaan yg jauh lebih besar lagi.

Begitu keputusan diambil, dia pura-pura menguap keras dan menjawab sekenanya.

"Siapa disitu?"

Pelan-pelan ia bangkit dari tidurnya dan menatap wajah Bok sian tianglo sambil mengucek-ngucek matanya. Bok sian taysu tersenyum, sambil merangkap tangannya didepan dada ia memberi hormat, sapanya.

"Sau sicu, nyenyak benar tidurmu, maafkan kedatangan lolap yg kelewat ceroboh..."

Kho Beng tidak membiarkan hwesio itu menyelesaikan katakatanya, dg berlagak terkejut buru-buru ia mengenakan sepatunya lalu turun dari pembaringan dan memberi hormat sambil berkata.

"Ooooh, rupanya taysu. Maaf kalau aku yg muda kurang hormat karena terlelap tidur."

"Sau sicu kelewat merendah"

Bok sian taysu tersenyum ,"Apakah sau sicu sudah merasa segar kembali?"

Sambil berkata ia duduk ditepi meja.

"sEtelah beristirahat sebentar, rasa penat memang rada hilang, tapi....ada urusan penting apakah taysu datang kemari?"

Walaupun diluar ia bersikap sopan dan merendah, padahal diamdiam hawa murninya telah disiap-siagakan, dg tenang ia siap menghadapi segala kemungkinan yg tak diinginkan.

Tampaknya Bok sian taysu tidak menaruh niat jahat, sikapnya tetap ramah dan serius ketika mendengar pertanyaan itu, ia segera menyahut sambil tersenyum.

"Oooh, ketika pertemuan baru bubar tadi, lolap hanya sekalian datang menjengukmu, aku kuatir sau sicu kelewat penat sehingga aku sengaja datang untuk menghadiahkan sebutir pil Gi goan kim wan untukmu."

Sambil berkata ia segera merogoh kedalam sakunya dan mengeluarkan sebutir pil emas sebesar kacang kedele yg segera diangsurkan kehadapan Kho Beng.

Penghormatannya ini bukan saja membuat Kho Beng menjadi tertegun, bahkan satu ingatan segera melintas didalam benaknya.

"Bukankah dia berniat hendak menghabisi nyawaku? Mengapa malah menghadiahkan sebutir pil mestika dari Siau lim pay? Janganjangan isi pil tersebut adalah obat beracun?"

Tapi diluarnya ia bersikap ramah, malah tanpa ragu diterimanya pil itu sambil mengucapkan terima kasih tiada habisnya.

"Maksud baik taysu tak berani kutampik, pemberian ini cukup membuat aku yg muda merasa bahagia sekali!"

Habis berkata ia segera memasukkan pil itu kedalam mulut dan menelannya dg cepat.

Diam-diam ia telah memutuskan, demi keselamatan encinya, sebelum rencana keduanya berjalan menjadi kenyataan, dia tak ingin memperlihatkan sesuatu perbuatan yg mencurigakan.

Ini berarti, sekalipun pil itu benar-benar racun, dg pertaruhkan selembar jiwanya, ia tetap akan menelannya, paling banter disaat racun itu mulai bekerja, dia akan melancarkan serangan terakhir dg sepenuh tenaga.

Ketika pil itu menggelinding masuk kedalam perutnya, bau harum segera menyebar kemana-mana, semangatnya menjadi segar kembali, terbukti betapa mujarabnya pil mestika dari Siau limpay.

Kho Beng yg dicekam rasa tegang, pelan-pelan menjadi lega kembali.

Ia tahu pil tersebut bukan racun, tapi apa maksud Bok sian taysu yg sebenarnya?

Persoalan ini menimbulkan tanda tanya besar dalam benaknya....

Sementara itu Bok sian taysu berkata sambil tersenyum ramah.

"Sau sicu, kau jangan kelewat merendah kepada lolap. Oya...mari duduk, kita berbincang-bincang sebentar."

"Terima kasih taysu"

Sahut Kho Beng dg sikap menghormat.

Diluar ia bersikap sungkan-sungkan dan menaruh hormat, sebaliknya secara diam-diam tenaga dalamnya telah dihimpun menjadi satu siap menghadapi segala kemungkinan yg tak diinginkan.

"Bagaimana perasaan sau sicu sekarang?"

Tanya Bok sian taysu lagi.

"Tubuhku menjadi segar, kepenatan hilang tak berbekas, nyata sekali obat mestika dari Siau lim pay memang sangat hebat."

Kembali Bok sian taysu tersenyum.

"Barusan lolap telah cekcok dg Kiong tayhiap gara-gara satu masalah, sau sicu kau sebagai anak muda tentu berpandangan lebih terbuka, lolap harap sau sicu dapat memberikan pula pendapatnya tentang persoalan tersebut."

"Taysu terlalu memandang tinggi kemampuan aku yg muda, padahal aku masih muda, kurang pengalaman dan berpengetahuan sangat rendah, bagaimana mungkin bisa dibandingkan dg Kiong locianpwee? Aku kuatir harapan taysu akan menjadi sia-sia belaka!"

Walaupun dia ingin mengetahui persoalan apakah yg dimaksud Bok sian taysu, akan tetapi diapun sadar bahwa lawannya licik dan lihay, dalam menghadapi setiap masalah dia harus hati-hati, karenanya daripada mencari permusuhan atau menyakiti hati lawan, lebih baik ia berusaha mengumpak dan memakaikan topi kebesaran diatas kepalanya.

Benar juga umpakan tersebut segera termakan, sambil tertawa terbahak-bahak Bok sian taysu segera berkata.

"Sau sicu sendiri pun kelewat merendah, pernah kau dengar pepatah yg mengatakan Sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya toh akan terjatuh juga? Siapa bilang orang pintar tak bisa menjadi bodoh disuatu ketika....?"

"Kalau toh taysu ingin bertanya, tentu saja aku yg muda akan berusaha memberi jawaban sedapatnya, tapi bolehkah aku tahu persoalan apakah yg menjadi pangkal keributan antara taysu dg Kiong locianpwee."

Bok sian taysu menghela napas panjang.

"Keributan itu terjadi berpangkal pada berita yg dibawa sau sicu barusan, setelah menerima berita itu, Kiong lo sicu segera mengajak lolap dan sekalian jago persilatan mengadakan perundingan rahasia membahas kedudukan kami saat ini, ia berpendapat kalau toh sau sicu telah menemukan jejak Kedele Maut yg telah muncul dua ratus li dari kawasan ini, berarti musuh telah lolos dari jaring atau dg perkataan lain semua persiapan dan penjagaan yg dilakukan dalam kawasan seratus li diseputar telaga tong ting dan kota Gak yang menjadi tak ada artinya, karenanya dia memutuskan untuk membubarkan saja penjagaan disini dan mengalihkan perhatian ketempat lain, tapi lolap segera menentang usulan tersebut, akibatnya muncullah dua golongan manusia yg bertentangan pendapat serta ngotot dg prinsip masing-masing, hingga rapat bubar tadi kami belum dapat mengambil suatu keputusan. Nah sau sicu, bagaimana menurut pendapat pribadimu? Tindakan mana yg rasanya paling sesuai untuk kita ambil..."

Diam-diam Kho Beng merasa amat terkejut, pikirnya.

"Hwesio gundul ini benar-benar racun tua yg licik dan lihay, tampaknya dia bermaksud menjebakku dg kata-kata, ini berarti tidak gampang untuk menghadapi keledai gundul yg licik ini..."

Berpikir sampai disitu, ia segera tersenyum jawabnya.

"Semestinya usul Kiong locianpwee untuk membubarkan penjagaan disekitar kawasan ini adalah berdasarkan laporan yg kuberikan tadi, jadi seharusnya usul ini kudukung, tapi aku rasa pandangan taysu atas usul inipun didasarkan oleh sesuatu alasan, jadi bukan sengaja hendak mencari keributan. Oleh karena itu bolehkah aku mengetahui lebih dulu apa yg menjadi alasan penentangan taysu itu sebelum aku memberikan pandangan?"

Bok sian taysu manggut-manggut.

"Lolap menentang hal ini karena atas dasar pemeriksaan dari utusanku atas semua penjagaan dan pos yg berada disekitar sini, menurut laporan hingga sekarang mereka belum pernah menemukan seorang perempuan yg mencurigakan melewati pos penjagaan mereka, bukan saja tak pernah menjumpai perempuan bermuka seram seperti apa yg sau sicu lukiskan tadi, mereka pun tidak menjumpai gadis-gadis muda berparas cantik, oleh sebab itu lolap tak percaya kalau Kedele Maut benar-benar sangat ampuh sehingga dapat lolos dari penjagaan yg demikian ketat ini tanpa ketahuan jejaknya. Maka dari itu aku berpendapat lebih baik semua penjaga yg berada diseputar kawasan ini jangan dibubarkan lebih dulu sambil kita nantikan perkembangan lebih lanjut!"

"Kalau begitu taysu menaruh curiga atas berita yg kusampaikan tadi..?"

Tanya Kho Beng pura-pura sangsi. Sambil tersenyum Bok sian taysu menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Bukan demikian, ketika berada dikota Kwan tong tempo hari, ada orang yg memberitahukan kepada lolap bahwa jejak Kedele Maut telah muncul disitu, waktu itu adalah seorang lelaki yg berdandan sebagi saudagar. Tapi berdasarkan pemeriksaan atas korban yg berjatuhan ketika itu, kebanyakan mereka tewas oleh tusukan pedang dan tak seorangpun memperlihatkan tanda kalau tewas ditangan iblis tersebut. Karenanya lolap tak percaya kalau saudagar itu adalah Kedele Maut. Kini sau sicu telah memberikan dua berita yg saling bertentangan pula satu dg yg lainnya, karena itu lolap berkesimpulan bahwa pihak musuh tentu mempunyai komplotan. Atas dasar pandangan itulah lolap bersikeras tetap mempertahankan penjagaan diseputar telaga Tong ting dan kota Gak yang, asal kita berhasil membekuk komplotan itu tentu tak sulit pula untuk mencari tahu dalangnya, entah bagaimana menurut pendapat sau sicu?"

Kho Beng segera memuji.

"Kecerdikan taysu memang sangat mengagumkan, belum tentu orang lain bisa mengunggulinya, Kiong locianpwee serta taysu sama pintar, sama-sama lihay. Tapi aku rasa aku yg muda lebih setuju dg usul dari taysu tadi..."

Bok sian taysu tertawa terbahak-bahak.

Ha...ha....ha.....sau sicu, kau jangan rikuh menentang usulku itu karena sudah mendengar pendapat lolap barusan.

Ketahuilah lolap selalu mengutamakan kenyataan daripada orangnya.

Asal alasan yg dikemukakan bisa diterima dg akal sehat, lolappun bersedia melepaskan pendapat sendiri dg mendukung usul orang lain."

"Kebesaran jiwa taysu benar-benar mengagumkan, selain cerdas kaupun bijaksana...aaai terus terang saja kukatakan taysu, aku bisa setuju dg usul taysu bukanlah berdasarkan atas alasan yg taysu kemukakan tadi."

"Oya?"

Bok sian taysu kelihatan agak terkejut.

"Sau sicu bila kau ingin mengemukakan sesuatu, katakan saja secara blak-blakan, tak perlu merasa rikuh dan sangsi."

Kho Beng manggut-manggut.

"Semenjak Kedele Maut mulai membunuh orang, apakah taysu berhasil menemukan sesuatu gejala tertentu?"

"Gejala apa maksudmu?"

"Walaupun Kedele Maut gemar membunuh tapi ia tak pernah turun tangan terhadap jago kelas dua atau kelas tiga, setiap kali melakukan pembunuhan, korbannya selain tokoh dunia persilatan atau pemimpin dari suatu perkumpulan."

"Benar!"

"Kini seluruh jago-jago pilihan dari lima propinsi telah berkumpul disini, kecuali Kedele Maut harus mengubah arah tujuannya untuk melakukan pembunuhan di utara, aku rasa diwilayah timur maupun selatan sudah tiada sasaran lagi yg bisa dibunuh, oleh sebab itu aku berpendapat, asal kegemarannya membunuh masih belum berubah, akhirnya ia tentu akan muncul dikawasan telaga Tong ting untuk melakukan pembunuhan. Daripada kita mesti menyebar kekuatan untuk melakukan pelacakan tak menentu, toh lebih baik memasang perangkap disini sambil menunggu kedatangannya? Itulah sebabnya aku rasa usul dari taysu memang tak malu kalau dikatakan suatu usul yg hebat dan jitu!"

Bok sian taysu menghela napas berulang kali.

"Pandangan sau sicu betul-betul mengagumkan, aaai...sudah enam puluh tahun lolap berkelana didunia persilatan, namun belum pernah kujumpai orang yg pintar dan luar biasa macam sau sicu, bila saja kau tidak memandang rendah perguruan Siau lim pay, apa salahnya bila kau mengangkat ketua partai kami sebagai gurumu? Lolap jamin tak sampai tiga tahun Siau sicu pasti sudah menjadi tokoh wahid dikolong langit!"

Kho Beng berdiri tertegun, ia tak mengira kalau hwesio tersebut akan mengucapkan perkataan seperti ini.

Andaikata pesan dari ketua Sam goan bun tidakmendengung disisi telinganya juga Li sam yg baru saja menyampaikan kabar kepadanya, ia benar-benar akan mencurigai apakah yg didengar ini benar atau tidak.

Namun tawaran yg disampaikan tersebut justru menyulitkan Kho Beng untuk menjawab, ia enggan menampik tawaran tersebut secara terang-terangan, karena kuatir menambah kecurigaan dihati kecil Bok sian taysu.

Namun iapun tak bisa tidak untuk menampik dendam kesumat sedalam lautan yg terpampang didepan mata, sedang hwesio itu merupakan salah seorang yg dicurigai, bagaimana mungkin ia bisa bergabung kedalam perguruannya?

Untuk sesaat lamanya Kho Beng menjadi bimbang, risau dan tak tahu apa yg mesti dikatakan.

Melihat sikap pemuda tersebut, Bok sian taysu kembali bertanya.

"Apakah sicu menjumpai suatu kesulitan?"

Kho Beng terkejut, buru-buru ie memperlihatkan sikap tulus dan kesungguhan hatinya seraya berkata.

"Aku yg muda dungu dan tak becus, tak nyana bisa memperoleh rejeki sebesar ini, tujuh puluh dua macam ilmu silat aliran Siau lim pay sudah lama termashur didunia, akupun sudah lama mengaguminya..."

"Kalau begitu sau sicu bersedia?"

Tukas Bok sian taysu girang. Sekali lagi Kho Beng menghela napas panjang.

"Sayang sekali aku sudah mempunyai guru, meski aku tak berani menampik tawaran taysu itu, semua persoalan ini harus kulaporkan dulu kepada guruku sebelum diputuskan sendiri oleh suhu."

"Ooooh...rupanya sau sicu sudah mempunyai guru, tapi siapakah gurumu itu?"

Kho Beng termenung sejenak sambil berpikir sebentar, lalu menjawab.

"Guruku adalah Unta sakti berpunggung baja..."

"Aaaah...rupanya gurumu adalah Thio lo sicu, salah satu diantara sepasang unta dari selatan"

Tukas Bok sian taysu cepat.

"Tapi lolap dengar, Thio lo sicu telah meninggal dunia baru-baru ini..."

Dalam hati kecilnya Kho beng tertawa dingin, tapi diluar buruburu sahutnya.

"Menurut apa yg kuketahui suhu belum meninggal dunia, beberapa hari berselang aku sempat cekcok dg perguruan Sam goan bun gara-gara persoalan ini, akhirnya atas desakanku kuburan itu dibongkar, saat itulah kami temukan peti mati kosong. Karena itulah aku menaruh curiga atas mati hidupnya guruku ini. Aaaai...ketua Sam goan bun licik dan sukar diraba jalan pikirannya sekarang ia pasti sedang risau karena masalah tersebut."

Bok sian taysu agak terperanjat, tapi segera katanya.

"Dalam soal ini lolap dapat membantu sicu untuk melakukan penyelidikan, lolap jamin pihak Sam goan bun tak berani akan mengeluarkan permainan dihadapanmu..."

"Aaah..atas bantuan taysu sebelumnya kuucapkan banyak terima kasih"

Sambung Kho Beng cepat-cepat. Bok sian taysu segera bangkit berdiri, katanya kemudian.

"Waktu sudah semakin larut, lolap tak akan mengganggu kesempatan sau sicu untuk beristirahat lagi, sampai besok pagi!"

Habis berkata ia lantas mohon diri, buru-buru Kho beng menghantarnya sampai diluar pintu.

Bok sian taysu telah pergi, namun Kho Beng yg berada dalam kamar seorang diri merasakan pikirannya sangat kalut.

Tadi Li sam membujuknya agar pergi, pihak lawan jelas hendak melakukan suatu tindakan berikut yg tidak menguntungkan bagi dirinya, sambil menunggu kabar dari utusan yg dikirim ke Pek eng tong.

Sayang ia tak sempat menanyakan persoalan itu lebih jelas lagi tadi, sedang hwesio tua itu justru menampilkan sikap yg begini ramah dan baik budi, rencana keji apakah yg sebetulnya terselip dibalik kesemuanya ini?

Ia tak dapat menduga teka teki dibalik kesemuanya itu, malah sebaliknya ia makin risau memikirkan keselamatan encinya.

Akhirnya setelah mempertimbangkan berulang kali, ia memutuskan akan melaksanakan rencana berikutnya, ia berpendapat dalam tiga hari mendatang pasti tak akan terjadi sesuatu perubahan, berarti ia dapat melaksanakan rencana tersebut dg tenang sebelum akhirnya pergi meninggalkan tempat itu.

Tapi untuk melaksanakan rencananya itu, ia harus mempersiapkan beberapa macam peralatan, padahal menurut Li sam, ia sudah berada dibawah pengawasan musuh, lalu bagaimana caranya untuk mempersiapkan barang-barang yg dibutuhkannya itu/ Setelah putar otak sekian lama, tiba-tiba terlintas satu ingatan dalam benaknya, pemuda itu segera berpikir.

"Yaa..mengapa aku tidak minta bantuan Li sam untuk mempersiapkan barang-barang kebutuhanku? Kenapa tidak kupergunakan pembantu yg amat baik ini? Berpendapat begitu, ia segera memutuskan untuk tidak menunda-nunda lagi, segera bangkit dari pembaringan, ia menuju kejendela belakang dan diam-diam mengintip keluar. Sejak kepergian Li sam tadi, jendela tersebut belum ditutup, dg cepat Kho Beng menyelinap ketepi jendela dan mengintip keluar. Ternyata tempat itu merupakan halaman belakang, tampak pepohonan tumbuh sangat rindang, gunung-gunung gardu istirahat tersebar dimana-mana, suatu tempat dg panorama yg indah. Dibawah cahaya bintang dan rembulan yg redup, suasana dalam kebun hening, sepi tak nampak seorang manusia pun. Dari letak bintang diketahui waktu menunjukkan kentongan pertama, ia menunggu semua orang sudah mulai berangkat istirahat. Kho Beng tidak tahu siapa yg ditugaskan mengawasi dirinya, iapun tak tahu dimanakah orang tersebut ditempatkan, tapi ia sadar alangkah baiknya bila Li sam dapat ditemukan malam ini juga, ia percaya asal tindak tanduknya cukup berhati-hati, tak bakal sampai terjadi hal-hal yg tidak diinginkan. Maka hawa murninya segera dihimpun, bagaikan seekor burung nuri ia menyelinap keluar jendela dan melayang turun ditengah halaman, kemudian sesudah memeriksa sekejap seputar situ, ia menyusup kebelakang sebuah gunung-gunungan, lebih kurang tiga kaki didepan situ. Baru saja ia mendekam dibelakang gunungan dan belum sempat memeriksa diseputar sana, mendadak terdengar ada suara orang yg sedang berbisik-bisik. Dalam kagetnya Kho Beng segera menahan perasaannya, sambil memasang telinga untuk menyadap pembicaraan tersebut. Dari hasil penyelidikannya, dapat diketahui arah suara tersebut, yaitu berasal dari balik gunung-gunungan yg lain, malah salah seorang diantaranya adalah wanita.

"Kebetulan amat"

Pekik Kho Beng dg perasaan terkejut bercampur heran,"

Malam sudah begini larut, siapakah yg masih berpacaran disitu....?"

Sementara ia masih termenung, suara pembicaraan telah bergema kembali, kali ini yg berbicara seorang lelaki, suaranya rendah lagi amat berat.

Namun setelah Kho Beng mendengar secara jelas nada pembicaraan orang itu serta apa yg sedang dibicarakan, hatinya langsung saja bergetar keras sekali.

Ternyata orang yg sedang berbicara dibalik gunungan itu, salah seorang diantaranya tak lain adalah Bok sian taysu dari Siau lim si, pendeta yg belum lama berselang meninggalkan ruangannya.

Terdengar Bok sian taysu sedang berkata.

".....yakinkah li sicu akan hal ini?"

Suara perempuan itu segera menjawab.

"Taysu dapat kukatakan secara pasti bahwa hal itu sama sekali tak pernah terjadi, sebab semejak mendapat tugas untuk datang kemari, barang seketika pun Chin siau kun belum pernah tertidur."

Suasana hening yg kemudian mencekam membuat Kho Beng merasa hatinya amat tegang, tapi berhubung ia tidak sempat mengikuti awal pembicaraan mereka, ia belum dapat memastikan persoalan apakah yg sedang dipermasalahkan kedua orang itu.

Selang beberapa saat kemudian, terdengar Bok sian taysu berkata lagi.

"Aneh betul, sewaktu lolap mendekati kamar tidurnya tadi, sudah jelas kudengar ada orang yg sedang berbicara didalam kamarnya, tapi begitu masuk kedalam kamar ternyata ia masih tertidur sangat -sangat nyenyak..."

"Bisa jadi Kho sauhiap lagi mengigau lantaran kelewat penat!"

Sela Chin siau kun cepat.

Kho Beng yg menyadap pembicaraan tersebut semakin terperanjat, sekarang ia baru paham, rupanya pembicaraan dg Li sam tadi telah diketahui pihak lawan.

Untung saja Li sam cukup sigap dan cekatan, coba kalau tidak niscaya rahasia mereka sudah terbongkar.

Perempuan yg bernama Chin siau kun itu adalah orang yg ditugaskan untuk mengawasi gerak geriknya selama ini.

Dalam waktu singkat, Kho Beng mulai sadar bahwa keadaannya dewasa ini meski sepintas lalu nampak aman tanpa ancaman bahaya, padahal dalam kenyataan posisinya amat kritis dan berbahaya sekali.

Aaai..jika salah melangkah setengah tindak pun, sudah pasti dirinya akan terjerumus dalam keadaan yg tak tertolong lagi.

Dalam pada itu terdengar Bok sian taysu telah berkata lagi.

"Lolap yakin ia bukan lagi mengigau sebab suara pembicaraannya waktu itu sangat lirih dan lembut, sama sekali tidak mengandung nada yg tinggi rendahnya tidak terkontrol, andaikata ia betul-betul lagi mengigau, tak mungkin akan memperlihatkan gejala semacam itu."

"apakah taysu berhasil mendengar sesuatu?"

"Tidak!"

"Kalau begitu bisa jadi taysu yg salah mendengar...."

"Hmmm! Biarpun usia lolap sudah tua, aku yakin belum sampai di idapi penyakit semacam itu."

"Oooh..kalau begitu taysu mencurigai aku telah melalaikan tugas?"

Dibalik perkataan tersebut, jelas mengandung nada tak senang hati. Buru-buru Bok sian taysu menyambung.

"Harap li sicu jangan salah paham, mungkin saja memang lolap salah mendengar..."

Kho Beng hanya mengikuti pembicaraan tersebut sampai setengah jalan, dg sangat hati-hati ia segera mengundurkan diri dari situ.

Ia tahu sudah tiada masalah penting yg bisa diperoleh lagi, andaikata ia tidak mengundurkan diri lebih dulu, bisa jadi diapun tak akan bisa kembali kekamarnya lagi.

Tapi dg penemuannya yg tak sengaja ini, setelah berpikir keras beberapa waktu akhirnya Kho Beng memutuskan tak akan pergi mencari Li sam lebih dulu sebelum rencana yg telah ditetapkan terlaksana, meski ia tahu Li sam pasti berdiam diwisma yg sama.

Dg membatalkan niat semula, dg cepat Kho Beng kembali kedalam kamarnya.

Dari buntalannya ia mengeluarkan kertas dan menulis sesuatu yg kemudian disimpan dibawah ranjang.

Malam itupun ia tidur nyenyak hingga matahari mulai muncul diufuk timur.

Kho Beng terbangun ketika ia mendengar ketukan pintu, cepatcepat ia bangun sambil menengok sekitarnya, ternyata sinar matahari sudah memancar kemana-mana.

Ia tahu orang yg mengetuk pintu kamarnya tentu salah seorang dari Kim bersaudara.

Cepat-cepat ia bangun dan sapanya.

"Saudara kim kenapa masih berada diluar kamar? Silahkan masuk ..."

Belum lagi pakaiannya rapi dikenakan, pintu kamar telah dibuka dan ternyata yg muncul bukanlah seperti dugaannya, yg muncul adalah seorang perempuan.

Jilid 09 Sementara Kho Beng masih termangu-mangu, nona berbaju kuning itu telah berkata sambil tersenyum.

"Oleh karena hari sudah siang, sedang sauhiap belum juga bangun dari tidurnya, maka untuk menghindari hal-hal yg tidak diinginkan, sengaja aku mengganggu tidurmu, tak nyana perbuatanku ini justru mengejutkan sauhiap dari tidurnya."

Kho Beng merasa rikuh sekali berbicara dg lawan jenis, mendengar perkataan barusan, buru-buru ia memberi hormat seraya berkata.

"Padahal aku yg muda pun harus bangun segera, justru akulah yg merepotkan nona. Tadi, aku masih menyangka tiga bersaudara Kim yg telah datang!"

Nona berbaju kuning itu menitahkan pelayan untuk meletakkan dulu air cuci muka serta sarapan diatas meja, menanti kedua orang pelayan tadi telah mengundurkan diri, ia baru berkata sambil tersenyum.

"Fajar tadi telah terjadi suatu peristiwa, kini Kim kong sam pian sedang mendapat tugas untuk meninggalkan Gak yang, itulah sebabnya mereka tak hadir kemari. Untuk itu Kiong sincu telah mengutus diriku untuk menemani sauhiap, harap sauhiap tidak menganggap asing diriku ini..."

"Peristiwa apa sih yg telah terjadi?"

"Kalau dibilang sesungguhnya persoalan itu ada sangkut pautnya dg sauhiap."

Diam-diam Kho Beng merasa terkejut, tapi diluarannya ia bertanya keheranan.

"Persoalan apa sih yg ada sangkut pautnya dg diriku?"

"Fajar tadi secara tiba-tiba muncul utusan dari Sam goan bun yg memberitahukan perintah dari ciangbunjin mereka, konon segenap anggota Sam goan bun yg sedang bertugas diperintahkan untuk segera pulang keperguruan, bahkan mulai hari ini perguruan Sam goan bun menutup diri selama tiga tahun dan tak akan mencampuri urusan dunia persilatan lagi."

Kho Beng merasakan hatinya bergetar keras, segera tanyanya.

"Apakah utusan dari Sam goan bun itu mengemukakan juga sebab atau alasannya?"

Nona berbaju kuning itu tersenyum, sahutnya sambil manggutmanggut.

"Konon gara-gara kematian Unta sakti berpunggung baja, sauhiap telah menunjuk perasaan dg menyerbu kedalam markas mereka, akibat peristiwa tersebut pihak Sam goan bun memutuskan untuk mengundurkan diri secara total."

Kho Beng merasakan hatinya terkesiap tapi diluar ia mendengus dan pura-pura menjengek dg sinis.

"Hmmm, sekalipun kita tidak didukung belasan jago dari Sam goan bun, belum tentu hal ini akan mempengaruhi situasi pada umumnya."

"Biarpun ucapan itu ada benarnya juga, namun orang-orang mereka mengundurkan diri kelewat cepat, disaat berita ini tersiar dibukit Kun san, orang-orang mereka sudah tak nampak batang hidungnya lagi, akibat dari perbuatan mereka ini Siau lim tianglo serta Kiong cioanpwee sempat dibikin sewot..."

Diam-diam Kho Beng merasakan hatinya tak tenang, ia tak menyangka dalam keadaan dan situasi macam ini akan timbul persoalan lagi yg sama sekali diluar perhitungan.

Walaupun demikian, diluarnya ia mesti bersikap acuh tak acuh, malah ujarnya kemudian sambil tertawa dingin.

"Segenap jago persilatan telah berkumpul disekitar kawasan telaga Tiong ting dan Gak yang, yg hadir pun rata-rata merupakan jago pilihan yg berkepandaian tangguh, buat apa sih kedua orang cianpwee itu menilai begitu tinggi akan kemampuan Sam goan bun?"

Nona berbaju kuning itu segera tersenyum.

"Justru sauhiap bisa berpendapat demikian karena kau belum mengetahui keadaan yg sebenarnya, meski para petugas yg berjagajaga dikawasan sekitar tempat ini hanya dari kaum keroco yg tak seberapa kemampuannya, asal mereka mendapat tugas dan tanggung jawab berarti orang itu sudah menjadi rangkaian gelang yg tak boleh putus, bila diantara rangkaian gelang-gelang tersebut ada yg pergi meninggalkan tugas tanpa pemberitahuan, sama artinya dg terbukanya titik kelemahan yg semula rapat, akibatnya semua penjagaan yg dilakukan seketat dan sekuat itupun menjadi tak ada artinya lagi."

Dg perasaan tidak mengerti Kho Beng menggelengkan kepalanya berulang kali.

Kembali nona berbaju kuning itu tersenyum, jari tangannya yg lentik segera dicelupkan kedalam air the, lalu dibuatnya sebuah gambar kipas diatas meja, ujarnya sambil tertawa.

"Tahukah sauhiap benda apakah ini?"

"Kipas"

"Benar"

Kata nona berbaju kuning itu sambil manggut-manggut.

"posisi penjagaan kita saat ini berupa sebuah kipas dg bukit Kun san sebagai pangkalnya, para jago yg turut serta dalam pengepungan ini masing-masing membentuk grup sendiri yg membentang dari dalam keluar hingga mnyerupai batang-batang tangkai kipas, pihak Sam goan bun bertugas disekitar wilayah Gak yang, kini mereka meninggalkan tugas secara mendadak, hal ini sama seperti seluas permukaan kipas yg utuh tahu-tahu kehilangan setangkai tulang kipas, andaikata iblis dan komplotannya memanfaatkan kelemahan yg ada ini untuk melarikan diri, bukankah semua usaha kita selama ini jadi tak ada artinya? Tak heran kalau Siau lim tianglo serta Kiong cianpwee menjadi sewot!"

Sehabis mendengar penjelasan ini, diam-diam Kho Beng merasa terperanjat sekali, ia tak mengira kalau penjagaan yg dipersiapkan ditempat ini demikian kuat dan rapatnya.

Teringat akan keselamatan enci kandungnya yg makin berbahaya, pemuda ini menjadi makin risau dan masgul sekali.

Namun diluarnya ia harus menunjukkan sikap menyesal, katanya dg cepat.

"Aaah, tak kuduga sama sekali gara-gara urusan pribadiku ternyata berpengaruh besar terhadap situasi ditempat ini..."

"Sauhiap pun tak usah merasa sedih hati karena persoalan ini"

Kata nona berbaju kuning itu sambil tersenyum.

"untung persoalan dapat diatasi dg cepat, pihak bukit Kun san telah mengutus Ki, kong sam pian untuk menutup titik kelemahan dikawasan Gak yang tersebut pada setengah jam berselang. Aaah betul...buburmu sudah dingin, silahkan sauhiap segera cuci muka dan sarapan."

Kho Beng manggut-manggut buru-buru dia cuci muka lalu sarapan, selesai bersantap ia baru teringat bahwa nona yg dihadapannya sekarang tidak mirip dg pengurus wisma.

Maka segera tegurnya sambil tersenyum.

"Sudah setengah harian kita berbincang, tapi hingga kini belum kuketahui nama nona...maaf akan keteledoranku ini!"

Nona berbaju kuning itu segera tersenyum.

"Sauhiap terlalu merendah, aku adalah Chin Sian kun."

Kontan saja Kho Beng merasakan hatinya bergetar keras, Chin sian kun?

Bukankah dia adalah perempuan yg berbicara dg Bok sian taysu dibelakang gunung-gunungan semalam?

Sekarang ia baru sadar, rupanya gadis ini mendapat tugas untuk mengatasi setap gerak geriknya, ini berarti sulit baginya untuk bergerak secara leluasa selanjutnya.

Berpikir demikian, diam-diam ia berkerut kening dan memutar otak untuk mencari jalan keluar.

Saat itulah tiba-tiba terdengar seseorang menyapa dari luar pintu.

"Apakah Kho sauhiap ada?"

"Siapa yg berada didepan pintu? Silahkan masuk!"

Jawab Chin sian kun cepat.

Pintu kamar dibuka orang dan muncullah seseorang yg ternyata tak lain adalah Li Sam.

Berkilat sepasang mata Kho Beng melihat kedatangan rekannya ini, seakan-akan bertemu dg malaikat penolong, rasa gembiranya tak terhingga.

Sementara itu Li sam telah berkata sambil tertawa.

"Ooooh, rupanya nona Chin juga berada disini, sauhiap nyenyakkah tidurmu semalam?"

Sambil balas memberi hormat, sahut Kho Beng seraya tertawa.

"Fajar baru menyingsing, pelayanan dari Kiong tayhiap telah datang secara lengkap..."

Jelas dibalik perkataan itu masih mengandung maksud lain. Sementara itu Li sam telah berkata kepada Chin Sian kun.

"Berhubung Kim bersaudara masih punya tugas lain sehingga tak bisa hadir disini, maka tianglo serta Sincu menitahkan aku orang she Li untuk mewakili mereka melakukan penyambutan."

Sambil tersenyum Chin Sian kun manggut-manggut.

"Kho sauhiap baru pertama kali ini datang ketelaga Tong ting, Li tayhiap mesti menemaninya secara baik-baik, jangan membuat orang menjadi kecewa."

Li sam tertawa terbahak-bahak.

"Ha...ha...ha...tak perlu nona pesankan lagi..."

"Yaaa, nona Chin memang kelewat sungkan"

Sambung Kho Beng pula.

"bukankah hal ini malah membuat aku yg muda semakin rikuh."

"Perahu telah disiapkan, silahkan sauhiap,"

Kata Li sam kemudian.

"Silahkan saudara!"

Sahut Kho Beng pula sambil mempersilahkan. Begitu meninggalkan wisma dan sudah jauh meninggalkan pengawasan Chin sian kun, Kho Beng baru menghembuskan napas panjang, seraya berkata.

"Sam ko, semalam aku berniat mencarimu."

"Hamba mengerti"

Sahut Li Sam tertawa, karena pembicaraan kita semalam belum selesai, maka pagi tadi sengaja aku minta ijin untuk mendapat tugas menemuimu."

"Apakah Sam ko tidak berdiam didalam wisma?"

Tanya Kho Beng agak tertegun.

"Untuk menghadapi perundingan rahasia yg setiap saat bisa diselenggarakan, tianglo menyuruh hamba berdiam di istana naga bukit Kun san..."

"Untung aku mengurungkan niatku semalam, kalau tidak perjalananku tentu akan sia-sia belaka!"

Dg suara berat dan dalam Li Sam berkata.

"Dalam situasi seperti ini, lebih baik kurangilah pergerakan yg tidak ada artinya, tahukah cukong siapa perempuan cantik tadi?"

Kho Beng manggut-manggut, katanya sambil tertawa dingin.

"Bukankah dia adalah mawar beracun yg bertugas mengawasi aku?"

Li Sam segera manggut-manggut.

"Kalau toh majikan sudah tahu, hamba pun tak akan banyak berbicara lagi, tapi ketahuilah Walet terbang berwajah ganda mempunyai pamor yg cukup baik disekitar kawasan Sam siang, harap majikan tidak memandang dirinya kelewat enteng."

Kho Beng mendengus dingin.

"hmmm aku tahu. Dari pembaringan tadi, konon pihak Sam goan bun telah menarik kekuatannya secara tiba-tiba dan mengumumkan menutup diri dari kegiatan didunia persilatan, bagaimana reaksi Bok sian taysu serta Kiong sincu atas peristiwa tersebut?"

"Waktu itu mereka menjadi sewot setengah mati, malah mereka sempat mencaci maki ketua Sam goan bun habis-habisan dihadapan anggota Sam goan bun yg membawa berita itu."

"Maksudku, bagaimana reaksi mereka terhadapku?"

Buru-buru Kho Beng meralat. Li sam menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Mereka sama sekali tidak memberikan pernyataan apapun terhadap diri majikan, dalam hal ini hamba sendiripun merasa keheranan."

Kho Beng termenung sebentar, lalu tanyanya lagi.

"apakah Sam ko mempunyai hubungan kontak dg ciciku?"

Kembali Li sam mengangguk.

"Ya ada! Tapi bila tiada urusan yg amat gawat, hamba tak akan melakukannya, daripada jejak mereka ketahuan orang."

"Beritahukan alamatnya kepadaku!"

Desak Kho Beng agak gelisah.

"Majikan, kau ada urusan apa?"

Tanya Li Sam agak terkejut. Kho Beng menggelengkan kepala, katanya setelah menghela napas sedih.

"Kami telah berpisah sejak kecil, walaupun akhirnya pernah bertemu namun kedua belah pihak sama-sama tidak mengenal, itulah sebabnya aku ingin sekali bersua lagi dengannya!"

"Majikan, kau tidak boleh melakukan suatu tindakan hanya atas dasar emosi"

Kata Li Sam dg suara berat,"

Saat dan situasi seperti ini bukan saat yg tepat bagimu untuk berkumpul kembali, dalam masalah ini maaf kalau hamba harus merahasiakannya untuk sementara waktu."

Kho Beng sendiripun cukup mengetahui akan bahayanya persoalan tersebut andaikata sampai bocor, maka ia menghela napas lagi setelah mendengar perkataan tersebut.

"Aaai, dalam selisih jarak sedekat ini kami hanya bisa saling tahu namun tak dapat saling bersua, takdir memang kelewat kejam mempermainkan manusia Sam ko, aku telah mempunyai suatu rencana baik yg bisa mengatur pelolosan ciciku dari kepungan!"

"Apa siasatmu itu?"

Tanya Li Sam lirih setelah memeriksa sekejap keadaan disekelilingnya. Kho Beng segera mengeluarkan kertas yg telah ditulisnya semalam dan diangsurkan ketangan Li Sam, lalu katanya.

"Rencanaku telah kutulis dikertas itu, harap kau jangan membengkalaikannya dan persiapkan segala sesuatu secepatnya, dg begitu rencana tersebut bisa kulaksanakan secepatnya."

Dg wajah tertegun Li Sam membaca sebentar isi surat itu, tibatiba paras mukanya berubah hebat, serunya tertahan.

"Majikan muda, buat...buat apa kau...kau membutuhkan kesemuanya itu?"

Saking terperanjatnya, ia sampai tergagap dan tidak lancar bicara. Kho Beng tersenyum.

"Kau harus memahami perasaanku, kali ini kuharap Sam ko tidak berusaha menghalangi keinginanku lagi!"

"Majikan, jangan sekali-kali kau lakukan perbuatan bodoh"

Bujuk Li Sam dg suara berat.

"sekalipun rencanamu dapat terlaksana secara sukses, andaikata kau sendiri sampai melakukan kesalahan, bukankah hasilnya tetap bakal berabe..."

"Tidak!"

Tegas Kho Beng.

"kesalahan faham ini timbul dariku, jadi sudah sewajarnya kalau akulah yg bertanggung jawab, apalagi keputusanku ini sudah bulat, kuharap Sam ko tak usah berniat membujuk diriku lagi."

"Bila cicimu mengetahui hal ini, ia pasti tak akan mengijinkan kau untuk melaksanakannya..."

Tiba-tiba Kho Beng mendelik dg marah, serunya.

"Jelek-jelek begini aku adalah seorang lelaki juga, kalau untuk melindungi cici saja tak mampu, apa gunanya membicarakan soal dendam sakit hati..."

Kemudian setelah berhenti sejenak, ia sengaja menarik muka sambil katanya lagi.

"Sam ko, sebenarnya kau mampu tidak untuk melaksanakannya? Bila menjumpai kesulitan, biar aku sendiri yg pergi berusaha."

Li Sam menjadi terpojok, akhirnya ia menghela napas seraya berkata.

"Aaaai, kalau toh keputusan majikan sudah bulat, tentu saja hamba tak berani membantah!"

Walaupun begitu namun langkahnya tanpa terasa terhenti juga, sementara sinar matanya tertuju kearah secarik kertas yg berada ditangannya, gerak gerik serta sikapnya persis seperti orang yg kehilangan semangat...

Sebenarnya tulisan apa yg tercantum dikertas Kho Beng?

Ternyata isinya hanya sebuah daftar barang.

"Sebuah payung perak, sebotol bahan pewarna, satu stel pakaian perempuan berwarna putih, empat tahil lilin putih, satu kantong kacang kedele hitam, tiga macam perhiasan dan tusuk konde, sebuah topeng kulit kambing"

Semua benda itu harus sudah siap esok malam.

Tak heran Li Sam menjadi gelisah sekali membaca tulisan itu, karena dari daftar kebutuhan yg tercantum, sudah dapat diduga rencana apakah yg hendak dilaksanakan pemuda tersebut.

Melihat sikap Li Sam, buru-buru Kho Beng menegur.

"Sam ko, kenapa kau? Apakah ingin memancing kecurigaan orang terhadap kita."

Li Sam baru mendusin dari lamunannya sesudah mendengar perkataan itu, cepat-cepat ia masukan catatan itu kedalam sakunya lalu berjalan menuju ketepi telaga.

Jarak dari wisma sampai didermaga ditepi telaga paling banter Cuma enam tujuh puluh kaki, tapi dalam waktu yg amat pendek itu mereka berdua telah menyelesaikan urusannya.

Diujung dermaga berkibar sebuah panji besar yg bersulamkan seekor naga emas, sementara ditepi telaga bersandar kurang lebih lima enam puluh sampan yg berjajar sangat rapi.

Kesemuanya membuat Kho Beng berpendapat bahwa pihak istana naga dibukit Kun San ini benar-benar memiliki kekuatan yg luar biasa.

Ketika melihat kehadiran mereka berdua, dua orang kelasi berbaju ungu yg semula berdiri dibawah panji besar itu serentak memberi hormat dan menyingkir kesamping menunggu mereka berdua naik keatas sampan.

Kemudian seorang meloncat keujung perahu dan lainnya melompat keburitan, dg cepat mereka mendayung sampan itu menuu kearah bukit Kun san...

Dibawah petunjuk Li Sam secara diam-diam, Kho Beng baru mengerti bahwa penjagaan yg dilakukan pada daerah sekitar Kun san benar-benar amat ketat.

Sampan yg hilir mudik diatas permukaan telaga kebanyakan adalah perahu-perahu pengontrol dari pihak Kun san.

Kode rahasia mereka siang malam selalu berubah, jangan hatap orang lain dapat menyusup masuk kedalam wilayah sana tanpa diketahui.

Tiba dipantai bukit Kun san dan sepanjang jalan menuju kepintu gerbang istana naga, pos penjagaan semakin sering, begitu ketatnya penjagaan seolah-olah sedang menghadapi musuh tangguh saja.

Menyaksikan kesemuanya ini, diam-diam Kho Beng menjulurkan lidahnya karena ngeri.

Terasa olehnya situasi semacam ini betul-betul sulit untuk ditembusi dan tanpa terasa ia makin pesimis terhadap kemampuan yg dimilikinya bersama encinya.

Benarkah gara-gara se

Jilid kitab pusaka Thian goan bu boh dunia persilatan telah berubah menjadi demikian repot sampai saling bermusuhan satu sama lainnya.

Kho Beng yakin dibalik kesemuanya ini pasti masih terselip halhal yg tak beres.

Dlm perasaan yg serba kalut dan tegang, ia melangkah masuk keruang tengah istana naga yg kokoh dan megah dan untuk kesekian kalinya bertemu lagi dg Bok sian taysu serta ketua istana naga Kiong Ceng san...

Dibawah tatapan mata orang banyak, kedua orang tokoh silat ini menunjukkan sikap yg amat hangat terhadap Kho Beng, malah mereka sama sekali tidak menyinggung soal pengunduran diri anggota Sam goan bun secara tiba-tiba pagi tadi.

Tapi situasi demikian bukan berarti melegakan Kho Beng, sebaliknya ia justru semakin tak tenang, ibarat duduk diatas jarum, ia tak pernah bisa tenangkan hatinya.

Tapi Kho Beng cukup pengertian, sikap ramah dan bersahabat dari pihak lawan terhadap dirinya sekarang hanya disebabkan identitas serta asal usulnya belum mereka ketahui.

Kalau bukan demikian, mungkin saja mereka telah turun tangan keji sedari tadi.

Dg susah payahperjamuan baru bisa diselesaikan tengah malam, dg perasaan yg tak karuan Kho Beng kembali kewisma dg menumpang perahu.

Malam itu boleh dikata Kho Beng tak dapat memejamkan mata, ia pergunakan sisa waktu yg ada untuk merencanakan tindakan yg harus dilakukannya esok malam....

Malam ini adalah hari ketiga setelah kedatangan Kho Beng ditelaga Tong ting.

Kentongan pertama belum lagi lewat, sesosok bayangan hitam telah menyelinap dari luar halaman wisma dan menyusup kedalam.

Baru saja bayangan itu berkelebat lewat dari tengah kebun sudah terdengar seseorang membentak dg suara nyaring.

"Siapa disitu?"

Chin sian kun sampak munculkan diri dari balik gunungan dan maju menghadang jalan pergi bayangan hitam tersebut dg gerakan tubuhnya yg enteng seperti burung walet.

Namun setelah berhasil melihat jelas wajah tamu yg tak diundang itu, seketika itu juga ia dibuat tertegun.

Ternyata pihak lawan adalah seorang perempuan berkerudung putih yg menggembol sebuah buntalan.

Nampaknya tamu yg tak diundang tersebut sudah menguasai penuh situasi disekitar tempat itu.

Dg santai dia m emberi hormat kepada si burung walet berwajah ganda Chin sian kun, lalu serunya melengking.

"Chin lihiap tak usah menghalangi diriku, coba lihat bukankah Siau lim tianglo sedang memanggilmu dari balik jendela sana?"

Sembari berkata, ia menunjuk kearah belakang tubuh Chin sian kun....

Untuk kedua kalinya Chin sian kun tertegun, kemudian berpaling kebelakang dg cepat.

Tapi pada saat itulah, jari tangan kiri perempuan berbaju hitam itu telah menyodok kemuka dg cepat dan langsung mengancam jalan darah kaku tubuh Chin sian kun.

Serangannya sangat cepat bagaikan sambaran kilat, ketepatannya pun sangat mengagumkan.

Dalam keadaan yg sama sekali tak siaga, tentu saja Chin sian kun tak mampu menghindarkan diri, tak ampun jalan darah tidurnya segera tertotok oleh perempuan berkerudung putih itu.

Mungkin sikapnya waktu itu kelewat teledor atau mungkin juga sikap perempuan berkerudung putih itu kelewat santai, ternyata si walet terbang berwajah ganda yg termasyur disekitar wilayah Sam siang dapat dirobohkan ditengah kebun dlm keadaan tak jelas.

Begitu berhasil dg serangannya, perempuan berkerudung putih itu segera melayang kebelakang jendela kamar tidur Kho Beng dan mengetuk tiga kali.

Waktu itu Kho Beng sedang menanti didalam kamar dg gelisah, mendengar suara ketukan tersebut cepat-cepat ia membuka jendela seraya menegur.

"Apakah Li Sam ko yg datang?"

Sesosok bayangan hitam menyelinap masuk kedalam kamar dg gerakan yg amat cepat, kemudian menutup jendela rapat-rapat.

Namun Kho Beng segera dibikin tertegun setelah menyaksikan siapa yg muncul dihadapannya, sebelum ia sempat mengucapkansesuatu, perempuan berkerudung putih itu telah meloloskan kain kerudung muka serta rambut palsunya, ternyata dia tak lain adalah penyaruan dari Li Sam yg ditunggu-tunggunya.

"Sam ko mengapa kau menyaru macam begini?"

Kho Beng segera menegur dg keheranan. Sambil tertawa Li Sam menurunkan buntalan panjang dari bahunya, lalu menjawab.

"Sejak memasuki halaman ini, hamba telah merobohkan si budak Chin sian kun, dg demikian bila kau pulang seusai pekerjaanmu nanti, siapapun tak akan mencurigai dirimu!"

Kho Beng manggut-manggut, dg cepat ia membuka buntalan tersebut., ternyata semua barang kebutuhannya sudah siap sedia.

Maka dia pun segera turun tangan menjahit kulit kambing yg dibentuknya menjadi selembar topeng, tak sampai setengah jam kemudian selembar wajah yg menyeramkan seperti muka kuntilanak telah terbentuk.

Dibawah bantuan Li Sam, ia segera menggerakkan rambut palsu, memakai baju, menggembol kantung kedele dan mempersiapkan diri.

Tak selang beberapa saat kemudian, Kho Beng telah berubah menjadi seorang perempuan berwajah jelek yg mengenakan baju warna putih.

Sambil menggenggam payung putih, Kho Beng mulai berjalan dalam ruangan mempelajari cara berjalan yg tepat, lalu tanyana kepada Li Sam sambil tertawa.

"Miripkah diriku dg sikedele maut?"

Li Sam segera tersenyum.

"Bagaimanapun juga selain kau seorang, belum pernah ada manusia lain yg pernah bersua dg cicimu, asal tidak terkurung, aku pikir orang lain tentu dapat dikelabui."

Kho Beng manggut-manggut, tanyanya lagi.

"Kau sudah memberi kabar kepada ciciku?"

Li Sam menghela napas panjang.

"Hamba telah berkunjung ketempat persembunyian cicimu, yakni kuil Hian tin li tokoan yg berada ditengah kota Gak yang, disitu kutemukan cicimu sudah meninggalkan tempat tersebut, sambil meninggalkan tanda "aman". Oleh sebab itu boleh dibilang saat ini hamba sendiripun telah kehilangan kontak dgnya1"

Kho Beng tertegun.

"Apakah tanda tersebut bisa diartikan ciciku telah meninggalkan kota Gak yang dalam keadaan aman?"

"Bebicara menurut tanda itu, apakah cicimu sudah pergi meninggalkan kota ataukah hanya berpindah tempat persembunyian, hal ini baru bisa diketahui besok pagi."

Kho Beng termenung beberapa saat lamanya, kemudian manggut-manggut.

"Untuk menghindari hal-hal yg tak diinginkan, aku akan tetap melaksanakan rencanaku semula, Sam ko, menurut penilaianmu penjagaan dibagian manakah dari pihak istana naga yg kau anggap paling lemah?"

Li Sam berpikir sejenak, kemudian menjawab.

"Jalan yg menuju kearah timur laut kota Gak yang merupakan bagian yg paling banyak penjagaannya tapi justru bagian tersebut yg paling lemah, daerah sana dijaga Kim kong sam pian, setelah keluar kota maka sepanjang perjalanan dijaga oleh orang-orang Hoa san pay, kecuali Hek pek ji lo dua sesepuh hitam putih dari Hoa san pay, lainnya tak perku dirisaukan.

"Bagus sekali!"

Kata Kho Beng kemudian sambil manggutmanggut.

"Kau harus segera pergi mencari ciciku, suruh dia berusaha meloloskan diri disaat aku memancing kawanan jago lainnya menuju kearah timur laut kota Gak yang."

"Ada tiga persoalan yg perlu hamba laporkan kepada majikan!"

Kata Li Sam setelah manggut-manggut.

"Soal apa?"

"Tanda bahaya yg dipergunakan pihak mereka dimalam hari adalah asap api, apabila asap kuning yg dilepaskan berarti menjumpai bahaya, bila asap putih berarti kesalah pahaman sebaliknya bila muncul asap merah berarti jejak kedele maut telah ditemukan. Ini berarti segenap jago dari pelbagai kawasan akan segera berkumpul dari segala penjuru untuk melakukan pengepungan. Oleh sebab itu apabila cukong menjumpai tanda asap merah janganlah sekali-kali melibatkan diri dalam pertempuran sengit!"

Kho Beng segera manggut-manggut. Li Sam berkata lebih jauh.

"Soal kedua adalah soal telaga Tong ting sebagai pusat kekuatan mereka yg menembus sampai kota Gak yang. Bila menuju kearah timur laut maka penghadangan hanya terdapat pada sepanjang sungai tiang kang hingga telaga Sam hong oh, asal majikan dapat menghindari penjagaan dan mampu melewati telaga Sam hong oh berarti kau telah tiba tempat yg aman, tapi andaikata situasi amat darurat sehingga tak mampu meloloskan diri, silahkan majikan menelusuri sungai kira-kira sejauh lima puluh li, disitu terdapat hutan gelugu yg amat rimbun, asal majikan bersembunyi dibalik gelugu tadi, tentu ada orang yg akan munculkan diri untuk menolong dirimu."

"Siapakah dia?"

Tanya Kho Beng agak tertegun. Li Sam segera tersenyum.

"Sampai waktunya majikan akan mengetahui sendiri."

Selesai berkata ia segera menyembah kepada Kho Beng seraya berpesan lagi dg suara dalam.

"Harap majikan menjaga diri baik-baik, bagaimanapun juga harap kau lebih mementingkan jiwa sendiri daripada persoalan yg lain..."

Kho Beng cepat-cepat balas memberi hormat sambil menjawab.

"Terima kasih banyak untuk nasehat Sam ko, seperti diketahui maksud tuuanku hanya memancing musuh untuk meninggalkan pos penjagaan, bila keadaan tidak terlalu mendesak tak nanti kulibatkan diri dalam suatu pertarungan yg tidak menguntungkan, biarpun dendam kesumat sedalam lautan namun sebelum duduk persoalan menjadi jelas, Kho Beng tak akan melakukan pembunuhan secara besar-besaran, kuharap Sam ko pun bisa membujuk cici ku agar mengurangi sifat suka membunuhnya, apalagi musuh berjumlah sangat banyak, biar dibunuh lebih banyak pun bukan berarti bisa menyelesaikan persoalan!"

Li Sam pun manggut-manggut, maka mereka berdua pun saling bertatapan beberapa saat, seakan-akan setelah perpisahan kali ini entah mereka dapat bersua kembali atau tidak.

Ungkapan perasaan yg amat tulus dan tebalpun terpancar jelas dalam detik-detik seperti ini.

Jendela belakang masih terbuka lebar, akhirnya setelah mengucapkan "jaga diri baik-baik", Li Sam menyelinap keluar dari ruangan tersebut dan lenyap dibalik kegelapan sana.

Waktu itu kentongan pertama sudah menjelang tiba, Kho Beng menunggu sampai sepeminum the lamanya semenjak kepergian Li Sam, setelah membereskan buntalan lalu ia menyusup keluar pula lewat jendela belakang.

Suasana dalam kebun amat sepi, nampaknya belum ada yg tahu kalau si walet terbang berwajah ganda telah dirobohkan orang.

Kho Beng mencoba memperhatikan sejenak suasana sekitar situ, kemudian ia bergerak menuju kearah kiri kemudian menyulut api yg telah dipersiapkan untuk membakar gedung.

Memang inilah rencananya untuk memancing perhatian musuh, menanti api sudah berkobar hingga membumbung keangkasa dan suasana gaduh memecahkan keheningan dalam wisma, ia baru tertawa seram sambil bergerak menuju kearah kota Gak yang.

Dalam gerakan mana, ia sempat melihat asap kuning telah ditembakkan ketengah udara, lalu dibawah cahaya api yg membara, ia melihat dg jelas ada lima enam sosok bayangan manusia sedang mengejar dibelakangnya.....

Diam-diam Kho Beng merasa bangga dg hasil pekerjaannya, sambil mempercepat larinya ia melompat tembok kota dan bergerak cepat menuju kearah timur laut.

--------missing page 38 -41 -----------...dan merupakan suatu kerjasama yg sangat rapat.

Mau tak mau Kho Beng terkejut juga menghadapi ancaman tersebut, pikirnya.

"Tak aneh kalau pihak lawan begitu tinggi hati ketika bertemu pertama kali dulu, nyatanya ilmu ruyung penakluk iblisnya betulbetul sangat hebat dan tangguh!"

Dg payung menggantikan pedang, pemuda kita tak berani bertarung lebih jauh, serangannya segera diurungkan ditengah jalan dan buru-buru melompat kesamping untuk menghindari serangan musuh.

Baru saja ia bermaksud untuk melepaskan diri dari kepungan, mendadak tampak olehnya Kim losam menyerbu datang, ruyung panjangnya disertai desingan tajam langsung mengancam batok kepalanya.

Bersamaan waktunya, terdengar dua kali bentakan nyaring bergema dari belakang tubuhnya, ia mendengar desingan suara senjata tajam menyambar tiba dan mengancam punggungnya.

Diserang dari muka dan belakang, terpaksa Kho Beng harus membuang badannya kesamping untuk menghindarkan diri.

Sebagaimana diketahui payung Thian lo san yg berada ditangannya adalah benda palsu, meski permukaan payungnya berwarna perak, namun sesungguhnya hanya tempelan kertas.

Itulah sebabnya Kho Beng harus mempergunakannya dg hati-hati sekali, ia tak berani melancarkan serangan balasan, karena takut hasil penyamarannya ketahuan orang sehingga semua rencana gagal total.

Siapa tahu, pada waktu ia sedang berkelit kekiri menghindar kekanan inilah, tiba-tiba terdengar Kim li jin membentak keras, lalu terasa tangannya mengencang...

Ternyata payung bulatnya telah terlilit oleh senjata ruyung lawan Sementara itu kedua senjata ruyung lainnya telah berkelebat pula ditengah udara, diantara kilauan cahaya, senjata-senjata itu menyambar pula kepinggangnya.

Dalam dua gebrakan sudah terjerumus dalam posisi terdesak, hal ini membuat Kho Beng yg sudah gugup dan kalut pikirannya semakin terperanjat lagi.

Ia tak berani membuang payung itu, namun bila tidak dilepaskan payung tersebut berarti gerakan tubuhnya akan terperangkap kepungan lawan, bukan hanya ancaman ruyung itu saja yg mesti diperhitungkan, terutama sergapan jago tangguh dari belakang tubuhnya.

Berada dalam keadaan seperti ini, mau tak mau Kho Beng harus mempertaruhkan selembar jiwanya.

Hawa murninya segera dihimpun kedalam payung itu kemudian sambil membentak, payung itu digetarkannya keras-keras untuk melepaskan diri dari belenggu ruyung tersebut.

Dalam getaran ini telah disertakan juga tenaga dalam hasil latihan empat puluh tahun dari Bu wi lojin, bisa dibayangkan sendiri bagaimana akibatnya...

Waktu itu sebenarnya Kim lo ji bermaksud hendak mengunci senjata Kho Beng hingga tak mampu dipergunakan lagi, siapa tahu getaran lawan membuat telapak tangannyanya menjadi belah dan berdarah.

Saking kaget dan ngerinya, ia segera menjerit keras dan melepaskan ruyungnya sambil buru-buru mundur.

Sementara itu Kho Beng telah mengayunkan payungnya mengikuti gerakannya tadi, lagi-lagi ia menggetarkan ruyung kedua sampai mencelat kebelakang.

Walaupun jurus ruyung dari Kim hong sam pian termasyur karena kehebatannya, ternyata sama sekali tidak mampu menahan getaran tenaga dalam lawan.

Dalam terkesiapnya tubuh Kim lotoa dipentalkan sampai terhuyung maju dua langkah, akibatnya ia jadi menghalangi gerak kelima orang lainnya.

Biarpun serangan yg digunakan Kho Beng sekarang belum terhitung merupakan suatu jurus serangan, namun kehebatannya sudah etrbukti dg jelas.

Maka begitu melihat situasi sudah semakin rawan, ia merasa inilah kesempatan terbaik untuk meninggalkan tempat tersebut, karenanya setelah menggetar lepas tiga buah ruyung lawan, ia menerjang maju kemuka dan berseru sambil tertawa dingin.

"He...he....he...kuampuni kedelapan lembar jiwa anjing kalian pada malam ini, sampaikan kepada keledai gundul dari Siau lim bahwa penjagaan yg dilakukan disekitar tempat ini belum cukup mampu untuk menyulitkan Kedele Maut!"

Waktu itu rasa terkejut dan ngeri yg mencekam Kim kong sam pian sekalian belum lenyap, meski Kho Beng sudah bergerak meninggalkan tempat tersebut namun untuk beberapa saat lamanya mereka masih berdiri mematung ditempat semula.

Saat ini, dalam hati kecil mereka sama mempunyai satu pandangan yg sama, yakni Kedele Maut memang nyata bukan musuh sembarangan.

Salam pada itu, dari ujung atap rumah dikejauhan sana telah muncul belasan sosok bayangan manusia, terdengar seorang diantaranya berteriak keras.

"Tanda bahaya asap merah telah dilepaskan, apakah disini telah terjadi sesuatu peristiwa?"

Buru-buru Kim lotoa menyahut.

"Kedele Maut telah melarikan diri kearah timur laut!"

Kemudian sambil memandang sekejap kearah rekan-rekannya, dia mengulapkan tangan sambil berseru lagi.

"Hayo kita kejar!"

Sekali lagi kedelapan orang jago tersebut berkelebat kemuka melakukan pengejaran.

Sesungguhnya kedelapan orang jago ini sudah dibikin keder oleh kelihaian dan kemapuhan tenaga sakti Kho Beng, tapi terdesak oleh situasi dan keadaan terpaksa mereka harus melakukan pengejaran kembali.

Maka suasana didalam kota Gak yang pun menjadi sangat kalut, sekalipun tengah malam sudah menjelang, namun diatas-atas setiap bangunan rumah telah dipenuhi oleh jago-jago lihay dari dunia persilatan, bayangan manusia berkelebat kian kemari dg cepatnya.

Memanfaatkan situasi yg sangat kalut ini, Kho Beng segera menghimpun tenaga dalamnya dan melompati pintu utara kota Gak yang untuk kabur menuju kearah timur laut.

Walaupun ia berhasil lolos dari kepungan, tapi sesungguhnya pemuda ini merasa terkejut juga sampai mandi keringat dingin.

Padahal menurut Li Sam, penjagaan daerah sini terhitung penjagaan terlemah, tapi kenyataannya dg kemampuan yg dimiliki Kim kong sam pian pun nyaris penyamarannya terbongkar, bisa dibayangkan betapa ketat dan kokohnya penjagaan diposisi lain.

Sekarang ia berpendapat untuk sedapat mungkin berlomba dg waktu, atau dg perkataan lain ia harus dapat meninggalkan tempat tersebut setelah lawan melepaskan bom asap merah dan sebelum bala bantuan dari pelbagai penjuru memburu kesitu dan mengepungnya.

Sebab kalau tidak begitu sama artinya rencana yg dilaksanakan menemui kegagalan total, apalagi bila ia sampai terkurung hingga tertangkap, akibatnya tentu susah diramalkan.

Berpikir sampai disitu tanpa terasa ia menambah tenaganya dg dua bagian untuk kabur sekuat tenaga.

Dalam waktu singkat tiga li sudah dilalui, disisi kirinya telah membentang sungai Tiang kang yg luas sementara disisi kanannya adalah lapang datar, dimana jauh beberapa li dari sisi jalan baru kelihatan beberapa rumah penduduk.

Sementara ia masih berlarian kencang, tiba-tiba dari rumah penduduk disisi kanan jalan menyembur keluar bom asap merah yg meledak ditengah udara menyusul kemudian tampak tiga sosok bayangan hitam munculkan diri dari balik rumah dan meluncur sejauh lima kaki di depan.

Dalam waktu singkat mereka telah menghadang ditengah jalan dg pedang terhunus.

Sekarang Kho Beng baru mengerti bahwa pihak jago persilatan telah memanfaatkan pula rumah penduduk sebagai pos penjagaan, tak heran kalau meeka bisa melaksanakan penjagaan siang malam tanpa henti.

Karena para penjaga telah tampilkan diri, mau tak mau kho Beng harus bersikap tenang, sambil mempersiapkan payung bulatnya, pelan-pelan ia mendesak maju kemuka dan berseru sambil melengking.

"apakah murid hoa san pay yg menghadangku? Hmmm, nampaknya kalian sudah bosan hidup!"

Seperti diketahui, umat persilatan sudah mempunyai kesan jelek terhadap Kedele Maut, yakni seorang pembunuh yg buas dan berhati keji, karena itulah dia sengaja menggertak dg maksud merontokkan dulu moril lawan.

Betul juga paras muka ketiga jago Hoa san pay yg berusia antara tiga puluh tahunan dan memakai pakaian ringkas hitam segera berubah hebat, seakan-akan mereka merasakan datangnya ancaman maut yg setiap saat dapat menimpa dirinya atau secara lamat-lamat mereka berpendapat bahwa mereka bertiga pasti akan tewas apabila Kedele Maut sampai turun tangan.

Salah seorang diantaranya segera memandang sekejap kearah rekannya, sambil menempelkan pedang didepan dadanya ia memberi hormat kepada Kho Beng dan berkata dg suara gemetar.

"Berhubung tanda bahaya asap merah telah dilepaskan, Hoa san sam kiam menanti dg hormat kedatangan cianpwee!"

Kho Beng tertegun, reaksi dari lawannya sama sekali diluar dugaan, terutama sekali sebutan "cianpwee"

Tersebut, hampir saja membuatnya tertawa geli. Tapi diluaran dia sengaja mendengus dingin, kemudian dg suara yg tinggi melengking katanya.

"Hmmm, tiga pedang dari Hoa san yg cerdik, rupanya kalian hendak merayuku dg sikap tak hormat?"

Buru-buru pemimpin dari tiga pedang tersebut berkata lagi dg hormat.

"Aku yg muda tak berani bersikap kurang ajar pada Cianpwee, kami hanya berharap cianpwee suka menunggu sebentar saja disini!"

Kho Beng tertawa terkekeh-kekeh, sambil memutar payungnya ia menjengek lagi dingin.

"Ooooh, kau suruh aku menunggu disini agar orang-orangmu datang kemari dan mengeroyokku seorang diri?"

Tiga pedang dari Hoa san pay nampak terkejut, sebelum mereka sempat berkata sesuatu, Kho Beng telah membentak lagi dg suara lengking.

"Hmm, tak nyana kalian menyembunyikan golok dibalik senyuman, bagus sekali jangan kabur dulu rasakan payung saktiku ini!"

Sambil membentak keras gerakan payungnya digetarkan sedemikian rupa hingga tercipta sebuah lingkaran cahaya putih yg amat menyilaukan mata kemudian menerobos kemuka dan menusuk tubuh pemimpin dari ketiga jago pedang tersebut.

Berubah hebat paras muka tiga pedang sakti dari Hoa san karena mereka tidak mengira perbuatan sakti apakah yg tersembunyi dibalik jurus serangannya, ternyata tak seorang berani menangkis atau pun menghadapinya.

Tanpa membuang waktu, serentak mereka bergerak mundur sejauh tiga depa lebih dari posisi semula.

Padahal memang inilah keinginan Kho Beng, memanfaatkan kesempatan tersebut ia menerjang kedepan tiga pedang dari Hoa san seraya membentak lagi.

"Mengingat kalian bersikap sopan kepadaku, untuk sementara waktu kuampuni jiwa kalian pada malam ini, sampaikan kepada ketua partai kalian agar segera menarik kembali anak buahnya dan jangan mencampuri urusan orang lain!"

Berbicara sampai disitu, tubuhnya sudah melompat sejauh dua puluh kaki dari posisi semula.

Mnanti musuhnya sudah pergi jauh, paras muka tiga pedang dari Hoa san lambat laun baru pulih kembali ari ketegangan.

Ketika dilihatnya, dari kota Gak yang telah berdatangan serombongan jago persilatan, buru-buru pemimpin dari Hoa san sam kiam membentak keras.

"Bala bantuan telah datang, mari kita kejar!"

Kho Beng terkejut sekali, rasa tegang kembali menyelimuti seluruh perasaannya.

Ia sadar, tak boleh berdiam lebih lama disitu, bila murid-murid Hoa san pay sampai berhasil mengejar dan mencegatnya sedang jago-jago lihay dari kota Gak yang segera akan berhamburan datang, niscaya ia akan terjepit dan terkepung sama sekali.

Bila hal seperti ini terjadi, tak pelak lagi jiwanya tentu akan terancam bahaya maut.

Setelah berpikir berapa saat akhirnya ia menjadi nekad untuk kabur kedepan lebih jauh.

Lebih kurang satu kentongan kemudian ia berlarian tanpa arah tujuan, akhirnya dari antara pepohonan yg lebat ia berhasil menemukan sebuah jalan setapak yg entah berhubungan sampai dimana.

Dalam keadaan seperti ini, tiada kesempatan lagi buat Kho Beng untuk berpikir panjang, begitu menjumpai jalan setapak ia segera menelusurinya dg cepat.

Siapa tahu belum sampai satu li, tiba-tiba dari balik sebatang pohon terdengar seseorang membentak keras.

"Berhenti! Sobat darimana yg datang kemari tengah malam begini? Ada urusan apa kau kemari?"

Ditengah bentakan, tampak sesosok bayangan manusia meluncur kedepan dg kecepatan tinggi dan menghadang jalan perginya ternyata dia adalah seorang tosu setengah umur yg memakai baju warna kuning.

Kho Beng sama sekali tidak menyangka kalau dijalan sesepi inipun terdapat musuh, dalam kagetnya cepat-cepat dia menghentikan langkahnya sambil memutar senjata payung dan berlagak seolah-olah hendak menyebarkan kedele mautnya.

Lalu dg suara tinggi melengking ia membentak keras.

"Tosu setan! Buat apa kau banyak bertanya, memangnya matamu sudah buta sehingga tak bisa mengenali siapakah diriku?"

Walaupun tosu itu baru berusia tiga puluh tahunan, namun sepasang matanya memancarkan cahaya tajam, jelas kalau dia adalah seorang jago persilatan yg berilmu tinggi.

Tatkala mendengar teguran tersebut, serta merta ia memperhatikan lawannya dg lebih seksama, air mukanya segera berubah hebat, tanpa sadar tubuhnya mundur dua langkah kebelakang, serunya tertahan.

"Jadi andakah si Kedele Maut?"

Kho Beng tertawa dingin.

"He...he...he....setelah tahu siapakah aku, buat apa kalian berdiri mematung terus disitu?"

Ternyata reaksi dari tosu itu cukup cekatan, tiba-tiba dia mengayun kan tangan kirinya dan....

"Sreeeettt......."

Sebuah bom udara berasap merah sudah dilepaskan dan meledak ditengah udara. Melihat perbuatan lawannya ini diam-diam Kho Beng tertawa geli, pikirnya.

"Tak nyana perbuatan mereka sama satu dg yg lainnya....Cuma tosu ini dari partai mana? Seingatku, hanya Kio kiong dan Bu tong saja yg beranggota tosu?"

Meskipun ingatan tersebut melintas dalam benaknya, namun ia tak berani berayal lagi, secepat anak panah yg terlepas dari busurnya, dia segera melintas lewat dari samping tosu itu meluncur kedepan dg kecepatan tinggi.

Tosu itu nampak agak tertegun, mungkin lantaran ucapan Kho Beng maka dia masih mengira akan terjadi pertempuran yg amat seru.

Siapa tahu, si Kedele Maut yg sudah termasyur karena keganasannya ternyata meninggalkan korbannya dg begitu saja tanpa terjadi pertarungan barang satu dua juruspun.

Dg cepat ia segera menggerakkan tubuhnya melakukan pengejaran, bentaknya keras.

"Hei, tunggu sebentar!"

"Kho Beng menegur, dia tak menyangka musuhnya masih menghalangi kepergiannya padahal ia sedang berperan sebagai Kedele Maut yg disegani sekarang."

Mau tak mau pemuda tersebut harus menghentikan langkahnya, lalu sambil menatap tosu tersebut dg pandangan dingin, tegurnya keras-keras.

"Apakah kau sudah bosan hidup?"

Tosu setengah umur itu tertawa nyaring.

"Pinto Leng hun menjabat sebagai pemimpin pelindung hukum dari Bu tong pay, meski takut mati namun tak akan kulepaskan iblis keji macam anda dg begitu saja, pinto merasa berkewajiban menegakkan kebenaran dan keadilan didunia ini. Apa artinya mati hidup buat diriku ketimbang memberantas kejahatan dari muka bumi? Karenanya sebelum anda dapat membinasakan diriku, jangan harap bisa pergi meninggalkan tempat ini dg leluasa...!"

Begitu selesai berkata, pedangnya langsung digetarkan dan menusuk ke uluhati Kho Beng.

Mengingat musuhnya sudah termasyur karena ketangguhan dan keganasannya, maka tosu dari Bu tong pay ini tak berani bertindak gegabah, untuk menghindari segala kemungkinan yg tak diinginkan, begitu turun tangan ia segera mengeluarkan jurus "cahaya hitam bayangan memecah"

Yg merupakan jurus serangan paling tangguh dari ilmu pedang Thian hiam kiam hoat, ilmu andalan Bu tong pay.

Tidak terlukiskan rasa terkejutnya Kho Beng, dg cepat ia eyusut mundur kebelakang kemudian menyilangkan payungnya didepan dada sambil bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan yg tak diinginkan.

Ia sadar kalau dirinya sudah terjerumus kedalam kawasan yg dijaga oleh pihak Bu tong pay, dan lebih-lebih tak diduga olehnya adalah sikap jantan dan berani mati yg diperlihatkan musuhnya kendatipun hanya dia seorang.

Padahal Leng hun totiang termasuk pimpinan dari kedelapan pelindung hukum partai Bu tong pay, bukan saja termasuk jago paling muda yg sangat menonjol dalam tubuh Bu tong pay sendiri, sekalipun dalam dunia persilatan pun termasuk jago pilihan.

Serangkaian ilmu pedang Thian hian kiam hoatnya telah mencapai tingkat sempurna yg hampir seimbang dg kemampuan ketua Bu tong pay dewasa ini.

Lebih-lebih lagi, biarpun dia termasuk seorang pendeta, namun keangkuhannya melebihi orang biasa, itu sebabnya sikap, jalan pemikiran maupun tindakannya berbeda sekali dg orang-orang Hoa san pay.

Sudah lama sekali ia berhasrat untuk bertarung melawa Kedele Maut dg harapan bisa menaikkan pamor partai Bu tong pay dimata masyarakat, bayangkan saja bagaimana mungkin dia mau melepaskan kesempatan yg sangat baik setelah bersua dg Kedele Maut gadungan saat ini?

Gagal dg serangan yg pertama, ia segera tertawa seram sambil berseru.

"Telah lama kudengar akan kegemaran anda membunuh orang, aku pun dengar tenaga dalammu amat sempurna dan kepandaian silatmu sangat hebat. Sekarang, mengapa kau tak berani turun tangan? Ataukah kau sudah pecah nyali setelah berhadapan dg orang-orang golongan lurus? Nih rasakan dulu kehebatan ilmu pedang Bu tong pay ku ini?"

Ditengah pembicaraan, jurus serangannya "cahaya hitam bayangan berpisah"

Segera diubah menjadi gerakan "langit dan bumi menyatu", pedangnya dg dilapisi cahaya terang segera menyelimuti seluruh badan Kho Beng.

Dua jurus serangan yg dilancarkan berantai, sesungguhnya sararan yg berlawanan, namun kenyataannya bisa dipergunakan sembung menyambung, hal ini membuktikan bahwa ilmu pedang Bu tong pay memang benar-benar luar biasa, kehebatannya tiada bandingannya didunia ini.

Kho Beng merasa terkejut bercampur mendongkol, ia tak berani melayani musuhnya terlalu lama, apalagi tanda bahaya sudah dilepaskan, berarti sebentar lagi kawanan jago akan segera berdatangan, apa jadinya bila ia sampai terkepung?

Jilid 10 Tapi diapun tak bisa melarikan diri dg begitu saja.

Setelah berani berperan sebagai Kedele Maut, otomatis dia tak mau menunjukkan titik kelemahannya ditengah jalan hingga sampai dicurigai lawan.

Disaat kedua persoalan tersebut meragukan pikirannya dan membuat pemuda kita tak berani mengambil keputusan itulah, jurus serangan dari Leng hun totiang telah tiba dihadapannya, diantara percikan cahaya bintang yg amat menyilaukan mata, semua jala darah kematiannya telah berada dibawah ancamannya.

Waktu tidak mengijinkan Kho Beng untuk berpikir lebih jauh, sedang payung Thian lo san palsunya juga tak mungkin bisa dipakai untuk membendung serangan pedang lawan, didalam keadaan apa boleh buat, terpaksa ia mesti meloncat mundur lagi untuk kedua kalinya.

"Tahan!"

Bentaknya melengking.

Sekalipun Kho Beng harus melompat mundur untuk kedua kalinya, namun gerakan badannya sangat ringan dan cepat.

Menghadapi keadaan demikian, biarpun Leng hun totiang merasa curiga, tapi berhubung nama besar Kedele Maut sudah terlanjur termasyur dimana-mana, terang saja ia tak berani memandang enteng lawannya.

Ketika mendengar bentakan tersebut, ia segera menarik pedangnya seraya menegur dingin.

"Anda telah menunjukkan sikap yg berbeda dg kebiasaanmu dimasa silam ataukah ada rencana busuk yg sedang kau persiapkan?"

Kho Beng tertawa melengking.

"Leng hun, ketahuilah bahwa dibawah payung dewimu, belum pernah ada seorang manusia pun yg bisa lolos dalam keadaan hidup, tahukah kau mengapa aku mengalah terus kepadamu?"

Leng hun totiang agak tertegun, lalu jawabnya dingin.

"Maaf, pinto kelewat bodoh dan mohon tahu apa sebabnya?"

Satu ingatan cerdik segera melintas dalam benak Kho Beng, dg dingin katanya kemudian.

"Sederhana sekali, berhubung antara aku dg ketua partai kalian sudah terjalin perjanjian secara pribadi untuk tidak saling mengganggu, maka akupn enggan berselisih paham dg mu, lagi kalau toh kau tetap tak tahu diri sehingga mengobarkan watakku, hmmm lihat saja akibatnya nanti!"

Seusai berkata ia segera membalikkan badan dan berabjak pergi meninggalkan tempat tersebut. Pada mulanya Leng hun totiang merasa agak tertegun, kemudian dg penuh amarah ia membentak.

"Berhenti!"

Secepat anak panah yg terlepas dari busurnya dia melesat maju kedepan, begitu melampaui Kho Beng, ia segera menghadang jalan perginya dg pedang disilangkan didepan dada.

Kho Beng sendiripun agak mendongkol, setelah mundur berapa langkah, serunya dg suara melengking.

"Tosu setan, aku toh sedang memberi keterangan sejelasnya, apakah kau betul-betul sudah bosan hidup?"

"Iblis keji!"

Hardik Leng hun totiang.

"Kau jangan memfitnah ketua kami sebagai temanmu, kapan sih ciangbunjin kami mengikat perjanjian gelap dgmu?"

Sebagaimana diketahui, Kho Beng memang Cuma berbicara semaunya senciri, maka sambil tertawa terkekeh-kekeh serunya lagi.

"Mengapa tidak kau tanyakan sendiri kepada ketuamu?"

Leng hun totiang segera tertawa dingin.

"He...he...he...sudah tiga orang rekan kami yg tewas oleh Kedele Maut mu, aku yakin bohongmu kali ini kalau bukan bermaksud mengadu domba, pasti mempunyai maksud busuk lainnya. Bila kau tak dapat memberikan bantahan yg jelas hari ini, rasanya tak mungkin bisa membersihkan tuduhanmu tersebut."

Leng hun totiang termasuk seorang pendeta yg sangat mengutamakan nama baik perguruannya, ia kuatir tuduhan Kho Beng tersebut sampai tersebar luas diluaran hingga menimbulkan kecurigaan pihak lain.

Karenanya begitu selesai berkata, pedangnya sekali lagi melancarkan tusukan kilat ketubuh Kho Beng, hanya kali ini dia telah melipat gandakan kekuatannya.

Kho Beng sendiripun tidak begitu jelas mengetahui seberapa banyak korban yg sudah tewas ditangan cicinya, tentu saja dia pun tidak tahu siapa saja yg telah menjadi korban.

Karenanya ia menjadi tertegun sehabis mendengar perkataan tadi, ia tahu perkataannya bukan saja gagal melunakkan sikap lawan malah sebaliknya mengobarkan kembali perasaan dendam sakit hatinya.

Dalam keadaan demikian, ia mengerti kalau suatu pertarungan tak bisa dihindari lagi.

Cepat-cepat senjata payungnya dipersiapkan, kemudian secara beruntun balas menotok ketujuh jalan darah penting ditubuh Leng hun totiang, jengeknya sambil tertawa dingin.

"Yang telah mampus toh sudah mampus, justru karena katua kalian menyayangi kalian anggotanya yg masih hidup, maka perjanjian tersebut dibuatnya dg ku, tapi sekarang kau bakal menjadi sukma keempat yg bakal melayang ditanganku."

Untuk tetap mempertahankan pemornya Kedele Maut, terpaksa ia mesti mengucapkan kata-kata yg pedas. Hawa amarah Leng hun totiang semakin memuncak, ia membentak nyaring.

"Ngaco belo!"

Serangan pedangnya semakin diperketat, diantara ayunan pedangnya sedapat mungkin ia mengancam bagian-bagian mematikan ditubuh Kho Beng.

Dalam waktu singkat, cahaya pelangi yg menyilaukan mata telah mengurung Kho Beng dibawah lapisan bayangan pedang.

Kho Beng dipaksa untuk menghindar kesana kemari untuk menyelamatkan diri, ditambah pula senjatanya tak sesuai dg kebiasaannya, maka sulit baginya untuk melancarkan serangan balasan, hal ini masih ditambah pula dg kekuatirannya bila sampai melukai lawan, karenanya ilmu pedang Lingsui jit si pun tak berani digunakan.

Akibatnya secara lambat laun ia makin terjerumus kedalam kepungan musuh dan kerepotan untuk menghadapinya.

Perasaan gelisah membuatnya makin tegang, apalagi permainan pedang Leng hun totiang yg makin lama makin gencar, dimana pancaran hawa serangannya begitu hebat dan jauh diluar perhitungannya, semua itu membuatnya makin terpojok.

Kho Beng mulai sadar, bila ia tidak segera melancarkan serangan balasan, akhirnya dia sendiri yg akan terluka diujung senjata lawan.

Sementara itu Leng hun totiang sedang mengeluarkan jurus "Im yang ji hun"

Atau "Im yang dipisahkan dua"

Dimana cahaya pedang yg terwujud dalam dua bias sinar mengancam kedua iga Kho Beng, lapisan cahaya serangan tersebut membuatnya susah untuk membedakan manakah yg kenyataan dan mana yg tipuan.

Sambil menggertak gigi keras-keras Kho Beng segera membentak nyaring, telapak tangan kirinya diputar kemudian didorongnya kemuka dg pancaran tenaga serangan yg sangat hebat.Berbicara soal tenaga dalam, Kho Beng menggembol tenaga murni Bu wi lojin sebesar empat puluh tahun hasil latihan, tentu saja serangannya itu benar-benar mengerikan hati.

Leng hun totiang kelihatan agak terkejut, pergelangan tangannya segera diayunkan kebawah dan merubah jurus serangannya menjadi gerakan "bayangan hitam pelangi terbang"

Untuk menyambar pinggang Kho Beng.

Kecepatannya didalam merubah jurus selincah ular berbisa, keganasannya serupa angin puyuh yg menyapu dedaunan, tapi sayang Kho Beng sudah mempersiapkan diri dg sebaik-baiknya.

Sekali lagi ia membentak nyaring, dg ujung payungnya ia totok ketubuh pedang lawan, inilah jurus "ombak ganas menerjang batuan"

Dari ilmu pedang Liu sui jit si yg amat menggetarkan dunia persilatan.

Walaupun payungnya itu tak bisa dipakai untuk tangkisan melintang dan tusukan langsung, namun oleh karena ujung payung terbuat dari tembaga putih, maka begitu menutul ditubuh pedang Leng hun totiang, ternyata secara tiba-tiba dan sangat aneh menyambar kedada tosu tersebut.

Serentetan cahaya bintang yg terwujud dari rentetan bahan perak seketika itu juga mengurung dada Leng hun totiang dan menyerupai air terjun yg menumbuk diatas batu karang kemudian memercikan butiran air keempat penjuru, kekuatan serangan tersebut dg cepatnya memancar keempat penjuru dan mengancam keseluruh tubuh lawan.

Memang disinilah kehebatan dari jurus serangan ilmu pedang air mengalir yg amat hebat itu.

Menanti Leng hun totiang mengenali jurus pedang tersebut, sayang sekali keadaan sudah terlambat.

Diantara percikan cahaya bintang yg menyilaukan mata, jerit kesakitan bergema memecah keheningan lalu tampaklah jagom uda dari Bu tong pay yg kosen ini mundur beberapa langkah dg sempoyongan, pedangnya terkulai lemas kebawah.

Ternyata diatas dadanya sudah muncul lima buah lubang berdarah dimana darah segar masih menyembur keluar dg derasnya, air mukanya pucat pias seperti mayat, jelas luka yg dideritanya parah sekali.

Semenjak terjun kedunia persilatan, baru pertama kali ini Kho Beng melukai lawannya, sebagai pemuda yg berhati mulia ia menjadi tertegun untuk beberapa saat lamanya.

Sementara itu Leng hun totiang telah menunding Kho Beng dg susah payah sambil berbisik lirih.

"Jurus...jurus ombak ganas menerjang batu yg sangat hebat, kau...kau...kau pasti bukan Kedele Maut...."

Diam-diam Kho Beng merasa terkejut tapi sesudah menghela napas panjang sahutnya.

"Ketajaman mata totiang memang amat mengagumkan, sebetulnya aku kho Beng enggan membunuhmu, tapi nampaknya mau tak mau aku harus menghabisi nyawamu sekarang!"

Leng hun totiang membelalakkan matanya dg keheranan, serunya amat tercengang.

"Kho Beng? Kau adalah Kho Beng sau sicu yg telah melaporkan identitas Kedele Maut?"

Sambil tertawa getir Kho Beng manggut-manggut.

"Yaa, betul! Sayang sekali totiang mengetahui segalanya terlalu terlambat..."

Seusai berkata, telapak tangan kirinya segera diayunkan kedepan melepaskan sebuah pukulan dahsyat.

Leng hun totiang yg sudah terluka parah tak ampun terhajar telak hingga terbanting keatas tanah, seketika itu juga selembar jiwanya melayang meninggalkan raganya.

Agar mendekati kenyataan sesuai dg yg sebenarnya, Kho Beng mengeluarkan dua butir kedele dan segera disambitkan kesepasang mata korban, kemudian ia lalu menjura kepada jenasah tadi seraya berdoa.

"Totiang, beristirahatlah dg tenang, ucapanmu yg telah mengundang bencana sendiri, hal mana membuat ku terpaksa harus membunuhmu, maafkanlah aku, semoga kau dapat menjelma menjadi manusia kembali dalam penitisan mendatang!"

Selesai berdoa buru-buru ia meninggalkan tempat tersebut dg cepat.

Sekarang ia tak berani meneruskan perjalanan kedepan, seorang Leng hun totiang sudah cukup membuat berpikir dua kali, ia sadar orang-orang Bu tong pay tak boleh dipandang enteng.

Ini berarti apa yg dikatakan Li sam memang benar, bila dibandingkan maka hanya pihak Hoa san pay yg mudah dihadapi.

Maka sekali lagi dia bergerak kembali menuju ketempat dimana pihak Hoa san pay mempersiapkan penjagaannya.

Tapi pelbagai pikiranpun bermunculan didalam benaknya saat itu.

Bila dilihat dari perbuatan encinya yg membunuh tak habisnya, maka muncullah pertanyaan berapa banyakkah musuh besar keluarganya?

Didalam surat wasiat ayahnya hanay dikatakan kalau kehancuran perkampungan Hui im ceng hanya disebabkan se

Jilid kitab pusaka Thian goan bu boh, mungkinkah orang yg mengincar kitab pusaka tersebut tempo hari mencakup seluruh umat persilatan didunia ini?

Dibebani oleh berbagai persoalan yg mencurigakan inilah, tanpa disadari ia telah kembali dikawasan dimana jago-jago Hoa san pay melakukan penjagaan.

Suasana disekeliling tempat itu sangat hening, kecuali ombak sungai yg menggulung-gulung, segala sesuatunya kelihatan tenang sekali.

Seharusnya dg kembalinya ia ketempat tersebut, maka kawanan jago lihay yg mengejar dari kota Gak yang harus sudah berkumpul semua disitu, tapi apa sebab suasana diseputar sana justru kelihatan begitu hening dan tenang....

Dg perasaan tak habis mengerti Kho Beng memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, belum lagi ingatan kedua melintas lewat, tiba-tiba dari sisi kirinya, dari balik sebuah batuan karang menyembur keluar bom udara berwarna merah, disusul kemudian terdengar seseorang menjengek sambil tertawa dingin.

"Iblis jahat! Sudah lama kunantikan kedatanganmu, tak kusangka kau masih tetap berada disini!"

Ditengah pembicaraan, tampak dua sosok bayangan manusia meluncur turun dg cepatnya dan menghadang ditengah jalan, ternyata mereka adalah dua orang kakek putih dan hitam.

Kedua orang kakek itu mempunyai dandanan yg sangat aneh, yg hitam mempunyai rambut berwarna hitam pekat, jenggot hitam, muka hitam dan berbaju hitam, sekilas pandang mirip sekali dg sebuah gumpalan daging berwarna hitam.

Sebaliknya yg putih, mengenakan baju putih, muka putih bahkan rambut dan jenggot pun berwarna putih salju.

Diam-diam Kho Beng merasa sangat terkejut, dari dandanan maupun ciri khas kedua orang lawannya itu, ia segera mengenali mereka sebagai Hoa san Hek pek jilo atau dua sesepuh hitam putih Hoa san pay.

Karenanya dg berlagak acuh tak acuh dan santai, ia memutar payung bulatnya seraya berseru lengking.

"Ada apa? Apakah kunjunganku untuk menikmati keindahan panorama malam ditempat ini telah mengganggu kalian berdua, dua sesepuh dari Hoa san pay?"

Sikakek muka hitam mendengus dingin.

"Hmmm...ternyata anda betul-betul sangat licik dan berakal bulus, sudah ratusan orang rekan-rekan persilatan mengejarmu sampai dimuka sana, tak nyana kau masih berkeliaran disekitar sini, tapi dg berdua kami bersaudara ditempat ini berarti jangan harap kau bisa lolos dari sini dg selamat. Bila tahu diri mari kita selesaikan persoalan ini secepatnya..."

Sembari berkata, mereka berdua masing-masing meloloskan senjata andalannya.

Ketika mendengar perkataan tersebut, dalam hati kecilnya Kho Beng amat terkejut sekali, dari perkataan lawan yg mengatakan bahwa para jago telah mengejar kedepan situ, berarti selisih jarak mereka tak bakal terlalu jauh, atau dg perkataan lain siasatnya memancing para jago telah mencapai tujuan.

Dalam keadaan begini, dia tak ingin membuang waktu lebih lama lagi disana, setelah berpikir sejenak, katanya kemudian sambil tertawa lengking.

"Apakah kalian berdua sudah merasa bosan hidup didunia ini?"

Sikakek bermuka putih segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

"Ha...ha...ha...terus terang saja, aku masih belum bosan hidup didunia ini, tapi dalam kenyataan aku memang menaruh curiga kepadamu!"

"Mencurigai dalam soal apa?"

Sambil tertawa terkekeh-kekeh, kakek bermuka putih itu menjawab.

"Aku curiga kalau engkau bukan Kedele Maut yg tulen!"

KHo Beng tertegun, lalu tegurnya sambil tertawa dingin"

"Atas dasar apa kau berkata begitu?"

Sambil tertawa dingin, sikakek bermuka hitam turut menimbrung.

"Sejak kemunculannya dalam dunia persilatan, kapan sih Kedele Maut pernah membiarkan korban yg telah melihat wajahnya hidup terus didunia ini?"

"Yaa, memang belum ada"

Sahut Kho Beng sambil tertawa lengking.

"Padahal menurut laporan anak muridku, sepanjang perjalanan anda tidak melukai siapa saja, hal ini bertentangan sekali dg si Kedelai Maut, oleh sebab itulah bukan saja aku menaruh curiga kalau engkau bukan Kedele Maut, bahkan akupun mencurigai maksud serta tujuanmu berbuat begini!"

Sekali lagi Kho Beng merasakan hatinya bergetar keras, pikirnya tanpa terasa.

"Tampaknya ucapan jahe makin tua makin pedas memang benar, tak heran kalau Li Sam berpesan kepadaku agar bersikap lebih hatihati bila bertemu dua sesepuh hitam putih dari Hoa san..."

Dalam waktu singkat ia telah memperoleh jawabannya, maka sambil tertawa dingin katanya.

"Ehmm, kecurigaanmu memang cukup beralasan, tapi akupun hendak bertanya kepadamu, sudah tidak sedikit korban yg tewas diuung Kedele Maut ku selama ini, tapi apakah tak pernah kau pikirkan, diantara jago-jago yg tewas adakah diantaranya yg berasal dari jagoan kelas dua atau kelas tiga?"

Kakek bermuka putih itu berpikir sebentar, lalu manggutmanggut.

"Yaa benar, diantara korban yg tewas dlm cengkeraman Kedele Maut mu kalau bukan seorang pemimpin suatu perkumpulan atau perguruan, memang biasanya termasuk jagoan kelas satu yg berilmu silat tinggi..."

Sambil tertawa dingin, Kho Beng segera menyela.

"Nah, tentunya kau sudah mengerti bukan apa sebabnya sepanjang jalan aku tidak melakukan pembunuhan? Bukan aku tak ingin membunuh, he...he...he...Cuma sayang mereka belum pantas untuk menemui ajalnya ditanganku."

"Hmmm..sombong benar lagakmu"

Dengus kakek bermuka hitam dg rasa mendongkol.

"dari kota Gak yang hingga ketempat ini, meski diantara rekan-rekan persilatan terdapat juga kawanan manusia yg tidak sesuai dg nama besarnya, namun sebagian besar memiliki ilmu silat yg luar biasa hebatnya, bila anda benar-benar adalah Kedele Maut, aku rasa bangkai sudah bergeletakan dimana-mana, darah yg mengalir telah menganak sungai...."

Kho Beng sengaja tertawa melengking.

"Hey tua bangka! Kau tak usah menempeli emas diwajah sendiri, ketahuilah orang-orang yg kujumpai sepanjang jalan tak lebih hanya sekawanan setan bernyali kecil yg menggelikan hatiku saja tapi berbicara sesungguhnya, memang ada juga diantara mereka yg memiliki kemampuan yg cukup berhak untuk kuhadapi seperti misalnya tosu kecil yg bernama Leng hun, aku rasa tosu yg telah kujegal itu masih lebih hebatan ketimbang jago-jago dari hoa san kalian."

Sindiran yg tak langsung ini seketika membuat wajah dua sesepuh hitam putih menjadi merah padam, sikakek muka hitam segera membentak penuh amarah.

"Jadi kau anggap kekuatan Hoa san pay kami tak ada harganya sama sekali?"

"Hmmm..itupun belum cukup, ambil contoh kalian berdua saja, berapa sih tinggi ilmu silat kalian berdua? Tapi aku telah menyiapkan empat butir Kedele untuk menghantar kalian bermain-main dialam baka!"

Dua sesepu hitam putih dari Hoa san nampak terkesiap, perasaan curiga yg semula muncul dalam benak mereka pun mulai goyah.

Mereka mengetahui cukup jelas taraf kepandaian silat yg dimiliki Leng hun totiang dari Bu tong pay, tapi kenyataannya ia telah tewas ditangan musuh, hal ini menandakan bahwa Kedele Maut yg berada dihadapannya sekarang bisa jadi adalah iblis yg tulen.

Serentak kedua orang sesepuh dari Hoa san pay ini mempersiapkan pedangnya dan disilangkan didepan dada sambil berjaga jaga terhadap segala kemungkinan yg bakal terjadi, namun mereka tidak bermaksud untuk menyerang lebih dulu.

Padahal Kho Beng sendiripun tidak berniat turun tangan, melihat keadaan tersebut, segera ujarnya sambil tertawa lengking.

"Hey tua bangka! Apa lagi yg kalian nantikan? Andaikata benarbenar tak pingin mampus, menyingkirlah kesamping dg segera, hari ini aku akan bersikap lebih terbuka terhadap pihak Hoa san pay kalian!"

Berubah hebat paras muka sikakek bermuka hitam, dg wataknya yg keras dan berangasan akhirnya ia tak kuasa untuk menahan diri, segera dipandangnya sikakek bermuka putih sekejap, lalu berkata.

"Lotoa, perguruan kita telah dihina malam ini, bila kita berpeluk tangan belaka, apakah orang persilatan tak akan mentertawakan kita?"

Watak sikakek bermuka putih justru merupakan kebalikan dari kakek bermuka hitam, mendengar kata-kata tersebut segera ia tertawa.

"Loji kita tak boleh mengucapkan masalah besar hanya disebabkan persoalan kecil, buat apasih kita terburu nafsu?"

Kho Beng jadi tertegun, ia coba memperhatikan sekejap suasana diseputar sana, tiba-tiba ia menjumpai munculnya beberapa titik hitam dari arah timur sana, titik-titik hitam tersebut sedang bergerak mendekat dg kecepatan luar biasa.

Tiba-tiba saja ia menjadi paham agaknya kedua sesepuh hitam putih dari Hoa san pay ini sedang mengulur waktu sambil menunggu bala bantuan.

Kho Beng menjadi tercekat, ia tak berani berayal lagi, sambil mengambil segenggam kedele ari sakunya, ia berseru lengking.

"Tua bangka celaka! Kalau toh kalian tak berani turun tangan, rasakan dulu kehebatan kedele pengejar sukma ku ini , lihat serangan..."

Segenggam kedele segera memancar keempat penjuru bagaikan hujan gerimis yg menyelimuti angkasa.

Sebagaimana diketahui korban yg tewas diujung kedele tersebut sudah kelewat banyak, lag pula diantara para korban tersebut terdapat jago-jago yg berkepandaian jauh melebihi dua sesepuh hitam putih, itulah sebabnya bagitu kedele tersebut diluncurkan, dg perasaan terkesiap buru-buru dua orang kakek itu menyurut mundur untuk menghindarkan diri.

Kho Beng memang bermaksud menggertak musuhnya dg kebesaran nama kedele maut, karenanya sesudah melepaskan serangan, tanpa diperdulikan lagi apakah serangannya mengenai sasaran atau tidak, secepat anak panah dia melesat pergi.

Sementara itu kedua kakek hitam putih dari Hoa san pay masih berdiri tertegun ditempat semula, terutama setelah gumpalan kedele tersebut berguguran diatas tanah tanpa menimbulkan reaksi apapun yg mengerikan hati.

Tapi setelah tertegun sesaat, dg cepat mereka lakukan pengejaran kembali.

Dalam pada itu kawanan jago yg melakukan pengejaran telah berdatangan semua, dibawah bimbingan dua sesepuh hitam putih dari hoa san pay, serentak mereka lancarkan pengejaran dg ketat.

Bom-bom udara berasap merah dilepaskan berulang kali, suara dentuman dan percikan cahaya membelah kegelapan dan keheningan malam.

Kho Beng kabur dg sekuat tenaga, beberapa kali ia berpaling sambil memperhatikan keadaan diseputar sana, tatkala menjumpai keadaan tersebut, hatinya merasa makin tegang dan panik.

Ia tahu bila dirinya sampai terkepung oleh kawanan jago sebanyak itu, jelas sudah keselamatan jiwanya akan terancam.

Berada dalam keadaan begini, mau tak mau ia mesti menambah dua bagian tenaganya untuk kabur semakin cepat lagi.

Dalam waktu singkat ia sudah kabur sejauh lima li lebih, tiba-tiba sungai yg membentang dihadapannya berbelok kekiri lalu pada jarak seratus kaki didepan situ ia menemukan htan gelagah dg bunganya yang putih.

Hutan gelaga tersebut luas sekali hingga mencapai ratusan bau...

Menjumpai hutan gelaga itu membuat Kho Beng segera teringat kembali dg pesan Li sam, hatinya menjadi amat girang.

Ia tahu, asal dirinya berhasil memasuki hutan gelaga tersebut berarti keselamatan jiwanya sudah terjamin.

Siapa tahu belum habis ingatan tersebut melintas lewat, tiba-tiba dari balik hutan disisi kanan telah muncul serombongan jago persilatan yg dipinpin sendiri oleh Bok sian taysu dari Siau lim si serta Kiong Ceng san pemilik istana naga dari bukit Kun san.

Bok sian taysu dg toya bajanya berdiri mencegat ditengah jalan sambil membentak keras.

"Iblis jahat, hendak kabur kemana kau?"

Baca Juga: Pedang Angin Berbisik 15

Baca Juga: Pendekar Baja 4

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert