Ceritasilat Novel Online

Kedele Maut 1

Eps 1 Kedele Maut - Khu Lung

Baca online Kedele Maut - Khu Lung

Cersil Kedele Maut - Khu Lung.

Kedele Maut Karya . Khu Lung Diceritakan oleh Can

Jilid 01 Perkembangan zaman berputar tiada hentinya, corak ragam pembunuhan didalam dunia persilatan pun ikut berkembang makin banyak macamnya, namun dari sekian banyak corak pembunuhan, tak satupun peristiwa yang tampak lebih aneh, lebih keji dan lebih misterius daripada peristiwa berdarah ini.

Disebuah tempat yang berpemandangan sangat indah dibukit Eng tong coa, berdiri belasan orang kakek bertubuh kekar.

Mereka semua adalah ketua dari perguruan kenamaan serta mempunyai nama besar dalam dunia persilatan, tapi saat itu semuanya berdiri tenang disitu sambil melelehkan air mata bercampur darah.

Apakah kawanan jago lihai ini telah mengalami suatu tragedy yang memedihkan hati?

Mengapa mereka mengucurkan air mata bercampur darah.....?

Tidak!

Mereka bukan sedang menangis, tapi nyawa mereka telah melayang meninggalkan raganya.

Tempat yang mematikan persis diatas mata, diantara cucuran darah tampak dua butir kedele menancap dalam dalam disana.

Hanya saja mayat-mayat itu tidak roboh ketanah seolah-olah mereka tak rela untuk mati, sukma mereka seolah-olah tak mau buyar.

Sekalipun pemandangan yang aneh, keji dan misterios ini Belum bisa dibilang sebagai suatu pemandangan luar biasa, paling tidak belum pernah terjadi sebelum ini....

Peristiwa aneh ini baru diketahui orang sebulan kemudian, dunia persilatan segera dibuat gempar.

Tak seorangpun tahu mengapa tokoh-tokoh silat yang berdiam tersebar disegala penjuru dunia persilatan ini bisa berkumpul semua disitu?

Tentu saja tiada yang mengetahui siapa pembunuhnya.

Yang membuat orang lebih keheranan adalah tidak ditemukannya tanda-tanda perlawanan dari kawanan tokoh sakti yang berilmu silat tinggi ini, ataukah mereka rela dirinya dibantai orang?

Berita pembunuhan ini tersebar diseluruh negeri dalam waktu singkat, menyusul kemudian peristiwa pembunuhan dengan senjata kedelepun berlangsung disetiap wilayah.

Nyawa demi nyawa melayang meninggalkan raga.

Perasaan ngeri dan ciut makin pula mencekam perasaan tiap umat persilatan.

Maka para jago dari golongan putih dan hitam pun bersama-sama menyebar kartu undangan Bu lim tiap untuk mengundang segenap umat persilatan agar merundingkan persoalan ini, serta menyelidiki siapakah pembunuh keji itu.

Oleh karena tak ada yang tahu identitas pembunuhnya sedang pembunuh tersebut gemar membunuh orang dengan memakai kacang kedele, maka orangpun menyebutnya dengan "Kedele Maut".

Kedele maut...

kedele maut......

Dedaunan dibukit Cuh wi san sudah mulai rontok dan berguguran keatas tanah, angin augur berhembus kencang menerbangkan dedaunan dan ranting semuanya, ini memberi perasaan murung bagi setiap orang yang berada disana.

Memandang dari kaki bukit, tampaklah diantara hutan yang mulai gandul, dipunggung bukit berdirilah sebuah perkampungan yang tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil, didepan pintu perkampungan tergantung sebuah papan nama yang bertuliskan "Sam Goan Bun".

Warna emas diatas papan nama itu sudah mulai luntur, hal ini membuktikan kalau partai Sam Goan Pay telah berdiri banyak tahun.

Menyinggung soal nama Sam goan pay dalam dunia persilatan, meski banyak orang yang mengetahuinya, Namun segan orang membicarakan, sudah tentu kekuasaan dan kemampuannya belum bisa dibandingkan partai-partai besar seperti Bu tong pay atau Siauw lim pay....

Meski begitu Sam goan bun pernah mempunyai sejarah yang cemerlang, seratus tahun berselang bukan saja nama Sam goan bun jauh lebih kesohor daripada partai besar, malah partai tersebut menduduki cursi Bu lim bengcu yang terhormat.

Tapi mengikuti perputaran zaman, kekuatan perguruan itu lambat laun makin melemah, nama besarnya ikut memudar.

Apalagi saat ini, sedemikian lamanya kekuatan Sam goan bun sehingga nyaris tak mampu menancapkan kakinya lagi dalam percaturan dunia persilatan.

Justru karena memudarnya kemampuan partai itu, Sam goan bun juga Amat jarana embuta perselisihan didalam persilatan, sebab peraturan yang berlaku dalam Sam goan bun sekarang amat keras ingA membuat setiap orang harus berpikir tiga kali sebelum melakukan sesuatu perbuatan.

Bagi anggota perguruan yang melakukan kesalahan ringan, dia akan dijatuhi hukuman cacat dan bagi yang melakukan kesalahan besar dihukum mati.

Tentu saja peraturan tersebut dapat diperlakukan seketat ini karena partai Sam goan bun memang memiliki kesulitan yang tak mungkin bisa diutarakan lepada orang lain.

Sesungguhnya jumlah semua penghuni dalam perguruan ini hanya tiga empat pululan orang, itupun sudah termasuk para kaki dan para pembantu, dengan kekuatan selemah ini, sedikit saja melakukan kesalahan dalam dunia persilatan, bisa jadi akan mengundang musibah besar bagi seluruh partai.

Apalagi Sejas Sam goan pay kehilangan ketiga jurus ilmu pedangnya yang paling tangguh pada seratus tahun berselang, delatan belas jurus Sam goan kiam hoat nya menjadi tak lengkap dan akibatnya kemampuan itu tak bisa digunakan lagi untuk melawan kekuatan partai lain, tak heran kalau para ciangbunjinnya turun temurun selalu berusaha mengekang diri dalam percaturan dunia persilatan.

Tapi belakangan ini, semenjak meletusnya geger "Kedele Maut", partai Sam goan pay telah menerima undangan dari tujuh partai besar agar mengutus orang-orangnya turut serta didalam penyelidikan tersebut.

Tentu saja mereka tak dapat menolak undangan ini kecuali mereka berani memusuhi tujh partai besar, tapi beranikah Sam goan pay berbuat begini?

Tentu saja tidak!

Seandainya ada orang menuduh mereka sebagai komplotan dari si "Kedele Maut", bukankah urusannya akan semakin berabe?

Perkampungan Sam goan bun terdiri dari lima bagian, walaupun lingkungannya tidak terhitung besar, Namur selain memberi kesan lenggang disitu, apalagi setelah anggota perguruan dikirim TurIn gunung secara beruntun, suasana lenggang makin mencekam seluruh perkampungan.

Waktu itu malam telah tiba mendekati kentong pertama, tiba-tiba tampak sesosok bayang manusia munculkan diri dari balik ruang gedung melompati pagar pekarangan dan menyusup kedalam halaman keempat, dimana bayangan tadi menyembunyikan diri dibalik kegelapan.

Dilihat dari gerakan tubuh bayangan manusia tersebut, gerak geriknya sangat lamban, lagipula ilmu meringankan tubuhnya jauh lebih buruk daripada ilmu ringan tubuh pada umumnya, cuma ia bisa bergerak dengan hati-hati sekali sehingga tidak sampai menimbulkan suara sedikitpun.

Halaman keempat dari perkampungan ini merupakan tempat kediaman ketua perguruan.

Waktu itu tampak seorang murid Sam goan bun sedang berlatih pedang ditengah halaman, diantara cahaya pedang yang berkilauan, orang itu sedang melatih lima belas jurus ilmu pedang Sam goan kiam hoat yang sudah tak lengkap lagi itu.

Dihadapannya berdiri seorang kekek kurus berjubah putih, dia Adalah ketua Sam goan bun saat ini, Sun Thian hong.

Sementara itu, bayangan manusia yang sedang bersembunyi dibalik kegelapan itu membelalakkan matanya lebar-lebar sambil mengawasi anggota Sam goan bun yang sedang berlatih pedang ditengah halaman, tampaknya ia dibuat terpesona.

Tak sampai setengah jam kemudian, murid Sam goan bun itu telah selesai memainkan ilmu pedang Sam goan kiam hoat tersebut.

Kemudian sambil memberi hormat lepada Sun Thian hong, ujarnya .

"Tecu mohon kritik serta petunjuk dari ciangbun suhu!"

Sambil mengelus jenggotnya Sun Thian hong manggut-manggut, katanya .

"Ehmmm! Kemajuan yang berhasil kau capai sungguh hebat dan diluar dugaan, ilmu pedang Sam goan kiam hoat pun telah mencapai delapan bagian kesempurnaan, asalkan kau bersedia melatih diri dengan lebih tekun lagi, tidak sulit bagimu untuk mencapai kemajuan seperti apa yang kumiliki sekarang."

Kejut dan bercampur gembira lelaki itu bertanya .

"Maksud ciangbun suhu, teca telah lupus ujian?"

"Benar!"

Sun Thian hong manggut-manggut.

"Besok kau boleh turun gunung, kebetulan ketua Siauw lim pay sedang tak puas karena jumlah anggota perguruan kita yang menggabungkan diri kelewat sedikit, setelah turun gunung nanti kau boleh langsung menggabungkan diri dengan suheng serta susiokmu sekalian."

"Tecu terima perintah."

"Ingat baik-baik, tugasmu kali ini meski mengikuti usaha penyelidikan atas jejak si Kedele Maut, yang betul adalah menyelidiki kitab pusaka ilmu pedang perguruan kita yang hilang. Kita tahu, dalam tiga generasi ini, yang menjadi tujuan utama bagi perguruan kita adalah menemukan kembali ketiga jurus ilmu pedang kita yang hilang, karena itu kuharap kau dapat menyelesaikan tugas perguruan kita dengan sebaik-baiknya."

Sekali lagi lelaki itu memberi hormat sambil mengiakan, kemudian setelah memberi hormat dia mengundurkan diri.

Dalam pada itu bayangan manusia yang mengintip dari balik kegelapan tampaknya merasa bahwa tiada sesuatu lagi yang bisa dilihat, sambil menghimpun tenaganya dia segera meloncat keatas dahan pohon, bermaksud melompat pagar pekarangan.

Tapi saat itulah, terdengar Sun Thian hong menghela napas sambil bergumam .

"Aaai, diantara puluhan muridku, tak seorangpun yang memiliki kemampuan hebat, hanya bocah itu berotak cerdas dan berbakat bagus.... Tapi aku membiarkannya hidup sebagai pembantu yang menebang kayu dan memikul air dan tak berani menerimanya sebagai murid. Ataukah kesemuanya ini sudah merupakan suratan takdir?"

Bergetar keras seluruh badan bayangan hitam tersebut sehabis mendengar ucapan itu, sehingga pikirannya bercabang, hawa murninya menjadi buyar, ranting yang diinjak pun tak mampu menahan berat badannya lagi hingga patah menjadi dua bagian.

Suara itu lirih, tapi ditengah kegelapan malam yang hening, suara tersebut menimbulkan gema yang cukup keras.

Agaknya orang itu tahu kalau gelagat tidak menguntungkan, cepat-cepat dia melompat turun dari atas pohon, menyambar sebutir batu kemudian dilemparkan kebelakang tubuhnya.

Batu tadi segera terjatuh disudut halaman sambil menimbulkan suara lagi, dan saat itupula Sun Thian hong telah membentak keras .

"Siapa yang berani mengintip kemari?"

Menyusul bentakan tersebut, ia menerjang kesudut halaman, sepasang matanya mengawasi sekeliling tempat itu dengan seksama, kemudian dengan gerakan cepat dia menerjang kehalaman kelima.

Melihat Sun Thian hong tertipu oleh lemparan batunya, bayangan hitam yang mendekam diatas tanah dengan hati berdebar keras itu cepat-cepat melompat bangun dan ngeloyor pergi dari situ.

Ia langsung menuju kesebuah bilik dekat dapur, begitu masuk ruangan, lampu dipasang dan pintu dikunci rapat-rapat.

Ternyata orang itu adalah seorang pemuda berusia belasan tahun, meskipun pakaian yang dikenakan amat sederhana, namun tidak menutupi ketampanan wajahnya.

Dengan muka merah padam, peluh dingin bercucuran membasahi tubuhnya, ia menutup pintu rapat-rapat kemudian menghembuskan napas panjang.

Sudah setahun ini dia berharap belajar silat, karena itu setiap tengah malam ia selalu menyusup kedalam halaman belakang untuk mencuri lihat orang belajar silat.

Selama ini perbuatannya belum pernah diketahui orang!

Tapi peristiwa yang baru saja dialaminya tadi membuat dia mandi keringat dingin dan hatinya berdebar keras.

Ia cukup mengetahui sampai dimanakah kerasnya peraturan dalam perguruan Sam goan bun.

Sekalipun dia tidak terhitung murid Sam goan bun, tapi bila perbuatannya sampai ketahuan, sudah pasti hukuman berat akan dijatuhkan kepadanya.

Tapi keluhan dari ketua Sam goan bun yang terdengar olehnya tadi, membuat pemuda tersebut bimbang bercampur tak mengerti.

Sudah jelas bocah pemikul air, penebang kayu yang dimaksudkan ciangbunjin adalah dia, sebab selain dia tak ada orang kedua yang melakukan pekerjaan semacam itu disitu.

Kalau memang ketua Sam goan bun menganggapnya berbakat untuk belajar silat, mengapa ia tidak menerimanya sebagai murid?

Ataukah ketua Sam goan bun itu takut akan sesuatu?

Atau mungkin dia mempunyai suatu rahasia yang membuat orang lain takut padanya?

Lama sekali pemuda itu duduk termenung, tapi akhirnya setelah menghela napas ia bergumam .

"Setelah bersusah payah setahun penuh, baru hari ini aku berhasil mencuri lihat Sam goan kiam hoat secara lengkap, biar kulatih dulu ilmu tersebut sebaik-baiknya, siapa tahu kalau suatu ketika aku Kho Beng bisa menjadi hebat?"

Dengan membuang semua pikirannya yang masgul, pemuda itu bangkit berdiri mengambil sebatang kayu kemudian mulai berlatih diri dengan penuh semangat.

Biarpun tanpa bimbingan dan petunjuk seorang, berdasarkan kecerdasan dan disertai bakat yang baik, pemuda itu danggup memainkan ilmu pedang Sam goan kiam hoat secara sempurna.

Baik dalam gerakan langkah maupun dalam gerakan pedang, semuanya menurut aturan, ringan berat cepat atau lambat, semuanya dilakukan secara sempurna, malahan jah lebih sempurna dan hebat daripada apa yang dilakukan murid Sam goan bun tadi.

Jurus demi jurus, gerakan demi gerakan semuanya dilakukan sepenuh tenaga, dimana kayunya menyambar, anginnya menderuderu, kehebatannya tak kalah dengan keampuan seorang jago pedang.

Disaat Kho Beng sedang melatih diri dengan asyik sampai ia lupa keadaannya, tiba-tiba dari balik jendela muncul sepasang mata yang diam-diam mengintip keadaan dalam ruangan.

Tatkala sepasang mata itu mengikuti jalannya latihan dari Khong Beng, sorot matanya yang selalu memancarkan sinar kaget segera menjadi terkesiap.

Ternyata orang yang berada diluar itu tak lain adalah ketua perguruan Sam goan bun, Sun Thian hong.

Rupanya disaat dia merasa ada orang sedang mengintip gerak geriknya tadi, dengan kecepatan yang paling tinggi ia menerjang kehalaman kelima kemudian melesat keluar dari perkampungan, tentu daja dia tak menemukan apa-apa.

Namun dalam perjalanannya kembali keperkampungan, ia segera dibuat tertarik oleh kilatan cahaya lentera yang sebenarnya lagi terang dari dalam kamar Kho Beng.

Begitu ia mengetahui bahwa ilmu pedang Kho Beng tidak lain adalah ilmu pedang Sam goan kiam hoat, dengan cepat ciangbunjin itu sadar siapa gerangan yang telah bersembunyi dibalik kegelapan tadi, kontan saja paras mukanya berubah menjadi terkesiap bercampur kaget.

Pada saat itupun dari kamar sebelah dimana Kho Beng berada, kedengaran suara orang berbatuk dan menegur .

"Kho Beng, malam sudah larut, apakah kau belum tidur?"

Kho Beng takut perbuatannya ini diketahui atasannya, Thio Bungkuk yang tidur disebelah.

Cepat-cepat ia memadamkan lentera menyembunyikan tongkat lalu naik keatas pembaringan!

Suara batuk itu mengejutkan pula ketua Sam goan bun yang sedang mengintip didepan jendela, biji matanya segera berputar dan memeriksa sekejap sekeliling tempat itu, lalu secara kilat dia melesat ketengah udara dan mundur kehalaman lapisan kelima, dimana bayangan tubuhnya lenyap dibalik kegelapan.

Malam berlalu tanpa kejadian apa-apa.

Keesokan harinya, baru saja sang surya menyingsing diufuk timur dan memancarkan cahayanya keseluruh penjuru dunia, dari balik halaman lapisan kelima sudah kedengaran suara orang sedang membelah kayu.

Tampak Kho Beng dengan mengenakan celana pendek sedang mengayun kampaknya membelah setumpuk kayu bakar.

Memang inilah pekerjaannya sehari-hari, sejak fajar memikul air, lalu membelah kayu bakar, baru setelah lewat tengah hari dia mempunyai waktu senggang.

Kira-kira pukul tujuh pagi, tiba-tiba dari halaman gedung paling depan berkumandang suara genta yang dibunyikan bertalu-talu.

Tanpa terasa Kho Beng yang bermandi peluh menghentikan ayunan kampaknya dan mengangkat kepala sambil memperhatikan dengan seksama.

Bunyi lonceng yang bertalu-talu tadi menandakan bahwa ketua Sam goan bun sedang mengumpulkan segenap anggota perguruannya untuk menghantar kepergian seorang muridnya turun gunung.

Dengan beberapa bulan terakhir ini, setiap kali bunyi genta menggema membelah angkasa, dari hati kecil Kho Beng segera muncul perasaan kagum yang amat tebal.

Setiap kali dia selalu berpikir begini .

"Andaikata akupun bisa menyoren pedang dan berkelana didalam dunia persilatan dengan menunggang kuda, betapa gagahnya aku waktu itu, tapi kenyataannya aku tetap seorang kacung yang kerjanya setiap hari Cuma memikul air dan membelah kayu bakar, haruskah aku hidup terus dalam keadaan begini?"

Berpikir sampai disitu, semangatnya yang semula berkobar kobar menjadi luluh dan pudar, helaan napas sedih bergema lirih.

Mendadak terdengar suara orang mendehem berkumandang datang dari belakang tubuhnya, dengan perasaan kaget Kho Beng segera berpaling dan melihat Thio bungkuk muncul disana, cepatcepat ia membuang semua pikirannya dan meneruskan pekerjaannya lagi.

Thio bungkuk adalah seorang kakek yang tinggi badannya mencapai lima depa, tubuhnya kurus kering.

Ia mempunyai jenggot yang pendek seperti jenggot kambing dengan mata yang kecil seperti mata tikus, baju hijaunya kasar lagi sederhana, tampangnya tak berbeda seperti tampang orang-orang desa lainnya.

Tapi anehnya semua orang yang berada dalam perguruan Sam goan bun sama-sama takut kepadanya, bahkan ketua mereka Sun Thian hong sendiripun berlaku sungkan pula bila bertemu dengannya.

Terutama sekali bagi Kho Beng, bagaikan tikus melihat kucing saja....

Hal ini bukan saja dikarenakan Kho Beng merasa berterima kasih padanya, dulu ketika Kho Beng baru mendapat pekerjaan, saban hari dia pasti kecapaian hingga pinggangnya sakit dan tak mampu merangkak bangun dari atas pembaringannya, tapi semenjak Thio bungkuk mengajarkan bagaimana caranya bersemedi dan mengatur pernapasan, dengan mengandalkan cara tersebut, Kho Beng bisa mengatasi rasa lelah yang datang mengganggu setiap kali setelah habis bekerja berat.

Malahan lambat laun dia tak pernah merasa lelah lagi meski pekerjaannya makin banyak dan berat.

Akhirnya dia baru tahu kalau ilmu mengatur pernapasan yang diajarkan kepadanya adalah dasar tenaga dalam, namun berhubung Thio bungkuk tetap membungkam, diapun selalu berlagak pilon.

Tapi setiap malam tiba, ia selalu berlatih diri dengan tekun dan rajin sehingga berhasil memupuk dasar tenaga dalam yang kuat, tapi justru karena itu juga, terdorong olehnya ingatan untuk mencuri belajar ilmu pedang Sam goan kiam hoat...

Disamping itu Kho Beng juga menyadari bahwa Thio bungkuk yang bertampang sederhana itu sesungguhnya mempunyai asal usul yang luar biasa, jelas dia bukan manusia tanpa memiliki reputasi apa-apa.

Itulah sebabnya setiap kali dia melihat Thio bungkuk memaki dan mendampratnya, Kho Beng selalu mengingat-ingat kebaikannya untuk menekan rasa marah dan jengkelnya.

Namun hari ini dia melihat Thio bungkuk seakan-akan telah berubah menjadi seperti orang lain, sambil memegang huncwee nya dan menghisap beberapa kali, ditatapnya Kho Beng lekat-lekat, kemudian baru katanya .

"Kho Beng, hari ini kau tak perlu bekerja lagi!"

Kho Beng tertegun dan membelalakkan matanya lebar-lebar, ia hampir saja tak percaya dengan apa yang didengarnya, kalau dimasa lalu, sikap yang diperlihatkan tadi tentu akan mengundang dampratan serta makian tapi hari ini, mungkinkah Thio bungkuk tiba-tiba jadi orang baik yang penuh welas asih?

Kho Beng meletakkan kampaknya keatas tanah serta memandang kearah Thio bungkuk dengan pandangan curiga, lalu katanya agak tergagap.

"Thio suhu, apakah ada pekerjaan lain yang harus kukerjakan?"

"Hmm! Kalau aku si Thio bungkuk mah tak ada urusan, tapi bagi kau sikunyuk kecil, hati-hatilah dalam menghadapi urusan nanti!"

Sekali lagi Kho Beng tertegun, hati-hati menghadapi urusan nanti?

Siapakah yang akan dihadapi?

Belum lenyap ingatan tersebut dari benaknya, tiba-tiba muncul seorang murid Sam goan bun dengan langkah tergesa-gesa, sejak dari kejauhan orang itu telah berseru .

"Saudara Kho, cingbunjin sedang menanti kedatanganmu diruang depan, hayo cepat ikut aku!"

Persoalan apakah yang hendak disampaikan ciangbunjin kepadanya?

Mengapa ia dipanggil secara tiba-tiba?

Kho Beng sedang termangu-mangu jadi curiga, seingatnya semenjak ia tahu urusan, kecuali setiap tahun baru belum pernah ciangbunjin mengundangnya untuk menghadap!

Lalu apa sebabnya dia dipanggil hari ini?

Tapi dia tak punya banyak waktu untuk berpikir lebih jauh, setelah meletakkan kampak dan membereskan pakaiannya, tergopoh-gopoh dia mengikuti petugas tersebut menuju kehalaman muka.

Setelah terlepas dari pengawasan Thio bungkuk, Kho Beng baru bertanya dengan cepat .

"Nyoo toako, tahukah kau ada urusan penting apakah sehingga ciangbunjin mengundangku agar menghadap?"

Anggota perguruan she Nyoo itu segera menggelengkan kepalanya berulang kali, sahutnya .

"Aku sendiripun tak tahu, tapi bisa kulihat bahwa paras muka ciangbun suhu pada hari ini kurang baik, karenanya kau berhatihatilah kalau sedang bicara nanti."

Kho Beng segera merasakan hatinya tercekat, tanpa terasa pikirnya dihati .

"Waaah....jangan-jangan suhu sudah tahu kalau selama ini aku mencuri belajar ilmu pedangnya? Kecuali itu rasanya aku tak melakukan kesalahan apapun.... tapi dalam setahun ini aku sudah bertindak cukup hati-hati, tindak tandukku pun tak pernah ketahuan orang, bagaimana mungkin ciangbunjin bisa mengetahui akan perbuatan ini? Aaaaa...jangan-jangan karena urusan lain...."

Dengan pikirannya yang kalut serta membayangkan hal yang bukan-bukan, pemuda itu menuju kehalaman depan.

Tiba didepan pintu ruang tengah, ia saksikan seluruh ruangan tersebut telah penuh dengan manusia dua puluh empat orang anggota murid Sam goan bun berdiri dikiri kanan ruangan, sementara bagian tengah terdapat dua buah bangku yang diduduki dua orang kakek bermata tajam.

Orang yang berada disebelah kiri adalah ketua Sam goan bun, Sun Thian hong.

Sedangkan kakek baju biru disebelah kanan adalah adik seperguruan dari ciangbunjinnya, Lu Heng sia.

Walaupun ruangan tengah dipenuhi sekian banyak manusia, ternyata tak kedengaran suara sedikitpun, suasana yang begitu serius dan hening membuat Kho Beng yang berada didepan pintu kembali merasakan hatinya tercekat.

Lelaki she Nyoo itu segera melangkah masuk kedalam ruangan sambil melapor .

"Lapor ciangbun suhu, Kho Beng telah tiba...."

Kemudian ia segera mengundurkan diri kebarisan sebelah kiri. Kho Beng tak berani ayal lagi, dia ikut melangkah masuk kedalam ruangan, setelah memberi hormat, ujarnya .

"Ciangbunjin, persoalan apakah yang hendak kau sampaikan kepadaku....?"

Sun Thian hong menatap wajah Kho Beng lekat-lekat, lalu dengan suara dalam tanyanya.

"Kho Beng, sudah berapa lama kau mencuri belajar ilmu pedang perguruan kami?"

Biarpun hanya serentetan pertanyaan yang singkat, namun ibarat guntur yang membelah bumi disiang hari bolong, Kho Beng merasakan hatinya tercekat dan wajahnya berubah hebat.

"Aduh celaka!...."

Pekiknya dihati. Tapi kenyataan sudah berada didepan mata, mau tak mau dia harus mengakuinya secara terus terang.

"Lapor ciangbunjin, sudah setahun lamanya aku mencuri belajar ilmu pedang itu...."

"Dari kelima belas jurus ilmu pedang Sam goan kiam hoat, berapa gerakan yang berhasil kau kuasai?"

Tanya Sun Thian hong lebih jauh dengan nada suara dalam.

"Boanpwee telah berhasil menguasai seluruhnya...."

Kho Beng menundukkan kepalanya rendah-rendah. Paras muka Sun Thian hong segera berubah menjadi hijau membesi, sambil menggebrak meja keras-keras, bentaknya .

"Kho Beng, besar amat nyalimu.....!"

"Ciangbunjin....."

Dengan tubuh gemetar keras Kho Beng segera menjatuhkan diri berlutut katas tanah.

"Boanpwee sama sekali tidak bertujuan apa-apa....boanpwee hanya berniat untuk menyalurkan hobby saja...."

Sebelum perkataan itu selesai diucapkan, Sun Thian hong telah menukas dengan dingin, serunya penuh marah .

"Kalau toh kau gemar mempelajari ilmu silat, sudah sepantasnya bila kau ajukan permohonan secara resmi, masuk dulu jadi anggota peguruan lalu mengajukan permohonan tersebut kepadaku. Hmmm, tapi sekarang.....kau telah melanggar peraturan serta mencuri belajar secara diam-diam. Hmmm, Kho Beng delapan belas tahun berselang aku hanya menampungmu, serta memeliharamu hingga dewasa hanya berdasarkan belas kasihan saja, sungguh tak nyana perbuatanmu begitu brutal dan kurang ajar."

Makin berkata ciangbunjin itu semakin mendongkol, ketika selesai mengucapkan perkataannya itu napasnya sudah terengah-engah seperti napas kerbau.

Kho Beng membungkam dalam seribu bahasa, hatinya kebatkebit tak karuan, sementara peluh dingin membasahi seluruh tubuhnya.

"Kho Beng!"

Mendadak terdengar Sun Thian hong membentak lagi dengan suara dalam.

"Tahukah kau akan peraturan perguruan kami?"

"Boanpwee tahu!"

Jawab Kho Beng dengan suara gemetar.

"Bagus sekali aku ingin bertanya kepadamu, apa hukumannya bagi mereka yang berani mencuri belajar ilmu silat perguruan kami?"

"Ilmu silatnya dirampas kembali!"

"Bagus, bagaimana caranya merampas kembali ilmu silat yang telah dipelajari?"

"Semua urat nadi penting diputuskan kemudian memotong sepasang tangannya"

Sahut Kho Beng dengan peluh dingin bercucuran keluar.

"Tapi...ciangbunjin, mengingat usia boanpwee masih muda..."

Sun Thian hong mendengus dingin, tukasnya .

"Darimana kau pelajari sim hoat tenaga dalam?"

"Sejak tahun lalu Thio suhu mewariskan ilmu tersebut kepadaku."

Sun Thian hong nampak agak terkejut, lalu bentaknya lagi .

"Hmmm, sudah tahu akan peraturannya, masih mencoba untuk melangar. Kesalahanmu ini tak dapat diampuni lagi, tapi mengingat tenaga dalammu bukan berasal dari perguruan kami, maka hukumannya hanya memutuskan semua urat nadi serta memotong sepasang pergelangan tanganmu. Sute laksanakan hukuman!"

Lu Heng sia, adik seperguruan ciangbunjin yang duduk disampingnya, nampak seperti menaruh simpati kepada Kho Beng, ia segera bangkit berdiri setelah mendengar perkataan itu, sesudah menghela napas panjang, katanya pada Sun Thian hong .

"Suheng, bagaimana kalau kesalahan bocah ini diampuni saja....?"

"Sute, sudahkah kau dengar perintah yang kuberikan?"

Tukas Sun Thian hong semakin gusar.

Menyaksikan kakak seperguruannya sudah naik darah, Lu jiya tak berani banyak bicara lagi, dipandangnya Kho Beng sekejap dengan perasaan sayang, lalu sambil mengulapkan tangannya dia berseru .

"Mana petugas pelaksana hukuman? Cepat siapkan alat hukuman!"

Empat orang anggota perguruan yang berdiri dikiri kanan ruangan serentak mengiakan dan lari menuju keruang belakang, tak lama kemudian mereka telah muncul dihadapan Kho Beng dengan alat hukuman yang telah siap digunakan.

Dua orang diantara mereka membawa dua buah alat pemotong yang berkaki, benda tersebut diletakkan dikiri kanan Kho Beng.

Sementara dua orang lainnya membawa sebuah baki obat, diatas baki itu sudah siap berbagai macam obat-obatan luka serta alat pembungkus.

Mereka berdiri dibelakang bocah tersebut dan siap mengobati lukanya, bila pelaksanaan hukuman selesai dilaksanakan nanti.

Dalam waktu singkat suasana dalam ruangan itu dicekam keheningan yang amat sangat, sehingga napas setiap orang hampir saja kedengaran nyata.

Berhubung sikap dan tindak tanduk Kho Beng dihari hari biasa amat simpatik, selain ciangbunjin seorang, hampir semua pandangan yang tertuju kearah bocah itu mengandung perasaan iba dan kasihan yang amat tebal.

Kho Beng sendiri sudah dibuat ketakutan setengah mati, sukma serasa melayang meninggalkan raganya, hampir saja ia roboh tak sadarkan diri.

Dua bilah golok yang berkilauan tajam dihadapannya membuat pemuda itu merasa amat sedih dan putus asa.

Bila sepasang pergelangan tangannya telah kutung, bukan saja jerih payahnya selama setahun hanya sia-sia belaka, masa depannya pun akan turut terkubur untuk selamanya disana, bila seseorang tak mempunyai tangan, apalagi yang bisa diperbuat olehnya?

Ia berlutut diatas tanah, sementara sepasang matanya menengok kekiri dan kanan mengharapkan ada orang yang memohonkan belas kasihan baginya disaat kritis tersebut, namun sayangnya walaupum semua orang menaruh simpati dan belas kasihan kepadanya, ternyata tak seorangpun diantara mereka yang memohonkan ampun.

Dalam sedih dan putus asanya, ia memejamkan matanya rapatrapat, titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya.

Pada saat itulah terdengar Lu Heng sia berseru keras .

"Laksanakan hukuman!"

"Kraakk....!"

Dua bilah golok tajam itu segera ditarik keatas, sementara kedua orang petugas segera mencengkeram kedua belah tangan Kho Beng dan diletakkan dibawah mata pisau tersebut.

Hibur mereka dengan suara lembut .

"Saudara Kho, tak usah takut, biarpun akan sakit sebentar, kau tak akan lama menderita."

Airmata bercucuran dengan derasnya membasahi wajah Kho Beng, ditatapnya sekejap kedua orang petugas itu dengan putus asa, lalu menggut manggut.

Kedua orang petugas tadi segera menggengam pisau dan mengawasi Lu susioknya dengan pandangan tertegun, asalkan ia mengulapkan tangannya mereka akan menekan gagang golok tersebut kebawah....

Suasana murung dan seram menyelimuti seluruh ruangan tersebut.

Setiap anggota Sam goan bun sama-sama mengalihkan pandangan mata kewajah Kho Beng yang pucat pias bagaikan mayat itu.

Rasa sedih mencekam perasaan setiap orang, banyak diantara mereka yang segera menengok kearah lain dan tak tega untuk menyaksikan pelaksanaan hukuman tersebut.

Sementara itu Lu Heng sia telah mengangkat tangan kanannya keatas, asal dia mengulapkan tangannya kewabah, niscaya hukuman akan segera terlaksana.

Disaat yang kritis inilah, tiba-tiba tampak seorang centeng berbaju hijau berlarian masuk kedalam ruangan, kepada ciangbunjinnya dia berseru .

"Toaya, Thio bungkuk menyuruh hamba mengantar surat pesananya....!"

Seraya berkata ia persembahkan selembar kertas kehadapan Sun Thian hong. Diatas lembaran kertas itu hanya tertera beberapa huruf saja yang antara lain berbunyi begini .

"Belasan tahun aku berbakti, tiada permintaanku yang lain kecuali pembebasan hukuman bagi bocah she Kho itu. Tertanda sibungkuk."

Sun Thian hong nampak tertegun sehabis membaca tulisan itu, akhirnya dia menghela napas panjang.

Semetara itu para jago lainnya yang berada didalam ruang tengah tak ada yang mengetahui apa isi surat dari Thio bungkuk, namun menyaksikan ketua mereka menghela napas panjang, rasa kaget dan keheranan segera menyelimuti wajah semua orang.

Pelan-pelan Sun Thian hong menyimpan surat tersebut kedalam saku bajunya, lalu ujarnya kepada sicenteng itu sambil mengulapkan tangannya .

"Cepat undang Thio suhu datang kemari!"

Sambil menundukkan kepalanya, centeng itu segera menjawab .

"Thio suhu sedang berjalan-jalan diluar perkampungan, tapi ia telah berpesan, bila ciangbunjin mengundangnya, hamba disuruh menyampaikan jawaban, katanya maksud hati ciangbunjin telah dipahaminya, bila ada persoalan lain, isi surat tersebut telah menjelaskan semuanya.... Dengan perasaan berat, Sun Thian hong menggelengkan kepalanya berulang kali. Setelah mengundurkan diri centeng tersebut, ditatapnya Kho Beng sekejap dengan pandangan dalam, lalu berkata .

"Batalkan hukuman!"

Begitu perintah diturunkan segenap hadirin bersama-sama menghembuskan napas lega bagi keselamatan Kho Beng.

Sebaliknya Kho Beng sendiri pun bagai berada dalam mimpi, sampai para petugas menyingkirkan alat pelaksana hukuman dari hadapannya, ia baru tersadar kembali dari lamunan.

Tanpa terasa dia turut menghembuskan napas lega.

Ia sadar Thio bungkuklah yang telah menyelamatkan dirinya dari hukuman, bisa dibayangkan betapa besar rasa terima kasihnya kepada Thio bungkuk, pada hakekatnya tak terlukiskan lagi dengan kata-kata.

Mendadak terdengar Sun Thian hong berkata dengan suara dalam.

"Kho Beng, walaupun ada orang yang mintakan ampunan bagimu, namun aku mempunyai beberapa syarat yang harus kau taati!"

Kho Beng segera memberi hormat seraya menjawab .

"Bila ciangbunjin ada pesan, silahkan saja diutarakan, boanpwee pasti akan mentaatinya."

"Bagus sekali, dengarkan baik-baik Kho Beng, sejak hari ini kau dilarang menggunakan ilmu pedang perguruan kami lagi!"

"Boanpwee turut perintah!"

"Terhadap siapa saja kau dilarang menceritakan bahwa perguruan kami pernah menerima dan memeliharamu...."

Kho Beng jadi tertegun, lalu serunya agak tergagap .

"Ciangbunjin, apakah kau bermaksud mengusir boanpwee dari tempat ini?"

"Benar!"

Jawab Sun Thian hong.

"Perguruan Sam goan bun sudah tak sanggup menampungmu lagi, sekarang juga harus pergi meninggalkan tempat ini, moga-moga saja kau bisa menjaga diri baik-baik dikemudian hari!"

Kho Beng menjadi kelabakan setengah mati setelah perkataan itu.

Walaupun dihari-hari biasa dia sangat berharap bisa terun kedunia persilatan dan mengembara sampai keujung langit, tapi setelah diusir dari perguruan hari ini ibarat sebatang pohon yang dipotong akarnya, dia bakal menjadi seorang gelandangan yang mengembara tanpa tujuan, siapakah yang takkan iba menghadapi keadaan seperti ini?

Dengan wajah tertegun dipandangnya wajah Sun Thian hong lekat-lekat, namun setelah menyaksikan paras muka ketua yang hijau membesi dan sama sekali tidak memancarkan sedikit perasaan pun, sadarkan bocah itu bahwa permohonannya pasti sia-sia belaka.

Oleh sebab itu ujarnya kemudian .

"Kho Beng akan melaksanakan perintah ciangbunjin dengan sebaik-baiknya, tapi Kho Beng merasa tak tenang karena tak dapat membalas budi kebaikan ciangbunjin yang telah menampung serta memelihara ku selama hampir delapan belas tahun lamanya..."

Kata yang jujur dan nada yang sedih membuat Sun Thian hong ikut merasa kecut hatinya, namun ia menguasai gejolak perasaan tersebut dengan keras, setelah mendengus dingin, tukasnya .

"Asal kau dapat melaksanakan kedua syarat tadi, tidak menggunakan ilmu pedang Sam goan kiam hoat lagi dan tidak mengatakan kepada orang lain bahwa Sam goan bun pernah menampung dan memelihara dirimu, ini sudah merupakan balas budi bagi pemeliharaanku slama ini, Ingat! Bila kau berani bertindak ceroboh dengan tidak mentaati kedua hal tersebut, hmmmm! Biarpun kau lari keujung langit sekalipun aku tetap akan mengejarmu untuk mencabut nyawamu. Nah, perkataanku hanya sampai disini saja, sekarang kau boleh pergi dari sini!"

Dengan pandangan kaku, Kho Beng manggut-manggut, sekali lagi dia menjura kepada Lu Heng sia serta para anggota sam goan bun lainnya, kemudian berkata dengan sedih ;

"Delapan belas tahun sudah kita berkumpul, terima kasih banyak atas perhatian para empek, paman dan toako sekalian terhadapku dihari-hari yang lalu, setelah berpisah hari ini, entah sampai kapan kita baru akan bersua kembali, tiada pemberian lain dari Kho Beng kepada kalian kecuali sambutlah penghormatanku ini. Semoga para empek, paman dan toako sekalian dapat menjaga diri baik-baik."

Air mata serasa membasahi sepasang mata para anggota Sam Goan bun tersebut, cepat-cepat mereka balas memberi hormat.

Walaupun tak seorangpun yang berkata-kata, naun dari mimik waah mereka dapat terlihat betapa sedihnya perasaan mereka.

Manusia memang mahluk yang berperasaan, setelah berkumpul selama delapan belas tahun, perpisahan memang dirasakan suatu kejadian yang amat berat, meski perpisahan itu bersifat sementara.

Disamping itu mereka pun merasa heran dan tak habis mengerti, mengapa sikap ciangbunjin mereka begitu keras?

Mengapa ia bersikeras hendak mengusir Kho Beng dari perkampungan Cui wi san ceng?

Sekali lagi Kho Beng memberi hormat kepada semua orang, kemudian sambil menggertak giginya kencang kencang dan membawa rasa sedih yang mencekam, ia membalikkan badan dan beranjak meninggalkan ruangan itu menuju kepintu gerbang, saat itulah air matanya tak terbendung lagi, tanpa terasa jatuh berceceran membasahi seluruh wajahnya.

Ia tak habis mengerti apa sebabnya ciangbunjin bersikap sejelek ini kepadanya?

Mengapa ia melarang dia menceritakan kepada orang lain bahwa ia pernah ditampung oleh pihak Sam goan bun?

Mungkinkah mereka takut dketahui orang bahwa Sam Goan bun telah menampung seorang anak yatim piatu?

Kho Beng merasa tak habis mengerti, ia benar-benar tidak mengerti....

Angin gunung berhembus lewat menerpa wajahnya dan mendatangkan rasa dingin, cepat-cepat dia membesut air matanya, lalu berpaling dan memandang sekejap bayangan perkampungan Cui wi san ceng nun jauh didepan sana.

Delapan belas tahun sudah ia berdiam disana, perpisahan dirasakannya amat berat, ia tak akan bisa merasakan kehangatan saudara-saudara perguruan lainnya, iapun tak dapat menikmati kembali hangatnya kamarnya yang pengap....

Kini dihadapannya terbentang masa depan yang penuh tanda tanya, kemanakah dia akan pergi?

Tiba-tiba rasa sedih menyelimuti seluruh perasaannya.

Terlepas dari baik atau buruk, manusia memang senang mengenang kembali masa silamnya, terutama sekali bagi Kho Beng yang kaya akan perasaan.

Pikirannya saat ini terombang ambing dalam kenangan lama yang penuh kegembiraan dimasa silam.

Pada saat itulah mendadak terdengar seseorang menegur dengan suara dingin .

"Hmmm! Benar-benar tak becus, sudah diusir orang lain, apalagi akan kau kenang? Dunia begini luas, apakah kau tak mampu berdiri sendiri ditempat lain ? Apa kau lebih suka hidup bersembunyi macam kura-kura didalam dapur yang apek baunya ? -Dengan perasaan tertegun Kho Beng seera berpaling, entah sejak kapan ternyata Thio bungkuk yangtelah menyelamatkan dirinya telah berdiri disisi jalan gunung sambil memandang dengan pandangan dingin. Ia berdiri disitu dambil membawa sebuah bungkusan kecil dibahunya dan menggenggam sebuah huncwee panjang. Bertemu dengan Thio bungkuk, Kho Beng merasa seperti bertemu dengan sanak keluarga sendiri, cepat-cepat dia lari kedepan dan berlutut dihadapannya sambil memeluk sepasang lututnya eraterat. Dengan airmata bercucuran, ia berpekik keras .

"Thio suhu! "

Thio bungkuk menggelengkan kepalanya berulang kali, diawasinya Kho Beng sekejap dengan penuh rasa kesedihan, kemudian ia menghela napas panjang. Sesaat kemudian dia baru berkata dengan suara dingin .

"Hayo bangun! Cepat bangun, macam apakah kau berlutut ditengah alan semacam ini? Seorang laki-laki sejati tak boleh meniru lagak seorang wanita, bila aku menangis melulu hatiku menjadi murung rasanya."

Sekarang Kho Beng sudah tahu bahwa Thio bungkuk meski dingin sikapnya namun sangat baik perasannya, segera ia membesut air matanya dan bangkit berdiri sambil berkata .

"Budi pertolongan kau orang tua tak akan kulupakan untuk selamanya.....aaaai, hanya saja setelah meninggalkan kau orang tua hari ini, entah sampai kapan kita baru akan bersua kembali? "

Thio bungkuk segera tertawa.

"Tiada perjamuan yang tak bubar didunia ini, perpisahan atau kematian memang sudah diatur oleh takdir, apalagi yang mesti kau tangisi? Angkat kepalamu baik-baik dan adilah manusia yang berguna bagi masyarakat, cerminkan jiwa kesatriamu!"

Kho Beng merasakan semangatnya bangkit kembali setelah mendengar perkataan tersebut, dengan wajah serius dia berkata .

"Terima kasih banyak atas nasehat kau orang tua!"

Ketika melihat Thio bungkuk menggembol sebuah buntalan dibahunya, dengan perasaan terkejut bercampur gembira ia berseru lagi .

"apakah kau orang tua ikut turun gunung?"

Thio bungkuk menggelengkan kepalanya berulang kali, diambilnya bungkusan itu lalu diserahkannya ketangan Kho Beng sambil berkata .

"Bungkusan ini sengaja kusiapkan bagimu, hanya pakaian dan beberapa tahil perak, pergunakanlah bila diperlukan diperjalanan nanti."

Kho Beng semakin terharu melihat kebaikan hati Thio bungkuk terhadapnya, kembali sepasang matanya jadi basah, katanya segera .

"Kau orang tua terlalu baik kepadaku, setelah berpisah hari ini entah sampai kapan aku baru dapat membalas budi kebaikanmu ini....!"

"Kau tak usah mengucapkan kata-kata yang tak berguna lagi, sesungguhnya didalam peristiwa yang menimpamu hari ini, aku Thio bungkuk turut memikul tanggung jawab. Terus terang saja aku katakan, sejak kau mencuri belajar ilmu pedang tersebut pada setahun berselang, ak telah mengetahui perbuatanmu itu secara jelas..."

"Ooooh, rupanya Thio suhu sudah tahu,"

Bisik Kho Beng dengan perasaan tertegun bercampur keheranan.

"Hmmm! Kalau hanya gerakanmu saja tidak kuketahui, percuma aku berkelana selama puluhan tahun didalam dunia persilatan, hanya saja setelah melihat kebulatan tekadmu yang besar, aku menjadi tak tega untuk menghalangi niatm itu, setelah Sun Thian hong mengintip dari luar kamarmu semalam, aku baru sadar bahwa jejakmu telah ketahuan...."

Kho Beng menjadi tertegun, sekarang ia baru mengerti darimana ciangbunjinnya mengetahui akan perbuatannya itu, diapun semakin tertarik oleh asal usul Thio bungkuk yang dirasakan penuh dengan misteri ini.

Terdengar Thio bungkuk mendehem beberapa kali, kemudian berkata lebih jauh .

"Tapi beginipun ada baiknya juga, memang tiada rahasia yang tak akan terbongkar didunia ini, dengan terjadinya peristiwa ini berarti kaupun dapat membebaskan diri lebih cepat, bukankah hal ini merupakan suatu keberuntungan bagimu?"

"Aku yang muda dapat memahami semua perkataanmu itu, tapi ada satu hal yang tidak kumengerti, ditinjau dari kemampuan kau orang tua, mengapa tidak hidup bebas merdeka, sebaliknya justru rela mentaati perintah orang lain? Mengapa pula kau merahasiakan identitasmu yang sebenarnya....?"

Thio bungkuk menghela napas panjang.

"Aku naik gunung setahun lebih awal darimu, sedangkan akupun telah berhutang budi kepada Sun Thian hong, oleh sebab itulah untuk membayar budi kebaikannya aku rela berbakti kepadanya selama tiga tahun, tapi setelah berjumpa denganmu, akupun mengambil keputusan untuk tinggal lebih lanjut disana!"

Berbicara sampai disitu, ditatapnya wajah Kho Beng lekat-lekat, kemudian sambungnya lebih jauh .

"Kini aku telah melihat kau tumbuh dewasa, paling tidak setengah dari harapanku pun sudah tercapai."

"Tapi kau orang tua belum menyebut namamu,"

Ucap Kho Beng dengan perasaan amat berterima kasih.

"Soal ini tak perlu diketahui, toh dikemudian hari kau akan mengetahuinya sendiri, sudahlah sekarang boleh pergi dari sini, baik-baiklah menjaga dirimu."

Selesai berkata, Thio bungkuk segera mengulapkan tangannya berulang kali memerintahkan Kho Beng untuk meneruskan perjalanan turun gunung.

Tadi Kho Beng masih ingin menanyakan sesuatu, dengan pancaran sinar memohon ia berkata lagi .

"Thio suhu, aku yang masih muda ada beberapa hal yang tidak kupahami, harap kau orang tua sudi memberikan penjelasannya."

"Persoalan apakah itu? Coba kau katakan!"

"Mengapa ketua Sam goan bun melarang aku untuk menggunakan ilmu pedang Sam goan kiamhoatnya...."

Sambil tertawa dingin Thio bungkuk menukas .

"He..he...heeehh...ilmu pedang Sam goan kiam hoat telah menjadi serangkaian ilmu pedang yang tak utuh. Kepandaian tersebut bukan terhitung suatu kepandaian yang maha dahsyat, tak boleh digunakan ya sudah."

Kho Beng jadi tertegun, tapi ujarnya lagi .

"Setelah itu ciangbunjin melarangku untuk mengatakan kepada orang lain bahwa selama ini aku ditampung diperguruan sam goan bun, mengapa dia takut orang lain mengetahui akan persoalan ini?"

"Hmmm! Selama delapan belas tahun terakhir ini, dia selalu menyembunyikan diri secara ketat dalam masalah yang menyangkut soal dirimu, persoalan ini lebih tak berharga lagi untuk dibicarakan!"

"Kau orang tua maksudkan, ciangbunjin takut....takut kepadaku...?"

Tanya Kho Beng keheranan.

"Bukan takut padamu, tapi takut orang tahu, dia kuatir Sam goan bun dimusnahkan orang gara-gara kau!"

Kho Beng merasakan hatinya bergetar keras, kejut dan keheranan, dia bertanya .

"Siapakah orang itu? Mengapa gara-gara urusanku, Sam goan bun terancam dibasmi orang?"

Dengan cepat Thio bungkuk mengulapkan tangannya, seraya menukas .

"Soal ini akan kau ketahui sendiri dikemudian hari, sekarang masih belum waktunya untuk kau ketahui, tapi mengingat dia telah memeliharamu selama delapan belas tahun, dikemudian kuharap kau jangan mengingat dendam sakit hati yang kau alami hari ini...."

"Boanpwee tidak berani!"

Cepat-cepat Kho Beng berseru. Thio bungkuk manggut-manggut .

"Bagus sekali begitu, aaaaai....! Terus terang saja kukatakan, berbicara dari asal usulnya perguruan Sam goan bun yang kecil, memang tak akan mampu menampungmu, seharusnya kau mempunyai suatu lingkungan hidup lain yang berbeda sekali dengan lingkungan hidupmu sekrang ini...."

Sekali lagi Kho Beng dibuat tertegun, baru saja dia akan menanyakan soal asal usulnya, Thio bungkuk telah mengulapkan tangannya sambil menukas .

"Aku hanya bisa berkata sampai disini, nah cepatlah turun gunung aku tak bisa mengantarmu lebih jauh."

Selesai berkata, ia segera membalikkan badan dan melayang pergi kearah perkampungan.

Dibawah sorot cahaya matahari, bayangan tubuhnya yang kurus kecil dan bungkuk itu makin lama semakin mengecil sebelum akhirnya lenyap dikejauhan sana.

Biar begitu, dalam hati kecil Kho Beng telah tertera bayangan tubuh Thio bungkuk yang anggun dan besar, dia tidak merasakan keburukan wajah orang itu, sebaliknya justru merasa begitu hangat dan akrab....

Tapi beberapa patah kata yang didengarnya tadi kembali mendatangkan pelbagai persoalan didalam hati kecilnya, asal usul apakah yang menyelimuti identitas dirinya?

Sun Thian hong bilang Sam goan bun tak mampu menampungnya lagi, Thio bungkuk pun barusan berkata .

Sam goan bun yang kecil tak akan mampu menampungnya.

Perkataan mereka berdua diutarakan pada saat yang berbeda, meski nada pembicaraannya berbeda, namun maknanya tak ada perbedaan sama sekali.

Mungkinkah dia mempunyai asal usul dan riwayat hidup yang luar biasa sehingga perguruan Sam goan bun tak mampu menampungnya.

Dengan rasa curiga memenuhi seluruh benaknya, Kho Beng berdiri termangu disitu sambil mengawasi bayangan tubuh Thio bungkuk yang telah lama menghilang.

Akhirnya dengan wajah masgul dia membetulkan letak bungkusan pemberiab Thio bungkuk tadi dan meneruskan perjalanannya menuruni bukit.

Sepanjang perjalanan dia mencoba untuk menyelami kembali makna pembicaraan dari Thio bungkuk serta Sun Thian hong.

Ia merasa ucapan kedua orang itu seakan-akan saling berkaitan satu dengan lainnya dan kuncinya terletak pada asal usul serta riwayat hidupnya itu.

Tapi....kemanakah dia harus menyelidiki asal usul serta riwayat hidupnya dulu?

Diam-diam Kho Beng merasa kesal sekali.

Tanpa terasa ia telah menuruni bukit Cui wi san, sementara perjalanan masih dilanutkan mendadak dari arah belakang terdengar seseorang memanggilnya .

"Saudara Kho.....saudara Kho!"

Dengan perasaan tertegun Kho Beng segera berhenti seraya berpaling, tampak seorang pemuda berbaju putih yang menggembol pedang dipungungnya sedang berlarian mendekat.

Ternyata pemuda itu tak lain adalah murid sam goan bun yang semalam diuji ilmu pedangnya serta diluluskan untuk turun gunung itu, bernama Cho Liu San.

Dengan perasaan tertegun, Kho Beng segera menegur .

"Cho toako, ada urusan apa?"

Dengan wajah berseri dan senyuman dikulum, Cho Liu san berkata .

"Oooh, tidak apa-apa, sejak belajar ilmu silat delapan tahun berselang, baru hari ini aku turun gunung, karena kuatir tiada teman seperjalanan maka aku buru-buru datang menyusulmu, dengan menempuh perjalanan bersama, kita tentu tak usah takut kesepian lagi!"

Jilid 02 Melihat rekannya mempunyai usia yang sebaya namun mempunyai keadaan yang berbeda, rasa sedih Kho Beng makin menjadi, tapi ia paksakan diri untuk unjukkan sekulum senyuman, katanya kemudian seraya memberi hormat .

"Hari ini adalah hari bahagia Cho toako karena telah lulus ujian dan turun gunung, aku harus menyampaikan ucapan selamat kepadamu."

Cho Liu san tertawa riang, ditepuknya bahu Kho Beng sambil berkata .

"Kho Beng, sungguh beruntung kau dapat lolos dari musibah hari ini, untuk itu aku patut menyampaikan selamat juga kepadamu, selanjutnya kau bermaksud hendak kemana?"

Kho Beng menghela napas sedih, dipandangnya jalan raya yang membentang jah kedepan sana, kemudian berkata .

"Dunia amat luas, empat samudera adalah rumah, aku sendiri juga tak tahu kemana harus pergi."

Mendengar ucapan tersebut, Cho Liu san segera turut menghela napas, dengan rasa simpati hiburnya .

"Saudara Kho, yang sudah lewat biarkan saja lewat tak usah kau pikirkan terus didalam hati, perahu yang tiba diujung jembatan akan melurus dengan sendirinya. Kau toh bisa mencari tempat kediaman yang lebih nyaman ditempat ini!"

Dengan mulut membungkam, Kho Beng manggut-manggut, tapi hiburan yang kosong tak akan melenyapkan kemasgulan dalam hati kecilnya, ia berjalan dengan harapan hampa, sementara pelbagai masalah menyelimuti benaknya.

Mendadak terdengar Cho Liu san berseru tertahan, lalu ujarnya .

"Yaa! Aku teringat sekarang, saudara Kho ada dua persoalan, tak ada salahnya kusampaikan kepadamu, siapa tahu dari kedua hal tersebut kau dapat melampiaskan rasa kesalmu sekarang dan berhasil menduduki kursi ciangbunjin dikemudian hari!"

"Soal apa itu?"

Tanya Kho Beng tertegun.

"Soal pertama menyangkut "Kedele Maut"

Yang telah menghebohkan dunia persilatan belakangan ini, aku yakin kau pernah mendengarnya bukan....."

Kho Beng mengangguk. Cho Liu san segera berkata lebih jauh .

"Menurut keterangan yang kudapat dari ciangbun suhu, konon tujuh partai besar telah mengumumkan baru-baru ini, barang siapa dapat membekuk si kedele maut yang gemar membantai orang secara semena-mena itu, maka dia akan diangkat sebagai Bu lim Beng cu, sebaliknya bagi mereka yang berhasil menyelidiki siapakah kedele maut itu dan melaporkan dimanakah dia berada, maka orang itu berhak mengajukan permintaan apa saja kepada tujuh pertai besar. Saudara Kho, bagaimanapun juga kau toh tiada tujuan tertentu, apa salahnya kalau ikut aku ke Kim leng dan bergabung dengan para susiok dan suheng sekalian untuk bersama-sama menyelidiki jejak si kedele maut itu?"

Kho Beng segera menganggap perkataan dari Cho Liu san itu kelewat polos, kelewat lucu dan tak masuk akal.

Ketua Sang goan bun telah melarangnya menggunakan ilmu pedang Sam goan kiam hoat dan melarang mengatakan kepada orang lain kalau selama ini ditampung dalam perguruan itu, bagaimana mungkin ia bisa berkumpul bersama-sama para jago Sam goan bun?

Biarpun para jago dari sam goan bun menaruh kesan baik kepadanya, tapi setelah mereka tahu kalau ia telah diusir pergi dari perguruan, apakah mereka berani menampungnya lagi....?

Sementara itu Cho Liu san telah berkata lebih jauh .

"Persoalan kedua mungkin telah kau ketahui, yakni masalah yang menyangkut lenyapnya ketiga jurus ilmu pedang perguruan kita, tadi ciangbunjin telah mengumumkan barang siapa dapat menemukan kembali jurus pedang yang hilang itu, maka dialah ahli waris perguruan Sam goan bun, calon ciangbunjin kita semua. Saudara Kho tak ada salahnya kau mencoba beradu untung, asal kau berhasil melaksanakan salah satu diantara kedua hal ini, niscaya keinginanmu untuk belajar silat akan terpenuhi dengan cepat."

Semangat Kho Beng yang sudah lama terpendam dalam hati kecilnya segera terpancing kembali oleh perkataan tersebut, ia merasa dirinya tak harus menjadi murid sam goan bun, tidak mesti jadi ketua Sam goan bun, tapi bila mampu menyelesaikan salah satu diantara kedua tersebut, paling tidak rasa kesalnya selama ini dapat terlampiaskan....

Maka ujarnya kemudian, sambil manggut-manggut .

"Betul juga perkataan Cho toako, bagaimanapun juga aku toh tidak mempunyai tujuan tertentu, tapi kau jangan lupa dengan dua larangan yang disampaikan ciangbunjin kepadaku...."

Sementara Cho Liu san termangu-mangu, Kho Beng telah berkata lebih jauh dengan suara rendah .

"...oleh sebab itu aku hanya bisa membantu toako sekalian melakukan penyelidikan secara diam-diam, tapi tak bisa berkumpul bersama toako sekalian!"

"Betul!"

Seru Cho Liu san sambil bertepuk tangan, setibanya dikota Kim leng nanti, kita menempuh perjalanan sendiri-sendiri tapi secara diam-diam masih melakukan kontak satu dengan lainnya, ya memang cara ini lebih tepat!"

Maka berangkatlah kedua orang itu melanjutkan perjalanan, ketika malam tiba mereka beristirahat disebuah penginapan dikota Ci hui sia.

Malam sudah amat larut.

Setitik cahaya lentera menerangi sebuah kamar dirumah penginapan dalam kota Ci hui sia.

Cho Liu san yang berada dipembaringan sebelah kiri sudah lama mendengkur, sebaliknya Kho Beng yang berada dipembaringan sebelah kanan masih melotot besar, pikiran yang kalut embuatnya tak mampu tidur dengan tenang.

Pelan-pelan ia bangkit dari tempat tidurnya sambil memandang keluar jendela dengan pikiran kosong, suasana diluar kamar telah hening dan tak kedengaran sedikitpun suara.

Mendadak sorot matanya terbentur dengan bungkusan pemberian Thio bungkuk yang diletakkan dimeja.

Sepanjang perjalanan tadi Kho Beng tak sempat memeriksa isi buntalan tersebut, maka dihampirinya bungkusan itu serta dibuka, ternyata pakaian yang disiapkan Thio bungkuk baginya masih baru semua, selain itu tedapat pula lima puluh tahil perak.

Ia terkejut bercampur rasa terima kasih yang tak terhingga, ketika ia memeriksa pakaian tersebut, tiba-tiba ditemukan juga se

Jilid kitab tipis.

Dengan cepat kitab itu diambil serta diperiksa dengan seksama, pada sampul depannya terbacalah beberapa huruf yang berbunyi .

Intisari ilmu pukulan telapak dan pedang dari pelbagai aliran.

Dibawahnya tertulis pula .

Dibuat dan dikumpulkan oleh Thi hong sia tou.

Dalam tertegunnya Kho Beng merasa sangat gembira, cepatcepat ia membuka halaman berikutnya, ternyata ditengah halaman terselip selembar surat yang isinya antara lain berbunyi demikian .

"Kho Beng . Berat rasanya untuk berpisah denganmu, setelah delapan belas tahun kita hidup bersama. Terimalah sedikit pemberian dari aku sibungkuk sebagai rasa kasihku kepadamu...."

"Aaaai...suhu bungkuk benar-benar amat baik..."

Pikir Kho Beng dengan penuh rasa terima kasih. Kemudian dibacanya isi surat itu lebih jauh .

"....untuk berkelana didalam dunia persilatan paling tidak kau harus memiliki sedikit ilmu untuk membela diri, aku tahu ilmu pedang Sam goan kiam hoat tak mungkin bisa kau pergunakan lagi, karena itu tak ada salahnya kau latihlah beberapa jurus silat yang tercantum dalam kitab tersebut, sehingga dalam pengembaraanmu nanti tak usah dianiaya orang lain. Dalam kitab itu terdapat enam jurus ilmu pedang, enam jurus ilmu pukulan tangan kosong serta ilmu meringankan tubuh dari pelbagai aliran. Aku sengaja pilihkan beberapa diantaranya yang hebat untuk kau pelajari, karena hal ini paling sesuai dengan keadaan mu sekarang, disamping itu bila digunakanpun tak sampai membocorkan identitasmu yang sebenarnya...."

Membaca sampai disini, kembali Kho Beng jadi kebingungan, rahasia apakah yang terkandung dibalik asal usulnya? Mengapa identitasnya harus dirahasiakan seketat itu."

Cepat-cepat ia membaca lebih jauh .

"....aku duga kau pasti ingin mengetahui asal usulmu bukan? Tentang masalah ini, kau tak usah gelisah, karena gelisahpun tak ada gunanya. Aku sibungkuk akan menungumu selama tiga tahun diperkampungan Cui wi san ceng, dalam tiga tahun ini tak ada salahnya kau mencari guru kenamaan serta belajar silat dengan tekun, bila telah berhasil datanglah menjumpaiku di Sam goan bun, sampai waktunya aku akan menceritakan segala sesuatunya kepadamu. Tapi jika kau gagal dalam tiga tahun ini, lebih baik padamkan saja keinginan menjadi seorang ahli silat, lupakan segala kenangan lama dan hiduplah sebagai manusia biasa. Tapi kau harus ingat, tidak ada orang didunia ini yang pantas menjadi gurumu, kalau dihitung hanya tiga orang saja yang pantas yakni sikakek sakti, sisesepuh sakti dan sidewa sakti. Dewi payung perak tak mungkin menerima murid lelaki, sedangkan kakek tongkat sakti dan Bu wi lojin adalah tokoh luar biasa yang tak menentu jejaknya, mereka hanya bisa dijumpai tanpa sengaja dan tak mungkin dicari, karenanya semuanya ini tergantung pada nasibmu sendiri. Tapi akupun mendoakan kepadamu, semoga kau bisa menemukan penemuan lainnya yang lebih hebat. Nah, hanya sampai disini saja pesanku ini, jangan lupa dengan janji tiga tahun mendatang."

"Tiga tahun...tiga tahun, aaai, betapa lamanya tiga tahun ini....mengapa harus menunggu selama ini? " ................ ................ Angin berhembus kencang, kuda meringkik nyaring. Jalan raya yang membentang sepanjang jalan menuju Kim leng penuh dengan para busu yang bermata tajam dan bersenjatakan lengkap. Senjata itu, dari sebuah kota Kwan tong yang berada delapan puluh li dari kota Kim leng muncul dua orang pemuda berwajah tampan. Pemuda yang berada disebelah kiri memakai baju biru dan menyoren pedang, sebaliknya pemuda yang berada disebelah kanan membawa sebuah bungkusan kecil dan memakai baju putih, meski tidak membawa senjata namun wajahnya jauh lebih tampan daripada pemuda berbaju biru yang berada disisinya. Pada saat itulah pemuda berbaju biru itu menunding kearah sebuah rumah makan diseberang jalan sana sambil berkata kepada pemuda disebelahnya .

"Saudara Kho, bagaimana dengan rumah makan ini?"

"Terserah kepada Cho toako,"

Sahut pemuda berbaju putih itu cepat. Pemuda berbaju biru itu segera tersenyum dan manggutmanggut.

"Baiklah, bagaimanapun juga kita sudah menempuh perjalanan bersama selama beberapa hari, setibanya dikota Kim leng kita harus minum dulu bersama sampai mabuk sebagai tanda perpisahan sementara, mulai besok pagi, aku akan berangkat dulu disusul kau beberapa saat kemudian, sampai waktunya kita akan berhubungan kembali."

Pemuda berbaju putih itu segera manggut-manggut tanda setuju.

Sementara pembicaraan berlangsung, kedua orang itu telah tiba dimuka rumah makan tadi, pada papan nama besar yang terpancang didepan pintu, terbacalah tiga huruf besar yang berbunyi .

"Cui sian kit"

Seorang pelayan segera munculkan diri menyambut kedatangan mereka, kemudian sambil berpaling, teriaknya keras keras .

"Tamu...datang!"

Beberapa orang pelayan segera munculkan diri untuk menyambut kedatangan kedua orang pemuda tersebut serta mempersilahkan naik keatas loteng.

Tak salah lagi, mereka berdua tak lain adalah Kho Beng dan Cho Liu san.

Tiba diatas loteng, Kho Beng emandang sekejap sekeliling ruangan, ternyata delapan puluh persen meja kursi disitu telah diisi tamu, bahkan sebagian besar menggembol senjata.

Ini menandakan bahwa kebanyakan mereka adalah anggota persilatan.

Pelayan mengajak mereka menuju kesebuah meja dibagian tengah, lalu kedua orang itu memesan hidangan pelayan itupun mengundurkan diri untuk mempersiapkan.

Sepeninggal sang pelayan, Kho Beng baru berbisik dengan lirih .

"Cho toako, mengapa begitu banyak jago silat yang berkumpul disini...?"

"Kemungkinan besar telah terjadi sesuatu peristiwa ditempat ini..."

Jawab Cho Liu san lirih. Sementara pembicaraan berlangsung, hidangan telah datang, maka sambil memenuhi cawan dengan arak, Cho Liu san segera berkata kepada rekannya .

"Mulai besok kita akan berpisah dan lagi sepanjang jalan kaulah yang menyukongi aku terus, maka sepantasnya bila aku yang gantian menjamumu pada malam ini, nah saudara Kho, terimalah penghormatan secawan arakku ini."

Kho Beng segera menanggapi dengan meneguk habis cawan araknya, maka mereka berdua pun segera bersantap dan minum arak dengan riang gembira.

Pada saat itulah dari bawah loteng terdengar kembali suara teriakan yang mewartakan ada tamu datang, disusul kemudian muncul seorang tamu dari bawah loteng.

Tamu itu berwajah bulat dan berusia empat lima puluh tahunan, dia membawa sebuah bungkusan karung dipunggungnya dan mengenakan jubah berwarna abu-abu, kecuali sepasang matanya yang bersinar tajam, dandanannya tak berbeda dengan saudagar biasa.

Dengan pandangan yang tajam dia memandang sekejap sekeliling ruangan lalu gumamnya .

"Waah...sudah penuh!"

"Maaf tuan"

Cepat-cepat sang pelayan berseru sambil tertawa paksa.

"Sejak tadi kan sudah hamba katakan bahwa loteng sudah penuh, lebih baik tuan duduk dibawah saja...."

Saudagar it tak menggubris ocehan pelayan tersebut, pelan-pelan dia mengalihkan pandangan matanya kesekeliling ruangan, ketika memandang sampai dimeja Kho Beng, tiba-tiba ia tertegun, lalu serunya sambil tertawa .

"Ha...ha...ha.... tak ada tempatpun tak apalah, biar aku bergabung dengan orang lain saja..."

Dengan langkah cepat ia segera menghampiri meja dimana Kho Beng berada. Dengan perasaan apa bpleh buat, terpaksa pelayan itu mendahuluinya dan berkata sambil tertawa paksa .

"Harap tuan berdua sudi memaafkan, maklumlah rumah makan kami kelewat kecil sedang dagangan kami hari ini kelewat baik, sudikah toaya memberi tempat untuk toaya ini."

Belum lagi perkataan tersebut selesai diucapkan, saudagar itu sudah menarik bangku dan duduk lebih dulu, sementara pandangan matanya yang tajam mengawasi terus wajah Kho Beng dengan pandangan tajam, sebentar ia nampak berkerut kening sebentar kemudian manggut-manggut, seakan-akan diatas wajah Kho Beng telah tumbuh sesuatu yang aneh.

Sementara Cho Liu san telah berkerut kening, wajahnya diliputi hawa amarah dan ia sudah siap menegur orang tersebut yang dianggapnya tak tahu sopan santun.

Tapi sebelum ia sempat berbicara, Kho Beng telah berkata lebih dulu.

"Silahkan, silahkan, kami tidak keberatan, apa salahnya kalau duduk semeja?"

Ia berpendapat bahwa keadaan semacam ini tak akan terhindar dalam perjalanan diluar, sehingga persoalan kecil tak perlu menimbulkan perasaan tak senang dihati, itulah sebabnya ia menjawab dengan cepat.

Namun ketika merasa wajahnya diawasi terus oleh saudagar itu dengan pandangan tajam, ia menjadi tertegun, pikirnya .

"Aneh betul orang ini, kenapa sih dia mengawasi aku terus? Jangan jangan ada sesuatu yang aneh denganku?"

Ia mencoba untuk memeriksa tubuhnya, namun tak ada yang aneh, pemuda itu menjadi semakin keheranan. Baru saja dia akan bertanya, kedengaran Cho Liu san telah menegur dengan suara dingin.

"Sobat, caramu memandang orang dengan sikap begini sungguh tak tahu sopan....!"

Bagaikan baru mendusin dari lamunan, laki-laki bermuka bulat itu mengiakan berulang kali, kemudian serunya sambil tertawa .

"Ha...ha...ha... maaf, maaf aku jadi kesengsem dengan wajah tuan ini karena merasa seperti mengenalnya disuatu tempat..."

Ia segera menurunkan karungnya kelantai, kemudian sambil menjura kepada Cho liu san kembali katanya .

"Beruntung sekali aku bisa duduk semeja dengan anda, bolehkah aku tahu siapa nama lote?"

"aku dari marga Cho,"

Jawab Cho Liu san ketus.

"Oooh...ha...ha...ha...rupanya Cho lote, aku yang rendah bernama Sie Put ku!"

Lalu sambil menjura kearah Kho Beng, ia bertanya lagi .

"Dan bolehkah aku tahu nama lote?"

"Aku bernama Kho Beng"

Sahut pemuda itu sambil tersenyum.

"Aku rasa kita belum pernah bersua!"

Berkilat sepasang mata Sie Put ku ketika mendengar nama Kho Beng tadi, ia segera berseru sambil tertawa .

"Aku hanya merasa bahwa wajah Kho lote persis sekali dengan wajah seorang sahabatku almarhum, itulah sebabnya aku sampai memandangmu dengan kesengsem, untuk itu harap kau sudi memaafkan, mari,mari biar kuhormati kalian berdua dengan secawan arak!"

"Tuan, kau belum memesan hidangan,"

Pelayan yang sudah menanti tak sabar segera memanfaatkan kesempatan itu untuk mengingatkan. Cho Liu san yang pada dasarnya sudah mendongkol, kontan saja menyindir sambil tertawa dingin .

"Hmmm, kalau toh pingin numpang makan dan minum secara gratis, kenapa mesti berlagak sok ramah?"

Sie Put ku segera berseru tertahan, buru-buru serunya kepada sang pelayan .

"Hidangkan semua yang baik, hari ini aku she Sie yang akan menjamu mereka berdua."

Kemudian katanya lagi kepada Cho Liu san sambil tertawa lebar .

"Maaf, maaf...aku memang rada pusing kepala hari ini!"

Setelah itu dia baru bertanya lagi kepada Kho Beng .

"Saudara Kho, kau berasal dari mana?"

"Dari wan tiong."

"Dari wan tiong?"

Sie Put ku nampak rada kecewa, tapi kembali desaknya.

"bukan berasal dari Hang shin?"

Diam-diam Kho Beng merasa keheranan, dia menganggap Sie Put ku kurang waras otaknya, sebab tingkah lakunya persis seperti orang gila. Tanpa terasa serunya kemudian sambil tertawa tergelak.

"Kitakan baru berjumpa untuk pertama kalinya, buat apa aku mesti membohongimu?"

Seperti teringat akan sesuatu, kembali Sie Put ku menganggukkan kepalanya berulang kali, tanyanya lebih jauh.

"Apakah orang tua lote masih sehat walafiat?"

Pertanyaan tersebut segera menyentuh perasaan sedih Kho Beng, dia menghela napas panjang.

"Aaaai...sejak kecil aku hidup sebatang kara, hingga kini aku belum tahu siapakah orangtua ku..."

Sepasang mata Sie Put ku sekali lagi bersinar terang.

"Ooooh....lantas lote berada dimana selama ini?"

"Empat samudra adalah rumahku, aku mengembara kemanapun kakiku membawa...."

"Kalau dilihat dari gerak gerikmu, nampaknya lote pernah belajar silat, entah kau menjadi anggota perguruan mana?"

Sekali lagi Kho Beng menggelengkan kepalanya dengan sedih.

"Aku Cuma mengerti ilmu silat secara kasar, belum pernah menjadi anggota perguruan manapun."

Hidangan telah disiapkan dari tadi, namun Sie Put ku seperti telah melupakannya, ia sama sekali tak menyentuhnya, hampir seluruh perhatiannya telah dicurahkan kepada Kho Beng seorang.

Keadaan tersebut tentu saja menjengkelkan Cho Liu san yang berada disampingnya, selain menimbulkan pula perasaan curiga dalam hati kecilnya.

Mendadak ia menegur sambil mendengus dingin .

"Hey sobat Sie, aku lihat kau seperti menaruh minat yang besar sekali terhadap saudara Kho ini, sudah selesai belum dengan pertanyaanmu itu? Sekarang giliran aku yang bertanya kepadamu!"

Sie Put ku nampak tertegun, tapi segera sahutnya sambil tertawa bergelak .

"Ha...ha....ha....baru bertemu sudah merasa seperti kenal, mungkin inilah yang dinamakan berjodoh...ha....ha....ha....mari,mari kita bersantap dan minum arak lebih dulu sebelum berbincangbincang kembali!"

Dengan cepat Cho Liu san menyilangkan tangannya menghalangi orang itu bersantap, ucapnya ketus .

"Tak usah terburu-buru, darimana sobat?"

"Ha...ha....ha...dari Kim leng."

"Selama ini apa pekerjaanmu?"

"Pedagang keliling!"

Cho Liu san tertegun, dia tak tahu apakah pekerjaan seorang pedagang keliling, maklumlah sebagai anak muda yang baru turun gunung, pengetahuannya memang amat cetek.

Tapi ia segera bertanya lagi dengan suara dingin.

"Apa isi kantung yang kau bawa itu?"

"Kedele!"

Jawab Sie Put ku sambil tertawa misterius.

Untuk kesekian kalinya Cho liu san dibuat tertegun.

Tapi jawaban tersebut segera memancing pula perhatian dari kawanan jago silat yang berada disekeliling tempat itu, serentak semua mengalihkan pandangan matanya kearah orang tersebut.

Kho Beng masih belum merasakan hal itu, ia segera berkata sambil tertawa sesudah mendengar perkataan itu.

"Oooh, rupanya saudara Sie adalah seorang pedagang kedele!"

"Hmmm!"

Cho Liu san segera mendengus.

"kalau seorang pedagang kedele hanya membawa sekarung kedele saja untuk dijual, sejak dulu ia sudah mati kelaparan!"

Kho Beng segera merasa perkataan itu ada benarnya juga, maka ia bertanya lagi kepada Sie Put ku .

"Jangan-jangan saudara Sie membuka usaha penggilingan tahu?"

"Ooooh tidak!"

Sie Put ku segera menggeleng.

"Untuk dimakan sendiri?"

"Juga bukan!"

"Lalu buat apa kau membawa sekarung kedele? Ayo cepat jawab!"

Bentakan tersebut berasal dari meja seberang, suaranya yang keras dan penuh tenaga membuat semua pendengar merasakan telinganya mendengung amat nyaring.

Dengan perasaan terkejut, Kho Beng berpaling, rupanya si pembicara adalah seorang busu berbaju kuning.

Waktu itu sibusu berbaju kuning itu sudah berdiri sambil bertolak pinggang, alis matanya yang hitam tebal berkenyit, wajahnya penuh dihiasi napsu membunuh yang tebal.

Dia sedang mengawasi Sie Put ku dengan mata melotot.

Sie Put ku berpaling dan mengawasi busu itu sekejap, lalu katanya sambil tertawa.

"Eeei, lucu amat saudara in, apa sebabnya kau marah-marah seperti itu? Dan atas dasar apa aku mesti memberitahukan soal ini kepadamu?"

Dengan mata mendelik besar, busu berbaju kuning itu tertawa dingin tiada hentinya.

"Hey orang she Sie! Perhatikan baik-baik jika matamu buta, seharusnya kau dapat menduga kedudukanku dari pakaian yang toaya kenakan. Belakangan ini secara beruntun telah terjadi pembunuhan berantai disekitar Kim leng, semalam tiga nyawa melayang pula di Kwan tong tin oleh enam butir kedele, kini semua jago persilatan sedang menelusuri jejak ari si kedele maut tersebut. Karenanya kau harus menjelaskan identitasmu dengan seterangterangnya, kalau tidak....hmmm...hmmm...jangan salahkan kalau toaya tak akan berlaku sungkan-sungkan lagi kepadamu!"

Sie Put ku segera tergelak.

"Apa sih yang sedang kau bicarakan? aku Sie Put ku sama sekali tidak mengerti, tapi ada satu hal yang kuketahui dengan jelas, dilihat dari pakaian berwarna kuning yang kau kenakan serta tiga kuntum bunga bwee yang tersulam didadamu, bisa jadi kau adalah orang ketiga dari Jit bwee jit kiam atau ketujuh bwee tujuh pedang dari Hoa San pay yang disebut orang Ki Hong bukan begitu?"

Mendengar pembicaraan yang sedang berlangsung, diam-diam Kho Beng merasa terkejut.

Didengar dari pembicaraan busu berbaju kuning dari Hoa San pay itu, ia baru tahu kalau disekitar tempat tersebut benar-benar sudah terjadi peristiwa berdarah, mungkinkah si kedele maut telah beraksi kembali disitu?

Tapi setelah mendengar dari Sie Put ku, hatinya semakin terkejut.

Tadinya ia mengira orang itu seorang saudagar keliling, tapi kenyataannya orang itu dapat menyebutkan identitas busu berbaju kuning dalam sekilas pandang, ini berarti orang tersebut merupakan seorang jago silat berilmu tinggi yang sengaja merahasiakan identitasnya.

Tanpa terasa ia berdiri tertegun untuk beberapa saat lamanya.

Sementara itu Khi Hong, sijago pedang berbaju kuning dari Hoa San pay itu sudah berkata lagi sambil tertawa dingin .

"Hey orang she Sie, ternyata kau benar-benar anggota persilatan, nyatanya kau mampu menyebutkan namaku secara jelas, hmmm...rasanya kau tentu punya nama juga didunia persilatan. Nah sekarang tolong jelaskan kepadaku, apa gunanya kedele sekarang yang kau bawa ini?"

"Tak ada salahnya untuk memberitahukan kepadamu! Kedele ini kugunakan untuk makan ternak."

"Untuk makan ternak!"

Bukan Cuma Kho Beng yang tertegun, bahkan segenap umat persilatan yang berada didalam rumah makan serta Khi Hong turut tertegun dibuatnya.

Mendadak Khi hong meninggalkan tempat duduknya, kemudian sambil berjalan mendekat, katanya lagi sambil tertawa dingin .

"Waaah....ternakmu itu tentu mahal sekali harganya, terbukti untuk ternakmu itu anda bersedia menggotong sekarung kedele menempuh perjalanan sejauh delapan puluh li lebih...aku Khi Hong jadi kepingin tahu kedele macam apa yang berada dalam karung itu."

Tiba-tiba paras muka Sie Put ku berubah hebat, cepat ia menghalangi perbuatan lawan sambil membentak .

"Jangan kau sentuh!"

"Mengapa tak boleh disentuh?"

Kali ini orang yang menegur adalah seorang kakek berbaju ungu yang duduk dibelakang meja Sie Put ku, sambil menegur matanya yang tajam mengawasi wajah orang she Sie itu tajam-tajam.

Sie Put ku segera menggenggam karungnya erat-erat, lalu menjengek sambil tertawa dingin .

"Atas dasar apa kalian hendak memeriksa isi karungku ini?"

Kakek berbaju ungu itu mendengus dingin, tiba-tiba dia melakukan sebuah sodokan kilat dengan menggunakan kedua buah jari tangannya yang digunakan seperti tombak.

Serangan itu bukan ditujukan ketubuh Sie Put ku, melainkan mengarah karung tersebut.

"Duuukkk...!"

Karung itu seketika berlubang dan kedele yang berada didalam karungpun berceceran diatas tanah.

Semua pandangan mata kawanan jago yang berada dalam ruang makan pun bersama-sama ditujukan kearah kedele yang berceceran itu, namun dengan cepat mereka dibuat tertegun.

Isi karung tersebut memang berupa kedele yang cukup besar, hanya warna kedele itu bukan kuning melainkan hitam berkilat.

Mana ada kedele berwarna hitam berkilat didunia ini?

Baru saja jago pedang dari Hoa San pay, Khi Hong membungkukkan badan untuk mengambil kedele itu, tiba-tiba terdengar seseorang membentak keras .

"Jangan disentuh, ada racun!"

Dengan perasaan terkesiap.

Khi hong segera menarik kembali tangannya cepat-cepat.

Sementara semua orang masih diliputi perasan tertegun, tahutahu Sie Put ku telah menyambar karung kedelenya, sambil melejit ketengah udara.

Kho Beng hanya merasakan pandangan matanya menjadi kabur, tahu-tahu bayangan manusia itu sudah lenyap dari hadapannya, cepat dia berpaling, tampak Sie Put ku sudah melompat keluar jendela dan lenyap dari pandangan mata.

Disusul kemudian dari kejauhan dana berkumandang datang suara nyanyian yang amat nyaring .

"Seluruh dunia takut dengan kedele Hanya aku tersenyum seorang diri Siapa bilang kedele adalah penyamun? Kubilang kedele adalah jago yang gagah!"

"Aaah! Bajingan itu adalah kedele maut!"

Tiba-tiba suara nyanyian itu diputuskan dengan suara bentakan keras yang berasal dari seorang laki-laki berbaju merah. Tampak orang itu segera meloloskan senjata tajamnya sambil membentak lagi.

"Hayo kejar!"

Secepat sambaran kilat dia meluncur keluar jendela dan melakukan pengejaran dengan cepat.

Segenap jago persilatan yang berada dalam ruang loteng itu segera tersadar kembali dari lamunan masing-masing, sambil meloloskan senjata tajam, mereka segera melakukan pengejaran ketat.

Tampak puluhan sosok bayangan manusia berkelebat keluar jendela, dalam waktu singkat hampir semuanya telah berlalu dari situ.

Kho Beng yang menyaksikan peristiwa ini Cuma bisa membelalakkan matanya dan berdiri melongo, ia melihat Cho Liu san telah meloloskan pedangnya sambil berkata.

"Saudara Kho! Tunggulah aku disini, aku akan pergi melihat keramaian sebentar!"

Tidak menunggu jawaban dari Kho Beng lagi, dia turut melompat keluar jendela dan menyusul kawanan jago persilatan lainnya.

Dalam waktu singkat, rumah makan yang semula amat ramai kini jadi kosong melompong, yang masih tertinggal disana tinggal enam tujuh orang saja.

Dengan cepat Kho Beng tersadar kembali dari lamunannya, ia segera berpikir.

"Daripada duduk menunggu, kenapa kau tidak turut pergi melihat keramaian? Orang bilang kedele maut adalah iblis jahat yang suka membantai umat persilatan, andaikata aku bisa menyumbangkan sedikit tenaga, bukankah hal ini bermanfaat bagi dunia persilatan pada umumnya?"

Ia mengerti, Cho Liu san sengaja menyuruhnya menunggu disitu, karena kuatir dia menjumpai bahaya mengingat ilmu silatnya yang terlalu cetek, padahal selama berapa waktu terakhir ini, saban malam dia selalu berlatih, kemampuan yang dimilikinya sekarang tidak berada dibawah kemampuan Cho toakonya.

Berpikir demikian, diapun cepat-cepat bangkit, baru saja akan melompat keluar lewat jendela, mendadak tampak tiga orang pelayan berlari mendekat, sambil menghadang mereka berseru bersama dengan muka merengek.

"Tuan, kalau kau pun pergi tanpa membayar, bagaimana mungkin kami bisa bertanggung jawab kepada majikan kami nanti?"

Kho Beng tertegun lalu sadar kembali, cepat-cepat serunya sambil tertawa.

"Berapa sih rekening kami?"

"Semuanya tiga tahil enam rence!"

Tapi setelah merogoh kedalam sakunya, merah jengah selembar wajah Kho Beng, diam-diam ia mengeluh.

Ternyata uang sakunya sudah hampir habis terpakai untuk biaya penginapan dan bersantapnya bersama Cho Liu san selama ini, yang tersisa sekarang Cuma beberapa keping hancuran perak.

Paras muka ketiga orang pelayan itupun turut berubah setelah menyaksikan kejadian ini.

Dalam cemasnya Kho Beng segera berpikir.

"Sekarang aku sudah kehabisan sangu, yang tertinggal pun hanya sekeping kemala yang kukenang sejak kecil, biarlah kugadaikan dulu untuk sementara waktu, bila Cho Liu san telah datang nanti, biar kutebus kembali."

Berpikir sampai disitu, dia segera mengeluarkan sisa uang yang masih ada keatas meja, lalu sambil melepaskan untaian kemala yang dikenakan itu ujarnya kepada si pelayan.

"Maaf kalau aku kehabisan uang tapi biarlah kugadaikan dulu batu kumala ini, sebentar akan kutebus kembali."

Selesai berkata dia segera melompat keluar jendela dan menyusul Cho Liu san dengan cepat.

Ketiga orang pelayan itu menjadi tertegun untuk beberapa saat lamanya, kemudian seorang diantara mereka memeriksa batu kumala itu dengan seksama.

Belum selesai dia melihat, mendadak dari samping mereka muncul sebuah tangan yang segera menyambar batu kumala itu dengan kecepatan luar biasa.

Dengan perasaan terkejut para pelayan berpaling, ternyata disamping mereka telah muncul seorang sastrawan setengah umur berbaju hitam yang waktu itu sedang mengamati batu kumala tersebut dengan penuh perhatian.

Batu kumala itu besarnya setengah telapak tangan, dibagian tengah terukir dua huruf yang berbunyi "Kit siong"

Sedangkan disekelilingnya berukiran naga sakti dengan delapan cakarnya, bila digenggam batu kumala itu terasa hangat sekali.

Pelayan itu menjadi tertegun setelah menyaksikan kejadian ini, segera teriaknya.

"Tuan, mau apa kau?"

Sastrawan setengah umur berbaju hitam itu sama sekali tidak menggubris, ia termenung beberapa saat lamanya, kemudian baru bergumam sambil mengangguk berulang kali.

"Ehmmm.....dinding naga kumala hijau (Cing giok liong pit)....tak salah lagi.....pasti dia..."

Mendadak dia mengambil sekeping uang perak dan diserahkan kepada pelayan itu sambil berkata.

"Sungguh tak kusangka pemuda tadi adalah putra sahabat karibku, biar rekeningnya aku bayar sedang batu kemala ini akan kusimpan untuk sementara waktu."

"Tapi.....tapi....kalau orang itu minta kembali kepada kami, bagaimana mungkin hamba bisa mempertanggung jawabkan diri?"

Seru pelayan itu panik. Sastrawan berbaju hitam itu segera melotot besar, tukasnya dengan ketus.

"Kenapa tidak? Aku tinggal dirumah penginapan Put ji kui diseberang jalan, apa bila pemuda tersebut telah kembali nanti, suruh saja datang mencariku disana."

Sepasang matanya yang bersinar tajam bagaikan sembilu membuat ketiga orang pelayan tersebut menjadi ketakutan setengah mati dan tak berani bicara lagi, mereka hanya bisa melihat bayangan si sastrawan tersebut berjalan menuruni anak tangga.

Dalam pada waktu itu, ketika Kho Beng melayang turun dari rumah makan, ia sudah tak melihat lagi bayangan tubuh dari kawanan jago persilatan tersebut, yang ada hanya rakyat yang sedang menonton keramaian disekelilingnya.

Setelah menentukan arah, ia segera berlarian menuju keluar kota, dalam waktu singkat setengah li sudah dilalui, namun tak sesosok bayangan manusia pun yang nampak.

Tanpa terasa dia menghentikan perjalanannya sambil berpikir dengan keheranan.

"Sungguh aneh, kemana perginya orang-orang itu?"

Sementara dia masih termenung, mendadak terendus bau darah yg amis sekali berhembus lewat terbawa angin.

Dengan hati terkesiap Kho Beng segera memperhatikan sekeliling tempat itu, sejauh mata memandang hanya pepohonan bambu yang lebat terbentang didepan mata, bau amis tadi tak lain berasal dari balik hutan yang berjarak lima kaki dari posisinya.

Dengan perasaan hati yang kebat kebit, dia memburu masuk kedalam hutan itu, benar juga, bau amisnya darah makin lama semakin bertambah terasa, kemudian setelah berbelok tiga tikungan, tampaklah dua sosok mayat membujur diatas tanah.

Dengan perasaan tercekat, Kho Beng segera menghentikan langkahnya, kemudian perlahan-lahan ia berjalan mendekat.

Ketika diperiksa, ternyata kedua sosok mayat tersebut adalah Khi hong sijago pedang dari Hoa san pay serta seorang kakek berbaju hitam.

Namun luka yang menyebabkan kematian mereka terletak didepan dada semua, mulut luka panjangnya mencapai setengah depa dan kelihatannya terluka oleh bacokan senjata tajam, darah kental masih mengucur keluar tiada hentinya, hal ini membuktikan bahwa mereka belum lama menemui ajalnya.

Bergidik perasaan Kho Beng sesudah melihat peristiwa ini, segera pikirnya.

"Benar-benar keji sekali cara membunuh orang ini, jangan-jangan Sie Put ku adalah si kedele maut yang sedang dicari-cari oleh segenap umat persilatan?"

Ia mulai mengkhawatirkan keselamatan jiwa Cho liu san, betapa tidak!

Dibawah kerubutan berpuluh orang jago lihay pun Sie Put ku masih mampu membinasakan dua orang musuhnya, bagaimana mungkin Cho toako dengan kepandaian silatnya yang begitu rendah, akan mampu mempertahankan diri?

Angin malam terasa berhembus kencang, -------missing page 48 -57---------....keperkampungan Hui im ceng di Hang ciu untuk melakukan penyelidikan?

Maka tanpa menginap lagi, berangkatlah Kho Beng pada malam itu juga menuju kekota Hang Ciu.

Pemandangan alam disekitar kota Hang ciu memang termasyur diseantero jagat, sebuah telaga yang permai terbentang dikelilingi tiga bukit, sementara sisi yang lain menempel dengan kota tersebut, entah berapa banyak orang yang terpikat oleh keindahan alam disitu.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, akhirnya sampailah Kho Beng diota Hang ciu.

Saat itu dia tak berminat untuk menikmati keindahan alam disekitar sana, dia hanya ingin secepatnya tiba diperkampungan Hui im ceng serta menyelidiki persoalan sekita asal usulnya.

Waktu menunjukkan menjelang tengah hari, Kho Beng pun menuju kesebuah rumah makan untuk mengisi perut, kemudian tanyanya pada si pelayan .

"Hey pelayan, aku ingin menanyakan sebuah alamat kepadamu, apakah kau tahu?"

Sambil tertawa pelayan itu menyahut.

"Silahkan toaya bertanya, hamba memang penduduk asli kota ini, asal tempat tersebut berada disekitar Hang ciu, hamba pasti akan mengetahuinya."

"Dimanakah letak perkampungan Hui im ceng?"

Tanya Kho Beng sambil tersenyum. Begitu mendengar nama "Hui im ceng"

Mendadak paras muka pelayan itu berubah hebat, cepat-cepat ia berbisik dengan wajah tercengang .

"Toaya, mau apa kau pergi ke Hui im ceng?"

Kho Beng yang belum pengalaman dan baru terjun kedunia persilatan jadi tertegun, setelah melihat perubahan wajah pelayan itu, segera pikirnya.

"Waaah....nampaknya Hui im ceng punya nama cukup besar dikota ini, tapi mengapa pelayan ini berubah muka?"

Berpikir sampai disitu, diapun segera menjawab .

"Aku hendak mencari orang di Hui im ceng, hey pelayan apakah ada sesuatu yang tak beres?"

Pelayan itu mula-mula tertegun, kemudian katanya sambil tertawa geli .

"Mau mencari orang di Hui im ceng? Toaya, kau jangan menggoda hamba."

Kho Beng menjadi mendongkol sekali, segera menegur agak marah .

"Hey pelayan, jauh-jauh datang ke Hang ciu, aku khusus hendak mencari oran di hui im ceng, siapa bilang aku sedang menggodamu.... ?"

Pelayan itu menjadi tertegun beberapa saat lamanya, setelah itu ia baru berbisik.

"Toaya, terus terang saja kukatakan, Hui im ceng telah menjadi rumah tanpa penghuni semenjak dua puluh tahun berselang, disitu tak ada orang, tapi setan sih banyak sekali."

Kho Beng terkesiap dan memandang pelayan itu dengan termangu, kemudian serunya gelisah.

"Pelayan! Sebenarnya dimana sih letak Hui im ceng? Apa yang telah terjadi dengan perkampungan tersebut?"

"Panjang sekali untuk diceritakan, Hui im ceng terletak dikaki bukit Mao san, kurang lebih lima li ditimur kota, dulu penghuninya adalah seorang yang ternama, kemudian entah bencana apa yang telah menimpa keluarganya, pada delapan belas tahun berselang semua penghuninya tewas tanpa sisa, dan perkampungan itupun berubah menjadi gedung hantu....?"

"Apakah tak pernah ada orang yang berani masuk kesitu?"

Sela Kho Beng.

"Hmm.... bukan saja tak ada yang berani masuk, beberapa tahun belakangan ini malah muncul hantunya, setiap malam selalu kedengaran ada orang menangis didalam gedung itu, lagi pula sering ditemukan orang mati, entah dari mana datangnya orang-orang itu, mereka pada tewas didepan gedung itu. Konon orang-orang itu mati ketakutan ketika terdorong oleh rasa ingin tahunya melakukan penyelidikan disitu, selama beberapa tahun terakhir, suasana disekitar gedung tersebut tak pernah tenang sehingga rakyat disekelilingnya banyak yang pindah, kini seputar tiga li dari gedung tersebut menjadi sepi tanpa penghuni, suasananya menjadi lebih mengerikan lagi."

Kho Beng mendengarkan semua pembicaraan tersebut dengan perasaan termangu, jauh-jauh dia datang kemari ternyata alamat yang dituju adalah sebuah gedung hantu, lantas apa maksud orang she Li itu menyuruhnya datang kemari?

Sementara itu terdengar si pelayan telah berkata lagi.

"Toaya, jika kedatanganmu pun disebabkan oleh rasa ingin tahu, hamba anjurkan lebih baik jangan kesana, sebab kalau sampai kehilangan nyawa dengan percuma kau rugi besar....."

Selesai berkata ia segera mengundurkan diri dari sana.

Kho Beng termangu beberapa saat lamanya, ia tahu sekalipun ditanya lagipun tak akan banyak keterangan yang bisa dikorek, tapi benarkah didunia ini ada hantunya?

Setelah berpikir lebih jauh, dia merasa tak baik kalau mengundurkan diri dengan begitu saja setelah tiba di Hang ciu sekarang, selain itu heboh hantu pun memancing rasa ingin tahu dalam hatinya.

Jilid 03 Maka selesai mengisi perut, cepat-cepat dia membayar rekeningnya dan meninggalkan rumah makan tersebut.

Sesudah keluar dari pintu timur, ia berjalan menelusuri sebuah jalan besar, tanpa terasa dua tiga li telah dilalui.

Benar juga, suasana disekitar sana makin lama semakin sepi dan menyeramkan, ini menunjukkan kalau perkataan si pelayan tadi tidak bohong.

Sepanjang jalan dia menjumpai banyak rumah yang tanpa penghuni, malah banyak pula yang sudah roboh, mungkin rumah rumah itu adalah bekas rumah penduduk yang ditinggalkan penghuninya.

Akhirnya dari kejauhan dana ia saksikan sebuah gedung perkampungan yang megah, bangunan itu berdiri dikaki bukit, semuanya terbuat dari batu yang kokoh dan megah, bisa diduga pemiliknya dulu tentu merupakan seorang yang ternama dan kaya raya.

Kho Beng tahu, gedung tersebut tentulah Hui im ceng yang dimaksud, ia mencoba memperhatikan sekeliling situ, ternyata tak sesosok bayangan manusia pun yang nampak.

Suasana dimusim gugur yang gersang menambah suasana ngeri dan menyeramkan disekeliling gedung tersebut.

Ia mendekati pintu gedung, sarang laba-laba kelihatan menghiasi setiap sudut bangunan, pintu gerbang setengah terbuka tapi terasa mengerikan.

Lama sekali pemuda itu berdiri ragu didepan pintu, pikirnya kemudian.

"Aaah...masa disiang aripun ada setan yang bakal muncul?"

Setelah menenangkan hatinya, diapun mendorong pintu gerbang ang lapuk itu.

"Kraaak..."

Pintu segera terbuka lebar, pemandangan pertama yang kemudian terpampang didepan mata adalah tumbuhan ilalang setinggi lutut yang menyelimuti seluruh permukaan tanah, ketika angin berhembus lewat menggoyangkan ilalang, lamat-lamat terlihatlah tengkorak manusia berserakan dimana-mana.

Diam-diam Kho Beng merasa merinding, setelah melihat kejadia itu, tanpa terasa bulu kuduknya pada bangun berdiri.

Sekalipun disiang hari bolong dia toh dapat merasakan betapa seramnya dan ngerinya suasana dalam gedung tersebut.

Beberapa saat kemudian, dengan memberanikan diri ia melangkah masuk kedalam gedung tersebut dengan langkah pelan.

Tiba-tiba terdengar suara mencicit muncul dari balik ilalang, disusul bergelombangnya tumbuhan disekitar sana, Kho Beng terkejut dan cepat-cepat melompat mundur.

Tapi ia menjadi geli sendiri setelah melihat apa yang terjadi, rupanya ada bberapa ekor tikus yang lari ketakutan.

Sambil menghembuskan napas panjang, Kho Beng berpikir dihati kecilnya.

"Kho Beng, wahai Kho Beng...kalau keadan seperti inipun sudah membuat kau ketakutan, bagaimana mungkin kau bisa menjadi seorang pendekar dan orang gagah didalam dunia persilatan?"

Berpikir sampai disitu, semangatnya segera berkobar kembali, dengan langkah lebar dia meneruskan perjalanannya kedalam gedung tersebut.

Setelah melewati pelataran, didepan sana merupakan sebuah gedung besar yang berbentuk ruang tamu, kursi meja masih tersusun rapi disekitarnya, namun debu setebal berapa inci menyelimuti seluruh permukaan lantai, hal ini menunjukkan kalau gedung tersebut sudah lama tak pernah dijamah manusia.

Dengan langkah yang santai dia berjalan memasuki ruang tamu, sambil mengamati sekeliling dengan seksama akhirnya pemuda itu masuk kedalam gedung kedua.

Tempat itu merupakan sebuah bangunan berloteng, sederet jendela yang menghadap keluar meski sudah dilapisi debu tebal, namun masih kelihatan sisa-sisa kemegahan dimasa lalu.

Pemuda itu mencoba untuk membuka pintu ruangan dan melangkah masuk, tapi apa yang kemudian terlihat segera membuat perasaannya menjadi tercekat.

Ternyata semua perabot disitu teratur rapi sekali, lantaipun amat bersih, tak setitik nodapun yang nampak.

Benar-benar satu kejadian aneh, kalau dibilang disitu tak ada penghuninya, mengapa ruangan tersebut begitu bersih dan terawat baik?

Kalau dibilang ada penghuninya, sudah sekian lama dia memasuki gedung tersebut, namun tak setitik suarapun kedengaran...

Semakin dipikir Kho Beng merasa semakin ngeri sehingga tanpa terasa bulu kuduknya pada bangun berdiri, cepat-cepat dia kabur keluar dari pintu ruangan.

Tapi setelah termenung sejenak pemuda itu meneruskan kembali perjalanannya menuju keruang belakang.

Semakin kedalam ia berjalan, Hui im ceng begitu luas dan besar, sepanjang jalan banyak pepohonan yang tumbuh rindang, jalannya pun berliku-liku, kesemuanya ini membuat suasana disana terasa makin menyeramkan dan menggidikkan hati...!

Selesai melakukan pemeriksaan disekeliling gedung, pemuda itu balik kembali kegedung kedua.

Hingga kini dia masih bimbang dan tak habis mengerti, dia tak berhasil menemukan titik terang yang menunjukkan bahwa antara dia dengan hui im ceng tersebut mempunyai sangkut paut yang luas.

Selain itu, kecuali gedung bertingkat tersebut yang nampaknya rada mencurigakan, ditempat lain ia tak berhasil menemukan sesuatu yang menyolok.

Lalu apa yang harus diperbuatnya sekarang?

Pergi meninggalkan tempat tersebut atau tetap tinggal disitu?

Apakah maksud orang yang menyuruhnya datang kesitu hanya untuk menonton gedung hantu ini?

Diliputi perasan ragu dan bimbang, Kho Beng masuk kembali kedalam ruang gedung yg bersih tadi.

Namun secara tiba-tiba, ia berseru kaget dan mundur sejauh tiga langkah lebih setelah pandangan matanya dialihkan kearah meja besar.

Ternyata diatas meja tersebut telah bertambah dengan sederet tulisan yg berbunyi begini.

"Jika masih sayang nyawa, pergilah meninggalkan tempat ini sebelum matahari terbenam."

Kho Beng benar-benar amat terperanjat, seingatnya sewaktu masuk untuk pertama kalinya tadi diatas meja sama sekali tak terdapat tulisan apa-apa.

Ini berarti surat peringatan itu dibuat pada saat dia sedang memeriksa bagian gedung yang lain.

Pemuda itu segera mengangkat kepalanya sambil mencoba untuk memperhatikan keadaan disekitar situ, suasana terasa hening & sepi sedang disekitar situpun kosong melompong, mustahil ada orang kedua yg telah memasuki tempat itu, tapi.....siapakah yg telah meninggalkan surat peringatan tersebut?

Mungkinkah setan.....?

Dalam waktu singkat, Kho Beng kembali merasakan suasana misterius menyelimuti seluruh perkampungan Hui im ceng tersebut.

Sesungguhnya pemuda itu telah bersiap-siap akan meninggalkan tempat tersebut, tapi surat peringatan itu segera membangkitkan kembali sifat ingin tahunya.

Sambil tertawa nyaring segera serunya dengan lantang.

"Selama hidup aku Kho Beng belum perna melihat setan, malam ini ingin kusaksikan sampai dimanakah kehebatan setan dedemit dalam menggoda manusia...."

Suasana disekeliling tempat itu tetap terasa hening, sepi dan tak kedengaran sedikit suara pun.

Melihat tiada suara tanggapan, Kho Beng pun segera balik kembali keruang semula, menurunkan buntalannya dan duduk bersemedi diatas sebuah kursi.

Matahari senja telah condong dilangit barat, tak lama kemudian cahaya kemerahan itupun lenyap dari pandangan mata, suasana gelap segera menyelimuti seluruh angkasa.

Tatkala Kho Beng selesai dengan semedinya dan membuka mata, ruang tersebut telah dicekam kegelapan malam.

Dia masih ingat ketika dalam perjalanan, maka diambilnya ransum tersebut dan dimakan secara pelan-pelan sambil memperhatikan suasana diluar gedung.

Biarpun ruangan itu tanpa cahaya lentera, sinar rembulan diangkasa mendatangkan suasana cerah diseputar gedung tersebut.

Selesai bersantap, Kho Beng merasakan semangatnya berkobar kembali, dia tak tahu apa yg mesti diperbuatnya dalam kegelapan malam begini, maka dengan langkah pelan dia keluar dari ruangan dan mengawasi keadaan di sekitar sana.

Tampak kegelapan malam telah menyelimuti setiap sudut gedung itu, pemandangannya sepuluh kali lipat lebih menyeramkan dari pada disiang hari tadi.

Dibawah timpaan sinar rembulan, bayangan pohon yang terbias menciptakan bayangan aneh yang menyerupai setan, angin malam yg berhembus kencang menimbulkan udara dingin yang membekukan, ditambah pula dg suara jeritan tikus yg lebih mirip jeritan setan.

Kesemuanya ini membuat perkampungan Hui im ceng seolah-olah berubah menjadi sebuah dunia setan.

Biarpun sewaktu siang tadi Kho Beng telah mengadakan kontrol yg cermat disekitar sana, tapi dalam suasana begini, tak urung bergidik juga hatinya.

Cepat-cepat dia kembali keruang tengah, menutup pintu depan lalu bersemedi dikursi, walaupun perasaannya mulai gugup, namun wataknya yg keras kepala membuatnya bertekad untuk bermalam disitu.

Dia ingin mengetahui sampai dimanakah kehebatan dan keseraman gedung tersebut.

Malam pun makn lama semakin larut, suasana tenang dan sepi makin mencekam seluru jagat, tunggu punya tunggu Kho Beng belum juga menangkap sesuatu suara yang aneh, tanpa terasa diapun berpikir.

"Konon hawa panas manusia membuat setan dedemit pada kabur ketakutan, jangan-jangan setannya tak akan muncul pada malam ini..."

Makin dipikir dia makin bernyali, akhirnya diapun terlelap dalam ngantuknya.

Baru saja dia akan tertidur, mendadak segulung angin dingin berhembus lewat menerpa tubuhnya, pemuda itu bergidik dan segera mendusin ari tidurnya.

Dengan pandanga tajam diawasinya sekejap sekitar situ.

Tampak pintu ruangan yg semula tertutup rapat kini telah terbuka lebar, hembusan angin diluar pintu mendatangkan suara yg mengerikan hati.

Kho Beng sangat terkejut, belum sempat dia berbuat sesuatu, mendadak terdengar olehnya suara langkah kaki manusia yg cukup keras bergema memecahkan keheningan, suara itu seperti datang dari atas loteng.

Deruan angin dan suara langkah kaki tersebut muncul sejenak lalu lenyap, bila tidak diperhatikan dg seksama, sulit rasanya untuk ditangkap secara nyata.

Tapi langkah kaki siapakah itu?

Apalagi ditengah malam buta begini, ditengah gedung yg disebut gedung hantu?

Dg bulu kuduk pada bangun berdiri, Kho Beng segera membentak keras.

"Siapa disitu?"

Begitu suara bentakan berkumandang, suara langkah tersebut segera lenyap tak berbekas.

Kho Beng mencoba untuk memperhatikan lagi beberapa saat, namun tak kedengaran lagi suara apapun, dg perasaan ragu diapun berpikir.

"Jangan-jangan aku salah mendengar?"

Siapa tahu belum habis ingatan itu melintas lewat, suara langkah kaki itu kembali bergema, kali ini suara tersebut kedengaran nyata sekali dan berasal dari lantai atas.

Kali ini, Kho Beng telah yakin kalau suara langkah tersebut berasal dari atas loteng, ia tahu suara itu bukan khayalan belaka, maka dg suatu gerakan cepat dia melompat keluar dari ruangan tersebut.

Tampak dari balik jendela diatas loteng terlihat sebuah lentera menyinari suasana disekelilingnya.

Lagi-lagi suatu kejadian yg sangat aneh, pemuda itu masih ingat, loteng itu berada dalam kegelapan tadi, lalu siapa yg telah bermain gila dgnya.

Dg suatu gerakan cepat, dia melompat naik keatas loteng, kemudian menerobos masuk kebalik jendela dg suatu gerakan tipu yg manis.

Dilihat dari bawah tadi, cahaya lentera tersebut kelihatan terang benderang, tapi setelah berada dalam ruangan atas, ternyata suasananya cukup remang-remang.

Dg cepat Kho Beng memeriksa sekejap disekitar sana, tapi kembali ia dibuat terpeanjat sampai menjerit keras.

Dalam ruangan tersebut tidak ditemukan sesosok bayangan manusiapun, tapi diatas ranjang duduklah seperangkat tulang tengkorak manusia dalam posisi bersila, sisa daging yg membusuk masih menempel diseputar tulang belulangnya, sehingga hal ini membuat bentuknya lebih menyeramkan.

Benarkah duara langkah kaki manusia yg terdengar tadi adalah langkah tengkorak tersebut?

Benarkah dalam gedung ini betul-betul terdapat setannya?

Begitu ingatan tersebut melintas didalam benaknya, Kho Beng segera membentak nyaring.

"Lihat serangan!"

Sepasang tangannya diayunkan kedepan sekuat tenaga dan menghajar tengkorak yg sedang duduk bersila diatas ranjang itu.......

Dimana angin pukulannya menyambar lewat, tengkorak tersebut segera roboh berantakan diatas ranjang.

Dengan gerakan cepat Kho Beng memburu ketepi ranjang, dia baru dapat menghembuskan napas lega setelah menyaksikan tulang belulang itu berantakan tak karuan.

"Hmmm, akan kulihat apakah kau bisa bermain gila lagi!"

Demikian pikirnya dihati.

Siapa tahu belum habis ingatan tersebut melintas lewat, mendadak dari belakang tubuhnya berkumandang lagi suara tertawa seram yg menggidikkan hati, menyusul kemudian cahaya lentera bergoyang tiada hentiny seakan akan hendak padam.

Dengan perasaan terkejut Kho Beng segera berpaling....apa yang terlihat?

Ternyata sesosok tengkorak telah berdiri tegak didepan pintu kamar sambil menyeringai seram.

Sekujur badan tengkorak itu berlumuran cahaya pospor, sehingga walaupun berada dalam kegelapan, namun bentuknya dapat terlihat jelas.

Hampir terbang semangat Kho Beng setelah menyaksikan kejadian ini, sambil memutar badannya cepat-cepat, ia segera membentak nyaring, sepasang tangannya kembali diayunkan kedepan melancarkan serangan dahsyat.

Dengan hasil latihannya selama dua tahun ditambah pula berada dalam keadaan terkejut bercampur ngeri, tak heran kalau tenaga serangan yang digunakan olehnya saat itu lebih hebat daripada serangan jago-jago setarafnya.

Tapi apa yg dirasakan Kho Beng kali ini berbeda jauh dengan keadaan semula, kali ini dia merasa tenaga pukulannya seperti tak berhasil menyentuh sesuatu, sementara tengkorak bercahaya itu malah melayang kesana kemari mengikuti hembusan angin pukulannya.

"Aaaaah......"

Tak kuasa lagi Kho Beng menjerit kaget, peluh dingin bercucuran membasahi tubuhnya, hampir saja ia jatuh pingsan.

Sekalipun dia tak percaya dg setan, namun berada dalam keadaan seperti ini,mau tak mau dia membayangkan juga ceritacerita seram tentang setan yg pernah didengarnya selama ini.

Dalam waktu singkat, dia merasa suasana disekeliling sana menjadi gelap gulita, hawa setan menyelimuti sekitar situ, sementara bayangan iblis seakan-akan siap menerkam serta melahapnya.

Tengkorak bersinar itu lagi-lagi meluncur datang dg seramnya, Kho Beng ingin lari tapi kakinya seperti berakar, sama sekali tak mampu berkutik lagi, sehingga tanpa sadar dg tubuh gemetar keras pemuda itu mundur kebelakang selangkah demi selangkah.

Pada saat itulah cakar tengkorak yg kurus kering itu menyambar kewajahnya dg kecepatan bagaikan kilat, kemudian mencekik tenggorokan Kho Beng dari arah belakang.

Dg perasaan seram Kho Beng segera menjerit.

"Aku toh tak pernah terikat dendam sakit hati dgmu, jangan kau bunuh diriku!"

"Heeehh.....heeehh.....heeehh...."

Suara tertawa yg begitu menyeramkan berkumandang dari belakang tubuhnya.

"Siang tadi aku toh sudah memperingatkan jangan tinggal disini sampai matahari terbenam, tapi nyatanya kau tetap tinggal disini, jangan salahkan kalau kucekik mampus dirimu sekarang!"

Napasnya menjadi sesak sekali dan kesadaran Kho Beng pun lamat-lamat mulai menghilang, pada hakekatnya dia tak sempat lagi untuk memperhatikan secara jelas apakah setan atau manusia yg mencekiknya dari belakang.

Apa yang terpikirkan olehnya sekarang adalah bagaimana caranya untuk melepaskan diri dari jepitan jari tangan lawan yg kuat dan keras bagaikan jepitan besi tersebut serta mencari keselamatan hidup bagi dirinya.

Mendadak......

Satu ingatan melintas didalam benaknya dengan sekuat tenaga ia segera berteriak .

"Ampuni aku, bukan maksudku sendiri kemari........"

"Hmmm...hmmm...cepat katakan siapa yg menyuruh kau datang melakukan penyelidikan disini ? "

Pertanyaan itu diucapkan dg suara yg menyeramkan, namun cekikan tersebut mulai mengendur, seakan-akan dia kuatir kalau Kho Beng benar-benar akan mati tercekik.

Menggunakan kesempatan itulah Kho Beng menarik napas panjang, lalu dg sekuat tenaga kakinya menjejak tanah, dg kepalanya dia menerjang kebelakang.

Oleh karena setan itu berada dibelakangny maka percuma dia berilmu silat, karena mustahil dapat digunakan, maka diapun mengambil keputusan untuk beradu nasib dg melakukan terjangan.....

Buktinya terjangan tersebut segera memberikan hasil diluar dugaan.

"Bruuukkk... ! "

Dibali suara benturan keras kedengaran pula jeritan kaget, tangan yg mencekik Kho Beng tadi terlepas dari atas tengkuknya, dg memanfaatkan kesempatan inilah dia membalikkan badan sambil berkelit kesamping.

Akan tetapi disebabkan terjangan tersebut dilakukan dh sepenuh tenaga, hal mana membuat pandangan matanya menjadi berkunang-kunang, kepalanya pusing tujuh keliling, ditambah lagi suasana dalam ruangan redup, hakekatnya dia belum sempat untuk memperhatikan dg lebih jelas lagi siapakah lawannya itu.....

Menanti Kho Beng dapat menguasai diri kembali, tahu-tahu desingan angin tajam telah melintas didepan tubuhnya, menyususl kemudian urat nadai pada tangan kanannya telah dicengkeram dg kuat sekali.

Kontan saja pemuda itu kehilangan seluruh kekuatan tubuhnya dan duduk lemas.

Ternyata dihadapannya telah muncul seorang kakek berbaju putih yg rambutnya telah beruban dan membawa sebuah tongkat ditangan kanannya, hanya saja rambutnya menutupi seluruh wajahnya hingga tak nampak jelas raut mukanya itu.

Biar begitu, sinar mata yg terpancar keluar dari balik matanya justru mendatangkan perasaan bergidik bagi siapapun yg melihatnya, hal mana membuat bulu kuduk Kho Beng segera pada berdiri semua.

Sekalipun demikian, Kho Beng pun dapat menghembuskan napas lega, karena biarpun orang ini lebih mirip setan, namun bagaimanapun juga toh tetap sebagai manusia biasa, karenanya dia segera berseru lagi.

"Empek, aku toh tak ada hubungan sakit hati atau permusuhan dgmu, kenapa kau mesti berlagak menjadi setan untuk menakut

Tiraikasih Website

http.//kangzusi.com/ nakuti diriku? Hampir saja aku mati ketakutan....cepat lepaskan aku, bila ada urusan, mari kita bicarakan secara baik-baik!"

Kakek itu segera tertawa dingin.

"Hmmm, meskipun nyalimu besar dan tak sampai mati ketakutan, namun aku mampu membunuhmu dalam sekali ayunan tangan saja, cepat katakan siapa yg menyuruhmu datang kemari?"

Kho Beng segera menghela napas panjang.

"Aaaai.....orang yg menyuruhku kemari mengaku she Lie!"

"Hmmm, jangan berusaha membohongi aku, dia bernama Lie apa...?"

Dengus kakek berambut putih itu. Kembali Kho Beng tertawa getir.

"Aku juga tak tahu siapakah orang itu, bahkan wajahnyapun belum sempat kujumpai."

Kakek berambut putih itu segera menghentakkan toyanya keraskeras keatas tanah, lalu bentaknya.

"Bajingan keparat, kau berani...."

Berbicara sampai ditengah jalan, toya ditangan kanannya segera direntangkan kedepan.

Seketika itu juga Kho Beng merasa amat terperanjat, dia mengira orang itu tak percaya dg kata-katanya dan sekarang bersiap siap untuk melancarkan serangan mematikan.

Baru saja dia hendak membuka suara untuk membantah, tampaklah si kakek itu sudah melemparkan toyanya lewat jendela.

Jendela yg setengah terbuka itu hancur seketika tersambar oleh toya baja itu, ditengah ledakan keras yg memekakkan telinga terdengar suara jeritan yg bergema membelah angkasa, disusul kemudian tampak ada benda berat yg roboh terbanting diatas tanah.

Kho Beng menjadi terbelalak dan melongo oleh peristiwa tersebut.

Dia tak menyangka kalau dialam gedung tersebut kecuali dia seorang, ternyata masih ada pihak lain yg melakukan penyelidikan dari luar jendela.

Dia pun tak pernah menyangka kalau kakek berambut putih yg manusia tak mirip manusia, setan tak mirip setan ini ternyata memiliki tenaga dalam yg begitu sempurna, dimana dalam ayunan toyanya dia sangup membunuh seseorang dalam waktu singkat.

Sementara dia masih tertegun karena kaget, mendadak cekalan pada pergelangan tangan kanannya menjadi kendor, menyusul kemudian tampak kakek berambut putih itu roboh terjungkal keatas tanah.

Dg napas terengah-engah, kakek itu segera berseru .

"Aku sudah dicelakai orang, cepat....cepat katakanlah, dia sia....siapakah kau?"

Sekali lagi Kho Beng dibuat tertegun, sebetulnya saat itu merupakan kesempatan yg terbaik aginya untuk melarikan diri, namun perasaan heran dan ingin tahunya membuat pemuda itu melupakan ancaman bahaya atas keselamatannya.

Dg perasaan keheranan, ia segera bertanya.

"Lotiang, bukankah kau berada dalam keadaan sehat wal afiat? Siapa yg telah mencelakaimu?"

"Aku sudah terkena jarum penembus tulang pembeku darah...."

Kata kakek berambut putih itu dg napas terengah-engah.

"Kau...kemarilah....mengingat aku sudah hampir mati, beritahulah padaku, siapakah kau? Dan siapa yg menyuruhmu datang kemari?"

Diam-diam Kho Beng merasa terkejut sekali, pikirnya.

"Padahal kepandaian silatnya sangat hebat, tapi kenyataannya dia telah dicelakai orang tanpa menimbulkan sedikit suarapun, aaah...! Jarum penembus tulang pembeku darah yg dimaksudkan pastilah sejenis senjata yg amat jahat."

Ia merasa tak pernah mempunyai dendam sakit hati dg siapapun, sekarang ia Cuma terlibat dalam peristiwa tersebut secara kebetulan saja, apalagi setelah melihat kakek itu berusaha untuk mengetahui identitasnya menjelang saat kematiannya, tanpa terasa timbul rasa kasihan dalam hati kecilnya.

Setelah tertawa getir, diapun menjawab.

"Sesungguhnya aku sendiripun tak tahu mengapa aku Kho Beng disuruh datang kemari, seseorang yg tidak kukenal telah meninggalkan sepucuk surat kepadaku untuk datang kemari dan aku pun segera berangkat kesini. Nah, silahkan lotiang memeriksa surat ini seusai membaca isinya kau pasti akan mengerti dg sendirinya."

Sambil berkata, dia mengeluarkan selembar surat dan mendekati kakek tersebut.

"Aku sudah tak dapat melihat lagi, tolong bacakan isi surat tersebut...."

Kata kakek berambut putih itu dg nada lemah. Dg cepat Kho Beng membaca isi surat tersebut.

"Aku tak dapat menunggu karena ada urusan penting, datanglah keperkampungan Hui im ceng dikota Hang ciu seusai membaca tulisan ini, sepuluh tahil perak kuhadiahkan sebagai ongkos jalan, dinding naga merupakan warisan leluhur, jangan diperlihatkan kepada siapapun. Nah, surat tersebut tanpa tanda tangan...."

Sekujur badan sikakek nampak bergetar keras selesai mendengar isi surat itu, dg nafas tersengal dia berusaha meronta bangun, lalu serunya sambil mengawasi wajah Kho Beng lekat-lekat.

"Dinding naga? Apakah dinding naga itu?"

Dg perasaan terkejut Kho Beng mundur selangkah, dia kuatir kakek itu akan menyerangnya secara tiba-tiba kemudian baru sahutnya.

"Benda itu tak lain adalah sebuah lencana batu kumala hijau yg kukenakan sedari kecil dulu...."

Belum selesai perkataan tersebut, dua rentetan sinar aneh telah memancar keluar dari balik mata kakek tersebut, serunya lagi dg gelisah.

"Cepat.....cepat keluarkan dan tunjukkan kepadaku....aku.....aku sudah hampir tak sanggup bertahan lebih lama lagi...."

Kalau dilihat dari sikapnya yg begitu gelisah, seakan-akan dia merasa bakal mati tak tentram apabila tak sempat melihat lencana naga itu menjelang ajalnya.

Satu ingatan segera melintas dalam benak Kho Beng, pikirnya.

"Jangan-jangan kakek ini mengetahui lencana kumala yg kukenakan ini...?"

Berpikir begitu, cepat-cepat dia mengeluarkan lencana naga tersebut dan ditunjukkan kepada kakek tersebut sambil katanya .

"Lotiang, silahkan kau periksa dg seksama!"

Waktu itu rembulan sudah condong kelangit arat, sinar yg berwarna keperak perakan menyoroti lencana kumala tersebut dan memantulkan selapis cahaya hijau yg berkilauan.

Biarpun Kho Beng tidak melepaskan lencana tersebut dari gantungannya, akan tetapi kakek itu dapat menyaksikan dengan sangat jelas.

Dg tubuh gemetar keras karena pergolakan emosi, ia segera berseru.

"Aaah...ternyata benar-benar lencana naga kumala hijau..! Ternyata benar-benar lencana naga kumala hijau...Oooh Thian! Kau telah melindungi kami sehingga memberi petunjuk kepada Lie sam untuk menemukan kau kembali....rasanya tak sia-sia aku menunggu hampir belasan tahun lamanya dg penuh penderitaan!"

Mungkin saking emosinya, belum lagi perkataan tersebut selesai diutarakan, tubuhnya sudah roboh terjengkang keatas tanah.

Timbul kecurigaan dalam hati Kho Beng setelah mendengar ucapan tersebut, cepat-cepat dia memburu maju kedepan dan berseru.

"Lotiang, siapa sih Lie Sam yg kau maksudkan? Siapa pula kau? Kenapa kau bisa mengenali lencana naga kumala hijau milikku ini...?"

Secara beruntun dia telah mengajukan beberapa pertanyaan sekaligus.

Namun keadaan kakek tersebut amat lemah, napasnya amat lirih dan bibirnya yg mengering nampak bergetar lemah, mengucapkan serentetan perkataan yg hampir saja susah terdengar.

"Hamba....hamba tak tahan untuk ba...banyak berbicara lagi...ce...cepat kau ambil sesuatu dalam sakuku dan pergi ketebing Siong hun gan dibukit Hong san...tee...temuilah Bu Wi lojin...ingat...kau adalah maa...majikan muda..da....dari Hui im ...ceng...cepat tinggalkan tempat yg berbahaya ini..."

Ketika berbicara sampai disitu, ia sudah tak sanggup lagi untuk menahan diri, kepalanya segera terkulai kesamping dan menghembuskan napas yg penghabisan.

Kho Beng enjadi amat tertegun, cepat-cepat dia menggoyangkan tubuh kakek tersebut sambil serunya.

"Lotiang, mana mungkin ak adalah majikan muda dari perkampungan Hui im ceng? Katakanlah lebih jelas!"

Tapi sayang kakek yg tergeletak diatas tanah itu sudah tak mampu menjawab lagi.

Sinar rembulan yg menyoroti mayatnya memantulkan cahaya pucat yg mengenaskan hati.

Dg perasaan hati yg berdebar, Kho Beng segera mendekati kakek itu serta menyingkap rambut yg menutupi wajahnya.

Sekarang ia baru dapat melihat wajah kakek tersebut secara jelas, kerutan yg dalam menghiasi hampir seluruh wajahnya, tapi dibalik mukanya yg kurus kering justru memancarkan sifat keteguhan yg kuat, wajah semacam ini sedikitpun tidak mirip dg wajah seorang manusia licik yg berhati keji.

"Benarkah aku adalah majikan muda Hui im ceng?"

Dengan wajah termangu-mangu Kho Beng berpiki.

"Tapi bukankah pelayan rumah makan dikota Hang ciu telah menerangkan tadi bahwa semua penghuni perkampungan Hui im ceng telah ditumpas orang semenjak delapan belas tahun berselang? Jika aku adalah keturunan dari Hui im ceng, bagaimana mungkin bisa hisup sampai sekarang dan dipelihara oleh perguruan Sam goan bun?"

Sementara pelbagai pikiran masih berkecamuk dalam benaknya, tiba-tiba terdengar seseorang menjerit kaget dari luar loteng.

"Aaah! Khu losam telah mampus!"

"Benar-benar amat keji,"

Sambung yang lain.

"Coba lihat, mukanya hancur tak karuan, hantaman toya tersebut paling tidak mencapai lima ratusan kati."

Orang yg berbicara pertama kali tadi segera tertawa dingin.

"Nyatanya dugaanku tidak keliru, heboh setan yg telah berlangsung empat lima tahun di Hui im ceng ternyata Cuma ulah dari si toya baja pedang sakti Kho Po koan seorang budak yg berhasil lolos dari musibah lalu."

"Yaa benar! Toya besi itu memang merupakan senjata andalan Kho Po koan dimaa lalu, saudara Lu! Mari kita selidiki keatas , baik buruk persoalan ini harus kita selidiki sampai tuntas hari ini."

Sekali lagi Kho Beng merasa tertegun setelah mendengar perkataan itu, pikirnya.

"Aaah...rupanya kakek yg tewas ini dari marga Kho, kalau begitu pemilik perkampungan Hui im ceng dimasa lalu pun berasal dari marga Kho?"

Teringat dg pesan kakek tersebut menjelang ajalnya, cepat-cepat ia merogoh kedalam saku kakek tersebut, berusaha untuk memeriksa benda apakah yg diserahkan sikakek menjelang ajalnya tadi?

Sayang sekali hal ini sudah terlambat selangkah, tampaklah dua sosok bayangan manusia menerobos masuk kedalam ruangan dg kecepatan tinggi.

Dg perasaan terkejut Kho Beng segera menarik kembali tangannya sambil mundur kebelakang, ternyata pendatang tersebut terdiri dari dua orang.

Yang satu adalah seorang kakek berbaju abu-abu yg membawa pedang berjenggot hitam, bermata tajam dan bersikap keren serta penuh wibawa.

Sedangkan orang kedua adalah seorang sastrawan berbaju putih yg membawa kipas kumala.

Walaupun gerak geriknya sangat lemah lembut dan penuh sopan santun, namun tidak menutupi hawa sesat dan kelicikan yg memancar keluar dari wajanya.

Kedua orang itu nampak tertegun setibanya diatas loteng, kemudian kakek berpedang itu mmeriksa sekejap jenazah kakek berambut putih, lalu katanya pada sastrawan berbaju putih.

"Ternyata orang ini benar-benar adalah Kho Po koan!"

Lalu sambil mengalihkan pandangan matanya ke wajah Kho Beng, kembali bentaknya.

"Siapa kau?"

Belum selesai bentakan itu berkumandang, mendadak terdengar sastrawan berbaju putih itu menjerit kaget.

"Liu toako, coba lihat tempat ini benar-benar ada setannya!"

Sambil berkata ia lantas menunding kedepan.

Mngikuti arah yg ditunuk, kakek berambut hitam itu segera berpaling, tapi apa yg kemudian terlihat membuat paras mukanya segera berubah hebat.

Sambil membentak keras pedangnya langsung disambit kedepan.

Kho Beng pun turut terperanjat dan segera berpaling kearah mana semua orang tertuju.

Ternyata yg dimaksudkan sastrawan berbaju putih itu adalah tengkorak putih yg dijumpainya tadi.

Sementara itu cahaya pedang telah berkelebat lewat dan..."Criit"

Langsung menembusi tengkorak tersebut dn menancap diatas pintu, gagang pedang bergetar tak hentinya, tapi tenggorokan itu Cuma bergerak terombang ambing kesamping lain, berdiri kembali ditempat semula.

Saat itupun mereka bertiga baru dapat melihat dg jelas, ternyata tengkorak tersebut tak lain hanya selembar tirai pintu yang diatasnya dilukis sebuah gambaran tengkorak dg kapur putih, oleh sebab dilihat dari kegelapan maka seolah olah gambaran tersebut merupakan tengkorak sungguhan.

Begitu rahasianya terbongkar, maka permainan yg terasa ngeri dan menyeramkan tadipun sekarang menjadi sama sekali tak berharga.

Kho Beng segera menghembuskan napas panjang, kemudian serunya sambil menjura.

"Tak nyana kalau Cuma selembar kain hitam, hampir saja aku dibuat mati saking kaget dan takutnya, tapi aku percaya selanjutnya dalam perkampungan ini tak bakal ada setan yg menggoda orang lagi."

Sesudah menyaksikan semua yg terjadi dan mendengar perkataan tersebut, sikap sikakek berjenggot hitam dan sastrawan berbaju putih pun turut berubah menjadi lebih lembut.

Kakek itu segera menjura seraya menyapa.

"Siapakah nama siauhiap?Ada urusan apa datang kemari?"

"Aku yg muda Kho Beng, kebetulan saja lewat dikota Hang ciu, berhubung kudengar digedung ini ada hantunya, maka dg perasaan ingin tahu aku datang kemari untuk melakukan penyelidikan."

Sastrawan berbaju putih itu segera tertawa terbahak-bahak, katanya pula.

"Ha...ha....ha....ternyata Kho siauhiap! Maaf...maaf...siauhiap memang sangat hebat, bukan saja berani melakukan penyelidikan seorang diri digedung hantu ini, bahkan mampu membinasakan sitoya besi pedang baja Kho Po koan yg sudah termashur namanya dalam dunia persilatan. Bila berita ini sampai tersiar keluar, bukan saja keberanianmu akan dikagumi orang banyak, kehebatan ilmu silatmu tentu akan menggemparkan seluruh sungai telaga. Aku sastrawan berkipas kemala Beng Yu percaya, tak sampai tiga hari, nama besar siauhiap tentu sudah termashur diseluruh dunia persilatan!"

Merasa tidak memiliki kemampuan tersebut, pujian itu justru membuat Kho Beng tersipu-sipu, dg cepat dia menggoyangkan tangannya berulang kali seraya berseru.

"Harap kalian berdua jangan salah paham, aku yg muda Cuma seorang manusia yg baru terjun kedunia persilatan, kepandaianku tak seberapa, sesungguhnya..."

Kakek berjenggot hitam itu tertawa terbahak-bahak, tukasnya.

"Buat apa saudara cilik merendahkan diri? Kau tahu betapa hebatnya rekanku si jarum emas pencabut nyawa yg datang bersamaku tadi? Tapi kenyataannya dia toh mempus juga oleh toya besi budak tua ini, bila kau masih mencoba bersungkan terus, ini namanya menganggap asing kami berdua."

Sastrawan berbaju putih itu segera menyambung pula sambil tertawa.

"Saudara memang mengagumkan sekali, biar berilmu tinggi tapi tak sombong, sikap semacam inilah merupakan watak sejati seorang pendekar, bisa kuduga gurumu pasti seorang tokoh yg luar biasa sekali?"

Dari nada pembicaraa mereka, Kho Beng dapat menyimpulkan kalau sang korban adalah musuh besar kedua orang ini, sebagai orang luar yg belum mengetahui duduknya persoalan secara jelas, dia tak ingin melibatkan diri dalam pertikaian itu.

Karena diapun tidak mencoba untuk memberi penjelasan lagi, cepat-cepat katanya.

"Aku belum pernah mengangkat guru tapi pernah belajar berapa jurus silat dari seorang Bu lim cianpwee!"

"Ooooh..."

Kakek berjenggot itu manggut-manggut.

"Boleh kah kami tahu nama besar dari locianpwee yg telah mengajarkan silat kepadamu itu?"

"Cianpwee itu adalah siunta sakti berpungung baja!"

Paras muka kakek berjangggut hitam itu segera berubah hebat, setelah berseru tertahan, katanya.

"Ooooh....rupanya Thio Kok tayhiap salah seorang diantara sepasang unta utara selatan yg termashur namanya pada dua puluh tahun berselang, tapi aku pernah dengar Thio kok telah tewas dicelakai orang pada dua puluh tahun berselang?"

Sesungguhnya Kho Beng sama sekali tidak mengetahui soal masa lalu Thio bungkuk, bahkan nama dan kedudukannya dalam dunia persilatan pun tidak diketahuinya, karena nya dia berusaha menghindari hal-hal yg tak jelas baginya setelah mendengar perkataan tersebut.

"Aku yg muda baru beberapa bulan berpisah dg Thio locianpwee."

Katanya.

"Menurut apa yg kuketahui, dia orang tua masih tetap berada dalam keadaan sehat walafiat."

Kakek berjenggot hitam itu tertawa tergelak.

"ha....ha.....ha.....semasa masih muda dulu, aku pernah berjumpa sekali dg Thio tayhiap, bila lain waktu kau bertemu lagi dengannya, katakan saja sipedang tanpa bayangan Lu seng sin dan adik angkatnya sastrawan berkipas kemala, Beng Yu titip salam untukdia orang tua."

Mengetahui kalau kedua orang ini pernah bersua dg Thio bungkuk, sikap Kho Beng pun turut berbah menghormat, segera sahutnya.

"Aku pasti akan menyampaikan salam anda berdua kepada beliau."

Kemudian dg memanfatkan kesempatan tersebut, ia bertanya kembali.

"Lotiang, tolong tanya siapakah sipedang baja toya besi Kho Po koan ini?"

"Budak tua ini adalah seorang budak dari perkampungan Hui im ceng dimasa lalu,"

Sastrawan berkipas kumala Beng Yu menerangkan.

"Tatkala tujuh partai besar menyerbu kemari, rupanya dia berhasil lolos, bisa jadi si kedele maut yg misterius dan belakangan ini banyak melakukan huru hara merupakan hasil perbuatannya."

"Aku baru pertama kali ini terjun ke dunia persilatan, banyak persoalan yg tak kupahami, bolehkah aku tahu siapa pula pemilik perkampungan Hui im ceng ini?"

Dg wajah serius sipedang tanpa bayangan Lu Seng im berkata.

"Pemilik Hui im ceng, dimasa lampau berasal satu marga dg lote, ia bernama Kho Bun sin dan merupakan seorang jagoan persilatan yg berilmu tinggi, sayang aku sendiripun kurang begitu mengerti tentang peristiwa yg terjadi delapan belas tahun berselang, tapi kuanjurkan kepada lote sebagai orang luar lebi baik jangan banyak pencarian urusan ini."

Berbagai kecurigaan segera melintas benak Kho Beng, ia tak mengira kalau Hui im ceng berasal dari marga Kho, benarkah ia mempunyai hubungan dg dirinya?"

Tapi kalau dilihat dari cara sipedang tanpa bayangan Lu Seng im sewaktu bicara , sudah jelas masih ada banyak masalah yg enggan dibicarakan olehnya, karena itu diapun tidak bertanya lebih jauh."

Setelah menjura, diapun mohon diri.

Kini duduk persoalannya sekitar gedung hantu telah jelas, sedang akupun masih ada urusan lain dan tak bisa berdiam lebih lama lagi disini, biarlah aku mohon diri lebih dulu!"

Sesungguhnya si pedang tanpa bayangan dan sastrawan kipas kumala memang sedang menunggu-nunggu perkataan Kho Beng itu dg cepat, merekapun menjura seraya berkata.

"Kalau memang lote masih ada urusan, kamipun tak akan menahanmu lebih lama lagi, sampai jumpa lain kesempatan."

Mereka menunggu sampai bayangan Kho Beng lenyap dibalik kegelapan, kemudian si pedang tanpa bayangan baru bergumam.

"Andaikata aku tidak menyaksikan dg mata kepala sendiri bagaimana putra Hui im cengcu tewas diujung panah pengejar sukma, aku pasti akan mencurigai orang itu sebagai keturunan Kho Bun sin!"

Sastrawan kipas kemala Beng yu, tertawa tergelak.

"Kalau toh toako telah menyaksikan dg mata kepala sendiri, buat apa mesti menaruh curiga lagi? Aku dengar, biarpun sancu(dewi) berhasil memusnahkan Hui im ceng dg susah payah, namun tak berhasil mendapatkan kitab pusaka Khian hoan bu boh, sekarang Koh Po koan telah tewas, mengapa kita tidak memanfaatkan kesempatan ini untuk melakukan pemeriksaan, sehingga kita dapat memberi laporan sekembalinya dari sini nanti?"

Si pedang tanpa bayangan segera manggut-manggut, maka kedua orang itupun menyulut lentera dan mulai menggeledah seluruh bagian ruangan tersebut.

Setengah kentongan telah lewat, hampir setiap bagian ruangan itu sudah mereka geledah, namun tiada sesuatu yg diperoleh tanpa terasa mereka menjadi kecewa.

Tiba-tiba Sastrawan berkipas kemala berkata kepada si pedang tanpa bayangan.

"Lotoa, mungkinkah sibocah muda itu datang dg suatu tujuan serta betndak mendahului kita?"

Berubah hebat paras muka si pedang tanpa bayangan.

"Yaa, hal ini memang bisa jadi, aduh celaka....mengapa tidak terpikirkan sejak tadi?"

"Siapa yg menyangka kalau bocah itu mampu bersikap acuh tak acuh meski memiliki kepandaian silat yg hebat?"

Seru Sastawan berkipas kemala sambil menghentak hentakkan kakinya dg mendongkol.

"Aaai...kta benar-benar telah dipecundangi olehnya, toako, rasanya belum terlambat bila kita kejar sekarang juga."

Sipedang tanpa bayangan manggut-manggut, baru saja dia akan melompat pergi, mendadak pandangan matanya tertumpuk dg jenazah Kho Po koan, dg cepat ia berseru kepada rekannya.

"Tunggu sebentar loji!"

"Ada apa?"

Tanya sastrawan berkipas kemala tertegun. Sambil menunding jenazah diatas tanah, pedang tanpa bayangan segera berkata.

"Seluruh ruang telah kita periksa, tapi mayat budak tua ini belum kita sentuh, apa salahnya kalau kta periksa dulu sebelum pergi dari sini?"

Cepat-cepat sastrawan berkipas kemala mendekati jenazah tersebut dan merobek pakaian yg dikenakan, pada pinggang mayat itu mereka temukan sebuah bungkusan kecil, ketika bungkusan itu dibuka maka isinya adalah sebuah lencana kemala sebesar lima inci.

Pada lencana tersebut terlihat gambar sederet pohon siong, diatas pohon siong terdapat dua tiga buah gumpalan awan.

Melihat bentuk lencana tersebut, sastrawan berkipas kemala segera berseru keheranan.

"Toako, cepat lihat!"

Pedang tanpa bayangan segera mendekati dan memeriksa lencana tersebut, apa yg kemudian terlihat membuat keningnya berkerut kencang, katanya kemudian.

"Sungguh aneh, mengapa lencana kemala Siong hun giok leng yg menjadi benda pengenal dari Bu wi lojin yg sudah dua puluh tahun lenyap dari dunia persilatan, bisa berada dalam saku budak tua ini...?"

Sastrawan berkipas kemala termenung sejenak, lalu katanya.

"Mula-mula muncul seorang Kho Beng yg tak dikenal, lalu muncul lagi lencana kemala Siong hun giok leng, hey lotoa, aku lihat apa yg kita jumpai hari ini bukan suatu kejadian yg kebetulan."

Pedang tanpa bayangan manggut-manggut.

"Yaa, persoalan ini menyangkut suatu masalah besar, kita tak boleh menyimpulkan sendiri secara gegabah, hayo berangkat, kita berbicara ditengah jalan nanti!"

Dg cepat kedua orang itu melompat keluar lewat jendela, lalu membopong sesosok mayat yg berlepotan darah dari pelataran kemudian beranjak pergi meninggalkan tempat itu.

Tak lama mereka pergi, tampak sesosok bayangan manusia melayang masuk lewat jendela, ternyata orang itu adalah Kho Beng yg telah pergi dan kini balik kembali.

Rupanya setelah meninggalkan perkampungan hui im ceng tadi, sepanjang jalan dia memutar otak terus membayangkan kembali serangkaian kejadian yg dialaminya selama ini.

Menjelang memasuki kota Hang ciu, tiba-tiba ia teringat kembali dg pesan terakhir Kho Po koan menjelang ajalnya, maka tergesagesa dia balik kembali kesitu.

Ia tidak mengetahui benda apakah yg akan diserahkan kakek itu padanya, tapi bila ditinjau dari sikap dan nada pembicaraannya, sudah jelas benda itu mempunyai hubungan yg erat sekali dg Bu wi lojin.

Ia baru tertegun setelah menyaksikan pakaian yg dikenakan jenazah tersebut telah hancur tak keruan lagi bentuknya.

Dari kejadian tersebut jelaslah sudah bahwa benda tersebut telah diambil oleh sipedang tanpa bayangan serta sastrawan berkipas kemala.

Sekalipun Kho Beng amat kecewa bercampur menyesal, tapi karena nasi sudah menjadi bubur, menyesalpun tak ada gunanya lagi.

Ia teringat kembali janji tiga tahunnya dg Thio bungkuk, sekalipun ia tak dapat melaksanakan harapan kakek yang tewas ini, namun ia bertekad akan mendatangi tebing Siong hun gay dibukit hong san untuk menyelidiki persoalan ini.

Sebab masalah tersebut bukan saja menyangkut sikakek yang telah tewas, siapa tahu dari situ dia akan berhasil mengetahui asal usul yg menyelimuti dirinya selama ini.

Maka menempuh kegelapan malam yg mencekam seluruh jagat, dg langkah tergesa-gesa, Kho Beng berlalu dari situ, setelah menguburkan jenazah Kho Po koan, lalu tanpa berhenti langsung berangkat ketebing Siong hun gay di Hong san.

Dalam waktu singkat, bulan dua belas telah menjelang tiba.

Angin dan salju telah berhenti, puncak bukit Hong san dilapisi warna putih sampai diuung langit, pemandangan alam ketika itu benar-benar indah dan menawan hati.

Ketika Kho Beng tiba dibukit Hong san, waktu sudah menunjukkan tengah hari lewat, karena ia tak tahu dimanakah letak tebing Siong hun gay, terpaksa sambil berjalan ia mencoba untuk melakukan pemeriksaan.

Tiba-tiba ia menyaksikan sebuah bukit yg menonjol tinggi menjulang ke angkasa, aneka pohon siong tumbuh disekitarnya, awan putih menyelimuti sampai punggung bukit, bentuk maupun panoramanya jauh berbeda dg keadaan disekitarnya, tanpa terasa diapun berpikir .

"Konon tempat yg berpanorama indah sering digunakan para tokoh dan pertapa untuk mengasingkan diri, jangan-jangan tempat itu adalah tebing Siong hun gay yg sedang kucari ? "

Berpikir begitu, dia segera menghimpun tenaga dalamnya dan meluncur naik keatas puncak itu.

Tebing itu curam dan amat berbahaya, apalagi dilapisi salju yg tebal membuat keadaan menjadi lebih licin dan susah dilalui.

Kho Beng dg tenaga dalam yg tidak begitu sempurna harus mengerahkan seluruh kekuatan yg dimiliki untuk mencapai puncak tebing itu, tak heran kalau keringat berkucuran dg derasnya dan napasnya tersengal sengal seperti napas kerbau.

Akan tetapi setibanya dipuncak bukit itu dan menyaksikan apa yg terbentang didepan mata, seketika itu juga semangatnya menjadi berkobar kembali, ia saksikan sebuah tempat yg berpanorama begitu indah tak ubahnya seperti surga loka.

Ditengah rimbunnya pohon siong terlihat sebuah bangunan rumah yg mungil tapi indah, seorang kakek berbaju putih sedang berdiri memandang angkasa sambil menggendong tangannya.

Sikap maupun perawakan tubuhnya tak jauh berbeda dg bentuk dewa yg sering didengar Kho Beng dalam dongeng.

Sementara Kho Beng masih terengah-engah dan tak mampu berbicara, tiba-tiba terdengar kakek itu menegur dg suara nyaring.

"Hey bocah, ada urusan apa kau bersusah payah mendaki bukit berkunjung kemari?"

Kakek itu tetap berdiri sambil menggendong tangan, meski tidak membalikkan badan dan berjarak dua puluhan kaki, namun suara pembicaraannya amat jelas dan terang, malah dari dengusan napas Kho Beng, ia dapat menduga usia bocah tersebut bagaikan melihat dg mata kepala sendiri, tak heran kalau kejadian ini amat mengejutkan anak muda tersebut.

Dg perasaan gugup, ia segera berseru.

"Lotiang, bolehkah aku tahu, apakah tempat ini bernama bukit Siong hun gay?"

Sementara berbicara, dg beberapa kali lompatan dia mendekati sikakek berbaju putih itu.

"Benar!"

Sahut si kakek tanpa bergerak.

"Kau datang dari mana nak...?"

Dg wajah berseri cepat-cepat Kho Beng memberi hormat seraya berseru.

"Kalau begitu cianpwee adalah Bu wi lojin, boanpwee Kho Beng datang dari Hui im ceng...?"

Belum selesai perkataan itu diucapkan, Bu wi lojin telah berseru kaget sambil membalikkan badan, lalu dg pandangan mata yg tajam diawasinya seluruh wajah Kho Beng lekat-lekat, wajahnya menunjukkan perasaan tercengang dan keheranan.

Baru sekarang Kho Beng sempat melihat jelas paras muka kakek itu, jenggotnya yg putih, wajahnya yg anggun membuat kakek itu nampak sangat agung dan berwibawa.

Cepat-cepat dia memberi hormat seraya berkata.

"Boanpwee menjumpai locianpwee!"

Jilid 04 Bu wi lojin tertawa bergelak, sambil mengebaskan tangannya dia berkata.

"Silahkan bangun nak, kehadiranmu yg tiba-tiba sungguh membuat aku merasa keheranan!"

Dari nada pembicaraannya, seolah-olah mereka telah berkenalan cukup lama. Kho Beng menjadi tertegun, serunya kemudian dg wajah tercengang.

"Boanpwee berkunjung kemari karena mengagumi nama besar cianpwee, apa yg cianpwee herankan?"

"Mengagumi nama? Ha....ha.....ha.....perkataanmu kelewat sungkan,"

Kata Bu wi lojin sambil tertawa.

"Sudah sembilan belas tahun lamanya aku hidup mengasingkan diri ditebing Siong hun gay dan belum pernah ada teman yg berkunjung kemari, tapi hari ini telah datang tamu agung secara beruntun, lagipula semuanya mengaku datang dari Hui im ceng, apakah kejadian tersebut tidak mengherankan...?"

Kho Beng semakin keheranan lagi sehabis mendengar perkataan ini, tapi sebelum ia sempat berbicara, Bu wi lojin telah berkata lebih lanjut.

"Yang kuherankan lagi adalah penguasa perkampungan kalian baru saja berlalu dari sini, tapi keponakan telah datang berkunjung, apakah telah terjadi suatu peristiwa di perkampungan Hui im ceng?"

Kho Beng semakin termangu, tanyanya keheranan.

"Locianpwee maksudkan Hui im ceng?"

"Hey keponakan Kho, bukankah aku telah menerangkan sejelasnya, aku sedang bertanya tentang keadaan Hui im ceng kalian?"

Seru Bu wi lojin dg kening berkerut. Kho Beng semakin tidak mengerti, katanya kemudian.

"Maafkan aku cianpwee, boanpwee benar-benar dibuat kebingungan setengah mati."

"Kebingungan?Ha...ha...ha...setiap orang tentu akan kebingungan."

Bu wi lojin tertawa bergelak,"Keponakanku, mungkin tenaga dalammu yg kurang sempurna membuat kau letih karena mendaki tebing tadi, mengapa tidak beristirahat dulu didalam ruangan, kemudian baru pelan-pelan berbicara?"

Sambil berkata, dia segera menyingkir kesamping mempersilahkan pemuda itu masuk kedalam. Buru-buru Kho Beng berseru.

"Boanpwee bukan maksudkan begitu, tapi hendak menjelaskan bahwa Hui im ceng sudah hampir dua puluh tahun lamanya terbengkalai, malah belakangan ini telah berubah menjadi gedung hantu, lalu darimana munculnya seorang pengurus gedung?"

Bu wi lojin menjadi tertegun.

"Jadi ayahmu telah meninggalkan Hui im ceng kemana dia telah pergi...?"

Kho Beng semakin melongo, sahutnya tergagap.

"Cianpwee bertanya soal ayahku? Apakah kau mengetahui siapakah ayahku?"

Sekali lagi Bu wi lojin terperangah, lalu gelengkan kepalanya berulang kali.

"Aaaai...aku menjadi tak habis mengerti, sebetulnya kau yg pikun ataukah aku yg sudah pikun, masa kau tidak kenal dg ayahmu sendiri, kepala perkampungan Hui im ceng Kho Bun sin?"

Dg hati berdebar Kho Beng berseru keheranan.

"Boanpwee belum pernah menyebutkan asal usulku, darimana cianpwee bisa tahu kalau boanpwee adalah putra Hui im cengcu?"

Bu wi lojin tertawa terbahak-bahak.

"Ha....ha....ha....biarpun sewaktu kujumpai dirimu dulu kau masih berusia satu bulan, namun hingga kini wajahmu tak jauh berubah, lagipula tampangmu kini tidak jauh berbeda dengan Hui im cengcu Kho Bun sin pada sembilas tahun berselang, kalau bukan putranya mengapa kalian begitu mirip?"

Kho Beng betul-betul tertegun saking tercengangnya oleh ucapan tersebut, orang ini adalah orang keempat yg menganggap dia sebagai keturunan Hui im cengcu.

Biarpun banyak kejadian yg kebetulan didunia ini, tak mungkin begitu banyak orang menaruh salah paham kepadanya, lamat-lamat pemuda itu mulai merasa bahwa identitasnya sebagai putra cengcu dari Hui im ceng tak mungkin diragukan lagi.

Tapi kalau hanya dianggap orang saja belum menjadi bukti yg bisa dipertanggungjawabkan, apalagi masih banyak pertentangan yg terdapat didalamnya, karena itulah beberapa saat pemuda itu menjadi tertegun dan sangat kebingungan.

Sementara itu Bu wi lojin telah berkata lagi.

"Sudah sekian lama kita berbincang, namun kau belum menjawab pertanyaanku tadi, sebetulnya kemana ayahmu telah pergi. Mengapa dia harus membengkalaikan hasil karyanya yg dibangun dg susah payah itu?"

Kho Beng menghela napas panjang.

"Locianpwee, terus terang saja asal usulku hingga kini masih merupakan sebuah teka teki besar, aku tidak tahu siapakah orang tuaku, bahkan akupun tidak tahu siapakah manusia yg disebut Hui im cengcu dan bernama Kho Bun sin itu..."

Bu wi lojin menjadi tertegun dan mengawasi Kho Beng dg termangu-mangu, untuk beberapa saat lamanya dia sampai tak mampu mengucapkan sepatah katapun. Kho Beng berkata lebih jauh.

"Tapi sedikit banyak boanpwee pernah mendengar persoalan yg menyangkut Hui im ceng, konon semua penghuni Hui im ceng telah dibantai orang sampai ludes pada delapan belas tahun berselang."

"Sungguhkah perkataan itu?"

Berubah hebat paras muka Bu wi lojin.

"Benar atau tidak boanpwee tak berani memastikan, namun bila ditinjau dari pengalaman yg boanpwee alami, rasanya berita itu tak meleset dari kebenaran!"

Berbicara sampai disini, secara ringkas diapun mengisahkan kembali semua pengalamannya selama berada didalam perkampungan Hui im ceng, akhirnya dia menambahkan.

"Oleh sebab itulah boanpwee menjadi bingung dan curiga setelah cianpwee mengatakan bahwa Hui im ceng mempunyai saorang pengurus rumah tangga, tapi aku yakin orang yg menyaru sebagai pengurus tersebut kalau bukan sipedang tanpa bayangan tentu si sastrawan berkipas kemala!"

Dg wajah serius dan berat Bu wi lojin termenung, lalu katanya sambil menggeleng.

"Orang itu bukan seorang pria."

"Maksud cianpwee, orang yg menjadi pengurus gadungan dari Hui im ceng adalah seorang wanita?"

Seru Kho Beng tercengang. Bu wi lojin manggut-manggut, katanya sambil menghela napas panjang.

"Lai-laki atau perempuan sudah tak penting lagi artinya, tapi aku benar-benar penasaran karena setelah hidup mengasingkan diri hampir dua puluh tahun dari keramaian dunia, hari ini mesti ditipu orang mentah-mentah, selain itu akupun menyesal dan malu karena tak dapat menjaga titipan Hui im cengcu dimasa lalu secara baikbaik."

"Sebenarnya benda apasih yg telah ditipu perempuan itu?"

"Kitab pusaka Thian goan bu boh!"

"Se

Jilid kitab pusaka?"

"Ehmm, bukan saja se

Jilid kitab pusaka, bahkan merupakan pusaka yg diimpi impikan dan diharapkan setiap umat persilatan didunia ini, sebab barang siapa berhasil menguasai serta melatih isinya dia akan menjadi perkasa dan tiada tandingannya dikolong langit1"

Kho Beng menjadi terperanjat sekali, buru-buru serunya.

"Cianpwee, bagaimana ceritanya sampai kitab pusaka itu tertipu olehnya?"

"Sebab dia mempunyai tanda pengenal milikku, aaai...mungkin benda yg dipesan oleh orang tua menjelang ajalnya untuk kau ambil adalah lencana kemala Siong giok leng tersebut?"

Sekarang Kho Beng baru mengerti, tak heran kalau Kho Po koan meninggalkan pesan tersebut kepadanya, ternyata benda yg berada dalam sakunya dapat ditukar dg se

Jilid kitab pusaka. Berpikir sampai disitu, ia segera berkata dg serius.

"Bolehkah boanpwee mengajukan pertanyaan, bagaimanakah tabiat Hui im cengcu dimasa lampau?"

Bu wi lojin menghela napas panjang.

"Dia adalah seorang pendekar sejati, bertenaga dalam sempurna dan betul-betul merupakan seorang gagah yg hebat."

"Andaikata kitab pusaka Thian goan bu boh sampai terjatuh ketangan manusia bangsa kurcaci, bukankah hal ini dapat menimbulkan bencana besar?"

"Bukan hanya bencana, pada hakekatnya seluruh dunia akan kalut dan kehidupan manusia dilanda penderitaan besar."

"Sesungguhnya maksud kedatanganku kemari adalah untuk mencari guru pandai serta mempelajari ilmu silat, sungguh tak disangka aku telah mendapatkan titik sedikit terang mengenai asal usulku, biarpun hingga kini belum ada kepastian, namun bila cianpwee mengijinkan, boanpwee ingin mengetahui lebih banyak lagi!"

Bu wi lojin termenung beberapa saat, lalu mengangguk.

"Mari kita bebicara didalam rumah saja."

Sambil membalikkan badan, ia masuk lebih dulu kedalam rumah.

Dg wajah serius Kho Beng mengikuti dibelakangnya, ia saksikan ruangan tersebut teratur sangat rapi dan bersih, kursi meja dan rak buku semuanya terbuat dari bambu.

Bu wi lojin menuang dua cawan teh, lalu duduh dihadapan tamunya, setelah mempersilahkan pemuda itu meneguk air teh, ia baru berkata.

"Kalau dilihat dari sikap pelayan tua keluarga Kho yg mengenalimu sebagai sau cengcu Hui im ceng dari lencana yg kau kenakan, ditambah pula pengamatanku lewat paras mukamu yg mirip dg Hui im cengcu, aku rasa identitasmu sebagai keturunan Kho tak jauh dari kebenaran. Tapi sudah hampir dua puluh tahun aku hidup mengasingkan diri dari keramaian dunia, oleh sebab itu akupun tidak tahu menahu tentang semua peristiwa yg terjadi di Hui im ceng selama ini, jadi apa yg bisa kuungkap tak lebih hanya hubunganku dg Kho cengcu."

"Akan boanpwee dengarkan dg seksama."

Bu wi lojin termenung sebentar, seakan-akan sedang mengumpulkan kembali kenangan lamanya, lalu setelah menghela napas ringan, dia berkata.

"Bila diceritakan rasanya memang susah diperaya, sesungguhnya hubunganku dg Kho cengcu hanya didaari perjumpaan satu kali dan berkumpul setengah hari lamanya. Biar begitu, dalam perjumpaan yg hanya sekali, aku telah menjadi sahabat karib Kho tayhiap, lalu dalam masa berkumpul selama setengah hari, kami menjadi sahabat sehidup semati....aaai...sungguh tak nyana saat perpisahan waktu itu ternyata merupakan perpisahan untuk selamanya....bila diingat kembali sekarang, sungguh membuat hatiku pedih.

"Aaaai, sembilan belas tahun sudah lewat, kejadian ini harus dikisahkan kembali sejak sembilan belas tahun berselang. Waktu itu untuk membasmi manusia sesat dari golongan hitam, aku telah mengembara sampai diwilayah Lam huang, meski musuhku berhasil kutumpas, namun aku sendiri terkena serangan beracun yg amat hebat sehingga jika tidak diobati dg segera, niscaya jiwaku akan melayang. Dg mengandalkan tenaga dalamku yg sempurna untuk mengekang daya kerja racun tersebut, aku berusaha lari pulang dan dalam tiga hari saja aku telah menempuh perjalanan sejauh ribuan li. Tapi akhirnya sewaktu lewat di Hang ciu meski racun belum bekerja, aku justru sudah roboh tak sadarkan diri ditepi jalan. Waktu itu secara kebetulan Kho tayhiap lewat disitu serta menolongku, untung dia mempunyai obat mujarab yg habis memunahkan racun, cukup menelan obatnya satu , tengah hari kemudian lukaku telah sembuh sama sekali. Setelah peristiwa itu, tiba-tiba dia mengeluarkan kitab pusaka Thian goan bu boh dan mohon kepadaku untuk menyimpannya. Dia bilang rahasia kitab tersebut sudah bocor sehingga banyak jago silat yg sedang mengincarnya. Aku yg selama hidup baru pertama kali ini memperoleh budi orang tentu saja tidak mnyia-nyiakan kesempatan tersebut. Aku segera menawarkan diri untuk membantunya menghadapi serbuan jago-jago silat tersebut, namun tawaranku ini segera ditolaknya. Padahal dg julukan Kiu hui sin kiam atau pedang sakti sembilan terbang yg dimiliki Kho tayhiap waktu itu cukup disegani banyak orang dan banyak jago lihay yg keok ditangannya. Karenanya sewaktu melihat kekerasan kepalanya, akupun sadar bahwa tindakannya itu pasti ada sebab musababnya, maka akupun menerima permohonannya dg meninggalkan tanda pengenalku serta memberikan alamat dimana aku berdiam, kami berjanji bila kitab tersebut hendak diambil maka orang tersebut harus membawa tanda pengenal itu. Aaaai...sungguh tak disangka sejak berpisah, aku telah menunggu sampai belasan tahun lamanya. Pagi tadi tiba-tiba muncul seorang perempuan cantik yg mengaku sebagai pengurus rumah tangga Hui im ceng, dia mohon bertemu aku dan memperlihatkan lencana tersebut. Karena tanda pengenal yg dibawa memang tak salah, maka tanpa sangsi akupun menyerahkan kitab pusaka Thian goan bu boh tersebut kepadanya,aaai...tak nyana rupanya aku sudah tertipu, kejadian ini benar-benar membuat aku malu dg Kho cengcu almarhum..."

Sekarang Kho Beng baru mengerti bahwa pesan yg ditinggalkan pelayan tua itu menjelang ajalnya ternyata mempunyai pengaruh yg besar terhadap masalah tersebut, dia menjadi amat menyesal karena tidak melaksanakan pesa pelayan tua itu seketika itu juga.

"Apakah cianpwee kena dg perempuan itu?"

Tanyanya kemudian.

"Tidak! Aku tidak kenal."

Bu wi lojin menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Kalau begitu locianpwee telah bertindak kelewat gegabah,"

Keluh Kho Beng sambil menghela napas.

Tapi setelah perkataan itu diutarakan, dia baru sadar kalau sudah salah bicara, bagaimanapun tidak pantas dia menegur seorang cianpwee dg ucapan sekasar itu.

Baru saja hendak memberi penjelasan sambil meminta maaf, ternyata Bu wi lojin sama sekali tidak menjadi marah karena teguran tersebut, malah ujarnya kemudian sambil menghela napas panjang.

"Padahal selamanya aku bekerja sangat teliti, karenanya tertipuku pagi tadi, pertama dikarenakan sudah lama putus hubungan dg dunia luar sehingga tidak mengetahui duduk persoalan yg sebenarnya, kedua saat itu aku telah memutuskan akan hidup mengasingkan diri untuk selamanya ditebing Siong hun gay ini dan Cuma Kho tayhiap seorang yg tahu akan alamat ku ini. Itulah sebabnya aku sama sekali tidak curiga kepadanya ketika perempuan itu muncul dg membawa tanda pengenalku."

Cepat-cepat Kho Beng mengangguk, dia menduga benda yg disimpan disaku pelayan tua keluarga Kho itu pastilah tanda pengenal Siong hun giok leng dan orang yg mengambil lencana tersebut tak lain adalah si pedang tanpa bayangan serta sastrawan berkipas kemala, tapi mengapa akhirnya bisa muncul seorang perempuan?

Persoalan inilah yg membuatnya tak habis mengerti.

Sementara itu Bu wi lojin telah berkata lagi setelah menghela napas sedih.

"Lenyapnya kitab pusaka itu membuat aku malu dg Kho Tayhiap almarhum, apalagi kalau kejadian tersebut mengakibatkan dunia persilatan dilanda bencana, aku benar-benar akan menyesal sepanjang masa."

"Kejadian ini toh berlangsung diluar dugaan, locianpwee tak perlu kelewat menyalahkan diri sendiri."

Cepat-cepat Kho Beng menghibur.

"Berbicara sesungguhnya, akulah yg sudah teledor waktu itu sehingga mengakibatkan terjadinya semua peristiwa ini."

Bu wi lojin menggelengkan kepalanya, dg suara dalam dia berkata.

"Satu-satunya jalan yg bisa kita lakukan sekarang adalah mencari upaya untuk menanggulangi persoalan tersebut!"

Setelah mengangkat kepalanya dan menatap Kho Beng lekatlekat, dia berkata lebih jauh.

"Aku pernah mempelajati isi kitab pusaka Thian goan bu boh tersebut dan memberikan hasil yg lumayan, tapi bagaimanapun juga usiaku sudah delapan puluh tahun lebih sehingga usiaku yg lanjut membuat tenagaku bertambah lemah hingga tak mungkin bisa memberikan hasil yg nyata, aku pikir satu-satunya jalan untuk mengatasi masalah tersebut adalah mewariskan kepandaian itu kepadamu!"

"Sungguh?"

Seru Kho Beng dg perasaan terkejut dan girang.

"Terima kasih banyak atas kesediaan cianpwee!"

Belum selesai perkataan itu diutarakan, Bu wi lojin telah mengulapkan tangannya seraya berkata lagi.

"Kau jangan keburu bergirang hati dulu, ada sepatah kata hendak kutanyakan lebih dulu, kalau toh kau tidak mengetahui siapa orang tuamu, siapa yg telah memeliharamu sejak kecil hingga dewasa?"

Kho Beng menjadi termangu seketika itu juga, teringat olehnya dg sumpah yg pernah diucapkan di Sam goan bun tempo hari. Maka dg suara tergagap katanya.

"Harap cianpwee sudi memaafkan, boanpwee telah diusir dari suatu perguruan karena mencuri belajar ilmu silat, waktu itu aku telah bersumpah tak akan mengatakan kepada siapa saja orang yg telah memelihara boanpwee selama ini."

Dg perasaan tercengang Bu wi lojin berseru perlahan, kemudian sesudah dipikirkan sejenak.

"Kalau memang kau punya janji demikian dimasa lalu, memang paling baik kalau ditaati hingga kini, aku memang menduga kau sebagai keturunan Hui im cengcu, namun sebelum memperoleh bukti yg jelas, aku tak bisa tidak harus merubah niatku semula, baiklah soal ilmu silat yg tercantum dalam kitab pusaka Thian goan bu boh kuurungkan dulu sementara waktu."

Sementara Kho Beng masih tertegun, Bu wi lojin telah berkata lebih jauh.

"Kau tak usah kecewa, biarpun aku menunda saat mewariskan ilmu silat Thian goan bu boh kepadamu, namun dg segenap kemampuan yg kumiliki aku hendak menjadikan dirimu sebagai seorang jago yg tangguh hanya dalam tujuh hari saja, aku berharap dg modal kepandaian itu maka kau bisa turut terjun kedunia persilatan serta menyelidiki teka teki sekitar asal usulmu. Marilah.....!"

Selesai berkata diapun beranjak masuk kedalam rumah.

Cepat-cepat Kho Beng mengikuti dari belakang.

Ruangan belakang ruang utama ternyata merupakan dapur.

Waktu itu Bu wi lojin sedang mendekati sebuah gentong air dan memandang sebuah batu tonjolan disisi gentong air tersebut...

"Bluummmm......!"

Diiringi suara gemuruh yg keras, tiba-tiba gentong air itu bergeser kesamping dan muncullah sebuah lorong bawah tanah undak-undakan batu yg membentang kebawah menghubungkan tempat tersebut dg sebuah ruang batu.

Setelah kedua orang itu berjalan turun kebawah, gentong air diatas permukaan tanahpun bergeser kembali keposisi semula, dg demikian rumah diatas sana pun menjadi kosong tanpa penghuni.

Begitulah, waktu pelan-pelan berlalu, sehari.....dua hari....tiga hari....

Menjelang tengah hari ketiga, Bu wi lojin muncul secara tiba-tiba dirumahnya dg wajah penuh keringat dan cahaya muka yg lebih redup, sikapnya berbeda sekali dg tiga hari berselang.

Menyusul kemudian hari keempat.....kelima.....keenam pun lewat begitu saja.

Menjelang hari ketujuh siang, pintu ruang bawah tanah terbuka dan muncullah Kho Beng.

Pakaian yg dikenakan meski tak berbeda dg tujuh hari berselang, namun semangat maupun kekuatannya sudah berbeda jauh bagaikan langit dan bumi.

Sewaktu tiba diruang utama, ia tidak menemukan Bu wi lojin, tapi diatas meja ditemukan secarik kertas yg isinya berbunyi begini.

"Aku telah turun gunung sehari lebih cepat, aku belum tahu sampai kapan baru kembali kesini, bila kau sudah melewati tujuh hari latihan, tentukan sendiri langkah berikutnya dan tak usah menunggu kehadiranku lagi. Betul, diantara kita tak mempunyai ikatan hubungan sebagai guru dan murid, namun dalam kenyataan aku pernah mewariskan ilmu silat kepadamu, karenanya kuharap kaupun tidak melanggar tata krama kehidupan manusia pada umumnya.

"Ingat !Apa yg diperbuat orang lain belum tentu harus dituruti diri sendiri dan apa yg harus dilakukan mesti dipilih dulu persoalan apakah itu, dg begitu kau tak akan sampai terjerumus kedalam pergaulan yg keliru. Diatas dinding ada pedang, dalam almari ada uang, ambillah menurut kebutuhan dan tak usah berdiam lebih lama lagi disini."

Ketika selesai membaca tulisan tersebut, Kho Beng merasa air matanya jatuh berlinang karena terharu, dg sangat hormat dia menyembah tiga kali kearah pintu ruangan, kemudian mengambil pedang dan uang dan menuruni tebing Siong hun gay tersebut.

Setelah menuruni bukit Hong San, suatu hari tibalah Kho Beng dikota Tong sia.

Waktu itu adalah hari tahun baru, salju yg tebal menyelimuti seluruh permukaan tanah, namun anehnya justru pada masa gembira seperti ini, ia lihat banyak jago persilatan yg bersenjata lengkap berlalu lalang disekitar sana.

Kho Beng menjadi amat tercengang setelah menyaksikan kesemuanya ini segera berpikir.

"Jangan-jangan sudah terjadi suatu peristiwa dikota Tong sia ini...?"

Sementara dia masih menempuh perjalanan sambil melamun, tiba-tiba seekor kuda berjalan melintas disisinya, penunggangnya asalah seorang lelaki berpakaian sastrawan yg memakai baju putih dan membawa kipas kemala.

Dilihat dari bayangan punggungnya, orang itu mirip sekali dg sastrawan berkipas kemala yg pernah dijumpainya tempo hari.

Teringat dg peristiwa yg menimpa Bu wi lojin, cepat-cepat pemuda itu berteriak keras.

"Beng jihiap....Beng jihiap...."

Waktu itu tenaga dalam yg dimilikinya sudah amat sempurna, teriakan tersebut segera bergema sampai puluhan li jauhnya.

Betul juga, penunggang kuda itu segera menghentikan lari kudanya setelah mendengar teriakan tersebut kemudian berpaling, dia tak lain adalah Sastrawan berkipas kemala, Beng yu.

Agaknya ditengah debu yg beterbangan menyelimuti angkasa, ia tak sempat melihat wajah Kho Beng secara jelas, dg secara lantang dia berseru pula.

"Siapa yg sedang memanggil aku Beng Yu?"

Baru saja dia berkata, sesosok bayangan hijau telah berkelebat lewat dan tahu-tahu Kho Beng sudah berdiri dihadapannya dan menegur seraya menjura.

"Beng jihiap, baru berpisah beberapa bulan, masa sudah tak kenal lagi dg Kho Beng?"

"Ooohh....rupanya Kho siauhiap!"

Gerakan tubuh Kho Beng yg cepat dan gesit membuat sastrawan berkipas kemala ini merasa terkejut bercampur keheranan sehingga setelah tertegun sejenak, cepat-cepat dia menjura seraya bertanya lagi.

"Siauhiap hendak kemana?"

"Aku sedang menempuh perjalanan jauh sambil melewati hari tahun baru ini, tapi....mengapa jihiap pun tidak melewati tahun baru dirumah, sebaliknya melarikan kuda begitu tergesa-gesa ditempat ini? Apakah sudah terjadi suatu peristiwa dikota Tong sia ini?"

Sastrawan berkipas kemala segera menghela napas panjang, katanya dg suara berat.

"Siauhiap terus terang kukatakan, jejak iblis telah muncul dikota tong sia, dan sekarang aku sedang mewakili kakak angkatku untuk mengumpulkan para jago yg berada disekitar sini untuk bersamasama menghadapi gembong iblis tersebut.."

"Siapa sih gembong iblis yg jihiap maksudkan?"

Tanya Kho Beng keheranan.

"Dia tak lain adalah Kedele Maut yg membunuh orang tak berkedip dan jejaknya amat rahasia itu..."

"Ooohh....jadi kedele maut telah mencari gara-gara pula dg kakak angkatmu Lu tayhiap?"

"Begitulah kejadiannya."

Sastrawan berkipas kemala mengangguk.

"Jika siauhiap tak keberatan, Beng yu mewakili kakak angkatku mohon bantuan anda, setelah berhasil memukul mundur iblis tersebut, nanti kami baru berterima kasih kepadamu."

Dari nada pembicaraan tersebut, jelas sudah bahwa dia mengharapkan bantuan dari pemuda tersebut.

Kho Beng segera teringat kembali dg peristiwa dirumah makan kota Kwan tong tin tempo hari, lelaki berdandan saudagar yg membawa sekarung kedele itu pernah menanyakan nama serta asal usulnya, bukankah orang itu justru merupakan orang pertama yg menganggap dia sebagai sau cengcu dari Hui im ceng?

Seandainya orang itu benar-benar adalah penyaruan dari kedele maut, bukankah saat ini merupakan kesempatan yg terbaik baginya untuk menanyakan hubungannya dg Hui im ceng?

Lagipula kesempatan tersebut merupakan peluang yg sangat baik baginya untuk menyelidiki jejak kitab pusaka yg hilang itu, disamping menambah pengetahuan serta pengalamannya.

Mengenai asal usulnya dia tak merasa ragu, bagaimanapun juga thio bungkuk telah berjanji akan membeberkan soal itu tiga tahun mendatang, sementara Bu wi lojin telah mewariskan sebagian besar dari tenaga dalam kepadanya, yg membuat kepandaian yg dimilikinya sekarang bertambah tangguh, mengapa ia tidak membuat kejutan sekarang dg mengandalkan kemampuan tersebut?

Pelbagai persoalan berkelebat lewat dalam waktu singkat dibenaknya, Kho Beng segera memutuskan untuk menerima undangan tersebut.

Maka sambil tertawa nyaring, diapun menjawab.

"Membasmi kaum iblis sudah menjadi kewajiban setiap umat persilatan, biar kemampuanku masih rendah, namun aku tak ingin ketinggalan dari yg lain. Beng jihiap! Silahkan kau berangkat duluan, tinggalkan saja alamatnya, sampai waktunya aku pasti akan menyusul kesana."

Dg perasaan gembira sastrawan berwajah kemala segera menjura berulang kali, katanya.

"Terima kasih banyak atas kesedian siauhiap, sekarang aku belum bisa kembali kekota Tong sia, karenanya harap siauhiap masuk kota sendiri, setelah melewati pintu gerbang, tanyakan kepada orang gedung keluarga Lu, setiap penduduk kota mengetahui letaknya dan pasti menunjukkan kepadamu. Setelah senja nanti aku pasti akan bertemu lagi dg siauhiap. Nah, maaf kalau aku tak bisa menemani lebih lama lagi."

Selesai menjura ia segera melarikan kuda kembali meninggalkan tempat itu, sekejap kemudian bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan mata.

Sepeninggal Beng Yu dg langkah santai Kho Beng meneruskan perjalanannya lagi memasuki kota.

Tak usah bersusah payah mencari, dg cepat ia telah tiba didepan pintu gerbang gedung keluarga Lu.

Gedung tersebut sangat megah, pintu gerbang terbuka lebar dan sepasang patung singa yg besar berdiri dikedua sisi pintu.

Dua deret centeng berbaju hijau dg mata yg tajam dan kesiap siagaan penuh menjaga sekeliling gedung, semuanya ini memberi kesan bahwa si pedang tanpa bayangan Lu seng sim pasti mempunyai kedudukan dan nama yg tinggi dimata masyarakat.

Setelah membereskan pakaiannya dan membersihkan debu dari pakaian, pemuda itu melangkah kedepan pintu dan menegur sambil menjura.

"Aku Kho Beng atas undangan dari Beng jihiap sengaja datang kemari, harap kalian suka memberi kabar kepada Lu tayhiap."

Seorang centeng segera tampil kemuka dan menyahut sambil menjura pula. --------missing page 36-41 ----------....acuh tak acuh, malah ujarnya sambil tertawa nyaring.

"Kuakui perkataan lote memang merupakan nasehat yg sangat berharga semua, seandainya aku tak punya keyakinan tak nanti sikapku begini santai dan percaya dg kemampuan sendiri.....ha....ha....ha....nantikanlah hingga Beng loji pulang senja nanti, lote pasti tahu apa sebabny sikapku begini santai dan percaya dg kemampuan sendiri!"

Selesai berkata, kembali ia tertawa terbahak-bahak. Kho Beng menjadi geli sendiri setelah mendengar perkataan itu, pikirnya.

"Kalau toh sudah mempunyai keyakinan untuk menghadapi serbuan iblis tersebut, buat apa kau menyuruh adik angkatmu mencari bantuan dimana-mana? Ehmm....sikapnya benar-benar bertentangan sekali dg kenyataan....."

Tapi Kho Beng pun mengerti, si pedang tanpa bayangan bisa bersikap begini bisa jadi karena dia menganggap kepandaian silat yg dimilikinya cukup tangguh untuk menghadapi serangan lawan, atau mungkin juga ia telah mendapat janji bantuan dari seseorang yg tangguh dan mampu menghadapi ancaman si kedele maut.

Tapi kalau dilihat dari sikapnya yg menyuruh semua orang menunggu sampai kembalinya Beng loji, besar kemungkinan dia memang mengandalkan bala bantuan dari luar.

Tapi siapakah tokoh persilatan yg bersedia melindungi di pedang tanpa bayangan?

Kalau memang orang itu memiliki kepandaian yg sanggup menandingi di kedele maut, mengapa umat persilatan tidak meminta bantuannya untuk menumpas iblis tersebut, sebaliknya membiarkan si kedele maut malang melintang hingga sekarang.

Kecurigaan tersebut melintas lewat didalam benak Kho Beng, tapi berhubung senja sudah menjelang dan jawabanpun akan diperoleh maka pemuda itu tidak berpikir lebih jauh.

Apalagi maksud kedatangannya yg terutama adalah mencari kesempatan untuk menyelidiki soal kitab pusaka yg ditipu orang, ia merasa tak berkepentingan untuk merisaukan kesulitan orang lain.

Oleh sebab itu, diapun tidak banyak berbicara lagi.

Agaknya sipedang tanpa bayangan sadar kalau ucapannya kelewat memandang enteng bantuan orang lain sehingga menyebabkan jago-jago yg telah hadir merasa sungkan untuk berbicara.

Melihat suasana dalam ruangan berubah menjadi mengesalkan, cepat-cepat ia perintahkan orang untuk mempersiapkan meja perjamuan.

Akhirnya senja pun menjelang tiba, sinar sang surya yg lemah menyinari pelataran luar ruangan sementara angin malam yg dingin terasa berhembus makin kencang dan tebal.

Perjamuan didalam ruangan telah selesai disiapkan, baru saja tuan rumah dan tamu mengambil tempat duduk masing-masing, tiba-tiba dari luar ruangan berkumandang datang suara langkah kaki manusia yg terburu-buru menyusul kemudian terlihat seseorang centeng berlari masuk kedalam ruangan sambil memberi laporan.

"Beng jiya telah kembali!"

Dg tak sabar lagi se pedang tanpa bayangan segera melompat bangun dari tempat duduknya.

Ia saksikan sastrawan berkipas kemala dg wajah mandi keringat berlari masuk kedalam ruangan, wajahnya merah padam tetapi kelihatan amat serius.

"Loji bagaimana dg persoalan kita?"

Cepat-cepat si pedang tanpa bayangan bertanya.

Sastrawan berkipas kemala menggelengkan kepalanya berulang kali dan menghembuskan napas panjang yg amat berat.

Sikap yg diperlihatkan sastrawan berkipas kemala ini bukan saja membuat paras muka sipedang tanpa bayangan berubah hebat, bahkan eempat jago lainpun turut berubah muka.

Kho Beng menyaksikan kejadian tersebut segera berpikir dalam hatinya.

"Ternyata apa yg kuduga semula memang tidak meleset!"

Tampak sipedang tanpa bayangan dg wajah hijau membesi bertanya lagi.

"Apakah dia akan berpeluk tangan embiarkan aku orang she Ku menjadi korban iblis tersebut?"

"Itupun tidak!"

Kembali Sastrawan berkipas kemala menggelengkan kepalanya berulang kali. Pedang tanpa bayangan menjadi tertegun.

"Ini bukan, itupun bukan, lalu apa yg sebenarnya terjadi?"

"Sebetulnya dia akan datang atau tidak?"

Sastrawan berkipas kemala menghela napas panjang.

"Tidak! Kedatanganku sungguh tidak kebetulan, baru saja siancu(dewi) menutup diri untuk bersemedi, jelas keadaa begitu ia tak bisa meninggalkan tempat karenanya berpesan agar kau mengurungkan niatmu untuk melakukan perlawanan dan sementara waktu pergi menyingkir dari sini?"

Hijau membesi selembar wajah si pedang tanpa bayangan setelah mendengar ucapan tersebut, jenggotnya yg hitam kelihatan bergetar keras, sesudah termangu-mangu berapa saat, ia segera menggebrak meja dan berseru dg marah.

"Hmmm, perkataan macam apa itu? Aku manusia she Lu bukan manusia yg tak bernama, kalau mesti kabur sebelum melangsungkan pertempuran, bagaimana pertanggungjawabku nanti kepada sahabat-sahabat dan sanak keluarga yg telah membantuku sekarang? Beng loji, selain pesan itu apakah dia tidak menyampaikan pesan yg lain lagi?"

Sastrawan berkipas kemala menghela napas panjang.

"Ada, siancu berpesan bila toako tetap berkeras akan memberi perlawanan demi nama kosong, maka beliau pun tak bisa berbuat yg lain kecuali mengijinkan toako bertindak sekehendak hati."

"Hmmm, benar-benar ngaco belo belaka."

Teriak si pedang tanpa bayangan penuh amarah.

"Selama dua puluh tahunan hidup bergelimpangan diujung senjata, beratus-ratus kali pertarungan besar kecil telah kualami sebelumnya, akhirnya berhasil meraih sedikit nama, kau anggap aku mesti melepas jerih payahku itu dg begitu saja?"

"Toako, siapa tahu siancu mempunyai perhitungan lain."

Buruburu sastrawan berkipas kemala menyela.

"Kalau tidak diapun tak akan mengutus keenam belas jago pedang berbaju kuning untuk diserahkan penggunaannya kepadamu."

"Hmmm, perhitungan kentut anjing!"

Pedang tanpa bayangan berteriak penuh kegusaran.

"Setiap korban yg tewas ditangan kedele maut rata-rata adalah jago yg bernama besar dan memiliki kepandaian silat yg hebat, apa artinya keenam belas jago pedang berbaju kuning itu? Hmmm....sungguh tak disangka meski aku telah berjuang mempertaruhkan jiwa raga demi kepentingannya dimasa lalu, kini habis manis sepah dibuang, ia sama sekali tidak memperdulikan keselamatan jiwaku lagi...."

Tampaknya sastrawan berkipas kemala sudah tak mampu mendengarkan perkataan itu lebih jauh, dg suara berat ia segera menyela.

"Toako, kau kelewat emosi, jangan lupa dg peraturan yg telah ditetapkan siancu dimasa lampau!"

Walaupu perkataan tersebut diucapkan dg nada yg lembut da mendatar, namun bagi pendengaran si pedang tanpa bayangan, tak ubanya seperti guntur yg membelah bumi disiang hari bolong.

Paras mukanya segera berubah menjadi pucat ke abu-abuan, ia duduk kembali keatas kursi dan menghembuskan napas panjang.

Sikap santai dan acuh tak acuh yg diperlihatkan siang tadi, kini sudah lenyap tak berbekas, sebagai gantinya dia nampak begitu lemah dan ketakutan menghadapi kematian.

Dari pembicaraan yg barusan berlangsung serta perubahan mimik muka si pedang tanpa bayangan, tanpa dijelaskan pun para jago lainnya sudah mengerti apa gerangan yg telah terjadi.

Jelaslah sudah si pedang tanpa bayangan telah kehilangan pendukungnya yg paling diharapkan sehingga keselamatan jiwanya kini sudah erada diujung tanduk...

Si ruyung dan toya sakti Siau bin yg duduk disisi arena pertamatama yg tak sanggup menahan diri lebih dulu, mendadak ia berkata.

"Saudara Lu, Beng jihiap, sebetulnya siapa sih siancu yg kalian sebut-sebut tadi?"

Sastrawan berkipas kemala Cuma tertawa getir, gelengkan kepala dan tidak menjawab.

Pedang tanpa bayangan yg duduk lemas dikursinya mendadak melompat bangun, lalu sambil menjura kepada semua orang ia berseru.

"Lu Seng sim mengucapkan banyak terima kasih kepada kalian atas kesediannya datang membantuku, tapi sekarang ancaman bahaya besar telah berada didepan mata, aku tak ingin melibatkan kalian semua sehingga menjadi korban yg tak ada artinya. Oleh sebab itu mumpung waktunya masih pagi, silahkan kalian beranjak pergi lebih dulu dari tempat berbahaya ini. Tolong sekalian beritakan kepada rekan-rekan diluar agar mereka yg ingin pergi silahkan pergi, yg ingin tinggal silahkan tinggal. Pokokny aku tak akan mendendam kepada siapa pun yg meninggalkan tempat ini, jika nyawaku berhasil lolos malam ini, dikemudian hari aku tentu akan berkunjung lagi kerumah kalian sambil menyampaikan terima kasihku."

Si kakek sakti berambut putih, Ciu Cu in memandang sekejap sekeliling tempat itu, kemudian menghela napas.

"Aaai...kalau toh Lu tayhiap berkata begitu, biar aku she Ciu mohon diri lebih dulu."

Disusul kemudian toya dan ruyung sakti Siau Bin, Piau sakti tujuh bintang Kuang beng, Su beng kongcu Yu Bu secara beruntun mohon diri pula dari situ.

Jelas mereka merasa tak puas karena si pedang tanpa bayangan enggan menerangkan siapa gerangan "siancu"

Yg gagal diundang itu, disamping mereka pun mengerti kalau kepandaian yg dimilikinya belum mampu untuk menghadapi si kedele maut.

Tentu saja mereka tak ingin mengorbankan jiwa sendiri demi keselamatan orang lain.

Kho Beng yg menyaksikan kejadian tersebut tanpa terasa timbul perasaan simpatiknya kepada si pedang tanpa bayangan, sebab dia menganggap orang ini masih belum kehilangan semangat jantannya sebagai seorang laki-laki sejati.

"Biar kulepaskan budi lebih dulu kepadanya, bukankah diapun akan menerangkan pula soal kitab pusaka tersebut kepadaku?"

Demikian pikirnya dalam hati. Sementara itu si pedang tanpa bayangan telah mengalihkan pandangannya kewajah Kho Beng, setelah menyaksikan kepergian rekan-rekan lainnya, kemudian menegur.

"Lote, mengapa kau belum pergi?"

Tatapan matanya penuh mengandung keresahan dan putus asa.

Rasa ingin tahu, iba ditambah semangat mudanya sebagai seorang jago yg baru selesai belajar silat, apalagi diapun mempunyai tujuan lain membuat Kho Beng segera tertawa nyaring.

"Lu tua, kau anggap aku yg muda adalah manusia kurcaci yg mundur bila menemui kesulitan?"

Pedang tanpa bayangan segera menghela napas panjang, katanya dg wajah bersungguh-sungguh.

"Lote masih muda, kesepatan hidup dikemudian hari [un masih panjang, apa gunanya kau mesti menyerempet bahaya demi kepentinganku?"

"Setelah mendengar ucapanmu itu, aku makin berkeras akan tetap tinggal disini, kau tak usah kuatir, Kho Beng adalah seorang manusia sebatang kara yg tanpa sanak saudara tanpa rumah tinggal. Selama ini dunia persilatan sudah cukup dihebohkan oleh ulah sikedele maut, namun hingga kini belum ada yg tahu siapakah orang tersebut. Oleh sebab itu selain hendak berusaha melenyapkan iblis tersebut dari muka bumi, akupun hendak menyingkap tabir kerahasiaan dari iblis tersebut, agar umat persilatan bisa mempunyai patokan yg tertentu didalam usaha pemburuannya tidak lagi asal tubruk secara membabi buta seperti sekrang ini."

Perkataan yg diucapkan dg bersungguh-sungguh dan penuh semangat ini segera membuat perasaan si pedang tanpa bayangan serta sastrawan berkipas kemala agak tergerak.

Cepat-cepat si pedang tanpa bayangan menjura dalam-dalam seraya berkata.

"Siauhiap benar-benar perkasa dan berhati mulia, bila aku beruntung dapat lolos dari musibah ini, biar jadi kuda atau anjing pun aku rela!"

Cepat-cepat Kho Beng menukas.

"Kau jangan berbicara seperti itu dan lagi masih terlalu awal untuk menjanjikan sesuatu, oh ya....jihiap apakah kau tahu si kedele maut telah berjanji akan muncul pada pukul berapa?"

"Tengah malam nanti,"

Sahut si pedang tanpa bayangan.

"Darimana Lu tayhiap bisa tahu kalau dia bakal datang tengah malam nanti?"

Pedang tanpa bayangan menghela napas panjang, dari sakunya dia mengeluarkan selembar kertas surat berwarna merah dan diserahkan kepada Kho Beng sambil katanya.

"Silahkan lote memeriksa isi surat ini, kau akan mengerti sendiri ! -Kho Beng menerima surat tersebut dan diperiksa isinya, pada sampul muka tertera nama si pedang tanpa bayangan, sedangkan ditengah sampul tertera dua butir kedele berwarna hitam. Disamping itu dalam sampul terdapat selembar kertas yg bertuliskan begini .

"Nantikanlah kedatanganku pada tengah malam nanti, siapkan batok kepalamu, bila mencoba kabur atau melawan seluruh keluargamu akan kutumpas semua."

Dibawahnya tertera tanda tangannya . Si Kedele Maut. Dg kening berkerut, Kho Beng segera merobek-robek surat ini menjadi beberapa bagian, lalu serunya sambil tertawa dingin.

"Hmm, ingin kulihat bagaimanakan tampang muka sigembong iblis tersebut....enak benar kalau bicara, seluruh keluarga akan ditumpas habis....emangnya dia anggap perintahnya adalah firman dari sribaginda?"

Kemudian setelah memeriksa keadaan cuaca, ia berkata lebih jauh.

"Malam baru menjelang, berarti kita masih mempunyai waktu yg cukup lama, kurasa lebih baik kalian berdua kembali dulu kekamar untuk beristirahat sambil menghimpun kekuatan, disamping itu kumohon saudara Lu menyiapkan pula sebuah kamar untuk diriku, akupun ingin beristirahat sebentar."

Tuk, tuk, tuk, traaang, traang, traaang.....

Dari arah jalan raya sana berkumandang tiga kali kentongan yag amat nyaring, mendadak kentongan ketiga telah menjelang tiba.

Cahaya lentera yg menerangi gedung keluarga Lu waktu itu sudah amat redup, suasana amat hening tak ubahnya seperti sebuah kota mati.

Kho Beng dg semangat menyala-nyala memakai jubah panjang dg pedang tersoren dipunggung beranjak keluar dari kamarnya menuju keruang tengah.

Disitu ia saksikan hanya si pedang tanpa bayangan seorang duduk termenung ditengah ruangan dg pedang tergenggam ditangan, wajahnya termangu-mangu dan pandangan kaku.

Suasana yg suram ini membuat Kho Beng menjadi tertegun, segera tegurnya keheranan.

"Mana Beng jihiap?"

Dg sedih si pedang tanpa bayangan menggelengkan kepalanya menghela napas tetap membungkam, mukanya kusut sementara dua titik airmata jatuh berlinang membasahi pipinya.

Dari sikap sedih yg terpancar keluar ari wajah si pedang tanpa bayangan ini, Kho Beng segera dapat menduga, Sastrawan berkipas kemala tentu sudah kabur menyelamatkan diri tanpa mempedulikan keselamatan kakak angkatnya lagi.

Keadaan tersebut segera membuat Kho Beng semakin simpatik, buru-buru ia menghibur.

"Ketika membuyarkan rekan-rekan lain disenja tadi, sikapmu begitu terbuka dan gagah, mengapa pula kau risau karena seorang Beng Yu? Ha....ha....ha....biarpun kepandaianku amat rendah, jelekjelek begini aku akan tetap mendampingimu untuk menghadapi segala kemungkinan yg terjadi."

Dg perasaan amat terharu dan berterima kasih, si pedang tanpa bayangan segera berseru.

"Aku tak menyangka meski kita hanya berpisah satu kali, namun kesetiaan kawanmu sangat mengagumkan, aaai...tapi berapa banyakkah manusia dalam dunia saat ini yg memiliki sifat mulia seperti lote....?"

Cepat-cepat Kho Beng menukas.

"Kalau toh kta sudah berniat sehidup semati, apa gunanya kau mesti mengutarakan kata-kata sungkan seperti itu? Cuma ada satu hal yg masih menjadi beban pikiranku selama ini, apakah kau bersedia untuk memberitahu?"

"Katakan saja lote, asal aku tahu pasti akan kujawab."

"Siapa sih siancu yg telah disinggung Beng jihiap senja tadi? Dan apa pula hubungan dg dirimu?"

Pedang tanpa bayangan termenung beberapa saat lamanya setelah mendengar perkataan tersebut, sesaat kemudian dia baru menghela napas panjang dan berkata.

"Dia adalah seorang perempuan berusia tiga puluhan yg berwajah cantik jelita bak bidadari dari kahyangan, orang itu bernama In in dan tidak diketahui asal usulnya, namun memiliki kecerdasan yg hebat dan tenaga dalam yg mengerikan. Oleh karena dia jarang berkelana didalam dunia persilatan maka sedikit sekali umat persilatan yg mengetahui kalau didunia ini terdapat perempuan semacam itu.....aaai....dulu aku pernah menjual nyawa baginya...."

Baru berbicara sampai disitu, tiba-tiba perkataan tersebut terhenti oleh jeritan ngeri yg menyayat hati.

Jerit kesakitan tersebut berkumandang datang dari luar ruangan dan bergema amat panjang, kalau didengar ditengah kegelapan dan keheningan seperti ini suaranya terasa sangat mengerikan dan mendirikan bulu kuduk siapapun.

Berubah hebat paras muka si pedang tanpa bayangan saking terperanjatnya, pembicaraanpun segera terputus ditengah jalan, dg pedang terhunus dia melompat bangun namun tubuhnya kelihatan genetar sangat keras.

"Bisa jadi sikedele maut telah tiba!"

Bisiknya dg perasan ngeri.

"Siapa saja yg berada digedung ini?"

Tanya Kho Beng sambil melompat bangun pula.

"Kecuali enam belas jago pedang, tiada orang lain yg berada digedung ini."

"Hayo berangkat! Mri kita pergi memeriksa keadaan yg sebenarnya..."

Seru Kho Beng kemudian .

Dg suatu gerakan yg cepat dia segera melesat keluar dari ruangan langsung menerjang kepintu gerbang.

Dg ketat si pedang tanpa bayangan mengintil dibelakangnya, tapi karena dia bergerak sedikit lamban maka tubuhnya tertinggal sejauh tiga kaki lebih dibelakang.

Tiba didepan pintu gerbang, mereka saksikan diantara dua deret pohon siong telah tergeletak sesosok mayat berbaju kining, ubunubunnya telah hancur berantakan, isi benaknya berserakan dimanamana dan mendatangkan suasana yg mengerikan sekali bagi yg melihat.

Namun kelima belas jago pedang yg lainnya sama sekali tak nampak batang hidungnya.

Dengan kening berkerut Kho Beng memperhatikan sekeliling tempat itu, lalu tanyanya dg kening berkerut.

Jilid 05

"Lu tua! Kemana perginya jago-jago pedang lainnya"

Dg perasaan tegang si pedang tanpa bayangan menjawab.

"Aku telah menempatkan mereka didepan dan dibelakang gedung ini, maksudku dg menyebarkan mereka disetiap sudut gedung yg strategis, maka kedatangan si kedele maut akan segera ketahuan."

Kho Beng segera menghela napas panjang.

"aaai...tindakan saudara Lu dg menyebarkan mereka disetiap sudut gedung merupakan suatu tindakan yg keliru besar, untuk menghadapi ancaman musuh yg sangat tangguh, kita wajib menghimpun segenap kekuatan yg ada untuk menghadapi secara bersama-sama"

Tampaknya waktu itu si pedang tanpa bayangan sudah kehilangan pendirian saking gugup dan paniknya, mendengar perkataan tersebut buru-buru katanya.

"Bagaimana kalau kukumpulkan mereka sekarang juga?"

Dg cepat Kho Beng menggeleng.

"Sekarang sudah terlambat, daripada bergerak lebih baik kita pilih gerakan menanti saja, coba kita saksikan dulu tindakan apa yg hendak dilakukan lawan."

Kedua orang itupun segera berdiri penuh kewaspadaan sambil mengawasi sekeliling arena dg pandangan tajam, mereka ingin tahu dari arah manakah si kedele maut akan munculkan diri.

Namun suasana betul-betul mencekam hati, keheningan terasa mencekam sekeliling tempat itu, bukan saja tidak dijumpai jejak musuh, setitik gerakan pun tak nampak.

Dg sikap yg tegang Kho Beng bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan yg tak diinginkan, sementara benaknya terlintas kembali dg peristiwa yg dialami dirumah makan Kwan tong tin tempo hari.

Ia masih ingat, kedele maut yg dikirimkan kepada si pedang tanpa bayangan sebagai ancaman, betul-betul tak berbeda dg keele maut yg berada dalam karung yg dibawa saudagar tersebut, mungkinkah iblis misterius yg disebut kedele maut adalah orang itu?

Sementara dia masih termenung dg penuh perasaan keheranan, pedang tanpa bayangan yg berada disisinya juga mulai tak tenang, wajahnya makin lama semakin tegang.

Menanti saat kematian memang merupakan saat penantian yg paling menyiksa batin, sekalipun suasana disekeliling tempat itu sangat hening sehingga tak kedengaran sedikitpun suara, namun keheningan tersebut justru menambah suasana menyeramkan yg mencekam tempat tersebut.

Terutama sekali bagi pedang tanpa bayangan, dia merasa seakan-akan dari empat penjuru telah muncul cengkeraman iblis yg siap menerkam serta merenggut nyawanya.

Ditengah keheningan yg mencekam seluruh jagad inilah, mendadak dari arah ruang tengah berkumandang datang suara langkah kaki manusia yg sangat lirih.

Kho Beng dan pedang tanpa bayangan dapat mendengar suara tersebut dg jelas sekali, serentak mereka berpaling dg hati berdebar dan perasaan terperanjat.

Dari kejauhan sana terlihatlah sesosok bayangan putih munculkan diri dg langkah yg lembut, ternyata dia adalah seorang nona berusia tujuh delapan belas tahun, wajahnya halus dan bersih, rambutnya dikepang menjadi dua.

Betul-betul suatu peristiwa yg mencengangkan hati!

Bukankah dalam gedung tersebut selain lima belas jago pedang sama sekali tiada orang lain?

Mengapa dalam keadaan begini bisa muncul seorang nona yg berdandan sebagai dayang?

Kho Beng segera membentak nyaring.

"Siapa kau?"

Dg suatu gerakan yg sangat ringan, nona berbaju putih itu mendekati mereka berdua, kemudian setelah memandang sekejap kearah Kho Beng, ujarnya kepada si pedang tanpa bayangan.

"Budah Bwee hiang mendapat perintah dari nona untuk mengundang kehadiran Lu tayhiap kehalaman belakang."

Sementara Kho Beng masih tertegun, pedang tanpa bayangan telah membentak keras.

"Siapakah nona yg kau maksudkan? Darimana bisa muncul disini....?"

Dg cepat paras muka nona berbaju putih itu berubah menjadi dingin bagaikan es, kembali ujarnya.

"Seharusnya Lu tayhiap memahami persoalan ini dg sejelasjelasnya, buat apa mesti banyak bicara lagi? Nona kami paling segan untuk membuang waktu, katakan saja Lu tayhiap, kau bersedia kebelakang atau tidak?"

Satu ingatan cepat melintas dalam benak Kho Beng, kepada si pedang tanpa bayangan segera serunya.

"Jangan-jangan dia adalah....."

Sebelum perkataan itu selesai diutarakan, si pedang tanpa bayangan sudah menyadari pula akan sesuatu, dia berseru tertahan dan segera tanyakan kepada nona berbaju putih itu sambil menjura.

"Jangan-jangan siancu telah tiba?"

"Lu tayhiap kalau toh sudah tahu, mengapa tidak segera mengikuti budak untuk masuk kedalam?"

Selesai berkata dia lantas membalikkan badan dan beranjak pergi dari situ.

Pedan tanpa bayangan cukup tahu bahwa gerak gerik siancu memang selalu diliputi rahasia, lagipula bila bukan dia yg datang, apa sebab jago pedang berbaju kuning yg ditempatkannya digedung belakang sama sekali tidak menyiarkan tanda bahaya?

Merasa si dewi itu ternyata belum melupakan dirinya bahkan telah hadir sendiri saat terakhir, semua perasaa kesal dan dendam disenja tadi kini tersapu lenyap semua, dg semangat berkobar dan sedikitpun tak sangsi, ia segera mengikuti dibelakangnya.

Otomatis Kho Beng mengikuti pula dibelakangnya, dia memang ingin melihat manusia macam apakah siancu tersebut?

Siapa tahu baru saja kakinya maju selangkah, Bwee hiang telah menghentikan langkahnya sambil membalikkan badan, kepada pemuda tersebut tegurnya.

"Harap anda menghentikan langkah disitu!"

"Kenapa?"

Tanya Kho Beng tertegun.

"Nona kami tidak memberi perintah untuk mengajak serta dirimu, karenanya budakpun tak ingin mengajak serta dirimu!"

Kho Beng segera berkerut kening, hatinya sangat gusar sehingga tanpa terasa mendengus dingin.

Baru saja dia hendak mengucapkan sesuatu, si pedang tanpa bayangan yg cukup mengetahui tabiat In in siancu, segera berpaling dan katanya pula seraya menjura.

"Perkataan nona ini memang benar, harap siauhiap sudi memberi muka kepadaku dg menanti sejenak diruang depan, sebentar saja aku tentu akan balik lagi."

Oleh karena tuan rumah telah berkata begitu, yg menjadi tamu pun tak dapat berkata apa-apa lagi, betul Kho Beng merasa tidak puas, tapi diapun Cuma bisa kembali keruang tengah dan menyaksikan si pedang tanpa bayangan berangkat kehalaman belakang mengikuti dibelakang Bwee hiang.

Kini Kho Beng berada dalam ruang tengah seorang diri, terasa olehnya bukan saja si iblis kedele maut saja yg amat misterius gerak geriknya, bahkan pedang tanpa bayangan dan In in siancu pun dirasakan sangat misterius dan sukar diraba jalan pikirannya.

Mengapa si pedang tanpa bayangan menaruh rasa takut, ngeri dan menurut perintah perempuan tersebut?

Sudah pasti hubungan mereka tidak sesederhana apa yg pernah diterangkan kepadanya.

Dg pikiran segala pertanyaan yg penuh tanda tanya, Kho Beng berdiri termangu-mangu dg mulut membungkam, tapi pedang tanpa bayangan yg sudah sekian lama masuk kehalaman belakang belum juga ada kabar beritanya.

Menanti adalah pekerjaan yg paling membosankan, apalagi dalam situasi yg amat kritis seperti saat ini, rasa gelisah dan cemas timbul dalam hatinya betul-betul tak terlukiskan dg kata-kata....

Lama kelamaan Kho beng mulai tak sabar, apalagi ketidakmunculan si kedele maut hingga kini membuatnya makin keheranan, akhirnya tak bisa ditahan lagi, ia mulai beranjak meninggalkan ruangan dan lari kehalaman belakang.

Pada saat itulah, ditengah kegelapan malam, terdengar jeritan ngeri yg memilukan hati berkumandang datang dari gedung sebelah belakang.

Bukan begitu saja, dari suara jeritan tersebut Kho Beng segera mengenali sebagai jeritan si pedang tanpa bayangan.

Kho beng jadi tertegun, ia sadar keadaan tidak beres, dalam terkejutnya dg cepat hawa murninya dihimpun, lalu seperti seekor burung rajawali, tubuhnya melambung ditengah udara dan melesat kedepan dg kecepatan tinggi.

Siapa tahu baru saja ia tiba diatas atap rumah, tiga titik cahaya putih telah melintas datang dari hadapannya dg kecepatan bagaikan sambaran petir.

Berhubung kedua belah pihak sama bergerak dg kecepatan tinggi, sehingga nyaris mereka saling bertumbukan.

Jeritan kaget segera bergema memecahkan keheningan, bagaikan hembusan angin lembut, ketiga sosok bayangan manusia itu segera melayang turun keatas tanah...

Ternyata mereka adalah tiga orang nona cantik.

Sementara itu Kho Beng telah berjumpalitan pula ditengah udara serta melompat mundur sejauh tiga depa lebih, begitu berdiri tegak segera ia meloloskan pedangnya dan berdiri dg mata bersinar tajam.

Dg cepat ia melihat bahwa lebih kurang enam depa dihadapannya telah berdiri tiga orang nona muda.

Kedua orang nona yg berada dikiri kanan berusia tujuh belas tahunan serta memakai baju putih, seorang diantaranya tak lain adalah Bwee hiang yg telah munculkan diri dan mengajak pedang tanpa bayangan masuk kehalaman belakang.

Sedangkan nona yg berada ditengah berusia lebih tua dua tiga tahun, ia mengenakan baju yg berwarna keperak-perakan, sekuntum bunga putih menghias sanggulnya yg tinggi, sementara ditangannya memegang payung bulat berwarna perak, bentuk maupun potongan badannya mirip dg bidadari yg baru turun dari kahyangan.

Setelah melihat jelas keadaan tersebut, Kho Beng semakin terkejut bercampur keheranan, pertama ia segera yakin kalau pihak lawan bukan In in siancu yg dimaksud pedang tanpa bayangan, sebab pedang tanpa bayangan pernah berkata.

"In in siancu telah berusia tiga puluhan tahun."

Sebaliknya nona berpayung bulat warna keperak-perakan ini baru berusia dua puluh tahunan, berwajah cantik namun sinar matanya tajam menggidikkan hati.

Kedua secara lamat-lamat diapun telah merasa bahwa si pedang tanpa bayangan bisa jadi telah dibunuh oleh dayang yg bernama Bwee hiang tersebut.

Karenanya begitu ingatan tersebut melintas dibenaknya, dg suara menggeledek ia segera membentak keras.

"Siapa kau?"

Dg wajah sedingin salju nona berpakaian perak itu berpaling kearah Bwee hiang, kemudian tanyanya.

"Apakah Kho Beng yg dikatakan tua bangka she Lu tadi adalah orang ini?"

Bwee hiang segera manggut-manggut. Nona berpayung perak itu segera berpaling kearah Kho Beng, lalu ucapnya dg suara dingin.

"Lebih baik kau jangan bertanya macam-macam, memandang kau sebagai orang diluar garis, lagipula nona telah menyanggupi permintaan tua bangka Lu untuk mengampuni selembar jiwamu, lebih baik manfaatkanlah kesempatan ini untuk pergi dari sini, mumpung aku belum berubah pikran...."

Dg kening berkerut Kho Beng segera tertawa nyaring.

"Selamanya aku percaya bahwa perkembangan suatu masalah merupakan akibat dari perbuatan manusia, sedang nasib seseorang ditentukan takdir, oleh sebab itu mati hidupku bukan kau yg menentukan, tapi jika kalian bertiga ingin berlalu dari sini, beberapa buah pertanyaanku harus kalian jawab dulu!"

"Kalau aku bersikeras menolak untuk menyebutkan identitasku?"

Jengek nona berpakaian perak itu ketus.

"Kalau begitu bertanyalah dulu kepada pedangku ini, apakah dia bersedia memberi jalan lewat untuk kalian bertiga."

Tiba-tiba Bwee hiang menyela sambil mengumpat dg penuh marah.

"Bocah muda! Kau benar-benar tekebur, memangnya kau sudah bosan hidup didunia ini? Nona, budak rasa kalau kita tidak memberi sedikit kelihaian kepadanya, dia masih belum mau tahu tingginya langit dan tebalnya bumi."

Nona berpayung perak itu segera mengulapkan tangannya, kemudian tanya lagi dingin.

"Tunggu sebentar, Kho Beng kau berasal dari perguruan mana?"

"Aku tak punya perguruan....."

"Kho Beng, aku dengar kau bermaksud akan menggabungkan diri dg komplotannya tua bangka she Lu ini?"

"Siapa bilang berkomplot? Aku hanya merasa tak puas dg cara kerja kaum iblis sehingga berniat membantunya."

"Hmmm...."

Nona berpayung perak itu tertawa dingin "Indah betul perkataanmu itu, tapi apa pula yg dapat kau lakukan?"

Dg perasaan tergetar keras Kho Beng segera membentak.

"Aku memang ingin bertanya kepadamu, dimanakah Lu tayhiap sekarang....?"

"Bila ingin mencari si pedang tanpa bayangan, terpaksa kau harus pergi ke akhirat untuk menemaninya."

Kho Beng tertegun, tapi dg cepat hatinya tergetar keras, serunya kemudian tertahan.

"Oooh....rupanya kau adalah si kedele maut!"

Perasaan hatinya sekarang disamping keheranan, diapun merasa peristiwa ini sama sekali diluar dugaannya. Selama in dia selalu mengira manusia yg bernama "Kedele Maut"

Adalah lelaki berpotongan saudagar yg membawa kantung berisi kedele dan biasanya pembunuh semacam ini pasti seorang lelaki.

Siapa tahu apa yg dijumpai sekarang ternyata sama sekali bertolak belakang, ternyata kedele maut yg ditakuti sekian banyak jago tak lain adalah seorang perempuan, lagipula seorang nona berusia dua puluh tahunan yg berparas cantik.

Dg usia semuda itu, ternyata dia mampu membunuh ratusan orang jago lihay, apabila kabar ini sampai tersiar keluar, bukan saja seluruh dunia persilatan akan jadi gempar, bahkan orang lainpun belum tentu mau percaya.

Sementara Kho Beng masih mengawasi nona itu dg wajah tertegun, paras muka nona berpayung perak itu telah berubah makin dingin dan menyeramkan.

Tiba-tiba ia berkata.

"Tak aneh bila kau tercengang dan keheranan, dalam kenyataan memang tak seorang manusia pun didunia ini yg bisa hidup terus setelah bertemu dgku, kau adalah satu-satunya pengecualian, tapi kalau melihat keadaanmu sekarang tampaknya akupun tak bisa melepaskan dirimu dg begitu saja...."

Kho Beng segea tersadar kembali dari lamunannya, dia menjadi sangat gusar dan geram setelah mendengar penjelasan tersebut.

Ia sedih karena gagal melindungi keselamatan jiwa si pedang tanpa bayangan, dia membenci lawannya karena telah membunuh pedang tanpa bayangan sehingga ia kehilangan sasaran yg utama dalam usahanya menyelidiki soal kitab pusaka milik Bu wi lojin yg tertipu.

Kerenanya setelah tertawa panjang dg penuh kegusaran, ia segera membentak nyaring.

"Baik! Bagaimanapun juga kalau bukan aku yg berhasil melenyapkan iblis dari muka bumi malam ini, akulah yg akan tewas diujung tanganmu. Rasanya tiada masalah serius lain yg bisa dibicarakan lagi, mari kalian ingin maju satu persatu ataukah akan maju segera bersama-sama?"

Nona berpayung perak itu segera tertawa dingin.

"He....he...he....kau masih belum berhak untuk bertarung melawanku. Sin Hong, Bwee hiang kalian segera bekuk bajingan cilik ini!"

Kedua orang dayang baju putih itu segera mengiakan dan serentak maju kedepan.

Kho Beng tak dapat menahan diri lagi, dia segera membentak marah, tubuhnya menerjang kemuka dg kecepatan tinggi.

Pedangnya dg memancarkan cahaya bianglala berwarna merah yg kemudian membentuk berpuluh-puluh bintang perak, segera menyerang tubuh gadis berpayung perak itu dg jurus "Bunga terbang memenuhi jambangan."

Jurus pedang yg dipergunakan ini tidak lain merupakan salah satu jurus pedang Lui sui jit kiam hoat yg telah diwariskan Bu wi lojin kepadanya dalam tujuh hari berselang.

Selain itu, tokoh sakti tersebut telah menghadiahkan pula sepuluh dari tenaga dalamnya kepada pemuda itu dg ilmu Kun goan kuan teng, hal ini menyebabkan dia memiliki tenaga serangan yg benarbenar amat tangguh.

Bagi seorang ahli silat, dalam sekilas pandang saja dapat mengetahui apakah musuhnya berilmu atau tidak.

Begitu Kho Beng melancarkan serangannya, berkilat sinar aneh dari balik mata nona berpayung perak tersebut, tanpa sengaja ia berseru tertahan.

Hampir pada saat yg bersamaan, kedua orang dayang itu telah mendesak kedepan.

Terlihatlah dua buah cahaya putih yg....

-------missing page 24 -31 ----------Sia Hong dan Bwee hiang melanjutkan serangannya, kemudian sambil mengawasi Kho Beng lekat-lekat, serunya dg suara dingin.

"Tampaknya kau seperti tak takut menghadapi kematian?"

Kho Beng tertawa terbahak-bahak .

"Ha.....ha......ha.....manusia manakah yg tak takut mati, tapi Kho Beng adalah seorang lelaki yg tak sudi tunduk kepada siapapun juga, kalau toh sudah kuketahui takut mati tak ada gunanya, toh lebih baik mencaci maki dirimu sepuasnya lebih dulu sebelum mampus, paling tidak semua rasa mangkel dan mendongkolku dapat terlampiaskan...."

Nona berpayung perak itu segera melotot besar penuh amarah, serunya dingin.

"Terhadap orang yg tidak takut mati, aku mempunyai cara yg paling bagus, apakah kau ingin merasakannya?"

"Tidak menjadi masalah, aku memang ingin tahu sampai dimanakah kehebatan dari cara yg kau miliki itu, saksikan saja apakah aku sanggup untuk menahan diri atau tidak. Terus terang saja kukatakan, bila aku sampai mengerang kesakitan mulai hari ini namaku akan kubuat secara terbalik."

"Bersemangat1"

Jengek nona berpayung perak itu sambil tertawa dingin.

Sementara berbicara, mendadak jari tangannya berkelebat dan segulung desingan angin tajam pun meluncur kedepan dg kecepatan tinggi.....

Dalam hati kecilnya diam-diam Kho Beng menghela napas, dia sadar sejarah hidupnya sudah hampir berakhir, bahkan dia harus mati secara tak jelas dan menahan rasa penasaran.

Siapa tahu begitu desingan angin tajam itu menyentuh tubuhnya, ia segera merasakan peredaran darahnya menjadi lancar kembali, dalam tertegunnya dg cepat dia melompat bangun dan mundur sejauh satu kaki lebih dari posisinya.

Terdengar nona berpayung perak itu berkata lagi dg suara sedingin salju.

"Memandang kau sebagai lelaki sejati, nona tak ingin menyusahkan dirimu, ketahuilah meski korban yg tewas oleh kedele pencabut nyawaku berjumlah sangat banyak, namun mereka semua adalah manusia-manusia yg pantas untuk dibunuh..."

"Mengapa kau tidak membunuhku sekarang?"

Tanya Kho Beng dg wajah tertegun. Nona berpayung perak itu mendengus dingin.

"Karena kau belum berhak untuk dibunuh, tapi nona peringatkan kepadamu, jika kau berani mencampuri urusanku lagi serta membocorkan rahasia identitasku kepada orang lain, hmmm...hmmmm.....bila kita bersua lagi untuk kedua kalinya, saat itulah merupakan saat ajalmu!"

Seusai berkata dia segera mengulapkan tangannya kepada kedua orang dayangnya seraya berseru.

"Mari kita pergi!"

Dg suatu gerakan yg amat cepat dia melesat ketengah udara dan meluncur pergi dari situ, dalam waktu singkat ketiga sosok bayangan manusia itu telah berada sejauh sepuluh kaki lebih dan lenyap dibalik kegelapan malam.

Dalam malu dan mendendamnya, Kho Beng menggertak giginya kencang-kencang menahan emosi, teriaknya lantang.

"Hey iblis perempuan! Kho Beng tak takut dg ancamanmu, cepat atau lambat aku pasti akan menuntut balas sakit hati yg kuterima hari ini."

"Hmmm....hmmmm...kalau kau sanggup berusia panjang, silahkan saja untuk mencariku."

Jawaban yg dingin kaku dan bernada lembut ini bergema ditengah kegelapan malam, tapi bayangan manusianya sudah lenyap tak berbekas.

Dg termangu-mangu, Kho Beng berdiri membungkam ditempat.

Ia sadar dalam keadaan bertangan kosong, sekalipun dilakukan pengejaran pun tak ada gunanya, apalagi dia baru terjun kedalam dunia persilatan untuk pertama kalinya setelah belajar silat, kekalahan yg diderita membuatnya masgul dan amat sedih.

Dg perasaan gemas dia melompat naik keatap rumah, memungut kembali pedangnya yg terlepas dari genggamannya, kemudian melakukan penggeledahan kedalam halaman belakang.

Gedung tempat kediaman si pedang tanpa bayangan memang sangat luas, Kho Beng hanya memeriksa sampai kehalaman lapis keempat setelah berhasil menemukan jenasah dari sipedang tanpa bayangan yg roboh terkapar diberanda sebelah kanan.

Darah segar nampak bercucuran keluar dari matanya, seakanakan sedang melelehkan air mata darah, sementara dua biji kedele berwarna hitam telah menebusi kelopak matanya, persis seperti biji mata yg telah memudar cahayanya.

Sampai disini, dia belum juga menemukan kelima belas orang jago pedang berbaju kuning lainnya.

Kali ini merupakan saat pertama kali dia melihat jago persilatan tewas secara mengerikan oleh kedele maut, hawa amarah yg membara dalam dadanya segera meledak dan tak dapat terbendung lagi.

Dalam sekejap itulah rasa bencinya terhadap kekejian si kedele maut telah merasuk ketulang sum sum.

Terutama sekali kematian dair si pedang tanpa bayangan berarti memutuskan titik terang menuju ditemukannya kembali kitab pusaka, rasa jengkel Kho Beng semakin menjadi-jadi.

Dg penuh rasa iba Kho Beng mengubur jenasah si pedang tanpa bayangan, dia telah memutuskan untuk secepatnya berangkat ke cui wi san, dia berharap bisa mengetahui asal usulnya secepat mungkin, ia ingin tahu apakah dia benar-benar adalah keturunan dari Kho Beng sia, ketua perkampungan Hui im ceng?

Disamping itu, dia pun telah memutuskan untuk mengungkapkan wajah asli dari si kedele maut kepada umat persilatan melalui mulut orang-orang Sam goan bun, agar seluruh umat persilatan tahu dan mereka mempunyai sasaran yg jelas tentang iblis yg harus diburu.

Ia sadar hal tersebut bukan saja akan memberikan manfaat yg besar bagi usaha menangkap iblis, juga hal inipun merupakan suatu tantangan yg jelas terhadap si kedele maut.

Ditengah keheningan malam yg mencekam, buru-buru Kho Beng berangkat meninggalkan kota Tong sia menuju keperguruan Sam goan bun.

Sepanjang perjalanan dia membayangkan terus, betapa gembiranya ketua Sam goan bun setelah memperoleh kabar tersebut.

Sudah hampir setahun lamanya tujuh partai besar dan para gembong iblis dari kaum sesat berusaha menyelidiki jejak si kedele maut, namun usaha mereka selama ini tak pernah mendatangkan hasil, bahkan tak ada yg tahu siapa gerangan orang itu.

Andaikata pihak Sam goan bun mengumumkan soal bentuk asli dari si kedele maut itu, niscaya seluruh dunia persilatan akan merasa kagum dan terkejut pada mereka.

Pemuda itu beranggapan bahwa inilah kesempatan baik baginya untuk membalas budi kebaikan dari Sam goan bun yg telah memelihara selama delapan belas tahun dan merupakan semacam pembalasan pula kepada ketua Sam goan bun yg telah mengusirnya.

Dalam situasi dan perasaan inilah Kho Beng mencapai bukit Cui wi san dalam sepuluh hari.

Waktu itu musim gugur telah lewat, pepohonan yg semula gugur kini sudah mulai tumbuh pucuk baru, melihat kesegaran alam yg mulai nampak, tanpa terasa pemuda itu pun merasakan semangatnya berkobar kembali.

Tiba dipunggung bukit gedung perguruan Sam goan bun telah muncul didepan mata, perpisahan selama setengah tahun, ternyata perkampungan Cui wi san ceng masih utuh seperti sedia kala.

Waktu itu sudah menjelang senja, pintu perkampungan tertutup rapat, Kho Beng segera mendekati pintu gerbang, membenahi pakaiannya yg kusut kemudian mengetuk pintu.

"Toook...toook...!"

Baru dua kali ketukan, pintu gerbang telah terbuka lebar, yg membukakan pintu adalah seorang pemuda berusia dua puluh tahunan.

Dalam sekilas pandangan saja Kho Beng telah mengenali orang ini sebagai murid keempat belas dari ketua Sam goan bun yg bernama Lu Bun hoan.

Cepat-cepat dia menjura seraya menegur.

"Saudara Lu, selamat bersua kembali!"

Mengetahui yg datang adalah Kho Beng, dg wajah tercengang Lu Bun hoan segera menegur.

"Saudara Kho! Kenapa kau balik kembali?"

Kho Beng tersenyum.

"Aku ingin bertemu dg suhu bungkuk disamping itu......"

Belum selesai perkataan itu diutarakan, paras muka Lu Bun hoan telah berubah hebat, bisiknya pelan.

"Saudara Kho, mengingat hubungan kita dulu, kuanjurkan kepadamu tinggalkan saja tempat ini secepatnya, tak usah pulang lagi untuk mencari penyakit."

Selesai berkata, cepat-cepat dia menutup pintu gerbang kembali tanpa menggubris kehadiran Kho Beng lagi.

Kho Beng menjadi tertegun, dia tak mengira akan memperoleh perlakuan demikian, padahal dia cuma ingin ketemu dg ciangbunkin saja.

Dalam marahnya tanpa berpikir panjang lagi, ia segera menggedor lagi keras-keras.

Kali ini dia menggedor dg sekuat tenaga sehingga suaranya menggetar sampai kedalam.

Tak selang berapa saat kemudian pintu gerbang dibuka kembali, yg muncul kali ini ternyata adalah ketua Sam goan bun, Sun Thian hong sendiri.

Hawa amarah tanpak menyelimuti seluruh wajahnya, sambil menatap wajah Kho Beng lekat-lekat, dia membentak.

"Hey! Mau apa kau datang kemari?"

Sambil menahan hawa amarahnya, Kho Beng menjura dalamdalam, setelah itu ujarnya ."

Boanpwee khusus datang untuk menemui caingbunjin sekalian menyampaikan salam."

Pepatah kuno bilang .

Jangan memukul orang berwajah senyum.

Meskipun ketua dari sam goan bun ini memperlihatkan sikap yg gusar dan keras, namun setelah melihat sikap menghormat Kho Beng, tak urung dia menjadi rikuh sendiri.

Karenanya sambil mengulapkan tangan dia berkata .

"Tak usah banyak adat, ada urusan apa kau datang kemari ? "

Sambil manggut-manggut pemuda itu berkata .

"Boanpwee khusus datang kemari untuk memberi kabar kepada cianpwee tentang masalah kedele maut."

Paras muka ketua Sam goan bun ini kelihatan berubah hebat, serunya cepat .

"Lanjutkan perkataanmu ! "

"Jangan disini ! "

Tukas Kho Beng sambil menggeleng.

"Berhubung masalah ini menyangkut keadaan yg luar biasa, dapatkah cianpwee mengajak boanpwee untuk bicara didalam saja? "

Ketua Sam goan bun kelihatan termenung sebentar, nampaknya dia tertarik dg persoalan ini, akhirnya sambil miringkan badannya, dia berkata .

"Silahkan masuk ! "

Sambil tersenyum Kho Beng segera melangkah masuk kedalam, sementara dalam hati kecilnya berpikir .

"Ternyata perhitunganku tidak meleset, coba kalau tidak memakai alasan tersebut belum tentu aku bisa memasuki pintu gerbang ini serta bertemu dg Thio bungkuk."

Setibanya diruang tengah, ketua Sam goan bun baru menegur .

"Kho Beng, sebenarnya kabar apa yg hendak kau sampaikan ? "

Dg wajah serius Kho Begn segera berkata .

"Boanpwee telah bertemu dg kedele maut ketika berada dikota tong sia, ternyata gembong iblis tersebut adalah seorang nona berusia dua puluh tahunan yg didampingi dua orang dayangnya, seorang bernama Sin hong yg lain bernama Bwee hiang."

Ketua Sam goan bun ini nampak semakin kaget bercampur tercengang, serunya .

"Kedele maut adalah seorang nona muda ? Tahukah kau identitas serta asal usulnya ? "

Kho Beng menggeleng, secara ringkas dia menceritakan apa yg dialaminya, kemudian menambahkan .

"jurus serangan yg dipergunakan gombong iblis wanita itu dangat aneh, senjata yg digunakan juga luar biasa, bentuknya tak berbeda dg sebuah payung yg bulat berwarna perak, sedang senjata yg dugunakan dayangnya berbentuk dua buah ikat pinggang, mungkin cianpwee bisa menemukan sedikit titik terang dari benda -benda yg mereka andalkan itu."

Dg kening berkerut, ketua sam goan bun termenung sambil berpikir seenak, mendadak dg wajah berubah hebat ia menjerit kaget .

"Sungguh aneh, rasanya payung perak itu mirip sekali dg payung Thian li san milik Gin San siancu (Dewi payung perak), sedang ikat pinggang yg kau maksud adalah tali pengikat dewa, jangan-jangan kedele maut adalah murid Dewi payung perak ? "

Dg perasaan terkejut Kho Beng turut berpikir .

"Thio bungkuk pernah menerangkan, Dewi payung perak menempati kedudukan satu diantara tiga manusia aneh, tapi masa dia mempunyai murid seperti ini."

Sementara dia masih tercengang, ketua Sam goan bun telah berkata lebih jauh dg suara dingin.

"Penemuan yg berhasil kau peroleh ini benar-benar luar biasa, baiklah partai kami akan mewakilimu untuk menyampaikan berita tersebut kepada seluruh partai lain agar kau memperoleh penghargaan pula dari semua orang."

Buru-buru Kho Beng menyela.

"Boanpwee sama sekali tidak berniat mencari nama dg berita tersebut, disamping itu boanpwee pun tidak mempunyai ambisi apaapa, oleh sebab itu bila cianpwee menyampaikan kabar tadi kepada umat persilatan, jangan sekali-kali singgung nama boanpwee."

"Lalu mengapa kau beritahukan soal ini kepadaku?"

Tanya ketua sam goan bun dg wajah tertegun.

"Boanpwee tak lain hanya bermaksud membalas budi kebaikan cianpwee yg telah memeliharaku selama delapan belas tahun."

Untuk beberapa saat lamanya ketua Sam goan bun tertegun, tapi segera ujarnya dg suara dingin.

"Apa yg kau sampaikan kepadaku pasti akan kukabarkan kepada segenap umat persilatan, tapi iktikad baikmu itu biar kuterima dalam hati saja, aku tak ingin merebut jasamu, nah sekarang kau boleh turun gunung, biar kuhantar kau sampai dikaki bukit sana."

"Tidak, boanpwee masih ada satu persoalan lagi."

Buru-buru Kho Beng berseru.

"Persoalan apa?"

"Boanpwee ingin bersua dg Thio suhu yg bertugas didapur."

"Sayang kedatanganmu terlambat selangkah...."

Ujar ketua Sam goa bun dingin.

"Apakah Thio suhu telah pergi?"

Tanya Kho Beng tertegun.

"Tidak, Thio bungkuk telah berpulang kealam baka bulan berselang."

Jawaban itu seperti guntur yg membelah bumi disiang hari bolong, hampir saja membuat pemuda itu jatuh pingsan....

Thio bungkuk telah mati?

Baru berpisah setengah tahun ternyata telah terjadi perubahan yg begitu besar dan hebat, hampir saja Kho Beng tak sanggup menahan pukulan batin itu, dia terkejut bercampur sedih.

Dg termangu-mangu diawasinya ketua sam goan bun itu tanpa berkedip, dia tak tahu apaka ucapan tersebut benar-benar telah terjadi?

Ataukah ketua Sam goan bun itu mempunyai maksud serta tujuan lain.

Namun paras muka ketua sam goan bun ini dingin kaku sama sekali tak berperasaan.

Dari sikap tersebut Kho Beng segera mengerti, walaupun dia datang dg maksud membalas budi serta mengutarakan seluruh isi hatinya secara tulus, namun sikap mana bukan saja tidak membuat ketua tersebut terharu bahkan kehadirannya jelas tidak pernah disambut.

Dalam sekejap mata itu pula pelbagai peristiwa lama melintas kembali dalam benaknya, pelbagai kecurigaan pun satu demi satu muncul kembali.

Kho Beng mulai membayangkan kembali kehidupan Thio bungkuk selama belasan tahun terakhir ini yg selalu sehat dan tak pernah sakit, mengapa dia bisa mati secara tiba-tiba ?

Apakah dia telah menemui suatu musibah yg tak terduga?

Kalau kematiannya benar-benar tertimpa musibah, apakah hal ini ada sangkut pautnya dg teka teki sekitar asal usulnya ?

Makin berpikir Kho Beng merasa makin curiga, sehingga tak tahan lagi ia bertanya .

"Dapatkah cianpwee jelaskan sebab-sebab kematian dari suhu bungkuk...?"

"Dia mati karena terserang penyakit gawat."

Jawab ketua Sam goan bun dg suara dingin dan hambar.

"Aku tidak percaya1"

Seru Kho Beng tanpa sadar. Ciangbunjin dari Sam goan bun itu segera mendengus, katanya lagi dg suara dalam.

"Mau percaya atau tidak terserah kepadamu, yg jelas antara diriku dg sibungkuk mempunyai tali persahabatan selama dua puluh tahun lebih, masa aku bakal membunuhnya secara licik?"

Pertanyaan yg diungkapkan ini segera membuat Kho Beng menjadi tertegun dan seketika membungkam ribuan bahasa, oleh karena apa yg ingin diutarakan sudah didahului lawan.

Maka walaupun dihati kecilnya dia menaruh curiga namun tak berani diungkapkan sebab tanpa bukti yg jelas tak mungkin baginya untuk menuduh orang secara sembarangan.

Dalam keadaan begini diapun sadar, bila ketua sam goan bun ini ditegur secara langsung, maka bukan saja tak akan mendatangkan hasil apa-apa malah sebaliknya justru akan menimbulkan bentrokan secara langsung.

Oleh sebab itu berganti nada pembicaraan, dia berkata.

"Maafkan kehilapan boanpwee yg telah berbicara tanpa sadar, maklumlah pikiran dan perasaan boanpwee saat ini amat kalut, tapi......bolehkah cianpwee menunjukkan dimanakah jenasah Thio suhu dimakamkan, agar boanpwee pun dapat berziarah didepan pusaranya sebagai rasa duka citaku kepadanya?"

Dg suara hambar, ketua Sam goan bun berkata.

"Hmmm...coba kalau aku tidak memahami perasaan hatimu sekarang, masa akan kubiarkan kau bertindak seenaknya seperti ini? Pusara si bungkuk berada dibalik huta siong ditebing bukit sana, pergilah seorang diri, tapi aku perlu memperingatkan kepadamu, selanjutnya lebi baik tak usah berkunjung lagi kebukit Cui wi san ini ketimbang mendatangkan rasa muak dan sebal bagiku!"

Sambil berusaha keras mengendalikan kobaran hawa amarah didalam dadanya, cepat-cepat Kho Beng membalikkan badan dan mengundurkan diri dari pintu gerbang, pikirnya dalam hati.

"Hmmmm, coba kalau aku tidak teringat dg budi pemeliharaan selama delapan belas tahun...hari ini juga aku Kho Beng akan membuat kau benar-benar muak dan sebal..."

"Blaaaammm...!"

Terdengar pntu gerbang dibanting keras-keras sehingga tertutup kembali rapat-rapat.

Untuk beberapa waktu lamanya Kho Beng Cuma bisa berdiri termangu-mangu didepan pintu sambil mengawasi papan nama "Sam goan bun"

Yg terpancang didepan pintu itu tanpa berkedip, rasa jengkel, marah, sedih dan benci terus bercampur aduk menjadi satu, sampai-sampai dia sendiripun tak bisa membedakan bagaimanakah perasaan hatinya waktu itu.

Dalam perasaan yg serba kalut dan kacau tak keruan itulah, dia mengitari dinding pekarangan menuju kebelakang perkampungan.

Dibalik perkampungan, terdapat sebuah hutan siong yg rindang serta sinar senja yg semakin redup menciptakan suasana suram disekitar situ.

Sepanjang perjalanan menelusuri hutan, Kho Beng menyaksikan pemandangan alam disana masih seperti semula, padahal apa yg telah dialaminya kini telah berbeda seratus delapan puluh derajat.

Setelah menembusi hutan, terlihatlah sebuah kuburan batu berdiri tegak didepan mata, batu nisan yg berdiri didepan pusara tersebut terteralah beberapa huruf besar yg berbunyi demikian.

"Disinilah diunta sakti berpunggung baja Thio Cio lan beremayam."

Teringat kembali pergaulannya selama delapan belas tahun terakhir serta budi kebaikan yg telah mewariskan ilmu silat kepadanya, Kho Beng tak dapat menahan asa sedihnya lagi, ia segera berlutut didepan pusara dan menangis tersedu-sedu.

Isak tangis yg memedihkan hati bergema diseluruh angkasa, menambah seramnya suasana disitu, sampai lama sekali Kho Beng menangis,, setelah semua rasa kesal dan sedihny terlampiaskan keluar, pelan-pelan kesaarannya baru pulih kembali seperti sedia kala, sekarang dia mulai berpikir bagaimana caranya untuk bertindak menyelidiki sebab-sebab kematian dari thio bungkuk...

Dalam keadaan inilah, mendadak telinganya menangkap suatu suara yg aneh sekali....

Kho Beng sekarang sudah bukan Kho Beng yg dulu, begitu suara aneh tersebut terdengar olenya, dia segera mengerti kalau ada orang sedang mengintip dan mengawasi gerak geriknya.

Waktu itu langit sudah gelap, namun sinar rembulan belum muncul, dalam keadaa terkejut bercampur curiga, Kho Beng segera meningkatkankewaspadaannya untuk menghadapi segala kemungkinan yg tidak diinginkan....

Setelah menyeka air mata yg bercucuran dipipinya, dia membalikkan badan lalu mengangkat kepala seraya membentak.

"Hey, sobat darimana yg sedang mengawasi diriku? Jika kau tidak segera munculkan diri, jangan salahkan Kho Beng menaruh kesalah pahaman kepadamu!"

Benar juga, begitu perkataan tersebut selesai diutarakan, sesosok bayangan manusia segera melayang turun dari atas pohon dg kecepatan tinggi, setelah tiba didepan mata pemuda itu segera mengenalinya sebagai anggota sam goan bun, Nyoo To li Dg perasaan tertegun Kho Beng segera menegur.

"Oooooh..rupanya Nyoo toako...."

Sambil tersenyun Nyoo To li segera menjura, serunya berkata.

"Saudara Kho, baru setengah tahun tak bersua, sungguh tak disangka ketajaman pendengaranmu sudah begitu luar biasa, nampaknya tenaga dalam yg kau miliki telah memperoleh kemajuan yg amat pesat."

"Nyoo toako terlalu memuji,"

Cepat-cepat Kho Beng balas memberi hormat, kini hari sudah gelap, ada urusan apa Nyoo toako bersembunyi diatas pohon?"

Merah jengah selembar wajah Nyoo to li, dia menghela napas panjang.

"Aaaaai...sesungguhnya aku hanya melaksanakan perintah ciangbun suhu untuk melihat, apakah kau sudah pergi atau belum...."

Mendengar keterangan tersebut, Kho Beng segera mengerutkan dahinya rapat-rapat, kemudian tertawa dingin.

"Ooooh...rupanya saudara Nyooo sedang melaksanakan perintah untuk mengawasiku secara diam-diam.."

"Saudara Kho, kau jangan kelewat menaruh salah paham terhadap ciangbun suhu,"

Buru-buru Nyoo To li berseru.

"Sejak kepergianmu suhu tak pernah teringat akan dirimu....."

Sambil tertawa dingin kembali Kho Beng menukas.

"Saudara Nyoo, apa gunanya kau membelai suhu? Dari dulu hingga sekarang bukti dan kenyataan telah terpapar didepan mata, apa gunanya kau berusaha membelai serta menutupinya?"

"Aku berani bersumpah dihadapan Thian, semua perkataanku kuucapkan dg kata yg sejujur-jujurnya."

Seru Nyoo To li dg wajah amat serius.

"Kalau toh saudara Nyoo bersikap begitu jujur kepada siaute, bersediakah kau untuk menjelaskan juga sebab kematian dari suhu bungkuk...!"

Jengek Kho Beng dingin. Sekali lagi Nyoo To li menghela napas panjang.

Baca Juga: Warisan Jenderal Gak Hui 2

Baca Juga: Hina Kelana Balada Kaum Kelana 18

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert