Eps 2 Perkampungan Hantu - Khu Lung
Baca online Perkampungan Hantu - Khu Lung
Cersil Perkampungan Hantu - Khu Lung.
"Kau suka padaku?"
Tanya Siau-hong pula. Kun-hun-sucia hanya mendengus saja.
"Jika tidak pernah jatuh kc bawah, darimana kau tahu aku akan jatuh?"
Ujar .Sian-hong dengan lak acuh.
"Jika engkau tidak suka padaku, mengapa kau piknkan mau hidupku?"
"Hm, baik, kau jalan dulu!"
Jengek Kun-hun-sucia.
"Hendak kau saksikan aku jatuh ke bawah dari belakang?"
Tanya Siau-hong.
"Kesempatan menonton cara begini sangat sedikit, sayang jika kusia-siakan tontonan menarik ini."
Kembali Siau-hong tertawa, katanya.
"Namun sekali ini kutanggung engkau pasti akan kecelik."
Kawat baja itu memang benar sangat licin, angin juga meniup dengan kencang.
Orang yang berjalan di atas jembatan kawat demikian serupa api lilin yang bergoyang-gontai tertiup angin.
Sejauh mata memandang sekeliling hanya awan melulu yang mengapung di udara dan bergerak perlahan, seluruh jagat raya ini seakan-akan bergerak di udara, memang tidak gampang jika ingin berjalan tenang dan mantap di atas kawat baja ini.
Tapi sesuatu yang tidak mudah dilakukan justru semakin menarik bagi Liok Siau-hong.
Jalannya tidak cepat, sebab cepat terlebih gampang daripada lambat.
Dia sengaja berjalan dengan lambat, seperti seorang sedang berjalan mencari angin di tanah lapang.
Tentu saja Kau-hun-sucia terpaksa harus mengikut dari belakang dengan perlahan dan hal ini semakin menambah rasa senang Liok Siau-hong.
Angin menghembus lewat di bawah selangkangannya, gumpalan awan melayang lewat di sekitarnya, tiba-tiba dirasakannya tiada sesuatu di dunia ini yang perlu dirasakannya, umpama benar dia terjatuh ke bawah juga tidak menjadi soal baginya.
Dia tidak mahir menyanyi, suaranya juga serak seperti suara burung gagak, tapi sekarang dia jadi ingin menyanyi.
Mendadak terdengar suara angin mendesir, sesosok bayangan lewat di atas kepalanya, seorang hinggap di depannya.
Siapa lagi kalau bukan si 'muka rata' alias tidak punya muka.
Siau-hong menyengir.
"Nyanyianku tidak enak didengar? "
Huh, itu bukan bernyanyi, tapi kerbau menguak, jengek Kun-hun-sucia.
"Hahaha, jadi kau pun ada kalanya tidak tahan, haha, bagus, bagus sekali!"
Seru Siau-hong dengan terbahak. Kembali ia menyanyi dengan suara keras, sudah barang tentu suaranya tetap serak basah. Kau-hun-sucia memandangnya dengan dingin tiba-tiba ia bertanya.
"Kau Liok Siau-hong?"
"He, kenapa segera dapat kau kenali diriku setelah aku bernyanyi? Memangnya suara nyanyianku lebih tenar daripada namaku?"
"Jadi benar kau Liok Siau-hong?"
Kembali Kau-hun-sucia menegas.
"Kecuali Liok Siau-hong, siapa pula yang punya suara tenor ini?"
Ujar Siau-hong dengan lagak biduan besar.
"Dan kau tahu siapa diriku?"
Tanya Kau-hun-sucia.
"Tidak tahu,"
Sahut Siau-hong. Lalu ia menambahkan dengan tartawa.
"Meski di dunia cukup banyak orang yang tidak punya muka, tapi tidak ada seorang pun yang berbuat setuntas dan terang seperti dirimu."
Sorot mata Kau-hun-sucia membara pula, mendadak ia mencabut sebuah tusuk kundai kayu hitam dari gelung rambutnya terus menusuk ke muka Liok Siau-hong.
Gerak tangannya tidak istimewa, jurus serangannya juga biasa, tapi cepat luar biasa.
Siau-hong tidak sempat mengelak, untuk mundur juga tidak bisa, terpaksa ia angkat tangan dan hendak menjepit senjata orang dengan dua jari.
Inilah kungfu yang tidak ada bandingannya dan tidak pernah meleset andalan Liok Siau-hong, tapi sekali ini dia justru meleset.
Tusuk kundai kayu hitam yang biasa itu mendadak seperti berubah menjadi dua dan tetap menusuk matanya secepat kilat.
Jika di tanah datar, serangan ini tentu juga dapat dihindarkan Liok Siau-hong, tapi sekarang dia berdiri di atas kawat baja yang licin dan terapung di udara.
Waktu dia menggeliat, berdirinya menjadi goyah, mendadak ia terjungkal ke bawah.
Apabila manusia jatuh ke dalam jurang tentu akan berubah menjadi bergedel.
Tapi dia tidak jadi bcrgedel.
Waktu Kau-hun-sucia menunduk, tertampak sebelah kaki menggantol pada kawat baja, Siau-hong tergantung bagai baju jemuran dan bergoyang-goyang tertiup angin.
Sudah begitu, dia malah juga tidak gugup dan takut, malahan dia merasa senang dan bernyanyi pula.
"Goyang, goyang, ayo di goyang, goyang sampai seberang..."
Dia tidak meneruskan, sebab dia lupa syair lagu lanjutannya.
"Tampaknya kau benar-benar Liok Siau-hong adanya."
Kata Kau-hun-sucia.
"Maka sekarang aku masih Liok Siau-hong, tapi sebentar lagi bukan mustahil akan berubah menjadi Liok bergedel"
Ujar Siau Hong.
"Sungguh kau tidak takut mati?"
"Tidak betul,"
Jawab Siau-hong.
"berr" , seperti kitiran, tahu-tahu tubuhnya berputar ke atas dan berdiri tegak lagi di atas kawat baja. Lalu berucap dengan tersenyum, Tampaknya kau pun tidak sungguh-sungguh hendak mematikan aku."
"Hm, aku cuma ingin kau tahu sesuatu,"
Jengek Kau-hun-sucia.
"Oo, urusan apa?"
Tanya Siau-hong. Pandangan Kau-hun-sucia tampak jalang pula, ucapnya sekata demi sekata.
"Supaya kau tahu, pedang Sebun Jui-soat bukan pedang kilat yang tidak ada bandingannya di dunia ini, aku bisa lebih cepat daripada dia."
Sekali ini Liok Siau-hong tidak tertawa, tiba-tiba sorot matanya menampilkan semacam perasaan yang sangat aneh, tanyanya sambil menatap orang.
"Sesungguhnya siapa kau?"
"Seorang yang tidak punya muka,"
Jawab Kau-hun-sucia.
Karena tidak punya muka, dengan sendirinya tidak terlihat sesuatu perasaan pada wajahnya.
Akan tetapi suaranya tiba-tiba terdengar seperti membawa semacam rasa duka nestapa yang sukar dijelaskan.
Selagi Siau-hong hendak bertanya, mendadak si muka rata melayang pergi seperti burung, dalam sekejap saja sudah menghilang di tangah lautan awan.
Bab 4.
Liok-koangkoan, akhirnya Liok siau-hong punya rumah.
Published by Hiu_Khu on 2008/1/8 (297 reads) Siau-hong berdiri termangu di tengah awan dan entah apa yang sedang dipikirkannya.
Selang agak lama barulah ia mulai melangkah ke depan dan akhirnya mencapai seberang sana.
Dilihatnya di depan puncak tebing itu ada seutas benang merah yang terikat melintang pada dua batang galah bambu.
Di kejauhan ada seorang mendengus padanya.
"Bila kau terjang benang mati-hidup ini, maka jadilah kau orang mati. Makanya boleh kau pikirkan lagi, akan tetap menyeberang ke sini atau putar balik ke sana."
Dalam hati Siau-hong juga bertanya-tanya kepada diri sendiri.
"Terjang ke sana atau putar balik?"
Menerjang ke sana berarti orang mati, kalau putar balik mungkin juga Cuma ada jalan kematian. Tiba-tiba Siau-hong tertawa, gumamnya.
"Terkadang timbul hasratku untuk mati, tapi tidak pernah mati. Tak tersangka hari ini aku dapat mati dengan semudah ini."
Dengan tersenyum ia lantas melangkah ke seberang dengan gaya yang santai, memasuki dunia lain yang sebelumnya tidak pernah dibayangkannya.
Dunianya orang mati.
Sejauh mata memandang, tetap awan melulu, hampa dan tiada terlihat apapun, sampai Kau-hun-sucia tadi juga entah berada dimana, juga Tokko Bi entah pergi kemana.
Sesungguhnya tempat apa ini?
Dengan membusungkan dada, segera Liok Siau-hong melangkah ke depan, malahan mulutnya juga tidak mau menganggur, ia bernyanyi pula.
"Goyang digoyang, ooi, sampai di seberang, ooi ...." ' Belum rampung bernyanyi, mendadak dari samping sana ada suara orang meratap.
"O, kasihilah diriku, ampun!"
Suara ratapan itu berkumandang dari sebuah rumah gubuk kecil.
Gubuk berwarna putih kelabu, berada di tengah remang awan begini perlu mengamat-amatinya dengan cermat baru dapat menemukan gubuk sekecil ini Akhirnya Siau-hong dapat melihat, namun cuma gubuk itu yang terlihai dan tidak melihat orang.
Suara rintihan itu belum lagi berhenti, maka Siau-hong lantas bertanya.
"Apakah engkau terluka?"
"Aku tidak terluka, tapi hampir mati,"
Jawab orang itu suasana perempuan muda.
"Hampir mati oleh karena nyanyianmu."
"Jika engkau sudah berada di sini, dengan sendirinya kau pun orang mati, apa alangannya bila mati sekali lagi?"
Ujar Siau-hong.
"Nyanyianmu itu, setan hidup saja tidak tahan, apalagi orang mati?"
Maka tergelaklah Liok Siau-hong. Suara di dalam gubuk itu bertanya pula.
"Apakah kau tahu siapa yang menolong kau tadi?"
"Apakah engkau?"
"Tepat, memang aku,"
Tiba-tiba suara tertawanya kedengaran sangat manis.
"Aku she Yap bernama Ling. Orang lain suka memanggilku Siau-yap (Yap cilik)."
"Ehm, nama yang bagus,"
Puji Siau-hong.
"Namaku juga tidak jelek. Cuma aku tidak mengerti, lelaki besar mengapa bernama Siau-hong-hong segala."
Siau-hong menyengir, jawabnya.
"Namaku Liok Siau-hung dan bukan Siau-hong-hong."
"Memangnya apa bedanya?"
"Hong-hong kan sepasang dan bukan seekor, Hong yang satu jantan, Hong yang lain betina."
Perlahan Siau-hong melangkah ke sana, mendadak suasana dalam rumah menjadi hening, selang agak lama baru terdengar Yap Ling menghela napas perlahan dan berkata.
"Diriku tidak lebih cuma sehelai yap (daun) kecil saja, bukan sepasang, juga tidak tahu apakah jantan atau betina?"
"Untuk ini kukira tidak perlu kau kuatir."
Ujar Siau-hong.
"Kujamin, cukup kupandang sekejap saja segera dapat kubedakan apakah kau ini jantan atau betina."
Mendadak ia menolak pintu dan menyelinap ke dalam.
Dipandang dari luar, gubuk itu memang teramat kecil, sesudah di dalam, rasanya terlebih sempit lagi seperti rumah burung merpati.
Namun meski kecil burung merpati, isi perutnya juga komplit.
Gubuk .nipun serupa rumah orang lam.
lengkap dengan segala pe rabotnya, malahan juga tersedia sebuah 'Be-thang' bercat merah, yaitu tong kayu tempat membuang hajat atau sejenis kloset yang dikenal zaman sekarang.
Siau-hong berminat terhadap 'Be-thang' itu, tapi sekarang dia justru memperhatikan tempat berak itu.
Sebab pada waktu dia masuk ke gubuk ini, dilihatnya seorang nona cilik berbaju merah justru lagi nongkrong di atas 'Be-thang' itu.
Kalau orang berak sedikitnya celana harus dipelorotkan ke bawah, tapi nona cilik itu duduk di atas 'Be-thang' dengan pakaian rapi, malahan melototi kedatangan Siau-hong dengan mata terbelalak.
Muka Siau-hong menjadi merah sendiri.
Apapun juga, jika seorang anak perempuan sedang nongkrong di atas kloset, kan tidak pantas tempat itu dimasuki seorang lelaki.
Tapi dia sudah kadung masuk ke situ, jika lari keluar lagi bisa tambah tidak enak?
Orang salah biasanya suka main gertak dulu, maka Siau-hong juga lantas menegur dengan tertawa.
"Memangnya engkau biasa menerima tamu sambil nongkrong di atas 'Be-thang'?"
Nona yang mengaku bernama Yap Ling itu menggeleng kepala, jawabnya.
"Hanya dalam dua macam keadaan barulah kududuk di atas 'Be-thang'."
Keadaan yang satu itu tentu tidak perlu ditanyakan lagi, sebab hal itu pasti dilakukan oleh setiap manusia.
Lantas apa keadaan semacam lagi?
"Yaitu bilamana dari 'Be-thang' ini ada barang akan menerobos keluar,"
Tutur Yap Ling. Maka Siau-hong tidak jadi tcrtawa lagi, memangnya selain bau busuk, barang apa yang bisa menerobos keluar dari tong kotoran itu? "Apakah kau ingin melihat apa isi tong ini?"
Tanya Yap Ling. Cepat Siau-hong menggoyang kepala clan menjawab.
"Tidak."
"Tetapi sayang, biarpun tidak ingin melihat tetap harus kau lihat.
"Mengapa begitu?"
Tanya Siau-hong.
"Sebab barang di dalam tong ini akan kuberikan padamu."
"Jika aku tidak mau, apa tidak boleh?"
"Tentu saja tidak boleh,"
Ujar Yap Ling.
Ketika melihat nona itu berdiri dan hendak membuka tutup be-thang, hampir saja Siau-hong kabur sambil memencet hidung.
Tapi dia tidak jadi kabur, sebab bau be-thang ternyata tidak busuk, sebaliknya malah sangat harum.
Bersama dengan tersiarnya bau harum, serentak terbang pula sepasang burung seriti dan sepasang kupu-kupu.
Baru saja burung seriti dan kupu-kupu terbang keluar melalui jendela kecil, seperti main sulap saja.
Yap Ling lantas mengeluarkan pula seperangkat pakaian baru, sepasang sepatu halus dengan gulungan kaos kaki, sebotol arak, sepasang cawan, dua pasang sumpit, sebuah kuali, sebuah senduk dan beberapa biji bakpau, akhirnya ada lagi seikat bunga segar.
Siau-hong sampai melongo.
Siapa pun tidak mengira dari dalam tong tempat membuang hajat itu bisa dikeluarkan barang sebanyak itu.
"Burung dan kupu-kupu adalah tanda selamat datang kepadamu."
Tutur Yap Ling.
"Pakaian dan sepatu tentu cocok dengan ukur-anmu. Arak adalah Tiok-yap-jing simpanan lama, isi kuali adalah ayam tim, bakpau juga baru keluar dari kukusan."
Lalu ia menengadah dan memandang Liok Siau-hong, sambungnya pula dengan hambar.
"Apakah kau senang kepada semuanya ini?"
Liok Siau-hong menarik napas, jawabnya.
"Senangku setengah mati."
"Kau mau?"
Yap Ling menegas.
"Kunyuk yang tidak mau,"
Sahut Siau-hong.
Maka tertawalah Yap Ling, tertawa manis serupa madu, seindah bunga, serupa juga rase cilik yang bisa bikin celaka orang dan luga lengket memikat orang.
Siau-hong memandangnya, ia menghela napas pula dan berucap.
"Engkau ini betina, tidak pcrlu diragukan past, betina. Waktu Yap Ling memasukkan bunga segar tad. pada pot bunga, arak juga mula, masuk ke perut Liok Siau-hong. Memandangi Tiok-yap-jing yang tidak mudah dibeli itu tertuang ke dalam perut Siau-hong seperti menuang air, tampaknya si Yap cilik tidak merasa heran, sebaliknya ia merasa sayang. Tiba-tiba ia berucap dengan menyesal.
"Hanya ada satu hal yang tidak benar."
Siau-hong tidak tahu apa yang dimaksudkan. Maka Yap Ling memberi penjelasan.
"Ada orang bilang dirimu ini baik kecerdikan, kungfu, kekuatan minum arak, tebalnya kulit muka dan kesukaanmu kepada perempuan, semuanya jarang ada bandingannya."
Siau-hong menaruh botol arak yang sudah kosong itu, katanya dengan tertawa.
"Sekarang kan sudah kau saksikan kekuatan minum arakku."
"Ya, aku pun sudah menyaksikan kungfumu,"
Tukas Yap Ling.
"Tadi engkau tidak terjatuh ke dalam jurang, betapapun aku kagum padamu."
"Tapi aku tidak gila perempuan, orang salah menafsirkan hal ini,"
Sambung Siau-hong.
"Hal ini juga tidak salah,"
Kata Yap Ling. Siau-hong marah.
"Apakah pernah aku bertindak kasar padamu?"
"Tidak?"
Jawab Yap Ling.
"Sampai sekarang memang belum. tapi pada waktu kau lihat diriku, kedua matamu lantas ...."
Cepat Siau-hong memotong ucapannya.
"Dalam hal apa yang kau maksudkan tidak benar?"
"Mengenai kulit mukamu,"
Ujar Yap Ling dengan tertawa.
"Kulit mukamu ternyata tidak terlalu tebal, sebab kulihat mukamu juga bisa merah."
"Musti kau kira selama hidupku mukaku tidak pernah merah? Apakah .semua keterangan orang itu kau percaya sepenuhnya?"
Yap Ling berkedip-kedip, lalu balas bertanya.
"Apakah kau tahu berita ini kudengar dari siapa?"
"Siapa?"tanya Siau Hong.
"Lau-to-pocu,"
Jawab Yap-ling. Orang inilah dengan namanya ingin diketahui Liok Siau-hong. mengapa orang ini mempunyai daya pikat sebesar ini? Ia coba bertanya.
"Apakah dia pemimpin kalian?"
"Bukan saja pemimpin kami, juga juragan kami, bapak kami."
"Sesungguhnya orang macam apakah dia?"
"Seorang yang dianggap sebagai bapak secara sukarela oleh orang banyak, boleh kau bayangkan seharusnya dia orang. macam apa?"
"Aku tidak tahu, selama ini tidak ada orang yang sukarela mau menjadi anakku, selama ini aku pun tidak mau menjadi anak orang lain,"
Ujar Siau-hong.
"Masa cuma ingin kau tahu nama dan asal-usulnya saja?"
Siau-hong tidak dapat menyangkal.
"Ya. itulah yang ingin kuketahui."
"Jika benar ini tujuanmu, mungkin jiwamu benar-benar bisa melayang,"
Mendadak sikap Yap Ling berubah kereng.
"Bila kau ingin tinggal dengan baik di sini, maka sebaiknya jangan sekali-kali kau cari tahu seluk-beluk orang lain, kalau tidak ...."
"Kalau tidak bagaimana?"
Tanya Siau-hong.
"Kalau tidak, biarpun kungfumu seratus kali lebih tinggi lagi juga setiap saat engkau dapat hilang."
"Hilang?"
Siau-hong menegas.
"Artinya hilang adalah dirimu bisa mendadak tidak kelihatan lagi, di dunia ini pasti tidak ada yang tahu kemana kepergianmu."
"Di sini sering terjadi orang hilang?' "Sangat sering."
Siau-hong menghela napas.
"Tadinya kusangka di sini sangat aman dan tertib."
"Di sini memang sangat tertib, ada tiga tertib.
"Ketiga tertib apa?"
Tanya Siau-hong. 'Tidak boleh mencari tahu seluk-beluk orang lain, dilarang membikin marah kepada Lau-pacu, lebih-lebih dilarang membangkang perintahnya.
"Apa yang dia perintahkan juga harus kulaksanakan?"
Yap Ling mengangguk.
"Ya, sekalipun dia suruh kau makan najis juga harus kau makan."
Siau-hong cuma menyengir saja. Yap Ling bertanya pula.
"Kau tahu sebab apa kudatang kemari dan memberitahukan semua ini kepadamu?"
Tertawa Siau-hong berubah menjadi cerah, katanya.
"Dengan sendirinya lantaran kau suka kepadaku."
Yap Ling jadi tertawa juga.
"Tampaknya dia memang benar, kulit mukamu memang sangat tebal, mungkin tidak mempan ditusuk pisau."
Dia tertawa seindah bunga, semanis madu, lalu menyambung pula dengan perlahan.
"Tapi awas, jika kau langgar peraturanku, bisa kubeset kulit mukamu untuk kujadikan sandal."
Mau tak mau Siau-hong menyengir pula.
"Sedikitnya kan harus kau beritahu kepadaku apa peraturanmu?"
"Hanya ada dua peraturanku,"
Tutur Yap Ling.
"Jangan merecoki Yap besar dan jangan membiarkan orang perempun masuk ke Liok-kongkoan (kantor Liok)."
"Yap besar juga seorang manusia?"
"Yap besar adalah kakak Yap cilik, Liok-kongkoan adalah tempat kediaman Liok Siau-hong?".
"Dimana letak Liok-koangkoan?"
Tanya Siau-hong.
"Di sini,"
Jawab Yap Ling sambil menunjuk lantai gubuk ini. Lalu dia menambahkan.
"Mulai saat ini tempat inilah rumahmu, malam hari tidur di sini, siang hari sebaiknya juga berdiam saja di sini. Setiap saat bisa kudatang mengontrol dirimu."
Siau-hong tertawa pula, tertawa yang aneh. Seketika Yap Ling mendelik.
"Kau berani menertawakan diriku.'"
"Aku tidak menertawai dirimu, aku menertawakan diriku,"
Jawab Siau-hong dengan tetawa aneh, tertawa yang mengandung rasa pedih "Aku sudah hidup 30 tahun, baru pertama kali ini aku mempunyai rumah sendiri dan kamar tidur sendiri ...."
Dia tidak meneruskan, sebab mulutnya mendadak terkancing oleh bibir Yap Ling, bibir yang terasa halus, lunak dan dingin.
Bibir kedua orang hanya berkecupan perlahan saja, mendadak kepala si nona tepat mengenjot perut Liok Siau-hong, pukulan keras lagi berat.
Sampai menungging Liok Siau-hong sambil memegang, perutnya yang tertonjok itu, sebaliknya Yap Ling mengikik tawa dan ber-lari pergi.
"Ingat, perempuan mana pun dilarang masuk ke sini"
Terdengar suara Yap Ling berkumandang dari luar.
"Lebih-lebih Hoa-kuahu Janda Hoa, selangkah pun tidak boleh menginjak tempat ini."
"Orang apa Hoa-kuahu?"
Tanya Siau Hong.
"Dia bukan orang melainkan anjing betina, anjing betina pemakan manusia."
Liok Siau-hong mempunyai empat alis, tapi cuma punya satu tangan.
Dengan tangan kiri ia gosok-gosok perutnya yang kena genjot, dengan tangan kanan ia raba bibir yang dikecup tadi.
Air mukanya entah lagi menangis atau tertawa?
Mungkin menyengir!
Bab 5.
Teman pertama Published by Hiu_Khu on 2008/1/9 (399 reads) Dan begitulah, secara tidak jelas apa sebabnya dari orang hidup ia telah berubah menjadi 'orang mati', secara tidak jelas duduknya perkara ia pun mendapatkan sebuah rumah.
Dia masih punya kaki, tapi tempat mana pun tidak dapat didatangi.
Tahu-tahu dia sudah tertidur dan mulai bermimpi, mimpi dirinya terbungkus oleh sehelai daun besar yang dingin, lalu melihat seekor anjing betina budukan sedang menggerogoti tulangnya, sampai suara menggerogotnya terdengar dengan jelas.
Dan segera dapat dilihatnya di dalam rumahnya benar-benar ada seorang sedang menggerogoti tulang.
Tapi bukan tulangnya, melainkan tulang ayam.
Yang duduk sambil menggerogoti tulang ayam itu juga bukan anjing betina melainkan satu orang.
Begitu Siau-hong mendusin, segera orang itupun merasa waswas, serupa kewaspadaan seekor binatang buas.
Orang itu berpaling dan menatap Liok Siau-hong, sorot matanya penuh rasa permusuhan.
Namun mulutnya tetap menggerogoti tulang ayam.
Siau-hong tidak pernah merlihat orang berminat sebesar ini terhadap tulang ayam, juga tidak pernah melihat orang sekurus ini.
Pada hakikatnya daging pada tubuh orang ini pasti lebih banyak daripada daging tulang ayam yang digerogotinya itu.
Namun pakaiannya justru sangat perlente, sama sekali tiada tanda-tanda seorang miskin yang perlu menggerogoti tulang ayam.
Hanya pengemis yang mau menggerogoti tulang ayam.
Siau-hong coba menegur.
"He, apakah kau sakit?"
"Kau sendiri sakit!"
Semprot orang itu hingga tulang ayam yang berada dalam mulut tersembur keluar memenuhi lantai, terunjuk barisan giginya yang putih, ia menatap Siau-hong dengan benci.
"Kau kira aku sakit apa? Sakit lapar?"
Damprat pula orang itu.
"Masa engkau tidak lapar?"
Tanya Siau-hong.
"Kenapa aku lapar? setiap hari aku makan tiga kali, belum lagi ditambah jajan sekian kali."
"Apa yang kau makan?"
"Nasi, mi, daging, ikan, sayur, apa yang dapat kumakan sudah kumakan."
"Dan apa yang kau makan hari ini? "
Pagi tadi kumakan bubur ayam yang sedap.
Siang tadi kumakan masakan ala utara, ada Ang-sio-ti-te (kaki babi), ada bebek Peking, ada kuah tahu masak kepala ikan, ada udang goreng kailan, ada burung dara goreng dan banyak lagi."
Siau Hong tertawa.
"Kau tidak percaya?"
Orang itu mendelik.
"Aku cuma heran,"
Kata Siau-hong.
"seorang yang mengaku biasa makan serba enak, mengapa perlu menyusup ke rumah orang untuk menggerogoti tulang ayam."
"Sebab aku suka,"
Kala orang itu. Siau-hong tcrtawa pula.
"Asalkan kau suka, selanjutnya jika di tempatku ada tulang ayam, setiap saat kusambut kedatanganmu dengan senang hati."
Tapi sorot mata orang itu berbalik menampilkan rasa curiga, tanyanya.
"Kau sambut kedatanganku dengan senang hati? Sebab apa?"
"Sebab untuk pertama kalinya aku punya rumah, sebab engkau tamu pertama rumahku, sebab aku suka berkawan."
Tapi orang itu tambah beringas dan berteriak.
"Aku bukan kawanmu."
"Sekarang mungkin bukan, selanjutnya tentu."
Meski orang itu masih menatapnya dengan tajam, tapi sikapnya mulai tenang.
Siapa pun harus mengakui bahwa biasanya Liok Siau-hong sangat pintar bergaul, semua sahabatnya juga sangat suka padanya.
Baik sahabat lelaki maupun kawan perempuan.
Siau-hong sudah bangun dan berduduk, tiba-tiba ia berkata pula dengan menyesal.
"Sayang di sini tidak ada arak lagi, kalau tidak, tentu kuminum dua cawan bersamamu."
Sorot mata orang itu seketika mencorong terang.
"Kalau tidak ada arak lagi, kenapa tidak kau cari keluar?"
"Belum ada setengah hari kudatang kemari, tempat ini belum hapal bagiku,"
Tutur Siau-hong. 'Tapi dapat kujamin, tidak sampai tiga hari, apapun yang ingin kau minum pasti dapat kusuguhkan."
Kembali orang itu menatapnya sekian lama, akhirnya meng-heia napas, segala rasa was-was juga lantas mengendor, ucapnya.
"Aku adalah Yu-hun (arwah gentayangan), bisa jadi setiap saat kumasuk ke sini dan benar-benar tidak menjadi soal bagimu?"
"Tidak, pasti tidak,"
Jawab Siau-hong.
Persahabatan memang tidak menjadi soal baginya.
Sering pada tengah malam buta dia menyeret teman dari kolong selimutnya untuk diajak minum arak.
Dan temannya tidak pernah memusingkan tindakannya itu.
Sebab semua teman tahu bilamana orang lain tengah malam buta mencari dia, sama sekali dia udak marah, sebaliknya kegirangan setengah mati.
Sementara itu han sudah mulai gelap, angin malam membawa kumandang suara genta.
"Itulah genta tanda makan malam."
Kala orang yang mengaku sebagai Yu-hun atau arwah gentayangan itu. Siau-hong tidak paham, maka Yu-hun memberi penjelasan pula.
"Genta tanda makan malam artinya semua orang harus berkumpul dan makan bersama di ruangan pendopo."
"Setiap orang harus hadir?"
Tanya Siau-hong.
"Ya,"
Yu-hun mengagguk.
"Setiap hari begitu?"
"Tidak, setiap bulan paling-paling cuma empat-lima kali."
"Dalam waktu bagaimana?"
"Ce-it Cap-go (tanggal satu bulan lima belas) dan hari besi, atau kalau kedatangan orang ternama."
Lalu dia mengamat-amati Liok Siau-hong dari atas ke bawah dan sebaliknya, kemudian berucap pula.
"Kau pasti juga orang ternama, apakah engkau Liok Siau-hong yang beralis empat itu?"
Siau-hong menyengir.
"Tapi sayang Liok Siau-hong sekali ini bukan Liok Siau-hong yang dulu itu."
Yu-hun hendak bicara pula, tapi urung, mendadak ia berhari kit dan berkata.
"Segera akan datang orang membawamu ke ruangan makan, aku harus pergi, sebaiknya jangan kau katakan kepada orans lain tentang kedatanganku ke sini."
Siau-hong tidak bertanya apa sebabnya.
Maklum, bilamana orang lain minta tolong kepadanya, jika dia menyanggupi, selamanya ia tidak pernah tanya sebab musababnya.
Justru lantaran inilah maka pantas dia mempunyai banyak sahabat.
Agaknya Yu-hun juga sangat puas terhadap hal ini, tiba-tiba ia mendesis pula.
"Setiba di ruangan makan nanti, mereka pasti akan memberi hajar adat padamu."
"Oo?!"
Siau-hong melengak.
"Kau tahu, orang di sini sedikitnya ada separohnya orang gila, satu-satunya hobi mereka adalah memperlakukan orang lain dengan sadis,"
Tutur Yu hun.
"Mereka suka melihat orang tersiksa, malahan ada enam tujuh orang di antaranya terlebih gila lagi."
"Siapa siapa saja?"
Tanya Siau-hong.
"Seorang bernama Koan keh-po (nenek pengurus rumah tangga), seorang lagi disebut Tayciang-kun (panglima besar), seorang dipanggil Piauko (kakak misan), seorang bernama Kaucu (si kait). Hanya sempat nama empat orang disebutnya lalu ia melayang pergi. Padahal jendela rumah sangat kecil, tapi sekali tangannya menahan ambang jendela, segera orangnya menerobos keluar. Tampaknya bukan cuma Ginkangnya tinggi, dia juga mahir Sok-kut-kang atau ilmu menyusutkan tulang. Kedua macam kungfu itu adalah kungfu andalan Sukong Ti-seng? Apakah orang ini ada hubungan dengan Sukong Ti-seng. Bab 6. Si Anjing Published by Hiu_Khu on 2008/1/14 (302 reads) Siau-hong tidak sempat berpikir, sebab didengarnya di luar ada suara kaki yang sangat perlahan. Hanya telapak kaki yang berkulit tebal seperti harimau atau singa saja yang dapat berjalan tanpa menimbulkan suara keras. Biasanya juga cuma orang Kangouw ulung yang punya Ginkang tinggi saja yang dapat berjalan seringan binatang buas semacam ini. Di perkampungan hantu ini masa juga terdapat tokoh sehebat ini? Selagi Siau-hong tercengang, segera terdengar suara pintu diketuk, sungguh ia ingin tahu siapakah pendatang ini, bagaimana bentuknya? Maka cepat ia membuka pintu. Sesudah pintu terbuka, ia jadi melongo. Yang mengetuk pintu ternyata memang bukan manusia melainkan benar-benar seekor binatang yang bertelapak kaki tebal. Seekor anjing. Anjing hitam mulus, hitam gilap sehingga di tengah malam gelap serupa seekor harimau kumbang. Namun anjing ini tidak buas terhadap manusia, jelas anjing yang telah terlatih dengan baik sehingga sudah lenyap rasa permusuhannya terhadap manusia. Anjing ini tidak menyalak, sebab pada mulutnya menggigit sehelai kertas. Di atas kertas hanya tertulis empat huruf yang berbunyi;
"Silakan ikut padaku!"
Kiranya anjing inilah yang datang mengundang Liok Siau-hong makan malam.
Siau-hong tertawa.
Apapun juga, kalau dapat makan nasi kan juga urusan yang menggembirakan.
Lebih-lebih sekarang, sungguh dia sangat menghendaki makan malam yang enak.
Ang-sio-ti-te, bebek Peking, udang cah kailan ....
Bilamana teringat nama-nama santapan yang disebut Yu-hun tadi, hampir saja ia menitikkan air liur.
Anjing itu sedang menggoyang ekor padanya, ia pun membelai kepala anjing itu, katanya dengan tersenyum.
"Kau tahu, aku lebih suka mendapatkan petunjuk jalan seperti kau, sebab anjing di sini sesungguhnya lebih menyenangkan daripada manusianya."
Malam tambah gelap, kabut juga tebal, meski di tengah kabut terkadang juga nampak beberapa titik cahaya api, tapi makin menambah seram suasana yang gelap.
Anjing hitam berjalan di depan dan Siau-hong mengikut dari belakang.
Waktu pandangannya sudah terbiasa dalam kegelapan baru diketahui dirinya sedang berjalan di suatu jalan kecil yang berliku-liku.
Pada kedua tepi jalan tumbuh beraneka macam pohon, ada juga bunga dan rumput yang tidak dikenal namanya.
Pada waktu sang surya memancarkan cahayanya dengan gemilang, lembah pegunungan ini pasti sangat permai.
Akan tetapi di lembah pegunungan ini apakah juga pernah disinari oleh cahaya matahari?
Tiba-tiba Siau-hong merasakan yang benar-benar sangat ingin dilihatnya bukanlah Ang-sio-ti-te yang lezat, melainkan cahaya matahari.
Cahaya yang dapat menghangatkan badan dan membangkitkan semangat.
Seperti orang lain umumnya, dia juga pernah mengutuki smai matahari, yaitu bilamana sinar sang surya sedang memancar dengan teriknya sehingga dia mandi keringat dengan napas terengah, maka dia lantas mencaci-maki sinar matahari yang tidak kenal ampun itu Akan tetapi yang sangat diharapkannya sekarang justru sinar matahari semacam itu.
Banyak urusan di dunia memang begitu, hanya pada waktu engkau kehilangan dia barulah kau tahu betapa berharganya dia.
Tanpa terasa Siau-hong menghela napas, tiba-tiba didengarnya di tempat dekat juga ada orang menghela napas, malahan seorang lantas berkata.
"Liok Siau-hong, kutahu akan kedatanganmu, maka sudah kutunggu kedatanganmu di sini."
Tempat ini adalah Yu-leng-san-ceng, perkampungan arwah, dalam kegelapan entah bersembunyi betapa banyak badan halus, suara orang ini juga serupa hantu yang mengambang dan sukar dilihat.
Tangan Siau-hong sampai berkeringat dingin.
Jelas didengarnya orang yang bicara itu berada di dekatnya, tapi justru tidak terlihat sesosok bayangan apapun.
"Tak dapat kau lihat diriku,"
Suara tadi bergema pula.
"bilamana setan hendak menagih nyawa betapapun takkan dapat dilihat ofang."
"Memangnya aku berhutang jiwa padamu?"
Siau-hong coba bertanya.
"Ya,"
Sahut suara itu.
"Jiwa siapa?"
"Jiwaku."
"Siapa engkau?"
"Aku si jenggot biru yang mati di tanganmu itu."
Siau-hong tertawa, bergelak tertawa.
Seorang kalau kelewat tegang, terkadang juga bisa tertawa secara aneh.
Meski keras suara tertawa Siau-hong, tapi sangat singkat.
Sebab tiba-tiba diketahuinya yang bicara padanya bukanlah manusia, juga bukan setan, tapi anjing hitam tadi.
Anjing hitam yang semula berjalan di depan sekarang telah berpaling ke sini dan sedang melotot padanya dengan sinar mata "Akulah si jenggot biru yang mati di tanganmu."
Ucapan ini juga keluar dari mulutanjing itu.
Sungguh aneh, anjing masa bisa bicara?
Apakah roh si jenggot biru telah hinggap di badan anjing hitam ini?
Betapa besar nyali Liok Siau-hong tidak urung juga merinding.
Pada saat itulah anjing hitam lantas meraung dan menubruknya.
Selagi Siau-hong hendak mencengkeram kaki anjing, siapa tahu dari perut anjing mendadak terjulur sebuah tangan.
Tangan manusia yang berpisau, sekali bergerak, pisau menyambar ke depan, mengincar perut Siau-hong.
Serangan ini sungguh jauh di luar dugaan, berapa orang yang sanggup menghindarkan serangan tak terduga ini.
Tapi sedikitnya ada satu orang.
Mendadak perut Siau-hong mendekuk, secepat kilat kedua jarinya menjepit dan tepat mata pisau terjepit olehnya.
Pada saat itu juga anjing hitam tadi lantas melompat ke udara lantas melayang jauh ke belakang, hanya sekejap saja lantas menghilang dalam kegelapan.
Siau-hong memandang kegelapan di kejauhan sana, lalu memandang pisau yang masih dipegangnya dan menyengir sendiri.
Sungguh rasanya seperti dalam mimpi, tapi justru kejadian nyata.
Di Yu-leng-san-ceng yang serupa alam mimpi ini, sesuatu peristiwa memang sukar dibedakan dengan jelas apakah terjadi dalam mimpi atau terjadi benar-benar.
Cuma satu hal lantas dimengerti lagi oleh Liok Siau-hong, yaitu.
"Anjing di sini toh tidak lebih menyenangkan daripada manusia."
Bab 7. Orang-orang mati yang hidup kembali Published by Hiu_Khu on 2008/1/16 (251 reads) Tiba-tiba dari kegelapan berkumandang lagi suara orang.
"Sekarang apakah kau mau manusia yang menjadi petunjuk jalanmu?'" ' Yang dilihatnya sekarang memang manusia benar, yaitu Yap Ling. Di tengah remang kabut, senyuman Yap Ling masib tetap manis.
"Sekarang seharusnya kau yakin bahwa di tempat ini sesung guhnya manusia lebih menyenangkan atau anjing lebih menyenangkan?"
"Aku tidak tahu,"
Sahut Siau-hong.
"Masa belum tahu?"
"Aku cuma tahu satu hal,"
Kata Siau-hong.
"Yaitu di sini anjing terkadang adalah manusia dan manusia juga anjing."
Hoa-kuahu yang dimaksudkan belum tentu benar seekor anjing betina, tapi anjing hitam tadi jelas seorang manusia.
"Meski orang Kangouw ada juga yang suka menjadi anjing (kiasan bagi kaum antek), tapi yang bisa bekerja setuntas ini hanya ada satu orang."
"Kau tahu siapa dia?"
Tanya Yap Ling.
"Ya, Kau-long-kun (si anjing cakap)."
"Sudah kau ketahui sebelumnya?"
Siau-hong tertawa.
"Sedikitnya kutahu si jenggot biru bukan mati di tanganku, tentu dia sendiri juga tahu. Sebab itulah sekalipun dia benar menjadi setan buas juga tidak perlu mencari diriku."
Yap Ling tertawa, ucapnya sambil berkedip.
"Seumpama setan buas tidak perlu mencari dirimu, setan lapar pasti akan mencari dirimu."
"Setan lapar?"
Siau-hong melenggong.
"Arti setan lapar ialah orang yang mati kelaparan karena menunggu kedatanganmu untuk makan. Jika tidak lekas kau hadir ke sana. malam ini sedikitnya akan bertambah 37 setan lapar."
"Seumpama aku tidak pergi, setan lapar yang benar cuma satu saja."
"Masa cuma satu? Siapa?"
Tanya Yap Ling.
"Aku sendiri,"
Jawab Siau-hong.
Kaucu si kait yang disebut-sebut Yu-hun itu memang salah seorang tokoh di Yu-leng-san-ceng ini.
Kemarin dia baru merayakan ulang tahunnya yang ke-70.
Waktu mendusin hari ini, rasa mabuknya belum lagi hilang, kepala terasa sakil seakan-akan pecah, napsu birahinya berkobar.
Gejala yang pertama itu menandakan dia sudah tua.
Hanya 40 kati arak saja yang diminumnya dan sekarang kepalanya kesakitan seperti mau pecah.
Padahal sepuluh tahun yang lalu semalam dia pernah memecahkan rekor minum sebanyak 80 kati, setelah tidur dua jam lantas pulih kembali semangatnya, dan dengan cuma sebelah tangan saja dia mampu membinasakan 23 orang di antara 32 orang musuh yang mengerubutnya.
Bila teringat pada hal ini, sungguh dia sangat gemas dan menyesal, menyesali dirinya sendiri, mengapa orang semacam dirinya ini juga bisa tua.
Akan tetapi setelah gejala kedua diketahuinya, tanpa terasa hatinya sangat terhibur, bagian tubuh tertentu itu ternyata sekeras kaitan baja yang terpasang pada tangan kanannya yang buntung itu.
Memangnya ada berapa kakek berumur 70 yang sehat dan kuat seperti si kait ini?
Cuma sayang, perempuan di tempat ini terlalu sedikit, perempuan yang cocok dengan seleranya bahkan terlebih sedikit.
Sesungguhnya, perempuan yang berada di Yu-leng-san-ceng yang terpandang olehnya cuma ada tiga orang.
Celakanya ketiga perempuan brengsek ini justru selalu mempermainkan dia.
Terutama si rase cilik yang cerdik dan licin itu, sudah berjanji tiga kali mau datang ke kamarnya, tapi tiga kali dia menunggu siasia semalam suntuk..Bayangkan, kalau lelaki menunggu kedatangan pacar dengan hasrat yang menyala dan akhirnya harus kecewa, sungguh hatinya jadi gregetan.
Bila teringat hal ini, sungguh kalau bisa sekarang juga dia ingin menyeret si rase cilik itu dan dibelejeti di tempat tidur, kalau pcrlu akan diperkosa.
Pikiran begitu makin mengobarkan hawa nafsunya, ia merasa kalau hari ini tidak terlampias, bisa jadi dia akan mati meledak.
Begitulah selagi dia melamun membayangkan betapa manis senyum si rase cilik dan Cicinya yang selalu tampak dingin serta janda Hoa yang masak serupa buah kesemek, tiba-tiba terdengar ada orang menggedor pintu, cukup keras gedorannya.
Biasanya cuma ada dua-tiga orang yang berani menggedor pintunya sekeras ini, yaitu kalau bukan Koan-keh-po tentulah Piauko.
Meski kedua orang ini adalah komplotannya yang paling erat, tetap juga dia marah.
Jika hasrat terganggu, biasanya lantas berubah menjadi gusar.
Dia meraih selimut untuk menutupi tubuhnya, lalu berteriak gusar.
"Masuk!"
Yang bardiri di luar ialah Piauko alias kakak misan, mukanya putih licin, serupa telur ayam yang baru dikuliti Melihat wajah yang halus ini, tidak ada orang yang dapat menerka berapa usianya.
Mengenai hal ini, Piauko sendiri biasanya sangat bangga, terkadang sampai ia sendiri juga melupakan usianya sendiri.
Ketika mendengar suara Kaucu yang geram, segera dia tahu si setan tua hari ini lagi birahi pula.
Dengan tersenyum ia mendorong pintu dan melangkah masuk, segera dilihatnya bagian tubuh Kaucu yang kurang adat itu masih tertutup selimut.
Dengan tersenyum ia menyapa.
"Wah, tampaknya hari ini kau sangat bergairah, apakah perlu kupetikkan dua genggam daun (Yap) bagimu?"
"Tutup mulutmu dan matamu yang serupa mata maling itu."
Kembali Kaucu meraung.
"Bila ingin perempuan dapat kucari sendiri."
"Memangnya berapa orang yang bisa kau dapatkan?"
Tanya Piauko. Kaucu tambah murka, serentak ia melompat bangun dan menerjang ke depan Piauko, dengan kaitan tangan kanan ia ancam perut orang sambil berteriak.
"Coba bicara lagi satu kata saia, segera kusodet isi perutmu hingga berantakan."
Tapi sedikit pun Piauko tidak takut, sebaliknya bertambah riang tertawanya.
"Hahahaha! Bukan maksudku sengaja membikin marah padamu, aku justru lagi menyembuhkan penyakitmu. Coba lihat sekarang, bukankah sudah lemas!"
Kaucu melotot dengan gemas, mendadak ia terbahak-bahak sembari menarik kaitannya, katanya.
"Haha, tidak perlu kau berlagak, kalau saja lelaki di sini lebih mudah didapatikan, kuyakin penyakitmu pasti akan lebih parah daripadaku."
Dengan tenang Piauko melangkah ke sana dan berduduk di kursi yang berada dekat jendela, lalu berucap.
"Cuma sayang lelaki di tempat ini memang makin lama makin sedikit. Saat ini, yang benar-benar kupenujui mungkin juga cuma satu saja."
"Maksudmu Tayciangkun?"
Tanya Kaucu.
"Dia terlalu tua,"
Jengek Piauko sambil menggeleng.
"Apakah Siau-jing?"
"Dia cuma sebuah bantal bersulam saja."
"Barangkali Koan-keh-po?"
Piauko tertawa pula.
"Dia sudah nenek-nenek, aku harus berterima kasih bila dia tidak mencari diriku."
"Habis, sesungguhnya siapakah yang kau maksudkan?"
Tanya Kaucu.
"Liok Siau-hong,"
Jawab Piauko.
"Apa katamu? Liok Siau-hong?"
Teriak Kaucu.
"Apakah Liok Siau-hong yang beralis empat itu?"
"Kecuali dia, siapa pula yang dapat menggelitik hatiku?"
Ucap Piauko sambil memicingkan mata dengan tertawa.
"Cara bagaimana dia sampai di sini?"
"Kabarnya akibat dia meniduri bini Sebun Jui-soat."
"Sudah kau lihat dia?"
"Hanya mengintip sekejap dua kejap saja."
"Bagaimana bentuknya?"
Mata Piauko kembali terpicing.
"Dengan sendirinya seorang lelaki sejati, lelakinya lelaki."
Kaucu baru saja berduduk, segera ia berbangkit pula dan mendekati jendela dengan kaki telanjang. Cuaca di luar jendela remang tertutup kabut. Mendadak ia menoleh dan menatap Piauko, ucapnya.
"Akan kubunuh dia!"
"Apa katamu?"
Piauko melonjak kaget.
"Kubilang akan kubunuh dia!"
"Tidak kau dapatkan perempuan lantas hendak membunuh?"
Seru Piauko. Kaucu mengepal erat tinjunya, ucapnya perlahan.
"Usianya tahun ini paling banter baru tiga puluhan, sedangkan aku sudah tu juh puluh. Tapi aku pasti dapat membunuhnya, aku yakin."
Melihat sikap dan air mukanya itu, siapa pun dapat menduga tujuannya membunuh orang pasti tidak cuma unluk pelampiasan belaka, tapi juga untuk membuktikan bahwa dia masih muda, masih tangkas.
Banyak kakek di dunia ini yang mencari anak perempuan muda, alasannya juga serupa, yakni ingin membuktikan dia masih muda dan masih sanggup.
Mereka hanya melupakan sesuatu, meski muda memang menyenangkan, usia tua juga ada kesenangan tersendiri.
Piauko memandang Kaucu lekat-lekat, akhirnya ia menghela napas dan berkata.
"Baik, akan kubantu kau membunuh dia, tapi kau pun harus membantuku mengerjai dia."
"Baik!"
Ucap Kaucu. Mendadak seorang menanggapi dengan menjengek.
"Hm, baiknya memang baik, cuma sayang kalian sudah terlambat satu langkah."
Yang masuk mengikuti suara tertawa itu adalah seorang kakek tinggi kurus, berhidung seperti paruh elang dan berbadan bungkuk. Piauko menghela napas, katanya.
"Sudah kuduga Koan-keh-po macam dirimu ini pasti akan ikut campur urusan kami."
"Kedatanganku hanya ingin memberitahukan suatu berita kepada kalian,"
Ujar si kakek alias Koan-keh-po atau si nenek pengurus rumah tangga.
"Berita apa?"
Tanya Kaucu cepat.
"Si anjing hitam sudah mendahului pergi mencari Liok Siau-hong,"
Tutur Koan-keh-po.
"Seumpama dia gagal, berikutnya masih ada Ciangkun."
"Ciangkun hendak bertindak apa?"
Melengak juga Kaucu.
"Sudah dia atur perjamuan besar di depan sana dan sedang menunggu kedatangan Liok Siau-hong."
Malam tetap gelap, kabut tetap tebal.
Namun perasaan Siau-hong sudah lain.
Betapapun berjalan bersama seorang anak perempuan cantik manis dan pintar tentu saja jauh lebih menyenangkan daripada berjalan ikut di belakang seekor anjing hitam.
Yap Ling melirik Siau-hong, lalu berkata.
"Tampaknya engkau sangat gembira."
"Sedikitnya aku memang lebih gembira daripada tadi,"
Jawab Siau-hong.
"Sebab kau tahu aku takkan menggigitmu?"
"Ya, juga kau terlebih cakap daripada anjing tadi, lebih cakap daripada anjing mana pun."
Yap Ling tartawa, sungguh manis sekali tertawanya.
"Apakah hanya setitik ini saja kelebihanku dibandingkan dia?"
"Dengan sendirinya masih ada yang lain."
"Apa lagi?"
Tanya Yap Ling.
"Engkau bisa bicara, kusuka mendengar bicaramu."
Yap Ling berkedip dan berkata pula.
"Kau suka kubicara apa saja? Apakah suka kuceritakan rahasia tempat ini?"
Siau-hong tertawa. Mungkin tertawanya banyak maknanya, tapi jelas tidak mengandung makna menyangkal ucapannya.
"Kau ingin kubicara mulai darimana?"
"Mulai saja dari si kait."
Yap Ling terbelalak.
"Kau pun tahu si kait? Darimana kau tahu dia?"
"Aku tidak cuma tahu si kait, juga tahu Ciangkun, Piauko dan Koan-keh-po."
Yap Ling menuju ke sana, memetik sehelai daun, lalu kembali, tiba tiba ia menghela napas dan berucap.
"Sudah terlalu banyak yang kau ketahui, namun jika kan tetap bertanya boleh juga kuberitahukan pula padamu "
Jika begitu, sebaiknya kau mulai dari si kait,"
Kata Siau-hong.
"Dia adalah kan pembunuh, juga seckor serigala jantan yang gemar main perempuan, yang paling ingin dilakukannya sekarang adalah merobek celanaku dan menelentangkan aku di tempat tidur."
Siau-hong menghela napas, ucapnya.
"Sebenarnya tidak perlu kau beberkan sejelas ini."
Mata Yap Ling yang bersih itu terbelalak pula, katanya.
"Aku memang perempuan yang suka berterus terang, kebetulan aku pun perempuan yang paling dapat memahami jiwa kaum lelaki."
Siau-hong menyengir.
"Sungguh kebetulan memang. Cuma sayang, bukan maksudku ingin tahu ada berapa banyak lelaki yang ingin membelcjeti celanamu."
Yap Ling berkedip-kedip, tanyanya tiba-tiba.
"Jika ada orang ingin membuka celanamu, kau ingin mendengar tidak?"
"Hal ini juga biasa, bukan cuma sekarang akan terjadi,"
Jawab Siau-hong dengan tertawa.
"Tapi bagaimana kalau orang yang ingin membuka celanamu itu seorang lelaki?"
"Hah. seorang lelaki?"
Seru Siau-hong.
"Ah, salah ucapanku, bukan seorang, tapi dua orang."
Siau-hong tidak dapat bersuara lagi, sampai sekian lama baru dia bertanya.
"Apakah Piauko dan Koan-keh-po?"
"Darimana kau tahu?"
Kembali mata Yap Ling terbelalak lebar "Nama kedua orang ini kedengarannya rada-rada seram."
Ujar Siau-hong.
"Tapi orang yang paling menakutkan bukanlah mereka."
Tutur Yap Ling.
"Oo?"
Siau-hong ingin tahu.
"Pernah kau lihat orang merobek seekor banteng dengan bertangan kosong?"
"Tidak pernah,"
Siau-hong menggeleng.
"Pernah kau lihat dengan sebuah jari saja batok kepala orang diketuknya hingga hancur?"
"Tidak,"
Jawab Siau-hong.
"Selekasnya semua itu akan dapat kau lihat."
Siau-hong menelan liur, ucapnya.
"Yang kau maksudkan apakah Ciangkun?"
"Betul,"
Jawab Yap Ling.
"Dia sedang menunggu kedatanganku?"
"Bukan cuma menunggu saja, bahkan sudah tidak sabar menunggu. Sebab itulah paling baik harus kau siapkan sebuah wajan."
"Wajan untuk apa?"
Tanya Siau-hong.
"Untuk menutup batok kepalamu!"
Saat itu Ciangkun atau panglima sedang berdiri di atas panggung.
Tinggi badannya lebih delapan kaki, bobotnya 137 kati, pundaknya lebar, dadanya tebal, telapak tangannya kalau dipentang hampir selebar daun palem.
Belulang pada telapak tangannya hampir dua senti tebalnya.
Senjata tajam apapun kalau terpegang olehnya pasti patah seketika.
Di depannya tertaruh sebuah wajan besar.
Wajan itu di atas tungku, tungku terletak di depan panggung dan panggung itu berada di tengah ruangan.
Ruangan pendopo itu dibangun beberapa meter tingginya dari halaman luar, panggung batu menjadi lebih tinggi lagi, sedikitnya tujuh atau delapan kaki tingginya, wajan besar itupun tingginya lebih tiga kaki.
Api tungku tampak berkobar, isi wajan adalah daging rebus, bau sedap sungguh dapat memancing datang manusia dan anjing dari jarak belasan li jauhnya.
Waktu Siau-hong masuk ke situ, Ciangkun sedang mengaduk daging rebus dengan sebuah gayung.
Begitu melihat Liok Siau-hong, segera ia menaruh gayungnya dan melotot sambil membentak.
"Liok Siau-hong?"
Suara bentakannya menggelegar seperti bunyi geledek, namun Siau-hong sama sekali tidak berkedip, bahkan balas membentak.
"Ciangkun?"
"Kau mau kemari tidak?"
Seru Ciangkun pula.
"Mau!"
Jawab Siau-hong. dia benar-benar mendekat ke sana, langkahnya jauh lebih lebar daripada biasanya. Ciangkun melotot padanya dan berkata pula.
"Yang di dalam wajan adalah daging!"
"Ya, daging!"
Jawab Siau-hong.
"Kau makan daging?"
"Makan!"
"Dapat makan banyak?"
"Cukup banyak!"
"Baik, boleh kau makan!"
Gayung tadi lantas disodorkannya kepada Liok Siau-hong.
Tanpa pikir Siau-hong lantas menyendok satu gayung penuh.
Satu gayung sama dengan isi satu mangkuk daging rebus yang panas.
Siau-hong tidak takut panas, dia makan dengan cepat, habis makan satu gayung barulah ia menarik napas lega, ucapnya.
"Ehm. daging lezat!"
"Memang daging lezat,"
Kata Ciangkun.
"Engkau juga makan daging?"
Siau-hong balas bertanya.
"Makan."
"Juga makan banyak?"
Tanpa menjawab Ciangkun lantas merampas gayung yang dipegang Siau-hong, ia pun menyendok segayung penuh dan diganyang sampai habis, lalu ia menengadah dan menghembuskan napas, ucapnya.
"Ehm, daging lezat!"
"Memang daging lezat,"
Tukas Siau-hong.
"Kau tahu ini daging apa?"
Tanya Ciangkun.
"Tidak."
"Kau tidak takut ini daging manusia?" 'Takut."
"Kalau takut kenapa kau makan?"
"Makan manusia kan lebih baik daripada dimakan manusia. Kembali Ciangkun memelototi Siau-hong hingga sekian lama, katanya kemudian.
"Baik, silakan makan."
Kembali Siau-hong makan segayung, Ciangkun juga segayung, lalu giliran Siau-hong pula.
Satu gayung sama dengan isi satu mangkuk, satu mangkuk daging sama dengan satu kati.
Hanya sekejap saja sedikitnya sudah lima kati daging masuk perutnya.
Pada waktu makan gayung keenam, barulah Ciangkun bertanya.
"Kau masih sanggup makan?"
Siau-hong tidak bersuara, mendadak ia main akrobat, ia berjumpalitan, sekaligus berjumpalitan 36 kali, habis itu baru berdiri tegak dan menjawab.
"Aku masih sanggup makan."
"Baik, silahkan makan lagi,"
Kata Ciangkun.
Dan begitulah makan dan makan lagi, setiap makan satu gayung daging, Siau-hong lantas berjumpalitan lima kali, sampai ratusan kali ia berjumpalitan dan air mukanya tetap tidak berubah.
Mau tak mau hati Ciangkun terkesiap, ucapnya.
"Ehm, akrobat bagus!"
Baru selesai berucap.
"plotak", ikat pinggangnya putus menjadi dua. Siau-hong lantas bertanya.
"Kau masih mampu makan?"
Ciangkun juga tidak menjawab, ia melompat turun dari panggung, sekali raih, tungku dipegangnya.
Tungku itu dibuat dari perunggu, ditambah lagi wajan besar di atas tungku, sedikitnya ada lima atau tujuh ratus kati bobotnya.
Tapi dengan sebelah tangan ia sanggup mengangkatnya, lalu diturunkan dan diangkat lagi, sekaligus ratusan kali naik turun barulah tungku itu ditaruh pada tempat semula.
Segera ia rampas lagi gayung dari tangan Siau-hong dan berseru.
"Nah, sudah kau lihat?"
Sekali ini dia makan dua gayung sekaligus.
Terkesima Liok Siau-hong mamandangi gayung yang dipegang orang, mendadak ia pun menirukan cara orang, ia angkat tungku itu naik-turun hingga ratusan kali, lalu merampas gayung dan juga makan dua gayung daging sekaligus.
Mata Ciangkun juga melotot mengikuti tingkah Siau-hong itu.
"Makan lagi?"
Tanya Siau-hong dengan napas rada memburu.
"Ya, makan lagi!"
Ucap Ciangkun sambil mengertak gigi. Dia pegang gayung dan menyendok pula, terdengar suara "pletak"
Lagi.
Sekali ini bukan ikat pinggang yang putus, tapi gayung menyentuh dasar wajan.
Satu gayung sama dengan satu kali daging, satu wajan berisi 30 atau 50 gayung, semuanya ternyata sudah d.ganyang habis oleh Siau-hong menghela napas panjang sambil meraba perutnya yang mcmbuncit, ucapnya.
"Daging lezat."
"Ini memang daging lezat,"
Tukas Ciangkun dengan melotot.
Kedua orang lantas bergelak tertawa, mendadak keduanya roboh bersama, roboh di alas panggung dan mas.h terus tertawa.
Orang di bawah panggung sama melongo menyaksikan kelakuan mereka.
Tiba-tiba Ciangkun berkata pula.
"Perutmu belum lagi meledak?"
"Belum,"
Jawab Siau-hong.
"Tak tersangka sekecil ini perutmu, tapi dapat memuat daging sebanyak itu."
"Malahan aku makan satu gayung lebih banyak daripadamu,"
Kata Siau-hong.
"Tapi setiap gayung yang kusendok terlebih banyak daripadamu.
"Belum tentu benar."
Serentak Ciangkun melompat bangun dan melototi Liok Siau-hong. Tapi Siau-hong tetap berbaring dengan tenang.
"Bangun, boleh kita masak satu wajan daging dan berlomba lagi,"
Kata Ciangkun.
"Tidak, tidak mau berlomba lagi,"
Ujar Siau-hong.
"Jadi engkau mengaku kalah?'"
"Sebenarnya aku sudah menang, mengapa harus berlomba lagi? Kalau menang kenapa disuruh mengaku kalah malah?"
Ciangkun mendelik, urat hijau tampak menonjol di dahinya, suatu tanda betapa geram hatinya. Tapi Siau-hong bicara dengan hambar.
"Rupanya bukan cuma perutmu saja yang kembung, kepalamu juga melembung."
Mendadak Ciangkun mengepal crat kedua tinjunya, ruas tulang seluruh badannya seakan-akan mengeluarkan suara "keriat-keriut", perawakan yang memang tinggi besar itu seolah-olah bertambah lebih tinggi lagi.
Tampaknya orang ini tidak cuma bertenaga raksasa, Gwakang (kekuatan atau kekebalan badan luar) juga terlatih sampai puncaknya.
Dengan tertawa Siau-hong bertanya pula.
"Kau ingin berkelahi?"
Ciangkun hanya bungkam saja. Dia sudah menghimpun tenaga, bila buka mulut tentu tenaga akan buyar.
"Meski makan daging lagi sudah berkurang minatku. kalau berkelahi dapat kuiringi,"
Kata Siau-hong.
Mendadak Ciangkun menggertak, kontan ia menjotos.
Dia sudah siap sejak tadi, dengan sendirinya tenaga pukulannya tidak kepalang dahsyatnya.
Terdengarlah suara gemuruh, wajan dan tungku terguling, meja kursi yang berdekatan juga berantakan bersama mangkuk piringnya.
Liok Siau-hong juga terpukul hingga mencelat, melintasi beberapa meja dan melayang di atas kepala belasan orang, serupa layangan putus.
Serentak terdengar suara bersorak memuji, Ciangkun berdiri tegak di atas panggung sehingga kelihatan terlebih gagah perkasa.
Siapa duga, pada saat itu juga tiba-tiba terdengar deru angin, tahu-tahu Siau-hong sudah berada kembali di depan Ciangkun dengan tersenyum simpul dan berkata.
"Pukulanmu membikin badanku bertambah segar, apakah mau coba lagi sekali?"
Ciangkun meraung murka, berturut-turut ia menghantam tiga kali.
Pukulannya tidak banyak variasi, tapi praktis dan efektif.
Ketiga pukulan ini meski tidak sedahsyat pukulan pertama, tapi jauh lebih cepat.
Kembali Siau-hong terpukul ke atas lagi, cuma sekali ini tidak mencelat, mendadak ia berjumpalitan di udara, lalu turun di belakang Ciangkun.
Biarpun perawakan Ciangkun tinggi besar, reaksinya justru sangat lincah dan gesit, mendadak ia membalik tubuh, bergerak sambil menyerang.
Kembali tiga kali pukulan dilancarkan sekaligus.
Untung Liok Siau-hong juga lain daripada yang lain, mendadak ia berkelit terus menerobos lewat bawah ketiak Ciangkun, sekaligus ia angkat siku Ciangkun dan kepalanya terus menumbuk iga orang.
Tubuh Ciangkun yang berbobot 173 kati itu terhuyung-huyung oleh serudukan Siau-hong itu dan hampir saja terjungkal ke bawah panggung.
Sebaliknya Siau-hong juga tidak kurang terkejutnya.
Tiba-tiba diketahuinya orang ini menguasai kekebalan badan yang luar biasa, serudukan kepalanya itu serupa menanduk dinding batu, sampai kepala sendiri pusing tujuh keliling.
Karena terkejut dan kepala pusing, maka suara tertawa Siau-hong bertambah keras, serunya.
"Kembali kau kalah lagi!"
"Kentut!"
Teriak Ciangkun.
"Sekali pukul hampir kurobohkan dirimu, masa engkau tidak mengaku kalah?"
Ujar Siau-hong dengan tertawa.
"Kau pakai pukulan apa?"
Jengek Ciangkun.
"Pukulan kepala!"
"Huh, terhitung kungfu macam apa itu?"
"Inilah kungfu untuk berkelahi, asalkan dapat merobohkan lawan, cara bagaimana pun dapat digunakan."
"Hm, ingin kulihat pukulan apa pula yang dapat kau gunakan?"
Jengek Ciangkun.
Segera ia pasang kuda-kuda dan menghantam lagi, pukulannya tambah gencar, serangannya tambah cepat, tekadnya sekali ini harus merobohkan lawan.
Siau-hong memang tak mampu menembus pertahanan lawan, memang tidak ada orang yang sanggup membobol ilmu pukulan Ciangkun yang rapat dan dahsyat ini.
Agaknya Siau-hong juga menyadari hal ini, dia tidak melakukan serangan, sebaliknya mundur ke pojok panggung sana dan mendadak menungging sambil memegang perutnya, serunya.
"Wah payah! Perutku mulas!"
Padahal ia tahu, biarpun perutnya mulas setengah mati dan kotoran keluar di celananya juga tidak akan diampuni orang.
Benar juga.
Ciangkun terus menubruk maju dan menghantam pula.
Tak terduga, pada saat tubuh Ciangkun mengapung itulah, se-licin belut Liok Siau-hong lantas meluncur lewat di bawah kakinya, mendadak kedua tangannya menahan lantai, sekali melejit, pantatnya tepat menumbuk pantat Ciangkun.
Karena perhatian Ciangkun tertuju untuk menyerang ke depan, dia tidak sempat menahan diri, sekali ini dia benar-benar tertumbuk jatuh ke bawah panggung, hampir saja jatuh terguling.
"Haha, kembali kau kalah lagi!"
Seru Siau-hong sambil barkeplok. Tidak kepalang gusar Ciangkun, mukanya masam, bibirnya hijau.
"Sekali ini mengapa tidak kau tanya pukulan apa yang aku gunakan?"
Ucap Siau-hong. Tapi Ciangkun diam saja.
"Yang kugunakan ialah pukulan pantat!"
Kata Siau-hong dengan tersenyum.
"Maka lain kali bilamana kau temui lawan yang dapat menyerang dengan pantat, sebaiknya cepat engkau menyingkir sejauhnya, sebab kau pasti bukan tandingannya."
Mendadak Ciangkun meraung murka, ia memukul lagi dengan dahsyat, tapi yang dihantamnya sekali ini bukan manusia melainkan panggung batu.
Panggung yang ditumpuk dengan balok batu itu sampai retak sebagian, batu kerikil bertebaran.
Menyusul tubuhnya yang gede itu juga melompat ke atas, selagi masih mengapung di udara segera ia melancarkan pukulan kedua.
Hantaman dari udara tentu saja terlebih dahsyat, tapi juga lebih mudah memperlihatkan bagian kelemahan sendiri, gaya serangan ini mestinya hanya boleh dilakukan bilamana menghadapi lawan yang lebih lemah.
Dan Liok Siau-hong jelas tidak lebih lemah daripada Ciang kun, serangan Ciangkun ini sungguh sangai besar resikonya, sebab dia memperhitungkan Liok Siau-hong tidak dapat berdiri tegak Siapa pun sukar berdiri tegak di atas panggung yang retak dan di bawah hujan batu kerikil.
Jika berdiri seorang tidak tegak dan kurang kuat, dangan sendirinya Udak mampu balas menyerang, kalau tidak dapat balas menyerang tarpaksa harus menghindar, tap.
cara bagaimanapun menghindar sukar mengelakkan angin pukulannya yang dahsyat.
Kesehatan Siau-hong sendiri belum pulih, tubuhnya masih lemah, sebenarnya dia tidak tahan angin pukulan lawan vang hebat itu.
Tapi dia tidak pcrlu menahan angin pukulan orang, dia malah dapat melancarkan serangan balasan, balas menyerang dalam keadaan yang tidak memungkinkan.
Ciangkun sudah berpengalaman tempur, kemenangan yang terjadi pada sekejap itu sudah diperhitungkannya dengan baik.
Cuma sayang, sekali ini dia salah hitung.
Sesuatu yang dikerjakan oleh Liok Siau-hong memang banyak yang dianggap orang lain sebagai hal yang tidak mungkin bisa di lakukan.
Sekali ini dia tidak memakai pukulan kepala, juga bukan pukulan pantat, tapi menggunakan tangan, jari tangan.
Jari sakti Liok Siau-hong yang tidak ada bandingannya.
Sekonyong-konyong Siau-hong mengegos ke samping sambil menjulurkan kedua jari dan menjentik perlahan.
Jari telunjuk tepat mengenai kepalan Ciangkun dan jari tengah mengenai dadanya.
Padahal apa gunanya dua jari manghadapi kepalan \ang dapat meretakkan panggung batu dan dada yang tidak mempan dibacok golok?
Namun hasilnya segera terbukti, sukar orang membayangkan betapa lihai tenaga jarinya.
Terdengar Ciangkun meraung dan mencelat ke sana dan jatuh terbanting di atas batu kerikil yang berserakan di lantai.
Di tengah ruangan pendopo itu masih ada 36 orang, tapi udak ada setitik suara apapun, sampai suara napas saja seakan-akan berhenti.
Mata ke-36 orang sama melototi Liok Siau hong, menampilkan semacam sorot mata yang aneh.
Siau-hong hanya menyengir saja, sabab ia tahu meski orangorang ini bukan sahabat Ciangkun, sekarang semuanya tentu juga telah menjadi lawannya.
Seorang yang baru tiba di tempat yang belum dikenal ini dan mendadak harus mengikat permusuhan dengan 36 orang, betapapun hal ini urusan yang sangat tidak menyenangkan.
Dia hanya berharap luka Ciangkun tidak terlalu parah.
Tapi ketika dia berpaling ke sana, Ciangkun yang tadinya rebah di lantai itu sekarang sudah lenyap.
Waktu ia menoleh lagi, terlihatlah seorang berbaju kelabu sedang berjalan keluar dengan perlahan dan Ciangkun ternyata berada dalam rangkulan orang itu.
Dengan mata telinga Siau-hong yang tajam, ternyata tidak dapat merasakan darimana munculnya orang berbaju kelabu itu, juga tidak tahu cara bagaimana dia membawa pergi Ciangkun, tapi tahu-tahu orang sudah berada di ambang pintu.
Mau tak mau Siau-hong melengak.
Sementara itu si baju kelabu sudah keluar pintu, ke-36 orang dalam ruangan pendopo juga lantas ikut keluar.
Tiada seorang pun yang menoleh dan memandang Siau-hong, seakan-akan menganggap Liok Siau-hong sudah menjadi orang mati.
Betapapun menarik seorang mati, tentunya tidak ada orang yang sudi memandangnya lebih lama.
Siau-hong sendiri juga tiba-tiba merasa dirinya seperti berdiri di dalam kuburan, tidak ada manusia, tidak ada suara, meski cahaya lampu masih menyala, tapi seperti sudah berubah menjadi sangat gelap Apabila segala apapun tak terlihat, setitik sinar harapan saja tak terlihai, apa pula gunanya cahaya lampu?
Entah selang berapa lama.
Siau-hong masih berdiri termangu di situ tanpa bergerak.
Tempat ini memang asing baginya, kemana dia akan pergi?
Dia memang sudah berada di jalan buntu, dia dapat pergi ke mana?' Pada saat itulah dia melihat sepasang mata dan satu tangan.
Tangan yang putih dan kecil, sepasang mata yang membawa senyuman.
Itulah Yap Ling yang sedang menggapai padanya di luar pintu.
Segera Siau-hong mendekatinya.
Biarpun di luar pintu terdapat seratus perangkap dan seribu jebakan yang sedang menantikan, dia juga akan mendatanginya tanpa ragu.
Sebab dirasakannya keadaan yang menyendiri dengan keputus-asaan jauh lebih menakutkan daripada mati.
Syukur di luar pintu tidak terdapat apa-apa, hanya ada satu orang dan kegelapan.
Mata Yap Ling dalam kegelapan tampak terang bagai bintang kejora.
Dia memandang Siau-hong dengan tersenyum, katanya tiba-tiba.
"Selamat padamu!"
"Selamat apa?"
Siau-hong merasa bingung.
"Sebab engkau tidak jadi mati,"
Tutur Yap Ling.
"Seorang asalkan dapat tetap hidup adalah hal yang pantas diberi ucapan selamat."
"Memangnya aku mestinya mati?"
Tanya Siau-hong. Yap Ling mengangguk.
"Dan sekarang?"
Tanya Siau-hong pula.
"Sekarang paling tidak engkau masih dapat hidup di Yu-leng-san-ceng ini."
Siau-hong menghela napas lega, ia coba bertanya pula.
"Siapakah orang berbaju kelabu tadi?"
"Tidak dapat kau terka?"
Jawab Yap Ling.
"Apakah Lau-to-pacu?"
Tanya Siau-hong. Berputar biji mata Yap Ling, ia balas bertanya.
"Kau kira dia orang macam apa?"
"Seorang yang menakutkan?"
"Kau pikir bagaimana ilmu silatnya."
"Tak dapat kulihat."
"Masa sampai dirimu tak dapat melihatnya.' "
Justru lantaran aku tak dapat menilainya. maka terasa menakutkan "
"Kau pikir seharusnya Lau To-pacu orang macam apa?"
Tanya Yap Ling pula.
"Dengan sendirinya seorang yang sangat menakutkan."
Yap Ling tertawa.
"Jika begitu orang tadi dengan sendirinya Lau-to-pacu, mestinya tidak perlu kau tanya lagi."
Siau-hong juga tertawa, namun bukan tertawa gembira.
Seorang jago kelas tinggi seperti dia, kalau mendadak menemukan seorang berkepandaian jauh lebih tinggi daripadanya, maka perasaannya pasti tidak enak.
Tiba-tiba Yap Ling menarik muka dan mendengus.
"Hm, hari pertama kedatanganmu lantas bikin onar dan berkelahi segala, kalau tidak ada orang memintakan ampun bagimu, saat ini sedikitnya engkau sudah mati dua kali."
"Siapa yang memintakan ampun bagiku?"
Tanya Siau-hong. Yap Ling menuding hidungnya sendiri dan menjawab.
"Aku!"
Siau-hong msnghela napas.
"Ya, tentu saja kau. memang sudah kuketahui pasti kau."
Tiba-tiba Yap Ling tersenyum manis.
"Jika tahu, cara bagaimana akan kau balas kebaikanku?"
Siau-hong tersenyum.
"Akan kugigit hidungmu!"
Yap Ling mendelik, mendadak ia berjingkrak murka.
"Enyah, lekas enyah ke sarang anjingmu, kalau tidak ada suara genta dilarang keluar! "
"Inikah perintah Lau-to-pacu?"
Tanya Siau-hong. Tapi Yap Ling hanya mendengus saja.
"Dapatkah kutemui dia sekarang?"
"Tidak,"
Jawab Yap Ling tegas.
"Tapi bilamana dia ingin menemuimu, mau lak mau harus kau temui dia."
Siau-hong menghela napas.
"Ya. lumayan juga apabila seorang dapal istirahat selama beberapa hari dengan tenang. Susahnya kalau tidak makan nasi."
"Kau akan makan nasi, makan tiga kali sehari, ada enam macam sayuran dan semacam kuah, boleh piilih sesukamu.
"kata Yap Ling.
"Apakah sekarang boleh kupesan santapanku untuk besok?"
Tanya Siau-hong.
"Boleh."
Jawab Yap Ling.
"Baik, aku ingin makan Ang-sio-ti-te, jamur cah ayam, bebek campur tiga segar, hay-som masak ti-to dan..."
Yap Ling memandangnya dengan sorot mata yang menampilkan perasaan aneh.
"Aku gemar makan enak, jika kupesan santapan lezat kan tidak perlu diherankan,"
Kata Siau hong.
"Aku cuma heran, mengapa tidak ingin kau makan hidanganku?"
Kata Yap Ling.
Lampu sudah dipadamkan, Siau-hong berbaring dalam kege lapan, inilah malam pertama yang dilewatkannya di Yu-leng-san-ceng.
Baru setengah hari dia berada di sini dan sudah banyak kejadian aneh dan menakutkan yang dialaminya, juga banyak orang aneh dan mengerikan yang dilihatnya.
Terutama Kau-hun-sucia dan Lau-to-pacu, betapa tinggi ilmu silat kedua orang ini sungguh sukar dibayangkan olehnya.
Meski sekarang dia masih hidup, tapi bagaimana selanjutnya?
Ia tidak ingin merenungkannya lagi.
Tiba-tiba ia merasakan semacam rasa takut yang sukar dijelaskan.
Esok paginya, di lembah pegunungan masih penuh diliputi kabut, rumah gubuk kecil itu serupa terapung di tengah awan, waktu membuka pintu, dirinya sendiri pun terasa melayang-layang di udara, seperti juga mengambang di atas air.
Siau-hong menghela napas, ia menutup pintu lagi, perasaannya sangat tertekan.
Bab 8.
Kesulitan Datang Published by Hiu_Khu on 2008/1/17 (270 reads) Satu-satunya suara yang dapat menggembirakan dia pagi ini adalah suara ketukan pintu waktu pengantar makan datang.
Pengantar itu seorang burik, mukanya kaku, giginya kuning, mungkin tidak parnah disikat, satu-satunya bagian tubuhnya yang menyenangkan orang hanya tangannya yang menjinjing rantang santapan itu.
Rantang makanan itu memang berisi enam macam masakan yang sesuai dengan pesanan Liok Siau-hong semalam.
Namun setiap macam masakan itu seluruhnya cuma terdiri secuil saja, secuil kecil.
Orang yang rabun mungkin sukar melihatnya.
Yang paling istimewa adalah masakan bebek campur tiga segar yang cuma terdiri dari sekerat tulang bebek, secuil kulit bebek dan sehelai bulunya.
Keruan Siau-hong berjingkrak dan berteriak.
"Inikah masakan bebek campur tiga segar?"
Si burik lantas mendelik dan menjawab.
"Memangnya apa kalau bukan bebek? Apakah kucing?"
"Umpama betul bebek, lalu dimana tiga segar yang dimaksudkan?"
"Bulu bebek baru saja dibubut, kulit bebek juga baru saja disayat, tulang bebek pun masih segar, apalagi ketiga macam ini jika tidak boleh disebut tiga segar?"
Mau tak mau Siau-hong jadi bungkam.
"Biang" , si burik merapatkan daun pintu dengan keras dan tinggal pergi. Memandangi keenam jenis masakan dan memandang pula semangkuk nasi di depannya, Siau-hong jadi menyengir sendiri. Baru sekarang dia paham apa sebabnya Yu-hun-siansing itu sedemikian berminat menggeragoti tulang ayam. Ia pegang sumpit, tapi lantas ditaruh kembali dan menghela napas, Mendadak didengarnya di luar jendela sana juga ada orang menghela napas menyesal dan berucap.
"Ang-sio-ti-te yang kau dapat ini jauh lebih besar duripadu bagian yang kumakan kemarin, sedikitnya satu kali lebih besar."
Tanpa berpaling Siau-hong tahu yang bicara itu ialah Yu-hun. si arwah gentayangan, ia coba bertanya.
"Makanan semacam ini sudah berapa lama kau makan?"
"Tiga bulan,"
Jawab Yu hun. Serentak dm menerobos masuk melalui jendela, dia pandang santapan di atas meja sambil menjilat-jilat bibir, kutunya pula.
"Ada rahasianya cara makan santapan semacam ini.
"Rahasia apa?"
Tanya Siau-hong.
"Setiap macam santapan itu harus dimakan dengan perlahan pahng baik digosok dulu pada gigi lalu dijilat dengan lidah dengan begitu baru akan diketahui rasa aslinya."
"Bagaimana rasanya?"
Tanya Siau-hong.
"Rasanya membuat orang ingin mati dengan membenturkan kepala.
"Tapi sampai sekarang engkau sendiri belum lagi mati."
"Soalnya aku belum mau mati, jika orang lain menginginkan aku mati, aku jadi bertambah gairah untuk hidup, supaya mereka tahu."
Siau-hong menghela napas gegetun, ucapnya.
"Engkau dapat hidup sampai sekarang tentu tidaklah mudah."
Yu-hun mengangguk perlahan, tiba-tiba dua titik air mata menetes. Siau-hong tidak tega melihatnya, ia terus berbaring dan menutup kepalanya dengan bantal.
"Nasi sudah diantar kemari, kenapa tidak kau makan?"
Tanya Yu-hun.
"Boleh kau makan saja, aku tidak lapar."
"Tidak lapar juga harus makan, mau tak mau harus makan."
"Sebab apa?"
"Sebab engkau harus hidup!"
Mendadak ia tarik bantal yang menutupi muka Liok Siau-hong dan berteriak.
"Jika kau ingin mati, kan lebih baik kupukul mati kau sekarang juga, sebab pada tubuhmu sekarang masih berdaging dan dapat kujadikan santapan sepuas-puasnya."
Siau-hong memandangnya, memandang, muka orang yang tinggal kuh. membungkus tulang itu. lalu katanya.
"Aku she Liok bernama Siau-hong."
"Kutahu,"
Jawab Yu-hun.
"Dan siapa engkau? Mengapa bisa datang ke sini?"
Tanya Siau-hong dengan matanya yang cekung, lalu balas bertanya.
"Engkau sendiri mengapa bisa datang ke sini?"
"Sebab...."
"Sebab engkau berbuat salah dan dikejar orang hingga kepepet, terpaksa menuju kejalan kematian ini."
Potong Yu-hun. Siau-hong mengangguk.
"Sekarang orang Kangouw tentu mengira engkau sudah mati, Sebun Jui-soat juga menyangka dirimu sudah mati, makanya dapat kau hidup terus di sini."
"Dan kau?"
Tanya Siau-hong.
"Aku pun begitu juga,"
Jawab Yu-hun.
"Baik Ciangkun, Piauko, Kaucu, Koan-keh-po dan lain-lain, keadaan mereka juga sama saja."
"Aku tidak takut asal-usulku diketahui mereka,"
Ujar Siau-hong. 'Tapi mereka justru takut padamu."
"Sebab apa?"
Tanya Siau-hong.
"Sebab mereka masih tidak mempercayai dirimu. Betapapun mereka tidak ingin orang lain mengetahui mereka masih hidup, kalau ...."
"Kalau tidak, musuh mereka pasti akan menyusul kemari, begitu?"
"Betul,"
Jawab Yu-hun.
"Bagaimana dengan dirimu? Kau pun tidak percaya kepadaku?"
"Seumpama aku percaya padamu juga tak dapat kuberitahukan asal-usulku."
"Mengapa?"
Tanya Siau-hong. Tiba-tiba sorot mala Yu-hun menampilkan semacam perasaan aneh, entah takut, entah pedih.
"Tidak, tidak dapat kukatakan, tidak boleh ...."
Ia bergumam seperti memperingatkan dirinya sendiri, lalu tubuhnya hendak melayang pergi lagi Namun sekali ini Liok Siau-hong tidak membiarkan orang pergi, secepat kilat ia pegang tangan orang dan bertanya pula sekali.
"Apa sebabnya?"
"Sebab ....."
Agaknya Yu-hun juga memutuskan akan bicara te rus terang.
"sebab kalau kukatakan, kita takkan bersahabbat lagi."
Siau-hong tetap tidak paham dan ingin hartanya pula siapa tahu tangan Yu-hun yang kurus kering itu mendadak berubah se lunak kapas dan licin, tahu-tahu terlepas dan pegangannya.
Padahal belum pernah ada tangan orang yang dapat lolos dari pegangan Liok Siau-hong.
Waktu Siau-hong hendak memegang lagi, namun Yu-hun sudah menerobos keluar jendela dan melayang pergi serupa arwah gentayangan benar-benar.
Siau-hong jadi melengak.
Belum pernah dilihatnya orang menguasai Nuikang (kungfu lunak) setinggi ini.
mungkin dia cuma pernah mendengar saja, rasanya Sukong Ti-seng pemah bercerita, tapi sudah tidak teringat lagi ....
Dan begitulah, sudah dua-tiga hari Liok Siau-hong berdiam di gubuk itu.
Malahan tepatnya dua hari atau tiga hari, atau mungkin sudah empat hari, sampai dia sendiri tidak ingat lagi dengan jelas.
Rupanya lapar selain dapat membuat orang kehilangan tenaga, juga dapat merusak daya pikir orang, membuat orang melupakan segala apa yang seharusnya dipikirkan olehnya.
Seorang berbaring sendirian di dalam gubuk seperti kotak burung merpati dengan menahan lapar, siapa yang tahan penderitaan semacam ini?
Rupanya cuma Liok Siau-hong saja yang tahan.
Urusan yang dapat ditahan oleh orang mungkin bisa membuatnya meledak, tapi urusan yang orang lain tidak tahan diajustru sanggup bertahan.
Akan tetapi ketika mendengar suara genta berbunyi, tanpa terasa ia pun melonjak kegirangan.
"Kalau genta tidak berbunyi, dilarang keluar" . Sekarang genta berbunyi, ia melompat bangun dan menerjang keluar, sampai sepatu saia tidak sempat dipakai lagi. Di luar tetap ada kabut, waktunya senja sehingga masih kelihatan sisa cahaya mentari yang mengintip di balik kabut tebal sana dan memantulkan lingkaran pelangi yang indah. Betapapun dunia ini tetap permai, dapat hidup tetap merupakan sesuatu yang menggembirakan. Ruangan pendopo itu masih tetap dihadiri 36 atau 37 orang saja, tiada satu pun yang dikenal Liok Siau-hong. Orang yang pernah dilihatnya seluruhnya tidak berada di sini, baik Kau-hun-sucia, Ciangkun, Yu-hun, Yap Ling dan lain-lain, entah mengapa tidak ada yang hadir. Juga Tokko Bi, entah mengapa lantas lenyap begitu saja di lembah pegunungan ini. Ia mencari tempat duduk yang terletak di pojok, tidak ada yang menghiraukan dia, bahkan tidak ada yang meliriknya, air muka setiap orang tampak prihatin, perasaan setiap orang seperti sangat tertekan. Orang yang hidup di tempat begini mungkin senantiasa demikian, Siau-hong menghela napas gegetun. Waktu ia memandang ke depan baru diketahui panggung yang semula terdapat tungku itu sekarang sudah berganti pajangan, yang terletak di situ adalah sebuah peti mati. Peti mati baru gres, malahan belum dipantek tutupnya. Entah siapa yang mati? Apakah Ciangkun? Mereka mendatangkan Liok Siau-hong, apakah hendak menuntut balas bagi Ciangkun. Selagi Siau-hong merasa tidak tenteram, segera dilihatnya Yap Ling berlari masuk. Anak perempuan yang suka bergurau dan suka berbaju merah itu sekarang telah berganti baju berkabung, bahkan kelihatan menangis sangat sedih. Dan begitu dia menerobos masuk, segera ia menubruk di atas peti mati dan menangis. Siau-hong tidak menduga nona ini bisa menangis sedih begitu bagi orang lain, dia masih muda, cantik dan lincah, hal-hal yang menyedihkan dan kemalangan rasanya seperti takkan menimpa dirinya. Memangnya siapa yang mati dan ada hubungan apa dengan dia? Selagi Siau-hong hendak mencari kesempatan untuk menghibur nona itu, siapa tahu Yap Ling lantas berseru padanya.
"Liok Siau-hong, kemari kau!"
Terpaksa Siau-hong mendekatinya.
Ia tak tahu mengapa mendadak Yap Ung bisa memangnya.
Ia tidak ingin terlalu mendekat.
Tapi Yap Ling lantas berkaok-kaok mendesaknya supaya berjalan lebih cepat dan lebih mendekat ke sana, ke atas panggung.
Waktu S.au-hong menengadah, baru sekarang dilihatnya nona itu sedang menatapnya dengan matanya yang mengembeng air mata, memandangnya dengan benci dan penuh rasa permusuhan.
Kau minta kunaik ke atas?"
Siau-hong bertanya. Yap Ling mengangguk.
"Untuk apa naik ke situ?"
Tanya Siau-hong pula.
"Supaya dapat kau lihat dia!"
Kata Yap Ling.
'Dia' yang dimaksudkan jelas orang yang membujur di dalam peti mati.
Padahal orang mati, apa yang perlu dilihat lagi?
Akan tetapi sikap Yap Ling tampak tidak sabar dan mengharuskan Liok Siau-hong melihatnya ke atas panggung.
Dengan terpaksa Siau-hong naik ke situ.
Yap Ling menggeser tutup peti mati sehingga teruar bau harum yang keras bercampur bau busuk mayat.
Jenazah dalam peti jelas sudah membusuk, mengapa nona itu berkeras menyuruh Siau-hong melihatnya?
Terpaksa Siau-hong memandangnya sekejap dan segera ia ingin tumpah.
Orang yang mati ternyata Yap Koh-hong adanya.
Yap Koh-hong yang mati di tengah hutan pemakan manusia itu.
Dengan menggreget Yap Ling menatap Siau-hong dan bertanya.
"Kau tahu siapa dia?"
Siau-hong mengangguk.
"Dia adalah kakakku, kakak kandungku, jika tak d.rawat oleh dia sejak kecil tentu aku sudah mati kelaparan,"
Sorot mata Yap Ling penuh rasa duka dan dendam.
"Dan sekarang dia mati terbunuh, kau bilang aku harus menuntut balas baginya atau tidak?"
Siau-hong mengangguk pula. Dia tidak suka berdebat dengan orang perempuan, apalagi dalam keadaan demikian, hakikatnya tidak ada tempat baginya untuk bicara.
"Kau tahu cara bagaimana kematiannya?"
Kembali Yap Ling bertanya.
Siau-hong jadi serba salah, tidak dapat mengangguk, tidak dapat menggeleng, tak bisa memberi penjelasan, juga tidak dapat menyangkal.
Sungguh ia ingin ada sebuah peti mati lain agar dia dapat sembunyi di dalamnya.
"Hm, biarpun tidak kau katakan juga kutahu,"
Jengek Yap Ling.
"Kau tahu apa?"
Tanya Siau-hong tidak tahan.
"Dia mati di hutan maut sana, baru tiga hari dia mati, selama tiga hari ini hanya dirimu saja yang melalui hutan sana."
"Memangnya kau kira aku yang membunuh dia?"
Tanya Siau-hong dengan menyengir.
"Ya,"
Seru Yap Ling.
"Salah!"
Tiba-tiba-seorang menanggapi sebelum Siau-hong menjawab.
"Apa? Salah?"
Teriak Yap Ling murka.
"Ya, salah, sebab orang yang pernah melalui hutan sana selama tiga hari ini tidak cuma Liok Siau-hong saja seorang."
Yang tampil dan bicara membela Liok Siau-hong itu ternyata bukan lain daripada Tokko Bi yang menghilang sejak masuk perkampungan hantu ini.
"Sedikitnya aku pun parnah lewat di hutan sana, aku pun datang dari sana,"
Demikian Tokko Bi menambahkan.
"Masa kau pun masuk hitungan? Kau mampu membunuh kakakku?"
Teriak Yap Ling.
"Seumpama aku tidak dapat, kan masih ada orang lain,"
Ujar Tokko Bi dengan menyesal.
"Masih ada orang lain?"
Yap Ling menegas. Tokko Bi mengangguk.
"Ya. seumpama aku bukan tandingan kakakmu, tapi bagi orang itu tidaklah terlalu sulit jika dia mau mem bunuh kakakmu."
"Siapa yang kau maksudkan?"
Tanya Yap Ling dengan gusar.
"Sebun Jui-soat!"
Jawab Tokko Bi. Matanya bercahaya seperti mengandung senyum yang licik seperti seekor rase tua, lalu menambahkan.
"Nama ini pernah kau dengar bukan?' Air muka Yap Ling berubah seketika, dengan sendirinya dia pernah mendengar nama itu. Sebun Jui-soat, pedang saktinya pedang, dewa pedangnya manusia. Setiap orang asalkan mendengar satu kali nama ini dan takkan terlupakan selamanya. Tokko Bi meliriknya sekejap, lalu berucap pula.
"Apalagi ketika itu Liok Siau-hong sendiri juga terluka sangat parah, keadaannya ketika itu paling-paling hanya setengah Liok Siau-hong, apakah mampu membunuh si Naga Putih dari Bu-tong-pay yang termashur ini?"
"Dusta! Kau dusta!"
Teriak Yap Ling pula. Kembali Tokko Bi menghela napas, ucupnya.
"Seorang kakek yang biasanya sanak famili sendiri saja tidak mau dikenal, masakah perlu berdusta bagi orang lain?"
Dengan sendirinya tiada alasan lagi bagi Yap Ling untuk menuduh Liok Siau-hong.
Malam masih diliputi kabut tebal, jalan sempit.
Sudah sangat jauh mereka jalan berendeng di jalan yang sempit ini tanpa bicara.
"Seorang kakek yang biasanya tidak kenal sanak famili lagi, mendapa mau berdusta bagiku?"
Akhirnya Siau-hong buka mulut. Tokko Bi tertawa.
"Sebab kakek ini suka padamu. Tapi cepat ia menambahkan.
"Cuma untunglah kakek mi tidak mempunya, penyakit seperti Hun-yan-cu yang suka kepada sesama jenisnya, maka sama sekali engkau tidak perlu kuatir. Siau-hong juga tertawa.
"Dan kakek in, apakah punya arak?"
"Bukan saja arak, juga ada daging."
"Benar!"
Tambah cerah tertawa Siau-hong.
"Selain ada daging, juga masih ada sahabat,"
Kata Tokko Bi.
"Sahabatmu atau sahabatku?"
"Sahabatku sama dengan sahabatmu."
Araknya memang arak baik, sahabatnya juga sahabat baik.
Bagi seorang tukang minum arak, arti sahabat baik biasanya adalah sahabat yang besar takaran minumnya.
Sahabat ini bukan saja menyenangkan caranya minum arak, cara bicaranya juga menyenangkan, setelah menenggak beberapa cawan, tiba-tiba ia bertanya.
"Kutahu engkau ini Liok Siau-hong, dan kau tahu siapa diriku?"
"Tidak tahu,"
Jawab Siau-hong.
"Mengapa tidak kau tanyakan?"
Siau-hong tertawa, tertawa getir.
"Sebab aku sudah mendapatkan pelajaran."
"Sudah pernah kau tanya orang lain dan orang lain tidak mau bicara?"
"Ehm,"
Siau hong mengangguk.
"Tapi aku bukan orang lain, aku ialah aku,"
Dia tenggak habis arak yang berada pada tangan kirinya, lalu tangan kanan mengait sepotong daging.
Daging dikait dan bukan dipegang, sebab tangan kanannya bukan tangan melainkan sebuah kaitan, kaitan besi.
"Engkau inikah Kaucu?"
Akhirnya Siau-hong teringat kepada orang ini. Kaucu atau si kait mengangguk.
"Kutahu engkau pasti pernah mendengar diriku dari orang lain, tapi ada satu hal pasti tidak kau ketahui "
"Hal apa?"
Tanya Siau-hong.
"Yaitu pada hari pertama kedatanganmu sudah timbul niatku untuk bersahabat denganmu,"
Kaucu menepuk pundak Tokko Bi dan menyambung.
"sebab sahabatmu juga sahabatku, musuhmu juga musuhku."
"Jika sahabat kita adalah dia, lantas siapa musuh kita?"
Tanya Siau hong.
"Sebun Jui-soat!"
Jawab Kaucu. Siau-hong melengak.
"Hei, kau ...."
"Aku inilah Hay Ki-hoat!"
Tukas si kait. Siau-hong tambah terkejut.
"Hay Ki-hoat si Tok-pi-sin-liong (naga sakti bertangan satu) yang dahulu namanya menggetarkan tujuh samudera raya itu?"
"Hahahaha!"
Si kait alias Hay Ki-hoat bergelak, Tak tersangka Liok Siau-hong juga kenal namaku!"
Siau-hong memandangnya dengan tercengang dan juga sangsi, tiba-tiba ia menggoyang kepala dan berkata, 'Tidak, kau bukan dia, Hay Ki-hoat sudah mati tenggelam di laut."
Tertawa Hay Ki-hoat bertambah riang.
"Yang mati adalah seorang lain, seorang yang memakai jubahku dan membawa senjataku, wajahnya juga mirip diriku."
Lalu dia memberi penjelasan pula.
"Orang yang berada di sini semuanya pasti sudah pernah mati satu kali di luar sana, bukankah kau pun begitu?"
Akhirnya Siau-hong mengerti.
"Ya, inilah Yu-leng-san-ceng, hanya orang mati saja yang dapat datang ke sini."
Hay Ki-hoat bergelak tertawa.
"Jika Sebun Jui-soat mengetahui kita masih minum arak dan makan daging di sini, mungkin dia bisa mati kaku saking gemasnya."
"Tampaknya di sini masih terdapat banyak sahabatku,"
Ucap Siau-hong.
"Tidak salah, di sini sedikitnya ada 16 orang yang terdesak oleh Sebun Jui-soat dan terpaksa lari ke sini,"
Kata Hay Ki-hoat. Gemerdep sinar mata Liok Siau-hong. tanyanya dengan tiba-tiba.
"Apakah ,uga ada beberapa orang yang kabur ke sini karena terdesak olehku?"
"Seumpama ada juga tidak perlu kau kuatirkan,"
Ujar Hay Ki-hoat.
"Ya, sebab aku sudah mempunyai sahabat seperti kalian ini."
"Tepat"
Seru Hay Ki-hoat sambil mengangkat cawan araknya lagi, mendadak ia mendesis pula.
"Hanya ada seorang yang khusus perlu kau perhatikan."
"Siapa?"
Tanya Siau-hong.
"Sebenarnya dia tidak dapat terhitung manusia melainkan cuma arwah gentayangan saja."
"Ah, Yu-hun yang kau maksudkan."
"Pernah kau lihat dia?"
Tanya Hay Ki-hoat. Siau-hong tidak menyangkal.
"Kau tahu dia orang macam apa?"
"Aku justru sangat ingin tahu."
"Di sini ada sebuah perkumpulan yang sangat aneh, namanya Goat-lo-hwe (kumpulan pini-sepuh). Pada waktu Lau-to-pacu tidak ada, segala urusan di sini menjadi tanggung jawab Goat-lo-hwe."
"O, anggota Goat-lo-hwe dengan sendirinya adalah para sesepuh, tentu Anda termasuk satu di antaranya,"
Kata Siau-hong "Kecuali diriku, Goat-lo-hwe masih ada delapan anggota lain, padahal sesepuh yang sesungguhnya cuma ada dua orang."
"Dua orang yang mana?"
Tanya Siau-hong.
"Seorang ialah Kau-hun dan yang lain ialah Yu-hun."
Tutur Hay Ki-hoat.
"Mereka dan ayah dari kakak beradik she Yap itu adalah tokoh yang membangun tempat ini bersama Lau-to-pacu dahulu, sekarang Yap tua sudah mati, orang yang berada di sini tidak ada yang lebih tinggi tingkatannya daripada mereka."
"Hanya lantaran ini harus khusus kuperhatikan dia?"
Tanya Siau-hong.
"Masih ada satu hal lain,"
Ujar Hay Ki-hoat.
Siau-hong mengangkat cawan arak dan menunggu ceritanya lagi "Dia adalah sesepuh tempat ini.
jika dia ingin membunuhmu setiap saat dapat ditemukan kesempatan, sebaliknya sama sekali tak dapat kau sentuh dia."
"Ada alasannya hendak membunuhku?"
Tanya Siau-hong.
"Ada."
Kata Hay Ki-hoat.
"sebab kau bunuh anaknya,"
"Anaknya? Siapa anaknya?"
Tanya Siau-hong.
"Hui-thian-giok-hou!"
Siau hong menarik napas dingin, tiba-tiba ia merasa arak yang diminumnya berubah menjadi air cuka. Sebenarnya dia yang mendirikan Hek-hou-pang,"
Tutur Hay Ki-hoat pula.
"Pada waktu Hek-hou-pang sudah mulai berakar de ngan kuat, dia justru ikut Lau-to-pacu ke sini. Sebab dia juga telah menyalahi seorang yang mestinya tidak boleh dimusuhi, karena tiada jalan, terpaksa dia lari ke sini."
"Siapa musuhnya?"
Tanya Siau-hong.
"Bok-tojin, sesepuh dan tokoh terkenal Bu-tong-pay."
Tanpa terasa Liok Siau-hong menarik napas lagi, baru diketahuinya sekarang mengapa sebegitu jauh Yu-hun tidak mau menceritakan asal-usulnya.
"Hek-hou-pang kan hancur di tanganmu, anaknya juga mati di tanganmu. Kebetulan Bok-tojin juga sahabatmu, coba pikir, bukankah cukup alasan baginya untuk membunuhmu?"
"Ya, benar,"
Siau-hong menyengir.
"Yang paling runyam adalah biarpun jelas kau tahu dia hendak membunuhmu, tapi engkau justru tidak dapat menyentuhnya."
"Sebab dia adalah sesepuh dalam Goat-lo-hwe?"
Tanya Siau-hong. Hay Ki-hoat mengangguk.
"Selain dia, Goat-lo-hwe masih ada delapan anggota lagi, jika kau bunuh dia, kedelapan orang itu juga takkan tinggal diam. Dan dapat kujamin, tidak ada seorang pun di antara kedelapan orang itu lawan empuk bagimu."
"Makanya terpaksa harus kutunggu dia turun tangan lebih dulu "
Kata Siau-hong dengan menyesal.
"Sebelum dia yakin sekali serang pasti berhasil, tidak nanti d.a turun tangan,"
Ujar Hay Ki-hoat.
"Sekarang dia belum turun tangan, mungkin dia sedang menunggu kesempatan."
Meski Siau hong tidak bicara lagi, tapi dia tidak menutup mulut.
Mulutnya lagi asyik minum arak.
Kembal.
Hay Ki-hoat menghela napas, katanya.
Jika kau ma buk, maka tibalah kesempatan baginya.' "Kutahu."
Kata Siau-hong.
"Dan kau tetap minum?"
Tiba2 Siau-hong tertawa.
"Kalau dia sesepuh, akhirnya tentu akan memperoleh kesempatan baik, mengapa sebelum mati aku tidak minum arak lebih dulu."
Minum arak tidak sama dengan makan nasi.
Orang yang biasanya takaran makannya cuma tiga mangkuk, tak mungkin dia mampu makan tiga puluh mangkuk.
Namun orang yang biasanya tidak pernah mabuk biarpun minum tiga ratus cawan, terkadang cukup minum beberapa cawan saja bisa membuatnya mabuk.
Dan sakarang bukankah Liok Siau-hong sudah mabuk?
"Tidak, aku tidak mabuk,"
Demikian ia mendorong Tokko Bi dan Hay Ki-hoat.
"Aku dapat pulang sendiri, kalian tidak perlu mengantarku."
Dia memang tidak kesasar.
Baca Juga: Pendekar Bego 6
Baca Juga: Hina Kelana Balada Kaum Kelana 5