Eps 3 Perkampungan Hantu - Khu Lung
Baca online Perkampungan Hantu - Khu Lung
Cersil Perkampungan Hantu - Khu Lung.
Memang begitulah orang mabuk, biarpun kelihatan sempoyongan dan hampir tak tahu apa-apa lagi tapi dia masih tahu jalan untuk pulang, setiba di rumah barulah ia ambruk.
Seorang peminum arak pasti mempunyai pengalaman demikian.
Dan Liok Siau-hong juga punya pengalaman serupa ini, malahan sering.
Meski gubuk ini kecil seperti kotak merpati, apapun juga terhitung rumahnya.
Seorang petualang yang tak menentu tempat tinggalnya, sehabis mabuk ternyata menemukan dirinya dapat pulang ke rumah.
Sungguh penemuan yang menyenangkan.
Siau-hong lantas berdendang dan entah membawakan lagu apa, suaranya bertambah keras, tiba-tiba ia merasa suara sendiri semakin merdu Di dalam rumah tidak ada cahaya lampu, tapi begitu dia mendorong pintu, segcra dirasakan di situ ada seorang.
"Kutahu siapa dirimu, tanpa bersuara juga kutahu,"
Siau hong tertawa, suara tertawanya juga sangat keras.
"Engkau ialah Yu-hun, sesepuh tempat ini, kau tunggu diriku di sini, apakah benar hendak kau bunuh diriku?"
Orang di dalam rumah tetap tidak bersuara. Liok Siau-hong tergelak.
"Seumpama hendak kau bunuh diri ku juga tidak akan main sergap, betul tidak"
Sebab engkau adalah murid utama Bu-tong-pay dari keluarga preman, sebab engkau ialah Ciong-siansing Ciong Bu-kut."
Dia melangkah masuk dan merapatkan pintu, lalu mencari geretan sambil berucap pula.
"Sebenarnya engkau juga sahabat lama Bok-tojin, tapi tidak pantas kau bentuk sindikat semacam Hek-hou-pang secara sembunyi-sembunyi, kalau tidak, masakah Bok-tojin perlu bertindak padamu."
Tetap tidak ada suara jawaban, tapi sudah ada cahaya api.
Begitu api menyala segera menyinari sebuah wajah orang, wajah yang tinggal kulit membungkus tulang, matanya yang cekung seperti tengkorak itu sedang menatap Siau-hong tanpa berkedip.
"Jika sekarang kita sudah menjadi orang mati, untuk apa pula mempersoalkan urusan masa lampau, apalagi...."
Liok Siau-hong tidak malanjutkan ucapannya, suaranya terputus mendadak, geretan api juga padam seketika.
Sebab tiba-tiba diketahuinya Ciong-siansing ini benar-benar telah menjadi orang mati.
Keadaan gelap gulita, Siau-hong berdiri dalam kegelapan tanpa bergerak, kaki dan tangan terasa dingin, sekujur badan juga dingin seperti terjerumus ke dalam gua es.
Cuma di sini bukan gua es melainkan sebuah perangkap.
Sudah dapat dirasakannya, cuma dia tidak dapat lari keluar.
Hakikatnya tiada jalan lari baginya.
Maka dia lantas berduduk saja di situ.
Baru saja berduduk, dari luar lantas berkumandang suara kaki orang berjalan, menyusul ada orang menggedor pintu.
"Apakah engkau sudah tidur? Aku ingin bicara denganmu!"
Suaranya merdu, itulah suara Yap Ling. Siau-hong bungkam saja tanpa menjawab.
"Kutahu engkau tidak tidur, mengapa tidak lekas membuka pintu?"
Suara Yap Ling bertambah bengis.
"Apakah di dalam rumah tersembunyi orang perempuan?"
Akhirnya Siau-hong menghela napas dan berucap.
"Di dalam rumah ini tidak ada orang perempuan, setengah orang saja tidak ada. tapi ada satu setengah orang mati."
Dengan suara lebih garang Yap Ling berteriak pula.
"Sudah kuperingatkan, bila berani kau masukkan orang perempuan ke dalam rumah, segcra akan kubunuh kau, tak peduli orang perempuan itu hidup atau mati."
"Blang" , mendadak pintu didobrak. Api lantas menyala lagi dan akhirnya Yap Ling dapat melihat si orang mati, tanyanya.
"Masih ada lagi setengah, dimana?"
"Yang mati setengah ialah diriku,"
Ucap Siau-hong sambil menyengir. Yap Ling memandangnya, lalu memandang orang mati pula, mendadak ia berjingkrak dan berteriak.
"Hah, kau bunuh dia? Mana boleh kau bunuh dia? Kau tahu siapa dia?"
Siau-hong tidak buka mulut, juga tidak perlu buka mulut, sebab di luar ada orang mewakili dia menjawab.
"Dia tahu!"
Rumah itu sangat kecil, jendelanya terlebih kecil.
Yap Ling sendiri berdiri di ambang pintu, orang di luar pada hakikatnya tidak dapat masuk.
Tapi mereka mempunyai caranya sendiri.
Mendadak terdengar suara "blang"
Sekali, dinding gubuk itu tercerai-berai, atap rumah juga ambruk, orang yang semula berada di dalam rumah mendadak sudah berada di tempat terbuka.
Siau-hong tidak bergerak.
Ambruknya atap rumah menjatuhi dia, tapi dia tidak menahannya dengan tangan, juga tidak menghindar, ia cuma menghela napas panjang saja.
Untuk pertama kalinya dia mempunyai rumah ini, mungkin sekali juga unluk penghabisan kalinya.
"Kiranya di dunia ini selain ada manusia sial juga ada rumah sial,"
Ucap Siau-hong dengan gegetun.
"Rumah ini sial sebab salah memilih penghuni, orang menjadi sial karena salah berkawan."
"Tapi kesialanmu justru lantaran .salah berbuat sesuatu."
"Segala apa boleh kau lakukan, mengapa justru kau bunuh dia?"
"Kan sudah kukatakan padamu, sekalipun kau tahu dia hendak membunuhmu juga jangan kau sentuh dia. kalau tidak, aku pun ti-dak akan melepaskan dirimu."
Pembicara terakhir itu ialah Hay Ki-hoat, dua pembicara yang lain, yang seorang bermuka putih tanpa kumis atau jenggot berpakaian perlente.
Seorang lagi tinggi kurus, hidung bengkok dan punggung bungkuk, mukanya selalu mengulum senyum.
Muka yang satu selalu gembira, muka yang lain senantiasa masam.
"Yang manakah Piauko?"
Tanya Siau-hong tiba-tiba. Muka Piauko yang putih licin itu masih mengulum senyum, tapi dia sengaja menghela napas dan berucap.
"Untung aku bukan Piaukomu, kalau tidak, aku kan bisa ikut susah."
Siau-hong juga menghela napas menyesal dan berkata.
"Untung kau bukan Piaukoku, jika tidak mungkin aku akan bunuh diri."
"Kujamin engkau tidak perlu bunuh diri, kami punya banyak cara untuk membikin kau mati,"
Ujar Piauko dengan tertawa gembira seakan-akan merasa puas terhadap setiap patah kata yang diucapkannya. Tiba-tiba yang seorang lagi menanggapi.
"Aku memang Koan-keh-po (pengurus rumah tangga), maka mau tak mau urusan ini aku harus ikut mengurus. Sebenarnya aku sudah malas bekerja, selama beberapa bulan terakhir ini aku tidak dapat tidur dengan nyenyak, selalu pinggang linu dan punggung pegal, gigi juga sering sakit ..."
Ia terus mengomel dan mengeluh, bukan saja tidak puas terhadap kehidupannya sendiri, juga tidak puas terhadap orang lain.
"Sungguh tidak tersangka, sekaligus telah datang tiga anggota Goat-lo-hwe ke sini,"
Ucap Siau-hong dengan tersenyum getir.
"Empat, bukan tiga,"
Tukas Yap Ling tiba-uba.
"Termasuk kau?"
Tanya Siau-hong dengan terkejut.
"Arti Goat-lo adalah mengenai kedudukannya dan bukan usianya "
Jawab Yap Ling dengan ketus.
"Jawaban bagus,"
Seru Piauko. Koan-keh-po lantas bicara pula.
"Jika Lau-to-pacu tidak ada, asalkan jumlah suara di antara anggota Goat-lo-hwe lebih banyak yang menyetujui, maka segala keputusan dapat dijatuhkan."
"Jumlah suara lebih banyak meliputi berapa orang?"
Tanya Siau-hong.
"Anggota Goat-lo-hwe berjumlah sembilan orang, suara lebih banyak dengan sendirinya adalah lima orang."
"Tetapi sekarang kalian yang hadir sepertinya cuma empat orang,"
Ujar Siau-hong dengan menghela napas.
"Lima,"
Tukas Koan-keh-po.
"Yang sudah mati juga dihitung?"
Tanya Siau-hong.
"Orang di sini memang orang mati semua, Ciong-siansing hanya mati lebih banyak satu kali saja."
"Maka sekarang juga kalian dapat mengambil sesuatu keputusan?"
Tanya Siau-hong pula.
"Engkau sangat pintar, dengan sendirinya kau tahu urusan apa yang hendak kami putuskan,"
Ucap Piauko degan perlahan.
"Yang akan kami putuskan adalah engkau pantas mati tidak?"
Sambung Koan-keh-po.
"Masa aku tak mendapat kesempatan sama sekali untuk membela diri?"
Tanya Siau-hong.
"Tidak ada,"
Jawab Koan-keh-po. Siau-hong cuma menyengir saja.
"Nah, menurut pendapat kalian, dia pantas mati tidak?"
Tanya Hay Ki-hoat.
"Dengan sendirinya pantas mati!"
Seru Koan-keh-po.
"Jelas pantas mati,"
Sambung Piauko. Hay Ki-hoat menghela napas menyesal katanya pula.
"Kukira pendapat Ciong-siansing tentu juga sama dengan kalian."
"Sekarang tinggal minta pendapat nona Yap cilik saja,"
Kata Piauko.
Yap Ling menggigit bibir dan melirik Siau-hong sekejap, pandangannya serupa seckor kucing yang berhasil mencengkeram seckor tikus.
Pada saal itulah mendadak dan dalam hutan yang gelap sana ada orang berseru.
"Kenapa tidak kalian tanyakan pendapatku?"
Tiba-tiha dalam hutan yang gelap itu ada cahaya lampu bergeser, muncul dua gadis cilik berdandan sebagai dayang istana dan membawa lampu berkerudung, seorang perempuan berambut sangat panjang mengikut di belakang kedua gadis cilik itu dengan langkah kemalas-malasan.
Perempuan ini tidak terlalu cantik, tulang pipinya terlalu tinggi, mulutnya juga agak lebar, kedua matanya sayu seperti orang yang senantiasa merasa ngantuk.
Pakaiannya juga bebas, hanya mengenakan jubah tidur warna hitam yang sangat longgar, malahan seperti baju tidur orang lelaki cuma diikat dengan seutas tali pinggang sekenanya, rambutnya pan-jang terurai, bertelanjang kaki tanpa kaos dan sepatu.
Namun tidak perlu disangsikan lagi dia seorang perempuan yang istimewa, kebanyakan lelaki pasti akan terpikat bilamana memandangnya sekejap saja.
Melihat kemunculan perempuan ini, Piauko lantas mengernyitkan kening, sedangkan Yap Ling mencibir, Koan-keh-po tersenyum dan bertanya.
"Menurut pendapatmu dia pantas mati tidak?"
"Tidak,"
Jawab perempuan itu singkat dan tegas. Mestinya Yap Ling belum memberi pendapatnya, sekarang mendadak ia melonjak dan berteriak.
"Sebab apa tidak?"
Perempuan itu tertawa kemalas-malasan Iagi, katanya.
"Untuk menjatuhkan hukuman mati kepada seorang, paling tidak kalian harus membuktikan kesalahannya, dan kalian mempunyai bukti apa?"
"Mayat Ciong-siansing adalah bukti yang nyata,"
Kata Koan-keh-po. Perempuan berjubah hitam itu menggeleng, ucapnya.
"Jika kau bunuh orang, dapatkah kau sembunyikan mayat di dalam rumah sendiri?"
Koan-keh-po memandang Piauko dan Piauko memandang Hay Ki-hoat, ketiga orang sama-sama tidak dapat menjawab. Serentak Yap Ling melonjak lagi dan berteriak.
"Mereka tidak punya bukti, aku ada."
"Kau ada bukti apa?"
Tanya perempuan berjubah hitam.
"Kusaksikan sendiri dia membunuhnya."
Jawab Yap Ling.
Ucapan ini tidak saja membikin Siau-hong terkejut, bahkan Piauko dan lain-lain juga melenggong.
Sebaliknya si perempuan berjubah hitam tidak memperlihatkan sesuatu perasaan, ucapnya dengan tak acuh.
"Umpama benar kau lihat juga tidak ada gunanya."
"Siapa bilang tidak ada gunanya?"
Teriak Yap Ling pula.
"Aku,"
Jawab perempuan berbaju hitam. Dengan langkah kemalasan dia mendekati Liok Siau-hong, sebelah tangan menggantol pada tali pinggang dan tangan lain membetulkan rambut sambil berkata.
"Jika di antara kalian ada yang tidak tunduk, boleh coba berurusan dulu denganku."
"Ai, mengapa engkau bertindak begini? Mengapa?"
Ujar Hay Ki-hoat dengan menyesal.
"Sebab aku suka, dan engkau tidak perlu urus,"
Jawab perempuan itu. Hay Ki-hoat mendelik "Jadi sengaja kau paksa kami turun tangan?"
"Memangnya kau berani?"
Ejek perempuan itu.
Mata Hay Ki-hoat menjadi merah seperti mau menyemburkan api, tapi satu jari saja tidak berani bergerak.
Senyum Piauko tidak nampak Iagi menghiasi wajahnya, katanya dengan muka masam.
"Hoa-kuahu, hendaknya kau tahu diri sedikit. Meski orang she Hay menaksir dirimu, aku tidak pernah berurusan denganmu."
Hoa-kuahu atau si janda Hoa meliriknya sekejap dan mendengus.
"Hm, memangnya kau bisa apa? Hanya beberapa jurus pedang yang kau dapatkan dari Pah-san Tosu tua itu juga berani berlagak di depanku?"
Muka Piauko yang kelam itu mendadak berubah merah padam, sambil menggertak ia melolos pedang, sebilah pedang lemas yang biasanya melingkar pada pinggangnya.
Sekali pedang lemas disendal seketika terjulur lurus, serentak ia pun menubruk maju.
Siau-hong tidak menduga orang yang sok berlagak itu juga hisa meledak amarahnya ketika merasa terhina.
Namun janda Hoa seperti sudah menduga apa yang akan terjadi, tangan yang menyangkul ikat pinggang itu mendadak bergerak, tali pinggang dari kain yang lemas im mendadak terlepas dan juga menjulur lurus terus membelit pedang Piauko.
Hanya baja baik yang dapat digembleng menjadi pedang yang lemas, siapa tahu ikat pinggang kain tak putus ditabas ujung pedangnya.
Waktu Hoa-kuahu menyendal lagi, ikat pinggang menyambar pula, plok tepat mengenai muka Piauko.
Muka Piauko lantas merah bengap.
Muka Siau-hong mendadak juga merah.
Dengan sendirinya merah muka Siau-hong berbeda dengan merah muka Piauko.
Merah muka Siau-hong disebabkan jengah melihat sesuatu, sebab tiba-tiba diketahuinya di balik baju tidur Hoa-kuahu ternyata tidak terdapat sehelai benang pun.
Waktu ikat pinggang dikebutkan lagi, baju Hoa-kuahu terbuka, maka bagian tubuhnya yang paling vital hampir terlihat seluruhnya.
Akan tetapi Hoa-kuahu sama sekali tidak merasa kikuk, dia berdiri kemalas-malasan di tempatnya dan berkata.
"Nah, apakah kau mau coba-coba lagi?"
Piauko memang belum kapok dan masih ingin mencoba, namun Koan-keh-po dan Hay Ki-koat lantas merintanginya.
Biji leher Hay Ki-koat naik turun seperti orang yang kehausan, ingin dia mengalihkan pandangannya dari tubuh Hoa-kuahu.
tapi sayang rasanya sukar untuk berpaling begitu saja.
Usia Hoa-kuahu tentunya tidak muda lagi, namun tubuhnya ternyata masih montok serupa gadis remaja, bahkan terlebih menggiurkan daripada gadis, lebih masak.
Hay Ki-koat menghela napas, katanya sambil menyengir.
"Dapatkah kau rapatkan dulu bajumu baru kemudian bicara lagi."
"Tidak,"
Jawaban Hoa-kuahu tetap singkat tegas.
"Sebab apa?"
Tanya Hay Ki-koat.
"Sebab aku suka begini, kalian tidak dapat melarangku.
"Sebenarnya apa kehendakmu'"
Cepat Koan-keh-po.menyela.
"Aku pun tidak ingin apa-apa, hanya mengena, Liok Siau-hong, dia adalah orang yang dimasukkan sendiri ke sini oleh Lau-to-pacu, bila ada yang hendak membunuhnya, harus tunggu sampai Lau-to-pacu pulang,"
Kata Hoa-kuahu.
"Dan sekarang bagaimana"
Tanya Koan-keh-po.
"Sekarang tentunya akan kubawa pergi dia."
Yap Ling lantas melonjak lagi, teriaknya.
"Berdasarkan apa kau berhak membawanya pergi?"
"Berdasarkan hak ikat pinggangku ini,"
Jengek Hoa-kuahu.
"Memangnya bisa apa ikat pinggangmu?"
Tanya Yap Ling dengan melotot.
"Ikat pinggangku memang tidak bisa apa-apa, paling-paling hanya dapat digunakan meringkus dirimu dan membelejeti pakaianmu, lalu membiarkan dirimu ditunggangi si kait."
Merah padam muka Yap Ling, tinjunya juga terkepal erat, tapi tidak berani bertindak, ia hanya mengentak kaki, katanya dengan gemas.
"Kalau Ciciku pulang, coba apakah kau berani bertindak demikian?"
"Cuma sayang, Cicimu belum pulang, maka terpaksa harus kau saksikan kubawa pergi dia,"
Ujar Hoa-kuahu dengan tertawa. Dia lantas menarik tangan Siau-hong, lalu berkata sambil mengerling genit.
"Di tempatku sana ada tempat tidur ukuran besar, cukup buat tidur kita bardua dengan nikmat, masakah tidak lekas kau ikut pergi bersamaku?"
Dia benar-benar menarik pergi Liok Siau-hong, dan orang lain juga cuma dapat memandangnya dengan terbelalak tanpa bisa berbuat apa-apa.
Entah sudah lewat berapa lama kemudian, tiba-tiba Yap Ling berkata.
"Kait tua, engkau bukan barang baik."
"Aku memang bukan barang kaik, aku orang baik,"
Jawab Kaucu Hay Ki-koat.
"Huh, persetan, kau berani mengaku sebagai orang?"
Jengek Yap Ling.
"Jelas di sini hanya dirimu saja yang dapat melayani anjing betina ilu, mengapa kau diam saja dan tidak berani bertindak."
"Sebab aku masih mengharapkan dia tidur bersamaku,"
Ujar si kait.
"Masa benar-benar kau menghendaki perempuan?"
Tanya Yap Ling.
"Ya, hampir gila kupikirkan perempuan "
"Baik, jika kau bunuh dia, akan kutidur bersamamu selama tiga hari,"
Seru Yap Ling.
"Hehe, apa kau cemburu""
Tanya Hay Ki-koat alias si kait dengan tertawa.
"Kau suka pada Liok Siau hong?"
Yap Ling mengertak gigi, ucapnya dengan gemas.
"Apakah aku cemburu atau bukan, yang jelas apa yang kukatakan pasti kutepati. Aku masih muda, anjing betina itu kan sudah nenek-nenek, sedikitnya dalam hal ini aku lebih unggul daripadanya."
"Akan tetapi...."
"Apa kau ingin melihat barang dulu?"
Tukas Yap Ling mendadak.
"Baik...."
Tiba-tiba ia membuka kaki celananya sehingga kelihatan betisnya yang putih dan licin. Mata Hay Ki-koat kembali melotot.
"Hanya sekian saja yang dapat kulihat?"
"Jika kau ingin melihat yang lain, harus kau bunuh dulu anjing betina itu,"
Jawab Yap Ling.
Bab 9.
Pergi .....
(tamat) Published by Hiu_Khu on 2008/1/17 (535 reads) Tempat tidur di kamar si janda Hoa memang sangat besar, sepreinya putih bersih, kasur selimutnya masih baru, begitu masuk ke situ, dengan kemalas-malasan Hoa-kuahu lantas menjatuhkan diri di tempat tidur.
Siau-hong hanya berdiri saja di depan ranjang.
Si janda Hoa mengawasi Siau-hong dengan pandangan yang sayu, katanya tiba-tiba.
"Sekarang tentunya kau sudah tahu aku ini lah Hoa-kuahu yang menakutkan itu. Siau-hong mengangguk.
"Tentunya kau pun pernah mendengar orang bilang aku ini anjing betina, anjing betina yang bisa makan manusia."
Kembali Siau-hong mengangguk.
"Apakah kau tahu setiap lelaki di sini sama mengira setiap saat aku dapat ikut tidur bersama dia?"
Siau-hong tetap mengangguk saja. Mata Hoa-kuahu tambah sayu dan penuh harap.
"Jika begitu, mengapa tidak lekas kau naik kemari?"
Tapi Siau-hong tidak bergerak sama sekali.
"Engkau tidak berani?"
Tanya Hoa-kuahu. Siau-hong tidak mengangguk lagi, juga tidak menggeleng. Hoa-kuahu menghela napas, ucapnya.
"Ya, tentu saja engkau belum berani, sebab sesungguhnya aku ini orang macam apa belum lagi kau ketahui?!"
Tiba-tiba Siau-hong tertawa, katanya.
"Tidaklah banyak orang yang dapat manggabungkan Lwekang asli keluarga Liu di Hoaypak dan ilmu pedang Liu-in-kiam-hoat Tiam-jong-pay menjadi satu, sebab itulah ...."
"Sebab itu apa?"
Tanya Hoa-kuahu.
"Sebab itulah kuyakin engkau pasti putri Hoay-lam-tayhiap, istri Tiam-jong-kiam-kek, Liu Jing-jing."
"Dan tentunya kau pun tahu aku pernah naik ranjang bersama empat kawan baik Cia Kian (Tiam-jong-kiam-kek, si pendekar pedang dari Tiam-jong-pay)."
Siau-hong mengangguk, hal itu memang merupakan berita sensasi yang sangat menggemparkan dunia Kangouw.
"Jika kau tahu semuanya, mengapa tidak lekas naik kemari?"
Kata Hoa-kuahu pula. Kembali Siau-hong tertawa.
"'Sebab aku tidak suka, dan juga lantaran aku tidak dapat kau perintah."
Hoa-kuahu tertawa juga.
"Wah, tampaknya kau ini memang rada berbeda daripada lelaki lain."
Mendadak ia melompat bangun dari tempat tidur dan berseru.
"Mari kusuguh kau minum arak."
Minum arak memang kegemaran Liok Siau-hong.
Semakin banyak arak yang ditenggak, mata Hoa-kuahu juga tambah sayu seperti Iciiuiup kabut.
Di lembah pegunungan ini memang selalu berkabut, sebab itulah selalu bertahan kemisleriusannya.
Dan sekarang bukankah demikian dengan Hoa-kuahu?
Untuk melihat tubuhnya yang telanjang mungkin tidak sulit, jika ingin melihat hatinya rasanya tidaklah mudah.
Setelah minum secawan arak pula tiba-tiba si janda bertanya "Apakah kau tahu sebab apa Hay Ki-hoat senantiasa berharap aku aan naik ranjang bersama dia?"
"Sebab dia anggap engkau pernah naik ranjang dengan lelaki lain yang berada di tempat ini,"
Kata Siau-hong.
"Ya, setiap orang berpikir begitu."
Hoa-kuahu tertawa.
"Pada-hal ... berapa lelaki yang benar-benar pernah naik ranjang bersamaku, mungkin kau sendiri tidak dapat menerkanya."
"Tiada satu pun?"
Tanya Siau-hong.
"Ada, cuma satu,"
Kala Hoa-kuahu.
Siau-hong menenggak arak lagi.
Pandangan Hoa-kuahu seperti melayang jauh ke sana, kepada bayangan orang yang berada jauh, yang penuh dikagumi dan dicintainya.
Selang agak lama barulah ia terjaga dari lamunannya.
"Mengapa tidak kau tanyakan padaku siapakah orang itu?"
"Untuk apa harus kutanya?"
Ujar Siau-hong. Kembali Hoa-kuahu tertawa.
"Kau ini memang orang yang istimewa, aku suka kepada lelaki yang istimewa."
Tiba-tiba lenyap pula tertawanya, ' "Sebenarnya Cia Kian (suaminya) juga seorang lelaki yang istimewa, aku kawin dengan dia lantaran waktu itu aku memang menyukai dia."
"Tapi kemudian hatimu berubah?!'"
"Yang berubah bukan diriku, tapi dia."
Kabul pada matanya tiba-tiba terbelah satu garis, dibelah oleh pedang tajam yang penuh rasa pedih dan dendam, lalu ia melanjutkan 'Tentunya tidak pernah kau pikir dia berubah menjadi orang macam apa, lebih-lebih tak pernah terpikir olehmu betapa menakutkan perbuatannya?"
"Menakutkan'"
Siau-hong menegas.
"Apakah kau tahu sebab apa sampai aku naik ranjang bersama sahabat baiknya?"
Tanya Hoa-kuahu tiba-tiba, tangannya terkepal erat, air mala menitik.
"Sebab ... sebab dia yang minta aku berbuat demikian, dia suka ... dia suka melihat ... bahkan dia berlutut dan memohon padaku untuk berbuat, malahan mengancam pula diriku dengan pedangnya...."
Tiba-tiba Siau-hong menenggak lagi arak dalam cawannya,-ia merasa lambungnya mengejang dan hampir tumpah.
Waktu dia berpaling lagi, dilihatnya Hoa-kuahu sudah mengusap air matanya, ia menghabiskan isi cawannya dan berucap pula, 'Tentu engkau sangat heran untuk apa kuberitahukan semua ini kepadamu."
Tapi Siau-hong tidak heran, sedikitpun tidak heran.
Rasa sedih dan duka seorang kalau sudah terpendam terlalu lama, biasanya memang ingin mencari seorang untuk menumpahkan seluruh perasaannya.
Meski rasa pedih Hoa-kuahu sudah terlampias, namun dia sudah banyak menenggak arak, ucapnya pula.
"Meski dia sudah tua, tapi dia seorang lelaki sejati, lelaki yang berbeda dengan lelaki lain, mungkin aku tidak suka padanya, tapi aku kagum padanya, asalkan dapat membuatnya senang, aku rela berbuat apapun baginya."
La mendongak dan menatap Siau-hong, lalu menambahkan, 'Bila sudah kau temui dia, pasti kau pun akan suka kepadanya."
"Yang kau maksudkan ...."
"Kumaksudkan Lau-to-pacu,"
Tukas si janda. Siau-hong terkejut.
"Lau-to-pacu?"
Hoa-kuahu mengangguk.
"Dialah satu-satunya lelaki di sini yang pernah naik ranjang bersamaku, tentu tak kau duga."
Dia tertawa pedih, lalu menyambung.
"Tadinya kukira di dunia ini tidak ada orang yang dapat memahami diriku dan bersimpati padaku, tapi dia memahami diriku, simpati padaku, semua itu timbul dari lubuk hatinya yang murni."
"Maka kau serahkan dirimu kepadanya?"
Tukas Siau-hong.
"Ya, bahkan aku rela mengorbankan segalanya baginya,"
Kata Hoa-kuahu.
"Sekalipun dia suruh aku mati juga akan kumati baginya. Namun... namun ...."
Dengan cepat ia habiskan secawan arak lagi, lalu menyambung.
"Namun aku tidak menyukai dia, aku ... aku ..."
Dia tidak melanjutkan, perasaan cinta memang sukar untuk dijelaskan begitu saja, ia yakin Siau-hong pasti paham.
Siau-hong memang paham, bukan saja paham terhadap perasaan perempuan, juga paham akan pribadi orang seperti to-pacu, si tangkai pisau tua, yang disegani dan mengepalai perkampungan hantu ini.
"Jika aku menjadi dirimu, aku pasti akan berbuat begini juga,"
Ucap Siau-hong dengan lembut.
"Kutahu dia pasti seorang manusia yang luar biasa."
Hoa-kuahu menghela napas panjang, seperti, baru terbebas dari beban yang amat berat. Dia pandang Siau-hong, sorot matanya memancarkan perasaan gembira dan terima kasih, katanya pula.
"Sejak kudatang ke sini belum pernah kurasakan kegembiraan seperti hari ini. Mari, kuhormati tiga cawan padamu."
"Jika minum lagi mungkin bisa mabuk,"
Kata Siau-hong.
"Biarpun mabuk juga tidak menjadi soal,"
Si janda lantas mengangkat cawan pula.
"Bila benar mabuk, aku tambah berterima kasih padamu."
Siau-hong bergelak tertawa.
"Hahaha, bicara sejujurnya, memang sudah lama aku ingin mabuk sepuas-puasnya." ' Maka mereka pun minum lagi dan mereka pun mabuk dan tergeletak di tempat tidur. Meski mereka saling rangkul dengan erat, tapi hati mereka suci murni seperti anak kecil, mungkin selama hidup mereka tidak pernah suci bersih seperti sekarang ini. Lantas hubungan perasaan macam apakah ini? Masa muda sudah akan berlalu, kejadian masa lampau tidak perlu ditoleh pula, seorang perempuan yang telah kenyang dicaci, dinista dan seorang petualang yang terlunta-lunta, siapa pula di dunia ini yang dapat memahami perasaan mereka. Malam bertambah larut, kabut juga semakin tebal. Jendela tidak tertutup, dar. balik kabut sana tiba-tiba muncul sesosok bayangan orang dengan sorot mata yang penuh rasa benci dan dengki. Lalu melalui celah-celah jendela muncul pula sebuah pipa tiup kecil. Pipa tiup warna hitam dan asap yang ditiupkan berwama ungu gelap. Asap buyar, orang yang tidak mabuk pun akan mabuk. Orang ini yakin sepenuhnya pasti akan berhasil, sebab asap yang ditiupnya adalah dupa bius yang paling hebat, 'Siau-hun-sit-kut-san', bubuk penyusup tulang dan pembetot sukma. Sedikitnya sudah 13 kali ia gunakan dupa ini untuk pekerjaan besar dan tidak sekali pun gagal. Maka pada waktu Liok Siau-hong dan Hoa-kuahu siuman, mereka tidak lagi berada di.tempat tidur yang empuk dan longgar itu, melainkan berada dalam sebuah gua di bawah tanah. Gua di bawah tanah ini dingin dan lembab, mereka meringkuk di pojok, tak ada yang tahu cara bagaimana mereka berada di sini. Hanya ada seorang yang tahu. Di dalam gua ini hanya ada sebuah kursi, Piauko berduduk di kursi itu dan sedang memandangi mereka dengan dingin, dengan penuh rasa benci dan dengki. Melihat Piauko, serentak Hoa-kuahu berteriak.
"Hah, kau?!"
"Tak kau sangka bukan?"
Jawab Piauko.
"Memang tak kuduga,"
Jengek si janda.
"Hm, anak murid Pah-san-kiam-kek ternyata juga suka menggunakan obat bius yang biasanya dipakai kaum pencuri yang rendah itu."
"Hm, urusan yang tak terduga olehmu masih sangat banyak,"
Jengek Piauko pula.
"Tapi sedikitnya aku menjadi tahu juga segalanya,"
Kata Hoa-kuahu.
"Rupanya perbuatanmu, baru sekarang kutahu."
Kiranya orang yang datang ke perkampungan hantu ini sebelumnya sudah ada perjanjian lebih dulu dengan Lau-to-pacu.
Orang yang diperbolehkan masuk ke sini biasanya cukup dapat dipercaya.
Tapi akhir-akhir ini banyak penghuni di sini menghilang tanpa sebab, tidak ada yang tahu perbuatan keji siapa.
Tapi sekarang Hoa-kuahu dapat menarik kesimpulan.
Piauko juga tidak menyangkal.
"Cuma sayang, siapa pun tidak menyangka akan diriku. Sekali ini bila kubunuh kalian, tetap tidak ada yang mencurigai diukir"
Dia yakin akan hal ini, sebab kebanyakan orang tentu akan menyangka si kail yang membunuh mereka.
Hoa-kuahu juga tidak dapat menyangkal akan keyakinan Piau-ko itu.
Sebab setiap penghuni Yu-leng-san-ceng hampir semua mengetahui si kait berminat besar terhadap si janda cantik, juga sama tahu Kaucu atau si kait ingin membunuh Liok Siau-hong.
"Padahal aku pun tahu kau dendam padaku,"
Kau Hoa-kuahu pula.
"Sebab kau suka kepada orang lelaki, sedangkan yang disukai orang lelaki ialah diriku."
"Mungkin aku masih ada alasan lain,"
Ujar Piauko dengan tertawa.
"Alasan apa?"
Tanya si janda. Mendadak Piauko tertawa aneh, katanya.
"Mungkin tindakanku ini hanya untuk membela si kait tua."
Tiba-tiba ada suara tertawa orang lain dan berkata.
"Mungkin juga karena mendadak kau rasakan si kait tua sudah berada di atas kepalamu dan setiap saat kaitannya dapat menggantol lehermu."
Yang muncul ternyata tidak cuma Kaucu atau si kait saja, tapi ada juga Koan-keh-po.
Serupa nenek pengurus rumah tangga umumnya, dimana dan kapan saja wajahnya selalu bersungut.
Sebaliknya Kaucu tertawa dengan gembira.
Piauko juga tertawa, dengan sendirinya tertawa yang tidak gembira atau menyengir.
Meski si kait Hay Ki-koat tidak sekaligus mengait lehernya, tapi kaitannya telah menggantol di atas pundaknya, serupa tukang jagal mengait sepotong daging.
Dengan sendirinya perasaan demikian tidak menggembirakan.
Di dunia ini justru ada sementara orang yang suka membikin gembira dirinya sendiri di atas ketidak gembiraan orang lam.
dan si kait Hay Ki-koat kebetulan adalah manusia jenis ini.
Dengan tertawa ia berkata.
"Baru saja bukankah kau bilang akan membikin orang lain menyangka perbuatanmu ini sebagai perbuatanku?"
Piauko tidak menyangkal, dia memang tidak dapat menyangkal.
"Soalnya kau ingin membunuh mereka, tetapi kau pun takut Lau-to-pacu tidak mengizinkan."
Kata Hay Ki-koat pula.
"Padahal sebenarnya aku pun punya keinginan seperti dirimu."
"Kau pun punya keinginan yang sama?"
Piauko tak.mengerti.
"Ya, aku pun ingin membunuh Liok Siau-hong, tapi juga kuatir dirintangi Lau-to-pacu. Di antara kita hanya ada setitik perbedaan."
"Dalam hal apa?"
Tanya Piauko.
"Aku lebih mujur, dapat kutemukan seorang yang dapat kujadikan sebagai kambing hitam."
Piauko paham apa yang dimaksudkan, tapi dia sengaja bertanya.
"Siapa?"
"Kau,"
Kata Hay Ki-koat.
"Maksudmu agar kubunuh Siau-hong bagimu?"
Tanya Piauko.
"Memangnya kau tidak mau?"
"Masa aku tidak mau? Aku memang ingin membunuh dia, kalau tidak, untuk apa kuringkus dia ke sini."
"Waktu itu bila kau bunuh dia, akulah yang akan kau jadikan kambing hitam, tapi sekarang, bagaimana?"
"Sekarang kalau aku tidak mau membunuhnya, akulah yang akan kau bunuh."
"Haha, kau memang seorang yang pintar, makanya selama ini aku suka padamu."
"Dan jika mau kubunuh dia, akan kau lepaskan diriku?"
"Sekarang juga akan kulepaskan kau, memangnya kau dapat lolos dari cengkeramanku?"
Ucap si kait. Lalu ia singkirkan kaitannya dari pundak Piauko. Piauko menghela napas lega, lalu berpaling memandang si kail, wajahnya menampilkan senyuman pula, tiba-tiba ia bertanya.
"Menurut pandanganmu, apakah aku ini mirip seorang yang mudah emosi dan kurang sabar?"
"Kau tidak mirip orang-orang begitu,"
Jawab si kait.
"Apakah aku tahu Hoa-kuahu ini seorang perempuan yang lihai dan sukat direcoki?"
"Kau tahu dengan jelas,"
Kala si kail.
"Jika demikian, mengapa tadi aku bertindak padanya."
"Ya, sebab apa?"
Si kail malah bertanya. Tertawa Piauko berubah, sangat aneh.
"Sebab aku ingin disangka oleh mereka bahwa kungfuku tidak ada artinya bagi kalian."
Si kait tidak dapat tcrtawa lagi.
"Padahal?"
"Padahal cukup satu jurus saja dapat kubunuh kau!"
Kata Piauko.
Kalimat ini meliputi delapan suku kata, pada waktu mengucapkan kala keenam barulah dia turun tangan, ketika kata terakhir terucap, Hay Ki-koat pun sudah terbunuh olehnya.
Serangannya sungguh cepat dan efektif.
Pada hakikatnya tidak ada yang tahu jelas cara bagaimana dia turun tangan.
Hanya terdengar dua kali suara "crat-cret"
Yang aneh, serupa golok si jagal membacok daging, lalu Hay Ki-koat kelihatan roboh terkulai serupa babi mampus.
Liok Siau-hong dan Hoa-kuahu terkejut, tentu saja Koan-keb-po terlebih terkejut.
Piauko tepuk tangan yang kotor, lalu berucap pula dengan tersenyum.
"Sudah lama kudengar para Hiangcu dari ketiga seksi Hong-bwe-pang adalah tokoh yang lain daripada yang lain, lebih-lebih pemimpin umumnya, Ko Tiu, tapi sayang sejauh ini hingga sekarang belum sempal kulihat betapa lihai kungfu andalanmu yang mengguncangkan dunia Kangouw itu."
Koan-keh-po yang selalu bersungut itu sekarang lebih mirip orang yang mau menangis, katanya.
"Ah, mana ada kungfu andalanku segala? Kepandaianku yang dapat kuandalkan adalah mengurus rumuh tangga orang, cuci pakaian atau masak di dapur."
"Kau tidak dapat membunuh orang?"
Tanya Piauko. Tidak,"
Koan-keh-po menggeleng kepala. Piauko menghela napas.
"Ai. jika begitu, akan Iebih baik jika kubunuh kau saja."
Mendadak Koan-keh-po melompat ke atas, selagi mengapung di udara, segera terjadi hujan senjata rahasia, sedikitnya ada 50 buah semala rahasia kecil berhamburan ke arah Piauko.
Kiranya Koan-keh-po ini ahli am-gi atau senjata rahasia, ham-pir seluruh tubuhnya membawa senjata rahasia vang mematikan dan setiap saat dapat dihamburkan.
Di dunia ini pasti tidak lebih 10 orang yang mahir menghamburkan senjata rahasia sebanyak ini dalam waktu sekejap.
Dan lebih sedikit pula orang yang mampu menghindarkan hujan senjata rahasia sebanyak ini.
Tapi Piauko justru satu di antara orang yang terlalu sedikit itu, bukan saja sudah diperhitungkannya kemungkinan serangan Koan-keh-po ini, bahkan juga sudah siap dengan cara mengatasinya.
Maka begitu terhambur senjata rahasia lawan, tahu-tahu pedangnya juga sudah siap menunggu.
Begitu sinar pedang berkelebat, segala senjata rahasia itu tergulung hancur, sekali sinar pedang berkelebat lagi, kontan Koan-keh-po lantas roboh, sesudah menggeletak di lantai barulah darah mengalir.
Waktu darah mengalir barulah Siau-hong menghembuskan napas lega, ucapnya.
"Inikah Hwe-hong-kiam-hoat?"
"Betul,"
Jawab Piauko.
"Jadi kau ini satu-satunya ahli waris Pah-san-kiam-kek, Koh Hui-in?"
"Ya, aku inilah orangnya,"
Kata Piauko.
"Ilmu pedang Pah-san memang hebat,"
Ujar Siau-hong.
"Cuma aku tidak habis mengerti, orang semacam dirimu ini mengapa juga bisa terdesak oleh Sebun Jui-soat sehingga tiada jalan lain kecuali menuju ke sini?"
"Tentunya kau pun tidak bisa mengerti mengapa aku cuma membunuh mereka dan tidak membunuhmu?"
Siau-hong memang tidak mengerti.
"Alasan ini sebenarnya sangat sederhana, yaitu lantaran aku memang tidak ingin membunuhmu,"
Ujar Piauko dengan tertawa. Siau-hong tambah tidak mengerti. Maka Piauko bicara pula.
"Lau-to-pacu selalu menganggap organisasinya ini sangat ketat dan terahasia, padahal sudah lama ada tiga tokoh Kangouw mengetahuinya, orang pertama yang tahu ialah guruku,"
"Jadi kau...."
Melengak juga Siau-hong.
"Aku sengaja dikirim ke sini khusus untuk menyelidiki seluk beluk sindikat ini, sebab meski mereka sama lalui di dunia Kangouw, ada suatu sindikat yang bernama Yu-leng-san-ceng, tapi tidak banyak mengetahui kekuatan organisasi gelap ini."
"O, jadi mareka sengaja menyuruhmu pura-pura terdesak oleh Sebun Jui-soat sehingga tiada jalan lari kecuali kabur ke sini?"
"Ya, urusan ini sebenarnya cuma sebuah perangkap saja, sudah mereka perhitungkan Sebun Jui-soat pasti akan ikut campur urusan ini. maka mereka juga sudah memperhitungkan pihak San-ceng pasti akan mengikat perjanjian denganku."
"Sebab apa?"
Tanya Siau-hong.
"Sebab aku baru saja menerima sejumlah harta peninggalan yang cukup besar dan setiap saat sanggup membayarkan sepuluh laksa tahil perak."
"Uang kontrak di sini sedikitnya sepuluh laksa tahil perak?"
Tanya Siau-hong.
"Demi menyelamatkan jiwa sepuluh laksa tahil kan tidak banyak."
"Ya, memang tidak banyak,"
Siau-hong mengaku.
Jiwa memang sukar dinilai, memangnya urusan apa di dunia ini yang bisa lebih berharga daripada jiwa sendiri?
"Aku dikirim ke sini, tugasku yang utama adalah menyelidiki pribadi Lau-to-pacu ini,"
Tutur Piauko lebih lanjut.
"O, mereka pun tidak tahu seluk-beluk dan asal-usul Lau-to-pacu?"
"Ya, tidak ada yang tahu."
"Bagaimana dengan kau?"
"Meski sudah sekian lama kudatang ke sini, tapi belum pernah kulihat wajah aslinya, sebab itulah aku buru-buru ingin menemukan orang itu."
"Orang itu siapa?"
Tanya Siau-hong.
"Orang yang akan mengadakan kontak dan membantuku.' tutur Piauko.
"Sudah disepakati sebelumnya selekasnya mereka akan mengutus pembantu ke sini, tapi gerak-gerik setiap pendatang baru tidak bisa bebas, dengan sendirinya juga sulit untuk mengetahui Koh Hui-in yang hendak dicari ialah diriku alias Piauko."
"Karena kau tidak sabar menunggu, maka kau yang mencari-cari mereka?"
"Ya, sudah 12 orang yang pernah kutemui."
"Dan semuanya salah alamat?"
"Benar, maka terpaksa kubunuh mereka untuk menghilangkan saksi."
"Sekali ini kau kira aku adalah orang yang dikirim untuk membantumu?"
"Ya, kuharap sekali ini tidak keliru,"
Ucap Piauko sekata demi sekata sambil menatapnya dengan tajam. Siau-hong menghela napas, ucapnya.
"Aku pun berharap sekali ini kau tidak keliru."
Piauko masih terus menatapnya, sorot matanya berubah setajam sembilu, tiba-tiba ia bertanya.
"Kecuali guruku, Pah-san-kiam-kek, masih ada dua tokoh lain yang ikut dalam perencanaan operasi ini. Siapa kedua tokoh yang lain? Siapa yang mengutusmu ke sini? Apa kode pengenalmu?"
"Tidak dapat kukatakan,"
Jawab Siau-hong.
"Sebab pada hakikataya engkau memang tidak tahu?!"
Siau-hong mengangguk dan tesenyum kecut, katanya.
"Sungguh menyesal, sekali ini tampaknya kau keliru lagi."
Di dalam gua bawah tanah ini ada lampu, kini sudah permulaan musim semi, hawa tidak terlalu dingin.
Tapi mendadak Liok Siau-hong merasa merinding.
Hal ini bukan disebabkan tangan Piauko mulai meraba tangkai pedangnya lagi, melainkan di dalam gua ini tiba-tiba bertambah pula satu orang.
Seorang berjubah kelabu dan memakai caping bambu.
Baru saja tangan Piauko meraba tangkai pedangnya, tahu-tahu si baju kelabu sudah berada di belakangnya.
Siau-hong dapat melihat orang ini, Hoa-kuahu juga dapat melihatnya, tapi Piauko sendiri tidak merasakan apapun.
Pendatang ini serupa badan halus yang cuma berbentuk tapi tak berwujud.
Karena mukanya tertutup oleh caping bambu yang lebar dan berbentuk aneh, sama sekali Siau-hong tidak dapat melihat wajahnya, tapi sudah dapat ditebaknya siapa dia.
Hoa-kuahu tidak memperlihatkan sesuatu tanda, tapi sorot matanya tidak urung menampilkan rasa girang.
Si baju kelabu juga lagi memberi isyarat tangan padanya.
Agaknya Piauko juga marasakan sesuatu yang tidak beres sekonyong-konyong ia membalik tubuh.
Tapi di belakang tidak ada orang, bahkan bayangan pun tidak ada.
Orang itu serupa bayangan saja yang melengket di belakang Piauko, kembali ia menggoyang tangan lagi kepada Hoa-kuahu.
Waktu Piauko berpaling kembali, si janda lantas menarik muka dan mendengus.
"Sesungguhnya hendak kau bunuh Liok Siau-hong atau mambunuhku lebih dulu?"
Perlahan Piauko membetulkan tempat duduknya, ucapnya dengan perlahan.
"Tampaknya kalian seperti tidak takut mati?"
"Toh harus mati, untuk apa takut?"
Kata Hoa-kuahu.
"Cuma saja ...."
"Cuma kau tidak mau mati tanpa mengetahui sebab musababnya, begitu bukan?"
Hoa-kuahu membenarkan, ucapan Piauko ini memang tepat mengenai isi hatinya.
"Sebab itulah kau pun ingin tanya padaku, kecuali guruku, siapa pula yang mengetahui rahasia ini."
"Jika kami toh akan kau bunuh, apa alangannya kau jelaskan?""
Pinta si janda. Piauko menatapnya, tiba-tiba ia tertawa terbahak-bahak.
"Apa yang kau tertawakan?"
Tanya Hoa-kuahu.
"Kutertawai dirimu,"
Jawab Piauko.
"Jelas-jelas kau tahu, mengapa pura-pura tanya padaku?"
"Aku tahu apa?"
Ujar Hoa-kuahu.
"Selain guruku masih ada lagi dua orang, yang satu ialah Bok-tojin dan seorang lagi ialah bapakmu."
Kata Piauko.
"Jelas-jelas kau pun mengemban tugas serupa diriku, kau pun datang ke sini untuk menjadi mata-mata, mengapa kau berlagak pilon?"
Air muka Hoa-kuahu berubah seketika.
"Kuyakin sekarang kau pasti tahu Lau-to-pacu itu orang macam apa"
Kata Piauko pula.
"Sebab engkau seorang perempuan dan dapat tidur bersama dia "
"Sengaja hendak kau seret diriku ke dalam lumpur ini?"
Tanya Hoa-kuahu.
"Sebenarnya sudah lama kutahu rahasiamu,"
Sambung Piauko.
"Apa yang kulakukan ini tidak lebih hanya sebuah perangkap saja, ingin kupancing pembeberan rahasiamu, aku lebih suka salah membunuh seratus orang daripada seorang agen rahasia tinggal di sini."
Hoa-kuahu memandangnya dengan tajam, tiba-tiba ia menghela napas dan berkata.
"Ah, kiranya bukan niatmu menyeret diriku ke dalam lumpur, tujuanmu hanya ingin mencari pengganti untuk mati bagimu."
"Mengapa aku harus mencari pengganti?"
"Sebab meski tidak kau lihat Lau-to-pacu, tapi sudah tahu dia telah datang,"
Si janda menghela napas, lalu menyambung.
"Sungguh engkau ini seorang cerdik, cuma sayang, ada satu hal yang tidak kau ketahui."
"Hal apa?"
Tanya Piauko.
"Bahwa ini memang sebuah perangkap, cuma yang terjebak bukan diriku melainkan kau."
"Oo?!"
Piauko melengak.
"Sudah lama aku dan Lau-to-pacu mencurigai dirimu, makanya kami mengatur perangkap ini untuk menjerat dirimu,"
Tutur Hoa-kuahu.
"Jika kau sangka aku terkena dupa biusmu, maka kelirulah kau."
Lalu dia tepuk-tepuk lengan bajunya dan berbangkit perlahan.
Padahal biasanya seorang yang terkena asap Siau-hun-san itu dalam waktu saiu jam pasti tidak dapat bergerak, tapi sekarang Hoa-kuahu dapal berdiri dengan tegak.
Piauko lelap duduk di tempatnya, tiba-tiba ia berpaling kepada Liok Siau-hong dan berkala.
"Bagaimana pendapatmu'"
Siau Hong menghela napas.
"Ai. kalian semua orang pintar, sungguh aku sangai kagum ."
Mendadak Piauko bergelak tertawa.
"Hahaha! Dapat membuat kagum orang semacam Liok Siau-hong, biarpun aku Koh Hui-in harus mati juga tidak perlu menyesal,"
Dia ternyata cukup tegas.
sekali bilang mati segera dia mati, bahkan jauh lebih cepat danpada dia membunuh orang.
Sekali ujung pedangnya membalik dan menikam dada sendiri, kontan darah ber hamburan, tubuhnya lantas tersungkur.
Betapapun ia tidak mau menjadi saksi hidup sehingga orang lain dapat mengorek pengakuan dari mulutnya.
Maklum, jika kau ingin menyelidiki rahasia orang lain, maka lebih dulu kau harus senantiasa siap mengorbankan diri sendiri.
"Sungguh tak tersangka dia benar-benar tidak takut mati setitik pun,"
Kata Hoa-kuahu dengan kening berkerut.
"Orang yang takut mati pada hakikatnya tidak dapat berbuat begini, orang terlalu pintar juga tidak dapat,"
Kata Lau-to-pacu tiba-tiba.
"Masih ada lagi sejenis orang yang tidak dapat berbuat begini,"
Tukas Siau-hong.
"Oo?!"
Lau-to-pacu ingin tahu.
"Ada sejenis orang, kemana dia pergi seperti selalu mendapat kesulitan,"
Tutur Siau-hong.
"Seumpama dia tidak ingin mencari kesulitan, kesulitan sendiri juga akan menimpa dia."
"Dan kau adalah jenis orang begini?"
"Ya. biasanya aku memang cukup kenal diriku sendiri."
"Kesulitan yang kau timbulkan bagiku memang tidak sedikit."
"Tapi engkau pasti tidak dapat membunuhku,"
Sela Siau-hong.
"Sebab apa?"
Tanya Lau-to-pacu.
"Sebab tidak ada minatku untuk datang kemari, engkau sendiri yang menghendaki kedatanganku, maka orang lain boleh membunuhku, hanya engkau tidak dapat, sebab aku adalah tamu undangan."
Lau-to-pacu termenung, katanya kemudian dengan perlahan.
"Boleh juga tidak kubunuh dirimu, asal saja kau sanggupi sesuatu padaku."
"Urusan apa?"
Tanya Siau-hong.
"Tutup mulutmu serapatnya dan berjanji takkan mambocorkan rahasia tempat ini."' "Baik, kuterima."
Jawab Siau-hong tegas.
"Bagus, kupercaya padamu. Sekarang pergilah!"
Kata Lau-to-pacu.
"Kau suruh aku pergi?"
Siau-hong melengak.
"Umpama tuan rumah tidak dapat membunuh tamu, sedikitnya kan dapat menyuruhnya pergi."
"Tapi di luar sana ...."
"Tak peduli siapa yang sedang menunggumu di luar, sedikitnya terlebih baik daripada kau mati di sini,"
Kata Lau-to-pacu dengan dingin. Siau-hong tidak bicara lagi, ia tahu tiada gunanya banyak bicara, terpaksa dia harus angkat kaki. Tiba-tiba Lau-to-pacu memanggilnya lagi.
"Betapapun engkau sudah pernah menjadi tamu undanganku, bahkan tidak kau khianati diriku, maka bila engkau menghendaki sesuatu dapat kuberikan dan boleh kau bawa pergi."
"Apapun yang kuminta pasti kau beri?"
Tanya Siau-hong.
"Ya, asalkan dapat kau bawa,"
Kata Lau-to-pacu.
"Baik, akan kubawa serta dia,"
Ucap Siau-hong. Yang diminta ternyata Hoa-kuahu. Seketika Lau-to-pacu tidak dapat bicara. Sampai lama sekali barulah ia bersuara pula.
"Baik, boleh kau bawa pergi dia, cuma selanjutnya sebaiknya jangan sampai kulihat lagi dirimu."
Lembah pegunungan masih diliputi kabut, untuk mencari jembatan kawat yang hampir lidak kelihatan itu tidaklah mudah, untuk menyeberang juga tidak gampang.
Dan kalau sudah menyeberang ke sana, lalu bagaimana?
Di lembah pegunungan ini adalah dunianya hantu, di luar lembah sana bagaimana?
Siau-hong menghela napas panjang, tiba-tiba ia tertawa.
Hoa-kuahu memandangnya dengan heran, tanyanya.
"Engkau tidak takut?"
"Takut apa?"
Tanya Siau-hong.
"Mati,"
Ucap Hoa-kuahu. perlahan ia pegang tangan Siau-hong. Apakah engkau tidak takut begitu keluar dilembah ini, sagera akan mati di bawah pedang orang lain?"
"Toh aku sudah pernah mati satu kali, apa alangannya jika mati sekali lagi?"
Sahut Siau-hong dengan tersenyum. Hoa-kuahu juga tersenyum. Apapun juga mereka toh keluar dari Yu-leng-san-ceng, keluar dari dunianya orang mati. Dengan suara lembut Hoa-kuahu berkata.
"Sering kupikirkan, asalkan aku dapat hidup lagi benar-benar, sungguh puaslah hatiku."
TAMAT
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com
Baca Juga: Beruang Salju 4
Baca Juga: Persekutuan Pedang Sakti Qin Hong