Kelana Buana 6

Eps 6 Kelana Buana - Liang Ie Shen

Baca online Kelana Buana - Liang Ie Shen

Cersil Kelana Buana - Liang Ie Shen.

Segera Boh Cong-tiu menyela sambil mengebaskan kipasnya. '"Kau mundurlah, biar aku bicara dengan dia."

Sementara dalam hati ia membatin.

' Mungkinkah dia sudah tahu bahwa secara diam-diam aku ada mengikat hubungan dengan Pakkiong Bong?

Ai, bahwasanya aku hanya mengikat hubungan bersahabat dan mengangkat nama dan membesarkan perguruan kita.

Tapi jerih payah dari usahaku ini sulit kujelaskan dan dibeber di hadapan umum."

Kuatir Cong Sin-liong membongkar rahasianya, Boh Cong-tiu mau tidak mau harus merubah sikap dan berlaku sungkan, katanya.

"Ucapanmu memang tidak salah, soal bijaksana dan kelakuan, hanya diperuntukkan bagi orang yang penuh cinta kasih dan mengenal susila dan cerdas, namun antara keduanya ini sulit dibandingkan. Aku sendiri tidak berani anggap diriku seorang yang berbudi dan bajik. Kalau begitu silakan kau katakan, ciangbun perguruan kita, cara bagaimana harus dipilih dan ditentukan?"

Cong Sin-liong lantas berseru keras.

"Sebetulnya aku adalah susiok, seharusnya menurut urutan tingkatan dan kedudukan. Sekarang setimpal dengan sikapmu yang suka mengalah setapak ini, biarlah aku pun mengalah setindak supaya kau bisa memperoleh keuntungan. Tidak peduli tua muda tinggi rendah tingkatannya siapa yang menang dialah yang diangkat."

Kata-katanya ini justru tepat mengenai maksud hati Boh Cong-tiu, segera ia berkata dengan seri tawa lebar.

"Jadi maksudmu kita semua saling bertanding dengan ilmu silat perguruan kita, siapa menang, dialah yang diangkat menjadi ciangbun?"

"Ya begitulah!"

"Baik, sebetulnya aku tidak mau menundukkan hati orang dengan kekerasan, tapi seluruh murid perguruan kita menghendaki aku menjabat ciangbun, maka betapapun aku tidak akan menyerahkan kedudukan ini kepada kau. Jikalau ada siapa yang mampu mengalahkan aku, dengan suka rela aku akan menyerahkan kedudukan ciangbun ini kepadanya."

Cong Sin-liong tertawa dingin, jengeknya.

"Kalau kau dapat mengalahkan aku, belum terlambat kau membuka mulut besarmu."

Lima tahun yang lalu Cong Sinliong pernah dikalahkan Boh Congtiu, malah hampir saja ilmu silatnya dipunahkan, maka Boh Cong-tiu berbesar hati dalam pertandingan kali ini dirinya pasti berkesempatan pula menang.

Akan tetapi melihat sikap tenang Cong Sin-liong, mau tidak mau hatinya merasa sangsi dan was-was, pikirnya.

"Dulu dia pernah kukalahkan, kalau dia tidak membekal ilmu yang rasanya dapat mengalahkan aku, manusia licik dan banyak tipu muslihatnya macam dia ini, betapapun tidak akan berani seteledor ini menantang perang kepadaku?"

Waktu itu, seluruh murid-murid Hu-siang-pay sudah mundur ke samping, di tengah menjadi gelanggang pertarungan yang cukup lebar. Kata Cong Sin-liong.

"Sudah jangan banyak cerewet, silakan dimulai!"

Baru saja Boh Cong-tiu melipat kipasnya dan hendak turun ke gelanggang, dari rombongan orang banyak mendadak menerobos keluar seorang gadis seraya berseru.

"Piauko, tidak perlu kau yang menghadapi bangsat tua ini, berikan saja kepada aku."

Gadis ini ternyata bukan lain adalah Lim Bu-siang. Semula Boh Cong-tiu melengak, katanya.

"Bu-siang, pertandingan kali ini bukan adu kepandaian secara main-main."

"Siapa suka main-main. Memangnya kau anggap aku tidak maju secara serius, kalau Cong Sinliong hendak menjadi ciangbun, silakan dia mengalahkan aku lebih dulu."

Cong Sin-liong terbahak-bahak, serunya.

"Bu-siang, sungguh aku menjadi iba akan kebulatan tekad dan kesetiaanmu, tapi kau hendak membela piaukomu, kau terlalu tidak tahu diri."

Kali ini Lim Bu-siang tidak menjadi marah karena olok-olok ini, katanya tawar.

"Siapa yang tidak tahu diri biarlah bertanding lebih dulu baru bisa diketahui. Kuharap kali ini kau tidak seperti tempo hari, pertempuran belum lagi selesai kau sudah mencawat ekor melarikan diri sipat kuping."

Tempo hari Cong Sin-liong pernah dikalahkan oleh Lim Bu-siang yang dibantu Beng Goan-cau, mendengar olok-olok pedas ini seketika merah padam air mukanya, bentaknya gusar.

"Budak busuk, kali ini tiada keparat she Beng itu membantu kau. Berani kau membuka mulut besar di sini, tidak tahu diri lagi. Aku yang menjadi susiokmu ini biarlah memberi hajaran adat kepadamu."

Habis berkata "sret"

Pedangnya lantas menusuk lebih dulu.

Tusukan ini dilancarkan dengan pedang lurus ke depan sejajar dada, di saat ujung pedang hendak mengenai sasaran, tajam pedangnya mendadak membalik bergerak melingkar satu bundaran menjadi gerak serangan melintang yang dinamakan Bau-kian-thian-ho, perubahannya aneh dan amat sukar diraba, sungguh suatu jurus serangan yang amat keji dan telengas.

Seluruh hadirin banyak terdapat ahli-ahli pedang yang kenamaan, melihat sekali turun tangan Cong Sin-liong lantas melancarkan tipu serangan yang ganas ini, semua sama merasa kuatir dan berkeringat dingin bagi keselamatan Lim Bu-siang.

Beberapa murid Hu-siang-pay yang mengenal betapa hebat dan dalamnya ilmu pedang perguruan mereka, semua sama kesima dan berteriak terkejut.

Di tengah teriakan orang banyak, tampak Lim Bu-siang bertindak lambat dengan amat tenangnya, kakinya melangkah mundur dua tindak, seolah-olah acuh tak acuh dengan seenaknya saja ia bergerak balas menyerang dengan tipu Giok-li-toh-so.

Serangan ganas dan telengas Cong Sin-liong yang begitu hebat menyentuh ujung pakaiannya saja tidak mampu, malah secara mudah sekali kena dipunahkan dengan jurus Giok-li-toh-so yang sederhana ini, celakanya bukan saja serangan ini dipunahkan, malah ia dipaksa menarik pulang pedangnya untuk melindungi badannya dari tipu balasan ini.

Giok-li-toh-so adalah sejurus ilmu pedang yang paling umum, seluruh aliran pedang besar dalam daerah Tionggoan pasti ada tipu jurus ini.

Ilmu pedang Hu-siang-pay rada berlainan dengan permainan ilmu pedang Tionggoan, namun jurus Giok-li-toh-so ini tidak lebih sama saja dengan jurus-jurus sederhana dari ilmu pedang perguruan lain di Tionggoan, tiada sesuatu keanehan yang menonjol.

Maka tidaklah heran seluruh murid-murid Hu-siang-pay itu sama terkesima dan melongo melihat Lim Bu-siang menggunakan sejurus tipu serangan balasan yang sederhana ini, bukan saja mematahkan tipu serangan Cong Sin-liong yang ganas, malah membuatnya kerepotan untuk menyelamatkan dirinya lebih dulu.

Semua orang sama heran dan takjub, sesaat kemudian baru serempak mereka bersorak gegap gempita.

Kalau murid-murid itu keheranan dan takjub, adalah Cong Sin-liong punya kesulitan yang sulit dikemukakan.

Ternyata meski jurus Lim Bu-siang ini amat sederhana dan biasa saja, justru secara telak mengincar tempat mematikan di tubuhnya.

Jikalau dia tidak bertindak cukup cekatan dan lekas-lekas menarik balik pedang untuk menyelamatkan diri, mungkin sejak tadi Lim Bu-siang sudah berkesempatan menggasak dirinya.

Sementara Boh Cong-tiu sendiri juga dibuat heran dan bingung, batinnya.

"Tak nyana Bu-siang, budak cilik ini, juga sudah mempelajari intisari ilmu pedang tingkat tinggi yang menyerang balas titik kelemahan lawan untuk menyelamatkan diri lebih dulu."

Semula dia hendak merintangi Lim Bu-siang turun gelanggang, sekarang hatinya menjadi mantap, pikirnya lagi.

"Cong Sin-liong berani menantang perang kepada aku, entah dia sudah melatih ilmu apa yang patut dia banggakan, biarlah Bu-siang menjajalnya lebih dulu. Kalau pertempuran dilanjutkan, sudah pasti Bu-siang bakal dapat dikalahkan olehnya, namun dilihat dari kemampuan dan hasil latihannya, paling tidak ia kuat bertahan sampai lima atau tujuh puluh jurus, selama ini paling tidak aku bisa meraba bekal dan seluk beluk rahasia kepandaian Cong Sin-liong."

Setelah terkejutnya hilang, Cong Sin-liong menyangka Lim Bu-siang hanya mengandalkan kelincahan gerak-gerik tubuhnya serta gerak ilmu pedangnya yang dapat dikombinasikan secara selaras, betapapun ia tidak percaya kepandaian asli gadis cilik ini berada di atas dirinya.

Maka meski hatinya kaget, sedikit pun ia tidak menjadi gugup karenanya.

Segera ia kembangkan ilmu pedangnya yang gencar mengandung penyerangan dan pertahanan yang hebat dan kokoh-Tak nyana Lim Bu-siang dapat melayaninya terus dengan tenang, setiap jurus setiap tipunya kena dipatahkan semua, lambat laun Cong Sin-liong harus mengerahkan seluruh kemampuannya, namun sedikit pun tidak mengambil keuntungan.

Semula Boh Cong-tiu hanya mengharap Lim Bu-siang kuat bertahan lima tujuh puluh jurus saja, tak nyana setelah ratusan jurus kemudian ia masih tetap bertahan dengan tenang tanpa menunjukkan kelemahan, keruan Boh Cong-tiu kaget dan heran, seketika timbul rasa curiganya, pikirnya.

"Mungkin sekali kemarin ia menemukan intisari rahasia ilmu silat perguruan kita peninggalan cosu yang tersembunyi di dalam gua itu?"

Tapi setelah ia saksikan dengan seksama tidaklah dilihatnya permainan pedang Lim Bu-siang yang luar biasa dari perguruan sendiri.

Ternyata memang Lim Bu-siang tidak pernah melancarkan ilmu pedang hasil pelajaran dari dinding dalam gua itu, tapi karena dia sudah berhasil menyelami inti dan poros ilmu silat perguruan sendiri yang tinggi, maka setiap gerak pedang Cong Sin-liong sebelumnya sudah dapat diduga dan diraba olehnya.

Bagi orang lain, serangan pedang Cong Sin-liong amat ganas dan culas, liehay lagi, namun dalam pandangannya, tidak lebih seperti permainan pedang anak-anak belaka, tidak perlu ia mengembangkan ajaran murni ilmu pedang peninggalan cosu, seenaknya saja dengan sembarang bergerak ia sudah berkecukupan mengatasi rangsakan lawan yang gencar.

Rangsakan Cong Sin-liong semakin membadai namun selalu gagal di tengah jalan, keruan hatinya semakin gugup dan gelisah, batinnya.

"Kalau aku tidak mengeluarkan ilmu simpananku yang terliehay, mungkin aku tidak akan mampu mengalahkan budak kecil ini. Kalau tidak bisa mengalahkan budak ini, mana bisa merebut kedudukan ciangbun dari tangan Boh Cong-tiu?"

Ternyata ilmu pedang Hu-siang-pay turun temurun mengalami banyak perubahan dan tambahan selama ribuan tahun, setiap cabangnya hanya memperoleh petilan dan sisa-sisa robekan yang tidak lengkap.

Tapi justru karena itu pula hasil pelajaran dari masing-masing cabang itu boleh dikata sama tingkat dan sama tinggi, masing-masing mempunyai intinya yang khusus tidak diselami oleh cabang yang lain.

Karena lima tahun yang lalu Cong Sin-liong pernah dikalahkan oleh Boh Cong-tiu, secara tekun ia menggembleng diri, giat menciptakan dan memperdalam ilmu pedangnya, setelah rajin belajar selama lima tahun akhirnya terciptalah serangkaian ilmu pedang hasil ketekunannya yang menurut anggapannya tentu cukup berkelebihan untuk menandingi ilmu pedang cabang lain dari Hu-siang-pay yang sama.

Dan karena memperoleh hasil gemilang dengan ciptaan ilmu pedang barunya ini, maka hari ini ia berani menantang perang kepada Boh Cong-tiu.

Rangkaian ilmu pedang ciptaan-nya ini, sedianya ia siapkan untuk menghadapi Boh Cong-tiu, tapi sekarang ia didesak oleh keadaan, terpaksa harus dikeluarkan untuk menghadapi Lim Busiang.

Dalam pertempuran yang sengit itu, mendadak Cong Sin-liong merubah permainan pedangnya dengan jurus-jurus baru yang terlebih liehay dan cepat, tampak sinar pedang gemerlapan seperti kuntum bunga berpencaran sama rontok, gaya pedangnya amat kuat dan melingkar-lingkar seperti gelang membundar, sambung menyambung tiada putus.

Di sebelah timur melingkar, ke barat membundar, bundar besar melingkari bundaran kecil, bundaran di dalam bundaran bersambung-sambung tersembunyi tipu dan gaya yang amat liehay.

Begitulah gambaran gerak pedang yang membundar saling tumpuk berlapis-lapis seperti damparan gelombang samudra yang bergulung-gulung mendampar tepian dengan dahsyat.

Tanpa kuasa akhirnya Lim Bu-siang kena terkurung di dalam bundaran-bundaran yang semakin mengecil itu.

Pakaian Lim Bu-siang melambai-lambai, ia berlompatan seperti kupu menari di atas kuntum kembang, segesit kera selicin belut, seolah-olah ia hanya mampu berkelit ke sana kemari terkepung di dalam lingkaran sinar pedang, semakin terdesak semakin payah.

Adalah Boh Cong-tiu diam-diam mencelos hatinya, pikirnya.

"Dugaanku ternyata tidak salah, Cong Sin-liong keparat ini ternyata memang berhasil melatih semacam ilmu pedang liehay untuk menghadapi aku. Ai, cara bagaimana untuk mematahkan jurus serangannya ini?"

Ia maklum bila dirinya sendiri yang menghadapi Cong Sin-liong paling-paling juga cuma bertahan sama kuat alias seri, untuk mematahkan jurus serangan ilmu pedang lawan ini, ia belum cukup keyakinan.

Ciok Heng ikut mengucurkan keringat dingin, diam-diam ia mendekati Boh Cong-tiu dan berbisik kepadanya.

"Boh-ciangbun, lekaslah kau turun gelanggang menggantikan Lim-sumoay. Kalau Lim-sumoay tidak mau mengaku kalah, mungkin jiwanya bisa terancam oleh kekejaman hati Cong Sin-liong."

Boh Cong-tiu sedang memeras otak memikirkan cara bagaimana mengatasi rangsakan ilmu pedang permainan Cong Sin-liong ini, setelah Ciok Heng bicara kedua kalinya baru ia tersentak sadar, tapi setelah mendengar, ia hanya menjawab tawar.

"Kau gugup apa, biar dia bertahan lagi delapan sepuluh jurus, kalau memang tidak kuasa melawan lagi, masih belum terlambat aku turun tangan."

Semakin menyaksikan, hati Ciok Heng semakin mencelos, saking gugup ia sampai membanting kaki, desaknya.

"Boh-ciang-bun, ingatlah dia masih terhitung piaumoaymu! Terlambat sedetik lagi; mungkin menyesal pun kau sudah terlambat. Aku sendiri sih ingin turun membantunya, sayang kepandaianku tidak becus tidak mungkin bisa memberi bantuan yang berarti."

Semula Ciok Heng bicara bisik-bisik dengan Boh Cong-tiu, tanpa ia sadari kata-kata selanjutnya semakin keras dan lantang, sudah tentu para penonton yang berjarak dekat sama mendengar percakapan mereka.

Memang para hadirin banyak yang bisik-bisik memberi penilaian dan menganalisa jalannya pertempuran.

Berkatalah Tan Thian-ih kepada Kim Tiok-liu.

"Kim-siheng, bagaimana menurut pandanganmu? Agaknya nona cilik ini masih kuat bertahan berapa jurus?"

"Menurut hematku tidak perlu kuatir, bukan saja nona Lim ini kuasa mengatasi musuh, malah dalam sepuluh jurus lagi pasti dia mendapat kemenangan."

Tan Thian-ih pun seorang ahli pedang, namun mendengar ucapan Kim Tiok-liu, ia jadi tidak berani mempercayainya.

Boh Cong-tiu menjadi kurang enak hati karena kata-kata Ciok Heng itu, baru saja ia siap bertindak, saat itu pula Lim Bu-siang cekikikan dan berseru.

"Cong Sin-liong, kulihat Cap-pwe-banlian-hoan-kiamhoatmu ini belum sempurna kau latih!"

Sudah tentu kata-katanya ini membuat Cong Sin-liong terkejut bukan kepalang, batinnya.

"Dari-mana dia bisa tahu ilmu pedang ciptaanku ini?"

Ternyata rangkaian ilmu pedang ini adalah hasil ciptaan Jan-bau-khek setelah memperoleh inspirasi dari keadaan Cap-pwe-ban yang aneh di puncak Thay-san ini, sudah tentu hasil ciptaannya ini lain dari yang lain.

Pelajaran yang berhasil diperoleh Cong Sin-liong tidak lebih hanyalah petilan-petilan yang tidak lengkap dan terputus-putus, berdasarkan penemuannya yang petil-petil dan putus-putus ini, ia berikan berbagai tambahan dan diperbaiki lebih lanjut, anggapnya merupakan hasil ciptaannya yang baru, bahwasanya tidak lain hanya mencakup inti murni dari rangkaian ilmu pedang aslinya, sudah tentu jauh masih di bawah mutu hasil ciptaan Jan-bau-khek sendiri.

Cong Sin-liong tertawa dingin, jengeknya.

"Budak cilik seperti kau tahu apa, katamu latihanku belum sempurna, coba kau mainkan di hadapanku."

Lim Bu-siang tertawa, ujarnya.

"Kumainkan di hadapanmu, kau pun belum tentu bisa mengerti. Dalam waktu dekat ini aku pun tiada tempo ajak berlatih sama kau, lebih baik biarlah kupatahkan saja serangan ilmu pedangmu ini, supaya kau menyerah kalah lahir dan batin."

Belum lenyap suaranya, di bawah kepungan sinar pedang yang bundar membundar itu, tibatiba Lim Bu-siang menyongsong maju terus melabrak ke depan, secepat kilat ujung pedangnya menusuk masuk ke dalam bundaran cahaya kemilau itu, serunya tertawa.

"Jurus ini dinamakan Tay-boh-hou-yan-ce, kebetulan dapat memecahkan serangan jurus Tiang-ho-loh-jit-wan!"

Orang luar belum lagi melihat jelas cara bagaimana ia turun tangan, tiba-tiba didengarnya Cong Sin-liong menjerit kaget, sinar pedang melesat laksana kilat, tahu-tahu pedang panjang di tangannya itu sudah mencelat terbang ke tengah udara dan kebetulan menancap di atas batang pohon siong di ketinggian sana, gagang pedangnya masih bergoyang-goyang sekian lama belum berhenti.

Menurut penilaian Kim Tiok-liu tadi, dalam sepuluh jurus pasti dia dapat menang, siapa tahu setelah ia bicara habis, tidak lebih baru satu jurus, dia sudah berhasil melucuti senjata Cong Sinliong.

Sudah tentu tokoh seperti Kim Tiok-liu pun ikut dibuat heran dan kaget, sudah tentu para hadirin yang lain tidak perlu dikatakan lagi.

Sekejap itu seluruh gelanggang menjadi sunyi senyap tiada suara sedikit pun juga.

Sesaat kemudian baru semua orang sama bersorak memuji dan bertepuk tangan gegap gempita.

Bahwasanya di mana letak kebaikan dari jurus serangan Lim Bu-siang itu, sembilan di antara sepuluh hadirin masih merasa keheranan dan tidak mengerti.

Di samping merasa kejut dan herannya, diam-diam Boh Cong-tiu menerawang.

"Jurus serangan ini agaknya tidak persis dengan ajaran ilmu pedang perguruan kita?"

Tapi dia sendiri jelas mengetahui bahwa Lim Bu-siang selamanya belum pernah mempelajari ilmu silat perguruan lain, kedua, Hu-siang-pay memang terbagi tiga cabang, ilmu pedang masing-masing mempunyai inti pelajaran rahasia sendiri-sendiri, maka meski ia merasa inti serangan ilmu pedang Lim Bu-Siang itu tidak selaras dengan ajaran ilmu pedang perguruan sendiri, terpaksa ia anggap jurus serangan itu memang belum pernah dia pelajari dari cabang yang lain, mau tidak mau hatinya tetap dirundung keheranan.

Ternyata tipu serangan balasan Lim Bu-siang ini ia gunakan jurus ilmu pedang yang dimainkan oleh perempuan dari dinding gua itu, jurus ini sebetulnya beliau gunakan untuk memecahkan serangan Jan-bau-khek, kini Lim Bu-siang meniru gerakan itu untuk mematahkan serangan Cong Sin-liong, sudah tentu usahanya ini seumpama golok kerbau dibuat menyembelih ayam.

Seperti ayam jago yang keok di tengah gelanggang, Cong Sin-liong menjadi lesu dan patah semangat, tiba-tiba ia berkata.

"Jurusmu ini ilmu pedang darimana?"

Ternyata apa yang menjadi kecurigaan Boh Cong-tiu menjadi pula kebimbangan hatinya. Kata Lim Bu-siang.

"Bukankah sudah kuberitahu kepada kau, jurus ini dinamakan Tay-boh-houyan-ce, ilmu pedang yang khusus untuk mematahkan jurus Tiang-ho-loh-jit-wanmu itu."

"Yang kutanya adalah ilmu pedang dari partai mana, jangan kau pura-pura pikun!"

Cong Sinliong mendesak lebih lanjut. Maklum pertarungan untuk memperebutkan kedudukan ciangbun, sudah tentu harus menggunakan ilmu pedang perguruan sendiri.

"Sudah tentu pelajaran dari partai kita. Setiap jurus ilmu pedang perguruan kita tentu mempunyai sejurus ilmu pedang perlawanannya yang khusus untuk mematahkan ilmu pedang yang lain. Kau sudah belajar ilmu pedang sekian lamanya, masakah belum paham akan hal ini?"

Sementara dalam hati ia membatin.

"Perempuan itu saling bertanding dan menyelami ilmu pedang bersama cosu, meski dia bukan orang dalam lingkungan perguruan kita paling tidak tentu punya hubungan yang kental, penjelasanku ini rasanya tidak terhitung bohong."

"Aku tidak percaya, kecuali kau pun bisa memainkan jurusku tadi,"

Demikian kata Cong Sinliong.

Karena Lim Bu-siang menjelaskan bahwa setiap jurus ilmu pedang perguruan sendiri pasti punya jurus pemunahnya masing-masing, maka Cong Sin-liong menggunakan pertanyaan yang kontras ini untuk mempersulit dirinya, dalam hati ia membatin.

"Jurus ini adalah hasil ciptaanku sendiri, mana mungkin kau pun bisa memainkannya."

Lim Bu-siang tertawa, ujarnya.

"Apa sih sukarnya?"

Seenaknya saja ia mengayun pedangnya, beruntun memetakan tujuh delapan lingkaran, orang lain tidak kuasa menyelami intisari kehebatannya, namun Cong Sin-liong maklum akan perbawanya, jurus Tiang-holoh-jit-wan yang dimainkannya ini, memang jauh lebih sempurna, lebih hebat dan menakjubkan dari permainannya tadi.

Segera Boh Cong-tiu ikut menimbrung dengan tertawa.

"Apa sih sukarnya memainkan jurus itu, kalau kau tidak terima kalah, marilah kumainkan juga supaya matamu terbuka!"

Mencabut pedang "sret"

Ujung pedangnya laksana panah meluncur ke depan.

Betul juga mirip benar dengan jurus Tay-boh-hou-yan-ce yang dimainkan Lim Bu-siang tadi.

Ternyata Boh Cong-tiu cerdik dan pintar sekali, jurus-jurus pedang yang pernah dilihatnya, dapatlah selalu dia ingat dalam benaknya.

Sudah tentu Lim Bu-siang tahu, orang hanya bisa meniru gayanya saja dan bukan benar-benar dapat memainkan secara mendalam, mau tidak mau ia merasa kagum juga.

Setelah mendemonstrasikan jurus itu berkata pula Boh Cong-tiu.

"Masih berani kau mengatakan jurus itu bukan ajaran ilmu pedang dari perguruan kita? Kau sendiri harus disalahkan, belajar tidak matang dan tidak becus."

Ternyata Boh Cong-tiu mengharap Lim Bu-siang segera menggebah pergi Cong Sin-liong, supaya orang tidak membuat gara-gara dan onar di sini.

Sudah tentu Cong Sin-liong menjadi patah semangat dan kecewa, katanya setelah menghela napas panjang.

"Baik, aku mengaku kalah!"

Begitu dia pergi, orang-orang yang dia bawa pun, segera ikut mengundurkan diri di belakangnya.

"Cong Sin-liong,"

Ki Seng-in mengolok dingin.

"hari ini aku tidak akan menggebuk anjing yang sudah mencawat ekor, lambat atau cepat akan datang saatnya aku mencari perhitungan kepadamu."

Mana Cong Sin-liong punya hati melayani ocehannya ini, ia tunduk kepala melangkah pergi anggap tidak dengar, dengan tergesa-gesa mereka turun gunung.

Setelah Cong Sin-liong pergi, Boh Cong-tiu menyangka tiada orang lain yang bakal melawan dirinya untuk memperebutkan kedudukan ciangbun ini, betapa senang dan riang hatinya, katanya.

"Piaumoay, tak nyana ilmu pedang perguruan kita berhasil kau latih sedemikian sempurna, sekali turun tangan kau bikin bangsat tua itu mencawat ekor melarikan diri, sungguh bikin capek dirimu saja. Silakan kau mundur istirahat."

Akan tetapi Lim Bu-siang tetap berdiri di tengah gelanggang, tidak segera mundur seperti perkataannya itu. Boh Cong-tiu tertegun sebentar, katanya.

"Piaumoay, kenapakah kau?"

Lim Bu-siang berkata tawar.

"Tidak apa-apa. Terima kasih akan pujianmu mengenai ilmu pedangku, tapi aku sendiri masih belum tahu apakah kuasa menandingi kau!"

Boh Cong-tiu tertawa.

"Dua tiga hari lagi bila aku ada waktu, biar kutemani kau berlatih."

"Apakah kau sekarang tidak punya waktu? Piauko, aku bukan hendak berlatih dengan kau."

Baru sekarang Boh Cong-tiu bercekat.

"Apa?"

Teriaknya.

"Maksudmu sekarang juga kau hendak bertanding pedang dengan aku? Ai, kau memang masih bersifat kanak-kanak, mana sekarang aku ada tempo menemani kau berlatih segala?"

Lapat-lapat ia sudah mendapat firasat jelek, namun sedapat mungkin ia masih mengharap bahwa dugaannya meleset, tidak lebih watak kanak-kanak Lim Bu-siang masih belum hilang sehingga ia bicara demikian.

Lenyap seri tawa Lim Bu-siang, wajahnya kelihatan kaku serius, sepatah demi sepatah ia berkata pelan-pelan.

"Piauko, aku bukan sedang main kelakar dengan kau, betapapun meski kau tidak punya tempo, kau harus bertanding dulu dengan aku!"

Mimpi juga Boh Cong-tiu tidak pernah menduga Lim Bu-siang bakal memperebutkan kedudukan ciangbun ini dengan dirinya, meski setiap patah katanya ia mendengar jelas, namun ia masih kurang percaya akan pendengaran kupingnya.

Dengan rasa hampa dan bingung ia menegas.

"Kenapa?"

"Masa kau tidak ingin menjadi ciangbun?"

Saking terperanjat hampir saja Boh Cong-tiu melonjak, teriaknya dengan suara melengking.

"Bu-siang, sebetulnya kau sedang guyon-guyon atau sungguh-sungguh? Apakah kau pun ingin menjadi ciangbun?"

Ki Seng-in yang berdiri di dalam rombongan penonton menjengek dingin.

"Kenapa Lim Bu-siang tidak boleh menjadi ciangbun? Tidak peduli tua muda atau tinggi rendah tingkatannya, siapapun yang menang dia boleh menjadi ciangbun. Bukankah tadi kau umumkan aturanmu sendiri?"

Sedapat mungkin Boh Cing-tiu mengendalikan ketenangannya, diam-diam ia berpikir.

"Tahun yang lalu, waktu aku mengutus kurir rahasia ke kota raja menemui Pakkiong Bong, kabarnya kebetulan malam itu kebentur Utti Keng yang datang mencuri kuda, mungkin rahasia ini sudah diketahui oleh mereka suami istri, lalu memberitahu pula kepada piaumoay?"

Boh Cong-tiu masih belum tahu rekaannya ini hanya benar separuh, kelebihannya justru benarbenar di luar dugaannya.

Kemarin malam meski Ciok Tio-ki mendapat bantuan Nyo Bok dan beruntung dapat lolos dari sergapan Beng Goan-cau, tapi setelah dia berada di bawah gunung, hari keduanya di tengah jalan kebentur pula dengan Utti Keng suami istri.

Utti Keng pergi mengejarnya, sementara Ki Seng-in menyusul tiba, naik ke atas gunung sendiri dan memberitahukan rahasia ini kepada Lim Bu-siang.

Di tengah jalan Ki Seng-in ketemu dulu dengan Ciok Tio-ki baru akhirnya bertemu pula dengan Hun Ci-lo.

Bahwasanya Boh Cong-tiu secara rahasia ada kontak dengan Ciok Tio-ki sudah diketahui oleh Lim Bu-siang, namun ia masih belum berani memastikan.

Kini setelah ia mendengar pula penuturan Ki Seng-in, segala kesangsiannya sudah terbukti dan menjadi kenyataan.

"Merebut kedudukan ciangbun Boh Cong-tiu"

Adalah saran Beng Goan-cau, semula Lim Busiang masih belum berani membulatkan tekadnya, setelah mendengar uraian Ki Seng-in, tidak bisa tidak segera ia harus mengambil keputusan bulat.

Sedapat mungkin Boh Cong-tiu berlaku tenang, katanya lirih.

"Piaumoay, jangan kau terima diadu domba oleh orang luar,"

Ilmu mengirim gelombang suaranya masih berada di atas tingkatan Ki Seng-in, orang lain hanya melihat bibirnya bergerak, hanya Lim Busiang seorang yang mendengar jelas apa yang dikatakannya.

Tapi Lim Bu-siang pura-pura tidak mendengar ucapannya ini, katanya dengan lantang.

"Piauko, aku tidak ingin menjadi ciangbun, seumpama beruntung aku menang dari kau, aku pun tidak akan mengangkangi kedudukan ini."

Yang dikatakan adalah tidak akan menjadi ciangbun. Kata-kata 'tidak akan' dalam ucapannya kedengarannya amat menusuk kuping. Dari malu Boh Cong-tiu menjadi gusar, diam-diam ia membatin.

"Dasar ilmu pedangnya adalah aku yang mengajarkan kepadanya, perlu apa aku takut padanya? Seumpama dia sudah menemukan rahasia pelajaran tunggal cosu, dalam tempo sehari ini masakah dia dapat menelannya dengan baik, meski bisa mengalahkan Cong Sin-liong belum tentu dapat mengalahkan aku."

Maka segera ia bergelak tertawa, serunya.

"Seorang laki-laki harus menepati kata-katanya, apa yang pernah kuucapkan masakah tidak masuk hitungan? Bu-siang, kalau kau bisa mengalahkan aku, jabatan ciangbun ini silakan kau duduki saja, tak usah sungkan. Silakan mulai."

"Piauko, kau pernah mengajarkan ilmu pedang masakah aku berani kurang ajar kepada kau."

"Sekarang toh kau sudah tumbuh sayap, mana bisa aku mengajarkan lagi kepada kau? Baiklah, kau ingin aku mempertunjukkan kebodohanku, terpaksa aku menurut permintaanmu saja."

Kata-katanya cukup pedas menyindir, tak urung tertusuk perasaan Lim Bu-siang, pikirnya.

"Hanya jabatan ciangbun saja dia sudah memandangnya begitu tinggi dan berharga. Ai, sejak kini mungkin piauko bakal membenci aku seumur hidup. Tapi justru kedok mukanya kini terbongkar seluruhnya. Jabatan ciangbun ini sekali-kali memang jangan sampai diduduki olehnya. Benci ya terserah padanya, yang terang hari ini aku harus merebut kedudukan ciangbunnya ini."

Belum lagi jalan pikirannya lenyap, kipas lipat Boh Cong-tiu sudah berkembang dan dikibaskan ke arah mukanya.

Boh Cong-tiu menggunakan kipasnya itu melancarkan jurus ilmu pedang perguruan sendiri.

Meski tipu dan gayanya masih termasuk ajaran mumi dari perguruan, namun karena menggunakan kipas sebagai gantinya pedang, maka serangannya ini mengandung gerak perubahan khusus lain dari yang lain.

Malah kipasnya ini bisa juga digunakan sebagai Ngo-hengkiam, bisa pula digunakan sebagai potlot peranti menotok jalan darah, di saat ia mengembangkan dan melipat kipasnya, daya gunanya dapat dikembangkan sesuka keinginan hatinya, maka permainannya ini terang jauh berlainan dengan ilmu pedang umumnya.

Melihat orang turun tangan lantas melancarkan serangan keji, diam-diam Lim Bu-siang membatin.

"Untung aku pernah mempelajari ilmu pedang di atas dinding itu, kalau tidak, mungkin cukup sejurus ini aku sudah terluka olehnya."

Maklumlah ilmu pedang peninggalan Jan-bau-khek yang terukir di atas dinding itu, mencakup seluruh intisari ilmu Hu-siang-pay tingkat tinggi.

Meski gerak perubahan permainan Boh Cong-tiu cukup hebat dan liehay, betapapun tidak meninggalkan lingkungan ajaran aslinya.

Maka lekas-lekas ia gunakan Hong-tiam-thau, dengan enteng saja ia meluputkan diri.

Mendapat angin, Boh Cong-tiu tidak memberi kesempatan pada lawannya, segera ia menubruk maju sambil melipat kipasnya, sasarannya menotok Ih-khi-hiat di bawah ketiak Lim Bu-siang, sementara kedua jarinya terangkap dan menekuk berputar membalikkan ujung kipas lalu menusuk ke arah lambung Lim Bu-siang.

Setelah kedua jurus serangan ini, ia susulkan pula sejurus serangan yang cukup keji, yaitu menggunakan daya kekuatan putaran dari kedua jarinya yang terangkap itu ia kembangkan kipasnya terus me-ngebas ke muka Lim Bu-siang mengarah kedua biji matanya.

Mengandal lwekang Boh Cong-tiu, kipasnya mengebas mengincar "mata, bila Lim Busiang berlaku kurang waspada dan hati-hati, kedua biji matanya itu pasti kena dibikin buta.

Kim Tiok-liu yang menonton di pinggir melihat Boh Cong-tiu beruntun melancarkan tiga serangan berantai yang keji ini, tak urung ia amat terkejut dibuatnya, pikirnya.

"Mana boleh Boh Cong-tiu berlaku begitu keji terhadap piaumoynya sendiri, meski besar ambisinya hendak menjadi ciangbun, cukup ia bekerja sekuat tenaga dan saling sentuh saja."

Hubungan Kim Tiok-liu boleh dikata luar biasa kental dan jauh lebih akrab dari persahabatan orang lain, melihat perbuatannya yang keluar batas ini, mau tidak mau timbul rasa kurang senangnya.

Maka secara diam-diam ia menyiapkan sebuah mata uang tembaga di tangannya, ia tunggu bila Boh Cong-tiu melancarkan jurus ketiganya yang ganas itu, bila Lim Bu-siang benar tidak mampu bertahan, dia segera akan menyambit-kan mata uangnya untuk memukul jatuh kipas Boh Cong-tiu.

Ilmu pedang di atas dinding secara kebetulan ada sejurus yang peranti atau khusus untuk mematahkan tiga serangan berantai Boh Cong-tiu ini, tapi bila Lim Bu-siang melancarkan jurus yang dia pelajari dari ukiran dinding dalam gua itu, paling ringan Boh Cong-tiu bakal terluka parah.

Sudah tentu Lim Bu-siang tidak akan tega melukai piaukonya.

Di saat yang kritis itulah, tampak bayangan kipas berlapis-lapis ribuan banyaknya, sementara sinar pedang terdesak menyempit, kain baju melambai-lambai.

"Tring", sebuah tusuk kundai di atas sanggul rambut Lim Bu-siang tahu-tahu mencelat terbang. Di tengah jerit kaget anak murid Hu-siang-pay, tampak Lim Bu-siang laksana seekor burung bangau menjulang ke tengah angkasa jumpalitan ke belakang beberapa tombak. Ternyata karena Lim Bu-siang tidak tega melukai Piaukonya, terpaksa ia membuang kesempatan paling baik dengan jurus serangannya tadi, diubah dengan jurus yang khusus untuk melindungi diri sendiri. Sebetulnya dia pun dapat mundur dengan tidak kurang suatu apapun, tapi karena di dalam keadaan yang gawat itu mendadak merubah permainannya melihat pula sang piauko menyerang dengan muka beringas dan dengan tipu yang ganas pula sedikit banyak hatinya menjadi gugup, maka menghadapi tiga rangkaian serangan pedang Boh Cong-tiu ia hanya dapat terhindar dua setengah jurus saja. Tipu jurus kipas lawan yang mengebas mengarah mata tadi, Lim Bu-siang gunakan Hong-tiam-thau untuk meluputkan diri, walaupun matanya tidak terluka, namun tusuk kundai di atas kepalanya kena tersampuk mencelat. Semua enghiong yang menonton sama menghela napas lega, mereka mengira Boh Cong-tiu masih ingat hubungan persaudaraan yang dekat, maka hanya membuat kaget dan tidak menurunkan tangan kejinya betul-betul. Kanglam Tayhiap Tan Thian-ih tersenyum katanya.

"Usia nona Lim masih teramat muda, namun pelajaran ilmu pedangnya ternyata sudah mencapai tingkat kesempurnaan yang paling tinggi, sungguh harus dibuat kagum. Kukira pertandingan ini tidak perlu dilanjutkan pula!"

Kata-katanya ini nadanya memuji dan kagum, bahwasanya secara tidak langsung ia suruh Lim Bu-siang mengaku kalah saja.

Tapi maksudnya adalah hendak menjaga keselamatan Lim Bu-siang belaka.

Sebaliknya Kim Tiok-liu pun tertawa, ujarnya.

"Tapi nona Lim belum lagi mengeluarkan seluruh kemampuannya, yang jelas mereka toh Piau-heng-moay, apa halangannya dilanjutkan, biarlah kami semua kenyang melihat pertandingan ilmu pedang tingkat tinggi."

Ternyata pandangannya jauh lebih unggul setingkat daripada Kanglam Tayhiap, sejak tadi ia sudah menyiapkan sebuah mata uang tembaga, siap disambitkan bila perlu untuk menolong Lim Bu-siangs setelah melihat gerak-gerik dan permainan Lim Bu-siang, baru dia tahu bukan saja dia kuasa menghadapi, malah cukup berkelebihan.

Bahwa dia tidak balas menyerang secara sungguh, hakikatnya dia sudah menaruh belas kasihan, jadi bukan Boh Cong-tiu yang menaruh belas kasihan padanya.

Kim Tiokliu menyimpan mata uangnya tadi, diam-diam ia pun amat menyesal pikirnya.

"Ternyata pandanganku sendiri pun keliru!"

Beberapa patah kata-kata Kim Tiok-liu tadi diucapkan dengan suara keras, banyak hadirin mendengar dengan jelas.

Kim Tiok-liu sudah diakui secara umum oleh seluruh dunia persilatan sebagai tokoh kosen nomor satu di seluruh jagat, tiada seorang pun yang tidak percaya akan katakatanya, namun dalam hati mereka sama menaruh curiga, tak tahan lagi terdengar suara bisikbisik di mana-mana.

Tan Thian-ih lantas berkata berbisik.

"Kim-siheng, kalau Boh Cong-tiu sampai kelepasan tangan..."

Lapat-lapat ia menyalahkan tindakan Kim Tiok-liu, bukan saja tidak segera melerai pertempuran, malah memberi semangat pada Lim Bu-siang untuk meneruskan pertempuran. Kim Tiok-liu tertawa, sahutnya.

"Paman tak usah kuatir, marilah kita tonton babak selanjutnya!"

Tan Thian-ih membatin.

"Apakah kali ini keliru pula pandanganku?"

Mendengar dan melihat semua orang sama bisik-bisik, tiba-tiba tergerak hati Boh Cong-tiu, di saat Lim Bu-siang belum lagi menancapkan kakinya dengan tegak segera ia menubruk maju seraya mengembangkan kipasnya, dia berusaha mengambil posisi penyerangan yang lebih menguntungkan.

Serangan ini cukup ganas sementara mulutnya berkata.

"Maaf aku berlaku kasar!"

Nada bicaranya seolah-olah dialah yang bakal di pihak menang, lebih baik Lim Bu-siang menyerah kalah saja.

Kalau tidak menyerah karena dirinya sudah menempati posisi yang lebih unggul, betapapun ia punya pegangan untuk mengambil kemenangan.

Siapa tahu ada lebih baik dia tidak membuka kata, justru kata-katanya ini membuat hati Lim Bu-siang terbakar, pikirnya.

"Tak percaya aku begitu teledor otakmu ini, masakah tidak tahu bahwa aku tadi menaruh belas kasihan kepadanya!"

Karena marah dengan dingin ia menyahut.

"Benar, kau sudah menang sejurus, tapi kalah atau menang belum bisa ditentukan!"

Menurut aturan bulim, dalam pertandingan silat, sudah tentu harus dapat dibedakan pihak mana lebih unggul dan siapa yang asor baru ditentukan siapa menang dan kalah.

Mendengar ucapan Kim Tiok-liu tadi, semua orang sama menaruh rasa was-was dan setengah percaya dan setengah curiga.

Tampak Boh Cong-tiu memainkan kipasnya sedemikian lincah dan tangkasnya, mendadak berkembang tiba-tiba terkatup lurus, setiap gerakan setiap tipu merangsak lebih dulu dengan gencar, sedikit pun tidak memberi kesempatan lawan ganti napas.

Lama kelamaan kelihatan Lim Bu-siang hanya mampu membela diri belaka.

Tan Thian-ih jadi kuatir bagi keselamatan Lim Bu-siang.

katanya.

"Kim-siheng, kukira keadaan rada ganjil bukan?"

"Toh belum lagi sampai lima puluh jurus!"

Sahut Kim Tiok-liu..

Tempat duduk Beng Goan-cau terpaut tidak jauh dari mereka, kata-kata Kim Tiok-liu ini ia pun mendengar.

Sebetulnya ia menggenggam telapak tangannya yang berkeringat dingin, setelah mendengar kata-katanya itu baru legalah hatinya.

Tapi tak urung ia masih agak curiga pula, pikirnya.

"Maksud kata-kata Kim Tayhiap tadi, agaknya dalam lima puluh jurus Lim Bu-siang pasti dapat mengubah situasi, dari pihak terdesak mengambil kemenangan. Kukira belum tentu? Kalau bisa mengubah dari pihak yang terdesak balas menyerang saja sudah mending."

Tampak kipas Boh Cong-tiu sedang ditarikan sedemikian cepat dan hebatnya, seperti kupukupu raksasa sedang menari timbul tenggelam di tengah udara, bayangan kipas berlapis-lapis dengan rapatnya sehingga bentuk tubuh Lim Bu-siang terkurung rapat dan tidak kelihatan.

Kipasnya itu dapat bergerak secara lincah dan serba guna, ada kalanya digunakan sebagai potlot baja peranti menotok jalan darah, tiba-tiba sebagai pedang Ngo-heng-kiam, sekonyong-konyong mengebas juga dengan kisaran tenaga angin yang deras, gerak perubahannya banyak ragam dan sulit diraba.

Pakaian Lim Bu-siang melambai-lambai, kakinya bergerak lincah maju mundur dengan teratur, kelihatan sikapnya amat tenang, namun jidatnya kelihatan sudah berkeringat.

Melihat keringatnya ini, diam-diam semakin kuatir hati Beng Goan-cau.

Kiranya meski Lim Bu-siang sudah berhasil menyelami intisari pelajaran ilmu pedang di atas dinding itu, kalau sari pedang bisa dia pahami dalam waktu dekat, adalah Iwekangnya tidak bisa maju berlipat ganda pula.

Karena dia mengalah sejurus kepada Boh Cong-tiu tadi, sehingga Boh Cong-tiu berhasil menempatkan diri dalam posisi yang lebih unggul terpaksa ia menggunakan Chong-jiu-hoat untuk menghadapinya.

Untung Iwekang kedua pihak terpaut tidak terlampau jauh, kalau tidak sejak tadi Lim Bu-siang tentu sudah terluka.

Tapi menggunakan permainan pedang yang jauh lebih unggul Lim Bu-siang berhasil menambal kelemahan Iwekangnya, karena itu dia harus bekerja secara bertahap, lambat tapi pasti mematahkan setiap rangsakan Boh Cong-tiu yang gencar, dalam waktu dekat, usahanya ini belum bisa terlaksana, mengubah keadaan dari menjaga diri menjadi balas menyerang.

Lama kelamaan Lim Bu-siang naik pitam, pikirnya.

"Aku tidak ingin melukainya, sebaliknya jiwaku sendiri terancam oleh kipasnya. Semula aku bermaksud mendesaknya saja supaya tahu diri dan mundur teratur, apa boleh buat terpaksa aku harus bertindak biar dia mendapat malu habishabisan."

Serta merta kakinya lantas melangkah menurut ajaran Ngo-heng-pat-kwa, maju miring tiga langkah, lalu cepat-cepat mundur lagi lima tindak dengan gerakan delapan langkah kakinya, seluruh rangsakan Boh Cong-tiu yang dahsyat sudah kena dipunahkan sama sekali.

Orang luar melihat dia maju tiga langkah mundur lima tindak, semua mengira dia terkepung dan berusaha menjebol keluar dengan berontak pada babak terakhir.

Melihat ilmu pedangnya sedemikian kokoh dan tidak terlihat titik kelemahan untuk digempur, malah ada kalanya gerak pedangnya jauh lebih mendahului dari keinginan hati, seolah-olah sudah bisa meraba ke mana dan gerakan susulan apa yang bakal dirinya lancarkan, lalu balas menyerang lebih dulu ke tempat fatal yang harus diselamatkan lebih dulu sebelum melukai musuh, lama kelamaan bercekat hati Boh Cong-tiu, batinnya.

"Ilmu pedangnya sudah mencapai seperti terjebak kenyataan tulen, taraf tertinggi dari puncak kesempurnaan ilmu pedang. Aku berlatih secara matimatian beberapa tahun lamanya, belum juga bisa mencapai taraf yang sama. Tentu di dalam gua itu dia menemukan dan mempelajari peninggalan ajaran silat cosu."

Lapat-lapat hatinya sudah mendapat firasat jelek, namun ia masih berusaha menempuh sesuatu keganjilan, di saat dirinya belum kelihatan terdesak dan bakal kalah, menggunakan tenaga lwekang ia hendak melukai piaumoaynya.

Perhitungannya memang cukup sempurna, sayang Lim Bu-siang sudah tidak mau mengalah lagi padanya.

Di antara sambaran pedang dan berkelebatnya bayangan kipas, tampak cahaya pedang Lim Bu-siang sekonyong-konyong melebar seperti matahari meledak dalam sambaran laksana kilat, beruntun ujung pedangnya melingkar membuat tujuh gerak bundaran yang sambungmenyambung.

Itulah jurus Tiang-ho.-loh-jit-wan yang pernah dilancarkan oleh Cong Sin-liong tadi, bundaran sinar pedangnya sudah berhasil melibat kipas Boh Cong-tiu, sekonyong-konyong "Sret' ujung pedangnya me-nyelonong ke depan laksana ujung anak panah, dari jurus Tiang-ho-loh-jitwan secepat kilat diubah menjadi Tay-bok-hou-yan-ce.

Kalau hanya menghadapi satu jurus saja, mungkin Boh Cong-tiu masih kuasa melawan dengan susah payah, namun dengan serangan kombinasi dua jurus ilmu pedang yang tiada taranya ini, cara bagaimana dia dapat bertahan?

Kontan Boh Cong-tiu merasa pergelangan tangannya seperti digigit nyamuk lantas menjadi kesemutan, sedikit bergetar, tahu-tahu kipasnya terlepas dari cekalan tangannya.

Cara kekalahannya mirip benar dengan kekalahan Cong Sin-liong.

Yang lebih celaka, kipasnya itu meluncur jatuh masuk ke dalam lumpur yang kotor, keruan ia jauh lebih malu dibuatnya, seketika air mukanya menjadi masam dan kaku.

Lim Bu-siang tersenyum simpul, pedang ditarik merapat ke tubuh, lalu katanya.

' Syukur menang sejurus, piauko, perlukah kau ambil kipasmu dan pertandingan dilanjutkan?"

Menurut aturan pertandingan, kalau senjata kena dijatuhkan oleh lawan, boleh dikata sudah kalah total.

Di hadapan sekian banyak orang, mengandal gengsi dan kedudukan Boh Cong-tiu, masakah masih punya muka tebal untuk melanjutkan pertandimgan.

Apalagi dalam sanubari Boh Cong-tiu cukup paham, bahwa serangan Lim Bu-siang tadi menaruh belas kasih padanya.

Ujung pedangnya telak sekali mengenai jalan darah di pergelangan tangannya, tenaganya yang digunakan amat persis, jika mau menambah sedikit tenaga, Siauyang-king-meh di tangan Boh Cong-tiu pasti putus dan terluka, itu terarti bahwa seumur hidupnya ia tidak akan bisa menggunakan tangan kanannya bermain silat.

Tapi Boh Cong-tiu sendiri pun punya kegetiran hati yang sulit dilimpahkan, dia tahu bahwa jurus Tiang-ho-loh-jit-wan memang tipu ajaran pedang perguruan sendiri, sebaliknya Tay-bohhou-yan-ce seperti benar tapi seperti bukan.

Namun di waktu Lim Bu-siang berhasil mengalahkan Cong Sin-liong tadi, demi menjaga Cong Sin-liong menimbulkan gara-gara lain, secara lantang ia mengakui sendiri bahwa kedua jurus ini adalah pelajaran perguruan mereka, sekarang masakah ia harus menyangkal keterangan sendiri, mencerca piau-moay tidak menggunakan ilmu pedang perguruan mereka?

Kan kata-katanya menjadi berlawanan satu sama lain.

Sungguh marah dan malu pula Boh Cong-tiu dibuatnya, terpaksa ia berkata dengan tertawa getir.

"Piaumoay, kuhaturkan selamat kepada kau, berhasil mempelajari ilmu pedang maha sakti dan liehay. Engkohmu yang bodoh ini mana berani melanjutkan, terpaksa mengaku kalah saja! Tapi, sungguh aku tidak menduga, kau pun bisa mengelabui aku!"

"Piauko,"

Kata Lim Bu-siang tawar.

"Agaknya kau sendiri pun punya banyak urusan yang tidak dibicarakan secara jujur terhadapku."

Lekas Boh Cong-tiu unjuk tawa dibuat-buat, katanya.

"Piaumoay, agaknya memang sudah takdir bahwa kaulah yang berjodoh mendapat ajaran mumi langsung dari cosu, engkohmu yang bodoh ini masih belum sempat mengucapkan selamat kepada kau, masakah mau main cerca segala?"

Di dalam keadaan terdesak, mendadak Lim Bu-siang bisa menggunakan dua jurus ilmu pedang yang kelihatannya sepele berhasil mengalahkan Boh Cong-tiu, sekejap itu seluruh hadirin hampir tidak percaya akan pandangan mata masing-masing, sesaat lamanya semua sama terlongong.

Setelah Boh Cong-tiu mengaku kalah, baru hadirin sadar bahwa apa yang dilihatnya itu memang kenyataan.

Serempak terdengar tarikan napas, pujian dan sorak-sorai gegap gempita.

Berkata Kim Tiok-liu tersenyum.

"Sepuluh jurus lebih kurang dari dugaanku semula, damparan ombak sungai Tiangkang yang belakang mendorong yang di depan, patah tumbuh hilang berganti, sungguh tepat kata-kata ini."

Diam-diam Tan Thian-ih pun malu diri, katanya tertawa.

"Sejak kini, aku tidak berani lagi pandang rendah para tunas-tunas muda."

Adalah perasaan Lian Jay-hong istri Boh Cong-tiu yang paling risau dan gundah, dia bersedih bagi kekalahan suaminya, tapi juga rada-rada senang, pikirnya.

"Apa manfaatnya menjadi ciangbun, untuk mengejar jabatan ciangbun ini entah betapa ia melimpahkan tenaga dan semangatnya, sampai istri pun sering dilupakan. Keinginanku hanyalah bisa hidup rukun sampai hari tua dengan dia, lepas dari segala kerisauan dunia, hidup langgeng di antara gunung dan sungai, dalam alam bebas yang menyenangkan, puaslah hatiku."

Maka dari dalam lumpur ia mengambil kipas suaminya lalu mendatangi, katanya.

"Cong-tiu, kau belum lagi menyampaikan selamat pada ciangbun baru. Pembukaan upacara besar perguruan kita sudah harus dimulai dengan dipimpin oleh piaumoay."

Ingin rasanya Boh Cong-tiu merobek dan mematahkan kipasnya, kibaskan lengan baju tinggal pergi, namun kilas lain ia berpikir.

"Kesabaran kecil tidak tahan bakal menggagalkan urusan besar."

Akhirnya ia menahan diri tetap hadir dalam upacara itu. Maka segera ia berkata tertawa.

"Benar, aku sungguh teledor. Piaumoay, sekarang kau sudah menjadi ciangbun kita, silakan kau pimpin lebih lanjut upacara besar."

Lim Bu-siang tertawa, katanya.

"Kata-katamu terlalu pagi diucapkan, entah masih atla suheng atau suci yang mana yang sudi memberi petunjuk lagi?"

Untuk menutupi kekikukan dirinya lekas Boh Cong-tiu bergelak tertawa, serunya.

"Aku sendiri pun kena kau kalahkan, siapa lagi yang mampu bertanding memperebutkan ciangbun ini dari tanganmu?"

Sebagai pengawas di dalam pertandingan ini segera Ciok Heng berteriak tiga kali, ternyata tiada orang lain lagi yang tampil ke depan, maka Ciok Heng lantas mengumumkan secara resmi bahwa ciangbun-jin Hu-siang-pay dijabat oleh Lim Bu-siang.

Beramai-ramai para murid Husiang-pay sudah bergerak hendak menyampaikan selamat kepada ciangbun, lekas Li-m Bu-siang berseru.

"Tunggu sebentar."

Ciok Heng melengak, tanyanya.

"Ciangbun ada petunjuk apa?"

"Jangan kau tergesa-gesa membahasakan diriku sebagai ciangbun. Tadi sudah pernah kukatakan kafau aku menang aku tidak ingin menjabat ciangbun. Ciok-suheng, watakmu cukup jujur, bersifat lapang dan matang dalam kehidupan, mantap pula dalam menghadapi segala persoalan, kukira kaulah paling cocok untuk menjadi ciangbun. Aku menyerahkan kepada kau."

Sudah tentu Ciok Heng tersipu-sipu, lekas ia goyangkan tangan serta sahutnya.

"Jabatan besar ciangbun mana bisa diserahkan secara pribadi? Aku sendiri dapat menilai diriku, mana bisa aku menjabat ciangbun?"

Bagaimana juga Ciok Heng menolak, Boh Cong-tiu suami istri segera membujuk Lim Bu-siang.

Sudah tentu bujukan Lian Jay-hong istri Boh Cong-tiu setulus hati, sebaliknya Boh Cong-tiu hanya pura-pura belaka.

Tahu bahwa dirinya tidak mungkin lagi menampik jabatan ini, setelah berpikir sebentar, ia berkata.

"Ciok-suheng tidak mau memikul tanggung jawab berat ini, terpaksa aku memberanikan diri untuk menghadapi segala kesulitan. Tapi kuharap kau suka membantu banyak terhadapku!"

"Sudah tentu,"

Sahut Ciok Heng.

"Apapun yang kau inginkan cukup kau memberi pesan pasti akan ku laksanakan."

"Terima kasih akan kesediaan Ciok-suheng, kalau begitu kuharapkan kau suka menjadi huciangbun kami."

Ciok Heng melenggong, katanya.

"Belum pernah kudengar partai mana ada seorang yang menjabat sebagai hu-ciangbun segala?"

Lim Bu-siang tertawa, ujarnya.

"Perguruan kita baru kembali dari luar lautan, kukira kita tidak usah mengikuti tradisi yang ada di Tionggoan ini, biarlah kita menegakkan undang-undang baru sendiri, apa pula halangannya?"

Memang Ciok Heng rada kurang senang terhadap segala sepak terjang Boh Cong-tiu selama ini, melihat Lim Bu-siang sangat mempercayai dirinya, segera ia berpikir.

"Kalau aku tidak menerima, mungkin kekuasaan besar bisa terjatuh ke tangan Boh Cong-tiu."

Maka segera ia menerima jabatan yang diberikan. Kata Lim Bu-siang pula.

"Sebagai anak perempuan, mungkin aku tidak bisa selalu tinggal menetap di markas pusat kita. Di kala aku tidak ada, harap Ciok-suheng mewakili aku pegang kekuasaan sebagai ciangbun,"

Lalu ia menambahkan.

"Boh-suheng, aku pun harus mohon bantuanmu juga."

Diam-diam bersorak hati Boh Cong-tiu, pikirnya.

"Ciok Heng saja bisa menjabat huciangbun, Bu-siang tentu tidak enak hati menempatkan diriku di sebelah bawahnya."

Maka segera ia berkata.

"Silakan ciangbun katakan saja!"

Terdengar Lim Bu-siang berkata pelan-pelan.

"Aku hendak mencontoh cara pihak Siau-lim-si mendirikan Tat-mo-wan, kudirikan Jan-bau-tong, kuharap Boh-suheng suka menjadi Jan-bau-tongcu, khusus memperdalam dan mengajarkan inti ilmu silat perguruan kita."

Boh Cong-tiu menjadi amat kecewa, pikirnya.

"Cerdik juga budak kecil ini mengatur siasatnya, terang dia menendang aku ke atas, disanjung puji seperti patung dewa! Meski dewa suka memberikan pengasihnya kepada manusia, bahwasanya tidak punya kekuasaan apa-apa, tidak lebih hanyalah sebuah patung yang mandah saja dibuat pajangan oleh manusia!"

Lalu terpikir pula olehnya.

"Mungkin ke sana maksud tujuannya, tapi betapa sih kemampuannya, mana bisa mengendalikan dan menuntun aku Boh Cong-tiu. Hm, dia minta aku menjadi Jan-bau-tong-cu, sesuai dengan nama dan kedudukanku, aku jadi berkesempatan memeras intisari pelajaran silat perguruan kita dari tangannya."

Segera ia merendah diri dan sekedar main sungkan lalu menerima jabatannya.

Tak lama kemudian upacara sudah selesai, para murid Hu-siang-pay sudah menyampaikan sembah sujud dan memberi selamat kepada ciangbunnya, kini giliran para tamu yang berbondongbondong maju menyampaikan selamat kepada Lim Bu-siang.

Kata Lim Bu-siang.

"Para hadirin sekalian sudah banyak capai, silakan berkumpul di Giok-hong-koan untuk sekedar menikmati sarapan pagi!"

Belum lenyap suaranya, mendadak sebuah suara serak tua yang lantang berseru keras.

"Tunggu sebentar!"

Semua orang sama melongo dan berpaling ke arah datangnya suara, ternyata pembicara ini adalah Su-hay-sin-liong Ki Kian-ya, jago tua kalangan kangouw yang nama dan tingkat kedudukannya boleh dijajarkan dengan Kanglam Tayhiap Tan Thian-ih.

Sejenak Lim Biu siang tertegun, tanyanya.

"Ada petunjuk apa Ki-locianpwe?"

"Sungguh kebetulan bahwa para enghiong dari seluruh jagat bisa berkumpul semua di sini, losiu hendak pinjam kesempatan ini untuk memberi sekedar penjelasan kepada seluruh orangorang gagah yang hadir. Ada pula sebuah pertikaian kecil lainnya yang punya sedikit sangkut paut dengan persoalan ini, kuharap mumpung kedua pihak orang yang tersangkut dalam perkara ini sama hadir, akan kubikin beres biar terang duduknya perkara!"

Secara tidak langsung ia mengutarakan bahwa sebuah persoalan yang harus mohon pendapat umum untuk memberi putusan salah atau benarnya urusan ini.

Terdengar bisik-bisik para hadirin, semua bertanya-tanya persoalan apa yang hendak dia beber di hadapan umum?

Hanya Beng Goan-cau seorang yang maklum, pikirnya.

"Nyo Bok mengajukan Su-hay-sin-liong untuk menimbulkan gelombang kerusuhan di sini, agaknya aku sulit menghindarkan diri dari persoalan pelik ini!"

Meski biasanya ia bersikap tenang gagah dan berani, namun menghadapi persoalan yang serba rikuh dan risi ini mau tidak mau kebat-kebit jantungnya. Lim Bu-siang keheranan, katanya.

"Silakan cianpwe katakan saja!"

"Nyo Bok, kau keluar!"

Ki Kian-ya segera berseru lantang.

Sambil mengiakan Nyo Bok berdiri terus tampil ke depan berdiri di tengah gelanggang, ia menjura ke empat penjuru.

Tadi belum banyak orang yang tahu kehadirannya kini terdengarlah seruan heran dan kaget dari berbagai penjuru.

Kata Ki Kian-ya lebih lanjut.

"Kuki^ kalian sudah tahu, bahwa keponakanku ini tiga bulan yang lalu pernah dikabarkan mati bukan? Malah mungkin ada di antara hadirin yang ikut melayat waktu jenazahnya dikebumikan, cara bagaimana mendadak dia bisa merangkak keluar pula dari liang kubur? Kukira hal ini amat ingin diketahui oleh seluruh hadirin bukan?"

Hubungan Nyo Bok amat luas, di antara hadirin banyak terdapat para sahabat kentalnya, maka berbareng mereka bertanya.

"Benar' Nyo-heng sebetulnya karena urusan apakah kau sampai berbuat demikian?"

Nyo Bok tertawa getir, sahutnya.

"Harap paman Ki saja yang memberikan penjelasan kepada mereka."

Kata Ki Kian-ya.

"Aku dan Nyo Bok ada hubungan besan, tapi aku bicara di sini bukan karena hubungan besanan ini, mengagulkan dan memuji dia. Watak dan perangainya, memang harus kita puji dan kagumi."

Kata-kata ini seolah-olah merupakan ikhtisar dari pembukaan sambutannya, sejenak merandek lalu ia melanjutkan.

"Adalah untuk menghindarkan diri dari kejaran pihak kerajaan, supaya cakar alap-alap kerajaan tidak mencari kesulitan padanya, jadi terpaksa dia melakukan hal itu."

"Ciok Tio-ki benggolan begal tunggal itu kukira kalian sudah pernah dengar bukan, sekarang dia sudah merupakan wakil komandan pasukan Gi-lim-kun di istana raja. Dia pulalah yang meluruk datang ke rumahnya menjadi kurir pihak pemerintah, terhadap Nyo Bok ia gunakan bujukan halus serta tekanan dan ancaman."

Ki Kian-ya melanjutkan.

"Ciok Tio-ki berkedudukan di dalam Gi-lim-kun, tapi sebenarnya dia menjadi mata-mata dari Sat Hok-ting kepala Bhayangkari dari istana raja. Dia minta Nyo Bok pergi ke kota raja untuk menghadap kepada Sat Hok-ting, cuma dikatakan bahwa Sat Hok-ting adalah seorang pembesar bijaksana dan baik hati dan luhur perbuatannya, beliau amat kagum dan senang bersahabat dengan Nyo Bok, maka mengundangnya ke sana. Tapi kalau benar-benar sampai masuk ke dalam muslihatnya, bila kau tidak mau tunduk pada perintahnya, masakah dia masih bisa hidup keluar dari pintu kota raja?"

"Benar."

Seru semua hadirin.

"Sudah tentu Nyo Bok tidak begitu gampang kena ditipu mentahmentah."

Sebetulnya terketuk sanubari Nyo Bok dan amat menyesal, namun melihat para hadirin amat mempercayai dirinya, rasa malunya menjadi lenyap, tak urung ia menjadi sombong dan dimabuk gembira.

Seketika ia unjuk seri tawa lebar, berkali-kali menjura kepada para hadirin, ujarnya.

"Terima kasih akan kepercayaan saudara-saudara sekalian kepada aku orang she Nyo!"

Sebaliknya Beng Goan-cau tertawa dingin dalam hati.

"Tak nyana Nyo Bok adalah seorang yang rendah martabat dan hina dina! Di hadapan sekian banyak orang-orang gagah masih berani dia mengarang cerita bohong. Sungguh kasihan bahwa Hun Ci-Io menikah dengan manusia yang rendah budi ini. Ai, namun demi Ci-lo, tidak tega aku membongkar kedok palsunya. Kalau kubongkar persekongkolannya semalam dengan Ciok Tio-ki, bagaimana Ci-lo harus menempatkan dirinya selanjutnya?"

Dalam pada itu dalam hati Lim Bu-siang juga sedang mengumpat akan kelakuan Nyo Bok yang tidak tahu malu ini, soalnya dia masih punya alasan-alasan yang cukup menyulitkan.

Pertama, persoalan ini ada menyangkut piaukonya Boh Cong-tiu, kini dia sudah merebut kedudukan ciangbun piaukonya, tak tega ia membuat orang mendapat malu di hadapan orang banyak.

Kedua, meski ia tahu bahwa orang yang dilihatnya kemarin malam betul adalah Ciok Tio-ki, namun karena dia tidak punya bukti nyata dengan meringkusnya, kalau piaukonya menyangkal dan katakan orang lainnya, apa pula yang dapat ia lakukan.

Terdengar Ki Kian-ya berkata lebih lanjut.

"Oleh karena itu keponakanku ini pura-pura mati untuk menghindarkan diri dari tekanan dan kejarannya. Ai, sayang usahanya toh masih sia-sia."

"Menurut rencana semula dia hendak mengasingkan diri dan menyembunyikan nama, tidak muncul lagi di kalangan kangouw, tapi karena ada pertikaian keluarga yang di luar dugaannya... persoalan ini biar nanti kujelaskan tersendiri. Terpaksa dia harus meluruk ke Soh-ciu. Entah bagaimana jejaknya berhasil diketahui oleh Ciok Tio-ki, di tengah jalan dia terkejar dan terjadilah perang mulut. Karena tidak bisa menyingkir lagi, terpaksa Nyo Bok gunakan kekerasan, beruntung ia berhasil melabraknya, tapi dia sendiri pun kena sekali pukulannya."

Di antara sekian banyak hadirin, adalah seorang yang tergoncang sanubarinya oleh obrolan panjang lebar Ki Kian-ya ini, dia tak lain adalah Hun Ci-lo yang sejak tadi menempatkan dirinya di pojokan dan tidak pernah bersuara.

Sebetulnyalah dia tidak tahu bahwa Nyo Bok sengaja hendak mencelakai Beng Goan-cau, hatinya terguncang karena dia mendengar bahwa suaminya kena dilukai oleh Ciok Tio-ki.

Pikir Hun Ci-lo.

"Soal Ciok Tio-ki datang membujuk dia menjadi tamu undangan Sat Hok-ting, kenapa selamanya dia tidak pernah membicarakannya dengan aku? Kejadian dia pura-pura mati adalah demi menyempurnakan hubunganku dengan Goan-cau, kenapa pula berubah menjadi untuk menghindarkan kejaran dan ancaman Ciok Tio-ki? Mungkinkah dia kuatir aku takut, maka mengelabui persoalan ini kepadaku? Dia tahu kelak dirinya tidak akan muncul lagi di dunia ramai, tahu pula bahwa aku tidak sungguh-sungguh menyukainya, maka dengan sengaja hendak merujukkan kembali hubunganku dengan Goan-cau? Ai, kalau hal ini benar. Oh, Nyo-long, sungguh besar jerih payahmu ini."

Lalu terpikir pula olehnya.

"Persoalan Ciok Tio-ki meski tidak pernah dia sampaikan kepadaku, tapi kejadian dirinya dilukai oleh Ciok Tio-ki sudah dibuktikan oleh Ki-lopek, tentu kejadian itu bukan bohong belaka. Sejak mula aku sudah mengharap supaya dia suka menjadi pahlawan gagah menentang penjajah, harapanku itu kini sudah tercapai. Setelah urusan di sini selesai aku harus rujuk kembali padanya akan kuberitahukan bahwa aku sedang mengandung anaknya."

Di saat pikiran Hun Ci-lo terombang-ambing, sementara Ki Kian-ya menyambung terus.

"Setelah terluka oleh Ciok Tio-ki barulah keponakanku ini sadar, kenapa tidak sejak dulu saja secara gamblang menjadi patriot penentang kerajaan. Kini meski dia sudah ganti haluan, betapapun Nyo Bok selanjutnya sudah tidak sejajar lagi dengan Nyo Bok yang dulu."

Maksud katakatanya ini mau mengatakan bahwa selanjutnya Nyo Bok sudah terhitung sebagai kaum pendekar.

Serempak banyak hadirin sama menyerukan puji sanjungnya.

Setelah suasana rada tenang, Ki Kian-ya berkata pula.

"Kini tibalah aku membicarakan persoalan keluarga, yang tidak terduga tadi, meski hal ini merupakan persoalan pribadi, namun menyangkut pada seorang enghiong yang hadir pula di sini..."

Jantung Beng Goan-cau sedang melonjak-lonjak, sekonyong-konyong didengarnya di tengah hadirin sana seseorang berseru.

"Tunggu dulu!"

Waktu semua orang berpaling tampak seorang laki-laki berjambang bauk tebal dan kaku tahutahu sudah mencelat berdiri di hadapan Su-hay-sin-liong Ki Kian-ya.

Orang ini bukan lain adalah Koantang Tayhiap Utti Keng.

Pergaulan Utti Keng jauh lebih luas dari Nyo Bok, hampir dikata seluruh hadirin sama kenal padanya, melihat orang muncul secara mendadak, keruan semua sama heran.

Melenggong sebentar lalu Ki Kian-ya bertanya.

"Utti Tayhiap mau bicara apa?"

"Sebutan 'Tayhiap' segala sungguh aku tidak berani terima,"

Demikian ujar Utti Keng.

"Tapi persoalan harus dibedakan buruk baiknya, mutiara jangan dicampur dalam mata ikan, perbedaan umum yang paling gampang ini, sedikitnya aku masih paham."

Ki Kian-ya mengerut kening, tanyanya.

"Apa-apaan maksud kata-katamu ini?"

"Benarkah Nyo Bok dipukul terluka oleh Ciok Tio-ki? Kukira belum tentu!"

Ki Kian-ya menjadi kurang senang, serunya.

"Nyo Bok, bukalah bajumu tunjukkan langsung kepada Utti Tayhiap. Tan Tayhiap kau ada mengenal ilmu Lui-sin-ci, harap kemari menjadi saksi. Supaya orang tidak curiga aku dan Nyo Bok hanya mencari gara-gara."

Lekas Nyo Bok membuka baju dan memperlihatkan dadanya, tampak di tengah-tengah dadanya jelas masih membekas sebuah telapak tangan warna abu-abu yang sudah luntur.

Tan Thian-ih diseret keluar oleh Ki Kian-ya, setelah memeriksa, ia berkata.

"Benar, ini memang lukaluka bekas Lui-sin-ci!"

Lui-sin-kang adalah semacam lwekang dari aliran sesat, bila latihannya sudah mendalam bisa digunakan sebagai Lui-sin-ciang, yang masih rendah hanya bisa digunakan pada kekuatan jari yang dinamakan Lui-sin-ci.

Yang mempelajari ilmu macam ini dalam seluruh dunia ini hanya ada sebuah keluarga saja, mereka menetap di Hoa-san yang menggunakan marga dobel yaitu she Ouwyang.

Majikannya bernama Ouyang Kian, dia cuma punya seorang murid, muridnya itu menjadi begal tunggal dan kini menjadi wakil komandan Gi-lim-kun yaitu Ciok Tio-ki adanya.

Kalau gurunya sudah berlatih mencapai Lui-sin-ciang, sedang muridnya baru mencapai pada taraf Lui-sin-ci saja.

Hal ini banyak diketahui orang-orang gagah yang hadir.

Maka begitu Tan Thian-ih menyatakan luka-luka itu adalah bekas pukulan Lui-sin-ci, maka terbuktilah bahwa orang yang melukai Nyo Bok terang adalah Ciok Tio-ki adanya.

"Utti Tayhiap, apakah kau perlu memeriksa lebih jelas?"

Demikian tanya Ki Kian-ya dengan nada menyindir. Sekilas Utti Keng melirik ke arah Nyo Bok, katanya pelan-pelan.

"Ki-losiansing jangan marah, tujuanku adalah hendak mencari duduk perkara sebenarnya."

"Jadi sekarang sudah jelas belum duduknya perkara ?"

Utti Keng bergelak tertawa, maju dua langkah ia berkata.

"Nyo Bok terkena pukulan Lui-sin-ci, tapi masih kuat melabrak Ciok Tio-ki sipat kuping. Sungguh harus dibuat kagum! Kagum sekali!"

Sembari berkata ia ulurkan tangannya kepada Nyo Bok.

Nyo Bok menyangka orang betul-betul merasa kagum dan menaruh hormat padanya dengan mengulur tangan hendak berjabatan, dengan sewajarnya ia pun mengulur tangan.

Tak nyana begitu jari-jari mereka saling genggam, kelima jari Utti Keng seketika berubah seperti lima besi jepitan yang amat keras dan kuat, saking sakit terasa menusuk ke tulang sumsum, seketika pucat pasi muka Nyo Bok, tak tertahan ia menjerit kesakitan.

"Apa yang kau lakukan?"

Bentak Ki Kian-ya.

"wut"

Kepalannya segera menyerang ke sendi tulang di lengan tangan Utti Keng, lekas Utti Keng menarik Nyo Bok serta memutarnya setengah lingkaran terus menyendatnya terpental, sementara telapak tangan kiri membalik menangkis.

"biang!"

Dua pihak tergentak mundur tiga langkah.

Lwekang masing-masing se-tanding, namun badan Ki Kian-ya tampak tergeliat dua kali.

Maklumlah usianya sudah cukup lanjut, sudah tentu dalam hal kekuatan dia tidak bisa menandingi Utti Keng yang baru menanjak usia.

"Utti Keng!"

Seru Ki Kian-ya gusar.

"Kenapa main siksa dan menghina keponakanku?"

Utti Keng unjuk tawa lebar, ujarnya.

"Losiansing, jangan salah paham. Aku hanya mencoba sampai di mana tingkat kepandaian Nyo Busu belaka."

"Huh, kau hendak menjajal ilmu kepandaiannya, apa maksudmu?"

"Bicara terus terang, aku pernah dua kali bergebrak langsung dengan Ciok Tio-ki. Yang terakhir terjadi baru kemarin, di bawah gunung Thay-san ini. Sampai di mana bekal ilmu Lui-sin-cinya, aku cukup jelas mengetahui."

Kata-katanya ini seketika membuat semua hadirin keheranan, semua sama membatin.

"Cara bagaimana Ciok Tio-ki bisa muncul di bawah Thay-san, apakah dia pernah menyelundup kemari secara diam-diam?"

Ki Kian-ya sendiri pun merasa heran dan kurang mengerti, tapi saat mana dia tiada tempo hiraukan persoalan ini, setelah melengak, dengan tajam ia tatap Utti Keng, katanya dingin.

"Kalau kau sudah tahu tingkat kepandaian silat Ciok Tio-ki lalu mau apa?"

"Tidak apa-apa. Cuma menurut pandanganku, kata-kata Nyo Busu menurut ceritamu tadi agaknya sulit dapat dipercaya."

Dengan muka membesi hijau, Nyo Bok berjingkrak maju, teriaknya.

"Utti Keng, berani kau mengatakan aku bohong?"

Utti Keng pun menarik muka dengan kereng, matanya mendelik bundar, tanpa mengenal sungkan ia berkata.

"Ya, memang aku rada curiga pada tingkah lakumu!"

"Utti Tayhiap, dengan alasan apa kau berani berkata begitu?"

Ki Kian-ya menegas.

"Bicara soal kepandaian, tidak mungkin Ciok Tio-ki bisa kena dikalahkan oleh pukulannya. Setelah dia kena terluka Lui-sin-ci, paling ringan pasti sakit keras dan berbaring beberapa lamanya, tidak mungkin hanya dalam jangka waktu satu setengah bulan, lantas sembuh sebagian besar."

"Katamu aku tidak pantas mengalahkan Ciok Tio-ki, tapi kenyataan aku berhasil menang. Kalau kau, tidak percaya, apa dayaku? Waktu itu Ciok Tio-ki terkena pu-kulanku lebih dulu, baru beberapa gebrak kemudian dia pun berhasil melukai aku. Memang lwekangku tidak setingkat dibanding Utti Tayhiap, tapi paling tidak, tidak bakal bisa mampus di bawah pukulan Lui-sin-ci Ciok Tio-ki? Dan lagi, masakah kau tidak pernah berpikir bahwa aku bisa memiliki obat mujarab untuk menyembuhkan luka-luka dalam?"

Nyo Bok bicara dengan cepat seperti mitraliur, cukup beralasan pula.

Maklumlah perbandingan ilmu silat memang suatu urusan yang amat rumit dan sulit dikatakan secara tertentu, meski Utti Keng seorang ahli di bidang ilmu silat, tapi pandangannya betapapun belum tentu mesti tepat.

Hadirin kembali berbisik-bisik dan menjadi ribut, tujuh di antara sepuluh orang sama merasa seolah-olah Utti Keng memang sengaja hendak mencari gara-gara secara brutal.

Ki Kian-ya menarik napas, katanya.

"Kalau toh itu hanya rekaan dan rabaan Utti Tayhiap melulu, kukira tidak perlu diperdebatkan lagi. Marilah kita bicara ke persoalan semula yang penting. Kecuali Utti Tayhiap bisa mengajukan seseorang saksi."

Kata-kata Ki Kian-ya ini sebetulnya hanyalah hendak mengejek dan menyudutkan kedudukan Utti Keng, tak nyana sikap air muka Utti Keng justru kelihatan amat serius, katanya dingin.

"Orang macam apa yang ingin kau jadikan saksi?"

"Silakan Utti Tayhiap meringkus Ciok Tio-ki kemari diadu secara berhadapan dengan Nyo Bok, bukankah urusan bakal dapat dibikin beres? Kalau kau tidak mampu membekuk Ciok Tio-ki paling tidak harus bisa menangkap salah seorang pihak mereka."

Belum lenyap suaranya, mendadak Utti Keng berseru lantang.

"Baik, biar kuringkus seorang untuk menjadi saksi pada kau!"

Kata-kata ini membuat seluruh hadirin melengak, perhatian mereka tertuju kepadanya.

Tampak Utti Keng menyeret keluar seseorang dari gerombolan orang banyak, bagi kaum persilatan sekali pandang sudah tahu, bahwa orang itu sejak tadi sudah tertotok jalan darahnya.

Ki Kian-ya amat terkejut, tanyanya.

"Siapakah orang ini?"

Utti Keng segera berseru lantang.

"Orang ini adalah salah satu anak buah Sat Hok-ting dari pasukan Bhayangkari. Silakan kalian periksa."

Sembari berkata ia merogoh keluar sebuah medali emas dari dalam baju orang, di atas medali emas itu ada terukir seekor burung merak yang diberi warna merah.

Umumnya banyak orang sudah tahu bahwa setiap anggauta pasukan Bhayangkari yang bertugas di dalam istana pasti memiliki medali merak emas, bukan saja medali ini dapat digunakan keluar masuk istana, di waktu bertugas di luaran dapat pula digunakan sebagai bukti dari identitasnya.

Di antara sekian banyak hadirin tidak sedikit yang pernah langsung bentrok atau saling gasak dengan pasukan Bhayangkari dari istana raja, umpamanya Tan Thian-ih dan Kim Tiok-liu, sejak lama mereka sudah pernah melihat bentuk medali merak emas macam itu.

Kata Tan Thian-ih.

"Tidak salah, inilah medali merak emas milik setiap anggauta pasukan Bhayangkari. Di waktu kecil pernah aku melihatnya di gedung bupati ayahku dulu."

Kim Tiok-liu segera ikut menimbrung.

"Utti Tayhiap, cakar alap-alap ini cara bagaimana berhasil kau ringkus kemari?"

Tutur Utti Keng.

"Kemarin di tengah jalan Ciok Tio-ki kepergok olehku, bajingan ini adalah kaki tangannya. Waktu kukejar Ciok Tio-ki, sungguh amat menyesal hanya berhasil kubekuk bajingan tengik ini. Tapi dari mulutnya kukira kita bisa mengompes sedikit keterangannya."

"Utti Tayhiap, kau sungguh hebat,"

Demikian puji Kim Tiok-liu.

"Kau berhasil meringkus seorang tawanan tanpa kami ketahui sebelumnya. Bagus, dengan adanya tawanan hidup ini, perkara apapun tidak sulit dibikin terang."

Kiranya Utti Keng membawa tawanan ini naik ke atas gunung, setelah menotok jalan darahnya terus dilempar di antara orang banyak dan tampil ke depan berhadapan langsung dengan Nyo Bok.

Waktu itu seluruh hadirin sedang memperhatikan omongan Ki Kian-ya dan Nyo Bok, sehingga kedatangan Utti Keng yang diam-diam itu tidak diketahui oleh orang banyak.

Dengan muka membesi berkata Ki Kian-ya.

"Apakah omongan cakar alap-alap ini lantas mesti dapat dipercaya?"

"Kompes dulu keterangannya, apa pula halangannya,"

Sela Tan Thian-ih. Kata Kim Tiok-liu.

"Benar, biar dia diadu bicara, dengan Nyo Busu, benar atau salah sesuatu perkara pasti akan dapat diselidiki dengan baik."

Jelas nada bicaranya ini sudah menaruh curiga kepada Nyo Bok, dan rada mempercayai ucapan Utti Keng. Semakin buruk air muka Ki Kian-ya, dengusnya.

"Emas murni tidak takut dibakar. Utti Tayhiap tidak percaya kepada keponakanku ini, bolehlah kau kompes tawanan saksimu ini. Tapi ingat Nyo Bok bukan tawanan dan tidak bersalah, ku-larang kau menganggapnya sebagai seorang seorang terdakwa"

Diam-diam Kim Tiok-liu tertawa geli, batinnya.

"Tua bangka ini agaknya tukang naik pitam dan berangasan."

Lalu serunya.

"Be-gitupun baik. Utti Tayhiap, bukalah jalan darah cakar alap-alap itu, mari kita dengar apa saja yang dia katakan?"

Lekas Utti Keng sudah membebaskan jalan darah orang itu yang tertotok, bentaknya.

"Lekas bicara secara jujur!"

Orang itu ternyata keras kepala, mulut tidak bergerak, hidung sedikit pun tidak mendengus. Utti Keng tertawa dingin, ancamnya.

"Kau mau bicara tidak?"

Pelan-pelan ia menepuk ke punggung orang, muka orang itu seketika pucat pasi, keringat dingin membanjir keluar.

Ternyata Utti Keng menggunakan cara Hun-kin-joh-kut-hoat, cukup hanya sedikit menepuk saja, seluruh sendi tulang dan urat syaraf orang itu seolah-olah kena dicocoki ribuan jarum, sakitnya bukan kepalang, lama kelamaan orang itu tidak tahan disiksa begitu rupa, dengan suara gemetar ia berteriak.

"Kau suruh aku mengatakan apa?"

"Apakah Ciok Tio-ki pernah datang kemari secara diam-diam?"

Tanya Utti Keng. Orang itu manggut-manggut sambil mengiakan.

"Dia menyelundup naik ke Thay-san, apa maksud tujuannya? Siapa-siapa saja yang dia temui di sini?"

Utti Keng bertanya lebih lanjut.

Boh Cong-tiu berdiri di sebelah pinggir sana, dia pun mengikuti Utti Keng mengompes keterangan tawanannya, mendengar sampai di situ, serta merta air mukanya berubah pucat, jantungnya berdebur keras seperti hampir melonjak keluar, sikapnya sudah tidak setenang dan acuh tak acuh seperti tadi.

Di saat jantung Boh Cong-tiu berdetak amat keras itu, semua hadirin pun sedang pasang mata dan mendengar dengan cermat, dengan siapakah sebenarnya Ciok Tio-ki ada intrik dengan orang di atas gunung, mendadak semua orang dikejutkan dengan jeritan keras yang amat mengejutkan, mendadak tawanan itu roboh terjengkang dan melayang jiwanya, tujuh lubang indranya mengalirkan darah segar.

Sudah tentu Utti Keng orang yang paling kaget, cepat ia hendak memberi pertolongan, tampak di tengah batok kepala orang ini tertancap sebatang Bwe-hoa-ciam lembut, jiwanya sudah melayang seketika.

Keruan Utti Keng amat murka, bentaknya.

"Siapa yang main bokong?"

Serta merta sorot matanya tertuju ke arah Nyo Bok. Nyo Bok sengaja pura-pura gugup dan terkejut pula, teriaknya.

"Utti Tayhiap, Hun-kin-joh-kut yang kau gunakan sungguh terlalu liehay, kenapa kau berlaku tidak hati-hati sampai bikin mampus tawanan ini!"

"Apa kau sangka aku yang bikin dia mampus?"

Damprat Utti Keng.

"Apa matamu tidak melihat di atas kepalanya tertancap sebatang Bwe-hoa-ciam?"

Nyo Bok maju pelan-pelan pura-pura memeriksa, katanya tertawa dingin.

"Masakah kau pun hendak curiga kepadaku. Yang jelas aku tidak mampu melakukan sambitan senjata rahasia yang sedemikian liehay."

Utti Keng mengakui kebenaran kata-kata orang, ia maklum kepandaian Nyo Bok terbatas, kalau senjata rahasia ini dia yang menyam-bitkan tentu tidak akan bisa mengelabui matanya.

Serta merta sorot matanya tertuju ke arah Boh Cong-tiu.

Tapi Boh Cong-tiu berdiri cukup jauh dari tempat kejadian, dan lagi Boh Cong-tiu berdiri di atas panggung menghadap ke arah orang banyak, banyak tokoh-tokoh kosen yang hadir, bila dia turun tangan tentu tidak akan dapat mengelabui mata sekian banyak orang.

Maka analisa yang masuk di akal ialah orang yang menyambitkan senjata rahasia sembunyi di antara rombongan orang-orang yang berada di sebelah belakang Utti Keng.

Tapi Utti Keng tadi pun sudah memperhatikan, di antara orang-orang dalam rombongan di belakangnya ini, tiada seorang tokoh kosen yang ahli dalam bidang senjata rahasia.

Lalu siapakah dia?

Keruan Utti Keng heran dan mencelos hatinya.

Boh Cong-tiu berdiri sambil menggendong tangan dengan sikap tenang dan acuh tak acuh.

Begitu sorot mata Utti Keng bentrok dengan pandangannya baru dia bersuara, katanya pelanpelan.

"Nyo-nyamu dijuluki Jian-jiu-koan-im, bicara kepandaian ilmu senjata rahasia, di antara sekian banyak orang yang hadir kukira tiada seorang pun yang lebih unggul dari keahliannya."

Dengan mengerut kening Ki Seng-in segera berdiri serunya gusar.

"Boh Cong-tiu, apa maksud perkataanmu ini?"

"Utti Hujin,"

Ujar Boh Cong-tiu.

"jangan kau salah paham, bukan maksudku hendak mengatakan kaulah yang turun tangan, maksudku supaya kau suka memeriksa sebentar, kau adalah seorang ahli di bidang senjata rahasia, mungkin dari Bwe-hoa-ciam itu kau dapat mengenal si penyambit dari aliran atau golongan mana?"

Dengan pandangan mata Utti Keng pun bertanya kepada istrinya, hubungan batin dan lahiriah mereka suami isteri saling terjalin erat, Ki Seng-in sedikit menggeleng kepalanya.

Ternyata sejak tadi ia sudah berjaga-jaga kemungkinan Boh Cong-tiu bisa turun tangan membunuh tawanan yang menjadi saksi ini, maka sejak mula ia sudah memperhatikan gerak gerik Boh Cong-tiu.

Memang Boh Cong-tiu tidak pernah menyambitkan senjata rahasia.

Berpikir Ki Seng-in dalam hati.

"Sayang perhatianku hanya tertuju kepada Boh Cong-tiu seorang, sekali-kali tidak waspada pada kam-brat-kambratnya yang liehay, dilihat gelagatnya kepandaian menyambit senjata rahasia orang itu naga-naganya masih lebih unggul dibanding diriku."

Segera ia mengeluarkan besi sembrani menyedot keluar Bwe-hoa-ciam itu serta memeriksanya, sesaat kemudian ia mengerut alis.

"Bagaimana?"

Tanya Utti Keng.

"Jarum ini sudah direndam di dalam racun campuran empedu burung merak, siapa saja yang terluka oleh racun jahat ini pasti segera mampus!"

Serta merta Utti Keng mengerut kening pula, katanya.

"Aliran dan golongan lurus sekali-kali tidak mungkin sudi menggunakan senjata rahasia berbisa macam itu."

"Jarum berbisa macam ini baru pertama kali ini kulihat,"

Demikian ujar Ki Seng-in.

"Senjata rahasia paling berbisa dari aliran Sia-pay pun pernah kulihat, paling-paling cuma racun dari jengger burung bangau melulu."

Boh Cong-tiu segera menje-ngek.

"Tamu-tamu agung undang-anku tiada seorang pun yang dari golongan Sia-pay."

"Utti Tayhiap,"

Segera Kim Tiok-liu ikut menimbrung.

"pernahkah tawananmu ini ada membocorkan sesuatu rahasia kepada kau? Coba kau katakan biar kita dengar bersama, untuk memberikan pandangan dan keputusan."

Berkata Utti Keng pelan-pelan.

"Dia sih tidak membocorkan dengan siapa Ciok Tio-ki ada janji bertemu di atas gunung, namun dia pun ada memberi tahu sedikit, bahwasanya Ciok Tio-ki dan Nyo Bok bukanlah musuh bebuyutan, adalah kebalikan dari obrolannya tadi mereka justru merupakan sahabat karib."

Nyo Bok menyeringai dingin, jengeknya.

"Saksi sudah mampus dan tanpa bukti, sekarang terserah kau main tuduh secara semena-mena."

"Jadi kau anggap aku mencari gara-gara dan mengarang cerita bohong?"

Damprat Utti Keng.

"Tidak berani. Tapi kalau toh kau boleh curiga padaku, kenapa pula aku tidak boleh curiga kepada kau? Huh, aku terluka oleh Lui-sin-ci Ciok Tio-ki, sampai sekarang luka-luka ini belum lagi sembuh, cara bagaimana mendadak bisa dikatakan menjadi sahabatnya?"

Ki Kian-ya tiba-tiba bergelak tertawa, ujarnya.

"Utti Tayhiap, agaknya kau sudah tertipu tanpa kau sadari."

Utti Keng tertegun, tanyanya.

"Aku tertipu oleh siapa?"

"Kau tertipu oleh Ciok Tio-ki serta kambrat-kambratnya. Sebagai gembong kangouw masakah kau masih belum paham akan hal ini?"

Kata-kata ini seketika mendapat tanggapan orang banyak, ada beberapa orang tanpa berjanji segera berseru bersama.

"Betul. Mungkin mereka menggunakan tipu memecah belah di antara kita sendiri."

"Tepat sekali,"

Seru Ki Kian-ya bertepuk tangan.

"Justru karena Ciok Tio-ki tidak berhasil menghasut Nyo Bok untuk menjadi kaki tangannya, maka mereka menjadi bermusuhan, maka mereka sengaja mengatur tipu daya untuk mencelakai dan menyebar kabar bohong menjelek-jelekkan nama baik Nyo Bok! He he, tipu daya macam ini, tak nyana Utti Tayhiap pun suka mempercayainya."

"Urusan hari ini memang tiada bukti dan saksi pun sudah mampus, tapi urusan pasti akan bisa dibikin terang, tunggu saja waktunya!"

Demikian kata Utti Keng.

"Bagus ya, Utti Keng sampai sekarang kau masih mencurigai aku? H m, entah mengandung maksud apa kelakuanmu ini, benar-benar membuat aku ragu-ragu."

Utti Keng mendelikkan mata, bentaknya.

"Apa yang kau ragukan? Ada omongan lekas katakan, kalau mau kentut lekas menyingkir rada jauh!"

Cepat Ki Kian-ya menggoyangkan tangan, selanya.

"Urusan ini sudah selesai sampai di sini saja, kalian masih main debat apa?"

Ia tahu Utti Keng amat sulit dilayani, dalam hati ia mengharap urusan lekas selesai dan tidak berbuntut panjang. Tak nyana Nyo Bok tidak mau dengar nasehatnya, tanyanya dingin.

"Utti Tayhiap, Beng Goancau adalah sahabat karibmu bukan?"

Persoalan berkisar pada diri Beng Goan-cau, hal ini sudah di dalam rekaan Beng Goan-cau, namun rada di luar dugaan Utti Keng, sejenak ia melengak, lalu serunya.

"Memang, Beng Goancau adalah sahabat baikku-yang baru saja kukenal, kenapa?"

"Kalau begitu, tidak perlu dibuat heran!"

Demikian ujar Nyo Bok sambil menggerakkan kepalanya. Utti Keng menjadi murka, serunya pula.

"Sebetulnya apa yang hendak kau katakan, ayolah bicara secara gamblang saja!"

Nyo Bok menarik napas panjang, lalu berkata pelan-pelan dengan sikap dibuat-buat.

"Keburukan keluarga sebetulnya tidak baik dibeber di hadapan umum, tapi urusan sudah terlanjur, terpaksa aku mohon kepurusan yang adil kepada hadirin sekalian. Beng Goan-cau, kau keluarlah!"

Suaranya ini laksana guntur menggelegar, Hun Ci-lo yang duduk menyendiri di pojokan hampir saja jatuh pingsan mendengar kata-katanya ini, mimpi juga ia tidak menduga Nyo Bok bakal mengucapkan kata-katanya itu.

Persoalan terjadi amat mendadak, saat hampir ia tidak percaya akan pendengaran kupingnya, hatinya menjadi hampa dan kosong.

"Sebetulnya apakah yang hendak dia katakan?"

Meski kejadian ini sudah berada dalam dugaan Beng Goan-cau, tapi sesaat waktu ia menghadapi kelangsungan dari permulaan kejadian ini, mau tidak mau hatinya merasa mendelu dan kebingungan juga.

"Bagaimana!"

Bentak Nyo Bok mendapat angin.

"Beng Goan-cau kau tidak berani tampil ke depan menjawab beberapa pertanyaanku?"

Beng Goan-cau kertak gigi, dengan langkah lebar ia maju ke tengah gelanggang, serunya.

"Nyo Bok jangan kau menyemprot muka orang dengan darah mulutmu!"

Ki Kian-ya menyela dingin.

"Darimana kau bisa tahu dia menyemprot darah ke mukamu (maksudnya memfitnah)? Hm, Hm, belum dia bicara agaknya kau sudah ketakutan? Bukankah tidak tahu malu kau ini?"

"Para cianpwe sekalian serta para sahabat yang mulia,"

Demikian Nyo Bok mulai berpidato dengan pembukaan katanya.

"Aku Nyo Bok sudah tidak bisa menahan sabar oleh rasa penasaran ini, terpaksa kubeber seluruhnya di hadapan umum. Beng Goan-cau bajingan keparat ini, dia membawa lari istriku! Kuharap sekalian hadirin suka menegakkan keadilan bagi aku! Beng Goancau, beranikah kau menyangkal akan hal ini?"

"Mana ada kejadian itu?"

Jawab Beng Goan-cau, betapapun hati Beng Goan-cau terguncang hebat, maka jawaban suaranya tidak begitu lantang, seperti orang takut.

Sungguh malu, menyesal, kaget dan marah pula hati Hun Ci-lo, dalam perasaan yang campur aduk dan sekaligus berkecamuk dalam relung hatinya, terasa pula kesedihan bagi seorang yang pernah tertipu.

Bersama Nyo Bok ia menjadi suami istri selama delapan tahun, meski selama itu dia belum pernah betul-betul melimpahkan cinta murninya kepada sang suami, namun di dalam relung hatinya betapa Nyo Bok adalah 'suami baik' yang dia hormati dalam hatinya.

Untuk ini, pemah dia amat terharu dan berterima kasih kepada Nyo Bok.

Tak nyana 'suami baik' yang dianggapnya ini kini memperlihatkan muka aslinya, sehingga angan-angan dan khayalannya dulu berantakan pecah seperti buih sabun.

Rasa pening seketika merangsang kepalanya, untunglah dia mengenakan kedok muka, orang lain tidak melihat jelas raut mukanya, tapi badannya tak urung lemas lunglai dan-terhuyung hampir roboh, orang yang duduk di pinggirnya lantas sama memperhatikan dirinya.

"Eh, eh, kenapa kau?"

Seru orang di pinggirnya.

"Utti Hujin, temanmu..."

Sebetulnya dia sudah mengulur tangan hendak mema-yang Hun Ci-lo, namun orang tidak dikenal dan mengenakan pakaian berkabung lagi, ia jadi ragu-ragu, maka lekas ia memanggil Ki Seng-in.

Hun Ci-lo tersentak sadar, cepat ia menenangkan hati, katanya.

"Tidak apa-apa. Cuma kepala rada pening, tidak usah mengganggu Utti Hujin!"

Ki Seng-in segera datang menghampiri, katanya.

"Begini banyak orang berkumpul, hawa menjadi sumpek, marilah menyingkir ke tempat yang lebih nyaman saja?" * "Terima kasih akan perhatian Hujin, kebetulan saja kepalaku pening, sebentar tentu sudah sembuh lagi!"

Ki Seng-in sudah cukup pengalaman, sejak pertama kali ia sudah melihat bahwa Hun Ci-lo sedang mengandung, sangkanya setelah mengalami pertempuran seru kemarin, pagi tadi bangun terlalu pagi dan kurang istirahat, maka mendengar Ci-lo pening kepala, sedikit pun ia tidak merasa heran.

"Utti Hujin, kau sedang repot di sana, silakan selesaikan urusanmu, tidak perlu mengurus diriku,"

Demikian katanya kemudian.

"Nyo Bok memang tidak tahu malu,"

Demikian omel Ki Seng-in.

"Terang dia sedang mencoreng kotoran di muka sendiri untuk mengalihkan perhatian orang lain. Supaya orang banyak sama membicarakan keluarganya, dengan demikian, semua hadirin tidak akan menyelidiki persekongkolannya dengan Ciok Tio-ki. Hm, sungguh tidak tahu malu dan hina dina!"

Setelah mengomel panjang pendek, segera ia menambahkan.

"Aku punya sebungkus Hengkun-san buatan menurut resep Cukat Bu-ho, cobalah kau meminumnya satu bungkus. Istirahatlah baik-baik, sebentar aku datang menengokmu lagi."

Mendengar kata-kata Ki Seng-in tadi, hati Hun Ci-lo amat sedih, pikirnya.

"Karakter Utti Keng cukup baik dan polos, dulu ayah pernah memujinya. Tidak mungkin dia mengada-ada dan sengaja hendak main tuduh atau memfitnah Nyo Bok? Ai, tapi bilamana Nyo Bok benar melakukan perbuatan macam itu, apakah berani aku mempercayainya?"

Lebih lanjut ia berpikir pula.

"Apakah benar dia ada intrik dengan Ciok Tio-ki, baiklah kesam-pingkan dulu. Di hadapan sekian banyak orang-orang gagah dari seluruh dunia dia memburukkan nama baik Beng Goan-cau, jelas perbuatannya ini amat tercela! Ai, sungguh aku tidak mengira, pikirannya dan perkataannya serta perbuatannya bertentangan satu sama lain seperti kelakuan manusia rendah hina dina."

Teringat akan adegan masa lalu hatinya semakin kecut.

Delapan tahun menjadi suami istri, baru sekarang mengetahui kedok aslinya.

Di saat Hun Ci-lo tertawa kecut, tanpa disadari segu-lung hawa dingin tiba-tiba merembes menerjang ke uluhatinya, seketika badan gemetar dan dingin.

Gelak tawa yang terkial-kial panjang menusuk pendengaran menggugah lamunan Hun Ci-lo, ternyata suaminya sedang menuding Beng Goan-cau dan mencercanya.

"Tiada kejadian itu? He, he, jangan kau paksa aku membongkar seluruhnya?"

Beng Goan-cau pernah titip kepada Kwi-hwe-thio mengirim surat kepada Nyo Bok, mengharap supaya Nyo Bok memberi kelonggaran pada Beng Goan-cau bertemu dengan putranya.

Dia, tidak tahu bahwa surat itu sekarang sudah tidak berada di tangan Nyo Bok, keruan hatinya rada bimbang, pikirnya.

"Kalau perkara ini dibongkar, aku sendiri sih tidak menjadi soal, bagaimana Cilo harus angkat kepala di hadapan orang banyak nanti?"

"Bagaimana?"

Desak Nyo Bok.

"Tidak berani bicara ya?"

"Benar, memang aku dan istrimu merupakan teman bermain sejak kecil sampai dewasa, tapi sejak perpisahan pada sembilan tahun yang lalu tidak pernah kulihat lagi dia. Lebih tidak mungkin bisa terjadi peristiwa seperti yang kau tuduhkan kepadaku."

"Beng Goan-cau, bicara saja secara jujur dan terus terang,"

Demikian olok Nyo Bok.

"Asal kau kembalikan istriku, aku boleh tidak usah menarik panjang urusan ini."

Gusar dan gugup pula Beng Goan-cau, serunya.

"Kau, ucapanmu ini sungguh tidak beralasan? Bahwasanya selama ini aku belum pernah melihat istrimu!"

"Agaknya kau memang pintar mungkir! Ingat waktu siangnya aku dikebumikan, malamnya kau melu-ruk datang menculik putraku, sementara perempuan jalang itu sudah meninggalkan rumahku sebelum kau datang. Apakah ini bukan bukti adanya persekongkolan kalian untuk lari bersama? Peristiwa ini secara langsung disaksikan oleh toaciku dan keenam muridku, masakah bisa dipalsukan?"

"Benar!"

Timbrung Ki Kian-ya memberi suara.

"Peristiwa itu aku pun tahu jelas."

Seperti diketahui yang merebut Nyo Hoa dari Nyo-toakoh adalah Song Theng-siau yang mengenakan kedok hitam, maka mendengar laporan menantunya mengenai peristiwa itu, Ki Kianya pun menyangka Song Theng-siau yang berkedok itu sebagai Beng Goan-cau adanya.

Tapi akhirnya Nyo Bok sudah tahu bahwa orang berkedok itu bukan Beng Goan-cau, bahwa sekarang dia dengan tegas mengatakan perbuatan Beng Goan-cau memang sengaja hendak memfitnah dan merusak nama baik Beng Goan-cau.

Sebaliknya Beng Goan-cau tidak tahu terjadinya peristiwa itu, keruan ia terkejut, serunya tergagap.

"Apa, aku, aku, aku, aku, kau, kau, kau..."

"Aku, kau apa?"

Sindir Nyo Bok dingin. Beng Goan-cau tersentak sadar, pikirnya.

"Hampir saja aku membongkar rahasia ini!"

Setelah menenangkan hati, ia berkata.

"Apa, putramu diculik orang? Tapi memang bukan aku yang melakukan!"

Nyo Bok mendengus hidung, jengeknya.

"Tiada sangkut paut dengan kau? Lalu kenapa kau begitu gugup? Sudah jangan mungkir lagi, bicaralah terus terang di mana kau sembunyikan perempuan jalang itu!"

Hun Ci-lo adalah perempuan yang berwatak lemah di luar keras di dalam, mendengar sang suami berulang kali memaki dirinya sebagai 'perempuan jalang', hampir saja dadanya meledak saking murka, pikirnya.

"Begitu keterlaluan dia menghina aku, kenapa pula aku harus menjaga gengsi dan nama baiknya?"

Baru saja dia hendak menerjang keluar tanpa pikirkan segala akibatnya, untunglah keburu seorang lain sudah tampil keluar memberi penjelasan bagi Beng Goan-cau.

Orang ini bukan lain adalah Cau Siok-toh.

Berkata Cau Siok-toh perlahan-lahan.

"Nyo busu, mungkin kau sendiri yang salah paham. Di mana istrimu aku malah tahu."

Nyo Bok mengenal siapa Cau Siok-toh, sebentar dia tercengang, lalu katanya.

"Cau-locianpwe, cara bagaimana kau bisa tahu?"

"Istrimu punya seorang bibi yang menikah dengan sahabat karibku bernama Siau King-hi. Kami dua keluarga hidup bertetangga sejak lama, menetap di Tong-thing-san sebelah barat. Kira-kira bulan yang lalu istrimu bertandang dan menetap di rumah bibinya sampai sekarang. Nyo Busu, kalau tidak percaya boleh ikut aku pulang ke Tong-thing-san, kutanggung kalian suami istri bisa rujuk kembali!"

Tan Thian-ih juga tampil memberikan kesaksian, katanya.

"Benar! Aku punya seorang teman bernama Miao Tiang-hong, beberapa hari itu kebetulan sedang bertamu di rumah keluarga Cau, dia pun pernah melihat istrimu dengan mata kepalanya sendiri."

Dua cianpwe sama tampil memberi kesaksian, maka Nyo Bok tidak berani menuntut kembali istrinya kepada Beng Goan-cau. Maka Boh Cong-tiu bergelak tertawa, serunya.

"Kiranya hanya salah paham belaka, kalau urusan sudah jelas tak usah diperpanjang lagi!"

Dia punya kekuatiran lain, sedapat mungkin ia mengharap persoalan ini tidak berbuntut dan semakin berlarut.

Para hadirin juga mengira gelombang pasang sudah mereda dan suasana kembali tenang, tak nyana Nyo Bok masih berseru.

"Nanti dulu. Urusan masih belum selesai!"

Beng Goan-cau tidak mengira orang masih hendak mencari gara-gara, sekilas ia melongo, jengeknya dingin.

"Istrimu sudah diketahui jejaknya, bukti menyatakan urusanmu ini tiada sangkut paut dengan aku. Nyo busu masih punya petunjuk apa lagi?"

Sebaliknya Nyo Bok berpaling dan menjura hormat kepada Cau Siok-toh, katanya.

"Caulocianpwe, aku orang she Nyo masih ada sebuah persoalan yang belum kumengerti, mohon penjelasan dari kau orang tua!"

"Silakan katakan!"

Sahut Cau Siok-toh. Tanya Nyo Bok.

"Istriku lari ke tempat bibinya, adakah dia membawa putraku?"

"Soal putramu aku kok tidak melihatnya."

"Jadi hanya istriku seorang saja?"

Cau Siok-toh mengiakan. Setelah menanyakan dan mendapat ketegasan dari Cau Siok-toh, Nyo Bok berpaling lagi berhadapan kepada Beng Goan-cau, ejeknya tertawa dingin.

"Soal kau melarikan istriku katakan saja memang salahku menuduh kau. Tapi putraku jelas adalah kau yang merebut, soal ini kukira kau tidak bisa mungkir! Istriku biar kucari sendiri, sebaliknya putraku harus kau kembalikan!"

Jengkel dan gusar pula Beng Goan-cau dibuatnya, serunya.

"Sudah kujelaskan secara gamblang tiada kejadian itu atas diriku. Kenapa kau selalu mencari gara-gara?"

Suara Nyo Bok juga makin keras, serunya.

"Apakah toaciku dan keenam muridku semua sama buta? Mereka melihat jelas kau adanya!"

Beng Goan-cau tertawa dingin, katanya.

"Mereka benar-benar melihat aku sendiri? Sungguh kejadian lucu yang paling menggelikan di seluruh kolong langit! Kapan kau dikebumikan?"

"Tanggal empat bulan tujuh!"

"Tanggal empat bulan tujuh aku masih berada di Soh-ciu. Kalau kau tidak percaya bisa kucari saksi sebagai bukti kebenaran kata-kataku."

Tan Thian-ih menyela bicara.

"Manusia memang ada yang berbentuk hampir mirip. Ki-toako, bukan mustahil menantu keponakanmu itu salah lihat orang lain."

Terpaksa Ki Kian-ya menerangkan.

"Orang itu mengenakan kedok. Tapi kecuali Beng Goan-cau, siapa pula yang bisa merebut anak Nyo Bok?"

Beng Goan-cau menjengek dingin, ujarnya.

"Hakikatnya kalian tidak melihat jelas mukaku sendiri, bagaimana bisa menuduhku dengan sewenang-wenang?"

Ki Kian-ya menjadi gusar, teriaknya.

"Beng Goan-cau, jelek-jelek kau pun seorang tokoh dari Siau-kim-jwan, kenapa berkelakuan begitu tidak tahu malu main mungkir segala? Kecuali kau bisa meringkus orang berkedok itu ke hadapanku, kalau tidak kecurigaan ini betapapun tidak bisa kau cuci bersih meski air sungai kuning menjadi kering."

Di saat kedua pihak sama ngotot dan berdebat seru, mendadak terdengar seseorang berseru lantang.

"Di mana putra Nyo Bok, aku tahu! Siapakah orang berkedok itu, aku pun tahu!"

Tampak seorang laki-laki berdandan seperti pelajar membawa kipas berjalan keluar dari rombongan orang banyak. Sampai di hadapan Nyo Bok ia unjuk seri tawa geli, katanya.

"Nyo busu, kukira kau masih kenal padaku bukan! Meski hari itu kau menyamar dan mengenakan kedok, tapi aku masih bisa mengenali dirimu."

Dalam kejap lain, betapapun licik dan licin serta besar ketabahan Nyo Bok, tidak urung ia tersentak kaget dan pucat pasi selebar mukanya.

Ternyata laki-laki pertengahan umur yang berdandan seperti sastrawan ini tak lain tak bukan adalah salah satu dari Tiam-jong-siang-sat yaitu Toan Siu-si.

Biasanya Tiam-jong-siang-sat malang melintang di daerah barat daya yang angker dan sepi, namun banyak hadirin yang mengenalnya.

"Lho, bukankah dia orang kedua, dari Tiam-jong-siangsat, Ling-bin-su-sing Toan Siu-si?"

"Orang macam apakah Tiam-jong-siang-sat?"

"Mereka tokoh-tokoh aneh di antara sesat dan lurus, orang ini nomor dua, masih seorang lagi bernama Pok Thian-tiau bergelar Pat-pi-Iing-wan. Kabarnya jejak mereka jarang keluar dari Tiamlam, hari ini sejauh ribuan li meluruk ke Thay-san, sungguh aneh dan mengherankan."

"Tidak, dua bulan yang lalu kabarnya dia pernah muncul di Soh-ciu, malah pernah berkelahi pula dengan Beng Goan-cau!"

"Lha, kan seharusnya dia membantu pihak Nyo Bok, namun gelagatnya malah kebalikannya!"

"Watak Ling-bin-su-seng Toan Siu-si memang aneh dan tersendiri, sepak terjang tidak menentu, pihak mana yang hendak dia bantu, sulit diraba dan diketahui!"

Begitulah timbul kegemparan di antara hadirin yang sama kenal siapakah sebenarnya Tiamjong-siang-sat itu, mereka sedang membicarakan dirinya.

Beng Goan-cau yang berdiri di tengah gelanggang dan Hun Ci-lo yang menyendiri di pojokan sana jauh lebih kaget dan tidak habis mengerti.

"Darimana dia bisa tahu jejak anak Hoa? Mungkin karena malam itu dia terluka di bawah pedangku, maka sengaja hendak merebut putraku sebagai pembalasan? Tapi cara bagaimana dia bisa tahu orang yang membokongnya malam itu aku adanya?"

Demikian pikir Hun Ci-lo.

"Tiam-jong-siang-sat mengikat permusuhan yang cukup mendalam dengan aku, kenapa Toan Siu-si ini sudi tampil ke depan mencuci kecurigaan orang atas diriku?"

Begitulah Beng Goan-cau pun bertanya-tanya di dalam hati.

Di saat semua orang ribut-ribut sama mengutarakan pendapatnya, Toan Siu-si menggerakgerakkan kipasnya seperti orang kepanasan, sementara itu dia sudah berhadapan dengan Nyo Bok.

Muka Nyo Bok membesi hijau, bentaknya.

"Kau ini membual apa? Selamanya aku belum pernah kenal dan melihat siapakah kau ini?"

"Kau tidak pernah melihat aku? Hahahaha, kau tidak kenal aku? Nyo Busu memang kau ini seorang pelupa ataukah pura-pura pikun? He, he, belum lagi kau dengar kata-kataku, dengan alasan apa pula kau tadi mengatakan aku membual?"

"Nyo busu, bukankah tadi kau ingin mengetahui jejak putramu?"

Demikian timbrung Kim Tiokliu.

"Cobalah kau dengar apa yang dia ucapkan, kukira tiada jeleknya!"

Saking geregeten ingin rasanya Nyo Bok bisa menyobek badan Toan Siu-si menjadi dua potong.

Tapi Kim Tiok-liu ikut menimbrung bicara dan menjadi hakim yang menegakkan keadilan, maka dia tidak berani sembarang bergerak, terpaksa ia mengeraskan kepala, sementara jantungnya berdebur keras, dengan perasaan tidak tentram ia mendengarkan penjelasan Toan Siu-si.

Berkata Toan Siu-si perlahan-lahan.

"Ki-Losiansing, kau pun salah terka. Orang berkedok yang merebut Nyo Hoa di rumah keluarga Nyo bukan Beng Goan-cau, tapi adalah Song Theng-siau."

"Darimana kau tahu?"

Tanya Ki Kian-ya. Beng Goan-cau pun terkejut, tanpa sadar ia berteriak.

"Aku tidak percaya, kenapa Song Thengsiau bisa merebut anak itu?"

Nyo Bok menggerutu.

"Beng Goan-cau atau Song Theng-siau, sama saja. Siapa tidak tahu bahwa mereka sahabat kental? Katakan saja orang berkedok itu benar Song Theng-siau adanya, pasti dia mendapat petunjuk langsung dari Beng Goan-cau."

"Sebab musabab kejadian itu aku sudah menyelidiki dengan jelas,"

Demikian tutur Toan Siu-si lebih lanjut.

"Bahwa Nyo Bok pura-pura mati, semula Nyo-toakoh masih belum mendapat tahu, dia menyangka istrinya, Hun Ci-lo, yang mencelakai suaminya. Nyo-toakoh mengusir Hun Ci-lo keluar dari rumah keluarga Nyo dan diharuskan meninggalkan putranya. Anak itu tidak mau ikut padanya, lalu disiksa dan disakiti, Song Theng-siau merasa penasaran melihat perbuatannya yang kasar itu, maka merebut anak itu dari tangannya."

"Kejadian ini berhasil kau selidiki belakangan, bukan?"

Tanya Ki Kian-ya. Toan Siu-si mengiakan.

"Semula cara bagaimana kau bisa tahu bahwa anak itu terjatuh ke tangan Song Theng-siau?"

Demikian desak Ki Kian-ya. Toan Siu-si merangkap kipasnya untuk menuding Nyo Bok, sahutnya.

"Dialah yang beritahu kepadaku. Hm, jelas dia sudah tahu siapakah orang berkedok itu, sebaliknya hendak memfitnah Beng Goan-cau, aku amat sebal dan tidak senang melihat tingkah lakunya yang hina dina, maka walaupun aku punya permusuhan dengan Beng Goan-cau, mau tidak mau aku harus tampil ke depan menjadi saksi akan kebersihan namanya!"

Dengan mengeraskan kepala, Nyo Bok mungkir mentah-mentah.

"Membual belaka, agaknya kau sedang melihat setan di siang hari bolong!"

Toan Siu-si membuka kipasnya pula dan dikibas-kibaskan, katanya tertawa.

"Sedikit pun tidak salah, hari itu memang aku melihat setan di siang hari bolong, dan setan itu adalah kau!"

"Kejadian baru berselang dua bulan, Nyo busu, kukira kau masih belum lupa atau pura-pura sudah pikun? Hari itu, kau ajak aku membicarakan urusan hitung dagang, kau minta kami Tiamjong-siang-sat merebut anak itu bukan!"

Kedua matanya dengan dingin menatap Nyo Bok, sementara mulutnya selalu mengatakan 'anak itu' dan bukan 'anakmu'.

Pandangan orang membuat Nyo Bok merinding dan berdiri bulu romanya.

Beng Goan-cau sendiri juga ragu-ragu, pikirnya.

"Apakah dia sudah tahu asal-usul bocah itu?"

Gusar dan kaget pula Nyo Bok, bentaknya.

"Siapa mau percaya obrolan setanmu, kenapa aku bisa suruh kau merebut putraku?"

Toan Siu-si bergelak tertawa pula kipasnya menuding Nyo Bok lagi, katanya.

"Bukan saja kau minta kami merebut anak itu, ingin pula supaya aku menggunakan anak itu membantu kau menuntut balas."

Ki Kian-ya keheranan, tanyanya.

"Menuntut balas kepada siapa?"

Toan Siu-si menjelaskan.

"Dia menyangka Beng Goan-cau adalah musuh bersama kami dan dia! Di luar tahunya meski aku orang she Toan bermusuhan dengan orang she Beng, tapi aib bagiku melakukan perbuatan kotor dan hina dina macam itu!"

"Penjelasanmu ini amat mengherankan,"

Demikian ujar Ki Kian-ya.

"Cara bagaimana Nyo Bok bisa menggunakan anak sendiri untuk menuntut balas kepada Beng Goan-cau."

"Latar belakang persoalan ini, Nyo Bok cukup jelas mengetahui! Dalam hal ini aku bertindak cukup baik dan bajik, tidak enak kubongkar secara gamblang di hadapan umum. Hm, Nyo Bok, kalau kau paksa aku harus membongkar rahasia ini, baiklah..."

Hati Nyo Bok menjadi risau dan gelisah, bentaknya.

"Kau sedang ngelantur dan ngoceh apa di sini. Betapapun obrolanmu sulit dipercaya!"

Sebagai angkatan tua yang banyak pengalaman, Tan Thian-ih tahu bahwa dalam hal ini pasti ada latar belakang yang menyangkut rahasia pribadi orang lain, maka segera ia menyela bicara.

"Sudah jangan bicara ngelantur menarik panjang urusan. Di mana anak itu sekarang?"

Jawab Toan Siu-si kalem.

"Aku berhasil merebut anak itu dari tangan Song Theng-siau, sekarang dia sudah menjadi murid kami!"

Sudah tentu kata-katanya ini menimbulkan kegemparan hadirin. Nyo Bok berteriak.

"Omong kosong! Anakku cara bagaimana boleh angkat .guru kepada kau?"

Ki Kian-ya menggeleng kepala, katanya.

"Bocah itu tidak kau bawa kemari, katamu dia menjadi muridmu, cara bagaimana kami bisa tahu kebenaran kata-katamu?"

"Aku punya bukti!"

Sahut Toan Siu-si.

Lalu dari bajunya ia mengeluarkan sebentuk mainan kalung dari jade putih.

Ternyata mainan kalung ini adalah peninggalan Beng Goan-cau kepada Hun Ci-lo sebelum mereka berpisah dulu.

Barang itu sebagai tanda pengenal di kelak kemudian hari bila terjadi sesuatu sehingga mereka terpisah jauh, kelak bila anak mereka besar biarlah mengandal batu mainan kalung itu untuk mencari orang tuanya.

Tak nyana hari ini ia melihat kembali batu mainan kalung, tanpa melihat putranya.

Meski Beng Goan-cau biasanya bisa berlaku tabah dan tenang sekeras batu, tak urung terketuk sanubarinya, rasa pilu dan sedih membuat air mata berlinang di kelopak matanya.

Untunglah dia masih kuasa menahannya hingga tidak sampai menetes keluar.

Gejolak perasaan Beng Goan-cau lebih rasa haru daripada kaget.

Bagi Nyo Bok rasa terkejut jauh lebih besar dari rasa harunya.

"Entah rahasia apa pula yang hendak dibongkar oleh keparat ini?"

Mau tidak mau bergetar sanubari Nyo Bok.

Seorang lagi yang perasaannya jauh lebih gejolak haru dari Beng Goan-cau serta rasa kejutnya pun jauh lebih besar dari Nyo Bok, dia bukan lain adalah Hun Ci-lo yang duduk di pinggiran sana.

Haru dan sedih karena setapak dia lebih mendalami keaslian dari martabat suaminya, sedemikian bejat sampai tidak terkirakan olehnya sebelumnya.

"Selama delapan tahun ini, di hadapanku selalu dia berpura-pura sebagai seorang laki-laki bajik yang punya pandangan luas dan bijaksana, mulutnya yang manis dan anggap anak Hoa sebagai anak kandung sendiri. Siapa tahu secara diam-diam ternyata dia hendak mencelakai anak Hoa!"

Hal ini jauh lebih menyakitinya daripada sang suami hendak mencelakai Beng Goan-cau, yang dia kagetkan adalah anaknya kini terjatuh ke tangan Tiam-jong-siang-sat, sedang Tiam-jong-siang-sat punya permusuhan dengan dirinya.

Ki Kian-ya melenggong sebentar, lalu katanya.

"Batu mainan ini rasanya memang bukan palsu adanya!"

Timbul nafsu membunuh Nyo Bok, katanya.

"Tiam-jong-siang-sat adalah gembong iblis yang kenamaan dari aliran sesat, dia merebut anakku tentu tidak salah lagi, di sini berani buka mulut jelas hendak menjebloskan diriku. Boh-heng, apakah keparat ini tamu undangan-mu?"

Betapa cerdik Bok Cong-tiu, cepat ia sudah dapat menangkap arti kata-katanya, segera ia geleng kepala, katanya.

"Mana mungkin aku sudi mengundang gembong aliran sesat macam dia ini!"

Toan Siau-si dapat melihat sorot mata Boh Cong-tiu memancarkan sinar aneh, jengeknya dingin.

"Orang she Boh, kau hendak main bunuh..."

Belum selesai ia bicara, tanpa berjanji Nyo Bok dan Boh Cong-tiu mendadak turun tangan bersama, sekali raih Boh Cong-tiu mengincar tulang pundaknya seraya membentak.

"Orang yang-membokong dengan jarum berbisa tadi apakah kau?"

Dia hendak membunuh Toan Siu-si sudah tentu harus mencari alasan.

Sebaliknya Nyo Bok pun amat benci dan geram tanpa bersuara, menggunakan Kimkong-lak-yang-jiu ia menghantam tempat penting di punggung orang.

Terdengar "blang"

Dua telapak tangan beradu dengan keras, Boh Cong-tiu tergeliat dan mundur dua tapak.

Tapi orang yang menangkis mundur Boh Cong-tiu ini bukan Toan Siu-si, adalah Utti Keng.

Kiranya Utti Keng juga sudah melihat sorot mata Boh Cong-tiu yang memancarkan sorot buas mengandung hawa membunuh.

Tapi dia hanya bisa menjaga Boh Cong-tiu, sebaliknya tidak menduga akan perbuatan licik Nyo Bok.

Beng Goan-cau amat terperanjat, untuk menolong sudah terlambat.

Tampak pukulan Nyo Bok menyambar deras dan "Blum"

Kontan seseorang jatuh terpelanting.

Yang roboh justru adalah Nyo Bok sendiri.

Sementara Toan Siu-si sudah melejit terbang tinggi laksana seekor burung bangau melampaui batu panggung terus lari ke belakang gunung.

Tampak cuilan kain beterbangan di tengah udara, baju di bagian punggungnya berlubang sebesar telapak tangan.

Dari kejauhan Toan Siu-si membentak.

"Orang she Nyo, sakit hati pukulanmu ini, biar kucatat di dalam hati. Hm, kau..."

Kiranya sejak tadi ia sudah berjaga akan sergapan Nyo Bok.

di waktu Nyo Bok melancarkan serangannya, siang-siang sudah mengerahkan tenaga Iwekangnya untuk melindungi punggungnya.

Tapi pukulan Kim-kong-lak-yang-jiu Nyo Bok memang cukup liehay, akibatnya meski Nyo Bok tergentak jatuh sendiri sampai kaki tangan menghadap langit, tak urung ia sendiri pun menderita luka dalam, tidak berani ia pecah perhatian untuk banyak bicara lagi.

Sebenarnya dia hendak membongkar habis-habisan tipu muslihat Nyo Bok yang sekongkol dengan orang lain.

Terpaksa urung.

Lwekang Boh Cong-tiu amat ampuh, namun tak kuasa ia menandingi tenaga raksasa Utti Keng, setelah tergeliat belum lagi ia berdiri tegak, kuatir Utti Keng merangsak lebih lanjut, lekas ia lintangkan kedua tangan di depan dada, bentaknya.

"Kenapa kalian tidak lekas ringkus orang itu? Gembong iblis dari aliran sesat tidak diundang berani datang, bunuh saja' habis perkara!" 'Boh Cong-tiu!"

Jengek Utti Keng sambil tertawa dingin.

"'Apakah kau hendak bunuh orang untuk menutup mulutnya?'"

Kata-kata Toan Siu-si yang tidak sempat diucapkan tadi, akhirnya tercetus dari mulutnya. Boh Cong-tiu berjingkrak gusar, serunya.

"Utti Keng. apa maksudmu?"

Kedua orang sudah sama mendelik dan melotot, dilihat gelagatnya sudah siap baku hantam.

Kaum Hu-siang-pay pandang Boh Cong-tiu sebagai ciangbunjin, setiap perkataannya adalah perintah dan semua orang sudah biasa mendengar kata-katanya.

Maka begitu ia memerintahkan untuk meringkus Toan Siu-si, bukan saja para murid-murid bawahan sama mengiakan, sampai Ciok Heng suami istri yang biasanya berkesan jelek terhadapnya pun tanpa sadar ikut mengejar menurut perintah.

Malah ada beberapa orang di antaranya jauh-jauh sudah melontarkan senjata rahasia.

Untunglah Lim Bu-siang bisa bertindak tegas dan keras, bentaknya.

"Semua dilarang melukai tamu, lekas kembali!"

Ciok Heng tersentak sadar, lekas ia berseru lantang.

"Patuh akan perintah ciangbun!"

Kata-kata "ciangbun"

Ia suarakan lebih keras, semua murid-murid sama mendengar, baru sekarang semua orang teringat.

"Benar, Boh Cong-tiu sekarang sudah bukan ciangbun lagi sudah sepantasnya kita mendengar petunjuk ciangbun!"

Maka berbondong-bondong mereka mundur pula bersama Ciok Heng suami istri. Waktu Lim Bu-siang berpaling, Boh Cong-tiu segera unjuk tawa getir, katanya.

"Ciangbun sumoay, harap maaf akan dosaku sembarangan mengeluarkan perintah, tapi aku pun demi perguruan kita."

Merandek sebentar, Bok Cong-tiu melanjutkan.

"Pembukaan berdirinya perguruan kita, berani gembong iblis dari aliran Sia-pay menyelundup kemari, kalau tidak diberi sedikit hajaran, mana bisa menegakkan wibawa dan gengsi kita?"

Kata Lim Bu-siang.

"Menurut aku, lebih baik kita menundukkan orang dengan kebijaksanaan, meski datang tanpa diundang betapapun dia termasuk tamu kita!"

Boh Cong-tiu tertawa dingin, katanya.

"Terhadap tamu tidak boleh kurang ajar, tapi terhadap orang jahat kukira tidak perlu memberi kelonggaran. Kukira, pasti dialah durjana yang membunuh saksi hidup tadi!"

"Kenapa dia harus bunuh orang menutup mulutnya?"

Tanya Lim Bu-siang.

"Bukankah terbunuhnya saksi hidup itu menguntungkan Nyo busu malah? Tapi terang gamblang dia bukan membantu pihak Nyo Bok!"

Dasar polos dan lapang hati, kata-kata Lim Bu-siang tepat mengenai kunci rahasia dari persoalan ini.

Saat mana Nyo Bok sudah merangkak bangun dibimbing Ki Kian-ya, mendengar ucapannya ini, sungguh kejut dan gugup pula, katanya tertawa dingin.

"Lim-ciangbun, katakatamu ini, secara langsung mendesak kita untuk segera menggusur si pembokong yang membunuh saksi hidup itu, kalau tidak, mungkin aku orang she Nyo sulit mencuci bersih kecurigaan yang ditumplekkan atas diriku."

"Nyo busu jangan kau terlalu menaruh dalam hati, bukan maksudku hendak mengatakan kau,"

Demikian sahut Lim Bu-siang. Beng Goan-cau segera menimbrung bicara.

"Aku pernah bertempur melawan Tiam-jong-siangsat, menurut apa yang kuketahui, Tiam-jong-siang-sat bukan ahli dalam bidang senjata rahasia."

Boh Cong-tiu segera mendebat.

"Bukan mustahil mereka sengaja menyembunyikan keahliannya. Mengenai pertanyaan ciangbun sumoay kenapa dia harus bunuh saksi hidup, mana aku bisa tahu? Yang terang dia adalah gembong iblis dari Sia-pay, siapa tahu jika dia sengaja meluruk kemari hendak menimbulkan huru hara. Membunuh saksi hidup supaya kita golongan lurus sama saling menaruh curiga."

Utti Keng segera menyanggah dengan nada dingin.

"Tapi yang hendak bunuh orang menutup mulutnya kan bukan dia!"

Boh Cong-tiu berjingkrak gusar, dampratnya.

"Utti Keng, siapa maksudmu?"

"Siapa punya hati mengandung maksud-maksud jahat, terhadap dialah kata-kataku kutujukan!"

Demikian jawab Utti Keng tidak kalah pedasnya.

Air muka kedua pihak sudah kaku dan merah padam, seperti ayam aduan yang sudah siap di medan laga, keduanya hampir saling labrak lagi, lekas Lim Bu-siang tampil memisah.

Dalam pada itu Toan Siu-si sudah lari mencapai puncak di samping Giok-hong-koan, tapi suara pertengkaran Boh Cong-tiu, Utti Keng dan Nyo Bok masih dapat didengarnya dengan jelas.

Karena simpatik dan terima kasih akan pembelaan Lim Bu-siang akan dirinya, ia berpikir.

"Paling-paling aku menanggung resiko bermusuhan dengan pihak keluarga Tong, biarlah aku bantu mereka menggebah pembunuh gelap itu keluar."

Lim Bu-siang baru maju membujuk dan melerai tiba-tiba didengarnya Toan Siu-si berseru lantang di atas gunung.

"Pembunuh yang menyambitkan jarum beracun ada di sana!"

Menjemput sebutir batu gunung terus ditimpukkan ke suatu tempat di sebelah kanan panggung sana.

Maka tampaklah dari belakang batu besar tiba-tiba menerobos keluar satu orang, seorang tua berpakaian warna hijau.

Begitu menerobos keluar laki-laki tua berbaju hijau segera mengudak ke arah Toan Siu-si, bentaknya.

"Ling-bin-su-sing, berani kau mencari permusuhan dengan lohu, agaknya kau memang sudah bosan hidup!"

Selarik sinar putih berkelebat, sebatang pisau terbang sudah ditimpukkan melesat ke atas gunung.

Toan Siu-si menderita sedikit luka dalam, tapi menggunakan ilmu mengirim gelombang jarak jauh, sedikit menguras tenaga murninya, sudah tentu ia tidak berani menyambuti timpukan pisau terbangnya, terpaksa ia mempercepat langkah kakinya berlari semakin kencang.

Untung yang di ncar berada di atas puncak sementara yang menyerang berada di bawah, pisau terbang laki-laki tua baju hijau menanjak naik dan tidak bisa mencapai sedemikian jauhnya.

"Tring"

Menancap amblas ke dalam dinding batu.

Tapi sasaran di mana pisau terbang itu menancap tepat adalah tempat berdiri Toan Siu-si tadi.

Kalau Toan Siu-si sedikit ayal pasti dia terkena sambitan senjata rahasia orang.

Betapa hebat timpukan senjata rahasia laki-laki tua baju hijau ini, semua hadirin sama kaget dan mencelos hatinya, namun melihat Toan Siu-si masih bisa berlari sedemikian lincah dan cepat setelah terluka dalam, mereka diam-diam pun amat kagum.

Cau Siok-toh kenal siapa laki-laki tua baju hijau itu, katanya terkejut.

"Bukankah kakek tua itu adalah Tong Thian-chong salah satu dari Tong-keh-sam-lo? Eh, bagaimana bisa dia melakukan komplotan yang memalukan ini?"

Keluarga Tong di Sucwan turun temurun adalah tokoh-tokoh yang kenamaan dalam bidang scnj.it.i rahasia.

Mereka terdiri dari tigj keluarga, keluarga tertua adalah Tong Thian-heng, keluarga ketiga adalah Tong Thian-ce dan keluarga kedua adalah Tong Thian-chong ini.

Mereka bertiga dijuluki Tong-keh-sam-lo, terutama kepandaian senjata rahasia Tong Thian-chong adalah yang terliehay.

Tapi meski keluarga Tong amat kenamaan karena keahliannya dalam bidang senjata rahasia, namun mereka jarang berkecimpung dan menimbulkan gara-gara atau melakukan perbuatan jahat di kangouw, maka Cau Siok-toh mengutarakan rasa herannya.

Kaypang Pangcu Tiong Tiang-thong yang sejak tadi berdiri bersama Cau Siok-toh menimbung bicara.

"Benar, dia Tong-loji adanya. Jadi berita yang kuterima itu ternyata menjadi kenyataan sekarang."

"Berita apa?"

Tanya Cau Siok-toh. Tiong Tiang-thong menjelaskan.

"Konon dia kemaruk harta dan pangkat, menerima sogok dan undangan Sat Hok-ting menjadi pendidik membuat berbagai peralatan senjata rahasia. Semula aku tidak percaya akan kabar ini."

Tatkala itu, ada puluhan anak murid Hu-siang-pay yang ginkang-nya cukup lumayan segera mengejar ke sana, di antara para tamu ada pula yang tampil membantu.

Kedua putra Tan Thianih, yaitu Tan Kong-ciau dan Tan Kong-si pun ikut mengudak.

Tan Thian-ih berpesan.

"Kalian harus hati-hati!"

Terdengar Tong Thian-chong bergelak tertawa, serunya.

"Maaf aku minta diri saja."

Di tengah gelak tawanya mendadak ia mengayun tangan, Bwe-hoa-ciam, Hwi-hong-ciok, Toh-kut-ting, Thilian-ci, Ouw-tiap-piauw, dan banyak macam senjata rahasia lainnya ditaburkan kemari.

Kontan empat lima murid Hu-siang-pay jatuh terguling kena sambitan senjata rahasia.

Tan Kong-ciau dan Tan Kongsi segera membentak.

"Diberi tidak membalas kurang hormat, nih kau rasakan senjata rahasia keluarga Tan kami!"

Senjata rahasia keluarga Tan ini dinamakan Ping-hun-sin-tan, merupakan senjata rahasia teraneh di seluruh kolong langit, senjata ini terbuat dari kristal salju yang teramat dingin yang digali dari dalam gua di Tong-ku-lo-na-san di Tibet.

Senjata rahasia umumnya mengutamakan timpukan yang jitu dan harus tepat mengenai sasaran baru bisa melukai musuh.

Hanya Ping-hunsin-tan ini khusus menggunakan hawa dingin dari kristal es yang tidak bisa lumer itu untuk melukai orang, tidak perlu mesti mengenai badan sasarannya.

Sudah tentu bila telak mengenai sasarannya, kekuatannya pasti lebih hebat.

Begitu Ping-hun-sin-tan ditimpukkan baru pecah berhamburan, di atas kepala Tong Thianchong berubah menjadi segulung kabut dingin, betapapun tinggi lwekang Tong Thian-chong, tak urung seketika ia bergidik kedinginan!

Tong Thian-chong gusar, serunya.

"Mutiara sebesar beras juga berani memancarkan cahaya! He he, Ping-hun-sin-tan bisa mengapa-kan aku, biarlah kau rasakan Hwe-liong-cuku ini!"

Maka terdengarlah suara ledakan yang beruntun, tiga butir Hwe-liong-cu telah ditimpukkan ke bawah.

Hwe-liong-cu sebetulnya adalah peluru belirang, di dalamnya di si bahan-bahan peledak, begitu ditimpukkan menerjang angin lantas meledak menyemburkan asap tebal.

Meski tidak seaneh dan seliehay Ping-hun-sin-tan, tapi jauh lebih ganas dan jahat dari Ping-hun-sin-tan.

Lekas Tan Kong-ciau melompat menyingkir tiga tombak jauhnya.

Tan Kong-si bergerak sedikit lamban, ujung bajunya terjilat api, lekas ia menjatuhkan diri ke tanah baru berhasil memadamkan api.

Meski tidak terluka, namun keadaannya cukup runyam.

Kejadian berlangsung amat cepatnya, Utti Keng suami istri sudah keburu mengudak tiba.

Bentak Ki Seng-in.

"Bagus, biar aku berkenalan dengan kepandaian senjata rahasia dari keluarga Tong kalian!"

Tong Thian-chong mendengus sekali, jengeknya.

"Apakah kau ini yang diberi julukan Jian-jiukoan-im Ki Seng-in di kalangan kang-ouw? Lohu memang ingin melihat betapa sih kemampuanmu?"

Belum lenyap suaranya, Hwe-liong-cu sudah disambitkan pula memapak kedatangan mereka suami isteri.

Utti Keng menghardik keras, badannya melambung tinggi terus menekuk pinggang seperti anak panah melenting sembari mendorong kedua telapak tangannya ke depan.

Pukulan Bik-khong-ciang ini mengerahkan sepuluh bagian tenaganya, sudah tentu perbawanya hebat bukan olah-olah, terdengarlah ledakan riuh, ketiga butir Hwe-liong-cu kena disampuk balik oleh damparan Bikkhong-ciangnya dan meledak di sebelah belakang Tong Thian-chong malah.

Untung jarak kedua pihak masih cukup jauh, tenaga pukulan yang menyampuk balik tidak bisa mencapai jarak yang begitu jauh, sehingga meledak di sebelah belakang, kebetulan ia bisa menyelamatkan diri.

Keruan Tong Thian-chong mengalirkan keringat dingin, tidak berani ia timpukkan Hwe-liong-cu yang ganas itu.

Tapi kedua tangan masih tidak berhenti, beruntun ia ayun tangan ke arah Utti Keng suami isteri menimpukkan berbagai macam am-gi.

Kepandaian senjata rahasia dari keluarga Tong memang tidak bernama kosong, tampak ada senjata rahasia yang melesat lurus ke depan, ada pula senjata rahasia yang bergerak legat-legot bergerak melengkung, ada pula yang berputar-putar menyambar ke depan, ada pula yang berbunyi melengking, sementara ada juga yang terbang tanpa mengeluarkan suara tahu-tahu sudah tiba di depan mata.

Di antara sekian banyak hadirin tidak sedikit yang ahli dalam bidang senjata rahasia, hati mereka sama mencelos dan keheranan, pikirnya.

"Jikalau aku yang menghadapi langsung serangan senjata rahasia yang begini liehay dan hebat, mungkin aku tidak mampu berkelit atau menyelamatkan diri."

Menjaga senjata rahasia lawan mengandung racun berbisa, Ki Seng-in sudah mengenakan sarung tangan dari kulit menjangan, dia sambut dan ditimpukkan pula setiap senjata rahasia yang menyambar ke arah dirinya.

Semakin cepat timpukan senjata lawan, dia menyam-buti semakin cepat pula, malah ada kalanya ia gunakan sebelah tangannya merogoh senjata rahasia sendiri terus disambitkan juga kepada musuh.

Sementara Utti Keng melindungi badan dengan pukulan jarak jauhnya.

Pertunjukan adu senjata rahasia yang menakjubkan ini sungguh membuat semua hadirin takjub dan lega hati mereka.

Semua sama membatin.

"Utti Hujin memang tidak malu diberi gelar Jian-jiukoan-im!"

Tapi Tong Thian-chong pun tidak menunjukkan kelemahan, dia pun seperti Ki Seng-in menerima serta menimpukkan balik, bila tidak sempat disambut lekas ia gunakan senjata rahasia untuk menangkis jatuh timpukan senjata rahasia Ki Seng-in, seluruhnya dapat diruntuhkan dengan sempurna.

Bagi para penonton yang melihat jelas, kecepatan gerak-gerik tangannya memang rada asor, tapi kelincahan serta kehebatan serta timpukannya yang tepat dan telak, seolah-olah masih lebih unggul di atas Ki Seng-in.

Keduanya sesama ahli dalam satu bidang, masing-masing mempunyai kelebihan dan keunggulan sendiri-sendiri.

Senjata rahasia berterbangan pergi datang di tengah udara, sungguh merupakan pemandangan yang aneh dan menakjubkan.

Tadi Nyo Bok selalu mendesak Utti Keng untuk segera menggusur pembunuh saksi hidup itu, dalam hati ia mengira si pembunuh tentu sudah lama pergi, memang sengaja ia mengajukan persoalan pelik ini kepada Utti Keng, tak nyana kini pembunuh itu sudah dapat diketahui, mau tidak mau hatinya menjadi gugup dan gelisah pula.

Batinnya.

"Tong-lothau ini berkedudukan sama tingkat dengan Ciok Tio-ki di bawah pimpinan Sat Hok-ting, rahasiaku tentu diketahui juga olehnya. Semoga Thian maha pengasih dan melindungiku, jangan sampai dia sampai kena diringkus oleh Utti Keng serta mengompes keterangannya."

Belum lenyap pikirannya, dilihatnya badan Ki Seng-in tiba-tiba melesat terbang ke depan mengejar ke balik selat gunung sebelah sana, sambil menghardik ia gunakan gaya serangan Boanthian-hoa-hi (hujan kembang memenuhi angkasa), ia tebarkan segenggam mata uang tembaga.

Cara serangannya menggunakan Boan-thian-hoa-hi, namun begitu mata-mata uang tembaga sama beterbangan, ternyata gaya dan permainannya jauh berlainan dengan aliran dan golongan lain.

Mata uang tembaga itu ternyata saling bentur dan sentuh sendiri di tengah udara, tidak langsung menerjang ke sasarannya di sebelah depan.

Tapi kejadian hanya sekejap saja lantas berubah sama sekali.

Terdengarlah suara crang-cring yang memekakkan telinga, dua belas mata uang tembaga saling bentur di tengah udara, namun tidak sebuah pun yang terpental jatuh.

Ada yang berputar dengan gerakan melingkar terbang ke depan, ada yang melesat langsung seperti anak panah, setiap biji mata uang itu sama meluruk ke arah Tong Thian-Chong.

Tong Thian-chong bergerak sama lincah dam sebat, entah berkelit atau menyambuti, malah sempat pula menyambitkan senjata rahasia menangkis jatuh senjata rahasia yang menyerang datang di tengah jalan, malah ada peluang lagi balas menyerang juga.

Di antara kedua belas mata uang tembaga itu, empat dapat dia kelit, disambut tiga, dipukul jatuh tiga.

Dua yang lain semula meluncur dengan daya amat lamban, sekilas Tong Thian-chong tidak menaruh perhatian, tak nyana justru kedua mata uang yang disambitkan belakangan ini malah meluncur tiba lebih dulu, begitu Tong Thian-chong tersipu-sipu gunakan Hong-tiam-thau untuk berkelit, waktunya sudah amat mendesak dan tidak terhindar lagi.

Sebuah di antaranya menyerempet dahinya membuat luka lecet berdarah.

Sedang sebuah yang lain telak sekali mengenai Jian-kin-hiat di pundak kirinya, untung dia mahir ilmu menutup jalan darah, jaraknya cukup jauh pula, meski kena hanya terasa sakit dan kesemutan saja.

Akan tetapi sebagai tokoh ahli senjata rahasia yang kenamaan, mengadu kepandaian senjata gelap kena dikalahkan oleh Jian-jiu-koan-im, masakah ada muka ia meneruskan pertandingan ini?

Tanpa hiraukan lereng gunung tumbuh semak-semak yang berduri tajam, terpaksa ia menggelundung ke bawah melarikan diri sambil mendekap kepala.

Ki Seng-in terloroh-loroh panjang, tiba-tiba didengarnya sang suami mendengus pendek, keruan ia terkejut dan lekas berpaling serta bertanya.

"Kenapa kau?"

Utti Keng tertawa getir, katanya.

"Setiap hari menangkap belibis, tak nyana kena dipatuk sekali olehnya. Tapi juga tidak menjadi soal, senjata gelap beracun bangsat tua itu masakah mampu mengapakan diriku?"

Ternyata saking senang menonton pertarungan adu senjata istrinya, Utti Keng sedikit lena, telak sekali ia kena sebutir Toh-kut-ting sambitan Tong Thian-chong.

Utti Keng mahir ilmu Can-icap-pwe-tiat, jago silat biasa cukup menyentuh ujung bajunya bisa terbanting sendiri, senjata rahasia menyentuh bajunya juga bisa terpental jatuh.

Tapi lwekang Tong Thian-chong terpaut tidak banyak dengan dia, maka Toh-kut-ting itu menembusi sedikit bajunya baru terpental jatuh, ujung paku sedikit melukai lecet kulitnya, mengandal lwekang Utti Keng yang maha tinggi, meski racun di atas Toh-kut-ting milik Tong Thian-chong agak jahat juga tidak menjadikan halangan bagi dirinya.

Utti Keng kembali ke hadapan Boh Cong-tiu, katanya dingin.

"Sayang bangsat tua itu berhasil melarikan diri, kini tiada seorang pun yang bisa dijadikan saksi."

Sembari bicara matanya melirik ke arah Nyo Bok. Diam-diam bergirang hati Nyo Bok, katanya.

"Sayang kepandaianku tidak becus, tidak mampu membantu Utti Tayhiap."

Boh Cong-tiu pun menjengek dingin.

"Ya, yang melepasnya lari kan bukan aku!"

Jelas pertengkaran akan terjadi lagi, lekas Lim Bu-siang membujuk.

"Suatu ketika urusan pasti dapat dibongkar menjadi jelas, mereka bisa lolos hari ini, takkan lari besok pagi. Orang sendiri janganlah bertengkar merenggangkan hubungan."

Tan Thian-ih campur bicara.

"Ucapan Tiam-jong-siang-sat tadi sudah tentu belum tentu dapat dipercaya, tapi kalau toh dia mengatakan putra Nyo-heng berada di tangannya, silakan Nyo-heng dan Ki-locianpwe pergi menyelidiki kebenarannya."

"Betul,"

Timbrung Utti Keng.

"jangan nanti kau katakan pula Beng Goan-cau tersangkut paut dengan urusan itu."

Diam-diam Nyo Bok bersyukur dapat terhindar dua kali kesulitan, sudah tentu dia pun tidak berani menarik panjang urusan. Dia tahu malu dan jnerasa di pihak yang salah, maka katanya.

"Baik, segera kususul Tiam-jong-siang-sat untuk menyelesaikan urusan ini. Beng Goan-cau, memang salahku menuduh kau, maaf aku mohon diri lebih dulu!"

Setelah sekedar basa-basi, tersipu-sipu ia mengeloyor pergi.

"Lim-ciangbun!"

Ujar Ki Kian-ya.

"Upacara besar berdirinya partai kalian sudah selesai, losiu juga mohon diri saja."

Lim Bu-siang melengak, katanya.

"Ki-locianpwe sudah berkesempatan datang kemari, kenapa harus buru-buru, apakah mungkin sambutan dan pelayanan kami tidak memuaskan?"

Kata Ki Kian-ya.

"Nyo Bok adalah aku yang bawa kemari, dia mengikat permusuhan dengan pihak cakar alap-alap, luka-lukanya belum lagi sembuh, bilamana di tengah jalan terjadi sesuatu yang merugikan dirinya, bagaimana aku harus bertanggung jawab kepada cicinya. Maka aku harus pulang bersama dia."

Nada bicaranya seolah-olah merasa penasaran bagi Nyo Bok, tanpa hiraukan kata-kata Lim Bu-siang yang menahannya, ia terus melangkah lebar, mengejar Nyo Bok terus turun gunung bersama.

Utti Keng mendengus, jengek-nya.

"Tua bangka ini bukan salahkan kau, dia tidak puas terhadapku karena dianggapnya aku memfitnah Nyo Bok, hm, ia berkata seolah-olah Nyo Bok teramat penasaran, akan datang suatu hari kubongkar kedok mukanya yang asli, supaya tua bangka ini terbuka matanya."

Tan Thian-ih menimbrung.

"Ki-lothau memang rada teledor, namun hatinya sebetulnya cukup baik."

Gelombang pertikaian sudah tenang, setelah hujan udara cerah. Lim Bu-siang berkata tertawa.

"Hari sudah hampir lohor, tak nyana terjadi serangkaian urusan ini hingga waktu terulur sedemikian lama, tentulah para hadirin sudah kelaparan, sungguh aku amat menyesal."

Cepat ia suruh Ciok Heng mengumumkan upacara sudah selesai dan diharap semua hadirin pulang ke Giokhong-koan untuk mengisi perut seadanya. Ki Seng-in teringat pada Hun Ci-lo, cepat ia berkata.

"Aku pun harus menemani temanku itu, tadi badannya kurang enak, entah sudah sembuh belum."

Tergerak hati Beng Goan-cau, katanya.

"Utti Hujin, mari kutemani kau ke sana. Oh ya, siapa nama temanmu itu, aku belum lagi tahu."

"Bukankah tadi sudah kuberitahu kepada Bu-siang, waktu itu kau berada di sampingnya, masakah tidak mendengar? Namanya kenapa kau lupakan begitu cepat?"

"Waktu itu aku memperhatikan pidato Nyo Bok, apa yang kalian perbincangkan aku tidak begitu jelas, kalau tidak.salah kau katakan dia she Beng?"

"Ya, shenya sama dengan kau, namanya adalah Beng Hoa-nio."

Seenaknya saja Hun Ci-lo menyebut sebuah nama palsu ini. Ki Seng-in tidak paham akan maknanya, lain pula bagi Beng Goan-cau, seketika tergerak hatinya, mau tidak mau hatinya merasa bimbang dan curiga.

"Beng Hoa-nio, nama ini rada-rada aneh! Em, entah hanya kecurigaanku belaka, ataukah dia benar-benar Hun Ci-lo adanya?"

Demikian pikir Beng Goan-cau. Waktu Ki Seng-in tiba di tempatnya tadi, Hun Ci-lo sudah tidak kelihatan lagi bayangannya, keruan ia kaget, ujarnya heran.

"Eh, ke mana dia? Tadi sudah kupesan wanti-wanti supaya tunggu aku di sini saja."

Baru saja ia celingukan, tiba-tiba dilihatnya seseorang mendatangi ke arahnya, katanya.

"Utti Hujin, temanmu itu meninggalkan sepucuk surat kepada kau."

Orang inilah yang duduk di sebelah Hun Ci-lo tadi. Tanya Ki Seng-in.

"Kenapa harus meninggalkan surat padaku, apa dia sudah pergi?"

"Memang, sejak tadi dia pergi, katanya kau tidak perlu pergi mencari dia."

Ki Seng-in geleng-geleng kepala, katanya.

"Sungguh aneh dia itu, pergi begitu tergesa-gesa entah kenapa?"

Waktu ia terima dan baca tulisan di sampul surat, kiranya minta dia menyampaikan surat itu kepada Cau Siok-toh.

Tersentak sanubari Beng Goan-cau, seketika ia paham akan duduknya perkara.

Sebaliknya Ki Seng-in bersuara heran, ujarnya.

"Kenapa air mukamu begitu pucat, kau pun tidak enak badan?"

"Tidak apa-apa, mungkin perutku sudah kelaparan!"

Ki Seng-in tertawa, katanya.

"Baiklah, mari kita susul Cau Siok-toh menyerahkan surat ini. Baru pulang makan siang!"

Waktu mendengar teman Ki Seng-in berkirim surat kepadanya, Cau Siok-toh juga terheranheran, maklum dia seorang pengasingan yang lama tidak bergaul dengan dunia ramai.

Sementara Utti Keng dan Ki Seng-in adalah begal kuda besar dari Kwantang, biasanya tidak pernah saling hubungan.

Maka tidak mungkin mereka bisa kenal atau punya teman yang sama.

"Siapa nama temanmu itu?"

"Namanya Beng Hoa-nio. Dia seorang janda."

"Beng Hoa-nio? Seorang janda? Aneh, seingatku tidak pernah aku punya teman janda yang bernama Beng Hoa-nio!"

Demikian ujar Cau Siok-toh. Ki Seng-in juga mendelu, katanya.

"Tulisan di sampul surat itu jelas ditujukan kepada kau, silakan kau buka saja surat itu, tentu kau akan tahu siapa pengirimnya."

Setelah membaca surat itu, baru Cau Siok-toh tahu bahwa 'Beng Hoa-nio' kiranya adalah Hun Ci-lo.

Karena Hun Ci-lo tidak suka unjuk muka aslinya di hadapan umum, maka sejak lama ia sudah persiapkan suratnya ini.

Dia sudah memperhitungkan bila tiada kesempatan dapat bicara secara berhadapan langsung dengan Cau Siok-toh, ia hendak titipkan surat itu supaya disampaikan kepadanya.

Tapi sekali-kali ia sendiri tidak menduga bahwa dirinya bisa tinggal pergi dengan tergesa-gesa, maka dia tidak sempat menyerahkan surat itu kepada Ki Seng-in sendiri supaya menyampaikan surat itu, sebagai pertanda bahwa ia harus cepat-cepat pergi tanpa pamit lagi.

Surat Hun Ci-lo amat singkat, di mana ia menceritakan segala peristiwa yang terjadi setelah keberangkatan Cau Siok-toh, demi menghindari kejaran cakar alap-alap dan demi keselamatan keluarga mereka, Siau-hujin membawa putrinya dan putri Cau Siok-toh kembali ke desa kelahirannya di keresidenan Sam-ho.

Surat itu tidak dibubuhi tanda tangan.

Tapi setelah Cau Sioktoh membaca surat itu, sudah tentu ia tahu Beng Hoa-nio yang dimaksud itu adalah Hun Ci-lo adanya.

"Siapakah sebenarnya Beng Hoa-nio itu, kini kau sudah tahu bukan?"

Tanya Ki Seng-in.

Bahwa surat itu tidak dibubuhi nama si pengirim, Cau Siok-toh maklum orang tidak suka dirinya menjelaskan namanya, sekilas ia melirik ke arah Beng Goan-cau, untuk buka mulut tidak enak, tapi tidak enak pula berbohong kepada Utti Hujin, terpaksa ia merendahkan suara dan berbisik.

"Dia bukan janda, dia, dia adalah istri Nyo Bok, Hun Ci-lo itu."

Ki Seng-in tersadar dan paham, ujarnya.

"Tak heran dia tinggal pergi diam-diam tanpa pamit, ternyata dia adalah istri Nyo Bok. Ai, punya suami macam demikian, betul-betul lebih baik dia menjadi seorang janda saja."

Meski sejak tadi Beng Goan-cau sudah menduga bahwa perempuan samaran itu adalah Hun Cilo adanya, namun setelah mendapat kesaksian nyata dari mulut Cau Siok-toh, betapapun gejolak hatinya masih sukar dikekang.

"Putra kami bernama Nyo Hoa, sebetulnya dia harus dipanggil Beng Hoa. Tak heran nama palsu yang dia gunakan bernama Beng Hoa-nio (ibu Beng Hoa ). Ai, dari kejadian ini dapatlah aku berketetapan bahwa selamanya dia tidak akan melupakan diriku. Ai, Cilo, Ci-lo, kenapa pula kau tidak sudi bertemu muka lagi dengan aku?"

Serta merta rawan, risau dan pedih pula perasaan Beng Goan-cau. Begitu risau dan rawan sanubari Beng Goan-cau, pikirnya.

"Ci-lo mengalami pukulan batin yang begini berat, entah betapa pedih dan duka hatinya sekarang! Ai, seorang diri dia tinggal pergi, entah siapa pula yang bisa membujuk dan menghibur hatinya?"

"Tuh lihat, Kim-tayhiap dan Lim Bu-siang sedang menunggu kita di depan sana, lekaslah kita susul ke sana,"

Demikian seru Ki Seng-in.

tersenyum, la dapat merasakan perasaan hati orang yang ditinggalkan kekasih, namun ia pun tahu usaha suaminya yang hendak menjadi comblang Beng Goan-cau.

Setelah mereka berempat bergabung, Ki Seng-in memberi lirikan tanda mata, Kim Tiok-liu dapat menangkap maksudnya, sengaja ia lambatkan langkah kakinya, bersama Ki Seng-in mereka berjalan di sebelah belakang.

Tanpa sadar Beng Goan-cau dan Lim Bu-siang berjalan berjajar di sebelah depan, di kala hati Beng Goan-cau gundah dan risau, mendadak didengarnya Lim Bu-siang berkata dengan suara lirih.

"Beng-toako, masikah kau ingat dua bait syair yang kau senandungkan tempo hari?"

Beng Goan-cau melengak, tanyanya.

"Dua bait yang mana?"

Kata Lim Bu-siang perlahan-lahan.

"Hari itu kau menemani aku naik ke puncak Thay-san, bukankah di tengah jalan kau melihat syair-syair pujangga kuno yang terukir di atas papan batu?"

"O, syair karangan To Boh yang berjudul "Bong-gak"

Itu maksudmu?"

"Ya, aku senang dua bait di antaranya yang berbunyi. 'pada saat kau tiba di puncak gunung tertinggi, pandangan pegunungan menjadi kecil', waktu itu kau pernah memberi kesan-kesanmu terhadap kedua bait syair ini, katamu. 'Berdiri di tempat yang tinggi pandangan bisa amat jauh!' Itulah petuah berharga dan tak ternilai dari peninggalan kuno."

Tersentak sadar pikiran Beng Goan-cau, katanya.

"Ya, seseorang harus berdiri di tempat yang tinggi baru bisa melepas pandangannya yang jauh dan luas!"

"Kurasa masih perlu lagi ditambah dua patah kata, maksudnya akan lebih sempurna,"

Demikian usul Lim Bu-siang. Tanpa sadar timbul hasrat Beng Goan-cau, tanyanya.

"Dua patah kata apa?"

"Hanya memandang ke depan, tidak berpaling ke belakang!"

Benak Beng Goan-cau seperti dikemplang dengan keras, mulutnya menggumam.

"Hah, hanya melihat ke depan, tidak berpaling ke belakang?"

Lim Bu-siang menghela napas, ujarnya.

"Adalah jamak seseorang sering risau dan tidak tentram perasaan hatinya oleh kenangan lama yang pahit, benar tidak?"

Sekonyong-konyong teringat oleh Beng Goan-cau akan ejekan dan cemoohan Cong Sin-liong kepada Lim Bu-siang tempo hari, pikirnya.

"Dia dan Boh Cong-tiu dulu pun teman bermain sejak kecil yang tumbuh dewasa bersama, mungkin dia masih belum bisa melupakan rasa cintanya terhadap sang piauko?"

Serta merta timbul rasa simpatiknya terhadap sesama teman yang sama menderita dan sengsara dalam bidang yang sama, maka ia rasa bisa menerima ucapan susulan Lim Bu-siang ini.

Segera ia rnanggut-manggut dan berkata.

"Ucapanmu memang benar, seseorang harus bisa berpandangan ke depan tanpa berpaling ke belakang, baru bisa terhindar dari kerisauan dan penderitaan macam itu."

Lim Bu-siang tersenyum, ujarnya.

"Bicara terus terang, dulu aku pernah mengalami kerisauan macam itu, tapi sekarang sudah hilang sirna sama sekali."

Beng Goan-cau terpengaruh akan kata-katanya ini, kabut dalam hatinya pun menjadi buyar tersorot pancaran sinar matahari pagi yang cerlang cemerlang.

"Dia merebut ciangbun dari tangan Boh Cong-tiu, entah berapa keberanian yang harus dia limpahkan? Dia adalah seorang perempuan, bisa membebaskan diri dari kekangan perasaan yang membelenggu sanubarinya, sebaliknya aku seorang laki-laki sejati, masakah harus lebih asor daripada dia?"

Kerisauan memang banyak lebih enteng, namun untuk begitu saja melupakan Hun Ci-lo betapa sulitnya.

Serta merta pandangannya menjelajah ke bawah gunung, kabut masih berkembang dan cukup tebal di lamping gunung, mana bisa bayangan Hun Ci-lo kelihatan.

Kalau kabut masih bergulunggulung, timbul tenggelam seperti gelombang badai turun naik, hati Beng Goan-cau pun sedang bergejolak susah tentram.

Melihat air muka orang berubah tidak menentu, berkata Lim Bu-siang seraya tertawa.

"Bengtoako, apa yang sedang kau pikirkan?"

Beng Goan-cau menenangkan hati, sahutnya.

"Tiada apa-apa. Em, Bu-siang, Bu-siang, aku, aku..."

"Kau kenapa?"

"Bu-siang, aku amat terima kasih terhadapmu, terima kasih akan perhatianmu terhadapku. Tapi sekarang juga aku harus pamitan dengan kau."

Lim Bu-siang tertegun, lenyap seketika seri tawanya, katanya.

"Bukankah urusanmu di sini belum selesai, kenapa begitu cepat hendak tinggal pergi?"

"Urusanku yang belum selesai bisa kuminta bantuan Utti Tayhiap untuk menyelesaikannya."

Kebetulan Utti Keng saat mana sedang mendatangi, melihat mereka menghentikan langkah segera ia memburu datang dan berkata menggoda.

"Nah, apa yang sedang kalian bicarakan mengenai diriku?"

"Ada sebuah urusan hendak kumohon bantuanmu,"

Demikian sahut Beng Goan-cau. Utti Keng terbahak-bahak, ujarnya.

"Lote, tidak usah sungkan-sungkan, apa yang harus kukerjakan, katakan saja."

Sementara dalam hati ia membatin.

"Lebih baik kalau kau minta aku menjadi comblang."

Tapi melihat sikap Beng Goan-cau yang serius, maka tidak enak ia menggoda orang. Kata Beng Goan-cau.

"Kim Tayhiap, Le-thocu dan lain aku sudah menemui mereka, masih ada beberapa cianpwe yang belum sempat kutemui, maka kuharap toako suka menyampaikan maksud hati dan tujuan Siau dan Ling toako."

Siau adalah Siau Ci-wan. Ling adalah Ling Thiat-jiau, mereka adalah pimpinan tertinggi dari laskar gerilya di Siau-kim-jwan. Utti Keng mengerutkan alis, katanya.

"Itu soal gampang, tapi kenapa kau harus pergi begini cepat?"

"Masih ada urusan lain yang harus segera kuselesaikan, kalau sekarang juga tidak segera kukerjakan, mungkin bisa terbengkalai nanti."

Anggapan Utti Keng orang melakukan tugas-tugas dari pasukan laskar gerilya, maka ia tidak tanya lebih lanjut, katanya.

"Kalau begitu makan siang dulu baru berangkat, kan belum terlambat?"

Di luar tahunya, bahwa tujuan Beng Goan-cau adalah hendak menguntit Hun Ci-lo. Maka katanya.

"Tidak usah, kukira sekarang juga aku harus berangkat. Selamat jumpa kelak!"

"Dengan perut lapar beranjak di jalan pegunungan yang sulit ini, mungkin akan membuat kau banyak menghadapi kesulitan. Biarlah kau bawa saja rangsum keringku ini,"

Demikian kata Utti Keng sembari mengangsurkan buntalan rangsum keringnya.

Setelah berpisah dengan orang banyak Beng Goan-cau turun gunung seorang diri melalui jalan yang dipanjatnya semula.

Setiba di Lam-thian-bun ia turun lebih lanjut melewati Cap-pwe-ban, teringat olehnya waktu tempo hari naik kemari bersama Lim Bu-siang, mau tidak mau terguncang pula perasaannya, serta merta ia menghela napas panjang, pikirnya.

"Kecuali menjalankan tugas, aku bisa berkenalan dengan banyak sahabat kangouw, terhitung tidak sia-sia perjalananku kemari. Ai, entah kapan aku baru bisa membalas kebaikan dan bantuan yang mereka berikan kepadaku."

Sudah tentu yang dimaksud mereka termasuk Utti Keng dan Lim Bu-siang dan lain-lain.

Setelah bayangan Lim Bu-siang berkelebat hilang dari benaknya, disusul muncul ah bayangan Hun Ci-lo.

Pikir Beng Goan-cau.

"Yang penting sekarang aku harus cepat-cepat menemukan Hun Ci-lo, ai, hutang budiku jauh lebih besar terhadapnya daripada terhadap orang lain."

Begitulah, dengan langkah lebar ia berlari-lari turun tanpa berhenti atau istirahat, namun sepanjang jalan ini tidak dilihatnya bayangan Hun Ci-lo.

Terpaksa di penginapan di bawah gunung ia mengambil kuda merah pemberian Utti Keng, pikirnya tentu Hun Ci-lo pasti pulang ke karesidenan Sam-ho ke rumah bibinya, maka cepat-cepat ia bedal kudanya menuju ke arah jalan raya yang menuju ke karesidenan Sam-ho.

-ooo0dw0ooo-Saat mana Hun Ci-lo sedang berlenggang di sebuah jalan kecil seorang diri.

Dia turun gunung dari sebelah utara, jadi berlawanan dengan arah yang ditempuh Beng Goancau.

Berpaling ke belakang memandang ke puncak gunung, tampak Lam-thian-bun, Giok-hong-ting dan tempat-tempat lain yang indah pemandangannya sama terbungkus di dalam kabut nan tebal, hanya air terjun di dalam Hek-liong-tam sebelah sana dengan tabir air yang mencurah ke bawah seperti kerai mutiara sama berkilau memancarkan sinar reflek berbagai warna tertimpa sorot sinar matahari, meski jarak sudah sangat jauh namun masih bisa kelihatan cukup jelas.

Sudah tentu Hun Ci-lo sendiri pun amat berduka dan mendelu, cuma tidak begitu lemah dan harus dikasihani seperti apa yang dibayangkan Beng Goan-cau.

"Meski aku tidak sebanding batu cadas gunung Thay-san, namun aku harus kuat menghadapi terjangan air terjun yang dahsyat itu. Ai, bicara soal remaja dan kenangan lama yang pahit getir segala. Yang sudah lalu biarlah pergi."

Pikiran tidak tenang perasaan bergejolak pula, terpikir pula oleh Hun Ci-lo.

"Kali ini kusaksikan sendiri kedok asli dari Nyo Bok, meski suatu pukulan yang memilukan bagi diriku. Tapi bila selamanya aku kena dikelabuinya demikian saja, mungkin aku jauh lebih harus dikasihani dan lebih menyedihkan dari keadaanku sekarang."

"Bila anaknya sudah lahir kelak, biarlah kutitipkan bibi supaya diserahkan kepadanya. Selama hidup ini terang aku tidak akan sudi berjumpa pula dengannya."

Kejap lain teringat olehnya akan Beng Goan-cau, setiap kali teringat akan pujaan hati di waktu mudanya dulu, hati Hun Ci-lo teramat sedih menyesal dan girang pula.

"Dilihat gelagatnya, Goancau dan Bu-siang sudah menjadi sahabat yang amat intim. Em, memang mereka adalah jodoh yang setimpal. Kalau Goan-cau bisa memperoleh istri yang begitu baik dan cantik, bolehlah lega hatiku!"

Terpikir sampai di sini, meski hati masih terasa was-was dan ragu-ragu, seperti pula kabut pagi yang menyongsong cahaya matahari yang menyala terang.

Perasaan Hun Ci-lo menjadi enteng dan longgar, di bawah cahaya matahari nan cerah kakinya melangkah semakin cepat.

Yang selalu terkenang dan sedang berputar-putar mencari Hun Ci-lo, kecuali Beng Goan-cau, masih ada seorang lain pula.

Orang ini adalah Miao Tiang-hong.

Meski baru bergaul beberapa hari, Hun Ci-lo sudah memberi kesan yang amat mendalam di lubuk hatinya.

Hari itu ia meninggalkan Thong-thing-san sebelah barat, setelah menyeberangi Thay-ouw, mengandal ginkangnya yang hebat, dengan mudah akhirnya dia meloloskan diri dari libatan Sebun Soh dan hwesio gemuk itu.

Tapi bayangan Hun Ci-lo yang selalu membelenggu sanubarinya, betapapun sulit untuk melepaskannya.

Mau tidak mau Miao Tiang-hong tertawa geli sendiri mengingat perasaan hatinya ini.

Semula ia sudah berjanji dengan Tan Thian-ih ayah beranak untuk bertemu di Thay-san, tapi karena adanya peristiwa ini sehingga perjalanannya tertunda, dihitung waktunya sudah tidak keburu lagi menyusul tiba mengikuti pertemuan besar di Thay-san.

"Dapat berkenalan satu dua orang dengan orang-orang gagah dari seluruh dunia sudah merupakan hal yang menyenangkan. Tujuanku bukan melihat keramaian, meski pertemuan sudah bubar, apa pula halangannya?"

La duga meski pertemuan sudah selesai namun orang-orang gagah tentu belum bubar seluruhnya.

Maka ia tetap melanjutkan perjalanan.

Dia tidak tahu bahwa Hun Ci-lo juga hadir dalam pertemuan besar itu, dia cuma mengharap ada kesempatan bisa berkenalan dengan Utti Keng, Kim Tiok-liu dan lain-lain.

Hari itu ia tiba di sebuah kota kecil, hari sudah lewat lohor, karena tergesa-gesa menempuh perjalanan sampai belum sempat makan siang, terasa perut amat lapar, maka dicarinya sebuah rumah makan yang kelihatan rada bersih dan nyaman dari luar.

Maklum kota kecil, orang jarang suka buang ongkos makan minum di dalam restoran, saat mana sudah lewat lohor, saat-saat yang paling sepi, maka hanya dia seorang diri saja yang berada di dalam.

Bukan saja bersih, meja kursi teratur rapi, pajangan juga amat serasi dan enak dipandang mata, keadaan ini sungguh di luar dugaan Miao Tiang-hong.

"Beberapa hari ini aku melulu mengejar waktu menempuh perjalanan, baiklah aku melepaskan lelah dan makan minum sepuasnya di sini,"

Demikian pikir Miao Tiang-hong.

"Ada arak apa yang baik, bawakan tiga kati kemari!"

Setelah minta beberapa macam makanan ia suruh pelayan cepat menyediakan.

Semula ia tidak berani mengharap rumah makan kecil di dalam kota sepi ini terdapat arak baik apa.

Di luar dugaannya pula, arak yang disuguhkan oleh pelayan ternyata amat harum dan sedap rasanya.

"Hah, arak bagus!"

Setelah meneguk secangkir tak terasa Miao Tiang-hong lantas berseru memuji.

"Arak ini adalah buatan majikan kami sendiri, banyak tamu-tamu dari luar daerah sama memuji akan 'kelezatannya,"

Demikian tutur si pelayan sambil tersenyum senang.

"Siapa she dan nama besar majikanmu? Apakah dia ada?"

"Majikan she Tan bernama Tek-thay. Dia tinggal di kampung. Karena suka mengikat persahabatan, maka beliau membuka rumah makan ini."

"O, kiranya begitu,"

Ujar Miao Tiang-hong manggut-manggut.

Lalu ditenggaknya beberapa cangkir arak.

Tengah ia makan minum, mendadak terasa pandangannya menjadi terang, dilihatnya sepasang muda-mudi memasuki rumah makan ini.

Yang laki beralis tebal bermata besar tajam, sikapnya gagah dan kereng.

Yang perempuan hanya mengenakan pakaian sederhana, mukanya putih halus mengulum seri tawa, membuat semua orang yang melihatnya timbul rasa simpatiknya.

"Betul-betul pasangan yang setimpal! Sungguh tak nyana dalam rumah makan kecil yang sepi ini bisa bertemu dengan orang-orang seperti mereka!"

Diam-diam Miao Tiang-hong memuji dalam hati. Sepasang muda-mudi ini mencari tempat duduk di pinggir jendela, yang laki-laki berkata sembari tertawa.

"Tempat ini cukup nyaman dan bersih, araknya tentu boleh juga. siau-sumoay, marilah kau ikut minum sedikit."

Siau-sumoay itu tertawa, sahutnya.

"Kalau mabok nanti tidak bisa melanjutkan perjalanan. Song-suko, silakan kau minum sendiri. Aku minum teh saja!"

"Takut apa, yang terang kita sudah tidak keburu menyusul ke Thay-san lagi."

Miao Tiang-hong jadi melengak, batinnya.

"Jadi mereka juga hendak pergi ke Thay-san."

Gadis itu tertawa geli, ujarnya.

"Aku tidak kuat minum arak. Sayang Beng-suko tidak di sini, kalau tidak kalian bisa makan minum sepuas-puasnya."

"Takaran arakku juga tidak sebanding Beng-toako. Em, siau-sumoay, kedatangan kita ke Thaysan ini mungkin bisa bertemu dia di sana!"

Gadis itu mendadak tertawa cekikikan, katanya.

"Song-suko, bicaralah terus terang, kau menyusul datang ke Thay-san sebetulnya hendak menemui siapa? Kukira bukan melulu hendak mencari Beng-suko bukan?"

"Siau-sumoay, kau menggoda aku lagi. Kalau tidak mencari Beng Goan-cau memangnya mencari siapa?"

Siau-sumoay itu terkikik geli sambil menutup mulutnya, katanya.

"Belum kukatakan, darimana kau bisa tahu bila aku menggoda kau? Terang lubuk hatimu memang ada penyakitnya."

Pemuda itu geleng-geleng kepala, katanya.

"Mulut kecilmu ini semakin liehay, baik, silakan kau katakan saja, menurut anggapanmu aku punya penyakit apa?"

"Kukira lantaran Hun Ci-lo, maka kau buru-buru hendak menyusul ke Thay-san bukan?"

Mendengar nama Hun Ci-lo disebut oleh gadis itu, seketika tergetar hati Miao Tiang-hong, tanpa merasa ia meletakkan cangkir araknya, pikirnya.

"Ternyata mereka adalah sahabat Hun Cilo, dari nada bicara gadis itu, mungkinkah, mungkinkah Song-suko yang dihadapinya itu adalah kekasih lama Hun Ci-lo? Juga karena Hun Ci-lo pula sehingga ia terserang penyakit rindu?"

Rekaan Miao Tiang-hong ini hanya benar separuh.

Ternyata muda mudi ini bukan lain adalah Song Theng-siau dan Lu Su-bi.

Memang dulu Song Theng-siau pernah terserang penyakit rindu lantaran cintanya tidak terbalas terhadap Hun Ci-lo.

Tapi sejak dia mengetahui hubungan rahasia yang begitu mendalam antara Beng Goan-cau dengan Hun Ci-lo, terutama setelah ia bersua kembali dengan Lu Su-bi, perasaan hatinya terhadap Hun Ci-lo boleh dikata sudah tersapu bersih.

Sudah tentu kenangan lama sulit dilupakan, maka bayangan Hun Ci-lo selalu masih terbayang dalam relung hatinya.

Cuma rasa kangen sudah jauh berlainan dari penyakit rindunya dulu, adalah kangen terhadap sahabat kental yang sudah lama berpisah.

Song Theng-siau tertawa dibuat-buat, katanya.

"Kali ini kata-katamu kurang masuk di akal."

"Kenapa dikatakan tidak masuk akal?"

"Cara bagaimana Hun Ci-lo bisa hadir dalam pertemuan besar di Thay-san? Dia kan bukan seorang yang suka turut campur urusan orang lain dan suka keramaian."

"Lalu, kenapa pula kau begitu yakin bahwa Beng-suko pasti hadir dalam pertemuan besar di Thay-san ini?"

"Sudah tentu Beng-toako jauh berlainan. Tujuannya adalah hendak berkenalan dengan para eng-hiong dari seluruh jagad."

"Katamu kata-kataku tidak masuk di akal, sebaliknya kukatakan kau ini pintar-pintar ceroboh dan teledor!"

"Aku teledor dan ceroboh bagaimana?"

"Hun Ci-lo tidak suka menemui orang lain, hanya Beng-suko sajalah orang yang selalu ingin ditemuinya. Kalau kita bisa menduga Beng-suko pasti datang ke Thay-san apakah dia tidak bisa berpikiran demikian juga?"

"Seolah-olah kau dapat meraba dan tahu segala jalan pikiran Hun Ci-lo?"

"Meski aku belum pernah melihat Hun-cici, tapi dari kejadian malam itu, dapatlah kuperkirakan bahwa tidak mungkin dia bisa melupakan Beng-suko begitu saja!"

"Malam itu bukankah dia bisa bertemu dengan Beng Goan-cau, namun sengaja tidak mau menemuinya?"

"Kata-katamu ini kurang benar!"

"Apanya yang tidak benar?"

"Bukankah dia sudah melihat Beng-suko? Cuma Beng-toako tidak melihat muka aslinya. Memang dia tidak suka dilihat oleh Beng-toako, namun dia ingin mencuri lihat Beng-toako. Bicara terus terang, aku jadi terharu dan amat simpatik akan sepak terjangnya ini."

Song Theng-siau tidak bicara lagi, ia tenggak satu cawan arak penuh. Lu Su-bi meliriknya sekilas, lalu katanya pula lirih.

"Song-toako, maaf, aku mengetuk luka-luka hatimu dan membuat kau sedih saja!"

"Tidak! Aku tidak bersedih karena diriku, aku cuma menyesal kenapa nasib mempermainkan orang. Hun Ci-lo dan Beng Goan-cau sebetulnya adalah jodoh yang setimpal. Kejadian justru berakhir seperti sekarang!"

"O, jadi kau bersedih demi sahabat karib, kukira kau ini pun perindu cinta yang harus dikasihani. Masa begitu cepat kau bisa melupakan Hun-cici?"

Song Theng-siau menghela napas, katanya.

"Setiap insan hidup tentu dibekali rasa cinta, cuma apakah cinta itu, orang tidak akan bisa mengetrapkan secara paksaan. Memang aku masih teringat kepada Hun Ci-lo, tapi kuharap kau percaya akan ucapanku, di dalam relung hatiku tiada pikiran muluk-muluk yang tidak benar lagi!"

Raut muka Lu Su-bi tiba-tiba bersemu merah malu, setengah merengek setengah girang ia berkata.

"Kau punya pikiran muluk-muluk yang tidak benar atau tidak, peduli apa sih dengan aku, kenapa aku harus percaya segala?"

Mengawasi wajah orang yang tersenyum senang merengek itu, tiba-tiba tergerak sanubari Song Theng-siau, pikirnya.

"Kenapa siau-sumoay selalu suka menggoda aku? Ah, memang dia mengatakan aku teledor, memang aku ini amat ceroboh. Kenapa aku lupa bahwa Su-bi sekarang bukan lagi siau-sumoay dulu yang tidak tahu urusan itu."

Menghadapi wajah Lu Su-bi yang berseri tawa manis seperti kembang mekar, tanpa merasa terasa syuur hati Song Theng-siau, sesaat ia jadi terlongong dan memegang cangkir araknya sambil menjublek.

"Song-suko, apa lagi yang sedang kau pikirkan?"

"Tiada yang kupikirkan, siau-sumoay, sudahlah jangan kita bicara perihal yang tidak menyenangka hati saja."

"Baiklah, lalu bicara apa baiknya? Oh ya, belakangan ini kau ada mempelajari lagu baru apa yang enak didengar, aku jadi ingin mendengar tiupan serulingmu."

"Di sini jangan kau samakan dengan Siau-kim-jwan, mana bisa di dalam rumah makan kumeniup seruling untuk kau dengar?"

Lu Su-bi tertawa cekikikan, serunya.

"Benar, di waktu berada di Siau-kim-jwan, masih segar kuingat kau suka meniup serulingmu di kala kembang mekar berbau semerbak di musim semi nan subur. Ai, sayang hari-hari nan indah dan mengesankan seperti itu sudah lama berselang."

Kecuali mereka berdua hanya Miao Tiang-hong seorang yang mendengarkan percakapan mereka di dalam rumah makan itu, tanpa terasa perasaannya ikut menjadi hampa dan sendu.

"Tak nyana ternyata Hun Ci-lo sudah punya kekasih."

Di saat pikirannya melayang-layang dan hati sedang kesal inilah, dari luar berjalan masuk pula seorang tamu, tangannya membekal sebuah kipas dan berdandan sebagai sastrawan.

Begitu melihat orang ini, kontan Song Theng-siau berjingkrak bangun.

Kiranya sastrawan ini bukan lain adalah Toan Siu-si yang pernah merebut Nyo Hoa dari tangannya.

Sembari berjingkrak gusar, Song Theng-siau membentak.

"Bagus ya, memang aku sedang mencari kau untuk membuat perhitungan."

Cepat Lu Su-bi menariknya serta bertanya.

"Siapakah orang ini?"

"Keparat ini adalah Toan Siu-si, orang kedua dari Tiam-jong-siang-sat yang pernah kuceritakan kepada kau dulu."

Sembari berkata Song Theng-siau sudah bergerak hendak melabrak kepada Toan Siu-si. Toan Siu-si tertawa dingin, jengeknya.

"Kukira kau masih belum tahu kejadian di Thay-san. Memang akulah yang merebut putra mereka, tapi sekarang kuangkat dia sebagai muridku. Beng Goan-cau dan Hun Ci-lo malah harus berterima kasih kepadaku! Sukakah kau dengar penjelasanku mengenai seluk beluk persoalan ini?"

Mana Song Theng-siau sudi mendengar obrolannya, bentaknya.

"Siapa sudi mendengar obrolan bacotmu?"

"Baiklah, kau tidak mau percaya, marilah kita bertempur lagi, memangnya kau anggap aku takut terhadap tampangmu?"

Dalam rumah makan itu terdapat beberapa meja dan kursi, Song Theng-siau merasa meja kursi mempersempit gerak-geriknya saja, maka beruntun ia angkat kaki menendang, kursi besar di tengah ruangan dan beberapa kursi di antaranya kena tendang jumpalitan.

Meja bundar itu menggelundung menuju ke arah Toan Siu-si.

Lekas Toan Siu-si menekan kedua telapak tangannya.

"Biang"

Meja bundar itu dipukulnya hancur berantakan, pecahan kayu beterbangan sehingga cangkir piring dan mangkok sumpit sama beterbangan jatuh di lantai.

Ada pecahan mangkok yang mencelat terbang menerjang ke arah Miao Tiang-hong, lekas Miao Tiang-hong mengebaskan lengan bajunya, pecahan mangkok itu sebelum tersentuh ujung lengan bajunya sudah sama runtuh berjatuhan.

Meski sedang menghadapi musuh, namun pandangan dan pendengaran Toan Siu-si cukup tajam dan waspada, diam-diam bercekat hatinya, pikirnya.

"Entah siapa orang ini, lwekang Can-ihcap-pwe-thiatnya ini mungkin masih berada di atas Song Theng-siau, kalau dia teman Song Theng-siau, celakalah aku!"

Sementara itu, dengan cepat Song Theng-siau sudah menubruk tiba, lekas Toan Siu-si tudingkan kipasnya menotok ke urat nadinya, sigap sekali Song Theng-siau memutar tubuh, tangannya meraih mencengkeram ke kipasnya.

Lekas Toan Siu-si menepuk telapak tangan kiri, Song Theng-siau takut menghadapi pukulan lawan yang beracun, telapak tangannya lekas dimiringkan mengiris maju mendesak ke tempat kelemahan lawan.

Begitulah badan mereka jadi sama saling bersinggungan, serangan masing-masing tiada yang mengenai lawannya.

Celakanya dua meja kursi menjadi sasaran pula dan terpental jungkir balik.

Begitu Song Theng-siau melabrak musuh, Lu Su-bi segera mencabut pedang, lekas ia memburu ke samping dan menghadang di ambang pintu, menjaga bila Toan Siu-si melarikan diri.

Bahwa Tiam-jong-siang-sat amat mahir dalam bidang ginkang, hal ini sudah dia ketahui dari cerita Song Theng-siau.

Saking ketakutan si pelayan sembunyi di pojokan, teriaknya dengan suara gemetar.

"Tuan-tuan tamu, kalian berkelahi silakan keluar saja, dan jangan merusak perabot dalam rumah makan kami, kami yang menjadi pegawai tidak mampu mengganti! Silakan berkelahi di luar saja!"

Song dan Toan berdua sedang berhantam dengan sengit, mana sudi mendengar seruan si pelayan? Malah Lu Su-bi yang membujuk.

"Kau tak usah takut, barang-barang yang rusak nanti akan kuganti lipat ganda!"

Sikap Miao Tiang-hong acuh tak acuh duduk di tempatnya sambil makan minum, dalam hati diam-diam ia menerawang.

"Perlukah aku turut campur dalam persoalan mereka?"

Ternyata kalau Toan Siu-si tidak mengenal dia, sebaliknya ia tahu siapa Toan Siu-si.

Dia punya seorang teman karib adalah Tiam-lam Tayhiap Koan Gun-ngo, pernah menceriterakan perihal sepak terjang Toan Siu-si ini.

Tahun yang lalu sengaja dia tamasya ke Tayli, sebetulnya dia minta Koan Gun-ngo menjadi perantara untuk mengikat persahabatan dengan Toan Siu-si, sayang kebetulan Tiam-jong-siang-sat sedang keluar.

Koan Gun-ngo pernah menjelaskan, meski Tiam-jong-siang-sat dipandang sebagai gembong iblis, hakikatnya mereka tidak pernah melakukan kejahatan yang keliwat takaran, cuma tabiatnya saja yang aneh serta berbuat menurut adat sendiri.

Suhengnya katanya kelahiran orang liar yang dibesarkan kera maka wataknya rada liar dan kasar, maka orang memberi julukan Pat-pi-ling-wan Pok Thian-tiau, cuma orang ini pun punya pikirannya yang sederhana dan cukup punya kewelasan hati pula.

Diam-diam berpikir Miao Tiang-hong.

"Entah perhitungan apa di antara pertikaian mereka? Song Theng-siau menuduh Toan Siu-si menculik anak Beng Goan-cau dan Hun Ci-lo, bukankah Cilo janda Nyo Bok, bagaimana bisa punya anak dengan Beng Goan-cau? Entah apa pula yang terjadi pada pertemuan di Thay-san, sayang Song Theng-siau tidak sudi mendengar penjelasannya, aku orang luar ini menjadi tidak enak mengorek keterangan pribadi orang lain. Tapi kedua orang cukup setimpal untuk diajak bersahabat, perlukah aku bertindak sama tengah memisah mereka?"

Miao Tiang-hong tengah keheranan dan tak habis mengerti. Karena duduk perkaranya belum terang, maka dia tidak berani menampilkan diri. Tengah ia kebingungan, mendadak didengarnya seseorang membentak.

"Nah, akan kulihat ke mana kau hendak lari sekarang!" --Tampak dua orang tamu menerjang masuk ke dalam rumah makan, seorang adalah kakek tua yang beruban bertubuh tinggi kekar, seorang lain adalah laki-laki pertengahan umur bertubuh tegak rada pendek. Orang yang membentak adalah laki-laki pertengahan itu. Miao Tiang-hong terkejut, batinnya.

"Kakek tua yang bertubuh kekar ini mungkinkah Su-haysin-liong Ki Kian-ya yang menggetarkan kangouw itu?"

Maklumlah ketenaran nama Ki Kian-ya memang cukup besar, meski Miao Tiang-hong tidak pernah melihatnya, sedikitnya pernah dengar perawakan tubuh dan raut mukanya yang luar biasa.

Memang terkaan Miao Tiang-hong tidak meleset, kakek tua yang bertubuh tinggi besar ini memang Su-hay-sin-liong Ki Kian-ya adanya.

Sedang laki-laki pertengahan yang pendek tegap dan cekatan itu bukan lain adalah Nyo Bok.

Nyo Bok berlari di sebelah depan, dengan napas memburu ia terus menerjang ke dalam rumah makan.

Maka Lu Su-bi yang berdiri di ambang pintu menjadi sasaran terjangannya yang utama.

Karena dua pihak sama tidak tahu asal-usul pihak lain, mendadak melihat Nyo Bok menerjang ke arah dirinya, sudah tentu Lu Su-bi bercekat hatinya.

Ia sangka orang adalah cakar alap-alap pihak kerajaan.

Maklumlah dia dan Song Theng-siau adalah anggauta laskar gerilya, dulu entah berapa kali mereka pernah bentrok langsung dengan cakar alap-alap musuh.

Sudah tentu mereka harus waspada dan hati-hati.

Nyo Bok tidak tahu siapa gadis remaja ini, kontan telapak tangannya mendorong ke arahnya seraya membentak.

"Budak kecil minggirlah kau!"

Lekas Lu Su-bi mengembangkan gerak tubuh Menyelinap Rumpun Kembang Mengitari Semak Pohon, keruan Nyo Bok menubruk tempat kosong, sehingga tubuhnya terjungkal ke depan.

"sret"

Lekas Lu Su-bi menusukkan pedangnya seraya memaki.

"Siapa kau, tidak tahu aturan?"

Tusukan ini cukup liehay dan ganas, namun tidak lebih hanyalah serangan mengaraji jalan darah belaka.

Soalnya Lu Su-bi belum berani memastikan bahwa lawannya ini adalah musuh dari cakar alap-alap, maka meski hati rada curiga, serangannya tidak berani segera mengambil jiwa lawan.

Ilmu silat Nyo Bok sudah tentu bukan kelas rendahan, karena hampir saja dia jatuh terjerembab, keruan hatinya menjadi gusar, dampratnya.

"Ternyata kau budak liar ini adalah komplotan Tiam-jong-siang-sat!"

Kontan ia lancarkan Kim-kong-lak-yang-jiu.

"Wut"

Telapak tangannya melayang deras.

Sudah tentu tenaga pukulannya ini bukan olah-olah besarnya, kontan Lu Su-bi merasa dadanya seperti ditindih barang ribuan kati beratnya, hampir saja susah bernapas.

Untung ia berhasil berlatih ilmu ringan tubuhnya yang lincah dan tangkas, mengikuti damparan angin pukulan Nyo Bok, ia berlompatan dengan lincah, sudah tentu pukulan dahsyat itu tidak berhasil mengenai dirinya.

Lu Su-bi pun menjadi murka, serunya.

"Omong kosong, siapa yang menjadi komplotan Tiamjong-siang-sat!"

Di mana ujung pedangnya menggores "cras"

Baju Nyo Bok kena ditabasnya sobek sebagian. Maka terdengarlah Ki Kian-ya membentak.

"Tanyakan dulu biar jelas baru turun tangan!"

Lekas ia kebutkan lengan bajunya, pedang panjang Lu Su-bi kontan mencelat terbang dari cekalannya.

"Trang!"

Tepat sekali pedangnya jatuh di atas meja makan Miao Tiang-hong.

Miao Tiang-hong pura-pura amat kaget dan tersipu-sipu, poci arak, cangkir dan seluruh hidangan di atas meja sama tersapu jatuh, malah dia pun pura-pura terjengkang bersama kursinya, duduk di lantai ia berteriak.

"Kalian berkelahi, kenapa kepalaku ikut-ikutan hendak kalian hantam!"

Memang Nyo Bok sedang menerjang ke arah Toan Siu-si, kebetulan cangkir arak Miao Tianghong yang mencelat jatuh itu melayang ke arah mukanya, Nyo Bok tidak sempat berkelit pula, seluruh muka dan dadanya menjadi basah kuyup.

Celakanya mata dan kulit mukanya terasa amat pedas dan sakit, sesaat lamanya dia tidak mampu membuka mata.

Sebagai orang persilatan yang melatih lwekang, orang biasa memukul dia belum tentu terasa sakit.

Kini mukanya hanya tersiram secawan arak namun rasanya pedas dan sakit, sudah tentu hatinya mencelos dan kaget, kuatir orang membokong lebih lanjut, lekas ia lintang-kan kedua tangannya di depan mukanya.

Terdengar Ki Kian-ya berseru lantang.

"Kalau kalian memang bukan komplotan Tiam-jongsiang-sat, silakan mundur ke samping saja!"

Sembari bicara kakinya melangkah ke depan sementara cakar tangannya mencengkeram ke punggung Toan Siu-si.

Miao Tiang-hong tahu akan keliehayan ilmu silat Ki Kian-ya, maka dia tidak bisa menggunakan cara yang sama terhadap Nyo Bok untuk menghadapi dia, kalau hendak membantu Toan Siu-si, tidak bisa tidak ia harus tampil sendiri berhadapan langsung dengan orang.

Tadi ia pura-pura kaget dan jatuh terjerembab, sampai sekarang belum lagi bangun, untuk menolong Toan Siu-si juga tidak keburu lagi.

Di saat ia mengucurkan keringat dingin bagi keselamatan Toan Siu-si, terjadilah sesuatu kejadian yang di luar dugaannya.

Si pelayan yang semula sembunyi di pojokan itu mendadak memburu keluar terus menyikap Ki Kian-ya seraya berteriak.

"Tuan-tuan tamu! Kumohon kepada kalian, janganlah berkelahi dalam rumah makan kami!"

Betapa tinggi kedudukan dan gengsi Ki Kian-ya, mana sudi turun tangan memukul pelayan rumah makan yang tidak mengenal ilmu silat?

Dan karena itu, maka dia sampai kena dipeluk oleh si pelayan.

Terpaksa Ki Kian-ya menariknya pelan dan mendorongnya ke samping, namun si pelayan masih mementang tangannya merintangi dan membuat ribut padanya.

Sungguh jengkel dan geli pula Ki Kian-ya dibuatnya.

"Kau tidak usah takut, berapa banyak barangmu yang rusak, nanti kuganti seluruhnya!"

Kata si pelayan.

"Nona cilik itu tadi pun berkata demikian, mana aku tahu kata-kata kalian apakah bisa dipercaya?"

Dalam pada itu Nyo Bok sudah mengusap air arak di mukanya, bentaknya kepada Miao Tianghong dengan gusar.

"Siapa kau?"

Miao Tiang-hong merangkak bangun, jengeknya dingin.

"Aku adalah tamu yang minum arak di sini, toh aku tidak mengganggu kalian, kalian berkelahi justru memecah dan menumpahkan hidanganku, kini mentang-mentang main marah segala, hm, hm, masa ada keadilan macam demikian di kolong langit ini!"

Mendelik mata Nyo Bok, hidungnya mendengus lalu tertawa dingin, katanya.

"Agaknya kau memang seorang yang menyembunyikan diri, aku orang she Nyo salah mata menilai dirimu. Biar nanti aku mohon pelajaran kepandaian tuan!"

Miao Tiang-hong berkata tawar.

"Nyo-siansing, jangan kau berkelakar dengan aku, aku punya kepandaian apa!"

Saat mana pelayan masih merecoki Ki Kian-ya, Miao Tiang-hong menjadi geli dan heran pula, pikirnya.

"Pelayan ini tadi tadi pura-pura takut sedemikian rupa, kini mengapa menjadi begitu bernyali besar?"

Dalam pada itu Lu Su-bi sudah minggir ke samping, Song Theng-siau tahu yang baru datang ini adalah Ki Kian-ya dan Nyo Bok, serta merta ia menjadi tertegun, gerak geriknya menjadi rada lamban.

Dalam situasi yang gawat dan mendesak ini tiba-tiba timbul akal licik Toan Siu-si, serunya.

"Song Theng-siau bencana ini kaulah yang menimbulkannya, kini orang meluruk datang, kau tidak memikul beban ini bersama aku malah hendak mempersulit diriku, apakah ini perbuatan seorang kuncu? Hehe, kau memang tidak kenal artinya setia kawan!"

"Kau membual apa?"

Damprat Song Theng-siau dengan gusar, belum lenyap suaranya, sigap sekali Toan Siu-si mengembangkan gerak badan Mengubah Bentuk Berpindah Kedudukan menghindarkan diri dari rangsakan Song Theng-siau, laksana burung walet melintasi gelombang, ringan sekali badannya berkelebat lewat dari samping badannya terus melompat keluar lewat jendela.

Apa boleh buat, terpaksa Ki Kian-ya menggunakan gerak tangan yang ringan menotok jalan darah pelemas si pelayan, dengan caranya ini baru dia berhasil membebaskan diri dari recokan si pelayan.

Bentaknya.

"Lari ke mana!"-Namun sudah terlambat, waktu ia memburu tiba di pinggir jendela dan melongok keluar, bayangan punggung Toan Siu-si sudah tidak dilihatnya lagi. Entah menyelinap ke jalan atau gang mana. Sejenak Nyo Bok mendelong, tiba-tiba ia membentak.

"Jadi kau inilah Song Theng-siau?"

"Tidak salah! Kau mau apa?"

Tantang Song Theng-siau.

"E, eh, kau merebut anakku, mengobrak-abrik layonku dan menghina muridku, itu sih belum masuk hitungan, ternyata berani pula menganiaya toaciku. Kini kebentur di tanganku, masakah kau hendak cuci tangan? Hm, hah, Toan Siu-si sudah lari, jangan harap kau bisa lolos!"

"Anakmu?"

Jengek Song Theng-siau.

"He, he, he, ya anggap saja memang anakmu. Toacimu menyiksa bocah itu sedemikian rupa, aku sebagai sahabat karib Hun Ci-lo, masa harus berpeluk tangan?"

"Sungguh menjengkelkan!"

Damprat Nyo Bok.

"Berani kau di hadapanku mengaku terus terang dengan perempuan jalang... dengan perempuan jalang itu..."

Bahna gusarnya, mulutnya jadi menyerocos tidak karuan, meski kata-kata sudah di ujung mulut, betapapun kata-kata 'berlaku serong' tidak berani diucapkan.

Hun Ci-lo adalah pujaan dan orang yang dihormati oleh Song Theng-siau, mendengar tuduhan orang keruan ia berjingkrak murka.

"Nyo Bok, jangan kan memfitnah orang semena-mena. Fitnahanmu ini hanya mengotori mulutmu sendiri!"

Kedua orang sudah berhadapan dengan bersitegang leher hendak saling labrak, senjata sudah dihunus siap bertempur.

Dulu toaci Nyo Bok yaitu Loak-jiu-koan-im Nyo-toakoh pernah mendapat rugi besar oleh Song Theng-siau, setelah pulang dia lapor kepada Ki Kian-ya dengan bertangisan, mohon kepada Ki Kian-ya supaya menuntutkan balas.

Cuma waktu itu dia sendiri belum tahu bahwa laki-laki berkedok itu adalah Song Theng-siau.

Ki Kian-ya sendiri pun baru tahu setelah berlangsungnya pertemuan besar di Thay-san.

Dalam hati berpikir Ki Kian-ya.

"Ginkang Toan Siu-si amat hebat, kukejar pun belum tentu terkejar, lebih baik biar kuringkus bocah she Song ini, supaya dua pihak tidak menjadi gagal."

Di saat kedua orang sudah saling melotot dan melangkah maju hendak saling labrak itulah mendadak Ki Kian-ya membentak.

"Tahan dulu!"

Song Theng-siau berkata dingin.

"Ada petunjuk apa Ki-losiansing?"

Kata Ki Kian-ya pelan-pelan.

"Nyo-toakoh adalah marga keluarga kami, persoalan ini pantasnya akulah yang menyelesaikan. Nyo Bok, kau mundur ke samping!"

Kiranya waktu di Thay-san ia saksikan sendiri kepandaian silat Beng Goan-cau, maka ia beranggapan Song Theng-siau sejajar dengan Beng Goan-cau, kepandaian silat bocah she Song ini tentu tidak lebih lemah dari Beng Goan-cau, mungkin Nyo Bok bukan lawannya yang setimpal.

Kalau Nyo Bok kena dikalahkan dan dirinya baru maju betapapun akan menurunkan gengsi dan wibawanya.

Maka lekas ia tampil ke depan dan tumplek urusan kepada diri sendiri.

Nyo Bok mengiakan sambil mundur ke samping, katanya.

"Ya, harap kau orang tua suka menegakkan keadilan!"

"Ya, aku punya perhitunganku sendiri,"

Demikian ujar Ki Kian-ya lalu berpaling katanya menunjuk Song Theng-siau.

"Kupandang kau pun tokoh pendekar yang disegani kaum persilatan, maka aku pun tidak akan mempersulit kau. Pinjamlah tempat rumah makan ini mengadakan perjamuan untuk perdamaian kedua pihak, cukup asal kau suka berlutut dan menyembah minta maaf, bolehlah urusan ini dianggap selesai sampai di sini."

Keruan bergolak amarah Song Theng-siau, jengeknya tertawa dingin.

"Seorang laki-laki sejati tahu diri dan bisa menimbang urusan. Aku orang she Song tidak merasa bersalah dan hutang budi pada kau, kenapa harus berlutut minta maaf segala?"

"Kalau begitu terpaksa kita gunakan cara aturan kangouw, menggunakan kepalan untuk menegakkan keadilan. Jangan kau salahkan lohu menganiaya yang lemah, menindas si kecil!"

Selamanya Song Theng-siau berwatak tinggi hati dan temberang, ia paling benci orang menghina dan memandang rendah dirinya, mendengar kata-kata orang segera ia balas menyindir.

"Ki-locianpwe jauh lebih tua dari aku, adalah patut kalau aku menghormat dan mengindahkan pada kau. Silakan kau yang lebih tua turun tangan lebih dulu."

Maksud katanya bahwa dia hanya mengakui Ki Kian-ya berusia jauh lebih tua, istilah menganiaya si lemah dan menindas si kecil segala sedikit pun ia tidak ambil peduli.

Sudah tentu Ki Kian-ya pun menjadi murka oleh sikapnya yang temberang ini, bentaknya.

"Bocah takabur, berani kau bergebrak dengan lohu, berani bermulut besar lagi, menantang aku turun tangan lebih dulu! Tahukah kau sekali lohu turun tangan kedua kepalanku ini tidak akan mengenal kasihan!"

"Memangnya pedangku ini juga tidak tumbuh mata!"

Demikian ejek Song Theng-siau.

"Marilah bertempur di luar, supaya tidak merusak barang dan menakuti orang di dalam rumah makan ini!"

"Baik, masakah kau bisa melarikan diri!"

Sahut Ki Kian-ya tertawa dingin.

Song Theng-siau dan Lu Su-bi berjalan keluar lebih dulu, Ki Kian-ya ikut di belakangnya.

Nyo Bok berpaling dulu mendelik ke arah Miao Tiang-hong, akhirnya dia pun mengintil keluar.

Setelah Nyo Bok berada di luar, baru Miao Tiang-hong mendekati si pelayan dan membuka hiattonya yang tertotok, katanya tertawa.

"Nyalimu sungguh besar, kagum, kagum!"

Si pelayan mengurut-urut badannya yang lemas dan linu, katanya.

"Tuan tamu ternyata kepandaianmu pun amat liehay, sungguh mataku ini buta melek tidak tahu bahwa seorang ahli di depan mata!"

Mendengar kata-kata orang yang tidak mengenal batas, diam-diam heran Miao Tiang-hong dibuatnya. Baru saja ia hendak tanya lebih lanjut, Ki Kian-ya dan Song Theng-siau di luar sudah mulai bergebrak.

"Loloslah pedangmu!"

Bentak Ki Kian-ya.

Sebagai bu-lim cian-pwe, apalagi sejak usia pertengahan umur dia tidak pernah menggunakan alat senjata lagi setiap menghadapi musuh, hal ini sudah banyak diketahui umum, maka dia cukup menggunakan sepasang kepalan untuk menghadapi ilmu pedang Song Theng-siau, hal ini tidaklah terhitung sebagai penghinaan.

Meski Song Theng-siau tinggi hati, betapapun harus memberi sedikit muka kepada orang, segera ia mencabut pedang, serunya.

"Baik, wanpwe mohon petunjuk."

Seiring dengan lenyap suaranya "sret"

Pedangnya tiba-tiba menusuk ke depan.

Serangan pedang ini menusuk lurus ke dada, ujung pedangnya bergetar ringan dua kali.

Itulah serangan yang dinamakan Tang-gak-tio-cong, merupakan jurus pembukaan terhadap lawan yang lebih tua.

Tapi meski hanya jurus pembukaan yang sepele, tapi begitu ujung pedangnya bergetar, tak urung mengeluarkan suara mendengung yang lirih cukup jelas didengar, ini menandakan bahwa lwekang Song Theng-siau bahwasanya pun tidaklah lemah.

Nyo Bok yang menonton di pinggir diam-diam mencelos hatinya, pikirnya.

"Untung tadi aku tidak lantas melabraknya, kalau tidak mungkin aku dulu yang ketimpa bencana dan kena dirugikan olehnya."

"Tidak usah sungkan!"

Cemooh Ki Kian-ya tertawa dingin, kebetulan lengan bajunya mengeluarkan deru angin yang keras, kontan ujung pedang Song Theng-siau yang bergetar itu kena disampuk-nya miring, tindakannya ini pertanda bahwa dia menolak pemberian hormat dari jurus permulaan lawan.

Keruan bercekat hati Song Theng-siau, batinnya.

"Tua bangka ini ternyata membekal lwekang yang ampuh, memang tidak bernama kosong belaka."

Bicara lambat kejadian justru amat cepat, terdengar angin menderu-deru, kiranya Ki Kian-ya sudah bergerak mulai balas menyerang.

Meski serangannya tidak mengenai badan Song Thengsiau, tenaga pukulannya sudah cukup membuatnya sesak dada dan sukar bernapas.

Lekas Song Theng-siau memutar pedangnya membuat garis bundaran; sementara badannya ikut berputar, sedang kaki pun bergeser pindah kedudukan, seketika pancaran sinar pedangnya menyala terang, berkelebat cepat menari-nari di tengah udara, begitu cepat putaran pedangnya sampai bentuk badannya lenyap tergubat oleh cahaya pedangnya.

Begitu pertempuran mencapai puncak ketegangan, tampak di empat penjuru angin tertampak sosok bayangan Song Theng-siau, seolah-olah ada puluhan bayangan yang merangsak bersama dari berbagai penjuru, semuanya serempak menerjang dengan dahsyat kepada Ki Kian-ya.

Saking terpesona Lu Su-bi tak sadar bersorak memuji, pikirnya.

"Dulu Song-suko menemani aku berlatih ginkang Menyusup Kembang Mengitari Pohon, agaknya dalam bidang ini dia jauh lebih matang dari aku. Tua bangka ini hanya punya nama kosong belaka, belum tentu dia kuasa mengalahkan Song-suko."

Betapapun tingkat kepandaiannya masih setingkat lebih rendah, sedikit pun ia tidak dapat menilai dan melihat titik penentuannya bahwa sebenarnya Ki Kian-ya sedang bersiasat menggunakan ketenangan mengatasi gerakan, dia harus bersabar setelah jelas akan titik kelemahan Song Theng-siau, baru dia akan menggunakan sergapan yang paling menentukan balas menyerang dan mengalahkan musuh.

Terasa oleh Song Theng-siau bahwa tenaga pukulan lawan seperti aliran gelap yang tidak kelihatan mengekang badannya, semakin lama semakin kencang, namun betapapun ia tidak bisa mengutarakan penderitaannya ini.

Terpaksa ia mengandal gerak-gerik kelincahan tubuhnya serta permainan ilmu pedangnya yang aneh dan liehay, terus merangsak dengan berbagai serangan.

Ia insyaf sedikit gerak pedangnya menjadi lamban, maka sulitlah dia membendung gempuran balasan lawan.

Belum lenyap pikiran Lu Su-bi, tiba-tiba didengarnya Ki Kian-ya menghardik, kedua telapak tangannya menari turun naik, seketika cahaya pedang pecah tercerai berai meluncur ke empat penjuru, bayangan badan dari berbagai penjuru itu seketika sirna tak berbekas.

Kejap lain dilihatnya Song Theng-siau terhuyung mundur beberapa langkah.

"Bocah keparat, masih tidak lekas menyerah kalah?"

Bentak Ki Kian-ya.

"Seorang laki-laki lebih baik gugur di medan laga, jangan harap aku terima dihina semenamena, memangnya aku sudi berlutut minta ampun kepada kau!"

Dalam dia berkata-kata ini beruntun Ki Kian-ya sudah melancarkan tujuh kali pukulan, tapi tiada yang mengenai Song Thengsiau, sementara Song Theng-siau juga balas menyerang lima jurus.

Baru sekarang Lu Su-bi melihat keadaan sebenarnya, bahwa Song Theng-siau memang bukan tandingannya Su-hay-sin-liong, untunglah dia mengandal ilmu ginkangnya yang serba rumit itu berhasil menghindari setiap pukulan keras, maka sebegitu jauh dia masih kuat bertahan, dalam waktu dekat memang tidak mudah dia kena dikalahkan.

Menonton di samping, Nyo Bok' selalu bersorak dan memberi semangat kepada Ki Kian-ya.

Lu Su-bi sedang mengerut kening mencari akal cara bagaimana untuk membantu kesulitan Song Theng-siau, mendadak timbul suatu akalnya yang jenaka.

Dengan mengerling mata ia melirik ke arah Nyo Bok, dengusnya tertawa dingin.

"Nyo busu, konon kabarnya kau juga pernah angkat nama di daerah Siok-ciu, apakah pintarmu hanya bersorak memberi semangat pada tulang punggungmu saja?"

"Apa maksudmu?"

Bentak Nyo Bok gusar. Kata Lu Su-bi.

"Dalam kampung kami ada sebuah dongeng lucu, terjadilah dua orang berkelahi, satu di antaranya mencincing lengan baju dengan sikap garang, seolah-olah hendak menggencet remuk lawannya. Tapi di kala lawan memberanikan diri menghadapi tantangannya, dia tidak berani segera turun tangan, malah sambil mencaci maki kaki melangkah mundur, setiap langkah kakinya mulutnya mencaci maki kalang kabut, dia minta orang menunggu, menunggu dia pulang menyeret paman besannya datang!"

Dongeng lucu ini sebetulnya terdapat di mana-mana, tapi kebanyakan sama dikatakan pulang mengundang 'engkohnya', kini Lu Su-bi sengaja mengatakan mengundang 'paman besannya' (maksudnya Ki Kian-ya), sudah tentu maksudnya hendak mengolok-olok Nyo Bok.

Nyo Bok berjingkrak gusar, dampratnya.

"Kupandang kau budak cilik yang masih bau bawang, kalau tidak kuhajar kau biar kapok!"

"O, jadi kau ajak berkelahi, lebih baik malah! Ayolah! Mau berkelahi segeralah dimulai, mumpung paman besanmu masih berada di sini, kau bisa minta bantuannya nanti!"

"Siau-sumoay!"

Segera Song Theng-siau berteriak.

"Ini bukan urusanmu, lekas kau pergi saja!"

"Memangnya kau anggap aku suka menjadi tokoh tertawaan dalam dongeng tadi. Kalian berkelahi begitu menyenangkan, masakah aku tidak boleh ikut meramaikan? Haha, Nyo busu, marilah, berilah hajaran kepadaku!"

Lenyap suaranya pedang pun sudah diloloskan keluar, langsung ia obat-abitkan di depan muka Nyo Bok. Sudah tentu Nyo Bok semakin naik pitam.

"Kaulah yang mencari kematian sendiri,"

Damprat Nyo Bok, lekas kedua telapak tangannya bergerak membundar ke dua samping terus bertemu di sebelah depan dada, dengan jurus Yu-liong-tam-jiau, telapak tangan, kiri menepuk ke depan, sementara tangan kanan mencengkeram ke pundak Lu Su-bi.

Jurus serangan ini adalah salah satu jurus mematikan yang paling ampuh dari Kim-kong-lakyang-jiu warisan keluarganya, telapak tangan kiri menggunakan tenaga kekerasan menyampuk miring ujung pedang lawan, maka tangan kanannya tentu1 berhasil mencengkeram tulang pundak lawan.

Waktu berada di dalam rumah makan tadi Lu Su-bi kena didorongnya ke pinggir, sangkanya meski Lu Su-bi pandai main pedang, kepandaiannya tentu masih terbatas, bahwasanya dia tidak pandang sebelah mata kepada lawan ciliknya ini.

Anggapnya cukup dengan sekali serangan tentu berhasil menawan musuh, malah hatinya sedang membayangkan cara bagaimana nanti dia akan menganiaya dan menyiksa gadis cilik ini.

Siapa tahu Lu Su-bi justru sudah mempersiapkan diri dan bekerja menurut rencana dan tipu daya, sejak tadi ia sudah siap.

Bertempur di lapangan terbuka sudah tentu jauh lebih' leluasa dibanding dalam ruang makan yang berserakan meja kursi, begitu cakar tangan Nyo Bok mencengkeram tiba, siang-siang dia sudah berkelebat menyingkir, dengan mengembangkan ginkang Menyelinap Kembang Mengitari Pohon tahu-tahu dia sudah berkisar ke belakang Nyo Bok.

Begitu cengkeramannya mengenai tempat kosong, seketika itu pula Nyo Bok merasakan angin tajam mengancam dari belakang, ia tahu bahaya sedang mengancam jiwanya serta merta telapak tangannya terus menggempur balik ke belakang, berbareng badan doyong ke depan seraya berputar satu lingkaran.

Kepandaian silatnya memang tidak lemah, caranya menghindar ini memang tepat dan indah sekali gerakannya.

Lwekang Lu Su-bi memang setingkat di bawahnya, ujung pedangnya tergoncang miring, seumpama tusukannya mengenai sasarannya, lawan pun tidak akan terluka parah, malah dia sendiri harus berjaga terhadap cengkeraman balasan lawan yang hebat.

Lu Su-bi bisa bekerja dan lekas mengambil keputusan dan bisa melihat situasi, mengandal kesehatan gerak tubuhnya, dia cepat-cepat merubah serangannya.

Baru saja Nyo Bok berputar satu lingkaran, belum lagi kakinya berdiri tegak, tampak sinar pedang menyilaukan mata, tahutahu pedang Lu Su-bi sudah menusuk tiba dari sebelah depan.

Lu Su-bi menggunakan siasat menuding di timur menggempur di barat, menunjuk selatan menyerang dari utara, saat ini di sebelah depan, kejap lain mendadak di belakang lawan, sekonyong-konyong di sebelah kiri mendadak di sebelah kanan pula, begitulah dia kembangkan ilmu ginkangnya yang tinggi untuk mempermainkan Nyo Bok, seperti kucing mempermainkan tikus saja layaknya.

Gerak-geriknya begitu sebat dan enteng, seperti kecapung menutul air, laksana kupu-kupu menari di atas kuntum bunga, bajunya melambai, di kala kecepatan kitaran tubuhnya mencapai titik tertinggi, yang kelihatan hanyalah segulung bayangan putih melulu.

Meski lwekang Nyo Bok setingkat lebih tinggi, namun pukulannya tidak bisa mengenai tubuh Lu Su-bi, maka dia sendiri tidak kuasa menundukkan lawan.

Di antara berkelebatnya sinar pedang dan bayangan pukulan tangan, mendadak Nyo Bok merangsak dengan sejurus Im-yang-siang-jong-ciang, tangan kiri menggunakan tenaga negatif, sementara tangan kanan menggunakan kekuatan positif.

Antara lemas dan keras kedua macam tenaga ini saling bekerja sama dan tuntun menuntun, Lu Su-bi berputar lincah seperti gangsingan, katanya sambil tertawa dingin.

"Kim-kong-Iak-yang-jiu paling-paling hanya begini saja, aku cukup berkenalan!"

Begitu pukulannya mengenai tempat kosong, seketika sinar pedang berkelebat menyala di depan mata, meski Nyo Bok sudah berusaha berkelit secepat mungkin, tak urung terdengarlah suara "Bret"

Ujung jubahnya terpapas oleh sambaran pedang lawan, untunglah tidak sampai melukai kulitnya.

"Wut"

Lekas Ki Kian-ya memukul, Song Theng-siau tergentak mundur dua tindak, teriaknya.

"Nyo Bok, mendekatlah kemari!"

Begitu mendesak mundur Song Theng-siau segera ia menggeser badan mendekati ke arah Nyo Bok. Tak tahan Lu Su-bi terkikik geli, serunya.

"Benar, lekaslah kau minta perlindungan paman besanmu."

Tadi hampir saja Nyo Bok terluka oleh ujung pedangnya, keringat dingin bercucuran tanpa terasa.

demi jiwa tanpa hiraukan olok-olok orang, lekas ia menerjang ke sana.

Bagai bayangan mengikuti bentuknya, Lu Su-bi mengejar di belakangnya, kejadian berlangsung amat cepat, dengan sejurus Giok-li-to-soh, ujung pedangnya yang berkilau itu tahu-tahu sudah menusuk tiba ke punggung Nyo Bok.

Kebetulan Nyo Bok sudah mencapai dekat di samping Ki Kian-ya, sudah tentu Ki Kian-ya tidak mau orang lain melukainya, lekas jari tengahnya menjentik "creng"

Tepat sekali jarinya menjentik punggung pedang Lu Su-bi.

Ki Kian-ya mengembangkan ilmu Tam-ci-sin-thong, meski hanya menggunakan lima bagian tenaganya, Lu Su-bi sudah tidak kuasa lagi bertahan, begitu telapak tangan menjadi linu dan pedas, kontan pedang mencelat terbang ke tengah udara.

Sebat sekali pedang Song Theng-siau pun sudah menusuk ke arah Nyo Bok, caranya justru menyerang titik kelemahan lawan, memaksa musuh harus menyelamatkan diri lebih dulu sebelum melukai lawan, sudah tentu terasa melayang arwah Nyo Bok, apalagi gerak badannya belum lagi tetap, mana kuasa melawan serangan telak ini?

Sudah tentu ia hanya mengandal tenaga Ki Kianya lagi untuk menyelamatkan jiwanya.

Tiga belah pihak bergerak sama cepatnya, lekas sikut Ki Kian-ya bekerja menyodok Nyo Bok, yang digunakan tenaga sendai ringan, sehingga Nyo Bok tersuruk ke pinggir, sementara telapak tangannya terkembang miring seperti golok, dengan jurus Hiat-jiat-ou, telapak tangannya menusuk ke sikut Song Theng-siau.

Serangan ini pun mendesak lawan untuk menyelamatkan diri lebih dulu, lincah sekali Song Theng-siau menggunakan Banliong-jiau-poh menarik pedang seraya membalikkan badan.

Kesempatan yang sekejap itu, badan Lu Su-bi sudah melejit ke atas kebetulan menangkap Ceng-kong-kiamnya yang meluncur jatuh.

Song Theng-siau lantas mengomelinya.

"Siau-sumoay, kenapa kau turun campur urusan orang. Seorang laki-laki berani berbuat berani bertanggung jawab, urusanku tidak usah kau turut campur."

"Memangnya aku suka mencampuri urusan orang lain, apalagi menghadapi urusanmu mana bisa dikatakan tiada sangkut pautnya dengan aku?"

Song Theng-siau tahu akan tabiat orang, apa boleh buat terpaksa ia berkata.

"Kim-na-jiu Kilothau amat liehay, kau harus waspada!"

"Aku tahu,"

Ujar Lu Su-bi tertawa.

"Tadi aku sudah belajar kenal. He, he, aku toh wanpwe yang baru unjuk gigi, amat kebetulan bisa memperoleh petunjuk dari Su-hay-sin-liong yang menggetarkan kangouw, terluka parah juga setimpal dan tidak perlu diambil menyesal."

Betapa tinggi kedudukan dan gengsi Ki Kian-ya, kontan merah padam mukanya, batinnya.

"Kalau aku menggunakan Jong-jiu-hoat melukai gadis cilik yang baru keluar kandang ini, mungkin bakal menjadi buah tertawaan seluruh enghiong sejagat."

Segera ia berkata.

"Siapa suruh kau budak kecil ini tidak tahu diuntung, kalau kau tidak mencari perkara kepada Nyo Bok, aku pun tidak akan mencari gara-gara kepada kau. Lekaslah kau pergi saja!"

"Pihak kalian ada dua, demikian juga kami berdua. Kalau aku tinggal pergi, bukanlah kalian hendak mengambil keuntungan?"

Mulut bicara sementara pedang di tangannya menyerang gencar ke tubuh Nyo Bok, yang diarah adalah tempat-tempat yang mematikan.

Dengan bertangan kosong sudah tentu Nyo Bok tidak mampu melawan pedangnya, apa boleh buat terpaksa Ki Kian-ya harus mencari kesempatan untuk menolong dan menyelamatkan jiwanya.

Karena terdesak Nyo Bok tidak berani meninggalkan sandarannya, maka menjadi sama kuat alias seri, kedua pihak sama bertempur cara keroyokan.

Bahwasanya Ki Kian-ya didesak untuk melayani serangannya, kini keadaan diputar balik, sudah tentu ia menjadi serba salah tertawa geli sendiri dalam hati.

Beruntun Nyo Bok menghadapi bahaya beberapa kali, dari malu akhirnya menjadi gusar, serunya.

"Budak liar ini memang minta digebuk, janganlah kau salahkan kami tidak mengenal kasihan. Yan-peh (paman besan), silakan kau gebah dia lebih dulu, supaya tidak merecoki saja!"

Lu Su-bi tertawa cekikikan, serunya.

"Ternyata dongeng lucu itu tidak cuma ada di kampung kami."

Mengarah lambung Nyo. Bok, pedangnya menusuk tiba pula.

"Aku punya perhitungan sendiri,"

Ki Kian-ya mendengus, lalu ia menarik muka dan membentak.

"Gadis cilik, jangan kau tidak tahu diri, aku tidak akan mengenal sungkan lagi lho!"

"Kakek tua, jenggotmu sudah ubanan, kalau marah jenggotmu bisa bergerak juga, sungguh lucu sekali!"

Demikian goda Lu Su-bi. Ki Kian-ya menjadi kewalahan, pikirnya.

"Anak perempuan ini memang rada keterlaluan, baiklah, biar kucari' cara, tanpa melukai badannya kutotok saja hiat-tonya."

Tapi ginkang Menyelinap Kembang Mengitari Pohon yang dikembangkan Lu Su-bi aneh dan gesit lagi, seolah-olah dia dapat meraba jalan pikiran Ki Kian-ya, selicin belut selincah kera tubuhnya berputar-putar menyelinap mengitari Nyo Bok saja, secara tidak sengaja seakan-akan ia menggunakan Nyo Bok sebagai tameng, sehingga Ki Kian-ya tidak kuasa menotok Hiat-tonya.

Lama kelamaan Ki Kian-ya naik pitam, mendadak ia menghardik keras, tenaga pukulannya ditambah berlipat ganda, serempak ia memberondong kepada Song Theng-siau, ia alihkan sasaran utama, batinnya.

"Biar kubinasakan dulu bocah ini, masakah budak liar ini tidak terima diringkus saja!"

Begitu tekanan menjadi kendor, Lu Su-bi pun serempak menyerbu lebih gencar kepada Nyo Bok, sehingga Ki Kian-ya tidak bisa menumpahkan seluruh perhatiannya menghadapi Song Thengsiau.

Dengan demikian, dua pihak satu sama lain sama mengandal bantuan teman sendiri.

Akan tetapi betapapun lwekang Lu Su-bi terpaut teramat jauh dibanding Ki Kian-ya, sebaliknya meski Nyo Bok bertangan kosong, sejauh itu dia masih kuasa bertahan diri dan main berkutet padanya, maka sejak mula bagaimana juga pihak Nyo Bok dan Ki Kian-ya berada di pihak yang unggul dan di atas angin.

Song Theng-siau juga sulit bernapas oleh tekanan pukulan Ki Kian-ya, namun hatinya terasa hangat dan syuur.

"Tak nyana siau-sumoay rela mengadu jiwa bagi diriku, kalau kali ini berhasil lolos, entah cara bagaimana aku harus membalas budi kebaikannya ini."

Duduk di dalam rumah makan, Miao Tiang-hong menonton pertempuran mereka, hatinya menjadi gelisah dan gugup, baru saja ia hendak memburu keluar membantu kesulitan Song Theng-siau, mendadak dilihatnya seorang kakek tua yang mengenakan jubah kain katun memegang pipa cangklong muncul di ujung jalan sana, orang tua ini sedang beranjak mendatangi ke tempat pertempuran.

Si pelayan seketika berjingkrak keluar sambil bersorak kegirangan, serunya.

"Nah itu dia, majikan kami sudah tiba!"

Tergerak hati Miao Tiang-hong, pikirnya.

"Mungkinkah kakek tua renta ini adalah tokoh aneh yang mengasingkan diri, untuk mengikat persahabatan dengan kaum kangouw, maka dibukanya rumah makan ini?"

Belum lenyap jalan pikirannya, kakek tua itu sudah datang dekat. Berdiri di undakan batu di luar pintu rumah makan, jauh-jauh si pelayan lantas berteriak.

"Lo-tang-keh (majikan tua), lekas kemari, sungguh menyebalkan, para tamu ini saling berkelahi di dalam restoran kita, dari dalam sampai di luar segala perabot menjadi korban, lebih celaka lagi kalau terjadi perkara jiwa!"

Nyo Bok segera membentak.

"Yang tahu diri segera menyingkir jauh, jangan turut campur urusan kami. Berapa perabotmu yang rusak nanti kuganti seluruhnya."

Waktu itu pertempuran sedang memuncak sengit, pihak Nyo Bok berada di atas angin.

Song Theng-siau terkekang oleh libatan angin pukulan Ki Kian-ya, meski sekuat tenaga berusaha membendung dan mematahkan rangsakan musuh, namun tenaga sudah tidak kuasa melandasi keinginan hati.

Lu Su-bi apalagi, tenaganya jauh lebih lemah, setelah kehabisan tenaga gerak-geriknya pun menjadi lamban tidak segesit dan setangkas tadi.

Si kakek tua menghisap pipa cangklongnya lalu mengepulkan asapnya ke depan, serta berkata pelan-pelan.

"Loheng, kata-katamu ini harus diralat kembali. Kalian berkelahi di dalam restoranku, mana bisa dikatakan aku banyak campur urusan orang? Barang rusak bisa diganti jiwa manusia masakah bisa dibeli. Kalau sampai membunuh orang, kalian bisa tinggal pergi mencawat ekor, urusan justru bakal menjadi tanggung jawab kami bukan?"

Sembari bicara, langkah kakinya mendadak dipercepat semakin dekat.

Mendadak ia mendesak masuk ke tengah gelanggang pertempuran.

Sebagai kawakan kangouw Ki Kian-ya menduga kakek tua ini tentu bukan sembarang orang.

Baru saja dia hendak bertanya, belum lagi sempat bersuara orang sudah turun tangan.

Kebetulan saat itu Nyo Bok sedang melayangkan kepalannya memukul ke arah Lu Su-bi, sementara Lu Su-bi sepenuh tenaga dan tumplek seluruh perhatiannya membantu Song Thengsiau untuk membendung rangsakan Ki Kian-ya yang hebat, maka pukulan Nyo Bok kelihatannya bakal menghancurkan tulang pundaknya, untunglah kakek tua itu mendadak mendesak maju ke tengah arena pertempuran, dengan enteng ia mendorong badan Lu Su-bi sampai terpental tiga tombak jauhnya.

Tenaga yang digunakan amat tepat dan lunak, Lu Su-bi merasa seolah-olah dirinya ditarik ke samping saja.

Badannya hanya berputar satu kali lantas berdiri tegak lagi.

Ki Kian-ya menjadi amat terkejut, lekas ia berseru.

"Nyo Bok, tahan!"

Belum lenyap suaranya, tahu-tahu Nyo Bok sudah terpental jatuh terjengkang dengan kaki tangan menghadap ke langit. Dan suara "blang"

Yang keras itu adalah lantaran badannya terbanting keras di tanah berbatu.

Saking kejutnya, tanpa hiraukan apakah Nyo Bok terluka atau tidak, tanpa pikir tangan Ki Kianya segera meraih ke depan, ia mencengkeram ke pipa cangklong si kakek.

Terdengarlah kakek tua itu berkata tertawa.

"Ki-lo-siansing, apakah kau pun suka menghisap rokok?"

Mengandal lwekang Ki Kian-ya, cengkeramannya itu dapat meremukkan batu cadas, sangkanya pipa cangklong orang tentu dapat dicengkeram patah menjadi dua, di luar dugaan, terasa telapak tangannya panas dan segulung tenaga menerjang kuat telapak tangannya pula, tanpa kuasa jarijarinya menjadi lemas dan kendor tidak kuasa memegangi pipa cangklong jtu lebih lanjut.

Dengan gebrak percobaan ini baru Ki Kian-ya insyaf bahwa lwekang orang kiranya tidak lebih asor dari dirinya.

Mendadak teringat oleh Ki Kian-ya seseorang, cepat ia bertanya.

"Bukankah kau adalah Yankan-kay-pi Tan Tek-thay Tan-losian-sing?"

Ternyata pipa cangklong milik Tan Tek-thay ini adalah barang pusaka, luarnya kelihatan seperti terbuat dari kayu, bahwasanya terbuat dari tembaga hijau yang dicampur dengan Hian-tiat.

Hiantiat merupakan logam yang jarang terdapat, bobotnya juga puluhan kali lebih berat dari besi biasa.

Pernah suatu ketika Tan Tek-thay minum arak dengan beberapa teman, saking banyak menenggak air katakata timbul ah hasratnya mendemonstrasikan ilmu silatnya dengan menggunakan pipa cangklongnya itu, sekali ketuk batu sebesar gantang kena dipukul sampai pecah berhamburan, maka sejak itu ia mendapat julukan Yan-kan-kay-pi.

Tan Tek-thay tertawa ngakak, ujarnya.

"Nama busuk hanya menusuk pendengaran saja, aku orang she Tan amat berkecil hati. Nama besar Ki-losiansing sudah lama kukagumi. Kali ini sudi berkunjung ke restoran kami, harap maaf akan penyambutan dan pelayanan yang tidak sempurna. Entah kenapa Ki-losiansing mempersulit kedua tamu ini, sudikah pandang muka tuaku ini, bikin selesai saja sampai di sini."

"Enak benar kau membuka mulut?"

Demikian batin Ki Kian-ya, sambil mengerutkan alis ia berkata.

"Soal ini sulit dijelaskan, sebetulnya demi gengsi dan muka Tan-loenghiong aku harus menyudahi sampai di sini saja. Tapi amat kebetulan hari ini kami memergoki kedua orang ini, kalau urusan dibikin selesai begini saja, kelak mungkin tiada kesempatan membuat penyelesaian. Maka maaf kami tidak bisa turuti kemauanmu."

Kata Tan Tek-thay tawar.

"Ki-losiansing tidak sudi memberi muka kepadaku, aku pun tidak bisa berbuat apa-apa."

"Bukan aku tidak suka memberi muka..."

Kata Ki Kian-ya. Tapi Tan Tek-thay segera mengulapkan tangannya, ujarnya.

"Sudah tidak perlu banyak bicara!"

Tanpa perdu-likan orang segera ia berpaling dan berkata kepada Song Theng-siau.

"Harap tanya, saudara pernah apa dengan Song Sip-lun?"

"Beliau adalah ayahku almarhum!"

Sahut Song Theng-siau. Tan Tek-thay bergelak tertawa, ujarnya.

"Tak heran Cui-hong-kiamhoatmu sudah begitu mahir, ternyata benar putra Song Sip-lun adanya. Jadi kau inilah Song Theng-siau yang angkat nama sejajar dengan Beng Goan-cau dari Siau-kim-jwan?"

"Benar, jadi Tan-losiansing adalah kenalan lama ayah almarhum?"

Tanya Song Theng-siau. Mendengar pembicaraan ini, diam-diam mencclos hati Ki Kian-ya, betul juga lantas didengarnya Tan Tek-thay berkata.

"Dua puluh tahun yang lalu, aku pernah berkenalan dengan ayahmu, sejak itu lantas tidak pernah ketemu lagi, tak nyana dia sudah mendahului pulang ke alam baka, ai sungguh sayang. Baik, hari ini kebentur kejadian ini, biar aku saja yang mewakili kau menyelesaikan urusanmu. Jangan banyak omong lagi lekas kalian pergi saja!"

Sebagai tokoh angkatan tua yang kenamaan, sudah tentu Ki Kian-ya tidak sudi kehilangan muka begitu saja, segera ia membentak.

"Tidak boleh pergi!"

Tan Tek-thay tertawa dingin, ujarnya.

"Semua urusan tidak lepas dari keadilan. Lepas dari pembi-. caraan hubungan pribadi, aku adalah pemilik dari restoran ini, kalian sama berkelahi dan menindas kedua tamuku ini, adalah hak dan kewajibanku untuk menyelesaikan pertikaian ini. Akulah yang suruh mereka pergi, kalau Ki-losiansing tidak terima, boleh berurusan saja dengan aku."

Meski sudah berusia lanjut, namun watak Ki Kian-ya masih berangasan dan kasar, mendengar omongan orang seketika ia menjadi murka, serunya.

"Bagus, terpaksa aku mohon belajar kenal kepandaian Yan-kan-kay-pi Tan-loko. Cuma kedua orang ini belum boleh sekarang juga tinggal pergi!"

Tan Tek-thay melintangkan pipanya, katanya.

"Asal kau mampu meringkus mereka! Tapi, kau harus melewati rintanganku dulu!"

Dasar watak tinggi hati, Song Theng-siau pun tidak mau kalah angker, jengeknya tertawa dingin.

"Demi kawan apa halangannya pundak tertusuk pisau? Ki-losiansing, kau tidak usah kuatir, aku orang she Song berani tampil ke muka demi sahabat masakah takut tiga golok enam lubang. Memangnya kau suruh aku pergi pun aku tidak akan sudi melarikan diri. Tan-lopek, terima kasih akan perlindunganmu terhadap siautit, silakan minggir biar aku saja yang menyelesaikan persoalan ini. Kebaikan lopek, siautit terima setulus hati."

"Tidak bisa!"

Tukas Tan Tek-thay.

"Kejadian di dalam restoranku, tidak bisa tidak aku harus ikut campur!"

Keadaan menjadi berubah, kini menjadi perdebatan antara Song Theng-siau dengan Tan Tekthay, kedua pihak sama berebut hendak saling hantam dengan Ki Kian-ya, hal ini benar-benar menjadi di luar dugaan Ki Kian-ya malah.

Setelah bergebrak yang saling menjajaki tadi, Ki Kian-ya sudah tahu bahwa lwekang Tan Tekthay tidak di sebelah bawah dirinya, dalam hati ia menimbang bila bertempur satu lawan satu dengan Tan Tek-thay mungkin masih ada harapan bisa menang, bila lawan ditambah seorang Song Theng-siau, dirinya jelas pasti kalah.

Sudah tentu dengan kedudukan Tan Tek-thay tidak mungkin mau bergabung dengan Song Theng-siau, namun bila dirinya turun tangan menyerang Song Theng-siau, Tan Tek-thay sudah memberikan ancamannya, maka terpaksa dia akan mengeroyok dirinya bersama Song Theng-siau.

Meski amarah sedang bergolak dalam rongga dada Ki Kian-ya, namun menghadapi situasi yang tidak menguntungkan ini, ia jadi bimbang dan tidak berani bertindak secara ceroboh.

Maka Miao Tiang-hong lantas keluar dari rumah makan, serunya.

"Lo-siansing berdua apakah sudi mendengar penjelasanku dulu?"

"Lo-tang-keh,"

Seru si pelayan' ikut bicara.

"Tadi waktu mereka berkelahi, tuan tamu ini sedang minum arak, hampir saja dia kena kemplang kepalanya. Kejadian sebenarnya tuan tamu ini pun menyaksikan dengan jelas!"

Diam-diam kaget hati Tan Tek-thay, pikirnya.

"Orang ini bersikap kereng bermata tajam, jelas adalah seorang tokoh yang ahli dalam ilmu silat. Entah pihak mana dia akan membantu?"

Maka segera ia maju menyapa, katanya.

"Tuan tamu ini, entah ada petunjuk apa?"

"Menurut pendapatku yang rendah, permusuhan gampang di kat sulit dilerai, sudahi saja persoalan ini sampai di sini!"

"Aku sih tidak suka berkelahi dan banyak urusan, cuma entah bagaimana pendapat Kilosiansing. Kata-kata ini seharusnya kau tujukan kepada Ki-losiansing,"

Demikian sahut Tan Tekthay. Baru saja Ki Kian-ya sedang berpikir-pikir, teringat oleh Nyo Bok akan kerugian yang dialaminya tadi, segera ia menyemprot gusar.

"Kau ini orang apa berani turut campur urusan orang lain?"

Miao Tiang-hong tertawa besar, ujarnya.

"Orang di kolong langit mengurus urusan di dalam jagat ini, meski aku seorang Bu-bing-siau-cut (orang tidak bernama), betapapun masih bisa bicara demi kebenaran. He, he, menurut hematku, lebih baik kalian minta damai saja."

"Kalau tidak mau damai memangnya kau mau apa?"

Tantang Nyo Bok.

"Jikalau setiap orang harus menuntut balas sakit hatinya, ada hutang harus dibayar, jadi aku pun harus menuntut perhitungan kepada kau! Oh, ya, bukankah tadi kau menantang ajak aku membuat perhitungan? Tapi aku masih mengharap lebih baik dua pihak damai saja."

Secara tidak langsung ia mau bicara, kalau Ki Kian-ya dan Nyo Bok tidak mau mendengar nasehatnya, apa boleh buat dia pun hendak membuat perhitungan kepada Nyo Bok.

Karena ada Ki Kian-ya menjadi sandarannya, Nyo Bok jadi mentang-mentang, baru saja ia hendak mengumbar adat, lekas Ki Kian-ya melotot kepadanya, katanya.

"Biar aku yang bicara."

Sembari bicara sementara ia kerahkan tenaga dalam ke ujung kakinya.

Jalan raya di luar rumah makan ini dibangun dengan papan-papan batu keras, dengan mengerahkan tenaga dalam, setiap kakinya berpindah maju ke depan seketika meninggalkan sebuah jalur garis yang cukup dalam, begitulah berturut-turut ia membuat garis palang berlawanan.

Garis-garis itu seperti tatahan seorang ahli saja yang sama dalam dan besarnya.

Menginjak batu menjadi hancur adalah tidak sulit, namun membuat garis melintang di atas batu dengan dalam dan bentuk yang sama tanpa memecahkan batu pinggirnya, membutuhkan himpunan tenaga dalam yang amat ketat dan besar, dapat dikendalikan seenak hatinya lagi baru bisa terlaksana dengan sempurna.

Melihat orang mendemonstrasikan lwekang yang hebat ini, diam-diam mencelos hati Tan Tekthay, pikirnya.

"Tua bangka ini kiranya memang tidak bernama kosong, lwekangnya sudah mencapai puncak kesempurnaannya. Jikalau hanya bertanding lwekang, belum tentu aku dapat mengalahkan dia."

Miao Tiang-hong cuma berkata tawar.

"Kami suka mendengar pendapat Ki-losiansing."

Sembari menggeser kaki berkata Ki Kian-ya pelan-pelan.

"Permusuhan dapat di kat sukar dilerai, ucapanmu memang betul, tapi sesuatu urusan tidak bisa disimpulkan sama seperti urusan umum. Ada kalanya sesuatu kejadian, umpamanya memecahkan cangkir dan menggores batu yang berbekas tajam, mungkin sulit untuk dapat menambal atau memulihkannya seperti sediakala."

Kata-katanya mengandung arti, bicara soal cangkir yang pecah tidak lebih hanyalah sebagai alasan saja, batu yang tergores pecah justru adalah tujuannya yang utama sebagai ujian sejati.

Jadi maksudnya kecuali Miao Tiang-hong dapat menyapu menjadi halus kembali batu yang tergores itu, kalau tidak bagaimana juga pertikaian kali ini tidak mungkin bisa dilerai.

Jelas sekali ia mengajukan persoalan rumit kepada Miao Tiang-hong.

Supaya Miao Tiang-hong bisa mundur teratur menghadapi kesulitan ini.

Ternyata Ki Kian-ya pun seorang ahli pula dalam bidangnya, bahwa Tan Tek-thay bisa melihat Miao Tiang-hong adalah seorang tokoh liehay, sudah tentu ia pun sudah tahu sejak tadi.

Cuma dia belum menjajal sampai di mana tingkat kepandaian Miao Tiang-hong yang sejati, maka dia mengeluarkan persoalan ini untuk menjajalnya.

Acuh tak acuh Miao Tiang-hong menggerakkan kakinya melangkah ke depan, ia berjalan melalui batu yang tergores itu, katanya.

"Dalam kolong langit ini, kecuali permusuhan besar membunuh ayah ibunda, segala pertikaian apapun sebenarnya bisa diselesaikan dengan damai."

Di mana kakinya bergerak, kedua garis yang melintang itu kena dihapusnya hilang tanpa bekas, bukan saja menghapus halus kedua goresan itu, malah seluruh permukaan batu itu seperti dipapas rata lapisan bagian atasnya.

Kepandaian macam ini, bila dikata tidak lebih unggul dari kemampuan Su-hay-sin-liong Ki Kianya, paling tidak boleh dinilai seimbang atau setaraf.

Diam-diam mencelos hati Ki Kian-ya, batinnya.

"Betul-betul gelombang sungai Tiangkang terjang menerjang dari belakang ke depan, patah tumbuh hilang berganti, tunas-tunas muda tumbuh pesat dan melampaui yang lebih tua. Tak nyana, dalam angkatan muda ternyata telah muncul tokoh liehay sedemikian banyaknya."

Bila bertanding satu lawan satu dengan Tan Tek-thay saja belum tentu dia bisa menang, jikalau tidak mau dilerai oleh Miao Tiang-hong, pasti orang akan membuat perhitungan pula kepada Nyo Bok, maka kekalahan jelas bakal berada di pihak mereka.

Apalagi pihak sana masih ada Song Theng-siau dan Lu Su-bi.

Walau watak Ki Kian-ya tinggi hati dan gengsi terlalu tinggi, di dalam keadaan dan situasi yang tidak menguntungkan ini, apa boleh buat dia harus mandah menerima penyelesaian damai.

Setelah mendemonstrasikan kepandaiannya, sikap Miao Tiang-hong masih merendah diri, katanya sopan santun.

"Entah bagaimana pendapat Ki-losiansing mengenai usulku tadi?"

"Tuan ini siapakah namamu yang besar?"

"Aku yang rendah Miao Tiang-hong dari Honglai!"

Karesidenan Hong-lai di Soatang adalah tempat kelahirannya. Terperanjat Ki Kian-ya, pikirnya.

"Tak heran Tan Thian-ih suka memuji dia, kiranya dia adanya."

Meski sudah tahu sengaja ia bertanya.

"Tan Tayhiap dari Kanglam apakah sahabatmu?"

"Tan Tayhiap sudi berkenalan dengan aku yang muda, belum setimpal aku menjadi sahabatnya."

Ki Kian-ya terbahak-bahak, ujarnya.

"Baik. Kupandang muka dua Tan-toako, urusan hari ini boleh dianggap selesai sampai di sini saja. Selamat bertemu di kesempatan lain."

Dia menyinggung Tan Thian-ih lebih dulu, lalu menyebut dua Tan-toako segala.

Meski dalam dua Tantoako ini termasuk Tan Tek-thay, jelas dalam persoalan ini dia membedakan tinggi dan rendahnya gengsi kedua orang ini.

Dan yang terpenting dia hanya mengatakan 'urusan hari ini boleh dianggap selesai sampai di sini', tanpa menyinggung persoalannya dengan Song Theng-siau, sudah tentu maksudnya hanya sementara tidak menarik panjang urusan, lain kali bila ketemu akan membuat perhitungan pula.

Tan Tek-thay tahu kata-kata orang hanya untuk menutupi rasa malunya saja, diam-diam hatinya amat geli.

Tapi Tan Tek-thay sendiri juga mengharap urusan tidak berbuntut panjang, maka ia pun tidak mempersulit orang lagi.

Segera katanya.

"Aku belum lagi menjadi tuan rumah, silakan Ki-losiansing mampir dulu dan minum barang satu dua cangkir arak."

Ki Kian-ya menyahut dingin.

"Terima kasih, tidak perlulah!"

Begitu berpaling ia kebutkan lengan bajunya terus tinggal pergi. Lekas Nyo Bok memburu di belakangnya. Tak tertahan Lu Su-bi tertawa cekikikan, ujarnya.

"Tua bangka ini masih pemarah juga, sungguh menggelikan. Jelas bahwa dirinya bukan tandingan, masih pura-pura memandang muka Tan Tayhiap segala. Apa sih hubungannya urusan ini dengan Tan Thian-ih?"

Tan Tek-thay pun tertawa, katanya.

"Ternyata Miao Tayhiap, aku orang tua sudah lama kagum akan ketenaranmu. Untunglah Miao Tayhiap sudi mendemonstrasikan kepandaian yang tiada taranya ini, kalau tidak mungkin sulit menggertak lari Su-hay-sin-liong si tua bangka itu."

"Tan-locianpwe menempel lapisan emas saja di mukaku, mana aku berani terima pujian semuluk itu,"

Demikian Miao Tiang-hong merendah.

Karena sudah lama menetap di Siau-kim-jwan yang belukar dan di perbatasan nan jauh, Song Theng-siau tidak tahu akan kebesaran nama Miao Tiang-hong, namun melihat Tan Tek-thay begitu memuji dan mengindahkannya, mau tidak mau ia menaruh pandangan lain pula.

Akan tetapi karena tadi dalam rumah makan Miao Tiang-hong ada membantu Toan Siu-si, mau tidak mau timbul juga rasa kurang senangnya.

Berkata Tan Tek-thay tertawa lebar.

"Kejadian memang amat kebetulan, bukan saja hari ini bertemu dengan putra almarhum sahabat karibku, mendapat kunjungan Miao-heng lagi, mari silakan kalian minum bersama didalam."

Mendadak Song Theng-siau berkata tawar.

"Miao-siansing, kepandaian yang kau pertunjukkan di dalam rumah makan tadi, betul-betul membuat aku takluk!"

Tan Tek-thay tidak tahu duduknya perkara, segera ia menyela bicara.

"Miao Tayhiap, tadi kau mendemonstrasikan kepandaian apa, sayang aku tidak bisa menyaksikan."

"Tiada apa-apa,"

Sahut Miao Tiang-hong.

"Tadi orang she Nyo itu hampir saja menyerang aku, maka kupermainkan dia dengan menyiram arak ke mukanya."

Tan Tek-thay tertawa terbahak-bahak, serunya.

"Orang she Nyo itu memang jahat, Miao-heng, permainanmu memang cukup setimpal buat dia."

Dasar cerewet segera Lu Su-bi menimbrung.

"Miao-siansing, tak nyana Tiam-jong-siang-sat kiranya juga kenalanmu."

"Sebagai kelana buana, tidak sedikit aku berkenalan dengan orang-orang berbagai golongan atau aliran. Tapi Tiam-jong-siang-sat bukanlah temanku. Tapi jikalau ada kesempatan memang ingin aku belajar kenal dan mengikat persahabatan padanya."

"Benar,"timbrung Tan Tek-thay.

"kabarnya Tiam-jong-siang-sat tokoh aneh yang bukan lurus tapi juga tidak sesat, meski sepak terjangnya tidak lurus, namun tidak punya kejahatan yang keluar batas. Terutama Ling-bin-suseng Toan Siu-si, kepandaian silat dan sastranya sama jempolan, memang seorang tokoh yang patut diajak bersahabat, kenapa kalian menyinggung dia?"

Baca Juga: Seruling Perak Sepasang Walet 10

Baca Juga: Dendam Asmara 3

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger