Eps 7 Kelana Buana - Liang Ie Shen
Baca online Kelana Buana - Liang Ie Shen
Cersil Kelana Buana - Liang Ie Shen.
Pertama karena persoalan itu ada menyangkut pribadi Beng Goan-cau, Song Theng-siau tidak enak menjelaskan kepada Tan Tek-thay, kedua, mendengar ucapan Tan Tek-thay agaknya mengagumi dan memuji Toan Siu-si malah, maka Song Theng-siau lebih tidak enak menjelaskan.
Secara diam-diam ia memberi lirikan mata kepada Lu Su-bi, supaya orang tidak banyak bicara, lalu dengan samar-samar saja ia menyahut.
"Tidak apa-apa, cuma Ling-bin-su-seng Toan Siu-si yang lopek katakan tadi kebetulan berada di sini, maka secara sambil lalu aku menanyakannya saja."
"O, dia tadi kemari, sayang aku datang terlambat. Mungkin dia sudah pergi jauh,"
Demikian ujar Tan Tek-thay menghela napas.
"Belum lagi dia sempat duduk minum arak, Ki-lothau itu sudah menerjang masuk dan hendak melabraknya,"
Demikian si pelayan memberi penjelasan.
"Untunglah Miao-siansing secara diamdiam membantu dia, baru bisa lolos dan melarikan diri."
Sengaja ia tidak menyinggung pertengkaran Song Theng-siau dengan Toan Siu-si.
"O, kiranya begitu,"
Ujar Tan Tek-thay.
"Sepak terjang Ling-bin-su-seng ini memang rada aneh, tidaklah perlu diherankan kalau dia berbuat suatu kesalahan terhadap Su-hay-sin-Iiong. Hahaha, kalau begitu, meski kalian tidak berkenalan sebelumnya, ternyata satu haluan dan sama dendam terhadap musuh!"
Karena kata-kata Tan Tek-thay ini, lebih tidak enak Song Theng-siau menyinggung hal itu. Maka dengan rada kikuk ia mengiakan seadanya.
"Ya, aku pun mengharap ada kesempatan lain bisa bertemu pula dengan dia!"
Miao Tiang-hong tersenyum, katanya.
"Song-heng dan nona Lu, seorang teman kalian justru sudah kukenal baik."
Song Theng-siau melengak, tanyanya.
"Siapa?"
"Hun Ci-lo!"
Sahut Miao Tiang-hong. Lu Su-bi berjingkrak kegirangan, serunya.
"Ternyata kau tadi mendengar percakapan kami. Memang kami sedang berusaha mencari Hun-cici, di mana dia, apa kau tahu?"
"Dia menetap di rumah Siau-hujin, bibinya!"
"Dia punya seorang bibi, aku kok belum tahu,"
Demikian ujar Song Theng-siau heran.
"Di mana dia menetap?"
"Di Tong-thing-san barat dalam wilayah Thay-ouw,"
Miao Tiang-hong menjelaskan.
"tapi apakah mereka sekarang masih di sana, aku belum tahu juga."
"Kenapa sih?"
Tanya Lu Su-bi.
"Kalau dibicarakan amat panjang..."
"Nah, kalau pembicaraan cukup panjang, marilah masuk ke dalam minum arak sambil bicara,"
Demikian ajak Tan Tek-thay.
Sementara itu si pelayan sudah membersihkan ruangan restoran yang kocar-kacir tadi, sebuah meja perjamuan segera dipersiapkan.
Maka mulailah Miao Tiang-hong menutur cara bagaimana ia bisa berkenalan dengan Hun Ci-lo, serta pengalaman Hun Ci-lo di Tong-thing-san tempo hari, kepada Song Theng-siau.
"Kabar ini kita harus secepatnya memberitahukan kepada Beng-toako,"
Demikian Lu Su-bi menye-letuk. Lalu sambungnya pula.
"Miao-siansing, kau membantu kesulitan Hun-cici, sungguh kami amat berterima kasih kepada kau. Kalau Beng-toako tahu, betapa dia akan berterima kasih pula kepada kau!"
Kata Miao Tiang-hong.
"Beng-toako yang kau maksudkan apakah Beng Goan-cau Beng Tayhiap? Dia dan Hun-lihiap..."
"Hun-cici, Beng-toako dan dia, Song-suko, adalah teman bermain sejak kecil yang tumbuh dewasa bersama,"
Lu Su-bi menerangkan.
"O, kiranya begitu,"
Ujar Miao Tiang-hong.
"Miao-siansing,"
Mendadak Song Theng-siau berkata dingin.
"Agaknya kau amat memperhatikan Hun Ci-lo."
Sebetulnya Miao Tiang-hong hendak mencari tahu hubungan Hun Ci-lo dengan Beng Goan-cau dari mulut usil Lu Su-bi.
Sungguh tidak enak rasanya mendengar kata-kata Song Theng-siau, maka ia jadi batal bertanya lebih lanjut.
Dengan tertawa getir ia berkata.
"Aku ini memang suka turut campur urusan orang lain."
"Cocok dengan aku,"
Tan Tek-thay menyela bicara.
"O, ya, bicara mengenai Beng Goan-cau, aku jadi ingin memberi tahu suatu kejadian kepada kalian. Peristiwa ini sungguh amat menggelikan!"
Lu Su-bi melenggong, katanya.
"Peristiwa menggelikan apa yang menyangkut diri Beng-toako sampai menjadi bahan tertawaan orang banyak?"
"Yang melakukan perbuatan menggelikan ini bukanlah Beng Goan-cau, namun dia terseret saja di dalam peristiwa lucu itu,"
Demikian Tan Tek-thay berkata.
"Siapakah orang itu?"
Tanya Lu Su-bi tidak sabar. Tan Tek-thay menenggak araknya dulu, katanya.
"Song-siheng, jadi kalian hendak menyusul ke Thay-san. Benar tidak?"
"Benar. Tapi mungkin sudah terlambat untuk menghadiri pertemuan besar itu."
"Memang upacara besar berdirinya Hu-siang-pay sudah berakhir, namun masih banyak tamutamu undangan yang belum lagi bubar,"
Demikian tutur Tan Tek-thay, lalu melanjutkan.
"Kejadian itu, terjadi dalam pertemuan besar itu. Yang melakukan kejadian lucu dan menggelikan adalah Nyo Bok. Aku mendengar dari seorang sahabat yang hadir dalam pertemuan di Thay-san itu, kemarin kebetulan ia mampir ke warungku ini dan memberitahukan kejadian lucu itu.
"Dengan Ki Kian-ya sebagai tulang punggungnya Nyo Bok mentang-mentang menuduh Beng Goan-cau berlaku serong dan membawa lari istrinya, akhirnya duduk perkaranya dibikin terang, baru diketahui bahwa Hun Ci-lo kini sedang berada di Tong-thing-san sebelah barat, hakikatnya tidak atau belum pernah berjumpa dengan Beng Goan-cau."
"Keburukan rumah tangga pantang menjadi buah bibir khalayak ramai, ujar-ujar ini sudah sejak jaman kuno dimengarti oleh golongan kita. Apalagi di hadapan sekian banyak enghiong yang hadir dalam pembukaan berdirinya suatu partai? Dan lagi kejadian cuma main tuduh dan meraba-raba saja seperti menubruk bayangan! Masakah di dunia ini ada laki-laki yang begitu besar rasa curiganya sampai-sampai gengsi dan nama baik tidak dihiraukan sama sekali. Coba kalian katakan, lucu tidak?"
Memang lucu dan menggelikan, tapi Song Theng-siau tidak bisa tertawa.
Kalau Tan Tek-thay menggunakan istilah menubruk angin menangkap bayangan dalam peristiwa ini adalah dia justru tahu seluk beluk kejadian ini sebenarnya.
Bahwa kejadian ini sudah terjadi, sungguh ia ikut bersedih bagi pengalaman Beng Goan-cau.
Kalau Song Theng-siau hanya sedih dan rawan, adalah berbagai perasaan sedang sama bergelora dalam rongga dada Miao Tiang-hong.
Memangnya Song Theng-siau sudah merasa sirik terhadapnya, maka ia tinggal bicara panjang lebar dengan Tan Tek-thay tanpa menghiraukan kehadiran orang.
Miao Tiang-hong pun diam saja, secangkir demi secangkir ia menenggak habis beberapa cangkir arak, lambat laun ia sudah mulai rada sinting.
Arak bergoyang di dalam cangkir, maka bayangan Hun Ci-lo pun bergoyang-goyang di dalam arak.
Pertemuan pertama kali di permukaan danau, berlatih pedang di dalam hutan kembang Bwe dan bicara dari hati ke hati di bawah rumpun bunga.
Berbagai kejadian mengenai Hun Ci-lo kembali terbayang dalam benaknya.
Tan Tek-thay adalah seorang kawakan kangouw yang sudah kenyang makan asam garam, melihat sikap Miao Tiang-hong, diam-diam merasa sesuatu firasat yang tidak enak, segera ia angkat cangkir dan berkata.
"Miao-heng, kebetulan hari ini bisa jumpa, mari kusuguh kau secangkir arak. Setelah minum arak, aku masih ada sebuah persoalan mohon penjelasanmu."
Sekali tenggak Miao Tiang-hong habiskan secangkir arak itu, katanya.
"Tan-lo-siansing ada petunjuk apa? Silakan katakan saja!"
"Sejak lama kudengar Miao-heng seorang cendekia serba pandai. Konon kabarnya, Miao-heng belum menikah, apa benar?"
Miao Tiang-hong melengak, sesaat ia jadi bingung dan tidak paham juntrungan pertanyaan orang, belum lagi ia bicara, Tan Tek-thay sudah menambahkan.
"Sebagai pendekar kelana demi kesejahteraan umat manusia umumnya, ada kalanya diri pribadi sampai melupakan masa depan dan masa rema-ja. Karena berbagai kesibukan perjuangan sampai Miao-heng tidak sempat memikirkan berumah tangga. Tapi jikalau bisa mendapatkan seorang pujaan hati yang mencocoki hati, dapat hidup sampai di hari tua, sungguh merupakan kejadian bahagia yang menyenangkan."
Miao Tiang-hong tertawa, ujarnya.
"Seorang laki-laki kelewat umur empat puluh belum menikah, lebih baik tidak kawin. Apalagi pujaan hati yang cocok segala, masakah begitu gampang bisa dicari?"
"Ah, itukan teori lapuk jaman kuno, kenapa kau jadikan pedoman hidupmu!"
"Tan-locianpwe!"
Tiba-tiba Lu Su-bi menyela bicara.
"Kau membujuk Miao-siansing menikah, apakah kau bersedia menjadi comblang?"
Adalah Song Theng-siau segera menyeletuk dingin.
"Kukira dalam relung hati Miao-siansing sejak lama sudah terisi bayangan seseorang."
Miao Tiang-hong sudah terpengaruh oleh air kata-kata yang terlalu banyak ia tenggak, maka pikirannya rada kabur, seolah-olah ia seperti tidak mendengar percakapan mereka.
Memang pikirannya sedang tenggelam menyelusuri jejak bayangan Hun Ci-lo.
Melihat orang seperti sedang memikirkan apa-apa, berkata Tan Tek-thay tertawa.
"Miao-heng, apakah kau sedang mengenang pujaan hatimu itu?"
Mendadak didengarnya derap langkah orang mendatangi, di ambang pintu masuklah seorang tamu perempuan. Si pelayan segera maju menyambut, katanya tertawa manis.
"Restoran kami sedang diadakan perbaikan, hari ini tidak buka. Harap nyonya muda suka maafkan."
Si pelayan ini sebenarnya adalah murid Tan Tek-thay, dia tahu bahwa gurunya tentu tidak suka diganggu oleh kedatangan tamu-tamu lain.
maka tanpa diberitahu, ia sudah menampik kedatangan tamu-tamu lainnya.
Semula ia pikir harus banyak putar lidah untuk memberi penjelasan, karena saat mana Tan Tek-thay dan Miao Tiang-hong beramai sedang makan minum di dalam, adalah lumrah bila tamu perempuan ini tidak terima dan mengajukan pertanyaan.
Di luar dugaan, tamu perempuan ini sekilas seperti kena ilmu sihir mendadak mematung, baru saja kakinya sebelah menginjak ambang pintu, tiba-tiba berdiri menjublek tidak bergerak.
Tamu perempuan ini mengenakan pakaian berkabung warna hitam dengan ikat sanggul kain blaco, air mukanya tidak menunjukkan sesuatu mimik perubahan.
Berdiri di ambang pintu, seakanakan sebuah patung kayu belaka.
Keruan si pelayan menjadi kaget, tanyanya segera.
"Nyonya ini, kenapakah kau?"
Belum lenyap kata-katanya, tamu perempuan itu mendadak putar tubuh terus tinggal pergi dengan langkah tergesa-gesa.
Sejak mula sampai terakhir sepatah pun ia tidak bicara atau mengeluarkan suara.
Keruan si pelayan menjadi kebingungan, setelah mendengus ia menggerundel sambil tertawa geli.
"Tamu perempuan ini kalau tidak sinting tentulah seorang bisu!"
Sebagai ahli silat, dari langkah tamu perempuan yang ringan dan gesit itu, diam-diam timbul rasa curiga Tan Tek-thay.
Baru saja ia hendak bertanya siapa di antara hadirin yang kenal perempuan itu, mendadak Miao Tiang-hong bergegas bangun, katanya.
"Aku punya urusan penting. Maaf aku tidak bisa mengiring minum arak lebih lanjut. Kelak dalam kesempatan lain biarlah aku mampir kemari lagi"
Tanpa menunggu jawaban tersipu-sipu ia memburu keluar dan menghilang di ujung jalan raya.
"Eh, apakah yang terjadi?"
Tanya Lu Su-bi kebingungan.
"Sungguh tidak punya aturan,"
Jengek Song Theng-siau tertawa dingin.
"Kulihat mungkin dia kepincut pada janda muda tadi itu."
"Song-suko,"
Tukas Lu Su-bi.
"Tidak kuijinkan kau bicara ngelantur tidak keruan!"
Merah muka Song Theng-siau, angkat cangkir ia menenggak araknya untuk menutupi sikap kikuknya, katanya.
"Lebih baik dia pergi, marilah kita minum sendiri!"
Sementara dalam hati Tan Tek-thay sedang membatin.
"Pasti dia kenal dengan tamu perempuan itu."
Sebagai angkatan tua sudah tentu ia segan membicarakan persoalan pribadi seseorang, maka ia pun angkat cangkirnya, katanya tersenyum.
"Betul! Marilah kita habiskan poci arak ini!"
Lu Su-bi juga sudah angkat cangkirnya, namun ia tidak segera meminumnya, agaknya ia sedang memikirkan sesuatu, sesaat kemudian mendadak ia berkata.
"Song-suko, perempuan tadi agaknya pemah kulihat entah di mana?"
Tadi Song Theng-siau tidak begitu memperhatikan, setelah Lu Su-bi menyinggung hal ini, setelah ia bayangkan pula, serta merta ia berseru heran, katanya.
"Tidak salah, memang seperti seorang yang kukenal, siapakah dia? Tidak benar, tidak benar."
Tan Tek-thay melenggong, tanyanya.
"Apanya yang tidak benar?"
"Song-suko, kau sangka Hun Ci-lo adanya?"
Tanya Lu Su-bi. Song Theng-siau manggut-manggut, lalu menggeleng pula, katanya.
"Memang rada mirip. Tapi seumpama Hun Ci-lo berubah menjadi abu pun bisa kukenali, kenapa bisa berubah menjadi manusia lain?"
Di luar tahunya bahwa tamu perempuan tadi memang Hun Ci-lo adanya.
Ternyata Hun Ci-Jo mengenakan kedok muka pemberian Miao Tiang-hong itu, maka hanya Miao Tiang-hong seorang saja yang tahu akan dirinya, Song Theng-siau sendiri pun menjadi pangling dan ragu-ragu akan penglihatannya.
"Theng-siau masih mirip dengan keadaan dulu, adalah aku sudah berada di persimpangan jalan, dan mengalami pahit getir kehidupan. Ai, impian lama sudah berselimut debu, hatiku laksana aliran air sungai menuju ke lautan timur takkan kembali lagi. Di pesisir danau, tamasya di alam pegunungan, kenangan kami bertiga pada masa remaja dulu, selama hidup ini mungkin tidak bisa kuresapi pula."
Persahabatan kental tidak bisa terlupakan, kenangan lama justru hanya bisa dirasakan dalam relung hati.
Karena tidak ingin jejaknya diketahui oleh Beng Goan-cau, maka Song Theng-siau pun Hun Ci-lo tidak mau menemuinya.
"Seperti anak seriti yang meninggalkan sarang, terbang menuju ke arahnya sendiri-sendiri. Yang harus dibuat senang bahwa mereka masing-masing sudah menemui tambatan hati. Goancau berwatak teguh dan pendiam, sederhana dan polos, berjodoh dengan Lim-ciang-bun itu tentu mereka bisa mendirikan sebuah hikayat besar di dalam lembaran sejarah persilatan. Theng-siau serba romantis dan perlente, sifatnya bebas tidak suka terkekang, mendapat jodoh nona Lu yang lincah dan periang itu, agaknya memang lebih setimpal,"
Begitulah Hun Ci-lo berdoa dalam hati. Lebih lanjut terbayang juga olehnya akan Miao Tiang-hong.
"Semula kuharap dia bisa menjadi sahabat Goan-cau, tak nyana kini sudah berkenalan dengan Theng-siau. Mungkin Miao Tiang-hong bakal tahu siapa aku adanya, apakah dia akan memberitahu kepada Theng-siau?"
Belum lagi pikirannya kabur dari benaknya, mendadak didengarnya seseorang berseru memanggil dirinya.
"Cilo! Ci-lo!"
Yang datang ternyata Miao Tiang-hong. Hati Hun Ci-lo sedang gundah dan risau, ia berjalan sambil menunduk kepala. Miao Tiang-hong menyusul tiba dan berjalan di sampingnya, katanya tertawa.
"Ci-lo, apa kau pun hendak menghindari aku? Kau ada ganjalan hati apa, bolehkah bagikan di antaranya supaya ikut kuresapi!!"
Meski hanya beberapa patah kata saja, namun mengandung arti yang amat mendalam, betapa besar perhatian serta betapa mendalam perasaan hatinya?
Begitu pandangan mereka bentrok, seolah-olah ada sejalur hawa hangat yang mengalir menyusup ke seluruh badannya, terasakan oleh Hun Ci-lo kehangatan dari ikatan suatu persahabatan yang kokoh mendalam.
"Betapapun aku tidak bisa mengelabui matamu,"
Akhirnya Hun Ci-lo bersuara dengan tertawa getir.
"Mana Theng-siau? Seorang diri kau mengejarku kemari, masakah mereka tidak curiga?"
"Begitu melihat kami tanpa bersuara kau lantas angkat langkah. Kukira pastilah kau tidak mau Song Theng-siau mengenali dirimu bukan? Maka aku pun tidak rriem-beritahu kepada mereka,"
Demikian Miao Tiang-hong menjelaskan sembari tertawa.
"Mengenai apakah mereka curiga, aku sih tidak peduli lagi."
Hun Ci-lo menarik napas panjang, katanya.
"Sepantasnya aku bertemu dengan Song Thengsiau, waktu kecil kami adalah sahabat karib yang sering bermain bersama..."
"Aku tahu!"
Tukas Miao Tiang-hong.
"Theng-siau sudah memberitahu kepada aku."
"Tapi setelah kupikir-pikir, ada lebih baik aku tidak menemui dia saja!"
Demikian sambung Hun Ci-lo sambil menunduk.
"Ci-lo, cara bagaimana kau bisa tiba di sini?"
Mendadak merah muka Hun Ci-lo, agaknya hendak bicara apa, cuma sulit dikatakan, entah dia mendengar tidak pertanyaan Miao Tiang-hong, sorot matanya menampilkan kekosongan hati dan segan menjawab, matanya mendelong mengawasi Miao Tiang-hong.
"Ci-lo, apa yang ingin kau utarakan, katakan saja!"
Hun Ci-lo kertak gigi, akhirnya ia berkeputusan, katanya.
"Persoalanku lambat laun pasti akan kuberi tahu kepada kau. Sekarang kutanya kau lebih dulu, apakah kau sudah ketemu dengannya?"
Melihat sikap kecewa dan sorot matanya yang merah itu, semula Miao Tiang-hong melengak, akhirnya ia menjadi paham, tanyanya.
"Maksudmu suamimu?"
Hun Ci-lo menggigit bibir, katanya dengan suara sember.
"Yang kutanyakan memang Nyo Bok! Dia sudah anggap aku bukan istrinya lagi, aku pun tidak akan menganggapnya sebagai suamiku!"-Kata-kata 'suamimu' kedengarannya rada menusuk perasaan, kekesalan hati yang selama ini mengganjal di dalam lubuk hati Hun Ci-lo seolah-olah didampar air bah dan hanyut tanpa bekas. Miao Tiang-hong terkejut, tanyanya.
"Ci-lo, apakah yang telah terjadi? Kalian..."
"Hatiku sekarang sedanjg kalut, kau jangan tanya dulu kepadaku. Jawablah dulu pertanyaanku. Aku ingin tahu apakah Nyo Bok dan Song Theng-siau sudah bersua, apa pula yang terjadi di antara mereka?"
Ternyata waktu Hun Ci-lo memasuki kota kecil ini, tepat pada saat Nyo Bok dan Ki Kian-ya lari keluar.
Untung Hun Ci-lo mengenakan kedok muka dan lekas-lekas sembunyi di pinggir jalan, Nyo Bok sendiri sedang melarikan diri dengan tergesa-gesa, agaknya tidak menaruh perhatian kepadanya.
"Cobalah kau tenangkan hatimu, biar perlahan-lahan kuberitahu kepada kau!"
Demikian ujar Miao Tiang-hong.
Begitulah mereka berjalan berjajar berendeng cukup jauh, perasaan Hun Ci-lo pun sudah tidak bergejolak seperti tadi, barulah dengan ringkas jelas Miao Tiang-hong menjelaskan apa yang terjadi di dalam rumah makan tadi.
Sesaat kemudian Hun Ci-lo menghela napas, katanya.
"Dia menghina dan mencemooh aku sih tidak menjadi soal, berani pula dia menista sahabatku, malah membual melempar kabar bohong di luaran, menonjolkan lagi Su-hay-sin-liong untuk mempersulit temanku lagi. Coba kau katakan, mana bisa kami rujuk kembali menjadi suami istri?"
"Perpisahan suami istri memang suatu hal yang menyedihkan, tapi persoalan tidak bisa dipukul sama rata. Seperti badan tumbuh sebuah bisul rasa sakit luar biasa, tapi kalau dipotong mungkin jauh lebih mending. Ci-lo, kau pun tidak perlu terlalu bersedih. Bolehkah kau tuturkan persoalanmu kepadaku?"
Hun Ci-lo menghapus air matanya, katanya.
"Aku tahu masih banyak pertanyaan yang mengganjal dalam lubuk hatimu. Baiklah, kau ingin tahu, biarlah kuberitahu!"
Sambil menahan kepiluan hati, Hun Ci-lo menceritakan kejadian masa lalu sejak masih kecil sampai kejadian yang terakhir kepada Miao Tiang-hong sejelasnya.
Ada di antara persoalan yang dulu ditanyakan oleh ibunya ia segan menjelaskan, sekarang ia beber secara terbuka di hadapan Miao Tiang-hong.
Maklumlah setelah mengalami kejadian yang menusuk perasaan dan memukul hatinya, betul-betul dia memerlukan seorang teman yang bisa betul-betul memahami keadaannya, tahu akan kesulitan dan perasaannya supaya ia bisa melampiaskan bayangan gelap yang selalu membelenggu sanubarinya.
Kira-kira setengah jam lebih barulah Hun Ci-lo selesai menceritakan duduk perkara sebenarnya.
Setelah bicara mendadak ia merasa heran sendiri, Miao Tiang-hong tidak lebih adalah sahabat yang baru saja dikenalnya, kenapa tanpa tedeng aling-aling ia sudi membuka rahasia pribadinya di hadapan orang?
Kalau dikatakan memang aneh, setelah ia melimpahkan ganjalan hatinya kepada Miao Tiang-hong, meski air matanya masih merembes keluar, perasaan hati menjadi jauh lebih lapang, tenang dan nyaman.
Berkata Miao Tiang-hong pelan-pelan.
"Ada sebuah perkataan baik berbunyi, berbagai kejadian masa lalu seumpama sudah terbenam kemarin sore. Yang sudah lalu, biarlah lewat dan tidak perlu dipikirkan."
"Tapi, tapi, ai!"
Miao Tiang-hong rada salah paham akan maksud kata-katanya ini, katanya gemetar.
"Hubungan suami istri memang sulit dalam waktu singkat diputuskan demikian saja, tapi..."
Belum habis kata-katanya, air mata Hun Ci-lo sudah tidak tertahan lagi bercucuran deras, katanya sesenggukan.
"Ada hubungan suami istri apa lagi antara aku dengan Nyo Bok! Kau tidak tahu, ai, kau tidak akan mengerti! Aku, aku... aku sudah punya... suami istri boleh putuskan hubungan, hubungan ibu beranak betapapun sulit diputuskan. Kau, apakah kau mengerti?"
Miao Tiang-hong tersentak sadar, katanya.
"Kau sedang mengandung anak Nyo Bok, hal ini sudah kuketahui. Kau tidak perlu kuatir kelak anakmu ini bakal menjadi piatu, kalau sudi dan tidak merasa direndahkan, aku, aku..."
Betapapun Miao Tiang-hong seorang yang sudah menanjak umur empat puluhan, di saat menghadapi perjodohan, sikapnya jauh lebih kikuk dan malu-malu dari anak muda umumnya, sesaat ia jadi kehilangan kontrol untuk mengucapkan kata-kata manis.
Terhadap Hun Ci-lo memang sejak lama ia sudah menaruh cinta, mimpi juga ia tidak pernah membayangkan kejadian akan berlangsung begitu cepat untuk melamarnya secara berhadapan.
Hati Hun Ci-lo berdebar seperti tambur ditabuh bertalu-talu, sementara mukanya menjadi panas, untung ia mengenakan kedok muka, bagaimana mimik wajahnya Miao Tiang-hong jadi tidak melihat.
Kejadian berlangsung teramat mendadak, dalam waktu singkat Hun Ci-lo sendiri merasa bingung dan tidak tahu bagaimana harus bersikap.
Tapi setelah dia menenangkan hati, akhirnya mendapat suatu keputusan, ia pura-pura tidak paham akan ucapan Miao Tiang-hong, katanya.
"Miao-toako, terima kasih akan perhatianmu, anak ini memang kelak aku hendak minta bantuanmu untuk mengasuh dan merawatnya, kalau kau tidak merasa direndahkan, aku ingin angkat saudara dengan kau. Bicara terus terang, aku tidak punya saudara tua atau muda, di dalam hatiku, sejak lama sudah kuanggap kau sebagai abangku."
Keruan Miao Tiang-hong melenggong, sungguh tidak nyana akan jawaban orang, sama-sama menggunakan istilah "kalau tidak direndahkan", namun maknanya justru jauh berlainan.
Hun Ci-lo menahan hati, katanya tersenyum dibuat-buat.
"Miao-toako, kenapa kau tidak bicara? Apakah kau anggap aku tidak setimpal menjadi adik perempuan angkatmu?"
"Tidak, tidak,"
Ujar Miao Tiang-hong tersipu-sipu sambil tertawa getir.
"Punya seorang adik seperti kau ini betul-betul kuharapkan pun sukar didapat."
"Baik, kita anggap tanah ini sebagai dupa, bersumpah terhadap bumi dan langit."
Setelah upacara sederhana pengangkatan persaudaraan selesai, lekas Hun Ci-lo bertanya.
"Miao-toako, kau hendak ke mana?"
"Aku sudah biasa berkelana ke mana saja, sekarang tidak punya tujuan tertentu. Kau hendak ke mana?"
"Aku hendak pulang kampung halaman menengok bibi."
"Bagaimana kalau kuantar kau pulang?"
Sejenak Hun Ci-lo tercengang, katanya.
"Ini, kukira kurang leluasa? Obrolan orang paling menakutkan..."
Kembali sikap jantan dan bebas Miao Tiang-hong, ia tertawa terbahak-bahak, katanya.
"Ci-lo, kau adalah pahlawan srikandi, masalah kau pun punya pikiran dan kekua-tiran begitu. Kita sekarang sudah menjadi saudara angkat, kenapa harus takut menghadapi obrolan orang lain? Asal kau percaya bahwa aku laki-laki sejati yang jujur, setia dan terang-terangan, omongan orang kenapa dipedulikan?"
Tengah Hun Ci-lo bimbang dan belum mengambil keputusan, mendadak didengarnya derap langkah orang berlari mendatangi.
Disusul suara percakapan pun kumandang ke dalam telinga mereka.
Kedua orang yang itu terang adalah Su-hay-sin-liong Ki Kian-ya dan Nyo Bok, suaminya!
Terdengar Ki Kian-ya sedang berkata.
"Nyo Bok, kukira hanyalah rasa curigamu saja, bukankah istrimu berada di Tong-thing-san, mana bisa mendadak'berada di daerah ini?"
Kata Nyo Bok.
"Kau orang tua mungkin tadi tidak melihat jelas, perempuan itu memang betul mirip sekali dengan Hun Ci-lo."
"Mungkin kau sudah gila memikirkan binimu? Perempuan yang kau maksudkan tadi jelas adalah perempuan desa, dalam hal apa dia mirip Hun Ci-lo? Bagaimanapun Hun Ci-lo tidak akan bisa berubah menjadi begitu rupa."
"Wajah mereka memang berlainan, tapi kami sudah menjadi suami istri delapan tahun, gayanya berjalan serta gerak-gerik yang biasa dia lakukan masa bisa mengelabui mataku. Begitu melihat dia, lantas aku merasa seolah-olah pernah kenal, bagaimana aku tidak akan curiga?"
Untunglah jarak mereka masih terpaut sebuah selat, jejak Hun Ci-lo dan Miao Tiang-hong masih belum mereka ketemukan. Diam-diam Hun Ci-lo mengeluh dalam hati.
"Kukira dia tidak ambil perhatian, ternyata dia pun mengamati sedemikian cermatnya, sejak mula sudah merasa curiga padaku."
Miao Tiang-hong menggenggam tangannya, katanya berbisik.
"Jangan gugup, sekarang kau masih segan bertengkar dengan mereka bukan?"
Hun Ci-lo sedang kebingungan tak punya pegangan lagi, ia hanya manggut-manggut saja.
"Bagus, marilah kita sembunyi sementara waktu, untunglah kalau tidak kepergok, biar aku sendiri yang menghadapi mereka."
Mereka sedang menyelusuri sebuah jalan pegunungan, kebetulan mereka bisa sembunyi ke dalam hutan.
Sementara Ki Kian-ya pun sudah melewati selat dan tiba di mana tadi mereka bicara.
Agaknya Ki Kian-ya sudah tidak sabar lagi, katanya.
"Untuk keluar dari kota kecil itu hanya terdapat dua jalan. Jalan ke timur itu kita sudah mengejar sepuluhan li tanpa menemukan jejak mereka. Sekarang jalan kedua ini pun sudah kita tempuh sepuluh li lebih, bayangan setan pun tidak kita lihat. Kukira perempuan desa itu tentu sudah pulang ke rumahnya."
"Aku tahu kau orang tua tidak percaya bahwa perempuan itu adalah Hun Ci-lo, tapi kalau aku belum melihatnya sekali lagi, rasanya kecurigaanku ini belum terlampias."
Tiba-tiba Ki Kian-ya menghela napas, katanya.
"Bukan aku suka bicara ngelantur, binimu itu sudah berubah hati, kau seret dia kembali juga tidak berguna. Kunasehatkan lepas tangan saja!"
"Ada lebih baik kutemukan dulu baru kulempar pula, rasa penasaran ini bagaimana juga harus kulampiaskan. Dan lagi keluarga Nyo kami terdapat perempuan jalang yang begitu rendah budi, membikin nama jelek dan menghina leluhur lagi, kami keluarga Nyo dan Ki sama-sama kehilangan muka juga!"
Mendengar ucapan ini, saking marah Hun Ci-lo sampai gemetar. Lekas Miao Tiang-hong berbisik di pinggir telinganya.
"Tahanlah kesabaranmu, mereka segera akan pergi jauh!"
Tak nyana, mendadak mereka menghentikan langkah. Kata Nyo Bok.
"Di sini terdapat hutan siong, bukan mustahil dia sembunyi di dalam, marilah kita geledah ke sana."
Berkata Ki Kian-ya apa boleh buat.
"Baiklah, kalau begitu besar rasa curigamu tiada halangannya aku ikut kau memeriksa ke sana!"
Berkeringat telapak tangan Hun Ci-lo, katanya.
"Miao-toako, aku tidak bisa merembet kau, biar aku sendiri keluar!"
Miao Tiang-hong menggenggam erat tangannya, katanya.
"Langit ambruk pun aku tidak takut, yang kutakuti hanyalah merusak namamu! Kau tidak boleh bergerak, biar aku saja yang keluar!"
"Namaku memangnya sudah dibikin rusak olehnya, biar aku saja yang keluar!"
Di saat mereka saling debat, sementara Nyo Bok berdua sudah sampai di pinggir hutan, mendadak terdengar seseorang berteriak dari kejauhan.
"Ki-toako, kenapa kau masih di sini, sungguh kebetulan pertemuan kita!"
Girang Miao Tiang-hong bukan main, katanya.
"Penolong sudah tiba, yang datang itu adalah Kanglam Tayhiap Tan Than-ih, dia adalah sahabat karibku, pastilah suka membantu aku!"
"Kalau begitu kau pun tidak perlu keluar, mari dengar percakapan mereka!"
Di saat mereka bicara dengan suara berbisik di dalam hutan, sementara Tan Thian-ih dengan kedua putranya sudah datang dekat.
"Ki-toako!"
Kata Tan Thian-ih.
"tempo hari kau pergi begitu tergesa-gesa, sebetulnya aku hendak ajak kau ngobrol berduaan. Tapi kebetulan hari ini bersua pula. Kalau familimu tiada urusan penting, marilah silakan ikut sekalian."
Ternyata Tan Thian-ih ayah beranak hari kedua baru turun gunung, mereka mengira Ki Kian-ya tentu sudah pergi jauh, maka begitu ketemu ia merasa di luar dugaan.
"Terima kasih akan maksud baik Tan-heng,"
Demikian Ki Kian-ya berdiplomasi.
"soalnya aku masih punya sedikit urusan, lain kesempatan saja biar aku berkunjung ke rumahmu!"
"Ki-toako, kau masih punya urusan apa lagi, bolehkah beri tahu kepadaku?"
Memangnya Ki Kian-ya tidak percaya bahwa perempuan desa itu adalah Hun Ci-lo tulen, kalau diceritakan kuatir ditertawai oleh Tan Thian-ih ayah beranak.
Sebab kedua, di dalam pertemuan besar di Thay-san hari itu, Tan Thian-ih ikut bicara membela kebaikan Beng Goan-cau, secara tidak langsung tidak percaya akan obrolan Nyo Bok.
Maka Ki Kian-ya lebih merasa tidak leluasa.
Terpaksa ia berkata.
"Bukan soal urusan penting, hanya karena keponakan besanku ini sedikit terluka, kupikir akan mengantarnya pulang ke rumah untuk berobat lebih dulu!"
"Luka Nyo-heng tidak terlalu berat bukan?"
Tanya Tan Thian-ih.
"Lebih baik ikut ke rumahku saja, di sana aku bisa tolong mengobati, daripada pulang ke rumahmu yang harus menempuh perjalanan jauh."
Nyo Bok tahu keadaan dirinya tidak mungkin bisa mengelabui mata Tan Thian-ih yang ahli, segera ia berkata.
"Terima kasih akan maksud baik Tan Tayhiap, luka-lukaku amat ringan saja"
"Kalau toh tiada urusan penting lainnya, marilah silakan kalian jalan bersama biar aku mentraktir sebagai tuan rumah. Ki-toako, aku tahu kau paling suka mengikat persahabatan, ada dua sahabat, kuharap kau bisa berkenalan dengan mereka, maka kau harus menerima undanganku ini!"
Terpaksa Ki Kian-ya bertanya.
"Siapakah kedua sahabatmu itu?"
"Yang seorang adalah Yan-kan-kay-pi Tan Tek-thay. Kukira Ki-toako masih belum kenal padanya, Tan Tek-thay bersemayam di dalam kota kecil di depan sana membuka warung arak. Kedatanganku memang hendak bertandang ke rumahnya!"
Ki Kian-ya serba kikuk dibuatnya, katanya.
"Yan-kan-kay-pi yang kau maksud ini aku sudah bertemu dengan dia."
"O, jadi kau sudah bertemu dengan dia, itu lebih baik. Mari kita ke sana bersama mencari dia ajak minum arak sepuasnya."
"Masih seorang lagi siapakah dia?"
"Yaitu Miao Tiang-hong yang pernah kukatakan kepada kau itu. Bulan yang lalu dia pergi ke Tongthing-san, katanya masih ingin berkunjung ke rumahku."
Ki Kian-ya lebih kikuk dan malu pula, katanya.
"Miao Tiang-hong yang kau maksud ini aku pun sudah pernah melihatnya."
Tan Thian-ih merasa di luar dugaan, katanya.
"Kapan dan di mana kau bertemu dia?"
"Barusan saja di warung arak Yan-kan-kay-pi yang kau katakan tadi."
Melihat air muka orang tidak enak dipandang, diam-diam Tan Thian-ih terkejut, katanya.
"Agaknya di antara kalian terjadi salah paham?"
Tak tahan meledaklah tabiat Ki Kian-ya, katanya.
"Salah paham sih tidak. Hanya kedua sahabatmu itu ada sedikit perselisihan dengan Nyo Bok."
"Wah, perselisihan apa, dapatkah pandang mukaku urusan dibikin beres saja?"
"Tidak perlu disinggung lagi, perselisihan ini sudah dilerai."
Mencampuri urusan pribadi atau persoalan keluarga orang memangnya merupakan pantangan bagi kaum persilatan, kalau Nyo Bok tidak mau menjelaskan, sudah tentu Tan Thian-ih tidak enak bertanya lebih lanjut, segera ia tertawa lebar dan katanya.
"Kalau begitu tentu bukan urusan besar yang mengua-tirkan, pepatah memang ada berkata, tidak berkelahi tidak akan kenal. Kukira kalian belum sampai saling labrak bukan? Seumpama sudah turun tangan mengerjakan kaki pun tidak menjadi soal. marilah kita kembali bersama di sana minum arak, masing-masing angkat cawan dan tertawa riang, ^anggaplah persoalan selesai. Eh, bagaimana, kalian tidak sudi memberi muka kepadaku?"
Tan Thian-ih mendapat gelar Kanglam Tayhiap, sudah tentu ia sebagai pimpinan kaum persilatan di daerah selatan ini.
bicara soal kedudukan dan tingkatan dalam bulim.
dia masih berada di atas Ki Kian-ya, bahwa dia sampai bicara demikian, tidak bisa tidak Ki Kian-ya harus memberi muka kepadanya, dalam hati ia berpikir.
"Bocah she Song itu, saat ini tentu sudah pergi. Hm, meski belum pergi, memangnya aku Su-hay-sin-liong takut berhadapan dengan dia."
Terpaksa ia menerima undangan Tan Thian-ih.
Suasana yang menegangkan akhirnya berlalu dengan tanpa terjadi suatu apa.
Setelah mendengar langkah kaki mereka cukup jauh, barulah Miao Tiang-hong menghela napas lega.
katanya tertawa.
"Ci-lo, marilah kita pun berangkat!"
Hun Ci-lo menanggalkan kedok mukanya, lalu menarik napas dalam-dalam. Melihat muka orang begitu pucat laksana kertas, Miao Tiang-hong terkejut, katanya.
"Cilo. kau kenapa?"
"Biar aku istirahat sebentar."
Ternyata baru saja ia gusar dan gemetar, rasa gusar belum lagi menurun, waktu berdiri seketika ia rasakan seluruh badan lemas lunglai. Kata Miao Tiang-hong.
"Seseorang hanya mengejar keluhuran budi dan kesucian hati, orang memfitnah, kenapa pula harus dihiraukan? Tapi, Ci-lo, kau sedang mengandung, aku jadi kuatir, marilah biar kuantar kau pulang, kita kan sudah sebagai kakak beradik, aku yang menjadi engkoh adalah jamak merawat adiknya, kenapa harus takut menghadapi kenyataan?"
Hun Ci-lo lantas meloncat bangun, katanya.
"Ucapanmu memang benar, aku tahu dan dapat mengukur akan keluhuran budiku sendiri, kenapa harus takut mendengar obrolan orang!"
Sebenarnya dia masih kuatir dan takut-takut, setelah mendengar kata-kata yang menusuk hati ini, semangatnya malah bangkit dan mengambil keputusan tegas.
Hun Ci-lo mengibas kotoran di badannya, lalu berjalan keluar hutan bersama Miao Tiang-hong, mereka menempuh perjalanan menyongsong sinar matahari, ganjalan hati yang diliputi kabut tebal seketika sirna di bawah pancaran cahaya terang.
Sejak itu mereka membahasakan kakak adik bersaudara dalam melakukan perjalanan cukup jauh.
Hubungan yang aneh ini, semula kedua pihak merasa rikuh dan risi, namun lambat laun menjadi biasa, pergaulan semakin intim dan erat sebagai kakak adik sungguhan.
Bahwa Miao Tiang-hong memang seorang kelana bebas yang berjiwa besar dan berlapang dada, namun ia pun bisa bersikap sopan santun dan mengekang segala tindak tanduk dirinya.
Hun Ci-lo semakin segan dan menaruh hormat kepadanya, lama kelamaan hati pun lapang dan longgar.
Sepanjang jalan mereka selamat tiba di Siok-ciu.
Kampung halaman Hun Ci-lo memang berada di daerah Siok-ciu yang termasuk di dalam karesidenan Sam-ho, jarak kedua tempat cuma dua hari perjalanan.
Mereka harus melewati Pak-bong-san yang masih termasuk dalam wilayah Siokciu, pegunungan ini memanjang ratusan li menuju ke timur, kampung halaman Hun Ci-lo justru terletak di ujung pegunungan sebelah sana, saat mana mereka sedang lewat dari bawah gunung.
Tengah mereka berjalan, tiba-tiba didengarnya orang berteriak.
"Wibawa menggetarkan daerah utara, kenamaan di mana-mana."
Itulah perpaduan suara empat orang, selanjutnya terdengarlah suara tembang sanjung yang tengik kedengarannya.
Waktu mereka angkat kepala, tampak jauh di depan serombongan orang terdiri dari puluhan orang sedang mendatangi, yang terdepan membawa panji besar yang disulam gambar burung elang hitam, itulah panji kebesaran dari suatu perusahaan ekspedisi.
"Ternyata rombongan dari Tin-wan Piaukiok,"
Demikian kata Miao Tiang-hong.
Tin-wan Piaukiok adalah perusahaan ekspedisi yang terbesar di lima propinsi daerah utara.
Sudah menjadi kebiasaan setiap perusahaan piaukiok, setiap melewati daerah yang mungkin bermukim kawanan brandal, empat orang pelopor yang berjalan paling depan harus tarik suara menyanyikan nama-nama piaukiok mereka.
Tapi Miao Tiang-hong rada heran, pikirnya.
"Selamanya belum pernah daerah Pak-bong-san ini bermukim kawanan brandal, apalagi dekat kota raja, merupakan daerah kekuasaan pihak Tin-wan Piaukiok lagi (Tin-wan Piaukiok berpangkalan di Peking), buat apa mereka harus menggunakan tradisi yang tengik ini?"
Waktu berpaling dilihatnya muka Hun Ci-lo berubah, lekas-lekas ia mengenakan kedok palsunya lagi.
Miao Tiang-hong pernah dengar ceriteranya bahwa bibinya ada sedikit perselisihan dengan pihak Tin-wan Piaukiok, sedang mereka tidak tahu asal-usul dirinya, toh kejadian sudah lama, kenapa takut dilihat mereka?
Demikian ia bertanya-tanya dalam hati.
Di luar tahunya bahwa kelakuan Hun Ci-lo ini lantaran ada sebab lain.
Belum sempat Miao Tiang-hong bertanya, rombongan Tin-wan Piaukiok itu sudah dekat di hadapan mereka.
Kejadian aneh segera berlangsung pula!
Tiba-tiba rombongan piaukiok itu serempak berdiri berjajar memenuhi jalan mencegat di hadapan mereka.
Keruan Miao Tiang-hong heran, tanyanya.
"Kami rakyat biasa yang menempuh perjalanan, bukan perampok. Kalian mencegat jalan agaknya melarang kami lewat, apa-apaan sih maksud kalian?"
Seorang piausu muda berwajah burik segera tampil ke depan, katanya dingin.
"Perempuan ini pernah apa dengan kau?"
Seketika berkobar amarah Miao Tiang-hong, sentaknya gusar.
"Peduli apa sama kau?"
Seorang seperti yang menjadi pemimpin mereka segera mencela.
"Seng-liong jangan kau terlaku kasar. Tuan ini bukankah Miao Tiang-hong Tayhiap?"
"Tayhiap segala aku tidak berani terima, Miao Tiang-hong memang aku yang rendah. Harap tanya apakah tuan adalah Han-cong-piauthau dari Tin-wan Piaukiok?"
Orang itu menyahut.
"Benar, akulah Han Wi-bu."
"Sudah lama aku kagum dan ingin berkenalan,"
Demikian ujar Miao Tiang-hong.
"Harap tanya Han-congpiauthau, untuk apa kau menahan kami? Kurasa selama ini belum pernah aku berbuat salah terhadap piaukiok kalian!"
"Terlalu berat kata-kata Miao Tayhiap, mana berani kami menahan kau. Aku hanya ingin tahu, nyonya ini siapakah dia sebetulnya?"
"Dia adalah adikku, memangnya kenapa?"
Laki-laki burikan itu tiba-tiba tertawa dingin, jengeknya.
"Aku tidak percaya!"
"Percaya atau tidak memangnya ada sangkut paut apa dengan kau? Apa maksudmu sebenarnya, bicara saja terus terang!"
Han Wi-bu masih bersikap hormat dan sopan, katanya tersenyum.
"Miao Tayhiap, janganlah kau salah paham, maksudnya pun baik."
Sedang Miao Tiang-hong heran, tampak laki-laki burikan itu sudah melangkah ke hadapan Hun Ci-lo, dengan laku hormat ia menjura memberi salam.
"Tecu Bun Seng-liong menghadap kepada sunio, maafkan kami tidak cepat menyambut."
Ternyata laki-laki burikan ini adalah murid terbesar Nyo Bok yang bernama Bun Seng-liong.
Semula dia pun seorang pemuda yang cakap dan ganteng.
Terjadi pada waktu Song Theng-siau membuat keributan di ruang layon Nyo Bok.
di mana ia menempur Nyo-toakoh, mendadak Bun Seng-liong membokong, maka selebar mukanya menjadi burikan karena timpukan Bwe-hoaciamnya di-sampuk balik mengenai muka sendiri.
Meski yang melukai mukanya dulu adalah Song Theng-siau, namun peristiwa itu gara-gara Hun Ci-lo, apalagi waktu ia berusaha mengusut buku pelajaran silat gurunya, pernah bertengkar dan kena ditempeleng sekali oleh sunionya, sudah tentu ia amat dendam dan sakit hati kepada Hun Cilo.
Sungguh dongkol, kaget dan marah pula Hun Ci-lo dibuatnya, ia berpikir.
"Nyo Bok sendiri tidak bisa segera mengenali aku, cara bagaimana dia bisa kenal aku?"
Keadaan sudah terlanjur, tidak mau mengakui pun tidak mungkin lagi, apalagi kalau ia buka mulut, maka kedoknya bakal terbongkar di hadapan orang banyak.
Tengah ia ragu-ragu, didengarnya Bun Seng-liong berkata pula sambil tertawa dingin.
"Kenapa sunio harus menutupi muka sendiri, apakah karena sudah lari dari keluarga Nyo dan mendapat orang baru, maka malu dilihat oleh sahabat lama? Sunio, meski kau sudah bukan keluarga Nyo lagi, tidak berani tecu tidak mengakui kau sebagai sunio. Sunio kenapa pula kau harus berbuat demikian?"
Hampir meledak dada Hun Ci-lo saking gusar oleh olok-olok orang, segera ia"
Meraup menanggalkan kedok mukanya serta dampratnya.
"Bun Seng-liong, kau menggelindinglah pergi!"
Baru saja tangannya terangkat hendak menempeleng, mendadak didengarnya sebuah suara yang amat dikenalnya membentak.
"Kau perempuan jalang masih berani main pukul, hayo hentikan!"
Tergentak sanubari Hun Ci-lo, marah kaget dan penasaran lagi, sehingga tangan gemetar.
"Plak!"
Tempelengan tangannya yang mengarah muka Bun Seng-liong jadi tergeser mengenai bawah tulang pundaknya, saking kesakitan Bun Seng-liong menjerit sambil menyemburkan darah segar dan terbanting satu tombak jauhnya.
Untung tulang pundaknya tidak sampai remuk, kalau tidak dapatlah dibayangkan akibatnya.
Laki-laki yang memaki Hun Ci-lo itu segera tampil kc hadapan rombongan orang banyak, seringainya dingin.
"Kau punya kedok muka, aku pun punya kedok muka, memangnya kau kira bisa mengelabui aku? Hm, hm, menangkap perjinahan harus sepasang, menangkap maling harus ada buktinya, kini bukti keduanya sudah kepergok olehku, masih bilang apa pula kau. Cuma yang di luar dugaanku, ternyata gendakmu bukan Beng Goan-cau, sebaliknya adalah Miao Tiang-hong ini. Perempuan rendah yang menjual cinta murah, sungguh memalukan!"
Orang yang mencaci maki ini bukan lain adalah suami Hun Ci-lo, Nyo Bok adanya.
Ternyata setelah pencariannya hari itu gagal menemukan Hun Ci-lo, hatinya semakin uringuringan dan selalu mengganjal dalam hati.
Su-hay-sin-liong Ki Kian-ya diajak Tan Thian-ih pergi tamasya, apalagi dia sebagai tetua bulim yang punya kedudukan dan gengsi, masakah harus turut campur segala urusan tetek bengek, ia tinggalkan Nyo Bok seorang diri untuk mencari Hun Ci-lo.
Apa boleh buat, mendadak Nyo Bok teringat pada muridnya terbesar Bun Seng-liong yang bekerja di Tin-wan Piaukiok menjadi piausu, hubungannya dengan Han-cong-piauthau pun cukup mendalam, maka langsung ia menuju ke kota raja, pikirnya hendak minta bantuan pihak Tin-wan Piaukiok untuk ikut menyelidiki.
Di pihak lain, Han Wi-bu juga memerlukan bantuan Nyo Bok, kedua memang dia pun hendak melakukan suatu pekerjaan besar yang menggetarkan seluruh bulim, supaya nama dan gengsinya menjulang semakin tinggi.
Alasan ketiga karena dia dengar bahwa bibi Hun Ci-lo yang melindunginya itu adalah istri musuh besarnya, maka dengan senang hati segera ia setuju untuk membantu.
Bahwa mereka sudah tahu bahwa, Hun Ci-lo akan kembali ke kampung halamannya di Sam-ho sementara daerah Pak-bong-san adalah jalan satu-satunya yang harus mereka tempuh, maka Han Wi-bu lantas membawa beberapa piausu yang paling diandalkan, bersama Nyo Bok dan muridnya, menyusul datang untuk mencegat jalan.
Betul juga kebetulan Hun Ci-lo dan Miao Tiang-hong yang sedang melakukan perjalanan kepergok oleh mereka.
Sebelumnya Nyo Bok sudah mengatur dengan rencana yang cukup sempurna, pertama-tama ia suruh Bun Seng-liong muncul untuk memaksa Hun Ci-lo untuk menunjukkan muka aslinya, barulah sebagai suami yang resmi Nyo Bok keluar menangkap sepasang laki perempuan yang berbuat jina ini.
Saking marah hampir saja Hun Ci-lo jatuh pingsan, untung ia masih kuasa mengendalikan diri, makinya dengan suara gemetar.
"Kau... kau memfitnah semena-mena..."
"Fitnah. He, he, gendakmu ini berdiri dengan gamblang di hadapanmu,"
Demikian damprat Nyo Bok sembari mendesak maju terus mencengkeram ke pundak Hun Ci-lo. Miao Tiang-hong menguatirkan Hun Ci-lo yang sedang hamil, segera ia membentak keras.
"Nyo Bok, mulut anjingmu tidak akan tumbuh gading, berani kau mengganggu usik seujung rambutnya, aku tidak akan memberi ampun kepada kau."
"Dunia ini belum pernah kulihat gendak yang begini garang, tapi kelakuanmu ini lebih menunjukkan kedok aslimu, para saudara bolehlah menjadi saksi, meski aku hari ini binasa di tangan seorang laki perempuan jina ini, betapapun aku akan menuntut keadilan supaya kalian tidak melepas peradilan umum."
Sembari bicara, lagi-lagi tangannya membalik mencengkeram pula kepada Hun Ci-lo. Gusar Miao Tiang-hong tidak tertahankan, bentaknya.
"Baik buruk suatu perkara akan tiba suatu ketika bisa dibikin terang. Persetan dengan segala tuduhan dan ocehan umum, memangnya aku takut!"
Dengan sengit segera ia menubruk maju, belum lagi ia menerjang tiba, angin pukulannya sudah membuat Nyo Bok tergentak mundur satu tindak.
Mendadak terasa angin berkesiur keras di belakangnya, bercekat hati Miao Tiang-hong, ia tahu bahwa tenaga pukulan menyerang dari belakang ini tidaklah rendah.
Sebetulnya dia tidak ingin mengambil jiwa Nyo Bok, begitu memukul mundur orang, sebat sekali ia membalikkan tangan berusaha menandingi musuh di sebelah belakang.
"Blang"
Kedua telapak tangan beradu dengan kekerasan menerbitkan ledakan yang keras laksana guntur menggelegar.
Badan Miao Tiang-hong tergeliat dan melompat ke samping tiga langkah, waktu ia berpaling, tampak yang menyerang dirinya ini ternyata adalah cong-piauthau Tin-wan Piaukiok, Han Wi-bu adanya.
Han Wi-bu membentak marah.
"Kau sudah menculik istri orang masih berani main gagahgagahan, meski aku orang she Han berkepandaian rendah, demi keadilan dan kebenaran, aku harus turut campur menyelesaikannya. Keadaan Hun Ci-lo sedang terancam bahaya, mana Miao Tiang-hong punya minat main debat padanya? Lekas ia hanya mendengus dan menggerung sekali, jengeknya.
"Kau memainkan anjing berjoget kera, terserah kepada kau!"
Maksud perkataan Miao Tiang-hong bahwa kau suka campur urusan orang lain.
Mendengar orang mengolok dengan logat perkataan orang daerah utara, seketika murka Han Wi-bu dibuatnya.
Maklumlah selamanya dia anggap dirinya sebagai pimpinan kaum persilatan di daerah lima propinsi utara, kini orang menyamakan dirinya sebagai anjing, siapa yang tidak akan marah.
Damprat Han Wi-bu.
"Berani membuka mulut kotor menghina aku!"
Belum lenyap suaranya terdengar suara gedebukan yang keras.
Ternyata dua piausu anak buahnya tampil ke muka berusaha merintangi Miao Tiang-hong, celaka mereka kena tendangan berantai Miao Tiang-hong dan jungkir balik.
Miao Tiang-hong segera berteriak.
"Para saudara dari piaukiok, urusan ini tiada sangkut paut dengan kalian, kalau kalian ingin campur tangan, jangan salahkan aku tidak main sungkan lagi!"
Bicara lambat kejadian berlangsung amat cepatnya.
Di saat Miao Tiang-hong menerjang ke arah Nyo Bok, Han Wi-bu pun sudah memburu tiba dan melontarkan pukulan mengarah punggungnya.
Hati Miao Tiang-hong bertambah gugup, pikirnya.
"Kalau toh dia tidak tahu diuntung, kalau tidak diberi sedikit hajaran, agaknya dia belum kapok."
Sebat sekali ia menggeser langkah dan memasang kuda-kuda membalikkan badan, badannya berdiri melengkung seperti gendewa.
sementara kedua telapak tangan terdorong ke depan dengan kecepatan seperti anak panah.
Telapak tangan kiri menggunakan tenaga positif sementara tangan kanan menggunakan tenaga negatif, dua jalur tenaga yang berlawanan saling kerja sama dan bertalian.
Tenaga pukulan Han Wi-bu yang cukup keras itu seketika kena dipatahkan tanpa berbekas, malah mendadak ia sendiri merasa tenaga pukulan lawan laksana gugur gunung menerpa balik ke arah dirinya.
Meski Han Wi-bu membekal lwekang tinggi dan dalam, seketika ia rasakan dadanya sesak seperti ditindih batu ribuan kati.
tanpa kuasa, ia tergeliat mundur'dan berputar satu lingkaran.
Terdengar Han Wi bu menggerung sekali, belum lagi kakinya berdiri tegak, begitu berkisar, tahu-tahu ia sudah menubruk maju pula dari samping Miao Tiang-hong.
Bentaknya dengan suara serak.
"Miao Tiang-hong, biar aku adu jiwa dengan kau!"
Semula Miao Tiang-hong menyangka pukulannya dapat menyengkelit roboh lawan, tak nyana secepat itu lawan malah sudah balas menyerang pula, keruan bercekat hatinya.
"Memang tidak malu dia sebagai cong-piauthau yang kenamaan di daerah utara, agaknya aku sulit terhindar dari pertempuran dahsyat dan sengit yang mengadu jiwa!"
Badan Han Wi-bu kelihatannya miring dan hampir terpeleset dengan gerak langkah yang sempoyongan, bahwasanya dia sedang mengembangkan gerak tubuh Cui-"pat-sian yang amat sulit diyakinkan.
Han Wi-bu sudah menjajal kepandaiannya sejati, kini ia sudah siap siaga, maka pukulannya dimainkan begitu rupa, isi kosongnya sulit diraba dan diduga, mencelat sana tiba-tiba geser ke sini, dalam sekejap tampak delapan penjuru sekelilingnya hanya bayangan yang berkelebatan dengan cepatnya.
Bila Miao Tiang-hong berlaku sedikit lena, pastilah akan tertipu.
Dalam pada itu, kedua piausu yang ditendang mencelat oleh Miao Tiang-hong, cepat-cepat melejit bangun dengan gaya Ikan Gabus Mencelat, terasa badan tidak begitu sakit, mereka jadi sama keheranan dan berpandangan lucu.
Ternyata tenaga tendangan Miao Tiang-hong menggunakan tenaga yang diperhitungkan, memang sengaja dia tidak mau melukai mereka.
Akan tetapi sudah sekian lama para piausu Tin-wan Piaukiok malang melintang di kalangan kangouw, mengandal kebesaran dan wibawa Tin-wan Piaukiok yang menggetarkan lima daerah propinsi utara, biasanya mereka suka bersikap semena-mena, siapa saja yang tidak memberi muka kepada mereka, kapan pula pernah mendapat kerugian dan malu begitu rupa?
Oleh karena itu, meski kedua piausu ini tidak terluka, para piausu dan pegawai yang lain sudah sama gusar dan berkaok-kaok, serempak mereka merubung maju.
Miao Tiang-hong pun tidak gentar, jengeknya tertawa dingin.
"Piaukiok kalian memang benarbenar menggetarkan daerah utara, setiap kerabat kalian memang sama jempolan, semua gagah dan disegani!"
Secara tidak langsung ia mengolok Tin-wan Piaukiok ternyata sudi main keroyok untuk menjaga nama baik sendiri. Merah padam muka Han Wi-bu, bentaknya.
"Menumpas sampah persilatan macam tampangmu ini, perlu apa menuruti aturan kangouw segala!"
Sebagai tokoh kosen dalam permainan Ngo-hengkun, di mulut bicara, sementara gerak-gerik kaki tangannya sedikit pun tidak menjadi lambat, kepalan melayang, telapak tangan menampar, jari menotok atau mencengkeram, semuanya merangsak dengan hebat dan gencar.
Belum lagi jurus di depan ditarik balik, tipu pukulan di belakang sudah menyusul tiba, beruntun menggunakan lima variasi penyerangan yang amat rumit, mengandung gerak perlawanan dari inti ilmu pukulan tingkat tinggi, begitu permainan dikembangkan, gencar dan rapat laksana aliran sungai besar yang berbondong-bondong dengan gulungan ombak yang deras.
Sebaliknya Miao Tiang-hong bertahan sekokoh gunung, sedikit pun tidak bergeming oleh damparan gelombang pasang, di dalam perlawanannya ia pun mengembangkan ilmu Kim-na-jiu-hoat untuk mematahkan setiap rangsakan lawan.
Beruntun Han Wi-bu melancarkan lima puluh jurus serangan membadai, sedikit pun tidak mengambil keuntungan apa-apa.
Malah dua piausu yang mendesak maju terlalu dekat, kena diremas dengan ilmu Hun-kin-joh-kut oleh Miao Tiang-hong, terdengar suara "Krak-rak!"
Dua kali, hampir dalam waktu yang bersamaan, kedua lengan mereka kena dipelintir patah.
Sekonyong-konyong angin tajam berkesiur dari kedua samping, sebuah golok dan satu tombak membacok dan menusuk dari kiri kanan, kedua serangan ini pun tiba hampir dalam waktu yang sama pula.
Lekas Miao Tiang-hong kibaskan lengan bajunya menyam-puk miring ujung tombak, tepat sekali membentur bacokan golok yang menyambar turun.
Namun tak urung lengan baju tertusuk berlubang oleh ujung tombak lawan, sampai kulitnya pun tergores luka berdarah.
Latihan Thi-siu-kang (lengan baju besi) Miao Tiang-hong sudah hampir mencapai titik kesempurnaan, dia sangka kibasan lengan bajunya amat tepat dan kebetulan bisa mengambil keuntungan, paling tidak tenaga kibasannya tadi sudah bisa menggentak lepas golok dan tombak kedua musuhnya.
Tak nyana meski ia berhasil memunahkan serangan musuh, tak urung diri sendiri kena cedera pula.
Keruan mencelos hatinya.
Ternyata musuh yang menyerang menggunakan golok dan tombak ini adalah dua pembantu Han Wi-bu yang paling diandalkan, yang bersenjata tombak bernama Ji Cu-kah, yang menggunakan golok besar bernama Ciok Tiong, mereka sama tokoh-tokoh bulim yang sudah lama kenamaan juga.
Terdengar Han Wi-bu berteriak.
"Ciu, Lo, Teng dan Ong para saudara, kalian mundur dan berjaga di luar kalangan."
Maklum jalan kecil di pegunungan ini kalau terlalu banyak orang berjubel, gerak-gerik melancarkan serangan menjadi kurang leluasa.
Setelah Han Wi-bu menyuruh keempat piausu pembantu yang berkepandaian rada rendah berpencar, rangsakannya, semakin ganas dan beringas.
Miao Tiang-hong pun kertak gigi bertempur dengan sengit, bagaimana juga ia berusaha, selama itu selalu gagal lolos dari kepungan musuh.
Di sebelah sini Hun Ci-lo terhindar dari beberapa cengkeraman Nyo Bok yang gencar, hatinya luluh, gusar dan gegetun, pikirnya.
"Begitu kasar dia terhadapku, kenapa aku harus ingat hubungan suami istri segala."
Akhirnya ia nekad dan berkeputusan, sebat sekali, mendadak ia berputar dan bergeser, lengannya tertekuk sementara jari-jarinya menotok ke arah dada Nyo Bok.
Gerak permainannya ini dinamakan Menekuk Gendewa Memanah Rajawali, itulah salah satu jurus khusus untuk mengambil jiwa musuh dari ajaran Sip-hun-kiamhoat warisan keluarganya.
Ternyata meski ia amat benci dan dendam kepada suami, namun hubungan suami istri selama delapan tahun sedikit banyak masih melekat dan sulit dilupakan begitu saja.
Maka setelah ia sendiri terdesak dan kerepotan oleh kekejian Nyo Bok barulah ia berkeputusan dan bertindak tegas.
Akan tetapi meski sudah bertekad tidak mengenal kasihan, di saat ujung jarinya hampir mengenai Hian-ki-hiat di dada Nyo Bok, bagaimana juga ia tidak tega menurunkan tangan kejinya.
Karena Hian-ki-hiat merupakan jalan darah yang mematikan, kalau sampai kena tertotok dengan Jong-jiu-huat, seandainya tidak binasa, paling ringan menjadi cacat seumur hidup.
Karena tidak tega, sedapat mungkin ia, menarik balik tenaga totokannya, katanya dengan suara gemetar.
"Nyo Bok! Jangan kau menghina orang keterlaluan!"
Tak nyana belum lagi ia selesai bicara, telapak tangan Nyo Bok malah menyelonong ke atas dan menabok ke batok kepalanya.
Walau sedang menghadapi kerubutan tiga lawan tangguh, namun panca indra Miao Tiang-hong masih cukup tajam, keruan ia amat terkejut, mendadak ia menghardik.
"Nyo Bok, berani kau melukai dia, kubunuh kau!"
Hardikannya ini menggunakan Say-cu-hiong-kang dari aliran Hudbun, seketika kuping semua orang mendengung pekak.
Demikian juga hati Nyo Bok tergetar, meski tabokan tangannya masih dilancarkan, namun tenaganya sudah jauh lebih kendor, lekas Hun Ci-lo menggunakan Hong-tiam-thau berkelit.
Bukan karena dia takut akan ancaman Miao Tiang-hong, adalah lantaran hatinya menjadi tergetar oleh hardikan Miao Tiang-hong yang keras itu.
Ilmu Say-cu-hiong-kang mengutamakan melukai tenaga murni, karena hardikan keras bagai guntur mengguntur ini, anak buah Han Wi-bu sama tergetar sempoyongan dengan kuping seperti pecah, tenaga menjadi lemas lunglai, tanpa sadar mereka menyurut mundur semua.
Tapi lwekang Han Wi-bu cukup tangguh, sedikit pun ia tidak terpengaruh dan tidak perlu kuatir pada Say-cu-hiong-kang, keadaan ini menjadi kesempatan baik bagi dia.
"wut"
Kepalannya menghantam dengan telak mengenai Miao Tiang-hong.
Walaupun pukulan ini mengenai sasarannya, Han Wi-bu sendiri pun tidak mengambil keuntungan.
Miao Tiang-hong ada melatih ilmu Hou-te-sin-kang, maka kepalan Han Wi-bu seperti mengenai setumpukan kapas, sekonyong-konyong segu-lung tenaga memantul menerjang balik, sehingga ia tcrgentak mundur beberapa langkah, kagetnya bukan kepalang.
"Hari ini kami main keroyok, kalau tidak bisa menang, kebesaran nama dan gengsi Tin-wan Piaukiok bakal kubikin ludes di tanganku!"
Di luar tahunya, kalau dia terkejut, Miao Tiang-hong sendiri pun mengeluh.
Lwekangnya hanya lebih unggul sedikit dibanding Han Wi-bu, di saat ia mengerahkan tenaga melancarkan Say-cuhiong-kang, punggungnya kena digebuk sekali, terasa isi perut seperti jungkir balik, untung Han Wi-bu tidak tahu akan keadaannya, begitu tergentak mundur tidak lekas-lekas menubruk maju pula, maka Miao Tiang-hong berkesempatan ganti napas dan menyalurkan hawa murni tiga putaran, melancarkan jalan darah dan menghimpun semangat.
Sedikit banyak ia memperingan kemungkinan dirinya terluka dalam yang amat parah.
Bagaimana juga Han Wi-bu adalah seorang ahli silat, melihat Miao Tiang-hong tidak merangsak maju lebih lanjut, mendapat kesempatan yang baik ini, segera ia sadar.
"Jadi dia sudah terluka dalam?" -Meski dugaannya tidak tepat, namun kelemahan Miao Tiang-hong sudah kelihatan. Segera ia bergelak tertawa bentaknya.
"Miao Tiang-hong, kau sendiri sudah cukup payah, menyerah kalah sajalah!"
Di tengah gelak tawanya, ia menyerbu lagi bersama anak buahnya. Terhindar dari tabokan yang mematikan, seketika Hun Ci-lo berjingkrak gusar, makinya sambil kertak gigi.
"Bagus ya, Nyo Bok, aku tidak ingin melukaimu kau, sebaliknya kau hendak bunuh aku!"
"Sret, sret, sret!"
Beruntun ia, lancarkan tiga serangan pedang berantai, kali ini ia sudah tidak memberi kelonggaran lagi.
Memang kepandaian sejati Hun Ci-lo masih lebih tinggi dari Nyo Bok, sementara, Nyo Bok mendapat sandaran teman-teman dari Tin-wan Piaukiok baru berani melabrak bininya, tak nyana Han Wi-bu dan para piausu yang berkepandaian tinggi semua terlibat pertempuran sengit melawan Miao Tiang-hong, empat yang lain berjaga di empat penjuru, tiada seorang pun yang berani meluruk kemari membantu dirinya.
Mencelos dingin hati Nyo Bok, ia berpikir.
"Celaka dua belas keadaanku sekarang!"
Jika minta ampun dan damai saja, ke mana pula ia harus menaruh mukanya. Kejadian justru berlangsung amat cepat.
"Sret"
Lagi-lagi pedang Hun Ci-lo sudah menusuk tiba. Lekas Nyo Bok jumpalitan mundur ke belakang, teriaknya.
"Ci-lo, am..."
Belum lagi kata-kata 'ampun' habis diucapkan, dilihatnya gerak langkah Hun Ci-lo sempoyongan hampir roboh, maka luputlah tusukannya.
Kalau tusukan ini mengenai sasarannya, meski jiwa tidak binasa, paling ringan tak bisa bangun beberapa bulan lamanya.
Beruntung jiwanya selamat, seluruh badan Nyo Bok basah kuyup oleh keringat dingin.
Sementara dalam hati ia menjadi keheranan.
"Mengandal kepandaiannya, tusukannya tadi tidak patut tergeser miring, apakah mungkin dia mengingat hubungan suami istri selama delapan tahun?"
Dalam pada itu, Bun Seng-liong sudah merangkak bangun, dan napas pun tidak memburu lagi, hati menjadi tenang kembali.
Tadi ia' hanya terkena tamparan Hun Ci-lo, meski terbanting jatuh, namun tidak terluka apa-apa, melihat gurunya lambat laun menyerang di atas angin, segera bangkit pula keberaniannya, sembari menenteng Ngoheng-lun, senjata andalannya, segera ia menjengek dingin.
"Hun Ci-lo, dalam matamu sudah tiada suhu, maka jangan kau salahkan aku, dalam pandanganku pun tiada kau sebagai sunio lagi!"
Nyo Bok mendengus, katanya menanggapi.
"Betul! Seharusnya sejak tadi kau katakan."
Perut Hun Ci-lo terasa sakit, melihat guru dan murid maju bersama mengeroyok dirinya, penasaran hatinya betul-betul sukar ter-lampias, pikirnya.
"Tidak menjadi soal aku mati, apa dosa anak dalam kandunganku, sehingga dia harus menjadi korban keganasan ayahnya! Ai, hubungan suami istri aku tidak perdulikan lagi, jiwa anak dalam kandungan ini harus aku pertahankan!"
Pinggiran dan Ngo-heng-lun bergigi tajam dan merupakan semacam alat senjata yang liehay dan aneh.
Di saat Hun Ci-lo terkurung oleh ribuan pukulan Nyo Bok, secara diam-diam Bun Seng liong menyelundup ke belakangnya terus menghantamkan kedua alat senjata bundarnya ke punggung orang.
"Kau bocah keparat ini juga berani mengganas, menghina aku!"
Damprat Hun Ci-lo seraya berkelebat menghindar, berbareng pedangnya membalik kc belakang menusuk ke dada orang. Maka terdengarlah suara "peletak!"
Dua gigi dari Ngo-heng-lun Bun Seng-liong gumpil.
Tapi Cengkong-kiam di tangan Hun Ci-lo juga sedikit rusak, tusukannya tidak mengenai Bun Seng-liong.
Sementara itu Nyo Bok sudah melihat tenaga Hun Ci-lo semakin lemah, heran dan senang pula hatinya, bentaknya.
"Hun Ci-lo, terang tidak akan tercapai kau mencelakai suamimu, kalau kau bisa menyesal dan bertobat suka ikut pulang denganku, mungkin aku masih bisa memberi ampun dan menerima kau kembali."
Hun Ci-lo mengalami pukulan batin yang begitu hebat, pikirannya sudah kabur dan urat syarafnya sudah membeku, mendengar kata orang ia tidak menjadi marah, cuma tertawa dingin.
"Nyo Bok, yang perlu menyesal dan bertobat kukira bukan aku sebaliknya adalah kau!"
"Apa maksud perkataanmu?"
Damprat Nyo Bok berjingkrak gusar, kalau wajahnya menunjukkan kemarahan, sementara hati sudah mulai jerih.
"Mungkinkah dia sudah tahu persekongkolanku dengan Ciok Tio-ki?"
Karena ingat hal ini seketika timbul niatnya membunuh.
Hun Ci-lo sendiri juga sudah nekad dan menempurnya mati-matian dengan sengit.
Akan tetapi rasa sakit dalam perutnya semakin hebat, lambat laun tenaga semakin lemas dan semangatnya pun luluh.
Di bawah kerubutan Han Wi-bu dan para piausunya, Miao Tiang-hong tidak mampu menjebol keluar, dilihatnya keadaan Hun Ci-lo sudah amat berbahaya, mungkin jiwanya sudah tak mungkin diselamatkan lagi, keruan ia menjadi murka dan memaki.
"Harimau tidak makan anaknya sendiri. Nyo Bok, kau, masihkah kau terhitung manusia?"
Karena berbicara sehingga perhatian terpencar, sigap sekali Han Wi-bu menyerang dengan jurus Liong-hing-cwan-ciang "Blang"
Lagi-lagi Miao Tiang-hong terkena pukulannya.
Meski ini ilmu pelindung badannya masih bekerja, tenaga yang memantul balik sudah jauh lemah, badan Han Wi-bu paling-paling cuma tergeliat berdiri tegak pula.
Mendengar ucapan itu, tak urung Nyo Bok tertegun, batinnya.
"Harimau ganas tidak makan anaknya sendiri, apakah maksudnya?"
Sebaliknya mendengar kata-kata Miao Tiang-hong yang terdahulu, kontan badan Hun Ci-lo gemetar hebat, air mukanya pun menjadi pucat pias seperti kertas.
Untung saat mana Nyo Bok sendiri sedang menjublek, sehingga tidak menggunakan kesempatan baik ini melabraknya dengan kekerasan pula.
"Apa maksud perkataan Miao Tiang-hong?"
Nyo Bok sedang menimang-nimang dalam hati, sekilas ia melirik, kebetulan dilihatnya sorot mata Hun Ci-lo yang tajam dingin laksana dua ujung pisau menghunjam ke uluhatinya, terkandung rasa kemarahan dan rasa "kebencian yang meluapluap.
Serta merta Nyo Bok bergidik dibuatnya, terasa hatinya menjadi hampa dan kosong.
Nyo Bok sendiri bukanlah tidak punya perasaan cinta kasih terhadap istri yang menikah selama delapan tahun, meski waktu dia menikah dengan Hun Ci-lo punya maksud-maksud tertentu, meski ia tahu bahwa istrinya sebetulnya mencintai laki-laki lain, namun hidup berdampingan selama delapan tahun sebagai suami istri, bagaimana juga meninggalkan kenangan manis dan hangat dalam lubuk hatinya, sudah tentu dalam manis dan kehangatan itu juga terkandung pahit getir.
Antara cinta dan benci kadang kala hanya terpaut sebuah garis melulu, tapi ada kalanya pada titik permulaannya justru sudah salah langkah, dan langkah-langkah selanjutnya semakin porak poranda.
Dan pada akhirnya semakin terjeblos dalam dan sukar menolong diri sendiri.
Semula Nyo Bok mengagulkan diri sebagai suami yang lapang dada berjiwa besar dan patriotik, menurut perhitungan semula dalam jangka waktu yang pendek tentu ia akan berhasil menambat hati istrinya!
Siapa tahu yang ia peroleh hanyalah rasa hormat dan segan sang istri terhadapnya.
Sudah tentu dari rasa hormat simpatik bisa tumbuh rasa cinta, cuma sayangnya, di saat-saat yang menentukarirli mana perubahan jiwa Hun Ci-lo sudah mulai berkembang, hampir saja ia, memperoleh tambatan hati istrinya, diketahui olehnya bahwa Beng Goan-cau masih hidup dalam dunia fana ini.
Betapapun baik dan liehay penyamarannya tidak akan selamanya langgeng dan abadi.
Apalagi rasa cinta Nyo Bok terhadap istrinya masih terkandung maksud-maksud tertentu yang banyak ragamnya.
Rasa cemburu atau jelus sudah mengelabui kesadaran jiwanya, sehingga Nyo Bok yang biasanya amat mengagulkan kepintarannya berbuat keteledoran.
Dengan berbuat pura-pura mati ia hendak mencoba kesetiaan istrinya, sehingga langkah-langkahnya yang salah semakin tenggelam dan tidak mungkin tertolong lagi, sedemikian bejat jiwanya sehingga ia mengatur tipu daya hendak mencelakai Beng Goan-cau.
Akhirnya titik kelemahan ini tergenggam di tangan Ciok Tio-ki sehingga ia terima tunduk menjadi anteknya yang setia.
Menghadapi sorot pandangan mata Hun Ci-lo yang memilukan dan mengandung kemarahan lagi, seketika timbul juga rasa menyesal dan tobat dalam relung hati Nyo Bok.
"Mana boleh aku begini kasar terhadap Ci-lo, apakah betul-betul aku akan membunuhnya? Meski selama ini ia tidak pernah mencintai aku, sedikitnya ia pernah menjadi istriku yang sayang dan amat prihatin terhadapku,"
Demikian batin Nyo Bok.
Saat-saat ia terlongong seolah-olah ia mendengar seringai tawa Ciok Tio-ki yang sadis, terbayang olehnya akibat bila dirinya berani membangkang perintahnya, mau tidak mau Nyo Bok bergidik seram!
Sekarang baru ia insyaf bahwa dirinya bak umpama boneka yang telah tergenggam di tangan Ciok Tio-ki, bagaimana juga lenyap keberaniannya untuk melawan kehendak orang.
"Hm, bicara soal harimau tidak makan anaknya sendiri? Kau orang she Miao masa tahu bahwa Nyo Hoa memang bukan putra kandungku, apalagi Nyo Hoa kini sudah terjatuh ke tangan Tiam-jong-siang-sat, hal itu kan bukan kesalahanku."
Nyo Bok menyangka yang dikatakan anak oleh Miao Tiang-hong adalah Nyo Hoa, mana dia tahu bahwa anak yang terkandung di dalam perut Hun Ci-lo, justru betul-betul adalah anak kandungnya yang tulen.
Di samping takut menghadapi ancaman Ciok Tio-ki hatinya pun terbakar karena jelus, sekilas ia kertak gigi dan pikiran pun menjadi gelap, dengan nekad ia berkepu-tusan untuk menghadapi istrinya dengan kekerasan dan keji.
"Bagus ya, kau bunuh aku saja!"
Dengan kalap Hun Ci-lo segera menerjang dengan kekerasan, demi melindungi anak dalam kandungannya, terpaksa ia harus membuat perhitungan secara nekad untuk melarikan diri dalam keadaan yang berbahaya.
Di mana sinar pedang berkelebat disertai pcrcikan cahaya merah, tahu-tahu bahu Bun Sengliong sudah tergores luka panjang lima dim, darah menyembur deras bagai air leding, sementara Ngo-heng-lun di tangannya pun mendadak menghantam keras ke punggung Hun Ci-lo.
"Bangsat, kau tidak akan bisa lolos!"
Nyo Bok mendadak maju menghadang, berbareng sikutnya bekerja, ia tumbuk Bun Seng-liong terpental jatuh terguling.
Tanpa menghiraukan muridnya, lengan kanan lekas terjulur keluar terus mencengkeram ke dada Hun Ci-lo, serangan yang digunakan adalah Kim-na-jiu-hoat yang teramat liehay, namun meski ia melancarkan serangan liehay, tak urung hatinya berpikir.
"Hidup lebih baik dari yang mati, asal aku bisa memunahkan ilmu silatnya, aku akan kuasa mengawasi dia, supaya tidak lari lagi! Hm, meski dia membenciku seumur hidup, tidak menjadi soal bagiku. Jauh lebih baik daripada dia ikut Beng Goan-cau atau orang she Miao ini!"-Kiranya bila ia tidak mendorong Bun Seng-liong, jiwanya pasti melayang di ujung pedang Hun Ci-lo, sementara Hun Ci-lo sendiri yang gerak geriknya sudah tidak begitu lincah pastilah termakan juga oleh Ngo-heng-lun Bun Seng-liong, paling ringan luka parah. Akan tetapi, walau perhitungan Nyo Bok cukup matang dan kelihatannya bisa berjalan lancar, kejadian selanjutnya justru benar-benar di luar dugaannya. Tepat di saat kelima jari-jarinya hampir saja mencengkeram tulang pundak Hun Ci-lo, terdengarlah suara mendengung yang keras menyambar datang, sebuah tameng laksana piring terbang mendadak terbang melesat mengarah batok kepalanya. Keruan Nyo Bok kaget bukan kepalang, tidak sempat lagi melukai istrinya, lekas ia merebahkan badan terus menggelundung, tameng terbang itu hampir saja menyerempet di atas kepalanya. Ternyata dalam perlawanannya menghadapi keroyokan musuh-musuhnya, Miao Tiang-hong masih sempat memperhatikan keadaan Hun Ci-lo yang gawat, saking gugupnya, entah darimana tiba-tiba ia memperoleh kekuatan, kebetulan saat mana seorang piausu menggunakan tameng besinya yang dimiringkan membacok ke punggungnya. Piausu ini adalah seorang tokoh yang kenamaan dengan julukan Thiat-pi-jiu, tameng besinya itu pun seberat tiga puluh kati, sekali bacokannya paling tidak mengandung ribuan kati tenaganya. Sebat sekali Miao Tiang-hong membalikkan tangan meraih ke belakang, telak sekali ia cengkeram pergelangan tangan orang, ia gunakan tenaga keras melawan kekerasan pula, sehingga telapak tangan pihak sana tergetar pecah berdarah, sudah tentu tameng berat itu tidak kuasa dipegangnya lagi dan terebut oleh Miao Tiang-hong. Tanpa ayal Miao Tiang-hong lantas melontarkan tameng besi itu ke arah Nyo Bok, meski dia bukan seorang ahli dalam bidang senjata rahasia, cara timpukannya ternyata cukup liehay dan hebat benar. Sudah tentu piausu yang bergelar Thiat-pi-jiu itu bukan tandingan Miao Tiang-hong, walau telapak tangan Miao Tiang-hong sendiri terlecet, namun luka-luka yang diderita Thiat-pi-jiu jauh lebih berat. Bukan saja seluruh telapak tangannya pecah, malah "krak"
Menyusul pergelangan tangannya pun remuk, mulut pun menguak memuntahkan darah segar.
Seorang piausu lainnya bergegas menariknya ke samping, namun ia sudah lemas dan tak mampu bergerak, mungkin jiwanya sulit diselamatkan lagi.
Han Wi-bu menjadi murka, bentaknya.
"Bagus ya, kau bunuh piausuku, aku pun harus menebus nyawanya!"
Saking marah Miao Tiang-hong malah bergelak tertawa, serunya.
"Orang she Miao hanya punya satu nyawa, kalau kalian mampu silakan kalian renggut!"
Mendadak ia menghardik, kedua telapak tangan berkelebat menari naik turun, dua piausu lainnya kena tergetar oleh perbawa sambaraan angin pukulannya, sehingga jatuh terguling-guling seperti bola sejauh tiga tombak.
Namun cepat sekali Han Wi-bu sudah melompat menubruk, dari tengah udara ia menukik turun, tangan kiri menggaris sebuah lingkaran, sementara kelima jari tangan kanan laksana kaitan mencengkeram tulang pundak.
Jurus kombinasi ini cukup liehay dan dinamakan Burung Elang Menyerang Mangsa di Tengah Udara, itulah ilmu tunggal Kim-na-jiu-hoat Han Wi-bu yang paling liehay dan telengas.
"Blang"
Telapak tangan kedua pihak saling bentrok mengeluarkan suara ledakan yang dahsyat, kontan Han Wi-bu mencelat terbang jumpalitan di tengah udara, waktu kakinya menyentuh tanah badannya laksana dahan pohon liu yang lemah gemulai tertiup angin tergeliat sempoyongan, tampak ujung mulutnya melelehkan darah segar.
Miao Tiang-hong maju setapak, dengan suara serak ia membentak.
"Han-congpiauthau, apakah kau masih ingin mengadu jiwa?"
Melihat gelagat yang tidak menguntungkan, Ji Cu-kah menyangka Miao Tiang-hong hendak melabrak maju mengambil keuntungan melukai jiwa Han-cong-piauthaunya, sebat sekali ia menggeser membundar, sementara ujung tombaknya bergerak melintang dari kiri ke kanan "Serrr"
Ia menusuk ke Ih-khi-hiat di bawah ketiak Miao Tiang-hong, di saat ujung tombaknya sudah hampir mengenai sasarannya barulah ia bersuara me-bentak.
"Bangsat jangan temberang!"
Jurus serangan ini memaksa lawan menyelamatkan diri sendiri lebih dulu sebelum melukai lawan.
Bicara menurut teori ilmu silat umumnya, sebetulnya Miao Tiang-hong tidak perlu membuang tenaga melayani rangsakan ini, tak nyana Miao Tiang-hong sudah nekad untuk gugur bersama musuh, mendadak ia menggunakan jurus-jurus berbahaya, badan sedikit mendak ke bawah menghindarkan diri dari tusukan tombak berbareng tangannya membalik tepat sekali memegang batang tombak, sembari membentak.
"Lepaskan!"
Ia menggen-tak dengan kerasj di bawah gencetan dua tenaga raksasa.
"krak"
Batang tombak itu patah menjadi dua potong, potongan sisa di tangan Ji Cu-kah membalik menghantam tulang rusuknya sehingga patah dua, dengan memuntahkan darah segar ia terjengkang roboh dengan kaki tangan menghadap langit.
Ujung mulut Miao Tiang-hong sendiri juga melelehkan darah segar, muka pucat pasi, jelas ia pun terkena luka dalam yang cukup parah.
Ternyata setelah mengadu kekuatan dengan Han Wi-bu, meski Han Wi-bu sendiri mendapat luka dalam yang tidak ringan, dia sendiri pun mendapat luka dalam yang lumayan, kini harus mengadu kekuatan pula dengan Ji Cu-kah, luka-luka dalamnya jadi lebih parah dari Han Wi-bu.
Sebagai cong-piauthau nomor satu di seluruh negeri, sudah tentu Han Wi-bu amat penasaran dikalahkan oleh Miao Tiang-hong, lekas ia telan kembali darah yang sudah menerjang naik ke tenggo-rokan, bentaknya.
"Benar, memang aku hendak adu jiwa dengan kau."
Miao Tiang-hong tertawa panjang dengan nada getir, sahutnya.
"Baik sekali, marilah gugur bersama."
Sembari bicara potongan tombak di tangannya segera ia timpukan sebagai senjata rahasia.
Tapi yang diarah bukan Han Wi-bu, timpukan ditujukan kepada salah seorang pembantunya yang paling diandalkan yaitu Ciok Tiong, karena saat mana Ciok Tiong sedang menarikan golok besarnya menyerbu ke arah dirinya.
"Trang!"
Potongan tombak itu membentur golok besar lawan, kontan golok itu terpental jatuh sementara luncuran kutungan tombak itu masih cukup keras menghantam ke depan.
"Krak"
Telak sekali menerjang ke dada Ciok Tiong.
Meski Ciok Tiong ada melatih ilmu weduk yang kebal, tak urung karena terjangan tenaga dahsyat ini, kutungan tombak itu sampai terkutung pula menjadi dua, namun tulang rusuk Ciok Tiong sekaligus patah empat potong.
Luka-lukanya jauh lebih berat dari Ji Cu-kah.
Di waktu yang amat singkat itu, Han Wi-bu sudah menubruk tiba pula dari tengah udara.
Lekas Miao Tiang-hong mendorongkan kedua tangannya ke atas, seketika terdengar suara gedebukan, kedua orang sama terjungkal jatuh.
Namun sigap sekali Miao Tiang-hong segera melejit bangun, sementara Han Wi-bu masih terguling-guling di tanah.
"Uwahh!"
Tak tertahan sekumur darah segar tumpah dari mulut Miao Tiang-hong, matanya mendelik bundar dan membara, bentaknya bengis.
"Siapa lagi yang ingin adu jiwa mari majulah!"
Kali ini Han Wi-bu membawa tujuh piausu pembantu, empat di antaranya yang paling diandalkan sudah luka-luka, sisa tiga piausu yang lain, dua di antaranya pada babak pertama tadi sudah merasakan tendangan Miao Tiang-hong yang liehay, setelah disuruh menjaga di luar kalangan oleh Han Wi-bu, mana berani tampil ke muka pula?
Seorang piausu pula yang berkepandaian cukup lumayan segera memburu kepada kawan-kawannya untuk memberi pertolongan.
Sebetulnya asal mereka cukup punya nyali dan maju melabrak Miao Tiang-hong, tentu Miao Tiang-hong tidak akan mampu melarikan diri.
Ternyata setelah mengalami adu pukulan tiga kali dengan Han Wi-bu, luka-luka yang dideritanya paling-paling hanya sedikit lebih ringan dibanding Han Wi-bu, meski ia kuasa bertahan sekuat tenaga, lama kelamaan tenaganya akan terkuras habis dalam waktu singkat.
Soalnya pihak musuh laksana burung yang ciut nyalinya kena gertak anak panah, nyali sudah pecah, mana berani maju lebih lanjut?
Lekas Miao Tiang-hong meng-empos semangat dan mengatur napas, sembari menerjang ke sebelah sana ia membentak.
"Nyo Bok, kau masih berani melukai orang?"
Nyo Bok tidak tahu bahwa Miao Tiang-hong sudah terluka dalam yang cukup parah, melihat orang meluruk kepada dirinya ia jadi gugup dan ketakutan sendiri, lekas ia melompat mundur hendak melarikan diri, namun Miao Tiang-hong keburu mengejar tiba, ia melancarkan tipu Siaukim-na-jiu yang khusus untuk berkelahi dalam jarak dekat, sekali cengkeram ia meremas tulang pundak Nyo Bok.
Untunglah Hun Ci-lo lekas berteriak.
"Ampunilah jiwanya!"
Tulang pundak merupakan tulang terpenting di dalam badan manusia, kalau sampai diremas remuk, meski kepandaian silat setinggi langit pun tidak berguna lagi, ia akan menjadi cacat seumur hidup.
Akan tetapi bagi setiap insan persilatan begitu tempat-tempat penting terancam bahaya secara reflek tentu akan mengadakan reaksi.
Di saat tenaga perlawanan Nyo Bok hampir melepaskan cengkeraman tangannya, lekas Miao Tiang-hong menggelincir telapak tangannya mendorongnya ke depan, jengeknya dingin.
"Ci-lo sudah cukup bajik dan bijaksana terhadap kelakuanmu yang amat buruk, namun kau masih berusaha mencelakainya, apakah kau tidak menyesal dan bertobat?"
Sudah tentu Nyo Bok tidak kuasa berdiri lagi, setelah berputar dua lingkaran akhirnya ia tersungkur jatuh.
Dalam serangan ini bila Miao Tiang-hong menggunakan Jiong-jiu-hoat untuk meremas tulang pundak Nyo Bok, dia sendiri tentu juga akan terluka pula oleh tenaga perlawanan orang yang cukup kuat pula.
Tapi bukan karena Miao Tiang-hong sayang pada badan sendiri dan takut terluka, adalah dia pandang muka dan mendengar permintaan Hun Ci-lo barulah dia mau melepas orang cuma dengan mendorongnya jatuh saja.
Dilihatnya muka Hun Ci-lo pucat pasi, badan pun tergeliat hampir roboh.
Miao Tiang-hong amat kaget, lekas ia maju memapahnya, katanya.
"Kenapa kau?"
"Miao-toako kau pun terluka, bukan? Aku tidak bisa membuat kau terlibat semakin parah dalam persoalan ini, mohon bantuanmu saja pergi memberi kabar kepada bibiku, aku mungkin tidak kuasa jalan lagi!"
Ternyata keadaannya seumpama pelita yang sudah kekeringan minyak, tapi sekuat tenaga ia berusaha bertahan.
Kini setelah hati merasa lega, terasa perutnya sakit bukan main, kedua kaki sudah tidak bisa bergerak saking lemas.
"Jangan bicara yang begitu mematahkan semangat, kau tidak bisa jalan apa halangannya? Masakah sampai detik ini kau masih membeda-bedakan hubungan laki perempuan segala? Bagaimana mereka suka berpikir, biarkan saja!"
Membalik tubuh ia angkat tubuh Ci-lo terus dibopongnya di punggungnya dan tinggal pergi dengan langkah lebar.
Pertempuran ini makan waktu setengah harian, cuaca sudah mendekati magrib.
Perlahan-lahan Nyo Bok merangkak bangun, dengan mendelong ia awasi bayangan punggung mereka menghilang ditelan tabir malam yang mulai mendatang, tanpa sadar matanya berlinang air mata, berdiri mematung, tiada seorang pun yang tahu apa yang sedang dipikirkan.
"Suhu,"
Kata Bun Seng-liong.
"Kekalahan dalam pertempuran adalah jamak, permusuhan Miao Tiang-hong dengan piaukiok kami sudah gamblang takkan bisa dicuci bersih. Kita pun tidak usah kuatir tiada kesempatan untuk membalas dendam kepadanya!"
Mata Nyo Bok melek tapi seperti tidak melihat, kupingnya masih tajam namun seperti tidak mendengar, sesaat kemudian "barulah mulutnya menggumam.
"Membalas dendam, ai, membalas dendam?"
Selamanya Bun Seng-liong belum pernah melihat kelakuan suhunya yang linglung begini, keruan ia terkejut, lekas ia berseru.
"Suhu, memangnya kau sudah gila?"
Dengan membopong Hun Ci-lo, Miao Tiang-hong berlari pesat bagai terbang, terasa darah dalam dadanya bergolak, kontan kepala terasa pening dan pandangan rada-rada gelap berkunangkunang, sedapat mungkin ia kerahkan hawa murni mengempos semangat bertahan, pikirnya.
"Untung tadi tidak mengadu kekerasan pula dengan Nyo Bok, kalau tidak mungkin sekarang aku sudah tidak kuat bertahan lagi. Aku mati tidak menjadi soal. Lalu kepada siapa Hun Ci-lo harus menyandarkan diri? Kubunuh Nyo Bok pun tidak akan setimpal membayar kerugian besar ini!"
Untunglah orang-orang piaukiok tiada yang berani mengejar, setelah Miao Tiang-hong lari naik ke atas Pak-bong-san, memasuki sebuah hutan lebat, pelan-pelan ia menurunkan Hun Ci-lo, baru sekarang ia mendapat kesempatan menarik napas dan istirahat.
"Miao toako, demi kami ibu beranak, kau menempuh bahaya, aku, sungguh aku tidak tahu cara bagaimana untuk membalas kebaikanmu. Beruntung sekarang kita bisa mendapat kesempatan istirahat dengan aman, kau mengasolah sebentar, biar aku mencari barang makanan!"
Duduk bersimpuh di tanah, Hun Ci-lo memandang punggung Miao Tiang-hong, pikirannya mulai timbul tenggelam lagi, di samping girang ia pun amat berduka, la senang karena mendapat seorang sahabat sejati, duka mengingat nasibnya yang jelek.
"Miao-toako, aku tahu perasaanmu tarhadapku, sayang hatiku sudah lama mati, aku sudah membuat Goan-cau sengsara, aku tidak boleh membuat kau pun menderita,"
Berpikir sampai di sini tanpa kuasa Hun Ci-lo bergidik dan menarik napas dalam.
Entah berapa lama ia layangkan pikirannya, tampak Miao Tiang-hong mendatangi sambil menjinjing seekor kelinci dan kantong air, langkah kakinya lamban dan tidak bertenaga, setapak demi setapak menghampiri ke hadapannya.
Dilihatnya badan Miao Tiang-hong basah kuyup seperti ayam tercebur sungai, pakaiannya pun berlepotan lumpur, kotor sekali, keruan ia kaget dan bertanya.
"Miao-toako, kenapa keadaanmu jadi begitu kotor?"
Miao Tiang-hong tertawa getir, sahutnya.
"Waktu mengambil air kurang hati-hati dan terpeleset ke dalam selokan. Cuma terluka lecet saja, tidak menjadi soal."
Lalu ia menambahkan.
"Aku hanya menangkap seekor kelinci, untuk menangkap yang lain sudah tidak kuasa mengejarnya lagi."
Ternyata tenaga Miao Tiang-hong sudah terkuras habis-habisan, untuk menangkap seekor kelinci saja dia harus memeras keringat dan jatuh bangun, apalagi harus mengambil air, semangatnya sudah tidak kuat bertahan lagi.
Perih hati Hun Ci-lo, katanya.
"Kau mengaso saja, biar aku yang membuat api untuk memanggang kelinci."
"Nanti dulu, keadaanmu juga kurang baik, nih aku masih punya sebutir Siau-hoan-tan, kau telanlah lebih dulu!"
"Kau sendiri? Kulihat luka-lukamu pun tidak ringan bukan?"
"Aku sudah menelannya sebutir."
Sebetulnya Siau-hoan-tan tinggal sebutir saja, bahwa terpaksa dia harus menipu Hun Ci-lo, supaya orang tak usah kuatir dan bersedih bagi dirinya. Setelah menelan Siau-hoan-tan berkata Hun Ci-lo.
"Budi kebaikan ini sulitlah aku membalasnya, kelak bila anak dalam kandunganku ini bisa lahir dengan selamat, apakah kau sudi menjadi ayah angkatnya?"
"Legakan hatimu,"
Ujar Miao Tiang-hong tertawa getir.
"Selama hidup ini aku tidak akan punya anak istri, pasti aku pandang anakmu sebagai anak kandungku sendiri."
Muka pucat Hun Ci-lo seketika mengulum senyum manis, laksana kembang kecil yang mekar dan basah oleh air embun.
Itulah senyum yang tulus dan limpahan dari relung hatinya yang paling dalam, namun ia sendiri tidak tahu apakah ia harus senang atau bersedih.
Sesaat kemudian baru ia bersuara dengan sendu.
"Miao-toako, perkataanmu membuat hatiku amat lega. Em, cuaca sudah gelap, sudah tiba saatnya makan malam. Biar kubuat api dan memanggang kelinci, kau istirahatlah. Ai, Miao-toako, hari ini kau betul-betul terlalu letih!"
Hati Miao Tiang-hong menjadi syur dan hangat, baru sekarang ia betul-betul menikmati keprihatinan Hun Ci-lo kepada dirinya, serta terasakan perasaan lain yang melebihi keprihatinan itu!
Tapi perasaan macam apakah itu?
Dalam hati ia maklum, namun tidak kuasa melimpahkan dengan kata-kata.
Sudah tentu bukan perasaan persahabatan antar sesama kawan, persaudaraan kakak beradik pun rasanya lain ragamnya, tapi jelas itu pun bukan rasa asmara.
Hun Ci-lo masuk ke hutan mengambil kayu bakar, tabir malam semakin gelap, biji mata Miao Tiang-hong berputar mengikuti langkah Hun Ci-lo, lama kelamaan bayangan punggungnya tinggal remang-remang.
Segera Miao Tiang-hong duduk bersamadi mengerahkan tenaga mumi memulihkan kesehatan, tanpa sadar ia terlelap di dalam latihannya.
Entah berapa lama kemudian, waktu Miao Tiang-hong membuka mata,, dilihatnya Hun Ci-lo sedang memegangi kelinci panggang yang sudah matang berdiri di hadapannya sambil mengulum senyum!
"Wah, kelincinya sudah matang, kenapa tidak kau makan lebih dulu?"
Demikian katanya.
"Barusan keadaanmu membuat aku amat kaget, kulihat di atas kepalamu mengepul uap putih yang bergulung-gulung, aku tahu kau sedang berlatih mencapai titik puncak yang amat genting, sayang kepandaianku tidak becus tidak bisa membantu kau seperlunya."
"Untunglah saat-saat genting sudah berlalu, coba lihat apakah semangatku sekarang tidak jauh lebih baik?"
"Miao-toako, sungguh aku kagum akan lwekangmu yang tinggi, air mukamu memang jauh lebih segar, tapi kau perlu segera mengisi perutmu!"
"Sekarang aku tidak merasa lapar malah!"
"Mana boleh tidak makan? Kalau tidak makan masakah kau punya tenaga sampai ke rumah bibiku. Apakah aku harus ganti membopong kau? Ai, yang kuharapkan lekaslah tiba di rumah bibi, di sana bisa hidup tentram beberapa lamanya."
Miao Tiang-hong tertawa geli mendengar kata-katanya, maka kelinci segera dibagi dua dan mereka makan bersama.
Mereka sangka setelah berada di rumah bibi Hun Ci-lo, paling tidak bisa mengecap kehidupan aman dan tentram sementara waktu, siapa tahu kejadian justru seolah-olah memang seperti sengaja mencari gara-gara kepada mereka.
Hari kedua pagi-pagi benar mereka sudah berangkat, karena dalam pertempuran kemarin mereka banyak menguras tenaga murni sehingga terluka dalam, maka sekarang mereka tidak berani mengembangkan ginkang, maka setelah hari menjelang magrib barulah mereka memasuki kampung halaman Hun Ci-lo di karesidenan Sam-ho.
Kampung halaman ditinggalkan puluhan tahun, mengandal ingatannya yang samar-samar, dengan susah payah akhirnya mereka menemukan tempat tinggal bibinya, saat mana sudah lewat kentongan ketiga.
Tengah malam buta rata mengetuk pintu, kedatangan mereka yang mendadak ini, membuat bibinya kaget dan kegirangan pula.
"E, eh, kenapa kalian menjadi begini rupa?"
"Amat panjang bila diceritakan, di mana piaumoay?"
Siau-hujin menarik muka, katanya gegetun.
"Kukira kau kemari hendak memberitahu kabar berita mereka, memangnya kau pun tidak ketemu mereka?"
Kaget Hun Ci-lo dibuatnya, katanya.
"Kenapa, bukankah mereka ikut kau pulang kemari?"
Siau-hujin menghela napas, ujarnya.
"Marilah bicara di dalam rumah saja!"
Setelah duduk, berkata Siau-hujin lebih lanjut.
"Apakah kau masih ingat, di waktu masih ada di Tong-thing-san, bukankah mereka merengek-rengek minta ke Thay-san? Setelah kumaki barulah mereka tidak membuatku marah, kukira mereka sudah membatalkan niatnya semula, siapa nyana di tengah jalan secara sembunyi-sembunyi mereka lari tanpa pamit. Hari itu kami menginap di sebuah penginapan di kota kecil, mereka minta ijin mau beli barang di pasar, siapa tahu begitu pergi tidak kembali lagi."
Hun Ci-lo kaget, katanya.
"Di Thay-san aku tidak melihat mereka."
"Kau bertemu dengan paman Cau tidak?"
"Paman Cau sih aku ada melihat, cuma aku tidak bisa bicara dengan dia, terpaksa aku titip memberi kabar ini kepada seorang teman yang dapat dipercaya."
Siau-hujin menghela napas, ujarnya.
"Kehilangan kedua budak liar itu sih tidak menjadi soal, kalau Ci-hwi si budak aleman itu mengalami apa-apa, cara bagaimana aku harus berhadapan dengan ayahnya?"
Terpaksa Hun Ci-lo menghibur bibinya, katanya.
"Mereka bukan anak-anak kecil lagi, kepandaian pun cukup lumayan. Kukira tidak akan mengalami sesuatu."
"Semogalah begitu,"
Ujar Siau-hujin dongkol dan hambar.
"Untunglah kalian datang, kalau dua hari terlambat, mungkin kalian hanya melihat surat yang kutinggalkan."
"Bibi hendak pindah ke mana lagi?"
"Tempat tinggalku ini hanya satu setengah hari perjalanan dari kota raja, meski kali ini aku pulang secara sembunyi-sembunyi, tapi kabarnya pihak Tin-wan piaukiok sudah mendapat kabar tentang pulangku ini. Tapi bukan aku takut pada mereka, aku ingin mencari putriku sembari menghindari kesulitan juga."
Tak terasa Miao Tiang-hong mendengus, katanya.
"Lagi-lagi persoalan dengan Tin-wan piaukiok, ingin rasanya aku menyapu kecongkakan dan wibawa mereka."
"Lho, masakah kau pun ada permusuhan dengan Tin-wan piaukiok?"
Tanya Siau-hujin heran.
"Ah, Ci-lo, sebetulnya apakah yang kalian alami, sampai keadaanmu begini rupa, silakan sekarang ceritakan kepadaku!"
Hun Ci-lo melirik kepada Miao Tiang-hong, lalu katanya.
"Biarlah Miao-toako istirahat lebih dulu, soal ini perlahan-lahan bisa kubicarakan dengan kau."
"Benar,"
Ujar Siau-hujin.
"aku sampai lupa menyambut tamu."
Waktu Siau-hujin ajak keponakan perempuannya ini memasuki kamar tidur, tampak belum lagi Hun Ci-lo bicara, air mata sudah berlinang di kelopak matanya. Berkata Siau-hujin lemah lembut.
"Ci-lo, kenapa kau, bicaralah kepada bibi supaya perasaanmu tidak tertekan!"
Tak nyana apa yang diuraikan oleh Hun Ci-lo justru jauh di luar dugaannya.
Sebetulnya dia sudah menyiapkan serangkaian kata-kata untuk menghibur dan membujuk keponakannya ini, baru setengah ia mendengar cerita orang, hatinya sudah terkesiap!
"Apa, jadi Nyo Bok masih hidup dalam dunia fana ini?
Kenapa tidak sejak dulu kau katakan kepada aku?"
"Benar, memang Nyo Bok masih hidup! Tapi di dalam hatiku sudah sejak dulu dia mati."
"Ai, kalau kau tidak mau merangkap jodoh dengan Miao Tiang-hong, kenapa tidak sudi rujuk kembali dengan Nyo Bok? Bukankah dulu pernah kau katakan, bahwasanya Nyo Bok tidak tahu bahwa dia sudah meninggalkan bibit di dalam perutmu? Meski salah paham kali ini di antara kalian cukup besar, namun hubungan suami istri bila satu pihak mau mengalah, keadaan yang serba salah ini pastilah dapat dibikin jelas."
"Bibi, kau belum paham seluruhnya, ini, ini bukan salah paham!"
"Memangnya kenapa?"
Hun Ci-lo serba sulit untuk menjelaskan, bahwa pertikaiannya dengan Nyo Bok memang amat rumit, soal Beng Goan-cau ia tidak suka menyinggungnya pula, ia pun tidak mau mengungkitungkit hubungan rahasia Nyo Bok dan Ciok Tio-ki, dan persoalan-persoalan ini justru menjadi pukulan yang berat dari persoalan pribadinya dengan Nyo Bok.
Cuma ia mengharap akan datang suatu ketika Nyo Bok bakal insyaf, supaya tidak menjerumuskan nama baik Nyo Bok selama hidup.
Tengah mereka bercakap-cakap di dalam kamar tidur itulah, sekonyong-konyong didengarnya di luar rumah percakapan orang dan derap langkah kaki.
Siau-hujin kaget, cepat ia mengenakan pakaian dan berdiri, katanya.
"Tengah malam di kampung sepi di pegunungan, dari mana datangnya orang sebegitu banyak, mungkin musuh-musuh kita sudah meluruk tiba."
Belum habis ia bicara, terdengar dua suara berkata bersama.
"Ki Kian-ya Han Wi-bu mohon bertemu dengan Siau-hujin!"
Mereka sama menggunakan ilmu mengirim gelombang suara jarak jauh, di kesunyian malam berkumandang masuk ke kamar tidur Siau-hujin, kedengarannya sih tidak begitu keras, namun setiap patah kata diucapkan amat jelas.
Waktu Siau-hujin membuka pintu rumahnya, tampak di luar pintu berjajar empat orang, kecuali Ki Kian-ya dan Han Wi-bu, Siau-hujin kenal satu di antaranya adalah "sute Han Wi-bu bernama Pek Bu-cu, seorang lagi adalah laki-laki bermuka kuning seperti berpenyakitan yang tidak ia kenal Segera Siau-hujin menyapa dengan dingin.
"Ki-losiansing dan Han-congpiauthau malam-malam sudi berkunjung ke gubukku yang reyot ini, sungguh membuat tempat sepi dan kotor ini menjadi semarak terang dan membanggakan keluarga kami. Sayang suamiku sudah lama wafat sehingga tidak bisa menyambut para tamu agung. Tapi meski aku seorang perempuan tua, kiranya masih kuat memikul tanggung jawab ini, soal permusuhan dengan suamiku dulu, silakan mencari perhitungan kepadaku saja!"
Ki Kian-ya bergelak tertawa, katanya.
"Siau-toaso, jangan kau salah paham. Persoalan dulu aku sendiri amat menyesal, sayang aku tidak bisa sembahyang mohon maaf ke pusara Siau-toako. Akan tetapi Han-lopiauthau sendiri pun sudah wafat, permusuhan di antara kalian pun tidak perlu ditarik panjang!"
Han Wi-bu segera turut bicara.
"Sejak lama memang aku punya maksud demikian, secara tidak langsung aku sudah mohon bantuan Cau-locianpwe untuk menyampaikan keinginan hatiku ini kepada Siau-hujin, kuharap Siau-hujin dapat maklum adanya."
Siau-hujin insyaf pihak lawan teramat kuat, betapapun rasa dendam dan penderitaan selama ini sulit terlampias, terpaksa harus tahan sabar berapa lama lagi. Maka katanya tawar.
"Jadi kalian tidak ingin mencari kesulitanku, memang untuk apa kalian meluruk kemari?"
"Harap tanya,"
Kata Han Wi-bu.
"Apakah Miao Tiang-hong dan Hun Ci-lo berada di sini?"
Ki Kian-ya cepat menambahkan.
"Aku tahu Hun Ci-lo adalah keponakanmu, namun dia pun sudah menjadi marga keluarga Nyo, dan aku pun ada ikatan dengan keluarga Nyo, maka aku mewakili mereka untuk membuat penyelesaian dengan dia, harap suruhlah dia keluar."
Han Wi-bu menambahkan lagi.
"Persoalan Miao Tiang-hong dengan Tin-wan Piaukiok kami juga perlu segera diselesaikan, cuma soal ini tiada sangkut paut dengan Siau-Hujin, jadi kau tidak usah salah paham. Asal kau tidak turut campur, sekali-kali kami tidak akan membuat kesulitan kepada kau."
Siau-hujin tahu bahwa urusan tidak akan dapat mengelabui mereka, tengah ia ragu-ragu cara bagaimana harus menjawab, Hun Ci-lo dan Miao Tiang-hong justru sudah beranjak keluar.
"Paman Ki, pertikaianku dengan keluarga Nyo masakah berani membikin capai kau orang tua, suruh saja Nyo Bok menyelesaikan hal ini dengan aku!"
Tidak melihat Nyo Bok di antara mereka, diam-diam hatinya heran. Sementara Miao Tiang-hong bergelak tertawa, serunya.
"Han-congpiauthau, sungguh cepat kau menyusul kemari! Memang benar ucapanmu persoalan kita tiada sangkut pautnya dengan Siauhujin, aku orang she Miao berani bertindak berani bertanggung jawab, kalian membuat perhitungan padaku saja!"
Sembari bicara matanya melirik ke arah tiga orang lain dari Tin-wan Piaukiok, melihat laki-laki bermuka kuning seperti berpenyakitan itu, diam-diam terkesiap hatinya.
Ternyata orang ini adalah seorang tokoh dari kalangan sesat yang cukup terkenal, bernama Ouwyang Kian, ilmu Lui-sin-ciang yang dia latih teramat jahat dan ganas, soalnya sepuluh tahun yang lalu dia pernah dikalahkan oleh Kaypang Pangcu Tiong Tiang-thong, maka jarang ia muncul di kalangan kangouw.
Siau-hujin tidak kenal padanya sebaliknya Miao Tiang-hong pernah bertemu muka sekali dengan orang.
Mau tidak mau berpikir Miao Tiang-hang.
"Dari nada Han Wi-bu yang kuat dan bersuara keras, agaknya lwekangnya sudah pulih enam tujuh bagian, meski jumlah orang yang meluruk datang di pihak mereka rada sedikit, namun semua rata-rata tokoh kelas satu. Hanya Ouwyang Kian seorang saja sudah melampaui sepuluh piausu dari Tin-wan Piaukiok. Pertempuran malam ini agaknya jauh lebih berbahaya dan sulit dapat menang."
Dasar ia berwatak tinggi hati, meski tahu pihak musuh teramat tangguh, namun sedikit pun ia tidak menunjukkan rasa jeri, jengeknya dingin.
"Han-congpiauthau sungguh terlalu tinggi menilai aku orang she Miao, bukan saja mengundang Su-hay-sin-liong Ki Kian-ya Ki-locianpwe, malah mengundang Ouwyang Siansing ini turun gunung juga, agaknya aku orang she Miao dapat berkenalan sekaligus dengan dua tokoh kosen kenamaan, sungguh amat beruntung dan harus dibuat girang!"
Berkerut alis Ki Kian-ya, baru saja ia hendak bicara, Ouwyang Kian sudah tertawa lebar, katanya.
"Miao-heng, sepuluh tahun sudah tidak bertemu, tidak kecil kau angkat nama di kalangan kangouw, namun beritanya agaknya kurang tepat!"
Miao Tiang-hong melirikkan mata, tanyanya dingin.
"Apa maksudmu?"
"Dari nada bicaramu, agaknya kau menyangka aku datang untuk membantu Han Wi-bu untuk menghadapi kau?"
"Memangnya kau bukan membantu dia?"
"Kau salah! Ketahuilah kedudukanku sekarang adalah wakil cong-piauthau dari Tin-wan Piaukiok, maka urusan Tin-wan Piaukiok berarti urusanku pula!"
Secara langsung ia maksudkan bahwa secara gamblang dirinya pun wajib memikul tanggung jawab dari segala persoalan Tin-wan Piaukiok, jadi bukan orang yang diundang untuk membantu melawan musuh belaka.
Umumnya teman yang diundang untuk bantu melawan musuh cukup hanya saling gebrak dengan tutul dan jatuh bangun saja, kalau pejabat yang langsung ikut bertanggung jawab dalam persoalan itu, maka dia boleh turun tangan tidak usah kenal kasihan segala.
Ketenaran dan tingkat kedudukan Ouwyang Kian dalam kalangan kangouw sebetulnya jauh masih berada di atas Han Wi-bu, bahwa dia rela merendahkan diri menjadi wakil Han Wi-bu, hal ini benar-benar di luar dugaan Miao Tiang-hong.
Sejenak Miao Tiang-hong tercengang, lalu katanya dingin.
"Oh, jadi Ouwyang Siansing sudah diangkat sebagai wakil cong-piauthau Tin-wan Piaukiok, selamat, selamat! Orang she Miao sudah mengikat permusuhan dengan piaukiok kalian, entah apa saja yang kalian anggap berdosa, aku tidak akan menyembunyikan diri untuk menghadapi pertanggungan jawab ini! He, he, kau hendak maju sendiri atau majulah bersama dengan cong-piauthau kalian?"
"Miao Tiang-hong, jangan kau meremehkan orang, bicaralah lebih lanjut bila kau mampu mengalahkan Lui-sin-ciangku! "Baik sekali, memang aku ingin menjajal sampai di mana keliehay-an Lui-sin-ciangmu!"
Demikian ujar Miao Tiang-hong kalem. Di saat mereka sudah berhadapan dan siap turun tangan, mendadak Ki Kian-ya menyela.
"Tunggu dulu!"
Terpaksa Ouwyang Kian mundur ke samping. Berkata Ki Kian-ya perlahan-lahan.
"Dua persoalan jangan dibicarakan jadi satu. Biarlah aku menyelesaikan urusan yang diwakilkan oleh Nyo Bok!"
Sampai di sini ia memutar badan menghadapi Hun Ci-lo, katanya.
"Hari ini Nyo Bok tidak datang, biar aku yang bicara saja. Kuharap kau suka berpikir panjang, apakah kau mau pulang dan rujuk kembali ke rumah keluarga Nyo. Bolehlah menjawab pertanyaan ini setelah kau pikirkan masak-masak, tidak perlu sekarang juga kau memberi jawaban."
Adalah Hun Ci-lo segera menjawab.
"Tidak perlu dipertimbangkan lagi, kau ingin aku pulang ke rumah keluarga Nyo. kecuali kau bunuh aku dan mengusung jenazahku ke sana!"
Bertaut alis Ki Kian-ya, katanya.
"Pepatah ada bilang, semalam menjadi suami istri selamalamanya akan menjadi kenangan abadi, bagaimana kau bisa bicara begitu tegas?"
"Kalau Nyo Bok anggap aku sebagai istrinya, tidak mungkin dia bersikap begitu terhadapku. Kilosiansing, cukup sekian saja ja-wabanku, ingin bunuh atau hendak berkelahi, selalu aku suka mengiringi kehendakmu!"
Ki Kian-ya menarik napas panjang, ujarnya.
"Kalau toh kau sudah sedemikian kukuh akan pendirianmu, tidak berguna aku membujuk kau. Baiklah, kusempurnakan keinginan hatimu!"
Istilah 'sempurna' kalau dimaksudkan secara langsung adalah bermaksud baik, namun bila diucapkan oleh kaum persilatan, ada kalanya justru kebalikan dari maksudnya yang semula.
Sudah tentu ucapannya terakhir ini menimbulkan prasangka jelek bagi Hun Ci-lo, Miao Tianghong dan Siau-hujin, segera Miao Tiang-hong tampil setapak ke depan menghadang ke depan Ki Kian-ya.
sementara Siau-hujin menjengek hidung, oloknya.
"Aku tidak perduli kau ini Su-hay-sinliong atau Pat-hay-yu-liong, berani kau melukai keponakanku, biar aku adu jiwa sama kau!"
Ki Kian-ya tertegun, katanya.
"Siapa bilang aku hendak mencelakai jiwanya?"
Sembari bicara ia mengeluarkan sepucuk surat, lalu katanya pula kepada Hun Ci-lo.
"Sebelumnya Nyo Bok juga sudah mengira kau tentu tidak mau pulang, baiklah, kau terimalah ini. inilah surat cerai dari Nyo Bok untukmu. Sejak hari ini kau sudah putus hubungan dengan keluarga Nyo, jangan lagi kau menggunakan nama baik keluarga Nyo untuk membuat sensasi di luaran!"
Ternyata masih ada setitik keinsyafan dan penyesalan dalam sanubari Nyo Bok, cuma ia tidak berani melepaskan diri dari belenggu jaringan Ciok Tio-ki, pikir punya pikir terpaksa ia berkeputusan untuk menceraikan isteri saja, terhadap Ciok Tio-ki ia punya alasan tepat untuk membebaskan tanggung jawab, sementara di luaran gengsinya pun tidak sampai terjungkal habishabisan.
Malam itu ia ikut Han Wi-bu pulang, kebetulan Ki Kian-ya menyusul tiba dari Kanglam.
Ki Kian-ya masih dikelabui mengenai hubungan rahasianya dengan Ciok Tio-ki, namun ia pun tidak suka mencari keributan yang berkepanjangan, maka ia pun menasehati Nyo Bok untuk menceraikan Hun Ci-lo saja habis perkara.
Nyo Bok tahu pihak sendiri yang salah, maka ia tidak berani berhadapan langsung dengan Hun Ci-lo, maka surat cerainya itu"
Ia titipkan kepada Ki Kianya untuk menyelesaikannya. Hun Ci-lo menerima surat cerai itu sembari tertawa dingin, jengeknya.
"Ki-lo-siansing, bila sampai di rumah katakan kepada Nyo Bok supaya dia melegakan hati. Sejak hari ini boleh dia menempuh jalan hidupnya sendiri, aku pun bisa hidup menurut arah tujuanku. Jangan kata hendak menggunakan kebesaran nama baik keluarga Nyo mereka, menyinggung namanya saja aku sudah tidak sudi. Cuma surat cerai ini aku tidak sudi menerimanya."
Agaknya Ki Kian-ya belum mengerti akan maksud kata-katanya ini, katanya.
"Bukankah kau menginginkan berpisah dengan Nyo Bok. Masakah..."
"Tetapi, bahwa Nyo Bok ingin hubungan kami putus, hal ini memang juga kuharapkan, cuma kesalahan bukan pada pihakku, berpisah ya berpisah kenapa harus pakai surat cerai segala? Dia menulis surat cerai ini jelas hendak menghina kepadaku!"
Sembari menyeringai dingin, ia robek surat cerai itu sampai berkeping-keping.
Tindakan ini benar-benar di luar dugaan Ki Kian-ya, sudah delapan tahun ia kenal kepada Hun Ci-lo, baru hari ini betul-betul ia dapat menyelami perangai orang yang lemah di luar keras di dalam, sebagai perempuan gagah yang harus dipuji.
Meski terhadap Hun Ci-lo ia sendiri masih punya berbagai prasangka yang belum bisa dimengerti, mau tidak mau dalam menghadapi persoalan ini sekarang diam-diam ia merasa kagum dan memuji tindakan orang yang tegas.
"Baik, kau tidak mau menerima surat cerai itu, yang terang urusan sudah kuselesaikan dengan baik, kini tibalah saatnya memperbincangkan persoalan Tin-wan Piaukiok dengan Miao Tianghong!"
Di luar dugaan orang banyak persoalan genting yang cukup memakan banyak perhatian ini justru dapat diselesaikan secara gamblang.
Tapi pertikaian yang lain yang lebih besar dan sengit justru segera mendatang, perhatian semua orang dari Hun Ci-lo kini tertuju kepada Miao Tianghong.
Miao Tiang-hong bergelak tertawa.
"Persoalanku dengan pihak. Tin-wan Piaukiok memang harus kuselesaikan, baiklah aku akan mengiringi setiap kehendak kalian!"
"Urusan tidak segampang yang kau uraikan,"
Demikian ujar Ki Kian-ya.
"Bicara terus terang asal mula pertikaian kalian adalah gara-gara Nyo Bok, kini persoalan Nyo Bok sendiri sudah damai dan selesai, asal Miao-siansing suka mohon maaf kepada Han-congpiauthau, kukira Han-congpiauthau tentu sudi memberi sekedar muka kepadaku, untuk menghapus persoalan ini!"
"Bagus, untuk memberi muka kepada Ki-locianpwe, aku orang she Han tidak suka menarik panjang urusan, biar kuberi keringanan kepada kau Miao Tiang-hong. Asal kau suka menuruti aturan umum suka berlutut dan menyembah kepadaku."
Ternyata Miao Tiang-hong berlaku kalem, ujarnya.
"Han-congpiauthau, agaknya kau sudah kilaf dan salah bicara!"
"Soal apa yang salah kukatakan?"
"Yang benar persoalan seharusnya terbalik. He, he, asal kau suka berlutut dan menyembah tiga kali kepadaku, masakah aku tidak sudi memandang muka Ki-locianpwe untuk menyudahi persoalan ini!" , Han Wi-bu menjadi gusar, serunya.
"Bedebah, agaknya kau memang hendak mempermainkan aku ya? Tidak menjadi soal kau mempermainkan aku, kebaikan Ki-locianpwe secara langsung juga kau kesampingkan begitu saja."
Masam muka Ki Kian-ya, dengusnya.
"Biar kutanya lebih tandas kepadanya. Miao Tiang-hong, benar-benar kau tidak mau menerima arak suguhan dan minta arak hukuman?"
Miao Tiang-hong pun naik pitam, serunya bergelak tertawa.
"Ki-losiansing, sedang kutunggu arak hukumanmu. Tapi pihak kalian ada empat orang, secangkir arak hukuman kukira tidak perlu dipikul bersama kalian. Begini saja biar ku-bedah perutku, berapa banyak arak hukuman kalian biar kutenggak seluruhnya."
"Orang she Miao,"
Bentak Ouwyang Kian.
"Jangan kau temberang, cukup arak hukumanku saja, kukira kau tidak akan cukup kuasa menerimanya, kenapa harus bikin capai Ki-losiansing segala."
"Biar kujelaskan lebih dulu!"
Sela Ki Kian-ya pula, sejenak ia merandek, sorot matanya ditujukan ke arah Siau-hujin lalu melanjutkan.
"Terus terang, memang aku diundang oleh pihak Tin-wan Piaukiok, tapi mereka mengundang aku kemari hanya untuk menjadi saksi, jadi wasit untuk menegakkan keadilan dan kebenaran, bukan meminta aku ikut terjun ke medan laga. Kini bahwa usul penyelesaianku ditolak mentah-mentah, terpaksa mengandal kepandaian sejati kalian masingmasing untuk menentukan saja. Tapi sebelumnya perlu juga kujelaskan, aku hanya menjadi saksi dan tidak suka turut campur secara langsung, maka aku pun tidak suka ada orang yang turut campur dalam persoalan ini."
Sudah tentu secara langsung ucapannya ini ia tujukan kepada "Siau-hujin, maka berkata Hun Ci-lo lirih.
"Bibi, Miao-toako sudah menolong jiwaku, aku tidak bisa berpeluk tangan menonton saja, biarlah aku tampil ke muka!"
"Ci-lo,"
Kata Siau-hujin dengan nada berat.
"kularang kau turut campur!"
Mendadak tangannya membalik, jari tengahnya menotok Hiat-to pelemas Hun Ci-lo, sehingga orang tidak mampu bergerak lagi. Di saat itu juga, Ouwyang Kian sudah menubruk maju "Wut"
Kepalannya kontan menyerang dengan dahsyat. Hun Ci-lo tidak bisa bergerak, namun matanya masih bisa melihat, kupingnya dapat mendengar, saking gugup ia berteriak melengking.
"Bibi, kau..."
Belum lenyap teriakan Hun Ci-lo, tampak bibinya menjengek dingin terus tampil ke depan seraya mendamprat.
"Miao Tiang-hong adalah tamuku, kalian meluruk datang berani menghina tamuku, mana aku boleh berpeluk tangan!"
Baru sekarang Hun Ci-lo insyaf bahwa orang menotok jalan darahnya, karena bibinya hendak hindarkan dirinya terlibat dalam pertikaian ini.
Maklumlah, Ki Kian-ya dan Han Wi-bu dan lain-lain adalah tokoh-tokoh bulim yang kenamaan, asal Hun Ci-lo tidak turun tangan, sudah tentu mereka tidak akan sudi menyerang tanpa sebab.
Apalagi Ki Kian-ya sendiri sebelumnya sudah menandaskan bahwa persoalan dengan keluarga Nyo sudah impas.
Bahwa jalan darahnya tertotok berarti pula keselamatan bagi jiwanya, berarti pula jiwanya terlindung.
Hun Ci-lo harus berterima kasih akan maksud baik bibinya ini, namun mana dia bisa berhati tentram menghadapi persoalan yang menyangkut dirinya pula di depan mata, terpaksa ia mengerahkan tenaga murni sendiri untuk menjebol totokan jalan darahnya.
Tapi karena ia sedang mengandung, penyaluran tenaganya jadi banyak terpengaruh dan berjalan amat lambat.
Ki Kian-ya mendengus, jengek-nya.
"Jadi kau memang ingin turut campur. Apakah kau belum jelas mendengar pernyataanku, kalau kau hendak turut campur, berarti kau mendesak aku turun tangan pula untuk menghadapi kau!"
Siau-hujin tertawa dingin, katanya ketus.
"Sepuluh tahun yang lalu kau melukai suamiku, hari ini bakal melukai aku pula, bukankah keinginanmu bakal terlaksana malah. Main pura-pura bajik segala, ayolah turun tangan!"
"Siau-hujin, jangan kau mencampur aduk dua persoalan ini. Tapi kalau kau ingin menuntut balas dendam lama dan memperhitungkan persoalan baru, dengan senang hati aku suka mengiringi."
Siau-hujin tak pedulikan ocehan orang, pelan-pelan ia melepas ikat pinggangnya yang terbuat dari sutra putih, katanya tawar.
"Menurut aturan, sebagai tuan rumah pantas aku memberi peluang pada tamu, tapi kalau kau tidak mau turun tangan terpaksa aku mendahului melabrak kau!"
Sembari bicara lengannya terayun naik sementara pergelangan tangannya berputar dan menyendal, sutra putih itu segera meliuk-liuk berputar laksana rantai menggulung ke arah Ki Kianya.
Melihat orang mempertunjukkan ilmu lemas tingkat tinggi, diam-diam berpikir Ki Kian-ya.
"Kalau tidak kuberi sedikit tanda mata, mana bisa membuatnya kapok dan mundur teratur."
Segera ia melancarkan tenaga ilmu Tay-lik-eng-jiau-kang, dengan cengkeraman tangan ia hendak menyobek sutra putih orang.
Serangan yang digunakan oleh Siau-hujin adalah ilmu lemas untuk menundukkan kekerasan, Ki Kian-ya justru menggunakan ilmu yang paling mengutamakan kekerasan untuk menghadapinya, ini jelas mengagulkan bahwa lwekang sendiri masih lebih unggul dari Siau-hujin, maka ia tidak takut menghadapi lawan.
Di luar tahunya meski lwekang Siau-hujin lebih asor, permainan selendang sutranya justru dapat ditarikan laksana naga hidup, keruan cengkeraman Ki Kian-ya mengenai tempat kosong, mendadak selarik sinar hijau berkelebat menyilaukan matanya.
Ternyata Siau-hujin mencabut sebatang pedang pendek, ujung pedangnya memancarkan titik-titik cahaya gemerlapan seperti kunang-kunang.
Menggunakan putaran selendang sutra untuk menyelubungi pedang hijaunya, secara kilat Siauhujin merangsak maju seraya menyerang dengan gencar, selendang sutranya bergulung-gulung melambai turun naik, laksana bunga salju beterbangan di tengah udara, sementara sinar hijau berkilauan memetakan titik-titik terang laksana binta'hg-bintang kelap-kelip di tengah angkasa raya.
Memang ilmu pedangnya dari aliran tersendiri, setiap jurusnya mengambil makna dari inti syair pujanggajaman Tong, dan jurus kombinasi antara selendang sutra dan pedang ini justru adalah satu tipu andalannya yang paling liehay.
Meski ilmu pedang Siau-hujin cukup liehay dan tinggi, Su-hay-sin-liong pun bukan lawan enteng, pertempuran berlangsung dalam adu kecepatan, terdengar ia menghardik, terlihatlah lambaian selendang sutra menjadi tercerai berai seperti didampar angin badai, demikian juga cahaya pedang hijau kemilau pecah berantakan.
"Siau-hujin,"
Bentak Ki Kian-ya.
"Aku tidak akan mengikat permusuhan baru dengan kau, sebaliknya kau hendak ajak aku mengadu jiwa?"
Begitu Ki Kian-ya mengembangkan ilmu pukulannya, bergelombang bagai damparan ,hujan badai yang susul menyusul satu lebih keras dan hebat dari lainnya.
Malah sambaran angin yang keras itu terasa menyakiti kulit seperti di ris pisau tajam.
Meski Siau-hujin membekal lwekang yang tidak lemah, tak urung ia menjadi kewalahan dan sesak napasnya.
Namun Siau-hujin kertak gigi, tiba-tiba ia kembangkan Ih-sing-hoan-wi, laksana kecapung menu-tul air, seperti burung walet menyelinap kerai, selendang sutranya menari turun naik seperti naga hidup, sementara cahaya pedangnya bagai kilauan bintang kejora yang bersinar terang, dalam sekejap mata beruntun ia sudah berkisar dan berputar beberapa bundaran.
Permainannya ini dikembangkan menurut ajaran-ajaran ilmu syair pujangga kuno^merupakan semacam ilmu bertempur secara main sergap dan selundup selicin belut, keruan Ki Kian-ya selalu tak berhasil mencengkeram selendang sutranya serta memukul jatuh pedangnya, diam-diam hatinya pun mencelos.
Setelah menyerang pula beberapa jurus, Siau-hujin menjawab dingin.
"Benar, hari ini kalau tidak kau mampus biar aku yang binasa!"
Ki Kian-ya menghela napas, ujarnya.
"Hujin mendesakku sedemikian rupa, terpaksa aku mengiringi kehendakmu saja!"
Di mulut ia bicara ketus, namun dalam hati ia beipikir.
"Dengan cara apa aku harus membuatnya mundur teratur tanpa melukainya dan tidak menurunkan derajat dan gengsinya?"
Kalau di sebelah sini pertarungan Siau-hujin masih setanding dan seru, di sebelah sana, Miao Tiang-hong sendiri sudah terdesak di bawah angin dan berulang kali menghadapi bahaya.
Lwekang Miao Tiang-hong belum pulih seluruhnya, sehingga gerak-geriknya tidak begitu leluasa, setelah bertempur puluhan jurus, tiba-tiba kedua telapak tangan Ouwyang Kian membacok miring dari dua jurusan, untuk berkelit terang tidak sempat lagi, terpaksa Miao Tianghong harus menangkis dengan mengadu kekerasan.
"Blang"
Dua pihak sama tergentak mundur tiga langkah. Ouwyang Kian amat kaget, batinnya.
"Kemarin Miao Tiang hong menempur Han Wi-bu dengan sengit, katanya luka-lukanya tidak ringan, tak nyana dia masih membekal kekuatan lwekang yang cukup ampuh juga!"
Begitu kedua telapak tangan beradu dengan pukulan lawan, seketika Miao Tiang-hong rasakan telapak tangannya seperti menyentuh papan besi yang merah membara, meski ia ada meyakinkan Hou-te-sin-kang, tak urung selebar telapak tangannya terasa pedas dan sakit kepanasan, sudah tentu rasa kejutnya pun bukan kepalang.
"Lui-sin-ciang Ouwyang Kian memang tidak bernama kosong, tak heran Tiong-pangcu dari Kaypang rada jeri juga menghadapinya, kalau pertempuran ini kuteruskan mungkin jiwaku sulit diselamatkan. Apa boleh buat, agaknya aku harus menggunakan Thay-ceng-khi-kang untuk mengadu jiwa dengan dia!"
Thay-ceng-khi-kang terlalu banyak menguras tenaga murni, sudah tentu Miao Tiang-hong sendiri cukup' berhati-hati dan tidak mau sembarangan menggunakan ilmu simpanannya ini, apalagi sekarang lwekangnya belum lagi pulih, untuk melancarkan ilmu ini sudah tentu akibatnya amat fatal dan merusak badan sendiri.
Dalam pertempuran sengit itu, tiba-tiba Miao Tiang-hong melancarkan sebuah pukulan yang enteng dan tangkas seperti menari dengan tangan melambai, sekeliling gelanggang seketika seperti dilingkupi hawa sejuk pada musim semi yang menghembus sepoi-sepoi sehingga membuat orang terasa mengantuk dan ingin tidur, sulit mengempos semangat.
Sebagai ahli silat sudah tentu Ouwyang Kian merasakan gelagat jelek ini, sekuat tenaga ia mempertahankan diri.
Tapi pukulan Lui-sin-cang yang dilancarkan rasanya jadi melempem dan tidak bisa dilandasi dengan tekad hatinya yang membara.
Han Wi-bu melihat gelagat jelek ini, segera ia berseru.
"Sute, hari ini kita berjuang demi gengsi dan nama baik perusahaan, tidak perlu mematuhi aturan kangouw segala menghadapi kurcaci ini!"
"Benar,"
Sahut sutenya Pek Bu-cu.
"Mari kita maju bersama!"
Luka-luka yang diderita Han Wi-bu kemarin tidak lebih ringan dari Miao Tiang-hong, tapi di dalam perusahaannya ada menyimpan jinsom kwalitet terbaik, maka kesehatannya sekarang sudah sembuh enam tujuh bagian.
Sementara Pek Bu-cu seorang ahli dalam bidang Hun-kin-johkut, kepandaiannya tidak terpaut terlalu jauh dari suhengnya.
Dengan masuknya kedua orang ini ke dalam gelanggang menjadi tiga lawan satu.
Seumpama sebelum ini Miao Tiang-hong tidak pernah terluka pun, tidak mungkin kuat melawan keroyokan ketiga musuh ini.
Dengan mendapat bantuan dua teman, Ouwyang Kian merasa tekanan dan ancaman pada dirinya banyak menjadi ringan dan diperkecil, keruan semangat tempurnya semakin berkobar.
Dari membela diri lekas ia merabu gencar balas menyerang.
Sekaligus ia lancarkan Lui-sin-ciang sehebat dan semahir mungkin.
Sementara Han Wi-bu hendak menuntut balas sakit hati kemarin, maka tujuh puluh dua jalan Tay-kim-na-jiu yang menjadi ilmu andalannya segera dimainkan terlebih hebat dan deras, setiap gerak-gerik kaki tangannya pasti membawa kesiur angin yang keras.
Sedang Pek Bu-cu bermain menunjukkan kelincahan gerak tubuhnya yang selalu menyergap dan membokong setiap mendapat kesempatan.
Saking sengit pertempuran mereka yang berkutat amat serunya ini, yang terlihat hanyalah bayangan mereka yang berkelebat simpang siur serta angin deras menderu yang terjangkit dari setiap pukulan dan tendangan mereka yang serang menyerang.
Suhu panas pukulan Lui-sin-ciang Ouwyang Kian berkembang melebar bergulung-gulung ke empat penjuru, sementara cengkeraman dan ilmu memegang Han Wi-bu yang hebat itu lapat-'lapat seperti mengandung suara gemuruhnya guntur.
Hun Ci-lo sedang mengerahkan hawa murni untuk menjebol jalan darahnya yang tertotok, sebetulnya tidak boleh banyak pikiran dan harus memusatkan perhatian dan semangat, namun ia tidak kuasa menahan keinginan hati untuk melihat ke sana di mana Miao Tiang-hong sedang berhantam mati-matian.
Melihat Miao Tiang-hong terdesak di bawah angin dan selalu menghadapi elmaut, jantungnya menjadi berdebar keras.
Sekonyong-konyong didengarnya "bret!"
Suara sobeknya baju pakaian, ternyata Pek Bu-cu berhasil dengan sergapan bokongannya, sekali cengkeram ia berhasil mencakar sobek pakaian di depan dada Miao Tiang-hong dan meninggalkan lima goresan panjang berdarah.
Sudah tentu kejut Hun Ci-lo bukan kepalang, tanpa tertahan ia menjerit kaget dan kuatir, celaka adalah hawa murni yang sudah dihimpunnya susah payah menjadi buyar sama sekali.
Tampak Pek Bu-cu sendiri sempoyongan beberapa langkah.
Segera Han Wi-bu berseru kepadanya.
"Sute, kenapa tergesa-gesa, dia sudah seperti ikan masuk jaring, tinggal menunggu waktu saja, masakah dia mampu lolos dari tangan kita?"
Kiranya meski sergapan Pek Bucu berhasil, tak urung ia sendiri pun mengalami kerugian yang cukup besar.
Semula ia hendak menggunakan Hun-kin-joh-kut-hoat untuk mencengkeram dan meremas hancur tulang iga Miao Tiang-hong, tak nyana tenaganya membalik dan menerjang diri sendiri oleh Thay-ceng-khi-kang kawan yang teramat liehay sehingga kelima jari-jarinya melepuh dan merah seperti cabe besar, sakitnya bukan kepalang.
"Betul!"
Seru Pek Bu-cu sambil menahan sakit.
"mari kita pelan-pelan menguras habis tenaganya!"
Sebelah lengannya jelas tidak mungkin digunakan lagi, setelah merasakan keliehayan Miao Tiang-hong, gebrak-gebrak selanjutnya ia jadi kapok dan tidak berani terlalu temberang.
Tapi keadaan Miao Tiang-hong yang berbahaya tidak menjadi kendor karenanya, cuma sedikit rada mending.
Melihat Miao Tiang-hong terluka, namun kelihatannya tidak terlalu berat, hati Hun Ci-lo rada sedikit lega.
Pada saat itulah mendadak ia seperti mendengar seruan Miao Tiang-hong mengiang di pinggir kupingnya.
"Ci-lo, pejamkan matamu!"
La menggunakan ilmu tingkat tinggi mengirim gelombang suara, ia bikin suaranya sedemikian rupa hanya terdengar oleh Hun Ci-lo seorang.
Orang lain hanya melihat bibirnya sedikit bergerak seperti berkemak-kemik namun tidak tahu apa yang diucapkan.
Hun Ci-lo menjadi sadar, pikirnya.
"Benar, aku harus membebaskan jalan darahku dulu baru bisa membantu dia!"
Segera ia pejamkan mata, seolah-olah tidak mendengar apa yang terjadi di sekelilingnya, dengan tekun dan asyik ia pusatkan perhatiannya menghimpun tenaga murni untuk menjebol Hiat-to yang tertotok.
"Miao Tiang-hong!"
Seru Han Wi-bu tertawa dingin.
"Kau sedang berdoa apa terhadap kakek moyangmu? Hm, arwah leluhurmu pun tidak akan bisa menolong kesulitanmu sekarang, kecuali kau mau berlutut dan menyembah kepadaku!"
Maksudnya hendak membuat Miao Tiang-hong marah, dengan demikian ia akan lebih mudah mengambil kemenangan.
Sebaliknya Miao Tianghong tidak menghiraukan seruannya, dengan lebih mantap ia melayani kerubutan ketiga musuhnya.
Melihat pihak piaukiok agaknya di pihak yang unggul, mau tidak mau beipikir Ki Kian-ya.
"Permusuhan gampang di kat sulit dilerai, aku harus memberi sejurus kelonggaran kepada nenek bawel ini."
Kebetulan selendang sutra dan pedang pendek Siau-Hujin menyerang tiba, lekas Ki Kian-ya mengebaskan lengan bajunya menggulung dan menggubat selendang lawan, sementara dua jari tangan kanannya berhasil pula menjepit pedang pendek orang.
Cara permainannya ini betul-betul mengandung marabahaya, sedikit lena atau kurang cermat, kelima jarinya mungkin bisa ter-papas kutung oleh pedang lawan.
Tapi begitu pedang pendek Siau-hujin kena dijepit, seketika tidak bisa bergerak seperti terjepit oleh tanggem besi.
Ternyata dalam melaksanakan tindakannya ini diam-diam Ki Kian-ya sudah memperhitungkan cukup masak, sebelumnya ia sudah menyelami permainan ilmu pedang tunggal Siau-hujin baru berani melaksanakan rencananya itu.
Kelihatannya memang terlalu berbahaya, namun sebetulnya ia sudah cukup matang dan punya pegangan.
Sekaligus Ki Kian-ya menggunakan Kek-buh-coan-kang (melalui benda lain menyalurkan tenaga), sekonyong-konyong Siau-hujin bercekat hatinya, segulung tenaga yang dahsyat sambung menyambung laksana damparan badai menerjang ke arah dirinya melalui batang pedangnya, sehingga perge-langan tangan terasa sakit kesemutan.
Tatkala itu, kalau ia hendak lepas tangan membuang pedang pun tidak mungkin lagi, karena pihak musuh terlalu kuat sementara pihaknya terlalu lemah kedudukan, begitu ia melempar pedang, m.ik.i sekaligus damparan tenaga raksasa lawan bakal menerjang ke arah iln i-nya.
Sudah tentu Siau-hujin amat kaget, pikirnya.
"Celaka, tua bang-ka ini hendak mengajak aku mengadu tenaga dalam, cara bagaimana aku harus menghadapinya?"
Dalam keadaan yang terjepit, meski ia insyaf dirinya bukan tandingan, terpaksa harus melawan mati-matian juga.
Mengadu lwekang semuanya mengandal tenaga dalam yang murni dan latihan, sekali-kali pantang menggunakan siasat atau mau bermain licik.
Maka terpaksa Siau-hujin mengerahkan setakar tenaganya, selendang di tangan kiri ia bikin kendor, sebaliknya kelima jari tangan kanan semakin kencang memegang pedangnya, melalui batang pedang ia salurkan tenaga perlawanannya, harapannya mengandal kekuatan pedang pusakanya berbalik dapat memukul mundur dan sekaligus mengalahkan lawan, paling tidak harus berhasil memapas kutung kelima jari lawan.
Ki Kian-ya sendiri pun sudah kerahkan latihan lwekangnya selama puluhan tahun, mana mungkin harapan Siau-hujin bisa terlaksana?
Dalam sekejap saja seluruh telapak tangan Siauhujin terasa kesemutan dan sakit pedas, damparan tenaga dalam musuh masih terus merembes masuk!
Lama kelamaan dingin rasa hati Siau-hujin,, pikirnya.
"Bukan saja tidak berhasil menuntut balas sakit hati suami, hari ini jiwaku sendiri ikut dikorbankan."
Kalau dikatakan memang aneh, di saat pikirannya ini sedang berkecamuk dalam benaknya, tahu-tahu damparan tenaga dalam lawan semakin lama mulai mengendor.
Meski Siau-hujin masih belum mampu menggerakkan pedang pusakanya, namun ia tidak perlu takut dilukai oleh tenaga dalam musuh.
Diam-diam Siau-hujin uring-uringan.
"Lwekang tua bangka ini jelas jauh lebih unggul dari aku, menurut teori tidak mungkin tenaganya sudah mulai terkuras habis sehingga mendadak terasa mengendor dan jauh lebih lemah dari semula? Apakah dia sengaja hendak menguras tenaga dalamku baru akan turun tangan membunuhku?"
Beberapa kejap lagi, Siau-hujin tidak tahu bagaimana keadaan lawan, yang terang dia sendiri sudah merasa lemah dan tak bertenaga lagi. Pikirnya.
"Kenapa aku rela dia permainkan mentahmentah?"
Baru saja ia hendak menarik pertahanannya, tiba-tiba terasa tekanannya hilang sementara ujung pedangnya bisa sedikit bergerak.
Bagi adu kepandaian tokoh-tokoh kosen, begitu melihat sedikit titik kelemahan musuh, boleh dika-ta hampir secara reflek ia akan menyerang ke titik kelemahan itu.
Begitu pula keadaan Siauhujin, dalam sekejap itu, secara reflek pedang pendeknya terayun terus menusuk ke arah musuh.
"Cras"
Baju di depan dada Ki Kian-ya kena tergores sobek sepanjang tiga dim.
Untung tidak melukai kulitnya.
Terdengar Ki Kian-ya menjerit keras, dengan gaya burung dara jumpalitan, ia jumpalitan mundur ke belakang beberapa tombak jauhnya, serunya.
"Ilmu pedang Hujin memang hebat, losiu sungguh teramat kagum! Terima kasih akan belas kasihan Hujin. Urusan hari ini, tiada muka Losiu ikut campur lebih lanjut."
Sembari bicara tangan menutupi dada terus putar tubuh tinggal pergi. Siau-hujin melenggong dan hampa.
"Klontang"
Pedang pendeknya terlepas jatuh dari pegangannya.
Musuh tangguh tinggal pergi, namun dia sendiri pun sudah lemas kehabisan tenaga, tak mampu banyak gerak lagi.
Nada bicara Ki Kian-ya kedengarannya masih kuat dan lantang, ia pura-pura terluka, bahwasanya sedikit pun ia tidak terluka.
Jangan kata Siau-hujin adalah seorang ahli dalam bidang ilmu silat, meski teramat bodoh atau pikun toh dia cukup paham bahwa pihak lawan telah memberi kelonggaran dan menaruh belas kasihan terhadap dirinya.
Pikirnya.
"Ki Kian-ya adalah rase tua, dia menggunakan caranya ini jelas memang sengaja membuat aku kehabisan tenaga, meski ada tekad hendak membantu pun tidak mampu lagi!"
Ternyata cara adu kekuatan Ki Kian-ya mengadu lwekang cukup cerdik dan amat persis dan menggunakan tenaga dan menghitung waktunya, kebetulan di saat Siau-hujin kehabisan tenaga barulah dia pura-pura kena dikalahkan dan ngacir, untuk menjaga nama dan gengsinya.
Dengan cara ini meski Siau-hujin tidak sudi menerima kebaikannya, namun dia sendiri ada hati toh tidak kuasa untuk membantu Miao Tiang-hong lagi.
Di saat Siau-hujin terlongong dan menjublek di tempatnya dengan ragu-ragu itulah, tiba-tiba didengarnya seseorang berteriak.
"Ci-lo, Ci-lo! Kenapa kau? Lekas jawab pertanyaanku!"
Hun Ci-lo mengerahkan hawa murni sedang berusaha menjebol Hiat-to yang tertotok, saat mana kebetulan mencapai titik yang paling menegangkan, mendadak mendengar seruan seseorang, seakan-akan ia sadar dari impian, keruan kaget dan girang pula dibuatnya, malah hampir ia tidak percaya akan pendengaran kupingnya.
Cepat ia menyahut.
"Apa Song-suko itu? Lekas... ah..."
Ia lupa bahwa hawa murninya sedang terhimpun, karena menuruti gejolak hati dan berteriak, kontan hawa murni menerjang naik dan menutup tenggorokannya, karuan ia menjerit jatuh semaput.
Ternyata yang berteriak mendatangi bukan lain adalah Song Theng-siau dan Lu Su-bi.
Mendengar jeritan pendek Hun Ci-lo yang terus diam tak terdengar lagi, Song Theng-siau amat terperanjat, serunya.
"Celaka!"
Segera ia kembangkan ginkangnya memburu datang dengan cepat.
Kebetulan Ki Kian-ya tinggal pergi menempuh jalan raya, jadi berpapasan di tengah jalan dengan kedatangan Song Theng-siau.
Kontan Song Theng-siau memakinya.
"Pejabat jujur pun tiada hak mengurus persoalan rumah tangga orang, Hun Ci-lo sudah berpisah dengan suaminya, ada sangkut paut apa dengan kau tua bangka ini, selalu kau bantu Nyo Bok mencari perkara kepadanya!"
Ki Kian-ya menjengek dingin.
"Aku pun ingin tanya kepada kau, apa pula sangkut paut persoalan Hun Ci-lo dengan kau? Hm, biar kuberitahu kepada kau, Nyo Bok sudah menceraikan bininya, memangnya aku punya tempo mencari perkara kepadanya. Kau hendak mengambil hatinya, memang tepat saatnya. Tapi sayang sekali Hun Ci-lo sudah penujui orang lain, mungkin tiada giliranmu!"
Hijau membesi muka Song Theng-siau dampratnya.
"Kuhormati kau seorang bulim cianpwe, berani kau membual lagi, aku..."
"Kau kenapa?"
Tukas Ki Kian-ya dingin.
"Hm, memangnya aku sudi berkelahi dengan kau?"
Sekali lengan bajunya mengebas, ia bikin Song Theng-siau terdorong sempoyongan berputar beberapa langkah terus tinggal pergi.
Saking gusar biji mata Song Theng-siau merah membara, sementara hatinya toh menjadi kecut dan getir, pikirnya.
"Meski kabar bohong pasti ada sumbernya juga. Tua bangka ini pun berkata demikian, apakah kabar angin yang kudengar memang kenyataan?"
"Song-suko,"
Kata Lu Su-bi.
"Lihatlah orang she Miao itu sedang bergebrak melawan orangorang piaukiok, di bawah pohon sana menggeletak pingsan seorang perempuan, mungkin dia adalah Hun-cici yang kau cari itu. Jangan kau bersikap menuruti adat kasar tua bangka itu, ayolah tak usah marah-marah, lekas menolong mereka!"
Song Theng-siau tersentak sadar, dengan langkah lebar segera ia memburu ke depan menghampiri ke samping Hun Ci-lo. Lu Su-bi mengikuti di belakangnya.
"Tidak usah kuatir,"
Ujar Lu Su-bi.
"Hanya pingsan saja, biarlah kuurut dan menolongnya!" -Ternyata cara menolong orang pingsan dengan urutan dan melancarkan pernapasan, Song Theng-siau pun bisa melakukan, soalnya Lu Su-bi ada di sampingnya, sudah tentu ia menjadi kikuk dan risi akan perbedaan jenis, maka ia jadi ragu-ragu untuk turun tangan. Lekas Lu Su-bi bertindak tanpa ayal karena ia tahu akan ganjalan hati orang. Hun Ci-lo hanya tertutup jalan pernapasan di tenggorokan oleh riak kental saja, setelah diurut dan diberi pertolongan seperlunya lekas sekali ia sudah siuman pula, mulut menguak ia memuntahkan riak kental serta berseru.
"Song-suko, aku tidak apa-apa, harap sukalah kau bantu Miao-toako menggebah musuh-musuhnya!"
Sekali lagi Song Theng-siau tergugah dan lamunannya, katanya.
"Betul! Siau-sumoay, Miaosian-sing itu pernah menolong kesulitan kita, sudah sepantasnya kita pun menolong kesulitannya!"
Kata-kata ini ia tujukan kepada Lu Su-bi, tujuan pertama ia memberi kisikan kepada Lu Su-bi bahwa dia bukan hendak menarik simpatik Hun Ci-lo kepadanya, kedua perasaan hatinya memang teramat kalut, meski ia berkeputusan hendak memberi pertolongan kepada Miao Tiang-hong, namun ia harus mencari alasan tepat, sehingga ia sendiri merasa dirinya sudah menampilkan kekecutan hatinya.
"Hiat-to Hun-cici belum lagi dapat kubuka, ai, celaka benar, aku tidak tahu cara bagaimana untuk membebaskannya!"
Demikian rengek Lu Su-bi. Siau-hujin segera datang menghampiri, katanya.
"Aku adalah bibi Hun Ci-lo."
Demikian ia memperkenalkan diri.
"Biar kubantu kau membuka Hiat-tonya."
Setelah istirahat tenaganya sudah pulih satu dua bagian. Song Theng-siau melolos pedang, jengeknya dingin.
"Tin-wan Piaukiok cukup terkenal di kalangan kangouw, ternyata main keroyokan menganiaya orang yang sudah terluka lagi, apakah tidak takut ditertawai orang-orang gagah seluruh dunia?"
Ouwyang Kian tertawa dingin, oloknya.
"Kau bocah ini juga berani mengagulkan diri sebagai orang gagah? Kau tahu apa, Miao Tiang-hong punya permusuhan mendalam yang tidak bisa dilerai dengan piaukiok kami, kalau kau tahu diri minggirlah jangan turut campur!"
Memang rasa gusar dan penasaran Song Theng-siau belum lagi terlampias, sambil mendengus ia berkata.
"Aku justru ingin turut campur!"
"Sret"
Langsung ia menusuk kepada Ouwyang Kian.
Dalam pada itu Lu Su-bi juga sudah mencabut dua bilah Liu-yap-tonya yang panjang pendek, langsung ia melabrak Pek Bu-cu.
Begitu tekanan menjadi kendor berkobar semangat Miao Tianghong.
"Wut, wut, wut"
Beruntun tiga kali ia lontarkan serangan gencar kepada Han Wi-bu sehingga orang dirabu-nya terdesak mundur dan cukup mampu membela diri saja.
Semula Ouwyang Kian tidak pandang sebelah mata kepada Song Theng-siau, tapi setelah saling hantam melihat permainan ilmu pedang Song Theng-siau yang liehay dan hebat ini barulah tercekat hatinya.
Tanpa ayal ia tumplek seluruh kemahiran Lui-sin-ciangnya untuk melawan anak muda ini, bentaknya.
"Kau bocah ini tidak tahu kebaikan, baik, rasakan bogem mentahku yang nikmat ini!"
Seketika Theng-siau merasa dirinya seperti berada di dalam tungku yang bersuhu tinggi sehingga badan basah kuyup oleh keringat, sungguh rasanya teramat menyiksa dirinya. Diamdiam ia berpikir.
"Tak heran Miao Tiang-hong tak kuasa mengalahkan mereka, dua orang yang lain aku tidak tahu, cukup yang ini saja kepandaiannya sudah teramat aneh dan sesat lagi!"
Untung Ouwyang Kian sudah bertempur cukup lama, tenaga dalamnya sudah terkuras sebagian besar, Lui-sin-ciang ia mainkan dengan segala kemampuannya namun lama kelamaan ia kehabisan tenaga sendiri.
Sebaliknya ilmu pedang Song Theng-siau mengutamakan kelincahan dan kecepatan, mau tidak mau Ouwyang Kian harus hati-hati menghadapinya.
Begitu saling bertahan semakin lama, kira-kira setengah sulutan dupa kemudian, lambat laun Song Theng-siau berhasil mendesak lawan di bawah angin, suhu panas yang mengganggu dirinya pun tidak sepanas tadi.
Lu Su-bi sedang melabrak Pek Bu-cu, keadaannya jauh lebih baik.
kedua goloknya menyerang gencar sehingga Pek Bu-cu mencak-mencak terdesak di bawah angin.
Ternyata Pek Bu-cu seorang ahli dalam ilmu Hun-kin-joh-kut-hoat, ilmu ini paling menguntungkan dalam bergebrak jarak dekat, sekali berhasil mencengkeram lawan sekaligus ia pasti bisa memelintir dan meremas hancur tulang atau membuat musuh salah urat, sehingga musuh kena dibekuknya dengan mandah menyerahkan jiwa tanpa bisa melawan lagi.
Akan tetapi ia justru berhadapan dengan Lu Su-bi yang mahir mengembangkan ginkang Menyelinap Kembang Mengitari Pohon, meski dengan mata tertutup ia bisa lari kencang menyelinap di dalam semaksemak kembang atau dedaunan pohon yang rimbun tanpa menyentuh atau menjatuhkan daun dan kembangnya.
Meski Hun-kin-joh-kut-hoat yang diyakinkan Pek Bu-cu amat liehay pun tidak berguna lagi, jangan kata hendak mencengkeram, menyentuh ujung bajunya saja ia tidak mampu.
Seperti kucing mempermainkan tikus, Pek Bu-cu diajak berputar-putar sampai kepala terasa pusing tujuh keliling, ia insyaf bila cara bertempur macam demikian pasti dirinya bakal celaka, maka ia berhasrat menempuh bahaya mencapai kemenangan dengan segera, tiba-tiba kedua telapak tangannya beiputar melingkar-lingkar bundar, dengan sejurus Im-yang-siang-jong-ciang ia menubruk dengan serangannya.
Lekas Lu Su-bi mengegos sembari berkisar, sebat sekali ia sudah berada di belakang lawan, di saat Pek Bu-cu belum sempat memutar badan, kedua telapak tangannya menekan punggung orang terus mengerahkan tenaga mendorongnya ke depan.
Sayang tenaganya rada lemah, dorongannya ini hanya membuat Pek Bu-cu tersungkur maju ke depan, belum bisa menjatuhkannya.
Begitu tiba-tiba merasakan angin keras berkesiur di sebelah belakang, Pek Bu-cu jadi serba sulit, hendak menerjang ke depan takut lawan menambah kekuatan dorongan dan dirinya pasti terjungkir balik ke depan, kalau mengegos ke samping kuatir lawan justru memang menjebaknya dengan pukulan lain yang lebih telak ke tempat kelemahannya.
Di dalam waktu pendek yang gawat ini, tanpa banyak pikir Pek Bu-cu menggunakan tipu memutar mayapada tiba-tiba membalikkan badan, timbul nafsu jahatnya, bukan menangkis atau berusaha menyelamatkan diri, ia malah balas menyerang dengan nekad.
Kalau telapak tangan kanan menggantol dari samping sementara kepalan kiri menusuk maju, tipu serangannya ini dinamakan Ling-yo-kui-kak (kambing gembel menanggalkan tanduk), merupakan salah satu tipu pertempuran yang khusus untuk mengadu jiwa bersama musuh.
Begitu keji dan besar nafsunya melabrak Lu Su-bi.
Ia sangka perawakan Lu Su-bi jauh lebih rendah dari dirinya, tenaganya pun lemah, dirinya menyerang dari tempat ketinggian tentu menempati posisi yang lebih menguntungkan, jelas Lu Su-bi tidak akan berani main kekerasan dengan dirinya, meski berani kerugian yang dia derita tentu tidak akan terlalu fatal.
Di luar tahunya bahwa Lu Su-bi sebelumnya sudah menduga dan menjaga akan serangan balasan lawan yang membalik ini, tubrukan baliknya ini justru masuk ke dalam perangkap dan celakalah dia.
Begitu serangan pukulan Pek Bu-cu mengenai tempat kosong, kontan terdengar "krak!"
Sendi tulang lengan kanannya kena dipatahkan oleh Lu Su-bi.
Keahliannya memang Hunkin-joh-kut tak nyana hari ini ia terjungkal di tangan Lu Su-bi menggunakan keahliannya sendiri.
Masih untung Lu Su-bi menaruh belas kasihan, setelah ia memasukan kedua goloknya ke dalam sarungnya baru ia bikin tulang orang patah, kalau menggunakan golok membacok lengannya itu, selama hidup ini pastilah ia menjadi orang cacat dengan kedua lengan buntung.
Walau Pek Bu-cu berwatak keras, tulang lengan sudah putus, sebuah lengannya menjadi lemah tergantung tak mampu bergerak, saking kesakitan tak tertahan ia menjerit keras seperti babi disembelih.
Mendengar jeritan kesakitannya ini, Han Wi-bu dan Ouwyang Kian menjadi terkejut.
Pertempuran tokoh kosen tingkat tinggi, mana boleh perhatian terpencar, apalagi mereka terdesak di bawah angin?
Sigap sekali dengan adanya peluang ini Song Theng-siau menusukkan pedangnya dengan kecepatan laksana kilat.
Saat mana kebetulan Ouwyang Kian sedang meluncurkan telapak tangannya memukul, sehingga telapak tangannya tertusuk tembus.
Ouwyang Kian menggerung keras, secara reflek kelima jarinya lantas mencengkeram memegang batang pedang.
Song Theng-siau tidak kuasa menahan gempuran tenaga rontaan yang kuat ini, sehingga pedangnya tergetar lepas dari cekalannya.
Tapi telapak tangan Ouwyang Kian sudah tertusuk tembus, maka kepandaian Lui-sin-ciangnya boleh dikata sudah punah separuh, bahwa dia berhasil merebut pedang hanyalah karena rasa sakitnya yang menimbulkan kekuatan meronta yang dahsyat sekejap lalu saja, kilas lain toh ia tak kuat lagi bertahan.
Di tengah gerung kesakitannya, pedang rampasannya ia sambitkan balik kepada Song Theng-siau terus melarikan diri.
Setelah tulang lengannya putus sudah tentu keadaan Pek Bu-cu semakin payah lagi, terpaksa ia pun ikut melarikan diri.
Dua di antara tiga musuh sudah melarikan diri, yang ketinggalan hanya Han Wi-bu seorang.
Miao Tiang-hong mainkan kedua telapak tangannya bagai kumbang yang sedang menari mengelilingi kuntum kembang hendak menghisap sarinya, gerak-geriknya seperti bangau pentang sayap menyisiri bulu, dengan ketat ia kepung Han Wi-bu dengan rangsakan pukulan yang gencar sehingga tidak mampu banyak berkutik.
Mencelos hati Han Wi-bu, ia sangka Miao Tiang-hong berniat menghabisi nyawanya.
Jelas untuk berkelit dari rabuan gencar kedua tangan lawan sudah tidak mungkin lagi.
Terpaksa ia mengeraskan kepala, dengan sejurus Heng-ka-kim-liang (melintangkan belandar emas), kedua telapak tangan menghadap ke atas melintang di atas kepala untuk melindungi ubun-ubunnya.
Terpaksa ia harus melancarkan jurus ini berharap mungkin bisa menyelamatkan jiwa sendiri.
Kalau pukulan gencar lawan memukul turun dengan kekerasan, luka parah terang tidak mungkin dihindarkan lagi.
Di saat Han Wi-bu merasa waswas dan kebat-kebit, tak nyana begitu keempat kepalan mereka saling bentur, tenaga pukulan lawan ternyata tidak seberat dugaannya semula.
Tapi meski tidak keras dan berat, namun mengandung daya lengket yang amat keras, sehingga ia tidak akan mungkin mampu membebaskan diri juga.
"Han-congpiauthau,"
Demkian ujar Miao Tiang-hong.
"Pepatah ada bilang. permusuhan gampang di kat sukar dilerai, kali ini kau kena dihasut dan dikibuli orang, aku tidak suka menarik panjang urusan."
Habis berkata ia melepas tangannya, seketika Han Wi-bu terhuyung tiga langkah hampir jatuh. Merah malu selebar muka Han Wi-bu, katanya.
"Tidak menjadi soal kau bunuh aku, kebesaran dan gengsi Tin-wan Piaukiok sekali-kali pantang runtuh di tanganku!"
Secara tidak langsung ia mau bilang persoalan pribadi urusan kecil, keharuman nama dan wibawa Tin-wan Piaukiok justru lebih besar artinya.
Jadi permusuhan Tin-wan Piaukiok dengan Miao Tiang-hong terang tidak bisa dibikin habis demikian saja.
Miao Tiang-hong menghela napas, ujarnya.
"Kau tidak suka dilerai dan menyudahi urusan ini terserah pada kemauanmu. Tapi buat apa aku harus membunuhmu!"
"Baik, gunung tetap menghijau air tetap mengalir, kita jumpa lain kesempatan. Kelak bila kau pun terjatuh di tanganku, biar aku pun mengampuni jiwamu sekali saja."
Seluruh kerabat Tin-wan Piaukiok sudah sama pergi, Miao Tiang-hong paling menguatirkan keselamatan Hun Ci-lo, lekas ia menjura kepada Song Theng-siau, katanya tertawa.
"Song-heng, tak nyana kita bertemu lagi di sini, terima kasih akan bantuanmu. Aku dan Ci-lo adalah saudara angkat, sebaliknya kalian adalah sahabat kental bagai saudara sendiri, hari ini kita harus sama berkumpul dan gembira bersama!"
Berkata Song Theng-siau tawar.
"Hari itu di waktu berada di warung makan Tan Tek-thay, kau pun pernah membantu kepadaku, kita masing-masing tidak berhutang budi satu sama yang lain!"
Melihat sikap dan nada bicara orang yanc dingin darn kaku, sekilas Mi.m Tiang-hong melengak.
Setelah melontarkan kji.i katanya ini, Song Theng-siau tidak hiraukan orang lagi, langsung ia menghampiri Hun Ci-lo, katanya "Ci-lo, ada beberapa patah kata yang perlu kubicarakan dengan kau, marilah kita bicara di sebelah sana bagaimana?"
Sahabat kental berjumpa setelah sekian lama berpisah, seharusnya Hun Ci-lo merasa senang, tapi melihat sikap dan tindak tanduk Song Theng-siau, betul-betul di luar dugaannya.
Sesaat ia terlongong, kejap lain baru ia mengangguk mengiakan.
"Apa yang Song Theng-siau hendak katakan kepadanya?"
Miao Tiang-hong yang ditinggalkan sedang menimbang-nimbang.
"Tiang-hong,"
Siau-hujin segera menghampiri dan memanggilnya.
"Aku pun ada omongan yang perlu kubicarakan dengan kau, mari kita ke sebelah sana!"
Miao Tiang-hong seperti tersadar dari lamunannya, ia angkat kepala dilihatnya muka Siau-hujin seperti dilapisi malam, seolah-olah hatinya dibebani berbagai persoalan genting.
Mendadak tersentak jantung Miao Tiang-hong, seakan-akan ia mendapat sesuatu firasat buruk, segera ia manggut-manggut tanpa bersuara mengintil di belakang Siau-hujin.
Sorot matahari yang sudah doyong ke sebelah barat hampir tenggelam ke dalam peraduannya membuat pemandangan alam ber-taburkan cahaya kuning keemasan yang mempesonakan di dalam hutan, suasana hening lelap.
Empat orang masing-masing mengandung jalan pikiran sendiri, mereka beranjak masuk ke dalam hutan yang berlawanan.
-ooo0dw0oo "Di sini sajalah!"
Song Theng-siau menghentikan langkahnya.
Menghadapi Hun Ci-lo, kenangan lama kembali terbayang di depan mata.
Sekian lama ia jadi menjublek berdiri tak tahu dari mana ia harus mulai bicara.
Akhirnya Hun Ci-lo yang membuka suara bertanya lebih dulu.
"Theng-siau, tak nyana hari ini aku bisa bertemu lagi dengan kau. Sejak berpisah mungkin sudah sepuluhan tahun bukan? Tapi kenapa kedatanganmu hari ini secara begitu kebetulan?"
Ternyata waktu berada di dalam warung makan Tan Tek-thay tempo hari Song Theng-siau sudah merasa curiga bahwa perempuan berkedok itu bukan lain adalah Hun Ci-lo, oleh karena itulah maka ia ajak Lu Su-bi menyusul datang ke kampung halaman Hun Ci-lo untuk menyelidiki kebenarannya.
Ada kalanya seorang laki-laki teramat sulit mengekang berbagai perasaan kalut yang sekaligus merangsang sanubarinya di kala ia menghadapi perempuan yang pernah menjadi pujaan hatinya.
Song Theng-siau bukan jelus atau iri dan cemburu, sekali-kali tidak pernah terkandung anganangan kosong dan buruk terhadap Hun Ci-lo, namun di dalam relung hatinya yang paling dalam, bahwasanya pernah terpikir dia lebih rela membiarkan sahabat kentalnya Beng Goan-cau dapat mempersunting Hun Ci-lo, daripada Hun Ci-lo menikah dengan orang lain yang tiada sangkut pautnya seperti Miao Tiang-hong.
Kata Song Theng-siau tertawa getir.
"Kiranya kau masih ingat begitu jelas, sudah hampir genap sepuluh tahun kita tidak bertemu. Entahlah kejadian sepuluh tahun yang lalu, apakah kau masih ingat dengan baik?"
"Kejadian yang mana maksudmu?"
"Kejadian waktu kita bersama Beng-toako bertamasya di Se-ouw dulu!"
Bahwa Song Thengsiau menyinggung persoalan lama ini, terang maksudnya hendak mengingatkan Hun Ci-lo terhadap hubungan intimnya terhadap Beng Goan-cau.
Merah muka Hun Ci-lo, ia tertawa dibuat-buat dengan perasaan kecut, dalam batin ia berpikir.
"Theng-siau, ternyata kau masih belum paham dan mendalami pribadiku!"
Katanya.
"Buat apa kau mengungkit kenangan lama? Ai, aku sudah cukup menderita mengecap pahit getirnya kehidupan selama ini!"
Song Theng-siau pun tertawa dibuat-buat.
"Ci-lo, kau tahu watakku, apa yang kupikir dan hendak kulakukan pasti segera kukerjakan, maafkan bila aku mencari tahu seseorang kepada kau."
Sudah tentu Hun Ci-lo paham siapa orang yang hendak dicari tahu itu, maka jantungnya lantas berdebur keras, betul juga segera ia dengar Song Theng-siau berkata.
"Kabarnya kau ikut hadir dalam pertemuan besar di puncak Thay-san, apakah di sana kau ada ketemu dengan Beng Goancau?"
Hun Ci-lo menahan kepiluan dan kegetiran hati, katanya.
"Ya, ada kulihat. Tapi cuma aku yang lihat dia, sebaliknya dia.tidak melihat aku!"
Tak tertahan berkata Song Theng-siau.
"Ci-lo, kenapa kau tidak sudi bertemu muka dengan dia? Tahukah kau betapa ia amat kangen dan merindukan kau selama sepuluh tahun ini?"
"Beng-toako memang tidak secara langsung memberitahu kepadaku, tapi aku tahu isi hatinya. Waktu berada di Siau-kim-jwan, ingin rasanya setiap hari ia selalu berkecimpung di medan peperangan. Aku bisa memahami perasaannya, karena di dalam medan laga yang bertanding adu jiwa hakikatnya tiada tempo buat dia mengenang dan merindukan masa silam, sehingga terhindarlah banyak siksaan batin yang selalu membayangi sanubarinya."
"Di waktu-waktu senggang sering dia menyendiri dan melamun. Betapa indah kehidupan musim rontok dan musim semi di Siau-kim-jwan, sungguh bisa memabukkan setiap insan manusia yang mengenal seni keindahan alam. Di waktu musim semi mendatang, di mana-mana seluruh gunung ditaburi mekarnya kembang liar harum semerbak. Waktu musim rontok hutan flamboyan bertaburkan warna merah menyala ditaburi sinar matahari yang cerah cemerlang sehingga pemandangan amat menyo-lok mata. Keindahan alam pada masa itu mempunyai ciri keindahan yang lain pula bentuknya. Apalagi di saat udara cerah merupakan saat-saat berburu yang paling tepat. Tapi setiap kali aku bersama Siau-sumoay memetik kembang dan mengajaknya berburu, selalu ia menggunakan alasan dan tidak pernah mau ikut bergembira ria bersama kami. Kenapa? Kukira kau cukup paham untuk menyelami perasaan hatinya ini. Dia kuatir keadaan bakal melukai perasaan dan menimbulkan kenangan lama yang bakal semakin menyiksa batinnya. Kalau di sini dulu kita bertiga, tapi di sana ada aku dan dia tanpa kau hadir!"
Kelihatannya Song Theng-siau sedang melampiaskan perasaan hati sahabat lamanya yang selama ini tersimpan di relung hatinya.
Apa yang dia kisahkan mengenai keadaan Beng Goan-cau, bukan mustahil pula pernah ia kecap pula.
Maka dalam menutur itu kata-katanya penuh diliputi perasaan, begitu menarik dan mengesankan sehingga tanpa disadari Hun Ci-lo berlinang airmata karena terharu.
Hun Ci-lo menghapus airmata-nya, berselang sejenak barulah ia berkata.
"Tiada sesuatu yang abadi di dalam dunia ini, apalagi kejadian berselang sepuluh tahun yang lalu, baru sekarang kau menjelaskan semua ini kepadaku, segalanya sudah terlambat!"
"Sekarang belum lagi terlambat!"
Demikian ujar Song Theng-siau.
"Ci-lo, kuharap kau tidak marah akan kecerobohanku, ingin aku melimpahkan semua isi hatiku. Kenyataan memang sudah terjadi, setelah kau berpisah dengan Beng-toako, kau lantas menikah dan punya suami, malah sudah melahirkan anak, agaknya memang sudah terlambat, tapi sekarang lain pula keadaannya, meski Nyo Bok masih hidup, namun kau sudah menerima surat cerainya!"
"Ada sebuah hal mungkin masih belum kau ketahui!"
"Hal apa?"
"Pada pertemuan Thay-san bukan saja aku ada melihat Goan-cau, aku pun melihat pejabat ciangbunjin Hu-siang-pay yang baru, Lim Bu-siang. Mereka berdua bergaul dengan sikap dan kelakuan yang amat intim!"
Song Theng-siau setengah percaya setengah tidak, katanya.
"Mungkin hanya rekaanmu belaka?"
"Bagaimana kau bisa berkata demikian?"
Hun Ci-lo menarik napas.
"Memangnya aku ini orang yang terlalu banyak curiga? Adalah setulus dan seikhlas-ikhlasnya aku mengharap Goan-cau bisa terang-kap jodohnya dengan nona Lim itu! Mereka berdualah baru merupakan sepasang jodoh yang amat setimpal!"
Song Theng-shiau terlongong, mendadak ia mengawasi Hun Ci-lo dengan nanar, katanya.
"Kau mengharap mereka bisa terangkap menjadi jodoh, lalu kau, dengan Miao-siansing itu..."
Pedih dan duka pula hati Hun . Ci-lo mendapat pertanyaan ini, katanya.
"Theng-siau, apa maksudmu mengajukan pertanyaan ini? Aku bersama Tiang-hong adalah saudara angkat saja. Seperti pula hubungan kita masa lalu."
Secara tidak langsung Hun Ci-lo mau maksudkan bahwa tidak mungkin dirinya menikah dengan Miao Tiang-hong.
Tapi lain pula jalan pikiran Song Theng-siau, sebetulnya ia segan mengemukakan jalan pikirannya ini, tapi sekarang ia didorong untuk mengatakannya.
"Ci-lo, maaf kalau aku bicara terus terang, kukira dalam hal ini jauh berlainan."
"Apanya yang berlainan?"
"Kita dulu berhubungan begitu erat laksana saudara sekandung sendiri, setiap hari ke manamana bersama, karena sama-sama masih anak-anak besar yang belum menanjak dewasa, tidak perlu kita takut menghadapi obrolan iseng orang lain!"
"O, jadi maksudmu bahwa sekarang aku sering bersama Miao Tiang-hong, pasti akan menimbulkan banyak obrolan iseng yang memalukan?"
Song Theng-siau menjadi rikuh, katanya.
"Ci-lo, aku tahu kau adalah perempuan baja yang berani berbuat berani bertanggung jawab, tidak usah takut mendengar kabar bohong orang lain. Tapi Beng-toako adalah orang yang paling prihatin akan segala sesuatu yang menyangkut dirimu, kukira dia tidak akan suka dibuat bahan obrolan orang lain."
Betapa Hun Ci-lo takkan pedih dan luluh hatinya karena sahabat baiknya tidak mau memahami keadaannya, timbul juga rasa jengkelnya, katanya tawar.
"Theng-siau! Bagaimana pula dengan kau? Bicaralah kepadaku terus terang!"
Song Theng-siau rasakan desakan orang mengandung rasa penasaran, katanya tertawa getir.
"Aku sendiri tentu tidak senang kau dibuat bahan tertawaan dan cemoohan orang banyak. Tapi ini urusanmu sendiri, aku hanya bisa mengharap saja supaya kau bisa membawa dirimu baik-baik."
Sedapat mungkin Hun Ci-lo menahan kepiluan hatinya, katanya.
"Theng-siau, terima kasih akan perhatianmu, aku masih kuasa membereskan urusan pribadiku sendiri, aku, aku dengannya... ah, pendek kata, yang sudah lalu biarlah pergi, dan tidak akan kembali lagi. Aku adalah orang yang bernasib jelek, untunglah aku sudah punya anak, hidup selanjutnya, anak kandungku adalah darah dagingku yang paling dekat, siapa-pun tidak akan bisa menggantikan kedudukannya di sampingku. Theng-siau, cukup sampai di sini saja ucapanku, kau paham tidak?"
Sudah tentu Song Theng-siau paham akan pengertian yang dimaksudkan, bahwa selanjutnya mereka hanya akan hidup berduaan ibu beranak, selama hidup tidak akan menikah lagi.
Mendengar pernyataan ini, mau tidak mau Theng-siau ikut merasakan kepedihan dan kepiluan hati Hun Ci-lo sedalam-dalamnya.
"Ci-lo, kenapa kau harus mere-ras dirimu? Tapi apa yang perlu kita bicarakan memang sudah kukatakan, sudah saatnya aku harus cepat-cepat berangkat!"
Waktu Song Theng-siau keluar dari dalam hutan, Lu Su-bi lantas bertanya dengan suara lirih.
"Kenapa begitu cepat lantas pergi? Sudah sepuluhan tahun kalian tidak pernah ketemu, kenapa tidak mengobrol dan berkumpul beberapa lamanya? Em, Song-suko aku tidak akan menaruh banyak hati!"
Kata-katanya terakhir diucapkan seperti senar harpa yang dipetik pelan-pelan mendengungkan suara rendah yang amat lirih, setelah mengutarakan isi hatinya, tidak urung merah jengah selebar muka Lu Su-bi.
Dalam kegetiran hati Theng-siau terasakan rasa kemesraan dan kemanisan pula, sahutnya lirih di pinggir kupingnya.
"Siau-sumoay, kau sungguh baik hati. Dulu aku selalu ingin pulang, sekarang sebaliknya ingin aku ajak kau kembali ke Siau-kim-jwan."
Terunjuk senyuman mekar pada wajah Lu Su-bi, tapi ia masih rada kuatir, tanyanya.
"Apa saja yang dikatakan Hun-cici kepada kau? Kulihat kau agak kurang senang dan masgul."
"Tiada apa-apa, lekaslah jalan, di tengah jalan akan kuberitahu kepada kau."
Dengan mendelong, Hun Ci-lo mengantar punggung mereka semakin jauh dan akhirnya tidak kelihatan lagi, hatinya sendu dan rawan.
Ia insyaf percintaannya dengan Beng Goan-cau bagaimana juga tidak akan bisa dipulihkan atau rujuk kembali, sampai pun persahabatannya dengan Song Theng-siau pun rasanya tidak bisa dipulihkan pula.
Sungguh tidak nyana, sahabat kental sejak kanak-kanak ternyata tidak bisa pula memahami dirinya, sedemikian pilu hati Hun Cilo sehingga ia berpikir.
"Aku masih mengharap mereka bertiga menjadi sahabat kental, ai, jikalau Goan-cau sendiri pun tidak memahami diriku, masakah aku punya keberanian tetap hidup dalam dunia fana?" -ooo0dw0ooo-Kalau Hun Ci-lo sedang merasakan kepiluan hati yang mendalam, adalah Miao Tiang-hong sendiri yang menghadapi "nasehat"
Yang dilontarkan Siau-hujin pun sedang merasa serba salah dan kikuk. Kata Siau-hujin.
"Semula aku mengharap kalian bisa merangkap jodoh ini, tapi baru sekarang kuketahui bahwa suaminya belum mati, terpaksa kau harus berpikir demi kepentingannya. Memang Nyo Bok sudah memberi surat cerai kepadanya, bagaimana juga mereka sudah bersuami istri sekian lamanya, beberapa lama kemudian setelah rasa marah dan kejengkelan kedua pihak sama mereda, bukan mustahil mereka bakal rujuk kembali."
Miao Tiang-hong menyeringai getir, ujarnya.
"Kau tidak usah kuatir, hubunganku sama Ci-lo hanyalah saudara angkat lain jenis belaka, aku tidak perlu menyesal dapat mengikat persahabatan dengan seseorang yang dapat mengenal watak dan pribadiku, aku amat menghargai sikap persahabatannya ini, sekali-kali aku tidak akan pernah beipikir yang tidak senonoh terhadapnya."
Kata Siau-hujin.
"Kau tahu aku bukan orang yang terlalu kukuh dan kolot, kalau kami bisa tidak usah pedulikan ikatan adat. belum tentu orang lain sependapat dan punya pengertian yang sama. Kalau pergaulanmu dengan Ci-lo terlalu intim, tentu akan menimbulkan bahan bicara dan tertawaan orang lain."
"Kukira Ci-lo belum pernah membicarakan karakter dan martabat asli dari Nyo Bok kepadamu bukan, kau masih mengharap mereka rujuk kembali, sebaliknya aku berpendapat hal itu tidak akan mungkin. Tapi janganlah kau salah paham, bukan aku hendak mengail di dalam air keruh atau bersyukur malah, mengharap dia berpisah dan menikah dengan orang lain saja!"
"Dari uraian ini, jadi maksudmu Nyo Bok itu adalah orang jahat yang tidak bisa ditolong lagi?"
"Aku tidak suka membicarakan keburukan orang di belakangnya, akan datang suatu ketika Ci-lo pasti akan menuturkan segala kepahitan hidup dan penderitaannya kepada kau!"
"Kalau begitu bertambah selapis lagi kekuatiranku. Kalau benar Nyo Bok begitu buruk, dia menulis surat cerai, pastilah hatinya masih tidak terima. Kalau Ci-lo tidak punya kesalahan yang digenggam di tangannya sih mending, apalagi kalian sering bergaul, paling sedikit ia bisa menyebarluaskan kabar bohong yang menjelekkan nama baik kalian!"
"Memangnya dia hendak membunuh aku, masakah hanya membuat kabar bohong dan menjelekkan nama baikku saja! He,he, mulut anjing tidak akan tumbuh gading, terserah apa yang dia senang katakan mengenai diriku boleh sesuka hatinya ia mengobrol!"
"Ci-lo sedang mengandung, aku kuatir dia tidak akan tahan menerima pukulan batin ini! Kalau peristiwa seperti hari ini terulang kembali, tidak bisa aku harus mengua-tirkan keadaannya. Dan lagi pertikaian pihak Tin-wan Piaukiok dengan kau pun belum bisa diselesaikan!"
Miao Tiang-hong tersentak sadar, pikirnya .
"Benar, jelas Han Wi-bu pasti masih ingin mencari kesulitanku, tidak seharusnya aku membuat mereka ikut terembet dalam persoalanku. Mengandal kedudukan Ki Kian-ya dan Han Wi-bu bila aku meninggalkan tempat ini, pastilah mereka tidak akan meluruk kemari membuat perkara kepada Ci-lo. Kini tinggal Nyo Bok seorang, meski ia suka menimbulkan riak gelombang, terpaksa dia harus mencari sandaran kuat untuk menghadapi aku. Seorang diri jangan harap dia mampu menghadapi atau mau mencelakai Hun Ci-lo dan Siau-hujin!" , Karena pikirannya ini, segera ia berkeputusan tegas, katanya.
"Siau-toaso kuantar Ci-lo kemari, sedikitnya aku sudah bercapek lelah dalam pertanggungan jawabku, maka selanjutnya kuharap kau suka banyak memperhatikan dirinya."
"Dia adalah keponakanku, sudah tentu aku akan merawat dan mengasuhnya baik-baik. Tapi kemana kau hendak pergi?"
"Aku sudah biasa dengan kehidupan kelana, ke mana sekarang aku harus menuju, belum bisa kupastikan. Betapa luas dunia ini, sedikitnya masih banyak tempat untukku berteduh!"
"Entah apa saja yang hendak dibicarakan pemuda she Song itu kepada Ci-lo, kukira ia pun sedang membujuk dan menghiburnya. Mari kita ke sana, apakah mereka sudah keluar?"
Hun Ci-lo sedang mondar-mandir di luar hutan, sikapnya hampa dan seperti linglung, pipinya masih basah air mata.
Tanpa dijelaskan Miao Tiang-hong sudah dapat menduga apa yang dibicarakan Song Theng-siau kepadanya.
"Eh, Ci-lo, kenapa kau ? Apakah Song-sukomu itu sudah pergi? Apakah dia mengutarakan omongan yang menyakiti hatimu?"
"Tidak apa-apa, apa yang dia ucapkan adalah demi kebaikanku, tapi aku sendiri yang teramat sedih. Ah, kalian pun sudah selesai bicara."
Segera Miao Tiang-hong menimbrung.
"Ci-lo, aku hendak segera pergi. Kuharap kau tidak perlu tanya alasan atau sebab-sebabnya. Kuharap kau bisa menjaga dirimu baik-baik!"
Hun Ci-lo terlongong, walaupun kejadian ini sebelumnya sudah dalam rekaannya.
"tiada perjamuan yang, tidak bubar,"
Demikian pikir Ci-lo, ' cuma perasaan hatinya terhadapku selama hidupku ini agaknya sulit aku memberikan balasan!"
"Aku paham!"
Demikian sahut Hun Ci-lo.
"Hubungan sesama manusia memang ada kalanya sulit dimengerti atau dipahami, kita pun hanya mengharap akan tindakan atau kelakuan yang lurus dan benar saja. Ai, baik juga kalau kau pergi!"
"Aku pun tidak akan tinggal lagi di sini,"
Demikian sela Siau-hujin.
"Gwat-sian punya bu inang di desa lain, mungkin sementara waktu aku akan ajak Ci-lo menetap di sana, baiklah kita bicara lebih lanjut setelah Ci-lo melahirkan. Tiang-hong, sementara ini kalian berpisah saja, setahun kemudian, boleh kau datang menjenguknya!"
"Entah di mana setahun lagi aku akan berada. Ci-lo jagalah dirimu baik-baik, aku mohon diri!"
Miao Tiang-hong beranjak semakin jauh dan tinggal setitik hitam saja, namun dari kejauhan masih terdengar ia bersenandung membawakan syair-syair pujangga kuno yang kedengarannya merawankan hati.
-ooo0dw0ooo-Di jalan raya yang menembus ke Pak-bong-san, seperti pula keadaan Miao Tiang-hong, Song Theng-siau sedang beranjak ke depan sambil menunduk tidak bersuara.
Cuma yang satu menuju ke selatan sedang yang lain ke utara, kalau yang ke selatan seorang diri, sebaliknya yang ke utara ada seorang lain menjadi teman jalannya.
Sekian lama Song Theng-siau beranjak tanpa buka suara, baru sekarang ia menarik napas panjang.
Lu Su-bi menjadi kuatir, sambil memeluk lengan orang ia bertanya lirih.
"Song-suko, kenapa kau begitu bersedih hati?"
"Aku menyedihkan watak orang gampang berubah, kejadian justru sering di luar penilaian!"
Tak tertahan Song Theng-siau mengutarakan penasaran hatinya.
"O, maksudmu persoalan yang menyangkut Hun-cici?"
"Jangan kau salah paham, maksudku adalah Beng-toako dengan Hun Ci-lo. Entah berapa kali mereka pernah bersumpah setia terhadap langit dan bumi, kepada gunung dan sungai, betapa pahit getir dan penderitaan yang mereka kecap bersama, kukira setelah mengalami segala aral rintang, mereka bisa rujuk kembali, siapa nyana kini mereka masing-masing sudah mempunyai pujaan hati masing-masing."
"Maksudmu pujaan hati Hun-cici adalah Miao-siansing itu, lalu siapa pula pujaan hati Bengtoako?"
Seperti sengaja seperti tidak, Song Theng-siau melirik kepada Lu Su-bi, katanya pelan-pelan.
"Kabarnya dia berhubungan erat dengan ciangbunjin baru Hu-siang-pay yang bernama Lim Busiang, kukira hubungan mereka bukan lagi menjadi kenalan biasa, hal ini Hun Ci-lo sendiri yang memberi-tahu kepadaku. Siau-sumoay, setelah mendengar berita ini, kau ikut senang tidak?"
"Hah! Benar-benar berita yang menggembirakan!"
Lu Su-bi berjingkrak riang.
"Sudah tentu aku ikut girang bagi mereka, memangnya kau tidak ikut senang?"
"Aku mengharap dia bisa rujuk kembali dengan Hun Ci-lo, tapi sekarang kejadian sudah berlarut sedemikian rupa, kalau benar Beng-toako sudah punya pujaan hati lainnya, sudah tentu aku pun ikut girang baginya."
Ia tertawa geli lalu sambungnya.
"Kenapa kau merasa berita ini cukup menyenangkan?"
Merah muka Lu Su-bi, semprotnya.
"Cis, Song-toako, kau memang tidak genah, aku tidak mau bicara lagi."
"Kau tidak mau bicara, aku pun sudah paham!"
Demikian goda Song Theng-siau tertawa.
Seperti diketahui ayah bunda Lu Su-bi semula hendak menjodohkan putrinya ini kepada Beng Goan-cau, kini Beng Goan-cau sudah punya pujaan hati lain orang, sudah tentu Lu Su-bi seakan-akan terlepas dari belenggu yang mengekang dirinya.
"Siau-sumoay, apakah kau ingin bertemu dengan Beng-toako?"
"Pertemuan besar di Thay-san sudah bubar, jejaknya sulit diketahui lagi, ke mana pula kita harus menemui dia?"
"Mari kita mencarinya di Pakkhia!"
"Dari mana kau bisa tahu bila dia berada di Pakkhia?"
"Kali ini Beng-toako meninggalkan Siau-kim-jwan dengan mengemban tugas untuk mencari hubungan dengan para enghiong dari seluruh dunia, kau tahu tidak?"
"Memang dia pernah menjelaskan hal ini kepadaku. Bahwa dia ikut hadir dalam pertemuan besar di Thay-san kali ini adalah demi kepentingan tugasnya itu."
"Pakkhia adalah seumpama sarang naga dan gua harimau. Meski Beng-toako dapat mengikat hubungan dengan berbagai enghiong dari berbagai penjuru, kuduga pasti akan menuju ke Pakkhia juga!"
"Ya, seumpama tidak menemukan Beng-toako, kita bisa berkesempatan tamasya ke kota raja. Toh kita sudah terlanjur sampai di sini, perjalanan ke Pakkhia cuma makan waktu dua hari saja!"
"Tapi kota raja merupakan pusat pemerintahan yang terjaga kuat, kita harus jauh lebih hatihati dan waspada!"
"Betul, kalau kita menginap di hotel, kebentur ada pemeriksaan, tentu serba menyulitkan! Bagaimana baiknya?"
"Sejak tadi sudah kuingat satu orang, orang itu bisa menjadi tuan rumah tempat kita menginap di sana!"
"Siapa yang kau maksudkan?"
"Cay Kin, putra Cay Moh, congpiauthau terdahulu dari Tin-wan Piaukiok. Mereka adalah sahabat Siau Ci-wan toako, punya hubungan gelap dengan pihak laskar rakyat!"
Berkerut alis Lu Su-bi, katanya.
"Lagi-lagi orang yang ada sangkut pautnya dengan Tin-wan Piaukiok, baru saja kita mengikat permusuhan dengan Han Wi-bu bukan!"
"Kau tidak perlu kuatir, dulu Cay Moh meninggalkan Tin-wan Piaukiok karena ia didesak oleh ayah Han Wi-bu. Sekarang Cay Moh dan ayah Han Wi-bu sudah sama mati, Han Wi-bu mewarisi jabatan cong-piauthau, sementara putra Cay Moh yaitu Cay Kin sudah tidak punya hubungan dengan Tin-wan Piaukiok. Cuma, sebelumnya tidak pernah terpikir olehku akan datang ke Pakkhia, waktu berada di Siau-kim-jwan, Siau-toako pernah menyinggung Cay Kin itu kepadaku, sayang aku tidak menanyakan alamat tinggalnya. Setelah tiba di kota raja kita harus mencari tahu lebih dulu kepada orang-orang di sana!"
"Apa kau tidak kuatir kebentur dengan orang-orang Tin-wan Piaukiok?"
"Sudah tentu tindak tanduk kita harus hati-hati dan bekerja menggunakan otak. Kita bekerja melihat gelagat saja, tidak perlu kuatir!"
Dua hari kemudian mereka sudah tiba di Pakkhia.
Tampak suasana dan keadaan di kota raja memang serba baru dan lain dari yang lain, jalan raya yang lebar, kendaraan berlalu lalang tidak putus-putusnya, bangunan gedung-gedung istana yang megah dan mentereng.
Letak istana raja terletak di pusat keramaian kota, seluruh bangunan istana didirikan dengan serba kaca, dari kejauhan kelihatannya seperti sisik-sisik ikan yang berkilauan disorot sinar matahari, betapa indah dan semaraknya sulit dilukiskan dengan kata-kata.
Di depan gedung istana raja terdapat sebuah lapangan luas yang terletak di sebelah utara, sebelah luar dari istana ini dibangun sederetan bangunan tembok besar yang menjulang megah dengan warna merahnya yang menyolok, itulah bangunan yang sudah terkenal di seluruh jagat yang dinamakan Thian-an-bun.
Tanpa sadar mereka tertarik dan terpesona oleh kemolekan bangunan di depan lapangan luas Thian-an-bun.
Istana raja cuma dapat dilihat dari kejauhan dan tidak mungkin disentuh, dulu orang-orang yang mondar mandir di depan lapangan Thian-an-bun pun hanya bisa mengawasi saja dari kejauhan.
Demikian juga penduduk Pakkhia sendiri setiap kali lewat di lapangan Thian-an-bun tak disadari pasti tertarik dan menoleh dengan pandangan yang kesima.
Apalagi Song Theng-siau dan Lu Su-bi yang baru pertama kali ini berada di kota raja, mereka lebih kesima dan terpaku oleh segala sesuatu yang dilihatnya di depan mata.
Tengah mereka terbelalak dan terpesona bagai mabuk kesenangan, tiba-tiba didengarnya suara serempak dari perpaduan serombongan kuli-kuli yang berholopis kuntul baris, ternyata puluhan kuli-kuli memanggul arang sedang mendatangi dengan beban di punggung yang amat berat, mereka berjalan berbaris seperti burung kuntul dengan terbungkuk-bungkuk saking keberatan, di antara sekian banyak orang yang berlalu lalang di depan Thian-an-bun, mungkin hanya rombongan mereka ini yang tidak sempat atau tiada perhatian lagi untuk menyaksikan keindahan bangunan istana raja yang megah.
"Siau-sumoay,"
Segera Song Theng-siau berkata.
"Hati-hati, jangan sampai kau tersentuh kotoran arang sehingga bajumu hitam!"
Belum habis ia bicara, kebetulan seorang kuli memanggul arang lewat di samping Lu Su-bi, mungkin karena keberatan dan jalannya terbungkuk-bungkuk sehingga keranjang arang di punggungnya ikut tergoyang-goyang dan kebetulan menyerempet pakaian Lu Su-bi sehingga menjadi kotor hitam.
Song Theng-siau menjadi gusar, dampratnya.
"Kau orang ini kenapa berjalan tidak hati-hati?"
"Suko!"
Lekas Lu Su-bi menahannya.
"Mereka berjalan dengan terbungkuk-bungkuk, tidak bisa kau salahkan mereka. Kenapa harus mencari ribut dengan kuli-kuli yang sengsara ini?"
Lu Su-bi kuatir Song Theng-siau marah-marah dan mencari perkara kepada kuli arang itu maka ia menumpahkan kesalahan pada diri sendiri.
Tapi di dalam relung hatinya, diam-diam ia sedang merasa keheranan, ternyata di waktu mendengar gerungan napas berat para kuli-kuli arang itu, siang-siang ia sudah menyingkir ke samping namun toh masih tersentuh juga, sebagai orang yang pernah melatih ginkang tingkat tinggi ternyata tidak luput dari sentuhan orang, jelas bahwa orang itu memang sengaja hendak menyerempetkan keranjang arangnya, dan lagi pasti pernah berlatih ilmu silat pula sehingga ia pun memiliki gerak langkah yang begitu lincah dan tangkas.
Cuma ia takut Song Theng-siau menimbulkan keributan, maka ia tidak berani mengutarakan rasa curiganya ini.
Tak lama kemudian setelah rombongan kuli-kuli itu pergi, mendadak Song Theng-siau seperti merasakan kekurangan sesuatu, waktu ia meraba-raba tiba-tiba ia menjerit kaget.
"Suko, kenapa kau?"
"Kuli arang itu adalah pencopet!"
"Dari mana kau bisa tahu?"
"Pedang yang kubawa sudah hilang."
Ternyata pedangnya ia simpan di dalam jubahnya dan tergantung di pinggir pinggang, kini yang tergantung tinggal sarungnya.
"Masakah mungkin ada pencopet yang sedemikian liehay?"
"Kenyataan pedangku sudah hilang, marilah lekas kejar! Aih, mana tusuk kundaimu? Juga hilang!"
Waktu Lu Su-bi meraba sanggulnya, benar tusuk kundainya yang terbuat dari batu jade sudah tidak berbekas, keruan ia kaget dan berteriak.
"Masakah benar dalam dunia ini bisa kedapatan pencopet yang sedemikian liehaynya!"
Jalan raya yang penuh sesak sudah tentu sulit mengembangkan ilmu ringan tubuh, untunglah kuli-kuli arang itu sama memanggul arang yang berat sehingga jalannya tidak cepat, meski berselang agak lama kemudian baru mereka menyadari kehilangan barang, setelah melakukan pengejaran yang cukup jauh akhirnya mereka berhasil mengejar rombongan kuli-kuli arang itu.
Setelah melewati sebuah jembatan emas di bagian luar lapangan, rombongan kuli-kuli arang itu sama berpencar ketiga jurusan yang berlawanan.
Segera Theng-siau bertanya.
"Siau-sumoay, apa kau masih bisa mengenal kuli arang yang menyenggol kau?"
Muka kuli-kuli arang itu sama berlepotan arang hitam yang legam, sehingga rupa mereka hampir serupa, jalannya sama terbungkuk-bungkuk pula, sehingga tinggi rendah badan mereka sulit dibedakan kalau tidak terlalu diperhatikan.
Tengah Lu Su-bi berdiri bingung dan was-was, tiba-tiba dilihatnya salah seorang dari rombongan yang menuju ke arah timur sana, sedang berpaling ke arah mereka sambil melontarkan mimik wajah yang lucu, seperti tertawa bukan tertawa.
Tergerak hati Lu Su-bi, lekas ia berseru.
"Betul pasti orang itu adanya. Agaknya memang dia sengaja hendak menggoda kita!"
Song Theng-siau pun sudah teringat akan seseorang, katanya.
"Tidak usah bikin ribut, kita kuntit saja pelan-pelan."
Orang yang mereka kuntit itu saat mana kebetulan tiba di pinggir ungai, lalu menurunkan keranjang rang yang dipanggulnya, serta lengeluarkan kain handuk terus libasahi air sungai untuk mencuci nuka.
Tatkala itu, yang menguntit li belakangnya kecuali Song Theng-siau berdua tiada orang lain nila.
Setelah mencuci kotoran arang i mukanya orang itu berdiri serta jerseru tertawa.
"Kalian mengejar cemari apa minta aku mengganti pakaian? Aku kuli arang yang rudin ini masakah mampu menggantinya?"
Kaget dan girang pula Song Theng-siau dibuatnya, serunya tertawa lebar.
"Kwi-hwe-thio, ternyata kau adanya, sebetulnya sejak tadi aku sudah teringat akan kau, di kolong langit ini kecuali kau Kwi-hwe-thio ini, siapa pula yang punya kepandaian mencopet sedemikian liehay?"
Kwi-hwe-thio tertawa, ujarnya.
"Terima kasih akan pujian Song-toaya, toaya tidak marah lagi kepadaku bukan?"
Ternyata kuli arang ini bukan lain adalah samaran pencopet nomor satu di seluruh dunia Thio Siau-yau yang dijuluki Kwi-hwe-thio.
Tempo hari Song Theng-siau pernah bertemu padanya di Siok-ciu, sejak berpisah satu tahun sudah berselang, tak nyana kini bisa jumpa pula di kota raja.
"Kwei-hwe-thio, kenapa kau mengganti obyek kerjamu terima menjadi kuli arang?"
"Aku tidak mengganti obyek kerja lho, bagi orang yang berpredikat seperti aku ini harus bisa muncul di dalam posisi kedudukan yang beraneka ragamnya. Bukankah Song-toaya mengejarku kemari karena kau kehilangan barang?"
"Betul, aku memang hendak memaki kau, kenapa kau berkelakar macam ini terhadapku? Soal guyon-guyon dengan aku sih tidak apalah, kau pun bikin siau-sumoay-ku kaget dan ketakutan."
"Kalau tidak kugunakan cara guyon-guyon ini mana bisa aku memancing kalian kemari? Di depan Thian-an-bun yang ramai itu, masakah enak untuk bicara?"
Lalu ia keluarkan pedang dan tusuk kundai Song Theng-siau dan Lu Su-bi serta mengembalikan kepada mereka.
"Kapan kau berada di Pakkhia ini, Beng Goan-cau berada di Pakkhia tidak, apa kau tahu?"
"Di sini aku sudah menetap tiga bulan, selama ini belum pernah kudengar berita mengenai Beng-toaya. Kalian menetap di mana?"
"Baru saja kami tiba di sini, ingin mencari Cay Kin putra cong-piauthau Tin-wan Piaukiok yang terdahulu, namun belum sempat kucari tahu alamat mereka."
"Keluarga Cay menetap di lorong Inang, dari Thian-an-bun menuju ke barat, setelah sampai di ujung jalan lalu membelok ke utara serta membelok lagi ke arah timur, di sana terdapat sebuah jalan melintang, di situlah gang Inang yang dimaksudkan."
"Aneh juga nama jalan rumahnya itu,"
Demikian sela Lu Su-bi.
"Kau merasa namanya itu tidak enak didengar bukan, ketahuilah asal-usul nama lorong itu mempunyai sejarahnya tersendiri. Di tempat itu pernah menetap ibu inang dari salah satu raja dinasti beng, maka nama lorong itu dinamakan gang Inang. Nama ini sudah bertahan selama dua ratusan tahun sampai sekarang."
"Kwi-hwe-thio, kau kenal baik dengan Cay Kin, kenapa tidak kau bawa kami ke rumahnya?"
"Tugas kerjaku hari ini belum lagi selesai, maaf aku tidak bisa mengantar kalian kesana!"
"Aku bicara betul-betul, memangnya kau anggap aku berkelakar?"
"Ai, Song-toaya, kau sendiri sih tidak perlu bekerja, namun bicaramu amat iseng sekali. Memangnya kau tidak tahu bahwa tugas yang kukerjakan ini tidak penting?"
Berkerut alis Song Theng-siau, katanya.
"Apa kau benar-benar ingin menjadi kuli arang? Bukankah tadi kau mengatakan tugas kerjamu sekarang ini hanyalah untuk samaran supaya dapat menutupi asal-usulmu yang sebenarnya?"
"Palsu tulen, tulen palsu, yang terang tugas yang kukerjakan tidak boleh sembarangan dibocorkan. Dan lagi aku tahu siapa itu Cay Kin, namun Cay Kin tidak kenal siapa aku!"
"Bagaimana bisa begitu?"
"Bagi pencopet seperti aku ini, setiap tiba di suatu tempat, menurut kebiasaan, harus menyelidiki tokoh-tokoh ternama siapa saja yang punya harta besar, sebaliknya para tokoh-tokoh kosen itu belum tentu bisa mengenal pencuri kecil macamku ini."
"Kau adalah maling sakti nomor satu sejagat, masih kau katakan tidak punya nama segala?"
Demikian olok Lu Su-bi tertawa.
"Mungkin Cay Kin memang pernah dengar namaku, tapi selamanya ia belum pernah bertemu muka dengan aku, beliau pun belum tentu tahu bahwa aku sudah berada di Pakkhia. Kalau kalian sudah bertemu dengan dia, kuharap kalian jangan katakan bahwa akulah yang memberi tahu alamat rumahnya kepada kalian."
Mau tidak mau Song Theng-siau berpikir.
"Dia menyamar sebagai kuli arang, pasti punya sebab dan latar belakang yang rahasia dan segan diketahui orang lain."
Maka ia pun tidak bertanya lebih lanjut, katanya.
"Kalau begitu di mana kau tinggal, lain waktu biar kumampir di tempat kediamanmu."
Cepat Kwi-hwe-thio menggoyangkan tangan, katanya tertawa.
"Kediaman kuli-kuli arang tak usah kuberitahu pasti kau sudah tahu, di sana hanyalah tempat bobrok yang kotor, pakaianmu serba perlente kalau mendatangi tempat jorok begitu, kau sendiri tidak merasa jijik sebaliknya teman-temanku bakal curiga. Kalau kau ingin bertemu dengan aku, biar aku sendiri yang mencari kau, kutanggung kau akan merasa diluar dugaan."
Mendengar penjelasannya ini, terpaksa Song Theng-siau tidak bicara lebih jauh, segera ia mohon diri berpisah, langsung menuju ke rumah Cay Kin.
Hubungan Cay Kin dengan Siau Ci-wan, pemimpin laskar gerilya di Siau-kim-jwan amat kental, ia pun sudah lama mendengar ketenaran Song Theng-siau, sudah tentu keda-tangananya disambut dengan girang.
Sementara baiklah kita kesampingkan Song Theng-siau dan Lu Su-bi yang menetap di rumah Cay Kin.
Sementara itu, setelah Kwi-hwe-thio bertemu dengan Song Theng-siau berdua, selesai mengirim keranjang arang itu langsung ia pulang ke rumah, tatkala itu cuaca sudah petang, di mana-mana mulai menyulut dian.
Majikan arang kelihatan sedang duduk berhadapan minum arak dengan seorang laki-laki berjambang bauk lebat, begitu melihat Kwi-hwe-thio pulang, segera ia berseru sambil tertawa riang.
"Kwi-hwe-thio, ke mana saja kau ngela-yap bersuka ria? Untung kedatanganmu masih sempat, sebentar lagi segentong arak Cu-yap-ceng yang bermutu paling enak ini, sudah ditenggak habis oleh Utti Tayhiap!"
"Juragan Cui,"
Ujar Kwi-hwe-thio.
"jangan kau membuatku penasaran, sebagai kuli yang paling setia masakah aku malas dan ngeloyor dolan?"
Ternyata juragan arang ini she Cui, juragan arang yang paling terkenal di pintu timur kota raja.
Sedang laki-laki jambang bauk itu adalah Utti Keng yang amat terkenal di kalangan kangouw sebagai begal kuda dari Kwantang.
"Kwi-hwe-thio,"
Utti Keng ikut menimbrung.
"Tugas yang kami serahkan kepadamu memang rada merendahkan derajatmu, kau disuruh memanggul arang setiap hari, mana bisa kelayapan dengan bersuka ria? Tadi aku sedang berkuatir bagi dirimu, kau pulang sampai malam begini, apakah kau kebentur oleh Pakkiong Bong?"
"Seumpama Pakkiong Bong bertemu muka dengan aku juga tidak akan kenal siapa aku ini. Tapi hari ini memang aku bertemu dengan seorang kenalan lama."
"Siapa?"
Tanya Utti Reng.
"Song Theng-siau!"
"Song Theng-siau yang sejajar dengan Beng Goan-cau itu?"
"Benar, malah dia mencari tahu jejak Beng Goan-cau kepadaku, Tapi aku tidak berani membocorkan urusan kita kepadanya."
"Benar, lain Beng Goan-cau lain pula Song Theng-siau, kabarnya dia kelahiran putra hartawan, sepak terjang dan wataknya mungkin tidak setegas dan setenang Beng Goan-cau, lebih baik kau berlaku rada hati-hati terhadapnya. Cuma bicara tentang Beng Goan-cau, aku jadi kangen kepadanya. Apakah kau masih ingat, tempo hari kubantu kau, kuda suri merah yang berhasil kucuri itu akhirnya kuberikan kepada Beng Goan-cau. Kalau Beng Goan-cau benar-benar sudah memasuki kota raja, maka kita bisa bekerja secara besar-besaran dengan blak-blakan pada mereka."
Juragan she Cui itu segera menyela.
"Tenaga kita terlalu sedikit, namun kukira dari markas pusat Thian-te-hwe bisa mengutus beberapa orang kemari. Oh, Kwi-hwe-thio, kabar apa saja yang berhasil kau selidiki hari ini?"
"Aku belum mendapat kabar yang pasti. Tapi rumah Pakkiong Bong dan Sat Hok-ting samasama sudah pernah kugerayangi, tidak perlu petunjuk jalan lebih lanjut. Suatu malam bila cuaca gelap dan angin kencang, aku bisa menyelundup masuk seorang diri untuk menyelidiki lebih jelas lagi."
"Menurut hematku, kita tunggu setelah bantuan dari markas pusat tiba baru dibicarakan lebih lanjut,"
Demikian usul juragan she Cui.
"Kang Tayhiap menyerahkan persoalan muridnya ini kepadaku, kalau aku tidak bisa cepat-cepat menyelidiki jejak dan berita Li Kong-he, hatiku sulit tentram. Kepandaian pergi datang Kwi-hwethio tiada bandingannya di kolong langit, juragan Cui tidak perlu kuatir, biar dia pergi bersama aku, kukira asal kami bekerja cermat dan hati-hati pasti tidak akan timbul sesuatu di luar dugaan."
"Bicarakan lebih lanjut dekat waktunya!"
Demikian ujar Kwi-hwe-thio.
Ternyata Thian-te-hwe adalah kumpulan rahasia dari orang-orang gagah penentang kerajaan Ceng.
Thocunya bernama Lim To-kan, wakilnya bemama Li Kong-he, keduanya adalah muridmurid Kang Hay-thian.
Di berbagai sektor kota-kota besar Thian-te-hwe ada mendirikan berbagai cabang yang tersebar luas, cabang terbesar, yaitu cabang yang didirikan di kota Poting yang letaknya tidak jauh dari kota raja.
Cabang di kota Poting ini tiga tahun yang lalu pernah digrebek oleh pihak kerajaan, mengalami kerugian yang amat besar.
Hu-thocu Li Kong-he terpaksa harus turun tangan sendiri meluruk ke Poting untuk menyelidiki situasi serta mengumpulkan sisa-sisa kekuatan yang dapat dibangun kembali.
Untuk menghilangkan perhatian dan incaran pihak kerajaan, Li Kong-he berangkat seorang diri tanpa membawa pembantu.
Sebelumnya Li Kong-he sudah berjanji sama Lim To-kan, paling lambat tiga bulan pasti ia sudah kembali, tak nyana begitu berangkat setengah tahun sudah berselang, namun tidak pernah mendengar kabar beritanya.
Lim To-kan pernah menyebar anak buahnya untuk membuat penyelidikan dan menyirapi ke mana-mana, para anggauta yang masih menyembunyikan diri di kota Poting pun belum pernah ada yang melihat kedatangannya.
Tapi dari kabar berita yang didapat secara tidak langsung, serta dihitung waktunya ternyata bertepatan dengan kedatangan Li Kong-he di Poting, dari Pakkhia kabarnya kerajaan Ceng pun ada mengutus beberapa jagojagonya untuk menyapu bersih sisa-sisa anggauta Thian-te-hwe yang masih tersembunyi di kota Poting, kabarnya tiada seorang pun anggauta Thian-te-hwe yang tertangkap, sebaliknya mereka berhasil meringkus seorang "buronan", buronan yang dimaksud ini adalah sutenya, Li Kong-he.
Penjagaan di kota raja amat keras dan ketat, di kota raja Thian-te-hwe tidak mendirikan cabang, cuma ada beberapa anggauta rahasia yang menyembunyikan diri, mereka sama bekerja di dalam berbagai bidang atau usaha dagang yang berlainan.
Juragan she Cui yang berdagang arang ini adalah salah satu di antaranya.
Dia pulalah yang memimpin usaha menolong Li Kong-he.
Dari Soh-ciu, Kwi-hwe-thio langsung menuju ke Pakkhia, setelah melakukan beberapa kali kerjaan besar, tangannya memiliki uang perak yang tidak akan habis untuk berfoya-foya beberapa tahun, saking kesenangan hidup berfoya-foya ia lalu menetap di Pakkhia.
Utti Keng menemukan dia dan mengharapkan bantuannya yang memang amat diperlukan.
Kwi-hwe-thio tidak enak menampik permitaan orang, terpaksa ia terima permintaan orang dan terima merendahkan dirinya bekerja di perusahaan dagang juragan Cui menjadi kuli tukang panggul arang.
Bagi setiap penduduk Pakkhia menjelang musim dingin datang, setiap keluarga pasti membakar arang untuk menghangatkan badan.
Menyamar sebagai kuli panggul arang yang mengirim ke segala pelosok rumah, kesempatan lebih banyak main terobosan di rumah orang, terutama gedung-gedung orang kaya dan pejabat tertentu yang biasanya jarang di njak orang awam.
Juragan Cui sudah mencari tahu bahwa penjara istana tiada pesakitan baru, maka para buronan baru yang tertangkap hanya kemungkinan disekap pada dua tempat lainnya, pertama pada tempat kediaman Pakkiong Bong atau di markas besar Gi-lim-kun, tempat yang lain adalah di vil a milik Sat Hok-ting, biasanya buronan macam demikian tidak pernah disekap di dalam istana.
Kwi-hwe-thio sudah pernah memasuki tempat-tempat ini, waktu itu ia menyamar sebagai kuli pengantar arang, sudah tentu waktu itu sulit ia mencari berita, cuma seluk beluk keadaan rumahrumah itu sudah diselidikinya dengan hafal.
Bagi pencuri umumnya sebelum melaksanakan hajatnya, persiapan pertama yang harus dia lakukan adalah menyelidiki keadaan jalan dan situasi dalam rumah yang bakal dijadikan sasaran operasinya.
Di dalam bidang kerja pencopetan umumnya tidak perlu menggunakan istilah petunjuk jalan segala.
Dan persiapan macam itu bagi Kwi-hwe-thio sudah cukup matang tinggal melaksanakannya saja!
Kalau dibicarakan memang amat kebetulan.
Malam kedua ternyata cuaca amat gelap dan angin timur laut meniup amat kencang.
Utti Keng lantas mendesak Kwi-hwe-thio, mengajaknya pergi menyelidiki ke markas Gi-lim-kun di mana Pakkiong Bong menetap.
"Utti Tayhiap,"
Ujar Kwi-hwe-thio tertawa.
"Bicara soal kepandaian silat aku bukan apa-apamu, kalau menjadi maling sebaliknya kau pun bukan tandinganku, menurut hematku biar aku pergi seorang diri saja!"
"Aku tahu kepandaianmu tinggi dan liehay bagai setan gentayangan, jejakmu pergi datang tidak menentu, tapi markas Gi-lim-kun jangan kau anggap toko kelontong atau toko perhiasan, paling tidak kau perlu hati-hati. Seumpama terjadi sesuatu dan perlu saling hantam, dengan kehadiranku sedikitnya bisa saling membantu. Kau takut aku mengganggu kerjamu, baiklah aku menunggumu di luar saja, tidak ikut masuk ke dalam."
Kwi-hwe-thio berpikir sebentar lalu berkata.
"Begini saja, di belokan jalan di ujung sana ada sebuah rumah arak, di mana menjadi sarang perjudian pula. Warung arak lain begitu cuaca gelap lantas tutup pintu, sebaliknya rumah arak di sana dibuka sehari semalam. Boleh kau menunggu aku di sana, dalam tempo satu jam kalau aku belum juga keluar, boleh kau menyelundup masuk mencari tahu."
"Akal licikmu memang banyak, tapi sejalan dengan markas Gi-lim-kun diperbolehkan membuka sarang judi yang khusus, sungguh mengherankan."
"Kalau kuterangkan tentu tidak mengherankan. Bahwa di jalan yang sama sebenarnya terdapat dua sarang judi yang menutup sebelah pintunya, kedua tempat perjudian ini, masing-masing dilindungi oleh pejabat. Aku sendiri pernah berjudi di tempat itu pernah pula minum arak di sana. Kau bisa pura-pura menjadi penjudi minum arak di sana, kutanggung tidak ada orang mencari perkara atau menanyai asal usulmu."
"Begitu pun baik. Biar kuberi kau sebatang Coa-yan-cian (panah ular berasap), kalau terjadi sesuatu atas dirimu boleh kau sambitkan panah ini ke tengah angkasa, segera aku akan menyusul tiba."
Setelah segala sesuatunya diatur sempurna, kira-kira kentongan ketiga, mereka lantas bertindak menurut rencana.
Malam itu tiada bintang tiada rembulan, Kwi-hwe-thio sendiri sudah menyelidiki sasarannya dengan baik, ia punya pegangan yang cukup matang, betul juga secara diam-diam seumpama malaikat tidak tahu dan setan tidak merasa ia sudah menyelundup masuk ke markas besar Gi-limkun.
Begitu ia berada di dalam, situasi yang ia lihat menunjukkan gejala-gejala yang tidak benar.
Dia masuk dari belakang taman, begitu kakinya menginjak tanah di dalam taman, matanya yang jeli dapat melihat di belakang gunung-gunungan palsu, di semak-semak rumput kembang, tampak bayangan hitam bergerak, jelas mereka adalah peronda yang bertugas hilir mudik, jumlahnya tidak sedikit.
Dalam hari-hari biasa meski di dalam markas Gi-lim-kun ada petugas ronda tertentu, namun itu hanyalah tugas piket umum yang harus dilaksanakan.
Mereka menyangka pencuri biasa"
Masakah berani main gerayang di markas besar Gi-lim-kun, bagi tokoh kangouw biasanya juga tidak akan berani main kayu di atas kepala harimau.
"Mungkinkah terjadi sesuatu kejadian luar biasa malam ini?"
Demikian Kwi-hwe-thio bertanyatanya.
Sedang ia celingukan mendadak didengarnya suara gonggongan anjing yang menyalak ramai.
Kwi-hwe-thio ada meyakinkan mata malam, sembunyi di belakang sebuah gunungan palsu mencuri lihat ke depan sana, terlihat olehnya tak jauh di depan sana ada dua orang berjalan sambil menuntun dua ekor anjing.
Kwi-hwe-thio mengenal salah satu di antaranya adalah sute Pakkiong Bong yang bernama Sebun Soh.
Terperanjat Kwi-hwe-thio, pikirnya.
"Sebun Soh adalah tokoh kedua dalam gedung ini, kenapa dia pun terima menjadi peronda, aku harus berhati-hati. Kedua ekor anjing itu kelihatannya amat galak dan liar, mungkin teramat buas. Di tempat lain belum pernah aku melihat anjing galak macam demikian."
Terdengar busu yang berjalan bersama Sebun Soh itu bicara.
"Malam ini marilah kita coba ketajaman dan kepandaian kedua binatang cerdik dari Se-ek ini, kabarnya dia bisa mencium jejak bau orang asing, entah benar tidak. Kuatirnya di sini tiada orang asing berani kemari."
Belum lenyap ia bicara kedua anjing dari Se-ek itu ternyata menggonggong semakin keras dan gencar.
"Anjing ini menyalak sedemikian liehaynya,"
Demikian ujar Sebun Soh.
"Bukan mustahil memang ada orang asing datang."
Segera ia melepas tali yang membelenggu leher kedua anjing itu, secepat anak panah kedua anjing itu terus menerjang ke arah tempat persembunyian Kwihwe-thio.
Sejak mula Kwi-hwe-thio sudah siap, pikirnya.
"Sedapat mungkin aku harus mengulur waktu dan mencari daya upaya meloloskan diri."
Lekas ia ayun tangannya melempar dua buah bakpau berdaging.
Kedua bakpaunya ada dibubuhi semacam ramuan makanan khusus yang menjadi amat wangi dan enak, terutama anjing-anjing paling suka mencium bau wangi makanan macam itu, tapi kedua buah bakpau itu telah dibubuhi racun juga.
Kedua anjing galak ini terlatih sekali, kalau hanya bakpau biasanya agaknya tidak akan bisa membuat mereka mengilar.
Kini terpancing oleh bau wangi yang sedap itu, begitu bakpau Kwihwe-thio dilempar ke arah kiri sana, segera mereka mengubah arah memburu ke arah itu juga.
Waktu Sebun Soh dan Busu itu memburu datang, kedua ekor anjing sudah melalap habis kedua bakpau itu.
Kata Sebun Soh.
"Aneh, di sini tiada orang, kenapa pula kedua anjing ini menyalak sedemikian hebat?"
Untunglah malam itu gelap gulita tiada bintang dan rembulan, Kwi-hwe-thio sembunyi di belakang gunung-gunungan palsu melemparkan bakpaunya itu, maka jejaknya belum sampai ketahuan.
Kwi-hwe-thio insyaf bila racun dalam bakpau bekerja dan kedua anjing itu mampus betapapun jejaknya pasti ketahuan oleh musuh.
Tapi di dalam keadaan yang gawat dan kepepet ini, terpaksa dia hanya bisa main ulur waktu saja.
Tak duga meski kedua anjing itu sudah keracunan namun tidak segera mampus.
Kiranya bakpau beracun Kwi-hwe-thio kalau hanya menghadapi anjing biasa, memang lebih berkecukupan, namun kedua anjing dari Se-ek ini bertubuh kekar dan kuat, jauh berlainan dibanding anjing-anjing biasa.
Tepat di saat Sebun Soh memburu datang, racun dalam badan kedua anjing itu pun mulai bekerja, setelah mereka bergulingan dua kali di tanah, mendadak menyalak lagi, sembari menerjang ke arah tempat persembunyian Kwi-hwe-thio.
Mimpi juga Kwi-hwe-thio tidak menduga bahwa kedua anjing ini tidak segera mampus, malah menubruk ke arah dirinya begitu cepat, baru saja ia hendak menggeser tempat persembunyian dan belum keburu bergerak.
Terdengarlah Sebun Soh berteriak.
"Celaka, kelihatannya anjinganjing itu sudah kena racun, lekas gigit mati musuhmu!"
"Celaka! Semoga Thian memberi perlindungan, menyelamatkan keadaanku yang terjepit ini,"
Diam-diam Kwi-hwe-thio berdoa di dalam hati.
Saking tegang hampir saja jantungnya mencelat keluar dari rongga dadanya.
Tatkala itu Sebun Soh dan busu itu sudah ikut mengejar datang, sedikit ia bergerak, tentu jejaknya ketahuan oleh Sebun Soh, terpaksa ia hanya bisa berdoa mohon perlindungan Thian saja.
Ternyata manjur benar doa Kwi-hwe-thio, sekonyong-konyong sebuah keanehan terjadi pula, waktu kedua anjing itu memburu dekat ke tempat gunung-gunungan palsu di mana Kwi-hwe-thio sembunyi, mendadak mereka mengubah arah menubruk ke dalam rumpun kembang.
Sambil memburu Sebun Soh melontarkan pukulan Bik-khong-ciang ke empat penjuru, kini melihat kedua anjing itu menerjang ke dalam semak kembang ia pun ikut mengejar ke sana, teriaknya.
"Si maling sembunyi di atas gunung-gunungan palsu di dalam hutan Bwe, kalian lekas periksa kemari!"
Belum lagi Sebun Soh tiba di depan gunung-gunungan palsu lantas memutar tubuh, tapi pukulan jarak jauh yang dia lontarkan, angin pukulannya sudah menyambar lewat ke sebelah belakang gunung-gunungan palsu, tak urung Kwi-hwe-thio bergidik dibuatnya, untung tidak sampai mengeluarkan suara.
Ternyata Sebun Soh meyakinkan ilmu Hian-im-ciang, angin pukulannya teramat dingin membekukan sumsum dalam tulang, untung Kwi-hwe-thio sembunyi di balik gunung-gunungan palsu, meski kena tersambar, ia masih kuat bertahan.
Kaget dan girang pula Kwi-hwe-thio, batinnya.
"Aneh, apa betul Thian benar-benar memberikan berkah akan doaku tadi?"
Begitu memasuki rumpun kembang, racun dalam badan kedua anjing itu betul-betul sudah kumat, terdengar mereka terkuing-kuing seperti gila bergulingan di tanah, tiba-tiba mencelat tinggi terus terbanting mampus tak bergerak lagi.
Tiba-tiba terdengar seorang busu berteriak di sebelah sana.
"Tuh malingnya lari ke sebelah sana!"
Sebun Soh segera membentak.
"Kenapa kalian tidak lekas kejar!"
Dengan membongkok-bongkok Kwi-hwe-thio tongolkan kepalanya dari belakang gununggunungan palsu, karena dia ada meyakinkan mata malam lapat-lapat dilihatnya sesosok bayangan sedang melompat tinggi melampaui tembok yang memagari taman kembang ini.
Baru sekarang Kwi-hwe-thio paham duduknya perkara, ternyata di dalam taman kembang ini terdapat orang asing lainnya pula, entah dengan cara apa ia berhasil memancing kedua anjing itu ke sebelah sana, atau mungkin di saat mereka sudah keracunan dan daya pikiran sudah mulai kabur, mendadak mengendus bau, orang asing lainnya pula, maka mereka segera mengejar ke arah sana.
"Entah siapa orang itu, agaknya memang sengaja hendak menolong aku? Tapi mengandal ginkangnya itu, orang ini pasti bukan Utti Keng."
Kwi-hwe-thio sudah tiada tempo memikirkan hal ini lebih lanjut, di saat Sebun Soh dan para busu itu mengejar ke sana, cepat-cepat ia mengeloyor keluar terus menyelinap masuk ke dalam rumah.
Tahu tidak akan berhasil mengejar orang itu, ternyata Sebun Soh lekas kembali, teriaknya.
"Hayolah kalian periksa sekali lagi sekeliling tempat ini, waspadalah bila maling itu ada membawa kaki tangan!"
Pernah dua kali Kwi-hwe-thio mengantar arang ke gedung markas Gi-lim-kun, yang paling dihafalkan letaknya adalah dapur, tanpa terasa ia langsung menuju ke dapur.
Di dalam dapur sang koki dengan seorang pembantunya sedang masak, sekali berkelebat Kwi-hwe-thio menyelinap ke belakang tumpukan keranjang arang yang diletakan di pojokan dapur sebelah samping, ternyata kedua orang sedikit pun tidak tahu!
Kwi-hwe-thio menjadi rada heran, batinnya.
"Tengah malam buta rata, meski Pakkiong Bong ingin makan juga tidak perlu koki besar turun ke dapur sendiri!"
Tengah ia merasa keheranan, tampak seorang pelayan kecil melangkah masuk sembari berkata.
"Hidangan sudah siap seluruhnya belum?"
Koki besar segera menjawab.
"Panggang bebek belum lagi masak, paha kambing pun belum sempat kuberi bumbu. Kenapa tergesa-gesa?"
"Tidak perlu tergesa-gesa,"
Ujar pelayan kecil itu.
"Tayjin suruh kau bekerja lebih tekun, terlambat sedikit tidak menjadi soal asal hidangan serba lezat. Beliau hanya menyuruhku kemari melihat keadaan sembari memberitahu kepada kau supaya menyiapkan pula seguci arak simpanan!"
"Aku tahu. Tamu agung siapa yang datang?"
Tanya sang koki.
"Siapa tamu Ciong-ling, masakah aku berani mencuri lihat ke atas loteng?"
"Pendek kata setiap kedatangan tamu kita sendiri yang harus banting tulang. Tengah malam buta rata harus bangun bekerja berat lagi, menyebalkan!"
Demikian gerutu sang koki.
Ternyata koki besar ini diundang Pakkiong Bong dengan bayaran yang cukup besar, para koki ternama di Pakkhia memang mempunyai aturan tradisi yang turun temurun, tuan rumah menganggapnya dan melayaninya sejajar dengan tamu-tamu umumnya.
Terutama koki paling mengutamakan gengsi dan harga diri, biasanya bahwasanya ia jarang turun ke dapur sendiri, apalagi tengah malam buta rata disuruh turun dapur memasak, selamanya belum pernah terjadi, maka ia menggerutu menyatakan rasa tidak senangnya.
Pelayan kecil itu tidak berani banyak bacot, cepat ia mengundurkan diri.
Berpikir Kwi-hwe-thio.
"Tempat tinggal Pakkiong Bong di sebelah mana aku masih belum tahu, kebetulan aku bisa menguntit pelayan ini yang hendak pulang memberi laporan, bukan mustahil di sana aku bisa mendapatkan sesuatu berita!"
Baru saja ia hendak mengeloyor keluar, mendadak didengarnya di luar pintu ada suara orang. Koki besar mengerutkan alis, omelnya.
"Ada urusan apa ribut-ribut di luar, di waktu aku bekerja paling pantang ada keributan. Coba kau keluar melihatnya!"
Busu yang hendak memeriksa ke dalam berwatak kasar dan berangasan, begitu memasuki pintu dapur lantas berteriak.
"Tempat kalian ini adakah orang asing yang masuk kemari?"
Pembantu koki itu terkejut, jawabnya.
"Dalam dapur hanya toa-suhu dengan aku, orang asing masakah bisa masuk kemari?"
"Soalnya di luar taman sana ada kemasukan maling, Sebun Tayjin kuatir masih ada kaki tangan maling yang menyelundup masuk sembunyi ke dalam rumah."
Koki besar memangnya sedang uring-uringan, segera ia memapak ke depan dan bertanya.
"Kapan terjadinya?"
"Baru saja berlangsung, kira-kira setengah jam ini."
"Satu jam yang lalu aku sudah berada di dapur ini, belum pernah meninggalkan tempat kerjaku ini, kecuali mataku sudah buta, masakah si maling bisa bersembunyi di belakang kelopak mataku? Tiada halangan kalian masuk kemari memeriksa, kalau sampai menumpahkan segala apa yang tersedia di sini dan membuat bingung aku sehingga racikan tidak merata dan membuat hidangan tidak enak rasanya, aku tidak akan bertanggung jawab!"
Di saat mereka sedang berdebat di ambang pintu secara diam-diam Kwi-hwe-thio merunduk keluar dari tempat persembunyiannya, tanpa sungkan-sungkan ia meraih sepotong daging kambing terus dijejalkan ke dalam mulut, tidak lupa ia tenggak pula setengah botol arak simpanan yang paling baik mutunya, baru dengan rasa puas ia menyelundup keluar dari sebelah belakang.
Baru sekarang busu itu insyaf bahwa koki ini berwatak buruk, setelah memeriksa sekadarnya, terus ia minta diri dan mengeloyor pergi.
Koki besar sedang tertawa dingin mengantar punggung si busu, mendadak pembantunya bersemu heran, katanya.
"Sebotol arak ini kenapa tinggal separuh?"
Ternyata waktu ia angkat botol arak itu, rasanya kok lebih enteng, baru sekarang ia tahu botol arak yang masih baru itu ternyata sudah terbuka perekatnya dan isinya tinggal separuh saja.
Koki besar segera mengadakan pemeriksaan sekadarnya, didapatinya beberapa potong daging memang ikut hilang, seketika seri wajahnya menjadi kaku, cepat ia berbisik.
"Jangan kau bersuara terlalu keras, kalau didengar orang pasti kita akan ditertawakan benar-benar bermata buta!"
Dalam pada itu pemeriksaan para busu masih terus berlangsung dari bilik ke kamar yang lain, dalam waktu dekat tidak mungkin menuju ke bilangan sebelah dalam sana, dengan merundukrunduk Kwi-hwe-thio menguntit di belakang pelayan kecil itu, entah berapa jauh mereka menyelusuri serambi panjang yang berlika-liku, akhirnya pelayan kecil itu memasuki sebuah bangunan berloteng.
Kwi-hwe-thio tahu Pakkiong Bong tidak akan sudi menemui pelayan kecil ini, paling-paling menunggu pengurus rumah tangganya yang memberikan laporan dari bawah loteng, maka ia mengembangkan ginkangnya secara diam-diam melejit ke atas.
Ada sebuah kamar tampak menyorotkan cahaya lampu dari sebelah dalam, Kwi-hwe-thio menggantolkan kedua kakinya di payon lalu badannya membalik bergelantungan mengintip ke dalam.
Tampak di dalam kamar itu hanya terdapat satu orang, dia kenal orang itu karena bukan lain adalah Nyo Bok.
"Aneh, apakah tamu agung yang mereka maksudkan adalah Nyo Bok?"
Kwi-hwe-thio menjadi keheranan.
"Ternyata bajingan ini belum mati,"
Demikian pikirnya.
"Tapi untuk apa ia muncul di markas besar Gi-lim-kun? Pakkiong Bong melayaninya sebagai tamu agung lagi? Sungguh heran bin ajaib!"
Maklumlah Nyo Bok tidak lebih hanya seorang guru silat dari sebuah kota kecil, meski punya nama betapapun ia adalah rakyat jelata.
Sebagai komandan pasukan Gi-lim-kun, menurut lazimnya tidak mungkin akan sudi menemui dia, apalagi di tengah malam buta rata, merundingkan urusan rahasia di kamar pribadinya?
Sebagai kelana kangouw yang kawakan, lapat-lapat Kwi-hwethio merasa di balik hal ini ada sesuatu yang janggal, ia merasa di belakang pertemuan rahasia ini pasti ada apa-apanya yang pantang diketahui orang luar.
Tiba-tiba didengarnya suara orang batuk-batuk, seseorang beranjak memasuki kamar itu, dia bukan lain adalah Komandan Gi-lim-kun Pakkiong Bong.
Nyo Bok kelihatannya terkejut, tersipusipu ia bangkit berdiri dengan muka kurang tentram dan gugup.
Pakkiong Bong tersenyum manis, sapanya.
"Kau inikah Nyo Bok. Akulah Pakkiong Bong!"
Bergegas Nyo Bok menekuk lutut menyembah, serunya tergagap.
"Tidak tahu Tayjin telah tiba, aku, aku..."
Sikap Nyo Bok kelihatannya gugup dan takut. Kwi-hwe-thio yang mengintip di luar menjadi sungguh-sungguh heran, batinnya.
"Ternyata mereka sebelumnya belum berjanji, ini lebih aneh lagi. Kalau tamu agung itu bukan Nyo Bok memangnya siapa lagi?"
Lekas Pakkiong Bong mengulurkan kedua tangannya, sedikit mengangkat, Nyo Bok merasa segulung tenaga besar menyanggah badannya, serta merta ia diangkat berdiri. Kata Pakkiong Bong tertawa.
"Nyo busu, siapa yang kau sangka?"
Nyo Bok masih gugup dan takut seolah-olah arwahnya hampir copot, sekian lama mulutnya megap-megap tak mampu bersuara. Tanpa menanti jawabannya Pakkiong Bong melanjutkan.
"Kau sangka Ciok Tio-ki, wakil komandanku itu bukan?"
"Orang yang membawa hamba kemari katanya mendapat perintah dari Ciok-tayjin, maka hamba mengira Ciok tayjin yang minta hamba kemari menemui beliau!"
Demikian sahut Nyo Bok dengan suara tergetar. Pakkiong Bong tersenyum pula, katanya.
"Jadi aku yang menemui kau, maka merasa di luar dugaan?"
Nyo Bok menjura dan menjawab sambil membungkuk-bungkuk.
"Hamba benar-benar kaget dan girang pula!"
"Kau suka menjadi orang kepercayaanku atau ingin menjadi begundal Ciok Tio-ki?"
Demikian tanya Pakkiong Bong. Nyo Bok merasa was-was dan serba curiga, sahutnya.
"Terima kasih akan penghargaan Tayjin, meski hamba harus mengorbankan badan sampai hancur lebur pun sulit membalas kebaikan Tayjin."
Pakkiong Bong bergelak tertawa, ujarnya.
"Pangkat dan kekayaan apa yang Ciok Tio-ki bisa berikan kepadamu, aku pun bisa memberi berlipat ganda kepada kau. Bagus, kalau kau suka menjadi orangku, bicaralah terus terang. Ciok Tio-ki ajak kau ke kota raja, adakah dia membawa kau menemui Sat-congkoan?"
"Baru kemarin kami tiba, Ciok Tayjin sendiri sampai saat ini belum lagi kutemui pula!"
Pakkiong Bong segera mengunjuk rasa girang, ujarnya.
"Bagus, bagus. Kalau begitu ada beberapa urusan kau harus mendengar petunjukku!"
Tersipu-sipu Nyo Bok membungkuk-bungkuk sambil mengia-kan.
"Pertama, pertemuanmu denganku malam ini, tidak perlu kau beritahu kepada Ciok Tio-ki. Sikapmu pun harus tetap biasa seperti dulu, terutama bila mendapatkan kepercayaannya lebih baik, sekali-kali jangan sampai timbul kecurigaannya kepada kau. Tahu!"
Demikian pesan Pakkiong Bong.
Baru sekarang Nyo Bok tahu bahwa busu yang mengundangnya masuk ke dalam markas besar ini ternyata atas perintah Pakkiong Bong yang mencatut nama wakilnya.
Sudah tentu Nyo Bok tidak tahu latar belakang dari persoalan ini yang lebih rumit, tapi sebagai seorang yang berotak encer, lapat-lapat ia sudah merasakan di antara komandan dan wakilnya ini ada perselisihan yang sulit diketahui orang luar.
Bahwa Pakkiong Bong sebagai komandan, di dalam jalan pikiran Nyo Bok sudah tentu jauh lebih baik bila dia langsung main kontak dengan dia daripada dengan Ciok Tio-ki, maka bukan kepalang senang hatinya mendengar tawaran Pakkiong Bong tadi.
Terdengar Pakkiong Bong melanjutkan.
"Kelak aku akan mengutus seorang lain untuk berhubungan dengan kau, berita apa saja yang kau dapatkan kau harus sampaikan dulu kepadaku, berita yang tidak begitu penting boleh kau beritahukan juga kepada Ciok Tio-ki. Dan lagi apa saja yang Ciok Tio-ki bicarakan dengan kau, atau kau mendapatkan info apa-apa dari pihak mereka, harus cepat-cepat secara jujur dan terang-terangan beritahu kepadaku, kalau main sembunyi-sembunyi atau membocorkan segala rahasiaku, aku tidak sungkan-sungkan lagi mencabut nyawamu!"
"Mana hamba berani?"
Sambil membungkuk-bungkuk Nyo Bok mengiakan pula.
"Memangnya kau tidak akan berani!"
Demikian jengek Pakkiong Bong.
"Tayjin masih ada petunjuk apa lagi?"
Tanya Nyo Bok.
"Biar kupikir sebentar. Ou, Han-congpiauthau dari Tin-wan Piaukok amat kental berhubungan dengan kau bukan?"
"Benar, entah Tayjin ada petunjuk apa?"
Baru sampai di sini pembicaraan mereka, Sebun Soh memasuki kamar itu hendak melaporkan ribut-ribut soal maling di luar tadi.
Kwi-hwe-thio cepat mengkeretkan badan sembunyi di lekukan payon di mana buat jalan air, kebetulan badannya teraling-aling dan tidak kelihatan dari segala jurusan.
Terdengar Pakkiong Bong berkata.
"Aku pun dengar anjing menyalak, agaknya jejak maling itu sudah ketahuan oleh kalian, sekarang sudah melarikan diri. Kalian tidak berhasil meringkusnya bukan?"
Pakkiong Bong hanya mengandal pendengaran saja, namun kejadian apa yang berlangsung di taman kembang dapat diketahui seperti menyaksikan sendiri.
Keruan Kwi-hwe-thio yang sembunyi di atas rumah kaget, pikirnya.
"Untung dia hanya tahu jejak orang yang melarikan diri saja."
Kepandaian pergi datang Kwi-hwe-thio memang sudah mencapai puncaknya yang tertinggi, dia percaya waktu membuntuti pelayan tadi sedikit pun dirinya tidak mengeluarkan suara, tapi sekarang ia amat terkejut dan tak berani bernapas terlalu keras, kuatir dengus napasnya bisa terdengar oleh kuping Pakkiong Bong yang tajam.
"Kuatirnya pencuri itu ada kaki tangannya, tapi aku sudah mengadakan pemeriksaan serentak, tidak mendapatkan apa-apa,"
Demikian tutur Sebun Soh.
"Pencuri tidak akan berani menyatroni tempatku ini. Kalian tidak perlu bikin ribut-ribut lagi, supaya tidak ditertawakan oleh tamu kita,"
Demikian ujar Pakkiong Bong. Sebun Soh percaya akan kepandaian suhengnya, katanya.
"Ya, masakah ada pencuri yang bernyali besar berani datang kemari, jejaknya tentu tidak akan bisa mengelabui mata kuping suheng."
Demikian umpak Sebun Soh.
"Aku hanya memberi sekedar laporan saja!"
"Sekarang sudah mendekati kentongan ketiga, tamu kita segera bakal tiba."
"Ya, biar aku mewakili suheng menyambut kedatangan tamu agung."
"Tidak, jangan, tamu kita itu tidak mau diketahui orang lain, dia akan datang sendiri. Kau tidak perlu mewakili aku menyambut kedatangannya. Adalah Nyo-siansing ini, wakilkan aku mengantarnya pulang saja."
Sementara dalam hati Pakkiong Bong membatin.
"Meski Nyo Bok kenal orang itu, ada lebih baik mereka jangan dipertemukan di tempatku ini."
"Tayjin, tadi kau ada menyinggung soal Han-congpiauthau dari Tin-wan Piaukiok..."
Pakkiong Bong berpikir sebentar, lalu katanya.
"Soal Han Wi-bu kelak kita bicarakan lebih lanjut. Di saat aku perlu tenagamu aku akan mengutus orang memberitahu kepada kau. Sute, bawalah Nyo-siansing keluar dari pintu belakang."
Setelah Sebun Soh pergi bersama Nyo Bok, Pakkiong Bong memanggil seorang pengawal pribadinya, katanya.
"Seluruh hidangan mungkin sudah selesai dimasak, kau suruh koki membawanya kemari selekas mungkin!"
Sebetulnya Kwi-hwe-thio hendak pergi, mendengar ucapannya ini, ia menjadi tertarik pula.
"Entah siapa tamu agung yang dia maksudkan, ingin aku melihatnya."
Belum lenyap jalan pikirannya, mendadak dilihatnya sesosok bayangan orang laksana burung terbang hinggap di ujung loteng, serunya.
"Sengaja Boh Cong-tiu datang memenuhi undangan Tayjin, maaf membuat Tayjin lama menunggu!"
Pakkiong Bong bergelak tertawa, lekas ia membuka lebar pintu kamarnya terus melangkah keluar menyambut, katanya.
"Boh-heng ternyata dapat dipercaya, selamat datang, selamat bertemu!"
Melonjak jantung Kwi-hwe-thio saking kaget dan terbelalak.
"Bagaimana mungkin Boh Cong-tiu adanya?"
Meski ia belum pernah melihat Boh Cong-tiu, namun ia tahu bahwa Boh Cong-tiu salah seorang tokoh kosen dari Hu-siang-pay yang paling terkenal, gengsi dan ketenaran namanya malah lebih unggul dari pejabat ciangbunnya yang baru, banyak mengikat hubungan dengan para pendekar besar dari kalangan bulim yang kenamaan.
Kata Pakkiong Bong.
"Sudah lama aku amat kagum akan pribadi Boh-heng, beruntung hari ini dapat berkenalan, kuharap Boh-heng tidak perlu sungkan-sungkan, hanya kebetulan saja Pakkiong Bong menjabat komandan Gi-lim-kun, Boh-heng sebagai tokoh kelas atas sungguh membuat aku malu diri."
"Baik, aku menerima perintah saja, harap tanya Pakkiong-heng mengundang siaute kemari, entah ada urusan apa yang hendak dirundingkan?"
"Sebetulnya tiada apa-apa, cuma aku ingin berkenalan lebih dekat dengan Boh-heng, kalau sudi malam ini kuharap Boh-heng sudi menemani aku mengobrol semalam suntuk. Siaute kebetulan mendapat anugrah junjungan beberapa botol arak kelas satu, kebetulan bisa kusuguhkan kepada Boh-heng untuk dirasakan bersama sampai mabuk."
"Pakkiong-heng sudi merendahkan diri berkenalan dengan siaute sungguh membuatku amat girang dan bangga. Maafkan bila siaute berlaku sedikit kurang adat, apakah dalam gedungmu barusan ada terjadi perkara kemalingan?"
Sejenak Pakkiong Bong me-lenggong, kejap lain ia tertawa terbahak-bahak, sahutnya.
"Benar, tidak perlu kita bicara sungkan-sungkan, aku pun ingin bertanya kepada kau, apakah tadi kau ada bergebrak dengan maling itu?"
Ternyata Boh Cong-tiu mengenakan jubah putih terbuat dari sutra yang mulus, tapi di atas jubah putihnya itu tampak dua titik kotoran tanah liat.
Melihat sorot pandangan Pakkiong Bong lekas Boh Cong-tiu menunduk, baru sekarang ia melihat noda kotoran di atas pakaiannya, keruan tercekat hatinya, seketika merah panas selebar mukanya, katanya sambil tertawa dibuat-buat.
"Sungguh tajam pandangan Pakkiong-heng, memang, waktu aku datang, di pengkolan jalan sana kebetulan kebentur dengan maling yang melarikan diri itu. Ginkang orang itu sungguh liehay, aku memukulnya sekali, entah kena tidak, cengkeramanku luput pula sehingga ia melarikan diri."
Pakkiong Bong bergelak tertawa, serunya.
"Boh-heng membekal ilmu tingkat tinggi, kukira maling itu pasti terluka dalam, meski ia dapat melarikan diri apa halangannya? Tapi apakah Bohheng tahu asal-usul orang itu?"
Boh Cong-tiu sudah membersihkan noda kotoran di atas jubahnya, sahutnya.
"Bergebrak hanya sejurus, sulit aku mengetahui dari aliran mana ilmu silatnya"
Ternyata di waktu Boh Cong-tiu hampir sampai di markas pusat Gi-lim-kun, masih terpaut sebuah jalanan, tiba-tiba dilihatnya sesosok bayangan melesat terbang lewat sampingnya, dari sebelah belakang dilihatnya ada beberapa busu mengejar keluar.
Betapa cerdik Boh Cong-tiu, begitu melihat keadaan ini, ia tahu bahwa orang tentu melarikan diri dari markas pusat Gi-lim-kun, bukan mustahil tawanan penting, maka tanpa bicara ia melontarkan pukulan ke arah bayangan itu.
Baca Juga: Dendam Iblis Seribu Wajah 1
Baca Juga: Pedang Tanpa Perasaan 6