Kelana Buana 8

Eps 8 Kelana Buana - Liang Ie Shen

Baca online Kelana Buana - Liang Ie Shen

Cersil Kelana Buana - Liang Ie Shen.

Pikirnya kalau berhasil meringkus orang ini, hitung-hitung sebagai kado pada pertemuan kali ini.

Pukulan yang dia lancarkan ini mengandung Siau-thian-sing-ciang-lat, merupakan ilmu keji dari Hu-siang-pay yang tiada taranya, dianggapnya, sekali pukulannya mengenai lawan, tenaga Siauthian-sing-ciang pasti kuasa membuat orang tergetar jungkir balik.

Tak nyana begitu telapak tangan mengenai kulit daging orang, terasa tangannya seperti menggempur tumpukan kapas yang empuk, tenaga Siau-thian-sing-ciang yang dikerahkan sehebat itu kena dipunahkan tanpa bekas.

Orang itu berkelebat lewat dari samping tubuhnya, meski terkena pukulannya, kakinya masih beranjak cepat tanpa berhenti atau terganggu, kejap lain bayangannya sudah pergi jauh.

Di kegelapan malam hanya terdengar suara tawanya yang berkumandang dari kejauhan.

Gema tawa itu amat menusuk kuping, seperti bunyi gembreng pecah atau bahan logam yang keras beradu.

Serta merta mengkirik dan serasa dingin lubuk hati Boh Congtiu.

Ternyata gelak tawa yang aneh ini, dulu sudah pernah beberapa kali ia dengar.

Karena tidak berhasil membekuk orang itu, lagi pula kejadian ini cukup memalukan bila sampai diketahui oleh anak buah Pakkiong Bong, maka sengaja ia memutar sebuah lingkaran besar, lalu menyelundup masuk ke markas Gi-lim kun dari arah lain.

Malam itu cuaca amat gelap, sedikit pun ia tidak menyadari bahwa di atas badannya, orang telah, meninggalkan sualu tanda, dengan dua titik noda kotoran lumpur, kini di bawah penerangan yang terang benderang barulah ditunjuk oleh Pakkiong Bong.

"Tokoh kosen yang misterius ini kebetulan muncul pada malam ini, entah secara kebetulan saja atau memang disengaja?"

Demikian Boh Cong-tiu bertanya-tanya dalam hati, maklum pertemuan rahasia dengan Pakkiong Bong ini memang dia rahasiakan terhadap orang luar, bahwa tokoh misterius itu sengaja sudah mempermainkan dirinya, mau tidak mau hatinya menjadi gundah dan was-was kurang tentram, mau tidak mau ia berprasangka bahwa orang memang sengaja hendak mengintip dan membongkar intriknya dengan Pakkiong Bong.

Kwi-hwe-thio sendiri yang berada di atas rumah pun sedang keheranan, batinnya.

"Di dalam urutan tokoh-tokoh bulim, Boh Cong-tiu termasuk salah satu dari sepuluh tokoh kosen tertinggi, malam ini ternyata ia kena terjungkal meski hanya kena dirugikan sedikit saja, entah tokoh macam apa yang mempermainkan dirinya itu?"

Dalam pada itu meja perjamuan sudah disiapkan, segera Pakkiong Bong berkata kepada anak buahnya.

"Aku hendak makan minum bersama Boh-siansing, pergi kalian menjaga di bawah loteng, siapapun tidak diperbolehkan naik kemari."

Setelah anak buahnya mengundurkan diri berkata Pakkiong Bong sambil berpaling kepada Boh Cong-tiu.

"Betapa banyak anak buahku toh tidak mampu menangkap maling kecil itu, kalau dikatakan sungguh memalukan. Eh, kita tidak perlu membicarakan soal kecil ini, mari silakan minum dan makan sekadarnya. Boh-heng marilah coba kau nikmati arak pemberian sang junjungan!"

Boh Cong-tiu menenggak habis satu cangkir, katanya memuji.

"Bagus, arak enak! Pakkiongheng, terima kasih akan penghargaanmu terhadapku, tapi perlu sebelumnya kutandaskan, malam ini kita minum arak sambil mengobrol saja tanpa membicarakan urusan negara!"

"Bagaimana kalau membicarakan ilmu silat?"

"Sebagaimana kaum persilatan, adalah jamak orang-orang seperti kita membicarakan soal ilmu silat!"

"Ya, bicara soal ilmu silat, Boh-heng, secara terus terang sebetulnya aku merasa sayang bagi kau!"

Boh Cong-tiu melengak, katanya.

"Apa maksud kata-katamu? Maaf aku orang she Boh memang berotak tumpul."

"Boh-heng, kau adalah keturunan murni dan langsung dari Jan-bau-khek, mcmbekal ilmu silat perguruan murni yang teramat tinggi, siapa yang tidak tahu di seluruh kolong langit ini! Tak nyana sejak perguruan kalian mendirikan partai dan pangkalan di Tionggoan, kedudukan ciangbunjinmu justru kena direbut oleh seorang budak kecil yang tidak ternama, apakah tidak pantas aku merasa sayang bagi kau?"

"Tujuanku hanya hendak mengangkat derajat perguruan dan mengembang luaskan ilmu silat, sedikit pun aku tidak peduli jabatan ciangbun segala!"

"Watak Boh-heng ternyata cukup sederhana dan lapang dada, sungguh mengagumkan! Tapi bicara soal mengangkat derajat dan mengembangkan ilmu silat perguruan, semestinya memerlukan tokoh yang setimpal untuk memikul tugas berat ini, Lim Bu-siang hanyalah budak hijau yang masih berbau pupuk bawang. Hehe, kukira belum tentu ia mampu melaksanakan tugas mulia ini? Dan lagi masih ada sebuah gejala yang mengancam keselamatan perguruan kalian dengan kedudukan Lim Bu-siang sekarang sebagai ciangbunjin!"

Boh Cong-tiu pura-pura tidak paham, tanyanya.

"Apakah sebabnya? Mohon penjelasan."

"Kabarnya Lim Bu-siang berhubungan erat dengan Beng Goan-cau, malah mungkin ada mengikat pertunangan, seperti diketahui Lim Bu-siang mengandal dia sebagai tulang punggung baru berani dan mampu menjabat ciangbunjin itu. Boh-heng, orang she Beng itu adalah tokoh ketiga dari komplotan pemberontak di Siau-kim-jwan, kukira hal ini kau toh sudah tahu!"

"Pakkiong-heng, tadi sudah kukatakan aku tidak suka membicarakan urusan negara, kalau sekarang kau bicara sebagai pejabat dari Gi-lim-kun dengan aku, maaf aku segera mohon diri saja!"

Pakkiong Bong bergelak tertawa, serunya.

"Boh-heng, bicara terus terang, kau kuatir aku membujukmu supaya terima tunduk dan suka bekerja bagi kerajaan bukan?"

"Benar, aku sudah biasa hidup bebas berkelana ke mana aku suka, cita-citaku yang utama hanyalah ingin memperlebar perguruan, kalau Pakkiong Tayjin suka memahami cita-citaku ini, aku orang she Boh berani merendahkan diri bersahabat dengan kau, kalau tidak silakan Tayjin meringkus aku saja meski mampus aku pun tidak akan tunduk!"

"Boh-heng, apa-apaan ucapan, mu ini? Boh-heng sebagai tokoh kosen pada jaman ini, mana aku berani memaksakan sesuatu pekerjaan yang tidak suka kau kerjakan?"

"Terima kasih, kiranya Tayjin masih bisa mengerti akan kesulitanku, marilah kita lanjutkan makan minum ini dengan lebih bebas."

Lalu ia angkat cangkir dan menenggaknya habis. Pakkiong Bong pun menenggak habis secangkir arak, lalu katanya.

"Boh-heng, kau dari golongan pendekar bukan saja aku tidak mempersulit sepak terjang dan usahamu, malah ingin aku memberi sebuah .hadiah kepada kau, supaya di dalam golongan kependekaran nama dan gengsimu semakin besar dan menjulang, seluruh Enghiong di kolong langit bakal menyanjung dan kagum kepada kau!"

Sekilas melengak berkata Boh Cong-tiu.

"Bahwa kau sudi mengundang aku kemari untuk menikmati arak sebagus ini, aku sudah teramat terima kasih, masa aku berani terima hadiah apa segala?"

"Tapi hadiah yang kumaksudkan bukan hadiah sembarang hadiah lho!"

Timbul rasa ingin tahu Boh Cong-tiu, tanyanya.

"Memangnya hadiah apa?"

"Wakil thocu Thian-te-hwe Li Kong-he telah tertawan oleh orang kita, apa kau tahu?"

"Memangnya kenapa?"

"Li Kong-he tertawan oleh anak buah Sat Hok-ting, kini dikurung di dalam markasnya. Menurut apa yang kuketahui, Utti Keng sudah berada di Pakkhia, kini sedang menyirapi berita dan jejaknya siap hendak menolongnya keluar."

Mendengar pembicaraan sampai di sini diam-diam bercekat hati Kwi-hwe-thio, batinnya.

"Berita keparat ini ternyata amat cepat, bahwa kita sembunyi di rumah juragan arang she Cui entah diketahuinya pula belum?"

Terdengar Pakkiong Bong melanjutkan.

"Di mana Utti Keng bertempat tinggal, aku masih belum tahu. Tapi untuk mengetahui jejaknya kukira Boh-heng tidak perlu banyak membuang tenaga. Anak buah Kaypang tentu tahu di mana ia berada, kalau Boh-heng suka mencari tahu kepada mereka, sudah tentu mereka akan memberitahu."

Berkata Boh Cong-tiu dingin.

"Jadi maksudmu supaya aku mencari tahu jejak Utti Keng?"

Cepat Pakkiong Bong menggoyang tangan, ujarnya.

"Tidak, bukan begitu maksudku, Boh-heng, kau jangan salah paham!"

Sebetulnya Boh Cong-tiu sudah tahu ke mana juntrungan kata-kata orang, namun ia pura-pura tidak tahu,, katanya.

"Tapi tadi kau minta aku menyirapi jejak Utti Keng, lalu apa pula kemauanmu?"

"Bukan demi kepentinganku, sebaliknya demi kebaikanmu!"

"Pakkiong-heng, maaf akan ketumpulan otakku, aku belum mengerti maksudmu!"

"Kau cukup cerdik masakah belum tahu? Persoalan ini menyangkut hadiah yang tadi kumaksudkan itu."

"Menyangkut bagaimana? Ingin aku mengetahui, harap Pakkiong-heng menjelaskan."

"Begini jelasnya! Hadiah yang hendak kuberikan kepada kau adalah Li Kong-he, wakil thocu dari Thian-te-hwe itu!"

Boh Cong-tiu pura-pura kaget, katanya menyengir.

"Pakkiong-heng, jangan kau berkelakar dengan aku?"

Berkata Pakkiong Bong dengan sikap sungguh-sungguh.

"Pakkiong Bong selamanya tidak pernah membual!"

"Jangan kau lupa jabatanmu adalah sebagai komandan Gi-lim-kun!"

"Ya, justru karena itu baru aku bisa melimpahkan ketulusan hatiku untuk bersahabat dengan Boh-heng!"

"Baik, ketulusan Pakkiongheng, kuterima dengan setulusnya. Tapi harap tanya, cara bagaimana pula kau bisa memberikan Li Kong-he kepadaku? Ada sangkut paut apa hal ini dengan Utti Keng?"

Berkata Pakkiong Bong lebih lanjut.

"Meski Sat Hok-ting punya anak buah yang cukup kosen, dengan tenaga gabungan Boh-heng dengan Utti Keng, untuk keluar masuk sarangnya kukira bukan soal yang sulit bagi kalian!"

Baru sekarang Boh Cong-tiu pura-pura menjadi paham, ujarnya.

"O, jadi maksud Pakkiongheng supaya aku bergabung dengan Utti Keng untuk menolong orang di sana?"

"Malah aku bisa memberikan gambar lukisan mengenai seluk-beluk rumah Sat Hok-ting dan letak penjara di mana Li Kong-he dikurung kepada kau. Tanggung kau akan mendapat hasil yang memuaskan."

"Apa kau tidak takut raja junjunganmu menyalahkanmu? Pakkiong-heng, terima kasih akan ketulusan hatimu untuk bersahabat, namun aku tidak bisa membikin susah dan merembet kau!"

"Asal kau tidak membocorkan rahasia ini, memangnya siapa yang tahu bahwa akulah yang membantu kau secara diam-diam. Hehe, Utti Keng sedang mohon bantuan para enghiong dari berbagai kalangan untuk menyirapi jejak Li Kong-he, kalau kau bisa menolong Li Kong-he, seluruh enghiong di kolong langit ini siapa yang tidak akan menaruh hormat dan kagum kepada kau, jangan kata hanya jabatan ciangbunjin Hu-siang-pay yang kecil dan rendah, seandainya Bu-limbeng-cu yang bakal berkuasa di seluruh jagat ini pun bisa Boh-heng duduki."

"Hadiahmu ini memang luar biasa, betapapun siaute tidak akan suka menerima hadiah ini tanpa sebab!"

Emangnya kata-katanya ini yang sedang diharapkan oleh Pakkiong Bong, segera ia berseri tawa, katanya.

"Persahabatan kita sudah sekental ini, masakah aku mengharap balas budi segala, jangan sekali-kali kau singgung pula soal ini. Tapi ada sebuah persoalan memang rada membawa manfaat bagi kita berdua!"

"Persoalan apa, silahkan jelaskan!"

"Beng Goan-cau bocah keparat itu memang bukan orang baik-baik, bukan saja ia melarikan isteri Nyo Bok, kini memincut sumoaymu lagi, coba kau katakan, apakah orang macam demikian masih boleh dikatakan sebagai golongan pendekar?"

"Benar, bicara tentang Beng Goan-cau aku pun jengkel dibuatnya. Tapi ciangbun sumoayku memang menyukainya, apa boleh buat."

"Memangnya kau tidak pernah berpikir untuk menyingkirkannya?"

"Mana boleh jadi?"

Seru Boh Cong-tiu pura-pura kaget.

"Kenapa tidak boleh? Tekadmu ini adalah demi menegakkan keadilan bagi golongan pendekar, seumpama kau memberantas sampah persilatan, kenapa pula kau harus merasa sangsi dan raguragu?"

"Pakkiong-heng, ada segi-segi lain yang tidak kau ketahui. Beng Goan-cau bocah keparat itu meski tidak boleh dipandang golongan pendekar, namun ia ada hubungan kental dengan beberapa tokoh kosen kenamaan dari angkatan tua golongan pendekar!"

"Aku tahu! Umpamanya Kim Tiok-liu dan Utti Keng, dan lain-lain memang adalah sahabat kentalnya Justru karena hubungan kental mereka itulah maka mereka tidak enak turun tangan sendiri, maka aku mohon bantuan Boh-heng untuk menegakkan kebenaran melenyapkan kebejatan!"

Dalam hati Boh Cong-tiu sudah meraba ke mana akal muslihat dan kelicikan orang, namun lahirnya ia pura-pura, serunya.

"Tidak mungkin, buat aku serba sulit untuk turun tangan!"

"Sudah tentu bukan kau sendiri yang harus turun tangan,"

Demikian ujar Pakkiong Bong.

"Akan kusuruh dua orangku menjadi murid partai kalian, hanya soal kecil ini, kukira kau bisa mempertanggung jawabkan bukan?"

"Orang macam apa kedua anak buahmu itu?"

"Jangan kuatir, sudah tentu tidak akan kukirim anak buahku dari Gi-lim-kun. Kaum persilatan pun tidak akan ada orang yang tahu asal-usul mereka."

"Bagaimana pula setelah mereka tiba?"

"Kalau Beng Goan-cau dan sumoaymu sama-sama menaruh hati, pastilah mereka sering bergaul dan berkencan, sementara kedua orangku itu pasti bisa mendapat kesempatan untuk turun tangan. Dan lagi aku sudah mengatur rencana dengan baik, sehingga kau terlepas dari persoalan ini!"

"Ingin aku dengar rencana muslihatmu itu."

"Kalau Boh-heng memang tidak percaya, baiklah kuberitahu!"

Kwi-hwe-thio yang sedang mencuri dengar percakapan mereka di atap rumah tengah memasang kuping, tak nyana di saat-saat yang menentukan ini, mendadak ia tidak mendengar kelanjutan pembicaraan mereka.

Ternyata sifat Pakkiong Bong memang cukup cermat dan hatihati, walau ia tidak tahu bahwa di luar ada orang sedang mencuri dengar, namun di kala membicarakan urusan yang amat penting dan serba rahasia, dia tetap bertindak menurut kebiasaan bicara bisik-bisik di pinggir kuping orang!

Sesaat kemudian baru terdengar Boh Cong-tiu terbahak-bahak, serunya.

"Bagus, memang muslihat yang bagus sekali!"

"Terima kasih akan pujianmu. Bagaimana Boh-heng sudah lega belum. Boh-heng setelah kau menolong keluar Li Kong-he, setelah rencanaku berhasil, tanggung tidak akan ada orang yang bakal curiga terhadap kau!"

Kejap lain mereka bergelak tawa riang.

Gelak tawa panjang dan kesenangan ini membuat bulu kuduk Kwi-hwe-thio mengkirik, walau ia tidak dengar rencana muslihat apa yang sedang mereka bicarakan, tapi dari gelak tawa mereka yang kepuasan dan kegirangan ini tidak sulit diraba, pastilah tipu muslihat keji untuk mencelakai jiwa Beng Goan-cau.

Dan yang penting bahwa Boh Cong-tiu sudah menerima usul dan mengikat persekongkolan dengan Pakkiong Bong.

Berdiri bulu roma Kwi-hwe-thio, batinnya.

"Tak nyana Boh Cong-tiu yang terkenal di seluruh dunia kiranya begitu gampang kena dikibuli dan berintrik dengan Pakkiong Bong, aku tidak bisa membiarkan Utti Keng terjebak di dalam tipu muslihat mereka, terlebih penting aku harus membongkar dan mencegah mereka mencelakai jiwa Beng Goan-cau!"

Sebetulnya Kwi-hwe-thio sudah berniat pulang memberi tahu kepada Utti Keng, tapi kilas lain ia berpikir mungkin masih ada rahasia penting lainnya yang bisa dicuri dengar pula, maka ia membatalkan niatnya.

Tengah ia bimbang, didengarnya Boh Cong-tiu sedang berkata.

"Pakkiong-heng, terima kasih akan hadiah yang kau berikan kepadaku, kini aku pun punya sebuah hadiah biar kuberikan juga kepada kau."

"Hadiah apa?"

Tanya Pakkiong Bong.

Jari Boh Cong-tiu menuding ke atap rumah serta memberi isyarat dengan gerakan tangan.

Tapi Kwi-hwe-thio yang sembunyi di atap rumah sedikit pun tidak tahu dan tidak melihat gerak-gerik mereka, di saat ia pasang kuping untuk mendengar hadiah apa yang akan diberikan oleh Boh Cong-tiu, sekonyong-konyong ia dengar sebuah suara lain yang asing baginya seperti berbisik di pinggir kupingnya.

"Lekas lari, lekas lari!"

Kwi-hwe-thio terkejut bukan kepalang, tanpa banyak pikir cepat ia melejitkan badan serta mengembangkan ginkang tingkat tinggi melesat terbang ke arah sebuah pohon di depan sana.

Tepat pada saat itu pula, didengarnya suara dobrakan yang bergemuruh memekakkan telinga.

Tahu-tahu atap rumah seperti diterjang bom meledak dan ambrol berantakan, tepat di tempat di mana tadi Kwi-hwe-thio menyembunyikan diri.

Ternyata karena terlalu asyik mendengar, sehingga Kwi-hwe-thio lupa menahan napas, sehingga deru napasnya rada kasar dan terdengar oleh Boh Cong-tiu.

Memang Boh Cong-tiu ingin pamer kepandaian di hadapan Pakkiong Bong, isyarat tangannya adalah menyuruh Pakkiong Bong bergabung dengannya memukul jebol atap rumah.

Di luar dugaannya, meski atap rumah sudah jebol berhamburan, namun tidak terlihat adanya orang terjungkal jatuh.

Sebat sekali Boh Cong-tiu sudah melesat keluar melalui lubang atap yang dihantamnya jebol.

Tatkala itu, Kwi-hwe-thio sudah melesat terbang ke pucuk pohon yang lain, begitulah dengan berlarian memantul dari satu dahan ke lain dahan, sekejap saja ia sudah berhasil melarikan diri.

Lapat-lapat Boh Cong-tiu hanya melihat berkelebatnya sesosok bayangan hitam, waktu Pakkiong Bong memburu keluar hanya melihat dahan pohon bergoyang, sekelilingnya gelap gulita dan sunyi senyap tiada terjadi sesuatu apa.

Boh Cong-tiu tidak tahu bahwa yang mencuri dengar adalah Kwihwe-thio, dalam sekejap saja ia sudah kehilangan jejak orang, keruan mencelos hatinya, batinnya.

"Mungkinkah orang itu pula?"

Sementara Pakkiong Bong sendiri pun terkejut dan serba curiga, katanya.

"Boh-heng, apakah kau yang salah dengar?"

Boh Cong-tiu menghela napas, ujarnya.

"Betapa tinggi ginkang orang itu, selama hidupku belum pernah kusaksikan!"

Para busu mendengar suara gemuruh dari rontoknya atap rumah di sebelah sini sama memburu datang. Lekas Pakkiong Bong berseru.

"Tiada apa-apa, aku sedang berlatih silat bersama tamuku. Kalian boleh kembali ke masing-masing tempatnya!"-Maklumlah pertemuannya dengan Boh Cong-tiu serba rahasia, sudah tentu ia harus menjaga supaya kejadian malam ini tidak tersiar keluar. Apalagi sebagai komandan Gi-lim-kun, pencuri bisa pergi datang seenaknya sendiri dari ketajaman matanya, kalau diketahui orang masakah tidak ditertawakan. Setelah kembali ke kamar rahasia, berkata Pakkkiong Bong.

"Boh-heng, siapa yang kau curigai?"

"Mungkin orang yang melarikan diri dari sini tadi. Hm, betapa angker dan ditakuti orang markas besar Gi-lim-kun, orang ternyata bisa pergi datang seperti berada di rumah sendiri. Kalau orang ini tidak dilenyapkan, pasti merupakan bibit bencana di kelak kemudian hari."

"Kalau toh ilmu silat orang itu sedemikian liehaynya, tentu dia punya asal-usul. Boh-heng, kau ada mengikat hubungan luas dengan para pendekar dan orang-orang gagah dari kaum persilatan, adakah kau bisa mencari sumber penyelidikan dari mereka?"

"Para tokoh kosen dari berbagai partai dan golongan besar aku sama kenal baik. Tapi menurut apa yang kuketahui, di antara golongan pendekar agaknya tiada orang macam ini."

"Kalau dia bukan golongan pendekar, hal ini membuat hatiku banyak lega."

"Tapi dengan adanya orang macam demikian secara diam-diam bermusuhan dengan kita, betapapun harus berusaha untuk menyingkirkannya, baru terasa lega dan aman."

"Sudah tentu,"

Ujar Pakkiong Bong.

"Bahwa orang ini berada di kota raja, kukira tentu mempunyai maksud-maksud tertentu, dia akan secepat itu meninggalkan Pakkhia. Akan kuhubungi komandan pengawas kota supaya dia mengutus para opasnya yang paling diandalkan untuk memperhatikan setiap orang yang dicurigai di dalam kota raja!"

"Tapi ada seorang jangan kau mengganggu usik dia lho!"

Demikian ujar Boh Cong-tiu tertawa.

"Kalau kau ganggu dia mungkin rencana kita berantakan."

"Sebaliknya aku ingin mengganggunya!"

"Bukankah mengejutkan malah, cara bagaimana pula aku bisa meminta bantuannya nanti?"

"Kalau benar dapat menemukan jejaknya, sudah tentu aku punya rencana yang cukup rapi, sehingga rencana kita lebih sempurna dilaksanakan, kutanggung dia tidak akan menaruh curiga kepada kau."

"Sementara jangan kau terangkan dulu, biar kutebak. Hah, begini bukan rencanamu?"

Lalu ia berbisik di pinggir kuping Pakkiong Bong. Pakkiong Bong lantas bergelak tertawa, serunya.

"Boh-heng, kau betul-betul cerdik luar biasa, ternyata sekali tebak tepat mengenai sasaran."

"Tapi mungkin tidak bakal bisa terjadi begitu kebetulan!"

"Bicara terus terang, sejak beberapa lama anak buahku sudah menemukan jejaknya. Baru saja aku menerima berita, di tempat tak jauh dari sini didapati seorang yang mencurigakan, bukan mustahil orang itu adalah Utti Keng!"

Sementara itu Utti Keng sedang menghadapi cawan araknya dan sudah menghabiskan beberapa cawan seorang diri, tanpa terasa didengarnya kentongan tiga kali sudah lewat beberapa waktu berselang.

Warung arak itu memang luar biasa, setiap peminum di situ semua adalah penjudi yang getol main dadu.

Mereka terdiri dari berbagai kalangan yang tidak menentu.

Keadaan cukup ramai dan gaduh, kadang-kadang terdengar sorak gembira dan caci maki yang saling bersahutan.

Asap tembakau dan bau yang kurang sedap memenuhi seluruh ruangan.

Sudah tentu Utti Keng segan menyaksikan tingkah laku dan keadaan para penjudi yang serba menjemukan, keributan dan asap yang semakin tebal mengganggu pernapasan membuat hatinya semakin risau dan gundah.

"Kentongan ketiga sudah lewat, kenapa Kwi-hwe-thio belum datang juga?"

Demikian ia sedang mengharap-harap.

Mendadak dilihatnya dari luar masuk tiga orang.

Para tamu pergi datang tidak berkeputusan, sebetulnya Utti Keng tidak peduli akan kedatangan mereka, tapi ketiga orang ini lain dari yang lain, mau tidak mau keadaan mereka yang rada ganjil ini menimbulkan perhatiannya.

Ketiga orang ini salah satu di antaranya adalah laki-laki kekar berbadan kasar, seorang lagi adalah nyonya genit yang merias wajahnya seperti sundel bolong, sementara orang ketiga adalah hwesio gundul.

"Perempuan suka judi tidak perlu dibuat heran,"

Demikian batin Utti Keng.

"Orang beribadah ternyata juga suka main judi dan minum arak, entah hwesio liar yang keluyuran dari biara mana?"

Tengah ia berpikir, ketiga orang itu sama mendekati sebuah meja, berpencar pada tiga penjuru berposisi mengepung.

Meja kursi itu sedang diduduki seorang tamu yang sedang minum sendirian, mukanya mengkerut kaku, sedikit pun ia tidak menunjukkan reaksi apa-apa akan kedatangan ketiga orang ini.

Setelah ketiga orang itu mengepung dirinya, mendadak orang itu meletakkan cangkir araknya dan bergelak tertawa, katanya.

"Sungguh kebetulan kedatangan kalian, mari kutraktir kalian minum arak!"

Hwesio ittu mendengus hidung, serunya.

"Kau sudah menggasak uang kita, sekarang sedang foya-foya di sini ya?"

"Menang kalah adalah jamak, nanti sebentar kita boleh melanjutkan, kenapa toa-suhu marah?"

Demikian ujar laki-laki itu. Perempuan genit itu mendadak memukul meja, bentaknya.

"Kau penipu ini memangnya sudah buta, berani menipu kami bertiga!"

Laki-laki itu menjadi gusar, semprotnya.

"Tio Jini! Setelah kalah kau hendak main fitnah kepadaku?"

Belum habis ia bicara, laki-laki kasar yang lain sudah mengeluarkan tiga butir dadu.

Cukup dengan ketiga jarinya meremas, terdengarlah suara seperti pecahan sesuatu benda logam, ketiga dadu itu ternyata teremas hancur berkeping-keping oleh ketiga jarinya dan sama berhamburan di atas meja.

Mengandal kekuatan jari meremas hancur dadu sebetulnya tidak perlu dibuat heran, tapi bagi seorang penjudi, mempunyai kepandaian setinggi itu, hal ini rada-rada di luar dugaan.

Utti Keng mengerut kening, pikirnya.

"Kalau mereka sampai berkelahi aku menjadi serba berabe."

Maklumlah kalau terjadi keributan tentu para opas penjaga keamanan akan meluruk datang mengadakan penangkapan. Setelah meremas hancur ketiga dadu itu, laki-laki kasar berkata dingin.

"Coba kalian lihat, bukankah dadu ini palsu?"-Warung arak itu penuh sesak, yang bernyali kecil segera mundur teratur begitu melihat gelagat jelek, yang bernyali besar sama merubung maju malah, ada beberapa di antaranya segera mengiakan. Maka terdengarlah suara "Brak", perempuan genit itu memukul meja pula, makinya.

"Bajingan, kalau kau menang secara jujur, anggap akulah yang bernasib jelek. Tapi kau gunakan dadu palsu untuk menipu uangku. Nyonya besarmu ini masa harus berpeluk tangan?"

Orang itu segera menjengek dingin.

"Kalau kalian tahu dadu itu palsu, kenapa tidak sejak permulaan membongkar kesalahan ini? Sekarang kau meluruk kemari hendak mencari gara-gara, memangnya siapa yang tahu dari mana kalian mengambil dadu palsu itu hendak memeras aku? Katanya aku menipu kau, sebaliknya aku menuduh kau hendak memeras uangku!"

Hweshio gendut itu segera membentak.

"Bajingan berani kau menuduh kami malah? Kalau tidak dihajar, memangnya kau sangka kami gampang dipermainkan?"

Mendadak orang itu berdiri, katanya tertawa lebar.

"Setelah minum arak memang ingin aku melemaskan otot-ototku. Kalian hendak berkelahi, sungguh kebetulan malah!"

Belum habis ia bicara mendadak "blang"

Meja sudah ditendang jumpalitan, ternyata orang itu turun tangan lebih dulu.

Kontan hwesio gendut mengirim sebuah jotosan, sehingga meja tebal itu retak dan menggelundung di tanah, maka berterbangan pecahan cangkir, poci dan arak ke manamana.

Tamu-tamu dalam warung arak sama berteriak dan banyak yang lari keluar menyingkirkan diri, sementara pemilik warung berkaok-kaok.

"Hai, hai, kalian belum-lagi membayar! Hayo bayar dulu uang arak kalian!"

Perempuan genit itu mengeluarkan sepasang golok serta menarikannya dengan gesit dan tangkas, golok di tangan kanan panjang sementara pendek di tangan kiri, dengan gencar ia menyerang dengan bacokan kepada orang itu.

Sementara laki-laki kasar itu mengeluarkan sepasang mistar besi, secara diam-diam ia menusuk punggung orang itu dari belakang.

Para tamu sudah lari pontang panting, kecuali pemilik warung dan pelayan, hanya tinggal Utti Keng seorang yang masih seenaknya menikmati araknya.

Sebagai seorang pemberani, sedikit menerawang situasi segera Utti Keng berpikir.

"Kentongan ketiga sudah lalu, sudah saatnya Kwi-hwe-thio segera tiba. Biarlah kutunggu sebentar lagi."

Maka ia jinjing meja dan kursi ke tempat pojokan yang rada gelap, dengan nyaman ia menikmati araknya lagi.

Orang yang dituduh menipu itu tetap bermuka dingin kaku, tanpa bersuara ia layani keroyokan ketiga lawannya dengan tabah dan mantap.

Lama-lama Utti Keng mengerut kening, pikirnya.

"Kepandaian penipu ini jauh lebih tinggi dari ketiga lawannya, namun untuk mengalahkan ketiga musuhnya, paling cepat memakan setengah jam. Semoga Kwi-hwe-thio lekas menyusul datang sebelumnya."

Penipu itu mengembangkan kaki tangannya dengan lincah dan gesit, sehingga ketiga lawannya mencak-mencak dan mundur berulang-ulang, entah sengaja atau tidak, lama kelamaan pertarungan mereka menggeser ke arah Utti Keng.

Dengan dingin Utti Keng segera berkata.

"Kalian berkelahi jangan sampai menjotos kepalaku, minggir rada jauh sana!"

Mulut bicara sementara tangannya mendorong ke arah hwesio gendut itu.

la lihat kepandaian hwesio gemuk ini biasa saja, maka dorongannya ini hanya menggunakan dua bagian tenaganya saja, cukup asal orang menyingkir ke sana.

Tak nyana dorongannya ternyata tidak membuat si hwesio bergeming dari tempatnya.

Malah hwesio gendut itu membentak gusar.

"Bagus ya, kau sendiri yang turun tangan lebih dulu, jangan kau salahkan aku."

"Wut"

Kontan ia menampar ke arah Utti Keng, angin pukulannya ternyata menderu panas, seolah-olah semburan hawa panas dari dalam tungku yang sedang membara apinya.

Terang kepandaian ini bukanlah ilmu silat rendahan, jelas orang adalah jago silat kelas wahid dari kangouw.

Untung pengalaman tempur Utti Keng cukup luas dan tenang, meski kejadian ini berada di luar dugaannya, hampir saja ia terkena pukulan lawan, betapapun ia masih sempat dan kuasa menghadapi bo-kongan lawan sehingga sedikit pun tidak kena dirugikan.

Maka terdengarlah "Blang", tenaga pukulan Utti Keng sudah terlatih begitu sempurna sehingga dalam melancarkan pukulan dapat dimainkan maju mundur sesuka hatinya, begitu merasa gelagat jelek, mendadak ia tambah tenaga tujuh delapan bagian, keruan hwesio gendut itu tersurut mundur tujuh delapan langkah, belum lagi bisa berdiri tegak badannya berputar lagi dua putaran baru bisa memunahkan daya pukulan Utti Keng.

Perempuan genit itu segera membentak.

"Keparat kau ini berani turut campur urusan orang lain, hayolah labrak dia saja, kita orang sendiri bisa menyelesaikan urusan nanti!"

Sembari bicara kedua golok panjang pendeknya sudah berputar-putar terus membacok serabutan kepada Utti Keng.

Demikian juga sepasang mistar laki-laki kasar itu sudah mengemplang ke batok kepala Utti Keng dari arah lain.

"Bagus ya, memangnya kalian hendak mencari gara-gara kepadaku!"

Demikian damprat Utti Keng.

Golok cepatnya laksana kilat, sebat sekali ia sampuk minggir sepasang mistar laki-laki kasar serta memukul jatuh golok panjang perempuan genit itu.

Begitu cepat dan telak sekali ia melolos golok serta menangkis dan menyerang musuh, betul-betul kepandaian maha tinggi yang jarang terlihat pada golongan tokoh kosen di bulim.

Tapi kedua lawannya ternyata tidak sampai cedera, maka kepandaiannya tentu tidak ringan.

Penipu itu segera bergelak tertawa, ujarnya.

"Sedikit pun tidak salah, memangnya kami hendak melabrak engkau! Hehe, kau anggap kami kaum keroco, kukira matamu perlu dicuci biar bersih!"

Di tengah gelak tawanya tiba-tiba ia julurkan sebuah jarinya terus menotok ke arah Utti Keng.

Seketika Utti Keng merasa Ih-khi-hiat seperti kena diselomot oleh api dupa, meski tidak terkena totokan secara telak, namun rasanya tidak enak.

Berubah air muka Utti Keng, bentaknya.

"Ternyata kau inilah Ouwyang Kian!"

Ternyata Ouwyang Kian satu-satunya pewaris dari ilmu tunggal Lui-sin-ciang, meski Utti Keng belum pernah melihatnya, namun ia kenal baik akan kepandaiannya ini. Ouwyang Kian terbahak-bahak, ujarnya.

"Tidak salah penglihatanmu, sungguh kagum!"

"Ouwyang Kian, di kalangan kangouw kau termasuk tokoh yang cukup punya nama, tak nyata sudi melakukan cara yang rendah dan hina demikian? Hehe."

Mulut Ouwyang Kian masih terbahak-bahak, sementara kulitnya kaku seperti tertawa tidak tertawa, katanya.

"Kepandaianmu terlalu tinggi, kalau toh kami menghadapimu dengan cara ini berarti menghargaimu juga, seharusnya kau merasa bangga karenanya! Sekarang kau membalikkan kenyataan memaki aku, apa tidak merendahkan derajatmu malah?"

Merah muka Utti Keng mendengar debat orang yang masuk di akal, segera ia bergelak tertawa, serunya.

"Terima kasih akan penghargaanmu, bagus, terpaksa Utti Keng harus menghadapi kalian dengan sekuat tenaga supaya tidak menyia-nyiakan pandangan dan penghargaanmu!"

Sambaran goloknya laksana kilat berkelebat, di saat ia bicara goloknya sudah bergerak menyerang tiga puluh enam jurus tabasan dan bacokan keempat musuhnya seolah-olah merasa tajam golok lawan seperti mengincar tempat-tempat mematikan di tubuh sendiri, sinar golok menyilaukan mata, membawa kesiur angin dingin seolah-olah membekukan badan.

Diam-diam Ouwyang Kian terkejut dibuatnya, pikirnya.

"Keparat ini ternyata tidak takut menghadapi Lui-sin-ciku, betapa tinggi lwekangnya agaknya di luar perhitunganku. Untung aku membawa tiga teman, kalau tidak mungkin aku bisa terluka oleh golok cepatnya ini!"

Perempuan genit menggantol goloknya dengan ujung kakinya menjemput golok panjang yang terpukul jatuh oleh Utti Keng tadi, segera ia ikut terjun ke tengah gelanggang. Kata Utti Keng.

"Golok pusakaku ini selamanya tidak membunuh kaum hawa, tapi kau tidak tahu diuntung, jangan kau salahkan aku melanggar kebiasaanku ini!"

"Kau hendak membunuh aku, kukira tidak begitu gampang seperti omongan bacotmu,"

Demikian cemooh perempuan genit itu.

Belum habis ia bicara, tampak setabir sinar golok tahutahu datang, meski ia menggunakan sepasang golok, namun sedikit pun tidak mampu membendung atau menangkis tabasan golok tunggal Utti Keng.

Berpikir Utti Keng.

"Membunuh seorang perempuan hanya membikin kotor golok dan nama baikku,"

Baru saja ia hendak membacok putus lengan kanan perempuan genit serta mengampuni jiwanya, mendadak terasa angin keras berkesiur dari belakang, ternyata laki-laki bersenjata mistar menggunakan senjatanya sebagai Boan-koan-pit, dengan nekad ia merang-sak maju, kedua senjatanya berbareng menusuk ke Ih-khi-hiat Utti Keng.

Serangan ini membuat musuh harus menyelamatkan diri lebih dulu sebelum melukai lawan, lekas Utti Keng membalikkan golok menyampuk miring sepasang mistar orang.

Tapi saat itu juga Ouwyang Kian merangkap kedua jari menotok dari depan, sementara hwesio gendut melancarkan pukulan dari sebelah samping.

Pukulan dan totokan jari ini adalah ilmu silat yang cukup liehay dan tinggi dari aliran sesat, terpaksa Utti Keng harus membalikkan goloknya untuk menghadapi rangsakan mereka bersama.

Beruntung perempuan itu berhasil menyelamatkan sebelah lengannya, namun saking terkejut badan basah kuyup oleh keringat.

Namun ia sendiri belum menginsyafi jikalau bacokan Utti Keng tadi sedikit dipercepat, jiwanya pasti sudah melayang.

Utti Keng membentak.

"Pemah kudengar Tin-wan Piaukiok katanya punya seorang piauthau bernama Lau Hien-goan, mahir menggunakan mistar menotok hiat-to, apakah kau ini?"

Laki-laki itu tertawa, ujarnya.

"Aku seorang yang tidak ternama, kiranya Utti Tayhiap juga mengenal nama rendahku, sungguh aku amat bangga!"

"Tidak jelek nama Tin-wan Piaukiok, tak nyana punya kaki tangan bejat dan rendah macam tampangmu ini, aku harus merasa sayang akan merk Tin-wan Piaukiok yang kenamaan."

"Utti Keng, tahukah kau, siapa pula aku ini?"

Demikian jengek Ouwyang Kian.

"Dulu tidak begitu jelas, kini aku sudah tahu, kau adalah sampah persilatan."

Ouwyang Kian tertawa, ujarnya.

"Aku tidak perlu main debat dengan kau mengenai pribadiku. Ketahuilah, kedudukanku sekarang adalah wakil cong-piauthau dari Tin-wan Piaukiok!"

Sekilas Utti Keng melengak, namun golok di tangannya sedikit pun tidak menjadi kendor, sembari menyerang ia berkata dingin.

"Oho, jadi kau sudah menjabat wakil cong-piauthau dari Tin-wan Piaukiok. Memangnya pihak Tin-wan Piaukiok kalian sengaja mencari gara-gara kepadaku? Hehe, almarhum Han-cong-piauthau dulu ada sedikit persahabatan dengan aku, namun kalian bersikap bermusuhan kepadaku, ingin aku tahu sebab musababnya!"

Ouwyang Kian tertawa lebar, sahutnya.

"Kau ingin tahu, baiklah biar kujelaskan, supaya kau mati tidak penasaran. He, he, tahukah kaj Taysu ini?"

"Siapa tahu hwesio liar dari kelenteng mana yang ngeloyor keluar?"

"Utti Tayhiap sekali lagi kau salah lihat. Tempat tinggal Yam-yam Taysu ini bukan kelenteng bobrok, ia menempati sebuah kamar mewah di dalam markas besar gi-lim-kun, dialah tamu terhormat dari Pakkiong Bong Tayjin!"

Baru sekarang Utti Keng sadar, bentaknya.

"Tak nyana Tin-wan Piaukiok yang didirikan oleh Han-lopiauthau bakal runtuh di tangan manusia-manusia rendah macam kalian! Hm, jadi kau menggunakan Tin-wan Piaukiok sebagai modal untuk menyerah kepada kerajaan, mengikat kontrak dagang dengan Pakkiong Bong."

"Memangnya Tin-wan Piaukiok didirikan di kota raja, kalau kita tidak bekerja bagi kerajaan, masakah harus bekerja bagi begal kuda dari Kwan-tang macammu ini? Biarlah kujelaskan seluruhnya, Han-cong-piauthau, Han Wi-bu segan unjuk muka sendiri maka suruh aku yang mewakili dia!"

Ucapan Ouwyang Kian ini separuh benar separuh ngelantur, ternyata Pakkiong Bonglah yang menyuruhnya menjadi wakil cong-piauthau Tin-wan Piaukiok, namun Han Wi-bu sendiri tidak tahu menahu.

Di dalam Tin-wan Piaukiok ia pun hanya berhasil menarik Lau Hien-goan suami istri.

Bahwa dia mengatur bualannya ini adalah untuk melemparkan bencana ke pihak lain.

Utti Keng semakin murka, dampratnya.

"Baik, kalian hendak membunuh aku, kukira juga tidak begitu gampang."

Bahna gusarnya goloknya bergerak semakin cepat, Lau Hien-goan suami istri berkepandaian rada lemah, mereka terhuyung mundur terdesak oleh sambaran angin golok yang deras sampai setombak lebih.

Tapi kepandaian Ouwyang Kian dan Yam-yam Taysu bukanlah tergolong rendah.

Hwe-liongkang yang dilatihnya meski belum ungkulan dibanding Lui-sin-ci Ouwyang Kian, namun merupakan ilmu tunggal dari aliran tersendiri pula.

Meski Utti Keng tidak gentar menghadapi empat pengeroyoknya, betapapun lambat laun ia menjadi kehabisan tenaga, kira-kira sesulutan dupa kemudian semula ia banyak menyerang, akhirnya ia bertahan saja.

Dalam pada itu, setelah melarikan diri dari markas besar Gi-lim-kun, berpikir Kwi-hwe-thio.

"Akhirnya aku mendapat tahu jejak Li Kong-he, aku bisa memberikan pertanggungan jawab tugasku kepada Utti Keng."

Tak nyana waktu ia tiba di luar warung arak terdengar benturan senjata menusuk kuping, bentakan suara Utti Keng pun terdengar pula dari luar.

Diam-diam Kwihwe-thio mengeluh dalam hati.

Ilmu silat Kwi-hwe-thio rada rendah, namun kepandaian mendekam di tanah mendengarkan suara nomor wahid di seluruh jagat, pertempuran di dalam warung arak sedang sengit, dia tidak berani masuk maka ia merunduk ke kaki tembok di sebelah luar mencuri dengar.

"Satu, dua, tiga, empat. Ah, empat jagoan kosen sedang mengepung Utti Tayhiap. Aduh, tabasan golok ini cepat dan berat sekali, tentulah Utti Tayhiap menyerang dengan bernafsu kepada musuh. Sayang, sayang, tabasan goloknya ini sebetulnya bisa melukai perempuan bawel itu, kenapa tidak mengenai sasaran? Perempuan bawel itu menggunakan Liu-yap-to, laki-laki yang lain kalau tidak bersenjata tongkat tentu menggunakan mistar besi. Kedua orang ini agaknya tidak begitu liehay. Eh, dua orang yang lain ternyata tidak menggunakan senjata, mereka berani bertangan kosong menghadapi golok cepat Utti Tayhiap, kejadian ini kalau tidak kudengar sendiri, sungguh aku tidak berani percaya. Celaka, celaka, gerak golok cepat Utti Tayhiap agaknya jauh lebih lambat dari biasanya, mungkin keadaannya amat terdesak!"

Semakin mendengarkan semakin ciut nyali Kwi-hwe-thio, tiba-tiba didengarnya derap langkah tergesa-gesa mendatangi, waktu ia angkat kepala, tampak sesosok bayangan hitam muncul di pcnj-kolan jalan sana, sekejap saja ia sudah berlari tiba di depan warung arak.

Malam itu cuaca amat gelap, tiada bintang lagi, namun sejak dilahirkan Kwi-hwe-thio dikumui sepasang mata tajam, di malam gelap ia masih bisa melihat jelas orang itu, dia bukan lain adalah Boh Cong-tiu yang tadi dilihatnya sedang berunding di kamar rahasia Pakkiong Bong.

Kwi-hwe-thio tahu akan kelihayan Boh Cong-tiu, tadi waktu di markas besar Gi-lim-kun, Boh Cong-tiu pula yang mengetahui jejaknya, saking kaget ia tidak berani bernapas keras-keras.

Pikirnya dalam hati.

"Pakkiong Bong memperalat dirinya supaya Utti Tayhiap masuk perangkapnya, dalam waktu dekat mungkin ia tidak akan bakal mencelakai Utti Tayhiap. Hm, ingin aku lihat tipu muslihat apa yang ingin dia lakukan."

Sementara itu, keadaan Utti Keng memang sudah cukup gawat, gerak golok cepatnya sudah semakin kendor, ada hati namun tenaga semakin terkuras habis.

Sebagai ka-wakan kangouw, meski melawan musuh dengan sengit, namun panca inderanya masih tetap tajam, mendengar derap langkah mendatangi, ia kira bala bantuan musuh sudah tiba, tak urung ia tertawa getir dalam hati.

"Tak nyana nyawaku bakal mampus dalam warung arak kecil ini. Selama hidup aku sudah malang melintang, malam ini menghadapi lima jagoan kosen, meski mati pengorbananku cukup setimpal."

Ouwyang Kian bergelak tertawa, serunya.

"Utti Keng, keadaanmu sudah jompo! Aku jadi tidak tega membunuh kau. He, he, Utti Keng, kuanjurkan kau menyerah saja!"

"Kentutmu busuk!"

Demikian damprat Utti Keng.

"Berapa banyak pihak kalian silakan suruh keluar semua. Dapat aku membunuh satu sebagai imbalan modal, membunuh dua sebagai rente!"

Sebelum ia habis bicara, Boh Cong-tiu sudah berlari masuk, dia pura-pura amat terkejut dan berteriak sambil memburu maju.

"Utti Tayhiap, kiranya kau! Jangan gugup, biar kubantu kau melabrak kawanan berandal ini!"

Yam-yam Taysu pura-pura tidak mengenalnya, bentaknya.

"Siapa kau, berani turut campur urusan kami? Rasakan pukulanku ini!"

Kedua orang ini bermain sandiwara sungguhan, segera mereka saling hantam.

Boh Cong-tiu tahu Utti Keng adalah ahli silat yang berpengalaman luas, sedikit pun dirinya tidak boleh menunjukkan lubang kelemahan, maka meski sedang main sandiwara, permainan yang dilancarkan terpaksa tidak kepalang tanggung.

Begitu memukul, angin pukulan Yam-yam Taysu menderu membawa suhu panas membara.

Boh Cong-tiu mandah tertawa dingin.

"Hwe-liong-kang memangnya bisa berbuat apa atas diriku?"

Di mana kipasnya mengebas, ia gunakan ajaran lwekang mumi dari ciptaan cikal bakal Hu-siangpay Jan-bau-khek, seketika terjadilah hembusan angin sepoi-sepoi yang nyaman di tengah hawa panas.

Utti Keng yang sedang bertempur sengit dan merasa gerah pun mendadak merasa nyaman dan bangkit pula semangatnya.

Sandiwara ini dilakukan sesungguhnya, sudah tentu Yam-yam Taysu yang menderita rugi dan tertimpa getahnya, deru angin panas kena disampuk balik oleh kibasan Boh Cong-tiu, seketika membuat ia kepanasan mencak-mencak sendiri, dalam sekejap saja badan basah kuyup oleh keringat.

Lau Hien-goan suami isteri segera ikut menubruk maju, sepasang mistar sang suami menotok ke Hiat-to Hong-hu-hiat di punggung Boh Cong-tiu, sementara kedua golok istrinya menari-nari naik turun, dengan jurus Soat-hoa-kay-ting (bunga salju menutup kepala) membacok dan menabas ke batok kepala Boh Cong-tiu.

Sudah tentu Utti Keng tidak tinggal diam membiarkan mereka mengalihkan sasaran menyerang kepada Boh Cong-tiu, sebat sekali ia gunakan Ih-sing-hoan-wi, ia berkelit dari totokan Lui-sin-ci Ouwyang Kian dari sebelah depan, sementara golok cepatnya laksana kilat bergerak sembari membentak.

"Kena!"

"Kelontang!"

Sepasang mistar Lau Hien-goan kena terbacok kutung menjadi empat potong oleh bacokan golok pusaka Utti Keng, untung kepandaiannya cukup lumayan dan bisa bergerak tangkas, meski senjatanya kutung, namun ia sendiri tidak kurang suatu apa.

Hampir dalam waktu yang bersamaan, Boh Cong-tiu pun membentak.

"Lepas golok!"

Kipasnya mendadak terangkat dan mengetuk dengan ringan, kedua Liu-yap-to istri Lau Hien-goan kontan bersuara nyaring jatuh di lantai.

Sebetulnya tajam golok Utti Keng sudah berputar hendak menabas kedua lengan perempuan genit ini, sementara Boh Cong-tiu sedang merangsak dengan kipasnya, maka ia urungkan tabasan goloknya.

"Pergilah!"

Boh Cong-tiu susuli lagi dengan bentakan, di mana kakinya terangkat, ia tendang terpental terbang istri Lau Hien-goan dan terlempar keluar pintu.

Lekas Lau Hien-goan memburu keluar dan memapah bangun istrinya terus dipanggul, istrinya pura-pura patah kedua kakinya sambil mengerang-erang kesakitan.

Sebetulnya tendangan Boh Cong-tiu ini menggunakan tenaga yang sudah diperhitungkan, kelihatannya cukup keras dan ganas, bahwasanya perempuan genit itu sedikit pun tidak terluka.

Boh Cong-tiu menjengek dingin.

"Kupandang kau seorang perempuan, tidak kulukai jiwamu."

Utti Keng menyangka perempuan itu betul-betul patah kakinya, ia jadi tidak tega, katanya.

"Benar, biarkan mereka pergi!"

Ouwyang Kian merangkap kedua jari menotok ke arah Boh Cong-tiu.

"Cras"

Kipas Boh Cong-tiu tertotok tembus berlubang.

Waktu Utti Keng melancarkan golok cepatnya pula, lekas-lekas Ouwyang Kian dan Yam-yam Taysu melarikan diri sipat kuping.

Boh Cong-tiu masih hendak mengejar, lekas Utti Keng berseru mencegah.

"Tak jauh dari sini adalah markas besar Gi-lim-kun, kalau kita menampakkan diri kukira kurang leluasa. Boh-heng, tidak perlu kau kejar mereka!"

Boh Cong-tiu segera membatalkan niatnya, katanya.

"Benar, memangnya aku sedang mencari kau!"

"Lui-sin-ci Ouwyang Kian cukup liehay, coba biar kuperiksa apakah kau terluka?"

"Tidak menjadi soal,"

Sahut Boh Cong-tiu.

"Untung totokannya tidak mengenai hiat-toku."

Waktu Utti Keng menegasi, dilihatnya di sebelah Hian-ki-hiat di depan dada Boh Cong-tiu kedapatan setitik merah, terang itulah bekas tanda-tanda totokan Lui-sin-ci.

Meski Utti Keng berwatak tabah dan gagah, tak urung mencelos hatinya.

Kwi-hwe-thio yang sembunyi di luar jadi berpikir dan menerawang.

"Kalau sekarang kubongkar kedok Boh Cong-tiu, mungkin Utti Tayhiap belum tentu mau percaya. Sekitar sini entah ada tidak pasukan Gi-lim-kun yang menyembunyikan diri, kalau jejakku sampai ketahuan, tentu jiwaku sulit kuselamat-kan."

Tengah ia berpikir, didengarnya Utti Keng berkata.

"Boh-heng, cara bagaimana kau pun tiba di kota raja?"

"Memangnya aku sedang mencari kau. Dari Kim Tiok-liu kudengar katanya kau datang ke kota raja, maka kususul kau kemari."

Utti Keng menjadi heran, katanya.

"Kalau begitu, sungguh amat kebetulan kejadian malam ini. Entah ada keperluan apa Boh-heng mencari aku?"--Meski ia merasa kedatangan Boh Cong-tiu terlalu kebetulan, namun kenyataan Boh Cong-tiu barusan sudah membantu dirinya menggebah lari kawanan penjahat, malah hampir saja terluka parah, maka ia hanya merasa kebetulan saja, sedikit pun tidak merasa curiga kepadanya. Tatkala itu pemilik warung dan pelayan serta beberapa pengunjung lainnya yang menyembunyikan diri sudah sama menongol keluar, cuma mereka masih merunduk-runduk tidak berani keluar terang-terangan. Kata Boh Cong-tiu.

"Utti-heng, tempat ini tidak leluasa untuk bicara, marilah cepat tinggalkan tempat ini saja!"

Waktu itu kentongan ke empat sudah menjelang, Utti Keng menjadi sadar, pikirnya.

"Kwi-hwethio cukup cerdik, dia tidak meluncurkan panah berapi, terang jejaknya tidak ketahuan. Mungkin melihat aku kena perkara di sini, sekarang dia sudah pulang ke rumah juragan Cui untuk memberikan laporan!"

"Baik,"

Ujar Utti Keng.

"mari kita mencari tempat lain!"

Lekas Kwi-hwe-thio mengundurkan diri dan sembunyi di ujung gang yang gelap sana, dilihatnya Utti Keng berjalan berjajar bersama Boh Cong-tiu, arah yang dituju ternyata berlawanan dengan tempat tinggal juragan Cui.

Ternyata Utti Keng memang bernyali besar dan cukup cermat dan teliti.

Warung arang milik juragan Cui itu adalah salah satu cabang rahasia yang didirikan di dalam kota raja oleh Thian-te-hwe, sebelum mendapat ijin dan memberitahukan lebih dulu kepada juragan Cui, sekali-kali ia tidak berani membawa orang luar ke tempat itu.

Kwi-hwe-thio menjadi lega hati, pikirnya.

"Boh Cong-tiu tidak akan turun tangan malam ini, maka Utti Tayhiap pasti akan kembali besok pagi. Biar aku pulang merundingkan hal ini kepada juragan Cui saja."

Di waktu ia kembali sampai di jalan letak warung arang tempat tinggal juragan Cui itu, cuaca sudah terang benderang.

Setelah dekat dan waktu ia angkat kepala seketika ia melenggong dan mengeluh dalam hati.

Ternyata di depan pintu warung arang milik juragan Cui itu tengah terjaga oleh dua tentara, pintu besarnya tertutup rapat dan sudah tersegel oleh dua kertas merah bersilang yang dicap oleh pemerintah.

Meski jalan raya sudah kelihatan orang berlalu lalang, namun tiada seorang pun yang berani maju mendekat, sudah tentu Kwi-hwe-thio pun tidak berani unjuk diri.

Berpikir Kwi-hwe-thio.

"Agaknya perusahaan arang juragan Cui sudah digrebek dan disegel oleh pemerintah, biarlah aku menyingkir dulu dan membuat perhitungan lain."

Baru saja ia menyelinap memasuki sebuah gang kecil, tiba-tiba pundaknya dipegang oleh seorang dari belakang.

Kwi-hwe-thio ada melatih Suh-kut-kang (ilmu mengkeretkan tulang), dengan kemahirannya ini, meski ia dibelenggu betapapun ketatnya dengan mudah bisa membebaskan diri, apalagi kini hanya dipegang secara mendadak dari belakang, meski terkejut namun ia masih berlaku tabah dan tenang.

Lekas ia merendahkan pundak mengkeretkan badan berusaha lolos ke bawah dan melarikan diri, tak nyana sedikit pun ia tidak berhasil membebaskan diri dari cengkeraman orang itu.

Baru saja hatinya mencelos dan mengeluh, tiba-tiba didengarnya orang itu tertawa geli dan berkata.

"Jangan gugup, inilah aku!"

Suara ini sudah amat dikenalnya, waktu ia berpaling ke belakang, kiranya Beng Goan-cau adanya. Keruan kejut dan girang pula Kwi-hwe-thio, serunya.

"Beng-ya, kelakarmu ini sungguh mengejutkan hatiku. Tapi cara bagaimana kau bisa berada di tempat ini?"

"Memang aku hendak bicara dengan kau. Aku menetap di sebuah hotel kecil di Tay-cian-bun sana."

Setelah berada di hotel tempat penginapan Beng Goan-cau, Kwi-hwe-thio segera menutup pintu kamar dan berkata..

"Aku pun punya banyak urusan yang perlu dibicarakan dengan kau, tapi biar aku mendengar penjelasanmu lebih dulu!"

Beng Goan-cau tertawa, katanya.

"Kalau dikatakan memang amat kebetulan, sebetulnya aku memang sengaja menuju kemari!"

"Memangnya kau sudah tahu rahasia dari perusahaan arang milik juragan Cui?"

"Ya, Li Kong-he kena perkara pun sudah kuketahui, alamat ini kudapat tahu dari Kim Tiok-liu. Semula aku hendak mencari Utti Keng, tak nyana di sini aku bertemu kau lebih dulu!"

Lekas Kwi-hwe-thio bertanya.

"Tahukah kau bagaimana keadaan juragan Cui dan yang lainlain?"

"Waktu aku tiba kebetulan kulihat serombongan tentara menggiring beberapa pesakitan yang di-borgol, jumlahnya tiga belas orang, entah di antara mereka apakah terdapat juragan Cui?"

"Termasuk Utti Tayhiap dan aku seluruhnya berjumlah lima belas orang. Kalau begitu seluruh penghuni perusahaan arang itu telah kena ditangkap."

"Kau si setan licin ini cara bagaimana pula bisa meloloskan diri?"

"Semalam aku bersama Utti Tayhiap ke tempat lain menjalankan tugas, jadi tidak berada di dalam perusahaan."

"O, kiranya begitu, kukira bila Utti-toako berada di rumah, masakah dia sudi membiarkan pasukan pemerintah itu berlaku sewenang-wenang? Ke mana semalam kalian pergi?"

Kwi-hwe-thio menyahut sambil berbisik.

"Markas besar Gi-lim-kun!"

Beng Goan-cau melengak kaget, serunya menegas.

"Markas besar Gi-lim-kun? Apa Li Kong-he disekap di dalam sana?"

"Tidak, ia dikurung di tempat kediaman Sat Hok-ting,"

Demikian sahutnya sambil tertawa dan menyambung.

"Masih ada sebuah kejadian yang bisa membuatmu kaget. Semalam di tempat kediaman Pakkiong Bong aku melihat seseorang, coba kau terka siapa dia?"

"Aah, main jual mahal, lekas katakan!"

"Kau tebak pun tidak akan kena sasaran. Orang itu adalah Boh Cong-tiu!"

Sungguh terkejut Beng Goan-cau bukan kepalang.

"Boh Cong-tiu!"

Ia berseru menegas.

"Untuk apa dia berada di sana?"

"Sudah tentu untuk pekerjaan gelap. Oh, ya, hampir aku lupa memberi tahu kepada kau, kecuali Boh Cong-tiu aku pun melihat Nyo Bok, mereka datang bergiliran menghadap Pakkiong Bong!"

Lalu ia ceritakan sejelas-jelasnya kejadian malam itu secara singkat. Beng Goan-cau menghela napas, ujarnya.

"Terhadap Nyo Bok sudah lama aku menaruh curiga, tidak perlu dibuat heran bila dia main sekongkol dan mengadakan pertemuan rahasia dengan Pakkiong Bong. Bahwa Boh Cong-tiu pun berbuat demikian ini betul-betul di luar dugaanku."

"Karena kemaruk pangkat atau kedudukan dan harta benda, entah berapa banyak orang-orang gagah yang terjungkal, sehingga nama jatuh dan badan hancur. Pakkiong Bong menggunakan kedudukan ciangbunjin Hu-siang-pay sebagai umpan, tidaklah heran bahwa Boh cong-tiu pun kena dikailnya. Tapi tugas kita penting sekarang, tidak perlu merasa sayang bagi sepak terjang Boh Cong-tiu, adalah harus secepatnya menemukan Utti Tay-hiap, supaya dia tidak tertipu dan terjebak oleh Boh Cong-tiu."

Mendadak teringat oleh Beng Goan-cau akan Lim Bu-siang, pikirnya.

"Kalau hal ini diketahuinya, betapa dia akan sedih. Walau kita harus waspada supaya Utti Keng tidak terjebak oleh musuh, kita pun harus bertindak supaya Lim Bu-siang tidak masuk perangkapnya. Jiwa Busiang terlalu polos dan jujur, tidak tahu seluk beluk kehidupan manusia yang serba licik, jahat dan busuk, keadaannya jauh lebih menguatirkan dari Utti Keng."

"Beng-heng, apa yang sedang kau pikirkan?"

"Ucapanmu memang benar, aku sudah punya akal."

"Akal apa?"

"Katamu bahwa Pakkiong Bong hendak membantu Boh Cong-tiu secara diam-diam untuk menolong orang di vil a Sat Hok-ting?"

"Itulah sebuah muslihat, kalau Boh Cong-tiu berhasil menolong Li Kong-he, ia bakal mendapat pujian dan kepercayaan dari seluruh eng-hiong di kolong langit, kelak bukan saja kedudukan ciangbunjin Hu-siang-pay, mungkin kedudukan Bu-lim-bing-cu pun hendak diraihnya!"

"Aku tahu, tapi bukankah kita bisa mengatur sedemikian rupa, tipu dibalas dengan tipu pula?"

"Ingin aku mendengar penjelasanmu!"

"Li Kong-he tentu harus kita tolong, bahwa Pakkiong Bong sedang memperalat Boh Cong-tiu, masakah kita tidak bisa memperalat dia juga. Bersama Utti Keng dia meluruk ke dalam vil a Sat Hok-ting untuk menolong orang, maka ia tidak akan bisa terlalu lama mengulur waktu, kukira kejadian bakal terjadi pada malam nanti."

"Memangnya bagaimana?"

"Untuk ini kau perlu menyerempet bahaya pula."

"Semakin berbahaya semakin menggairahkan semangatku hal ini adalah biasa bagi pekerjaanku!"

"Mulai nanti malam, setiap malam kau harus menyelundup ke dalam vil a Sat Hok-ting untuk membuat penyelidikan, begitu kau melihat sesuatu yang ganjil, segera kau lepaskan panah berapi memberi tanda kepadaku."

"Benar!"

Seru Kwi-hwe-thio sambil menepuk paha.

"Dengan cara ini kita tidak usah menunggu atau menemukan Utti Tayhiap lagi."

"Bukan saja begitu, di kala aku menerjang masuk bantu Utti Keng menolong Li Kong-he, sekaligus aku bisa membongkar persekongkolan Pakkiong Bong dengan Boh Cong-tiu."

"Aku kuatir Uti Tayhiap tidak akan mau percaya!"

"Hubunganku lain dari yang lain dengan Utti Keng, ucapan orang lain belum tentu dia mau percaya, tapi kata-kataku seratus persen pasti dia mau percaya. Dan lagi, mungkin dalam waktu dekat memang Utti Keng tidak akan mau percaya, tapi Sat Hok-ting sebagai komandan pasukan Bhayangkari mau tidak mau harus percaya!"

Kwi-hwe-thio menjadi kegirangan, serunya tertawa lebar.

"Benar, dari merebut kekuasaan dan keuntungan pribadi, Sat Hok-ting dan Pakkiong Bong saling menaruh dendam dan bermusuhan, seumpama tiada orang membocorkan rahasia ini, dia pun pasti akan curiga, cara bagaimana mungkin Utti Keng bisa tahu bahwa Li Kong-he ada disekap di dalam rumahnya? Begitu kita membongkar tipu muslihatnya ini, sudah tentu dia akan percaya. Ha, ha, adegan sandiwara sungguhan bakal terjadi cukup sengit dan seru dari akibatnya. Akal bagus, sungguh akal bagus!"

"Tapi dengan cara itu kita sendiri pun harus menyerempet bahaya. Bahwa Sat Hok-ting dan Pakkiong Bong terang pasti akan membunuh kita, maka Boh Cong-tiu pun tentu akan membunuh kita pula. Aku sendiri memangnya seorang buronan, mati hidup sudah tidak kuhiraukan, sedang kau lebih baik jangan sampai terseret ke dalam pusaran ini, sehingga kehilangan obyekmu. Apakah kau tidak menyesal nanti?"

Kwi-hwe-thio tinggal diam seperti ada sesuatu yang dipikirkan, mendadak ia berkata.

"Betul, kita masih bisa mencari seorang pembantu!"

"Tugas yang harus kita lakukan teramat berbahaya, orang yang kita mintai bantuannya adalah sahabat kental yang harus dapat dipercaya, siapa maksudmu?"

"Orang ini sudah sejak lama menjadi sahabat kentalmu. Masakah kau masih belum bisa menerka?"

"Siapa sebetulnya?"

Kwi-hwe-thio tertawa lebar ujarnya.

"Song Theng-siau!"

Terkejut dan girang pula Beng Goan-cau dibuatnya, serunya. 'Song Theng-siau juga sudah tiba? Kau sudah ketemu dia?"

"'Malah siau-sumoaymu juga datang. Mereka menetap di rumah Cay Kin. Cay Kin bersaudara bukan mustahil juga bisa membantu usaha kita."

"Cay Kin bersaudara punya rumah ada usaha, sekali-kali kita tidak boleh merembet mereka. Aku tidak ingin siau-sumoay ikut menyerempet bahaya yang begini besar. Kalau Song Theng-siau sih bolehlah diajak berunding!"

"Dengan bertambahnya seorang tenaga kosen, bila Boh Cong-tiu hendak mungkir dan menunjukkan kedok aslinya, kita pun masih bisa melawan dan melarikan diri dari sana. Apalagi Utti Tayhiap seorang sudah cukup menghadapi Boh Cong-tiu."

"Jangan kau terlalu optimis, aku tidak bisa menanggung keselamatanmu lho. Apakah kita perlu mengundang Theng-siau, aku sendiri masih -sangsi."

"Kalau tidak kuasa melawan, memangnya aku tidak bisa lari? Apalagi aku sudah cukup puas foya-foya sekian tahun, kurasa sudah lebih dari cukup puas."

"Sudah tentu, bagaimanapun siau-sumoay dan Song Theng-siau sudah tiba di sini, aku harus mencari ketika untuk bertemu dengan mereka."

"Bagus, urusan jangan diulur panjang, sekrang juga mari kita menemui mereka." -ooo0dw0ooo-Song Theng-siau dan Lu Su-bi menetap di rumah Cay Kin, tanpa merasa beberapa hari sudah berselang, namun selama ini mereka tidak berhasil mendapatkan berita mengenai diri Beng Goancau. Hari itu Cay Kin pulang seperti biasa, katanya.

"Berita Beng Tayhiap tidak kudapat, sebaliknya kudengar sebuah kejadian aneh.',' "Kejadian aneh bagaimana?"

"Bahwa di dekat markas besar Gi-lim-kun kedapatan sebuah warung arak dan sarang judi yang serba aneh."

Ternyata sejak kakek moyangnya Cay Kin sudah menjadi penduduk lama warga Pakkhia, peristiwa semalam yang terjadi di dalam warung arak itu, secara diam-diam sudah ada orang yang memberilah u kepadanya.

Setelah Cay Kin menutur berita apa yang dia dengar, lalu ia menambahkan.

"Cukong yang membuka warung arak itu adalah seorang pejabat militer bawahan Pakkiong Bong, bahwa ada orang berani membuat keributan di sana sudah cukup mengherankan. Tapi masih ada keanehan lain pula terjadi!"

"O, keanehan apa lagi?"

"Semula ada, empat orang mengepung seorang laki-laki berewok, ada orang kenal satu di antara mereka adalah wakil cong-piauthau dari Tin-wan Piau-kiok yang baru, yaitu Ouwyang Kian."

Song Theng-siau terkejut, katanya.

"Ouwyang Kian, ilmu silat orang ini cukup liehay! Pernah aku bantu Miao Tiang-hong melabraknya."

Berkata Cay Kin dengan menghela napas.

"Setelah ayahku almarhum, segala urusan Tin-wan Piaukiok aku sudah tidak pernah turut campur. Tapi berita yang kudengar hari ini, betul-betul menyakiti hatiku."

Song Theng-siau terheran-heran, katanya.

"Ouwyang Kian membuat keributan di warung arak sudah tentu menurunkan derajat dan gengsi perusahaan, tapi kukira kejadian ini tidak perlu dibuat perhatian!"

"Song siauhiap agaknya tidak tahu seluk beluknya. Kecuali Ouwyang Kian, di antara mereka berempat terdapat pula seorang hwesio gendut. Meski orang yang memberi kabar aku tidak mengenal hwesio gendut itu tapi begitu ia menuturkan, lantas aku tahu siapa dia sebenarnya!"

"Tokoh macam apa hwesio liar itu?"

"Dia tak lain tak bukan adalah salah satu jagoan terkuat dari Gi-lim-kun yang bernama Yamyam Hwesio!"

Song Theng-siau melongo, katanya.

"Jadi Ouwyang Kian ada sekongkol dan kerjasama dengan cakar alap-alap kerajaan, tak heran Cay-toako merasa sakit hati."

Lu Su-bi ikut tertarik, selanya.

"Ouwyang Kian sudah termasuk tokoh kelas satu, bahwa hwesio gendut itu dihargai pula oleh Pakkiong Bong tentulah bukan kaum keroco, adalah siapa pula lakilaki berewok yang mereka keroyok itu? Begitu hebat dan tinggi kepandaiannya mampu menghadapi keroyokan empat tokoh-tokoh liehay?"

"Orang itu bersenjata sebilah golok tunggal, katanya keempat lawannya sedikit pun tidak mampu menghadapinya, akhirnya datang pula seorang sastrawan yang membantunya, terpaksa Ouwyang Kian berempat mencawat ekor melarikan diri. Tokoh silat yang bersenjatakan golok dalam dunia persilatan apalagi dapat dimainkan sedemikian liehaynya tiada keduanya, dia tentulah..."

Sampai di sini tiba-tiba Lu Su-bi menyela bersama Cay Kin, serunya.

"Utti Keng!"

Song Theng-siau menjadi girang, katanya.

"Nama besar Utti Keng sudah lama kukagumi tak kira dia pun sudah tiba di kota raja. Kalau ada kesempatan bisa berkenalan sungguh baik sekali!"

"Utti Keng pun ada sedikit hubungan dengan mendiang ayahku,"

Demikian timbrung Lu Su-bi.

"Waktu kecil aku pernah melihatnya. Tapi setelah dia menimbulkan keonaran ini, kukira sudah lari jauh meninggalkan kota raja."

"Benar, menurut kebiasaan, setelah adanya keributan macam ini, Pakkiong Bong tentu tidak akan berpeluk tangan, bukan mustahil sekarang ia sudah perintahkan patroli pengawas kota untuk memperkuat penjagaan dan mengawasi orang-orang yang dicurigai."

Betapa cerdik Song Theng-siau, mendengar ucapan orang tergerak hatinya, segera ia berkata.

"Cay-heng, kau dari keluarga persilatan, tokoh yang cukup terkenal di dalam kota raja mungkin segala gerak-gerikmu bakal menjadi perhatian mereka? Kukira kehadiran kami di sini bisa membawa kesulitan bagi kau!"' "Tidak sedikit aku kenal pejabat pemerintah, sedikit banyak mereka harus memberi muka kepadaku. Kalian tidak usah kuatir dan tetap tinggal di sini saja, sudah tentu kalian memang harus lebih hati-hati."

"Sebetulnya bersama siau-sumoay kami ingin tamasya ke Ban-li-tiang-shia, ada lebih baik biar kami berdarmawisata ke sana, sekaligus untuk menghindari kesulitan di sini."

Cay Kin berpikir sebentar lalu katanya.

"Setelah berada di Pakkhia, memang kalian harus tamasya di tembok besar, kalau kalian hendak pergi beberapa hari juga ada baiknya. Sayang aku tidak bisa menemani kalian!"

"Kabarnya di bawah Pat-tat-nia terdapat rumah penginapan bagi para pelancongan, biar kami mencari penginapan di sana untuk tinggal beberapa hari, Cay-heng tidak usah kuatir!"

"Tinggal di hotel kukira kurang leluasa dan kurang bebas, di sana aku punya sebuah tempat, bolehlah kalian menetap di sana saja!"

"Kalau begitu lebih baik. Entah di mana letak tempatmu itu?"

"Di atas Pat-tat-nia terdapat sebuah biara, pengurus atau Tosu penghuni biara itu adalah kenalan baikku, kalau kalian menyebut namaku, tentu mereka akan menerima kedatangan kalian!" -ooo0dw0ooo-Ban-li-tiang-shia dibangun di antara pegunungan yang sambung menyambung turun naik dan berliku-liku seperti ular panjang sejauh dua belas ribu li, entah berapa banyak tempat-tempat curam dan berbahaya di sepanjang tembok besar yang panjang itu. Umpamanya Ki-eng-koan dan Pat-tat-nia adalah dua di antaranya. Bagi setiap pelancong yang ingin tamasya di tembok besar dari Pakkhia, mereka biasanya harus melewati Pat-tat-nia ini. Sebelum terang tanah Song Theng-siau dan Lu Su-bi sudah berangkat, waktu tiba di Pat-tat-nia sang surya sudah doyong ke barat dan hampir tenggelam di peraduannya, tak lama lagi cuaca sudah akan gelap. Begitu berada di puncak Pat-tat-nia, tampak tembok besar berada di kaki bukit sana laksana seekor naga yang melingkar-lingkar kelihatan badan dan ekornya tanpa kelihatan kepalanya, selepas pandang membuat rasa hati lapang dan nyaman. Sedemikian indah pemandangan alam semesta di sini, sehingga Lu Su-bi berdiri terpesona, serta merta ia berseru memuji.

"Ah, panorama di sini jauh lebih indah dari Siau-kim-jwan, marilah kita melancong sampai cuaca gelap baru mencari biara itu untuk menginap."

"Siau-sumoay sedemikian senang, sudah tentu aku selalu mengiringi keinginanmu,"

Demikian ujar Song Theng-siau tertawa.

"Di sebelah depan sana, masih ada tempat yang lebih menyenangkan."

"Apa iya?"

Seru Lu Su-bi, demikian mereka berputar kayun menjelajah berbagai pelosok, tibatiba terdengar oleh mereka suara "Crang-creng"

Yang nyaring terbawa hembusan angin pegunungan yang sepoi-sepoi.

"Eh!"

Seru Lu Su-bi heran.

"dari mana ada terdengar suara harpa di sini?"

"Itu bukan suara petikan harpa,"

Demikian Song Theng-siau coba menjelaskan.

"Tempat ini memang dinamakan Tan-ceng-kiap (selat memetik harpa), itulah karena aliran air yang gemerincik di atas pegunungan dan berkumandang seperti suara harpa."

"Benar, suara ini jelas adalah petikan senar harpa,"

Seru Lu Su-bi.

Terpaksa Song Theng-siau pasang kuping mendengarkan dengan cermat, memang di antara gemericiknya suara aliran air lapat-lapat terdengar suara harpa.

Suara harpa yang tulen dan palsu berpadu, namun bila diperhatikan masih bisa dibedakan secara nyata.

"Orang ini memetik harpa di Tan-ceng-kiap, mungkin dia pun seorang seniman."

"Petikan harpanya sungguh bagus sekali,"

Demikian puji Lu Su-bi.

"Song-suko, serulingmu ada kau bawa tidak?"

"Sayang tidak kubawa, meski kubawa masakah aku berani pamer di depan seorang ahli musik."

Terdengar petikan harpa itu mengalun mengambang dengan suara bulat dan berisi, pertanda bahwa orang yang memetiknya memang seorang ahli, kejap lain terdengar pula suara orang bersenandung membawakan syair-syair ciptaan pujangga pada jaman Tong yang bernama Li Gisan, syair itu mengenang sahabat lama yang sudah sekian lama berpisah.

Begitulah sambil menikmati alunan suara harpa, Song Theng-siau beranjak ke depan dan tak lama kemudian di kejauhan sana dilihatnya seorang pemuda berpakaian serba putih duduk di atas sebuah batu marmer bundar menyerupai kaca di atas batu cadas yang berlubang-lubang, dari lubang-lubang itu memancar keluar air yang gemericik memperdengarkan suara "Crang-creng"

Pula, lapat-lapat kedua suara ini berpadu dan serasi. Tak terasa Song Theng-siau berseru memuji.

"Petikan harpa heng-tai ini sungguh bagus sekali!"

Pemuda itu menghentikan petikannya dan angkat harpa serta bergegas berdiri, katanya.

"Pelancong datang dari jauh, maaf aku di sini mengganggu kesenangan kalian!"

"Kami sendiri sebetulnya yang harus minta maaf karena mengganggu keasyikan saudara. Harap maaf akan kelancangan kami, mohon tanya nama besar saudara."

Pemuda baju putih membungkukkan badan dan menyahut.

"Siaute Tan Kong-si dari Koh-su."

"O,"

Song Theng-siau berseru kaget.

"Apakah Kanglam Tayhiap Tan Thian-ih Tan-Iosiansing adalah ayahmu?"

"Terima kasih,"

Sahut Tan Kong-si merendah.

"Kalian adalah..."

"Aku berasal dari Soh-ciu, aku she Song, mendiang ayahku bernama Sip-lun, aku sendiri bernama Theng-siau. Dia adalah siau-sumoayku Lu Su-bi."

Tan Kong-si menjadi girang, katanya tertawa.

"Kiranya saudara Song, sudah lama aku pun ingin berkenalan dengan kau. Tak nyana kita sama-sama warga kota Soh-ciu, baru hari ini bisa berkenalan. Kabarnya Song-heng berada di Siau-kim-jwan, kenapa berada di tempat ini?"

"Kami ke kota raja untuk mencari seorang sahabat, hari ini sengaja kami melancong di Ban-litiang-shia. Syair yang dibawakan Tan-heng tadi agaknya juga sedang mengenang seorang kenalan, apakah kau juga sedang mencari temanmu?"

Tan Kong-si mengiakan lalu tambahnya.

"Aku sudah ke Pakkhia, namun temanku itu tidak kutemukan, Song-heng apakah hari ini baru kau keluar dari kota Pakkhia?"

Song Theng-siau mengiakan sambil manggut-manggut. Kata Tan Kong-si.

"Aku sudah datang tiga hari yang lalu, sekarang aku siap hendak pulang.-Song-heng, siapakah orang yang kau cari?"

"Beng Goan-cau,"

Sahut Song Theng-siau.

"Entah siapa pula sahabat yang kau cari?"

"Entah apakah Song-heng pernah mendengar nama Miao Tiang-hong?"

"Ah, jadi orang yang kau cari adalah Miao Tiang-hong."

"Agaknya Song-heng juga sudah kenal baik dengan dia?"

"Kenalan baik sih tidak, tapi di jalan kami pernah dua kali jumpa sama dia."

Song Theng-siau tahu Tan Kong-si dan Miao Tiang-hong adalah kenalan baik, maka ada beberapa persoalan tidak enak ia kemukakan.

Adalah jiwa Lu Su-bi yang polos dan lugu, segera ia menimbrung sambil tertawa.

"Tan-toako, temanmu itu sudah menimbulkan perkara yang bukan kecil artinya, dia sudah bertengkar dengan Su-hay-sin-liong Ki Kian-ya dan Han cong-piauthau dari Tin-wan Piaukiok!"

"Ada kejadian itu, kenapa?"

Lekas Song Theng-siau berkedip kepada Lu Su-bi, katanya.

"Di tengah jalan kami pernah lihat dia berkelahi dengan para piausu dari Tin-wan Piaukiok, entah apa sebab musababnya!"

"Adakah yang terluka?"

"Hal ini, aku tidak menanyakan kepadanya!"

Tak.tahan Lu Su-bi menyela lagi.

"Dia sedang seperjalanan bersama Hun Ci-lo. Bibi Hun Ci-lo menetap di Sam-ho. Lebih baik kau ke sana saja mencarinya!"

"Terima kasih akan petunjuk ini,"

Demikian ujar Tan Kong-si.

"Sam-ho tidak jauh dari Pakkhia, biar kucari mereka di Sam-ho, kuharap dalam waktu dekat kami bisa bertemu pula di kota raja. Oh, ya, hampir kulupa tanya kalian, di mana tempat tinggal kalian di Pakkhia?"

"Semula kami menetap di rumah Cay Kin."

"O, Cay Kin? Aku tahu dia! Kalau begitu sekembalinya ke Pakkhia biar kucari kalian di rumah Cay Kin."

Setelah Tan Kong-si pergi, berkata Theng-siau tertawa.

"Bicara terhadap orang sedapat mungkin membatasi diri, jangan kau limpahkan segala apa yang kau tahu. Siau-sumoay, bicara sama dia kenapa kau tidak tahu akan pantangan ini?"

Lu Su-bi lantas merengut dan bersungut-sungut, omelnya.

"Memangnya dia kan putra kedua Kanglam Tayhiap, toh bukan orang jahat."

"Tapi dia adalah sahabat baik Miao Tiang-hong, tahukah kau tadi aku kuatir kau membicarakan hubungan pribadi antara Miao Tiang-hong dengan Hun Ci-lo, kedengarannya tentu rada janggal."

"Memangnya aku peduli akan persoalan orang lain. Kukira hatimu sendiri tidak baik dan punya penyakit!"

"Kembali kau merengek dan menggodaku, sudahlah jangan kita bertengkar, cuaca sudah hampir gelap, marilah kita mencari biara itu!"

Seorang diri Tan Kong-si turun gunung, hatinya gundah dan berpikir.

"Ki Kian-ya adalah sahabat ayah, Han-congpiauthau dari Tin-wan Piaukiok juga punya hubungan erat dengan keluarga kami, kenapa Miao Tiang-hong mengikat permusuhan dengan mereka? Tapi dia melakukan perjalanan sama Hun Ci-lo, hal ini harus dibuat girang."

Begitulah sambil beranjak pikiran Tan Kong-si melayang dan putar kayun tidak menentu, tanpa disadari ia sudah tiba di deretan batu-batu tebal berukir, tempat ini adalah bangunan peninggalan jaman kuno yang terdapat di Pat-tat-nia pula, salah satu tempat tamasya yang dinamakan Huntai.

Hun-tai ini dibangun dengan batu-batu han-pek yang amat jarang terdapat pada bangunanbangunan kuno di Tiongkok, setiap papan batunya yang tegak dengan sebelah atasnya terpapas, berjajar lima terukir indah berbagai gambar kembang dan lukisan Budha yang beraneka ragamnya.

Di tengah-tengah adalah barisan syair-syair yang diukir dengan gaya yang indah menggunakan tulisan kuno pula.

Di dalam buku tamasya ciptaan pujangga-pujangga kuno, Tan Kong-si pernah membaca perihal Hun-tai ini, cuma beberapa hari ini ia terlalu sibuk melancong ke tempat lain sehingga belum sempat menemukan Hun-tai ini, tak kira dalam perjalanan pulang kebetulan ia lewat dari sini.

Baru saja ia hendak menikmati gambar-gambar ukiran dan syair-syair ciptaan pujanggapujangga ternama, mendadak matanya bentrok pada tumpukan batu yang awut-awutan di tanah, dikatakan awut-awutan sebetulnya kurang tepat karena batu-batu itu tertumpuk satu demi satu meruncing ke atas, tumpukan batu itu terbagi dalam tiga kelompok, batu paling bawah berjumlah sembilan, semakin ke atas semakin kurang dan yang paling atas adalah sebuah tengkorak manusia.

Kaget dan heran Tan Kong-si dibuatnya, pikirnya.

"Masakah permainan anak-anak? Yah, bukan mustahil pertanda sesuatu perkumpulan rahasia atau tokoh-tokoh kaum sesat, mereka sudah berjanji hendak bertemu dan berkumpul di sini."

Belum lenyap pikirannya, tiba-tiba didengarnya suara orang, Tan Kong-si kaget.

"Agaknya dugaanku tidak meleset, pertemuan rahasia dari golongan hitam paling pantang diketahui orang luar, untuk menghindari kesulitan, terpaksa aku harus menyingkir dan sembunyi saja."

Sigap sekali ia melompat turun dan sembunyi di belakang papan batu ukiran.

Baru saja ia bersembunyi, tampak seorang hwesio gendut dan seorang laki-laki pendek yang bergerak gesit dan tangkas mendatangi dari arah berlawanan, mereka tiba berbareng.

Tergerak hati Tan Kongsi.

"Hwesio gendut ini agaknya adalah Yam-yam Hwesio yang pernah diceritakan oleh Miao-toako itu!"

Betul juga segera ia mendengar laki-laki pendek itu berseru menyapa.

"Yamyam Taysu, cepat juga kedatanganmu, aku kuatir kau tidak akan bisa datang!"

Yam-yam Taysu tertawa berkakak, sahutnya.

"Kat-loji, memangnya kau sangka aku ini seorang yang suka ingkar janji?"

Laki-laki pendek yang dipanggil Kat-loji berkata.

"Bukan begitu maksudku. Kudengar katanya situasi di kota raja cukup genting, kemarin malam terjadi huru-hara lagi. Kukira kau tiada waktu senggang untuk kemari."

"Kupingmu cukup tajam juga untuk mendengar berita! Memang, kejadian kemarin malam ada juga bagianku. Kalau dikatakan sungguh amat berbahaya, hampir saja aku termakan oleh golok cepat Utti Keng!"

"Jadi kau berkelahi dengan Utti Keng, dapat meringkusnya tidak?"

Tanya Kat-loji.

"Memang sengaja kami melepas dia, kalau tidak masakah dia mampu lolos dari genggaman tanganku dan Ouwyang Kian?"

Ucapannya ini hanya menempel emas di mukanya, namun bukanlah bualan belaka. Kat-loji heran, tanyanya.

"Kenapa begitu?"

"Itulah muslihat yang memang sudah direncanakan oleh Pakkiong Tayjin, mengulur benang untuk mengail ikan besar. Biar kuberitahu sebuah rahasia kepadamu, Boh Cong-tiu sudah termasuk orang kita sendiri, kelak dialah yang bakal menjadi lakon utama dalam sandiwara besar ini!"

"Apa betul? Lalu sandiwara apa yang sedang kalian lakukan?"

Yam-yam Taysu tertawa penuh arti dan jual mahal, sahutnya.

"Pendek kata kelak kau akan bisa menonton sandiwara hebat ini, biar kesempatan lain kujelaskan kepadamu."

Tan Kong-si yang mencuri dengar pembicaraan mereka menjadi kaget dan keheranan pula, hampir tidak percaya akan pendengaran kuping sendiri.

"Boh Cong-tiu adalah sahabat baik Kim Tayhiap, mana mungkin sehaluan dengan cakar alap-alap? Tapi bila Utti Tayhiap benar sudah berada di kota raja, aku harus segera menemuinya."

Terdengar pula Kat-loji berkata.

"Baiklah, bicara lebih lanjut bila Hian-hong Totiang tiba. Aneh, setiap janji bertemu, biasanya dia pasti tiba lebih dulu, kenapa sampai sekarang masih belum kelihatan bayangannya, mungkin terjadi sesuatu atas dirinya?"

Yam-yam Taysu berpikir sebentar lalu katanya.

"Menurut apa yang kuketahui dia sedang pergi ke Sam-ho, kepandaian Loan-pi-hong-kiamhoatnya dapat menandingi tokoh kosen kelas wahid jaman ini. Tapi kepandaian Miao Tiang-hong pun bukan olah-olah liehaynya, mungkin malah lebih tinggi tingkatannya. Bicara terus terang, aku rada kuatir bagi dirinya."

Tak urung terkejut pula Tan Kong-si dibuatnya.

"Bagaimana mereka bisa membicarakan paman Miao malah?"

Baru saja mereka bicara sampai di sini, dari kejauhan lantas terdengar seseorang berkata sambil tertawa.

"Terima kasih akan kekuatiran kalian, pinto sedikit pun tidak kurang suatu apa."

Di tengah gelak tawa, tampak seorang tosu berjenggot kambing sedang mendatangi. Yam-yam segera bertanya.

"Apa kau sudah bergebrak dengan Miao Tiang-hong?"

"Bayangan setan pun tidak kutemui!"

Demikian sahut Hian hong-Totiang.

"Tak heran seujung rambut pun kau tidak kurang suatu apa, ternyaia perjalananmu sia-sia,"

Demikian olok Yam-yam Taysu. Hian-hong unjuk rasa kurang senang, katanya.

"Kau menilai orang dari pandangan sela-sela pintu (memandang rendah), memangnya aku ingin benar bisa ketemu dengan Miao Tiang-hong dan menjajal kepandaiannya. Kau sendiri yang pernah dikalahkan olehnya, belum tentu aku bisa terjungkal di tangannya."

Hubungan Yam-yam Taysu dengan Hian-hong Totiang cukup erat dan sudah puluhan tahun lamanya, gengsi dan ketenaran Hian-hong Totiang memang jauh lebih tinggi dari Yam-yam Hwesio, maka setelah mendengar cemooh Hian-hong Tojin, meski rasa hati mendongkol, terpaksa ia unjuk seri tawa yang dibuat-buat.

Segera ia berka-kakan, serunya.

"Toheng, aku hanya berkelakar saja, kenapa kau jadi uring-uringan? Tapi bicara terus terang, Pakkiong Tayjin sendiri tidak mengharap kau bentrok langsung dengan Miao Tiang-hong."

"Aku tahu beliau takut aku menggebah rumput menakutkan ular, kali ini memang dia hanya menyuruh aku menyirapi berita saja!"

"Ya, aku belum tanya kau, kabar apa saja yang kau bawa pulang?"

Tanya Yam-yam Hwesio.

"Kisikan dari Ouwyang Kian memang tidak salah, Miao Tiang-hong memang pernah berada di Sam-ho, tinggal di rumah keluarga Hun. Sayang kedatanganku terlambat dua hari, isteri Siau Kinghi dan keponakan perempuannya atau isteri Nyo Bok itu sudah lama meninggalkan rumah!"

Berpikir Tan Kong-si.

"Ternyata Siau-hujin dan Miao-sioksiok serta Hun Ci-lo sudah tidak berada di Sam-ho, untung aku mencuri dengar kabar ini sehingga tidak menubruk tempat kosong!"

"Entah ke mana mereka pindah?"

"Ke mana mereka, aku belum sempat menyirapi, tapi perjalananku kali ini juga tidak terhitung sia-sia, meski tidak berhasil mendapat tahu jejak Miao Tiang-hong, namun aku mendapat suatu hasil di luar dugaan."

"Oho, hasil di luar dugaan apa?"

"Rumah keluarga Hun itu sudah kosong melompong, malam itu aku bersama Lo-ha, Lo-li Loliau menginap di rumahnya itu. Ha, sungguh kebetulan, kira-kira kentongan ketiga, ternyata kami memergoki dua gadis remaja yang masuk ke dalam perangkap sendiri."

"Ha, betul-betul rejeki nomplok kalian, siapakah kedua gadis remaja itu?"

Tanya Yam-yam Hwesio. Mendengar sampai di sini tanpa merasa berdetak keras jantung Tan Kong-si.

"Mungkinkah Siau Gwat-sian dan Cau Ci-hwi, dua nona nakal yang tidak tahu betapa licik dan berbahayanya kelana di kangouw? Tapi kenapa mereka tidak pergi bersama Siau-hujin?"

Maka didengarnya Hian-hong menutur lebih lanjut.

"Seorang adalah putri nyonya galak itu yang bernama Siau Gwat-sian, seorang lain adalah puteri Cau Siok-toh yang bernama Cau Ci-hwi."

"Bagaimana mungkin kedua gadis remaja itu tidak ikut pergi sama orang tuanya? "Setelah kami ringkus semula mereka tutup mulut, tapi akhirnya toh dapat kita kompres keterangannya. Ternyata mereka melarikan diri di tengah jalan karena ingin melihat keramaian di puncak Thay-san. Mungkin setelah mengalami pahit getir sepanjang jalan dan menjadi kapok, mereka ingin pulang saja ikut orang tua."

"Agaknya kedua gadis hijau itu tidak menyangka bahwa rumahnya sudah dijadikan sarang alapalap. Begitu mereka pulang kandang, Haha, kalianlah yang mengecap untungnya!"

Hian-hong Tojin berludah, semprotnya.

"Jangan kau menduga yang tidak senonoh, memangnya kau sangka aku seperti kau, hwesio liar yang tidak tahu aturan dan hidung belang."

"Tak usah kau pura-pura alim, ingin aku tahu, setelah kau ringkus gadis-gadis ayu menggiurkan itu untuk apa?"

"Aku orang beribadat, sudah tentu tidak akan mengganggu nona-nona cilik itu. Tapi kalau aku tidak mau, orang lain tentu mau melalapnya."

"Aku tahu. Akan kau berikan kepada siapa untuk mengambil hatinya?"

"Aku sendiri sedang kebingungan dan belum ambil putusan, entah kuberikan kepada Pakkiong Tayjin saja atau kuserahkan kepada Sam-pwelek (putra raja ketiga)."

"Ya, hal ini memang perlu kau pertimbangkan."

Dia sendiri pun sulit memberikan pertimbangan. Kata Hian-hong Totiang lebih lanjut.

"Kalau kuserahkan kepada Pakkiong Tayjin dapat kuperas Cau Siok-toh dan nyonya bawel itu untuk menyerah, malah bisa pula kugunakan muslihat untuk menjebak Miao Tiang-hong. Tapi kalau kuserahkan Sam-pwelek, mungkin lebih banyak manfaat yang kita peroleh."

"Yang terang mereka sudah berada di tanganmu, masih banyak waktu untuk mempertimbangkan secara masak. Kau belum membawa kedua nona cilik itu ke kota raja bukan?"

"Aku sendiri terburu-buru pulang untuk menepati janji kalian, mana ada waktu mengantar mereka ke kota raja? Dan lagi aku sendiri belum lagi mengambil keputusan, masakah begitu goblok lantas membawa mereka ke kota raja. Lo-ha dan Lo-liau kutinggalkan di sana untuk menjaga dan mengawasi mereka."

"Kau mendapat obyek yang menguntungkan ini, jangan lupa pada teman lama lho!"

"Sudah tentu. Bahwa hal ini kujelaskan kepada kau, memangnya aku ingin mendengar pendapat-mu!"

"Baik, setelah pulang ke kota raja, biar kita bicarakan lebih lanjut. Sekarang kedapatan sebuah tugas harus mempertaruhkan jiwa perlu kita laksanakan bersama."

"Tugas berat apa itu?"

Maka Yam-yam Hwesio lantas menjelaskan peristiwa yang terjadi kemarin malam, kali ini ia menjelaskan lebih jelas terperinci, berapa banyak yang dia ketahui mengenai pembicaraan Pakkiong Bong dan Boh Cong-tiu di dalam kamar rahasia ia tuturkan seluruhnya.

Akhirnya ia berkata.

"Pagi hari ini kami mendapat kabar pula, katanya Beng Goan-cau pun sudah tiba di kota raja. Maka sengaja Pakkiong Tayjin menyuruh mengundang kalian pulang, bukan mtistahil kita harus bertempur secara besarbesaran melawan Utti Keng dan Beng Goan-cau. Kali ini kita harus benar-benar mengadu jiwa, bukan permainan sandiwara lho!"

Dapat mencuri dengar kedua rahasia ini, jantung Tan Kong-si serasa hampir meloncat keluar dari rongga dadanya, batinnya.

"Menolong orang lebih penting ataukah memberi laporan kepada Utti Tayhiap lebih penting? Siau Gwat-sian dan Cau Ci-hwi terjatuh ke tangan musuh, Siau-hujin terang belum tahu, satu hari lebih lama bahayanya tentu lebih besar bagi mereka. Tapi kalau Utti Tayhiap sampai terperangkap oleh muslihat mereka urusan mungkin akan lebih besar lagi."

Baru saja pikirannya kacau dan gundah, tiba-tiba didengarnya Hian-hong Tojin membentak.

"Sahabat dari kalangan mana itu, kenapa main sembunyi-sembunyi, keluarlah secara terangterangan!"

Tan Kong-si menyangka jejaknya sudah ketahuan oleh mereka, baru saja ia hendak bersuara dan keluar, terdengar sebuah gelak tawa bergema dan serunya.

"Sejak tadi aku sudah berada di sini, memangnya mata kalian yang buta melek, masa salahkan aku?"

Yam-yam Hwesio bertiga segera menengadah ke arah datangnya suara, tampak di atas sebuah pohon di depan mereka, berdiri seorang laki-laki berpakaian serba hitam dengan sikap gagah dan kereng, badannya memantul-mantul turun naik mengiringi gerakan dahan pohon.

Kat-loji adalah seorang ahli senjata rahasia, bahwa ada orang sembunyi di dekatnya tanpa diketahui ia merasa malu diri, maka segera ia hendak pamer kepandaian sekaligus ia keluarkan tujuh macam am-gi yang berlainan terus disambitkan sambil membentak.

"Menggelindinglah turun!"

Entah orang baju hitam itu menggunakan cara apa, terdengarlah suara "trang-tring"

Yang riuh dan ramai seperti petikan harpa yang cepat, tahu-tahu ke tujuh macam senjata rahasia yang ditim-pukan Kat-loji semua meluncur balik.

Walau Kat-loji ahli menyambut senjata rahasia, kali ini dibuat kerepotan dan mencak-mencak, timpukan balik dari orang baju hitam itu tenaganya jauh lebih besar dari sambitannya sendiri, dia hanya mampu menyambut sebuah panah dan Thi-lian-cu, sementara bor besi yang meluncur datang pula ia sudah tidak berani menyambut, terpaksa dengan gaya Keledai Malas Menggelinding lekas ia merebahkan badan terus menggelundung ke samping, beruntung ia selamat dari am-ginya sendiri yang hampir saja makan tuannya sendiri.

Namun demikian bor besi itu toh terbang menyerempet dahinya.

Melihat gelagat jelek, lekas Hian-hong Totiang melolos pedang, dengan sejurus Pi-hong-kim-hoat ia bantu menyampuk jatuh empat senjata rahasia lainnya.

Belum lagi Kat-loji sempat merangkak bangun, orang itu sudah melompat turun di ringi gelak tawanya, pakaiannya melambai dan hinggap di tanah tanpa bersuara, katanya.

"Aku datang menurut perintah, kenapa kau rebah di tanah malah? Ada petunjuk apa silahkan berdiri!"

Diam-diam Tan Kong-si mengintip dari tempat sembunyinya, setelah melihat tegas laki-laki baju hitam itu, sungguh girang dan kaget hatinya.

Ternyata orang itu adalah Le Lam-sing, Thocu Anging-hwe.

Ang-ing-hwe adalah sebuah sindikat besar nomor dua di dunia kangouw setelah Liok-hap-pang, pejabat pangcunya yang terdahulu Kongsun Hong sudah tua mengundurkan diri dan pensiun.

Le Lam-sing adalah menantunya, mewarisi jabatan pangcunya itu.

Usianya sebaya dengan Kim Tiokliu, hubungan mereka pun amat kental, di dalam bulim nama mereka pun sama tenar dan sejajar.

Waktu pertemuan besar di Thay-san tempo hari Tan Kong-si pernah bertemu dengan dia.

Adalah Hian-hong Totiang tidak kenal siapa Le Lam-sing, dengan gusar ia membentak.

"Siapa kau, berani kau curi dengar pembicaraan kami!"

Cepat Yam-yam Hwesio menyela.

"Hian-hong To-heng, tuan ini adalah Le-cong-thocu dari Anging-hwe!"

Merah berganti hijau dan legam muka Hian-hong Totiang, namun kata-kata yang sudah diucapkan tidak mungkin dijilat kembali, terpaksa ia mengeraskan kepala, jengeknya dingin.

"Kalau Cong-thocu dari Ang-ing-hwe, lebih tidak pantas lagi dia main sembunyi mencuri dengar pembicaraan orang lain."

Le Lam-sing berkata tawar.

"Siapa suruh kalian buta melek, banyak tempat lain cocok untuk kalian bicara, sebaliknya kasak-kusuk di sebelahku membuatku sebal juga. Hehe, aku tidak ingin dengar toh sudah dengar, urusan yang kalian rundingkan toh juga bukan urusan gamblang, kalian hendak main rampok dan main bunuh bukan? Kalau aku sudah dengar semua, memangnya kalian mau apa?"

Hian-hong Totiang dan Yam-yam Hwesio saling pandang dan memberi kedipan mata, akhirnya mereka membentak bersama.

"Kalau begitu harus dibunuh untuk tutup mulut!"

Le Lam-sing tertawa panjang, nadanya dingin, jengeknya.

"Mengandal kepandaian keroco kalian juga berani hendak membunuh aku? Begitupun baik, mari buktikan siapa yang bakal lapor ke hadapan Giam-lo-ong nanti!"

Seiring dengan gelak tawanya, ia melolos pedang, seketika tiga kuntum sinar kembang dari kilatan pedangnya berpencar ketiga jurusan masing-masing menusuk ketiga lawannya.

Waktu itu Kat-loji sudah berdiri, senjatanya adalah sepasang Boan-koan-pit, segera ia ikut melabrak maju ke tengah gelanggang.

Hian-hong Totiang sengaja hendak pamer Pi-hong-kiamhoat-nya, ke timur menusuk sekali, lalu menusuk ke barat sekali pula, kelihatannya gerak pedangnya awut-awutan tanpa mengenal teori ilmu pedang umumnya, namun gagang pedangnya bergetar mengiringi gerak pergelangan tangannya, sekonyong-konyong sebatang pedangnya seolah-olah berubah menjadi dua batang, dua batang berkembang lebih lanjut menjadi empat dan demikianlah berkembang terus berlipat ganda, akhirnya tampak lapisan pedang ribuan batang banyaknya, seketika Le Lam-sing terkurung di dalam kilasan bayangan pedangnya.

Tan Kong-si yang mencuri lihat dari balik batu sembunyinya menjadi berkunang-kunang dan pusing, batinnya.

"Tak heran si Tosu busuk hidung kerbau ini berani bermulut besar, ilmu pedangnya ini ternyata memang cukup liehay. Perlukah aku keluar membantu paman Le?"

Baru saja ia membatin, maka didengarnya Le Lam-sing tertawa dingin, cemoohnya.

"Loan-pihong kiamhoat sebetulnya boleh terhitung ilmu pedang tingkat tinggi, sayang latihanmu masih jauh dari sempurna."-Maklum Le Lam-sing adalah seorang ahli pedang yang kenamaan, ilmu pedang yang dianggap liehay dalam pandangan Tan Kong-si, bagi dirinya sebaliknya tidak terhitung apa-apa. Tampak dia mainkan tipu-tipu pedangnya, dengan gerakan yang amat lamban, ujung pedangnya seakan-akan diganduli barang berat ribuan kati, ujung pedangnya pun tunjuk timur tuding ke barat, namun setiap gerak pedangnya di ringi dengan gemuruhnya suara geledek. Kalau dikatakan memang aneh, ilmu pedang Hian-hong Tojin yang dimainkan sedemikian cepat dan aneh seperti main sulapan belaka, namun ujung pedangnya tidak mampu mendekat dalam jarak delapan kaki, belum lagi mampu menyentuh badan lawan tahu-tahu sudah terpental miring. Ujung bajunya saja tidak mampu menyentuhnya. Yam-yam Hwesio segera menghardik.

"Biar kau rasakan Hwei-liong-kangku!"

Beruntun kedua telapak tangannya ditarikan melancarkan pukulan berantai sekaligus ia lontarkan tiga puluh enam jurus pukulan, angin panas seperti badai prahara di gurun pasir bergulung-gulung menerpa dengan dahsyat, sampai Tan Kong-si yang sembunyi di belakang batu pun merasa kepanasan.

Namun Le Lam-sing mandah tertawa dingin, ejeknya.

"Cuaca sudah gelap hawa pegunungan mulai dingin, terima kasih akan Hwe-liong-kangmu yang menghangatkan badanku malah!"

Dengan ringan ia tepukkan sebelah telapak tangannya, seketika segulung angin dingin yang nyaman dan menyegarkan menghembus lewat membuat semangat orang ogah-ogahan dan mengantuk.

Kepandaian Kat-loji rada rendah, namun ilmu Boan-koan-pitnya yang peranti menotok Hiat-to pun cukup liehay juga, dengan satu melawan tiga meski Le Lam-sing tidak perlu takut, tapi di dalam waktu singkat ia pun sulit mengambil kemenangan.

Dalam keadaan sengit dan seru ini, Le Lam-sing melawan pukulan dengan pukulan, serangan pedang dilawan dengan jurus pedang pula, dengan sejurus Ing-kik-tiang-khong (burung elang menyerang di tengah udara), ia bikin Yam-yam Hwesio membalikkan pukulannya untuk menyelamatkan diri, sementara pedang panjang di tangan kanan berputar satu lingkaran, sekaligus dapat memunahkan rangsakan jurus pedang Hian-hong Totiang yang melancarkan jurus-jurus Pi-hong-kiamhoatnya yang rumit dan beraneka ragamnya.

Kat-loji menyangka ia mendapat peluang untuk menyergap, lekas kedua potlotnya ia rangkap ke tengah terus berpencar menotok ke Ki-bun-hiat di kiri kanan bawah ketiaknya.

Le Lam-sing menjadi gusar, bentaknya.

"Mutiara sebesar beras juga berani bersinar!"

Lekas ia membalikkan pedangnya, gerak pedangnya yang lamban berat mendadak meluncur dengan kecepatan kilat, maka terdengarlah suara "trang"

Yang nyaring, bunga api berpercik potlot baja di tangan kanan Kat-loji tinggal separuh dan ia tergentak sempoyongan, saking kaget pucat selebar mukanya.

Tepat pada saat itu pula terdengar Hian-hong Totiang membentak.

"Lepaskan pedangmu!"

Sinar hijau berkelebat, ujung pedangnya menusuk ke pergel angan tangan Le Lam-sing.

Memang Loan-pi-hong-kiamhoat ini khususnya untuk menyelusupi lubang kelemahan musuh, begitu mendapat peluang maka tusukannya ini boleh dikata dilancarkan dengan cepat dan telak.

Baru saja Le Lam-sing berhasil menabas kutung potlot baja Kat-loji, posisinya belum lagi bisa dikontrol secara sempurna untuk balas menyerang atau bertahan saja.

Tan Kong-si sendiri sedang berpikir.

"Sudah saatnya aku keluar membantu paman Le."

Tak nyana gerak-gerik Le Lam-sing ternyata lebih cepat dari jalan pikirannya. Di dalam keadaan yang gawat itulah, terdengarlah Le Lam-sing menjengek dingin.

"Belum tentu!"

Tiba-tiba badannya melambung naik ke tengah udara, pedang panjangnya tertuju lurus ke depan mengetuk di atas sebuah tonggak batu beberapa kaki di depannya, meminjam ketukan ujung pedangnya ini, laksana burung elang menyusup ke dalam hutan, badannya lantas jumpalitan melewati tonggak batu hinggap di belakang sana, di mana tempat itu kebetulan adalah tempat persembunyian Tan Kongsi.

Tan Kong-si sudah membuka mulut, belum lagi teriakan kejutnya keluar, tahu-tahu mulutnya sudah didekap oleh Le Lam-sing.

Katanya berbisik di pinggir kupingnya.

"Jangan sampai jejakmu diketahui oleh mareka!"

Begitu lepas tangan ia putar tubuh terus melompat keluar pula.

Hian-hong Totiang dan Yam-yam Hwesio kebetulan sedang melompat ke atas, Le Lam-sing berdiri di lapisan batu yang teratas, dari atas menyerang ke bawah.

"sret, sret", tangan kiri menyerang dengan jurus Li Kong Memanah Batu, sementara tangan kanan menyerang dengan tipu Burung Sakti Menggaris Pasir, betapa ganas rangsakan pedangnya ini sehingga Hian-hong terdesak kerepotan dan membalikkan pedang untuk melindungi badan, terdengarlah "Bret"

Jubah Hwesio Yam-yam Taysu kena dicomot sobek di depan dadanya.

Saking terkejut kedua orang ini berbareng menyurut mundur tiga undakan batu.

Karena posisi Le Lam-sing lebih menguntungkan, keadaannya masih lebih unggul dan tidak mungkin bisa terkalahkan.

Hian-hong lantas membentak.

"Kalau berani marilah turun kemari!"

Le Lam-sing terbahak-bahak, ujarnya.

"Kalau kau tidak takut jangan lari!"

Ia lantas menubruk turun, dengan sejurus Eng-kik-tiang-hong lagi, ia desak Hian-hong Tojin dan Yam-yam Hwesio melompat mundur dari undakan batu, kini mereka bertanding lagi di tanah datar.

Soalnya Le Lamsing harus melindungi Tan Kong-si dan supaya jejaknya tidak ketahuan oleh musuh, maka ia rela mengorbankan posisinya yang lebih baik untuk melabrak kedua musuhnya dari tempat yang lebih tinggi.

Le Lam-sing harus menghadapi keroyokan ketiga lawannya pula.

Pertempuran berjalan seimbang selama sesulutan dupa, tatkala itu cuaca sudah mulai gelap.

Yam-yam Hwesio dan Hian-hong Totiang sama bertekad, apapun yang terjadi Le Lam-sing tidak boleh lolos dan melarikan diri turun gunung, maka mereka sama mengeluarkan seluruh kemahiran masing-masing.

Lambat laun gerak pedang Le Lam-sing kelihatan semakin lamban, seperti kehabisan tenaga.

Mau tidak mau Tan Kong-si berpikir.

"Meskipun jejakku pantang diketahui oleh mereka, tapi paman Le terkurung, masakah aku harus berpeluk tangan? Biar kubantu dengan timpukan Pingpok-sin-tan, kalau betul-betul sampai ketahuan, yah apa boleh buat!"

Adalah di luar tahu Tan Kongsi, bahwa Le Lam-sing hanya main bertahan lantaran dia sedang mengerahkan lwekang siap untuk balas menyerang.

Ping-pok-sin-tan adalah senjata rahasia tunggal keluarga Tan, merupakan pusaka bulim, karena dibuat dari inti salju murni yang hanya terdapat dari gua es di puncak Himalaya, cara menyerang tidak perlu harus tepat mengenai sasarannya, karena mengandal hawa dingin dari Ping-pok-sintan itu sendiri cukup dapat melukai musuh juga.

Pertempuran di sebelah bawah sedang berlangsung begitu ramai dan sengit, secara diam-diam Tan Kong-si menjentikkan sebutir Ping-pok-sing-tan, ia membatin.

"Paman Le ada meyakinkan lwekang aliran murni tingkat tinggi, hawa dingin tidak akan dapat melukainya. Sebaliknya Hweliong-kang hwesio liar itu pastilah dapat dipunahkan oleh Ping-pok-sin-tanku ini!"

Begitu terkena angin Ping-pok-sin-tan lantas lumer, apalagi menerjang ke dalam lingkungan deru angin yang bersuhu panas seperti hembusan dari tungku membara.

Sebutir peluru es itu ditimpukkan tanpa bersuara sedikit pun, orang-orang yang sedang bertempur itu ternyata tiada seorang pun yang tahu.

Yam-yam Hwesio sedang melancarkan Hwe-liong-kang pada tingkat kemahirannya, mendadak terasa olehnya segulung hawa dingin menyusup ke dalam badan, begitu dingin sampai menyusup ke dalam tulang sehingga saluran darahnya terganggu.

Di saat ia mengerahkan lwekang di tahap yang paling genting, mana boleh diganggu oleh serangan tak terduga yang mendadak, maka tenaga pukulan panas yang sudah terhimpun di telapak tangan Yam-yam Hwesio tidak kuasa dilancarkan lagi, malah menerjang balik, keruan ia meraung keras sambil menyemprotkan darah segar.

Dua orang yang lain rada mending, Hian-hong Totiang membekal lwekang yang cukup kuat, ia hanya bergidik dan berbangkis sekali.

Sementara lwekang Kat-loji meski lebih rendah dari Yamyam Hwesio, namun karena Ping-pok-sin-tan kebetulan adalah pemunah Hwe-liong-kang yang berlawanan, maka kalau Yam-yam Hwesio sendiri terluka parah, sebaliknya Kat-loji masih kuat bertahan meski serba runyam juga.

Walaupun kuat bertahan, justru Le Lam-sing tidak memberi kelonggaran kepadanya, sekali angkat kaki ia tendang Kat-loji terpental terbang dan menggelinding jatuh ke lereng gunung sana, jengeknya dingin.

"Keparat macammu tidak setimpal mengotori pedang pusakaku, biar kuampuni jiwamu, menggelindinglah pergi!"

Yam-yam Hwesio mengira Le Lam-sing melancarkan semacam ilmu tunggal simpanannya pada babak terakhir. Maka setelah ia menyemburkan darah, kaget dan gusar pula dibuatnya, bentaknya.

"Le Lam-sing, biar locu adu jiwa dengan kau!"-Meski tahu dirinya bukan tandingan ia jadi nekad dan menyerang dengan mati-matian. Demikian pula Hian-hong To-jin, melancarkan jurus ilmu pedangnya yang paling ganas menusuk kepada Le Lam-sing. Tan Kong-si berlega hati bahwa tindakannya tidak sampai ketahuan oleh musuh. Ia tahu Hweliong-kang Yam-yam Hwesio sudah tidak sehebat tadi, dengan Kat-loji sudah melarikan diri, Le Lam-sing tidak perlu takut menghadapi kedua lawannya, sementara dirinya tetap menyembunyikan diri saja. Tak nyana baru saja ia berpikir, mendadak didengarnya Yam-yam Hwesio meraung seperti harimau terluka, tahu-tahu ia menerjang keluar dari samping Le Lam-sing terus lari sipat kuping turun gunung. Tampak lengan baju Hian-hong Tojin merah basah, ia pun tidak ketinggalan ikut melarikan diri. Agaknya Le Lam-sing hendak mengejar mereka, tapi mendadak badannya limbung, hanya melangkah dua tindak segera ia menghentikan langkah, agaknya terluka cukup parah. Sungguh kaget dan menyesal pula Tan Kong-si dibuatnya, batinnya.

"Kalau tahu demikian, seharusnya aku menyambitkan Ping-pok-sin-tan lebih banyak, meski jejakku akhirnya ketahuan, betapapun aku harus membantu kesulitan paman Le."

Pukulan terakhir Yam-yam Hwesio yang dilancarkan dengan sisa tenaganya dengan tekad gugur bersama tadi, kesudahannya betul-betul di luar dugaannya pula.

Semula ia sangka jiwanya susah diselamatkan lagi, tak nyana begitu kedua pukulan beradu, mendadak ia merasa tenaga pukulan Le Lam-sing sendiri pun jauh lebih lemah dari semula, meski dirinya masih kalah kuat, agaknya musuh pun sudah terluka juga.

Saking kegirangan dari kejauhan Yam-yam Hwesio bergelak tawa dan berseru.

"Le Lam-sing, meski kau dapat melukai locu, sedikitnya kau sendiri harus berbaring setengah tahun. Selamat bertemu di lain kesempatan, semoga kau bisa menyembuhkan luka-lukamu, janganlah jiwamu ajal lebih dulu!"-Secara tidak langsung ia mau berkata bahwa kelak ia hendak menuntut balas kepada Le Lamsing. Le Lam-sing coba mengendalikan napasnya yang memburu, serunya dengan serak.

"Bagus, bagus. Aku pun mengharap luka-lukamu lekas sembuh, supaya kita bisa berhantam lagi."

Setelah mengucapkan kata-katanya, seolah-olah ia sudah tidak kuasa lagi menahan dirinya dan terjatuh duduk di tanah.

Sementara Yam-yam Hwesio dan Hian-hong Tojin sudah lari jauh.

Lekas Tan Kong-si melompat keluar dari tempat sembunyinya, serunya.

"Paman Le, bagaimana keadaanmu?"

Baru saja ia hendak maju me-mayangnya bangun, tahu-tahu Le Lam-sing sudah melompat bangun sembari tertawa bergelak-gelak.

"Persis tidak caraku berpura-pura? Tak nyana kau pun kena kukelabui!"

Kejut dan girang pula Tan Kongsi dibuatnya, katanya.

"Paman Le, ternyata kau tidak terluka. Tapi kenapa kau lepaskan mereka?"

"Memang sengaja aku biarkan mereka lari supaya menyangka aku terluka parah pula, barulah mereka tidak akan berjaga-jaga. Terima kasih akan sambitan Ping-pok-sin-tanmu, tapi turun tanganmu terlaju terburu nafsu. Sebetulnya setelah ratusan jurus kemudian baru akan kulabrak mereka dan pura-pura sama terluka parah, supaya mereka tidak merasa curiga."

Diam-diam Tan Kong-si menyesali akan tindakannya yang kurang perhitungan, katanya.

"Paman Le, jadi kau pura-pura terluka, supaya lebih leluasa memasuki kota raja bukan?"

"Benar, bukan aku tidak mampu membunuh mereka, tapi lebih baik kuampuni jiwa mereka. Supaya Boh Cong-tiu betul-betul membantu Utti Keng menolong keluar Li Kong-he, bukankah hal itu akan menghemat tenaga kita malah? Kalau kubunuh mereka, mungkin bisa menggebah rumput mengejutkan ular, sehingga Pakkiong Bong dan Boh Cong-tiu merubah siasatnya semula, bukankah malah bikin runyam urusan?"

"Jadi percakapan mereka sudah paman dengar semua. Sebaliknya aku merasa kuatir bagi keselamatan Utti Tayhiap!"

"Apakah kau akan masuk ke kota raja memberi kabar?"

"Benar, tapi aku sendiri sulit ambil putusan. Putri Cau-locianpwe dan Siau-Hujin kena diringkus mereka, hubungan keluarga kami cukup intim dengan mereka, kalau hal ini sudah kuketahui masakah aku harus berpeluk tangan menonton saja."

"Nah begini saja. Pergilah kau ke Sam-ho menolong mereka, biar aku yang masuk ke kota raja menyampaikan berita ini."

"Baik. Biarlah selekasnya aku meluruk ke Sam-ho, semogalah dengan leluasa aku dapat menolong mereka, setelah itu akan kususul masuk ke kota raja bertemu dengan paman Le dan Utti Tayhiap."

"Setelah berhasil menolong orang, kau harus segera pulang, jangan ke kota raja,"

Demikian kata Le Lam-sing.

"Kenapa?"

"Jago-jago anak buah Pakkiong Bong tidak sedikit jumlahnya. Meski Yam-yam Hwesio belum tahu kaulah yang menyambitkan Ping-pok-sin-tan memecahkan ilmunya, tapi setelah pulang dan menceritakan jalannya pertempuran serta melihat luka-lukanya itu, bukan mustahil ada orang yang bisa mengetahui gejala-gejalanya. Kukira ayahmu tentu tidak suka kau membuat onar di luaran."

Baru sekarang Tan Kong-si paham, kenapa tadi Le Lam-sing melarang dirinya mengunjukkan diri.

Kini orang berkata demikian, sebagai angkatan yang lebih muda terpaksa ia harus terima nasehat-nya, segera ia mengiakan.

"Menolong orang seperti menolong kebakaran, baiklah sekarang kita berpisah."

Tiba-tiba Tan Kong-si ingat sesuatu, katanya.

"Paman Le, setelah berada di kota raja, apakah kau hendak menemui Cay Kin?"

"Cay Kin adalah sahabat lamaku, memang aku hendak menginap di rumahnya sana. Apa kau punya sesuatu urusan?"

"Ya ada sebuah urusan mohon paman Le suka membantu."

"Coba kau jelaskan!"

"Barusan aku berkenalan dengan seorang teman, dia adalah Song Theng-siau yang sejajar dengan Beng Goan-cau itu, bersama seorang sumoaynya she Lu mereka pun pernah menetap di rumah Cay Kin, baru tadi pagi mereka tamasya kemari dan hendak menginap di biara, di atas gunung sana."

"Song Theng-siau, adalah salah seorang tunas muda harapan bulim, aku sudah sering mendengar pembicaraan beberapa kawan bulim mengenai sepak terjangnya. Adakah urusan yang perlu kusampaikan kepada Cay Kin?"

"Kedatangan mereka kali ini adalah hendak mencari Beng Goan-cau, entahlah apakah dia datang!"

"Dari pembicaraan Yam-yam si kepala gundul dengan Hian-hong si hidung kerbau tadi, agaknya Beng Goan-cau memang datang ke kota raja, intrik Boh Cong-tiu dengan Pakkiong Bong memang bermaksud hendak menghadapi dia."

"Maka itulah mohon paman suka menyampaikan hal ini kepada Cay Kin. Sebagai warga Pakkhia kawakan, mungkin dia bisa menyampaikan berita ini kepada Beng Goan-cau."

"Baik aku akan bertindak cukup hati-hati. Waktu di puncak Thay-san aku pun pernah berkenalan dengan dia, aku pun ingin bertemu sekali lagi dengan dia."

Setelah mereka berpisah, malam itu juga langsung Tan Kong-si menuju ke Sam-ho.

Di luar tahunya jauh di depannya sana beranjak pula seorang yang sedang menuju ke Sam-ho juga.

Dan orang itu adalah Beng Goan-cau.

Dalam dua hari ini situasi di kota raja cukup gawat, sebagai seorang yang bernyali besar tapi cermat dan hati-hati, berpikir Beng Goan-cau.

"Aku membawa tugas penting dari Jaskar gerilya, sekali-sekali aku pantang membuat keributan disini."--Tiba-tiba teringat olehnya bahwa kampung halaman Hun Ci-lo yaitu Sam-ho tidak jauh dari kota raja.

"Lebih baik biar aku pergi ke Sam-ho menilik ke rumah Hun Ci-lo, apakah ia pernah pulang, sembari menghindari berbagai kesulitan di sini yang situasinya panas. Dua tiga hari lagi biar kukembali ke kota raja."

Demikian ia berpikir dan segera berkepu-tusan, maka ia merubah arah tujuan langsung menuju ke Sam-ho.

Waktu kecil Beng Goan-cau pernah ikut gurunya Kim-to Lu Siu-gun bertamu dan menetap di rumah Hun Ci-lo, bahwa hari ini ia kembali ke tempat yang dikenalnya ini, tanpa terasa dua puluh tahun sudah berselang.

Kenangan lama kembali mengetuk sanubarinya, sehingga langkah kakinya menjadi lambat, entah berapa lama ia beranjak di jalan kampung yang sudah hafal benar, tahu-tahu ia sudah tiba di depan rumah besar keluarga Hun.

Tatkala itu kira-kira sudah lewat kentongan ketiga, malam sudah larut suasana amat sunyi senyap, namun dari dalam rumah didengarnya percakapan orang dan senda gurau yang ramai.

Jaraknya sebetulnya cukup jauh dan pintu-pintu pun tertutup rapat, percakapan dan senda gurau orang di sebelah belakang sebetulnya tidak terdengar dari sebelah luar, namun Beng Goancau sejak kecil sudah melatih permainan senjata rahasia, maka mata kupingnya teramat tajam, meski belum tiba di depan pintu dari kejauhan ia sudah mendengar keributan di dalam rumah.

Sejenak ia pasang kuping, serta merta alisnya berkerut, pikirnya heran.

"Kenapa suara laki-laki kasar melulu, mereka sedang pesta pora sambil berjudi. Ci-lo dan bibinya biasanya suka ketenangan dan kebersihan, tak mungkin mereka mengundang tamu-tamu kasar ini berpesta pora di rumahnya."

Beng Goan-cau tahu adanya gelagat yang ganjil ini maka tanpa bersuara diam-diam ia memutar ke belakang rumah, mengembangkan ginkang menyusup masuk ke dalam pekarangan.

Di luar ruang tamu dalam rumah keluarga Hun ini terdapat sebuah pekarangan luas, dalam pekarangan ini ada ditanam beberapa pohon beringin raksasa, segera Beng Goan-cau menyembunyikan diri di atas sebuah pohon beringin, dilihatnya di dalam ruang tamu sana ada enam tujuh laki-laki kasar ternyata sedang minum arak sambil berjudi.

Tiba-tiba didengarnya salah seorang di antara mereka berkata.

"Kita harus bisa membatasi diri, jangan sampai mabuk lho!"

"Takut apa?"

Senggak seorang lain.

"Memangnya kau lupa akan pesan Hian-hong Totiang?"

Tanya orang itu. Kata-katanya ini menimbulkan gelak tawa teman-temannya yang lain.

"Liau-toako, kau terlalu hati-hati dan penakut, hanya menjaga nona cilik saja, memangnya mereka bisa terbang?"

Orang she Liau itu berkata.

"Sudah tentu mereka tidak akan bisa terbang, tapi kita harus berjaga-jaga, siapa tahu ada orang datang hendak menolong mereka. Apakah kalian tahu belakangan ini Hun Ci-lo katanya sudah punya kekasih baru, orang itu adalah Miao Tiang-hong."

Mendengar kata-kata ini sungguh terkejut dan marah pula hati Beng Goan-cau, namun untuk mendapat tahu asal-usul dan sepak terjang kawanan penjudi ini, Beng Goan-cau menahan sabar dan mendengar lebih lanjut pembicaraan mereka.

Terdengar seorang berkata.

"Miao Tiang-hong? Bukankah dia yang bergebrak dengan Yam-yam Taysu di Tong-theng-san sebelah barat tempo hari? Kabarnya Yam-yam Taysu kena dirugikan olehnya!"

Orang she Liau itu berkata.

"Tidak salah, waktu itu Yam-yam Taysu bergabung dengan Sebun Soh, itu sute Pakkiong Tayjin."

Mendengar percakapan ini tanpa sadar beberapa laki-laki yang sedang berjudi dan minum arak itu sama menghentikan permainannya dan mendengar dengan tertarik. Kata salah seorang.

"Hianhong Totiang sudah pergi, kalau Miao Tiang-hong benar meluruk kemari hendak mencari gendaknya itu, bagaimana kita harus menghadapinya?"

Barulah orang she Liau itu menjelaskan.

"Kalian pun tidak perlu kuatir, Lo-ha sekarang sudah pergi mengundang Coh-locianpwe, kemungkinan Ouwyang Kian juga bisa datang bersama mereka. Kalau malam ini belum tiba, besok pagi tentu sudah datang."

Orang-orang itu menjadi lega, namun untuk menutupi rasa malu dan takutnya, terpaksa seorang di antaranya mengada-ada.

"Apa-apaan ucapanmu ini, dengan tenaga kita beramai masakah takut menghadapi Miao Tiang-hong seorang?" -Seorang yang lain pun menanggapi.

"Sudah tentu, kalau Coh-locianpwe sudah tiba kita jauh lebih lega hati. Kalau tidak kemari pun, bukan menjadi soal, marilah kita tenggak arak ini sampai habis."

Orang she Liau itu tertawa riang, ujarnya.

"Kuharap kalian jangan terlalu banyak tenggak air kata-kata, berlaku hati-hati lebih menguntungkan. Kuatirnya sebelum Coh-locianpwe tiba, orang she Miao itu sudah meluruk datang lebih dulu. Kalau kita sudah mabuk cara bagaimana bisa berkelahi?"

Agaknya nasehatnya ini membawa hasil, apa lagi yang bernyali kecil segera menghentikan minum.

Baru saja Beng Goan-cau merasa geli, tiba-tiba didengarnya berkesiur lambaian ujung pakaian melesat lewat di atap rumah sebelah sana, di bawah cahaya bulan yang redup terlihat sesosok bayangan orang mendekam di atas payon, arahnya kebetulan tertuju ke tempat ruang tamu.

Beng Goan-cau mengerut alis, batinnya.

"Mungkinkah orang itu Miao Tiang-hong, agaknya ucapan Tan Tayhiap terlalu mengagulkan dirinya dari kenyataan. Meski ginkang orang itu cukup tinggi, namun belum termasuk kelas wahid. Dibanding siau-sumoay-ku malah lebih asor."

Di luar tahunya bahwa orang itu bukan Miao Tiang-hong, tapi adalah Tan Kong-si yang baru tiba.

Untunglah penghuni dalam rumah itu sama kaum keroco, maka kesiur lambaian baju Tan Kongsi yang cukup keras itu tidak ketahuan oleh mereka.

Baru saja Beng Goan-cau menertawakan pembicaraan mereka yang takabur, didengarnya pula derap langkah yang mendatangi, tahu-tahu seorang laki-laki pertengahan umur memasuki ruang tamu itu sambil menyilakan seorang laki-laki tua yang berbadan kekar.

Orang she Liau itu segera berseru kaget dan kegirangan lalu memburu maju menyambut, sapanya sambil berseri tawa.

"Coh-loyacu, dapat mengundang kedatangan kau orang tua, sungguh membuat kami girang dan bangga."

Laki-laki tua itu menenteng dua butir bola besi besar, dimainkan di tangan kanannya sehingga berbunyi kelotakan ujarnya.

"Sejak lama Pakkiong Tayjin memang sudah berkirim surat kepadaku, aku sudah mengasingkan diri beberapa tahun, tak nyana dia masih mengenal namaku. Baru hari ini aku sempat berangkat menuju ke kota raja, nanti aku harus mohon maaf akan keterlambatanku ini!"

Tergerak hati Beng Goan-cau, batinnya.

"Mungkinkah tua bangka ini adalah Coh Thian-hiong yang diberi julukan Thong-thian-hou?"

Ternyata Coh Thian-hiong adalah bekas begal tunggal yang sering beroperasi di beberapa propinsi daerah selatan pada tiga puluhan tahun yang lalu, entah mengapa akhirnya ia mencuci tangan dan mengasingkan diri di Ai-lo-san di Hun-lam.

Beng Goancau pun pernah dengar nama orang dari penuturan Siau Ci-wan, tadi sesaat ia kurang ingat bahwa orang bakal muncul di sini.

Betul juga segera ia dengar orang she Liau itu berkata.

"Kau orang tua jauh-jauh dari Hun-lam kemari, sepanjang jalan ini tentu terlalfc letih, silakan duduk!"

Laki-laki pertengahan umur yang membawa dia datang itu berkata.

"Hian-hong Totiang mengharap kau orang tua suka menetap satu dua hari dulu di sini, nanti setelah dia datang baru berangkat bersama beliau masuk ke kota raja."

"Guru Hian-hong adalah saudara angkatku, memang sejak lama aku ingin bertemu dengan dia. Ke mana dia pergi?"

Orang she Liau segera memberi jawaban.

"Dia ada janji rahasia dengan Yam-yam Taysu, kalau cepat selesai mungkin besok dia sudah kembali."

"Ouwyang Kian sebetulnya sudah berjanji sama aku untuk datang kemari menyambut kedatangan Coh-locianpwe, pada saatnya ternyata tidak datang, mungkin ia punya tugas lain di kota raja, atau mungkin Pakkiong Tayjin menahannya,"

Demikian kata laki-laki pertengahan umur itu.

"Jangan terlalu banyak bicara, Coh-locianpwe baru menempuh perjalanan jauh, biarlah istirahat dulu."

Coh Thian-hiong mendadak tertawa, serunya.

"Mungkin dalam waktu dekat ini aku belum bisa istirahat."

Semua orang yang hadir sama melengak dan tidak mengerti ke mana juntrungan kata-katanya, mendadak Coh Thian-hiong menghardik.

"Sahabat di luar itu silakan masuk!"

Beng Goan-cau terkejut, batinnya.

"Tua bangka ini ternyata memang liehay."

Baru saja ia hendak melompat turun, tiba-tiba terdengar suara "Brak".

Coh Thian-hiong melemparkan kedua peluru besinya lewat jendela terus menerjang ke arah di mana Tan Kong-si menyembunyikan diri.

Sigap sekali Tan Kong-si mencelat berkelit, genteng di mana ia sembunyi seketika pecah berhamburan dan atap rumah pun berlubang besar.

Meski terpaut sebuah pekarangan yang cukup jauh, namun sambitan peluru besi Coh Thian-hiong ternyata mempunyai kekuatan yang luar biasa, mau tidak mau Beng Goan-cau terkejut dibuatnya.

Tan Kong-si menjadi gusar, dampratnya.

"Diberi tidak membalas kurang hormat, biar kalian pun merasakan betapa nikmatnya Ping-pok-sin-tanku!"-Maklum masih berjiwa muda berdarah panas, hampir saja ia kena dirugikan oleh Coh Thian-hiong, saking gusarnya tanpa banyak pikir, kontan ia lompat turun terus menerjang ke dalam ruang tamu, tujuh butir Ping-pok-sin-tan ia sambitkan secara berantai. Begitu kena angin Ping-pok-sin-tan lantas lumer menjadi uap dingin berkembang melingkupi udara sekelilingnya, berubah menjadi gulungan kabut putih tebal. Tujuh laki-laki di dalam ruang tamu seketika bergidik kedinginan dan beradu giginya, mengkeret kaku tak bisa bergerak atau bersuara. Tapi orang she Liau dan laki-laki pertengahan umur yang datang bersama Coh Thianhiong itu hanya ber-bangkis dua kali dan gemetar sedikit saja, segera mereka sudah memburu keluar memapak kedatangan Tan Kong-si, terang kepandaian mereka sedikitnya tidak lebih asor dari Tan Kong-si. Coh Thian-hong bergelak tertawa, serunya.

"Aku sedang merasa gerah di dalam rumah, terima kasih kau membawa hawa segar dan nyaman ini."

Beruntun ke arah timur, barat, selatan, dan utara ia menepuk empat kali, sekaligus ia sampuk gulungan kabut dingin itu keluar rumah.

Dalam pada itu orang she Liau itu sudah angkat goloknya terus membacok ke arah Tan Kongsi, goloknya ini dinamakan Ki-ce-to (golok gergaji), senjata serba guna, dapat dibuat menjepit dan mengatasi berbagai senjata seperti pedang dan golok biasa.

Tak nyana Ping-coan-kiamhoat yang diyakinkan Tan Kong-si jauh berbeda dengan ilmu pedang berbagai partai.

"sret"

Dengan jurus Ping-coan-ciam-liu ia totokkan pedangnya, hawa dingin segera ikut memberondong tiba, sinar dingin pun menyilaukan mata, meski orang she Liau ini masih kuat bertahan, tak urung ia tersurut mundur dua langkah.

Seorang yang lain baru saja memburu tiba dan belum sempat turun tangan, mendadak didengarr nya Coh Thian-hiong membentak.

"Berhenti dulu!"

Seumpama anak kambing yang baru lahir tidak takut harimau, dengan pongah Tan Kong-si berkata.

"Kalian hendak main keroyok, memangnya aku takut?"

Coh Thian-hiong terbahak-bahak, ujarnya.

"Anak muda. untuk meringkus kau segampang membalikkan tanganku."

Bicara sampai di sini tiba-tiba sebuah peluru besinya melesat datang "Trang"

Telak sekali ia menyampuk miring ujung pedang Tan Kong-si yang hampir menusuk ke perut orang she Liau itu.

Seketika Tan Kong-si merasa telapak tangannya tergetar sakit, hampir saja pedang panjangnya tidak kuasa dipegang.

Hati Tan Kong-si bercekat, namun dengan bertolak pinggang ia berkata.

"Aku berani datang kemari, memangnya sudah tidak ingin pulang dengan hidup. Kalian ada berapa banyak orang, mari maju bersama."

"Anak muda yang keras kepala dan takabur, lohu tidak akan sudi menindas anak muda, biar kutanya kau, bukankah kau putra Tan Thian-ih?"' "O, kiranya kau kenal nama besar ayahku, memang benar, lalu mau apa?"

"Meski aku tidak kenal ayahmu, tapi sudah lama dengar ketenaran masing-masing, pulanglah kau beritahu kepadanya, tentu dia akan tahu siapa aku adanya. Em, kupandang muka ayahmu, aku tidak menarik panjang urusan, lekaslah kau pergi!"

"Kalau kau menyerahkan putri-putri keluarga Cau dan Siau, sudah tentu aku akan segera pergi."

Coh Thian-hong melengak, ujarnya.

"Putri keluarga Cau dan Siau apa segala?"

Orang she Liau segera menimbrung bicara.

"Kedua budak hijau itu adalah tawanan Hian-hong Totiang, Pakkiong Tayjin ada sedikit keperluan atas diri mereka, sekali-kali tidak boleh diserahkan kepada bocah ini."

Laki-laki yang menemani dia datang itu pun menyela.

"Coh-loyacu, kalau kau tidak leluasa bergebrak dengan bocah ini, biar kami saja yang membekuknya. Bagi kami tidak perlu takut Kanglam Tayhiap Tan Thian-ih segala."' Sudah tentu kata-katanya terakhir ini amat menusuk perasaan Coh Thian-hiong, segera ia menjengek dingin.

"Kalau begitu terpaksa aku harus turun tangan, kalau tidak, orang menyangka aku takut menghadapi Tan Thian-ih!"

Sembari berkata telapak tangannya sudah bergerak pula dengan sejurus Sin-wan-tam-jiau (lutung sakti menjulurkan cakar), ia mencengkeram ke pundak Tan Kong-si, sebat sekali Tan Kong-si berputar menyingkir seperti gangsingan, sementara pedangnya melintang terus balas membabat miring.

Bahwa gerak pedangnya sudah cukup cepat, namun gerakan Coh Thian-hiong lebih cepat lagi, dengan gaya Teng-san-gua-hou (naik gunung naik harimau), ia mendesak maju seraya melontarkan kepalan tangannya.

Pukulan tangannya ini betul-betul di luar dugaan Tan Kong-si, karena jarak kedua pihak masih terpaut satu tombak lebih, orang hanya melangkah setindak, sebetulnya kepalan orang tidak mungkin bisa mengenai sasarannya, tak nyana badan orang mendoyong ke depan, lengannya itu seolah-olah bisa mulur lebih panjang, secepat kilat tahu-tahu memukul tiba di depan dada Tan Kong-si.

Tan Kong-si cepat menegakkan pedangnya di depan dada, dalam hati ia membatin.

"Bagaimana juga aku pun harus melukainya!"

Maklumlah pertempuran kaum persilatan tingkat tinggi paling mengutamakan kecepatan, meski hanya terpaut seperseratus detik, jikalau kepalan Coh Thian-hiong mengenai dada Tan Kong-si lebih dulu, mengandal kekuatan pukulannya itu, paling ringan Tan Kong-si terluka parah.

Walau betapa tinggi dan liehay ilmu pedangnya, juga tidak akan mampu membuat lawan terluka.

Menurut teori ilmu pukulan, jelas bahwa pukulan Coh Thian-hiong ini lebih dulu mengenai dada Tan Kong-si, tapi di saat-saat yang menentukan itu tiba-tiba ia merubah jurus, bentaknya.

"Lepas pedang!"

Dari kepalan ia ganti menjadi cengkeraman yang di arah adalah pedang Tan Kong-si.

Cengkeraman itu tepat sekali mengenai pedang pusaka Tan Kong-si, jari-jarinya begitu hebat seperti tanggem besi menjepit kencang batang pedangnya.

Ternyata bagaimana juga sedikitnya ia masih rada jeri menghadapi ayah Tan Kong-si yaitu Kanglam Tayhiap Tan Thian-ih, maka ia tidak berani sembarangan melukai jiwa orang.

Adalah di luar tahunya bahwa pedang pusaka Tan Kong-si ini justru lain dari pedang pusaka umumnya, pedang ini dibuat dari batu jade dingin yang paling murni dan berhasil digembleng menjadi Peng-pok-han-kong-kiam, begitu jari-jari Coh Thian-hiong mencengkeram batang pedangnya, seketika ia rasakan tangannya dingin luar biasa, bukan saja bergidik kedinginan, serasa darah dan tulang sumsum hampir beku.

Meski lwekangnya tinggi, hawa dingin itu tidak akan bisa melukai dirinya, soalnya kejadian di luar dugaan, begitu hawa dingin itu menyerang, secara reflek, mau tidak mau jari-jarinya yang mencengkeram itu menjadi kendor sendirinya.

"Belum tentu!"

Tan Kong-si balas membentak, sigap sekali ia gentakkan lengannya terus menekan turun menyerang kelima jari-jari musuh. Terpaksa Coh Thian-hiong melepaskan tangan, bentaknya.

"Anak muda, kau tidak mau buang senjata dan mengaku kalah, jangan kau salahkan aku tidak sungkan lagi."

Lengan Tan Kong-si terasa lemas kesemutan, lekas ia melompat mundur beberapa langkah, pedang melintang di depan dadanya, menunggu reaksi Coh Thian-hiong selanjutnya.

Dan di saat Coh Thian-hiong hendak melabraknya lebih lanjut itulah tiba-tiba didengarnya seseorang membentak.

"Menindas anak kecil terhitung orang gagah macam apa kau. Biar aku jajal kepandaian kau si rase tua bangka ini!"

Dari atas pohon beringin di dalam taman lompat turun seseorang, tak perlu dijelaskan bahwa orang ini jelas Beng Goan-cau adanya.

Waktu di pertemuan di puncak Thay-san Tan Kong-si pernah bertemu dengan Beng Goan-cau, keruan kaget dan girang pula hatinya, teriaknya.

"Beng Tayhiap!"

Hampir bersamaan, laki-laki pertengahan umur yang menemani kedatangan Coh Thian-hiong tadi pun berteriak.

"Hah, itulah Beng Goan-cau, Coh-loyacu, orang she Beng ini adalah buronan pemerintah, jangan kau lepaskan dia."

Ternyata orang ini bernama Ha Ping, pernah sekali ia ikut pasukan pemerintah menyerbu pangkalan laskar rakyat di Siau-kim-jwan, maka ia kenal Beng Goan-cau, sebaliknya Beng Goancau tidak kenal siapa dia.

Berpikir Beng Goan-cau.

"Thong-pi-kun si rase tua ini sudah dilatih sedemikian sempurna, aku harus mengalahkannya dengan akal."-Sejak tadi ia mencuri lihat permainan silat orang, sudah ditemukan cara untuk mengatasi ilmu pukulan orang, maka segera ia menegakkan golok pusakanya, pelan-pelan ia memutar satu lingkaran lalu memapas ke depan. Coh Thian-hiong tertawa dingin, jengeknya.

"Jadi kau ini Beng Goan-cau yang kenamaan dari Siau-kim-jwan, memangnya hanya begini saja kemampuanmu?"

Segera ia lancarkan ilmu tangan kosong merebut senjata, secara kekerasan ia hendak merebut golok pusaka Beng Goan-cau.

Mendadak Beng Goan-cau menghardik bagai guntur, sinar goloknya laksana kilat sekonyong-konyong dari gerakan lamban berkelebat amat cepat, membabat miring membacok lurus, sekaligus ia menyerang tiga belas kali, maka terdengarlah suara "Cras"

Bolak-balik, sebelah lengan baju Coh Thian-hiong terpapas hancur beterbangan oleh sambaran golok kilatnya.

Ketiga belas rangsakan golok Beng Goan-cau dilancarkan sekaligus sambung menyambung dengan dahsyatnya, kecepatannya susah di kuti oleh mata biasa, bahwa serangannya ini tidak sampai melukai Coh Thian-hiong mau tidak mau ia terkejut juga.

Pikirnya.

"Kalau Tan Kong-si tidak mampu menghadapi kedua laki-laki itu, malam ini mungkin kami bisa celaka di sini."

Sebat sekali Coh Thian-hiong merendahkan badan, kedua jarinya terangkap terus menjentik sembari menubruk maju.

"Tring"

Golok pusaka Beng Goan-cau ternyata kena dijentiknya terpental ke samping.

Selentikannya itu tepat sekali dilancarkan di saat gerak golok Beng Goan-cau mencapai titik gerakan yang tidak bisa disambung, terus karena dia harus ganti napas, sudah tentu cara dan tujuannya teramat berbahaya, untunglah dia bisa mencari kesempatan baik ini.

Di sebelah sana Ha Ping dan orang she Liau itu sama berseru memuji, keruan Tan Kong-si mencelos dibuatnya.

Namun begitu tajam golok Beng Goan-cau dimiringkan, ia lancarkan tipu Hian-to-sek, di dalam satu gerakan ini di dalamnya tersembunyi tujuh delapan macam serangan ganas yang mematikan dengan cara yang serba tak terduga dan rumit lagi.

Bahwa lengan bajunya terpapas habis tinggal separuh pun membuat ciut nyali Coh Thian-hiong, dalam waktu dekat rasanya ia pun tidak berani merangsak terlalu berani.

Coh Thian-hiong melompat mundur selangkah, ia tertawa dan berkata.

"Pada jaman ini, yang tersohor menggunakan golok kilat kecuali Utti Keng, yang kedua adalah kau. He, he, pahlawan dari tunas muda, kata-kata ini memang tidak salah, tapi untuk mengalahkan lohu, kukira kau belum mampu melakukan sekarang!"

Sembari tertawa ia menubruk pula, keduanya saling serang menyerang pula dengan sengit, cuma pertarungan kali ini jauh berlainan dari gebrak pertama tadi.

Beng Goan-cau menumpahkan seluruh semangat dan perhatian untuk menghadapi lawan tangguh ini, terasa olehnya bau amis merangsang hidung sehingga rasanya mual dan memusingkan kepala.

Bahwa kedua lengan Coh Thian-hiong panjang melebihi orang lain, hal ini tidak perlu dibuat heran, adalah kesepuluh jari-jari tangannya itu laksana cakar elang, kukunya panjang beberapa senti, mengkilap hitam lagi.

Setiap kali ke sepuluh jarinya itu berkembang dan mengkeret, laksana sepuluh batang jarum runcing, semuanya sama menusuk ke Hiat-to mematikan di tubuh Beng Goan-cau, apa lagi kalau kuku jari-jarinya itu diselentikkan, bau amis yang memualkan segera merangsang hidung.

(Bersambung ke

Jilid 3)

Jilid 3 Menghadapi pukulan lawan yang mengandung bisa di antara kuku-kuku jarinya itu, lekas Beng Goan-cau mengerahkan hawa murni untuk menjaga supaya dirinya tidak keracunan.

Golok cepatnya bergerak mengikuti gerak gerik lawan dan berputar laksana baling-baling, namun ia tidak menyerang dengan bacokan, cukup mengetuk atau mengarah Hiat-to penting di badan musuh.

Kedua laki-laki itu tidak tahu seluk beluk inti permainan goloknya, sebaliknya Coh Thian-hiong adalah seorang ahli silat yang banyak pengalaman, tidak berani ia berlaku lena dan menjaga diri dengan rapat.

Oleh karena Coh Thian-hiong tidak berani bertempur secara dekat, sementara Beng Goan-cau sendiri juga jeri akan cakar tangannya yang beracun, maka kedua pihak hanya saling serang dan sergap dari jarak tertentu, dua pihak punya kekuatiran masing-masing, maka dalam waktu dekat keadaan masih sama kuat dan setanding.

Baru saja Tan Kong-si hendak maju membantu, laki-laki she Liau itu lantas berkata.

"Orang she Tan, babak kita belum ada ketentuan siapa menang dan kalah, mari kita lanjutkan!"

Golok bergiginya segera ia ayun ke tengah udara, segera ia kembangkan ilmu golok menjepit untuk menghadapi Peng-pok-han-kong-kiam Tan Kong-si.

Tadi secara langsung ia sudah rasakan keliehayan dari Peng-pok-han-kong-kiamnya, kini sudah siap-siap, tenaga ia pusatkan pada pusar, sekarang tidak perlu ia takut terserang oleh sambaran hawa-dingin.

Di lain pihak, Ha Ping pun sudah menyilangkan kedua potlot bajanya ikut maju melabrak, ujung senjatanya terpentang kedua jurusan masing-masing menotok ke Ki-bun-hiat di ketiak Tan Kongsi.

Lekas Tan Kong-si melintangkan pedang menangkis, serta balas menyerang dengan jurus Heng-hun-toan-hong (awan melintang memotong puncak), sembari menyerang ia pun bisa menjaga diri dengan rapat.

Tak nyana permainan sepasang potlot Ha Ping ternyata lincah dan licin sekali, tahu-tahu ujung potlot-nya bergeser menukik ke bawah terus menotok Hoan-tiau-hiat di lututnya.

Meski ilmu pedang Tan Kong-si cukup liehay dan aneh, sayang pengalaman bertempur masih terlalu cetek, karena diserang secara gencar ia jadi kerepotan dan terdesak mundur berulang-ulang.

Laki-laki tinggi kurus itu bernama Liau Hoan, sejawat dengan Ha Ping, Ki-ce-tonya memang peranti untuk menundukkan segala senjata pedang atau golok, dengan mendapat bantuan Ha Ping, maka ia tidak perlu takut menghadapi serangan balasan Tan Kong-si, sudah tentu manfaat dari senjatanya itu lebih leluasa ia kembangkan.

Untung Ping-pok-ham-kong-kiam Tan Kong-si lain dari yang lain, tapi karena terdesak perlawanannya menjadi kurang mantap, ' hawa dingin yang merembes keluar dari batang pedangnya jadi tidak bisa dia kembangkan semaksimal mungkin untuk menyerang kedua lawannya.

Kira-kira tiga puluhan jurus kemudian keadaan Tan Kongsi sudah cukup gawat.

Tiba-tiba Tan Kong-si memutar tubuh, Ha Ping menyangka orang hendak lari segera ia membentak.

"Lari ke mana kau?"

Belum lagi mulutnya terkatup, tiba-tiba sejalur hawa dingin merangsang ke dalam badan terus menembus ke uluhati-nya.

Ternyata di saat orang kurang waspada, di waktu ia putar tubuh Tan Kong-si menyambitkann sebu-i r Ping-pok-sin-tan, Ha Ping sedang membuka mulut, kontan Ping-pok-sin-tan itu masuk dan tertelan ke dalam perutnya.

Meski lwekangnya cukup lumayan tak urung saking gugup dan gelagapan ia tersurut mundur tiga tindak, lekas kedua potlotnya ia putar kencang untuk melindungi badan, sementara hawa murni segera ia kerahkan untuk melawan hawa dingin yang menyerang seluruh badannya dari dalam perut, tekanan serangan mereka seketika menjadi berkurang.

Baru saja Tan Kong-si merogoh ke dalam kotak di mana Ping-pok-sin-tan ia simpan, tiba-tiba ia mengeluh kaget, maksudnya ia hendak menyerang Liau Hoan dengan Ping-pok-sin-tan pula, tak ia sadari bahwa senjata rahasianya itu ternyata sudah digunakan habis.

Untunglah Ping-pok-sin-tan terakhir tadi tertelan masuk ke dalam perut Ha Ping, kalau tidak tentu tak akan banyak membawa bantuan, tapi paling tidak ia sudah punya harapan untuk mengejar kemenangan meski dirinya terdesak di bawah angin, kini Ping-pok-sin-tan diketahui sudah habis, maka harapan ini menjadi nihil.

Tak lama kemudian Ha Ping sudah kuasa mengendalikan diri, jengeknya dingin.

"Bocah keparat, masih punya akal busuk apa pula kau?"

Kedua potlotnya menyerang lebih gencar lagi, cuma ia tidak tahu bahwa Ping-pok-sin-tan Tan Kongsi sudah habis, serangan gencarnya ini hanyalah tidak memberi kesempatan supaya orang tidak menyam-bitkan senjata rahasianya pula membokong mereka.

Di bawah rangsakan sebuah golok dan sepasang potlot musuh, Tan Kong-si hanya mampu menangkis dan membela diri, sedikit pun tidak mampu balas menyerang.

Lambat-laun keadaannya semakin berbahaya.

Sementara Beng Goan-cau yang bertanding dengan Coh Thian-hiong, kalau goloknya berkelebat secepat kilat, adalah lawannya selincah kera bermain petak, tapi karena Beng Goan-cau harus selalu waspada akan cakar beracunnya, mau tidak mau ia terdesak di bawah angin juga.

Di saat pertempuran berjalan amat sengit dan seru ini, tiba-tiba terdengarlah sebuah lengking suitan panjang bagai naga memekik di tengah angkasa.

Kejadian sungguh berlangsung amat cepat, belum lagi lenyap gema suitan itu sesosok bayangan orang tahu-tahu sudah muncul di atas tembok terus melompat turun di pekarangan dalam rumah keluarga Hun.

Sungguh girang Tan Kong-si bukan kepalang, teriaknya.

"Paman Miao, amat kebetulan kedatanganmu!"

Adalah Lian Hoan amat terkejut, teriaknya ketakutan.

"Celaka, Miao Tiang-hong telah tiba."

Mendengar Tan Kong-si memanggil 'paman Miao' serta merta berkerut alis Beng Goan-cau, batinnya .

"O, jadi dia inilah Miao Tiang-hong adanya!"

Didengarnya Miao Tiang-hong berseru.

"Kong-si jangan gugup. Di mana Siau-hujin dan Hun Cilo?"

"Entah mereka ke mana, yang kutahu bahwa Siau Gwat-sian dan Cau Ci-hwi sama diringkus oleh kawanan bangsat keparat ini,"

Demikian sahut Tan Kong-si. Beng Goan-cau membatin pula.

"Begitu datang dia lantas menanyakan Ci-lo, agaknya hubungan mereka sudah cukup kental!"

Pertarungan tokoh kosen tingkat tinggi mana boleh perhatian terpencar. Coh Thian-hiong berkesempatan merangsak maju.

"Bret"

Ia berhasil mencakar robek pakaian Beng Goan-cau, yang menjadi sasaran sebetulnya adalah tulang pundak Beng Goan-cau, untunglah kulitnya tidak sampai lecet terluka oleh cakar berbisa musuh.

Namun demikian lengan kiri Beng Goan-cau menjadi linu dan kesemutan tak leluasa bergerak lagi, sebat sekali ia lompat mundur menyingkir.

Di dalam waktu singkat itu Miao Tiang-hong sudah melabrak Liau Hoan dan Ha Ping berdua.

Begitu tahu yang datang ini adalah Miao Tiang-hong, Liau Hoan menjadi gugup dan ketakutan, goloknya terangkat berputar terus membacok secara membabi buta.

Cukup Miao Tiang-hong mengebutkan lengan bajunya menggubat golok orang terus ditarik dan disendai, golok besar Liau Hoan terbang ke tengah udara, tak tahan lagi Liau Hoan sendiri juga terseret ke depan, begitu keras sampai jatuh terguling-guling.

Kepandaian Ha Ping lebih lumayan, tapi ia pun tidak kuasa menahan tiga jurus serangan Miao Tiang-hong.

Mendadak Miao Tiang-hong menggunakan gerakan mengangguk menghindari tusukan ujung potlot lawan, tanpa mencabut pedang, ia gunakan kedua jari tangannya melancarkan ilmu permainan potlot baja pula, sekali jepit terus didorong, ia membentak.

"Diberi tidak membalas kurang hormat, biar kalian rasakan ilmu totokku!"

Lekas Ha Ping angkat kedua potlotnya untuk menangkis, tak nyana gerakan Miao Tiang-hong yang dikira gertak sambal tibatiba menyerang sungguhan, yang diarah adalah Jian-kin-hiat di pundaknya, Ha Ping masih berusaha menggunakan tipu Menanggalkan Jubah Mencopot Pakaian, maksudnya hendak berkelit sembari balas menyerang, tak nyana totokan jari Miao Tiang-hong yang mengarah Jian-kin-hiat di pundak kiri itu entah bagaimana, sebelum ja melihat jelas, tahu-tahu pundak kanan yang terasa kesemutan dan kaku, menyusul Liau Hoan, dia pun terjungkal roboh.

Tatkala itu Beng Goan-cau baru saja kena dirugikan oleh Coh Thian-hiong, ia melompat menyingkir ke samping.

Kebetulan Miao Tiang-hong meluruk datang.

Lekas Tan Kong-si berseru.

"Saudara itu adalah Beng Goan-cau Beng Tayhiap!"

Tanpa terasa Miao Tiang-hong mengeluarkan suara, sejenak ia melenggong, batinnya.

"Ternyata orang ini Beng Goan-cau adanya. Ai, mungkin kedatanganku ini salah pula!"

Sebetulnya dia tidak akan kembali melihat Hun Ci-lo, soalnya dalam perjalanan hatinya merasa tidak tenteram dan kuatir, maka ia putar balik, tujuannya hanya mencari tahu keadaan rumah Hun Ci-lo dari luar saja, jikalau mereka benar tidak apa-apa, baru dia akan tinggal pergi dengan hati lega.

Tak nyana begitu tiba di ujung kampung lantas ia dengar suara pertempuran di dalam rumah keluarga Hun, terpaksa ia unjuk diri dan muncul membantu kesulitan mereka.

Tak nyana di rumah keluarga Hun ini ia bertemu dengan Beng Goan-cau.

Meski ia tidak begitu jelas mengetahui hubungan Beng Goan-cau dengan Hun Ci-lo, namun ia sudah dengar bahwa hubungan mereka dulu cukup intim.

Seketika hatinya merasa hampa dan mendelu.

Liau Hoan merangkak bangun terus membebaskan totokan Ha Ping dan berteriak.

"Hayo yang di dalam, lekas gusur keluar kedua budak cilik itu."

Pikirnya ia hendak menjadikan Siau dan Cau kedua gadis itu sebagai sandera untuk mengancam Miao Tiang-hong supaya tidak menggunakan kekerasan pula kepada mereka.

Tan Kong-si jadi sadar, lekas teriaknya.

"Miao-toako, lekas kau labrak bangsat tua itu, marilah masuk menolong orang!"

Saat lain Miao Tiang-hong sudah dapat menenangkan pikiran dan menguasai hatinya, teriaknya.

"Beng-toako, kau dan Kong-si masuklah ke dalam menolong orang, biar rase tua ini kuhadapi!"

Beng Goan-cau sudah menyaksikan cara orang merobohkan Liau Hoan dan Ha Ping, ia tahu kepandaian orang cukup mampu untuk menghadapi Thong-thian-hou Coh Thian-hiong, maka ia berseru.

"Baik, bikin susah Miao-toako saja!"

Dengan tergesa-gesa Tan Kongsi menerjang masuk ke dalam rumah, Beng Goan-cau membuntuti di belakangnya namun hatinya rada kuatir dan was-was.

"Entah apakah Ci-lo juga terjatuh ke tangan musuh? Em, kalau aku tahu Miao Tiang-hong malam ini bakal kemari, lebih baik aku tidak datang,"

Demikian batin Beng Goan-cau.

Tengah hatinya risau, tiba-tiba didengarnya jeritan suara perempuan.

Beng Goan-cau tersentak sadar dari lamunannya.

Dengan hati tegang cepat ia memburu masuk.

Begitu mendengar suara jeritan itu, Tan Kong-si langsung menerjang masuk ke dalam sebuah kamar, terlihat Siau Gwat-sian dan Cau Ci-hwi sudah dibekuk oleh dua laki-laki, di samping mereka masih berjajar empat orang kaki tangan mereka.

Sigap Kong-si gerakan pedangnya.

"Sret, sret"

Dua kali ujung pedangnya menusuk jalan darah, kontan dua di antara mereka tertotok roboh dengan luka-luka.

Baru saja ujung pedangnya hampir menusuk orang ketiga, kedua laki-laki kekar itu mendadak membentak.

"Berani kau turun tangan lagi, biar kedua budak ini kubunuh di hadapanmu?", tangan mereka yang satu menekan punggung Cau Ci-hwi, demikian pula yang lain berbuat sama, tempat di mana telapak tangan mereka menekan adalah Hong-hu-hiat, cukup sedikit kerahkan tenaga menyodok, jiwa kedua nona itu pasti melayang seketika dan tak tertolong lagi.

"Tan-toako,"

Teriak Cau Ci-hwi.

"Jangan pedulikan diriku, bunuh mereka semua, meski jiwaku melayang aku pun rela."

Laki-laki yang menekan punggungnya itu menyeringai sadis.

"Bagus, bagus sekali, jiwa kasar kami kiranya mendapat teman jalan ke akhirat dengan gadis cantik macam kau ini agaknya cukup setimpal juga. Orang she Tan, kalau kau suka dengar ocehannya, marilah kita coba-coba." _ Mana Tan Kong-si berani maju, katanya menahan sabar.

"Kalian hendak berbuat apa pada mereka?"

Kedua laki-laki itu membentak bersama.

"Kau keluar lebih dulu!"

Pada saat itulah sebuah suara dingin mendadak menanggapi.

"Kalian pasti tidak punya ketulusan hati untuk meneken kontrak perdagangan ini, ketahuilah cara menawarkan harga bukan begitu caranya."

Waktu Beng Goan-cau menerobos masuk sebelumnya dia sudah membunuh dua orang, maka seluruh pakaiannya berlepotan darah.

Matanya mendelik garang lagi dengan memegang gagang golok, sikapnya gagah penuh wibawa.

Meski kedua laki-laki itu punya tawanan dua orang sebagai sandera, tak urung hati menjadi ciut dan kaki tangan gemetar.

Laki-laki yang menekan Siau Gwat-sian itu berseru.

"Maaf saudara, dalam hitung dagang ini pihak kamilah yang lebih unggul, harga yang kami kemukakan tidak bisa ditawar lagi. Kalian segera harus keluar, kalau tidak segera kami akan melukai dia!"

Beng Goan-cau tertawa dingin, ujarnya.

"Tan Kongcu ini adalah teman baik mereka, sebaliknya aku tiada hubungan sanak bukan famili dengan mereka tidak perlu aku kuatir akan keselamatan mereka. Hehe, marilah kita selesaikan hitung dagang ini secara adil dan masing-masing memberi keuntungan. Berapapun harga yang kalian minta aku tidak perlu perdulikan, aku orang she Beng bukan hanya mengancam saja, berani kalian melukai seujung rambut mereka, biar kubuat tiga lubang di atas badan kalian dan kuiris enam belas potongan!"

Tan Kong-si tidak menduga Beng Goan-cau bakal menggunakan akal demikian, keruan ia menjadi kuatir juga, serunya.

"Beng Tayhiap, mana boleh begitu?"

"Kenapa tidak boleh?"

Ujar Beng Goan-cau.

Kedua laki-laki itu saling pandang, sesaat mereka jadi bingung, apakah mesti mematuhi ancaman Beng Goan-cau, sekonyong-konyong kilat golok menyambar dengan cepat, belum lagi kedua laki-laki itu sempat bersuara, lengan kanan masing-masing sudah kena tertabas kutung oleh sambaran golok Beng Goan-cau.

Ternyata Beng Goan-cau memang sengaja pura-pura mengancam untuk mengalihkan perhatian mereka, lalu sekaligus ia turun tangan dan membawa hasil yang gemilang.

Jarak Beng Goan-cau kira-kira hanya satu tombak lebih di sebelah mereka, sebelumnya ia tidak menunjukkan gerak-gerik yang mencurigakan, begitu berkata lantas turun tangan.

Serangan laksana kilat itu, belum lagi kedua orang itu sempat mengerahkan tenaga pada telapak tangan masing-masing, tahu-tahu lengannya sudah tertabas kutung oleh sambaran golok musuh.

Sambil melolong seperti babi dijagai kedua laki-laki itu roboh terguling, darah segar mengotori pakaian Siau dan Cau kedua gadis, keruan mereka menjerit kaget dan ketakutan.

"Maaf, membuat kalian kaget!"

Demikian ujar Beng Goan-cau tertawa.

Di dalam kamar itu masih ada dua laki-laki lain yang belum terluka, mereka sudah ketakutan setengah mati sampai muka pucat pias dan membuka mulut tak mampu mengeluarkan suara, ingin mereka melarikan diri, sayang kedua kaki tidak menurut perintah lagi.

Beng Goan-cau segera membentak.

"Berdiri di tempat kalian, kalau tidak kedua temanmu itu sebagai contohnya."

Setelah lolos dari marabahaya, entah karena kaget atau sebab lainnya, Gwat-sian dan Ci-hwi jadi limbung dan tidak kuasa berdiri tegak. Lekas Tan Kong-si mema-yang mereka, katanya.

"Kenapa kalian, ada terluka tidak?"

Adalah Beng Goan-cau yang banyak pengalaman segera melihat sesuatu yang ganjil, segera ia angkat golok dan membentak.

"Kalian memberi obat racun apa kepada kedua nona ini, lekas keluarkan obat penawarnya!"

Kedua laki-laki yang terluka itu menjadi ketakutan, sahutnya gemetar.

"Kami tidak, tidak punya obat penawarnya!"

"Siapa yang menyimpan obat pemunahnya?"

"Siapapun tiada yang punya."

"Bohong!"

Sentak Beng Goan-cau.

"Kalau obat pemunahnya tidak kalian serahkan kucabut nyawa kalian."

"Beng Tayhiap, memangnya kami berani dusta pada kau orang tua. Liau Hoan memang mencampuri Siok-kut-san di air minum yang diberikan mereka, itulah obat bubuk buatan dari istana raja, khasiatnya bisa membuat lemas tenaga dan semangat orang. Komandan kami hanya memberi Siok-kut-san tanpa memberi obat penawarnya, cuma kalian pun tidak perlu kuatir, obat bubuk itu tidak membawa akibat buruk bagi kesehatan badan, sudah tentu lebih baik kalau mendapat obat penawarnya, kalau tiada juga tidak menjadi halangan."

"Kenapa tiada halangan. Jelas mereka tidak mampu berjalan!"

"Cuma tiga hari saja setelah khasiat obat itu hilang, mereka akan bebas dan bisa berjalan seperti biasa,"

Demikian kedua laki-laki itu memberi penjelasan pula.

"Tiga hari lagi,"

Keluh Siau Gwat-sian.

"Tan-toako, berjalan saja kami tidak mampu cara bagaimana bisa ikut kau pergi?"

"Aku punya Bik-ling-tan yang terbuat dari Thian-san-soat-lian, khasiatnya bisa menyembuhkan macam-macam racun, Siok-kut-san bukan merupakan obat beracun yang jahat dan dibuat secara khusus, mungkin obatku ini bisa membawa hasil,"

Demikian kata Tan Kong-si.

"Lekas kalian duduk samadi biar kubantu kalian dengan saluran tenaga lwekang supaya lekas sembuh."

Siau Gwat-sian dan Cau Ci-hwi memangnya merasa seram melihat darah yang berceceran di mana-mana, lekas mereka pejamkan mata dan duduk samadi seperti petunjuknya.

"Baiklah, kau bantu mereka menyembuhkan luka-luka, biar kugusur mereka ke dalam kamar kurungan di tempat lain, supaya tidak mengganggu usaha kalian!"

Demikian kata Beng Goan-cau. Segera Beng Goan-cau gusur para tawanannya termasuk yang terluka, ia totok jalan darah mereka lalu dikurung di dalam gudang kayu, katanya.

"Sebentar aku akan kembali minta keterangan kalian."

Lalu ia periksa seluruh pelosok rumah Hun Ci-lo itu, dilihatnya tiada bayangan orang lainnya lagi, demikian juga Hun Ci-lo tidak ditemuinya.

Lekas ia beranjak keluar, saat mana Liau Hoan dan Ha Ping sudah melarikan diri, sementara Thongthian-hou Coh Thian-hiong juga sudah dikalahkan oleh Miao Tiang-hong, kebetulan ia hendak melarikan diri.

Terdengarlah suara "Crat cret"

Beberapa kali, mendadak Coh Thian-hiong merendahkan badan serta berputar beberapa lingkaran, di waktu badannya melompat bangun berdiri pula, baju luarnya sudah terbuka dan tahu-tahu sudah tergantung di ujung pedang Miao Tiang-hong, baju luarnya itu berlubang tujuh delapan tusukan pedang, namun dia sendiri tidak sampai terluka, secepat angin lesus lantas melarikan diri.

Ternyata gerakan ini dinamakan Kim-tan-toat-kak (tonggeret melepas kulit), suatu gerak tipu aneh yang khusus digunakan untuk menolong diri di saat jiwa terancam.

Miao Tiang-hong selamanya belum pernah melihat tipu permainan yang aneh macam itu, sekilas tercengang, maka lawan berkesempatan lari sipat kuping.

Kata Miao Tiang-hong tertawa.

"Rase tua ini memang tidak bernama kosong, licin dan licik betul!"

"Biarlah dia lari,"

Ujar Beng Goan-cau.

"Musuh di dalam sudah kubereskan semua, yang terluka dan yang tidak terluka semua kuku-rung di dalam gudang, sebentar kita bisa kompes dan minta keterangan mereka."

"Di mana Tan Kong-si?"

Tanya Miao Tiang-hong.

"Di dalam, sedang bantu kedua nona menyembuhkan luka-lukanya."

"Kalau begitu biarlah kita tunggu di sini sebentar lagi,"

Ujar Miao Tiang-hong tertawa penuh arti.

Beng Goan-cau menduga orang ada omongan yang perlu dibicarakan, maka dengan pikiran kusut ia manggut-manggut, maka mereka jalan mondar-mandir di luar hutan di pinggir rumah.

Masing-masing memikirkan isi hati sendiri, sesaat lamanya mereka membungkam, serba sulit dari mana mereka harus mulai membuka pembicaraan.

Kira-kira satu lingkaran kemudian Miao Tiang-hong membuka suara lebih dulu.

"Beng-heng, meski baru hari ini kita bertemu, namun sudah lama kudengar nama besarmu. Ci-lo pernah memberitahu kepadaku, katanya kau adalah sahabatnya yang paling kental."

"Sudah sepuluhan tahun lamanya aku berpisah dengan dia,"

Demikian ujar Beng Goan-cau.

"Apakah Miao-heng juga hendak menjenguk dia? Berapa lama kalian berkenalan?"

"Aku baru mengenalnya waktu berada di rumah Siau-hujin di Tong-thing-san barat, belum lagi tiga bulan lamanya. Memang aku menyusul kemari hendak mencari beritanya, tapi semula aku sudah berkeputusan untuk tidak bertemu lagi dengan dia."

Beng Goan-cau melengak, tanyanya.

"Apakah sebabnya?"

"Maaf, kalau aku bicara terus terang, ingin aku bicara dari hati ke hati dengan kau, Beng-heng."

Beng Goan-cau rada merasa di luar dugaan bahwa orang hendak bicara secara gamblang dan terus terang kepadanya, mau tidak mau ia merasa simpatik dan senang akan sikapnya yang supel ini, katanya.

"Apakah mengenai persoalan Ci-lo?"

"Ya, bicara soal persahabatan sudah tentu aku bukan apa-apa dibanding hubungan Beng-heng dengan dia, tapi sedikit banyak aku tahu juga akan isi hatinya."

"Kukira persahabatan lama atau baru tidak menjadikan halangan bagi ikatan persahabatan yang kekal bagi sesama kawan yang sepaham."

"Tapi, Beng-heng, bagaimana martabat dan jiwa Hun Ci-lo sudah tentu kau jauh lebih menyelaminya dari aku. Dia benar-benar seorang perempuan gagah yang berjiwa satria, sayang pengalaman hidup yang pahit getir membuatnya selalu murung."

"Maksudmu di dalam pernikahannya dengan Nyo Bok?"

Tanya Beng Goan-cau.

"Beng-heng, ada sebuah peristiwa mungkin masih belum kau ketahui. Nyo Bok sudah menceraikan dia."

Tergetar hati Beng Goan-cau, serunya.

"Hah, ada kejadian itu?"

"Resminya Nyo Bok memang sudah menceraikan dia, yang terang bahwa secara kenyataan Cilo tahu orang macam apa sebenarnya Nyo Bok, suaminya itu."

Lalu ia ceritakan bagaimana Suhay-sin-liong mewakili Nyo Bok menyerahkan surat cerainya itu,-kepada Beng Goan-cau. Kejut dan girang pula hati Beng Goan-cau mendengar penuturannya ini, katanya.

"Suami yang demikian, bercerai pun lebih baiklah!"

"Benar, seumpama bisul jahat di atas badan, lebih cepat dipotong lebih baik. Tapi Ci-lo mengalami pukulan yang seberat ini, meski ia masih kuat bertahan, namun hatinya teramat sedih. Beng-heng, kecuali kau siapa pula yang dapat memberi hiburan menyembuhkan luka-luka hatinya. Beng-heng, kau atlalah seorang gagah yang berla-pang dada dan bijaksana, kukira kau tidak berpikiran sesempit itu menganggapnya sebagai seorang janda bukan?"

Mendengar orang bicara jujur dan setulus hati, Beng Goan-cau jadi terharu, namun dalam hati ia pun tertawa getir, batinnya.

"Mungkin dia belum tahu bahwa Ci-lo sudah mempunyai seorang putraku, buat apa harus dia yang menjadi comblangnya. Urusan duniawi memang sukar diduga oleh manusia. Meski aku ada niat rujuk kembali, masakah urusan baik ini bisa terlaksana."

"Beng-heng, kenapa kau diam saja, apakah kau merasa omonganku kurang pantas?"

"Miao-heng, kuharap kau pun maklum dan memaafkan kata-kataku yang blak-blakan ini, ada sebuah pertanyaan entah patut atau tidak kuajukan kepada kau?"

"Beng-heng, sekali bertemu hubungan kita umpama sahabat lama, hati masing-masing sudah bertaut. Beng-heng ada omongan apa, silakan kemukakan saja."

"Dari nada bicara Miao-heng, agaknya kau pun menaruh simpatik dan memujanya bukan?"

"Benar, memang aku kagum akan jiwanya yang ksatria, lembut di luar keras di dalam hati. Ada sebuah hal harus kuberitahu kepada Beng-heng, bahwa aku sudah angkat saudara bersama dia!"

"Kenapa pula kau tidak sekaligus melamarnya untuk menjadi istrimu?"

"Soal perjodohan, memangnya bisa dipaksakan? Walau kalian sudah sepuluh tahun berpisah, tapi aku tahu selama ini dia tidak pernah melupakan kau. Hidup ini sudah ditakdirkan, janganlah kau sia-siakan perjodohan ini. Beng-heng, perjodohan ini sebetulnya adalah milikmu, janganlah kau menyia-nyiakan demikian saja."

Beng Goan-cau tertawa getir, katanya.

"Terima kasih akan perhatianmu, tapi masih terlalu pagi untuk membicarakan hal ini. Ah, cuaca sudah larut, tak terasa setengah jam sudah berselang, mungkin Tan Kong-si sudah selesai memberikan bantuan pengobatan kepada kedua nona itu. Marilah kita menengok mereka di dalam."

Tahu bahwa orang segan melanjutkan pembicaraan ini, adalah ia tidak tahu kekalutan pikiran orang, katanya.

"Betul, orang macam apa saja kawanan penjahat ini, perlu kita kompes keterangan mereka."

Setelah menelan Bik-ling-tan, dibantu saluran tenaga lwekang Tan Kong-si lagi, lambat laun tenaga mereka mulai pulih meski belum seperti sedia kala.

Begitu melihat Miao Tiang-hong mereka sama berjingkrak kegirangan, dengan nerocos seperti mitrai iur mereka tanya sana sini tak henti-hentinya.

Mereka tidak tahu hubungan Beng Goan-cau dengan Hun Ci-lo masa silam, maka setiap pertanyaan mereka selalu berkisar mengenai Hun Ci-lo, sudah tentu Miao Tiang-hong menjadi kikuk dan risi.

"Sudahlah kalian jangan merujuk paman Miao saja,"

Sela Tan Kong-si.

"Dia harus mengompes keterangan kawanan penjahat itu."

Beng Goan-cau membebaskan totokan jalan darah orang-orang itu, lalu bentaknya.

"Sebetulnya kalian pantas dibunuh, tapi mengingat kalian hanya diperalat saja, asal kalian mau mengaku dan memberi keterangan yang kami perlukan, jiwa kalian boleh diampuni."-Mereka adalah kawanan penjahat yang takut mati, sebelum dikompes mereka sudah mengaku terus terang. Setelah mendapat segala keterangan yang diperlukan, berkatalah Beng Goan-cau.

"Hukuman mati boleh diampuni, hukuman hidup harus kalian rasakan. Yang kalian andalkan untuk berbuat jahat dan sewenang-wenang hanyalah kepandaian cakar ayam belaka, baiklah kupunahkan saja ilmu silat kalian!" -Satu per satu ia remas remuk semua tulang pundak mereka, tapi ia pun beri Kim-jong-yok untuk menyembuhkan luka-lukanya, lalu membiarkan mereka pergi. Miao Tiang-hong menghela napas, katanya.

"Tak nyana ada kejadian ini, tapi bukan mustahil sengaja Pakkiong Bong menyiarkan kabar bohong ini untuk menjebak Boh Cong-tiu."-Ternyata, keterangan yang mereka dapat adalah bahwa Boh Cong-tiu ada kerjasama dan sekongkol dengan Pakkiong Bong.

"Paman Miao,"

Ujar Tan Kongsi.

"masih ada beberapa soal yang belum diketahui oleh kawanan brandal itu. Setelah kalian dengar tentu lebih kaget dan tercengang."

"Urusan apa?"

Tanya Miao Tiang-hong.

"Bahwa secara suka rela memang Boh Cong-tiu terima diperalat oleh Pakkiong Bong, pertama memperalat dia untuk menipu Utti Tayhiap, kedua memperalat dia untuk menjebak dan mencelakai jiwa seorang buronan yang jauh lebih penting daripada Li Kong-he, coba kalian tebak siapa orang yang dimaksud ini?"

"Dari mana aku bisa tahu,"

Ujar Miao Tiang-hong.

"Orang itu bukan lain adalah Beng Tayhiap."

Beng Goan-cau berkata sambil tertawa.

"Tak nyana Pakkiong Bong sekongkol dengan Boh Cong-tiu hendak mencelakai aku, aku jadi kaget dan bangga pula."

"Urusan ini amat penting, cara bagaimana kau bisa mendapat kabar ini, apakah dapat dipercaya?"

Miao Tiang-hong menegas.

"Kudengar dari percakapan Yam-yam Taysu dengan Hian-hong Totiang,"

Demikian jawab Tan Kong-si.

"Oh, Yam-yam hwesio, aku tahu kepandaian silat Yam-yam hwesio tidaklah lemah, cara bagaimana kau bisa mencuri dengar pembicaraan rahasia mereka?"

"Kalau dibicarakan hanya secara kebetulan saja,"

Tutur Tan Kong-si. Lalu ia ceritakan pengalamannya di Pat-tat-nia tempo hari, untunglah akhirnya Le Lamsing muncul dan berhasil menggebah mereka lari pontang panting.

"Menurut apa yang kutahu,"

Kata Miao Tiang-hong.

"Yam-yam hwesio dan Hian-hong Totiang adalah jago-jago kelas satu Pakkiong Bong, jauh lebih tinggi tingkatan mereka dari kawanan keroco yang kita tawan barusan. Kalau begitu kejadiannya tidak perlu disangsikan lagi. Beng-heng, sejak kini kau harus lebih waspada dan hati-hati."

"Beng Tayhiap,"

Seru Tan Kongsi.

"Agaknya kau sendiri tidak merasa kuatir dan heran?"

"Bahwa Boh Cong-tiu hendak mencelakai aku, memang sebelumnya tidak terpikir olehku, tapi bahwa dia ada intrik dengan Pakkiong Bong, hal itu tidak menjadikan heranku, malah boleh dikata sudah di dalam dugaanku! Jauh di waktu pertemuan besar di puncak Thay-san tempo hari, aku sudah melihat ambisinya yang besar. Bagi seorang yang sudah gila pangkat dan gengsi pribadi, sekali dia menyeleweng dan tersesat, meski banyak teman hendak bantu memperbaiki kesalahannya pun tidak berguna lagi. Tugas kita yang paling penting sekarang adalah cepat-cepat masuk ke kota raja dan menemukan Utti Tayhiap, sekaligus kita bongkar muslihat Boh Cong-tiu."

"Sudah tentu kita harus bertindak cepat, tapi Beng-heng, tujuan mereka justru hendak menghadapi kau, maka pastilah mereka, amat memperhatikan segala gerak-gerik dan jejakmu, kukira, tidak leluasa kau ke sana."

Beng Goan-cau tertawa lantang, ujarnya.

"Sebetulnya aku memang hendak menyingkir dulu dari situasi yang panas ini, sekarang mau tidak mau aku harus berangkat ke sana. Dalam kalangan kangouw kita harus mengutamakan jiwa ksatria dan hati bijak serta setia kawan, walau hubunganku dengan Utti Tayhiap tidak begitu mendalam, tapi boleh dikata sebagai kawan sehaluan dan sepaham, coba kau katakan, apakah aku harus duduk berpeluk tangan membiarkan orang masuk ke dalam perangkap musuh?"

"Kita harus membagi tugas, masakah kita harus beramai-ramai meluruk ke kota raja bersama,"

Demikian usul Miao Tiang-hong. Maka Cau Ci-hwi dan Siau Gwat-sian merengek-rengek hendak ikut, namun Miao Tiang-hong menolak, dikatakan supaya mereka pergi mencari ibunya saja. Berkata Siau Gwat-sian.

"Tapi entah ke mana ibu."

"Waktu aku berpisah dengan dia, ibumu ada bilang hendak ke rumah ibu inangmu, kedatanganku ini memang hendak melihat apakah dia sudah pergi belum."

"Wah, dia pergi ke rumah bu inang, bu inang paling sayang padaku, tapi tempat tinggalnya di dalam sebuah selokan gunung yang sepi dan belukar, amat jauh dari sini."

"Nah, bu inangmu begitu sayang kepadamu, lekaslah kau susul ke sana saja."

Demikian bujuk Miao Tiang-hong. Akhirnya ia berhasil membujuk Siau Gwat-sian berdua supaya tidak ikut ke kota raja. Berkata Miao Tiang-hong.

"Beng-heng, bersama Kong-si antarlah mereka mencari ibunya, biar aku saja seorang yang menyampaikan kabar ini, bagaimana, tugas ringan ini yakin pasti depat kukerjakan dengan baik. Sebaliknya kau sudah berpisah sekian lamanya dengan Ci-lo, sudah saatnya kau melihat keadaannya."

Beng Goan-cau kurang senang, katanya.

"Miao-heng, maksudmu memang baik, tapi dengan demikian berarti kau pandang rendah diriku. Memangnya aku harus membiarkan kau seorang diri menempuh marabahaya? Dikata aku ingin bertemu dengan Ci-lo, memangnya kau sendiri tidak ingin berkumpul sama dia? Kenapa tugas yang paling gampang ini kau serahkan kepadaku?"

Tan Kong-si yang tidak tahu seluk beluknya segera menimbrung bicara.

"Ucapan Beng Tayhiap memang benar, tugas mengantar nona Cau dan nona Siau berikan kepadaku saja. Miao-sioksiok, kau tidak usah kuatir."

Lalu ia menyambung pula.

"Beng Tayhiap, hampir lupa aku memberitahu kepada kau, bahwa di Pat-tat-nia tempo hari aku ada bertemu dengan teman baikmu Song Thengsiau bersama nona Lu, katanya sumoaymu!"

Beng Goan-cau menjadi girang, tanyanya.

"Tahukah kau di mana mereka sekarang?"

"Katanya hendak tamasya di Ban-li-tiang-shia dua hari. Mungkin sekarang sudah pulang ke rumah Cay Kin."

"O, mereka menetap di rumah Cay Kin?"

"Ya, Beng Tayhiap, sebelumnya kau pun sudah kenal sama Cay Kin?"

"Kalau begitu aku harus segera ke kota raja untuk bertemu dengan meraka. Cay Kin aku belum pernah -kenal, tapi dia adalah teman akrab Siau Ci-wan dan Ling Thiat-jiau kedua toako, asal kuterangkan pasti sudah tahu."

Apa boleh buat terpaksa Miao Tiang-hong berkata.

"Beng-heng, marilah kita berangkat bersama. Tapi harus sedikit hati-hati. Beng-heng, kuberikan sebuah barang kepada kau, mungkin banyak berguna dalam perjalanan ke kota raja ini."

Ia keluarkan selembar kedok mukj palsu. Bang Goan-cau tertawa, ujarnya.

"Betul, aku adalah seorang buronan, kalau memakai permainan ini, meski agak gerah, tapi bisa menghindari berbagai kesulitan, terpaksa aku menyiksa diri dengan kedok ini."

Hari kedua pagi-pagi benar mereka lantas berangkat, kira-kira menjelang magrib mereka, sudah tiba di Pakkhia.

Dengan mengenakan kedok palsu Beng Goan-cau berdua mencampurkan diri di dalam rombongan kaum pedagang, ternyata tidak menimbulkan banyak kesulitan, dengan gampang ia sudah memasuki kota Pakkhia.

Waktu mereka tiba di rumah keluarga Cay, hari sudah tiba ken-tongan kedua, setelah mengetuk pintu setengah harian barulah Cay Kin keluar membuka pintu.

Beng Goan-cau lantas mengajukan tanda-tanda rahasia yang dipelajari dari Siau Ci-wan, tahu bahwa orang datang dari Siau-kim-jwan, keruan Cay Kin amat terkejut, lekas ia berkata.

"Beng-heng, amat kebetulan kedatanganmu, marilah lekas masuk bicara di dalam saja!"

Setelah mereka duduk di dalam kamar, berkata Cay Kin.

"Beng-heng, Miao-heng, nama besar kalian sudah lama kukagumi, tidak perlu aku bicara sungkan terhadap kalian. Dua tiga hari ini situasi cukup gawat, kukira kalian sudah tahu."

Berkata Beng Goan-cau tegas.

"Aku hanya ingin menyirapi berita beberapa teman saja, setelah tahu keadaan mereka segera kami mohon diri."

"Beng-heng, jangan kau salah paham, memangnya kau anggap aku takut kerembet oleh persoalanmu, adalah sebaliknya aku kua-tir kau kerembet oleh urusanku. Mungkin malam ini bakal terjadi sesuatu di sini."

"Ada urusan apa?"

Tanya Beng Goan-cau.

"Nanti sebentar kuterangkan,"

Kata Cay Kin.

"Teman yang hendak kau cari bukankah Song Theng-siau?"

"Benar, dia sudah pulang belum?"

"Belum pulang. Pagi tadi kusuruh seseorang memberi kabar kepadanya, supaya mereka menetap di Pat-tat-nia dua tiga hari lebih lama."

"Kabarnya Le-thocu dari Ang-ing-hwe juga di sini?"

Tanya Beng Goan-cau. Cay Kin merendahkan suaranya, katanya.

"Beng-heng, kalau kalian satu jam datang lebih pagi, bukan saja bisa bertemu dengan Le-thocu, kau pun bisa bertemu dengan seorang teman yang pasti di luar dugaanmu."

"Siapa dia?"

"Si maling sakti Kwi-hwe-thio."

"Hah, Kwi-hwe-thio juga sudah datang."

"Sebetulnya Kwi-hwe-thio kemari mencari Song Theng-siau hendak minta bantuannya, setelah bertemu dengan Le-thocu, maka dia lantas pergi pula bersama Le-thocu."

"Untuk apa Kwi-hwe-thio minta bantuan orang lain?"

"Kau sudah tahu keributan yang ditimbulkan oleh Utti Keng di kota raja?"

"Tahu, tapi tidak begitu jelas!"

"Kwi-hwe-thio mendapat kabar, katanya Utti Keng bersama Boh Cong-tiu hendak meluruk ke markas Sat Hok-ting hendak menolong orang, maka dia pun hendak menyusul ke sana secara diam-diam untuk membantu mereka."

Girang dan kaget pula hati Beng Goan-cau, ujarnya.

"Amat kebetulan sekali kedatangan kami, Cay-toako, di mana letak markas Sat Hok-ting, cobalah kau lukiskan secarik gambar keterangan."

"Kalian baru pertama kali ini masuk kota raja, hanya mengandal selembar gambar hendak main terobosan bahayanya tentu besar. Dan lagi mereka sudah berangkat satu jam lebih, jikalau sampai terjadi keributan, sudah terlambat kalian menyusul ke sana, lebih baik kalian tunggu saja di sini menanti berita."

Sampai di sini tiba-tiba ia bertanya dengan suara lirih.

"Waktu kalian datang tadi, adakah dilihat oleh orang?"

"Rumah-rumah sekitar sini sudah tutup pintu semua, tapi adakah orang yang melihat kami, aku tidak berani mengatakan."

"Aku ada banyak kenalan baik dengan para pejabat, tapi bukan mustahil selalu menjadi perhatian mereka. Malam nanti bila terjadi sesuatu, kuharap kalian jangan unjukkan diri."

Baru saja mereka bicara, betul juga didengarnya pintu di luar digedor dengan gencar. Cay Kin tertawa, katanya.

"Cepat benar mereka datang!"

Lekas ia suruh Beng dan Miao dua orang sembunyi di dalam kamar rahasia.

Bergegas ia keluar membuka pintu, ternyata yang datang ini adalah sekawanan opas.

Cay Kin kenal baik dengan kepala opas itu, katanya sambil merangkap tangan.

"Ong-toako punya keperluan apa?"

Ong-thaubak (kepala opas) menjawab.

"Markas Sat-congkoan digemparkan oleh datangnya pembunuh gelap!"

Cay Kin pura-pura terkejut, katanya.

"Ada kejadian itu?"

"Cay-piauthau,"

Ujar Ong-thaubak.

"Kami menjalankan tugas, kuharap kau tidak kecil hati."

"Memangnya apa sangkut pautnya pembunuh gelap di markas Sat-congkoan dengan aku? Ongtoako, kau kan tahu beberapa tahun terakhir ini, aku selalu menutup pintu menyekap diri, sudah lama aku tidak pernah terlibat urusan luar!"

"Cay-piauthau, bicaralah terus terang, kabarnya dua hari ini sering datang orang-orang asing keluar masuk di rumahmu, siapa saja mereka? Apakah masih menginap di rumahmu?"

"Ong-toako, kukira kau salah terka, memang hari ini ada datang dua orang, mereka adalah petani yang menyewa sawahku, datang membayar uang sewa, sejak pagi tadi mereka sudah pulang!"

"Cay-piauthau, bukan aku tidak memberi muka kepada kau, kami hanya menjalankan tugas, terpaksa harus mengadakan pemeriksaan sekadarnya!"

"Boleh, silakan Ong-toako ikut aku!"

Beng Goan-cau dan Miao Tiang-hong sembunyi di kamar rahasia, hati mereka sama kebatkebit.

Sudah tentu kawanan opas itu tidak menjadi ganjalan hati mereka, namun kalau mereka terpaksa harus turun tangan, urusan bakal merembet Cay Kin yang punya keluarga dan usaha di Pakkhia.

Akhirnya terdengar Cay Kin berkata.

"Inilah kamar terakhir, mungkin pembunuh gelap itu sembunyi di sini, Ong-toako silakan kau periksa dengan seksama!"

Ong-thaubak itu tertawa, katanya.

"Cay-piauthau memang suka berkelakar, kami hanya sekedar menjalankan tugas, masakah kami harus mempersulit kau "

Berdiri di luar pintu, ia melongok-longok saja terus menutupkan pintu kamar itu. Setelah kawanan opas itu pergi, Cay Kin pun masuk, katanya sambil tertawa.

"Beres sudah, keparat she Ong itu sudah kuberi uang sogok, cukup untuk berfoya-foya puluhan hari dengan para bawahannya itu."

Baru sekarang Beng Goan-cau paham, katanya tertawa.

"Kukira kau memang pintar bersiasat, kiranya uang emasmu yang melicinkan keadaan."

"Keadaan sudah reda, tapi kalian tidak boleh keluar malah,"

Demikian ujar Cay Kin.

"Baik, marilah kita mengobrol semalam suntuk, sambil menunggu berita."

Dalam kesempatan ini Miao Tiang-hong lantas bercerita mengenai pertempurannya dengan Han Wi-bu di Pak-bong-san tempo hari, Cay Kin amat gegetun dan menarik napas, katanya.

"Usaha besar para leluhur dari Tin-wan Piaukiok agaknya harus berantakan di tangan Han Wi-bu yang ceroboh itu."

Demikian keluh Cay Kin.

"yang lebih menggemaskan bahwa katanya Ouw-yang Kian sudah ditanam pula oleh Pakkiong Bong di dalam Tin-wan Piaukiok, hari ini baru kutahui berita ini, Han Wi-bu semakin merasa tinggi hati karena dia mendapat seorang pembantu yang kosen, tanpa disadarinya bahwa dia sudah masuk ke dalam perangkap musuh."

"O, jadi Ouwyang Kian adalah utusan dari Pakkiong Bong, dari mana berita ini diperoleh? Apa dapat dipercaya?"

"Inilah salah satu kabar rahasia yang berhasil dicuri dengar oleh Kwi-hwe-thio dari markas Gilim-kun. Kukira tidak akan salah!" .

"Kepandaian lain Kwi-hwe-thio memang tidak seberapa, tapi ginkangnya sudah setaraf kelas wahid, dia sudah pergi kira-kira dua jam, keadaan sudah mulai reda, kenapa sampai sekarang belum lagi pulang?"

Baru saja bicara sampai di sini, terdengarlah genteng di atas rumah terinjak pecah oleh kaki orang, Beng Goan-cau membatin.

"Tentu bukan Kwi-hwe-thio!"

Ia kira orang adalah mata-mata pihak kerajaan, cepat ia memberi isyarat kepada Miao Tiang-hong dengan kedipan mata, baru saja mereka hendak menyembunyikan diri, orang di atas genteng itu sudah melompat turun.

Jauh di luar dugaan Beng Goan-cau, semula dia menyangka orang bukan Kwi-hwe-thio, tak nyana yang lompat turun ini adalah Kwi-hwe-thio.

Tampak pakaian Kwi-hwe-thio berlepotan darah, pada lengan kirinya menonjol keluar ujung sebatang panah, ternyata ia terluka.

Semua orang sama terkejut, cepat memayangnya masuk kedalam kamar rahasia, Kwi-hwe-thio tertawa getir, katanya.

"Sungguh memalukan, gagal total, membuat keributan dan menyusahkan kalian saja. Em, Beng Tayhiap, kau sudah tiba. Tuan ini..."

Beng Goan-cau lantas membe-ritahu.

"Dialah Miao Tiang-hong, Miao Tayhiap. Sudah jangan bicara dulu, biar kuobati luka-lukamu."

"Luka seringan ini, adalah jamak bagi kaum maling seperti kita ini terluka babak belur. Setahun yang lalu luka-lukaku jauh lebih parah waktu aku menyampaikan suratmu di rumah Nyo Bok."

Beng Goan-cau menggunakan totokan menghentikan keluarnya darah, lalu ia cabut anak panah itu dan membubuhi obat luka.

Kwi-hwe-thio bicara dan tertawa-tawa seperti biasa, tanpa mengerutkan kening sedikit pun.

Semula Cay Kin rada memandang rendah orang, sekarang ia harus memuji kekerasan hati orang.

"Sudah, sekarang silakan kau bercerita. Kau sudah ketemu Utti Tayhiap belum?"

Tanya Beng Goan-cau. Cay Kin pun mendesak.

"Ke mana pula Le-thocu?"

Tutur Kwi-hwe-thio.

"Belum lagi kita masuk ke Cong-koanhu, orang-orang di dalam sudah mengejar keluar, mereka sama berkaok-kaok tangkap pembunuh. Kebetulan kamilah yang kebentur, tak sempat pula sembunyi, terpaksa kamilah yang menjadi sasaran."

"Jadi kau belum sempat bertemu dengan Utti Tayhiap,"

Kata Beng Goan-cau.

"Benar. Apakah Li Kong-he sudah tertolong, kami pun tidak tahu. Le-thocu suruh aku lari lebih dulu, insyaf bahwa kepandaianku memang tidak becus terpaksa aku mematuhi perintahnya, kupancing para pengejar itu sebagian, berarti memperingan tekanan kepadanya juga. Celakanya, para pengejar yang tidak berhasil mengudak aku menggunakan panah, sekali kurang hati-hati aku terkena lenganku. Di jalan raya mereka kuajak putar kayun beberapa lingkaran besar seperti main petak, setelah pusing baru kutinggalkan mereka. Cay-toako, kau tidak usah kuatir, bahwasanya mereka tidak tahu ke arah mana aku melarikan diri, kukira mereka tidak akan meluruk kemari."

Cay Kin tertawa, ujarnya.

"Cakar alap-alap tadi sudah datang, setelah mendapat uang sogokku, kukira mereka tidak akan datang pula mencari kesulitanku, malah kau yang tidak usah kuatir di sini. Yang kukuatirkan adalah Le-thocu, meski kepandaiannya tinggi, betapapun ia harus menghadapi sekian banyak orang!"

Baru sampai di sini mereka bicara, tiba-tiba Kwi-hwe-thio mendesis mulut dan berbisik.

"Diam, ada orang tengah malam mendatangi."

Belum lenyap ia bersuara, tampak sesosok bayangan orang dengan lincah dan seenteng burung terbang melompati tembok pagar turun di pekarangan dalam di luar kamar rahasia.

Cay Kin sembunyi di bawah jendela, meminjam cahaya bulan sabit yang redup, lapat-lapat ia melihat seorang pemuda tegap berusia dua puluhan.

Setelah Cay Kin melihat tegas barulah dia bersuara kaget dan bergegas berlari keluar menyambut.

Melihat kelakuan orang barulah Beng goan-cau lega hati, orang tentu kawan sendiri, maka ia ikut keluar, dengan suara lirih ia bertanya kepada Cay Kin.

"Siapakah dia?"

"Inilah murid kesayangan Kang Tayhiap, Li Kong-he wakil Thocu dari Thian-te-hwe."

Beng Goan-cau, Miao Tiang-hong dan Kwi-hwe-thio belum pernah melihat Li Kong-he, mendengar penjelasan Cay Kin, keruan mereka girang dan kaget pula.

Segera Cay Kin ajak semua orang masuk ke kamar rahasia pula, satu per satu ia perkenalkan Beng, Miao dan Kwi-hwe-thio bertiga.

Li Kong-he sekaligus menjura kepada mereka bertiga, lalu katanya.

"Entah siapakah tuan penolong-ku?"

Kata-katanya ini mengejutkan semua orang, kata Cay Kin.

"Li-siauhiap, bukankah Utti Tayhiap yang menolongmu keluar?"

"Meski paman Utti mengenakan kedok muka juga masih kukenal. Orang itu pasti bukan paman Utti,"

Demikian jawab Li Kong-he tegas.

"Mengenakan kedok, mungkinkah Boh Cong-tiu?"

Tanya Beng Goan-cau.

"Orang itu suaranya serak dan sudah tua, kukira sedikitnya sudah lima puluhan. Dan lagi Boh Cong-tiu punya hubungan yang amat kental dengan siau-susiokku (Kim Tiok-liu), tidak perlu dia mengenakan kedok untuk menolong aku!"

Demikian Li Kong-he menguraikan keadaan dan memberikan pendapatnya.

"Li-siauhiap,"

Ujar Cay Kin.

"coba kau ceritakan keadaan waktu itu, biar kita pikirkan bersama!"

"Kira-kira kentongan kedua, tiba-tiba kudengar pelintiran suara rantai dan tahu-tahu pintu penjara sudah terbuka, seorang yang mengenakan kedok muka melangkah masuk dan bicara dengan bisik-bisik kepadaku. 'Jangan banyak tanya, lekas ikut aku."' "Masakah dalam penjara itu tiada penjaga?"

Tanya Cay Kin.

"Waktu tiba di luar kulihat empat penjaganya berdiri tegak kaku seperti tonggak kayu, ternyata mereka sudah tertotok Hiat-tonya oleh si orang berkedok,"

Demikian tutur Li Kong-he. Mereka jadi heran dan serba curiga. Kata Cay Kin sesaat kemudian.

"Sebagai tawanan penting, tentu Sat Hok-ting menugaskan para penjaga yang berkepandaian tinggi. Orang itu bisa menotok Hiat-to mereka tanpa diketahui dan disadari oleh mereka sebelumnya, ilmu Tiam-hiat dan ginkang yang begitu liehay, di dalam kalangan persilatan masa kini, mungkin sulit dicari beberapa tokoh saja."

"Kunci atau gembok berantai dari pintu penjara itu adalah barang pilihan yang tidak mungkin putus dengan bacokan senjata tajam, untuk memutuskan paling tidak orang itu harus membekal kepandaian Kim-kong-ci-lat,"

Demikian kata Kong-he. Mereka sama mereka-reka dan menganalisa tanpa berkesudahan, akhirnya Miao Tiang-hong ikut bicara.

"Pada masa ini yang memiliki kepandaian Kim-kong-ci-lat, di dalam angkatan tua, menurut apa yang kuketahui hanya ketua Siau-lim-pay dan Bu-tong ciangbun Lui-cun-cu, tapi mereka berdua tidak mungkin bisa berada di kota raja."

"Benar,"

Sela Cay Kin juga.

"Menurut apa yang kuketahui, untuk memelintir putus gembok itu Utti Keng tidak mungkin dapat melakukan, dan lagi ilmu Tiam-hiat-nya pun tidak mencapai tingkat yang sedemikian tingginya."

Bertanyalah Kwi-hwe-thio.

"Waktu aku tiba di sana, kebetulan mereka sedang ribut hendak menangkap pembunuh gelap, menurut keadaan yang kulihat, Utti Keng dan Boh Cong-tiu kira-kira juga tiba pada saat yang sama. Li-siau-hiap, waktu kalian keluar, adakah kau dengar mereka sedang ribut hendak menangkap pembunuh gelap itu?"

Jawab Li Kong-he.

"Waktu orang berkedok itu membawa aku keluar, angin seperti berhenti menghembus, rumput pun tiada yang bergoyang, setelah cukup jauh baru lapat-lapat kudengar keributan, orang-orang berlari simpang siur. Wah, aku tidak tahu bahwa paman Utti dan Boh Cong-tiu malam ini hendak menolong aku, kalau tahu tentu aku akan kembali berkumpul dengan mereka."

"Lalu bagaimana selanjutnya setelah orang berkedok itu membawa kau keluar?"

Tanya Cay Kin.

"Orang itu bertanya kepadaku, tahukah kau siau-piauthau dari Tin-wan Piau-kiok dahulu yang bernama Cay Kin? Maka kujawab aku tahu. Orang itu berkata, bagus, kalau begitu setengah jam lagi pergilah kau ke rumahnya, di sana nanti ada orang-orang dari laskar rakyat yang akan menyambut kedatanganmu. Aku masih punya urusan yang perlu kukerjakan, maaf aku tidak menemani kau lebih lanjut,"

Demikian tutur Li Kong-he pula. Semakin bingung dan heran Cay Kin dibuatnya, katanya.

"Cianpwe itu menyuruh kau datang ke rumahku, mungkinkah dia seangkatan dengan ayahku? Tapi para kenalan ayah boleh dikata banyak yang kukenal pula dengan baik, rasanya tiada seorang pun yang memiliki kepandaian Kimkong-ci-lat dan ilmu Tiam-hiat tingkat tinggi."

Berkata Beng Goan-cau.

"Dari nada bicara cianpwe itu, agaknya beliau sudah tahu bahwa kirakira pada kentongan ketiga kita bakal berada di rumahmu ini, ini sungguh mengherankan."

Berkata pula Li Kong-he.

"Gin-kang lo-cianpwe itu amat tinggi, setelah mendengar katakatanya, kukira dia akani datang ke rumah paman Cay ini juga untuk bertemu pula dengan aku. Malah kemungkinan dia bisa datang lebih dulu setengah jam dari aku."

Cay Kin tertawa, ujarnya. 'Tak heran begitu tiba lantas kau bertanya siapa di antara kami yang sudah menolong kau. Tapi bahwa dia sudah berkata demikian, kurasa mungkin memang dia akan datang kemari."

Baru sampai di sini, tiba-tiba Kwi-hwe-thio mendesiskan suara dan menekan jari di depan mulutnya, katanya perlahan.

"Kalian coba dengar, ada orang malam datang lagi. Satu dua, ah semua tiga!"

Berkata Cay Kin.

"Mungkin cianpwe itu bersama Utti Keng dan Le Lam-sing."

Belum habis ia bicara dari luar terdengar seorang membentak.

"Cay Kin, kau menyembunyikan buronan di rumahmu, lekas keluar menyerah dan mengakui kesalahan!"

Itulah suara Ouwyang Kian yang sekarang sudah menjabat wakil cong-piauthau dari Tin-wan Piaukiok.

Waktu Miao Tiang-hong mengintip keluar dari jendela, dikenalinya pula salah seorang lagi adalah sute Pakkiong Bong, Sebun Soh.

Seorang lagi adalah Tosu yang tidak dia kenal.

Tosu ini adalah Hian-hong Tojin yang kemarin tiba di kota raja.

Ouwyang Kian dan Sebun Soh angkat tangan bersama terus memukul dari jarak jauh.

Kedua angin pukulan Bik-khong-ciang bergabung di tengah jalan terus menerjang ke depan "Biang"

Jendela kamar tergetar pecah berantakan. Ouwyang Kian amat bangga, serunya terbahak-bahak.

"Sedikit pun tidak salah, Li Kong-he ternyata memang benar berada di sini."

Sebaliknya melihat musuh besarnya di sini seketika merah padam mata Sebun Soh, serunya.

"Baik ya Miao Tiang-hong, kiranya kau pun berada di sini! Memang aku hendak mencari kau membuat perhitungan."

"Ya, memang kebetulan!"

Je-ngek Miao Tiang-hong, segera ia melompat keluar terus melabrak Sebun Soh. Kebetulan Hian-hong Totiang melirik ke arah Beng Goan-cau yang baru saja keluar, seketika ia menjerit.

"Di sini masih ada pula buronan yang lebih penting, coba kalian lihat, bukankah orang ini Beng Goan-cau yang hendak dibekuk oleh Pakkiong Tayjin itu!"

Ternyata mereka bertiga memang belum pernah bertemu muka dengan Beng Goan-cau, tapi di "dalam markas Gi-lim-kun mereka pernah melihat gambar lukisan Beng Goan-cau yang disebar luaskan ke mana-mana sebagai buronan penting.

Karena perhatian Ouw-yang Kian dan Sebun Soh tertuju kepada Li Kong-he dan Miao Tiang-hong, maka Hian-hong Totiang malah mengenalinya lebih dulu.

Beng Goan-cau berkata lantang.

"Seorang laki-laki sejati tidak perlu menyembunyikan nama, memang aku inilah Beng Goan-cau, Beng Goan-cau adalah aku!"

Seru Hian-hong Totiang.

"Ouw-yang-toako, pergilah kau ringkus Li Kong-he bocah kecil itu."

Melihat orang sudah bertindak lebih dulu, terpaksa Ouwyang Kian berpikir.

"Dapat menangkap Li Kong-he jasaku pun tidak kecil."

Sebat sekali ia memutar badan terus menubruk ke arah Li Kong-he.

"Ouwyang Kian,"

Cay Kin memapak kedatangannya.

"Di rumahku jangan kau bertingkah!"

Ouwyang Kian menjengek dingin.

"Kau berani menyembunyikan tawanan penting, berani membangkang dan melawan lagi. Hehehe, kalau tidak kuingat jasa-jasa ayahmu yang besar terhadap Tin-wan Piaukiok dulu, sejak lama sudah kubunuh kau."

Mendengar orang menyinggung nama Tin-wan Piaukiok seketika berkobar amarah Cay Kin, dampratnya.

"Justru Tin-wan Piaukiok bakal runtuh karena bajingan macammu ini!"

Ouwyang Kian tertawa dingin, katanya.

"Ke sorga ada jalan kau tidak mau ke sana, akhirat tertutup justru kau menerjang masuk. Baiklah, kalau kau memang ingin mampus, biarlah kusempurnakan kau sekalian!"

Dalam bicara itu mereka sudah saling serang tiga jurus dengan cepat.

Tay-kim-na-jiu kemahiran Cay Kin adalah ajaran dari leluhurnya yang merupakan ilmu tunggal di bulim tapi Lui-sin-ci Ouwyang Kian dari golongan sesat juga amat liehay, beruntun Cay Kin merang-sak dengan figa tipu serangan, di saat cakar tangannya hampir saja mencengkeram tulang pundak kiri Ouwyang Kian, mendadak ia rasakan telapak tangannya panas dan sakit, walaupun telapak tangannya tidak tertotok lawan namun Lou-kiong-hiat di telapak tangannya, sudah terasa kesakitan karena benturan tenaga dalam lawan yang menggempur keluar.

Dari membela diri, kini Ouwyang Kian merubah siasat balas menyerang, sekonyong-konyong sebelah telapak tangannya sudah menyambar ke lehernya.

Sekonyong-konyong selarik sinar hijau berkelebat, ternyata Li Kong-he menjemput sebatang pedang panjangnya dari dalam kamar "sret"

Dengan Pek-hong-koan-jit, ujung pedangnya menusuk ke per-gelangan tangan Ouwyang Kian.

Lagi-lagi Ouwyang Kian merubah permainannya, menggunakan ilmu tangan kosong hendak merebut senjata lawan tiba-tiba ia alihkan sasarannya kepada Li Kong-he untuk merampas pedangnya secara kekerasan.

Tak nyana perubahan permainan Li Kong-he pun tidak kalah sebatnya, dari Pek-hongkoan-jit tiba-tiba ia rubah Heng hun-toan-hong, kalau Ouwyang Kian tidak lekas menarik tangan, berarti ia angsurkan tangannya untuk ditabas kutung oleh Li Kong-he.

Keruan bercekat hati Ouwyang Kian, lekas ia menyurut mundur dua tindak.

Sungguh girang dan terkejut pula Cay Kin dibuatnya, batinnya.

"Murid Kang Tayhiap memang luar biasa tak heran maski usia masih sangat muda, dia sudah berani menjabat wakil Thocu dari Thian-te-hwe."

Cepat ia merangsak maju lebih dulu seraya memperingatkan.

"Li-siauhiap, hati-hati terhadap jari-jarinya yang beracun!"

"Jangan kuatir paman Cay,"

Sahut Li Kong-he.

"Lui-sin-cinya itu tidak akan mampu melukai aku!"

Belum lenyap suraranya, tiba-tiba Ouwyang Kian sudah merangkap kedua jarinya dan menotok ke arah dirinya.

Betul juga Li Kong-he ternyata hanya mengerut kening, sementara permainannya tidak menjadi kendor, beruntun ia lancarkan Pek-hong-koan-jit, Li-Khong-sia-ciok, Eng-kik-tiangkhong, Kim-ke-toh-siok, beruntun ia lancarkan rangsakan pedang yang cukup ganas.

Meski usianya masih amat muda, namun ia sudah mendapat ajaran Iwekang murni dari Kang Hay-thian, betul juga Lui-sin-ci Ouwyang Kian ternyata tidak mampu melukai dia.

Sayang bekal lwekangnya masih belum memadai, kalau tidak, satu lawan satu pun dia sudah mampu menghadapi Ouwyang Kian sama kuat.

Beng Goan-cau mendapat tandingan, keduanya sama melancarkan jurus-jurus serangan secepat kilat.

Diam-diam Hian-hong Totiang amat terkejut.

"Golok cepat orang she Beng ini agaknya tidak lebih asor dari Utti Keng, mungkin aku tidak akan kuat menghadapinya."' Memang Loan-pi-hong-kiam-hoat Hian-hong Tojin mengutamakan gerak cepat, tapi golok Beng Goan-cau dimainkan jauh lebih cepat lagi, belum sampai setengah jam, mereka sudah bertempur mencapai ratusan jurus. Seratus jurus kemudian Hian-hong Tojin sudah terdesak di bawah angin. Dari rak senjata Kwi-hwe-thio mengambil sebatang tombak dijadikan tongkat, dia berjalan keluar hendak membantu Beng Goan-cau, maka berkata Beng Goan-cau.

"Kwi-hwe-thio, untuk apa kau keluar, Tosu hidung kerbau ini aku kuat menandinginya."

"Beng-ya,"

Kata Kwi-hwe-thio.

"Aku hanya sedikit terluka saja, masakah harus berpeluk tangan menonton saja?"

Melihat orang sulit dicegah, sementara goloknya waktu itu sedang melancarkan tipu-tipu ilmu goloknya yang paling liehay, sebetulnya sebelah lengan Hian-hong Totiang bisa tertabas kutung oleh sambaran goloknya, kedatangan Kwi-hew-thio justru tepat pada waktunya, Hian-hong Totiang malah berkesempatan menariknya menjadi tameng.

Mendadak Hian-hong Tojin memutar badan dengan gerakan yang lincah dan meraih, kebetulan ia berhasil menangkap ujung tombak Kwi-hwe-thio yang menye-lonong tiba.

begitu ujung kakinya menggantol, Kwi-hwe-thio tidak bisa berdiri tegak pula sehingga badannya limbung dan hampir tersungkur jatuh, arahnya tepat menyelonong ke arah sambaran golok Beng Goan-cau, mana bisa tabasan golok diteruskan?

Untunglah latihan ilmu goloknya sudah mencapai tarap yang tinggi, bisa ditarik kembali secepatnya menurut keinginan hatinya, sementara tangan kiri menariknya ke samping sambil melompat tiga tapak.

Mendapat peluang ini lekas Hian-hong Tojin melarikan diri.

Keruan Beng Goan-cau mengerut kening, diam-diam ia mengeluh.

"Sayang!"

Lalu batinnya.

"Biasanya Kwi-hwe-thio bisa bertindak cerdik, kenapa kali ini begitu ceroboh tidak tahu diri lagi?"

Dengan muka merah malu berkata Kwi-hwe-thio.

"'Kukira luka-lukaku tidak begitu berat, siapa nyana ternyata begini tidak becus, Beng-ya, kai ini aku malah merepotkan kau saja!"

Tiada tempo Beng Goan-cau memarahi orang, terpaksa ia berkata.

"Kau masuk saja istirahat, sudah jangan keluar lagi!"

Dengan Thay-ceng-khi-kang Miao Tiang-hong menghadapi Hian-im-ciang Sebun Soh, waktu itu lambat laun ia sudah berhasil mendesak lawannya, kemenangan jelas pada dirinya.

Otot hijau di jidat Sebun Soh sudah menonjol keluar, namun dengan sengit ia terus lontarkan pukulannya yang ganas.

Setiap kali pukulannya tentu menimbulkan gelombang angin dingin.

Sebaliknya sikap Miao Tiang-hong tetap wajar dan menghadapinya tenang-tenang dan seenaknya.

Selintas pandang pukulannya agak tidak sekeras pukulan Sebun Soh, namun tenaga lunak yang empuk cukup ulet dan liat, seolah-olah hembusan angin sepoi-sepoi di musim semi, membuat Sebun Soh merasa semakin mengantuk dan ogah-ogahan, semangat sulit dikobarkan.

Sebun Soh tahu keadaan tidak menguntungkan pihaknya, suatu ketika ia menyam-bitkan sebatang panah ular yang mengeluarkan asap merah menyala di tengah udara.

Sebat sekali dia pun jumpalitan ke belakang terus melompat pula ke atas tembok, serunya dingin.

"Miao Tiang-hong, biar kali ini aku mengalah kepada kau, akhirnya toh kau tidak akan lolos dari genggamanku!"

Panah berapi itu adalah tanda minta bala bantuan.

"Tas, tas, tas!"

Beruntun jari Ouwyang Kian menjentik tiga kali, dengan menyerang dia membela diri sehingga Cay Kin terdesak mundur dua langkah, begitu putar tubuh, dia mengikuti jejak Hian-hong dan Sebun Soh melarikan diri.

Ketiganya hampir dalam waktu yang sama melarikan diri tanpa berjanji sebelumnya.

Beng Goan-cau sendiri baru saja menurunkan Kwi-hwethio, maka ia tidak sempat bantu Miao Tiang-hong mencegat musuh.

Kata Beng Goan-cau sesaat kemudian.

"Cay-toako, pasukan besar cakar alap-alap musuh sebentar lagi pasti akan menggerebek tiba, selanjutnya terang kau tidak dapat tinggal lagi di rumahmu."

"Lekaslah kalian menerjang keluar, tak usah hiraukan diriku!"

Demikian seru Kwi-hwe-thio.

Saat mana juga terdengar suara lengking tanduk ditiup yang saling bersahutan, hanya sekejap saja, terdengar derap kaki kuda dan langkah orang berlari-lari cepat mendatangi.

Segera Cay Kin berkata.

"Menerjang keluar jelas tidak mungkin, hidup atau mati harus kita perjuangkan bersama, marilah kalian ikut aku!"

"Cay-piauthau!"

Seru "vwi-hwe-thio.

"Bukankah mempersulit kau malah?"

Cay Kin mengerut alis, katanya.

"Waktu amat mendesak, apa-apaan ucapanmu ini."

Tanpa banyak kata lagi ia seret orang terus dibawa lari.

Cay Kin membawa mereka masuk ke kamar tidurnya, di bawah ranjang ia menjungkit dua batu marmer, maka terlihatlah sebuah lubang di bawah sana, entah berapa dalamnya.

Waktu Kwi-hwe-thio melongok ke bawah terendus bau apek yang merangsang hidung.

Katanya.

"Oh, kiranya jalan bawah tanah, agaknya sudah sekian tahun tak pernah digunakan. Tapi meski jalan rahasia ini amat tersembunyi, bilamana sampai ketahuan oleh musuh, bukankah kita bakal menjadi kura-kura dalam kurungan?"

Cay Kin lantas menjelaskan.

"Jalan rahasia di bawah tanah ini ada jalan keluarnya di ujung sana, sekarang terdesak oleh keadaan, terpaksa kita harus menyerempet bahaya."

Segera ia menyulut sebatang obor, sambil memayang Kwi-hwe-thio ia turun lebih dulu.

Beng Goan-cau dan Miao Tiang-hong bekerja sama menggotong ranjang ke tempatnya semula lalu ikut turun serta menutup pula lubangnya.

Begitu tiba di bawah keadaan amat gelap, mereka maju ke arah sebuah lorong panjang yang tidak kelihatan ujungnya.

Berkata Cay Kin sambil berjalan.

"Meski mereka berhasil menemukan jalan rahasia ini, paling tidak mereka harus main geledah setengah harian!"

Bertanya Kwi-hwe-thio.

"Menembus ke mana jalan rahasia di bawah tanah ini?"

"Inilah jalan rahasia di bawah tanah yang dibuat oleh ayahku waktu beliau menjabat sebagai cong-piauthau Tin-wan Piaukiok, ujung keluarnya terletak di sebuah kamar gudang di dalam Tinwan Piaukiok. Mengenai adanya jalan rahasia di bawah tanah ini, di dalam piaukiok hanya ada dua orang tua saja yang tahu, sekali-kali mereka tidak akan membocorkan rahasia ini, maka congpiauthau yang sekarang'Han Wi-bu sendiri pun tak tahu menahu. Setelah ayah wafat, sudah puluhan tahun belum pernah digunakan lagi!"

Berkata Beng Goan-cau.

"Tapi Han Wi-bu sekarang sudah berdiri di pihak yang berlawanan dengan kau!"

"Tidak!"

Sahut Cay Kin tegas.

"Yang betul-betul berlawanan dengan aku hanya Ouwyang Kian. Han Ki-gwan dan Han Wi-bu ayah beranak meski menyikut ayahku keluar, betapapun mereka bukanlah manusia yang terlalu bejat. Kita keluar dari piaukiok seumpama sampai ketahuan oleh Han Wi-bu, aku akan bicara atas hubungan kita yang sudah lalu, kukira dia tidak akan sampai hati menangkap kita dan diserahkan kepada pemerintah!"

"Hati manusia susah diduga, dari mana kau bisa menduganya begitu tepat?"

Sela Kwi-hwe-thio uring-uringan.

"Bilamana dia betul-betul hendak mencari kesulitan padaku, /terpaksa kita harus melabraknya sekalian. Ouwyang Kian sudah pasti akan meluruk datang pula ke rumahku, tidak mungkin begitu cepat ia lantas pulang ke piaukiok, aku yakin para kerabat dari piaukiok kebanyakan segan turun tangan terhadapku, meski akhirnya Han Wi-bu mencari perkara kepadaku, orang yang membantu dia paling-paling hanya Bun Seng-liong seorang, memangnya kita takut menghadapi mereka,"

Demikian ujar Cay Kin. Berkata Kwi-hwe-thio.

"Kalau sampai turun tangan tentu kejadian tidak begitu menyenangkan. Lebih baik biar aku keluar dulu menemui Han Wi-bu, kami bisa mencari tahu sikapnya dulu. Yang terang aku sudah dikenal sebagai maling, paling-paling aku mengaku menggerayangi gudangnya hendak mencuri barang, bilamana kuketahui dia bukan sehaluan dengan para cakar alap-alap itu, barulah aku akan bicara secara gamblang kepadanya."

"Jangan,"

Cegah Cay Kin.

"mana bisa aku biarkan kau menyerempet bahaya seorang diri?"

"Aku hanyalah seorang maling yang tidak terpandang, Li-hu-thocu dan Beng Tayhiap adalah buronan penting, urusan menyangkut kepentingan kita semua. Apa artinya aku berkorban demi kalian, memangnya kita harus menempuh bahaya bersama."

Cay Kin tahu Kwi-hwe-thio cukup cerdik dan pandai bekerja melihat gelagat, setelah dipikir-pikir memang ucapannya cukup beralasan, sesaat ia menepekur lalu katanya.

"Biar nanti kita bicarakan lebih lanjut."

Li Kong-he menentang keras, sementara Beng Goan-cau tinggal adem ayem. Adalah Miao Tiang-hong merasa heran, batinnya.

"Beng Goan-cau adalah seorang laki-laki sejati yang amat perhatikan kepentingan besar dan rela berkorban, Kwi-hwe-thio adalah sahabat baiknya, kenapa dia tidak merintangi, sikapnya ini jauh berlawanan dengan watak biasanya."

"Kwi-hwe-thio,"

Tiba-tiba Beng Goan-cau membuka suara.

"Luka-lukamu masih sakit tidak, mari biar kupayang kau berjalan."

"Kim-jong-yok pemberianmu memang mustajab, sekarang sudah tidak terasa sakit lagi,"

Demikian sahut Kwi-hwe-thio. Maka Beng Goan-cau berjalan berjajar beradu pundak, katanya.

"Kwi-hwe-thio, sudah setahun lebih bukan kita berpisah?"

"Ya, setahun tiga bulan, pertemuan kita di Soh-ciu dulu terjadi pada bulan tujuh."

"Apa betul?"

Tanya Beng Goan-cau. Tiba-tiba ia mencakar ke muka Kwi-hwe-thio seraya membentuk.

"Siapa kau, berani menyaru jadi Kwi-hwe-thio?"

Perubahan terjadi begitu mendadak, seketika Cay Kin berdiri tertegun, akhirnya dia menjerit.

"Hah, dia memang bukan Kwi-hwe-thio!"

Tampak kulit muka Kwi-hwe-thio kena dicomot hancur beran-takan oleh cakar tangan Beng Goan-cau.

Ternyata kulit mukanya bagian luar ini terbuat dari malam yang berwarna menyerupai kulit manusia, cara rias dan samarannya pun sedemikian liehay pula, sehingga bentuk wajahnya betul-betul persis Kwi-hwe-thio.

Setelah kulit kedoknya dibelejeti habis-habisan, maka terlihatlah kulit muka aslinya yang buruk burikan Cay Kin amat kaget dan heran, tanyanya.

"Beng Tayhiap, cara bagaimana kau bisa tahu kalau dia palsu?"

"Lima hari yang lalu, aku baru saja bertemu dengan Kwi-hwe-thio!"

Sahut Beng Goan-cau.

"Lima hari yang lalu, bukankah hari itu juragan Cui dan perusahaan arangnya digerebek dan disegel oleh pasukan Gi-lim-kun?"

"Betul, di waktu warung arang juragan Cui disegel aku ikut menonton keramaian di sana, kebetulan bertemu dengan Kwi-hwe-thio di sebuah gang sempit. Waktu itu dia sudah berjanji hendak datang kemari untuk mencari Song Theng-siau bersama aku.

"Memangnya kenapa kalian tidak datang bersama, baru tadi tengah hari aku bertemu dengan Kwi-hwe-thio, sesuai dengan waktu yang kaujanjikan bukan,"

Ujar Cay. Kin heran. Beng Goan-cau menutur.

"Aku menetap di sebuah hotel kecil di luar kota yang dinamakan Taycian-bun, pemilik hotel adalah seorang teman kangouw dari Siau Ci-wan Toako. Waktu kami keluar, kami sudah berjanji dalam waktu satu jam h;u.is kembali. Pagi hari itu aku bertemu dengan Kwi-hwe-thio, sebetulnya harus segera mengajak dia kemari menemui kau, tapi aku pikir setelah aku tiba di sini tentu kau tidak akan mengijinkan aku pergi pula. Kalau aku harus pindah kemari maka sepantasnya memberi tahu dulu kepada pemilik hotel itu supaya tidak membuat dia kuatir. Mendengar kata-kataku, segera Kwi-hwe-thio juga menyatakan keinginannya untuk mencari seorang temannya dari Kaypang, untuk memberi tahu perkara ini kepada mereka, maka lebih baik kami bertemu pula tengah hari lalu bersama berkunjung ke tempatmu ini. Hal ini sudah kami perhitungkan masak-masak supaya tidak menjadi perhatian orang karena paginya toh sudah terjadi sesuatu perkara besar di dalam kota."

"Sebetulnya Kwi-hwe-thio sudah berjanji hendak menjemput aku di hotel, tak nyana setelah waktu yang dijanjikan masih belum kelihatan dia datang, terpaksa pemilik hotel keluar mencari berita, barulah diketahui bahwa pintu dalam kota sudah ditutup, kabarnya seluruh kota diadakan pemeriksaan dan razia, terang Kwi-hwe-thio takkan bisa keluar. Waktu dia pulang, sedikit ia perhatikan lantas dia melihat di sekitar hotelnya terdapat beberapa mata-mata pemerintah yang tersebar di mana-mana, karena para mata-mata itu banyak yang sudah dia kenal betul."

"Setelah malam tiba, situasi semakin gawat, dari seorang temannya yang bekerja di dalam komando keamanan kota mendapat dua berita, pertama bahwa teman Kwi-hwe-thio dari Kaypang itu sudah ditangkap oleh Gi-lim-kun. Berita kedua adalah bahwa komandan keamanan kota mendapat surat perintah dari Pakkiong Bong diminta bantuannya untuk menangkap seorang yang bernama Beng Goan-cau."

"Maka pemilik hotel malam itu juga menyuruh aku meninggalkan Pakkhia, setelah situasi reda dan tenang kembali baru balik kembali. Sebelumnya dia pun berjanji begitu pintu kota terbuka, dia lantas hendak ke rumahmu sini untuk memberi kabar mengenai diriku. Aku tidak ingin merembet dirinya, bahwa dia suka rela hendak menyampaikan kabarku, terpaksa aku harus pergi sementara waktu, tujuanku ke Sam-ho untuk menghindari situasi yang panas di sini, sekaligus di sana aku bisa menengok keadaan seorang teman!"

"Tapi temanmu pemilik hotel itu belum pernah kemari menyampaikan beritamu,"

Demikian kata Cay Kin heran.

"Tadi waktu kami masuk kota kebetulan lewat dari Tay-cian-bun, kulihat hotel kecil itu sudah disegel oleh pemerintah, mungkin temanku itu sudah ditangkap. Ai, semula aku tidak ingin dia kena perkara, akhirnya toh membuat kesulitan baginya."

"Jadi sebelumnya kau memang sudah tahu persekongkolan Boh Cong-tiu dengan Pakkiong Bong? Sungguh menggelikan, semula kuanggap kau belum tahu, maka begitu tiba lantas kuceritakan kepada kau,"

Demikian kata Cay Kin tertawa geli.

"Sebetulnya sejak tadi akan kujelaskan kepada kau, soalnya baru saja aku mendengar ceritamu mengenai situasi kota raja, kejadian-kejadian selanjutnja justru tidak memberi kesempatan kepadaku, dan tak lama kemudian keparat ini pun tiba. Memang sebelumnya aku sudah tahu akan muslihat Boh Cong-tiu, malah aku sudah berjanji dengan Kwi-hwe-thio untuk menyusulnya ke Ciong-koanhu, sekaligus hendak membongkar kedok dan muslihatnya."

"O, jadi begitulah kenyataannya, tak heran kau lantas curiga kepada Kwi-hwe-thio palsu ini. Waktu kau membubuhi obat luka-lukanya tadi, jikalau dia Kwi-hwe-thio tulen tentulah dia mengajukan persoalan itu kepada kau."

"Bukan hanya itu saja, titik kelemahan samarannya, lagi pula ginkangnya terpaut amat jauh bila dibanding dengan Kwi-hwe-thio, semula aku mengira karena luka-lukanya itu sehingga ginkangnya menjadi terganggu. Tapi setelah kupikir lebih lanjut, luka-lukanya berada di lengan, tidak berat lagi, kalau Kwi-hwe-thio tulen mustahil sampai menginjak pecah genteng. Maka aku memancingnya dengan kata-kata, sengaja tidak kusing-gung soal pertemuanku lima hari yang lalu dengan Kwi-hwe-thio. Ternyata aku berhasil mengorek titik kelemahannya."

Mendengar uraian Beng Goan-cau, orang itu amat menyesal, batinnya.

"Kukira ginkangku tidak terpaut jauh dengan Kwi-hwe-thio, genteng yang pecah kupijak pun hanya sebuah, suaranya yang lirih itu tak nyana dapat didengar oleh Beng Goan-cau. Kalau tahu demikian seharusnya panah itu kutu-sukkan ke pahaku saja!"

Miao Tiang-hong maju beberapa langkah, dengan seksama ia amat-amati muka orang, katanya dalam hati.

"Kalau tidak salah seperti pernah kulihat orang ini entah di mana?"

Setelah jelas duduk perkaranya, berkatalah Cay Kin.

"Samaran orang ini memang amat mirip, yang aneh suaranya pun persis benar dengan suara Kwi-hwe-thio. Hm, sebetulnya siapa kau, ayo bicara sejujurnya!"

Mendadak Miao Tiang-hong menyela bicara.

"Suruh dia bicara menggunakan logat asli dari tempat kelahirannya. Dia berasal dari Tay-tong-hu di Siam-say."

Insyaf bahwa dirinya tidak akan dapat mengelabui lagi, terpaksa orang itu berkata sejujurnya.

"Aku bernama Li Tong-coan, biasanya orang-orang memanggilku Li-ma-cu. (Li si burikan)."

Logat bicaranya memang betul dari Tay-tong-hu di Siam-say.

"Kau masih punya gelaran lain yaitu Li-coan-tong, bukan?"

Tanya Miao Tiang-hong. Li-ma-cu tertawa getir, katanya.

"Miao-toaya, agaknya kau amat tahu segala seluk belukku. Baiklah, aku tidak perlu menutup keadaan yang sebenarnya, obyekku memang seperti Kwi-hwe-thio, keahli-anku membuat lubang menembusi tembok."

Beng Goan-cau melengak, tanyanya.

"Miao-heng, jadi kau sudah kenal padanya?"

"Bukan saja sudah kenal, malah aku pernah menyaksikan kepandaian copetnya. Hal itu terjadi pada sepuluh tahun yang lalu disebuah rumah makan Gi-ciau-lou di Ko-seng. Orang yang menggesek biola mengiringi nyanyian nona cilik itu bukankah kau?"

Demikian tanya Miao Tianghong. Li-ma-cu tertawa getir pula, katanya.

"Sungguh tajam ingatan Miao-ya, nona cilik yang nyanyi itu adalah muridku. Tapi bicara soal maling sakti, masakah aku berani menerima gelar yang agung itu, dibanding Kwi-hwe-thio aku masih terpaut cukup jauh."

"Meski kalah bila dibanding Kwi-hwe-thio, namun kau pun cukup hebat, menurut pandanganku, bolehlah dipandang sebagai maling sakti nomor dua di seluruh jagat." ---Kata-kata Miao Tianghong memang betul, ternyata di dalam kalangan pencopet tingkat tinggi, Li-ma-cu memang dijuluki si maling sakti nomor dua di seluruh kolong langit. Miao Tiang-hong berkata lebih lanjut.

"Hari itu, seorang hartawan sedang mengadakan jamuan besar, untuk meramaikan suasana ia mengundang seorang nona cilik tukang nyanyi, Sementara orang ini duduk di pinggir menggesek biolanya, begitu acara selesai mereka terus tinggal pergi setelah mendapat bayaran yang layak. Di saat perjamuan bubar dan si hartawan hendak membayar rekening, tangan yang dimasukkan ke dalam sakunya itu sekian lamanya tidak dikeluarkan, ternyata uang yang dibawanya sudah hilang tanpa bekas, sudah tentu ia menjadi bingung dan tidak mampu membayar rekening. Hal ini menimbulkan keributan pula di antara para tamu-tamu karena barulah mereka pun menyadari bahwa kantong masing-masing pun sudah kebobolan, entah uang atau barang-barang penting di dalam saku mereka sama hilang."

"Suatu ketika lain, aku mendapat kabar dari seorang teman kelana kangouvv, barulah aku tahu bahwa Li-coan-tong ini adalah maling atau pencopet yang amat terkenal dan disegani di daerah barat laut. Karena di sana para opas mengejar-ngejar jejaknya, terpaksa dia melarikan diri ke Soatang. Temanku itu juga bilang bahwa Li-coan-tong ini mempunyai keahlian lain yang khusus, yaitu ia pandai meniru suara orang lain dan fasih bicara dalam berbagai bahasa daerah. Pernah terjadi suatu peristiwa lucu, dia meniru suara seorang laki-laki yang kebetulan bepergian jauh, kepada istrinya, laki-laki itu bilang hendak pergi selama tiga hari, Li-coan-tong lantas bertaruh dengan orang lain bahwa dia dapat menipu istri orang itu, sehingga sang istri itu menyangka dirinya sebagai suaminya yang pulang dari tempat jauh. Dan kenyataan dia berhasil menipu istri orang itu membuka pintu."

Merah jengah selebar muka burikan Li-ma-cu, bukan saja malu kelihatan sikapnya pun amat menyesal dan takut, ingin bicara tidak berani dan ragu-ragu.

Diam-diam Beng Goan-cau sudah dapat meraba isi hatinya, katanya dingin.

"Bicaralah terus terang, jiwamu pasti kuampuni. Kalau tidak, he, he, aku tidak akan bunuh kau, cukup kuhukum dengan tiga puluh enam cara siksaan."

Sembari bicara ia tepuk pelan-pelan punggung Li-ma-cu seketika ia rasakan seluruh badan seperti dicocoki ribuan jarum, sakitnya bukan main, seperti pula ada beberapa ekor ular kecil merayap dan saling terjang gigit menggigit di dalam badan.

Saking kesakitan dan takut tak tertahan Li-macu meratap minta ampun.

"Beng-ya, aku akan bicara, mohon bebaskan dulu siksaanmu."-Beng Goan-cau lalu menepuk ulang Hiat-to lain di punggungnya, katanya.

"Sepatah kata pun jangan kau bohong, atau kau akan merasakan siksaan lain macam yang lebih lihay."

"Siaujin mana berani berbohong. Soalnya aku... aku... aku dikejar-kejar olah kawanan opas, suatu ketika kebetulan aku bertemu dengan seorang teman yang bekerja sebagai pembantu di markas Gi-lim-kun, dengan bujuk rayu dia mengatakan bahwa Ciong-ling Tayjin amat kagum akan kepandai-anku, maka beliau ingin minta ban-tuanku. Dikatakan bila aku sudah berada di Ciongling-hu sebagai pembantu Pakkiong Tayjin, jangan kata para opas, jago-jago bhayang-kari pun tiada yang berani mengganggu seujung rambutku, di samping bisa mengecap hidup foya-foya, aku pun bisa mendapat pangkat. Memang otakku terlalu tumpul, ceroboh dan kemaruk harta dan pangkat lagi, tanpa sadar aku kena dipelet dan diperalat oleh mereka."

Kata Cay Kin.

"Jadi orang yang datang ke rumahku tadi siang dan pergi bersama Le-thocu kau adanya?"

"Benar, itulah aku,"

Li-ma-cu mengakui secara jujur dan menunduk kepala.

"Bahwa kau sudah terima diperalat oleh Pakkiong Bong, kenapa kau beberkan intrik Boh Congtiu dengan Pakkiong Bong kepada kami?"

Tanya Cay Kin pula. Adalah Beng Goan-cau lapat-lapat sudah meraba ke mana tujuan tipu muslihat musuh, katanya.

"Pakkiong Bong yang suruh kau menggunakan cara itu untuk menipu kepercayaan kami kepada kau bukan? Bicaralah terus terang, aku tidak akan menyalahkan kau."

Terpaksa Li-ma-cu membongkar keadaan yang sebenarnya.

"Betul. Sebab Pakkiong Bong tahu setelah Kwi-hwe-thio melarikan diri dari Ciong-ling-hu dia lantas menemui Utti Keng, kuatirnya pula bila Utti Keng sudah bertemu dengan kalian. Dengan menyamar sebagai Kwi-hwe-thio bila omanganku tidak cocok dengan ucapan Utti Keng, bukankah bisa menimbulkan rasa curiga kalian?"

"Masakah Pakkiong Bong tidak takut setelah kami mengetahui rahasianya itu kami akan membeberkan persekongkolannya itu kepada khalayak ramai?"

Tanya Cay Kin. Seketika Li-ma-cu mengunjuk rasa bingung dan tergagap.

"Ini, ini, apa maksud Pakkiong Bong, aku, aku tidak begitu jelas."

Tiba-tiba Beng Goan-cau men-delikkan mata, katanya mengancam.

"Li-ma-cu, kami ingin memberi kelonggaran kepadamu, agaknya kau memang suka merasakan siksaan lain yang lebih nikmat rasanya ya?"

Suara Li-ma-cu gemetar, katanya.

"Siaujin memang tidak tahu, dalam hal ini Pakkiong Bong tidak pernah membicarakan kepadaku, tapi..."

"Tapi apa?"

Desak Cay Kin.

"Tapi menurut pandangan siaujin yang rendah, mungkin Pakkiong Bong yakin meski kalian sudah tahu akan rahasia itu, toh tidak akan ada kesempatan untuk membeber persekongkolannya di luaran."

Cay Kin paham dan katanya.

"O, mengerti aku. Bukankah Sebun Soh dan Ouwyang Kian bertiga kau yang memancing kemari?"

"Siaujin memang harus mati, mohon Cay-toaya mengampuni,"

Li-ma-cu meratap. Cay Kin tertawa dingin.

"Pakkiong Bong tentu tidak menyangka bahwa orang-orangnya yang diutus kemari akhirnya kita labrak sampai melarikan diri mencawat ekor. Bagus, bagus sekali, kau mau mengaku terus terang, aku tidak menyalahkan kau!"

Tapi Beng Goan-cau tahu bahwa Li-ma-cu belum lagi bicara keseluruhannya secara jujur, pikirnya.

"Menghadapi orang macam demikian, harus kuperas dengan manis budi barulah dia akan tunduk lahir batin."

Maka segera ia merubah sikap, dengan suara halus dan lemah lembut dia bertanya.

"Kukira kau dan Pakkiong Bong tidak mengira bahwa malam ini aku kebetulan berada di rumah keluarga Cay bukan?"

"Ya, memang kami tidak menduga sebelumnya!"

Sahut Li-ma-cu.

"Bagus,"

Ujar Beng Goan-cau.

"Tapi masih ada sebuah hal yang belum dapat kupahami, ingin aku tanya kau. Dari mana kau bisa tahu hari-hari pertemananku dengan Kwi-hwe-thio tempo hari, kau tahu pula akan hubungan pribadiku dengan Kwi-hwe-thio?"

"Kwi-hwe-thio sendiri yang mengatakan kepadaku,"

Sahut Li-ma-cu.

"Bagaimana dia bisa memberi-tahu kepada kau?"

"Tidak lama sesudah ia berpisah dengan kau, dia tertangkap oleh Gi-lim-kun."

Kejadian ini sudah dalam dugaan Beng Goan-cau, tapi setelah ia dengar penjelasan langsung akan kebenaran hal ini, toh dia masih merasa kaget dan marah katanya.

"Pastilah Pakkiong Bong menggunakan siksaan-siksaan kejam untuk mengompes keterangannya."

"Bukan begitu kejadiannya, Kwi-hwe-thio hanya diborgol kaki tangannya dan dikurung di dalam sebuah kamar saja,"

Demikian Li-ma-cu menjelaskan.

"Kalau begitu cara bagaimana dia bisa memberi tahu semua urusan itu kepada kau?"

"Sejak mula aku memang sudah kenal Kwi-hwe-thio, satu tahun yang lalu aku pernah bertanding sama Kwi-hwe-thio di kota raja, kami sama menguji kepandaian mencopet siapa lebih unggul. Caranya bertanding adalah, siapa yang lebih dulu berhasil mencuri serenteng mutiara dan sebilah pedang pusaka milik kesayangan Ho-kun itu perdana menteri kerajaan sekarang, di mana dia telah diberi hadiah oleh sang raja. Akhir pertandingan dinyatakan kami sama kuat dan setanding, tapi sebenarnya akulah yang di pihak kalah!"

Semua orang menjadi tertarik oleh ceriteranya ini, walau mereka ingin segera tahu keadaan Kwi-hwe-thio, tak urung mereka bertanya juga.

"Kalau toh pertandingan itu mengutamakan siapa dapat lebih dulu siapa menang, kenapa bisa dikatakan seri dan setanding?"

"Batas pertandingan tiga hari, pada malam kedua Kwi-hwe-thio sudah berhasil mencuri pedang pusaka dan rentengan mutiara itu. Seharusnya aku mengaku kalah, tapi batas waktu yang ditentukan belum lagi berakhir, maka kukatakan kepadanya. 'kau bisa mencuri kedua barang mestika ini, maka aku pun sanggup mengembalikannya ke tempatnya semula di dalam waktu yang ditentukan. Kau percaya tidak?' Kwi-hwe-thio berkata. 'Ho-kun kehilangan barang-barang mestikanya, seluruh kota sedang ribut diadakan pemeriksaan, kau hendak mengantar kembali barang-barang ini bukankah berarti menyerahkan diri sendiri ke dalam jaring musuh? Hehe, ini berarti jauh lebih sulit dari caraku mencuri. Baik, kalau kau punya kemampuan dan keberanian ini, biarlah aku bertaruh lagi kepada kau, kalau kau benar-benar mampu melakukan, anggap saja aku kalah olehmu.' Kukatakan tidak usah kau mengaku kalah, anggap saja pertandingan ini seri dan sama kuat. Aku bukan saja bisa mengembalikan barang-barang yang hilang itu, malah secara demonstratif aku berjalan santai mengantar barang-barang itu masuk ke dalam istana."

"Cara apa yang kau gunakan?"

Tanya Cay Kin.

"Kalau dikatakan amat gampang,"

Ujar Li-ma-cu tertawa bangga.

"Aku tahu dan kenal seorang pengawal pribadi dari Kiu-bun-te-tok (pengawas sembilan pintu kota) yang sering mondar-mandir mengirim kabar dan memberi laporan, aku menyamar menjadi orang itu, pagi-pagi benar pada hari ketiga aku memasuki istana dan kulaporkan bahwa semalam Kiu-bun-te-tok sudah berhasil menemukan barang-barang yang hilang. Bukan saja Ho-kun tidak mengetahui penyamaranku, malah aku diberi persen dan dinaikkan pangkatnya."

Cay Kin beramai merasa geli dan kagum pula, katanya tertawa.

"Kiranya begitu. Kepandaianmu mencuri memang tidak menang dibanding Kwi-hwe-thio, tapi keberanian dan kecerdikan otakmu memang amat mengagumkan, kalau pertandingan dianggap setanding dan seri memang cukup setimpal."

Sebaliknya Li-ma-cu tidak mengunjuk rasa senang dan bangga lagi, katanya.

"Memang Kwihwe-thio bertindak amat bijaksana, dia anggap aku sebagai kawan yang setanding dan anggap pertandingan seri. Tapi di dalam pandangan seorang ahli hasilku kali itu tidak lebih lantaran mengandal kepandaianku menyamar dan kepandaianku meniru suara orang, tidak terhitung kepandaian sejati. Maka kalau menurut putusan para ahli, tetap aku dianggap kalah, dia nomor satu dan aku nomor dua!"

"Dan oleh karena itulah sedikit banyak kau lantas merasa sedikit jelus dan sirik kepadanya bukan?"

Demikian sela Beng Goan-cau menyindir. Kena dikorek isi hatinya, Li-ma-cu menghela napas, ujarnya.

"Ucapan Beng-ya memang benar, oleh karena itulah kali ini aku terima diperalat oleh Pakkiong Bong."

Kata Cay Kin.

"Setiap orang tentu punya kesalahan, tahu salah lantas memperbaiki, itulah baru perbuatan seorang Kuncu. Cara bagaimana Pakkiong Bong memper-alat kau, jelaskan, kami tidak akan mempersulit kepada kau!' "Dia suruh aku pura-pura menjadi penolong Kwi-hwe-thio yang berbudi, menolongnya keluar dari tempat kuningannya,"

Demikian Li-ma-cu menerangkan.

"Memang itulah muslihat Pakkiong Bong yang paling busuk,"

Demikian ujar Beng Goan-cau.

"Tapi penjagaan di markas besar Gi-lim-kun amat keras dan ketat, kau dapat menolong Kwi-hwethio keluar dari sana, masakan dia tidak menaruh kecurigaan?"

"Aku menggangsir bumi dan masuk ke kamar kurungannya, kepada Kwi-hwe-thio aku berkata, bahwa aku punya seorang teman sebagai penjaga di Ciong-ling-hu, dari temanku itu aku mendapat kabar bahwa dirinya terkurung di sini, maka kudatang menolongnya. Aku menyamar teman itu dan mencuri pula tanda pengenal piket dari Ciong-ling-hu, kusembunyikan dia di dalam kereta, lalu membawanya keluar. Kwi-hwe-thio tahu akan kepandaianku ini, maka dia tidak menaruh kecurigaan."

"Tapi bagaimana dia bisa mem-beritahu akan hubungan pribadinya dengan aku kepada kau?"

Tanya Beng Goan-cau.

"Waktu terkurung di dalam penjara, Kwi-hwe-thio memang tidak mengalami siksaan, tapi waktu dia tertangkap urat nadinya terluka oleh cengkeraman Hun-kin-joh-kut salah seorang jago Gi-limkun yang mengeroyoknya, dalam jangka sepuluh hari atau setengah bulan terang luka-lukanya itu tidak akan bisa sembuh!"

"Sekarang di mana kau sembunyikan dia?"

Tanya Cay Kin.

"Di rumah seorang pemburu di Saysan. Pemburu itu pun samaran seorang anggota Gi-lim-kun."

"Kwi-hwe-thio mengira Beng Tayhiap masih menetap di hotel kecil itu, dia suruh aku ke sana memberi kabar, tapi kukatakan mungkin Beng Tayhiap tidak akan mau percaya kepadaku, maka kuminta dia menguraikan beberapa persoalan yang hanya diketahui oleh Kwi-hwe-thio dan Beng Tayhiap sendiri, Kwi-hwe-thio percaya kepadaku, lantas dia ceritakan beberapa soal pribadinya kepadaku."

"Ternyata begitu, tapi dengan hanya membekal beberapa soal pribadi yang kau ketahui itu, kau lantas berani menyamar jadi Kwi-hwe-thio?"

Beng Goan-cau menegas.

"Nyo Bok juga ada memberi sedikit tambahan mengenai beberapa persoalan mengenai hubungan Kwi-hwe-thio dengan Beng Tayhiap. Dalam bergaul beberapa hari itu, sedikit banyak kuketahui pula pengalaman perkenalannya dengan Beng Tayhiap. Kupikir sudah sepuluh tahun Beng Tayhiap berpisah pergi ke Siau-kim-jwan, sekembali pulang hanya bertemu sekali saja, paling cepat dalam waktu satu jam, mungkin aku masih sempat mengelabui kalian."

Tergerak hati Cay Kin, teringat olehnya suatu hal, katanya.

"Li-ma-cu, kuanggap kau sebagai sahabat, maka kau pun harus anggap aku sebagai sahabat, bukan?"

Li-ma-cu kelihatan kaget, katanya.

"Cay-ya, kau sudah bermurah hati terhadapku, betapa terima kasihku kepada kau. Sekali-kali aku tidak berani mengelabui apa-apa pula kepada kau."

Baca Juga: Pendekar Riang 3

Baca Juga: Iblis Sungai Telaga 4

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger