Kelana Buana 9

Eps 9 Kelana Buana - Liang Ie Shen

Baca online Kelana Buana - Liang Ie Shen

Cersil Kelana Buana - Liang Ie Shen.

"Bagus, kalau begitu bicaralah terus terang, rahasia dari jalan bawah tanah ini apakah Han Wibu sudah tahu belum, adakah dia mengikat hubungan dengan Pakkiong Bong? Apakah mereka yang berpesan supaya kau memancing kita memasuki jalan rahasia di bawah tanah ini?"

"Soal rahasia jalan tanah ini, Han Wi-bu hanya tahu secara samar-samar saja,"

Demikian Li-macu menerangkan.

"Cay-ya, dua kecurigaanmu yang lain, kau pun hanya menebak benar separuh saja."

Cay Kin keheranan, sekilas dia melengak, lalu tanyanya.

"Apa benar omonganmu?"

"Han Wi-bu hanya tahu adanya jalan rahasia di bawah tanah ini, tapi dia tidak tahu di mana ujung lubang keluar masuknya."

"Cara bagaimana dia bisa tahu? Dalam piaukiok yang tahu akan adanya jalan rahasia ini hanya tiga orang tua saja, ketiga orang tua itu amat patuh dan setia kepada ayahku almarhum, aku percaya mereka tidak akan membocorkan rahasia ini."

"Menurut apa yang kutahu, memang bukan ketiga orang tua itu yang membocorkan. Meskipun secara langsung Han Wi-bu sering mengorek keterangan mereka."

"Memangnya siapa yang kau maksud?"

"Kecuali ketiga orang tua itu, masih ada seorang lain yang termasuk orang lama di dalam piaukiok. Kabarnya adalah kacung kecil yang dulu selalu melayani ayahmu. Kacung kecil dulu itu, sekarang sudah diangkat sebagai piausu oleh Han Wi-bu."

"Kacung kecil ini sebetulnya pun tidak tahu adanya jalan rahasia di bawah tanah itu, tapi sebagai kacung pribadi ayahmu yang selalu dekat dengan beliau, suatu malam dia saksikan sendiri ayahmu malam-malam keluar pintu, tapi hari kedua pagi-pagi benar, sebelum pintu piaukiok dibuka, tahu-tahu ia sudah melihat ayahmu muncul pula di dalam rumah, maka ia merasa curiga adanya sebuah jalan rahasia yang menembus ke dalam piaukiok."

"Kiranya begitu. Bahwa Han Wi-bu tahu adanya jalan rahasia bawah tanah ini, tentu ia amat curiga terhadapku dan sudah mencari tempat dan letak mulutnya?"

"Ya, begitulah. Han Wi-bu takut kau menggunakan jalan rahasia itu dan melakukan sesuatu yang tidak menguntungkan dia, maka dia utarakan isi hatinya ini kepada Ouwyang Kian, mereka berunding cara bagaimana untuk menghadapi kau."

"O, cara bagaimana mereka hendak menghadapi aku?"

"Semula Han Wi-bu tidak mau meminjam kekuatan pasukan pemerintah, tapi dia sendiri tiada alasan untuk main geledah di rumahmu. Karena bila rekaannya meleset, kenyataan tiada jalan rahasia yang dimaksud, bukankah menjadi buah tertawaan orang banyak?"

Beng Goan-cau mendekam di tanah menempelkan kuping ke bumi mendengarkan sebentar, katanya.

"Mereka sedang ribut memindah lemari membongkar peti, agaknya masih belum menemukan jalan rahasia ini dan sedang menggeledah ke mana-mana. Li-ma-cu ceritamu kau singkat saja, lekas kau paparkan bagaimana muslihat Ouwyang Kian, soal-soal yang kecil tidak usah kau ceritakan."

Li-ma-cu mengiakan lalu menyambung.

"Waktu Ouwyang Kian tahu akan perihal ini, karena waktunya belum tiba, maka ia tidak akan membeberkan hubungan intimnya dengan Pakkiong Bong kepada Han Wi-bu. Sekarang waktu yang dia tunggu-tunggu sudah tiba, maka dia hendak menunggu kalian di piaukiok sana, masuk ke dalam perangkapnya."

Cay Kin menjadi paham, katanya.

"O, jadi mereka menggunakan akal sekali panah dapat dua ekor burung, kecuali mengirim pasukan menggerebek rumahku, kalau tidak berhasil tujuan mereka menangkap aku, lalu paksa kita masuk ke jalan rahasia di bawah tanah ini."

"Han Wi-bu hanya akan menghadapi kau,"

Demikian kata Li-ma-cu pula.

"sebaliknya dia tidak tahu bahwa ada beberapa sahabat penting dari tokoh-tokoh kosen kaum pendekar berada di rumahmu. Maka itulah Cay-ya, tadi kukatakan bahwa rekaanmu apakah Han Wi-bu ada sekongkol dengan Pakkiong Bong, hanja benar separuh saja."

Cay Kin tertawa getir, ujarnya.

"Separuh pun baik, benar seluruh-? nya juga tidak menjadi soal, bukankah akibatnya sama saja?"

Beng Goan-cau tertawa, tim-brungnya.

"Menurut pendapatku justru tidak sama. Asal Han Wi-bu tidak tersesat dan jatuh ke pihak musuh, berarti masih ada harapan kita menariknya ke pihak kita. Meski tidak sampai sehaluan dengan kami, toh dia tidak akan sudi menjadi kaki tangan musuh lagi."

Cay Kin menjadi sadar, katanya.

"Betul, walau Han Wi-bu tidak cocok dengan aku, aku pun tidak ingin menjadi musuh kebuyutan dengan dia. Li-ma-cu, masih punya bukti apa lagi yang dapat kau kemukakan bahwa Han Wi-bu tidak berpihak kepada Pakkiong Bong?"

"Menurut apa yang kuketahui, sampai detik ini Han Wi-bu masih belum tahu akan asal-usul dan kedudukan Ouwyang Kian yang sebenarnya."

"Maksudmu tentang rahasia Ouwyang Kian diutus oleh Pakkiong Bong untuk menjadi agen di dalam piaukioknya itu?"

"Betul. Dia hanya tahu bahwa Ouwyang Kian memang kenal dengan Pakkiong Bong, namun belum tahu bahwa wakilnya itu sudah rela diperbudak menjadi cakar alap-alap pihak kerajaan."

Setengah percaya setengah tidak Cay Kin dibuatnya, katanya sangsi.

"Lalu peristiwa malam ini..."

"Ouwyang Kian hanya membocorkan sedikit berita, belum ia kemukakan secara terangterangan seluruhnya. Dia menipu Han Wi-bu, dikatakan dia menyogok petugas keamanan kota untuk menggerebek ke rumahmu, sebagai muslihat untuk mendesak dan menjebak kau masuk ke dalam jalan rahasia di bawah tanah itu. Han Wi-bu sendiri hanya akan menghadapi kau, tidak suka merembet pihak pemerintah. Dikatakan oleh Ouwyang Kian, justru dia bersekongkol dengan para opas ini, supaya Han Wi-bu dapat meringkus kau dengan tangannya sendiri.-Dikatakan pula bahwa pihak pemerintah sudah lama mencurigai kau, tipu yang dia gunakan ini hanyalah meminjam golok membunuh orang, maka cara bagaimana nanti Han Wi-bu akan menjatuhkan hukumannya terhadap kau, pihak pemerintah tidak akan turut campur. Sudah tentu omongannya ini hanya mengada-ada, dan alasan belaka."

"Bicara soal pinjam golok membunuh orang memang omongan Ouwyang Kian ini tidak salah. Hm, sungguh tidak nyana bahwa sedemikian besar dan mendalamnya Han Wi-bu membenci aku, meski lahirnya dia mengatakan tidak mau terseret dalam persoalan pemerintah, toh tanpa sadar dia sudah diperalat oleh para pejabat!"

Demikian komentar Cay Kin. Beng Goan-cau tertawa, katanya.

"Dia tidak mau kerembet oleh persoalan pemerintah ini menandakan bahwa dia masih punya kekuatiran dan tidak separah yang kita bayangkan sebelumnya."

"Ya,"

Ujar Cay Kin.

"tugas kita yang terpenting sekarang adalah mencari daya upaya, cara bagaimana kita harus meloloskan diri dari tempat berbahaya ini. Kalau Ouwyang Kian sudah memperalat Han Wi-bu dan menunggu kedatangan kita di sebelah sana, rasanya rada sulit untuk membujuk atau memberi pengertian kepada Han Wi-bu."

Sejak tadi Beng Goan-cau sudah mendapatkan suatu akal, maka ia lantas berkata.

"Li-ma-cu, sukakah kau membantu kesulitan kami ini?"

"Asal kalian sudi mempercayai aku saja!"

"Kalau tidak percaya kau, memangnya kami berani menyerahkan tanggung jawab jiwa kami beramai kepada kau?"

Li-ma-cu jadi terkejut, tanyanya menegas.

"Beng-ya, bantuan apa yang harus kuberikan kepada kalian?"

"Harap kau menyamar sebagai Pakkiong Bong!"

Sudah tentu kata-katanya ini amat di luar prasangka semua orang. Kata Cay Kin.

"Untuk apa menyamar Pakkiong Bong?"

Betapapun Li-ma-cu seorang kangouw yang berpengalaman dalam bidangnya ini, setelah melongo sebentar, cepat sekali ia sudah paham maksud Beng Goan-cau, katanya.

"Apakah maksud Beng-ya supaya aku menemui Han Wi-bu dan Ouwyang Kian?"

"Benar, tapi bukan aku yang ikut kau, Cay-toakolah yang akan menyertai kau!"

"Sebetulnya rencana apa yang sedang kau rancang?"

Tanya Cay Kin tertawa.

"Teka-teki dari rencanaku ini biar nanti saja kalian saksikan dari buktinya. Li-ma-cu, tiba saatnya kau memperlihatkan kepandaian, kecerdikan dan kepercayaanmu."

"Menyamar sebagai Pakkiong Bong tidak menyulitkan bagi aku. Cuma di sini kami kekurangan seperangkat pakaian dari seragam pasukan Gi-lim-kun."

"Pakkiong Bong keluar mengadakan pemeriksaan secara diam-diam, bukan inspeksi secara resmi, maka tidak perlu dia mengenakan pakaian dinasnya,"

Demikian Beng Goan-cau menambahkan. Li-ma-cu tertawa, katanya.

"Asal mukanya saja yang harus sama, terlalu gampang bagi aku!"

Segera ia mengeluarkan sebuah kantong sutra, dari dalamnya ia mengeluarkan sepotong malam kuning dan sebotol air obat untuk rias, sebentuk kaca untuk bercermin.

Disaksikan oleh Beng Goan-cau beramai, segera ia mulai bekerja, sekejap saja, bentuk wajahnya sudah berubah sama sekali dan persis benar dengan Pakkiong Bong.

"Aku masih membekal beberapa butir obat poles muka, tidak perlu kalian menyaru orang lain, tapi setelah memoleskan bahan obat ini dapat merubah bentuk muka kalian, kalian boleh menyamar sebagai pembantu dari piaukiok saja. Para kerabat Tin-wan Piaukiok jumlahnya ada seratus lebih, di malam hari lagi, meski mereka merasa rada asing kepada kalian, dalam waktu singkat kukira tidak akan mampu membongkar penyamaran kita."

"Bagus, sekarang kita bisa bekerja menurut akal ini. Cay-toako, begini dan begitu kami atur, bagaimana menurut pendapatmu?"

Tanya Beng Goan-cau. Cay Kin tertawa, sahutnya.

"Meski akal ini radj^berbahaya, tapi dapat membawa hasil di luar dugaan dan cepat, memang suatu akal yang amat bagus. Baik, segera kita laksanakan bersama!"

Di dalam sebuah kamar rahasia di Tin-wan Piaukiok, cong-piauthau Han Wi-bu dan wakilnya Ouwyang Kian sedang menunggu-nunggu sambil menahan napas, agaknya mereka kurang tenang dan gelisah.

"Ouwyang-heng,"

Ujar Han Wi-bu.

"bisa tidak terjadi sesuatu keruwetan menurut pendapatmu?"

"Keruwetan apa?"

"Aku kuatir, perbuatan kita kali ini bakal menyalahi terhadap para sahabat bu-lim dari golongan pendekar."

"Urusan kali ini hanyalah menyelesaikan persoalan pribadi antara kau dengan Cay Kin, apa sangkut pautnya dengan golongan pendekar? Yang terang tidak pantas dia membuat jalan rahasia itu untuk menghadapi kau, kalau diributkan kebenaran berada di pihakmu!"

"Meski demikian, paling tidak dalam persoalan kali ini, kita sudah meminjam tenaga pasukan pemerintah, kalau tersiar di luaran, mungkin bisa menimbulkan omongan iseng yang menusuk kuping!"

"Orang luar tidak akan tahu, dan lagi kalau Cay Kin masuk perangkap, merangkak keluar dari lubang jalan tanah itu, kita bisa menuduhnya sebagai main terobosan di dalam piaukiok tanpa ijin, orang lain tentu tidak akan menyalahkan tindakanmu."

Han Wi-bu manggut-manggut, katanya.

"Kalau dia datang, cepat atau lambat pasti bisa kita ketahui, soalnya, dia datang atau tidak?"

"Sekarang pasukan besar pemerintah sudah menggerebek ke rumah keluarga Cay, kukira dia pasti datang."

Belum habis mereka bicara, tiba-tiba didengarnya derap langkah kaki mendatangi, Han Wi-bu membentak.

"Siapa? Hah... oh!"

Ternyata dua orang yang dibentak sudah mendorong pintu dan melangkah masuk.

Kedua orang ini, satu di antaranya adalah Cay Kin, yang lain adalah Li-ma-cu yang menyamar sebagai Pakkiong Bong.

Sebetulnya Han Wi-bu sudah siap begitu melihat Cay Kin lantas hendak turun tangan, namun mimpi juga ia tidak menduga bahwa Cay Kin muncul bersama komandan Gi-lim-kun, sudah tentu seketika ia berjingkrak kaget dan melenggong.

Ouwyang Kian jauh lebih kaget.

"Masakah Pakkiong Bong tidak percaya lagi kepadaku, kenapa dia harus meluruk datang sendiri? Dilihat gelagatnya, Cay Kin sudah digusur datang kemari, apakah yang telah terjadi?"

Tanpa memberi kesempatan otaknya berpikir lebih lanjut, Pakkiong Bong sudah mendengus keras-keras, terdengar suaranya dingin dan kereng.

'Han-congpiau-thau, maafkan kedatanganku sebagai tamu tidak diundang ini."

Setelah mohon maaf, tiba-tiba Pakkiong Bong putar badan dan menje-ngek dingin kepada Ouwyang Kian.

"Ouwyang Kian, baik ya perbuatanmu!"

Berjingkat Ouwyang Kian, serunya.

"'Pakkiong Tayjin, apa maksudmu ini?"

"Kusuruh kau melakukan suatu tugas rahasia di piaukiok ini, memangnya aku suruh kau menggunakan kedudukan wakil Cong-piauthau, secara diam-diam menyembunyikan buronanku di dalam piaukiok ini?"

"Ini, dengan alasan apa kau bisa mengatakan demikian?"

"Cay Kin sudah mengaku terus terang, kau masih berani mungkir? Lekas katakan, di mana kau sembunyikan Beng Goan-cau?"

Ouwyang Kian menjadi pucat dan mengeluh penasaran katanya.

"Pakkiong Tayjin, jangan kau percaya obrolan Cay Kin, dia memfitnah aku. Kira-kira satu jam yang lalu baru saja aku bertempur dengan Beng Goan-cau di rumahnya, Sebun Soh dan Hian-hong Totiang bisa dijadikan saksi.'"

Pakkiong Bong memaki.

"Kau hanya cari alasan dan hendak mengelabui mata^uping orang."

Maka Cay Kin segera menimbrung bicara.

"Akhirnya, kau kembali seorang diri dan menggusur Beng Goan-cau pergi lewat jalan rahasia bawah tanah lari ke piaukiok ini. Kaulah yang menjadi biang keladinya, aku hanya sebagai alat pelaksana saja. Maaf, karena aku dikompes oleh Pakkiong Tayjin, apa boleh buat aku terpaksa mengaku terus terang."

"Sontoloyo!"' maki Ouwyang Kian gusar.

"Cay Kin, kau, kau, kenapa kau memfitnah orang semena-mena?"

Han Wi-bu berdiri di samping mendengarkan percakapan mereka, sungguh sukar dia merasakan perasaan hatinya.

"Ternyata Ouwyang Kian utusan Pakkiong Bong yang dijadikan agen rahasia di dalam piaukiok. Celaka, celaka, kali ini aku dibuat serba salah, kalau tidak melanggar hukum pemerintah, tentu aku menyalahi pergaulan bebas terhadap para sahabat kangouw."

Sungguh bingung, kaget dan takut, tapi dongkol dan marah pula, dalam keadaan yang fatal ini terpaksa dia harus berlaku jujur dan membela Ouwyang Kian katanya.

"Pakkiong Tayjin, dalam waktu satu jam belakangan, Ouwyang Kian selalu berada di dalam kamarku ini. Belum pernah kulihat siapa itu Beng Goan-cau."

"Setelah dia sembunyikan Beng Goan-cau baru dia menemui kau, dari mana kau bisa tahu?"

Sanggah Cay Kin.

"Pakkiong Tayjin,"

Seru Ouwyang Kian.

"harap ijinkan aku bertanya kepadanya."

"Baik,"

Ujar Pakkiong Bong.

"Cay Kin, kau maju dan jawab setiap pertanyaannya."

Saat mana Ouwyang Kian sudah rada mengendalikan perasaan dan menenangkan hati, baru saja ia hendak membongkar banyak titik kelemahan tuduhan Cay Kin, mendadak Cay Kin sudah mencengkeram dan menelikung lebih dulu.

Kalau dalam keadaan biasa, satu lawan satu terang Cay Kin bukan tandingan Ouwyang Kian.

Tapi karena kehadiran Pakkiong Bong, serta menghadapi fitnahan pula, ia tahu kepandaian sendiri jelas bukan tandingan Pakkiong Bong, apalagi ia mengira'Cay Kin digusur datang oleh Pakkiong Bong, dan kini Pakkiong Bong suruh mereka beradu muka, sudah tentu ia tidak menduga dan berjaga-jaga bahwa Cay Kin bakal turun tangan secara kekerasan.

Karena tidak siaga, dengan gampang dia kena dibekuk oleh Cay Kin.

Hou-jiau-kim-na-jiu jang diyakinkan Cay Kin merupakan kepandaian tunggal dalam bulim, begitu kena dicengkeram, seketika Ouwyang Kian tidak mampu berkutik lagi.

Kejadian sclanjutnja amat cepat, Pakkiong Bong pun melangkah maju dan mengidapkan telapak tangannya ke muka Ouwyang Kian, seketika ia roboh pingsan.

Ternyata meskipun kepandaian silat Li-ma-cu teramat rendah, tapi dalam kalangan pencopet, bahwa dia bisa sejajar dengan ketenaran Kwi-hwe-thio, sudah tentu mempunyai bekal-bekal permainannya yang serba rendah dan rada kotor.

Permainan rendah dan kotornya ini adalah dia paling ahli menggguna-kan obat bius.

Cukup telapak tangannya diulapkan di depan muka Ouwyang Kian di mana ia sudah menggenggam sebuah sapu tangan yang sudah dia basahi dengan obat harum pemulas kesadaran orang.

Begitu Ouwyang Kian jatuh pingsan, perubahan yang tak terduga ini karuan membuat Han Wibu kaget dan melongo.

Sesaat kemudian barulah Han Wi-bu bisa menenangkan hatinya, terdengarlah ia bicara.

"Pakkiong Tayjin, ini, apa sebetulnya yang terjadi?"

Sebagai komandan Gilim-kun yang tinggi kedudukan dan punya wibawa disegani lagi, ternyata orang menggunakan obat bius yang biasanya suka digunakan oleh golongan rendah dan hina, sudah tentu dalam pandangan Han Wi-bu, menjadi suatu kejadian yang luar biasa.

Li-ma-cu bergelak tertawa, katanya.

"Han-congpiauthau, kau sudah salah lihat. Aku bukan Pakkiong Tayjin segala, aku adalah si maling kecil Li-ma-cu."

Nada bicaranya kini benar-benar sudah berubah seperti suara aslinya semula. Kaget dan gusar pula Han Wi-bu dibuatnya, dampratnya.

"Li-ma-cu, kenapa kau hendak mencelakai aku?"

"Aku menolong kau membongkar seorang agen rahasia musuh yang menyelundup di dalam piaukiokmu, masakah perbuatanku ini tiada pahalanya? Biarlah aku menebus kesalahanku ini dengan pahala besarku ini, cukup setimpal bukan. Han-cong-piauthau, harap kau tidak menyalahkan kepadaku lagi. He, he, malah ingin aku perkenalkan beberapa kawan kepada kau!"

Lebih terkejut pula Han Wi-bu mendengar ucapannya terakhir ini, tanyanya.

"Masih ada siapa lagi di pihak kalian?"

Belum habis ia bicara Cay Kin sudah membuka jendela, seorang laki-laki pertengahan umur memelihara jenggot kambing, di kuti laki-laki tiga puluhan tahun bertubuh kekar bermuka kuning kehitam-hitaman rada legam dan yang terakhir adalah pemuda gagah yang berwajah cakap berlompatan masuk ke dalam.

Berkatalah Cay Kin.

"Han-congpiauthau, biar kuperkenalkan beberapa teman ini, dia tentu sudah kau kenal Miao Tiang-hong Miao Tayhiap, saudara ini adalah tamu dari Siau-kim-jwan Beng Goan-cau Beng Tayhiap, sedang anak muda ini adalah Hu-thocu dari Thian-te-hwe, murid kesayangan Kang Hay-thian Kang-tayhiap, Li Kong-he Li-siauhiap."

Ketiga orang ini sama menggetarkan kangouw, merupakan tokoh-tokoh kosen yang punya reputasi besar di kalangan pendekar.

Terutama Li Kong-he, meski usianya paling muda, namun gurunya adalah Kang Hay-thian yang diakui bersama oleh seluruh lapisan umat persilatan sebagai tokoh silat nomor satu di seluruh dunia.

Ketiganya, Han Wi-bu sama tidak berani mengusik mereka.

Diam-diam Han Wi-bu mengeluh dalam batin, namun lahirnya ia tetap bersikap ramah dan berbasa-basi.

"Selamat bertemu, selamat bertemu!"

Beng Goan-cau menjura dan berkata.

"Kami sedang bertamu di rumah keluarga Cay, tak terduga pasukan alap-alap musuh meluruk tiba, terpaksa malam begini kami menyelundup ke piaukiokmu untuk menyingkir sementara. Harap Han-congpiauthau suka memaafkan keteledoran kami ini!"

Segera Cay Kin ikut menjelaskan.

"Jalan rahasia yang dibuat oleh ayah almarhum, selamanya tidak pernah kugunakan, hari ini keadaan memaksa untuk menggunakannya sekali, selanjutnya tidak akan kami gunakan lagi."

"Urusan dalam Tin-wan Piaukiok aku sudah tidak turut campur, kini terjadi persoalan ini, jelas aku tidak akan bisa menetap lagi di Pakkhia. Maka bolehlah Han-heng melegakan hati, dan tidak perlu main curiga kepadaku lagi."

Han Wi-bu menyengir kecut, ujarnya.

"Mana berani aku mencurigai Cay-heng. Cuma piaukiok ini kukira bukan tempatnya untuk menghindari bahaya. Kalau Ouwyang Kian tidak kembali, memangnya Pakkiong Bong tidak akan mengutus orang menggeledah piaukiok ini? Cay-heng, hubunganmu jauh lebih erat pada Tin-wan Piaukiok daripadaku, kuharap kau pun suka memikirkan nasib dan kehidupan dari merk Tin-wan Piaukiok selanjutnya."

Kata Cay Kin.

"Han-heng tidak perlu kuatir, merk emas dari Tin-wan Piaukiok didirikan oleh ayahku almarhum, masakah aku tega melihat Tin-wan Piaukiok disegel oleh pemerintah, sekaligus mematikan mata pencaharian para pegawainya? Sekarang juga kami akan berlalu!"

"Kalau Pakkiong Bong datang kemari dan menanyakan kepadaku, bagaimana aku harus memberi penjelasan?"

Li-ma-cu tertawa lebar, selanya.

"Boleh kau limpahkan seluruh persoalan kepada aku si Pakkiong Bong palsu ini!"

"Bagaimana pula dengan Ouwyang Kian?"

Tanya Han Wi-bu. -"Bajingan ini tidak akan kami ampuni, cuma sekarang masih perlu meminjam tenaganya,"

Demikian Cay Kin menjelaskan.

"Hanheng tidak usah kuatir, bangsat ini tidak akan bisa kembali ke Tin-wan Piaukiok untuk mencelakai kau."

Sebagai seorang kawakan kangouw, mendengar uraian Cay Kin, Han Wi-bu sudah paham maksud kata-katanya itu, artinya Ouwyang Kian hendak digusur keluar dari piaukiok lalu akan dibunuhnya supaya tutup mulut.

Tapi Han Wi-bu masih punya kekuatirannya sendiri, katanya.

"Aku bisa melimpahkan segala kesalahan kepada Li-ma-cu dengan hanya keterangan mulut saja tanpa bukti-bukti nyata, kalau Pakkiong Bong tidak percaya, apa pula yang harus kulakukan?"

"Sebagai komandan Gi-lim-kun palsu ini, aku akan berlenggang dengan langkah kereng keluar dari pintu piaukiokmu,"

Demikian tutur Li-ma-cu. Kata Han Wi-bu.

"Orang-orang piaukiok memang sudah melihat kau, namun mereka belum bisa dijadikan saksi utama. Dan lagi mereka bukan anak buah kepercayaan Pakkiong Bong, meski pengakuan mereka sama, namun Pakkiong Bong masih bisa menuduh kami sebelumnya memang sudah sekongkol."

Li-ma-cu menyengir semakin lebar, ujarnya.

"Saksi utama yang dapat dipercaya oleh Pakkiong Bong sudah sejak tadi datang, masakah kau belum tahu?"

"Di mana? Dan siapakah dia?' tanya Han Wi-bu heran.

"Saksi utama sudah tentu bukan Ouwyang Kian, tapi adalah para perwira pasukan Gi-lim-kun, malah bukan hanya seorang saja. Termasuk pasukan pemerintah paling tidak juga ratusan banyaknya!"

Demikian kata Li-ma-cu. Lagi-lagi Han Wi-bu amat terkejut dibuatnya, serunya menegas.

"Pasukan Gi-lim-kun sudah tiba?"

"Tidak salah, sudah datang sejak tadi,"

Ujar Li-ma-cu.

"Mereka tersebar luas di sekeliling piaukiokmu ini, cuma tidak meluruk masuk saja. Karena kuatir tidak setia dan bekerja tidak sepenuh hati, maka Pakkiong Bong dan Ouwyang Kian sudah memendam pasukannya di luar sana, cukup Ouwyang Kian memberikan tanda rahasia, mereka bakal menerjang bersama."

Kaget dan gusar pula Han Wi-bu, serunya.

"Ouwyang Kian selalu pentang bacot tidak merembet dan menggunakan kekuatan pemerintah, kiranya malah sudah mengatur rencana keji. Hm, jikalau aku bekerja tidak menyenangkan seleranya, mungkin seluruh kerabat piaukiok ini bakal dijaring semua olehnya."

"Hal itu sudah pasti. Tapi sekarang kau tidak perlu kuatir lagi, dengan keluar berlenggang dengan lagak seorang pembesar, aku berani pastikan beberapa ratus pasang mata mereka itu tidak akan dapat melihat titik kelemahan kami, malah secara hormat dan membungkuk-bungkuk mereka akan mendengar perintahku. Bahwa ratusan mata orang-orang itu tidak melihat akan penyamaran kami ini, masakah bisa menyalahkan kalian pula! Dengan demikian, maka kau pun boleh melempar kesalahan ini kepadaku saja!"

Demikian Li-ma-cu menghibur. Han Wi-bu segera menjura. katanya.

"Cay-heng, Li-heng, kali ini aku orang she Han berkat kepercayaan dan permainan kalian ini, seandainya bisa terhindar dari segala kesulitan, aku orang she Han selama hidup akan berterima kasih atas pertolongan kalian."

Bahwa pertikaian bisa hapus, sudah tentu Cay Kin amat senang. Beng Goan-cau lantas menimbrung.

"Basa-basi tidak perlu diteruskan lagi. Han-congpiauthau, terima kasih akan penghargaanmu terhadap kami, gunung tetap menghijau dan air tetap mengalir, kita bertemu lain kesempatan, selamat tinggal!"

Li-ma-cu meneguk sekumur air dingin terus disemprotkan ke muka Ouwyang Kian, pelan-pelan Ouwyang Kian membuka mata, walau sudah siuman namun kesadarannya masih samar-samar, melihat Pakkiong Bong berdiri di depannya dengan mimik muka seperti tertawa tidak tertawa, mendadak ia tersentak sadar dan berteriak.

"Kau, kau bukan..."

"Ya, aku memang bukan Pakkiong Tayjinmu."

Bersama itu, Cay Kin cepat bertindak menotok Hiat-to bisunya. Jengeknya dingin.

"Patuhi segala petunjuk dan keluar bersama kami, biar kuantar kau pulang."

Ketiga jarinya mencengkeram urat nadinya, selintas pandang seperti mereka sedang jalan bergandengan tangan. Mana Ouwyang Kian tahu dan menyadari maksud kata-kata "pulang"

Ucapan Cay Kin adalah mengantar jiwanya ke akhirat, dalam hatinya masih bersyukur bahwa nanti dirinya bisa terhindar dari malapetaka dan selamat pulang rumah.

Ia sangka pula bahwa Cay Kin punya rumah punya keluarga, dengan sebuah usaha besar pula di kota raja, tidak bisa tidak harus berpikir-pikir untuk bertindak terhadap dirinya, karena jiwa terancam di tangan orang terpaksa ia patuh saja mengikut Cay Kin beranjak keluar.

Waktu beranjak dari kamar rahasia itu, mendadak Li-ma-cu ingat sesuatu, katanya berpaling dengan suara lirih.

"Orang yang membocorkan rahasia jalan bawah tanah itu, dengan murid Nyo Bok yang bernama Bun Seng-liong, bukan orang baik-baik, kau harus hati-hati."

Lalu ia ganti suara dan berseru keras.

"Sudah tiada urusan kalian, Han-congpiauthau, kalian pulanglah, tak perlu mengantar lagi!"

Serombongan orang dengan langkah lebar, tegap dan membusung dada keluar dari pintu piaukiok, pasukan Gi-lim-kun yang dipendam di luar, mendadak melihat komandan mereka keluar dari dalam piaukiok, sudah tentu mereka sama terkejut.

Li-ma-cu segera meninggikan suara dan membentak lantang.

"Kalian keluar semua!"

Tampak puluhan bayangan orang sama berlompatan turun dari atap rumah-rumah sekitarnya, ada pula yang keluar dari pengkolan jalan atau tempat-tempat gelap di sekitarnya, semua sama maju dan menjura hormat secara kemiliteran.

Han Wi-bu mengantar para tamunya sampai di ambang pintu, waktu ia angkat kepala melongok keluar, tampak di luar pintu penuh berdesakan kepala manusia, jumlah mereka tidak kurang dari lima ratusan orang.

Keruan Han Wi-bu mencucurkan keringat dingin, pikirnya.

"Sungguh berbahaya, sungguh berbahaya! Kalau Li-ma-cu tidak peroleh akalnya yang bagus ini, malam ini keadaanku betul-betul serba runyam."

Perwira yang memimpin pasukan Gi-lim-kun ini bersifat hati-hati, ia suruh anak buahnya menyulut obor, di bawah cahaya obor dilihatnya Pakkiong Bong dan Ouwyang Kian berjalan di tengah bergandeng tangan meski merasa heran akan munculnya atasannya, namun ia tidak berani menaruh banyak curiga.

Sementara Cay Kin, Beng Goan-cau, Li Kong-he dan Miao Tiang-hong sudah merubah muka masing-masing disangkanya mereka adalah agen-agen rahasia yang ditanam di dalam piaukiok, kalau toh Pakkiong Bong dan Ouwyang Kian tidak palsu, maka terhadap orang-orang yang dibawa keluar oleh beliau, mereka tidak berani bertindak kasar dan main tanya lagi.

Sungguh mimpi juga takkan terpikir olehnya, bahwa yang disangka tulen sebetulnya palsu adanya.

Dugaan Li-ma-cu memang tidak salah, ratusan mata manusia itu, ternyata tiada seorang pun yang melihat kepalsuan dari samarannya.

Li-ma-cu segera memberi perintah.

"Segera siapkan sebuah kereta untukku."

Perwira itu menjura sambil mengiakan lalu tanyanya.

"Ciong-ling Tayjin, kau hendak ke markas atau mau keluar kota?"

"Aku hendak keluar kota menyelesaikan urusan dinas, kalian tidak perlu ikut. Piaukiok ini sudah kuperiksa. Bawa pasukan kembali ke markas!"

Demikian Li-ma-cu memberi perintah.

Perwira itu mengiakan lalu menyiapkan pasukannya tanpa berani banyak tanya lagi.

Sebentar saja dua utusan Gi-lim-kun sudah berhasil membawa sebuah kereta yang ditarik empat ekor kuda pilihan.

Li-ma-cu beramai segera naik ke dalam kereta dan perintahkan kusir kereta segera membedal ke pintu barat.

Kedua kusir kereta adalah dua perwira kelas rendah dari Gi-lim-kun.

Waktu sampai di pintu barat, hari masih terlalu pagi, kira-kira satu jam lagi baru terang tanah.

Tapi tentara piket yang jaga pintu kota melihat kereta yang dikendalikan perwira rendah Gi-limkun, setelah ditanyakan baru diketahui bahwa di dalam kereta duduk komandan Gi-lim-kun, meski mereka tidak pernah melihat Pakkiong Bong, namun kedua kusir itu mengenakan pakaian dinas lengkap dengan pangkat mereka, salah seorang dikenal oleh penjaga pintu kota itu, sudah tentu mereka tidak berani ayal dan segera membuka pintu membiarkan kereta itu membeda!

kabur keluar kota.

Begitu berada di luar kota, Li-ma-cu perintahkan kusir melarikan kereta secepat-cepat-nya.

Kira-kira puluhan li kemudian, mereka sudah berada di jalan pegunungan sepi, Li-ma-cu lantas memberi lirikan mata kepada Beng Goan-cau.

Menggunakan Jiong-jiu-hoat Beng Goan-cau menotok hiat-to mematikan di badan Ouwyang Kian dengan keras.

Ouwyang Kian hanya mendengus sekali dan melayanglah jiwanya.

Lekas Li-ma-cu berteriak.

"Berhenti! Hentikan kereta!"

Kedua kusir kereta segera mengekang kendali menghentikan kereta, katanya.

"Ciong-ling Tayjin ada perintah apa?"

Kata Li-ma-cu.

"Ouwyang Kian waktu berada di rumah Cay Kin sudah terluka, sekarang jatuh pingsan. Kalian bawa dia pulang kembali ke markas!"

Kedua perwira rendah itu mengiakan bersama dan percaya saja tanpa curiga sedikit pun. Li-ma-cu berkata lebih lanjut.

"Kalian cari saja kuda lain untuk menarik kereta ini, keempat ekor kuda ini akan kami pakai. Ouwyang Kian hanya pingsan saja, mungkin tidak begitu gawat."

Sudah tentu kedua perwira itu mengiakan berulang-ulang, mana mereka berani membangkang, adalah celaka kalau sampai mereka menghambat pekerjaan atasannya.

Beng Goan-cau sama Li Kong-he menunggang satu ekor kuda, sementara Li-ma-cu, Miao Tiang-hong dan Cay Kin masing-masing menunggang tiga ekor kuda yang lain, berlima empat tunggangan, dengan kencang mereka bedal dan saling kejar dijalan pegunungan ke arah barat.

Setelah cukup jauh barulah Li-ma-cu bergelak tertawa, serunya.

"Hadiah besar yang kita berikan kepada Pakkiong Bong itu, cukup membuat dia mencak-mencak gusar seperti kebakaran jenggot!"

Berkata Beng Goan-cau.

"Sekarang belum bisa dikatakan kita sudah lolos dari bahaya, setelah berhasil menolong Kwi-hwe-thio dan meninggalkan tempat ini barulah boleh dikatakan aman."

Ternyata mereka keluar dari pintu barat, rencana semula memang langsung pergi ke Say-san (gunung barat) untuk menolong Kwi-hwe-thio.

Tak lama kemudian cahaya memutih sudah mulai muncul di ufuk timur, angin pagi yang menggerakkan dedaunan pohon seperti menyambut kedatangan mereka.

Burung-burung sama berkicau keluar dari sarangnya mencari makan.

Kejap lain mereka sudah tiba di Say-san.

Semalam suntuk mereka bertempur dan melarikan diri dari kepungan hujan darah dan bau amis, setelah tiba di tempat yang nyaman dan segar ini, seketika terbangkit semangat dan hilanglah rasa lelahnya.

Waktu mereka angkat kepala, jauh di puncak sana tampak ujung bangunan dari sebuah kuil kuno yang berdiri megah di atas sana.

Segera Cay Kin berkata.

"Itulah Hu-hud-si yang amat terkenal, sayang setelah berhasil menolong Kwi-hwe-thio kita harus segera meninggalkan tempat ini, tiada kesempatan tamasya di puncak sana."

"Lebih baik tidak usah tamasya,"

Demikian timbrung Li-ma-cu.

"Bukan saja tidak enak melongok ke Hu-hud-si itu, malah kita harus putar jalan supaya tidak lewat dari kuil itu."

"Memangnya kenapa?"

Tanya Beng Goan-cau tak mengerti.

"Paderi-paderi lama penghuni kuil itu baru-baru ini diusir semua, dan kini dihuni sekawanan Lama. Kawanan Lama itu, menurut apa yang kuketahui, mereka ada sering berhubungan dengan Pakkiong Bong atau Sat Hok-ting."

"Kawanan Lama yang terima diperbudak pemerintah kerajaan yang menduduki kuil suci itu, sungguh jahat dan amat membencikan!"

Demikian ujar Beng Goan-cau.

"Lalu di mana tempat tinggal Kwi-hwe-thio?"

Tanya Cay Kin.

"Di Ing-tho-gou sana,"

Sahut Li-ma-cu.

"O, bukankah letaknya di kaki gunung di belakang Hu-hud-si itu? Jaraknya kira-kira tinggal tiga li bukan?"

Cay Kin menegas.

Di bawah petunjuk Li-ma-cu yang membuka jalan mereka beriring putar ke arah utara melewati Hu-hud-si terus menerobos masuk ke dalam sebuah selokan datar jang dijepit dua lamping gunung curam, sebelah luar lebar di dalamnya sempit, inilah yang dinamakan Tui-kok (lembah mundur).

Ujung selatan dari lembah mundur inilah yang dinamakan Ing-tho-gou (selokan pohon tho).

Memang untuk memasuki selokan ini, mereka dihadang oleh puluhan pucuk pohon buah tho yang rimbun dan subur.

"Jangan sekian banyak orang ini kita masuk bersama, mungkin bisa mengejutkan dan membuat mereka curiga,"

Demikian usul Li-ma-cu. Beng Goan-cau manggut-mang-gut, katanya.

"Benar, kedua cakar alap-alap itu melihat kau membawa sekian banyak orang, tentu menaruh curiga, mungkin sebelum kita masuk, mereka sudah meringkus Kwi-hwe-thio dijadikan sandera."

"Seorang diri apakah kau cukup mampu menghadapi mereka?"

Tanya Cay Kin.

"Seorang diri aku tidak akan mampu menghadapi mereka, tapi aku bisa membawa seorang yang sudah mereka kenal betul, dalam waktu singkat, kukira belum sampai bisa membuat mereka curiga,"

Demikian kata Li-ma-cu.

"Dari mana kau bisa menggusur seorang yarg mereka kenal?"

Tanya Li Kong-he. Li-ma-cu tertawa, ujarnya.

"Aku toh bisa merubah seorang di antara kalian."

Beng Goan-cau yang secara langsung pernah berkenalan akan keahliannya itu segera memberikan suaranya.

"Bagus, biar aku ikut kau masuk."

"Baiklah, dengan Beng Tayhiap sebagai pengiringku, sudah lebih dari cukup untuk menghadapi mereka."

Segera ia mengelupas malam di mukanya lalu cuci muka di sungai kecil, dari wajah palsu Pakkiong Bong kembali ke muka Li-ma-cu sendiri yang asli.

Lalu menggunakan malam yang dikelupasnya itu ia mulai merias muka Beng Goan-cau, kejap lain semua orang sama tertawa geli melihat bentuk wajah Beng Goan-cau yang berganti rupa itu.

Kiranya Beng Goan-cau sekarang berubah menjadi salah satu perwira rendah salah satu dari kusir kereta tadi.

Cay Kin, Li Kong-he dan Miao Tiang-hong bersembunyi di Ing-tho-gou menunggu kabar baik, sementara Li-ma-cu dan Beng Goan-cau yang menyamar itu langsung menuju ke rumah pemburu di kaki gunung.

Dua orang perwira yang menyamar jadi pemburu dan menjaga Kwi-hwe-thio itu ternyata memang tidak curiga waktu melihat Li-ma-cu datang membawa seorang teman sejawatnya.

Malah tersipu-sipu mereka membuka pintu.

Salah seorang bertanya.

"Bagaimana tugasmu semalam, apa sudah sukses?"

"Berkat doa dan puji syukur kalian, tugasku selesai dengan baik!"

Seorang yang lain bertepuk kegirangan, serunya tertawa.

"Jadi sekarang kami boleh bicara blak-blakan kepadanya?"

Dalam pada itu Kwi-hwe-thio sedang rebah di atas ranjang batu, hatinya sedang kesal dan risau, entah persoalan apa yang sedang mereka bicarakan, maka terdengar Li-ma-cu berkata.

"Benar, memang perlu segera dibicarakan secara blak-blakan."

Belum habis ia bicara, Beng Goan-cau sudah turun tangan dengan kecepatan luar biasa, satu tangan satu, ia cengkeram kedua pemburu palsu itu dan terus -menotok Hiat-to pelemasnya.

Kontan kedua orang itu terjatuh lemas dan berlutut ditanah.

Keruan Kwi-hwe-thio berjingkrak kaget, serunya.

"Ma-cu-ko, apakah yang terjadi?"

"Siau-thio,"

Teriak salah satu pemburu palsu itu.

"berani kau permainkan kami begini rupa!"

Perwira muda yang disamar Beng Goan-cau usianya memang lebih muda dan biasanya mereka memanggilnya Siau-thio. Beng Goan-cau segera mengusap mukanya dan membentak ke-reng.

"Kalian lihatlah biar jelas, siapa aku sebenarnya?"-Kedua orang pemburu palsu seketika melongo heran, sesaat kemudian baru bisa bersuara.

"Kau, siapa kau?"

Kwi-hwe-thio sendiri hampir tidak percaya akan pandangan matanya, sesaat ia melenggong, akhirnya berteriak kegirangan.

"Beng Tayhiap, kiranya kau!"

Mendengar Kwi-hwe-thio menyebut Beng Tayhiap, barulah mereka tahu siapa laki-laki di hadapan mereka ini, keruan kaget dan ketakutan seakan-akan arwah sudah terbang keluar badan, seorang berteriak.

"Li-ma-cu, kau, kau, kau memberontak ya!"-Seorang yang lain insyaf, memaki pun tak berguna lagi, lekas ia mohon ampun dan minta dikasihani.

"Ma-cu-ko, pandanglah kami sudah merawat temanmu baik-baik, harap kau suka ringan tangan mengampuni jiwa kami."

"Ya, memang aku hendak pinjam mulut kalian supaya menyampaikan kepada Pakkiong Bong, katakan bahwa aku sudah berontak! Hm, menguntungkan kalian saja, biar kupersilakan kalian tidur sepanjang hari ini."

Sembari bicara ia ulapkan sapu tangannya yang dibasahi obat bius di depan hidung mereka, kedua orang seketika roboh tak sadarkan diri. Kaget dan curiga lagi Kwi-hwe-thio dibuatnya, tanyanya.

"Siapakah kedua orang ini?"

"Mereka adalah anak buah Pakkiong Bong,"

Sahut Li-ma-cu. Kwi-hwe-thio berjingkat pula, serunya.

"Kenapa kau pernah mengatakan mereka adalah sahabat baikmu?"

Merah malu wajah Li-ma-cu, katanya menyesal.

"Thio-toako, siaute, aku, aku memang berbuat salah kepada kau..."

Beng Goan-cau segera menukas kata-katanya.

"Omongan itu kelak dibicarakan lagi. Lo-thio, bagaimana luka-lukamu? Mari biar kuperik-Sebagai orang kangouw jang luas pengalaman, sedikit banyak Kwi-hwe-thio sudah maklum dari rentetan kejadian yang ia saksikan sendiri, mendengar kata-kata Beng Goan-cau lagi, maka ia lebih yakin dan pahamlah, katanya.

"Ma-cu-ko, jiwaku ini adalah kau yang menolong, aku hanya tahu kau adalah tuan penolongku. Urusan kecil lainnya yang tidak begitu penting, tak usah kau singgung lagi!"

Waktu Kwi-hwe-thio tertawan, ia kena dilukai urat nadinya menggunakan Hun-kin-coh-kut-hoat oleh salah seorang jago Gi-lim-kun, untuk mengambil hati dan supaya Kwi-hwe-thio percaya, Lima-cu dan kedua pemburu samaran itu memang sudah membubuhi obat yang tulen, cuma kadar khasiatnya dikurangi, sehingga sekian lama luka-lukanya belum sembuh seluruhnya.

Setelah memeriksa keadaan luka-lukanya, Beng Goan-cau berkata.

"Masih untung hanya luka urat nadinya tidak sampai mematahkan tulang. Aku punya obat Ko-giok-hou pemberian Siau Ciwan Toako, kebetulan cocok untuk mengobati luka-lukamu ini, sebentar saja tentu luka-lukamu bisa sembuh."

Sebelumnya Li-ma-cu berdua sudah berjanji, setelah mereka masuk ke rumah sebentar segera Cay Kin beramai akan segera menyusul datang.-Tapi saat mana mereka sudah menunggu sesulutan dupa belum kelihatan mereka muncul, keruan hati mereka rada kuatir, katanya.

"Bengya, obatilah luka-luka Thio-toako, biar aku keluar menengok mereka."

Baru saja Li-ma-cu sampai di luar pintu, tiba-tiba didengarnya sebuah jeritan keras dari arah tempat sembunyinya Cay Kin bertiga.

Cepat Li-ma-cu memburu ke sana dan dilihatnya dua Lama kecil rebah di atas tanah.

Ternyata, kedua Lama kecil ini baru saja keluar dari Hu-hud-si, mereka bertugas memata-matai apakah ada orang-orang asing yang memasuki Ing-tho-gou, karena selama beberapa hari ini mereka tidak menemukan sesuatu kejadian apa-apa, setelah tiba di Ing-tho-gou mereka terlalu asyik bermain dan secara kebetulan jejak Cay Kin beramai ketahuan oleh mereka.

Segera mereka maju tanya ini tanya itu, akhirnya kena totok oleh Li Kong-he dan Cay Kin.

Tapi satu, di antara Lama kecil itu ada meyakinkan ilmu menyungsang balik jalan darah, justru latihannya masih kepalang tanggung, maka begitu begitu tertotok oleh Li Kong-he, mulutnya masih menjerit melengking baru jatuh semaput.

Kata Li Kong-he.

"Sebetulnya sejak tadi kami sudah akan masuk ke sana, karena kedua Lama cilik ini bermain di sini, sehingga membuat kami tertahan beberapa kejap lamanya, akhirnya toh terpaksa harus sedikit melukai mereka. Kwi-hwe-thio tidak apa-apa?"

"Beng Tayhiap sedang memberi pengobatan, mungkin tidak perlu dikuatirkan. Cuma para Lama dari Hu-hud-si mungkin sebentar bakal meluruk datang karena mendengar jeritan tadi, hal itu harus kita jaga,"

Demikian kata Li-ma-cu.

Segera Li Kong-he bertiga mengikuti di belakang Li-ma-cu memasuki gubuk reyot itu.

Tampak Kwi-hwe-thio sedang merambat belajar jalan, lalu menggerakkan kaki tangan melemaskan otot dan tulang.

"Bagaimana, bisa bergerak belum?"

Tanya Cay Kin.

"Obat ini memang mujarab bagai obat dewa,"

Demikian ujar Kwi-hwe-thio.

"Cuma untuk memulihkan ginkangku semula, mungkin memerlukan beberapa hari lagi."

"Sudah tentu, meski Ko-giok-hou merupakan obat mujarab nomor satu di seluruh dunia, betapapun bukan obat dewata,"

Demikian timbrung Beng Goan-cau tertawa.

"Bcng-ya,"

Kata Kwi-hwe-thio tertawa.

"Coba pinjam golokmu sebentar!"

"Untuk apa?"

"Biar kupinjam untuk membuat tongkat, sebentar lagi mungkin aku sudah bisa ikut kalian meninggalkan tempat ini."

"Biarlah aku saja yang tolong membuatkan,"

Demikian kata Beng Goan-cau, lalu ia menemukan sebatang gagang kayu dari cangkul yang tidak terpakai lagi, serta dipapasnya licin menjadi sebatang tongkat. Kata Cay Kin.

"Para Lama dari Hu-hud-si mungkin sudah tahu kedatangan kita, marilah lekas pergi!"

Belum lenyap suaranya, dari luar terdengar sebuah suara serak seperti gema lonceng membentak.

"Kalian tidak akan bisa lolos lagi!" -Semula suaranya seperti masih berada di mulut Ing-tho-gau sebelah sana, dalam sekejap saja, derap langkah kakinya sudah terdengar jelas.

"Yang datang semuanya tujuh orang,"

Kata Cay Kin.

"Benar,"

Kata Beng Goan-cau.

"Mari kita labrak mereka! Li-ma-cu tinggal di dalam rumah menjaga Kwi-hwe-thio."

"Tidak perlulah, dengan tongkat ini aku sudah bisa jalan,"

Ujar Kwi-hwe-thio.

Sebetulnya pihak sini ada enam orang, dalam jumlah orang tidak dirugikan, sayang luka-luka Kwi-hwe-thio belum sembuh seluruhnya, kepandaian Li-ma-cu terlalu rendah lagi, kuatir para Lama Huhud-si bakal meluruk datang sebanyak-banyaknya, tidak bisa tidak mereka harus memikirkan keselamatan mereka, maka Beng Goan-cau berkata.

"Baiklah, kita terjang keluar, kalian harus menyingkir lebih dulu!"

Di saat mereka bicara inilah kawanan Lama itu pun sudah tiba di depan pintu, suara keras seperti gema lonceng itu membentak pula.

"Kurcaci-kurcaci kecil lekaslah keluar dan menyerah, memangnya harus diringkus keluar?"

Beng Goan-cau gusar, dampratnya.

"Kepala gundul rasakan golokku!"

Ia menerjang keluar lebih dulu, sinar goloknya berkelebat laksana kilat, dengan jurus Ya-can-pat-hong ia kembangkan goloknya berputar keempat penjuru, maka terdengarlah suara kerontangan yang riuh rendah, dua batang tongkat padri yang bergelang sembilan kena disampuknya terpental ke samping.

Adalah seorang Lama gede yang berdiri tegak di tengah bermuka merah diam-diam saja tidak ikut turun tangan, maka kedua Lama yang menyerang dan kena dipukul mundur itu segera mundur ke samping si Lama gede itu, katanya.

"Suhu, orang inilah Beng Goan-cau. Kemarin Pakkiong ciong-ling pernah memperlihatkan gambarnya kepada kami."

Lama gede itu terloroh katanya.

"Beng Goan-cau, sampai di mana sih kehebatan golok cepatmu, tapi Hud-ya berada di sini, meski kepandaianmu sepuluh lipat lebih tinggi, jangan harap bisa terbang meloloskan diri. Kalian berenam satu pun tidak akan bisa lolos, kalau tahu diri lekas menyerah saja!"

Suaranya keras dan berkumandang seperti gembreng pecah, jadi Lama gede inilah yang tadi membentak dari kejauhan.

Kedua Thay-yang-hiat di kedua pelipis si Lama gede ini menonjol keluar, terang kalau lwekangnya sudah teramat tinggi.

Tergerak hati Miao Tiang-hong, katanya.

"Apakah kau Po-siang Hoatsu?"

Po-siang Hoatsu mendengus, katanya.

"Kau keparat ini kiranya tahu akan gelaran Hud-ya."

Sikapnya terlalu sombong dan angkuh. Miao Tiang-hong tertawa, katanya.

"Kau memang terkenal karena bermulut besar, sudah lama kukenal martabatmu. Kabarnya kau tidak kuasa menancapkan kakimu di kuil Putala karena ilmu silatmu tidak menang dibanding sutemu sendiri, benar tidak ucapanku?"

Ternyata kuil Putala di Tibet merupakan tanah suci pusat kaum Lama, merupakan bangunan kuil terbesar dari segala biara kuil atau kelenteng pemuja Budha, demikian pula kedudukannya paling tinggi.

Po-siang dan sutenya Liang-siok Hoatsu sebetulnya adalah Huhoat (pelindung) dari kuil Putala yang angker itu.

Bagi para Lama, yang setimpal menjabat Huhoat, di samping tingkat kedudukannya dalam agama tinggi dan suci serta bijaksana, ilmu silatnya pun harus hebat dan tinggi, kedudukan Huhoat tertua satu tingkat lebih rendah dari ketua kuil yang dinamakan Kam-si, atau boleh juga dinamakan penguasa kuil.

Tiga tahun yang lalu Kam-si yang sudah tua meninggal dunia, menurut tingkat kedudukan sebetulnya Po-siang menjadi calon penggantinya dan menjadi ahli waris tunggal.

Demikian pula Po-siang Hoatsu beranggapan bahwa ilmu silatnya jauh lebih unggul dari para Huhoat lainnya, pastilah tiada orang lain yang berani merebut kedudukannnya.

Maka di waktu Kam-si tua masih hidup dan penyakitnya bertambah berat, dia sudah mentang-mentang anggap dirinya sebagai Kam-si yang akan datang.

Sudah tentu, karena sikap kasar dan sombongnya ini menimbulkan kebencian para Lama penghuni Putala, biasanya Kam-si dipilih menurut suara umum dan dinobatkan sebagai pejabat resmi secara terbuka.

Maka di waktu pemilihan Kamsi tiba, sebagian besar hadirin mengemukakan pendapat masing-masing, banyak di antara mereka berkata di hadapan panitia; menurut kedudukan dan tingkatan walau Po-siang sebagai suheng, tapi kalau dinilai dari kepandaian ilmu silat dan pribadi serta martabat atau tindak-tanduknya, jelas tidak lebih unggul dari sutenya, maka mereka sependapat untuk menjunjung Liong-siok Hoatsu sebagai Kam-si, supaya pemimpin pemilihan Kam-si (panitya) meluluskan suara bulat dari hadirin.

Sudah tentu Po-siang Hoatsu teramat murka mendengar penghinaan langsung terhadap gengsi dan perbawanya ini, ia tuduh para hadirin banyak yang sirik dan jelus kepada dirinya, baik buruk perbuatan seseorang, dia tidak suka meributkan dengan orang banyak, cuma ia minta supaya panitia memberi keadilan kepadanya, soal ilmu silat dikatakan tidak unggul dari sutenya, sekali-kali ia tidak mau terima penghinaan ini.

Memang ketua panitia sebal dan keki juga melihat tingkah lakunya yang kasar, ingin dia menghajar adat kepada orang, maka ia menjawab, menurut aturan tradisi di dalam kuil, kedudukan Kam-si harus dijabat oleh salah seorang murid dari mereka yang ilmu silatnya paling tinggi.

Maka sekarang tidak perlu mempersoalkan sepak terjang atau tindak-tanduk dan martabat segala, pendek kata mau tidak kau bertanding melawan sute?

Po-siang tidak menyangka ketua panitia bakal berkata demikian, sementara sutenya segera mengiakan atas perintah ketua panitia untuk bertanding dengan suhengnya.

Dalam gusarnya Posiang terima tantangan sutenya dan bertanding seru, sayang karena terlalu terburu nafsu dan diliputi kemarahan lagi, dia kena dikalahkan satu jurus.

Saking marah, hari itu juga segera ia lari dan meninggalkan kuil Putala.

Begitulah dalam pelariannya ia tiba di Pakkhia, akhirnya atas bantuan Pakkiong Bong secara kekerasan ia menduduki Hu-hud-si.

Walau Hu-hud-si merupakan biara kuno yang amat terkenal, tapi bila dibanding Putala, terpaut teramat jauh sekali.

Dan lagi Hu-hud-si sebenarnya rumah berhala yang memuja Budha, tidak sealiran dengan agama Budha yang dipeluk para Lama.

Borok yang memalukan ini merupakan pantangan bagi Po-siang Hoatsu bila ada orang berani menyinggungnya, kini di hadapan sekian banyak orang Miao Tiang-hong mengorek boroknya itu, keruan membuat hatinya terbakar menggelegar seperti gunung berapi yang hampir meledak.

Bentaknya.

"Berani kau memandang rendah Hud-ya, biar kau tahu kelihayan Hud-ya!"

"Baik sekali,"

Ujar Miao Tiang-hong tertawa.

"Memang aku ingin menjajal kepandaian Huhoat besar dari Putala sampai di mana tingginya. Beng-heng, silakan kau berangkat lebih dulu!"

Belum habis ia bicara, tiba-tiba dalam cuaca terang benderang ini tiba-tiba berkembang segumpal mega merah langsung menungkrup ke atas kepalanya.

Ternyata Po-siang Hoatsu menanggalkan kasa merah dan digunakan sebagai senjata menubruk ke arah dirinya.

Miao Tiang-hong kerahkan Thay-ceng-khi-khang, kedua telapak tangannya menyongsong ke depan, terdengarlah suara "Bang, bang, bang!"

Seperti tambur ditabuh, suaranya keras memekakkan telinga.

Kasa merah Po-siang Hoatsu itu seperti layar perahu yang terhembus angin kencang, mengandung daya tenaga memantul, maka pukulan Miao Tiang-hong itu seperti memukul tambur saja.

Keruan bercekat hatinya, pikirnya.

"Tidak malu kurcaci ini dianggap tokoh ketiga dari Putala, tidaklah heran kalau dia terlalu mengagulkan dirinya, lwekangnya memang hebat!"

Sebaliknya kejut Po-siang Hoatsu pun bukan kepalang, meski telapak tangan Miao Tiang-hong tidak sampai mengenai badannya, terpaut selapis kasanya jang me-lembung besar itu, toh masih membuat dadanya tergetar kesakitan, angin pukulan sebagian merembes masuk melalui celahcelah lubang dari kasanya, sehingga Po-siang Hoatsu sekaligus merasakan seperti dihembus angin musim semi yang nyaman sepoi-sepoi, tanpa sadar ia menguap dan merasa mengantuk, sulit membangkitkan semangatnya.

Po-siang tersentak sadar dan menggigit lidah membangkitkan semangat, lekas ia kerahkan lwekang murni ajaran Mi-ciong, kasa di tangannya ia tarikan sekencang roda kereta yang berlari kencang, seluruh badannya atas bawah terlindung ketat dan rapat, seumpama hujan lebat pun tidak akan.

membasahi badannya, bentaknya.

"Siapa kau?"

Miao Tiang-hong menyahut tawar.

"Aku orang she Miao hanyalah kaum keroco, tokoh-tokoh silat dari dunia persilatan di Tionggoan ini yang mampu mengalahkan aku tidak terhitung banyaknya! Tidak berani aku mengatakan bertanding dengan Hoatsu, cuma Taysu harus kenal betapa tinggi ajaran-ajaran ilmu silat dari Tionggoan!"

Kata-katanya ini diucapkan secara wajar saja, bahwasanya secara langsung ia menyindir akan pengetahuan dan pengalaman Po-siang Hoatsu yang cupat dan cetek seperti katak di dalam sumur.

Kejut dan gusar pula Po-siang Hoatsu, bentaknya.

"Kau she Miao, jadi kau inilah yang bernama Miao Tiang-hong?"

Dari Pakkiong Bong ia sudah tahu siapa Miao Tiang-hong adanya karena orang pernah mengalahkan sutenya, yaitu Sebun Soh. Miao Tiang-hong terbahak-bahak, katanya.

"Benar, Miao Tiang-hong memang aku yang rendah. Bahwa Taysu tahu nama rendahku, sungguh merupakan penghargaan dan menggirangkan hatiku!"

Po-siang Hoatsu segera membentak ke belakang.

"Bentuk Chit-sat-tin!"-Kasanya dia putar dan sendai, tenaga pukulan Miao Tiang-hong dipukul balik, namun demikian tak urung badannya tergeliat dan mundur selangkah. Tatkala itu Beng Goan-cau, Cay Kin dan lain-lain sudah saling hantam dengan para Lama lainnya. Golok cepat Beng Goan-cau bagai kilat, sigap sekali ia membacok dan merangsak kepada kedua Lama yang membokongnya tadi, semula ia sangka sekali terjang pasti bisa membobol kepungan musuh, tak terduga, tiba-tiba kedua Lama itu mendadak berpencar ke kedua samping.

"Trang!"

Tahu-tahu sebuah tongkat baja Lama yang lain sudah menyelonong masuk dari tengahtengah, sementara kedua Lama itu serempak merangsak balik dari dua jurusan; kerja sama mereka cukup serasi dan sedikit pun tidak kelihatan titik kelemahannya.

Permainan golok cepat Beng Goan-cau mau tidak mau teratasi oleh mereka.

Sebagai ahli silat, begitu tahu gelagat jelek tidak menguntungkan, lantas Beng Goan-cau insyaf, tidak mungkin menggunakan kekerasan, apa boleh buat, terpaksa ia mundur beberapa langkah.

Ternyata Chit-sat-tin ini merupakan barisan tunggal dari ajaran Mi-ciong di Tibet, inti ajarannya menggunakan rahasia teori perlawanan dari Ngo-hing yang dikombinasikan dan dikembang luaskan dengan ajaran Mi-ciong sehingga terciptalah barisan ini.

Ketujuh orang berbaris memanjang seperti seekor naga, tiada lubang kelemahan yang dapat ditembus.

Kerja sama dan ketrampilan dari masing-masing orang adalah yang paling diutamakan, dengan tujuh orang mereka dapat mengurung empat belas tokoh silat yang berkepandaian setingkat dengan mereka.

Dengan gabungan tenaga Miao dan Beng berdua, kira-kira masih kuasa menandingi ketujuh Lama ini, namun begitu lawan membentuk Chit-sat-tin, sudah tentu sulit mereka menerjang keluar.

Tapi suatu kejadian yang justru di luar dugaan dan sulit dipercaya oleh pikiran sehat, bahwa Miao Tiang-hong dan Beng Goan-cau yang berkepandaian paling tinggi tidak mampu menerjang keluar, adalah Kwi-hwe-thio dan Li-ma-cu yang berkepandaian rendah, malah berhasil melarikan diri tanpa kurang suatu apa.

Kiranya Kwi-hwe-thio mengandal ilmu ginkangnya yang luar biasa, soalnya dia dapat melihat gelagat dan bertindak tepat pada waktunya, ia berhasil lolos keluar di saat Chit-sat-tin hendak melingkar dan belum sempat menjadi bundaran.

Sebelum Chit-sat-tin merangkap bundar, dua pentungan padri terjulur berpadu dari kanan kiri, merintangi di depan Kwi-hwe-thio, Kwi-hwe-thio terloroh-loroh, sedikit menutul tongkatnya.

"Tring", Lama di sebelah kiri menggunakan jurus Ki-hwe-liau-thian untung tidak sampai mengenai Kwi-hwe-thio, malah kebetulan tongkat Kwi-hwe-thio berhasil menutul ujung tongkat lawan, meminjam tenaga tolakan yang besar ini, Kwi-hwe-thio kembangkan ginkangnya, badannya meluncur terbang bagai anak panah yang terlepas dari busurnya, ia lolos dengan melompat tinggi dari atas kepala kedua Lama. Tampak tanpa kaki menginjak tanah, bagai capung menutul di permukaan air, seperti burung menukik masuk ke dalam hutan, dalam sekejap saja Kwi-hwe-thio sudah menghilang di dalam hutan lebar sana. Keruan semua orang melongo dan terbelalak melihat kehebatan ginkang Kwi-hwe-thio yang mampu lari hanya menggunakan tutulan tongkatnya di tanah, pikir mereka.

"Memang tidak malu Kwi-hwe-thio dijuluki maling sakti nomor satu di seluruh dunia, betapa tinggi ginkangnya itu, mungkin tiada orang yang mampu menandinginya. Seumpama dia tidak menjadi maling, paling tidak ia bisa menempati suatu kedudukan terhormat juga di kalangan persilatan."

Terlebih menyesal adalah Li-ma-cu, pikirnya.

"Sungguh menggelikan, semalam aku berani menyaru dia, sungguh tidak tahu diri. Tak heran kepalsuanku segera dapat diketahui oleh Beng Goan-cau."

Tapi meski ginkang Li-ma-cu jauh bukan tandingan Kwi-hwe-thio, namun dia pun dapat mengikuti jejak Kwi-hwe-thio lolos dari kepungan Chit-sat-tin.

Adalah dia menggunakan keahliannya yang khusus dan rada sesat itu untuk meloloskan diri.

Di saat Kwi-hwe-thio melompat terbang lewat di atas kepala kedua Lama, waktu kedua Lama me-lengak kaget itulah, tergerak hati Li-ma-cu, segera ia pun bertindak dengan cepat.

Walau kedua Lama ini tidak mampu merintangi Kwi-hwe-thio, betapapun mereka bukan kaum lemah, sekilas pandang lantas mereka tahu bahwa ginkang Li-ma-cu jauh terbatas, melihat orang juga hendak menerjang keluar dari posisi yang dijaganya, keruan mereka gusar, dampratnya.

"Kau bangsat kecil ini juga hendak lari?"

Tongkat masing-masing melintang sementara tangan kiri mereka terjulur hendak menangkap dan mencengkeram kepada Li-ma-cu. Li-ma-cu tertawa, ujarnya.

"Kepada hwesio gede seperti kalian ini, biarlah aku memberi hadiah saja."

"Maknya, memangnya kami suka terima sogokanmu?"

Damprat kedua Lama itu.

Belum lagi mulut mereka terkatup, mendadak bau harum merangsang hidung, seketika kepala terasa pusing dan mata berkunang-kunang.

Kejadian selanjutnya terlalu cepat untuk dituturkan dengan katakata, tahu-tahu Li-ma-cu sudah menerobos keluar dari bawah tongkat mereka.

Kiranya telapak tangan Li-ma-cu sudah dibasahi obat bius.

Kalau dalam keadaan biasa, kedua Lama ini terang tidak segampang itu kena dikibuli olehnya, tapi saat itu kebetulan mereka sedang tercengang dan terbelalak, maka usaha Li-ma-cu yang menerjang keluar dengan menempuh bahaya ini, di luar dugaan berhasil dengan begitu gampang.

Kedua Lama ini punya latihan lwekang yang cukup ampuh, setelah hati tenang dan hawa murni disalurkan, sekejap saja khasiat obat bius itu sudah tidak membawa akibat fatal bagi mereka.

Tapi, meski hanya sekejap, toh Li-ma-cu sudah lari jauh.

Lekas Po-siang Hoatsu membentak.

"Jangan hiraukan maling-maling kecil itu, lekas sempurnakan Chit-sat-tin! Lebih penting kita hadapi keempat buronan ini, jangan kasih mereka meloloskan diri."

Kedua Lama ini sadar dan menghentikan langkah.

Cepat sekali Chit-sat-tin sudah terbentuk dalam formasi membundar.

Miao Tiang-hong belum tahu akan kelihayan dari Chit-sat-tin ini, katanya tertawa dingin.

"Ingin aku lihat kawanan kepala gundul macam kalian ini mampu bermain apa?"

"Baik, biar kau rasakan kelihayan dari Chit-sat-tin,"

Jengek Po-siang Hoatsu, begitu kasa dikembangkan, ia menyerang dengan kasa terkembang menungkurup ke arah Miao Tiang-hong.

Tadi Miao Tiang-hong sudah melabraknya sampai puluhan jurus, kekuatan kedua pihak sama setanding, walau Miao Tiang-hong tidak kuasa mengalahkan lawan, sedikitnya lebih unggul seurat.

Kini melihat orang tidak melancarkan ilmu silatnya yang aneh-aneh, maka sikapnya pun jadi acuh tak acuh.

"Hwesio gede,"

Oloknya.

"Memangnya hanya begini saja kemampuanmu? He, he, agaknya kau sendiri sudah kehabisan bekal dan begini saja kemampuanmu."

Thay-ceng-khi-kang dikerahkan.

"Wut, wut, wut!"

Beruntun tiga kali ia memukul secara berantai. Tak nyana gebrak kedua kali ini kiranya jauh berlainan dibanding babak pertama tadi, terdengar "Bum, bum, bum!"

Tiga kali suara bagai tambur raksasa di dalam biara dipukul bertalutalu, tenaga pantul yang membalik pun lebih besar dan aneh, walau lwekang Miao Tiang-hong sendiri cukup ampuh, tak urung ia terdesak mundur tiga tapak.

Miao Tiang-hiong heran.

"Bagaimana mungkin lwekang kepala gundul ini bisa maju berlipat ganda dalam waktu begini singkat?"

Segera ia menyerang kembali sambil pasang mata dan main selidik, kecermatan pikiran dan ketajaman pandangannya, akhirnya berhasil menemukan sebab musababnya, ternyata waktu Po-siang Hoatsu berhantam dengan dirinya, dua Lama lain yang berada di kiri kanannya pun membantu dengan pukulan Bik-khong-ciang.

Soalnya kasa merah lawan besar dan menutup pandangan Miao Tiang-hong, sementara kawanan Lama itu bergerak hilir mudik dan simpang siur dengan cepatnya berputar, maka kalau tidak diperhatikan, Miao Tiang-hong tidak akan tahu.

Tapi rasa bingungnya belum mendapat jawaban juga, karena kepandaian kedua Lama ini tadi sudah ia saksikan sendiri, baru saja mereka kena dikalahkan oleh golok cepat Beng Goan-cau, selintas pandang Miao Tiang-hong cukup mengetahui bahwa Iwekang mereka terbatas, terpaut amat jauh dibanding Po-siang Hoatsu.

Menurut kenyataan meski mereka membantu dengan tenaga Bik-khong-ciang, tenaga tolak yang memantulkan hantamannya ternyata begitu besar, sehingga sering bikin Miao Tiang-hong tergeliat mundur berulang-ulang.

Miao Tiang-hong memberi kedipan mata kepada Beng Goan-cau, laksana kilat golok cepat Beng Goan-cau segera membacok ke arah Po-siang Hoatsu.

Bersama dengan itu Miao Tiang-hong berkesempatan membentang kedua tangannya menghantam kepada kedua Lama itu.

Sekonyong-konyong terasa olehnya dari depan dan belakang, dua jurusan yang berlawanan, memberondong datang dua kekuatan dahsyat yang tidak kelihatan, menghadapi serangan dari depan dan belakang ini, tersirap darah Miao Tiang-hong.

Terpaksa ia urungkan serangan pukulannya dan melindungi badan lebih utama, tapi tak urung badannya terseret melintir satu lingkaran baru dapat berdiri tegak lagi.

Kali ini Po-siang Hoatsu sedang sibuk menghadapi rangsakan golok cepat Beng Goan-cau, kedua jalur tenaga hebat yang menggencet Miao Tiang-hong itu, terang adalah pukulan gabungan dari keenam Lama lainnya.

Begitu golok Beng Goan-cau membacok, lapat-lapat ia rasakan tenaga perlawanan yang kuat menolak tenaganya, sigap sekali Beng Goan-cau merubah serangan itu sebagai gertakan lalu memutar tajam goloknya ke samping memapas Lama yang berada di samping Po-siang Hoatsu.

Tepat pada saat itu, tiba-tiba daya kekuatan barisan berubah secara total, tiga pentung padri tahu-tahu sudah menyelo-nong tiba masing-masing menyerang kedua ketiak dan punggung Beng Goan-cau.

Tapi gerak golok cepat Beng Goan-cau pun dilancarkan melebihi kilat, sebetulnya ia bisa mengambil jiwa Lama yang berada di tengah itu, tapi pertempuran adu jiwa macam ini, terpautnya hanyalah beberapa mili saja, seumpama ia berhasil membunuh Lama itu, terang dirinya pun pasti luka parah atau mungkin jiwa sendiri juga, tidak bisa diselamatkan.

Bagi tokoh silat tingkat tinggi, setiap menghadapi mara bahaya, di saat-saat menghadapi ketentuan hidup atau mati, kadang kala secara reflek bisa berusaha untuk menyelamatkan diri.

Ilmu golok Beng Goan-cau sudah menurut keinginan hatinya, cepat sekali tahu-tahu ia sudah menarik goloknya, dengan jurus Pat-hong-hong-ih, sinar goloknya mendadak bercerai berai ke empat penjuru melingkupi badan sambil menahan serangan musuh.

Ketiga tongkat padri itu bergerak mundur bersama, dan bentuk barisan kembali seperti sediakala.

Ternyata keistimewaan dari Chit-sat-tin ini dapat menyatukan kekuatan dari ketujuh orang itu, laksana lengan digunakan sebagai jari, namun dapat pula berpencar bekerja sendiri-sendiri dengan rapi dan serasi, menghadapi dan melawan serangan musuh yang betapapun rumit dan lihaynya.

Oleh karena itu, meski Beng Goan-cau dan Miao Tiang-hong dua tokoh silat tinggi turun tangan bersama, mereka toh tidak mampu menjebol kurungan dan menerjang keluar.

Beng Goan-cau sudah pernah mengalami pertempuran ratusan atau pun mungkin sudah ribuan kali, pengalaman menghadapi musuh teramat luas, meski ia tidak tahu intisari dari rahasia Chitsat-tin ini, tiba-tiba tergerak hatinya, terpikir olehnya suatu cara baru untuk menahan dan melumpuhkan serangan lawan.

Kata Beng Goan-cau.

"Mereka punya Chit-sat-tin, mari kita pun membentuk Su-hong-tin!"

Nama Su-hong-tin sudah tentu hanyalah embel-embel saja, untunglah Miao, Cay dan Li bertiga adalah ahli-ahli ilmu silat, mendengar seruannya, sekilas mereka lantas paham, cepat mereka berempat beradu punggung menghadap ke arah mata angin, dengan posisi empat persegi ini, mereka membendung dan melawan gempuran para Lama yang datang bertubi-tubi dengan deras tak kenal putus seperti damparan ombak.

Akal yang mereka ambil untuk melawan gempuran musuh ini, membawa suatu manfaat, yaitu dapat menghindari bokongan musuh dari sebelah belakang, jadi mereka khusus tumpahkan seluruh perhatian untuk menghadapi serangan-serangan dari sebelah depan.

Mereka berempat memiliki kepandaian silat tunggal masing-masing, namun bisa kerja sama secara rapi dan ketat serta serasi, bukan saja delapan belas macam alat senjata mampu mereka gunakan, malah masing-masing mempunyai keahlian khusus masing-masing.

Miao Tiang-hong mengandal Thay-ceng-khi-kang, golok cepat Beng Goan-cau, dengan Kim-najiu Cay Kin serta Thian-san-kiam-hoat Li Kong-he, merupakan ilmu tunggal kelas tinggi dari bulim yang jarang ada tandingannya, meski para kawanan Lama itu sementara berada di atas angin, mau tidak mau mereka harus memeras keringat dan lama kelamaan merasa waswas sendiri, serangan semakin kendor dan tidak berani mendesak terlalu ketat.

Tapi kenyataan mereka tidak mampu menerjang keluar, meski dapat melawan sama kuat, paling-paling hanya sedikit meredakan keadaan mereka yang terdesak tadi.

Po-siang Hoatsu terbahak-bahak, serunya.

"Sampai kapan kalian kuat bertahan? Akhirnya toh tidak akan bisa terbang meski kalian tumbuh sayap!"

Berpikir Beng Goan-cau.

"Ucapannya itu memang tidak salah, kalau pertempuran dilanjutkan dalam keadaan seperti ini, betapapun tidak menguntungkan bagi kami, terpaksa nekad adu jiwa dengan mereka saja?"

Di tengah pertempuran yang berjalan sengit itu, tiba-tiba Li Kong-he seperti menyadari sesuatu, gerak pedangnya menjadi lamban dan "Cras"

Sebatang tongkat lawan menyelonong tiba menusuk dari arah samping dan membuat baju depan dadanya tersapu sobek sebagian, untung ia sempat menekan dada, sementara kakinya tidak bergerak, badannya doyong ke belakang setengah kaki, gerakan indah dengan gaya yang menakjubkan ini secara mudah meloloskan diri dari serangan tongkat lawan.

Sebat sekali Beng Goan-cau memiringkan badan, golok cepatnya pun ikut membacok, memukul mundur Lama yang menyerang Li Kong-he ini.

Dalam hati heran dan kaget pula, batinnya.

"Aneh, kenapa mendadak Li Kong-he begitu tidak becus. Tidak menjadi soal aku menerjang keluar dan adu jiwa dengan mereka, tapi mungkin Li Kong-he bakal teringkus oleh musuh."

Bahwa dia bertekad hendak menerjang keluar adu jiwa adalah hendak mengorbankan diri sendiri demi menyelamatkan jiwa sahabat, asal dia dapat merobohkan dua atau tiga Lama di antara mereka, pastilah Chit-sat-tin akan pecah dengan sendirinya.

Tapi setelah ia pikir pula lebih matang, meskipun Chit-sat-tin diterjang pecah, Miao Tiang-hong dan Cay Kin terang dapat melarikan diri, sementara dapatkah Li Kong-he meloloskan diri, masih merupakan rabaan yang sulit ditentukan.

Karena pertimbangan yang lebih cermat ini terpaksa ia batalkan niat semula.

Cay Kin menarikan sepasang tangannya dengan kencang, dengan ketat ia mendekat ke arah Li Kong-he sambil melindungi orang, katanya memperingatkan.

"Hiantit, hati-hatilah."

"Paman Cay, aku pikir..."

Belum selesai Li Kong-he bicara, serangan musuh sudah menerjang tiba pula, posisi Li Kong-he sekarang lebih baik di bawah perlindungan Cay Kin, pedang panjangnya terulur maju dengan jurus-Coh-tong-yu-ciat (terayun ke kiri menutup ke kanan).

"Trang, trang."

Ia sampuk dua tongkat lawan ke samping. Gemas dan geli pula Cay Kin dibuatnya, pikirnya.

"Dalam keadaan mempertaruhkan jiwa ini, apa saja yang sedang kau pikirkan, sungguh pikiran anak-anak."

Tapi dalam pertempuran sengit itu, ia tidak sempat banyak pikir dan beri peringatan lagi. Belum lagi pikirannya lenyap, mendadak Li Kong-he melompat ke luar sembari berteriak.

"Putar ke Kan-bun dan terjang ke Sian-wi!"

Sekilas Cay Kin terheran-heran dan tidak mengerti, saking kagetnya ia berteriak.

"Kong-he, apa yang kau lakukan?"

Bicara lambat, kejadian justru berlangsung teramat cepat, tahu-tahu Li Kong-he sudah menerjang ke arah Po-siang Hoatsu, terang tidak sempat lagi Cay Kin untuk membantu kesulitannya.

Dalam tingkat ilmu silat yang paling tinggi ada semacam ilmu yang dinamakan Ih-sing-hoan-wi (merubah bentuk berpindah tempat), yaitu semacam gerakan tubuh yang cepat dengan berpindah posisi.

Umumnya orang suka menggunakan arah mata angin untuk menentukan arah tujuan, tapi posisi atau kedudukan dari ilmu tingkat tinggi ini justru jauh lebih rumit dan sukar dipahami, karena secara teorinya mencangkok intisari dari kedudukan Pat-kwa.

Melihat Li Kong-he tiba-tiba melompat keluar dan menyuruh mereka memutar ke Kan-bun dan menerjang Sian-wi, tergerak hati Beng Goan-cau, batinnya.

"Mungkinkah dia sudah mendapat akal untuk memecahkan barisan ini?" --Sayang Beng Goan-cau hanya tahu adanya ilmu tingkat tinggi macam ini, namun ia tidak tahu cara bagaimana melaksanakannya. Waktu berlangsung amat cepat, Li Kong-he sudah menerjang ke arah Po-siang Hoatsu, kejap lain terang bakal saling bentrok dengan kekerasan, mengandal bekal kepandaian Li Kong-he mana kuat menghadapi Posiang Hoatsu? Saat mana seperti pula keadaan Cay Kin, hampir saja jantung Beng Goan-cau serasa hampir melonjak keluar dari rongga dadanya. Kejadian yang aneh justru berlangsung teramat cepat pula, terang mereka saling terjang secara berhadapan, tapi entah bagaimana tahu-tahu keduanya melesat lewat berseliweran dari samping badan masing-masing, dan tahu-tahu Li Kong-he sudah menempatkan dirinya di tengah antara dua Lama. Menurut jalannya barisan kedua Lama ini seharusnya berpencar ke kanan kiri dan bekerja sama saling bantu membantu, mendadak celah-celah yang kosong di antara mereka mendadak diterobos dan diduduki orang, waktunya pun begitu tepat lagi, seketika gerak langkah kaki mereka menjadi kalut dan pertahanan pun tercerai berai. Perlu diketahui bahwa Li Kong-he punya seorang suheng yang bernama Yap Boh-hoa, mahir dalam berbagai teori dan strategi militer, begitu pula terhadap berbagai teori barisan ia amat tekun mempelajarinya, terutama Pat-tin-toh, itu ajaran gambar lukisan barisan dari ciptaan Cukat Liang pada jaman Samkok, mungkin pada masa ini hanya dia seorang yang tahu paling jelas. Yap Boh Hoa ini adalah murid Kang Hay-thian yang terbesar, sementara Li Kong-he justru adalah murid terkecil, Yap Boh-hoa paling sayang kepada sutenya yang paling cilik ini, maka ia pernah mengajarkan intisari dan perubahan dari berbagai gambar barisan terutama Pat-tin-toh itu kepada Li Kong-he. Sudah tentu Li Kong-he tidak bisa paham seluruhnya, lima puluh persen sih sudah tercakup di dalam benaknya. Chit-sat-tin yang dibentuk oleh Po-siang Hoatsu ini, justru merupakan petilan dari bagian Pattin-toh itu. Tapi barisan ini diciptakan oleh cosunya, dia sendiri tidak tahu bagaimana asal-usul dan dari mana sumber ciptaan ini. Betapa tinggi nilai dari hasil ciptaan Pat-tin-toh ini, belum tentu setiap orang bisa berhasil menyadap intisarinya secara menyeluruh, maka Chit-sat-tin yang ditelorkan dari Pat-tin-toh tidak lebih hanyalah kulitnya atau bulunya saja. Sebaliknya Li Kong-he sudah tahu beberapa bagian inti ajaran Pat-tin-toh itu secara murni, namun bekalnya sudah jauh lebih unggul dari Po-siang Hoatsu dalam bidang ini. Oleh karena itu setelah dia dapat meraba sampai di mana pentingnya hubungan dua orang yang saling kerja sama itu, untuk memecahkan Chit-sat-tin menjadi teramat gampang bagi dirinya. Tadi memang sudah ia perhitungkan secara tepat akan daya kerja dan hubungan pion-pion yang mengerjakan barisan ini, maka Po-siang Hoatsu tidak akan mungkin bertabrakan dengan dirinya. Tapi kalau hanya mengandal tenaganya seorang, meski tahu cara yang paling tepat untuk memecahkan barisan ini, masih tidak akan berhasil. Untung pelajaran silat yang dipelajari Miao Tiang-hong paling banyak ragamnya, walau ia pun tidak bisa menggunakan ilmu Ih-sing-hoan-wi, namun ia paham akan penggunaan kedudukan dari Pat-kwa. Begitu mendengar Li Kong-he meneriaki supaya putar ke Kan-bun dan terjang ke Sian-wi, sekilas tertegun, cepat sekali ia sudah mengikuti seruan orang. Tapi karena sekilas tertegun itulah ia tidak bisa menggabung diri secara tepat dan sedikit terlambat. Begitu Chit-sat-tin diterjang oleh Li Kong-he, langkah-langkah barisan menjadi kacau, tapi belum sampai kalut seluruhnya. Keruan Po-siang Hoatsu amat gusar, cepat sekali ia memutar balik gerak putaran barisannya. Putar ke Tam-wi, terjang ke Kan-bun sembari putar badan ia sendai kasanya menung-krup ke atas kepala Li Kong-he. Meski Miao Tiang-hong terlambat setindak, namun kedatangannya tepat pada waktunya, menuruti petunjuk Li Kong-he, saat mana ia sudah menceplos masuk di tengah-tengah Kan dan Sian dua kedudukan penting dan kebetulan memapak kedatangan Po-siang Hoatsu. Lwekang kedua orang ini setanding, Miao Tiang-hong sudah menduduki posisi yang paling penting dan sentral dari barisan ini, sudah tentu kedudukannya jauh lebih menguntungkan, celakanya dua Lama di kiri kanan Po-siang Hoatsu, karena kehadiran Miao Tiang-hong di antara mereka, daya kerja sama yang saling bantu dan mengandal uluran kekuatan sesamanya menjadi terputus, sehingga sulit mereka membantu Po-siang Hoatsu lagi, terdengarlah "Bum"

Pukulan telapak tangan Miao Tiang-hong membentur kasa lawan, Po-siang Hoatsu tergeliat limbung, keadaannya masih mending, sebaliknya dua Lama di kedua sampingnya, seperti diterjang air bah yang dahsyat, tak kuasa lagi mereka tersurut mundur beberapa langkah.

Li Kong-he tahu saatnya memecahkan barisan ini sudah tiba, lekas ia berteriak.

"Putar ke Le buru ke Tin, rebut Siau-bun di tengah pusat!"-Perlu diketahui, Le, Tam, Sian, Kan dan lain-lain adalah nama-nama rahasia dari Pat-kwa yang seluruhnya ada delapan pintu. Beng Goan-cau dan Cay Kin memang tidak paham kedudukan Pat-kwa, namun mereka sebagai ahli ilmu silat, daya kerja otaknya teramat cepat, lekas sekali mereka sudah mengikuti jejak Miao Tiang-hong, masing-masing berputar dua kali menurut petunjuk Li Kong-he tadi di dalam barisan, seketika seluruh langkah barisan Chit-sat-tin menjadi berentakan. Dalam keadaan yang kritis ini kekuatan Chit-sat-tin sudah tidak bisa dikembangkan lagi, terpaksa pribadi masing-masing dari para Lama itu harus berjuang sendiri-sendiri. Beng Goan-cau melancarkan golok cepat penusuk Hiat-to yang paling dibanggakan, sinar goloknya bagaikan kilat berputar, beruntun terdengarlah suara menguak saling susul, sekejap saja ada empat Lama yang berhasil ter-totok Hiat-tonya oleh ujung goloknya, satu per satu roboh terkapar. Soalnya ia tidak mau menurunkan tangan jahat sehingga para Lama itu hanya tertotok Hiat-tonya dengan sedikit luka-luka saja. Dua orang Lama lainnya, yang satu dicengkeram oleh Cay Kin, lalu sendi-sendi tulang dan urat nadinya ia lukai sedikit menggunakan Hun-kin-joh-kut. Seorang Lama yang lain kedua urat kakinya kena ditusuk dan putus oleh ujung pedang Li Kong-he, maka tujuh Lama yang meluruk datang dari Hu-hud-si, sekarang tinggal Po-siang Hoatsu seorang yang masih berjuang mati-matian. Po-siang Hoat-su tidak menyangka pihaknya bakal gagal total, setelah menghela napas, ia tarikan kasanya secepat kitiran, sehingga seluruh badannya seperti terbungkus oleh segumpal awan merah, ia putar badan terus lari.

"Kepala gundal lari ke mana?"

Bentak Beng Goan-cau seraya membacokkan goloknya.

Sementara kedua telapak tangan Miao Tiang-hong menghantam bersama, memukul ke arah kasanya yang melembung besar itu, sehingga terdengarlah suara gemuruh seperti tambur ditabuh bertalu-talu, namun sekejap lain suara yang keras dan berkumandang itu menjadi sumbang seperti kulit tamburnya pecah.

Ternyata Kasa Po-siang Hoatsu tidak kuasa menandingi gempuran dua tokoh silat tingkat tinggi dengan pukulan dan bacokan golok, di mana golok cepat Beng Goan-cau berkelebat pergi datang, kasa itu sudah terpapas sobek tujuh delapan lubang, seperti layar berkembang yang berlubang tidak bisa digunakan lagi.

Tapi ilmu silat Po-siang Hoatsu memang tidak lemah, sedikit bertahan dan sendai ia lemparkan kasanya itu, ia masih berkesempatan meloloskan diri.

Waktu Beng Goan-cau melempar kasa orang dari ujung goloknya, Po-siang Hoat-su sudah lari puluhan langkah dan tidak terkejar lagi.

Namun Beng Goan-cau masih hendak mengudak, segera Miao Tiang-hong mencegah.

"Dia sudah lari tidak perlu dikejar, biarlah ampuni jiwanya sekali ini!"

Maklum Hu-hud-si terletak tidak jauh di depan gunung sana, penghuni Lama dalam kuil itu belum keluar semua, mau tidak mau mereka harus sedikit hati-hati dan bertindak dengan perhitungan.

Tak nyana belum lagi kata-kata Miao Tiang-hong habis diucapkan, mendadak terdengar seseorang bergelak tertawa nyaring.

Dari Ing-tho-gou di depan sana, tiba-tiba muncul ah empat orang.

Waktu Cay Kin angkat kepala, seketika tersirap darahnya, ternyata yang mendatangi paling depan bukan lain adalah komandan Gi-lim-kun Pakkiong Bong adanya.

Tiga orang pengiringnya adalah sute Pakkiong Bong, yaitu Sebun Soh, Yam-yam hwesio dan Hian-hong Tojin.

Cay Kin beramai sebelumnya memang sudah menduga, musuh tentu akan mengejar tiba ke tempat itu juga, namun mereka tidak menduga bahwa Pakkiong Bong sendiri bakal datang, malah lebih cepat dari dugaan mereka.

Pakkiong Bong bergelak tertawa, ujarnya.

"Di bawah kelopak mataku kalian ternyata bisa melarikan diri dari kota Pakkhia, kagum, kagum. Sayang sayap kalian belum tumbuh subur, terbangnya tidak tinggi dan tidak bisa jauh, akhirnya toh dapat kutemukan juga. He, he, walau kalian sebagai Sun-heng-cia yang pandai berubah tujuh puluh dua kali, toh sekarang tidak akan bisa lolos dari telapak tangan Ji-lay-hud."

Beng Goan-cau menjengek dingin.

"Angkuh benar sikapmu, sebentar biar kita buktikan siapa lebih unggul."

"Siapa orang' ini?"

Tanya Pakkiong Bong. Hian-hong Tojin segera menjawab.

"Dialah buronan yang datang dari Siau-kim-jwan itu, Beng Goan-cau mengagulkan diri sebagai golok cepat tiada bandingan."

Sebetulnya Beng Goan-cau tidak pernah mengagulkan diri akan ilmu goloknya, istilah 'golok cepat tanpa tandingan' hanyalah tambahan olok-olok Hian-hong Tojin di depan atasannya.

Soalnya semalam Hian-hong Tojin kena dikalahkan oleh golok, cepatnya, maka sekarang dia sengaja mengagulkan kepandaian orang untuk membakar kemarahan Pakkiong Bong supaya segera melabrak Beng Goan-cau.

Pakkiong Bong menatap Beng Goan-cau, lalu pandangannya beralih kepada Miao Tiang-hong, tanyanya kepada sutenya.

"Orang ini pastilah Miao Tiang-hong yang pernah bergebrak dengan kau itu bukan?"

Sebun Soh mengunjuk rasa malu, sahutnya.

"Benar, waktu ia bertanding dengan aku, dia sudah tahu bahwa kau adalah suhengku!" --Tujuan kata-katanya ini sama dengan Hian-hong Totiang, yaitu mengharap Pakkiong Bong membalaskan sakit hati mereka Pakkiong Bong tidak ambil sikap mendengar kata-katanya, malah dia bersoja dan katanya.

"Golok cepat Beng Tayhiap sudah lama kukagumi, Miao-siansing sebagai kelana kangouw, tersohor di seluruh jagat, aku pun sudah lama ingin berkenalan."

Maklumlah sebagai Komandan Gi-lim-kun, betapapun pribadi dan pandangannya jauh lebih tinggi dibanding orang-orang yang berpandangan cupat dan picik, melihat pihak lawan adalah tokoh-tokoh yang terkenal, sudah tentu ia harus bersikap lain dan tidak bisa tidak harus sekedar mengadakan basa-basi lebih dulu.

Adalah Beng Goan-cau tidak sudi main sungkan-sungkan terhadapnya, katanya dingin.

"Aku adalah buronan yang hendak kau tangkap, bahwa kau sudah lama mengagumi namaku, kukira memang tidak beromong kosong."

Sebaliknya seperti tertawa tidak tertawa, lain pula sikap Miao Tiang-hong, katanya mengakak.

"Terima kasih akan tempelan lapisan emas di mukaku, tuan besar, sungguh aku orang she Miao amat bahagia dan senang mendapat penghargaan ini."

"Dan di mana Li-ma-cu yang berani menyaru jadi diriku?"

Pertanyaan ini ia tujukan kepada Posiang Hoatsu. Seperti ayam jago yang sudah keok merah padam muka Po-siang Hoatsu, sahutnya.

"Li-ma-cu sudah lari lebih dulu!"

"Si maling kecil kenapa harus dirisaukan, sudah lari ya sudah, biar lain kali buat perhitungan padanya,"

Demikian jengek Pakkiong Bong.

Maksudnya, maling kecil lari tidak menjadi soal, penjahat besar ini sekali-kali jangan dibiarkan merat.

Tatkala itu para Lama dari Hu-hud-si sudah berbondong-bondong mendatangi, mereka sedang sibuk menolong keenam Lama yang terluka itu di Ing-tho-gou.

"Ciong-ling Tayjin,"

Kata Beng Goan-cau tertawa dingin.

"apakah kau masih menunggu bala bantuan?"

Ia sudah tidak sabar lagi menunggu, maka ia tantang Pakkiong Bong lebih dulu.

Pakkiong Bong melirik sambil memicingkan mata, tidak menjawab pertanyaan Beng Goan-cau, malah dia berkata kepada Miao Tiang-hong.

"Miao-siansing, sute-ku pernah mendapat petunjukmu, dia amat kagum terhadap Thay-ceng-khi-kangmu. Hari ini kebetulan kita bertemu, aku pun ingin membuka mata dan menambah pengalaman menghadapi Thay-ceng-khi-kangmu yang hebat itu."

Miao Tiang-hong tertawa lantang.

"Silakan Ciong-ling Tayjin sebutkan caranya, aku orang she Miao pasti mengiringi setiap kehendakmu!"

Semua orang mengira Pakkiong Bong pasti segera akan bertanding melawan Miao Tiang-hong, tak nyana ia berseru.

"Nanti dulu!", berpaling lalu dengan suara sopan dan halus ia bertanya kepada Po-siang Hoatsu.

"Mereka harus menerjang keluar dari Chit-sat-tin-mu beberapa lama, mungkin sudah menguras sebagian tenaga mereka bukan?"

"Chit-sat-tin sebetulnya sudah mengurung mereka, sayang para muridku belum matang latihannya sehingga usaha kami gagal total. Tapi toh mereka berjuang mati-matian sampai setengah jam lebih."

"Bagus, Po-siang Hoat-su, aku minta kau menjadi saksi,"

Demikian ujar Pakkiong Bong. Sudah tentu kata-katanya ini membuat Po-siang Hoatsu keheranan, tanyanya.

"Menjadi saksi apa?"

Pakkiong Bong mengalihkan sorot matanya, katanya kepada Beng Goan-cau.

"Beng Tayhiap, biar aku belajar kenal dengan golok cepatmu lebih dulu!"

"Tepat, makan buah harus pilih yang empuk, memang lebih baik kau bertanding dulu dengan aku,"

Demikian cemooh Beng Goan-cau. Berkata Pakkiong Bong pelan-pelan.

"Di dalam Chit-sat-tin kalian sudah berjuang mati-matian, aku Pakkiong Bong sudah tentu tidak sudi mengambil keuntungan ini."

Sampai di sini ini ia merandek, lalu menjawab pertanyaan Po-siang Hoatsu tadi.

"Hoatsu, kuminta kau menjadi saksi, Beng Tayhiap ini terkenal dengan ilmu goloknya, seratus jurus kukira tidak memerlukan waktu terlalu lama, tidak menguras tenaga besar lagi. Biar pertandinganku melawan dia kubatasi seratus jurus, dalam seratus jurus, bila aku tidak bisa mengalahkan dia, selanjutnya tidak akan mencari perkara kepadanya!"

"Kalau aku beruntung dapat mengalahkan kau?"

Jengek Beng Goan-cau. Pakkiong Bong bergelak tertawa, ujarnya.

"Kubatasi seratus jurus memang demi kebaikanmu. Dalam seratus jurus asal kau sejurus saja menang, Pakkiong Bong sejak kini menutup pintu menyimpan pedang, sudah tentu kedudukan dalam Gi-lim-kun ini pun tidak kujabat lagi. Kau dan kawan-kawanmu boleh segera turun gunung, anak buahku pasti tidak akan membuat kesukaran dengan kalian."

Beng Goan-cau bergelak tertawa juga, ujarnya.

"Ciong-ling Tayjin, taruhanmu ini tidak kecil nilainya."

Berkata Pakkiong Bong lebih lanjut.

"Dalam seratus jurus kalau aku menang dari Beng Tayhiap, Miao-siansing, biar nanti aku pun mohon belajar dengan Thay-ceng-khi-kangmu!"

Beng Goan-cau menjadi gusar, dampratnya.

"Ucapan ini katakan nanti setelah kau betul-betul dapat mengalahkan aku."

Berkata Pakkiong Bong tawar.

"Bagus sekali, sebentar kita buktikan siapa lebih unggul!"

Ia balas menyindir menggunakan nada dan kata-kata Beng Goan-cau tadi. Beng Goan-cau tersentak sadar akan sikapnya yang kasar dan terburu nafsu, katanya.."Baik, marilah dibuktikan siapa lebih unggul."

"Hoatsu, harap hitunglah dengan tepat,"

Kata Pakkiong Bong, pelan-pelan ia pun mencabut sebatang pedang, gagang pedangnya dihiasi deretan permata yang berkilauan, ujung pedangnya memancarkan sinar bintik-bintik seperti kunang-kunang.

Sebagai seorang ahli yang mengenal nilai sesuatu benda, sekali pandang saja Beng Goan-cau tahu senjata orang merupakan sebilah ^pedang pusaka yang nilainya sama dengan sebuah kota.

Ternyata pedang Pakkiong Bong ini adalah anugerah dari baginda raja, dinamakan Ceng-liongkiam, adalah salah satu cari tujuh pedang pusaka peninggalan jaman kuno dulu.

Meskipun senjata Beng Goan-cau sendiri pun sebilah golok pusaka, tapi dibanding dengan Ceng-liong-kiam terang tidak setanding.

Sejak menjabat sebagai komandan Gi-lim-kun jarang Pakkiong Bong mengeluarkan pedangnya ini, adalah baru pertama kali ini ia menggunakan pedang ini untuk bertanding dengan orang, maka dapatlah dibayangkan agaknya ia merasa segan menghadapi Beng Goan-cau.

Pedang diacungkan, cahaya hijau berkembang seperti setabir kerai, sementara sinar golok berputar ceplok-ceplok seperti kembang salju, kedua orang sama mengacungkan pedang dan golok, bagai panah yang sudah terpentang di atas busur, tinggal menunggu waktu untuk dilepaskan.

Tak nyana di luar dugaan semua orang, meski mereka sudah sama-sama siap dan pasang kuda-kuda, namun tidak segera turun tangan.

Semua orang menunggu sambil menahan napas, tampak tangan Beng Goan-cau menekan gagang goloknya, matanya mendelik mem-bundar, segala konsentrasi dipusatkan kepada lawan, seakan-akan ia tidak pedulikan lagi situasi sekelilingnya, perhatian tertuju ke ujung pedang Pakkiong Bong.

Sementara Pakkiong Bong pentang kedua kakinya dengan lutut depan sedikit tertekuk, ujung pedangnya tertuju ke perut Beng Goan-cau, sikapnya seperti acuh tak acuh.

Di antara hadirin, pengetahuan ilmu silat Miao Tiang-hong paling luas dan banyak ragamnya, melihat Pakkiong Bong memasang kuda-kuda dan bergaya demikian rupa, diam-diam mencelos hatinya.

Pikirnya.

"Pedang, pukulan dan lwekang Pakkiong Bong kabarnya diberi julukan Sam-ciat, semula kukira hanya umpakan orang-orang rendah kepada atasannya saja, naga-naganya meski Sam-ciat terlalu diagulkan, kiranya memang dia membekal ilmu tulen. Bagaimana lwekang dan entah ilmu pukulannya, cuma gaya permulaan dari permainan ilmu pedangnya ini, sudah dapat dipercaya akan puji sanjung mengenai keahliannya itu."

Kiranya gaya Pakkiong Bong ini diam-diam tersembunyi tujuh macam gerak perubahan.

Pedangnya bisa bergerak secara bebas untuk mengunci serangan lawan sambil melihat gelagat dan situasi untuk balas menyerang kepada musuh.

Begitu Beng Goan-cau melihat gaya kudakudanya lantas ia tahu bahwa orang bersikap menunggu dan bergerak belakangan untuk menundukkan lawan lebih dulu.

Beng Goan-cau membelalakkan matanya, yang ditatap adalah ujung pedang lawan, yang dicari dan dinantikannya adalah kesempatan dan titik lubang kelemahan serta mempersiapkan diri untuk menyerang lawan.

Begitulah setelah konsentrasi terpusat dan perhatikan selama sesulutan dupa, otaknya bekerja keras menganalisa dan memikirkan daya upaya, namun ia merasa pertahanan musuh cukup kokoh dan rapat, tiada lubang untuk diserang.

Karena menunggu sekian lama, hati Hian-hong tojin menjadi gelisah sendiri, jengeknya dingin.

"Golok cepat mengutamakan kecepatan, kalau golok cepat tidak berani menyerang, buang saja golokmu dan pulanglah menjadi kura-kura saja!"

Belum lenyap suara olok-oloknya, mendadak dilihatnya sinar golok berkelebat cepat sekali, hawa pedang mengembang-melebar, begitu cepat sampai sukar dilukiskan.

Biasanya Hian-hong Tojin mengagulkan pedangnya yang cepat, toh sekarang dia sendiri merasa kabur pandangannya.

Samar-samar ia hanya melihat agaknya pedang dan golok belum saling sentuh, namun deru dan getaran tenaga yang tersalur di ujung pedang dan golok sampai membuat suara mendengung keras memekakkan telinga.

Kenyataan permainan golok cepat Beng Goan-cau memang sukar dilukiskan dengan kata-kata dan sulit di kuti dengan mata telanjang, semula Po-siang Hoatsu masih bisa memperhatikan dengan seksama, di dalam hati ia menghitung.

"Satu, dua, tiga, empat..."

Namun hanya dalam waktu sepersepuluh detik yang dilihatnya hanyalah sinar terang yang berkelebatan menyilaukan mata, cahaya pedang simpang siur pergi datang, bahwasanya ia tidak tahu lagi berapa banyak Beng Goan-cau sudah menyerang.

Tapi gerak pedang Pakkiong Bong sebaliknya dapat ia lihat amat jelas, kelihatannya ujung pedang orang seperti dibebani barang berat, pedang melintang di depan dada, kadang kala hanya mengiris atau menggaris ke sana memotong ke sini, yang dilancarkan hanyalah sejurus Heng-huntoan-hong yang biasa dan sangat umum.

Walaupun jurus ini teramat biasa dan umum, malah digerakkan dengan lamban seperti bermalas-malasan, tapi getaran dari ujung pedangnya yang mengaung masih terdengar terus tak putus-putus, para penonton menjadi risi dan tidak enak hatinya.

Dan lagi setiap kali pedangnya itu bergerak melintang atau lurus menegak, selalu menaburkan ceplok-ceplok sinar yang menembus dari sinar golok, kelihatannya amat menyolok.

Di kala dia melancarkan jurus pedangnya ini, golok cepat Beng Goan-cau laksana hujan angin yang deras, entah memberondong berapa kali dengan bacokan gencar dari depan, belakang atau kanan kiri, namun tiada bacokan goloknya itu yang mengenai sasarannya.

Setelah jurus serangannya itu selesai, barulah ia menyurut mundur setapak.

Sambil menggigit bibir, Beng Goan-cau menubruk maju lagi.

Pakkiong Bong tetap melayani dengan gerakan lamban, dari Heng-hun-toan-hong dirubah Liong-kiam-kiu-gan, pedang panjangnya hanya diobat-abitkan di depan dadanya.

Di dalam pertahanan yang kokoh dan rapat Heng-hun-toan-hong masih membawa gerak perubahan balas menyerang, sementara Liong-kiamkiu-gan adalah permainan pedang yang khusus untuk mempertahankan diri saja.

Begitulah satu mundur satu maju, beruntun Beng Goan-cau menubruk tujuh kali.

Pakkiong Bong pun mundur tujuh tapak.

Melihat Pakkiong Bong didesak mundur oleh serangan gencar golok Beng Goan-cau, diam-diam Hian-hong Tojin dan Sebun Soh sama gelisah dan kuatir.

Kalau begundal Pakkiong Bong sama kuatir bagi atasannya, adalah pihak Beng Goan-cau sendiri, seperti Miao Tiang-hong, Li Kong-he dan Cay Kin pun sedang merasa was-was.

Sebetulnya kegelisahan kedua pihak sama tidak beralasan, kalau dibicarakan sesungguhnya golok cepat Beng Goan-cau dan pedang lamban Pakkiong Bong masing-masing mempunyai keunggulan dan kehebatannya sendiri-sendiri, setanding dan sama kuat.

Cuma Beng Goan-cau terburu nafsu melancarkan serangan gencarnya, meski serangannya amat bagus, pertahanan lawan justru lebih menakjubkan, bahwa rangsakan Beng Goan-cau yang gencar itu tidak kuasa membobol pertahanan musuh, secara tidak sadar ia sudah bertindak keliwat batas dan tanpa perhitungan.

Pakkiong Bong mundur tujuh tapak, baru ia berhasil memunahkan secara bertahap gelombang rangsakan Beng Goan-cau yang gencar, pada langkah keenam, kakinya sudah berhenti dan tidak mundur lagi.

Tapi dasar posisi dan situasi pertempuran masih tetap seperti keadaan semula.

Sepihak menyerang gencar, sementara pihak lain bertahan dengan kalem.

Rangsakan Beng Goan-cau laksana kilat dan guntur menyambar, sedang pertahanan Pakkiong Bong laksana lautan membungkus cahaya matahari.

Yang satu mendampar bagai gelombang pasang mengamuk, yang lain bertahan sekokoh gunung bercokol, sama-sama hebat dan menakjubkan.

Pandangan penonton menjadi silau dan kabur.

Sekonyong-konyong terdengar "trang"

Sekali, kembang api ber-percik, Beng Goan-cau mencelat mundur tiga tindak, ia tarik goloknya dan diperiksa, tampak ujung goloknya tergumpi!

sebuah lekukan kecil, tapi hanya sebesar lubang jarum saja, selintas pandangan terang tidak kelihatan.

Kiranya meski golok pusaka Beng Goan-cau bukan tandingan pedang mustika Pakkiong Bong, tapi karena serangan dan tarikan pedangnya dilakukan dalam waktu singkat dengari kecepatan luar biasa, boleh dikata sekali sentuh lantas mundur, maka kalau Pakkiong Bong hendak memapas kutung goloknya terang tidak bisa.

Di saat Beng Goan-cau melompat mundur itulah, Pakkiong Bong segera tertawa dan berkata.

"Beng Tayhiap, pertempuran ini boleh dihentikan saja bukan?"

"Kau melulu mengandalkan ketajaman pedangmu, memangnya aku dianggap kalah begini saja?"

Damprat Beng Goan-cau gusar.

"Mana berani, mana berani. Dalam penarungan jurus terang aku tidak lebih unggul, tapi kau sendiri pun tidak menang, betul tidak?"

"Kalau toh belum ada ketentuan siapa unggul, siapa kalah kenapa harus dihentikan?"

"Beng Tayhiap, kau kan tidak pikun. Tadi sudah dijanjikan pertempuran dibatasi seratus jurus, sekarang kebetulan pas seratus jurus! Po-siang Hoatsu, kau sebagai saksi, tidak salah bukan perhitunganku?"

Diam-diam Po-siang Hoatsu malu diri, katanya tercekat.

"Ya, ya, aku selalu menghitung, kebetulan memang persis seratus jurus."

Yang benar pandangan matanya tidak mampu mengikuti gerakan golok Beng Goan-cau, sampai akhirnya pandangannya menjadi kabur dan kepala terasa pening, bahwasanya ia tidak menghitung lebih lanjut.

Beng Goan-cau sadar, dalam hati ia menghitung-hitung jurus-jurus permainan goloknya, betul juga memang genap seratus jurus.

Tanpa merasa ia menarik napas, pikirnya.

"Dia menghadapi golok cepatku, namun masih bisa pecah perhatian untuk menghitung jurus-jurus seranganku, meskipun berakhir seri, seharusnya aku terhitung sudah kalah."

Sebagai laki-laki sejati yang jujur dan perwira, segera Beng Goan-cau berkata.

"Pakkiong Bong, ke-pandaianmu memang lebih tinggi dari aku orang she Beng. Beng Goan-cau mengaku kalah saja!"

"Beng Tayhiap,"

Ujar Pakkioag Bong tertawa.

"Tak usah sungkan kita hanya boleh dianggap setanding, golok cepatmu aku amat mengaguminya. Tapi janji sudah kuberikan tadi, maka babak selanjutnya biar aku mohon petunjuk Miao Tayhiap! Miao Tayhiap, sekarang kita masing-masing sudah berhantam satu babak, tiada pihak yang mengambil keuntungan, marilah boleh segera dimulai!"

"Baik, Ciong-ling Tayjin, silakan sebutkan caranya,"

Sambut Miao Tiang-hong.

"Kalau kau dapat mengalahkan aku, seperti apa yang kujanjikan kepada Beng Tayhiap tadi, kurelakan kalian turun gunung, selanjutnya aku akan mengasingkan diri saja. Sebaliknya kalau beruntung aku menang, silakan kalian ikut aku kembali ke kota raja."

Miao Tiang-hong yakin dirinya tidak akan terkalahkan, tapi urusan menyangkut jiwa empat orang, tidak bisa dia ambil putusan sendiri, tengah ia ragu-ragu, Beng Goan-cau dan Cay Kin, Li Kong-he berseru bersama.

"Miao Tayhiap, kami akur saja akan pendapatmu!"

"Baik kalau aku kalah, terserah akan keputusanmu sendiri!"

Seru Miao Tiang-hong. Pakkiong Bong terbahak-bahak, ujarnya.

"Agaknya Miao Siansing menjadi jeri malah? Para sahabatmu begitu percaya kepadamu, sebaliknya kau tidak berani memikul tanggung jawab ini, bukankah menyia-nyiakan harapan mereka? Tapi kalau kau hanya berani mempertaruhkan dirimu sendiri, sebagai tuan rumah aku selalu mengiringi kehendak tamuku, begitu pun baik!"

Cay Kin mendengus hidung, katanya pelan-pelan.

"Pakkiong Bong, memangnya kau sangka kami takut kepadamu?"

"Tidak berani, tidak berani. Ayahmu adalah tokoh piausu yang mendirikan Tin-wan Piaukiok, terhadap tujuh puluh dua jurus Tay-kim-na-jiu dari keluarga Cay kalian sudah lama aku pun amat kagum. Cay-piauthau, silakan katakan saja, bagaimana kehendakmu?"

Demikian tantang Pakkiong Bong.

"Pertandinganmu dengan Miao Tayhiap ini, sudah sebutkan pertaruhannya,"

Demikian jawab Cay Kin.

"Sekarang biar kami yang bertaruh dengan kau, pertaruhan ini boleh dianggap ada sangkut pautnya dengan Miao Tayhiap, boleh dikata pula tiada hubungannya!"

"O, pertaruhan bagaimana, aku masih kurang jelas, harap Cay-piauthau menjelaskan sekedarnya."

"Aku bertaruh bahwa kau tidak akan bisa mengalahkan Miao Tayhiap!"

"Bagaimana bila beruntung aku yang menang?"

"Sama dengan pertaruhan Miao Tayhiap, kami serahkan diri kami kepada keputusanmu. Kalau Miao Tayhiap yang menang, kami pun tidak sudi terima budimu, biarlah kami sama-sama mengandal kepandaian masing-masing untuk menentukan pihak mana lebih unggul."

Kata-kata Cay Kin ini memang diharapkan oleh Pakkiong Bong, ia tertawa kesenangan, ujarnya.

"Gagah benar dan memang pemberani! Bagus, ucapan seorang kuncu bagaikan kuda dipecut membedal, baiklah begitu saja ketentuannya."

Ternyata Pakkiong Bong sendiri juga tidak yakin bisa mengalahkan Miao Tiang-hong.

Bahwa ia mempertaruhkan nasib kawan-kawan Miao Tiang-hong atas pertandingannya, adalah untuk memberikan suatu tekanan batin dan tanggung jawab yang lebih berat bagi Miao Tiang-hong, maka ia pasti harus berjuang untuk menang demi keselamatan teman-temannya.

Dengan demikian kesempatan dirinya untuk menang pastilah lebih banyak.

Kini apa yang dipertaruhkan oleh Cay Kin benar-benar jauh di luar keinginannya, peduli menang atau kalah, hak atau kekuasaan membiarkan Cay Kin beramai pergi kini tergenggam di tangannya, betapa hatinya tidak akan girang?

"Baik, aturan-aturan sudah sama kita tentukan.

Ciong-ling Tayjin, cara bagaimana kau ingin bertanding?"

Tantang Miao Tiang-hong lega.

"Sudah lama kukagum akan Thay-ceng-khi-kangmu, marilah kita bertanding dalam ilmu pukulan saja. Tapi kita tidak perlu menggunakan cara-cara tabu seperti kelakuan kaum cupet."

"Terserah menurut keinginanmu, silakan mulai."

Tengah semua orang heran mendengar kata-kata terakhir Pakkiong Bong, dilihatnya Pakkiong Bong sudah mulai pasang kuda-kuda dan menghimpun semangat, pelan-pelan ia hantamkan telapak tangannya.

Tapi pukulannya ini dilancarkan dari tempat yang jaraknya tiga tombak dari tempat berdiri Miao Tiang-hong.

Sikap Miao Tiang-hong amat prihatin, pelan-pelan ia menghembuskan napas dan berseru memuji.

"He, kepandaian hebat!"

Kedua telapak tangannya pelan-pelan ditepukkan ke depan, ia balas satu jurus.

Kedua kakinya seperti terpaku di tanah, dalam jarak tiga tombak itu, ia lontarkan pukulannya tanpa bergeser kedudukan dari tempat semula.

Mendadak Pakkiong Bong terbahak-bahak tiga kali, ia pun berseru memuji.

"Kepandaian hebat!" --Semua orang menjadi bingung, karena apa orang tertawa. Ternyata dasar pelajaran dari lwekang mereka justru berlawanan, Pakkiong Bong menempuh jalan kekerasan, sebaliknya Miao Tiang-hong menggunakan daya kelunakan. Begitu Thay-cengkhi-kang dilancarkan, Pakkiong Bong lantas merasa silir seperti dihembus angin sejuk di musim semi, sungguh nyaman dan segar sehingga rasanya menjadi mengantuk. Ketiga kali tawanya itu adalah mengerahkan lwekang sendiri untuk mengembangkan keampuhannya, menggerakkan semangat untuk menahan hawa murni lawan yang menyerang dirinya. Miao Tiang-hong sendiri pun mengalami tekanan yang bukan ringan artinya, waktu Bik-khongciang Pakkiong Bong dilontarkan, ia sudah mengerahkan Jian-kin-tui untuk memberatkan badan, di samping menggunakan Thay-ceng-khi-kangnya untuk melawan, namun tak urung badannya tergeliat tiga kali. Ternyata lwekang Pakkiong Bong benar-benar teramat keras dan ganas, tenaga yang dilontarkan tersembunyi tiga gelombang kekuatan yang dahsyatnya seperti dam-paran ombak mengamuk, gelombang demi gelombang semakin hebat. Miao Tiang-hong menyangka sudah memunahkan pukulan lawan, sekonyong-konyong gelombang kedua sudah menerjang tiba menggetarkan pertahanannya, belum lagi gelombang kedua lenyap, gelombang ketiga sudah melanda tiba pula. Meskipun ajaran silat Miao Tiang-hong cukup tinggi dan luas, baru pertama kali ini ia kebentur oleh lwekang yang keras dan hebat serta aneh ini. Namun ia hanya tergeliat tiga kali tanpa tergeser posisi kakinya, dari sini pun dapat dinilai betapa kokoh pertahanan dan lwekangnya. Sepihak tertawa tiga kali, pihak lain tergeliat tiga kali juga. Semua orang tidak tahu akan likuliku yang tersembunyi dalam kehebatan ilmu kedua orang ini, semua orang sama menyangka dalam gebrak pertama ini Pakkiong Bong sudah unggul seurat, sudah tentu mereka merasa kuatir bagi Miao Tiang-hong. Hanya Pakkiong Bong sendiri yang maklum.

"Thay-ceng-khi-kang memang tidak bernama kosong. Lwekangnya yang ampuh ini, agaknya di atasku dan tidak mungkin lebih asor. Untung kalau tidak sampai kena dikalahkan, untuk menang kukira amat sulit sekali!"

Sementara Miao Tiang-hong pun sedang membatin dalam hati.

"Sebagai komandan Gi-lim-kun, kiranya Pakkiong Bong memiliki kepandaaian yang berlainan dari kaum persilatan umumnya! Kalau hari ini aku harus menang, mungkin harus melabraknya tiga ratusan jurus kemudian!"

Dalam kalangan persilatan umumnya sering dikatakan kelunakan sering mengatasi kekerasan, tapi hal itu tergantung dari keyakinan atau latihan dari pribadi orang itu masing-masing, lwekang latihan Pakkiong Bong yang mengutamakan kekerasan ini sudah dilatihnya mencapai tingkat yang hampir sempurna, untuk mengalahkan Miao Tiang-hong harus tahap demi tahap menguras habis tenaga murninya lebih dulu, di dalam keadaan sama bertahan dan akhirnya kehabisan tenaga barulah dia bisa berhasil.

Dalam gebrak pertama tadi, kedua pihak sudah saling menjajaki tingkat kepandaian lawan, setelah tahu sama tahu mereka tidak berani pandang enteng lawannya, masing-masing lantas melancarkan ilmu pukulan simpanan yang dibanggakan dan lihay, di dalam jarak tiga tombak itu, sejurus demi sejurus mereka bersilat saling serang.

Keduanya sama prihatin dan bermuka kereng.

Tapi bagi penglihatan para penonton, seolaholah mereka sedang berlatih sendiri, tidak begitu menarik seperti pertarungan Beng Goan-cau yang sengit tadi.

Tapi para penonton yang hadir adalah ahli-ahli silat tingkat tinggi juga, lambat laun mereka menyadari juga akan kehebatan dan kemujijatan dari gerak-gerik kedua pihak itu.

Kelihatannya mereka sedang berlatih sendiri-sendiri, namun ilmu pukulan yang dilontarkan masing-masing saling atas mengatasi saling serang.

Kalau musuh menyerang aku membela diri, musuh membela diri aku balas menyerang, keduanya sembabat dan setanding, pertandingan yang aneh ini sebetulnya tidak berbeda dengan pertandingan umumnya, cuma di antara mereka terpaut puluhan langkah jauhnya.

Tapi bagi tokoh silat tingkat tinggi, jarak sedemikian jauh tidak menjadi persoalan.

Pertama, Bik-khong-ciang kedua pihak dapat mencapai sasarannya.

Kedua, begitu permainan sendiri menunjukkan lubang kelemahan, lawan segera bisa merangsak ke tempat lemah itu, apalagi jarak tiga tombak cukup sekali lompat sudah tercapai.

Malah tanpa kepalan tangan mengenai tubuh lawan, kekuatan pukulannya saja cukup dapat melukai lawan dari kelemahan yang diperlihatkan itu.

Pertandingan macam ini bukan saja mengadu ilmu pukulan, sekaligus pun mengadu lwekang, jauh lebih berbahaya dan sengit dari pertandingan silat umumnya.

Pertandingan lwekang sulit di kuti pandangan mata, namun ilmu pukulan yang dimainkan kedua pihak para penonton dapat mengikuti dengan jelas, setiap kali mereka sama melontarkan ilmu pukulan yang lihay, rumit dan mendalam, orang-orang dari kedua pihak lantas membatin sendirisendiri.

"Kalau aku yang menghadapi jurus serangan ini, cara bagaimana aku mengatasinya?"

Sering sebelum mereka mendapatkan jawaban, pertarungan di tengah gelanggang sudah berubah, gerak-gerik dan pukulan-pukulan yang dimainkan oleh kedua orang yang bertanding selalu jauh lebih menakjubkan dan lihay dari apa yang mereka simpulkan.

"Oh, kiranya begitu cara memunahkannya!"

Lahirnya kelihatan tujuh bagian Pakkiong Bong menempatkan diri pada penyerangan, telapak tangan membelah jari-jari menotok, setiap jurus permainannya amat ganas dan mematikan, yang diarah selalu tempat-tempat penting di badan Miao Tiang-hong.

Tapi Miao Tiang-hong berlaku sigap, setiap jurus setiap serangan dapat ia punahkan dengan baik, sikap dan gerak-geriknya malah jauh lebih wajar dan bebas dari Pakkiong Bong.

Sekonyong-konyong Pakkiong Bong menghardik bagai geledek mengguntur, pukulannya mendadak dipergencar lagi.

"Wut, wut"

Beruntun ia lontarkan tujuh pukulan berantai, satu tombak di sekitar gelanggang, batu pasir beterbangan, orang yang berdiri dekat gelanggang pun, merasa sampukan angin keras pada mukanya, rasanya seperti di ris pisau.

Badan Miao Tiang-hong tampak bergoyang gontai, seolah-olah sebuah perahu yang sedang meronta di tengah gelombang badai samudra raya, timbul tenggelam tidak menentu.

Namun demikian ia masih tetap bertahan tidak sampai terjungkal oleh terjangan gelombang ombak yang dahsyat.

Ia masih tetap berdiri di tempatnya, seperti kedua kakinya itu sudah terpaku di atas bumi, sesenti pun tidak tergeser.

Beng Goan-cau berpikir.

"Nah inilah kejanggalan yang dinanti-nantikan? Setelah Miao-toako memunahkan tujuh pukulan niusuh yang keras dan dahsyat ini, perubahan yang lebih menguntungkan agaknya bakal didapatkan."

Tadi dengan golok cepatnya ia merabu Pakkiong Bong, beruntun Pakkiong Bong mundur tujuh tapak untuk memunahkan rangsakannya.

Kini Pakkiong Bong meniru perbuatan Beng Goan-cau tadi menggempur Miao Tiang-hong, penyakitnya sama seperti keadaan Beng Goan-cau tadi.

Sebagai ahli silat sudah tentu Pakkiong Bong menyadari akan hal ini, lalu kenapa ia meniru perbuatan Beng Goan-cau tadi?

Itulah karena dia dipaksa oleh situasi, ia pikir kalau pertempuran berjalan terlalu lama, dirinya tentu sulit mengambil keuntungan, maka terpaksa ia harus menempuh suatu keberuntungan jalan pendek sambil menyerempet bahaya.

Betul juga setelah ketujuh jurus serangannya ini, jidat Pakkiong Bong sudah basah oleh keringat, meskipun tidak sampai berketes-ketes, jelas kelihatan sudah terlalu banyak makan tenaga.

Sebaliknya sikap Miao Tiang-hong tetap wajar dan tenang seperti biasa.

Kalau Beng Goan-cau dapat melihat titik tolak ini, sudah tentu Sebun Soh, Hian-hong Tojin pun dapat melihatnya.

Mendadak Hian-hong membentak.

"Waktu sudah berlarut, marilah kita tentukan secara beramai saja. Pihak kalian empat orang, kami pun empat orang, masing-masing pihak tidak dirugikan. Beng Goan-cau, biar aku mohon petunjuk golok cepatmu lagi."

Dari pertandingan satu lawan satu, keadaan menjadi ribut dan ramai dengan pertempuran kalang kabut, masing-masing pihak sama mencari lawan sendiri-sendiri. Miao Tiang-hong mendengus, jengeknya.

"Ciong-ling Tayjin, bukankah kita belum ada ketentuan kalah dan menang!"

"Cay-piauthau tadi sudah bicara, dia ingin ikut terjun dalam keramaian ini. Entah kapan baru kita ada kesudahan kalah menang, kalau mereka menonton terlalu lama, kaki tangan tentu menjadi gatal. Biarlah semua orang ikut meramaikan suasana saja. Toh jumlah masing-masing sama, kalian toh tidak dirugikan. Po-siang Hoatsu, semua anak buahmu dilarang ikut campur, dan kau boleh menjadi saksi saja"

Po-siang Hoatsu mengiakan lalu mundur ke sebelah belakang, segera ia pimpin anak buahnya membentuk Chit-sat-tin, dari kejauhan mereka mengambil sikap mengepung.

Lwekang yang diyakinkan Pakkiong Bong menempuh jalan kekerasan, dalam berkata-kata itu, tenaga pukulan yang dia lontarkan sedikit pun tidak menjadi kendor.

Dalam hal ini Miao Tianghong harus mengakui keunggulan lawan.

Miao Tiang-hong hanya bicara di saat ia berkesempatan ganti napas, lantas rangsakan lawan melanda pula membuat ia tidak berani memecah perhatian lagi.

Sebelumnya Pakkiong Bong sudah memperhitungkan bahwa pihak dirinya terang lebih unggul dan pasti menang, maka sengaja ia berolok-olok.

Memang perhitungan Pakkiong Bong tidak meleset, tidak lama setelah pertarungan ramairamai ini berlangsung, pihaknya sudah unggul di atas angin.

Hian-hong Tojin menghadapi Beng Goan-cau sebagai lawannya, Beng Goan-cau menjengek dingin.

"Semalam cepat benar larimu ya!"

"Orang she Beng, jangan bermulut besar, hari ini akan kubuat kau lari pun tidak akan bisa kabur!"

"Memangnya kau mampu?"

Jengek Beng Goan-cau.

"Lihat saja buktinya!"

Sembari berkata beruntun ia sudah membacok dan menyerang tiga puluh enam jurus! Bercekat hati Hian-hong Tojin.

"Dia masih kuasa melancarkan permainan goloknya yang begini cepat, apakah mataku salah lihat?"

Setelah bertempur beberapa waktu lagi, mendadak Beng Goan-cau rasakan lengan atasnya rada-rada pegal linu, golok yang dilancarkan menjadi terganggu seolah-olah tenaga sulit dikerahkan lagi.

Walaupun masih lebih cepat dari permainan ilmu golok umumnya, tapi gerakgeriknya tidak sehebat dan secepat tadi yang dapat bergerak menuruti kesukaan hatinya dan wajar.

Ternyata waktu bertempur dengan Pakkiong Bong tadi, di ujung pedangnya orang menggunakan ilmu meminjam benda menyalurkan tenaga, lwekangnya dikerahkan di ujung pedangnya, lwekang ini rada aneh, yaitu mengandung tenaga gelap yang dapat membokong di luar tahu lawannya, adalah mending kalau Beng Goan-cau tidak lantas bergebrak, sekali ia turun tangan, luka-luka yang diderita dari bokongan ini seketika kumat.

Untung kepandaian sejatinya memang jauh lebih unggul dari Hian-hong Tojin, maka ia masih kuat bertahan sampai setanding saja dengan Hian-hong Tojin.

Kalau di sebelah sini Beng Goan-cau melabrak Hian-hong Tojin dengan sengit, di sebelah lain, Yam-yam hwesio pun sudah bertarung melawan Cay Kin.

Kedua pihak sama membekal ilmu tunggal perguruan masing-masing, begitu bentrok lantas sama keluarkan keahlian yang diandalkan.

"Wut"

Kontan Yam-yam Taysu menyerang lebih dulu, angin pukulannya seolah-olah hawa panas yang merembes keluar dari tungku yang membara, suhu panas seketika berkembang ke empat penjuru.

Dengan telapak tangan menghadap ke dalam Cay Kin gunakan sejurus Jiu-hwi-biba (tangan memetik gitar), ia balas menyerang dengan pukulan Im-ciang.

Yam-yam bertindak terlalu berani, belum lagi ia menarik tangan kanannya, telapak tangan kiri sudah menyerang pula secara berantai, dengan kekerasan ia main terobos ke kanan menerjang ke kiri.

Permainannya ini justru cocok akan hasrat Cay Kin, seketika ia berseru.

"Serangan bagus!"

Telapak tangan ia rubah dengan kepalan, sementara kaki sekokoh tonggak tertanam dalam tanah, ia mendesak maju, telapak tangan dan kepalan bekerja bersama, kelihatannya serangannya ini hanya sejurus saja, bahwasanya mengandung enam tujuh gerak variasi yang lihay dari Tay-kinna-jiu-hoat.

Begitu Yam-yam Taysu lancarkan pukulan Bik-khong-ciang tahu-tahu ia rasakan angin kencang menerjang mukanya, kiranya kepalan Tiang-kun Cay Kin sudah memukul tiba.

Lekas Yam-yam mengegos sambil miringkan badan, lalu diteruskan dengan gerakan Burung Hong Menganggukkan Kepala, berbareng telapak tangan kiri didorong ke luar, dengan pukulan Im-ciang, telapak tangannya memukul ke dada Cay Kin.

Siapa tahu tujuh puluh dua Tay-kim-na-jiu Cay Kin dapat bergerak begitu lincah serba mengandung variasi yang membingungkan, tiba-tiba berisi kadangkadang kosong dan sulit diraba perubahannya, bukan saja hebat amat menakjubkan pula.

Tibatiba ia menghardik "Kena!"

Jari tangannya mengait balik, ia berhasil menggait perge-langan tangan Yam-yam Taysu.

Di saat Cay Kin hendak meneruskan mengembangkan Hun-kin-joh-kut-hoat memelintir putus pergelangan tangan orang, tiba-tiba ia rasakan di mana telapak tangannya menyentuh sesuatu benda yang panas membara, seolah-olah ia menangkap sebuah batang besi yang dibakar membara.

Lekas Cay Kin mengendorkan tangan dan mencelat mundur.

Kedua pihak sama-sama kaget oleh kepandaian masing-masing, sesaat mereka tidak berani bertindak gegabah dan merangsak lagi dari jarak dekat.

Kiranya latihan ilmu Yam-yam Taysu adalah Hwe-liong-kang (kekuatan naga api), semacam ajaran ilmu sesat dari aliran Mi-ciong di Tibet.

Kalau ilmu ini diyakinkan mencapai tingkat tertinggi, setiap tempat di atas badan seolah-olah bara api panasnya, bagi latihan Yam-yam Taysu sendiri masih terpaut jauh mencapai tingkatan ini, ia harus menunggu bila musuh menyentuh badannya, baru ia bisa kerahkan lwekangnya untuk menggempur ke tempat di mana menjadi sasaran musuh.

Tapi karena perlawanan ini toh Cay Kin cukup menderita, seketika ia rasakan bibir kering dan tenggo-rokan gatal, rasanya amat panas sekali.

Ternyata keahlian Cay Kin hanya di bidang Tay-kim-na-jiu, dalam hal lwekang, memang latihannya terpaut rada jauh dari Yam-yam hwesio.

Tapi Yam-yam Taysu sendiri pun cukup menderita pula, walaupun kekuatan cengkeraman Cay Kin tadi belum tersalur seluruh kekuatannya, sendi tulangnya toh sudah cedera sedikit, maka lengan kanannya itu menjadi tidak leluasa gerak-geriknya.

Setelah kedua pihak sama-sama kaget dan mendapat rugi, maka dalam gebrak selanjutnya, mereka meningkatkan kewaspadaan dan tidak berani bertindak tanpa perhitungan.

Yam-yam takut menghadapi Tay-kim-na-jiu orang, maka ia tidak berani merangsak terlalu dekat, mau tidak mau Cay Kin harus berjaga-jaga akan Hwe-Iiong-kang lawan yang lihay, maka selalu ia menghindarkan diri bentrok secara kekerasan.

Karena adanya kekuatiran ini, Cay Kin yang harus bertempur secara beruntun, lama kelamaan terkuras tenaganya, akhirnya ia terdesak di bawah angin.

Pasangan terakhir adalah Li Kong-he melawan Sebun Soh.

Sebun Soh adalah sute Pakkiong Bong, meski kepandaiannya jauh dibanding suhengnya, tapi ia rada unggul sedikit dari Yam-yam Taysu.

Sebaliknya Li Kong-he merupakan lawan yang paling muda, sudah tentu bekal lwekangnya pun paling rendah pula.

Tapi seumpama kambing kecil yang tidak mengenal takut berhadapan dengan harimau, Li Kong-he kembangkan ilmu pedangnya, bagaikan gelombang sungai besar bergulung ke depan, menggunakan kelincahan dan kehebatan permainan ilmu pedangnya untuk menambal kekurangan lwekangnya yang rendah, mau tidak mau Sebun Soh harus berhati-hati melawan ilmu pedangnya.

Beberapa kejap kemudian, terpaksa Sebun Soh melancarkan Hian-im-ci, segulung angin dingin menyembur keluar dari jentikan jari tangannya, seketika Li Kong-he bergidik tanpa kuasa.

Sebun Soh girang, bentaknya.

"Anak muda, lepaskan pedangmu!"

Ia kira lawan sudah terkena serangan hawa dinginnya yang beracun, terang orang tidak akan kuat bertahan.

Tak nyana bukan saja Li Kong-he tidak melepaskan pedangnya, malah sebat sekali ia balas menyerang, maka tangan Sebun Soh yang terjulur hendak mencengkeram tulang pundaknya seakan-akan disodorkan untuk ditabas oleh pedang Li Kong-he untung ia bergerak cukup sebat, lekas-lekas menarik balik, hampir saja kelima jarinya terpapas kutung.

Ternyata Hian-in-ci latihan Sebun Soh ini merupakan pecahan dari ilmu Siu-lo-im-sat-kang, sama-sama menggunakan hawa dingin beracun untuk melukai musuh, tapi tidak selihay Siu-lo-im sat-kang sendiri.

Memang latihan lwekang Li Kong-he belum matang, namun yang dilatihnya adalah lwekang ajaran lurus yang murni.

Malah kalau dinilai dari kemurnian, terang Sebun Soh bukan tandingannya.

Cukup ia kerahkan hawa murni tiga kali berputar dalam badannya, maka hawa beracun yang mengendap masuk ke dalam badannya sudah berhasil dia sapu bersih seluruhnya, maka ia hanya bergidik saja.

Sayang meski lwekangnya murni, bagaimana juga masih kurang latihannya, di samping harus melawan hawa dingin beracun lawan, ia pun harus menghadapi jurus-jurus serangan lawan, maka lama kelamaan ia terdesak di bawah angin.

Walaupun sedang bertempur sengit melawan Pakkiong Bong, mata kuping Miao Tiang-hong dipasang dengan cermat, ia selalu perhatikan keadaan teman-temannya.

Serta dilihatnya cuma Beng Goan-cau yang mampu bertahan setanding melawan Hian-hong Tojin, meski dalam waktu dekat Cay Kin dan Li Kong-he masih mampu bertahan, kalau bertempur terus akhirnya toh tidak menguntungkan.

Situasi tegang agak gawat bagi pihaknya.

Pertempuran tokoh-tokoh silat kelas tinggi mana boleh memencar perhatian atau konsentrasi, di saat Miao Tiang-hong kuatir bagi keselamatan temannya, sekonyong-konyong Pakkiong Bong menghardik mengguntur, kedua telapak tangannya menggenjot bersama, tenaga pukulannya bagai gugur gunung melanda tiba, serta merta Miao Tiang-hong diterjang sampai tersurut mundur dua tindak.

Begitu Pakkiong Bong merangsak sambil menggerakkan langkahnya, lekas Miao Tiang-hong pusatkan perhatiannya, ia balas menyerang dengan Thay-ceng-khi-kang.

Jarak mereka semula ada tiga tombak, kini Pakkiong Bong melangkah maju tiga tindak, maka jaraknya tinggal kira-kira dua tombak, begitu tenaga pukulannya dilontarkan, seolah-olah membentur selapis dinding baja yang tidak kelihatan.

Kiranya lwekang latihan Pakkiong Bong yang mengutamakan kekerasan, paling berguna untuk menyerang dari jarak jauh, sebaliknya lwekang Miao Tiang-hong yang mengutamakan lunak khusus berguna bagi pertempuran jarak dekat.

Kekuatan terjangan musuh semakin kuat, pertahanan pantulan balik tenaga lawan pun semakin besar.

Mencelos hati Pakkiong Bong, segera ia berseru.

"Buronan seharusnya ditangkap hidup-hidup, tapi kalau tidak bisa dibekuk hidup, mati pun bolehlah! Kuijinkan kalian turun tangan membunuh mereka bila perlu!"

Yam-yam Taysu dan Sebun Soh yang berada di atas angin segera berseru mengiakan.

Hanya Hian-hong karena tertekan oleh kehebatan golok cepat Beng Goan-cau, maka tidak sempat ia bisa membuka mulut.

Pakkiong Bong memang licik dan licin, dengan gembar-gembornya ini, memang ia hendak memecah perhatian Miao Tiang-hong.

Sebisa mungkin Miao Tiang-hong pusatkan pikirannya, tapi temannya selalu menghadapi marabahaya, bagaimanapun ia berlaku tenang akhirnya konsentrasinya terpengaruh juga.

Di saat pertempuran semakin memuncak hampir dapat ditentukan pihak mana yang bakal unggul, terang pihak Beng Goan-cau berempat tidak akan bisa meloloskan diri, sekonyongkonyong gema genta terdengar bertalu-talu berkumandang di udara pegunungan nan sunyi dari kelenteng Hu-hud-si.

Begitu mendengar suara genta besar di kelenteng Hu-hud-si bertalu-talu, Po-siang dan para Lama lainnya sama tercengang dan kaget, entah apa yang terjadi di sana?

Genta besar yang berada di dalam Hu-hud-si biasanya tidak boleh sembarangan dibunyikan, kecuali ada perkara genting, siapapun dilarang membunyikan genta itu.

Begitu bunyi genta berkumandang seluruh Lama penghuni kelenteng harus segera berkumpul.

Para Lama Hu-hud-si yang ada sudah disebar menjadi dua kelompok, separuh di antaranya tetap berada di tempat menjaga kelenteng, sementara yang berkepandaian rada tinggi sudah meluruk datang semua, kini mereka sedang membentuk Chit-sat-tin di bawah komando Po-siang Hoat-su sendiri mengepung musuh.

Kalau dalam keadaan biasa, begitu mendengar bunyi genta dipukul, para Lama itu harus segera lari pulang, tapi sekarang dalam keadaan gawat, meski pihak Pakkiong Bong berada di atas angin, namun seorang musuh pun belum berhasil dibekuk, kalau Chit-sat-tin mereka harus ditarik mundur, sia-sialah kerja keras mereka selama ini.

Po-siang Hoat-su amat heran.

"Kenapa justru saat segenting ini genta dibunyikan, memangnya terjadi sesuatu?"

Dari Hu-hud-si ke Ing-tho-gou hanya perjalanan beberapa li jauhnya, berpikir Posiang Hoat-su, lebih baik kukirim seorang utusan menyirapi keadaan di sana lebih dulu, tapi kuatir urusan terlalu penting, kalau pulang pergi tentu memakan waktu dan mungkin bisa membuat urusan lebih runyam.

Pulang atau tidak?

Di saat ia ragu-ragu dan sulit berkeputusan itu, salah seorang Hu-hoat Lama yang berjaga di dalam kelenteng tampak sedang berlari mendatangi dengan langkah tergopohgopoh dan napas ngos-ngosan.

"Ada apa sampai membunyikan genta?"

Segera Po-siang Hoatsu menegur. Belum lagi napas Lama itu teratur, ia menjawab dengan suara sesak.

"Ba... baginda berkunjung ke kelenteng kita. Hoat-su, lekas, lekas kembali menyambut kedatangan beliau."

Bahwa baginda raja datang berkunjung, sungguh mimpi juga mereka tidak menduga.

Bukan saja Po-siang Hoatsu dan para Lama kaget, Pakkiong Bong dan para begundalnya yang sedang bertempur ikut kaget dan heran, seketika pikiran mereka menjadi kalut dan tidak tentram.

Sebetulnya Cay Kin dan Li Kong-he sudah hampir kalah, di saat perhatian lawan terpencar inilah, mereka bertindak cepat, dari membela diri kini mereka balik menyerang.

Bagaimana juga Pakkiong Bong jauh lebih berpengalaman dan cerdik, sekilas ia tertegun, kejap lain ia lantas berseru.

"Kukira ada sesuatu yang kurang beres!"

Po-siang Hoatsu sontak tersentak sadar, sekali raih mendadak ia cengkeram muka Huhoat Lama itu, keruan Lama itu amat kaget, teriaknya.

"Hoatsu, apa yang kau lakukan?"

Ternyata Po-siang Hoatsu mengira Lama ini adalah samaran Li-ma-cu, cengkeramannya ini sekaligus akan membongkar dan membuktikan muka aslinya.

Setelah jari-jari-nya menyentuh kulit tubuh orang barulah ia sadar bahwa orang memang tulen adanya.

Po-siang tidak sempat memberi penjelasan, ia tarik tangannya terus bertanya.

"Kenapa tidak terdengar roda kereta dan derap lari kuda?"

Maklumlah kalau benar Baginda datang berkunjung, pastilah dia di ringi oleh sepasukan berkuda dengan persenjataan lengkap melindunginya.

Jarak Hu-hud-si tidak terlalu jauh, dari tempat ini seharusnya lapat-lapat bisa mendengar derap kaki kuda dan menggelindingnya roda kereta di tanah pegunungan.

Kalau dikatakan baginda menyamar sebagai rakyat jelata untuk bersembahyang di Hu-hud-si, sungguh kenyataan ini sulit dibayangkan akibatnya.

"Baginda belum tiba, tapi..."

Belum habis Hu-hoat Lama itu menerangkan, tampak dua orang anggota Gi-lim-kun juga berlari mendatangi.

Kedua perwira Gi-lim-kun yang berlari mendatangi ini bukan lain adalah orang-orang yang pernah dilabrak oleh Beng Goan-cau di rumah Hun Ci-lo tempo hari, yaitu Ha Ping dan Liau Hoan.

Kepandaian kedua orang ini sih tidak begitu tinggi, tapi pandai bekerja dan cermat bertindak, maka Pakkiong Bong sengaja tanam mereka untuk bertugas di Hu-hud-si.

Melihat mereka berlari datang, lekas Pakkiong Bong berseru tanya.

"Apa benar Baginda datang?"

"Baginda sendiri belum tiba,"

Sahut Ha Ping.

"Tapi mungkin sebentar bakal tiba."

Liau Hoan ikut bicara.

"Sat-congkoan dan Ong-kongkong sudah tiba di Hu-hud-si lebih dulu, mereka akan menyiapkan segala sesuatunya di sana lebih dulu."

Ong-kongkong yang mereka maksudkan adalah abdi dalam yang berkuasa di dalam mengurus segala keperluan Baginda.

Pakkiong Bong sendiri cukup jelas segala seluk beluk di dalam istana, maka tidak perlu diberi penjelasan panjang lebar.

Mendengar penjelasan Liau Hoan ini, barulah Po-siang paham duduknya urusan, kiranya Satcongkoan dan Ong-kongkong datang lebih dulu hendak memberi tahu mereka untuk siap menyambut, jadi baginda sendiri belum tiba "Tak heran tidak kedengaran roda kereta dan derap ramai kaki kuda."

Sebagai komandan Gi-lim-kun sudah tentu Pakkiong Bong jauh lebih paham segala aturan dan tata keadatan serta prosesi kebesaran di dalam istana raja, setiap kali baginda mengadakan inspeksi ke sesuatu daerah, boleh dikata merupakan suatu kejadian yang luar biasa, maka diperlukan para pembesar terdekat yang sering mengiringi baginda jalan di depan sebagai pelopor, mempersiapkan penyambutan secara kebesaran, supaya tidak terjadi sesuatu keganjilan yang bisa menimbulkan bahan tertawa khalayak ramai.

Maka meski ia merasa mendadak dan di luar kebiasaan bahwa baginda datang sendiri ke Hu-hud-si, tapi rasa curiganya sudah lenyap sama sekali.

Pula didengarnya yang menjadi pelopor kedatangan baginda adalah Sat-congkoan dan Ongkongkong, Sat-congkoan merupakan musuh bebuyutannya di dalam mengum-pak dan mengambil hati sang baginda demi kepentingan masing-masing, mau tidak mau mencelos hatinya.

Dalam pada itu ia masih bertarung sengit melawan Miao Tiang-hong, mulut bicara sementara kaki tangannya tetap bergerak tanpa menjadi kendor, karena tidak sempat berpikir, segera ia berteriak.

"Apa benar Sat Hok-ting tiba? Apakah dia tahu kalau aku sedang berada di sini mengejar buronan?"

"Mungkin mereka hanya mendapat kabar, belum tentu beliau tahu duduk perkara sebenarnya,"

Demikian Ha Ping menjawab. Liau Hoan pun ikut berkata.

"Betul, Sat-congkoan kini berada di biara, sedang menunggu kedatangan Tayjin."

Sembari bicara diamdiam ia memberi kedipan mata kepada Pakkiong Bong.

Po-siang Hoatsu hanya sedikit tahu bahwa Pakkiong Bong dengan Sat Hok-ting memang ada pertikaian yang mendalam, namun ia tidak tahu sampai di mana taraf permusuhan mereka, katanya.

"Pakkiong Tayjin, menyambut kedatangan baginda lebih penting, maka tidak perlulah menuruti aturan kangouw segala, ijinkan kami ikut membantu untuk membekuk para buronan ini, kebetulan nanti bisa mendapat pahala dari Baginda raja."

Lekas Liau Hoan berkata.

"Kau sudah tahu menyambut kedatangan Baginda lebih penting, kenapa harus main ulur-ulur waktu lagi, beranikah kau memikul dosa mengabaikan perintah raja?"

"Betul,"

Sela Pakkiong Bong.

"menangkap buronan meski penting, tapi biarlah hari ini sementara kita lepas mereka pergi, kelak mereka tidak akan bisa lolos dari tanganku."

Kiranya yang dikuatirkan Pakkiong Bong adalah kehadiran Sat Hok-ting di sini, kalau ia berhasil membekuk buronan, mungkin malah tidak menguntungkan bagi posisinya.

Seperti diketahui untuk memukul muslihat keji Sat Hok-ting, semalam Pakkiong Bong suruh Boh Cong-tiu menyamar sebagai kaum pendekar, membantu Utti Keng menolong Li Kong-he, lalu menggunakan Boh Congtiu pula untuk memancing Beng Goan-cau, dan tujuan terakhir adalah menjaring seluruh kaum pendekar atau orang-orang gagah seluruh bulim yang melawan pemerintah.

Rencananya ini boleh dikata sekali sambit kena tiga.

burung, muslihatnya cukup licin, keji dan telengas, tapi seluk beluk rahasianya ini sudah tentu pantang diketahui oleh baginda raja.

Sampai detik ini ia belum bertemu Boh Cong-tiu untuk mendengar laporannya, bahwasanya ia belum tahu bahwa yang menolong Li Kong-he dari tahanan sebetulnya adalah orang lain.

Akhirnya diketahui pula bahwa Li Kong-he melarikan diri ke rumah keluarga Cay dan di sana ada pula Beng Goan-cau, hal ini betul-betul di luar dugaannya pula, maka rencananya mau tidak mau selalu mengikuti situasi berubah dan berubah lagi, terpaksa akhirnya ia sendiri yang harus tampil untuk menangkap Beng, Li dan lain-lain.

Tapi bagaimana cerdiknya ia mengubah siasatnya, ada satu hal tidak mungkin ia ubah lagi, yaitu harus menguntungkan bagi dirinya.

Berpikir Pakkiong Bong.

"Sat Hok-ting adalah rase tua, mungkin dia sudah curiga akan kejadian semalam. Siapa yang begitu hafal akan keadaan istananya sehingga berhasil dengan gampang menolong keluar tawanan, bukan mustahil dia sudah curiga kepadaku? Walau tidak kecil jasaku menangkap para buronan tapi kalau tiga pihak diadu berhadapan di depan Baginda, mungkin bisa membawa akibat fatal bagi diriku sendiri."

Karena pertimbangannya ini, pelan-pelan Pakkiong Bong lantas menarik tangannya, serunya.

"Miao Tiang-hong, terhitung nasibmu mujur hari ini, oleh kedatangan Baginda, biar kalian hidup beberapa hari lebih lama lagi."

Pakkiong Bong,"

Kata Miao Tiang-hong dingin.

"kau kan terhitung seorang tokoh, siapa menang siapa kalah, hati masing-masing lebih jelas. Lain kali kalau kau kebentur di tanganku, mungkin belum tentu kau bisa mendapat nasib semujur seperti hari ini."

Gerak golok Beng Goan-cau laksana kilat, di saat Hian-hong Tojin menarik serangan dan melompat keluar kalangan.

"sret"

Ia berhasil memapas separuh lengan bajunya, lalu jengeknya dingin.

"Bagus sekali, Pakkiong Bong, kalian hendak pura-pura menjadi pahlawan, biar kita bertempur tiga ratus jurus lagi di hadapan rajamu."

Tiada tempo Pakkiong Bong adu mulut dengan mereka, setelah sekedar menyampaikan basabasi demi menjaga gengsi, lekas ia tarik mundur begundalnya termasuk para Lama kembali ke Huhud-si.

Miao Tiang-hong beramai cepat turun gunung pula dari jurusan yang berlawanan.

Sungguh mereka tidak menduga di dalam keadaan gawat, tahu-tahu mereka bisa lolos dari marabahaya, sekian lama mereka berpikir-pikir sambil berjalan, namun tidak habis mengerti dan akhirnya sama mereka-reka belaka.

Kata Beng Goan-cau.

"Urusan kali ini rada janggal, kalau toh benar baginda raja tiba, seharusnya Pakkiong Bong bekerja lebih semangat, meski harus berkorban jiwa menangkap kita, toh bisa mendapat jasa-jasa tinggi dari junjungannya, kenapa ia malah mengundurkan diri? Katanya lebih penting menyambut kedatangan raja, terang hanya mengada-ada saja. Entah terselip persoalan rumit apa di dalam kejadian ini."

"Rencana busuk apa yang dilaksanakan Pakkiong Bong, kita tidak usah peduli. Tapi bahwa baginda mereka mendadak datang berkunjung, di situlah letak keanehannya,"

Demikian ujar Miao Tiang-hong.

"Aku sebaliknya kuatir akan keselamatan Kwi-hwe-thio dan Li-ma-cu,"

Demikian timbrung Cay Kin.

"Kalau mereka kebentur rombongan Sat Hok-ting bersama jago-jago bhayangkarinya, mungkin sulit dapat meloloskan diri."

Beng Goan-cau menjadi kuatir, katanya.

"Betul. Setelah tiba di bawah gunung, segera kita harus menemukan mereka lebih dulu."

Mereka sama membekal ginkang yang tinggi, tanpa terasa tahu-tahu sudah tiba di bawah Saysan, tiba-tiba di kaki bukit sana mereka melihat dua orang.

Cay Kin kenal betul, satu di antara kedua orang itu adalah komandan pasukan Bhayangkari Sat Hok-ting, seorang lain yang berpakaian ala thaykam, mungkin adalah Ong-kongkong seperti yang disebut oleh Liau Hoan tadi.

Baru saja mereka merasa kaget, Sat Hok-ting itu bergelak tertawa, serunya.

"Bagus ya, kalian buronan yang bernyali setinggi langit, aku orang she Sat sejak tadi sudah menunggu kedatangan kalian."

Li Kong-he pernah tertawan dan dihina dan disakiti oleh Sat Hok-ting, kini mendadak melihat musuh menghadang jalan, seketika berkobar amarahnya.

"sret"

Kontan ia melolos pedang, bentaknya.

"Keparat, Sat Hok-ting, marilah tangkap aku ini!"

Beng Goan-cau cukup cermat, pikirnya.

"Bukankah Sat Hok-ting sedang mempersiapkan segala keperluan untuk menyambut kedatangan baginda, di Hu-hud-si, mana mungkin meninggalkan tugasnya itu? Memang nyalinya setinggi langit berani membawa thaykam yang tidak pandai main silat untuk menangkap buronan?"

Waktu Li Kong-he melolos pedang dan hendak melabrak maju, tiba-tiba tergerak hati Beng Goan-cau, teriaknya.

"Kau Li-ma-cu atau Kwi-hwe-thio? Kelakar ini sudah cukup dimainkan sampai di sini saja!"

Sat Hok-ting bergelak tertawa, sekali raih ke mukanya, tampak wajah orang yang asli burikan, demikian juga thaykam itu kembali pada keadaan semula, bukan lain adalah samaran Kwi-hwethio.

Kaget dan girang pula Li Kong-he dibuatnya, diam-diam ia malu diri, katanya.

"Untunglah Beng Tayhiap berpandangan tajam, kita kena kalian kelabui!"

Beng Goan-cau tertawa, katanya.

"Pakkkiong Bong berkata kita beruntung karena kedatangan baginda, ucapannya itu agaknya memang betul. Di mana bagindanya?"

"Permainan ini bahwasanya hanya kami berdua saja yang menjadi peran utamanya, mana ada baginda raja segala?"

Cay Kin paham, katanya.

"Kiranya baginda datang berkunjung apa segala bahwasanya hanya tipu muslihat saja!"

Li-ma-cu tertawa lebar, katanya.

"Cukup dengan kedatangan Sat Hok-ting dengan seorang thaykam pengurus kebesaran tiba di Hu-hud-si, meski mau tidak mau mereka harus anggap kenyataan."

"Cara bagaimana kalian bisa memerankan sandiwara ini? Bagaimana jalan ringkasan ceritanya, aku masih belum paham,"

Demikian tanya Beng Goan-cau.

"Gampang saja, aku menyaru Sat Hok-ting, dia menyamar jadi thaykam, dengan lenggang kangkung kami tiba di Hu-hud-si dan menyampaikan perintah palsu, dengan kerjasama kami yang cukup lihay, dengan mudah sekali kami tipu mereka mentah-mentah."

"Jadi setelah berhasil menipu kawanan Lama di Hu-hud-si memukul genta, lalu kalian mengundurkan diri meninggalkan Hu-hud-si?"

Tanya Cay Kin.

"Betul-betul, sudah tentu kita tidak begitu bodoh menunggu kedatangan Pakkiong Bong untuk membongkar kepalsuan kita,"

Sahut Li-ma-cu.

"Lalu dari mana kalian bisa mendapatkan pakaian serba lengkap ini?"

Tanya Beng Goan-cau.

"Inilah jasa Thio-toako yang menunjukkan kesaktiannya,"

Kata Li-ma-cu.

"Aku tahu di kampung berdekatan sana ada menetap seorang tokoh sandiwara yang sudah terkenal main di atas panggung, sekarang dia mengajar saja kepada murid-muridnya. Di rumahnya ada menyimpan banyak perlengkapan untuk main di panggung, seragam militer dan pakaian thaykam ini hasil curianku di rumahnya itu."

Semua orang terpingkal-pingkal mendengar penjelasannya ini. Kata Cay Kin memuji.

"Untunglah dalam waktu dua jam yang begitu singkat, kalian bisa melakukan pekerjaan begitu banyak."

Tidak ketinggalan Miao Tiang-hong pun memuji.

"Permainan sandiwara kalian ini sungguh sukses dan menakjubkan."

"Dalam sandiwara ini masih ada sandiwaranya pula,"

Ujar Kwi-hwe-thio.

"Apa itu sandiwara dalam sandiwara?"

Tanya Beng Goan-cau.

"Itulah hasil karya Ma-cu-ko, biar dia sendiri yang menjelaskan."

Kata Li-ma-cu.

"Di saat Kwi-hwe-thio pergi mencuri pakaian, kebetulan di tengah jalan aku bertemu dengan sekawanan pengemis kelana, kuberikan mereka sekedar uang pesangon dan kusuruh mereka mengadakan permainan."

"Coba kalian tebak permainan apa yang harus dilakukan oleh kawanan pengemis kelana itu?"

Tanya Kwi-hwe-thio. Semua orang sama menebak, tapi tiada satu pun yang tepat. Akhirnya Li-ma-cu menerangkan.

"Kusuruh mereka main kejar-kejaran di jalan raya, saling melempar pasir dan tanah."

Li Kong-he melengak, katanya.

"Bukankah kau suruh kawanan pengemis itu menjadi anak-anak nakal? Itu kan permainan anak-anak nakal?"

"Ya, untunglah Ma-cu-ko mendapat akal permainan anak-anak nakal ini, sehingga muslihat kami tidak kelihatan belangnya,"

Kata Kwi-hwe-thio tertawa. Sampai di sini Beng Goan-cau sudah paham, katanya tertawa lebar.

"Tak heran Liau Hoan dan Ha Ping yang biasanya cerdik dan cermat itu, juga percaya bahwa baginda benar-benar datang."

Li-ma-cu lantas menjelaskan kepada Li Kong-he.

"Setiap kali baginda raja mengadakan inspeksi, selalu di ringi pasukan besar sebagai pelindungnya, maka debu pasti mengepul tinggi di jalan raya. Tapi dipandang dari puncak tinggi, dengan keadaan jalan gunung yang berliku-liku dan naik turun lagi, betapapun tajam mata seseorang tidak mungkin bisa melihat jelas kereta atau kuda dari tempat yang begitu tinggi, yang kelihatan hanyalah debu yang mengepul tinggi terhembus angin."

Tanpa terasa Li Kong-he tertawa terpingkal-pingkal, sambil memeluk perut mendengar cerita lucu ini, katanya sesaat kemudian.

"Akal yang bagus. Kedua orang anak buah Pakkiong Bong itu setelah melihat debu membubung tinggi, lalu kelihatan Sat Hok-ting dan seorang thaykam, mana mereka berani main curiga lagi."

"Sayang kita tidak bisa menonton permainan joget kera di Huhud-si selanjutnya,"

Demikian ujar Kwi-hwe-thio.

"Meski tidak bisa lihat toh dapat kita bayangkan,"

Demikian sela Beng Goan-cau.

"Haha, Ciongling Tayjin itu tunggu menunggu sang baginda tidak kunjung datang juga, mungkin gelisahnya dengan mencak-mencak lebih menarik dari permainan joget kera."

"Pakkiong Bong kena kalian permainkan begini rupa, tentu hatinya gemas dan amat dendam. Jelas kita tidak bisa menetap di Pakkhia lagi. Beng Tayhiap, ada urusan apa pula yang belum sempat kau selesaikan?"

Demikian tanya Cay Kin. Berkata Beng Goan-cau.

"Yang paling kukuatirkan hanyalah keselamatan Utti Keng dan Lethocu."

"Aku bisa minta bantuan para sahabat dari Kaypang untuk mencari tahu jejak mereka. Apalagi mereka berdua sama membekal ilmu silat yang tidak rendah, kukira, pasti tidak kurang suatu apa,"

Demikian ujar Cay Kin.

"Benar, harus segera kita rundingkan langkah-langkah kita selanjutnya. Cay-toako, kali ini kami merembet dan membuat kau susah, sungguh hati kami tidak tentram,"

Demikian timbrung Miao Tiang-hong.

"Miao-heng,"

Kata Cay Kin tersipu-sipu.

"Jangan kau berkata demikian, demi teman meski rumah hancur dan badan cacat pun tidak menjadi soal, apalagi keluargaku memang sudah kuungsikan lebih dulu. Sudah lama aku menetap di Pakkhia, sekarang saatnya aku keluar untuk jalan-jalan."

"Cay-toako hendak ke mana?"

Tanya Miao Tiang-hong.

"Ong-piauthau yang memimpin Tin-wan cabang Yang-ciu sudah lama tidak pernah jumpa, bulan depan adalah hari lahirnya yang kelima puluh, kebetulan dengan kesempatan ini sekaligus aku hendak menyambangi sahabat tuaku itu."

"Yang kau maksudkan bukankah Thian-lam-it-cu Ong Thian-thong?"

"Betul, jadi Miao-heng juga kenal padanya?"

"Kalau dikatakan aku malah masih hutang budi padanya. Tiga tahun yang lalu salah satu piausu-nya mengawal separtai barang kawalan lewat di Hway-lam, seorang thaubak dari Hay-soapang di Hway-lam yang baru saja datang dari daerah utara, tidak tahu asal-usul dari partai barang kawalan itu, segera ia turun tangan merampas-' nya. Saking gusarnya, Ong-piauthau hendak mencari perkara kepada Hay-soa-pang, akhirnya atas inisiatifku yang bertindak sebagai penengah, dan untung dia suka memberi muka kepadaku, dengan jalan damai, akhirnya partai barang bisa dikembalikan tanpa kurang suatu apa."

Cay Kin tertawa, katanya.

"Ong-toako memang terkenal berdarah panas dan berangasan, kalau urusan itu dapat diselesaikan secara damai tanpa membuat salah satu pihak dirugikan, sungguh penyelesaian yang adil dan berkat jasa baikmu memang."

"Budi kebaikan yang kuterima dari dia belum lagi sempat kubalas, kali ini kebetulan bisa seperjalanan ke Yang-ciu dengan kau, akan kusampaikan selamat ulang tahun kepadanya."

"Bagus, bagus sekali. Beruntung aku mendapat tuntunan jalan kau seorang tokoh kelana ini sekaligus dapat tamasya di daerah Kanglam yang terkenal akan keindahan alamnya,"

Demikian ujar Cay Kin, lalu ia menoleh dan berkata kepada Beng Goan-cau.

"Song Theng-siau dan sumoaymu berada di Siong-hong-koan di Pat-tat-nia, mungkin aku tidak sempat memberi kabar pula kepada mereka."

"Aku tahu mereka sedang mencari aku, biar segera kususul mereka ke sana,"

Demikian ujar Beng Goan-cau.

Memang kejadian terakhir yang cukup gawat di kota raja Song Theng-siau dan Lu Su-bi belum tahu, maka Beng Goan-cau harus lekas-lekas menyusul ke sana, supaya mereka tidak masuk perangkap bila kembali ke kota raja.

Bahwa Cau, Miao dan Beng bertiga sudah punya tujuan masing-masing, maka Li Kong-he pun segera berkata.

"Aku akan mampir dulu ke cabang di Poting melihat keadaan di sana, lalu putar balik menuju ke Tay-liang-san."

"Kalau ketemu gurumu Kang Tayhiap, harap sampaikan salamku,"

Demikian ujar Cay Kin.

"Kwi-hwe-thio, Li-ma-cu, bagaimana pula rencana kerja kalian selanjutnya?"

Tanya Beng Goancau. Kwi-hwe-thio menjawab sambil tertawa.

"Aku sudah berjanji sama Ma-cu-ko, kami akan kerja sama melakukan dagang tanpa modal, sampai di mana mencuri di mana. Beng-ya tidak perlu kau mengurus diri kami."

Li-ma-cu tertawa, ia menimbrung.

"Tapi, sekarang aku harus membubarkan kawanan pengemis itu Supaya mereka tidak ditangkap."

Segera semua orang berpisah menurut tujuan masing-masing.

Sementara lawan mereka yaitu Pakkiong Bong masih berada di Hu-hud-si, mereka sudah siap-siap hendak menyambut kedatangan sang baginda dengan pikiran muluk-muluk.

Keadaan Hu-hud-si sedang repot dan ribut, semua bekerja keras dengan suasana cukup tegang.

Dengan perasaan kurang tentram dan was-was Pakkiong Bong siap bertemu dengan Sat Hok-ting.

Setelah tiba di kelenteng baru ia tahu bahwa Sat Hok-ting dengan Ong-kongkong itu sudah pergi lagi.

Seorang Lama yang jaga kelenteng memberikan laporan.

"Sat-congkoan dan Ong-kongkong turun gunung menyambut kedatangan baginda, katanya kira-kira satu jam kemudian baginda pasti sudah akan tiba di sini, harap Ciong-ling Tayjin menunggu di sini."

Pakkiong Bong lega hati, katanya.

"Apa sudah kalian siapkan semua?"

"Ciong-ling Tayjin tidak usah kuatir,"

Sahut Lama itu.

"upacara penyambutan yang diajarkan oleh Ong-kongkong sudah kanji pelajari dengan sempurna."

"Baik, kepada mereka yang baru kembali, kau harus perhatikan dan beri pelajaran kepada mereka sekali lagi, setelah itu, semua segera harus berbaris siap menyambut kedatangan baginda."

Lama itu mengiakan sambil membungkuk-bungkuk, segera ia menjalankan perintah, Po-siang juga hendak ikut mempelajari, Pakkiong Bong segera berkata kepadanya.

"Hoatsu tidak usah bingung, nanti aku berada di sampingmu, tiru saja segala petunjukku dan tidak akan nanti salah. Marilah kita kembali ke kamar untuk istirahat, ingin aku bicara beberapa patah dengan kau."

Ternyata Pakkiong Bong hendak minta bantuan Po-siang supaya dalam memberikan keterangan kepada Baginda soal buronan jangan dilaporkan seperti apa adanya sesuai kenyataan.

Hanya dikatakan saja bahwa buronan tidak berhasil dibekuk.

Dia sendiri menjadi sandaran Po-siang Hoatsu, dan dia pun harus menutupi kegagalannya dalam mengepung buronan dengan Chit-sattinnya, maka dengan senang hati ia patuhi permintaan Pakkiong Bong.

Maka mereka, lantas mengarang suatu cerita bualan yang direncanakan lebih dulu, lalu keluar bersama.

Waktu itu para Lama sudah berjajar dalam dua barisan, dari Tay-hiong-po-tiam terus berbaris sampai di pintu gunung, mereka siap menyambut kedatangan baginda raja.

Suasana tegang dan hening berlangsung sekian lamanya, tak nyana tunggu punya tunggu, tanpa terasa satu jam sudah lewat, dua jam sudah berselang, hari sudah menjelang magrib, namun sang baginda yang dinanti-nantikan belum juga kunjung datang.

Mau tidak mau timbul rasa curiga Pakkiong Bong, tanyanya kepada Ha Ping.

"Apa betul tadi kalian melihat debu mengepul tinggi di bawah gunung?"

"Tidak akan salah!"

Sahut Ha Ping dan Liau Hoan bersama. Pakkiong Bong mengerut kening, katanya.

"Seumpama baginda mendadak mengubah hasrat ke lain tujuan dan tidak kemari lagi, Sat Hok-ting kan harus kembali memberi laporan, coba kalian tengok ke sana!"

"Kalau baginda sudah tiba di atas gunung, kepulan debu itu sudah tentu tidak kelihatan lagi,"

Demikian jawab Liau Hoan.

Diam-diam Pakkiong Bong sendiri pun menggerutu, keadaan seperti ini memang serba salah.

Apalagi dilihatnya para Lama yang berbaris untuk menyambut baginda, yang membungkuk pinggangnya sudah sakit, yang berdiri kakinya sudah linu sedang yang berlutut lutut dan tangannya pun sudah perih, malah beberapa Lama yang tidak pernah berlatih silat, sudah tentu kondisi badannya lebih lemah, kelihatan mukanya sudah pucat dan tergeliat hampir roboh.

Berbisik Po-siang Hoat-su.

"Ciong-ling Tayjin, urusan agaknya rada ganjil, hari sudah hampir petang, baginda belum lagi tiba, bagaimana baiknya? Tunggu lebih lanjut atau..."

Pakkiong Bong sendiri masih bingung dan belum bisa memberi putusan, tiba-tiba dilihatnya seseorang berlari naik dengan tergesa-gesa. Po-siang Hoatsu berseru girang.

"Nah, akhirnya ada yang datang juga!"

Dianggapnya orang utusan Sat Hok-ting atau salah satu thaykam pengiring baginda.

Tak nyana setelah orang itu berlari dekat, kelihatan adalah seorang kakek tua.

Hian-hong Tojin dan Pakkiong Bong berseru berbareng, seorang memanggil.

"Susiok!"-Yang lain berteriak.

"Coh-losiansing, kiranya kau!"

Ternyata kakek tua ini bukan lain adalah Coh Thian-hiong yang pernah bertanding dengan Beng Goan-cau di rumah keluarga Hun tempo hari.

Guru Hian-hong Totiang adalah saudara angkatnya, maka ia memanggilnya sebagai susiok.

Coh Thian-hiong segera memberi hormat kepada Pakkiong Bong, katanya.

"Siau-loji (orang tua kecil) sengaja menyusul kemari untuk melaporkan kejadian semalam, sungguh memalukan..."

Tingkat kedudukan Coh Thian-hiong amat tinggi, di dalam markas besar Pakkiong Bong ia dianggap sebagai tamu agung, sudah tentu tidak disamakan dengan tetamu umumnya.

Soalnya Pakkiong Bong masih rada sangsi terhadap Boh Cong-tiu, maka semalam ia mohon bantuannya, ikut mengawasi orang secara diam-diam, kalau terjadi sesuatu di luar dugaan, tentunya dia bisa membantu secara langsung.

Maklumlah sesuai dengan julukan Coh Thian-hiong yaitu Thong-thianhou (rase menembus langit), otak cerdik banyak akalnya, ilmu silatnya pun tinggi, sudah tentu hanya dia yang paling cocok menunaikan tugas rahasia macam ini.

Bahwa Li Kong-he kenyataan memang sudah tertolong keluar malah muncul di rumah keluarga Cay bersama Beng Goan-cau dan lain-lain, sedang Boh Cong-tiu tidak kembali memberi laporan, kedua pertanyaan yang selalu bergulat dalam benaknya ingin segera diketahui oleh Pakkiong Bong.

Tapi sekarang dia punya tugas penting yang harus segera diketahui pula, terpaksa kedua pertanyaan ini sementara ia kesampingkan.

Tanpa menunggu Coh Thian-hiong habis bicara, lekas Pakkiong Bong menggoyang tangan, katanya.

"Kejadian semalam, nanti saja dibicarakan lagi. Coh-losiansing, ingin aku tanya sesuatu kepada kau."

Coh Thian-hiong melengak, tanyanya.

"Ciong-ling Tayjin, kau ingin tahu apa?"

"Adakah di tengah jalan kau bertemu atau melihat baginda raja?"

Coh Thian-hiong kelihatan kaget, serunya.

"Baginda keluar kota raja? Aku tidak tahu!"

"Kalau begitu apa kau melihat Sat Hok-ting bersama seorang thaykam?"

Pakkiong Bong bertanya lagi.

"Tidak pernah kulihat! Sepanjang jalan ini, seorang yang pernah berpakaian rada perlente pun tidak pernah kulihat, apalagi komandan Bhayangkari segala,"

Coh Thian-hiong menjawab dengan heran dan tidak mengerti. Kaget dan kebingungan Pakkiong Bong jauh lebih besar lagi, lekas ia bertanya pula.

"Coba kau pikir pula secara cermat, adakah tokoh-tokoh mencurigakan yang pernah kau lihat dalam perjalananan kemari?"

"O, ya ada!"

Setelah berpikir sebentar Coh Thian-hiong berseru menepuk paha.

"Ada apanya?"

Tanya Pakkiong Bong.

"Kulihat serombongan pengemis dalam jumlah besar sedang main kejar-kejaran seperti anakanak di tengah jalan raya sambil melempar tanah dan pasir. Karena ada tugas penting kukira hanyalah sekawanan pengemis kelana yang sedang membuat gaduh saja, waktu itu aku tidak perhatikan mereka dan tidak ambil peduli. Kini kalau dipikir-pikir, kiranya kawanan pengemis itu tentu adalah anak murid Kaypang!"

Pakkiong Bong sudah paham beberapa bagian, katanya.

"Peduli mereka dari Kaypang atau bukan, baik kita ringkus satu dua orang dulu untuk dikompes keterangannya. Sebun sute dan kau Hian-hong Totiang harap kalian mengerjakan tugas ini."

Sebun Soh dan Hian-hong segera mengiakan dan pergi menunaikan perintah, adalah di luar tahu mereka kawanan pengemis itu sudah dibubarkan oleh Li-ma-cu, ke mana mereka harus menangkap?"

Lalu Pakkiong Bong bertanya kepada Lama besar yang menunggu kelenteng.

"Sat Hok-ting dan Ong-kongkong yang kau lihat itu, adakah salah satu di antara mereka yang jalannya rada kurang beres?"

Lama besar itu berpikir, lalu sahutnya.

"Betul, Ong-kongkong itu jalannya rada pincang, kaki kirinya kelihatan rada timpang kalau berjalan."

Sampai sekarang baru Pakkiong Bong jelas duduknya perkara, katanya.

"Kalian kena ditipu mereka mentah-mentah. Ong-kongkong itu adalah samaran si maling Kwi-hwe-thio."

Ha Ping dan Liau Hoan terkejut, mereka malu dan menyesal, tanyanya bersama.

"Jadi yang menyaru jadi Sat-congkoan itu tentunya Li-ma-cu."

"Jadi kita tidak perlu menyambut kedatangan baginda lagi?"

Tanya Po-siang Hoatsu.

Soalnya Pakkiong Bong belum keluarkan perintah untuk membubarkan barisan, maka menurut aturan terpaksa ia harus mengajukan pertanyaan ini.

Pakkiong Bong menjadi uring-uringan, lupa akan kelalaian sendiri, ia mendengus, katanya.

"Masih perlu menyambut baginda apa segala? Kalau kalian suka menyambut kawanan pengemis boleh berdiri lagi sekian lama! Sudah jangan bikin malu orang saja, bubarkan semua!"

Bagai mendapat keringanan hukuman, para Lama masing-masing bubaran sambil mengelus dada dengan lega. Pakkiong Bong ajak Coh Thian-hiong masuk ke sebuah kamar, katanya.

"Baiklah, Cohlosiansing, sekarang boleh kau katakan pengalamanmu semalam."

"Ciong-ling Tayjin, ada sebuah hal ingin aku bikin jelas dulu."

"Tentang hal apa?"

"Orang-orang yang pergi menolong Li Kong-he semalam, kecuali Boh Cong-tiu dan Utti Keng, apakah ada orang ketiga yang kau utus ke sana?"

"Yang kuutus ke sana hanya Boh Cong-tiu seorang, Utti Keng sendiri tidak tahu latar belakangnya. Tapi Utti Keng sendiri adakah mengundang bala bantuan, hal ini aku tidak tahu. Kenapa Coh-losiansing bertanya demikian?"

"Sesuai dengan pesan Tayjin, semalam aku datang setengah jam lebih pagi dari waktu yang ditentukan. Aku menyembunyikan diri di tempat yang berdekatan dengan markas Sat Hok-ting. Untunglah aku datang lebih pagi, sehingga kebetulan bisa kupergoki di sana."

"Apa yang kau pergoki?"

"Belum lagi aku melihat Boh Cong-tiu masuk, tahu-tahu kulihat Li Kong-he sudah lari keluar bersama seorang lain."

"Siapa dan orang macam apa dia?"

"Seorang yang tidak diketahui asal-usulnya dengan mengenakan cadar. Kulihat bayangannya, jelas bukan Boh Cong-tiu adanya, tapi juga bukan Utti Keng, maka secara diam-diam lantas kukuntit mereka."

Pakkiong Bong melengak heran, katanya.

"Mengandal ginkang Coh-losiansing, terang Li Konghe bocah itu bukan tandinganmu. Akhirnya cara bagaimana sampai dia bisa lolos?"

Merah muka Coh Thian-hiong, katanya.

"Adalah ginkang orang bercadar itu teramat tinggi, untung dia membopong Li Kong-he sambil berlari, dengan susah payah masih dapat kukejar mereka. Orang bercadar itu cukup licin, mungkin dia sudah tahu aku sedang menguntit jejaknya, waktu tiba di sebuah pengkolan jalan panjang, tiba-tiba ia menghentikan langkah, aku tidak tahu dan mengejar masuk ke sana, tak nyana, begitulah aku terkena bokongannya."

"Senjata rahasia apa yang dia gunakan?"

"Bukan senjata rahasia!"

Pakkiong Bong mengamat-amati sebentar dengan seksama, akhirnya manggut-manggut kepala, katanya.

"Kukira Coh-losiansing terluka oleh hantaman Bik-khong-ciang yang dilandasi dengan tenaga murni dari aliran lwekeh. Ou, lwekang orang itu amat kuat, tapi di saat menyerang musuh, kekuatannya ia pusatkan pada satu titik tujuan saja. Waktu itu jarak kalian mungkin masih tiga tombak bukan? Coh-losiansing, untung kau cukup waspada, lekas-lekas melompat ke samping sehingga tidak terkena Hian-ki-hiat di dadamu, cuma Ih-khi-hiat di bawah ketiak tersampuk oleh tenaga hantaman orang, sekarang mungkin masih rada sakit, benar tidak?"

Kiranya Pakkiong Bong pun seorang ahli dalam bidang ini, mendengar suara Coh Thian-hiong yang rada bindeng seperti terserang penyakit demam, itulah tanda-tanda bahwa aliran jalan darahnya tidak normal, maka ia dapat menebak jalannya keadaan waktu itu.

Melihat orang dapat bertutur sedemikian jelas dan tepat seperti melihat sendiri kejadian itu, diam-diam mencelos hati Coh Thian-hiong.

Mau tidak mau ia harus kagum juga akan pengetahuan dan ketajaman pandangan Pakkiong Bong.

Segera Pakkiong Bong menghibur, katanya.

"Coh-losiansing, tidak usah berduka, kalah menang adalah jamak. Kalau aku sendiri yang menghadapi tokoh lihay yang belum diketahui tingkat kepandaiannya, mungkin bisa juga kena dibikin terluka."

Sembari bicara dengan kencang ia genggam kedua tangan Coh Thian-hiong, segulung hawa hangat dari saluran tenaga murninya segera merembes masuk ke badan Coh Thian-hiong, seketika Coh Thian-hiong merasa jalan darahnya berjalan dengan lancar dan badan pun merasa segar dan enak nyaman.

Tanpa menunjukkan tanda-tanda Pakkiong Bong menyembuhkan luka-luka dalamnya, dan melindungi muka dan gengsinya, inilah cara lihay yang sering ia lakukan untuk menarik hati dan menarik orang ke pihaknya.

Begitu licin akalnya ini, sehingga Coh Thian-hiong yang punya gelaran Thong-thian-hou pun, bisa tidak bisa harus bekerja mati-matian bagi kepentingannya.

Terharu dan malu pula Coh Thian-hiong dibuatnya, segera ia berkata mengumpak.

"Lolos seorang Li Kong-he tidak menjadi soal, asal dapat meringkus seorang yang lebih penting dari dia."

"Apakah Beng Goan-cau yang kau maksud?"

Tanya Pakkiong Bong.

"Betul. Kabarnya tadi Ciongling Tayjin sudah bergebrak dengan dia."

"Dia bersama Miao Tiang-hong, Cay Kin dan Li Kong-he berempat, setelah pertempuran tadi, pastilah mereka lari ke ujung langit dan sukar dicari lagi, betapa sulitnya untuk menangkap mereka." --Kata-katanya ini mengandung dua arti, pertama, sulit menyelidiki jejak mereka, kedua, sulit dipilih jago-jago silat kelas tinggi yang mampu menandingi mereka. Berkata Coh Thian-hiong.

"Asal-usul dan kedudukan keempat orang itu berlainan, mereka punya tujuan masing-masing. Kukira pastilah di tengah jalan mereka akan berpisah, hal itu lebih gampang untuk kita sergap mereka satu persatu."

"Maksudmu menghadapi Beng Goan-cau lebih dulu?"

"Ya. Dia datang dari Siau-kim-jwan, jaraknya dari Pakkhia paling jauh, kebetulan kali ini dia bisa datang kemari, kukira tidak akan secepat itu ia kembali ke Siau-kim-jwan."

"Tapi cara bagaimana kita harus mencarinya?"

"Teringat olehku seseorang, dia dapat kita gunakan untuk menghadapi Beng Goan-cau."

Tergerak hati Pakkiong Bong, katanya.

"Jadi orang yang kau maksud adalah..."

Baru saja ia hendak menyebut nama orang itu, seorang pengawal masuk memberi laporan.

"Nyo Bok datang menyampaikan selamat kepada Tayjin, Tayjin mau menemuinya tidak?"

"Kebetulan sekali,"

Ujar Pakkiong Bong tertawa.

"Baiklah, memang aku ingin bertemu dengan dia, suruh dia masuk."

Lalu ia berkata kepada Coh Thian-hiong.

"Orang yang kau maksudkan tentu dia bukan?"

"Betul. Apa aku harus menyingkir?"

Tanya Coh Thian-hong.

"Sudah tentu dia harus menyembunyikan rahasianya, karena dia masih harus memalsu diri sebagai golongan pendekar. Tapi dia sudah tahu kau bukan orang luar, tidak perlulah menyingkir. Adanya kesempatan ini, kalian bisa membicarakan bersama persoalan kita lebih mendalam."

Nyo Bok masuk ke kamar rahasia, setelah memberi hormat kepada Pakkiong Bong, lalu katanya.

"Ternyata Coh-losiansing pun berada di sini."

"Kejadian semalam tentunya kau pun sudah tahu,"

Kata Pakkiong Bong.

"Coh-losiansing berotak cerdik banyak akalnya, kebetulan kita bisa berunding bersama."

"Ya, entah Ciong-ling Tayjin menghadapi kesulitan apa?"

Tanya Nyo Bok.

"Dari pihak Sat Hok-ting sana ada berita apa, coba kau laporkan dulu."

Seperti diketahui wakil Pakkiong Bong yaitu Ciok Tio-ki adalah agen rahasia Sat Hok-ting.

Nyo Bok berhasil digaetnya menjadi kaki tangan pemerintah, tapi Ciok Tio-ki tidak tahu bahwa Nyo Bok sudah diperalat oleh Pakkiong Bong.

Maka di samping Nyo Bok memberikan laporan kepada Pakkiong Bong, dia pun mengikat hubungan sama Sat Hok-ting.

Barusan dia memang pulang dari markas besar Sat Hok-ting.

Kata Nyo Bok.

"Waktu kejadian semalam, Ciok Tayjin juga kebetulan di sana. Tapi sekali-kali tidak berani curiga kepada Ciong-ling Tayjin."

Pakkiong Bong tersenyum penuh arti, katanya.

"Seumpama Sat Hok-ting mencurigai, aku pun tidak takut. Tapi selanjutnya kalian harus berlaku lebih hati-hati terhadap Ciok Tio-ki, sekali-kali jangan sampai membocorkan rahasia kepadanya."

Di mulut mengatakan tidak takut, sebetulnya hatinya amat takut. Nyo Bok menjadi geli, namun ia pura-pura mematuhi pesan orang, katanya.

"Ya, aku yang rendah tahu. Tak perlu Tayjin berpesan lagi."

Pakkiong Bong menjadi lega, tanyanya lebih lanjut.

"Apakah semalam kau melihat Boh Cong-tiu dan Utti Keng?"

"'Memang aku sedang heran, kedua orang ini tidak pernah muncul, yang membuat onar dan gaduh di sana malah Le Lam-sing."

"'O, Le Lam-sing cong-thocu dari Ang-ing-hwe?"

"Ya, malah Ciok Tio-ki menderita sedikit luka di tangannya."

Mendengar Ciok Tio-ki terluka Pakkiong Bong menjadi senang, tanyanya tertawa.

"Ilmu silat Ciok Tio-ki kan cukup lumayan, terluka apanya dia?"

"'Ciok Tio-ki membantu petugas dari jago-jago Bhayangkari mengeroyok Le Lam-sing, namun rambut di atas kepalanya terpapas rontok sebagian besar oleh pedang Le Lam-sing, untung tidak sampai terluka. Sekarang setiap saat ia selalu mengenakan topi, tidak berani mencopot topinya itu."

Pakkiong Bong bergelak tertawa, serunya.

"Terpapas sebagian rambutnya, bukankah menjadi separuh hwesio. Ha, ha, nanti kalau dia pulang, ingin aku melihat keadaannya yang lucu."

Kata Nyo Bok.

"Kabarnya Tayjin keluar kota hendak membekuk Beng Goan-cau?"

"Ya, tidak berhasil, lolos lagi. Sat Hok-ting sudah tahu kejadian di sini belum?" 'Semalam pasukan Gi-lim-kun menggerebek rumah Cay Kin memburu buronan, pihak mereka sudah tahu. Kejadian hari ini mereka sedang mencari tahu, mungkin belum tahu secara jelas."

"O, lalu bagaimana sikap mereka selanjutnya?"

"Mereka sedang berusaha umuk memburu Beng Goan-cau."

Pakkiong Bong melengak, kejap lain tertawa tergelak-gelak, ujarnya.

"Pandangan yang cocok lagi. Barusan aku sedang berunding dengan Coh-losiansing, maksud kami pun demikian. Tapi bagaimana mereka bisa tahu ke mana untuk menangkap Beng Goan-cau?"

Merah muka Nyo Bok, sahutnya.

"Ciok Tio-ki tahu istri yang sudah kuceraikan itu dulu adalah kekasihnya Beng Goan-cau, dia minta alamat dari perempuan jalang itu kepadaku, menurut dugaan, Beng Goan-cau pasti pergi mencari tunangannya yang lama itu."

"Kita sudah pernah meluruk ke rumah keluarga Hun, Hun Ci-lo dan bibinya sudah tidak ada di rumah lagi,"

Demikian Coh Thian-hiong menerangkan.

"Justru karena Ciok Tio-ki sudah tahu kejadian ini, maka tidak kuberitahukan alamat perempuan sundal itu kepadanya."

Setelah membela kesalahan dirinya, ia melanjutkan.

"Setelah Sat Hok-ting dan Ciok Tio-ki berunding, mereka berkeputusan untuk main coba-coba saja. Pagi hari ini sudah mengutus orang pergi ke Sam-ho, siap menunggu Beng Goan-cau masuk ke jaringan yang mereka pasang di sana."

Coh Thian-hiong geleng-geleng kepala, katanya.

"Beng Goan-cau dan Miao Tiang-hong sudah pernah bergebrak denganku di rumah keluarga Hun, Beng Goan-cau kan bukan orang bodoh, dia sudah tahu kalau Hun Ci-lo tidak berada di rumah, mana mungkin sudi masuk ke dalam perangkap?"

"Nah dalam hal ini Coh-losiansing hanya tahu satu tidak tahu kedua."

"O, lalu apa kedua yang kau maksud itu?"

Tanya Coh Thian-hiong.

"Perempuan sundal itu punya seorang bu inang, bertempat tinggal di dalam sebuah selokan gunung di utara Sam-ho. Sering perempuan sundal itu menyinggung bu inangnya ini kepadaku, dikatakan kecuali ibunya, dalam dunia ini bu inang inilah yang paling sayang kepadanya."

Pakkiong Bong mengunjuk rasa senang, katanya.

"Jadi menurut pandanganmu, mungkin tidak dia pergi menyembunyikan diri di rumah bu inangnya itu?"

"Di Sam-ho dia tidak punya famili lagi, bu inang itu adalah orang terdekat yang selalu dikenangnya. Kini keadaan memaksa ia harus menyembunyikan diri, kemungkinan besar pasti pergi ke rumah bu inangnya itu bersama bibinya."

"Kau tidak memberitahu soal bu inangnya ini kepada Sat Hok-ting bukan?"

Tanya Pakkiong Bong.

"Hamba hanya setia kepada Tayjin, pada pihak Sat-congkoan hanya sekedar memberikan informasi supaya tidak menunjukkan belangku, alamat rumah keluarga Hun karena terpaksa baru aku memberi tahu kepada mereka."

"Beng Goan-cau tahu tidak akan bu inangnya itu?"

Nyo Bok tertunduk, pikiran cemburu bagaikan ular jahat menggerogoti uluhatinya, katanya dengan suara gemetar.

"Perempuan sundal itu bisa memberi tahu kepadaku. Sudah tentu Beng Goan-cau lebih mengetahui."

"Baik, terima kasih akan laporan sumber penyelidikanmu ini, kita bekerja lebih dulu di depan Sat Hok-ting berusaha menangkap Beng Goan-cau. Tapi harus hati-hati bertindak supaya tidak mengejutkan mereka lebih dulu."

Sembari berkata matanya melirik kepada Nyo Bok. Sebagai seorang cerdik, sudah tentu Nyo Bok tahu maksud kata-kata Pakkiong Bong, katanya.

"Nyo Bok sudi menjadi pelopor bagi gerakan Tayjin ini."

"Menurut hematku, cara bagaimana kau hendak bertindak?"

"Menggunakan akal lebih dulu, kalau akal tidak berhasil baru menggunakan kekerasan."

Pakkiong Bong tertawa.

"Bila sebelumnya tahu bakal terjadi seperti ini, sebetulnya tidak pantas menceraikan istrimu itu. Tapi betapapun kalian sudah delapan tahun menjadi suami istri, cukup asal kau bicara halus dan lemah lembut."

"Ya,"

Sahut Nyo Bok, rasa jelus semakin membakar hatimya.

"Aku sudah mendapatkan sebuah akal, sehingga mereka bisa terpancing semua. Begini dan begitu kita atur."

Pakkiong Bong manggut-mang-gut, katanya.

"Baik, kuminta Coh-losiansing pergi bersama kau, cuma Coh-losiansing jangan mengunjukkan diri bila belum tiba saatnya."

Setelah rencana dibicarakan dengan sempurna, Nyo Bok segera berangkat bersama Coh Thianhiong, malam itu juga mereka langsung menyusul ke Sam-ho.

Ban-li-tiang-shia bagai seutas sabuk yang mengikat bumi terbentang di atas pegunungan panjang yang tidak berujung pangkal.

Di jalan raya yang menuju ke arah Pat-tat-nia, Beng Goancau sedang melangkah lebar seorang diri.

Setelah mengalami pertempuran hujan darah dan hembusan angin amis, kini ia beranjak pada alam pegunungan yang indah permai berhawa sejuk, perasaan yang bergolak seharusnya mulai tentram dan tenang.

Namun justru hatinya sedang berkecamuk oleh berbagai kenangan dan pikiran yang sulit ditekan.

"Theng-siau pasti tidak menduga aku bakal datang menemuinya? Em, demikian juga siausumoay, melihat aku mendadak muncul, mungkin saking kegirangan dia bisa mencak-mencak seperti bocah cilik, siau-sumoay pintar dan lincah, memang pasangan yang setimpal dengan Song Theng-siau, mereka bergaul bersama, tentulah amat bergembira."

"Pat-tat-nia cuma sehari perjalanan dari Sam-ho, meski bersama siau-sumoay, pasti Theng-siau masih kangen kepada Hun Ci-lo. Aku harus ajak mereka pergi menemui Hun Ci-lo, peduli setelah bertemu, senang atau sedih segera berkumpul atau harus cepat-cepat berpisah lagi, ada baiknya juga asal kami bisa berkumpul sehari saja."

Demikian sambil berjalan otak Beng Goan-cau bekerja dengan tidak tentram.

Tanpa disadarinya bahwa musuh sedang menunggu dia masuk ke dalam perangkap di Sam-ho.

Dia pun belum tahu bahwa Song Theng-siau dan Lu Su-bi sudah pernah bertemu dengan Hun Ci-lo lebih dulu.

Dengan harapan dan rasa haru bahwa sebentar bisa bertemu dan berkumpul dengan sahabat lama, Beng Goan-cau beranjak terus menuju ke Pat-tat-nia.

Sementara di atas Pa-tat-nia, Song Theng-siau dan Lu Su-bi juga sedang membicarakan dirinya.

Memang apa yang dibayangkan Beng Goan-cau tidak meleset, mereka berdua memang bergaul semakin erat dan intim serta gembira ria.

Karena menganggur, setiap hari mereka putar kayun bertamasya menikmati pemandangan alam yang sejuk permai.

Lu Su-bi paling suka bermain di Tam-jing-kiap mendengarkan gemericik air yang berbunyi seperti petikan harpa Pagi hari itu, mereka tiba pula di tempat itu, sedemikian asyiknya mereka bermain-main sampai lupa waktu lupa pulang.

"Song-suko, sayang seruling bambumu tidak kau bawa, lebih baik kau berdendang lagu saja biar kudengar? Sudah beberapa tahun aku tidak mendengar suaramu,"

Demikian pinta Lu Su-bi.

"Beberapa tahun sejak meninggalkan Siau-kim-jwan, aku sendiri pun tidak pernah bernyanyi lagi, mungkin sudah kulupakan. Kau suka mendengar lagu apa?"

"Terserah kau suka nyanyi lagu apa. Cuma nyanyikan lagu-lagu ringan yang riang dan gembira."

Lalu Lu Su-bi bertepuk 'tangan sambil berjalan berlompat seperti orang menari mengiringi nyanyian lincah yang dilagukan oleh Song Theng-siau.

Bait demi bait lagu-lagu terus dinyanyikan dengan riang dan lincah, mungkin sudah lelah lama kelamaan Lu Su-bi menghentikan gerakgeriknya, lalu menikmati arti syair yang penuh arti menawan hati remaja dalam buaian asmara dari lagu-lagu Song Theng-siau, lama kelamaan ia berdiri diam sambil melamun.

Entah mengapa Song Theng-siau sendiri pun akhirnya terpengaruh oleh lagu-lagu yang dia bawakan sendiri, tiba-tiba terbayang olehnya kejadian delapan tahun lalu, waktu ia hendak berangkat ke Siau-kim-jwan bersama Beng Goan-cau, di bawah hujan gerimis ia bicara dengan Hun Ci-lo di bawah teras kembang.

Entah berapa banyak kelopak kembang yang diremas-remas hancur oleh Hun Ci-lo, akhirnya orang menolak ajakannya.

Song Theng-siau tertawa getir dalam hati, pikirnya.

"Sungguh goblok aku, aku tidak tahu bahwa dia sebelumnya jatuh hati kepada Beng-toako. Waktu itu aku masih berangan-angan terlalu tinggi padanya."

Setelah habis nyanyiannya baru ia sadar Lu Su-bi sedang mengawasi dirinya, roman mukanya seperti menampilkan rasa geli dan tidak tertawa. Diam-diam Song Theng-siau malu diri, pikirnya.

"Siau-sumoay berada di hadapanku, bagaimana aku malah memikirkan perempuan lain."

Merah mukanya segera ia unjuk tawa lebar untuk menutupi sikapnya dan bertindak lebih dulu, katanya.

"Siau-sumoay, apa yang sedang kau pikir?"

Tak terduga merah jengah selebar muka Lu Su-bi lebih menyolok, sesaat baru dia menjawab.

"Aku sedang memikirkan satu hal."

"Hal apa? Boleh dibicarakan kepadaku? goda Song Theng-siau tertawa.

"Kalau kukatakan, jangan kau tertawakan aku,"

Semakin merah selebar muka Lu Su-bi.

"Tahun lalu waktu aku menyusul Beng-toako ke Soh-ciu, kebetulan bentrok dengan Tiam-jongsiang-sat, aku terluka oleh pukulan beracun Toan Siu-si. Di waktu aku terbaring sakit dengan sadarkan diri, lapat-lapat aku seperti mendengar suara nyanyianmu di pinggir kupingku, yang dinyanyikan adalah lagu ini juga. Waktu aku membuka mata, baru aku tahu kiranya adalah Bengsuko. Aku menjadi heran, nada suara Beng-suko besar dan serak-serak basah, jauh berlainan dengan suaramu, entah kenapa kuanggap dia sebagai kau. Tapi yang lebih aneh, begitu aku teringat kepada kau, hatiku menjadi nyaman dan terhibur, luka-lukaku pun tidak terasa sakit lagi."

"Apa ya? Waktu di Siau-kim-jwan malah kukira kau hanya menyukai Beng-suko!"

"Benar, aku memang suka Beng suko. Tapi rasa sukaku ini jauh berlainan terhadap sukaku kepada kau."

"O, dalam hal apa perbedaannya?"

"Semula aku sendiri tidak tahu, baru sekarang aku jadi paham. Ternyata biasanya Beng-suko anggap aku sebagai adik kecil, dan aku pun pandang dia sebagai Toako."

"Lalu kau anggap diriku siapa?"

"Meski aku panggil kau suko, namun di hadapanmu aku tidak begitu kikuk dan risi, apa yang ingin kukatakan kuutarakan dengan bebas, meski aku rada nakal kau pun tidak menjadi soal, kau seperti sahabatku terdekat yang sebaya, bicara terus terang, terhadap kau aku tidak merasa hormat dan segan atau takut seperti terhadap Beng-suko."

Song Theng-siau bergelak tertawa, ujarnya.

"Tapi aku lebih tua tujuh delapan tahun. Bengtoako pun lebih tua setahun dari aku."

"Begitulah perasaanku, kau tidak salahkan sikapku yang tidak menghormatimu sebagai orang yang lebih tua bukan?"

"Aku rela kau menyukai aku lebih banyak daripada kau menghormat dan takut padaku."

"Beng-suko memang harus dikasihani, dia suka Hun-cici, sebaliknya Hun-cici sudah menikah dengan orang lain. Tapi sekarang dia sudah berpisah dengan suaminya, semoga mereka bisa rujuk kembali."

Song Theng-siau geleng-geleng kepala, katanya.

"Sayang di antara mereka menyelip datang pula seorang Miao Tiang-hong. Dari gelagat tempo hari itu, kukira hubungan pribadi Hun Ci-lo dengan orang she Miao itu tidak lebih jauh dari hubungannya dengan Beng Goan-cau."

"Agaknya kau amat tidak menyukai sikap Hun Ci-lo ini?"

"Aku merasa penasaran bagi Beng Goan-cau. Tapi aku masih tetap anggap dia sebagai temanku yang paling baik, kau..."

"Aku mengerti. Ai, entah Beng-suko sudah tiba di kota raja belum, kalau kita bisa bertemu dengan dia, kita pergi bersama mencari Hun-cici, betapa baiknya."

Baru sampai di sini pembicaraan mereka, tiba-tiba terdengar derap orang berlari-lari saling kejar. Song Theng-siau cukup berpengalaman, karuan hatinya kaget, katanya.

"Ada orang sedang berkelahi di sebelah sana, coba dengar, itulah suara pukulan Bik-khong ciang."

Kaget dan girang hati Lu Su-bi, katanya.

"Bukan mustahil Beng-suko yang datang mencari kita."

"Bukan, Beng-toako menggunakan golok, kedua orang ini berkelahi tanpa menggunakan senjata."

"Mari kita ke sana menengoknya,"

Ajak Lu Su-bi. Ia harap dugaannya tidak meleset. Belum lagi mereka lewati sebidang hutan, tiba-tiba didengarnya suara melengking dari mulut perempuan membentak.

"Kau iblis ini hendak lari ke mana?"

Derap kaki yang saling kejar itu mendadak berhenti. Lalu terdengarlah gelak tawa yang berkumandang di atas pegunungan seperti benturan bendabenda keras, menusuk kuping, kata orang itu.

"Perempuan bawel, kau kira aku takut kepadamu? Soalnya di jalan raya kurang leluasa maka aku mengalah kepadamu, ya kalau kau memang tidak tahu diuntung, berani mengejar sampai di sini, marilah kita bertanding di sini!"

Lu Su-bi terkejut, serunya.

"Orang itu adalah Toan Siu-si yang melukai aku dengan pukulan berbisanya."

"Betul, dia adalah orang kedua dari Tiam-jong-siang-sat yang bernama Toan Siu-si. Anak Hun Ci-lo memang merekalah yang merebut dari tanganku."

Dengan langkah cepat mereka memburu keluar dari hutan, tampak di bawah kaki tembok sebelah sana, seorang nyonya pertengahan umur sedang menubruk ke arah seorang laki-laki berpakaian sastrawan.

Sastrawan pertengahan itu mengebaskan kipasnya, dia bukan lain memang Toan Siu-si, salah satu dari Tiam-jong-siang-sat.

Walaupun sedang menghadapi serbuan lawan, sikap Toan Siu-si masih acuh tak acuh, dengan kipasnya seenaknya saja ia menyampuk dan mengebas, memunahkan rangsakan si nyonya pertengahan yang rumit dan gencar, godanya tertawa.

"Orang sering bilang menonton balapan kuda di atas tembok, marilah kita berkelahi saja di atas tembok, biar ditonton orang dari bawah, ia menghadap ke arah datangnya Song Theng-siau, maka ia sudah melihat kedatangan mereka. Bangunan Ban-li-tiang-sia rata, tinggi tembok ada tiga tombak, lebar dari tembok besar ini, lima kuda dapat berlari berjajar bersama, jauh lebih lebar dari jalan raya di kota-kota besar umumnya. Dengan gaya Burung Kuntul Menjulang ke Langit, Toan Siu-si melambung tinggi terbang ke atas, gagang kipasnya menutul enteng di lamping tembok, lalu dengan ringan ia jumpalitan naik hinggap di atas tembok. Perempuan itu membelakangi Song Theng-siau berdua, namun pendengarannya cukup tajam, tahu kedatangan orang, hatinya rada kuatir, namun ia yakin akan kepandaian sendiri, maka tidak menjadi jeri karenanya. Karena Toan Siu-si sudah melambung naik ke atas tembok, tidak sempat menengok ke belakang, lekas ia melejit naik pula, jengeknya dingin.

"Kalau keponakanku tidak kau kembalikan, lari sampai ke ujung langit pun, jangan harap kau bisa lolos dari telapak tanganku."

"Kiranya memang perempuan bawel ini, tak heran dia berani mengejar Tiam-jong-siang-sat,"

Demikian batin Song Theng-siau. Bahwa Toan Siu-si mendadak muncul di sini, sudah di luar dugaannya, kini melihat perempuan bawel ini, lebih di luar dugaannya pula.

"Song-suko, siapakah perempuan itu?"

Melihat ginkang orang yang lihay, maka ia bertanya kepada Song Theng-siau.

"Perempuan bawel ini adalah kakak Nyo Bok, Nyo-toakoh yang digelari Loak-jiu-koan-im itu."

Tahu orang adalah kakak Nyo Bok, berkerut alis Lu Su-bi, katanya.

"Kabarnya kau pernah berkelahi satu kali dengan dia, apakah dia pun sebejat Nyo Bok?"

"Meskipun tidak pernah melakukan kejahatan, namun tampangnya itu terlalu menyebalkan. Mungkin tidak sebejat adiknya, namun mulutnya terlalu bawel dan membuat orang benci padanya."

Di atas tembok besar, Toan Siu-si sudah saling labrak dengan Nyo-toakoh.

Kedatangan Nyo-toakoh ke Pakkhia adalah hendak mencari adiknya.

Seperti diketahui Su-haysin-liong Ki Kian-ya adalah paman suaminya, karena tidak mau turut mencampuri pertikaian rumah tangga Nyo Bok, maka ia bujuk orang untuk menceraikan istrinya saja, lalu langsung ia pulang ke rumah.

Dari penuturan Ki Kian-ya, barulah Nyo-toakoh tahu bahwa adiknya belum mati, sementara keponakannya terjatuh di tangan Tiam-jong-siang-sat.

Watak Nyo-toakoh terlalu sirik dan gampang dendam, sejak mula memang ia tidak menyukai Hun Ci-lo, kini meski sudah tahu Hun Ci-lo tidak mencelakai adiknya, namun ia masih anggap Hun Ci-lo sudah menghapus nama baik keluarga Nyo mereka, kuatir adiknya tidak kuasa menghadapi Hun Ci-lo, maka sengaja ia menyusul datang ke kota raja hendak membantu kesulitan adiknya.

Tak nyana, di tengah jalan ia bentrok dengan Toan Siu-si.

Dari cerita Ki Kian-ya ia pun sudah tahu bahwa Nyo Bok pernah kena pukulan Toan Siu-si sekali, ia pun maklum bahwa Toan Siu-si berkepandaian lebih tinggi dari suhengnya, seorang iblis yang sudah terkenal.

Oleh karena itu, meski ia membanggakan ilmu pukulannya, namun ia tidak berani pandang enteng lawannya, maka begitu mulai bergebrak, kontan ia lontarkan pukulanpukulan ganas yang mematikan.

Yaitu ilmu warisan keluarga Nyo yang amat disegani oleh kaum persilatan, Kim-kong-liok-yang-jiu.

Kekerasan pukulan Kim-kong-liok-yang-jiu sudah lama menggetarkan bulim.

Sebetulnya pukulan yang mengutamakan kekerasan dengan landasan tenaga positif tidak cocok dipelajari oleh kaum perempuan, tapi Nyo-toakoh ini boleh diakui sebagai tunas harapan berbakat, dengan kecerdasan otak dan pengalaman dan pengetahuan ilmu silatnya, ia berhasil menemukan jalan lain dalam menciptakan ilmu pukulan yang dia kombinasikan dan diperbarui dengan berbagai perubahan, sehingga di samping kekerasan yang diutamakan, ia berhasil melebur unsur-unsur positif dan negatif.

Dasar Kim-kong-liok-yang-jiu sendiri memang serba, rumit dan banyak perubahan, dalam jurus tersembunyi jurus, tipu berada di dalam tipu, setiap pukulannya, di mana terkandung enam macam gerak perubahan yang berlainan.

Dengan hasil ciptaan Nyo-toakoh lebih lanjut, sekaligus ia sudah dapat menggunakan tenaga keras dan lunak bersama, sehingga gerak perubahan dan variasinya bertambah banyak dan sukar diraba, orang akan sering tertipu bila sedikit lena.

Begitu telapak tangan kedua pihak saling bentrok, seketika Toan Siu-si merasa seperti memukul ke atas tumpukan kapas, tenaganya sirna tenggelam, keruan bercekat hatinya, tak nyana kejadian selanjutnya justru lebih mengejutkan lagi, tumpukan kapas yang lunak itu, mendadak berubah menjadi keras seperti tembok baja, sekaligus segulung tenaga besar bagai gelombang ombak mendadak menerjang balik ke arah dirinya.

Lekas Toan Siu-si gunakan tenaga lengket, telapak tangan kanan ia dorong terus dituntun ke samping, ia tangkis tenaga pukulan lawan menyeleweng ke samping, jengeknya dingin.

"Perempuan keji, kau mau adu jiwa ya?"

Sementara kipas di tangan kirinya menotok ke Lau-kionghiat di telapak tangan lawan.

Jurus serangan ini membuat musuh kelabakan dan harus menolong diri lebih dulu, sudah tentu Nyo-toakoh kaget, tak berani ia lontarkan seluruh kekuatannya, di tengah jalan sigap sekali ia rubah jurus, batinnya.

"Iblis ini memang tidak bernama kosong, dengan seenaknya saja ia dapat memunahkan Kim-kong-ciang-latku!"

Di luar tahunya bahwa kelihatannya saja tangkisan Toan Siu-si itu dilakukan seenaknya saja, sebetulnya dia sudah keluarkan seluruh kemampuan silatnya yang dia pelajari selama ini, diamdiam hatinya pun mengeluh, apalagi bukan mustahil Song Theng-siau bisa mencari perkara kepadanya.

Setelah berada di atas tembok Nyo-toakoh pun sudah melihat kehadiran Song Theng-siau berdua, malah ia pun ada mendengar pembicaraan mereka yang terakhir.

Begitu mendengar suara Song Theng-siau lantas ia mengenali bahwa orang itu adalah si orang berkedok yang merebut Nyo Hoa dari tangannya.

Keruan ia pun kaget dan kuatir, serta didengarnya Song Theng-siau memaki dirinya bertampang keji dan perempuan bawel, gusarnya bukan main.

Terpaksa ia harus berkeputusan untuk segera mengundurkan diri karena gelagat tidak menguntungkan.

Percakapan Lu Su-bi dengan Song Theng-siau yang terdahulu tidak ia dengar, di luar tahunya bahwa permusuhan Toan Siu-si dengan Song dan Lu berdua justru lebih besar dan mendalam dari dirinya.

Setelah berkeputusan untuk lari, tapi tidak gampang bagi Nyo-toakoh untuk menyingkir karena ia menghadapi lawan setanding.

Terpaksa Nyo-toakoh pergencar serangannya, ia mengharap bisa mendesak mundur Toan Siu-si dan berkesempatan lolos.

Memang kedua pihak tidak suka melanjutkan pertempuran lebih lama, masing-masing merabu dengan serangan lebih gencar, beruntun Toan Siu-si menghadapi beberapa serangan musuh yang berbahaya, hatinya jadi berang, dan timbul ah maksud jahatnya, segera ia keluarkan Ci-soaciang.

Ci-soa-ciang dapat melukai urat nadi dan sendi-sendi tulang orang, merupakan ilmu sesat dan berbisa yang amat lihay sekali, tempo hari Lu Su-bi pernah terluka cukup parah oleh pukulan berbisa ini sampai rebah beberapa hari lamanya.

Nyo-toakoh adalah seorang yang berpandangan luas, begitu melihat telapak tangan Toan Siu-si berubah merah seperti gincu.

Hidungnya pun mengendus bau amis, keruan mencelos hatinya, lekas ia kerahkan hawa murni untuk mengusir dan menahan serangan racun.

Karena itu ia kena terdesak oleh serbuan Toan Siu-si yang hebat, untuk lari lebih tidak mungkin lagi, keruan ia mengeluh dalam hati.

Waktu itu Song dan Lu berdua sudah tiba di kaki tembok, berkata Lu Su-bi.

"Song-suko, pihak mana yang harus kita bantu?"

"Iblis laknat she Toan itu adalah musuh besarmu, apa boleh buat, tentunya kita harus bantu Nyo-toakoh lebih dulu."

"Perempuan bawel ini bersama adiknya menganiaya Hun-cici, melihat tampangnya aku jadi sebal, lebih baik pihak siapapun tidak usah dibantu, biar mereka menentukan siapa lebih unggul siapa kalah, baru nanti kita menuntut balas."

Meski pengetahuan ilmu silatnya tidak setingkat Song Theng-siau, setelah memperhatikan sebentar, ia tahu bahwa akhirnya Nyo-toakoh pasti dapat dikalahkan oleh Toan Siu-si.

"Baiklah, mari kita menonton saja!' "Wut, wut"

Pukulan Toan Siu-si mendesak Nyo-toakoh mundur ke pinggir tembok, jengeknya dingin.

"Kau selalu menuduh aku merebut keponakanmu, memang bocah itu bernama Nyo Hoa, tapi belum tentu dia asli adalah darah daging keluarga Nyo kalian? Dan lagi Nyo Hoa kan bukan kurebut dari tanganmu."

Kata-katanya ini sengaja ia ucapkan dengan suara keras supaya terdengar oleh Song Thengsiau. Mendengar kata-katanya itu, Song Theng-siau memang heran, pikirnya.

"Dari mana agaknya dia tahu rahasia anak itu."

Keadaan Nyo-toakoh yang terjepit di pinggir tembok memang amat berbahaya. Lu Su-bi lantas berteriak.

"Wah, celaka, jiwa perempuan galak ini mungkin terancam. Meski menyebalkan, dosanya tidak pantas terhukum mati. Song-suko, lekas kau bantu dia saja."

Belum habis ia bicara terdengarlah jeritan dari sebelah atas, bagai layang-layang putus benangnya, badan Nyo-toakoh terjungkir jatuh dari atas.

Tapi suara jeritan itu malah keluar dari mulut Toan Siu-si.

Ternyata pertempuran tokoh-tokoh silat kelas tinggi, begitu salah satu pihak terpencar perhatiannya untuk bicara, sudah tentu pertahanannya kena terpengaruh.

Kesempatan inilah yang digunakan Nyo-toakoh mendadak melancarkan serangan keji.

Memang Toan Siu-si sudah berjaga-jaga orang akan bertindak nekad, lekas ia mengegos miring, sementara kipasnya terjulur keluar menotok Hiat-tonya.

Tapi walau ia bergerak cepat, tak urung jari-jari Nyo-toakoh toh menyerempet di depan dadanya, untung tidak kena dengan telak.

Tapi Nyo-toakoh sendiri pun tidak mendapat keuntungan, baju di depan dadanya, terj ungkit oleh ujung kipas, seolah-olah digigit semut, rasanya sedikit linu, entah terluka atau tidak, saking gugup ia terus lompat ke bawah tanpa menghiraukan rasa sakitnya.

Setelah kaki hinggap di tanah dan ia menunduk, dilihatnya dadanya terbuka, di bawah payudara sebelah kiri, terdapat sebuah titik merah, hanya terpaut setengah mili saja mengenai Yotoh-hiat.

Ternyata totokan kipas Toan Siu-si juga tidak mengenai dengan tepat.

Diam-diam Nyo-toakoh bersyukur, namun malu dan naik pitam, makinya.

"Toan Siu-si, Song Theng-siau, jangan kalian senang, lonio belum lagi mampus, akan datang satu hari kubuat perhitungan dengan kalian!"

"Siau-sumoay,"

Kata Song Theng-siau.

"Kau boleh berlega hati. Perempuan galak itu masih bisa memaki orang sedemikian garangnya, kukira luka-lukanya tidak berat, sudah tentu jiwanya tidak perlu dikuatirkan."

Lu Su-bi geleng-geleng kepala, katanya.

"Perempuan galak itu memang tidak punya aturan, kita bermaksud baik, dia malah memaki kita habis-habisan."

Toan Siu-si sendiri pun hanya terserempet angin pukulan lawan, walau terasa sakit pedas, sebetulnya tidak terluka apa-apa.

Latihan lwekangnya sudah cukup tinggi, segera ia himpun hawa murni dan disalurkan tiga putaran lantas badan segar kembali.

"Song-suko,"

Kata Lu Su-bi pelan.

"Entah iblis ini terluka tidak, kita harus melabraknya tidak?"

"Siau-sumoay, hatimu terlalu bajik,"

Ujar Song Theng-siau tertawa.

"Tempo dulu, dia melukai kau dengan pukulan berbisa, memangnya dia menaruh belas kasihan kepada kau? Menghadapi iblis laknat yang sesat ini, kenapa kita harus memenuhi aturan kangouw segala? Hayo labrak dia!"

Song Theng-siau tahu ginkang Toan Siu-si amat tinggi, sedikitnya tidak lebih rendah dari dirinya, malah setingkat lebih tinggi dari Lu Su-bi, kuatir orang lari mengikuti jejak Nyo-toakoh, maka sambil memburu naik ke atas, ia berteriak.

"Orang she Toan, kalau kau berani jangan lari!" ? Toan Siu-si tergelak tertawa, ia melompat turun dari atas tembok, bukan saja tidak lari malah ia memapak kedatangan Song Theng-siau berdua, serunya.

"Kenapa aku harus lari, kalau bukan hendak mencari kau, aku tidak akan datang kemari."

"Bagus, marilah sekarang selesaikan perhitungan lama,"

Tantang Song Theng-siau.

"Tunggu sebentar!"

Tiba-tiba Lu Su-bi berteriak. Song Theng-siau tertegun, serunya.

"Siau-sumoay, apa kau tidak tega? Kulihat dia kan tidak terluka."

"Coba kau tanya dia dulu, cara bagaimana dia bisa tahu kita berada di sini?"

Ujar Lu Su-bi. Toan Siu-si seperti tahu isi hatinya, katanya bergelak tertawa.

"Song Theng-siau, aku bukan takut berkelahi, tapi kedatanganku kemari, terus terang bukan untuk menantang berkelahi dengan kalian. Sudah tentu, kalau kau ingin berkelahi, aku pun suka melayani! Tapi berilah kesempatan dulu biar aku bicara beberapa patah kata kepada kau."

"Baik, ada omongan lekas katakan, ada kentut lekas lepaskan. Ada perlu apa kau mencari kami?"

"Orang she Song, bicaralah sedikit aturan supaya mulutmu tidak kotor ya? Kalau kau ingin ribut mulut, aku bisa maki kau lebih kotor dan beringas!"

Demikian damprat Toan Siu-si gusar. Karena ditahan oleh Lu Su-bi terpaksa Song Theng-siau menahan sabar, katanya.

"Baik, di saat kau bicara, boleh aku anggap kau sebagai sahabat. Katakan!"

Toan Siu-si tidak hiraukan kata-kata orang yang mengandung arti lain, katanya pelan-pelan sambil menggoyangkan kipasnya.

"Song Theng-siau, sebenarnya aku tidak sengaja hendak mencari kau. Yang kucari sebetulnya adalah Beng Goan-cau. Tiada orang yang bisa kutanyai jejaknya, terpaksa kucari kabarnya dari kau. Tentang cara bagaimana aku bisa tahu kalian berada di sini, kau tidak pandang aku sebagai sahabat, maka aku pun tidak perlu menerangkan."

Lu Su-bi merasa di luar dugaan, tak tertahan ia bertanya.

"Untuk apa kau mencari Bengsukoku? Apakah kau hendak menantang dia berkelahi?"

"Tidak, aku pun bukan ingin berkelahi sama dia, aku hanya ingin menyampaikan suatu urusan kepadanya. Bicara soal urusan itu, tidak enak aku menerangkan kepada kalian."

"Memangnya kau lantas bermaksud baik kepada Beng-toako?"

Jengek Song Theng-siau.

"Benar, meski aku pernah dilukai oleh goloknya, namun rasa kagumku kepada dia jauh lebih banyak daripadamu."

"Aku tidak sudi kau kagumi, juga tidak percaya akan obrolan setanmu."

"Jadi kau tidak sudi memberi-tahu jejak Beng Goan-cau kepadaku?"

"Jangan kata aku tidak tahu, meski tahu juga tidak akan kube-ritahu kepadamu."

Toan Siu-si menghela napas, ujarnya.

"Memang sudah kuduga kau tidak akan percaya kepadaku. Apa boleh buat, terpaksa, marilah sekali lagi kita berkelahi saja."

"Nah, memang itulah yang kuinginkan. Siau-sumoay, cabut golokmu dan ayolah maju". Sebaliknya Lu Su-bi menjadi bimbang dan ragu-ragu, dalam waktu dekat ia tidak berani memastikan, apakah ucapan Toan Siu-si dapat dipercaya atau tidak. Siapa tahu belum lagi ia mencabut pedang, tahu-tahu Toan Siu-si sudah turun tangan lebih dulu, dan yang diserang malah dirinya. Keruan Song Theng-siau kaget, teriaknya kuatir.

"Sumoay, awas!"

Lekas Lu Su-bi kembangkan ginkangnya Menyelinap Kembang Mengitari Pohon, sekali berkelebat ia menyingkir.

Dalam waktu sekejap itulah, tiba-tiba ia merasakan angin menyampuk tiba, tusuk kun-dai yang terselip di atas sanggulnya tergetar bergoyang dan bersuara "tring"

Rada lirih, tahu-tahu Toan Siu-si sudah berkelebat lewat di sampingnya, malah sempat berpaling lagi ke arahnya. Dilihatnya Toan Siu-si menjura kepadanya, katanya.

"Tempo hari kesalahan tangan melukai nona, sungguh amat menyesal dan mohon nona suka memberi maaf."

Baru sekarang Lu Su-bi sadar bahwa Toan Siu-si sengaja menaruh belas kasihan, untuk menunjukkan maksud baiknya bahwa dia tidak punya tujuan bermusuhan.

Maklum karena ia kurang siaga, meski ginkangnya lihay toh terlambat juga bergerak.

Jikalau Toan Siu-si betul-betul hendak turun tangan jahat kepadanya pastilah batok kepalanya sudah dapat ditepuknya remuk.

Namun kejadian memang berlangsung teramat cepat.

"sret"

Pedang Song Theng-siau pun sudah menusuk tiba, bentaknya.

"Kau bangsat ini memang kurang ajar, berani mempermainkan sumoayku lagi!"

Watak Lu Su-bi memang juga keras kepala dan suka menangnya sendiri, meski tahu lawan menaruh belas kasihan, namun ia merasa sebal juga menghadapi permohonan maaf orang dengan menjura dalam jarak yang begini dekat, dengan marah ia mencabut kedua golok, serunya sengit.

"Kau bisa bunuh aku tapi tidak membunuhku, bolehlah aku pun mengampuni jiwamu sekali. Tapi kalau ingin aku menyudahi sampai di sini saja persoalan, betapapun tidak bisa!"

Toan Siu-si sendiri pun seorang yang tinggi hati, tidak perlu ia harus minta pengampunan dan keringanan segala, katanya.

"Aku sudah menyatakan isi hatiku, kalian masih tidak mau memaafkan aku, ya apa boleh buat. Terpaksa aku orang she Toan mengiringi segala keinginan kalian saja!"

Kepandaian Song Theng-siau kira-kira setanding dan setingkat dibanding Toan Siu-si, masingmasing membekal kepandaian silat khusus.

Apalagi kalau Toan Siu-si mau melancarkan pukulan beracunnya, pasti dapat di atas angin.

Sebaliknya ilmu pedang Song Theng-siau jauh lebih unggul dari ilmu totok dengan kipasnya.

Puluhan jurus kemudian, ilmu pedang Song Theng-siau dikembangkan semakin cepat, ujung pedangnya bergerak amat lincah, tunjuk timur menusuk barat, tuding selatan menggempur utara, ujung pedangnya selalu mengincar tempat-tempat mematikan di badan lawannya.

Sementara sepasang golok Lu Su-bi ditarikan naik turun timbul tenggelam, dikombinasikan dengan gerakgerik ilmu ginkang-nya yang lincah pun tidak boleh dipandang ringan.

Kini walau Toan Siu-si mengandal kepandaiannya yang tinggi untuk main sergap lagi terhadapnya pun tidak akan bisa memukul dia.

Menghadapi Song Theng-siau seorang saja, Toan Siu-si sudah rada payah, apalagi harus menghadapi ilmu golok Lu Su-bi lagi, lima puluh jurus kemudian, lambat laun mulai terdesak dan hanya mampu membela diri saja tanpa bisa balas menyerang.

"Song-suko, pandanglah mukaku, jangan kau membunuh dia,"

Seru Lu Su-bi.

"Aku tahu, apa yang pernah kau ucapkan tentu harus dipatuhi. Tapi hukuman mati bangsat ini cuma bisa diperingan dengan hukuman hidup. Dia pernah melukai kau dengan pukulan beracun, kalau aku tidak membunuh dia, ilmu silatnya harus kubuat cacat."

"Bagus ya!"

Damprat Toan Siu-si gusar.

"Akan kulihat cara bagaimana kau hendak memunahkan ilmu silatku."

Di saat bicara tenaga dalamnya dikerahkan, seketika kedua telapak tangannya berubah merah seperti gincu.

"Awas Song-suko, iblis ini hendak menggunakan pukulan beracun!"

Teriak Lu Su-bi memperingatkan.

"Song Theng-siau, memang kau memaksa aku harus adu jiwa terhadapmu!"

Demikian teriak Toan Siu-si.

"Baik, silakan kau berjuang setaker kekuatanmu, aku Song Theng-siau tidak takut menghadapi ilmu sesatmu."

Di mulut berkata tidak takut, sebetulnya hatinya sudah rada jeri.

Menyerang dulu adalah pertahanan yang paling baik.

Teori ini amat berguna bagi pertempuran tokoh-tokoh silat tingkat tinggi, Song Theng-siau tahu akan kelihayan pukulan beracun lawan, maka ia pergencar serangannya.

Toan Siu-si menyimpan kipasnya, telapak tangannya ditarikan berputar-putar dengan gencar, jengeknya dingin.

"Song Theng-siau, paling-paling badanku kena kau lubangi ujung pedangmu, memangnya kau yakin tidak akan kena sekali pukulan beracunku?"

Song Theng-siau gusar, dampratnya.

"Seorang laki-laki memangnya takut kau gertak!"

Belum habis ia bicara bau amis tiba-tiba merangsang hidung, kuatir keracunan, terpaksa Song Theng-siau tutup mulut.

Lu Su-bi ayunkan goloknya bantu menyerang dengan sengit, Toan Siu-si kembangkan kelincahan gerak badannya yang berkelebat ke sana kemari, menghindari sambaran sepasang goloknya, khusus ia pergencar serangannya kepada Song Theng-siau.

Walaupun Song Theng-siau menggunakan cara menyerang untuk bertahan, namun ia sendiri tahu, sulit untuk menghindarkan kedua pihak gugur bersama, dan untuk menang ia sendiri tidak punya pegangan.

Di saat ia menumpahkan perhatian untuk menghadapi pukulan beracunnya, tibatiba dilihatnya warna merah di telapak tangan lawan semakin luntur dan bau amis pun menghilang.

Kiranya semula Toan-Siu-si sudah hampir nekad untuk adu jiwa, tapi akhirnya ia berpikir.

"Aku sudah pernah melukai nona cilik yang mungil ini, kenapa harus menambah permusuhan melukai kekasihnya pula? Ai, permusuhan gampang di kat sukar dilerai, dosa yang pernah kulakukan selama hidup ini sudah cukup banyak, apa halangannya aku terima terluka oleh anak muda ini."

Karena pikiran welas asih dan kesadarannya ini, serta merta pukulan beracunnya lambat laun lalu berhenti digunakan.

"Sret, sret"

Beruntun beberapa kali pedang Song Theng-siau menusuk dan menabas dengan gencar, jelas dalam waktu dekat ia bakal berhasil mendesak lawan kepayahan, tiba-tiba didengarnya Lu Su-bi bersuara aneh, serunya.

"Eh, kenapa tidak kau gunakan pukulan beracunmu lagi?"

Toan Siu-si tertawa getir, sahutnya.

"Sayang aku tidak ketemu Beng Goan-cau, silakan kalian bunuh aku saja, cuma ada beberapa patah kata kumohon kalian menyampaikan kepada Beng Goan-cau..."

Serta merta Lu Su-bi mengen-dorkan jurus-jurus serangan goloknya. Kata Song Theng-siau.

"Siau-sumoay, hati-hatilah orang menggunakan tipu muslihat!"

Lekas Lu Su-bi melintangkan golok melindungi badan, tanyanya.

"Kabar apa yang ingin kau titipkan kepadaku untuk Beng-toako?"

Toan Siu-si gusar, serunya.

"Kalian masih tidak percaya, apa perlunya kukatakan!"

Baru saja Song Theng-siau tusukkan pedangnya, dari dalam hutan mendadak melompat keluar seseorang, teriaknya.

"Saudara Song, berhenti dulu!"

Kaget dan girang pula Lu Su-bi, teriaknya.

"Beng-suko, kaukah itu? Iblis ini bilang hendak mencarimu!"

"Aku sudah tahu!"

Sahut Beng Goan-cau.

"Toan Siu-si, ada persoalan apa silakan katakan saja secara terus terang di hadapanku."-Kiranya sejak tadi ia sudah tiba, bukan saja mendengar ucapan Toan Siu-si, ia pun melihat orang membatalkan menggunakan pukulan beracun di tengah jalan. Sebetulnya dia siap membantu bila Song dan Lu berdua terdesak dan mengalami bahaya. Tapi karena Toan Siu-si sudah membatalkan menggunakan pukulan beracunnya, maka ia tunda sementara waktu menonton kelanjutan pertempuran ini, kini setelah melihat bahwa Toan Siu-si memang tidak mengandung maksud jahat barulah dia memburu keluar.

"Beng Goan-cau,"

Ujar Toan Siu-si.

"Sebelumnya ingin kutanya kau dulu, apakah kau masih ingin menuntut balas kepadaku?"

Beng Goan-cau bergelak tertawa, ujarnya.

"Seorang laki-laki harus dapat membedakan dendam dan benci, memang aku ada mengikat permusuhan dengan Toan-heng, dikata besar tidak kecil, sebelum ini rasa benciku memang ada. Tapi waktu pertemuan besar di Thay-san tempo hari, aku pun secara langsung pernah mendapat pertolongan dan bantuan Toan-heng, dendam dan budi ini bolehlah dianggap impas, soal sakit hati sih boleh tidak perlu dibicarakan lagi!"

Adalah Song Theng-siau yang dibuat heran dan uring-uringan, hampir saja ia tidak percaya akan pendengaran kupingnya sendiri.

Soalnya dia tidak tahu bahwa di dalam pertempuran besar di Thay-san tempo hari, Toan Siu-si pernah ikut bantu Beng Goan-cau membersihkan nama baiknya.

Bukan saja Beng Goan-cau berterima kasih bahwa orang sudi berpegang kebenaran demi kepentingan dirinya, orang pun menjaga nama baik dan gengsi Hun Ci-lo, oleh karena itulah hari ini ia rela membatalkan permusuhannya.

Selamanya Lu Su-bi menaruh hormat dan segan terhadap suko-nya ini, segera ia bicara juga.

"Di masa hidupnya ayahku pernah melukai kau, dan kau pun pernah melukai aku, sekarang aku pun paham duduk perkara sebenarnya, tiada gunanya balas membalas, permusuhanku dengan kau bolehlah dianggap impas juga."

Berkata Beng Goan-cau.

"Saudara Song, harap pandanglah mukaku..."

Waktu ia hendak membujuk, Song Theng-siau sudah tertawa, katanya.

"Kalian sendiri tidak mengulur panjang urusan, memangnya aku harus mencari perhitungan dengan Toan-siansing?"

Toan Siu-si tertawa, katanya.

"Beng-heng, terima kasih akan kebajikanmu ini, untuk membalas kelalimanku. Tapi perlu kukatakan lebih dulu, bahwa kau tidak menuntut balas lagi kepada aku, sebaliknya aku masih hendak menuntut sakit hatiku kepadamu!"

Kata-katanya ini seketika-membuat serruia orang tertegun, Beng Goan-cau bergelak tertawa, serunya.

"Orang she Beng hanya berpegang apakah aku berada di pihak yang betul, cukup asal hatiku tentram dan dada lapang. Aku tidak perlu peduli bagaimana sikap orang lain terhadapku."

Toan Siu-si memuji.

"Inilah pribadi seorang gagah yang perkasa. Beng-heng biarlah aku bicara sejujurnya terhadapmu, dulu kau mengalahkan aku dengan golok cepatmu, aku masih tidak begitu kagum kepada kau, sekarang barulah aku betul-betul tunduk lahir batin terhadap kau."

"Memangnya kenapa kau masih hendak menuntut balas kepada Sukoku?"

Tanya Lu Su-bi. Berkata Toan Siu-si kalem.

"Cara, tuntutan balasku ini sudah tentu lain daripada yang lain, bukan maksudku hendak berkelahi sekali lagi dengan Beng-heng. Soal cara bagaimana aku akan menuntut balas, Beng-heng, mohon maaf, sementara waktu aku belum bisa menjelaskan kepada kau."

Beng Goan-cau tertawa, ujarnya.

"Terserah bagaimana kau hendak menuntut balas, aku tidak perlu tahu. Tapi ada sebuah hal, tidak bisa tidak harus kutanyakan kepadamu!"

"Maksudmu soal Nyo Hoa bocah itu?"

Waktu Toan Siu-si menyebut nama 'Nyo' sengaja ia melirihkan suaranya.

"Betul, dialah putra seorang teman baikku, tidak bisa tidak aku harus bertanya."

"Harap Beng-heng melegakan hati, bocah itu sekarang sudah menjadi murid kami Tiam-jongsiang-sat, siapapun dilarang mengganggu seujung rambutnya."

Song Theng-siau menyela dengan jengekan dingin.

"Waktu kalian merebut anak itu dulu, memangnya kalian bermaksud hendak menjadikan dia sebagai murid kalian?"-Maklumlah ia masih merasa penasaran karena bocah itu terebut oleh Tiam-jong-siang-siat dari tangannya.

"Memang bukan,"

Sahut Toan Siu-si sejujurnya.

"Bicara terus terang, tujuan kami merebut anak itu semula memang mengandung maksud tidak baik. Kami hendak memperalat bocah itu untuk mempersulit Beng Tayhiap. Tapi bocah itu memang amat mungil dan menyenangkan, sampai pun suheng-ku yang bertabiat liar itu pun sekarang menjadi alim lantaran bocah itu. Begitu bocah itu marah atau merengek-rengek, lantas dia menggoda dan berdaya upaya untuk menyenangkan hatinya, tanggung tidak kalah dari seorang nenek yang pandai membujuk cucunya."

Bicara punya bicara, tanpa sadar ia tertawa lebar kesenangan. Beng Goan-cau berlega hati, segera ia menjura kepada Toan Siu-si, katanya.

"Demi bocah itu Toan-heng sudah berjerih payah sedemikian rupa, sungguh aku orang she Beng amat berterima kasih, soal ini pun tidak perlu diungkit-ungkit lagi. Harap tanya Toanheng, dari mana kau bisa tahu mencari aku kemari, untuk apa pula kau mencari aku?"

"Sebetulnya aku hanya ingin membicarakan soal bocah itu denganmu, kini aku kebentur urusan lain pula yang harus kusampaikan kepada kau Beng Tayhiap, kau harus hati-hati terhadap sementara kawanan manusia rendah yang hendak mencelakaimu."

"Siapa maksudmu?"

"Nyo Bok!"

Beng Goan-cau menepekur tak bersuara, pikirnya.

"Nyo Bok hendak mancelakai aku, hal ini sudah lama berada dalam dugaanku."

Betapapun Lu Su-bi adalah perempuan, jalan pikirannya lebih cermat, katanya.

"Apakah kau ada memergoki tipu muslihat keji Nyo Bok yang baru?"

Toan Siu-si manggut-manggut, katanya lebih lanjut.

"Soal kenapa aku meluruk kemari mencarimu, karena aku sudah tahu bahwa hari ini kau pasti datang kemari."

"Dari mana kau bisa tahu?"

Tanya Beng Goan-cau.

"Soal ini harus dibicarakan dari permulaan, hari ini di tengah jalan beruntun aku bertemu dengan tiga rombongan orang. Rombongan pertama adalah Li-ma-cu dan Kwi-hwe-thio."

"O, jadi kau bertemu dengan mereka, tak heran kau bisa tahu aku kemari hendak mencari Song Theng-siau."

Kata Beng Goan-cau.

"Dengan Kwi-hwe-thio aku sendiri tidak kenal, dengan Li-ma-cu sebaliknya ada mengikat persahabatan. Kejadian kalian membuat onar di kota raja, mereka pun sudah memberi tahu kepadaku."

Lu Su-bi suka mendengar cerita yang ramai, segera ia menimbrung.

"Beng-suko, bagaimana kau membuat onar di kota raja, apakah kau lakukan bersama Utti Tayhiap, Cay-piauthau dan lainlain?"

"Siau-sumoay, kau sabarlah dulu,"

Sela Song Theng-siau.

"Beng-suko nanti pasti akan bercerita kepadamu."

"Ya, kau bicarakan dulu soal Nyo Bok. Beng-suko, kejadian di kota raja biar kelak kalau ada kesempatan kau tuturkan kepadaku saja."

Berkata Toan Siu-si lebih lanjut.

"Setelah aku berpisah dengan Li-ma-cu dan Kwi-hwe-thio, tak lama kemudian di sebelah depan aku bertemu pula dua orang yang sudah kukenal betul!"

"Satu di antaranya tentunya adalah Nyo Bok?"

Sela Lu Su-bi.

"Tidak salah, seorang yang lain adalah Thong-thian-hou Coh Thian-hiong."

"O, kiranya tua bangka itu, dia sudah bergaul bersama Nyo Bok."

"Siapa pula Thong-thian-hou itu?"

Tanya Lu Su-bi.

"Seorang begal tunggal yang malang melintang pada dua puluh tahun yang lalu di daerah Thian-lam, sudah lama ia mencuci tangan menghentikan usaha tanpa modalnya itu, belum lama ini turun gunung pula. Pernah aku bergebrak melawan dia di rumah keluarga Hun di Sam-ho,"

Beng Goan-cau menegangkan.

"Rase tua ini sudah lama kukenal di Tiam-lam, kami tidak ingin mencari gara-gara kepadanya, dia merasa segan juga menghadapi kami berdua, seumpama air sumur tidak menyalahi air sungai!"

"Tapi kali ini kalian pasti sudah bentrok bukan?"

Tanya Lu Su-bi tertawa.

"Bentrok sih tidak. Waktu itu aku berada di sebuah jalan gunung aku menguntit di belakang mereka, kudengar suara percakapan mereka, sebaliknya mereka tidak melihat jejakku." .

"Kau mencuri dengar rahasia apa saja di antara percakapan mereka?"

Sela Lu Su-bi pula.

"Ginkang rase tua itu tidak lebih rendah dari aku, aku tidak ingin jejakku diketahui mereka, terpaksa aku menyembunyikan diri dalam semak rumput, dari kejauhan kukuntit mereka. Maka aku hanya mendengar percakapan mereka yang terputus-putus. Ada kudengar mereka ada menyinggung karesi-denan Sam-ho dan nama Beng Goan-cau serta Hun Ci-lo, agaknya membicarakan seorang bu inang pula, tentang siapakah bu inang itu, aku tidak begitu jelas."

"Lapat-lapat kudengar pula rase tua itu berkata mengulur benang memancing ikan besar segala, dikatakan pula hubungan suami istri Nyo Bok tidak bisa dijadikan pegangan, tapi hubungan ibu dan anak pastilah sulit diputuskan. Ada pula dikatakan meski badan hancur lebur pasti akan menuntut balas dan lain-lain. Kalau serentetan kata-katanya itu dianalisa, kedua manusia jahat itu pasti hendak meluruk ke Sam-ho melakukan perbuatan terkutuk yang memalukan, dan yang terang bahwa urusan di sana itu erat sekali sangkut pautnya dengan Beng Tayhiap!"

Dalam hati, Beng Goan-cau sudah dapat meraba dan paham ke mana tujuan kedua manusia jahat. Katanya.

"Toan-heng, terima kasih akan pemberitahuanmu ini, aku pasti akan lebih waspada."

"Lalu siapa pula rombongan ketiga yang kau temukan di tengah jalan?"

Tanya Lu Su-bi.

"Perempuan galak itu tadi,"

Sahut Toan Siu-si.

"Tujuanku memang meluruk kemari, apa boleh buat terpaksa kupancing dia ke sini. Tapi kalian tidak akan lama menetap di sini bukan, maka tidaklah menjadi soal meski jejak kalian ketahuan olehnya di sini. Menurut apa yang kuketahui, dia ingin menyusul adiknya di kota raja, di luar tahunya bahwa Nyo Bok sudah meninggalkan Pakkhia!"

"Toan-heng betul-betul seorang sahabat yang tinggi budi dan bajik, siaute dapat bersahabat dengan kau, sungguh amat menggirangkan. Sayang kita sama-sama mempunyai urusan-urusan penting, semoga kesempatan lain bisa berkumpul lagi lebih lama."

Setelah Toan Siu-si pergi, berkata Beng Goan-cau.

"Omongan orang tidak bisa seratus persen dipercaya, dulu kukira Tiam-jong-siang-sat adalah gembong-gembong iblis yang lalim dan jahat, tak nyana Ling-bi-su-seng ini kiranya adalah seorang yang supel dan setia kawan."

Song Theng-siau diam saja tidak memberi komentar. Senyum Lu Su-bi bagai kembang mekar, sambil menarik tangan Beng Goan-cau dia berlompatan dan terkikik-kikik katanya.

"Beng-suko, kau tahu betapa sulit kami mencarimu, sungguh tidak nyana hari ini bisa bertemu di tempat ini!"

Beng Goan-cau tertawa, ujarnya.

"Aku dapat melihat kalian bersama, hatiku girang pula."-Lu Su-bi paham ke mana maksud kata-kata Beng Goan-cau, seketika merah jengah selebar mukanya, lekas ia menunduk malu-malu.

"Barusan aku dan siau-sumoay memangnya sedang menyinggung dirimu,"

Kata Song Thengsiau.

"Menyinggung soal apaku?"

Tanya Beng Goan-cau.

' Sam-ho tidak jauh dari sini, tadi kami baru berunding, jikalau bisa bersama kau pergi ke Samho mencari Hun-cici, alangkah baiknya!

Kami sedang kuatir tidak bisa menemukan kau, tak nyana Thian mengabulkan keinginan kami, kau betul-betul telah tiba!"

Demikian tutur Lu Su-bi dengan riang.

"Menurut apa yang dituturkan Toan Siu-si barusan, mungkin Pakkiong Bong sudah mengatur jebakan di Sam-ho, menunggu kedatangan Beng-heng,"

Demikian kata Song Theng-siau.

"Nyo Bok dan Coh Thian-hiong adalah anjing alap-alap yang mempelopori gerakan ini."

"Kalau begitu tidak bisa tidak aku malah harus ke sana,"

Ujar Beng Goan-cau.

"Song-heng, sudah tiga tahun kau meninggalkan Siau-kim-jwan, Siau-toako dan Ling-toako sama kangen kepadamu, lebih baik kau ajak siau-sumoay pulang ke Siau-kim-jwan saja."

Lu Su-bi tahu maksudnya, segera ia berkata sambil tertawa.

"Beng-suko, aku tahu kau berpikir demi kebaikan kami, kuatir kami mengalami bahaya benar tidak? Tapi Huncici bukan saja sahabatmu, dia pun sahabat kami. Tempo hari kami pernah bertemu muka satu kali, cuma tidak sempat bicara lantas berpisah lagi. Kali ini kau suka atau tidak yang terang aku harus ke sana. He, he, meski kepandaianku tidak becus, paling tidak bisa membantu kesulitanmu juga bukan?"

"Ah, jadi kalian sudah pernah bertemu sama dia?"

Seru Beng Goan-cau heran.

"Benar, ada sebuah berita baik memang hendak kuberitahu kepadamu."

Lalu Lu Su-bi menceritakan di jalan pernah bertemu dengan Hun Ci-lo dan Nyo Bok, waktu mendengar Nyo Bok mengirim surat cerai yang sudah ditulis sebelumnya kepada Hun Ci-lo dan di hadapan orang banyak Hun Ci-lo merobek-robek surat cerai itu, dan saking marah sampai jatuh pingsan, tanpa merasa terkesima Beng Goan-cau, air mata berlinang di kelopak matanya, katanya.

"Nyo Bok si bangsat itu memang jahat dan keterlaluan!"

Teringat akan penderitaan lahir batin yang dialami Hun Ci-lo selama beberapa tahun terakhir ini, ia ikut merasakan sedih dan pilu.

"Benar, memang Nyo Bok itu amat jahat dan harus dihajar adat, tapi apa yang dia lakukan ini kan putusan baik bagi kita! Beng-suko, aku mengharap semoga kalian bisa rujuk kembali dan menjadi pasangan yang setimpal "

Beng Goan-cau tertawa getir, ujarnya.

"Siau-sumoay kau tidak akan mengerti. Kali ini aku hanya ingin menengok keadaan Ci-lo saja."

"Kejadian dunia serta perubahannya memang di luar dugaan manusia. Beng-heng, aku ikut merasakan perasaanmu sekarang."

"Dari mana kau bisa merasakan perasaan Beng-suko?"

Tanya Lu Su-bi tertawa.

"Kami bertiga sejak kecil tumbuh dewasa bersama, boleh dikata Beng-heng adalah seumpama saudaraku sekandung. Meskipun berpisah beberapa tahun, isi hatinya sedikit banyak masih dapat kuraba."

"Ucapan Song-heng memang benar,"

Ujar Beng Goan-cau menarik napas. Song Theng-siau berjalan berendeng bersama Beng Goan-cau, katanya.

"Beng-heng, aku tahu kau dingin di luar dan panas di dalam, seorang yang paling mengutamakan perasaan cinta kasih. Tapi selama sepuluh tahun ini, setiap orang mengalami gemblengan hidup masing-masing, apa yang sudah lalu belum tentu bisa kembali lagi."

"Song-suko,"

Timbrung Lu Su-bi.

"kata-katamu seperti orang sedang memberi petuah, aku tidak paham apa maksudmu."

"Umpamanya,"

Tutur Song Theng-siau.

"kami masing-masing meninggalkan Siau-kim-jwan sendiri-sendiri, tak terduga bisa bertemu di sini. Umpamanya pula di dalam setahun ini Beng-toako berkenalan dengan ciangbunjin Hu-siang-pay yang baru, nona Lim, sebaliknya Hun Ci-lo sudah menikah sama Nyo Bok dan akhirnya harus meninggalkannya. Semua kejadian ini pasti di luar dugaan orang. Em, ada seorang pendekar kelana Miao Tiang-hong yang cukup punya nama tenar di kangouw, apakah Beng-heng tahu?"

Beng Goan-cau tertawa, sahutnya.

"Bukan saja tahu, malah aku sudah bersahabat baik sama dia. Kebetulan kami berkenalan di rumah Hun Ci-lo."

Lalu ia ceritakan pengalamannya tempo hari di rumah Hun Ci-lo. Berkata Song Theng-siau tawar.

"Kabarnya Hun Ci-lo belum lama berkenalan dengan orang she Miao itu, bahwa ia selalu melindungi dan membela kepentingan Hun Ci-lo, sungguh sukar dicari sahabat sedemikian baiknya."

Sudah tentu Beng Goan-cau maklum akan maksud baik sahabatnya ini, hatinya menjadi geli.

"Hal itu pun sudah kuketahui. Tapi kau tidak akan tahu bahwa aku malah ikut senang bagi Hun Cilo, senang karena aku bisa berkenalan dengan seorang sahabat yang sedemikian baiknya,"

Demikian pikirnya.

"Beng-suko, apa yang sedang kau pikir?"

Tanya Lu Su-bi. Beng Goan-cau mendongak, katanya.

"Kau lihat, hujan salju dari langit!"

Tampak kembang salju bagai bulu angsa bertaburan, menari-nari di tengah angkasa, puncak gunung terbungkus, memutih seperti perak.

"Ah, sungguh indah mempeso-na!"

Seru Lu Su-bi.

"Hujan salju tahun ini agaknya terlalu pagi datangnya!"

Beng Goan-cau tertawa, katanya.

"Hari ini tanggal tiga belas bulan sebelas. Di utara kota raja, pertengahan bulan sepuluh sudah sering turun hujan salju."

"Sudah beberapa tahun aku tidak pernah melihat hujan salju. Waktu kecil aku paling suka melihat pemandangan hujan salju. Namun demikian Siau-kim-jwan adalah tempat yang paling kusukai. Beng-suko, kami undang Hun-cici supaya datang ke Siau-kim-jwan."

"Ya, setelah bertemu sama dia boleh kau minta kepadanya,"

Demikian ujar Beng Goan-cau, sementara dalam hati ia membatin.

"Jikalau dia suka pergi ke Siau-kim-jwan, di sana hidup dalam hari-hari yang panas dalam perjuangan, mungkin bisa menghilangkan noda-noda duka dalam sanubarinya."

"Siau-sumoay,"

Sela Song Theng-siau tertawa.

"jangan terlalu asyik melihat hujan salju, kita harus lekas-lekas kembali ke Siong-hong-koan mengambil bekal kita."

Lu Su-bi sadar, serunya.

"Betul, setelah mengambil bekal, hari ini kita masih bisa menempuh setengah hari perjalanan. Besok malam pasti kita sudah bisa bertemu dengan Hun-cici."

Kalau di perjalanan hati Beng Goan-cau selalu gundah dan terbayang akan kenang-kenangan lama.

Sementara Hun Ci-lo di kampung halamannya pun sedang menunggu kelahiran bayinya, hatinya pun sedang gundah dan risau tidak bisa tentram.

Bersama bibinya Hun Ci-lo tinggal di rumah bu inangnya, bu inangnya pun seorang janda, cuma punya seorang putri yang sudah menikah, maka kehidupannya di hari tua rada sengsara dan serba kekurangan.

Rumah yang dibangun dari tanah liat pun sudah bobrok, setelah mereka datang, barulah mulai dikapur dan diperbarui.

Kehidupan yang sunyi dan tenang di pegunungan Hun Ci-lo masih bisa kerasan, namun sulit dia dapat mengekang kesunyian hatinya.

Anak Nyo Bok yang terkandung dalam perutnya sudah hampir genap sembilan bulan.

Suami istri sudah putus hubungan, berarti orok yang akan lahir punya ayah seperti tiada punya ayah.

Setiap kali ia teringat akan kedua anak-anaknya ini, meski yang kecil belum lagi lahir, nasibnya justru hampir sama dengan engkohnya, tak terasa ulu hatinya seakan-akan ditusuk sembilu sakitnya.

Kehidupan nan sunyi tenang dan serba kekurangan di desa pegunungan baru menjadi ramai dan menyenangkan perasaan setelah Tan Kong-si datang membawa Siau Gwat-sian dan Cau Cihwi.

Setelah menghantar mereka sampai di rumah bu inang Hun Ci-lo, sebetulnya Tan Kong-si ingin segera berlalu, namun Siau-hujin dengan sangat menahannya, terpaksa ia menetap untuk beberapa hari lamanya.

Siau-hujin mempunyai rencananya sendiri, malam itu lantas ia bertanya kepada putrinya.

"Apakah kau benar menyukai Tan-kongcu ini?"

Sudah tentu merah malu muka Siau Gwat-sian, sahutnya sambil cemberut.

"Bu, aku tidak suka dengar pertanyaanmu ini."

"Tanpa kau katakan pun aku sudah tahu,"

Ujar Siau-hujin.

Baca Juga: Pedang Bunga Mei 6

Baca Juga: Pendekar Wanita Penyebar Bunga 3

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger