Kelana Buana 10

Eps 10 Kelana Buana - Liang Ie Shen

Baca online Kelana Buana - Liang Ie Shen

Cersil Kelana Buana - Liang Ie Shen.

"Waktu di Thong-ting-san tempo hari, bukankah karena hal ini kau bertengkar dengan Ci-hwi? Dan karena itu pula sampai engkohnya tinggal minggat bukan?"

"Itulah karena mereka sendiri yang terlalu banyak hati."

"Paman Cau adalah sahabat karib ayahmu semasa hidup, kita sekeluarga pun mendapat perlindungan dan pengawasannya. Segala persoalan kau harus sedikit mengalah kepada Ci-hwi, kau tahu tidak?"

"Memangnya, setiap kali berlatih ilmu pedang, selalu aku mengalah satu dua jurus kepadanya."

"Kau ini benar-benar tidak tahu atau pura-pura pikun, yang kumaksudkan bukan hal itu."

Sebetulnya Siau Gwat-sian sudah tahu juntrungan kata-kata ibunya, soalnya ia dongkol dan uring-uringan, maka ia pura-pura bodoh saja, katanya.

"Bukan hal itu, memangnya ada urusan lain?"

"Paman Cau ada maksud menjodohkan Ci-hwi kepada Tan-kong-cu, Ci-hwi sendiri pun menyukainya, apakah kau tidak tahu?"

"Memangnya kenapa kalau tahu?"

"Kalau tahu kau harus sedikit mengalah dan banyak memberi kesempatan kepada mereka!"

Setelah berhenti sebentar, lalu sambungnya.

"Sebetulnya Ho-lian kokomu itu pun tidak kalah bagusnya. Kepandaian silatnya mungkin tidak memadai Tan-kongcu, namun sifatnya polos dan jujur. Aku dan paman Caumu sudah anggap kalian sebagai pasangan yang setimpal, soalnya usiamu masih rada kecil, maka belum dipertunangkan secara resmi."

Malu dan jengkel pula Siau Gwat-sian, katanya.

"Siapapun aku tidak suka, kau pun jangan paksa aku jadi menantu keluarga Cau."

"Aku tidak akan memaksa perjodohanmu, tapi adalah soal lain kau menyukai Ho-lian atau tidak, yang terang Tan-kongcu ini kau harus mengalah kepada Ci-hwi. Jangan kau melukai hati paman Cau."

Setelah mengucapkan kata-katanya ini baru Siau-hujin menyadari sudah omong kelewat batas, mungkin putrinya tidak akan mau menerima alasannya. Betul juga Siau Gwat-sian jadi semakin marah dan merengek.

"Baik, selanjutnya aku tidak akan bergaul sama Tan-kongcu, supaya orang tidak menyangka aku ini gadis rendah atau perawan tidak laku kawin, memangnya aku hendak merebut suami orang lain!"

Pelan-pelan Siau-hujin mengelus rambut putrinya, katanya penuh kasih sayang.

"Jangan kau marah, dengarlah nasehat ibu. Sikapmu ini kurang baik dilihat orang!"

"Bukankah kau sendiri yang minta aku beri kesempatan pada mereka?"

"Kelakuanmu ini terlalu menyo-Jok mata. Cukup asal kau rada menjauhi Tan-kongcu, biarkan mereka berdekatan lebih mesra, kukira sudah cukup. Kalau sekarang kau tidak mau bergaul sama mereka, tentu bisa menimbulkan gara-gara, kau tahu tidak?"

"Ya, ya, aku sudah paham. Bu aku mengantuk ingin tidur, sudah jangan kau banyak omong lagi!"

Siau-hujin tahu putrinya masih marah-marah, dengan tertawa ia menarik selimut menutupi badan putrinya.

Dasar anak-anak muda meski semalam Siau Gwat-sian uring-uringan, toh rasa penasaran hati tidak bisa lama mencekam sanubarinya, dalam dua tiga hari mendatang memang Siau Gwat-sian sengaja menjauhi Tan Kong-si, namun lambat laun pergaulan mereka, menjadi intim pula seperti semula.

Hari itu cuaca amat baik, berkata Cau Ci-hwi.

"Hun-cici tidak bisa menemani kita berlatih pedang, mari kita cari Kong-si minta dia mengiringi kita berlatih mau tidak?"

Teringat akan pertengkaran mulut waktu berlatih pedang tempo dulu itu, maka berkata Siau Gwat-sian.

"Kalian pergi saja, aku tidak!"

Cau Ci-hwi melengak, katanya tertawa.

"Memangnya kau masih marah kepadaku? Baiklah, kau tidak mau, aku pun tidak jadi pergi, ai, cuma sayang cuaca sebaik ini, terpaksa kita harus menyekap diri di dalam rumah."

Siau Gwat-sian selalu ingat akan pesan ibunya, katanya.

"Soal dulu itu sudah lama kulupakan. Jangan kau terlalu curiga lho. Baik, baik, aku kewalahan menghadapi kau kalau merengek, ayolah kuiringi kau!"

Di dalam hutan mereka menemukan sebidang tanah kosong, kata Cau Ci-hwi.

"Tan-toako, Pingcwan-kiam-hoatmu sudah pernah kami saksikan sekali, sekarang sudah kami lupakan. Sudikah kau berlatih sekali lagi buat kami lihat?"

"Kalian saja yang latihan dulu, aku sendiri pun belum lengkap melihat rangkaian ilmu pedang kalian, biarlah kali ini membuka mataku lebih dulu."

Cau Ci-hwi dan Siau Gwat-sian lantas berebutan, katanya.

"Tidak, kau dulu, kau lebih dulu!"

Tan Kong-si tertawa geli melihat keributan lucu ini.

Ternyata di dalam hati kecilnya ia anggap mereka berdua sebagai adik-adik kecil yang belum tahu urusan.

Tan Kong-si seperti sedang mendengarkan sesuatu sesaat tiba-tiba ia berkata.

"Kabarnya tempo hari waktu kalian berlatih silat di hutan kembang Bwe di Thong-ting-san, pernah dicuri lihat oleh orang, dan terjadilah sedikit keributan?"

"Benar,"

Ujar Cau Ci-hwi.

"keparat itu hendak menyelidiki jejak paman Miao, kabarnya dia adalah orang keluarga Lian yang terkenal dengan julukan Su-pit-tiam-pat-meh, kami kewalahan, untunglah hari itu kebetulan Hun-cici tiba, barulah berhasil menggebah dia lari!"

Tiba-tiba tergerak hati Siau Gwat-sian, katanya.

"Apakah sekarang juga ada orang sedang mencuri lihat?"

Cau Ci-hwi menjadi sadar, untuk memperlihatkan bahwa dirinya lebih cerdik dari Siau Gwatsian, peduli apa betul ada orang mengintip atau tidak segera ia membentak lebih dulu.

"Siapa itu, hayo lekas keluar!"

Belum lenyap suaranya, betul juga dari dalam hutan, menerobos keluar seorang laki-laki berpakaian ketat.

"Sret"

Ci-hwi dan Gwat-sian mencabut pedang bersama, terus memapak maju, ujung pedang mengancam ke arah laki-laki itu.

"Jangan turun tangan, tanyai dulu maksud kedatangannya,"

Seru Tan Kong-si. Laki-laki itu unjuk tawa dibuat-buat, katanya.

"Harap nona jangan marah, aku bukan mengintip kalian berlatih pedang, aku datang hendak menjenguk famili."

Siau Gwat-sian melongo, tanyanya.

"Siapa familimu?"--Maklum dalam gunung itu cuma ada sepuluhan keluarga, sebaliknya laki-laki ini berpakaian cukup mewah, tutur kata dan tindak tanduknya seperti orang kota tulen, sekali pandang dapat diketahui-bahwa dia pasti bukan orang dari gunung ini. Laki-laki itu mengawasi Siau Gwat-sian sebentar, mendadak ia bertanya.

"Nona, apakah kau She Siau?"

"Dari mana kau bisa tahu?"

Siau Gwat-sian heran.

"Hun Ci-lo adalah piaucimu bukan?"

Kata laki-laki itu pula.

"Raut muka kalian ada sedikit sama, aku hanya menebak semba-rangan saja."

Semakin bingung Siau Gwat-sian dibuatnya, tanyanya pula.

"Kau kenal Hun-piauciku?"

Laki-laki itu tertawa lebar, katanya.

"Aku she Nyo bernama Bok, kalau dikatakan aku masih termasuk piau-cihumu!" , Siau Gwat-sian memang belum tahu akan perceraian Hun Ci-lo dengan suaminya, ibunya kuatir gadis yang tidak tahu urusan ini sembarangan omong maka ia tidak memberi tahu kepadanya. Kini mendengar laki-laki ini ternyata adalah Nyo Bok, seketika ia kaget, serunya.

"Bukankah kau sudah mati?"

Kata piauci..."

"Aku terpaksa pura-pura mati karena menghindari kejaran musuh besarku,"

Demikian Nyo Bok menerangkan.

"Apa saja yang dikatakan piaucimu, mungkin dia masih rada salah paham terhadapku."

Siau Gwat-sian sendiri memang tidak tahu seluk beluk persoalan, maka ia berkata.

"Tidak apaapa, kebetulan kau datang, piauci, dia..."

Nyo Bok melengak, tanyanya.

"Dia kenapa? Dia sedang menyinggung aku? Atau sedang mencaci maki aku?"

Siau Gwat-sian tertawa geli, sahutnya.

"Memang kau benar, dia sedang kangen padamu. Baiklah, mari kau ikut aku."

Sebetulnya ia hendak memberi tahu bahwa Hun Ci-lo segera bakal melahirkan, tapi sebagai gadis yang menanjak dewasa ia malu mengutarakan urusan yang memalukan ini, ia urungkan niatnya.

Pikirnya bila sang istri hamil, sebagai suaminya tentu sudah tahu, cukup asal dia sedikit menyinggung saja Nyo Bok pasti sudah tahu, siapa tahu sikap Nyo Bok masih bingung seperti linglung.

Cau Ci-hwi memasukkan pedang, katanya.

"Marilah kita pulang bersama!"

Nadanya menjadi uring-uringan dan sebal.

"Tidak, biar aku yang menemani tamu pulang,"

Demikian ujar Siau Gwat-sian.

"silakan kalian lanjutkan latihan sendiri."-Memang kata-katanya ini yang paling diharapkan oleh Cau Ci-hwi, dengan demikian ia berkesempatan bermain-main sepuasnya dengan Tan Kong-si. Melihat Nyo Bok datang, sudah tentu Siau-hujin kaget dan girang pula. Meski ia tahu Nyo Bok bukan suami yang ideal, betapapun ia mengharap keponakannya bisa rujuk kembali dengan suaminya. Nyo Bok segera menjura dan katanya.

"Siautit hari itu berlaku kurang ajar terhadap kau orang tua, harap kau orang tua suka memberi maaf."

"Kejadian yang sudah lalu, tidak usah disinggung lagi. Kedatanganmu sangat kebetulan."

Lagi-lagi mendengar ucapan 'kedatanganmu kebetulan', Nyo Bok jadi was-was dan gundah, tanyanya.

"Apakah Ci-lo ada di rumah? Apakah dia masih marah kepadaku?"

Sebentar berpikir lalu Siau-hujin berkata.

"Duduklah di sini sebentar. Biar aku masuk..."

Di dalam kamarnya Hun Ci-lo sudah mendengar percakapan mereka, mendengar sampai di sini, segera ia berseru keras.

"Bibi, wakilkan aku mengusir dia dari sini!"

Kebetulan Siau-hujin habis berkata dan hendak melangkah masuk, mendengar seruannya ini ia sendiri menjadi serba kikuk dan risi, cepat ia memberi tanda dengan ulapan tangan, maksudnya supaya Nyo Bok jangan banyak omong, duduk saja di luar menunggu.

Setelah berada di dalam kamar, Siau-hujin berbisik di pinggir telinga Hun Ci-lo.

"Suami istri bagaimana juga tetap suami istri, apalagi kau sudah hampir melahirkan anaknya."

Dengan tegas dan tandas Hun Ci-lo berkata.

"Sejak lama aku sudah bukan orang keluarga Nyo lagi, bibi, kalau kau memberitahu dia soal ini, itu berarti kau mendesak aku meninggalkan tempat ini."

Lalu ia mengeraskan suara membentak.

"Nyo Bok, sungguh tidak malu kau berani datang hendak menemui aku, lekas kau menggelinding pergi!"

Karena mendapat angin akan bantuan Siau-hujin, bukan pergi Nyo Bok malah melangkah maju ke ruang dalam, katanya.

"Ci-lo, kejadian yang sudah lalu memang aku sendiri yang salah, kini aku sudah amat menyesal, sengaja aku kemari untuk mohon ampun kepada kau. Harap pandanglah hubungan suami istri selama delapan tahun, baik atau buruk sukalah kau memberi ijin aku masuk menengokmu,"

Sembari bicara tangannya terulur hendak menyingkap kerai di depan pintu.

Sekonyong-konyong segulung angin menyambar keluar, tahu-tahu kerai itu tergulung terbang membalik.

Kontan Nyo Bok merasa lengannya kesemutan, dan tanpa kuasa ia tersurut mundur oleh dorongan tenaga keras yang menerjang melalui kerai bambu itu.

Ternyata Siau-hujinlah yang menggulung kerai itu dari sebelah dalam, untunglah dia masih menaruh belas kasihan, kalau tidak Nyo Bok pasti terluka dan terjengkang jatuh.

Siau-hujin berjalan keluar katanya berbisik .

"Ci-lo sedang marah, jangan kau main sembrono, sekarang kau harus membujuk dan meminta-minta kepadanya."

Nyo Bok manggut-manggut, dari luar kerai segera ia memohon kepada isterinya.

"Ci-lo, kalau kau tidak sudi ingat hubungan kita suami istri, paling tidak kau harus pandang muka anak kita."

Hun Ci-lo kaget, batinnya.

"Apakah bibi sudah memberi tahu bahwa aku bakal segera melahirkan anaknya?"

Terdengar Nyo Bok berkata lebih lanjut.

"Ci-lo, kau kan tahu, selama ini aku pandang anak Hoa sebagai anak kandungku sendiri, setiap hari selalu dia merengek-rengek padaku minta supaya mencari ibu, memangnya kau pun sudah tidak kangen kepadanya?"

Baru sekarang Hun Ci-lo tahu anak yang dimaksud Nyo Bok adalah Nyo Hoa, sudah menjadi kodrat alam bahwa ayah bunda menyayangi putra putrinya, meski berita ini rasanya terlalu mendadak, tak urung ia menjerit kaget.

"Apa, maksudmu kau sudah berhasil menemukan kembali anak Hoa?"

"Betul. Hoa-ji semula dibawa lari oleh Tiam-jong-siang-sat, mendapat bantuan Han Wi-bu aku berhasil meringkus Leng-bin-suseng Toan Siu-si dan paksa suhengnya menyerahkan Hoa-ji sebagai gantinya. Sepuluh hari yang lalu, Hoa-ji sudah kami antar sampai ke kota raja."

"Apa betul omonganmu?"

Hun Ci-lo menegas.

"Masa aku menipu kau! Ilmu silat Toan Siu-si amat tinggi, untunglah secara kebetulan ia tiba di kota raja seorang diri, bersama dengan para piausu dari Tjn-wan Piaukiok, kami melabraknya hampir satu jam lamanya, baru berhasil membekuknya, kalau kau tidak percaya aku bisa menunjukkan sebuah bukti, bukankah di leher Hoa-ji ada sebuah kalung mainan dari batu giok yang kau berikan kepadanya sebagai tanda mata, betul tidak?"

Di tengah jalan memang Hun Ci-lo pernah bersua dengan Toan Siu-si, ia tahu orang memang menuju ke kota raja seorang diri.

Tapi kejadian di puncak Thay-san di mana Toan Siu-si pernah mengeluarkan mainan batu giok itu di hadapan Nyo Bok dan Beng Goan-cau tidak diketahui olehnya, karena waktu itu ia sedang jatuh pingsan.

Kini Nyo Bok menyinggung hal ini, Hun Ci-lo percaya beberapa bagian.

"Entah betapa menderita dan sengsara kehidupan anak Hoa di tangan Tiam-jong-siang-sat, badannya kurus kuning, aku sendiri tidak bisa merawat anak, memangnya kau tega tidak mau mengasuhnya lagi?"

Hun Ci-lo menjadi pilu dan bersedih, tak tertahan air matanya meleleh keluar.

Nyo Bok tahu bahwa pikiran isterinya sudah berubah dan mungkin mau keluar, karena ia mendengar isak tangisnya, baru saja ia merasa girang, mendadak didengarnya Hun Ci-lo berkata dingin.

"Nyo Bok, kali ini berapa orang yang kau bawa kemari, kenapa tidak suruh mereka unjukkan diri sekalian?"

Ternyata sejak kecil Hun Ci-lo ada meyakinkan senjata rahasia Bwe-hoa-ciam, pendengarannya lebih tajam dari orang biasa, lapat-lapat ia dengar di belakang jendela dan di atap rumah, seakanakan ada jejak suara orang melakukan perjalanan malam.

Keruan Nyo Bok amat kaget katanya.

"Tidak! Jangan kau terlalu banyak curiga, marilah pulang saja bersamaku."

"Kau tidak bicara sejujurnya, masih tebal muka kau minta aku pergi bersamamu?"

"Ci-lo,"

Suara Nyo Bok semakin keras.

"Kau terlalu banyak curiga, masakah aku menipu kau."

Sengaja suaranya ia bikin keras supaya terdengar oleh Coh Thian-hiong yang mungkin terburu nafsu dan supaya bersabar serta bertindak menurut rencana semula saja.

Tak nyana, belum lagi ia bicara selesai, mendadak didengarnya seseorang bersuara.

"Betul, jangan ikut dia pergi, dia memang seorang penipu! Anak buah Sat Hok-ting dan Pakkiong Bong sudah datang bersama!"

Sungguh kejut Nyo Bok bukan alang kepalang, sebaliknya Hun Ci-lo kaget dan kegirangan pula.

Karena orang yang bersuara di luar ini bukan lain adalah Beng Goan-cau.

Sekilas Nyo Bok menenangkan hati, lalu serunya.

"Ci-lo, dia kan bukan..."

Sebelum kata "sahabatku"

Sempat diucapkan, terdengarlah suara "Trang"

Yang keras dari beradunya senjata tajam. Lalu terdengar pula Beng Goan-cau membentak.

"Menggelindinglah turun! Hehe, Nyo Bok, inilah kawanmu sudah tiba!"

Dua sosok bayangan orang melompat turun dari atap rumah, orang yang di depan bukan lain adalah Ciok Tio-ki, wakil komandan Gi-lim-kun. Sekali lagi Nyo Bok dibuat kaget, tanpa sadar ia menjerit kaget.

"Ciok-tayjin..."

Ciok Tio-ki bergelak tertawa, katanya.

"Betul, aku pun ingin melemaskan tulang dalam keramaian ini. Beritahukan duduk perkara sebenarnya."

Di saat ia bicara, golok cepat Beng Goan-cau sudah membacok tiba.

Lekas Ciok Tio-ki keluarkan sepasang Boan-koan-pitnya menangkis.

Tepat pada saat itu juga pintu besar ditendang pecah dan terbuka dengan mengeluarkan suara gaduh, laki-laki seragam hitam menerjang masuk.

Dari atap rumah melompat turun pula seseorang, orang ini barulah Thong-thian-hou Coh Thian-hiong adanya.

Ternyata Ciok Tio-ki pun seorang yang cerdas pandai, sejak mula ia pun sudah menduga bahwa Nyo Bok mungkin kena dipelet dan dirangkul oleh Pakkiong Bong, dan secara sembunyi pasti datang mencari Hun Ci-lo, maka secara diam-diam ia membawa enam orang jagoan Bhayangkari menguntit.

Kedua orang ini adalah orang-orang kepercayaan Sat Hok-ting, seorang bernama Ih Tiang-kiat dan yang lain bernama Cheng Gun.

Sementara melihat mereka sudah menerjang masuk ke dalam rumah, terpaksa Coh Thian-hiong ikut unjukkan diri, demi tujuan majikan masing-masing mereka berlomba mengejar pahala.

Begitu melompat turun Coh Thian-hiong lantas gelak tertawa, katanya.

"Tidak salah, memang tiada halangannya kau beber duduk perkara sebenarnya sekarang. Nyo-hujin, jangan kau takut, kami hanya meluruk datang untuk membekuk batang leher Beng Goan-cau."

Maka terdengarlah suara keluhan panjang yang kecewa dan putus asa dari dalam kamar.

Kiranya setelah mengetahui duduk perkara sebenarnya, saking marah Hun Cilo jatuh pingsan.

Meskipun ia tahu bahwa Nyo Bok bukanlah seorang suami yang ideal, namun ia tidak menduga bahwa orang sudah sebejat itu, secara terang-terangan kini> berani menjadi anjing alap-alap bagi kerajaan Boan.

Teringat selama delapan tahun mereka hidup bersama dengan tidur satu bantal, betapa hatinya takkan pilu, sedih dan malu serta penasaran lagi.

Tergetar hati Beng Goan-cau, teriaknya.

"Ci-lo, kenapa kau?"

Ciok Tio-ki segera mengejek dingin.

"Istri orang lain, kenapa kau menaruh begitu besar perhatian!"

Beng Goan-cau murka.

"Sret sret"

Beruntun ia membacok tiga kali, sepasang potlot Ciok Tio-ki tidak mampu menandingi kecepatan dan kehebatan serangannya ini, terpaksa ia main mundur tiga langkah.

Ingin Beng Goan-cau berlari masuk1 menengok keadaan Hun Ci-lo, namun Nyo Bok sudah bertindak di depannya.

Berkobar rasa sirik dan cemburu Nyo Bok, jengeknya dingin.

"Tak heran dia tidak mau pulang bersamaku, kiranya kau ini gendaknya yang memikat dia, di dalam matanya hanya ada Beng Goan-cau seorang. Hehe, kalian sepasang gendak cabul ini ternyata cukup setia kawan dan amat mendalam cintanya, sayang Nyo Bok berada di sini, jangan harap keinginan kalian bisa terkabul!"

Sembari tertawa dingin, ia mengulur tangan sudah akan menyingkap kerai.

"Kau kentut apa!"

Bentak Beng Goan-cau, tiba-tiba goloknya membacok miring laksana kilat cepatnya. Ciok Tio-ki berteriak.

"Bagus ya, kau hendak mengadu jiwa!"

Sembari berteriak ia doyongkan badan miring ke samping dan menggeser satu langkah, sebat sekali tahu-tahu Beng Goan-cau sudah berkelebat dari samping tubuhnya, di lain kejap golok cepatnya sudah membacok ke arah Nyo Bok.

Kedua jago Bhayangkari itu segera memburu maju sambil menyerang, Ih Tiang-kiat bersenjata Cui-mo-pian ruyung baja, Cheng Gun bersenjata golok bergigi, kedua macam senjata ini sama berbobot berat, tidak takut ditabas atau dibacok kutung oleh golok pusaka.

Serempak ruyung dan golok mereka menyerang bersama menandingi golok cepat Beng Goan-cau.

Baru saja Nyo Bok hendak menyingkap kerai masuk ke dalam kamar, tiba-tiba Siau-hujin tertawa dingin, jengeknya.

"Menggelinding keluar!"

Terdengar suaranya orangnya pun tiba, di mana tangan kanannya terangkat, jari-jarinya mencengkeram ke pundak Nyo Bok.

Saking kejutnya lekas Nyo Bok menekuk lutut merendahkan badan, sementara kedua tangan menyanggah ke atas melindungi kedua pundaknya.

Ia gunakan jurus Koan-ping-pang-in, salah satu jurus peranti melindungi badan dari tipu-tipu Kim-kong-liok-yang-jiu.

Meskipun latihan Kim-kong-liok-yang-jiu yang diyakinkan sudah cukup matang, paling-paling ia hanya berhasil melindungi kedua tulang pundaknya hingga tidak sampai tercengkeram remuk, maka terdengar "Bret"

Pakaian di atas pundaknya kena tercomot sobek oleh jari-jari Siau-hujin. Barulah sekarang Coh Thian-hiong melangkah maju sembari memuji.

"Ilmu bagus! Siau-hujin memang tidak malu sebagai ksatria di kalangan perempuan, biarlah aku si tua bangka ini mohon petunjuk beberapa jurus."

Memangnya dia seekor rase tua, setelah menerawang situasi dan melihat pihak mana lebih unggul barulah ia turun tangan.

Coh Thian-hiong adalah seorang ahli kenamaan di dalam Kim-na-jiu, sekarang ia tidak gunakan tujuh puluh dua jalan Kim-na-jiu-hoat yang paling diandalkan, malah menggunakan Siau-kim-najiu yang mengutamakan pertempuran dari jarak dekat, setiap tipu-tipu jurusnya kalau tidak menangkap, mengunci, menyobek dan meng-gantol, pastilah mencengkeram sendi-sendi tulang dan urat penting di badan lawan.

Soalnya ia kuatir tidak mampu menundukkan Siau-hujin, bertempur secara merapat dari jarak dekat dengan kaum hawa betapapun banyak pantangannya, .oleh karena itu barulah dia bisa berkesempatan mengambil kemenangan.

Sudah tentu Siau-hujin juga tahu maksud tujuannya, sigap sekali kakinya melangkah memasuki Ang-bun, telapak tangannya lantas menepuk ke batok kepala orang, lekas Coh Thian-hiong menggerakkan telapak tangan kiri membundar, sementara telapak tangan kanan berputar menotok ke Jian-kin-hiat di pundaknya, totokan jarinya mengeluarkan deru'angin yang keras dan belum lagi Siau-hujin melihat tegas, Jian-kin-hiat Siau-hujin sudah terasa kesemutan.

Mencelos hati Siau-hujin, sebat sekali ia menggeser langkah berpindah kedudukan, telapak tangannya tidak ia adu, gerak tangannya malah miring dan menyimpang ke pinggir sementara jari-jari tangannya terjulur keluar menotok Thay-yang-hiat di pelipis kirinya.

Mau tidak mau bercekat juga hati Coh Thian-hiong, lekas kedua telapak tangannya menggencet tutup memunahkan totokan lawan.

Tiba-tiba Siau-hujin menggunakan gaya menyedot dada jumpalitan di tengah awan melompat mundur keluar kalangan.

Sudah tentu kelakuannya ini membuat Coh Thian-hiong heran dan tak mengerti, semula dia kira orang akan menyerang lebih gencar lagi.

Coh Thian-hiong tertawa, katanya.

"Betul, dulu kita tiada bermusuhan, sekarang pun tiada dendam, aku tua bangka ini sudah berkenalan dengan kepandaian Siau-hujin..."

Ia mengira Siauhujin hendak ajak damai padanya, baru saja ia hendak menyampaikan sekedar basa basi seperti kaum persilatan lazimnya, sekonyong-konyong selarik bayangan putih seperti ruyung lemas tibatiba menggulung datang dengan mengeluarkan suara menderu, tahu-tahu senjata Siau-hujin sudah menyerang tiba.

Ternyata Siau-hujin melolos ikat pinggang sutranya digunakan sebagai ruyung lemas untuk menyerang.

Sabuk sutra adalah benda lemas, tapi Siau-hujin dapat menggunakannya sampai mengeluarkan deraan angin yang keras, maka dapatlah dibayangkan betapa tinggi dan lihay lwekangnya, terpaksa ia harus meningkatkan kewaspadaan, sembari melayani serbuan lawan, berkata Coh Thian-hiong.

"Hujin seorang terpelajar yang tahu adat istiadat, orang she Beng ini bukan sanak bukan kadangmu, tidak lebih dia hanyalah kenalan lama keponakanmu saja. Demi nama baik keponakanmu, janganlah Siau-hujin melindunginya."

Siau-hujin berkata dingin.

"Tempatku ini bersih dan tenang, tidak bisa kubenarkan kawanan anjing alap-alap dan antek kerajaan mengotori tempatku ini, kau menggelindinglah pergi!"

Sabuk sutranya laksana ular sakti seperti naga hidup, beruntun ia sudah menyerang tujuh delapan jurus.

Salah satu jurus di antaranya, sabuk sutranya menyapu miring dari depan mengarah mukanya.

Lekas Coh Thian-hiong menggunakan gerakan Thi-pian-kio (jembatan papan besi) mendoyongkan badan meliuk pinggang, ia berkelit dan meluputkan diri, tapi tak urung hidungnya menyedot masuk beberapa helai bulu-bulu sutra dari sabuk lawan, sehingga terasa geli dan risi, tak tertahan ia berbangkis satu kali.

Kebetulan Siau Gwat-sian berjalan masuk, segera ia bertepuk tangan dan berseru sambil tertawa.

"Bu, jurus permainanmu ini sungguh hebat dan menakjubkan, seperti mempermainkan joget kera saja layaknya, lekaslah kau hajar pula tua bangka ini supaya mencak-mencak seperti kera berjoget, pukul hidungnya biar keluar kecap."

Coh Thian-hiong sudah tenar selama puluhan tahun, mendengar olok-olok yang menghina ini, seketika berkobar amarahnya, katanya.

"Siau-hujin, kau tidak tahu kebaikan, maaf, terpaksa aku tidak main sungkan lagi kepada kau, Hm, hm, bukan saja kau tidak akan kuasa melindungi orang luar, putrimu sendiri pun jangan harap dapat kau lindungi."

Mendengar orang mengancam putrinya, Siau-hujin menjadi waswas dan kuatir, teriaknya.

"Gwat-sian, keluarlah kau, tiada urusanmu di sini!"

Sementara itu jago Bhayangkari yang bersenjata golok bergigi bernama Cheng Gun itu sudah menghadang di depan pintu, katanya sambil tertawa.

"Budak cilik ini cukup ayu juga, hehe, kalau toh sudah masuk, jangan harap kau bisa keluar, marilah bermain-main mengiringi Toayamu."

"Sret!"

Siau Gwat-sian segera menusukkan pedangnya, makinya.

"Mulut anjing tidak tumbuh gading, nonamu memang ingin menghajar anjing!"

Dengan sejurus Di Antara Awan di Atas Sungai Hong-ho, disusuli pula dengan jurus Kota Terasing di Puncak Ban-kiat-san, hawa pedangnya menyambar dingin disertai gerak perubahan yang rumit dan sukar diraba.

Cheng Gun sendiri tidak mengenal permainan ilmu pedangnya ini, maka ia tidak berani menyerang terlalu bernafsu.

Sayang betapapun usia Siau Gwat-sian masih terlalu muda, pengalaman menghadapi musuh masih terlalu hijau, ilmu yang digunakan Cheng Gun adalah Suping-to (golok empat rata), sesuai dengan namanya, ilmu pedang ini mengutamakan kerataan dan ketenangan yang seimbang, sementara ilmu pedang Siau Gwat-sian mengutamakan kelincahan, beruntun ia sudah menyerang sepuluh jurus, namun tidak berhasil merangsak maju, tanpa sadar ia jadi gelisah sendiri.

Mendadak Cheng Gun sengaja memperlihatkan sebuah lowongan, Siau Gwat-sian amat girang.

"Sret"

Sebat sekali ia menusuk ke tempat lubang kelemahan lawan, adalah di luar tahunya bahwa musuh sengaja hendak menjebak dirinya.

"Kena!"

Siau Gwat-sian menusuk sembari membentak, disangkanya tusukan pedangnya pasti dapat menembusi dada lawan, dia sendiri belum pernah membunuh orang, maka hatinya menjadi rada takut, ujung pedangnya rada bergetar, maka ia hanya mengerahkan tiga bagian tenaganya saja, pikirnya dalam hati.

"Cukup aku membuatnya sedikit terluka saja, tusukanku ini jangan terlalu keras dan menghujam terlalu dalam!"

Cheng Gun bergelak tertawa, serunya.

"Belum tentu!"

Cukup dua patah kata jawaban saja, seketika Siau Gwat-sian merasa pandangannya kabur, selarik sinar putih berkelebat, tahu-tahu golok bergigi Cheng Gun sudah menyambar tiba dari bawah ke atas.

"krak"

Telak sekali gigi goloknya berhasil menggigit dan mengunci ujung pedangnya.

Untunglah mata dan kuping Siau-hujin amat tajam, sambil bertempur ia pun perhatikan keadaan putrinya, begitu melihat putrinya terancam bahaya, segera ia berteriak.

"Ya-ja-tam-hai". Karena dilibat oleh Coh Thian-hiong ia tidak bisa memburu ke sana menolong putrinya, terpaksa dari kejauhan ia memberi petunjuk kepada putrinya. Jurus yang diserukan memang khusus untuk menghadapi jurus gigitan ilmu golok orang yang bergigi itu, kalau bisa memainkan secara baik mungkin dari terdesak malah bisa balas mendesak lawan. Tapi karena Siau Gwat-sian mendadak menghadapi kegagalan dan terdesak lagi, sedikit banyak hatinya menjadi gugup, seumpama jurus ini dapat ia mainkan dengan baik, belum tentu dapat mengambil keuntungan. Lekas Cheng Gun mengabitkan goloknya, meluputkan diri dari babatan tajam pedang Siau Gwat-sian yang hampir saja memapas kutung dua jarinya, seiring dengan gerakan ini, ia gunakan tipu Kunci Emas Jatuh ke Tanah.

"Trang!"

Golok dan pedang beradu di tengah jalan, seketika Siau Gwat-sian rasakan pergelangan tangannya kesemutan, Ceng-kong-kiam di tangannya tak kuasa dipegangnya lagi terbang ke tengah udara.

Siang-siang Siau-hujin sudah merogoh dua keping mata uang tembaga.

"Ser, ser"

Kedua uang tembaga itu terbang menderu, sekeping menerjang ke arah Ceng-kong-kiam yang terpental ke tengah udara, sehingga pedang itu berputar dan meluncur turun, kebetulan gagang pedangnya menghadap ke arah Siau Gwat-sian, sigap sekali Siau Gwat-sian meraih dan berhasil menangkapnya.

Sementara uang tembaga kedua membentur golok bergigi Cheng Gun, sehingga goloknya tersampuk miring, sehingga bacokannya mengenai tempat kosong.

"Kepandaian senjata rahasia yang hebat!"

Tak urung Coh Thian-hiong berseru memuji.

Serangannya pun lebih dipergencar lagi, kepandaian silatnya memang mempunyai kekhususan yang ahli dalam bidang masing-masing, tingkat ilmu silatnya memang setanding.

Karena menimpukkan kedua biji mata uang itu, mau tidak mau Siau-hujin harus memecah sedikit perhatian, maka Coh Thian-hiong mendapat angin untuk merangsak lebih gencar lagi, maka ia berhasil menempatkan dirinya pada posisi yang lebih menguntungkan.

Untuk membebaskan diri dari libatannya, lebih sulit dan payah lagi bagi Siau-hujin.

Sebetulnya rangsakan Siau Gwat-sian pun dibekali oleh semangat yang angin-anginan saja, begitu gagal di tengah jalan, setelah menyambut pedangnya dan menghadapi musuh, jurus-jurus permainan pedang yang dilancarkan sudah tidak sehebat dan selincah semula, selalu menghadapi kesulitan-kesulitan lagi karena semangat yang semakin luluh.

Untunglah lawan pun menjadi jeri karena timpukan mata uang Siau-hujin, kuatir Siau-hujin akan membokongnya pula secara tiba tiba sembarang saat, oleh karena harus bersiaga menghadapi senjata rahasia Siau-hujin, barulah Siau Gwat-sian mampu menghadapi lawannya sama kuat alias seri dan setanding.

Di samping menghadapi sepasang potlot Ciok Tio-ki, golok cepat Beng Goan-cau harus menghadapi pula ruyung baja Ih Tiang-kiat, namun ia masih lebih unggul dan banyak menyerang daripada membela diri.

Setelah Nyo Bok tersungkur jatuh, rasa kagetnya masih belum hilang, mencelat bangun, ia hendak menerobos masuk ke dalam kamar Hun Ci-lo pula.

Lekas Beng Goancau mundur beberapa langkah, menghadang di depan pintu, sinar goloknya dikembangkan dengan rapat dan hebat, lebih sulit lagi untuk*Nyo Bok menerjang ke dalam, saking jengkel terpaksa ia angkat senjata bergabung dengan Ciok dan Ih mengeroyok Beng Goan-cau dengan serangan ganas dan sengit.

Dengan satu lawan tiga, lambat laun keadaan Beng Goan-cau menjadi payah dan terdesak di bawah angin.

Beruntun Beng Goan-cau bersuit panjang dua kali, dalam hati ia berpikir.

"Theng-siau dan siausumoay kenapa tidak kunjung datang, mungkinkah mereka pun menghadapi musuh?"

Soalnya sebelum memasuki perkampungan Lu Su-bi yang cerdik ini sengaja minta Beng Goan-cau masuk kampung menyirapi lebih dulu, sementara ia dan Theng-siau menunggu saja di luar perkampungan.

Sebelumnya sudah dijanjikan, kalau tidak melihat Beng Goan-cau menjemput mereka keluar, paling lama setengah jam mereka akan segera menyusul masuk.

Sudah tentu Beng Goan-cau tahu maksud tujuan sumoaynya, namun ia diam saja.

Nyo Bok menjadi kaget, teriaknya.

"Keparat ini mungkin sedang memanggil bantuan, lekas bereskan dia!"

Ciok Tio-ki bergelak tertawa, ujarnya pongah.

"Dia punya bala bantuan, aku pun sudah memendam kekuatan di luar sana, tidak usah kuatir, aku berani tanggung hari ini kau pasti bisa membunuh musuhmu ini dengan golokmu sendiri!"

Beng Goan-cau murka, dampratnya.

"Orang she Beng hanya punya satu jiwa, siapa di antara kalian yang ingin menebus jiwaku, silakan maju!"

Sinar goloknya bergulung-gulung, sementara deru angin kepalannya amat keras, di antara permainan goloknya diselipi pukulan dan tendangan, dengan mengertak gigi ia tempur ketiga lawannya dengan sengit.

Nyo Bok bertiga meski lebih unggul, namun mereka menjadi kewalahan dan harus hati-hati dan waspada menghadapi cara berkelahi Beng Goan-cau yang nekad siap adu jiwa ini.

Lambat laun tenaga Siau Gwat-sian semakin terkuras habis, hatinya semakin gugup; pikirnya.

"Tan-toako dan Cau-cici masakah tidak mendengar suara pertempuran di sini? Kenapa mereka tidak kunjung datang? Apakah benar sudah bentrok dengan kekuatan musuh di bagian luar?"

Karena gugup dan pikiran tidak tenang, ilmu pedang yang dimainkan semakin kacau balau dan awut-awutan.

Cheng Gun membacok tegak tiga kali, memapas miring tiga kali pula, sehingga Siau Gwat-sian terdesak mencak-mencak kerepotan.

Siau-hujin segera membentak.

"Berani kau melukai seujung rambut putriku saja, pasti kucabut nyawamu."

Coh Thian-hiong terbahak-bahak lantang, serunya.

"Cheng Gun, kau tidak usah takut, dia sendiri sulit menyelamatkan diri, memangnya masih mampu mengurusi orang lain?"--Lalu ia menambahkan.

"Siau-hujin, kalau kau hendak menyelamatkan putrimu, lekaslah kau mengundurkan diri, jangan melibatkan diri dalam pertikaian ini."

Siau-hujin masih membandel, jengeknya dingin.

"Biar kita lihat jiwa siapa yang tidak mampu dilindungi sendiri!"-Sabuk sutranya bergerak lincah bagai naga hidup, tiba-tiba melecut datang dari arah yang tidak terduga oleh Coh Thian-hiong.

"plak"

Telak sekali mengenai punggung telapak tangannya dengan keras, meski Coh Thian-hiong biasanya amat membanggakan telapak besi dengan Kim-na-jiu-hoat yang lihay, punggung telapak tangannya itu seketika berwarna merah dan pedas sekali rasanya.

Tapi kepandaian Coh Thian-hiong memang bukan olah-olah hebatnya, begitu punggung telapak tangannya kena pecutan sabuk sutra musuh, sigap sekali ia membalikkan jari-jari tangan.

"Cras"

Kedua jari tangannya setajam gunting memotong putus sebagian dari sabuk sutra itu.

Memangnya sabuk sutra itu tidak terlalu panjang, kini menjadi lebih pendek lagi.

Siau-hujin masih menggunakannya sebagai ruyung lemas, lambat laun ia merasakan bahwa permainannya menjadi tidak sesuai dan kurang mantap.

Kalau dinilai secara keseluruhan, dalam gebrakan sengit ini, kedua pihak sama dirugikan, tapi kerugian yang diderita oleh Siau-hujin lebih besar, cuma selintas pandang, karena secara telak punggung tangan Coh Thian-hiong kena disabet, maka kerugiannya ini lebih nyata dan menyolok.

Mau tidak mau Cheng Gun harus berpikir.

"Thong-thian-hou belum tentu lebih unggul dari lawannya, kalau aku betul-betul melukai putrinya, bukan mustahil perempuan galak ini menjadi kalap, kenapa pula aku harus melibat seorang gadis cilik?"-Maka matanya segera dipentang dan celingukan, dilihatnya Beng Goan-cau berdiri di ambang pintu menghadapi keroyokan tiga lawannya, sehingga Nyo Bok tidak kuasa menerjang masuk ke dalam kamar, maka ia berpikir lebih lanjut.

"Kabarnya istri Nyo Bok adalah kekasih lamanya, tak heran ia begitu nekad. Hehe, kinilah tiba saatnya aku mendirikan pahala besar."

Timbul suatu akal dalam benaknya, segera ia desak Siau Gwat-sian mundur ke pojokan rumah, sigap sekali mendadak ia putar tubuh terus menubruk ke depan, berbareng ujung goloknya menyingkap kerai, terus menerobos masuk ke kamar tidur Hun Ci-lo.

Beng Goan-cau melompat miring dua langkah, berbareng goloknya membacok, bentaknya.

"Menggelindinglah keluar!"-Tapi di bawah keroyokan tiga jago-jago tangguh betapapun sulit melompat keluar dari arena pertempuran, tujuannya hendak merintangi perbuatan Cheng Gun, namun Ciok Tio-ki dan Nyo Bok berkesempatan pula untuk melukai dirinya. Meski sambaran goloknya amat cepat, betapapun ia sedikit terlambat, bukan saja bacokannya mengenai tempat kosong, Cheng Gun tidak menggelinding keluar, malah orang berhasil^menerobos masuk ke kamar Hun Ci-lo. Kalau dituturkan amat lambat kejadian justru teramat cepat, tahu-tahu sepasang potlot Ciok Tio-ki sudah menotok ke Hiat-to mematikan di punggungnya, sebat sekali Beng Goan-cau membalikkan goloknya.

"Trang"

Untung masih berhasil ia menyampuk sepasang potlot lawan, namun saat itu juga ia rasakan pundaknya kesakitan luar biasa, ternyata pukulan telapak tangan Nyo Bok sudah mengenai dirinya.

Mendadak Beng Goan-cau menghardik seperti geledek, badannya tiba-tiba berputar seperti angin lesus, goloknya pun terayun membacok dan membabat ke arah Nyo Bok, di saat ia berputar pada lingkaran pertama, badannya terkena sabetan ruyung lemas Ih Tiang-kiat lagi, namun ia seperti tidak merasakan apa-apa, tujuannya yang utama adalah mengejar dan membunuh Nyo Bok.

Melihat rona wajah orang yang beringas dengan mata yang mendelik gusar berwibawa, tanpa terasa ciut nyali Nyo Bok, meski tahu orang sudah terluka, ia toh menyurut mundur dengan ketakutan.

Sekonyong-konyong terdengar jeritan keras yang menyayat hati dan mendirikan bulu roma, Cheng Gun dengan selebar muka berlepotan darah, sedang kedua tangan menutupi mata, menerjang keluar lari lintang pukang dari dalam kamar.

Kiranya ia hanya tahu bahwa Hun Ci-lo adalah kekasih lama Beng Goan-cau, di luar tahunya bahwa Hun Ci-lo pun seorang pendekar perempuan yang membekal kepandaian silat, disangkanya nyonya rumah tangga yang gampang dipermainkan, bila ia berhasil meringkus Hun Ci-lo, maka ia pasti dapat mengancam Beng Goan-cau.

Perhitungannya memang terlalu muluk, di luar tahunya bahwa ia sudah menunjukkan kebodohannya sendiri dan akhirnya mendapat rugi besar.

Dalam keadaan mengandung tua, Hun Ci-lo tidak leluasa bergebrak dengan orang, tapi kepandaian menimpuk senjata rahasia masih kuasa ia lakukan.

Belum lagi Cheng Gun sempat melihat raut wajahnya, kontan ia menjerit ngeri terkena timpukan segenggam Bwe-hoa-ciam.

Begitu menggelundung keluar, serasa arwah Cheng Gun copot dari badan kasarnya, entah matanya buta atau tidak, ia coba membuka mata, ternyata daya penglihatannya masih dapat melihat sesuatu benda, barulah hatinya merasa lega, dan saat itu pula ia merasa sakit pada selebar muka dan kedua punggung telapak tangannya.

Kiranya dengan telapak tangannya ia menutupi kedua matanya, untung ia bergerak cukup cepat sehingga ujung matanya saja yang tertusuk luka dan tidak sampai buta matanya, tapi selebar muka dan punggung tangannya penuh ditusuki jarum-jarum yang tidak terhitung banyaknya.

Nyo Bok menjadi heran dan bertanya-tanya, kenapa Hun Ci-lo tidak segera keluar membantu bibinya?

Ataukah tidak sudi bertemu muka dengan aku?

Entah dia sedang sakit?

Karena ia sudah tahu akan watak istrinya segera ia berkata.

"Ci-lo, marilah kau ikut aku pulang, boleh nanti kusuruh mereka memandang mukaku, melepas Beng Goan-cau pergi!"

Sembari bicara ia tutupi mukanya dengan lengan baju terus menyingkap kerai dan menyelinap masuk ke dalam kamar.

Dia berani pastikan bahwa Hun Ci-lo tidak akan melukai dirinya, namun dalam hati ia merasa kebat kebit dan kuatir juga.

Badan Beng Goan-cau sudah terluka, terutama bekas pukulan Nyo Bok adalah yang paling berat, kini Ciok Tio-ki dan Ih Tiang-kiat merangsak lebih ketat lagi, meskipun ia masih bertempur segagah harimau mengamuk, lama kelamaan tenaga tidak memadai dengan tekad juangnya.

Melihat Nyo Bok memasuki kamar Hun Ci-lo, ingin menggeser selangkah kaki saja rasanya sukar sekali, tak urung ia menghela napas, keluhnya dalam hati.

"Ci-lo, akulah yang membuatmu celaka!"

Begitu berada dalam kamar, terlihat oleh Nyo Bok, Hun Ci-lo sedang tidur di atas ranjang, mukanya menghadap ke dalam, punggungnya membelakangi dirinya.

Sebelumnya ia berhati-hati dan berjaga-jaga bila sang istri mendadak membalik badan, mungkin orang akan melukai dirinya dengan senjata rahasia.

Tak kira agaknya Hun Ci-lo seperti tidak tahu menahu akan kehadirannya di dalam kamar.

Di luar pertempuran masih berjalan sengit dan seru, barusan saja ia menimpukkan Bwe-hoaciam melukai Cheng Gun, sudah tentu tidak akan begitu cepat ia betulbetul tidur pulas.

"Apakah ia tiada muka bertemu dengan aku?"

Demikian Nyo Bok bertanya-tanya dalam hati.

Tapi sekilas ia menerawang rasanya rekaannya ini jauh berlainan dengan watak dan perangai Hun Ci-lo biasanya.

Hun Ci-lo adalah seorang perempuan yang lemas di luar keras di dalam, asal dia sendiri merasa diri tidak bersalah atau berdosa, pastilah ia tidak akan takut menghadapi gangguan dan campur tangan orang lain.

Dengan rasa was-was dan jantung berdebar keras, pelan-pelan Nyo Bok maju perlahan-lahan, panggilnya lirih.

"Ci-lo, ini aku datang." -Sudah setahun lamanya mereka suami istri tidak pernah tidur seranjang lagi, kini melihat gaya tidur istrinya yang mempesonakan tergerak dan kepincut hati Nyo Bok. Hun Ci-lo sedang merasa perutnya sakit seperti di ris-iris, rasa sakit yang bergelombang seperti dam-paran ombak, tiba-tiba timbul, saat lain tenggelam, di dalam jangka setengah jam ini, sudah terjadi tiga kali. Dan kali ini, mungkin karena tadi ia menggunakan tenaga menimpukkan Bwe-hoaciam, meng-goncangkan kandungannya, maka rasa sakitnya lebih hebat, waktunya pun rada lama. Sejak ia berhasil melukai Cheng Gun sampai sekarang rasa sakit itu masih belum hilang. Sebagai seorang ibu yang pernah melahirkan sekali, ia tahu inilah gelombang sakit yang menyerang menjelang kelahiran bayinya, menurut perhitungan bukan hari ini ia bakal melahirkan, tapi dari rasa sakit yang menggejolak ini, agaknya bayi dalam kandungannya bakal lahir lebih pagi dari waktu sebenarnya. Di saat itu ia tahu bahwa dirinya bakal segera melahirkan, justru Nyo Bok menerjang masuk ke kamarnya. Sudah tentu Hun Ci-lo merasa amat malu, jengkel, dan benci serta marah, dalam keadaan yang serba kritis sambil menahan rasa sakit yang luar biasa ini, terasa oleh Hun Ci-lo kaki tangan menjadi kejang dan linu, teriaknya.

"Aku tidak sudi menemui kau, keluarlah kau dari sini!"

Karena kesakitan, tanpa kuasa ia menggeliat dan membalik badan.

Begitu Hun Ci-lo membalik badan, suami istri ini menjadi beradu muka dan saling berpandangan.

Pertama-tama yang dilihat oleh Nyo Bok bukan raut muka istrinya yang cantik elok berbentuk bundar telor itu, tapi yang diawasi adalah perutnya yang sudah hamil besar dan menyolok pandangan.

Sejenak Nyo Bok tertegun, rasa cemburu seketika membakar dadanya, seketika ia menyeringai dingin, katanya dingin.

"Kau perempuan sundal ini, tak heran kau malu bertemu dengan aku! Dari mana kau peroleh orok dalam kandung-anmu ini?"

Waktu berhadapan dengan sang suami, luluh dan lemaslah kekerasan hati Hun Ci-lo, sebetulnya ia sudah mau menjelaskan duduk perkara sebenarnya kepada Nyo Bok, begitu mendengar bentakan kasar dan tuduhan yang semena-mena ini, sungguh marahnya bukan kepalang, mengerahkan seluruh tenaganya, dari sela-sela giginya yang mengertak kencang itu ia mendesis beberapa patah kata.

"Kau, kau, peduli apa padamu, kau pun tidak setimpal menjadi..."

Belum habis ia bicara, rasa sakit perutnya merangsang lagi lebih hebat, tak tertahankan lagi seketika ia jatuh pingsan.

Nyo Bok belum tahu bahwa istrinya jatuh pingsan, sekali raih ia jambak rambut Hun Ci-lo serta membentak.

"Coba katakan aku tidak setimpal jadi apa, tidak setimpal menjadi suamimu bukan? Kuceraikan kau kemudian sedang kau hamil sebelumnya, ada hak aku tanya kepada kau, dari mana orok dalam perutmu ini, tidak kau katakan biar kubunuh kau!"

Pada saat itu pula mendadak terdengar jerit tangis jabang bayi yang nyaring, ternyata Hun Cilo sudah melahirkan. Begitu mendengar jerit tangis orok kecil, seketika Siau-hujin berteriak kaget.

"Nyo Bok! Aduh celaka! Kau bapak yang sembrono ini, tahukah kau..."

Mulut bicara namun tangannya tetap bekerja tanpa menjadi kendor!

Beruntun ia lancarkan serangan lebih gencar sehingga Coh Thianhiong terdesak mundur beberapa langkah, setelah Coh Thian-hiong dipukul mundur, ia lantas putar badan hendak memburu masuk ke dalam kamar tidur.

"Siau-hujin,"

Bentak Coh Thian-hiong.

"Menang kalah belum kita tentukan, kenapa hendak lari?"

Belum habis kata-kata Siau-hujin dan sebelum kakinya sempat melangkah masuk ke dalam kamar, ia sudah dicegat dan dilibat pula oleh Coh Thian-hiong.

Tenaga Beng Goan-cau sudah terkuras habis, badannya sudah lemah lunglai dan kaki pun sempoyongan hampir roboh, mendadak didengarnya Nyo Bok yang di dalam kamar hendak membunuh Hun Ci-lo, disusul terdengar pula suara orok menangis keras, dalam waktu dekat ia masih bingung tidak tahu apa yang telah terjadi, sungguh hatinya gugup dan risau, dan karena gugupnya ini, entah dari mana datangnya tenaga baru, golok cepatnya mendadak membacok lebih gencar lagi, alhasil ia melabrak Ciok Tio-ki dan Ih Tiang-kiat mundur beberapa langkah.

Lututnya baru saja kena sabetan ruyung lemas, karena bernafsu melangkah lebar, seketika kaki menjadi lemas dan tak kuasa ia roboh terjerembab.

Ciok Tio-ki bergelak ketawa.

serunya.

"Toh bukan kau yang menjadi ayahnya, kenapa tergesagesa?"

Sepasang potlotnya dibarengi ruyung baja sama meluruk ke arah Beng Goan-cau yang masih duduk di tanah dan belum sempat bangun itu.

"Aku tidak boleh mati!"

Beng Goan-cau kertak gigi.

Ilmu goloknya serba guna dan dilatih cukup sempurna, meski belum bisa bangun, maka terpaksa ia lancarkan ilmu goloknya yang dinamakan Gun-te-tong-to-hoat (ilmu golok sambil bergelindingan di tanah), dengan sengit ia papaki semua rangsakan musuh yang hebat.

Sementara dalam hati ia mengharap-harap cemas.

"Theng-siau dan sumoay kenapa tidak lekas datang? Ai, Nyo Bok keparat itu entah jadi memukul tidak? Semoga Thian melindunginya, jangan sampai Ci-lo terbunuh oleh suaminya sendiri."

Sudah tentu Song Theng-siau dan Lu Su-bi tidak tahu bahwa mereka ditunggu-tunggu kedatangannya oleh Beng Goan-cau.

Soalnya mereka kuatir datang terlalu cepat dan mengganggu pertemuan Beng Goan-cau dan Hun Cilo, maka setelah kira-kira Beng Goan-cau pergi setengah jam, barulah mereka akan menyusul dengan langkah pelan-pelan.

Berkata Lu Su-bi.

"Selama ini kau selalu memikirkan semua kepentingan Hun-cici, katanya kau sejak kecil dibesarkan bersama dia, cobalah kau ceritakan beberapa segi kehidupannya yang menarik."

"Sudah delapan tahun lebih aku berpisah sama dia, baru beberapa waktu yang lalu bertemu muka dan bicara sebentar. Seluk beluk kehidupan selama delapan tahun belakangan ini, aku pun tidak banyak tahu."

"Baiklah aku tidak tanya kehidupan pribadinya. Kabarnya Sip-hun-kiam-hoat warisan keluarganya amat bagus, apa benar? Aku jadi berpikir, setelah berkumpul sama dia, apakah dia sudi bertukar pikiran mendalami ilmu pedangnya itu."

"Ci-lo tentu senang bertemu dengan kau, kenapa pula ia tidak suka saling ukur dan mendalami ilmu pelajaran silat masing-masing? Cuma ilmu golok warisan keluargamu merupakan ilmu tunggal dari bulim, di bidang ilmu golok mengutamakan kesempurnaan dan keuletan latihan, bukankah intisarinya melebihi ilmu pedang!"

"Aku tahu tamak mempelajari berbagai cabang silat merupakan pantangan bagi kaum persilatan, tapi kulihat kau sendiri juga menggunakan pedang, kalau aku pun mempelajari ilmu pedang, tipu-tipu ilmu pedang itu dapat kukombi-nasikan ke dalam jurus-jurus ilmu golokku, bukankah kelak kita bisa menyatu padukan ilmu golok dan pedang?"

"Perpaduan ilmu golok dan pedang"

Kata-kata ini membuat hati Song Theng-siau "syuur"

Dan manis mesra, katanya.

"Siau-sumoay, kau mempunyai tujuan dan keinginan besar ini, sungguh mencocoki seleraku. He, he, tak heran..."

Mendengar nada tawa orang yang rada ganjil, Lu Su-bi rada tercengang, katanya.

"Tak heran apa, kenapa tidak kau lanjutkan?"

Song Theng-siau tertawa, ujarnya.

"Tak heran waktu bergebrak dengan Toan Siu-si beberapa hari yang lalu, kulihat permainan golokmu banyak diselingi variasi gerakan jurus-jurus ilmu pedang, kiranya kau memang sudah ada maksud untuk menyatu padukan ilmu golokmu dengan ilmu pedangku. Em, siau-sumoay, selama dua tahun belakangan ini, memang tidak sedikit kemajuan ilmu silatmu!"

Merah malu selebar muka Lu Su-bi, mulutnya menjebir lalu katanya.

"Sepatah kata salah kuucapkan, kau lantas kesenangan setengah mati. Hm, memangnya kau sudah tahu bahwa aku benarbenar sudi bersatu padu denganmu..."

Semakin merah mukanya, lekas ia putar pokok pembicaraan lain.

"Song-suko, ilmu pedangmu pun maju berlipat ganda, kapan kau sudi mengajarkan beberapa jurus kepadaku? E, eh, apa yang sedang kau pikirkan?"

Mendadak dilihatnya Song Theng-siau seperti tidak memperhatikan ucapannya, matanya pun mendelong ke arah lain. Berkata Song Theng-siau dengan suara lirih.

"Dalam hutan agaknya ada seseorang sedang bersembunyi di sana, sejak tadi dia menguntit dan mencuri dengar pembicaraan kita."

Waktu Lu Su-bi menegasi ke arah yang ditunjukkan, tiba-tiba dilihatnya seraut wajah laki-laki yang menongol keluar dari balik batang pohon, sepasang matanya yang berkilat tajam sedang mengawasi ke arah dirinya.

Seketika Lu Su-bi menarik muka dan menghardik keras.

"Siapa itu main sembunyi di belakang pohon, main intip segala, ayo keluar!"

Orang itu segera bergelak tertawa, dengan langkah kalem ia beranjak keluar dari dalam hutan, kiranya seorang laki-laki berusia tiga puluhan yang berwajah tampan tangannya memegang sebatang kipas lipat, selintas pandang orang seperti seorang sastrawan yang gagah dan pandai main silat.

Keluarga yang menempati selokan di bawah gunung sepi ini kebanyakan adalah kaum pemburu atau petani miskin, takkan mungkin punya warga yang sedemikian gagah dan perlente, apalagi dalam musim dingin yang sering hujan salju, namun orang ini memegangi sebatang kipas?

Mau tidak mau timbul rasa curiga Song Theng-siau.

Di saat ia berpikir-pikir inilah orang itu sudah mendekat ke depan Lu Su-bi, katanya tertawa.

"Kau takut dilihat orang, lebih baik sembunyi saja di dalam, kamar. Kalau toh menempuh perjalanan di jalan umum, kenapa pula takut dipandang orang? Nona cilik, ayu dan rupawan benar kau ini, biasanya nona ayu kalau tidak diperhatikan orang barulah marah. He, he, kau menuduh aku mengintip, biarlah sekarang aku memandang kau secara terang-terangan saja."

Waktu bicara kedua matanya yang berkilat tajam dengan lekat mengawasi Lu Su-bi dari atas sampai kaki dan dari kaki sampai kepala lagi, sementara dalam hati ia membatin.

"Budak ini ada mirip Lim Busiang. Mereka tadi membicarakan Beng-suko segala, mungkinkah dia ini sumoay Beng Goan-cau, atau putri tunggal Kim-to Lu Siu-gun yang bernama Lu Su-bi itu."

Ternyata laki-laki ini bukan lain adalah tokoh nomor satu dari Hu-siang-pay yaitu Boh Cong-tiu adanya.

Setelah kedudukan ciangbun-nya direbut oleh Lim Bu-siang, sungguh tidak enak perasaan hatinya.

Kali ini ia datang ke kota raja, secara berhadapan Pakkiong Bong sudah berjanji untuk bantu dia merebut kedudukan ciangbunnya namun kapan rencana ini bisa terlaksana masih merupakan tanda tanya besar, maka sebelum tujuan dan rencana dipersiapkan dengan sempurna, ia tidak akan kembali ke perguruan untuk menjabat Jan-bau-tong Tongcu yang dianugerahkan oleh Lim Bu-siang kepadanya.

Lim Bu-siang sendiri turun dari Thay-san lebih dulu dari Boh Cong-tiu, ia berhasil mencari tahu bahwa Beng Goancau hendak datana ke Sam-ho, maka ia menduga bukan mustahil ia bisa memergoki Lim Bu-siang bermain cinta di Sam-ho, meskipun ia tidak mau bermusuhan terhadap Beng Goan-cau secara terang-terangan namun ia bertujuan hendak mencari titik kelemahan mereka, supaya kelak mempunyai keuntungan di dalam perebutan kembali kedudukan ciangbunnya, maka secara diam-diam ia pun menguntit di belakang rombongan Coh Thian-hiong dan lain-lain.

Tadi karena ia melihat perawakan Lu Su-bi persis Lim Bu-siang maka sengaja ia menguntit jejak mereka berdua, untuk melihat biar jelas.

Memangnya Song Theng-siau sudah merasa curiga, melihat orang bersikap begitu kurang ajar terhadap Lu Su-bi, hatinya jadi marah, bentaknya.

"Dari mana datangnya orang gila macam kau ini, berani kurang ajar kepada sumoayku! Hm, Siau-sumoay, kulihat pastilah dia ini anjing alapalap kerajaan!"

Lu Su-bi punya kecurigaan yang sama, segera ia lolos goloknya, bentaknya pula.

"Lekas sebutkan namamu, untuk apa pula kau datang kemari?"

Waktu Song Theng-siau menuduh dirinya sebagai "anjing alap-alap"

Seketika berubah hebat air muka Beh Cong-tiu, setelah dihardik oleh Lu Su-bi lagi, sikap gagah dan perbawa pada air mukanya seketika sirna tak berbekas, seringainya dingin.

"Kongcu-ya, Toa-sio-cia, harap tanya siapa di antara keluarga kalian yang pegang jabatan tinggi dalam kerajaan?"

Lu Su-bi gusar bentaknya.

"Kau membual apa, memangnya kau sangka kami ini anjing alapalap seperti tampangmu ini?"

Boh Cong-tiu tertawa dingin, katanya.

"Kalau toh kalian tidak punya keluarga yang menjabat pangkat di kerajaan, mengandal apa kau hendak mengorek keteranganku? Kukira kalian putra putri pejabat mana yang menggunakan kekuasaan main tindas kepada orang lain!"-Maklumlah Boh Cong-tiu paling takut orang lain memakinya "anjing alap-alap"

Karena selama ini ia beranggapan bahwa Pakkiong Bong adalah sahabatnya belaka. Mendengar kata-kata orang, Lu Su-bi jadi ragu-ragu dan kuatir salah memukul orang baik, katanya.

"Kalau kau bukan anjing alap-alap kerajaan, bolehlah kami bicara secara gamblang, ayahku adalah Kim-to Lu Siu-gun, dia adalah sukoku Song Theng-siau. Siapa kau, sudilah mengenalkan dirimu?"

Tak nyana Boh Cong-tiu enak-enak menggoyangkan kipasnya seperti tidak acuh terhadap ayahnya dan Song Theng-siau, malah katanya dingin.

"Lu Siu-gun atau Song Theng-siau apa segala, aku tidak pernah dengar. Kalian berani menyalahi aku, sekarang baru hendak mencari muka kepadaku ya? Begitupun baik, lekaslah kalian minta maaf kepadaku, nanti kubiarkan kalian pergi!"

Song Theng-siau menjadi gusar, dampratnya.

"Keparat ini tentu bukan orang baik-baik, siausumoay, kau mundurlah, biar kulabrak dan meringkusnya."

Boh Cong-tiu tertawa lebar, ujarnya.

"Kau bocah ini memang pintar mengagulkan diri, berani kau hendak meringkus aku? Memangnya kau punya kepandaian sejati? Lebih baik kalian berdua maju bersama saja!"

Bukan kepalang gusar Song Theng-siau.

"Sret"

Kontan ia menusuk dengan pedangnya seraya membentak.

"Baik, biar kau belajar kenal akan kepandaianku ini."

Enteng saja kipas Boh Cong-tiu menyampuk, ia tangkis pedang Song Theng-siau miring ke samping, katanya.

"O, ilmu pedangmu ini.lumayan juga, tapi untuk bertanding dengan aku, sedikitnya kau perlu belajar lagi sepuluh tahun!"

Tujuan Song Theng-siau sebetulnya hendak menusuk Hiat-to lawan dan meringkusnya hiduphidup, maka ia tidak mengerahkan seluruh tenaganya.

Meski demikian, tusukan jurus pedangnya yang ganas dan cepat ini, kena disampuk miring dan menyelonong ke samping oleh kipas lawan yang biasa saja, mau tidak mau mencelos hatinya.

Dari kaget ia menjadi gusar, sedikit pun ia tidak berani pandang enteng lawannya lagi.

"Sret"

Beruntun tiga kali pedangnya menyerang dengan gencar.

Kipas Boh Cong-tiu tiba-tiba terbuka, dan mendadak dilipat lagi, dengan mudah satu persatu ia punahkan serangan gencar pedang Song Theng-siau, meskipun Song Theng-siau sudah mengerahkan segala kemampuannya, sedikit pun ia tidak bisa mengambil keuntungan.

Sebentar saja Boh Cong-tiu sudah dapat menyelami inti sari permainan pedang dan asalusulnya, sambil ngakak ia melipat kipasnya, lalu berkata.

"Nona ini memuji ilmu pedang warisan keluargamu, kulihat sedikit pun tiada menunjukkan sesuatu yang menakjubkan! Baik, supaya kau tahu di luar langit masih ada langit, orang pandai ada yang lebih pandai, biar kuajarkan kau beberapa jurus!"

Kipasnya menotok ke depan, ternyata kipasnya yang pendek itu ia gunakan sebagai pedang, langsung menusuk Hiat-to Ki-ti-hiat di lengan bawah Song Theng-siau.

Permainannya ini tidak begitu aneh, yang aneh bahwa jurus yang dia mainkan justru baru saja dilancarkan oleh Song Theng-siau untuk menyerang dirinya, malah kelihatannya lebih matang, lebih indah dan lihay dari permainan Song Theng-siau sendiri.

Ternyata Boh Cong-tiu memang berotak cerdas, ia paling ahli dan pandai meniru atau mencuri belajar ilmu orang lain.

Song Theng-siau tinggi hati dan angkuh, mana ia sudi dipermainkan begitu rupa?

Tapi kepandaian silat sejati Boh Cong-tiu memang lebih tinggi dari dirinya, terpaksa ia harus menumpahkan seluruh perhatian untuk menghadapi lawan, meskipun darah bergolak dan amarah tak tertahankan, tidak sempat lagi ia adu mulut sama musuh.

Lambat laun semangat tempur Song Theng-siau semakin goyah dan hati pun tidak tentram.

Lu Subi berteriak.

"Suko, awas!"-Maka terdengarlah "Cras"

Lengan bajunya sudah tertusuk berlubang oleh ujung kipas Boh Congtiu, untung ia sendiri bisa bergerak gesit dan merubah permainan dengan cepat, dengan sejurus Che-heng-to-cwan sambil berkelit ia balas menyerang, sehingga ia luput dari totokan lawan yang mengarah jalan darahnya.

"Nona Lu,"

Ujar Boh Cong-tiu tertawa.

"Sukomu tidak becus lagi, marilah kau maju membantu."

Memang Lu Su-bi sudah bermaksud maju, mendengar kata-katanya ini, tidak ayal lagi ia lantas mencabut pedang, katanya.

"Betul, menghadapi anjing alap-alap seperti kau, kenapa harus bicara aturan kangouw segala."

Ia tahu watak Song Theng-siau, maka sebelum turun tangan, ia harus mencari alasan yang tepat untuk membantu sukonya ini, supaya orang tidak kehilangan muka dan merasa gengsinya direndahkan.

Boh Ceng-tiu lantas meniru nada perkataannya.

"Betul, nona Lu memang berpandangan lebih tajam, tahu bahwa apa yang kukatakan tidak salah, memang sukomu sekarang sudah kepayahan!"

Lu Su-bi segera berseru memperingatkan.

"Song-suko, dia hendak memancing kemarahanmu, jangan kau tertipu olehnya!"

Kepandaian sejati Lu Su-bi tidak lebih unggul dibanding Song Theng-siau, tapi ginkang dan gerak-gerik tubuhnya jauh lebih tinggi dan lincah, dari kiri ia menyerang dengan jurus Hong-hongcan-sik lalu dari kanan merangsak dengan jurus Hian-niau-hoat-sa, kedua golok panjang pendeknya berbareng membacok Boh Cong-tiu.

Terpaksa Boh Cong-tiu harus memecah perhatiannya untuk menghadapinya, lekas kipasnya mengebas dan terayun keluar, sekaligus ia punahkan kedua serangan golok panjang pendek Lu Su-bi.

Song Theng-siau jadi berkesempatan balas menyerang lebih gencar juga, kini ia menempatkan diri dalam posisi yang lebih menguntungkan.

Dengan cermat dan penuh perhatian Boh Cong-tiu melayani keroyokan gencar mereka berdua, diam-diam ia perhatikan jalan permainan ilmu golok Lu Su-bi, batinnya.

"Ngo-hun-toan-bun-to ajaran Kim-to Lu Siu-gun memang tidak bernama kosong, untunglah meski nona cilik ini sudah mendapat warisan murni ajaran golok keluarganya, kematangan latihannya masih terpaut amat jauh."

Diam-diam ia sudah punya pegangan dan keyakinan akan dirinya, tiba-tiba kipasnya terjulur ke depan lalu membabat miring, itulah salah satu jurus dari Ngo-hun-toan-bun-to dari warisan ajaran keluarga Lu yang dinamakan Thi-gu-keng-te.

Sudah tentu Lu Su-bi amat kaget, ilmu goloknya ini sudah dihafalkan betul-betul di luar kepala secara reflek ia lantas gunakan jurus-jurus untuk melayani dan mengunci serangan ini, tajam goloknya terjungkit naik terus diganti dengan jurus Ki-hwe-liau-thian.

Tak nyana Boh Cong-tiu memang sefigaja meniru-niru saja, di saat kipasnya hampir saja beradu dengan golok lawan, mendadak ia pun merubah permainannya, kipasnya dilonjorkan merata menggunakan tenaga tuntunan, ia sedikit mengetuk di punggung golok Lu Su-bi, tak kuasa bertahan golok panjang Lu Su-bi ikut terulur keluar dan "Trang"

Kebetulan membentur pedang panjang Song Theng-siau. Boh Cong-tiu terbahak-bahak, serunya.

"Nona Lu, kenapa kau bantu aku malah? Ah, tahulah aku, kau benci sukomu dan ingin pinjam golok membunuhnya bukan?"

Merah padam muka Lu Su-bi, bentaknya.

"Omong kosong!"

Berbareng golok pendek ditusukkan, tipu serangannya ini sekaligus dikombinasikan dengan gerakan tubuh Menyelinap Kembang Mengitari Pohon, sebat sekali ia berputar ke belakang Boh Cong-tiu, langsung menusuk ke Hong-hu-hiat di punggung orang.

Punggung Boh Cong-tiu seolah-olah seperti tumbuh mata, sambil membungkuk badan ke depan, lututnya ditekuk sambil melangkah maju pula, maka tusukan Lu Su-bi mengenai tempat kosong.

Boh Cong-tiu tidak hiraukan dirinya lagi, kipasnya dikem-bang tutupkan tidak menentu, khusus ia menyerang Song Theng-siau dengan sengit, sehingga Song Theng-siau mencak-mencak kerepotan.

Dengan mengembangkan gin-kang Mengitari Pohon Menyelinap Kembang, bagai bayangan mengikuti bentuknya Lu Su-bi mengikuti di belakang Boh Cong-tiu dengan ketat, golok panjangnya, segera menusuk dengan kekerasan ke punggung orang, namun selalu terpaut satu dua dim dan tidak mengenai sasarannya.

Melihat ginkaijgnya lumayan, Boh Cong-tiu tidak berani meremehkan dia, kalau terdesak terpaksa ia balikkan tangannya menyam-puk atau menangkis dengan kipasnya, katanya tertawa.

"Tipu seranganmu ini memang tidak salah, jauh lebih mantap dan baik dari sukomu yang goblok dan telur busuk ini."

Setelah memunahkan sejurus serangan Lu Su-bi, ia membalik mencerca kepada Song Theng-siau lagi, ternyata ia jengkel karena Song Theng-siau tadi memakinya sebagai anjing alap-alap, maka ia berkeputusan untuk menghajar adat kepadanya.

Song Theng-siau terdesak kepayahan pula, jengek Boh Cong-tiu dingin.

"Orang she Song, ayolah kau berlutut dan minta maaf kepadaku, biar kuampuni jiwamu!"

Song Theng-siau semakin berang, dampratnya.

"Kentutmu busuk, orang she Song bukan tandinganmu biar adu jiwa saja, memangnya aku sudi minta ampun kepada anjing alap-alap seperti tampangmu ini?"

"Kau kan belum tahu siapa aku sebenarnya berani kau menista orang semena-mena, sebetulnya jiwamu tidak terampun lagi. Kupandang muka seorang sahabatmu, maka aku memberi sedikit kelonggaran kepadamu. Baik, kau tidak mau menyerah, biarlah kupersen sekali tamparan di pipimu saja."

Kipasnya tiba-tiba terbentang lebar menyampuk ke mukanya, sementara kakinya mendesak maju, telapak tangannya terkembang, betul juga ia sudah bergaya hendak menampar ke arah Song Theng-siau.

Sudah tentu Song Theng-siau tidak tahan dihina, akhirnya ia ambil keputusan nekad juga.

Ternyata di dalam ajaran ilmu pedang warisan keluarga Song Theng-siau ada sejurus tipu pedang yang mematikan, itulah jurus-jurus untuk gugur bersama dengan musuh.

Tapi tipu ini harus dilancarkan bila lawan merangsak dekat dan memukul dirinya barulah tipu jurus ini bisa dilancarkan.

Di saat Song Theng-siau sudah bertekad untuk adu jiwa, sementara Boh Cong-tiu sudah kesenangan akan menampar pipi Song Theng-siau, sekonyong-konyong sesuatu kejadian nan ajaib terjadi, daun-daun pohon di samping mereka tiba-tiba sama rontok tanpa ada angin menghembus.

Daun pohon rontok tanpa dihembus angin, kalau terjadi dalam keadaan biasa tidaklah dibuat heran, justru ajaib karena beberapa lembar daun-daun yang rontok itu, ada beberapa lembar di antaranya yang terbang ke arah Boh Cong-tiu, seperti tumbuh mata saja tepat berjatuhan di atas batok kepala Boh Cong-tiu, namun tiada selembar pun yang mengenai Song Theng-siau.

Beruntun tiba-tiba Boh Cong-tiu merasa batok kepalanya seperti terketuk apa-apa dan rasanya sakit betul, sehingga pandangannya menjadi gelap, kejadian justru teramat cepat.

"Sret"

Pedang Song Theng-siau sudah menusuk tiba, meskipun kepandaian mendengar angin membedakan senjatanya sudah cukup tinggi dan lihay dan gerakan kelitnya pun cepat "Cras"

Lengan kirinya tergores sobek memanjang oleh pedang Song Theng-siau, malah melukai sedikit kulit lengannya dan berdarah.

Luka-luka ringan ini tidak menjadi soal baginya, yang membuatnya betul-betul terperanjat adalah beberapa daun pohon yang dapat memukul batok kepalanya dan menimbulkan rasa sakit ini, mengandal latihan lwekangnya sendiri, orang dapat melukai dirinya cukup dengan hanya daun pohon saja, itulah semacam ilmu sakti dari bulim yang sering didongengkan orang.

Konon bila lwekang murni seseorang sudah dilatih mencapai puncak kemurnian, segala benda yang diraih seenaknya, dapat digunakan untuk melukai atau membunuh jiwa orang.

Ilmu silat sakti yang ajaib ini, oleh kaum persilatan sering didongengkan sebagai kepandaian yang dinamakan Memetik Daun Kembang Beterbangan, melukai orang,Jiwa melayang.

Boh Cong-tiu adalah tokoh silat maha tinggi yang lihay, meskipun tidak sampai terenggut jiwanya, namun beberapa daun pohon itu cukup membuat kepalanya pusing dan pandangan menjadi gelap, keruan hatinya amat kaget, pikirnya.

"Tokoh manakah yang mampu memiliki lwekang sedemikian tinggi pada jaman ini?"

Dalam jalan pikirannya, hanya dua orang saja yang mampu memiliki tingkat lwekang setinggi itu, orang pertama adalah suheng Kim Tiok-liu, yaitu Kang Hay-thian, seorang yang lain adalah tokoh misterius yang berulang kali selalu mempersulit dirinya dan tidak pernah unjukkan dirinya itu.

Sepak terjang Kang Hay-thian biasanya suka terangterangan, Boh Cong-tiu yakin pasti bukanlah perbuatannya, maka kemungkinan besar adalah perbuatan tokoh misterius yang menakutkan itu.

Karena terluka oleh tusukan pedang Song Theng-siau, terpaksa Boh Cong-tiu main mundur, sementara tokoh misterius itu tidak muncul, Boh Cong-tiu jadi berpikir.

"Agaknya orang itu hanya memberi peringatan saja kepadaku, supaya aku mundur teratur. Apa boleh buat, dengan kehadirannya di sini, terpaksa aku mengaku kalah sekali ini."

Karena pikirannya ini, ia tidak berani bertempur lama-lama lagi, tiba-tiba ia lancarkan serangan gertakan kosong, lalu putar badan melarikan diri.

Song Theng-siau insyaf kemenangannya secara untung-untungan saja, maka ia pun tidak berniat mengejar.

Lu Su-bi menjadi girang, katanya.

"Song-suko, memang kau lebih hebat, akhirnja toh dia lari men-cawat ekor!"

Song Theng-siau tertawa getir, ujarnya.

"Siau-sumoay, jangan kau tempel emas di mukaku, memangnya kau tidak lihat, secara diam-diam ada orang membantu kita."

Lu Su-bi pura-pura kaget, katanya.

"Apa ya, aku kok tidak tahu."

Sebetulnya dia sudah tahu dan pura-pura pikun saja. Song Theng-siau segera berseru lantang.

"Entah cianpwe manakah yang membantu, silakan keluar terima pernyataan terima kasih kami."

Suasana dalam hutan sunyi lengang, yang terdengar hanyalah gema suaranya.

Setelah kejadian ini barulah mereka teringat untuk menyusul Beng Goan-cau, maka bergegas mereka kembangkan ilmu ginkang masing-masing, tidak lama kemudian dari balik hutan sebelah depan sana, mereka mendengar benturan senjata keras.

Ternyata Tan Kongsi dan Cau Ci-hwi yang sedang berlatih itu pun kepergok oleh musuh tangguh.

Musuh yang mereka hadapi adalah dua jagoan kelas tinggi dari pasukan bhayangkari, seorang bernama Ang Tay-siang, seorang yang lain bernama Han Ciok, mereka sama menerima perintah komandan bhayangkari Sat Hok-ting ikut membantu gerakan Ciok Tio-ki.

Di dalam kalangan pasukan bhayangkari Han dan Ang dua orang termasuk jago-jago kelas satu, kepandaian mereka malah setingkat lebih tinggi dari Cheng dan Ih, dua orang yang membantu Ciok Tio-ki itu.

Ilmu yang diyakinkan Han Ciok adalah Tay-cui-pi-jiu, kekuatan pukulannya dapat membelah batu cadas yang keras.

Sementara Ang Tay-siang mahir menggunakan Kau-kun, silat kera j ang mempunyai tiga puluh enam jalan, ilmunya ini mengutamakan kelincahan dan kegesitan untuk merobohkan lawan dengan sergapan yang berarti.

Di saat Cau Ci-hwi kaget, lapat-lapat didengarnya suitan panjang yang dikeluarkan oleh Siau Gwat-sian, keruan ia tambah kaget, teriaknya.

"Tan-toako, kau dengar, agaknya Gwat-sian mengundang kita, mungkin rumah kami kedatangan musuh juga."

Memangnya ia sudah terdesak, untuk bicara ia harus memecah perhatian lagi, maka jurus permainan pedangnya menjadi kacau balau. Ang Tay-siang terloroh-loroh, katanya.

"Budak mungil, memang tidak salah rekaanmu, sejak tadi orang-orang kami sudah meluruk ke rumahmu sana! Kupandang mukamu yang ayu ini, lekaslah menyerah saja, supaya tidak menderita."

"Kentutmu busuk!"

Maki Cau Ci-hwi gusar.

Ingin ia membebaskan diri dari libatan musuh terus lari ke arah rumah, namun ginkang Ang Tay-siang lebih unggul, tampak empat penjuru sekelilingnya melulu bayangan Ang Tay-siang yang berkelebatan, ke mana pun ia lari tahu-tahu mesti dicegat oleh Ang Tay-siang.

Lwekang Tan Kong-si jauh lebih kuat dari Cau Ci-hwi, sifatnya pun lebih tabah dan tenang, bukan saja ia sudah mendengar suitan minta bantuan Siau Gwat-sian, lapat-lapat ia pun sudah dengar suara pertempuran seru di dalam rumah sana.

Meski ia kaget, namun tidak menjadi gugup.

Dalam pertarungan sengit itu, mendadak telapak tangan Han Ciok memukul datang.

Tidak mundur Tan Kong-si malah memapak maju.

"Sret"

Pedangnya menusuk kepada lawan, jurus ini dinamakan Sungai Es Mulai Membeku, khusus untuk memunahkan rangsakan keras lawan.

Perubahan tipu-tipu jurus Ping-cwan-kiam-hoat memang tiada batasnya, meskipun Han Ciok berada di pihak yang lebih unggul, tidak bisa tidak ia harus bertindak hati-hati juga, bentaknya.

"Anak muda, mau adu jiwa ya?"

Sebat sekali ia berkelit miring, cepat sekali jari-jari tangannya sudah mencengkeram dan menangkap, ia tetap me-rangsak lebih dulu, cuma rang-sakannya mau tidak mau kena terhalang dan menjadi kendor.

Mendapat kesempatan, lekas Tan Kong-si melompat keluar kalangan, sekali ayun tangan, beruntun ia timpukkan tiga butir peluru es, dua butir disambitkan ke arah Ang Tay-siang, sebutir lagi mengarah Han Ciok.

Ping-pok-sin-tan (peluru es) dibuat dari inti es yang paling keras setelah tertimbun di dalam lapisan salju yang paling dalam, begitu kena angin lantas lumer, hawanya yang dingin dapat untuk melukai musuh.

"Wut, wut'!"

Beruntun dua kali Han Ciok lekas hantamkan pukulannya menyampuk hawa berkabut dingin, namun tak urung berbangkis satu kali.

Lwekang Ang Tay-siang lebih rendah lagi, tak tertahan ia bergidik gemetaran seluruh badan.

Untunglah mendapat bantuan peluru es Tan Kong-si, barulah Cau Ci-hwi kuat bertahan lebih lama, sehingga tidak sampai teringkus oleh Ang Tay-siang, namun ia tidak kuasa membebaskan diri dari libatan orang.

Lain pula dibanding senjata rahasia umumnya, peluru es ini disambitkan satu hilang satu.

Waktu keluar rumah Tan Kong-si hanya membawa sebotol kecil peluru esnya itu, sampai sekarang tidak sedikit yang sudah dia gunakan, kini hanya tinggal tujuh butir lagi, peluru es paling-paling hanya bertahan sementara dan tidak mungkin untuk mengalahkan musuh, kalau pertempuran semakin lama, akhirnya pasti pihak dirinya yang bakal rugi sendiri.

Di saat ia gelisah itulah, mendadak Han Ciok menyerang dengan jurus gertakan terus melompat mundur tiga langkah, bentaknya.

"Kawan dari mana itu."

Song Theng-siau dan Lu Su-bi memburu datang dengan langkah lebar, belum lagi bentakan Han Ciok lenyap, mereka berdua sudah muncul bersama.

Theng-siau tahu kepandaian Han Ciok lebih tinggi, segera ia berkata.

"Siau-sumoay, bantulah nona itu."

Sembari bicara ia melesat memapak ke arah Han Ciok.

"Sret"

Belum lagi sampai pedangnya sudah menusuk lebih dulu, jengek-nya.

"Aku ini tukang memanah alap-alap dan menjagal anjing, kau kebentur di tanganku, anggap saja memang saat naasmu telah tiba."

Tadi ia dihina dan diledek oleh Boh Cong-tiu, rasa gusar dan penasarannya, kebetulan ia tumpahkan kepada Han Ciok seluruhnya, maka pedangnya ia tarikan dengan gencar seperti hujan badai, setiap jurus serangannya amat ganas.

"Bocah keparat, berani bermulut besar, sudah bosan hidup kau!"

Han Ciok membentak gusar, sementara dalam hati amat kaget menghadapi rangsakan hebat pedangnya.

Kalau dalam keadaan biasa, melawan Song Theng-siau satu persatu, masing-masing mempunyai keahlian sendirisendiri, mungkin sulit ditentukan pihak mana bakal unggul dalam waktu dekat.

Tapi ia sudah bertempur melawan Tan Kong-si, harus mengerahkan Lwekang untuk menahan serangan Pingpok-sintan lagi, sedikit banyak hawa murninya sudah terkuras sebagian, seumpama Tan Kong-si tidak mengeroyok bersama Song Theng-siau, ia pun tidak akan kuat bertahan lama-lama.

Lu Su-bi meluruk kearah Ang Tay-siang, sebentar saja ia sudah unggul di atas angin, silat yang diyakinkan Ang Tat-siang adalah silat kera yang mengutamakan kelincahan dan kegesitan berlompatan.

Tapi latihan gerak tubuh Menyelinap Kembang Mengitari Pohon Lu Su-bi lebih enteng dan tangkas lagi, kedua pihak sama mengembangkan kelincahan dan kegesitan bergerak, selalu Lu Su-bi bisa menempatkan diri pada posisi yang lebih menguntungkan lebih dulu, sehingga lawan selalu terdesak terkekang gerak geriknya.

Peduli ke mana pun ia berputar dan berlompatan, sinar golok yang menyilaukan mata selalu mengancam kepala dan tenggorokannya.

Setelah menenangkan hati dan menenteramkan napas, Cau Ci-hwi lantas tertawa geli, serunya.

"Bagus, labrak dan gasak dia saja, inilah yang dinamakan membalas dengan caranya sendiri."

Belum lenyap suaranya, terdengarlah Ang Tay-siang berteriak, disusul darah muncrat ke manamana, larilah dia terbirit-birit.

Ternyata ia sudah terkena bacokan golok Lu-Su-bi.

Han Ciok sendiri sudah tidak kuat melawan, melihat temannya ngacir, hatinya makin gugup.

Song Theng-siau membentak.

"Lari ke mana?"

Dengan sejurus Pek-hong-koan-jit ujung pedangnya bergetar menusuk, kebetulan kedua telapak tangan Han Ciok menari terbang pulang pergi, telapak tangan kanan menusuk miring sedang telapak tangan kiri melindungi dada, jurus ini sekaligus ia gunakan kombinasi pertahanan dan penyerangan, sebetulnya merupakan tipu lihay untuk melayani serangan dan balas menyerang, namun karena hatinya gugup, maka permainannya tidak sepenuh hati sehingga hasilnya pun nihil.

Justru Song Theng-siau bertindak lebih cepat selangkah, meskipun tusukan pedangnya tidak menembusi dadanya, tapi telapak tangannya berlubang ditembusi pedang.

Tergentak oleh tenaga pukulan lawan badan Song Theng-siau sendiri pun tergeliat dan mundur dua tindak.

Lekas Han Ciok berlari lintang pukang di belakang Ang Taysiang.

Setelah melampiaskan rasa jengkel dan penasarannya, Song Theng-siau bergelak tertawa.

"Song-toako,"

Kata Tan Kongsi.

"musuh tidak usah dikejar. Dengarkah kau suara pertempuran di sana? Ayolah lekas kita pulang membantu Hun-lihiap!"

Di saat mereka bicara, Lu Su-bi mendekam menempelkan kuping di tanah, mendengarkan dengan seksama, katanya.

"Benar, di sana ada suara pertempuran."

Mendadak ia mencelat bangun, teriaknya.

"Celaka, Beng-suko menghadapi musuh tangguh, goloJc cepatnya semakin kendor dan lamban, mungkin bisa celaka."

Sejak kecil Lu Su-bi ikut ayah bundanya kelana di kangouw, ia sudah berhasil meyakinkan kepandaian mendekam di tanah membedakan suara, di dalam tanah seluas satu dua li, kalau ada orang bertempur, ia bisa mendengar dan tahu senjata apa yang digunakan oleh kedua pihak, malah jurus-jurus permainan orang pun dapat ia bedakan dengan baik.

Golok cepat Beng Goan-cau adalah ajaran ayahnya, ilmu yang dia paling hafal, maka sekali dengar lantas ia tahu pihak mana lebih kuat dan siapa di pihak terdesak, seperti mata menyaksikan sendiri.

Beng Goan-cau yang terluka sudah roboh di tanah, sepasang Boan-koan-pit Ciok Tio-ki dan ruyung baja Ih Tiang-kiat sudah merangsak tiba bersama.

Beng Goan-cau kertak gigi, batinnja menjerit.

"Aku tidak boleh mati!"

Maka sambil bergelindingan di tanah ia melancarkan Gun-tetong-to-hoat untuk menghadapi serbuan kedua musuhnya.

Sementara Siau-hujin sedang repot menghadapi serangan Coh Thian-hiong, tidak sempat datang membantu dirinya.

Hanya Siau Gwat-sian seorang yang sempat menolong, tapi toh bantuannya tidak berarti.

Karena di dalam pertarungan awut-awutan itu, kepandaian Siau Gwat-sian adalah yang terlemah, bahwasanya Ciok Tio-ki tidak ambil perhatian kepadanya, hanya ruyung Ih Tiang-kiat saja sudah cukup membuat dirinya terdesak di luar kalangan.

Dengan menarikan ruyungnya, bukan saja Ih Tiang-kiat berhasil menghadang Siau Gwat-sian, malah sesekali masih sempat menyabet ke arah Beng Goan-cau.

Bagaimanapun Beng Goan-cau bukan manusia besi, setelah terluka kehabisan darah harus bertempur mati-matian sekuat tenaga pula, lambat laun pikirannya semakin kabur, sekonyongkonyong lambaian baju putih berkibar di depan matanya, lapat-lapat masih sempat dilihatnya seorang gadis memburu datang ke arah dirinya, tak tertahan Beng Goan-cau lantas berteriak.

"Cilo, kau, kenapa kau keluar?"

Seketika semangatnya bangkit, tenaganya pun berlipat ganda, sinar goloknya laksana kilat menyambar datar berkembang ke empat penjuru, kedua potlot Ciok Tio-ki yang hampir saja menusuk Hiat-tonya, mendadak kena tersampuk balik oleh golok cepatnya.

Terdengar gadis itu berteriak.

"Beng-suko, inilah aku, siau-sumoay, Theng-siau pun sudah tiba!"

Baru sekarang Beng Goancau melihat jelas, ternyata bukan Hun Ci-lo, tapi adalah siau-sumoaynya Lu Su-bi.

Sambil menarikan sepasang goloknya, Lu Su-bi menerjang datang, golok pendek menindih ruyung lawan, sementara golok panjangnya membacok ke arah Ih Tiang-kiat.

Karena kalah cepat dan tidak terduga, Ih Tiang-kiat tidak berhasil merintangi orang, tahu-tahu lawan sudah menyerbu ke tengah gelanggang.

"Trang, trang"

Kedua golok panjang pendek itu berbareng menangkis pergi sepasang potlot Ciok Tio-ki.

Kejadian berlangsung amat cepat, dalam pada itu Song Theng-siau, Tan Kong-si dan Cau Cihwi pun sudah menyusul tiba.

Cau Ci-hwi mencabut pedang membantu Siau Gwat-sian menghadapi Ih Tiang-kiat.

Song Theng-siau dan Tan Kong-si maju bersama membantu Siau-hujin menempur Thong-thian-hou Coh Thian-hiong.

Senjata yang digunakan Tan Kong-si adalah Peng-pok-ham-kong-kiam, jari tengah Coh Thianhiong menjentik.

"Creng"

Ia selentik pedang orang mental ke samping, seketika terasa hawa dingin merembes melalui ujung jarinya sehingga telapak tangannya terasa linu dan mati rasa, keruan kagetnya bukan main, lekas ia kerahkan hawa murni mengusir hawa dingin itu keluar dari telapak tangannya.

"Sret"

Pedang Song Theng-siau pun sudah menusuk tiba, keruan ia mencak-mencak kerepotan dibuatnya.

Suara orok jang baru lahir terdengar nyaring dari dalam kamar, Siau-hujin berhasil membebaskan diri dari libatan Coh Thian-hiong, terus berlari menerobos ke dalam kamar.

Nyo Bok sedang menjambak rambut Hun Ci-lo, tiba-tiba dilihatnya darah berceceran, disusul orok kecil itu pun lahir menangis, sesaat ia berdiri melongo hambar, telapak tangannya terhenti di tengah udara, entah harus turun tangan atau tidak.

Meskipun rasa curiganya masih menghantui sanubarinya, rasa jelus membakar dada, tapi harus membunuh seorang yang baru saja melahirkan betapapun hatinya tidak tega.

Waktu Siau-hujin menerjang masuk, kebetulan melihat adegan yang genting ini, keruan kagetnya bukan main.

Meski Nyo Bok sendiri sedang terlongong kebingungan, tapi sorot matanya yang mendelik beringas belum lagi padam.

Lekas Siau-hujin menenangkan hati, bentaknya.

"Nyo Bok, apa yang kau lakukan? Inilah anakmu sendiri!"

Nyo Bok tersentak kaget, gumamnya.

"Anakku, anakku?"

Tiba-tiba sedikit pulih kesadarannya, pikirnya.

"Benar, dia meninggalkan aku belum genap delapan bulan, ia bertemu dengan Beng Goan-cau setelah meninggalkan rumah, seumpama orok ini lahir lebih cepat dari waktunya, pastilah bukan anaknya Beng Goan-cau."

Delapan tahun sejak menikah dengan Hun Ci-lo, ia tidak dikaruniai seorang anak pun, relung hatinya yang paling dalam, selalu iri dan jelus kepada putranya Beng Goan-cau.

Kini diketahuinya bahwa anaknya sendiri berada di ujung kakinya, rasa kasih sayang terhadap anak sendiri seketika berkobar setelah pikirannya sadar.

Lekas ia lepas rambut Hun Ci-lo, baru saja ia membungkuk hendak membopong orok kecil itu, mendadak terasakan mukanya pedas dan panas, ternyata Siau-hujin sudah menempiling kedua pipinya, tahu-tahu orok itu pun sudah terebut olehnya.

Siau-hujin, lantas memaki sambil menudingnya.

"Kau tidak setimpal menjadi ayah bocah ini, kau menggelindinglah pergi!"

"Siau-hujin,"

Rengek Nyo Bok memohon.

"berilah kesempatan aku melihat anakku!"

Siau-hujin tidak tega, dari keja-' uhan ia angsurkan orok dalam pelukannya, katanya.

"Semula aku ingin bantu kau, siapa tahu ternyata kau betul-betul menjadi bangsat, membawa anjing alapalap kemari hendak mencelakai jiwa istri dan anakmu sendiri. Memangnya kau setimpal menjadi suami Ci-lo, setimpal menjadi ayah anak yang baru lahir ini? Sudah, kau sudah melihatnya, lekas kau menggelinding pergi, aku perlu merawat mereka ibu beranak!"

Nyo Bok meraba kedua pipi sendiri yang bengap, mendadak kedua tangan terayun pula dengan suara nyaring ia gampar kedua pipi sendiri pula beberapa puluh kali, teriaknya.

"Omonganmu betul, aku tidak setimpal menjadi suaminya, tidak setimpal menjadi ayah anakku sendiri"

"Wut"

Sekali pukul ia bikin daun jendela semplak berantakan terus menerobos keluar dan melarikan diri dari belakang rumah.

Beberapa jurus Lu Su-bi menghadapi serangan Ciok Tio-ki, sehingga Beng Goan-cau sempat ganti napas, bentaknya sambil melompat bangun.

"Kalian para anjing alap-alap ini, semua menggelinding pergi!"

Dalam berkata-kata itu, beruntun goloknya membacok cepat berantai sebanyak tujuh delapan belas kali kepada Ciok Tio-ki.

Meski gerak-geriknya tidak leluasa, tapi bacokan goloknya itu lebih berat dan kuat dari sebelumnya.

Semula Ciok Tio-ki mengharap Nyo Bok keluar membantu dirinya, Beng Goan-cau sudah terluka, dengan bertambah seorang pembantu, siapa menang siapa kalah toh masih sulit ditentukan, tak nyana Nyo Bok memang sudah keluar, tapi bukan membantu dirinya malah tinggal merat alias melarikan diri.

Mendengar Nyo Bok menjebol jendela terus lari dari belakang rumah, sungguh benci dan sengit betul dibuatnya, tapi apa boleh buat, terpaksa ia bertahan beberapa jurus pula, suatu ketika ia merang-sak dengan serangan gertakan, terus putar tubuh melarikan diri pula.

Dua orang jagoan bhayangkari Cheng Gun sudah terluka dan merat, Ih Tiang-kiat pun tidak berani bertempur lama-lama, lekas ia pun mengikuti jejak rekan-rekannya, lari sipat kuping.

Kini tinggal Coh Thian-hiong seorang yang masih melawan mati-matian.

"Sret"

Pedang Song Theng-siau segera menusuk, Coh Thian-hiong mengebutkan lengan bajunya menggubat pedangnya, sekonyong-konyong cakar jarinya menyelonong tiba hendak men-"cengkeram tulang pundaknya.

Jurus serangan ini dilancarkan dengan resiko besar.

Ternyata Coh Thian-hiong sendiri pun bisa melihat gelagat, situasi sudah tidak menguntungkan, sudah tentu ia pun berusaha lari.

Tapi pertempuran jago-jago kelas tinggi, tidak gampang untuk melarikan diri, maka dalam saatsaat genting itu, mendadak ia melancarkan serangan berbahaya, bahwasanya ia merangsak maju untuk mundur, hal ini hanya untuk mengaburkan pandangan dan perhatian lawan supaya dirinya leluasa mengundurkan diri.

Jikalau lawan tidak kuasa menghadapi serangannya, betul-betul kena tercengkeram, kebetulan malah dirinya bisa menawan musuh sebagai sandera Saat mana Beng Goan-cau dengan pandangan berkilat sedang mengawasi pertempuran di sebelah sini, gerak-geriknya memang tidak leluasa, mendadak ia menghardik.

"Rase tua, rasakan golokku ini!"

Golok pusakanya segera, ditimpuk-kan dengan sekuat tenaga Bagaikan kilat menyambar goloknya itu berdesir kuat menerjang ke punggung Coh Thian-hiong.

Coh Thian-hiong tidak berani menangkis atau menyambuti, jiwa sendiri lebih penting, tanpa sempat melukai lawan, lekas ia miringkan badan.

"Brak"

Tiba-tiba sebelah kakinya menendang sebuah meja di dekatnya ke belakang untuk menangkis luncuran golok itu.

"Cras!"

Golok pusaka Beng Goan-cau tembus sampai ke gagangnya.

Sementara tabasan pedang Song Theng-siau berhasil memapas putus lengan bajunya saja, urat nadi di pergelangan tangan orang pun kena tergores oleh ujung pedangnya sehingga keluar darah.

Saking kesakitan Coh Thian-hiong menggerung keras, tanpa hiraukan kedudukan dan gengsi sendiri sebagai tokoh kenamaan, ia jatuhkan diri terus menggelundung dua kali keluar pintu, terus angkat langkah seribu.

Lu Su-bi bertepuk sambil bersorak senang.

"Beng-suko bagus sekali sambitan golokmu tadi. Song-suko, meski tabasan pedangmu tidak berhasil menamatkan jiwanya, kiranya cukup membuatnya kapok juga."

Segera Lu Su-bi mencabut keluar golok pusaka itu terus diangsurkan kepada Beng Goan-cau, katanya.

"Marilah lekas masuk menengok keadaan Hun-cici!"

Beng Goan-cau menerima goloknya, dengan hambar ia mengin-til di belakang orang, Waktu Lu Su-bi menyingkap kerai, tiba-tiba Beng Goan-cau tersadar.

"Aku tidak boleh masuk,"

Lekas ia menghentikan langkah. Tampak Siau-hujin berdiri di ambang pintu, katanya tertawa.

"Ibu beranak sama selamat, kalian tidak usah kuatir, orok laki-laki yang gemuk sekali, Gwat-sian suruhlah ibu inang membawa sebaskom air panas kemari."

Pelan-pelan Hun Ci-lo mulai siuman dari pingsannya, begitu sadar ia lantas bertanya.

"Bagaimana keadaan di luar?"

Lu Su-bi menjawab lebih dulu.

"Kawanan anjing alap-alap itu sudah digebah lari semua. Aku adalah Lu Su-bi, hari itu kita pernah bertemu, apa kau masih ingat?"

Hun Ci-lo tersenyum, katanya.

"Aku tahu kau adalah Goan-cau punya sumoay, Theng-siau juga datang bukan?"

"Dia sengaja datang kemari bersamaku untuk menengok kau, dia ada di luar."

"Sayang sekarang aku tidak bisa menemui mereka, bibi, bantulah aku melayani para tamu."

"Pekbo, keluarlah tidak usah kuatir, aku bisa menjaga Hun-cici baik-baik."

Hun Ci-lo menggenggam tangannya, katanya.

"Siau-sumoay, terima kasih. Goan-cau dan Theng-siau adalah sahabat baikku, biar aku meniru mereka memanggilmu siau-sumoay puja, kau tidak marah bukan. Sepuluh tahun yang lalu, Goan-cau sudah sering menyinggung kau kepadaku, kini setelah bertemu, kau tampak jauh lebih elok dari apa yang pernah dia lukiskan-Theng-siau dapat hidup sampai tua bersama kau, sungguh beruntung."

"Hun-cici, kau pun jauh lebih cantik lebih rupawan dari Hun-cici yang pernah kubayangkan sebelum ini."

Waktu Siau-hujin keluar dari kamar, dilihatnya Beng Goan-cau berdiri di pojokan sana dengan mendelong, keruan ia jadi kikuk dan risi, lekas ia pura-pura batukbatuk kecil serta sapanya.

"Beng Tayhiap, terima kasih akan bantuanmu sehingga Ci-lo dan anaknya selamat. Bagaimana lukalukamu sendiri, aku punya obat mujarab."

Beng Goan-cau tersentak dari lamunannya, setelah menenangkan hati, ia menjawab.

"Tidak jadi soal. Tapi tempat ini kalian tidak bisa tinggal lama-lama lagi. Siau-hujin, adakah tempat lain untuk pindah sementara waktu?"

"Kawanan anjing alap-alap itu pulang pergi dari dan ke Pakkhia paling tidak memerlukan tiga empat hari, saat ini belum terpikir olehku tempat yang cocok, tapi tidak perlu dikuatirkan, kalian istirahat dulu di sini, besok baiklah kita putuskan bersama, Gwat-sian, Ci-hwi, bantulah aku menanak nasi."

Lekas-lekas Beng Goan-cau berkata.

"Tidak usah repot-repot, kami sendiri membawa rangsum."

Baru mereka bicara sampai di sini, di luar tiba-tiba terdengar derap langkah kuda yang berlari kencang dibedal menuju ke tempat kediaman mereka Siau-hujin menegakkan alis, katanya.

"Wah, cepat betul kawanan anjing alap-alap itu kembali!"

"Hanya seekor kuda dengan seorang penunggang saja. Kukira belum tentu dari kawanan anjing alap-alap,"

Demikian ujar Beng Goan-cau. Belum habis percakapan mereka, derap kuda sudah berhenti di depan rumah, terdengar suara lantang berkata di luar pintu.

"Han Wi-bu sengaja datang mohon bertemu dengan Siau-hujin. Harap tanya apakah Beng Goan-cau Beng Tayhiap berada di sini?"

Sungguh di luar dugaan semua orang bahwa yang datang ternyata adalah congpiauthau dari Tin-wan Paukiok Han Wi-bu.

Semasa hidup suami Siau-hujin pernah bermusuhan dengan ayah Han Wi-bu, tempo hari orang-orang Tin-wan Piaukiok membantu Nyo Bok mengeroyok Hun Ci-lo dan Miao Tiang-hong lagi, hal itu disaksikan sendiri oleh Song Theng-siau, kalau Siau-hujin mendengus gusar, adalah Song Theng-siau sudah menyeletuk lebih dulu.

"Sungguh kebetulan kedatangan keparat ini, Bengheng, kau tahu tidak..."

Cepat Beng Goan-cau menggoyangkan tangan, katanya lirih.

"Kalian belum tahu sekarang Han Wi-bu sudah menjadi sahabat baik kita. Siau-hujin, harap pandanglah mukaku, sambutlah dia sebagaimana mestinya."

Siau-hujin serba salah, tapi ucapan Beng Goan-cau tidak bisa tidak harus ia dengar segera ia manggut-manggut sahutnya lirih.

"Biar kulihat dulu apa maksud ke datangannya."

Pintu besar memang terbuka, setelah Coh Thian-hiong dan lain-lain lari, pintu itu masih belum sempat ditutup.

Dari ruang tamu, Siau-hujin sudah melihat bayangan Han Wi-bu yang sedang menambatkan kudanya dan berdiri di luar pintu.

Segera Siau-hujin menyambut dingin.

"Entah angin apa yang menghembus Han-cong-piauthau dari kota raja, silakan masuk!"

Beng Goan-cau segera datang mendekat, katanya.

"Dari mana kau bisa tahu aku berada di sini, apa ada urusan penting?"

"Kau masih ingat murid Nyo Bok yang bernama Bun Seng-liong itu?"

Ujar Han Wi-bu.

"Aku sudah mengusirnya dari piaukiok. Tapi dari mulutnya aku pun mendapat berita, kuketahui bahwa mereka akan datang ke Sam-ho untuk menangkap kau."

Mereka yang dimaksud oleh Han Wi-bu sudah tentu adalah para kawanan anjing alap-alap anak buah Sat Hok-ting dan Pakkiong Bong.

"Kiranya begitu, terima kasih akan perhatian dan pemberian tahu Han-congpiauthau."

Sebaliknya, rasa permusuhan Siau-hujin masih belum hilang, katanya tawar.

"Wah bikin capai Han-congpiauthau saja untuk memberi kabar dari tempat jauh, ketahuilah bahwa kawanan anjing alap-alap itu sudah kita gebah lari semua."

"Aku tahu,"

Ujar Han Wi-bu.

"Di depan gunung kulihat mereka lari terbirit-birit, namun mereka tidak melihat aku."

Kiranya, karena melihat mereka melarikan diri dari jurusan sini maka Han Wibu baru bisa menemui tempat Siau-hujin ini. Berkata Han Wi-bu lebih lanjut.

"Tapi bukan saja aku hendak menyampaikan berita ini, masih ada pula urusan yang lebih penting."

"Urusan penting apa, silakan duduk dan bicara,"

Tanya Beng Goan-cau. Han Wi-bu duduk sambil celi-ngukan, katanya.

"Song Tayhiap juga di sini, kebetulan malah. Masih ada nona Lu bukan?"

"Untuk apa kau mencari dia?"

Tanya Song Theng-siau dingin.

"Dia sedang di dalam,"

Beng Goan-cau memberi tahu.

"sedang repot agaknya, biar sebentar kupanggil dia keluar."

"Tidak perlu susah-susah suruh dia keluar. Nanti saja kau sampaikan kepadanya,"

Kata Han Wibu lebih lanjut.

"Siau Ci-wan Siau-toako dan Leng Thiat-jiau Leng-toako ada titip orang membawa kabar, karena tidak tahu jejak kalian, maka orang itu minta aku menyampaikan kabar ini kepada kalian supaya lekas-lekas pulang ke Siau-kim-jwan."

Lalu ia keluarkan sebatang anak panah, membuktikan bahwa omongannya bukan bualan belaka.

Samar-samar Song Theng-siau tahu bahwa Siau Ci-wan ada sedikit persahabatan dengan ex cong-piauthau dari Tin-wan Piaukiok yang terdahulu (jadi ayah Han Wi-bu, Han Ki-goan), tapi ia tidak tahu bahwa Han Wi-bu ada hubungan rahasia dengan orang-orang dari Siau-kim-jwan juga, maka setelah melihat anak panah itu, rasa permusuhannya seketika buyar, katanya.

"Entah ada urusan genting apa di Siau-kim-jwan sehingga kita diminta segera pulang?"

"Hal itu aku tidak tahu. Tapi dari nada bicara orang suruhan itu, agaknya sudah didapat kabar angin, bahwa tentara kerajaan dalam tahun ini juga akan dipersiapkan untuk menggempur Siaukim-jwan secara besar-besaran. Pendatang itu pun berkata, bila urusan Beng Tayhiap belum selesai, boleh ditunda beberapa waktu lagi baru pulang, tapi jangan sampai terlambat, sampai permulaan musim semi tahun yang akan datang."

Setelah melahirkan, Hun Ci-lo amat letih, sedang ia tiduran sambil memejamkan mata, didengarnya suara asing sedang bicara di luar, tanyanya.

"Siapakah yang sedang bicara di luar?"

"Han-congpiauthau dari Tin-wan Piaukiok,"

Sahut Lu Su-bi.

"Ah, kiranya dia Apa yang dia katakan?"

Lu Su-bi tidak berani bicara terus terang, maka ia menjawab samar-samar saja.

"Tidak apa-apa dia bersahabat dengan Beng-toako, di kota raja ia dengar kabar Beng-suko di sini, maka ia menyusul kemari untuk menyambanginya. Yang dibicarakan sih bukan soal-soal penting. Kau tidak perlu banyak pikiran, tidurlah saja!"

Hun Ci-lo tahu urusan tentu tidak segampang itu, mana dapat ia pulas, sambil pura-pura tidur ia pasang kuping, kebetulan didengarnya pembicaraan di luar menyinggung soal Siau-kim-jwan yang mulai genting, minta Beng Goan-cau lekas pulang ke sana, keruan hatinya terkejut, pikirnya.

"Jangan lantaran urusanku di sini sampai mereka menelantarkan urusan besar."

Orok yang baru lahir belum bisa minum air susu, baru saja disuapi beberapa tetes air setengah hangat, mendadak menangis lagi. Kata Hun Ci-lo.

"Aku tidak bisa tidur, mari biar aku yang menyuapi."

Mendengar suara tangis bayi, semakin gundah hati Beng Goan-cau, batinnya.

"Ci-lo belum mendapat tempat yang betul-betul aman, bagaimana aku bisa meninggalkan dia pada waktu ini?"

Tak nyana Han Wi-bu malah yang membereskan persoalan ini, katanya.

"Kukira tempat ini kalian tidak bisa menetap lama-lama lagi. Siau-hujin, maaf akan kecero-bohanku, adakah kau sudah punya tempat tujuan lainnya?"

Siau-hujin melengak, meski ia punya rasa permusuhan, namun orang baik hati bertanya, terpaksa ia menyahut tawar.

"Aku seorang nyonya tua yang sempit pergaulan, terpaksa bertindak menurut keadaan, pasrah akan nasib saja!"

Berkata Han Wi-bu.

"Aku punya seorang teman yang ada sedikit hubungan juga dengan Siau dan Leng dua Toako dari Siau-kim-jwan. Orang ini bernama Lau Im-long, tinggal di Pak-bong-san, dari sini kira-kira dua hari perjalanan. Dia menetap di tempat yang sepi jarang bergaul dengan para sahabat kangouw umumnya, Pakkiong Bong dan anak buahnya pastilah tidak akan tahu akan dirinya Lebih baik sementara kalian menyingkir ke sana dulu."

"Ada tempat sebaik itu, sudah tentu baik sekali. Tapi entah dia mau percaya tidak kepada kita?"

Tanya Beng Goan-cau.

"Hal ini Beng-heng tidak usah kuatir, aku sudah menulis sepucuk surat bagi kalian."

Sebetulnya Siau-hujin tidak sudi menerima kebaikan orang, tapi Beng Goan-cau sudah menerima suratnya itu serta menyatakan terima kasih. Terpaksa Siau-hujin berkata.

"Hancongpiauthau demikian simpatik membantu kita, sungguh hatiku menjadi tidak enak."

Kata Han Wi-bu.

"Mendiang ayah dulu ada permusuhan dengan almarhum suamimu, setiap waktu wanpwe selalu ingin menyelesaikan pertikaian ini, pernah pula mohon bantuan Cau Siok-toh losiansing untuk menjelaskan kepada hujin, sekarang aku hanya berkesempatan mohon maaf saja, harap hujin tidak berkecil hati."

Betapapun Siau-hujin seorang yang berjiwa lapang berwatak jujur, setelah mendapat muka, dengan riang hati ia berkata.

"Kejadian lalu kami sendiri pun punya kesalahan, urusan lama tidak perlu diungkit-ungkit lagi."

Han Wi-bu menjura hormat katanya.

"Terima kasih akan budi kebaikan hujin tidak mengulur panjang persoalan ini, aku mohon diri lebih dulu."

Tersipu-sipu Siau-hujin membalas hormat, katanya.

"Beng-ya, harap wakilkan aku mengantar tamu."

Beng Goan-cau mengantar sampai di luar pintu, katanya.

"Han-congpiauthau, adakah orang tahu kau datang kemari?"

"Hanya dua piausu tua yang tahu, mereka adalah orang-orang lama sejak Cay-cong-piauthau dulu, pastilah tidak akan membocorkan rahasia ini."

"Aku sih kuatir bila sampai diketahui oleh Pakkiong Bong, kau pasti kerembet urusan."

Han Wi-bu bergelak tertawa, katanya.

"Dulu aku banyak melakukan perbuatan gegabah, kini mendapat peneranganmu, hatiku sungguh senang sekali, siapa lagi yang peduli akan kawanan anjing alap-alap itu? Seumpama Pakkiong Bong menyegel Tin-wan Piaukiok-ku, aku pun tidak peduli lagi."

Selanjutnya ia berkata pula.

"Dulu demi keselamatan perusahaan, aku banyak berbuat yang tidak-tidak, merendahkan diri terima ditekan dan melakukan banyak kesalahan. Kini aku sudah sadar, seseorang hidup dalam masa-masa perjuangan seperti ini, yang terpenting bukan di mana kita berdiri, akan tetapi ke jurusan manakah kita akan pergi. Seumpama tidak bisa membawa nama harum bagi generasi mendatang, paling tidak biarlah sebelum menjelang ajal ini, janganlah sampai menjadi menyesal bila teringat akan perbuatan sendiri selama ini. Kalau Tin-wan Piaukiok bisa dipertahankan itulah baik, kalau tidak bisa ya apa boleh buat!"

Sekembali dari mengantar tamu Beng Goan-cau tuturkan kata-kata Han Wi-bu kepada semua orang, hadirin sama terharu. Katanya pula.

"Soal pindah tidak boleh berlarut-larut. Apa perlu menyiapkan sebuah kereta untuk Hun Ci-lo?"

"Aku memang hendak masuk melihat keadaannya, tapi bukankah kalian pun sudah siap untuk berangkat?"

Di saat Beng Goan-cau masih bimbang, mendadak terdengar suara Lu Su-bi berkata.

"Angin di ?luar menghembus keras, tak usah kau keluar."

Lalu disusul suara Hun Ci-lo berkata.

"Baik, kalau begitu singkaplah kerainya, biar aku bicara beberapa patah kata kepada mereka."

Waktu kerai tersingkap, tampaklah seraut wajah Hun Ci-lo yang pucat lesi, hanya sepasang matanya saja yang masih berkilat terang, agaknya membawa sedikit haru dan bersemangat.

Berkata Hun Ci-lo pelan-pelan.

"Goan-cau, Theng-siau, aku berterima kasih akan persahabatan kalian, aku tahu kalian tidak akan mau meninggalkan aku dalam waktu demikian ini, aku sendiri pun mengharap bisa berkumpul sedikit lama dengan kalian, tapi kalian punya urusan yang lebih penting, jangan lantaran aku sampai menggagalkan urusan besar. Kata-kata Han Wi-bu memang patut dicontoh, seseorang paling tidak janganlah sampai membuat diri sendiri menyesal menjelang ajalnya, kalau toh aku menahan kalian demi kepentingan pribadiku, aku pun akan menyesal seumur hidupku."

Beng Goan-cau amat terharu, katanya tegas.

"Baik, setelah kuantar kau sampai di Pak-bongsan segera aku pulang. Theng-siau dan Siau-sumoay boleh berangkat lebih dulu". Tapi Hun Ci-lo tetap tidak setuju. Akhirnya Lu Su-bi membujuk.

"Dari sini ke Pak-bong-san hanya memakan dua hari perjalananan, Han Wi-bu pernah berkata, Beng-toako boleh pulang sedikit terlambat. Biarlah sekali ini ia membantu kau untuk yang terakhir."

Siau-hujin ikut membujuk.

"Kau sendiri baru melahirkan dan dilarang menggunakan tenaga, di dalam perjalanan ke Pak-bong-san ini perlu ada orang yang harus melindungi. Aku seorang nenek tua masakah mampu melindungi kalian ibu beranak. Ci-lo, jangan kau terlalu kukuh."

"Aku mendapat tugas dari Ling dan Siau dua Toako untuk mencari hubungan dengan berbagai eng-hiong dari segala kalangan, sebetulnya aku hendak pergi ke karesi-denan Bit-hun untuk menyambangi seorang Tian-loenghiong, kebetulan seperjalanan, tertunda satu dua hari kukira tidak menjadi soal."

Ternyata dari karesidenan Sam-ho ke karesidenan Bit-hun memang harus lewat Pak-bong-san.

Hun Ci-lo sendiri betapa tidak ingin berkumpul lebih lama dua hari dengan Beng Goan-cau, mendengar penyelesaiannya ini, ia pun tidak banyak kata lagi.

"Bibi, silakan kau masuk menjaga Hun-cici, sekarang juga aku minta diri,"

Lu Su-bi berkata.

Memang dalam sehari ini Hun Ci-lo beruntun mengalami beberapa kali pukulan batin sehingga ia melahirkan sebelum waktunya, meski ia punya dasar silat yang lumayan, tak urung kondisi badannya menjadi lemah juga, saat mana napasnya sudah memburu dan tidak kuat berdiri tegak pula.

"Ci-lo,"

Ujar Siau-hujin menghela napas.

"kau harus menjaga dan merawat badanmu sendiri, urusan lain tidak perlu kau pikirkan!"

Belum habis ucapannya mendadak suaranya melengking tinggi, berteriak berbarengan dengan Beng Goan-cau.

"Di atap rumah ada orang!"

Karena kedua kakinya terluka, Beng Goan-cau tidak leluasa mengembangkan ginkang, Siauhujin sendiri harus menjaga keponakannya, maka mereka berdua tidak bisa memburu keluar. Berseru Song Theng-siau.

"Hanya anjing alap-alap saja biar wanpwe seorang yang membereskan."

Ia mengira yang datang pastilah kawanan anjing alap-alap pula kalau tidak kenapa harus main sembunyi-sembunyi mencuri dengar pembicaraan orang di atap rumah?

Maka sambil melolos pedang, bersama Lu Su-bi segera ia mengejar ke luar.

Diam-diam Beng Goan-cau merasa heran, batinnya.

"Jago-jago Pakkiong Bong atau Sat Hokting rasanya tiada yang punya ginkang sedemikian tingginya. Tapi meski ginkangnya tinggi belum tentu lwekangnya ampuh. Theng-siau dan Siau-sumoay terang tidak akan berhasil mengejarnya, tapi dengan gabungan mereka berdua rasanya tidak gampang dikalahkan."

Maklumlah bagi seorang yang lwekangnya sudah tinggi, pernapasannya pasti ringan tidak mengeluarkan suara.

Mungkin orang itu sudah sekian lamanya mencuri dengar di atap rumah, ada beberapa kali pernapasannya rada berat bersuara, maka ketahuan,oleh Siau-hujin dan Beng Goan-cau yang memiliki ketajaman pendengaran.

Dugaan Beng Goan-cau memang tepat, ginkang orang itu memang jauh lebih tinggi dari Song Theng-siau dan Lu Su-bi.

Begitu mereka mengejar keluar, hanya tampak sesosok bayangan putih berkelebat hilang masuk ke hutan, gerak badannya gesit dan cepat luar biasa, sampai pun gemuk, kurus, tinggi atau rendah perawakan orang itu pun tidak mereka lihat jelas, apalagi mengenali lelaki atau perempuan.

Song Theng-siau segera membentak.

"Berani main selundupan, kenapa tidak berani unjukkan diri?"

Sekejap mata, bayangan putih itu sudah tidak kelihatan pula. Timbul rasa curiganya, katanya.

"Ginkang orang ini sedemikian lihay, mungkinkah dia orang yang diam-diam membantu kami menggebah lari Boh Cong-tiu itu?"

"Biarlah kukejar lebih cepat."

Ginkang Lu Su-bi memang lebih unggul dari Song Theng-siau, tanpa merasa kejar punya kejar, akhirnya Song Theng-siau ketinggalan di belakang.

Tapi meski ginkangnya lebih tinggi dari Song Theng-siau, bila dibanding bayangan putih itu, terpautnya masih cukup jauh, setelah mengejar sekian lamanya, masih juga tidak terlihat bayangan putih itu.

Waktu ia berpaling ke belakang bayangan Song Theng-siau pun tidak kelihatan pula.

Tiba-tiba ia tersentak sadar, karena terlalu bernafsu, ia sudah mengejar paling sedikit ada puluhan li jauhnya.

"Cianpwe kosen itu tidak sudi unjukkan diri, kukejar terus pun tiada gunanya, lebih baik pulang saja, supaya Song-Suko tidak kuatir."

Baru saja Lu Su-bi berniat kembali, bayangan putih itu mendadak meluncur balik pula bagaikan angin lesus berputar-putar, tahu-tahu sudah berada di hadapannya. Lu Su-bi kegirangan serunya.

"Terima kasih akan budi pertolongan cianpwe, terimalah hormat terima kasihku!"

Setelah bayangan putih itu meluncur tiba di hadapannya, dilihatnya seorang gadis remaja berpakaian serba putih berparas ayu molek usianya paling-paling sebaya dengan dirinya sungguh tidak ia sangka, Cianpwe kosen yang dianggap sebagai penolong itu ternyata adalah seorang gadis remaja, keruan ia melengak dibuatnya.

Gadis baju putih itu juga tercengang, tanyanya.

"Apa katamu?"

"Tadi pagi di sini kami bertemu dengan seorang anjing alap-alap yang berilmu silat tinggi, beruntunglah ditolong oleh seorang kosen, entah apakah cici?"

"O, ada kejadian itu? Orang macam apakah lawanmu itu!"

Balas tanya gadis baju putih, secara tidak langsung ia sudah menjawab bahwa penolong secara diam-diam itu terang bukan dirinya.

"Seorang laki-laki yang berpakaian seperti sastrawan, tangannya menyekal kipas lipat. Kipas lipat itu dia gerakkan sebagai senjata."

Gadis baju putih itu bersuara heran sambil mengerut alis matanya.

"Kiranya dia!"

"Jadi cici kenal orang itu, apakah dia anjing alap-alap?"

"Aku pun tidak tahu betul tidak, bukankah kau siau-sumoay Beng Goan-cau yang bernama Lu Su-bi?"

"Hah, kau pun kenal dengan Beng-sukoku, siapa kau?"

Gadis baju putih manggut-manggut, katanya.

"Benar, aku kenal Beng-sukomu. Aku kembali memang ingin tanya kau apakah Beng Goan-cau terluka, lukanya berat tidak?"

Melihat Beng Goancau tidak ikut mengejar keluar, maka ia mengira pastilah luka-lukanya tidak ringan.

"Dia hanya terluka ringan saja, cuma sementara tidak bisa mengembangkan ginkang, setelah diobati kira-kira dua hari pasti sudah sembuh."

Gadis baju putih menghela napas, agaknya ia menjadi lega.

"Cici, kau kenal Beng-suko, dia terluka, kenapa kau tidak pergi menengoknya?"

Tanya Lu Su-bi. Gadis baju putih menggeleng, seakan-akan ada sesuatu yang sedang dipikirkan, katanya perlahan.

"Nona Lu, aku mohon kepada kau, kuharap jangan kau beritahu kepada Beng-suko, bila aku sudah datang dan bertemu kau di sini."

"Kau sudah amat kenal dengan Beng-suko bukan?"

Tanja Lu Su-bi. Gadis baju putih manggut-manggut. Lu Su-bi menjadi heran, tanyanya pula.

"Lalu kenapa pula kau harus main sembunyi-bunyi?"

Sesaat melenggong baru gadis baju putih berkata.

"Hun-cici itu patut dihargai dan dipuji bukan? Sayang aku hanya mendengar suaranya, namun tidak sempat melihat atau bertemu dengan dia,"

Kembali bicaranya ngelantur.

Meski kata-katanya bukan jawaban langsung bagi pertanyaan Lu Su-bi, tapi gadis remaja yang mulai dimabuk cinta pertama, perasaan hatinya pasti sama, kilas lain Lu Su-bi seolah-olah mendadak dapat 'memahami' jalan pikiran orang.

Katanya terkikik geli sambil angkat kepala.

"Tapi aku masih belum tahu siapakah kau sebenarnya."

"Aku boleh beritahu kepada kau, tapi kuharap kau tidak mem-beritahu orang lain. Aku she Lim, bernama Bu-siang."

"Hah, kiranya dia!"

Lu Su-bi amat terkejut, batinnya.

"Ternyata dia inilah Lim Bu-siang, ciangbunjin Hu-siang-pay yang memegang peranan penting di dalam pertemuan besar orang-orang gagah di Thay-san, tak heran ilmu silatnya sedemikian lihaynya."

"Ai, aku paham sekarang. Mungkin dia ada dengar kawanan anjing alap-alap akan meluruk kemari, maka secara diam-diam melindungi Beng-suko. Baru sekarang ia mengerti bahwa hati Beng-suko sudah diserahkan kepada Hun-cici."

Setelah mengetahui jalan pikiran Lim Bu-siang, mau tidak mau hati Lu Su-bi ikut men-delu juga, pikirnya.

"Sungguh seorang nona yang lincah dan mungil, seperti Hun-cici, selalu memikirkan kepentingan orang lain lebih dulu."

Waktu ia tersentak sadar dari lamunannya ternyata Lim Bu-siang sudah tidak kelihatan bayangannya.

-ooo0dw0ooo-Tiga hari kemudian, di atas pegunungan Pak-bong-san Beng Goan-cau sedang menempuh perjalanan seorang diri.

Cuaca hari ini kelihatan amat cerah dan sejuk sekali.

Tapi kabut gelap yang menyelimuti sanubari Beng Goan-cau masih belum sirna juga.

Sungguh ia tidak menduga dalam keadaan seperti itu dirinya bisa bersua dengan Hun Ci-lo, berkumpul hanya dua tiga hari saja.

Sudah tentu ia merasa gegetun dan sedih pula.

Di saat Beng Goan-cau beranjak dengan pikiran melayang itulah, mendadak didengarnya seseorang bergelak tertawa, serunya.

"Beng Tayhiap, selamat bertemu, selamat bertemu."-Tampak dari depan mendatangi seorang tua berbaju hijau. Beng Goan-cau kenal kakek tua baju hijau ini bukan lain adalah tokoh kenamaan dari Tong-keh-sam-lo di Sucwan yang bernama Tong Thian-chong. Keluarga Tong di Sucwan turun-temurun merupakan ahli-ahli senjata rahasia, keluarga mereka terbagi tiga marga, yang tertua bernama Tong Thian-heng, yang kedua adalah Tong Thian-chong ini, sementara yang ketiga bernama Tong Thian-ce. Tiga bersaudara ini dijuluki Tong-keh-sam-lo. Terutama kepandaian senjata rahasia Tong Thian-chong justru yang paling lihay di antara tiga bersaudara ini. Beng Goan-cau pernah melihatnya sekali waktu pertemuan di Thay-san tempo hari. Tahu bahwa orang sudah terima menjadi antek kerajaan, segera Beng Goan-cau menghadapinya dengan sikap dingin.

"Tong-losian-sing, kukira pertemuan kita kali ini bukan secara kebetulan saja bukan?"

Tong Thian-chong menyeringai dingin, katanya sinis.

"O, bukan kebetulan? Lalu bagaimana anggapanmu?"

"Seorang laki-laki sejati tidak perlu main bohong, bicaralah saja terus terang. Tong-losiansing, bukankah kau kemari untuk mencegat aku?"

Tong Thian-chong berkakakan, serunya.

"Beng Tayhiap, tepat sekali terkaanmu. Hari itu aku belum sempat mohon pengajaran ilmu silatmu, hari ini kebetulan dapat bertemu di sini, biarlah hari ini aku mohon petunjukmu."

Naik darah Beng Goan-cau, jengeknya sambil melolos golok.

"Baik, silakan maju, memangnya kau sangka aku orang she Beng takut?"

Tanpa banyak bacot lagi mereka segera berhantam. Tong Thian-chong bersenjata sebatang cangkul garu, yang peranti untuk menotok jalan darah juga, dalam tiga puluh jurus mendatang.

"Trang"

Salah satu gigi dari cangkul garunya kena terpapas kutung oleh golok pusaka Beng Goancau.

Sebat sekali Tong Thian-chong melompat keluar tiga tombak jauhnya dari gelanggang pertempuran, melihat Beng Goan-cau tidak merangsak maju, setelah berdiri tegak ia bergelak tertawa; serunya.

"Golok cepat Beng Tayhiap memang tidak bernama kosong. Tapi aku orang tua bukan seorang ahli dalam main senjata tajam, beranikah kau bertanding senjata rahasia dengan aku?"

Ternyata Tong Thian-chong melihat gerak-gerik Beng Goan-cau yang kurang gesit dan tangkas, maka rasa takutnya menjadi berkurang, ia yakin bahwa Beng Goan-cau pasti tidak akan mampu lolos dari taburan senjata rahasianya.

Beng Goan-cau tertawa dingin.

"Selama hidupku belum pernah menggunakan senjata rahasia, silakan kau keluarkan seluruh keahlian warisan leluhurmu."

"Baik sekali. Beng Tayhiap, perlu kuperingatkan kepada kau, semua senjata rahasiaku sudah kububuhi racun jahat jang mematikan lho!"

Lenyap suaranya, kedua tangannya lantas terayun bersama.

Bwe-hoa-ciam, Toh-kut-ting, paser besi, Ouw-tiap-piau dan berbagai senjata rahasia lainnya, sekaligus ia berondong keluar laksana hujan deras meluruk ke arah Beng Goan-cau.

Beng Goan-cau berdiri membelakangi sebuah pohon besar, untuk mengurangi kekuatan dan tekanan serangan senjata rahasia musuh yang mengurung dirinya dari berbagai penjuru, ia kembangkan ilmu goloknya yang cepat, sinar goloknya berkelebat naik turun ke empat penjuru, beruntun terdengar suara trang-tring yang sambung menyambung tak putus-putus, Bwe-hoa-ciam terpapas hancur, Toh-kut-ting terpukul jatuh menjadi dua potong, paser besi dan Ouw-tiap-piau serta senjata berat lainnya kena disampuk dan ditangkis balik.

Semua senjata rahasia yang disambitkan Tong Thian-chong tiada satu pun yang mengenai dirinya.

"Kepandaian bagus! Nih sambutlah Thi-lian-cuku ini!"

Beruntun tiga kali tangannya terayun, namun tidak tampak ada senjata rahasia yang menyerbu datang.

"Apa yang sedang kau lakukan!"

Hardik Beng Goan-cau.

Belum lenyap suaranya, beruntun terdengar suara "Creng, creng", bagaikan bintang sapu tiga Thi-lian-cu menerjang tiba, yang atas mengarah Hun-bun-hiat, tengah mengarah Ciat-im-hiat di bawah pusar paling bawah mengincar Ih-gi-hiat di bawah ketiak kiri.

Tiga sasaran ini menjadi formasi segi tiga, ketiga Thi-lian-cu ini meluncur sama cepatnya, melesat tiba bersama pula, sehingga membikin dia kerepotan juga, tidak mungkin di dalam satu jurus ilmu pedangnya ia berhasil memukul jatuh ketiga Thi-lian-cu itu sekaligus.

"Serangan bagus!"

Beng Goan-cau menghardik memuji, goloknya membabat miring, cepat pula terus disendai, sementara jarinya mendorong di punggung goloknya, maka goloknya itu dengan sendirinya berputar dari kiri ke kanan setengah lingkaran, dan secara kebetulan menangkis jatuh Thi-lian-cu yang mengincar Ih-gi-hiat di bawah ketiak kirinya, tahu-tahu golok sudah kembali di tangannya pula.

Sementara dua Thi-lian-cu yang mengincar bagian tengah dan atas, sudah terpukul jatuh pula di saat goloknya memapas miring dan berputar tadi.

Ternyata Thi-lian-cu yang mengarah Hun-bun-hiat itu terletak pada puncak dari formasi segi tiga itu, merupakan sudut mematikan dari posisi serangan itu, kecuali menggunakan tipu goloknya yang menakjubkan itu, tidak mungkin dirinya bisa luput dari ancaman elmaut.

Karena serbuan senjata rahasia yang gencar ini Beng Goan-cau sampai mencak-mencak dibuatnya, jiwanya hampir saja disambar elmaut.

Di saat-saat keadaan yang kritis menghadapi bahaya ini, tiba-tiba didengarnya Tong Thian-chong berteriak.

"Bocah keparat, berani kau bermain kampakdi depan seorang ahli!"

Keruan Beng Goan-cau melengak heran, batinnya.

"Siapakah yang dia maksudkan?"

Maka terdengarlah suara tang tang ting ting yang bersambungan, belum lagi enam senjata rahasia Tong Thian-chong tiba di depan mukanya, tahu-tahu sudah terpukul jatuh di tengah jalan.

Lekas Tong Thian-chong berpaling muka, kebetulan sebutir kerikil sedang menyambar tiba ke arah mukanya, sejak mula Tong Thian-chong sudah mengenakan sarung tangan yang terbuat dari kulit menjangan, sekali raih, ia sambut kerikil kecil itu, lalu dengan seksama ia pandang ke arah datangnya kerikil ini, bentaknya.

"Kalau berani silakan keluar, marilah kita coba-coba kepandaian siapa lebih tinggi!"

Tampak sesosok bayangan putih berkelebat di dalam hutan.

Tong Thian-chong segera membentak keras, tujuh macam senjata rahasia yang berlainan segera diberondong ke arah sana.

Tapi kejadian seperti terjadi berulang kembali, baru saja sambitan senjata rahasianya tiba di tengah jalan, dari dalam hutan sekaligus terbang keluar tujuh butir batu kecil-kecil, kebetulan memukul rontok ketujuh senjata rahasianya.

Keruan Tong Thian-chong menjadi heran, bukan saja ia heran akan kelihayan timpukan senjata rahasia lawan yang hebat, ia pun heran akan kekuatan timpukan lawan.

"Memangnya pertama tadi orang sengaja hendak mengelabui aku, lwekangnya belum dikerahkan betul-betul?"

Ternyata waktu ia menyambuti kerikil pertama tadi, ia sudah dapat mengukur sampai di mana kekuatan lawan.

Maka tiga di antara ketujuh senjata rahasia yang dia sambitkan tadi, ia kerahkan tenaga lebih kuat, ia gunakan gerakan tunggal dari ajaran keluarga Tong mereka, sebelumnya sudah dia perhitungkan dengan sempurna begitu senjata rahasia kedua pihak saling bentur di tengah jalan, ia pinjam tenaga pantulan dari benturan keras itu untuk melukai lawan.

Siapa tahu, justru di luar perhitungannya, kekuatan timpukan senjata rahasia lawan ternyata jauh lebih besar dari rekaannya semula, maka semua senjata rahasia timpukannya semua kena dipukul rontok oleh sambitan kerikil lawan sedikit pun tidak menimbulkan tenaga pantulan yang diharapkan.

Sudah tentu kejut Tong Thian-chong bukan kepalang, tidak berani menimpukkan senjata rahasianya pula, ia malah ngacir terbirit-birit ke arah yang berlawanan.

Maklumlah kepandaian senjata rahasia lawan tidak lebih asor dari dirinya, apalagi lwekang orang jelas lebih unggul, seumpama mereka harus bertanding ilmu senjata rahasia, Tong Thian-chong akhirnya pasti dikalahkan juga.

Keruan Beng Goan-cau kegirangan, teriaknya.

"Apakah Utti-toaso di sana?"

Tiada suara sambutan dari dalam hutan, sekali berkelebat bayangan putih itu lantas tidak kelihatan lagi. Keruan Beng Goan-cau menjadi heran, pikirnya.

"Apakah pandanganku yang kabur, kalau benar dia seorang perempuan, kecuali Utti-toaso, siapa pula dia?"

Pandangan mata Beng Goan-cau memang teramat jeli, di waktu bayangan putih itu berkelebat, lapat-lapat ia sudah lihat bayangan itu seperti bentuk perempuan.

Soalnya jaraknya lebih jauh dari Tong Thian-chong, maka ia tidak melihat jelas.

Seperti diketahui istri Utti Keng yaitu Jian-jiu-koanim Ki Seng-in merupakan tokoh kosen yang ahli dalam bidang senjata rahasia, perempuan yang dapat mengalahkan Tong Thian-chong dalam bidang senjata rahasia, menurut perkiraan Beng Goan-cau tiada lain kecuali Ki Seng-in.

Sesaat Beng Goan-cau melongo, batinnya.

"Kalau Utti-toaso tidak mungkin, dia main sembunyibunyi tidak mau menemui aku."

Maka segera ia berseru lantang pula.

"Entah cianpwe manakah yang sudi membantu, harap sudilah keluar supaya Beng Goan-cau unjuk hormat dan menyampaikan terima kasih!"

Beruntun tiga kali, hutan masih sunyi lengang, tiada terdengar penyahutan orang.

Beng Goan-cau tahu orang itu tidak mau muncul, dikejar ke dalam hutan pun belum tentu bisa ketemu, terpaksa dengan rasa kecewa ia, menjura dua kali ke arah hutan, dengan hambar ia meninggalkan tempat itu.

Mendadak terdengar seorang bergelak tertawa sambil melangkah keluar, serunya.

"Panggilan sebagai cianpwe kosen segala mana aku berani menerima? Beng-heng, kau terlalu banyak hormat."

Sembari bicara orang itu balas hormat kepada Beng Goan-cau. Jauh di luar dugaan Beng Goan-cau, orang yang muncul ini ternyata adalah Boh Cong-tiu. Keruan Beng Goan-cau terkejut, batinnya.

"Kenapa bisa dia!"

Walau hatinya serba bingung dan curiga, tapi kenyataan yang muncul di hadapannya ini adalah Boh Cong-tiu, terpaksa ia kesampingkan berbagai kecurigan-nya, katanya.

"Terima kasih akan bantuan Boh-heng, kenapa Boh-heng bisa datang di tempat ini, sungguh siaute tidak habis mengerti."

"Di kota raja aku bertemu dengan Utti Keng, kukira Beng-heng sudah tahu akan hal ini?"

"Betul, dari berita yang didengar oleh Cay Kin katanya malam itu Utti Tayhiap kepergok oleh kawanan anjing alap-alap di sebuah rumah makan dan terkepung, untunglah mendapat pertolongan Boh-heng."

Dalam hal ini Beng Goan-cau hanya mengatakan separuh persoalannya saja, soal yang tidak dia singgung adalah Cay Kin mendapat berita ini dari Kwi-hwe-thio dan Lima-cu.

Sedang menurut berita rahasia yang diketahui Li-ma-cu adalah bahwa sebelumnya Boh Cong-tiu memang sudah berunding dan main sekongkol dengan Pakkiong Bong, untuk menipu kepercayaan Utti Keng saja.

"Ah, urusan kecil kenapa harus dipersoalkan? Kejadian waktu itu juga kebetulan saja. Tapi untung juga ada kejadian kebetulan itu, sebetulnya Utti Tayhiap ada sedikit ganjalan hati dan sedikit salah paham kepada siaute, salah paham ini akhirnya dapat dibikin terang pula."

Beng Goan-cau masih raguragu, ia tahu salah paham apa yang dimaksud oleh Boh Cong-tiu, maka ia pura-pura bertanya.

"Kabarnya Boh-heng dan Utti Tayhiap akhirnya menerjang masuk ke markas besar Sat Hok-ting hendak menolong orang, entah di mana sekarang Utti Tayhiap berada?"

"Sungguh mengecewakan, semula kami hendak menolong Li Kong-he, Li Kong-he tidak berhasil ditolong, Utti Tayhiap malah terluka, situasi di kota raja sedang hangat dan genting, malam itu juga lantas dia meninggalkan Pakkhia. Kali ini memang aku hendak pergi ke Sam-ho untuk menyampaikan kabar Utti Tayhiap kepadamu, tak nyana malah bertemu denganmu di sini, sungguh kebetulan."

Lalu ia menambahkan.

"Utti Tayhiap sangat kangen kepadamu. Oh, ya, kuda suri merah pemberiannya itu kenapa tidak kau tunggangi?"

"Kuda itu sudah kuberikan kepada seorang temanku,"

Sahut Beng Goan-cau.

Ternyata ia tinggalkan kuda suri merah itu kepada Hun Ci-lo, tapi karena terhadap Boh Cong-tiu ia masih belum percaya betul, maka ia tidak menyebut langsung nama Hun Ci-lo, kuatir orang terlalu banyak tanya.

"Beng-heng, apa kau sudah bertemu dengan Song Theng-siau?"

Boh Cong-tiu kira kuda itu ia berikan kepada Song Theng-siau.

"Song Theng-siau sudah pergi lebih dulu. Apa Boh-heng ada melihat dia?"

"Betul, beberapa hari yang lalu aku ada melihatnya bersama seorang nona, kudengar nona itu memanggilnya Song-suko, maka kukira tentulah dia Song Theng-siau adanya. Sayang karena tidak leluasa waktu itu aku tidak berani menyapa mereka."

"Nona itu adalah sumoayku."

Tahu bahwa orang tidak tahu akan perbuatan dirinya terhadap Song Theng-siau dan Lu Su-bi tempo hari, Boh Cong-tiu berlega hati, katanya.

"Beng-heng, kau hendak ke mana?"

"Aku hendak mencari seorang teman."

"Siapa dia?"

"Li-ma-cu, maling sakti yang dijuluki nomor dua di seluruh jagat ini."

Boh Cong-tiu melongo, cepat sekali ia sudah unjuk tawa katanya.

"Kiranya Li-ma-cu. Aku tahu dia, tapi mungkin dia pun ada sedikit salah paham kepadaku?"

"Ada kesalahan paham apa Boh-heng dengan dia?"

"Kalau dibicarakan cukup panjang, marilah bicara sambil berjalan,"

Sembari bicara ia mendekati Beng Goan-cau lalu berjalan berendeng, pikirnya.

"Entah berapa banyak soal yang diketahui oleh Li-ma-cu tentang hubungan rahasiaku dengan Pakkiong Bong? Apakah Beng Goan-cau mau percaya akan penjelasanku? Kalau tidak berhasil menipu dia, terpaksa bekerja tidak kepalang tanggung membekuk dia saja. Setelah kutotok Hiat-tonya, biar kukurung dia di balai kota karesidenan Bit-hun yang terdekat. Sekaligus aku bisa mendapat pahala dari Pakkiong Bong."

Boh Cong-tiu tahu ilmu silat Beng Goan-cau masih lebih rendah dari dirinya, kini sedang terluka pula, asal dia bekerja hati-hati lalu membokongnya secara mendadak tentu berhasil.

Tapi ia pun memperhitungkan rencana jangka panjang, lebih baik bila dapat menipu Beng Goan-cau percaya akan cerita bohongnya, jauh lebih berharga daripada meringkusnya.

Tengah hati menimang-nimang, Boh Cong-tiu mendadak mendengar ada orang seolah-olah tertawa dingin di pinggir kupingnya, keruan ia tersentak kaget, lekas ia celingukan kian kemari, batinnya.

"Suara tawa ini tidak mirip suara budak busuk itu, memangnya orang misterius itu pula?"

Ternyata orang yang membantu Beng Goan-cau secara diam-diam tadi, sebetulnya bukan Boh Cong-tiu.

Memang waktu itu Boh Cong-tiu sembunyi di dalam hutan, semula ia hendak membantu Tong Thian-chong secara diam-diam, namun mendadak dilihatnya pula Lim Bu-siang sedang sembunyi di dalam hutan pula.

Boh Cong-tiu pernah dikalahkan oleh Lim Bu-siang, begitu melihat jejaknya, sudah tentu ia tidak berani unjukkan diri.

Dia melihat Lim Bu-siang me-nyambitkan batu, sehingga Tong Thian-chong lari ketakutan, diam-diam ia amat heran dan kaget bahwa Lim Bu-siang ternyata mem-bekal kepandaian senjata rahasia yang sedemikian lihaynya, saking takut, napas pun ia tidak berani keras-keras.

Setelah melihat Lim Bu-siang pergi jauh, barulah dia berani keluar memalsu diri sebagai penolong untuk menipu Beng Goan-cau.

Tak nyana di saat ia sudah berencana hendak turun tangan, lapat-lapat kupingnya mendengar tawa dingin itu, keruan Boh Cong-tiu semakin kebatkebit dan tidak berani sem-barangan bertindak.

Melihat orang celingukan dengan rasa was-was, Beng Goan-cau menjadi heran, tanyanya.

"Boh-heng, apa yang sedang kau cari?"

"Beng-heng, kau tidak mendengar suara apa-apa yang aneh?"

"Ah, tidak!"

Sahut Beng Goan-cau tercengang, mendadak tergerak hatinya, katanya pula.

"Bohheng, apa kau kira ada orang sembunyi di dalam hutan, mari kita lihat ke sana."

Terang sekali Boh Cong-tiu mendengar suara tawa itu, namun Beng Goan-cau bilang tidak, keruan rasa kejutnya menjadi-jadi.

Di dalam kalangan ilmu silat ada semacam ilmu yang dinamakan Joan-im-jip-bit (mengirim gelombang suara tinggi), kalau ilmu ini dilatih sampai puncak yang tertinggi, dalam jarak ratusan langkah dapat mengirim suara kepada sasarannya tanpa bisa didengar oleh orang ketiga meski orang ini berada di dekatnya.

Karena kagetnya itu, Boh Cong-tiu ,lantas berpikir.

"Pada jaman ini kecuali Kang Hay-thian dan Kim Tiok-liu, tokoh siapa lagi yang memiliki kepandaian setinggi ini? Kalau Beng Goan-cau memang sengaja pura-pura tidak mendengar, itu berarti dia sengaja hendak memancing aku masuk ke sana, supaya mereka bergabung untuk menghadapi aku."

Boh Cong-tiu menilai jiwa orang dengan watak seorang rendah, mana dia berani masuk ke dalam hutan?

Melihat Beng Goan-cau sedang berdiri di dekatnya, mendadak ia angkat tangannya terus mencengkeram ke pundak Beng Goan-cau.

Dia kira Beng Goan-cau sudah mengetahui kedok palsunya, oleh karena itu semula ia tidak berani bertindak secara sembrono, kini terpaksa harus turun tangan dulu lebih menguntungkan.

Keruan Beng Goan-cau amat kaget, bentaknya.

"Apa maumu?"

Untung Beng Goan-cau cukup berjaga-jaga, sebagai seorang ahli golok cepat, gerak-geriknya sudah tentu amat cepat, belum lagi cengkeraman tangan Boh Cong-tiu mengenai tulang pundaknya, tahu-tahu ia sudah menggunakan Joan-ciang, menepuk ke Ih-gi-hiat di bawah ketiak Boh Cong-tiu, inilah jurus serangan lihay yang mendesak lawan untuk menyelamatkan diri lebih dulu.

Tepat di saat itu pula, terasa se-gulung angin menyamber tiba, daun pohon beterbangan, ada beberapa lembar daun yang menyambar lewat menyerempet kulit muka Boh Cong-tiu, sehingga terasa pedas dan panas.

Inilah kepandaian silat tinggi yang dinamakan Memetik Daun Melukai Orang, Kembang Terbang Menyerang Musuh, beberapa hari yang lalu, di waktu ia bergebrak melawan Song Theng-siau, dirinya pernah digebah lari terbirit-birit karena timpukan daun terbang oleh tokoh kosen yang misterius itu.

Tak nyana, beberapa hari kemudian, adegan yang sama kini dialaminya pula.

Mana Boh Cong-tiu berani meneruskan niat jahatnya, begitu telapak tangan kedua pihak saling bentur.

"Blang", Boh Cong-tiu hanya tergeliat sedikit, cepat sekali ia sudah angkat langkah seribu. Kepandaian sejati Boh Cong-tiu memang lebih tinggi dari Beng Goan-cau, untunglah dia terkejut oleh serangan daun itu, apalagi kaget di saat ia melancarkan serangannya, maka tenaga dalamnya belum sempat dikerahkan, kalau tidak dengan benturan kedua telapak tangan ini, paling tidak Beng Goan-cau pasti terluka ringan. Kepandaian lihay macam Memetik Daun Kembang Terbang itu, hanya bisa dirasakan langsung oleh orang yang terkena serangan. Oleh karena itu meski Beng Goan-cau mengira ada orang secara diam-diam membantu dirinya, namun ia masih belum tahu dengan cara apa orang itu menggebah lari Boh Cong-tiu.

"Siapakah penolong itu?"

Beng Goan-cau mereka-reka dalam hati, setelah berpikir sebentar, mendadak ia mendapat suatu akal. Dengan langkah pincang dan sempoyongan Beng Goan-cau masuk ke dalam hutan, mulutnya menggumam.

"Celaka, lukaku kambuh lagi, obat tidak kubawa. Ai, terpaksa mencari tempat sepi untuk istirahat sebentar."

Pura-pura tidak hati-hati tersandung batu, tiba-tiba ia menjerit sambil tersungkur ke depan.

Sesuai dengan dugaan Beng Goan-cau, di dengarnya di dalam hutan orang bersuara kuatir, seorang gadis baju putih segera memburu keluar.

Kejut dan girang pula Beng Goan-cau, teriaknya.

"Bu-siang, kaukah ini!"

Ia sudah menduga orang sembunyi di dalam hutan, namun sedikit pun tidak mengira bila Lim Bu-siang adanya. Kata Lim Bu-siang.

"Jangan berdiri, bagaimana luka-lukamu? Biar kuperiksa dulu. Ai, kenapa kau tidak dengar..."

Beng Goan-cau sudah berdiri, katanya tertawa.

"Luka-lukaku sudah sembuh."

Sekilas Lim Bu-siang melengak, akhirnya ia sadar, katanya cemberut.

"Ternyata kau sedang menipu aku."

"Kalau tidak kutipu kau, masakah kau mau keluar? Bu-siang, kenapa kau menghindari aku?"

"Sungguh tidak nyana Boh Cong-tiu bisa berubah sedemikian jahat. Untung dia masih belum tahu bila Hun-lihiap ada sembunyi di Pak-bong-san."

Sengaja ia bicarakan soal lain tanpa hiraukan pertanyaan Beng Goan-cau.

Tapi dalam nada perkataannya ini lapat-lapat sudah memberi kisikan juga kepada Beng Goan-cau, bahwa di dalam beberapa hari ini jejaknya dengan Hun Ci-lo selalu berada di dalam pengawasannya, secara tidak langsung pula ia sudah menjawab kenapa ia selalu menyingkir dari hadapan Beng Goan-cau.

"Ah, kiranya kau selalu melindungi aku secara diam-diam, kukira kau adalah Utti-toaso malah."

"Memangnya kau sangka aku memiliki kepandaian senjata rahasia selihay itu?"

"Bu-siang, kenapa kau menjadi sungkan terhadapku? Menurut pendapatku, kepandaianmu senjata rahasia mungkin sudah lebih unggul dari Jian-jiu-koan-im Ki Seng-in."

"Jangan kau mengumpak diriku, untung di sini tiada orang ketiga, kalau tidak bikin orang geli dan copot giginya."

"Tanpa kau unjukkan diri, kau gebah Tong Thian-chong yang kenamaan sebagai ahli senjata rahasia, masih main sungkan-sungkan terhadapku?"

"Aku sendiri sedang heran!"

"Apanya heran? Memangnya bukan kau?"

"Betul, orang yang betul-betul mengalahkan Tong Thian-chong itu bukan aku!"

"Memangnya siapa dia?"

"Aku sendiri tidak melihatnya, aku hanya menimpukkan sebutir batu, kena disambuti oleh Tong Thian-chong. Yang memukul jatuh semua senjata rahasia Tong Thian-chong itu, adalah orang lain."

"Heran, kecuali Utti-toaso, kepandaian senjata rahasia siapakah yang begitu lihay? Bu-siang, siapa menurut dugaanmu?"

"Aku memang menyangka seseorang. Kau masih ingat kejadian di Thay-san dulu waktu aku terpancing masuk ke gua oleh seekor burung, akhirnya menemukan ajaran silat peninggalan cikal bakal Hu-siang-pay kami di atas dinding. Akhirnya orang memindah batu besar penyumbat gua, mengeluarkan aku, aku curiga bahwa burung itu adalah peliharaannya dan orang itu pula yang barusan menggebah lari Tong Thian-chong dan Boh Cong-tiu berdua."

"Betul, aku pun jadi teringat kejadian di Thay-san yang lalu, hampir saja aku menjadi korban sambitan dahan pohon Boh Cong-tiu, untung Kim Tay-hiap bantu aku meruntuhkan dua di antara sembilan sambitan senjata rahasianya, sehingga aku tidak terluka. Kini kalau dipikir-pikir orang yang berseru memuji waktu itu, mungkin pula adalah orang yang menolongku barusan. Mungkin orang ini punya hubungan erat dengan Hu-siang-pay kalian, malah jauh lebih dulu sudah mengetahui kedok palsu Boh Cong-tiu yang sebenarnya."

Lim Bu-siang manggut-mang-gut. katanya.

"Aku pun berpikir demikian."

"Sayang beberapa kali ada kesempatan bertemu, cianpwe kosen itu tidak mau unjukkan diri, mungkin memang kami belum berjodoh."

Waktu mereka keluar dari hutan, sinar matahari sudah cemerlang menerangi jagat raya, hati mereka pun terasa hangat dan mesra.

Sedikit kabut yang menyelimuti hati Beng Goan-cau pun seketika buyar sirna tersorot oleh cahaya matahari.

Mendadak Lim Bu-siang berkata.

"Musim semi sudah akan tiba, kabarnya musim semi di Siaukim-jwan indah, apa betul?"

"Ya, musim semi di sana jauh lebih indah, lebih liar dan alamiah dari Kanglam."

"Bagaimana kalau aku ikut ke Siau-kim-jwan?"

Beng Goan-cau melenggong, katanya.

"Kenapa mendadak kau punya pikiran ini?"

"Sudah lama aku berangan-angan, Tiok-Iiu toako dan Ang-ing cici sudah berangkat ke Siaukim-jwan, apa kau tahu?"

"O, jadi kau ingin menyusul ke Siau-kim-jwan untuk berkumpul dengan mereka suami-istri?"

Lim Bu-siang ada sahabat kental dengan istri Kim Tiok-liu yang bernama Su Ang-ing, hal ini sejak lama diketahui oleh Beng Goan-cau.

"Apa kau tidak suka menerima kedatanganku?"

Sesaat Beng Goan-cau menepekur, katanya.

"Pasukan gerilya di Siau-kim-jwan sedang membutuhkan bantuan banyak tenaga orang pandai, kau suka ke sana sungguh merupakan keuntungan besar bagi kita. Tapi belum lama kau menjabat ciangbun, kalau pergi terlalu lama, kukira tidak leluasa."

"Aku menjabat ciangbun ini toh gara-gara petunjukmu. Tujuannya supaya Boh Cong-tiu tidak berhasil melaksanakan maksud jahatnya. Sekarang tujuan sudah tercapai, kedudukan ciangbun ini, kujabat atau tidak kukira sama saja."

"Bu-siang, sebagai ciangbun dari suatu aliran, betapa penting dan besar artinya, jangan kau anggap kedudukanmu itu sebagai permainan belaka..."

"Aku toh belum selesai bicara, kau tidak usah kuatir, aku sudah serahkan kepada Ciok-suheng sebagai wakilku sementara. Ciok Heng suheng dan Siang-cing suso cerdik pandai dan pintar bekerja pula, semua urusan perguruan kita, kurasa jauh lebih baik mereka yang mengatur dan mengurusnya dari-padaku yang belum pengalaman ini."

Sebetulnya Beng Goan-cau memang mengharap dia suka berangkat bersama, mendengar penjelasan ini, hatinya jadi lega, katanya tertawa.

"Nah, kan begitu, hatiku lega."

Sebaliknya Lim Bu-siang seperti mempunyai pikiran apa-apa, sekilas ia melirik kepadanya, katanya tiba-tiba.

"Beng-toako, aku punya sebuah permintaan, maukah kau meluluskan?"

"Urusanmu adalah urusanku juga, apa yang kau ingin aku lakukan, kenapa aku tidak meluluskannya. Ayolah katakan!"

"Baik, kau sudah meluluskan, silakan kau duduk di sebelah atas, terimalah hormat siaumoay."

Beng Goan-cau melongo, katanya.

"Main-main apa kau, kenapa mendadak harus menyembah hormat kepadaku ?"

"Aku dilahirkan sebatangkara, tiada punya kakak, tidak punya adik, Beng-toako, kau sudi tidak menerima aku sebagai adikmu?"

Baru sekarang Beng Goan-cau paham, kiranya Lim Bu-siang berkehendak supaya mereka mengikat persaudaraan.

Seketika terketuk sanubarinya, ia paham dan haru akan kegetiran hati Lim Bu-siang.

Mendadak terbayang olehnya, kata-kata Hun Ci-lo sebelum mereka berpisah.

Sambil membopong bayinya yang baru lahir, Hun Ci-lo berkata kepadanya.

"Goan-cau tiada perjamuan yang tidak bubar dalam kehidupan kita ini, aku dapat bertemu dan berkumpul beberapa hari dengan kau, hatiku sudah amat puas. Kelak boleh kau minta putra kita dari Tiamjong-siang-sat, berarti pula aku selalu berada di sampingmu. Anak ini, tidak bisa aku memberi beban kepadamu. Akan kuasuh dan kudidik dia menjadi manusia yang berguna, terang hubungan kita tidak mungkin terangkap kembali."

"Kalau kau tidak menikah pula, selama hidupku ini aku pun tidak akan kawin."

"Tidak, jangan begitu. Soalnya aku terdesak oleh keadaan yang membatasi gerak-gerikku, maka tidak mungkin untuk rujuk kembali. Sebaliknya aku tidak mengharap kau hidup sebatangkara sampai hari tua, kau harus punya seorang istri yang sepaham dan sehaluan untuk teman hidupmu."

"Istri sepaham dan sehaluan, kecuali kau siapa pula yang harus kutemukan?"

Waktu mengutarakan kata-katanya ini, bukan tidak terpikir olehnya akan Lim Bu-siang, namun dalam pandangannya, Lim Bu-siang dia anggap sebagai adik cilik yang sepaham dan sehaluan.

Betul juga Hun Ci-lo lantas menyambung.

"Waktu di Thay-san kulihat kau berkumpul dengan Lim Bu-siang, bukankah dia itu nona yang sepaham dan sehaluan dengan kau? Jangan kau mendebatku dulu, aku tahu hatimu hanya ada aku, maka kau begitu saja ke-sampingkan cirfta murni nona Lim itu. Bicara dari hati ke hati, nona itu serba bisa, otak cerdik, pandai bekerja berparas ayu pula, kepandaian silatnya malah lebih unggul dari aku, aku betul-betul amat tertarik dan amat menyukainya. Jikalau dia menjadi istrimu, aku boleh merasa lega hati."

Kini teringat akan kata-kata Hun Ci-lo itu, dan yang berdiri di hadapannya justru Lim Bu-siang adanya, sementara Lim Bu-siang sedang minta dirinya mengangkat saudara.

"Ai, kedua orang ini sama mempunyai sanubari yang lapang dan terbuka, masing-masing berpikir demi kepentingan orang lain. Tidak boleh aku mengecewakan harapan Ci-lo, namun bagaimana pula aku harus mengecewakan cinta Lim Bu-siang?"

Sepasang biji mata Lim Bu-siang yang bening bundar itu sedang menatap dirinya, katanya pelan-pelan.

"Kau tidak sudi punya adik seperti aku ini?"

Beng Goan-cau bergelak tertawa, ujarnya.

"Aku sendiri adalah anak tunggal, sungguh sulit mendapat adik seperti kau, baiklah aku tidak sungkan lagi memanggilmu 'adik'."

Di tempat itu juga mereka berlutut dan menyembah kepada langit, angkat saudara sebagai engkoh dan adik.

Meski hati membawa luka-luka yang belum sembuh, kenangan lama sulit dilupakan, tali asmara masih melibat dirinya dan sulit membebaskan diri.

Tapi Beng Goan-cau adalah seorang laki-laki yang berjiwa ksatria, seorang patriot sejati, setelah bersaudara dengan Lim Bu-siang, berkumpul beberapa hari, hubungan mereka semakin intim dan wajar.

Tanpa terasa mereka seperjalanan sudah beberapa hari lamanya, musim dingin berlalu, musim semi pun menjelang, kalau salju mulai mencair di daratan luas daerah utara, adalah rumput dan pepohonan mulai bersemi dan tumbuh di Kanglam.

Hari itu mereka sudah menyeberangi Tiangkang.

Beng Goan-cau berjalan menunduk sambil melayangkan pikiran pada kejadian masa lampau, pikirnya.

"Sayang aku tiada tempo kembali ke Soh-ciu, kebun bunga itu entah masih belukar seperti tahun yang lalu?"

Agaknya Lim Bu-siang dapat merasakan pikirannya, tanyanya tertawa.

"Toako, apa yang sedang kau pikirkan?"

"Tidak apa-apa. Betapa indah musim semi di Kanglam, sayang kita tidak bisa tinggal menetap di sini."

"Bukankah Leng Thiat-jiau mengijinkan kau pulang sedikit terlambat?"

"Ya, kalau urusanku belum kubereskan, boleh pulang rada terlambat, tapi aku tidak bisa menunda-nunda urusan sebagai alasan belaka."

"Bukan aku menganjurkan kau mencari alasan untuk menemani aku tamasya, aku teringat sebuah urusan yang betul-betul serius."

"Urusan apa?"

"Di Yang-ciu ada seorang lo-enghiong yang bernama julukan Kim-to Ong Thian-thong, apa kau tahu?"

"Apakah cong-piauthau Tin-wan Piaukiok dari cabang Yang-ciu? Hah, kau pun kenal beliau?"

"Tanggal tujuh belas bulan pertama tahun ini adalah hari ulang tahunnya yang ke 60, beliau adalah sahabat ayahku, ada persahabatan juga dengan para suheng perguruan kami. Hari ini tanggal tiga belas, kalau sekarang putar ke Yangciu kebetulan tiba di sana tepat pada hari ulang tahunnya. Di sana aku ingin bertemu dengan Ciok-suheng, akan kuberitahu padanya persoalan Boh Cong-tiu."

"Benar, ini pun urusan yang cukup penting. Sekarang kau belum sempat membersihkan anasiranasir perguruan, adalah pantas kau memberitahu anak murid perguruan, supaya mereka tidak tertipu dan hati-hati akan muslihat mereka."

"Jadi kau suka menemani aku ke sana?"

"Ong-lopiauthau itu pun ada hubungan dengan Siau dan Leng dua toako, meski aku tidak ditugaskan untuk berhubungan dengan beliau, tapi toh aku sudah berada di sini, kebetulan kebentur hari ulang tahunnya pula, biarlah aku mewakili Siau dan Leng dua Toako, mencari hubungan padanya kan tiada jeleknya."

Waktu Beng Goan-cau hendak meninggalkan Siau-kim-jwan, Leng Thiat-jiau pernah berpesan kepadanya, supaya ia mencari hubungan seluas mungkin dengan para enghiong dari berbagai golongan dan aliran, supaya lebih leluasa bergerak.

Pengalaman dan pergaulan Ong Thian-thong amat luas, teman-temannya terdiri dari aliran putih dan golongan hitam, beritanya cepat dan gesit.

Tapi tujuan Beng Goan-cau untuk menyampaikan selamat hari ulang tahun ke Yangciu sebetulnya masih ada sebab musabab lain.

Seperti diketahui, beberapa bulan yang lalu, waktu Miao Tiang-hong berpisah dengannya di rumah kediaman keluarga Hun dulu, pernah mengatakan hendak pergi ke Yangciu untuk menyampaikan selamat kepada Ong Thian-thong, dengan alasan ini Miao Tiang-hong beri kesempatan supaya seorang diri ia bisa bertemu dengan Hun Ci-lo.

Kini setelah bertemu dan berpisah dengan Hun Ci-lo, pada saat ia menuju ke Kanglam, mau tidak mau ia teringat kepada Miao Tiang-hong.

"Aku mengikat saudara dengan Bu-siang, demikian pula Miao Toako mengikat saudara juga dengan Hun Ci-lo, pastilah dia pun ingin mengetahui beritanya?"

Lalu terpikir pula oleh Beng Goan-cau.

"Aku sudah pasrah jiwa ragaku untuk negara, hidupku selanjutnya pastilah tidak akan tenteram dan sejahtera. Ci-lo harus merawat dan mengasuh anak kecilnya, tidak mungkin ikut bersamaku berjuang dalam kancah peperangan, malah Miao toako sebagai kelana bebas, jauh lebih baik dan cocok untuk melindungi dia. Em, lepas dari persoalan cinta asmara muda mudi, sebagai seorang sahabat kental, aku wajib pula menyampaikan kabar baik Ci-lo kepadanya."

"Toako, apa yang sedang kau pikirkan? Kenapa diam saja?"

Lim Bu-siang bertanya. Beng Coan-cau angkat kepala memandang ke langit yang terang benderang oleh cahaya matahari, sahutnya.

"Tidak apa-apa, marilah lekas melanjutkan perjalanan!"

Kalau Beng Goan-cau sedang kangen kepada Miao Tiang-hong.

Miao Tiang-hong pun sedang terkenang kepada Beng Goan-cau.

Hari itu Miao Tiang-hong sudah sampai di Yangciu, rumah kediaman Ong Thian-thong terletak di luar kota, dua hari lagi baru tepat hari ulang tahunnya, karena senggang dan terlalu iseng, Miao Tiang-hong berpikir.

"Tempat tamasya di Yang-ciu yang terkenal dengan pemandangan alamnya yang indah cukup banyak, mumpung tiada kerjaan, biarlah aku keluyuran saja mencari angin."

Waktu masih terlalu pagi, maka Miao Tiang-hong memasuki sebuah rumah makan yang terkenal di Yangciu, Bong-kang-lau.

Miao Tiang-hong mencari tempat duduk yang dekat jendela, dari tempat ketinggian di dekat jendela ini ia bisa melihat pemandangan alam di sungai Tiangkang, pikirnya.

"Sayang Goan-cau tidak di sini, entah dia sudah bertemu dengan Hun Ci-lo tidak?"

Setelah menenggak beberapa cawan arak, Miao Tiang-hong berpaling ke dinding sekitarnya, dilihatnya di kedua dinding belakang sana tergantung dua lembar papan panjang yang terukirkan dua bait syair ciptaan pujangga dinasti Song.

Tengah Miao Tiang-hong merenungkan arti dari kedua bait syair ini, didengarnya pula dua orang tamu laki-laki di meja sebelah sana juga sedang memperbincangkan kedua bait syair itu.

Salah seorang itu manggut-manggut dan berkata.

"Han-heng, suatu ketika boleh kau pergi ke Hian-bu-ouw di Lamkhia, di sana .pun ada dua bait syair lain yang merupakan pelengkap dari kedua bait di sini."

Kata orang she Han sambil tertawa.

"Lau-heng, kiranya kau pun amat jelas mengenai cerita patriot ini, bagaimanakah bunyi syair di Hian-bu-ouw itu?"

Orang she Lau itu lantas bersenandung, katanya menambahkan.

"Syair ciptaan Pek-ciok Lojin ini ditulis setelah peperangan negeri Kim dengan Song berakhir. Tiga belas tahun pada dinasti Sau-hin, Wanyen Liang dari negeri Kim memimpin pasukannya menyerang Lamsiong dan kena dikalahkan habis-habisan di Jay-ciok-ki oleh Loh Ing-bun. Yang-ciu secara langsung pun ikut tertimpa oleh akibat peperangan ini. Dari syair-syair tulisan Pek-ciok Lojin itu, dapatlah kita membayangkan betapa hebat peperangan waktu itu. Maka kalau kita harus membaca syair ini, tidak bisa tidak harus mengetahui pula awal cerita sebenarnya. Tapi aku berpikir..."

"Apa yang Lau-heng pikirkan?"

"Tujuh ratus tahun yang lalu, negeri Kim menjajah tanah air kita, Yangciu mengalami bencana yang amat besar, selama enam belas tahun belum pulih membangun kembali kotanya. Tapi peperangan waktu itu bila dibanding dengan peristiwa sepuluh hari di Yangciu dan tragedi di Kating, kukira masih belum apa-apa."

Orang she Han itu terkejut, katanya berbisik.

"Lau-heng, di tempat terbuka ini jangan kau sangka di rumah sendiri, di sini cuma tempat mengobrol, kenapa kau bicarakan urusan negara? Bukankah peristiwa itu sudah terjadi sejak seratus tahun yang lalu?"

Orang she Lau itu tertawa dingin, katanya.

"Arak menjadi dingin darahku justru belum dingin, kau kan tahu tabiatku, apa yang bergejolak dalam sanubariku, berani pula kulimpahkan dalam perbuatan. Meski bencana datang dari mulut, aku pun tidak peduli lagi. He, he!"

Orang she Han itu menjadi kebingungan saking takut, tak enak pula ia mencegah orang tutup mulut, terpaksa ia angkat cawan dan berkata berulang-ulang.

"Lau-heng, mari minum arak, minum arak!"

Di sebelah sana, diam-diam Miao Tiang-hong berpikir.

"Orang she Han ini bernyali kecil seperti tikus. Adalah orang she Lau itu patut dipuji dan pantas diajak bersahabat."

Baru saja ia hendak berdiri dan menghampiri ke sana untuk mengajak bicara, tiba-tiba didengarnya langkah kaki ramai yang berat di atas tangga, ternyata datang pula empat orang tamu.

Waktu Miao Tiang-hong memandang ke sana, terlihat tiga laki-laki di sebelah depan bertubuh tinggi kekar, laki-laki yang terakhir justru bertubuh kecil kurus bermuka kuning.

Begitu keempat orang ini memilih tempat, lantas gebrak meja dan berkaok-kaok.

Tersipu-sipu pelayan berlari datang, katanya.

"Tuan-tuan ingin makan apa?"

"Bawa dulu seguci arak yang paling baik,"

Kata laki-laki yang duduk di sebelah atas. Pelayan itu terperanjat, katanya.

"Satu guci Sau-hin-ciu milik kita paling sedikit ada dua puluh kati beratnya lho!"

"Berapa berat guci yang besar?"

"Empat puluh kati!"

Orang itu bergelak tertawa, ujarnya "Guci kecil tidak mencukupi, bawakan guci besar saja. Bikinkan juga lima ekor ayam panggang, sepuluh kati daging rebus!"

Dengan meleletkan lidah lekas si pelayan mengundurkan diri menyiapkan apa yang dipesan.

"Entah orang-orang dari golongan mana keempat orang ini?"

Demikian pikir Miao Tiang-hong.

Kebetulan laki-laki itu pun sedang mengawasi dirinya, tapi Miao Tiang-hong menghirup araknya tanpa peduli orang lain.

Orang she Han yang duduk di meja sebelah itu sedang menarik lengan orang she Lau itu secara diam-diam, maksudnya supaya orang tidak bicara ngelantur lagi.

Kini laki-laki yang agaknya pimpinan di antara mereka berempat sedang memandang ke arah dirinya pula, mendadak ia berbangkit dan berseru lantang.

"Bukankah kau Han Bing, Han-toako? Apakah masih ingat kepada siaute?"

Tahu tidak bisa menyembunyikan diri, terpaksa Han Bing berdiri, pura-pura baru ingat lagi, katanya.

"Ah, kiranya Ngo-toako, sungguh amat kebetulan!"

Laki-laki yang disebut Ngo-toako itu bergelak tertawa, ujarnya.

"Tanpa terasa sudah tiga tahun sejak berpisah waktu minum arak di Gi-ciau-lau dulu. Tak nyana bertemu pula di sini. Mari, mari, biar kuperkenalkan beberapa teman. Dia ini Sebun Hou toako, dia adalah Kim Toa-king, dan dia adalah Gui Khing."

Han Bing merangkap tangan sambil menjura satu persatu kepada tiga orang ini, katanya berbasa basi.

"Para toako, selamat bertemu!"

Sementara orang she Lau itu masih tetap duduk di tempatnya sambil minum arak.

Temannya sedang repot dikenalkan oleh orang-orang itu sebaliknya ia tidak ambil peduli seperti tidak melihat dan tidak mendengar.

Ngo-toako itu unjuk rasa kurang senang, tanyanya.

"Han-toako, temanmu ini adalah...!"

Terpaksa Han-Bing unjuk tawa dibuat-buat, katanya kepada orang she Lau.

"Lau-toako mari kukenalkan pada beberapa teman."

Terpaksa orang she Lau itu berdiri, katanya tawar.

"Aku ini seorang pelajar rudin yang tidak tahu pergaulan, harap tuan-tuan tidak salah sangka! Aku yang rendah she Lau, bernama tunggal 'Khong'."

Ngo-toako segera juga memperkenalkan diri.

"Aku she Ngo, bernama Hong. Aku orang kasar tidak suka mengikat persahabatan. Lau-toako, kau tidak suka pergaulan watakmu memang cocok dengan aku. Kalau mau berkenalan harus mengikat sahabat yang betul-betul sejati!"

"Terima kasih akan penghargaan kalian kepadaku, sebaliknya aku tidak berani menjajarkan diri,"

Ujar orang she Lau tawar.

"Ah, Lau-heng terlalu sungkan, berkenalan lebih baik dari bersua di jalan, mari kusuguh Lauheng satu cawan arak."

Berkata Lau Khong dingin.

"Minum arak dengan cawan kurang mantap, kalau mau minum ya seguci saja. Hai pelayan, bawakan juga seguci arak seberat empat puluh kati!"

Laki-laki kurus kecil bermuka kuning itu bernama Gui Khing, katanya tertawa.

"Ngo-toako biasanya kau agulkan diri tiada tandingan dalam minum arak, hari ini agaknya kau kebentur lawan tangguh!"

Seguci arak yang diminta Ngo Hong itu sudah dihantar tiba, katanya terbahak-bahak.

"Bagus, bagus sekali! Sungguh menggirangkan Lau-heng suka mengiringi aku minum sepuasnya. Baik, Siaute pasti iringi setiap kehendakmu. Lo-gui, takaran minummu juga tidak jelek, marilah kita minum bersama Lau-heng berapa banyak yang kau minum, berapa banyak pula akan kami minum, bagaimana?"

Ternyata Gui Khing membekal lwekang yang amat ampuh, meski takaran minumnya tidak lebih unggul dari Ngo Hong, tapi seribu cawan pun ia tidak akan bisa mabuk, dengan menarik Gui Khing dalam adu minum ini, karena ia kuatir dirinya bukan tandingan Lau Khong, tapi Gui Khing pasti bisa mengalahkan orang.

"Baik sekali,"

Ujar Lau Khong.

"Tapi kalian berdua adu minum dengan aku, terpaksa aku harus cari teman juga. Kita masing-masing boleh minum seguci arak sendiri-sendiri."

"Minum araknya sendiri"

Itu berarti kau minum arak bersama temanmu aku minum bersama temanku, tidak sudi aku ikat persahabatan dengan kau.

Berkerut alis Ngo Hong, tapi ia pura-pura tidak tahu maksud kata-kata orang, katanya sambil tertawa lebar.

"Bagus, cara ini kukira akan lebih ramai Lau-heng menarik teman, ternyata takaran minum Han-heng juga amat baik. Kalau begitu baiklah kita dua lawan dua."

Lekas Han Bing menggoyangkan tangan, katanya.

"Kalian boleh adu minum arak, takaran minumku sebetulnya kurang baik."

Sekali jinjing Gui Khing angkat guci arak besar itu, katanya.

"Samasama teman sendiri, tidak perlu sungkan. Seguci arak ini, silakan kalian minum dulu!"

Sembari bicara tiba-tiba ia angkat tangan dan mendorong ke atas, guci arak itu kontan mencelat terbang ke arah Lau Khong.

Lau Khong ulurkan sepasang sumpit, begitu guci arak tiba ia mengetuk ringan di pinggir guci, lalu diulurkan ke belakang, guci arak besar itu mengikuti gerakan sepasang sumpitnya berputarputar, dan terjatuh di atas meja dengan ringan dan tenang, Tutup guci sudah terbuka, namun setetes pun tidak kelihatan arak muncrat ke luar.

Inilah kepandaian silat tingkat tinggi yang dinamakan Su-liang-poh-jian-kin, Ngo Hong dan lainlain seketika mengkeret kaget melihat pertunjukan yang hebat ini.

Bukan saja Lau Khong pamer kepandaian silat, dia tidak menyambut dengan tangan, itu berarti tidak sudi bersahabat dengan mereka.

Adu minum ya adu minum, untuk berkenalan sih nanti dulu.

Miao Tiang-ho.ng jadi berpikir.

"Orang-orang ini mungkin dari golongan tidak beres, maka Lau Khong tidak memberi muka pada mereka. Orang she Han itu sebaliknya rada mengumpak kepada keempat orang itu, Lau Khong menarik dia sebagai teman mana bisa menang."

Tengah ia berpikir, guci arak yang diminta Lau Khong pun. sudah diantar tiba. Lau Khong segera mengangkatnya ke atas sembari berkata.

"Diberi tidak membalas tentunya kurang hormat, seguci arak biar kuberikan kepada kalian pula."

Tetapi cara melempar guci jauh berlainan, ia lempar dulu guci arak itu ke atas, lalu menepuknya sekali, sehingga guci arak itu terpental terbang ke arah Ngo Hong.

Di antara keempat orang ini, sebetulnya latihan lwekang Gui Khing paling tinggi, tapi sebagai orang yang tertua, sudah tentu Ngo Hong malu bila diwakili Gui Khing.

Terpaksa ia keraskan kepala, kerahkan setaker tenaga pada kedua tangannya menyambuti guci arak itu.

"Krak, peletak!"

Beruntun empat kali, Ngo Hong sudah menyambut guci arak itu dan meletakkannya di atas meja, tapi empat kaki kursi yang dia duduki sudah patah semua.

Kiranya Lau Khong mengirim guci arak itu dengan kekuatan pukulannya, waktu Ngo Hong menyambuti guci itu, bila tenaga pukulannya ia papak ke depan, guci itu pasti pecah, maka begitu tenaga membentur guci arak itu lantas ia tarik mundur, dua tenaga raksasa tergabung, celaka adalah kursi yang ia duduki itu seketika patah keempat kakinya.

Untung dia sendiri sudah siaga, sebelum kaki kursinya patah, dia sudah pasang kuda-kuda sehingga tidak sampai terjengkang jatuh.

Tapi toh sudah kalah sejurus.

Merah padam muka Ngo Hong, katanya memuji.

"Hebat benar kepandaian Lau-heng!"

"Kekuatan sakti Ngo-heng lebih mengejutkan."

Jengek Lau Khong dingin.

"Kursi besar yang terbuat dari kayu merah yang kokoh ini ternyata tidak kuat, siaute lebih-lebih kagum!"

Kedengarannya memuji, bahwasanya dia sedang menyindir dengan pedas. Memang Ngo Hong kalah satu jurus, terpaksa ia telan kekalahan ini dengan penasaran. Gui Khing berkata seperti tidak terjadi apa-apa.

"Sudah kami katakan tadi hanya adu minum bukan adu ilmu silat. Mari, mari, kita mulai minum saja!"

Hati kedua pihak sama paham, adu minum arak bahwasanya juga adu kepandaian sejati. Katakata Gui Khing ini tidak lebih hanya untuk menutupi rasa malu Ngo Hong saja. Lekas Han Bing berkata.

"Lau-toako aku tidak bisa minum banyak, kau kan tahu..."

Belum selesai ia bicara, Lau Khong sudah berdiri, langsung menghampiri ke depan Miao Tianghong, tanyanya.

"Siapa she dan nama besar saudara?"

Miao Tiang-hong melengak, sahutnya.

"Aku yang rendah she Miao. Lau-heng, ada petunjuk apa?"

Berkata Lau Khong pelan-pelan.

"Minum seorang diri mengurangi selera, Miao-heng, aku ingin mengikat persahabatan dengan kau, entah Miao-heng sudi tidak mengiringi aku minum arak?"

Kelakuan Lau Khong ini sudah tentu amat di luar dugaan Miao Tiang-hong.

Tapi wataknya memang terbuka dan lapang dada, memang sebelumnya ia ingin berkenalan dengan Lau Khong, maka ia pun tidak menolak, lekas ia ikut duduk ke meja Lau Khong, katanya tertawa lebar.

"Sifat gagah Lau-heng sungguh menundukkan hati orang. Pinjam arak ikat persahabatan merupakan kejadian yang menggembirakan dalam kehidupan ini. Ikatan ini sudah pasti. Ambilkan cawan besar, biar kusuguh dulu kau secawan arak."

Miao Tiang-hong seret guci arak itu, guci arak tinggi tiga kaki dari permukaan meja, tapi waktu Miao Tiang-hong menuang arak ke dalam dua cawan besar sampai penuh, tiada setetes pun arak yang muncrat keluar, begitu dua jarinya menggantol lalu menyeret cawan itu ke pinggir meja cawan yang penuh arak itu berputar-putar mendekati bibirnya, sekali sedot ia hirup habis sampai kering seluruh arak, sedikit pun tidak tercecer ke luar.

Lau Khong berpikir.

"Dugaanku ternyata tidak meleset, lwekang orang ini ternyata lebih tinggi dari aku."

Segera ia berseru memuji, meniru perbuatan orang ia pun hirup habis secawan besar arak itu.

Perlu diketahui dengan ketinggian guci tiga kaki itu, bila menuang arak ke bawah tentu ada daya mencurah yang besar, mengisi secawan arak penuh sulit bila tidak sampai menciprat keluar.

Untuk itu harus dikendalikan oleh kekuatan yang ampuh.

Dalam hal ini Gui Khing percaya, sedapat mungkin ia dapat meniru perbuatan orang, tapi latihan Ngo Hong adalah kepandaian Lwekeh, kekuatan kasarnya memang sudah cukup tinggi, tapi untuk menggunakan tenaga lunak yang hebat mengendalikan kekuatan luar itu terang ia tidak mampu.

"Toako,"

Kata Gui Khing dingin.

"Minum ya minum saja, buat apa harus main sulapan segala."

"Betul biar lihat siapa jatuh mabuk lebih dulu, Lau-heng, kini giliran kalian minum."

Waktu berkata-kata, bersama Gui Khing beruntun mereka sudah menghabiskan dua"'cawan. Lau Khong tertawa, ujarnya.

"Kita minum dengan cara bagaimana terserah masing-masing pihak. Tapi setelah menenggak habis seguci arak ini, semua sama tidak mabuk lantas bagaimana?"

Ngo Hong terkejut, tapi ia licik dan licin, tidak mengejar menang ia bertahan untuk kalah, sahutnya.

"Kalau sama-sama tidak mabuk terpaksa lihat saja pihak mana yang menghabiskan dulu seguci arak masing-masing."

Begitulah kedua pihak sama bergiliran, satu cawan demi satu cawan dalam sekejap saja, empat orang masing-masing sudah menghabiskan puluhan cawan, setiap cawan berisi setengah kati arak, jadi kira-kira sudah sepuluh kati arak yang masuk ke dalam perut mereka.

Diam-diam Miao Tiang-hong menaruh perhatian, dilihatnya di atas kepala Gui Khing menguap kabut putih yang semakin tebal, terang orang menggunakan lwekang merembeskan arak menjadi uap dan keringat keluar dari badannya, pikirnya.

"Lwekang orang ini agaknya tidak lemah, dengan cara minumnya itu mungkin seguci arak itu tidak akan mempersulit dirinya."

Waktu ia melihat Ngo Hong, orang mempunyai caranya sendiri, sembari minum tangannya tidak henti-hentinya memainkan dua butir bola besinya, kedua tangannya menggosok bola besi itu di antara kedua telapak tangannya.

Ternyata latihannya adalah kepandaian lwekeh, harus banyak mengeluarkan tenaga baru bisa minum semakin banyak.

Menurut kebiasaannya, setelah puas minum arak lalu berlatih silat, begitulah bergantian sampai kuat minum dua puluh kati.

Kini karena mengadu minum arak sudah tentu tidak bisa bersilat, terpaksa ia mainkan kedua bola besinya untuk menguras tenaga.

Terdengarlah bola besi itu berkerotakan dan memercikkan kembang api, kekuatan gosokan kedua telapak tangannya itu, ternyata cukup hebat dan mengejutkan juga.

Masing-masing pihak saling memperhatikan permainan pihak lawan, tapi Miao Tiang-hong melihat sampai di mana tingkat kepandaian mereka, sebaliknya mereka tidak kuasa mengukur tingkat kepandaian Miao Tiang-hong dan Lau Khong.

Dilihatnya sikap mereka tetap wajar meski sudah menghabiskan puluhan cawan, bukan saja di atas kepala tidak mengepulkan uap, tangan masing-masing juga tidak mempermainkan sesuatu benda.

Keruan Gui Khing dan Ngo Hong sama terkejut, pikirnya.

"Supaya tidak kalah, terpaksa harus lekas-lekas tenggak habis seguci arak ini."

Dipikir sih mudah, tapi pelaksanaannya yang sulit, apalagi minum terlalu gugup bisa melukai badan.

Meski Gui Khing memiliki latihan lwekang yang ampuh toh memerlukan waktu untuk memanaskan arak yang berada di dalam perut menguap melalui keringat dan kabut putih itu, baru bisa minum pula.

Mendadak Miao Tiang-hong berkata.

"Minum secawan lagi secawan kukira kurang menyenangkan, Lau-heng, tinggal setengah guci arak ini, marilah kita bagi minum bersama. Kita minum sekaligus bikin habis."

"Baik. Miao-heng, biar aku suguh kau dulu."

Guci besar itu ia angkat, telapak tangannya terus menepuk di pantat guci, kontan sejalur arak muncrat keluar dari mulut guci, kebetulan Miao Tianghong duduk di depannya terus buka mulut menyedot, seperti ikan paus menghirup hawa, arak yang menyemprot itu tertehggak habis ke dalam perutnya.

Kapan orang-orang itu pernah melihat orang minum dengan cara aneh seperti itu, seketika mereka menonton dengan melongo.

Ngo Hong mendadak tersentak sadar, serunya membanting kaki.

"Site, lekas minum."

Gui Khing angkat guci arak itu terus dituang ke dalam mulut sendiri. Miao Tiang-hong tertawa, ujarnya.

"Aku sudah minum setengah. Ayolah jangan kau lupa dirimu sendiri."

"Betul,"

Sahut Lau Khong.

"Kita sedang mengadu minum arak sama orang, masing-masing harus sebagian baru dikata adil."

Lalu ia angsurkan guci arak itu kepada Miao Tiang-hong.

Guci berputar balik mulutnya tertuju ke muka Lau Khong, meniru perbuatan orang, Miao Tiang-hong menepuk sekali di pantat guci, rantai arak yang menyemprot panjang itu tersedot masuk juga seluruhnya ke mulut Lau Khong.

Miao Tiang-hong lantas menjungkirkan guci arak itu, setetes pun tidak ketinggalan lagi.

Miao Tiang-hong berseru tertawa.

"Maaf ya, arak kami sudah habis."

Meski Gui Khing sedang repot menuang arak dalam guci itu ke dalam mulutnya, namun sisa arak dalam guci itu masih cukup banyak.

Dan lagi adu minum tadi sudah dijanjikan diminum bersama dua orang, seumpama dia seorang bisa menghabiskan sisa arak itu, toh sudah boleh dianggap kalah.

Sambil menjinjing guci arak itu, sikap Gui Khing amat kikuk dan serba runyam Ngo Hong menjadi lemas dan patah semangat, katanya.

"Site, sudahlah mengaku kalah saja!"

Mendadak seseorang bergelak tertawa sambil mendatangi.

"Hai, Han-heng, Lo-ngo, kiranya kalian semua berada di sini, jadi sudah bertemu muka. Eh, Gui-losu, sedang apa sih kau?"

Orang yang masuk ini adalah laki-laki pertengahan umur yang berperawakan tinggi, semula ia menghadap ke arah Han Bing, waktu matanya melirik, dilihatnya Gui Khing sedang memeluk sebuah guci besar, keruan ia heran dan mendelu.

Tersipu-sipu Ngo Hong memberi kedipan mata kepada orang itu, lalu katanya menyengir getir.

"Cong-toako, kita sedang adu minum dengan kedua kawan itu, kepandaian kami memang tidak becus, terpaksa terima kalah saja."

Cong-toako yang baru datang ini lantas tujukan matanya kepada Miao dan Lau berdua ujarnya.

"Kedua kawan ini adalah..."

"Ini Lau-heng dan itu Miao-heng, mereka adalah sahabat Han-toako,"

Ngo Hong memperkenalkan. Miao Tiang-hong segera menjengek dingin.

"Maaf aku orang rendah tidak berani bersahabat."

Waktu melihat orang she Cong ini masuk, sikap Han Bing kelihatan gugup dan takut-takut, selama ini ia tutup mulut, sekarang terpaksa ia berdiri dan buka suara sambil tertawa dibuat-buat.

"Miao-heng ini baru hari ini siaute mengenalnya."

Pengalaman orang she Cong ini amat luas dan mendalam, diam-diam ia perhatikan suasana sebentar, dalam hati lantas paham, pikirnya.

"Kedua orang ini jelas tidak sehaluan dengan Han Bing."

Segera ia tertawa tergelak-gelak, ujarnya.

"Selamat bertemu, selamat bertemu. Dengan arak menghadapi sahabat, sungguh suatu hal yang amat menyenangkan. Biarlah aku pun ikut meramaikan suasana, baik kusuguh arak juga kepada kalian berdua!"

Mendadak ia renggut guci arak di tangan Gui Khing, sekali telapak tangan kiri memukul, cepat sekali ia bikin guci arak itu mental naik ke tengah udara.

Maka terdengarlah suara "Brak", seperti terpapas oleh kampak tajam saja mendadak guci arak itu terbelah menjadi dua di tengah udara, sisa arak di dalamnya seketika muncrat berjatuhan.

Sementara gesit sekali orang she Cong ini sudah menyambar dua cawan besar, kedua cawan itu ia angsurkan ke depan dan diobat-abitkan cepat sekali, tahu-tahu sudah penuh terisi arak, sekali ayun pula dua cawan besar yang berisi arak itu langsung terbang ke arah Lau Khong dan Miao Tiang-hong.

Sambil melemparkan cawan, orang itu berkata.

"Aku ini orang berangasan, tidak sabar menuang arak pelan-pelan, harap kalian tidak menertawakan kekasaranku." . Waktu cawan itu menyambar tiba, Lau Khong menegakkan sebatang sumpit terus menyanggah ke atas, cawan besar itu lantas berputar-putar di atas sumpitnya, begitu pentang mulut ia hirup habis secawan arak itu. Sebaliknya Miao Tiang-hong punya caranya sendiri, tampak ia meluruskan telapak tangannya, seakan-akan telapak tangannya itu punya daya sedot yang besar seperti besi sembrani, waktu cawan besar itu terbang datang, langsung jatuh ke atas telapak tangannya. Tapi dia tidak segera meminumnya. Guci yang terbelah di tengah udara oleh pukulan orang she Cong itu kebetulan sedang melayang jatuh, terbagi dua sisi yang sama besarnya tanpa menjadi pecah berantakan. Menggunakan pedang pusaka pun belum tentu dapat membelah guci itu sedemikian rapinya tanpa pecah sedikit pun. Sementara sisa arak yang lain masih berjatuhan. Berkata Miao Tiang-hong.

"Diberi tidak membalas kurang hormat, nih aku pun suguh secawan kepada kau!"

"Betul!"

Lau Khong ikut menimbrung.

"jangan sia-siakan arak sebagus ini."

Sembari bicara, kedua orang sama menepukkan sebuah pukulan, kedua tenaga pukulan bertemu di tengah jalan terus menerjang ke depan.

"Blang"

Guci yang terbelah menjadi dua itu seketika terpukul hancur beterbangan ke mana-mana.

Lekas orang she Cong itu mengebutkan lengan bajunya, menjaring seluruh pecahan guci itu ke dalam lengan bajunya.

Jengek-nya dingin.

"Kawan, memangnya kalian ingin adu senjata rahasia dengan aku?"

Bersamaan dengan tepukan tangannya itu, Miao Tiang-hong lemparkan juga sebuah cawan, cawan ini tepat dan persis jatuh di tengah-tengah meja yang diduduki Gui Khing berempat.

Sisa arak yang berjatuhan dari tengah udara itu, kebetulan sama meluncur ke dalam cawan.

Ternyata dengan kekuatan tenaga pukulan mereka berdua tadi, sekaligus mereka kekang sisa arak yang betebaran di tengah udara itu menjadi jalur arak, dan kebetulan terdorong turun jatuh masuk ke dalam cawan, persis secawan penuh.

Baru sekarang Miao Tiang-hong tertawa dan berkata.

"Kawan, kaulah yang salah paham, tidak lebih kami hanya balas menyuguh kau secawan arak. Mari, mari, minum, minum!"

Mencelos hati orang she Cong itu, batinnya.

"Lwekang orang she Lau ini mungkin tidak unggul dari aku. Lwekang orang she Miao ini agaknya malah lebih tinggi dari aku. O, jarang ada orang she Miao, bukan mustahil dia inilah pendekar kelana yang kenamaan bernama Miao Tiang-hong itu."

Ia insyaf, meski bergabung dengan Ngo Hong berempat belum tentu bisa unggul, daripada terjungkal di tangan orang, terpaksa ia bertindak melihat gelagat, maka katanya tertawa.

"Baik, secawan arak ini biar kuminum. Gunung menghijau air tetap mengalir, kita jumpa lain kesempatan."

Ngo Hong, Gui Khing berempat segera mengintil di belakangnya turun dari atas loteng.

Di waktu beranjak di anak tangga, Ngo dan Gui berdua berpaling ke arah Han Bing, seolah-olah memberi isyarat, seperti pula sedang mendelik kepadanya.

Pelayan rumah makan segera tampil ke depan, katanya.

"Tuan-tuan tamu, rekening arak belum kalian lunasi!"

Orang she Cong itu lantas meng-gentak lengan bajunya.

Terdengar suara berisik di dalamnya entah apa saja yang tersimpan di dalam lengan bajunya, begitu ia membalik badan, sekeping uang perak besar melesat terbang dan amblas masuk di meja kasir, katanya.

"Rekening arak tamu di meja sana boleh dihitung sekalian."

"Kenapa aku harus minum arak traktiranmu?"

Miao Tiang-hong segera berseru. Melihat mereka sudah pergi, barulah Han Bing merasa lega hati, kuatir Miao Tiang-hong menarik perkara, segera ia berkata.

"Ngo-toako itu adalah sahabat baikku, anggap saja siaute yang mentraktir kalian."

Di luar bawah sana Ngo Hong bergelak tertawa, serunya.

"Tidak salah ucapanmu, Han-toako, kau betul-betul seorang sahabat sejati!"

Berubah air muka Han Bing, katanya perlahan.

"Lau-heng, siaute ada sedikit urusan, sekarang juga harus kuselesaikan, besok boleh kita bertemu pula di tempat ini."

Baru saja ia hendak berdiri, tiba-tiba terasa pergelangan tangannya sakit kesemutan, tangannya seperti terjepit tanggem besi, kiranya tangannya kena dicengkeram erat-erat oleh Lau Khong.

Bertambah kejut hati Han Bing, katanya gemetar.

"Lau-heng, kau, kau ini..."

Lau Khong bergelak tertawa, katanya.

"Han-heng, meski sekian tahun kita berpisah, betapapun kita pernah menjadi sahabat kental yang paling dekat bukan?"

Semakin mencelos hati Han Bing, sahutnya.

"Ya, beberapa tahun terakhir ini aku pun selalu terkenang kepada Lau-heng. Meski usia kita sudah menanjak, namun persahabatan kita masih belum berubah."

"Bagus, itulah bagus sekali. Sudah lama kudengar Ji-cap-si-kio yang kenamaan di Yang-ciu, ingin aku bermain-main di sana. Kita kan sahabat lama, kau harus menemani aku tamasya ke sana."

Han Bing tergagap, katanya.

"Kini, ini..."

Lau Khong menarik muka, katanya dingin.

"Kau punya urusan penting apa, silakan katakan, mungkin aku bisa wakili kau membereskan."

Maka Han Bing menyengir lucu, roman mukanya berubah dari hijau ganti merah lalu pucat lesi, terpaksa ia menyahut samar.

"Sebetulnya bukan persoalan penting..."

"Kalau bukan soal penting, besok saja diurus toh masih belum terlambat. Lihatlah bulan bersinar cemerlang, cuaca begini baik lagi. Sahabat lama bertemu, janganlah kita sia-siakan kesempatan baik ini."

Tahu tidak bisa membebaskan diri, terpaksa Han Bing menyengir getir, katanya.

"Begitu besar selera Lau-heng untuk tamasya, baiklah siaute pasti mengiringi, pasti mengiringi."

"Miao-heng,"

Kata Lau Khong.

"di mana kau tinggal? Setelah kenyang bertamasya dengan Han-"heng nanti kucari kau."

Mereka keluar dari rumah makan itu tangan bergandengan tangan sambil bercakap-cakap, orang luar yang tidak tahu, pasti menganggap teman karib yang sedang asyik bicara.

Tapi tidaklah bisa mengelabui pandangan Miao Tiang-hong sebagai seorang ahli silat.

Berpikir Miao Tiang-hong.

"Mungkin dia mencari tempat sepi untuk mengompes keterangan orang she Han ini."

Setelah meninggalkan alamat tempat tinggalnya, segera ia pun mohon diri.

Waktu itu hari sudah gelap, di mana-mana sudah pasang lampu, Miao Tiang-hong langsung pulang ke hotelnya dan masuk ke kamar, begitu melangkah masuk terasa olehnya sesuatu yang ganjil, sekilas ia memeriksa dengan teliti, didapatinya barang sesuatu yang berada dalam kamar itu pernah disentuh dan dipindah orang.

Demikian pula bekal buntalannya, pakaiannya berantakan, namun uangnya masih utuh tidak kurang sepeser pun.

"Terang bukan perbuatan maling biasa, hm, bukan mustahil perbuatan kawanan orang-orang she Ngo itu? Ataukah jejakku sudah dibuntuti agen musuh?"

Demikian Miao Tiang-hong berpikirpikir.

Sekonyong-konyong jendela sebelah belakang membuka tanpa disentuh atau dihembus angin, berbareng melompat masuk seorang laki-laki besar.

Kontan Miao Tiang-hong memakinya.

"Bangsat keparat, kebetulan kau datang lagi, belum kube-kuk batang lehermu, malah melunak datang pula."

Sembari bicara, secepat kilat ia sudah melancarkan Tay-kim-na-jiu-hoat, mencengkeram ke tulang pundak orang itu.

Lekas orang itu membungkukkan badan menarik pundak, sekali kibas, ringan sekali ia punahkan cengkraman tangan Miao Tiang-hong, pujinya.

"Kepandaian bagus, kau she apa, nama siapa? Lekas bicara terus terang!"

Tay-kim-na-jiu-hoat yang dilancarkan Miao Tiang-hong ini adalah kepandaian tunggalnya yang amat dia banggakan, namun kena dipunahkan cukup dengan kibasan saja, keruan kagetnya bukan main.

Lekas ia mundur setapak, kedua tangan melintang di depan dada sambil mengamat-amati lawan.

Dilihatnya orang ini berjambang bauk tebal dan kaku, raut mukanya kasar dan gagah serta kereng.

Karena keistimewaan raut muka orang inilah, mendadak Miao Tiang-hong ingat seseorang, teriaknya kaget.

"Kaukah Liau-tang Tayhiap Utti Keng?"

Orang itu bergelak tertawa, katanya.

"Tidak berani. Cayhe memang Utti Keng. Sungguh menyesal, aku tidak ingat lagi di mana pernah melihat kau."

"Beng Goan-cau adalah teman baikku, sering dia menyinggung tuan kepadaku. Dua bulan yang lalu, aku bersamanya di Pakkhia, pernah bertemu dengan Kwi-hwe-thio, aku tahu waktu itu Utti Tayhiap pun berada di Pakkhia, sayang tidak sempat bertemu."

"O, kalau demikian aku tahu sekarang. Jadi kau adalah Miao Tiang-hong, Miao Tayhiap?"

"Sebutan Tayhiap tidak berani kuterima. Peristiwa yang menggegerkan Pakkhia..."

"Kita tidak usah sungkan-sungkan. Soal Pakkhia bicarakan-lain kesempatan, Miao-heng, kau beri tahu aku dulu, barusan kau datang dari mana? Adakah kau bentrok dengan kawanan anjing alap-alap?"

"Aku hanya minum-minum di Bong-kang-lau dengan seorang teman yang baru kukenal. Memang ada kulihat beberapa orang yang mencurigakan, entah mereka apakah kawanan anjing alap-alap?"

Segera ia tuturkan pengalamannya di Bong-kang-lau kepada Utti Keng.

"Temanmu Lau Khong itu pernah kudengar namanya. Dia adalah salah seorang tokoh dari Thian-li-hwe, bergelar Giok-bin-boan-koan, lahirnya seperti sastrawan umumnya, tapi berwatak keras dan benci kejahatan, bertangan gapah lagi. Mengenai Han Bing itu, aku tidak tahu."

"Kalau orang she Ngo itu, adakah Utti Tayhiap tahu asal-usul mereka?"

"Aku tahu keempat orang itu dari golongan hitam, cuma belum pernah ketemu."

Berpikir sebentar, tiba-tiba ia bertanya pula.

"Apakah orang she Cong itu berumur sekitar lima puluhan, bertubuh tinggi lencir, berparas begini?"

"Sedikit pun tidak salah, Utti Tayhiap kenal dia?"

"Bukan saja kenal, pernah bentrok beberapa kali malah! Orang ini adalah murid durhaka Husiang-pay yang bernama Cong Sin-liong, secara diam-diam ia menjadi antek Sat Hok-ting."

"Tak heran ilmu silat orang itu sedemikian lihay. Utti Tayhiap, cara bagaimana kau bisa sampai di sini?"

"Benar, kedatanganku tanpa diundang ini, tentu mengherankan kau, biarlah kujelaskan."

"Congpiauthau dari Tin-wan Piaukiok cabang Yangciu ini punya persahabatan yang kental dengan aku, besok lusa adalah hari ulang tahunnya yang ke enam puluh, aku hendak menyampaikan selamat ulang tahun kepadanya."

"Siaute memang juga ingin menghaturkan selamat ulang tahun kepada beliau, besok lusa kita bisa berangkat bersama."

"Kamarku kebetulan berada di depan kamarmu, kira-kira satu jam yang lalu, tiba-tiba kudengar lambaian pakaian orang berjalan malam lewat di atas genteng, kau tahu aku seorang buronan yang barusan membuat geger di kota raja, maka tidak bisa tidak aku harus hati-hati, kukira adalah anjing alap-alap yang meluruk datang hendak mencari gara-gara kepadaku."

"Tak nyana orang ini tidak meluruk ke kamarku, malah menyelundup masuk ke kamarmu. Kudengar dia menggeledah sana-sini dalam kamar ini, pastilah dia sudah tahu bila kau tidak akan segera kembali, maka begitu besar nyalinya. Tapi karena aku belum tahu asal-usulnya tidak enak aku turun tangan secara ceroboh."

"Ginkang orang itu memang lumayan, kukira pastilah dia bukan maling sembarangan. Maka kutunggu di luar kamarmu."

"Mungkin kau mengira hitam makan hitam bukan?"

"Semula kukira demikian. Sudah kubayangkan beberapa kemungkinan, akhirnya aku berkeyakinan bahwa kau pasti bukan sembarang orang."

Tiba-tiba Miao Tiang-hong tersentak sadar, katanya.

"Celaka!"

"Apa yang celaka?"

"Lau Khong ajak Han Bing tamasya di Ji-cap-si-kio, kulihat Han Bing itu bukan orang baik."

"Kau kuatir Lau Khong terjebak oleh perangkap mereka?"

"Ya. Coba pikir, Cong Sin-liong adalah antek Sat Hok-ting yang terpercaya, adanya tokoh macam dia di Yangciu ini, pastilah tidak mengandung maksud baik, malah dia pun kenal baik dengar Han Bing."

"Benar, kita harus berjaga-jaga dari segala kemungkinan. Lalu kita..."

"Biar kususul ke sana sambil melihat keadaan, Utti-heng, kau boleh tinggal di sini saja."

Utti Keng tahu maksud hati orang, katanya tertawa.."Kau kuatir aku kena perkara bukan?

Begitu pun baik, biar aku, berjaga di sini saja, bila ada kawanan anjing alap-alap kemari, pasti akan kubekuk batang lehernya."

Ia serahkan sebatang Coa-yam-cian kepada Miao Tiang-hong sambil menambahkan.

"Ji-cap-si-kio hanya tiga li dari sini, kalau musuh terlalu banyak, boleh kau lepas panah ini ke tengah udara, aku akan melihatnya" ---ooo0dw0ooo---Dengan jantung kebat kebit Han Bing mengikuti langkah Lau Khong beranjak ke Ji-cap-si-kio. Ji-cap-si-kio memang salah satu tempat tamasya yang terkenal di Yangciu, namanya saja Jicap-si-kio (dua puluh empat jembatan), kenyataan jembatan di sini tidak sesuai dengan namanya. Nama aslinya adalah Ang-loh-kio.

"Han-heng,"

Kata Lau Khong.

"Masihkah kau ingat percakapan di malam hari pada jembatan putus di Se-ouw beberapa tahun yang lalu?"

Memang Han Bing sudah waswas, tidak tahu tindakan apa yang akan dilakukan oleh Lau Khong terhadapnya. Mendengar Lau Khong menyinggung urusan lama, rada lega hatinya, sahutnya.

"Coba biar kuingat-ingat, kejadian ini sudah dua belas tahun yang lalu. Hari kedua seorang diri kau lantas melanjutkan perjalanan ke utara, mencari guru menemui teman, betul tidak?"

"Untunglah kau masih ingat demikian jelas. Kalau begitu pasti kau ingat juga, malam itu di jembatan itu, kita memandang jauh ke seberang sana, bernyanyi dan bersenandung membawakan syair-syair gubahan-gubahan Gak Hwi. Tatkala itu dalam sanubari kita berkobar bara perjuangan dengan cita-cita tinggi untuk kemerdekaan, kita berjanji, janganlah menyia-nyiakan hidup njasa remaja kita ini."

Han Bing tertawa dibuat-buat, ujarnya.

"Hampir sudah kulupakan kalau tidak kau ungkit pula. Benar, memang ada kejadian itu. Ai, kalau dikatakan amat mengecewakan, Lau-heng, sekarang kau sudah tenar dan menjagoi kangouw, siaute sebaliknya tenggelam dalam kehidupan tanpa menghasilkan sesuatu yang berarti bagi nusa dan bangsa."

"Kukira tidak demikian halnya, kabarnya beberapa tahun terakhir ini kau mendapat untung besar, hidupmu cukup senang."

Mencelos hati Han Bing, katanya.

"Dari siapa kau dengar? Beberapa tahun ini siaute hidup di kampung halaman, mana bisa dikatakan mendapat keuntungan besar segala."

"Apa yang dinamakan 'keuntungan' itu, pandangan masing-masing orang berlainan, biarlah kita tidak usak membicarakan hal ini. Han-heng, bagaimana menurut pendapatmu mengenai Ji-cap-sikio dengan Toan-kio (jembatan buntung) itu?"

Heran Han Bing dibuatnya, sahutnya.

"Dua tempat ini merupakan tempat tamasya yang berlainan. Menurut hematku masing-masing mempunyai keindahan sendiri-sendiri, sukar dibandingkan dan tidak perlu dibandingkan."

"Tepat sekali-Tapi tunjuk sungai dan gunung, membicarakan perjuangan tokoh-tokoh sejarah yang kenamaan. Menurut pandanganku, Yangciu dan Hangciu mempunyai persamaannya."

"Dalam hal apa yang sama?"

"Di kedua tempat ini, sama-sama pernah muncul pahlawan bangsa yang meninggalkan nama harum untuk generasi mendatang, demikian juga dalam lembaran sejarah! Gak Hwi di Hangciu dan Su Khek-hwat di Yangciu, mereka sama-sama adalah patriot bangsa yang gugur demi nusa dan bangsa. Legenda perjuangan mereka melawan penjajah, patut dijadikan teladan bagi generasi mendatang bukan?"

Han Bing tidak berani bersuara, dengan tutup mulut mereka terus beranjak mulai menaiki undakan batu Ji-cap-si-kio. Berkata pula Lau Khong sambil mendongak.

"Kabarnya Su Khek-hwat pernah bersumpah di atas jembatan ini untuk melawan penjajah Boan sampai titik darah penghabisan, malam ini sengaja kau kuajak ke Ji-cap-si-kio ini, adalah karena aku kuatir kau melupakan perjuangan para patriot bangsa ini."

"Lau-heng,"

Han Bing tertawa getir.

"Siaute hidup tentram di kampung halaman, kini sudah tidak berdarah panas seperti masa mudaku dulu. Orang macamku ini, sebetulnya memang bukan enghiong segala."

"Tidak perlu kita harus menjadi enghiong, tapi paling tidak jangan lupa bahwa kita ini orang bangsa Han. Sekarang hidup kita masih berada di Yangciu, memangnya kau sudah melupakan peristiwa sepuluh hari di Yangciu dan tragedi Ka-ting yang meninggalkan lembaran hitam dalam sejarah itu?"

Berkata Han Bing dengan suara bergetar.

"Aku hanya ingin hidup bersahaja selama hayatku. Kalau ingat kenapa, kalau tidak ingat kenapa pula?"

"Aku tidak ingin memaksamu untuk menempuh bahaya sehingga keluargamu hancur dan jiwa melayang secara sia-sia Tapi kalau masih ingat dendam negara dan sakit hati keluarga, seumpama tidak berdiri di pihakku, tidak patut kau bantu kelaliman menindas bangsa sendiri."

Suaranya semakin pedas dan bengis.

"Meski siaute tidak becus, rasanya tidak sampai hati berbuat serendah itu."

"Baik, kalau begitu beritahukan sejujurnya kepadaku, siapakah sebenarnya orang she Cong itu?"

"Dia adalah seorang tokoh dari Hu-siang-pay, she Cong bernama Sin-liong."

"Cara bagaimana kau bisa berkenalan dengan dia?"

Agaknya Han Bing rada dongkol, katanya.

"Lau-heng, jadi kau hendak mengompes aku? Ataukah hendak bicara persoalan lama? Jelek-jelek Cong Sin-liong itu adalah seorang bulim cianpwe, berkenalan dengan seorang tokoh cianpwe memangnya ada jeleknya?"

Lau Khong mendengus, jengeknya.

"Ketahuilah, Cong Sin-liong sudah lama diusir dari Husiang-pay, kau tidak tahu apa pekerjaannya sekarang?"

Han Bing melengak kaget, tanyanya.

"Aku tidak tahu."

"Sekarang dia menjadi antek paling setia dari komandan Gi-lim-kun dari kerajaan Ceng di bawah pimpinan Sat Hok-ting."

Diam-diam Han Bing mengeluh dalam hati, batinnya.

"Kiranya dia sudah tahu rahasianya Cong Sin-liong. Ai, sebetulnya aku tidak ingin terseret ke dalam pertikaian ini, tapi meski kukatakan secara terus terang pun belum tentu dia suka memaafkan aku."

Dengan mendelik tajam Lau Khong menatapnya lekat-lekat, Han Bing pura-pura terperanjat, tanyanya.

"Apa betul?"

"Han-heng, kau seorang sekolahan, seharusnya kau tahu sekali terperosok jatuh kau akan menyesal selamanya, kalau tidak lekas berpaling demi hidup dan keluargamu, kau bisa celaka setelah terlambat. Kalau kau memang tertipu oleh Cong Sin-liong, biar sekarang kuberi tahu terus terang kepadamu, waktunya masih belum terlambat. Kalau tidak, hm, hm, meski aku masih ingat akan persahabatan lama, para orang-orang gagah dari kaum pendekar di kangouw pasti tidak akan memberi ampun kepadamu."

Keringat dingin bercucuran membasahi badan, kata Han Bing ketakutan.

"Lau-heng, apa yang harus kukatakan sekarang?"

"Cong Sin-liong mengundang kau untuk bertemu di Yangciu, sebetulnya apa rencananya, orang-orang dari golongan mana pula kawanan orang she Ngo itu?"

Han Bing tergagap, katanya.

"Ai, tidak. Aku hanya bertemu secara kebetulan saja. Aku hanya tahu bahwa Ngo Hong adalah salah seorang pentolan dari kalangan hitam, yang lain-lain sama sekali tidak kukenal mereka."

"Han Bing, hari ini banyak yang sudah kukatakan kepadamu, tidak lain aku mengharap supaya kau lekas berpaling dan insyaf akan kesalahanmu, jangan sampai terperosok ke jalan sesat. Kalau kau berkukuh dan tidak bertobat, janganlah kau salahkan aku tidak ingat persahabatan lama kita. Akan datang suatu ketika aku dapat menyelidiki dengan terang seluk-beluk sepak terjangmu dan mereka selama ini. Sudahlah, kata-kataku sampai di sini saja, jagalah dirimu baik-baik, selamat tinggal!"

Kaget sekali Han Bing dibuatnya, teriaknya.

"Lau-heng. tunggu sebentar. Biarlah kuberi tahu duduk persoalan sebenarnya."

Tak nyana belum lagi suaranya lenyap, serangan senjata rahasia tiba-tiba sudah menyerang tiba. Malah senjata rahasia yang menyerang datang ini bukan hanya satu saja.

"Wut"

Lekas Lau Khong puj kulkan telapak tangannya menyam-puk jatuh dua batang, sekali raih pula, ia menyambuti dua batang, tapi toh masih ada satu batang melesat ke arah Han Bing.

Waktu Lau Khong menegasi kedua senjata rahasia yang ditangkapnya itu tidak lebih hanyalah dahan pohon liu sepanjang tiga dim.

Agaknya orang, itu meraih dahan pohon liu lalu memotongnya menjadi lima kutungan untuk dibuat senjata rahasia.

Ilmu senjata rahasia tingkat tinggi dapat menggunakan daun atau kelopak kembang untuk melukai orang, meski oraag baru bisa menggunakan dahan pohon sebagai bahan senjata rahasia, tapi toh ilmunya dicangkokkan dari aliran yang sama, boleh dikata sudah mencapai tingkat yang mengejutkan pula.

Kontan Han Bing menjerit ngeri dan jatuh semaput.

Sebagai seorang ahli silat, meski mendengar orang menjerit, tapi dari suara orang ia dapat membedakan walau luka-lukanya tidak ringan namun masih tidak sampai membahayakan jiwanya.

Keruan gusarnya bukan main, bentaknya.

"Membokong dengan senjata rahasia terhitung orang gagah macam apa? Kalau berani silakan keluar mengukur kepandaian sejati dengan aku."

Sembari bicara cepat ia melesat terbang menubruk ke arah orang yang menyambitkan senjata rahasia. Orang itu memutar badan sambil menghentikan langkah, katanya dengan nada berat.

"Jiwamu sendiri belum tentu bisa selamat, masih main..."

Dari nada bicaranya jelas ia hendak melabrak Lau Khong habis-habisan, tapi di saat ia memutar badan itulah dari gerombolan pohon kelapa sana mendadak dilihatnya sesosok bayangan hitam menerjang keluar, maka sebelum ucapannya selesai dikatakan, lekas ia putar badan pula terus lari sipat kuping.

Orang yang menerobos keluar dari hutan kelapa ini bukan lain adalah Miao Tiang-hong.

Hanya terpaut tiga langkah lebar saja Lau Khong tidak berhasil me-nyandak orang, sekejap mata orang sudah berlari puluhan tombak jauhnya, diam-diam hatinya mengeluh.

Ternyata Miao Tiang-hong sudah mencegat jalan lari orang itu, bentaknya.

"Lari ke mana?" --"Sret"

Pedangnya lantas menusuk.

Dia tahu bahwa lawan cukup tangguh, maka tusukannya ini menggunakan seluruh tenaganya, lihay dan ganas pula.

Langkah orang itu tidak terganggu sedikit pun, tahu-tahu tangannya mengembang tutupkan sebatang kipas.

"Serrr"

Dengan enteng ia mengebut, menyanggah miring batang pedang, tusukan pedang Miao Tiang-hong seketika kena tertuntun miring ke samping menusuk tempat kosong.

Kejadian berlangsung teramat cepat, begitu mengatupkan kipas, senjata kipasnya ia gunakan sebagai Boan-koan-pit, dengan ganas balas menotok ke Hiat-to berbahaya di badan Miao Tianghong.

Meski kaget Miao Tiang-hong tidak menjadi gugup, lekas ia putar pedang memantulkan tujuh kuntum kembang pedang, sejurus dua tipu, di samping menjaga diri sekaligus ia balas menyerang.

Begitu ketujuh kuntum kembang pedangnya me-rangsak turun, dapat berubah pula menjadi tujuh kali totokan ujung pedang yang berbahaya, sekaligus balas menusuk tujuh Hiat-to di badan lawan.

Tak nyana serangan kipas orang itu hanya gerakan gertak sambal belaka, sedikit mengebut dan me-nyampuk, sebat sekali tahu-tahu ia sudah lolos dari kepungan ketujuh kuntum kembang sinar pedang yang mengurungnya.

"Sambut pukulanku!"

Mendadak Lau Khong menghantam ke arah jalan lari orang itu, sambil melangkah lebih cepat satu tapak lebar.

Sambil mendengus orang itu menepukkan tangan kiri, sementara kipas lipat di tangan kanannya ikut menyambar balik ke belakang.

Begitu telapak tangan kedua pihak saling bentur, Lau Khong tergeliat sekali dan tergentak mundur setapak.

Sementara kipasnya yang membalik tepat menangkis tusukan pedang Miao Tiang-hong, secepat kilat tahu-tahu sudah meluncur lewat dari samping badan Lau Khong.

Kuatir melukai Lau Khong sendiri terpaksa tiga serangan berantai Miao Tiang-hong hanya sempat ditusukkan sekali saja, sekejap mata orang itu pun sudah lari jauh.

"Kita tilik dulu keadaan Han Bing!"

Lekas Miao Tiang-hong berkata.

Han Bing terkena timpukan dahan pohon liu itu tepat pada lambungnya, lekas Miao Tiang-hong menggunakan ilmu totok menghentikan darah keluar, lalu ia cabut keluar dahan pohon itu, serta dibubuhi Kim-jong-yok pula.

Tak lama kemudian perlahan-lahan Han Bing siuman dari pingsannya.

Begitu sadar Han Bing lantas berseru memaki.

"Cong Sin-liong, kau, kau sungguh kejam!"

Soalnya tadi ia tidak melihat jelas siapa yang menyerang dirinya, maka ia beranggapan pastilah perbuatan Cong Sin-liong.

"Orang itu bukan Cong Sin-liong,"

Kata Lau Khong.

"Miao-toako, tahukah kau siapa dia itu ?""

"Orang itu aku pun belum pernah melihatnya. Tapi..."

"Tapi bagaimana..."

Miao Tiang-hong termenung sebentar, katanya sesaat kemudian.

"Tokoh yang bisa menggunakan kipas lipat sebagai Ngo-heng-kiam, dalam kalangan bulim cuma beberapa orang saja. Tipu permainan silat orang itu jauh berlainan pula dengan ajaran silat dari golongan Tionggoan umumnya. Dalam hati aku sudah curiga kepada seseorang, tapi lebih baik kita pulang dulu ke hotel saja, biar kita bicarakan pula dengan Utti Keng lebih lanjut."

Kaget dan girang Lau Khong dibuatnya, serunya.

"Ah, jadi Utti Tayhiap juga sudah tiba di sini?"

"Betul, kebetulan dia menginap di hotel yang sama dengan aku. Dia pernah menyinggung dirimu, dia pun sudah tahu asal-usulmu. Han-heng terluka cukup berat, perlu mencari tempat untuk istirahat merawat luka-lukanya ini, lebih baik kita kembali saja ke hotelku itu!"

Lau Khong tertawa, ujarnya.

"Kita masuk hotel sambil membawa orang terluka, mungkin bisa bikin kaget pemilik hotel. Tapi ya, apa boleh buat!"

Segera ia gendong Han Bing, bersama Miao Tiang-hong kembali ke hotel.

Waktu tiba di luar hotel itu, kebetulan Utti Keng sedang mengantar seorang tamu keluar.

Melihat mereka menggendong seorang terluka pulang, Utti Keng kaget, tanyanya.

"Apakah saudara ini Lau-heng?"

"Siaute memang Lau Khong adanya. Dia adalah sahabatku, namanya Han Bing."

"Bagus, marilah masuk bicara di dalam saja,"

Ajak Utti Keng. Tamu itu lantas berkata.

"Wah, kiranya tuan ini adalah Lau-ya, Utti Tayhiap, kalian ada urusan, aku tidak mengganggu kalian lagi. Besok harap datang bersama para kawan-kawan ini!"

Setelah tamu itu pergi, Miao Tiang-hong bertanya.

"Siapakah tamumu ini?"

Utti Keng menjelaskan.

"Dia adalah murid Ong Thian-thong. Kabar yang didapat Ong Thianthong sungguh cepat dan tepat, tahu aku akan menyampaikan selamat ulang tahun, belum lagi aku tiba di pintu rumahnya, dia sudah mengutus orangnya menyambut aku. Kukatakan hendak menunggu seorang teman, sudah kujanjikan besok pagi-pagi, pasti akan datang bersama kau."

Pemilik hotel memang amat kaget, tapi ia tahu bahwa Utti Keng beramai adalah kawan Ong Thian-thong, terpaksa ia terima juga kedatangan mereka.

Untunglah waktu itu sudah hampir kentongan ketiga, banyak tamu-tamu sudah tutup pintu dan tidur, tiada orang yang melihat.

Utti Keng pun menyogoknya dengan sekeping uang perak, katanya.

"Kau jangan ribut dan banyak mulut, besok pagi pasti kami pindah dari sini."

Setelah berada di dalam kamar, dengan hawa murni Utti Keng yang ampuh, dia mengurut dan bantu melancarkan jalan darah Han Bing yang terluka, maka darah mati yang sudah mengental di luka-lukanya dengan cepat sudah dibikin normal, setelah dibubuhi obat luka lagi, jiwanya tidak perlu dibuat kuatir.

Setelah repot setengah harian, berkata Utti Keng.

"Biarlah Han-toako istirahat dulu, sekarang coba kalian terangkan kepadaku, siapakah yang melukainya? Bentuk luka-lukanya itu rada aneh sekali."

"Dalam hal apa yang aneh?"

Tanya Miao Tiang-hong tertawa.

"Ini bukan luka-luka panah biasa. Menurut penglihatanku senjata rahasia ini sedikit lebih besar dari Toh-kut-ting, sedikit kecil dari panah tangan, tapi pasti bukan senjata rahasia yang terbuat dari besi atau baja. Di daerah Ji-cap-si-kio banyak terdapat pohon Liu, mungkin orang itu memetik dahan pohon, lalu ditimpukkan ke arah Han Bing dengan tenaga lwekang yang hebat bukan? Meskipun latihan ilmunya belum mencapai tingkatan tertinggi, sudah boleh dikatakan setaraf dengan kepandaian Menimpuk Daun Menerbangkan Kembang Melukai Orang. Cara sambitan senjata rahasia orang ini pun agaknya berlainan dengan kepandaian kaum persilatan di Tionggoan umumnya. Ou, apakah orang itu Cong Sin-liong?"

Melihat orang menganalisa sedemikian tepat dan persis seakan-akan dirinya menyaksikan sendiri, sungguh Miao Tiang-hong amat kagum dibuatnya, katanya tertawa.

"Utti-toako, meski rekaanmu meleset tapi tidak berbeda banyak. Aku pun curiga bila orang itu pasti salah seorang tokoh kosen dari Hu-siang-pay."

Miao Tiong-hong lalu melukiskan bentuk muka dan perawakan orang itu, katanya.

"Dia mengenakan topi rumput yang lebar, ditarik rendah sehingga menutupi setengah mukanya, tapi toh masih sempat kulihat juga, kira-kira berusia tiga puluhan, agaknya berdandan seperti anak sekolahan."

Utti Keng melengak kaget, katanya.

"Orang sekolahan berusia tiga puluhan tahun, menggunakan sebatang kipas sebagai senjata? Ini, ini..."

"Siapakah orang itu?"

"Kalau benar seperti apa yang kau katakan, pastilah orang itu adalah Boh Cong-tiu. Em, wah, sungguh membuat aku rada tidak percaya."

"Utti-toako, aku perlu memberi tahu sesuatu kepada kau. Waktu di Pakkhia aku bertemu dengan Kwi-hwe-thio dan Li-ma-cu. Dengan mata kepala mereka sendiri pernah melihat Boh Cong-tiu mondar-mandir di markas besar komandan pasukan Bhayangkari."

Lalu ia ceritakan intrik antara Boh Cong-tiu dengan Pakkiong Bong kepada Utti Keng. Utti Keng menghela napas, ujarnya.

"Semula aku memang sudah curiga, soalnya dia pernah membantu aku di saat aku terkepung oleh kawanan anjing alap-alap, maka kukira aku salah mencurigai orang sendiri. Tak nyana kejadian tempo hari itu justru tipu yang memang sudah direncanakan bersama Pakkiong Bong lebih dulu."

Baru sekarang Lau Khong paham maksud tujuan Miao Tiang-hong, kenapa sampai sekarang baru dia mau membeber rahasia orang itu, tidak lain supaya Utti Keng sendiri mau percaya dan membuktikan bahwa orang itu pastilah Boh Cong-tiu adanya.

Katanya.

"Pernah kudengar, kabarnya Boh Cong-tiu dan Cong Sin-liong tidak akur, entah benar tidak kabar ini? "Betul,"

Sahut Miao Tiang-hong.

"Boh Cong-tiu ada sekongkol sama Pakkiong Bong, sementara Cong Sin-liong terima menjadi antek Sat Hok-ting, banyak kaum persilatan yang sudah tahu akan hal ini."

"Kalau begitu, bukan mustahil Pakkiong Bong dan Sat Hok-ting sama-sama mengutus jago-jago silatnya meluruk ke Yangciu semua. Memangnya mereka pun hendak menyampaikan selamat ulang tahun kepada Ong Thian-thong? Tidak lebih Ong Thian-thong hanyalah seorang pimpinan cabang sebuah piaukiok, buat apa Sat Hok-ting dan Pakkiong Bong harus mengambil hatinya. Kukira di belakang persoalan ini pasti ada latar belakangnya."

Saat itu Han Bing sudah pulih sebagian besar kesehatannya, katanya menyeletuk.

"Miao Tayhiap, Lau-toako, kalian sudah menolong jiwaku, kalian tidak mengompes aku, adalah pantas bila aku bicara terus terang kepada kalian. Ai, sungguh mengecewakan. Lau-toako, kau, sudikah kau memaafkan aku?"

"Tahu salah mau bertobat, paham inilah yang sering diajarkan oleh Nabi kita. Han-toako, memang aku menunggu kata-katamu ini."

Berkata Han Bing.

"Untuk membeber persoalan ini aku harus mulai dari ayah mertuaku. Tahun lalu baru siaute melangsungkan pernikahan, dalam hal ini Lau-toako tentu sudah tahu bukan?"

"Kabarnya Han-heng mendapat isteri cantik dari keluarga hartawan besar, hidup bahagia, siaute belum sempat menyuguhkan arak kegirangan kepada kau."

"Keluarga hartawan besar apa segala,"

Ujar Han Bing tertawa kecut.

"Ayah mertuaku memang punya simpanan uang, itulah benar. Dia adalah pedagang garam di Tiang-loh."

Kota Tiang-loh terletak di kare-sidenan Jiang-ciu di wilayah Ho-pak.

Jiang-ciu merupakan daerah penghasil garam terbesar di sepanjang sungai Tiangkang sebelah utara, Tiang-lok-tin merupakan pusat transpot dari hasil semua garam-garam setempat.

Lima besar propinsi utara kebanyakan memerlukan jatah garam dari Tiang-loh.

"Kalau demikian,"

Utti Keng ikut bicara.

"ayah mertuamu kan bukan golongan persilatan, kenapa pula ada sangkut pautnya dengan urusan saudara hari ini?"

"Meskipun dia bukan kaum persilatan, tapi dia ada hubungan dagang dengan para pedagang garam di Yangciu ini, maka beliau pun menjadi langganan tetap dari Tin-wan Piaukiok cabang Yangciu ini. Siaute bisa berkenalan dengan Ong-congpiauthau adalah karena hubungan dagang ayah mertuaku ini, ya bolehlah dikatakan sebagai kenalan baik."

"Memangnya kenapa?"

"Suatu hari, pengurus besar dari pengangkutan garam di Tiang-loh ada memanggil ayah mertuaku ke kantornya, semula kukira hanya panggilan biasa saja, tak nyana Cong Sin-liong itu pun ada hadir di sana."

"Kalau begitu, sebetulnya sudah lama kau tahu asal usul Cong Sin-liong?"

Lau Khong menegas. Merah muka Han Bing, katanya malu.

"Tidak sepantasnya aku mengelabui kau. Memang sejak pertemuan kali itu, dia sudah lantas menerangkan asal-usul dirinya."

"Apa yang dia kehendaki?"

"Dia minta aku sebagai perantara."

"Perantara, perantara apa?"

"Dia tahu aku ada kenal baik dengan Ong Thian-thong, katanya dia ingin memberikan selamat hari ulang tahun kepada Ong Thian-thong di Yangciu ini, minta supaya aku memperkenalkan dirinya. Dan lagi ada sebuah urusan penting, minta supaya aku membujuk Ong Thian-thong membantu dia menyelesaikan."

"Tidak lepas dari dugaan semula, mengucapkan selamat hari ulang tahun tidak lebih hanyalah alasan belaka. Memangnya urusan rahasia apa yang begitu penting, bisakah kau menjelaskan?"

"Katanya di dalam perayaan hari ulang tahunnya itu, Cong Sin-liong hendak menangkap seorang buronan, oleh karena itu dia harus rpemberi tahu lebih dulu kepada Ong Thian-thong, seumpama Ong Thian-thong tidak bisa membantu urusannya itu, orang pun tidak bisa menolak keinginannya ini."

"Dia tidak takut membeber rahasia pribadinya sendiri?"

Tanya Utti Keng.

"Perhitungan dan rencana Cong Sin-liong cukup masak, tiba pada waktunya dia hendak menantang kepada orang itu, pura-pura hendak menyelesaikan urusan menurut aturan kangouw, lalu meringkus orang itu dan dibawa pergi. Kalau toh orang itu memang benar seorang buronan, tentulah dia takut urusannya merembet Ong Thian-thong, maka dia sendiri pun tentunya tidak berani menerangkan asal usul pribadi sendiri. Dengan demikian, bila Ong Thian-thong mau tutup mulut dan tidak membeber rahasianya, maka orang lain pun tidak akan tahu seluk beluk urusan ini."

Utti Keng mengerutkan kening, katanya.

"Memangnya dia menyangka Ong Thian-thong sudi menerima permintaannya itu?"

"Ong Thian-thong punya perusahaan punya keluarga, dia pun memberikan janjinya supaya Ong Thian-thong lepas tangan tidak mencampuri urusan ini, sehingga tidak tersangkut perkara, menurut dugaannya, tidak bisa tidak Ong Thian-thong pasti menurut akan segala petunjuk dan kehendaknya."

"Kukira belum tentu Ong Thian-thong menjadi manusia serendah seperti yang diperkirakannya itu?"

"Aku pun bilang demikian. Tapi Cong Sin-liong mendesak supaya aku mencoba-coba."

"Lalu kau menerima permintaannya itu?"

"Ayah mertuaku kena diancam, terpaksa menerima permintaannya itu. Memangnya apa pula yang harus kulakukan? Kecuali aku tidak peduli akan isteri dan mertuaku pula."

Lau Khong menyeletuk.

"Lalu sekarang kau tidak takut istri dan keluarga mertuamu ikut terembet perkara?"

Han Bing tertawa kecut, sahutnya.

"Sekarang mereka sudah hendak mengambil jiwaku, apa pula yang kutakuti?" .

"Kau tidak usah takut,"

Utti Keng membujuk.

"Akan kucarikan akal bagi kau, sehingga anak binimu tidak tersangkut urusan. Siapakah buronan yang dimaksud? Apakah Cong Sin-liong pernah mem-beritahu kepada kau?"

"Mana dia mau memberi tahu aku? Sudah tentu aku pun tidak berani tanya kepadanya."

Diam-diam berpikir Utti Keng.

"Mungkinkah buronan itu adalah aku? Tapi cara bagaimana Con Sin-liong bisa tahu bila aku akan datang ke Yangciu untuk menyampaikan selamat hari ulang tahun kepada Ong Thian-thong?"

Segera ia berkata.

"Baiklah, terima kasih akan pemberitahuan akan rahasia ini kepada kami. Luka-lukamu belum sembuh, tidak perlu banyak menca-paikan diri, di sini aku punya obat mujarab, setelah menelan obat ini tidurlah baik-baik."

Begitu menelan pil obat itu, kejap lain tiba-tiba Han Bing meloso jatuh.

Lau Khong melihat orang tidak mirip tidur, segera ia ulur tangan memegangnya, badan orang dingin, napas pun berhenti.

Keruan terkejutnya bukan kepalang, serunya.

"Utti Tayhiap, dia sudah mengakui kesalahan dan bertobat terhadap kita, kenapa kau membunuhnya?"

"Kalau tidak menggunakan cara ini, mana bisa anak bininya tidak tersangkut perkara? Kau jangan kuatir, dia tidak mati betul-betul,"

Utti Keng menerangkan.

"Hah, obat apakah yang kau berikan kepadanya?"

"Obat itu bisa menghentikan pernapasannya, selintas pandang seperti sudah ajal betul-betul. Tapi ia hanya terpulas tiga hari, tiga hari kemudian dia akan siuman sendiri."

Miao Tiang-hong menyela bicara.

"Nyo Bok pun pernah pura-pura mampus, mungkin tidak akalmu ini terbongkar oleh Pakkiong Bong?"

"Meskipun aku pernah menggunakan akal yang digunakan Nyo Bok, tapi pura-pura mati yang kugunakan kali ini jauh berlainan dengan cara Nyo Bok. Peti mati Nyo Bok di dalamnya di si batu, tidak berani diperlihatkan kepada orang lain. Sebaliknya di dalam peti matiku ini adalah jenazah Han Bing betul-betul. Lau-heng, kau tahu tidak di mana ia tinggal di kota Yangciu ini?"

"Tahu. Dia menetap di rumah pedagang garam yang ada hubungan dengan ayah mertuanya."

"Besok belilah sebuah peti mati, antarlah jenazahnya ke rumah pedagang garam itu, katakan saja mendadak ia terserang angin duduk dan meninggal. Pedagang garam itu pasti kaget, gugup dan ketakutan, kau boleh mengajukan diri, untuk mengantarkan jenazahnya pulang ke rumahnya. Kupikir Cong Sin-liong pasti akan mengutus anak buahnya melayat ke rumah pedagang garam itu mencari tahu, boleh kau sengaja membuka peti matinya, supaya mereka membuktikan bahwa jenazahnya memang betul-betul terbaring di dalamnya."

"Tipu muslihatmu ini memang baik, cuma keramaian di rumah keluarga Ong aku jadi tidak bisa ikut menyaksikan!"

Demikian kelakar Lau Khong.

Setelah segala sesuatunya diatur beres, hari kedua mereka lantas bekerja menurut rencana.

Lau Khong membeli sebuah peti mati, dinaikkan ke atas kereta jenazah terus diangkut ke rumah pedagang garam yang dimaksud.

Sementara Utti Keng dan Miao Tiang-hong berdua menuju ke Tin-wan Piau-kiok cabang Yangciu, menyampaikan selamat hari ulang tahun kepada Ong Thianthong.

Sepanjang jalan tampak banyak orang gagah dari kaum persilatan berlalu lalang, hilir mudik tidak putus-putus.

Berkata Utti Keng sambil tertawa.

"Meskipun Ong Thian-thong hanya memimpin sebuah cabang piaukiok saja, namun pergaulannya teramat luas, keramaian hari ini agaknya cukup besar juga. Sayang ketinggalan seorang teman karib, kalau tidak suasana tentu lebih ramai."

"Teman yang kau maksud adalah..."

"Temanku itu juga temanmu. Terhadap dia boleh dikata sekali ketemu lantas akur dan bersahabat kental, sifat dan sepak terjang kami pun cocok saru sama lain."

Miao Tiang-hong mengerti maksud orang, katanya.

"O, yang kau maksud kiranya Beng Goancau."

"Betul, yang kumaksud memang Beng Goan-cau. Soh-ciu adalah kampung halamannya kedua, kalau dia berada di Soh-ciu, pasti dia pun akan datang ke Yangciu ini ikut dalam keramaian ini."

"Aku pun amat kangen kepadanya, tapi sekarang dia jauh berada di Siok-ciu, jelas tidak mungkin bisa bertemu di sini."

"Aku mengharap bisa berkumpul sama dia, bicara tinggal bicara, sebetulnya aku malah mengharap dia tidak datang saja. Sama seperti aku, dia pun seorang buronan pemerintah Boan."

Berkata Miao Tiang-hong serius.

"Pakkiong Bong sudah tahu bahwa Beng Goan-cau menuju ke Siok-ciu, tidak mungkin dia mengutus Cong Sin-liong pula, tapi kukira buronan yang dimaksud itu adalah orang lain. Kalau tidak, orang jalan malam itu semalam pasti menggeledah kamarku juga."

"Sayang aku belum setimpal menjadi buronan, Cong Sin-liong pun belum kenal kepadaku. Kejadian semalam,.mungkin karena aku bergaul sama Lau Khong dan mengalahkan mereka dalam adu minum arak, maka timbul rasa curiga mereka, sehingga hendak mencari tahu asal-usul pribadiku."

Utti Keng menepekur sebentar, katanya.

"Kukira tidak segampang itu!"

Tapi siapakah sebenarnya 'buronan' yang sesungguhnya, dia sendiri pun masih bertanya-tanya.

---ooo0dw0ooo---Betul-betul di luar dugaan mereka, bahwa sebetulnya Beng Goan-cau dan Lim Bu-siang hari itu sudah tiba di Yangciu juga.

Di saat Beng dan Lim tiba di Yangciu, kebetulan pula mereka berangkat menuju ke rumah keluarga Ong.

Beng Goan-cau melihat cuaca masih terlalu pagi, katanya.

"Lebih baik kita datang malam hari saja, setelah tamu-tamu banyak yang pulang, supaya tidak menarik perhatian mereka."

"Benar, yang terang kita masih sempat menyampaikan selamat hari ulang tahun kepada beliau tepat pada hari ini juga, kukira tidak menjadi soal terlambat sedikit. Tapi waktu masih setengah harian, ke mana enaknya menghabiskan waktu?"

"Tempat tamasya di Yangciu tidak kurang banyaknya, sisa waktu ini bisa kita habiskan untuk tamasya ke mana kita suka, ada satu tempat tidak bisa tidak kita kunjungi!"

"Tempat apa itu?"

Tanya Lim Bu-siang.

"Su-kong-se!"

"Su-kong yang dimaksud bukankah pahlawan pada jaman dinasti Song yang gugur dalam memperjuangan kota Yangciu bersama Su Khek-hwat?"

"Kalau bukan patriot bangsa ini, mana bisa rakyat Yangciu sudi mendirikan tugu peringatan bagi beliau? Aku sendiri pun tidak akan sudi menyambangi ke tempat tugu pahlawannya itu untuk berziarah di pusaranya."

"O, jadi di Yangciu sini ada didirikan tugu dan pusara Su Khek-hwat? Memang setelah tiba di sini, tidak bisa tidak kita harus ke sana."

Ternyata pada dinasti Ceng di dalam kekuasaan Kian Liong, menggunakan politik pemerasan dan merangkul sekaligus, waktu pertama kali pasukan kerajaan Ceng menyerbu ke Tionggoan terjadilah pembantaian besar-besaran terhadap bangsa Han yang terkenal dengan peristiwa sepuluh hari di Yangciu dan tragedi di Kating.

Untuk menentramkan kemarahan rakyak maka Kian Liong mengijin-kan rakyat mendirikan tugu peringatan bagi Su Khek-hwat di Yangciu.

Letak dari tugu peringatan itu, tiada orang Yangciu yang tidak mengetahuinya, maka dengan gampang saja mereka menemukan tempat itu.

Aula tempat pemujaan saat mana sedang sepi dan kosong tidak ada orang jaga, keadaan hari itu memang sepi dan mereka berdua saja yang menjadi pengunjung.

Dasar hobby mereka sama suka membaca syair, maka dari satu ke lain tempat mereka asyik menilai dan membedakan bait-bait syair satu kepada yang lain.

Begitulah tengah mereka berada di dalam gedung pemujaan itu, tiba-tiba didengarnya derap langkah kaki orang di luar, tapi jaraknya masih cukup jauh.

Berkata Beng Goan-cau.

"Kita sudah datang setengah harian, akhirnya ada dua orang pelancongan lainnya kemari juga. Em, orang yang berani melihat-lihat di gedung pemujaan ini, patut dipuji keberaniannya."

Ternyata kedua orang itu tidak masuk gedung.

Terdengar mereka bertepuk dua kali di luar.

Segera terdengar sahutan tepukan tangan pula dua kali di tempat yang rada jauh.

Diam-diam Goan-cau mengerut kening, katanya perlahan.

"Kali ini yang datang tiga orang, mungkin ada beberapa tokoh kangouw yang hendak mengadakan pertemuan rahasia di sini."

"Kalau begitu, lekas kita bersembunyi, jangan sampai kepergok oleh mereka."

Beng Goan-cau menerawang sebentar, katanya.

"Mendengar pembicaraan rahasia orang memang merupakan pantangan bagi kaum persilatan, tapi kalau mereka dari kalangan sehaluan, bukankah kita kehilangan kesempatan untuk berkenalan dengan mereka?"

Tengah mereka bicara, derap langkah di luar sudah berhenti, orang-orang dari kedua pihak sudah bertemu dan berkumpul bersama.

Terdengar salah seorang ber-kakakan, sebaliknya seorang lain tertawa kering pula dengan suara rendah dan sumbang.

Mendengar kedua suara tawa ini, terkejut hati Beng Goan-cau, terasakan keduanya sudah amat dikenalnya, dilihatnya pula roman muka Lim Bu-siang berubah, lalu berbisik di pinggir telinganya.

"Kedua orang ini adalah Cong Sin-liong dan Boh Cong-tiu."

Beng Goan-cau segera berkepu-tusan, katanya.

"Mereka sekarang masih berada di dalam hutan Siong di luar sana, kita bisa keluar dari pintu belakang, mari dengarkan pembicaraan mereka."

Kedua orang berjalan merunduk-runduk meringankan langkah, melewati pusara Su Khek-hwat terus-naik ke lereng bukit. Berkata Lim Bu-siang.

"Biar aku masuk melihat keadaan, sementara kau sembunyi di sini saja. Bila jejakku ketahuan mereka, kau boleh keluar."

Ginkang Beng Goan-cau terpaut jauh dibanding Lim Bu-siang, Beng Goan-cau tahu orang kuatir jejaknya ketahuan oleh musuh.

Apalagi kepandaian Cong Sin-liong dan Boh Cong-tiu teramat lihay, sekali ketahuan oleh mereka, pasti sulit untuk meloloskan diri.

"Baiklah, tapi kau sendiri jangan pergi terlalu jauh,"

Demikian pesan Beng Goan-cau.

Lim Bu-siang melayang naik ke atas pohon siong yang daunnya lebat, dengan pusatkan perhatian ia pentang mata memandang ke sana, dilihatnya Cong Sin-liong sedang mendatangi ke arah Boh Cong-tiu.

Orang yang datang bersama Boh Cong-tiu kiranya bukan lain adalah wakil komandan Gi-lim-kun Ciok Tio-ki adanya.

Setelah mengeluarkan suara tawa serak rendah dan sumbang, berkata Cong Sin-liong.

"Boh Cong-tiu, kukira di dalam matamu sudah tiada aku ini sebagai paman gurumu."

Seorang tua di belakang Cong Sin-liong segera unjuk tawa, katanya.

"Kalian sebetulnya dari satu perguruan, kini sebagai kolega dalam satu tugas pula, harap sukalah pandang muka Coh Thian-hiong dan Ciok-tayjin, pertikaian dulu, sedapat mungkin anggap tiada saja."

"Baik sekali ucapan Coh-losian-sing, Cong-susiok, sekarang kita sama dalam satu tugas satu tujuan demi kepentingan masing-masing, maka aku suka menerima bujukan Ciok Tayjin dan Cohlosiansing mengakurkan persoalan ini, agaknya kau tidak setulus hati, ya apa boleh buat."

Ciok Tio-ki lekas campur bicara.

"Kuharap kita mementingkan tugas dinas, tidak perlu bicara ngelantur."

Cong Sin-liong terbahak-bahak, ujarnya.

"Kupandang panggilan susiokmu ini, urusan lama boleh dianggap tiada saja. Baiklah, marilah kita bicarakan urusan itu."

"Nanti dulu!"

Cegah Ciok Tio-ki.

"Saudara Gui, coba. kau masuk ke gedung pemujaan, periksalah dulu, ada tidak orang di sana!"

Seorang laki-laki kurus bermuka kuning tertawa, katanya.

"Kalau ada orang di dalam gedung pemujaan, kiranya tidak akan bisa mendengarkan pembicaraan di sini."

"Tapi lebih baik kita hati-hati,"

Ujar Ciok Tio-ki.

"Siapa tahu kalau ada orang-orang kangouw yang pandai mendengar suara dengan mendekam di tanah."

Orang tua she Coh itu ikut bicara.

"Kabarnya hari ini adalah hari ulang tahun Ong Thian-thong, kaum persilatan yang berada di Yangciu pasti meluruk ke rumahnya. Tapi berlaku hati-hati memang ada baiknya, nah cobalah kau masuk memeriksanya sebentar."

"Setiap pelancong yang-kau temukan, bunuh saja habis perkara,"

Ciok Tio-ki memberikan perintahnya. Berdiri bulu kuduk Lim Bu-siang, batinnya.

Baca Juga: Dendam Iblis Seribu Wajah 7

Baca Juga: Dendam Iblis Seribu Wajah 3

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger