Eps 7 Dendam Iblis Seribu Wajah - Khu Lung
Baca online Dendam Iblis Seribu Wajah - Khu Lung
Cersil Dendam Iblis Seribu Wajah - Khu Lung.
Bahkan sikapnya yang gagah serta angkuh sebelumnya langsung ikut lenyap entah ke mana.
Tampak tubuh Lok Ing mencelat ke udara kemudian melayang turun dalam jarak kurang lebih dua depa dari hadapan Tan Ki.
Mulutnya merekah serta menyungging seulas senyuman.
"Bukankah malam ini kau menjadi pengantin?"
"Kalau benar, memangnya kenapa?"
Lok Ing menarik nafas panjang-panjang.
Dia seakan sedang menahan gejolak perasaan dalam hatinya.
Di wajahnya malah sering terlintas senyum yang belum pernah terlihat sebelumnya, seperti secara tidak langsung menyiratkan perasaan hatinya kepada Tan Ki.
Tetapi senyuman ini hanya terlihat sekejap saja, tiba-tiba wajahnya menjadi cemberut kembali.
Dengan ketus dia bertanya.
"Mengapa kau tidak memberitahukan kepadaku terlebih dahulu, tahu-tahu sudah mengambil seorang isteri?"
Terhadap pertanyaan yang lucu dan tidak memakai aturan mi, Tan Ki yang mendengarnya sampai melongo. Dia merasa pertanyaan itu benar-benar di luar dugaan.
"Pernikahan ini tidak ada sangkut pautnya dengan dirimu, mengapa aku harus melapor dulu kepadamu?"
Lok Ing langsung terpana. Diam-diam dia berpikir dalam hatinya.
"Benar juga, memangnya siapa aku ini, mengapa dia harus memberitahukannya lebih dahulu kepadaku?"
Begitu pikirannya tergerak, otomatis matanya jadi membelalak dan mulutnya terbuka lebar.
Untuk sesaat dia sampai tidak bisa mengatakan apa-apa.
Tetapi pada dasarnya dia memang seorang gadis yang angkuh dan tinggi hati.
Lagipula wataknya mau menang sendiri dan tidak pernah memakai tata krama.
Meskipun dia tahu dirinya sendiri yang bersalah tetapi dia tetap merasa tidak puas.
Setelah merenung sekian lama, otaknya tetap saja tidak mau bekerja sama mencetuskan bahan debatan, dari malu akhirnya dia menjadi marah.
Setelah mendengus satu kali, sepasang tangannya langsung terjulur ke depan dan secara berturut-turut menempeleng pipi Tan Ki sebanyak dua kali.
Dalam keadaan marah besar, turun tangannya juga sangat berat.
Tubuh Tan Ki sampai limbung serta berputaran satu kali baru akhirnya berdiri tegak kembali.
Kedua belah pipinya langsung menjadi merah dan membengkak.
Mata Tan Ki meliriknya dengan sorotan marah.
"Mengapa kau sembarang memukul orang?"
Bentaknya kesal.
"Memangnya kenapa kalau aku ingin memukulmu? Kalau kau masih merasa kurang, aku bisa menambahnya beberapa kali lagi!"
Tan Ki merasa ada segulung hawa panas meluap ke atas kepala.
Tiba-tiba kakinya melangkah ke depan dan tahu-tahu dia sudah mencekal pergelangan tangan Lok Ing.
Jurus ini merupakan salah satu jurus dari ilmu Te Sa Jit-sut yang paling mengejutkan.
Bukan saja gerakannya misterius, kecepatannya pun tidak terduga-duga.
Hal ini membuat orang tidak sempat mengadakan persiapan sama sekali.
Lok Ing hanya merasa pergelangan tangannya tiba-tiba seperti dijepit oleh capitan besi, tubuhnya terasa kesemutan dan tenaganya pun lenyap.
BAGIAN XXXI Serangan ini dilakukan dengan kecepatan kilat.
Lok Hong terkejut setengah mati.
Dia membentak nyaring dan kakinya menerjang ke depan.
Dengan jurus Rajawali Sakti Mengepakkan Sayap dia langsung mengulurkan tangannya mencengkeram.
Ilmu silat orangtua ini sudah mencapai tingkat yang tinggi sekali.
Begitu tangannya terulur untuk mencekal, meskipun dilancarkan dalam keadaan mendadak, namun mengandung kekuatan yang dahsyat.
Suara angin yang ditimbulkannya menderu-deru, di angkasa.
Serangannya belum sampai, terpaan anginnya sudah terasa.
Tan Ki menggeser kakinya dan tubuhnya memutar setengah lingkaran.
Dia berhasil menghindarkan diri dari serangan Lok Hong yang ganas.
Namun lima jari tangan kirinya tetap mencekal pergelangan tangan Lok Ing erat-erat.
Bagi Lok Ing yang pergelangan tangannya dicekal erat-erat, sebagian tubuhnya terasa kesemutan.
Dia tidak sanggup lagi mengerahkan tenaga untuk memberontak.
Tanpa dapat ditahan lagi, kakinya terseret, tubuhnya berputar lalu terjatuh ke dalam pelukan Tan Ki.
Ketika tubuhnya berputar untuk menghindari serangan Lok Hong, tangan kanan Tan Ki sudah diangkat ke atas dan tenaga dalamnya sudah dihimpun.
Baru saja dia bermaksud menghantamkannya ke bawah, tiba-tiba dia melihat Lok Ing membuka matanya dan menyorotkan sinar seakan menyesalkan.
Bibirnya menyunggingkan senyuman yang tipis.
"Apakah kau ingin membunuh aku?"
Tan Ki jadi tertegun.
Dia merasa suara gadis itu bagai genta yang berdentang nyaring dan menusuk gendang telinganya.
Tanpa dapat ditahan lagi jantungnya langsung berdebar-debar.
Diam-diam dia berpikir.
"Antara aku dan dia tidak ada kaitan dendam apapun, mengapa aku harus membunuhnya?"
Biar bagaimana, Tan Ki adalah seorang pemuda yang berotak cerdas.
Begitu pikirannya tergerak, dia merasa sikapnya sangat tidak pantas.
Hawa pembunuhan yang tersirat di wajahnya lenyap seketika.
Perlahan-lahan dia menurunkan tangannya kembali dan membuyarkan tenaga dalam yang telah dikerahkan sebelumnya.
Siapa kira watak Lok Ing justru angin-anginan.
Dia memang senang mencela apapun yang dilakukan oleh orang lain.
Melihat kemarahan Tan Ki telah reda, bahkan menurunkan kembali tangannya yang sudah diangkat ke atas, dia justru merasa tidak senang.
Mulutnya tertawa dingin dan hidungnya mendengus berat.
"Seorang laki-laki sejati berani berbuat berani bertanggung jawab. Kau menganggap dirimu sendiri sebagai seorang laki-laki yang gagah, mengapa apa yang kau lakukan justru ada awal tanpa akhirnya...? Kalau memang ingin membunuhku untuk melampiaskan kebencianmu, seharusnya langsung memberikan sebuah kepuasan kepadaku. Dengan demikian baru patut disebut sebagai seorang laki-laki yang gagah. Tidak seperti sikapmu sekarang ini yang ragu-ragu dalam mengambil keputusan..."
Tan Ki tertawa dingin. Dia langsung menukas perkataan Lok Ing.
"Laki-laki sejati ti-dak berdebat dengan kaum perempuan. Aku juga malas melayanimu lagi!"
Pergelangan tangannya dihentakkan, pergelangan tangan Lok Ing pun terlepas dari cekalannya.
Tanpa memperdulikan gadis itu lagi, dia langsung membalikkan tubuh dan melangkah pergi.
Lok Ing melihat tampangnya dingin dan angkuh.
Bilang tidak ingin melayani dirinya, dia benar-benar tidak memperdulikan sama sekali.
Malah membalikkan tubuh dan pergi begitu saja.
Tiba-tiba dia merasa dadanya seperti ditinju oleh seseorang dengan keras.
Tanpa dapat ditahan lagi, kakinya menyurut mundur dua langkah.
Seluruh tubuhnya bergetar kemudian terkulai ke dalam pelukan Lok Hong.
"Ya... ya... bu... nuhlah dia..."
Katanya dengan suara lirih.
Suaranya juga gemetar, seakan beberapa patah kata itu diucapkan dengan seluruh kekuatan yang terkandung dalam dirinya.
Selesai bicara, orangnya pun jatuh tidak sadarkan diri dalam pelukan Lok Hong.
Hati orangtua itu menjadi perih melihat keadaan cucu kesayangannya.
Rambutnya yang sudah memutih sampai berdiri semua.
Dia membentak dengan suara keras.
"Berhenti!"
Pada saat itu, entah apa yang sedang dipikirkan oleh Tan Ki.
Suara bentakan Lok Hong yang menggelegar seakan tidak terdengar oleh telinganya.
Dia tetap melangkahkan kakinya ke depan dan tidak menoleh sekalipun.
Biar bagaimana, Lok Hong merupakan Pangcu Ti Ciang Pang generasi sekarang.
Kedudukannya sangat tinggi, namanya sudah menggemparkan dunia persilatan.
Biasanya dia disegani oleh setiap orang.
Kewibawaannya membuat orang merasa sungkan.
Mana pernah dia menerima penghinaan seperti ini.
Melihat sikap Tan Ki yang meneruskan langkahnya dengan membisu serta tidak memperdulikan sama sekali, wajahnya langsung berubah hebat.
Hawa amarah dalam dadanya seperti hendak meledak.
Tetapi bagaimanapun perasaan sayangnya kepada cucu melebihi segalanya.
Dia menarik nafas panjang-panjang kemudian berusaha menekan hawa amarah dalam hatinya.
"Anak manis, bagaimana keadaanmu?"
Tangannya segera meraba kening Lok Ing, suaranya sangat lembut dan wajahnya menampilkan perasaannya yang khawatir dan cemas.
Oey Ku Kiong mengeluarkan sebuah botol berwarna hijau dari dalam saku pakaiannya.
Dia menuangkan dua butir pil berwarna merah putih dan berjalan menghampiri Lok Hong.
Wajahnya serius sekali.
"Cucu Tuan mendapat pukulan bathin yang hebat, hawa murninya memenuhi hati. Itulah sebabnya dia menjadi tidak sadarkan diri. Obat Cayhe ini dapat menyegarkan pikiran dan membuyarkan hawa murni yang mengendap. Setelah diminumkan kepadanya, pasti akan..."
Lok Hong mendengus dingin.
"Minggir! Siapa yang tahu apa yang terpendam dalam hatimu, entah obat asli atau obat palsu yang kau berikan kepadaku, memangnya baru pingsan atau luka seringan ini saja, aku tidak bisa mengobati sendiri?"
Bentaknya ketus.
Oey Ku Kiong kali ini benar-benar kena batunya.
Wajahnya langsung berubah hebat.
Tetapi sesaat kemudian, tampangnya sudah normal kembali seperti biasa.
Tetapi dia justru memaki-maki dalam hati.
"Kalau bukan karena Cen Kouwnio yang memesankan berulang kali agar aku melayani kalian baik-baik, sehingga rencananya dapat berhasil, mana sudi aku menerima penghinaan dan bentakan seperti sekarang ini. Setelah urusan ini selesai, aku pasti akan mengunjungi Ti Ciang Pang kalian dan meminta pelajaran barang beberapa jurus ilmu kalian yang hebat itu!"
Tetapi di luar bibirnya malah menyunggingkan senyuman dan menyurut mundur kembali.
Setelah mengundurkan diri, Lok Hong langsung menghimpun hawa murninya dan sebelah tangannya terjulur ke depan dan menempel di punggung Lok Ing.
Dia mendorong hawa murni dalam tubuhnya dan menyalurkannya ke jantung Lok Ing agar hawa panas yang mengendap dapat buyar.
Kurang lebih sepeminum teh kemudian, baru terdengar Lok Ing menghembuskan nafas panjang.
Perlahan-lahan dia membuka matanya.
Beberapa tetes air mata tiba-tiba mengalir turun dari bulu matanya sebelah bawah.
Pakaian Lok Hong di bagian dadanya sampai basah oleh tetesan air mata tersebut.
Rambutnya indah beterbangan tertiup angin malam.
Tampangnya sungguh menyayat hati dan mengenaskan.
Sepasang matanya mengerling, dia melihat bayangan punggung Tan Ki yang kekar dan angkuh di kejauhan.
Anak muda itu melangkah dengan cepat.
Lok Ing menudingkan jari tangannya, tetapi teng-gorokkannya bagai tercekat berbagai macam benda sehingga sepatah katapun tidak terucap oleh bibirnya.
Tampangnya bagai memendam gejolak perasaan, mimik wajahnya seperti orang yang menderita sekali.
Lok Hong meletakkan cucu kesayangannya agar berdiri tegak.
Dia berkata dengan suara yang lembut.
"Berdirilah di sini diam-diam, Yaya akan membawanya kembali."
Wajahnya mendongak lalu menarik nafas dalam-dalam.
Dari dalam perutnya keluar suara seperti suitan panjang, kumandangnya bagai menembus awan biru.
Sepasang tangannya merentang, bagai seekor rajawali sakti tubuhnya melesat ke udara.
Ilmu silatnya sudah mencapai tingkat kesempurnaan, hawa murninya tinggi sekali, dia dapat menggerakkannya sesuai keinginan hati.
Begitu melonjak ke atas, kecepatannya tak perlu ditanyakan lagi.
Dia mengerahkan segenap kemampuannya, udara bagai tertembus.
Pakaiannya sampai mengibar-ngibar sehingga menimbulkan suara angin yang menderu-deru.
Ketika tubuhnya mencelat ke udara lalu melayang turun kembali.
Dia mendarat tepat menghadang di depan Tan Ki.
Tangannya terulur dan mendorong ke depan.
"Kembali!"
Bentaknya lantang.
Serangkum tenaga yang dahsyat terpancar keluar dari dalam lengan bajunya.
Kekuatan itu meluncur ke arah dada Tan Ki yang sedang berlari dengan cepat.
Tan Ki merasa serangannya itu bagai gulungan ombak yang melanda ke arahnya.
Tajamnya bagai belahan kapak, kekuatannya dahsyat mengejutkan.
Hatinya tercekat.
Dengan panik, dia mengempos hawa murni ke arah dada dan mendadak mencelat mundur sejauh lima depa.
Lok Hong mendengus dingin.
"Gerakan yang bagus sekali!"
Kaki kirinya terangkat ke atas lalu melakukan gerakan menyapu.
Tubuh Tan Ki baru berhenti dengan tegak.
Melihat serangan itu, dia menarik tubuhnya ke belakang, namun tahu-tahu telapak tangan Lok Hong sudah meluncur ke depan dan jaraknya hanya tinggal setengah depa saja.
Gerakannya begitu cepat dan mendesak ke depan, hal ini membuat Tan Ki tidak mempunyai pilihan lain, kalau tidak ingin dadanya terhantam telak.
Dia terpaksa melancarkan telapak tangannya dan menyambut serangan Lok Hong dengan cara keras lawan keras.
Oleh karena itu, dia segera memutuskan untuk melakukan hal yang terakhir.
Telapak tangannya memutar dan meluncur ke depan menyambut datangnya serangan Lok Hong.
Dia merasa meskipun serangan itu sangat cepat tetapi tidak mengandung tenaga yang kuat.
Baru saja hatinya merasa heran, tiba-tiba dia merasa ada serangkum kekuatan yang tidak berwujud tahu-tahu mendesak ke bagian perutnya!
Rupanya Lok Hong tidak mengerahkan tenaga dalamnya benar-benar ke arah telapak tangan.
Ketika kedua kekuatan beradu, barulah dia mengerahkan tenaga dalam sepenuhnya dan melancarkannya secara diam-diam ke arah lawan.
Lok Hong bermaksud melukai anak muda itu dalam sekali gerak dan meringkusnya hidup-hidup ke hadapan cucu kesayangannya untuk diberi hukuman yang pantas.
Termakan serangan yang dilancarkan secara diam-diam itu, tubuh Tan Ki langsung tergetar.
Tanpa dapat ditahan lagi kakinya menyurut mundur lima langkah.
Tubuhnya terhuyung-huyung dan kakinya tidak dapat berdiri dengan mantap.
Lok Hong tertawa dingin.
"Sinar kunang-kunang saja berani menentang cahaya matahari, cepat menggelinding kembali!"
Sepasang bahunya tampak bergerak, kakinya mendesak ke depan.
Tangan kanannya mengambil posisi menahan di depan dada lalu mendorong keluar.
Tan Ki merasa dirinya bagai dicelupkan ke dalam kolam es.
Tubuhnya menggigil.
Hatinya tergetar.
Melihat Lok Hong melancarkan sebuah serangan lagi, mulutnya langsung mengeluarkan suara teriakan lantang, keberaniannya dibangkitkan.
Kembali dia mengulurkan telapak tangannya dan menyambut serangan Lok Hong dengan kekerasan.
Kali ini dia melakukan serangan balasan dengan mengerahkan sepuluh bagian tenaga dalamnya.
Tetapi kekuatan yang dahsyat itu tidak menimbulkan suara sedikitpun.
Hal ini merupakan serangan tingkat tinggi dari seorang yang sudah tergolong jago kelas satu.
Begitu kedua kekuatan beradu, persis seperti selembar daun yang jatuh ke atas tanah.
Tidak sedikitpun suara yang terdengar, namun Lok Hong mengeluarkan suara dengusan yang berat.
Tubuhnya langsung mencelat ke udara, sedangkan Tan Ki tergetar mundur sampai lima enam langkah baru dapat berdiri kembali dengan tegak.
Tampak sepasang mata Tan Ki mendelik lebar-lebar.
Cahaya yang terpancar sangat dingin.
"Bagaimana kalau kau menyambut satu lagi serangan dari Lohu?"
Tanyanya dengan nada membentak.
Telapak tangan kanannya dengan tergesa-gesa melancarkan sebuah pukul-an, dalam waktu yang bersamaan tubuhnya juga mendesak ke depan.
Serangannya ini tidak sama dengan dua gerakannya yang pertama, begitu telapak tangannya terulur keluar, langsung terasa angin kencang yang menderu-deru bagai badai dahsyat seketika melanda ke arah Tan Ki.
Mimik wajah Tan Ki berubah menjadi serius sekali.
Dia berdiri tegak bagai sebuah patung, tahu-tahu tangannya menjulur ke depan dan melancarkan sebuah pukulan.
Dari dua gebrakan pertama tadi, Tan Ki sudah tahu bahwa tenaga dalam Lok Hong sudah mencapai taraf yang tinggi sekali.
Tampaknya orangtua ini juga melatih sejenis Lwekang yang mengandung daya Im sehingga tenaganya mengandung getaran yang menggi-gilkan dan dapat menggetar putus urat nadi lawannya.
Oleh karena itu, pukulannya kali ini dilancarkan dengan hati-hati sekali.
Ketika kedua kekuatan kembali beradu, terjadilah angin topan yang kencang.
Di dalamnya juga terkandung hawa dingin dan menerobos ke arah pukulan Tan Ki yang dilancar-kan untuk melindungi diri.
Begitu serangan itu melanda datang, tubuhnya langsung terasa disusupi hawa dingin sehingga pori-porinya jadi menyusut namun bulu kuduknya merinding semua.
Hatinya terkejut sekali.
Cepat-cepat dia mencelat ke udara setinggi kurang lebih lima depa.
Beberapa serangan Lok Hong yang gencar membuat Tan Ki terpaksa menggerakkan tangan menyambut.
Kakinya terdesak mundur dan mundur lagi.
Tanpa terasa dia sudah mun-dur kembali ke tempat semula, namun dia sendiri masih tidak menyadarinya.
Tiba-tiba Lok Hong memperdengarkan suara tawa yang keras.
"Hati-hatilah!"
Bentaknya keras.
Tangannya terulur dan dengan perlahan-lahan kembali dia melancarkan sebuah pukulan.
Tangan kanan Tan Ki mengibas, sebuah serangan dilancarkan dengan jurus Bintang-Bintang Berputaran di Langit, tubuhnya menggeser ke samping sejauh lima depa.
Dengan cara ini dia menghindarkan diri dari serangan Lok Hong.
Dalam beberapa bulan terakhir ini, secara berturut turut dia sudah bergebrak dengan berbagai tokoh tingkat tinggi dunia Bulim.
Pengalamannya semakin bertambah.
Hatinya maklum, dengan mengandalkan nama besar yang telah dipupuk oleh Lok Hong, serangan yang tampaknya biasa-biasa saja ini pasti mengandung kekuatan yang mengejutkan.
Bahkan mungkin merupakan suatu jurus yang mematikan.
Kalau tujuannya bukan hendak memancing lawan, pasti di baliknya terdapat keistimewaan yang tidak dapat dianggap enteng.
Oleh karena itu, dia segera menggeser kakinya menghindar dan berjaga-jaga terhadap serangan yang tidak terduga-duga.
Dalam sekejap mata kedua telapak tangan segera beradu, ternyata di balik serangan Lok Hong yang tampak sederhana itu mengandung segulungan tenaga yang tidak berwujud dan membuat Tan Ki tidak dapat mendesak lebih maju.
Dalam serangan itu juga terkandung rangkuman kekuatan yang dapat mendorong tenaga Tan Ki sehingga memantul kembali kepada dirinya sendiri.
Hatinya merasa panik, tiba-tiba terlihat kaki Lok Hong bergerak.
Dengan kecepatan seperti kilat tubuhnya mendesak ke depan, telapak tangannya mengambil posisi menahan di depan dada kemudian didorongkan ke depan sekuat tenaga untuk menghantam tubuh Tan Ki.
Kejadian itu berlangsung dalam waktu sekedipan mata saja.
Terdengar suara yang menggelegar.
Serangkum kekuatan yang dahsyat sekali sudah menghantam telak dada anak muda tersebut.
Tenaga yang terkandung dalam serangannya ini hebat bukan main.
Terdengar mulut Tan Ki mengeluarkan suara keluhan lalu membuka dan memuntahkan segumpal darah segar.
Tubuhnya sempoyongan seperti orang mabuk dan dengan terhuyung-huyung menyurut mundur ke belakang.
Sepasang bahunya tampak bergerak-gerak.
Hatinya bermaksud memantapkan langkah kakinya dan tidak ingin tubuhnya terjatuh ke atas tanah.
Setiap kali melangkah mundur, dia menjejakkan kakinya kuat-kuat di atas tanah, sampai menimbulkan suara debuman.
Tetapi akhirnya keinginan hati itu tidak terlaksana juga.
Setelah menyurut mundur dengan limbung sejauh tujuh delapan langkah, tubuhnya terkulai juga di atas tanah.
Apabila dua orang ahli silat bergebrak, kejadiannya hanya berlangsung dalam waktu yang singkat.
Jumlah jurus yang dilancarkan kedua orang itu keseluruhannya hanya empat serangan saja.
Dari awal hingga akhir hanya memakan waktu kurang lebih sepenanakan nasi.
Oey Ku Kiong dan Kim Yu yang menyaksikannya sampai ikut terkesiap.
Mereka merasa bahwa setiap serangan maupun tangkisan yang dilancarkan kedua orang itu mengandung keanehan yang jarang terlihat.
Meskipun akhirnya Tan Ki terluka di tangan Lok Hong, namun mereka merasa kekalahannya itu didapatkan dengan gemilang.
Lok Hong tertawa terbahak-bahak.
Dia melangkah ke depan dengan cepat.
Tampak dia membungkukkan tubuhnya dan mengangkat Tan Ki yang sedang terluka parah.
Gerakan
nya sangat cepat dan luwes sekali. Sekejap mata saja dia sudah kembali lagi ke samping Lok Ing. Mulutnya merekahkan tertawa yang lebar.
"Orang ini aku serahkan kepadamu. Apapun yang ingin kau lakukan, jangan ragu-ragu sedikitpun. Mati hidup tergantung dirimu sendiri. Segala akibatnya Yaya akan bertanggung jawab. Kau tidak perlu khawatirkan hal ini!"
Meskipun mulutnya berkata demikian, tetapi hatinya khawatir Tan Ki pura-pura terduka parah dan tiba-tiba melancarkan sebuah serangan kepada cucunya.
Secara diamdiam dia mengulurkan jari tangannya untuk menekan sebuah urat darah di bagian pinggang anak muda itu.
Sepasang mata Kim Yu mengerling ke sana ke mari.
Diam-diam dia mempertimbangkan keadaan di sekitarnya.
Hatinya berpikir bahwa perdebatan di antara kedua pihak lawan masih belum berakhir, tentu mereka tidak mempunyai kesempatan untuk mengurus hal lainnya.
Kalau pertikaian itu memakan sedikit waktu lagi, maka berarti dia mempunyai kesempatan beberapa menit untuk melarikan diri dari tempat itu.
Tetapi dia melihat sudut bibir Oey Ku Kiong terus menerus mengulumkan seulas senyum yang membuat hatinya menjadi sebal.
Matanya yang menyorotkan sinar dingin tidak henti-hentinya melirik ke arah dirinya.
Lagaknya seperti sengaja juga tidak, seakan secara diam-diam mengawasi dirinya serta gerak-geriknya, sehingga untuk memberi isyarat kepada rekannya yang lain saja tidak ada peluang sama sekali.
Tanpa dapat ditahan lagi, dia mendengus satu kali dengan penuh kebencian.
Hatinya semakin kesal juga panik memikirkan keadaannya sendiri.
Pikirannya terus melayang-layang memikirkan cara menyelamatkan diri, tiba-tiba telinganya menangkap raungan kemarahan.
Cepat-cepat dia mendongakkan wajahnya untuk melihat.
Tampak lengan kanan Lok Hong dikibaskan.
Orangtua itu berteriak dengan suara keras.
"Minggir!"
Mata dan telinga Lok Hong peka bukan kepalang, baru saja teriakan itu terucapkan, indera pendengarannya telah menangkap suara desiran senjata yang menerobos diantara angin yang bertiup.
Sepasang bahunya tampak bergerak dan tubuhnya langsung bergeser sejauh tiga langkah.
Meskipun saat itu dia sedang membopong Tan Ki, sehingga menambah beban dirinya, tetapi kelebatan tubuhnya tetap begitu cepat sampai sulit diikuti pandangan mata.
Segurat sinar berwarna putih melesat lewat cahaya rembulan yang suram bagai luncuran anak panah melayang datang.
Lok Hong memiringkan tubuhnya.
Senjata rahasia itu lewat di samping telinganya dan mengeluarkan suara dentangan seakan menghantam ke tem-bok pekarangan.
Terdengar gema suaranya yang lirih kemudian menyatu dengan keheningan suasana.
Lok Hong masih belum mendongakkan kepalanya, namun mulutnya sudah mengeluarkan suara bentakan.
"Siapa? Berani-beranian membokong Ld-hu!"
Terdengar suara sahutan berupa tawa dingin yang lembut.
"Coba lagi gerakan Man Tian Hua-ho alias Hujan Bunga di seluruh penjuru bumi ini!"
Baru saja ucapannya selesai, sekumpulan sinar berwarna keperakan meluncur datang dengan berpencaran.
Serangan orang itu kali ini aneh sekali.
Sasarannya tidak langsung ke bagian tubuh Lok Hong, tetapi berputaran dan memercik ke mana-mana.
Begitu sampai ke tempat Lok Hong berdiri, sinar itu baru berkumpul menjadi satu lalu meletus bagai bunga api.
Segulungan demi segulung garis putih bagai mempunyai sukma masing-masing meluncur pesat bagai kilat.
Cahayanya memijar bahkan memencar sampai jarak lima depa.
Bahu Lok Hong agak dimiringkan, tubuhnya mendadak melesat ke atas.
Tampak jubahnya yang panjang dan longgar berkibar-kibar bagai sedang menari-nari.
Gerakannya lak-sana segumpal awan yang perlahan-lahan berarak ke atas.
Dan meskipun gerakannya itu lambat, tetapi sinar putih yang meluncur pesat itu tidak dapat mendekatinya lebih jauh dan satu depa.
Rembulan hampir menyembunyikan seluruh dirinya di balik awan.
Suasana gelap sekali, tetapi sinar putih keperakan itu berkilauan, juga menimbulkan suara angin yang berdesir lalu melesat lewat di bawah kaki Lok Hong.
Ketika tubuhnya mendarat turun ke atas tanah, tiba-tiba dari balik kegelapan kembali terdengar suara tawa yang dingin tadi.
Sepasang alis Lok Hong terjungkit ke atas, perasaan tidak senang langsung tercetus keluar.
"Memangnya apa kehebatan Man Tian Hua-ho milikmu itu?"
Bentaknya marah. Suara yang lembut namun ketus itu kembali berkumandang sepatah demi sepatah.
"Masih ada lagi Bintang Jatuh Sebesar Jempol Jari!"
Begitu ucapannya selesai, tidak terdengar sedikitpun desiran senjata rahasia.
Meskipun Lok Hong menjaga martabat dirinya dan sampai sekarang belum melakukan serangan balasan, tetapi cara turun tangan yang lain dari biasanya serta tenang mencekam ini justru membuat hatinya bergetar.
Tanpa dapat menahan rasa penasaran di hatinya, dia segera mendongakkan kepalanya dan mempertajam indera penglihatannya.
Tampak serenceng sinar berwarna keperakan membawa cahaya yang panjangnya kurang lebih sedepa sedang meluncur ke arahnya.
Rencengan sinar ini menyatu dan tidak memencar seperti yang sebelumnya.
Gerakannya lamban tidak tergesa-gesa.
Jauh berbeda dengan rangkaian titik-titik seperti hujan yang terlihat sebelumnya.
Namun di balik cahaya yang bergerak lurus itu terselip ketegangan yang tidak terkatakan.
Lagipula rencengan senjata rahasia ini bergerak lurus dan meskipun Kampaknya lamban namun sebetulnya meluncur dengan pesat.
Semuanya berkumpul menjadi sebuah titik garis yang panjang.
Meskipun Lok Hong sudah mempertajam indera penden-garannya, tetap dia tidak dapat menafsir berapa jumlah senjata rahasia itu sebenarnya.
Hatinya terasa terperanjat, tidak menunggu sampai luncuran senjata rahasia itu mendekat ke arahnya, tubuhnya langsung bergerak dan melesat ke samping kira-kira lima depaan.
Baru saja tubuhnya bergerak, tiba-tiba terdengar suara Ting!
Tang!
Bintang berwarna perak yang meluncur pertama-tama mendadak melesat cepat bagai seekor kuda liar yang terlepas dari tali kendalinya.
Gerakannya semakin cepat, luncurannya seperti roh gentayangan yang terus mengikuti dari belakang.
Cara mencapai sasarannya yang aneh itu sampai sulit diuraikan dengan kata-kata.
Kemudian disusul lagi dengan dua kali suara desiran yang lirih.
Tiga titik bintang perak yang dari lurus luncurannya berubah menjadi beterbangan ke mana-mana.
Kemudian terdengar lagi serentetan.
Tang!
Ting!
Tang!
Yang berbunyi terus-terusan.
Serenceng cahaya perak kembali memijarkan cahaya ke sekitar tempat itu.
Bagai curahan hujan yang deras dan semuanya menjadi satu menuju ke tubuh Pangcu dari Ti Ciang Pang tersebut.
Malam yang dingin sebentar lagi akan berlalu.
Kumpulan bintang mulai memudar, waktu ini merupakan detik-detik paling sunyi menjelang fajar.
Namun suara dentangan itu terus saling susul menyusul menimbulkan ke-bisingan.
Suara yang menggetarkan itu bagai lonceng kematian yang menandakan ajal telah tiba.
Belum lagi senjata rahasianya sampai, suaranya sudah menimbulkan kejutan yang mengerikan.
Orang yang berdiri menyaksikan hal tersebut hanya merasa matanya berkunang-kunang.
Sepasang mata Lok Hong membuka lebar-lebar.
Sinarnya menusuk bagai sebatang anak panah yang tajam.
Dia memperhatikan titik bintang berwarna perak itu lekat-lekat juga hujan perak yang memencar di sekitarnya.
Tampangnya demikian tenang seakan tidak ambil perduli sama sekali.
Tubuh Lok Hong mencelat ke udara, sebentar saja dia sudah keluar dari kurungan hujan senjata rahasia tersebut.
Ketika dia menolehkan kepalanya, dia melihat setitik sinar perak yang mula-mula meluncur tadi sudah mengancam bagian punggungnya dalam waktu yang singkat.
Tanpa dapat ditahan lagi hatinya terkesiap setengah mati.
Justru di saat yang paling menentukan mati hidupnya ini, tiba-tiba Lok Hong mengulurkan tangannya.
Dengan kecepatan yang tak terkirakan dia menyentil.
Terdengar suara dentingan yang lirih, cahaya perak yang sedang meluncur itu dengan telak kena disentilnya sehingga buyar seketika dan memercik ke mana-mana.
Setelah mengulurkan jari tangannya menyentil, dengan posisi tidak berubah tubuh Lok Hong mencelat ke udara.
Bagai telah diatur olehnya, percikan cahaya perak tadi terbagi dua kelompok berderai jatuh di kiri kanan tubuhnya.
Oey Ku Kiong dan Kim Yu yang menyaksikan hal itu tanpa sadar meneriakkan suara pujian.
"Sentilan yang hebat... gerakan tubuh yang bagus!"
Sinar mata Lok Hong mengerling sejenak, lalu berhenti pada gerombolan semak yang jaraknya kurang dua depaan. Dia berkata dengan suara lantang.
"Lohu sudah menyambut dua serangan senjata rahasia anda secara berturut-turut, entah ada ilmu apa lagi yang mengejutkan?"
Dari balik gerombolan semak itu terdengar suara seorang wanita yang lebih mirip ratapan.
"Kau majulah ke depan lima langkah, coba sambut lagi ilmu Tiga Kakak Beradik Bergandengan Tangan serta Pelangi Membias Sehari Penuh!"
Lok Hong merenung sejenak.
"Kalau ingin Lohu menjajal dua macam ilmu itu boleh saja, tetapi kau harus berdiri di depan agar Lohu dapat melihat siapa adanya anda ini?"
Dari balik kegelapan berjalan keluar seorang wanita setengah-baya dengan dandanan dan pakaian sederhana.
Di bagian punggungnya menggembol sepasang golok bulan sabit.
Dia melangkah dengan perlahan-lahan.
Bagi orang-orang yang ada di sekitar tempat itu, wanita setengah baya ini tampak asing sekali.
Tanpa terasa Lok Hong jadi termangu-mangu sesaat.
Sepasang matanya dirapatkan perlahan-lahan, dia sedang memeras otaknya.
Tetapi biar bagaimanapun dia tidak mengingat kalau di dunia Bulim ada seorang tokoh wanita seperti nyonya di hadapannya ini.
Dalam pikirannya, dia masih mengira kalau cucu kesayangannya yang sehari-harinya sangat ugal-ugalan dan tidak memakai peraturan telah berbuat kesalahan kepada nyonya ini.
Oleh karena itu sepasang alisnya langsung mengerut dan tanpa dapat ditahan lagi dia melirik sekilas kepada Lok Ing.
Tetapi mimik wajah gadis itu juga seperti orang yang kebingungan, tampaknya gadis itu sendiri tidak pernah mengenal wanita setengah baya ini.
Hatinya benar-benar merasa penasaran, perasaannya menjadi bimbang tidak menentu.
Tiba-tiba dia melihat Tan Ki yang lemas dan terkulai dalam pelukan Lok Ing berubah hebat wajahnya sejak kemunculan wanita setengah baya ini.
Matanya membelalak lebarlebar.
Mukanya mengerut-ngerut seakan menahan perasaan hatinya yang bergejolak, namun diantaranya juga tersirat perasaan marah.
Dua macam perasaan yang berbeda, yakni marah dan terharu berkecamuk dalam hati anak muda itu.
Hal ini membuat mimik wajahnya menjadi aneh, sehingga menimbulkan kesan seperti orang yang gembira sekaligus marah.
Tampangnya luar biasa aneh dan tidak sedap dipandang.
Wanita setengah baya yang berpakaian sederhana itu menatap sekilas ke arah lengan pakaian Lok Hong.
Dia berkata dengan suara lirih.
"Kalau dilihat dari sulaman telapak berwarna emas yang ada di ujung lengan bajumu, tampaknya kau ini orang dari Ti Ciang Pang?"
Lok Hong mendengus satu kali.
"Pandangan Nyonya hebat sekali. Lohu memang kepala dari perkumpulan Ti Ciang Pang tersebut."
"Tokoh kelas tinggi di kolong langit ini banyaknya seperti awan di langit, tetapi orang yang dapat menghindar dari serangan Man Tian Hua-ho dan Ci Bu Liu-sing milikku, mungkin hanya ada beberapa orang saja. Hal ini membuktikan bahwa ilmu silatmu pasti cukup tinggi, apalagi di ujung lengan bajumu terdapat sulaman telapak emas. Dengan demikian aku jadi teringat bahwa kau tentunya berasal dari Ti Ciang Pang di wilayah Sai Pak."
Lok Hong melihat wanita setengah baya ini berwajah cantik.
Pakaiannya sederhana, penampilannya keibuan dan lemah lembut, namun ilmu senjata rahasianya sangat mengejutkan.
Dapat dipastikan kalau wanita ini bukan tokoh sembarangan.
Oleh karena itu dia memasang wajah serius sambil bertanya.
"En-tah siapa nama Saudari yang mulia?"
"Aku bernama Ceng Lam Hong..."
Wanita setengah baya itu sambil mengembangkan senyuman yang datar. Hati Lok Hong jadi tertegun.
"Ternyata memang wanita yang namanya tidak pernah terdengar di dunia Bulim, tidak heran kalau Lohu tidak mengenalnya."
Kemudian tampak orangtua itu menarik nafas pancang dan diam-diam mengerahkan hawa murni dalam tubuhnya.
"Sekarang juga Lohu akan menyambut dua macam ilmu yang anda sebutkan tadi!"
Perasaan hati Tan Ki saat ini bagai aliran sungai yang deras, beribu-ribu kenangan melintas di kalbunya.
Perlahan-lahan dia memejamkan matanya, maksudnya ingin mengatur pernafasan dengan ilmu yang baru dikuasainya.
Dengan demikian mungkin gejolak perasaan di dalam hatinya dapat tenang kembali.
Tetapi malah kegagalan yang didapatkan.
Dalam keadaan seperti itu, konsentrasinya tidak dapat dipusatkan.
Berbagai bayangan melintas di depan pelupuk matanya, berbagai ingatan juga tidak mau ketinggalan ikut bersatu dalam benaknya.
Dia teringat akan dendamnya yang belum terbalaskan, persahabatan yang belum tuntas, juga berbagai kegembiraan, kesedihan, kegetiran yang telah dialaminya sejak menerjunkan diri di dalam dunia Kangouw.
Matanya terpejam rapat-rapat.
Rasanya ingin membandingkan suara ibunya sekarang dengan masa kecil ketika dia ditinggalkan.
Dia berharap dari suara yang lebih mirip ratapan tadi, ingatannya dapat kembali ke masa kecil yang bahagia.
Tetapi setelah memikirkan sejenak, diam-diam dia menertawakan dirinya sendiri.
Mengapa perasaan ini selalu demikian melankolis?
Kalau kenyataannya wanita ini sudah mengkhianati ayahnya dan kabur bersama laki-laki lain, mengapa dia harus mengingat kembali masa lalunya?
Bukankah hal ini cuma menambah penderitaan dan penyesalan dalam hatinya?
Tetapi pandangan yang picik dan sudah berakar dalam sanubarinya malah bertentangan dengan semacam kerinduan yang tidak dapat dihilangkan secara keseluruhan di dalam hatinya.
Dia merasa tindakan ibunya yang meninggalkan dirinya tanpa pesan apa-apa dan kabur dengan seorang laki-laki serta berbuat kesalahan besar sebagai seorang isteri, mem-buat perasaannya yang memang sudah hampa dan menderita melahirkan lagi segulungan ke-bencian yang tidak terkirakan.
Namun begitu bertemu dengan ibunya, di balik kebencian yang sudah berakar, juga menyelinap perasaan kasih.
Biar bagaimana Ceng Lam Hong adalah ibu kandung yang melahirkannya.
Perasaan hatinya bagai kitiran angin yang dalam waktu singkat telah memutarkan berbagai bayangan.
Dia melihat tampang Lok Hong maupun ibunya demikian kelam.
Seakan sejenak lagi akan terjadi pertarungan yang dapat menentukan mati hidup mereka.
Tanpa dapat ditahan lagi dia berteriak sekeras-kerasnya.
"Kalian jangan berkelahi lagi!"
Geng Lam Hong tersenyum lembut. Pundaknya bergetar, sambil menghambur datang dia berseru.
"Anakku,..!"
Dalam hatinya seakan terdapat ribuan kata-kata yang ingin diutarakan.
Tetapi setelah memanggil satu kali, dalam tenggorokannya seakan tercekat sesuatu benda.
Bibirnya gemetar, tetapi tidak ada sepatah katapun yang terucapkan.
Seakan sepatah panggilan tadi tercetus keluar setelah dia mengerahkan segenap kekuatannya.
Suaranya bagai ratapan, nyaring serta melengking tinggi.
Dalam suasana menjelang fajar seperti ini semakin lantang dan gemanya memantul sampai ke seluruh taman bunga itu.
Tiba-tiba dia menarik nafas panjang-panjang.
Wajahnya menjadi serius lalu berkata kepada Lok Ing.
"Turunkan anakku!"
Lok Ing tertawa dingin "Mengapa aku harus mendengarkan kata-katamu?"
Ceng Lam Hong mendengus satu kali.
Dia berjalan menghampiri Lok Ing.
Tiba-tiba terasa kibaran angin melintas di samping.
Tubuh Lok Hong bergerak bagai seekor burung besar berwarna hijau melayang turun di samping cucu kesayangannya, sinar matanya tajam menusuk.
Dia menatap Ceng Lam Hong lekat-lekat, seakan tahu wanita setengah baya ini mengandung niat yang kurang baik pada cucunya.
Dengan kecepatan bagai kilat, dia melancarkan sebuah pukulan.
Saat itu suasana semakin menegangkan.
Tan Ki memperhatikan ibunya sekejap kemudian menolehkan wajahnya melirik Lok Hong sekilas.
Dia melihat hawa pembunuhan telah tersirat di alis kedua orang itu.
Diam-diam hatinya menjadi tercekat.
Tetapi ketika dia mengerling matanya kembali, tiba-tiba dia melihat di atas tembok pekarangan, entah sejak kapan telah berdiri seseorang yang mengenakan pakaian putih.
Dengan mengandalkan indera penglihatannya yang tajam, setelah memperhatikan sejenak, dia juga belum dapat melihat orang itu dengan jelas.
Kecuali tubuhnya dibalut pakaian putih, dalam ingatannya tidak tertanam sedikitpun kesan yang lain.
Jantungnya berdebar-debar.
Tanpa dapat menahan rasa penasaran dalam hatinya, dia menatap orang itu sekali lagi.
Setelah memperhatikan sejenak, tiba-tiba hatinya bagai diselimuti perasaan yang menggidikkan.
Tampang orang itu sebetulnya tidak terlalu jelek, tetapi dari keseluruhan dirinya tidak terdapat setitik pun hawa manusia hidup.
Tampak wajahnya bagai diselimuti selaput berwarna kehijauan sehingga perasaan hatinya tidak dapat diterka.
Persis seperti sesosok mayat di dalam peti mati, mukanya kaku, sehingga melihatnya sekilas saja orang merasa hatinya tergetar dan merasa seram.
Tan Ki menarik nafas panjang-panjang.
Matanya dibelalakkan lebar-lebar.
Diam-diam dia berpikir di dalam hati.
"Kok di dunia ini ada manusia yang tampangnya begini?"
Ketika pikirannya masih bergerak, tiba-tiba dia melihat tangan kanan orang berpakaian itu menyusup ke dalam saku pakaian dan mengeluarkan sesuatu.
Matanya mengerling ke sana ke mari, seakan sedang memperhitungkan jarak antara Ceng Lam Hong dan Lok Hong.
Semakin diperhatikan, hati Tan Ki semakin merasa ada sesuatu yang tidak beres.
Tanpa terasa dia berkata dengan suara lirih.
"Lok Kouwnio, cepat suruh kakekmu dan ibuku menghentikan pertikaian!"
Lok Ing tertawa lebar.
"Kenapa? Apakah kau khawatir kakekku tidak dapat mengalahkannya?"
Tan Ki segera menggelengkan kepalanya.
"Tidak."
Mata Lok Ing melirik sekilas.
"Kalau begitu kau takut kakekku akan melukainya?"
Kembali Tan Ki menggelengkan kepalanya.
"Kalau mereka sampai bergebrak, kalah dan menang adalah sesuatu yang wajar. Tetapi aku sama sekali tidak ambil pusing masalah ini..."
Lok Ing menjadi bingung mendengar ucapannya.
"Ini bukan, itu juga bukan. Apa kau kehabisan bahan pembicaraan sehingga mengoceh sembarangan saja?"
Sepasang alis Tan Ki langsung terjungkit ke atas. Dia mendengus satu kali.
"Coba kau palingkan kepalamu dan lihat di atas tembok pekarangan. Setelah itu kau baru mencaci maki juga masih belum terlambat!"
Gerutunya kesal. Lok Ing menuruti perkataannya dan menoleh ke belakang. Saat itu juga dia langsung tertegun.
"Orang-orang ini manusia atau setan?"
Melihat tampang orang itu, mulutnya tanpa dapat ditahan lagi kelepasan bicara.
Tetapi setelah mempertimbangkan sejenak, dia mengingat dirinya juga mempunyai kedudukan yang cukup tinggi di dunia Kangouw.
Seandainya benar-benar setan, juga tidak perlu ketakutan seperti itu, oleh karena itu cepat-cepat dia menghentikan kata-katanya.
Mata Tan Ki ikut melirik sekilas.
Tanpa dapat ditahan lagi dia juga ikut terpana.
"Aneh sekali! Mengapa dalam sekejap mata saja jumlah mereka bisa bertambah?"
Rupanya di atas tembok pekarangan itu, saat ini sudah berdiri berjajar dua orang manusia yang bentuk tubuhnya hampir sama dan sama-sama berpakaian putih.
Bahan pakaian mereka terbuat dari bahan belacu yang kasar.
Wajah mereka sama-sama dilapisi selaput berwarna hijau.
Biar bagaimana pun tajamnya indera penglihatan seseorang, dalam waktu yang singkat juga tidak dapat membedakan keduanya.
Tampaknya kehadiran kedua manusia berpakaian putih itu juga mengejutkan Lok Hong.
Tapi bagaimanapun usianya lebih tua dari yang lainnya.
Pikirannya juga lebih dalam.
Meskipun dalam hatinya merasa terperanjat, tetapi dari luar dia tetap mempertahankan ketenangannya.
Dia berdiri dengan mulut membungkam.
Namun pikirannya terus bekerja, dia berusaha mengingat-ingat siapa tokoh di dalam dunia Kangouw yang tampangnya seperti kedua orang ini.
Tetapi setelah berpikir bolak-balik, dia tetap tidak dapat mengingat kalau di dunia Kangouw ini ada tokoh yang tampangnya seperti mayat hidup ini.
Tiba-tiba terdengar Ceng Lam Hong berkata dengan suara rendah.
"Aku sudah mengatakan bahwa kau harus meletakkan anakku, apakah kamu masih tidak mendengarnya?"
Lok Hong tertawa dingin. Sebelah tangannya mengelus-elus jenggotnya yang panjang.
"Lepaskan bocah itu sih mudah saja, asal kau menangkan dulu sepasang telapak tanganku ini."
Sepasang alis Ceng Lam Hong perlahan-lahan terjungkit ke atas.
"Kalau begitu maafkan kalau aku bertindak kasar."
Baru saja ucapannya selesai, tiba-tiba dia menyurutkan langkahnya mundur ke belakang dua tindak.
Telapak tangan kanannya terulur ke depan dan digerak-gerakkan sedikit, seakan sedang mengukur jarak antara dirinya dengan Lok Hong.
Lok Hong melihat telapak tangan wanita itu perlahan-lahan mengepal.
Dia seakan menggenggam sekumpulan senjata rahasia.
Hatinya sadar, kalau sampai disambitkan ke depan, kecepatannya tentu bagai sambaran kilat, serta menggetarkan hati.
Dengan demikian, dia segera menarik nafas panjang-panjang dan mengerahkan tenaga dalamnya secara diam-diam.
Otomatis dia tidak berani menganggap ringan musuhnya.
Melihat keadaan itu, Tan Ki menarik nafas perlahan-lahan.
Dia berkata dengan suara lirih.
"Lok Kouwnio, maukah kau membawa aku meninggalkan tempat ini?"
"Apakah kau tidak memperdulikan ibumu lagi?"
"Aku merasa benci kepadanya. Lagipula urat darahku dalam keadaan tertotok. Bergerak saja tidak bisa. Meskipun ada niat untuk menghentikan pertikaian ini, namun aku tidak mempunyai kemampuan untuk turut campur."
Lok Ing memperdengarkan suara tawa yang dingin.
"Aku justru mempunyai akal agar ibumu tidak jadi berkelahi."
Tan Ki jadi tertegun mendengar ucapannya.
"Bagaimana?"
Lok Ing tidak menjawab pertanyaannya atau memperdulikannya. Tiba-tiba dia ber-kata dengan suara lantang.
"Kalian jangan berkelahi lagi. Siapa yang menginginkan keselamatan Tan Ki, dengarlah perkataanku!"
Mendengar ucapannya, wajah Ceng Lam Hong yang cantik segera berubah hebat. Ternyata seperti apa yang diduga Lok Ing, dia segera membuyarkan tenaga dalam yang telah dikerahkannya secara diam-diam.
"Permainan apa yang kau rencanakan?"
Tanyanya ketus.
Perlahan-lahan Lok Ing meletakkan Tan Ki di atas tanah.
Dia merentangkan telapak tangannya.
Di bawah cahaya rembulan yang semakin suram, tampak di atas telapak tangannya terdapat dua butir pil berwarna merah.
Dia memperdengarkan suara tawa yang dingin.
"Yang kugenggam ini adalah racun. Setelah menelan obat ini, kurang lebih satu kentungan kemudian, pasti akan..."
Ceng Lam Hong merasa dadanya seakan tiba-tiba ditinju dengan keras oleh seseorang.
Tubuhnya terhuyung-huyung, mendadak dia menyurut mundur setengah langkah.
Tampaknya seperti tidak kuat berdiri tegak.
Namun dia mempertahankan diri sebisanya, tetapi mungkin setiap saat ada kemungkinan terkulai jatuh.
Lok Ing meneruskan ucapannya sepatah demi sepatah.
"Benda ini merupakan racun yang biasa digunakan dalam Ti Ciang Pang kami untuk menghukum murid yang berkhianat. Kalau kau merasa tidak percaya, boleh coba sendiri!"
"Ternyata... hati... mu be... gitu... ke... ji!"
Sahut Ceng Lam Hong dengan suara terputus-putus.
Tampaknya saat itu hati wanita setengah baya ini tengah bergolak dengan hebat.
Penderitaan yang dirasakannya sangat luar biasa.
Setiap patah kata yang diucapkannya terdengar bergetar dan tidak sanggup diselesaikan.
Melihat tampangnya yang sangat menderita dan demikian mengenaskan, Lok Ing justru merasa gembira sekali.
Dia mendongakkan wajahnya dan tertawa terkekeh-kekeh.
"Bagaimana? Apakah kau bersedia mencoba kemanjuran racunku ini?"
Kembali tubuh Ceng Lam Hong menggigil seperti orang yang kedinginan.
"Nona, apapun yang kau inginkan agar aku melakukannya, boleh saja. Tetapi jangan menyiksa anakku di hadapanku. Perbuatan...mu terlalu sadis..."
Katanya lebih mirip orang yang sedang meratap.
"Aku tidak ingin kau melakukan apa-apa. Asal kau segera tinggalkan tepat ini dan jangan mencampuri urusan ini lagi. Kalau bisa pergi sejauh-jauhnya."
Kata Lok Ing sambil menggelengkan kepalanya. Ceng Lam Hong merenung sejenak. Kemudian tampak dia menghentakkan kakinya ke atas tanah keras-keras.
"Baik, aku menyetujui permintaanmu. Tetapi kalau ada seujung kuku saja dari tubuh anakku yang terluka, maka aku akan mencarimu untuk membuat perhitungan!"
Sinar matanya yang lembut dan penuh kasih melirik Tan Ki sekilas.
Tiba-tiba dia mendongakkan wajahnya dan mengeluarkan suara suitan yang pilu.
Tubuhnya bergerak lalu melesat cepat ke arah ruangan depan.
Dalam waktu yang singkat, bayangannya sudah tidak kelihatan lagi.
Yang tertinggal hanya gema suitannya yang panjang dan memecahkan keheningan.
Orang yang mendengarnya langsung merasa hatinya tergetar dan mengenaskan.
Sepasang alis Lok Hong mengerut-ngerut.
"Ing ji, tidak seharusnya kau mempermainkan orang lain seperti itu, kalau sampai terjadi..."
Katanya dengan suara lirih.
Tiba-tiba telinganya menangkap suara tawa yang panjang seperti ratapan burung hantu.
Cepat-cepat dia membungkam mulutnya dan kepalanya pun menoleh.
Dari balik gunung-gunungan meloncat keluar dua orang yang mengenakan pakaian hitam dan bertopi putih.
Di bagian pinggangnya terikat seutas tali yang ketat.
Kedua orang itu persis mayat hidup.
Ketika bergerak, kedua pahanya tegak lurus dan hanya meloncat-loncat seperti per yang turun naik.
Sepasang lengannya lurus ke depan, ma-tanya membelalak marah.
Dilihat dari sudut manapun tidak ada menampilkan sedikitpun kesan seperti manusia hidup umumnya.
Lok Ing yang melihatnya sampai merasa menggidik.
Dia menghembuskan nafas dingin.
Tetapi biar bagaimanapun dia merupakan seorang gadis yang berhati keras dan selalu ingin menang sendiri.
Setelah menggigil sejenak, dia mendengus satu kali dan menekan pera-saan takut dalam hatinya.
Mulutnya mengeluarkan suara tertawa yang dingin.
"Mengapa orang yang ditemui hari ini, semuanya tidak seperti manusia...? Benar-benar menyebalkan!"
Ketika gadis itu masih berbicara, dia melihat kedua orang yang meloncat-loncat itu sudah berhenti dan suara tawa yang menyeramkan itu juga sirap seketika.
Dari balik gunung-gunungan yang tinggi tiba-tiba berjalan keluar lagi seorang manusia berkepala besar, bermata sipit dan mulutnya monyong ke depan.
Dia mengenakan jubah panjang berwarna hitam.
Tingginya kurang dari semeteran lebih.
Biar bagaimana Lok Hong merupakan seorang tokoh aneh di dunia Bulim saat ini, pengalamannya banyak sekali.
Dia merasa bahwa orang yang baru muncul ini memang tidak enak dipandang, tetapi langkah kakinya yang perlahan menimbulkan kesan keangkuhan dan tinggi hati.
Tampaknya dia merupakan pimpinan dari rombongan manusia yang tampangnya seperti mayat dan terdiri dari dua kelompok yang masingmasing dua yang mengenakan pakaian hitam dan dua lagi mengenakan pakaian putih.
Ketika pikirannya masih tergerak, dia melihat orang berkepala besar itu diiringi oleh dua kelompok manusia berpakaian hitam dan putih menghampiri ke arahnya dengan perlahanlahan.
Ketika Kim Yu melihat kehadiran orang-orang ini, dia bagai menemukan dewa penolong.
Mimik wajahnya yang semula tampak khawatir dan cemas lenyap seketika.
Cepatcepat dia menyambut mereka dan membisikkan beberapa patah kata di samping telinga manusia berjubah hitam itu.
Sikapnya penuh hormat dan sungkan.
Manusia berjubah hitam yang matanya sipit itu segera mendengus satu kali.
Matanya melirik sekilas ke arah Tujuh Serigala dan meneruskan langkahnya ke depan.
BAGIAN XXXII Saat itu Lok Ing seperti teringat akan sesuatu yang penting.
Mulutnya mengeluarkan suara seruan dan berkata.
"Cepat telan dulu obat ini!"
Sembari berbicara, dia menyodorkan tangannya ke hadapan Tan Ki. Tan Ki melirik sekilas kepada dua butir pil berwarna merah yang ada dalam genggamannya, batinya merasa tercekat. Diam-diam dia berpikir.
"Ternyata setelah mengusir ibuku, dia tetap tidak bersedia melepaskan diriku..."
Oleh karena itu, dia segera mendengus dingin.
"Di kolong langit ini, yang paling keji justru hati seorang isteri. Tidak disangka kau yang masih begini muda, tidak kalah kejinya."
Lok Ing tersenyum simpul.
"Kalau racun ini sudah tersimpan terlalu lama dan khasiatnya hilang, tentunya kau juga tidak perlu mati lagi selamanya."
Wajah Tan Ki perlahan-lahan berubah. Dia merenung sekian lama kemudian tertawa keras-keras.
"Seorang laki-laki sejati memandang kematian dan kehidupan sebagai nasib yang telah ditentukan oleh Thian. Meskipun racun ini dapat membuat tulang belulangku hancur lebur dan rohku hilang untuk selamanya, rasanya juga tidak perlu ditakuti!"
Kata-kata ini diucapkan dengan penuh kegagahan.
Tampaknya dia sudah hambar terhadap perihal kematian atau pun kehidupan.
Begitu ucapannya selesai, dia langsung menyambut kedua butir pil itu dan memasukkannya ke dalam mulut lalu menelannya sekaligus.
Begitu pil itu masuk ke dalam perutnya, dia merasa ada serangkum hawa panas yang langsung berkobar di dalam tubuhnya, sengatannya hampir tidak tertahankan.
Ususnya bagai terbakar.
Tanpa dapat ditahan lagi perasaannya tercekat.
"Habislah...!"
Pikirnya dalam hati.
Semacam perasaan menjelang ajal, tiba-tiba menyelinap di dalam hatinya.
Semuanya terjadi dalam sekejap mata.
Tanpa terasa dia menarik nafas panjang dan memejamkan sepasang matanya.
Dia mulai merasa bahwa kemenangan atau kekalahan, bahkan kegemilangan ataupun kesuraman dunia ini, sejak saat itu tidak ada kaitan lagi dengan dirinya.
Bagai sekuntum bunga yang layu atau buah-buahan yang terlalu ranum sehingga terjatuh di atas tanah.
Kelak dia akan meninggalkan dunia ini dengan perasaan pilu dan berbagai kebimbangan.
Dia akan terlepas dari dunia yang mempunyai aneka variasi ini.
Tiba-tiba telinganya mendengar suara yang ramah dan lembut.
"Bagaimana kalau aku membawa kau meninggalkan tempat ini?"
Tan Ki marah sekali kepadanya.
"Aku toh telah kau kuasai. Jalan darahku pun telah tertotok. Apapun yang ingin kau lakukan, silahkan. Tidak perlu berpura-pura atau bersandiwara dengan berlagak lembut segala macam!"
Lok Ing tersenyum lembut.
Dia mengulurkan tangannya dan menepuk bahu Tan Ki satu kali.
Totokannya pun terbebas seketika.
Terhadap gerakannya ini, Tan Ki benar-benar merasa di luar dugaan.
Untuk sesaat dia jadi tertegun.
Dengan perasaan heran dia bertanya...
"Apa yang kau lakukan?"
Lok Ing mengulurkan jari tangannya menunjuk ke depan. Dia tidak menjawab pertanyaan Tan Ki.
"Bagaimana kalau kita berjalan ke arah sana?"
Tan Ki merenung sejenak, dia masih berpikir bagaimana harus memberikan jawaban kepada gadis itu.
Tahu-tahu kakinya sudah bergerak melangkah.
Rupanya ketika selesai berbicara, Lok Ing langsung menarik tangan anak muda itu dan tanpa memberikan kesempatan baginya untuk menjawab, dia langsung menyeret Tan Ki mengikutinya.
Tan Ki membiarkan dirinya ditarik oleh Lok Ing.
Tanpa tujuan yang pasti mereka berjalan beberapa saat, terdengar suara air terjun yang bergemuruh dan aliran air.
Suara itu terpancar dari bagian belakang rumah taman bunga di mana terdapat sebuah kolam buatan lengkap dengan air terjunnya.
Sekitar tempat itu ditanami berbagai, jenis pepohonan dan bunga bungaan.
Pemandangannya indah sekali, Udarapun terasa sejuk.
Oleh karena itu, mereka segera duduk di atas sebuah batu besar dan Tan Ki pun langsung memejamkan matanya.
Lok Ing melihat sikap anak muda itu demikian angkuh dan dingin.
Dia bahkan tidak melirik sekilaspun ke arah Lok Ing.
Hatinya menjadi kesal.
Setelah mendengus satu kali, dia segera memalingkan wajahnya.
Kedua orang itu membisu beberapa saat, Lok Ing mulai tidak sabar menghadapi situasi demikian.
Dialah yang lebih dulu membuka pokok pembicaraan.
"Mengapa kau diam saja sejak tadi?"
Tubuh Tan Ki agak gemetar, dengan nada dingin dia menyahut.
"Sudah waktunya kau pergi, buat apa masih duduk terus di tempat ini?"
"Aku mengajak engkau ke mari, tentu saja karena ada ucapan yang ingin kukatakan kepada dirimu."
Tan Ki tertawa dingin.
"Sayangnya aku tidak berminat mendengarkan."
Dalam seumur hidupnya, Lok Ing belum pernah menerima penghinaan sekecil apapun.
Tiba-tiba dia melonjak bangun dan menghu nus pedangnya lalu ditusukkan ke dada anak muda itu.
Siapa sangka Tan Ki seolah tidak melihat apa-apa.
Ketika ujung pedang telah mengoyak pakaian luarnya, dia masih bersikap tenang.
Matanya terpejam dan duduk dengan tegak.
Dia bahkan tidak bergerak sedikitpun.
Begitu pedangnya mengoyak sedikit pakaian Tan Ki, Lok Ing segera menariknya kembali.
Perasaan marah dalam hatinya dalam sesaat berubah menjadi kekecewaan yang tidak terkatakan.
Air matanya langsung tercurah bagai hujan yang deras.
Padahal dia ingin sekali Tan Ki melonjak bangun dan berkelahi mati-matian dengan dirinya.
Atau paling tidak, memohon kepadanya secara baik-baik agar dia melepaskan pedang pusakanya dan memaafkan kesalahannya.
Atau seumpamanya Tan Ki membuka mulut mencaci maki dirinya, mungkin perasaannya malah akan terasa lebih enak.
Tetapi anak muda itu justru membungkam seribu bahasa dan seolah memandang kematian sebagai sesuatu hal yang tidak menakutkan sama sekali.
Hal ini benar-benar di luar dugaan Lok Ing.
Padahal dia dapat menikamkan pedangnya ke jantung anak muda itu agar kekesalannya terlampiaskan.
Tetapi biar bagaimana dia tidak sampai hati untuk turun tangan.
Wataknya sangat keras, perasaan dirinya yang merasa gagah dan berjiwa pahlawan memandang perbuatan itu sebagai sesuatu hal yang sangat memalukan.
Gengsinya bahkan lebih tinggi dari nilai nyawanya sendiri.
Sepasang mata Tan Ki yang tadinya terpejam erat membuka secara perlahan.
Dia melihat di ufuk timur mulai membias segurat cahaya keemasan.
Tanpa dapat ditahan lagi dia menarik nafas panjang.
"Mengapa kau menangis?"
Tanyanya sambil mengembangkan seulas senyuman.
Dengan sekuat tenaga Lok Ing membanting sebatang pedang yang dikeluarkan dari pundaknya ke atas tanah.
Kemudian dia menghapus sisa air mata dengan ujung lengan bajunya.
Dengan marah dia menyahut.
"Kalau aku suka menangis, apa urusannya dengan dirimu? Cepat pungut pedang itu dan aku akan memberimu sebuah kesempatan untuk bertarung secara jujur. Kalau belum sampai tahu dengan pasti siapa yang akan hidup dan siapa yang akan terkapar di atas tanah bermandikan darah, pokoknya siapapun tidak boleh ada yang berhenti!"
Tan Ki melirik ke arah pedang di atas tanah sekilas.
"Aku memang sudah di ambang kematian, tidak ada niat sedikitpun untuk meraih kemenangan. Lebih baik ambil kembali pedangmu itu dan pergi dari sini, siapa tahu di tempat tadi sudah berlangsung pertarungan yang sengit..."
Lok Ing langsung menukas dengan suara keras.
"Ngaco belo!"
Wajah Tan Ki berubah hebat.
"Kalau kau tetap tidak percaya, apa boleh buat? Pribadi Cayhe paling tidak suka berdusta."
Selesai berkata, dia memejamkan matanya kembali dan menekuk kedua kakinya dengan sikap bersila.
Lok Ing tertegun sejenak.
Perlahan-lahan dia melangkah ke depan.
Dia melihat di kening Tan Ki terdapat guratan berwarna hijau.
Hal ini membuktikan bahwa anak muda itu benar-benar telah keracunan parah.
Tiba-tiba dia merasa dadanya bagai ditinju seseorang dengan sekuat tenaga.
Rasa sakitnya tidak terkirakan lagi.
Tanpa terasa pedang di tangannya terjatuh ke atas tanah dan menimbulkan bunyi Trang!
Kemudian dia membungkukkan tubuhnya perlahan-lahan.
"Bagaimana hal ini bisa terjadi?"
Wajah Tan Ki menjadi serius. Tetapi nada suaranya masih tetap dingin.
"Aku sendiri yang rela minum pil beracunmu itu, tetapi aku sama sekali tidak membenci dirimu..."
Dia merandek sejenak. Wajahnya yang serius lambat laun merekahkan tawa yang manis. Kemudian dia melanjutkan kata-katanya.
"Sekarang aku ingin mencoba melawan racun yang masuk ke dalam tubuh dengan ilmu yang kukuasai. Cepatlah kau pergi, jangan membuat pikiranku terganggu..."
Lok Ing semakin panik mendengar perkataannya.
"Obat yang kuberikan kepadamu tadi bukan racun. Aku hanya bergurau denganmu. Bagaimana kau bisa keracunan? Ya Tuhan... benar-benar membuat aku bingung setengah mati..."
Tiba-tiba Tan Ki membuka matanya yang terpejam.
Dua buah bola matanya yang menyorotkan sinar tajam memandang gadis itu lekat-lekat.
Dia melihat air matanya mengembang, wajahnya menyiratkan kepanikan hatinya yang tidak terkira.
Gadis yang keras kepala dan terkenal kegarangannya di daerah Sai Pak ini, dalam waktu yang singkat berubah demikian lemah sehingga membuat orang hampir tidak percaya.
Terdengar suaranya yang bagai ratapan juga mirip keluhan.
"Sejak aku tahu urusan, belum pernah ada seorangpun yang menghina aku. Kedua orang-tuaku menganggap aku sebagai permata hatinya, kakek menyayangiku melebihi segala benda di dunia ini. Dalam suasana yang penuh cinta kasih aku dibesarkan..."
Tan Ki mengembangkan seulas senyuman yang pilu.
"Nasibmu sungguh baik."
Dengan ujung lengan baju Lok Ing mengusap air matanya. Tendengar dia menarik nafas panjang.
"Sejak ilmu silatku sudah cukup tinggi, aku terus berkelana di daerah Sai Pak. Dalam beberapa tahun ini, jarang aku menemukan tandingan yang sesuai. Tetapi dalam pertarungan di Pek Hun Ceng, Pek To San, dua kali berturut-turut aku mengalami kekalahan bahkan sampai terluka. Sejak itu dalam hatiku timbul rasa benci terhadap dirimu. Secara diam-diam entah berapa kali aku sudah bersumpah untuk membunuhmu dengan tanganku sendiri..."
"Aih... jiwa anak perempuan memang rada sempit. Hanya dua kali terluka, kau malah menganggapnya begitu serius bahkan menanam kebencian dalam hati..."
"Oleh karena itu, ketika bertemu kembali denganmu, aku sudah mengambil keputusan untuk membunuhmu..."
Tan Ki tertawa datar.
"Tentunya sekarang kau merasa gembira sekali, karena akhirnya aku toh mati di tanganmu juga. Tetapi menjelang ajal, aku tetap tidak membencimu sedikitpun. Perlu kau ketahui, membunuh seseorang sebenarnya tidak terlalu sulit. Tetapi apabila orang yang kau bunuh itu tidak menaruh perasaan benci sedikitpun kepadamu, hal itulah yang sulit ditemukan."
Lok Ing semakin panik.
"Tetapi aku, aku... sejak semula aku sudah tidak ingin membunuhmu lagi. Entah sejak kapan mulainya, tiba-tiba aku merasa bahwa sebenarnya aku bukan sungguh-sungguh membenci dirimu."
Tan Ki jadi tertegun mendengar perkataannya.
"Secara diam-diam kau sudah bersumpah berulang kali bahwa kau akan membunuh diriku dengan tanganmu sendiri. Kalau ini bukan benci, lalu apa?"
Lok Ing tersenyum pilu.
"Aku juga tidak mengerti. Pokoknya itu bukan benci yang sesungguhnya. Sedangkan pil yang kau minum tadi merupakan obat penyembuh luka buatan kakekku sendiri. Bukan saja tidak akan mencelakai dirimu, malah akan mempercepat proses penyembuhan dalam tubuhmu. Tetapi... kau kok bisa keracunan?"
Matanya yang bulat dan indah mengejap-ngejap.
Dua bulir air mata yang berkilauan menetes turun membasahi pipinya.
Kemudian terdengar tarikan nafasnya yang mengenaskan.
Lalu dia melanjutkan lagi kata-katanya.
"Tetapi masalah dirimu yang keracunan, juga merupakan kenyataan. Rona wajahmu menunjukkan bahwa racun itu telah menyebar luas di dalam tubuhmu. Apakah... kau... benar-benar tidak bisa hidup lebih lama lagi?"
Tan Ki tersenyum lembut.
"Tentu saja benar. Tidak ada gunanya aku berdusta, lagipula kau sudah melihat sendiri kenyataannya. Aku memang tidak mungkin hidup lebih lama lagi di dunia ini."
Kemudian tampak anak muda itu mendongakkan kepalanya menatap warna langit.
"Hari sudah hampir pagi. Kau boleh pergi sekarang."
Lok Ing tersenyum pilu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Aku tidak bisa pergi."
"Mengapa?"
"Kalau kau benar-benar mati, aku akan menemani dirimu. Biarpun bukan diriku langsung yang meracuni dirimu, tetapi hatiku tetap saja merasa bersalah dan berduka..."
Mendengar ucapannya, Tan Ki jadi termangu-mangu. Tiba-tiba dia seperti teringat akan sesuatu yang penting. Tubuhnya melonjak ba-ngun dan tertawa terbahak-bahak. Lok Ing merasa heran melihat sikapnya.
"Sampai sekarang kau masih mempunyai minat untuk bergembira."
"Aku tahu apa yang kau harapkan dalam patimu. Sayangnya aku sudah menyembah langit dan bumi dan sudah beristeri. Terpaksa aku menyia-nyiakan perasaan kasih di dalam patimu..."
Perlahan-lahan dia melangkahkan Kakinya menuju ke depan.
"Kau hendak ke mana?"
Tanya Lok Ing. Tan Ki menarik nafas perlahan-lahan.
"Manusia di dunia ini mengalami kematian dengan cara yang berbeda-beda. Tetapi aku merasa mati dengan cara seperti yang akan kuhadapi ini secara diam-diam tampaknya terlalu membosankan. Oleh karena itu, aku tidak ingin meninggalkan dunia ini begini saja. Kalau memang tidak dapat meloloskan diri dari Dewa Kematian, mengapa tidak memilih ke-matian yang gemilang dan gegap gempita. Dengan demikian orang-orang akan tahu siapa diriku yang sebenarnya..."
Secara berturut-turut, dia mengucapkan kata "kematian", namun baik nada suara maupun mimik wajahnya tidak menyiratkan perasaan takut sama sekali.
Seakan mati adalah suatu hal yang wajar dan rutin dan bukan hal yang mengerikan.
Selesai berkata, dia malah menggerakkan kakinya dengan cepat dan menghambur ke arah di mana dia datang tadi.
Bayangan punggungnya menyiratkan kehampaan dan kesunyian hidup seorang pendekar sejati.
Hal ini membuat orang yang memandangnya turut berduka dan merasa kagum secara diam-diam.
Lok Ing menarik nafas panjang, dia juga menggerakkan kakinya mengejar dari belakang.
Dalam waktu yang singkat, keduanya sudah sampai kembali di selatar tembok pekarangan.
Terdengar suara deruan angin yang timbul dari serangan dan pukulan.
Rupanya di tempat itu tengah berlangsung pertarungan yang sengit.
Rupanya tidak lama setelah Tan Ki dan Lok Ing meninggalkan tempat itu, Oey Ku Kiong langsung mulai bergebrak dengan pihak lawan.
Anak muda ini menerima perintah dari Kiau Hun untuk merebut hati para pendekar agar dirinya dipercaya penuh.
Oleh karena itu, ketika mulai bergebrak, dia langsung mengerahkan jurus-jurusnya yang lihai.
Serangannya gencar sekali.
Tetapi lawan yang dihadapinya kali ini adalah manusia berpakaian putih yang tampangnya mirip mayat hidup.
Meskipun orang-orang ini jarang berkelana di dunia Bulim, tetapi bukan berarti kepandaiannya dapat dipandang ringan.
Sejak awal hingga sekarang mereka sudah bertarung sebanyak ribuan jurus, namun masih belum ketahuan siapa yang unggul dan siapa yang akan mengalami kekalahan.
Semakin bertarung hati Oey Ku Kiong semakin panik.
Saat ini matahari telah menyingsing.
Kalau lewat beberapa waktu lagi dia tetap belum mendapat kesempatan yang baik, tentu sulit baginya untuk meraih kemenangan.
Karena pada saat itu, dia mulai merasa letih dan kurang tidur.
Keringat dingin mulai membasahi keningnya.
Serangannya tidak segencar sebelumnya lagi.
Tiba-tiba dia meraung dengan suara keras.
Secara berturut-turut dia melancarkan tiga empat jurus serangan.
Pihak lawan langsung terdesak sehingga hatipun terasa bergetar.
Tatkala lawannya menyurut mundur, diam-diam dia menarik nafas panjang.
Sikapnya serius.
Dengan mengambil posisi menahan di depan dada, dia melancarkan sebuah pukulan balasan.
Pukulan ini dilancarkan dengan segenap kekuatannya yang tersisa.
Tampaknya dia benar-benar ingin mengadu jiwa dengan lawannya.
Gerakannya keji dan menimbulkan angin yang menderu-deru.
Tenaganya bagai ombak yang bergulung-gulung menerpa ke arah lawannya.
Manusia berpakaian putih melihat sikapnya serius dan wajahnya kelam.
Ketika melancarkan serangan itu, dia segera tahu bahwa serangan ini tidak dapat disamakan dengan yang sebelumnya.
Dengan panik dia mencelat mundur sejauh setengah langkah.
Tanpa menunda waktu lagi dia juga melancarkan sebuah pukulan ke depan.
Yang satu menghantam ke mari, yang lain memukul ke sana.
Dua.
kekuatan yang dahsyat beradu seketika.
Tiba-tiba terdengar dengusan yang berat dari hidung manusia berpakaian putih tadi, langkahnya limbung.
Dengan terseret-seret dia tersurat mundur sejauh tiga langkah.
Oey Ku Kiong tertawa dingin.
Secepat kilat dia maju merapat ke depan.
Dengan jurus Menunjuk Langit Mengibas Bumi, lima jari tangannya segera terulur keluar dan meraup dari atas ke bawah.
Gerakannya ini cepat bukan kepalang, tubuhnya bagai sehembusan angin yang bertiup lewat dan langsung menerpa.
Lawan masin dalam keadaan terhuyung-huyung, kakinya belum sempat berdiri dengan mantap, tahu-tahu angin yang timbul dari serangan kelima jarinya sudah menghantam tiba.
Saat itu juga suasana bagai diliputi hawa pembunuhan yang tebal.
Tiba-tiba tampak bayangan berkelebat dari arah berlawanan di mana matahari baru terbit, sehingga pandangan mata jadi silau.
Oey Ku Kiong hanya merasa ada serangkum angin yang kencang dari pukulan seseorang menyerangnya dari sebelah kiri!
Manusia berpakaian putih yang satunya lagi sejak tadi hanya menjadi penonton menyaksikan jalannya pertarungan.
Ketika melihat rekannya sebentar lagi akan terluka oleh pukulan Oey Ku Kiong, dia segera menerjang ke tengah arena dan tanpa mengucapkan sepatah katapun, dia langsung melancarkan sebuah serangan.
Apabila pertarungan yang berlangsung terjadi antara tokoh-tokoh yang berilmu tinggi, kejadiannya hanya memakan waktu sekian detik.
Jurus Menunjuk Langit Mengibas Bumi telah dikuasai Oey Ku Kiong dengan mahir.
Hatinya sudah merasa gembira bahwa sejenak lagi lawannya pasti akan terluka di bawah cengkeraman jari tangannya, tahu-tahu manusia berpakaian putih yang satunya sudah menerjang datang.
Seandainya dia tidak merubah gerakannya, lawan sudah pasti terluka oleh cengkeraman jari tangannya, tetapi dia sendiri juga pasti termakan pukulan manusia berpakaian putih yang satunya lagi.
Dalam keadaan seperti ini, memang tidak ada waktu lagi untuk mempertimbangkan langkah yang harus diambilnya.
Kemudian...
tampak dia menggertakkan giginya erat-erat.
Cengkeramannya dibuka dan berubah menjadi pukulan.
Tepat pada saat pergelangan tangannya memutar, lawan sudah semakin dekat.
Secepat kilat tangan kanannya menghantam ke dada orang itu, sekaligus tangan kirinya terulur keluar dan menyambut serangan manusia berpakaian putih yang satunya lagi.
Peristiwa itu terjadi dalam sekejap mata.
Terdengar suara dengusan yang mengenaskan yang disusul dengan jeritan ngeri.
Manusia berpakaian putih yang terhantam dadanya oleh Oey Ku Kiong langsung memuntahkan segumpal darah segar, tubuhnyapun langsung terhempas jatuh di atas tanah.
Dalam waktu yang bersamaan, tubuh Oey Ku Kiong sendiri juga sempoyongan lalu tersurat mundur sejauh empat lima langkah.
Dia bermaksud mempertahankan dirinya.
Sepasang bahunya terus bergoyang, tetapi akhirnya kemauannya tidak terlaksana juga.
Setelah mundur terhuyung-huyung sejauh empat lima, tubuhnya terkulai juga di atas tanah.
Manusia berpakaian putih yang satunya lagi mempunyai watak yang kejam serta sadis.
Mula-mula ketika melihat rekannya dalam keadaan berbahaya, dia segera menerjang ke depan dan melancarkan sebuah serangan.
Tetapi ketika rekannya itu terhempas di atas tanah dalam keadaan terluka parah, dia bahkan tidak meliriknya sekilaspun.
Tubuhnya memutar dan kembali dia menerjang ke arah Oey Ku Kiong.
Orang yang mempunyai mata sekali lihat saja sudah dapat mengerti apa yang terkandung dalam hati orang itu.
Saat itu Lok Hong sedang membelai-belai cucu kesayangannya.
Tampaknya bayangan mengenaskan yang akan terjadi sejenak lagi, tak diperhatikannya sedikitpun.
Tiba-tiba terdengar suara suitan panjang yang lantang dan nyaring timbul dari sampingnya.
Sesosok bayangan persis seperti rajawali yang murka menerjang ke tengah arena.
Ketika kakinya melayang turun kembali, posisinya tepat berada di sisi Oey Ku Kiong dan berdiri tegak dengan tenang.
Tampaknya perubahan yang mendadak ini membuat si manusia berpakaian putih terkesiap.
Dia tidak menyangka Tan Ki akan menghambur ke depan dan melindungi Oey Ku Kiong.
Dengan panik dia menekan hawa murni dalam tubuhnya agar tidak terus meluncur ke depan.
Akhirnya dia berhasil juga menghentikan gerakan tubuhnya.
Sepasang mata setannya yang berwarna kehijau-hijauan memperhatikan Tan Ki dari atas kepala ke ujung kaki.
Mulutnya memperdengarkan suara tawa yang dingin.
"Siapa kau?"
Tan Ki mendengus berat satu kali.
"Penagih nyawa!"
Sahutnya angkuh.
Manusia berpakaian putih itu perlahan-lahan menjadi terpana.
Tetapi sesaat kemudian dia seperti tersentak sadar.
Kemudian tampak dia mendongakkan wajahnya dan tertawa marah.
Tiba-tiba tubuhnya membungkuk, tenaga dalamnya dikerahkan.
Terdengar suara kretek-kretek seolah tulang belulangnya berderak-derak dan terlepas dari persendian.
Sepasang matanya yang laksana setan menyorotkan sinar tajam berwarna kehijauan.
Saat itu dia sedang membelalak penuh kemarahan.
Meskipun waktu baru berubah pagi dan matahari baru terbit, tetapi wajahnya yang pucat pasi dan bibirnya yang keungu-unguan membuat orang yang melihatnya bagai bertemu dengan kaum setan gentayangan.
Malah hati bisa jadi kebat-kebit karena munculnya perasaan seram.
Tan Ki melihat orang itu sudah mengerahkan tenaga dalamnya dan siap melancarkan serangan setiap waktu.
Di luarnya dia berlagak tenang seolah tidak ada apa-apa, tetapi sebetulnya dalam hati dia tidak berani memandang ringan lawannya sama sekali.
Sepasang matanya yang bersinar tajam menatap lawannya lekat-lekat.
Dia sadar bahwa pertarungan kali ini pasti gawat sekali keadaannya.
Juga merupakan pertarungannya yang terakhir sebelum ajalnya tiba.
Tidak perduli menang atau kalah, dia tetap harus meninggalkan dunia yang fana ini.
Sebelumnya, dia memang merasa takut sekali apabila Lok Hong berhasil mengetahui asal-usul ilmu silatnya, sehingga dia tidak berani memamerkan di hadapan orangtua ini.
Tetapi keadaan sekarang tidak dapat disamakan lagi dengan sebelumnya.
Dia sudah tahu bahwa dirinya telah keracunan cukup parah.
Biar bagaimana dia harus memenangkan pertarungan kali ini, walaupun dia akan mati juga karena terlalu banyak mengerahkan hawa murni sehingga racun akan lebih cepat menyebar, tetapi setidaknya dia akan mati dengan nama harum, bukan mati secara diam-diam tanpa diketahui siapapun.
Oleh karena itu, saat ini dia sudah mengerahkan seluruh tenaga dalamnya untuk melakukan pertarungan besar-besaran yang terakhir sebelum maut merenggutnya.
Manusia berpakaian putih yang tampangnya mirip mayat hidup menunggu beberapa saat.
Dia melihat Tan Ki masih belum melakukan gerakan apa-apa.
Tampaknya dia mulai kehabisan sabar, mulutnya terkekeh-kekeh menyeramkan.
Dia mengulurkan sepasang tangannya yang mirip cakar burung itu.
Gerakannya lamban sekali.
Lebih mirip jurus pembukaan ilmu Tae Kwon-do.
Tidak ada keistimewaannya sama.
sekali.
Tan Ki melihat orang itu mengulurkan tangannya yang bagai cakar burung itu, tampaknya tidak ada sesuatu yang mengejutkan.
Tetapi ketika jarinya didorong ke depan, dia justru merasa ada serangkum hawa dingin yang melanda ke arahnya.
Tanpa dapat ditahan lagi tubuhnya bergetar, kakinya goyah dan akhirnya mau tidak mau dia menyurut mundur setengah langkah.
Manusia berpakaian putih itu tiba-tiba mengeluarkan suara teriakan yang aneh.
Kedua kakinya dihentakkan dan tubuhnya pun meloncat ke atas dengan posisi tegak lurus.
Gerakannya ringan dan cepat, sekali melesat langsung naik ke atas.
Orangnya belum sampai, hawa dingin yang terpancar dari jari tangannya sudah terasa dan bahkan dua kali lipat lebih menggigilkan dari sebelumnya.
Hati Tan Ki jadi tercekat melihatnya.
Diam-diam dia berpikir.
"Ilmu silat Si Yu semuanya aneh-aneh, tidak terselip hawa manusia hidup. Bahkan orang semacam ini juga..."
Belum lagi habis pikirannya bekerja, tiba-tiba ia sudah bergerak setengah lingkaran dan menghindarkan diri dari serangan gencar manusia berpakaian putih itu.
Ternyata gerakan manusia berpakaian putih itu cepatnya bukan kepalang.
Meskipun kakinya tidak melangkah melainkan berjalan dengan cara meloncat-loncat, tetapi kecepatannya malah bisa melebihi orang biasa.
Ketika pikiran Tan Ki masih melayanglayang, orangnya sudah seperti kuda liar yang lepas dari kendali menerjang datang.
Tampaknya orang ini mempunyai kepandaian menebak sesuatu yang belum terjadi.
Dia seakan sudah tahu kalau serangannya ini tidak akan membawa hasil.
Cepat-cepat dia menarik kembali tangannya lalu hanya dalam perbedaan sekian detik, kembali dia melancarkan dua jurus yang lain.
Hawa yang dingin menyusup tadi bercampur dengan serangan pukulannya yang mengandung daya Im.
Bagai air sungai yang meluap tiba-tiba melanda ke arah Tan Ki.
Belum apa-apa hembusan anginnya saja sudah menggetarkan hati orang yang melihatnya.
Tubuh Tan Ki tengah keracunan hebat, dia tidak ingin berhadapan langsung dengan orang itu, apalagi dengan cara keras lawan keras.
Cepat-cepat dia miringkan tubuhnya sedikit lalu bergerak memutar dan meluncur ke samping kurang lebih setengah lingkaran.
Kemudian dengan jurus Lima Gelombang Mengurung Naga yang merupakan andalan para leluhur Ti Ciang Pang, dia melancarkan sebuah cengkeraman.
Diam-diam hati manusia berpakaian putih menjadi terkesiap.
Dia tidak menyangka usia Tan Ki yang masih demikian muda, tetapi sudah mempunyai kepandaian demikian tinggi.
Hembusan angin yang terbit dari cengkeramannya itu begitu dahsyat.
Hal ini juga membuktikan bahwa tenaga dalam anak muda ini juga kuat sekali.
Tampak dia mendongakkan wajahnya dan mengeluarkan suara pekikan yang menyeramkan.
Kedua kakinya bergerak dan tahu-tahu dia sudah mencelat mundur ke belakang.
Bola mata Tan Ki mengerling ke sana ke mari.
Dia melirik sekilas ke arah Oey Ku Kiong yang tadinya terkulai di atas tanah.
Entah sejak kapan, tahu-tahu anak muda itu sudah merangkak bangun dan saat ini sedang duduk bersila dengan sepasang mata terpejam.
Tampaknya dia sedang mengatur pernafasan untuk menyembuhkan luka dalam yang dideritanya.
Hatinya seakan terlepas dari beban yang berat.
Dia langsung meraung keras dan tubuhnya melesat menerjang ke depan.
Saat itu Tan Ki sudah tidak mempunyai beban tanggung jawab apa-apa lagi yang harus dipikirkan.
Begitu mengerahkan kepandaiannya, serangannya langsung terasa gencar sekali.
Ilmu yang dikerahkannya terdiri dari jurus-jurus yang aneh dan terkandung serangan yang mampu membunuh lawannya.
Mula-mula manusia berpakaian putih itu menganggap remeh lawannya.
Sejak pertama bergebrak dia sudah memberi kesempatan bagi Tan Ki untuk menempatkan diri pada posisi yang menguntungkan.
Akibatnya dia menjadi kehilangan peluang untuk menggerakkan serangan balasan.
Serangan Tan Ki yang aneh dan gencar ini membuat sedemikian terdesak sehingga mulutnya terus mengeluarkan suara suitan yang aneh dan kakinya juga terus meloncat mundur ke belakang.
Tiba-tiba Lok Hong melepaskan pelukan cucu kesayangannya dan maju dengan langkah lebar.
"Berhenti!"
Bentaknya keras.
Tanpa dapat ditahan lagi Tan Ki jadi terpana.
Justru ketika dia masih terkesima oleh bentakan Lok Hong, tahu-tahu manusia berpakaian putih itu sudah meloncat datang dan memutar sedikit tubuhnya untuk mengubah jurus yang lain.
Dengan mudah serta tanpa kesulitan sama sekali, dia berhasil mencekal pergelangan tangan Tan Ki.
Tan Ki hanya merasa bahwa bagian tubuh sebelah kirinya seperti kesemutan, tenaga dalamnya lenyap seketika.
Tanpa dapat ditahan lagi hatinya menjadi terkesiap tidak kepalang.
Wajahnya pun berubah hebat.
Tampak sepasang alis Lok Hong menjung-kit ke atas.
Orangtua itu seperti marah sekali.
"Lohu suruh kalian berhenti bergebrak, kau masih berani mencuri kesempatan membokong orang. Apakah kau benar-benar tidak memandang sebelah mata terhadap diri Lo-hu?"
Mulutnya berbicara, kakinya ikut m elangkah maju.
Lengan bajunya dikibaskan sehingga timbul angin yang kencang lalu langsung meluncur ke arah manusia berpakaian putih tersebut!
Siapa nyana manusia berpakaian putih itu licik bukan main.
Dengan seenaknya dia menarik tangan Tan Ki dan tubuh anak muda itu yang sudah setengah kaku itupun terseret olehnya.
Apabila dibiarkan otomatis anak muda itu yang dijadikan perisai untuk menyambut datangnya kibasan lengan baju Lok Hong yang dahsyat.
Untuk sesaat Lok Hong jadi tertegun.
Hawa amarah dalam dadanya meluap seketika.
Tubuh bagian atasnya tidak bergerak satria sekali.
Tangannya diulurkan ke depan, pergelangan tangan Tan Ki langsung tercekal olehnya.
Serangkum tenaga yang dahsyat segera mengalir ke dalam tubuh anak muda itu.
Tan Ki merasa segulung aliran tenaga yang panas menyusup ke dalam tubuhnya lalu mengalir keluar dengan menerjang ke pergelangan tangan manusia berpakaian putih yang juga sedang mencekal pergelangan tangan kiri anak muda itu.
Manusia berpakaian putih itu mendengus dingin satu kali.
Lengannya bergerak perlahan-lahan, dia menambah lagi tiga bagian tenaga dalamnya dan didorong ke depan.
Tiba tiba Tan Ki merasa tenaga dalam yang dikerahkan oleh Lok Hong mempunyai daya tekan yang besar.
Sebetulnya dia bisa mengerahkan tenaga dalam untuk menolak.
Dengan demikian gelombang arus yang dahsyat itu jadi tertahan.
Dengan membawa pikiran itu, dia langsung mempraktekkan apa yang terpikir olehnya barusan.
Rupanya saat itu manusia berpakaian putih tengah mengadu kekuatan dengan Lok Hong lewat tubuh Tan Ki.
Lok Hong merupakan seorang tokoh tua yang sudah terkenal dengan adatnya yang aneh.
Melihat lawannya sanggup menyambut gelombang arus tenaganya yang dahsyat bahkan seakan tidak terasa apa-apa, kemarahannya jadi berkobar-kobar.
Setelah tertawa dingin sebanyak satu kali, dia menambahkan lagi kekuatan tenaga dalamnya lalu didesakkan lewat pergelangan tangan Tan Ki.
Meskipun Tan Ki mengerahkan lwekangnya dengan lambat dan kemudian menambah lagi kekuatannya, tetapi cara mengadu kekuatan yang luar biasa dan jarang dijumpai ini justru membuat diri hampir tidak dapat menahan diri.
Dia merasa bahwa tenaga dalam yang tidak berwujud itu bagai air sungai yang meluap-luap dan deras serta mempunyai daya tekan yang hebat melanda tubuhnya dari dua jurusan.
Dirinya bagai benda kecil yang terjepit di antara dua benda raksasa.
Tan Ki seakan memanggul beban yang berat.
Tubuhnya terasa letih dan lemas bahkan nafasnya pun menjadi sesak.
Rupanya kekuatan tenaga dalam manusia berpakaian putih itu masih kalah satu tingkat bila dibandingkan dengan Lok Hong.
Dua arus tenaga dalam yang satu dahsyat dan lainnya agak lemah malah menggetarkan isi perut Tan Ki.
Pernafasannya seperti tersumbat dan dari kiri kanan mendapat tekanan yang hebat.
Tanpa terasa, timbul semacam niat untuk melawan.
Tan Ki sendiri tidak menyadari kalau dia sudah mengerahkan hawa murni dalam tubuhnya untuk memberontak.
Dan secara aneh hawa murni serta tenaganya sendiri langsung bergabung dengan kerahan tenaga dalam manusia berpakaian putih yang lebih lemah, bergabung melawan datangnya arus tenaga Lok Hong yang dahsyat.
Dalam waktu yang singkat, wajahnya yang tampan sudah dibasahi keringat yang menetes terus menerus.
Manusia berpakaian putih itu tampaknya lebih menderita lagi.
Bibirnya mengatup erat dan matanya membelalak lebar-lebar.
Wajahnya mengerut-ngerut seperti orang yang menahan sakit.
Tetapi pada dasarnya watak manusia berpakaian putih ini sangat keras.
Meskipun dia tahu apabila dia melepaskan tangannya lalu mengundurkan diri, tentu ia akan terlepas dari kesulitan ini.
Namun dia tidak berbuat demikian, giginya digertakkan erat-erat dan terus mengerahkan tenaga yang lebih kuat lagi.
Tan Ki merasa nyali serta empedunya dialiri hawa yang panas yang kemudian meluap naik ke atas.
Arus tenaga yang ada pada bagian kiri tubuhnya seperti bertambah kuat.
Tubuhnya sampai doyong miring dan ketika manusia berpakaian putih itu menambah lagi kekuatan tenaga dalamnya, tubuhnya baru tegak kembali.
Lok Hong sudah mengerahkan tenaga dalamnya sebanyak enam bagian.
Tetapi dia merasa ketika tenaga lawannya kembali menerobos datang, arus kekuatannya sendiri bagai didorong dan hampir saja dia tidak dapat berdiri tegak.
Cepat-cepat dia menambah lagi kekuatannya ke arah telapak tangan.
Tan Ki sendiri langsung memejamkan matanya dan mengatur jalannya hawa murni dalam tubuhnya.
Di bawah tekanan kedua tenaga yang berlainan itu, dia sampai mengerutkan alisnya.
Keringatnya mengucur bagai curahan hujan.
Tetapi dia tidak berani ayal, disalurkannya tenaga dalam untuk menolak arus kekuatan yang dikerahkan Lok Hong.
Saat itu Lok Hong sudah menambah lagi kekuatan tenaga dalamnya menjadi sembilan bagian.
Siapa nyana kedudukannya tetap saja seimbang, tidak tampak salah satu pihak yang lebih unggul atau lebih asor.
Hal ini membuatnya tidak berpeluang lagi untuk meraih kemenangan.
Di dalam hatinya mulai terselip rasa khawatir.
Karena di antara mereka berdua terhalang oleh Tan Ki.
Meskipun mereka hanya mengadu kekuatan tenaga dalam, tetapi justru keduanya tidak dapat saling menafsir.
Mereka tidak dapat menilai, dari mimik wajah lawannya apakah diri sendiri yang akan unggul atau pihak lawannya yang akan meraih kemenangan.
Dia hanya tahu bahwa kekuatan dirinya sendiri sudah dikerahkan sampai titik maksimal.
Seandainya sisa sebagian yang terakhir dikerahkan juga, maka hilanglah kemampuan mengadakan perlawanan yang terakhir.
Pada saat itu, apabila lawannya menambah sedikit saja kekuatan tenaga dalamnya, sudah pasti dirinya akan mendapatkan luka parah walaupun belum tentu sampai mati di tangan lawan.
Padahal manusia berpakaian putih itu juga mempunyai pikiran yang sama.
Dia sendiri juga sedang kelabakan, tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
Keduanya sama-sama tidak mempunyai keberanian untuk menambah lagi tenaga dalamnya, keduanya samasama khawatir kalau pihak lawan akan menggunakan kesempatan itu menambah tenaga dalamnya.
Hal ini bukan berarti bahwa tenaga dalam Lok Hong kurang sempurna sehingga menjadi peristiwa semacam ini.
Tetapi justru karena kekuatan tenaga dalam manusia berpakaian putih secara tanpa sadar bergabung dengan tenaga tolakan dalam tubuh Tan Ki yang mendorong dengan kuat seperti memberontak sehingga arus kekuatan Lok Hong jadi surut sebagian.
Tetapi kebimbangan yang terjadi dalam hati kedua orang ini malah memberi keuntungan pada diri Tan Ki.
Perasaan tidak enak di dalam tubuhnya menjadi lenyap.
Dan lambat laun dia dapat menyesuaikan diri dengan keadaan tersebut.
Tekanan yang ada pada dirinya perlahan-lahan disalurkan oleh hawa murninya yang terus bergerak.
Meskipun mula-mulanya, ketika kedua orang itu baru menyalurkan tenaga dalam ke tubuhnya, Tan Ki merasa agak tergetar dan nafasnya sesak, sekarang dia tidak merasakan apa-apa lagi.
Malah dengan adanya dua arus tenaga yang saling berdesakan di dalam tubuhnya, kemudian dibantu gerakan hawa murninya sendiri, malah membawa keuntungan yang tidak kecil bagi dirinya.
Bagian urat nadi yang sebelumnya sulit tertembus dengan mengandalkan himpunan hawa murninya sendiri, sekarang malah tertembus satu persatu.
Setelah kurang lebih sepeminum teh telah berlalu, diantara keduanya masih belum juga terlihat siapa yang akan meraih keunggulan dalam mengadu kekuatan ini.
Tiba-tiba pikiran Tan Ki tergerak.
Diam-diam dia berpikir.
"Kalau begini terus, sampai kapan baru ada penyelesaiannya?"
Begitu pikirannya tergerak, mendadak dia menghimpun kembali hawa murni di dalam tubuhnya lalu mengarahkannya ke lengan kiri.
Dia menyalurkan tenaga dalamnya membantu arus tenaga Lok Hong sehingga bergabung menjadi satu dan mengalir dengan deras.
Terdengar dengusan berat dari hidung manusia berpakaian putih itu dan tangannya pun terlepas lalu tersurut mundur.
Tampaknya dia tergetar oleh bantuan arus tenaga Tan Ki yang disalurkan secara mendadak sehingga tubuhnya tidak dapat berdiri tegak kemudian mundur dengan terhuyung-huyung.
Tetapi dasar manusia berwatak keras, dengan susah payah dia mempertahankan diri agar tidak terjatuh ke atas tanah.
Setelah tergetar mundur beberapa langkah, mulutnya langsung membuka dan memuntahkan darah segar beberapa kali berturut-turut.
Wajah Lok Hong menyiratkan senyuman mengejek.
Mulutnya bahkan memperdengarkan suara tawa yang dingin.
"Kau memang sangat gagah."
Sindirnya tajam.
Manusia berpakaian putih sadar bahwa tenaga dalamnya masih kalah jauh dengan pihak lawan.
Oleh karena itu dia tidak memperdulikan sindirian Lok Hong dan segera memejamkan matanya untuk mengatur pernafasan.
Di samping membiarkan tubuhnya yang letih mendapat waktu istirahat juga berusaha meringankan luka dalamnya.
Sembari mengelus jenggotnya, kembali Lok Hong memperdengarkan suara tertawa yang dingin.
Kemudian dia menoleh kepada Tan Ki.
"Dari mana kau mempelajari ilmu silat?"
Hati Tan Ki langsung berdegup kencang mendapat pertanyaan seperti itu. Dia malah sengaja memutar balikkan pertanyaan itu dengan pertanyaan pula.
"Apakah Locianpwe sudah mengetahui asal-usul ilmu silatku ini?"
Sepasang alis Lok Hong langsung terjungkit ke atas. Hatinya mulai merasa marah.
"Lohu sedang mengajukan pertanyaan, bukan malah Lohu yang harus memberi jawaban kepadamu!"
Tan Ki mengangkat sepasang bahunya dengan acuh tak acuh, seolah bersikap pasrah terserah menghadapi orangtua di hadapannya.
"Ucapan Locianpwe selalu tajam menusuk, hal ini justru membuat aku tidak tahu bagaimana harus memberikan jawaban."
"Bagus sekali, kau malah memutar lidah di hadapan Lohu!"
Sambil berkata, Lok Hong melangkah maju menghampiri Tan Ki.
Kalau dilihat dari sikapnya yang serius dan garang, tampaknya kemarahan orangtua ini hampir tidak terbendung lagi.
Rasanya dia sudah bersiap-siap menghukum Tan Ki.
Suasana yang tegang seakan berada pada tingkat yang maksimum saat itu.
Pertikaian yang tadinya berlangsung antara golongan sesat dan lurus sekarang berubah menjadi perang antara kawan sendiri.
Meskipun hal ini tidak diakui oleh keduanya, tetapi secara tidak langsung Tan Ki telah memberikan bantuan kepada Lok Hong dengan melukai manusia berpakaian putih barusan.
Tiba-tiba terdengar suara teriakan Lok Ing...
"Yaya...!"
Ujung pakaian berdesir, orangnya pun langsung menghambur datang.
Tampak wajahnya yang sedih menyiratkan ketakutan dan kecemasan yang tidak terkirakan.
Dia menghambur ke depan Tan Ki lalu membalikkan tubuhnya dan menghadang jalan kakeknya itu.
Angin pagi yang sejuk menghembus ke arahnya.
Gadis itu bagai seekor domba yang mendapat penganiayaan.
Dia berdiri di tengah-tengah kedua orang itu dengan tampang yang menyayat hati.
Lok Hong benar-benar tidak menyangka kalau cucu kesayangannya yang selama ini sangat membenci Tan Ki, bisa tiba-tiba berubah dan bersikap melindunginya.
Untuk sesaat dia jadi tertegun.
"Apa yang kau lakukan?"
Tanyanya kemudian.
Nada suaranya seperti sebuah perintah, tetapi di dalamnya terkandung kelembutan dan kasih sayang yang besar.
BAGIAN XXXIII Lok Ing tertawa pilu.
Dia menggelengkan kepalanya tanpa menyahut.
Tawanya ini bagai mencetuskan beribu kata-kata dalam hatinya.
Sekejap kemudian, tampak dua butir air mata mengalir dengan deras membasahi pipinya yang halus.
Tampangnya yang mengenaskan ini benar-benar membuat Lok Hong terpana.
Cucu perempuannya yang paling keras kepala dan tinggi hati, mengapa secara tiba-tiba bisa berubah menjadi demikian lemah.
Hatinya ingin sekali menanyakan apa yang disusahkan oleh gadis itu.
Tetapi berbagai perasaan berkecamuk di dalam kalbunya sehingga dia sendiri tidak tahu apa yang harus dikatakannya dan dari mana dia harus memulainya...
Terdengar suara Lok Ing yang lembut dan lirih bagai orang yang sedang berkeluh kesah.
"Dia sudah hampir mati. Andaikata dia mempunyai kesalahan terhadap Yaya, harap pandang muka Ing-ji kali ini saja. Jangan tanya segala macam, biarlah dia menghadapi pertarungan ini dengan tenang, setelah dia mati..."
Lok Hong terkejut sekali. Dengan pandangan tidak mengerti dia mengajukan pertanyaan kembali.
"Apa... apa yang kau katakan?"
Lok Ing menangis tersedu-sedu.
"Yaya, marilah kita pergi. Entah siapa yang meracuninya, tahu-tahu keadaannya sudah parah sekali. Kemungkinan malah tidak dapat melewati senja ini dan tidak diragukan lagi dia pasti akan mati. Yaya harus membangkitkan semangatnya melakukan pertarungan. Seandainya harus mati, biar bagaimana juga harus membiarkan dia meninggalkan sedikit nama di dunia ini. Aku tidak ingin melihat tampangnya ketika menghadapi kematian. Aku akan pergi jauh-jauh, semakin jauh semakin baik..."
Kembali dia mengembangkan seulas senyuman yang pahit kemudian melanjutkan lagi kata-katanya.
"Setelah dia mati, aku akan kembali lagi membereskan jenasahnya kemudian memilih sebuah pegunungan yang sunyi atau lembah yang tenang dan akan kubangunkan sebuah makam yang besar dan indah. Biar dia dapat terbaring di sana dengan tenteram untuk selamanya..."
Sembari berkata, air matanya terus menetes.
Nada ucapannya biasa-biasa saja, tidak terselip gejolak perasaannya yang galau.
Tetapi bagi pendengaran Lok Hong, hatinya bagai diganduli beban yang berat.
Dari kata-katanya yang demikian romantis, sudah tidak usah diragukan lagi kalau cucu kesayangannya ini sudah mengambil keputusan yang tidak dapat diganggu gugat atas diri pemuda ini.
Baru saja dia ingin mengucapkan beberapa patah kata untuk menghibur hati cucunya, Lok Ing sudah menarik tangannya dan menyeretnya meninggalkan tempat itu.
Hal yang sama pada diri mereka adalah langkah kaki keduanya yang demikian berat.
Apa yang terkandung dalam kalbu mereka sudah barang tentu jauh berlainan.
Tetapi pokok persoalannya sudah pasti diri Tan Ki juga.
Tan Ki memandangi bayangan kedua orang itu sampai jauh sekali.
Beban dalam hatinya, seakan menjadi ringan.
Dia mengerlingkan matanya dan berhenti pada diri manusia berpakaian putih.
itu.
Ditatapnya orang itu lekat-lekat sambil mengembangkan seulas senyuman.
"Urusan kita belum selesai, sekarang juga kita tentukan akhir pertarungan kita. Cepat ke mari!"
Sepasang tangannya mengambil posisi menahan di depan dada.
Dia langsung memasang kuda-kuda seakan sudah siap menghadapi serangan lawan.
Sepasang mata manusia berpakaian putih itu membuka lalu melirik ke arah manusia berjubah hitam longgar yang tampaknya merupakan pimpinan mereka.
Dia seperti sedang menanti perintah dari orang itu.
Manusia berjubah hitam longgar itu mengangkat tangannya ke atas dan menunjuk sebanyak dua kali.
Manusia berpakaian putih itu-pun segera mengangguk-anggukkan kepalanya.
Wajahnya yang pucat pasi tampak berkerut-kerut.
Tiba-tiba dia mengeluarkan suara pekikan yang aneh, tubuhnya menyusul mencelat ke udara lalu menerjang ke depan.
Boleh dibilang dalam waktu yang bersamaan, Tan Ki juga mendongakkan wajahnya dan bersuit nyaring.
Sepasang kakinya bergerak menghentak di atas tanah dengan keras.
Tubuhnya melesat ke udara menyambut kedatangan manusia berpakaian putih itu.
Kejadiannya itu berlangsung dalam sekejap mata saja.
Gerakan tubuh kedua orang itu saling menerjang dari dua arah.
Dalam waktu yang singkat pukulan keduanya beradu di udara.
Terdengarlah suara ledakan yang menggelegar.
Dua pasang telapak sama-sama mengerahkan sebuah jurus di tengah angkasa.
Cara bertarung keras lawan keras seperti ini, meskipun Tan Ki sudah bersiap sedia menghadapi lawannya dengan melancarkan serangan balasan yang hebat, tetapi karena lawannya di atas dan dia menyusul kemudian, maka tubuhnya pun tertekan oleh arus tenaga lawan sehingga anjlok turun lagi ke atas tanah.
Oey Ku Kiong yang masih duduk bersila di atas tanah, tiba-tiba membuka sepasang matanya.
Perlahan-lahan dia melirik Tan Ki sekilas.
Dari sinar matanya tersorot kekhawatiran dan kecemasan hatinya.
Seakan takut kalau Tan Ki bukan tandingan manusia berpakaian putih itu dan baru bergebrak saja sudah mengalami kekalahan.
Tetapi dia melihat wajah Tan Ki serius dan berwibawa.
Sikapnya seperti seorang tokoh yang sudah mencapai taraf kesempurnaan.
Hal ini membuat orang yang melihatnya merasa dalam hatinya timbul perasaan hormat.
Pengetahuannya sangat luas.
Melihat tampang Tan Ki yang keren dan angker, dia segera menyadari bahwa ilmu Tan Ki sudah mendapatkan kemajuan yang pesat.
Sikapnya yang berwibawa itu justru merupakan ciri khas seorang tokoh tingkat tinggi sebelum memulai pertarungan.
Perlu diketahui bahwa kecerdasan Tan Ki melebihi orang lain.
Dalam usia dua puluh tahun saja, dia sudah menggemparkan dunia persilatan.
Nama Cian bin mo-ong berkumandang ke mana-mana dan menggetarkan hati setiap orang.
Di tambah lagi selama bulan terakhir ini dia sudah memahami berbagai kesulitan yang tadinya menggelayuti pikirannya.
Hal ini membuat ilmu silatnya mengalami kemajuan yang pesat.
Meskipun Oey Ku Kiong sendiri belum berhasil menembus urat penting dalam tubuhnya, tetapi terhadap perkembangan ilmu silat dan reaksi-reaksi yang diperlihatkan, dia justru paham sekali.
Oleh karena itu, sekali lihat saja dia sudah tahu bahwa kepandaian Tan Ki sekarang sudah jauh lebih hebat dibandingkan sebelumnya.
Saat ini jarak diantara keduanya kurang lebih empat lima langkah.
Mereka seperti saling menguji kesabaran.
Sinar mata Oey Ku Kiong mengendar.
Dia melihat sepasang mata Tan Ki sedang menatap si manusia berpakaian putih lekat-lekat, seakan dari pukulannya tadi dia dapat menduga bahwa orang itu bukan lawan yang mudah dihadapi dan tidak boleh dipandang ringan sama sekali.
Sikapnya serius sekali.
Tiba-tiba dari kejauhan berkumandang suara suitan secara berturut-turut.
Manusia berjubah hitam longgar serta bermata sipit itu langsung mengerutkan sepasang alisnya.
Kemudian dia tertawa dingin.
Dalam sekejap mata sikapnya kembali angkuh dan sombong.
Tampak Tan Ki mengeluarkan sebatang suling dari balik lengan bajunya dengan gerak perlahan-lahan.
Kemudian dia menggetarkannya.
Tiba-tiba muncul guratan sinar yang berkilauan serta menimbulkan hawa dingin.
Pandangan mata menjadi kabur dibuatnya.
Rupanya di dalam seruling itu terdapat sebilah pisau yang panjang kurang lebih tiga cun.
Apabila ditekan, pedang itu baru keluar.
Tetapi kalau dikibaskan dengan keras, pisau itu bisa masuk lagi ke dalam.
Jadi seperti semacam senjata yang tersembunyi.
Manusia berpakaian putih itu melihat Tan Ki mengeluarkan senjatanya.
Sepasang matanya yang sayu seperti mata setan tiba-tiba memancarkan sinar berwarna kehijauan.
Dia berdiri dengan sikap bimbang, seakan senjata yang tersimpan dalam seruling Tan Ki membuatnya ngeri sebelum bertarung.
Sikap Tan Ki yang keren dan berwibawa juga membuat orang yang melihatnya tidak berani memandangnya sebagai lawan yang enteng.
Ketegangan yang luar biasa heningnya mengiringi waktu yang merayap dengan perlahan-lahan, suasana yang mencekampun semakin terasa...
Dengan gerakan lambat Tan Ki mengangkat serulingnya ke atas.
Tiba-tiba tubuhnya melesat ke depan menerjang masuk.
Sinar berwarna putih melintas di udara, tahu-tahu orangnya sudah kembali pada posisi semula.
Gerakannya yang lambat tiba-tiba menjadi cepat.
Hanya tampak sinar pedang berkilauan sekejap mata, orangnya pun sudah kembali ke tempat semula.
Kecepatan ini sungguh sulit diikuti mata biasa.
Boleh dibilang sepesat kilat yang menyambar.
Satu jurus serangan kedua orang itu dilakukan tanpa menimbulkan suara sedikitpun.
Tidak terdengar suara pukulan ataupun gerakan pedang pendek dalam seruling Tan Ki.
Oey Ku Kiong mendongakkan kepalanya dan memperhatikan dengan seksama.
Tanpa dapat ditahan lagi hatinya jadi bergetar.
Dia melihat sepasang lengan serta tubuh tegak si manusia berpakaian putih telah merubah gerakannya, tampaknya dengan mudah dia dapat menghadapi serangan Tan Ki yang secepat kilat itu.
Tetapi di lengan bajunya yang longgar itu telah terlihat celah sebesar empat lima cun.
Secara samar-samar dapat terlihat bekas darah yang merembes.
Tidak diragukan lagi...
serangan seruling yang dilakukan Tan Ki tadi telah berhasil melukai si manusia berpakaian putih.
Namun rupanya luka yang ditimbulkan oleh pedang pendek yang tersembunyi dalam serulingnya tidak terlalu dalam.
Oey Ku Kiong sampai menarik nafas panjang-panjang.
"Dia sungguh perkasa,"
Katanya seperti kepada dirinya sendiri.
Semacam emosi yang tidak dipahaminya membuat pandangannya terhadap Tan Ki jadi berubah.
Dia merasa anak muda itu bagai sinar mentari yang baru menyingsing, yang cahayanya membuat perasaan orang menjadi silau mengejutkan.
Sikapnya berwibawa dan anggun.
Dia berdiri tegak di hadapannya dengan wajah serius.
Bahkan si manusia berpakaian putih yang dirinya sendiri mengakui tidak dapat mengalahkan, ternyata dengan gerakan yang sederhana dan tampaknya mudah sekali, berhasil dilukai Tan Ki.
Bila dia tidak menyaksikan hal ini dengan mata kepalanya sendiri, dia benar-benar tidak percaya bahwa peristiwa ini merupakan kenyataan.
Tangan kanan Tan Ki terangkat ke atas, pedang pendek yang menyambung dengan serulingnya memancarkan cahaya yang berkilauan dan perlahan-lahan mengarah ke dada si manusia berpakaian putih tersebut.
Dengan jurus Pergelangan Tangan Mengibas Awan, telapak tangannya langsung terentang.
Dari bawah tiba-tiba memutar ke atas.
Tiba-tiba manusia berpakaian putih itu menyerang ke arah pergelangan Tan Ki yang menggenggam sebatang"
Seruling berisi senjata aneh itu.
Tampang manusia berpakaian putih ini benar-benar mirip sesosok mayat yang diseret dari liang kubur.
Dia menggerakkan tangannya yang kosong tanpa membawa senjata apapun.
Tetapi pada sepuluh jari tangannya justru dipelihara kuku-kuku yang panjangnya kurang lebih tiga empat cun, menyerupai kaitan yang tajam.
Persis seperti sepuluh batang pisau tajam yang ditancapkan pada jari tangannya.
Begitu dia mengerahkan tenaganya melancarkan serangan, angin yang ditimbulkannya bagai sepuluh batang golok terbang yang melintas di angkasa dan dengan gusar melesat ke arah lawannya.
Kecepatannya benar-benar bagai kilat yang menyambar.
Siapa nyana pedang suling yang didorongkan ke depan oleh Tan Ki tiba-tiba menekan ke bawah.
Gerakannya dari lambat berubah menjadi cepat.
Hawa dingin menyebar, sasarannya pergelangan tangan kanan manusia berpakaian putih itu.
Begitu jurus pedangnya berubah, dari menghindar tahu-tahu melakukan serangan, semuanya boleh dibilang terjadi dalam waktu yang hampir bersamaan.
Nama Cian bin moong yang sempat menggetarkan dunia persilatan, ternyata bukan didapatkan dengan mengandalkan keberuntungan saja!
Sepasang bahu manusia berpakaian putih itu bergerak, sepasang kakinya menutul, tubuhnya dalam posisi tegak mencelat ke belakang sejauh dua depa.
Meskipun perubahan gerakannya sudah termasuk cepat, tetapi putaran pedang di tangan Tan Ki laksana ombak yang dihembus angin kencang, yang terlihat hanya guratan cahaya yang membawa hanya dingin melesat lewat pergelangan tangan si manusia berpakaian putih.
Ketika dia menundukkan kepalanya melihat, tahu-tahu lengan baju kanannya telah terkoyak sebagian dan darah segar jatuh setetes demi setetes membasahi tanah.
Dua jurus serangan telah berturut-turut dilancarkan, setiap jurus melukai satu tempat.
Tetapi manusia berpakaian putih itu masih belum meluap kemarahannya karena hal ini.
Malah sebaliknya, Kiam-sut Tan Ki yang hebat ini serta sikapnya yang berwibawa, secara diam-diam membuat hatinya tergetar.
Sepasang matanya menyorotkan sinar gentar.
Melihat Tan Ki menggenggam suling di tangan dan melangkah maju dengan tampang serius, tanpa terasa kakinya malah meloncat mundur satu langkah.
Manusia berjubah hitam longgar yang tingginya kurang dari lima mistar, tiba-tiba mengerutkan alisnya.
"Ji-yau, apakah lukamu parah sekali?"
Orang ini sudah pasti wataknya angkuh bukan main, meskipun maksud pertanyaannya merupakan perhatian dan mengandung kekhawatiran tetapi nadanya justru begitu dingin seperti sebongkah es batu.
Manusia berpakaian putih itu diam-diam mencoba mengatur pernafasannya, dia merasa hawa murninya masih dapat disalurkan ke lengan tangan.
Hatinya langsung tahu bahwa tulang maupun uratnya masih belum tersayat putus oleh pedang Tan Ki.
Dengan demikian dia segera menyahut dengan lantang.
"Terima kasih atas perhatian Kaucu, hamba masih dapat meneruskan pertarungan ini!"
Tangannya terangkat, dengan jurus Sungai Es Meluap Naik, sepuluh jari tangannya yang mirip kaitan tajam menimbulkan berpuluh-puluh bayangan.
Dengan lincah dan gencar menyerang ke arah Tan Ki.
Tan Ki menggetarkan pergelangan tangannya dan mengibas ke depan, pedang sulingnya segera menyambut serangan lawan.
Tetapi sepasang kakinya tidak bergerak sama sekali, dia tetap berdiri pada posisi semula.
Seperti orang yang sudah dapat bayangan bahwa dengan cara seperti ini, asal dia mengibaskan tangannya ke depan, tetap saja dia akan mengenai sasaran dengan telak.
Atau paling tidak dapat menangkis serangan manusia berpakaian putih itu dengan tepat.
Tetapi nyatanya, sikapnya yang demikian tenang dan menampilkan kewibawaan, membuat manusia berpakaian putih itu tidak berani mendesak maju.
Tubuhnya bergerak, dia malah mencelat ke belakang.
Melihat keadaan itu, tanpa dapat ditahan lagi sepasang alis Kim Yu berjungkit ke atas.
Dengan suara rendah dia berkata kepada manusia berjubah hitam longgar itu.
"Suheng, tampaknya anak muda itu sudah mencapai tingkat yang tinggi sekali dalam ilmu pedang. Sekali turun tangan gerakannya seperti bintang jatuh dari langit. Kemungkinan besar Ji-yau atau Siluman Kedua bukan tandingannya!"
Manusia berpakaian hitam longgar itu mendengus dingin.
"Takutnya dia malah tidak bertahan lebih banyak dari sepuluh jurus lagi."
"Itu sih belum tentu. Di bawah pimpinan Suheng terdapat dua siluman dan dua setan. Mereka adalah orang-orang yang wataknya keras bukan main. Semakin gencar melakukan serangan, mereka semakin tidak takut menghadapi kematian..."
Di saat kedua orang itu sedang berbicara, manusia berpakaian putih itu sudah mencelat mundur dan berdiri dengan tegak.
Tiba-tiba terdengar suara raungan keras dari mulut Tan Ki.
Dalam waktu yang bersamaan pedang suling di tangannya juga bergerak ke depan.
Tampak cahaya yang berkilauan melesat cepat ke arah lawan.
Jurus ini juga termasuk salah satu diantara ilmu pusaka Ti Ciang Pang yang bernama Matahari Tenggelam Menyorot Indah.
Jurus ini memang khusus diciptakan untuk mengejar lawan dengan serangan yang gencar.
Ketika pedang sulingnya bergerak, kecepatannya bagai sebatang anak panah yang dibidikkan ke depan!
Serangan secepat ini hanya dapat dilakukan oleh jago kelas tinggi di dunia Bulim.
Begitu serangannya datang, lawannya langsung merasa kalang kabut dan tidak tahu bagaimana harus menghadapinya.
Manusia berpakaian putih itu kehilangan kesempatan yang baik.
Dirinya jadi terperangkap dalam keadaan yang berbahaya.
Apalagi senjata di tangan Tan Ki merupakan sejenis senjata yang jarang terlihat di dunia Kangouw, yakni sebatang suling yang berisi pisau.
Ketajamannya sungguh luar biasa.
Ketika bergerak menimbulkan cahaya yang menyilaukan mata pula.
Sekali pandang saja dapat dipastikan bahwa senjata rahasia itu dapat memotong berbagai logam dengan mudah.
Manusia berpakaian putih itu sudah barang tentu tidak berani menyambutnya dengan tangan kosong, hal ini akan merugikan kedudukannya.
Secara berturut-turut dia meloncat mundur sejauh tiga langkah.
Tetapi biar bagaimana, dia merupakan salah satu pelindung hukum dalam perkumpulan Pek Kut Kau.
Ilmu silatnya merupakan hasil latihan keras.
Tentu saja dia juga mempunyai kelebihannya tersendiri.
Sejak serangan Tan Ki membuat dirinya terdesak sehingga surut mundur beberapa kali, dia tidak berani memandang ringan lawannya lagi.
Tanpa menunggu serangan Tan Ki yang berikutnya, pergelangan tangannya segera memutar dan melancarkan serangan balasan.
Lengannya yang panjang dan kurus bergerak, pukulannya bagai kincir angin yang kencang.
Dalam waktu yang singkat dia sudah melancarkan empat pukulan serta dua totokan.
Kedua totokan dan empat pukulan ini merupakan serangan yang keji sekali dan mengandung tenaga dalam yang dahsyat.
Ketika serangannya dilancarkan, timbul suara angin yang mirip suitan panjang.
Meskipun Tan Ki sering melancarkan jurus-jurus yang aneh, tetapi biar bagaimana pengalaman dan pengetahuannya masih kalah jauh dibandingkan lawan.
Lengah sedikit saja, dia sudah terdesak oleh manusia berpakaian putih itu.
sampai berada dalam posisi yang berbahaya.
Setelah bergebrak belasan kali, dia malah kehilangan peluang untuk balas menyerang sama sekali.
Sembari mengatur pernafasan serta hawa murninya guna menyembuhkan luka, secara diam-diam Oey Ku Kiong terus mengikuti perkembangan pertarungan antara Tan Ki dengan manusia berpakaian putih itu.
Melihat keadaan jadi berbalik, Tan Ki yang kewalahan serta manusia berpakaian putih yang di atas angin, dia menjadi heran sekali.
"Apa sebetulnya yang telah terjadi?"
Pikirnya dalam hati.
Melihat keadan Tan Ki yang demikian terdesak, hatinya panik bukan main.
Cepat-cepat dia mengempos tenaga dalam dan hawa murninya lalu melonjak bangun.
Dia bersiap-siap mencari kesempatan yang baik supaya dapat menerjang ke depan memberi bantuan.
Namun pertarungan di antara kedua orang itu berlangsung dengan gerakan yang cepat sekali.
Sejurus demi sejurus dilancarkan, deruan angin pukulan dan bayangan seruling terus bergantian.
Bagai gulungan ombak di lautan yang terus melanda tiada hentinya.
Setelah memperhatikan sejenak, Oey Ku Kiong masih juga tidak mendapat kesempatan untuk memberikan bantuan.
Justru ketika dia sedang panik dan kelabakan, tiba-tiba terdengar Tan Ki meraung keras bagai harimau ngamuk.
Seruling di tangannya mendadak melancarkan jurus-jurus yang aneh.
Bayangan seruling yang membawa hawa dingin berkelebatan memenuhi angkasa.
Dengan jurus Kabut Awan Diselimuti Cahaya Keemasan, tubuhnya berputaran bagai kitir angin menerjang ke depan.
Rupanya dia menggabungkan Te Sa Jit-sut dengan ilmu gerakan seruling sehingga menimbulkan pengaruh yang hebat.
Sayangnya gabungan ilmu ini baru pertama kali dimainkannya, hal ini membuat gerakannya masih agak kaku.
Manusia berpakaian putih itu melihat Tan Ki tiba-tiba merubah gerakannya.
Sambil menghindarkan diri, anak muda itu membalas sebuah serangan.
Diantara cahaya yang dingin timbul bayangan pedang dalam jumlah yang banyak.
Serangannya langsung mendesak ke arah dada manusia berpakaian putih itu.
Entah mengapa, serangkum hawa dingin yang timbul dari pedang Tan Ki yang jaraknya tinggal setengah depa dari dada lawannya mendadak berhenti, gerakannya seperti tertahan sesuatu sehingga tidak dapat diteruskan lagi.
Ternyata di saat yang genting ini, pedang Tan Ki sudah hampir berhasil menikam dada lawannya, tiba-tiba anak muda ini lupa lanjutan gerakan yang harus dilakukannya.
Mungkin hal ini terjadi karena gerakannya yang masih kaku dan baru pertama kali menggunakan ilmu tersebut.
Dengan demikian, hilanglah kesempatan yang besar untuk membunuh lawannya karena gerakannya yang berhenti dengan mendadak itu.
Untuk sesaat manusia berpakaian putih itu menjadi terpana.
Kemudian secara tidak terduga-duga dia mengerahkan jurus Menyebar Bunga Pohon Liu, tubuhnya meloncat ke samping dan tahu-tahu tangannya meluncur untuk mencekal pergelangan tangan Tan Ki yang sedang menggenggam seruling.
Saat itu Tan Ki sedang merenungi kelanjutan perubahan gerak ilmu Te Sa Jit-sut, perhatiannya jadi terpencar karena lengah ia jadi terdesak sedemikian rupa oleh serangan manusia berpakaian putih yang gencar sehingga mencelat mundur ke belakang.
Perlu diketahui bahwa ilmu pedang merupakan satu diantara sekian banyak jenis ilmu silat yang paling susah dipahami, apalagi bila hendak mencapai tingkat tertinggi.
Apabila Kiam-sut seseorang sudah mencapai taraf kesempurnaan, asal dia mengempos hawa murninya saja, pedangnya dapat mengikuti kemauannya menyerang pihak lawan.
Pengaruh kekuatan pedangnya bagai air terjun yang menghempas batu karang, tidak akan satupun yang meleset dari sasarannya.
Bahkan orang yang tenaga dalamnya sudah mencapai tingkat tinggi dapat membunuh lawannya dari jarak dua depaan.
Tan Ki justru mondar-mandir di antara tepian pantai ilmu pedang yang tertinggi.
Andaikata ada setitik ilham yang mendadak muncul dalam benaknya, maka kelak dirinya bagai sebuah kotak pusaka yang masih belum diketahui orang banyak.
Di saat mencapai taraf tersebut, maka setiap kesulitan yang pernah dihadapinya dapat dipecahkan satu per satu bagai bayangan yang melintas di depan pelupuk mata.
Hal ini berarti dirinya sudah mendapatkan hasil yang tidak habis dipakai.
Pikiran Tan Ki sedang bergelut dengan ilmu yang baru dipahaminya.
Dia seolah tidak memperdulikan keadaan sekitar sama sekali.
Tetapi memangnya siapa manusia berpakaian putih itu.
Sejak semula dia sudah melihat sinar mata Tan Ki yang menerawang di kejauhan, hatinya segera sadar bahwa ada sesuatu yang sedang menggelayuti pikiran anak muda itu.
Tentu dia tidak memperhatikan keadaan di sekitarnya.
Biar bagaimana manusia berpakaian putih merupakan seorang tokoh yang licik sekali, mana mungkin dia sudi melepaskan kesempatan yang bagus ini?
Oleh karena itu, tanpa menimbulkan suara sedikitpun dia segera merapatkan dirinya ke arah anak muda itu.
Tiba-tiba pergelangan tangannya mengibas dan tahu-tahu sudah meluncur ke arah pergelangan tangan Tan Ki yang sedang menggenggam seruling!
Cara melancarkan serangannya itu, menggunakan kecepatan yang tinggi sekali.
Oey Ku Kiong yang melihatnya sampai terkejut setengah mati, tanpa dapat ditahan lagi dia berteriak sekeras-kerasnya.
"Tan Heng, hati-hati...!"
Mendadak serangkum rasa nyeri menyerang ulu hatinya.
Persis seperti dicucuki puluhan jarum yang tajam, kata-katanya pun tidak dapat dilanjutkan lagi.
Rupanya dalam keadaan panik, dia sampai melupakan dirinya yang sedang terluka.
Baru saja meneriakkan beberapa patah kata, dia tidak sanggup melanjutkan lagi.
Tetapi saat ini Tan Ki bukan lagi pemuda yang ingusan yang baru terjun ke dunia Kangouw, meskipun dia terkena sedotan tenaga manusia berpakaian putih itu yang kuat.
Memang tubuhnya sampai tidak dapat dipertahankan lagi tertarik ke depan satu langkah, namun dia juga jadi tersadar seketika.
Melihat cakar lawannya yang tajam hanya tinggal kurang dari satu cun dengan dadanya, cepat-cepat dia mengempos hawa murninya dan tubuhnya pun langsung mencelat mundur ke belakang.
Seraya mencelat ke belakang, Tan Ki juga langsung mengerahkan tenaga dalamnya dan memperhatikan dengan seksama gerakan lengan lawannya.
Tiba-tiba tubuhnya miring sedikit kemudian meluncur membalas sebuah serangan..
Tampak cahaya dingin berkilauan.
Bayangan bintang yang jumlahnya tidak terhitung berkumpul menjadi satu kemudian meluncur ke depan.
Serangannya kali ini, baik kecepatan maupun tenaga yang terkandung di dalamnya merupakan paduan seluruh kekuatan pada diri Tan Ki.
Terasa ada kilasan cahaya yang menyilaukan mata, dari deruan suaranya sudah dapat diduga bahwa serangan ini tidak boleh dianggap ringan.
Tampaknya manusia berpakaian putih itu terkesiap sekali melihat serangannya yang hebat bukan buatan itu.
Mau tidak mau dia menarik kembali serangannya sendiri lalu mencelat ke samping untuk menghindarkan diri.
Tiba-tiba Tan Ki mendongakkan wajahnya dan tertawa terbahak-bahak.
"Kau sudah tertipu, mengapa masih tidak menyerah?"
Pergelangan tangannya memutar kemudian mengibas.
Tubuhnya meluncur ke depan mengejar.
Begitu tangannya bergerak, pedang sulingnya langsung menimbulkan bayangan yang tidak terhitung jumlahnya.
Hawa dingin menyebar, cahayanya memijar.
Bagai gumpalan awan yang disinari mentari dan meluncur ke depan bagai kilat.
Jurus ini bukan jurus sembarangan, justru merupakan salah satu jurus yang paling hebat dari Te Sa Jit-sut, yakni Lautan Selatan Menggelora.
Kekuatannya dahsyat sekali dan sulit dicari tandingannya.
Kemudian terdengar suara siulan yang tajam dan menyayat hati, memecahkan keheningan suasana yang tegang.
Hujan darah memercik ke mana-mana, disusul dengan sebuah lengan tangan yang dilewati oleh pedang suling Tan Ki lalu terbang melayang sejauh dua depaan.
Begitu mata memandang, tampak manusia berpakaian putih itu mendekap sebelah tangannya yang kutung.
Ia mundur dengan terhuyung-huyung.
Wajahnya yang pucat pasi menyiratkan penderitaan yang tidak terkirakan.
Tetesan-tetesan darah segar bagai air pancuran mengalir mengiringi gerakan langkahnya yang limbung.
Wajah Tan Ki malah menyiratkan seulas senyuman yang gagah dan berdiri di tempatnya dengan tenang.
Saat itu dia masih mengenakan pakaian pengantinnya serta tampak berkibar-kibar ditiup angin pagi.
Sikapnya berwibawa dan anggun persis seperti seorang dewa yang turun dari langit.
Tubuhnya berdiri dengan tegak.
Dengan berhasilnya serangan yang ia lancarkan tadi, bahkan lawannya sampai terkutung lengannya, membuktikan bahwa hasil pemikirannya tadi sudah benar dan dia sudah menembus bagian tersulit dalam ilmu pedang.
Hatinya juga sadar bahwa Te Sa Jit-sut telah berhasil ia kuasai sepenuhnya sehingga dapat digunakan sesuai keinginan hatinya.
Asal diberi waktu beberapa kentungan lagi untuk merenungkan Tian Si Sam-sut, dia yakin ilmu ini juga dapat dikuasainya dengan sempurna.
Dengan demikian dia mempunyai peluang untuk menyaingi jago-jago kelas tinggi di dunia Bulim sehingga namanya akan berkumandang di mana-mana.
Sayangnya, sebentar lagi dia akan mati...
Meskipun Tan Ki adalah seorang pemuda yang bernasib malang dan tidak memperdulikan mati hidupnya sendiri, tetapi di saat berpikir tentang kemajuan ilmu silat yang berhasil dicapainya, sehingga ada kemugkinan mendapat kejayaan di masa yang akan datang, mau tidak mau hatinya menjadi pedih mengingat bahwa usianya hanya tinggal beberapa saat dan dia sudah harus meninggalkan dunia yang penuh variasi ini.
Manusia berjubah longgar hitam dan merupakan Kaucu dari Pek Kut Kau dari wilayah barat menggerakkan tubuhnya yang kecil pendek dan melangkah keluar perlahan-lahan.
Tampak sepasang matanya menyorotkan sinar kebimbangan dan kekhawatiran.
Dia berjalan mendekati Tan Ki.
"Ilmu pedang yang kau gunakan tadi, siapa yang mewariskannya kepadamu?"
Tanyanya serius.
"Bagaimana kalau aku tidak ingin memberitahukannya kepadamu?"
Kaucu Pek Kut Kau itu memperdengarkan suara tawa yang menyeramkan.
"Kata-kata yang telah aku cetuskan, tidak ada seorangpun yang berani menentangnya. Kalau kau tidak percaya, boleh coba-coba. Saat itu biarpun kau ingin mengatakannya, kemungkinan sudah terlambat..."
Pada saat ini, Tan Ki sudah tidak memperdulikan mati hidupnya lagi.
Dalam pikirannya, meskipun dia tidak mati dalam pertarungan, toh dia akan mati juga karena serangan racun dalam tubuhnya.
Mendengar kata-kata manusia berjubah hitam itu yang demikian angkuh, tanpa dapat ditahan lagi dia tertawa terbahak-bahak.
"Paling-paling mati, memangnya apa yang harus ditakuti?"
Wajah Kaucu Pek Kut Kau itu langsung menyiratkan kegusaran, sembari tertawa dia berkata.
"Ingin mati? Takutnya malah tidak begitu mudah!"
Dengan mata menerawang Tan Ki merenung beberapa saat.
"Kepandaian di dunia Kangouw terdiri dari bermacam ragam. Tetapi ilmu menggunakan racun bukan sembarang orang yang mempelajarinya. Cayhe juga percaya bahwa Saudara sanggup membuat diri ini terperangkap dalam keadaan mati tidak hiduppun tidak. Tetapi aku juga mempunyai keyakinan sendiri dan tidak membiarkan Saudara berbuat demikian!"
Kata-katanya ini diucapkan dengan penuh kegagahan.
Di balik sikapnya yang lembut tersirat kekerasan.
Oey Ku Kiong yang berdiri di sampingnya sampai menganggukkan kepala berkali-kali menyetujui pendapatnya ini.
Wajahnya bahkan menyunggingkan seulas senyuman yang menunjukkan rasa kagumnya.
Sepasang alis Kaucu Pek Kut Kau itu langsung menjungkit ke atas.
Wajahnya berubah jadi kelam.
Namun mulutnya memperdengarkan suara tertawa yang dingin.
"Benarkah?"
"Saudara dapat melihat jurus seranganku tadi, tentunya sudah dapat menduga pula asal usulnya. Seandainya Cayhe mengungkapkan siapa orangnya yang mewariskan ilmu tersebut, harap Saudara juga mengabulkan beberapa permintaanku ini. Urusan pagi ini, biar bagaimana harus ada penentuan menang kalahnya. Biarpun Saudara tidak mengajukan pertanyaan ini, pertarungan tetap harus berlangsung. Siapapun tidak dapat mencegahnya lagi. Harap Saudara pertimbangkan lagi baik-baik. Kata-kata yang kuucapkan, hanya untuk melihat sampai di mana kegagahan tokoh dari Si Yu, bukan berarti dapat memaksa diri Cayhe menerima penghinaan dari kalian!"
Kaucu Pek Kut Kau menganggukkan kepalanya.
"Dari tokoh angkatan muda maupun para boanpwe, selamanya tidak ada seorangpun yang berani berbicara demikian di hadapanku. Sikapmu yang berani membangkang ini, meskipun sudah patut menerima hukuman mati, tetapi kata-katamu tadi beralasan juga."
"Kalau begitu, berarti Saudara sudah menyetujui?"
Sinar mata Kaucu Pek Kut Kau itu mengedar sekilas lalu berhenti pada diri Oey Ku Kiong. Bibirnya mengembangkan seulas senyuman.
"Kita boleh saling menukar masalah, biarpun didengar oleh orang lain, tidak apa-apa. Setelah kita selesai bicara, aku dapat membunuhnya."
Mendengar kata-katanya, Oey Ku Kiong terperanjat sekali. Diam-diam dia berpikir dalam hatinya.
"Orang ini secara terang-terangan menyatakan apa yang tersirat dalam hatinya, kalau dia tidak mempunyai keyakinan besar atas dirinya sendiri, mana mungkin..."
Berpikir sampai di sini, jantungnya berdegup lagi.
Dia memaksakan dirinya untuk menghimpun hawa murni dalam tubuhnya.
Secara diam-diam dia melihat ke sekelilingnya untuk bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan.
Tan Ki tersenyum lembut.
"Tentang mati hidup, merupakan urusan yang baru dapat ditentukan setengah kentungan kemudian. Saudara juga tidak perlu berbicara dengan nada seyakin itu..."
Setelah berhenti sejenak, dia baru meneruskan lagi kata-katanya.
"Jurus serangan yang tadi Cayhe kerahkan bernama Lautan Selatan Menggelora. Mungkin Saudara juga sudah mengetahuinya. Kemungkinan Saudara malah lebih memahaminya daripada diri Cayhe ini..."
Kaucu Pek Kut Kau tertawa lebar.
"Tidak salah! Jurus Lautan Selatan Menggelora yang kau gunakan tadi, bukan saja mengandung perubahan yang cepat lagipula memang aku lebih menguasainya daripada dirimu. Gerakanmu barusan seperti orang yang baru mempraktekkanya pertama kali. Sehingga sering kehilangan kesempatan yang baik untuk membunuh lawan..."
Mendadak dia menarik nafas dalam-dalam. Kemudian baru melanjutkan kembali.
"Sayangnya, dari kitab ilmu pusaka perkumpulanku itu, yakni Te Sa Jit-sut, aku hanya memahami dua jurus yang terakhirnya saja. Salah satunya adalah Lautan Selatan Menggelora yang kau mainkan tadi."
Hati Tan Ki tercekat mendengar kata-katanya.
"Rupanya Te Sa Jit Sut adalah ilmu dari Pek Kut Kau asalmu itu?"
Kaucu Pek Kut Kau atau Perkumpulan Tengkorak Putih menganggukkan kepalanya sedikit.
"Dalam dunia Bulim sekarang ini, kecuali aku sendiri, seharusnya tidak ada orang lagi yang paham ilmu ini. Tetapi secara tidak terduga-duga, di tempat ini juga aku bisa menemui seseorang yang paham ilmu pusaka perkumpulan kami yang sudah lama menghilang. Entah dari siapa kau mendapatkan warisan ilmu tersebut?"
Tan Ki tertegun sekian lama. Diam-diam dia berpikir.
"Seluruh, ilmu silat yang kukuasai merupakan hasil curian dari goa makam leluhur Ti Ciang Pang, Kemudian baru mendapat kemajuan seperti sekarang. Bahkan kitab ilmu pernafasan itu termasuk salah satu diantaranya. Sedangkan hal ini merupakan rahasia yang tidak boleh diketahui oleh orang lain..."
Hatinya bagai kincir angin yang terus berputar.
Setelah berpikir beberapa saat, baru saja dia ingin mencari alasan untuk mengulur waktu agak lama, tiba-tiba dari bagian ruangan depan secara berturut-turut berlari keluar beberapa orang.
Orang yang berada di paling depan mengenakan jubah hijau yang berkibar-kibar.
Wajahnya bersih dan berwibawa.
Dia adalah Sam-siok Tan Ki, Yibun Siu San.
Di belakangnya tampak mengiringi Liu Seng, Kok Hua Hong, serta Ciong San Suangsiu.
Kemungkinan mereka mendapat kabar tentang peristiwa diri Tan Ki yang keracunan dari Lok Hong beserta cucunya Lok Ing.
Itulah sebabnya mereka bergegas keluar melihatnya.
Pada saat ini Cian Cong entah kabur kemana, bayangannya tidak kelihatan, bahkan para anak gadis juga tidak ada satupun yang muncul.
Begitu orang-orang ini sampai, Kok Hua Hong yang pertama-tama berada dekat Oey Ku Kiong guna memeriksa luka dalam yang diderita anak muda itu.
Oey Ku Kiong memaksakan seulas senyuman di bibirnya.
"Aku tidak apa-apa. Tan Heng di sana justru yang keadaannya lebih berbahaya. Lawannya adalah Kaucu Pek Kut Kau generasi sekarang. Harap Cuwi memperhatikan keselamatan diri Tari Heng."
Katanya.
Rupanya hati anak muda ini telah menganggap Tan Ki sebagai sahabat abadinya.
Setiap saat dia selalu mengkhawatirkan keselamatan anak muda itu.
Tiba-tiba Tan Ki teringat akan orangtua yang sepuluh tahun lalu pernah memberi petunjuk kepadanya agar mencari goa rahasia Ti Ciang Pang.
Tanpa dapat ditahan lagi, segulung perasaan getir menyelinap di dalam hatinya.
Setelah merenung sejenak, dia mendongakkan wajahnya dan menghembuskan nafas panjang.
"Ada seorang kakek tua yang mengenakan pakaian berwarna hitam, aku tidak tahu siapa namanya..."
"Mengapa kau tidak menanyakan?"
Tanya Kaucu Pek Kut Kau.
"Saat itu dia sedang terluka parah sekali. Nafasnya tinggal satu-satu. Lagipula aku masih merupakan seorang bocah berusia kurang lebih sepuluh tahunan."
"Kalau begitu, seharusnya kau masih mengingat baik raut wajahnya dan bentuk tubuhnya."
Perlahan-lahan Tan Ki menarik nafas dalam-dalam. Dengan perasaan terharu dia berkata.
"Dia merupakan orang yang mempunyai budi paling dalam terhadap diriku. Meskipun kejadiannya sudah lebih dari sepuluh tahun, tetapi setiap waktu setiap saat aku selalu terkenang akan raut wajahnya dan nada suaranya..."
Tampaknya hati anak muda ini ditekan oleh berbagai peristiwa yang menyedihkan. Saat ini dia ingin meluapkannya keluar. Setelah berhenti sejenak, perlahan-lahan dia melanjutkan lagi kata-katanya.
"Orangtua itu tampaknya sangat menderita. Seluruh tubuhnya penuh dengan luka. Keadaannya saat itu tidak mungkin dapat disembuhkan lagi oleh obat yang bagaimanapun mujarabnya. Tampangnya kusut dan pucat, bahkan sinar matanya sudah mulai pudar. Siapapun yang melihatnya, pasti dapat merasa bahwa setiap saat orangtua itu akan melayang jiwanya. Ilmunya kemungkinan tinggi sekali, pengetahuannya pun luas. Dia memberitahukan satu hal kepadaku, yakni bahwa sebetulnya dirinya telah berada di tepi pintu kematian selama puluhan tahun. Apa yang dikatakannya merupakan hal yang sulit dibayangkan oleh orang lain. Tetapi dia punya keberanian yang besar serta semangat tinggi untuk meneruskan hidupnya. Pada hal sebagian tubuhnya sudah lumpuh dan setiap hari dia harus menerima siksaan di maria urat nadinya menjadi keras dan hawa murni dalam tubuhnya mengalir secara terbalik. Ketika aku bertemu dengannya, tempatnya adalah sebuah hutan di kaki bukit Tiang Pek San..."
Kaucu Pek Kut Kau memejamkan matanya merenung. Tiba-tiba dia mendongakkan kepalanya menatap langit. Seperti sengaja dan tidak menghindari pandangan mata Tan"Ki.
"Apakah di wajahnya terdapat guratan luka yang memanjang?"
"Benar. Lagipula bekas luka itu mungkin didapatkan ketika menjalani suatu hukuman. Begitu panjangnya sampai terlihat jelas menghiasi sebelah wajahnya. Dapat dibayangkan hukuman yang diterimanya pada waktu dulu pasti berat sekali."
Mendengar sampai bagian ini, tampaknya Kaucu Pek Kut Kau itu telah berhasil menyimpulkan suatu bukti yang kuat.
Tubuhnya yang pendek tampak gemetar.
Bahkan Yibun Siu San yang sedang memejamkan matanya merenung juga membuka matanya secara tiba-tiba.
Apa yang diceritakan oleh Tan Ki, dalam waktu serentak seolah membuat kedua orang itu teringat akan suatu peristiwa besar.
Kaucu Pek Kut Kau yang angkuh dan tinggi hati itu tetap mendongakkan wajahnya menatap langit.
"Teruskan ceritamu. Selama dua puluh tahun ini, pertama kalinya aku mempunyai kesabaran mendengar pembicaraan seseorang."
"Rupanya hari itu dia bermaksud memetik daun obat-obatan di daerah Tiang Pek San. Siapa sangka di tengah perjalanan, luka dalamnya tiba-tiba kambuh..."
Terdengar suara keluhan dari mulut Kaucu Pek Kut Kau tersebut. Nadanya seperti orang yang mulai tidak sabar.
"Teruskanlah!"
"Pertemuan yang aneh ini rupanya memang telah diatur oleh Thian. Aku tidak membantunya menyembuhkan luka yang dideritanya. Tetapi dia malah memberi sebuah jalan terang untukku. Dia mewariskan berbagai ilmu silat kepadaku. Jurus Lautan Selatan Menggelora yang kumainkan itu juga ajaran orangtua tersebut. Meskipun aku sudah merubahnya sedikit di sana sini, tetapi memang dia yang mewariskannya kepadaku."
"Entah di mana mayatnya sekarang?"
Tanya Kaucu Pek Kut Kau. Tan Ki merenung sejenak.
"Harap Saudara sudi memaafkan kalau hal ini tidak kuberitahukan kepadamu. Dia adalah seorang tokoh yang misterius. Dirinya memiliki kepandaian yang tinggi sekali, tetapi dunia Bulim justru tidak tahu ada tokoh seperti orang ini. Dia juga memiliki ilmu pengobatan yang lihai sekali, namun dia justru tidak sanggup menyembuhkan penyakitnya sendiri yang sudah parah. Di kolong langit jaman ini, mungkin tidak ada orang lagi yang mengetahui asal-usul orang ini.""
"Tidak salah. Orang yang mengetahui asal usulnya, di kolong langit ini jaman sekarang, mungkin hanya tinggal aku seorang saja."
"Cayhe juga mempunyai pikiran yang sama."
Kaucu Pek Kut Kau tersebut tertawa dingin.
"Kau cerdas sekali. Kalau aku mengatakan siapa adanya orang ini, kemungkinan ada beberapa sahabat yang pernah melihat wajahnya atau mengenalinya. Sayangnya usiamu tinggal sebentar lagi. Meskipun aku tidak membunuhmu, kau juga tidak mungkin bisa melihat mentari esok pagi lagi."
Tan Ki mengembangkan senyuman yang datar.
"Soal mati hidup, aku tidak memikirkannya lagi... sekarang, seharusnya aku yang mengajukan pertanyaan kepadamu."
"Tanyakanlah!"
Tan Ki mengeraskan suaranya, seakan sengaja membiarkan kata-katanya terdengar oleh orang-orang gagah yang ada di tempat itu.
"Kali ini urusan gabungan antara pihak Lam Hay dan kelompok Kaucu Pek Kut Kau dari Si Yu, rasanya sudah selesai dirundingkan bukan?"
"Tidak salah!"
"Apakah rombongan kalian ini merupakan pasukan pembuka jalan?"
Kaucu Pek Kut Kau mendengus satu kali. Mimik wajahnya menunjukkan perasaannya yang kurang senang. Tetapi dia tetap menjawab pertanyaan Tan Ki.
"Kalau kau mengajukan pertanyaan, lebih baik hati-hati sedikit. Jangan sampai menyinggung harga diri Kaucu ini. Tetapi, perkiraanmu memang kuat sekali."
"Beberapa hari yang lalu, Sute Saudara mengadakan perjanjian dengan seorang perempuan di sebuah kuil tua dekat luar kota Lok Yang. Apakah masalah yang dirundingkan adalah tentang pergabungan antara Lam Hay dengan Si Yu?"
Apa yang ditanyakan adalah saat di mana dia melihat Kiau Hun masuk ke kuil tua bersama Kim Yu.
Mendengar pertanyaannya, Kaucu Pek Kut Kau itu jadi tertegun.
Setelah melirik sekilas ke arah Kim Yu, bibirnya menyunggingkan seulas senyuman yang licik.
"Masalah ini biar kau duga sendiri saja. Tidak perlu aku bersilat lidah menjawab pertanyaanmu."
Tiba-tiba dia mengangkat sebelah tangannya dan mengibas.
Dua manusia berpakaian hitam segera mengiakan dan berjalan keluar, mereka menghambur ke depan sejauh tiga tindak dan berhenti di depan Tan Ki.
Sepasang alis Yibun Siu San langsung menjungkit ke atas.
Tubuhnya bergerak memutar dan berdiri menghadang di depan Tan Ki.
Anak muda itu memperdengarkan suara tawa yang getir sekali.
"Siok Siok, biarlah aku yang menjalani pertarungan ini!"
Suaranya begitu pilu dan terdengar jelas dari kata-katanya yang pendek itu. Yibun Siu San jadi tertegun.
"Kau ingin bertarung sampai mati lalu menganggap semuanya sudah selesai? Kau tidak berpikir bagaimana menderitanya ibumu yang mengharapkan anaknya menjadi orang yang berguna? Kau malah ingin mencelakai dirimu sendiri dan menganggap ringan nyawamu sendiri...!"
Tiba-tiba terlihat manusia berpakaian hitam yang wajahnya jelek sekali serta bertubuh pendek gemuk dan berdiri di sebelah kiri secara tidak terduga-duga mengangkat sebelah tangannya dan melancarkan sebuah pukulan.
Tampaknya tenaga dalam orang ini sudah mencapai taraf yang tinggi sekali.
Dia sudah bisa mengerahkan pukulan sesuai dengan keinginan hatinya.
Meskipun jurus yang dikerahkan tampaknya sangat sederhana, tetapi karena dia yang melancarkannya jadi terasa mengandung pengaruh yang dahsyat sekali.
Yibun Siu San meraung dengan keras dan diapun mengulurkan tangannya menyambut serangan itu dengan cara keras lawan keras.
Tiba-tiba tubuh Tan Ki memutar dan menghadang ke depan Yibun Siu San.
Mulutnya langsung berteriak keras-keras.
"Siok Siok, pertarungan yang terakhir ini, biar bagaimana pun aku ingin berduel matimatian. Seandainya matipun harus gegap gempita dan meninggalkan sedikit nama di dunia ini. Tetapi kau harus perhatikan baik-baik, dalam pihak jago-jago kita telah kesusupan seorang mata-mata...!"
Belum lagi kata-katanya selesai, pedang sulingnya sudah digetarkan lalu menusuk ke arah manusia berpakaian hitam yang ada di sebelah kanan.
Terdengar kedua manusia berpakaian hitam itu mengeluarkan suara siulan serentak kemudian memencarkan diri ke arah yang berlawanan.
Wajah Yibun Siu San berubah hebat.
Dia langsung berteriak.
"Hati-hatilah sedikit! Bu Heng Sin-cian atau Pukulan Sakti Tanpa Bayangan dari Si Yu sangat terkenal. Ketika dilancarkan tidak terdengar suara sama sekali. Dan sasarannya selalu bagian yang tidak terduga-duga oleh lawan..."
Belum lagi Tan Ki sempat mengulurkan sepatah kata, tiba-tiba dia merasa bagian dadanya sudah terkena sebuah pukulan.
Tanpa dapat dipertahankan lagi kakinya limbung dan menyurut mundur sejauh lima langkah.
Perubahan yang tidak terduga-duga ini berlangsungnya terlalu cepat.
Wajah Yibun Siu San tampak berubah hebat.
Tubuhnya segera bergerak melesat ke depan.
Sebuah jurus Bintang-Bintang Berjatuhan yang jarang terlihat langsung dilancarkannya, sekali gerak berubah delapan kali, semuanya dikerahkan dalam sekali tarikan nafas saja.
Tampak bayangan telapak tangan dalam jumlah yang tak terhitung berkibar-kibar mengiringi gerakan tubuhnya.
Dalam seketika langsung mendesak ke arah lawan.
Serangannya ini hebat sekali, laksana hujan deras yang tercurah dari langit secara mendadak, membuat hati orang yang melihatnya menjadi tergetar.
Begitu hebat desakannya sehingga salah satu lawannya terpaksa menyurut mundur terus serta tidak mempunyai kesempatan sedikitpun untuk menangkis.
Baru saja Yibun Siu San ingin melancarkan sebuah serangan yang lebih keji lagi, tibatiba terdengar suara dengusan dingin dari hidung Tari Ki.
Tubuhnya terhuyung-huyung lalu terduduk di atas tanah.
Tidak diragukan lagi kalau anak muda itu kembali terkena sebuah pukulan dari manusia berpakaian hitam tadi.
Saat itu juga telinganya menangkap suara teriakan.
"Anakku...!"
Tan Koko...!"
Yang berkumandang dari kejauhan.
Hati Tan Ki terasa tertekan sekali.
Perasaannya bagai hancur lebur.
Dengan menahan rasa sakit dia langsung jatuh pingsan, tetesan darah segar terus mengalir dari sudut bibirnya dan jatuh membasahi rerumputan di mana tubuhnya terbaring.
BAGIAN XXXIV Tepat di saat itu Tan Ki jatuh tidak sadarkan diri karena terluka parah, tiba-tiba...
bayangan manusia berkelebat, hembusan angin membawa serangkum bau harum.
Di hadapan Tan Ki dalam waktu yang bersamaan muncul tiga orang perempuan.
Mereka adalah Ceng Lam Hong, Liu Mei Ling dan Lok Ing.
-Saat itu Yibun Siu San juga segera, melesat datang dan berhenti di samping Ceng Lam Hong.
Begitu matanya memandang, dia melihat wajah Tan Ki sudah berubah pucat pasi.
Di bagian keningnya bagai ada guratan garis berwarna hijau.
Sepasang matanya terpejam rapat.
Nafasnya lemah sekali.
Seakan setiap saat setiap detik nafasnya itu bisa berhenti secara mendadak.
Tetapi telapak tangan kanannya tetap menggenggam pedang sulingnya erat-erat.
Keadaan yang mengenaskan ini membuat ketiga perempuan itu menguraikan air mata dengan deras.
Hanya perasaan hati merekalah yang berbeda-beda.
Ceng Lam Hong mendongakkan wajahnya menatap Yibun Siu San.
Air matanya masih mengalir dengan deras.
"Lukanya parah sekali, bukan?"
Yibun Siu San menarik nafas panjang.
"Bukan hanya parah saja, tetapi di dalam tubuhnya juga mengendap sejenis racun yang ganas."
Kata-katanya ini bagai petir yang menyambar di siang bolong.
Hati Ceng Lam Hong sampai tergetar mendengarnya.
Tubuhnya langsung sempoyongan lalu terkulai pingsan di atas tanah!
Di pihak lain, Mei Ling sejak kecil biasa hidup dimanja.
Selamanya dia belum pernah menghadapi kejadian seperti ini.
Melihat Ceng Lam Hong tiba-tiba jatuh pingsan, dia menjadi panik sehingga aliran darahnya seperti bergejolak.
Tetapi dia tidak tahu apa yang harus diperbuatnya.
Untuk sesaat dia menjadi kalang kabut dan malah berdiri sambil menangis kebingungan.
Untung saja gerakan Lok Ing cukup gesit.
Tubuhnya segera melesat ke depan serta mengulurkan tangan merangkul.
Dengan sigap dia berhasil menangkap tubuh Ceng Lam Hong yang hampir terkulai di atas tanah.
Yibun Siu San menarik nafas perlahan-lahan.
Dia seperti bergumam terhadap dirinya sendiri.
"Pertarungan ini telah membuat namanya jadi terkenal."
Apabila ditilik dari kata-katanya, dia memang mengatakan secara langsung bahwa pertarungan ini telah menggetarkan dunia Bulim dan menjadi perhatian khalayak ramai tetapi seakan mengandung makna bahwa di dunia Bulim kembali muncul seorang tunas muda yang akan menjadi harapan bangsa.
Xiu Mei Ling masih menangis tersedu-sedu.
Dia toh sudah hampir mati, apa gunanya mempunyai nama terkenal?"
Suaranya begitu sendu sehingga lebih mirip ratapan seorang gadis yang ditinggal mati kekasihnya.
Orang yang mendengarnya pasti akan turut merasa sedih.
Yibun Siu San meliriknya sekilas.
Kembali dia menarik nafas panjang.
Namun dia tidak mengatakan apa-apa.
Dengan perasaan Liu Mei Ling berteriak.
"Siok Siok, carilah jalan keluar untuk menolongnya, sebentar lagi dia akan mati...!"
Yibun Siu San malah menukas kata-katanya dengan gumaman yang tidak jelas.
"Benar, dia sudah hampir mati..."
Dia tidak ingin mengatakan bahwa luka yang dialami Tan Ki sudah sedemikian parah sehingga mirip lampu yang hampir kehabisan minyak.
Meskipun dirinya sendiri mempunyai pengetahuan yang cukup luas tentang ilmu pengobatan, tetapi dia juga merasa tidak punya kesanggupan menyembuhkan keponakannya itu.
Akhirnya dia hanya bisa menggumamkan kata-kata yang tidak berujung pangkal.
Tiba-tiba tampak Lok Ing meletakkan tubuh Ceng Lam Hong di atas tanah, tangannya terulur ke dalam saku pakaian dan dikeluarkannya sebuah botol kumala berukuran kecil.
Dia membuka tutup botol tersebut kemudian dengan hati-hati menuangkan seluruh isinya lalu dimasukkannya ke dalam mulut Tan Ki.
Yibun Siu San langsung mengerutkan alisnya melihat tindakan gadis itu.
"Benda apa itu?"
Lok Ing tersenyum simpul.
"Isi botol ini merupakan obat penyembuh luka yang paling manjur dari Ti Ciang Pang kami. Satu butir saja sudah cukup untuk menyambung kembali tulang yang putus maupun urat nadi yang tergetar. Bahkan dapat membangkitkan kembali tenaga dalam yang lemah. Sekarang aku menuangkan isi seluruh obat dalam botol ini, meskipun orang yang penyakitnya sudah parah sekali, juga pasti bisa bangun kembali dan bergerak dengan leluasa. Malah lebih sehat dari orang umumnya."
Sepasang mata Mei Ling langsung bersinar terang.
"Benarkah obatmu demikian manjur?"
Tanyanya gugup. Lok Ing tertawa datar.
"Selamanya aku tidak pernah melakukan hal yang diriku tidak merasa yakin. Juga tidak suka mengucapkan kata-kata yang merupakan bualan saja."
Dia berhenti sejenak. Matanya menyorotkan sinar yang sendu. Kemudian perlahanlahan meneruskan kembali kata-katanya.
"Tetapi, biar bagaimana dia tetap akan mati juga."
"Apa?"
Teriak Mei Ling tanpa sadar. Tubuhnya langsung bergetar hebat. Lok Ing tertawa lebar.
"Seseorang hidup di dunia ini mempunyai batas tertentu. Lewat dari usia enam puluh, manusia setiap saat ada kemungkinan dijemput maut. Tetapi aku berhasil mendapat sedikit pengetahuan dari berbagai kejadian yang pernah kualami. Aku menemukan bahwa di dalam tubuh seseorang pasti ada semacam tindakan refleksi yang mengandung kekuatan untuk hidup. Umpamanya, orang yang sudah mati, dalam waktu beberapa hari kukunya tetap dapat tumbuh menjadi panjang. Seperti inilah rumusnya. Kalau kita kembali lagi kepadanya, luka yang diderita Tan Ki sudah parah sekali. Hanya tersisa sedikit denyutan jantung saja. Tetapi karena aku mencekoki obat dalam dosis yang tinggi, hal ini membuat gerak refleksi dalam dirinya jadi tergugah, emosinya pasti akan meluap seketika. Biarpun lukanya lebih parah dari sekarang, asal nadinya masih ada denyutan, tentu bisa menghidupkan dia untuk sementara. Dengan kata lain semangat hidupnya akan kembali untuk beberapa waktu."
Mendengar penjelasan Lok Ing yang pan jang lebar, Mei Ling yang pada dasarnya masih polos dan tidak mempunyai banyak pengetahuan merasa apa yang diuraikannya, sejak jaman purba sampai sekarang tidak pernah mendengar hal semacam itu.
Tanpa dapat dipertahankan lagi dia malah jadi termangu-mangu.
Sesaat kemudian, dia baru bertanya.
"Kalau begitu, mengapa dia tetap akan mati?"
Lok Ing kembali tersenyum simpul.
"Kalau dia sadar kembali nanti, berarti karena dibantu oleh obat yang ditelannya tadi. Apabila reaksi obat itu sudah habis, maka seperti lampu yang sudah kehabisan minyak, bagaimana masih bisa menyala? Otomatis kekuatan hidupnya juga padam dan diapun tidak dapat hidup lebih lama lagi."
Mendengar ucapannya, Mei Ling seperti merasa dadanya ditinju dengan keras, seluruh tubuhnya bergetar dan wajahnya pun berubah hebat.
"Kalau begitu, dia... tidak mempunyai harapan lagi walau setitik saja?"
"Tentu saja itu yang kumaksudkan."
Hati Mei Ling menjadi pedih.
Dua baris air mata mengalir dengan deras.
Untuk sekian lama dia berdiri tertegun tanpa mengucapkan apa-apa.
Tampangnya saat itu persis seperti sebuah patung dewi yang suci.
Tubuhnya berdiri tegak, wajahnya anggun dan demikian welas asih.
Siapa yang sangka kalau saat ini hatinya persis seperti sebuah perahu yang karam di hantam ombak.
Hancur berderai menjadi kepingan-kepingan kecil...
Tiba-tiba terdengar suara pukulan dan suitan nyaring.
Entah sejak kapan Yibun Siu San sudah mulai bergebrak dengan kedua manusia berpakaian hitam tadi.
Dalam keadaan seperti ini, mana mungkin Mei Ling mengurusi persoalan yang lain.
Terdengar suara tangisannya yang terisak-isak.
"Kau... kau... sungguh... keji... sekali..."
Perasannya yang bergejolak menandakan kepedihan karena harapan yang kandas.
Hal ini membuat ucapannya jadi tersendat-sendat seakan memerlukan tenaga yang kuat untuk mengatakannya.
Lok Ing tersenyum lembut.
"Tadi malam adalah saat di mana kalian (menyembah langit dan bumi serta mengikatkan diri menjadi suami isteri. Ratusan tamu berdatangan dari segala penjuru Bulim. Tambur berbunyi terus memeriahkan suasana. Bayangkan bagaimana hebatnya penampilan kalian saat itu, bahkan membuat perasaan orang menjadi iri. Sekarang apabila dia masih hidup di dunia ini, biar kapanpun dia tetap merupakan milikmu. Sedangkan bagi diriku, juga sulit menyatakan bagaimana perasaanku yang sebenarnya. Kalau aku ingin mendapatkan dia, satu-satunya jalan hanya menunggu sesudah mati. Oleh karena itu..."
Mei Ling cepat-cepat menukas.
"Oleh karena itu kau menggunakan cara ini agar dia celaka?"
Lok Ing tertawa lebar.
"Aku tidak ingin mencelakai siapapun. Tetapi kalau ditilik dari lukanya yang demikian parah, dan nafasnya yang tinggal satu-satu, waktunya juga tidak seberapa lama lagi. Lebih baik bangkitkan sisa kekuatannya dan bantu dia mendapatkan nama besar di dunia Bulim. Dengan demikian, kemungkinan ia dapat meninggalkan segurat cahaya yang cemerlang dan bayangkan berapa banyak orang gagah yang akan mengenang dirinya dan menghormatinya..."
Ketika berbicara sampai bagian yang menyenangkan, tanpa sadar bibirnya tersenyum.
Namun senyum itu begitu menyayat hati.
Tampak wajahnya yang tenang tidak menunjukkan perubahan apa-apa.
Dengan demikian orang yang melihatnya tidak dapat menebak apakah dia sedang bergembira atau bersedih.
Tetapi sepasang matanya justru menyorotkan sinar tekadnya yang bulat.
Hal ini membuktikan bahwa gadis yang selalu malang melintang di daerah Sai Pak ini tampaknya sudah mempunyai rencana yang matang setelah kematian Tan Ki.
Dia tidak takut anak muda itu akan mati dan memberikan pukulan bathin yang hebat kepadanya.
Juga tidak takut perasaan hatinya sejak sekarang hanya akan menjadi sebuah harapan yang menggantung dalam angan-angan.
Tiba-tiba tampak wajah Mei Ling berubah hebat.
"Aku akan mengadu jiwa denganmu!"
Katanya garang.
Telapak tangannya bergerak, telapak tangan kiri menggunakan kesempatan itu mendesak ke depan.
Dengan jurus Lima Geledek Sekali Sambar, dia melancarkan sebuah serangan dengan keji.
Suara pukulan yang dahsyat seperti gunting menyobek kain panjang sehingga membuat telinga menjadi ngilu mendengar.
Tubuh Lok Ing bergeser sedikit lalu mencelat ke samping sejauh lima langkah.
Deruan angin yang keras melintas lewat di ujung pakaiannya.
Tampak bibirnya menyunggingkan seulas senyuman yang manis.
"Diantara kita toh tidak ada dendam apa-apa, mengapa harus mengadu jiwa segala?"
"Kau sudah mencelakai Tan Koko, aku tidak mempunyai gairah untuk hidup sendiri di dunia ini!"
Sahut Mei Ling ketus. Lok Ing mendengus satu kali dengan nada dingin dan kecut.
"Dari pada mengadu jiwa dengan diriku sampai mati, lebih baik bunuh diri saja, toh lebih mudah."
Mei Ling menganggukkan kepalanya sambil menangis pilu.
"Aku akan melakukannya. Aku akan membunuh diriku sendiri dan menemani kematian Tan Koko. Aku tidak ingin sukmanya kesepian di alam baka. Tetapi sebelum aku menutup mata, aku harus membalaskan dendam dulu bagi Tan Koko!"
Lok Ing mendongakkan kepalanya menatap awan yang berarak di langit. Perlahanlahan dia berkata.
"Kau ingin balas dendam atau tidak, dan menggunakan cara yang bagaimanapun, sama sekali tidak ada hubungannya dengan diriku. Tetapi setelah dia mati, aku akan mencarikan sebuah tempat yang tenang serta terpencil untuk mengubur dirinya. Lalu akan kubangun sebuah makam yang besar sekali agar sukmanya dapat terhibur. Kemudian..."
Mei Ling melihat mimik wajahnya yang seperti tersenyum namun mengandung kesedihan yang dalam.
Sehingga menyiratkan keanehan yang tidak dipahaminya.
Namun kata-kata yang diucapkannya demikian tegas.
Untuk sesaat dia jadi bingung.
"Kemudian bagaimana?"
"Aku akan mengenakan pakaian berwarna putih dan kerudung kepala berwarna putih pula. Dari dalam aku akan mengunci pintu makam besar itu, lalu aku akan menemani di sampingnya, siang dan malam menunggu waktu terus berlalu. Aku akan terus menjaganya, melihat wajahnya melihat seluruh bagian dari dirinya sampai ajal menjemputku..."
Tanpa terasa tubuh Mei Ling bergetar.
Dia benar-benar terkejut sekali.
Meskipun pada, dasarnya dia adalah seorang gadis polos yang tidak pernah mempunyai pikiran licik, tetapi dia tetap merasa bahwa apa yang dikatakan Lok Ing terlalu gila-gilaan.
Di dunia ini mana ada orang yang menutup dirinya sendiri di dalam sebuah kuburan raksasa dan menemani sesosok mayat selama hidupnya?
Rencana yang gila dan luar biasa ini, memang merupakan suatu peristiwa yang hampir tidak pernah ditemui sejak dulu sampai saat sekarang ini.
Namun justru dari rencananya ini, Mei Ling dapat mengetahui sampai di mana dalamnya perasaan cinta Lok Ing terhadap suaminya!
Setelah tertegun beberapa saat, akhirnya Mei Ling menarik nafas panjang.
"Cici, aku sungguh kagum kepadamu."
"Kau tidak merasa marah kepadaku?"
Mei Ling menggelengkan kepalanya, bibirnya mengembangkan seulas senyuman yang getir tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Tampangnya sungguh mengenaskan, mengandung kesenduan yang tidak terkirakan.
Sudah pasti, dia merasa sakit dan menyesal atas nasib Tan Ki yang malang.
Melihat gadis itu berdiam diri sekian lama, akhirnya Lok Ing juga menarik nafas panjang.
Perlahan-lahan dia membalikkan tubuhnya dan berjalan pergi.
Mei Ling segera berteriak.
"Kau mau ke mana?"
"Aku tidak ingin melihat dia bersedih menjelang kematian. Setelah nafasnya putus, aku akan kembali lagi mengurus mayat membangun makam..."
Mulutnya menjawab pertanyaan Mei Ling, namun dia terus melangkah dengan tidak menolehkan kepala sekalipun. Mei Ling merenung sejenak. Tiba-tiba tubuhnya berkelebat dan dia langsung mengejar ke depan.
"Cici...!"
Panggilnya.
"Ada apa?"
"Ketika kau membangun makam nanti, bisakah kau menyediakan tempat yang agak besar sedikit saja?"
Lok Ing jadi tertegun mendengar kata-katanya.
"Untuk apa?"
"Aku juga ingin tinggal di dalam makam itu!"
Mendengar ucapannya, Lok Ing langsung mendongak menatap langit dan tertawa lebar.
"Bagus sekali, berarti tambah satu orang lagi yang menemani Tan Ki!"
Sembari bercakap-cakap, mereka berjalan semakin jauh, akhirnya bayangan merekapun tidak kelihatan lagi.
Beberapa saat kemudian...
Terdengar suara keluhan dari mulut Tan Ki.
Lambat laun matanya membuka, dua bola matanya yang telah pudar sinarnya langsung mengedar ke sekeliling.
Tiba-tiba dia melonjak bangun.
Dia merasa ada segulung hawa panas yang mengalir dalam perutnya lalu berpencar ke seluruh urat nadi di tubuhnya.
Tanpa dapat ditahan lagi keringat terus menetes saking panasnya.
Dia tidak tahu Lok Ing telah mencekokinya obat dalam jumlah yang banyak sehingga menimbulkan keadaan demikian.
Sekarang ini, dia hanya merasa aneh.
Begitu matanya memandang, dia melihat tiga sosok bayangan saling berkelebat dan bertarung dengan sengit.
Hal ini merupakan pertarungan antara jago-jago kelas tinggi yang jarang terlihat.
Sepasang telapak tangan Yibun Siu San yang kosong menghadapi dua jago kelas satu dari Si Yu.
Apabila ingin meraih kemenangan dalam waktu yang singkat, tentu bukan merupakan hal yang mudah.
Perlahan-lahan Tan Ki mengedarkan kembali pandangan matanya dan menatap ibunya yang masih dalam keadaan pingsan terkulai di atas tanah.
Setelah memperhatikan sejenak, di dalam hatinya tiba-tiba muncul perasaan kagum yang dalam.
Dia merasa manusia hidup di dunia ini, apabila dapat merasakan kasih sayang seorang ibu, tentu merupakan peristiwa yang paling membahagiakan.
Tetapi setelah dipikirkan kembali, tanpa terasa dia tertawa getir.
Dirinya merupakan calon orang mati, meskipun dapat merasakan kebahagiaan, tetapi tetap saja tidak dapat menyelamatkan keadaannya yang sudah di ambang ajal.
Kalau kebahagiaan yang sejenak akan meninggalkan penderitaan yang tidak terkirakan bagi ibunya, untuk apa?
Berpikir sampai di sini, tanpa terasa sekali lagi dia menarik nafas panjang.
Tampangnya menyiratkan kepedihan hatinya yang dalam.
Tiba-tiba, dia menggertakkan giginya erat-erat.
Tubuhnya mencelat ke atas lalu menerjang ke tengah arena.
Terdengar suara benturan yang memekakkan telinga, bayangan manusia berkelebat dan berpencaran dalam waktu yang bersamaan.
Rupanya pukulan yang dilancarkan oleh Tan Ki dari udara telah membuat ketiga orang yang sedang bertarung dengan sengit jadi terpencar.
Kekuatan yang dahsyat dari pukulannya sampai membuat Kaucu Pek Kut Kau itu mengerutkan alisnya.
Bibirnya sudah bergerak-gerak namun dia tidak jadi mengatakan apa-apa.
Tan Ki mengeluarkan suara batuk-batuk kecil.
Kemudian dia membalikkan tubuhnya ke arah Yibun Siu San.
"Sam-siok, biar aku yang menyelesaikan pertarungan ini!"
"Lukamu parah sekali, bagaimana mungkin kau sanggup melawan jago-jago dari Si Yu itu?"
"Tidak apa-apa. Aku sudah bersiap untuk duel sampai mati. Ini merupakan pertarunganku yang terakhir. Biar bagaimana ada awal harus ada akhirnya. Pokoknya aku akan bertarung sampai titik nafas yang terakhir!"
Yibun Siu San tidak langsung menjawab. Sesaat lamanya dia merenung.
"Mati hidup seseorang sudah ada takdirnya. Biarpun orang gagah dan pendekar besar juga pasti akan mengalami kematian. Siok-hu tidak perlu berpikir lama-lama lagi. Ibuku sedang tergeletak pingsan di sana. Harap Siok-hu mengurusnya sebentar. Apabila aku sudah mati nanti..."
Tiba-tiba dia tertawa pilu dan membungkam seribu bahasa.
Yibun melirik ke arahnya sekilas.
Setelah menarik nafas dalam-dalam, akhirnya dia mengundurkan diri.
Suasana saat ini masih demikian tenang namun sebetulnya mengandung hawa pembunuhan yang berat sekali!
Mata orang-orang gagah yang hadir di tempat itu semuanya terpusat pada diri Tan Ki.
Sikap mereka serius sekali!
Mereka semua sudah tahu bahwa luka yang dialami Tan Ki sangat parah.
Dan dia tetap berkeras hati ingin melawan dua jago dari Si Yu itu.
Tiba-tiba...
cahaya golok berkelebat, kedua manusia hitam yang berwajah jelek dan bertubuh gemuk pendek itu serentak mengeluarkan sebuah kaitan yang panjangnya kurang lebih tujuh cun.
Mereka berdiri berdampingan.
Tan Ki tersenyum simpul.
Perlahan-lahan dia melangkah maju mendekati mereka.
Gerakan kakinya begitu lambat.
Tetapi setiap tindakannya yang berat seakan mengandung hawa pembunuhan yang berat sehingga sikap mereka menjadi tegang.
Tiba-tiba manusia berpakaian hitam yang berdiri di sebelah kanan menggetarkan kaitan di tangannya.
Timbul secarik cahaya bagai pelangi.
"Berhenti!"
Teriaknya.
Tan Ki seolah tidak melihat cahaya yang menimbulkan hawa dingin itu.
Dia tetap melangkahkan kakinya dan berjalan mendekati mereka.
Kedua manusia berpakaian hitam itu merupakan orang-orang yang wataknya keras sekali, tetapi selamanya belum pernah melihat orang yang demikian tenang seperti Tan Ki.
Untuk sesaat keduanya jadi tertegun kemudian tiba-tiba mengeluarkan suara suitan yang keras dan membentak.
"Kalau kau berani maju satu langkah lagi, jangan salahkan kalau aku bertindak kejam!"
Wajah Tan Ki yang tampan tetap mengembangkan senyuman.
Terang-terangan dia tahu manusia berpakaian hitam itu akan mengatakan sesuatu, dia malah memalingkan wajahnya ke arah yang lain.
Kakinya terus melangkah, sama sekali tidak tergesa-gesa dan sikapnya santai sekali seakan bukan sedang berhadapan dengan musuh.
Hawa amarah dalam hati manusia berpakaian hitam itu jadi meluap.
Dia menolehkan kepalanya melirik sekilas ke arah rekannya dan secara diam-diam mengerahkan tenaga dalam untuk menjaga segala kemungkinan.
Kedua orang ini sudah menjadi rekanan sekian lama, dengan demikian mereka sudah dapat memahami perasaan hati masing-masing.
Begitu melihat lirikan itu, rekannya sudah mengerti rencana apa yang ada dalam hatinya.
Melihat Tan Ki yang berjalan semakin mendekat ke tempat mereka, tiba-tiba manusia berpakaian hitam yang melirik kepada rekannya tadi memperdengarkan suara tertawa yang dingin.
Diam-diam dia mengerahkan tenaga sebanyak tujuh bagian dan lengannya digetarkan sehingga menimbulkan guratan cahaya yang memijar bagai titik-titik hujan lalu meluncur lurus ke depan menyerang Tan Ki!
Serangan ini keji sekali.
Cahaya golok yang beterbangan dan berpercikan menimbulkan sinar sejauh beberapa mistar.
Mata Tan Ki mengerling sekilas, sikapnya tetap tenang seolah tidak ada apa-apa yang mengejutkan.
Telapak tangan kirinya mengibas ke depan, langsung terasa ada segulungan angin kencang menerpa keluar dan serangan golok lawannya pun tertahan serta tidak sanggup mendesak lebih jauh lagi.
Manusia berpakaian hitam itu merasa kaitan golok di tangannya bagai ditekan oleh gelombang yang kuat.
Jangan kata dia berhasrat menusukkannya ke depan, bahkan menggerakkannya sedikit saja tidak bisa.
Diam-diam hatinya merasa tercekat dan dengan panik dia menarik nafas dalam-dalam lalu menggeser langkah kakinya mengegos ke samping.
Telapak tangannya terulur dan dengan posisi menahan di depan dada, dia menghantamkan sebuah pukulan ke dada Tan Ki.
Tan Ki memperdengarkan suara tawa yang dingin.
Tubuhnya miring ke samping dan dengan gerakan yang lincah serta gesit dia menerobos keluar.
Pada saat ini dia sudah tidak memperdulikan mati hidupnya lagi.
Seluruh ilmu yang dikuasainya dikerahkan sehebat mungkin.
Gerakan tubuhnya barusan ternyata ajaib sekali dan dalam waktu yang bersamaan dia menghindarkan diri dari serangan pukulan dan kaitan golok lawannya.
Tampak tubuhnya berputaran sebanyak dua kali dan entah bagaimana tahu-tahu dia berputar ke bagian punggung manusia berpakaian hitam tersebut.
Orang itu sungguh tidak menyangka kalau gerakan tubuh Tan Ki demikian hebat dan tidak terduga-duga.
Tanpa dapat dipertahankan lagi dia jadi terpana.
Tiba-tiba dia merasa ada segulung angin tajam yang timbul dari pedang seseorang menyerang ke arah punggungnya.
Rasa terkejutnya kali ini benar-benar di puncaknya.
Hatinya berpikir untuk menghindar, tetapi tidak ada kesempatan lagi.
Bayangan kematian segera melintas di benaknya!
Tiba-tiba terdengar rekannya mengeluarkan suara dengusan yang dingin.
Kakinya bergerak ke depan setengah langkah dan pergelangan tangannya mengibas, timbullah cahaya yang memijar lalu meluncur lurus kepada Tan Ki.
Kecepatan gerakannya persis seperti kilat yang menyambar.
Dalam sekejap mata sudah sampai ke depan.
Apabila Tan Ki tidak mengerahkan jurus untuk menangkis dan tetap meneruskan serangannya membunuh manusia, berpakaian hitam yang pertama, otomatis dia juga terkena serangan manusia berpakaian hitam yang kedua.
Dalam keadaan seperti ini, mau tidak mau Tan Ki harus menempuh bahaya untuk meraih kemenangan.
Dengan cepat dia mengempos hawa murninya, pedang suling ditangannya dihentakkannya ke atas dan dengan jurus Kembali Ke Jalan Semula, dia meluncurkan sebuah totokan dengan ujung pedangnya itu.
Jurus ini merupakan jurus keempat dari Te Sa Jit-sut yang baru dipelajarinya.
Kecepatannya hebat bukan main, meskipun orang itu sudah berhasil menyelamatkan rekannya dari bahaya dengan melakukan serangan secara tidak terduga-duga, tetapi tetap bagian bahunya tertotok oleh ujung pedang yang dilancarkan Tan Ki.
Tubuhnya terasa kesemutan dan setelah mengeluarkan suara aduhan, seluruh tenaganya menjadi lenyap dan orangnya pun terkulai di atas tanah.
Hampir dalam waktu yang bersamaan, telapak tangan kiri Tan Ki ikut bergerak.
Sementara tangan kanannya yang menggenggam pedang suling menotok ke arah orang yang membokongnya.
Masih dengan jurus Kembali Ke Jalan Semula yang belum selesai dijalankannya, jari tangan kiri mengirim sebuah totokan kembali.
Manusia berpakaian hitam yang pertama baru mendapat pertolongan dari rekannya sehingga terlepas dari maut.
Tetapi dia sungguh tidak menyangka kalau sejurus serangan Tan Ki dapat menggempur dua orang sekaligus.
Tanpa dapat dipertahankan lagi, dia jadi terkesima.
Belum lagi tubuhnya sempat bergerak, jalan darahnya sudah tertotok.
Terdengar suara dengusan satu kali, tubuhnya pun ikut terkulai di atas tanah.
Begitu turun tangan, ternyata dalam waktu yang singkat Tan Ki berhasil menotok rubuh dua manusia berpakaian hitam yang sejak tadi sulit dikalahkan oleh Yibun Siu San.
Jangan kata orang lain, dirinya sendiri sampai termangu-mangu karena benar-benar merasa hal itu di luar dugaannya sama sekali.
Saat ini dia baru menyadari bahwa ilmu Te Sa Jit-sut benar-benar mempunyai kehebatan yang istimewa.
Pengaruh kekuatannya sampai-sampai tidak terduga oleh dirinya sendiri.
Otomatis kepandaiannya yang tinggi telah membuat orang-orang dari kedua pihak merasa terkejut setengah mati.
Tampak Yibun Siu San menarik nafas dalam-dalam.
Dia seperti bergumam kepada dirinya sendiri.
"Dia benar-benar perkasa!"
Dia seperti teringat akan sesuatu hal.
Matanya terpejam dan ia mengatur pernafasannya sejenak.
Kemudian dia mendekatkan telapak tangannya ke arah punggung Ceng Lam Hong dan membantunya agar lebih cepat tersadar kembali.
Tetapi sepasang matanya tetap mengawasi gerak-gerik Tan Ki.
Dia melihat anak muda itu berdiri tegak di tempatnya dengan menggenggam suling pedangnya erat-erat.
Sikapnya seperti jendral-jendral besar yang sering terlihat di lukisan-lukisan orang-orang terkenal.
Sikap Tan Ki yang anggun dan berwibawa ini justru membuat pihak jago-jago Si Yu menjadi semakin tidak tenang hatinya.
Kaucu Pek Kut Kau sendiri melihat orang-orang dari pihaknya satu per satu berjatuhan tanpa bisa bangun kembali.
Dari pihak lawan hanya Oey Ku Kiong seorang yang terluka.
Perbandingan yang jauh ini benar-benar membuatnya kehilangan muka.
Hawa amarah dalam dadanya terasa hampir meledak.
Oleh karena itu dia segera mendengus dingin dan membisikkan beberapa patah kata di telinga Kim Yu.
Dia sendiri lalu berjalan menghampiri anak buahnya yang terluka guna memberikan pertolongan.
Tampak bayangan berkelebat dan Kim YU sudah melesat keluar dari tempatnya.
Orang ini merupakan adik seperguruan dari Kaucu Pek Kut Kau.
Gerakan dan tindaktanduknya tentu tidak dapat disamakan dengan yang lainnya.
Baru saja terdengar suara angin yang berdesir, tahu-tahu orangnya sudah berdiri di hadapan Tan Ki.
Suasana semakin tegang.
Di udara bagai ada serangkum hawa yang pengap menyelimuti suasana yang sudah mencekam itu.
Tekanan hawa itu begitu hebat sehingga dada setiap orang terasa sesak dan sulit bernafas.
Tanganpun mengeluarkan keringat dingin.
"Kau dan aku sudah pernah bergebrak di dekat kuil tua bagian luar kota. Apakah kau masih mengingatnya?"
"Tidak salah. Buat apa kau menanyakan kembali hal itu?"
Tampak pergelangan tangan Tan Ki memutar. Dia menekan masuk pedangnya ke dalam suling lalu menyelipkannya di ikat pinggang.
"Bukankah waktu itu kau sedang merundingkan gabungan dua pihak dengan seorang perempuan?"
Mungkin Tan Ki memang bermaksud agar kata-katanya didengarkan oleh orang-orang gagah.
Oleh karena itu suara bicaranya makin lama makin keras.
Caranya bertanya juga sangat ketus.
Kim Yu mengangkat sepasang bahunya dan mengembangkan senyuman yang licik.
"Pertanyaanmu aneh sekali. Benar-benar membuat orang bingung bagaimana harus menjawabnya."
Katanya acuh tak acuh. Tan Ki mendengus satu kali.
"Kalau aku tidak memaksamu dengan ilmu silat, mungkin kau masih belum bersedia menjawabnya!"
Selesai berkata, tanpa memberi kesempatan sedikitpun kepada Kim Yu, telapak tangannya langsung bergerak dan diapun melancarkan dua buah pukulan secara berturutturut.
Secara tidak terduga-duga, Tan Ki melancarkan serangan.
Gerakannya bagai kilat dan mengandung kekuatan yang dahsyat serta melanda keluar dengan keji.
Tiba-tiba terasa ada hawa dingin yang menyelimuti sekitar tempat itu.
Suaranya bagai badai yang mengamuk dan serangannya bagai ombak yang bergulung-gulung.
Kim Yu melihat dia melancarkan dua buah pukulan sekaligus, di sekitarnya timbul bayangan telapak tangan dalam jumlah yang tidak terhitung sehingga mirip hujan yang deras yang tiba-tiba tercurah dari langit dan dalam sekejapan mata sudah sampai di hadapannya.
Tanpa terasa hatinya jadi tergetar.
Diam-diam hatinya berpikir.
"Sungguh pukulan yang ajaib dan dahsyat!"
Tampak tubuhnya berputar setengah lingkaran, kemudian dengan mudah menerobos keluar dari kepungan bayangan telapak tangan itu.
Gerakannya ini begitu gesit dan lincah laksana seekor kelinci.
Berkelebatnya bagai kilat.
Secara berturut-turut Tan Ki melancarkan dua buah pukulan, tiba-tiba pandangannya menjadi pudar dan tahu-tahu dia gagal mencapai sasarannya.
Kali ini giliran hati Tan Ki yang tercekat.
Dua jurus yang dikerahkannya tadi merupakan ilmu pusaka yang dia dapatkan dari goa makam leluhur Ti Ciang Pang.
Cara turun tangannya bukan saja mengandung kecepatan yang hebat sekali, tetapi perubahannya sangat aneh.
Dalam satu jurus saja mengandung tiga perubahan.
Bayangkan saja sampai di mana kedahsyatannya?
Sedangkan Kim Yu dapat mengelakkan diri dari serangan itu dengan demikian mudah.
Bagaimana hatinya tidak menjadi tercekat?
Tan Ki tertegun sesaat, kemudian mulutnya memperdengarkan suara tertawa yang dingin.
"Gerakan tubuh Saudara benar-benar membuat orang kagum. Bagaimana kalau sambut lagi sebuah seranganku ini!"
"Jangan kata satu buah serangan, biar sepuluh atau seratus kali, juga tidak sanggup mengapa-apakan diriku!"
Sahut Kim Yu angkuh.
Mendengar kata-kata, api kemarahan dalam dada Tan Ki jadi berkobar-kobar.
Dia membentak dengan suara keras, telapak tangannya memutar dan secepat kilat meluncurkan sebuah pukulan.
Tan Ki teringat akan dirinya yang telah keracunan parah sehingga dia sendiri tidak tahu kapan racun itu akan bereaksi.
Oleh karena itu dia bertekad untuk menjalankan pertarungan kilat.
Serangannya kali ini mengandung kekuatan tenaga dalamnya sebanyak delapan bagian.
Serangkum angin yang kencang langsung menghantam ke depan bagai ombak yang bergulung-gulung.
Dalam waktu yang bersamaan Kim Yu juga meraung keras dan meluncurkan sebuah pukulan ke depan.
Saat yang hanya sekejapan mata...
Hati orang-orang gagah langsung ikut tertekan!
Terdengar suara benturan dua kekuatan yang menggelegar memecahkan keheningan.
Kim Yu langsung tergetar mundur sejauh tiga langkah.
Sedangkan tubuh Tan Ki yang kekar tidak bergerak sedikitpun.
Sekali lihat saja sudah dapat dipastikan bahwa kekuatan Kim Yu masih kalah setingkat dengan anak muda itu.
Tan Ki sedang terluka parah.
Darimana datangnya kekuatan begitu besar sehingga sanggup membuat Kim Yu tergetar mundur?
Rupanya Lok Ing mencekokinya dengan obat mujarab dalam jumlah yang banyak.
Dan kebetulan semuanya bekerja pada saat yang tepat.
,Tenaga dalam Tan Ki yang mulai melemah akibat lukanya yang parah seakan dibangkitkan oleh daya kerja obat itu sehingga tiba-tiba menjadi kuat dan tenaga dalamnya jadi berlipat ganda.
Orang-orang gagah yang hadir di tempat itu tentu saja tidak tahu sebab musababnya.
Hampir serentak mereka merasa terkesiap.
Mereka bagai melihat sesuatu yang ajaib tibatiba muncul di hadapan mereka.
Sementara itu, Kim Yu menggertakkan-giginya erat-erat dan mengerahkan tenaga dalamnya ke seluruh tubuh.
"Kau juga coba sambut pukulanku ini!"
Bentaknya.
Baru saja kata-katanya selesai, kakinya melangkah maju setengah tindak.
Jari tangannya menekuk bagai kaitan sehingga menimbulkan suara suitan dan tanpa menunda waktu lagi, lima jari tangannya menyerang dari atas ke bawah!
"Bagus sekali!"
Bentak Tan Ki.
Pinggangnya meliuk dan secepat kilat dia meloloskan diri dari serangan lawan.
Gerakan tubuhnya yang demikian cepat benar-benar mengejutkan Kim Yu.
Gerak langkah maupun kecepatannya begitu luar biasa, ringan dan ajaib.
Orang yang melihatnya sampai merasa matanya berkunang-kunang.
Kali ini, tentu giliran Kim Yu yang terkesiap.
Serangan dan gerak langkah lawannya begitu hebat sehingga sekali lihat saja ia dapat menduga bahwa anak muda ini bukan tokoh sembarangan.
Apabila ingin mengalahkannya tentu bukan hal yang mudah dilakukan.
Gebrakan kedua orang ini, meskipun baru beberapa jurus, tetapi dalam hati masingmasing sudah mempunyai perhitungan sendiri-sendiri.
Dalam pertarungan ini keduanya sudah mengerahkan segenap kepandaiannya dan otomatis juga menggunakan tenaga dalam sepenuhnya.
Mereka sudah mencapai taraf di mana rasanya ingin sekali memukul mati lawannya dalam satu gebrakan saja.
Tetapi mereka sama-sama menyadari satu hal.
Kim Yu sadar dirinya tidak mungkin mengalahkan lawan dalam waktu yang singkat.
Sebaliknya Tan Ki juga kagum sekali terhadap kepandaian lawan.
Meskipun dia mempunyai keyakinan dapat mengalahkan orang ini, tapi waktu yang diperlukannya mungkin cukup panjang.
Begitu pikiran yang sama memasuki benak kedua orang ini, mereka sama-sama tidak berani turun tangan dengan sembarangan.
Dua pasang mata saling memperhatikan mimik wajah lawannya.
Keduanya tidak mengedipkan matanya sekalipun.
Karena pertarungan di antara jago-jago kelas tinggi, kecepatannya bagai kilat.
Dalam sekejap mata hidup atau mati sudah dapat ditentukan.
Andaikata dalam keadaan seperti ini perhatian terpencar dan teledor sedikit saja, maka segera akan mendapat kerugian besar yang malah mungkin bisa kehilangan nyawa.
Pandangan mata Oey Ku Kiong perlahan-lahan terangkat ke atas.
Dia melihat sikap tegang diantara kedua orang yang menunggu siapa dulu yang akan bergerak.
Tanpa terasa dia menarik nafas panjang sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Saat ini, setelah mendapat bantuan pengerahan hawa murni dari Kok Hua Hong, lukanya sudah sembuh sebagian besar.
Tetapi hatinya terus memikirkan satu hal.
"Beberapa hari yang lalu, andaikata dia tidak menyerahkan sebotol racun kepada Kiau Hun, tentunya dia juga tidak akan keracunan separah ini. Setelah pertarungan ini, kemungkinan dia akan semakin terkenal sehingga pengaruhnya sampai ke daerah Si Yu..."
Sampai di sini, dia merasa hatinya tertekan.
Apabila Tan Ki tidak beruntung sampai mendapat kematian, kelak, mungkin karena kesalahan besar ini, dia akan menyesal seumur hidup.
Tetapi, meskipun dia sudah menganggap Tan Ki sebagai sahabat sejati.
Biar bagaimana perasaan cinta kasihnya kepada Kiau Hun lebih dalam lagi.
Bahkan gejolak asmaranya sudah mencapai titik maksimal.
Apabila dia harus memilih diantara kedua orang itu, dia pasti akan berdiri di pihak Kiau Hun dan rela mati demi cinta kasihnya.
Kalau tidak, dia juga tidak mungkin pura-pura berbuat segala macam kebaikan dengan maksud mengambil hati para orang-orang gagah.
Tiba-tiba tampak wajah Kim Yu yang serius bagai diselimuti hawa kehijauan.
Dia berdiri dengan lengan tegak lurus.
Namun dari tulang belulangnya terdengar suara gemerutak, tubuhnya bagai menyusut.
Meskipun saat itu hari masih cukup pagi, tetapi penampilannya yang luar biasa justru membawa perasaan seram bagi orang yang melihatnya sehingga merasa seperti berada di alam setan dan hawa dinginpun terasa menyusup dalam tubuh!
Mungkin karena tidak sabar menunggu lebih lama lagi, Tan Ki segera mengerahkan tenaga dalamnya.
Tiba-tiba dia meraung dengan keras kemudian secara mendadak melancarkan sebuah pukulan.
Serangkum angin yang kencang bagai gelombang badai yang mengamuk memenuhi tengah arena.
Arus yang kuat itu melanda datang serta mengandung tekanan yang kuat sehingga membuat orang merasa terdesak.
Kekuatannya kali ini seakan mengandung keseluruhan tenaga dalam yang ada dalam tubuhnya.
Kecepatannya benar-benar di luar akal.
Tenaga yang dahsyat itu dengan telak menghantam dada Kim Yu.
Begitu kerasnya pukulan itu sampai seluruh tubuhnya mencelat ke udara sebanyak dua kali.
Tampak dia mengerlingkan matanya ke sana ke mari.
Seakan pikirannya salah besar terhadap kekuatan tenaga dalam yang dilancarkan oleh Tan Ki.
Gelombang kekuatan yang dapat menghancurkan tembok itu pasti mengakibatkan luka yang dapat dibayangkan dalam tubuhnya.
Tetapi Kim Yu seperti tidak mengalami apa-apa, Tan Ki jadi tertegun.
Bahkan orang-orang gagah yang ikut menyaksikan jalannya pertarungan juga langsung mengeluarkan seruan terkejut.
Mereka menjadi kebingungan.
Meskipun manusia yang tubuhnya terbuat dari besi, juga belum tentu dapat menahan serangan Tan Ki yang mengandung tenaga begitu dahsyat.
Tetapi mengapa Kim Yu seperti tenang-tenang saja, tubuhnya hanya mencelat di udara namun tidak terlihat luka sedikitpun.
Rasanya hal ini benar-benar mustahil!
Justru ketika Tan Ki masih terkesima melihat apa yang terjadi, tiba-tiba...
mulut Kim Yu mengeluarkan suara pekikan yang aneh dan pergelangan tangannya memutar lalu mengibaskan sebuah serangan.
Serangan yang dilancarkan secara tiba-tiba ini persis seperti seekor banteng yang mengamuk dan dalam sekejap mata sudah hampir mencapai sasarannya!
Hati Tan Ki diam-diam menjadi terkesiap, tubuhnya bergerak setengah memutar lalu menggeser ke samping satu langkah.
Lengan kanannya diangkat dalam waktu yang bersamaan.
Dengan jurus Im Yang Membuka Pintu, dia langsung menerjang ke depan.
Sambil mengelakkan diri, Tan Ki segera melancarkan sebuah serangan.
Baik gerakan maupun jurus yang dikerahkannya benar-benar luar biasa sehingga dapat merebut kesempatan yang bagus.
Siapa nyana tiba-tiba pergelangan tangannya terasa kesemutan.
Padahal gerakannya sudah cukup cepat, ternyata masih kalah sedetik.
Begitu dia menundukkan kepalanya melihat, ternyata pada siku tangannya telah terdapat sebuah guratan panjang berwarna putih.
Tetapi tidak ada bekas darah sama sekali.
Oleh karena itu, dia juga tidak mengambil hati dan meneruskan serangannya.
Terdengarlah suara benturan yang menggelegar.
Tahu-tahu dada Kim Yu telah terkena sebuah pukulannya lagi.
Kali ini kekuatannya demikian dahsyat sehingga dia tidak dapat mempertahankan dirinya lagi.
Mulutnya mengeluarkan suara keluhan tertahan, tubuhnya terhuyung-huyung dan langkahnya agak limbung serta doyong ke samping sejauh dua langkah.
Tiba-tiba dia memuntahkan segumpal darah segar.
Tampaknya dia berusaha untuk menunjukkan kekerasan hatinya.
Dua kali berturutturut dia terkena hantaman Tan Ki yang keras.
Tetapi dia tetap menggertakkan giginya erat-erat dan bagaimanapun tidak membiarkan tubuhnya terkulai jatuh ke atas tanah.
Hal ini disebabkan karena dia mendapat perintah dari suhengnya untuk melenyapkan Tan Ki.
Oleh karena itu, dia terpaksa menempuh bahaya untuk menunjukkan jasanya.
Meskipun hantaman Tan Ki yang pertama sudah menggetarkan isi perutnya, namun dia mempertahankan diri sekuatnya.
Sebab apabila dia tidak sanggup membunuh Tan Ki atau sampai mengalami kekalahan, setelah kembali nanti, pasti dia akan mendapat hukuman yang berat sesuai peraturan dalam perkumpulan Pek Kut Kau mereka.
Dirinya bagai terjepit dari kiri kanan oleh kata-kata "kematian".
Satu-satunya jalan hanya menempuh bahaya dan mempertahankan diri menerima serangan Tan Ki.
Terdengar Kaucu Pek Kut Kau mendengus dingin.
"Bagaimana keadaan lukamu?"
Mendengar nada suaranya yang kaku dan dingin, hati Kim Yu seperti diganduli beban yang berat seketika. Tanpa terasa tubuhnya menggigil dan memaksakan sebuah senyuman.
"Masih lumayan."
"Coba kau himpun hawa murni dalam tubuhmu."
Dengan berlagak gagah Kim Yu menjawab.
"Ilmu silat Tionggoan mana mungkin dalam satu dua jurus bisa meminta nyawaku."
"Bagus sekali. Hari sudah siang. Kita juga sudah harus kembali!"
Nada suaranya masih demikian dingin.
Persis seperti uap yang keluar dari danau es.
Orang yang mendengarnya akan merasa bergidik.
Sikapnya begitu angkuh seakan tidak memandang sebelah mata kepada orang lain.
Selesai bicara, dia langsung membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi.
Tiba-tiba Yibun Siu San mengeluarkan suara bentakan.
"Berhenti!"
"Apakah kau memanggil aku?"
Tanya Kaucu Pek Kut Kau. Yibun Siu San memperdengarkan suara tawa yang dingin.
"Saudara mau datang terus datang, mau pergi juga seenaknya saja. Sikapmu benarbenar tidak menganggap orang lain bukan?"
"Meskipun daerah Tionggoan sangat luas dan mentereng menyilaukan mata. Tetapi di manapun Kaucu ini menginjakkan kakinya, selamanya tidak pernah ada tempat yang tidak bisa didatangi. Tentu saja asal Kaucu senang."
Sahut Kaucu Pek Kut Kau itu angkuh.
Yibun Siu San mendengus satu kali lagi.
Dia menolehkan wajahnya dan melihat Tan Ki sedang mendongakkan wajahnya menatap langit.
Entah apa yang sedang dipikirkan oleh anak muda itu.
Matanya seakan menerawang dengan pandangan kosong.
Wajah Yibun Siu San segera berubah serius.
"Aku tidak ingin bersilat lidah denganmu, tetapi ada suatu hal yang ingin kuminta petunjukmu."
Kaucu Pek Kut Kau itu juga memperdengarkan suara tertawa yang dingin.
"Aku masih banyak urusan yang penting. Malas membuka mulut. Apabila ingin aku menjawab pertanyaanmu, maka harus menunggu sampai aku mempunyai kegembiraan dulu."
"Urusan ini menyangkut kedua belah pihak. Biar bagaimana harus ada jawabannya!"
Dengan sikap tegas Yibun Siu San melanjutkan kembali kata-katanya.
"Tetapi, kalau kau tetap berkeras tidak mau menjawabnya, aku juga tidak akan memaksa!"
Kaucu Pek Kut Kau tertawa terbahak-bahak.
"Kalau ada keuntungan yang bisa diraih, tentu saja harus disempatkan waktu untuk berunding. Coba kau tanyakan saja, lihat Kaucu bisa menjawabnya atau tidak!"
"Kau pernah mengajukan beberapa pertanyaan kepada anak Ki. Bahkan berusaha mengetahui jejak seseorang. Hal itu malah membuat aku teringat akan seseorang pula. Baik sikap maupun raut wajahnya sama seperti yang diceritakan anak Ki..."
BAGIAN XXXV "Siapa?"
Yibun Siu San menyahut sepatah demi sepatah...
"Cian Tok Kui Ong alias Raja setan seribu racun!"
Keempat kata-kata ini diucapkan dengan panjang dan lama.
Seakan setiap kata itu diucapkan dengan pengerahan tenaga yang sepenuhnya.
Sehingga akhirnya dapat juga tercetus keluar dari mulutnya.
Tetapi orang yang mendengarkan justru bagai diselimuti ketegangan yang tidak terkirakan.
Tampak tubuh Kaucu Pek Kut Kau itu agak bergetar, tetapi sekejap kemudian sudah normal kembali seperti biasa.
Dia malah tertawa dingin.
"Apa hubungannya dengan diriku?"
"Orang ini merupakan raja iblis di daerah Tionggoan. Baik golongan putih maupun hitam yang mendengar namanya pasti tergetar hatinya. Siapapun tidak ada yang berani mencari perkara dengan orang ini, tetapi dia justru berasal dari daerah yang jauh dan ilmu silat yang dikuasainya juga bukan ilmu silat dari Tionggoan..."
Wajah Kaucu Pek Kut Kau langsung berubah hebat. Tampangnya menyiratkan kegusaran hatinya.
"Jadi kau bermaksud mengatakan bahwa Cian Tok Kui Ong itu merupakan orang wilayah Si Yu kami?"
Yibun Siu San tertawa dingin.
"Aku mempunyai jodoh bertemu beberapa kali dengan orang ini. Kalau ditilik dari nada bicaranya sehari-hari, dia bukan saja berasal dari wilayah Si Yu, malah ada hubungan yang erat dengan engkau, Kaucu Pek Kut Kau ini."
Kaucu Pek Kut Kau menghentakkan kakinya ke atas tanah dengan kesal.
"Omong kosong!"
Kembali Yibun Siu San tertawa dingin.
"Kalau menurut pendapatku, Cian Tok Kui Ong itu memang anggota perkumpulan Pek Kut Kau dan kemungkinan pernah berbuat kesalahan atau ganjalan dengan dirimu sehingga dia diusir olehmu dan keluar dari Pek Kut Kau. Oleh karena itu, Cian Tok Kui Ong melarikan diri ke daerah Tionggoan yang jauh dan mencari kesempatan untuk membalas dendam. Tadinya mungkin dia ingin membandingkan kepandaiannya dengan para jago dari Tionggoan sehingga mempunyai kesempatan muncul dengan wajah lain untuk menggemparkan dunia Kangouw. Sayangnya orang-orang yang pernah bergebrak dengannya merupakan tokoh-tokoh kelas dua dan kelas tiga. Tidak ada satupun yang sanggup menerima satu jurus serangannya. Atau bisa mengimbangi kekuatan tenaga dalamnya. Itulah sebabnya Cian Tok Kui Ong kecewa sekali. Dan harapannya seperti kandas seketika. Kemudian terbersit berita bahwa dia teringat suatu tempat di mana dia dapat mencuri kitab peninggalan para jago di daerah Tionggoan. Dia-pun lalu berusaha menggabungkan ilmu kepandaiannya sendiri dengan ilmu hasil curiannya sehingga dengan demikian ilmunya dapat maju lebih pesat lagi..."
Terdengar suara deheman dari bibir Kaucu Pek Kut Kau tersebut.
"Lalu?"
"Akibatnya, mungkin seperti apa yang diceritakan oleh anak Ki. Akhirnya meskipun dia berhasil meloloskan diri, namun lukanya sudah terlalu parah sehingga lama-kelamaan dia tidak dapat bertahan lagi dan menemui ajalnya."
Mendengar kata-katanya, Kaucu Pek Kut Kau itu seakan telah berhasil membuktikan kematian Cian Tok Kui Ong.
Pikirannya yang ruwet seperti menjadi ringan sebagian.
Oleh karena itu dia menghembuskan nafas lega.
"Orangnya toh sudah mati, apakah sukmanya masih bisa berkeliaran sehingga menyatakan bukti kepada kita semua?"
Yibun Siu San tertawa dingin.
"Cerita takhyul memang selamanya tidak dapat dibuktikan atau diandalkan. Siapa yang bisa percaya begitu saja? Tetapi ketika dia pergi, dia memang meninggalkan seorang bayi perempuan. Sayangnya induk semang yang bertugas menjaga bayi itu, justru tanpa sengaja menjatuhkan bayi perempuan itu ke dalam lautan ketika sedang mengadakan perjalanan jauh. Sampai saat ini mati hidupnya tidak jelas lagi..."
"Terhadap masalah ini, Kaucu tidak tertarik sama sekali."
Kemudian tampak dia mengibaskan lengannya dan perlahan-lahan meneruskan langkah kakinya.
Kim Yu mengajak beberapa rekannya yang terluka dan mengiringi dari belakang.
Pertarungan kali ini, meskipun belum sempat membuat seluruh tokoh dari Si Yu lenyap dari muka bumi, tetapi sebagian besar dari mereka sudah terluka cukup parah.
Hal ini membuktikan kerugian yang besar di pihak mereka.
Dengan demikian, karena pertarungan ini pula, nama Tan Ki langsung menjulang tinggi.
Di antara jago-jago kelas satu di dunia Bulim, boleh dibilang sudah ada sebuah tempat bagi dirinya.
Sementara itu, Yibun Siu San menatap bayangan punggung Kaucu Pek Kut Kau yang semakin lama semakin menjauh.
Bibirnya bergerak-gerak seakan ingin mengatakan sesuatu namun dibatalkannya lagi.
Akhirnya dia menahan perasaan hatinya dan menarik nafas panjang.
Dia menggelengkan kepalanya sambil tertawa getir.
Perlahan-lahan dia melangkahkan kakinya dan mendekat ke samping Tan Ki.
Dengan suara lirih dia bertanya.
"Apa yang kau pikirkan?"
Suara yang rendah serta mengandung kasih sayang yang dalam. Tan Ki pun tersadar dari lamunannya. Mulutnya mengeluarkan seruan terkejut kemudian menggelenggelengkan kepalanya.
"Tidak ada apa-apa."
Yibun Siu San tersenyum lembut.
"Biar kau tidak mengatakannya, aku juga mengerti. Sekarang ini perasaan hatimu sedang kalut sekali. Dan sekaligus banyak hal yang terpikirkan olehmu, bukankah demikian?"
Tan Ki tidak memberikan jawaban.
Betul, sebetulnya apa lagi yang masih dipikirkannya?
Kehidupannya sudah di ambang pintu ke-matian.
Begitu daya kerja obat yang diminumnya mulai mereda, dia pasti akan mati!"
Apabila seseorang dapat mengetahui waktu kematiannya, seharusnya merupakan hal yang ajaib dan aneh.
Biar bagaimana, Tan Ki adalah seorang pemuda yang bersemangat tinggi.
Meskipun saat ini dia sedang bertentangan dengan maut, tetapi dia dapat menenangkan hatinya untuk menunggu datangnya dewa elmaut.
Segala ketegangan yang melanda hatinya menjadi sirna.
Perasaannya malah menjadi lega.
Otomatis banyak sekali pikiran yang melintas di benaknya.
Dendam ayahnya, urusan ibunya dan keenam perempuan yang ada hubungan erat dengan dirinya.
Banyak sekali yang dipikirkannya.
Tetapi semakin dipikirkan semuanya menjadi semakin samar.
Hanya satu hal yang diketahuinya dengan jelas, yakni riwayat hidupnya segera akan berakhir.
Segenap dendam kesumat, perasaan cinta kasih akan hilang dari dirinya untuk selamanya.
Dia akan meninggalkan dunia ini dengan membawa sukma yang kosong melompong dan berikut segala keruwetannya.
Terdengar Yibun Siu San menarik nafas panjang.
"Bulim Tay Hwe akan dimulai sebentar lagi..."
Tan Ki tertawa sumbang.
"Sayang sekali dalam tubuh keponakanmu ini mengendap racun yang dalam. Kasih sayang dan perhatian yang besar dari Siok Siok dan Cian Locianpwe akhirnya hanya sia-sia saja."
Kata-kata yang keluar dari bibirnya bagai tercekat sebagian di tenggorokan. Ucapannya tersendat-sendat bagai seorang pendekar yang menemui jalan buntu menghadapi masa depannya.
"Manusia hidup di dunia ini sudah ditentukan takdirnya. Kau tidak perlu merasa cemas karena hal ini."
"Terima kasih atas kata-kata hiburan Siok Siok ini. Kalau keponakan mempunyai umur panjang dan tidak jadi mati, tentu tidak akan menyia-nyiakan harapan Siok Siok serta hadirin untuk merebut kedudukan Bulim Beng-cu. Sayangnya... sekali lagi Tan Ki tertawa sumbang. Tiba-tiba dia menghentikan kata-katanya dan membungkam. Perlahan-lahan dia membalikkan tubuhnya dan berjalan ke arah ruangan besar. Yibun Siu San segera berteriak.
"Anak Ki, kau mau ke mana?"
"Aku tidak ingin Ibu melihat wajahku ketika menjelang kematian. Hal ini pasti akan membuat hatinya terpukul sehingga jatuh sakit. Lebih baik aku berjalan dulu dan mencari sebuah tempat yang tenang untuk mengubur diri. Dengan demikian aku akan menghadapi kematian dengan hati yang tenteram..."
Meskipun mulutnya menjawab pertanyaan Yibun Siu San, namun kakinya tidak pernah berhenti sekalipun.
Begitu ucapannya selesai, tibatiba dia mempercepat langkah kakinya dan menghambur pergi.
Dapat dipastikan bahwa dia sedang menahan penderitaan dalam hatinya dan tidak ingin orang lain melihat wajahnya yang penuh dengan air mata.
Melihat dia memalingkan kepalanya dan pergi begitu saja, Yibun Siu San jadi tertegun.
Kemudian tampak dia tersenyum sendirian, bibirnya bergerak-gerak dan menggumam seorang diri.
"Kalau ditilik dari kata-katanya yang memikirkan keadaan ibunya. Hal ini membuktikan bahwa dia sudah mengalami perubahan."
Angin pagi bertiup sepoi-sepoi, harum bunga semerbak, tetapi keadaan hati Tan Ki saat ini sama sekali tidak membayangkan keindahan dunia ini.
Pikirannya terpusat pada keadaan dirinya sendiri yang sebentar lagi akan mati.
Hatinya sangat tertekan.
Kakinya bagai diganduli bola besi yang beratnya ribuan kati.
Langkahnya demikian lambat hampir seperti siput yang merayap.
Setelah berjalan beberapa saat, tiba-tiba dia menghentikan langkah kakinya.
Diam-diam dia berpikir dalam hati.
"Kalau sekarang aku meninggalkan gedung keluarga Liu, dan seandainya di tengah jalan luka atau racun dalam tubuh ini tiba-tiba kambuh, serta mati di tempat, bukankah seluruh penduduk kota ini akan gempar dan ketakutan? Lebih baik aku cari tempat yang tenang di sekitar gedung ini..."
Begitu pikirannya tergerak, dia langsung berjalan menuju taman bunga di halaman belakang.
Sinar mentari yang terik menyoroti bayangan punggungnya yang tampak kesepian.
Dengan demikian, kentara sekali bahwa hati anak muda ini digelayuti berbagai pikiran dan penderitaan yang tidak terkirakan.
Berturut-turut dia melewati tiga ruangan dan tiba-tiba hidungnya mencium bau harum bunga yang menyegarkan.
Anginpun terasa sejuk.
Tan Ki menghentikan langkah kakinya, sepasang matanya mengedar.
Dia melihat bunga-bunga yang berwarna-warni bermekaran, ada anggrek, ada seruni.
Meskipun saat ini musim semi hampir berlalu, tetapi rumput-rumput masih menghijau, bunga-bunga tumbuh subur.
Apalagi dihiasi dengan rumpun bambu yang terawat rapi sehingga menimbulkan kesan bahwa taman bunga ini demikian indah dan membuat perasaan menjadi tenang.
Diam-diam Tan Ki memuji dalam hati.
"Tempat ini cocok sekali dipilih menjadi tempat menunggu kematian."
Dia segera memilih sebuah bangku panjang yang terbuat dari bambu dan menjatuhkan dirinya duduk di sana.
Dia merasa berbagai macam pikiran menggelayuti dadanya.
Tetapi ketika Tan Ki berusaha menyimak apa yang sedang dipikirkannya, dia malah merasa benaknya kosong melompong.
Dia sendiri tidak tahu apa sebetulnya yang terpikirkan olehnya.
Keadaan yang rumit ini, merupakan hal yang belum pernah ia alami seumur hidup.
Dia sendiri sampai merasa heran.
Hatinya bermaksud menggerakkan hawa murni dalam tubuhnya sesuai dengan ajaran dalam kitab yang ditemukannya.
Dia berpikir bahwa mungkin dengan cara demikian, perasaannya yang gundah bisa menjadi tenang.
Oleh karena itu, dia segera memejamkan matanya dan mengatur pernafasan.
Siapa sangka, begitu dia mengerahkan hawa muminya, tiba-tiba dia merasa lengan kirinya nyeri bagai digigit ribuan semut.
Hawa murni dalam tubuhnya pun tidak dapat mengalir dengan lancar.
Tubuhnya menjadi lemas.
Hatinya terkejut setengah mati.
Ketika dia menundukkan kepalanya, dia melihat siku kirinya yang tadi terkena serangan Kim Yu, entah sejak kapan telah timbul bekas darah berwarna keungu-unguan.
Hatinya semakin terkesiap.
Tapi warna yang menghiasi sikunya itu sangat tipis sehingga kalau tidak diperhatikan dengan seksama, maka sulit menemukannya.
Luka yang biasa dan tidak ada keistimewaannya ini, kalau bagi orang lain, tentu tidak akan menganggapnya sama sekali.
Tetapi Tan Ki justru menatapnya dengan wajah penuh ketegangan.
Lama kemudian baru dia pulih kembali kemudian tampak dia menarik nafas panjang.
Bibirnya mengembangkan seulas senyuman yang pahit.
"Rupanya ilmu yang dipelajari oleh Kim Yu juga merupakan sejenis ilmu golongan sesat. Dalam kuku jarinya telah dilumuri racun keji. Sedang tubuhku ini entah diracuni oleh siapa, cepat atau lambat aku toh akan mati. Serangannya ini paling-paling hanya mempercepat kematianku saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan..."
Berpikir sampai di sini, tanpa terasa dia memejamkan matanya.
Kepalanya menggeleng dan berulang kali dia menarik nafas panjang.
Hampir saja air matanya mengalir lagi mengingat nasibnya yang malang.
Tiba-tiba telinganya menangkap suara langkah kaki yang lirih yang menghampiri ke arahnya.
Saat ini perasaan hati Tan Ki sudah hambar.
Malah dia sudah kehilangan kegembiraannya sama sekali.
Meskipun dia tahu bahwa ada seseorang yang sedang berjalan mendekatinya, tetapi dia merasa malas membuka matanya untuk melihat sekejappun.
Terdengar suara langkah kaki itu semakin lama semakin mendekat.
Sekarang jaraknya paling-paling empat lima depa dari hadapannya.
Kemudian langkah kaki itu berhenti.
Mungkin orang itu sudah melihat Tan Ki maka menghentikan gerakan tubuhnya.
Sekejap kemudian, terdengar lagi suara langkah tadi yang semakin jelas menghampiri tempatnya berada.
Keadaan ini membuat rasa penasaran Tan Ki bangkit juga.
Oleh karena itu, dia membuka matanya sedikit dan mengintip.
Tanpa dapat ditahan lagi mulutnya mengeluarkan seruan terkejut.
Kemudian wajahnya menyiratkan rona merah jambu.
Rupanya orang ini sama sekali tidak asing bagi dirinya.
Justru gadis ini yang selalu membuat perasaannya menjadi jengah setiap kali bertemu, yakni Cin Ying dari Lam Hay.
Sejak hujan badai yang dialaminya tadi malam, di mana dia memperkosa Liang Fu Yong tanpa sadar.
Justru dirinya sial sekali karena kepergok oleh gadis ini.
Malah dia pula yang mengantarkan dua stel pakaian guna menutup diri mereka yang bugil.
Teringat kembali hal yang demikian memalukan, bagaimana wajahnya tidak menjadi merah padam?
Justru ketika merasa tidak tenang karena malu setengah mati, terdengar gadis itu bertanya dengan suara yang lembut.
"Apakah kau duduk di sini menunggu kedatangan seseorang?"
Suaranya begitu tenang sehingga orang tidak dapat menduga apa yang tersirat dalam hatinya. Apakah dia sedang marah atau gembira. Tan Ki menggelengkan kepalanya.
"Aku sedang menunggu kematian!"
Cin Ying jadi tertegun mendengar kata-katanya.
"Apa? Menunggu kematian?"
Tan Ki tertawa getir.
"Tidak salah, aku memang sedang menunggu kematian."
Sepasang mata Cin Ying yang indah membelalak lebar-lebar.
Dari dalamnya menyorot sinar yang tajam, dia memperhatikan Tan Ki dari atas kepala sampai ke bawah kaki seakan ingin menyelidiki apakah anak muda ini tiba-tiba saja menjadi kurang waras.
Sementara itu, bibirnya tetap berbicara.
"Kata-katamu itu tiada ujung tiada pangkalnya. Orang yang mendengar akan sulit untuk memahami. Bagaimana kalau kau menceritakannya lebih jelas dan lihat apakah aku sanggup menolongmu..."
Kata-katanya terhenti sejenak, kemudian dia menarik nafas panjang.
"Hawa racun yang terpancar dari dirimu tampaknya sudah mencapai taraf yang parah sekali..."
Tan Ki tertawa sumbang.
"Meskipun kau bisa melihat bahwa diriku sedang keracunan, tetapi biar bagaimana kau pasti tidak dapat menghilangkan dua jenis racun yang segera menunjukkan reaksinya dalam waktu yang bersamaan."
"Benarkah sudah separah itu?"
Kalau ditilik Bari nada suaranya, tampaknya gadis itu masih kurang percaya. Tan Ki mendongakkan wajahnya dan tersenyum gagah.
"Pertama-tama ada seseorang yang meracuni tubuhku. Begitu hebatnya sampai aku pendiri tidak tahu bagaimana caranya dan ti-dak menyadarinya sama sekali. Barusan aku bertarung dengan jago dari Si Yu, akibatnya aku terkena serangan kuku beracun dari adik seperguruan Kaucu Pek Kut Kau itu. Dua jenis racun berkumpul menjadi satu dan sebentar lagi akan menunjukkan reaksinya. Meskipun aku memiliki tenaga dalam yang lebih hebat lagi, dan dapat memperpanjang umurku sampai senja nanti, tetapi tetap saja tidak sempat melihat mentari esok pagi. Apabila kedua racun ini sudah kambuh, aku pasti akan menemui ajal."
Wajah Cin Ying lambat laun menjadi kelam.
Segulung perasaan sedih tiba-tiba saja menyelimuti hatinya.
Tumbuh semacam perasaan khawatir yang dalam.
Air matanya mengembang lalu menetes turun membasahi pipinya.
Mendadak tampak tubuh Tan Ki bergetar hebat sekejap.
Dia seolah mendadak ditinju oleh seseorang dengan keras.
Sepasang alisnya bertaut dengan erat.
Begitu sakitnya sehingga keringatnya mengucur dengan deras.
Melihat keadaan itu, jantung Cin Ying seakan berdegup dengan kencang.
Cepat-cepat ia membungkukkan tubuhnya dan berjongkok di samping Tan Ki.
"Kenapa kau?"
"Sebentar lagi aku akan mati. Maukah kau mendengar beberapa patah perkataanku?"
Kata-kata ini diucapkan dengan gugup, tampaknya dia sedang menahan penderitaan yang hebat.
Selesai berkata, cepat-cepat dia memejamkan matanya dan mendekap dadanya sendiri.
Nafasnya seakan mendadak menjadi sesak.
Cin Ying mengulurkan tangannya dan menempelkannya di dahi anak muda itu.
Begitu tersentuh olehnya, dia merasa dahi anak muda itu panas membara bagai kobaran api.
Dia bagai menyentuh besi yang dibakar di atas tungku.
Hatinya tercekat bukan kepalang.
Air matanya mengalir dengan deras.
"Seandainya Siangkong mempunyai kepentingan yang mendesak, harap katakan saja. Semoga Cin Ying mempunyai kesanggupan untuk membantu..."
Mendadak Tan Ki membuka sepasang matanya.
Sepasang bola matanya mengerling ke sana ke mari, kemudian perlahan-lahan dia menarik nafas panjang.
Meskipun dia sudah bersiap menunggu datangnya malaikat el-maut, tetapi wajahnya saat ini menyiratkan kepanikan dan kecemasan yang tidak terkatakan.
Perlahan-lahan dia mengulurkan tangannya dan mencekal pergelangan tangan Cin Ying.
"Aku sudah hidup selama dua puluh tahun lebih. Tetapi aku justru membuat banyak kericuhan di dunia Kangouw. Aku tidak takut mati, juga tidak ada hal yang perlu kuberatkan. Satu-satunya masalah yang membuat aku tidak dapat menutup mata dengan tenang, hanya karena ibuku yang malang itu. Tidak ada orang lagi yang memperhatikan dan merawat dirinya. Ketika aku berusia belasan tahun, ayahku mati secara mengenaskan. Sedangkan saat itu dia masih merupakan seorang wanita yang baru menjelang usia matang..."
Dari kata-katanya ini, Cin Ying sudah dapat menduga sedikit apa yang dimaksudkannya.
Perlahan-lahan dia menarik nafas panjang dan menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Tan Ki menggenggam tangan Cin Ying erat-erat.
Tiba-tiba dia menambah sedikit kekuatannya dan menggeser tubuhnya merapat kepada gadis itu.
Melihat wajahnya yang basah oleh keringat dingin dan tampangnya yang mengenaskan itu, Cin Ying tidak tega kalau sampai tubuhnya terjatuh.
Dia juga tidak ingin menambah penderitaan anak muda itu.
Akhirnya terpaksa dia merentangkan sepasang lengannya perlahan-lahan dan memeluk tubuh Tan Ki.
Serangkum bau harum yang menyegarkan memencar ke mana-mana.
Tan Ki malah menarik nafas panjang.
"Aku tahu hatimu pasti merasa serba salah. Tetapi sebentar lagi aku akan mati. Tidak ada orang yang dapat kutinggalkan pesan. Lagipula baru pertama kali ini aku mengajukan permohonan kepada seseorang, juga merupakan permohonan yang terakhir kalinya..."
Selama hidupnya, belum pernah Cin Ying menghadapi hal seperti ini.
Juga belum pernah ada orang yang memohonnya dengan suara demikian tulus.
Serangkum hawa panas bergejolak di dalam hatinya seketika.
Hatinya merasa tergugah juga sekaligus diliputi kebimbangan yang tidak terkirakan..
Dia mendongakkan wajahnya menatap awan putih di atas langit.
Gerakan awan itu terasa begitu lambat dalam pandangannya.
Dalam hatinya dia justru berpikir.
"Ini merupakan peristiwa yang luar biasa dan berat. Kalau aku mengabulkan permintaannya, maka untuk seumur hidup aku harus merawat ibunya baik-baik. Aku harus menganggapnya sebagai ibu kandungku sendiri..."
Kalau didengarkan saja, tampaknya urusan ini sangat sederhana.
Tetapi untuk melaksanakannya justru memerlukan tanggung jawab yang tidak kepalang tanggung beratnya.
Perlahan-lahan Tan Ki mendongakkan kepalanya.
Dia melihat gadis itu sedang menatap langit dan dengan pandangan menerawang.
Dia segera maklum bahwa gadis itu sedang mempertimbangkan permintaannya matang-matang.
Tan Ki mempunyai kecerdasan yang melebihi orang lain.
Malah dia pernah berkelana di dunia Kangouw seorang diri, meskipun usianya masih cukup muda, tetapi segala macam hal sudah pernah ditemuinya.
Dia mengerti sekali bahwa orang yang tidak mudah mengucapkan janji, justru sekali mengabulkan akan melaksanakannya sebaik mungkin.
Seperti sebuah palang besi yang dipantekkan dalam hatinya dan untuk selamanya tidak dapat diubah.
Dia berusaha memberontak agar tubuhnya dapat bergeser dan kemudian menyusupkan kepalanya di atas bahu gadis itu.
Dengan demikian perasannya menjadi lebih tenang dan rasa sakitnya pun agak berkurang.
Justru karena dia mengerti sekali perasaan orang yang tidak mudah mengucapkan janji ini, maka dia juga tidak ingin Cin Ying mengambil keputusan dengan tergesa-gesa.
Hatinya berpikir, asal kematian belum menjemputku dan aku bisa mendapatkan janjinya, maka semuanya sudah lebih dari cukup.
Perlahan-lahan pikirannya mulai melayang-layang.
Wajahnya yang tampan malah mengembangkan seulas senyuman yang tenang.
Laksana sebatang pohon siong yang dilanda gelombang badai, kemudian secara tiba-tiba dipindahkan oleh seseorang ke dalam rumah.
Hatinya terasa nyaman, tenang dan tidak menyiratkan ketakutan menjelang ajal sedikitpun.
Perlahan-lahan dia menggerakkan tangannya yang lemah tidak bertenaga lalu meletakkannya di atas dadanya sendiri.
Matanya terbuka lebar-lebar menatap awan putih di atas langit.
Diam-diam hatinya berpikir...
"Orang-orang di dunia ini selalu menganggap kematian sebagai suatu hal yang mengerikan. Orang yang bagaimana gagahnya pun atau pendekar yang namanya menjulang tinggi, juga tidak dapat menahan ketegangan diri dalam menghadapi kematian dan hatipun berdebar-debar. Tetapi aku malah tidak merasa takut sama sekali. Hatiku demikian tenteram dan tenang. Aku akan membawa seulas senyuman dan mati dalam pelukannya."
E Tampaknya Cin Ying sudah mengambil sebuah keputusan yang besar. Dia menghembuskan nafas panjang dan menatap ke arah Tan Ki.
"Aku berjanji bahwa untuk seumur hidupku! Kini aku akan menjaga ibumu baik-baik dan menganggapnya sebagai ibuku sendiri!"
Tan Ki merasa terhibur sekali mendengar kata-katanya. Bibirnya merekahkan seulas senyuman yang manis.
"Aku tahu, kalau kau sudah berjanji maka hatimu bagai telah dipantek oleh sebuah palang besi. Meskipun lautan bisa berubah, tetapi kata-kata yang telah kau ucapkan selamanya tidak akan pernah diingkari."
Cin Ying tersenyum datar.
"Siangkong terlalu memuji diriku."
Dia berhenti sejenak.
"Tetapi, sebelum aku mengabulkannya tadi, hal ini memang membuat hatiku bimbang sekali. Aku telah memikirkan banyak hal. Seumpamanya, istri yang baru kau nikahi, kau juga pernah berjanji untuk mengambil adik Cin Ie sebagai selir. Masih ada lagi Liang Fu Yong, Lok Ing... pokoknya beberapa perempuan ini. Meskipun aku telah berjanji untuk merawat ibumu, tetapi tidak pernah menunjukkan bahwa aku akan menikah denganmu, tetapi kalau hal ini sampai terdengar oleh mereka, mungkin bisa timbul gelombang badai yang dahsyat."
"Sebelum kematian menjemput, aku dapat mendengar kata-katamu, rasanya aku pasti dapat memejamkan mata dengan tenang."
Cin Ying tertawa datar.
"Bagaimana perasaanmu saat ini?"
"Hampir. Sebentar lagi pasti aku mati."
Cin Ying mendongakkan wajahnya menatap langit.
"Apakah kau sendiri merasa bahwa jiwamu benar-benar tidak tertolong lagi?"
Tanyanya sendu.
"Tidak ada jalan lagi. Saat ini detik ini, biarpun ada orang yang mengantarkan obat dewa yang dapat menyembuhkan segala macam racun, tetap saja tidak mungkin dapat menawarkan dua jenis racun sekaligus."
Terdengar suara keluhan dari mulut Cin Ying. Diam-diam dia berpikir.
"Kalau begitu, dia sudah pasti akan mati. Meskipun tidak ada harapan sama sekali untuk menyembuhkannya, tetapi aku juga harus mengerahkan segenap kemampuan dan mencoba mencari jalan keluar..."
Tiba-tiba dia merasa sepasang lengan Tan Ki yang sedang memeluk dirinya semakin mengencang. Dalam waktu yang bersamaan, telinganya menangkap suara anak muda itu yang lirih dan lembut.
"Maukah kau memelukku lebih erat lagi, biar aku merasakan agak tenteram?"
Nada suaranya begitu tulus dan mengandung permohonan yang dalam.
Hal ini justru membuat Cin Ying merasa tidak sampai hati menolaknya.
Dia menarik nafas panjang lalu menuruti permintaan Tan Ki memeluknya lebih erat lagi.
Dalam waktu yang bersamaan, dia memejamkan matanya dan menghembuskan nafas panjang.
Tiba-tiba Tan Ki merasa di dalam hatinya terdapat gejolak yang melonjak-lonjak.
Keringatnya mengucur dengan deras.
Pikirannya berkata bahwa saatnya sudah hampir tiba.
Perlahan-lahan dia memejamkan matanya dan berkata.
"Sudah hampir, aku telah merasakannya, peluklah aku lebih erat lagi!"
Diam-diam Cin Ying juga berpikir.
"Sebentar lagi dia akan mati, bagaimana aku masih mempersoalkan segala macam peradatan dan batas-batas duniawi sehingga membuat perasaannya terluka? Kelak apabila adik Cin Ie mengetahui urusan ini, aku yakin dia tidak akan menyalahkan diriku..."
Dengan membawa pikiran demikian, sepasang lengannya dipererat dan ia memeluk Tan Ki dengan sepenuh tenaga.
Ketika dia menundukkan kepalanya memperhatikan, dia melihat tampang anak muda itu begitu tenang.
Wajahnya yang tampan mengembangkan senyuman.
Tidak tersirat sedikitpun rasa takut menjelang kematian.
Bahkan hawa kehijauan yang terdapat di keningnya, juga entah sejak kapan, tahu-tahu sudah lenyap tidak terlihat lagi.
Bahkan dia juga tidak melihat ada penderitaan yang ditahan oleh Tan Ki.
Diam-diam hatinya merasa kagum sekali.
Baca Juga: Amanat Marga 3
Baca Juga: Pendekar Setia 5