Eps 11 Kelana Buana - Liang Ie Shen
Baca online Kelana Buana - Liang Ie Shen
Cersil Kelana Buana - Liang Ie Shen.
"Orang-orang yang punya pangkat kenapa selalu berhati telengas! Ai, sungguh tak nyana piauko bisa bergaul dan sehaluan dengan orang-orang macam begituan."
Sementara Beng Goan-cau pun kaget dibuatnya, sambil mendekam mendengarkan suara dari bumi, meski tidak jelas pembicaraan mereka, namun ia sudah tahu siapa saja orang-orang yang berkumpul itu, kecuali Ciok Tio-ki, Cong Sin-liong, Boh Cong-tiu, orang tua yang lain adalah Coh Thian-hiong yang pernah bentrok di rumah Hun Ci-lo tempo hari, sementara orang she Gui itu bukan lain adalah Gui Khing yang adu arak melawan Lau Khong itu, Beng Goan-cau belum pernah bertemu dengan Gui Khing, tapi ia tahu orang itu adalah tokoh persilatan juga.
Pikirnya.
"Hanya Cong dan Boh dua orang saja aku belum tentu bisa menang, ketam-bahan tiga tokoh kosen lagi, dari mana aku mampu melawan? Jarak Bu-siang sedemikian dekat, semoga tidak sampai ketahuan oleh mereka."
Setelah Gui Khing pergi, Coh Thian-hiong pun berkata.
"Biar aku meronda di bagian luar, boleh kalian bicarakan urusan penting itu."
Berkata Boh Cong-tiu.
"Cong-susiok, aku tahu kau datang hendak membekuk buronan. Keadaan hari ini memaksa kita untuk kerja sama kalau tidak mau menemui kegagalan."
"Kabarnya semalam kau ada bentrok dengan musuh tangguh, siapa dia?"
Tanya Cong Sin-liong.
"Roman muka dan ilmu silat orang itu sudah kuberi tahu kepada Coh-losiansing, menurut katanya, mungkin orang ini adalah pendekar kelana yang kenamaan, yaitu Miao Tiang-hong!"
Cong Sin-liong manggut-mang-gut, ujarnya.
"Demikian juga dugaanku. Masih ada lawan tangguh yang lainnya tidak?"
"Kabar yang kami dengar, katanya 'kakap' gede incaran kita itu, hari ini pasti sudah akan tiba di Yangciu, dia akan datang bersama Kim Tiok-liu."
Cong Sin-liong kaget, katanya.
"Apa benar berita yang kau peroleh ini?"
"Cong-susiok, kau tidak perlu kaget, sedikit banyak aku masih punya hubungan baik dengan Kim Tiok-liu, pada waktunya aku akan berusaha memancing harimau dari sarangnya, seumpama rencanaku ini gagal, toh ada Coh-losiansing dan Ciok-tayjin membantumu, kukira masih berkecukupan untuk menghadapi Kim Tiok-liu."
Cong Sin-liong mendengus, jengeknya.
"Kalau begitu, jadi kau hendak berpeluk tangan di luar kalangan?"
Berkata Bok Cong-tiu tawar.
"Aku mendapat perintah dari Pak-kiong Tayjin, terpaksa tidak bisa unjuk muka di muka umum."
Ciok Tio-ki menyeringai sinis, sindirnya.
"Pakkiong Tayjin memang berpandangan jauh, itulah yang dinamakan mengulur benang panjang memancing ikan besar! Hehe, betul, betul. Boh-heng, memang kau lebih baik tidak unjukkan diri."
"Baiklah, terima kasih akan laporanmu ini. Asal kau memancing Kim Tiok-liu pergi, setelah kita berhasil membekuk buronan 'kakap' itu, kau pun mendapat sebagian pahala."
Berkata Boh Cong-tiu tawar.
"Aku tidak mau terima jasa tidak mau mendapat pangkat. Kaitan jangan kuatir, jasa apapun akan menjadi milik kalian sendiri, aku orang she Boh pasti tidak minta bagian."
"Memangnya apa yang kau inginkan?"
Tanya Cong Sin-liong.
"Cong-susiok kan orang cerdik, masakah jalan pikiranku dapat mengelabui kau."
"Oh, ya, semakin tua semakin goblok aku ini, benar, kau ingin menjadi ciangbun Hu-siang-pay, benar tidak?"
"Aku hanya ingin menjunjung perguruan dan mengembangkan ajaran silat. Kini jabatan ciangbun kena dicaplok oleh budak cilik yang tidak tahu urusan, Cong susiok, kukira kau pun tidak terima bukan?"
"Baik, kau bantu kesulitanku, pastilah aku akan bantu kepen-tinganmu. Cuma di hadapan Pakkiong tayjin..."
"Sudah tentu aku bantu bicara demi kepentingan kalian, akan kusampaikan bakti kalian terhadapnya. Dan lagi akan kujelaskan bahwa jasa-jasa baik kali ini adalah berkat kerja berat kalian berdua saja."
"Bicara terus terang,"
Demikian Ciok Tio-ki berkata.
"Pakkiong Tayjin rada salah paham terhadapku. Boh-heng, mendapat bantuanmu yang amat berharga sungguh aku orang she Ciok berhutang budi kepadamu."
"Orang sendiri kenapa harus main sungkan segala. Kelak aku pun pasti mohon bantuan kalian."
"Ya, ya, kalau begitu silakan kalian paman dan keponakan berunding lebih masak. Di mana memerlukan tenagaku, aku orang she Ciok pasti tidak akan menolak."
"Menurut apa yang kutahu,"
Ujar Cong Sin-liong.
"Hu-siang-pay pasti akan mengutus orang menyampaikan selamat ulang tahun kepada Ong Thian-thong."
"Siapa yang akan datang?"
"Ciok Heng suami isteri!"
"Boh Cong-tiu mendengus hina, katanya.
"Apa Ciok Heng dan Siang Ceng? Hm, suami istri ini semula adalah pembantuku, tak nyana pada pertemuan besar di Thay-san tempo hari, mereka menghianati aku."
"Kau tidak perlu marah, juga tidak perlu muncul. Dengan alasan mencuci bersih nama baik perguruan, biar nanti kubereskan mereka sekalian."
"Budak itu menyuruh aku menjadi Jan-bau-tong Tongcu segala, murid-murid baru dari perguruan kita sebagian besar adalah murid didikku sendiri, tidak berbeda sebagai pengikutku juga. Tapi enam suheng yang tingkatannya lebih tinggi, cuma Ciok Heng dan Siang Ceng yang terang gamblang menentang aku, empat suheng lainnya, entah susiok bisa menarik dua di antara mereka tidak?"
"Jangan kuatir, bicara terus terang, dua di antaranya semula karena terpaksa baru mau ikut padamu, tapi secara diam-diam ada hubungan dengan aku. Sekarang kita sama-sama dalam satu barisan, sudah tentu akan kusuruh mereka menjunjungmu."
"Bagus, kalau begitu aku lebih yakin. Tapi di saat aku merebut jabatan ciangbun ini lebih baik susiok jangan ikut campur."
"Aku tahu. Kau masih harus menempatkan diri di dalam golongan orang-orang yang menamakan diri sebagai pendekar, sudah tentu kau tidak akan bergabung secara terang-terangan. Tapi dengan alasan apa kau hendak merebut kedudukan ciangbun budak busuk itu?"
"Di karesidenan Sam-ho aku pernah bertemu dengan Beng Goan-cau, kini dia sedang dalam perjalanan ke selatan, budak busuk itu terang mencari jejaknya, mungkin sekarang seperjalanan. Bukankah Beng Goan-cau pun salah seorang buronan kerajaan?"
Ciok Tio-ki paham, katanya.
"Baik, soal ini serahkan kepadaku. Biar kusuruh orang mencari jejak mereka, sekaligus meringkus budak busuk itu, maka kau pun tidak perlu memeras otak untuk kedudukannya segala."
"Seumpama tidak berhasil meringkusnya, cukup asal orang-orangmu bentrok dengan mereka, aku sudah punya cukup alasan. Malah mungkin tidak perlu aku sendiri yang turun tangan."
"Betul. Hu-siang-pay mendirikan pangkalan mengembangkan ajaran silat perguruan kita, bukan mencampuri politik kerajaan. Budak itu hubungan begitu intim dengan buronan, bukankah merugikan nama baik dan kepentingan Hu-siang-pay kita? Kalau urusan sudah terlanjur, cukup salah seorang murid dari perguruan kita, pasti dapat menumbangkan kedudukannya."
"Ya, pasti akan ada orang yang menumbangkan kedudukannya itu. Tapi pasti juga ada orang yang menentangnya,"
Demikian Ciok Tio-ki memperingatkan.
"Kalau begitu terpaksa aku harus suruh mereka mendirikan perguruan lain,"
Ujar Boh Cong-tiu.
"Baik, orang-orang yang kau usir dari Hu-siang-pay itu aku bisa bantu kau untuk memberantasnya satu persatu,"
Kata Ciok Tio-ki bergelak tertawa. Semakin giris bulu kuduk Lim Bu-siang, batinnya.
"Untunglah secara kebetulan aku memergoki pertemuan mereka di sini, sehingga aku mendengar tipu daya mereka yang keji dan telengas itu."
Mereka bertiga berbareng berka-kakan, kata Boh Cong-tiu sesaat kemudian.
"Cong-susiok, Ciok-tayjin, terima kasih akan janji bantuan kalian. Biar sekarang kuucapkan terima kasihku lebih dulu."
"Bantuan yang kau berikan kepada kami pun tidak kecil artinya, oh, ya, aku punya sebuah kabar baik yang belum sempat kuberitahu kepada Lo-siansing."
"Kabar baik apa?"
Tanya Cong Sin-liong.
"Bukankah semalam kau mengundang Han Bing untuk bertemu?"
Boh Cong-tiu bertanya.
"Benar, dari mana kau bisa tahu? Tapi sampai sekarang dia belum muncul juga."
"Han Bing hendak membocorkan rahasiamu kepada Lau Khong, semalam sudah berhasil kulukai."
Lalu Boh Cong-tiu menceritakan kejadian di Ji-cap-si-kio semalam kepada Cong Sin-liong. Kata Cong Sin-liong.
"Kemarin waktu meninggalkan rumah makan itu, Han Bing tidak mau berangkat bersama kami, aku sudah timbul curiga, ternyata dia mengingkari janjinya terhadapku. Hm, kalau begitu seharusnya kau bunuh dia untuk menutup mulutnya."
"Dia memang sudah mati! Meski tidak mati seketika setelah kena sambitan panah dahan pohonku, sebelum ajal kukira dia tidak akan kuasa buka mulut lagi."
"Kau sudah tahu betul dia sudah mati?"
Cong Sin-liong menegas.
"Lau Khong mengantar peti jenazah ke rumah langganan garam ayali mertua Han Bing di kota Yangciu ini, orang-orang kita sudah memeriksa sendiri peti jenazah itu, pasti tidak akan salah."
"Bagaimana dengan Lau Khong?"
"Satu jam yang lalu dia sudah meninggalkan Yangciu sambil membawa peti jenazah itu kembali ke Tiang-loh."
"Bagus, kalau begitu lawan-lawan kita hari ini rada enteng. Tapi urusan menjadi kurang leluasa tanpa adanya Han Bing, tiada orang perantara untuk memberi selamat kepada Ong Thian-thong."
"Kau tidak perlu kuatir, aku sudah mencarikan perantara lain, malah jauh lebih cocok dibanding Han Bing,"
Ujar Ciok Tio-ki sambil tertawa penuh arti.
"Siapa orang yang kau maksud?"
"Setelah berada di rumah keluarga Ong, kau akan tahu sendiri."
"Tapi masih ada urusan yang belum bisa kita selesaikan,"
Ujar Boh Cong-tiu memperingatkan.
"Lau Khong itu pun perlu dibunuh untuk menutup mulutnya."
"Baik, akan kusuruh Ngo Hong, Gui Khing, Kim Toa-king dan Sebun Hou berempat mengejar dan membunuhnya."
"Kepandaian Lau Khong cukup tinggi, apakah Ngo Hong berempat mampu membunuhnya?"
Boh Cong-tiu menyangsikan.
"Aku sendiri pernah menjajal kepandaian Lau Khong, dalam seratus jurus Gui Khing pasti kuat bertahan melawan dia, tiga orang yang lain masing-masing membe-kal kepandaian tunggal, secara keroyokan pasti dapat mengalahkannya,"
Cong Sin-liong menjelaskan. Kata Ciok Tio-ki.
"Kalau begitu Gui Khing harus cepat-cepat diserahi tugas ini. Eh, kenapa dia belum datang juga?"
Baru saja kata-kata Ciok Tio-ki selesai, tampak Gui Khing tengah mendatangi sambil berlari-lari kecil dengan muka gugup. Cong Sin-liong kaget, tanyanya dari kejauhan.
"Gui Khing, kenapa kau?"
Berbareng Boh Cong-tiu pun bertanya.
"Siapa yang kau temukan di sana?"
"Dalam gedung pemujaan tiada orang. Hehe, tapi sudah kulihatnya, mereka berlari ke arah sini!"
"Di mana mereka?"
Bentak Cong Sin-liong.
"Besar benar nyalinya, siapa mereka?"
"Seorang laki-laki dan seorang perempuan!"
Gui Khing menjawab pertanyaan Ciok Tio-ki lebih dulu lalu memberi tanda lirikan kepada Cong Sin-liong dan Boh Cong-tiu. Seketika Boh Cong-tiu paham, katanya.
"Susiok tidak usah ribut, kawan baik kalau toh sudah datang, cepat atau lambat toh akan bertemu juga. Kita pasti akan menerimanya pula dengan adat kesopanan. Hehe kawan, silakan kalian keluar sendiri!"
Gui Khing berdiri di atas batu nisan menjaga jalan ke bawah gunung, matanya menjelajah keempat penjuru, serunya lantang.
"Betul, kawan, silakan keluar! Lari, jelas tidak akan mampu lolos, memangnya kalian ingin kami Seret keluar?"
Lim Bu-siang ragu-ragu, pikirnya.
"Setelah kita keluar baru dia masuk, cara bagaimana jejak kami diketahui olehnya? Mendengar nada bicaranya, seolah-olah sudah mengetahui jejak persembunyian kami?"
Sebaliknya sebagai kawakan kangouw, semula Beng Goan-cau memang terkejut, tapi cepat sekali dia lantas berpikir.
"Hm, mereka hanya gembar-gembor menggertak saja agaknya memang sudah menemukan jejak orang lain yang mencurigakan, tapi toh belum mendapat kepastian apakah benar kami bersembunyi di sini."
Dugaan Beng Goan-cau memang tidak meleset.
Ternyata waktu beranjak masuk ke dalam gedung pemujaan, sekali-kali tidak pernah terpikir oleh Beng dan Lim untuk menyembunyikan diri dari bentrokan dengan musuh, maka mereka berjalan seperti biasanya, tidak mengembangkan ilmu ringan tubuhnya.
Undak-undakan batu yang berlumut dan basah oleh air hujan, meninggalkan tapak kaki mereka.
Gui Khing pun seorang kelana kangouw yang berpengalaman, orangnya cukup cerdik dan cermat lagi, dengan jelas ia dapat membedakan besar kecil tapak kaki orang, terang itulah tapak kaki seorang perempuan.
Arah tapak kaki menjurus ke dalam dan berjalan ke luar secara diamdiam ke pintu belakang.
Tapi di belakang pintu tiada tapak kaki, maka' ia menduga kedua orang ini pasti memiliki ginkang yang cukup tinggi.
Pintu belakang menembus ke hutan Siong, maka segera ia berani memastikan, bahwa kedua orang ini pasti sembunyi di sini mencuri dengar pembicaraan mereka.
Lim Bu-siang sedang bimbang, apakah keluar atau tetap sembunyi di tempatnya menunggu perkembangan selanjutnya, didengarnya Boh Cong-tiu tiba-tiba tertawa dingin, jengeknya.
"Lim Bu-siang, kita adalah saudara misan, memangnya kau sudah takut bertemu dengan piaukomu? Lekas keluar bersama Beng Goan-cau!"
Seruan Boh Cong-tiu ini hanya coba-coba saja, sebetulnya dia sendiri belum yakin bahwa kedua orang itu pasti adalah Bu-siang dan Goan-cau.
Soalnya Gui Khing mengatakan laki dan perempuan, sehingga menimbulkan rasa curiganya saja.
Beng Goan-cau amat kuatir.
"Bu-siang, jangan begitu gampang kau kena ditipu oleh mereka!"
Sayang kata-katanya ini tidak bisa dia sampaikan kepada Lim Bu-siang. Belum hilang kekuatirannya, terdengar suara Lim Bu-siang sudah berteriak.
"Memang, inilah aku! Aku hanya seorang diri!"
Begitu melompat turun dari pucuk pohon, Lim Bu-siang lantas berlari bagai terbang.
Arah larinya berlawanan dengan tempat persembunyian Beng Goan-cau.
Ternyata dia ingin mengandal kemahiran ginkangnya hendak memancing musuh-musuh tangguh ini.
Sayang pengalaman kangouw-nya terlalu cetek, kata-kata "Aku hanya sendirian!"
Secara tidak langsung sudah memberi tahu kepada musuh bahwa ada orang lain pula yang sembunyi di situ, kelihatanlah belangnya.
Kejadian berlangsung amat cepat, bagai anak panah yang melesat dari busurnya Coh Thianhiong yang berada di dalam hutan segera mengejar dengan kencang.
Demikian juga bagai bayangan mengikuti bentuknya, Boh Cong-tiu ikut mengejar dengan kencang.
Cong Sin-liong juga akan mengejar, cepat Ciok Tio-ki berseru.
"Jangan kena tipu budak busuk itu, pasti masih ada orang lain!"
Sembari lari Boh Cong-tiu berseru.
"Betul, lekas kalian mengge-bah Beng Goan-cau keluar. Budak ini sudah di sini, memangnya Beng Goan-cau mau ketinggalan?"
Belum kata-katanya selesai diucapkan, Beng Goan-cau betul-betul sudah unjukkan diri.
"Nih Beng Goan-cau berada di sini, memangnya mata kalian sudah buta?"
N Tatkala itu jarak Gui Khing paling dekat dengan Beng Goan-cau, dengan membelakanginya, sebetulnya Beng Goan-cau bisa menyerangnya secara mendadak dan merobohkannya.
Tapi sebagai seorang ksatria, Beng Goan-cau tidak mau kehilangan muka dengan cara membokong, maka ia bersuara lebih dulu lalu menubruk ke arahnya.
Dengan bersuara itu, maka kesempatan yang baik sudah dia abaikan demikian saja.
Ilmu silat Gui Khing tidak lemah, begitu mendengar sambaran golok di belakang kepalanya, bandulan rantainya segera terayun ke belakang menangkis.
Benturan kedua senjata memercikkan kembang api.
Gui Khing tersuruk maju sempoyongan beberapa langkah, meski gentayangan tapi dia tidak sampai roboh.
"Aku ini orang buronan, kalian boleh menangkap aku saja!"
Bentak Beng Goan-cau sambil menyerang pula. Ciok Tio-ki bergelak tertawa.
"Bagus, hari ini biar kita tentukan siapa betina siapa jantan!"
Tatkala itu Coh Thian-hiong sudah tidak kelihatan, sementara Boh Cong-tiu masih ketinggalan beberapa langkah, kebetulan ia berpaling memandang ke arah Beng Goan-cau. Beng Goan-cau segera membentak.
"Boh Cong-tiu, kau manusia rendah hina dina ini! Kalau berani ayo kembali duel dengan aku, aku tidak takut kalian keroyok bersama!"
Cong Sin-liong berteriak.
"Bocah she Beng ini jelas tidak akan bisa lolos, kalian boleh legakan hati mengejar budak cilik itu!"
Boh Cong-tiu jadi sadar, pikirnya.
"Walau Beng Goan-cau seorang buronan, tapi hubungan budak ini jauh penting bagi diriku."
Segera ia terbahak-bahak, serunya.
"Memangnya Boh Cong-tiu suka main keroyok, masih banyak kesempatan untuk berduel dengan aku. Silakan kau minta petunjuk kepandaian Ciok Tayjin dulu."
Mulut bicara, kaki tidak berhenti berlari, sekejap saja ia sudah berlari jauh dan tidak kelihatan lagi.
Ciok Tio-ki tarikan sepasang Boan-koan-pitnya naik turun, beberapa jurus sudah ia melabrak Beng Goan-cau.
Cong Sin-liong dengan kalem menghampiri gelanggang, katanya sinis.
"Aku mendapat perintah untuk membekuk buronan, tidak perlu harus mematuhi aturan kangouw segala!"
Pedang segera dilolos, dengan jurus San-hoan-tau-gwat (tiga gelang tergantung di atas rembulan), ia menusuk hiat-to besar di belakang punggung Beng Goan-cau.
Tajam pedangnya mengiris turun sambil dipelintir, sementara gagang pedangnya ia tusukkan ke Ih-gi-hiat di pinggang orang.
Golok cepat Beng Goan-cau bagai sambaran kilat, tanpa berpaling.
"Sret, sret sret"
Tiga bacokan berantai ia menyerang balik ke belakang, sekaligus memunahkan sejurus tiga tipu serangan pedang Cong Sin-liong.
Waktu golok menyambar pula ke depan masih sempat mengetuk minggir sepasang boan-koan-pit Ciok Tio-ki.
Melihat ada kesempatan, sebat sekali Cong Sin-liong menukikkan ujung pedangnya ke bawah dengan jurus Bing-tho-jian-Ii, yang ditusuk adalah tumit kaki Beng Goan-cau.
Ternyata Beng Goan-cau biarkan saja serangan orang, mendadak ia menghardik bagai geledek mengguntur, goloknya terayun membacok turun.
Cong Sin-liong sedang menekuk pinggang menyerang kakinya, sehingga orang dapat balas menyerang dari atas ke bawah dengan leluasa, kalau bacokan ini mengenai sasarannya, bukan mustahil batok kepalanya terbelah menjadi dua?
Sebetulnya tusukan Cong Sin-liong bisa mengenai sasarannya lebih dulu, tapi berani ia menempuh resiko besar ini?
Terpaksa ia cepat-cepat merubah permainannya, ujung pedangnya terjungkit naik, dengan jurus Ya-poan-hong-yam, ia sanggah golok pusaka Beng Goan-cau.
Tidak menanti serangannya selesai dilancarkan, tajam goloknya mendadak menggelincir miring terus berputar balik, sementara totokan sepasang boan-koan-pit Ciok Tio-ki sudah hampir mengenai sasaran, lekas Beng Goan-cau gunakan jurus Heng-hun-toan-hong, ia mendesak maju malah, menusuk lambung lawan.
Serangan ini mengincar sasaran telak yang membuat lawan harus menyelamatkan jiwa sendiri sebelum berhasil melukai musuh, memang Ciok Tio-ki dipaksa untuk menarik mundur kedua senjatanya untuk menyelamatkan diri lebih dulu.
Cong Sin-liong berseru.
"Bocah keparat ini hendak adu jiwa, mari kita kuras habis tenaganya."
"Setuju, memangnya dia mampu lolos terbang dari telapak tangan kita!"
Dinilai dari tingkat kepandaian kedua pihak, bila sama-sama mencurahkan kepandaian, jelas Beng Goan-cau setingkat lebih unggul dari Ciok Tio-ki, paling-paling hanya setanding lawan Cong Sin-liong.
Untung mereka tidak berani adu jiwa, maka dalam waktu singkat terang tidak mudah mengambil kemenangan.
Tapi Beng Goan-cau sendiri pun tidak akan mudah untuk menjebol keroyokan mereka berdua.
Cong Sin-liong menggunakan ilmu pedang yang dilandasi kekuatan lemah untuk menundukkan kekerasan, rangsak-an golok cepat Beng Goan-cau yang hebat dan kuat itu semua berhasil dipunahkan dengan baik.
Lambat laun ia merasa tenaga terkuras habis.
Semula Gui Khing pernah menjadi begal besar, selama hidupnya entah berapa kali pernah mengalami pertempuran sengit mengadu jiwa, tapi kapan pernah melihat pertempuran adu jiwa yang sengit dan seru seperti ini, jantungnya terasa hampir melonjak keluar dari rongga dadanya, bandulan rantainya hanya ditenteng saja berdiri di luar kalangan tanpa berani maju membantu.
"Gui Khing, tenagamu tidak diperlukan di sini,"
Seru Cong Sin-liong.
"Lekas pulang, ajaklah Ngo Hong dan lain mengejar dan bunuh Lau Khong. Dia mengawal peti jenazah, jalannya tentu tidak cepat. Kalian pasti dapat mengejarnya."
Perintah ini amat kebetulan malah bagi Gui Khing, tanpa diperintah kedua kalinya, segera ia berlari pergi sambil mengiakan. Ciok Tio-ki tertawa dingin, ejeknya.
"Kakap gede itu belum lagi terjaring, kini berhasil meringkus seorang buronan lebih dulu, pahalanya tidak kecil juga. Lau Khong pun seorang Hiangcu dari Thiante-hwe, semoga Gui Khing beramai berhasil meringkusnya hidup-hidup, manfaatnya tentu lebih besar."
"Satu lawan empat, kukira Lau Khong pun tidak akan dapat melarikan diri. He, he, seorang buronan ditambah seorang Hiang-cu dari Thian-te-hwe, kukira nilainya tentu lebih berharga dari 'kakap gede' yang kita incar itu."
Mendengar percakapan mereka, seolah-olah sudah anggap dirinya ikan dalam jaringan, Beng Goan-cau menjadi murka, dampratnya.
"Orang she Beng hanya punya satu jiwa, kalau ingin yang mati ada, dan akan kuberikan, kalau ingin yang hidup, jangan harapkan."
Dengan sejurus Ya-canpat-hong, sinar goloknya memantul ke empat penjuru. Batinnya.
"Aku dapat ajal di pekuburan Su Khek-hwat, mati pun tidak perlu menyesal. Semoga Bu-siang berhasil meloloskan diri."
Lim Bu-siang berlari bagai terbang, melihat yang mengejar di belakangnya cuma Coh Thianhiong dan Boh Cong-tiu saja, ia rada kecewa.
Tapi dia tidak tahu bahwa Beng Goan-cau sudah terkepung, maka ia berpikir kepandaian kedua orang ini paling tinggi, dapat memancing mereka pergi, berarti memberi kesempatan Beng Goan-cau melarikan diri.
Maka tanpa menoleh lagi ia berlari semakin kencang, ia berharap dapat memancing mereka semakin jauh.
Dari kejauhan Boh Cong-tiu berseru.
"Bu-siang aku tidak akan bikin susah padamu, kami piauheng-moay lebih baik bicara damai saja."
Jengkel dan dongkol pula hati Lim Bu-siang, diam-diam hatinya bersedih, katanya.
"Siapa bilang aku punya piauko, piaukoku sudah mati."
Boh Cong-tiu menyengir tawa, katanya.
"Kau tidak punya piauko, memangnya siapa aku ini!"
Kata Lim Bu-siang kertak gigi.
"Kau adalah sampah perguruan kita, di antara kita sudah tiada ikatan dan tidak perlu bicara soal kekeluargaan segala."
Ginkang Coh Thian-hiong tidak lebih rendah dari Lim Bu-siang.
Karena hati tidak tenteram, membuka suara lagi sehingga gerak langkahnya sedikit lambat.
Coh Thian-hiong kembangkan Patpoh-kan-sian, tanpa ganti napas ia tancap gas mengejar tiba di belakang Lim Bu-siang.
Merasakan sambaran angin dari belakang, kontan Lim Bu-siang lancarkan sejurus serangan pedang membalik ke belakang.
Insyaf akan kelihayan musuh, maka jurus serangan ini ia gunakan ilmu pedang yang berhasil dia pelajari di dinding dalam gua di puncak Thay-san itu, ajaran tunggal dari ciptaan cikal bakal perguruan sendiri, yaitu Cosu Jan-bau-khek.
Sayang Coh Thian-hiong terlalu pandang ringan, dianggapnya nona cilik yang masih muda belia, betapa tinggi sih kepandaiannya, begitu mengejar tiba di belakang orang, tanpa kuatir sedikit pun dengan gegabah lantas ia ulur tangan mencengkeram ke tulang pundaknya.
Tak nyana, tiba-tiba terasa sinar pedang kemilau menyilaukan mata, tahu-tahu sambaran pedang Lim Bu-siang yang menyerang membalik itu sudah menusuk datang dari arah yang tidak terduga sebelumnya.
Terdengar "Cras", di mana sinar golok menyambar, gelungan rambut ubanan Coh Thian-hiong terpa-pas rontok beterbangan sebatas ujung akarnya.
Tapi baju Lim Bu-siang kena tercakar sobek sebagian juga oleh cengkeraman jarinya.
Kedua pihak sama kaget, begitu merasa kepala silir dan dingin, rasa terkejut Coh Thian-hiong lebih besar.
Gebrakan kali ini, kedua pihak boleh dikata menyerempet marabahaya.
Di saat pedang Lim Bu-siang berhasil memapas rontok rambut Coh Thian-hiong, kebetulan pula jari-jari Coh Thian-hiong berhasil mencakar sobek baju Lim Bu-siang, waktunya hanya terpaut seperseratus detik.
Kalau Coh Thian-hiong tidak terkejut lebih dulu, pastilah cengkeramannya itu berhasil meremukkan tulang pundaknya, demikian pula bila Lim Busiang tidak dibuat kaget, pedangnya pasti sudah berhasil mengurungi batok kepalanya.
Kejadian berlangsung teramat cepat, tahu-tahu Lim Bu-siang sudah melancarkan tusukan pedang pula.
Bagai terbang Boh Cong-tiu sudah menyusul tiba, serunya.
"Menuju ke Kan-bun, putar ke Sian-wi, serang bagian bawahnya!"
Coh Thian-hiong berbuat menurut petunjuknya ini, betul juga dengan mudah ia memunahkan serangan pedang Bu-siang. Bu-siang terkejut, pikirnya.
"Bagaimana mungkin dia pun tahu akan ilmu tunggal ciptaan Cosu yang sudah putus turunan itu ?"
Ternyata Boh Cong-tiu memang berotak encer, sejak pertandingan pedang dan dikalahkan oleh Lim Bu-siang di puncak Thay-san dulu, setiap waktu senggang ia membayangkan kembali gerakan jurus-jurus permainan ilmu pedang yang dilancarkan Lim Bu-siang, lalu mendalami serta dianalisa satu persatu, akhirnya berhasil juga ia temukan beberapa jurus ilmu pedang pemunahnya.
Tapi yang dapat diselaminya paling-paling adalah beberapa jurus ilmu pedang yang pernah dimainkan oleh Lim Bu-siang saja.
Masih banyak jurus-jurus lain yang lebih hebat dan menakjubkan yang belum pernah dia lihat, maka tidak mungkin ia bisa mempelajarinya menyeluruh.
Berkata Boh Cong-tiu tertawa.
"Kau tidak mengakui aku sebagai piaukomu, buat aku tidak menjadi soal. Kita sama-sama adalah murid dari Hu-siang-pay, ilmu pedang 'tunggal ciptaan Cosuya, marilah kita pelajari dan praktekkan bersama, masing-masing pihak tentu memperoleh manfaatnya."
Mulut bicara langkah kakinya dipercepat, sekejap saja pasti ia sudah menyusul datang.
Lim Bu-siang tahu sekali musuh berkesempatan bergabung, dirinya pasti tidak akan mampu melarikan diri pula.
Segera ia lancarkan jurus serangan pedang kilat, ketiga jurus serangan ini, belum pernah dilihat semua oleh Boh Cong-tiu.
Sesuai dengan nama julukan Thong-thian-hou, watak Coh Thian-hiong ini memang licin, demikian pula gerak geriknya tangkas dan lincah, kepandaian sejatinya memang di atas Lim Bu-siang, mengandal bekal ilmu silatnya, ia hadapi tiga serangan berantai yang hebat ini.
Walau kena terdesak oleh Lim Bu-siang, namun Lim Bu-siang pun tidak berhasil melukai lawan.
Kejap lain Lim Bu-siang sudah berkesempatan lari pula.
Coh Thian-hiong tidak tahu bahwa Boh Cong-tiu hanya mengenal kulitnya saja akan ilmu pedang Lim Bu-siang, dia anggap Boh Cong-tiu sengaja hendak membuat dirinya serba runyam, maka tiga serangan terakhir ini dia tidak memberi petunjuk untuk mengatasinya.
Sebagai tokoh silat yang tenar, berkedudukan tinggi pula, kini rambutnya yang sudah ubanan kena digunduli oleh seorang lawan nona cilik yang begitu muda, keruan malu dan gusar pula dibuatnya, saking marah dan penasaran, ia berpikir.
"Ilmu pedang budak ini memang rada aneh, asal aku tidak pandang ringan, pastilah tidak semudah itu dikalahkan. Hm, Boh Cong-tiu sengaja hendak membikin malu diriku, aku pun tidak sudi minta bantuannya, setelah aku berhasil meringkusnya, kalau dia ingin merebut kedudukan ciangbunnya, biar dia minta kepadaku!"
Ginkang Coh Thian-hiong dan Lim Bu-siang memang setanding, tapi jauh lebih tinggi dari Boh Cong-tiu.
Selanjutnya Coh Thian-hiong tidak berniat merintangi, begitu Lim Bu-siang lari, dia hanya mengejar dengan kencang, sekejap saja Boh Cong-tiu kembali ketinggalan jauh di belakang.
Jarak Boh Cong-tiu semakin jauh, diam-diam hatinya jadi masgul dan uring-uringan, tahu dirinya tidak akan bisa mengejar kedua orang itu, ia lalu berpikir.
"Rase tua ini kuatir aku merebut pahalanya, ataukah hendak memeras aku setelah berhasil membekuk budak itu? Pahala aku tidak perlu minta bagian, hendak memeras aku pun jangan harap. Tapi kukejar terus pun tiada gunanya. Entah Cong Sin-liong bertiga berhasil tidak membekuk Beng Goan-cau, lebih baik aku putar balik saja melihat keadaan mereka. Kalau mereka masih bertempur, aku masih sempat bantu mereka. Cong Sin-liong dan Ciok Tio-ki setujuan dan sehaluan dengan aku. Bila berhasil meringkus Beng Goan-cau, aku bisa ajak mereka berunding cara bagaimana untuk menghadapi rase tua ini."
Sedang ia uring-uringan dan belum lagi berkeputusan, tiba-tiba didengarnya ada orang berteriak kepadanya.
"Boh-heng, ternyata kau berada di sini!"
Begitu mendengar suara orang ini, kaget Boh Cong-tiu bukan kepalang, pikirnya.
"Kalau dia sampai ketemu budak busuk itu, urusan pasti celaka!"
Ternyata pendatang yang memanggilnya ini bukan lain adalah Kim Tiok-liu, tokoh kosen yang diakui sebagai jago silat kelas wahid di seluruh ja-gad.
Orang yang jalan berjajar adu pundak sama Kim Tiok-liu adalah laki-laki berbadan kekar tinggi dan gagah.
Berdebur jantung Boh Cong-tiu, namun lahirnya bersikap wajar, sapanya.
"Kim-heng, bukankah kau hendak ke rumah keluarga Ong . untuk menyampaikan selamat ulang tahun? Kawan ini adalah..."
Kim Tiok-liu tertawa, katanya.
"Biar kuberi tahu, kawan ini adalah Leng-toako yang datang dari Siau-kim-jwan, jangan kau beritahukan kepada orang luar lho!"
Kejut Boh Cong-tiu lebih besar pula, ternyata 'kakap' gede yang harus mereka ringkus sesuai dengan perintah Pakkiong Bong dan Sat Hok-ting itu, sebelumnya memang sudah diketahui sebagai buronan yang datang dari Siau-kim-jwan, tapi ia tidak tahu bahwa buronan atau kakap gede yang di ncar itu adalah Leng-toako ini.
Di dalam laskar gerilya di Siau-kim-jwan ada dua pemimpin tinggi yang amat penting berkedudukan sejajar, kedua orang ini adalah Siau Ci-wan dan Leng Thiat-jiau.
Orang yang bisa bersama Kim Tiok-liu dan dihormati sebagai Leng-toako, sudah tentu orang itu adalah Leng Thiatjiau.
Berkatalah Kim Tiok-liu.
"Leng-toako tidak ingin muncul terlalu pagi di rumah keluarga Ong, maka dia minta aku mengiringi dia main-main dulu di tanah perkuburan Su Khek-hwat yang termasyhur itu."
Melihat orang tidak menyinggung Lim Bu-siang, berpikir Boh Cong-tiu.
"Kalau dia sudah bertemu dengan Lim Bu-siang, pastilah sikapnya sekarang tidak akan seriang seperti ini."
Tiba-tiba tergerak hatinya, katanya.
"Aku memang datang dari Su-kong-se sana, sebetulnya aku harus ikut bersama kalian, sayang aku kebentur urusan penting yang perlu segera kuse-lesaikan."
"Ya, aku memang ingin tanya, waktu kami datang tadi, dari kejauhan terdengar beradunya senjata, apakah ada orang sedang berkelahi di sana?"
Tanya Kim Tiok-liu. Memang Boh Cong-tiu sedang menunggu pertanyaan ini, segera ia menjawab.
"Benar, aku dan sumoay Bu-siang tadi kepergok dengan beberapa kawanan anjing alap-alap, beruntung dia berhasil lolos tapi ada beberapa orang yang mengejarnya."
"Wah, kenapa tidak kau katakan sejak tadi?"
Seru Kim Tiok-liu prihatin.
"Siapa saja kawanan anjing alap-alap itu? Kenapa hendak menangkap dia?"
"Aku hanya kenal satu di antaranya yang bernama Ciok Tio-ki, seorang lagi adalah Cong Sinliong. Mereka menuduh Bu-siang ada sekongkol dengan Beng Goan-cau yang menjadi buronan itu."
Sebetulnya Kim Tiok-liu masih ada beberapa pertanyaan yang disangsikan, tapi sudah tidak sempat bertanya lebih lanjut, katanya.
"Ilmu silat kedua orang ini tidak lemah, sekali-kali kami tidak bisa membiarkan Bu-siang terjatuh ke tangan mereka, ke arah mana mereka lari?"
Sahut Boh Cong-tiu sambil menuding.
"Ke arah sana!"
Arah yang ditunjuk justru berlawanan dengan arah lari Lim Bu-siang.
"Baik, mari sekarang kau bersamaku menyusulnya! Leng-toako, sementara kau tidak usah unjuk diri, pergilah kau ke Su-kong-se menunggu teman itu, sebentar aku menyusul ke sana."
Dugaan Boh Cong-tiu memang tidak meleset, Leng-toako yang datang dari Siau-kim-jwan ini memang bukan lain adalah pimpinan laskar gerilya Leng Thiat-jiau adanya.
Ia tahu sampai di mana kepandaian Kim Tiok-liu, meskipun kepandaian Cong Sin-liong dan Ciok Tio-ki tidak lemah, rasanya Kim Tiok-liu masih cukup berkelebihan menghadapi mereka, apalagi masih ada Boh Congtiu yang bisa memberikan bantuan juga, maka tidak perlu ia ikut mencampuri, katanya sambil manggut-manggut.
"Silakan kalian lekas menyusul ke sana!"
Tanpa ambil perhatian lagi, dengan lega ia langsung berlari ke arah Su-kong-se. Kalau Leng Thiat-jiau tidak ambil perhatian, adalah Boh Cong-tiu menjadi gugup dan gelisah dibuatnya, pikirnya.
"Semoga Cong Sin-liong dan Ciok Tio-ki sudah berhasil membekuk Beng Goan-cau, kalau tidak bila sampai kepergok oleh orang she Leng ini, pasti celakalah mereka. Kepandaian Cong dan Ciok berdua sebetulnya tidak lebih asor dari Beng Goan-cau, dengan dua lawan satu berselang sekian lamaanya, tentulah mereka sudah berhasil meringkusnya dan meninggalkan tempat itu."
Demikian pikir Boh Cong-tiu menghibur diri. Sementara lahirnya tetap bersikap wajar sembari berlari ia berkata.
"Ginkangku tidak berhasil menyusul sumoay, kawanan anjing alap-alap itu menunggang kuda mengejar Bu-siang!"
Kim Tiok-liu rada gelisah katanya.
"Baiklah, biar kususul lebih dulu, segera kau menyusul ke sana."
Melihat Kim Tiok-liu kena ditipunya, legalah hati Boh Cong-tiu, dalam hati ia tertawa geli pikirnya.
"Bila kau sadar bahwa aku menipu kau, aku sudah tidak perlu takut bermusuhan dengan kau."
Tapi Boh Cong-tiu tidak berani langsung kembali ke Su-kong-se, pertama ia kuatir Kim Tiok-liu berpaling melihat dirinya, kedua ia kuatir Cong dan Ciok sudah meninggalkan tempat itu, kalau dia kembali ke Su-kong-se kepergok oleh Leng Thiat-jiau, bukankah terbongkar omongan bohongnya?
Ia sendiri belum yakin dirinya pasti dapat mengalahkan Leng Thiat-jiau satu lawan satu.
Kalut dan gundah pikiran Boh Cong-tiu, setelah memeras otak sekian lamanya, akhirnya terpikir olehnya suatu akal, kalau toh tidak kembali ke Su-kong-se dan tidak mengejar jejak Kim Tiok-liu lebih baik langsung masuk kota menuju ke rumah Ong Thian-thong .menyampaikan selamat ulang tahun kepadanya.
Perhitungan Boh Cong-tiu memang terlalu muluk, pikirnya.
"Tiok-liu mengejar ke arah yang berlawanan, jelas dia tidak akan bertemu dengan Bu-siang. Sedang Beng Goan-cau dan Lim Busiang yang tahu ada perangkap di rumah Ong Thian-thong pasti hadir dalam perjamuan ulang tahun itu. Seumpama Tiok-liu akhirnya kembali dan menyusul ke rumah keluarga Ong, aku bisa mencari alasan, kukira omongan bohongku tidak selekas itu bisa diketahui olehnya. Bukan mustahil karena tidak berhasil menemukan jejak. Bu-siang dia mencari ke mana-mana sampai kehabisan waktu, hari ini mungkin tidak hadir dalam perjamuan. Tapi Leng Thiat-jiau melihat dia belum pulang, tentu akan berangkat lebih dulu. Tatkala itu, biarlah Ciok Tio-ki dan Cong Sin-liong berdua yang menghadapinya, hakikatya aku boleh tidak usah mengunjukkan diri."
Tapi analisanya ini masih merupakan spekulasi, yaitu di waktu Leng Thiat-jiau tiba di Su-kongse, Cong dan Ciok berdua sudah berhasil membekuk Beng Goan-cau, sudah meninggalkan Sukong-se atau Beng Goan-cau sudah melarikan diri, Cong dan Ciok pergi mengejar.
Pendek kata jangan sampai LengThiat-jiau dan Beng Goan-cau bertemu di Su-kong-se.
Sudah tentu ini merupakan satu pertaruhan, cuma di dalam jalan pikirannya, mengandal kepandaian Cong dan Ciok berdua mengeroyok Beng Goan-cau, jelas pasti menang dengan gampang, malah tidak perlu memakan waktu yang panjang.
Kini setengah jam sudah berselang sejak ia meninggalkan Sukong-se itu, kiranya perkelahian di sana tentu sudah berakhir.
Sembilan puluh persen dalam pertaruhan ini boleh dikata kemenangan berada di tangannya, karena analisanya ini, maka dengan lega hati ia tinggal pergi.
Dengan mempertaruhkan jiwa, Beng Goan-cau lawan kedua musuhnya mati-matian, kira-kira setengah jam sudah berselang, tenaganya makin lemah, kepandaian ilmu goloknya sebetulnya mengutamakan kecepatan, sekarang meski gerakan goloknya masih belum kalut, tapi serangannya sudah jauh lebih lamban, seolah-olah tenaga sudah tidak memadai tekad juangnya yang berkobar-kobar.
"Beng Goan-cau,"
Olok Cong Sin-liong.
"Hendak mengadu jiwa pun kau tidak akan mampu lagi, mengingat kita sama-sama sealiran dari kaum persilatan, lemparlah golokmu dan ikut kami pergi saja. Aku berjanji memohonkan sedekah bagi jiwa dan ragamu di hadapan Pakkiong Tayjin."
Beng Goan-cau murka, hardiknya.
"Cong Sin-liong, kau ini sampah persilatan, siapa sealiran dengan kau. Meski Beng Goan-cau mati di tanganmu, jangan harap aku mau tunduk kepala terhadap kau."
"Baiklah, mampuslah kalau begitu!"
Jengek Cong Sin-liong, pedangnya melingkar, seketika bayangan Beng Goan-cau terkekang di dalam kilatan sinar pedangnya.
Jurus ini dinamakan Samcoan-hoat-lun, salah satu tipu serangan yang paling dia banggakan.
Setelah menjajal tenaga Beng Goan-cau sudah cukup lemah dan hampir tidak kuat bertahan lagi, baru dia berani merangsak maju melancarkan serangan mematikan.
Di saat sinar goloknya berputar membelenggu, sepasang potlot Ciok Tio-ki berbareng menusuk tiba dari samping kiri Beng Goan-cau, sekaligus ia terserang dari depan dan belakang.
Di saat-saat yang kritis bagi jiwa Beng Goan-cau itulah, sekonyong-konyong terdengar sebuah hardikan keras bagai guntur menyambar.
"Bangsat penghianat jangan mengganas!"
Datang suaranya datang pula orangnya bagai angin puyuh menerjang tibalah seorang laki-laki bertubuh tinggi kekar, ternyata Leng Thiat-jiau tiba tepat pada waktunya.
Cong dan Ciok berdua sebelumnya, tidak menduga bahwa buronan 'kakap' gede yang dimaksud adalah dia, melihat orang mendadak muncul, tak terasa mencelos hati mereka.
Seketika terbangkit semangat Beng Goan-cau, dengan sejurus Heng-sau-liok-hap, sinar goloknya terkembang, kedua potlot Ciok Tio-ki tertangkis di luar gulungan sinar goloknya, baru saja ia hendak mengubah permainannya, mencari lubang kelemahan yang lain, tiba-tiba terasa sambaran senjata tajam yang menderu ke arahnya, kiranya sebilah golok besar yang berpunggung tebal dinamakan Bian-to Leng Thiat-jiau sudah membacok ke arah dirinya.
Tiada tempo melukai musuh, terpaksa Ciok Tio-ki harus menyelamatkan jiwa sendiri.
Sebat sekali kedua potlotnya sudah terpentang kedua sasaran, yang kiri menotok Ki-bun-hiat, sementara yang kanan menotok Hoan-thiat-hiat, kedua hiat-to ini termasuk jalan darah mematikan dan jalan darah pelemas tubuh, di saat dirinya diserang, ia masih sempat balas menyerang dengan ganas, sasaran totokannya pun amat tepat sekali.
Sayang di dalam kesibukannya itu ia salah pikir, di luar tahunya bahwa lwe-kang Leng Thiat-jiau bahwasanya masih lebih tinggi dari Beng Goan-cau, kalau kedua potlotnya ia rangkap menjadi satu kemungkinan masih kuat bertahan, begitu senjatanya terbagi dua, meski gerakannya cukup baik, namun ia tidak kuasa bertahan lagi.
"Trang"
Lelatu api berpercik, potlot di tangan kanannya tergumpil besar, sementara tusukan potlot kiri pun mengenai tempat kosong karena tergetar oleh gempuran tenaga lawan.
Gerakan Leng Thiat-jiau justru tidak berubah, goloknya masih membacok turun.
Sinar golok Cong Sin-liong sudah berhasil membendung gerak-gerik Beng Goan-cau, tapi sekarang terpaksa ia harus menolong kesulitan temannya, ilmu pedangnya mengutamakan tenaga lunak dan keras.
Lwekangnya kira-kira setan-ding dengan Leng Thiat-jiau, dengan sejurus Pek-hocan-ci, tajam goloknya mengiris miring ke bawah, ia tuntun Bian-to Leng Thiat-jiau menyelonong ke samping.
Beruntung Ciok Tio-ki terhindar dari kematian, tak urung keringat dingin sudah membasahi seluruh badan.
Leng Thiat-jiau tertawa dingin, jengeknya.
"Jadi kau inilah Ciok Tio-ki yang menjadi wakil Ciongling Tayjin, dan kau tentunya adalah Cong Sin-liong yang satu sarang dengan Boh Cong-tiu seperti tikus dan ular itu?"
Memang asalnya Ciok Tio-ki bekas seorang begal tunggal, sudah lama Leng Thiat-jiau mengenalnya, terhadap Cong Sin-liong baru sekarang ia bertemu.
Cong Sin-liong menggunakan nama Sin-liong (naga sakti), paling pantang bagi dia di baratkan sebagai ular, keruan ia menjadi gusar.
"Bagus ya, Leng Thiat-jiau, memangnya aku sedang mencari kau."
Tapi dia hanya berani marah dan kaget pula.
Kata-kata Leng Thiat-jiau tadi secara tidak langsung memberi tahu kepadanya, bahwa ia sudah tahu akan tipu muslihatnya yang sekongkol dengan Boh Cong-tiu.
Maka terdengar Beng Goan-cau bertanya.
"Leng-toako, jadi kau sudah tahu semua?"
"Ya, karena aku tahu Boh Cong-tiu hendak mencelakai kau dengan berkomplot dengan kedua bangsat kurcaci ini, maka kususul kau ke sini!"-Sebetulnya setelah Leng Thiat-jiau melihat Cong dan Ciok, baru dia insyaf akan omong kosong Boh Cong-tiu yang menipu dirinya. Tapi sengaja ia berkata demikian untuk menggertak kedua musuh ini. Kaget dan girang pula Beng Goan-cau dibuatnya, sambil ayun golok menangkis kedua potlot Ciok Tio-ki, sembari bertanya.
"Ke mana Boh Cong-tiu bocah keparat itu?"
"Kau kan tahu aku datang bersama Kim Tayhiap, sekarang Kim Tay-hiap sudah mengejar kunyuk itu."
Kata-katanya ini seketika membuat kaget dan ciut nyali Cong Sin-liong dan Ciok Tio-ki.
Lwekang Leng Thiat-jiau memang amat kuat, cuma permainan goloknya tidak selincah dan secepat Beng Goan-cau, sebetulnya Cong Sin-liong tidak lebih asor melawan dia, tapi ia toh tahu bahwa dirinya tidak yakin dapat mengalahkan musuh, setelah mendengar Kim Tiok-liu mengejar dan menangkap Boh Cong-tiu, kuatir orang berhasil meringkus Boh Cong-tiu dan kembali ke sini lagi, mana dia berani bertempur lebih lanjut?
Dengan ilmu pedang yang mengutamakan tenaga lunak Cong Sin-liong punahkan semua rangsakan golok Leng Thiat-jiau, begitu putar tubuh terus ngacir sipat kuping, lekas Ciok Tioki'menggertak dengan serangan pura-pura, cepat sekali ia sudah berlari tunggang langgang di belakang orang.
Leng Thiat-jiau terbahak-bahak, serunya.
"Tidak usah dikejar, biarkan saja lari!"-Bahwasanya Beng Goan-cau pun sudah kehabisan tenaga setelah melawan kedua musuhnya mati-matian, kalau kedua musuh itu tidak kena gertak dan lari ketakutan, pihak mana bakal menang masih belum bisa diramalkan. Sejak berpisah tiga tahun yang lalu, kini bersua di tempat ini, kedua orang sama punya banyak omongan yang perlu disampaikan, sesaat mereka kemekmek tidak tahu dari mana mereka harus mulai pembicaraan ini.
"Beng-lote,"
Ujar Leng Thiat-jiau.
"Apakah kau datang bersama dengan Lim Lihiap ciang-bunjin baru dari Hu-siang-pay?"
Memang Beng Goan-cau ingin lekas-lekas tahu keadaan Lim Bu-siang, cepat ia bertanya.
"Benar, apakah kalian ada bertemu dengan dia?"
"Boh Cong-tiu anak keparat itulah yang memberi kisikan kepada kami, hm, dia menggunakan akal bulus menipu kami berdua!"
Beng Goan-cau kaget, katanya.
"Boh Cong-tiu dengan Coh Thian-hiong mengudak Lim Busiang, kukira kebetulan kebentur dengan kalian, maka Kim Tayhiap mengejar Boh Cong-tiu. Apakah yang telah terjadi?"
"Kim Tayhiap pergi mengejar jejak musuh, tapi bukan mengejar Boh Cong-tiu. Mendengar katamu ini, kiranya Kim Tay-hiap kena ditipu olehnya."
Lalu ia menceritakan pertemuannya di dalam hutan dengan Boh Cong-tiu, barulah Beng Goan-cau tahu, Leng Thiat-jiau ingin segera bicara dengan dirinya, maka sengaja ia menggertak Cong dan Ciok itu melarikan diri.
Kata Beng Goan-cau dengan gegetun.
"Licik dan licin benar bocah keparat itu, pastilah dia semba-rangan menunjuk sesuatu arah, menipu Kim Tayhiap mengejar sia-sia."
Tapi ia pun berlega hati, karena mengandal kepandaian Lim Bu-siang sekarang, rasanya tidak gampang dikalahkan hanya oleh Coh Thian-hiong seorang.
"Kedua keparat itu sudah pecah nyalinya, kukira tidak akan berani kemari lagi. Biarlah kita tunggu kedatangan Kim Tayhiap di sini saja."
"Ya, Leng Toako, kenapa kau mendadak meninggalkan Siau-kim-jwan, apa keperluanmu datang kemari?"
"Apakah kau hendak menyampaikan selamat ulang tahun kepada Ong Thian-thong?"
Tanya Leng Thiat-jiau. Beng Goan-cau mengiakan.
"Demikian pula aku. Tapi aku sendiri belum kenal dengan Ong Thian-thong, terpaksa aku ajak Kim Tayhiap untuk mengiringi aku."
Heran Beng Goan-cau, tanyanya.
"Bukankah situasi di Siau-kim-jwan cukup tegang?"
"Ya, justru untuk menolong keadaan gawat dari kepungan musuh atas Siau-kim-jwanlah maka aku meluruk kemari."
Beng Goan-cau tidak tahu seluk beluk kata-kata orang, katanya sambil membelalakkan mata.
"Meski pergaulan Ong Thian-thong amat luas, tapi untuk menolong situasi .gawat di Siau-kimjwan, kukira masih belum cukup mampu?"
"Sudah tentu aku tidak hanya mengharap bantuannya, aku hanya ingin pinjam tempatnya saja, untuk menemui seorang kawan. Apa kau pernah dengar Hay-soa-pang Pang-cu Lo Kim-ou yang berkedudukan di Yangciu ini?"
"Aku tahu akan ketenarannya, tapi apa pula hubungan kegawatan di Siau-kim-jwan dengan orang ini?"
"Beng-lotte, sudah lama kau meninggalkan pangkalan, banyak urusan yang mungkin belum kau ketahui, biarlah secara ringkas kupaparkan situasi terakhir ini."
"Kerajaan Ceng sekarang sedang menyiapkan pasukannya untuk menyerbu kita secara besarbesaran, kita pun sedang berusaha untuk merintangi atau menggagalkan usaha mereka, supaya mereka tidak begitu mudah untuk menggempur Siau-kim-jwan."
Sembari bicara dengan goloknya Leng Thiat-jiau membuat peta di atas tanah, katanya pula.
"Jalan dari sebelah barat daya ini ada bercokol laskar gerilya yang dipimpin oleh Tiok Siang-hu, di sini ada tempat-tempat berbahaya pula sepanjang puluhan li dari gunung-gunung bersalju, pasukan Ceng jelas tidak mudah untuk melewati daerah ini."
"Yang perlu dikuatirkan hanyalah pasukan musuh yang masuk dari Jwan-tang tapi untung pula di Yang-gan dan Ban-sian dua tempat, terdapat kekuatan delapan sindikat yang sudah tergabung menjadi satu, terbagi pada kedua tempat itu berusaha memutus pengiriman ransum pasukan musuh."
Yang-gan terletak di timur laut propinsi Ouwpak, dan di sebelah selatannya adalah Ih-jiang dan Saput dua tempat penting untuk memasuki Jwan-tang.
Sementara Ban-sian berada di perbatasan antara Su-jwan dan Ouwpak, merupakan pintu terdepan untuk menjaga posisi Jwan-tang yang amat penting."
Senang hati Beng Goan-cau, katanya.
"Bagus sekali, seumpama tidak berhasil menahan musuh di luar daerah Siau-kim-jwan, cukup asal dapat merintangi pasukan induk musuh terlambat beberapa hari lamanya, situasi pasti akan membawa perubahan besar yang bermanfaat bagi kita."
"Saudara-saudara dari dua Pang-hwe di sana bulan yang lalu pernah menang perang, berhasil merampas banyak ransum dan perbekalan perang musuh. Sekarang pasukan Ceng sedang berusaha mengumpulkan ransum pula, siap dikirimkan melalui Yang-ciu, untuk menolong bala tentara di kedua tempat itu .yang sudah kelaparan sekian hari ini. Kalau ransum ini dikirim melalui jalan air, para saudara dari Pang-hwe di tanah daratan menjadi sulit untuk membegalnya di tengah jalan."
"Ah, aku paham sekarang. Jadi kau hendak minta bantuan Hay-soa-pang Pangcu Lo Kim-ou untuk merampas kiriman rangsum itu!"
"Betul, biasanya Hay-soa-pang melakukan dagang garam gelap di sepanjang sungai Tiangkang, mereka memiliki banyak kapal-kapal yang dapat dipergunakan, setiap anak buahnya pandai berenang lagi."
"Tapi ini merupakan pergerakan yang memberontak terhadap pemerintah, berdagang garam meski melanggar undang-undang, kalau tertangkap belum tentu dihukum mati. Apakah Lo Kim-ou sudi menjual jiwa untuk membantu kita?"
"Dua puluh tahun yang lalu,"
Demikian Leng Thiat-jiau menjelaskan, '"waktu Lo Kim-ou pertama kali kelana di kangouw, pernah aku membantu kesulitannya, soal ini tiada orang luar yang tahu.
Waktu itu ia pernah bersumpah untuk membalas budi kebaikanku akan pertolongan jiwanya.
Sebagian besar para saudara Hay-soa-pang ada punya ikatan erat dengan para saudara Pang-hwe di Jwan-tiong, maka asal Lo Kim-ou menganggukkan kepala, seluruh anak buah Hay-soa-pang bisa berubah menjadi orang-orang kita sendiri."
"Tapi seperti juga yang laute katakan, soal ini menyangkut jiwa dan keluarga yang besar resikonya, maka aku sendiri yang harus membujuk dan minta kepada Lo Kim-ou. Apa bisa terlaksana, aku sendiri tidak punya keyakinan tapi toh harus kucoba-coba. Itulah sebabnya kenapa aku harus meluruk kemari sekaligus menyampaikan selamat hari ulang tahun kepada Ong Thianthong." ' Jadi kita meminjam tempat tinggal Ong Thian-thong untuk merundingkan soal ini dengan Lo Kim-ou, apakah Ong Thian-thong sendiri tidak takut kerembet perkara?"
"Ong Thian-thong punya usaha punya keluarga, sudah tentu kita yang berusaha supaya dia tidak ikut kena perkara. Tapi toh perundingan di tempatnya itu harus mendapatkan ijinnya. maka bersama Kim Tayhiap kami sudah mencari akal untuk mengatur jalan mundurnya."
"Benar, kita sendiri tidak kenal kepadanya, dengan adanya Kim Tayhiap sebagai perantara, pastilah dia akan percaya kepada kita. Tapi jalan belakang apa yang sudah kau atur?"
"Kalau Lo Kim-ou setuju untuk' membantu, paling cepat dalam tujuh delapan hari baru bisa.mulai turun tangan. Kim Tayhiap berjanji sebelumnya melindungi keluarga Ong Thian-thong meninggalkan Yangciu lebih dulu, semua harta benda dan kerugian usahanya, kita ganti semuanya."
"Dengan demikian, maka jabatan congpiauthau dari cabang Yangciu ini sudah tentu tidak bisa dipertahankan, tapi dia pun seorang bulim cianpwe yang menjunjung keadilan dan setia kawan, demi pergerakan besar ini, sedikit banyak dia pasti menderita kerugian, kulihat dia pasti rela dan menerima dengan setulus hati."
"Dalam persoalan ini perlukah kita mencari seseorang yang rasanya cocok untuk memberi kisikan kepadanya lebih dulu? Kalau tidak, di saat upacara besar hari ulang tahunnya berlangsung, tahu-tahu kita datang bersama Kim Tayhiap, di hadapan umum terang kita tidak leluasa bicara kepadanya,"
Demikian usul Beng Goan-cau.
"Beng-lote, pikiranmu amat cermat, di sini memang aku sedang menunggu seorang teman untuk menjadi perantara itu."
"Siapa orang itu? Apa aku kenal?"
"Sebelum ini kau belum penah lihat dia, entah kau pernah mendengar namanya tidak, dia bernama Han Bing." .
"Han Bing?"
Teriak Beng Goan-cau kaget.
"Kenapa kau bisa mendapatkan orang itu?"
Leng Thiat-jiau melengak, tanyanya.
"Memangnya dia harus diragukan?"
"Menurut apa yang kuketahui, bahwasanya dia bukan orang sehaluan dengan kita."
"Dia punya seorang teman baik bernama Lau Khong, seorang Hiangcu dari Thian-te-hwe. Dulu dia pun berkecimpung dalam golongan kependekaran di kangouw, beberapa tahun terakhir baru ganti obyek menjadi pedagang garam, hubungannya amat baik dengan beberapa pedagang garam terbesar di kota Yangciu. Seorang kawan yang dapat dipercaya di Yangciu ini yang mengatur pertemuanku ini di sini dengan dia."
"Leng-toako, untung kau hari ini baru datang, kalau kemarin kau bersama dengan dia, urusan pasti menjadi panjang."
"Kenapa, dia tidak dapat dipercaya?"
"Untuk membocorkan rahasia kita sih kukira dia tidak berani, tapi bila kemarin mungkin dia tidak akan berani menemui kau. Biar kuberitahu, kau ingin minta dia sebagai perantara, sebaliknya Cong Sin-liong sudah bertindak satu hari lebih cepat dari kau, kemarin dia sudah menarik Han Bing ke pihaknya supaya menjadi perantara untuk hadir dalam perjamuan hari ulang tahun Ong Thian-thong!"
"Ada kejadian itu?"
Leng Thiat-jiu menegas.
"Kukira sebagai teman baik Lau Khong, orang ini dapat dipercaya, siapa tahu bahwa dia ternyata seorang yang berpijak pada dua perahu."
"Lau Khong pun berada di Yangciu, cuma mungkin dia belum tahu akan persoalan ini. Tapi peristiwa ini terjadi kemarin. Hari ini Han Bing sudah menjadi orang pihak kita. Dan yang harus disayangkan bahwa Han Bing sekarang sudah rebah di dalam peti mati, mungkin sudah meninggalkan Yangciu."
Lebih kejut pula Leng Thiat-jiau, katanya.
"Apa, Han Bing sudah mati? Dari mana saja kau bisa mengetahui kejadian ini?"
Beng Goan-cau menceritakan rahasia apa yang dicuri dengarnya tadi, katanya lebih lanjut.
"Menurut omongan Cong Sin-liong dan Boh Cong-tiu, karena Han Bing mengkhianati mereka, maka Boh Cong-tiu membunuhnya dengan sambitan senjata rahasia. Lau Khong mengirim peti mati itu ke utara, hari ini terang tidak akan muncul di perjamuan Ong Thian-thong. Cong Sin-liong mengutus Gui Khing dan lain-lain untuk mengejar dan membunuh Lau Khong."
Sesaat lamanya Leng Thiat-jiau terlongong, akhirnya menghela napas, ujarnya.
"Kalau begitu, terpaksa kita harus berani menyerempet bahaya."
Tatkala itu sang surya sudah bercokol tinggi di tengah cakrawala, hari sudah menjelang lohor. Beng Goan-cau berkata.
"Maksudmu tidak menunggu Kim Tayhiap lagi?"
"Entah kapan Kim Tayhiap baru akan kembali, sekarang sudah tengah hari. Han Bing belum lagi memperkenalkan diriku, Lo Pangcu dari Hay-soa-pang belum tentu bermalam di rumah keluarga Ong, kalau kita datang terlambat, bilamana dia sudah tinggal pergi, bukankah urusan bakal terbengkalai?"
"Aku berjanji pertemuan di sini dengan Han Bing, Kim Tayhiap tahu, namun dia belum tahu bila Han Bing menemui kecelakaan, bila dia kembali ke sini tidak menemukan aku, tentu dia menyangka Han Bing sudah membawa aku ke rumah keluarga Ong."
Beng Goan-cau manggut-mang-gut, ujarnya.
"Betul, nona Lim dan Kim Tayhiap suami istri adalah kenalan kental, Kim Tay-niap kalau tidak menemukan dia pasti akan mencarinya ke manamana? Di saat ia insyaf dirinya kena tipu, mungkin waktunya sudah terlambat. Demi menjaga segala kemungkinan, biarlah kita meluruk ke rumah keluarga Ong menyerempet bahaya. Tapi, Leng-toako, orang yang kenal dirimu mungkin tidak sedikit jumlahnya, apa kau tidak perlu menyamar saja?"
"Aku sudah mempersiapkan segalanya, nah inilah obat rias yang kudapat dari pemberian Hoasan-ih-un Hoa Thian-hong, tidak perlu menyamar, dengan obat ini aku dapat merubah roman mukaku, nih, kau pun menggunakan sebutir."
Kedua orang sama memoleskan obat rias itu ke muka masing-masing, keduanya saling berpandangan, terlihat muka mereka memang sudah berubah dalam bentuk lain, tak terasa mereka tertawa geli sendiri.
Kata Beng Goan-cau.
"Kecuali teman yang amat kenal baru bisa mengenali kita, dengan bercampur di antara para tamu-tamu, kukira dengan gampang kita akan bisa masuk."
"Baik, mari berangkat. Tapi kau pun tidak usah menunggu nona Lim itu kembali, perlukah kau meninggalkan pesan beberapa patah kata kepadanya di sini?"
"Begitu pun baik."
Lalu dengan goloknya Beng Goan-cau mengukir 'selamat' di atas pohon di tempat di mana tadi mereka sembunyi. Katanya.
"Mungkin dia tidak akan balik, kalau kembali melihat huruf 'selamat' ini, pastilah dia bisa menduga aku sudah berangkat ke rumah keluarga Ong."
Ia tahu ginkang Lim Bu-siang tidak lebih rendah dari Thong-thian-hou, kalau tidak bisa lolos, kiranya dia pun tidak perlu amat dikuatirkan, namun demikian hatinya kurang tentram.
---ooo0dw0ooo---Memang ginkang Lim Bu-siang setanding dengan Coh Thian-hiong, namun kekuatan Iwekangnya lambat laun tak kuasa bertahan lama, bagai naik awan menunggang angin mereka kejar mengejar, jarak keduanya lambat laun semakin dekat.
Tiba-tiba Lim Bu-siang sadar, pikirnya.
"Biar aku lari ke arah kota, coba berani tidak ia mengejarku?"
Melihat orang berlari ke arah jalan raya, Coh Thian-hiong lantas tahu maksud hatinya, sekali melejit ia melambung maju tiga tombak lebih dekat, bentaknya tiba-tiba.
"Budak setan, lari ke mana? Ayolah rebah!"
Sekali ayun tangan, dengan gaya Lau-hay-say-kim-che (Lau Hay menyebar uang mas) ia tim-pukkan segenggam uang tembaga.
Tanpa berpaling, Lim Bu-siang membalikkan pedangnya, sekaligus ia lancarkan ilmu pedang tunggal yang dia pelajari dari dalam gua, sinar pedangnya bagai kilat menyambar, terdengarlah suara tang tang ting ting, segenggam uang tembaga itu kena dia sampuk jatuh semua.
Kepandaian menimpuk senjata rahasia dengan gaya Lau Hay Menyebar Uang Mas ini, sebetulnya merupakan kepandaian khas Coh Thian-hiong, mimpi pun ia tidak nyana ilmu pedang Lim Bu-siang ternyata sedemikian lihay dan menakjubkan, semula ia menyangka, paling tidak dua atau tiga uang tembaganya pasti dapat mengenai sasaran, siapa kira ujung baju orang pun tidak berhasil disentuhnya.
Namun karena rintangan ini, jarak mereka menjadi lebih dekat lagi.
Coh Thian-hiong membentak.
"Budak busuk, kau tidak akan bisa lolos!"
Bagai harimau menerkam mangsanya, ia melompat terbang ke depan sembari menimpukkan segenggam uang tembaga pula.
Kalau Lim Bu-siang tarikan pedangnya untuk memukul jatuh semua uang tembaga itu, pasti dirinya bisa teringkus oleh lawan, dalam keadaan yang mendesak itu, ia kembangkan ilmu ginkangnya yang hebat sekali, dengan gaya Burung Dara Jumpalitan, badannya seenteng capung melesat miring beberapa tombak jauhnya.
Tepat pada saat itu, kebetulan ada orang berlari mendatangi dari jalan raya sana, Kim-chi-piau Coh Thian-hiong tidak mengenai Lim Bu-siang, namun ada sebuah yang menyerempet lewat di atas jidat orang itu, seketika orang itu membentak gusar.
"Lagi-lagi kau si rase tua bangka kebentur di tanganku, diberi tidak membalas kurang hormat, nih, kau pun rasakan senjata rahasiaku."
Seketika seperti hujan salju, senjata rahasia yang ditim-pukkan orang ini adalah butiran kecil bundar yang berkilauan, mendadak meledak pecah di tengah udara, menjadi segulung kabut putih yang dingin, Coh Thian-hiong seketika terbungkus dalam kabut tebal dingin itu, meski ia memiliki lwekang yang kuat, tak urung bergidik kedinginan juga.
Ternyata pendatang ini bukan lain adalah putra Kanglam Tayhiap Tan Thian-ih, yaitu Tan Kongsi adanya, senjata rahasia yang dia timpukkan adalah Ping-pok-sin-tan ajaran tunggal keluarganya.
Tempo hari Tan Kong-si pernah bergebrak sekali melawan Coh Thian-hiong di rumah Hun Ci-lo, waktu itu ia pun pernah menimpukkan tiga butir peluru esnya, tidak berhasil melukai Coh Thianhiong, malah dia sendiri yang mendapat sedikit kerugian.
Kini kebentur di tengah jalan, sekaligus ia lantas timpukkan dua belas butir banyaknya.
Setelah menimpukkan pelurunya, Tan Kong-si lantas berteriak.
"Ayah, lekas kemari!"
Baru saja Coh Thian-hiong hendak menubruk maju, mendengar teriakannya ia melengak, lalu katanya mendengus.
"Kau hendak menggertak lohu dengan nama ayahmu?"
Tan Kong-si menanggapi tawar.
"Bukankah kau pernah berkata ingin bertanding dengan ayahku? Hari ini kutanggung kau berhasil memenuhi keinginanmu."
Rumah tinggal Tan Thian-ih berada di Soh-ciu.
Soh-ciu dan Yang-ciu sama berada dalam wilayah Kiang-soh, di sini Coh Thian-hiong kebentur dengan Tan Kongsi tidak berani tidak ia harus percaya omongannya.
Pikirnya.
"Meski Ong Thian-thong hanya cong-piautau dari cabang Tin-an Piaukiok, tapi pergaulannya amat luas, bukan mustahil Kanglam Tayhiap membawa anaknya datang hendak menyampaikan selamat hari ulang tahun kepadanya."
Karena kabut dingin yang membekukan itu, meski Coh Thian-hiong tidak terluka apa-apa, tapi toh lebih menderita dari tempo hari, hawa murninya banyak berkurang untuk mempertahankan diri.
Dia berpikir seumpama Tan Thian-ih tidak datang, dirinya juga tidak akan ungkulan melawan Lim Bu-siang dan Tan Kong-si berdua, jika Tan Thian-ih betul-betul berada di belakang, bila keburu menyusul datang, pasti dirinya bisa celaka.
"Lebih baik percaya meski itu hanya gertakan daripada konyol."
Begitu rasa jeri timbul, seketika Coh Thian-hiong putar badan terus lari sipat kuping. Lim Bu-siang kegirangan, serunya.
"Tan-jikongcu apakah ayahmu juga datang?"
"Aku hanya menggertak rase tua itu! Nona Lim kenapa seorang diri kau datang kemari?"
Tanya Tan Kong-si tertawa.
Memang Lim Bu-siang sedang menguatirkan keadaan Beng Goan-cau, kalau bisa menggertak lari Cong Sin-liong dengan meminjam ketenaran Tan Thian-ih baik juga.
Maka ia tuturkan kejadian sesungguhnya.
Katanya.
"Bersama Beng Goan-cau aku sedang tamasya di Su-kong-se, tak nyana di sana kami bentrok dengan kawanan anjing alap-alap."
Tan Kong-si terperanjat, tanyanya.
"Lalu bagaimana dengan Beng-toako?"
"Dia sembunyi di atas bukit, sengaja kupancing musuh mengejarku, entah bagaimana keadaannya sekarang."
"Siapa saja kawanan anjing alap-alap itu?"
"Kecuali Thong Thian-hou masih ada Ciok Tio-ki, Cong Sin-liong dan Boh Cong-tiu. Coh Thianhiong dan Boh Cong-tiu sama mengejar aku, sementara Ciok Tio-ki dan Cong Sin-liong masih berada di tempat itu."
Lebih kaget pula Tan Kong-si katanya.
"Ayolah lekas susul ke sana untuk membantunya!"
Sebelum mereka tiba di Su-kong-se, di bawah bukit, mereka sudah mendengar beradunya benturan senjata berat dari dalam hutan. Kaget dan girang pula Lim Bu-siang dibuatnya, katanya.
"Ada tiga orang yang bertempur, pastilah seorang diri Beng-toako melawan keroyokan kedua musuhnya. Kedengarannya dia sudah terdesak di bawah angin, tapi belum begitu gawat."
Mulut bicara kedua kakinya sudah melesat bagai terbang, ia kembangkan Pat-poh-kan-sian terus menerjang masuk ke dalam hutan, suara benturan senjata semakin jelas.
Setelah dekat barulah Lim Bu-siang merasa heran, maklumlah golok lebih berat dari pedang, suara golok cepat bila beradu dengan senjata musuh berlainan dengan pedang.
Lim Bu-siang mendengar dua orang menggunakan pedang, sementara seorang yang lain agaknya bersenjata semacam senjata ruyung yang lemas.
Belum lagi ia tiba di dalam hutan, tiba-tiba didengarnya seseorang membentak.
"Rase tua, kalau berani jangan kau lari!"
Suara orang ini jelas bukan Beng Goan-cau..Kejap lain terdengar Coh Thian-hiong berkata dingin.
"Kalau berani mari kalian kejar aku! Kalian main keroyok, maaf aku tidak sudi melayani."
Kejadian itu benar-benar di luar dugaan Lim Bu-siang, semula ia kira Beng Goan-cau melawan dua musuhnya, tak nyana pihak musuh hanya Coh Thian-hiong seorang, memangnya siapakah lawan tangguh Coh Thian-hiong?
Lim Bu-siang merasa seperti amat kenal suara itu, namun sesaat ia tidak ingat siapakah orang itu.
Pada saat itu juga, didengarnya Tan Kong-si sudah berteriak dari belakang.
"Song-toako, kau pun sudah datang!"
Maka tampak Song Theng-siau dengan seorang gadis baju putih sudah melabrak Coh Thianhiong ke luar hutan.
Gadis baju putih itu bukan lain adalah sumoay Beng Goan-cau, Lu Su-bi adanya.
Ternyata Coh Thian-hiong tidak tahu bila Cong dan Ciok sudah kena dikalahkan oleh Beng Goan-cau dengan Leng Thiat-jiau, tidak berhasil menangkap Lim Bu-siang, ia pikir kembali saja bantu menangkap Beng Goan-cau, tak nyana baru saja ia tiba, kebetulan terbentur dengan Song Theng-siau dan Lu Su-bi.
Sip-hun-kiam-hoat warisan keluarga Song Theng-siau teramat aneh dan hebat, dibanding golok cepat Beng Goan-cau, masing-masing punya kelebihannya sendiri-sendiri, dibanding kepandaian sejati Coh Thian-hiong tidak terpaut terlalu jauh.
Lwekang Lu Su-bi rada lemah, tapi gerak badan Menyusup Kembang Mengitari Pohon juga teramat lincah dan gesit, serta rumit dan sukar dijajaki pula, paling tidak setingkat lebih rendah dibanding ginkang Coh Thian-hiong.
Maka Coh Thianhiong tidak akan mampu mengggunakan keunggulan sendiri untuk menyerang kelemahan kedua lawannya, sudah tentu lama kelamaan ia terdesak di bawah angin oleh keroyokan kedua lawannya.
Semula Coh Thian-hiong masih mengharap Cong Sin-liong dan lain-lain masih berada di sekitar sini, mendengar pertempuran di sini lantas menyusul datang, tak nyana Cong Sin-liong dan Ciok Tio-ki yang diharapkan tidak kunjung tiba, malah Lim Bu-siang yang sudah menyusul datang.
Kebetulan Lim Bu-siang bertemu dengan Coh Thian-hiong yang sedang lari keluar dari hutan, segera ia menghardik.
"Rase tua, lari ke mana?"
Badannya melesat terbang ke depan, pedangnya bergerak selincah baling-baling berputar, dengan sejurus Heng-kang-cay-to ia cegat jalan lari Coh Thian-hiong.
"Kau budak ini juga berani menghina aku,"
Damprat Coh Thian-hiong gusar. Lim Bu-siang malah mengolok lagi.
"Rase tua menjadi anjing tercebur air, orang lain tidak mau menghajar anjing basah kuyup, biar aku saja yang menghajarnya."
"Sret, sret"
Beruntun ia melancarkan serangan ilmu pedang berantai yang ganas dan cepat, sehingga Coh Thian-hiong mencak-mencak mundur kerepotan.
Betapa gusar dan malu Coh Thian-hiong, namun ia tidak berani berkutat terlalu lama melawan Lim Bu-siang.
Sebentar lagi Song dan Lu pasti memburu keluar, terpaksa ia harus lekas-lekas melarikan diri.
Kalau tidak gugup sih mending, saking jeri dan kebingungan, dia lebih menderita rugi.
Ilmu silatnya semestinya lebih tinggi dari Lim Bu-siang kini malah dia yang terserang gencar oleh rangsakan Lim Bu-siang, untuk lolos rasanya bukan soal gampang.
Kejap lain Lu Su-bi sudah menyusul tiba lebih dulu.
"Sret"
Langsung ia menusuk dengan goloknya.
Saking gugup Coh Thian-hiong berjingkrak menubruk ke arah Lim Bu-siang, sebat sekali Lim Bu-siang meliukkan pinggang bergerak gemulai bagai dahan pohon Liu, pedangnya bergerak membalik menggaris sebuah bundaran.
Begitu menubruk tempat kosong Coh Thian-hiong sudah mengeluh celaka.
Tiba-tiba cahaya terang menyilaukan mata, tajam pedang Lim Bu-siang tahutahu sudah memapas tiba di depan mukanya.
Baru saja kaki depan Coh Thianhiong menyentuh tanah, belum lagi ia berdiri tegak, kakinya menendang ke belakang.
Kebetulan di belakangnya ada sebatang pohon, tendangan ke belakang seperti ini seolah-olah di belakang punggungnya tumbuh mata, telak sekali tendangannya, dengan meminjam tenaga tendangan ini, badannya bergerak miring ke arah lain dan mencelat jauh.
Meski ia bergerak cepat dan lincah, badan tidak sampai terluka, yang celaka adalah jenggotnya.
Di mana cahaya pedang menyambar terasa dagunya nyaman dingin, jenggot panjangnya yang amat disayang dan setiap hari dipeliharanya ini, kena terpapas bersih oleh pedang Lim Bu-siang.
Belum lagi hatinya tenang, Liu-yap-to Lu Su-bi tahu-tahu sudah membacok datang pula dari sebelah depan.
Ternyata Lu Su-bi memperhitungkan letak dari jejak kakinya, mencegat maju dan menunggu orang menyongsong datang.
Keruan Coh Thian-hiong gusar, dampratnya.
"Baik, biar lohu adu jiwa dengan kau!"
Segera ia kembangkan Khong-jiu-jip-peh-to, Tangan Kosong Merebut Senjata Lawan, dia merangsak masuk ke dalam lingkaran kilatan sepasang golok Lu Su-bi, meski dirinya harus terkena bacokan, ia bertujuan membekuk orang dijadikan sandera.
Perhitungannya terlalu muluk, di luar dugaan bahwa gerak-gerik Menyusup Kembang Mengitari Pohon Lu Su-bi teramat lihay dan lincah sekali, di antara sambaran sinar golok dan bayangan angin pukulan, cengkeraman Coh Thian-hiong terasa menangkap tempat kosong, terdengarlah suara sobekan kain yang panjang, ternyata baju di depan dadanya sudah tergores sobek memanjang oleh golok Lu Su-bi.
Gebrakan kali ini kedua pihak sama melancarkan jurus-jurus yang amat berbahaya, begitu serangan Coh Thian-hiong tidak mengenai sasaran, ia miringkan badan menerobos maju tiga tindak, waktu ia menunduk melihat pakaiannya, kaget dan gusar pula dibuatnya.
Sebaliknya dengan permainan kombinasi kedua goloknya, Lu Su-bi tidak mampu melukai orang, diam-diam ia amat gegetun.
Maklum karena lwekangnya rada lemah, tergentak oleh kekuatan pukulan lawan, dada terasa sesak seperti tertimpa benda berat, hatinya pun amat kaget.
Song Theng-siau kuatir sang sumoay cedera, dengan langkah lebar ia memburu datang bentaknya.
"Rase tua, ke mana kau hendak lari?"
Belum orangnya datang, ia timpukkan senjata rahasia lebih dulu, senjata yang dia gunakan pun uang tembaga.
Kim-chi-piau sebenarnya adalah senjata rahasia keahlian Coh Thianhiong, kini Song Theng-siau menyerang orang dengan keahlian orang itu sendiri, sudah tentu Coh Thian-hiong pandang rendah, jengeknya dingin.
"Anak ingusan berani bertingkah di hadapan seorang ahli!"
Baru saja ia hendak kembangkan kepandaian menyambut Kim-chi-piau, tak nyana tiba-tiba terasa angin berkesiur dari belakang batok kepalanya, hawa dingin menyusup ke tulang.
Ternyata Tan Kong-si sudah mengejar tiba.
Kim-chi-piau memang gampang ditangkap, adalah Ping-pok-sin-tan sulit ditangkis, kalau Honghu-hiat di belakang batok kepala Coh Thian-hiong tertimpuk telak oleh Ping-pok-sin-tan, hawa dingin merembes ke dalam otaknya, betapapun tinggi lwekangnya, seketika pasti akan menjadi sinting dan linglung.
Apa boleh buat dalam keadaan yang serba terdesak ini, terpaksa Coh Thianhiong membalikkan telapak tangannya memukul jatuh Ping-pok-sin-tan dengan Bik-khong-ciang, sambitan Kim-chi-piau Song Theng-siau malah didiamkan saja.
"Plak, plak, plok"
Beruntun tiga kali ketiga Kim-chi-piau sambitan Song Theng-siau mengenai musuh dengan telak, kontan Coh Thian-hiong tertimpuk luka dan bocor kepalanya.
Di sebelah sana dilihatnya pula Lim Bu-siang sedang memburu mendatangi pula, demi jiwa sendiri ia tidak menghiraukan lagi segala gengsi dan nama, lekas ia menjatuhkan badan, terus bergelundungan dari atas bukit ke bawah gunung, begitu merayap bangun terus lari pontang-panting!
Jenggot terpapas bersih, pakaian hancur, muka bengap, bibir biru, kepala bocor keluar kecap, darah membasahi seluruh badan, ditambah rambut kepalanya terpapas sebagian pula oleh pedang Lim Bu-siang.
Coh Thian-hiong sudah puluhan tahun angkat nama, belum pernah mengalami kekalahan sekonyol ini.
Song Theng-siau bergelak tertawa.
"Senang, sungguh menyenangkan!"
Coh Thian-hiong malu dan gusar pula, namun langkah kakinya tidak menjadi kendor, sudah tentu tiada tempo dia berpaling adu mulut saling maki dengan lawan.
"Anjing kuyup itu cukup konyol hari ini, nona Lim, sudah tidak usah kau pukul dia,"
Demikian ujar Tan Kong-si.
"Saudara Song ini adalah sahabat Beng-toako, nona Lim ini adalah ciangbunjin Hu-siang-pay, sebelum ini kalian belum pernah berkenalan bukan?"
Song Theng-siau segera maju mendekat, sapanya.
"Kiranya Lim-ciangbun, selamat bertemu, selamat bertemu!"
Sementara dalam hati ia membatin.
"Ilmu silat dan kecantikan nona Lim ini agaknya tidak lebih asor dibanding Hun Ci-lo."
Segera ia menambahkan.
"Nona Lu ini adalah siausumoay Beng Goan-cau."
"Aku pernah bertemu dengan nona Lu,"
Ujar Lim Bu-siang tertawa. Song Theng-siau melengak, tanyanya.
"Kenapa aku tidak tahu?"
"Dua bulan yang lalu, waktu kalian berada di karesidenan Sam-ho, akulah yang minta nona Lu supaya tidak memberitahu kepada kau."
Lu Su-bi kegirangan, katanya.
"Jadi semula kalian memang sudah bersama."
"Ya, tadi pagi kami bertamasya di Su-kong-se ini, tak nyana kebentur anjing alap-alap, tadi kami sudah saling labrak dengan mereka,"
Demikian tutur Lim Bu-siang. Song Theng-siau cukup cerdik, mendengar ceritanya itu ia lantas paham, katanya.
"Cong Sinliong, Ciok Tio-ki dan lain-lain sudah tidak kelihatan, tentunya Beng-toako mesti sudah pergi juga."
"Marilah coba kita cari di tempat semula,"
Demikian ajak Lim Bu-siang. Sambil berjalan, berkata Song Theng-siau tertawa.
"Nona Lim, bicara kejadian tempo hari, aku belum sempat berterima kasih kepada kau."
Lim Bu-siang melengak, katanya.
"Untuk apa kau hendak berterima kasih kepadaku?"
Song Theng-siau melenggong, katanya.
"Hari itu kami kepergok musuh tangguh, ada orang membantu kami secara diam-diam, memang bukan kau orang itu?"
Lim Bu-siang tertawa geli.
"Orang itu pun pernah membantuku dan Beng Goan-cau secara diam-diam, malah bukan hanya sekali saja, sampai sekarang aku masih belum berhasil tahu siapakah dia sebenarnya."
Tengah bicara, mereka pun sudah tiba di tempat di mana tadi Beng Goan-cau menyembunyikan diri, Lu Su-bi yang lebih dulu menemukan huruf peninggalan Beng Goan-cau, teriaknya.
"Hai, lekas kemari di atas pohon ini ada diukir 'selamat', inilah gaya tulisan Beng-suko."
Lim Bu-siang pun berlega hati, katanya.
"Kalau begitu, Beng-toako sudah berlalu. Marilah kita cari dia di rumah keluarga Ong."
"Benar! "
Ujar Tan Kong-si.
"Mungkin dia kuatir menggagalkan urusan besar, maka berangkat ke rumah Ong Thian-thong lebih dulu."
"Jadi kalian pun hendak pergi ke rumah Ong-cong-piauthau untuk menyampaikan selamat hari ulang tahunnya?"
Demikian tanya Song Theng-siau.
"Benar, dan kau?"
Balas tanya Tan Kong-si.
"Kami pun ingin ke sana menyampaikan selamat ulang tahun, kebetulan bertemu kalian di sini."
"Aku mewakili ayah menyampaikan kado kepada paman Ong, biarlah kalian berangkat bersama aku saja. Ong-lothau paling suka terima tamu, tamu-tamu seperti kalian dan Beng-toako, justru paling disukai, tentu beliau amat girang berkenalan dengan kalian,"
Demikian kata Tan Kong-si.
Ternyata dalam perjalanan Song Theng-siau berdua kembali ke Siau-kim-jwan, karena sudah lama meninggalkan rumah dan kangen kepada keluarga, maka dalam perjalanan ke selatan ini sengaja ia putar ke jurusan Soh-ciu untuk mampir ke rumah, Leng Thiat-jiau seperti sudah menduga akan jalan pikirannya.
Maka begitu ia berke-putusan berangkat ke Yangciu bersama Kim Tiok-liu, lantas dia titip kabar kepada seorang anggota Kaypang yang kebetulan bertempat tinggal di Soh-ciu pula, diharap orang memperhatikan jejak Song Theng-siau.
Begitu Song Theng-siau tiba di rumah, lantas dia mendapat kabar yang dibawa anggota Kaypang itu.
Kabar yang dititipkan oleh Leng Thiat-jiau itu adalah mengharap kedatangan Song Theng-siau ke rumah Ong Thian-thong itu.
Yangciu merupakan daerah yang subur dan makmur, Tin-wan Piaukiok cabang Yangciu pun cukup besar, Ong Thian-thong bertempat tinggal di dalam piaukiok itu pula, sebelah depan sebagai kantor, tempat tinggalnya berada di belakang.
Hari itu pagi-pagi sekali, semua kerabat Tin-wan Piaukiok sama menyibukkan diri mempersiapkan perayaan hari ulang tahunnya yang ke enam puluh, suasana serba riang gembira.
Tak lama kemudian para tamu berbondong-bondong mulai berdatangan, semua adalah tamutamu dekat atau warga kota Yangciu pula, mereka adalah angkatan lebih muda, jadi tidak perlu dia sendiri yang harus menyambut mereka.
Tiba-tiba muridnya yang terbesar Ong Giu masuk melaporkan.
"Busu ternama dari Siok-ciu Nyo Bok datang."
Ong Thian-thong tertawa senang, katanya.
"Nyo Bok adalah famili dekat Su-hay-sin-liong Ki Kian-ya, dari jauh dia sudi datang, jangan kita kurang adat terhadapnya. Entah Ki-Iocianpwe ikut datang tidak?"
Sembari bicara dia berdiri terus keluar. Ong Giu tertawa, sahutnya.
"Su-hay-sin-liong tidak datang, malah orang piaukiok kita sendiri yang mengiring kedatangannya. Suhu, tidak perlu kau orang tua keluar menyambutnya, mereka akan masuk kemari menghadap kepadamu."
Tata tertib Tin-wan Piaukiok amat keras, piausu yang rada rendahan berkunjung ke cabang piaukiok yang lain, menurut biasanya tidak perlu cong-piauthau sendiri yang keluar menyambutnya malah angkatan muda itu sendiri yang harus masuk menghadap ke dalam.
Ong Thian-thong melengak sebentar, hatinya semakin girang, katanya.
"Untunglah Han Congpiau-thau masih ingat hari ulang tahunku, siapa yang dia utus kemari? Tapi Nyo Bok boleh dianggap sebagai tamu kehormatan, adalah pantas aku keluar menyambutnya."
"Orang itu adalah murid Nyo Bok. Dengan kukuh dia minta di jinkan masuk ke dalam untuk menghadap kepada kau orang tua, ini pun demi gengsi dan kebaikan kau orang tua, kami tidak enak merintanginya."
Tengah mereka bicara, tampak Bun Seng-liong sudah mengiringi gurunya masuk ke dalam. Sapa Nyo Bok berseri tawa.
"Ong-loyacu, hari ini hari bahagiamu, Nyo Bok membawa muridku menyampaikan selamat ulang tahun kepada kau orang tua."
"Terima kasih,"
Ong Thian-thong balas menghormat. Lalu ia terima penghormatan setengah berlutut Bun Seng-liong, dan membimbingnya bangun, katanya tertawa lebar.
"Kabarnya usaha piaukiok di pusat amat maju. Han-congpiau-thau tentu amat sibuk. Beruntung dia masih ingat hari ulang tahunku. Apakah cong-piauthau baik-baik saja?"
"Baik. Cong-piauthau berkata kau orang tua adalah pimpinan yang paling berbudi dan luhur di antara cabang-cabang lain, besar jasa dan andilnya kepada piaukiok, beliau tidak bisa datang kemari sendiri untuk menyampaikan selamat hari ulang tahun ini, sungguh amat menyesal dan mohon dimaafkan."
Sanjung puji yang muluk ini membuat hati Ong Thian-thong terlalu girang, katanya.
"Ucapan Han-congpiauthau terlalu berlebihan, beliau menempel emas di mukaku, sungguh aku tidak berani terima. Ai, aku sedang pikir..."
"Apakah Ong-loyacu ada pesan yang perlu perlu kusampaikan kepada Han-congpiauthau?"
Tukas Bun Seng-liong.
"Benar. Selama puluhan tahun ini, aku pimpin Tin-wan Piaukiok cabang Yangciu, entah berapa kali mengalami marabahaya, untunglah sampai sekarang masih tetap sehat walafiat. Sekarang usiaku sudah tua, mungkin tak kuasa memikul tanggung jawab berat ini. Kupikir mohon lote nanti pulang lapor kepada Cong-piauthau, biarlah aku mengundurkan diri menurunkan beban, secepatnya mengutus seorang pengganti untuk pegang pimpinan cabang di sini."
Bun Seng-liong tersenyum, katanya.
"Ong-loyacu-ingin mengundurkan diri, kukira Han-congpiauthau tidak akan mau menerima permohonan ini. Saat ini ada sebuah urusan besar, beliau minta supaya aku berunding dengan kau orang tua."
Ong Thian-thong tertegun, pikirnya.
"Agaknya Han-congpiauthau terlibat urusan penting, maka dia utus Bun Seng-liong kemari untuk menyampaikan perintahnya. Aih, sungguh memalukan, aku malah sangka dia hendak menyampaikan selamat ulang tahun kepadaku."
Segera ia berkata.
"Bun-Iote, jangan kau sungkan-sungkan. Han-congpiauthau ada pesan apa lekas katakan."
"Han-congpiauthau terbentur sebuah urusan yang serba menyulitkan, hal ini..."
Sambil bicara mata Bun Seng-liong melirik kepada murid Ong Thian-thong terbesar, Ong Giu yang berdiri di samping. Sebagai seorang tua yang berpengalaman, Ong Thian-thong segera berkata.
"Ong Giu, pergilah kau menyambut tamu di luar."
Setelah muridnya keluar lalu ia bertanya lebih lanjut.
"Hancongpiauthau kebentur urusan apa yang menyulitkan, masakah begitu penting sampai orang lain tidak boleh tahu!"
Bun Seng-liong unjuk seri tawa, katanya.
"Ong-suheng tentunya bukan orang luar, tapi congpiau-thau ada pesan, soal ini hanya boleh dibicarakan dengan kau orang tua. Harap kau orang tua tidak berkecil hati." . Nyo Bok ikut menimbrung.
"Soal itu, Han-congpiauthau pun pernah berunding dengan aku, tapi aku sendiri sih tidak berani ambil putusan."
Maklumlah dia adalah orang luar, terpaksa harus mencari alasan ini, sehingga bisa ikut dalam perundingan ini.
"Bun-lote,"
Ujar Ong Thian-thong tertawa.
"kau tidak perlu banyak curiga, aku sudah hidup setua ini, memangnya tidak tahu urusan, silakan katakan saja!"
"Siapakah Ciok Tio-ki itu kukira kau orang tua tentu mengenalnya?"
Tanya Bun Seng-liong. Sekilas Ong Thian-thong me-lengak, katanya mengerut kening.
"Ciok Tio-ki? Dulu dia menjadi begal tunggal besar di kalangan kangouw, kabarnya terakhir menjabat wakil komandan Gi-lim-kun, kenapa kau menyinggung orang itu?"
"Ong-loyacu kau orang cukup tahu, kita tidak takut pejabat hanya takut tersangkut perkara, kantor pusat Tin-wan Piaukiok kita didirikan di kota raja, maka Kiu-bun-te-tok dan pihak Gi-lim-kun ada hak mengawasi kita, tidak bisa tidak Han-congpiauthau harus memberi sedikit muka kepada orang she Ciok itu."
"Hal itu sih aku tahu, dulu aku minta supaya dimutasikan di garis luar, maksudku supaya tidak selalu dilibat rasa jengkel oleh para pejabat itu. Tapi kau menyinggung soal ini, memangnya orang she Ciok itu sekarang mempersulit kedudukan piaukiok kita?"
"Betul. Pada suatu hari orang she Ciok ini berkunjung ke piaukiok kita berunding dengan Hancongpiauthau, dia minta congpiauthau bantu dia menangkap seorang maling terbang."
"Maling terbang? Maling terbang apa? Piaukiok kita hanya mengurus perlindungan kiriman barang, toh bukan opas."
"Ya, congpiauthau pun bilang demikian. Tapi Ciok Tio-ki berkata, 'bantuan' yang dia maksudkan bukan berarti minta anggota piaukiok kita turun tangan menangkap maling itu, dia cuma minta supaya kita tidak menghalang-halangi mereka menunaikan tugas. Karena maling terbang itu mencuri barang warisan mustika Seng-cin-ong maka beliau menugaskan Gi-lim-kun mengejar balik barang-barang itu dan menangkap maling itu untuk dihukum setimpal. Sebetulnya tugas ini merupakan urusan pihak Kiu-bun-te-tok, tapi komandan Gilim-kun Pakkiong Bong tidak berani menolak permintaan Seng-cin-ong."
Lalu ia menyambung dengan tertawa.
"Pakkiong Bong terlalu jaga gengsi dan kedudukan, setelah mendapat persetujuan dari Seng-cin-ong, dia suruh Ciok Tioki yang bertanggung jawab menyelesaikan persoalan ini."
"Aku tidak perduli permainan sandiwara pihak pejabat pemerintah, tapi ucapan Ciok Tio-ki itu rada menyangsikan, mereka menunaikan tugas mereka, memangnya apa sangkut pautnya dengan pihak Tin-wan Piaukiok, kenapa kita harus menghalang-halangi?"
"Beginilah persoalannya, soal maling terbang itu, mereka ada mendapat kabar, katanya sudah lari ke Yangciu, bukan mustahil hari ini dia akan muncul memberikan selamat ulang tahun kepada kau orang tua."
Sudah tentu Ong Thian-thong kaget, tanyanya.
"Siapakah maling terbang itu?"
"Ciok Tio-ki tidak mau menyebut siapa orang itu. Menurut dugaan Han-congpiauthau, mungkin kau orang tua ada kenal baik dengan maling terbang itu."
"Soal ini sungguh menyudutkan posisiku, kalau benar maling terbang itu betul datang ke rumahku, bagaimana menurut pendapat congpiauthau supaya aku bertindak?' "Ciok Tio-ki minta Cong Sin-liong sebagai pembantunya, nanti sebentar mereka bakal datang menyampaikan selamat kepadamu. Sudah tentu menyampaikan selamat sebagai alasan, tujuan yang sebenarnya adalah menangkap maling terbang itu. Dia sudah menjelaskan, cuma mengharap supaya kau tidak melindungi orang yang hendak mereka tangkap. Congpiau-thau sendiri tidak berani memberi keputusan kepada kau, tapi beliau mengharap supaya kau bertindak demi kepentingan piaukiok."
Bertaut alis Ong Thian-thong, katanya.
"Sudah tentu aku harus lebih mementingkan usaha piaukiok, tapi congpiauthau kan harus melindungi gengsi dan namaku!"
Bun Seng-liong tidak berani memberi komentar. Kata Ong Thian-thong pula.
"Semua orang yang datang ke rumahku memberi selamat kepadaku semua kuanggap tamuku, sebagai tuan rumah mana bisa aku berpeluk tangan menonton tamu itu ditangkap oleh mereka?"
"Kiranya Ong-loyacu hanya menguatirkan hal ini. Dalam hal ini congpiauthau juga pernah memikirkannya,"
Ujar Bun Seng-liong.
"Apa yang dia katakan?"
"Kata congpiauthau, sudah tentu tidak akan membiarkan kau orang tua kehilangan muka, maka beliau ada merundingkan suatu akal dengan Ciok Tio-ki, anggap saja sebagai permusuhan pribadi dari sesama kaum-persilatan, maling terbang itu digebah keluar dari piaukiok, barulah Ciok Tio-ki akan turun tangan setelah berada di luar."
"Itu hanya alasan tidak masuk akal seperti orang mencuri kelin-tingan dengan pura-pura menutupi kuping sendiri."
"Kalau maling terbang itu betul datang menyampaikan selamat kepadamu, tidak lebih hanya ingin mendapat perlindunganmu. Belum tentu pasti teman baikmu. Seumpama kau memang mengenalnya, namun dia hendak menimpakan bencana kepada piaukiok, terang maksud tujuannya harus diragukan."
Setelah uring-uringan lambat laun mereda dan tenang pula hati Ong Thian-thong, pikirnya.
"Sulit juga posisiku sekarang, kalau aku bertindak menurut isi hatiku, Tinwan Piaukiok cabang Yangciu bakal tutup pintu. Bagaimana aku harus bertanggung jawab kepada Han-congpiauthau? Sebaliknya kalau aku bantu memberi fasilitas kepada pihak pejabat, nama besarku selama hidupku ini bakal ludes dalam sekejap saja"
Nyo Bok segera menyela bicara.
"Soal ini memang menyulitkan Ong-loyacu, aku malah punya akal untuk mengatasi kesulitan ini."
Ong Thian-thong girang, katanya.
"Pengetahuan Nyo-busu memang lebih luas dari lohu, mohon suka memberi petunjuk."
"Tidak berani. Kupikir Ong-loyacu sebetulnya bisa cuci tangan sehingga tidak terlibat dalam persoalan ini."
"Hari ini adalah ulang tahunku, bagaimana aku bisa cuci tangan?"
Tengah mereka berunding belum mendapat kesesuaian pendapat itu, tiba-tiba murid Ong Thian-thong, Ong Giu, masuk ke dalam kamar.
Sebelumnya Ong Giu sudah bersuara memanggil guru lebih dulu di luar pintu.
Nyo Bok berdua segera tutup mulut, adalah Ong Thian-thong menjadi kikuk, katanya mengerut alis.
"Untuk apa kau masuk pula?"
Ong Giu lapor.
"Ada dua tamu mohon bertemu dengan suhu."
"Memangnya kau tidak mewakili aku menyambut mereka? Katakan aku sedang menerima tamu, nanti sebentar kutemui mereka."
"Tidak, tidak, kedua tamu itu ingin benar menemui kau orang tua."
Ong Thian-thong naik pitam, katanya keras.
"Siapa kedua tamu itu?"
Kata Ong Giu tersendat.
"Ini, inilah kartu nama mereka. Silakan suhu melihatnya!"
Dia tidak berani menyebut nama kedua tamu itu, sebagai kawakan kangouw Ong Thian-thong tahu pastilah bukan tamu sembarang tamu, segera ia keluarkan kartu nama dari sampul masingmasing, sekilas ia melihatnya terus memasukkan pula, katanya tertawa dibuat-buat.
"Kiranya mereka berdua."
Meski sedapat mungkin ia bersikap tenang, roman mukanya toh sudah berubah.
Keruan timbul rasa curiga Nyo Bok berdua, sebagai orang licik, kuatir membuat gaduh dan menggagalkan urusan, dia diam saja tidak menunjukkan sikap.
Sebaliknya Bun Seng-liong tidak tahan, tanyanya.
"Siapakah kedua tamu itu?"
Ong Thian-thong menenangkan hati, sahutnya.
"Dua temanku lama, sering bantu aku dalam usaha garam, mungkin hendak tanda tangan kontrak pula dengan aku."
Maksudnya bahwa kedua tamunya ini bukan kaum persilatan, maka tidak perlu dia memberitahu nama mereka.
Waktu Ong Thian-thong bicara diam-diam Nyo Bok memberi kedipan mata kepada muridnya, sebagai orang cerdik, Bun Seng-liong segera tahu maksud hati gurunya, ia tidak bertanya lebih lanjut.
Karena berbohong hati Ong Thian-thong kurang tentram, katanya lebih lanjut.
"Nyo-heng soal itu biar nanti kita bicarakan lagi. Seng-liong, bantulah aku menyambut tamu di luar, jikalau kedua tamu yang kau maksudkan itu tiba, beritahukan kepada Ong Giu. Ong Giu sekarang kau keluar, antarlah kedua tamu itu ke dalam kamar bukuku!"
Setelah memberikan pesannya, Ong Thian-thong minta diri.
"Nyo-heng, maaf aku tidak menemani kau lebih lanjut."
Nyo Bok tertawa dipaksakan, ujarnya.
"Kita kan orang sendiri, kenapa main sungkan segala? Adalah pantas bersama Seng-liong aku bantu kau menerima tamu."
Sementara dalam hati ia amat curiga, batinnya.
"Ong Thian-thong mengundang mereka ke dalam kamar rahasia, naga-naganya bukan saja takut diketahui oleh kami, juga kuatir diketahui oleh tamu-tamu yang lain. Siapakah kedua orang itu?"
Demikian ia bertanya-tanya.
Siapakah kedua orang itu?
Ternyata mereka bukan lain adalah Utti Keng dan Miao Tiang-hong.
Miao Tiang-hong adalah pendekar kelana yang terkenal di kangouw, perkara yang dia lakukan di kota raja belum sampai diketahui Ong Thian-thong, maka ia tidak begitu kaget.
Tapi jauh berlainan dengan kunjungan Utti Keng ini.
Utti keng adalah begal besar yang sudah terkenal di seluruh dunia sebagai pelanggar hukum, pernah membegal kado ulang tahun komandan Bhayangkari pula, namanya tercantum dalam daftar buronan penting, melihat kartu namanya, keruan Ong Thian-thong amat terkejut.
Terutama setelah bicara dengan Nyo Bok tadi, terpikir olehnya.
"Mungkinkah maling terbang yang mereka maksudkan itu adalah Utti Keng?"
"Kalau benar mereka hendak menangkap Utti Keng, bagaimana aku harus bersikap? Ya, bukan saja aku tidak ingin piaukiok ini disegel, tapi aku pun tidak bisa menjual teman!"
Tak terasa jantung Ong Thian-thong berdebar bagai samudra mengamuk.
Nyo Bok dan Bun Seng-liong ikut Ong Giu menuju ke ruang tamu di depan, baru saja mereka tiba di pekarangan luar, terdengarlah seseorang tengah bicara keras di dalam ruang tamu.
"Harap tuan berdua tunggu sebentar, suhu sedang ada urusan, setelah urusan beres, beliau pasti akan keluar."
"Kami punya urusan yang amat penting, kami harus segera bertemu dengan gurumu, tolonglah kau masuk laporkan kepadanya."
"Siapakah she dan nama besar tuan berdua, paling tidak toh aku harus tahu!"
"Setelah bertemu dengan kami Ong-lopiauthau pasti tahu siapa kami berdua."
Nyo Bok terkejut, pikirnya.
"Logat tamu itu amat kukenal, mungkinkah dia? Masakah begitu besar nyalinya?"
Tiba-tiba ia teringat seseorang, keruan hatinya kaget dan murka. Mendengar sutenya sedang ribut dengan tamu, Ong Giu pun merasa heran dan curiga. Pikirnya.
"Masakah kedapatan tamu yang tidak tahu aturan, mungkin ada orang sengaja hendak cari gara-gara."
Kebetulan ada orang keluar dari dalam, dia adalah sute nomor empat. Ong Giu segera memanggilnya, tanyanya dengan suara perlahan.
"Apa yang terjadi di dalam?"
Sutenya menjawab.
"Kedua tamu itu amat aneh. Sam-suko menanyakan nama mereka, mereka tidak mau memperkenalkan diri. Minta kartu nama pun tidak punya. Tadi kau ada berpesan, suhu sedang menemui tamu di kamar buku, sementara tidak mau menerima tamu lain. Maka bagaimanapun Sam-suko tidak mengijinkan mereka masuk."
"Baik, biar aku masuk melihatnya. Panggil ah Ji-suko kemari, jangan kita membikin kaget suhu,"
Demikian pesan Ong Giu. Bun Seng-liong menimbrung.
"Kedua tamu ini berani bikin ribut di sini, Ong-suheng, kalau kau hendak turun tangan, biar nanti kubantu kau."
"Biar nanti melihat gelagat saja."
Di saat mereka beranjak masuk ke ruang tamu, terdengar salah seorang tamu berkata.
"Baiklah, barang ini boleh kau bawa masuk sebagai kartu namaku."
Itulah sebuah buntalan panjang dari kain merah. Melihat Toa-suhengnya datang, Sam-sute Ong Giu itu merasa lega ?dan berkata.
"Toa-suheng, kebetulan kau datang. Lihatlah kartu nama ini..."
"Baik, berikan kepadaku!"
Ong Giu segera menerima barang itu, sekali raba lantas ia tahu itulah sebatang panah, seketika berubah roman mukanya, katanya dingin.
"Apa-apaan maksud kalian ini?"
Di samping sana, Nyo Bok dan salah seorang tamu yang lain pun berubah air mukanya.
Ternyata kedua tamu ini adalah Leng Thiat-jiau dan Beng Goan-cau.
Beng Goan-cau sudah merubah muka menyamar orang lain, tapi logat suaranya toh dikenal oleh Nyo Bok.
Mimpi pun Beng Goan-cau tidak menduga di tempat ini Nyo Bok bakal muncul, betapapun tabah dan tenang hatinya, tak urung berubah juga air mukanya.
Baru saja Ong Giu hendak membuka buntalan merah itu, tiba-tiba Beng Goan-cau merebut balik dari tangannya, katanya.
"Saudara Ong begini curiga, kalau begitu kartu nama ini tidak usah kau berikan kepada gurumu."
Ternyata buntalan kain merah itu berisi Ling-cian (panah mandat), merupakan panah yang sering digunakan oleh Siau Ci-wan dan Leng Thiat-jiau, dua pimpinan tertinggi dari pasukan laskar gerilya di Siau-kim-jwan, dulu Ong Thian-thong pernah mengantar barang di daerah Sujwan, begitu melihat panah itu pasti dia kenal siapa pemiliknya.
Tapi sekarang Nyo Bok hadir di hadapan mereka, sudah tentu Beng Goan-cau tidak mengijinkan Ong Giu membuka buntalan merah itu, memperlihatkan panah kepada umum.
Ong Giu adalah murid tertua Ong Thian-thong, kepandaian silatnya sebetulnya tidak lemah, tak nyana dengan gampang Beng Goan-cau berhasil merebut barang dari tangannya, keruan kaget dan gusar pula, katanya dingin.
"Jadi kalian sengaja datang hendak mempermainkan orang?"
Leng Thiat-jiau cukup cerdik dan cermat, semula ia pun tertegun, lalu dilihatnya Beng Goan-cau dan Nyo Bok sama-sama berubah air muka, ia lantas tahu bahwa tamu di hadapannya ini tentu kurang beres, segera ia menimbrung.
"Harap saudara Ong jangan salah paham, kalau toh saudara Ong merasa kartu nama ini kurang hormat, biarlah kami menyediakan kado yang lain saja."
Memang Leng Thiat-jiau berdua tidak membawa kado, bahwa dia mengatakan kado lain itu berarti mereka harus keluar membelinya dulu. Ong Giu berpikir.
"Kalau toh mereka tahu diri dan mundur teratur, biarlah mereka pergi saja."
Ong Giu menyangka mereka kenal Nyo Bok, karena gentar akan nama besar Nyo Bok, mereka tahu gelagat dan mengundurkan diri. Nyo Bok segera tampil ke depan, katanya.
"Saudara sudah berada di sini, kenapa harus pergi? Mari kita berkenalan!"
Kiranya melihat roman muka Beng Goan-cau berubah, diam-diam Nyo Bok sudah curiga, maka ia mencari alasan hendak menjajal kepandaian Beng Goan-cau, beberapa kali ia pernah bergebrak dengan Beng Goan-cau, sekali jajal lantas dia akan tahu apakah betul orang ini adalah Beng Goancau.
Leng Thiat-jiau maju selangkah, katanya sambil mengulur tangan.
"Baik, mari kita berkenalan!"-Nyo Bok tidak langsung ajak Beng Goan-cau berkenalan, untuk mundur tidak mungkin lagi, terpaksa ia berjabatan tangan dengan Leng Thiat-jiau. Begitu kedua tangan saling genggam, Nyo Bok diam-diam kerahkan kekuatan Kim-kong-liokyang-jiu kebanggaannya maksudnya hendak bikin Leng Thiat-jiau mendapat malu di muka umum, tak nyana begitu lwekangnya dikerahkan, seketika membanjir keluar seperti hanyut ke dalam lautan tanpa bekas, sedikit pun ia tidak berhasil menjajaki sampai di mana taraf kepandaian orang. Karena kaget Nyo Bok lekas menarik tangan. Leng Thiat-jiau tidak bikin susah orang, ia pun lepas tangan, katanya tertawa lebar.
"Jadi tuan adalah Nyo-busu dari Siok-ciu."
Nyo Bok tidak berhasil meraba kepandaian orang, sebaliknya Leng Thiat-jiau tahu asal-usul dirinya, keruan semakin mencelos hatinya, katanya.
"Tidak berani, siapakah tuan ini? A... aduh, aduh..."
Leng Thiat-jiu tertawa dingin, ujarnya.
"Aku orang gunung dari kalangan jagal anjing, mana dapat dibanding Nyo-busu yang terkenal di bulim, tidak perlulah kusebut namaku yang rendah."
Sembari bicara matanya menatap tajam kepada Nyo Bok.
Dilihat Nyo Bok berdiri bergetar, keringat dingin membanjir di atas jidatnya, gigi pun gemeretak kencang.
Ternyata lwekang yang dikerahkan Leng Thiat-jiau membawa gelombang susulan yang bertenaga luar biasa, baru sekarang kekuatan remasan tangannya kumat di dalam badan orang.
Bun Seng-liong terperanjat, lekas ia berteriak.
"Suhu kenapa kau?"
Lekas ia maju hendak mema-yang gurunya.
Di luar tahunya, Nyo Bok sedang mengerahkan hawa murni untuk memunahkan sisa tenaga lawan yang mengeram dalam badannya, baru saja kedua tangan Bun Seng-liong menyentuh kulit badan Nyo Bok, seketika ia tergetar mencelat dan roboh terjengkang.
Melihat Bun Seng-liong terbanting roboh, Ong Giu tidak berani menariknya bangun, segera ia mengulurkan pedangnya bersama sarungnya ke depan orang, Bun Seng-liong mencelat bangun sambil menangkap ujung pedangnya, matanya melotot gusar ke arah Leng Thiat-jiau.
Leng Thiat-jiau tertawa geli, ujarnya.
"Buat apa kau"
Melotot kepadaku? Gurumu sendiri yang membanting kau, peduli apa dengan aku?"
Betapapun Nyo Bok seorang persilatan yang punya lwekang yang tangguh, tiga kali ia salurkan hawa murninya berputar dalam badannya, darah sudah berjalan normal kembali, rasa sesak dan mual di rongga dadanya seketika sirna.
Demi menjaga nama dan gengsi, meski kena dirugikan mentah-mentah, namun ia tidak berani sesumbar, terpaksa tertawa getir, katanya.
"Hebat benar kepandaian tuan ini."
"Nyo-busu, apa yang kau katakan aku tidak mengerti. Aku hanya bisa bunuh anjing jagal babi, punya kepandaian apa segala?"
Di saat situasi serba kaku dan kikuk, untunglah dari luar ada orang berseru melapor.
"Tamu datang!"
Tampak sepasang suami istri pertengahan umur beranjak masuk.
Ternyata Ciok Heng dan Siang Ceng suami istri dari Hu-siang-pay.
Ciok Heng pernah bertemu muka dengan Nyo Bok di Thay-san tempo hari, melihat keadaan orang yang serba runyam itu, dilihatnya muridnya pun sedang melotot gusar kepada laki-laki kekar, keruan ia heran dan tak habis mengerti.
Lekas ia maju dan menyapa.
"Nyo-busu, kau pun sudah datang di sini, tadi..."
"Tiada apa-apa, silakan duduk!"
Segera Ong Giu menyela bicara. Sengaja ia tidak hiraukan Leng dan Beng berdua, tujuannya supaya orang tahu diri dan lekas mengundurkan diri. Leng Thiat-jiau berpikir.
"Tanpa sebab dan tujuan pasti Nyo Bok tidak akan datang memberi selamat ulang tahun kepada Ong Thian-thong, mungkin ada anjing alap-alap yang mengikuti di belakangnya."
Segera ia berdiri ke depan dan hendak pamitan. Tak nyana baru saja ia hendak membuka mulut, terdengar pula seseorang berseru di ambang pintu.
"Lo-pangcu telah tiba!"
Kaget dan senang pula Leng Thiat-jiau, lekas ia telan kembali kata-kata yang sudah sampai di ujung lidahnya, ia mundur kembali ke tempat semula.
Dilihatnya seorang laki-laki berperawakan tinggi kasar melangkah lebar ke dalam pintu, begitu melangkah masuk suaranya yang serak keras itu lantas berkumandang.
"Orang she Lo datang menyampaikan selamat ulang tahun kepada sahabat karib! Em, Ong Giu, mana gurumu? Lekas suruh gurumu keluar menerima persembahanku."
Pendatang ini bukan lain adalah Hay-soa-pang Pangcu Lo Kim-ou yang hendak diajak berunding oleh Leng Thiat-jiau. Ong Giu menjawab.
"Harap Lo-pangcu suka tunggu sebentar, suhu ada sedikit urusan. Sebentar biar aku masuk memberi laporan."
Bertaut alis Lo Kim-ou, katanya.
"Bukan aku tidak tahu aturan, mendesak gurumu untuk keluar menemui aku. Soalnya aku pun ada urusan penting, mungkin tidak bisa minum arak perjamuan gurumu. Adakah urusan yang terlalu penting melibat gurumu?"
Semula Leng Thiat-jiau hendak mengundurkan diri, mendengar kata-kata Lo Kim-ou ini, segera ia urungkan niatnya. Ong Giu serba susah, katanya.
"Aku pun tidak tahu ada urusan apa. Lo-pangcu, kalau kau segera hendak pergi, silakan duduk sebentar, biar aku masuk laporan kepada Suhu!"
Kebetulan Jisutenya Ho Siu dan Si-sutenya Teng Ping berjalan masuk bersama Ho Siu adalah seorang bera-ngasan, waktu tiba di undakan batu, lantas dia bertanya kepada seorang penjaga pintu.
"Tamu galak itu sudah pergi belum?"
Penjaga pintu itu lekas mendesiskan mulut, barulah Ho Siu maklum sambil manggut dan tidak bertanya lebih lanjut Walau pertanyannya tidak begitu keras, tapi orang-orang di dalam ruang tamu adalah tokohtokoh silat yang punya dasar latihan lwekang tinggi, semua mendengar jelas.
Lo Kim-ou heran dan curiga, pikirnya.
"Tamu galak yang dimaksud bukan aku kiranya?"
Serta merta pandangannya lantas ditujukan ke arah Nyo Bok, pikirnya.
"Melihat keadaan dan sikapnya, lwekang laki-laki pertengahan umur ini agaknya cukup lihay, mungkinkah dia?"
"Sute, kebetulan kalian sudah datang, bantulah menemani para tamu,"
Ong Giu segera berkata.
"Em, Lo-pangcu, inilah Nyo-busu dari Siok-ciu. Bun-toako ini adalah seorang kerabat dari piaukiok kami, dia pun murid terbesar dari Nyo-busu."
Ia hanya memperkenalkan Nyo Bok berdua, sengaja bersikap dingin dan tidak ambil peduli kepada Leng dan Beng, secara diam-diam ia mau berkata bahwa tamu galak bukanlah Nyo Bok berdua.
Nyo Bok segera tampil ke depan.
"Lo-pangcu, selamat bertemu, selamat bertemu."
Lo Kim-ou berkata.
"Nama besar Nyo-busu sudah lama kukenal."
Mereka lantas berjabatan tangan, seketika Lo Kim-ou merasakan sesuatu yang ganjil, katanya "Apakah Nyo-heng barusan adu lwekang dengan seseorang?"
Nyo Bok tertawa getir, sahutnya.
"Adu lwekang sih tidak, cuma barusan aku mencoba kepandaian dengan saudara tamu ini."
Sorot mata Lo Kim-ou beralih kepada Leng Thiat-jiau dan Beng Goan-cau, katanya.
"Kedua sahabat ini adalah..."
"Kedua sahabat ini tidak mau memperkenalkan diri, mereka sudah datang setengah jam yang lalu, minta bertemu dengan suhu, namun sayang mereka tidak sudi memperkenalkan diri,"
Lekas Ong Giu menjelaskan.
"O, kiranya tokoh-tokoh kosen, maaf aku tidak tahu diri, aku orang she Lo ingin berkenalan. Kawan, mari kita berkenalan!"
Leng Thiat-jiau bergelak tertawa, ujarnya.
"Lo-pangcu, kau sudah tidak kenal kepadaku lagi?"
Wajah Leng Thiat-jiau sudah dirias dan menyamar, namun suaranya tetap semula, tapi urusan sudah terjadi beberapa tahun yang lalu, sesaat Lo Kim-ou tidak mengingatnya, cuma ia rasa suara orang seperti sudah dikenalnya.
Tapi ia tetap ulurkan tangannya, katanya.
"O? Maaf akan mataku yang sudah lamur ini, aku tidak kenal saudara lagi, di manakah kita pernah bertemu?"
Leng Thiat-jiu ulur tangan berjabatan, diam-diam ia salurkan hawa murninya, memunahkan tenaga dalam orang yang memberondong tiba, namun tidak balas menyerang. Keruan Lo Kim-ou melengak kaget, serunya.
"Kau, kau adalah..."
"Dua puluh tahun yang lalu,"
Ujar Leng Thiat-jiau.
"Siaute pernah bertemu dengan Lo-pangcu di Hap-kiang. Tapi waktu itu ada tujuh delapan orang yang hadir, kejadian sudah berselang sekian lamanya, tidak heran kalau Lo-pangcu tidak ingat lagi."
Dua puluh tahun yang lalu Lo Kim-ou baru saja keluar kandang dan mengembara, di Hap-kiang dia mengalami sergapan dari tujuh orang musuh tangguhnya, kebetulan Leng Thiat-jiau berhasil menolong jiwanya, Leng Thiat-jiau menyinggung kejadian lama, sudah tentu Lo Kim-ou lantas paham dan tahu.
Kaget dan senang pula Lo Kim-ou, pikirnya.
"Dia sudah menjadi pimpinan tertinggi dari laskar gerilya di Siau-kim-jwan, untuk urusan apa dia muncul di sini? Tapi aku tidak boleh membongkar asal usulnya di tempat ini."
Nyo Bok segera maju mendekat, katanya.
"O, jadi kalian adalah sahabat lama."
"Ya, aku pun tidak mengira bakal bertemu sahabat lama di tempat ini. Thio-toako, apa kau sengaja datang hendak menyampaikan selamat ulang tahun kepada Ong-lopiauthau? Kalau toh berada di Yangciu, kenapa tidak memberi kabar dulu kepadaku?"
Lo Kim-ou berwatak berangasan, namun ia cukup cerdik dan cermat, seenaknya saja ia pura-pura memberi nama palsu kepada Leng Thiat-jiau.
Maklumlah orang yang she Leng amat jarang, ilmu silat Leng Thiat-jiau pun sedemikian tinggi, kalau dia langsung memanggil "Leng-toako", mungkin Nyo Bok akan segera tahu siapa dia sebenarnya.
Ong Giu menjadi rikuh, katanya.
"Kiranya kalian adalah sahabat lama, itulah lebih baik. Thiosiansing, tidak perlu kau siapkan kado lain lagi, biarlah kulaporkan kepada suhu!"
Begitu Ong Giu mengundurkan diri, Lo Kim-ou lantas berkata.
"Thio-toako, aku tidak tahu bila kau pun bersahabat baik dengan Ong-lopiauthau, sayang aku tidak bisa mengiringi kau makan minum di sini."
Leng Thiat-jiau maklumi kata-kata orang, sahutnya.
"Aku datang secara kebetulan saja, sebetulnya mana berani aku menjajarkan diri bersahabat dengan Ong-lopiauthau, tadi mereka toh tidak mau melaporkan kedatanganku."
Ji-sute Ong Giu, Ho Siu segera maju mohon maaf.
"Tadi hanyalah salah paham saja, harap Thio-siansing tidak berkecil hati."
Leng Thiat-jiau tertawa, ujarnya.
"Kalian tidak maki aku si 'tamu galak' ini, aku sudah berterima kasih. Gurumu sedang punya urusan, aku pun datang karena kagum akan nama besarnya, kini aku sudah berada di sini, anggap sebagai pelimpahan rasa kagumku, tidak perlu bikin susah gurumu untuk menemui kami. Kami mohon diri saja!"
"Lebih baik kalau tamu-tamu galak ini pergi,"
Demikian batin Ho Siu, namun ia pura-pura menahan dengan bujukan kata-kata halus, namun toh ia mengiringi tamu-tamunya keluar. Tak nyana Lo Kim-ou segera ikut berkata.
"Ho-lote, aku pun hendak pergi, di hadapan gurumu, sampaikan permohonan maafku."
Keruan Ho Siu terperanjat, katanya.
"Ong-suheng sudah memberi laporan kepada suhu, Lopangcu, betapapun repot urusanmu, kiranya tidak menjadi halangan kau menunggunya sebentar."
"Besok aku bisa datang lagi, hari ini aku harus menemani sahabat lamaku ini,"
Demikian ujar Lo Kim-ou tertawa. Lo Kim-ou beranjak keluar bersama Leng dan Beng, Ho Siu tidak berani menghalangi, namun diam-diam timbul rasa curiga Nyo Bok. Pikirnya.
"Satu di antara kedua tamu itu pasti Beng Goancau adanya. Kenapa Lo Kim-ou segera hendak membawa mereka pergi? Dalam hal ini tentu ada latar belakangnya."
Cepat ia memburu maju dan berteriak.
"Saudara-saudara harap tunggu sebentar!"
Leng Thiat-jiau belum lagi sampai di luar pintu, katanya dingin sambil berpaling.
"Apakah Nyobusu masih ingin jajal kepandaian dengan aku?"
Merah muka Nyo Bok.
"Kalian mau pergi begini saja. Ong-piau-thau mungkin bisa menyalahkan aku berbuat dosa terhadap para tamunya."
Lo Kim-ou mendengus sekali.
"Nyo-busu, bicara sesungguhnya, memang kau sendiri yang banyak hati. Akulah yang membawa kedua teman ini pergi, tiada sangkut pautnya dengan kau."
Sambil bicara Leng Thiat-jiau, Beng Goan-cau dan Lo Kim-ou sudah keluar dari ruang tamu itu, namun Nyo Bok tetap mengikuti di belakang mereka.
Kebetulan pada saat itu, dari luar ada dua tamu mendatangi.
Orang tua yang berjalan di depan melihat keadaan yang rada ganjil ini, lantas ia tahu gelagat tidak menguntungkan, segera ia bersuara.
"Nyo-busu, bukankah kau sudah berjanji hendak memberi selamat ulang tahun kepada Ong-lopiauthau bersama, kenapa begini cepat sudah hendak pergi?"
Begitu melihat kedatangan kedua orang ini, girang Nyo Bok seperti ketiban rejeki nomplok, sahutnya.
"Aku wakili tuan rumah menahan para tamu ini, para sahabat ini berkukuh hendak pergi, aku kuatir tidak bisa memberi penjelasan di hadapan Ong-lopiau-thau."
Ternyata kedua pendatang ini bukan lain adalah Cong Sin-liong dan Ciok Tio-ki yang baru saja melarikan diri dari Su-kong-se.
Kebetulan pula murid tertua Ong Thian-thong, Ong Giu, tersipu-sipu berlari keluar, teriaknya.
"Lo-pangcu, suhu suruh aku mohon maaf kepada kau, bagaimana juga harap kau sudi menunggu sebentar, segera beliau akan keluar."
Cioi Tio-ki beranjak maju, katanya.
"O, tuan ini adalah..."
Baru sekarang Ong Giu melihat jelas kedua tamu barunya ini, keruan kagetnya bukan kepalang, batinnya.
"Kenapa wakil komandan Gi-lim-kun pun datang juga?"
Terpaksa dengan mengeraskan kepala ia tampil ke depan, sambutnya.
"Ciok-tayjin juga datang, maaf kami tidak menyambut semestinya. Inilah Lo-pangcu dari Hay-soa-pang, Lo-pangcu inilah Ciok-tayjin dari Gi-lim-kun."
Ciok Tio-ki belum mengenali Beng Goan-cau, dan Leng Thiat-jiau, ia sangka kedua orang ini hanyalah thaubak dari Hay-soa-pang. Pikirnya.
"Nyo Bok berulang kali memberi kedipan mata kepadaku, pastilah Lo Kim-ou ini kurang beres, dia minta supaya aku menahannya."
Segera ia bergelak tertawa, katanya.
"Sudah lama kudengar nama besar Pangcu, kebetulan bisa bertemu di sini. Tuan rumah hendak menahan tamu agung, aku pun mengharap bisa berkenalan dengan Lopangcu."
Dulu Cong Sin-liong pernah bertemu sekali dengan Lo Kim-ou, segera ia menimbrung bicara.
"Lo pangcu, kebetulan bisa berkumpul di sini, mana boleh kau pergi begini saja, mari, mari, kita ngobrol saja di dalam."
Mulut bicara, sementara tangannya tahu-tahu sudah menarik tangan Lo Kim-ou dengan jurus Kim-na-jiu-hoat.
Tapi bagi orang lain, kelihatannya mereka tarik menarik tangan sebagai kawan lama.
Lwekang Cong Sin-liong mengutamakan tenaga lunak, Lo Kim-ou kerahkan tenaga hendak berontak, namun terasa badannya seperti dibungkus oleh segulung kapuk yang empuk, ternyata tak berhasil ia membebaskan diri.
Nyo Bok berkata.
"Thio-toako ini adalah sahabat lama Lo-pangcu. Siapa nama besar kawan ini aku belum sempat menanyakan."
Dengan tawar Beng Goan-cau berkata.
"Aku orang rendah dari gunung, mana berani berkenalan dengan tuan-tuan besar."
Kali ini suaranya dia ubah. Dalam waktu dekat Ciok Tio-ki masih belum tahu siapa dia sebenarnya, namun rasa curiga Nyo Bok semakin tebal. Ciok Tio-ki tertawa terbahak-bahak.
"Kalau toh sama-sama sahabat baik, marilah kita masuk bersama. Aku orang she Ciok paling suka berkenalan dengan orang-orang gagah, saudara ini,"
Kuharap kau tidak berkata begitu merendah diri."
Lekas Beng Goan-cau melangkah lebar ke depan, sebenarnya Ciok Tio-ki hendak menarik tangannya, mencoba kepandaian orang, perbuatan Beng Goan-cau ini keruan membuat sikap Ciok Tio-ki kikuk dan runyam.
Dalam hati diam-diam ia mengumpat caci akan kekurangajaran orang.
Beng Goan-cau tahu dirinya sudah pernah berkelahi melawan Cong Sin-liong, Ciok Tio-ki dan Nyo Bok, demi urusan besar, betapapun ia tidak boleh membongkar asal-usul diri sendiri.
Kalau toh sudah tidak bisa pergi, terpaksa ia menurut saja balik ke dalam.
Sebaliknya Leng Thiat-jiau membatin.
"Aku tidak boleh membiarkan Lo Kim-ou kena dipermainkan."
Segera ia melangkah maju dua langkah, katanya.
"Tuan rumah begitu simpatik, terpaksa biar kami pergi setelah bertemu dengan tuan rumah."
Di saat bicara tangannya sudah menggenggam tangan kiri Lo Kim-ou, di sebelah kanan Lo Kim-ou adalah Cong Sin-liong, sebelah kiri adalah Leng Thiat-jiau, mereka jalan berjajar memasuki ruang tamu.
Semula Cong Sin-liong menggenggam tangan kanan Lo Kim-ou, mendadak segulung tenaga besar yang kuat dan keras menerjang ke telapak tangannya, tenaga dalamnya memang mengutamakan kelunakan, meski lunak dapat menundukkan kekerasan, tapi harus dinilai, bagaimana perbandingan kekuatan kedua pihak.
Lwekang Cong Sin-liong kira-kira setanding dengan Leng Thiat-jiau, ditambah kekuatan Lo Kim-ou sendiri, sudah tentu ia tidak kuasa bertahan diri.
Seketika ia rasakan telapak tangannya panas seperti dibakar, tanpa terasa lekas ia lepaskan genggaman tangannya.
Ternyata Leng Thiat-jiau sudah mengembangkan ilmu tingkat tinggi yang dinamakan Kek-san-ta-gu (dari balik gunung memukul kerbau).
Sebetulnya meski Lo Kim-ou kena teringkus oleh Cong Sin-liomg secara halus, Cong Sin-liong tidak akan berani melukainya.
Kua-tir temannya itu kena dirugikan, karena demonstrasi kekuatan lwekangnya ini, terpaksa Leng Thiat-jiau harus buka kedoknya sendiri.
Cuma Ciok dan Cong masih belum tahun asal-usulnya, namun sudah tahu bahwa orang punya kepandaian yang hebat.
Cong Sin-liong kaget, pikirnya.
"Kepandaian orang ini jauh lebih tinggi dari Lo Kim-ou, siapakah dia?"
Ciok Tio-ki lebih seksama, pikirnya.
"Orang ini jelas bukan thaubak, tak heran. Nyo Bok amat serius supaya aku bantu menahan mereka, mungkinkah dia kakap gede yang sedang kami buru?"
Rombongan mereka kembali masuk ke dalam ruang perjamuan, Ciok Heng suami isteri melihat Cong Sin-liong datang berteman Ciok Tio-ki, seketika berubah air muka mereka, namun mereka sengaja bersikap acuh tak acuh.
Sebaliknya Cong Sin-liong sengaja hendak berolok-olok, tanyanya.
"Mana budak Lim Bu-siang itu? Apakah pihak Hu-siang-pay hanya kalian berdua saja yang datang?"
Ciok Heng menjengek dingin.
"Urusan Hu-siang-pay orang luar tidak perlu tahu. Kau ini siapa berani bermulut kotor terhadap ciangbunjin kami?"
Keruan Cong Sin-liong berjingkrak gusar, serunya.
"Hu-siang-chit-cu akulah yang tertua, kalian tidak pandang orang yang lebih tua, hukuman apa atas dosa kalian?"
"Kau tetua dari golongan mana? Hu-siang-pay kami tiada kurcaci macam kau ini."
Para murid Ong Thian-thong lekas tampil memisah dan membujuk, kata Ong Giu bersama Ho Siu.
"Para cianpwe sukalah memberi sedikit muka kepada suhu!"
Tiba-tiba Ciok Tio-ki bergelak tertawa, katanya.
"Benar, kita datang untuk memberi selamat kepada Ong-lopiauthau, urusan dalam partai kalian biar diselesaikan lain kesempatan saja Siapa salah siapa benar, kelak pasti dapat ditegakkan keadilan."
Meminjam alasan mencuci bersih nama perguruan, melenyapkan Ciok Heng suami istri, muslihat ini sebelumnya sudah dirundingkan secara rahasia oleh Boh Cong-tiu dengan Cong Sinliong, Ciok Tio-ki sendiri pun memberi persetujuan dan menjanjikan bantuan.
Kini mendadak Cok Tio-ki putar angin ganti haluan, keruan Cong Sin-liong menjadi bingung dan uring-uringan.
Ternyata Ciok Tio-ki mempunyai perhitungannya sendiri, dia sendiri punya urusan yang lebih penting perlu segera diselidiki biar terang, yaitu hendak mengetahui asal-usul Leng Thiat-jiau, karena sekarang dia sudah mulai curiga bahwa 'kakap gede' yang mereka incar bukan lain pasti Leng Thiat-jiau adanya.
Dia pun mempertimbangkan bahwa Cong Sin-liong sudah diusir dari perguruan Hu-siang-pay.
Boh Cong-tiu sendiri yang memimpin pengusiran ini.
Sebetulnya Boh Cong-tiu harus hadir di sini mencabut dan menghapus putusan pengusiran dulu, baru Cong Sin-liong punya hak untuk bicara dalam urusan perguruan, tapi kenyataan Boh Cong-tiu belum kunjung tiba.
Keadilan yang dimaksud Ciok Tio-ki, adalah menanti dukungan Boh Cong-tiu sendiri.
Sekilas Cong Sin-liong meleng-gong, namun cepat sekali ia sudah memaklumi juntrungan katakata Ciok Tio-ki, katanya sambil mendengus.
"Kupandang muka Ciok-tayjin dan tuan rumah, sekarang sementara kukesampingkan persoalan ini."
Siang Ceng tertawa, timbrung-nya.
"Sudah setengah harian aku pasang kuping, hanya beberapa patah kata ini yang betul dia ucapkan. Toako, benar tidak?"
Siang Ceng adalah istri Ciok Heng, Beng Goan-cau dan lain-lain menjadi heran, batinnya.
"Kenapa dia bantu bicara ke pihak Cong Sin-liong malah?"
Tanpa menunggu jawaban suaminya, Siang Ceng menjawab pertanyaannya sendiri.
"Hu-siangpay sudah lama membersihkan diri dari anasir-anasir jahat. Terhadap manusia-manusia kecil dan rendah, tidak setimpal kita layani permainan badut mereka. Toako, ucapanku betul tidak?"
Ciok Heng bergelak tertawa, ujarnya.
"Betul memang tepat dan masuk akal kata-katamu."
Sudah tentu cemooh dan olok-olok mereka suami istri membuat Cong Sin-liong berjingkrak gusar seperti kebakaran jenggot, namun, dia tidak berani mengumbar amarah, batinnya.
"Tunggu setelah Boh Cong-tiu datang, biar nanti mereka merasakan kekejaman tanganku."
Ciok Tio-ki sengaja duduk di samping Leng Thiat-jiau, ia ajak orang bicara dan ngobrol.
Leng Thiat-jiau tahu orang sudah mulai curiga terhadap dirinya, namun ia tidak leluasa main kekerasan terhadap orang.
Di saat ia serba kesulitan melayani orang, tiba-tiba terdengar sebuah suara tua keras dan serak berkata.
"Para tamu agung sudi berkunjung, harap maaf akan keterlambatan aku orang tua keluar menyambut."-Ternyata Ong Thian-thong telah keluar. Setelah berunding di kamar rahasia dengan Utti Keng dan Miao Tiang-hong, Ong Thian-thong sudah tahu bahwa Cong Sin-liong dan Ciok Tio-ki hendak meluruk ke rumahnya untuk membekuk buronan penting yang dimaksud. Ong Thian-thong serba bimbang dan ragu-ragu, pikirnya.
"Benarkah Han-congpiauthau tahu seluk beluk persoalan ini? Ataukah kena ditipu oleh Ciok Tio-ki, disangkanya mereka memang benar hendak menangkap maling terbang?"
Sedikit pun ia tidak menyangka bahwa cerita ini hanyalah bualan dari karangan Nyo Bok dan muridnya yang meminjam perintah palsu Han Wi-bu.
Di saat ia masih bingung dan curiga itulah, didengarnya suara Siang Ceng sedang bertengkar dengan Cong Sin-liong dan Ciok Tio-ki.
Berubah air muka Utti Keng, katanya.
"Cepat benar keparat Ciok Tio-ki itu datang!"
Lekas Ong Thian-thong berkata.
"Kalian jangan keluar, biar aku yang menyelesaikan urusan ini."
Melihat Ong Thian-thong hanya keluar seorang diri, diam-diam bertambah tebal rasa curiga Nyo Bok, katanya tertawa kering.
"Ong-loyacu, tidak kecil kehormatan yang kau terima, coba lihat, Ciok-tayjin dari kota raja, Cong-locian-pwe dari Hu-siang-pay, Lo-pangcu dari Hay-soa-pang semua datang memberi selamat kepadamu. Oh, ya, masih ada dua tamu agung yang lain, kenapa tidak diundang keluar untuk bertemu dengan kami semua?"
Ong Thian-thong merangkap tangan sambil sedikit membungkuk badan memberi hormat kepada semua hadirin, ujarnya tersipu-sipu.
"Terima kasih, terima kasih."
Lalu ia lanjutkan.
"Kedua teman itu adalah orang dagang, tidak biasa mengikat hubungan dengan kaum persilatan, setelah tanda tangan kontrak, mereka segara berlalu."
"O, begitu? Wah sayang sekali,"
Demikian ujar Nyo Bok, lalu ia menuding Beng Goan-cau dan Leng Thiat-jiau, katanya pula.
"Kedua sahabat ini belum pernah kau lihat bukan? Mereka adalah tamu-tamu yang begitu keras keinginannya hendak bertemu dengan kau orang tua. Kalau dikatakan memang kebetulan, ternyata mereka adalah kenalan lama Lo-pangcu."
Dalam berkatakata dengan satu kedipan mata, diam-diam ia memberitahu bahwa si maling terbang mungkin mereka ini. Tiba-tiba Leng Thiat-jiau melangkah ke depan terus menjura hormat, katanya.
"Ong-toasiok, apa kau masih ingat padaku?"
Ong Thian-thong melengak sebentar, ujarnya.
"Maafkan mataku sudah lamur, siapakah loko ini..."
Leng Thiat-jiau tertawa, katanya.
"Ong-toasiok, aku adalah Siau-kut-cu tetanggamu dulu itu, waktu kecil malah kau sering menggendong aku."
Betapa cerdik luas pengalaman Ong Thian-thong, mendengar kata-kata orang dia lantas tahu orang pura-pura mengaku sebagai tetangga di kampung dulu, pasti dalam hal ini ada selukbeluknya yang berbelit-belit, segera ia berkakakan.
"Betul, kini aku ingat, waktu kecil ingusmu selalu meleleh keluar, nakal sekali, entah berapa kali pernah kumaki dan kuhajar. Tak nyana sekarang sudah begini besar."
Leng Thiat-jiau tertawa.
"Kau orang tua meninggalkan kampung menjadi piausu di kota raja, hal itu terjadi tiga puluhan tahun berselang."
"Thio-toako,"
Nyo Bok menimbrung.
"bukankah tadi kau mengatakan tidak kenal Ong-loyacu, kau datang karena mengagumi nama besarnya dan hendak memberi selamat saja?"
"Sedikit pun tidak salah. Waktu Ong-toasiok masih di kampung halaman, aku masih bocah ingusan, sampai sekarang mana boleh dikata kenalan segala? Bicara terus terang, orang rudin seperti aku ini, datang-datang lantas mengaku sebagai kenalan sekampung, entah Ong-toasiok masih sudi kenal kepadaku tidak, kenapa aku harus menjelaskan semua ini kepadamu?"
"Siau-kut-cu, ucapanmu perlu segera diralat. Aku bisa bertemu dengan orang sekampung, betapa senang hatiku, apalagi kau tetanggaku terdekat. Mana boleh dikatakan tidak kenal? Em, beberapa tahun terakhir, mungkin kau luntang-lantung saja? Sampai logat suaramu pun sudah banyak berubah."
Bahwasanya Leng Thiat-jiau orang Sujwan, sebaliknya Ong Thian-thong orang Soatang, logat kampung mereka jauh berbeda.
Sebagai orang yang sudah kenyang makan pahit getirnya kehidupan, Ong Thian-thong berpikiran cermat lagi, maka sengaja ia carikan alasan untuk menutupi kelemahan ini.
Betul juga Ciok Tio-ki menjadi bimbang dan ragu, tak berani ia berkepastian begitu saja akan tulen atau palsu.
Kata Ong Thian-thong.
"Sahabat ini agaknya pernah kukenal, dia adalah..."
Dia menghadapi Beng Goan-cau, namun pertanyaan ia tujukan kepada Leng Thiat-jiau. Leng Thiat-jiau tahu maksud orang, hatinya menjadi geli.
"Ong-toasiok, kali ini pandanganmu tidak kabur lagi, memang dia kenalan lama juga Apa kau orang tua sudah ingat, dia bukan lain Siau-goan-cu dari kampung sebelah."
Ong Thian-thong berkakakan.
"Ternyata Siau-goan-cu, bibimu kemarin masih menyinggung kau kepadaku."
Lalu ia menambahkan.
"Istriku satu kampung dengan dia, kalau dikatakan agaknya masih ada ikatan famili."
Lo Kim-ou ikut tertawa, tim-brungnya.
"Ternyata kalian sama orang sekampung halaman, sungguh amat kebetulan." . Beng Goan-cau ikut bersandiwara, tanyanya.
"Apakah bibi baik-baik saja? Aku ingin masuk bersujut kepada dia orang tua."
"Benar,"
Leng Thiat-jiau menanggapi.
"Aku pun harus masuk menyampaikan selamat kepada beliau."
"Wah terima kasih sekali. Tapi bibimu memang amat kangen kepada kalian, melihat kalian datang tentu amat senang. Marilah biar kuantar kalian ke dalam, bersujud sih tidak usah!"
Nyo Bok tahu kejadian rada janggal, karena terdesak, segera ia menyela.
"Ong-lopiauthau, Ciok-tayjin berdua datang dari tempat jauh untuk memberi selamat kepadamu kenapa kau tinggal masuk malah?"
Ong Thian-thong unjuk rasa kurang senang, katanya tawar.
"Ciok-tayjin sudi memberi muka kepadaku, sebagai rakyat jelata, memangnya kau anggap aku tidak tahu kebaikan? Tapi harap ijinkan aku mengundurkan diri sebentar, lekas aku akan keluar menemani kalian, bagaimana?"
Mendadak Lo Kim-ou berkata.
"Ong-toako, kita sudah lama kenal sama-sama warga sekota lagi, mereka toh juga teman-teman baikku, aku sendiri pun hendak menemui toaso, biar aku saja yang menemani mereka masuk. Hari ini kau sebagai tuan rumah, sebentar para tamu akan berdatangan, mana kami berani dan tidak pantas menyibukkan kau saja."
Ong Thian-thong segera sadar, katanya tertawa.
"Betul, betul, betul, inilah cara yang terbaik, losiu jadi tidak kurang hormat kepada para tamu. Baiklah, mereka kuserahkan kepadamu."
Sekarang Ciok Tio-ki pun merasa keadaan rada ganjil. Tapi alasan yang mereka kemukakan cukup beralasan, tidak mungkin dia ikut masuk mencegah keinginan mereka.
"Nanti dulu!"
Tiba-tiba Nyo Bok berteriak. Ong Thian-thong kaget, tanyanya.
"Nyo-busu ada petunjuk apa?"
"Ong-loyacu"
Kukira kau kena ditipu orang secara mentah-mentah."
"Aku ditipu apa?"
"Harap tanya di mana asal kampung kelahiranmu?"
"Aku dilahirkan di Honglaydi Soatang, kenapa?"
"Siok-ciu terletak di karesidenan Sam-ho, dengan karesidenan Honglay di Soatang, entah terpaut berapa ribu li jauhnya."
Diam-diam mencelos hati-Ong Thian-thong, dengusnya kurang senang.
"Apa maksud perkataanmu ini?"
"Dia ini bukan lain adalah Beng Goan-cau yang angkat nama di Siau-kim-jwan beberapa tahun terakhir ini, tempat kelahirannya adalah Sam-ho,"
Demikian Nyo Bok coba menjelaskan. Kata-kata ini seketika membuat seluruh ruang perjamuan sunyi senyap, semua hadirin kaget dibuatnya. Mendadak Ciok Tio-ki berjingkrak berdiri, bentaknya.
"Beng Goan-cau, besar benar nyalimu, kau memberontak di Siau-kim-jwan sih terserah, hari ini berani kau lari kemari memalsu diri sebagai sanak sekampung Ong-loyacu."
Namun sikap Beng Goan-cau amat tenang dan wajar, sahutnya tawar.
"Apa kau tidak keliru mengenali orang?"
Ciok Heng ikut berdiri, serunya.
"Beng Goan-cau aku pernah melihatnya, jelas sekali orang ini tidak mirip dengan Beng Goan-cau."
Melihat ada orang membela dirinya, timbul keberanian Ong Thian-thong, katanya.
"Ya, kulihat dia memang Siau-goan-cu, masa bisa berubah siapa itu Beng Goan-cau? Nyo-busu, tidak menjadi soal kau salah mengenali orang, aku orang tua kampungan ini tidak berani terima dosa dengan tuduhan menyembunyikan buronan penting lho."
Lapat-lapat Ciok Tio-ki pun sudah mengenali Beng Goan-cau, timbrungnya.
"Ong-lopiauthau, urusan ini tiada sangkut pautnya dengan kau, Siau-goan-cu dari kampung tetangga sudah tiga puluh tahun berpisah dengan kau, bukan mustahil kau yang salah mengenalinya. Kamipun tidak akan salahkan kau. Tapi orang she Beng ini menyaru diri sebagai sanak kampungmu, terang tidak bermaksud baik, atau mungkin sengaja hendak mencelakai kau."
Kata-kata ini amat licin dan licik, berarti ia memberi peringatan kepada Ong Thian-thong, kalau kau tidak ikut campur dalam urusan ini, kami pun boleh tidak usah merembet kepada kau.
"Ong-loyacu,"
Kata Nyo Bok.
"dia pasti Beng Goan-cau. Dia bersekongkol dengan temannya hendak menipu kau."
Jelas ia tarik Leng Thiat-jiau dan Lo Kim-ou di dalam tuduhan persekongkolan, kalau Siau-goan-cu Beng Goan-cau palsu, maka Siau-kut-cu samaran Leng Thiatjiau pun pasti palsu.
Namun Ong Thian-thong masih berusaha mengendalikan suasana, katanya.
"Ciok Tayhiap, kapan kau pernah melihat Beng Goan-cau?"
"Tiga bulan yang lalu, dalam pertemuan besar di puncak Thay-san."
"Orang yang kau lihat tiga bulan yang lalu, kukira tidak akan bisa salah kau lihat bukan? Nyobusu, dari mana kau bisa tahu kalau dia ini Beng Goan-cau?"
Nyo Bok kertak gigi, katanya gemas.
"Beng Goan-cau adalah durjana yang memelet istri dan menculik anakku, meski dia menjadi abu pun aku tetap mengenalnya."
"Beng Goan-cau, kalau kau seorang laki-laki sejati, seorang gagah, janganlah kau mungkir."
Begitu garang sikap Nyo Bok, Beng Goan-cau tahu kalau dirinya mengakui, urusan besar pasti menjadi berantakan, tapi keadaan agaknya memaksa dia untuk mengakui penyamarannya. Segera ia berkata dingin.
"O, ternyata kau punya dendam begitu besar dengan Beng Goan-cau! Baik, coba kutanya kau dulu, kalau aku benar adalah Beng Goan-cau, kau mau apa?"
"Persoalan dendam pribadi belaka, tiada sangkut pautnya dengan Ong-lopiauthau."
Dia menekankan sebagai persoalan pribadi, sepihak dia hendak menyingkirkan Ong Thianthong, di pihak lain ia pun tidak suka menyeret Ciok Tio-ki dalam pertikaiannya ini.
Karena dia masih harus berkecimpung di dalam golongan kaum pendekar, Ciok Tio-ki hendak membekuk buronan adalah urusannya, sebaliknya dia sendiri hendak menuntut balas kepada Beng Goan-cau pun urusannya sendiri.
Kalau kedua urusan ini diselesaikan bersama, cara bagaimana selanjutnya dirinya bisa bergaul dengan para pendekar dan orang-orang gagah?
Sebaliknya tujuan Ciok Tio-ki adalah supaya dirinya berusaha melibat Beng Goan-cau, supaya dirinya bersama Cong Sin-liong menghadapi kakap gede yang kemungkinan adalah Leng Thiat-jiau.
Cukup asal bisa mengulur waktu sebentar saja, walau Nyo Bok bukan tandingan Beng Goan-cau, setelah Nyo Bok dikalahkan barulah Ciok Tio-ki akan turun tangan, tentunya sepak terjangnya ini tiada sangkut pautnya lagi dengan Nyo Bok.
Betul juga, begitu Nyo Bok bikin suasana menjadi tegang, Cong Sin-liong lantas memburu ke depan, mencegat ke jalan belakang, katanya.
"Ong-lopiauthau memang bijaksana, jelas kena tipu toh dia tidak ambil perkara, sebaliknya tingkah laku mereka ini terlalu me-nyolok mataku, terpaksa aku harus turun tangan menyelesaikan persoalan ini."
Ciok Tio-ki segera menanggapi.
"Betul, Nyo-busu menuntut balas, kami tidak usah ikut-ikutan, namun begundal yang sekongkol dengan Beng Goan-cau, mau tidak mau kami harus wakilkan tuan rumah untuk meringkus mereka."
"Nanti dulu,"
Cepat Ong Thian-thong berseru.
"apakah dia Siau-goan-cu atau Beng Goan-cau toh belum kita buktikan."
Kunci persoalan ini terletak pada Beng Goan-cau, kalau permainan sandiwara Beng Goan-cau berhasil baik tiada menunjukkan titik kelemahan apa-apa, maka penyamaran Siau-kut-cu yang diperankan Leng Thiat-jiau berarti sukses pula.
Kalau satu gagal maka semua samaran mereka pun bakal terbongkar semua.
Di saat Beng Goan-cau gundah dan serba kesulitan untuk mengambil putusan itulah mendadak terdengar seseorang berseru lantang.
"Siapa hendak mencari Beng Goan-cau?"
Seketika Ong Thian-thong berjingkrak kegirangan, ternyata orang yang bersuara ini bukan lain adalah tokoh yang dianggap berkepandaian paling tinggi di seluruh jagat, Kim Tiok-liu adanya.
Kalau Ong Thian-thong dan lain-lain kegirangan, sebaliknya Ciok Tio-ki dan' lain-lain tersirap darahnya.
Nyo Bok segera menjengek dingin.
"Kim Tayhiap, kebetulan kau datang, kuminta kau suka menegakkan keadilan. Beng Goan-cau memelet istri dan menculik anakku, aku menuntut balas kepadanya, tindakanku tidak salah bukan?"
"Sementara aku tidak peduli siapa salah siapa benar di antara kalian, yang jelas Nyo-busu, terang kau salah mencari orang,"
Demikian kata Kim Tiok-liu tertawa.
"Orang ini adalah samaran Beng Goan-cau, tidak sukar untuk membongkar kedoknya."
Belum habis Nyo Bok bicara, Kim Tiok-liu sudah tertawa lebar, katanya.
"Coba kau -lihat siapa orang itu?"
Tampak seorang laki-laki bermata besar berkilat dan beralis lentik tegak sedang melangkah masuk, berseru lantang.
"Beng Goan-cau di sini!"
Keruan Nyo Bok berjingkrak kaget, matanya terbelalak, pikirnya.
"Memangnya aku salah melihat orang, siapakah Beng Goan-cau tulen di antara kedua orang ini?" --Laki-laki yang berdiri di hadapannya ini, bukan saja raut muka dan perawakannya mirip sekali dengan Beng Goan-cau yang pernah dilihatnya, malah logat suaranya pun sama. Beng Goan-cau yang baru datang ini, mendelikkan mata, katanya dingin.
"Nyo-busu, masa kau tidak kenal aku lagi!i"
Nyo Bok tertawa nyengir.
"Kim Tayhiap, apa kau selalu berada sama dia?"
"Pertanyaaamu ini tidak benar. Apa yang kau maksud dengan selalu? Setahun yang lalu, sepuluh tahun yang lalu, sudah tentu aku tidak mungkin selalu bersama dia."
"Yang kumaksud kejadian hari ini."
"Nah, kan begitu pertanyaanmu. Memang, hari ini aku datang bersama dia hendak memberi selamat ulang tahun kepada Ong-lopiauthau. Bukan saja bersama dia, masih ada beberapa teman lainnya pula."
Kim Tiok-liu sudah berkata demikian, siapa yang berani menaruh curiga pula? Ong Thian-thong terbahak-bahak.
"Jadi kedua sanak dari kampungku ini bukan samaran toh. Lo-pangcu, harap kau suka mencapai-kan diri antar mereka ke dalam."
Di saat Ong Thian-thong bicara itulah, dari luar masuk pula serombongan orang.
Mereka bukan lain adalah Tan Kong-si, Song Theng-siau, Lu Su-bi dan Lim Bu-siang.
Ternyata karena tidak menemukan jejak Lim Bu-siang, Kim Tiok-liu sudah mulai curiga, akhirnya ia insyaf bahwa dirinya kena tipu Boh Cong-tiu.
Maka lekas ia menyusul balik-ke Su-kongse, kebetulan Tan Kong-si beramai masih di sana.
Barulah Kim Tiok-liu bertemu dengan Lim Busiang, dengan sendirinya ia pun tahu duduk perkara sesungguhnya.
Mengenai orang yang menyamar menjadi Beng Goan-cau, secara kebetulan mereka berjumpa di tengah jalan.
Orang ini bukan lain adalah ahli rias tukang menyamar dan pencopet sakti nomor dua di seluruh jagat, bukan lain Li-macu adanya.
Memang Li-ma-cu serba bisa, sampai pun logat suara orang pun dapat ditirunya sedemikian persis.
Waktu itu dia datang bersama teman karibnya Kwi-hwe-thio.
Yang-ciu sebagai kota dagang, tidak sedikit hartawan-hartawan besar di dalam kota, bersama Kwi-hwe-thio mereka meluruk kemari hendak melakukan usaha tanpa modal secara besar-besaran.
Dari mulut Lim Bu-siang, Kim Tiok-liu tahu bahwa Leng Thiat-jiau dan Beng Goan-cau sudah berangkat ke rumah Ong Thian-thong lebih dulu, kuatir mereka menghadapi bahaya, sedang ia kesulitan mencari akal untuk menghadapi situasi.
Kebetulan di tengah jalan bersua dengan Limma-cu dan Kwi-hwe-thio, seketika timbul akal cerdiknya, segera ia suruh Li-ma-cu menyamar menjadi Beng Goan-cau lalu berangkat bersama dia.
Sementara Kwi-hwe-thio beroperasi sendiri, tidak ikut datang.
Sungguh amat kebetulan, mereka datang tepat pada waktunya, sekaligus bantu kesulitan Beng Goan-cau yang sudah terjepit oleh keadaan.
Melihat sekian banyak orang datang, malah mereka adalah teman-teman Kim Tiok-liu, sungguh kaget Ciok Tio-ki bukan kepalang.
Di antara rombongan orang-orang itu, Song Theng-siau adalah buronan yang harus ditangkap juga, namun dengan kehadiran Kim Tiok-liu, meski Ciok Tio-ki punya nyali setinggi langit, masakah dia berani sembarangan bertindak.
Terpaksa dengan mata mendelong ia awasi Lo Kim-ou membawa kedua sanak dari kampung Ong Thian-thong masuk ke dalam.
Nyo Bok masih berusaha memperjuangkan posisinya yang semakin terdesak, katanya.
"Setiap urusan tidak akan lepas dari keadilan. Kim Tayhiap, aku tahu Beng Goan-cau adalah sahabatmu..."
"Baik, akan kutegakkan keadilan menurut keinginanmu."
Mencelos hati Nyo Bok, terpaksa dia mengeraskan kepala.
"Kim Tayhiap sudi menegakkan keadilan bagi kami, itulah baik sekali. Hehe, Beng Goan-cau memelet istriku, memangnya perbuatannya itu boleh dikatakan benar?"
Li-ma-cu yang menyamar sebagai Beng Goan-cau segera men-jengek dingin.
"Siapa tahu karena hal apa kalian suami istri bertengkar dan berpisah, apa sangkut pautnya dengan aku? Soal anakmu, aku memang tahu, dia kan diculik oleh Tiam-jong-siang-sat dan sekarang dijadikan muridnya. Kalau kau mampu silakan meluruk ke Tiam-lam dan minta kepada Siang-sat, mana boleh perhitungan ini kau perhitungkan pada diriku."
"Coba kalian jangan ribut dulu,"
Ong Thian-thong menyela bicara.
"Dengar dulu bagaimana keputus-an Kim Tayhiap."
Kim Tiok-liu berkata kalem"
"Persoalan ini adalah pertikaian kaum persilatan, terpaksa aku hanya bisa menyelesaikan urusan ini menurut aturan kangouw. Nyo-busu, apa kau berkukuh hendak menuntut balas kepada Beng Goan-cau?"
"Tidak salah!"
"Hari ini adalah perayaan hari ulang tahun Ong-lopiauthau, para tamu sudah memenuhi seluruh ruang perjamuan, sekali-kali kita tidak boleh berkelahi di sini. Kalau toh kalian tidak mau dipisah dan menyelesaikan secara damai, silakan Nyo-busu menentukan waktu dan menunjukkan tempatnya, aku tanggung Beng Goan-cau pasti akan datang tepat pada waktunya."
Mendengar dirinya harus menantang Beng Goan-cau bertanding silat, seketika hati Nyo Bok jeri dan kalut.
Maklumlah sebelum Kim Tiok-liu datang, kalau dia turun tangan menantang Beng Goancau di tempat ini juga, ia tidak perlu merasa takut, sebaliknya kalau menentukan hari dan tempat lain, bertanding satu lawan satu melawan Beng Goan-cau, jelas dirinya pasti kalah total, mana dia berani?
Berkata Kim Tiok-liu lebih lanjut.
"Tiba saatnya biar aku yang menjadi saksi dan juri. Meski Beng Goan-cau sahabatku, aku pasti tidak akan berat sebelah membelanya. Tapi kalau ada orang lain yang ikut turun tangan, terpaksa aku harus bertindak."
Jelas kata-katanya ini secara tidak langsung ia tujukan kepada Ciok Tio-ki dan Cong Sin-liong.
Sudah tentu kedua orang itu tidak berani banyak bacot dan bertingkah, namun dalam hati diamdiam mereka mengeluh.
Merandek sebentar Kim Tiok-liu lalu melanjutkan.
"Bagaimana, Nyo-busu, kau sudah menentukan waktu dan tempatnya belum?"
Roman muka Nyo Bok berubah-ubah, dari pucat menjadi merah, lalu menghijau, sahutnya tergagap.
"Ini, ini..."
Mendadak terdengar sebuah suara serak tua berkata.
"Apa ini itu, Nyo Bok, jangan kau bikin malu mukaku di hadapan sekian banyak orang!"
"Haya!"
Ong Thian-thong lantas berteriak.
"Ki-Iocianpwe, kau pun sudi datang, sungguh merupakan kehormatan besar bagiku."-Ternyata yang datang adalah besan tua Nyo Bok, yaitu Su-hay-sin-liong Ki Kian-ya adanya. Kaget dan girang pula hati Nyo Bok, girang karena pihaknya bertambah satu tenaga yang amat diandalkan, kaget karena datang-datang Ki Kian-ya sudah memakinya, orang yang dianggap sebagai tulang punggung dan sandaran ini mungkin tidak akan sudi bantu dirinya. Sambil melangkah masuk Ki Kian-ya berkata pula.
"Apa yang kau ributkan di sini, mau menuntut balas kepada Beng Goan-cau?"
"Kau orang tua kan tahu, Beng Goan-cau membawa lari istriku!"
"Ki-locianpwe,"
Kim Tiok-liu menimbrung.
"Urusan keluarga kalian aku tidak mau turut campur, terpaksa harus diselesaikan menurut aturan kangouw, maka kuminta mereka menentukan waktu dan tempatnya untuk bertanding."
"Baik, urusan kekeluargaan ini biar aku yang mengurusnya,"
Ki Kian-ya segera mengambil alih persoalan ini untuk diselesaikan sendiri.
Ki Kian-ya adalah mertua dari kakak Nyo Bok, dia tampil ke depan untuk menyelesaikan persoalan dalam keluarga Nyo, memang hanya dia seorang yang paling tepat, maka orang banyak tiada yang memberi komentar.
Mendengar nada bicaranya, lantas Ciok Tio-ki tahu urusan semakin runyam, namun ia masih punya setitik harapan, pikirnya.
"Memangnya tua bangka ini bakal membela kepentingan orang luar malah?"
Terdengar Ki Kian-ya berkata pelan-pelan.
"Benarkah Hun Ci-lo pernah melakukan perbuatan tercela yang bikin malu keluarga, dulu aku hanya mendengar tuduhan sepihak saja, bagaimana duduk persoalan sebenarnya aku tidak menyelidiki secara cermat, tapi seumpama hal itu benar, kini persoalan sudah tiada sangkut pautnya pula dengan kau!"
Kim Tiok-liu dan Li-ma-cu yang menyamar sebagai Beng Goan-cau tidak tahu seluk beluk persoalan ini, keruan mereka melenggong. Nyo Bok, Ciok Tio-ki dan Bun Seng-liong menutup mulut tak berani "
Berkutik, sebaliknya Cong Sin-liong tidak sabar lagi, katanya.
"Ki-losiansing, ucapanmu ini apa tidak keliru? Kejadian yang memalukan keluarga dan merendahkan derajat, mana boleh dianggap sepele? Kalau tidak bersangkut paut dengan suami, memangnya bersangkut paut dengan siapa?"
Ki Kian-ya menarik muka, katanya.
"Sebelum ayah Nyo Bok ajal dia pernah berpesan kepadaku untuk mendidik dan mengawasi putranya, urusan dari keluarga Nyo tidak perlu orang luar turut campur!"
Cong Sin-liong merasa malu katanya menyengir.
"Semua urusan tidak lepas dari keadilan, baik, ingin aku dengar apa yang Lo-siansing hendak katakan?"
Melirik pun Ki Kian-ya tidak kepada Cong Sin-liong, katanya lebih lanjut.
"Hun Ci-lo sudah bukan istrimu lagi, bukankah kau sudah menulis surat cerai, aku sendiri yang menyerahkan surat cerai itu, di mana diterangkan pihak laki-laki kawin atau perempuan menikah masing-masing tiada sangkut paut satu sama yang lain. Seumpama dia benar menikah dengan orang she Beng ini, kau pun tiada hak mencampuri! Kenapa urusan diulur panjang dan bertele-tele tidak berkesudahan."
Merah padam muka Nyo Bok, katanya.
"Justru aku amat penasaran!"
"Seorang laki-laki bisa mengangkat rela meletakkan, kau sendiri suka bikin surat talak kepada Hun Ci-lo, sekarang kau menyesal dan bikin ribut mencari gara-gara, apa tidak bikin malu."
Di dalam rumah, Beng Goan-cau mendengar kata-kata Ki Kian-ya, hatinya girang dan kaget pula.
"Tua bangka ini mendadak berubah tahu urusan dan pegang peradatan, sungguh di luar dugaan."
"Sungguh tidak nyana, kukira dia bakal menjadi sandaran Nyo Bok, siapa tahu dia malah membela kepentingan orang luar,"
Demikian Ciok Tio-ki malah mengeluh dalam hati. Tak tahunya kejadian selanjutnya jauh lebih membuat dia pun serba runyam, terdengar Ki Kian-ya berkata pula.
"Nyo Bok, karena aku tetua maka aku berani mengatai kau, sepak terjangmu sendiri tidak benar, masih berani pura-pura menjadi laki-laki gagah, kaum ksatria segala, apakah tidak menggelikan?"
Nyo Bok tahu diri, meski kaget dan gusar namun ia tidak berani main debat dengan Ki Kian-ya, terpaksa mulutnya berkata terputus-putus.
"Yanpek (panggilan), aku, aku dalam hal apa aku berbuat salah, kenapa kau mengatai aku?"
Ki Kian-ya mendengus katanya keras.
"Belakangan ini dengan siapa saja kau bergaul? Kau tidak belajar baik, malah suka luntang-lantung dengan kawanan sampah persilatan, kau kira aku tidak tahu?"
"Sampah persilatan", terang Ciok Tio-ki dan Cong Sin-liong pun termasuk dalam makiannya, sudah tentu berubah hebat air muka mereka. Kiranya justru karena tahu Nyo Bok bergaul dengan Ciok Tio-ki dan lain-lain, maka Ki Kian-ya sengaja menyusul ke Yangciu, hendak menggusurnya pulang untuk diawasi dan dididik. Setelah dicaci maki, meski amat malu, namun hati Nyo Bok menjadi lega malah, pikirnya.
"Untung dia hanya maki aku bergaul tidak benar, toh dia belum tahu kalau aku sudah menjadi antek Pakkiong Bong."
"Nyo Bok,"
Kata Ki Kian-ya lebih lanjut.
"kalau kau masih tahu diri, segera ikut aku pulang. Kalau tidak aku pun tidak peduli lagi dk.m mati hidupmu."
Seperti ayam jago yang sudah keok, berkata Nyo Bok menunduk.
"Baik, siautit patuh akan petuah Lopek."
"Ki-locianpwe,"
Kata Ong Thian-thong.
"Apa kau tidak minum arak dulu baru berangkat?"
Berkata Ki Kian-ya.
"Nyo Bok membuat keributan di dalam perayaan ulang tahunmu, sungguh aku tidak enak hati, tiada muka aku berdiam lama-lama di sini. Lain kesempatan biar aku datang mohon maaf kepadamu saja,"
Dengan marah-marah ia seret Nyo Bok pergi. Kim Tiok-liu terbahak-bahak, ujarnya.
"Tua bangka ini jujur polos tidak punya perasaan egois, sungguh harus dipuji. Ong-loyacu, kini tiada urusanku, mari kuiringi kau minum arak."
Ciok Tio-ki dan Cong Sin-liong menjadi serba salah dan terasing oleh keramaian yang menggembirakan ini, keruan mereka amat kikuk dan rikuh, berpikir Ciok Tio-ki.
"Kim Tiok-liu dan Lim Bu-siang sama di sini, lebih baik kalau Boh Cong-tiu tidak datang, kalau dia datang pasti celaka. Ong Thian-thong si tua bangka ini jelas berdiri di pihak mereka, hari ini terang kami tidak kuasa menggunakan kekerasan, apa artinya berdiam di sini terlalu lama?"
Maka setelah Nyo Bok pergi, segera mereka pun minta diri.
Suasana kembali menjadi tenang dan riang gembira.
Lim Bu-siang dan lain-lain segera maju memberi salam dan hormat kepada Ong Thian-thong.
Kata Ong Thian-thong tertawa.
"Hian-titli, kau sudah tumbuh begini besar. Dulu waktu bertamu di rumahmu, kau masih kecil dan suka ngompol. Masih ingat tidak?"
Lim Bu-siang tertawa malu-malu.
"Tentu masih ingat, itu terjadi sepuluhan tahun yang lalu."
"Kabarnya kau sudah menjabat ciangbunjin Hu-siang-pay, sungguh patut dihargai dan diberi selamat. Tadi melihat Ciok Tayhiap suami istri dari partai kalian datang, kukira kau tidak datang."
Kim Tiok-liu menimbrung.
"Semua orang yang hadir dalam ruang perjamuan ini termasuk orang sendiri, biarlah aku terus terang saja. Apa kau tahu untuk apa nona Lim datang kemari?"
Merah muka Lim Bu-siang, katanya.
"Kim-toako suka menggoda saja. Paman Ong adalah sahabat lama ayahku, sudah tentu aku kemari memberi selamat kepada paman Ong."
"Benar, bukan saja kau hendak memberi selamat kepada paman Ong, di samping itu kau pun hendak mencari orang bukan?"
Ong Thian-thong melengak, tanyanya.
"Bu-siang, siapa yang kau cari?"
Li-ma-cu bergelak tertawa, serunya.
"Tidak perlu aku menyamar lagi. Kini tiba saatnya mengundang Beng Goan-cau keluar."
Baru sekarang Ong Thian-thong tahu yang dicari Lim Bu-siang kiranya Beng Goan-cau, katanya.
"Kalian tunggu sebentar,"
Segera ia menyuruh muridnya Ong Giu.
"Kalau ada tamu datang, kau layani saja di piaukiok."
Tempat tinggal keluarga Ong Thian-thong berada di bagian belakang, kalau ada tamu-tamu biasa berkunjung, biasanya disambut atau dilayani di kantor piaukiok saja.
Kuatir terjadi sesuatu yang tidak di nginkan, maka Ong Thian-thong berpesan wanti-wanti.
Supaya para muridnya tahu, meski ada tamu-tamu agung semacam Ciok Tio-ki, mereka cukup dilayani di bagian luar saja.
Sementara itu, Lo Kim-ou membawa Leng Thiat-jiau dan Beng Goan-cau ke dalam, warga Tinwan Piaukiok semua kenal baik kepada Lo Kim-ou, maka segera ia mengundang kacung tua dan berbisik.
"Pinjamkan ruang tamu majikanmu sebentar."
Kacung tua itu menyahut.
"Sudah ada dua tamu lain di sana, kukira kurang leluasa."
"Baik, biar kupinjam kamar tidurmu sebentar untuk bicara."
Sudah tentu kacung tua ini menjadi bingung dan tidak habis mengerti, namun sudah puluhan tahun ia menjadi pembantu di rumah Ong Thian-thong ini, pengalaman cukup dan tahu seluk beluk rahasia orang-orang kangouw, tahu ia bahwa dalam hal ini tentu ada sebab-sebab rahasia, maka ia pun tidak banyak tanya lagi.
Persoalan yangg hendak dirundingkan Leng Thiat-jiau dengan Lo Kim-ou adalah urusan besar yang menyangkut kepentingan nusa dan bangsa, Lo Kim-ou sudi tidak membantu, masih merupakan tanda tanya besar.
Beng Goan-cau baru pertama kali ini bersua dengan Lo Kim-ou, di dalam perundingan rahasia seperti ini, bila orang ketiga yang tidak dikenal ikut hadir mungkin menimbulkan kekuatiran Lo Kim-ou.
Maka secara diam-diam Leng Thiat-jiau mengedipkan mata kepada Beng Goan-cau.
Beng Goan-cau mengerti maksudnya, segera ia berkata.
"Toako biar aku berjaga di luar saja."
Tatkala itu, Ciok Tio-ki dan Cong Sin-liong bersama mohon diri kepada Ong Thian-thong, Beng Goan-cau pasang kuping mendengarkan, lapat-Iapat ia dengar percakapan mereka, hatinya sedikit lega, namun ia tetap waspada dan hati-hati mondar-mandir meronda di sekitar pekarangan belakang.
Tiba-tiba sebuah pintu kamar di tengah serambi sana terbuka pelan-pelan, ada seorang menyelinap keluar menghampiri ke samping Beng Goan-cau, mendadak ia mencengkeram dan menariknya, Beng Goan-cau sudah kaget dan waspada, namun mengandal kepandaiannya, toh ia tidak berhasil mengelak atau membebaskan diri dari cekalan orang.
Keruan kaget Beng Goan-cau bukan kepalang, baru saja ia hendak menggunakan tipu Kim-tantoh-ka jurus-jurus permainan jarak dekat untuk membebaskan diri dari cekalan orang, tiba-tiba orang itu sudah berbisik di pinggir telinganya.
"Goan-cau, inilah aku!"
Tanpa memberi kesempatan Beng Goan-cau bersuara dan melihat tegas dirinya, ia seret Beng Goan-cau ke dalam kamar. Beng Goan-cau berjingkrak senang, serunya.
"Kau, siapa kau..."
Orang itu bergelak tertawa, katanya.
"Beng-lote, apa kau tidak kenal suaraku? Coba lihat masih ada seorang temanmu berada di sini!"
Seketika Beng Goan-cau amat girang seperti kejatuhan rejeki nomplok, katanya tertawa.
"Uttitoako, aku sudah curiga kau adanya, cuma aku belum percaya masakah kau bakal muncul mendadak di sini. Miao-toako, cara bagaimana kau bisa berada bersama dengan Utti-toako?"
"Duduklah dulu, mari ngobrol pelan-pelan,"
Miao Tiang-hong menjawab.
"Ceritakan dulu, cara bagaimana kau bisa datang kemari?"
"Aku datang bersama Leng-toako, dia sedang memikul tugas besar, kini sedang merundingkan urusan rahasia dengan Hay-soa-pang Pangcu Lo Kim-ou."
"Leng Thiat-jiau maksudmu?"
Utti Keng menegas dengan kegirangan.
"Benar!"
"Jadi buronan atau kakap gede yang di ncar kawanan anjing alap-alap itu kiranya dia!"
Kata Utti Keng pula.
"Hal ini amat panjang kalau diceritakan!"
Ujar Beng Goan-cau. Tiba-tiba Utti Keng menggoyangkan tangan kepadanya, mukanya seperti tertawa tidak tertawa sambil menatapnya. Beng Goan-cau melengak, tanyanya.
"Utti-toako, ada omongan apa yang perlu kau katakan?"
"Kalau toh Leng Thiat-jiau merundingkan urusan rahasia besar, kau pun tidak perlu jelaskan kepada kami. Tapi kau bukan hanya datang bersama dia toh!"-Tatkala itu Lim Bu-siang sedang bicara di bagian luar, samar-samar Beng Goan-cau pun ada mendengar suaranya.
"Benar, aku datang bersama nona Lim, setelah tiba di Yangciu baru bersua dengan Lengtoako."
"Beng-lote, aku orang polos yang suka bicara terus terang, ada isi hati yang ingin kukatakan kepadamu."
Beng Goan-cau tertegun.
"Toako, ada omongan apa silakan katakan!"
"Dengan ayah Bu-siang aku kenalan baik, berarti dia adalah keponakanku juga, dan kau adalah saudaraku yang baik, maka jangan sekali-kali kau berbuat sesuatu yang merugikan keponakanku itu."
Merah muka Beng Goan-cau, katanya.
"Toako, kau rada salah paham. Dengan Bu-siang sekarang aku pun sudah menjadi kakak adik angkat."
Utti Keng bergelak tertawa, katanya.
"Kalau begitu, bukankah derajatmu setingkat lebih rendah dari aku malah?"
"Utti-toako, sebenarnya kau toh bulim cianpwe, sebetulnya aku harus..."
"Lain aku lain dia, aku hanya berkelakar saja, kenapa kau anggap sungguhan?"
Tiba-tiba ia menarik muka, katanya serius.
"Beng-lote, meski aku ini laki-laki kasar, namun aku lebih kenal isi hati anak perempuan. Bu-siang menyukai kau dengan hatinya yang suci murni, memangnya kau tidak tahu? Apa yang kukatakan ini bukan kelakar lho!"
Beng Goan-cau tertawa getir dalam hati.
"Mana mungkin aku tidak tahu, ai, sebaliknya mana kau tahu akan kesulitanku?"
"Eh, kenapa kau tidak bicara? Kau tidak menyenangi Bu-siang?"
"Aku anggap dia sebagai adik, kenapa tidak suka? Tapi sekarang aku harus lekas kembali ke Siau-kim-jwan, marilah kita bicarakan urusan penting lainnya saja!"
"Laki-laki kawin perempuan menikah, toh urusan besar dan penting juga Tapi omonganmu memang benar, kepentingan umum harus diutamakan, soal jodoh kalian kalau masih terlalu pagi dibicarakan, biarlah kelak kita lanjutkan lagi. Oh, ya, Ong-lopiauthau belum tahu bila Nyo Bok dan muridnya sudah menjadi antek musuh. Bun Seng-liong menggunakan perintah palsu Hancongpiauthau pun dia percaya begitu saja, nanti sebentar kita harus menjelaskan kepadanya."
Miao Tiang-hong yang sejak tadi diam saja, sekarang menimbrung.
"Memang tidak malu Nyo Bok itu mencari keributan di sini, menista Ci-lo lagi, sungguh rendah dan hina dina."
"Manusia seperti Nyo Bok, perbuatan apa saja yang tidak berani dia lakukan. Sedikit pun aku tidak percaya akan omongan kotornya itu mengenai kejelekanmu,"
Demikian sela Utti Keng. Tiba-tiba tergerak hati Beng Goan-cau, katanya.
"Miao-hcng, ada sebuah hal aku ingin mohon bantuanmu!"
"Kenapa Beng-heng main sungkan-sungkan segala, katakan saja."
"Untuk ini aku perlu tanya dulu kepada kau, sekarang kau punya urusan penting lainnya tidak?"
"Aku ini tukang kelayapan, kau ada urusan apa, silakan serahkan kepadaku saja."
"Hun Ci-lo dan bibinya sekarang sudah pindah ke rumah seorang bulim cianpwe she Lau di Pakbong-san, bisa tidak kau pergi ke sana menengok dia?"
Miao Tiang-hong melengak.
"Ah, ini..."
Sikapnya rada kikuk dan rikuh.
"Beginilah persoalannya. Bulan yang lalu Ci-lo sudah melahirkan seorang putra, kondisi badannya amat lemah, aku kuatir kawanan anjing alap-alap mencari kesulitan kepadanya. Karena menghindari kejaran kawanan anjing alap-alap itulah maka terpaksa dia pindah ke Pak-bong-san. Meski tempat itu amat tersembunyi, tapi untuk menjaga segala kemungkinan, tidak bisa tidak kita harus siap-siap lebih dulu."
Lalu ia ceritakan pengalaman pahit getir Hun Ci-lo hari itu kepada Miao Tiang-hong, terakhir ia menambahkan.
"Kau adalah sahabat baikku, juga teman baik Hun Ci-lo, aku harus kembali ke Siau-kim-jwan, maka tugas untuk melindungi dia kuserahkan kepadamu."
"Baiklah,"
Setelah berpikir-pikir Miao Tiang-hong menerima tugas mulia ini.
"Setelah perjamuan di sini selesai segera aku pamit dan langsung menuju ke Pak-bong-san."
"Tepat, penyelesaian begini memang cocok. Goan-cau, boleh kau berangkat ke Siau-kim-jwan bersama Bu-siang dengan lega hati,"
Demikian goda Utti Keng.
Beng Goan-cau tahu orang salah paham akan maksud tujuannya, namun sulit ia membuka mulut menjelaskan, terpaksa hanya tertawa getir saja.
Tengah mereka bicara, tiba-tiba terdengar langkah kaki mendatangi, Utti Keng segera membentak.
"Siapa itu?"
Ong Thian-thong melangkah masuk, katanya tertawa.
"Kiranya kalian sudah sama bertemu. Goan-cau, Bu-siang ada urusan yang hendak dirundingkan dengan kau, marilah kita keluar."
Tak lama setelah Ong Thian-thong mengantar Ciok Tio-ki berdua pergi, muridnya, Ong Giu lantas masuk melapor.
"Suhu, ada seorang tamu ingin benar bertemu dengan kau."
Ong Thian-thong mengerutkan alis.
"Bukankah sudah kupesan kepada kau, sementara aku tidak terima tamu, supaya kau saja yang melayani mereka di bagian luar?"
"Tamu itu adalah Kanglam Tayhiap Tan Thian-ih, katanya ada sebuah kejadian aneh yang ingin dituturkan pada kau orang tua."
Ong Thian-thong terkejut, serunya menegas.
"Apa, Tan Thian-ih? Kenapa tidak lekas kau bawa dia masuk?"
Segera ia berpaling dan berkata kepada Tan Kong-si.
"Bukankah tadi kau berkata ayahmu tidak akan datang?"
Tan Kong-si keheranan, sahutnya.
"Ya, ayah minta aku mewakili dia, entah kenapa sekarang dia menyusul datang?"
Sambil berjalan masuk Tan Thian-ih bergelak tertawa.
"Kim-hiantit, nona Lim, kalian semua berada di sini, sungguh kebetulan."
Kata Kim Tiok-liu.
"Kali ini kami datang secara tergesa-gesa, sebelumnya tidak sempat memberi kabar kepada lopek, harap dimaafkan. Pikirku setelah perjamuan di sini selesai, baru aku akan berkunjung ke rumah paman."
"Bahwa kau pun datang kemari, aku sudah tahu. Beberapa hari yang lalu aku sedang seperjalanan bersama Tiong-pangcu dari Kaypang. Tapi dia punya tugas lain, maka tidak datang kemari bersamaku."
Kiranya dalam perjalanan rahasia ke Yangciu kali ini, sebelumnya Leng Thiat-jiau sudah mengadakan kontak rahasia dengan pihak Kaypang.
Bahwa dia mengundang Kim Tiok-liu bertemu di dalam perjamuan ulang tahun Ong Thian-thong tiada orang luar tahu, hanya Tiong-pangcu dari Kaypang saja yang mengetahuinya.
Berkata pula Kim Tiok-liu.
"Jadi lopek sengaja memang hendak mencari aku?"
Tan Thian-ih mengiakan.
Pepatah ada bilang, tiada sebab tidak akan datang, apalagi dengan kedudukan dan pamor Tan Thian-ih sengaja kemari untuk mencari Kim Tiok-liu, maka dapatlah Kim Tiok-liu membayangkan, pastilah Tan Thian-ih mengemban urusan besar yang hendak dirundingkan bersama dirinya.
Terdengar Tan Thian-ih sedang berkata.
"Memang ada sebuah urusan besar, tapi bukan urusan tergesa-gesa. Biarlah aku ceritakan kejadian aneh yang kualami kepada Ong-toako. Baru saja aku alami sendiri, mohon Ong-toako suka menjelaskan kepadaku."
Kata Ong Thian-thong.
"Tan Tayhiap melihat keparat Ciok Tio-ki itu keluar dari rumahku, maka kau merasa heran?"
"O, Ciok Tio-ki keparat itu bermuka tebal berani datang memberi selamat ulang tahun kepada kau. Tapi bukan dia yang kutemui, di tengah jalan aku bertemu dengan seorang yang katanya hendak kemari memberi selamat kepada kau, tapi setelah tiba di depan rumahmu, mendadak ia lari pergi."
"Hah, siapa dia?"
"Dialah Boh Cong-tiu!"
Tutur Tan Thian-ih.
"Boh Cong-tiu hendak memberi selamat ulang tahun kepadamu, toh tidak perlu diherankan. Anehnya aku bertemu dia di ujung jalan sana, lantas berjalan berjajar kemari tanpa membicarakan urusan-urusan penting lainnya, sikapnya masih segar bugar dan riang gembira, katanya ingin berkenalan dengan para enghiong dari berbagai tempat. Tak nyana setiba di o'pan rumahmu, mendadak ia berkata ingat suatu urusan lain yang harus dia selesaikan selekasnya, belum lagi kakinya melangkah masuk, tahu-tahu sudah putar badan berlari pergi. Kalau toh sudah tiba di ambang pintu, berapa lama sih memberi selamat kepadamu. Coba katakan aneh tidak?"
Kim Tiok-liu berkata.
"Waktu itu adakah kalian mendengar suaraku yang sedang bicara di dalam sini?"
"Mendengar jelas. Tadi mungkin kau sedang mengobrol soal apa yang menggembirakan? Aku mendengar suara tawamu."
"Itulah sebabnya,"
Ujar Kim Tiok-liu.
"Boh Cong-tiu tahu aku sudah tiba di sini lebih dulu, mana berani dia masuk kemari?"
Tan Than-ih melenggong, tanyanya.
"Kenapa, bukankah dia teman baikmu?"
"Dulu memang, mulai hari ini sudah bukan lagi."
Lalu Kim Tiok-liu tuturkan cara bagaimana Boh Cong-tiu menipu dirinya dalam mengejar jejak Lim Bu-siang yang diburu oleh Coh Thian-hiong.
"Semula aku masih bingung kenapa dia berbuat demikian, setelah bertemu dengan nona Lim dan Song-siauhiap dan lain-lain, baru aku tahu bahwa dia ternyata sudah menjadi antek kerajaan secara diam-diam."
"Boh Cong-tiu sebetulnya tunas muda yang berbakat, sayang dia kemaruk oleh kemewahan, merusak diri sendiri,"
Kata Tan Thian-ih menyesalkan.
"Tan Tayhiap,"
Sela Ong Thian-thong.
"Katamu tadi ada urusan besar, entah..."
"Urusan ini ada sangkut pautnya dengan Hu-siang-pay. Tiong-pangcu dari Kaypang mendapat sebuah berita, kabarnya Cong Sin-liong mengundang banyak orang-orang persilatan dari berbagai aliran dan golongan, pada upacara besar sembahyangan di Giok-hong-ting, mereka pura-pura sebagai jemaah hendak menyelundup ke Giok-hong-ting di Thay-san. Coba kalian pikir apakah kejadian ini tidak rada ganjil?"
"Markas pusat Hu-siang-pay justru berada di puncak sebelah di depan Giok-hong-ting,"
Ujar Kim Tiok-liu "Cong Sin-liong adalah murid murtad yang sudah terusir dari Hu-siang-pay, kejadian ini tidak perlu diragukan, pastilah mereka siap-siap hendak mencari gara-gara menghadapi Hu-siangpay."
"Dan lagi, Cong Sin-liong kembali dari luar lautan, masakah dalam tempo hanya sepuluhan tahun saja, dia mampu berkenalan dengan begitu banyak orang-orang persilatan?"
"Ah, masa lopek belum tahu? Jauh lebih dulu dari Boh Cong-tiu, Cong Sin-liong sudah menjadi anjing alap-alap kerajaan."
"Begitulah Tiong-pangcu menjelaskan kepadaku, maka menurut dugaannya, pasti ada orang lain yang menjadi tulang punggung Cong Sin-liong mengendalikan persoalan ini."
"Benar, Ciok Tio-ki semula memang begal besar dari golongan hitam, orang-orang sebanyak itu, pastilah hasil undangan Ciok Tio-ki."
"Hiantit justru karena persoalan inilah maka aku kemari. Kalian suami istri adalah teman baik Lim-ciangbun, sebetulnya aku hendak minta bantuanmu untuk memberi kabar kepada Limciangbun, siapa tahu Lim-ciangbun berada di sini juga, itulah baik. Urusan sudah jelas, Cong Sinliong dengan mengandal kekuatan dukungan pihak kerajaan, pinjam tenaga orang-orang dari golongan hitam yang sesat itu, hendak merebut kekuasaan ciang-bun Hu-siang-pay."
Lim Bu-siang serba salah, katanya.
"Tan Tayhiap, yang ingin merebut kedudukan ciang-bun bukan Cong Sin-liong, tapi adalah Boh Cong-tiu. Mereka berdua sudah bersekongkol, Cong Sinliong yang tampil, sedang Boh Cong-tiu sembunyi di belakang untuk menyaru sebagai orang dari golongan pendekar tulen!"
Tan Thian-ih heran, tanyanya.
"Dari mana kau bisa tahu begini jelas?"
"Kalau diceritakan pun hanya kebetulan saja, pagi tadi bersama Beng Goan-cau kami bertamasya di Su-kong-se, kebetulan Cong Sin-liong, Boh Cong-tiu dan Ciok Tio-ki mengadakan pertemuan rahasia di sana, tanpa sengaja kami mencuri dengar pembicaraan mereka."
Lalu ia jelaskan tipu muslihat apa saja yang mereka rundingkan.
"Tak nyana mereka begitu keji dari apa yang kubayangkan, keparat benar!!"
Ciok Heng berkata.
"Ulang tahun berdirinya Giok-hong-koan sudah tidak lama lagi, kami harus selekasnya pulang untuk mempersiapkan segalanya. Lim-ciangbun, kau..."
"Kim-toako,"
Ujar Lim Bu-siang.
"Pada waktunya mohon bantuanmu lho."
"Sudah tentu aku harus bantu kau, cuma bagaimana juga aku ini orang luar, maka urusan ini, mungr kin kau sendiri yang harus mengendalikan -dan membereskan."
Ciok Heng menimbrung.
"Betul, urusan ini penting artinya, aku sendiri mungkin tidak kuasa memikul tugas seberat ini. Dan lagi, Boh Cong-tiu mendurhakai perguruan, banyak murid-murid perguruan kita yang belum tahu. Bersama Cong Sin-liong, yang satu berbuat jahat yang lain purapura berbuat baik, mengandal kata-kataku saja, semua murid-murid perguruan kita belum tentu suka percaya. Urusan mencuci bersih perguruan dari anasir-anasir jahat ini, kukira Lim-ciangbun sendiri yang harus memimpinnya."
Kim Tiok-liu tahu kesulitan Lim Bu-siang, segera ia berkata dengan tertawa.
"Bu-siang apakah kau punya urusan lain dengan Goan-cau?"
"Katanya Siau-kim-jwan memerlukan tenaga, aku sudah berjanji ke sana untuk membantu kesulitan mereka,"
Sahut Lim Bu-siang.
"Memang Siau-kim-jwan amat memerlukan banyak bantuan, tapi urusan dalam perguruanmu ini, kau sendiri pula yang harus menyelesaikan. Em, ya, begini saja, terpaksa kita undang Goancau keluar untuk berunding bersama."
Ong Thian-thong mengira-ngira, Leng dan Beng berdua masuk kira-kira sudah sesulutan dupa, maka segera ia berkata.
"Benar, beberapa persoalan ini memang perlu dirundingkan bersama supaya beres. Leng Tayhiap dan Lo-pangcu mungkin juga sudah selesai dalam perundingannya, lebih baik kita undang mereka keluar semua untuk berunding bersama."
Tidak lepas dari dugaan Kim Tiok-liu, Beng Goan-cau yang berpandangan obyektif lebih mementingkan keseluruhannya, katanya.
"Semua urusan ada perbedaan berat dan enteng, Busiang, pulanglah kau lebih dulu menyelesaikan urusan ini, baru kau menyusul ke Siau-kim-jwan."
"Baik, tapi aku pun ada sebuah hal, kuharap Ciok-suko suka bantu aku."
"Ciangbun sumoay, ada pesan apa katakan saja."
"Setelah mencuci bersih perguruan, kedudukan ciangbun perguruan kita kuminta kau menjabatnya."
Ciok Heng melongo, katanya.
"Hah, ini aku tidak berani terima. Apalagi urusan sebesar ini, harus diputuskan oleh suara banyak para murid perguruan kita"
Kim Tiok-liu tertawa, ujarnya.
"Aku tahu benar watak Bu-siang, urusan sudah di depan mata, pasti dia berani bertanggung jawab untuk menghadapinya. Untuk mengurus pekerjaan sehari-hari dari perguruan, terang kau jauh lebih kuat lebih berpengalaman dari dia. Kalau toh dia punya maksud mulia ini, maka kau harus menerimanya. Yang terang, bila kelak ada urusan-urusan besar, toh dia tidak akan berpeluk tangan. Sudah tentu urusan penting ini harus diputuskan oleh anak murid perguruan kalian sendiri, tapi toh harus mendapat persetujuanmu sendiri, barulah bisa diusulkan kepada murid-murid lainnya."
Siang Ceng sebagai perempuan yang sudah ahli dalam meraba isi hati perempuan, apalagi gadis mekar seperti Lim Bu-siang yang menanjak dewasa, maka setelah tahu ke mana juntrungan pikiran Lim Bu-siang, segera ia berkata kepada suaminya sambil tersenyum penuh arti.
"Wi-ko, Kim Tayhiap sudah berkata demikian, maka terimalah saja, supaya ciangbun sumoay berlega hati pulang ke gunung bersama kita!"
"Baik, persoalan ini diputuskan begini saja. Marilah kita bicarakan urusan lainnya."
Seperti pemimpin sidang rapat Kim Tok-liu bersuara.
Baru sampai di sini pembicaraan, tampak Leng Thiat-jiau beranjak keluar beradu pundak bersama Lo Kim-ou.
Leng Thiat-jiau sudah kembali pada wajah aslinya, katanya tertawa tergelakgelak.
"Tan-locianpwe, Kim-toako, maaf bila kalian tunggu terlalu lama."
Melihat air mukanya, lantas Kim Tiok-liu tahu, terang bantuan yang dia minta kepada Lo Kim-ou sudah mendapat persetujuannya, segera ia berkata.
"Hari ini kita kawan-kawan lama bisa berkumpul, dapat berkenalan dengan tunas-tunas muda lagi, boleh dikata tidak sia-sialah perjalanan kita semua, betul tidak?"
"Benar,"
Ujar Leng Thiat-jiau.
"Lo-pangcu memang berjiwa luhur dan berhati lapang, sudah dua puluh tahun kami tidak pernah bertemu, namun hubungan persahabatan kita sedikit pun tidak menjadi luntur, memang tidak sia-sia perjalananku kali ini."
Secara tidak langsung dia memberi kisikan kepada Kim Tiok-liu bahwa Lo Kim-ou sudah setuju memberikan bantuannya "Ong-lopiauthau,"
Ujar Kim Tiok-liu.
"perjamuan ulang tahunmu kami terima di hati. Mumpung di sini ada arak biarlah aku pinjam tempatmu ini, di samping memberi selamat kepadamu, aku pun haturkan secawan arak kepada semua teman-teman yang hadir."
Ong Thian-thong tertawa getir, ujarnya.
"Mungkin aku pun tidak bisa menetap lama di dalam piaukiok lagi. Baik, ambil arak, mari kita semua minum sepuas-puasnya."
Ong Giu masuk membawa arak, katanya.
"Suhu, ada sebuah hal perlu kulaporkan kepada kau orang tua, entah mengapa Bun-suheng itu, tahu-tahu sudah ngeloyor pergi tanpa pamit."
Kata Beng Goan-cau.
"Ong-lopiauthau, memang aku hendak memberi tahu kepadamu, Nyo Bok, Bun Seng-liong guru dan murid sudah menjadi antek kerajaan, sedang Bun Seng-liong sudah lama diusir dari piaukiok oleh Han-congpiauthau."
"Memang aku pun sudah melihat gejala-gejala yang kurang sehat, masakah Han-congpiauthau sudi membungkuk-bungkuk kepada pejabat. Jadi begitu kiranya duduk perkara sebenarnya,"
Ujar Ong Thian-thong paham.
"Ong-toako,"
Timbrung Lo Kim-ou.
"bukan mustahil Ciok Tio-ki masih ingin mencari gara-gara kepadamu, sejak hari ini, lebih baik kau menetap di Pang kami saja sementara menghindari kesulitan, bagaimana?"
"Ya, maksudku memang demikian, piaukiok ini sementara hendak kuserahkan kepada Ong Giu untuk mengurusnya."
"Masih ada sebuah hal yang penting,"
Ujar Beng Goan-cau pula.
"Miao-toako, dalam hal ini bikin capai kau saja."
"Memangnya aku ini tukang luntang-lantung, sedikit pun aku tidak perlu takut terlalu banyak urusan, katakan saja,"
Sahut Miao Tiang-hong.
"Ciok Tio-ki mengutus Ngo Hong, Gui Khing dan Sebun Hou bertiga mengejar dan hendak menangkap Lau Khong, kabarnya Lau Khong mengantar peti mati Han Bing ke Utara, kebetulan seperjalanan ke arah tujuamu,"
Beng Goan-cau menjelaskan.
"Han Bing pura-pura mati, Lau Khong mengantar peti mati, kejadian ini memangnya aku dan Utti-toako yang mengatur, soal ini biar serahkan kepadaku saja." ---ooo0dw0ooo---Hari menjelang magrib, di sebelah utara pesisir Ko-yu-ouw tampak seorang menunggang kuda tinggi kekar sedang menjalankan tunggangannya pelan-pelan. Penunggangnya adalah seorang laki-laki pertengahan umur, dia bukan "lain adalah pendekar kelana yang kenamaan Miao Tianghong adanya. Setelah berpisah dengan para pendekar di rumah keluarga Ong, seorang diri ia berangkat ke utara menunggang kuda pemberian Ong Thian-thong, tujuannya mengejar rombongan Lau Khong yang mengantar peti mati ke utara. Hari pertama tidak terkejar, sekarang hari kedua sudah hampir berselang pula. Sebelum berangkat Lau Khong sudah menjelaskan kepada Miao Tiang-hong jalan mana yang akan dia tempuh ke arah utara ini, meski jalan darat lebih jauh dan berputar, soalnya menggunakan perahu kurang leluasa dan lebih banyak bahayanya, maka ia pilih jalan-jalan pegunungan yang jarang dilalui manusia. Kuda tunggangan Miao Tiang-hong adalah kuda pilihan, setelah dua hari perjalanan belum juga menyusul Lau Khong, keruan ia menjadi keheranan. Kereta yang digunakan Lau-Khong diseret dua ekor kuda biasa saja. Lau Khong sendiri yang pegang kendali. Menurut perhitungan Miao Tianghong, sekarang dirinya pasti sudah berhasil menyusulnya. Begitulah sambil memperhatikan keadaan sekitarnya Miao Thiang-hong keprak kudanya, hari sudah mulai gelap, namun sang rembulan sebentar bakal menongol keluar, sekitar sini tiada perumahan rakyat lagi, terpaksa dia berkepu-tusan hendak melanjutkan perjalanan di tengah malam.
"Kenapa bayangan Lau Khong belum tampak juga?"
Demikian pikir Miao Tiang-hong.
"Kabarnya dia berasal dari karesidenan Tiong-boh di Soatang, setelah dewasa baru kelana dan belajar di Hangciu, sayang aku tidak berkesempatan banyak bicara sama dia, asalnya dari Tiong-boh, mungkin dia pernah bertemu dengan suciku."
Angin malam menghembus sepoi-sepoi dari arah danau, Miao Tiang-hong tersentak sadar dari lamunannya, teringat kepada sang suci, mau tidak mau pikirannya melayang kembali kepada kenangan tiga puluh tahun yang lalu, meski kejadian dulu sudah samar-samar, tapi pengalaman hidup dirinya selama ini yang pahit getir, betul-betul berkesan amat mendalam dalam lubuk hatinya.
Waktu itu dirinya baru berusia dua belas atau tiga belas tahun.
Sang suci adalah putri gurunya yang terkecil, meski putri yang terkecil, usianya toh lebih tua empat tahun dari dirinya Waktu pertama kali dia masuk perguruan, sucinya sudah merupakan anak gadis yang rada tahu urusan.
Masih segar dalam ingatannya, tahun-tahun permulaan, ilmu silat yang dia pelajari justru hasil ajaran sang suci yang mewakili ayahnya.
Karena begitu masuk perguruan, lantas mendapat didikan dan asuhan dari sang suci, maka di antara sesama saudara seperguruan, hubungannya paling akrab dengan sucinya.
Bagi orang lain, seolah-olah mereka adalah dua saudara sekandung layaknya.
Tahun ketiga barulah suhunya mulai mendidiknya secara langsung, namun hubungannya dengan suci tetap kekal dan erat, akhirnya menjadi kebiasaan begitu ada senggang pasti dia mencari dan berlatih sama sang suci.
Terkenang masa kanak-kanak sungguh amat.
manis mesra dan lucu sekali, tanpa sadar teringat olehnya suatu kejadian, pertama kali ia berkelahi dengan orang, adalah gara-gara membela sang suci.
Hal itu terjadi karena salah seorang suhengnya yang berusia lebih tuaan amat sirik akan hubungannya dengan sang suci, maka sore hari itu dia menggoda dan mengejek sutenya yang dikatakan sebagai kodok buduk ingin mencaplok daging bangau, ingin menjadi suami kecil sang suci segala.
Karena naik pitam, ia cengkeram suhengnya terus menghajarnya dengan sengit.
Muka suhengnya sampai matang biru, namun hidungnya pun terpukul bocor.
Karena perkelahian ini, mereka sama dihukum berat oleh sang guru, namun mereka sama tidak berani mengaku gara-gara persoalan apa mereka sampai berkelahi.
Teringat akan kejadian lucu itu, tak terasa Miao Tiang-hong tertawa geli.
"Untung suhu keburu datang, kalau tidak pasti aku akan berhantam lebih sengit dengan suheng."
"Kenapa hanya digoda begitu saja oleh suheng aku lantas marah-marah. Mendengar suci sudah mendapat jodoh, beberapa hari aku menjadi uring-uringan, tidak enak makan tidak bisa tidur?"
Dia masih ingat waktu itu dirinya berusia lima belas, dalam masa seusia itu, bocah kampung masih belum tahu soal hubungan asmara laki perempuan.-'Tapi apakah aku hanya menyukainya saja?
Sudah tentu tidak.
Setiap kali bersama suci pasti hatiku riang, sedikit pun aku tidak merasa sungkan dan takut-takut terhadapnya, mungkin inilah rasa cinta yang samar-samar dalam lubuk hati remaja yang mulai mekar?"
Tiba-tiba ia teringat.
"Kenapa pula aku begitu asyik tehadap Hun Ci-lo? Ah, pahamlah aku sekarang. Karena dia mirip benar dengan suciku dulu. Bukan mirip bentuk wajahya, adalah mereka punya persamaan watak dan perangai. Pintar ' tahu urusan, punya pandangan luas dan bijak. Sayang suci sekarang sudah meninggal, kalau tidak bila dia berkenalan dengan Hun Ci-lo, pastilah mereka menjadi sahabat karib."
Dua tahun kemudian sejak perkelahian itu, sucinya betul-betul menikah dengan keluarga she Bu di Tiong-boh, Santung, sejak itu mereka berpisah dan tidak pernah bertemu lagi.
Suami sucinya adalah seorang pahlawan bangsa menentang penjajah kerajaan, dalam suatu peperangan di medan laga, mereka suami istri akhirnya gugur bersama.
Hitung-hitung kejadian ini sudah dua puluh tahun berselang.
"Selama dua puluh tahun ini aku belum pernah berziarah ke pusara suci, semoga aku bisa menemukan Lau Khong, kuminta dia bawa aku ke tempat pusara suci, untuk menunaikan angananganku."
Cuaca sudah mulai gelap, hembusan angin lalu lamat-lamat membawa suara beradunya roda kereta dengan batu-batu gunung, seketika lamunan Miao Tiang-hong buyar.
Kejut dan girang pula Miao Tiang-hong dibuatnya, hari sudah mulai malam, jalan pegunungan sesepi ini dari mana datangnya kereta berkuda?
Tentulah kereta yang memuat peti mati yang dikendalikan Lau Khong itulah.
Lekas Miao Tiang-hong keprak kudanya menyusul ke depan, remang-remang dilihatnya di depan, sebuah kereta besar yang diseret dua ekor kuda sedang mencong-klang di antara semaksemak daun weling.
Larinya tidak cepat, agaknya kereta itu memuat barang berat.
Walau Miao Tiang-hong menduga kereta itu tunggangan Lau Khong, tapi demi keselamatan dan harus waspada, maka ia tidak berteriak memanggil nama Lau Khong.
Jarak kereta sudah disusulnya semakin dekat, meski orang yang pegang kendali kereta tidak menoleh ke belakang, namun bayangan punggungnya sudah kelihatan dengan jelas.
Jauh di luar dugaan Miao Tianghong, terasa bayangan punggung orang itu jelas tidak mirip dengan Lau Khong!
Miao Tiang-hiong menjadi kecewa, seketika timbul rasa curiganya.
"Kereta ini pasti ada apaapanya, apapun yang terjadi aku harus memeriksanya dulu biar jelas."
Kudanya ia keprak lebih cepat berlari lewat dari samping kereta, meniru perbuatan laki-laki kasar umumnya, dia ayun pecutnya seperti mengeprak kuda, tapi dengan sengaja ujung pecutnya menjungkit kain penutup di depan kereta.
Kejadian berlangsung teramat cepatnya, tiba-tiba terdengar "Cras", ujung pecut Miao Tianghong tahu-tahu tertabas kutung oleh golok orang.
Menyusul seorang gadis segera melompat ke luar dari dalam kereta.
Kereta itu pun segera berhenti.
Yang menjadi kusir kereta adalah pemuda yang bertubuh kekar sehat, dari raut mukanya agaknya mereka bersaudara.
Gadis itu segera memaki.
"Kenapa kau mempermainkan orang?"
Sementara pemuda itu mengendalikan kedua kudanya.
Begitu kain penutup itu terangkat naik, meski hanya sekilas saja, bagi Miao Tiang-hong sudah cukup jelas melihat keadaan di dalam kereta, tidak lepas dari dugaannya, kiranya kereta ini pun memuat sebuah peti mati.
Terpaksa Miao Tiang-hong turun dari tunggangannya dan minta maaf.
"Maaf, aku tidak sengaja menyentuh kereta kalian!"
"Tidak sengaja?"
Jengek si pemuda.
"Siapa kau?"
Pecut Miao Tiang-hong kena ditabas kutung, ia tahu kepandaian si gadis ini tentu tidak lemah, setelah mengamati si pemuda ia tahu pula bahwa orang tentu berkepandaian lebih tinggi, semakin tebal rasa curiga Miao Tiang-hong, pikirnya.
"Memangnya bisa begini kebetulan! Kereta ini pun memuat sebuah peti mati? Memangnya mereka berhasil merampas kereta ini dari tangan Lau Khong?"
Segera Miao Tiang-hong berketetapan, bagaimana juga ia harus menyelidiki dan bikin jelas persoalan, katanya.
"Aku sedang mengejar seorang kawan."
"Siapa kawanmu itu?"
Tanya si pemuda.
"Kau menanyai aku, timbal balik, aku pun perlu tanya kepadamu, harap tanya siapakah yang^ meninggal di dalam peti mati ini?"
Berubah air muka si pemuda, bentaknya.
"Untuk apa kau tanya hal ini?"
"Bicara terus terang, kawanku itu pun sedang mengantar peti mati."
"Apakah temanmu itu she Lau?"
Tanya pula si pemuda.
"Benar. Dia bernama Lau Khong. Kau kenal dia? Apakah kereta ini miliknya?"
Seketika berubah hebat air muka kakak beradik ini, si gadis berkata.
"Koko, tidak perlu banyak cing-cong, ayolah turun tangan saja!" --"Sret-sret"
Goloknya lantas membacok lebih dulu. Dengan gerakan Ih-sing-hoan-wi (merubah bentuk pindah kedudukan), Miao Tiang-hong membalikkan tangan balas mencengkeram ke golok orang, ujarnya.
"Persoalan belum dibikin jelas, kenapa kau lantas turun tangan?"
Si pemuda memang curiga.
"Ya, keparat ini mengudak Lau Khong, pastilah dia kaki tangan anjing alap-alap." -Melihat Liu-yap-to adiknya hampir saja terampas oleh Khong-jiu-jip-peh-to lawan, dalam keadaan yang gawat tidak bisa banyak pikir lagi, segera pedangnya terlolos keluar, dengan sejurus Tit-ci-thian-lam (menuding lurus ke langit selatan), pedangnya tepat sekali menusuk Hong-hu-hiat di punggung Miao Tiang-hong.
"Sebenarnya siapa kalian, lekas bicara terus terang, supaya tidak menyesal setelah terlambat!"
Kiranya ia pun curiga bahwa kedua kakak beradik ini pun cakar alap-alap.
Sepasang kakak beradik ini hanya tahu bahwa ada cakar alap-alap yang mengejar jejak Lau Khong, sedikit pun mereka tidak mengira bahwa orang yang menyusul datang ini adalah sahabat karib Lau Khong.
(Soalnya Lau Khong pernah berkata kepada mereka berdua, bahwa semua teman-teman baiknya pergi ke rumah Onglopiauthau untuk memberikan selamat hari ulang tahunnya).
Sudah tentu kepandaian silat mereka tidak ungkulan melawan Miao Tiang-hong, pertama mereka kira Miao Tiang-hong sebagai cakar alap-alap yang hendak mengompes keterangan mereka, kedua mereka tidak berani pecah perhatian untuk bicara seperti Miao Tiang-hong.
Di saat Miao Tiang-hong mengajukan pertanyaannya tadi, sepasang Liu-yap-to dan sebatang Ceng-kong-kiam mereka sudah menyerang dengan serangan gencar.
Untung meski Miao Tiang-hong rada curiga, namun toh hanya "sedikit"
Saja.
Pengalaman dan pandangannya jauh lebih tajam dan luas dari kedua kakak beradik ini, meski ia curiga mereka sebagai cakar alap-alap, tapi toh ia memikirkan adanya kemungkinan lain, bukan mustahil mereka adalah teman-teman Lau Khong, maka sebelum persoalan dibikin jelas, maka Miao Tiang-hong pasti tidak akan menurunkan tangan keji.
Ilmu silat kedua kakak beradik ini memang bukan tingkat rendah, kedua golok berputar-cepat dan lincah, sementara pedang menari naik turun dengan amat aneh dan serba rumit dengan berbagai variasi yang berisi.
Mengandal sepasang kepalan kosongnya, Miao Tiang hong menghadapi rangsakan kedua lawannya, lama kelamaan ia rada terdesak juga.
Sekonyong-konyong, jantung Miao Tiang-hong berdebar keras.
"Ilmu golok dan ilmu pedang mereka kenapa seperti amat kukenal, namun tidak teringat olehnya ajaran silat dari perguruan mana? Nona cilik ini pun seperti pernah dilihatnya entah di mana, aneh benar!"
Karena timbul rasa curiganya ini, Miao Tiang-hong segera melancarkan jari saktinya, Tam-cisin-thong.
"Creng"
Ia selentik miring pedang si pemuda.
Jurus ini dia mainkan dengan menyerempet bahaya, cuma waktu dan gerakannya amat persis dan tepat sekali, demikian pula kekuatan jentikan-nya pun sudah diperhitungkan, kalau tidak pasti lawan kena dibikin terluka.
Secara tidak terduga-duga pedangnya kena dijentik mental ke belakang, keruan kaget si pemuda bukan kepalang, seketika ia pun menjadi heran dan bertanya-tanya.
"Kepandaian orang ini jauh lebih unggul dari kami, kenapa tidak menurunkan tangan jahat?", Belum lenyap pikirannya, dilihatnya Miao Tiang-hong sudah melompat naik ke atas kereta dan sedang membuka tutup peti mati. Ternyata dia hendak periksa apakah betul yang rebah di dalam peti mati adalah jenazah Han Bing. Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam hatinya, namun jawaban teka-teki ini tidak perlu dia minta dari kedua kakak beradik ini, terpaksa dia bekerja untuk membuktikan sendiri. Begitu tutup peti terbuka, tampak isinya cuma batu bata melulu, mana ada jenazah Han Bing? "Eh ke manakah Han Bing?"
Belum habis ia pikir, terasa sambaran senjata di belakang punggungnya.
Ternyata si gadis itu sudah memburu tiba sambil mem-babatkan kedua goloknya, dengan serangan berantai menyerang kedua kakinya.
Dengan angkat sebelah kakinya dari sebelah atas Miao Tiang-hong menyepak balik ke belakang mengarah muka si gadis, lekas si gadis menggunakan Hong-tiam-thau, golok pendek di tangan kiri buat melindungi muka, sementara golok panjang di tangan kanan dipuntir miring terus mengiris.
Terdengar suara "Biang", kiranya sepakan kaki Miao Tiang-hong yang sulit diduga isi kosongnya itu, tujuannya bukan menyepak muka si gadis sungguh-sungguh.
Begitu ia desak si gadis membalikkan golok pendek melindungi mukanya, begitu kaki menjejak dinding kereta, tubuhnya lantas melenting terbang ke depan beberapa meter jauhnya.
"Koko, ayo lekas turun tangan!"
Si gadis segera berteriak.
Si pemuda masih tertegun, begitu mendengar teriakan adiknya seketika ia tersentak sadar, orang ini musuh atau teman belum lagi dibikin terang, mana boleh bekerja ayal-ayalan.
Miao Tiang-hong sudah bersiap bila dirinya diserang dari depan dan belakang, begitu kakinya baru saja menutul tanah, tangannya berbareng menepuk ke belakang.
Kebetulan si gadis menyerang datang dari belakang, melihat gaya serangannya ini, tanpa terasa timbul juga rasa herannya, batinnya.
"Bagaimana mungkin orang ini pun bisa melancarkan Tay-kim-na-jiu-hoat ajaran gwakong (kakek luar) yang dinamakan Pit-bok-hoan-ciang (mengganti pukulan dengan mata terpejam)?"
Gerakan Tay-kim-na-jiu dari Pit-bok-hoan-ciang ini, sebetulnya khusus digunakan di waktu menghadapi musuh dalam malam buta rata, kini tanpa membalikkan kepala Miao Tiang-hong menyerang, berarti pula seperti memejamkan mata melayani serangannya.
Mendengar daya luncuran serangan golok si gadis menjadi ken-dor, Miao Tiang-hong tahu orang sudah mulai curiga, sebat sekali ia lancarkan sejurus Tiang-kun, sekaligus ia punahkan serangan pedang si pemuda.
Menyusul badan berputar, seolah-olah ia sudah memperhitungkan dengan tepat dari arah mana si gadis bakal menyerang dirinya, begitu putar badan, kebetulan ia memapaki sepasang golok si gadis.
Kedua golok si gadis berpadu menjadi gerakan bundar, Miao Tiang-hong merangkap kedua jarinya, mendadak menotok ke tengah lingkaran golok orang, teriaknya.
"Jurus Tiang-ho-loh-jitwan yang kau mainkan ini tidak benar, lekas diubah dengan Tat-mo-toh-kang, baru kau akan mampu menghadapi sejurus Tay-boh-hou-wan-titku ini."
Dengan gerakan jari sebagai pedang, tipu yang dimainkan Miao Tiang-hong adalah sejurus ilmu pedang warisan keluarga si gadis, belum lagi habis kata-katanya, secara reflek si gadis segera mengubah permainannya terus membacok, jurus ini adalah Tat-mo-toh-kang seperti yang diserukan oleh Miao Tiang-hong tadi.
Tanpa sadar si gadis lantas berteriak.
"Dari mana kau bisa tahu ilmu pedang tunggalku ini?"
Ternyata ilmu pedang tunggal warisan leluhurnya ini telah digubah menjadi jurus-jurus ilmu golok.
Di dalam golongan senjata, golok merupakan senjata keras, sementara pedang mengutamakan kelunakan, maka jarang sekali tokoh-tokoh silat dalam bulim yang mampu melancarkan jurusjurus ilmu pedang dengan senjata golok.
Kini bukan saja Miao Tiang-hong kenal ilmu pedang tunggal perguruannya, memberi petunjuk lagi.
Miao Tiang-hong sendiri kala itu pun teramat senang dan kaget, lekas ia bertanya.
"Pernah apa kau dengan Tio Bun-ki?"
Kedua pihak sama-sama mengajukan pertanyaan, tampak si gadis amat terperanjat mendapat pertanyaannya ini.
"Kau tahu ibuku, siapa kau?"
Si pemuda mendadak berteriak.
"Kau Miao-susiok bukan?"
Baru sekarang Miao Tiang-hong menghela napas lega, ujarnya tertawa.
"Benar, akulah Miao Tiang-hong, ibu kalian adalah suciku."
Si gadis segera menyimpan kedua goloknya, tersipu-sipu ia maju memberi hormat, katanya.
"Kiranya Miao-susiok, tak heran Pit-bok-hoan-ciang yang kau mainkan begini lihay. Dulu ibu sering menyinggung kau."
"Ilmu pukulan itu, di waktu pertama kali aku masuk perguruan, ibumu yang mewakili gwakong mengajarkan kepadaku,"
Demikian tutur Miao Tiang-hong.
"Tidak salah,"
Seru si pemuda.
"Ibu pun pernah menyinggung soal ini. Katanya di antara sesama suheng-te, Miao-susuiok adalah murid gwakong yang terpandai. Waktu kami masih kecil, ibu sudah menurunkan ilmu pukulan ini kepada kami, adik sih mending, sebaliknya aku rada ketinggalan meski sudah melatihnya dengan susah payah."
"Koko, jangan kau puji aku di hadapan Miao-susiok. Ibu berkata waktu Miao-susiok meyakinkan ilmu pukulan ini hanya memerlukan waktu satu bulan, hasilnya sungguh luar biasa. Sebaliknya aku memerlukan tiga bulan baru boleh dikata mahir. Dan lagi, ilmu ajaran ayah, terang aku tidak ungkulan dibanding kau."
Si pemuda berkata dengan tertawa.
"Sudahlah jangan kita saling umpak saja. Bikin geli Miaosusiok saja."
"Ya, pantasnya kami mohon petunjuk kepada Miao-susiok. Miao-susiok, waktu kami berusia sebelas atau dua belas tahun sudah melatih ilmu pukulan ini, waktu kau melatih ilmu pukulan ini juga seusia itu bukan? Kenapa kau bisa berhasil begitu cepat, pastilah dalam hal ini ada kuncinya rahasianya, mohon kau suka ajarkan kepada kami."
"Iya, kejadian itu sudah tiga puluh tahun berselang,"
Ujar Miao Tiang-hong menghela napas.
"Dulu berkat didikan suci yang tidak mengenal lelah dan memberi petunjuk dengan tekun, aku sih tidak punya kunci rahasia segala. Wah, aku toh masih belum tahu siapa nama-nama kalian?"
Si gadis tertawa cekikikan, katanya.
"Memang kami terlalu ceroboh, sudah setengah harian, nama belum lagi kami perkenalkan. Aku bernama Bu Cheng, koko bernama Bu Toan."
Sampai di sini tiba-tiba biji matanya menjadi merah, senyum tawanya pun sirna, katanya lebih lanjut dengan rawan.
"Miao-susiok, ibu sudah meninggal sepuluhan tahun lamanya, beliau gugur bersama ayah di medan laga. Kejadian ini, tentunya Miao-susiok sudah tahu?"
"Beritanya memang sudah lama kudengar, bagaimana kejadian sebenarnya aku belum paham betul. Menjadi korban keganasan siapakah ayali bunda kalian?"
"Ayah punya seorang teman baik she Lau, waktu itu kumpul bersama dengan ayah dan bunda,"
Demikian tutur Bu Toan.
"Menurut cerita paman Lau setelah kejadian itu, katanya mereka kena terperangkap oleh sergapan para jago-jago pemerintah kerajaan yang mengeroyok ayah dan ibu semua ada tiga orang, satu adalah Pakkiong Bong, seorang lagi adalah sute Pakkiong Bong yang bernama Sebun Soh, dan orang ketiga adalah murid murtad dari Siau-lim-si yang bernama Sa Miwan. Kabarnya karena berhasil membunuh ayah dan ibu itulah, karena nilai jasa-jasanya yang besar, akhirnya Pakkiong Bong mendapat kenaikan pangkat dan terus menjulang tinggi sampai menjabat kedudukan komandan pasukan Gi-lim-kun sekarang."
"Baik, nama ketiga orang ini kucatat dalam hati,"
Ujar Miao Tiang-hong.
"Pakkiong Bong dan sutenya memang aku ingin mencari perhitungan dengan mereka, dan seorang lagi yang bernama Sa Mi-wan itu, kelak pasti akan kucari dia, untuk membalas sakit hati ayah bunda kalian. Sekarang tiba saatnya membicarakan urusan Lau Khong, kereta yang memuat peti mati ini semula kepunyaannya bukan? Silakan kalian tuturkan kepadaku apa sebenarnya yang terjadi!"
"Lau-toako adalah tetangga kami,"
Demikian Bu Toan menutur pula.
"Lau-pepek yang kukatakan tadi adalah ayahnya "
"O, jadi kalian bertetangga dengan Lau Khong, betapa baiknya kalau sejak lama aku tahu akan hal ini,"
Ujar Miao Tiang-hong.
"Miao-susiok,"
Bu Cheng menimbrung.
"Jadi kau sudah lama kenal dengan Lau-toako, aku kok belum pernah dengar Lau-toako menyinggung hal ini."
"Baru beberapa hari yang lalu aku berkenalan dengan Lau Khong, tapi sekali bertemu laksana teman lama saja layaknya. Setelah kutahu dia kelahiran dari kabupaten Tiong-boh, sebenarnya hendak mencari tahu tentang keluarga kalian, namun sampai sekarang belum ada kesempatan."
Secara ringkas lalu ia ceritakan cara bagaimana ia berkenalan dengan Lau Khong di loteng rumah makan dulu.
"Moay-moay lebih baik terhadap Lau-toako daripada aku eng-kohnya ini,"
Demikian goda Bu Toan.
"Setiap persoalan tentu dia beritahukan kepada Lau-toako, kalau ada urusan Lau-toako selalu juga ceritakan kepadanya."
Merah muka Bu Cheng.
"Kau memang cerewet,"
Omelnya.
"Bukankah Lau-toako teramat baik juga terhadapmu?"
"Tak heran begitu aku mencari tahu tentang Lau Khong lantas kalian curiga. Kiranya Lau Khong belum memberi tahu tentang teman barunya sepert aku ini. Apakah kalian ikut dia datang ke Yangciu?"
Bu Cheng memonyongkan mulut, katanya.
"Semula memang kami hendak ikut dia, tapi dia tidak mengijinkan."
"Memangnya,"
Sela Bu Toan tertawa.
"Moaymoay segan berpisah dengan Lau-toako, terpaksa dia menyeret aku untuk menemani melihat keramaian."
"Kau membual apa lagi?"
Rengek Bu Cheng.
"Memangnya aku tidak terima kenapa dia tidak mau bawa kami. Memangnya kami tidak bisa pergi sendiri?"
Lalu ia tertawa.
"Tapi akhirnya toh kami tidak berhasil melihat keramaian di rumah Ong-lopiauthau."
"Jadi kalian bertemu Lau Khong di tengah jalan?"
"Masa begitu kebetulan. Di tengah jalan memang kami ada bertemu dengan si maling sakti Kwi-hwe-thio, dia adalah sahabat karib ayah di masa hidupnya. Miao-susiok, kau kenal kepadanya?"
"Di Pakkhia aku pernah melakukan sesuatu bersama dia. Aku pun tahu dia berada di Yangciu. Di sana aku ada bertemu dengan temannya sejawat Li-ma-cu, cuma kali ini aku sendiri tidak bertemu dengan dia."
"Dia memberi tahu kepada kami, katanya Lau-toako mengantar peti mati ke utara, katanya pula ada beberapa cakar alap-alap yang sedang membuntuti jejaknya, dia minta supaya kami berusaha membantunya. Sebetulnya kami tidak jalan lewat sini. Kwi-hwe-thio bawa kami menemui dia, kemarin malam kami bertemu di sebuah rumah makan kecil di dalam Ceng-Iiong-tin." --Cengliong-tin adalah sebuah kota kecil di pinggiran Ko-yu-ouw, kira-kira dua ratus li dari Yangciu, tadi pagi Miao Tiang-hong pun ada lewat dari kota itu, karena terburu-buru maka dia tidak mencari tahu di dalam kota. Bu Toan berkata lebih lanjut.
"Waktu itu terdesak oleh tempo, kami tidak bicara sejelasnya. Maka Kwi-hwe-thio mengajukan tipu dayanya ini, menyuruh kami berdua mewakili Lau-toako membawa kereta ini, untuk mengalihkan kejaran para cakar alap-alap. Han Bing dikeluarkan dari dalam peti mati, lalu suruh Lau-toako membawa Han Bing yang masih belum sadar itu, menuju ke suatu tempat persembunyian lain."
"Ke mana mereka pergi, apa kalian tahu?"
Tanya Miao Tiang-hong.
"Ke sebuah desa kecil puluhan li di luar kota Ceng-liong-tin, dalam desa itu ada seorang thaubak dari pihak Hay-soa-pang. Orang itu adalah teman baik Kwi-hwe-thio. Menurut rencana Kwi-hwe-thio, setelah tiba di rumah temannya itu, segera naik perahu milik Hay-soa-pang, melepaskan diri dari kejaran pihak cakar alap-alap."
"Benar, cara ini jauh lebih aman,"
Puji Miao Tiang-hong.
"Apakah Hay-soa-pang adalah orang kita sendiri?"
Tanya Bu Cheng.
"Hay-soa-pang Pangcu Lo Kim-ou adalah sahabat karib dari salah satu pimpinan tertinggi dari laskar gerilya di Siau-kim-jwan. Soal ini, Kwi-hwe-thio sudah mendapat tahu, mungkin Lau Khong sendiri yang belum mengetahui."
Tiba-tiba teringat sesuatu, Miao Tiang-hong bertanya.
"Menurut Kwi-hwe-thio melihat jejak cakar alap-alap yang mengejar datang, semalam kawanan cakar alap-alap itu sudah tiba di Cengliong-tin belum?"
"Dalam Ceng-liong-tin hanya terdapat sebuah rumah penginapan kecil itu, di sana tiada orangorang yang mencurigakan. Menurut perhitungan Kwi-hwe-thio, kawanan cakar alap-alap itu pasti akan turun tangan di tempat-tempat yang sepi terpencil, mereka hanya tahu membuntuti kereta ini, waktu itu kereta berada di luar rumah, Kwi-hwe-thio bersama Lau-toako mengembangkan ginkang, lari keluar lewat pintu belakang. Seumpama semalam kawanan cakar alap-alap itu sudah sampai di Ceng-liong-tin, pastilah mereka tidak akan tahu."
Mendadak Miao Tiang-hong berkata.
"Kukira urusan rada ganjil!"
"Apanya yang ganjil?"
Tanya Bu Cheng kaget.
"Sehari ini adakah kalian ke-bentur dengan kawanan cakar alap-alap yang mengejar?"
"Ya, tidak!"
"Nah itulah! Kalian tidak bentrok dengan cakar alap-alap, itulah keganjilannya."
Bu Toan menjadi sadar, katanya.
"Omongan Miao-susiok tidak salah, memang rada ganjil. Moay-moay, coba pikir. Seharian ini kita menempuh jalan pegunungan yang sepi dan terpencil, kenapa kawanan cakar alap-alap itu tidak turun tangan?"
Bu Cheng berjingkrak kaget, serunya.
"Maksudmu mereka sudah tahu tipu daya ini, lalu mengejar jejak Lau-toako?"
"Semoga tidak seperti yang kau duga ini."
Sikap Miao Tiang-hong rada kuatir.
Tengah mereka bercakap-cakap, tiba-tiba terdengar suara kelintingan kuda, di dalam kegelapan malam, tampak tiga ekor kuda yang dibedal kencang tiba-tiba muncul di antara semak daun-daun welingi sana, arahnya kebetulan menuju ke tempat mereka.
Miao Tiang-hong menghela napas lega, katanya.
"Nah, itulah, kawanan cakar alap-alap itu akhirnya datang juga. Hehe, kali ini aku harus betul-betul mengukur sampai di mana kelihayan mereka."
"Apakah Miao-susiok kenal dengan kawanan cakar alap-alap itu?"
Tanya Bu Cheng.
"Benar. Mereka adalah orang-orang yang bertanding minum di atas loteng rumah makan itu. Mereka masing-masing bernama Ngo Hong, Gui Khing dan Sebun Hou. Di antara ketiga orang ini kepandaian Gui Khing paling tinggi, nanti biar aku sendiri yang membereskan mereka. Lho, wah, tidak benar!"
"Apa yang tidak benar?"
Teriak Bu Cheng.
"Wah, ya memang tidak benar, ketiga orang ini agaknya bukan serombongan!"
Belum lenyap suaranya, tiba-tiba dilihatnya Miao Tiang-hong sudah melompat naik ke punggung kuda, teriaknya.
"Dua orang di depan adalah kawan kita, yang paling belakang adalah musuh. Biar kucegat musuh, lekas kalian menolong orang."
Sungguh di luar dugaan Miao Tiang hong, di antara ketiga pendatang ini, yang dia kenal hanya Sebun Hou seorang, dua orang yang lain kelihatan malah terluka berat mendekam di atas punggung kuda.
Sekilas pandang sudah jelas bahwa mereka sedang dikejar dan hendak diringkus atau dibunuh oleh Sebun Hou.
Di tempat yang sunyi sepi ini mendadak melihat Miao Tiang-hong muncul, keruan kejut Sebun Hou bukan kepalang.
Sampai di mana tingkat kepandaian silat Miao Tiang-hong ia tahu jelas, terang dirinya bukan tandingan orang, segera ia putar balik tunggangannya, melarikan diri.
Jantung Miao Tiang-hong berdetak keras, batinnya.
"Kepandaian silat Sebun Hou paling rendah di samping Ngo Hong dan Gui Khing, kini hanya terlihat dia seorang, ke mana pula dua orang yang lain?"
Maklumlah bila mereka bertiga sekaligus muncul di sini, maka dapat dipastikan bahwa jejak Lau Khong belum sampai ketahuan mereka, kini Gui Khing dan Ngo Hong yang berkepandaian lebih tinggi tidak kelihatan datang, maka persoalan ini sulit diraba bagaimana perkembangan selanjutnya.
Besar hasrat Miao Tiang-hong membekuk musuh untuk dikompes keterangannya, segera ia membentak keras.
"Lari ke mana?"
Kontan ia sambitkan tiga biji mata uang dengan gerakan Liusing-kan-gwat (bintang sapu mengejar rembulan) ia timpukkan kepada Sebun Hou, di samping itu ia keprak kudanya lari mengejar.
Teknik menunggang kuda Sebun Hou ternyata luar biasa, tiba-tiba badannya memberosot turun bersembunyi di bawah perut kuda, menghindar timpukan mata uang pertama, biji kedua mengenai pelana kuda.
Meski Sebun Hou sudah bersembunyi di bawah perut kuda dengan kedua kaki menjepit kencang perut kuda, toh ia tidak berhasil meluputkan diri dari sambaran mata uang ketiga, kebetulan dengan telak mengenai batok kepalanya yang tergantung turun ke bawah.
Sayang jarak mereka sudah ratusan langkah, kalau tidak batok kepalanya itu pasti pecah.
Namun demikian, toh kepala terasa sakit dan mata berkunang-kunang, batok kepalanya seperti hampir pecah.
Tunggangan Miao Tiang-hong berlari amat pesat, sekejap saja jarak kedua pihak sudah ditarik pendek menjadi tiga puluhan tombak.
Karena terdesak oleh keadaan, timbul akal licik Sebun Hou, tiba-tiba ia menjatuhkan diri menggelundung di atas tanah, terus lompat bangun dan terjun ke dalam Ko-yu-ouw.
Sementara kedua kuda tunggangan lain sudah berlari dekat di depan Bu Toan berdua, orang yang berada di depan seorang pemuda segera berteriak.
"Apakah kau Bu-kongcu?"
"Benar,"
Sahut Bu Toan.
"Akulah Bu Toan teman Lau toako, kau adalah..."
Belum habis ia bicara dilihatnya kedua orang itu sudah menggelinding jatuh dari punggung tunggangannya.
Begitu tahu orang yang harus mereka cari sudah ketemu, hati menjadi lega, maka mereka tidak tahan lagi bertahan dari siksaan luka-luka di atas badan mereka, lalu jatuh pingsan.
Miao Tiang-hong sedikit bisa berenang, tapi bertempur di dalam air bukan keahliannya.
Mendengar teriakan kaget Bu Toan berdua, segera ia berpikir.
"Keparat itu terkena sambitan sebuah mata uangku, meski dia bisa lari dengan menyelam dalam air, deritanya pasti cukup menyiksanya."
Maka tanpa hiraukan mati hidup Sebun Hou lagi, cepat ia putar kudanya, kembali dulu untuk menolong orang.
Segera Miao Tiang-hong memijit dan mengurut badan kedua orang ini, tak lama kemudian si pemuda siuman lebih dulu, namun masih belum punya tenaga untuk bicara, tampak tangannya pelan-pelan menyingkap ujung bajunya, tampak di balik bajunya itu tersulam seekor ikan cucut.
Bu Toan berjingkrak kaget, serunya.
"Jadi kalian anak buah Hay-soa-pang Pangcu?"
Pemuda itu manggut-manggut.
Ternyata nama akhir dari Pangcu Hay-soa-pang Lo Kim-ou berarti ikan, maka semua anak buahnya mengenakan gambar ikan cucut sebagai tanda pengenal.
Bu Cheng amat kaget dan senang, lekas ia bertanya.
"Jadi Lau-toako semalam berada di rumah kalian? Apa yang terjadi dengan mereka?"
Setelah istirahat si pemuda sudah bisa mulai bicara, katanya lemah.
"Kami menyusul kemari untuk memberi kabar kepada kalian. Dia adalah ayahku, ai, luka-luka ayali lebih berat dari aku."
Tatkala itu kakek itu pun sudah siuman, Miao Tiang-hong sudah membubuhi Kim-jong-yok, katanya.
"Meski luka-luka loyacu tidak ringan, untung luka dalamnya tidak begitu parah, istirahat beberapa hari pasti bisa sembuh. Tidak usah kuatir!"
Bu Cheng segera memberi air minum kepada si pemuda, tanyanya.
"Bagaimana, lebih segar tidak?"
"Ya, jauh lebih enak, nona, banyak terima kasih."
"Baik, ceritakan perlahan-lahan. Apa yang telah terjadi di sana?"
Tutur si pemuda.
"Semalam kira-kira kentongan ketiga, Kwi-hwe-thio dan Lau Khong membawa Han Bing datang ke rumahku. Han-toako berbadan kaku tidak bernapas, keadaannya mirip orang sudah mati."
Bu Cheng amat gugup, segera ia menukas.
"Dia memang pura-pura mati. Hal itu kami sudah tahu, katakan saja kejadian selanjurnya."
Si pemuda menarik napas, katanya.
"Ya. Lau-toako juga ada menjelaskan kepada kami. Katanya Han-toako menelan obat tertidur tiga hari, setelah minum obat pemunahnya sebentar bakal siuman kembali. Pagi hari ini kebetulan adalah hari ketiga."
"Begitu mereka tiba, ayah segera mengutus orang mencari dan menyediakan sebuah perahu milik pang kami. Baru saja kentongan keempat lewat, musuh sudah keburu datang. Lau Khong sudah memberi obat pemunah kepada Han Bing, memang teramat untung, kebetulan Han-toako sempat siuman sebelum musuh berhasil menerjang masuk dari pintu besar."
Miao Tiang-hong ikut mencucurkan keringat dingin dan amat kuatir, tanyanya.
"Siapa saja musuh-musuh yang datang?"
"Sebun Hou tadi itu adalah salah satu di antaranya,"
Tutur si pemuda.
"Kecuali itu masih ada tiga orang lainnya. Menurut kata Lau-toako, seorang bernama Ngo Hong, dan yang lain bernama Gui Khing, seorang lagi adalah wakil komandan Gi-lim-kun yang bernama Ciok Tio-ki."
Tiga orang yang tersebut di depan sudah dalam dugaan Miao Tiang-hong, adalah Ciok Tio-ki yang tersebut terakhir itu sungguh di luar dugaannya, keruan ia amat kaget, katanya.
"Ciok Tio-ki baru saja kembali dari rumah keluarga Ong dengan gagal dan mendapat malu, memangnya dia sendiri langsung ikut turun tangan? Aih, Lau Khong dan Kwi-hwe-thio berdua sekaligus harus menghadapi empat lawan tangguh, sungguh amat berbahaya."
"Memangnya, Han-toako baru saja siuman, tenaganya belum pulih, sudah tentu tidak bisa bersilat,"
Demikian tutur si pemuda pula.
"Terpaksa kami menurut petunjuk Kwi-hwe-thio, melarikan diri terbagi dua rombongan ke dua jurusan. Mereka mengutus Sebun Hou seorang untuk mengejar kami, tiga orang yang lain sama mengejar Lau-toako dan lainlain."
"Tahukah kau ke arah mana Lau Khong beramai melarikan diri?"
Tanya Miao Tiang-hong.
"Aku dan ayah menerjang keluar lebih dulu, bagaimana keadaan mereka akhirnya, kami tidak tahu. Tapi, bila mereka berhasil lolos, pasti lari ke jurusan Ceng-liong-tam, di sana ada perahuperahu milik kami dapat menolong, Ceng-liong-tam (pesisir naga hijau) terletak di selatan Cengliong-tin. Miao Tiang-hong berpaling, katanya kepada Bu Toan berdua.
"Baik, biar aku lekas menyusul ke sana bantu mereka, kalian tinggal di sini menolong mereka."
Si kakek setelah dibubuhi obat dan menelan pil, keadaannya sudah lebih baik, katanya.
"Musuh teramat tangguh, kalian tidak usah membagi tenaga mengurus kami berdua, lekaslah kalian pergi menolong Lau-tayhiap saja."
"Tidak, mana kami bisa meninggalkan kalian begini saja,"
Tukas Miao Tiang-hong.
"Begini saja,"
Bu Toan mengusulkan.
"Biar aku tinggal di sini menemani mereka, Moay-moay, kau ikut pergi bersama Miao-susiok."
Miao Tiang-hong sadar, pikirnya geli.
"Aku memang sudah pikun, dari pembicaraan mereka tadi, naga-naganya Lau Khong dan Bu Cheng sudah saling jatuh cinta, kenapa aku melarang dia ikut."
Maka segera ia berkata.
"Baiklah, mari segera berangkat."
Belum habis ia bicara, Bu Cheng sudah cem-plak ke atas kudanya.
Kepandaian silat Kwi-hwe-thio memang biasa saja, tapi otaknya cerdik banyak akalnya.
Kedua anggota Hay-soa-pang ayah beranak ini berhasil menjebol kepungan dan melarikan diri, adalah berkat tipu dayanya.
Bahwa akhirnya Lau Khong dan Han Bing bisa lolos dari marabahaya juga mendapat bantuan tenaganya yang tidak kecil artinya.
Waktu musuh menerjang masuk menjebol pintu, Han Bing sudah siuman dan sadar, cuma ilmu silatnya masih belum pulih, Lau Khong harus melindunginya.
Musuh kuat pihak sendiri lemah, Kwi-hwe-thio melihat situasi yang tidak seimbang ini, terpaksa harus menempuh bahaya, maka ia gunakan cara melarikan diri berpencar, dapat lolos seorang pun syukur.
Bersama Lau Khong ia melindungi Han Bing menerjang keluar dari pintu besar memapaki kedatangan musuh, sementara kedua ayah beranak anggota Hay-soa-pang itu naik kuda melarikan diri dari pintu belakang.
Dalam rumah itu sebetulnya sudah disiapkan dua ekor kuda diperuntukkan Lau Khong, namun Lau Khong menjelaskan kepada mereka.
"Ciok Tio-ki dan kawan-kawannya meluruk kemari menunggang kuda, kalau aku tidak kuasa melawan dia, apa gunanya ada kuda tunggangan, sulit juga melarikan diri. Tapi sasaran musuh bukan kalian, dengan menunggang kuda, kalian pun punya harapan untuk menerjang keluar dan meloloskan diri."
Tidak meleset dugaan Lau Khong, Ciok Tio-ki hanya mengutus Sebun Hou untuk mengejar dan membunuh kedua ayah beranak ini.
Sementara Ngo Hong dan Gui Khing dia ajak mencegat di pintu besar, mereka siap meringkus Lau Khong dan Han Bing hidup-hidup.
Lau Khong melabrak Ciok Tio-ki lebih dulu, kepandaian kedua pihak setanding, Lau Khong tidak berhasil menerjang keluar, namun Ciok Tio-ki pun sulit menangkapnya.
Sementara Gui Khing menerobos maju hendak menangkap Han Bing, lekas Lau Khong menghadang di depan Han Bing beradu sekali pukulan dengan Gui Khing.
Lwekang Gui Khing rada lemah, kontan ia tergentak mundur dua langkah'.
Tapi karena harus memecah perhatian beradu pukulan dengan Gui Khing, Ciok Tio-ki jadi mendapat peluang untuk merang-sak maju, sebat sekali sepasang potlotnya menyelonong maju me-notok Hiat-to Lau Khong.
Dengan gerakan naga melingkar kaki melangkah Lau Khong meluputkan diri, Hiat-to tidak sampai tertutup, namun pundak kirinya tergores luka oleh ujung potlot lawan yang runcing dan tajam itu.
Pihak Ciok Tio-ki dan Gui Khing di sebelah sini berada di atas angin.
Di pihak lain Ngo Hong berusaha menangkap Kwi-hwe-thio, bukan saja tidak berhasil malah dia kena sedikit dirugikan.
Ngo Hong pentang telapak tangannya yang gede hendak men-cengkram, tak nyana jari-jarinya menangkap tempat kosong, tahu-tahu "plak"
Pipinya terasa panas pedas dan mata berkunangkunang, ternyata mukanya kena digampar oleh Kwi-hwe-thio.
Keruan Ngo Hong menjerit gusar dan mengumpat caci, belum lagi ia berdiri tegak Kwi-hwe-thio sudah lari ke arah pintu besar, langsung menuju ke arah tiga kuda tunggangan mereka.
Ketiga ekor kuda ini ditambat di batang pohon di luar pintu.
Saking gugup Ngo Hong lantas berteriak.
"Celaka, maling keparat itu hendak mencuri kuda kita!"
Kuda tunggangan Ciok Tio-ki adalah kuda pilihan hadiah dari Sat Hok-ting, sudah tentu ia tidak rela kudanya dicuri orang, terpaksa ia menyusul keluar, bentaknya.
"Dia tidak akan bisa lolos!"
Sekali ayun tangan dia sambitkan tiga batang panah kepada Kwi-hwe-thio.
Lau Khong harus melindungi Han Bing yang sedang kehilangan tenaga dan ilmu silatnya, Ciok Tio-ki berpendapat pihaknya pasti akan berhasil membekuk lawan-lawannya, maka dia putar haluan hendak membunuh Kwi-hee-thio lebih dulu, sebentar putar, balik untuk menghadapi mereka pula.
"Aduh, celaka. Sakitnya bukan main!"
Kwi-hwe-thio berteriak, cepat ia menggelundung di atas tanah tiba-tiba mencelat bangun pula sembari tertawa tergelak-gelak, serunya.
"Supaya hatimu senang, haha, tidak kena!"
Dengan menggelundung ini, ia malah tiba di bawah pohon dan sudah berhasil memotong tali kendali. Ciok Tio-ki gusar, dampratnya sambil mengejar datang.
"Lari ke mana?"
Langsung ia menubruk ke arah Kwi-hwe-thio. Asal kuda tunggangan tidak sampai kena terebut oleh musuh, ia duga Lau Khong berdua pasti tidak akan lari. Tanpa gugup Kwi-hwe-thio berkata.
"Diberi tidak membalas kurang hormat, nih, kau pun terimalah senjata rahasiaku."
Sekali lempar dia sambitkan dua buntalan. Ciok Tio-ki berpikir.
"Senjata rahasia apa ini? Jangan aku kena dikelabui."
Lekas ia ayun tangan melancarkan Bikkhong-ciang, supaya senjata rahasia musuh tidak terbang mendekat.
Tak nyana, masih untung kalau tidak memukul senjata rahasia ini, begitu tergetar oleh tenaga pukulannya, maka dia betul-betul terjebak oleh tipu daya Kwi-hwe-thio.
Kiranya senjata rahasia timpukan Kwi-hwe-thio ini adalah dua buntalan kapur.
Sisa kapur milik tuan rumah untuk mengapur dinding, kebetulan Kwi-hwe-thio sekarang dapat menggunakan manfaatnya.
Menyebar kapur untuk membikin pedas mata orang, biasanya adalah perbuatan maling rendah untuk melarikan diri.
Lawan-lawan Ciok Tio-ki selama ia malang melintang boleh dikata adalah tokoh-tokoh persilatan yang punya kedudukan tinggi, hakikatnya tidak pernah terpikir olehnya Kwi-hwe-thio bakal menggunakan perbuatan kotor seperti ini.
Sigap sekali ia kebutkan lengan bajunya mengebut buyar kapur yang beterbangan itu.
Ngo Hong tidak membekal lwekang setingkat itu, terpaksa dia pejamkan mata sembari membo-lang balingkan goloknya untuk melindungi badan.
Meski dia sudah buru-buru memejamkan mata, tak urung matanya sudah terasa pedas dan mencucurkan air mata.
Hebat memang kepandaian Ciok Tio-ki, dengan memejamkan mata, mengandal pendengaran kupingnya, sedikit pun ia tidak menjadi kehilangan sasaran, dengan beberapa kali lompatan langsung dia melompat ke arah kuda tunggangannya sendiri.
Di saat kapur masih betci bangan, pandangan semua orang masih kabur, lekas Lau Khong tarik Han Bing melarikan diri.
Gui Khing tidak kuasa merintangi.
Belum lagi Kwi-hwe-thio berhasil naik ke punggung kuda, Ciok Tio-ki sudah keburu menubruk tiba, seru Kwi-hwe-thio tertawa.
"Ciok tayjin, kenapa marah-marah, kan hendak menunggang kuda, nih kukembalikan kepadamu."
Sekali menerobos lewat perut kuda, sebuah belati di tangannya segera dihunjamkan ke pantat sang kuda.
Kebetulan kuda itu sedang berlari ke arah tuannya, mendadak terasa pantatnya kesakitan oleh tusukan belati Kwi-hwe-thio, kontan ia berjingkrak sambil melompat tinggi ke depan, kaki depannya tepat menindih ke batok kepala Ciok Tio-ki.
Ciok Tio-ki amat sayang kepada kudanya ini, ia tidak tega memukulnya mampus atau melukainya, terpaksa ia menjatuhkan diri terus menggelundung ke samping.
Kejadian berlangsung dengan cepat, sementara itu Lau Khong dan Han Bing sudah berhasil merebut dua ekor kuda yang lain.
Ciok Tio-ki amat gusar, lekas ia sambitkan panah berantai.
Ilmu silat Han Bing belum pulih, terpaksa ia merebahkan badan di atas punggung kuda untuk menyelamatkan diri.
Di luar tahunya, Cok Tio-ki bukan mengincar orang, sebaliknya tunggangannyalah yang menjadi sasaran.
Salah sebatang panah sam-bitannya dengan telak mengenai paha belakang kuda tunggangan Han Bing, karena kesakitan kuda itu berjingkrak.
Han Bing kontan terbanting jatuh.
Lau Khong berpaling ke belakang sambil menarik kekang, sementara sebelah tangannya memutar golok menyampuk jatuh tiga panah yang mengarah dirinya.
Melihat Han Bing terbanting jatuh, lekas ia putar kudanya datang menolong.
Kebetulan Ciok Tio-ki sudah menubruk datang ke arah dirinya.
Kwi-hwe-thio melejit minggir ke samping, sekali raih ia sambar Han Bing terus dilempar ke arah Lau Khong.
Sigap sekali Lau Khong menyambuti badan Han Bing, dua orang satu tunggangan, lekas ia keprak kudanya untuk melarikan diri.
Baca Juga: Hati Budha Tangan Berbisa Gan Kl
Baca Juga: Rahasia Kampung Setan 7