Kelana Buana 12

Eps 12 Kelana Buana - Liang Ie Shen

Baca online Kelana Buana - Liang Ie Shen

Cersil Kelana Buana - Liang Ie Shen.

Kebetulan setindak lebih cepat dari Ciok Tio-ki, maka Ciok Tio-ki menubruk tempat kosong.

Keruan Ciok Tio-ki berjingkrak gusar, bentaknya.

"Biar kutangkap dulu maling keparat ini!"

Kwihwe-thio jumpalitan ke belakang.

"Bret"

Tak urung bajunya kena tercengkram sobek sebagian, namun ia berhasil lolos juga. Gui Khing dan Ngo Hong lekas meluruk datang dari kanan kiri, namun tidak berhasil menangkapnya.

"Hendak menangkap aku si maling kecil ini, kukira tidaklah mudah. Tidak percaya mari kau coba!"

Demikian ejeknya.

"Ciok-tayjin!"

Gui Khing berseru membujuk.

"Buronan lebih penting, buat apa marah-marah kepada maling keparat ini?"

Ciok Tio-ki sadar, katanya sambil menahan amarah.

"Ngo Hong, pergilah cari seekor kuda, ikuti jejakku. Gui Khing, mari kejar dulu buronan itu."

Lekas ia keluarkan obat luka buatan istana yang selalu dibawanya, kedua kuda yang terluka itu dia bubuhi Kim-jong-yok, terpaksa mereka naik .kuda-kuda terluka ini mengejar ke arah Lau Khong dan Han Bing yang menunggang seekor kuda tadi.

Kuda Ciok Tio-ki adalah kuda pilihan yang hebat dari daerah barat, meski baru saja lukalukanya dibubuhi obat, memang kecepatan larinya tidak seperti biasanya, tapi toh lebih cepat dari kuda tunggangan biasanya.

Lau dan Han naik seekor kuda biasa lagi, tak lama kemudian Gui Khing sudah jauh ketinggalan di belakang, tak jauh di depan bayangan Lau dan Han sudah kelihatan.

Ginkang Kwi-hwe-thio teramat tinggi, dalam jarak sepuluhan li ia masih kuasa berlari pesat melebihi kuda kekar.

Di saat Ciok Tio-ki hampir menyandak Lau dan Han berdua, entah dari mana mendadak Kwi-hwe-thio menerobos keluar, mencegat lari kuda Ciok Tio-ki.

"Ciok Tayjin, masa kau tidak sayang kepada kudamu ini?"

Diolok-olok dan digoda sedemikian rupa sudah tentu bertambah murka Ciok Tio-ki dibuatnya.

"Sret"

Pecutnya kontan ia sabetkan sembari membentak.

"Maling keparat, kau cari mampus, biar kubunuh kau lebih dulu."

Kwi-hwe-thio melompat ming-gir, katanya.

"Sengaja aku datang hendak buat kontrak dagang sama kau, kau malah hendak bunuh aku, hehe, air susu hendak kau balas dengan air tuba, tidak tahu kebaikan."

Sebetulnya Ciok Tio-ki sudah menahan amarah dan tidak mau pedulikan dia lagi, serta mendengar kata-katanya ini, tanpa sadar matanya melirik ke arahnya.

Dilihatnya Kwi-hwe-thio sedang mengeluarkan serenteng mutiara sebesar ke-Iengkeng yang bercahaya kemilau, serunya sambil cengar cengir.

"Serenteng mutiara ini, kukira masih cukup berharga ribuan tail bukan?"

Kaget dan gusar seketika Ciok Tio-ki dibuatnya, dampratnya.

"Maling keparat, berani kau mencuri mutiaraku."

Kiranya serenteng mutiara itu adalah hadiah sang raja, karena jasa-jasanya tahun yang lalu waktu ia ikut menyerbu ke Siau-kim-jwan. Kwi-hwe-thio bergelak tertawa.

"Benar, kau maki aku maling rendah, biar sekarang kau merasakan kelihayan si maling rendah ini! Kau pun harus mengerti aturan dari kalangan pencopet seperti kami ini, hasil yang sudah berada di tangan tidak akan mudah dilepaskan begitu saja, kalau si pemilik ingin minta kembali, boleh saja, kau harus membungkuk-bungkuk dulu lho! Berapa duit kau berani menebusnya?"

Serenteng mutiara ini, meski bukan mestika yang tidak ternilai harganya, tapi itu hadiah pribadi sang raja kepadanya, jika sampai hilang bagaimana kalau sang raja nanti menanyakan, sungguh Ciok Tio-ki tidak berani membayangkan akibatnya.

Keruan Ciok Tio-ki naik pitam, kuda diputar balik cepat ia mengejar dengan sengit.

Sengaja Kwi-hwe-thio lari berputar-putar mengitari pohon dan berlompatan di antara semak belukar.

Kalau lari lurus terang Kwi-hwe-thio bisa terkejar, dengan cara bermain petak begini Ciok Tio-ki menjadi kewalahan menghadapi Kwi-hwe-thio yang memiliki ginkang tinggi.

Ciok Tio-ki bertekad hendak merampas balik mutiaranya, terpaksa ia melompat turun dari tunggangannya, diraihnya segenggam mata uang terus disambitkan.

Panah tangannya sudah habis, dengan mengerahkan tenaga, maka sambaran mata uangnya cukup deras juga.

Sambil meluputkan diri dari sambaran senjata rahasia, Kwi-hwe-thio terus lari berputar-putar dengan lincahnya, pikirnya.

"Tenagaku tidak akan bertahan lama, cukup sekian saja kiranya permainan ini."

Dengan sekuat tenaga segera ia lemparkan serenteng mutiara itu ke tempat nan jauh sembari berseru tertawa.

"Ciok Tay-jin, kau ini memang kikir! Nah, kukembalikan saja, kalau tidak tentu kau menangis nanti, tapi ambil ah sendiri. Perlu juga kuperingatkan sekali ini saja aku memberi kelonggaran kepada kau, lain kali tiada ampun lagi!"

Sudah tentu Ciok Tio-ki amat murka, tapi terpaksa dia harus patuh akan kata-kata Kwi-hwethio, cepat lari ke arah sana untuk mengambil mutiaranya.

Kebetulan rentengan mutiaranya itu jatuh masuk ke dalam lumpur di pinggir danau, meski berhasil menemukan mutiaranya, tapi kaki tangan dan badannya menjadi kotor berlepotan lumpur, menghabiskan banyak waktu lagi.

Waktu ia kembali ke tempat semula Kwi-hwe-thio sudah tidak kelihatan pula bayangannya.

Dalam pada itu Lau Khong dan Han Bing sudah tiba di Ceng-liong-tam, di sana mereka mendapat sambutan anak buah Hay-soa-pang dan langsung naik ke atas perahu.

Tapi bayangan Kwi-hwe-thio tidak kunjung datang, mereka menjadi kuatir.

Seorang thaubak pemilik perahu itu berkata.

"Kwi-hwe-thio cukup cerdik dan banyak akal. Pasti dia tidak akan kena dirugikan. Musuh sedang mengejar kemari, mari kita lekas berangkat saja."

Lau Khong berkata.

"Kwi-hwe-thio tentu memancing Ciok Tio-ki ke tempat lain, demi kawan dia begitu simpatik,' semoga dia berhasil lolos dari marabahaya."

Apa boleh buat, terpaksa mereka berangkat lebih dulu. Suasana di tengah Ko-yu-ouw amat tenang, tiada angin tiada ombak. Thaubak itu berdiri di ujung perahu, katanya setelah melihat cuaca.

"Angin bakal datang. Dengan mendapat bantuan angin buritan, laju perahu akan lebih cepat."

Betul juga tak lama kemudian, angin timur datang menghembus cukup kencang. Tengah perahu berlaju dengan kencang, tiba-tiba si thaubak berseru heran.

"Eh, di belakang mendatangi sebuah perahu, sekarang bukan musim menangkap ikan, begitu cepat perahu kecil itu berlaju, apakah perahu Pang kita yang menyambut?"

Lau Khong angkat kepala ke belakang, dilihatnya sebuah perahu kecil yang pasang layar juga, sedang berlaju lebih cepat ke arah mereka.

Tak lama kemudian setelah jarak kedua perahu semakin dekat, Lau Khong menjadi kaget, serunya.

"Celaka, itulah Ciok Tio-ki."

Gelak tawa Ciok Tio-ki berkumandang di permukaan danau, teriaknya.

"Sengaja aku orang she Ciok mengantar perjalanan kalian. Hehe, coba hendak ke mana kalian lari?"

Ciok Tio-ki berdiri di depan perahu, Gui Khing berada di belakang.

"Tabahkan hati dan lawan dengan tenang."

Lau Khong memberi semangat. Han Bing kertak gigi, ujarnya.

"Betul, paling-paling gugur bersama mereka."

"Jangan, kalau tidak berhasil lolos baru adu jiwa sama mereka."

Maklum meski kedua pihak sama dua orang, namun ilmu silat Han Bing belum pulih seluruhnya, menghadapi Gui Khing yang memang setingkat lebih tinggi kepandaian silatnya, sudah tentu teramat berbahaya.

Sementara Lau Khong tahu, dirinya hanya setan-ding dengan Ciok Tio-ki, siapapun sulit mengambil kemenangan.

Si thaubak itu mendadak berkata.

"Coba kalian lihat, perahu mereka mendadak menjadi kendor. Ah, pahamlah aku!"

"Paham apa?"

Tanya Lau Khong.

"Perahu yang dinaiki Ciok Tio-ki itu hasil rampasan, sudah tentu pemilik perahu tidak mau jual tenaga kepadanya."

Memang tidak salah dugaan si thaubak, pemilik perahu adalah nelayan tua yang hidup sebatang kara setelah kedua putranya ditarik jadi tentara oleh penguasa setempat, istrinya pun akhirnya menggantung diri karena sakit-sakitan dan tidak punya uang untuk beli obat dan periksa tabib, pajak membumbung tinggi dua kali lipat dalam jangka tiga tahun.

Maka kesannya terhadap para pejabat dan pegawai pemerintah jajahan boleh dikatakan teramat buruk, kalau tidak mau dikatakan amat mendendam.

Secara kekerasan Ciok Tio-ki merampas perahu milik nelayan tua ini, memaksanya menggayuh dengan cepat dan sekuat tenaga.

Kini ia tahu bahwa Ciok Tio-ki hendak menangkap orang-orang di atas perahu di depan itu, maka semakin berkobar amarahnya, pikirnya.

"Lebih baik aku mengorbankan jiwa tuaku ini, sekali-kali aku tidak sudi bantu orang jahat membunuh orang baik."

Melihat perahu berlaju semakin lambat, Ciok Tio-ki membentak gusar.

"Eh, bekerja ayal-ayalan, kenapa kau?"

Nelayan tua menyengir kecut, sahutnya.

"Tayjin toh tahu, aku yang kecil memang tidak punya tenaga lagi, aku belum makan perut amat lapar."

"Omong kosong, terang kau sengaja ayal-ayalan. Tidak kau bekerja sekeras tenaga. Biar kubunuh kau."

Nelayan tua tidak kena gertak, ujarnya.

"Kau bunuh aku pun tiada jalan lain. Aku betul-betul sudah bekerja sekuat tenaga.

"Bunuh dia tidak akan bantu usaha kita,"

Gui Khing menyela.

"Serahkan biar kugayuh sendiri. Pergi kau pegang kemudi dan jangan bertingkah. Jiwamu tidak akan kubunuh, tapi delapan belas macam siksaan bisa kucoba atas dirimu."

Mengandal kekuatan lwekang Gui Khing sudah tentu perahu dapat digayuhnya lebih laju berlipat ganda, akhirnya Ciok Tio-ki sendiri pun ikut bantu menggayuh, sekejap saja jarak kedua perahu menjadi semakin dekat.

Diam-diam Ciok Tio-ki memperhitungkan jarak satu sama lain, segera senjata rahasia dia siapkan terus disambitkan seraya membentak.

"Coba ke mana kalian hendak lari?"

Tiga pisau terbangnya berbareng menyambar ke depan, maka tiang layar perahu Lau Khong seketika kena disambar patah tiga bagian.

Karena tiang patah dan layar menjadi kuncup dan melayang jatuh ke bawah, lekas Lau Khong menyingkap layar itu ke samping, sudah tentu laju perahu mereka menjadi terhambat.

Ciok Tio-ki bergelak tertawa, sekali melompat badannya langsung mencelat terbang ke depan.

Tak nyana di saat ia melompat itulah, tiba-tiba si nelayan tua itu meraih penggayuh yang dia tinggalkan terus menyapu kedua kakinya.

Begitu keras hantaman penggayuh ini dan telak mengenai tulang betisnya sampai terasa sakit dan retak.

Kontan Ciok Tio-ki menjerit dan terjungkal jatuh ke dalam air.

Sementara dengan sekuat tenaga nelayan tua gunakan penggayuhnya untuk menahan daya laju perahu sehingga oleng ke samping.

Tindakan nelayan tua yang berani ini sungguh di luar dugaan Gui Khing, waktu ia menghantam ke arah nelayan tua, orang tahu-tahu sudah terjun ke dalam air dan tidak kelihatan bayangannya pula.

Untung Ciok Tio-ki masih sempat menangkap galah yang diulurkan oleh Gui Khing, waktu ia merayap naik ke atas perahu badannya sudah basah kuyup, saking gusar kontan ia mencaci maki kalang kabut.

Dalam pada itu, karena perahu sudah kehilangan layar, kalau melarikan diri lewat jalan air cepat ataa lambat pasti tersusul juga oleh musuh, terpaksa Lau Khong berkeputusan cepat, katanya.

"Kayuh perahu menepi, kita naik ke darat, lalu kau kembali menolong nelayan tua itu. Sementara itu Gui Khing kerahkan tenaga mengayuh perahu mengejar dengan ketat, kedua perahu hampir bersamaan menepi ke darat. Si thaubak lekas-lekas mengayuh perahunya ke tengah danau pula, sementara Lau Khong menggandeng tangan Han Bing melompat ke atas darat. Tenaga Han Bing sudah rada pulih, tapi masih belum kuasa mengerahkan ginkang untuk lari di dalam rawa-rawa lumpur di pinggir danau. Kejap lain Ciok Tio-ki dan Gui Khing pun sudah mengejar tiba, bentaknya keras.

"Lari ke mana!"

Ciok Tio-ki langsung menubruk kepada Han Bing lebih dulu, sementara Gui Khing maju merintangi Lau Khong.

Han Bing sudah nekad dan pasrah nasib, begitu merasa angin merangsak datang dari belakang, kontan ia balikkan tangan memukul ke belakang.

Melihat orang nekad, Ciok Tio-ki tidak berani pandang ringan musuh.

Setelah bergebrak beberapa jurus, didapatinya suatu titik lubang kelemahan permainan lawan, dengan sejurus hoaytiong-po-gwat (menyikap rembulan dalam pelukan) kelima jarinya dirangkapkan, telapak tangan menghadap ke atas, menyanggah sikut lawan, terus ditarik dan didorong, ia berhasil menangkap pergelangan tangan Han Bing, hardiknya.

"Ayolah kemari!"

Saking murka, entah dari mana datangnya tenaga, mendadak Han Bing menjatuhkan diri ke atas tanah, ia pun menarik diri sekuat tenaga.

Ciok Tio-ki malah kena terseret maju dan ikut tersungkur jatuh.

Sekali pukul Lau Khong bikin Gui Khing tergentak mundur, untung ia keburu datang menolong tepat pada waktunya.

Sudah tentu Ciok Tio-ki tidak sempat berkutat dengan Han Bing pula, lekas ia menangkap tungkak kaki Han Bing terus ditarik ke samping.

Sekali lompat ia menghadapi Lau Khong yang lari mendatangi.

Karena lemparan tenaga orang yang kuat, Han Bing dibikin terbang tiga tombak jauhnya, untung daerah itu rawa-rawa yaug bertanah empuk, meski terbanting rada keras, badannya tidak terluka sedikit pun.

Cuma badannya terjeblos masuk ke dalam lumpur, dalam waktu dekat terang sulit ia mengeluarkan kedua kakinya.

Gui Khing tertawa dingin, je-ngeknya.

"Semula kau janji kepada Ciok-tayjin untuk bantu bekerja, asal kau suka berpaling muka, kita masih terhitung teman sendiri."

Kontan Han Bng memakinya.

"Aku tidak punya teman macam tampangmu, lebih baik aku mati di tanganmu saja.

"Kau tidak sadar dan tidak mau bertobat, apa boleh buat, terpaksa aku bertindak tidak tahu kasihan lagi."

Kepandaian Lau Khong setan-ding dengan Ciok Tio-ki, sekali gebrak kedua pihak sama sulit membebaskan diri dari libatan lawan masing-masing.

Baru saja Gui Khing maju hendak menawan Han Bing hidup-hidup, tiba-tiba terdengar sebuah suitan panjang berkumandang dari jauh, begitu keras dan melengking tinggi suitan ini sampai kupingnya mendengung sakit.

Gui Khing amat kaget, batinnya.

"Lwekang orang ini sungguh hebat, entah kawan atau lawan?"

Waktu ia angkat kepala dilihatnya dua ekor kuda membedal datang.

Yang di depan ditunggangi seorang gadis berpakaian serba putih, yang di belakang adalah seorang .laki-laki pertengahan umur, dia bukan lain adalah Miao Tiang-hong yang bertanding minum arak di rumah makan Yangciu tempo hari.

Dalam adu kekuatan minum waktu itu, Gui Khing pernah dikalahkan oleh Miao Tiang-hong, kini melihat orang datang, keruan nyalinya kuncup seketika, mana dia berani berayal lagi?

Tanpa memper-dulikan kawan sendiri lekas ia angkat langkah seribu berlari naik ke atas perahunya.

Dalam waktu dekat Ciok Tio-ki tidak mungkin membebaskan diri dari libatan lawan.

Sementara Bu Cheng pecut kudanya supaya berlari lebih kencang, sekejap saja ia sudah tiba di pinggir danau.

Kuda tunggangan Miao Tiang-hong berlari rada lambat, maka ia datang rada ketinggalan.

Tanah berlumpur sehingga kuda tidak leluasa berlari.

Terpaksa Bu Cheng melompat turun, teriaknya.

"Lau-toako, aku sudah datang. Kau tidak apa-apa bukan?"

Mengembangkan ginkang, sembari melolos golok ia berlari ke arah Lau Khong.

"Tidak perlu gugup!"

Teriak Lau Khong.

"Keparat ini aku masih mampu menghadapinya."

Melihat gadis ini datang bersama Miao Tiang-hong, keruan Ciok Tio-ki terkejut bukan main. Namun ia cukup pengalaman di medan laga, meski kaget tidak menjadi gugup pikirnya.

"Betapa sih tinggi kepandaian nona cilik ini. Biar ku-ringkus dia untuk dijadikan sandera, dari terdesak aku bisa balas mengancam mereka."

Segera ia menghardik seraya menubruk ke arah Bu Cheng tanpa hiraukan pukulan Lau Khong.

Siapa tahu Bu Cheng hanya pura-pura angkat golok membacok, begitu sinar goloknya berkelebat tahu-tahu dia sudah angkat langkah berkisar dengan gaya Naga Melingkar Mengubah Langkah.

Begitu cengkraman Ciok Tio-ki mengenai tempat kosang.

"Biang"

Telak sekali ia terima pukulan Lau Khong secara kekerasan.

Sambil menahan sakit Ciok Tio-ki membarengi menubruk maju pula ke arah Bu Cheng, cuma ia lupa tulang betisnya rada retak, maka bukan saja tubrukannya tidak berhasil, malah di tengah jalan dia terbanting jatuh.

Sigap sekali Bu Cheng membalikkan badan seraya membacokan golok, lekas Ciok Tio-ki menggelundung ke samping sambil menendang kotoran lumpur, biasanya Bu Cheng suka kebersihan, secara reflek ia melejit menyingkir, sementara Ciok Tio-ki sudah berhasil menggelundung beberapa tombak jauhnya, tibatiba ia timpukan kedua batang potlotnya, begitu keras timpukannya sampai mengeluarkan suara menderu, langsung melesat mengarah Bu Cheng.

Lau Khong keburu menubruk datang, ia berhasil menangkap sebuah potlot, sebatang yang lain berhasil diketuk jatuh oleh golok Bu Cheng.

Terasa telapak tangan pedas kesemutan.

Lau Khong bergelak tertawa, serunya.

"Kau lempar senjata apa hendak menyerah? Baiklah, lekas kau berlutut dan menyembah minta ampun saja."

Menyelamatkan jiwa lebih penting, mana Ciok Tio-ki sempat hiraukan olok-olok orang, begitu merayap bangun, dengan badan kotor tersipu-sipu ia lari ke pinggir danau, kebetulan Gui Khing mendorong perahu dan mengulurkan galah, menangkap ujung galah itu, sebat sekali Ciok Tio-ki melompat naik ke atas perahu.

Waktu Bu Cheng datang mengejar, perahu sudah berlaju ke tengah danau.

Bu Cheng membanting kaki dan mengeluh.

"Sayang, sayang mereka berhasil lolos. Malah kedua sepatuku dibikin kotor oleh keparat itu."

Lau Khong tertawa lebar, ujarnya.

"Meski mereka berhasil lolos, mereka cukup konyol juga. Kau hanya kena kotoran sedikit saja, sebaliknya dia mengorbankan kedua senjata andalannya."

Lalu Lau Khong memburu ke sana bantu Han Bing yang terbenam dalam lumpur.

Kebetulan Miao Tiang-hong pun sudah menyusul tiba.

Sahabat karib berkumpul sudah tentu mereka sama senang.

Lau Khong amat senang dan heran pula, tanyanya.

"Cara bagaimana kalian bisa kenal dan datang bersama?"

Miao Tiang-hong menjelaskan.

"Ibunya adalah suciku, baru kemarin kami bertemu di tengah jalan!"

Tengah mereka bicara, di tengah Ko-yu-ouw sana tiba-tiba muncul beberapa buah perahu.

Semua sedang mengejar ke arah perahu yang ditumpangi Ciok Tio-ki berdua.

Tak berapa lama tampak hujan panah dari beberapa perahu itu meluruk ke arah Ciok Tio-ki dan Gui Khing.

Ciok Tioki berdari di haluan perahu sambil memukul jatuh panah-panah yang memberondong datang, gerak geriknya kelihatan gugup dan kalang kabut.

"Nah lihat, perahu Ciok Tio-ki itu terbakar,"

Tiba-tiba Bu Cheng berjingkrak kegirangan.

Ternyata di antara panah-panah itu ada beberapa batang adalah panah berapi.

Gui Khing kerahkan setaker tenaga menggayuh lebih cepat, sementara Ciok Tio-ki tarikan pengayuhnya terus menerjang dengan kekerasan.

Tak lama kemudian, di antara jilatan api yang membara itu, kelihatan Gui Khing menggendong Ciok Tio-ki terjun ke dalam air.

Dengan susah payah akhirnya Gui Khing berhasil me-.nyeret Ciok Tio-ki naik ke darat di seberang sana dan melarikan diri.

"Nah lihat, perahu kita itu pun sudah balik kembali. Agaknya perahu-perahu itu adalah rombongan dari orang-orang Hay-soa-pang,"

Demikian ujar Lau Khong.

Dugaan Lau Khong memang tidak meleset, rombongan perahu itu memang adalah orang-orang dari Hay-soa-pang yang diutus Pangcu Lo Kim-ou untuk menyambut kedatangan mereka.

Pemimpin rombongan ini adalah wakil Pangcu mereka yang bernama Thio Goan.

Sementara thaubak tadi sudah berhasil menolong nelayan tua itu.

Terlebih dulu Lau Khong menyatakan terima kasih kepadanya, lalu ia bicara lebih lanjut dengan Thio Goan wakil Pangcu Hay-soa-pang.

"Pangcu kami sudah berkepu-tusan untuk kerja sama dengan laskar gerilya dari Siau-kim-jwan, sekarang kita sedang mempersiapkan diri untuk merampas kapal-kapal ransum pemerintah. Pangcu tiada tempo menyambut sendiri, Lau-toako, Han-toako, bikin kalian kaget dan capai saja. Menurut maksud pangcu, bila kalian tiada urusan penting lainnya, diharap kalian suka mampir dan ikut kami pulang bantu operasi kita kali ini."

"Ada kesempatan ikut melakukan pekerjaan besar seperti ini, meski kalian tidak mencari kami, kami ingin mengajukan diri juga,"

Demikian kelakar Lau Khong. Han Bing tambah senang, katanya.

"Jiwaku ini dijemput kembali, entah cara bagaimana aku harus membalas budi kebaikan ini. Lo-pangcu sudi pandang diriku, sudah sepantasnya aku menyumbang tenaga, aku harap dapat diberi tugas."

"Lau-toako, aku mau ikut,"

Lekas Bu Cheng menyeletuk.

"Sudah tentu kau tidak akan ketinggalan,"

Sahut Lau Khong.

"Di mana engkohmu?"

"Dia sedang bantu mengobati kedua anggota Hay-soa-pang ayah beranak itu, boleh kau ajak dia serta Pasti dia suka ikut. Miao-susiok, kau bagaimana?"

"Aku punya urusan lain, mungkin tidak bisa sejalan dengan kalian,"

Demikian sahut Miao Tianghong.

"Lo-pangcu memang tahu bila Miao Tayhiap punya tugas penting lainnya, beliau amat menyesal tidak bisa mengantar Miao Tayhiap, sengaja suruh aku mohon maaf dan menyampaikan salam kepadamu."

"Lau-toako, keponakanku ini kuserahkan kepada kau, lho,"

Ujar Miao Tiang-hong berkelakar.

"Kalau aku kelak kembali kutunggu undangan pesta kalian."

Lalu ia berpisah dengan orang banyak.

Seorang diri Miao Tiang-hong menempuh perjalanan naik kuda, seharian ini hatinya tidak pernah merasa tentram, tanpa terasa hari sudah lewat Iohor dan hampir magrib.

Tiba-tiba didengarnya derap langkah kuda yang berlari menyusul dari belakang mengikuti di belakangnya.

Miao Tiang-hong curiga, pikirnya.

"Mungkin orang ini hendak mencari gara-gara kepadaku?"

Lekas ia minggir ke samping jalan, memberi jalan orang supaya lewat. Tak nyana setelah melampaui dirinya, tiba-tiba orang itu menghentikan kuda serta berpaling ke bekakang.

"Apa kehendakmu?"

Bentak Miao Tiang-hong. Waktu itu mereka sudah berhadapan muka, keduanya sama-sama melengak, orang itu segera tertawa, sapanya.

"Miao-sute, memangnya kau tidak kenal aku lagi?"

Miao Tiang-hong kaget, seketika ia pun berteriak.

"Kau, kau adalah Ci-suheng?"

Orang itu bergelak tertawa, ujarnya.

"Kau sudah ingat. Miao-sute hampir saja aku pun tidak kenal lagi pada kau. Dulu waktu kau masuk perguruan masih bocah kecil yang masih ingusan, malah dulu kita pernah berkelahi, kalau dikatakan sang waktu berlalu dengan cepat, sekejap saja dua puluhan tahun sudah berlalu."

Kiranya orang ini bernama Ci Coh, dia bukan lain adalah suheng Miao Tiang-hong yang dulu ia ajak berkelahi gara-gara olok-olok soal pernikahan sucinya itu.

Meski dalam perguruan dulu mereka tidak akur, namun setelah berselang sekian lama berpisah, kini tiba-tiba berjumpa, segera Miao Tiang-hong unjuk senyum tawa, ujarnya.

"Sungguh tak nyana, di sini dapat bertemu dengan kau, dari mana kau datang?"

"Semula aka hendak ke Yangciu memberi selamat ulang tahun kepada Ong Thian-thong, namun satu hari sudah terlambat, ternyata Ong Thian-thong sudah tiada di rumahnya. Dan kau dari mana?"

"Aku malah sudah memberi selamat ulang tahun kepada Ong Thian-thong,"

Sahut Miao Tianghong sejujurnya.

"Apa kau bersahabat karib dengan Ong Thian-thong? Memangnya aku sedang heran dan ingin tanya kepada kau, kenapa Ong Thian-thong tahu-tahu sudah menghilang pada hari kedua setelah perayaan hari ulang tahunnya."

Miao Tiang-hong sudah berpisah hampir tiga puluh tahun, sudah tentu dia segan bicara sejelasnya, maka dengan samar-samar ia menjawab.

"Pergaulan Ong lopiauthau amat luas, aku sendiri sih tidak kenal padanya, aku ke sana ikut teman. Ci-suheng, apakah kau kenal baik dengan Ong-lopiauthau?"

"Seperti kau, aku pun tidak kenal dia. Soalnya aku hendak mencari dua orang, terpaksa hendak kutemui di sana."

"Siapa kedua orang-yang hendak kau cari itu?"

"Masih segar dalam ingatanku waktu masih dalam perguruan, kau berhubungan paling intim dengan Bun-ki suci, malah gara-gara dia kita pernah berkelahi. Tentunya kau tidak lupa akan kejadian itu bukan? Dan yang hendak kucari adalah putra putrinya."

"Dari mana kau bisa tahu bila mereka bisa berada di rumah Onglopiauthau memberi selamat?"

"Kabar duka cita mengenai suci suami istri tentunya kau pun sudah tahu. Selama beberapa tahun terakhir ini, aku berkeinginan menjenguk putra putri mereka, namun sampai bulan yang lalu baru aku ada tempo, sengaja aku pergi ke kabupaten Tiong-boh hendak mencari mereka. Menurut para tetangga, katanya mereka sudah pergi ke Yangciu hendak memberi selamat ulang tahun kepada Ong Thian-thong. Putra suci itu bernama Bu Toan dan putrinya bernama Bu Cheng. Tidakkah kau ketemu mereka di rumah keluarga Ong?"

"Di sana tidak pernah kulihat muda mudi she Bu,"

Jawaban Miao Tiang-hong memang tidak bohong, seperti diketahui di tengah'jalan baru dia bersua dengan mereka.

"Mungkin mereka menggunakan nama palsu. Tamu yang datang hari itu tentunya amat banyak, seumpama kau melihat mereka toh kau tidak tahu bila mereka adalah putra putri suci."

Miao Tiang-hong manggut-manggut, sahutnya tertawa.

"Ya, memang begitulah kiranya."

Selanjutnya Ci Coh berkata pula.

"Aku masih ingin mencari tahu seseorang, orang ini adalah seorang tokoh yang terkenal di bulim, dia pun datang ke rumah keluarga Ong."

"Siapa orang itu?"

"Namanya Lau Khong, tentu kau pernah dengar orang menyebut namanya bukan? Beberapa tahun terakhir ini dia malang melintang di kangouw sehingga namanya amat tenar. Dia ini pun kelahiran kabupaten Tiong-boh, rumahnya bertetangga dengan keluarga Bu, kabarnya Bu Toan dan adiknya ikut oral g she Lau itu pergi ke Yangciu. Pertama karena aku kagum akan namanya yang tenar, kedua aku pun ingin tahu jejak dari kedua kakak beradik dari keturunan keluarga Bu itu, maka aku mengharap bisa bertemu dengan dia."

Uraiannya ini memang masuk di akal, tapi Mao Tiang-hong tidak berani percaya seratus persen, katanya.

"Banyak tamu-tamu dalam perjamuan ulang tahun Ong lopiau-thau memang sama membicarakan tentang Lau Khong, tapi dia sendiri tidak kelihatan batang hidungnya."

"Apakah hari itu terjadi sesuatu, maka hari kedua Ong Thian-thong sudah menghilang dari rumahnya?"

Untuk kedua kalinya Ci Coh sudah mengajukan pertanyaan yang sama ini, meski curiga terpaksa Miao Tiang-hong menjelaskan.

"Aku hanya ikut teman untuk melihat keramaian saja, setelah menyampaikan selamat aku lantas berlalu. Belakangan ada terjadi apa di sana, sedikit pun aku tidak tahu. Ci-suheng, beberapa tahun ini, di mana kau tinggal?"

Sengaja ia putar pokok pembicaraan, menghindan pertanyaan Ci Coh lebih lanjut.

"Kalau dikatakan sungguh amat menyesal, sejak keluar dari perguruan, sekejap saja dua puluhan tahun sudah berselang, aku tiada memperoleh hasil apa-apa yang patut kukemukakan. Sebaliknya kau Miao-sute, kau sudah tenar sebagai pendekar kelana, sungguh aku malu dan iri kepada kau."

"Ah, suheng terlalu sungkan. Siaute kelana di kangouw, apa pula yang kuhasilkan?"

"Aku bicara sejujurnya, selama dua puluhan tahun ini, aku tutup pintu dan bercocok tanam di desa, tidak ikut mencampuri urusan dunia. Kabar beberapa teman lama hanya kadang kala saja kudengar. Suci dan suaminya berjuang demi kepentingan nusa dan bangsa, aku pun hanya bisa berdoa saja demi kesuksesan mereka. Sungguh aku terlalu mementingkan pribadiku sendiri."

"Suheng tekun mempelajari ilmu silat, demi kejayaan dan perkembangan perguruan, citacitamu pun mulia dan patut dihargai."

"Dibanding kau, aku tertinggal terlalu jauh. Oh, ya, aku belum tanya kau, kau sudah berkeluarga belum?"

"Selama ini aku masih tetap sebatang kara. Suheng sudah punya berapa anak?"

"Kau harus lekas-lekas mendirikan keluarga. Aku punya dua orang anak, yang besar berumur dua puluh, yang kecil pun sudah hampir genap delapan belas. Dulu karena anak-anak belum dewasa, maka tidak leluasa aku luntang-lantung di Iuaran. Kini boleh dikata mereka sudah tamat belajar, maka "

Kupikir sudah tiba saatnya aku keluar mengembara lagi."

"Iya, sudah sekian lama suheng menyekap diri berpisah dengan kangouw, sudah tiba saatnya keluar melihat-lihat keramaian dunia fana ini."

"Miao-sute, kau hendak ke mana?"

"Aku hendak ke karesidenan Sam-ho mencari seorang teman."

"Kerisidenan Samho bukankah terletak di Hopak? Tidak jauh dari kota raja bukan?"

"Benar, letaknya di sebelah utara kota raja. Kira-kira dua hari perjalanan."

Ci Coh berkakakan, ujarnya.

"Wah amat kebetulan sekali, kalau begitu kita bisa seperjalanan."

Mencelos hati Miao Tiang-hong, tanyanya.

"Kau pun hendak pergi ke Sam-ho?"

"Terlalu lama aku menyekap diri di desa, ingin aku ke kota raja untuk mencuci mata. Kalau toh Sam-ho tidak jauh dari kota raja, aku bisa mengiringi kau ke sana."

"Agaknya suheng belum tahu, bahwa aku ada mengikat permusuhan dengan komandan Gi-limkun Pakkiong Bong, berada di daerah yang berdekatan dengan kota raja mau tidak mau segala gerak-gerik harus berlaku hati-hati. Kepergianku ke Sam-ho ini pun sedikit menyerempet bahaya, mana berani aku bikin susah suheng mengiringi aku dalam perjalanan."

"Miao-sute kau tidak usah kuatir bagi aku, anak-anakku sudah besar, tiada yang menjadi bebanku lagi, perjuangan besar suci suami istri harus menjadi cermin bagi kita, seperti yang dulu kau pemah katakan, seseorang mana boleh hidup asal hidup belaka tanpa menghasilkan sesuatu sumbangan bhakti demi nusa dan bangsa? Kini aku sudah tahu keadaanmu, lebih besar tekadku mengiringi kau ke sana. Ilmu silatku memang tidak sebanding kau, tapi bila bentrok dengan cakar alap-alap sedikit banyak aku bisa bantu kau."

"Terima kasih akan maksud baik suheng, tapi siaute benar-benar tidak berani bikin susah suheng."

Berkerut-alis Ci Coh, katanya.

"Sute, kata-katamu ini terlalu menganggap aku menjadi orang luar. Hehe, memangnya kau masih dendam akan kejadian di masa muda dulu?"

"Ah, suheng berkelakar saja. Urusan yang dilakukan bocah kecil, siapa mau menaruh dalam hati?"

"Nah, sekarang aku bukan sedang berkelakar sama kau. Kalau kau tidak anggap aku orang luar, kau berani menghadapi maraba-haya, memangnya tidak mengijin-kan aku bantu kau menanggulangi kesui tanmu."

Miao Tiang-hong menepekur tidak bersuara, Ci Coh berkata lebih lanjut.

"Aku tidak tahu siapa temanmu yang kau cari di Sam-ho, aku pun tidak suka tanya kau. Kalau perjalanan ke Sam-ho kau tidak leluasa seperjalanan dengan aku, biar aku tidak usah ikut ke sana. Kita bisa berpisah di Siokciu, namun kita masih bisa seperjalanan dan berkumpul beberapa hari lagi. Miao sute, kebetulan hari ini kita bisa bertemu setelah berpisah dua puluhan tahun, di samping untuk menceritakan pengalaman hidup selama ini, sepanjang jalan ini aku bisa minta petunjukmu dalam ilmu silat."

Melihat orang bicara setulus hati, Miao Tiang-hong membatin.

"Dua puluhan tahun berpisah entah bagaimana martabatnya selama ini? Kalau dia betul-betul ingin menjadi kaum pendekar, kenapa aku harus mengesampingkan maksud luhurnya ini?"

Terpaksa ia manggut-manggut setuju.

Memang sepanjang jalan mereka asyik mengobrol dan saling menceritakan pengalaman hidup selama ini, di samping membicarakan juga berbagai ilmu silat perguruan, meski perjalanan jauh, mereka tidak merasa kesepian.

Semula Miao Tiang-hong rada waswas dan berjaga-jaga terhadap su-hengnya, lambat laun kewaspadaannya ini mulai luntur dan kendor.

Hari itu mereka tiba di kabupaten Thay-an xli Soatang, sebelah barat kabupaten Thay-an adalah Thay-san, sebelah timur adalah Cu-lay-san.

Miao Tiang-hong tahu Ciok Tio-ki dan Cong Sin-liong serta kambrat-kambratnya sedang meluruk ke Thay-san, maka perjalanan bersama Ci Coh ini ia berusaha menghindar bentrokan dengan rombongan musuh, sengaja ia belok ke arah timur lewat jalan pegunungan di daerah Cu-lay-san, pikirnya dari sini lebih aman dan dekat.

Malam itu mereka menginap semalam di kota Thay-an, setelah mendapatkan penginapan, Ci Coh pernah keluar seorang diri katanya mau beli ransum untuk perbekalan di tengah jalan.

Sementara Miao Tiang-hong tetap tinggal dalam kamar mengobrol dengan pemilik hotel.

Sedikit pun ia tidak menaruh curiga pula akan suhengnya yang keluar sendirian itu.

Hari kedua pagi-pagi benar mereka sudah menempuh perjalanan pula, kira-kira menjelang lohor mereka sudah mulai memasuki daerah pegunungan Cu-lay-san.

Jauh di barat sana Miao Tiang-hong memandang puncak Thay-san, seketika timbul rasa kangen terhadap Beng Goan-cau, dalam hati ia berdoa akan keselamatan Beng Goan-cau dalam perjalanan ke Siau-kim-jwan bersama Leng Thiat-jiau.

"Sute, kenapa kau jalan begini lambat? Apa sih yang sedang kau pikirkan?"

"Tidak apa-apa, panorama di puncak pegunungan ini amat mem-pesona, aku sampai lupa daratan."

"Ya, pemandangan di sini memang amat permai, tapi kita perlu melanjutkan perjalanan, kelak kalau kembali boleh kau menikmatinya sepuas hatimu."

"Omongan suheng memang benar."

Lekas ia lecut kudanya supaya membedal cepat lari ke depan, tak nyana semakin dipecut sang kuda berlari semakin lambat akhirnya malah berjalan dan berhenti sendiri.

Keruan Miao Tiang-hong kaget, katanya tertawa getir.

"Kudaku ini .sedang ngambek agaknya, mogok tidak mau jalan lagi."

"Biar kuperiksa, ih, agaknya rada janggal, coba kau turun memeriksanya."

Waktu Miao Tiang-hong melompat turun dilihatnya mulut kudanya mengeluarkan buih kental, napas pun ngos-ngosan. Heran dan tidak mengerti Miao Tiang-hong dibuatnya.

"Aneh, kudaku ini hadiah dari teman, yang dipilihnya paling baik, semalam masih segar bugar, kenapa mendadak bisa terserang penyakit?"

Ci Coh. diam-diam tertawa geli, katanya.

"Manusia pun punya nasib dan kodrat yang sulit diduga, apalagi kuda tunggangan? Tapi kudamu ini jelas tidak mampu berjalan lagi, kita harus lekas mencari daya upaya."

"Di tempat seperti ini ada daya apa, aku tidak tega meninggalkannya demikian saja."

Maka dengan ringan Miao Tiang-hong lantas menepuk kepalanya, seketika kuda tunggangannya tergetar mati oleh pukulan tangannya yang hebat itu.

Pukulan tangan tadi kelihatan dilakukan seenaknya saja, namun tanpa bersuara kuda pilihan itu kontan roboh binasa.

Ci Coh terkejut, katanya.

"Miao-sute, kau sudah berhasil meyakinkan Thayceng-khi-kang? Selama puluhan tahun suhu sendiri pun tidak berhasil meyakinkannya!"

Sikap Miao Tiang-hong pun menunjukkan rasa kaget yang dibuat-buat, sesaat lamanya baru dia menjawab.

"Thay-ceng-khi-kang mana bisa diyakinkan demikian saja, aku baru belajar kulitnya saja, masih jauh dari sempurna."

"Ayolah berangkat, buat apa kau awasi terus kudamu?"

"Coba lihat, kudaku ini seperti keracunan."

Ternyata setelah roboh binasa kuda itu terbalik keempat kaki menghadap langit, sekeliling perutnya tampak sudah berwarna hitam bersemu kebiru-biruan.

"Memangnya penginapan itu adalah hotel gelap?"

"Kalau hotel gelap, pantasnya meracun orang, kenapa meracun kuda?"

"Mungkin kudamu ini yang terjangkit penyakit aneh?"

"Aku sendiri bukan tabib hewan, tapi benar tidak keracunan masih dapat kubedakan. Sekarang aku jadi curiga memang penginapan itu memang hotel gelap seperti katamu, entah karena apa terlebih dulu ia meracun kuda, mungkin di tengah jalan hendak menyusul dan membuat kesulitan kepada kita."

"Peduli hotel gelap atau hotel terang, mengandal kekuatan kita berdua, apa yang perlu ditakuti?"

Tiba-tiba Miao Tiang-hong mengerutkan kening, ujarnya.

"Masih ada satu hal yang mencurigakan, kenapa mereka tidak meracun sekalian kuda tungganganmu?"

Mencelos hati Ci Coh, namun lahirnya ia bersikap wajar, katanya tertawa lebar.

"Itu hanya dugaan kita saja, tak usah kau main terka, biarlah kita hadapi saja kenyataan nanti. Waktu amat berharga, marilah lekas melanjutkan perjalanan."

Seorang diri Miao Tiang-hong menggumam.

"Kejadian aneh, kejadian aneh!"

Sembari jalan Ci Coh, berkata.

"Kejadian di luar dugaan sering terjadi, tidak perlu dibuat heran!"

Baru saja ia bicara habis, seolah-olah terjadi sesuatu peristiwa yang amat menakutkan, mendadak ia menjerit sekeras-kerasnya. Miao Tiang-hong melengak heran, tanyanya.

"Suheng kenapa kau pun gembar-gembor seperti melihat hantu?"

"Tuh lihat!"

Kata Ci Coh sambil menunjuk ke sana. Miao Tiang-hong memandang ke arah yang ditunjuk, tampak di semak rumput alang-alang di sana, bertumpuk tiga buah kerangka kepala manusia dengan formasi segi tiga.

"Ini mungkin pertanda khas dari kaum hitam yang mengadakan janji pertemuan di sini."

"Pakai kerangka manusia sebagai tanda, mungkin mereka dari golongan sesat."

"Benar, begitu pula menurut hematku. Tapi kita tidak perlu banyak turut campur urusan mereka. Ayo jalan terus!"

"Sute, kau banyak pengalaman, coba kau ke sana memeriksanya, dari golongan mana saja mereka itu?"

Miao Tiang-hong tertawa, ujarnya.

"Suheng, memangnya kau jadi tertarik akan permainan dari orang-orang golongan sesat?"

"Hanya melihat-lihat saja apa sih halangannya? Kalau dari ketiga kerangka itu kita dapat membedakan golongan pemiliknya, tanpa turut campur urusan mereka, hati kita pun sudah maklum."

Miao Tiang-hong rasa omongan orang rada masuk akal, maka katanya.

"Baiklah, mari kita periksa bersama."

Siapa tahu baru saja kakinya melangkah memasuki semak belukar itu, tiba-tiba kakinya menginjak tempat kosong, ternyata tanah di depan ketiga kerangka itu merupakan sebuah lubang jebakan.

Sementara Ci Coh di belakangnya mendorong dengan sekuat tenaga seraya membentak.

"Turunlah!"

Kejadian amat mendadak.

Miao Tiang-hong tidak pernah menduganya lagi, meski Miao Tianghong membekal kepandaian tinggi, toh sulit terhindar dari bokongan ini.

Dalam sekilas itu, dia masih belum jelas siapa yang membokong dirinya masuk ke dalam jebakan, sekali terjungkal kontan ia jatuh ke bawah.

Dalam keadaan gawat lekas Miao Tiang-hong mengempos hawa mumi, belum lagi kepalanya menyentuh tanah, kedua tangan sudah menepuk ke bawah.

Baru saja Ci Coh mengangkat sebuah batu besar hendak dilempar ke bawah.

"Brak"

Tiba-tiba debu dan tanah beterbangan, seperti bola yang memantul ke atas tahu-tahu Miao Tiang-hong sudah mencelat naik pula.

Sudah tentu kejadian selanjutnya serta perubahan yang di luar dugaan ini, membuat kedua pihak sama-sama melengak dan me-lenggong.

Meskipun Miao Tiang-hong sejak mula menaruh curiga terhadap sang suheng, namun mimpi pun ia tidak menduga orang akan menggunakan cara sekotor dan serendah ini untuk membokong dirinya.

Sebaliknya Ci Coh kuatir kepandaian Miao Tiang-hong teramat tinggi, begitu terjeblos jatuh bisa lantas melompat naik pula, maka ia kerahkan seluruh tenaganya untuk mendorong serta hendak menindihnya dengan batu besar lagi.

Jikalau orang tergetar luka dalam, Ci Coh menyangka seumpama Miao Tiang-hong tidak sampai terluka berat, paling tidak pasti terbanting pingsan, siapa tahu orang justru secepat itu sudah kuasa melejit keluar pula.

Setelah sama-sama meleng-gong, Miao Tiang-hong segera membentak.

"Mendapat perintah siapa kau hendak membokong aku?"

"Sute,"

Ci Coh bergelak tertawa.

"jangan kau kaget tidak karuan, aku hanya mencoba Pit-bakhoan-ciangmu saja. Dulu suci berat sebelah mengajarkan kepadamu, aku tahu kau pasti tdak kurang suatu apa."

Dengan mengada-ada ia coba mungkir, nada tawanya sumbang dan dibuatbuat, jangan kata Miao Tiang-hong seorang ahli yang banyak pengalaman, meski anak ingusan pun akan tahu apa yang dikatakan ini adalah bohong belaka.

"Siapa yang beri petunjuk kepada kau, lekas katakan! Mengingat kau sebagai saudara seperguruan dulu, aku bisa memberi ampun kepada kau."

"Aku hanya main-main saja dengan kau, kenapa kau marah-marah?"

"Main-main dengan cara sekeji ini? Kau membokong dan hendak melukai orang, kalau aku tidak membekal kepandaian, sejak tadi sudah mampus di bawah pukulan-mu."

"Justru karena tahu kau membekal kepandaian, maka aku berani main-main dengan kau. Kalau tidak demikian, cara bagaimana aku bisa menjajal tingkat kepandaianmu?"

Melihat jawaban orang yang tidak karuan, serta mata orang yang jelilatan, mencelos hati Miao Tiang-hong, selangkah demi selangkah ia mendesak ke arah Ci Coh, bentaknya.

"Tulang punggungmu Pakkiong Bong atau Sat Hok-ting? Kau datang ke Tiong-boh dulu lalu menyusul ke Yangciu, bukankah kau hendak menyelidiki keturunan suci dan akan membereskan mereka bersama Lau Khong?"

Kaget dan gugup serta gentar lagi hati Ci Coh, hatinya semakin gelisah lagi.

"Kenapa orangorang yang sudah kujanjikan itu belum juga kelihatan?"

Ia menyurut mundur berulang-ulang. Miao Tiang-hong membentak pula.

"Sampai sekarang kau masih pantang bicara terus terang, hendak mungkir lagi, jangan kau salahkan aku turun tangan tidak kenal kasihan kepadamu."

Rona muka Ci Coh berubah bergantian, terang kata-kata Miao Tiang-hong tepat mengorek borok hatinya. Tahu dirinya tidak dapat mungkir lagi, terpaksa dia menjawab.

"Sute, kau tidak sudi memaafkan aku", yah, apa boleh buat. Selama dua puluhan tahun ini, ajaran silat perguruan kita, aku pun berhasil memperdalam dan mendapat hasil, sekarang biar aku mohon petunjuk darimu."

"Baik, kuberi ekstra tiga jurus kepada kau."

Ci Coh menyeringai dingin, jengeknya! "Kau sendiri yang bilang lho!"

Tiba-tiba ia mencelat naik terus menubruk dengan jurus Beng-pik-kiu-siau (elang berkelahi di tengah mega), jarinya bagai cakar garuda terus mencengkeram ke batok kepalanya.

Dengan gerak Hong-tiam-thau Miao Tiang-hong meluputkan diri, pakaian yang dipakainya tibatiba melembung besar seperti layar yang terhembus angin kencang.

"Blum"

Tangan Ci Coh dengan telak mengenai punggungnya, kontan terasa segulung tenaga memantul yang besar dan dahsyat memukul balik, Ci Coh tahu orang mengembangkan ilmu Tiam-ih-cap-pwe-thia tingkat tinggi, lekas tangan kiri ikut bergerak, tidak memukul Miao Tiang-hong, tapi tangan kirinya ini menekan ke tangan kanannya sendiri, sehingga dua tenaga gabungan yang dikembalikan kena dia punahkan, dengan sekali jumpalitan ia berhasil meluncur turun dan berdiri tegak, tidak sampai jatuh.

Kiranya ilmu silat macam Tiam-ih-cap-pwe-thia ini, khusus digunakan meminjam tenaga pukulan lawan untuk menggempur lawan pula.

"Bagus, terhitung satu jurus,"

Seru Miao Tiang-hong.

Dari malu Ci Coh menjadi gusar, tanpa bicara lagi, kedua jari ia rangkap seperti jepitan, ia menotok ke Hiat-to Ih-gi-hiat Miao Tiang-hong.

Terang lawan tidak akan bisa menggempur balik dirinya.

Miao Tiang-hong mendekuk dada menyedot perut, badannya tidak bergeming namun kulit badannya sudah tertekuk mundur setengah inci.

Ilmu totokan biasanya mengutamakan telak mengenai sasaran, dengan dikurangi jarak setengah inci ini, meski jari-jari Ci Coh mengenai kulit badan Miao Tiang-hong, paling-paling hanya menotok berlubang kain pakaiannya saja.

Mendadak Ci Coh menghardik laksana geledek, telapak tangannya menyusul menghantam ke dada Miao Tiang-hong.

Tergerak hati Miao Tiang-hong, pikirnya.

"Jelas dia tahu aku sedang mengembangkan ilmu Tiam-ih-cap-pwe-thia, kenapa dia masih berani menggempur dengan kekerasan begini?"

Tengah ia membatin, tiba-tiba dilihatnya telapak tangan Ci Coh yang terbalik itu, lapat-lapat ada terselip sebatang jarum warna hitam, dengan gerakan yang cepat dan lihay menusuk dengan keras ke dada Miao Tiang-hong.

Untung Miao Tiang-hong sudah curiga dan bersiap-siap.

Serangan ini cukup cepat, tapi Miao Tiang-hong lebih cepat lagi,-sebat sekali mendadak ia berkisar badan, maka jarum itu hanya mengenai lengan bajunya saja Sambil mengerahkan hawa murni, Miao Tiang-hong kebutkan lengan bajunya, maka jarum itu kena dikebutnya melesat balik.

Jarum menancap di lengan baju, orang dapat mengerahkan tenaga untuk balas menyerang dirinya, hal ini benar-benar di luar tahu Ci Coh.

Lekas ia menjatuhkan diri terus menggelundung sejauh-jauhnya "Cret"

Jarum sendiri yang berbisa itu hampir saja menyerempet atas kepalanya menancap di atas tanah.

"Suhu biasanya melarang para muridnya menggunakan senjata rahasia yang berbisa, sedemikian rendah dan hina dina martabatmu sekarang,"

Miao Tiang-hong membentak. Ci Coh lekas merangkak bangun, katanya.

"Kau sendiri bilang memberi ekstra tiga jurus kepadaku, toh kau tidak melarang aku menggunakan senjata rahasia."

"Baik, tiga jurus sudah kuberi kelonggaran, sejak detik ini, aku tiada punya suheng macam tampangmu lagi."

Baru sekarang Ci Coh tahu, bahwa sang sute memberi tiga jurus kelonggaran kiranya bertindak menurut aturan bu-lim cianpwe, bila murid yang tingkatannya rada rendah hendak mencuci bersih nama baik perguruan", memberi kelonggaran tiga jurus sebagai pertanda bahwa hubungan sesama perguruan sudah putus.

Pucat pias muka Ci Coh, batinnya.

"Kedua orang itu kenapa tidak kunjung tiba?"

Bicara lambat, kejadian teramat cepat, tangan kanan Miao Tiang-hong sudah bergerak membundar, tahu-tahu sudah mencegat jalan mundur dirinya Jurus ini dinamakan Tiang-ho-loh-jit, gaya Siau-kin-na-jiu-hoat yang mengandung jurus-jurus Hun-kifl-joh-kut yang tersembunyi.

Ci Coh tahu akan kehebatan ilmu ini, lekas kedua tangannya tersilang di depan dada lalu didorong ke depan, ia punahkan sejurus permainan Miao Tiang-hong ini, namun tidak urung tanpa kuasa ia tergetar sempoyongan tiga langkah ke belakang.

Hanya sejurus saja Miao Tiang-hong sudah membuat dirinya terdesak mundur, namun orang tidak berhasil ditangkapnya.

Pikirnya.

"Kiranya tidak bohong selama dua puluh tahun ini dia berhasil memperdalam ajaran perguruan."

Kiranya Ci Coh insyaf dirinya bukan tandingan sang sute, maka begitu bergebrak ia kembangkan ilmu pukulan yang dilandasi kekuatan lunak, lingkungan gerak ge-riknya diperketat dan kecil, bertahan saja tanpa balas menyerang, berapa lama ia kuat bertahan berapa lama pula ia mengulur waktu.

Ilmu pukulan lunak yang dia yakinkan ini memang khusus untuk memunahkan kekuatan pukulan lawan, naga-naganya memang mempunyai keistimewaannya sendiri, di samping Miao Tiang-hong mengingat orang sebagai saudara seperguruan, ia pun berniat menawannya hidup-hidup, maka ilmu-ilmu keji atau lihay yang mampu untuk mencabut nyawanya tidak dia lancarkan.

Kira-kira tiga puluhan jurus kemudian, Ci Coh sudah mandi keringat, mukanya pucat pias, Miao Tiang-hong sendiri pun sudah mulai memhuru napasnya Ternyata waktu terjeblos jatuh tadi, dorongan Ci Coh di punggungnya tadi amat berat, meski ia mengandal Thay-ceng-khi-kang melindungi badan, tidak sampai terluka dalam, namun hawa murninya sedikit banyak terganggu juga, dengan sendirinya mempengaruhi lwekang dirinya.

Di saat Ci Coh sudah kepayahan dan tidak kuat bertahan lagi, tiba-tiba dilihatnya Miao Tianghong melompat mundur selangkah, kedua tangan melintang di depan dada, kaki pun berhenti tanpa merangsak lagi.

Ci Coh berkesempatan ganti napas, katanya.

"Nah, kan begitu, jelek-jelek kita ini kan saudara seperguruan?"

Miao Tiang-hong menjengek dingin.

"Bala bantuan undanganmu sudah datang semua belum?"

Seiring pandangan orang Ci Coh berpaling ke sana, baru sekarang ia melihat kedua orang yang diharap-harapkannya sudah tiba.

Kedua orang ini bukan lain adalah Boh Cong-tiu dan seorang yang lain tidak dikenal oleh Miao Tiang-hong.

Sambil menggoyang kipasnya Boh Cong-tiu tertawa lebar, katanya.

"Miao-siansing, kebetulan kami lewat di sini, tak nyana kebentur kalian suheng-te sedang menjajal ilmu silat, sungguh membuka mata dan menambah pengalaman kami. Hehe, tentunya kau tidak membenci tamutamu tidak diundang seperti kami bukan?"

Laki-laki yang tidak dikenal itu pun menimbrung.

"Benar, jangan lantaran kedatangan tamutamu tak diundang seperti kami bikin se-.mangat tempur kalian luluh, silakan latihan diteruskan."

Dugaan Miao Tiang-hong memang tidak salah, kedua orang ini sebelum ini memang sudah berjanji dengan Ci Coh membuat perangkap di sini untuk menawan dirinya hidup-hidup.

Ketiga kerangka manusia itu adalah pertanda dari perjanjian mereka, menurut rencana semula, mereka harus sembunyi di tempat itu, setelah Miao Tiang-hong terjeblos jatuh, segera mereka akan keluar hendak menawannya bersama.

Ci Coh pun seorang yang licik dan banyak tipu dayanya, melihat mereka tidak menepati janji semula, kini hendak berpeluk tangan menonton di pinggiran, masakah ia tidak tahu tujuan mereka yang hendak menguras habis dulu tenaga Miao Tiang-hong baru akan turun tangan dengan mudah, celaka adalah dirinya yang dijadikan umpan, segera ia mundur ke samping mereka, katanya.

"Latihan sesama perguruan tiada artinya, ilmu cakar kucing yang kulatih ini masakah pantas dipertontonkan di hadapan kalian, ilmu silat suteku ini jauh lebih tinggi dari aku, kalian hari ini kebetulan bersua di sini, pastilah kalian ada minat untuk mencoba-coba kepandaian bukan?"

Di saat mereka bicara, diam-diam Miao Tiang-hong kerahkan hawa murni berputar tiga lingkaran, menambah sedikit semangat dan gairahnya, katanya dingin.

"Tak usah kalian cerewet, ayolah maju bersama saja."

"Miao-siansing, jangan kau salah paham,"

Boh Cong-tiu berdiplomasi.

"Bicara terus terang, memang aku ada minat saling mengukur kepandaian, mana boleh turun tangan secara keroyokan terhadapmu? Miao-siansing, kau adalah pendekar kelana yang ternama di kangouw, aku dan saudara Sa ini pun bukan tokoh-tokoh tak bernama, kata-katamu ini bukankah pandang orang terlalu rendah?"

"Aku orang she Miao hanya punya satu jiwa, kalian maju bersama aku lawan, satu persatu maju pun kulayani, selalu aku mengiringi kehendak kalian, bicara saling mengukur kepandaian segala, tutup saja mulutmu, aku tidak punya teman seperti kalian untuk mengukur kepandaian!"

Boh Cong-tiu bergelak tertawa, ujarnya.

"Salah paham Miao-siansing menjadi-jadi, mungkin sulit aku memberi penjelasan. Apa boleh buat kami terima tantanganmu saja. Ci-heng, dulu aku sudah pernah bertemu dengan sutemu ini, saudara Sa ini baru sekarang bertemu. Sa-heng, ilmu silat ajaran Siau-lim yang kau yakinkan adalah aliran murni, kebetulan aliranmu sama murninya dengan ajaran Miao-heng, adalah pantas kuberi kesempatan kau untuk main-main dulu."

Mendengar orang dari Siau-lim-pay, tergerak hati Miao Tiang-hong, katanya dingin.

"Siapa she dan namamu? Murid Hoatsu yang mana dari Siau-lim-pay?"

Ci Coh mewakili orang, sahutnya.

"Saudara Sa ini bernama Mi-wan, murid preman Thong-hian Siansu dari Siau-lim-si."

Seketika Miao Tiang-hong naik darah, bentaknya.

"Bagus ya, jadi kau ini murid murtad dari Siau-lim yang sekongkol dengan Pakkiong Bong membunuh suciku."

Sa Mi-wan mendengus sekali, sahutnya.

"Tidak salah, kau sudah tahu, aku pun tidak perlu merahasiakan lagi. Apakah kau hendak menuntut balas bagi sucimu, ayolah maju!"

Belum lagi ucapannya selesai, tiba-tiba pandangan matanya silau.

"sret"

Tahu-tahu Miao Tiang-hong sudah menusukkan pedangnya. Meskipun murid preman Siau-lim-pay, namun senjata Sa Mi-wan adalah tongkat besar yang biasa dipakai kaum hwesio. Sekali ditegakkan.

"Trang"

Ia tangkis pedang Miao Tiang-hong miring ke samping.

Gebrakan pertama kali ini cukup buat mengukur kepandaian lawan oleh Miao Tiang-hong, tanpa menanti Sa Mi-wan menggerakkan tongkatnya lebih lanjut, laksana angin puyuh dan seringan awan berkembang Miao Tiang-hong putar pedangnya merangsak maju, dari kiri menggunakan jurus Bok-ong-sin-cun, kanan dengan jurus Giok-tam-ceng-cin, sekali tusuk ia arah bagian bawah badan orang, sekali gentak pula ujung pedangnya bergetar meluncur naik menusuk muka orang.

Kedua jurus atas dan bawah ini, dalam prakteknya teramat sulit digunakan, namun jurus-jurus ini merupakan tipu-tipu tunggal yang hebat dari ilmu pedang perguruan Miao Tianghong.

Pedang yang digunakan adalah sebatang Ceng-kong-kiam panjang, tapi saking cepat permainannya, penonton menjadi silau dan hanya melihat dua jalur sinar hidup laksana naga perak timbul tenggelam sedang menari di tengah angkasa, dengan serangan atas dan bawah secara beruntun itu, sekaligus ia sudah bikin Sa Mi-wan terkurung di dalam sinar pedangnya.

Diam-diam mencelos hati Ci Coh melihat permainan pedang sutenya yang hebat ini, diam-diam terasa dingin dan berdiri bulu kuduknya, batinnya.

"Kalau tadi dia menggunakan senjata, mungkin sejak tadi aku sudah mampus di tangannya."

Akan tetapi kepandaian silat Sa Mi-wan pun bukan olah-olah lihay-nya, dengan gaya meliuk pinggang seperti orang bercocok dahan pohon liu dengan badan miring, pinggangnya tertekuk ke belakang, sebaliknya tongkatnya ia dorong ke depan.

Di dalam saat-saat yang gawat itu ia meluputkan diri dari tusukan yang mengarah muka, terdengar "Trang"

Kembang api memercik, tusukan ke bagian bawah sekaligus ia punahkan pula.

Tapi toh Sa Mi-wan hanya mampu membela diri belaka, sekali gebrak Miao Tiang-hong berinisiatif menyerang lebih dulu, seketika ia kembangkan ilmu silat yang ia pelajari selama ini, dalam jurus tersembunyi jurus, dalam tipu ada tipu pula, isi kosongnya susah diduga, perubahannya teramat rumit.

Bukan saja ia mainkan jurus-jurus pedang ajaran perguruannya, sekaligus ia kombinasikan pula dengan tipu-tipu pedang hasil ciptaannya sendiri.

Meskipun Ci Coh adalah suhengnya, banyak gerak tipu pedang yang masih asing dan belum pernah dilihatnya.

Sekaligus Miao Tiang-hong menyerang tiga puluh enam jurus pedang, saking gencar dan dahsyat sampai Sa Mi-wan kerepotan dan sesak napasnya, baru sekarang ia insyaf akan kelihayan Miao Tiang-hong, diam-diam hatinya mengeluh.

Akan tetapi di saat-saat yang amat gawat itulah, entah mengapa tiba-tiba terlihat gaya permainan ilmu pedang Miao Tiang-hong menjadi kendor dan lamban, cepat Sa Mi-wan menggunakan kesempatan baik ini, tenaga ia kerahkan di batang tongkatnya, dengan sejurus Siang-ji-pang-bik, ia tahan dan kunci pedang Miao Tiang-hong di luar kalangan.

Ternyata walaupun Miao Tiang-hong tidak terluka oleh dorongan Ci Coh, betapapun ia sedikit terluka.

Thay-ceng-khi-kang yang dia salurkan harus dilandasi dengan kekuatan tenaga murni yang terpusat di pusar, sekaligus ia menyerang tiga puluh enam jurus tanpa ganti napas, akhirnya toh dia kehabisan napas, sedikit peluang ini, memberi kesempatan kepada Sa Mi-wan untuk balas menyerang.

Dalam seribu kesibukannya, lekas Sa Mi-wan menarik napas, serunya memuji.

"Ilmu pedang bagus!"

Di mana tongkat bajanya terayun, lapat-Iapat seperti terdengar guntur menggelegar.

Walau Miao Tiang-hong membekal kepandaian tinggi, di bawah serangan balasan musuh yang gencar, berba-lik ia terdesak mundur beberapa langkah.

Sa Mi-wan begelak tertawa, serunya.

"Diberi tidak membalas kurang hormat, sekarang tiba giliranmu belajar kenal dengan Hu-mo-tiohoatku ini!"

Hu-mo-tio-hoat atau ilmu tongkat penakluk iblis adalah ilmu muji-jat aliran Siau-lim-pay, perbawanya memang bukan kepalang hebatnya.

Tadi karena terdesak di bawah angin, Sa Mi-wan tidak berkesempatan mengembangkan ilmu tongkatnya ini Kini mendapat kesempatan bermain, maka kalangan pertempuran semakin melebar luas, lama kelamaan Miao Tiang-hong tidak kuasa mendesak maju mendekati lawan.

Dengan arena pertempuran menjadi besar, tongkat panjang dan pedang pendek, sudah tentu Sa Mi-wan mengambil banyak keuntungan.

Saking terpesona Ci Coh sampai melongo dan menari-nari sambil berkaok-kaok memberi semangat kepada Sa Mi-wan.

Sebaliknya Boh Cong-tiu tersenyum dan berkata.

"Dengan mengembangkan enam puluh empat jalan Hu-mo-tio-hoat, Sa Mi-wan cukup membuat lawan kewalahan, naga-naganya aku tidak berkesempatan minta petunjuk kepada sutemu lagi."

Secara tidak langsung ia mau berkata, bahwa Miao Tiang-hong sebentar bakal dikalahkan oleh Sa Mi-wan.

Dalam pertempuran sengit itu, tiba-tiba Miao Tiang-hong rasakan tenggorokannya panas dan getir, darah sudah membubung naik, hampir saja tak kuat dan ia hendak memuntahkannya.

Dengan kertak gigi Miao Tiang-hong menelannya pula bulat-bulat, tak urung darah sudah meleleh keluar dari ujung mulutnya.

Girang Sa Mi-wan dibuatnya, tongkat baja sebesar kepalan tangan itu diputar secepat kitiran menyapu pulang pergi, semakin diputar semakin kencang.

Boh Cong-tiu enak-enak menggerakan kipasnya, katanya kepada Ci Coh.

"Agaknya Sa Mi-wan tidak sampai habis mengembangkan Humo-tio-hoatnya itu!"

Belum habis ia bicara.

"Trang"

Tahu-tahu pedang Miao Tiang-hong sudah mencelat lepas dari pegangannya. Boh Cong-tiu tertawa, ujarnya pula.

"Ilmu tongkat bagus saudara Sa, kau bisa menang jauh lebih cepat dari yang kuduga. Aduh, celaka!"

Semula ia berseri tawa dan bicara dengan angkuh dan sombong, mendadak mukanya mengunjuk rasa kaget dan mimik tawanya menjadi kaku.

Ternyata meski pedang Miao Tiang-hong terlepas dari cekalan, namun pedangnya itu terbang menyambar ke arah Sa Mi-wan.

Dengan gerakan tergesa-gesa Sa Mi-wan melintangkan tongkatnya untuk menangkis, terlihat sinar pedang lawan bagai gelombang pasang, dengan titiktitik kemilau yang tidak terhitung banyaknya sama meluruk kepada dirinya.

Kontan terdengar Ci Coh berteriak kaget dan ketakutan.

"Hwibou-liu-cwan!"

Ternyata jurus Hwi-bou-liu-cwan (air terjun terbang sumber air berpusar) merupakan ilmu pedang tunggal ajaran suhunya yang paling hebat dan dahsyat, waktu menusuk seluruh kekuatan dipusatkan pada ujung pedang sehingga batang pedang bergetar hebat, bila latihan sudah mencapai puncak kesempurnaan, meski hanya satu jurus, begitu meluncur tiba di depan musuh, seketika bisa berubah laksana ratusan titik-titik ujung pedang.

Tapi dulu waktu suhu mereka melancarkan jurus ini, beliau toh masih memegangi gagang pedangnya, tidak seperti Miao Tianghong sekarang, melemparkan pedang, namun ia tetap dapat berbuat sehebat dan selihay itu dalam jurus yang sama Dalam kagetnya Ci Coh berkata dalam hati.

"Umpama suhu hidup kembali, dalam jurus ilmu pedang ini mungkin jauh ketinggalan daripada apa yang dimainkan olehnya tadi. Kapan Sa Mi-wan pernah melihat atau menghadapi ilmu pedang yang begini aneh dan lihay? Walau dia sudah putar tongkatnya begitu kencang dan rapat seumpama tidak tertembus oleh hujan dan angin, tak urung pergelangan tangannya terkena sekali tusuk oleh ujung pedang, maka terdengarlah "Trang"

Sekali lagi, kali ini tongkat baja Sa Mi-wan malah yang terlepas jatuh dari tangannya.

Sementara pedang itu tergetar terpental kembali oleh tangkisan tongkat, sigap sekali Miao Tiang-hong melompat ke depan serta meraihnya, katanya dingin.

"Apa kau masih ingin bertanding lebih lanjut?"

Membesi hijau muka Sa Mi-wan, seperti ayam jago yang keok ia jemput tongkatnya, katanya dengan lesu.

"Ilmu pedang Miao Tayhiap memang hebat dan tinggi, kagum, kagum, aku yang rendah mengaku kalah!"

Pergelangan tangannya sudah terluka, meski luka ringan, sebagai tokoh silat tingkat tinggi seperti dia, senjata sendiri dibikin terlepas jatuh oleh lawan, masakah ada muka ia meneruskan pertempuran?

Apalagi kekalahan itu sudah membuat semangat tempurnya luluh, kalau dilanjutkan terang dia bukan tandingan Miao Tiang-hong.

Bahwasanya dalam melancarkan jurus pedangnya ini Miao Tiang-hong pun sudah kerahkan seluruh tenaganya, hawa muminya banyak terkuras dan terluka pula, kalau jurus tadi tidak berhasil melukai Sa Mi-wan, bagaimana kesudahan pertempuran ini, ia tidak berani membayangkannya.

Sambil kertak gigi, lagi-lagi ia telan bulat-bulat darah yang sudah membanjir keluar di tenggorokannya.

Sambil mengibaskan kipasnya, Boh Cong-tiu melangkah maju, katanya tersenyum.

"Miaosiansing, tadi sudah kami katakan bertanding ilmu silat terhadap sesama sahabat, aku yang rendah pun ingin mohon petunjuk beberapa jurus, entah Miao-siansing ada semangat memberi pengajaran kepadaku?"

Miao Tiang-hong menarik nafas, sejenak ia menenangkan hati, katanya dingin.

"Boh Cong-tiu, jangan kau berpura-pura di hadapanku, kalian memang hendak menggunakan cara bergiliran untuk menghadapi aku, sekarang bukankah menepati keinginanmu, paling aku orang she Miao pasrah nasib dan mempertaruhkan jiwa, kau tidak takut dibuat tertawaan para enghio,ng seluruh jagat, marilah silahkan maju."

Mendengar olok-olok yang sekaligus membongkar boroknya, dari malu Boh Cong-tiu menjadi gusar, jengeknya dingin.

"Sebetulnya aku tiada niat membunuhmu, karena ucapanmu ini biar kututup saja bacotmu. He he, di tempat seperti ini, bila kubunuh kau, siapa pula yang akan tahu? Takut ditertawakan siapa aku?"

Miao Tiang-hong mendengus, katanya.

"Kau hendak bunuh aku, kukira tidak sedemikian mudah. Ayo majulah!"

Diam-diam ia sudah bertekad, begitu turun tangan lantas melancarkan ilmu keji mengadu jiwa biar gugur bersama.

Seumpama karena dirinya bukan tandingan lawan, setelah kehabisan tenaga dan terluka dalam, akhirnya terbunuh oleh Boh Cong-tiu, paling tidak harus membuatnya terluka parah juga.

Boh Cong-tiu menjadi bimbang malah, batinnya ragu-ragu.

"Apa sih yang dia andalkan, berani bicara besar. Hm, mungkin hanya menggertak saja, memangnya dia masih mampu melukai aku?"

Untunglah dia pun dirundung rasa bimbangnya ini, kalau tidak bila lantas bergebrak, pastilah bakal terjadi tragedi seperti yang dibayangkan oleh Miao Tiang-hong, satu mati yang lain terluka berat Di saat ia kibas-kibaskan kipas dan hendak melangkah maju itulah, tiba-tiba didengarnya derap langkah berlari mendatangi.

Boh Cong-tiu segera membentak.

"Siapa itu?"

Tampak dari pengkolan gunung sebelah sana, muncul seseorang yang berlari bagai terbang, sekali pandang seketika Boh Cong-tiu melongo dibuatnya.

Waktu Miao Tiang-hong menoleh, dan melihat tegas, ia pun ikut terkejut.

Kiranya orang yang berlari datang ini bukan lain adalah Cong Sin-liong yang sekomplotan dengan Boh Cong-tiu.

Bahwa Cong Sin-liong mendadak muncul seharusnya Boh Cong-tiu merasa girang.

Tapi keadaan Cong Sin-liong kali ini tidak seperti biasanya, selebar mukanya berlepotan darah, mukanya pucat dan tingkah lakunya amat ketakutan seperti lari dikejar setan.

Memang Miao Tiang-hong sudah bertekad untuk adu jiwa, meski terkejut, namun ia tidak menjadi gugup.

Segera ia lintangkan pedang di depan dada, jengeknya dingin.

"Kalian paman keponakan guru maju bersama pun bolehlah!"

Setelah melongo, segera Boh Cong-tiu berteriak memanggil.

"Susiok, kenapa kau?"

Agaknya saking ketakutan dikejar orang, Cong Sin-liong sudah seperti lupa daratan dan tidak ingat diri pula, seolah-olah ia tidak mendengar teriakan Boh Cong-tiu.

Malah larinya dipercepat lewat samping Miao Tiang-hong.

Pada saat itulah terdengar sebuah suara serak tua berkumandang.

"Aku belum lagi berkelahi dengan puas, siapa yang hendak bertempur bergiliran, biar aku yang melayani."

Suara orang ini adalah suara orang yang berseru memuji di dalam kabut gelap waktu Boh Cong-tiu dan Kim Tiok-liu bertanding pedang waktu di Thay-san dulu.

Dan orang ini justru orang yang paling ditakuti oleh Boh Cong-tiu.

Sa Mi-wan berteriak.

"Kalian ini ada apa? Siapa orang yang datang ka... kalian..."

Ternyata mengikuti jejak Cong Sin-liong, Boh Cong-tiu pun ngacir pergi. Pada saat itu pula terdengar suara seorang gadis yang nyaring berkumandang terbawa hembusan angin.

"Locianpwe harap tunggu sebentar. Beberapa kali wanpwe mendapat budi pertolonganmu, berilah kesempatan wanpwe ber-sembah sujut."

Girang hati Miao Tiang-hong, pikirnya.

"Ternyata Lim Bu-siang ikut datang, tak heran Boh Cong-tiu dibikin kaget dan melarikan diri."

Miao Tiang-hong tahu, waktu di pertemuan besar di Thay-san dulu, dalam sepuluh jurus pertandingan ilmu pedang perebutan kedudukan ciangbun, Boh Cong-tiu pernah dikalahkan oleh Lim Bu-siang.

Di luar tahunya bahwa yang amat ditakuti oleh Boh Cong-tiu bukanlah Lim Bu-siang, tapi adalah tokoh aneh yang belum pernah muncul di kalangan kangouw itu.

Tapi setelah mendengar suara Lim Bu-siang, memang Boh Cong-tiu semakin ketakutan dan berlari lebih kencang lagi.

Soalnya rencana merebut kedudukan ciangbun, sekarang belum tiba saatnya, kejadian persekongkolannya hari ini dengan para pentolan orang-orang jahat untuk membunuh Miao Tiang-hong, cepat atau lambat akhirnya toh bakal diketahui oleh Lim Bu-siang juga, mana sudi ia dibikin malu di hadapan orang banyak.

Melihat Boh Cong-tiu melarikan diri mengikuti jejak Cong Sin-liong, kaget Ci Coh bukan main, katanya lirih.

"Yang datang mungkin musuh tangguh, Sa-heng lekas kita menyingkir."

Sa Mi-wan hanya mendengus, tanpa bersuara dan tidak bergerak.

Pada saat itulah tampak seorang kakek tua berpakaian serba hitam bertubuh kurus kering tahutahu sudah muncul dari pengkolan gunung sebelah sana Sa Mi-wan membekal ilmu tunggal kepandaian Siau-lim-pay, selama malang melintang di kangouw belum pernah menemukan tandingan, tak nyana hari ini kena dikalahkan oleh Miao Tiang-hong, di saat ia merasa malu dan gengsinya disapu, dilihatnya yang datang cuma seorang kakek tua renta yang lemah, dalam hati ia membatin.

"Luka-luka Miao Tiang-hong cukup berat, kalau bertempur lagi, pasti aku kuasa merobohkan dia. Mungkin karena Boh Cong-tiu masih harus menyamar sebagai golongan pendekar, maka dia harus menghindar diri untuk bertemu dengan budak she Lim itu. Dia takut adalah urusannya, kenapa aku harus gentar terhadapnya? Mengenai kakek tua ini, sekali kemplang aku pasti bisa bikin dia terjungkal roboh, apa pula yang harus kutakuti?"

Segera ia menyeringai dingin.

"Kau hendak lari silakan lari saja."

Kakek tua baju hitam itu berge-lak tertawa, ujarnya.

"Yang dua sudah lari, masih ada dua belum ngacir. Haha, aku tua bangka ini suka berkelahi bergiliran, kamu siapa yang maju lebih dulu"

Sa Mi-wan tudingkan tongkatnya seraya membentak.

"Tua bangka yang terobosan dari mana kau, berani mengganggu di sini, rasakan pentungku irfi!"

Kakek tua baju hitam berkata tawar.

"Kukira siapa, ternyata hwe-sio liar yang melarikan diri dari Siau-lim-si. Kau sudah tidak jadi hwesio, buat apa masih pakai tongkat, berikan saja kepadaku!"

Pandangan Miao Tiang-hong jauh lebih tajam dari Sa Mi-wan, sekali lihat gerak langkah si kakek tua ini, lantas dia tahu lwekangnva teramat tinggi luar biasa.

Namun melihat orang bertangan kosong, tak urung ia merasa kuatir.

Hu-mo-tio-hoat Sa Mi-wan tidak boleh dipandang ringan, masakah kakek tua ini mampu melawannya hanya bertangan kosong saja?

Apa lagi hendak merebut senjata orang?"

Sedang ia membatin, dilihatnya kakek tua baju hitam itu sudah menyendat keluar seutas tali panjang, katanya.

"Aku tidak enak mengurus dan menghajar kau, terpaksa biar kuringkus kau dan diantar ke Siau-lim-si. Lepas tongkatmu!"

Sa Mi-wan menggerung menggeledek, dengan jurus Ou-liong-yu-hay (naga hitam mengaduk lautan) tongkatnya lantas mengemplang.

Sekali sendai tali panjangnya, kakek tua berhasil menggubat tongkat orang, baru saja suaranya keluar dari mulut, betul juga tongkat baja Sa Miwan yang sebesar kepalan tangan itu tahu-tahu sudah kena direbut.

Tahu-tahu Sa Mi-wan rasakan jari-jarinya kaku dan lemas tak bertenaga, badan pun tersuruk maju ke depan.

Entah bagaimana, secara gaib tongkat bajanya itu sudah kena direbut oleh musuh.

Keruan kagetnya bukan main, lekas ia putar badan melarikan diri.

Miao Tiang-hong seorang persilatan yang cukup ahli dalam bidang ini, melihat jurus permainan orang untuk merebut tongkat Sa Mi-wan, tidak bisa tidak ia.

merasa takjub dan kagum dalam hati, pikirnya.

"Ilmu silat memang di luar langit ada langit, orang pandai ada yang lebih pandai pula. Teori ilmu pinjam tenaga memanfaatkan tenaga aku pun cukup paham, tapi untuk memanfaatkan dalam praktek selihay seperti yang dilakukan lo-cianpwe tadi paling cepat aku harus berlatih sepuluh tahun lagi."

Tengah ia membatin itu, dilihatnya si kakek tua baju hitam sedang menggentakkan lengan mengayun tali, tali panjangnya itu seketika disendai lurus memanjang, maka tongkat yang tergubat itu seketika melesat terbang ke depan.

Sa Mi-wan sedang lari pontang-panting, mendengar angin menderu di belakang, lekas ia gunakan Hong-tiam-thau, tongkat bajanya melesat lewat dari atas kepalanya dan "Trak!"

Menancap amblas separuh lebih di atas dinding gunung. Saking keras getarannya, sampai ujung tongkatnya mendengung keras, berayun turun naik. Kakek tua baju hitam bergelak tertawa, serunya.

"Menantu jelek pun akhirnya toh harus bertemu dengan mertua, meski kau tidak bisa menjadi hwesio lagi, paling tidak kau akan kembali ke Siau-Iim-si juga kelak!"

Sambil bicara badannya tiba-tiba melejit tinggi meluncur ke depan, tali panjangnya lagi-lagi melingkar membundar terus menjerat ke atas kepala Sa Mi-wan.

Tahu dirinya tidak akan bisa meloloskan diri, Sa Mi-wan malah membentak gusar.

"Aku sudah mengaku kalah, jangan kau terlalu menghina orang."

Sekali raih ia tangkap tali orang, kali ini kedua gelombang tenaga masing-masing saling adu kekuatan ke arah yang berlawanan tarik menarik, yang kuat menang dan lemah kalah.

Saking keras tarikan kedua pihak, tali itu sampai mengencang seperti tali busur yang dipentang.

Seketika merah padam air muka Sa Mi-wan, tanpa kuasa kakinya tersuruk maju beberapa langkah.

Kakek tua itu menggeleng kepala dan ujarnya menghela napas.

"Lweekang Siau-lim-si sudah kau pelajari secara murni, sayang tidak belajar baik bertindak benar, sayang, sayang!"

Mendadak Sa Mi-wan lepas tangan terus menjatuhkan diri menggelundung ke lereng gunung di bawah sana Kakek tua baju hitam berseru lantang.

"Semula aku hendak menggusur kau kembali ke Siaulim-si, tapi aku sendiri pernah menegakkan aturan, menghadapi angkatan muda, aku hanya boleh sekali turun tangan, hari ini terhitung kau mendapat keuntunganku, jagalah dirimu berbuatlah baik dan bertindak benar. Kalau tidak bertobat dan insyaf, biarlah para hwesio dari Siau-lim-si yang akan mengurus kau."

Waktu Sa Mi-wan bergebrak dengan kakek tua baju hitam, Ci Coh lekas mencemplak naik ke punggung kuda melarikan diri ke bawah gunung. Kakek tua baju hitam berpaling dan katanya tertawa.

"Celaka, satu yang lain pun melarikan diri, aku memang sudah terlalu tua, tidak berguna lagi. Ah, apakah kau ini Miao Tayhiap Miao Tiang-hong?"

Tersipu-sipu Miao Tiang-hong maju memberi hormat, katanya.

"Mana berani wanpwe disebut Tayhiap. Terima kasih akan budi pertolongan cianpwe, harap tanya, siapa nama besar lo-cianpwe?"

"Aku tiada tempo mengobrol dengan kau, Lim Bu-siang kau kan kenal dia bukan?"

"Lo-cianpwe ada pesan apa?"

"Nanti sebentar boleh kau beri-tahu kepadanya, sekarang aku belum bisa menemui dia, suruh dia lekas pulang ke Thay-san. Soal kau dan aku, kelak kalau ada kesempatan bertemu, biarlah bicara lain kesempatan saja."

Tanpa menyebut namanya, tahu-tahu bayangannya sudah menghilang dalam sekejap mata.

Miao Tiang-hong tahu, tokoh-tokoh kosen sering kali mempunyai watak yang aneh, meski ia merasa kecewa, namun ia tidak heran dibuatnya.

(Bersambung ke

Jilid 4)

Jilid 4 Tiba-tiba didengarnya kicauan seekor burung yang nyaring merdu, waktu ia angkat kepala dilihatnya seekor burung berbulu hijau mulus sedang terbang di atas kepalanya.

Dari kejauhan terdengar suara suitan melengking tinggi, jelas itulah suitan si kakek tua tadi, burung itu segera pentang sayap terbang lebih cepat ke arah datangnya suara, sebentar saja sudah tak kelihatan lagi.

Tak lama kemudian betul juga dilihatnya Lim Bu-siang sedang lari mendatangi.

Melihat Miao Tiang-hong sudah tentu Lim Bu-siang amat girang, namun ia tidak sempat ajak bicara urusan lain, tanyanya.

"Miao-toako, kiranya kau berada di sini, apa kau melihat burung hijau?"

"Nona Lim, kau lari-lari di Cu-lay-san ini, hanya untuk menangkap burung berbulu hijau itu?"

"Burung hijau itu adalah peliharaan seorang tokoh misterius, tokoh kosen ini pernah menolong aku, aku ingin bertemu dengan beliau."

"Kalau begitu tidak usah kau pergi mengejarnya."

"Hah, jadi kau sudah bertemu dengan beliau?"

"Dia suruh aku memberitahu kepadamu, katanya sekarang belum waktunya dia menemui kau, suruh kau segera pulang ke Thay-san."

"Kali ini burung hijau itu yang menuntun jalanku kemari, kukira cianpwe itu hendak menemui aku. Ternyata hanya mengajakku kemari untuk bertemu denganmu."

"Burung hijau itu yang membawa kau kemari?"

"Burung hijau itu amat cerdik, tahun lalu waktu aku di Thay-san karena petunjuknya pula sehingga aku berhasil menemukan ajaran silat cosu cikal bakal perguruan kami."

"Apa kau sudah tahu nama dan asal-usul cianpwe kosen itu?"

"Sejak itu beliau pernah dua kali membantu aku pula, namun selama ini laksana naga yang kelihatan ekornya tidak kelihatan kepalanya. Tapi menurut hematku tokoh kosen yang misterius ini kemungkinan adalah cianpwe dari perguruan kami sendiri."

"Lalu apa yang terjadi kali ini?"

"Apa tadi kau pun melihat Cong Sin-liong?"

"Ya, kulihat selebar mukanya berlepotan darah, naga-naganya dia dikejar oleh cianpwe itu sampai lari terbirit-birit untuk menyelamatkan diri."

"Kejadian kali ini memang Cong Sin-liong hendak menjebak dan membokong aku, cianpwe itu sekali lagi menolong jiwaku."

Ternyata setelah berpisah dengan orang banyak di Yangciu, bersama Ciok Heng suami-istri Lim Bu-siang langsung kembali ke Thay-san.

Sepanjang jalan memang tiada terjadi apa-apa, tapi begitu mereka mulai memasuki pedalaman pegunungan Thay-san, di luar dugaan mereka mengalami sesuatu.

Pada saat mereka tiba di daerah Cap-pwe-ban yang berliku-liku itulah mendadak disergap oleh musuh yang sebelumnya memang sudah bersembunyi di sana.

Baru saja Lim Bu-siang sampai pada pengkolan gunung ketiga, para murid Hu-siang-pay sudah mendapat kabar, dua orang di antaranya segera turun gunung hendak menyambut kedatangan mereka, di saat mereka bertemu di pengkolan gunung yang melekuk itulah, dari pengkolan ke empat di sebelah atasnya, tiba-tiba menggelundung turun dua batu sebesar meja.

Salah seorang murid itu karena tidak menduga dan terlambat menyingkir, seketika kena terjang roboh dan tertindih luka parah.

Batu masih terus menggelundung ke bawah dan akhirnya menyumbat jalan mundur yang rada sempit itu.

Lim Bu-siang menceritakan kejadian tegang yang mendebarkan ini.

Miao Tiang-hong pun mendengarkan dengan kesima dan jantung berdebar, katanya.

"Sepak terjang yang begini keji, orang-orang yang hendak membokong kalian, kukira tidak melulu hanya Cong Sin-liong seorang bukan?"

"Ya, di samping itu ada tiga tokoh kosen dari aliran sesat yang bekerja sama dengan dia, dan itu baru kami ketahui belakangan."

Lim Bu-siang melanjutkan ceritanya.

"Keadaan waktu itu sungguh amat berbahaya, jalan gunung amat sempit, lawan menyerang dari atas pada posisi yang menguntungkan, begitu batu besar digelundungkan ke bawah, kami tiada tempat untuk mengembangkan ginkang menyelamatkan diri. Dalam sekejap saja, Ciok-suso pun terluka keterjang oleh batu besar itu sampai terpental jatuh, di saat aku berlaku nekad hendak menerjang ke atas mengadu jiwa sama musuh, mendadak batu-batu berhenti tidak menggelundung lagi, terdengarlah di sebelah atas ada sebuah suara serak tua lagi membentak. 'Cong Sin-liong, kalian mau*bertingkah dan sewenangwenang di tempat lain, aku tidak perlu tahu, di Thay-san ini kalian berani mencelakai anak murid Hu-siang-pay, aku tidak akan memberi kelonggaran lagi kepada kalian.', disusul terdengarlah suara "plak, plak"

Yang nyaring dan keras beberapa kali, mungkin cianpwe itu sedang menghajar Cong Sin-liong."

"Sungguh menyenangkan!"

Tak kuasa Miao Tiang-hong bertepuk tangan.

"Tamparan pada pipinya itu memang cukup membuat Cong Sin-liong amat menderita, waktu aku melihat dia, selebar mukanya berlepotan darah."

Lim Bu-siang berkata pula.

"Setelah suara tamparan nyaring itu, lalu terdengar pula jeritan keras berulang kali, seperti babi hendak disembelih. Waktu aku memburu naik ke atas, tampak ketiga tokoh kosen dari aliran sesat itu sudah rebah di atas tanah, sedang Cong Sin-liong sudah melarikan diri. Dari tempat yang tinggi, lapat-lapat sempat kulihat Ciangpwe itu sedang mengejarnya dengan kencang."

"Siapa ketiga tokoh-tokoh dari aliran sesat itu?"

"Aku hanya kenal satu di antaranya yang bernama Lau Coan-yu dari Khong-tong-pay."

Miao Tiang-hong menghela napas, katanya.

"Dari lekukan ke tiga lari ke lekukan ke empat, jarak dekat yang hanya memerlukan beberapa detik saja. Cong Sin-liong sebagai seorang kosen kelas wahid, dua orang yang lain tidak diketahui, namun kepandaian silat Lau Coan-yu itu teramat lihay, namun cianpwe itu ternyata dalam waktu singkat berhasil menampar Cong Sin-liong, merobohkan ketiga tokoh aliran sesat itu pula, maka dapatlah dibayangkan sampai di mana tingkat kepandaian silatnya. Menurut dugaanku, kalau cianpwe itu mau mengambil jiwa Cong Sinliong. pastilah segampang beliau membalikkan tangan, memang sengaja dia pura-pura tidak berhasil mengejarnya, maka beliau tidak menamatkan riwayat Cong Sin-liong."

"Memang kuduga cianpwe itu adalah angkatan tua perguruan kami. Apa yang beliau lakukan hanyalah hajaran setimpal terhadap murid yang murtad, tapi karena mengingat sesama perguruan maka dia tidak tega membunuh Cong Sin-liong."

"Cong Sin-liong dibuat begitu ketakutan sampai lari pontang-panting, kukira hukuman ini sudah cukup setimpal bagi dirinya."

"Semoga sejak sekarang dia suka bertobat dan insyaf akan kese-satannya."

Lalu Lim Bu-siang melanjutkan ceritanya.

"Dari tempat yang tinggi sempat kulihat cianpwe itu sedang mengejar Cong Sin-liong, sekejap mata mereka sudah pergi jauh dan tidak kelihatan lagi."

"Di saat aku mengeluh sayang kehilangan kesempatan untuk bertemu muka dengan cianpwe itu, tiba-tiba burung hijau itu muncul di hadapanku, terbang rendah pelan-pelan, naga-naganya sengaja hendak menuntun jalan."

"Untung luka Ciok-suso tidak berat, setelah murid yang terluka berat itu kuserahkan kepada mereka suami istri untuk merawatnya, kuminta pula mereka menggusur ketiga tawanan dari aliran sesat itu. Segera aku lari menguntit sampai tiba di sini, siapa tahu aku tetap gagal untuk bertemu dengan beliau."

"Dari nada bicara cianpwe itu, kelak pasti dia akan menemui kau sendiri. Cong Sin-liong, Boh Cong-tiu dan Ciok Tio-ki dan lain-lain bukankah berintrik hendak membuat keonaran pada upacara sembahyang besar di Giok-hong-ting, bukan mustahil cianpwe kosen itu bakal muncul pada saat itu."

"Semoga seperti katamu, oh, ya, aku belum sempat tanya kau. Waktu aku naik gunung tadi, agaknya kudengar suara beradunya senjata tajam, dengan siapa kau sedang berkelahi?"

"Dengan Piaukomu Boh Cong-tiu itu. Tapi aku belum sempat bergebrak sama dia, yang sudah kulabrak tadi adalah komplotannya, yaitu murid murtad dari Siau-lim-si yang bernama Sa Mi-wan. Di saat aku hendak bertanding dengan Piaukomu itulah, cianpwe itu kebetulan tiba."

Bertaut alis Lim Bu-siang, ujarnya.

"Lagi-lagi dia! Mungkin dia lari ketakutan melihat kedatangan cianpwe itu."

"Sedikit pun tidak salah, mendengar suaranya saja dia lantas lari terbirit-birit, rasa takutnya agaknya jauh lebih besar dari Cong Sin-liong. Mungkin setelah kejadian hari ini, rencana mereka untuk membuat onar di Giok-hong-ting itu mereka batalkan."

"Kejadian hari ini kukira memang sengaja dilakukan oleh cianpwe itu untuk memberi peringatan kepada mereka, selama ini beliau selalu membantu segala kesulitanku secara sembunyi. Tapi tiada jeleknya aku tetap mempersiapkan segalanya, menunggu kedatangan mereka."

Lalu ia berkata pula.

"Miao Tayhiap, sejak berpisah secara tergesa-gesa di Yangciu tempo hari, memang aku ingin bisa bertemu pula denganmu. Ada sebuah urusan hendak aku mohon bantuanmu. Locianpwe itu sengaja membawaku kemari untuk bertemu denganmu, seolah-olah beliau sudah tahu isi hatiku."

Miao Tiang-hong melengak, katanya.

"Urusan apa nona Lim, silakan katakan saja."

"Bukankah kau hendak pergi menemui Ci-lo cici?"

"Benar ada omongan apa yang ingin kau katakan kepadanya?"

"Dia adalah teman baikmu dengan Beng-toako, aku pun amat mengaguminya. Tempo hari aku pernah pergi ke Sam-ho, sayang tidak sempat bertemu muka. Ada sebuah kado yang tidak berarti, hendak kumohon bantuanmu untuk memberikan kepadanya."

Sembari bicara ia keluarkan sebuah kotak dari kayu cendana, katanya lebih lanjut.

"Inilah sebatang jinsom pemberian bibi Utti kepadaku, setelah melahirkan badan Hun-cici amat lemah, dia amat memerlukan obat ini."

Miao Tiang-hong menerima kado itu, katanya.

"Terima kasih akan perhatianmu terhadapnya!"

"Kalau aku sendiri belum sempat bertemu muka langsung dengan dia, apa lagi bicara, namun hatiku merasa dekat sekali di sampingnya. Kalian amat memperhatikan keadaannya, aku pun amat prihatin akan kesehatannya."

Miao Tiang-hong rada jengah akan kelepasan omongnya sendiri, katanya menyengir.

"Ci-lo pun amat ingin berkenalan denganmu, sedemikian tebal rasa persahabatanmu terhadapnya aku pasti akan menyampaikan kebaikanmu ini kepadanya. Ada omongan apa lagi?"

"Tolong beritahukan kepadanya, Beng-toako amat rindu kepadanya, setelah badannya sehat kembali, diharap dia suka pergi ke Siau-kim-jwan."

"Apakah Goan-cau yang suruh kau menyampaikan hal ini?"

"Dia tidak berkata demikan, tapi aku tahu maksud hatinya. Percaya aku tidak salah mengatakan isi hatinya ini."

Miao Tiang-hong jadi terharu, sesaat ia kemekmek dan tak kuasa bersuara.

"Miao Tayhiap di samping itu masih ada sebuah hal, kuminta kau mencari tahu sepintas lalu."

"Dengan Goan-cau aku sudah sebagai saudara angkat, aku tidak perlu sungkan terhadap kau. Boleh kau meniru Goan-cau panggil aku Miao toako saja, jangan selalu memanggilku "Tayhiap"

Membuat kuping gatal saja. Hal apa yang kau katakan?"

"Baik, aku tidak sungkan lagi memanggilmu Miao-toako. Di dalam bulim ada seorang cianpwe bernama Cau Siok-toh, kabarnya kau punya hubungan yang intim dengan beliau?"

"Memang, dia sahabatku lama sejak aku masih dalam perguruan dulu."

"Cau-cianpwe punya seorang putra bernama Cau Ho-lian, kabarnya sudah menghilang hampir satu tahun. Cau-cianpwe hanya punya seorang putra ini, beliau amat gugup gelisah dan sedang mencarinya ke mana-mana."

"Ya, kejadian itu aku pun tahu jelas. Apa kau sudah berhasil mendapat tahu jejak Cau Ho-lian itu?"

"Beginilah persoalannya, Cau-cianpwe ada minta para kawan dari berbagai aliran untuk menyirapi kabar berita anaknya itu, partai kami pun pernah mendapat pesan langsung dari Kim Tiok-liu toako. Waktu aku kembali ke Thay-san kali ini, ada murid kami yang memberi lapor sebuah kabar, mungkin ada sangkut pautnya dengan Cau Ho-Iian itu."

Miao Tiang-hong menjadi girang, tanyanya.

"Kabar apa itu?"

"Miao-toako, dalam perjalananmu ke utara kali ini, apa boleh kau lewat Bo-seng, menyeberangi Huangho."

Bo-seng adalah sebuah kota kecil yang terletak di pinggir Huang-ho sebelah selatan.

"Ya, memang aku hendak menempuh ke jalan sana."

"Di Huang-ho ada sebuah sindikat gelap bernama Ngo-Iiong-pang, markas pusatnya didirikan di Bo-seng, pangcunya bernama Yu Tay-coan. Apa Miao-toako kenal orang ini?"

"Aku kenal namanya saja, belum pernah bertemu. Kenapa, apa dia tahu jejak Cau Ho-lian?"

"Mungkin Cau Ho-lian justru berada di dalam Ngo-liong-pang-nya itu."

"Cau Siok-toh adalah teman baikku, menurut apa yang kutahu, selamanya dia tidak pernah bergaul dengan orang-orang dari golongan sesat. Cau Ho-lian adalah putranya, sebagai bocah hijau yang belum pernah keluar pintu, dia belum tahu sampai di mana pergaulan ayahnya, mana mungkin berhubungan dengan pihak Ngo-liong-pang?"

"Urusan ini sampai sekarang belum dibikin jelas, lebih baik biar kujelaskan sejak mula kejadiannya saja."

"Ciok-suheng punya seorang murid asal dari Bo-seng, bulan yang lalu dia pulang ke rumah menengok keluarga, beberapa hari itu dia terlalu iseng, maka mengundang beberapa teman makan minum di rumah makan Gi-ciau-lau yang paling terkenal di Bo-seng. Arak dari Gi-ciau-lau amat ternama di seluruh dunia. Miao-toako, tentunya kau sudah tahu."

"Bukan saja tahu, aku sendiri pernah dua kali menikmatinya di sana. Sepuluh tahun yang lalu, di Gi-ciau-lau pernah terjadi suatu peristiwa besar yang menggetarkan kangouw, salah satu orang yang melakukan peranan utama pada kejadian itu adalah Kim-toakomu itu. Tentunya kau tahu lebih jelas dari aku bukan?"

"Maksudmu waktu Kim-toako dan Le Lam-sing toako bergabung menempur Liok-hap-pang Pangcu Su Pek-toh itu."

"Tepat. Pertama kali aku menikmati arak Gi-ciau-lau adalah tiga hari setelah peristiwa besar itu. Waktu itu aku belum kenal Kim Tayhiap, kudengar cerita orang lain, aku sudah menaruh simpati dan ingin berkenalan. Maka sengaja aku bekunjung ke Gi-ciau-lau itu untuk menikmati araknya. Kedua kalinya terjadi pada tahun yang lalu, seperti kejadian kali ini, aku pun sedang dalam perjalanan ke utara menuju ke kota raja. Karena ingin menikmati arak enak dari Gi-ciau-lau, sengaja aku putar lewat Bo-seng.

"Ah, kenapa jadi aku yang ngelantur, ayolah kau lanjutkan ceritamu."

"Kejadian yang dilaporkan oleh murid perguruan kami itu, seolah-olah kejadian sepuluh tahun yang lalu itu diulang kembali. Sudah tentu dalam hal ini, tokoh-tokoh orangnya sudah ganti."

Miao Tiang-hong kaget, tanyanya.

"Apa Cau Ho-lian memerankan diri seperti Kim Tayhiap dulu? Siapa yang jadi Su Pek-toh? Memangnya Ngo-liong-pang Pangcu Yu Tay-coan?"

"Duduk perkaranya belum dibikin terang, hanya diketahui bahwa hari itu pernah terjadi seseorang berkelahi dengan orang-orang Ngo-liong-pang di Gi-ciau-lau, apakah orang itu benar Cau Ho-lian pun belum berani dipastikan."

"Apakah murid perguruannju itu yang melihatnya sendiri?"

"Bukan. Dia pun mendengar cerita temannya. Hari itu dia pergi ke Gi-ciau-lau untuk menepati undangan perjamuan itu, waktu ia tiba di simpang jalan, dari kejauhan terdengar di atas loteng Giciau-lau terjadi keributan, orang saling bentak dan maki, disusul suara barang pecah belah yang jatuh berantakan, sepintas dengar jelas, bahwa ada orang berkelahi di atas loteng."

"Di saat ia ragu-ragu apa terus menuju ke Gi-ciau-lau, tiba-tiba dilihatnya teman undangannya itu lari tersipu-sipu menghampiri dirinya, katanya ada seorang pemuda sedang berkelahi dengan Yu Tay-coan di atas Gi-ciau-lau. Temannya itu seorang penakut, maka lekas-lekas mencegat di tengah jalan serta menariknya ke tempat lain."

"Memangnya kenapa mereka bisa curiga bila pemuda itu adalah Cau Ho-lian?"

"Teman itu memang penakut, namun dia pun seorang kaum persilatan, begitu pemuda itu turun tangan, dia lantas mengenal ilmu yang dia mainkan adalah Hou-jiau-kin-na-jiu."

Miao Tiang-hong manggut-manggut.

"Benar, Hou-jiau-kin-na-jiu memang ilmu tunggal dari keluarga Cau, yang berkelahi dengan Yu Tay-coan seorang pemuda lagi, tak heran timbul rasa curiga kalian."

"Namun kami masih belum berani memastikan kalau pemuda itu Cau Ho-lian adanya, hanya berani mengatakan kemungkinan besar adalah dia. Untuk ini harap di waktu kau tiba di Bo-seng, ikut menyi-rapinya biar terang duduk persoalannya."

"Bagaimana akhir dari perkelahian itu? Apakah mendapat kabar kelanjutannya?"

"Setelah kejadian itu mereka pernah pergi mencari tahu, kabarnya pemuda itu sudah tertawan oleh orang-orang Ngo-liong-pang."

"Tertawan?"

Alis Miao Tiang-hong berkerut.

"Yu Tay-coan aku tidak kenal, tapi bagaimana martabatnya aku pernah dengar, sepak terjangnya pun tidak terlalu jahat, demikian pula aku amat jelas mengetahui watak Cau Ho-lian, dia bukan pemuda bangor dan tidak congkak, tidak mungkin tanpa alasan dia berkelahi dengan orang. Apa kalian tahu sebab musabab dari perkelahian itu?"

"Hari itu banyak orang yang sedang minum di atas Gi-ciau-lau, teman itu semula tidak menaruh perhatian, maka dia pun tidak tahu kenapa mendadak mereka menjadi bentrok? Belakangan mencari tahu kepada orang, namun tiada orang yang berani menerangkan. Meski Ngo-liong-pang bukan suatu sindikat jahat yang besar kekuasaannya, namun di sepanjang sungai Huang-ho mereka memang punya sedikit pengaruh."

"Persahabatanku dengan Cau Siok-toh lain daripada yang lain, urusan ini serahkan saja kepadaku, pasti akan kuselidiki biar terang. Kukira Yu Tay-coan itu pun tidak akan berani membunuh putranya Cau Siok-toh."

Tiga hari kemudian, Miao Tiang-hong sudah tiba di Bu-seng, karena waktu masih terlalu pagi, maka langsung ia menuju ke Gi-ciau-lau dulu, sekaligus untuk mencari berita di sana baru akan berkepu-tusan bagaimana bertindak selan-jutnya.

Waktu ia tiba di Gi-ciau-lau, lohor sudah lewat, namun sang surya belum tenggelam.

Pada saat mana merupakan suasana yang paling sepi dan jarang ada tamu makan minum di Gi-ciau-lau.

Di atas loteng Gi-ciau-lau hanya terdapat seorang tamu belaka.

"Miao-toaya, angin apa yang menghembusmu kemari?"

Pelayan segera menghampiri dan menyapa lebih dulu. Kiranya sejak dua kali berkunjung ke Gi-ciau-lau ini dulu, dia sudah bersahabat dengan pelayan satunya ini.

"Siau-ji-ko, tak nyana kau masih ingat aku."

"Kami sekeluarga selalu terkenang kepadamu, semalam istriku berdoa entah kapan bisa bertemu dan mengharap kedatangan Miao-toaya minum arak di sini, ternyata hari ini kenyataan kau orang tua datang. Tahun yang lalu untunglah kau suka membantu..."

"Kau sudah lupa apa pesanku dulu,"

Tukas Miao Tiang-hong tertawa.

"Lekaslah kau bawakan arak yang paling enak."

Pelayan itu mengiakan dan terus berlalu.

Karena iseng Miao Tiang-hong menikmati tulisan dan gambar-gambar yang terpajang di sekeliling tembok, dasar hobbynya memang sastra MiaoTianghong sampai asyik menikmati syair-syair ciptaan pujangga-pujangga kuno yang tergantung di sekelilingnya.

Di saat ia menikmati gambar-gambar tulisan itulah, pandangannya bentrok pada sesuatu yang menarik perhatiannya, seketika Miao Tiang-hong melenggong.

Pada sebuah baris syair yang tulisannya rada renggang, dilihatnya pada kertas putih yang halus itu ada bekas goresan kuku jari yang dalam.

Di sebelah bawahnya lagi pada dinding lapat-lapat kelihatan ada bekas telapak tangan orang, meski tidak menyolok, tapi bagi pandangan seorang ahli, jelas diketahui bahwa itulah telapak tangan manusia.

Miao Tiang-hong kaget, semula ia sangka perbuatan Cau Ho-lian yang kurang hati-hati, hampir saja dia merusak tulisan peninggalan kuno yang berharga ini.

Maklum Hou-jiau-kin-na-jiu mengutamakan gerakan mencengkeram dan menyobek, kalau salah satu orang yang berkelahi itu benar adalah Cau Ho-lian, maka bekas-bekas telapak tangan ini terang peninggalan tangannya.

Tapi dengan seksama segera ia perhatikan lagi, seketika timbul pula curiganya, pikirnya.

"Agaknya seperti kepandaian Toa-jiu-in dari ajaran para pendeta dari aliran Mi-ciong di Tibet, Yu Taycoan Pangcu dari Ngo-liong-pang jelas tidak mahir ilmu seperti ini, keahliannya pun bukan pada pukulan tangan. Dan lagi bagi orang yang mahir menggunakan Toa-jiu-in, meski tingkatannya masih rendah, sekali pukul dia pun bisa menghancurkan batu hijau, telapak tangan menekan dinding, bekas telapak tangannya pasti cukup dalam, tidak mungkin seringan ini."

Baru saja Miao Tiang-hong hendak maju mendekat, pelayan itu sudah mendatangi, membawa makanan dan minuman, ujarnya tertawa.

"Miao-toaya, inilah Loan-hoa-pek simpananku sendiri, coba kau rasakan wangi tidak? Inilah ikan lehi segar dari Huang-ho yang paling kau sukai."

Baru sekarang Miao Tiang-hong berpaling, dilihatnya seorang tamu yang lain itu entah kapan sudah tiada di tempatnya. Miao Tiang-hong tertawa, katanya.

"Untunglah keadaan sedang sepi. Siau-ji-ko, sekarang kau rada senggang bukan?"

"Kau orang tua ada pesan apa?"

"Ayolah duduk temani aku makan minum."

Tanpa banyak rewel ia tarik orang duduk di depannya.

Ternyata pelayan ini seorang periang, ia pun tidak sungkan-sungkan lagi.

Setelah minum dua cangkir, mulailah Miao Tiang-hong bicara secara langsung.

"Kabarnya beberapa waktu yang lalu, di tempat ini ada tamu-tamu yang berkelahi, apa benar?"

"Siapa bilang tidak benar, lihatlah di atas dinding masih ada bekas-bekas perkelahian itu!"

"Aku ingin tahu kejadian hari itu, sudikah kau menceritakan kepadaku?"

"Terhadap orang lain aku tidek berani bicara, kepada Miao-toaya yang pernah menolong kami sekeluarga, akan kujelaskan. Peristiwa itu terjadi tanggal delapan belas bulan yang lalu, ada seorang tamu muda berkelahi dengan orang-orang Ngo-liong-pang di sini."

"Karena soal apa mereka sampai berkelahi?"

"Waktu itu tamu penuh sesak, semula aku sendiri tidak memperhatikan. Belakangan kulihat Hupangcu Ngo-liong-pang menghampiri si pemuda itu, waktu itu pemuda itu sedang duduk bercakap-cakap dengan seorang tamu lain, apa yang dikatakan aku sih tidak memperhatikan. Begitu tiba di samping, Hu-pangcu Ngo-liong-pang itu mendadak berseru dengan suara keras. 'Kau hendak tahu kejadian dalam pertemuan besar di Thay-san? Mari kau ikut aku, biar kututurkan kepada kau.' Sembari bicara tangannya diulur menangkap si pemuda. Begitulah mereka lantas berkelahi."

"Menurut apa yang kau lihat, sikap bicaranya itu mengandung maksud baik atau jahat?"

"Agaknya bermaksud tidak baik. Karena matanya mendelik mukanya menyeringai dingin!"

"Bagaimana paras si pemuda itu, coba kau gambarkan rada terperinci."

Setelah mendengar gambaran yang dilukiskan si pelayan, diam-diam Miao Tiang-hong berpikir.

"Kalau begitu, memang benar mirip Cau Ho-lian. Mungkin dia mencari tahu kejadian di Thay-san, maka menimbulkan perhatian pihak Ngo-liong-pang. Biasanya Yu-pangcu cukup teliti dan hati-hati, masakah dia berani mencari gara-gara kepada orang-orang ternama yang hadir dalam pertemuan besar di Thay-san itu. Kenapa pula dia berani menawan Cau Ho-lian? Memangnya anak buahnya berani bertindak sewenang-wenang tanpa mendapat perintahnya?"

"Siau-ji-ko,"

Kata Miao Tiang-hong lebih lanjut.

"siapakah lelaki yang berkelahi dengan si pemuda itu? Coba kau katakan sekali lagi."

"Dia adalah Thio-hupangcu dari Ngo-liong-pang."

"O, wakil pangcu she Thio? Bukan Lu Tay-coan sendiri?"

"Yu-pangcu pun hadir, tapi waktu mereka berkelahi, dia berpeluk tangan tidak bersuara dan tidak ikut turun tangan."

"Aneh benar, wakilnya berkelahi dengan orang, kalau dia tidak mencegah tentunya ikut membantu, kenapa berpeluk tangan saja?"

"Miao Tayhiap, kau harus tahu, kekuasaan tertinggi Ngo-liong-pang sekarang berada di tangan wakil pangcu she Thio itu. Hal ini sering kudengar dari percakapan orang-orang Ngo-liong-pang yang suka makan minum di rumah makan kami ini."

"Orang macam apakah laki-laki she Thio itu?"

"Kabarnya dia datang dari luar daerah, orang-orang lama Ngo-liong-pang tiada seorang pun yang tahu asal-usulnya. Sudah tentu hanya Yu-pangcu sendiri yang tahu, kalau tidak masakah dia mau angkat orang sebagai wakilnya."

"Berapa lama sudah dia bercokol di Ngo-liong-pang?"

"Musim semi tahun yang lalu dia datang, membawa sepuluhan anak buahnya. Tiga hari kemudian Yu-pangcu lantas mengangkat dia sebagai Hu-pangcu. Semua anggota baru ini tutup mulut serapat tutup botol, tidak mau menjelaskan asal-usul mereka. Para pengikut Yu-pangcu yang terpercaya pun hanya tahu bahwa mereka dari golongan kecil yang tidak temama di kalangan kangouw, bahwa mereka rela menghambakan diri ke dalam Ngo-liong-pang hanyalah mencari tempat berteduh belaka. Orang-orang Ngo-liong-pang lama sama curiga bila mereka adalah kawanan brandal dari golongan hitam, tapi waktu mereka mohon keterangan dari Yupangcu, Yu-pangcu tidak mau menerangkan. Para saudara Ngo-liong-pang yang sering makan minum di Gi-ciau-lau bila membicarakan hu-pangcu mereka ini semua sama merasa penassaran. Tapi Yu-pangcu sudah menyerahkan kekuasaan kepadanya, meski mereka penasaran apa pula yang dapat mereka lakukan."

"Apakah keparat she Thio itu berkepala botak plontos?"

"Gundul plontos sih tidak, namun rambut kepalanya pendek dan keriting, seperti hwesio yang baru saja memelihara rambut. Miao-toaya, apa kau kenal orang itu?"

"Bukan kenal, tapi aku sudah mendapat sumber untuk menyelidiki asal-usulnya."

"Apa benar dia hwesio yang mencopot jubah menjadi preman? Tapi tahun lalu dia sudah datang, dalam jangka satu tahun lamanya, rambutnya itu seharusnya sudah panjang. Hari itu kulihat jelas padanya, rambutnya seperti baru saja dicukur, tapi tidak kelihatan bekas cukuran."

"Pengamatanmu cukup teliti juga. Sekarang hampir dikata aku sudah dapat meraba asalusulnya. Tapi, apa gunanya aku tahu asal-usulnya, silakan kau ceritakan pula kejadian perkelahian hari itu."

Ternyata dalam agama Budha di Tibet, hanya aliran Mi-ciong saja yang mengijinkan menerima murid bangsa Han menjadi Lama, mereka mempunyai semacam obat khusus, setiap murid yang cukur rambut, setelah kulit kepalanya dipoles dengan obat itu, selamanya rambutnya tidak akan bisa tumbuh panjang.

Pelayan itu sadar, katanya.

"Omongan Miao-toaya benar, rahasia pang mereka bila diketahui orang luar, malah membawa petaka bagi orang itu."

Maka dia meneruskan ceritanya.

"Pemuda itu menghadapi rang-sakan orang she Thio itu dengan sengit, sudah tentu para tamu sama lari menyingkir, demikian pula para pembantu, kami semua menyembunyikan diri. Waktu itu aku sedang membawa nampan, dalam keributan itu tidak sempat lari ke belakang, terpaksa sembunyi di belakang meja kasir, dengan memberanikan diri aku mengintip dari bawah. Namun aku tidak berani melihat secara jelas."

"Orang yang duduk semeja dengan pemuda itu apa melarikan diri?"

"Aku tidak memperhatikan, di anak tangga kelihatannya ada beberapa tamu yang bernyali besar tidak lari menyingkir, mereka sama melihat keramaian. Entah apakah orang itu ada di antara mereka."

"Akhirnya cara bagaimana pemuda itu sampai tertawan?"

Tanya Miao Tiang-hong.

"Mereka berkelahi dengan sengit, si pemuda agaknya bukan tandingan orang she Thio, tak lama kemudian dia sudah terdesak mundur ke dinding. Hari itu kebetulan tuan besar kita pun berada di sini, semula dia sembunyi di pojokan, saking takut badan gemetar, namun melihat gambar-gambar antik pusakanya hampir dirusak oleh orang, tak terasa dia menjerit kaget sambil melompat berdiri. Tepat pada saat itulah terjadi suatu keanehan."

"Jangan terlalu tegang, ceritakan pelan-pelan. Terjadi keanehan apa?"

Pelayan menenggak secangkir arak, lalu menyambung.

"Tepat pada saat itu, tiba-tiba terdengar suara "Prang", sebuah poci arak tiba-tiba melayang naik dari bawah loteng, mengenai keparat she Thio itu, arak panas di dalamnya seketika muncrat membasahi badan dan muka kedua pihak. Sekonyong-konyong terdengar seorang membentak. 'Kalian berkelahi boleh saling hantam dan gasak sesukamu, tapi jangan kalian merusak setiap benda milik rumah makan ini.' Agaknya pemuda itu melengak, cepat sekali ia melompat menyingkir. Keparat she Thio itu sebetulnya sedang ayun tangannya memukul, maka pukulannya luput mengenai dinding! Dia sendiri pun hampir saja tersungkur jatuh!"

Sebagai seorang ahli dalam bidang silat, mendengar sampai di sini, Miao Tiang-hong sudah paham sebagian besar.

"Ternyata bukan lantaran ilmu keparat she Thio yang masih cetek, sekonyong-konyong dia diserang dengan poci arak, walau tidak terluka, dia toh terkejut juga, sudah tentu kekuatan Toa-jiu-in yang ampuh itu tidak dapat dia mainkan sepenuhnya. Naganaganya orang petempar poci arak itu memang sengaja hendak bantu Cau Ho-lian."

Maka segera ia bertanya.

"Akhirnya bagaimana? Apa orang yang melempar poci arak muncul?"

"Tidak, pemuda itu melengak sebentar, terus melompat mundur beberapa langkah, teriaknya. 'Toako itu memang tidak salah omong, mau berkelahi mari kulayani kau di luar.' Tapi keparat she Thio itu malah berjingkrak gusar karena pukulannya mengenai dinding, begitu putar badan, dengan sengit ia menubruk pula ke arah si pemuda."

"Orang yang lempar poci itu tetap tidak keluar?"

"Ya tidak, malah Yu-pangcu sendiri yang akhirnya maju melerai. Dia memburu maju terus menarik keparat she Thio itu, sebelah tangan yang lain mendorong si pemuda, katanya. 'Thiohiante, pandanglah mukaku, selesailah sampai di sini.' -Keparat she Thio itu berkaokkaok. 'Aku kan demi Ngo-liong-pang kita mengundangnya pulang.' Yu-pangcu berkata. 'Baiklah, kalau kau undang dia pulang dengan sopan santun, aku tidak peduli, tapi jangan kau lukai dia.' Begitulah, pemuda itu lantas digiring oleh mereka. Keparat she Thio itu hendak turun ke bawah mencari orang pelempar poci tadi, untung dibujuk pula oleh Yu-pangcu. Sebenarnya orang-orang yang melihat keramaian di bawah loteng, sudah bubar dan tak kelihatan pula bayangannya. Tatkala itulah terdengar langkah kaki menaiki anak tangga, pelayan berkata.

"Nah, itu tamu datang, biar nanti dilanjutkan lagi."

Miao Tiang-hong maklum apa yang ingin diketahui sudah cukup lumayan, maka dia tidak menahan orang lebih lanjut, katanya.

"Pergilah kau layani tamu lain, aku pun hendak berangkat!"

Tampak dua laki-laki satu gemuk satu kurus naik ke atas loteng, baru saja Miao Tiang-hong hendak berdiri membayar rekening di kas, kebetulan ia bertemu di atas anak tangga dengan kedua orang ini, sekilas ia mclenggong.

Ternyata laki-laki yang kurus ini bukan lain adalah tamu yang duduk di meja samping tadi, si gemuk baru sekarang dilihatnya Begitu melihat Miao Tiang-hong masih ada, kelihatan laki-laki kurus itu merasa lega lalu ia memberi kedipan mata kepada si gemuk.

Semua ini tidak lepas dari pengamatan Miao Tiang-hong, batinnya.

"Tak heran dia tadi pergi tergesa-gesa, ternyata pulang memanggil orang. Agaknya mereka kemari hendak mencari diriku."

Benar juga dilihatnya si gemuk langsung mendekati Miao Tiang-hong, pertama-tama ia menjura hormat selayaknya, lalu berkata.

"Tuan ini tentunya Miao Tayhiap bukan?"

"Sebutan tayhiap aku tidak berani terima, aku yang rendah memang Miao Tiang-hong, saudara adalah..."

"Kami dari Ngo-liong-pang, sudah lama pangcu kami amat kagum dan ingin berkenalan dengan Miao Tayhiap, mendapat kabar kau orang tua tiba di Bo-seng, sengaja suruh kami kemari mengantar kartu nama, diharap kau orang tua sudi mampir sebentar."

Sembari bicara ia angsurkan sebuah kartu nama.

Waktu Miao Tiang-hong keluarkan dari sampulnya, dilihatnya dua nama orang berjajar dalam satu kartu nama.

Baru sekarang Miao Tiang-hong tahu Hu-pangcu itu bernama Thio Hong-tat.

Si pelayan berdiri di samping, diam-diam jantungnya berdebar keras, namun segera ia memberanikan diri maju menyapa.

"Waktu masih agak pagi, tuan-tuan silakan duduk minum arak!"-Ia pikir Miao Tiang-hong seorang cerdik, setelah mendengar kata-katanya, tentu orang tahu akan maksudnya supaya dirinya berhati-hati dan berpikir lebih dulu sebelum berkepu-tusan. Si gemuk itu segera mendelik-kan mata, bentaknya.

"Siapa suruh kau cerewet! Miao tayhiap, kau hendak minum arak, dalam Ngo-liong-pang kami juga banyak arak-arak bagus!"

Kata Miao Tiang-hong.

"Selamanya kau mengikuti Yu-pangcu atau Thio-hupangcu?"

Agaknya si gemuk tidak mengira akan pertanyaan Miao Tiang-hong, sebentar ia melenggong, lalu menjawab sambil tertawa.

"Kami adalah anak buah Ngo-liong-pang lama yang sudah beberapa tahun ikut Yu-pangcu."

"Kalau begitu kuharap kalian bicara terus terang, sebetulnya Yu-pangcu atau Thio-hupangcu yang hendak bertemu dengan aku?"

Laki-laki kurus itu yang menjawab.

"Kartu nama ini adalah Yu-pangcu yang suruh mengantar kemari, kebetulan Thio-hupangcu pun tahu, katanya beliau pun sudah lama mendengar ketenaran nama Miao Tayhiap, maka Yu-pangcu segera menambah nama beliau di atas kartu namanya."

Si gemuk menyambung.

"Kedua pangcu setulus hati mengharap kedatangan Miao Tayhiap, harap Miao Tayhiap suka memberi muka!"

"Kelihatan kedua pangcu kalian amat simpatik terhadap sesama kaum persilatan, baiklah, aku orang she Miao tidak sungkan-sungkan lagi menerima undangan ini. Mari sekarang berangkat!"

Kedua laki-laki gemuk dan kurus itu segera jalan di depan menunjuk jalan, setelah keluar dari kota Bo-seng, mereka menempuh jalan kecil, semakin jauh semakin*sepi, cuaca pun semakin gelap.

Walau Miao Tiang-hong belum pernah bertemu muka dengan Yu Tay-coan, namun dia cukup berpengalaman, mengenai sepak terjang Yu Tay-coan di masa lalu diketahuinya dengan jelas.

Maka dengan sengaja ia hendak mencoba kedua orang ini, begitulah dia ajak mereka mengobrol ke utara dan selatan.

"Aku sendiri pun sudah lama mengagumi nama besar Yu-pangcu kalian, dulu dengan sepasang Go-bi-hun-cut seorang diri ia menundukkan Huang-ho-ngo-pa, bila membicarakan peristiwa besar itu, tiada kaum persilatan di kangouw yang tidak mengacungkan jempol serta memujinya! Sayang aku hanya mendengar cerita orang lain dan tidak menyaksikan sendiri. Kalian berdua sudah lama menjadi pembantu Yu-pangcu, tentunya kalian hadir waktu peristiwa itu terjadi? Bolehkah kalian menceritakan kepadaku supaya tambah pengalaman?"

"Benar, Yu-pangcu menundukkan Huang-ho-ngo-pa, hal ini merupakan kebanggaan bagi para saudara kita. Tapi sayang sekali, waktu itu pangcu suruh kami jaga rumah, jadi kami sendiri pun tidak bisa menceritakan jalannya kejadian!"

Miao Tiang-hong amat geli, katanya dalam hati.

"Ternyata mereka gampang ditipu, sekali bicara lantas memperlihatkan belang."

Kiranya setelah seorang diri Yu Tay-coan berhasil menundukkan Huang-ho-ngo-pa barulah dia mendirikan Ngo-liong-pang.

Sebelum ini Yu Tay-coan tidak lebih hanyalah tokoh silat kelas dua yang baru saja angkat nama, dari mana dia memperoleh sebutan pangcu segala.

Tapi Miao Tiang-hong tetap memperlihatkan sikap wajar, katanya pula tertawa.

"Kalau begitu lima tahun yang lalu waktu Yu-pangcu bertanding satu lawan satu dengan Ko-pangcu dari Cengbok-pang di Jian-hud-san di selatan Ki-lam, tentunya kalian hadir bukan? Bagaimana kesudahan pertandingan itu, siapa menang dan siapa kalah, kukira hanya orang-orang yang hadir saja yang mengetahui. Ataukah pangcu kalian sebelumnya sudah berjanji dengan pihak lawan untuk merahasiakan peristiwa itu? Kawan-kawan kangouw semua sama mereka-reka, semua orang amat prihatin akan kejadian itu. Tapi menurut pendapatku, pastilah Yu-pangcu kalian yang menang bukan? Karena sejak peristiwa itu Ceng-bok-pang terima tunduk dan mengaku asor. Entah benar tidak dugaanku? Hah, mungkin pertanyaanku ini membuat kalian serba salah. Kalau kalian merasa tidak leluasa menjelaskan, lebih baik tidak usah dikatakan saja."

Kedua orang ini berpikir, kalau toh peristiwa itu dirahasiakan terhadap orang luar, apa halangannya kalau mereka membual seenak sendiri, maka laki-laki kurus itu buka mulut lebih dulu.

"Miao Tayhiap adalah tamu agung pangcu kami, terhadap orang lain kami tidak berani banyak bicara, terhadap Miao Tayhiap kami tidak berani menutupi rahasia ini. Memang tidak salah dugaanmu, pertandingan itu memang dimenangkan oleh pangcu kami. Tapi beliau toh harus peras keringat dan kehabisan tenaga, sejak matahari terbit sampai sang surya hampir tenggelam, barulah beruntung pangcu kita menang satu jurus."

Miao Tiang-hong bergelak tertawa, pujinya.

"Ilmu Toa-jiu-in Yu-pangcu begitu lihay, sungguh mengagumkan!"

Kiranya dalam kalangan kangouw, hakikatnya tidak pernah ada sindikat yang bernama Ceng-bok-pang, pertandingan di Jian-hud-san segala tidak lain hanyalah bualan Miao Tiang-hong sendiri.

Dan lagi bahwasanya Yu Tay-coan tidak mahir pukulan Tay-jiu-in.

Sunguh menggelikan kedua orang ini tidak tahu bila dirinya ditipu orang, malah berani membual seenak sendiri.

Sampai di sini Miao Tiang-hong lebih yakin pula bahwa kedua orang ini terang adalah utusan Thio Hong-tat yang meminjam nama Yu Tay-coan hendak menipu Miao Tiang-hong ke Ngo-liongpang.

Jelas orang tidak mengandung maksud baik, tapi tujuan Miao Tiang-hong mampir ke Boseng memang hendak mencari tahu diri Cau Ho-lian di Ngo-liong-pang, kebetulan malah dia bisa bekerja menurut gelagat.

Cuaca sudah gelap, jalan kecil itu berputar lewat bawah gunung, sambil jalan Miao Tiang-hong pasang kuping, lapat-lapat seperti didengarnya suara keresekan di dalam hutan, kedua orang menyangka dahan-dahan pohon yang bergerak terhembus angin, mereka tidak ambil perhatian, lain dengan Miao Tiang-hong yang sudah berpengalaman, ia tahu bahwa ada seseorang sembunyi di dalam hutan.

Tak terasa ia menjadi heran, batinnya.

"Memangnya mereka sudah tidak sabar menunggu, sebelum aku tiba di Ngo-liong-pang, mereka hendak turun tangan di sini."

Tengah ia berpikir-pikir itulah, tiba-tiba sesosok bayangan menerobos dari dalam hutan, teriaknya.

"Miao Tayhiap, sekali-kali jangan kau kena tipu mereka!"

Semula Miao Tiang-hong kira ada orang hendak membokong dirinya, tak tahunya orang malah memberi peringatan kepada dirinya, hal ini benar-benar di luar dugaannya.

Kejadian berlangsung amat cepat, kedua orang yang mengiringi Miao Tiang-hong itu serempak turun tangan, si gemuk sambitkan sebatang panah tangan, si kurus menimpukkan pisau terbang.

Dengan kehadiran seorang tokoh lihay seperti Miao Tiang-hong, mana bisa dia biarkan orang berhasil mencelakai jiwa orang?

Terdengar "Trang tring", Miao Tiang-hong hanya menyambitkan dua mata uangnya membentur dua batang pisau terbang, sehingga kedua pisau terbang ini berputar arah dan langsung membentur pisau terbang yang lain dan panah tangan itu.

Sebetulnya Miao Tiang-hong bukan seorang ahli senjata rahasia, namun ilmu yang dia gunakan yaitu benturan bersambung, pertunjukan ilmu senjata rahasia yang lihay ini, inkup membuat kedua orang itu ketakutan serasa arwah melayang keluar dari badan sendiri.

Betapapun si gemuk lebih berani, teriaknya.

"Miao tayhiap, jangan kau percaya obrolannya."

Lalu ia pun mengancam orang yang menerobos keluar dari hutan itu.

"Han-losu, kau berkhianat terhadap Pang kita, memangnya kau sudah bosan hidup? Jangan kau lupa, jiwamu berada di genggaman Thio-hu-pangcu."

Han-losu itu malah nekad, teriaknya.

"Meski jiwaku harus berkorban, aku bertekad hendak membongkar muslihat kalian, Miao Tayhiap, mereka hendak menipu kau, Thio Hong-tat sudah membuat perangkap di markas pusat Ngo-liong-pang hendak mencelakai kau!"

Hal itu sudah dalam dugaan Miao Tiang-hong, setelah Han-losu membongkar tipu muslihat mereka, terpaksa dia bertindak lebih dulu membereskan mereka, seorang satu tangan ia jinjing mereka, katanya.

"Tidak perlu aku sendiri membunuh kalian, kalian harus rasakan siksaanku dulu."

Ia totok hiat-to mereka lalu ia lemparkan mereka ke dalam rawa di dalam hutan, biar mereka terendam di dalam air berlumpur yang kotor dan bau. Tanya Miao Tiang-hong sesaat kemudian kepada Han-losu.

"Apa Yu-pangcu yang suruh kau kemari?"

"Ya, walau kejadian ini dia mengelabui pangcu kami, namun pangcu toh tahu juga."

"Kalian sudah tahu, kenapa membiarkan dia berbuat sewenang-wenang?"

"Ya, memang pangcu tidak bisa berbuat apa-apa."

"Memangnya semua anak buah Ngo-liong-pang sudah rela setia kepadanya?"

"Orang lama kecuali beberapa orang yang kena dipeletnya, sebagian besar sama penasaran terhadap tindak tanduknya, namun kami hanya berani marah dalam hati tanpa berani banyak bicara."

"Kenapa?"

"Setelah dia menjadi Hu-pangcu, beruntun ia mengundang dan menerima banyak teman-teman lamanya, kini semua kedudukan penting dalam Pang kami sudah dijabat oleh orang-orang mereka."

"Pangcu kalian toh seorang gagah, seorang ksatria, masakah begitu gampang rela dipermainkan olehnya?"

"Ya, memang pangcu menyesal akan keputusannya semula."

"Aku sendiri belum paham akan hal itu, semula cara bagaimana pangcu kalian mau memberikan jabatan penting kepadanya? Apakah dia memang sahabat baik pangcu kalian ataukah tokoh tersembunyi yang punya asal-usul luar biasa?"

"Bagaimana asal-usulnya aku tidak tahu,"

Demikian jawab Han-losu.

"tapi aku tahu semula Yupangcu sendiri tidak kenal padanya."

"Itulah aneh!"

"Secara diam-diam aku pernah tanya kepada pangcu, pangcu hanya menghela napas. Suatu ketika barulah dia membocorkan rahasia ini kepadaku, katanya ia bertindak demikian karena demi kehidupan dan keutamaan Ngo-liong-pang kita, terpaksa dia harus menggunakan tenaganya. Waktu kude-sak sebab musababnya, pangcu tidak mau menjelaskan."

"Peduli siapa dia dan latar belakang yang ada di punggungnya, dia berbuat begitu sewenangwenang, perbuatannya itu akan meruntuhkan Ngo-liong-pang kalian saja."

"Ucapan Miao Tayhiap memang benar. Pangcu pun paham akan hal ini, ai, tapi kesalahan memang sejak mula terjadi, pangcu sekarang menyesal pun terlambat."

"Berapa anak buahnya?"

"Waktu datang dia bawa belasan orang, kini kira-kira sudah ada empat lima puluh orang."

"Orang-orang Ngo-liong-pang kalian semua ada berapa orang?"

"Pang kami hanyalah sindikat kecil, kira-kira hanya lima enam ratus anggota."

"Menurut apa yang kau katakan tadi, orang-orang Ngo-liong-pang lama sedikitnya ada sembilan puluh prosen yang masih setia terhadap Yu-pangcu?"

Han-losu mengiakan "Bagus, katakan saja ada lima ratus orang yang setia kepada Yu-pangcu, bukankah perbandingannya satu lawan sepuluh, kenapa harus takut terhadap mereka?"

Han-losu rada ragu-ragu, katanya.

"Miao Tayhiap, kalau kau suka menerima sebuah permintaanku, baru aku berani menjelaskan sebab musababnya."

"Baik, apa yang hendak kau minta, katakan saja."

"Ketahuilah jiwa dari lima ratus anggota Ngo-liong-pang kami semua tergenggam di tangan orang she Thio itu, kecuali kau punya pegangan untuk menolong kami, kalau tidak jangan sekalikali kau bocorkan rahasia ini."

"Legakan saja hatimu, kalau aku tidak berdaya tentu aku rahasiakan hal ini!"

"Pada tahun baru yang lalu, mereka mengadakan pesta perayaan besar-besaran, seluruh anggota Pang kami harus hadir dalam perjamuan itu. Semula kami sangka sebagai wakil pangcu yang baru, tujuan dari perjamuan itu tidak lebih hanyalah hendak menarik simpati hati kami, maka kami semua dengan senang menghadiri perjamuan besar itu."

"Tak nyana beberapa hari kemudian secara beruntun banyak para saudara kami satu per satu terserang suatu penyakit aneh, panas dingin kumat bersama, tulang-tulang terasa linu dan sakit seperti hampir luluh, derita macam itu, sungguh sulit dilukiskan dengan kata-kata. Tapi semua komplotannya tiada satu pun yang jatuh sakit."

"Bagaimana Yu-pangcu?"

"Lwekang Yu-pangcu cukup tinggi, ia masih kuat bertahan tidak sampai rebah di atas ranjang. Tapi mukanya pucat badan menjadi kurus, untuk jalan saja tiada bertenaga lagi."

"Berani benar dia, sampai Yu-pangcu pun kena dia racuni."

"Memangnya, setelah banyak saudara-saudara kami jatuh sakit, barulah kami tahu telah tertipu olehnya. Tapi tiada tenaga untuk melawan, demi keselamatan jiwa semua saudara terpaksa Yupangcu mohon pengampunan kepadanya."

"Barulah kedok aslinya yang kejam dan sadis itu kelihatan nyata. Secara langsung dia mengakui memang dialah yang menaruh racun, setiap orang yang minum racunnya, seumur hidup tidak akan bisa sembuh, kecuali obat penawar tunggal dari perguruannya, tapi obat penawar itu pun tidak seratus persen menyembuhkan penyakit itu, paling lama hanya bisa bertahan satu tahun. Setahun kemudian, kalau tidak mendapat obat penawarnyj kalau racun kumat, deritanya jasama sekali tidak kena ditundukkan. Pangcu tahu setelah dia disiksa secara kejam, orang pasti akan menggunakan siksaan yang lebih keji lagi. Terpaksa ia tampil dan menghalangi, katanya.

"Serahkan saja pemuda ini kepadaku, biar aku membujuknya."

Mungkin Thio Hong-tat memandang muka pangcu kami, memang dia pun mengharap pangcu berhasil membujuki pemuda itu untuk takluk dan suka bekerja sama, maka akhirnya dia setuju."

"Apa yang dikatakan pangcu kalian kepada si pemuda?"

"Pangcu membawanya ke dalam kamar rahasia siapapun dilarang masuk, Thio Hong-tat sudah berjanji di saat pangcu membujuk si pemuda, ia tidak akan ikut campur. Maka dalam kamar itu hanya pangcu dan pemuda itu berdua. Akhirnya hanya pangcu seorang yang keluar, pemuda itu terkunci di dalam kamar rahasia itu. Apa yang pernah mereka bicarakan aku tidak tahu, tapi malam itu Thio Hong-tat mencari pangcu mengajaknya adu mulut, kebetulan kudengar pertengkaran mereka di kamar sebelah."

"Untuk urusan apa mereka sampai bertengkar?"

"Pertama Thio Hong-tat tanya bagaimana hasil bujukannya, mendengar pemuda itu masih berkukuh tidak mau tunduk, seketika ia naik pitam, segera ia minta pangcu menyerahkan pemuda itu kepadanya."

"Tentu pangcu kalian tidak mau menyerahkan bukan?"

"Pangcu bertanya kepadanya. 'Tahukah kau siapa ayah pemuda itu?' dia menjawab. 'Aku tahu. Justru karena aku tahu siapa ayahnya, maka hendak kutundukkan dia untuk bekerja demi kepentingan Pang kita.'"

"Kata pangcu. 'Aku tahu maksudmu, kau hendak mencari simpati kaum pendekar dan berhubungan dengan mereka dengan pemuda itu sebagai umpan.' Thio Hong-tat hanya mendengus, katanya dingin. 'Aku punya caraku sendiri, memangnya dia tidak akan mendengar kata-kataku?'"

"Mendengar ucapannya ini, seketika pangcu naik darah, serunya sambil memukul meja. 'Aku tahu caramu itu, kularang kau menggunakan arak beracun untuk mencelakai dia!'"

"Agaknya Thio Hong-tat me-lengak, sesaat lamanya baru kudengar dia menjengek dingin. 'Yupangcu, kenapa kau marah-marah, jangan lupa kau..."

"Pangcu menukas. 'Memang aku pernah minum arak beracunmu, aku tidak lupa. Tapi pemuda itu lain dari aku, asal dia sendiri tidak takut mati sudah lebih dari cukup, tidak perlu menguatirkan hal-hal lainnya, bila caramu terakhir itu kau gunakan, dia mati di tanganmu, coba kau pikirkan apa akibatnya nanti? Kim Tiok-liu, Le Lam-sing para pendekar besar lainnya yang kenamaan itu, adalah sahabat ayahnya, kalau kejadian ini diusut, bukan saja kau tidak akan bisa lari dari pertangggung jawaban, Ngo-liong-pang bakal hancur di tanganmu pula, kalau kau hendak menggunakan kekerasan, biar kau bunuh aku dulu!"' "Melihat pangcu berkukuh dan berani berontak, terpaksa dia menerima permintaan pangcu, memberi kesempatan pangcu membujuk pemuda itu, tapi dia membatasi tiga hari saja. Kalau pemuda itu tetap tidak mau tunduk, maka dia akan menggunakan caranya yang keji. Tak lupa dia akan tambah dua orang pembantunya untuk ikut menjaga."

"Tak nyana, hanya satu hari berselang, hari kedua pemuda she Cau itu tahu-tahu sudah terbang lenyap tak keruan paran."

"Bagaimana dengan orang-orang yang menjaganya itu?"

"Empat orang penjaga, dua adalah orang kepercayaan Yu-pangcu, dua yang lain adalah orangorang Thio Hong-tat, semua tertotok hiat-tonya. Tapi kedua orang Thio Hong-tat itu terluka lebih parah, sampai sekarang, mereka masih rebah di atas ranjang."

"Memangnya Thio Hong-tat keparat itu tidak akan curiga kepada pangcu kalian?"

"Ya, memang dia pernah curiga. Untungnya pangcu kami bukan seorang ahli dalam bidang ilmu totok, hal ini dia tahu jelas. Bicara tentang ilmu totok, dia memang jauh lebih hebat dari pangcu kami."

"Jadi totokan hiat-to atas keempat orang itu bukan totokan biasa?"

"Thio Hong-tat mengira dia paham cara pembebasan totokan hiat-to dari berbagai aliran, tak nyana coba sana coba sini, bukan saja totokan tidak berhasil dia bebaskan, malah kedua orangnya itu jadi cacat seumur hidup. Akhirnya setelah dua belas jam barulah hiat-to keempat orang itu bebas sendirinya."

"Kenapa orang-orang kepercayaannya menjadi cacat, orang-orang kalian sebaliknya?"

"Mungkin karena terlalu keras dia gunakan tenaga waktu membebaskan totokan jalan darah anak buahnya? Tapi karena kejadian itu, ia tidak mencurigai pangcu kami lagi. Namun demikian, karena persoalan ini, ia pun bertengkar pula dengan pangcu."

"Pemuda she Cau itu ditolong orang dalam beberapa hari ini, apakah Thio Hong-tat tidak enak makan tidak bisa tidur?"

"Lahirnya tidak kelihatan, entah batinnya. Oh, kuingat beberapa patah kata-katanya yang mencurigakan..."

"Apa yang dia katakan?"

"Setelah bertengkar dengan pangcu, sebelum pergi dia pernah berkata.

"Bocah itu lolos aku pun tidak takut, memangnya dia bisa lolos dari genggamanku. Hm, ayahnya toh pasti membungkuk-bung-kuk kepadaku minta belas kasihan, mana berani mencari perhitungan kepadaku. Kau orang she Yu bila tidak percaya, tunggu saja buktinya."

Agaknya dia amat yakin akan kata-katanya ini."

Miao Tiang-hong kaget, katanya.

"Bukan mustahil dia sudah memberikan racunnya?"

"Makan minum si pemuda adalah orang-orang kami yang menyiapkan, namun cara keparat itu menggunakan racun memang lihay, bukan mustahil dia sudah menaruh racun dalam makanan di luar tahu kami."

"Apa benar keponakanku itu sudah keracunan, yang terang soal ini harus kuselesaikan. Tapi aku hanya bisa minta kau menunjukkan jalan, tidak perlu kau bawa aku masuk. Gambarlah sebuah peta mengenai seluk beluk dalam markas Ngo-liong-pang, aku perlu tahu tempat tinggalnya, supaya leluasa mencarinya."

Han-losu menggunakan goloknya mencorat-coret di atas tanah sambil menjelaskan.

"Dia menempati rumah besar ini, tapi untuk menemui tamu dia menggunakan Po-gwat-lau yang dia bangun setelah dia menjabat Hu-pangcu, untuk menemuinya, pasti satu di antara kedua tempat ini."

Miao Tiang-hong mengingat dalam hati, setelah bangunan gedung markas Ngo-liong-pang kelihatan dari jauh, segera ia berpisah dengan Han-losu, seorang diri ia maju terus menyelundup masuk untuk menyelidiki.

Markas Ngo-liong-pang dibangun di lamping gunung, menghadap ke Huangho, rumahnya terbagi dalam beberapa petak dalam posisi yang berlainan satu sama lainnya, puluhan rumah gedung itu terlindung di dalam pagar tembok yang berbentuk bulan sabit.

Miao Tiang-hong merambat turun dari dinding curam di belakang gunung, di sini penjagaan rada longgar, dengan mengembangkan ginkang, dengan mudah ia melewati pagar tembok, tanpa diketahui orang, tahu-tahu dia sudah tiba di pusat markas Ngo-liong-pang.

Kebetulan dua orang penjaga malam sedang ronda mendatangi, Miao Tiang-hong sembunyi di tempat gelap, didengarnya salah seorang sedang menggerutu.

"Tengah malam buta rata masih harus menunggu tamu siapa, celakalah kita yang jaga malam ini. Lo-ho, tahukah kau siapakah yang sedang dia tunggu?"

"Mana aku bisa tahu?"

Sahut temannya.

"Yang terang dia sekarang sedang menemani padri asing itu."

"Ya, padri asing itu datang sudah beberapa hari, agaknya belum pernah menemui pangcu kita."

Temannya itu mendengus, je-ngeknya.

"Kekuasaan sekarang berada di tangannya, apa yang ingin dia lakukan boleh sesukanya. Lo-ho, padri asing itu apa masih tinggal di Po-gwat-lau?"

"Memang sejak datang dia tinggal di Po-gwat-lau tidak pernah keluar, tingkah lakunya serba misterius, entah kenapa dia tidak berani bertemu dengan orang lain."

"Jadi tamu yang dia undang malam ini, juga akan dia temui sendiri dengan padri asing itu?"

"Peduli amat dengan persoalan mereka? Aku harap waktu pergantian segera tiba saja."

"Memangnya kau kira aku tidak merasa sebal?"

Miao Tiang-hong membatin.

"Sesuai dengan dugaanku, Thio Hong-tat memang murid dari aliran Mi-ciong yang kembali preman, Lama besar dari aliran Mi-ciong biasanya tidak boleh sembarang keluar dari daerah Tibet, kenapa padri asing itu datang kemari mencari dia?"

Setelah kedua peronda itu berlalu, Miao Tiang-hong pun sudah tahu letak Po-gwat-lau, maka sambil main sembunyi dan merunduk-runduk ia berjalan merambat maju sampai tiba di bawah Pogwat-lau.

Miao Tiang-hong sembunyi di belakang gunung-gunungan, dari sini ia periksa situasi sekelilingnya, tampak di bawah loteng terjaga delapan orang, setiap dua orang jalan seliweran bolak-balik, sinar terang menembus dari jendela di atas loteng, samar-samar kelihatan dua bayangan orang, satu di antaranya kelihatan berkepala gundul.

Miao Tiang-hong menerawang.

"Tidak sukar aku menotok roboh ke delapan penjaga ini, cuma jejakku akhirnya pasti ketahuan."

Po-gwat-lau dibangun persis di tengah-tengah taman kembang yang memang tumbuh secara alamiah, hanya di berbagai tempat ditambah variasi dan dibangun gunung-gunungan palsu, sekeliling bangunan berloteng adalah pohon-pohon yang tersebar tak teratur.

Mengawasi pohonpohon itu, tiba-tiba Miao Tiang-hong mendapat akal, segera ia menggelintir beberapa butir tanah liat, dengan ringan beruntun ia menyelentik butiran tanah liat itu ke tiga pohon yang berlainan arahnya.

Ia duga di atas pohon pasti ada burung yang bertengger untuk bermalam, benar juga sambitannya mengejutkan beberapa ekor burung dan dua ekor gagak.

Mendengar suara berisik, para penjaga itu segera merubung maju memeriksa.

Mendengar suara burung gagak yang berisik itu, salah seorang penjaga berludah dan mengomel panjang pendek.

"Sebal, sebal, kiranya dua burung gagak, kusangka orang jalan malam menyelundup kemari!"

Di saat mereka merubung ke bawah pohon itulah, Miao Tiang-hong sudah melesat keluar dari tempat persembunyiannya.

Begitu kembangkan ginkang, tanpa diketahui setan, tak dilihat malaikat, tahu-tahu ia sudah memasuki Po-gwat-lau.

Dia mendekam di wuwungan yang melekuk ke tengah, dengan tangan berpegang pada payon ia ulurkan kepala melongok ke jendela belakang, dilihatnya seorang Lama yang mengenakan kasa merah sedang duduk berhadapan dan bicara dengan seorang laki-laki berusia empat puluhan.

Laki-laki pertengahan umur itu tentu bukan lain adalah Hu-pangcu Ngo-liong-pang Thio Hong-tat adanya.

Bahwa Thio Hong-tat berada di Po-gwat-lau sudah dalam dugaan Miao Tiang-hong, namun kehadiran si Lama itu benar-benar di luar sangkanya.

Thio Hong-tat belum pernah dilihatnya, cuma dia sudah meraba beberapa bagian asal-usulnya, justru Lama yang di luar sangkanya ini sudah lama dia kenal, malah dia tahu asal-usulnya.

Kiranya Lama ini bukan lain adalah Po-siang Hoatsu yang menjadi ketua dari Hu-hud-si di Saysan di sebelah barat Pakkhia itu.

"Sebagai ketua Hu-hud-si yang hidup aman dan senang berfoya-foya, untuk apa dia berada di markas Ngo-liong-pang yang serba kekurangan ini?"

Diam-diam Miao Tiang-hong heran dan bertanya-tanya. Kedatangannya amat kebetulan, terdengar Po-siang Hoatsu dan Thio Hong-tat sedang membicarakan dirinya.

"Lote, tamu undanganmu kenapa belum kunjung tiba? Bukan mustahil terjadi sesuatu di luar dugaan?"

Demikian kata Po-siang Hoatsu.

"Mimpi pun Miao Tiang-hong tidak akan menduga kita akan menjebak dia, kartu nama yang kukirim menggunakan nama Yu Tay-coan, meski curiga pastilah dia percaya kepada Yu Tay-coan juga."

"Ya, dicari sampai merusakkan sepatu tidak ketemu, ketemu tanpa mengeluarkan tenaga. Bicara terus terang, aku sendiri pun hendak membuat perhitungan dengan Miao Tiang-hong. Tak nyana di tempatmu ini, aku berkesempatan membalas sakit hati."

"Taysu ada permusuhan apa dengan dia?"

Terpaksa Po-siang Hoat-su menceritakan kejadian tempo dulu, di mana menggunakan Chit-sattin ia tidak berhasil mengurung para rfiusuhnya. Akhirnya ia menambahkan dengan geregeten.

"Setelah kejadian itu Sat-congkoan marah-marah, untunglah Pakkiong Tayjin suka mohonkan ampun di hadapan raja junjungan, kedudukanku di Hu-hud-si hampir saja dicopotnya."

"Kali ini dia akan terperangkap oleh kita, setelah berhasil membekuknya, sakit hatimu pun akan terbalas juga."

"Berkat bantuanmu. Hehe, Thio-lote, jasamu kali ini tidak kecil artinya!"

"Hanya kebetulan saja kebentur di tanganku, aku tidak kira Miao Tiang-hong bisa berada di Boseng. suka masuk ke dalam jaring kita pula."

"Benar, memang hasil di luar dugaan. Tapi yang kumaksudkan bukan melulu persoalan ini, Lote, kau bisa bercokol di dalam Ngo-liong-pang, jasamu ini lebih besar lagi. Dibanding kau berhasil menangkap Miao Tiang-hong, apa sih artinya?"

"Soal Ngo-liong-pang sekecil ini, mana boleh di kata jasa besar segala. Hoatsu, kau terlalu memuji"

"Jangan kau pandang Ngo-liong-pang terlalu kecil dan rendah, meski tidak bisa dibanding Anging-hwe, Lok-hap-pang dan sindikat-sindikat besar itu, tapi di jalanan air, paling-paling hanya lebih asor dari Hay-soa-pang. Tahukah kau, kusuruh kau menyelundup ke Ngo-liong-pang merebut kekuasaan, sebetulnya bukan maksud tujuanku sendiri, semua ini berkat tipu daya yang direncanakan oleh Pakkiong Tayjin."

"Sungguh aku tidak habis mengerti kenapa Pakkiong Tayjin susah-susah menghabiskan banyak waktu dan tenaga, menyuruhku menunaikan tugas ini."

"Masakah tidak gampang dimengerti? Bila orang kita sendiri yang berkuasa di Ngo-liong-pang, jauh lebih leluasa untuk bekerja demi kepentingan kerajaan! Hehe, sekarang ada sebuah tugas besar harus segera kau selesaikan."

"Silakan Hoatsu memberi petunjuk."

"Biar kuberi tahu sebuah kabar, perahu pemerintah yang membawa ransum untuk membantu perbekalan pasukan di Sucoan ternyata telah dirampok habis-habisan oleh pihak Hay-soa-pang di Yangciu."

Miao Tiang-hong yang mencuri dengar di atap genteng menjadi girang.

"Lo Kim-ou dan temanteman lain ternyata berhasil dengan sukses besar."

Thio Hong-tat kaget, katanya.

"Lo Kim-ou dari Hay-soa-pang ternyata bernyali begitu besar!"

"Maka itulah tadi kukatakan Pakkiong Tayjin seolah-olah sudah meramal dengan jitu, menyuruh kau menyelundup ke Ngo-liong-pang menjadi pangcu yang berkuasa penuh."

"Entah Pakkiong Tayjin suruh aku bertindak bagaimana, harap Hoatsu suka menjelaskan."

"Ngo-liong-pang dan Hay-soa-pang adalah dua sindikat terbesar di perairan. Pakkiong Tayjin mengharap supaya kau mengikat hubungan dan mencari muka kepada pihak Hay-soa-pang, kelak kalau ada kesempatan boleh caplok sekalian pihak Hay-soa-pang, kami pasti akan membar'u secara diam-diam. Tapi, ini tugas kelak, kini kau harus berusaha supaya Lo Kim-ou anggap kau sebagai sahabatnya, bahwa dua sindikat terbesar di perairan harus kerja sama adalah persoalan jamak, kukira Lo Kim-ou tidak akan menaruh curiga."

"Menurut apa yang kutahu, Yu Tay-coan dan Lo Kim-ou memang punya persahabatan yang intim. Yu Tay-coan kini berada di genggamanku, dia harus mendengar segala perintahku pula. Aku bisa bekerja menurut adat dan kebiasaan semula, biar dia yang tampil ke depan. Sebagai Hupangcu aku akan mengiringi dia mencari hubungan langsung dengan Lo Kim-ou.

"Begitupun baik juga. Kau harus tahu Hay-soa-pang keluar masuk dalam tujuh propinsi di sepanjang Tiang-kang tanpa meninggalkan jejak-, pihak pemerintah sulit menangkap mereka, kalau mengerahkan pasukan air untuk melindungi kapal ransum biayanya teramat besar, tidak leluasa dan menyolok pandangan pula. Apalagi kalau melalui selat-selat sungai yang sempit, kapal-kapal besar pasukan air pemerintah terang tidak bisa lewat."

"Ah, pahamlah aku, maksud Pakkiong Tayjin supaya aku ikat persahabatan dengan Hay-soapang, sekaligus untuk mencari tahu gerak-gerik mereka."

Po-siang Hoatsu terbahak-bahak.

"Lote, kau memang pintar. Lo Kim-ou sudah berhasil merampok ransum pemerintah, lain kali pasti akan bekerja lagi. Kalau kau sebelumnya sudah tahu gerak-gerik dan tujuan mereka, betapa besar arti bantuanmu kepada pasukan pemerintah. Secara tidak langsung, kau pun memberi bantuan dan manfaat yang berguna kepadaku!"

"Kalau pasukan berhasil menyergap dan menghancurkan Hay-soa-pang, hakikatnya aku tidak perlu lagi berusaha malah berkesempatan mencaploknya pula."

"Itulah, waktu itu Ngo-liong-pang akan menjadi sindikat terbesar di perairan. Be"berapa tahun lagi, bukan mustahil kau bakal menjadi Lioklim Bengcu perairan!"

"Pakkiong Tayjin dan Hoatsu suka membimbingku, entah bagaimana aku harus membalas budi kebaikan kalian ini! Bukankah sang junjungan hendak angkat Hoatsu sebagai Koksu?"

"Koksu aku tidak berani mengharapkan, semoga junjungan sudi memberi bantuan supaya aku bisa memimpin Pu-ta-la-kiong saja. Em, hal ini aku sudah mendapat persetujuan Pakkiong Tayjin, asal tugas di sini selesai, dia akan bantu aku bicara kepada raja."

"Kalau Hoatsu sudah-menjadi pimpinan Pu-ta-la-kiong, jangan lupa kepadaku lho!"

"Memangnya kau masih ingin kembali ke Tibet menjadi hwesio?"

"Hwesio terang aku tidak mau lagi, tapi penasaran hatiku harus kulampjaskan, untuk ini harap Hoatsu suka membantu."

"Itu gampang, akan datang Suatu hari, kalau aku benarbenar jadi pimpinan Pu-ta-la-kiong, pertama-tama aku harus mengadakan perbaikan aliran Mi-ciong, gurumu yang tidak tahu kebaikan itu tidak akan kuangkat menjadi Ciongcu pula."

Seperti dugaan Miao Tiang-hong, Thio Hong-tat memang murid dari aliran Mi-ciong di Tibet dari bangsa Han, undangundang Mi-ciong amat ketat dan murid-muridnya serba disiplin, karena melanggar aturan perguruan, maka dia diusir dari perguruan.

Sebetulnya hukumannya cukup berat, beruntung dia mendapat bantuan Po-siang Hoatsu yang mohon keringanan kepada gurunya maka dia hanya diusir saja dari perguruan.

Waktu itu Po-siang masih merupakan seorang Lama besar dari Pu-ta-lakiong, di hadapan ketuanya boleh bicara demi keagungan nama Budha.

Kedudukan Pu-ta-la-kiong merupakan induk pimpinan tertinggi dari seluruh agama Budha di Tibet, Mi-ciong memang tidak dalam lingkungan kekuasaannya, tapi harus mendengar petunjuk dan perintah juga.

Karena kegirangan membayangkan hasil yang muluk-muluk mereka bergelak tertawa sambil angkat cawan arak menenggak habis.

Mau tidak mau Miao Tiang-hong harus mempertimbangkan.

"Ilmu silat Po-siang Hoat-su kirakira setanding dengan aku, kalau sekali sergap tidak berhasil, mungkin malah akan mengejutkan mereka. Kalau punya seorang pembantu, cukup untuk, menghadapi Thio Hong-tat saja, betapa baiknya."

Tengah Miao Tiang-hong kebingungan sementara Po-siang Hoatsu dan Thio Hong-tat sama kegirangan itulah, seorang anak buah kepercayaan Thio Hong-tat berlari naik ke atas loteng dengan napas ngos-ngosan, serunya.

"Pangcu, celaka!"

"Apa Miao Tiang-hong sudah datang?"

Tukas Po-siang Hoat-su.

"Apa dia membongkar tipu daya kita dan membuat onar di luar?"

"Sejak tadi aku sudah di sini, memangnya kalian yang buta!"

Demikian batin Miao Tiang-hong di atas genteng.

"Bukan, bukan Miao Tiang-hong."

Sahut orang itu.

"Asal-usul orang ini lebih besar dari Miao Tiang-hong."

"Siapa dia sebetulnya, ada Hoatsu di sini takut apa ayo jelaskan!"

"Dialah Thocu dari Ang-ing-hwe, Le Lam-sing adanya!"

Ang-ing-hwe adalah sebuah sindikat daratan terbesar di kangouw, ketenaran Le Lam-sing hanya di bawah Kang Hay-thian dan Kim Tiok-liu.

Meski Po-siang berkepandaian tinggi dan punya ketenangan yang melebihi orang lain, tak urung berubah juga rona wajahnya.

Thio Hong-tat malah gemetar suaranya.

"Untuk apa Le Lam-sing datang kemari?"

Anak buahnya itu menjelaskan pula.

"Dia tidak datang sendirian, masih ada seorang pemuda yang ikut dia!"

"Siapa pemuda itu?"

"Dia bukan lain Cau Hong-lian yang melarikan diri dari sini itu!"

Di luar dugaan Miao Tiang-hong, setelah mendapat laporan keadaan yang tidak menguntungkan pihaknya ini, Thio Hong-tat malah tertawa riang. Katanya setelah puas tertawa.

"Kalau Le Lam-sing seorang diri datang kemari, bicara terus terang, aku rada takut menghadapinya. Kini dia kemari bersama bocah she Cau itu, buat apa aku takut kepadanya?"

Anak buahnya itu tidak tahu ke mana juntrungan kata-katanya, katanya.

"Walau kita tidak perlu takut menghadapinya, tapi kita harus lekas mencari daya upaya untuk menghadapinya. Silakan pangcu memberi petunjuk."

"Di mana Yu Tay-coan? Kukira kalau Le Lam-sing kemari pasti mencarinya lebih dulu, benar tidak?"

"Betul. Yu Tay-coan sedang menemani mereka bicara di ruang besar, aku mencuri dengar di luar. Yu Tay-coan keparat tua itu-tumpahkan semua persoalan ke atas pundak pangcu, sebentar mungkin akan mengajaknya kemari mencari kau. Maka aku cepat-cepat lari kemari memberi laporan. Apakah kita membiarkan dia kemari atau menolaknya di luar."

"Kau setia kepadaku, baik sekali, baik sekali. Tidak usah dirintangi, biar mereka masuk kemari."

Setelah orang itu mengundurkan diri, Po-siang hoatsu tersenyum, katanya.

"Thio-lote, agaknya kau yakin benar akan dirimu? Memangnya kau sudah menaruh sesuatu di atas badan bocah she Cau itu?"

"Seperti dugaan Hoatsu, memang aku sudah gunakan Hoa-kut-san pemberian Pakkiong Tayjin, untuk menyiksa pemuda she Cau itu. Yu Tay-coan pun tidak tahu menahu. Kedatangan Le Lamsing bersama pemuda she Cau itu, terang dia hendak minta obat penawarnya kepadaku. Dia memerlukan sesuatu dari aku, kenapa aku harus takut kepadanya."

Tiba-tiba terdengar suara Yu Tay-coan berkumandang dari bawah loteng menghentikan pembicaraan mereka.

"Thio-hengte, Le Tayhiap berkunjung ke Pang kita, harap kau keluar untuk menemuinya!"

Po-siang Hoatsu segera menarik Thio Hong-tat, katanya lirih.

"Berikan obat penawarnya, turunlah kau layani mereka, aku tidak akan unjukkan diri."

Ternyata Po-siang Hoatsu kuatir kalau Le Lam-sing tidak gentar menghadapi tekanan, bila Thio Hong-tat kena diringkus, mungkin Thio Hong-tat takut mati, malah sebaliknya ia kena ditekan pihak lawan, oleh karena itu ia minta Obat penawarnya untuk dipertahankan.

Thio Hong-tat tahu bahwa Po-siang Hoatsu masih kurang mempercayai dirinya, tapi apa boleh buat, terpaksa dia serahkan obat pemu-nahnya.

Dengan sikap sewajarnya tanpa takut-takut, Thio Hong-tat menyongsong kedatangan Le Lamsing, sapanya menjura.

"Le Tayhiap berkunjung, maaf orang she Thio terlambat menyambut."

Begitu berhadapan, menyala kedua biji mata Cau Ho-lian, katanya.

"Paman Le, keparat inilah yang mencelakai aku."

Le Lam-sing mendelikkan mata serta bermuka bengis, bentaknya.

"Bagus, kau inikah yang bernama Thio Hong-tat? Kenapa kau menganiaya keponakanku?"

"Le Tayhiap terlalu berat kata, sebetulnya aku bermaksud baik."

"Kau mencelakainya dengan racun, masih berani berkata bermaksud baik?"

Jengek Le Lam-sing dingin.

"Pang kami mengharapkan bantuan Cau-kongcu, sayang Cau-kongcu tidak sudi tinggal dalam Pang kami, terpaksa aku menggunakan caraku itu."

"Kau menggunakan cara serendah itu, masih berani berdebat! Memangnya kau sangka aku tidak bisa berbuat apa-apa atas dirimu?"

"Kalau Cau-kongcu sudi bekerja dalam Pang kami, merupakan keuntungan kedua pihak. Walau Ngo-liong-pang jauh dibanding Ang-ing-hwe pimpinan Le Tayhiap, tapi di perairan merupakan sindikat yang disegani juga, toh tidak akan bikin pamor Cau-kongcu direndahkan!"

"Tidak perlu kau membual di hadapanku, soal ini jelas harus kuselesaikan Bagaimana penyelesaiannya, terserah dari sepatah katamu!"

"Thio-lote,"

Bujuk Yu Tay-coan.

"masing-masing orang punya tujuan hidupnya sendiri-sendiri, Cau-kongcu tidak mau bekerja sama dengan Pang kita, kami tidak bisa memaksanya. Thio-lote, berikan obat pemunahnya. Aku sudah bicara dengan Le Tayhiap, asal kau memberikan obat penawarnya, dia akan ampuni jiwamu!"

Thio Hong-tat bergelak tertawa, ujarnya dengan nada sinis.

"Le Tayhiap, bila kau bunuh aku, keponakanmu ini pun tidak akan hidup lama. Biar kuterangkan, obat penawarnya tidak berada di tanganku, dan lagi seumpama aku menyerahkan obat penawarnya, kau pun tidak tahu cara memakainya. Di samping itu, bila kau bunuh aku, pastilah Yu-pangcu juga tidak akan sepaham dengan kau."

"Yu-pangcu, apa benar omongannya?"

Tanya Le Lam-sing. Yu Tay-coan unjuk muka sedih dan penasaran, tiba-tiba ia kertak gigi, katanya.

"Le Tayhiap, kau tidak usah hiraukan aku, terserah bagaimana kau hendak bertindak!"

Mendengar kata-kata orang mengandung arti, tidak bisa tidak Le Lam-sing harus mencari tahu latar belakangnya.

"Yu Tay-coan, bicaralah terus terang kepadaku, apa kau pun kena ditekan olehnya? Kenapa kau takut kepadanya?"

Yu Tay-coan ragu-ragu tidak berani menjawab, malah Thio Hong-tat terbahak-bahak, serunya.

"Soal ini tidak perlu dirahasiakan pula kepada Le Tayhiap, biar aku yang menjelaskan!"

Baru sekarang Le Lam-sing sadar, tanyanya.

"Yu-pangcu apa kau pun kena dikerjai olehnya?"

"Bukan dia saja, semua anggota Ngo-liong-pang lima ratus lebih anggotanya, semua sudah kukerjai. Kau hanya bisa bunuh aku seorang, namun lima ratus jiwa harus mengiringi kematianku, termasuk putra sahabat baikmu ini."

Dengan tatapan tajam Le Lam-sing awasi muka Yu Tay-coan. Seketika berkobar keberanian Yu Tay-coan, katanya penuh tekad.

"Aku sudah pasrah akan nasib, daripada hidup tertekan diperbudak orang, lebih baik aku adu jiwa dengan kau."

Thio Hong-tat tertawa dingin, jengeknya.

"Memangnya kau sudah tidak sayang kepada anak buahmu?"

"Kalau mereka saudara-saudaraku yang sehaluan, adalah pantas kalau mereka punya pikiran yang sama seperti aku, kita semua tidak bisa dilahirkan pada tahun bulan dan hari yang sama, biarlah mati pada saat yang berbareng, apa pula yang harus ditakuti? Kalau seorang lemas tulang yang takut mati, maka dia bukan saudaraku lagi yang baik, buat apa aku hiraukan mati hidupnya lagi?"

"Bagus sekali!"

Tiba-tiba Le Lam-sing berseru lantang, tiba-tiba sembari bersuit nyaring panjang, badannya tiba-tiba melambung tinggi, secepat kilat Le Lam-sing sudah menubruk ke bawah, sekali raih dan tarik dengan mudah ia meringkus Thio Hong-tat.

"Plak!"

Pukulan Toa-jiu-in Thio Hong-tat telak sekali mengenai dada Le Lam-sing, namun sedikit pun Le Lam-sing tidak merasakan apa-apa, cepat sekali ia sudah menotok beberapa hiat-to di badan Thio Hong-tat, lalu dilempar ke arah Cau Ho-lian, katanya.

"Terserah bagaimana kau hendak membereskan dia, ingin aku lihat masakah dia tidak takut mati!"

"Plak, plok"

Beruntun Cau Ho-lian ayun tangannya menggampar pipi Thio Hong-tat pulang pergi puluhan kali, desisnya penuh kebencian.

"Kau keparat ini akan terima ganjaranmu yang setimpal."

Waktu Yu Tay-coan membawa Le Lam-sing ke Po-gwat-lau, anak buah Thio Hong-tat serempak merubung maju, melihat Le Lam-sing turun tangan, sambil bergerak mereka menerjang bersama.

Tapi sungguh di luar dugaan mereka, hanya dalam satu gebrak saja pemimpinnya tahu-tahu sudah tertawan hidup-hidup oleh Le Lam-sing.

Di saat mereka melenggong itulah, secepat kilat Le Lam-sing berlompatan turun naik, berputar ke kiri lalu berlari ke kanan, tangan memukul jari menotok, seketika orang ramai berjatuhan, dalam sekejap saja, dua puluhan orang sudah kena ditotok olehnya, yang tidak roboh sama berdiri dalam berbagai gaya yang lucu-lucu tak mampu bergerak lagi.

Anak buah Thio Hong-tat tidak lebih dari lima puluh orang, hampir separuh di antaranya kena tertotok oleh Le Lam-sing, sisa yang lain menjadi ketakutan dan lari pontang-panting bubar ke berbagai arah.

Yu Tay-coan segera membentak.

"Tangkap mereka semua!"

Anak buah Ngo-liong-pang yang lama serempak merubung maju, dalam sekejap saja, semua anak buah Thio Hong-tat sudah teringkus, tiada seorang pun yang lolos.

Sekali raih Le Lam-sing jambret dada Thio Hong-tat, bentaknya.

"Serahkan obat penawarnya."

Sedikit jari-jarinya mengerahkan tenaga, dua tulang di dada Thio Hong-tat teremas patah dua batang.

Muka Thio Hong-tat pucat pias, keringat membasahi jidatnya.

Tapi dia tetap membandel, katanya sambil menahan sakit.

"Kau bunuh aku pun tak berguna, obat itu tak berada di tanganku."

Yu Tay-coan bersama Cau Ho-lian turun tangan bersama menggeledah seluruh badannya, memang obat penawar itu tidak ditemukan. Le Lam-sing membentak pula.

"Di mana obat penawarnya? Tidak kau terangkan, memangnya tulang-tulangmu betapa kerasnya?"

Kelima jarinya diperkeras, tenaga dalam ia salurkan melalui ujung-ujung jarinya, tiga hiat-to di dada Thio Hongtat seolah-olah ditusuk oleh jarum yang tak terhitung banyaknya, sakitnya bukan main, lekas ia menjerit.

"Hentikan dulu siksaanmu."

"Lekas katakan!"

Bentak Le Lam-sing sambil mengendorkan cengkeramannya.

"Jauh di ujung langit, dekat di depan mata,"

Demikian kata Thio Hong-tat tersengal-sengal.

"Pakai teka teki segala, bicaralah terus terang!"

Hardik Le Lam-sing pula. Yu Tay-coan mendadak sadar, ujarnya.

"Benar, di atas Po-gwat-lau masih ada seorang. Beberapa hari yang lalu datang seorang padri asing. Apakah obat penawar berada di tangannya?"

Pikir Thio Hong-tat Po-sang Hoatsu tentu sudah ngacir, maka ia manggut-manggut, sahut.

"Benar, beradu di tangannya."

Tepat pada saat itulah terdengar "Bluk"

Yang berkumandang dari atas loteng, seperti ada orang terbanting jatuh. Yu Tay-coan menjadi heran, katanya.

"Berapa orang di atas loteng?"

"Kau kan tahu, hanya Po-siang Hoatsu seorang."

"Tidak mungkin, sedikitnya ada dua orang. Kau sedang main-main apa? Bicaralah terus terang."

Thio Hong-tat sendiri pun keheranan, katanya.

"Betul hanya Po-siang Hoatsu seorang saja! Tanpa seijinku siapa yang bisa naik ke sana."

"Memangnya kenapa ada orang berkelahi di atas loteng?"

"Mana aku tahu?"

"Peduli ada alat-alat rahasia apa, ayo geledah ke atas!"

Ujar Le Lam-sing sambil menggusur Thio Hong-tat. Tiba-tiba didengarnya Yu Tay-coan membentak.

"Siapa itu?"

Disusul suara Cau Ho-lian bersorak kegirangan.

"Kaukah ini? Miao-sioksiok!"

Tampak sesosok bayangan orang bagai burung terbang sedang melompat turun dari atas loteng, siapa lagi kalau bukan Miao Tiang-hong?

Waktu Thio Hong-tat kena teringkus di bawah loteng, sebetulnya Po-siang Hoatsu tidak perlu takut karena obat penawar berada di tangannya, ingin ia melihat sampai di mana kekerasan hati dan kesetiaan Thio Hong-tat.

Namun setelah mendengar kata-kata pengakuan Thio Hong-tat yang tidak langsung tadi, seketika berubah air mukanya, jengeknya dingin.

"Tidak salah dugaanku, keparat itu tidak bisa dipercaya. Untung aku bertindak lebih cerdik merampas obat penawar itu."

Sembari bicara sendiri, ia lampirkan kasa merahnya ke atas pundak lalu memindah sebuah lukisan gambar di dinding dan menekan sebuah tombol, terdengar suara keriat-keriut dari dinding sebelahnya terbuka sebuah pintu rahasia.

Kiranya Po-gwat-lau ini banyak dipasangi alat-alat rahasia, pintu rahasia ini bisa langsung menembus ke luar.

Po-siang Hoatsu unjuk senyum kemenangan, baru saja ia putar badan sambil menunggu berhentinya alat rahasia itu, mendadak dirasakannya angin menyambar dari belakang, terdengar seseorang tertawa dingin.

"Sebelum kau tinggalkan obat penawar itu masakah begitu gampang hendak ngacir?"

Maklum Miao Tiang-hong seorang pendekar kenamaan, oleh karena itu ia segan turun tangan secara membokong.

Hebat memang kepandaian Po-siang Hoatsu, begitu terasa ada kesiur angin yang mencurigakan, tahu bahwa musuh tangguh sedang menyerang, meski kaget tapi tidak gugup, kontan tangannya berbalik terus memukul ke belakang.

"Biang"

Dua tangan kedua pihak saling gempur, Miao Tiang-hong membekal pukulan kombinasi keras dan lemas, ia tarik Po-siang Hoat-su tergeser ke samping, sebat sekali ia sudah maju selangkah menghadang di depan pintu rahasia itu.

"Miao Tiang-hong!"

Kata Po-siang Hoatsu dengan suara kereng.

"biar aku adu jiwa dengan kau."

Kedua lengan digentakkan ia copot kasa merahnya, sekali sendai, laksana segumpal awan senjata istimewanya ini menungkrup ke atas kepala Miao Tiang-hong.

Tatkala itu anak buah Ngo-liong-pang sedang beramai-ramai meringkus anak buah Thio Hongtat, suaranya yang ribut menelan suara perkelahian di atas loteng.

Dua tokoh silat tinggi yang adu kepandaian di atas loteng masing-masing melancarkan serangan kilat berlincahan pergi datang, dalam sepuluh jurus, paling-paling hanya dua jurus saling bentur, maka tidak sampai mengeluarkan suara gaduh.

Miao Tiang-hong kerahkan Thay-ceng-khi-kang, dengan sejurus Ngo-ting-kay-san (Ngo-ting membuka gunung), ia rangsak maju merebut kasa lawan.

Po-siang Hoatsu memelintir lalu menariknya hendak menggulung leher dan kepalanya, maka terdengarlah suara nyaring, celaka adalah kasa itu yang akhirnya robek menjadi dua potong karena buat rebutan dua tokoh kosen yang saling rebutan senjata.

Kejadian berlangsung amat cepat, begitu tipu permainannya berhasil, jurus kedua ketiga sudah memberondong keluar tak putus-putus mendesak musuh dengan sengit, dalam kamar sekecil itu buat adu kepandaian, terang tiada peluang untuk main putar-putar atau berkelit ke tempat yang jauh.

"Cret"

Lagi-lagi jubah Po-siang Hoatsu tergores lubang oleh jari-jarinya, jari Miao Tiang-hong menyentuh sesuatu benda keras, ia tahu itulah botol obat, maka tenaga ia kendorkan ganti menggunakan tenaga lunak terus mencengkram dengan hebat dan lihay.

Berapi-api kedua biji mata Po-siang Hoatsu, sekonyong-konyong ia lontarkan pukulan tangan, pukulan ini adalah ilmu Toa-jiu-in kebanggaannya, dia sudah nekad dan berani terima resiko meski hawa murninya pecah dan bakal sakit keras, namun harus melawan untuk mencari hidup daripada mampus di tangan musuh.

Agaknya Miao Tiang-hong sudah menduga akan hal ini, ringan saja ia menuntunnya ke samping, Thay-ceng-khi-kang ia kerahkan untuk melindungi badan, lalu dengan Su-liang-poat-jiankin, cara menggunakan tenaga lawan untuk menggempur lawan, pukulan Po-siang Hoatsu amat keras, mendadak kena disampuk miring ke samping, kekuatan pukulannya seketika seperti amblas tanpa bekas di lautan teduh, dengan sendirinya ia kehilangan keseimbangan badan, ;'Bluk"

Kontan ia tersungkur jatuh beberapa langkah.

Lwekang kedua pihak terpaut tidak banyak, meski Miao Tiang-hong berhasil punahkan enam tujuh bagian pukulan lawan, tak urung dadanya pun terasa bergetar, di saat ia hendak menubruk maju merampas botol obat itu, mendadak dilihatnya Po-siang Hoatsu mengayunkan tangan.

Yang dia timpukkan bukan senjata rahasia, namun botol obat itu, bukan ke arah Miao Tianghong tapi meluncur ke arah dinding, kalau botol obat itu membentur djnding terang bakal pecah berantakan.

Bukan saja botol pecah, mengandal lwekang Po-siang Hoatsu obat di dalam botol mungkin akan berhamburan tercampur dengan guguran tembok.

Dalam keadaan serba kritis ini Miao Tiang-hong tidak sempat banyak pikir, lekas ia menubruk maju meraih botol obat itu.

Dalam waktu bersamaan, setelah menimpukkan botol obat itu, dengan gerakan Ikan Gabus Meletik, Po-siang Hoatsu berkelebat lari memasuki pintu rahasia itu.

Gerak-gerik Miao Tiang-hong sudah amat cepat dan tangkas, namun setelah ia berhasil menyelamatkan botol obat itu, sementara pintu rahasia itu pun sudah menutup kembali, keadaan sedemikian rapi halus, dari luar tidak kelihatan bahwa dinding yang tidak terlihat sedikit pun lubang ternyata di belakangnya ada pintu rahasia.

Miao Tiang-hong tidak paham cara membuka pintu rahasia, untuk membuka pintu rahasia ini, meski ia bisa mencari akal, namun akan menghabiskan waktu dan menguras tenaga.

Dengan seksama ia periksa botol obat itu, pikirnya.

"Botol obat ini persis dengan apa yang kulihat tadi, pastilah padri asing itu tidak akan memalsukan dengan yang lain untuk menipu aku. Biar aku keluar dulu menemui mereka."

Munculnya Miao Tiang-hong secara mendadak membuat semua orang kaget dan kegirangan, beramai-ramai mereka maju menyapa dan menjura serta mohon maaf pula. Kata Mao Tiang-hong.

"Thio Hong-tat si keparat itu hendak pinjam namamu untuk menipu aku, duduk persoalannya sudah jelas kuketahui, kau pun tidak perlu sungkan kepadaku."

"Paman Miao,"

Kata Cau Ho-lian.

"bagaimana kau bisa berada di sini?"

"Cukup panjang ceritanya, obat penawarnya sudah kubawakan kemari, nih kau telan dulu!"

Yu Tay-coan amat girang.

"Kau berhasil merebut obat pemunah itu? Mana padri asing itu?"

"Di atas loteng dipasang alat-alat rahasia, dia lari dari pintu gelap."

"Lari si padri asing, takkan lari Thio Hong-tat bedebah ini. Baik, sekarang kau mengandal apa, aku akan membuat perhitungan denganmu!"

Ngo-liong-pang sudah amat membenci Thio Hong-tat, kini obat penawar sudah berada di tangan, tak perlu takut menghadapinya, mana mau bertindak pelan-pelan?

Serempak mereka merubung maju hendak menghajar, menguliti dan memotong tulang-tulang kaki tangannya.

Ternyata sikap Thio Hong-tat tidak mengunjuk ketakutan, tiba-tiba ia bergelak tertawa tiga kali.

Miao Tiang-hong sudah keluarkan sebutir obat penawar itu, baru saja ia hendak serahkan kepada Cau Ho-lian supaya ditelannya, mendengar tawanya itu, mendadak ia bercekat katanya.

"Tunggu dulu, jangan hajar dia!"

Ia kembalikan obat itu ke dalam botol, bentaknya.

"Apa yang kau tertawakan?"

"Aku tertawa kau sudah kena tipu, ketahuilah obat itu palsu adanya."

Miao Tiang-hong melengak kaget.

"Palsu?"

Ia menegas.

"Dengan mata kepalaku sendiri aku melihat kau serahkan botol obat ini kepada padri jahat itu, memangnya secepat itu dia bisa mengganti dengan botol obat yang lain."

"Betul, botol itu memang botol semula, tapi obat di dalamnya memang obat palsu, tidak perlu dia ganti segala."

Yu Tay-coan memaki.

"Keparat keji, jadi terhadap orangmu sendiri kau pun menipunya?"

Tidak marah, Thio Hong-tat malah tertawa bangga ujarnya.

"Kalau aku tidak punya cara-caraku sendiri untuk melindung diriku, kalau obat penawar itu terjatuh ke tangan kalian, masakah kalian bisa membiarkan aku hidup?"

Yu Tay-coan ragu-ragu, katanya.

"Jadi demi keselamatan jiwamu sendiri, sengaja kau katakan obat penawar ini palsu. Baik aku berjanji kepada kau asal orang-orang kita mendapat obat penawar yang asli, akan kuampuni jiwamu."

"Miao Tayhiap,"

Ujar Thio Hong-tat menyeringai.

"Kalau kau tidak percaya omonganku, silakan kau berikan obat itu kepada keponakanmu ini, terus terang aku amat kasihan akan jiwa Causiauhiap yang akan mati konyol."

"Bagaimana Miao Tayhiap?"

Tanya Yu Tay-coan.

"Biar kita mencobanya dulu!"

"Benar,"

Seru Yu Tay-coan menepuk paha.

"biar dicoba dulu apakah obat penawar ini tulen atau palsu."

Segera ia suruh anak buahnya menyeret seekor anjing pemburu, obat itu dicampur dalam makanan, lalu diberikan kepada anjing itu, tak lama kemudian anjing pemburu yang buas itu terguling-guling dan akhirnya mati, mulut dan hidungnya mengeluarkan darah, seluruh badan menjadi hitam.

Terang obat itu memang obat racun.

Merinding bulu kuduk Miao Tiang-hong, pikirnya.

"Untung tadi tidak kuberikan kepada Ho-lian."

Maka ia berkata.

"Thio Hong-tat, kau dengar, kau tidak keluarkan obat penawar yang asli, sangkamu kau tidak akan kami bunuh? Demi jiwamu sendiri, janganlah kau main berbelit-belit lagi, serahkan saja obat penawar itu."

"Aku tahu."

Sahut Thio Hong-tat tawar.

"Kalau orang-orang kalian mampus sudah tentu kalian tidak akan mengampuni aku!"

"Baik juga kalau kau tahu, keluarkan obat penawar dan ubahlah jalan hidupmu ke arah yang lurus, kami pasti tidak akan mempersulit dirimu. Kau harus percaya apa yang kukatakan, kami pasti tidak akan menipu kau."

"Miao Tayhiap kau seorang pendekar laki-laki sejati, apa yang kau katakan memangnya aku berani tidak percaya? Sayang obat penawar itu memang tidak berada di tanganku."

"Memangnya di mana?"

"Kalau kalian minta obat yang tulen, marilah ikut aku ke kota raja."

Yu Tay-coan berjingkrak gusar.

"Kau anggap kami bocah cilik gampang kau bujuk?"

"Aku bicara sejujurnya,"

Demikian ujar Thio Hong-tat dengan muka kecut.

"Pakkiong Bong hanya memberi obat racun tidak memberi obat penawarnya. Kecuali aku kembali ke kota raja langsung memintanya, kalau tidak dari mana aku harus mendapat obat penawar itu?"

"Jadi katamu tahun yang akan datang kau hendak memberi obat penawarnya, itu hanya bualan bacotmu saja?"

"Bukan begitu. Tahun yang akan datang bila tiba waktunya, Pakkiong Tayjin akan mengutus orang mengantar obat itu secara rahasia kepadaku."

Le Lam-sing setengah percaya setengah tidak, segera menggertaknya.

"Kalau kau memang tidak bisa keluarkan obat penawarnya, buat apa menahan kau hidup-hidup?"

Tangan terangkat ia sudah siap menepuk batok kepala orang.

"Nanti dulu,"

Thio Hong-tat berteriak.

"Kenapa? Obat penawarnya sudah ada?"

Jengek Le Lam-sing.

"Obat penawar memang harus diambil di kota raja, tapi aku bisa mengajukan satu akal bagi kalian."

"Akal apa?"

Tanya Miao Tiang-hong.

"Le-pangcu, Miao Tayhiap, kalau kalian tidak percaya kepadaku boleh ikut aku ke kota raja. Cukup kalian berdua saja, jadi tidak perlu kalian terjaring seluruhnya di sana. Kepandaian kalian tinggi, setiba di kota raja, apa pula yang berani kulakukan. Sekarang persoalan terletak apakah kalian berani menempuh bahaya ini."

"Jangan kena ditipu olehnya,"

Seru Yu Tay-coan. Miao Tiang-hong berkata dalam hati.

"Keparat ini amat licik dan licin, terang ia gunakan tipu untuk meloloskan diri. Tapi sampai mati dia tidak mau serahkan obat, kami menjadi kewalahan sendiri. Terpaksa memang harus berani menempuh bahaya."

Maka ia berkata.

"Kalau begitu, biar hari ini juga kita berangkat bersama ke kota raja"

Acuh tak acuh Thio Hong-tat berkata.

"Nah, obati dulu luka-lukaku!"

Yu Tay-coan geleng-geleng kepala, katanya.

"Miao Tayhiap, harap kau suka berpikir dengan cermat, betapapun aku tidak setuju kalian ditipunya demikian saja."

Le Lam-sing tersenyum, katanya.

"Benar, memang kita tidak perlu tergesa-gesa."

Melihat senyuman orang rada ganjil, tergerak hati Miao Tiang-hong, pikirnya.

"Mungkin dia sudah punya akal lain yang lebih baik?"

Tengah ia membatin itulah didengarnya bagian luar sana timbul kegaduhan.

Waktu Miao Tianghong angkat kepala, dilihatnya sesosok bayangan orang, bagai burung terbang sedang melompati pagar tembok.

Yu Tay-coan amat kaget, bentaknya.

"Siapa kau?"

Orang itu bergelak tertawa, sahutnya.

"Yu-pangcu tidak kenal kepadaku lagi? Akulah..."

Yu Tay-coan berseru kegirangan, teriaknya bersama Miao Tiang-hong.

"Kwi-hwe-thio!"

Setengah bergurau Yu Tay-coan lantas memakinya.

"Kwi-hwe-thio, jangan kau mengincar Ngoliong-pang kami yang rudin ini!"

"Jangan kualir, aku si maling kecil ini selamanya jadi tamu yang tak diundang, bukan mengincar milik teman sendiri. Hari ini aku kemari malah hendak menyumbang akal kepada kau."

"Kwi-hwe-thio,"

Ujar Le Lam-sing.

"kenapa sampai sekarang baru kau muncul?"

Mendengar seruan Le Lam-sing ini, barulah Miao Tiang-hong sadar, bahwa Kwi-hwe-thio ternyata sudah ada janji dengan Le Lam-sing.

Kwi-hwe-thio memang cerdik dan aneh tingkah lakunya, bukan mustahil orang sudah punya akal untuk mengatasi persoalan sulit ini?

Kwi-hwe-thio tertawa, katanya.

"Masih ada dua orang lain pasti berada di luar dugaanmu datang bersama aku, karena merekalah aku datang terlambat."

Suara ribut di luar semakin keras. Yu Tay-coan sekarang pun mendengar, seketika ia sadar dan bertanya kepada Kwi-hwe-thio.

"Dua orang di luar itu adalah temanmu bukan?"

"Benar, silakan kau keluarkan perintah..."

Tak menunggu orang bicara habis Yu Tay-coan sudah tarik suara berseru lantang.

"Biarkan mereka masuk, jangan dirintangi!"

Latihan lwekangnya memang tidak begitu tinggi, namun suara kasarnya ini memang cukup keras, semua anak buahnya yang berderet sampai di pintu luar pun mendengar seruannya ini dengan jelas.

Tak lama kemudian kedua orang itu pun sudah tiba.

Benar-benar di luar dugaan orang banyak, kiranya mereka adalah dua gadis remaja.

Seorang berteriak memanggil "Engkoh"

Kepada Cau Holian seorang lagi menatap ke arah Cau Ho-lian.

Ternyata kedua gadis remaja ini bukan lain adalah Cau Ci-hwi dan Siau Gwat-sian.

Mereka datang bersama Kwi-hwe-thio, namun karena mereka tidak memiliki ginkang selihay Kwi-hwe-thio, maka begitu memasuki daerah terlarang Ngo-liong-pang, jejak mereka lantas ketahuan oleh anak buah Ngo-liong pang.

Kaget dan senang pula Cau Ho-lian, serunya.

"Moaymoay, kenapa kau bisa kemari?"

Mulutnya bicara dengan adiknya, namun matanya pun menatap ke arah Siau Gwat-sian. Melihat adegan lucu ini, tak tertahan Miao Tiang-hong terbahak-bahak, ujarnya.

"Para keponakanku perempuan, nanti kita bicara lebih lanjut, biar Kwi-hwe-thio bicara lebih dulu!"

Sikap Thio Hong-tat masih kaku dan yakin akan kemenangan diri sendiri, dengan dingin ia awasi semua ini, pikirnya.

"Biar kulihat maling kecil ini bisa berbuat apa atas diriku?"

Kwi-hwe-thio maju menghampiri Cau Ho-lian serta meraba urat nadinya sebentar, katanya.

"Dari denyut urat nadinya, Cau-kongcu agaknya terkena racun Hoa-kut-san!"

"Benar,"

Sahut Miao Tiang-hong.

"tadi kudengar pembicaraan keparat ini dengan padri asing itu, racun yang dia gunakan memang Hoa-kut-san. Thio-toako, apakah kau tahu akan sifat kerja dari racun ini?"

"Itulah semacam racun yang lihay, dengan menggunakan cara yang berlainan, dari kadarnya yang keras bisa kita ubah menjadi racun yang bekerja lambat dalam jangka panjang pula, orang bisa dibikin mampus di dalam waktu yang ditentukan oleh pemilik racun."

Thio Hong-tat membatin.

"Kau tahu akan sifat kerja racun Hoa-kut-san memangnya bisa berbuat apa? Kalau aku tetap berkukuh tidak punya obat penawarnya, memangnya kau si maling kecil ini dapat berbuat apa atas diriku?"

Cau Ci-hwi dan Siau Gwat-sian unjuk rasa gusar dan kaget, tanpa berjanji serempak mereka mencabut pedang, yang satu membentak.

"Kau berani mencelakai engkohku, serahkan jiwamu."

Yang lain membentak.

"Serahkan obat penawarnya."

Thio Hong-tat berkata tawar.

"Tadi sudah kukatakan kepada Le-pangcu dan Miao Tay-hiap, obat penawarnya tidak di tanganku, kalian paksa aku pun tidak berguna."

"Keparat ini amat licik dan licin,"

Ujar Yu Tay-coan.

"dia hendak menipu Le-pang-cu dan Miao Tayhiap ke kota raja untuk mengambil obat penawarnya. Mendadak Kwi-hwe-thio berge-lak tawa, serunya.

"Apa sih yang harus ditakuti menghadapi Hoa-kut-san? Kenapa harus minta obat penawar kepadanya?"

Seketika Yu Tay-coan berjingkrak girang mendengar katakatanya, serunya tertawa lebar.

"Thiotoako, kau punya obat penawarnya?"

Kwi-hwe-thio tetap tertawa, sahutnya.

"Obat penawar tiada, obat racun malah punya!"

Sembari bicara ia keluarkan sebuah botol, dalam botol terisi tiga butir pil.

Bentuk botol itu persis dengan botol racun yang direbut Miao Tiang-hong tadi, cuma warna obatnya saja yang berlainan.

Obat racun palsu itu berwarna hijau pupus, sebaliknya obatnya ini berwarna merah seperti darah.

Le Lam-sing ulur tangan menerima botol obat itu, tanyanya.

"Ini obat racun apa?"

Kwi-hwe-thio tertawa, katanya.

"Thio Hong-tat, tentunya kau kenal obat apa itu? Thio Hong-tat kenal botal obat itu adalah botol obat untuk menyimpan obat racun yang disimpan di gudang obat dalam istana, ia kenal obat dalam botol itu adalah Hoa-kut-san. Seketika rona mukanya berubah pucat laksana kertas, jantung pun berdebar keras seolah-olah hendak mencelat keluar dari mulutnya. Le Lam-sing baru paham, katanya.

"Inikah Hoa-kut-san?"

"Benar, sepuluh hari yang lalu berhasil kucuri dari gudang obat di sana. Aku tahu bahwa kau perlu menggunakannya, maka sengaja hari ini kuberikan kepada kau."

Le Lam-sing pura-pura ragu-ragu dan setengah percaya, katanya.

"Namanya Hoa-kut-san (puyer peluluh tulang) kenapa berbentuk pil?"

"Dalam hal ini ada yang tidak diketahui oleh Le Tayhiap, inilah obat racun yang khusus dibuat oleh istana, kadar racunnya amat keras, sebutir racun sekecil itu, kalau dibikin puyer, sekaligus dapat mencabut nyawa puluhan orang. Pil dibubuk menjadi puyer bukankah bisa juga dinamakan Hoa-kut-san?"

"O, kiranya begitu!"

Ujar Le Lam-sing manggut-manggut. Kwi-hwe-thio berkata lebih lanjut.

"Sebutir pil dibubuk menjadi puyer, ditaruh di dalam poci arak, orang yang sudah minum arak beracun itu, dalam jangka tiga bulan, racun akan bekerja dan melayanglah jiwanya. Tapi kalau sebelumnya sudah dicampur sedikit dengan madu tawon, menggunakan cara yang sama, kadar racun bisa ditahan sampai satu tahun baru bekerja, dan orang akan mampus juga."

"Lalu bagaimana pula cara penggunaannya supaya kadar racun cepat bekerja?"

Tanya Le Lamsing.

"Apa sih sukarnya, ujar Kwi-hwe-thio.

"telankan sebutir penuh obat racun itu ke dalam mulutnya, dalam dua puluh empat jam, badannya akan berubah menjadi genangan air darah!"

"Ada cara yang lebih cepat lagi tidak?"

"Gunakan tenaga dalam bantu mengurut dan memijit, supaya darah tercampur lebih cepat dalam darahnya, darah pun akan lebih cepat berputar dalam tubuhnya, dengan cara ini kira-kira dalam satu jam seluruh tulang belulangnya akan terasa lumpuh seperti luluh. Tapi jiwa belum lagi melayang, kira-kira dua jam pula baru badan hancur menjadi air darah!"

"Bagus! ujar Le Lam-sing.

"Berikan obat racun itu kepadaku."

Muka Thio Hong-tat sudah pucat pias, segera ia jatuhkan diri berlutut, teriaknya.

"Le, Le Tayhiap, am... ampun..."

"Hm sebelum melihat peti mati tidak mencucurkan air mata, tadi kau berkeras kepala, kenapa sekarang minta ampun, sudah terlambat!"

Damprat Le Lam-sing, sekali cengkram ia jinjing badan orang tergantung di tengah udara, tangan yang lain menyanggah dagunya serta dipencet, mulut Thio Hong-tat seketika terbuka lebar, cepat sekali ia sudah jejalkan sebutir obat racun itu ke dalam tenggorokan dan tertelan ke dalam perut.

Le Lam-sing menjinjingnya seperti menjinjing anak ayam, ingin Thio Hong-tat meronta-ronta tapi badan sudah tidak mampu bergerak lagi.

Tak lama kemudian Le Lam-sing sudah mulai mengurut dan memijit membuka semua jalan darahnya supaya lebih lancar.

Seketika Thio Hong-tat rasakan seluruh tulang-tulang badannya seperti ditusuki jarum yang tidak terhitung banyaknya, dia sendiri tidak pernah mengalami dicekoki Hoa-kut-san, namun kelihayan Hoa-kut-san itu ia jelas mengetahui.

Sesuai dengan namanya "peluluh tulang", setiap orang yang terkena racun Hoa-kut-san, seluruh tulang-tulang badannya akan luluh menjadi air darah baru jiwa melayang.

Kini rasa sakit sudah tak tertahankan lagi, bagaimana pula rasanya nanti bila kadar racun sudah kumat dalam badannya, sungguh ia tidak berani menbayangkan.

Le Lam-sing menyeringai dingin.

"Bukankah kau laki-laki keras kepala, kenapa takut mati?"

Dengan suara gemetar Thio Hong-tat berteriak.

"Le-pangcu, kau, ampunilah jiwaku, biar aku persembahkan obat pemunahnya."

Hati Le Lam-sing amat girang, namun raut mukanya membesi.

"Bukankah tadi kau katakan tiada obat penawarnya? Kenapa sekarang ada?"

Secara pulang pergi Thio Hong-tat gampar kedua pipi sendiri dengan keras, serunya.

"Memang aku yang rendah patut mampus, harap Le-pangcu suka bermurah hati, selanjutnya aku tidak akan berani menipu kau orang tua lagi."

"Memang masih ada selanjutnya lagi?"

Damprat Le Lam-sing ke-reng.

Rasa sakit Thio Hong-tat sudah tak tertahankan, badan sudah mandi keringat, insyaf bila bertahan sedikit lama lagi jiwanya pasti akan menuju ke akhirat.

Lekas ia pun berlutut dan mintaminta kepada Yu Tay-coan.

"Yu-pangcu, bantulah aku bicara memohon ampun kepada Lepangcu."

"Le-pangcu, dia mau menyerahkan obat penawarnya, kalau benar biar kita ampuni jiwanya!"

Baru sekarang Le Lam-sing berkata.

"Baik, kupandang muka Yu-pangcu, biar kuampuni jiwamu. Serahkan obat penawarnya."

"Obat penawar kusimpan di atas Po-gwat-lau."

Orang banyak segera menggusurnya naik ke Po-gwat-lau, kasihan tenaga untuk jalan pun sudah tidak kuat lagi, terpaksa Miao Tiang-hong harus menyeretnya ke atas. Kata Miao Tianghong tertawa dingin.

"Kau ini memang tulang bangsat, diberi arak suguhan tidak mau terima disiksa dulu baru minta-minta ampun. Semula aku sudah janji bila kau menyerahkan obat penawarnya akan melepasmu pergi, kau malah menipu kami, adalah pantas kalau kau rasakan deritamu ini."

Setelah berada di Po-gwat-lau, Thio Hong-tat mengajarkan cara untuk membuka pintu-pintu rahasia, setelah berada di dalam, berkata Thio Hong-tat.

"Batu bata ketujuh dihitung dari daun pintu ke sebelah kiri lalu ke bawah pula nomor tujuh di dinding sana, harap koreklah keluar dan berikan kepadaku."

Miao Tiang-hong masuk setelah menyulut sebuah obor, sesuai dengan apa yang ditunjukkan itu Miao Tiang-hong keluarkan batu bata itu, didapatnya batu bata ini tiada bedanya dengan batu bata lainnya, segera ia angsurkan kepada Thio Hong-tat.

"Apakah batu bata yang ini?"

Thio Hong-tat tempelkan kupingnya di atas batu bata itu, katanya.

"Tolong kau ketuk dua kali dengan ringan saja."

Mendengar suara ketukan pada batu bata itu, barulah Thio Hong-tat yakin dan berkata.

"Tidak salah, memang batu ini. Silakan kau buka, jangan terlalu keras!"

Kiranya batu bata ini kosong bagian dalamnya, setelah Miao Tiang-hong memecahnya di dalam ia temukan sebuah kotak kecil.

Cara menyimpannya sedemikian rahasia, sungguh di luar dugaan semua orang.

Dengan tersengal-sengal Thio Hong-tat berkata.

"Lekas buka kotak itu, serahkan obat penawarnya kepadaku."

Waktu Le Lam-sing buka kotak kecil itu, di dalam hanya berisi sepuluh butir pil saja. Le Lamsing menjepit sebutir dengan kedua jarinya, tapi tidak diberikan kepadanya, katanya.

"Nanti dulu!"

Thio Hong-tat kaget, teriaknya gemetar.

"Le-pangcu, kau, kau orang tua tidak menepati janji?"

Le Lam-sing mendengus.

"Apa yang sudah kukatakan pasti kutepati, kenapa tergesa-gesa? Setelah kutolong mereka baru tiba giliranmu yang terakhir. Em, Yu-pangcu berapa banyak orangorang kalian yang keracunan?"

"Kira-kira ada lima ratus orang."

Le Lam-sing mengerut kening, katanya.

"Tapi di sini cuma ada sepuluh butir obat."

Cepat Thio Hong-tat menjelaskan.

"Obat pemunah yang diperlukan menurut berat ringan dari orang yang keracunan, racun di badan mereka satu tahun kemudian baru akan kumat, satu butir dibikin puyer dapat mengobati seratus orang. Racun di badan Cau-siau-hiap rada berat, dia sendiri memerlukan satu pertiga. Thio-toako ini pun tahu, boleh kau tanya akan kebenaran keteranganku ini."

"Le-pangcu, coba berikan kepadaku biar kuperiksa dulu apa obat pemunah ini tulen atau palsu?"

Demikian pinta Kwi-hwe-thio. Thio Hong-tat merengek minta ampun.

"Memangnya aku berani berkelakar pada jiwaku sendiri. Thio-toako, tidak perlu kau memeriksanya pula, pasti tulen adanya mohon kau berikan satu butir kepadaku, kadar racun dalam badanku amat berat mungkin sebentar akan kumat dan mampuslah aku."

"Betul"

Ujar Kwi-hwe-thio manggut-manggut.

"Obat ini memang tulen."

Ia menjemput satu butir, sisanya ia serahkan kepada Yu Tay-coan.

Setelah Cau Ho-lian menelan obat penawar itu, barulah dia serahkan sebutir obat itu kepada Thio Hong-tat.

Begitu menerima obat penawar itu tersipu-sipu Thio Hong-tat lantas menelannya, seolah baru saja lolos dari pintu neraka, segera ia menyeka keringat di atas jidatnya, katanya "Terima kasih Le-pangcu, terima kasih Thio-toako.

Aku, aku sudah boleh pergi?"

Le Lam-sing segera menepuk tiga kali di atas badannya, katanya.

"Jiwamu dapat kuampuni, tapi tidak akan kubiarkan kau bertindak sewenang-wenang dan berbuat jahat. Baiklah, lekas pergi!"

Karena totokan jalan darah dibebaskan, bergegas Thio Hong-tat merangkak bangun, sorot matanya menampilkan rasa kebencian yang meluap-luap, katanya.

"Le-pangcu, budi kebaikanmu hari ini, selama hidup tidak akan kulupakan."

Habis berkata dengan langkah sempoyongan ia tinggal pergi. Setelah Thio Hong-tat pergi Cau Ci-hwi berkata.

"Koko, bagaimana perasaanmu?"

"Rasa sesak dan mual dalam dada selama beberapa hari ini, kini sudah tersapu bersih. Agaknya memang obat penawar yang tulen. Tapi menguntungkan keparat itu juga."

Le Lam-sing tersenyum, ujarnya.

"Meski aku mengampuni jiwanya, tapi ilmu silatnya sudah kepunahkan, terhitung melampiaskan penasaranmu juga."

Tiba-tiba Miao Tiang-hong menyeletuk.

"Lo-thio, cara bagaimana kau bisa bikin Thio Hong-tat mau percaya bahwa obat yang kau jejalkan ke mulutnya adalah Hoa-kut-san?"

Kwi-hwe-thio tertawa, ujarnya.

"Hoa-kut-san yang tulen aku sendiri belum pernah lihat, namun sifat kerja dari obat racun itu aku pernah saksikan sendiri. Dan secara kebetulan aku memiliki botol yang mirip dengan botol obatnya itu, mau tidak mau dia harus percaya akan gertakanku."

"Dari mana pula kau memperoleh botol itu?"

Tanya Yu Tay-coan.

"Itu hanya kebetulan saja, botol ini hasil curianku dari gudang obat-obatan di istana, waktu itu aku hanya merasa botol itu amat bagus untuk mainan, tak nyana dapat kumanfaatkan."

"Jadi sebelumnya memang kau sudah berjanji dengan Le-pangcu?"

Tanya Miao Tiang-hong.

"Memang Le-pangcu suruh aku mencuri obat pemunahnya di kamar tidur Thio Hong-tat di kala mereka bergebrak dengan Le-pangcu. Setelah aku tiba kudengar racun itu adalah Hoa-kut-san, botol milik keparat itu pun mirip dengan kepunyaanku, maka aku gunakan gertakan dengan sebutir obat palsu lainnya, kiranya gertakanku membawa hasil. Kalau tidak obat penawarnya itu dia simpan begitu rahasia, meski aku punya kepandaian setinggi langit juga tidak akan berhasil mencurinya."

Yu Tay-coan bergelak tertawa, ujarnya.

"Peristiwa hari ini boleh dikata karena malapetaka aku malah mendapat rejeki. Cau-siauhiap apa kau masih benci kepadaku?"

"Aku sudah tahu kau bukan sekomplotan dengan Thio Hong-tat, mana bisa aku membenci kau?"

"Kau tidak salahkan aku, sebaliknya aku menyesali diriku sendiri. Gara-gara kesalahan tindakanku, sehingga aku kena ditekan dan diperas oleh Thio Hong-tat, bukan saja hampir mencelakai kau, Ngo-liong-pang yang kudirikan pun hampir lebur semuanya."

"Duduk perkara sebenarnya sudah kuketahui dengan jelas,"

Demikian ujar Miao Tiang-hong.

"Yu-pangcu tiada manusia yang tidak berbuat salah, kejadian sudah berselang, tidak perlu kita singgung lagi."

Ternyata baru pada babak terakhir Yu Tay-coan membongkar intrik antara Thio Hong-tat dengan Pakkiong Bong, tapi karena dia pikir Ngo-liong-pang mereka yang kecil itu mana kuat berhadapan dengan pasukan Gi-lim-kun yang besar dan kuat.

Kalau toh Thio Hong-tat adalah utusan Pakkiong Bong, terpaksa dia menurut dan mengambil hatinya.

Siapa tahu langkah pertama sudah meleset, maka langkah-langkah selanjutnya terjeblos semakin dalam, hampir saja segalanya berantakan, bukan saja Thio Hong-tat sudah berhasil memegang kekuasaan tertinggi dalam Ngoliong-pang, hampir saja seluruh Ngo-liong-pang yang dia dirikan runtuh pula di tangannya sendiri.

"Sekarang boleh dikata hatiku lega dan pikiran tentram. Cau-siauhiap, sebelum aku mendapat kabarmu yang sebenarnya, terus terang siang malam duduk atau tidur hatiku selalu tidak tenang."

"Oh, ya,"

Ujar Miao Tiang-hong.

"Ho-lian, malam kau ditahan oleh Thio Hong-tat itu, siapa yang menolongmu keluar?"

"Aku sendiri pun tidak mengenalnya,"

Demikian sahut Cau Ho-lian.

"orang itu adalah seorang kakek tua berpakaian serba hitam."

"Hah! Kakek berbaju hitam, apakah dia bermuka gini dan bertubuh gitu?"

Mendengar gambaran yang dilukiskan Miao Tiang-hong, Cau Ho-lian manggut-manggut, katanya.

"Betul. Paman Miao, ternyata kau sudah kenal dengan lo-cianpwe itu. Siapakah dia sebetulnya?"

"Aku sendiri pun tidak kenal, namun pernah juga aku mendapat bantuan lo-cianpwe itu."

Demikian ujar Miao Tiang-hong, lalu ia ceritakan kejadian dirinya terperangkap di Cu-lay-san tempo hari kepada hadirin. Kata Cau Ci-hwi.

"Kepandaian lo-cianpwe itu sedemikian tingginya, malam itu dia menolong kau, kenapa tidak sekalian ia bunuh Thio Hong-tat si keparat itu?"

"Hal itu sih ada dia jelaskan, katanya tidak perlu beliau sendiri yang turun tangan kepada Thio Hong-tat. Aku pun berpikir demikian, aku harus menuntut balas sendiri, Kalau harus mengandal tenaga orang lain, bukankah aku terlalu tidak becus?"

"Koko, watakmu memang tetap kukuh dan keras hati. Tadi, aku hanya tanya secara iseng belaka, jangan kau salah paham bahwa aku kira kau tidak punya ambisi."

"Tenaga seseorang terbatas, harus minta bantuan orang bukan terhitung tidak punya ambisi. Tapi sepak terjang lo-cianpwe itu memang aneh, mungkin dia punya alasannya sendiri. Bagaimana akhirnya?"

"Setelah beliau menolong aku keluar, lantas berkata. 'Naga-naganya kau seperti terkena racun. Mengenai ilmu pengobatan aku tidak tahu menahu. Tapi aku tahu Thocu Ang-ing-hwe Le Lam-sing sekarang sedang berada di cabangnya di muara Huangho, hubungannya amat luas, dia kenal orang-orang yang berkepandaian tinggi, kau boleh mencari dia.' Dan karena petunjuk beliaulah aku berhasil menemukan paman Le."

Le Lam-sing berkata tertawa.

"Kalau Kwi-hwe-thio tidak segera datang, aku sendiri pun tinggal berpeluk tangan saja tanpa bisa berbuat apa-apa. Dia menyusul datang dari Yangciu, sebetulnya minta aku bantu Lo Kim-ou dari Hay-soa-pang. Tapi aku sudah mendapat kabar bahwa Lo Kim-ou sudah berhasil merampas ransum pemerintah, tiada halangan aku datang rada terlambat, maka aku mampir ke sini dulu."

Baru sekarang Miao Tiang-hong ada waktu bertanya kepada Siau dan Cau dua gadis.

"Cara bagaimana pula kalian bisa berada di sini?"

Siau Gwat-sian tertawa, sahutnya.

"Paman Miao tidak usah kuatir, kali ini kami bukan minggat secara diam-diam, ibulah yang suruh kami kemari."

"Biar kuberi tahu satu kabar baik bagi kau,"

Cau Ci-hwi ikut menimbrung.

"Setelah melahirkan, Hun-cici ibu dan anak sama-sama selamat. Miao-sioksiok, dia amat kangen kepada kau dan Bengtoako serta lain-lain. Tak nyana di sini kami bisa bertemu dengan kau. Apa Beng-toako baik-baik saja?"

"Beng Goan-cau dan Song Theng-siau beramai sudah berangkat ke Siau-kim-jwan. Aku perpisah di Yangciu dengan mereka."

Sampai di sini tiba-tiba ia teringat suatu hal, katanya tertawa.

"Di Yangciu aku pun ada bertemu dengan seorang sahabat kalian."

Cau Ci-hwi melengak, tanyanya.

"Mana aku punya teman yang tinggal di Yangciu?"

"Tan-jikongcu memangnya bukan teman baikmu? Bulan yang lalu Tan Kong-si datang ke Yangciu mewakili ayahnya menghadiri hari ulang tahun ke enam puluh Ong lo-piau-thau dari Tinwan Piaukiok, belakangan ayahnya, Kanglam Tayhiap Tan Thian-ih, pun datang pula."

"Kami sudah tahu, bukankah Tan Tayhiap hendak menemui Kim Tiok-liu dan Leng Thiat-jiau di sana?"

Ujar Siau Gwat-sian tertawa.

"Dari mana kalian bisa tahu?"

Tanya Miao Tiang-hong.

"Bicara terus terang, kali ini aku keluar karena mengiringi Hwi-ci untuk mencari Tan-jikongcu itu, kami pernah datang ke rumahnya."

Merah muka Cau Ci-hwi, omelnya.

"Kau membual apa, aku kan mencari ayah. Malah ibumu sendiri yang suruh kita ke sana, kau cerewet apa lagi."

Lalu ia menghadap Miao Tiang-hong serta menjelaskan lebih lanjut.

"Bibi mendapat tahu bahwa Beng-toako di Thay-san pernah bertemu dengan ayah, waktu itu Tan Tayhiap pun hadir, dengan pergaulan beliau yang luas itu, mungkin tahu di mana sekarang ayah berada, oleh karena itu bibi suruh aku ke rumahnya mencari tahu jejak ayah."

"Nah, bicaramu ngelantur,"

Demikian olok Siau Gwat-sian.

"Kabar itu bukan dari Beng-toako, tapi karena Tan-jikongcu sendiri akhirnya pun menyusul datang, apa yang dia tuturkan jauh lebih jelas dan lengkap. Katanya setelah pertemuan besar itu bubar Tan Tayhiap pernah mengundang paman Cau untuk bertamu ke rumahnya, paman Cau pun sudah menerima undangannya, tapi harus ditunda lagi beberapa waktu lamanya."

"Belakangan apa beliau pergi ke sana?"

Tanya Miao Tiang-hong.

"Waktu Tan Kong-si meninggalkan rumah berangkat ke Yangciu, masih belum melihat kedatangan paman Cau."

"Jadi kalian ikut pulang ke rumahnya waktu itu juga?"

"Tidak! Waktu itu piauci baru saja melahirkan, kami harus menemani dia. Kami dan piauci sudah pindah ke rumah keluarga Lau di Pak-bong-san, apa paman Miao sudah tahu?"

Tanya Siau Gwat-sian.

"Beng Goan-cau sudah beritahu kepadaku. Kabarnya tuan rumah she Lau itu adalah teman baik dari Han-congpiauthau dari Tin-wan Piaukiok?"

"Memang, orang itu bernama Lau In-long, usianya sudah enam puluhan, beliau adalah saudara angkat ayah Han Wi-bu,"

Demikian timbrung Cau Ci-hwi.

"Katanya beliau pun ada kenal baik dengan Ih-tio (ayah Hun Ci-lo), kami datang ke rumahnya dengan membawa surat perkenalan Han Wi-bu, setelah tahu piauci adalah putri teman karibnya, beliau amat senang, sikapnya begitu ramah dan kasih sayang seperti keluarga sendiri,"

Begitulah Siau Gwat-sian bercerita. Cau Ci-Hwi lantas melanjutkan ceritanya.

"Paman Lau itu tiada anak tiada kadang, hanya seorang istri tua yang menemani dirinya. Sesuai dengan namanya Lau In-long (petani mengasingkan diri), kabarnya selama tiga puluh tahun mengasingkan diri di Pak-bong-san ia hidup bercocok tanam seorang diri. Hanya Han-congpiauthau seorang saja yang masih ada hubungan erat dengan dirinya, tiada orang kedua yang tahu akan tempat pengasingannya itu. Maka beliau suruh kami menetap di sana dengan tenang dan tentram, kawanan cakar alap-alap itu pasti tidak akan bisa menemukan jejak kita"

"Oh, ya, hampir kulupa beri tahu kepadamu, mereka suami istri sama menyenangi piauci, piauci sudah dianggap menjadi anak angkat mereka. Katanya bila ada orang jahat berani mencari setori kepada piauci, mereka suami istri akan mempertaruhkan jiwa tua mereka untuk memukul putus kaki tangan mereka."

Miao Tiang-hong merasa lega. Katanya tertawa.

"Hal itu sungguh amat melegakan. Tadi kau kata pernah pergi ke rumah Tan Tayhiap, apa mereka ayah beranak sudah pulang?"

"Mereka masih di Yangciu, kami hanya ketemu engkoh Tan Kongsi yang bernama Tan Kongciau!"

"Persoalan engkoh Lian kami dapat tahu dari penuturan Tan-toakongcu ini. Setelah mendapat petunjuknya, baru kami tahu mencari Le-pangcu kemari. Sebelum kami menemukan cabang Anging-hwe, di tengah jalan ketemu dengan Thio-toako ini."

"Bagus, biar kubawa kabar baik kalian ini ke Pak-bong-san, sekarang juga aku harus segera berangkat,"

Demikian kata Miao Tiang-hong. Yu Tay-coan hendak menahannya untuk makan sekadarnya, namun karena ia baru saja minum obat penawar racun, gerak-geriknya masih kurang leluasa, katanya.

"Banyak terima kasih akan bantuan dan pertolongan Miao Tayhiap sehingga pang kita lolos dari ceng-kraman tangan iblis, atas nama seluruh anggota pang kami, kuucapkan banyak terima kasih dan semoga tiada halangan dalam perjalanan. Maaf aku tidak mengantar lebih jauh."

"Yu-pangcu jangan terlalu sungkan, waktu masih panjang semoga kelak bisa bertemu kembali,"

Demikian Miao Tiang-hong minta diri. Berkata Kwi-hwe-thio.

"Di sini tidak perlu tenagaku lagi, sekarang aku harus lekas berangkat ke Yangciu untuk memberi kabar kepada Lo Kim-ou. Aku minta permisi!"

"Thio-toasiok, terima kasih akan pertolonganmu sekali ini, selamat bertemu di Yangciu."

Cau Ho-lian ikut bicara.

"Biar aku saja yang antar kalian,"

Begitulah ujar Le Lam-sing.

Begitu bertemu Le Lam-sing dan Miao Tiang-hong amat cocok satu sama yang lain, seperti sahabat kental yang lama sudah tidak ketemu, semua orang merasa berat berpisah, tanpa terasa ia sudah mengantar orang sepuluh li jauhnya.

Akhirnya Miao Tiang-hong sadar, katanya.

"Tiada perjamuan yang tidak bubar di kolong langit ini. Le-pangcu silakan kau kembali saja!"

"Miao-heng, setelah bertemu dengan Siau-hujin dan Hun-lihiap tolong sampaikan salamku kepada mereka, selamat bertemu di kemudian hari!"

Le Lam-sing lantas berpisah.

Miao Tiang-hong melanjutkan perjalanan bersama Kwi-hwe-thio, tiga hari kemudian mereka pun harus berpisah di tengah jalan.

Seorang diri Miao Tiang-hong menempuh perjalanan ke Pakbong-san, semakin dekat semakin tidak tenang pikirannya, bayangan Hun Ci-lo selalu terbayang di depan matanya, namun ada kalanya terkenang pula olehnya akan wajah sang suci yang telah almarhum itu.

Mendadak benak Miao Tiang-hong seperti timbul suatu khayalan aneh, terasa seakan-akan Hun Ci-lo adalah jelmaan sucinya semasa masih hidupnya dulu, waktu kecil dia selalu ingin berdekatan berkumpul dengan sang suci.

Tapi dekat dan berkumpul bersama itu mengandung rasa hormat dan segan.

Sekarang dia hendak pergi menemui Hun Ci-lo, perasaannya pun seperti itu.

"Usiaku jauh lebih tua dari Ci-lo, sungguh aneh, di dalam sanubariku, seolah-olah dia sudah menjadi suciku saja layaknya,"

Berpikir sampai di sini, tanpa terasa Miao Tiang-hong tertawa geli sendiri sambil mengelus jenggotnya.

Kalau Miao Tiang-hong amat kangen terhadap Hun Ci-lo, sebaliknya Hun Ci-lo pun amat kangen kepada Miao Tiang-hong.

Sejak Hun Ci-lo melahirkan, tiga bulan sudah berlalu, dalam jangka tiga bulan ini ia mendapat perawatan dan asuhan Lau In-long suami istri, maka derita batin serta luka-luka hatinya selama ini, lekas sekali sudah hampir disembuhkan.

Kecuali kenangan di masa muda di mana ia berkumpul bersama Beng Goan-cau susah dilupakan, dalam tiga bulan ini, boleh dikata merupakan kehidupan yamg paling menyenangkan hati selama hayatnya.

"Dua hari ini kembang Bwe sedang mekar semerbak, kau sudah terkurung tiga bulan, tiba saatnya untuk menghibur diri di luar. Kata bibimu kau paling menyenangi kembang Bwe, apa benar?"

Pagi hari itu Lau Hujin lantas berkata demikian kepadanya.

"Omongan ibu memang betul,"

Ujar Hun Ci-lo.

"Sudah tiga bulan aku tidak berlatih silat, entah apa masih kuasa pegang golok memainkan pedang. Cuma aku tidak bisa meninggalkan orok kecil ini."

"Setelah dia kenyang minum air susu, berikan kepadaku saja, pergilah kau melatih diri barang beberapa jurus. Tak usah kuatir, meski perutnya lapar, di rumah aku masih menyimpan susu menjangan."

"Baik, biar aku keluar berlatih sebentar, cuma merepotkan ibu saja!"

"Kau tunggu sebentar, biar kuminta bibimu menemani kau."

"Bibi sedang menemani ayah main catur, jangan ganggu mereka. Aku toh bukan anak-anak, tidak akan kesasarjalan!"

"Kalau begitu jangan kau pergi jauh-jauh. Bermain saja dalam hutan Bwe yang berdekatan. Kalau terjadi sesuatu apa cukup kau berteriak segera aku akan memburu datang."

"Ibu terlalu kuatir, memangnya ada bahaya apa sih. Kecuali para pemburu, siapa yang akan berada di dalam hutan semak belukar seperti ini? Dalam musim dingin seperti ini, binatang buas pun menyembunyikan diri, takut apa. Dalam tiga bulan ini bukankah kita hidup tentram?"

"Memang begitu, tapi kau harus hati-hati juga. Bila kau melihat orang asing di atas gunung, kau harus segera pulang!"

"Baik, ibu tak usah kuatir, aku akan hati-hati!"

Setelah mencium pipi anaknya, segera Hun Ci-lo keluar pintu.

Oroknya sedang tidur nyenyak dalam pelukan ibu angkatnya.

Di luar pintu sinar surya sudah menerangi jagat raya, sudah tiga bulan Ci-lo menyembunyikan diri di dalam rumah, bermandikan cahaya matahari nan cerlang cemerlang, menyongsong angin pagi di atas pegunungan yang menyegarkan badan, Hun Ci-lo beranjak memasuki hutan kembang Bwe.

Sinar matahari di permulaan musim dingin, membuat orang merasa hangat dan nyaman segar, dihembus sepoi-sepoi angin lalu lagi, rasa dingin membuat pikiran jernih dan badan bergairah.

Seketika terbangun semangat Hun Ci-lo.

Sejak melahirkan selama tiga bulan ini, baru pertama kali ini Hun Ci-lo meninggalkan oroknya, meski berpisah hanya beberapa kejap saja, namun hatinya amat berat dan tidak tega.

"Sungguh kasihan anak ini, begitu lahir sudah tidak punya bapak."

Demikian pikir Hun Ci-lo.

"Entah bagaimana pula keadaan Hoa-ji sekarang? Sang waktu berlalu dengan amat cepatnya, tanpa terasa setahun lebih sudah berselang. Kelak kalau beruntung bisa bertemu kembali, mungkin dia tidak kenal kepada ibunya sendiri."

Serta merta timbul penyesalan dalam lubuk hatinya yang paling dalam terhadap putra besarnya yang satu ini.

Begitulah sepanjang jalan ini pikiran Hun Ci-lo berkecamuk, tanpa sadar ia sudah beranjak memasuki hutan kembang Bwe.

Hutan kembang Bwe di atas pegunungan yang selamanya tidak terpelihara manusia ini, memang tidak seindah dan sesubur hutan kembang Bwe di Tong-thingsan kediaman bibinya dulu, namun pohon-pohon kembang Bwe yang tumbuh di lereng bukit sama tinggi rendah tidak menentu ditaburi kuntum-kuntum kembang Bwe warna merah, sepintas pandang panorama di sini pun mempunyai keelokannya dari yang lain.

Tak terasa terbayang oleh Hun Ci-lo waktu ia berlatih pedang di Tong-thing-san barat setahun lebih yang lalu, pikirannya menjadi kacau dan kalut, dengan susah payah baru akhirnya dia kuasa menenangkan hati, batinnya.

"Tujuanku keluar untuk berlatih pedang, kenapa kulupakan? Em setahun yang lalu, Sip-hun-kiam-hoatku dapat kumainkan sesuka dan menurut jalan pikiranku, kini mungkin sudah banyak mundur. Kalau Miao-toako berada di sini, mungkin aku bisa ditertawakan?"

Seperti diketahui Sip-hun-kiam-hoat adalah ilmu pedang warisan keluarga Hun Ci-lo yang mengutamakan kelincahan dan kecepatan yang enteng.

Terutama tiga jurus terakhir hasil ciptaan ayahnya itu, dengan ketiga jurus ini Hun Ci-lo pernah mengalahkan Tiam-jong-siang-sat.

Waktu pertama kali ia bertemu dengan Miao Tiang-hong, ia pun sedang latihan menyempurnakan ketiga jurus terakhir ini di dalam hutan.

Entah karena latihan ketiga jurus ilmu pedang ini dulu ia mendapat pujian dari Miao Tiang-hong, tanpa ia sadari sekarang ia justru mulai dari tiga jurus terakhir dulu.

Kalau ketiga jurus ilmu pedang ini dapat dilatih mencapai puncak tertinggi, di atas dahan-dahan pohon yang penuh ditaburi kuntum-kuntum kembang itu, dengan sesuka hatinya ia dapat mengiris hanya satu kelopak kembang saja tanpa menyentuh atau merusak kelopak kembang yang lain, dahan tidak bergeming daun tidak rontok, kelopak kembang pada kuntum bunga yang sama pun tidak akan rusak karenanya.

Betapa pun Hun Ci-lo sudah beberapa lamanya tidak latihan, gerakgerik tubuhnya sudah tidak seringan dan segesit dulu, dalam melancarkan latihan ketiga jurus ini, sekaligus ia bikin rontok banyak kuntum kembang dan dedaunan pohon, beberapa kali diulang tetap tidak bisa sempurna.

Di saat ia hampir putus asa tiba-tiba teringat pula kata-kata pujian dan anjuran Miao Tianghong dalam memberikan dorongan batin dalam latihannya dulu, seketika terbangkit pula semangat dan gairahnya.

Di saat ia sedang pusatkan pikiran dan angkat pedang hendak mulai latihannya pula, sekonyong-konyong didengarnya seperti suara keresekan di dalam hutan sebelah sana.

Suara itu amat lirih, kalau orang biasa mungkin tidak mendengar, paling-paling orang menyangka daun pohon jatuh.

Tapi sejak kecil Hun Ci-lo melatih diri menggunakan senjata rahasia semacam Bwe-hoa-ciam, sekali dengar, lantas ia tahu kedatangan seorang tokoh silat kelas tinggi sedang merunduk mendekati di sebelah belakangnya.

"Memangnya bisa terjadi peristiwa begini secara kebetulan, baru hari ini aku mulai latihan pedangku, Miao Tiang-hong kebetulan pula menjenguk tiba? Tidak, pasti bukan dia. Ginkang dan gerak langkahnya tidak seperti itu!"

Seketika teringat akan peringatan ibu angkatnya, namun ia sengaja pura-pura tidak tahu, dengan seksama ia perhatikan arah datangnya suara, diam-diam ia menyurut mundur beberapa langkah, mendadak ia menusuk ke belakang ke arah orang di belakang itu.

Kejadian berlangsung laksana kilat cepatnya, tahu-tahu pedang panjang Hun Ci-lo kena tersampuk miring oleh sebatang kipas.

Sambil menjerit kaget orang itu lompat ke samping beberapa tombak jauhnya, teriaknya.

"Nona Hun, inilah aku! Kedatanganku sekali-sekali tidak bermaksud jahat terhadapmu!"

Hun Ci-lo lintangkan pedang di depan dada, waktu ia melihat tegas, tak terasa bercekat hatinya.

Ternyata orang ini bukan lain adalah salah satu dari Tiam-jong-siang-sat, yaitu Toan Siusi adanya.

Toan Siu-si kira orang masih ingat sakit hati lama, maka segera ia utarakan maksud kedatangannya, katanya lebih lanjut.

"Aku orang she Toan dulu tidak tahu diri, berbuat salah terhadap nona, harap nona suka memberi maaf!"

Hun Ci-lo sarungkan kembali pedangnya, katanya "Aku pun pernah berbuat salah terhadap Toan-siansing, pertikaian dulu itu anggap saja sudah tiada, kenapa disinggung-singgung lagi.

Harap tanya untuk keperluan apa Toan-siansing datang kemari?"

"Aku kemari memang hendak mencari Hun-lihiap."

"Dari mana kau bisa tahu aku berada di sini?"

"Empat bulan yang lalu, di bawah kaki tembok besar di Pat-tat-nia aku bertemu dengan Beng Goan-cau, berkat kebaikan dan kebijaksanaan hatinya, dari permusuhan kami mengikat persahabatan. Dari tutur katanya aku mendapat tahu bahwa nona sudah pindah ke kabupaten Sam-ho, beberapa hari yang lalu aku sudah ke sana, kudapati rumahmu sudah disegel pemerintah. Terpaksa aku pulang ke Pakkhia, dari Han-congpiauthau baru aku tahu bahwa nona ternyata sudah pindah kemari!"

"Kau tidak takut menghadapi kesulitan datang kemari mencari aku, untuk apa?"

"Pertama untuk mohon maaf kepada nona, kedua untuk persoalan putramu. Putramu sekarang berada di Tiam-jong-san di bawah asuhan suhengku, hal ini kukira Hun lihiap sudah mengetahui."

Hun Ci-lo sudah duga orang tentu hendak membicarakan soal Nyo Hoa, lekas ia bertanya.

"Bagaimana dengan putraku itu?"

"Pertama-tama perlu kuterangkan dulu kepada nona, semula waktu kami merebut putramu, memang bertujuan jahat. Tapi putramu lincah dan cerdik pintar, membuat orang iba dan sayang, sebelum kami menabah musuh menjadi sahabat baik dengan Beng Tayhiap, sudah amat sayang kepada anak itu. Secara gegabah kami berdua memberanikan diri menurunkan ilmu silat yang kami pelajari kepada putramu itu, dia pun pernah angkat kami sebagai guru. Untuk hal ini kami belum mendapat persetujuan. Hun-lihiap, harap kau suka memaafkan. Tapi semoga kau pun tidak perlu kuatir, kami pasti tidak akan menyia-nyiakan putramu."

"Kasih sayang dan maksud tujuan kalian terhadap putraku, sudah lama aku tahu. Lebih baik dia ikut kalian daripada berada di sampingku, aku pun tidak akan salahkan kalian. Tidak perlu kau menjelaskan kepadaku, cuma kuharap lekas kau beri tahu kepadaku, apakah dia tersangkut suatu perkara, maka sejauh ini kau datang mencari aku?"

"Ya, memang terjadi sesuatu di luar dugaan, hal ini perlu kuberi-tahu kepada kau!"

"Apa yang terjadi pada putraku itu?"

"Hun-Iihiap jangan kuatir, putramu tidak apa-apa, cuma..."

Baru saja Hun Ci-lo berlega hati, hatinya menjadi tegang pula, tanyanya pula.

"Cuma apa?"

"Putramu sih tidak apa, sebaliknya suhengku itu kena dibokong oleh musuh, jiwanya amat dikuatir-kan!"

Hun Ci-lo amat kaget, tanyanya.

"Apakah yang telah terjadi, coba kau jelaskan kepadaku?"

"Thian-lam-su-hou, apa kau masih ingat?"

"Jadi musuh yang kau katakan tadi adalah Thian-lam-su-hou?"

"Betul. Mereka berempat adalah kaki tangan Ciok Tio-ki, malam itu mereka menerima perintah Ciok Tio-ki untuk menggerebek dan menangkap Beng Tayhiap. Kukira kau masih ingat akan kejadian malam itu, setelah mereka dikalahkan barulah kami berdua muncul dan bergebrak dengan Beng Tayhiap."

Hun Ci-lo manggut-manggut, katanya.

"Waktu itu aku sudah sembunyi di tempat gelap, sayang waktu itu aku tidak bunuh mereka."

"Tiga bulan yang lalu, di saat aku tidak berada di rumah, mereka meluruk datang hendak merebut putramu. Mereka sengaja hendak membokong, Pok-suheng tidak berjaga-jaga, maka ia terkena panah beracun mereka lebih dulu. Setelah pertempuran sengit terjadi, Pok-suheng beruntung menggebah mereka lari, namun ia sendiri terluka parah. Dia terkena racun jahat, menurut tabib yang memberi tahu kepadaku secara diam-diam, mungkin jiwanya tidak akan bertahan satu tahun."

Hun Ci-lo amat sedih, katanya.

"Kami ibu beranaklah yang membuat Pok-suhengmu menderita sedemikian rupa."

"Jangan Hun-lihiap berkata demikian, putramu adalah murid kami, mana bisa Pok-suheng tidak melindunginya? Yang penting sekarang bagaimana kami harus bertindak lebih lanjut?"

"Bagaimana menurut maksud Toan-siansing?"

"Setelah Pok-suheng terluka, mereka sudah pindah ke suatu tempat di Tayli, tempatmya amat tersembunyi dan sukar ditemukan, Thian-lam-su-hou sendiri pun waktu itu terluka tidak ringan, di dalam satu tahun mendatang pasti tidak akan terjadi apa-apa. Tapi setahun kemudian, entah Poksuheng masih kuat bertahan hidup dalam dunia fana ini, bila Pok-suheng tak beruntung meninggal dunia, putramu perlu segera dicarikan tempat ber-teduh yang aman sentosa."

Hun Ci-lo lama menepekur, sesaat kemudian baru ia berkata rawan.

"Putraku memang menambah kerepotan bagi kalian."

"Bukan begitu persoalannya. Seumpama Pok-suheng betul-betul wafat, putramu masih tetap menjadi muridku. Kalau aku tidak bisa menuntut sakit hati, kelak mengharap putramulah yang menuntut dendam ini."

"O, jadi Toan-siansing ingin segera menuntut sakit hati ini, memang sakit hati ini lebih baik dituntut secepatnya, sayang sekarang aku tidak mampu membantu kesu-litanmu."

"Kuterima setulus hati maksud baik Hun-lihiap. Sakit hati suheng-ku hanya akulah yang akan menuntut balas, atau putramu sendiri. Tapi usia putramu masih kecil, maka perlu aku berunding dengan kau, cara bagaimana mengasuh dan kepada siapa dia harus dipasrahkan keselamatannya?"

Sampai di sini, pahamlah Hun Ci-lo akan maksud kedatangan orang, seketika pikiran menjadi kalut dan bingung, pikirnya.

"Memang lebih baik kalau kau serahkan kembali anak Hoa kepadaku, ai, tapi orokku yang baru lahir itu..."

Tengah ia berpikir-pikir itulah, didengarnya Toan Siu-si berkata lebih lanjut.

"Aku pun pernah berpikir, biar kutitipkan kepada Beng Tayhiap untuk mengasuh putramu, tapi Beng Tayhiap berada di Siau-kim-jwan sedang berjuang melawan tentara Ceng, mungkin di sana kurang leluasa. Maka kupikir supaya kau suka berangkat ke Tayli saja membawa putramu pulang!"

Berlinang air mata Hun Ci-lo, katanya tegas.

"Baik, aku ikut kau pergi. Tapi aku harus beritahu kepada tuan rumah lebih dulu, harap tunggulah aku di sini sebentar."

Dalam hati ia membatin.

"Biar ibu angkat dan bibi yang mengasuh orokku itu, kukira tidak perlu aku banyak kuatir."

Setelah bertemu dengan Han Wi-bu, Toan Siu-si sudah tahu bahwa Hun Ci-lo belum lama baru melahirkan bayinya, sampai sekarang belum cukup seratus hari. Maka ia berkata.

"Sebetulnya aku hendak membawa putramu kemari, namun jalan terlalu jauh, musuhku pun amat banyak, aku kuatir bila terjadi perkara di tengah jalan, maka terpaksa kuundang kau menjemputnya ke sana. Entah bagaimana kondisi badanmu sekarang, tempat sejauh ini harus ditempuh melalui jalan pegunungan dan menyeberangi sungai yang sulit dicapai dalam waktu pendek. Kalau kau sekarang tidak leluasa berangkat, boleh ditunda lagi satu dua bulan, kukira belum tentu bakal terjadi sesuatu di luar dugaan."

"Suhengmu sedang sakit, meski di tempat yang tersembunyi, bukan mustahil dapat dilihat orang. Urusan tidak boleh ditunda-tunda lagi, lebih baik besok juga aku harus berangkat. Di Tayli sekaligus aku bisa mengasuh putraku dan merawat luka-luka suhengmu, supaya kau leluasa mencari musuhmu menuntut balas."

"Baik, begitupun baik."

Di saat Hun Ci-lo hendak ajak Toan Siu-si pulang ke rumah keluarga Lau, belum lagi keluar dari hutan pohon Bwe, dari kejauhan lapat-lapat seperti terdengar suitan panjang yang mengalun di tengah angkasa.

Begitu mendengar suitan itu seketika Hun Ci-lo melengong, jantung seketika berdetak keras, pikirnya.

"Memangnya aku salah dengar? Masakah dia yang datang?"

Toan Siu-si pun unjuk rasa heran dan kaget, katanya.

"Dari nada suitan ini lwekang orang ini teramat tinggi, entah tokoh kosen siapakah dia?"

"Naga-naganya suara suitan Miao Tiang-hong."

"Benar, Miao Tayhiap ada meyakinkan Liong-ling-kang (pekik naga), kukira pasti dia. Aih, kau dengar, agaknya dia kebentur musuh tangguh, mereka sedang bertempur sengit!"

Hun Ci-lo himpun semangat mendengarkan dengan seksama, memang samar-samar didengarnya suara bentrokan senjata keras, pikirnya.

"Selama aku kenal Miao-toako, belum pernah kulihat dia menghadapi musuh menggunakan senjata. Kini dia harus menggunakan pedang, pastilah musuh yang dia hadapi teramat tangguh!"

Toan Siu-si masih ingat akan pertolongan Miao Tiang-hong di waktu ia bentrok dengan Su-haysin-liong Ki Kian-ya dan Nyo Bok di warung makan Tan Tek-thay dulu, maka ia berkata.

"Miao Tiang-hong ada tanam budi kepadaku, kini dia menghadapi musuh tangguh, mana boleh aku berpeluk tangan. Hun-lihiap, mari kita tengok ke sana." ---ooo0dw0ooo---Kembali kita ikuti perjalanan Miao Tiang-hong, hari itu ia sudah sampai di Pak-bong-san, selayang pandang, kembang Bwe di seluruh pelosok gunung sedang mekar semerbak, teringat akan kejadian di Tong-ting-san barat dulu, hatinya bertambah rawan dan hambar. Di tengah ia beranjak dengan hati hampa itulah, tiba-tiba dari balik hutan sebelah sana didengarnya percakapan dua orang. Seorang sedang berkata.

"Hun Ci-lo si sundal busuk itu boleh kau bawa pulang, bini Siau Kenghi itu kau harus serahkan kepadaku untuk menghukumnya."

Suara serak tua yang lain segera menjawab.

"Lau In-long berkepandaian tinggi, kedatangan kita kali ini sekali-kali jangan menilainya terlalu rendah!"

Orang yang bicara duluan berkata pula.

"Hun Ci-lo baru melahirkan belum cukup seratus hari, ilmu silatnya pasti sudah ketinggalan, dengan kekuatan kita berdua, masakah takut tidak kuasa menghadapi Lau In-long dan perempuan galak itu?"

"Walau kita cukup perhitungan, namun harus hati-hati juga. Lebih baik kalau bisa seperti katamu, tanpa bantuan si rase tua itu, kita sudah bisa membereskan tugas berat ini."

Mana Miao Tiang-hong sabar mendengar orang menghina Hun Ci-lo yang amat dia hormati itu?

Seketika ia naik pitam, segera ia unjukan dirinya sambil tertawa dingin melangkah lebar, langsung ia songsong kedatangan kedua orang itu.

"Siapa? Berhenti di tempatmu!"

Suara serak tua itu membentak.

Di tengah suara bentakannya itu tiga butir biji teratai besi tahu-tahu sudah melayang datang.

Ketiga Thi-lian-cu ini meluncur bagai bintang meteor jatuh, begitu tiba di depan Miao Tianghong mendadak bisa berpencar ke tiga jurusan, lalu dari jurusan yang berlainan itu belok balik, masing-masing mengarah Thay-yang-hiat di pelipis, Hian-ki-hiat di dada, dan Kiat-im-hiat di bawah pusar, sekali sambitan tiga senjata rahasia, tiga sasaran penting sekaligus menjadi incaran tepat.

Miao Tiang-hong tahu gerakan timpukan senjata rahasia seperti ini, keruan hatinya kaget, batinnya.

"Kiranya orang dari keluarga Tong di Sujwan."

Tanpa ayal segera ia kerahkan jari saktinya Tam-cin-thong, jari-jarinya menjentik tiga kali, ketiga butir biji teratai besi itu kena disentil jatuh.

Meski ia berhasil menjatuhkan senjata rahasia musuh, namun jari sendiri pun terasa linu pedas.

Kejadian berlangsung amat cepat, kejap lain kedua orang itu sudah muncul di hadapan Miao Tiang-hong.

Seorang adalah kakek tua berjenggot panjang berlengan lebar seorang lagi adalah laki-laki pertengahan umur yang berpakaian ketat dengan gerak-geriknya yang tangkas dan gesit, pada kedua sisi pinggangmya tergantung sepasang Boan-koan-pit.

Pakaian yang dikenakan orang tua itu amat aneh, baju bagian atasnya masing-masing terdapat empat buah kantong, demikian pula sebuah kantong besar pula terdapat di punggungnya, kelima kantong tampak penuh sesak, terang berisi berbagai macam senjata rahasia Begitu melihat Miao Tiang-hong sekilas ia melenggong, namun cepat sekali ia sudah berkakakan, serunya.

"Ternyata Miao Tayhiap, aku tua bangka ini mohon maaf !"

Sementara Miao Tiang-hong menahan amarahnya, sekadarnya ia bersoja, katanya.

"Tong losiansing, selamat bertemu, selamat bertemu!"

Tidak luput dari dugaan Miao Tiang-hong semula, orang tua ini bukan lain adalah angkatan tua dari keluarga Tong di Sujwan yang terkenal akan ilmu senjata rahasianya. Berkata Tong Thian-chong.

"Kalian berdua belum pernah bertemu bukan, saudara ini adalah Lian-keh-pek-bi Lian Kam-peh."

Keluarga Lian seperti pula keluarga Tong merupakan keluarga persilatan turun temurun yang kenamaan juga, terutama Su-pit-tiam-pat-meh merupakan kepandaian tunggal dari bulim, di antara anak murid dari keluarga Lian ini, cuma Lian Kam-peh seorang saja yang betul-betul berhasil mewarisi kepandaian leluhurnya, oleh karena itulah dia dijuluki Lian-keh-peh-bi (si alis putih dari keluarga Lian).

Seperti diketahui Lian Kam-peh pernah meluruk ke Tong-thing-san membuat onar, akhirnya digebah lari lintang pukang oleh Hun Ci-lo dan Siau-hujin.

Kejadian itu diketahui oleh Miao Tianghong.

Segera ia berkata dingin.

"Sudah lama kagum. Kalian kemari untuk keperluan apa?'"

Seperti tertawa tidak tertawa Tong Thian-chong berkakakan, ujarnya.

"Kenapa, Miao-Tayhiap, kalau kau boleh datang memangnya kami tidak boleh?"

"Aku hendak menjenguk Siau-hujin, semasa hidup suaminya adalah teman baikku, namun mereka jelas tiada punya hubungan persahabatan dengan keluarga Tong kalian."

"Siapa bilang aku punya hubungan dengan mereka suami istri?"

"Jadi Tong-locianpwe kenal baik dengan keluarga Lau?"

"Memangnya harus kenal dengan orang baru boleh berada di Pak-bong-san ini?"

Lian Kam-peh mendadak menimbrung.

"Miao Tayhiap. kukira kau bukan mencari Siau-hujin, kau hendak menemui Hun Ci-lo, bukan?"

"Kalau benar bagaimana? Kalau tidak kau mau apa?"

Tong Thian-chong tertawa dingin.

"Waktu di Samho tempo hari aku ketemu Beng Goan-cau yang baru keluar dari rumah keluarga Hun, hari ini di Pak-bong-san ketemu kau Miao Tayhiap. Hehe, orang mengatakan Hun Cilo adalah si cantik laksana bidadari, usia sudah cukup tua, namun masih tampak ayu rupawan, agaknya obrolan orang tidak bohong."

Lian Kam-peh terbahak-bahak, oloknya.

"Sudah tentu benar, kalau kembang tidak harum mana bisa memancing kupu dan kumbang?"

Sungguh amarah Miao Tiang-hong tak terkendali lagi, hardiknya gusar.

"Tutup mulut!"

Tong Thian-chong menarik muka, jengeknya dingin.

"Selama hidupku lohu tidak pernah dibentak orang! Kenapa, aku mengumpat Hun Ci-lo, memangnya melukai hatimu!' "Tong Thian-chong!"

Seru Miao Tiang-hong murka.

"Kupandang kau sebagai bulim cianpwe, terhadapmu aku menaruh sedikit sungkan. Sebaliknya kau ngaco belo bicara tidak karuan. Memangnya setua ini usiamu, hidup pada badan babi atau anjing!"

Tong Thian-chong menyurut mundur dua langkah, bentaknya.

"Miao Tiang-hong, berani kau kurang ajar kepada lohu!"

Sebagai ahli senjata rahasia, dengan menyurut mundur dua langkah, terang dia sudah siap menyambitkan senjata rahasianya. Tidak ketinggalan Lian Kam-peh pun melolos sepasang potlot-nya, katanya.

"Potong ayam masa perlu menggunakan golok kerbau. Tong-losiansing, biar aku dulu yang menghadapi Miao Tayhiap yang mengagulkan diri sebagai laki-laki sejati ini! Miao Tiang-hong, biarlah aku aku bicara terus terang kepadamu, kau kemari hendak menemui gendakmu, sebaliknya aku hendak menangkap gendakmu itu."

"O, jadi kalian adalah cakar alap-alap pihak kerajaan, baik, biar aku pun bicara terus terang kepada kalian, tipu muslihat dan intrik-intrik kalian sudah lama kudengar, memang aku ingin menghajar antek-antek anjing alap-alap seperti kalian ini! Ayolah kalian maju bersama."

Bagi tokoh kosen persilatan paling pantang naik darah dalam pertempuran, tujuan Lian Kampeh mengolok dan mencemooh supaya Miao Tiang-hong naik pitam, tak nyana hasilnya malah sebaliknya, lekas sepasang potlotnya menggaris bundar satu lingkaran terus menubruk maju lebih dulu seraya membentak gusar.

"Orang she Miao, jangan kau takabur, kalau kau mampu mengalahkan sepasang potlotku ini, boleh nanti kau belajar kenal dengan am-gi Tong-losian-sing."

Miao Tiang-hong menghimpun semangat mengerahkan hawa murni, menanti ujung potlot lawan sudah menotok dekat, sekonyong-konyong ia gunakan tipu Kim-tan-toh-kak, dua jarinya menjentik beruntun.

"Creng, creng"

Seketika ia jentik miring ke kanan kiri kedua potlot musuh. Hardiknya.

"Silakan boyong keluar seluruh keahlianmu, biar aku layani dengan sepasang telapak tanganku, coba kau dapat berbuat apa terhadapku."

Baca Juga: Pendekar Lengan Buntung 4

Baca Juga: Tengkorak Maut 2

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger