Kelana Buana 13

Eps 13 Kelana Buana - Liang Ie Shen

Baca online Kelana Buana - Liang Ie Shen

Cersil Kelana Buana - Liang Ie Shen.

Lian Kam-peh amat kaget akan kehebatan Tan-ci-sin-thong lawan, namun ia pun mengandalkan kepandaian ilmu totoknya yang lihay tiada bandingan di seluruh kolong langit, meski kaget, namun sedikit pun ia tidak menjadi gugup.

Sebat sekali potlotnya sudah putar balik, ujung potlotnya menukik dan menuding naik dengan gerak serangan lain yang lebih hebat.

Jurus perubahan ini dilakukan dalam waktu yang amat cepat dan aneh lagi, tampak dari berbagai penjuru angin, bayangan ujung potlotnya berlapis-lapis, seolah-olah ada beberapa orang Lian Kam-peh yang sekaligus menyerang bersama dari sekelilingnya.

Mau tidak mau bercekat juga hati Miao Tiang-hong, pikirnya.

"Keng-sin-pit-hoat dari keluarga Lian memang tidak bernama kosong!"

Harus diketahui bahwa Keng-sin-pit-hoat adalah ilmu warisan keluarga Lian, merupakan ilmu totok dengan sepasang potlot baja yang tiada keduanya di seluruh dunia.

Letak kelihayannya pada totokan yang dapat melukai Kikeng-pat-meh di badan lawan, betapapun tinggi Iwekangnya tidak akan kuasa melawannya.

Jurus-jurus permainannya yang paling hebat dinamakan Su-pit-tiam-patmeh, dua orang bergabung sekaligus menggunakan empat batang potlot, dalam satu jurus, berbareng dapat menyerang Ki-keng-pat-meh lawan.

Turun temurun keluarga Lian mengandal ilmu totoknya yang lihay ini malang melintang dalam bulim, selama puluhan tahun, hanya ayah Kim Tiok-liu saja yaitu Kim Si-ih seorang yang mampu memecahkan Su-pit-tiam-pat-meh dari Keng-sin-pit-hoat ini.

Untung sekarang Lian Kam-peh hanya seorang diri, tidak mungkin dia bisa melancarkan jurusjurus dari Su-pit-tiam-pat-meh itu, terpaksa dia hanya mampu melancarkan Su-pit-tiam-pat-meh dengan kedua potlotnya itu.

Tapi meski kekuatannya jauh ketinggalan, perbawanya toh cukup hebat juga.

Di antara berkelebatnya bayangan pukulan dan ujung potlot, Lian Kam-peh melintang silangkan sepasang potlotnya sembari mendorong ke depan.

Potlot kiri menotok ke empat hiat-to yang terletak pada Jin-toh, sementara potlot kanan menotok tiga jalan darah besar di Sau-yang dan Bing-cang, cukup salah satu dari jalan darah itu tertotok, Miao Tiang-hong pasti terluka berat.

Tong Thian-chong menonton pertempuran seru ini di luar kalangan, melihat permainan seluruh Keng-sin-pit-hoat Lian Kam-peh ini, diam-diam ia memuji dan bersorak dalam hati.

Melihat kehebatan totokan tujuh hiat-to yang telak ini, diam-diam Tong Thian-chong mengira Miao Tianghong pasti bakal terluka parah pada salah satu urat nadinya.

Siapa tahu terdengarlah suara "Crang, creng"

Yang gencar seperti senar kecapi dipetik cepat, sehingga orang lain yang mendengar sampai napas terasa sesak.

Ternyata sekonyong-konyong Miao Tiang-hong lompat tinggi melambung ke tengah udara, kesepuluh jarinya beruntun menjentik bersama, bukan saja ia bikin ujung potlot lawan mental balik, malah sisa kekuatan jentikan jari-jarinya berbalik mengincar tiga hiat-to besar di badan Lian Kam-peh.

Dengan jumpalitan ke belakang Lian Kam-peh meluputkan diri, di dalam kesibukannya sebat sekali ia menyurut mundur setombak lebih, lapisan bayangan potlotnya yang bergulung tadi seketika dibikin kocar kacir.

Keruan Tong Thian-chong kaget dan berubah air mukanya, batinya.

"Ilmu Tan-ci-sin-thong keparat ini ternyata begini lihay dan lincah sekali, mungkin senjata rahasiaku pun tidak akan mampu melukai dia! Maka sambil menonton ia putar otak, mencari akal cara bagaimana untuk memperoleh kemenangan secara tak terduga-duga untuk menolong posisi Lian Kam-peh yang sudah mulai terdesak di bawah angin. Belum lagi Lian Kam-peh berdiri tegak, terdengar Miao Tiang-hong membentak.

"Diberi tidak membalas kurang hormat, nah kau pun rasakan kepandaian ilmu totok-ku!"

Seolah-olah bagai bayangan mengikuti bentuknya, belum lenyap suaranya, kedua jarinya tahu-tahu sudah menotok tiba di Hong-hu-hiat di punggung Lian Kam-peh.

Dalam kerepotannya lekas Lian Kam-peh gunakan Ih-sing-hoan-wi, kedua potlotnya berputar menusuk terbalik, diganti dengan tipu Heng-hun-toan-hong, walaupun gerakan perubahan jurusnya ini dilakukan dengan mudah dan berkelit dengan cepat, tak urung terdengar "cret"

Bajunya tahu-tahu sudah tertusuk berlubang.

Untung kulit dagingnya tidak terkena totokan jari Miao Tiang-hong.

Setelah bergebrak beberapa jurus, diam-diam Miao Tiang-hong pun memuji dan kagum dalam hati, pikirnya.

"Untungnya hanya dia seorang menggunakan Siang-pit-tiam-su-meh, kalau di antara anak murid keluarga Lian yang lain ada seorang yang punya kepandaian seperti dia, terang aku tidak akan mampu menandingi Su-pit-tiam-pat-meh ini."

Umumnya senjata peranti menotok hiat-to semakin pendek semakin berbahaya.

Kedua potlot Lian Kam-peh ini panjangnya satu kaki delapan inci, sudah termasuk senjata terpendek di antara senjata-senjata untuk menotok hiat-to.

Tapi kali ini Miao Tiang-hong menotok dengan jarinya, jauh lebih pendek dari kedua potlotnya.

Kesepuluh jari-jari tangannya dapat dikem-bang tekuk dan kaku lemas, setiap jari-jarinya seumpama pula sebatang potlot baja.

Bagi pertarungan tokoh-tokoh kosen, hanya terpaut setengah mili pun, apalagi adu kekuatan antara potlot dan jari sudah menyerupai perkelahian bergumul layaknya, jauh lebih berbahaya.

Lian Kam-peh sudah keluarkan segala kemampuannya, namun hanya mampu bertahan membela diri, sedikit pun tidak mampu menyerang, diam-diam ia mengeluh dalam hati.

Mana dia tahu, kalau hatinya sedang mengeluh, sebaliknya dalam pandangan Tong Thianchong yang menonton di pinggir, diam-diam ia merasa di luar dugaan.

Karena Tong Thian-chong memperhitungkan, paling lama dia hanya mampu bertahan sepuluh jurus, namun kini tiga puluh jurus sudah lewat.

Ternyata dasar watak Miao Tiang-hong memang suka ilmu silat, melihat Keng-sin-pit-hoat dari keluarga Lian memang merupakan kepandaian tunggal di bulim, maka ia berpikir dalam hati.

"Sayang keturunan keluarga Lian tiada seorang ahli waris yang dapat ditonjolkan, cuma Lian Kampeh seorang yang boleh dipandang sebagai murid yang terpandai. Intisari dari Su-pit-tiam-patmeh, selama hidupku ini mungkin tidak berjodoh untuk menikmatinya lagi, sungguh harus disesalkan. Kalau tidak bisa memperoleh pokoknya biarlah aku mendapat apa adanya, aku harus memberi kesempatan kepadanya supaya mempertunjukkan seluruh kepandaian Siang-pit-tiampat-mehnya itu, hitung-hitung aku memperoleh hasil yang lumayan juga!"

Justru karena dia berniat mencuri lihat keseluruhan dari ilmu totok keluarga Lian ini, maka Lian Kam-peh baru mampu bertahan sedemikian lama.

Tong Thian-chong pun seorang persilatan yang berpengalaman, setelah menonton sekian lamanya, akhirnya dia paham juga akan maksud hati Miao Tiang-hong.

Sembari menggenggam senjata rahasia yang sudah dia siapkan, diam-diam hatinya tertawa geli.

Sebetulnya begitu melihat Lian Kam-peh menghadapi bahaya, ia sudah siap hendak menolongnya dengan timpukan amginya, kini malah tidak perlu ia turun tangan lagi.

Meski sedang bertempur tapi pandangan dan pendengaran Miao Tiang-hong tetap jeli dan memperhatikan sekelilingnya, sedikit pun ia tidak mengendorkan kesiagaan-nya, ia amat waspada kepada Tong Thian-chong yang sedang menonton dari luar kalangan.

Karena dimabuk oleh jalan pikirannya, tanpa merasa perasaan hatinya terunjuk pada seri wajahnya, mimik wajah orang inilah yang selalu diperhatikan oleh Miao Tiang-hong.

Melihat sorot mata dan ujung mulut orang yang menyungging senyuman penuh arti, seketika tersadar pikiran Miao Tiang-hong, katanya dalam hati.

"Aku memang terlalu ceroboh, musuh tangguh di depan mata, mana boleh aku seenak sendiri menikmati pertunjukan ilmu silat orang lain? Dari sikap tua bangka ini, agaknya ia sedang menunggu kesempatan, setelah tenagaku terkuras oleh Lian Kam-peh, baru dia akan turun tangan mengambil keuntungan."

Tatkala itu ilmu Siang-pit-tiam-pat-meh yang diyakinkan Lian Kam-peh boleh dikata sudah delapan puluh persen dilancarkan, terpaksa Miao Tiang-hong harus batalkan niatnya untuk memperhatikan ilmu lawan, dan seketika ia mulai menyerang gencar dan turunkan tangan keji.

Permainan Lian Kam-peh sendiri sedang sampai jurus Kim-tiau-can-ci, potlot kiri bagai terbang miring menyerang musuh, sementara potlot kanan tertekan turun ke bawah melindungi dada, Miao Tiang-hong sudah mengincar dengan tepat, jari tengah tangan kanan segera menjentik ujung polot kiri lawan, kelima jari-jari tangan kiri seperti cakar garuda, cepat sekali mencengkeram ke pundaknya.

Dalam menyerang kali ini sekaligus ia gunakan kombinasi dari Kim-na-jiu-hoat dan Tan-ci-sinthong, setelah menjentik balik sebatang potlot lawan, jalan tengah Lian Kam-peh dengan sendirinya terbuka lebar, maka tulang pundak menjadi sasaran empuk untuk diserang!

Di saat Lian Kam-peh terancam marabahaya oleh cengkraman jari tangan pada pundaknya itu, tiba-tiba terdengar suara "Ting"

Sekali, ternyata Tong Thian-chong me-nyambitkan sekeping mata uang tembaga, yang telak sekali membentur ujung potlot Lian-Kam-peh di tangan kiri.

Jari tengah Miao Tiang-hong sedang menuding ke arah lawan, ujung potlot terjentik miring, kini tahu-tahu ujung potlot itu terbentur mata uang pula, dan mendadak berputar arah.

Keruan Miao Tiang-hong menjentik tempat kosong, kejadian justru teramat cepat, tahu-tahu ujung potlot lawan sudah menusuk tiba di depan tenggorokannya.

Tong Thian-chong pasti akan menimpukkan senjata rahasia untuk menolong kawannya, hal ini sudah dalam dugaan Miao Tiang-hong.

Tapi cara timpukan senjata rahasia seperti itu, betul-betul berada di luar dugaannya.

Maklumlah kalau senjata gelap musuh mengincar salah satu tempat penting di badannya, sejak tadi ia sudah siap siaga, betapapun lihay senjata rahasia musuh dia pasti bisa melawannya.

Kini senjata rahasia itu malah mengarah senjata musuh yang lain, itu berarti membuat senjata musuh berubah tipu untuk menyerang kelemahannya sendiri yang tidak terjaga sebelumnya, untuk menghadapinya sudah tentu jauh lebih sulit.

Cara yang dilakukan ini, bukan saja perlu dilandasi lwekang yang tinggi, malah waktu yang digunakan pun harus tepat dan persis, sepersepuluh detik pun tidak boleh kurang.

Kalau tidak, sekeping mata uang tembaga sekecil itu bagaimana bisa membentur ujung potlot yang terjentik miring sehingga putar balik balas menyerang ke tempat lawan yang berbahaya?

Meski ajaran ilmu silat Miao Tiang-hong amat luas dan dalam, banyak pengetahuan dan pengalaman, cara timpukan senjata rahasia selihay dan hebat yang menakjubkan ini, selamanya belum pernah ia saksikan.

Dalam bayangan tangan dan berkelebatnya ujung potlot yang berkutat itu, terdengar salah seorang mendadak berteriak keras, terus terlempar setombak lebih!

Bukan Miao Tiang-hong, sebaliknya adalah Lian Kam-peh yang terjungkal jatuh.

Ternyata dalam detik-detik yang amat berbahaya itu, Miao Tiang-hong masih sempat berkeputusan dan bertindak dengan cepat, lengan bajunya dikebut menggulung ujung p.otlot, telapak tangan kiri dari mencengkram ia rubah jadi pukulan miring, dengan sengit ia gunakan telapak tangannya seperti golok membacok.

Nyali Lian Kam-peh memang sudah ciut seperti burung melihat gendewa, melihat pukulan miring Miao Tiang-hong yang dahsyat ini, mana berani dia melawan?

Saking kaget dan takut, sigap sekali dengan segala kemampuannya ia melompat mundur jumpalitan ke belakang.

Gerak badannya memang sudah tidak terkendali keseimbangannya, ditambah gentakan tenaga pukulan Miao Tiang-hong lagi, kontan ia terbanting jatuh dengan kaki tangan menghadap langit.

Waktu Miao Tiang-hong menunduk, dilihatnya ujung lengan bajunya pun tertusuk berlubang oleh ujung potlot lawan yang runcing, untung dia bertindak cepat, diserang balas menyerang sembari memusnahkan serangan lawan, memang tenggorokannya terhindar dari tusukan, hiat-to penting di dada mungkin bisa tertusuk luka parah oleh lawan.

Setelah lolos dari elmaut, tak urung berdebar keras jantung Miao Tiang-hong.

Segera ia tertawa dingin.

"Tong-locianpwe, tadi sudah kusuruh kalian maju bersama saja, kenapa main timpuk dengan sembunyi-sembunyi? Memangnya tidak takut nama besar keluarga Tong kalian yang tenar sebagai ahli senjata rahasia nomor satu di seluruh jagat kau sapu bersih?"

Berubah air muka Tong Thian-chong, namun ia menyengir dibuat-buat, katanya.

"Miao Tayhiap, senjataku tadi, kan tidak kutimpukkan kepada kau."

"O, kau tidak mengarah aku, jadi kau membantu aku? Kalau begitu aku harus berterima kasih kepadamu. Lian Kam-peh, kawan tuamu ini sendiri membokong kau, maka jangan kau salahkan aku bikin kau mencium tanah, silakan kau buat perhitungan kepadanya."

Sindiran tajam ini seketika membuat muka tua Tong Thian-chong merah padam, sampai Lian Kam-peh sendiri pun merasa kikuk dan malu.

Baru saja dengan gerakan ikan gabus mencelat bangun lantas mendengar sindiran Miao Tiang-hong, maka sepasang matanya segera menatap ke arah Tong Thian-chong tanpa bersuara.

Dari malu Tong Thian-chong jadi gusar, bentaknya.

"Miao Tiang-hong, jangan kau pentang bacotmu yang busuk, kau ingin berkenalan dengan kepandaianku, biar lohu beri kesempatan supaya matamu melek. Lian Kam-peh, mundurlah kau istirahat, biar aku yang menghadapi!"

"Benar, kupikir kau sebagai bulim cianpwe yang kenamaan, tidak pantas bertingkah seperti anak-anak yang suka malu-malu dan pura-pura belaka. Lebih baik majulah bersama supaya kau nanti tidak main curang membokong dengan senjata gelapmu."

Tong Thian-chong mendengus, bentaknya.

"Jangan putar bacot melulu, asal kau mampu menghadapi beberapa macam senjata rahasia lohu, bersama Lian Kam-peh segera kami turun gunung!"

Seiring dengan kata-katanya, tangannya segera terayun, tiga batang bor terbang dengan formasi segi tiga meluncur ketiga sasaran atas, tengah dan bawah di badan Miao Tianghong.

Miao Tiang-hong kira orang menggunakan cara timpukan aneh menyerang dirinya, keruan ia me-lengak heran, pikirnya.

"Aneh, kenapa tidak sehebat tadi?"

Kiranya cara timpukan ketiga bor terbang Tong Thian-chong ini meski terhitung serangan ganas dan hebat, kalau dilakukan orang lain, sudah boleh terhitung ahli senjata rahasia nomor satu.

Bagi Tong Thian-chong sebagai ahli senjata rahasia nomor satu di kolong langit, timpukan macam itu dianggapnya yang paling sepele dan biasa.

Siapa tahu, di saat pikiran Miao Tiang-hong belum lenyap, baru saja dia berniat menghadapi timpukan tiga buah bor terbang lawan yang sepele dan biasa itu, sekonyong-konyong pandangan matanya seperti kabur karena taburan bintik-bintik sinar kemilau di depan matanya, Bwe-hoa-ciam yang tidak terhitung banyaknya laksana hujan deras tahu-tahu terbang melesat ke arahnya.

Bwe-hoa-ciam merupakan senjata rahasia yang paling ringan bobotnya, dibanding dengan bor terbang yang berat itu, sudah tentu jauh sekali bedanya, seumpama kedua macam senjata rahasia ini disambitkan bersama, tentulah bor terbang akan melesat tiba lebih dulu.

Di luar tahunya bahwa perya-kinan ilmu senjata rahasia Tong Thian-chong mempunyai keistimewaan dan kekhususannya sendiri, ternyata Bwe-hoa-ciam melesat datang lebih dulu meski disambitkan belakangan.

Hebat memang kepandaian Miao Tiang-hong, dalam situasi yang gawat itulah badannya tibatiba berkisar seperti gangsingan, baju yang dipakainya laksana layar berkembang tertiup angin kencang, maka terdengarlah suara "Crat, crit"

Yang ramai tak henti-hentinya, segenggam Bwehoa-ciam yang tak terhitung jumlahnya itu, semua menancap di atas bajunya.

Peristiwa terjadi teramat cepat, sementara ketiga buah bor terbang yang berformasi segi tiga itu pun terbang ke arah dirinya, lekas Miao Tiang-hong menyedot nafas, kaki pun menjejak sekuatnya sehingga badannya melambung tinggi ke tengah udara, bor terbang yang mengarah bagian bawahnya mengenai tempat kosang, yang di tengah hampir saja menyerempet telapak kaki sepatunya, sementara bor terakhir di bagian atas kena dikebut jatuh oleh lengan bajunya, maka ketiga bor terbang itu menancap di atas tanah tetap dengan formasi segi tiga pula.

Sekonyong-konyong Miao Tiang-hong bersiul panjang di saat badannya meluncur turun, seketika jarum-jarum yang menancap di atas bajunya bagai hujan deras sama rontok berjatuhan.

Tak terasa Tong Thian-chong berseru memuji.

"Miao Tayhiap, Thay-ceng-khi-kangmu memang hebat dan tidak bernama kosong."

Kembali ia ayun tangan, sekaligus enam batang pisau terbang ia sambitkan.

Melihat lubang-lubang kecil di bajunya, tak urung mencelos hati Miao Tiang-hong.

Dilihatnya keenam batang pisau itu meski disam-bitkan bersama, namun masing-masing meluncur simpang siur dengan kecepatan yang berlainan.

Naga-naganya sasarannya miring dan luput, namun kali ini Miao Tiang-hong sudah tidak berani ayal lagi.

Dua pisau di depan terbang lewat dari kiri kanan Miao Tiang-hong, jaraknya paling sedikit ada tiga kaki, menurut biasanya, bagi orang yang pandai menimpukkan senjata rahasia, sasarannya tidak mungkin miring sedemikian jauh, keruan Miao Tiang-hong menjadi bingung, namun sekonyong-konyong dirasakannya dari arah belakang terasa deru sambaran senjata tajam, ternyata kedua batang pisau itu terbang balik, malah luncuran terbang baliknya itu lebih kencang!

Sementara barisan kedua dari dua batang pisau terbang lainnya kebetulan sudah melesat tiba pula.

Seketika Miao Tiang-hong terserang dari depan dan belakang bersamaan.

Untunglah Miau Tiang-hong tidak pernah pandang ringan musuhnya, sejak tadi ia sudah siaga, lekas ia lolos pedangnya terus terayun balik, sekaligus ia pukul runtuh dua batang pisau terbang yang menyerang dari belakang.

Tangkas sekali tangan kiri seperti menggapai dengan gampang ia raih sebatang pisau terbang, sementara dengan Hong-tiam-thau ia luputkan diri dari sambaran pisau terbang yang lain pula.

Sigap sekali ia timpukkan balik pisau di tangan kirinya.

"Trang, trang"

Dua batang pisau terbang di barisan ketiga dan terakhir ia pukul jatuh semuanya.

Walau keenam pisau terbang Tong Thian-chong ini dapat dipunahkan oleh Miao Tiang-hong, entah dengan cara berkelit, memukul jatuh, namun cukup membuat dia kerepotan.

Miao Tianghong jadi berpikir.

"Entah masih ada cara aneh apa pula yang diyakinkan tua bangka ini?"

Otak berpikir sementara kaki tangan bertindak dengan cepat, sebelum Tong Thian-chong sempat menimpukkan senjata rahasia susulannya, mendadak ia menubruk ke arah Lian Kam-peh, bentaknya.

"Kata-kataku selalu boleh dipercaya, ayolah kalian maju bersama."

Sudah tentu Lian Kam-peh naik pitam, bentaknya gusar.

"Kau kira aku mudah kau hina? Hm, Hm, memang kau sendiri ingin mencari kematian, jangan kau salahkan kami main keroyok kepadamu!"

"Memangnya aku sendiri yang sudah menantang supaya kalian maju bersama, tidak perlu kau main pura-pura belaka, mari kita buktikan, pihak mana mampus lebih dulu?"

Dalam bicara itu, secepat kilat beruntun ia sudah menusuk tujuh kali dengan ujung pedangnya mencecar Lian Kampeh.

Lian Kam-peh sendiri mengandal bantuan kuat ada di samping, maka barulah dia berani menghadapi serangan Miao Tiang-hong.

Bahwasanya tadi ia sudah merasakan kelihayan Miao Tiang-hong, meski lahirnya ia unjuk rasa gusar yang meluap-luap, seolah-olah hendak adu jiwa sama Miao Tiang-hong, sebetulnya hatinya sudah jeri dan takut.

Dengan pedang berada di tangannya, sudah tentu Miao Tiang-hong lebih leluasa dan lebih lihay dibanding waktu ia bertangan kosong tadi, terpaksa Lian Kam-peh harus keluarkan seluruh peryakinan ilmu silatnya, sekuat tenaga punahkan ketujuh serangan berantai lawan, namun setiap jurus dari tujuh tusukan hebat itu selalu mengancam jiwanya, saking takut dan kagetnya badannya basah kuyup oleh keringat dingin.

Namun rangkaian ilmu pedang Miao Tiang-hong sambung menyambung bagaikan gelombang air sungai besar bergulung-gulung tidak putus-putus, jalan mundur di depan belakang dan kanan kiri Lian Kam-peh sudah terbendung oleh lingkaran sinar pedang lawan, ingin dia menerjang keluar dari kepungan lingkungan sinar pedang dan sembunyi ke belakang Tong Thian-chong, namun sudah terlambat dan tidak mungkin lagi.

Bahwa Miao Tiang-hong sengaja menarik Lian Kam-peh dalam pertempuran seru ini, memang supaya Tong Thian-chong serba salah jika menyerang dengan senjata rahasianya.

Tak habishabisnya cara timpukan aneh yang dikembangkan oleh Tong Thian-chong.

Miao Tiang-hong tahu bila pertempuran berlangsung lama, ia sendiri tidak begitu yakin bisa selalu meluputkan diri dari serangan gencar musuh.

Tong Thian-chong menonton sesaat lamanya, setelah jelas akan gerak langkah dan ilmu pedang Miao Tiang-hong, dilihatnya pula Lian Kam-peh memang sudah terdesak segera ia menyeringai dingin, serunya.

"Miao Tiang-hong, kau kira dengan caramu ini kau bisa bikin aku kerepotan untuk turun tangan? Hehe, kau belum tahu kelihayan senjata rahasia dari keluarga Tong kami! Lihat piau!"

Gerakan serangan senjata rahasianya memang amat menakjubkan, tiga buah pisau laksana tumbuh mata saja, semua mengarah tepat kepada Miao Tiang-hong, sampaipun ke mana posisi Miao Tiang-hong berkelit pun sudah dalam perhitungannya.

Meski Miao Tiang-hong sedang merangsak Lian Kam-peh dengan sengit, senjata rahasianya tidak usah kuatir bakal salah melukai Lian Kam-peh.

Akan tetapi walau senjata rahasianya tidak kuatir melukai Lian Kam-peh, betapapun gerakan timpukan simpanannya yang lebih lihay dan aneh-aneh itu tidak bisa dia kembangkan.

Umpamanya gerakan Boanrthian-hoa-ih (hujan kembang di angkasa) dengan timpukan Bwe-hoaciam, rangkaian senjata rahasia saling bentur dan beradu menyerang tempat-tempat yang tidak terduga oleh lawan, serta gerakan dan cara-cara lain pula.

Kalau dia nekad menggunakan ilmunya ini untuk menggasak Miao Tiang-hong, bukan mustahil Lian Kam-peh pun ikut terluka.

Tujuan Miao Tiang-hong tercapai separuh, namun dinilai dari keseluruhannya, betapapun dia masih berada di pihak yang terdesak, lebih banyak berbahaya daripada keuntungannya.

Memang bila menghadapi serangan biasa Tong Thian-chong, ia cukup berkelebihan untuk melayaninya.

Tapi karena harus menghadapi sergapan dan serangan gelap senjata rahasia Tong Thian-chong, mau tidak mau ia harus kerahkan seluruh kekuatannya untuk menghadapi Lian Kampeh.

Sudah tentu lama kelamaan Miao Tiang-hong rasakan tekanan dari rangsakan kedua tokoh kosen yang mengerubutinya semakin berat, bukan saja Keng-sin-pit-hoat keluarga Lian merupakan ilmu tunggal yang lihay dari bulim, ia harus selalu waspada terhadap senjata gelap Tong Thian-chong, betapa pun tangguh dan tinggi Iwekangnya, lama kelamaan tenaga pasti terkuras habis dan terasa semangat tempurnya semakin kendor.

---ooo0dw0ooo---Waktu Toan Siu-si dan Hun Ci-lo lari turun gunung, belum lagi keluar dari bilangan hutan kembang Bwe, tiba-tiba terdengar pula suitan panjang, namun suitan panjang kali ini berkumandang dari atas gunung.

Keruan Hun Ci-lo amat kaget, teriaknya.

"Celaka!"

"Apanya celaka?"

Tanya Toan Siu-si tidak mengerti.

"Itu bukan suitan Miao Tiang-hong."

"Benar, suara suitan ini bernada tebal seperti suara orang tua. Lekas kau pulang, mungkin kawanan cakar alap-alap yang meluruk datang tidak serombongan. Miao Tayhiap di bawah sana, biar aku yang membantunya!"

Apa yang terpikir oleh Toan Siusi terpikir pula oleh Hun Ci-lo, dan lagi setelah dia menenangkan hati, masih sempat pula didengarnya dengan jelas bahwa suara suitan itu terang suara dari ayah angkatnya Lau In-long.

Ia tahu ayah angkatnya adalah seorang pendekar bulim yang mengasingkan diri, namun sampai di mana taraf kepandaian silatnya, dia sendiri belum pernah melihatnya, begitu mendengar suara suitan datang dari rumahnya, keruan hatinya menjadi bingung dan gugup, cepat ia berkata.

"Baik, setelah kau gebah kawanan cakar alap-alap itu, lekas naik ke atas, setelah pukul mundur musuh, segera kita akan memapak ke bawah!" ---ooo0dw0ooo---Tidak luput dari dugaan Toan Siu-si, kawanan cakar alap-alap yang datang ternyata memang tidak hanya serombongan, di saat Miao Tiang-hong menghadapi kerubutan musuh-musuh tangguhnya, saat itu pula di rumah keluarga Lau In-long sedang terjadi suatu keributan yang hampir menewaskan anak Hun Ci-lo. Seperti diketahui Lau In-long gemar main catur, karena terlalu iseng tinggal di rumah, maka mereka suami istri selalu menghabiskan waktu dengan main catur. Kepandaian main catur istrinya terpaut jauh dibanding dirinya, sebaliknya Siau-hujin merupakan seorang ahli dalam permainan ini, maka sejak kedatangan Siau-hujin, barulah Lau In-long terhitung ketemu lawan setanding Pagi hari itu, ia pun ajak Siau-hujin main catur pula, baru saja menang setengah mainan, sudah tentu ia semakin getol. Siau-hujin lantas berkata.

"Loyacu, caturmu semakin lihay, aku harus terima kalah!"

"Ah, masa, aku tahu barusan sengaja kau mengalah kepadaku, belum masuk hitungan!"

Siau-hujin tertawa geli, katanya.

"Dengarlah, cucumu sedang ribut, biar aku pergi mengasuhnya sebentar, nanti sebentar kutemani kau main lagi."

"Ci-lo ke mana?"

Tanya Lau In-long.

"Dia sedang keluar, mungkin sedang latihan pedang di hutan Bwe, masa kau tidak tahu?"

Ternyata waktu Hun Ci-lo pamitan mau keluar tadi, Lau In-long sedang peras otak pikirkan pemecahan biji-biji caturnya yang terdesak, maka ia tidak hiraukan kejadian lainnya.

Setelah Siauhujin menjelaskan baru ia tahu, keruan ia bergelak tertawa.

"Aku ini memang sudah pikun. Baik, keluarlah tengok bocah itu, biar kubereskan biji-biji catur ini!"

Lau Hujin sedang menggendong orok kecil itu sambil digoyangkan pergi datang, mulut pun bernyanyi-nyanyi kecil, tapi orok itu malah menangis semakin hebat. Siau-hujin kebetulan keluar, katanya.

"Kelihatannya mestika kecil ini sudah lapar. Berapa lama Ci-lo pergi, kenapa sampai sekarang belum juga pulang?"

"Dia pergi latihan pedang di hutan Bwe, mungkin sebentar pulang. Biar kusuapi air susu menjangan saja. Tolong kau bopong sebentar, aku pergi mengambilnya."

Baru saja ia hendak serahkan orok kecil itu kepada.Siau-hujin, tiba-tiba terdengar langkah kaki mendatangi, jalannya cepat dan enteng, di tengah jerit tangis sang bayi hampir tidak terdengar, setelah orang tiba di depan pintu barulah jejaknya diketahui.

Lau Hujin berseru senang.

"Ci-lo, kebetulan kau sudah pulang. Lekaslah kau susui anakmu."

Tak nyana "Biang"

Tiba-tiba pintu besar terdorong terbuka, orang dari luar itu menerjang masuk, ternyata bukan Hun Ci-lo, tapi adalah seorang kakek tua yang bermulut monyong dan berpipi tepos.

Siau-hujin amat kaget, bentaknya.

"Kau si rase tua ini kemari mau apa?"

Kontan ia memapak orang dengan pukulannya.

Ternyata kakek tua ini bukan lain adalah Thong-thian-hou Coh Thian-hiong yang pernah bergebrak dengan Siau-hujin dulu.

Gerak-gerik Coh Thian-hiong lebih tangkas dan cekatan dari Siau-hujin, begitu tiba di dalam, lantas ia melihat tegas keadaan di dalam rumah, cepat ia rangkap kedua jarinya langsung menotok ke muka Lau Hujin, sementara tangan yang lain merebut orok dalam pelukannya.

Dia perhitungkan Lau Hujin pasti harus melindungi orok itu, karena kuatir akan keselamatan orok kecil itu, maka ia menyerang pada titik kelemahan orang lebih dulu.

Memang Lau Hujin juga bisa bersilat, namun tingkat kepandaiannya tidak tinggi, secara mendadak dirinya disergap, betul juga dalam selintasan gebrak saja, orok dalam pelukannya tahutahu sudah terebut oleh Coh Thian-hiong.

Tapi dengan keras ia masih coba peluk orok kecil itu, sehingga Coh Thian-hiong berkesempatan menceng-kram pergelangan tangannya dengan Taykim-na-jiu-hoat, tanpa kuasa orok itu terpental lepas dari pelukannya, sementara Lau Hujin tersungkur jatuh.

Sayang pukulan Siau-hujin rada terlambat, orok yang terpental jatuh itu melayang ke arah lain.

Lekas Siau-hujin layangkan pukulannya, hendak merebut orok itu.

Coh Thian-hiong membentak.

"Kalau kau tidak sayang jiwa orok kecil ini, ayolah maju!"

Dua pihak bergerak amat cepatnya, kalau salah satu pihak tidak mundur atau mengalah, begitu orok itu jatuh pastilah bisa tertarik menjadi dua potong oleh mereka.

Mana Siau-hujin berani dan tega main rebut secara kekerasan dengan Coh Tay-hiong.

Untunglah kepandaian silatnya sudah mencapai taraf sesuai menurut keinginan hatinya, di dalam detik-detik yang berbahaya, ia masih sempat menahan gerakannya sendiri.

Meski ia tahu bila orok itu terebut di tangan Coh Thian-hiong, orang pasti menggunakannya sebagai sandera, tapi demi keselamatan orok itu sendiri, terpaksa ia mengalah saja.

Coh Thian-hiong bergelak tertawa, tangannya terulur meraih orok itu, tak nyana belum lagi mulutnya terkatup, tiba-tiba ia menjerit kesakitan dan muntah-muntah.

Bersama itu terasa pergelangan tangan terasa linu, tanpa kuasa ia tersurut mundur tiga tapak.

Ternyata Lau In-long timpukkan tiga biji caturnya, dua biji memukul masuk ke dalam mulut dan merontokkan gigi, biji yang lain telak sekali mengenai tangannya, keruan lengan kanannya seketika lemas lunglai, dua giginya rontok.

Orok kecil itu kembali melayang jatuh dan kebetulan kena diraih oleh Siau-hujin.

Orok kecil yang baru genap seratus hari ini mana tahu bila jiwanya terenggut kembali dari pintu akhirat, di tengah udara berulang kali ia jumpalitan dan akhirnya kembali ke pelukan Siau-hujin, mungkin dikiranya orang tua mengajaknya bermain dan berkelakar, semula masih menangis, kini malah tertawa riang.

Cepat sekali Lau In-long sudah memburu keluar, bentaknya.

"Kau rase tua ini ganggu permainan caturku, aku harus buat perhitungan kepada kau! Lihat pukulan!"

Coh Thian-hiong ahli dalam ginkang, tak nyana tidak kuasa meluputkan diri dari serangan tiga biji catur lawan, kena dirugikan serunyam itu pula, keruan kaget dan gusar pula.

Tapi julukannya Thong-thian-hou, pikiran licik dan licin, ia paling pintar melihat angin putar haluan, begitu dirinya kecun-dang, ia tahu bahwa lawan adalah musuh tangguh, seorang Lau In-long belum tentu dirinya mampu menandingi, apalagi masih ada Siau-hujin yang berkepandaian lihay pula, lari adalah cara yang paling mudah untuk menyelamatkan diri.

Lau In-long angkat papan caturnya terus mengepruknya.

Coh Thian-hiong lekas berkisar dengan gaya naga melingkar berputar langkah, berkelit sembari melarikan diri, langsung menuju ke arah pintu besar.

Didengarnya Lau In-long menghardik di belakang.

"Kau bikin permainan caturku kocar kacir, nih gendonglah papan caturku ini!"

Seketika Coh Thian-hiong rasakan angin kencang menubruk punggung, cepat ia melompat miring ke samping, belum lagi ia berdiri tegak, punggungnya terasa seperti tertindih batu besar ribuan kati, saking kesakitan ia menjerit sejadijadinya, darah menyembur keluar dari mulutnya.

Ternyata Lau In-long pukulkan dulu sekali Bik-khong-ciang, sebelumnya ia sudah perhitungkan bahwa orang pasti akan berkelit ke samping pada posisi yang tertentu, maka ia papaki dengan lemparan papan caturnya.

Lwekang Lau In-long sudah mencapai puncak kesempurnaan, pukulan Bik-khong-ciangnya kuat dan menderu keras, namun lemparan papan caturnya sebaliknya tidak bersuara sedikit pun.

Coh Thian-hiong tidak berani berpaling ke belakang, ia hanya andalkan ketajaman pendengaran kupingnya, ia sangka dirinya sudah meluputkan diri dari timpukan senjata rahasia orang, tak nyana dirinya justru terjebak dalam perangkap lawan dan kecundang secara konyol.

Saat mana Hun Ci-lo sedang lari pulang bagai terbang, kebetulan ia berpapasan dengan Coh Thianhiong yang sedang lari pontang panting dari dalam rumah dengan luka-luka yang terasa sakit bukan buatan.

Hun Ci-lo mencabut pedang.

"Sret"

Kontan ia papaki orang dengan tusukan pedang ke dada lawan dengan tipu Giok-li-toh-so.

Saking kesakitan Coh Thian-hiong tengah rasakan pandangan matanya berkunang-kunang, mana bisa ia meluputkan diri dari tusukan ini?

"Cret"

Di mana ujung pedang mengiris lewat, lengan kiri Coh Thian-hiong tergores luka panjang yang banyak mengeluarkan darah.

Namun betapapun lwekang Coh Thian-hiong jauh lebih tinggi dari Hun Ci-lo, karena kedua lengannya terluka, terpaksa ia lintangkan sikutnya seraya menerjang, sehingga Ceng-kong-kiam di tangan Hun Ci-lo tergentak mencelat dari ce-kalannya, sambil menggerung keras, bagai banteng ketaton Coh Thian-hiong lari lintang pukang, sekejap saja bayangannya sudah menggelundung ke bawah lereng bukit dan tidak kelihatan lagi.

Kuatir Hun Ci-lo berbadan lemah sejak melahirkan, dan kena dilukai oleh musuh, maka Lau Inlong tidak mengejar musuhr terlebih dulu ia bantu Hun Ci-lo mema-yangnya bangun, tanyanya.

"Ci-lo, kau tidak apa-apa?"

"Tidak apa-apa. Sayang rase tua itu lolos juga. Anakku tidak apa-apa bukan?"

Lau In-long tertawa, ujarnya.

"Tengoklah ke dalam, dia sedang tertawa gembira. Rase tua itu terkena tusukan pedangmu, terhitung sudah melampiaskan penasaran hatimu, biarlah dia ngacir pergi!"

Lekas Hun Ci-lo berlari masuk dan merebut anaknya dari bopong-an Siau-hujin, katanya tertawa.

"Kau si mungil ini masih tertawa riang, tahukah kau jiwa kecilmu barusan berhasil direnggut kembali oleh Kongkong?"

"Sudahlah, sekarang kau sudah kembali, ayolah temani aku main catur saja. Siau-toaso, akan kutunjukkan kepadamu sebuah problem yang dinamakan Cap-ong-gia-be, apakah kau bisa memecahkannya?"

"Ayah, sekarang jangan kau tergesa-gesa main catur, ada sebuah tugas penting mohon bantuanmu."

"Ada urusan apa?"

Tanya Lau In-long.

"Miao Tiang-hong kebentur musuh tangguh di lamping gunung. Toan Siu-si sudah menyusul ke sana untuk membantunya, tapi musuh bukan hanya satu orang saja, mungkin Toan Siu-si saja belum mampu mengatasi keadaan!"

"Kalau toh sahabat lama yang datang, aku si tua bangka ini harus menyambutnya sebagai tuan rumah. Baik, kalau pulang nanti barulah kita pecahkan bersama Cap-ong-gia-be itu."

Seorang diri-Miao Tiang-hong harus menghadapi kerubutan dua lawan tangguh, meski lwekangnya tinggi, lama kelamaan tenaga terkuras habis dan keringat pun membanjir keluar.

Memang tidak malu Tong Thian-chong digelari ahli senjata rahasia nomor satu di seluruh jagat, berbagai macam senjata rahasianya diberondong keluar semua tak putus-putus, semakin menyerang semakin ganas, setiap biji senjata rahasianya seolah-olah tumbuh mata, semua justru meluruk ke arah Miao Tiang-hong seorang, yang di ncar pun tempat-tempat penting di badannya, tiada satu pun yang nyasar melukai Lian Kam-peh.

Karena berada di atas angin, bangkit kembali semangat tempur Lian Kam-peh, sepasang potlotnya ditarikan bagai naga terbang burung hong menari.

Setiap kesempatan ia gunakan untuk menyergap dan membokong, ujung potlotnya selalu mengincar hiat-to mematikan di tubuh Miao Tiang-hong.

Dalam seribu kesibukan di tengah pertempuran sengit itu, karena harus meluputkan diri dari sambaran senjata rahasia Tong Thian-chong, sedikit ayal, ujung potlot Lian Kam-peh berkesempatan menyelonong masuk dan menusuk berlubang pangkal lengan bajunya.

Saking kegirangan melihat serangannya berhasil, Lian Kam-peh lantas sesumbar.

"Bagus, sampai kapan kau masih berani pongah! Lekaslah menyerah dan berlutut saja kepada tuan besarmu, biar kusuruh Tong-loyacu mengampuni jiwamu."

Miao Tiang-hong gusar, sekonyong-konyong ia lancarkan sejurus serangan yang berbahaya, di mana sinar perak berkelebat, ujung pedangnya tahu-tahu menusuk dari arah yang tidak terduga oleh Lian Kam-peh.

Melihat gelagat yang berbahaya ini, lekas Tong Thian-chong timpukkan senjata rahasaianya untuk menolong Lian Kam-peh.

"Cras"

Bukan saja ujung pedang Miao Tiang-hong melubangi pakaian Lian Kam-peh, malah kulit dagingnya pun ikut tertusuk luka berdarah.

Walau bukan luka berat, namun deritanya jauh lebih besar dari kerugian yang dialami Miao Tiang-hong tadi.

Sebetulnya timpukan senjata rahasia Tong Thian-chong ini masih sempat ia kelit, tapi kalau ia meluputkan diri berarti membuang kesempatan untuk melukai Lian Kam-peh.

Memangnya Miao Tiang-hong berani bertindak senekad ini lantaran dia bertekad untuk membalas tusukan ujung potlot orang, maka dia tidak sia-siakan kesempatan ini meski seandainya diri sendiri pun terluka pula, oleh karena itulah secara kekerasan ia menyambuti senjata rahasia Tong Thian-chong.

Itulah sebatang piau terbang yang panjang lima dim, begitu Miao Tiang-hong menangkapnya, tiba-tiba ia rasakan telapak tangannya seketika terasa panas membara seperti terbakar, lekas ia kibaskan tangan membuangnya.

Waktu ia menunduk, dilihatnya kulit telapak tangan sudah timbul bintik-bintik kecil yang berair.

Kiranya piau terbang milik Tong Thian-chong ini dinamakan Kat-cupiau (piau kalajengking) sebelumnya sudah direndam dalam air beracun, begitu menyentuh tangan racunnya bekerja, rasanya seperti orang disengat kala atau binatang berbisa lainnya.

Begitu tangan keracunan, meski tidak sampai membahayakan jiwanya, namun permainan pedang Miao Tiang-hong sudah tidak selincah tadi.

Miao Tiang-hong menjengek dingin.

"Ahli senjata rahasia nomor satu di kolong langit, kiranya juga menggunakan senjata rahasia tingkat rendah ketiga!"

Karena olok-olok ini, dari malu Tong Thian-chong jadi gusar, katanya setelah mendengus.

"Yang menang dialah yang kuat, peduli apa aku menggunakan senjata rahasia apa? Kalau kau takut, lekas menyerah saja."

"Kentutmu busuk. Semula kuhargai kau sebagai bulim cianpwe, bukan saja kau terima jadi antek bangsa Tartar, kau gunakan cara hina dina seperti itu. Hm, kau tidak tahu malu, akulah yang malu bagi kau."

"Miao Tiang-hong, kematian di depan mata, masih takabur apa kau?"

Miao Tiang-hong bergelak tertawa, serunya.

"Mati seringan bulu atau seberat gunung Thaysan, seorang laki-laki sejati tidak takut menghadapi kematian! Seumpama aku orang she Miao betul-betul mati, jauh lebih bersih dan suci daripada anjing bangkotan seperti tampangmu ini. Baik, kau tidak takut ditertawakan orang-orang gagah di seluruh dunia, silakan kau boyong keluar semua senjata rahasiamu! Aku kuatir besar hasratmu bunuh aku, belum tentu bisa terlaksana keinginanmu!"

Berubah merah hijau dan pucat rona muka Tong Thian-chong oleh caci maki ini, seringainya sadis.

"Meski kubunuh kau dengan senjata rahasiaku, kecuali Lian Kam-peh seorang, siapa pula yang tahu? Takut ditertawakan orang lain apa segala? Baik, anggapmu aku tidak mampu bunuh kau, nah lihatlah kelihayanku!"

Di tengah jengek dinginnya, kedua tangan ganti berganti terayun saling susul, Thilian-cu, Bwe-hoa-ciam, Toh-kut-ting, Pia-hong-piau, Hwi-to, panah tangan dan berbagai senjata rahasia besar kecil yang beraneka ragamnya sama meluruk ke arah Miao Tianghong bagai hujan derasnya, semua senjata rahasia ini berlumuran racun.

Miao Tiang-hong kembangkan ilmu pedangnya yang peranti untuk mempertahankan diri dengan rapat dan ketat, maka terdengarlah suara berdering yang ramai, karena kuatir salah melukai Lian Kam-peh sendiri, ilmu tunggal timpukan senjata rahasia dari perguruan keluarganya yang aneh-aneh tidak bisa dia kembangkan, namun demikian, sebatang Toh-kut-ting dan sebatang panah tangan berhasil juga melesat masuk ke dalam lingkungan pertahanan sinar pedangnya, hampir saja Miao Tiang-hong kena dilukai.

Semula Lian Kam-peh bertempur dengan cara berputar mengelilingi Miau Tiang-hong dan main sergap dan bokong, begitu Miao Tiang-hong kembangkan pertahanan ilmu pedangnya, semua senjata rahasia sama disampuk jatuh atau terpental ke berbagai arah, kuatir terluka oleh senjata rahasia yang nyasar, maka jarak permainan Lian Kam-peh semakin jauh dari Miao Tiang-hong, lambat laun, kedua potlotnya sudah tidak bisa mencapai badan Miao Tiang-hong lagi.

Tapi permainan kedua potlotnya justru semakin kencang, seolah-olah ia putar menjadi dua utas bianglala perak, bukan untuk menyerang musuh, terpaksa dia harus menjaga diri dari segala kemungkinan.

Di antara lima kantong senjata rahasia Tong Thian-chong, hanya satu kantong saja yang khusus untuk menyimpan senjata rahasia beracun, kini ia sudah pakai sebagian besar dari senjata rahasianya itu, namun belum mampu melukai seujung rambut Miao Tiang-hong, keruan lama kelamaan darahnya semakin mendidih, teriaknya.

"Lian Kam-peh, kau mundurlah, bukan bantu aku kau malah mempersulit aku saja!"

Dengan adanya berondongan senjata rahasia Tong Thianchong bagai hujan derasnya itu, Miao Tiang-hong jadi tak sempat lagi berusaha merintangi Lian Kam-peh keluar dari gelanggang pertempuran.

Walau kedudukan Lian Kam-peh dalam bulim tidak setingkat dengan Tong Thian-chong, jelekjelek punya nama dan tingkatan dalam keluarganya, mendengar kata-kata Tong Thian-chong, keruan malu dan panas pula mukanya.

Tapi demi keselamatan jiwa sendiri, terpaksa ia turuti kemauan Tong Thian-chong, tanpa bersuara segera ia mundur dari tengah arena.

Di saat ia berlari ke arah Tong Thian-chong itulah, mendadak dari dalam hutan menerobos keluar sesosok bayangan, orang menerjang ke arah dirinya.

"Siapa itu?"

Kontan Tong Thian-chong menghardik, dua batang Kat-cu-piau tahu-tahu ia timpukkan memapak kedatangan orang itu. Orang itu berseru lantang.

"Toan Siu-si dari Tiam-jong sengaja melu-ruk datang ingin jajal kepandaian senjata rahasia dari keluarga Tong kalian!"

Sekali ulur dengan mudah ia sambuti kedua batang Kat-cu-piau itu. Begitu timpukkan senjata rahasianya, Tong Thian-chong lantas tertawa dingin.

"Baik, kau ingin jajal, biar kau rasakan sendiri. Sudah tahu kelihayanku tidak? ayolah roboh, roboh!"

Tak nyana setelah menyambuti kedua batang Kat-cu-piau tadi badan Toan Siu-si hanya kelihatan sedikit limbung, namun tidak sampai jatuh, terdengar orang malah berkakakan.

"Ternyata tokoh yang digelari sebagai ahli senjata rahasia nomor satu sejagat dari keluarga Tong menggunakan senjata rahasia rendah yang memalukan seperti ini. He he, aku cukup kenal sekarang!"

Di tengah gelak tawanya badannya beberapa kali lompat turun naik, tahu-tahu sudah menubruk tiba di hadapan Tong Thian-chong.

Perlu di ngat bahwa Toan Siu-si sendiri pun melatih pukulan beracun, kalau Tong Thian-chong gunakan senjata rahasia berbisa menyerang dia, menggunakan cara timpukan yang aneh dan lihay lagi, mungkin Toan Siu-si tidak akan selamat.

Kini dia gunakan Kat-cu-piau, racun menyerang racun, begitu ia tangkap di tangannya, sedikit pun tidak menimbulkan reaksi apa-apa.

Tong Thian-chong tidak duga gerak-gerik orang sedemikian cepat dan tangkasnya, ia kira begitu Toan Siu-si menangkap Kat-cu-piaunya dalam waktu singkat pasti roboh semaput, maka timpukan senjata rahasia selanjutnya ia tidak tujukan kepada Toan Siu-si, tapi ia arahkan kepada Miao Tiang-hong.

Gerakan cepat Toan Siu-si memang di luar perhitungan Tong Thian-chong, senjata rahasianya khusus untuk menyerang dari jauh tidak mungkin disambitkan dari jarak dekat, di saat ia hendak putar badan untuk melayani Toan Siu-si sudah tidak keburu lagi.

Sembari menghardik, kedua telapak tangan Toan Siu-si ditarikan bersama.

"Biar kau pun berkenalan dengan kepandaianku! Hehe, kau hadapi aku dengan senjata rahasia beracun, jangan kau salahkan bila aku menghajarmu dengan pukulan berbisa!"

Tong Thian-chong lintangkan tangan di depan dada, dengan sejurus Hud-hun-jiu ia tangkis kedua pukulan tangan Toan Siu-si ke samping.

"Aduh!"

Tahu-tahu mulutnya menjerit dar^ terpental jatuh setombak lebih. Toan Siu-si terbahak-bahak, ia menubruk maju lagi hendak membekuknya, tiba-tiba ia dengar Miao Tiang-hong berseru.

"Toan-heng, awas!"

"Blum!"

Saat itu juga tahu-tahu sebuah senjata rahasia meledak di hadapan Toan Siu-si.

Ternyata itulah salah satu senjata rahasia Tong Thian-chong yang paling jahat dan ganas, dinamakan Tok-hu-kim-ciam-liat-yan-tam, di dalamnya di si bahan peledak, begitu meledak seketika menyemburkan asap tebal beracun, di antara kabut beracun yang bergulung-gulung itu menyambar pula jarum-jarum kecil selembut bulu kerbau.

Tadi karena kuatir melukai teman sendiri, maka sampai sekarang baru dia gunakan.

Untung Miao Tiang-hong berseru memperingatkan tepat pada waktunya, di saat-saat segenting itu, Toan Siu-si kembangkan ilmu gin-kangnya yang paling hebat, tiba-tiba badannya melambung tinggi seperti burung dara jumpalitan di tengah udara, badannya melesat terbang ke samping, terhindarlah dia dari semburan api.

Namun demikian hidungnya sudah menyedot sedikit kabut berbisa, dan terkena dua batang Bwe-hoa-ciam lembut itu.

Dua batang Bwe-hoa-ciam tidak mengenai hiat-to, tidak menjadi soal, namun sedotan kabut berbisa itu, seketika membuat kepala Toan Siu-si pening dan mata berkunang-kunang.

Insyaf waktu amat berharga, di saat antara mati dan hidup ini, sedikit ayal saja senjata rahasia Tong Thian-chong lainnya yang beracun segera bakal menyusul tiba pula, jiwanya tentu sukar diselamatkan.

Maka tanpa hiraukan dirinya sudah keracunan, lekas ia kerahkan hawa murni, sementara ia tahan napas, secepat kilat menyambar, kembali ia menubruk balik, sehingga Tong Thian-chong kerepotan dan tidak sempat timpukkan senjata rahasianya pula.

Tong Thian-chong sendiri pun takut menyedot kabut berbisanya sendiri, begitu ia timpukkan senjata rahasianya, lekas ia menggelundung setombak lebih.

Di saat baru saja ia melompat bangun, Toan Siu-si sudah menyerang tiba pula, begitu kedua telapak tangan masing-masing saling gempur, kedua pihak sama tergentak mundur satu langkah.

Ternyata Tong Thian-chong tadi hanya pura-pura terbanting jatuh, supaya lebih leluasa ia gunakan senjata rahasianya.

Dinilai dari peryakinan Iwekangnya, meski tidak lebih unggul dari Miao Tiang-hong, namun tidak lebih asor dari Toan Siu-si.

Melihat orang beruntun dua kali terkena pukulan berbisanya tanpa kurang suatu apa, diamdiam Toan Siu-si amat heran.

Setelah ia awasi dengan seksama, barulah dia lihat bahwa Tong Thian-chong mengenakan sarung tangan yang terbuat dari kulit menjangan.

Maklumlah sebagai ahli senjata rahasia nomor satu, kalau dia bisa melukai orang dengan senjata rahasia berbisa, sudah tentu ia pun paham cara bagaimana menjaga diri.

Sarung tangan dari kulit menjangan itu memang khusus untuk menyam-buti senjata rahasia yang beracun, maka untuk menghadapi pukulan berbisa Toan Siu-si, manfaatnya sama saja.

Lwekang keduanya setanding, Toan Siu-si menyedot sedikit kabut beracun, sedikit banyak Iwekang-nya terpengaruh.

Sebaliknya Tong Thian-chong tidak perlu kuatir menghadapi serangannya, oleh karena itu tentu Tong Thian-chong berada di atas angin.

Tong Thian-chong terbahak-bahak, ejeknya.

"Pukulan berbisa-mu tidak berguna, mengaku kalah saja. Kau kan tiada hubungan kental dengan Miao Tiang-hong, kenapa kau sudi jual jiwa bagi dia?"

Toan Siu-si menghembuskan hawa kotor, kipasnya dikembangkan, tanpa banyak bicara ia cecar lawan dengan sengit.

Di sebelah sana, Miao Tianghong berhasil mengejar Lian Kam-peh, kembali mereka berhantam dengan sengit untuk ketiga kalinya.

Lian Kam-peh cukup licin dan cerdik, melihat Tong Thian-chong unggul di atas angin, segera ia berkeputusan mempertahankan diri saja tanpa balas menyerang, setelah Tong Thian-chong mengalahkan Toan Siu-si pasti akan membantu dirinya.

Keng-sin-pit-hoatnya memang cukup tinggi dan ilmu tunggal dari bulim, walau Miao Tiang-hong setingkat lebih tinggi, untuk mengalahkan orang dalam waktu pendek juga tidak mungkin.

Tong Thian-chong lancarkan ilmu Bian-ciang untuk layani musuhnya, di antara kekerasan pukulannya mengandung kelunakan yang kuat dan dahsyat, bisa bertahan dapat balas menyerang.

Karena menyedot hawa beracun sehingga semangat Toan Siu-si semakin luluh, keruan keadaannya semakin payah.

Di tengah pertempuran seru itu, tiba-tiba Tong Thian-chong lancarkan sejurus Yu-khong-hoan-jiau.

"Cret"

Kipas Toan Siu-si tercakar sobek, serunya bergelak tertawa.

"Tanpa menggunakan am-gi, aku pun bisa kalahkan kau, kau tidak mau tunduk?"

Ia tahu Toan Siu-si berwatak keras dan suka menang, sengaja ia mengolok hendak bikin orang gusar.

Hakikatnya bila tadi ia tidak gunakan peluru beracunnya, paling-paling ia hanya setanding dengan Toan Siu-si, kini sisa am-ginya tidak banyak lagi, babak selanjutnya ia harus menghadapi Miao Tiang-hong pula, kalau sekarang pihaknya sudah unggul di atas angin, untuk menghemat, maka ia mengumbar obrolan untuk membakar kemarahan musuh.

Ternyata Toan Siu-si kena dipancing, seketika naik darah dan memaki gusar.

"Bangsat tidak tahu malu!"

Di mana ia gentakkan tangan, kipasnya yang robek tadi seketika mengunjukan tulangtulang kipasnya yang terbuat dari besi kemilau, seperti anak panah menusuk ke arah Tong Thianchong.

Meski kipas itu sudah rusak, namun berada di tangannya merupakan senjata tajam yang aneh dan luar biasa juga.

"Lho, mau adu jiwa ya?"

Jengek Tong Thian-chong dingin, kedua tangannya ditarikan dengan gencar balas menyerang kepada Toan Siu-si sehingga lawan tidak berkesempatan balas menyerang.

Cara tempur Toan Siu-si terlalu membuang tenaga, memang semangatnya sudah mulai luluh, karena rang-sakannya tidak berhasil lagi, lambat laun keadaannya semakin payah.

Tong Thian-chong mendapat peluang mengincar titik kelemahannya, mendadak ia menghardik keras, serta menurunkan tangannya secara keji.

Dalam waktu Toan Siu-si berkutet dengan Tong Thian-chong ini, Miao Tiang-hong pun mempergen-car serangannya kepada musuh.

Agaknya ia sudah meraba jalan pikiran Lian Kampeh, puluhan jurus kemudian, ilmu pedangnya berubah, semuanya kini dilancarkan dengan jurus berbahaya dengan tipu-tipu yang ganas dan lihay, di mana ujung pedangnya tiba, yang di ncar adalah hiat-to-hiat-to penting di tubuh Lian Kam-peh.

Lian Kam-peh sendiri bergelar ahli totok nomor satu di kolong langit, namun karena lwekang sendiri bukan tandingan lawan, kini malah selalu dikunci dan di ncar oleh ujung pedang Miao Tiang-hong, hiat-to di badan sendiri selalu terancam tusukan.

Saking gencar rangsakan lawan, Lian Kam-peh sampai susah ganti napas, diam-diam hatinya mengeluh.

Mungkin belum sempat Tong Thian-chong memburu datang menolong tiba, dirinya sudah terluka oleh pedang Miao Tiang-hong.

Dalam pertempuran sengit itu, tiba-tiba pedang Miao Tiang-hong menusuk datang, lekas Lian Kam-peh lintangkan kedua potlotnya di depan dada, dengan sekuat tenaga ia menangkis dan punahkan serangan musuh, terdengar "Trang"

Kembang api berpercik, potlot Lian Kam-peh tergores gumpil sedikit, saking kaget serasa jantungnya pecah, ia kira jiwanya bakal celaka, tiba-tiba terasa angin kencang berkesiur, tahu-tahu Miao Tiang-hong melesat terbang dari samping badannya.

Karena harus menyelamatkan jiwa sahabatnya, maka Miao Tiang-hong tidak sempat melukai musuh lagi.

Dengan sejurus ilmu pedang yang teramat ganas dan lihay, ia desak mundur Lian Kam-peh, lalu ia kembangkan ginkang tingkat tinggi Pat-pau-kan-sian (delapan langkah mengejar tonggeret) secepat terbang menubruk maju ke depan.

Kedatangannya sungguh amat tepai sekali, saat itulah Tong Thian-chong sedang melancarkan serangan keji kepada Toan Siu-si yang kepayahan.

Sembari menghardik bagai guntur, dengan sejurus Beng-pok-kiu-siau, belum lagi kaki menyentuh bumi, pedangnya sudah menusuk turun dari tengah udara.

Di tengah berkelebatnya bayangan pukulan dan sinar pedang yang berkutat itu, terdengar suara "Krak", lengan kanan Toan Siu-si kena dipuntir copot tulangnya.

Sementara Tong Thianchong pun terluka oleh tusukan rangka kipas di bawah lambungnya.

Luka-lukanya memang tidak berat, namun darah bercucuran juga.

Untung Tong Thian-chong sendiri tahu gelagat, meski terluka ringan, ia masih sempat mengegos diri dari tusukan pedang Miao Tiang-hong yang mengincar jiwanya.

Dengan gaya Burung Dara Jumpalitan Tong Thian-chong jejakkan kaki melompat mundur beberapa tombak jauhnya, belum lagi berdiri tegak senjata rahasianya sudah memberondong pula.

Kini ia tidak perlu kuatir melukai teman sendiri, maka gerakan timpukan senjata rahasianya sungguh amat aneh dan menakjubkan.

Memang Miao Tiang-hong berhasil menolong sahabatnya dari marabahaya, namun sekilas ini dia sendiri jadi terkurung dalam serbuan senjata rahasia musuh yang gencar dan tak terhitung banyaknya.

Tulang lengan kanan Toan Siu-si keseleo, tak mungkin ia bantu Miao Tiang-hong.

Terpaksa ia menyingkir ke samping, sambil menahan sakit, ia berusaha menyambung tulang lengan sendiri serba diobati sekadarnya.

Kalau Tong Thian-chong kehilangan pertimbangan, sebaliknya Miao Tiang-hong amat menguatirkan keadaan Toan Siu-si.

Maklum luka Lian Kam-peh tidak berat, kalau orang meluruk kepada Toan Siu-si, mana dia kuat melawan?

Untung rasa kejut dan takut Lian Kam-peh belum hilang, dalam waktu dekat ia masih belum berani menubruk maju.

Setelah dia melihat situasi yang menguntungkan pihaknya, belum lagi ia bertindak, bantuan pihak lawan sudah keburu tiba.

Bantuan atau bintang penolong itu adalah Lau In-long yang memburu datang dari rumahnya, di tengah sambaran senjata rahasia yang seliweran memenuhi udara itu, ia angkat papan caturnya, sambil berlenggang menghampiri Tong Thian-chong.

Maka terdengarlah suara ramai nyaring tak henti-hentinya.

Kalau dikata memang aneh dan lucu sekali, senjata rahasia yang beterbangan di tengah udara itu, ternyata beramai-ramai sama rontok berjatuhan di atas papan caturnya itu.

Kiranya papan catur itu terbuat dari besi semberani, maka senjata gelap yang terbuat dari besi, semua tersedot lengket oleh papan caturnya itu.

Betapapun hebat dan aneh cara timpukannya, tak berguna lagi.

Lau In-long terbahak-bahak, serunya.

"Besi-besi rongsokan ini cukup untuk aku membuka toko besi. Miao Tayhiap silakan kau istirahat, biar aku berkenalan sampai di mana tingkat kepandaian senjata rahasia nomor satu dari keluarga Tong!"

Maklum dengan tingkat kedudukannya dengan Miao Tiang-hong, sudah tentu tidak akan sudi melawan musuh secara keroyokan.

Tong Thian-chong tak bersuara, di saat orang bergelak tertawa kembali ia ayunkan tangannya, menimpukkan dua batang senjata rahasia.

Kedua batang senjata rahasia ini menyambar membawa sinar kehijauan, kembali Lau In-long angkat papan caturnya hendak menangkis, tak nyana senjata rahasia kali ini ternyata tidak tersedot oleh papan caturnya.

Seketika Lau In-long berteriak.

"Aduh celaka tua bangka kali ini!"

Ternyata kedua senjata rahasia ini terbuat dari batu jade, tidak mungkin tersedot oleh besi semberani.

Agaknya Tong Thian-chong sudah perhitungkan ke mana posisi Lau In-long hendak mengegos, begitu kedua batang senjata rahasia itu menyambar tiba di depan dadanya, tiba-tiba berputar dengan satu lingkaran sama meluncur ke arah badannya.

Bangga dan senang akan buah tangannya Tong Thian-chong terbahak-bahak.

"Bagaimana kepandaian senjata rahasia dari keluarga Tong? Tidak bikin kau kecewa bukan?"

Belum lenyap tawanya, tiba-tiba biji matanya melotot terbelalak seperti melihat keanehan.

Ternyata kedua senjata rahasianya itu kebetulan mengenai tulang pundak Lau In-long dengan telak, betapapun tinggi ilmu silat seseorang, bila tulang pundak kena dibikin remuk, maka ia akan menjadi orang cacat seumur hidup.

Tong Thian-chong gunakan Jiong-jiu-hoat dalam melancarkan serangan senjata rahasianya, maka ia yakin pasti dapat meremukkan tulang pundak Lau In-long.

Siapa nyana, sasarannya memang kena dengan telak, namun tahu-tahu kedua batang senjata rahasianya itu meluncur jatuh dari atas pundaknya, badan Lau In-long sedikit pun tidak bergeming, lengan tidak terangkat, dia cuma membuka telapak tangannya.

Selintas pandang seolah-olah sedang bermain sulap saja layaknya, bahwasanya itulah ilmu tingkat tinggi yang lihay dengan cara meminjam tenaga memunahkan tenaga, begitu senjata menyentuh pundaknya, ia cuma sedikit menekan pundak ke bawah, seluruh kekuatan dari timpukan senjata rahasia itu lantas dipunahkan seluruhnya.

Ilmu seperti ini mempunyai nama yang khusus yaitu Tiam-ih-cap-pwe-thiat (menyentuh baju, kontan pasti terpelanting jatuh) Latihan yang mencapai tingkat tertinggi, serangan yang betapapun dahsyatnya mengenai badan, tidak perlu dirinya kerahkan tenaga untuk balas atau melawan, begitu lawan menyentuh pakaiannya, kontan pasti terbanting jatuh.

Latihan Tiam-ih-cap-pwe-thiat Lau In-long memang belum diyakinkan sampai tingkat yang paling sempurna, namun jaraknya tidak terlalu jauh lagi untuk mencapai tingkatan itu.

Waktu Lau In-long menimangnimang kedua senjata rahasia itu dan melihat tegas, seketika ia tertawa riang.

"Memang tidak bikin kecewa aku, mungkin semua perhiasan binimu akan kau berikan kepadaku, kalau begitu aku jadi dapat rejeki. Terima kasih, terima kasih!"

Bagaimana juga Tong Thian-chong seorang ahli silat yang kenamaan, melihat orang mendemonstrasikan ilmunya yang hebat itu, hatinya jauh lebih kaget dibanding tadi waktu melihat semua senjata rahasianya kena tersedot oleh papan catur orang, mana berani adu mulut lagi, lekas ia timpukkan sebutir Tok-hu-kim-ciam-liat-yan-tam, meminjam tebalnya kabut berbisa itu, lekas ia melarikan diri sipat kuping..Lian Kam-peh jauh lebih cerdik dan licik, begitu melihat Lau In-long datang, ia tahu gelagat jelek, maka ia melarikan diri lebih dulu.

Setelah kabut terhembus angin dan hilang, keadaan menjadi terang, bayangan mereka berdua pun sudah tak tampak pula.

Sebelum Lau In-long mengasingkan diri dulu Miao Tiang-hong pernah bertemu sekali, sedang Toan Siu-si baru kali ini jumpa.

Waktu itu tulang lengannya yang keseleo sudah ia sambung sendiri, lantas bersama Miao Tiang-hong maju memberi hormat menyatakan terima kasih.

"Kenapa sungkan, Miao-heng, kalau kau punya tempo temani aku main catur, aku sudah amat girang!"

"Main catur aku tidak begitu pandai, tapi saudara Toan ini justru seorang ahli."

"Miao-heng,"

Ujar Toan Siu-si.

"agaknya aku pernah membicarakan teori ilmu silat dengan kau, bagaimana permainan caturku dari mana kau bisa tahu?"

"Dari asal-usulmu cukup sebagai bukti, meski aku belum pernah lihat kau main catur, namun aku pernah dengar cerita orang lain."

Maklumlah sebagai seorang pangeran pada suatu kerajaan kecil^di Tayli, adalah jamak kalau Toan Siu-si pandai main catur dan mengenal musik, segala seni gambar dan tulis pun dipahami.

Untuk ilmu kesusastraan nama Toan Siu-si kira-kira sejajar dengan ketenaran Song Theng-siau dalam bulim.

Lau In-long kegirangan, serunya.

"Bagus sekali, naga-naganya memang hanya kau Toan-heng seorang yang dapat kuajak main sampai sepuluhan hari!"

"Mungkin Pakkiong Bong tidak akan memberi kesempatan kita begitu iseng dalam sepuluh hari mendatang ini!"

Demikian kata Toan Siu-si.

"Kau kuatir mereka bakal meluruk datang pula?"

Tanya Lau In-long.

"Walau hari ini mereka gagal total, pastilah tidak akan terima kalah begitu saja, betapa pun kita harus tetap waspada."

Lau In-long kurang senang, katanya.

"Tidak bisa sepuluh hari, tiga hari juga bolehlah. Mereka harus pulang ke Pakkhia memberi laporan, pulang pergi paling cepat tiga hari lebih!"

"Kiranya lo-cianpwe punya minat sedemikian besar, meski nanti malam aku tidak tidur, baiklah kutemani kau main catur semalam suntuk,"

Demikian ujar Toan Siu si.

"Aku ini memang ceroboh,"

Lau In-long sadar.

"hari ini kalian bisa berada di gunung sepi belukar ini, pastilah kalian punya tujuan penting bukan?"

"Aku kemari untuk menyambangi kau Loyacu, di samping hendak menyampaikan kabar kepada Siau-hujin,"

Demikian Miao Tiang-hong menerangkan.

"Aku sendiri sih ada urusan dengan Hun-lihiap, persoalannya ini cukup panjang bila dibicarakan..."

"Kalau urusan panjang tak perlu kau tergesa-gesa,"

Demikian sela Lau In-long.

"Dia sudah tahu urusan apa yang hendak kau bicarakan dengan dia?"

"Barusan aku bertemu dia, maksud kedatanganku dia sudah tahu!"

Sahut Toan Siu-si. Mereka bicara sembari jalan, tak terasa sudah sampai di depan rumah. Kata Lau In-long.

"Baik, kalau dia sudah tahu, sekarang juga kita mulai main catur!"

Kebetulan Hun Ci-lo berjalan keluar sambil menggendong anaknya, berhadapan dengan Miao Tiang-hong, sesaat lamanya mereka sama kesengsem, entah bagaimana rasa hati masing-masing.

Sambil menenteng papan caturnya, Lau In-long seret tangan Toan Siu-si terus diajak masuk ke dalam rumah.

"Miao-toako,"

Sapa Siau-hujin.

"kukira kau kemari sengaja hendak menengok Ci-lo?"

"Toaso, hendak kusampaikan sebuah berita yang amat menggirangkan. Cau Ho-lian sudah ketemu. Kejadian malah amat kebetulan, di saat aku bertemu dengan Ho-lian aku pun bertemu pula dengan dua orang lain, coba kau terka siapa mereka?"

"Bagaimana aku bisa menerka?"

"Mereka adalah adik Ho-lian dan putrimu."

"Hah, jadi kedua budak itu pun bertemu dengan kau, di mana kalian bertemu?" ;

"Markas pusat Ngo-liong-pang di Bo-seng."

Lalu Miao Tiang-hong menuturkan sejelasnya kepada Siau-hujin.

"Kalau demikian Gwat-sian piaumoay sudah rujuk kembali dengan Ho-lian!"

Demikian tim-brung Hun Ci-lo.

"Ci-lo,"

Kata Mao Tiang-hong.

"kudengar Toan Siu-si ada urusan penting hendak mencari kau, ada urusan apakah?"

Merah mata Hun Ci-lo, katanya.

"Hidupku memang sengsara, sampai anakku pun ikut menderita."

Lalu ia pun tuturkan cerita yang didengar dari Toan Siu-si.

"Kalau demikian,"

Kata Miao Tiang-hong setelah mendengar kejadian itu.

"putramu memang perlu selekasnya dijemput."

"Justru aku sedang kuatir, bila kuurus yang besar, lalu bagaimana dengan yang kecil ini."

"Anakmu ini serahkan kepadaku dan ibu angkatmu. Tak lama lagi kita memang harus meninggalkan tempat ini, pindah ke tempat lain, biar kita mencari ibu inang untuk mengasuhnya."

Lau Hujin ikut bicara.

"Seumpama tak menemukan bu inang juga tidak menjadi soal, aku bisa menyusukan susu menjangan. Susu menjangan malah lebih bermanfaat dari susu manusia, kau tidak tahu bahwa ayah angkatmu pun dibesarkan oleh susu menjangan."

"Begitu baik ibu kepadaku, entah cara bagaimana aku harus membalas kebaikan kalian!"

Demikian ujar Hun Ci-lo hampir terisak.

"Soal anak ini kau tidak usah kuatir. Aku sebaliknya kuatir akan kesehatanmu,"

Kata Siau-hujin. Hun Ci-lo melengak, katanya.

"Dalam hal apa bibi menguatirkan diriku?"

"Perjalanan ke perbatasan ini betapa jauhnya, di tengah jalan bukan mustahil kau dikuntit oleh cakar alap-alap, baru seratus hari kau melahirkan, ilmu silatmu belum pulih seluruhnya, seorang diri menempuh perjalanan ribuan Ii, bagaimana aku bisa lega hati melepasmu pergi."

Miao Tiang-hong merasa tidak boleh dirinya berpeluk tangan, maka segera ia berkata dengan penuh tekad.

"Aku dan Ci-lo sudah sebagai saudara angkat, kini dia menghadapi kesulitan, kukira tidak bisa aku menghindari tugas mulia ini, biar aku yang menemaninya dalam perjalanan ke perbatasan kali ini!"

Siau-hujin memang sedang menunggu kata-kata Miao Tiang-hong, seketika ia tertawa riang.

"Kalau Miao toako yang mengantar keponakanku, sudah tentu seratus persen aku lega hati."

Lau Hujin menimbrung.

"Mari kita masuk tengok permainan catur ayahmu sudah selesai belum. Urusan penting ini aku harus memberi tahu kepadanya."

Waktu Lau Hujin beramai mendorong pintu masuk ke ruang buku, kebetulan Lau In-long sedang berjingkrak kegirangan karena berhasil memecahkan problem Cap-ong-gia-be atas bantuan Toan Siu-si.

"Kau tua bangka ini seharian kerjanya cuma main catur melulu, urusan penting tidak mau kau ikut memikirkannya. Ci-lo lekas kau bicara sendiri dengan ayahmu!"

"Ayah, beberapa bulan ini putrimu berkat perawatan dan asuhan-mu dapat hidup senang dan ten-tram, besok terpaksa aku harus mohon diri, sementara waktu berpisah dengan ayah dan ibu."

Lau Hujin ikut menyela.

"Tua bangka, rumah kita ini kukira juga harus segera ditinggalkan."

Setelah mendengar penjelasan, Lau In-long menghela napas, ujarnya.

"Tiada perjamuan yang tak bubar dalam dunia ini, kalau toh terpaksa kita harus mengosongkan rumah tua ini, tapi putri kita ini toh bakal kembali pula bukan?"

"Aku pun amat berat berpisah dengan ayah bunda, kalian begitu sayang kepadaku, aku pasti kembali mendampingi kalian."

"Nah, kita sendiri pun perlu memikirkan tempat berteduh, kau sudah pikirkan ke mana kita harus pergi belum?"

Tanya Lau Hujin.

"Sejak lama sudah kupikirkan, kalau mau pergi ya berangkat ke tempat yang jauh saja. Kita bisa pergi ke Thiansan!"

"Apa, Thiansan? Begitu jauh?"

Lau Hujin kaget dibuatnya.

"Meski tempat itu teramat jauh, namun di sana aku punya sahabat karib!"

"Maksudmu Tong Keng-thian ciangbunjin Thian-san-pay?"

"Benar, aku kenal dia sebelum kawin dengan kau. Cakar alap-alap pasti tidak mampu meluruk ke tempat itu, boleh dikata kita hidup di dunia luar. Setelah tiba di sana, bocah ini pun akan selamat dan bisa diasuh dengan tentram."

Pertama-tama Siau-hujin menyatakan persetujuannya, katanya.

"Kabarnya istri Tong Kengthian yang bernama Ping-jwan-thian-li adalah perempuan ksatria aneh, aku pun sudah lama kagum terhadapnya, sungguh kebetulan kali ini aku bisa berkenalan sama dia."

Setelah segalanya diputuskan, besoknya pagi-pagi, mereka lantas berpisah menuju ke tempat tujuan masing-masing.

Semula Toan Siu-si hendak ajak Hun Ci-lo pulang, kini orang sudah ditemani Miao Tiang-hong, maka ia menggambarkan sebuah peta yang menunjukkan tempat rahasia di mana suhengnya tengah menyembunyikan diri.

Seorang diri ia pun berpisah menempuh perjalanannya sendiri mencari Thian-lam-su-hou untuk menuntut balas.

Untuk kedua kalinya Miao Tiang-hong seperjalanan dengan Hun Ci-lo, sudah tentu hubungan kali ini sudah jauh berlainan dengan perjalanan pertama dulu waktu ia mengantar Hun Ci-lo pulang ke rumah.

Keadaan berlainan sudah tentu perasaan pun berbeda.

Kini tiada pikiran mulukmuluk dalam benaknya, sikapnya menganggap Hun Ci-lo sebagai adik kandungnya sendiri, oleh karena itu sepanjang jalan ini hubungan mereka menjadi wajar dan intim.

Banyak persoalan yang mereka bicarakan sepanjang jalan ini.

Akhirnya mereka membicarakan urusan negara dan bangsa, membicarakan laskar rakyat di Siau-kim-jwan, mau tidak mau akhirnya mereka membicarakan Beng Goan-cau pula.

Senang dan menyesal pula Hun Ci-lo, katanya.

"Demi menentang penjajahan, Goan-cau berjuang mati-matian, dibanding dia aku ketinggalan jauh sekali."

"Sifat Goan-cau mantap dan tegas, berjiwa ksatria patriot bangsa. Kalau dia berdiri di hadapanmu, seolah-olah sebentuk gunung yang kukuh tinggi, membuat orang merasa mantap dan kokoh tak tergoyahkan."

Hun Ci-lo tertawa, ujarnya.

"Miao-toako, kau tidak tahu, waktu aku bersama dia dan Song Theng-siau main bersama, sering kami mengibaratkan dirinya sebagai Thay-san. Aku memang menyenangi wataknya itu."

"Aku tahu. Aku sendiri pun kagum dan simpatik akan wataknya yang tidak kenal putus asa serta ulet itu!"

"Bicara soal Thay-san, aku malah teringat seseorang. Lahirnya orang itu jauh berbeda dengan Beng Goan-cau, tapi mereka sama-sama punya watak yang tidak takut dan tidak mau tunduk menghadapi segala marabahaya."

"O, maksudmu adalah Lim Bu-siang?"

"Ya, entah di mana nona Lim itu sekarang?"

Miao Tiang-hong menerangkan.

"Dari pihak Kaypang Lim Bu-siang mendapat kabar, katanya Boh Cong-tiu sekongkol dengan pihak kerajaan, mereka berintrik berusaha merebut kekuasaan Hu-siang-pay. Oleh karena itu terpaksa dia membatalkan maksudnya hendak pergi ke Siau-kimjwan bersama Beng Goan-cau. Bersama suheng dan susonya kini ia kembali ke Thay-san."

"Usia nona Lim masih amat muda, tindak tanduknya lemah lembut, namun setiap kali menghadapi urusan penting, tak pernah dia takut menampilkan diri, memikul semua tanggung jawab di atas pundaknya. Bicara terus terang, aku amat senang dan mengaguminya."

"Goan-cau pernah bercerita, katanya Lim Bu-siang pernah membicarakan kau dengan dia, dia pun amat kagum terhadap kau. Agaknya meski kalian belum berkenalan, bolehlah dianggap seperti kawan sejati."

Hun Ci-lo seperti sedang memikirkan apa-apa, katanya sesaat kemudian.

"Perjalanan ke selatan kali ini, apakah kita lewat Thay-san?"

"Itu tergantung jalan mana yang akan kita tempuh. Sudah tentu kita bisa juga lewat dari kaki Thay-san. Cuma kalau lewat jalan lain, jaraknya lebih pendek dua hari perjalanan."

"Dari sini sampai ke Tiam-jong, paling cepat memakan waktu satu bulan bukan?"

"Ya, kira-kira tiga puluhan hari!"

"Kalau begitu tiada halangan terlambat satu dua hari."

"Apa kau ingin menemui Lim Bu-siang?"

"Memang. Waktu aku melahirkan di rumah bu inang tempo hari, kabarnya dia pernah datang, sayang aku tidak melihatnya. Waktu di pertemuan besar di Thay-san dulu, dia bersama Goan-cau, aku ada melihatnya, cuma dia belum mengenal aku."

"Maka kau ingin berkenalan secara langsung dengan dia?"

"Kalau dikata memang aneh, dalam lubuk hatiku selalu aku merasa, bahwa dia adalah temanku yang paling akrab, malah seperti adikku sendiri. Sudah tentu aku pun ingin secepatnya menjemput putraku, tapi untuk menemui dia, biarlah terlambat dua hari tidak menjadi soal."

"Aku maklum akan perasaanmu. Untuk mencapai cita-citamu, biarlah kutemani kau ke Thaysan!"

"Bagus, Miao-toako, kau terlalu baik kepadaku."

"Sebenarnya aku pun ingin ke Thay-san untuk menyirapi kabar. Menurut kabar yang didengar oleh pihak Kaypang, katanya Boh Cong-tiu dan Cong Sin-liong hendak membuat onar di Thay-san pada tanggal lima belas bulan yang lalu, entah bagaimana akhirnya, aku pun ingin mengetahui!"

Kalau di jalanan Hun Ci-lo sedang kangen kepada Lim Bu-siang, di atas Thay-san Lim Bu-siang pun sedang memikirkan Hun Ci-lo yang belum pernah dikenalnya itu.

Hari-hari yang ditentukan oleh Boh Cong-tiu hendak membuat onar menurut kabar sudah berselang, keadaan masih tetap tenang, tidak pernah terjadi sesuatu apa.

Lim Bu-siang amat heran, namun ia berprasangka bahwa Boh Cong-tiu dan Cong Sin-liong sudah jera kepada orang misterius berpakaian serba hitam itu.

Urusan sehari-hari dalam partai dikerjakan oleh Ciok Heng, Lim Bu-siang tidak perlu ikut campur dan memeras keringat.

Hari itu pagi-pagi benar, seorang diri ia berada di Siau-thian-tohong latihan silat dan bersamadi seperti biasanya.

Ia memperdalam ilmu pedang dan lwekang yang ia pelajari dari gua itu.

Berbeda dengan hari-hari biasanya, entah mengapa hari ini Lim Bu-siang tidak bisa tenang dalam latihan.

Setelah latihan selesai ia berdiri termangu mengawasi mega yang sedang bergulung-gulung, menggambarkan berbagai bentuk yang aneh-aneh, demikian pula perasaan hatinya seperti gumpalan awan yang berubah-ubah, timbul tenggelam sulit dibikin tenang.

Awan yang berubah-ubah itu tiba-tiba menggambarkan bayangan Beng Goan-cau.

"Entah bagaimana hasil perjuangan di Siau-kim-jwan, saat ini mungkin Beng toako tiada waktu senggang untuk mengenang diriku!"

Orang yang paling dikenangnya adalah Beng Goan-cau, dia sedang menguatirkan Beng Goancau, namun dia pun amat bangga dengan Beng Goan-cau.

Sering di saat ia teringat kepada Beng Goan-cau, serta merta teringat pula olehnya Hun Ci-lo.

Terpikir olehnya.

"Entah dia tahu tidak, di dalam lubuk hatiku, aku sudah anggap dia sebagai kakakku sendiri. Sayang hari itu aku tidak sempat bertemu dengannya."

Dalam pada itu, sang surya mulai menongolkan cahayanya yang cerlang cemerlang dari peraduannya, hati Lim Bu-siang yang gundah dan penuh diliputi kabut gelap itu, seketika menjadi lapang dan sirna tertingkah sinar matahari.

Sekonyong-konyong telinganya yang tajam menangkap sesuatu suara keresekan ganjil di dalam hutan.

Hati Lim Bu-siang kaget, lekas ia berpaling seraya meng-hadik.

"Siapa?"

Tampak di antara lima batang pohon siong tua yang menjulang tinggi ke angkasa itu, muncul seorang nyonya muda, sapanya sambil tersenyum.

"Bu-siang, masih kenal aku tidak?"

Roman muka nyonya muda ini mengulum senyum manis, namun di antara kedua alisnya lapat-lapat seperti dirundung tekanan batin yang tidak terlampiaskan.

Kejut dan senang dan heran pula Lim Bu-siang, katanya.

"Piauso, kau datang sendirian?"

Kiranya nyonya muda ini bukan lain adalah istri Boh Cong-tiu, Lian Jay-hong adanya.

"Ya, aku sendirian, sengaja aku kemari untuk menengokmu."

"Bukankah piauko yang suruh kau kemari?"

Lian Jay-hong rrtenghela napas, ujarnya.

"Bu-siang, bisakah kau mempercayai aku seperti dulu?"

"Piauso, kau minta aku percaya kepadamu, kuharap kau suka bicara terus terang lebih dulu, apa sebetulnya maksud kedatanganmu?"

"Aku kemari di luar tahu Piaukomu, maksudku hendak bicara dari hati ke hati denganmu!"

"Baik silakan kau berkata!"

"Pendidikanku cetek, namun mana baik siapa jahat, sedikit banyak masih bisa kubedakan. Dulu aku mengkhianati perguruan, karena aku tidak sudi sekomplotan dengan Cong Sin-liong yang sesat itu."

"Bagus, tindakanmu itu amat tepat, tapi apa kau tahu bagaimana tindak-tanduk Boh Cong-tiu sekarang?"

Seketika pucat muka Lian Jay-hong, katanya sambil menunduk.

"Aku tahu, aku tahu sekarang dia sudah berubah seperti keadaan .Cong Sin-liong semula."

"Kalau kau sudah tahu, memangnya apa yang hendak kau lakukan?"

"Aku sendiri tidak tahu apa yang harus kulakukan, Bu-siang, bagaimana menurut pendapatmu?"

"Betapapun kau sendiri harus punya keputusan dan pendirian, barulah orang lain enak menilai dirimu."

"Lain dengan Cong Sin-liong, bagaimana juga dia adalah suamiku. Gampang untuk menghianati perguruan, sebagai suami istri selama beberapa tahun, kalau harus berpisah begitu saja, itulah yang sulit dan berat kulakukan."

"Jadi kau berkeputusan bantu dia menjurus ke jalan sesat?"

Bercucuran air mata Lian Jay-hong, ujarnya.

"Kalau aku berkeputusan bantu dia melakukan kejahatan, hari ini aku tidak akan kemari mencarimu. Bu-siang, aku tahu dalam lubuk hatimu, aku adalah orang yang tidak terpandang lagi. Maaf, aku mengganggu latihanmu, aku minta diri."

Melihat keadaan orang yang harus dikasihani, segera Lim Bu-siang menariknya, katanya minta maaf.

"Lian-cici, kata-kataku tadi memang terlalu berat, jangan kau ambil dalam hati. Tapi aku bertujuan demi kebaikanmu."

Lian Jay-hong menyeka air mata, ujarnya.

"Bu-siang, aku tahu kau, demi kebaikanku aku suka mendengar nasehatmu!"

"Tidak, kau harus punya pendirian dan berkeputusan tegas, tidak boleh melulu dengar katakataku. Baiklah kuceritakan persoalan seseorang lain kepadamu, kau tahu Hun Ci-lo tidak?"

"Aku tahu dia adalah istri Nyo Bok, itu busu dari Siok-ciu, kabarnya dia bertengkar dan berpisah dengan suaminya."

"Bukan bertengkar saja, malah dia sudah terima surat talak Nyo Bok, sekarang dia sudah berpisah secara resmi dengan suaminya. Karena ia sudah tahu bahwa Nyo Bok adalah cakar alapalap pihak kera-jaan, meskipun rahasia ini belum tersebar luas di kalangan kangouw."

"Hah, kau membujuk aku supaya meniru tindakan Hun Ci-lo?"

"Semoga kau bisa menasehati piauko untuk berpaling ke jalan lurus sebelum terlambat, kalau toh kau tidak sudi menjadi kaki tangannya, kukira kalian masing-masing harus menuju ke jalan tujuan masing-masing."

"Kau kan tahu piaukomu tidak gampang sudi mendengar nasehat orang lain, tapi membanding piaukomu dengan Nyo Bok, kukira..."

"Kau kira keterlaluan bukan?"

"Tidak salah, Cong-tiu memang ada kontak rahasia dengan Pakkiong Bong, tapi betapapun dia tidak boleh disamakan dengan Nyo Bok."

"Apanya yang berbeda?"

"Secara suka rela Nyo Bok mau menjadi antek kerajaan, Pakkiong Bong memandangnya sebagai budak saja. Sebaliknya piaukomu tidak melakukan sesuatu bagi kepentingan Pakkiong Bong, mereka anggap sebagai sesama sahabat yang setingkat."

"Dia terpandang oleh musuh, memangnya kau anggap patut dibanggakan?"

"Bukan begitu maksudku. Aku cuma mau bilang bahwa kedudukannya bukan sebagai cakar alap-alap kerajaan. Dia sendiri pun tidak pernah berjanji kepada Pakkiong Bong untuk bantu melakukan sesuatu."

"O, harap tanya untuk apa Pakkiong Bong sudi bersahabat dengan dia?"

"Bu-siang, aku bicara terus terang, kuharap kau jangan marah. Piaukomu hanya ingin menjadi ciangbun perguruan kita, dia segan berbuat sesuatu kesalahan terhadap kerajaan. Sementara Pakkiong Bong mengharap supaya dia tidak sependirian dengan kau, berdiri di pihak para patriot bangsa melawan kerajaan. Oleh karena itu dia berjanji secara diam-diam memberi bantuan seperlunya kepada piaukomu."

"Bukankah itu syarat imbalannya? Mana boleh tadi kau katakan dia tidak akan melakukan sesuatu apa demi kepentingan Pakkiong Bong?"

Lian Jay-hong tidak mampu menjawab, sesaat lamanya baru ia menghela napas, ujarnya.

"Semula piaukomu sebetulnya tidak begitu rusak, cuma wataknya saja yang cacad suka menangnya sendiri dan tinggi hati, tidak sudi tunduk kepada orang lain. Pakkiong Bong justru bisa mengambil kelemahan hatinya, menggunakan kedudukan, gengsi dan keuntungan untuk memikatnya, sehingga ia kena terpancing."

"Ucapanmu tidak salah, tapi menurut maksudmu, apakah aku harus menyerahkan jabatan ciangbun, sesuai dengan cita-citanya, baru dia akan menjadi manusia baik-baik?"

"Mana aku bisa bujuk kau demikian? Bicara terus terang aku sendiri tidak mengharap di antara kalian piau-heng-moay terjadi pertikaian dan menjadi musuh."

"Aku sendiri tiada maksud mengangkangi jabatan ciangbun ini,"

Demikian kata Lim Bu-siang serius.

"Tapi yang pasti aku tidak akan menyerahkan kepada piauko. Aku sudah berkeputusan kelak biar Ciok-suko yang mewarisi jabatan ini. Tahukah kau apa tujuanku?"

"Cong-tiu sebetulnya memang tidak setimpal menjadi ciangbun perguruan kita."

"Bukan dia tidak setimpal, bicara soal kepintaran, dia jauh lebih tinggi dari aku, tapi sesuai dengan apa yang kau katakan, dia terlalu pandang berat soal gengsi dan kedudukan, seseorang yang terlalu memandang gengsi, gila hormat, berbahaya sekali bila dia sampai dibeli oleh musuh. Seumpama sekarang dia bukan cakar alap-alap, kelak pasti dia akan menjadi antek kerajaan juga. Apalagi sekarang dia sudah terpancing oleh Pakkkiong Bong!"

Lian Jay-hong menggigit bibir, ia diam saja mendengar kata-kata Bu-siang, roman mukanya semakin pucat pias, jelas sekali bahwa lubuk hatinya sedang gundah dan risau.

Betapapun Lim Bu-siang ikut bersedih, katanya.

"Lian-cici, masih segar dalam ingatanku, pertama kali kau ajak aku berlayar di tengah samudra, hari itu semula udara cerah, tiada angin tiada ombak, maka kau baru berani ajak aku berlayar. Tak nyana hujan badai datang teramat cepat dan mendadak, laut yang semula tenang mendadak bergelombang tinggi sehingga perahu terombang-ambing di tengah samudra raya. Saking ketakutan aku sampai menangis. Kau bujuk aku supaya jangan takut, seorang nelayan harus berani menghadapi hujan badai, harus berani menghadapi kenyataan di depan mata, pasti kita akan bisa selamat tiba di rumah. Dengan tenang dan mantap kau kendalikan kemudi, akhirnya perahu kecil kita betul-betul menepi dengan selamat. Lian-cici, sekarang tiba saatnya untuk kau mengulangi keberanian-mu seperti dulu."

Berlinang mata Lian Jay-hong, lama sekali baru ia berkata hambar.

"Mungkin aku sudah tiada keberanian seperti dulu. Bu-siang, sekarang aku mohon kepadamu, berilah semangat kepadaku."

"Piauso, hanya kau sendiri yang bisa unjukan keberanianmu. Kali ini apakah piauko tahu akan kedatanganmu?"

"Tadi bukankah kau sudah panggil aku Lian-cici? Kenapa memanggil piauso pula? Memang kau tidak salah, kau anggap aku sudah memahami piaukomu, namun belum sejauh itu bisa menilai jiwanya seperti kau, aku salah menikah sama dia. Tapi aku kemari betul-betul di luar tahunya, kau tidak usah kuatir."

"Baik, kau berani kemari menengok aku tanpa setahunya, itu sudah pertanda bahwa kau masih punya keberanian. Tapi bila pulang kau tidak takut diketahui oleh dia?"

"Aku tidak ingin pulang lagi."

Lim Bu-siang girang, katanya.

"Bagus, kalau begitu dengan tangan terbuka aku menyambut kau kembali ke dalam peguruan, marilah kita bersama menemui Ciok-suko dan Su-so."

"Tidak, aku pun tidak ingin tinggal di sini."

Lim Bu-siang rada kecewa, katanya.

"Ke mana kau hendak pergi?"

"Bu-siang, kumohon sesuatu kepada kau!"

"Katakan, bila aku mampu pasti kuberikan kepada kau!"

"Apa ayahmu baik-baik saja? Sudah setahun bukan kau meninggalkan rumah?"

Dalam waktu dekat Lim Bu-siang belum paham ke mana juntrungan kata-kata orang, ujarnya.

"Terima kasih bahwa kau masih teringat kepada beliau. Beliau sudah berusia lanjut, tapi masih berbadan sehat dan segar bugar!"

"Bu-siang, aku tiada tujuan lagi, marilah kau bawa aku ke rumahmu, mau tidak?"

"Di samping ingin aku berbakti kepada ayahmu, dalam beberapa waktu ini kita pun bisa berkumpul bersama. Biarlah aku terhindar dari recokan piaukomu, supaya aku berkesempatan hidup tenang dan berpikir-pikir. Soal sepele ini pasti dapat kau lakukan dengan mudah? Hayolah, kau antar aku, Bu-siang!"

"Jadi kau ingin supaya aku meninggalkan tempat ini?"

Tanya Bu-siang dengan tatapan tajam seolah-olah hendak mengorek isi hati orang. Lian Jay-hong bergidik, katanya tersendat.

"Bu-siang, kenapa kau pandang aku sedemikian rupa?"

Tegak alis Lim Bu-siang, sahutnya dengan tegas dan lantang.

"Tidak mungkin!"

"Aku tahu permintaanku ini tidak masuk akal, tapi aku, aku sudah kewalahan!"

"Bukan aku tidak sudi bantu kau, kau tahu aku tidak boleh sem-barangan meninggalkan tempat ini!"

"Bukankah Ciok-suko bisa mewakili kau menjabat kedudukan ciangbun perguruan kita?"

"Lian-cici, memangnya kau tidak tahu bahwa suamimu sedang bersekongkol dengan orangorang persilatan dari golongan sesat, hendak membuat onar di sini?"

Lian Jay-hong kaget, katanya.

"Aku tahu dia hendak merebut jabatan ciangbun, tapi beberapa bulan belakangan ini, dia selalu mondar-mandir di luaran, aku sendiri jarang bertemu dengan dia, apa yang dia rencanakan, sedikit pun aku tidak tahu!"

"Semula mereka sudah berjanji antara sesama kambrat-kambratnya pada sesuatu tanggal bulan yang lalu hendak mempersulit diriku, entah karena apa pada hari yang dijanjikan itu mereka tidak muncul. Tapi, cahaya tetap belum berlalu, aku harus senantiasa berada di pangkalan. Liancici, untunglah aku, aku boleh percaya kepadamu, kalau Ciok-suko, kau bicara begitu rupa, mungkin, mungkin..."

Lian Jay-hong tertawa getir, selanya.

"Mungkin dia curiga bahwa aku punya tujuan lain, betul tidak?"

"Bahwasanya kau hanya ingin menyingkir saja, tidak mungkin kau bisa menyembunyikan diri selamanya. Tapi ada baiknya juga kau menemui ayahku, aku bisa memb.eritahu alamatnya kepada kau."

"Tidak usahlah. Bu-siang, aku hanya bisa mengutarakan isi hatiku kepadamu, terima kasih hari ini kau memberi banyak nasehat kepadaku, biarlah aku pulang sendirian dan memikirkannya pula. Aku minta diri saja!"

"Begitupun baik, semoga kau dapat berkeputusan selekasnya. Mari kuantar kau!"

"Hari ini kau masih sudi percaya kepadaku, aku sudah berhutang budi kepada kau. Silakan kembali."

Sembari bicara ia berpamitan sambil jabatan tangan dengan Lim Bu-siang.

Baru saja mulutnya berkata sampai "percaya", mendadak jari tengahnya menusuk, ia totok Leng-gan-hiat yang terletak di Siau-yang-keng-meh, seketika Lim Bu-siang lemas lunglai.

Lim Bu-siang mempercayainya, malah kena dibokong dan dikibuli!

Lian Jay-hong memayangnya ke belakang tonggak batu yang menyerupai lilin itu, lalu pelanpelan diletakkan di atas tanah, katanya lirih.

"Bu-siang, jangan kau salahkan aku, dengarkan penjelasanku."

"Bu-siang, aku tahu pasti kau sedang mengira bahwa aku menipumu dengan kata-kata manis, aku pun tidak akan mohon maaf dan pengampunanmu, tapi apa yang akan kukatakan kepada kau adalah sejujurnya."

Semula hati Bu-siang amat marah sehingga sorot matanya menyala-nyala, namun setelah mendengar tutur kata orang sedemikian tulus dan sungguh-sungguh, seperti tidak pura-pura, hatinya tergerak, sorot matanya lambat laun menjadi lembut.

Didengarnya Lian Jay-hong berkata.

"Memang aku menipumu. Kukatakan aku tidak tahu rencana keji Cong-tiu, sebetulnya itu tidak benar."

"Kabar yang kau dengar tidaklah bohong belaka, memang dia ada sekongkol dengan tokohtokoh silat dari berbagai aliran, mungkin juga ada kaki tangan Pakkiong Bong yang membantu dia. Waktunya tepat hari ini, mereka hendak meluruk ke Thay-san mempersulit dirimu. Bukan mustahil sekarang mereka sudah berada di Giok-hong-koan!"

Kaget dan gusar Lim Bu-siang dibuatnya, Lian Jay-hong berkata lebih lanjut.

"Aku tahu kau sedang maki aku dalam hati, tapi aku pun tahu, demi kebaikanmu! Biarlah kuuraikan jalan pikiranku kepada kau."

"Orang-orang yang dia undang banyak tokoh-tokoh silat kosen, kau dan Ciok-suko jelas bukan tandingan mereka. Kalau terjadi perkelahian, mungkin anak murid perguruan kita bakal jatuh banyak korban. Terutama kau, mereka tidak akan melepasmu demikian saja. Kalau kau adu jiwa dengan mereka, sia-sia saja kau menyerahkan jiwa."

"Bukan maksudku hendak bantu piaukomu untuk merebut jabatan ciangbun ini, tapi aku harus menolong jiwamu! Aku pun akan berjuang sesuai dengan kekuatanku sendiri untuk menghindarkan banjir darah dalam perguruan kita. Ai, aku betul-betul sudah kehabisan akal, terpaksa aku lakukan caraku ini."

Dongkol dan gugup pula hati Lim Bu-siang akan pikiran orang yang cupat dan tindakannya yang ceroboh.

Sayang dia tidak mampu bergerak, tak bisa bersuara, ingin rasanya ia lompat bangun dan memberi peringatan, sementara dalam hati ia berteriak-teriak.

"Lekas bebaskan totokan hiat-toku!"

Sayang Lian Jay-hong tidak mendengar jeritan hatinya. Sementara hiat-tonya yang tertotok dalam waktu dekat tidak mungkin bisa dia bebaskan sendiri.

"Tang, tang, tiang..."

Gema lonceng yang nyaring dan gencar berkumandang di alam pegunungan, jelas suara lonceng bertalu-talu dari Giok-hong-koan.

Seperti diketahui, Hu-siang-pay baru setengah tahun lebih mendirikan perguruan di Tionggoan, markas pusatnya sedang dalam pembangunan.

Tosu tua dari pimpinan Giok-hong-koan adalah teman baik Kim Tiok-Iiu, atas usaha Kim Tiok-Iiu pula, sebelum markas pusat Hu-siang-pay selesai pembangunannya, mereka menempati Giok-hong-koan sebagai markas sementara.

Dalam Giokhong-koan terdapat sebuah genta besar dan kuno, setiap ada urusan genting barulah genta itu dibunyikan sebagai pertanda bahaya, maka seluruh anak murid Hu-siang-pay harus segera berkumpul.

Itulah tata tertib yang ditegakkan oleh Lim Bu-siang sendiri, selama setengah tahun ini, belum pernah genta kuno itu dimanfaatkan.

Baru pertama kali ini genta kuno itu dibunyikan, tapi Lim Bu-siang yang menjadi ciangbun, tidak mungkin pulang ke Giok-hong-koan untuk kumpul dengan seluruh murid-murid Hu-siang-pay, mendengar gema lonceng itu, seketika berubah air mukanya.

Memang seluruh murid Hu-siang-pay di Giok-hong-koan sedang ribut dan kacau balau.

Terutama Ciok Heng sebagai tokoh tertinggi nomor dua dalam perguruannya, gugup dan gelisah setengah mati.

Boh Cong-tiu pimpin komplotannya, kira-kira ada dua tiga puluhan, pagi-pagi sekali sudah menerjang masuk ke Giok-hong-koan.

Tatkala itu kebetulan Lim Bu-siang sudah tertotok hiattonya oleh Lian Jay-hong menggunakan Jiong-jiu-hoat.

Semula Boh Cong-tiu diangkat sebagai Jan-bau-tong Tongcu, meskipun tidak punya kekuasaan, bicara soal kedudukan ia masih lebih tinggi dari Ciok Heng.

Sampai detik itu ia belum secara resmi diusir dari perguruan oleh Ciang-bun-jin, maka ia kali ini kembali sebagai Jan-bau-tong Tongcu dari Hu-siang-pay.

Jelas Ciok Heng tidak bisa merintanginya!

Justru pada saat-saat yang genting itu, Lim Bu-siang tidak kelihatan batang hidungnya.

Ciok Heng cukup kenal keli-hayan Boh Cong-tiu, sebelum Lim Bu-siang kembali, terpaksa ia suruh orang memukul lonceng mengumpulkan anak murid Hu-siang-pay, di samping menghadapi Boh Cong-tiu ia berusaha mengulur waktu.

Mendengar suara lonceng, seketika Boh Cong-tiu menarik muka, katanya.

"Kau pukul lonceng mengumpulkan orang, apa maksudnya? Anggap aku sebagai musuh ya?"

"Tidak berani. Boh-tongcu datang dari tempat jauh, adalah pantas semua murid-murid kita kumpul bersama untuk menyambut kedatangan Tongcu."

"Ciok-suheng,"

Ujar Boh Cong-tiu gelak tertawa.

"kau hanya pura-pura menjunjung aku belaka, tapi aku ini bukan orang bodoh, aku orang she Boh tidak lebih hanya sebagai Tongcu, memangnya patut disambut secara besar-besaran? Tapi aku memang punya urusan yang hendak mohon putusan terbuka dari para murid perguruan kita. Peduli kau bermaksud baik atau jahat kepadaku, yang terang pertanda kumpul ini kebetulan juga bagi aku!"

Murid-murid Hu-siang-pay yang tinggal di atas Thay-san ada seratusan orang, sebentar saja mereka sudah kumpul semua.

Seratusan orang ini terbagi dua golongan.

Bagi mereka yang tidak tahu seluk beluk persoalan, sama bisik-bisik dan ribut, sementara orang-orang yang tahu apa yang bakal terjadi adalah orang-orang Boh Cong-tiu, begitu masuk mereka lantas memberi hormat kepada Boh Cong-tiu.

Di mulut mereka memanggil Boh-tongcu, namun mereka menghormat seperti menghadapi ciangbunjin.

Tapi golongan ini jumlahnya benar-benar di luar perhitungan Boh Cong-tiu sendiri, tidak lebih hanya dua tiga puluh orang.

Setelah semua orang kumpul, Boh Cong-tiu jelajahkan pandangannya ke sekelilingnya, lalu katanya lantang.

"Mana Lim Bu-siang? Kenapa dia tidak datang?"

Mimpi pun Ciok Heng tidak akan menduga bahwa Lim Bu-siang sudah dikibuli orang, hatinya gugup seperti semut dalam kuali yang terbakar, terpaksa ia menjawab.

"Siaute sudah suruh orang mencarinya, harap Tongcu menunggunya sebentar!"

Tanpa terasa setengah sulutan dupa telah berselang, Lim Bu-siang tetap tidak kelihatan bayangannya. Boh Cong-tiu mendengus, jengek-nya.

"Kukira Lim Bu-siang budak kecil itu pasti tidak berani berhadapan dengan aku, hm, tanpa alasan dia menyingkir, memangnya kita tidak mampu menyelesaikan urusan besar?"--Kambrat-kambratnya segera bersorak dan memberi suara.

"Benar, siapa tahu sampai kapan kita harus menunggu, lekaslah kita selesaikan perundingan urusan besar ini!"

"Boh Cong-tiu,"

Seru Siang Jing istri Ciok Heng.

"meski kau sebagai piauko dari ciangbun kita, tidak pantas kau bermulut kurang ajar terhadap ciangbun kita!"

"Kurang ajar apa, aku bekerja demi keadilan tidak persaudaraan, Lim Bu-siang si budak kecil itu sudah melakukan tindakan salah yang hampir saja meruntuhkan perguruan kita, kalau dia berada di sini, malah aku hendak memakinya berhadapan!"

"Kesalahan besar apa yang telah dia lakukan?"

Desak Siang Jing gusar.

"Memang aku hendak minta putusan terbuka dari para saudara seperguruan, kau tidak usah mentang-mentang, nanti pasti akan kubeberkan di hadapan umum!"

Tiba-tiba Ciok Heng tampil ke depan, serunya lantang.

"Nanti dulu!"

"O, Ciok-suheng, apa pula yang hendak kau katakan?"

Boh Cong-tiu melirik dengan sikap menghina dan pandang rendah.

"Harap tanya kepada Tongcu,"

Kata Ciok Heng kalem.

"kau katakan hendak merundingkan urusan besar perguruan kita, kalau begitu jadi harus murid-murid perguruan kita baru ada hak ikut merundingkannya bukan?"

"Sudah tentu!"

"Baik, sebelum kita mulai perundingan ini, silakan kau suruh orang-orang luar itu mengundurkan diri!"

"Siapa orang-orang luar yang kau tunjuk?"

"Boh-tongcu, para sahabat yang kau bawa kemari ini, mereka bukan murid-murid Hu-siang-pay bukan?"

"Mereka justru murid-murid Hu-siang-pay, aku sendirilah yang menerima mereka sebagai murid!"

Dengan melotot bundar kedua mata Ciok Heng menyapu pandang kepada orang-orang itu, lalu katanya dingin sambil menuding dua di antaranya.

"Teman-teman yang lain aku tidak kenal, dua orang ini kukenal dengan baik. Tuan ini adalah Hwe-hun-thong-cu yang berkuasa di Hay-lam-to, dan dia adalah Kiau Hay-beng Thocu yang malang melintang di lautan timur. Benar tidak?"

Ternyata Hwe-hun-thongcu adalah kepala suku Le di Hay-lam-to, dia berkuasa penuh di sana mengandal kepandaian sesatnya yang berbisa.

Sementara Kiau Hay-beng adalah kepala gabungan perampok di laut timur, kedudukan mereka di kalangan kangouw cukup tinggi.

Hwe-hun-thong-cu tertawa sambil mengelus jenggotnya, katanya.

"Benar, aku ingat kau pernah berkunjung ke Ngo-ci-san, terima kasih kau menempel lapisan emas di mukaku."

Sebaliknya Kiau Hay-beng berdiri di muka, katanya dengsn sikap hormat.

"Ciok-susiok ada pesan apa silakan katakan saja kepada siautit, tidak usah sungkan!"

Badannya tinggi besar dan kekar, usianya pun lebih tua dari Ciok Heng, sebagai laki-laki laksana menara besi membungkuk badan serta membahasakan diri sebagai keponakan, tingkah lakunya sungguh amat lucu dan menggelikan.

Tapi semua orang tahu orang adalah gembong iblis yang membunuh orang tanpa berkesip, ingin tertawa pun tidak berani.

"Apa salahnya akan kedua orang ini?"

Tanya Boh Cong-tiu.

"Semula mereka adalah tokoh-tokoh yang kenamaan, mendadak berubah jadi murid Hu-siangpay, jangan kata aku tidak berani menjadi susiok mereka, mungkin orang tidak akan percaya pula, Boh-tongcu, terlalu besar kelakarmu ini."

"Siapa berkelakar dengan kau, justru mereka punya nama yang sudah tenar, setelah menjadi murid perguruan kita, bukankah bakhil menambah cemerlang nama perguruan kita, oleh karena itulah kuterima mereka jadi murid."

Baru saja Ciok Heng hendak buka mulut, seorang yang berdiri di sampingnya sudah bersuara lebih dulu dengan keras.

"Boh Cong-tiu, perbuatanmu ini terlalu brutal biar aku bicara langsung saja, kita semua tidak akan mengakui orang-orangmu ini adalah murid Hu-siang-pay."

Orang ini adalah Coh Sian-san salah satu dari Hu-siang-chit-cu yang setingkat dengan Boh Cong-tiu.

"Suhu, siapakah orang ini?"

Tanya Hwe-hun-thongcu.

"Dia adalah Coh-susiokmu!"

Coh Sian-san berwatak bera-ngasan, segera ia berkata.

"Boh Congtiu, jangan kau nilai orang sesuai dengan borokmu sendiri, selamanya aku tidak punya sutit siluman seperti tampangnya ini!"

Belum habis ia bicara, Hwe-hun-thong-cu sudah menghampiri ke depannya, katanya.

"Cohsusiok, kau tidak pandang aku sebagai sutit, aku tetap mengakui kau sebagai susiok. Susiok harap terima hormatku! Susiok, tidak usah sungkan, jangan sungkan!"

Bahna gusarnya Cok Sian-san hendak mendorong pergi Hwe-hun-thong-cu, siapa tahu sebat sekali Hwe-hun-thong-cu sudah menelikung lengannya serta menekannya dengan kekerasan.

Separuh badan Coh Sian-san seketika kesemutan dan linu, tulang lengannya terpuntir dan sakit bukan main, demi gengsi, ia tahan sakit mengeluh pun tidak.

Ciok Heng kaget dan gusar pula.

"Apa yang kau lakukan?"

Dampratnya sambil mencengkram hendak menarik Hwe-hun-thong-cu, lekas Boh Cong-tiu membuka kipasnya menghadang di tengah.

Jari-jari Ciok Heng menangkap kipas dan tergentak mundur dua langkah, sedang kipas itu sedikit pun tidak kurang suatu apa.

"Ciok-suheng, kau salah paham. Muridku ini hanya menghormat kepada angkatan yang lebih tua. Coba lihat, Cau-suheng sudah menerima hormat muridku, berarti dia sudah mengakuinya sebagai siautit. Ciok-suheng, silakan kau duduk untuk terima penghormatan."

"Bagus, muridmu hendak menghormat kepadaku, tidak perlu kau yang menjadi guru ikut mengawasi dari samping bukan?"

Saat mana istrinya Siang Jing, dan Tio Hong salah satu dari Husiang-chit-cu nomor empat sudah berdiri di kanan kiri Boh Cong-tiu, kalau Boh Cong-tiu menunjukkan sesuatu gerakan yang mencurigakan, mereka segera akan turun tangan.

Ciok Heng beranjak maju menyongsong kedatangan Hwe-hun-thong-cu, jengeknya dingin.

"Kau mengaku sebagai murid Boh Cong-tiu, itu urusan kalian, aku tidak peduli. Aku hanya anggap kau sebagai tamu. Tamu datang dari jauh, hendak unjuk hormat memang pantas, terserah kau hendak menghormat dengan cara apa."

Sebagai tokoh Hu-siang-pay yang berkepandaian paling tinggi, bila Boh Cong-tiu mau maju ke sana, Siang Jing dan Tio Hong terang tidak kuasa merintangi.

Soalnya dia tidak mau memperpanjang urusan, supaya tujuan merebut kedudukan ciangbun lekas terlaksana di samping ia yakin Hwe-hun-thong-cu pasti berkelebihan menghadapi Ciok Heng, maka ia pura-pura tidak tahu kalau dirinya diawasi oleh Siang dan Tio berdua, seperti tertawa tidak tertawa, ia berkata berdiri di tempatnya.

"Hwe-hun muridku, Ciok-susiok adalah orang yang paling terpandang oleh ciangbun kita, kau harus lebih menghormatinya sedikit, jangan kurang ajar!"

Maksudnya supaya Hwe-hun-thong-cu membatasi diri, cukup asal membuat Ciok Heng merasa malu saja.

Sebaliknya Hwe-hun-thong-cu kira Ciok Heng sama tidak becusnya seperti Coh Sian-san, setelah puas sedikit menyiksa orang, mendengar kata-kata Boh Cong-tiu, ia tertawa lebar, sahutnya.

"Tecu tahu. Ciok-susiok, silakan duduk, biar tecu menghormat kepadamu."

Seperti caranya tadi, kedua tangannya menekan kedua pundak Ciok Heng, kebetulan Kiau Hay-beng angkat sebuah kursi, mereka kerja sama amat rapi, maka begitu Hwe-hun-thong-cu kerahkan tenaga, Ciok Heng kebetulan duduk di atas kursi itu.

Maka terdengarlah suara jeritan kaget, mendadak Hwe-hun-thongcu mencelat jumpalitan jatuh di atas lantai.

Semula ia bermaksud setelah menekan Ciok Heng duduk, lalu pura-pura hendak memberi hormat, siapa tahu, begitu ia menekan pundak orang, tiba-tiba segulung tenaga dahsyat balik menerjang dirinya, tanpa kuasa ia tergentak roboh terpelanting.

Untung kepandaiannya memang tinggi, dalam kesibukannya segera ia jumpalitan sehingga tenaga dahsyat itu dipunahkan sebagian besar, sehingga jatuhnya tidak terlalu keras dan tidak cedera sedikit pun.

"Aku sudah bilang hanya anggap kau sebagai tamu, kau hendak menyembah kepadaku, aku tidak berani terima. Marilah kita berhadapan sejajar saja."

Sembari bicara ia bangkit berdiri lalu soja kepada Hwe-hun-thong-cu.

Sekali meletik Hwe-hun-thongcu melejit bangun, dadanya terasa terbakar, ingin dia menerjang maju melabrak Ciok Heng.

Cepat Boh Cong-tiu sudah memberi kedipan padanya, katanya.

"Cioksusiok begitu sungkan, terima saja sarannya, kalian boleh berkenalan dengan tingkatan sama. Setelah urusan besar diselesaikan barulah kita atur lagi derajat dan tingkatan sesama perguruan."

Karena kata-kata Boh Cong-tiu ini, apa boleh buat, terpaksa Hwe-hun-thong-cu balas bersoja terus mengundurkan diri.

Bahwa Hwe-hun-thong-cu ke-cundang oleh Ciok Heng, hal ini benar-benar di luar dugaan Boh Cong-tiu, pikirnya.

"Kapan Ciok Heng berhasil mejakinkan Can-ih-cap-pwe-thiat, aku tidak boleh pandang ringan dia."

Ternyata dalam setengah tahun ini, lwekang Ciok Heng maju pesat, karena Lim Bu-siang menurunkan ajaran lwekang tunggal perguruan mereka yang berhasil dia pelajari dari dalam gua itu.

Dasar lwekang Coh Sian-san dan Siang Jing serta yang lain memang lebih rendah maka kemajuannya pun terbatas.

Meskipun Ciok Heng berhasil membikin lawan kecundang, pundak Ciok Heng pun terasa sakit, tokoh-tokoh sesat yang dibawa Boh Cong-tiu berjumlah tiga puluhan orang, hanya seorang Hwehun-thong-cu saja sedemikian lihay, mau tidak mau mencelos juga hati Ciok Heng, Boh Cong-tiu tidak ingin urusan ditarik panjang, segera ia menge-dipi Kiau Hay-beng seraya berkata.

"Lebih penting menyelesaikan urusan besar, soal tata kehormatan ini boleh ditunda dulu sementara."

Namun Ciok Heng tidak memberi kelonggaran, katanya.

"Boh-tongcu, murid-murid yang kau terima ini, sebelum mendapat restu dari ciangbunjin, silakan kau suruh mereka meninggalkan Giok-hong-koan."

"Sebagai Jan-bau-tong Tongcu, memangnya akn tidak punya hak menerima murid?"

"Benar, menurut undang-undang perguruan kita, Jan-bau-tong tongcu ada hak menerima murid, menyusul harus memberi laporan juga kepada ciangbun. Tapi harus mendapat persetujuan ciangbun baru boleh diangkat secara resmi."

Titik persoalan kembali jatuh pada ciangbunjin, Boh Cong-tiu mendengus keras-keras, serunya.

"Buka mulut ciangbun, tutup mulut ciangbun, di mana ciangbunjin, lekas suruh dia keluar!"

Ciok Heng tahan sabar, sahutnya.

"Aku sudah suruh orang mencarinya, sebentar ciangbun sumoay pasti kembali."

Kebetulan saat mana terlihat dua murid yang diutus Ciok Heng untuk mencari Lim Bu-siang kembali, ia lapor secara bisik-bisik kepada Ciok Heng, dikatakan bahwa Lim Bu-siang tiada di Siauthian-tho-thong tempat di mana biasanya ia berlatih silat.

Tidak mungkin mereka menjelajah seluruh pelosok Thay-san, terpaksa pulang dulu memberi laporan.

Walau kedua orang ini bicara bisik-bisik, namun Boh Cong-tiu dapat mendengar dengan jelas, segera ia menjengek'dingin.

"Bagaimana? Kukatakan dia merat dari pertanggung jawabannya, tidak salah bukan? Urusan besar perguruan kita harus segera diselesaikan. Ciangbun tiada, terpaksa akulah yang mewakilinya, ini tidak melanggar undang-undang bukan?"

Kedudukan Boh Cong-tiu dalam Hu-siang-pay memang cuma lebih rendah dari ciangbun, terpaksa Ciok Heng berkata.

"Menurut aturan memang kaulah yang harus memimpin, entah ada urusan besar apa yang perlu segera diputuskan di hadapan umum?"

Maka berkatalah Boh Cong-tiu.

"Sepak terjang Lim Bu-siang tidak beres, harap semua muridmurid memberi keputusan, untuk mencopot kedudukan ciangbunnya."

"Betapa jerih payah ciangbun sumoay menegakkan perguruan dan mengembangkan ajaran silatnya, sepak terjang apanya yang tidak benaf?"

Damprat Siang Jing.

"Orang lain tidak tahu, kalian suami istri paling jelas,"

Demikian jengek Boh Cong-tiu.

"Waktu dia meninggalkan gunung tempo hari, pergi sama siapa? Bukankah dengan Beng Goan-cau? Di kabupaten Sam-ho dan di Yangciu dua kali aku pernah lihat mereka, kejadian di Sam-ho kalian bisa saja mengatakan tidak tahu, tapi peristiwa di Yangciu, kalian suami istri toh hadir di sana."

"Dia berhubungan dengan Beng Goan-cau adalah urusan pribadinya, apanya sih yang salah?"

"Kalau dia bukan ciangbun perguruan kita, peduli dia hendak main pat gulipat atau hendak kawin dengan Beng Goan-cau, itu urusan pribadinya dan aku tidak peduli. Sayang dia sebagai ciangbun perguruan kita, terpaksa aku tidak bisa berpeluk tangan melihat tingkah lakunya!"

"Apa sangkut pautnya persoalan ini dengan kedudukan ciangbun-nya?"

Seru Siang Jing.

"Kenapa tiada sangkut paut? Beng Goan-cau adalah salah satu pentolan dari laskar pemberontak dari Siau-kim-jwan, orang lain tidak tahu, memangnya kalian suami istri tidak tahu?"

Siang Jing tertawa dingin.

"Kita kan tidak akan menjadi antek dan budak kerajaan yang setia, ciangbunjin berhubungan dengan pimpinan laskar gerilya, mengandal apa kita harus melarangnya? Hm, menurut pendapatku, laskar gerilya Siau-kim-jwan berjuang demi kepentingan rakyat jelata, Beng Goan-cau sebagai salah seorang pemimpinnya, dialah seorang eng-hiong seorang gagah patriot bangsa, apa jeleknya ciangbun sumoay bersahabat dengan dia?"

"Orang-orang gagah dari Siau-kim-jwan, umpamanya Siau Ci-wan, Leng Thiat-jiau, Beng Goancau dan lain-lain secara pribadi aku pun mengagumi mereka. Tapi kagum dan bersahabat adalah dua persoalan yang bertentangan. Terutama Lim Bu-siang yang menjabat sebagai ciangbunjin, lebih tidak pantas dia berhubungan begitu intim dan mesra dengan pentolan mereka."

"Apa-apaan maksud ucapanmu ini?"

"Ketahuilah, sejak ribuan tahun lalu, baru sekarang perguruan kita berkesempatan pulang ke Tiong-goan menegakkan perguruan kembali, kukira kurang bijaksana bila kita menerjunkan diri dalam pusaran pertentangan bangsa."

"Jadi menurut kata-katamu ini, perguruan kita tidak perlu membicarakan urusan negara?"

"Benar. Coba pikir betapa kuat dan besar Siau-lim-si, di waktu Yong Cing berkuasa, karena mereka menentang kerajaan, sekali sulut Siau-lim-si dibakar habis menjadi puing, sampai sekarang belum kembali pada kejayaannya semula. Hu-siang-pay baru saja berdiri di Tionggoan, mana boleh semba-rangan bertingkah, tanpa hiraukan situasi dan kepentingan diri sendiri. Menurut pendapatku, bagi orang yang menjadi ciangbun, tugas utamanya adalah mengembangkan ajaran perguruan, melebarkan sayap perguruan! Urusan lain, tidak usah ikut campur."

"Boh-tongcu, kau ini bangsa Han bukan? Bangsa Boanciu menjajah tanah air orang Han, menganiaya dan menindas rakyat Han, sebagai orang Han yang berjiwa patriot, mana boleh berpeluk tangan?"

"Kau ini hanya mencari gara-gara belaka, aku sih tidak menentang orang lain melawan kerajaan, aku cuma maksudkan sebagai ciangbun dari perguruan kita, masih ada tugas lebih penting yang perlu dia pikul. Kalau seperti Lim Bu-siang bertingkah semaunya sendiri, perbuatannya itu bakal meruntuhkan perguruan kita."

Orang-orang Boh Cong-tiu segera bersorak bersama.

"Betul, betul! Kita tidak bisa membiarkan Lim Bu-siang berbuat sewenang-wenang, meruntuhkan perguruan kita!"--Sebaliknya murid-murid yang mendukung Lim Bu-siang dan Ciok Heng balas memaki dan mendebat, suasana dalam Giokhong-koan seketika menjadi kalang kabut dan gaduh. Ciok Heng segera berseru lantang.

"Kita tidak perlu ribut, ada sebuah hal yang belum kumengerti, ingiu aku mohon penjelasan dari Boh-tongcu."

"Ciok-suheng ada pertanyaan apa, silakan berkata!"

"Boh-tongcu, kau ini seorang cerdik, namun agaknya suka lupa diri!"

Boh Cong-tiu melengak, katanya.

"Apa maksudmu?"

"Dulu waktu kau hadapi Cong Sin-liong yang sudah terima menjadi antek Sat Hok-ting, kau menista perbuatannya dan memimpin kami beramai mencarinya, akhirnya mengusirnya dari perguruan, memangnya kau Boh-tongcu sudah lupa akan kejadian itu? Masih segar dalam ingatanku, tutur katamu waktu itu dengan sikapmu hari ini jauh berlawanan, memangnya perlu kubeber di hadapan orang banyak apa yang pernah kau ucapkan dulu itu?"

Merah muka Boh Cong-tiu, katanya.

"Waktu sudah berselang keadaan pun telah berubah, mana boleh urusan dulu dicampur aduk dengan persoalan hari ini? Waktu itu perguruan kita belum lagi didirikan, aku sendiri pun baru saja pulang ke Tionggoan, belum tahu seluk beluk situasi di tanah air, usiaku masih muda dan berdarah panas lagi, tidak heran kalau aku bersikap rada kaku dan kasar terhadap Cong-susiok."

"Kalau demikian,"

Jengek Ciok Heng.

"jadi kau beranggapan bahwa dirimu sekarang sudah berbeda dengan dirimu dulu?"

"Bukan begitu, cita-citaku tetap takkan berubah sejak dulu. Perguruan harus memperluas lingkungan ajarannya. Oleh karena itu aku tidak setuju bila pimpinan tertinggi dari perguruan kita menjadi antek kerajaan, aku pun tidak suka perguruan kita terseret dalam pertikaian, bertentangan dengan kerajaan yang berkuasa."

"Apa kau bicara setulus hatimu?"

Jengek Siang Jing.

"Siapa bilang bukan?"

"Kabarnya kau sudah menjadi tamu terhormat dari komandan Gi-lim-kun Pakkiong Bong, tidaklah heran kau mengatakan lain waktu lain situasi segala. Sedikit pun memang tidak salah, bagi kau memang hal itu sudah lain waktu lain persoalan!" ; Hati Boh Cong-tiu kaget, katanya pura-pura marah.

"Dari mana dengar kabar angin ini?"

Karena terburu nafsu, Siang Jing beberkan rahasia hubungan Boh Cong-tiu ini di hadapan umum, kini mendapat sanggahan Boh Cong-tiu ia malah gelagapan tak bisa menjawab, soalnya Lim Bu-siang tidak hadir, tiada bukti dan saksi, terpaksa ia menjawab sekenanya.

"Seumpama kabar angin pun pasti ada asal mulanya. Mengenai kenyataan perbuatanmu itu, kelak pasti bisa diselidiki secara terang. Tapi Boh-tongcu waktu di Yangciu, kau ada kasak-kusuk dengan wakil komandan Ciok Tio-ki, hal ini dapat dilihat orang banyak, kukira kau tidak akan mungkir lagi ya?"

"Kenapa aku harus mungkir?"

Jengek Boh Cong-tiu.

"Memang, aku ada sedikit hubungan dengan Ciok Tio-ki, namun toh sebagai ikatan teman biasa, tidak tunduk atau mengekor kepadanya, bagi kita orang-orang yang sering luntang-lantung di kangouw, masakah dilarang untuk ikat persahabatan dengan para kawan dari berbagai kalangan? Kalau dia suka ikat persahabatan dengan aku, memangnya aku harus menampiknya? Dan lagi, undang-undang perguruan kita toh tiada larangan mengenai hal ini."

"Tepat,"

Sela Ciok Heng.

"perguruan kita pun tiada larangan bahwa ciangbunjin dilarang berhubungan dengan tokoh-tokoh pendekar dari golongan putih!"

"Tadi sudah kujelaskan, kalau anak murid perguruan sih boleh saja, kalau Ciangbunjinnya sih tidak pantas,"

Demikian seru Boh Cong-tiu marah-marah.

"Hal ini menyangkut mati hidup perguruan kita, meski tiada undang-undang larangan ini, sekarang sudah tiba saatnya untuk menegakkan undang-undang larangan ini. Apalagi apa kau tahu, waktu di Sam-ho dan Yangciu, Lim Bu-siang budak kecil itu bukan saja ada ikatan asmara dengan Beng Goan-cau, dia malah bantu Beng Goan-cau melabrak para petugas kerajaan yang diperintahkan menangkap Beng Goan-cau. Kalau kedudukan ciangbun-nya itu tidak dipecat, bila sampai pihak kerajaan meluruk datang menimpakan dosa-dosa besar ini kepada kita, bagaimana kita harus bertanggung jawab? Bukankah berarti dia meruntuhkan nama baik perguruan kita?"

Pau Gi orang kelima dari salah seorang Hu-siang-chit-cu acuh tak acuh tampil ke muka, katanya kalem.

"Ciok-suso, apa yang diuraikan Boh-tongcu memang urusan besar yang menyangkut mati hidup perguruan kita yang akan datang, jangan kita memperpanjang urusan ini dengan persoalan lain, marilah kita pikirkan dan dirundingkan bersama dengan kepala dingin!"

"Ngo-suko,"

Seru Siang Jing.

"kau punya pendapat apa?"

"Tidak berani. Tapi menurut pendapatku, apa yang dikatakan Boh-tongcu memang cukup beralasan. Perguruan kita baru berdiri, dasarnya belum kokoh, memang tidak pantas tertarik ke dalam pusaran pertikaian itu, marilah kita utamakan demi perkembangan kejayaan perguruan kita yang akan datang."

Sudah tentu kata-kata ini membikin Ciok Heng, Siang Jing dan Coh Sian-san gusar dan kaget.

Ternyata biasanya Pau Gi seorang pendiam yang tidak suka bertingkah, kalau sekarang dia tidak tampil dan bicara demi Boh Cong-tiu, siapa pun takkan menduga bahwa dia inilah mata-mata dalam selimut.

Belum lagi mereka sempat mendebat kata-kata Pau Gi, kambrat-kambrat Boh Cong-tiu bersorak so-rai.

Boh Cong-tiu terbahak-bahak, ujarnya.

"Masing-masing kukuh akan pendapatnya sendiri, tiada gunanya kita bikin ribut melulu, marilah diputuskan secara terbuka saja."

Ciok Heng cukup tabah dan dapat melihat situasi, maka segera ia berseru lantang.

"Baik, yang setuju akan pendapat Boh-tongcu silakan berdiri di sebelah kanan, yang menentang berdiri di sebelah kiri."

Siapa nyana, semula ia beranggapan jumlah kemenangan terang berada di pihaknya, kenyataan justru berada di luar perhitungannya.

Karena ada sekelompok orang yang tidak berdiri ke kanan juga tidak ke kiri, mereka tetap berdiri di tengah alias netral.

Keruan Ciok Heng gusar, serunya.

"Kenapa kalian tidak punya pendirian? Tio It-hang, coba kau yang bicara!"

Tio It-hang adalah salah seorang murid yang paling menonjol di antara kelompok netral ini. Tertunduk kepala Tio It-hang, sahutnya.

"Urusan menyangkut kepentingan umum, tecu berpengetahuan rendah, tidak berani bersikap terhadap salah satu pihak, terpaksa bersikap netral saja."

Murid-murid lain yang berdiri di belakangnya sama menganggukkan kepala, pertanda bahwa mereka sependapat dengan Tio It-hang.

Ternyata di antara kelompok murid-murid netral ini, termasuk juga murid-muridnya Pau Gi, sementara yang lain takut bila kelak Boh Cong-tiu berkuasa, mungkin jiwa sendiri bisa celaka, maka terpaksa mereka harus melihat angin dulu baru bisa menentukan arah.

Dengan adanya kelompok netral ini, maka jumlah orang-orang yang memihak Boh Cong-tiu ditambah murid-murid palsu dari golongan sesat itu jumlahnya menjadi berlipat ganda, sekarang satu angka lebih banyak dari pihak Ciok Heng yang menentang pencabutan kedudukan ciangbunjin lama.

Boh Cong-tiu bergelak tertawa, serunya.

"Mencopot kedudukan ciangbun sudah menjadi putusan umum. Ciok-suheng, sekarang apa pula yang bisa kau katakan!"

"Murid-murid yang kau bawa ini belum resmi, jumlah masing-masing toh hanya satu angka lebih banyak. Ciangbunjin, sendiri belum lagi datang, mana boleh kau berkeputusan sendiri hendak mencopot kedudukannya?"

Demikian damprat Ciok Heng.

"Lim Bu-siang tidak berani pulang, pencopotan jabatan ciangbun ini sudah diputuskan oleh suara mutlak, kau sendiri pun sudah setuju akan cara ini. Hehe, Ciok-suheng, kau terhitung tokoh yang terpandang dalam perguruan kita, memangnya kau hendak menjilat ludahmu sendiri?"

"Betul, kalau toh sudah diputuskan secara terbuka, hal ini sudah menjadi putusan pula,"

Demikian sela Pau Gi.

"Ciok-suheng, tak usah kau mempersulit dan memperpanjang persoalan ini. Kini ciangbun lama sudah dicopot, tibalah saatnya untuk memilih ciangbunjin yang baru."

Dengan kalem Boh Cong-tiu berkata.

"Ciok-suheng seorang budiman dan bajik, biarlah aku calonkan Ciok-suheng sebagai ciangbunjin."

Ciok Heng menyeringai dingin, katanya sinis.

"Kalian berkeputusan secara sepihak, jabatan ciangbun ini jelas aku tidak sudi terima. Keadilan di dalam sanubari manusia, siapa salah siapa benar, akhirnya pasti dapat dibikin terang, buat apa aku harus berlomba mengejar pangkat dan kedudukan dengan murid-murid murtad!"

"Ciok-suheng,"

Jengek Boh Cong-tiu.

"bicaralah sopan sedikit, siapa yang kau maksudkan dengan murid murtad?"

Ciok Heng mendengus hina.

"Kalau kau tidak sirik dalam hati, kenapa harus takut mendengar sebutan 'murid murtad' ini."

Pau Gi segera tampil pula ke depan berusaha membujuk.

"Kau tidak sudi menjabat ciangbun, sesuai dengan jumlah suara yang lebih banyak, adalah pantas kalau Boh-tongcu yang diangkat menjadi ciangbunjin saja, meski ada yang menentang, siapa pun tiada yang berani keluar untuk bertanding menurut aturan bulim, maka hal ini sudah menjadi putusan mutlak. Ciok-suheng marilah kita bersama memberi selamat kepada ciangbunjin."

"Kau angkat dia menjadi Ciangbun, aku tidak sudi mengakuinya."

Melotot mata Boh Cong-tiu, serunya.

"Ciok Heng, memangnya kau hendak mengkhianati perguruan kita?"

Ciok Heng berkata tawar.

"Terserah apa yang kau katakan, kaukah yang menjadi murid murtad atau akukah yang mengkhianati perguruan, pendek kata kau suka menjadi ciangbunjin Hu-siangpay, kuserahkan kedudukan ini kepadamu, tapi kami segera akan berlalu."

"Betul,"

Coh Sian-san ikut bicara.

"Untuk sementara kebesaran nama Hu-siang-pay biar kalian kangkangi, marilah kita berlalu saja."

Karena itu bukan saja orang-orang yang semula menentang Boh Cong-tiu hendak berlalu, malah murid-murid netral yang berdiri di tengah itu pun sebagian besar hendak ikut pergi.

"Siapapun dilarang berlalu!"

Segera Boh Cong-tiu membentak, maklumlah kalau murid-murid asli Hu-siang-pay timggal pergi, yang ketinggalan hanya sebagian murid-murid asli dan muridmurid palsunya, apa artinya jabatan ciangbun yang berhasil dia rebut secara licik ini?

Ciok Heng tertawa dingin, katanya.

"Kau belum lagi diakui sebagai ciangbunjin Hu-siang-pay secara umum oleh kaum bulim, aku tidak menentang keinginanmu, kau masih melarang kami berlalu!"

"Apa tujuanmu membawa kawanan murid-murid itu, memangnya bukan hendak mendirikan perguruan lain untuk menandingi kedudukanku? Apa sih sulitnya mendapat sokongan kaum bulim? Hari ini aku sudah menjadi ciangbun, sekali-kali tidak akan kubiarkan kau berbuat lancang menjadi murid murtad perguruan kita!"

Bagi Ciok Heng ia sudah berusaha mengalah, namun urusan masih melibatkan dirinya juga, namun meski ia ada maksud berlaku ne-kad, betapapun ia harus memikirkan keselamatan muridmurid yang lain.

Bagaimana baiknya?

Sungguh membuat ia serba sulit!

Di saat kedua pihak petentang petenteng, seperti busur yang sudah ditarik tinggal melepas anak panah, pertarungan sengit sudah hampir terjadi.

Kalau di sini Boh Cong-tiu sedang menyudutkan lawan-lawannya, di Siau-thian-to-hong sana, istrinya Lian Jay-hong sebaliknya sedang tenggelam dalam perang batin.

Memang dia berhasil menotok hiat-to Lim Bu-siang, namun menghadapi sorot mata Lim Busiang yang berwibawa dan menusuk perasaan itu, dia sendiri menjadi sangsi dan kehabisan akal, tindakan apa yang harus dia lakukan, ini merupakan persoalan sulit untuk diputuskan.

Semula ia sudah atur rencana itu sedemikian rapinya, setelah.urusan besar Boh Cong-tiu mendapat hasil yang gemilang, barulah dia hendak ajak Lim Bu-siang kembali ke Giok-hong-koan, suami-istri mohon maaf bersama kepadanya.

Namun setelah mendengar petuah dan kata-kata Lim Bu-siang yang panjang lebar tadi, bukan saja ia paham bahwa Lim Bu-siang tidak akan mengampuni perbuatan suaminya, sampai dia sendiri pun curiga pada diri sendiri bahwa apa yang dia lakukan sekarang adalah perbuatan yang salah, mana berani dia bawa Lim Bu-siang pulang menemui suaminya.

Suara lonceng dari Giok-hong-koan sudah berhenti, gugup pun tiada gunanya.

Maka Lim Busiang segera menenangkan hati, ia lupakan semua kejadian yang dihadapinya ini, ia himpun semangat dan mengumpulkan hawa murni berusaha membebaskan totokan hiat-tonya sendiri.

Belum lagi ia berhasil menjebol totokan hiat-tonya, tiba-tiba didengarnya langkah kaki mendatangi, segera didengarnya Lian Jay-hong membentak.

"Siapa?"

Waktu ia angkat kepala, dilihatnya seorang laki-laki tua berjenggot kambing tahu-tahu sudah berdiri di hadapannya.

Ternyata laki-laki ini bukan lain adalah bekas guru Lian Jay-hong, yaitu Cong Sin-liong adanya.

Kejadian yang tak terduga ini bukan saja Lian Jay-hong amat kaget, Lim Bu-siang pun tidak kurang terkejutnya, hawa murni yang sudah mulai terhimpun hampir saja buyar lagi.

Seperti tertawa tidak tertawa, Cong Sin-liong berkakakan, ujarnya.

"Jay-hong, kau tidak nyana kalau akulah yang datang bukan?"

Lian Jay-hong bekerja menurut rencana suaminya, tempat persembunyiannya ini pun sebelumnya sudah ditunjuk oleh Boh Cong-tiu.

Itulah suatu tempat rahasia yang sulit ditemukan, maka orang suruhan Ciok Heng tidak menemukan mereka, tak nyana jejak mereka akhirnya ketahuan oleh Cong Sin-liong juga.

Kikuk dan serba salah pula sikap Lian Jay-hong.

"Benar, sungguh di luar dugaanku"

Terpaksa Lian Jay-hong menjawab sekenanya, dalam hati ia bertanya-tanya kenapa orang bisa berada di tempat ini.

"Jay-hong, tidak perlu kau merasa kikuk dan sungkan, hubungan guru dan murid masih berlangsung, dulu meski ada sedikit salah paham, kejadian toh sudah berselang. Aku tidak akan salahkan kau. Sekarang suamimu pun sudah panggil aku susiok, kau pun masih menjadi muridku,"

Demikian Cong Sin-liong menarik simpati.

Rasa kikuk Lian Jay-hong bukan lantaran dirinya malu, adalah dia merasa akan kekerdilan jiwa suaminya.

Tapi ia sendiri belum tahu maksud kedatangan Cong Sin-liong, dalam situasi yang serba pelik ini, terpaksa ia harus peras otak untuk mencari daya, terpaksa ia berkata.

"Cong-losiansing, sejak lama kau sudah bukan keluarga perguruan kita, maaf aku tidak akan anggap kau sebagai guruku lagi."

Jawaban ini agaknya berada di luar dugaan Cong Sin-liong, sejenak ia melengak, katanya.

"Boh Cong-tiu sudah menjadi ciangbun baru dari perguruan kita, apa sih sulitnya bila aku minta diterima kembali menjadi murid perguruan kita?"

"Kau ingin jadi guruku, biarlah kelak dibicarakan lagi kalau kau sudah resmi kembali ke perguruan kita."

Membesi muka Cong Sin-liong, katanya tertawa dibuat-buat.

"Baiklah, kalau kau ingin bekerja menuruti aturan bulim, aku ini bukan orang yang gila kedudukan dan hormat, terserah kau suka panggil aku apa. Marilah kita bicara tentang urusan ini!"

"Urusan apa?"

Cong Sin-liong menuding Lim Bu-siang, katanya.

"Jay-hong, kali ini kau menunaikan tugas dengan baik sekali, sekarang boleh kau serahkan persoalan ini kepadaku."

"Apa, maksudmu?"

Sentak Lian Jay-hong kaget dan gusar.

"Kau anak pintar, memangnya belum mengerti? Serahkan budak ini kepadaku!"

"Kenapa harus kuserahkan kepada kau?"

Belum habis ia bicara, Cong Sin-liong sudah terbahak-bahak. Kata Lian Jay-hong menahan hati.

"Apa yang kau tertawakan? Seumpama dia bukan ciangbunjin, masih termasuk murid Hu-siang-pay. Murid Hu-siang-pay, mana boleh kuserahkan kepada orang luar?"

Membesi roman muka Cong Sin-liong, jengeknya dingin.

"Kau buka mulut perguruan, tutup mulut perguruan, kalau aku bukan gurumu, tapi aku mendapat perintah rahasia dari Hu-siang-pay ciangbun untuk membawa dia."

Bukan kepalang kejut Lian Jay-hong, sekilas ia tertegun, katanya.

"Kau, kau, kau mendapat perintah siapa?"

"Kecuali suamimu, siapa pula yang setimpal menjadi ciangbunjin Hu-siang-pay? Hehe, kalau kukatakan mendapat perintahnya, itu sudah cukup sungkan dalam basa-basi. Bicara terus terang, sebenarnya dia minta bantuanku untuk melakukan hal ini."

Pucat pasi muka Lian Jay-hong, katanya.

"Dari mana aku tahu bahwa omonganmu dapat dipercaya? Pergi kau bawa dia kemari, aku ingin bicara blak-blakan di hadapannya." ' Kembali Cong Sin-liong terbahak-bahak.

"Kukira kau sudah menjadi pembantu dalam Boh Congtiu paling setia, kenapa kau tidak melihat gelagat menilai urusan? Sekarang baru saja dia berhasil menduduki jabatan ciangbun, mana boleh peristiwa besar ini tersebar di luaran? Ketahuilah, di hadapan para murid suamimu bilang bahwa Lim Bu-siang tahu akan dosa-dosanya dan melarikan diri, kalau sekarang dia dibawa pulang, bukankah bakal terjadi huru-hara?"

"Tapi dia tidak pernah berpesan supaya aku menyerahkan Lim Bu-siang kepadamu, katanya setelah aku berhasil menunaikan tugasku, suruh kami pulang ke Giok-hong-koan, secara langsung dan di muka umum ia hendak minta maaf kepada Lim Bu-siang!"

Tampak sikap Cong Sin-liong semakin senang, katanya.

"O, jadi begitu. Tak heran bila dia harus mengelabui kau!"

"Apa yang kau maksud dengan 'jadi begitu'?"

"Kau masih belum paham? Suamimu kuatir kau membela budak busuk ini, kalau dia tidak menipu kau, mana kau mau bekeTJa menurut rencananya? Hehe, sebagai seorang istri kau tidak mendapat kepercayaan dari suamimu, itulah suatu hal yang paling memalukan, Jay-hong, cukup sampai di sini saja, jelek-jelek aku pernah menjadi gurumu, ingin aku memberi nase-hat kepada kau, semoga kelak kalian suami istri bisa sehaluan dan seia sekata."

Lian Jay-hong tenangkan pikiran, katanya.

"Kalau Boh Cong-tiu benar-benar seperti apa yang kau katakan, akulah yang harus merasa malu bagi dia!"

"Kau masih belum percaya akan omonganku? Coba kau pikir, kalau tanpa pemberitahuan suamimu, mana aku bisa tahu kalian sembunyi di tempat ini? Mana bisa tahu rencana tipu daya kalian suami istri?"

Lian Jay-hong kertak gigi, katanya tegas.

"Baik, coba kau katakan, hendak kau bawa ke mana Lim-ciangbun?"

"Biar kujelaskan kepadamu, aku hendak membawanya ke Pakkhia untuk lapor."

"Lapor? Lapor soal apa?"

"Tak usah kau pura-pura pikun. Memangnya kau tidak tahu bahwa suamimu sudah mengikat perjanjian dengan komandan Gi-lim-kun Pakkiong-tayjin, Pakkiong Bong berjanji secara diam-diam bantu dan dukung dia menjabat ciangbunjin Hu-siang-pay, demikian pula suamimu berjanji kerja sama demi kepentingannya. Budak ini sebetulnya bukan buronan penting, tapi sejak dia main asmara dengan Beng Goan-cau, serta merta dia pun menjadi buronan penting. Jelasnya aku mewakili suamimu menyerahkan budak ini kepada Pakkiong Bong, paham belum?"

Luluh dan buyar setitik harapan terakhir Lian Jay-hong kepada suaminya, sungguh mimpi pun ia tidak kira bahwa suaminya ternyata sebejat itu, sampai pun adik misan sendiri pun akan dijadikan umpan sebagai imbalan kedudukan ciang-bunnya.

Maka dengan kertak gigi ia berkata.

"Baik, kuserahkan kepada kau!"

"Nah, kan begitu, memang kau ini muridku yang baik, istri Boh Cong-tiu yang setia! Kecuali kau tiada orang lain yang tahu bahwa akulah yang membekuk Lim Bu-siang, suamimu pun boleh berlega hati menduduki jabatan ciangbun-nya."

Belum sirna suara tawanya, mendadak berubah roman mukanya, bentaknya.

"Apa yang kau lakukan!"

Ternyata Lian Jay-hong pura-pura menyerahkan Lim Bu-siang kepadanya, bahwasanya dia hendak membuka hiat-to Lim Bu-siang yang tertotok.

Tapi kepandaiannya hasil didikan Cong Sinliong, gerak-geriknya mana bisa mengelabui mata gurunya?

Begitu melihat gerak tangannya, belum lagi ujung jarinya menyentuh hiat-to di badan Lim Bu-siang.

"Wut"

Cong Sin-liong sudah layangkan tangannya mencengkram ke pundaknya. Lian Jay-hong sudah bersiaga, di saat genting itu, sebat sekali sikutnya menyodok, ia dorong Lim Bu-siang ke samping.

"Sret"

Pedang pendeknya sudah terlolos keluar, hardiknya seraya mengayun pedangnya terbalik.

"Hayo tangkaplah!"

Jari tengah Cong Sin-liong menjentik.

"Creng", ia sentil pedang orang miring ke samping, seketika terkejut hati Cong Sin-liong, marah pula, bentaknya.

"Sudah gila kau? Tidak bantu suami, malah membela orang luar?"

"Aku bekerja demi keadilan dan kebenaran tanpa pandang bulu. Kalau hendak membawa Limciangbun, bunuh aku lebih dulu!"

"Memangnya kau kira aku tidak berani membunuhmu?"

Di mulut ia berkata demikian, betapapun Lian Jay-hong istri Boh Cong-tiu, mau tidak mau ia harus berpikir dua belas kali sebelum bertindak.

Lian Jay-hong pertaruhkan jiwa menyerang dengan sengit, jurus permainannya ganas dan keji, Cong Sin-liong tertawa dingin.

"Ilmu pedangmu hasil ajaranku, mana bisa kau melukai aku?"

Segera ia kembangkan Khong-jiu-jip-peh-to, secara kekerasan ia hendak merebut senjata orang.

Dalam sepuluh jurus Lian Jay-hong terdesak mundur berulang-ulang, permainan ilmu pedangnya kacau balau.

Untunglah Cong Sin-liong masih menguatirkan akibatnya jika ia salah tangan melukai Lian Jay-hong, kalau tidak pedang Lian Jay-hong sejak tadi pasti sudah terebut olehnya.

Di saat-saat genting di mana rangsakan Cong Sin-liong hampir saja berhasil merebut pedang orang, tiba-tiba Lim Bu-siang berteriak.

"Menuju ke Kan-bun, putar ke Sian-wi, tusuk Thiat-cuhiat!"

Ternyata ia kerahkan hawa murni berusaha membebaskan totokan hiat-to sendiri, kebetulan dalam saat-saat yang genting ini ia berhasil menjebol totokan jalan darahnya itu.

Mendadak Lim Bu-siang buka buka mulut bersuara, keruan Cong Sin-liong dan Lian Jay-hong sama-sama kaget.

Tatkala itu Cong Sin-liong sedang melancarkan sejurus tipu Tay-kim-na-jiu-hoat yang amat lihay, Lian Jay-hong sedang kerepotan tak tahu bagaimana untuk melawan, tanpa pikir lagi secara reflek ia bergerak sesuai menurut petunjuk Lim Bu-siang, betul juga posisinya segera berubah.

"Sref' di mana pedangnya menusuk, dengan mudah sekali ia sudah punahkan serangan lihay Cong Sin-liong. Beruntun serangan ganas Cong Sin-liong selalu dapat dipunahkan oleh Lian Jay-hong atas petunjuk Lim Bu-siang, keruan Cong Sin-liong gusar dan mencelos hatinya, pikirnya.

"Kalau lwekang budak busuk ini sampai pulih kembai , aku sendiri bakal celaka."

Segera ia membentak.

"Jay-hong, kalau kau berkukuh, jangan salahkan aku bertindak tidak kenal kasihan kepadamu." ---"Wut, wut, wut"

Beruntun ia pukulkan jotosannya yang dahsyat, karena dilandasi tenaga dalamnya yang hebat, sehingga Lian Jay-hong terdesak mundur semakin jauh.

Tapi setiap kali ia melampaui Lian Jay-hong hendak membekuk Lim Bu-siang, dengan nekad kembali Lian Jay-hong melabrak dirinya.

Sedikit banyak Cong Sin-liong rada kepayahan juga menghadapi ilmu pedangnya, maka ia tidak berani mendesak terlalu dekat.Namun Bik-khong-ciang yang dia lancarkan cukup membuat Lian Jay-hong merasa sesak napas, namun sekuat tenaga dia masih kuasa bertahan.

Sungguh Lian Jay-hong gegetun dan menyesal setengah mati.

"Kalau tahu begini, tidak seharusnya aku totok hiat-to Bu-siang dengan Jiong-jiu-hoat. Tapi, meski sekarang dia belum mampu bergebrak, untuk lari rasanya tidak sulit!"

Ia tahu dirinya tidak akan kuat bertahan lama, segera ia berteriak.

"Bu-siang, lekas kau lari! Jangan kau hiraukan aku!"

Seolah-olah Lim Bu-siang tidak mendengar seruannya, badannya tetap menggayut di batang pohon, tidak bergerak, namun tetap bersuara memberi petunjuk kepadanya. Lian Jay-hong semakin gelisah, serunya.

"Bu-siang, kumohon lekas kau pergi, dia tidak akan berani bunuh aku!"

Ternyata saat mana Lim Bu-siang sedang kerahkan hawa murninya sambil melancarkan jalan darahnya yang tersumbat sekian lamanya, supaya gerak-geriknya nanti bisa pulih seperti sedia kala.

Sebetulnya latihan lwekangnya jauh lebih tinggi dari kemampuan Lian Jay-hong, setelah berhasil membuka totokan hiat-to sendiri sebetulnya kini sudah pulih enam tujuh bagian, namun karena dia harus selalu buka mulut memberi petunjuk kepada Lian Jay-hong, perhatiannya terpencar, maka tenaga dan semangatnya baru pulih dua tiga bagian.

Menurut perhitungannya, cukup asal lwekangnya pulih separuh saja, ia sudah cukup menandingi Cong Sin-liong.

Demi melindungi dirinya Lian Jay-hong berani pertaruhkan jiwa melawan gurunya yang sesat, kini lwekangnya sudah pulih tiga bagian, sudah tentu ia tidak sudi tinggal pergi tanpa hiraukan keselamatan Lian Jay-hong.

"Semoga Lian-cici masih kuat bertahan setengah sulutan dupa,"

Demikian Lim Bu-siang berdoa dalam hati.

Tapi Lian Jay-hong sudah kehabisan tenaga, napas sudah ngos-ngosan, jelas tidak kuat bertahan lebih lama lagi.

Melihat saatnya sudah tiba Cong Sin-liong tertawa dingin.

"Jay-hong, kau kira aku tidak berani bunuh kau, suamimu harus berterima kasih kepadaku malah!"

Di tengah seringai dinginnya, serangannya dipergencar, sekonyong-konyong ia menghardik, tahu-tahu badannya menubruk datang seperti harimau menerkam mangsanya. Lekas Lim Bu-siang berteriak.

"Menyingkir ke Cui-wi, putar ke Le-bun, tusuk Hoan-tiau-hiat!"

Sebetulnya itulah sejurus tipu pedang yang amat lihay dan hebat, sayang Lian Jay-hong sudah tidak mampu melancarkan dengan mantap, meski ia sudah bergerak menurut petunjuk, terdengar "Cret"

Cong Sin-liong menukik turun dari tengah udara, lengan bajunya sudah berhasil membelit ujung pedangnya, meski lengan bajunya tertusuk berlubang, namun ia tidak terluka sedikit pun.

Karena pedangnya tergubat lengan baju lawan, Lian Jay-hong jadi gelagapan, saat mana jari-jari Cong Sin-liong sudah menotok dari dalam lengan bajunya.

Seketika Lian Jay-hong tertotok kaku berdiri di tempatnya seperti patung tak mampu bergerak.

Bukan kepalang kaget Lim Bu-siang, namun lahirnya bersikap tenang, katanya tertawa malah.

"Cong Sin-liong, kau kena kutipu malah! Kau kira aku betul-betul kena tertotok olehnya? Hehe, maksudku supaya kau sendiri membeber intrik kalian kepadanya!"

Dasar Cong Sin-liong memang seorang licik dan manusia rendah yang berjiwa kotor, bagi manusia rendah biasanya selalu berprasangka bahwa orang lain pun seperti diri sendiri.

Maka mendengar kata-kata Lim Bu-siang, seketika Cong Sin-liong tertegun kaget, pikirnya.

"Budak ini tidak mau lari, sikapnya begini tenang, bukan mustahil memang mereka hendak menjebak aku?"

Pelan-pelan Lim Bu-siang melolos pedangnya, sekali gentak, ujung pedangnya bergetar keras mengeluarkan suara mendengung, bentaknya.

"Cong Sin-liong, kalau berani jangan kau lari, akan kulihat berapa jurus kau dapat melawan aku."-Waktu di pertemuan Thay-san dulu Lim Bu-siang hanya tiga jurus sudah berhasil mengalahkan Cong Sin-liong. Tapi kuatir Cong Sin-liong tidak percaya akan ancamannya, maka ia kerahkan tiga bagian tenaganya yang baru pulih, sehingga ujung pedangnya bergetar mendengung. Cong Sin-liong sudah putar badan, agaknya sudah siap hendak melarikan diri, baru saja Lim Bu-siang berlega hati, tak nyana orang hanya beberapa langkah saja lantas membalik badan pula! Sebetulnya mending kalau Lim Bu-siang tidak keluarkan kata-kata ancamannya tadi, kini maksud gertakannya justru menunjukkan kelemahan sendiri! Dia mengatakan 'kalau berani jangan lari'! Secara tidak langsung berarti amat kuatir bila orang tidak lari. Sebagai manusia licik licin dan banyak tipu dayanya, Cong Sin-liong dapat meraba sedikit kelemahan ini, seketika timbul rasa curiganya;

"Kalau lwekang budak ini memang sudah pulih seluruhnya, buat apa dia main bacot melulu dengan aku! Memberi kesempatan supaya aku melarikan diri? Hm, bukan mustahil dia sedang main gertak dan mengatur tipu daya belaka?"

Karena rasa curiganya ini, Cong Sin-liong berkeputusan untuk menyerempet bahaya, setelah membalikkan badan, sekilas ia menatap tajam serta tertawa dingin, jengek-nya.

"Ciangbun ada perintah, mana orang she Cong tidak menurut, baik, biar aku mohon petunjukmu beberapa jurus."

Diam-diam tersirap darah Lim Bu-siang, bentaknya.

"Besar amat nyalimu, memangnya kau belum tahu kelihayanku?"

"Aku tahu kelihayanmu, jelek-jelek aku ini terhitung susiokmu, mentang-mentang kau hendak menghina aku!"

"Sejak lama kau sudah bukan murid Hu-siang-pay, masih bicara tingkat kedudukan segala?"

"Kau tidak mengakui aku sebagai susiok, itulah lebih baik, gebrakan kali ini boleh tidak usah kenal kasihan segala!"

Lim Bu-siang keraskan kepala, ujarnya.

"Sorga ada jalan kau tidak mau ke sana, justru kau menerjang masuk ke akhirat yang tiada pintunya. Bagus, silakan kau mulai!"

Cong Sin-liong lintangkan pedangnya di depan dada, dengan nanar ia tatap ujung pedang Lim Bu-siang, katanya.

"Aku lebih tua tidak akan menindas yang kecil, boleh kau turun tangan lebih dulu!"

Ternyata meski ia sudah curiga, betapapun hati masih kebat-kebit dan was-was.

Ilmu pedangnya jauh berada di bawah Lim Bu-siang, kalau dia turun tangan lebih dulu, sekali gebrak Lim Bu-siang pasti dapat melihat titik kelemahannya, lebih baik bersikap menjaga diri dan bertahan saja, mengandal pengalaman dan keuletan diri sendiri, bahayanya pasti dapat dikurangi.

"Sekali ia turun tangan, segera aku akan tahu, apa benar lwekangnya sudah pulih seluruhnya,"

Demikian pikir Cong Sin-liong. Lim Bu-siang dapat meraba rasa takut orang, makinya.

"Bedebah, bicara yang tua menindas yang kecil segala. Aku ini kan sebagai ciangbun suatu perguruan, kau ini tahu aturan bulim tidak?"

Masing-masing sedang memancing untuk menjajaki keadaan lawan, betapapun Cong Sin-liong lebih pengalaman dan jauh lebih mantap.

Maka ia bertindak lebih jauh, katanya tawar sambil melangkah setapak ke depan.

"Memang tidak salah omonganmu, masing-masing tidak sudi turun tangan lebih dulu, perkelahian ini tidak akan berlangsung."

Sekali melangkah dua kali maju, melihat Lim Bu-siang tidak menunjukkan reaksi, semakin lega hati Cong Sin-liong, seketika ia terbahak-bahak.

"Bagus ya, kiranya kau budak ini sedang mengatur tipu daya hendak mengelabui mataku. Sayang kau berhadapan dengan seorang ahli seperti aku ini."

Sembari bicara Cong Sin-liong sudah maju tiga langkah pula, kini ia sudah berhadapan dengan Lim Bu-siang.

Lwekang Lim Bu-siang baru pulih tiga bagian, betapapun tabah dan tenang hatinya, tak urung ia menjadi gelisah dan gugup juga, ujung pedangnya tampak gemetar.

Cong Sin-liong dapat melihat akan kelemahan ini, seketika rasa kuatir-nya buyar sama sekali, katanya, dingin.

"Lim Busiang, sampai detik ini, kau masih mentang-mentang agulkan diri sebagai ciangbun segala? Kau tidak mau mulai, biar aku turun tangan lebih dulu."

Lenyap suaranya, pedang Cong Sin-liong pun sudah terangkat ke atas.

"sret' dengan ganas ia menusuk. Di saat-saat gawat itulah, sekonyong-konyong terdengar hardikan keras bagaikan guntur, seolah-olah menggelegar di pinggir telinga Cong Sin-liong. Kaget Cong Sin-liong bukan main, hatinya pun terguncang hebat. Kejadian berlangsung teramat cepatnya, tampak selarik sinar kilat menyambar, tahu-tahu Lim Bu-siang sudah bergerak lebih dulu menyerang dirinya, lekas Cong Sin-liong lintangkan pedangnya menangkis.

"Trang", ia pukul jatuh pedang Lim Bu-siang, tapi badan sendiri pun sudah tergores tujuh jalur luka tertusuk pedang. Tampak dua sosok bayangan orang laksana dua burung raksasa menubruk tiba, salah satu memburu ke arah Lim Bu-siang serta memayangnya, seorang yang lain langsung menghadang ke arah Cong Sin-liong, bentaknya seraya menyeringai dingin.

"Perkelahian kita di Yangciu tempo hari belum selesai, hari ini ketemu pula, marilah kita selesaikan pertandingan dulu!"

Ternyata Miao Tiang-hong dan Hun Ci-lo tiba tepat pada waktunya.

Hardikan keras bagai guntur menggelegar tadi, adalah Say-cu-hiong-kang yang dikembangkan oleh Miao Tiang-hong.

Say-cu-hiong-kang merupakan lwekang tingkat tinggi dari aliran Budha, mempunyai manfaatnya yang amat menakjubkan, terutama menghadapi manusia yang berhati sesat, hardikan yang mendadak dan keras itu cukup menggetar sanubari orang.

Meski Lim Bu-siang rada gelisah, namun ia sudah tidak pikirkan mati hidup sendiri, meski sedikit terpengaruh, namun tidak terlalu hebat akibatnya.

Oleh karena itu ia masih sempat mengambil kesempatan melancarkan ilmu pedangnya yang maha tinggi.

Lantaran itulah Cong Sin-liong kena dirugikan.

Sementara Lian Jayhong, karena hiat-tonya tertotok dalam keadaan pingsan, sedikit pun ia tidak terpengaruh apaapa.

Sekaligus kena dilukai tujuh tempat, meski lwekang Lim Bu-siang belum pulih, luka-luka itu tidak parah, betapapun sudah mempengaruhi gerak-gerik dan ketabahan hatinya.

Tingkat kepandaiannya memang setingkat lebih rendah dibanding Miao Tiang-hong, setelah badan terluka mana dia kuat melawannya?

Hanya beberapa jurus saja, pedangnya sudah kena dipukul jatuh oleh Miao Tiang-hong yang mengembangkan ilmu Khong-jiu-jip-peh-to.

Sekonyong-konyong ia menghardik sekali lagi, tapak tangannya sudah menghantam dengan dahsyat.

Mati-matian Cong Sin-liong dorongkan kedua tapak tangannya, namun tak kuasa melawan.

"Huuah!"

Sekurnur darah segar menyembur keluar dari mulutnya, lekas ia lari sipat kuping.

Kali ini ia benar-benar melarikan diri.

Hun Ci-lo tahu Miao Tiang-hong cukup berkelebihan menghadapi lawannya, tidak perlu ia ikut membantu.

Setelah ia menolong Lim Bu-siang, ia bawa orang ke sebelah pinggir, katanya tersenyum.

"Aku inilah Hun Ci-lo, dalam pertemuan besar di Thay-san dulu pernah aku melihatmu."

"Aku tahu. Sering Beng-toako menyinggung dirimu. Hun-cici, tahukah kau, betapa kangen hatiku kepadamu, syukur hari ini terkabul keinginanku, bisa bertemu dengan kau. Em, beruntung kau datang, bagaimana kau bisa datang begini kebetulan?"

"Bersama Miao-toako, aku memang ingin menyambangi kau. Aku pun ingin bertemu denganmu."

Ternyata Miao Tiang-hong dan Hun Ci-lo memanjat gunung lewat Lam-thian-bun, waktu tiba di Cap-pwe-ban, didengarnya di bagian Siau-thian-to-hong ada suara pertempuran, untung mereka sempat menolong jiwa Lim Bu-siang.

Baru saja mereka bicara beberapa patah kata, tiba-tiba terdengar Cong Sin-liong menjerit sekeras-kerasnya, kiranya Miao Tiang-hong menghantam Cong Sin-liong luka parah dan lari lintang pukang.

"Sayang, akhirnya dia lolos juga!"

Kata Hun Ci-lo.

"Kali ini ia lolos, lain kali pasti tidak akan lolos lagi,"

Ujar Lim Bu-siang.

"Ya, murid khianat Hu-siang-pay kalian, malah tidak leluasa bila Miao toako sampai membunuhnya, kaulah yang pantas membereskan dia sebagai ciangbunjin yang mencuci bersih nama baik perguruan!"

Waktu Mao Tiang-hong berjalan kembali dilihatnya Lian Jay-hong yang roboh di tanah, sekilas ia melengak, katanya.

"Bukankah dia ini istri Boh Cong-tiu?"

"Benar, aku sendiri tertotok hiat-toku oleh Lian Jay-hong,"

Tutur Lim Bu-siang.

"Apakah yang telah terjadi?"

Tanya Miao Tiang-hong heran.

"Kalau dibicarakan amat panjang, pendek kata dia tidak sehaluan dan sependapat dengan suaminya. Biarlah aku membebaskan totokan hiat-tonya dulu."

Totokan Cong Sin-liong atas hiat-to Lian Jay-hong pun menggunakan Jiong-jiu-hoat, totokan tunggal hiat-to dari Hu-siang-pay hanya orang-orang Hu-siang-pay sendiri yang bisa membebaskannya, untung Lim Bu-siang sudah istirahat sebentar, kini lwekangnya sudah pulih empat lima bagian, sedikit membuang tenaga barulah ia berhasil membuka totokan Lian Jay-hong.

Di saat ia bekerja membuka totokan hiat-to Lian Jay-hong itulah secara ringkas ia menjelaskan duduk perkaranya.

Mendengar Boh Cong-tiu sudah meluruk tiba di Giok-hong-koan, keruan Miao Tiang-hong dan Hun Ci-lo sama kaget, di samping itu mereka bersyukur bahwa kedatangan mereka kebetulan tepat pada waktunya.

Merah jengah selebar muka Lian Jay-hong, katanya.

"Bu-siang, sungguh aku amat menyesal kepadamu, mimpi pun aku tidak menduga bahwa dia sudah sebejat itu."

"Sedikit lalai dan kena dikelabui, siapapun pernah mengalami. Urusan sudah berselang tidak perlu disinggung lagi. Tugas yang terpenting sekarang, kita harus lekas menyusul ke Giok-hongkoan."

Dengan mengembangkan ginkang mereka berempat berlari-lari menuju ke Giok-hong-koan.

Lim Bu-siang dan Lian Jay-hong sama-sama gugup dan gelisah, namun perasaan mereka jauh berbeda.

Betapapun Boh Cong-tiu adalah suaminya, cara bagaimana dia harus menyelesaikan persoalan ini?

Seolah-olah dia baru saja siuman dari sebuah impian buruk, sayang apa yang barusan dia lihat, dengar dan alami bukanlah impian belaka.

Dalam Giok-hong-koan, waktu itu kedua pihak sudah saling melotot, menyingsing lengan melolos senjata siap tempur, sekejap saja pertempuran seru acak-acakan bakal terjadi!

Ciok Heng sudah bertekad untuk nekad melawan, tapi betapa pun ia harus pikirkan keselamatan para murid-murid lainnya.

Sementara Boh Cong-tiu mendesak serta mengancam dengan garang, katanya tertawa dingin.

"Ciok Heng, kalau kau sudah berkukuh sedemikian rupa, mengkhianati perguruan, terpaksa sebagai ciangbunjin aku bertindak tidak kenal kasihan kepadamu!"

Ciok Heng berkata.

"Aku hanya tahu Lim Bu-siang adalah ciangbunjin kita, kecuali dia setuju kedudukan ciangbun ini diserahkan kepadamu, kalau tidak aku tetap hanya mendengar perintahnya saja."

"Baik, lekas kau cari dan keluarkan Lim Bu-siang!"

Jengek Boh Cong-tiu menyeringai dingin. Belum habis kata-katanya, seorang murid yang berdiri di ambang pintu kebetulan berteriak kegiraugan.

"Nah itulah, Lim-ciangbun sudah kembali!"

Keruan bukan kepalang kejut Boh Cong-tiu, waktu ia angkat kepala dilihatnya empat orang beriring masuk, yang berjalan paling depan memang bukan lain adalah Lim Bu-siang.

Seorang Lim Bu-siang sudah cukup membuat hatinya kaget, apalagi di belakangnya masih mengikuti pula Miao Tiang-hong, Hun Ci-lo serta istrinya Lian Jay-hong.

Walau tinggi kepandaian silat Miao Tiang-hong dan Hun Ci-lo, Hun Ci-lo sih tidak perlu ditakuti, yang paling mengejutkan dan membuat jeri hatinya adalah istrinya Lian Jay-hong ternyata pulang bersama Lim Bu-siang.

"Apakah yang telah terjadi?"

Demikian ia bertanya-tanya.

Waktu ia tegasi, melirik pun Lian Jay-hong tidak ke arahnya, lapatlapat ia mendapat firasat jelek.

Lim Bu-siang kembali pada saat-saat yang menentukan, Ciok Heng beramai seakan-akan kejatuhan rejeki yang tak ternilai harganya, teriaknya keras.

"Boh Cong-tiu, katamu Lim-ciangbun tidak berani pulang, sekarang dia sudah kembali, coba kau berani berbuat sewenang-wenang lagi?"

Boh Cong-tiu jelajahkan pandangannya ke seluruh gelanggang, pikirnya.

"Tiga puluhan jagojago silat ini cukup berkelebihan membantu aku bila harus menggunakan kekerasan, apa yang perlu kutakuti?"

Ia tenangkan diri membesarkan nyali lalu katanya.

"Lim Bu-siang, sayang kau datang terlambat, murid-murid perguruan kita sudah memutuskan secara terbuka mencopot jabatan ciangbunmu!"

"Aku kembali bukan hendak merebut jabatan ciangbun,"

Sahut Lim Bu-siang dingin.

"Aku kembali untuk memberantas anasir-nasir perguruan, siapa jadi ciangbun itu tidak penting, yang penting bahwa dalam perguruan kita terdapat seorang durjana pengkhianat perguruan, kita harus membereskannya bersama."

"Sekarang kau sudah bukan ciangbun perguruan kita, mengandal apa kau hendak mengadakan pembersihan ke dalam?"

Tanya Boh Cong-tiu. Ciok Heng segera menimbrung.

"Hari ini kau bawa begundal-begundalmu, bukankah kau pun mengandal diri sebagai murid Hu-siang-pay hendak merebut jabatan ciangbun? Barusan kau angkat diri sendiri sebagai ciangbun!"

"Benar,"

Lim Bu-siang menambahkan.

"Katamu kau sudah mencopot jabatan ciangbunku, dan sudah diputuskan secara aklamasi oleh semua murid-murid, baiklah, anggap saja bahwa kedudukan ciangbun ini belum ada calon yang menempati. Sekarang sebagai murid Hu-siang-pay, aku mohon semua murid putuskan bersama mengusir murid murtad dari perguruan!"

"Siapa itu murid murtad yang kau maksudkan, memangnya kami harus mendengar tuduhan sepihak?"

Jengek Boh Cong-tiu.

"Kau tidak usah kuatir,-kapan aku pernah berkata hendak memutuskan sepihak? Tentu akan kupaparkan kenyataan di hadapan umum, setelah itu baru minta putusan terakhir dari semua murid,"

Demikian debat Lim Bu-siang. Ciok Heng segera berseru lantang.

"Boh Cong-tiu, segala persoalan tidak akan terlepas dari keadilan dan kebenaran, tadi kau semena-mena mencopot jabatan ciangbun, terang kau mengada-ada seenakmu sendiri, maka kau gunakan alasan dengan urusan besar perguruan segala minta keadilan sesama murid perguruan. Sekarang Lim Bu-siang mengajukan urusan besar perguruan yang sama, dia tidak bicara atas nama seorang ciangbunjin, ini sudah memberi kelonggaran kepadamu, memangnya usulnya itu malah tidak boleh diputuskan oleh kita semua?"

Sementara Ciok Heng berdebat dengan Boh Cong-tiu, murid-murid kedua pihak pun ikut bicara dan saling debat sendiri.

Karena Lim Bu-siang kembali, para murid yang semula takut kepada Boh Cong-tiu, bukan saja kini mendukung usul Lim Bu-siang untuk mengadakan pembersihan dalam perguruan, malah mereka pun tidak mengakui kedudukan ciangbun Boh Cong-tiu sekarang.

Malah ada orang yang berseru.

"Tidak tahu malu, membawa kawanan anjing rombongan babi segala memalsu diri sebagai murid-murid Hu-siang-pay, terhitung putusan sesama perguruan apa, katakan saja diri sendiri mengangkat dirinya menjadi ciangbun."

Sementara yang lain juga berteriak.

"Bukan saja tidak tahu malu, malah kukatakan orang jahat melapor persoalan lebih dulu!" --Disusul seorang lagi ikut menambahkan.

"Benar, datangdatang dia lantas menista perbuatan orang tidak genah, yang lain mendurhakai perguruan segala, putar bacot hendak membersihkan perguruan pula. Bagus ya, kini Lim-ciangbun sudah pulang, tibalah saatnya untuk mencuci bersih anasir-anasir durjana, biarlah kenyataan membuktikan siapakah yang menjadi murid pengkhianat!"

Membesi hijau muka Boh Cong-tiu, bentaknya.

"Lim Bu-siang, sebetulnya apa kehendakmu?"

"Para saudara harap tenang sebentar! Kedudukan ciangbun siapa yang bakal pegang sementara dikesampingkan dulu, lebih penting membersihkan perguruan dari murid-murid durhaka, kalian yang setuju silakan berdiri di sebelah sini."

Serempak murid-murid Hu-siang-pay sama berdiri ke tempat yang ditunjuk, jumlahnya jauh lebih banyak dari murid-murid Boh Cong-tiu ditambah kambrat-kambratnya yang palsu, para murid yang semula netral karena sudah tidak jeri lagi, kini sama mendukung Lim Bu-siang.

Boh Cong-tiu mengeraskan hati dan nekad, pikirnya.

"Persoalan hari ini terang sulit dibereskan tanpa menggunakan kekerasan, biarlah aku pancing dia lebih dulu."

Maka sambil menyeringai dingin ia bertanya.

"Baik, coba kau katakan, siapa murid durhaka yang kau maksudkan?"

Dengan kalem Lim Bu-siang berkata.

"Orang itu jauh di ujung langit dekat di depan mata!"

Boh Cong-tiu tahu Lim Bu-siang hendak mengatakan dirinya, namun serta mendengar katakatanya ini, tak urung berubah air mukanya, bentaknya dengan suara gemetar.

"Aku maksudmu?"

"Jawaban teka teki ini pasti akan kupaparkan di hadapan umum, kau tidak perlu gelisah. Coba kutanya kau dulu, waktu di Yangciu, bersama Cong Sin-liong dan Ciok Tio-ki kau mengadakan pertemuan rahasia di Su-kong-se, betul tidak?"

"Betul, memang secara kebetulan aku ada bertemu dengan mereka di Su-kong-se, tapi bukan pertemuan rahasia seperti yang kau katakan!"

"Memangnya bukan pertemuan rahasia? He, he, sungguh mengecewakan benar daya ingatanmu. Waktu itu Ciok Tio-ki sebagai penengah mengakurkan kau dengan Cong Sin-liong, hari itu kalian berunding secara rahasia mengenai tipu daya licik dalam pelaksanaan perbuatan kaliaij hari ini. Beruntung secara kebetulan hari itu aku pun bertamasya di Su-kong-se, apa yang kalian rundingkan dalam pembicaraan rahasia itu, dapat kudengar semuanya. Bukan begitu saja, akhirnya jejakku ketahuan, kau sendiri malah yang mengejar dan hendak membekuk aku, untung lariku cepat, tidak berhasil kalian kejar. Peristiwa ini terjadi setengah tahun yang lalu, aku tidak percaya kau sudah melupakannya sama sekali!"

"Omong kosong, mana ada kejadian itu?"

Terpaksa Boh Cong-tiu mengeraskan kepala memungkiri tuduhan Lim Bu-siang.

"Hal itu hanya fitnahanmu sendiri! Persoalan tidak bisa dibicarakan hanya dengar tuduhan sepihak, kau punya bukti dan saksi?"

Beng Goan-cau jauh berada di Siau-kim-jwan, sudah tentu Lim Bu-siang tidak bisa mengajukan saksi, sungguh hatinya perih darn marah pula, katanya.

"Boh Cong-tiu, sungguh tak nyana kau sudah bejat sedemikian rupa, memungkiri perbuatan jahat sendiri di hadapan umum tanpa tahu malu! Baiklah, peristiwa setengah tahun yang lalu biar kukesampingkan dulu, biar sekarang kubicarakan kejadian hari ini! Coba bisa tidak kau pungkiri lagi!"

"Para saudara seperguruan, tentunya kalian ingin tahu kenapa sampai sekarang baru aku terlambat pulang ke Giok-hong-koan, ketahuilah bahwa aku terjebak oleh tipu daya yang sebelumnya sudah direncanakan oleh Boh Cong-tiu! Bukan saja dia ingin supaya aku tidak bisa kembali bertemu dengan kalian, malah dia suruh Cong Sin-liong untuk mencelakai jiwaku, aku akan digusur ke kota raja sebagai upeti kepada Pakkiong Bong!"

Seketika timbul caci maki dan cercaan kotor kepada Boh Cong-tiu oleh para murid-murid yang berdarah panas. Boh Cong-tiu lantas berteriak lantang dengan meninggikan suaranya.

"Kalian beri kesempatan tidak untuk aku bicara?"

Lim Bu-siang mengangkat kedua tangan menenangkan suasana, lalu katanya kepada Boh Cong-tiu.

"Baik, ingin kudengar pembelaanmu!"

Boh Cong-tiu menyeringai dingin.

"Katamu aku membokong kau, aku sendiri berada di Giokhong-koan, cara bagaimana dapat membagi diri untuk mengerjai kau di Siau-thian-to-hong?"

Dari samping Ciok Heng mendengus keras-keras, selanya.

"Kau punya begundal sedemikian banyaknya, memangnya perlu kau sendiri yang turun tangan untuk melakukan perbuatan hina dina yang rendah itu?"

Mimpi pun ia tidak menduga, orang yang membokong Lim Bu-siang adalah istri Boh Cong-tiu sendiri yaitu Lian Jay-hong adanya.

"Orang she Ciok,"

Maki Kiau Hay-beng.

"kupandang kau sebagai susiok, kuhormati kau tiga bagian, berani kau memaki kami sebagai begundal segala?"

Melihat situasi tidak menguntungkan, sengaja ia hendak cari gara-gara. Namun Boh Cong-tiu masih punya setitik harapan untuk mungkir dan berdebat, katanya.

"Haybeng, jangan ribut, nanti sebentar biar gurumu yang membuat perhitungan padanya!"

Merah padam muka Ciok Heng, serunya gusar.

"Baik, setelah persoalan dibikin terang, kalau kau benar-benar tidak berusaha membokong ciangbun sumoay, nanti aku minta maaf kepadamu!"

Menghadapi Lim Bu-siang, Boh Cong-tiu tertawa dingin pula, katanya lebih lanjut.

"Kalau ada orang lain mendapat perintahku untuk membokong kau, kini kau sudah kembali tanpa kurang suatu apa, tentunya orang yang membokong kau itu sudah kau bekuk, mana orang itu?"

Mukanya berhadapan dengan Lim Bu-siang, namun matanya mengerling kepada istrinya Lian Jay-hong, pikirnya.

"Kau adalah istriku, memangnya kau tega jadi saksi untuk menista kejahatan suaminya?"

Tak nyana belum ia bicara habis, Lian Jay-hong sudah tampil ke muka, serunya berang.

"Orang itu adalah aku!"

Lian Jay-hong tampil ke depan sambil menuding suaminya, hal ini benar-benar di luar dugaan semua hadirin, seketika Giok-hong-koan yang luas dan penuh sesak berjubel manusia seketika menjadi hening lelap, umpama sebatang jarum jatuh di atas lantai pun bisa terdengar dengan jelas!

Semua orang terbelalak mengawasi Boh Cong-tiu, ingin mereka tahu, apa yang hendak dikatakan olehnya untuk membersihkan dirinya.

Pucat pias muka Boh Cong-tiu, katanya mengada-ada.

"Jay-hong, apakah kau tidak terserang demam? Mana boleh kau sembarangan membual di sini?"

"Apa yang kukatakan adalah kenyataan!"

Seru Lian Jay-hong lantang.

"Siapa tidak tahu kau adalah teman baik Bu-siang sejak kecil, katamu kau membokong dia, seharusnya kau menggusurnya kemari, kenapa kalian berjalan berendeng?"

Pedih, marah pula hati Lian Jay-hong, tak tertahan bercucuran air matanya, katanya merawankan hati.

"Cong-tiu, sampai detik ini, kau masih belum menyesal dan bertobat? Selama ini kuanggap kau seorang ksatria, seorang enghiong, sudah sekian tahun lamanya aku kau kelabui, baru sekarang aku melihat kedok aslimu, kau, ternyata kau adalah orang yang sedemikian... ai, tidak tega aku mengatakan."

"Seorang laki-laki harus berani bertanggung jawab akan perbuatan sendiri, perbuatan sudah terlanjur kau lakukan, kenapa kau tidak berani mengakui kesalahan? Kaulah yang menyuruhku membokong Lim Bu-siang, terhadap orang lain kau boleh mungkir, terhadapku kau masih mungkir lagi?"

"Memang aku adalah sahabat karib Bu-siang, justru karena aku adalah teman baiknya, dia cukup paham akan martabat dan karakterku, tahu bahwa aku teledor dan kena bujukan dan tertipu oleh kau, maka dia suka memaafkan kesa-lahaanku."

"Cong-tiu, entah kau punya tidak rasa malu, tapi akulah yang malu bagi perbuatan kotormu! Tapi sekarang masih ada kesempatan terakhir, segera mintalah maaf kepada ciangbun sumoay, setelah kau menyesal dan bertobat, aku masih tetap sebagai suami istri dengan kau!"

Kata-kata Lian Jay-hong yang panjang lebar penuh perasaan ini, seketika membuat semua hadirin terketuk haru hatinya. Kata Lim Bu-siang menghela napas.

"Boh Cong-tiu, kau punya istri sebaik ini, kalau masih tidak sadar dan menyesal, sekali kau terjeblos akan menyesal ribuan tahun, bertobat pun sudah terlambat."

Berubah rona muka Boh Cong-tiu dari merah, pucat dan hijau, dalam sekejap itu batinnya sudah berubah beberapa kali pikiran, akhirnya ia berkata menghela napas.

"Baik biar aku bicara terus terang, kalian dengarlah!"

Lim Bu-siang kira orang hendak mengutarakan penyesalan hatinya, hatinya senang, katanya.

"Ya, bicaralah menurut nuranimu sendiri, kami akan memaafkan kau!"

Sejenak Boh Cong-tiu berdiam diri, lalu katanya.

"Beginilah kejadiannya. Kami suami istri memang pernah berunding cara bagaimana untuk membereskan Lim Bu-siang, Jay-hong tahu watak Lim Bu-siang amat keras, terang dia tidak akan mau terima salah, dia kuatir bila jabatan ciangbunnya dicopot, mungkin bisa menimbulkan perang saudara di antara sesama perguruan kita sendiri, oleh karena itu dia lalu mengajukan diri, secara suka rela untuk menghadapi Lim Busiang."

Semua hadirin merasa kata-katanya rada janggal.

Seharusnya dia mengakui kesalahannya sendiri, tapi apa yang dia uraikan sekarang, seolah-olah hendak menimpakan kesalahan ke pundak istrinya, Lian Jay-hong.

Ciok Heng tertawa dingin, ejeknya.

"Boh Cong-tiu, bicaralah sejujurnya!"

"Aku sudah bicara sejujurnya, kalau tidak percaya, boleh kau tanya kepada Jay-hong, apa benar kami berunding demikian?"

"Betul, memang ada kejadian itu,"

Jawab Lian Jay-hong.

"Tapi..."

Lekas Boh Cong-tiu menukas kata-katanya.

"Cukup asal kau mengakui akan kejadian itu. Memang tindakanku rada keluar batas, tapi tujuanku adalah baik. Jay-hong adalah teman baik Busiang, sedang Bu-siang adalah piaumoayku, sudah tentu aku tidak ingin terjadi bentrokan senjata antar sesama saudara, tidak ingin pula terjadi adanya banjir darah antara sesama seperguraan."

Ciok Heng gusar, dampratnya.

"Kau coba membokong ciangbun, masih kau bilang bermaksud baik?"

"Cara ini jauh lebih baik daripada mengadu jiwa bukan? Bu-siang berusia muda, pengalaman cetek, kalian sendirilah yang angkat dia menjadi ciangbun dan mengelu-elukannya sampai dia tidak benar. Dan karena aku adalah piaukonya, jelas aku harus melindungi dan mengasuhnya, tapi dalam persoalan besar dia menempuh jalan keliru, maka ada tanggung jawabku untuk mengoreksinya. Bukankah maksudku baik dan demi kepentingan kita semua."

Semula semua orang sama mengharap Boh Cong-tiu menyesal dan bertobat, tak nyana apa yang dia katakan semakin brutal dan keterlaluan, bukan saja tidak mengakui kesalahan, malah dia menga-gulkan diri sebagai penolong Husiang-pay.

Sudah tentu kata-katanya ini menimbulkan kemarahan masai, situasi menjadi gaduh dan tegang pula.

Segera Lim Bu-siang menenangkan suasana, katanya.

"Kau katakan aku bertindak keluar batas dan menyeleweng, secara tidak langsung kau cuma ingin menuduh bahwa aku ada hubungan rapat dengan pahlawan bangsa melawan penjajah."

"Tadi kau belum hadir, tidak mendengar maksud kata-kataku. Biarlah sekarang kuulangi sekali lagi. Terus terang aku menentang perguruan kita terlibat dalam pertentangan antara bangsa Han dan Boan. Hubungan persahabatan secara pribadi di antara murid-murid kita dengan orang luar aku tidak membatasi mereka, tapi kau sebagai ciangbunjin, bergaul rapat dengan orang-orang sebangsa Beng Goan-cau, malah secara terang-terangan bantu dia melawan jagoan-jagoan pemerintah berkuasa, jelas tindakanmu itu terlalu tidak menguntungkan."

"Baik, katamu perguruan kita harus berpeluk tangan di luar garis pertikaian itu, memangnya kenapa kau sendiri sudi menjadi antek kerajaan, bukankah kata-kata dan perbuatanmu saling bertentangan?"

Demikian debat Lim Bu-siang.

"Kau ini memfitnah orang semena-mena, kau punya bukti apa? Tadi sudah kukatakan, bahwa hubunganku dengan Ciok Tio-ki dan lain-lain, tidak lebih hanyalah kenalan biasa saja..."

"Tidak perlu kau jelaskan pula,"

Tukas Lim Bu-siang.

"Pertanyaanku tadi belum lagi kaujawab. Baiklah, persoalan kau suruh Lian-cici membokong aku pun boleh dikesampingkan dulu, kau suruh Cong Sin-liong meringkus aku sebagai upeti untuk diserahkan kepada Pakkiong Bong, cara bagaimana kau hendak menjelaskan?"

"Waktu pertemuan besar di Thay-san dulu, dalam tiga jurus kau sudah kalahkan Cong Sinliong, banyak murid-murid yang hadir sekarang melihat dengan mata kepala sendiri, mana mampu dia membekuk kau untuk dibawa ke kota raja?"

"Aku kau tipu, lalu dengan Jiong-jiu-hoat kutotok hiat-tonya,"

Demikian timbrung Lian Jay-hong.

"Waktu Cong Sin-liong datang hiat-tonya baru saja terbuka. Belakangan untung Miao tayhiap dan Hun lihiap ini kebetulan datang dan memergoki perbuatannya, kalau tidak pasti sekarang Lim Busiang sudah dibawa pergi oleh Cong Sin-liong."

Sampai di sini terpaksa Miao Tiang-hong dan Hun Ci-lo tampil ke depan memberikan kesaksian sesuai apa yang diuraikan Lian Jay-hong barusan Terbalik biji mata Boh Cong-tiu, katanya.

"Untuk apa mereka berdua datang ke Thay-san?"

"Kami datang untuk menyambangi ciangbunjin kalian, kebetulan dapat memergoki kejadian itu!"

Sahut Hun Ci-lo.

"Memangnya kejadian masa bisa begitu kebetulan, kalian tidak sejak dulu tiba atau datang beberapa hari lagi, di saat Hu-siang-pay kami sedang mengadakan pembersihan perguruan, justru kalian kebetulan datang hari ini!"

"Memangnya kau menuduh bahwa kami sudah sekongkol dengan ciangbunjin kalian untuk memberikan kesaksian palsu di sini?"

Damprat Miao Tiang-hong.

"Apakah kalian mengada-ada, membuat cerita palsu untuk memberikan kesaksian palsu pula, aku tidak tahu. Tapi ada beberapa hal lain aku tahu dengan jelas,"

Demikian sindir Boh Cong-tiu.

"Kau tahu apa, ada omongan lekas katakan, atau kau ini kentut melulu!"

"Miao-siansing, bicaralah sungkan sedikit kepadaku ya?"

"Itu perlu kutinjau terhadap siapa aku bicara, bila pantas kuhormati tentu aku sungkan kepadanya. Kalau kau merasa menusuk pendengaran, silakan katakan cara apa yang kau ingini?"

Demikian tantang Miao Tiang-hong terang-terangan. Pau Gi salah satu dari Hu-siang-chit-cu yang berdiri di samping Boh Cong-tiu kembali tampil ke muka, katanya sama tengah.

"Kita jangan memperpanjang urusan ke persoalan lain dulu, marilah kita selesaikan dulu urusan pokoknya!"

Boh Cong-tiu mendengus, katanya.

"Miac-siansing, sudah lama kutahu kau sebagai tokoh kosen dari kaum lwekeh, kalau persoalan di sini beres, ingin aku mohon petunjuk Thay-ceng-khikangmu."

"Selalu kuiringi segala keinginanmu. Cuma mungkin kau sendiri belum tentu dapat hidup melampaui hari ini!"

"Hun-li-hiap,"

Ujar Boh Cong-tiu mengalihkan sasaran.

"Menurut apa yang kutahu, semula kau adalah sahabat karib dengan Beng Goan-cau, kabarnya lantaran hubunganmu terlalu baik dengan dia maka suamimu lantas membuat surat talak menceraikan kau. Apa benar kejadian itu?"

"Benar atau tidak, apa sangkut pautnya dengan kau?"

Tegak berdiri alis Hun Ci-lo saking dongkol. Seperti tertawa tidak tertawa, berkata Boh Cong-tiu.

"Sudah tentu tiada sangkut pautnya dengan aku. Tapi mungkin ada sedikit ikatan dengan persoalan yang harus kita bereskan hari ini. Hehe, Miao-siansing, kutanya pula kepadamu, kau pun bersahabat baik dengan Beng Goan-cau bukan?"

"Benar, Beng Goan-cau adalah sahabat baikku, memangnya kenapa?"

"Tidak apa-apa,"

Ujar Boh Cong-tiu tawar.

"Bekas ciangbunjin perguruan kami Lim Bu-siang pun bersahabat kental dengan Beng Goan-cau."

Secara tidak langsung dia mau berkata bahwa mereka adalah sekomplotan, kalau sekarang Miao dan Hun menjadi saksi, maka kesaksian mereka perlu diragukan. Lim Bu-siang gusar, serunya.

"Kau bicara demikian, memangnya persoalan Cong Sin-liong itu, hanyalah cerita bohong yang kami karang sendiri?"

Ciok Heng ikut menimbrung.

"Tidak menjadi soal kalau kau tidak percaya akan kesaksian Miao tayhiap dan Hun-lihiap, apakah terhadap istrimu sendiri, kau pun hendak menistanya?" ' Coh Sian-san bergelak tertawa, katanya.

"Boh Cong-tiu, perbuatan dan sepak terjangmu ini tidak beda dengan kelakuan bajingan tengik yang rendah budi, tapi itu pun malah lebih menunjukkan kedok aslimu, sehingga kami semua lebih nyata akan jiwamu yang kerdil."

Kata-kata ini seketika menimbulkan gelak tawa para hadirin. Kaku muka Boh Cong-tiu, katanya.

"Aku tidak pernah mengatakan bahwa kesaksikan mereka harus diragukan, tapi persoalan ini tidaklah begitu sederhana untuk dipikirkan, seumpama mereka tidak bohong, masakah bisa membuktikan kalau Cong Sin-liong benar-benar mendapat petunjukku!"

Ciok Heng dan Coh Sian-san berseru bersama tanpa berjanji.

"Urusan sudah dibikin terang sedemikian jauh kau masih main debat dan mungkir?"

"Kalian belum lagi mendengar penjelasanku, dari mana kau bisa mengatakan aku mungkir dan berdebat segala?"

"Baik, lekas kau terangkan!"

Seru Lim Bu-siang.

"Adakah kalian pernah berpikir, kalau mereka tidak bisa bohong, memangnya Cong Sin-liong tidak bisa bohong, dia memfitnah bahwa aku yang memberi petunjuk semua itu adalah bualannya sendiri."

"Jay-hong cici, bagaimana ang-gapanmu tentang kata-kata Cong Sin-liong?"

Tanya Lim Busiang. Lian Jay-hong menghela napas, ujarnya.

"Semoga apa yang dikatakan Cong Sin-liong memang bualannya sendiri, tapi dalam keadaan seperti itu, ia anggap kami berdua sudah berada di genggaman tangannya, kukira tidak perlu dia membual."

Menyusul Boh Cong-tiu ikut menghela napas pula, katanya.

"Jay-hong, ternyata kau tidak percaya kepada suamimu sendiri malah percaya kepada Cong Sin-liong. Tapi untunglah itu hanya anggapan dan rekaanmu belaka. Coba kutanya, pernahkah kau melihat atau mendengar aku berpesan apa-apa kepada Cong Sin-liong?"

"Memang tidak!"

"Kalau begitu, kecuali kalian bisa meringkus Cong Sin-liong kemari untuk dikompes keterangannya, kalau tidak fitnah dan tuduhan kalian atas diriku tanpa bukti dan tidak kenyataan!"

Ciok Heng mendelik, serunya.

"Kau tahu Cong Sin-liong sudah lari baru kau bicara demikian, tidak tahu malu!"

Boh Cong-tiu menarik muka, katanya memicingkan mata.

"Sudah cukup aku mendengar cercaan semena-mena ini terpaksa aku pun tidak akan sungkan terhadap kalian!"

"Betul,"

Teriak Hwe-hun-thong-cu.

"Perang mulut saja apa artinya, sudah tiba saatnya diputuskan dengan kepandaian!" , Melihat gelagatnya, perang tanding secara acak-acakan bakal segera terjadi. Sekonyongkonyong sebuah suara yang kedengaran asing berteriak dari luar.

"Cong Sin-liong datang!"

Keruan bukan kepalang girang Lim Bu-siang, sebaliknya tersirap darah Boh Cong-tiu.

Ternyata suara orang ini sudah amat dikenalnya yaitu tokoh misterius yang berulang kali pernah bantu dan menolong Lim Bu-siang itu.

Dan orang itu justru tokoh yang amat ditakuti oleh Boh Cong-tiu.

Suaranya hilang orangnya pun tiba, waktu semua hadirin angkat kepala berpaling keluar, tampak seorang laki-laki tua berpakaian putih sedang melangkah tegap ke dalam Giok-hong-koan.

Di bawah ketiaknya mengempit seseorang, orang itu tak lain adalah Cong Sin-liong.

Orang-orang pihak Boh Cong-tiu yang berada di Giok-hong-koan semula belum bisa melihat keadaan di luar, mendengar seruan 'Cong Sin-liong datang', mengira Cong Sin-liong sendiri yang meluruk balik hendak bantu Boh Cong-tiu, meski kedatangannya ini tidak menguntungkan, betapapun menambah seorang kosen yang amat diandalkan kepandaiannya.

Setelah orang tua itu berada di dalam, barulah mereka tahu cara kedatangan Cong Sin-liong ternyata digusur kembali oleh orang.

Bagaimana taraf kepandaian silat Cong Sin-liong, orang-orang Boh Cong-tiu sama tahu, seketika mereka jadi jeri dan gelisah.

Maklum mengandal kepandaian Cong Sin-liong yang tinggi, orang toh dibekuk dan dijinjing seperti menangkap seekor ayam layaknya, sedikit pun tidak kuasa meronta, kepandaian mereka sendiri jauh di bawah Cong Sin-liong, betapa hati tidak akan kebatkebit?

Tidak sedikit yang sudah berketetapan dalam hati, begitu melihat gelagat tidak menguntungkan segera mereka akan berlalu.

Namun demikian dalam rombongan mereka toh masih ada orang-orang yang tidak mengukur diri sendiri.

Orang tua baju putih itu melangkah masuk melewati pagar manusia yang berjubel di ambang pintu, sekonyong-konyong dari gerombolan orang banyak sekaligus melompat keluar tiga orang menyergap dari belakang.

Ketiga orang itu adalah Ciu King yang terkenal dengan Thi-soa-ciang, begal tunggal yang menjagoi daerah barat, orang kedua adalah Hek-ciok-cheng Chengcu Nyo Mo-lim yang kenamaan dengan ilmu Hun-kin-joh-kut-jiu di kalangan kangouw, orang terakhir adalah Hwe-hun-thong-cu yang tadi sudah kecundang oleh Ciok Heng, tatkala itu tangannya bersenjata sebilah pedang tajam yang kemilau.

Kiranya melihat kakek tua baju putih ini mengempit orang, kalau disergap secara mendadak pasti serba repot dan kerepotan, maka tanpa berjanji ketiga orang sama menubruk keluar hendak mengambil keuntungan.

Tapak tangan Ciu King dan Nyo Mo-lim merangsak tiba lebih dulu.

"plak, bluk"

Pukulan Thi-soaciang Ciu King menghantam punggung kakek tua itu dengan telak, berbareng Hun-kin-joh-kut-jiu Nyo Mo-lim yang bergerak secepat kilat menelikung lengan kanan kakek tia itu.

"Sret"

Menyusul pedang Hwe-hun-thong-cu pun sudah menusuk tiba mengarah ulu hati kakek tua baju putih.

Coh Sian-san menggerung gusar, sigap sekali ia menerjang maju hendak bantu kakek tua baju putih itu.

Sambil tersenyum manis, lekas Lim Bu-siang menariknya kembali, katanya.

"Tidak usah kuatir! Tiga rampok besar ini seumpama telor memukul batu!"

Belum lenyap suaranya, betul juga terdengar suara gedebukan yang ramai, tahu-tahu Ciu dan Nyo dua orang terpental jatuh setombak lebih.

Sementara pedang Hwe-hun-thong-cu yang kemilau itu sudah menusuk tiba di depan ulu hati si orang tua Thi-soa-ciang dan Hun-kin-joh-kut bisa dilawan dengan getaran tenaga dalam yang kuat dan hebat, namun betapapun tinggi latihan lwekang seseorang, kulit daging manusia mana bisa menandingi tusukan senjata tajam?

Maka semua hadirin sama menjerit dan mencucurkan keringat dingin bagi keselamatan jiwa si orang tua.

Tak nyana belakang kepala si orang tua seperti tumbuh mata layaknya, di tengah jerit kaget para hadirin, tahu-tahu dua jari tangannya bergerak ke belakang, gerak-geriknya cepat dan tepat, belum lagi para hadirin melihat tegas, pedang panjang di tangan Hwe-hun-thong-cu tahu-tahu sudah terjepit di antara dua jari tangannya, meski sudah kerahkan seluruh tenaga sampai otot leher menonjol keluar, pedangnya tak kuasa terdorong maju semili pun.

Pelan-pelan orang tua baju putih memalingkan muka, katanya dingin.

"Mentang-mentang kau ini seorang thongcu yang berkuasa di suatu daerah, ternyata membokong orang dari belakang, memangnya tidak tahu malu? Tapi masih kupandang kedudukan thongcumu itu, hari ini kuberi sedikit muka kepadamu, pergilah!"

Sembari bicara entah dengan cara bagaimana tahu-tahu ia sudah merebut pedang panjang orang, seenaknya tangannya menggentak, pedang panjang itu seketika patah menjadi dua potong.

Tampak Hwe-hun-thong-cu terhuyung tujuh delapan langkah, mukanya pucat seperti kapur, tanpa bicara lagi segera ia lari sipat kuping.

Sementara Ciu dan Nyo dua orang yang terguling keluar pelataran tadi pun sudah kabur tak kelihatan bayangannya pula.

Tergerak hati Lim Bu-siang melihat cara si orang tua mematahkan pedang dengan tenaga dalamnya, pikirnya.

"Bukankah itu Gun-goan-it-ouw-kang perguruan kami? Ternyata orang tua ini memang angkatan tua perguruan kita."

Ternyata Gun-goan-it-ouw-kang adalah Iwekang murni tingkat tinggi hasil ciptaan cikal bakal Hu-siang-pay Jan-bau-khek, waktu Lim Bu-siang menemukan ajaran ilmu silat peninggalan cikal bakalnya di dalam gua itu, di antaranya terdapat ilmu pukulan, ilmu pedang yang sudah diyakinkan dengan baik, cuma Gun-goan-it-ouw-kang inilah yang masih jauh dari sempurna.

Tengah ia terheran-heran, didengarnya di antara gerombolan orang-orang Boh Cong-tiu sana ada dua orang berteriak kaget.

"Tang-hay Sanjin!"

Kedua orang ini adalah Tocu dari kepulauan di lautan timur yang diundang oleh Boh Cong-tiu, setelah mengetahui asal-usul laki-laki tua berpakaian putih ini, dengan langkah tergopoh-gopoh lekas mereka tinggal pergi mengikuti langkah Hwe-hun-thong-cu.

Sekilas Lim Bu-siang tertegun, pikirnya.

"Siapa itu Tang-hay Sanjin, agaknya aku pernah dengar dari penuturan ayah."

Sesaat lamanya Lim Bu-siang tidak bisa mengingatnya, demikian juga komplotan Boh Cong-tiu saling pandang dengan heran, tiada seorang pun di antara mereka tahu siapa dan tokoh macam apa sebenarnya Tang-hay Sanjin itu?

Orang tua baju putih itu melempar Cong Sin-liong ke atas lantai, katanya dingin.

"Orang lain memang tidak tahu siapa aku, Boh Cong-tiu, masakah kau pun tidak kenal padaku?"

Pucat seperti kertas muka Boh Cong-tiu, katanya gemetar.

"Siautit tidak tahu akan kedatangan susiok, tidak menyambut selayaknya, mohon susiok memberi ampun!"

Sudah tentu kata-katanya ini membuat hadirin gempar, baru sekarang mereka tahu bahwa orang tua baju putih ini ternyata adalah adik seperguruan ayah Boh Cong-tiu.

Akan tetapi dua generasi muda murid-murid Hu-siang-pay sendiri pun tiada yang tahu atau kenal kepada susiok Boh Cong-tiu ini.

Tergerak hati Lim Bu-siang, tersipu-sipu ia maju memberi hormat, katanya.

"Ternyata Puisusiok yang datang, tecu Lim Bu-siang menyampaikan sembah hormat!"

Kakek tua baju putih terbahak-bahak, ujarnya.

"Kau adalah ciangbun perguruan kita, menurut adat akulah yang harus menghadap kepadamu, tak usah sungkanlah!"

Lengan bajunya sedikit mengebas, tanpa kuasa Lim Bu-siang terangkat berdiri, sungguh hatinya kagum akan kelihayan Iwekang susioknya yang belum pernah dilihatnya ini.

Lebih lanjut berkata kakek baju putih.

"Apa ayahmu baik, dari mana kau bisa tahu akan diriku?"

"Ayah pernah bercerita kepadaku, katanya sudah tiga puluh tahun Pui-susiok tiada kabar beritanya, beliau amat kangen. Tak nyana hari ini, kami para angkatan muda bisa bertemu dengan kau orang tua. Kukira di antara para angkatan tua dari perguruan kita, kecuali kau orang tua, mungkin tiada yang berkepandaian setinggi dan sempurna seperti kau!"

Kiranya Hu-siang-pay, terbagi tiga cabang di luar lautan, moyang Boh Cong-tiu yang bernama Boh Jong-liong adalah murid terbesar Jan-bau-khek, cabang ini merupakan aliran murni yang langsung.

Ayah Lim Bu-siang, Hwie-hi-tocu merupakan cabang kedua, sementara Cong Sin-liong adalah cabang ketiga.

Kakek tua baju putih ini bernama Pui Hi-kok, gelarannya Tang-hay Sanjin, adalah Sute ayah Boh Cong-tiu.

Sejak berumur tiga puluh, ia mengembara dan tidak diketahui ke mana perginya, termasuk ayah Lim Bu-siang pun tidak tahu bahwa orang sudah pulang ke Tionggoan.

Waktu kecil Lim Bu-siang pernah dengar cerita ayahnya tentang Pui-susioknya ini, maka waktu mendengar sebutan 'Tang-hay Sanjin' tadi, sesaat belum teringat olehnya akan Puisusioknya itu.

Keributan sudah sirap, mulailah kakek tua baju putih berkata sambil menuding Cong Sin-liong.

"Boh Cong-tiu bukankah kau minta ciangbun sumoaymu meringkus Cong Sin-liong sebagai saksi? Sekarang bukan saja aku sudah wakili dia mendatangkan saksi, barang buktinya pun sudah kusiapkan! Nah, sekarang kalian boleh bicara lebih lanjut!"

Sembari bicara jari tengahnya menjentik dari kejauhan, ia buka totokan hiat-to Cong Sin-liong.

Tapi jalan darah pelemas badannya belum terbuka, tetap ia tidak bisa berkutik.

Pucat pias seperti kapur muka Boh Cong-tiu, hendak lari terang tidak berani.

Begitu hiat-tonya terbuka seketika Cong Sin-liong bisa bersuara dan berteriak dengan suara serak.

"8oh Cong-tiu jangan kau timpakan segala dosa-dosamu ke atas pundakku, paling-paling aku hanya pembantu pelaksana saja. Kau, kaulah... aduh!"

Sebelum Cong Sin-liong bicara habis, mendadak ia menjerit ngeri dengan sekuat tenaga ia meronta berdiri, namun terjungkal roboh pula.

Ternyata di saat semua orang perhatian kata-kata Cong Sin-liong, secara diam-diam mendadak Boh Cong-tiu menyerang secara gelap.

Alat rahasia di batang kipasnya segera melesat bagai anak panah telak sekali menghunjam ke teng-gorokan Cong Sin-liong.

Ingin Lim Bu-siang menolong, namun sudah terlambat, bentaknya gusar.

"Boh Cong-tiu, kau bunuh orang untuk tutup mulutnya?"

"Cong Sin-liong memfitnah orang, memangnya aku harus mandah dituduh olehnya."

"Dia tidak akan bisa menutup mulut orang, kalau saksi sudah tiada, masih ada barang bukti."

Jengek kakek baju putih sambil merogoh ke dalam kantong Cong Sin-liong, ia keluarkan secarik sampul surat diangsurkan kepada Lim Bu-siang, katanya.

"Inilah surat rahasia tulisan Boh Cong-tiu sendiri yang ditujukan kepada Pakkiong Bong, memangnya dia berani mungkir lagi!"

Boh Cong-tiu mundur kembali ke kelompok orang-orangnya, dengan terbelalak ia mengawasi surat yang berada di tangan Lim Bu-siang, namun ia tidak berani menunjukkan aksi sembarangan.

Maklumlah bukan saja kepandaian orang tua baju putih jauh di atas dirinya, kepandaian Lim Busiang pun tidak rendah, tidak mungkin ia bisa membokongnya, terpaksa dengan mendelong dia mengawasi Lim Bu-siang membaca suratnya itu sampai selesai.

Dalam pada itu Coh Sian-san sedang menggotong Cong Sin-liong ke dalam untuk diberi pertolongan.

Surat itu adalah tulisan tangan Boh Cong-tiu sendiri yang ditujukan kepada Pakkiong Bong sebagai laporan, bagaimana rencananya untuk merebut kedudukan ciangbun Hu-siang-pay dengan jelas.

Di samping itu dia pun mengusulkan dan memberi saran-saran kepada Pakkiong Bong supaya mengurung Lim Bu-siang, bila perlu kelak untuk dijadikan sandera, tipu daya dan kekotoran jiwanya sudah terbeber pada tulisan suratnya itu.

Habis membaca Lim Bu-siang tertawa dingin, jengeknya.

"Boh Cong-tiu, apa pula yang hendak kau katakan?"

Lalu ia serahkan surat itu kepada Ciok Heng dan lain-lain untuk dibaca bergantian. Ciok Heng dan lain-lain sudah kenal tulisan tangan Boh Cong-tiu, sudah tentu dia tidak akan bisa mungkir lagi.

"Sudahlah, sekarang tiada urusanku lagi!"

Ujar orang tua baju putih.

"Bu-siang, kau adalah ciangbun, sekarang tiba saatnya kau membersihkan perguruan."

Berubah rona muka Boh Cong-tiu, pucat menghijau lalu merah padam, mendadak ia membentak.

"Persoalan hari ini harus diselesaikan dengan cara mati atau hidup, hayolah kita maju semua!"

Kakek tua baju putih membentak.

"Kalian sebetulnya bukan orang Hu-siang-pay, urusan Husiang-pay tiada sangkut paut dengan kalian, sekarang masih ada kesempatan dan lekas kalian mundur dan keluar dari Giok-hong-koan, aku berani mewakili ciangbunjin untuk memaafkan kesalahan kalian, kalau tidak, kalian keras kepala ingin membuat onar mengekor Boh Cong-tiu, kalian sendiri yang akan menerima getahnya."

Tokoh-tokoh kosen dari aliran sesat yang diundang Boh Cong-tiu ada juga yang tahu gelagat, melihat situasi tidak menguntungkan, diam-diam mereka sudah ngacir pergi.

Tapi ada juga tujuh delapan orang yang kemaruk harta dan kedudukan, takabur akan kepandaian sendiri, pikirnya, dengan gabungan kekuatan mereka bersama dapat main keroyokan, maka tanpa berjanji serempak mereka menerjang kepada orang tua baju putih.

Mereka sangka asal tokoh berkepandaian tinggi pihak lawan dikalahkan, situasi bakal berubah seratus delapan puluh derajat.

Kakek baju putih menggumam.

"Kukira aku boleh berpeluk tangan di luar garis urusan ini, siapa tahu aku dilibat juga!"

Sembari bicara di bawah kepungan dan keroyokan orang-orang itu, di mana tapak tangannya melayang, seketika terdengar suara kerontangan, tahu-tahu dua laki-laki besar sudah kena dicengkram dan dijinjingnya terus dilempar keluar Giok-hong-koan.

"Wut"

Orang ketiga berkesempatan melancarkan pukulannya menghantam punggungnya, kakek baju putih sedang melayani serangan dari depan, maka tanpa berpaling, lengan bajunya dikebutkan ke belakang, tepat sekali perge-langan tangan orang kena dikibas lengan bajunya, seketika tangannya terasa panas seperti dibakar, keruan kagetnya bukan main, lekas ia jejakkan kakinya mencelat salto ke belakang.

Penyerang ini bukan lain Kiau Hay-beng yang menantang bertanding dengan Ciok Heng tadi.

Asalnya Kiau Hay-beng adalah pimpinan dari gerombolan bajak laut yang mengganas di lautan timur selama dua puluhan tahun, selama itu belum pernah menemukan tandingan.

Hu-poh-ciang yang dia yakinkan dilatihnya setiap ada air pasang yang mendampar setinggi gunung, selama tiga tahun ia memapak gelombang ombak itu dengan pukulan tapak tangannya, baru berhasil dilatih dengan sempurna.

Betapa dahsyat dan hebat kekuatan pukulannya itu, ia percaya di seluruh dunia tiada tandingannya.

Tak nyana hari ini kebentur dengan si orang tua baju putih, cukup sejurus saja dirinya sudah dibikin terluka.

Apalagi jurus perlawanan orang tidak dilancarkan secara berhadapan langsung, hanya sedikit mengebas saja, dirinya sudah tidak kuat menahannya.

Kalau dinilai secara kenyataan hakikatnya si orang tua baju putih belum turun tangan sungguh-sungguh.

Sudah tentu hal ini membuat Kiau Hay-beng patah semangat, baru sekarang ia insyaf bahwa di luar langit masih ada langit, orang pandai ada yang lebih pandai, dulu ia mengagulkan pukulan tangannya tiada bandingan di seluruh kolong langit, tak nyana hanyalah pandangan cupat seperti kodok dalam sumur belaka.

Karena sudah kalah dan kapok, mana dia berani maju lebih lanjut?

Maka dengan langkah lebar cepat-cepat ia lari dari Giok-hong-koan.

Ciok Heng segera menghadang dan membentak.

"Bukankah tadi kau menantang aku? Kenapa hendak lari?"

Karena ingin menyelamatkan diri, tanpa banyak bicara Kiau Hay-beng lancarkan tipu Nu-haykim-liong (lautan mengamuk membekuk naga) tangan kiri menceng-kram sementara tangan kanan tegak membelah, merangsak secara kekerasan kepada Ciok Heng!

Lekas Ciok Heng membalas dengan sejurus Hu-hun-ca-can (mega musim semi berkembang), tipu yang mengutamakan kekerasan dilandasi kelunakan, kedua tapak tangannya berputar dan menarik, sekaligus ia punahkan damparan pukulan tapak tangan Kiau Hay-beng.

Meski ia sudah bergerak dengan sebat dan tepat, getaran kekuatan pukulan lawan toh membuat dadanya sesak dan darah bergolak.

Sementara ditarik dan dituntun oleh tenaga lunak lawan, kekuatan pukulan Kiau Hay-beng pun jadi sulit dilancarkan pula, tanpa kuasa ia terhuyung ke belakang.

Gebrakan pertama ini membuat kedua pihak sama kaget dan mencelos hatinya.

Pertempuran berlangsung amat cepatnya, begitu mundur Kiau Hay-beng sudah menubruk maju pula, menyusul ia gunakan dua jurus Le-liong-tam-cu dan Tiang-king-poh-long.

Menggunakan pukulan tunggal perguruan ajaran Lim Bu-siang, Ciok Heng melayaninya dengan enteng dan punahkan rangsakan lawan, tiga jurus kemudian, Kiau Hay-beng sudah garang di luar keropos di dalam, gebrakan selanjutnya dia hanya kuasa membela diri tanpa kuasa balas menyerang.

Sudah tentu Ciok Heng amat heran, katanya dalam hati.

"Pukulan tangan keparat ini semula begitu keras dan ganas, kenapa mundur begini cepat, mungkin dia sedang mengatur tipu daya?"

Pada jurus kelima, dari membela diri Ciok Heng balas merangsak, sekali kesempatan ia berhasil mendaratkan pukulannya di badan orang, baru sekarang ia tahu bahwa lawan memang sudah kehabisan tenaga.

Baru sekarang Ciok Heng sadar.

"Kiranya dia tadi sudah dibikin terluka oleh Pui-susiok? Ai, jadi di luar tahuku aku sudah memungut keuntungan ini."

Ternyata karena kibasan lengan baju si orang tua baju putih tadi, Siau-yang-king-meh Kiau Hay-beng sudah dilukai, tapi cuma dia sendiri yang merasakan dan tahu, orang lain sudah tentu tidak tahu menahu.

Di saat Ciok Heng kerahkan tenaga hendak melancarkan serangan yang mematikan, tiba-tiba si orang tua baju putih herseru.

"Orang ini tadi menyambut sejurus mainanku, ternyata tidak sampai terpelanting jatuh, boleh juga kepandaiannya. Mengingat jerih payah latihan ilmunya itu, biarkan saja dia pergi."

Sudah tentu Ciok Heng tidak berani membangkang, segera ia mundur memberi jalan, Kiau Haybeng segera lari terbirit-birit.

Dalam pada itu Boh Cong-tiu pun sudah bergebrak melawan Lim Bu-siang, kala itu mereka sudah bertempur tiga puluhan jurus.

Lim Bu-siang kembangkan ilmu pedang yang dia pelajari di atas dinding dalam gua itu, gerakgeriknya wajar dan seenaknya menurut keinginan hatinya, namun tipu-tipu permainannya amat indah menakjubkan dan amat meyakinkan.

Tapi walau dia unggul di atas angin, sedapat mungkin Boh, Cong-tiu masih kuat menandinginya.

Pada pertemuan besar di Thay-san dulu, waktu pertama kali Lim Bu-siang menempur Boh Cong-tiu untuk memperebutkan jabatan ciangbun, tidak lebih Lim Bu-siang hanya memerlukan sepuluhan jurus untuk mengalahkan Boh Cong-tiu.

Kini orang sudah bertahan selama tiga puluhan jurus, dirinya masih belum kuasa mengalahkannya, mau tidak mau dalam hati ia merasa kagum, katanya dalam hati.

"Piauko memang amat pintar, seorang berbakat meyakinkan ilmu silat, sayang dia tidak menempuh ke jalan benar."

Ternyata Boh Cong-tiu memang mempunyai kemampuan luar biasa yang orang lain tidak memilikinya, yaitu apa yang pernah dilihatnya tidak akan gampang dilupakan olehnya.

Sejak kekalahannya dulu, dengan cermat ia meraba serta menganalisa ilmu pedang yang digunakan Lim Bu-siang untuk mengalahkan dirinya, tanpa guru ternyata ia berhasil memahami dan mempelajari secara kulitnya, meski hanya kulitnya toh dia sudah menemukan beberapa bagian intisari dari ilmu pelajaran perguruannya yang murni.

Tapi justru karena dipahaminya tanpa guru dan petunjuk yang asli, apa yang dapat dia simpulkan toh hanya petilan-petilan belaka, betapapun tidak selengkap dan serapi ilmu yang dipelajari Lim Bu-siang seluruhnya.

Sementara itu si orang tua sedang mempermainkan lima jago-jago silat yang sedang mengeroyoknya, seperti kucing mempermainkan tikus, kelima orang ini adalah tokoh-tokoh kosen dari aliran sesat yang pilihan, kepandaian silat setiap orang tidak lebih rendah dari Kiau Hay-beng.

Tapi tenaga pukulan yang dilancarkan si orang tua baju putih amat aneh, gerak-gerik mereka tidak leluasa dan kehilangan kontrol atas diri masing-masing karena seperti dituntun atau tersedot oleh kekuatan lunak lawan, sehingga mereka ikut berputar-putar tanpa bisa berbuat banyak.

Perhatian para murid Hu-siang-pay semula sama ditujukan pada kelompok pertempuran antara Boh dan Lim, namun kini Lim Bu-siang jelas di atas angin, maka perhatian mereka ganti tertarik oleh cara permainan si orang tua yang aneh dan lucu, ingin mereka tahu cara bagaimana orang mengalahkan kelima orang pengeroyoknya.

Di saat perhatian semua orang sedang tercurahkan ke kelompok si orang tua baju putih, mendadak Boh Cong-tiu gunakan gerak Ih-sing-hoan-wi (mengubah wujud berpindah tempat), bagai kilat sebat sekali mendadak ia mencelat mundur ke samping Lian Jay-hong, berbareng ia ulur jari tangannya mencengkram ke pundak istrinya.

Ternyata ia hendak menawan Lian Jay-hong sebagai sandera, Lim Bu-siang adalah sahabat karibnya, karena menguatirkan keselamatannya, mungkin orang memberi kesempatan dirinya meloloskan diri.

Karena tidak menduga sama sekali, Lian Jay-hong kena dijambret dan dicekal, di tengah jerit kaget banyak orang.

"sret"

Tiba-tiba pedang Lim Bu-siang menusuk tiba, ujung pedangnya tahutahu sudah "mengancam punggung Boh Cong-tiu, bentaknya.

"Lekas lepas tangan, kalau tidak kucabut jiwamu."

Boh Cong-tiu tahu Lim Bu-siang hanya menggertak belaka, orang pasti tidak akan berani tidak menghiraukan keselamatan Lian Jay-hong, turun tangan keji kepada dirinya, segera ia tertawa dingin, je-ngeknya.

"Jay-hong adalah istriku, kami suami istri sehidup semati, memangnya kau bisa mencampuri? Kau ingin bunuh silakan bunuh kami bersama."

Di saat Lim Bu-siang kewalahan dan kehabisan akal, sementara belum lagi gelak tawa Boh Cong-tiu berhenti, mendadak mulutnya menghardik keras, tahu-tahu Lian Jay-hong meronta lepas dari cekalannya, terus menggelundung di atas tanah setombak lebih jauhnya.

Ternyata di saat suaminya bergelak tertawa, mendadak Lian Jay-hong pentang mulut menggigit, Boh Cong-tiu sudah menelikung kedua tangannya sehingga tidak mampu bergerak, mimpi pun ia tidak menduga bahwa istrinya bisa menggunakan gigi sebagai senjata.

Saking keras gigitan itu, sampai punggung tangan Boh Cong-tiu berdarah, bahna gusarnya, segera ia menubruk maju seraya membentak.

"Sundal kau ini, biar hari ini aku mati bersama kau!"

Karena timbul nafsu membunuhnya, tanpa hiraukan segalanya, segera ia lancarkan tangan keji.

Tapi 'sayang' ia terlambat setindak, tahu-tahu ujung pedang Lim Bu-siang yang kemilau menyilaukan mata itu sudah menusuk tiba di depan matanya.

"sret, sret, sret"

Beruntun tiga jurus, mendesaknya mundur kerepotan.

Karena melakukan tindakan tercela, dan muslihatnya gagal, hati Boh Cong-tiu semakin jeri, semangat tempurnya pun sudah luluh, setelah jurus ketiga, sedikit pedang Lim Bu-siang terjungkit naik ia ketuk jatuh kipas orang, sementara ujung pedangnya sudah mengancam tenggorokan Boh Cong-tiu.

Lekas Lian Jay-hong berpaling muka, tidak tega melihat kematian suaminya.

Membunuhnya atau tidak?

Mau tidak mau Lim Bu-siang ragu-ragu dan tidak bisa ambil putusan.

Dalam pada itu si orang tua baju putih sedang memperlihatkan kehebatan ilmu silatnya, di antara kelebatnya sinar senjata dan tapak tangan para pengeroyoknya, tampak sekali raih dan jambret tahu-tahu ia jinjing salah seorang musuhnya terus dilempar keluar pintu besar.

"Biang, blum!"

Beruntun beberapa kali menusuk pendengaran, dalam sekejap mata saja kelima tokoh silat aliran sesat yang lihay-lihay itu sama dilempar keluar tanpa satu pun ketinggalan.

Ujung pedang Lim Bu-siang masih mengancam leher Boh Cong-tiu, pelan-pelan Boh Cong-tiu menunduk kepala dan pejamkan mata menunggu ajal.

Sekonyong-konyong si orang tua baju putih mengebaskan lengan bajunya menyampuk miring pedang Lim Bu-siang, serunya.

"Ciangbunjin, aku mohon pengampunan kepada kau, sukalah serahkan Boh Cong-tiu kepadaku saja."

Lim Bu-siang masukkan pedang ke dalam sarungnya, sahutnya.

"Terserah bagaimana Pui susiok hendak menghukumnya!"

Orang tua baju putih menghela napas, ujarnya.

"Menurut aturan memang dia setimpal dihukum mati, namun mengingat keluarga Boh hanya punya seorang keturunan saja, kakeknya adalah guruku berbudi, ayahnya laksana saudara sekandung dengan aku, kuharap ciangbunjin suka pandang mukaku, mengampuni jiwanya, biar kubawa dia pulang, akan kudidik dan kuawasi dengan ketat."

Memang Lim Bu-siang sendiri sedang berabe untuk menjatuhkan putusan, sudah tentu ia amat girang, katanya.

"Pui-susiok sudi memikul tanggung jawab ini, itulah paling baik. Semoga di bawah didikan dan pengajaran susiok yang keras, dia bisa mencuci hati membina diri hidup kembali menjadi manusia baik yang berguna."

Kembali orang tua baju putih menghela napas, ujarnya.

"Cong-tiu, sungguh kau amat mengecewakan aku. Sejak kecil kepintaranmu sudah menonjol, kukira kelak kau akan angkat diri, siapa tahu ternyata kau berubah sedemikian bejatnya. Ai, aku sendiri pun bersalah tidak memberi bimbingan secara ketat kepadamu. Tahukah kau, sejak kau kembali ke Tiong-goan, aku pun mengikuti di belakangmu. Secara diam-diam sering aku meneliti dan mengawasi sepak terjangmu, semula kulihat kau berhubungan dan bergaul dengan golongan pendekar, pernah pula bekerja demi golongan lurus memberantas sampah persilatan, kau usir Cong Sin-liong yang sudi menjadi antek kerajaan, tindak tandukmu itu amat menyenangkan hatiku. Tak nyana demi gengsi dan kedudukanmu sendiri, semakin hari kau terjeblos ke jurang nista, belakangan meniru perbuatan Cong Sin-liong malah. Dalam masa ini berulang kali secara diam-diam aku pernah turun tangan, memberi peringatan kepadamu namun kau semakin tenggelam dan tidak sadar akan kesalahan sendiri. Kupandang kebaikan kakek dan ayahmu terhadapku, aku tidak tega melihat kau badan hancur nama berantakan, selama ini aku mengharap kau bisa insyaf dan bertobat, berlarut-larut sampai hari ini terpaksa baru aku ambil tindakan. Kau harus ikut aku pulang ke Hwi-hi-to, apa pula yang ingin kau katakan?"

Betapa malu Boh Cong-tiu rasanya ingin masuk ke dalam lubang untuk menyembunyikan diri, mana berani dia bercuit lagi. Berkata si orang tua baju putih lebih lanjut.

"Lian Jay-hong, suamimu kubawa pergi, bagaimana denganmu?"

Berlinang air mata Lian Jay-hong, sahutnya.

"Aku anggap suamiku dulu sudah mati. Kelak bila dia mau sadar dan memperbaiki kesalahannya, mungkin aku masih mau mengakuinya."

Sampai di sini, tampak Coh Sian-san berjalan keluar dan memberi tahu.

"Sudah kuusahakan pertolongan pertama, namun jiwa Cong Sin-liong tidak tertolong lagi."

"Kini kita tidak perlu mengom-pes keterangannya, sudah mati ya sudah,"

Ujar Ciok Heng.

"Sudah cukup kenyang pihak Hu-siang-pay kita mendapat mala petaka gara-gara perbuatannya, kematiannya ini malah menguntungkan dia,"

Demikian omel Coh Sian-san. Si orang tua baju putih mendengus, ujarnya.

"Orang yang berbuat jahat pasti akan menerima ganjarannya yang setimpal. Cong-tiu, kalau kau tidak tahu mencuci hati membina diri, apa yang dialami Cong Sin-liong hari ini bakal kau alami pula!"

Habis berkata lantas dia berlalu membawa Boh Cong-tiu. Lim Bu-siang lantas memberi wejangan kepada para murid-murid Hu-siang-pay.

"Bagi orang yang belajar ilmu silat seperti kita ini, yang utama harus dapat membedakan benar dan salah, bajik dan setia kenal keadilan, bagaimana hasil latihan silatmu itulah soal kedua."

Semua murid sama mengiakan, cuma murid-murid yang semula mengekor Boh Cong-tiu sama menunduk dan amat nenyesal dan berjanji akan memperbaiki diri. Berkata Lim Bu-siang lebih lanjut.

"Orang baik atau orang jahat, ada kalanya sukar kita membedakannya begitu saja. Kita perlu meneliti tindak tanduk serta tutur kata dan perbuatannya, bukan mustahil harus makan waktu yang cukup lama baru bisa kita ketahui. Biar sekarang aku bicara blak-blakan dengan kalian. Boh Cong-tiu adalah piaukoku, sejak kecil kami dibesarkan bersama, aku amat kagum dan memujanya, kukira dia seorang gagah, seorang pahlawan bangsa, kira-kira setahun yang lalu, baru lambat laun aku menyadari bahwa piaukoku itu tidaklah sebaik seperti yang kubayangkan semula, tapi aku hanya mengira lantaran dia terlalu berambisi saja, ingin memperbesar dan mengembangkan ajaran perguruan, dan sampai hari ini, baru aku tahu bahwa dia betul-betul sudah bejat begitu rupa. Dari kenyataan yang kupaparkan ini, dapatlah disimpulkan betapa sukar untuk menyelami jiwa seseorang! Di antara kalian entah siapa yang pernah bertindak secara gegabah, mau ditipu oleh Boh Cong-tiu, cukup asal ingat akan peringatanku tadi, tidak perlu harus menyesal diri dan dalam hati. Dan lagi, terhadap mereka yang suka memperbaiki kesalahannya, siapapun dilarang menghina atau mencercanya."

Kata-kata panjang lebar ini membuat semua orang tunduk lahir batin, murid-murid yang semula mengekor kepada Boh Cong-tiu pun berlega hati dan bersyukur. Kata Ciok Heng.

"Tapi terhadap orang yang berbeda mulut dengan perbuatannya, malah purapura suci dan sebetulnya musuh dalam selimut, mungkin kita masih harus bikin pembersihan terhadap mereka?"

"Maksudmu tindakan terhadap Pau Gi?"

"Benar, Pau Gi si keparat itu mungkin sudah kabur di waktu kegaduhan tadi."

"Baik, kalau dia sudah pergi, sejak sekarang dia tidak termasuk murid Hu-siang-pay kita lagi. Selanjutnya bila dia tidak berbuat sewenang-wenang, kita pun tidak usah hiraukan dia, bila melakukan tindakan yang merugikan perguruan kita, biar kelak kita menghadapinya serta memberantasnya bersama."

Syukur malapetaka sudah lewat bagi Hu-siang-pay, urusan membikin bersih perguruan dari anasir-anasir jahat sudah mencapai sukses yang gemilang, semua orang sama girang dan berpesta pora, hal ini tidak perlu kita bentangkan lebih lanjut.

Malam itu Lim Bu-siang tidur sekamar dengan Hun Ci-lo, mereka mengobrol sepanjang malam, hubungan mereka semakin akrab dan intim.

Setelah hening sesaat lamanya, tiba-tiba Lim Bu-siang bertanya.

"Hun-cici, sejak kecil kau sudah kenal sama Beng Goan-cau, sudah tentu kau lebih jelas mengenai watak dan martabatnya..."

"Bagaimana kalau menurut pendapatmu sendiri?"

Balas tanya Hun Ci-lo.

"Beng-toako jarang memikirkan diri sendiri, namun dia suka memberi dorongan dan bimbingan kepada orang lain. Semoga aku bisa mempelajari kebaikannya ini."

"Sayang Goan-cau tidak di sini, mendengar ucapanmu ini, tentu dia akan anggap kau sebagai teman karibnya yang bisa mendalami perasaannya."

"Hun-cici, sejak dulu kau adalah teman karibnya yang terdekat."

"Ya, tapi lain karib lain intim. Bu-siang, ingin aku bicara dari hati ke hati padamu, Goan-cau memang seorang teman yang sukar dicari keduanya, hubunganmu dengan dia kukira bisa dijalin lebih erat dari pergaulan umumnya."

Keadaan kamar gelap, Lim Bu-siang tidak bisa melihat air muka Hun Ci-lo, namun dari nada perkataan orang, ia bisa merasakan ketulusan kata-katanya yang dilimpahkan dari lubuk hatinya yang paling dalam, keruan merah jengah mukanya.

Selanjutnya berkata pula Hun Ci-lo tersenyum.

"Bu-siang, baik juga bila kau tidak menjadi ciangbun."

Perasaan seorang gadis amat halus dan tajam, apalagi mereka punya pujaan hati yang sama.

Hati mereka seolah-olah sudah terjalin dalam ikatan satu benang.

Begitu mendengar kata-kata Hun Ci-lo, Lim Bu-siang sudah tahu apa yang hendak dikatakan.

Benar juga didengarnya Hun Ci-lo bicara lebih lanjut.

"Pihak kera-jaan sedang mengerahkan bala tentaranya siap untuk menggempur Siau-kim-jwan, kalau kau bisa menyediakan diri pergi ke Siau-kimjwan berjuang berdampingan dengan Beng Goan-cau, jauh lebih berarti daripada kau menduduki jabatan ciangbunmu di sini."

Apa yang dikatakan ini memang tugas mulia yang ingin dilakukan Lim Bu-siang, katanya lirih malu-malu.

"Hun-cici, kukira kau pun ingin ke Siau-kim-jwan, kalau begitu kita bisa seperjalanan ke sana."

"Tidak, aku tidak akan pergi ke Siau-kim-jwan,"

Jawaban Hun Ci-lo di luar dugaannya.

"Aku sendiri punya urusan dengan Miao-toako hendak menuju ke Tayli di Hun-lam."

Betapapun Lim Bu-siang masih belum menangkap isi hati Hun Ci-lo, namun setelah ia pikirkan secermatnya, hatinya pun bisa maklum, batinnya.

"Dia datang berkawan Miao tayhiap, sudah tentu harus pergi bersama dia pula Aku sendiri bertekad pergi ke Siau-kim-jwan, kenapa mengira orang pun punya maksud yang sama. Bahwasanya meski dia tunangan lama Behg-toako, mereka sudah berpisah sepuluhan tahun lamanya."

"Ada kau yang mengurusi Goan-cau, tidak perlu aku ke Siau-kim-jwan lagi,"

Demikian kata Hun Ci-lo tertawa.

"Persoalan dengan Miao-toako ini, mau tidak mau aku harus ikut dia untuk menyelesaikannya."

Seperti diketahui Hun Ci-lo ditemani Miao Tiang-hong hendak menjemput putranya, apa yang dia katakan memang sejujurnya.

Dia kira urusan pribadi yang menyangkut Hun Ci-lo dan Miao Tiang-hong sendiri, sudah tentu tidak enak ia bertanya lebih lanjut.

Hari kedua Hun Ci-io lantas pamitan kepada Lim Bu-siang, sebetulnya Lim Bu-siang ingin menahannya beberapa hari lagi, namun Hun Ci-lo amat kangen kepada putranya, ia berkukuh hendak berangkat.

Terpaksa Lim Bu-siang mengantarnya sampai di bawah gunung, kata Hun Cilo.

"Bu-siang, tiada perjamuan yang tak bubar, kau kembalilah. Lekas kau selesaikan tugas-tugas ciangbunjinmu supaya kau bisa lekas tiba di Siau-kim-jwan."

Berat sekali Lim Bu-siang berpisah, katanya.

"Baik, silakan kalian berangkat."

Agaknya Hun Ci-lo teringat apa-apa, tiba-tiba ia berpaling, katanya dengan muka merah malu.

"Kalau kau bertemu Goan-cau tolong kau beritahukan kepadanya, bahwa aku pergi ke Hunlam bersama Miao toako, mungkin tidak sempat ke Siau-kim-jwan menjenguknya, supaya dia tidak usah kuatir akan diri kami."

Sebetulnya kata-kata ini semalam sudah dia utarakan kepada Lim Bu-siang, namun sekarang ia kemukakan sekali lagi, artinya justru lain dan berbeda.

Pertama ia bicara langsung di hadapan Miao Tiang-hong, itu berarti secara terbuka sudah mengakui akan hubungan mereka yang intim mesra.

Kedua, sebelum berpisah dia minta Lim Bu-siang mewakili dirinya menyampaikan isi hatinya ini kepada Beng Goan-cau.

Diam-diam Lim Bu-siang bersyukur bagi mereka, lubuk hatinya pun amat senang bagi diri sendiri, katanya.

"Hun-cici, legakan hatimu, pesanmu ini pasti kusampaikan kepadanya."

Setelah berpisah, Hun Ci-lo melanjutkan perjalanan dengan Miao Tiang-hong. Tiba-tiba Miao Tiang-hong menghela napas panjang. Kata Hun Ci-lo.

"Miao-toako, kau tahu aku bukan perempuan yang tidak tahu malu, apa yang kukatakan tadi, kuharap kau tidak tidak menaruh dalam hati!"

"Aku maklum akan tujuanmu, kau sudi berkorban diri demi orang lain, sungguh aku kagum kepadamu!"

"Memangnya kenapa kau menghela napas?"

Miao Tiang-hong kemekmek, sekian lamanya ia tidak tahu cara bagaimana harus menjelaskan.

Pendek kata perjalanan jauh ini mereka tempuh dengan selamat tanpa kurang suatu apa.

Hari itu mereka tiba di Gun-bing.

Gun-bing adalah ibukota propinsi Hunlam, kira-kira enam ratusan li ke arah barat adalah letak Tiam-jong-san, di sanalah negeri Tay-li yang mereka tuju.

Kata Miao Tiang-hong.

"Tiga hari lebih cepat dari perhitunganku semula. Selama sebulan ini, kita siang malam menempuh perjalanan, apa kau tidak merasa penat?"

"Penat sih tidak, cuma agaknya perlu ganti pakaian baru."

Memang pakaian yang dibawanya sudah kotor dan kucel kena debu dalam perjalanan.

"Gun-bing merupakan kota besar pusat perdagangan, apa sukarnya mencari pakaian baru? Malam ini menginap semalam, dengan ongkos berlipat pasti semalam kita bisa mencari tukang jahit yang sudi membuat secara kilat."

Gun-bing merupakan salah sebuah kota yang hawa udaranya paling baik di seluruh negeri, empat musim tetap seperti musim semi.

Pemandangan indah, segalanya pasti memuaskan selera setiap pengunjung.

Walau waktu itu sudah menjelang musim rontok, namun pepohonan di sini tetap menghijau dan tumbuh subur.

Setelah masuk kota tampak suasana ramai, semuanya serba bersih dan rapi, di mana-mana terdapat taman kembang dan deretan pohon-pohon rindang.

Di kaki gunung Say-san terdapat Tian-ti seluas lima ratusan li.

Sepanjang jalan memasuki Gun-bing ini mereka sudah melewati banyak tempat-tempat tamasya yang termasyhur dan banyak dikunjungi orang.

Kata Hun Ci-lo.

"Tempat ini amat baik, menurut pandanganku, keindahan Tian-ti agaknya jauh lebih alamiah daripada Se-ouw."

"Kalau kau naik ke Saysan dan memandang Tian-ti jauh lebih elok! Em, agaknya kau berkesan di sini, bagaimana kalau kita menetap satu hari lagi di sini? Perjalanan ke Tayli tidak lebih hanya enam ratusan li, dalam jangka tiga empat hari pasti sudah kita tiba di sana."

Perjalanan jauh selama sebulan ini, meski badan Hun Ci-lo masih kuat bertahan, betapapun semangatnya jauh lebih berkurang, katanya tertawa.

"Baik, perjalanan sudah dekat, tidak perlu tergesa-gesa, boleh besok kau ajak aku bertamasya keliling kota."

Setelah mendapatkan tukang jahit pakaian, dengan nama kakak beradik mereka lantas mencari penginapan. Hari kedua pagi-pagi benar mereka sudah bangun, kata Miao Tiang-hong.

"Waktu satu hari saja, tidak banyak yang bisa kita nikmati. Terpaksa kita atur begini saja, pagi ini kita tamasya di Toa-koan-wan, sorenya menjelajah Saysan, bagaimana?"

"Aku sendiri belum pernah datang ke Gun-bing, terserah bagaimana kau hendak mengatur acara."

Toa-koan-wan memang sebuah taman kembang atau kebun raya yang amat besar dan luas, merupakan suatu tempat tamasya yang sering dikunjungi wisatawan.

Di pusat taman kembang ini dibangun sebuah Toa-koan-lau, bangunan kuno berloteng yang megah dan mentereng pula, tingginya ratusan tombak, bila naik ke atas loteng, dari kejauhan dapat memandang ke Tian-ti dan keadaan Toa-koan-wan itu sendiri.

Hun Ci-lo dan Miao Tiang-hong tidak ketinggalan ikut menikmati panorama yang permai dari ketinggian pagoda berloteng tinggi ini, tengah mereka asyik dalam buaian alam nan indah itu, tiba-tiba di bawah sana terdengar suara gembreng ditabuh bertalu-talu.

Waktu Hun Ci-lo alihkan pandangannya ke arah suara, tampak di sebuah tanah kosong di samping sana tengah merubung sebuah lingkaran pagar manusia, di tengah lingkaran orang-orang yang menonton itu terdapat seorang laki-laki pertengahan umur dan seorang gadis jelita usia enam belasan tahun, orang yang memukul gembreng adalah laki-laki pertengahan umur itu.

Sementara gadis cilik itu dengan tersenyum manis sedang bersoja kepada para penonton sekelilingnya, agaknya dia minta para penonton supaya mundur dua langkah supaya gelanggang dibikin besar.

Tanah kosong ini kebetulan terletak di pusat taman yang sering dilalui orang banyak, jaraknya ada lima enam puluhan langkah dari pagoda berloteng ini.

Sedang Toa-koan-lau itu sendiri tingginya ada ratusan kaki, dari atas memandang ke bawah dapat melihat keadaan di bawah dengan jelas, tapi percakapan di sebelah bawah mereka tidak bisa mendengar dengan jelas.

Suara gadis cilik itu merdu laksana kicauan burung kenari, nyaring menusuk pendengaran.

Sayang suaranya lirih, setelah pasang kuping dengan seksama, baru Hun Ci-lo mendengar apa yang dia ucapkan.

Katanya tertawa.

"Kiranya ayah anak yang sedang mengamen, nona cilik itu berkata ayahnya bisa main sulap, Miao-toako, apa kau ingin turun melihatnya?"

"Main sulap di kangouw adalah bohong dan menipu orang belaka, lebih baik aku menikmati panorama Tian-ti di tempat ini."

"Nona cilik itu punya suara merdu yang enak didengar, kalau dia bernyanyi tentu amat merdu dan mengasyikan."

Maka dilihatnya laki-laki pertengahan umur itu sedang meletakkan gembrengnya, kini ia ganti mengambil sebuah alat musik, katanya.

"Niuniu, cobalah kau nyanyikan sebuah lagu untuk para penonton."

Kata Hun Ci-lo girang.

"Ternyata memang dia pandai menyanyi."

"Kita dengar di sini saja juga sama, kenapa harus berdesakan dengan orang banyak!"

"Baik, sambil menikmati panorama sekaligus mendengar nyanyiannya."

Semula Hun Ci-lo tidak terlalu memperhatikan nyanyian si nona cilik, tak nyana begitu orang tarik suara, perhatian Hun Ci-lo jadi tertarik kepada suara nyanyiannya.

Suaranya nyaring merdu, setiap bait setiap patah dinyanyikan amat jelas dan lembut, jauh berlainan dengan lagu kata-katanya tadi.

Diam-diam kaget Hun Ci-lo dibuatnya, pikirnya.

"Ternyata nona cilik ini pernah meyakinkan Iwekang."

Perlu diketahui, bila seseorang bisa mengantar suaranya dari jarak puluhan langkah ke tempat ketinggian ratusan tombak, kalau orang itu tidak membekal hawa murni yang kuat tidak mungkin terjadi.

Kalau laki-laki kasar yang suara keras gembar-gembor di bawah, mereka mendengar dengan jelas, hal ini tidak perlu dibuat heran, namun nyanyian nona cilik ini dapat mereka dengar juga dengan amat jelasnya, sudah tentu hal ini menarik perhatian mereka.

Miao dan Hun adalah ahli silat, sekali dengar lantas mereka tahu bahwa nona cilik ini pernah meyakinkan Iwekang, oleh karena itu baru dia biSa mengerahkan hawa murni mengantar suaranya ke tempat jauh, meski bukan Iwekang tingkat tinggi, betapapun sudah mempunyai dasar-dasar yang kokoh, mau tidak mau orang harus mengindahkan kepadanya.

Mau tidak mau Miao Tiang-hong sendiri pun tertarik juga perhatiannya.

Tanpa terasa Hun Ci-lo sampai melamun oleh buaian nyanyian orang yang mengandung perasaan rawan.

Tepuk tangan yang riuh rendah menyentak sadarkan lamunan Hun Ci-lo..Kata Miao Tiang-hong.

"Menarik juga nyanyian nona cilik ini, naga-naganya ayah beranak ini punya asal-usul yang bukan semba-rangan."

Hun Ci-lo manggut-manggut, katanya.

"Nona cilik itu sedang berusia tujuh belasan, masa akil balik dan berkembang asmaranya, kenapa dia melagukan syair-syair yang begitu menyedihkan? Bagaimana pula dia bisa meresapi makna dari syair-syair itu?"

Setelah selesai nyanyiannya, si gadis cilik tersenyum, katanya.

"Nyanyianku tidak baik, harap para hadirin memaafkan."

Seorang laki-laki berpakaian seragam tentara segera berseru dengan suara ganjil.

"Nona cilik, baik sekali nyanyianmu! Coba sekali lagi!"

"Aku sudah menunjukkan kejelekanku. Silakan kalian minta ayahku main sulap saja, tanggung permainannya jauh lebih menarik dan mengasyikan."

Laki-laki pertengahan itu terbahak-bahak, ujarnya.

"Putriku ini hanya mengagulkan aku saja, terima kasih akan kehadiran saudara-saudara, sekarang biar kumainkan menelan golok menyemburkan api saja."

Mendengar ada permainan sulap yang bakal mendebarkan hati dan menusuk perasaan, para penonton serempak bertepuk tangan. Berkata pula laki-laki pertengahan umur itu.

"Permainanku ini boleh dikatakan sulap, tapi juga boleh dikata bukan."

"Kenapa begitu?"

Tanya seorang penonton.

"Sulap selalu mengelabui orang, permainan menelan golok dan menyemburkan api yang kuperton-tonkan nanti sudah tentu juga pura-pura saja, namun tidak semuanya aku mengelabui tuan-tuan,"

Demikian laki-laki pertengahan umur menjelaskan. Perwira itu agaknya menjadi uring-uringan karena nona cilik tidak mau menyanyi, katanya dingin.

"Sudah jangan bertingkah lagi, lekaslah mainkan sulapmu!"

Di pinggir gelanggang kebetulan ada orang jualan ronde, api dalam tungkunya sedang membara besar.

Laki-laki pertengahan itu mencabut sebilah golok, sementara si nona menyekal sebatang tongkat kayu, segera mereka berhantam dengan seru.

Perwira itu lagi-lagi berkaok-kaok.

"Bukankah tadi kau hendak main sulapan, siapa sabar melihat kalian ayah beranak main silat segala?"

Miao Tiang-hong berkata kepada Hun Ci-lo.

"Ilmu golok yang dimainkan laki-laki itu adalah Ngo-hou-toan-bun-to dari keluarga Lau di Poting, beberapa jurus ilmu goloknya itu memang kepandaian asli yang tulen."

Terdengar "tak"

Tabasan golok laki-laki pertengahan itu bikin kayu di tangan nona cilik itu terpapas kutung. Kata laki-laki itu.

"Tuan-tuan sudah lihat jelas, golok baja ini adalah senjata tulen?"

Para penonton berseru bersama.

"Ya, memang golok tulen!"

Segera laki-laki itu mendekati ke depan tungku milik penjual ronde itu, katanya.

"Sahabat, tolong pinjam tungkumu sebentar."

Baca Juga: Pendekar Gelandangan 7

Baca Juga: Pendekar Lengan Buntung 7

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger