Eps 14 Kelana Buana - Liang Ie Shen
Baca online Kelana Buana - Liang Ie Shen
Cersil Kelana Buana - Liang Ie Shen.
Lalu ia masukkan goloknya ke dalam tungku yang membara besar apinya, tak lama kemudian ia tarik keluar pula goloknya itu, tampak seluruh batang golok baja itu sudah terbakar merah menganga Pelan-pelan laki-laki itu angkat goloknya terus dimasukkan ke dalam mulutnya sampai di gagangnya, seketika para penonton sama menjerit kaget.
Laki-laki itu mendadak pentang mulut dan menyemburkan selarik sinar merah, segu-lung api menyembur dari mulutnya, golok baja itu pun mencelat keluar dari mulutnya.
Laki-laki itu segera menjura, katanya.
"Maaf memper-'tunjukkan kebodohan belaka!"
Semua penonton bertepuk dan bersorak memuji. Hun Ci-lo heran.
"Golok baja yang terbakar membara dia masukkan ke dalam mulut, kalau permainan sungguhan, maka lwekangnya pasti amat tinggi."
"Sudah tentu pura-pura saja, golok yang dia masukkan ke dalam mulutnya itu lapis demi lapis bisa diperpendek, dalam mulutnya sudah mengulum sarung goloknya, sebetulnya goloknya itu dia masukkan ke dalam sarung goloknya sendiri. Mengenai semburan api, itu tidak perlu dibuat heran, semacam bubuk obat yang dikulum dalam mulut bisa disemburkan menjadi api, tapi api yang bersuhu dingin."
"Kalau golok itu bisa amblas berlapis-lapis, kenapa kuat memotong kayu?"
"Golok yang dia masukkan ke dalam mulutnya itu sebelumnya sudah dia ganti dengan golok yang lain, cuma gerak tangannya terlalu cepat, para penonton tiada seorang pun yang tahu, permainan mengganti goloknya itu betul-betul kepandaian asli."
"O, kiranya begitu, aku pun kena dikelabui."
Sementara itu, perwira itu tiba-tiba melangkah maju ke tengah gelanggang, katanya.
"Kepandaian bagus! Coba kau mainkan sekali lagi telanlah golokku ini, tidak perlu aku membakarnya, tentu kau lebih gampang menelannya."
Laki-laki pertengahan segera unjuk tawa, ujarnya.
"Tayjin, aku toh main sulapan, mana boleh dianggap sungguhan?"
Perwira itu menjengek dingin.
"Bukankah kau katakan setengah pura-pura setengah tulen? Hehe, aku tahu kau seorang ahli yang menyembunyikan diri, sekarang sengaja aku maju hendak menjajal kepandaian aslimu!"
Laki-laki itu tertawa kecut, katanya.
"Tayjin jangan main-main, aku punya kepandaian sejati apa?"
Perwira itu menarik muka, tiba-tiba ia menghardik.
"Siapa main-main dengan kau? Tidak kau telan golok ini juga boleh, asal putrimu ikut aku pulang."
Nona cilik itu menimbrung tanya.
"Tayjin ingin aku ikut untuk apa?"
"Suara nyanyianmu enak didengar, Ong-congping yang berkuasa di kota ini suka ditemani nona-nona cilik yang pandai nyanyi, ayo kau ikut aku menemui beliau, kalau bisa menghibur hatinya, kau sendiri nanti yang beruntung!"
Berubah air muka si nona, katanya dingin.
"Aku tidak mau!"
"Kalau tidak mau, biar ayahmu menelan golokku ini!"
Tangan kanan ia angkat golok sudah bergaya hendak membacok dari atas, sementara tangan kiri terulur hendak menarik nona cilik itu.
Tegak alis si nona, lekas ia kibaskan tangannya menangkis.
Bergegas ayahnya pun menariknya ke samping, lalu memberi kedipan mata kepada putrinya, katanya.
"Budak liar ini tidak tahu adat kesopanan. Tayjin sukalah kau ber-murah hati!"
"Tidak bisa!"
Hardik si perwira.
"Kau pilih satu saja, dia ikut aku atau kau menelan golokku. Tiada pilihan ketiga!"
Hun Ci-lo yang berada di atas pagoda diam-diam ikut gugup bagi keselamatan ayah beranak ini. Sebaliknya Miao Tiang-hong tertawa, ujarnya.
"Tidak perlu kau kuatirkan mereka, kalau sampai turun tangan sungguhan, cukup nona kecil itu saja bisa bikin si perwira itu jungkir balik!"
"Aku tahu mereka membekal kepandaian silat, namun naga-naganya mereka menguatirkan sesuatu, tidak berani melawan tentara yang sewenang-wenang ini."
Di saat mereka sangsi dan bicara di atas pagoda, tiba-tiba dilihatnya di antara kelompok penonton menerobos keluar seorang gadis remaja, usianya kira-kira sebaya dengan nona cilik itu, raut mukanya malah jauh lebih cantik dan rupawan.
Tatkala itu si perwira sudah ulur tangan hendak mencengkram si nona cilik, gadis remaja ini mendadak menyelonong maju menghadang di depan si nona, bentaknya.
"Di siang hari bolong seperti ini, kau perwira anjing ini berani bertingkah mempermainkan orang."
Perwira itu tertegun sebentar, tidak marah dia malah terbahak-bahak, serunya.
"Aih, kau lebih cantik, baik, kau hendak menolong dia, biar kau saja yang mewakilinya."
Belum habis katakatanya. Tiba-tiba "plak"
Muka si perwira tahu-tahu sudah digampar oleh si gadis remaja dengan keras. Sudah tentu kaget dan marah si perwira bukan main, setelah terhuyung mundur setapak segera mulutnya mencaci maki.
"Budak busuk, berani kau memberontak?"
Goloknya kontan membacok si gadis remaja. Laki-laki pengamen itu segera berteriak.
"Tayjin, jangan!"
Segera ia memburu maju sambil ulur tangan hendak menarik si perwira, tak nyana belum suaranya lenyap, belum lagi tangannya menyentuh badan si perwira, tahu-tahu didengarnya "krak", sekali gentak gadis remaja itu sudah meremas hancur tulang pergelangan tangan si perwira, golok bajanya pun telah terebut olehnya.
"Katamu aku memberontak, biar sekarang kuhajar kau lebih dulu, kau mau apa!"
Damprat gadis itu, golok terayun di tengah udara, ia sudah siap membunuh perwira itu. Kembali laki-laki pengamen itu berseru.
"Nona, jangan!"
Dari kelompok penonton tiba-tiba tampil seorang pemuda bertindak lebih cepat dari laki-laki pengamen itu, sekali raih ia tarik gadis remaja itu, katanya mengomel.
"Kau belum cukup membuat gara-gara? Kenapa selalu kau suka turut campur urusan orang lain?"
Saking ketakutan perwira itu berkaok-kaok seperti babi disembelih, segera ia lari pontangpanting dari kerumunan penonton, sambil lari ia memaki.
"Budak busuk, tunggu akibatnya nanti! Kalau tidak kubikin kau tahu kelihayanku, selanjutnya aku bukan she Thio."
Karena ditarik dan dirintangi si pemuda, nona itu memonyongkan mulut, rengeknya.
"Turut campur urusan apa, memangnya kau tega melihat perwira anjing itu menggoda dan mempermainkan rakyat jelata?"
Pemuda tu segera membujuk dengan suara lirih.
"Adikku yang bodoh, kepandaian orang jauh lebih tinggi dari kau, tahu!"
Nona cilik itu segera maju menyatakan terima kasih.
"Karena kami, sampai kalian berdua ikut terembet, sungguh harus disesalkan."
Laki-laki pengamen itu pun tertawa, ujarnya.
"Sudah, jangan banyak bicara lagi, meski tinggi kepandaian kita masa kuasa melawan penguasa setempat, kejadian sudah berselang, lebih baik lekas menyingkir saja!"
Dalam sekejap, para penonton dan kedua ayah beranak pengamen itu sudah tinggal pergi, demikian juga kedua kakak beradik itu tidak kelihatan pula bayangannya.
Begitu melihat gadis remaja itu muncul, Miao Tiang-hong yang berada di atas pagoda menjadi kaget, hampir ia-menyangka pandangannya kabur.
Kiranya gadis remaja itu bukan lain adalah Bu Cheng, sedang si pemuda adalah engkohnya Bu Toan.
Tidak sempat menjelaskan kepada Hun Ci-lo, lekas ia ajak orang turun ke bawah.
Sayang sudah terlambat, waktu mereka memburu tiba di tempat itu, semua orang sudah bubar.
Terpaksa Miao dan Hun mencari-cari di dalam taman kembang itu, setiap ketemu orang bertanya, orang lain tidak tahu asal-usul mereka, ada yang anggap mereka sebagai mata-mata gelap pihak penguasa, maka tiada orang yang mau menerangkan.
Ternyata dalam Toa-koan-wan terdapat banyak sekali gunung-gunungan palsu dan deretan pohon-pohon kembang yang tersebar di mana-mana, Bu Toan berdua lari di antara rombongan para penonton, sekejap saja sudah lenyap dan tak kelihatan pula jejaknya, sudah tentu amat sulit mencari mereka setelah berselang beberapa saat kemudian.
"Siapakah mereka sebenarnya?"
Tanya Hun Ci-lo.
"Masih teringat pada suciku yang pernah kuceritakan dulu?"
"Maksudmu istri Bu Ting-hong Bu tayhiap dari Bu-seng di Soa-tang? Sucimu yang mirip dengan aku itu?"
Tanya Hun Ci-lo.
"Betul, kakak beradik yang kau lihat tadi adalah keturunannya. Yang laki bernama Bu Toan, adiknya bernama Bu Cheng. Setahun yang lalu aku berpisah dengan mereka di Ang-tik-ouw tak nyana mereka pun berada di sini!"
Setelah gagal menemukan jejak Bu Toan berdua, terpaksa Miao Tiang-hong berdua beranjak ke luar, betul juga dilihatnya sepasukan tentara di bawah pimpinan seorang perwira lain meluruk datang hendak menangkap orang, beberapa orang pelancong yang kebetulan tiba di depan pintu luar, sedang dimintai keterangan oleh tentara-tentara itu.
"Kita masih harus ke Say-san tidak?"
Tanya Hun Ci-lo. Miao Tiang-hong berpikir sebentar, lalu katanya.
"Laki-laki pengamen tadi adalah kawakan kangouw, pastilah mereka tidak akan tinggal di dalam kota. Mari kita tetap ke sana!"
Dalam perjalanan, Miao Tiang-hong amat masgul. Hun Ci-lo segera membujuk.
"Gugup juga tak berguna, toh mereka memiliki kepandaian tinggi, masakah begitu gampang teringkus oleh pasukan tentara tadi."
"Aku sedang mengenang suciku yang sudah wafat, sejak mereka suami istri gugur, sampai tahun lalu baru aku berhasil menemukan putra putri mereka."
"Aku tahu, waktu kecil lantaran sucimu itu sampai kau berkelahi dengan suhengmu she Ci itu. Katamu Bu Cheng punya teman karib bernama Lau Khong, seorang tokoh penting dari Thian-tehwe!"
"Ya, aku pun kangen kepada Lau Khong. Dia seorang laki-laki sejati, wataknya rada cocok dengan aku. Biasanya Bu Toan berdua selalu bersama dia, kenapa kali ini tidak terlihat bayangannya?"
"Kemungkinan dia pun berada di Gun-bing, hari ini tidak ikut tamasya ke Toa-koan-wan."
Sambil bicara tanpa terasa mereka sudah tiba di Saysan, cuaca baru menjelang lohor, udara cerah, inilah saat paling baik untuk bertamasya di alam pegunungan. Kata Hun Ci-lo.
"Tak heran orang sering bilang panorama di Gun-bing lain daripada yang lain, ternyata memang tidak bernama kosong!"
"Bila tiba di atas, masih ada pemandangan yang lebih elok dan permai."
Semakin tinggi keadaan gunung semakin aneh dan berbahaya.
Setiba di Liongbun (pintu naga), keadaan lebih mengejutkan dan membuat berdebar jantung setiap pelancong.
Liongbun merupakan salah satu tempat tamasya yang termasyhur di Saysan, pintunya berlapislapis seperti ditumpuk di lampimg gunung yang terjal.
Dari bawah melihat ke atas dinding batu terjal setinggi ribuan tombak, biara di atas puncak seolah-olah tergantung di tengah udara, sebelah bawahnya adalah Tian-ti yang penuh diliputi kabut mengembang.
Setingkat demi setingkat Miao dan Hun naik pelan-pelan, deru angin yang deras mengeluarkan suara menderu sampai pakaian mereka melambai-lambai, seolah-olah mereka sedang memasuki dunia dewata.
Jalan berliku yang dibuat membelakangi jurang adalah sedemikian berbahayanya, ada kalanya harus menye-lusuri lorong-lorong batu panjang yang sempit dan hanya tiba cukup seorang jalan.
Kata Hun Ci-lo.
"Keadaan seperti ini mirip benar dengan Cappwe-ban di Thay-san, tapi jauh lebih berbahaya dari Cap-pwe-ban."
Begitulah mereka terus naik ke atas, sampai tiba pada tingkat tertinggi.
Di sini dengan puas mereka bisa jelajahkan pandangannya ke seluruh pelosok, tampak gunung bersambung gunung seperti gajah beriring, sungai berliku laksana naga melingkar, mega mengembang seperti permadani yang menutupi alam pegunungan yang menghijau, saking asyik dan terpesona sampai sekian lama mereka berdiam diri.
Sesaat lamanya mereka berpandangan, tiba-tiba Miao Tiang-hong berbisik.
"Agaknya di sebelah bawah ada orang sedang bicara."
Lorong-lorong batu di Liongbun ini digali lewat dinding gunung yang berliku-liku, bolak-balik, dalam beberapa langkah saja, masing-masing tidak bisa melihat kawannya.
Tapi suara itu berkumandang dari dinding gunung, meski suaranya lirih, namun gemanya terbawa angin dan terdengar jelas sekali.
Terdengar seorang dengan logat Pakkhia sedang berkata.
"Ci-lotoa, musuhmu pun berada di Gun-bing, apa kau sudah tahu?"
Seorang lain dengan logat Soa-tang bertanya.
"Siapa maksudmu?"
Mendadak Miao Tiang-hong rasa suara orang ini amat dikenalnya, kilas lain berubah roman muka dan kaget hatinya. Hun Ci-lo segera bertanya di pinggir kupingnya.
"Kau kenal kedua orang ini?"
Miao Tiang-hong manggut-manggut, sahutnya lirih.
"Satu di antaranya adalah Sebun Soh, yang lain adalah Cl Coh."
"Ci Coh? Suhengmu yang pernah berkelahi dengan kau dulu?"
Miao Tiang-hong manggut-manggut. Hun Ci-lo mendengus ujarnya.
"Cepat juga mereka mendapat kabar, ternyata sudah tahu bila kita berada di Gun-bing."
Sementara itu terdengar Sebun Soh berkata pula di bawah.
"Dua orang yang pasti berada di luar dugaanmu."
"Lawan lihay macam apakah yang hendak mengeroyok aku? Sebun Tayjin, sukalah kau bicara terus terang?"
"Mereka sih tidak begitu lihay, boleh dikata mereka malah masih angkatan mudamu, memangnya kau tidak bisa menebaknya?"
Ci Coh menghela napas, ujarnya.
"Tidak sedikit orang-orang dalam kalangan kangouw yang terhitung angkatan mudaku, buat apa aku membuang tenaga untuk menebaknya. Sebun Tayjin coba kau terangkan saja."
"Mereka adalah angkatan muda perguruanmu sendiri."
Ci Coh tertegun, katanya.
"Maksudmu adalah Bu Toan dan Bu Cheng?"
"Tidak salah, memangnya mereka bukan termasuk sutitmu?"
Semula Miao Tiang-hong menyangka dua musuh yang sedang dibicarakan itu adalah dirinya dan Hun Ci-lo, baru sekarang ia paham, namun semakin terkejut hatinya, pikirnya.
"Jejak Bu Toan berdua sudah ketahuan mereka, gelagatnya tentu tidak menguntungkan. Aku harus mencegah mereka mencelakai kedua kakak beradik, itu. Cuma kepandaian silat Ci-lo selama beberapa bulan ini tidak pernah dilatih, mungkin bukan tandingan mereka."
Setelah mendengar nama yang disebut Sebun Soh sebagai musuh besarnya, tak terasa Ci Coh terbahak-bahak.
"Memangnya apa yang perlu kau tertawakan?"
Tanya Sebun Soh heran.
"Kukira musuh lihay siapa yang harus ditakuti, kiranya adalah kedua bocah ingusan itu!"
"Sudah tentu kedua bocah itu tidak perlu kita pandang sebelah mata, tapi siapa tahu kalau di belakangnya ada tulang punggungnya yang lihay, betapapun kita harus berjaga-jaga. Apalagi baru saja langkah kita memasuki Gun-bing, mereka pun sudah mengikuti di belakang kita, kau tidak merasa kejadian ini teramat kebetulan?"
Ci Coh tersentak sadar, katanya.
"Memangnya, kalau benar mereka sedang menguntit jejak kita, pasti ada orang pandai sebagai tulang punggung mereka. Siapakah dia, apa kau sudah menyelidikinya?"
"Baru saja aku menemui Ong-congping terus datang ke sini menemui kau, satu jam yang lalu seorang pembantu Ong-congping ada bentrok dengan mereka berdua. Siapakah tulang punggung di belakang mereka, kami sedang menyelidikinya!"
Lalu ia tuturkan kejadian di dalam Toa-koanwan itu kepada Ci Coh. Kata Ci Coh setelah mendengar kejadian itu.
"Kalau demikian kedua orang itu memang mirip dengan Bu Toan kakak beradik. Entah siapa pula ayah beranak pengamen itu?"
"Dalam waktu dekat ini aku sendiri pun belum bisa menyimpulkan asal-usul mereka, jelasnya bahwa kedua ayah beranak itu membe-kal kepandaian silat!"
"Asal mereka bukan Kim Tiok-liu, Le Lam-sing atau Miao Tiang-hong, bukan pula kakek tua misterius itu, tidak perlu kita takut kepadanya!"
Kata Hun Ci-lo di pinggir telinga Miao Tang-hong dengan geli.
"Suhengmu itu setelah pernah dua kali kau hajar, agaknya sudah takut kepadamu."
Terdengar Sebun Soh berkata lebih lanjut.
"Boh Cong-tiu sudah dibawa pulang oleh kakek misterius itu ke Hwie-hi-to, kau belum mendengar berita ini?"
"Untuk merebut jabatan ciangbun sumoaynya, Boh Cong-tiu memang mengundang aku untuk membantu, tapi aku tidak pergi, maka di luaran hanya kudengar kabar angin saja, duduk persoalannya yang benar sih aku belum jelas."
"Bukan kabar angin, bukan saja Boh Cong-tiu digusur pulang oleh susioknya, malah Ciok Tio-ki yang diam-diam membantu Boh Cong-tiu pun mendapat rugi besar. Untung kalau kau tidak ke sana. Peristiwa itu nanti kuceritakan kepadamu, sekarang yang penting kau sendiri harus lebih hati-hati dan waspada."
"Empat musuh yang rada kita takuti, kecuali susiok Boh Cong-tiu itu, yang lain bukan laki-laki tua. Laki-laki pengamen itu sudah punya putri belasan tahun, terang bukan Kim Tiok-Iiu, Le Lamsing atau Miao Tiang-hong."
"Entah masih berapa banyak tokoh-tokoh kosen yang tidak kita kenal di kalangan kangouw. Ketahuilah, ada sebab lain kenapa aku suruh kau hati-hati."
"Harap Tayjin suka menjelaskan!"
"Besok pagi kita mulai berpisah dan bekerja sendiri-sendiri. Aku punya tugas penting harus pergi ke Siau-kim-jwan, kau sendiri pun harus pulang ke kota raja dengan tugas lainnya."
"Tugas dinas apakah?"
Sebun Soh mengeluarkan secarik sampul surat yang dilem dan tersegel, diserahkan kepada Ci Coh, katanya.
"Inilah surat laporan rahasia Ong-congping, kembalilah ke kota raja langsung diserahkan kepada Pakkiong Ciong-ling, suratnya enteng, tapi artinya amat berat dan penting, maka kau harus amat hati-hati."
Ci Coh mengiakan sambil menerima surat itu dengan perasaan kurang tentram, cepat ia sesapkan sampul surat itu ke dalam kantung bajunya. Berkata Sebun Soh lebih lanjut.
"Dalam surat itu berisi rencana militer Ong-cong-ping kepada keraja-an, sekali-kali tidak boleh hilang. Kini terjadi peristiwa di Toa-koan-wan itu, maka kau harus lebih waspada dan hati-hati."
Ternyata kedatangan Sebun Soh ke Gun-bing kali ini adalah mewakili Pakkiong Bong mengirim perintah, supaya Ong-congping mengerahkan pasukan yang bercokol di Hunlam untuk menyergap laskar gerilya di Siau-kim-jwan dari belakang.
Ong-congping sendiri mendapat kesempatan malah untuk menarik keuntungan minta dana bantuan dan kiriman ransum berlipat dari pusat, oleh karena itu ia membuat suatu rencana gerakan strategis militer untuk dilaporkan kepada kerajaan.
Rencananya itu terlalu berlebihan dan terlalu dibesar-besarkan demi keuntungannya sendiri, hal ini tidak perlu kami tuturkan di sini.
Waktu Miao Tiang-hong asyik mendengarkan percakapan mereka, tiba-tiba didengarnya Sebun Soh mendesis lirih.
"Jangan bersuara, di sekitar sini seperti ada orang lain."
Sudah tentu Miao Tiang-hong kaget, sedang ia bimbang dan ragu-ragu untuk bertindak menurut gelagat nanti, didengarnya Ci Coh sedang berkata perlahan.
"Benar, seseorang sedang naik kemari. Kita pura-pura sebagai pelancong biasa saja."
"O, kalau tindak tanduknya mencurigakan, kau sikat saja!"
Sebun Soh berkata. Di saat Miao Tiang-hong tempelkan kupingnya di dinding batu mendengarkan percakapan mereka, tiba-tiba didengarnya Ci Coh berteriak memaki.
"Kau ini kenapa sih, berjalan tidak pasang mata?"
Suara seorang lain terdengar berkata.
"Maaf, maaf, jalan di sini terlalu sempit, tak sengaja sampai menabrak kau. Bajumu sampai kotor, nah biar kubersihkan."
Ci Coh segera memakinya.
"Siapa minta kau membersihkan, lekas menggelinding pergi!"
"Ya, ya!"
Sahut orang itu sambil menyingkir pergi dengan langkah tergesa-gesa. Miao Tiang-hong tercengang, pikirnya.
"Suara orang ini amat kukenal!"
Tahu-tahu Hun Ci-lo berbisik di pinggir kupingnya.
"Seperti suara Kwi-hwe-thio!"
Benar juga saat itu pula terdengar Ci Coh berteriak kaget, serunya.
"Celaka, celaka, lekas, hayo kejar maling kecil itu!"
Sebun Soh kaget, tanyanya.
"Kau kehilangan apa?"
"Aku, surat rahasia itu telah hilang!"
Ternyata setelah ditabrak oleh Kwi-hwe-thio belakangan Ci Coh merasa perutnya seperti merasa gatal-gatal geli seperti digelitik orang, seketika ia tersentak sadar, dan timbul rasa curiganya.
"Kenapa dia tidak terpelanting jatuh, malah aku merasa keganjilan atas diriku sendiri? Memangnya dia sengaja menabrak aku?"-Maklumlah Ci Coh membekal kepandaian silat tingkat tinggi, meski ketabrak orang di saat ia tidak bersiaga, secara reflek pasti timbul daya perlawanan lwekangnya melawan tenaga tabrakan itu. Barusan Kwi-hwe-thio bertabrakan dengan dirinya di tempat yang sempit seperti ini, hal itu tidak perlu dibuat heran, namun Kwi-hwe-thio yang terhuyung selangkah tanpa terjatuh mau tidak mau ia merasa heran. Karena curiga lekas tangan meraba-raba badan sendiri untuk memeriksa adakah dirinya kehilangan sesuatu, maka ia tahu bahwa surat rahasia itu ternyata telah terbang tanpa bekas. Saking kaget Sebun Soh rada tidak percaya, katanya.
"Bukankah sampul surat itu sudah kau simpan dalam kantong bajumu?"
"Benar, tapi aku sendiri tidak tahu cara bagaimana sampai tercuri olehnya."
Baru sekarang Sebun Soh sadar, lalu bentaknya.
"Bagus, kau Kwe-hwe-thio! Beruntung kau dapat lolos di kota raja, berani pula kau meluruk kemari membuat gara-gara kepadaku, sungguh besar nyalimu! Hayo serahkan kembali barang-barang yang kau curi, boleh kuampuni jiwamu, kalau tidak, hehe, memangnya kau bisa lolos dari tapak tanganku!"
Waktu di Pakkhia tempo hari Sebun Soh pernah melihat Kwi-hwe-thio, tapi karena sekarang Kwi-hwe-thio menyamar, maka ia tidak mengenalnya.
Tapi teringat olehnya maling sakti yang punya kepandaian sedemikian lihaynya kecuali Kwi-hwe-thio tiada orang lain.
Waktu ia mengejar lebih dekat dan melihat jelas ilmu ginkang yang dikembangkan orang itu, ia lebih yakin bahwa orang itu memang Kwi-hwe-thio.
Sengaja Kwi-hwe-thio lari meninggalkan jalan pegunungan, setelah melingkar-lingkar tiga putaran langsung ia menuju ke belakang gunung, khusus lari ke tempat-tempat hutan belukar dan banyak tumbuh pohon-pohon berduri, larinya bagai terbang dan selincah kera, meski berada di pegunungan terjal yang berbahaya.
Ginkang Sebun Soh setingkat lebih rendah, mana dia mampu mengejarnya.
Kini Kwi-hwe-thio tidak perlu menyamar lagi, serunya bergelak tertawa seraya berpaling.
"Sebun Tayjin, kalau sudah biasa hidup mewah, hati-hati berjalan' di pegunungan yang jelek ini!"
Sebun Soh membentak gusar.
"Kau sangka bisa lolos dari tanganku?"
Ia menarik nafas, kakinya terus jejak tanah sekali mencelat tiba-tiba badannya terbang satu tombak lebih.
Beruntun beberapa kali lompatan, Sebun Soh menarik jarak mereka lebih dekat.
Tapi ia mengejar dengan bernafsu karena mengandal lwekangnya yang tinggi dan mengempos semangat mengendalikan napas.
Kalau dinilai kepandaian ginkang, betapapun ia jauh ketinggalan oleh Kwihwe-thio.
Begitulah bagai burung terbang atau roda berlari kencang, dalam sekejap mata mereka sudah melewati dua lereng gunung, kira-kira sudah hampir mencapai tempat persembunyian Miao Tiang-hong berdua, jarak antara Sebun Soh dan Kwi-hwe-thio kira-kira masih tujuh delapan tombak jauhnya.
"Apa perlu kita turun tangan?"
Tanya Hun Ci-lo berbisik.
"Tunggu sebentar lagi,"
Sahut Miao Tiang-hong sambil berpikir.
"Surat rahasia itu sudah berada di tangan Kwi-hwe-thio, kalau dia mampu meloloskan diri, tak perlu aku ikut mencari kesulitan."
"Sebun Tayjin,"
Terdengar suara Kwi-hwe-thio tertawa.
"sia-sia saja kau sudah hidup senang beberapa tahun di dalam Gi-lim-kun, memangnya kau belum tahu aturan jalan hitam? Barang itu sudah berada di tanganku, memangnya begitu gampang harus kukembalikan? He he, lebih baik pulang saja hidup foya-foya, mengandal kedudukanmu sekarang, kau hendak menjadi opas menangkap maling, memangnya tidak merendahkan derajatmu?"
Mendadak Sebun Soh mengayunkan tangan, jengeknya dingin.
"Kau tidak akan lolos! Nih amgiku kau sambut dengan hati-hati."
Tahu bahwa ginkangnya tidak ungkulan dibanding Kwi-hwethio, setelah berlari kencang sambil tahan napas lagi, cukup asal jarak kedua pihak diperpendek, supaya dia leluasa menyambitkan senjata rahasia.
Senjata rahasia yang dia sam-bitkan adalah segenggam mata uang, ditimpukkan dengan gerakan Lau-hay-say-kim-chi (Lau Hay menyebar mata uang mas), puluhan mata uang itu semua mengincar hiat-to-hiat-to penting di badan Kwi-hwe-thio, menurut dugaannya, betapapun tinggi ginkang Kwi-hwe-thio, pasti takkan lolos dan bisa meluputkan diri.
Sejak tadi Miao Tiang-hong sudah siaga, segera ia meremas batu di telapak tangannya menjadi pecahan kerikil kecil-kecil, tiba-tiba ia mencelat tinggi melewati lankan sembari mengayun tangan, menimpukkan kerikil-kerikilnya dengan Thian-li-san-hoa (Bidadari menaburkan kembang), maka terdengar suara tang-tang-ting-ting, semua mata uang yang disambitkan Sebun Soh kena dipukul jatuh di tengah jalan.
Kwi-hwe-thio bergelak tawa, serunya.
"Sebun Tayjin, kau tidak kenal aturan kangouw, pantas kalau kau harus dirugikan."
Sembari bicara ia lompat naik ke atas batu cadas yang menonjol, dari sini ia bertolak pinggang sambil menonton.
Kebetulan Ci Coh mengejar tiba, tiba-tiba melihat Miao Tiang-hong keruan kejutnya bukan main.
Sebun Soh membentak.
"Takut apa, pergi kau hadapi perempuan sundal itu, lekas kau bekuk dia!"
Ci Coh berpikir, anjuran temannya memang beralasan, asal dapat membekuk Hun Ci-lo hiduphidup, memangnya Miao Tiang-hong tidak akan menyerah.
Seumpama orang masih berani melawan, mengandal kekuatan gabungan dirinya dengan Sebun Soh masakah masih takut kepadanya.
Maka segera ia tenangkan hati, lekas ia berputar dari samping Miao Tiang-hong memapak ke sana.
Sekali raih Miao Tiang-hong tidak berhasil mencengkram orang, sementara pukulan miring Sebun Soh sudah mendampar ke mukanya membawa hawa yang bersuhu panas, terpaksa Miao Tiang-hong mundur selangkah.
Cepat sekali Ci Coh sudah melabrak Hun Ci-lo, mereka pun bertempur dengan sengit.
"Ci Coh,"
Damprat Miao Tiang-hong gusar.
"Kau punya rasa malu tidak? Tempo hari kau hendak mencelakai jiwaku, mengingat sesama seperguruan, kuampuni jiwamu, ternyata kau masih tidak bertobat dan sadar."
Dalam bicara itu, sekaligus ia sudah serang menyerang tujuh jurus dengan Sebun Soh.
"Sute,"
Seru Ci Coh.
"kau katakan aku tidak tahu malu, aku justru mau katakan kau sendiri yang tidak tahu malu! Di tempat mana sulit mencari perempuan ayu dalam dunia ini, kau sendiri terkenal di kalangan kangouw, kenapa kau main pat-gulipat dengan janda muda yang dibuang suaminya? Kubantu kau untuk melenyapkan dia, memangnya tindakanku ini bukan demi kebaikanmu!"
Mulut bicara namun kaki tangannya tidak menjadi kendor.
Sudah tentu hampir meledak hati Hun Ci-lo mendengar kata-kata kotornya, hampir saja ia kena pukulan lawan.
Karena rangsakan Sebun Soh yang gencar, dalam waktu dekat Miao Tiang-hong tidak mampu melepaskan diri dari libatan lawannya, diam-diam ia heran akan kemajuan kepandaian lawan dibanding setahun yang lalu, waktu itu Sebun Soh berteman Yam-yam Hwesio mengeroyok dirinya di Thong-ting-san barat, paling-paling baru kuat bertahan sama kuat.
"Hadapi musuh dengan tenang, tak usah kau hiraukan aku,"
Seru Hun Ci-lo.
"Dia ingin bantu kau pun takkan mampu lagi,"
Demikian Ci Coh mengolok.
"lebih baik, kau menyerah saja!"
Lwekang Ci Coh memang lebih unggul dari Hun Ci-lo, apalagi Hun Ci-lo belum lama baru melahirkan, kepandaian silatnya banyak mundur, Ci Coh merangsak gencar, lambat laun ia sudah berada di atas angin, yakin dalam waktu dekat pasti ia dapat membekuk Hun Ci-lo.
Tak nyana di saat hatinya kesenangan, tiba-tiba permainan pedang Hun Ci-lo berubah.
"Sret"
Dengan jurus Kim-ciam-toh-coat, ternyata pedangnya menusuk datang dari arah yang tak pernah diduga olehnya, lekas Ci Coh menurunkan pundak sambil menyikut, berbareng lengan bajunya menge-bas, maksudnya hendak menggulung batang pedang lawan, lalu menggunakan Khong-jiujip-peh-to untuk merebut pedang orang, namun sedikit memutar tajam pedangnya.
"cret"
Lengan bajunya tahu-tahu sudah tertusuk berlubang, bagaikan seekor burung besar Hun Ci-lo mencelat terbang dari samping badannya, merubah posisi di tempat tinggi yang menguntungkan.
"Majulah lebih dekat kemari!"
Seru Miao Tiang-hong, namun belum hilang suaranya Ci Coh sudah mendesak maju pula kepada Hun Ci-lo.
Ternyata Hun Ci-lo memang sengaja hendak memancing Ci Coh ke tempat lain supaya Miao Tiang-hong tidak mengua-tirkan keadaan dirinya.
"Perempuan jalang yang keji, tak heran Nyo Bok menceraikan kau!"
Demikian maki Ci Coh.
"Mulut anjing tidak akan tumbuh gading, lihat pedang!"
Sentak Hun Ci-lo, dari tempatnya yang lebih tinggi.
Sret, sret, sret, beruntun ia kembangkan serangan pedang berantai yang ganas untuk membendung rangsakan Ci Coh.
Sayang walau ilmu pedangnya amat lihay dan menakjubkan, tenaganya justru tidak memadai.
Tiga puluh jurus kemudian, Ci Coh berkesempatan mendesak maju beberapa langkah pula, jikalau orang sampai merebut posisi yang seimbang, keadaan Hun Ci-lo sekarang yang menguntungkan tidak akan berguna lagi.
Kwi-hwe-thio jongkok di atas batu cadas sambil menonton, tiba-tiba ia berkata.
"Orang she Ci, terima kasih ya, kau berikan kado berharga untuk pasukan gerilya, biarlah kutraktir kau makan enak."
Ia raup segenggam pasir terus ditimpukkan ke bawah.
Ci Coh berada di tempat yang lebih rendah, malah sedang menghadap ke arah Kwi-hwe-thio, maka timpukan pasir Kwi-hwe-thio tidak mempengaruhi Hun Ci-lo, namun Ci Coh takut bila matanya kemasukan pasir, terpaksa ia memukul dan mengebas dengan Bik-khong-ciang.
Makinya.
"Maling kurcaci, bila sampai kubekuk, kubeset kulitmu dan kubetot ototmu."
"Ah, kau ini memang pintar membual, setelah kau menangkap aku, belum terlambat kau pentang bacot."
Dari tempat ketinggian, setiap melihat Hun Ci-lo terdesak, lagi-lagi ia taburkan segenggam pasir.
Karena recokan pasir Kwi-hwe-thio ini mau tidak mau Ci Coh harus pecah perhatian, oleh karena itu dalam waktu dekat Hun Ci-lo masih kuat bertahan.
Di sebelah bawah Miao Tianghong menempur Sebun Soh dengan sengit, keadaan di atas tidak dilihatnya, namun kupingnya masih mendengar dengan jelas.
Dari deru sambaran pedang, ia dengar Hun Ci-lo bisa bertahan dengan baik, lambat laun hati sendiri pun lega dan tentram.
Begitu ketenangan hatinya pulih, Thay-ceng-khi-kang lambat laun mulai menunjukkan keampuhannya, badannya sekarang tidak lagi merasa teramat gerah seperti tadi.
Sebaliknya karena pusaran angin pukulannya yang deras bagai angin musim semi nan sepoi-sepoi itu, lama kelamaan Sebun Soh merasa terlalu nyaman dan silir, mengantuk dan ingin tidur.
Tak lama kemudian dari pihak menyerang, ia balas terdesak di bawah angin.
Ternyata bukan karena latihan ilmu silat Sebun Soh maju berlipat ganda maka kedudukan kedua pihak berimbang, adalah karena kerisauan hati Miao Tiang-hong sendiri sehingga ia tidak bisa meng-konsentrasikan ketenangannya.
Latihan Sebun Soh adalah Hwe-Iiong-kang, sekali hati Miao Tiang-hong gundah, maka reaksj ilmu lawan semakin terasa atas dirinya Sebagai seorang ahli silat tingkat tinggi, setelah berada di atas angin, seketika ia paham akan sebab musabab ini, pikirnya.
"Kalau tergesa-gesa malah berabe, memang aku harus tabah dan tenang, Sebun Soh harus kukalahkan dulu baru bisa bantu menghadapi Ci Coh."
Kalau pihak Miao Tiang-hong sudah berada di atas angin, sebaliknya Hun Ci-lo mulai terdesak dan hampir tak kuat bertahan lagi.
Ci Coh merangsak pula beberapa jurus, dengan kekerasan ia mendesak lawan untuk merebut posisi yang lebih tinggi, maka dengan cara tempur berputar-putar, ia perlihatkan kelincahan badannya berlompatan kian kemari mengelilingi Hun Ci-lo sambil memukul dari berbagai arah.
Begitu keadaan berubah, kini Ci Coh sudah berdiri di tempat yang sama tinggi dengan tempat berpijak Hun Ci-lo, Kwi-hwe-thio pun tidak berani semba-rangan menimpukkan pasir lagi.
Sebetulnya ginkang Hun Ci-lo tidak kalah dibanding Ci Coh, sayang tenaganya sudah habis, tak mampu ikut berputar dan berkisar selincah Ci Coh, setelah mengikuti gerak-gerik Ci Coh berputar berapa lingkaran, kepalanya menjadi pening dan mata pun berkunang-kunang.
Meski sedang menghadapi lawan tangguh, namun Miao Tiang-hong sempat pasang kuping memperhatikan keadaan Hun Ci-lo, mendengar gerak ilmu pedangnya mulai kacau dan serabutan, kembali hatinya menjadi kuatir dan bingung.
Pada saat itu pula, tiba-tiba terdengar derap langkah mendatangi, Miao Tiang-hong kaget, pikirnya.
"Kalau musuh bertambah pembantu tangguh, celakalah kami bertiga!"
Sebun Soh pun tidak kurang kejutnya, batinnya.
"Orang itu bisa berlari bagai terbang di tempat sempit dan berbahaya seperti ini, ilmu silatnya tentu tidak lemah, entah dia pembantu Miao Tianghong, ataukah anak buah Ong-congping?"
Sekejap saja, seorang laki-laki berdandan seperti kaum pelajar berusia tiga puluhan tahu-tahu sudah muncul di hadapan mereka. Seketika Miao Tiang-hong berseru kegirangan.
"Lau-heng, ternyata kau!"
Pendatang ini bukan lain adalah Lau Khong yang tadi diperbincangkan Hun dan Miao.
"Miao-toako, serahkan keparat ini kepadaku!"
Sebun Soh memang sudah terdesak kewalahan menghadapi Miao Tiang-hong, melihat pihak lawan kedatangan bantuan tangguh, keruan ia mengeluh dalam hati, lari adalah jalan paling tepat untuk menyelamatkan diri, tanpa bicara segera ia putar badan terus kabur.
"Ingin lari ke mana, masakah demikian gampang?"
Bentak Miao Tiang-hong.
"Wut"
Pukulannya dilontarkan, kali ini ia kerahkan Thay-ceng-khi-kang, tenaga pukulannya bagai gugur gunung melanda ke punggung Sebun Soh.
Sigap sekali Sebun Soh membalikkan tangan menangkis, seketika ia menyemburkan darah segar, kaki pun terhuyung sempoyongan beberapa langkah, hampir saja ia terjungkal jatuh.
"Lau-heng!"
Seru Miao Tiang-hong gelak tertawa.
"Keparat ini kuserahkan kepadamu!"
Ia duga setelah Sebun Soh terluka dan pecah hawa murninya, betapapun Lau Khong pasti kuasa mengalahkan orang, maka segera ia memburu ke atas hendak membantu Hun Ci-lo.
Kejadian berlangsung teramat cepat, belum lagi Sebun Soh berdiri tegak, Lau Khong sudah menubruk tiba.
Sebun Soh keraskan kepala, serunya.
"Boleh kalian gunakan cara tempur bergilir, paling aku pertaruhkan jiwaku, mati pun seorang gagah di medan laga!"
Mulutnya saja sesumbar padahal hatinya sudah jeri setengah mati. Lau Khong tertawa dingin, jengeknya.
"Kalian suheng-te berbuat jahat dan sewenang-wenang, berapa banyak kaum cendekia dan pahlawan bangsa kita yang terbunuh oleh kalian. Hm, hm, terhadap antek kerajaan seperti kau buat apa bicara aturan kangouw segala, kau anjing buduk ini harus dihajar biar tahu rasa!"
Begitu tapak tangan dua pihak saling bentrok, Lau Khong hanya tergeliat, sebalikmya Sebun Soh muntah darah pula.
Sebat sekali Lau Khong sapukan kaki kiri, sementara tangan kanan menggunakan jurus Ngo-ting-kay-san, tapak tangan menghadap ke atas, kelima jari rada tertekuk, ia menyodok menggunakan punggung tangannya.
Tipu ini adalah ajaran silat perguruannya, berbeda dengan cara serangan tapak tangan dari aliran silat lainnya.
Dengan sodokan ini kekuatannya pun besar luar biasa, seolah-olah seperti kapak besi membelah gunung atau palu besi memukul batu.
Sebun Soh menghardik keras.
"Biar aku adu jiwa sama kau!"
Kedua tapak tangannya didorong ke depan, siapa tahu Lau Khong menggunakan ilmu pukulan yang aneh dan lincah sekali, hanya sedikit tenaganya tersalurkan dalam tipu Ngo-ting-kay-san itu, tiba-tiba ia sudah tarik balik dan merubah dengan jurus lain.
"Krak"
Terdengar benda keras patah, ternyata tulang pergelangan tangan Sebun Soh sudah tersodok hancur, kelima jarinya masing-masing bisa digunakan melukai orang, sementara pusat tapak tangan kanannya tiba-tiba sakit luar biasa seperti ditusuk jarum, sungguh sakitnya serasa hampir menamatkan jiwanya.
Ternyata Lau Khong gunakan Ngo-ting-kay-san lebih dulu untuk memunahkan sebagian kekuatan Hwe-liong-kang lawan, lalu dengan kecepatan luar biasa ia gunakan Hun-kin-joh-kut-jiu memuntir putus tulang pergelangan tangan kirinya, berbareng tapak tangan dari menepuk ia ganti menotok, telak sekali ia menotok hiat-to Lau-kong-hiat di tengah tapak tangannya.
Sudah terluka ditambah luka lagi, sudah tentu Sebun Soh tak kuat bertahan lagi, baru saja lari puluhan langkah, dilihatnya Lau Khong sudah mengejar tiba di belakangnya, terpaksa ia berlaku nekad dan untung-untungan asal jiwa selamat, sambil kertak gigi dari pinggir lamping gunung yang di bawahnya adalah lereng terjal ia menerjunkan diri ke dalam Tian-ti.
Dari tempat tinggi Lau Khong melihat ke bawah, dilihatnya "byuuur!"
Air memercik menimbulkan gelombang tinggi, sesaat ia menunggu tidak dilihatnya bayangan Sebun Soh mengambang ke atas, entah mati atau masih hidup.
Dalam waktu yang sama, dari lereng gunung di bawah tahu-tahu muncul sepasang muda-mudi, mereka adalah Bu Toan dan Bu Cheng.
Seperti diketahui keadaan jalanan di Liong-bun ini lika liku dibangun di lereng gunung yang terjal, maka mereka yang di bawah belum melihat Lau Khong dan Miao Tiang-hong yang berada di atas.
Bu Cheng amat kaget, serunya.
"Ada orang bunuh diri!"
Bu Toan juga bersuara heran, katanya.
"Orang yang terjun ke air bunuh diri itu seperti Sebun Soh!"
Melihat ada orang lompat ke dalam air Bu Cheng tidak berani melihat, maka ia setengah percaya, katanya.
"Apa kau melihat jelas? Benar adalah Sebun Soh? Sebun Soh si keparat busuk itu masa mungkin terjun ke air?"
"Pasti tidak salah, aku malah mengharap orang itu bukan Sebun Soh, kalau dia bunuh diri ke dalam air, kita jadi tidak bisa menuntut balas dengan tangan kita sendiri."
"Kau dengar langkah kaki tidak? Seperti ada orang datang, coba kau jangan bersuara dulu!"
Belum habis ia bicara, tampak dari semak-semak rumput sana muncul seorang laki-laki pertengahan dan seorang gadis kecil. Kali ini Bu Toan dan Bu Cheng bersuara heran berbareng, katanya.
"Kenapa mereka pun datang kemari?"
Ternyata kedua orang laki-laki dan gadis cilik itu bukan lain adalah ayah beranak pengamen yang mereka jumpai di Toan-koan-wan itu.
"Bu-kongcu,"
Ujar laki-laki pertengahan umur.
"kau tidak salah, yang terjun ke dalam Tian-ti memang Sebun Soh, menurut perkiraanku dia dipukul jatuh oleh Lau Khong dari atas sana."
Bu Cheng heran, tanyanya.
"Dari mana kau tahu siapa kami? Dari mana pula tahu bahwa Lautoako berada di sini?"
"Aku dan putriku kemari atas undangannya, maka kami kemari untuk menemui dia!"
"Hah, jadi teman yang hendak ditemui Lau-toako adalah kalian,"
Teriak Bu Cheng kaget dan girang.
"Benar, nah lihatlah, Lau-toako sedang turun kemari!"
Kata Lau Khong sambil mengerutkan kening.
"Kenapa kalian tidak dengar nasehatku, mencariku juga di sini?"
"Kau kan belum tahu kejadian yang kami alami,"
Rengek Bu Cheng.
"Tahu-tahu mengomeli orang. Tapi tiada tempo aku mengobrol dengan kau, kau jelaskan dulu, apa benar kau sudah bunuh Sebun Soh?"
"Sebun Soh terjun ke Tian-ti, mati atau hidup sukar diramalkan. Tapi, Lo-thia, rekaanmu hanya benar separuh saja."
"Separuh bagaimana?"
"Sebun Soh memang kupukul jatuh ke dalam air namun sebelumnya Miao tayhiap sudah melukainya lebih dulu, maka dengan gampang aku bisa mengalahkan dia."
"Miao tayhiap?"
Teriak Bu Cheng kegirangan setelah melongo sebentar.
"Maksudmu adalah paman Miao kami?"
"Coba kau pasang kuping dengarkan, bukankah di atas terdengar suara pertempuran? Paman Miao kalian sedang melabrak musuh. Perlu kuberitahiu kabar baik kepadamu, Cheng-moay, Hunlihiap yang kau puja-puja itu kini sedang bersama paman Miaomu di atas sana."
Saking kesenangan Bu Cheng berjingkrak seperti putus lotre, serunya.
"Hayo lekas, kita susul paman Miao ke atas!"
"Tidak perlu tergesa-gesa, orang itu terang bukan tandingan Miao-susiokmu, kini mungkin dia sudah membereskan musuh."
"Siapakah musuh itu?"
Tanya Bu Toan.
"Kalau kukatakan tanggung kalian akan kaget dan girang, tapi sekarang aku perlu jual mahal, sementara kutunda dulu."
"Tidak kau jelaskan ya sudah, kami bisa melihatnya ke atas,"
Kata Bu Cheng bersungut-sungut.
Baru beberapa langkah ia berlari, belum lagi suaranya hilang, dilihatnya seseorang jatuh bergelundungan dari lereng bukit sebelah atas.
---ooo0dw0ooo---Dugaan Lau Khong memang tidak meleset, sudah tentu Ci Coh bukan tandingan Miao Tianghong.
Hanya satu gebrak saja, Miao Tiang-hong sudah bikin Ci Coh muntah darah dan terluka parah.
Namun meski dengan gampang ia menang, kejadiannya toh rada membahayakan juga bagi dirinya.
Waktu melihat Miao Tiang-hong menyusul naik, Ci Coh insyaf jiwa sendiri hari ini tidak akan selamat, sekonyong-konyong ia menyerang lebih gencar kepada Hun Ci-lo.
Dengan pedangnya Hun Ci-lo papaki serangan orang dengan tusukan, dalam jurus sembunyi tipu, dalam tipu terkandung perubahan yang rumit lagi, sekaligus ia kembangkan Sip-hun-kiamhoat warisan keluarganya, itulah sejurus ilmu pedangnya yang paling lihay dan paling murni.
Kedua lengan Ci Coh terpentang lebaT, bagai elang menubruk kelinci, ia menubruk maju, kedua tangan berbareng mencakar turun dengan keji.
Tubrukannya menggunakan seluruh kekuatannya, ia nekad meski dirinya terluka oleh tusukan pedang Hun Ci-lo, berapa pun ia harus membekuk lawan untuk dijadikan sandera, kalau tidak berhasil membekuknya, biar ia gugur bersama musuh.
Sekonyong-konyong kupingnya serasa hampir pecah disambar hardikan keras bagai guntur menggelegar, belum lagi tubrukan Ci Coh berhasil menangkap Hun Ci-lo, tiba-tiba hatinya melonjak keras dan bergetar sanubarinya, berbareng ia rasakan punggungnya amat panas dan sakit bukan main.
Kiranya Miao Tiang-hong memburu datang tepat pada waktunya sehingga ia berhasil menolong jiwa Hun Ci-lo.
Lantaran keadaan amat gawat terpaksa ia gunakan lwekang Raungan Singa, berbareng ia lancarkan Bik-khong-ciang, dari jarak beberapa tombak ia memukul ke arah Ci Coh.
Terdengar "Bret"
Lengan baju Hun Ci-lo tercakar sobek oleh Ci Coh, berbareng dengan itu "Cras"
Pedang Hun Ci-lo pun berhasil menusuk luka pundak kiri Ci Coh.
Untung Ci Coh tergetar oleh raungan singa Miao Tiang-hong yang mempengaruhi konsentrasi pikirannya, maka tenaga serangan tangannya sudah kendur sebagian besar, walau berhasil menjambret sobek lengan baju, sedikit pun Ci-lo tidak terluka.
Sebaliknya luka Ci Coh jauh lebih berat, luka-luka tusukan pedang di pundak kirinya sih mending, celaka adalah pukulan keras yang mengenai punggungnya ini, begitu keras bagai tertindih batu besar sampai mata berkunang-kunang dan darah bergolak di rongga dadanya, isi perutnya seperti sungsang sumbel pindah dari semula.
"Ganjaran setimpal akan perbuatanmu!"
Seru Miao Tiang-hong sambil memburu datang.
"Kau sendiri mencari jalan buntu, bukan aku ingin bunuh kau!"
Di tengah hardikan suaranya, segera ia menyerang dengan serangan keji. Serasa terbang arwah Ci Coh, teriaknya.
"Sute, aku tahu salah, sukalah kau pandang hubungan sesama perguruan, ampunilah jiwaku!"
Lemas hati Miao Tiang-hong, tenaga pukulannya ia gunakan setengah-setengah.
Tapi kekuatan separuh pukulannya sudah cukup membuat Ci Coh tak kuat bertahan.
Begitu kedua tapak tangan masing-masing beradu, Ci Coh menjerit ngeri, sambil menyemburkan darah segar, badannya terguling-guling jatuh ke lereng bawah.
---ooo0dw0ooo---Bu Toan, kakak beradik kebetulan sedang memburu naik ke atas, sementara Ci Coh terguling jatuh ke bawah kebetulan menggelundung di depan mereka, tahu-tahu orang gunakan Le-hi-tating (ikan gabus melentik), begitu badan jumpalitan ia terus mencelat bangun.
Bu Toan kaget, tiba-tiba ia membentak.
"Bagus ya, ternyata kau anjing kurcaci."
Kejadian berlangsung teramat cepat, tanpa berjanji kedua kakak beradik serentak melolos pedang terus menusuk ke arah Ci Coh.
Meski terluka parah, betapapun bekal kepandaian Ci Coh jauh di atas mereka, sambil menyemburkan darah segar, ia menyeringai sadis.
"Kalian bocah-bocah keparat mengantar jiwa, aku yang jadi susiok kalian terpaksa tidak sungkan-sungkan lagi."
Posisinya memang dari atas menubruk ke bawah, ia sudah lihat kehadiran Lau Khong dan dua orang lainnya, insyaf sukar melarikan diri seketika timbul maksud jahatnya, hendak menjadikan kedua kakak beradik ini sebagai sandera.
Di tengah caci maki dan hardikan yang riuh, Ci Coh layangkan kakinya menendang, pedang panjang di tangan Bu Cheng tertendang jatuh, namun betisnya pun tergores luka berdarah oleh ujung pedang.
Cepat sekali "Sret"
Bu Toan susuli dengan tusukan pedangnya mengarah tenggorokan orang, mendadak Ci Coh buka mulut dan tepat sekali menggigit ujung pedangnya.
Dengan sekuat tenaga Bu Toan tusukkan pedangnya, namun semili pun tak mampu dia sorong masuk ke dalam mulut orang.
Baru saja Lau Khong harrtpir membelok sebuah pengkolan gunung, bukan kepalang kejutnya melihat adegan seram ini, untuk menolong jaraknya cukup jauh dan pasti terlambat, sesaat ia tertegun, lekas berteriak.
"Buang pedang, lepaskan pedangmu!"
Bagaimanapun Bu Toan kurang pengalaman dalam menghadapi musuh, sedikit pun ia tidak duga Ci Coh bakal menggunakan cara yang berbahaya ini, begitu ujung pedangnya tergigit orang, ia kira asal sekuat tenaga ia dorong dan menusuknya, tak pernah terpikir dalam benaknya untuk lepas pedang melarikan diri.
Sayang seruan petunjuk Lau Khong sudah terlambat.
Ci Coh pentang kedua tangannya dengan kencang ia sikap pinggang Bu Toan.
Sementara Bu Cheng sudah jemput pedangnya yang jatuh, dengan jurus Bing-tho-cin-cu menusuk selangkangan Ci Coh, sebat dan licin benar Ci Coh bergeser seraya memutar badan, ia dorong Bu Toan ke depan sambil membentak.
"Nah, tusuklah!"
"Lau-toako, lekas tolong! Moaymoay! Jangan hiraukan aku, lekas tusuk!"
Teriak Bu Toan. Karena dipeluk kencang, Bu Toan tidak mampu meronta, cuma dengan sikutnya ia sodok mundur ke belakang mengenai ulu hati Ci Coh. Keruan Ci Coh gusar, bentaknya..
"Kau cari mampus?"
Kedua baris giginya masih menggigit kencang ujung pedang Bu Toan, suaranya keluar dari selasela giginya yang tertutup rapat maka suaranya sumbang seperti orang selesma.
Sebetulnya kedua tangan Ci Coh yang memeluk Bu Toan tidak berani kendor sedikit pun, kalau Bu Cheng menusuknya, dengan gampang ia bisa melukainya.
Tapi eng-kohnya dipeluk lawan dan digunakan sebagai tameng, walau ilmu pedangnya cukup matang dan sempurna, toh dia kuatir bila kesalahan tangan melukai engkohnya sendiri, mana dia berani bertindak secara gegabah?
Di saat Bu Cheng kehabisan akal dan kerepotan bingung itu, sekonyong-konyong tampak sesosok bayangan meluncur datang dari tengah udara langsung menubruk ke atas badan Ci Coh, seketika Ci Coh mengeluarkan jeritan keras yang menyayatkan hati, pedang Bu Toan tercabut keluar.
Dengan masih memeluk kencang Bu Toan, Ci Coh menjatuhkan diri.
Dalam waktu yang bersamaan bayangan orang di tengah udara itu jumpalitan dengan gaya Burung Dara Membalik Badan meluncur jatuh juga, kiranya nona cilik pengamen itu.
Ternyata di saat Bu Toan menghadapi bencana, nona cilik pengamen ini segera naik ke lereng bukit, menarik sebatang akar rotan terus bergelantungan datang seperti terbang di tengah udara, tepat sekali menubruk di atas punggung Ci Coh.
Permainan bergelantungan dengan tambang biasanya memang merupakan kepandaiannya dalam permainan akrobatik.
Ci Coh membelakangi dirinya, bahwasanya ia tidak melihat semua gerak-geriknya.
Begitu mendekap badan Ci Coh, mulutnya terpentang terus menggigit tengkuk Ci Coh, di mana merupakan tempat berbahaya di setiap badan manusia, maka luka-luka Ci Coh lebih parah daripada kena tusukan pedang, sungguh sakitnya bukan main sampai dia melolong seperti babi disembelih.
Karena menjerit, sudah tentu pedang yang dia gigit jadi terlepas, sementara Bu Toan masih berusaha menusukan pedangnya, maka seketika pedang panjangnya itu masuk ke dalam mulut dan tembus sampai belakang kepalanya.
Tapi lwekang Ci Coh memang cukup hebat, menjelang ajal dia masih kuat mendekap Bu Toan diajak menggelundung ke bawah.
Sementara nona pengamen itu pun tergetar jatuh dari tengah udara, akar rotan itu pun terputus jadi dua.
Tersipu-sipu laki-laki pengamen itu meraih badan putrinya.
Sementara Bu Cheng memburu maju dan menambahkan sekali tusukan pula di ulu hati Ci Coh.
Karena tusukan telak ini melayanglah jiwa Ci Coh dan pelukannya menjadi kendor, dengan tangkas Bu Toan segera melompat bangun.
"Sungguh berbahaya!"
Katanya sambil meleletkan lidah.
"Koko,"
Ujar Bu Cheng.
"keadaan orang lebih berbahaya dari kau."
Bu Toan sadar, lekas ia memburu ke sana menyatakan terima kasih kepada nona kecil itu.
Dilihatnya selebar muka nona itu pucat bagai kertas, ayahnya sedang mengurut menormalkan jalan darahnya.
Bu Toan jadi rikuh dan menyesal, katanya.
"Nona, kau menolong jiwaku sampai kau sendiri terluka parah, aku belum lagi tahu namamu. Bagaimana keadaanmu?"
Laki-laki pengamen itu segera berkata.
"Aku she Thia bernama Sin-gan putriku bernama Giokcu. Bu-kongcu tak usah kuatir, meski putriku terluka oleh getaran Iwekang Ci Coh, untung tidak sampai terluka berat. Istirahat sebentar akan pulih seperti biasa."
Di saat mereka bicara, Miao Tiang-hong dari puncak dan Lau Khong dari lereng sebelah sana tiba dalam waktu yang bersamaan.
"Lau-lote,"
Ujar Thia Sin-gan.
"Aku datang terlambat, hampir saja bikin susah Bu-kongcu. Apakah tuan ini Miao Tiang-hong Miao tayhiap, selamat bertemu, selamat bertemu!"
Kata Miao Tiang-hong menghela napas.
"Lantaran belas kasihan, aku tidak membunuh Ci Coh, kalau putrimu tidak menolong sutitku, dosaku akan jadi berlipat ganda."
Tiba-tiba Bu Toan kakak beradik berlutut dan menyembah ke langit, lalu kepala Ci Coh dipenggal putus, serunya sesambatan sambil berdoa.
"Ayah ibu, anak tidak berbakti, baru hari ini kami berhasil membunuh seorang musuhmu!"
Lalu mereka pun berlutut dan menyembah kepada Thia Giok-cu sebagai tuan penolongnya.
Merah jengah muka Thia Giok-cu, tidak leluasa ia membimbing Bu Toan bangun, terpaksa ia ikut berlutut balas menyembah.
Miao Tiang-hong dan Lau Khong tertawa sambil berpandangan penuh arti.
Miao Tiang-hong membimbing Bu Toan bangun, Lau Khong membangunkan Bu Cheng.
Kata Miao Tiang-hong tertawa.
"Tak nyana kalian angkatan muda mudi jauh lebih pakai adat istiadat dari kami."
Di sebelah sana Thia Sin-gan juga membimbing bangun putrinya, katanya tertawa.
"Cu-ji, bukankah kau punya omongan yang hendak disampaikan kepada Bu-kongcu?"
"Bu-kongcu,"
Kata Thia Giok-cu malu-malu.
"Aku sendiri belum sempat mengucapkan terima kasih akan bantuan kalian di Toa-koan-wan tadi pagi. Kalian demikian sungkan dan pakai sopan santun segala, mana aku berani terima?"
"Nona Thia,"
Kata Bu Cheng.
"Ketahuilah, Ci Coh adalah musuh besar pembunuh orang tua kami, hari ini atas bantuanmu kami berhasil membunuh musuh, mana bisa kami tidak berterima kasih akan budi kebaikanmu?"
"Kepandaianku yang rendah ini, memberi bantuan apa? Keparat ini sebelumnya sudah dilukai lebih dulu oleh Miao tayhiap."
Kata Bu Toan.
"Miao tayhiap adalah susiokku sendiri, adalah pantas bila dia membersihkan nama baik perguruan."
Maksudnya kalau orang sendiri sudah tentu tidak perlu main sungkan segala.
Namun kata-kata ini membuat kecewa Thia Giok-cu, pikirnya aku mempertaruhkan jiwa, kau malah anggap aku orang luar.
Timbrung Miao Tiang-hong.
"Benar, ini persoalan dalam perguruan kita. Ci Coh memang pantas mendapat ganjarannya. Bu-sutit, aku sendiri masih belum tahu, bila dia ternyata musuh besar pembunuh ayah bunda kalian."
Kata Bu Toan.
"Dulu waktu ayah bunda terjebak dan gugur di medan laga, adalah gara-gara perbuatan keparat ini yang khianat. Hal ini Lau-toako paling jelas, kami mendapat tahu dari penuturannya juga."
"Peristiwa terjadi sepuluh tahun yang lalu,"
Tutur Lau Khong.
"Waktu itu Bu tayhiap pimpin pasukan laskar gerilya bertempur di Bong-im daerah Soatang. Aku tinggal bersama mereka, Ci Coh pengkhianat itu pun berada dalam pasukan."
"Tahun itu aku baru berusia dua puluh, baru keluar kandang. Karena aku tetangga keluarga Bu, maka Bu tayhiap pandang aku sebagai keponakan sendiri, beliau bawa aku mengembara dan mencari pengetahuan, selama itu aku selalu berada di dampingnya."
"Waktu terjadi pertempuran di Bong-im, situasi semakin buruk dan payah bagi kami. Suatu malam, Ci Coh datang berunding soal strategi perang dengan Bu tayhiap, sebagai Sute dari Buhujin, sudah tentu Bu tayhiap amat mempercayainya."
"Mereka berunding di kamar tertutup, hanya aku seorang yang meladeni makan minum mereka. Menurut Ci Coh ia mendapat kabar pasukan besar pemerintah hendak mengadakan operasi besar-besaran, kalau keadaan tetap bertahan terus seperti sekarang mungkin kurang menguntungkan. Maka dia mengusulkan supaya pasukan laskar Bu tayhiap dipindah ke tempat lain yang posisinya lebih menguntungkan, yaitu menuju ke Cu-lay-san bergabung dengan laskar gerilya di sana. Katanya dia cukup hafal dan tahu benar situasi daerah sekitarnya, malah dia pun sudah membawa peta serta dibeber di hadapan Bu Tay-hiap dan menjelaskan lika-likunya, dikatakan begini dan begitu caranya, tanggung akan aman dan selamat tiba pada tujuan. Bu tayhiap akhirnya kena terbujuk, akhirnya diputuskan untuk bertindak menurut rencana itu. Malam kedua beliau lantas pimpin laskar gerilyanya menerjang keluar dari kepungan."
"Jadi sepuluh tahun yang lalu dia sudah jadi pengkhianat, sayang baru hari ini aku mendapat tahu,"
Demikian ujar Miao Tiang-hong. Tutur Lau Khong lebih lanjut.
"Jalan yang akan ditempuh oleh pasukan kami, Bu tayhiap tidak pernah memberi tahu kepada siapa pun, hanya mereka suami istri dan Ci Coh saja yang tahu, tak nyana suatu hari waktu pasukan kami melewati suatu tempat yang berbahaya, tiba-tiba kami disergap dan masuk perangkap sepasukan pilihan pemerintah yang punya persenjataan lengkap, di antara pasukan pemerintah itu terdapat tiga perwira yang berkepandaian silat tinggi, termasuk tokoh silat kelas satu, yaitu yang akhirnya berhasil membunuh Bu tayhiap suami istri dengan main keroyokan, mereka adalah Pakkiong Bong, Sebun Soh dan murid murtad dari Siau-lim-pay Sa Miwan.".
"Waktu pasukan laskar gerilya masuk jebakan, Ci Coh sudah tidak kelihatan lagi bayangannya, tapi keadaan amat mendesak, Bu tayhiap suami istri tidak sempat mengurusnya. Bu tayhiap berkata kepadaku, dia sudah berkeputusan untuk gugur bersama musuh demi cita-cita yang murni, kalau bisa melindungi seorang anak buahnya pun baiklah, dia suruh aku lekas melarikan diri di saat para musuh sama mencurahkan perhatian kepada mereka suami istri. Semula aku tidak turuti nasehatnya, tapi beliau titipkan Bu Toan kakak beradik kepadaku, tidak mungkin aku membangkang perintahnya untuk tidak melindungi putra putri mereka. Terpaksa malam itu juga aku lari pulang ke Bu-seng, tidak lama kemudian aku mendapat kabar akan gugurnya Bu tayhiap suami istri di medan laga."
"Waktu itu aku baru berusia sebelas,"
Bu Toan menambahkan cerita sambil berlinang air mata.
"Adikku baru berusia sembilan tahun, beruntung Lau-toako membawa kami melarikan diri, baru jiwa kami bisa diselamatkan. Dua hari setelah kami meninggalkan rumah, pasukan pemerintah lantas membakar habis rumah kami."
Lau Khong menyambung cerita pula.
"Setelah peristiwa malam itu, aku sudah mulai curiga kepada Ci Coh. Rencana rahasia pasukan kami kalau bukan Ci Coh yang membocorkan, mana mungkin pihak pemerintah bisa tahu? Tapi waktu itu aku belum mendapatkan bukti-bukti, terpaksa rasa curigaku ini kupendam dalam hati."
"Dalam sepuluh tahun ini, aku pernah tiga kali mengalami sergapan dan bokongan cakar alapalap, terakhir orang yang hendak membunuh aku berhasil kubekuk, segera kukompes keterangannya, baru aku tahu bahwa dia mendapat perintah Pakkiong Bong untuk membunuh aku, dan Pakkiong Bong bertindak sedemikian jauh lantaran mendapat petunjuk rahasia Ci Coh."
"Hal ini kukira bisa dimengerti, cuma kau seorang yang tahu bahwa dia yang khianat menjual jiwa ayah bunda Bu Toan, sudah tentu kau harus dibunuh untuk tutup mulut,"
Demikian sela Miao Tiang-hong.
"Masih ada lagi bukti-bukti yang lebih nyata. Setelah aku berhasil melarikan diri, aku menggabungkan diri di dalam Thian-te-hwe. Tahun yang lalu pasukan gerilya di bawah pimpinan Thian-te-hwe berhasil menawan seorang perwira, perwira sipil ini dulu pernah menjadi sekretaris Pakkiong Bong dalam penyerangan besar-besaran di Bong-im itu. Setelah kuketahui akan hal ini, segera aku mengom-pes sendiri keterangan si perwira, betul juga aku berhasil mendapat keterangan, bahwa laskar gerilya Bu tayhiap masuk perangkap musuh karena Ci Coh sudah membocorkan rahasia itu kepada Pakkiong Bong melalui sepucuk surat."
"Memang setimpal ganjaran yang dialami Ci Coh sekarang,"
Kata Miao Tiang-hong.
"Untung kalian tiba tepat pada waktunya, tidak sampai lantaran belas kasihanku dia sampai lolos. Jadi lantaran kalian hendak menguntit jejaknya maka sampai di Gunbing?"
"Hanya kebetulan saja,"
Sahut Lau Khong.
"Li-hu-thocu dari Thian-te-hwe kami mendapat kabar katanya Pakkiong Bong mengutus orang mengantar surat dinas yang amat penting, menurut dugaan surat dinas itu adalah perintah supaya pihak penguasa di Gunbing sini mengerahkan tentara, maka dia suruh kami mengejar dan mencegat kedua orang itu, tak nyana kedua orang itu adalah Sebun Soh dan Ci Coh. Sayang kami tiba terlambat, kabarnya kemarin Sebun Soh sudah menemui gubernur dan Congping."
Miao Tiang-hong berpikir.
"Walau orang she Thia ayah beranak adalah teman Lau Khong, aku sendiri belum tahu seluk beluk mereka, Kwi-hwe-thio sudah berhasil mencuri surat dinas itu, biar kutunda dulu, kesempatan lain baru kuberi tahu kepada Lau Khong. Setelah Lau Khong tuturkan seluk beluk persoalannya, lalu ia bertanya kepada Bu Toan berdua.
"Kusuruh kalian menunggu aku di hotel, kenapa mencariku ke sini? Lagak lagu kalian seolah-olah sudah amat kenal dengan Thiatoako, apa yang terjadi?"
Thia Sin-gan tertawa, katanya.
"Kami pun baru saja kenal."
"Sebetulnya kami tidak tahu bahwa orang yang kau janjikan bertemu di sini adalah mereka ayah beranak. Tapi kami tidak bisa pulang ke hotel, terpaksa datang kemari mencari kau."
Lalu ia tuturkan peristiwa di dalam Toa-koan-wan. Baru sekarang Lau Khong paham, katanya tertawa.
"Kalau begitu, agaknya kalian memang ada jodoh!"
Sebetulnya ia hanya berkelakar saja, namun bagi orang-orang yang bersangkutan sebaliknya mengandung penuh arti, tak urung merah jengah selebar muka Thia Giok-cu.
Tengah mereka bicara, Hun Ci-lo dan Kwi-hwe-thio pun sudah turun dari atas.
Begitu melihat ayah beranak she Thia itu, Kwi-hwe-thio amat senang, serunya.
"Hari ini sungguh kebetulan, tanpa janji sekaligus kalian berada di Saysan!"
"Tidak, aku memang berjanji bertemu di sini dengan Lau Khong."
"O, jadi kalian pun memang sudah kenal?"
Tanya Lau Khong.
"Aku ini kan tukang gerayang yang selalu beroperasi di rumah-rumah orang, dia sebaliknya pengamen yang selalu mondar-mandir di kangouw, sama-sama pengelana di kangouw, adalah lucu kalau kami tidak saling kenal. Sejak lima tahun yang lalu, kami sudah ikat persahabatan."
"Jadi kau lebih lama kenal mereka dari aku, waktu aku kenal Thia-toako, dia masih seorang chengcu?"
Demikian kata Lau Khong.
"Urusan yang sudah lalu, tidak perlu disinggung lagi,"
Ujar Thia Sin-gan sinis.
"Ya, soal yang lalu tidak perlu diperbincangkan, mari bicarakan persoalan yang kita hadapi. Bagaimana menurut rencana kalian?"
"Kami hanya memburu ketenangan dan selamat saja, mana berani bicara soal rencana segala?"
Ujar Thia Sin-gan. Sudah lama Lau Khong tidak bertemu dengan Thia Sin-gan, maka ia coba memancing isi hati orang, tanyanya.
"Kabarnya kau ada ikatan kental dengan Lo Kim-ou Pangcu Hay-soa-pang, tahukah kau kejadian belakangan ini?"
"Kabarnya belakangan ini dia membegal ransum pasukan pemerintah, sayang aku terlambat memperoleh berita ini, tak sempat aku memburu ke sana memberi bantuan."
Dari jawaban ini Lau-Khong yakin bahwa hubungan orang dengan Lo Kim-ou memang cukup intim, maka ia pun berlega hati, katanya.
"Lo Kim-ou harus membegal ransum itu supaya pasukan Ceng terhalang dalam penyerbuannya ke Siau-kim-jwan. Kalau kalian tiada tujuan yang tertentu, kenapa tidak ke Siau-kim-jwan saja? Pimpinan laskar rakyat di sana Siau Ci-wan, Leng Thiat-jiau, Beng Goan-cau dan lain-lain semua kenalan baik Miao tayhiap. Kalau kau bantu mereka, secara tak langsung berarti membantu pula Lo Kim-ou."
Thia Sin-gan berpikir sebentar, katanya.
"Terima kasih akan maksud baikmu, saat ini mungkin aku belum bisa pergi ke Siau-kim-jwan, biar kita bicarakan lain waktu saja."
Lau Khong kira orang akan menerima permintaannya, sudah tentu ia rada kecewa mendapat jawaban ini.
Tapi ia tidak enak memaksa keinginan orang lain, maka ia pun tidak menyinggung persoalan ini lagi.
Kata Thia Sin-gan.
"Lau-heng, Thio-heng, hari ini dapat bersua kalian, beruntung dapat berkenalan dengan Miao tayhiap dan Hun lihiap pula, benar-benar amat menggirangkan hatiku selama hidup ini, kami ayah beranak mohon diri lebih dulu, semoga gunung tetap menghijau air tetap mengalir, kita akan bertemu pula kelak."
Setelah Thia Sin-gan berdua berlalu, Bu Cheng berkata.
"Lau-toako, sebelum ini belum pernah kudengar kau menyinggung tentang mereka ayah beranak."
"Aku sendiri bukan kenalan kental dengan mereka, baru belakangan ini aku tahu bahwa dia ada ikatan kental dengan Lo Kim-ou, menurut Lo Kim-ou martabat dan karakternya sih tidak jelek, aku pun tahu dia seorang yang mengutamakan budi dan kesetiaan, namun terasa juga olehku gerak gerik dan sepak terjang mereka ayah beranak yang serba misterius. Tadi setelah kulihat putrinya berani mati menolong jiwa Bu Toan, baru aku berani mengundang mereka untuk pergi ke Siaukim-jwan."
"Lau-toako.
"kata Bu Toan.
"waktu pertama kali kau mengenalnya, dia seorang chengcu bukan?"
"Benar, dia seorang chengcu, tentunya hartawan besar pula. Cuma keluarga hartawannya ini justru jauh berlainan dengan para tuan tanah umumnya, pandai main silat itu persoalan kedua, dia sendiri suka berkenalan dengan orang-orang gagah kalangan kangouw, maka dia dijuluki Siaubeng-siang. Karena hobbynya itu, kira-kira sepuluh tahun yang lalu, lantaran kagum akan gelaran Siau-beng-siangnya itu, aku pernah bertandang ke rumahnya menjadi tamunya."
"Dari seorang chengcu mendadak menjadi seniman yang kelana di kangouw, hal ini amat aneh dan menarik juga. Tapi bukan maksudku menaruh curiga kepada mereka, apalagi mereka pernah menolong jiwaku, betapapun aku amat berhutang budi,"
Demikian Bu Toan utarakan unek-unek hatinya. Lau Khong tahu bahwa Bu Toan tertarik akan asal-usul Thia Sin-gan ayah beranak, Bu Cheng sebaliknya tertawa, katanya.
"Yang menolong jiwamu adalah putrinya, seharusnya kau hanya boleh hutang budi kepada nona Thia itu sendiri."
Merah muka Bu Toan.
"Moay-moay, kenapa selalu kau menggodaku saja?"
"Marilah bicarakan urusan pokok saja,"
Sela Lau Khong.
"Kwi-hwe-thio, cara bagaimana kau bisa berada di sini?"
"Seperti dirimu. Tapi kau mendapat perintah dari Thocu Thian-te-hwe, aku sendiri sih secara suka rela bekerja demi Kim Tiok-liu dan Lo Kim-ou."
Lau Khong girang, serunya.
"Jadi kau pun menyelidiki gerak-gerik Sebun Soh di Gunbing ini?"
"Surat dinas yang dibawa Sebun Soh itu kini sudah berada di tanganku,"
Ujar Kwi-hwe-thio sambil angsurkan surat itu..Lau Khong menerima dan dibacanya tulisan di atas sampulnya, seketika ia kegirangan.
"Inilah laporan strategis menurut rencana Ui-congping, bagaimana persiapannya mengerahkan bala tentaranya, sudah tertulis rapi di dalam surat ini. Kalau surat dinas ini dikirim ke Siau-kim-jwan, pasti besar manfaatnya bagi Siau Ci-wan dan Leng Thiat-jiau."
"Lau-heng,"
Sela Miao Tiang-hong.
"Kebetulan ada kau di sini, silakan kau saja yang membawa surat rahasia ini ke Siau-kim-jwan."
"Miao-heng, kau hendak ke mana?"
"Kami akan ke Tayli menyelesaikan sesuatu urusan, terpaksa tugas kirim surat ini kubebankan kepadamu."
Lau Khong menepekur, seperti memikirkan sesuatu.
"Lau-heng menghadapi kesulitan apa?"
"Kesulitan sih tiada. Cuma mereka kakak beradik..."
"Mereka kenapa?"
"Untung kau pun hendak pergi ke Tayli, aku boleh berlega hatilah."
Miao Tiang-hong berpaling tanyanya kepada Bu Toan, Bu Cheng.
"Jadi kalian juga hendak pergi ke Tayli? Untuk apa ke sana?"
"Perlu paman ketahui, salah seorang musuh besar kami kini berada di Tayli, maka kami hendak meluruk ke sana membalas dendam padanya,"
Bu Toan menjelaskan.
"Apakah Sa Mi-wan?"
Tanya Miao Tiang-hong.
"Ya. Kami sudah mencari tahu dengan jelas, Sa Mi-wan si keparat itu sudah mendapat restu Pakkiong Bong, dia dimutasikan di Tayli, kini kebetulan berada di markas besar panglima perbatasan di Tayli. Sebetulnya kami mohon bantuan Lau-toako dalam perjalanannya ke Gunbing ini untuk membantu kami."
"Ibu kalian adalah suciku, bantu kalian membalas sakit hati kema-tian ayah bundamu adalah tanggung jawabku pula, mari kita berangkat bersama. Tapi Lau-toako harus berpisah beberapa lamanya dengan kalian."
Merah muka Bu Cheng, serunya.
"Miao-susiok suka membantu, tentunya jauh lebih meyakinkan."
"Sekarang kalian boleh berlega hati, memangnya kepandaian Miao-susiok kalian jauh lebih tinggi dari aku,"
Sela Lau Khong tertawa. Kata Miao Tiang-hong sungguh-sungguh.
"Lau-heng, kau mengirim surat itu ke Siau-kim-jwan, itulah tugas dinas, jauh lebih penting, kuharap sepanjang jalan ini kau lebih hati-hati."
Tiba-tiba Lau Khong seperti teringat apa-apa, katanya.
"Sayang Thia Sin-gan entah karena urusan apa, tidak mau kuajak ke Siau-kim-jwan."
"Dia kelahiran seorang hartawan, kalau mereka beranak harus seperti kita, melakukan pekerjaan bahaya menanggung resiko, hidup menderita lagi, kukira akan mempersulit mereka saja."
"Tapi sebagai seorang chengcu rela kelana di kangouw hidup seperti gelandangan, hal itu sudah cukup prihatin. Menurut hematku mereka bukan lantaran takut menghadapi bahaya, kukira masih ada sebab musabab lainnya yang tidak dimengerti."
"Memang sepak terjang mereka rada aneh, entah kenapa mereka bisa menjadi kelana kangouw sebagai pengamen lagi? Lau-toako, pernah kau dengar cerita orang lain?"
"Ada orang bilang dia menghabiskan harta bendanya untuk menolong sesamanya, ada pula yang bilang modalnya bangkrut, terpaksa berkelana di kangouw, ada juga yang bilang dia mengalami suatu peristiwa yang amat mematahkan hatinya, kecewa dan putus asa, maka sengaja ia meninggalkan kehidupan senang dan membuang harta bendanya. Aku sendiri karena tidak punya hubungan yang intim, maka tidak mencari tahu lebih lanjut, Thio-heng, kau lebih dekat hubungannya dengan dia, apa kau tahu?"
"Rekaan kalian salah semua,"
Ujar Kwi-hwe-thio mulai dengan ceritanya.
"Karena suatu peristiwa penasaran sehingga dia dijebloskan ke dalam penjara, terpaksa dia harus meninggalkan rumah melarikan diri. Bahwa dia sekarang mondar-mandir di kangouw, menurut hematku, mungkin mempunyai sesuatu maksud-maksud tertentu."
Lau Khong kaget, tanyanya.
"Ah, kebentur kejadian apa sampai dia amat penasaran, coba kau tuturkan."
"Semula dia seorang hartawan besar Hoay-an-hu di Siong-so meski bukan hartawan paling kaya di daerahnya, jelek-jelek dia mempunyai kampung halamannya sendiri, suka menolong kesukaran orang lain dan mendermakan harta miliknya, maka dia digelari Siau-beng-siang, hal ini Lau-toako sendiri sudah tahu."
"Tapi ada latar belakang lain yang tidak kau ketahui. Mungkin karena sejak kecil dia hidup mewah dan diasuh dalam keluarga besar, hidup senang, tidak pernah tahu akan kelicikan jiwa manusia umumnya, kabarnya dia belajar sastra meyakinkan ilmu silat, keduanya sama-sama pintar, namun otaknya justru rada ceroboh dan tidak bisa membedakan antara orang baik dan orang jahat, para orang-orang gagah dari kangouw dari segala lapisan, bukan saja ada hubungan baik, malah dengan para pejabat pemerintah pun sering berhubungan pula."
"Orang dari kelahiran seperti dia, tidak mustahil bila bertindak gegabah, tapi setelah mengalami pelajaran yang menyakitkan hatinya, akan datang ketika dia sadar akan kesalahannya sendiri,"
Demikian Lau Khong memberi komentar.
"Betul kata-katamu,"
Ujar Kwi-hwe-thio.
"Kalau Thia Sin-gan tidak kebentur peristiwa itu sampai dijebloskan ke dalam penjara, mungkin sampai sekarang dia masih seorang chengcu di Hoay-an sana."
"Lau-toako,"
Sela Bu Cheng.
"Jangan kau mengomentari saja, dengar cerita Thio-toasiok lebih lanjut."
"Kira-kira sepuluh tahun yang lalu, pernah datang seorang Tihu dari lulusan Cin-su menjadi pejabat yang berkuasa di Hoay-an."
"Bagaimana dengan Tihu ini?"
Timbrung Bu Cheng.
"Tihu she Han ini adalah seorang terpelajar yang romantis, pandai karang mengarang, membuat syair, main catur memetik harpa dan melukis, segala seni rupa pun dimiliki, namanya cukup tenar di antara sesama pejabat pemerintah. Seperti sudah kujelaskan tadi Thia-toako pun punya hobby yang sama, suka mengagulkan diri sebagai seorang terpelajar tingkat tinggi, maka ia pun amat kagum akan semua kepandaian sang Tihu."
Lau Khong manggut-manggut, katanya.
"Setiap pejabat yang tamak paling suka cari ikatan dengan para hartawan setempat, mungkin karena mereka punya hobby yang sama, maka perkenalan pertama semakin mengeratkan hubungan mereka."
"Benar, sejak Tihu she Han itu datang, kalau bukan dia berkunjung ke rumah keluarga Thia, tentu Thia Sin-gan yang balas berkunjung ke rumah Tihu, tak lama kemudian kedua keluarga mereka pun punya hubungan yang lebih intim."
"Tapi tidak seluruhnya benar jikalau setiap pejabat yang tamak suka menjilat kepada para hartawan. Di samping berusaha mengambil hati para hartawan itu, mereka pun punya maksudmaksud tertentu. Terutama terhadap para hartawan yang kaya tapi tidak punya kekuasaan. Memang Thia-toako punya teman-teman golongan persilatan, namun tidak punya tulang punggung di kalangan pejabat pemerintah, maka Han-tihu lantas anggap dia sebagai daging gemuk."
"Istri Thia-toako adalah perempuan tercantik dalam bilangan Hoay-an ini, mereka masih punya ikatan famili, suami istri hidup rukun dan bahagia. Karena hubungan sudah meningkat antar kekeluargaan, maka setiap kali Han-tihu mengadakan perayaan apapun, Thia-toaso pun diminta datang ke rumah Tihu untuk membantu sekadarnya."
"Suatu hari istri muda Han-tihu mengadakan perjamuan ulang tahun, Thia-toaso pun dijemput untuk ikut merayakan perjamuan, kabarnya karena terlalu banyak minum arak sampai mabuk, malam itu tidak pulang ke rumah."
"Karena kuatir, hari kedua pagi-pagi benar, Thia Sin-gan menyusul ke sana hendak menjemput istrinya, siapa nyana yang dia bawa pulang justru mayat istrinya! Han-tihu bilang semalam istrinya mendadak terserang penyakit angin duduk dan meninggal tak tertolong lagi."
"Tentulah pejabat anjing she Han itu yang membunuhnya, kenapa Thia Sin-gan tidak menuntut kepadanya?"
Teriak Bu Cheng penasaran.
"Malapetaka terlalu mendadak datangnya, sudah tentu Thia-toako tidak mau terima kematian istrinya begitu saja, mending kalau dia tidak mencari perkara, begitu dia mengajukan tuntutan, bencana justru menimpa ke atas kepalanya pula. Sebelumnya Han-tihu sudah merencanakan tipu daya, sekali perintah ia suruh beberapa opas meringkus Thia Sin-gan terus dijebloskan ke dalam penjara."
"Ada peristiwa keluar batas seperti itu, menangkap orang dan menjebloskan ke dalam penjara toh harus ada dosa dan tuduhan yang setimpal?"
Kembali Bu Cheng berteriak-teriak.
"Apa sukarnya menjatuhkan dosa dan tuduhan? Thia Sin-gan ada hubungan dengan Lo Kim-ou, pejabat she Han itu sebelumnya sudah mencari tahu dengan betul, maka dengan mudah saja ia memfitnahnya sebagai komplotan penyelundup garam gelap, suka hubungan dengan kalangan berandal punya tujuan memberontak segala. Setelah dijebloskan ke penjara, seluruh harta bendanya pun disita seluruhnya!"
"Pejabat anjing yang jahat ini memang patut dibunuh, bagaimana akhirnya?"
Tanya Bu Toan uring-uringan.
"Pejabat anjing itu menjatuhkan hukuman mati, setelah mendapat persetujuan dari pengadilan tinggi, hukuman mati akan segera dilaksanakan. Sementara menunggu perintah dari atasannya, kuatir orang melarikan diri, setiap hari dia disiksa dan dikompes pengakuannya, sehingga seluruh badannya luka-luka, tiada sejengkal kulit badannya yang utuh. Seumpama pengadilan tinggi tidak memutuskan hukuman mati, mungkin lama kelamaan dia pun bakal mampus disiksa demikian rupa oleh sang Tihu."
Bu Toan mengepal jari-jarinya, serunya marah-marah.
"Semoga Thian memberi keadilan, supaya pejabat anjing itu terjatuh ke tangan Thia-toasiok, meniru perbuatannya menghajarnya sampai babak belur. Tapi Thia-toasiok disiksa sedemikian rupa, bagaimana akhirnya dia dapat lolos dan hidup?"
"Justru karena siksaan yang begitu keji malah menimbulkan simpati dan belas kasihan seseorang,"
Kata Kwi-hwe-thio.
"Siapa?"
Tanya Bu Toan.
"Penjaga penjara,"
Sahut Kwi-hwe-thio.
"Penjaga penjara ini pernah mendapat pertolongannya dan merasa hutang budi. Karena tidak tega, suatu malam nan gelap, secara diam-diam ia menolong dan membebaskan dia. Sudah tentu sejak malam itu, penjaga penjara ini pun melarikan diri."
"Setelah menyembuhkan luka-lukanya, Thia Sin-gan lantas menyembunyikan nama dan merahasiakan asal-usulnya di kalangan kangouw, sejak itu dia menjadi seorang pengamen yang mengembara dari satu tempat ke tempat lain. Ayah anak hidup berdampingan, tak pernah mereka kembali ke kampung halaman, orang pun tiada yang tahu bahwa dia bekas hartawan dermawan dari Hoay-an yang pernah dijuluki Siau-beng-siang!"
"Tapi yang paling dia pedihkan bukan lantaran penasarannya difitnah semena-mena dan disiksa dalam penjara, kematian istrinya yang mengenaskan merupakan pukulan batin yang amat melukai sanubarinya. Dari penuturan penjaga penjara itu ia mendapat tahu, ternyata Tihu keparat itu kepincut pada kecantikan istrinya, bersekongkol dengan istri mudanya, malam itu sengaja dia menahan istri Thia Sin-gan dengan maksud buruk, setelah dicekoki arak dia hendak memperkosanya. Karena maksudnya tidak tercapai, kuatir perbuatan jahatnya ketahuan orang, terpaksa ia bunuh istri orang. Tapi terhadap teman-temannya sendiri tidak pernah Thia Sin-gan menceritakan peristiwa yang mengetuk sanubarinya ini."
"Lalu dari mana kau bisa tahu?"
Tanya Bu Cheng.
"Setelah melarikan diri, penjaga penjara itu tidak punya kerjaan dan mengalami kesulitan hidup, akhirnya menjadi kolegaku. Kuturunkan beberapa kepandaian cara mencuri barang-barang orang lain, dia hendak mengangkat guru kepadaku, aku tidak menyetujui, tapi dia anggap aku sebagai gurunya. Dari mulut si penjaga penjara inilah aku mengetahui seluk beluk peristiwa yang dialami Thia Sin-gan, belakangan baru aku berusaha mengikat persahabatan dengan Thia Singan."
"Thia-toasiok punya dendam kesumat sedalam lautan, kukira dia harus menuntut balas sakit hati ini, entah di mana sekarang pejabat anjing itu?"
Tanya Bu Toan.
"Tihu she Han itu kabarnya sudah naik pangkat, tapi di mana dia sekarang, aku sih tidak tahu."
"Koko, apa kau ingin bantu mereka menuntut balas?"
Tanya Bu Cheng. Kata Bu Toan sungguh-sungguh.
"Mereka ayah beranak bantu kita menuntut balas, sepantasnya kita pun harus bantu mereka."
"Koko, aku tahu isi hatimu. Cuma kapan kita bakal bertemu pula dengan mereka ayah dan anak, susah diramalkan. Biar kita menuju ke Tayli dulu, soal ini kelak dibicarakan lagi bila kita sendiri sudah membunuh musuh besar keluarga kita."
"Thio-heng, kau sendiri hendak ke mana pula?"
Tanya Lau Khong.
"Kalau kau sudi berteman dengan aku, biar aku ikut kau ke Siau-kim-jwan, sekaligus aku hendak menyambangi Beng Goan-cau."
"Itulah paling baik, aku sendiri sedang bingung sebatang kara di perjalanan, kalau terjadi sesuatu, bila surat dinas ini tidak sampai tiba di Siau-kim-jwan, tentunya aku teramat sungkan terhadap kalian."
"Kepandaian lain aku tidak mampu, kalau hanya melarikan diri sih tanggung tiada bandingannya. Maka boleh kau legakan hatimu, kalau di jalan terjadi sesuatu, surat dinas itu biar kubawa lari."
Mereka turun bersama dari Liongbun, tanpa terasa tahu-tahu sudah tiba di lamping gunung, di sini mereka lewat Sam-king-kek dan Thay-hoa-si dan tiba di Hoa-ting-si.
Dari sini jalanan semakin lurus dan enak dilalui, sambil mengobrol dan menikmati panorama, tanpa terasa mereka sudah tiba di bawah gunung.
"Miao-heng,"
Kata Lau Khong.
"Sudah tiba saatnya kita berpisah di sini."
"Hun-Hhiap,"
Ujar Kwi-hwe-thio.
"adakah pesan apa-apa yang perlu kusampaikan kepada Bengtoako?"
"Mungkin aku tak bisa pergi ke Siau-kim-jwan menengok dia. Tapi ada kabar baik lainnya perlu kau sampaikan kepadanya, katakan bahwa Lim-lihiap ciangbunjin dari Hu-siang-pay dalam waktu dekat ini pun akan ke Siau-kim-jwan untuk bertemu dengan dia."
Kwi-hwe-thio heran dan tidak mengerti juntrungan kata-kata Hun Ci-lo, namun ia tidak suka mengorek persoalan orang lain, maka cuma manggut-manggut saja sambil mengiakan.
Segera mereka berenam berpisah di saat itu juga.
Dari Gun-bing menuju ke Tayli kira-kira masih ada enam ratusan li perjalanan, mereka harus melalui dataran tinggi yang sukar ditempuh meski dengan jalan kaki.
Miao Tiang-hong, Hun Ci-lo, Bu Toan dan Bu Cheng, tiga hari sudah mereka menempuh perjalanan, tetap masih di antara gunung-gunung dan hutan belantara.
Untunglah mereka masing-masing memiliki ilmu silat, sedikit pun tidak merasa lelah atau menemui kesukaram yang berarti.
Pepohonan dan kembang-kembang yang tumbuh di wilayah Hun-lam beraneka ragamnya, merajai seluruh negeri.
Iklim di sini pun teramat baik, waktu itu musim dingin sudah berselang dan musim semi pun mendatang, di daerah utara hanya kembang Bwe saja yang masih mekar dan tumbuh dengan suburnya, di Hunlam justru beraneka pepohonan sama berkembang biak dengan suburnya.
Sepanjang jalan mereka disambut bebauan harum semerbak dan kicauan burung merdu, berempat menempuh perjalanan bersama, sehingga tidak terasa sepi dan letih.
Di mana-mana tumbuh semacam pohon yang bernama Toa-ceng-soh, masyarakat setempat menamakannya Hong-swi-soh.
Pepohonan kekar dan kasar yang tidak terlihat di daerah utara, pohonnya rimbun dan subur, tegak menjulang ke langit, rindang menutupi tanah sekitarnya membuat hawa semakin sejuk, empat musim tetap tumbuh seperti biasa, akar pohonnya laksana cakar naga, kokoh dan kencang menjalar di dalam bumi, seolah melambangkan masa dan jiwa, siapapun yang melihatnya, pasti akan senang dan memujinya.
Terutama Hun Ci-lo paling menyukai Toa-ceng-soh ini.
Kata Miao Tiang-hong.
"Perjalanan jauh amat meletihkan, kita istirahat dulu di bawah Toaceng-soh ini."
Hun Ci-lo menengadah sambil mengawasi Toa-ceng-soh ini, seperti sedang memikirkan apaapa. Bu Cheng segera bertanya.
"Hun-kokoh, apa pula yang sedang kau pikirkan?"
"Kupikir Toa-ceng-soh tegak berdiri di dataran tinggi pegunungan, tanpa banyak rewel melindungi setiap insan yang berlalu lalang dari terik matahari. Seolah-olah seorang sosiawan yang bajik, bijaksana dengan cita-cita yang besar suka menolong sesamanya, sehingga setiap orang selalu merasa punya sandaran untuk hidup tentram."
Tengah mereka bercakap-cakap itulah, tiba-tiba dari jalan raya arah belakang sana, terdengar derap lari kuda yang dibedal kencang mendatangi, dua ekor kuda dengan pesat berlari lewat dari bawah pohon.
Penunggangnya ternyata dua orang yang mengenakan seragam opas, salah satu di antaranya melirikkan matanya ke arah Bu Cheng, tiba-tiba "Ser!"
Ia ayun pecutnya, hampir saja mengenai badannya.
Sudah tentu Bu Cheng naik pitam, sambil berjingkrak bangun ia meraih hendak menangkap ujung cambuk orang, serta menariknya jatuh dari tunggangannya.
Namun kuda itu enteng dan pesat sekali sudah berlari lewat.
Lekas Hun Ci-lo menariknya duduk pula, katanya.
"Nona Bujangan kau cari perkara dengan budak-budak anjing seperti mereka. Tidak patut kita membuat perhitungan dengan mereka."
Sebentar saja kedua penunggang kuda itu sudah pergi jauh. Kata Bu Cireng uring-uringan.
"Kuda tunggangan mereka cukup lumayan, kalau bisa direbut, lumayan juga kalau kita bisa menunggang kuda."
"Dijalan pegunungan sesulit ini, kau hendak rebut tunggangan mereka, kalau tidak celaka pasti mereka tersiksa juga, sudahlah, kita menempuh jalan kita sendiri."
Setelah istirahat cukup lama, segera mereka berangkat pula, sesaat kemudian, belum jauh mereka meninggalkan tempat itu, tiba-tiba terdengar suara jeritan minta tolong yang menyayat hati.
Suara teriakan mereka seperti diselingi dengan gemuruhnya sesuatu benda yang jatuh menggelundung ke bawah lereng.
Hun Ci-lo kaget, serunya.
"Kedengarannya suara kedua opas tadi?"
"Benar, kedengarannya mereka terjatuh dari atas kuda dan menggelundung ke bawah lereng."
Sahut Miao Tiang-hong.
"Mereka pandai menunggang kuda, mana bisa terpeleset jatuh? Kejadian ini rada janggal."
"Peduli janggal atau tidak, kedua budak anjing itu biasanya suka menindas orang lemah, setimpal kalau mereka rasakan pembalasan,"
Bu Cheng berkata tertawa. Bu Toan menambahkan.
"Lereng ini cukup tinggi dan terjal. Seumpama tidak mampus pasti mereka terbanting luka parah di bawah sana."
"Biar aku turun ke bawah melihat keadaan mereka,"
Ujar Miao Tiang-hong.
"Untuk apa paman turun ke sana?"
Tanya Bu Cheng kurang senang.
"Mereka harus ditolong!"
"Apa, ditolong?"
Tanya Bu Cheng tertegun. Sembari lari, Miao Tiang-hong menjawab.
"Meski mereka rada menyebalkan, dosanya tidak setimpal dihukum mati. Menolong jiwa seorang, lebih berjasa dari memadamkan tujuh tingkat budur (candi) yang terbakar."
Sebentar saja bayangannya sudah hilang di balik batu-batu cadas di bawah lereng sana.
Pada saat itu pula, lapat-lapat mereka mendengar suara ringkik kuda dari kejauhan.
Dari tempat mereka yang tinggi, memandang ke bawah gunung, tampak dua titik hitam seperti angin lesus sedang berlari kencang, samar-samar kelihatan dua orang menunggang dua dua ekor kuda.
Tapi dua orang macam apa yang menunggang kuda, jarak terlalu jauh sehingga tidak jelas bagi mereka.
"Wah, agaknya kita kecele. Kedua opas itu naga-naganya bukan terpeleset jatuh, tapi kebentur begal kuda di depan sana,"
Ujar Bu Cheng.
"Bagaimana duduk perkaranya, sebentar bisa kita tanya kepada Miao-susiok,"
Timbrung Bu Toan. Kira-kira setengah sulutan dupa, seorang diri Miao Tiang-hong berlari balik.
"Bagaimana keadaan kedua opas itu?"
Hun Ci-lo segera bertanya.
"Yang satu patah tulang rusuknya, seorang lagi lumpuh kedua kakinya, aku sudah beri obat darurat kepada mereka, mati sih tidak, tapi untuk naik ke atas tentu sulit sekali. Untung di dekat sana ada rumah pemburu, kusuruh mereka minta pertolongan ke sana, setelah rebah sepuluhan hari tentu akan sembuh."
"Apa mereka ketemu perampok?"
Tanya Hun Ci-lo pula.
"Dari penuturan mereka, agaknya kuda mereka dibegal orang. Tapi apa benar begal, mereka sendiri sih tidak tahu."
"Dua orang itu petugas luar, yang membegal kuda mereka belum tentu begal biasa. Tapi kenapa harus dikatakan 'agaknya'?"
"Bahwasanya kedua opas itu tidak melihat siapa yang menyergap mereka, di saat kuda mereka lari lewat suatu tempat yang berbahaya, terdengar '"Plok, plok"
Dua kali, tahu-tahu kuda masingmasing melonjak tinggi satu tombak, begitulah mereka terjungkal jatuh dari tunggangan masingmasing.
Maka mereka hanya bisa menggunakan isilah 'agaknya'.
Tentu setelah mendengar penuturan mereka ini, kita bisa meraba bahwa mereka dibokong orang yang sebelumnya sudah sembunyi di sana, dengan batu menimpuk kaki kuda mereka."
"Orang itu memukul kedua opas terjungkal jatuh, masih bisa mengejar kedua ekor kuda tunggangan itu, terang kepandaian mereka tidak lemah. Entah apa kerja kedua opas tadi?"
Tanya Hun Ci-lo.
"Ya, memang akan kuberitahu tentang itu-. Kedua opas itu adalah suruhan Sebun Soh pergi ke Tayli mengirim surat."
"Hah, Sebun Soh tidak mampus?"
Teriak Bu Cheng.
"Setelah terjun ke dalam Tian-ti, beruntung Sebun Soh tidak sampai ajal, namun luka-lukanya teramat berat, kini masih merawat luka-lukanya di gedung gubernur-an, dalam waktu dekat terang tidak akan bisa pulang ke kota raja."
"Surat kiriman Sebun Soh itu ditujukan kepada seorang Hanciangkun yang mengepalai pasukan di perbatasan. Kedua opas tadi adalah pengawal pribadi Sinbu (gubernur). Sebun Soh pinjam nama sinbu menyuruh mereka mengirim surat.
"O, panglima perbatasan itu she Han,"
Bu Toan menegas.
"Ya, kenapa?"
Tanya Miao Tiang-hong.
"Tidak apa-apa,"
Sahut Bu Toan.
"Cuma mendadak teringat olehku bahwa musuh besar Thiatoasiok juga seorang she Han!"
"Tidak akan begitu kebetulan,"
Ujar Bu Cheng tertawa.
"Han-tihu yang mencelakai Thia-toasiok itu adalah pejabat sipil, kukira bukan orang yang sama."
"Surat itu kau ambil tidak?"
Tanya Hun Ci-lo.
"Surat itu tersimpan di kantong surat yang tergantung di atas pelana, kudanya lari, sudah tentu surat itu pun ikut lenyap."
Hun Ci-lo tertawa, katanya.
"Kau mengobati kedua opas itu, bagaimana reaksi mereka?"
"Sudah tentu amat kikuk dan risi. Kebetulan aku bisa menasehati mereka malah, agaknya mereka amat menyesal, bersumpah selama hidup ini tidak akan berani menggoda perempuan lagi, terutama tidak akan menindas rakyat jelata pula."
"Miao-siok-siok, kau memang baik hati,"
Puji Bu Cheng tertawa.
Begitulah mereka terus melanjutkan perjalanan.
Sepanjang jalan ini tak terjadi apa-apa, hari ketiga lewat lohor, akhirnya mereka tiba di Tayli dengan selamat.
Belum lagi masuk kota, dari kejauhan sudah tampak sebuah gunung tinggi berwarna hitam semu biru menghadang di depan mata, salju nan memutih masih ke-milauan di puncak tertinggi.
Semula yang kelihatan hanya puncaknya, lambat laun mereka melihat jelas kaki gunungnya.
Sampai di sini mereka melihat dirinya berada di sebelah timur, tampak pula permukaan air danau yang menyilaukan mata tertimpa sinar matahari.
"Di bawah sana kita akan tiba di He-koan, melewati He-koan, kita akan sampai di Tayli. Gunung dan danau itu merupakan kebanggaan negeri Tayli, itulah Jong-san dan Ni-hay yang terkenal itu. Sayang waktu amat mendesak, tiada tempo kita menikmati keindahan alam di Jong-san dan Nihay. Marilah lekas masuk ke Tayli, kita cari penginapan untuk istirahat."
Tak nyana baru saja mereka mendapat hotel, setengah jam kemudian, terjadilah suatu peristiwa di luar dugaan.
Waktu itu Miao Tiang-hong sedang ngobrol dengan Bu Toan di dalam kamar, pengurus hotel tiba-tiba tergopoh-gopoh melangkah masuk serta membungkuk badan, katanya menghormati.
"Miao-toaya, Bu-kongcu, aku yang rendah punya mata memang tidak tahu tamu agung, harap kalian suka maafkan."
Keruan Miao Tiang-hong me-lengak heran, tanyanya tertawa.
"Lopan (majikan), kau sedang main-main apa dengan kami?"
Ciangkui atau pengurus hotel ini unjuk muka gugup, sahutnya.
"Aku yang rendah mana berani main-main dengan kau orang tua?"
"Kalau tidak main-main tentu kau salah alamat, kami hanya rakyat jelata, siapa bilang tamu agung segala,"
Ujar Miao Tiang-hong. Ciangkui unjuk seri tawa getir, katanya.
"Kalian adalah teman baik Siau-ong-ya, masa bukan tamu agung?"
Semakin heran Miao Tiang-hong dibuatnya, katanya.
"Siapa itu Siau-ong-ya?"
Ciangkui juga heran, katanya.
"Di Tayli hanya ada seorang Siau-ong-ya, tentunya adalah Siauong-ya dari keluarga Toan!"
"Siau-ong-ya dari keluarga Toan?"
Timbrung Bu Toan.
"Kami kan tidak kenal dia."
Ciangkui ragu-ragu dan setengah percaya, katanya.
"Kini Siau-ong-ya sudah berada di hotel kami, katanya hendak menyambut kalian beramai, untuk menginap di gedung istananya. Coba lihat, inilah kartu namanya."
Waktu Miao Tiang-hong terima kartu nama itu, dilihatnya bertuliskan. Wansing Toan Kiam-ceng menyampaikan hormat! Ciangkui itu berkata pula.
"Siau-ong-ya pegang tata kesopanan, dia suruh aku menyampaikan kartu namanya lebih dulu."
Semula ia hendak membawa Siau-ong-ya langsung ke kamar Miao Tiang-hong, namun Siau-ong-ya tidak mau melanggar sopan santun.
Sudah tentu dalam pandangan si Ciangkui hal ini merupakan suatu peristiwa luar biasa.
"Sungguh mengejutkan dan membuat kami tak enak hati. Tapi betapapun kami tidak berani menerimanya,"
Kata Bu Toan. Ciangkui kaget, sesaat ia melongo dan katanya tersendat.
"Bu-kongcu, kau, maksudmu tidak ingin, tidak ingin menemui Siau-ong-ya?"
Belum lagi Bu Toan menjawab, lekas Miao Tiang-hong memberi kedipan padanya, katanya lebih dulu.
"Siau-ong-ya sudi memberi muka kepada kami, dia berkunjung kemari menemui kami, mana berani kami menampik kedatangannya? Ciangkui, bikin susah kau saja, silakan kau bawa dia masuk."
Setelah Ciangkui keluar, dengan berbisik Bu Toan bertanya kepada Miao Tiang-hong.
"Paman Miao, kau kenal siapa itu Siau-ong-ya?"
"Selamanya belum kenal. Tapi mungkin dia anggota keluarga seorang temanku."
"Miao-sioksiok, cara bagaimana kau bisa berkenalan dengan keluarga kerajaan ini?"
"Kedudukan raja keluarga Toan bukan atas angkatan raja Ceng. Jauh sejak dinasti Song, keluarga Toan sudah mendirikan kerajaan di Tayli, kalau dugaanku tidak meleset, moyang Siauong-ya ini dulu adalah raja dari negeri Tayli ini."
"Negeri Tayli akhirnya dicaplok oleh bangsa Mongol, tapi setelah sampai dinasti Bing, karena keluarga Toan mempunyai kekuasaan berakar di negeri Tayli, demi mengikat keluarga Toan, maka Bing-seng-co bantu mendirikan istana kerajaan pula di sini, sehingga turun temurun keluarga Toan menjabat kedudukan raja dari warisan leluhurnya, namun kedudukan raja ini seperti boneka belaka, tidak mempunyai kekuasaan penuh. Setelah bangsa Boanciu masuk ke Tionggoan, jabatan raja keluarga Toan pun sudah dicopot."
"Jadi mereka sudah bukan raja lagi?"
"Ya, namun karena keluarga Toan sejak dulu kala sudah punya kedudukan berakar di kalangan rakyat setempat, sampai ratusan tahun lamanya, maka masyarakat setempat sudah kebiasaan menyebut kepala keluarga Toan ini sebagai raja. Itu melambangkan bahwa sebagian rakyat Tayli masih punya rasa hormat dan segan terhadap keluarga Toan mereka, jadi bukan Ongya sungguhan."
Sampai di sini Miao Tiang-hong memberi penjelasan kepada Bu Toan.
Siau-ong-ya yang bernama Toan Kiam-ceng itu sudah berjalan masuk di ringi ciangkui itu, di belakangnya ikut seorang tua sebagai hamba.
Begitu mereka melangkah ke dalam kamar, ciangkui segera mengundurkan diri.
Lekas Miao Tiang-hong unjuk hormat, sapanya.
"Siau-ong-ya sudi berkunjung, entah ada petunjuk apa?"
"Miao tayhiap,"
Lekas Toan Kiam-ceng buka suara.
"Jangan kau panggil aku demikian, kalau dibicarakan aku masih terhitung angkatan mudamu. Toan Siu-si adalah paman kecilku, aku tahu kau bersahabat baik dengan paman, maka dengan sembrono aku memberanikan diri datang mengganggumu."
Dugaan Miao Tiang-hong memang tidak meleset, Toan Kiam-ceng ini memang keponakan Toan Siu-si, cuma ia sendiri tidak begitu jelas mengenai seluk beluk keluarga mereka, meski merasa heran dan ragu-ragu, ia berkata juga.
"Ya, memang dengan pamanmu aku seperti saudara sekandung saja. Tapi ada satu hal yang tidak kumengerti, harap kau suka memberi penjelasan."
"Silakan Miao tayhiap berkata."
"Aku tidak memanggilmu Siau-ong-ya lagi, kau pun jangan menyebut aku tayhiap segala. Yang ingin kutanya adalah. Baru hari ini kami tiba di Tayli, dari mana kau lantas tahu jejak kami?"
"Pamanlah yang memberitahu kepadaku."
Kaget dan senang Miao Tiang-hong, tanyanya.
"Jadi pamanmu sudah pulang kandang?"
Laki-laki tua yang mengikuti di belakang Toan Kiam-ceng itu tiba-tiba menghela napas, timbrungnya.
"Kalau dia suka kembali, itulah baik sekali."
Berkata Toan Kiam-ceng lebih lanjut.
"Beginilah, kemarin pagi-pagi waktu aku bangun, kulihat sepucuk surat tulisan paman di atas meja, dikatakan bahwa tanggal tujuh belas yang lalu kalian sudah tiba di Gunbing, menurut perhitungannya, dalam dua hari mendatang ini pasti akan tiba di Tayli, beliau berpesan bagaimana juga aku harus menerima dan melayani kalian sebagai tuan rumah selayaknya, maka mohon kalian suka menginap saja di rumah kami. Beliau kuatir aku salah melihat orang, dalam suratnya itu sudah dijelaskan tentang umur, raut muka dan dandanan serta ciri-ciri lain. Kecuali kalian berdua, masih ada Hun-lihiap dan nona Bu, benar tidak?"
"Benar, mereka tinggal di kamar sebelah. Silakan duduk biar kupanggil mereka."
Waktu Miao Tiang-hong ceritakan hal ini kepada Hun Ci-lo, Hun Ci-lo jadi bimbang, katanya.
"Waktu aku berpisah dengan Toan Siu-si di Pak-bong-san tempo hari, katanya dia hendak pergi ke Se-siang-pan-na mencari Tiam-lam-su-hou menuntut balas sakit hati suhengnya. Kalau dia ingin kembali ke Tayli, tentu sudah seperjalanan dengan kita."
"Tapi apa yang tertulis di atas surat itu sedikit pun tidak salah. Kalau bukan tulisan Toan Siu-si, dari mana keponakannya bisa tahu tentang kita?"
"Menurut surat itu jadi waktu kita berada di Gun-bing, tentunya Toan Siu-si pun berada di sana, kenapa dia tidak menemui kita?"
"Sepak terjang Toan Siu-si aneh dan suka menyendiri, mungkin dia punya alasannya sendiri, sementara tidak mau bertemu dengan kita!"
"Kau kenal gaya tulisan Toan Siu-si?"
"Meski aku amat cocok bergaul sama dia, setiap kali pasti berpisah dengan tergesa-gesa, selama ini belum pernah aku melihat tulisan tangannya."
Lalu Miao Tiang-hong tertawa, katanya pula.
"Seumpama aku kenal tulisannya, masa enak minta Siau-ong-ya itu memperlihatkan surat pamannya kepada kita. Itu berarti kita tidak mempercayai kata-katanya? Siau-ong-ya ini ternyata tahu sopan santun."
"Kini Siau-ong-ya mengundang kita untuk menetap di rumahnya, kita menerima undangannya tidak?"
"Kukira tidak menjadi soal. Memang dia sudah tahu kedatangan kita, namun sampai di mana ia mengetahui rahasia kita, kita pun tidak tahu. Kalau kuatir dia membocorkan jejak kita, mau atau tidak menerima undangannya toh sama saja. Lebih baik mari kita tinggal di rumahnya, di sana kita bisa menjaga diri dan lebih aman. Di samping itu kita masih asing seluk beluk dan adat istiadat rakyat setempat, menetap di dalam hotel pun kurang aman, kalau di rumah keluarga Toan, malah kita bisa mendapat perlindungan. Kulihat Toan Kiam-ceng bocah itu sudah cukup masak pikiran dan tindak-tanduknya, seorang yang boleh dipercaya penuh."
"Pengalamanmu lebih luas, menilai orang tentunya tidak akan salah, kalau demikian, kita terima saja undangannya."
Maka Hun Ci-lo dan Bu Cheng berdua ikut Miao Tiang-hong ke sebelah menemui Toan Kiamceng, mendengar mereka suka menjadi tamu undangannya, Toan Kiam-ceng amat senang katanya.
"Dalam suratnya paman ada menyinggung, katanya Miao tayhiap dan Hun lihiap adalah sahabat baiknya. Meskipun Bu-kongcu darn nona Bu beliau belum pernah melihatnya, namun Bu Ting-hong tayhiap almarhum sudah lama dikaguminya sayang di waktu hidup Bu tayhiap tiada kesempatan bertemu muka."
"Apa kau ada bertemu dengan pamanmu waktu dia pulang?"
Tanya Hun Ci-lo.
"Beliau hanya meninggalkan sepucuk surat. Kapan dia mengantar atau suruh orang meletakkan dalam kamarku, aku sendiri pun tidak tahu. Tabiat paman memang aneh, sejak sepuluh tahun yang lalu meninggalkan rumah, sampai sekarang belum pernah pulang. Menurut hematku kalau kali ini bukan lantaran kalian datang ke daerah kami, dia pun tak akan meninggalkan pesan melalui suratnya itu. Di mana sekarang paman berada, siautit tidak tahu sama sekali, harap Hun-Iihiap maafkan."
"Bagaimana tabiatnya, sudah tentu aku pun tahu. Baiklah, mari kita berangkat,"
Ujar Miao Tiang-hong. Toan Kiam-ceng memanggil Ciangkui, dia persen sekeping uang perak, katanya.
"Kuundang beberapa teman ini tinggal di rumahku, jangan kau sembarangan cerita kepada orang. Bila ada orang bertanya baru boleh kaujelaskan, katakan familiku yang datang dari jauh hendak menjenguk keluarganya. Dan lagi, siapa yang mencari tahu tentang hal ini, kau pun harus lapor kepadaku."
Sambil membungkuk-bungkuk mengucapkan terima kasih ciangkui terima pemberian itu, katanya.
"Siau-ong-ya pesan, siaujin tentu ingat dengan betul."
Tayli merupakan kota pegunungan yang sunyi dan tenang, tatkala itu sudah mendekati magrib, jarang orang berlalu lalang di jalan raya.
Sudah biasa Toan Kiam-ceng membawa pembantu rumah tangganya bermain-main di luar kota, meski kali ini mereka ada bersua dengan pencari kayu dan petani yang hendak pulang desa, mereka anggap Miao dan Bu berempat sebagai pengiring Toan Kiam-ceng, sedikit pun tidak ambil perhatian.
Waktu lewat Sam-ta-si, Toan Kiam-ceng memberi tahu.
"Kabarnya Sam-ta-si dibangun oleh Utti Keng-tek, itu panglima besar pada dinasti Tong sejaman dengan Sie Jin-kui, kuil tiga budur ini mempunyai keistimewaannya sendiri, setiap kali matahari terbenam di barat, bayangan budur jatuh tepat pada sebuah air telaga yang letaknya lima belas li di luar kota, dinamakan Sam-ta-toing."
Bu Cheng amat berkesan mendengar cerita ini katanya.
"Sayang sekarang sudah malam, kapan ada kesempatan ajaklah aku melihat pemandangan aneh ini."
"Tidak sedikit tempat-tempat tamasya dengan panoramanya yang indah di Tayli, kalau nona Bu suka, setiap hari aku bisa ajak kau tamasya di satu tempat. Tapi kalau kau ingin melihat pemandangan teraneh dan paling menakjubkan di Tayli, kau harus tunggu dan menetap di sini sampai tanggal enam belas bulan empat nanti."
"Kenapa harus menunggu sampai hari itu?"
Tanya Bu Cheng heran.
"Di tempat kami ini terdapat Ou-tiap-cwan (kubangan kupu-kupu), di pinggirnya terdapat sepucuk pohon, entah pohon apa namanya, setiap bulan empat mulai berkembang, bentuk kelopak kembangnya menyerupai kupu-kupu, setelah bunga berkembang, banyak kupu-kupu datang beterbangan, terutama pada tanggal enam belas bulan empat itu, beribu-ribu mungkin sampai laksaan kupu-kupu sama berkumpul hinggap di atas pohon sampai berderet-deret memanjang menjuntai ke permukaan air. Pemandangan seaneh ini, sukar dilihat pada hari-hari biasa."
"Sekarang baru bulan pertama, mungkin kami tidak akan tinggal lama di sini,"
Ujar Bu Cheng gegetun. Setelah melewati Sam-ta-si, tak lama kemudian mereka melihat sebuah budur lain yang lebih rendah, orang tua pengiring Toan Kiam-ceng segera berkata.
"Budur ini dinamakan Coa-kut-ta (budur tulang ular). Istana kami dibangun di belakang Coa-kut-ta itu."
"Kenapa dinamakan Coa-kut-ta?"
Tanya Bu Cheng. Toan Kiam-ceng cuma tersenyum tak bersuara, orang tua itu pula yang menjawab.
"Tentang budur ini ada'sebuah kisahnya tersendiri, konon pada jaman dulu kala, di Ni-hay terdapat seekor ular raksasa yang biasanya suka menimbulkan bencana bagi rakyat jelata, akhirnya datang seorang pahlawan bernama Toan Ci-seng, dengan bersenjata tujuh golok baja, dia terjun ke Nihay, sengaja membiarkan dirinya ditelan bulat-bulat oleh ular raksasa itu, dari dalam perut ular itu ia gunakan goloknya membelah perut dan menusuk ulu hatinya sampai ular itu mati, namun dia sendiri pun gugur karena tak bisa bernapas dalam perut ular itu. Untuk memperingati dan mengabadikan jasa-jasa kepahlawanannya, rakyat lalu membakar ular itu dan abunya untuk membangun Coa-kut-ta ini. Menurut catatan sejarah, Toan Ci-seng itu adalah moyang keluarga Toan, rakyat Tayli amat berterima kasih dan merasa hutang budi akan pengorbanannya, maka setelah membangun Coa-kut-ta ini maka mereka bersumpah untuk menjunjung anak cucu keluarga Toan menjadi raja mereka."
"Tak heran istana raja kalian dibangun di dekat Coa-kut-ta ini, tentunya untuk memperingati leluhur bukan?"
Tanya Bu Cheng.
"Sebelum dinasti Song penduduk Tayli seluruhnya termasuk suku Pek, sampai sekarang suku Pek merupakan mayoritas yang terbanyak jumlahnya, keluargaku pun dari suku Pek ini. Kisah tentang Toan Ci-seng membunuh ular raksasa itu ada dicatat di dalam Pek-cu-ciok-su, kukira bukanlah dongeng rakyat melulu,"
Demikian Toan Kiam-ceng ikut bercerita.
"Leluhurku dijunjung rakyat sebagai raja, raja pada masa itu tak lain hanyalah ketua dari suku bangsa belaka. Mendirikan negeri Tayli dan angkat diri menjadi raja adalah kejadian belakangan. Cikal bakal pendiri kerajaan negeri Tayli Toan Su-ping entah sudah menjadi keturunan yang keberapa dari Toan Ci-seng."
"Rakyat Tayli memang amat patuh dan setia terhadap keluargamu, sampai sekarang mereka masih anggap orang-orang dari keluarga Toan sebagai raja dalam sanubari mereka. Jelas bila seseorang pernah melakukan sesuatu yang baik demi kepentingan rakyat, rakyat tidak akan melupakan keluhuran budinya, bukan saja dijunjung sebagai pahlawan malah anak keturunannya pun selalu dipujanya,"
Demikian Bu Cheng berkomentar. Toan Kiam-ceng tertawa getir, katanya.
"Memang demikianlah, aku sendiri malah amat kecewa dan malu diri terhadap rakyat Tayli. Sekarang Tayli di bawah kekuasaan kerajaan Ceng, kehidupan rakyat amat menderita, kabarnya belakangan ini hendak menarik milisi untuk berperang. Pajak berat dari kerajaan Ceng memang tidak mencekik leherku, tapi aku sendiri tiada mampu meringankan penderitaan rakyat, semakin mereka memuja dan menjunjung kami, semakin besar rasa sesal dalam benakku."
Mendengar kata-katanya ini, tak terasa timbul simpati Bu Cheng kepadanya, batinnya.
"Siauong-ya ini ternyata jauh berlainan dengan pangeran kerajaan lain."
Malam itu Toan Kiam-ceng mengadakan perjamuan di tengah taman untuk menyambut kedatangan mereka.
Agaknya kedudukan orang tua itu cukup tinggi dalam keluarga Toan, Toan Kiam-ceng memandang sebagai angkatan tua yang patut dihormati, maka dia diajak duduk bersama untuk menemani tamu-tamunya makan minum.
Meski keluarga Toan sudah mencopot diri dari kedudukan bangsawan menjadi rakyat jelata, namun istana kerajaan ini masih tetap terpelihara selama ratusan tahun.
Tempat di mana perjamuan itu berada tepat di tengah taman di pinggir sebuah empang besar, sekelilingnya dikelilingi lankan dari batu-batu putih, empat jalur jembatan terbuat dari batu-batu Tayli yang simpang siur, pemandangan di sini sungguh amat mempesona.
Di pinggir empang berdiri sebuah papan batu yang tinggi besar berbentuk seperti singa, di atas batu terukir beberapa bait syair.
Di atas empat jalur jembatan yang bergantung itu bergantung puluhan lampion-lampion yang memancarkan sinar terang, maka tulisan syair di atas papan batu itu dapat dilihat jelas meski di malam hari.
Tak terasa Miao Tiang-hong lantas bersenandung menurut bait-bait syair itu.
Seru Miao Tiang-hong memuji.
"Syair timpalan ini sungguh cocok akan keadaan dan pemandangan di sini, setimpal pula dengan tingkat kedudukan keluarga Toan kalian, sungguh buah karya yang tak ternilai harganya, entah siapakah yang menulisnya?"
"Bicara soal syair timpalan ini, ada kisahnya tersendiri,"
Ujar Toan Kiam-ceng.
"Aku paling suka dengar cerita, lekas kau tuturkan kepada kami,"
Desak Bu Cheng.
"Menurut keluargaku turun temurun, kabarnya syair timpalan ini ditulis oleh seorang Hiap-su di jaman dinasti Bing."
"Kalau demikian, Hiapsu ini serba pintar dalam bidang ilmu sastra dan ilmu silat, entah siapakah dia?"
Tanya Miao Tiang-hong.
"Hiapsu itu bernama Thi King-sim,"
Tutur Toan Kiam-ceng.
"Kira-kira hidup pada tahun Cin-jong (tahun 1463) pada jaman dinasti Bing."
Miao Tiang-hong cukup hafal akan sejarah orang-orang persilatan, katanya.
"Benar, dalam sejarah memang ada orang ini, memang dia seorang terkenal pada jamannya di daerah Kanglam."
"Suatu hari, keluarga kami kedatangan dua tamu, salah seorang adalah Thi King-sim ini, seorang yang lain nama dan pamornya jauh lebih terkenal dari Thi King-sim."
"Siapa pula dia?"
Tanya Bu Cheng.
"Yaitu Thio Tan-hong Thio tayhiap yang digelari tokoh silat nomor satu sejagat pada jamannya itu."
"Jadi Thio Tan-hong cikal bakal pendiri Thian-san-pay itu?"
Miao Tiang-hong menegas.
Thian-san-pay didirikan pada dinasti Bing, sampai sekarang masih berdiri dengan jaya, oleh karena itu ketenaran nama Thio Tan-hong, Bu Toan kakak beradik pernah mendengarnya juga.
"Benar, memang Tay-cong-cu (maha guru silat) yang kenamaan itulah."
"Sejarah bulim turun temurun,"
Demikian ujar Miao Tiang-hong pula.
"Kabarnya ilmu sastra dan ilmu silat Thio Tan-hong jauh lebih tinggi dari Thi King-sim, apa waktu itu keluargamu tidak mohon Thio Tan-hong meninggalkan karya tulisnya?"
"Aku pun tidak tahu apa sebabnya keluarga kami hanya memiliki karya Thi King-sim, meski syair ini buah karya Thi King-sim, namun Thio Tan-hong yang tolong dia menulis dengan jarijarinya di atas batu ini."6' Sampai di sini Toan Kiam-ceng seperti memikirkan apa-apa, tiba-tiba ia menghela napas. Dasar lincah jenaka dan nakal Bu Cheng segera tanya sambil tertawa.
"Eh, baik-baik saja, kenapa kau menghela napas?"
"Bicara soal cerita ini mau tidak mau aku terkenang akan pamanku."
"Ceritamu ini terjadi ratusan tahun berselang, apa pula sangkut pautnya dengan pamanmu?"
"Thio Tan-hong dan Thi King-sim adalah maha guru silat yang kenamaan pada jaman itu, sejak kedatangan mereka, anak cucu keluarga Toan kami amat terpengaruh, yaitu animo mempelajari ilmu silat cepat sekali berkembang dalam keluarga kami. Belakangan keluarga Toan kami malah mengikat besan dengan Thio dan Thi berdua tayhiap, jadi antara kita terikat sebagai sanak famili."
"Hubungan sanak famili apa?"
Tanya Bu Cheng.
"Thio Tan-hong punya murid angkat adalah putra King-kok-kong di Gunbing, namanya Bok Ling, belakangan Bok Ling memper-sunting seorang putri keluarga Toan kami. Sedang Thi Kingsim adalah Cihu (suami kakak) Bok Ling. Sungguh tidak nyana pernikahan pada ratusan tahun yang lalu justru membawa pengaruh yang besar bagi pamanku."71
"Sejak keluarga Toan dan Bok saling berbesanan, animo belajar ilmu silat semakin berkembang dalam keluarga Toan kami. Pernah Bok Ling memberikan se
Jilid buku salinan pelajaran ilmu silat karya suhunya, Thio Tan-hong, kepada keluarga kami, buku pelajaran itu adalah dasar ajaran ilmu silat yang mengutamakan tenaga dalam, jadi bukan ilmu silat cara bagaimana menyerang lawan atau cara membela diri segala, melulu mengutamakan kesehatan badan belaka.
Tapi intisari pelajarannya, konon amat bermanfaat dan mendalam."
Miao Tiang-hong manggut-manggut, ujarnya.
"Benar, ilmu yang mengajarkan memupuk dasar kekuatan di dalam, biasanya mengandung teori ilmu silat tingkat tinggi."
Toan Kiam-ceng melanjutkan.
"Begitu getolnya anggota keluarga Toan kami sama mempelajari ilmu silat, akhirnya entah cosu dari generasi yang keberapa menentukan undang-undang, dikatakan belajar ilmu silat gampang mendatangkan bencana, tidak cocok dipelajari oleh anggota kerajaan, maka beliau melarang keturunan mendatang mempelajari silat. Tapi paman Siu-siku ini justru sejak kecil hobbynya memang berkelahi, mempelajari ilmu silat adalah cita-citanya yang terbesar, entah bagaimana suatu ketika diketemukan olehnya se
Jilid buku yang tersimpan dalam perpustakaan kerajaan dulu, sekali baca lantas terpincut. Soal ini orang tua keluargaku ini tahu paling jelas, biarlah dia yang menuturkan lebih lanjut."
"Pamannya asalnya bernama Toan Jong-ping, belakangan baru dia menggunakan nama Siu-si itu. Ai, Jong-ping bocah itu sejak kecil memang berwatak keras dan punya kemauan yang teguh pula besar tekadnya,"
Demikian kata si orang tua. Sambil tertawa Toan Kiam-ceng menjelaskan mewakili orang tua itu.
"Pamanku itu dibesarkan dengan minum air susu istrinya, sejak kecil paman sudah yatim piatu, maka mereka suami istri amat sayang dan anggap anaknya sendiri."
Orang tua itCf menutur lebih lanjut.
"Secara sembunyi-sembunyi di luar tahu Ongya, Jong-ping siauya mempelajari ilmu silat, suatu hari entah bagaimana ketahuan oleh Ongya, bukan saja bukunya itu dirampas, dia dimarahi habis-habisan. Lahirnya siauya menurut dan tunduk akan peringatannya, sejak itu sering dia keluyuran keluar dari istana, malah ada kalanya malam pun tidak pulang, dia suruh aku merahasiakannya. Katanya di luar dia berhasil mendapatkan seorang guru, gurunya tahu asal-usulnya, semula tidak mau menerimanya sebagai murid, namun melihat dia memang seorang yang berbakat bagus mempelajari ilmu silat, barulah dia berjanji, supaya sementara waktu dia merahasiakan hal itu dengan keluarganya, sejak itu ia mempelajari ilmu silat kepadanya."
"Tapi lama kelamaan, tentu rahasia ini bukan rahasia lagi. Walau Ongya tidak tahu bahwa di luar dia sudah angkat seorang guru, tapi sudah tahu dia sering tidak di rumah. Karena peringatan dan bujukannya tidak berhasil menyadarkannya, beliau amat sedih, pernah suatu hari dia berkata pilu kepadaku. 'Jong-ping bocah itu masih bersifat liar dan sukar ditundukkan, aku adalah engkohnya, namun sukar aku mengurusnya terlalu ketat, kalau ada kesempatan sukalah kau wakilkan aku membujuknya.' Ai, nasehat Ongya pun ia tidak mau dengar, cara bagaimana pula aku harus membujuknya?"
Kembali Toan Kiam-ceng menjelaskan.
"Paman Siu-si adalah putra dari keluarga tertua, ayahku adalah saudara kedua, setelah kakek dan para paman lainnya beruntun meninggal dunia, kepala suku lantas minta ayahku sementara mengendalikan dan mengurus istana, sebetulnya keluarga Toan kami sendiri yang angkat diri menjadi raja di dalam lingkungan rumah sendiri. Harap Miao tayhiap sekalian tidak menertawakan."
Orang tua bercerita lebih lanjut.
"Suatu hari Jong-ping membawa seorang liar pulang, katanya adalah suhengnya. Suhengnya itu ber-bentuk seperti orang hutan, katanya suhengnya ingin melihat-lihat istana, maka dia membawanya pulang, minta kepadaku untuk merahasiakan jejaknya."
"Tak nyana di saat siauya dan suhengnya berada di kamar buku, tiba-tiba Ongya datang, aku ingin memberi kisikan pun sudah terlambat. Sungguh gusar Ongya bukan buatan, seketika itu juga ia usir suhengnya itu, ternyata watak suhengnya itu pun amat jelek, ternyata dia berani adu mulut dengan Ongya, katanya. 'Aku adalah suhengnya, kuberi muka kepada adikmu, memangnya kau kira aku ingin mencari muka dan sudi menjilat kepada kau yang dinamakan Ongya ini?' Sebelum pergi malah dia main tendang dan hantam sehingga sepasang vas kembang antik dibikin pecah berantakan. Mana dia tahu bahwa vas kembang itu justru barang kesayangan Ongya!"
"Karena itu, tentu Ongya semakin murka dan mencak-mencak,"
Sela Bu Cheng tertawa.
"Memangnya, sejak peristiwa itu, seumpama api disiram minyak."
"Kenapa dikatakan api disiram minyak? Memangnya ada persoalan lain yang bikin gusar Ongya?"
"Ya. Soal itu belum sempat kuhaturkan, sekarang boleh kutambahkan."
"Tahun itu Jong-ping siauya kebetulan genap delapan belas tahun, beberapa hari sebelum peristiwa itu terjadi, mendadak ia bilang kepada Ongya, katanya dia hendak mengawini putri seorang pemburu dari Tiam-jong-san. Sudah tentu Ongya amat marah, bagaimana juga ia tidak setuju."
"Begitu peristiwa itu terjadi, Ongya semakin marah, katanya. 'Waktu ayahmu wafat, kau diserahkan kepadaku untuk mengasuhnya, meski aku tidak berani anggap saudara tua sebagai pengganti orang tua, paling tidak aku mengharap bisa mendidikmu dengan baik sebagai manusia berguna, siapa tahu kau justru begini bejat, bikin malu pamor keluarga raja kita!'"
"Muka siauya amat pucat, mungkin dia pun amat marah, segera ia menyahut dingin. 'Dalam hal apa aku membuat malu pamor kerajaan kalian?'"
"Kata Ongya. 'Coba kau pikir, kau ini putra dari keluarga tertua, aku hanya sementara wakili kau memegang tampuk pimpinan di sini, kelak kedudukan ini harus kuserahkan kembali kepadamu. Kau sebagai calon Ongya, mana boleh mengawini putri seorang pemburu? Mana boleh bergaul dengan manusia yang berbentuk seperti kera itu?'"
"Siauya menjawab. 'Bahwasanya kita ini sudah menjadi rakyat jelata, kalian masih mengimpikan hidup muluk-muluk seperti bangsawan dulu. Bicara terus terang, sedikit pun aku tidak pernah memikirkan kedudukan Ongya segala, kalau kau sudi, kau memang sudah punya anak, boleh kau wariskan kepada anakmu saja, aku tidak mau!'"
"Sudah tentu Ongya semakin murka, dampratnya. 'Sia-sia aku mengasuh dan mendidikmu sampai sebesar ini, kau berani mengeluarkan kata-kata seperti itu, memangnya masih ada engkoh dalam pandanganmu? Kau harus menutup diri dan bertobat, setelah kau sadar, baru boleh kau keluar. Pertama, soal perkawinanmu harus aku yang menentukan. Kedua, sejak sekarang, kularang kau mempelajari silat.'"
"Sejak itu Ongya menguncinya di dalam kamar buku, tak lupa disuruhnya beberapa pesuruh yang berkekuatan besar menjaga di luar pintunya."
Bu Cheng tertawa, ujarnya.
"Siauya kalian ini walau belum tamat belajar silat, menghadapi beberapa laki-laki biasa saja, memangnya bisa mengurung dia?"
Orang tua itu menjelaskan.
"Beberapa hari itu akulah yang mengantar makanan untuk siauya, aku tahu perasaannya. Bagaimana juga dia pasti tidak mau menerima keputusan kedua persoalan itu, namun dia pun segan bikin marah saudara tuanya, maka dengan suka rela dia mengunci diri dalam kamar bukunya, dengan harapan amarah Ongya mereda, baru enak dia mengajaknya bicara. Tak nyana waktu dia terputus hubungan dengan pihak luar, terjadilah peristiwa yang lebih menyakiti hatinya dibanding Ongya mengusir suhengnya tempo hari."
Sampai di sini, seketika tampak Toan Kiam-ceng mengunjuk rasa pedih dan menyesal.
"Peristiwa apakah itu?"
Tanya Bu Cheng.
"Karena sedang marah, tanpa banyak pikir Ongya mengutus orang pergi ke rumah pemburu itu, dikatakan kepada ayah anak pemburu itu, sekali-kali jangan mengimpikan mengawini keluarga kerajaan. Sungguh kasihan nona itu, dia tidak tahan menghadapi penghinaan ini, malam itu juga dia menggantung diri. Sejak itu ayahnya pun menghilang dari Tayli!"
"Ha, mati?"
Teriak Bu Cheng kaget.
"Sungguh mengenaskan kematian nona itu."
Orang tua itu menghela napas, ujarnya.
"Bukan kami orang bawahan suka mengkritik junjungan, memang tindakan Ongya waktu itu sedikit keterlaluan. Tiga hari siauya terkurung dalam kamar buku, selama itu Ongya tidak pernah menjenguk dia. Hari ke empat, karena hati kurang lega siauya suruh aku menjenguk nona kekasihnya itu secara diam-diam."
"Setelah pulang dari atas gunung, tak mungkin aku tidak menjelaskan duduknya perkara kepada siauya. Ai, sungguh amat menakutkan mimik mukanya waktu itu setelah mendengar laporanku, seperti orang pikun, selebar mukanya pucat pias, matanya melotot mengawasi aku tanpa berkedip, tak pernah biji matanya itu bergerak. Waktu itu aku terhalang jendela .. mengantar nasi untuk dia, tangannya berpegang jendela waktu kuraba tangannya, terasa dingin seperti es. Aku kaget dan gugup, lekas aku lari lapor kepada Ongya."
"Sayang waktu aku berlari balik bersama Ongya, tampak jendela sudah hancur, dalam kamar buku berceceran noda darah. Menurut penjaga di luar, siauya muntah darah terus lari keluar menjebol jendela. Seperti sudah gila dia menerjang keluar siapa pun tak kuasa merintanginya."
"Sejak melarikan diri itu, siauya tidak pernah mau pulang ke rumah pula."
Setelah memdengar cerita ini, semua ikut merasa sedih dan pilu.
Baru sekarang pula Miao Tiang-hong paham, bahwa sifat-sifat Toan Siu-si yang aneh itu memang dipaksa oleh keadaan.
Kembali orang tua itu menghela napas dan katatnya pula.
"Setelah peristiwa itu terjadi, Ongya sendiri pun teramat menyesal, kukira Ongya pasti akan menghukumku, ternyata Ongya tidak menyalahkan aku yang telah membocorkan kejadian sebenarnya, malah dia berpesan kepadaku untuk mencari siauya kembali, tapi cara bagaimana aku harus mencarinya pulang?"
Murung dan masgul mimik muka Toan Kiam-ceng, katanya.
"Sebelum ayahku ajal, beliau masih memangil-manggil nama paman. Katanya selama hidupnya hanya perbuatan salah itulah yang membuatnya menyesal dan mere-ras seumur hidup."
Miao Tiang-hong membujuk dan menghiburnya.
"Peristiwa sudah lama berselang, kau pun tidak perlu terlalu bersedih hati."
"Ayahku berbuat salah kepada paman, selama hidupnya tak bisa menebus kesalahannya, aku yang jadi putranya yang wajib membayar dosa kesalahannya itu. Miao tayhiap, ingin aku mohon sesuatu bantuan kepadamu."
"Siheng tidak usah sungkan-sungkan, silakan berkata."
"Miao tayhiap, Hun lihiap, kalian berdua adalah teman baik pamanku, kuharap kalian suka bantu aku untuk membujuk paman pulang. Rumah ini sebetulnya adalah miliknya, jikalau dia sudi kembali, bukan saja aku bisa menghibur mendiang ayahku di alam baka, seumpama terhadap diriku sendiri aku pun sudah memberikan pertanggung jawabanku."
"Menurut tabiat pamanmu, kukira tidak mungkin dia mau menjadi Ongya dalam rumahnya!"
Ujar Miao Tiang-hong.
"Aku tahu paman tidak pandang sepeser pun peninggalan leluhur kami ini, tentu tidak sudi pula menerima jabatan palsu dari warisan nenek moyang kami. Tapi seumpama dia tidak mau tinggal lama di rumah, aku pun mengharap sukalah sekali tempo beliau pulang supaya aku bisa menemui beliau."
Melihat orang bicara dengan perasaan tulus, terketuk juga sanubari Miao Tiang-hong, katanya.
"Baiklah, bila bertemu dengan pamanmu, akan kubantu kau membujuknya pulang."
"Miao tayhiap, apakah paman ada janji dengan kalian?"
Maksudnya, kalau tidak mana mungkin Toan Siu-si bisa mengetahui jejak mereka.
"Pamanmu memang mengundang kami ke Tiam-jong-san untuk menemui seorang sahabatnya, tapi bahwa dia pun sudah berada di Tayli, hal ini sungguh di luar dugaan kami."
"Bicara terus terang,"
Hun Ci-lo menyeletuk.
"Teman yang hendak kami temui di Tiam-jong-san itu tak lain tak bukan adalah suhengnya yang pernah bikin onar di dalam istana dulu. Tapi pamanmu hanya minta kami menemui suhengnya, sementara dia sendiri punya urusan penting lainnya harus pergi ke tempat lain. Kira-kira sebulan yang lalu kami baru berpisah di Pak-bong-san dengan pamanmu."
"Kalau demikian, kemungkinan paman sudah berada di tempat tinggal suhengnya itu."
"Kami pun mengharap seperti apa yang kau katakan, semoga kami bisa bertemu dengan pamanmu di Tiam-jong-san. Tapi kau sendiri tahu bagaimana watak pamanmu, maka biarlah kami mencari tahu dulu ke Tiam-jong-san, setelah memperoleh berita yang pasti, barulah akan kuberi tahu kepada kau."
Kata Toan Kiam-ceng.
"Ayah pernah berbuat salah kepada su-heng paman, sebetulnya memang tidak leluasa aku menemuinya secara gegabah. Diatur dengan cara demikian pun baik, harap sekalian sampaikan penyesalan dan minta maaf kami kepadanya."
"Baik, besok juga aku dan Hun lihiap hendak berangkat ke Tiam-jong-san."
"Lalu bagaimana dengan Bu-kongcu dan nona Bu?"
Tanya Toan Kiam-ceng.
"Mereka kakak beradik adalah sutitku, namun belum pernah bersua dengan pamanmu. Mereka ikut datang lantaran sudah lama kagum dan ingin membuka mata menikmati pemandangan alam di Tayli. Tapi dalam perjalanan ke Tiam-jong-san besok, tidak leluasa kami mengajak mereka sekalian."
"Tempat tamasya di Tayli tak terhitung banyaknya, dalam dua hari mendatang aku suka menemani mereka untuk tamasya sepuas hati. Setelah Miao tayhiap dan Hun lihiap kembali, masih ada kesempatan kita bertamasya pula ke Tiam-jong-san."
"Mana berani kami bikin susah Siau-ong-ya untuk menemani kami bertamasya, cukup asal kau suruh seorang pembantumu saja,"
Demikian ujar Bu Cheng rikuh.
"Nona Bu kenapa begini sungkan?"
Ujar Tong Kiam-ceng tertawa.
"Bukan sungkan,"
Sahut Bu Cheng sungguh-sungguh.
"Walau kau sendiri tidak mengakui sebagai Siau-ong-ya, orang-orang di Tayli tetap pandang kau sebagai Siau-ong-ya. Kau bawa kami keluar masuk kota, tidak kuatir menjadi perhatian orang?"
"Aku tidak perlu peduli segala tetek bengek itu."
"Kau tidak peduli, sebaliknya aku tidak mau diriku dijadikan perhatian orang lain."
Mendengar Miao Tiang-hong berjanji hendak membujuk Toan Siu-si pulang, orang tua itu amat girang, katanya.
"Miao tayhiap, baik sekali bila kau bisa membujuk siauya pulang. Aku paling paham semua pelosok Tayli, keponakanmu ingin bermain-main, biar aku saja yang menjadi penunjuk jalan. Em, ada sebuah hal, masih belum kalian ketahui."
Bu Cheng melengak, tanyanya.
"Hal apa?"
"Siau-ong-ya kita ini seperti juga pamannya, sejak kecil sudah suka berlatih silat. Kalian dua saudara adalah keponakan Miao tayhiap, ilmu silatnya tentu cukup tinggi pula. Dua hari ini Siauong-ya jadi berkesempatan minta petunjuk dan saling jajal kepandaian masing-masing."
Merah muka Toan Kiam-ceng, karena dikorek isi hatinya, katanya.
"Aku hanya berlatih secara meraba-raba saja, karena pernah terjadi peristiwa yang dialami paman itu, meski ayah mungkin tahu, beliau tidak terlalu mengekang aku lagi. Seperti orang buta yang berjalan meraba-raba, yang kupelajari pun hanya permainan cakar kucing belaka, memangnya setimpal dikatakan ilmu silat sejati? Aku hanya bisa mohon petunjuk dan pengajaran saja, saling jajal sih aku masih belum setimpal."
"Tak beruntung ayah bunda kami meninggal terlalu pagi, ilmu silat yang kami pelajari pun hanya kulitnya saja. Siau-ong-ya tidak perlu sungkan. Pamanmu adalah tokoh silat kenamaan pada jaman ini, kalau dia sudah pulang, tak usah kuatir Siau-ong-ya tiada orang yang mendidik dan memberi bimbingan."
"Memangnya, maka Siau-ong-ya ingin mencari pamannya kembali,"
Demikian sela orang tua itu.
"Bukan saja untuk menunaikan cita-cita atau keinginan Ongya sebelum ajal, dia pun berharap bisa menemukan seorang guru pandai."
Toan Kiam-ceng unjuk rasa kurang senang, katanya.
"Ai, pernah kupesan kepadamu, kenapa kau lupakan lagi? Di hadapan para tamu agung kau masih panggil aku Siau-ong-ya segala? Memang aku mengharap bisa mendapat petunjuk paman, yang penting aku hanya mematuhi pesan ayah untuk mencarinya pulang."
Tiba-tiba Miao Tiang-hong teringat sesuatu, katanya.
"Kalian membicarakan ilmu silat jadi mengingatkan aku akan seseorang, ingin aku tanya kepada kalian."
"Siapa orang yang dimaksud?"
Tanya Toan Kiam-ceng.
"Orang ini termasuk tokoh silat kelas tinggi juga, namanya Sa Mi-wan, murid asal Siau-lim-pay, kabarnya dia sekarang di gedung panglima penguasa di perbatasan Tayli ini, apa Toan-heng tahu akan orang ini?"
"Aku tahu akan orang itu,"
Sahut Toan Kiam-ceng.
"Tapi kedatangan kalian tidak kebetulan sekarang dia tidak berada di Tayli pula."
"Ke mana dia pergi?"
Tanya Bu Cheng kaget. Toan Kiam-ceng rada heran dan curiga, tanyanya.
"Nona Bu, kau ingin menemuinya?"
Lekas Miao Tiang-hong menyela.
"Kami sama-sama kaum persilatan, baik juga bila saling bertemu muka di rantau ini. Tapi kalau tidak bisa ketemu pun tak menjadi soal."
"Beberapa hari yamg lalu dia mendapat tugas dari Han-ciangkun untuk menyelesaikan tugas dinas di luar daerah. Tapi ke mana tujuannya, itu rahasia dinas, dia sendiri tidak menerangkan, maka tiada orang bertanya kepadanya maka aku pun tidak tahu,"
Demikian tutur Toan Kiam-ceng.
"Jadi dia akan kembali lagi?"
"Kukira pasti kembali. Kalau dia kembali pasti kuberitahu kalian, akan kuusahakan supaya kalian bisa bertemu."
"Toan-siheng tidak perlu men-capaikan diri karena persoalan kecil ini,"
Ujar Miao Tiang-hong.
"Aku mengharap kami bisa bertemu secara tak terduga sebelumnya saja, kalau sengaja kami harus mencari dia, tentunya bisa menimbulkan perhatian orang. Betapapun dia pegawai pemerintah, kami ini orang iseng yang berkelana di kangouw, kalau sengaja mencari dia, mungkin dia bisa sangka kami hendak bermuka-muka dan menjilat kepadanya."
Lalu ia berkakakan dengan sikap acuh tak acuh. Malam itu Bu Toan tidur sekamar dengan Miao Tiang-hong, diam-diam ia memberi tahu.
"Besok setelah aku berangkat dengan Hun lihiap, kalian harus waspada dan hati-hati. Toan Kiamceng cukup simpatik, agaknya cukup dapat dipercaya,, namun bukan orang sealiran dengan kita, sebelum dia melimpahkan buah pikirannya, urusan dendam sakit hati ayah bundamu, jangan kau beri tahu kepadanya. Sudah tentu, kelak bila berhasil menuntut balas, seda-pat mungkin jangan sampai merembet dirinya."
"Paman tak usah kuatir, keponakan cukup paham,"
Sahut Bu Toan tertawa.
"Melihat gelagat hari ini, Siau-ong-ya itu agaknya menaruh perhatian dan ada maksud kepada adik Cheng."
Berkerut alis Miao Tiang-hong, katanya.
"Aku pun kuatir perihal ini bisa mendatangkan kesulitan kita."
"Biar kucari kesempatan memperingati adik Cheng, di samping itu akan kubeber juga akan hubungan adik Cheng dengan Lau Khong, supaya Siau-ong-ya itu mengurungkan niatnya,"
Demikian Bu Toan berjanji.
"Ya, kau peringatkan adikmu memang pantas, tapi jangan tergesa-gesa. Kalau Toan Kiam-ceng tidak pernah melimpahkan isi hatinya, persoalan Lau Khong lebih baik jangan kau singgung di hadapannya."
"Aku tidak akan gegabah, bilamana kita sendiri yang salah raba, bukankah bisa menimbulkan kejadian serba runyam?"
Malam itu tiada kejadian apaapa, hari kedua Miao Tiang-hong dan Hun Ci-lo langsung menuju ke Tiam-jong-san, untuk mencari Pok Thian-tiau suheng Toan Siu-si.
Sembilan belas puncak dan delapan belas selokan di Tiam-jong-san merupakan panorama terindah di bilangan Tayli ini.
Delapan belas aliran itu berliku-liku, seumpama urat-urat nadi dalam badan manusia, keluar masuk di antara gunung-gunung, akhirnya menembus ke Nihay.
Di antara setiap puncak terdapat sebuah aliran berair jernih, mengelilingi puncak induk, saking jernih airnya sampai ikan-ikan yang berenang dalam air bisa kelihatan jelas dan dapat dihitung jumlahnya.
Hun Ci-lo heran, katanya.
"Ikan-ikan itu rada aneh, lihatlah mereka berenang melawan arus."
"Tahukah kau nama ikan-ikan itu?"
Tanya Miao Tiang-hong.
"Tidak tahu."
"Ikan itu dinamakan Kiong-hu (ikan busur), Kiong-hu hanya ada di Nihay saja, merupakan ikan yang bersifat aneh dan lucu di antara ikan-ikan sebangsanya. Ikan lain suka berenang mengikuti arus, hanya ikan busur ini yang berenang melawan arus, selamanya tidak pernah putar balik. Dari Nihay mereka melawan arus terus berenang mencapai puncak gunung, kalau tidak kuat berenang, lantas badannya tertekuk seperti busur dipentang melejit naik ke permukaan air dan melesat ke depan, bagaimanapun tak mau mundur, maka itulah dia dinamakan ikan busur."
Begitulah sambil bercakap-cakap mereka menempuh perjalanan dengan langkah cepat, namun tidak menyia-nyiakan kesempatan menikmati pemandangan indah di alam pegunungan nan permai ini, pendek kata sebelum tengah hari mereka sudah hampir tiba di tempat yang dituju, dari kejauhan segera Miao Tiang-hong berkata pula sambil menuding ke depan.
"Lihatlah puncak di depan yang berbentuk seperti potlot itu, seperti yang dikatakan Toan Siu-si, itulah Giok-pit-hong, di sanalah suhengnya sedang merawat luka-lukanya."
"Baik, lekas kita susul ke sana,"
Ujar Hun Ci-lo.
Segera mereka percepat langkah, tak lama kemudian mereka sudah tiba di dalam lingkungan Giok-pit-hong, di saat mereka kembangkan ginkang naik ke atas, angin menghembus lalu, lapatlapat seperti terdengar benturan senjata tajam.
Hun Ci-lo kaget, katanya.
"Agaknya ada orang berkelahi di atas sana!"
Miao Tiang-hong pasang kuping mendengarkan sebentar, katanya.
"Benar, seperti ada empat lima orang sedang bertempur."
Bagai terbang mereka berlari, tak lama kemudian, keadaan di sebelah atas sudah dapat mereka lihat dengan jelas dari sebelah bawah.
Tampak empat laki-laki sedang mengerubut seorang perempuan setengah umur.
Keempat lakilaki itu bukan lain adalah Tiam-lam-su-hou, yaitu Kiau Lui, Kiau Tian, Kiau Hong dan Kiau Hun.
Perempuan pertengahan umur itu kiranya adalah kakak Nyo Bok Nyo-toakoh yang bergelar Loakjiu-koan-im itulah.
Setelah melihat jelas mereka, sungguh kejut Hun Ci-lo bukan main, teriaknya.
"Celaka, Toan Siu-si sedang mencari Tiam-lam-su-hou untuk menuntut balas sakit hati suhengnya, kenyataan Tiam-lam-su-hou justru muncul di tempat ini, jelas bahwa mereka sudah tahu Pok Thian-tiau sedang merawat luka-lukanya di tempat ini, di saat Toan Siu-si tak berada di kandang, mereka melunak datang lebih dulu. Entah mengapa Nyo-toakoh berada di sini pula."
Sudah tentu hal ini pun berada di luar dugaannya. Miau Tiang-hong segera menghiburnya.
"Tiam-lam-su-hou sedang bertempur dengan Nyotoakoh, mungkin Pok Thian-tiau belum bentrok dengan mereka. Kalau Nyo-toakoh berada di sini, tidak mungkin dia membiarkan mereka menyakiti Nyo Hoa."
Sembari bicara mereka tidak mengendorkan langkah, tatkala itu mereka sudah tiba di atas puncak, dari sini kelihatan lebih jelas. Waktu Hun Ci-lo angkat kepala, tiba-tiba ia menjerit kuatir.
"Celaka, Nyo-toakoh mungkin celaka!"
Tampak Nyo-toakoh bersenjata sebatang kebutan, dalam kepungan Tiam-lam-su-hou, kebutannya itu tuding timur hantam barat, tunjuk selatan menusuk utara.
Namun meski jurus permainan ilmu kebutannya amat aneh dan lincah, namun banyak membuang tenaga, setelah terjang ke kiri dan terobos ke kanan, tetap tak berhasil menerjang ke luar.
Tiam-lam-su-hou adalah empat saudara kembar yang dilahirkan satu ibu, raut muka masingmasing mirip satu sama lain, namun kepandaian silat mereka justru berlainan.
Lo-toa Kiau Lui, mengutamakan latihan lwekang, kepandaiannya adalah Pun-lui-ciang, setiap melancarkan pukulan harus dibarengi hardikan mengguntur, sehingga tanah pegunungan terasa bergetar, kekuatan dan perbawanya amat mengejutkan.
Lo-ji Kiau Tian, bersenjata sebatang ruyung lemas, dinamakan Bu-ing-pian (ruyung tanpa bayangan), kalau dikembangkan, tdmpak bayangan ruyung beterbangan di tengah udara, sungguh cepatnya laksana kilat menyambar.
Lo-sam Kiau Hong menggunakan pedang, ilmunya adalah Tui-hong-kiam-hoat, permainan ilmu pedangnya cukup lihay, Lo-su Kiau Hun ahli ilmu totok, senjatanya adalah sepasang potlot, julukannya Thi-pit-boankoan maksudnya sepasang potlot-nya dapat menjatuhkan hukuman mati hidup lawan.
Miao dan Hun percepat langkah dan mengembangkan Cou-siang-hwi (terbang di atas rumput) ilmu entengi tubuh tingkat tinggi, tapi Giok-pit hong sesuai dengan namanya, bentuknya lurus menjulang ' naik ke atas.
Jarak mereka kira-kira masih sejauh setengah li, dalam waktu dekat, mana mungkin bisa menyusul tiba memberikan pertolongan.
Keadaan Nyo-toakoh memang cukup gawat di bawah tekanan dan keroyokan keempat lawannya.
Di tengah pertempuran seru itu, ruyung lemas Kiau Tian tiba-tiba menggulung tiba, membawa angin menderu sehingga menerbitkan gumpalan bayangan cambuk yang berlapis-lapis.
Lekas kebutan Nyo-toakoh ditekan ke bawah, tiba-tiba ia libat ruyung lemas lawan terus disendai sekuatnya seraya membentak.
"Lepas ruyungmu! -Berbareng dengan itu, sepasang tapak tangan Kiau Lui sudah dilancarkan secara berantai, ia pun menghardik.
"Perempuan galak, jangan temberang!"
Kedua tapak tangannya kontan menepuk ke batok kepala Nyo-toakoh, Pun-lui-ciang memang tidak bernama kosong, samar-samar seperti terdengar suara guruh di tengah udara.
Namun sebat sekali tahu-tahu Nyo-toakoh sudah membalikkan tapak tangan kirinya, dan saling bentur dengan tapak tangan kanan Kiau Lui.
Tepukan tapak tangan Nyo-toakoh kelihatannya enteng seperti melayang tanpa menggunakan tenaga.
Sudah tentu diam-diam Kiau Lui mentertawakan dan pandang ringan lawannya kaum hawa berani beradu pukulan dengan dirinya, tentulah minta gebuk dan dihajar?
Memangnya Kiau Lui biasanya amat membanggakan diri akan kekuatan pukulannya, anggapnya sekali Nyo-toakoh adu pukulan, pasti dengan mudah saja nanti bisa diringkus.
Tidak pernah terpikir olehnya bahwa Nyo-toakoh bergelar Loak-jiu-koan-im, memangnya gelaran ini hanya nama kosong belaka?
"Biang!"
Kedua pukulan tapak tangan saling beradu, seketika Kiau Lui tergentak mundur tiga langkah, bukan saja dada terasa sesak dan mual, pergelangan tangan pun terasa linu panas dan kemeng serasa remuk tulangnya.
Waktu ia menunduk dilihatnya separuh lengan bajunya sudah terkoyak oleh Nyo-toakoh, terutama sejalur warna merah seperti dibakar menggores pergelangan tangannya, keruan bukan kepalang terkejutnya.
Ternyata Nyo-toakoh menggunakan Kim-kong-liok-yang-jiu ilmu warisan keluarganya, ilmu tunggal ini mengutamakan kekerasan pukulan yang dahsyat, sudah puluhan tahun menjagoi bulim.
Meskipun Nyo-toakoh kaum hawa, namun latihan Kim-kong-liok-yang-jiunya, justru jauh lebih unggul dari adiknya, Nyo Bok.
Kim-kong-liok-yang-jiu keluarga Nyo ini merupakan petilan yang disempurnakan dengan variasi lain dari Tay-lik-kim-kong-jiu ajaran Siau-lim-pay, kekuatan pukulannya memang rada asor, namun bicara variasi gerakan pukulan serta perubahannya Kim-kong-liok-yang-jiu malah lebih hebat-Setiap kali pukulan dilancarkan mengandung enam tenaga bergelombang yang amat aneh perubahannya, karena keistimewaan yang jauh berlainan dengan ilmu pukulan umumnya, maka dinamakan Kim-kong-liok-yang-jiu.
Sayang Nyo-toakoh seorang diri harus menghadapi empat lawan, sekali pukul ia berhasil bikin Kiau Lui tergentak mundur, sementara kebutannya menyampuk miring ruyung Kiau Tian, serempak Kiau Hun dan Kiau Hong menyergap bersama dari kanan kiri, tidak mungkin dengan kedua tangannya ia bisa melayani sesempurna mungkin rangsakan lawan.
"Sret"
Pedang Kiau Hong menusuk ke Ih-gi-hiat di bawah ketiaknya, baru saja Nyo-toakoh menyampuk ruyung Kiau Tian, kekuatan gerakannya sudah luluh, meski sempat ditarik menggulung balik, ujung kebutannya malah terpapas putus sebagian oleh pedang Kiau Hong.
Dalam kesibukannya, lekas Nyo-toakoh gunakan Sip-khong-ki-hoan-hun (men-dekuk dada jumpalitan di tengah awan) ia jumpalitan ke belakang.
Walaupun ia sudah bergerak dengan sepenuh kemampuannya, tak urung setengah dim di bawah Ih-gi-hiatnya telak tertotok oleh ujung potlot Kiau Hun.
Untung sasarannya rada meleset, hiat-tonya tidak sampai tertutup, betapa pun kelancaran jalan darah dalam tubuhnya rada terganggu juga.
Setelah dirugikan dengan murka Kiau Lui menggerung keras.
"Jangan lepaskan perempuan galak ini!"
Setelah mundur berpencar kembali Tiam-lam-su-hou menubruk maju dan mengepung dengan ketat pula.
Jalan darah Nyo-toakoh sebagian macet, napas sesak maka dada terasa seperti ditindih batu besar, rasanya sungguh amat menyiksa.
Apalagi kebutannya sebagian terpapas rontok, kekuatannya jauh berkurang.
Teriak Nyo-toakoh gusar.
"Baik, ayo maju, lonio akan adu jiwa dengan kalian!"
Terlihat oleh Hun Ci-lo, dengan Kim-kong-liok-yang-jiu Nyo-toakoh dapat memukul mundur Kian Lui, namun terlihat bahwa potlot Kiau Lui mengenai badan Nyo-toakoh, baru saja hati merasa lega, mendadak didengarnya suara Nyo-toakoh serak dan hambar, agaknya hawa murninya seperti terputus di tengah jalan, karuan hatinya melonjak kaget pula.
"Celaka!"
Seru Miao Tiang-hong, sekali empos semangat dan menarik napas, badannya melesat terbang seenteng kera berlompatan di lereng gunung, sekali lompat beberapa tombak jauhnya, beruntun beberapa kali jangkauan jarak jauh itu, ia sudah tiba di atas gunung.
Namun jarak ke tempat pertempuran masih puluhan langkah jauhnya.
Waktu itu Nyo-toakoh sedang menghadapi keadaan gawat, cambuk, sebatang pedang dan sepasang potlot merangsak datang bersama dari dua sisi dan punggungnya, sementara Kiau Lui memukulkan tapak tangannya mengarah ke batok kepala Nyo-toakoh.
Sepasang kepalan Nyotoakoh mana kuasa menghadapi serangan bersama ini, Miao Tiang-hong sendiri masih puluhan langkah jauhnya, betapa pun tinggi ginkangnya, dalam waktu sesingkat itu, mana dapat menyusul tiba untuk menolongnya.
Terpaksa Miao Tiang-hong menghentikan langkah dan berdiri tegak, sekonyong-konyong mulutnya terpentang menggembor keras lalu membentak pula.
"Kawanan anjing berani bertingkah."
Setiap kali melontarkan pukulannya, Kiau Lui mengiringnya dengan bentakan keras, namun gemboran Miao Tiang-hong lebih keras dari bentakannya, sehingga kupingnya serasa bergetar pecah, laksana disambar petir, keruan kekuatan pukulannya seketika ken-dor.
Dengan Hong-tiamthau, lekas Nyo-toakoh berkelit, menurunkan pundak menggeser langkah, maka pukulan Kiau Lui mengenai pundaknya, namun badan Nyo-toakoh hanya tergeliat sedikit, sigap sekali ia sudah balas menyerang.
"krak!"
Dengan sejurus tipu Hun-kin-coh-kut-hoat dari petilan Kim-kong-liokyang-jiu, ia berhasil memelintir lengan orang sehingga tulangnya keseleo.
Ternyata gemboran Miao Tiang-hong menggunakan Say-cu-hiong-kang, perbawa gemborannya dapat menyedot sukma dan menggetarkan sanubari orang, Thiam-lam-su-hou hanya Kiau Lui seorang yang mempunyai dasar Iwekang paling tinggi, namun toh dia seperti disambar geledek dan terdiam dibuatnya, sudah tentu tiga saudara lainnya yang berkepandaian lebih rendah lebih celaka.
Cambuk Kiau Tian seketika jadi lemas menjuntai turun ke tanah, mukanya melongo seperti orang linglung, sementara Kiau Hong berteriak keras, memutar badan terus lari lintang pukang.
Kiau Hun lebih celaka lagi, saking kaget ia menjublek seperti patung.
Nyo-toakoh sendiri melatih lwe-kang dari aliran murni, tenaga dalamnya memang lebih tinggi dari mereka, mendengar gemboran keras itu, meski kaget, namun hatinya tidak menjadi gugup karenanya, malah dia berkesempatan mengebaskan kebutannya, sehingga selebar muka Kiau Hun berle-potan darah, sepasang matanya melotot keluar seperti biji mata ikan emas, dengan sendirinya Nyo-toakoh sudah berhasil membalas totokan potlot lawan tadi.
Waktu Kiau Lui angkat kepala, dilihatnya Hun Ci-lo sedang lari mendatangi, sementara dilihatnya pula seorang laki-laki pertengahan yang bermuka kereng bersikap gagah.
Walau ia tidak kenal Miao Tiang-hong, melihat orang datang bersama Hun Ci-lo, ia insyaf bahwa dugaannya tentu tidak meleset.
Betapa tinggi kepandaian Hun Ci-lo, Tiam-lam-su-hou cukup mengetahui, seorang Nyo-toakoh ditambah Hun Ci-lo terang mereka berempat bukan tandingan, apalagi ditambah Miao Tiang-hong yang lebih lihay.
Tiam-lam-su-hou sama dibesarkan dalam hutan belantara di Say-siang-pan-na, berjalan atau berlari dan memanjat pegunungan seperti berlenggang di jalan datar, lekas Kiau Lui berseru.
"Lari!"
Empat kakak beradik segera ambil langkah seribu, sekejap mata saja sudah tak kelihatan pula bayangan mereka.
Setelah mengalami pertempuran besar, tenaga Nyo-toakoh sudah terkuras habis, begitu musuh tangguh pergi, seketika ia tidak kuat bertahan lagi, badannya terhuyung hampir roboh, seperti api lilin yang dihembus angin lalu.
"Huuah!"
Mulut terpentang, ia menyemburkan sekumur darah segar.
Tak sempat Hun Ci-lo mengejar Tiam-lam-su-hou, lekas ia memburu maju serta memayang badan Nyo-toakoh, berbareng merogoh keluar sebutir pil terus dijejalkan ke mulut Nyo-toakoh.
Seraut muka Nyo-toakoh pucat lesi, teriaknya melengking.
"Tidak, ttidak mau..."
Bilang tidak mau, tapi lantaran mulutnya terpentang, dengan mudah Hun Ci-lo jejalkan ke mulut orang malah, mau tidak mau ia harus menelannya.
"Itulah Som-ni-tay-bu-hoan buatan ayah angkatku Lau In-long, khasiatnya dapat menambah tenaga dalam dan memulihkan hawa murni dan semangat. Cici, bagaimana perasaanmu?"
Setelah istirahat sebentar, semangat Nyo-toakoh mulai pulih sebagian, mendadak ia dorong badan orang, jengeknya dingin.
"Tidak perlu kau pura-pura mengambil hatiku dengan obatmu, siapa sudi menjadi cicimu?"
Tingkah kasar Nyo-toakoh sungguh di luar dugaan Hun Ci-lo, setelah terdorong mundur dua langkah, ia melongo sebentar, lalu katanya tertawa getir.
"Walau aku bukan warga keluarga Nyo lagi, hubungan sesama famili dulu masih ada, aku memberi obat menyembuhkan luka-lukamu, memangnya perbuatanku malah salah?"
"Tanpa obatmu, aku tidak akan mati. Hehe, kau kira dengan memberi sedikit pertolongan, aku tidak akan menuntut kepadamu lagi?"
"Kau hendak menuntut apa atas diriku?"
"Ke mana Nyo Hoa kau sembunyikan? Anak itu adalah keturunan keluarga Nyo kami, tiada hak kau membawanya pergi, lekas serahkan dia kepadaku!"
Hun Ci-lo kaget, teriaknya.
"Apa, kau, kau belum bertemu dengan Hoa-ji?"
"Jangan kau pura-pura pikun di hadapanku, apa bukan kau yang melakukan perbuatan dalam rumah batu itu?"
"Perbuatan dalam rumah batu apa?"
Tanya Hun Ci-lo meleng-gong. Miao Tiang-hong maju mendekat, katanya.
"Kami baru saja tiba, bahwasanya Ci-lo belum pernah melihat anaknya."
"Siapa kau?"
Tanya Nyo-toakoh mendelik.
"Bukankah dulu kita pernah bertemu satu kali?"
Jengek Miao Tiang-hong.
"Kau tidak kenal kalau aku ini Miao Tiang-hong!"
Nyo-toakoh mendengus, ujarnya.
"Kukira sih orang she Beng, ternyata kau ini she Miao. Gendak Hun Ci-lo terlalu banyak, memang sukar aku mengingatnya satu persatu."
Miao Tiang-hong gusar.
"Mulutmu perlu disikat supaya tidak bicara kotor, kalau tidak..."
"Kalau tidak apa? Kau hendak bunuh dan menutup mulutku? Huh, kau melarang aku bicara, aku justru hendak omong. Hun Ci-lo, selanjutnya kularang kau memanggil 'Hoa-ji' segala, keponakanku tidak punya ibu romantis seperti kau yang gampang menjual cinta."
Serasa tujuh lubang indra menguapkan uap putih saking marah Miao Tiang-hong dibuatnya, namun apa pula yang dapat ia lakukan menghadapi mulut orang yang centil.
Mendengar Nyo-toakoh menagih Nyo Hoa kepadanya, Hun Ci-lo mendapat firasat jelek, pikirannya jadi kacau balau dan bingung, mana sempat dia membalas mulut kotor orang?
Di saat Nyo-toakoh mengomel panjang pendek, lekas ia berlari masuk ke dalam hutan mencari rumah batu yang dimaksud.
Tak tertahan amarah Miao Tiang-hong, bentaknya bengis.
"Kau perempuan galak yang centil ini, lekas menggelinding! Seumpama tidak kubunuh kau mulutmu yang kotor itu perlu kugampar supaya rontok gigimu."
Walau dia membentak tidak menggunakan Say-cu-hiong, namun suaranya cukup menggetar dan membuat jeri nyali Nyo-toakoh.
Melihat amarah Miao Tiang-hong lagi, ciut juga nyalinya bila Miao Tiang-hong betul-betul menggampar mulutnya.
Tanpa berani membuka mulut lagi, tersipusipu ia tinggal pergi.
Segera Miao Tiang-hong memburu masuk ke dalam hutan juga, baru saja ia hendak bersuara memanggil Hun Ci-lo, terdengar suara Hun Ci-lo menjerit kuatir dan kaget.
"Miao-toako, rumah batu ini sudah kutemukan lekas kau kemari, lekas!"
Lekas Miao Tiang-hong memburu ke arah datangnya suara, di dalam hutan ia menemukan rumah batu itu, begitu ia melangkah masuk ejan melihat tegas, seketika gugup dan gelisah juga ia dibuatnya.
Tampak Pok Thiau-tiau rebah di atas ranjang batu, kedua matanya terpejam, sekujur badannya ber-lepotan darah, entah mati atau masih hidup.
Di bawah kakinya di atas tanah rebah sesosok mayat laki-laki, terang bahwa orang ini sudah lama meninggal.
Kata Hun Ci-lo.
"Pok Thian-tiau seperti masih bernapas, Miao-toako, lekas kau periksa keadaannya, apakah dia masih bisa ditolong?"
Lekas Miao Tiang-hong meraba urat nadinya, seketika mencelos hatinya, ternyata Ki-keng-patmeh Pok Thian-tiau sudah terluka parah, seumpama tabib Hoa Tho yang kenamaan di jaman Sam Kok hidup kembali pun takkan bisa mengobati luka-lukanya ini, apalagi ilmu pertabiban yang dipelajari Miao Tiang-hong hanya kulitnya saja.
"Miao-toako, bagaimana keadaannya?"
"Yang kita harapkan sekarang dia masih mampu berbicara beberapa patah kata."
Segera Miao Tiang-hong merangkap dua jari serta menotok ke ulu hati Pok Thian-tiau, itulah totokan sementara yang dapat menimbulkan reaksi bergairah dan siuman sementara dari pingsannya, tak lama kemudian, Pok Thian-tiau mulai siuman dan membuka mata Karena belum pulih kesadarannya, begitu membuka mata secara reflek tapak tangannya bergerak menepuk, tepat mengenai badan Hun Ci-lo yang memayang badannya, namun sedikit pun Hun Ci-lo tidak merasakan sakit apa-apa, hatinya semakin kuatir, katanya.
"Aku adalah Hun Ci-lo, dia adalah Miao Tiang-hong, kami datang menolongmu."
Sesaat lamanya pandangan Pok Thian-tiau menjadi lambat laun seperti mulai sadar, katanya lemah.
"Ling, bagaimana Ling-toako? Di, di mana dia?"
Hun Ci-lo mengangkatnya bangun berduduk, sehingga mata orang dapat melihat sesosok mayat yang menggeletak di atas tanah katanya.
"Apakah dia itu Ling-toako?"
"Apa?"
Teriak Pok Thian-tiau gemetar.
"Ling-toako sudah meninggal, aku, akulah yang menyeretnya dalam malapetaka ini."
Seketika matanya mendelik, kembali ia jatuh pingsan.
Cepat tapak tangan Miao Tiang-hong menempel di punggung orang, dengan kemurnian Thayceng-khi-kang membantu menyalurkan hawa murninya ke seluruh badan orang, panggilnya lirih di pinggir kuping orang.
"Pok-heng, sadarlah! Omongan apa yang perlu kau pesan kepada sutemu, lekas katakan kepadaku!"
Waktu hendak berpisah di Pak-bong-san tempo hari Toan Siu-si ada menjelaskan, bahwa Pok Thian-tiau dia titipkan kepada seorang teman she Ling untuk dijaga dan dirawatnya, katanya puluhan tahun yang lalu orang she Ling ini pun seorang pendekar kelana di bilangan lima propinsi daerah barat daya, Toan Siu-si pernah memberi tahu, namanya adalah Ling Hong-ciang, Kepandaian silatnya kalau tidak setanding tentu lebih tinggi dari Toan Siu-si sendiri.
Karena ilmu silat orang amat tinggi maka Toan Siu-si tidak kuatir menitipkan suhengnya kepadanya, meskipun Tiam-lam-su-hou mengeroyoknya pun bukan tandingannya.
Kenapa orang mati tanpa kelihatan sebab musababnya?
Timbul rasa curiga Miao Tiang-hong, maka sambil mengurut dan memijit badan Pok Thian-tiau bantu melancarkan darah dan memusatkan hawa murninya, ia amat-amati keadaan kematian Ling Hong-ciang.
Setelah diperiksa dengan teliti barulah didapati bahwa Thay-yang-hiat di pelipis Ling Hong-ciang kelihatan merembeskan hawa hitam dan mencucurkan setitik darah hitam pula, lubang lukanya sebesar batang jarum.
Pikir Miao Tiang-hong.
"Ternyata kematian-nya karena sambitan jarum beracun, namun Tiam-lam-su-hou biasanya tidak pernah pakai senjata rahasia."
Lalu ia tanya kepada Hun Ci-lo.
"Kabarnya Loak-jiu-koan-im Nyo-toakoh seorang ahli menyambit hiat-to orang dengan Bwe-hoa-ciam, apa benar?"
"Ya, Bwe-hoa-ciam yang dia gunakan lembut sebesar bulu kerbau, waktu disambitkan tiada suara tak berbau, yang diarah khusus hiat-to di badan lawannya. Gelar Loak-jiu-koan-im yang dia dapatkan, sebagian besar lantaran ilmu senjata rahasianya yang lihay itulah. Tapi apa yang kutahu bahwa Bwe-hoa-ciamnya tidak beracun."
"Apakah tidak mungkin orang she Ling ini terbunuh oleh Bwe-hoa-ciam yang sudah terendam racun?"
"Tidak mungkin, keluarga Nyo mereka terlalu pandang gengsi dan nama keluarga, sejak warisan leluhur mereka melarang anak cucunya menggunakan senjata rahasia berbisa. Apalagi dia menantu keponakan Su-hay-sin-liong Ki Kian-ya. Ki Kian-ya mengutamakan sepak terjang terangterangan, tidak mungkin dia berani menggunakan jarum beracun."
Miao Tiang-hong menepekur.
"Lalu siapakah yang membunuh Ling Hong-ciang dengan jarum beracun?"
Tengah mereka bercakap-cakap, Pok Thian-tiau kebetulan siuman, agaknya ada mendengar percakapan tadi, maka segera ia buka mulut.
"Musuh, musuh adalah Tiam-lam-su-hou dan seorang Tosu busuk!"
Agaknya saluran tenaga Thay-ceng-khi-kang Miao Tiang-hong yang menyadarkan pikiran dan menambah semangatnya, namun suaranya rada berat dan kedengaran terbenam dalam tenggorokan-nya.
Terpaksa Miao Tiang-hong tempelkan telinganya ke mulut orang, tanyanya.
"Siapakah Tosu busuk itu?"
"Aku hanya tahu dia adalah Tosu busuk dari Khong-tong-pay,"
Sahut Pok Thian-tiau. Melihat orang segera bakal putus nyawa, lekas Hun Ci-lo bertanya.
"Di manakah Hoa-jiku?"
Dengan megap-megap dan suara lirih seperti bunyi nyamuk Pok Thian-tiau menjawab.
"Hoaji, dia, dia..."
Tenaganya habis dan tak kuasa meneruskan kata-katanya pula. Lekas Miao Tiang-hong bantu mengurut dada orang untuk mengurangi penderitaannya sebelum ajal, katanya.
"Tidak perlu kau jelaskan panjang lebar, cukup asal kau jawab dengan ya atau tidak. Bagaimana Hoa-ji? Digondol pergi Tiam-lam-su-hou?"
Setelah napasnya sedikit tenang, Pok Thian-tiau pentang mulut, pelan dan lirih sekali tercetus jawaban.
"Bukan..."
"Jadi Tosu busuk dari Khong-tong-pay itu?"
Tanya Hun Ci-lo.
Lalu ia tempelkan telinganya untuk mendengar jawaban, namun suara Pok Thian-tiau lebih lemah pula, namun Hun Ci-lo masih bisa dengar jawabannya tetap 'bukan'.
Gelisah dan kuatir Hun Ci-lo dibuatnya, terpaksa ia bertanya pula.
"Lalu, di mana Hoa-ji, dia, bagaimanakah keadaannya?"
Setelah pertanyaan dia lontarkan baru dia ingat Pok Thian-tiau sudah dalam keadaan sekarat, mana bisa menjelaskan pengalaman Nyo Hoa. Tak kira, di saat Hun Ci-lo merasa was-was dan jantung berdebar.
"Huuaaah!"
Pok Thian-tiau mendadak muntahkan darah segar, sahutnya.
"Masih...,"
Walau lemah suaranya, tapi jauh lebih keras dan jelas dari tadi. Kaget dan girang pula Hun Ci-lo, cepat ia payang badan orang duduk lebih enak, katanya.
"Istirahatlah dulu nanti dilanjutkan..."
Tiba-tiba terasa tangannya meraba badan orang yang sudah mulai dingin, saking kaget Hun Ci-lo berjingkrak, waktu ia tegasi, kelopak mata Pok Thian-tiau sudah terpejam dan bibirnya masih sedikit terbuka.
Kejadian berlangsung dalam waktu singkat, tahu-tahu jiwa orang sudah mangkat.
Ternyata untuk bisa bertahan sementara waktu, untuk menjelaskan keadaan Nyo Hoa, Pok Thian-tiau mengigit lidahnya sendiri untuk membangkitkan rasa dan sakit dan menggairahkan semangatnya.
Sayang luka-lukanya teramat berat, usahanya tetap sia-sia belaka.
Hun Ci-lo amat sedih, katanya.
"Tidak pantas aku mengajukan pertanyaan kepadanya, jiwanya malah melayang lebih cepat!"
"Ki-keng-pat-mehnya sudah luka, seperti lentera yang kehabisan minyak, sekuat tenaga aku sudah berusaha menolongnya, paling hanya mempertahankan sisa tenaganya saja. Tidak perlu kau sedih. Tugas kita yang terpenting, ialah lekas mengebumikan jenazahnya."
Hun Ci-lo manggut-manggut tanpa bersuara, waktu ia melongok ke luar, cuaca sudah mulai petang, magrib mendatang, sebentar lagi tabir malam akan menyelimuti alam semesta.
"Biar malam ini kita buatkan sebuah peti mati, besok baru gali liang lahat dan mengubur jenazahnya,"
Demikian ujar Miao Tiang-hong.
Dalam rumah batu itu masih ada sisa makanan, kapak, cangkul, sangkur dan lain-lain serba lengkap.
Setelah makan malam sekadarnya, malam itu mereka menebang pohon dalam hutan, serta dibuatnya peti mati yang sederhana.
Hari kedua mereka lantas mengubur jenazah Ling Hong-ciang dan Pok Thian-tiau dalam satu liang lahat.
Sebelum meninggalkan rumah batu, dengan jarinya Miao Tiang-hong menulis di atas dinding, di mana jarinya menggores, kapur sama rontok berhamburan.
Tertulislah enam belas huruf besar yang berbunyi.
Pok-heng mengalami bencana, untuk tahu duduknya perkara, lekaslah pulang ke rumah, kami menunggu di gedung rumahmu!
"Tulisan ini kau tinggalkan untuk Toan Siu-si?
Masa kau tahu dia bakal kemari atau tidak?"
Tanya Hun Ci-lo.
"Toan Siu-si cukup cerdik dan cekatan, begitu di sarangnya tidak menemukan Tiam-lam-suhou, tentu Cepat dia menyusul pulang. Seumpama tidak bisa segera pulang, tulisanku ini, supaya dia tahu bahwa kita berdua pernah datang kemari."
"Ya, yang dapat menulis di dinding batu dengan jari-jari tangannya dalam jaman ini hanya beberapa orang belaka, tanpa kau bubuhkan tanda tanganmu, tentu dia sudah tahu akan maksudmu. Toan Kiam-ceng mengharap dia pulang, tindakanmu ini sekaligus bisa dilaksanakan bersamaan."
Kata Miao Tiang-hong tertawa.
"Bicara soal Toan Kiam-ceng, aku malah kuatir Bu Cheng tidak mampu mengatasi dia. Urusan di sini sudah selesai, marilah lekas pulang saja."
Hun Ci-lo tertawa getir, ujarnya.
"Gelombang yang satu belum reda, gelombang yang lain sudah timbul pula Setelah pulang kita harus siap membantu mereka berdua menuntut balas."
Melihat orang masgul dan murung, Miao Tiang-hong segera menghiburnya.
"Sebelum ajal Pok Thian-tiau masih sempat mengatakan 'masih baik', tentunya Hoa-ji tidak terjatuh ke tangan orang jahat."
Hun Ci-lo menghela napas, katanya manggut-manggut.
"Semoga begitulah."
"Toan Siu-si mungkin tahu siapa Tosu busuk dari Khong-tong-pay itu, setelah dia pulang kita bisa tanya kepadanya Asal bisa mendapat bahan penyelidikan, tidak sukar untuk mengusutnya."
"Miao-toako, tak usah kau kuatirkan diriku, tidak menemukan Hoa-ji memang hatiku amat sedih dan kuatir, tapi selama hidup ini aku sudah biasa bergelimang dalam kesengsaraan. Setelah pulang, boleh kau tumpahkan seluruh perhatianmu bantu Bu Toan berdua menuntut balas saja."
"Kita pulang demikian cepat, tentu mereka pun tidak menduga. Beberapa hari ini tentunya mereka tidak mengalami kejadian apa-apa yang perlu dikuatirkan. Yang ku-kuatirkan malah entah kapan SaMi-wan baru akan kembali ke Tayli."
Miao Tiang-hong mengira Bu Toan kakak beradik tidak akan membuat kericuhan, justru rekaannya meleset sama sekali.
Kesulitan memang tidak datang dari pihak Toan Kiam-ceng, adalah mereka berdua kebentur suatu peristiwa yang tak terduga sebelumnya.
Setelah Miao dan Hun berangkat, mereka kakak beradik lantas minta orang tua itu ajak mereka tamasya.
Kota pegunungan seperti Tayli meliputi daerah yang tidak begitu luas, cukup dua hari saja sudah mereka jelajahi semuanya, sampaipun segala pelosok kota sudah pernah mereka datangi, terutama mereka amat perhatikan situasi gedung kediaman panglima tertinggi penguasa perbatasan itu.
Hari ketiga, hari di mana Miao dan Hun berdua pulang dari Tiam-jong-san, kedua kakak beradik ini kembali ajak si orang tua itu melancong ke luar kota, tujuannya adalah Koan-im-am, suatu tempat tamasya yang termasyhur pula di Tayli.
Koan-im-am di mana-mana bisa ditemukan, namun Koan-im-am di Tayli ini lain dari yang lain, seluruh bangunan biara kecil ini dibangun di atas sebuah batu besar, maka dinamakan pula Toa-ciok-am.
Si orang tua segera memberi penjelasan.
"Koan-im-am ini dinamakan pula Toa-ciok-am, ada pula ceritanya mengenai kuil ini. Konon pada jaman dahulu kala, ada serombongan perampok hendak mengganas di Tayli, Koan-im Posat segera menjelma seorang perempuan tua, memanggul batu besar ini, keruan para perampok itu amat heran dan kaget. Kata Koan-im. 'Usiaku sudah lanjut hanya bisa memanggul batu sekecil ini pemuda-pemuda di kota sering memanggul batu yang puluhan kali lebih besar dari ini.' Mendengar kata-katanya ini kawanan perampok itu menjadi jeri dan tak berani masuk kota, akhirnya melarikan diri. Cerita ini diberi judul yaitu Pak-ciok-coping (memanggul batu membendung rampok), sudah tentu hanya dongeng orang-orang dulu kala, tidak bisa dipercaya akan kebenarannya."
"Meski hanya dongeng yang lucu, namun cukup menyenangkan dan berarti,"
Kata Bu Cheng. Di samping batu besar itu terdapat sebuah aliran sungai yang bening airnya, di atas sungai kecil melintang sebuah jembatan, langsung menembus ke depan pintu kuil. Bu Toan tertawa.
"Ayolah, maju lebih lanjut, kita lihat-lihat keadaan di dalam!"
"Sebetulnya ruang pemujaan di dalam tiada sesuatu yang bisa dipandang,"
Ujar si orang tua.
"Kamar samadi yang ditempati para nikoh, para pelancong dilarang masuk, kita hanya bisa menyulut dupa bersembahyang di hadapan pemujaan Koan-im. Cuma di luar kuil terdapat sebuah taman kecil, di mana ditanam beberapa macam kembang teh yang aneh bentuknya, orang-orang pelancongan bisa istirahat di sana dan sekedar menikmati teh hasil petikan setempat. Sayang sekarang belum musimnya memetik teh kembang itu."
"Toa-ciok-am adalah salah satu tempat pariwisata di Tayli, setelah tiba di sini, marilah masuk melihat-lihat, minum teh pun baik juga."
Waktu itu mereka sedang beranjak di atas jembatan hendak masuk ke kuil, sekonyong-konyong terdengar suara percakapan dua orang. Seorang berkata.
"Sa-hwesio sudah pulang, apa kau tahu?"
Seorang yang lain menyahut.
"Apa benar? Kapan dia pulang?"
"Kabarnya kemarin malam. Ha, kesempatan kita lebih banyak pula setelah Sa-hwesio pulang."
"Kesempatan baik apa?"
"Memangnya kau belum tahu? Begitu dia kembali, Han-ciangkun segera akan mengerahkan pasukan menyerbu ke Say-jwan. Semula Han-ciangkun seorang sipil soal perang tentu bukan keahliannya, memangnya dia tidak akan mengandal tenaga Sa-hwesio?"
Suara percakapan kedua orang ini amat lirih, namun Bu Toan berdua, orang yang pernah melatih silat, pendengarannya teramat tajam, setiap patah kata mereka dapat didengarnya dengan jelas.
Tergerak hati Bu Cheng, pikirnya.
"Sa-hwesio yang mereka singgung, apakah Sa Miwan?"
Kedua orang itu masih bercakap-cakap lebih lanjut, terdengar seorang yang lain bertepuk sambil berjingkrak kesenangan, katanya.
"Benar, Sa-hwesio adalah orang andalan Han-ciang-kun, kita bisa minta dia memberi tugas kepada kita."
"Memangnya, tapi aku tidak ingin tugas baik apa-apa, cukup asal bisa diserahi tugas mengurus ransum saja, sisa hidupku di hari tua tentu takkan melarat lagi."
Waktu mereka bicara sampai di sini, Bu Toan bertiga kebetulan sudah turun dari undakan batu jembatan dan memasuki kuil.
Begitu melihat si orang tua dari keluarga Toan ini, kedua orang itu segera menghentikan percakapan mereka, tanpa berjanji sama berdiri sambil bersentuh pundak, sapanya tertawa "Toan-kongkong, angin apa yang menghembusmu kemari, apa Siau-ong-ya baikbaik?"
Si orang tua tertawa, katanya.
"O, kiranya Kek-toaya dan Kim-toaya, hari ini kalian pun sedang mencari angin menghibur diri ya"
"Ah, hanya mencari hiburan saja setelah sibuk selama ini. Dua orang ini..."
"Mereka kakak beradik adalah sanak jauh dari keluarga istana, beberapa hari yang lalu baru datang."
"Selamat bertemu, selamat bertemu,"
Segera orang she Kek menyapa lebih dulu.
"Kongcu she apa?"
"Aku she Bun,"
Sekenanya Bu Toan menyebut nama palsu, meski orang tua itu melengak heran, namun dia cukup pengalaman, sudah tentu dia pun diam saja.
"Aku bernama Kek Cin-jay, dia ini temanku bernama Kim Kong-to."
Segera Kim Kong-to menyambung bicara.
"Kami sering keluar masuk Onghu (istana), kalian berdua mungkin baru pertama kali bertandang ke sanak famili ini?"
"Ya, baru sekali ini kemari,"
Sahut Bu Toan.
"Tak heran sebelum ini kami belum pernah melihatmu,"
Demikian kata Kim Kong-to pula "Kalian baru datang, semestinya kami menyambut sebagai tuan rumah.
Tentunya kalian belum sempat menjelajah seluruh Tayli, kalau sudi, aku bisa temani kalian tamasya ke mana saja."
Baru saja Bu Toan hendak menampik secara halus, tak nyana Bu Cheng sudah menyela lebih dulu.
"Bagus sekali, Kim-siansing tinggal di mana, setelah sampai di kota segera kami mencarimu."
Kim Kong-to mengeluarkan kartu nama, katanya.
"Dengan Kek-heng aku tinggal satu rumah, di belakang gang rumah balai kota sebelah kiri mengarah sinar matahari."
Bu Cheng menyambut kartu nama orang, katanya.
"Dua hari lagi pasti aku datang bersama eng-kohku."
Kek Cin-jay segera menimbrung.
"Sebetulnya kami hendak bertandang ke Onghu, namun dua hari belakangan ini ada tugas-tugas dinas, mungkin besok lusa baru bisa ke sana. Harap Toankong-kong, Bun-kongcu dan nona Bun suka sampaikan salam kami kepada Ongya."
"Tuan-tuan amat sibuk, silakan saja tidak usah sungkan,"
Ujar si orang tua.
"Sebetulnya sih bukan urusan penting, cuma kebetulan kemarin Sa-ciangkun kembali, kabarnya lusa dia akan berangkat pula, maka besok kami harus menemuinya lebih dulu,"
Demikian Kim Kong-to mengada-ada. Sengaja bertanya Bu Toan.
"Sa-ciangkun yang mana sih?"
"Tentunya Sa-ciangkun utusan dari kota raja yang bertugas membantu Han-ciangkun, familimu Toan-ongya kenal baik dengan beliau."
Tidak luput dari dugaan Bu Cheng, Sa-ciangkun yang mereka sebut-sebut ini memang bukan lain Sa Mi-wan adanya.
"Benar,"
Sela si orang tua.
"dua hari yang lalu Siau-ong-ya pernah membicarakan dia."
"Oya,"
Timbrung Kek Cin-jay.
"kabarnya Siau-ongya kalian suka berlatih silat, tentu amat cocok dengan Sa-ciangkun."
"Siau-ongya hanya suka berlatih untuk menyehatkan badan saja,"
Ujar si orang tua.
"mana berani bikin capai Sa-ciangkun apalagi Sa-ciangkun sedang sibuk?"
"Kalau begitu biar Sa-ciangkun mengundang guru silat untuk mengajar dia bagaimana?"
Kata Kim Kong-to.
"Oh, ya, hampir saja aku lupa, besok malam Han-ciangkun mengadakan perjamuan, Sa-ciangkun sebagai ketua penyelenggara, entah Siau-ongya kalian ada terima undangan tidak?" .
"Tidak,"
Sahut si orang tua.
"Wah, kemungkinan si pembagi kartu undangan teledor, setahuku Han-ciangkun ingin berdekatan dengan Siau-ongya kalian, kalau Siau-ongya sudi hadir dalam perjamuan besok malam, tentu Han-ciangkun akan menyambutnya dengan senang hati. Biar nanti kuberitahu supaya mereka lekas mengirim undangan."
"Terima kasih akan kebaikan Kim-toaya,"
Ujar si orang tua.
"Cuma Siau-ongya kami biasanya tidak suka main peradatan, kukira tidak usahlah."
Dengan tidak sabar lalu ia minta diri dan berpisah dengan mereka. Setelah keluar dari Toa-ciok-am, berkata Bu Cheng tertawa.
"Toan-kongkong, siapakah kedua orang ini, agaknya kau membenci mereka."
"Dua orang ini sepasang penjilat pantat orang, kerjanya selalu keluar masuk rumah orang mencari gara-gara dan obyek pemerasan, dari kalangan kelas tinggi sampai tukang masak di dapur dikenalnya dengan baik. Sering pula dia berkunjung ke Onghu kami, setiap kali berhadapan dengan mereka Siau-ongya tentu pusing kepala"
"Dua mestika seperti itu, tak heran kau amat sebal berhadapan dengan mereka,"
Demikian ujar Bu Toan tertawa "Jangan singgung pula dua keparat penjilat itu,"
Ujar si orang tua.
"apa kalian ingin ke Ouwtiap-cwan lagi?"
"Waktunya sudah tidak keburu lagi, pulang sajalah,"
Kata Bu Cheng. Setiba di Onghu, matahari belum terbenam, Toan Kiam-ceng sedang latihan silat di taman bunga Berbisik Bu Cheng.
"Jangan mengusik dia."
Lalu ia seret eng-kohnya sembunyi di belakang gunung-gunungan palsu.
Dilihatnya Toan Kiam-ceng sedang memainkan Su-ping-kun.
Su-ping-kun merupakan ilmu silat pukulan paling umum dipelajari orang.
Sesuai dengan namanya permainannya mengutamakan ketenangan dan keseimbangan pada empat penjuru angin.
Walau ilmu pukulan biasa yang paling umum, namun ayunan tangan dan tendangan kaki Toan Kiam-ceng selalu mengeluarkan deru angin.
Maka terdengarlah suara "krak"
Sekali pukul Toan Kiam-ceng menghantam putus sebatang pohon sebesar lengan anak kecil. Tak tertahan Bu Cheng berseru memuji, sementara dalam hati berpikir.
"Lwekang ajaran silat yang ditinggalkan Thio Tan-hong ternyata memang luar biasa, sayang dia tidak mendapat petunjuk guru kenamaan, lwekang tingkat tinggi yang dia pelajari tidak bisa ia manfaatkan."
Cepat Toan Kiam-ceng melompat mundur dan menghentikan latihannya, katanya tertawa.
"Ternyata kalian sudah pulang, kebetulan aku ingin mohon petunjuk kalian. Entah kenapa setiap kali aku latihan ilmu pukulan ini, selalu tidak bisa kulancarkan dengan wajar dan sempurna."
"Waktu kau menarik diri menghentikan latihan, apakah kau merasa napas memburu dan jantung berdetak keras?"
Tanya Bu Cheng.
"Omonganmu memang benar,"
Seru Toan Kiam-ceng girang.
"Setelah latihan ilmu pukulan ini, memang kekuatanku tambah lipat ganda, cuma tidak bisa bertahan lama."
"Mari kau coba dengan cara begini mengerahkan hawa mumi."
Lalu Bu Cheng menjelaskan pokok dasar ajaran mengatur napas dan mengerahkan hawa murni. Sementara di samping diam-diam Bu Toan mengeluh dan mengerut kening, pikirnya.
"Adik Cheng memang tidak tahu urusan, semula aku hendak membujuknya supaya menjauhi Toan Kiam-ceng, dia malah bergaul demikian eratnya."
Toan Kiam-ceng mempraktekkan menurut petunjuk, menarik napas lalu mencelat tinggi beberapa kaki, sekaligus ia lancarkan pukulan berantai dari jurus-jurus Su-ping-kun, benar juga terasa lebih enteng gampang dan cekatan tanpa menemukan kesulitan ia berhasil menyempurnakan latihan jurus ini.
"Bagaimana?"
Tanya Bu Cheng tertawa. Girang Toan Kiam-ceng, katanya.
"Nona Bu, kau memang guruku yang lihay, jurus ini selama beberapa bulan kulatih selalu gagal, setelah mendapat petunjukmu tadi, agaknya memperoleh kemajuan."
"Bicara soal lwekang, yang kutahu hanya kulitnya saja. Pokok dasar ajaran Thio Tan-hong dapat menjadikan Su-ping-kun yang paling umum dari tingkat rendah sebegitu lihay dan sempurna, dapatlah dinilai dari kebiasaannya itu menjadi sedemikian mendalam dan luas maknanya, itulah ilmu tingkat tinggi yang jarang bisa ditemukan. Sayang aku sendiri pun hanya paham kulitnya saja, sampai di mana intisari dan lika-liku kesempurnaannya, aku tak bisa menjelaskan. Cuma ilmu pukulan tingkat tinggi seperti ini harus dilandasi oleh lwekang tingkat tinggi pula, barulah bisa mencapai titik puncaknya. Untuk melatih lwekang tingkat tinggi, kau harus tunggu pamanmu pulang. Dia patut menjadi gurumu."
"Sekarang belum aku mencapai tingkatan yang lebih tinggi, yang kuperlukan hanyalah pokok dasar permulaannya saja, harap nona Bu suka bermurah hati memberi petunjuk."
"Petunjuk aku tidak berani memberikan. Kalau kau ada selera, bolehlah aku belajar bersama kau saja."
"Bagus sekali kalau begitu, ajaran apa yang ingin kau coba?"
"Marilah kita bermain petak, cuma mata tak usah ditutup. Tangkaplah aku, asal dapat kau menyentuh ujung jariku, anggaplah kau yang menang."
Setengah ragu setengah percaya Toan Kiam-ceng dibuatnya, pikirnya.
"Kalau sampai benarbenar membekuk dia, ah, rada sungkan juga!"
Seperti dapat meraba isi hati orang, segera Bu Cheng menambahkan sambil tertawa.
"Tidak usah sungkan dan fakut-takut menangkap aku, yang harus kau latih adalah permulaan ajaran ginkang, meski kau dapat menangkap aku, aku tidak akan salahkan kau."
"Baik, biarlah sekarang aku mulai!"
Sembari bicara, Toan Kiam-ceng pentang kedua tangan terus menubruk maju, terlihat bayangan orang berkelebat, tahu-tahu ia menubruk tempat kosong.
Bu Cheng kembangkan gerakan tubuh Mengitari Pohon Menyelinap Rumpun Kembang, seolaholah kupu-kupu yang menari-nari di atas kelompok kembang mekar, dari satu hinggap dan lompat ke kuntum kembang yang lain, jangan kata badan orang, ujung pakaiannya saja ia tidak mampu menyentuhnya.
Toan Kiam-ceng menyedot hawa, sesuai petunjuk yang diberikan Bu Cheng tadi ia menggerakkan hawa murni ke pusarnya, mengikuti gerak-gerik badan orang ia main tubruk dan sergap dengan kencang, keadaan rada mending, beberapa kali hampir saja ia berhasil menyentuh ujung baju orang, namun tetap dapat dihindari olehnya.
Melihat kemajuan orang yang pesat tak terasa Bu Cheng berseru memuji.
"Kau memang pintar, jauh lebih maju sudah."
Mendapat pujian orang seketika bergairah semangat Toan Kiam-ceng, langkah kakinya dipercepat ia mengejar dengan kencang.
Sekonyong-konyong dilihatnya bayangan badan Bu Cheng berpencar menjadi dua, dari dua kembali berubah jadi empat dan begitulah seterusnya dalam sekejap saja, empat penjuru angin berlapis-lapis bayangan bentuk badan Bu Cheng melulu.
Semakin lama pandangan Toan Kiam-ceng menjadi kabur dan pusing tujuh keliling, namun betapa pun ia sudah berusaha tetap sia-sia menyentuh ujung baju orang.
Tak tertahan Toan Kiam-ceng berseru.
"Nona Bu, sekarang aku tunduk kepadamu!"
Bertaut alis Bu Toan, tak habis mengerti kenapa adiknya tak segan-segan permainkan Toan Kiam-ceng.
Saking lelah dan kehabisan tenaga keringat membasahi seluruh badan Toan Kiam-ceng, napas pun ngos-ngosan, karena pakaian basah kuyup terpaksa ia minta maaf dan mengundurkan diri untuk ganti pakaian.
Bu Toan kurang senang, setelah Toan Kiam-ceng pergi segera ia tegur adiknya.
"Moaymoay, kau mengagulkan diri di hadapannya, apa sih maksudmu?"
Bu Cheng tertawa ujarnya.
"Rahasia alam sekarang belum boleh dibocorkan, sebentar malam baru kuberi tahu kepadamu. Tuh orang tua itu mendatangi, jangan kita bicarakan hal itu pula."
Orang tua itu mengundang mereka makan malam.
Malam itu setelah menemani mereka makan siang-siang Toan Kiam-ceng masuk kamar dan pergi tidur.
Bu Toan tidur di kamar buku yang terletak di bilangan luar, teringat bahwa jejak musuh besar sudah diketahui namun Miao Tiang-hong dan Hun Ci-lo belum kunjung pulang, kalau mengulur waktu mungkin mendatangkan kesulitan, tak terasa hatinya gundah dan was-was tak bisa tidur.
Kira-kira kentongan kedua sudah lewat, tengah Bu Toan merasa tidak tentram, tiba-tiba didengarnya suara "Tbk"
Ada orang mengetuk pintu di luar.
"Siapa?"
Bentak Bu Toan dengan suara berat lirih. Terdengar orang cekikikan geli di luar pintu, katanya.
"Koko, apa kau sudah lupa urusan yang hendak kuberitahu kepadamu?"
Bu Toan, membuka pintu menyuruh adiknya masuk, kata Bu Cheng tertawa.
"Koko, aku berlatih silat sama Toan Kiam-ceng, tentunya kau kurang senang bukan?"
"Syukur kalau kau tahu, kita kemari untuk menuntut balas bagi ayah bunda, berteduh di rumah keluarga Toan, untuk menghindari segala kesukaran masih belum tentu bisa, kau malah hendak menyeretnya ke dalam kesukaran ini."
"Maksudku justru untuk mengurangi kesulitan malam ini, kalau tiada kesulitan, berarti memperlancar kita untuk menuntut balas bukan!"
Bu Toan melengak, tanyanya.
"Apa sih maksudmu?"
"Tentunya Siau-ong-ya sekarang sudah tidur pulas, sebelum terang tanah besok takkan bangun."
Baru sekarang Bu Toan mengerti, katanya.
"O, jadi maksudmu secara diam-diam kita bisa pergi membunuh musuh besar itu?"
"Tidak salah, kalau segala sesuatunya bisa lancar, sebelum kentongan ke lima, kita tentu sudah kembali."
"Kalau menemui kesulitan?"
"Aku sudah menuliskan sepucuk surat ini, kukatakan bahwa kita ada urusan penting harus segera meninggalkan sini, harap Toan Kiam-ceng memaafkan kepergian kita tanpa pamit. Sudah tentu aku mengharap sebelum Toan Kiam-ceng melihat surat ini, kita sudah kembali lebih dulu."
"Kalau begitu, jadi kau siap gugur di medan laga!" ;
"Aku tahu, mengandal kepandaian kita berdua, belum tentu dapat membunuh Sa Mi-wan, sudah tentu lebih baik menunggu paman Miao kembali. Tapi besok lusa Sa Mi-wan harus meninggalkan Tayli, besok malam dia harus hadir dalam perjamuan perpisahan Han-ciang-kun itu, kalau ingin turun tangan malam inilah kesempatan paling baik! Koko, apa kau takut mati?"
Mendidih darah Bu Toan, katanya.
"Dendam orang tua mana boleh tidak dibalas! Bicara terus terang, aku memang sudah siap malam ini membunuh Sa Mi-wan, cuma aku tidak ingin kau ikut menyerempet bahaya ini."
"Kita adalah saudara kandung yang dilahirkan satu ayah satu ibu, membalas dendam orang tua, putra putrinya punya kewajiban yang sama, mana boleh kau tidak ijinkan aku pergi? Seorang diri, bukankah kau lebih berbahaya?"
Bu Toan tahu tekad Bu Cheng, katanya.
"Baik, marilah kita berangkat bersama. Cuma gedung Han-ciangkun itu tidak kecil, untuk mencari Sa Mi-wan di tempat seluas itu, mungkin bukan urusan gampang."
"Kau lupa kedua laki-laki penjilat tadi? Untuk menemukan Sa Mi-wan terpaksa harus memperalat mereka berdua."
Setelah matang perundingan kakak beradik, segera mereka ganti pakaian, secara diam-diam mereka keluar dari bilangan Onghu.
Sejak kembali dari Toa-ciok-am, Kek Cin-jay dan Kim Kong-to sedang ribut merundingkan cara bagaimana besok menemui Sa Miwan mohon diterima sebagai pembantu, mereka sama mengajukan buah pikirannya, semakin runding semakin bersemangat, meski hari sudah larut malam, mereka masih belum tidur.
Mereka sedang ngobrol di atas ranjang, pelita sudah dipadamkan, di saat mereka bicarakan rencana masing-masing, daun jendela tiba-tiba terpentang lebar, Kek Cin-jay berseru heran.
"Eh, daun jendela terbuka sendiri?"
Kim Kong-to kaget, serunya.
"Tidak benar, seperti ada orang..."
Belum habis ucapan mereka, tiba-tiba terasa tengkuk mereka dingin, tahu-tahu sudah diseret turun dari atas ranjang.
Dalam malam gelap tak bisa melihat, namun mereka tahu bahwa senjata tajam sudah mengancam leher mereka.
Saking kaget dan takut serasa arwah copot dari badan kasarnya, nyali Kim Kong-to rada besar sedikit, katanya gemetar.
"Tay-ong ampun, aku, kami orang-orang rudin yang tak punya apaapa."
Bu Toan mengeraskan suaranya menjadi serak dan sumbang, katanya.
"Siapa ingin uangmu, namun kalau kalian tidak menurut petunjukku, awas jiwa kalian!"
Rada lega hati Kim Kong-to, cepat katanya.
"Silakan Tay-ong memberi perintah, asal dapat siaujin lakukan, tentu kubereskan dengan baik."
Bu Cheng menyulut api, katanya dingin.
"Jangan angkat kepala, dengarkan petunjuk."
Sebetulnya mereka sudah mengenakan kedok hitam, namun untuk menjaga kemungkinan dikenali, maka sedikit pun tak berani gegabah.
Kakak beradik membagi diri kedua samping.
Kek dan Kim disuruh duduk berhadapan menyanding meja.
Saking takut dan gemetar, mata mereka terpejam dan menunduk tak berani sembarang bergerak.
Bu Toan mengeluarkan kertas dan alat tulis, masing-masing dibagi satu lembar di hadapan mereka, katanya.
"Kalian masing-masing menggambar sebuah peta keadaan gedung Hanciangkun, tempat kediaman Sa Mi-wan harus kalian beri tanda khusus!"
Terpaksa Kek dan Kim menurut saja, tak lama kemudian masing-masing sudah menggambar peta yang diperlukan, Bu Toan lantas mencocokkan kedua gambar itu satu sama lain, meski ada sedikit perbedaan, namun sebagian besar bentuknya sama, tanda khusus yang dicantumkan dalam peta itu letaknya sama.
Mereka menggambar pada dua sisi meja yang berhadapan, kalau toh gambarnya hampir mirip, Bu Toan berdua lega hati dan percaya bahwa gambar peta ini tentu tidak palsu.
Setelah menyimpan gambar peta itu, berkata Bu Toan.
"Kalian dengar, kalau kalian membocorkan kejadian malam ini, meja ini menjadi contoh bagi kalian."
Di mana tapak tangannya membacok, ujung meja seketika pecah dan jatuh berhamburan! Semakin gemetar dan takut Kek dan Kim dibuatnya, muka pucat lesi, sahutnya tergagap.
"Kami tidak berani."
"Memangnya kau berani!"
Je-ngek Bu Toan.
Ia ulur tangan menotok jalan darah mereka, dua belas jam kemudian baru hiat-to yang tertotok ini akan terbuka sendiri.
Malam itu cuaca gelap angin menghembus santer, saat paling baik bagi orang berjalan tengah malam.
Tanpa diketahui setan dan tidak dipergoki malaikat, Bu Toan berdua menyelundup masuk ke Ciangkun-hu, waktu itu kira-kira tepat kentongan ke tiga.
Rumah kediaman Sa Mi-wan terletak di pojok belakang taman bunga, sesuai petunjuk gambar peta mereka terus menyelundup masuk ke sana, dengan mudah mereka menemukan tempat tujuan.
Rumah ini terletak di ujung taman paling belakang dan menyendiri, sekelilingnya dipagari gunung-gunungan palsu dan tanah kosong yang cukup lebar.
Mungkin Sa Mi-wan terlalu mengagulkan kepandaian silat sendiri, di luar rumahnya tak kelihatan ada tentara penjaga Bu Cheng girang, katanya.
"Sungguh kebetulan malah, tak perlu bikin kaget lain orang, agaknya memang sudah kodrat bangsat itu akan mampus di tangan kita!"
"Keparat itu murid ajaran Siau-lim, ilmu silatnya lihay, jangan kau gegabah,"
Bujuk Bu Toan.
"Aku mengerti. Semoga ayah bunda di alam baka melindungi kita berdua. Tidak perlu kita pikirkan hal tetek bengek, ayolah masuk!"
Ajak Bu Cheng tidak sabaran.
Tidak sukar mencari kamar tidur Sa Mi-wan dalam bangunan rumah tunggal ini, tampak sebuah kamar, jendelanya sedikit terbuka, mengepul keluar asap dupa wangi, maklumlah sebelum preman Sa Mi-wan pernah jadi hwesio, sudah kebiasaan sebelum tidur dia harus membakar dupa Pelan-pelan Bu Toan menarik daun jendela serta pasang kuping mendengarkan, dari nyala api dupa yang membara, lapat-lapat kelihatan di ujung tembok sana terdapat sebatang tongkat hwesio sebesar lengan tangan, itulah senjata Sa Mi-wan yang diandalkan.
Yakinlah bahwa kamar ini jelas adalah tempat tinggal Sa Mi-wan.
Agaknya Sa Mi-wan sudah tidur nyenyak, lapat-lapat Bu Toan mendengar suara dengkuran.
Ranjang yang tertutup kelambu tebal kebetulan menghadap jendela.
Sungguh di luar dugaan bahwa aksi mereka malam ini ternyata begini leluasa.
Setelah mendengarkan sekian lama, tibatiba Bu Toan ayun sebelah tangannya.
"ser, ser, ser,"
Tiga pisau terbang sekaligus ia timpukkan ke dalam ranjang.
Sementara Bu Cheng sudah siapkan segenggam Bwe-hoa-ciam, begitu Sa Mi-wan menerobos keluar ia hendak papaki orang dengan taburan Bwe-hoa-ciamnya.
Kejap lain terdengarlah jeritan keras menyayat hati, orang di atas ranjang terguling jatuh ke atas lantai dan terguling-guling tak bisa bangun.
Bu Cheng melengak.
"Masakah ilmu silat Sa Miwan begini tidak becus?"
Tiba-tiba ia sadar jeritan itu suara perempuan.
"Celaka, salah membunuh orang!"
Teriak Bu Toan kaget.
Belum lenyap suaranya, tiba-tiba terasa angin keras menyampuk datang dari belakang, seseorang tahu-tahu menubruk datang.
Kontan Bu Cheng ayunkan tangannya menebarkan Bwehoa-ciam.
Orang itu tertawa dingin.
"Mutiara sebesar beras juga memancarkan sinarnya!"
Sekali kebut dengan lengan baju, seluruh Bwe-hoa-ciam sambitan Bu Cheng kena digulung lenyap.
Berbareng kedua tangan bergerak, tangan kiri memukul Bu Toan, tangan kanan mencengkram ke arah Bu Cheng.
Dengan gerakan Hong-biau-loh-hoa Bu Cheng menggeser ke samping meluputkan diri.
Meski gerakannya cepat.
"Bret"
Tak urung lengan bajunya teraih sobek.
Sementara Bu Toan menggunakan jurus Hway-tiong-pau-gwat-sik (gaya memeluk harpa), kedua tapak tangan menyimpang ke pinggir membuat lingkaran bundar, dengan kekuatan lengannya ini ia melawan serangan musuh, tak urung ia tergentak mundur tiga langkah.
Orang itu bergelak tertawa, ujarnya.
"Kukira betapa sih tinggi kepandaian kalian tak nyana dua bocah yang masih berbau pupuk bawang. Hm, hm, mengandal kepandaian cakar kucing macam ini berani hendak membunuh aku orang she Sa!"-Ternyata orang inilah baru Sa Mi-wan, perempuan yang terbunuh oleh sambitan pisau terbang Bu Toan tadi adalah gundiknya. Bu Toan insyaf jiwa mereka sukar diselamatkan, katanya nekad.
"Seorang kuncu membalas dendam, sepuluh tahun belum terlambat. Biarlah keparat ini hidup beberapa hari lagi. Moaymoay, lekas kau lari dari jurusan sana"
Bu Toan hendak memancing Sa Mi-wan, supaya adiknya sempat melarikan diri, namun mana Bu Cheng mau membiarkan engkoh-nya seorang diri melawan musuh besar? Sa Mi-wan tertawa dingin.
"Kalian dua kurcaci ini ingin lari ke mana?"
Sebat sekali badannya melejit, beberapa kali lompatan ia sudah mencapai Bu Toan.
Bu Toan sudah melolos pedang, dengan Hun-liong-sam-sian, pedangnya menusuk balik mengarah dada Sa Mi-wan, meski hanya satu jurus, namun di dalam serangan ini terkandung tiga gerak perubahan rumit.
Sa Mi-wan tahu akan kelihayan jurus ini, ia tidak berani pandang enteng, segera ia kembangkan Khong-jiu-jip-peh-to, menghindari tusukan lawan, begitu gerakan perubahan pedang lawan lenyap, secara kekerasan ia sudah siap merebut senjatanya.
Tapi baru saja ia punahkan setengah jurus, Bu Cheng keburu mengejar tiba.
Sa Mi-wan ada melatih mendengar angin membedakan senjata, begitu terasa angin golok menyambar dari belakang, tahu-tahu tangannya terbalik mencengkram ke belakang.
Gerakannya ini amat tepat dan persis benar waktunya seolah-olah belakang kepalanya tumbuh mata, seketika Bu Cheng merasakan pergelangan tangan linu, golok pendek di tangan kirinya hampir saja terebut musuh.
"Sret"
Lekas Bu Toan menusuk dengan pedang, ia kembangkan gerakan perubahan terakhir dari Hun-liong-sam-sian tadi secara hebat dan baik sekali.
Tak sempat Sa Mi-wan merebut golok orang, karena ia harus selamatkan diri lebih dulu, tangkas sekali dengan Ih-sing-hoan-wi seperti gangsingan badannya berputar, berkelit sembari balas menyerang, sekaligus ia desak mundur Bu Toan kakak beradik.
"Cret"
Lengan baju Bu Cheng kembali tercakar robek, untung Liuyap-to tak terebut.
"Kalian tidak akan bisa lari, kalau ingin hidup lekas sebutkan nama kalian, terangkan apa maksudmu hendak membunuh aku?"
Demikian bentak Sa Mi-wan, namun kaki tangan tidak berhenti, sebat sekali ia sudah menyusul ke depan orang mencegat jalan mundur Bu Toan dan Bu Cheng.
"Koko, golok pedang bersatu padu, mari adu jiwa padanya!"
Teriak Bu Cheng. Sa Mi-wan terbahak-bahak.
"Kepandaian sepele ini, berani adu jiwa segala? Hehe, golok pedang satu padu apa, ayolah keluarkan, ingin aku melihatnya!"
Belum habis ia bicara Bu Toan berdua sudah berpencar ke kanan kiri, dua golok sebatang pedang, tahu-tahu sudah merangsak tiba bersama.
Sa Mi-wan memiringkan badan seraya melangkah setindak, dengan Jiu-hwi-bi-ba, tapak tangan kiri menyampuk golok, tangan kanan merebut pedang.
Inilah Tay-kim-na-jiu yang amat dia banggakan, dikombinasikan kepandaian mendengar angin membedakan senjata, gerakan tangannya teramat cepat lagi, sengaja ia biarkan orang melancarkan serangan lebih dulu, sebaliknya ia bergerak belakangan namun mengatasi serangan musuh.
Tak nyana sinar golok Bu Cheng berputar, mendadak membacok datang dari arah yang tak terduga olehnya.
Boat-to-jiu-hoat yang digunakan Sa Mi-wan hanyalah nama satu jurus ilmu silat belaka, sudah tentu ia tidak berani mengadu kulit tangannya dengan ketajaman golok musuh.
Letak dari kelihayan gerakan tangannya ini, yaitu ia dapat memperhitungkan posisi yang diarah oleh bacokan golok lawan, lalu ia bergerak belakangan menyusul lebih dulu, balas menyerang di tempat yang tak terduga oleh musuh, sehingga lawan harus mengurungkan serangan untuk menyelamatkan diri lebih dulu, oleh karena itulah dinamakan Boat-to-hoat.
Bacokan Bu Cheng sekarang dilancarkan dari posisi di luar perhitungannya, sudah tentu perbawa dari Boat-to-hoatnya ini sukar dikembangkan dengan baik.
Sudah tentu Sa Mi-wan amat kaget, lekas ia merubah gerakan, tenaga dikerahkan pada punggung tapak tangan, sekali ayun dan tekan, dengan kekuatan tangannya ia mendesak Bu Cheng, kalau bertempur satu lawan satu, Iwekang Bu Cheng jauh bukan tandingannya, pukulan ini tak usah langsung mengenai dirinya, cukup tersambar anginnya saja Bu Cheng pasti tergetar mundur.
Namun kejadian berlangsung terlalu cepat, ujung pedang Bu Toan sudah teracung miring, tahu-tahu menusuk datang juga dari arah berlawanan yang tak terduga pula, seketika ia kerepotan dan mencak-mencak dibuatnya.
Di bawah rangsakan perpaduan golok dan pedang, tidak berani Sa Mi-wan kerahkan tenaganya melulu untuk menghadapi Bu Cheng, terpaksa ia bertahan rapat sambil balas menyerang saja.
Dasar kepandaiannya memang cukup tinggi, tangan kiri melintang sementara tangan kanan terayun turun, dalam sekejap mata, dia balas dua jurus serangan.
Sekonyong-konyong pula jarinya terulur menggores naik, secepat kilat, dua jarinya menotok tulang lemas di antara pinggang dan ketiaknya.
Kalau totokan ini berhasil, Bu Toan tentu tertotok lemas, seumpama pedangnya mengenai lawan, juga tidak membahayakan jiwa musuh.
Karena tak kuasa menyerang secara deras, terpaksa Bu Toan merubah permainannya.
Walau Sa Mi-wan kuasa mengalahkan mereka, namun beberapa kali hatinya mencelos menghadapi jurus-jurus luar biasa yang membahayakan jiwanya, keringat dingin pun berketes-ketes.
Tapi yang dikejutkan Sa Mi-wan bukan melulu kehebatan perpaduan golok dan pedang Bu Toan dan Bu Cheng.
Setelah berhasil mematahkan beberapa jurus serangan mereka, tiba-tiba ia teringat sesuatu, segera ia membentak.
"Baik, ya, kukira siapa, ternyata kalian keturunan Bu Ting-hong!"
Ternyata Bu Toan melancarkan ilmu pedang warisan keluarga ayahnya Bu Ting-hong, sementara Bu Cheng mengembangkan ilmu golok ajaran ibunya Tio Bun-ki.
Sebetulnya kedua ajaran silat ini berlainan satu sama lain, namun sejak ayah bunda mereka menikah sudah sering dan biasa menghadapi musuh bersama, lama kelamaan dua permainan ilmu yang berlainan dapat dilebur jadi satu dan tercipta-lah perpaduan permainan golok dan pedang.
Bu Toan berdua sejak kecil mempelajarinya dengan tekun, maka permainannya pun amat hafal dan sempurna.
Sa Miwan dulu pernah jadi anak buah Bu Ting-hong maka ia cukup kenal permainan ilmu pedang Bu Toan.
Bu Toan dan Bu Cheng sudah nekad dan siap adu jiwa, maka mereka menyerang dengan sengit dan gencar.
Lama kelamaan Sa Mi-wan pun naik pitam, akhirnya ia berkeputusan untuk turun tangan membunuh kedua-musuh muda ini.
Puluhan jurus kemudian setahap demi setahap ia sudah berhasil mendesak kedua lawannya.
Di saat Sa Mi-wan hendak lancarkan serangan mematikan, tiba-tiba dilihatnya jago merah menyalanyala dari arah samping, di sana letak tempat tinggal Han-ciangkun dan keluarganya.
Sa Mi-wan amat kaget, dalam sekejap saja, tampak bayangan orang berlari kian kemari dan suasana menjadi ribut dan gaduh.
"Ada pembunuh, hayo cepat tangkap!"
"Padamkan api lebih penting, lekas ambil air. Han-ciangkun masih di dalam!"
"Pembunuh lari ke sana, lekas, lekas, lekas ringkus pembunuh itu!"
Keadaan semakin riuh dan gegap gempita diselingi nyala api yang berkobar semakin besar dihembus angin.
Sa Mi-wan jadi kebingungan, entah harus memburu ke sana untuk menolong Han-ciang-kun atasannya, atau membereskan kedua musuh kecilnya ini, karena hati bingung dan pikiran tidak tetap, hampir saja ia termakan oleh tabasan pedang Bu Toan.
Belum lagi ia berkeputusan, mendadak terdengar seseorang berteriak keras.
"Celaka, ciangkun, Han-ciang-kun terbunuh orang!"
Serta mendengar teriakan ini bukan kepalang kaget Sa Mi-wan, tepat pada saat itulah tampak dua sosok bayangan orang bagai terbang melompati tembok terus memburu ke arah sini.
Kejap lain, dari sorotan nyala api yang berkobar semakin besar, mereka melihat jelas kedua pendatang itu adalah seorang laki-laki berusia empat puluhan dan seorang gadis remaja.
Mereka bukan lain adalah Thia Sin-gan dan putrinya Thia Giok-cu yang mereka kenal di Gunbing sebagai ayah beranak pengamen itulah.
Tangan Thia Sin-gan terlihat menenteng batok kepala orang.
Bahwa Thia Sin-gan ayah beranak muncul di sini, sungguh di luar dugaan mereka.
Terdengar Thia Sin-gan tertawa lebar, serunya.
"Sa Mi-wan, nih kuberikan sebuah kado kepadamu!"
Ia ayun tangan, batok, kepala di tangannya ia lempar ke arah Sa Mi-wan.
Semula Sa Mi-wan masih ragu-ragu, setelah ia menyambut kutungan kepala itu baru ia tahu atasannya memang sudah terbunuh.
Sekilas ia tertegun, tiba-tiba ia menggerung gusar terus menubruk ke arah Thia Sin-gan.
Thia Sin-gan lompat jumpalitan ke belakang, kembali tangannya terayun sembari berseru.
"Awas, senjata rahasia."
Lekas Sa Mi-wan pukulkan tangannya.
"Dar!"
Senjata rahasia itu mendadak pecah di tengah udara, seketika kabut asap bergulung memenuhi udara menutupi pandangan mata.
Senjata rahasia peluru berasap ini memang tidak bisa melukai orang, tapi karena asap tebal menerpa muka, seketika napas Sa Mi-wan terasa sesak dan batukbatuk keras.
"Bu-kongcu, lekas lari!"
Teriak Thia Giok-cu.
Saat mana pasukan penjaga sudah mengejar tiba, kalau kabut asap hilang, tentu sukar mereka melarikan diri.
Sa Mi-wan kuatir bila asap itu mengandung racun, sambil pejamkan mata dan menahan napas, ia pasang kuping, begitu Thia Giok-cu bersuara, Sa Mi-wan segera menubruk ke arah sana.
Kebetulan Bu Toan sedang memburu ke samping Thia Giok-cu, di tengah remang-remang bergulungnya asap tebal, tiba-tiba berkelebat sesosok bayangan orang menubruk datang laksana elang menubruk kelinci, secara reflek Bu Toan tusukkan pedangnya, meski tahu diri bukan tandingan Sa Mi-wan, terpaksa ia harus melawan mati-matian.
Tak nyana belum lagi tusukannya mengenai badan Sa Mi-wan, tiba-tiba terdengar Sa Mi-wan sudah menjerit keras dan terjungkal jatuh ke tanah, teriaknya.
"Kau, kau melukai orang secara gelap, ini, masa terhitung..."
Kata-kata 'orang gagah' belum sempat dikatakan, ujung pedang Bu Toan sudah amblas ke dalam dadanya.
Kebetulan Bu Cheng menyusul tiba, lekas ia menambahi dua kali bacokan memotong lehernya.
Sakit hati sudah terbalas, Bu Toan kakak beradik dan Thia Sin-gan ayah beranak lekas melarikan diri, kabut asap itu masih belum buyar, namun pasukan tentara itu lari sana lari sini sambil berteriak-teriak.
"Lekas, kemari, pembunuhnya di sini!"
Suaranya bersahutan dari beberapa penjuru dalam waktu bersamaan, jelas bahwa pembunuhnya bukan seorang saja. Sudah tentu hal ini membuat mereka heran, masing-masing sama membatin.
"Mungkin mereka ayah beranak masih mengundang pembantu lain."
Demikian juga Thia Sin-gan mengira ada orang lain yang membantu kedua kakak beradik ini.
Namun mereka perlu cepat menyelamatkan diri, tiada tempo menanyakan hal ini.
Setelah sampai di luar kota, Bu Toan menyampaikan terima kasih akan budi pertolongan kali ini, tak tertahan Bu Cheng bertanya.
"Thia-pepek, bagaimana kalian pun bisa berada di sini?"
"Terus terang tujuan kami persis tujuan kalian berdua."
Bu Cheng paham, ujarnya.
"Ah, jadi Han-ciangkun itulah musuh besarmu?"
Thia Sin-gan mengiakan, katanya.
"Aku sudah tahu kalian hendak menuntut balas kepada Sa Mi-wan, cuma tidak terduga kebetulan malam hari ini juga."
Tergerak hati Bu Cheng, katanya.
"Thia-pepek, surat yang diterima Toan Kiam-ceng dari pamannya itu, tentunya buah karyamu juga bukan?"
"Nona Bu memang pintar, memang akulah yang menulis surat itu meminjam nama pamannya."
"Jadi orang yang merebut kuda kedua opas di tengah jalan itu tentunya Thia-pepek juga?"
Tanya Bu Cheng.
"Benar, kalau tiada tunggangan itu, mana kami bisa lebih dulu tiba di Tayli."
"Mereka diutus Sebun Soh mengirim surat kepada Han-ciangkun, tentunya surat itu terjatuh ke tangan Thia-pepek pula?"
Tanya Bu Toan.
"Ya, surat itu sebetulnya ditujukan kepada Sa Mi-wan, supaya hati-hati akan kedatangan kalian hendak menuntut balas. Di samping itu ia pun bilang setelah luka-lukanya sembuh dia pun akan menyusul ke Tayli,"
Demikian Thia Sin-gan menjelaskan.
"Kebetulan kalau dia mau datang kemari, kami tidak susah-susah mencarinya,"
Kata Bu Toan senang. Kata Thia Sin-gan.
"Kalau dia tahu kejadian malam ini, pasti dia takkan berani kemari."
Lalu ia menambahkan.
"Toan Siu-si adalah kenalan lamaku sejak beberapa tahun yang lalu, dari penuturan-nyalah aku tahu bahwa musuh besarku menjabat pangkat di Tayli. Dia jelas mengenai riwayat hidupku, aku pun tahu riwayat hidupnya. Karena hubungan yang lain dari lain ini, baru aku berani pinjam namanya menulis surat kepada keponakannya."
"Terima kasih akan bantuan lopek selama ini. Kali ini beruntung mendapat pertolongan lopek lagi, sungguh..."
"Bicara soal budi pertolongan, aku malah harus berterima kasih kepada kalian. Kalau Sa Mi-wan tidak terlibat dengan kalian, masa gampang aku membunuh musuh besarku. Oh, ya, apa kalian tidak datang bersama Miao tayhiap?"
Bu Cheng menjawab.
"Paman Miao dan Hun-kokoh pergi ke Tiam-jong-san, mungkin dua hari lagi baru kembali."
Tatkala itu fajar sudah menyingsing, Thia Sin-gan berkata.
"Mumpung hari belum terang tanah, lekas kalian pulang ke rumah keluarga Toan."
"Paman Thia tinggal di mana, kenapa tidak tinggal bersama kami di sana?"
Tanya Bu Cheng.
"Baru saja kami melakukan urusan jiwa, mana boleh merembet Siau-ong-ya dari keluarga Toan? Aku ini tukang pengamen, kalau ke sana tentu menimbulkan perhatian orang."
"Lalu bagaimana kami mencari kalian?"
"Aku menetap di rumah seorang teman di luar kota, kalau Miao tayhiap atau Toan Siu-si sudah pulang, kami akan bisa mencari tahu. Pada waktunya aku bisa mencari kalian di luar tahu orangorang keluarga Toan."
Hari hampir pagi waktu Bu Toan dan adiknya tiba di gedung keluarga Toan, namun orangorang keluarga Toan belum ada yang bangun.
Langsung mereka menuju ke kamar Bu Toan.
Tak nyana begitu pintu kamar terbuka, mereka dapati seseorang berada dalam kamar.
Dia bukan lain Miao Tiang-hong adanya.
Kaget dan girang sekali Bu Toan, serunya.
"Miao-susiok, bukankah kau bilang besok baru kembali, kenapa begini cepat sudah pulang?"
"Kalau tidak kebetulan tadi aku pulang, mungkin sekarang kalian masih belum bisa meloloskan diri,"
Ujar Miao Tiang-hong tertawa.
"Besar nian nyali kalian, tanpa menunggu aku kembali, berani pergi ke sana untuk membunuh Sa Mi-wan."
Baru sekarang Bu Toan berdua paham, kata Bu Cheng.
"Miao-susiok, jadi kaulah yang membantu secara diam-diam, tak heran kami berempat sudah lari keluar, mereka masih berkaokkaok mengejar pembunuh."
"Orang yang membokong Sa Mi-wan tentunya susiok pula,"
Bu Toan menambahkan.
"Hal itu kulakukan secara menggelap, memang tidak patut dipuji, namun demi kalian bisa membunuh musuh dengan tangan sendiri, terpaksa aku bertindak di luar garis aturan kangouw terhadap Sa Mi-wan."
Ternyata waktu Miao dan Hun tiba di rumah, sudah lewat ken-tongan ketiga, menurut maksud Hun Ci-lo sebenarnya hendak menunggu terang tanah, setelah pintu besar dibuka baru mereka akan pulang, sebab kalau pulang tengah malam, mungkin menimbulkan rasa curiga keluarga Toan.
Sebaliknya Miao Tiang-hong menguatir-kan keadaan Bu Toan berdua, sebelum melihat keadaan mereka, hati rasanya kurang tentram.
Maka mereka berkeputusan masuk secara diamdiam dulu.
Waktu Miao Tiang-hong melongok ke kamar tidur Bu Toan sementara Hun Ci-lo menilik ke kamar tidur Bu Cheng.
Untung Bu Cheng sudah menyiapkan surat peninggalan untuk Toan Kiam-ceng, diletakkan di atas meja, setelah Miao Tiang-hong menemukan surat itu, lekas bersama Hufl Ci-lo mereka menyusul ke ciangkun-hu.
Kedatangan mereka tepat pada waktunya, waktu itu Thia Sin-gan sedang menimpukkan granat asap, Sa Mi-wan sedang menubruk ke arah Bu Toan, dengan sebutir kerikil Miao Tiang-hong dapat menjentik kerikil itu mengenai tepat pada Hoan-tiau-hiat di lutut Sa Mi-wan.
Maka Bu Toan dan Bu Cheng tanpa susah payah dapat membunuh Sa Mi-wan.
Berkata Miao Tiang-hong.
"Hun-kokoh berada di kamarmu, pergi kau beritahu kepadanya, suruh dia menunggu aku di lereng bukit di belakang taman sana."
"Kenapa hendak keluar lagi?"
Tanya Bu Toan.
"Kita harus masuk terang-terangan dari pintu besar, kalau mendadak muncul di dalam rumah, orang-orang dari keluarga Toan ini tentu akan kaget dan heran serta curiga!"
Tatkala itu cuaca baru saja terang tanah, suasana Onghu masih sepi dan sunyi, belum kelihatan seorang pun menongolkan kepalanya dari kamar tidurnya.
Baru saja Miao Tiang-hong hendak keluar, tiba-tiba didengarnya derap lari kuda yang kencang dan berhenti di luar pintu istana keluarga Toan.
"Gelagatnya tidak seekor kuda yang datang?"
Ujar Bu Toan heran. Miao Tiang-hong pasang kuping, katanya.
"Dua orang datang bersama. Ih, mereka sedang menggedor pintu!"
Bu Toan mengerut kening, ujarnya.
"Aneh, sepagi ini ada orang datang, mungkin kedua orang ini..."
Didengarnya si orang tua itu sudah memburu keluar membuka pintu. Kejap lain terdengarlah suara percakapan mereka.
"Urusan ini amat penting, lekas suruh Siau-ong-ya keluar!"
"Ya, ya. Para Tayjin silakan duduk menunggu, segera kulapor-kan kedatangan kalian."
Kedengarannya suara si orang tua sudah mulai gemetar. Tidak meleset dari dugaan, kedua tamu tak diundang ini ternyata datang dari ciangkun-hu di kota. Bu Toan kaget, kataya lirih.
"Suara orang itu amat kukenal, susiok, mari kita mengintip dari belakang pintu angin di kamar tamu, bagaimana? Kalau terjadi sesuatu, jangan kita bikin keluarga Toan ketimpa malang."
Miao Tang-hong tahu siapa orang yang datang, sebab bukan hanya sekali dua kali ia pernah bergebrak dengan orang itu.
Hatinya sedang gundah, setelah berpikir sebentar, akhirnya ia berkepu-tusan, katanya.
"Baiklah, tapi kau harus dengar petunjukku, kalau tidak terpaksa jangan sembarang turun tangan."
Setelah Miao dan Bu Toan menyembunyikan diri di belakang pintu angin, sementara Toan Kiam-ceng sudah menerima tamu-tamunya.
Kedua tamu itu sama mengenakan seragam militer.
Waktu Bu Toan mengintip keluar, sungguh terkejutnya bukan main, hampir saja ia menjerit.
Lekas Miao Tiang-hong mendekap mulutnya, lalu berbisik di pinggir telinganya.
"Sabar sedikit, tunggulah setelah dia di luar lingkungan istana keluarga Toan baru membunuhnya!"
Kiranya salah satu kedua perwira itu bukan lain Sebun Soh yang tempo hari terjun ke dalam air di Gunbing.
Sementara itu Toan Kiam-ceng sudah keluar tergesa-gesa, mata sipit masih ngantuk, hati mendongkol lagi, segera ia menyapa kurang senang.
"Tayjin sepagi ini datang kemari, entah ada keperluan apa?"
Seperti tertawa tidak tertawa, Sebun Soh berkata.
"Sepagi ini kami membangunkan Siau-ongya, sungguh tidak enak hati. Tapi urusan ini amat penting, kami harus mencari tahu dan bikin beres urusan, terpaksa harus minta pengertian Siau-ong-ya."
Toan Kiam-ceng terheran-heran, tanyanya.
"Untuk urusan apa harus diselidiki biar terang dalam gedung rumahku?"
Perwira yang lain menyeletuk tanya.
"Harap tanya Siau-ong-ya, dalam gedungmu ini berapa hari ini adakah kedatangan tamu dari tempat jauh, mereka adalah sepasang kakak beradik?"
Toan Kiam-ceng kaget katanya.
"Dari mana kalian bisa tahu, mereka adalah famili jauh kami, memangnya dia melanggar hukum apa?"
"Apakah melanggar hukum, sekarang belum berani pastikan, harap tanya apakah mereka she Bu?"
"Memangnya kenapa kalau she Bu?"
Sebun Soh manggut-manggut, agaknya ia amat senang dan puas, katanya tertawa besar.
"Ternyata tidak meleset, mereka memang orang yang sedang kami cari! Aku ingin bertemu dengan mereka, harap Siau-ong-ya suka panggil mereka keluar!"
Sejak melarikan diri terjun ke Tian-ti tempo hari, Sebun Soh merawat luka-luka dalamnya di gedung gubernuran, memang tabib di sana pandai, maka luka-lukanya sembuh jauh lebih cepat dari dugaan semula.
Cuma ilmu silatnya belum pulih seluruhnya.
Maka dengan menunggang kuda cepat ia menyusul datang ke Tayli pikirnya hendak istirahat dan menyembuhkan luka-lukanya di ciangkun-hu beberapa waktu lamanya.
Soalnya dia memang ditugaskan merundingkan rencana gerakan pasukan perbatasan di bawah pimpinan Han-ciangkun, dengan adanya Sa Mi-wan yang berkepandaian tinggi sebagai pelindungnya, tentunya jauh lebih baik dan selamat daripada gedung gubernuran di Gun-bing.
Sudah tentu ia belum tahu bila Miao Tiang-hong dan lain-lain sudah tiba di Tayli.
Semalam ciangkun-hu geger dan diributkan adanya pembunuh gelap, Sebun Soh tahu ilmu silat sendiri belum pulih, pikirnya ada Sa Mi-wan yang melindungi ciang-kun, ciangkun-hu dijaga ketat pula oleh sepasukan peronda, tidak perlu dia susah payah ikut memburu si pembunuh.
Tak nyana perhitungan yang muluk-muluk justru menimbulkan akibat di luar dugaan, bukan saja Hanciangkun sampai pun sahabat baiknya Sa Mi-wan pun ikut terbunuh.
Panglima tertinggi penguasa perbatasan terbunuh orang, urusan bukan sekedar perkara kecil, seluruh pasukan tentara yang bercokol di Tayli harus dikerahkan untuk mengadakan razia di seluruh pelosok kota Tayli.
Sebagai seorang ahli yang banyak pengalaman, tentunya Sebun Soh tahu bila si pembunuh tentu sudah lari jauh entah ke mana, namun tidak bisa tidak ia harus tetap bekerja memenuhi tugas dinas, terpaksa ia pimpin sendiri gerakan besar-besaran ini, tujuannya adalah memperlihatkan kegiatan kerjanya kepada kerajaan.
Tak nyana satu dugaan berada di luar dugaan yang lain pula, semula ia hanya bekerja sesuai tugas dinas saja, tak nyana malah berhasil mendapat bahan penyelidikan, bahan penyelidikan ini ia dapatkan dari dua orang penjilat macam Kek Cin-jay dan Kim Kong-to itulah.
Seperti diketahui kedua orang ini tertotok jalan darahnya oleh Bu Toan dan Bu Cheng, maka waktu sepasukan tentara menggrebek ke tempat mereka, setelah pintu digedor setengah harian, masih belum keluar.
Untunglah pimpinan pasukan memang kenal mereka dan setelah mendobrak pintu mereka segera ditolong keluar dan minta tolong kepada Sebun Soh untuk membebaskan totokan jalan darah mereka.
Setelah jalan darahnya bebas, semula Kek dan Kim tidak berani banyak bicara, serta mendengar Han-ciangkun dan Sa Mi-wan sudah dibunuh orang, kalau mereka tidak mau mengaku, Sebun Soh mengancam akan menuduhnya sebagai komplotan pembunuh itu.
Terpaksa mereka mengaku terus terang.
Sebun Soh mengerut kening, tanyanya.
"Apa kalian tidak melihat raut muka mereka?"
"Kedua penjahat itu mengenakan kedok. Dan lagi kami amat ketakutan, angkat kepala pun tidak berani."
"Bahwasanya mereka orang tua, setengah baya atau anak muda, laki-laki atau perempuan? Walau tidak melihat jelas raut muka mereka, sedikitnya mendengar suara dan melihat perawakan badan mereka?"
Setelah hati rada tenang, Kim Kong-to lantas menjelaskan.
"Dari nada bicara mereka, logatnya seperti laki dan perempuan, usianya pun belum banyak."
Tergerak hati Sebun Soh, tanyanya pula.
"Mereka mencari tahu keadaan ciangkun-hu, cara bagaimana bisa mendatangi kalian?"
"Hal itu kami pun tidak tahu,"
Sahut Kek dan Kim bersama.
"Siang tadi, kalian ada bertemu dengan siapa yang sekiranya mencurigakan?"
Di bawah tekanan dan ancaman serta kompesan Sebun Soh, akhirnya Kek dan Kim menuturkan pertemuan mereka dengan Toan-kongkong dan sepasang kakak beradik she Bun di Toa-ciok-am siang tadi.
Timbul curiga Sebun Soh.
"Bukan mustahil kedua kakak beradik itu adalah Bu Toan dan adiknya?"
Namun pimpinan pasukan itu rada kuatir, katanya.
"Keluarga Toan amat berkuasa di Tayli, kukira sukar mencari gara-gara kepada mereka, peristiwa ini terpaksa hanya bisa diurus sekenanya saja, bila sampai salah tindak, tidak perlu kita mencari permusuhan dengan keluarga Toan mereka."
Sebun Soh sudah yakin delapan puluh prosen, katanya.
"Suhengku adalah komandan Gi-limkun, jangan kata hanya Ongya boneka yang tiada punya kekuasaan resmi, seumpama benar raja dari kerajaan di sini pun aku tidak perlu takut."
Karena Sebun Soh sebagai tulang punggungnya, pikirnya inilah kesempatan untuk menarik keuntungan besar, karena kemaruk harta, maka nyalinya menjadi besar. Katanya.
"Benar, peduli dia tulen atau palsu, peristiwa besar seperti ini, seumpama tidak sungguhan bisa juga kita peras sedikit harta benda keluarga Toan mereka."
Oleh karena itulah sepagi itu mereka sudah meluruk ke rumah keluarga Toan. Dalam pada itu, mendengar Sebun Soh menuntut dirinya kepada Toan Kiam-ceng, Bu Toan tertawa getir.
"Memang mereka sedang mencari kami berdua!"
Bisiknya di pinggir telinga Miao Tiang-hong, lalu hendak keluar. Lekas Miao Tiang-hong menariknya, katanya berbisik.
"Jangan tergesa-gesa, lihat dulu bagaimana Toan Kiam-ceng menghadapi. Kalau keadaan terpaksa baru. kita turun tangan. Pendek kata kalau keadaan tidak mendesak, kita harus berusaha jangan sampai merembet keluarga Toan mereka."
Terpaksa Bu Toan menahan diri dan bersabar.
Di saat mereka berbisik-bisik itu, Hun Ci-lo bersama Bu Cheng pun sedang mendatang dengan diam-diam dari ruang belakang, mereka pun sembunyi di belakang pintu angin.
Lekas Miao Tianghong memberi tanda gerakan tangan, supaya mereka tidak berisik dan menimbulkan suara.
Terdengar Toan Kiam-ceng sedang berkata.
"Harap tanya untuk keperluan apa tayjin berdua hendak menemui mereka?"
Maklum meski Toan Kiam-ceng cetek pengalaman dan belum banyak pengetahuan dalam tata pergaulan, dasar otaknya memang cerdik dan bisa melihat gelagat.
Melihat Sebun Soh bersama kepala pasukan Han-ciangkun sepagi ini sudah meluruk datang minta ketemu orang, ia insyaf urusan tentu bukan sembarang urusan.
"Siau-ong-ya,"
Ujar Sebun Soh tertawa tidak tertawa.
"mungkin kau belum tahu siapa sebenarnya kedua kakak beradik itu bukan?"
Tahu bahwa jejak Bu Toan berdua memang sudah diketahui orang, namun To^n Kiam-ceng bersikap tenang, ia pura-pura tidak tahu, katanya.
"Tayjin, apa sih maksud kata-katamu ini? Memangnya kau sangka aku menerima orang yang asal-usulnya tidak keruan lalu menipu kau?"
"Tidak berani. Harap tanya mereka adalah sanak famili dari keluarga yang mana dari Siau-ong-"Ini, ini... em, yang terang mereka adalah famili keluarga kami, meski hubungan rada jauh, namun mereka bertandang dari tempat yang sedemikian jauhnya, betapapun aku tidak bisa berpeluk tangan bila di Tayli mereka disakiti orang!"
"Sudah tentu, sudah tentu. Tapi bukan mustahil famili jauh itu hanya famili akuan belaka, maklum keluarga kerajaan tentunya punya kerabat yang banyak, siapa tahu kalau mereka menipumu. Menurut apa yang kutahu, mungkin mereka kakak beradik bukan dan tidak mungkin sanak kadang dari keluarga Toan kalian."
Berubah roman muka Toan Kiam-ceng, katanya tertawa dingin.
"Agaknya kau amat hafal dan tahu persis mengenai seluk beluk keluarga Toan kami. Harap tanya dari mana kau tahu sedemikian jelas?"
"Bukan kami tidak tahu adat kehormatan, soalnya peristiwa ini menyangkut urusan besar, kami harus bekerja seteliti mungkin!"
"Baik kujelaskan. Paman ada mengirim surat kepadaku, menyinggung kedua famili yang hendak datang ke Tayli ini, supaya aku menerima mereka. Begitulah kenyataannya, masih ada pertanyaan apa pula?"
"Aku tahu pamanmu Toan Siu-si seorang tokoh kangouw yang kenamaan juga, bukan maksudku mau bilang pesannya tidak boleh dipercaya, namun kaum persilatan biasanya mengutamakan kesetiaan dan budi pekerti, persahabatan pun dipandang berat, mungkin kedua kakak beradik ini adalah kenalan intim pamanmu saja, maka sengaja pamanmu hendak mengakui mereka sebagai sanak kadang."
"Memangnya bagaimana asal-usul mereka, katamu kau tahu, silakan jelaskan!"
Sebun Soh berkata dengan dingin.
"Ada seorang Bu Ting-hong tinggal di Bu-seng Soa-tang, sepuluhan tahun yang lalu, dia pernah mengibarkan panji pemberontakan, tentunya Siau-ong-ya ada pernah tahu nama besarnya?"
"Aku menetap di kota gunung, selamanya tidak peduli urusan luar, nama orang yang kau sebut tadi selamanya belum pernah aku dengar."
"Ternyata tidak meleset dugaanku,"
Ujar Sebun Soh terbahak-bahak.
"Bahwasanya keluarga Bu di Soatang mana bisa ikat kekeluargaan dengan keluarga Toan yang berkuasa di Tayli?"
"Orang macam apakah sebetulnya Bu Ting-hong yang kau sebut tadi?"
Tanya Toan Kiam-ceng ragu-ragu.
"Sepuluhan tahun yang lalu Bu Ting-hong pernah memimpin gerombolan pengacau memberontak kepada kerajaan, terpaksa kerajaan mengerahkan pasukan tentara untuk menumpasnya, setelah berperang beberapa tahun baru berhasil menumpas pemberontakan mereka. Bu Ting-hong itu bukan lain adalah orang tua kakak beradik yang sekarang menetap di gedung istanamu itu."
"Bu Ting-hong memberontak puluhan tahun yang lalu, putra-putrinya waktu itu tentu masih kecil, bukan?"
"Benar!"
Baca Juga: Dendam Sejagad Legenda Kematian 8
Baca Juga: Seruling Perak Sepasang Walet 8