Eps 15 Kelana Buana - Liang Ie Shen
Baca online Kelana Buana - Liang Ie Shen
Cersil Kelana Buana - Liang Ie Shen.
Sahut Sebun Soh.
"Seumpama benar mereka adalah putra-putri Bu Ting-hong, kukira tidak perlu mereka dijatuhi dosa-dosa orang tuanya!"
"Sayang undang-undang negara kerajaan yang menegakkan, undang-undang negara dapat saja dijatuhkan atas istri dan putra-putrinya. Masih ada sebuah hal belum kuberitahu kepada Siauong-ya. Semalam Han-ciangkun dan Sa-ciangkun dibunuh orang, kedua kakak adik itu justru merupakan orang-orang yang dicurigai."
Semula Toan Kiam-ceng berku-kuh hendak membela dan melindungi Bu Toan berdua, mendadak mendengar kabar ini, tak urung ia amat kaget. Sesat baru ia bersuara.
"Apa benar kejadian itu?"
"Kalau tiada peristiwa besar ini, mana berani kami sepagi ini mengganggu Siau-ong-ya? Sudahlah, persoalan sudah dibikin terang, harap Siau-ong-ya serahkan mereka kepadaku!"
"Sampai sekarang kau sendiri tidak bisa membuktikan apa benar mereka pembunuhnya, mana boleh kau anggap mereka sebagai buronan?"
"Benar atau tidak setelah mereka keluar akan terbukti. Siau-ong-ya tidak usah kuatir, kau dikelabui mereka, peristiwa ini sedikit pun tiada sangkut paut dengan kau."
"Aku tidak takut kena perkara, cuma sayang kau datang terlambat, kemarin pagi, mereka sudah pulang!"
Jawaban ini sungguh di luar dugaan Bu Toan berdua yang mencuri dengar di belakang pintu angin, batin Bu Cheng.
"Tak nyana Siau-ong-ya ini ternyata punya keberanian sebesar ini, ternyata salah penilaianku semula kepadanya."
Sebun Soh pun merasa di luar dugaan, seketika ia menarik muka, katanya keras.
"Siau-ong-ya, urusan ini besar artinya, aku tidak ingin kau kena perkara, maka kau pun harus bantu aku memberikan pertanggung jawaban kepada atasanku nanti."
"Lalu apa yang hendak kau lakukan?"
"Siau-ong-ya, tentunya kau cukup paham, bukan aku tidak percaya omonganmu, namun dengan susah payah kami mendapat bahan penyelidikan ini, betapapun kami pantang kembali dengan tangan kosong!"
Membesi muka Toan Kiam-ceng, serunya.
"Maksudmu kau hendak menggeledah rumahku?"
"Benar, aku sedang menunaikan tugas dinas, terpaksa kami pun harus menggeledah gedung istanamu ini."
Kata-kata ini seketika membuat suasana ruang tamu ini seolah-olah membeku. Kedua pihak sama mematung dan tegang. Miao Tiang-hong berempat pun tak kalah tegang dan gugupnya. Bu Cheng malah berpikir.
"Entah apakah Toan Kiam-ceng berani menolak penggeledahan ini?"
Maka terdengar Toan Kiam-ceng berkata lantang.
"Kau hendak menunaikan tugas dinas, gampang saja. Kalian tangkap aku saja. Rumahku sekali-kali pantang dijelajah orang luar."
"Toan Kiam-ceng,"
Jengek Sebun Soh dingin.
"turun temurun leluhurmu bercokol jadi raja di sini, gedung istana tentu tidak boleh sembarangan digeledah orang luar. Tapi sayang sekarang kau bukan lagi seorang pangeran tulen. Kau mengangguk kami harus menggeledah, kau menggeleng kepala pun kami tetap akan menggeledah! Hayo geledah!"
Kepala wisu ciangkun-hu itu adalah seorang yang suka main tangan dan bertingkah, mendengar anjuran Sebun Soh segera ia tampil ke depan mendorong Toan Kiam-ceng, jengeknya dingin.
"Siau-ongya, kau suka kena perkara, biarlah setelah kami meringkus buronan itu, boleh kau ikut kami!"
Tak nyana belum habis ia bicara tiba-tiba "Bluk!"
Wisu itu terpental roboh terjengkang.
Ternyata tak pernah terpikir olehnya bahwa Siau-ong-ya ini pandai main silat, maka dengan mudah malah dia disengkelit jatuh oleh Toan Kiam-ceng.
Sebun Soh tertegun, kilas lain ia tertawa lebar, ujarnya.
"Ternyata Siau-ong-ya pun pandai main silat, baik, biar aku iringi Siau-ong-ya berlatih beberapa jurus."
Urusan sudah terlanjur sedemikian jauh, tidak bisa tidak harus diselesaikan dengan kekerasan, di saat Miao Tiang-hong angkat tangan hendak memberi tanda untuk menyerbu keluar bersama, sekonyong-konyong sebuah suara dingin dan menusuk kuping berkata.
"Siapa berani bikin onar di rumahku?"
Tiba-tiba dalam ruang tamu itu entah kapan sudah bertambah seseorang!
Gerak tubuh orang ini teramat cepat, bukan saja Toan Kiam-ceng tidak tahu kapan orang masuk, Sebun Soh yang berkepandaian tinggi pun tidak mendengar suara kedatangan orang, setelah orang buka suara baru ia tahu akan kehadirannya.
Waktu Toan Kiam-ceng melihat tegas, seketika kejut girangnya bukan main, teriaknya.
"Paman, kau sudah pulang!"
Ternyata orang ini bukan lain adalah Toan Siu-si. Toan Siu-si tertawa dingin, ejeknya.
"Sebun Soh, kau hendak main tangkap terhadap tamuku, perlu kau tanya dulu kepada kepalanku ini memberi ijin tidak kepadamu!"
Sebun Soh menggerung keras, turun tangan dulu lebih menguntungkan, sekali pukul ia lantas menyerang Toan-Siu-si.
Ilmu yang dia latih adalah Lui-sin-ciang, angin pukulannya laksana hembusan angin tungku yang membara apinya, suhu panas seketika berkembang memenuhi udara.
Toan Kiam-ceng tak kuasa menahan panas, lekas ia mundur ke belakang pintu angin, sekonyong-konyong ia berpapasan dengan Bu Toan kakak beradik yang sedang menerjang ke luar, seketika ia melenggong.
Sebun Soh dan Toan Siu-si masing-masing mempunyai keahlian dan keunggulan yang berbeda, taraf ilmu silat mereka Sih kira-kira setanding, tapi karena luka-luka Sebun Soh sembuh belum lama, kepandaiannya belum pulih seluruhnya, sudah tentu setingkat lebih asor.
Maka terdengarlah "krak"
Lengan kanan Sebun Soh tahu-tahu kena dipelintir keseleo oleh Hunkin-joh-kut-hoat yang dilancarkan Toan Siu-si.
Setelah menangkis Lui-sin-ciang musuh, tapak tangan Toan Siu-si seperti menyentuh papan besi yang sudah dibakar membara, meski lwekangnya cukup tinggi, tak urung ia merasa panas pedas juga, tak tertahan ia tersunat tiga langkah.
Tapi sepihak lengan putus, pihak lain hanya luka-luka kulit saja kesudahannya jelas Sebun Soh jauh lebih dirugikan.
Saking kesakitan sekaligus Sebun Soh menjerit seraya menghardik, dengan langkah pontangpanting segera ia menerjang ke luar hendak lari.
"Lari ke mana?"
Bentak Toan Siu-si, baru saja ia hendak mengejar, tiba "Biang"
Pintu angin di pinggir sana tiba-tiba mencelat terbang ditendang Bu Toan, bersama adiknya ia cegat jalan lari Sebun Soh. Miao Tiang-hong keluar dari belakang pintu angin, katanya tertawa.
"Toan-heng, keparat itu adalah musuh besar mereka kakak beradik, biarkan mereka membunuh musuh dengan tangan sendiri."
Sebun Soh mengamuk sejadinya seperti binatang terluka dalam kurungan, di mana lengan kirinya terayun ia sodok Bu Cheng dengan sikutnya, tapak tangannya menabas kepada Bu Toan.
Terasa angin panas menyampuk muka, seketika napas Bu Toan serasa sesak.
Untung Iwekang Sebun Soh tinggal tiga bagian saja, kekuatannya tidak cukup melukai orang.
Sebat sekali Bu Toan berkelit seraya balas menyerang, sigap sekali ia menggeser minggir dan berputar ke belakang musuh, kedua tapak tangan menepuk punggung orang terus didorong sekuat tenaga, keruan Sebun Soh tak kuasa berdiri tegak, badannya tersungkur ke depan, dasar licik ia membarengi badannya miring sambil mencengkram ke arah Bu Cheng.
Melihat orang sudah terdesak masih begitu nekad dan mengganas kejut Bu Toan bukan main, teriaknya memperingatkan.
"Moaymoay, awas!"
Belum lenyap suaranya, dilihatnya langkah Sebun Soh tiba-tiba sempoyongan, salah satu lututnya tertekuk menyentuh lantai, serta merta gerakan badannya berputar menghadap ke arah Bu Toan.
Ternyata kepandaian sejati Bu Cheng memang tidak ungkulan dibanding engkohnya, namun gerak-gerik badannya lebih gesit dari engkohnya.
Bukan saja Sebun Soh tidak berhasil mencengkram dia, malah kena ditendang dan lemaslah badannya.
Sudah tentu Bu Toan tidak memberi kesempatan orang balas menyerang pula, dengan sejurus Ciong-koh-ki-bin (tambur gembreng bunyi bersama), kedua kepalannya menggencet bersama Thay-yang-hiat di pelipis Sebun Soh, itulah tipu ajaran silat dari keluarga Bu yang terlihay dan mematikan, Sebun Soh yang sudah terluka dan kehabisan tenaga itu mana kuat bertahan?
Setelah memperdengarkan jeritan panjang menyayatkan hati, kedua matanya membalik, badannya roboh bermandikan darah, jelas jiwanya takkan tertolong lagi.
"Selamat, selamat,"
Seru Miao Tiang-hong girang.
"Kalian berhasil membunuh seorang musuh pula, kini tinggal seorang Pakkiong Bong saja."
Wisu yang terjungkal oleh seng-kelit Toan Kiam-ceng tadi, kini sudah merangkak bangun, melihat Sebun Soh terkapar tak bergerak, keruan kagetnya serasa arwahnya menghilang.
Toan Siu-si menje-ngek dingin.
"Aku paling benci melihat manusia penjilat main tingkah, ikutilah jejak Sebun tayjinmu!"
Sekali tepuk, ia cabut nyawa orang sekalian.
Kejadian berlangsung dalam waktu singkat dan cepat sekali, dalam sekejap itu dua jiwa sudah melayang.
Keruan Toan Kiam-ceng berdiri menjublek di tempatnya.
Toan Siu-si tertawa, ujarnya.
"Kabarnya kau mengharap aku pulang, begitu aku kembali lantas bikin susah kau, apa kau takut?"
"Takut sih tidak. Cuma mereka jelek-jelek alat negara, mereka mampus di sini, bagaimana baiknya?"
"Biar kubereskan!"
Ujar Toan Siu-si.
Ia keluarkan sebuah botol yang berisi bubuk obat warna kuning, bubuk obat itu ia taburkan di atas mayat kedua orang, dalam waktu singkat kedua mayat itu tinggal genangan air darah melulu, yang ketinggalan hanya rambut kepala mereka.
Keruan merinding dan bergidik Toan Kiam-ceng melihat adegan seram.
"Bagian luar sudah kuperiksa semuanya, tiada orang lain. Lekas kau minta bantuan Chit-siok membereskan kamar ini, suruh mereka tutup mulut dan dilarang membocorkan kejadian ini."-Ternyata si orang tua itu adalah angkatan tua dari sepupu jauh Toan Siu-si, karena dia nomor tujuh, maka Toan Siu-si sudah biasa memanggilnya Chit-siok. Kata Toan Kiam-ceng.
"Orang keluarga kita aku berani mempercayai. Tapi kalau pihak ciangkun-hu tidak melihat mereka kunjung pulang, mereka bakal kemari mencari tahu dan main selidik, bagaimana kita harus mengelabui mereka?"
"Kalau benar mereka berani datang, bunuh saja semuanya!"
Ujar Toan Siu-si.
"Bunuh semuanya?"
Teriak Toan Kiam-ceng kaget.
"Bu... bukankah urusan bakal semakin besar?"
Mendelik mata Toan Siu-si.
"Urusan sudah terjadi,-buat apa kau takut tanpa alasan?"
Segera Miao Tiang-hong membujuk Toan Kiam-ceng.
"Sebun Soh hanya membawa seorang pengikut, tentunya tidak mau membagi jasa dengan orang banyak. Maka orang lain pun tentu tiada yang tahu bila mereka datang kemari. Bila benar mereka datang cari tahu di sini, katakan saja tidak tahu menahu jejak mereka. Sa Mi-wan dan Han Ciangkun saja bisa terbunuh, bukan mustahil mereka pun digorok lehernya di tengah jalan."
"Ceng-tit,"
Ujar Toan Siu-si.
"Kalau kau memang sudah berke-putusan tidak mau jadi Siauongya keluarga Toan, apapun yang terjadi tidak perlu kau takuti lagi. Kalau kau tidak bisa menghadapi, aku akan bantu mencari jalan belakang. Sudahlah, lekas kau bersihkan ruangan ini. Miao tayhiap, Hun-lihiap, mari kita bicara di kamar buku."
Ternyata Toan Siu-si ingin benar selekasnya tahu sebab musabab kematian suhengnya, hatinya amat risau dan masgul.
"Baik, Toan-tit bersama adikmu kalian tinggal di sini bantu Toan-siheng,"
Kata Miao Tiang-hong. Toan Siu-si ajak Miao Tiang-hong dan Hun Ci-lo masuk ke dalam kamar buku, katanya.
"Di Saysiang-pan-na aku tidak menemukan Tiam-lam-su-hou, lantas aku merasa mendapat firasat jelek, siapa tahu aku terlambat pulang meski sudah tergesa-gesa. Bagaimana kematian suhengku, apa kau tahu?"
Ternyata satu jam setelah Miao dan Hun turun gunung pulang ke Tayli, kebetulan Toan Siu-si tiba di Tiam-jong-san. Jadi ia melihat tulisan yang ditinggalkan Miao Tiang-hong di atas dinding itu.
"Kami sendiri pun datang terlambat,"
Kata Miao Tiang-hong. Lalu ia tuturkan apa yang dia lihat di sana.
"Memangnya Tiam-lam-su-hou punya kepandaian apa bisa membunuh suhengku dan Ling Hong-ciang, ternyata masih ada seorang Tosu dari Khong-tong-pay. Tapi kejadian ini rada janggal."
"Siapakah tosu dari Khong-tong-pay itu?"
Tanya Hun Ci-lo.
"Aku pun tidak tahu. Tapi dalam Khong-tong-pay ada seorang tosu yang jadi sahabat baikku. Miao tayhiap, pengalamanmu banyak pengetahuanmu luas, tentunya kau pernah dengar nama Tan Khu-seng?"
"Kabarnya dia salah seorang tokoh dari Khong-tong-pay yang paling menonjol, sepak terjangnya di antara lurus dan sesat?"
"Hanya menurut gelagat dan situasi dunia belaka, apa itu lurus atau sesat, sebetulnya sukar dibilang pada tindak tanduk seseorang. Dalam pandanganku dia seorang pembawa adat, aku sih malah rada cocok dan sehaluan sama dia."
Berkata Toan Siu-si lebih lanjut.
"Tan Khu-seng adalah murid generasi kedua dari Khong-tongpay, tapi kalau hanya dinilai ilmu silatnya, kepandaiannya malah lebih tinggi dari ciangbunjin mereka Ling-si-cu. Kebanyakan orang-orang Khong-tong-pay sama tahu akan hubungan intim kami berdua, kini orang yang mencelakai suhengku ternyata ada tosu dari Khong-tong-pay, oleh karena itulah aku merasa aneh. Kejadian ini aku harus menyelidikinya sampai terang."
"Suhengmu ajal lantaran anakku, soal membalas dendam ini..."
Sela Hun Ci-lo. Lekas Toan Siu-si menukas.
"Kalau Tan Khu-seng tahu peristiwa ini, pasti dia akan bantu aku mencari pembunuh itu. Tapi watak orang ini amat aneh dan menyendiri, terpaksa hanya akulah yang bisa menemuinya. Mengenai Tiam-lam-su-hou, aku yakin masih kuat menghadapi mereka, soal membalas dendam kematian suhengku ini, harap kalian tidak perlu ikut men-capaikan diri."
"Tidak perlu aku banyak omong akan budi kebaikanmu ini, urusan putraku itu, terpaksa aku pun harus minta pertolonganmu untuk mencarinya."
"Hun lihiap, kata-katamu seakan-akan tidak pandang aku orang she Toan sebagai teman sendiri. Kalau kami suheng-te tidak merebut putramu dijadikan murid, putramu tidak akan mengalami kejadian seperti ini. Dia putramu, juga muridku, mana bisa aku tidak mencari balik muridku? Selama hidupnya suheng tidak pernah berbohong, sebelum ajal dia sempat mengatakan 'masih baik', maka putramu tentu tidak mengalami sesuatu bahaya. Legakan hatimu, begitu aku menemukan putramu, akan kuusa-hakan memberi kabar kepadamu."
Setelah mengucapkan terima kasih kepada Toan Siu-si, Hun Ci-lo tertawa getir, katanya.
"Kalau demikian, aku jadi menganggur tak ada kerjaan."
Tiba-tiba Toan Siu-si ingat sesuatu, katanya.
"Cara bagaimana kalian bisa menetap di rumahku ini?"
Miao Tiang-hong melengak, tanyanya kembali.
"Bukankah kau yang menulis surat kepada keponakanmu untuk menyambut kami?"
"Ah, tidak!"
Ujar Toan Siu-si keheranan.
"Apakah yang terjadi?"
Baru saja ia hendak keluar tanya kepada keponakannya, terlihat si orang tua itu berlari datang dengan napas ngos-ngosan.
"Chit-siok,"
Ujar Toan Siu-si.
"Istirahat dulu baru bicara."
Si orang tua justru tak mau istirahat, katanya dengan napas memburu.
"Siauya, celakalah!"
"Apanya celaka?"
Tanya Toan Siu-si.
"Ada dua orang asing mencari, mencari kau!"
"Bagaimana mereka tahu kalau aku sudah pulang?"
"Aku pun tidak tahu, yang laki itu bilang, setelah kau bertemu sama dia akan tahu sendiri."
Dari penuturan si orang tua, agaknya pendatang itu adalah laki dan perempuan, tergerak hati Miao Tiang-hong, baru saja ia hendak bicara dengan Toan Siu-si orang sudah menjengek dingin, katanya sambil melangkah keluar.
"Betul juga ada orang mencari perkara kemari, baik, biar kulihat siapa mereka?"
Ia kira yang datang adalah anjing alap-alap kerajaan.
Waktu Toan Siu-si tiba di ruang tamu, kedua orang itu pun kebetulan tiba di sana.
Bu Toan kakak beradik sedang menyambut kedatangan mereka.
Sekilas Toan Siu-si melongo, segera ia berseru girang.
"Thia-toako, kiranya kau!"
"Toan-heng,"
Ujar Thia Sin-gan.
"Kau belum tahu bahwa kami ayah beranak sudah tiba di Tayli bukan?"
Bu Toan menjadi rikuh, selanya.
"Toan tayhiap, paman Thia ada pesan kepadaku untuk menyampaikan sesuatu kepadamu, tapi aku lupa."
Sebetulnya bukan dia lupa, soalnya Toan Siu-si baru pulang lantas membunuh Sebun Soh, lalu ajak Miao dan Hun masuk kamar buku bicara.
Jadi Bu Toan belum ada kesempatan menyampaikan pesan itu.
Toan Siu-si sudah paham, katanya tertawa.
"Tidak perlu kau beri tahu kepadaku. Lo-thia, surat itu kau yang menulis bukan?"
"Kau tidak salahkan aku bukan?"
"Orang yang membunuh Han-ciangkun semalam, tentunya kau?"
Thia Sin-gan manggut-manggut sambil mengiakan.
"Selamat kau berhasil menuntut balas. Perlu juga kuberi tahu kepadamu, barusan Sebun Soh telah terbunuh juga di sini oleh mereka kakak beradik."
Thia Sin-gan ikut girang, katanya.
"Kalau begitu, urusan Bu-kongcu di sini pun sudah selesai. Tak heran waktu aku melangkah masuk tadi, tercium bau anyirnya darah."
"Setelah melakukan perkara besar ini, tentu kau tidak akan tinggal lama-lama di Tayli?"
"Ya. Sengaja kubawa Cu-ji untuk menemuimu. Sebentar kami akan segera berangkat."
"Thia-pepek,"
Timbrung Bu Cheng.
"ke mana tujuan kalian selanjutnya?"
"Waktu di Gunbing, Lau-toako dan Thia-toako ajak aku ke Siaukim-jwan. Waktu itu aku belum ada tempo, sekaranglah saatnya aku menyusul ke sana."
Thia Giok-cu tertawa, katanya.
"Bu-cici, Lau-toako di Siau-kim-jwan, tentunya kau pun ingin lekas-lekas menyusul ke sana toh. Kita berangkat bersama bagaimana?"
Merah muka Bu Cheng, katanya tertawa.
"Ya, biar kami berangkat bersama kalian, di tengah jalan supaya tidak kesepian."
Toan Kiam-ceng seperti sedang memikirkan apa-apa, tiba-tiba ia menyeletuk.
"Siapa itu Lautoako?"
Miao Tiang-hong bantu menjelaskan.
"Orang ini bernama Lau Khong, tetangga mereka kakak beradik yang dibesarkan bersama. Waktu ayah mereka mengerek panji pemberontakan melawan pasukan kerajaan, Lau Khong adalah salah satu pembantu terpercaya ayah mereka. Usia Lau Khong lebih tua dari mereka, sebelum ajal, ayahnya pernah menitipkan mereka kakak beradik kepada Lau Khong, terutama diharuskan dia melindungi Cheng-ji."
Secara tidak langsung kata-kata Miao Tiang-hong sudah menjelaskan kepada Toan Kiam-ceng, bahwa Bu Cheng sudah terangkap jodohnya dengan Lau Khong.
Hambar dan seperti kehilangan apa-apa Toan Kiam-ceng dibuatnya, katanya dengan tertawa kecut.
"Nona Bu, selamat, selamat. Ternyata kau sudah punya calon suami yang gagah perwira."
Merah muka Bu Cheng, namun sikapnya wajar dan berani menghadapi kenyataan, katanya tersenyum.
"Toan-toako, kau sebagai seorang Siau-ong-ya, berani menghadapi bahaya dan kesulitan bagi kepentingan kami semua, hatimu bajik dan berdarah patriot pula, sungguh mengagumkan, kau pun boleh terhitung sebagai kaum pendekar. Semoga kelak kau bisa mendapatkan seorang istri cantik rupawan yang mencocoki hatimu kapan kalian datang ke Siaukim-jwan, kami pasti akan menyambut dengan senang hati."
"Nah semua orang sudah ada tujuan masing-masing, sekarang giliranku tanya kau. Kiam-ceng, bagaimana pula perhitunganmu?"
Sesaat Toan Kiam-ceng ragu-ragu, katanya kemudian.
"Pihak penguasa Tayli memang sampai sekarang belum mengutus orang menyelidik kemari, namun peristiwa hari ini mungkin tidak akan bisa tetap dirahasiakan, kukira sementara lebih baik aku meninggalkan rumah saja."
"Baik juga kalau sementara kau menyingkir dari kesulitan, ke mana kau hendak pergi? O, sebetulnya Siau-kim-jwan sebuah tempat yang baik, cuma..."
"Ilmu silatku belum sempurna, tiada sesuatu yang dapat kukerjakan di Siau-kim-jwan, Paman, biar aku ikut kau kelana di kangouw, sedikit banyak bisa ikut belajar kepandaian, sudikah kau membawa aku?"
"Aku hendak ke Cu-lay-san, perjalanan jauh dan sukar ditempuh, apa kau kuat menderita?"
Tanya Toan Siu-si.
"Aku sudah bosan hidup dalam lingkungan tembok tinggi, serba mewah dan disanjung, kalau paman suka bawa aku untuk menggembleng diri di luar, derita apapun bolehlah kurasakan!"
"Baik, kau punya tekad, biar kubawa kau. Setiba di Cu-lay-san, mungkin aku bisa mencarikan guru ternama untukmu."
"Sudah saatnya kami berangkat,"
Sela Miao Tiang-hong, lalu bersama Hun Ci-lo mereka minta diri kepada Toan Siu-si dan keponakannya.
"Aku harus tinggal lagi sehari di rumah, besok baru berangkat ke Cu-lay-san bersama Kiamceng,"
Demikian kata Toan Siu-si.
"Hun Lihiap tidak usah kuatir, persoalan putramu serahkan saja kepadaku."
Miao Tiang-hong berenam meninggalkan gedung istana keluarga Toan, setelah menempuh perjalanan mereka bertemu jalan bercabang tiga. Tiba-tiba Miao Tiang-hong berkata.
"Tiba saatnya kita pun berpisah di sini. Toan-tit, bersama adik dan Thia-toako berempat, aku boleh berlega hati melepas kau. Setelah bertemu Lau Khong sampaikan salamku."
Bu Toan tertegun, tanyanya.
"Miao-susiok, kau tidak ikut ke Siau-kim-jwan?"
Ia kira Miao Tiang-hong dan Hun Ci-lo juga setujuan dengan mereka, maka ia merasa di luar dugaan. Miao Tiang-hong tersenyum, ujarnya.
"Seharusnya aku menjadi wali adikmu dalam pernikahannya nanti, untung seorang sahabatku Beng Goan-cau berada di Siau-kim-jwan, setiba di sana, boleh kau mohon kepada dia minta kepada pimpinan laskar gerilya Leng Thiat-jiau untuk memimpin upacara pernikahan Cheng-ji, tentunya jauh lebih berarti dan semarak daripada aku sendiri yang mewakili ayah bundamu."
"Aku tidak menguatirkan pernikahan moaymoay, cuma Miao-susiok, kau, kenapa kau tidak pergi?"
"Ada sedikit urusan, terpaksa aku harus minta bantuan pamanmu,"
Demikian sela Hun Ci-lo. Bu Cheng memberi lirikan kepada Bu Toan, timbrungnya.
"Kalau demikian, janganlah kami memaksa paman. Setelah urusan kalian selesai, kita bisa bertemu di S iau-kim-j wan."
Setelah bayangan Miao dan Hun tak kelihatan di kejauhan, Bu Cheng tertawa, katanya.
"Koko, kau ini memang ceroboh!"
"Ceroboh dalam hal apa?"
Tanya Bu Toan heran.
"Memangnya kau tidak melihat hubungan Miao-susiok dengan Hun-kokoh? Bukan mustahil kita bisa minum arak kegirangan mereka lebih dulu. Cuma tidak enak aku menggoda mereka tadi."
Bu Toan sadar.
"Ya, Hun-Lihiap sudah bercerai dengan Nyo Bok, kalau dia menikah dengan Miao-susiok siapapun tiada hak mencampurinya. Kalau bisa menjadi kenyataan, sungguh suatu hal yang menggembirakan."
"Urusan bahagia ini, tidak perlu disangsikan lagi, pasti akan berhasil, kau tidak percaya lihat saja buktinya kelak!"
Walaupun Hun Ci-lo tidak mendengar apa yang diperbincangkan Bu Toan kakak beradik, namun ia bisa menebak ke mana arah percakapan itu.
Setelah melihat bayangan mereka hilang di kejauhan sana, baru berkata dengan tertawa getir.
"Tiang-hong, sungguh aku amat menyesal dan tidak enak terhadapmu, tidak pantas aku membuat kau dirugikan dalam percakapan iseng orang lain."
"Ci-lo, demi menyempurnakan perjodohan orang, tidak segan kau merendahkan diri, akulah seharusnya yang bersedih bagi kau. Bahwasanya tidak perlu kau bertindak demikan."
Hun Ci-lo tertunduk dengan muka merah, ujarnya.
"Aku hanya merasa bersalah terhadap kau, sehingga kau diejek dan dibuat buah bibir orang banyak."
"Bukan saja kita sudah saudara angkat lain jenis, juga sahabat kental yang sehaluan dan sepandangan. Persahabatan kita akan tetap abadi selamanya, benar tidak?"
"Menurut pendapatku persahabatan yang murni amat tinggi nilainya, ada kalanya malah melampaui hubungan keakraban antara suami istri atau sesama kekasih. Mungkin orang lain tidak akan memahami perasaan yang terjalin di antara hati kita, terpaksa biarkan orang lain bermulut iseng. Kukira rasa persahabatanku terhadapmu takkan pernah berubah."
"Baik, kalau begitu dengarlah sepatah kata nasehatku."
Hun Ci-lo melenggong, tanyanya.
"Kau hendak bujuk aku apa?"
"Pergilah ke Siau-kim-jwan dan temui Beng Goan-cau."
Hun Ci-lo tertunduk tanpa bersuara. Berkata Miao Tiang-hong pelan-pelan.
"Ci-lo, aku tahu isi hatimu. Beng Goan-cau adalah lakilaki yang pernah kau cintai, selanjutnya kau tidak akan tumbuh perasaan seperti itu terhadap orang lain, betul tidak ucapanku?"
"Aku bisa mengendalikan perasaan hatiku. Tapi selanjutnya aku hanya bisa pandang dia sebagai temanku yang paling baik, bagaimana juga takkan kubiarkan dia mengetahui rahasia hatiku ini."
"Kenapa kau harus bersikap demikian? Kau menikah dengan Nyo Bok, bukan kesalahanmu. Suatu kejadian yang terpaksa dalam jaman geger seperti itu, waktu itu kau sudah mengandung, mengira dia sudah meninggal lagi. Ragamu menikah dengan Nyo Bok, hatimu masih milik Beng Goan-cau. Cintamu terhadapnya masih tetap murni. Kini kau pun sudah berpisah dengan Nyo Bok, kenapa harus mere-ras diri karena kesalahan perkawinanmu dulu itu? Goan-cau adalah laki-laki perkasa, berjiwa lapang dan berpandangan luas, masa dia tidak mengerti akan pahit getirmu ini?"
"Dia dapat memahami dan memaafkan aku, sebaliknya aku tidak memaafkan diriku sendiri. Apalagi berpisah sepuluhan tahun, tiada sesuatu yang takkan berubah dalam dunia ini, terutama manusia, sumpah setia sehidup semati masa lalu, sudah lama berselang dan tawar? Kalau dalam hati aku mencintai dia, maka tidak bisa aku menambah beban derita sanubarinya"
"Aku tahu Lim Bu-sianglah yang menjadi sebabnya. Kau biarkan Goan-cau diraihnya, terus terang aku kurang setuju."
"Bu-siang laksana sekuntum kembang dalam lembah nan sunyi, suci bersih dan tiada cacat, aku amat menyukainya seperti adikku sendiri. Aku tahu cintanya terhadap Goan-cau adalah murni, namun dia tidak tahu bila aku pun mencintai Goan-cau. Aku rela hatiku sendiri yang sedih, betapapun aku tidak akan membiarkan dia patah hati."
Miao Tiang-hong geleng-geleng kepala, ujarnya.
"Seumpama kau bertekad merangkap perjodohan mereka, aku tetap membujukmu untuk ke sana menemui mereka, tidak seharusnya kau menyingkir dari hadapan Goan-cau!"
"Buat apa harus berbuat demikian?"
"Paling tidak kau masih anggap mereka sebagai sahabat, benar tidak? Sahabat baik kenapa tidak boleh bertemu? Kalian bertiga kalau bisa kumpul bersama, bukan mustahil akan terbuka suatu penyelesaian yang sempurna di antara kalian bertiga."
"Tapi aku tidak ingin demikian. Kini aku hanya ingin menyusul ke Thian-san, di mana anak dan ayah angkatku berada."
"Aku bisa mewakili kau ke sana menemui ayah angkatmu, jangan kau lupa kau sudah berjanji menyerahkan anakmu yang kecil menjadi muridku, ada aku dan ayah angkatmu yang merawat dan mengasuhnya, apa pula yang masih kau kuatirkan?"
"Bukan aku kuatirkan keadaan anakku, namun..."
"Tidak usah pakai 'namun' segala, pergilah ke Siau-kim-jwan menemui Goan-cau. Bicara soal anak, persoalan Hoa-ji harus kau beritahukan juga kepada Goan-cau!"
Di bawah bujukan manis Miao Tiang-hong, tekad Hun Ci-lo lama kelamaan menjadi goyah, namun ia masih bimbang dan sukar berke-putusan.
Tiba-tiba terdengar derap langkah kuda berlari mendatangi di tanah pegunungan depan sana.
Kebetulan mereka sedang berada di jalan pegunungan yang tidak rata dan sukar dilalui, saat mana sedang membelok suatu pengkolan gunung, maka mendengar derap kaki kuda, namun belum terlihat bayangannya.
Sudah tentu kedua penunggang kuda itu pun tak melihat mereka.
Karena jalanan memang rusak dan berbatu, kuda tidak bisa berlari kencang, terdengar seorang tengah bicara.
"Memang kita sedang sebal, semula kita kira setiba di Tayli Sa Mi-wan bisa bantu mengangkat kita sebagai perwira dalam pasukannya, bilamana bisa membuat jasa, hidup senang dan berkecukupan tak perlu dikatakan lagi. Siapa tahu setiba di Tayli malah kita harus melayat jenazahnya."
Seorang yang lain terdengar menimbrung sambil tertawa.
"Bicara terus terang, ikut Sa Mi-wan menyerbu ke Siau-kim-jwan, aku benar-benar rada takut. Beng Goan-cau berada di sana, bukan mustahil sunio kita pun berada di sana, bila sampai kebentur mereka, hehe, mungkin aku masih bisa mencari sedekah ke tempat lain, sebaliknya kau belum tentu bisa selamat."
Dengan suara lirih Miao Tiang-hong tanya kepada Hun Ci-lo.
"Salah seorang agaknya adalah murid Nyo Bok terbesar Bun Seng-liong?"
"Benar, seorang lain adalah murid Nyo Bok kedua Gak Hou."
"Bun Seng-liong bocah keparat itu amat jahat, mata-mata yang ditanam oleh Pakkiong Bong di dalam Tin-wan Piaukiok adalah dia. Kali ini kebentur di tanganku, jangan kau lepaskan dia!"
"Biar kita dengar dulu percakapan mereka!"
Terdengar Bun Seng-liong sedang berkata.
"Hm, kau masih pandang perempuan jalang itu sebagai sunio (ibu guru), guru kita kan sudah menceraikan dia."
Gak Hou tertawa, ujarnya.
"Sebetulnya apa yang kau lakukan selama ini sudah cukup membuatnya menderita, entah dia sendiri tahu tidak akan hal ini?"
"Sudah tahu aku pun tidak takut. Sekarang aku adalah bintara dalam Gi-lim-kun, memangnya apa yang bisa dia lakukan atas diriku?"
"Jangan kau bicara demikian yakin, kalau berada dalam Gi-lim-kun di Pakkhia, sudah tentu tak perlu takut kepadanya. Akan tetapi bila di luar dugaan bertemu di tengah jalan, kau maki dia apa dia bakal mundur dan tinggal pergi begitu saja? Maka kukatakan kali ini kita tidak jadi ikut dalam pasukan besar, siapa tahu kalau rejeki malah?"
"Kau ini memang tidak tahu diri, dalam Gi-lim-kun paling-paling kau hanya kepala barisan saja, kapan kau bisa angkat diri? Tentunya lebih baik bertugas di bilangan luar saja. Kalau ingin mendapat pangkat tinggi dan hidup senang, tentunya kau berani menyerempet bahaya. Bahwasanya mana mungkin secara kebetulan kita bakal kebentur dengan Hun Ci-lo perempuan jalang itu? Kau hanya tanpa alasan!"
Belum habis ucapannya, tiba-tiba terdengar hardikan nyaring melengking, tahu-tahu terlihat Hun Ci-lo muncul dari pengkolan gunung sana, mencegat di depan kuda mereka, jengeknya dingin.
"Bun Seng-liong, coba buka lebar mata anjingmu, siapa aku ini?"
Keruan bukan kepalang terkejut Bun Seng-liong.
"wut"
Kontan ia ayun pecutnya sembari mengeprak kuda menarik kendali menerjang Hun Ci-lo.
Mana Hun Ci-lo rela melepasnya lari, sekali raih dan tarik membalik, ia tangkap ujung pecut orang terus menariknya jatuh dari atas kuda, sekali jinjing dan angkat pula ia lempar badan orang ke atas lereng gunung.
Bersamaan dengan itu kedengaran suara gedebukan di belakang sana, kiranya belum lagi Miao Tiang-hong datang, Gak Hou sudah ketakutan dan terperosok jatuh dari atas tunggangannya.
Jalan pegunungan yang tidak rata dan berlika-liku hanya cukup tiba untuk jalan satu tunggangan saja, kedua ekor kuda sama-sama dibikin kaget dan membedal saling tumbuk dan berdesakan, sama-sama main sepak dan berlompatan, keruan mereka sama terpelanting jatuh.
Lekas Miao Tiang-hong memburu maju menarik tali kekang kedua ekor kuda, lalu putar balik menawan Gak Hou, serta digiringnya masuk ke dalam hutan.
Sementara itu Hun Ci-lo sudah menggusur Bun Seng-liong ke dalam hutan.
"Apa itu yang dinamakan sesat takkan menang dari lurus?"
Damprat Hun Ci-lo.
"Kalian suka rela menjadi antek bangsat Tartar, masih bermuka tebal dan tidak tahu malu lagi, mengagulkan diri sebagai seorang kuncu? Hm, Bun Seng-liong, coba katakan, cara bagaimana kau hendak menghadapi aku?"
Saking ketakutan sekujur badan Bun Seng-liong gemetar keras, sesaat mulut terbuka tak kuasa mengeluarkan suara. Terpaksa Gak Hou yang mewakili memberi penjelasan.
"Sunio, hal itu bukan tanggung jawabku. Bun, Bun-suhenglah yang menarikku ke dalam Gi-lim-kun, sebenarnya aku hanya ingin mencari sesuap nasi saja, tak pernah terpikir olehku hidup senang berpangkat tinggi segala. Kali ini dia pula yang paksa aku ikut kemari. Mana aku berani menyerbu laskar rakyat?"
"Sepanjang jalan ini, perbuatan kotor apa saja yang kalian lakukan, mengakulah terus terang!"
"Semua itu Bun Seng-liong sendiri yang melakukan, terus terang aku tidak berani menghina dan bikin kotor nama sunio."
Tujuan Hun Ci-lo hendak tanya perbuatan jahat apa yang mereka lakukan untuk merugikan perjuangan laskar gerilya, mendengar kata-katanya ini, tak terasa malah melenggong, tanyanya.
"Perbuatan apa yang merugikan diriku? Katakan!"
"Dari Nyo-toakoh ia mendapat tahu bahwa kau bersama Miao-siansing, maka sepanjang jalan ini dia menyebar kabar buruk yang merusak nama baik kalian. Katanya, katanya kalian... ai, tak berani aku kurang ajar terhadap Sunio, kata-kata kotor yang dia ucapkan itu tak, tak berani aku mengatakarnya!"
Walau Gak Hou tak berani mengatakan, namun Hun Ci-lo sudah paham, roman mukanya mengulum senyum dingin, pikirnya.
"Paling mengatakan aku gen-dak Miao-toako dan main serong segala! Tidak menjadi soal dia merusak nama baikku, sebaliknya Miao-toako yang tidak bersalah ikut kena getahnya."
Karena pikirannya ini, amarah seketika berkobar di rongga dadanya, dengan dingin ia tatap muka Bun Seng-liong.
Diam-diam Bun Seng-liong mencuri lihat sikap Hun Ci-lo, ia tahu orang pasti takkan mengampuni jiwanya, maka segera ia berlaku nekad dan untung-untungan pura-pura menjadi laki-laki keras kepala, jengeknya dingin.
"Hun Ci-lo, bunuhlah aku untuk menutup mulutku."
"Kau kira bisa buka mulut menyemprot muka orang dengan darah lantas aku takut kepadamu?"
"Apa itu menyemprot muka orang dengan darah (maksudnya memfitnah), memangnya sekarang kau sedang minggat dengan seorang laki-laki liar? Hehe, perbuatan baik kalian kebetulan kepergok olehku, kau tidak bunuh aku menutup mulut, kukira kau tidak akan bisa tidur nyenyak."
Miao Tiang-hong gusar, serunya.
"Keparat ini hendak memancing kau supaya tidak membunuhnya, aku justru tak peduli permainan liciknya ini!"
Tapak tangan pelan-pelan diangkat menepuk ke batok kepalanya, belum lagi mengenai sasarannya, angin tekanannya sudah bikin air mata Bun Seng-liong meleleh, kepala serasa ditindih batu besar sehingga pusing tujuh keliling.
Bun Seng-liong hendak main gagah sebagai laki-laki sejati, namun menghadapi saat antara mati dan hidup, gemetar juga sekujur badannya, kata-kata yang sedianya hendak dilontarkan pun tak kuasa diucapkannya.
Tiba-tiba Hun Ci-lo menghela napas, katanya.
"Sudahlah, ampuni saja jiwanya!"
"Ampuni dia?"
Tanya Miao Tiang-hong.
"Kita hanya mengejar kesucian hati dan kebersihan diri, tidak setimpal kita bikin persoalan dengan bocah keparat berjiwa kotor seperti dia ini!"
"Baik, hukuman mati boleh dibatalkan, derita hidup harus kau rasakan!"
Tapak tanganmya menepuk ringan saja, seketika Bun Seng-liong rasakan sekujur badan seperti ditusuki jarum-jarum yang tak terhitung banyaknya, seluruh urat nadi dan jalan darahnya serasa meledak pecah, sakit bukan main seketika pandangan berputar dan sempoyongan jatuh lemas.
"Modal untuk jadi cakar alap-alapmu sudah kurampas. Selanjutnya bila kau pakai kekerasan terhadap orang, sekali kau menggunakan hawa murni, jiwamu akan segera melayang! Baik, mati atau hidup, terserah pada tingkah lakumu selanjutnya. Menggelundunglah pergi!"
Sambil menahan sakit Bun Seng-liong terseok-seok merayap bangun terus lari pontang-panting memeluk kepala, Gak Hou lekas memburu memayangnya. Bun Seng-liong segera memakinya.
"Barusan kau ingin supaya aku lekas mati baru hatimu puas, kini pura-pura hendak mengambil hatiku."
"Suheng,"
Gak Hou tergagap.
"tidak bisa tidak siaute harus bilang demikian!"
Lebih murka Bun Seng-liong dibuatnya, dampratnya.
"Tadi kau hanya bicara demi keselamatanmu sendiri, memangnya masih ada aku suhengmu dalam pandanganmu?"
Tiba-tiba Gak Hou sadar akan peringatan Miao Tiang-hong barusan, segera ia balas menjengek dingin.
"Bun Seng-liong, jangan kau pamer diri sebagai suhengku yang busuk, kau sekarang manusia cacat yang tak berguna lagi, memangnya kau sangka aku takut kepadamu? Hehe, aku baik hati terhadap kau, kau malah memaki aku, baik, biar kita jalan menempuh arahnya sendiri, memangnya aku sudi mencari muka kepadamu."
Mereka belum tiba di bawah gunung, maka perdebatan mereka sayup-sayup masih kedengaran.
Miao Tiang-hong merasa dongkol dan geli pula.
Waktu ia berpaling dilihatnya Hun Cilo berdiri melongo dengan hambar.
"Ci-lo, kenapa kau menangis?"
Hun Ci-lo melengos sambil mengusap air mata, katanya.
"Tidak apa-apa, mataku kena debu."
"Kebetulan mereka tinggalkan kedua kuda tunggangan ini, marilah kita berangkat!"
Mereka jalan berjajar, sepanjang jalan Hun Ci-lo selalu masgul dan murung, sepatah kata pun tak bicara lagi.
"Ci-lo, bukankah tadi kau bilang kesucian hati dan kebersihan diri, kenapa pula kau harus mereras diri lantaran kata-kata Bun Seng-liong?"
"Aku tidak salahkan dia!"
"Memangnya kenapa kau jadi tidak senang hati?"
"Aku salahkan diriku sendiri."
Miao Tiang-hong menghela napas, ujarnya.
"Ci-lo, jangan banyak pikiran, kuanjurkan lekaslah kau pergi ke Siau-kim-jwan menemui Beng Goan-cau saja."
Belum sempat Hun Ci-lo menjawab, tiba-tiba terlihat dari depan mencongklang pesat dua ekor kuda mendatangi, dua pemuda penunggangnya kelihatan masih amat muda belum cukup dua puluhan, begitu dari kejauhan melihat mereka berdua, tiba-tiba sama menjerit dan membalikkan kuda.
Kiranya kedua pemuda ini adalah murid-murid Nyo Bok yang paling kecil, mereka adalah Song Beng-ki dan Oh Lian-ba.
Di antara enam murid-murid Nyo Bok, kedua orang ini berusia paling muda dan jiwanya masih murni, biasanya Hun Ci-lo paling sayang kepada mereka Sekilas Hun Cilo melenggong, lekas ia keprak kudanya mengejar, serunya.
"Kenapa kalian lari dari hadapanku?"
"Sunio, ai, aku tak tahu apakah aku masih harus panggil kau sunio? Aku, aku..."
Tiba-tiba Song Beng-ki kertak gigi, saking gugup air mata bercucuran, katanya.
"Aku, aku tak bisa katakan!"
Kata Hun Ci-lo lemah lembut.
"Meskipun aku sudah berpisah dengan gurumu, kalian boleh pandang aku sebagai angkatan yang lebih tua bukan? Apakah kalian ada mendengar kabar jelekku?"
Kata Song Beng-ki.
"Sunio, selamanya aku menghormatimu, cuma kenapa kau harus berpisah dengan suhu?"
Oh Lian-ba ikut menimbrung.
"Sunio, toasuheng menyiarkan kabar-kabar buruk itu, sebetulnya aku tidak percaya, tapi, tapi..."
"Sekarang kau percaya bukan?"
"Sunio,"
Kata Oh Lian-ba.
"Lebih baik kau kembali ke samping suhu. Kalau di luar kau bergaul dengan orang lain, meski sepak terjang terang-terangan dan berkelakuan baik, omongan iseng selalu bisa dikumandangkan orangorang iseng. Sunio, kalau nama baikmu dibikin rusak, kami yang jadi murid pun ikut tercela."
Tak terasa timbul kepedihan Hun Ci-lo, namun timbul juga rasa marahnya, pikirnya.
"Kiranya mereka salahkan aku membuat mereka kehilangan muka! Kedua bocah ini berjiwa jujur polos dan bajik, sayang mereka mendapat didikan tak benar dari Nyo Bok, kini lambat laun berpikiran egois demi kepentingan diri sendiri. Tapi bagaimana juga mereka lebih baik dari Bun Seng-liong, aku tidak bisa salahkan mereka."
Kata Oh Lian-ba was-was.
"Sunio, aku masih terlalu muda dan tak tahu urusan, kalau salah omonganku, harap kau tidak ber-kecil hati."
"Usia kalian masih kecil, banyak urusan yang belum bisa kalian pahami. Tapi lantaran apa aku harus berpisah dengan gurumu, aku bisa menjelaskan kepada kalian. Sebab yang utama, karena jalan yang dia tempuh berlawanan dengan cita-citaku."
Dengan mendelong dan hampa Oh Lian-ba dan Song Beng-ki awasi sunionya sesaat lamanya, agaknya mereka belum bisa menyelami makna dari kata-kata Hun Ci-lo.
"Coba kutanya kalian dulu,"
Hun Ci-lo menambahkan.
"Dalam pandangan kalian, orang macam apa sebenarnya guru kalian itu?"
"Suhu adalah guru silat kenamaan di Siok-ciu, orang-orang yang kami kenal sama menghormat dan segan kepada beliau."
"Benar, dia memang guru silat kenamaan, tapi dia pun mempunyai kedudukan lain yang belum kalian ketahui."
"Kedudukan apa?"
Tanya Oh Lian-ba.
"Mata-mata dari kerajaan Boan!"
Song dan Oh amat kaget, tanpa berjanji sama berteriak.
"Apa katamu, kau maksudkan suhu seorang mata-mata?"
"Tidak bakal lantaran aku sudah berpisah dengan dia lantas memfitnahnya!"
Oh dan Song berpandangan tak bersuara. Terang bahwa mereka rada ragu-ragu dan kurang percaya akan kata-kata Hun Ci-lo.
"Untuk apa kalian datang ke Tayli?"
Tanya Hun Ci-lo.
"Toa-suheng yang suruh kami kemari." 'Untuk apa kalian disuruh kemari?"
"Dia suruh kami ikut dia bekerja. Kami sudah lulus dari perguruan, sudah tiba saatnya untuk mencari nafkah sendiri!"
"Bekerja apa?"
Agaknya Song Beng-ki tidak senang pertanyaan yang berbelit-belit ini, katanya.
"Aku tidak tahu. Aku percaya suheng pasti bisa mengaturnya dengan baik."
"Untuk persoalan ini apa suhumu tahu?"
"Sudah tentu kami pernah memberi laporan kepada suhu, suhu malah memberi dorongan supaya kami lekas kemari."
"Kalau kalian belum tahu, aku malah sudah tahu. Bun Seng-liong menghendaki kalian membuntuti jejaknya, menjadi antek kerajaan!"
Berubah air muka Song Beng-ki, tanyanya.
"Sunio, kau bilang demikian, adakah kau punya bukti?"
"Bun Seng-liong dan Gak Hou sudah lama menjadi bintara dalam Gi-lim-kun, kalau kalian tidak percaya, boleh kalian mengejar ke jalanan sana, tidak akan lama kalian bisa menemukan mereka, pakaian yang mereka kenakan adalah seragam kemiliteran."
Mendengar penjelasan ini, seketika Song dan Oh berdiri menjublek. Sesaat kemudian baru Song Beng-ki bersuara.
"Kenapa toa-suheng menipu kami? Setiba di Tayli, bukankah tipu dayanya bakal terbongkar?"
Oh Lian-ba ikut bicara.
"Dia sudah berjanji hendak menunggu kami di Tayli, kenapa pula dia berada di sini?"
Agaknya mereka masih ragu-ragu dan setengah percaya akan keterangan Hun Cilo.
"Dia anggap bila kalian berada di Tayli sudah terjatuh ke dalam genggamannya, terpaksa harus patuh dan tunduk akan segala perintahnya. Tatkala itu, berada dalam markas tentara Tartar, memangnya dia takut kalian mengetahui kedudukannya?"
"Markas tentara apa?"
Oh Lian-ba menegas dengan kaget.
"Bun Seng liong mendapat perintah langsung dari Komandan Gi-lim-kun Pakkiong Bong, dimutasikan ke Tayli, membantu panglima tinggi penguasa perbatasan di sini mengerahkan pasukan untuk menggempur Siau-kim-jwan. Salah seorang anak buah Pakkiong Bong yang terpercaya yaitu Sa Mi-wan juga berada di markas tentara sana, Sa Mi-wan inilah yang akan menjadi tulang punggung Bun Seng-liong di Tayli ini. Apa kalian suka rela menjual jiwa bagi kerajaan untuk memusuhi laskar rakyat?"
Oh Lian-ba kertak gigi, sahutnya.
"Sudah tentu tidak!"
"Namun bila sudah masuk ke dalam jebakan mereka, sukar kau melepaskan diri. Untunglah semalam terjadi suatu peristiwa besar di Tayli, segala tipu daya yang diaturnya sudah berantakan lebih dulu."
Gundah dan tak tentram perasaan Oh Lian-ba, tanyanya.
"Peristiwa besar apa?"
"Sa Mi-wan tulang punggungnya itu, dan atasan Sa Mi-wan panglima tinggi penguasa perbatasan di sini semalam sama dibunuh orang. Dia dan Gak Hou melarikan diri dari Tayli. Cukuplah, apa yang perlu kalian ketahui sudah kuberitahu, kalian tetap akan pergi ke Tayli?"
Lama Song dan Oh terlongong, katanya kemudian.
"Terima kasih sunio memberi petunjuk dan penerangan, sudah tentu kami tidak akan masuk ke dalam perangkap ini, segera kami putar balik pulang ke rumah!"
"Boleh kalian pulang putar lewat jalanan kecil di sana itu, di tengah jalan kalian bisa bertemu dengan toa-suheng dan ji-suheng. Gak Hou masih cukup baik, sekarang dia sudah bentrok dengan Bun Seng-liong, setelah kalian bertemu dengan ji-suheng, boleh kalian pulang bersama."
Tersendat tenggorokan Oh Lian-ba, katanya.
"Sunio adalah orang baik, tapi ada sebuah kata kanak-kanak yang ingin kukatakan kepadamu, harap kau tidak berkecil hati."
"Ya, katakanlah."
"Sunio, kau pun pulanglah. Aku tidak berani bujuk kau rujuk kembali dengan suhu, tapi baik juga kalau kau pulang ke rumah ibumu. Ai, kau orang baik, aku paham, tapi mungkin orang lain tidak mau mengerti."
Hun Ci-lo tahu maksudnya, ia hanya tertawa getir saja.
Kuda tunggangan Song dan Oh sudah jauh dan tak kelihatan, hati Hun Ci-lo masih risau dan gundah, hatinya seperti derap kuda yang melonjak-lonjak di tanah pegunungan, serasa ditusuk sembilu sakitnya.
Perlahan-lahan Miao Tiang-hong mendekatinya, katanya.
"Ci-lo, kau harus senang malah, kenapa bersedih?"
"Aku tidak sedih! Walau tiada sesuatu yang patut kubuat girang!"
"Kau sudah tolong dua anak besar yang tidak tahu apa-apa, sehingga mereka tidak sampai menyeleweng ke jalan sesat, masakah tidak patut dibuat girang? Tapi, kau bilang kau tiada ganjalan hati, tentunya kau menipu aku."
"Ganjalan hati memang ada. Tapi tidaklah menyedihkan seperti yang kau bayangkan."
"Ci-lo, kau tidak seperti perempuan umumnya, aku tahu kau kuasa mengalami pukulan batin ini. Tapi, ingin aku tanya kepada kau."
"Ya, katakanlah!"
"Apa yang mereka percakapkan aku dengar semuanya, bukan lantaran ucapan mereka itu kau terketuk sanubarimu?"
"Hubungan persahabatan kita memang sukar dipahami orang lain."
"Aku sendiri sih tak perlu takut menghadapi omongan iseng itu, tapi aku tetap anjurkan kau menemui Goan-cau."
"Ya, tiba saatnya kita pun berpisah."
"Bagus, jadi kau terima saranku pergi ke Siau-Kim-jwan?"
"Ke mana aku hendak pergi, aku pun tak tahu. Tapi dunia sebesar ini, kukira akan bisa kucapai suatu tempat tujuan."
Berkerut dahi Miao Tiang-hong, namun sebentar saja mukanya dihias senyuman pula, katanya tiba-tiba.
"Ci-lo, lihatlah Po-jun-hoa mulai mekar. Begitu kembang ini mekar, musim semi pun datang."
Hun Ci-lo melengak, katanya.
"Musim semi datang, memangnya kenapa?"
"Goan-cau pernah bicara dengan aku, katanya Po-jun-hoa mekar sebelum waktunya di Siaukim-jwan. Kalau sekarang kau susul ke Siau-kim-jwan, masih sempat kau menikmati musim semi di sana. Kuharap kabut yang menyelimuti hatimu bisa sirna dan buyar tersapu sinar matahari musim semi di sana."
"Terima kasih akan maksud baikmu. Tapi kupikir di mana pun pasti ada musim semi, semoga kau pun bisa mendapatkan musim semi."
Miao Tiang-hong tertawa getir, katanya.
"Ci-lo, baik sekali ucapanmu ini, aku akan ingat katakatamu."
Perasaan kedua pihak sama rumit dan campur aduk, begitulah dengan membekal setitik harapan dan perasaan hambar mereka berpisah. Hun Ci-lo mengantar bayangan orang lama kelamaan menghilang di kejauhan.
"Apakah aku harus pergi ke Siau-kim-jwan, menemui Goan-cau sekali lagi?"
Po-jun-hoa yang tumbuh di pinggir jalan bergoyang gontai dihembus angin, seolah-olah sedang mengangguk dan unjuk senyuman mekar kepadanya. Namun ia masih sukar ambil keputusan.
"Entah Lim Bu-siang sudah tiba di Siau-kim-jwan belum? Kalau dia sudah tiba di sana, musim semi di Siau-kim-jwan tentu lebih indah, lebih semarak,"
Demikian pikir Hun Ci-lo.
Po-jun-hoa sedang mekar menyambut datangnya musim semi di Siau-kim-jwan.
Po-jun-hoa terdapat dua warna, ada yang merah ada yang putih, entah lantaran hawa ataukah tanah di sini berbeda dengan tempat lain, musim semi tahun ini datang lebih pagi dari tahun-tahun yang lalu, Po-jun-hoa yang mekar semua bewarna putih.
Kelopak kembang laksana susu, sebesar kembang melati, dilihat dari kejauhan, laksana di tanah pegunungan tersebar merata kepingan pci.ik yang kemilau, enak dipandang menyamankan perasaan.
Pada suatu desa kecil yang terletak seratusan li dari pangkalan laskar rakyat di Siau-kim-jwan, di sebuah jalan belukar yang tak terlihat orang berlalu lalang, Beng Goan-cau sedang beranjak seorang diri.
Hari ini kebetulan tiba gilirannya menerima tugas meronda bagian luar, serta mencari tahu situasi pihak musuh.
Belakangan ini suasana di Siau-kim-jwan memang aman tentram, namun tersiar kabar pihak kerajaan sedang mengerahkan pasukan besar terbagi dari berbagai jurusan hendak menggempur Siau-kim-jwan, pimpinan laskar gerilya di Siau-kim-jwan siang-siang sudah mendapat kabar, mau tidak mau mereka harus siap waspada dan berjaga-jaga.
Hidup di tengah masa perjuangan yang sengit dan suasana yang panas ini, tiada senggang Beng Goan-cau memikirkan persoalan pribadi dan cinta asmara.
Tapi kini, ia jalan seorang diri di jalanan yang sepi, melihat Po-jun-hoa sepanjang jalan yang bergoyang-goyang ditiup angin, tak urung timbul kenangan manis di masa lalu dalam buaian asmara Terbayang waktu ia bertamasya bersama Hun Ci-lo di musim semi di Sohciu.
Di saat lubuk hatinya dibuai oleh kenangan lama, tiba-tiba didengarnya suara keresekan dari semak rumput liar di rumpun kembang sana, Goan-cau tersentak kaget, teringat akan tugas yang diembannya, segera ia membentak.
"Siapa? Kenapa main sembunyi, hayo lekas keluar!"
Tampak seorang laki-laki desa yang berpakaian kumal dan penuh tambalan menerobos keluar dari semak belukar sana, raut mukanya terlihat bekas-bekas jalur lecutan cambuk. Beng Goan-cau kaget, serunya.
"Siau-hoat-ko, kaukah itu?"
Ternyata pemuda desa ini bernama Ting Hoat, pekerjaannya sehari-hari menggembala kerbau milik tuan tanah setempat, dua tahun yang lalu, perjuangan laskar gerilya Siau-kim-jwan berkembang sampai ke desa pegunungan ini, tuan tanah itu lari, maka keluarga Ting Hoat bisa hidup lebih baik dan tenang.
Beng Goan-cau pernah bertugas dalam desa ini memberikan segala bantuan pangan dan sandang, maka ia amat kenal pemuda ini.
Ting Hoat amat kegirangan, seperti melihat sanak kadangnya sendiri, lekas berlari mendatangi, dengan kencang ia genggam tangan Beng Goan-cau, katanya.
"Beng-toako, aku memang hendak mencari kau."
"Siapakah yang pukul kau?"
Dengan napas ngos-ngosan Ting Hoat pun sedang bertanya.
"Beng-toako, kau ada bertemu dengan lihiap itu tidak?"
Beng Goan-cau melengak, segera ia keluarkan bubuk obatnya seraya berkata.
"Siau-hoat-ko, tak usah tergesa-gesa, biar kuobati dulu luka-lukamu."
Setelah selesai membubuhkan obat ia bertanya pula.
"Lihiap yang kau katakan, aku belum menemuinya, apakah yang terjadi?"
"Aku dipukul oleh tentara pemerintah. Pasukan mereka mendatangi desa kami, menangkap orang, merampok dan main pukul."
Kedudukan desa ini terletak ratusan li dari markas laskar gerilya, dulu pernah diduduki oleh pasukan pemerintah, akhirnya pasukan Ceng dipukul mundur, selama dua tahun belakangan ini tak terlihat jejak musuh menginjak desa kecil ini.
Karena tenaga memang kurang, maka pihak gerilya tidak mengutus sebagian tentaranya untuk berjaga di situ, apalagi jaraknya memang amat jauh.
Setelah sekian tahun berada dalam pasukan besar, sedikit banyak Beng Goan-cau sudah mengerti strategi peperangan, batinnya.
"Kabarnya pasukan Ceng hendak menyedot tenaga sepasukan besar tentara Hunlam untuk menyerbu kemari. Letak desa itu amat berbahaya dan merupakan tempat yang amat baik untuk dijadikan pangkalan, kalau mereka menyerbu datang dari arah sini, berarti menggencet kita dari depan dan belakang, tentunya serba bera-be juga bagi pasukan kami. Jelas karena belum mengetahui seluk beluk situasi daerah ini maka mereka mengutus pasukan pelopor untuk mencari jalan, namun kalau toh jejak musuh sudah berada di tempat yang cukup menguatirkan kedudukannya, tak bisa aku berpeluk tangan."
Betul juga segera Ting Hoat menjelaskan lebih lanjut.
"Yang datang sih tidak banyak, kira-kira sepuluhan orang. Sayang kami tidak punya golok dan tombak, kewalahan menghadapi pasukan pemerintah yang seperti serigala buasnya. Aku melawan dengan cangkul, akhirnya kena ditangkap mereka, maka kami dihajar sampai babak belur dengan cambuk dan cemeti. Yang tertangkap masih ada Thio-toapek dan Siau-sun-cu kira-kira dua puluhan orang. Hm, pasukan pemerintah apa, perbuatan mereka lebih rendah dari binatang."
"Lalu cara bagaimana kau bisa melarikan diri?"
Tanya Beng Goan-cau.
"Kami di ikat dan digandeng satu sama lain terus digusur ke luar desa, sepanjang jalan kami masih terus dihajar. Aku kertak gigi mengeluh kesakitan pun tidak. Sudah tentu yang lain ada yang menjerit-jerit kesakitan. Berjalan tidak jauh, mendadak tampak seorang gadis baju putih lari mendatangi dengan cepat, seperti angin lesus yang lari ke luar dari hutan, kiranya dia lari datang menolong karena mendengar jerit tangis rombongan kami yang tersiksa ini."
Tutur Ting Hoat lebih lanjut.
"Begitu tiba, dia lantas damprat kawanan tentara itu. Siang hari bolong, kalian kawanan berandal ini berani menganiaya dan menyiksa rakyat jelata yang tak berdosa!' Para tentara anjing itu bergelak tawa, ujarnya. 'Kami adalah tentara pemerintah kerajaan, memangnya hendak menggempur berandal, kau gadis liar tak punya mata ini malah berani katakan kami ini berandal. Budak ini cukup ayu dan menggiurkan, kebetulan ada bidadari mengantar diri ke hadapan kita malah!' Begitu mulut-mulut kotor tentara-tentara anjing ia terus nyerocos sembari merubung maju hendak membekuknya. Tak nyana belum gelak tawa mereka hilang, orang-orang yang merubung ke depan itu sama mendapatkan ganjarannya!"
"Ganjaran apa?"
Lihiap itu tertawa dingin, katanya.
"Kalian ini memang berandal yang buta matanya, sekilas tampak sinar dingin menyolok mata, terdengar suara tang-ting yang ramai sampai serasa kupingku pekak, belum lagi aku melihat jelas, tampak golok dan tombak sudah sama kutung dan berserakan di atas tanah, sudah tentu semua itu dipukul jatuh oleh lihiap itu. Tentara yang semula terbahak-bahak tertawa riang, kini berganti jerit tangis kesakitan."
"Lihiap itu merebut sebuah cambuk panjang, begitulah dengan sengit ia hajar kawanan tentara kurang ajar itu, seperti menggiring bebek layaknya ia gebah mereka lari pontang-panting. Ha, sungguh menyenangkan. Sayang lihiap itu berhati welas asih, tiada satu pun yang dibunuhnya."
"Segera lihiap itu membuka belenggu kami, serta bertanya jalan kepada kami, kiranya dia hendak pergi ke Siau-kim-jwan. Maka kutanya dia, siapa yaag dia kenal di Siau-kim-jwan. Katanya dia punya teman she Beng di Siau-kim-jwan, ha, begitu dia katakan nama orang itu, aku kegirangan setengah mati, ternyata teman yang dia cari adalah kau Beng-toako."
"Semula aku hendak menunjuk jalan baginya, tapi katanya aku ter-luka, dianjurkan lekas pulang merawat luka-lukaku ini. Dia suruh kami beramai pulang bersama, karena desa baru mengalami perampokan, perlu cepat pulang untuk mengadakan perbaikan, sekaligus supaya keluarga di rumah tidak kuatir."
"Mereka sudah pulang semua, tapi kupikir jadi orang harus tahu balas budi, aku ini bocah yang dibesarkan angon kerbau, dalam desa rudin ini termasuk keluargaku paling miskin, jikalau para saudara dari Siau-kim-jwan tidak bantu dan menolong aku, mana bisa aku mengecap kehidupan yang enak dan senang seperti ini? Maka adalah pantas kalau aku harus secepatnya memberi kabar kepada kalian. Apalagi jiwaku ini ditolong oleh lihiap itu, kalau dia tidak sempat menyusul tiba, mungkin kami beramai sudah tamat jiwanya. Apalagi dia mencarimu, maka perlu aku menyampaikan kabar ini kepadamu, maka secara diam-diam aku putar balik dan lari kemari. Tapi Beng-toako, kau belum bertemu dengan dia, ini rada menguatirkan aku, dia masih asing dan tak tahu jalan, lekaslah kau pergi mencarinya."
"Adakah lihiap itu memperkenalkan dirinya?"
"Tidak."
Tapi berpikir sebentar lantas Ting Hoat menyambung.
"Yang terang dia lebih cantik dari gambar bidadari yang pernah kulihat di rumah tuan tanah."
Belum habis ia bicara, tampak Beng Goan-cau sudah mencemplak ke atas kudanya, katanya.
"Terima kasih akan beritamu ini, tak perlu kau lukiskan dia, aku sudah tahu!"
Sekali lecut Beng Goan-cau bedal kudanya sekencang angin, menuju ke arah tempat yang ditunjuk oleh Ting Hoat, pikirnya.
"Perempuan yang dilukiskannya tentu Hun Ci-lo adanya. Tapi ginkang Hun Ci-lo amat tinggi, kenapa malah ketinggalan oleh Ting Hoat. Jalan ke sini sudah ditunjukkan memangnya sesat jalan? Atau kebentur pasukan besar musuh?"
Di saat hatinya gundah itulah, di depan sana di dalam hutan didengarnya suara beradunya senjata tajam.
Sudah tentu girang Goan-cau bukan main, lekas ia melompat turun terus melesat terbang berlari ke dalam hutan, betul juga dilihatnya seorang gadis baju putih sedang dikerubuti oleh seorang kakek ubanan dan seorang perwira pertengahan umur.
Tapi di luar dugaannya bahwa gadis itu bukan Hun Ci-lo yang dia rindukan siang malam namun adalah Lim Bu-siang.
Kakek ubanan adalah Thong-thian-hou, sedang perwira pertengahan itu adalah wakil komandan Gi-lim-kun Ciok Tio-ki adanya.
Kiranya tentara yang dihajar Lim Bu-siang itu pulang memberi laporan, maka Coh Thian-hiong dan Ciok Tio-ki lantas tahu akan dirinya, cepat mereka lewat jalan singkat mencegat ke depan.
Ginkang Lim Bu-siang jauh lebih unggul dari mereka, namun senjata rahasia Coh Thian-hiong yang tunggal susah dilawan.
Waktu Beng Goan-cau menerobos masuk ke dalam hutan, Coh Thianhiong sedang kembangkan kepandaian menimpuk senjata rahasia tunggalnya, merintangi dan mencegah Lim Bu-siang lari.
Senjata rahasianya terbang lewat di atas kepala Lim Bu-siang, namun tiba-tiba bisa putar balik, lalu menyerang serempak dari arah yang tak terduga mengincar tempat-tempat penting di badan Lim Bu-siang.
Meski tidak sampai terkena serangan senjata rahasia ini, namun ia cukup mencakmencak kerepotan dibuatnya.
Karena itu, gerakan gin-kangnya sedikit banyak terpengaruh, cepat sekali Ciok Tio-ki sudah mengudak tiba.
Ciok Tio-ki bersenjata sepasang potlot baja, serangan totokan jalan darahnya amat lihay dan ganas, namun ilmu pedang Lim Bu-siang adalah ajaran murni dari Jan-bau-khek, sakti mandraguna, jauh lebih unggul dari ilmu permainan totokan sepasang potlot lawan.
Tapi karena tiap kali ia harus pecah perhatian untuk melayani sergapan senjata rahasia Coh Thian-hiong, paling hanya setanding melawan Ciok Tio-ki.
Cepat sekali Coh Thian-hiong sudah menyusul tiba, bersama Ciok Tio-ki mereka mengeroyoknya.
Beng Goan-cau membentak keras.
"Memang aku tengah cari kalian untuk membuat perhitungan lama!"
Mendadak melihat Beng Goan-cau muncul, hampir saja Lim Bu-siang tidak percaya akan penglihatan mata sendiri.
Sekilas karena sedikit lena, hampir saja ia tercakar oleh jari-jari tangan Coh Thian-hiong.
Cepat sekali, lenyap suaranya Beng Goan-cau pun sudah menyerbu tiba, golok cepatnya laksana kilat, seiring dengan hardikan mengguntur, dengan sejurus Tok-pi-hoa-san (lengan tunggal membacok gunung Hoa-san) ia bacok batok kepala Ciok Tio-ki.
Sepasang potlot Ciok Tioki terangkat bersama, ia balas dengan sejurus Hing-ka-kim-liang (menyangga melintang belandar emas).
"Trang"
Lelatu api berpercik, Ciok Tio-ki tak kuasa melawan tenaga raksasa Beng Goan-cau, kakinya tersuruk sempoyongan beberapa langkah, terasa kulit kepalanya silir dingin.
Meski batok kepalanya tak sampai terbelah, namun jantung sudah melonjak kaget dan ketakutan.
Dengan gerakan badan Hong-biau-loh-hoa, ringan sekali Lim Bu-siang meluputkan diri dari cengkraman Coh Thian-hiong, serunya kegirangan.
"Tentunya aku tidak sedang bermimpi, Bengtoako, kiranya memang kau adanya!"
"Serahkan anjing alap-alap ini, hadapi rase tua itu. Rase tua itu lebih jahat dan licik, jangan kau lepas dia lari."
Terbangkit semangat Lim Bu-siang, serunya.
"Jangan kuatir, rase tua ini takkan bisa lolos!"
Badannya melesat terbang, dari membela diri ia balas menyerang, dikembangkannya kelincahan tubuhnya, beruntun beberapa lompatan turun naik ia sudah mengejar Coh Thian-hiong.
Di sebelah sini Beng Goan-cau tidak menyia-nyiakan kesempatan, seperti bayangan mengikuti wujudnya ia tubruk Ciok Tio-ki serta menyerangnya dengan gencar, setiap tabasan dan bacokan goloknya satu lebih cepat dari yang lain, rang-sakannya laksana damparan gelombang sungai Tiangkang yang tak kenal putus dan bergulung-gulung, keruan Ciok Tio-ki dide-saknya kerepotan dan tak sempat ganti napas.
Sembari menyerang Beng Goan-cau menambah semangat tempurnya sembari menghardik dan menggembor sekerasnya, semakin lama semakin gagah dan bersemangat.
Sebagai wakil komandan Gi-lim-kun, kepandaian silat Ciok Tio-ki sebetulnya tidak lemah, menurut biasanya, seumpama bukan tandingan Beng Goan-cau, paling tidak kuasa bertahan ratusan jurus.
Tapi dicecar sedemikian cepat dan membadai ini, semangat tempurnya menjadi luluh dan terpengaruh oleh kegagahan dan wibawa Beng Goan-cau, hanya puluhan jurus saja, ia sudah terdesak di bawah angin, keadaannya cukup gawat.
Waktu Lim Bu-siang berhasil mengejar Coh Thian-hiong, mereka sudah sama melampaui dua peng-kolan gunung, jaraknya cukup jauh dari tempat Beng Goan-cau.
Karena tidak melihat Coh Thian-hiong, semakin gundah dan kuatir Ciok Tio-ki dibuatnya, mau lari, mana mampu menjebol kurungan sinar golok Beng Goan-cau yang rapat dan ketat ini?
Dalam keadaan terdesak dan gugup ini, ingin dia lancarkan tipu permainannya yang berbahaya untuk meraih kemenangan secepatnya, kebetulan Beng Goan-cau tengah melancarkan sejurus Hoan-pi-ji-ca (membalik lengan menusukkan golok), dia layani dengan potlot kirinya mengunci ke atas dari bawah, sementara potlot di tangan kanan menyelonong miring menyimpang, menusuk Ih-khi-hiat di bawah ketiak Beng Goan-cau.
Jurus balasannya ini, ia biarkan tangan kirinya terbacok luka oleh golok lawan, asal totokan potlot kanannya berhasil, maka dari terdesak sekaligus ia bisa mengambil kemenangan.
Sudah tentu Beng Goan-cau tidak memberi peluang kepada musuh?
Tipu licik ia balas dengan tipu pula, sebat sekali mendadak ia rubah permainannya, kaki menggeser badan malah mendesak maju lebih dekat sambil menghardik keras.
"Robohlah kau!"
Tajam golok membalik ke atas, dengan punggung golok yang ia putar sekali mengetuk kepala Ciok Tio-ki, memang gerakan goloknya teramat cepat luar biasa dan susah di kuti mata biasa, belakangan menyerang mengenai sasaran lebih dulu, begitu Ciok Tio-ki merasakan gelagat yang tidak menguntungkan, mau berkelit pun sudah terlambat.
Seiring dengan hardikan Beng Goan-cau, kepala Ciok Tio-ki kena terketuk oleh punggung golok Beng Goan-cau dan jatuh gedebukan, begitu keras ketukan itu kontan ia jatuh pingsan.
Di bawah lekukan gunung akhirnya Coh Thian-hiong tersusul oleh Lim Bu-siang, meskipun ia licik, licin dan banyak akalnya, sukar meloloskan diri.
Lim Bu-siang kembangkan ilmu pedang ajaran murni ciptaan Jan-bau-khek, gaya pedangnya lincah laksana naga bermain di udara, gerak-gerik badannya selincah kupu-kupu menari di atas kuntum bunga, tiba-tiba kosong mendadak isi, tiba-tiba menyerang kadang-kadang menggertak, menggempur, menusuk, mencolek, mengiris, menggentak, membacok, mencukil dan berbagai variasi yang mengagumkan, setiap gerak pedangnya amat telak dan tepat mengarah bagianbagian mematikan di badan musuh.
Sungguh serasi sekali dan tepat kalau dikatakan cepat di antara lamban enteng di antara ketepatan.
Begitu indah gemulai gerak-geriknya mengikuti permainan pedangnya seperti mega mengembang air mengalir, enteng mantap dan tenang lincah!
Coh Thian-hiong membekal Iwekang yang tinggi, tujuh puluh dua jurus permainan Kim-na-jiu-hoat yang dia kembangkan pun amat hebat dan ganas, kalau setahun yang lalu, Lim Bu-siang mungkin bukan tandingannya, namun sekarang latihan ilmu pedang Lim Bu-siang dari ajaran cikal bakal perguruannya sudah diyakinkan sempurna, betapapun tinggi dan ulet kepandaian Coh Thianhiong, sulit ia bertahan dari rangsakan pedang Lim Bu-siang, apalagi dia bertangan kosong, mana berani melawan ketajaman pedang lawan.
Beruntun Coh Thian-hiong kembangkan gerakan badan yang berlainan, namun tetap tak mampu lolos dari belenggu sinar pedang lawan.
Ceng-kong-kiam di tangan Lim Bu-siang menunjuk timur menggempur barat, tuding selatan menghantam utara, ujung pedang yang berkilauan laksana kunang-kunang bertebaran di udara, ke mana pun Coh Thian-hiong berkelit dan pindah posisi, ujung pedang selalu mengarah hiat-tonya yang berbahaya.
Keruan terkejut dan mencelos hati Coh Thian-hiong, dengan menebalkan mukanya ia berkata.
"Lim lihiap, kau berwelas asih dan bermurah hati, aku sih dipaksa oleh Ciok Tio-ki, didesak untuk berlawanan dengan kau, harap sukalah kau mengingat selama ini aku tidak pernah bermusuhan denganmu, tidak mendesak dan memaksaku sedemikian rupa?"
Lim Bu-siang menjengek dingin.
"Kau berlawanan dengan aku pun tidak menjadi soal, tapi ingin aku tanya kepadamu, Hun Ci-lo punya permusuhan apa pula denganmu, demi harta dan kedudukan tinggi, berulang kali kau menjual jiwa bagi Pakkiong Bong hendak mencelakai jiwanya?"
"O, jadi kau merasa penasaran bagi Hun Ci-lo dan hendak melampiaskan dendamnya? Salah kalau kau berpikiran demikian!"
Lim Bu-siang melongo, katanya.
"Apa maksud kata-katamu ini?"
Mulut bicara namun pedangnya tak berhenti atau menjadi kendor. Coh Thian-hiong menyeringai, katanya.
"Lim lihiap, tahukah hubungan rahasia antara Hun Ci-lo dengan Beng Goan-cau? Kubantu kau menghadapi Hun Ci-lo, bagi kau ada manfaatnya malah. Bicara lebih jelas, aku mempersulit Hun Ci-lo, Beng Goan-cau membenci aku, itu sudah jamak, namun kau kena dibujuk oleh Beng Goan-cau untuk menuntut balas bagi Hun Ci-lo, ini, hehehe, hal ini kurasa.."
Belum habis kata-katanya, Lim Bu-siang naik pitam dibuatnya, dampratnya.
"Tidak sudi aku dengar obrolan kotormu ini!"-"Sret; sret, sret"
Beruntun dengan beberapa jurus tipu pedang yang ganas dan cepat ia memberondong lawan, sehingga Coh Thian-hiong terdesak mundur dan tak sempat meneruskan kata-katanya.
Sekonyong-konyong dari balik gunung sebelah sana berkumandang lolongan panjang seperti binatang buas terluka parah, lalu terdengar derap langkah berlari-lari menuju ke arah pertempuran mereka sini.
Terbetik suatu akal licik pada benak Coh Thian-hiong, tiba-tiba ia pura-pura berjingkrak girang, teriaknya.
"Ciok-tayjin, lekas kemari, lekas kemari!"
Lim Bu-siang tidak mengira akan tipu daya orang, keruan hatinya kaget.
Maklumlah kalau benar orang yang berlari mendatangi ini Ciok Tio-ki, tentulah yang menjerit panjang menyeramkan tadi adalah Beng Goan-cau adanya, betapa Lim Bu-siang takkan gugup dan gelisah?
Sebat sekali Coh Thian-hiong berkesempatan lompat mundur jumpalitan setombak lebih, belum lagi berdiri tegak tangannya sudah terayun, sekaligus ia sambitkan tujuh buah senjata rahasia ke arah Lim Bu-siang.
Pada saat mana kebetulan bayangan Beng Goan-cau muncul di ujung pengkolan gunung sana, jengeknya dingin.
"Rase tua, Ciok-tayjinmu sedang menunggumu di sana"
Lim Bu-siang melompat tinggi ke tengah udara, sinar pedangnya berkembang rapat, maka terdengarlah suara riuh menusuk pendengaran, semua senjata rahasia timpukan Coh Thian-hiong kena dipukul rontok.
Semula Coh Thian-hiong mengira bisa menyergapnya secara tak terduga-duga, tak nyana ilmu pedang gadis muda ini memang sudah mencapai kesempurnaannya, keruan takutnya bukan main, segesit rase berlari lekas ia angkat langkah seribu.
Beng Goan-cau bergelak tertawa, serunya.
"Siang-moay, ilmu pedang bagus. Lekas kita bekuk rase tua itu!"
Lim Bu-siang menghela napas lega, katanya.
"Hampir saja aku tertipu oleh rase tua ini. Tapi dia takkan bisa lolos dari tanganku."
Biasanya Coh Thian-hiong amat membanggakan ilmu meringankan tubuhnya, namun ginkang Lim Bu-siang jauh lebih tinggi, dalam sekejap saja jarak kedua pihak sudah ditarik lebih pendek, kirakira cuma dua tiga tombak jauhnya.
Meski Coh Thian-hiong masih menimpukkan senjata rahasianya, tapi karena sudah kehilangan bantuan Ciok Tio-ki, mengandal kepandaian timpukan senjata rahasianya, mana mampu merintangi Lim Bu-siang.
Tanpa terasa mereka saling kejar sampai di puncak bukit, senjata rahasia Coh Thian-hiong pun semakin berkurang, kini sisanya tidak banyak lagi, semakin gugup dan jeri pula hatinya.
Mendadak Beng Goan-cau menghardik bagai guntur.
"Diberi tidak membalas kurang hormat, nah kau pun sambutlah senjata rahasiaku!"
Di tengah kumandang hardikannya, golok pusakanya ditimpuk terbang melesat laksana kilat menyambar lurus ke depan.
Ginkang Beng Goan-cau lebih asor, jaraknya dengan Coh Thian-hiong yang sudah berada di atas bukit kira-kira sudah ratusan langkah, sekali-kali Coh Thian-hiong tidak mengira lwekang orang sedemikian mengejutkan, golok terbang yang menyambar dari jarak ratusan langkah masih meluncur sedemikian pesatnya sampai mengeluarkan deru angin keras, telak sekali mengarah mukanya.
Sebetulnya Coh Thian-hiong seorang tokoh kosen ahli menimpuk dan menyambuti senjata rahasia, tapi golok terbang ini melesat dengan kekuatan besar luar biasa.
Dia yakin bahwa lwekang sendiri tidak ungkulan melawan Beng Goan-cau, mana berani ia menyambuti secara kekerasan, dalam seribu kesibukannya lekas ia kembangkan kepandaian entengi badannya berkelit ke samping terus menerjang naik ke samping pula.
Siapa tahu meski gerakan badannya berkelit amat cekatan dan enteng, namun karena gugup dan tegang, tidak ia sadari bahwa tempatnya berpijak sudah berada di pinggir jurang.
Maka begitu ia melompat dan melesat naik, kontan kakinya menginjak tempat kosong, waktu hendak melompat naik pula tenaganya sudah habis dan tak memadai keinginan hatinya.
Terdengar suara "Trap!"
Golok terbang sambitan Beng Goan-cau menancap amblas ke dinding gunung, kembang api dan batu-batu berpercik.
Sebaliknya Coh Thian-hiong terjungkal jatuh ke dalam jurang.
Tak lama kemudian terdengar suara gedebukan serta lolong kesakitan yang menggetarkan jiwa.
Jelas bahwa badan Coh Thian-hiong terbanting hancur lebur dan jiwa pun amblas.
Beng Goan-cau mencabut golok pusakanya, katanya menghela napas.
"Perbuatan jahat keliwat batas pasti mendapat ganjaran yang setimpal. Rase tua ini mampus, marilah kembali membereskan Ciok Tio-ki."
Karena batok kepala terketuk oleh punggung golok Beng Goan-cau, Ciok Tio-ki masih pingsan dan belum sadarkan diri, rada lama kemudian baru pelan-pelan siuman.
Napas masih bekerja namun tak punya tenaga, terpaksa rebah di tanah sambil mengeluh kesakitan.
Kata Lim Bu-siang.
"Kau adalah wakil Pakkiong Bong, jadi cakar kepercayaan Sat Hok-ting lagi. Pakkiong Bong dan Sat Hok-ting membeli Boh Cong-tiu mendurhakai perguruan dan leluhurnya, hampir saja Hu-siang-pay terjeblos ke jurang nista, kaulah orang perantara yang menyeretnya ke jalan sesat. Cakar alap-alap ini jauh lebih bedebah dari rase tua itu."
"Benar, menurut apa yang kutahu, Nyo Bok pun dia ancam dan dibujuknya serta dipaksa, sehingga menjurus ke jalan sesat, kesalahan keparat ini jauh lebih besar. Sesuatu benda sesudah membusuk akan menjadi ulat, Nyo Bok mendapat ganjaran setimpal sesuai dosanya, namun dosa keparat ini patut dihukum mati."
Semakin dipikir semakin marah hati Lim Bu-siang, makinya.
"Ciok Tio-ki, kau tidak sangka akan mengalami nasib seperti hari ini bukan?"
Kata Ciok Tio-ki mengeraskan kepala.
"Aku terjatuh di tangan kalian, apa pula yang harus kukatakan? Beng Goan-cau kau seorang gagah, lekas kau bacok bikin aku mampus saja, biar aku mati dengan segera!"
"Aku masih ingin supaya kau hidup beberapa lama lagi, asal kau dengar kata, bukan mustahil kami akan melepasmu pulang!"
Terbetik setitik harapan dalam benak Ciok Tio-ki, lekas katanya.
"Beng tayhiap, apa yang kau inginkan, silakan berkata saja!" ' "Tak perlu tergesa-gesa, kau harus kuserahkan kepada Leng-toako atau Siau-toako untuk menjatuhkan putusannya, apa yang harus kau lakukan mereka pasti akan beri tahu kepadamu!"
Tengah mereka bicara, tiba-tiba terlihat Ting Hoat dengan beberapa orang desa berlari mendatangi dengan bersenjata cangkul. Lim Bu-siang bertanya.
"Eh, untuk apa kalian kemari lagi?"
Kata Beng Goan-cau.
"Hoat-toako ini adalah temanku, tadi dialah yang menyampaikan kabar kepadaku."
"Aku kuatir kau tidak berhasil menemukan lihiap ini, maka kupanggil teman-teman ini untuk bantu kau mencari. Ha, kiranya kau sudah berhasil membekuk perwira anjing ini."
Orang-orang desa itu serempak merubung maju sambil angkat pentung dan cangkul, beramai-ramai mereka hendak menghajar Ciok Tio-ki sampai mati.
"Jangan bunuh dia,"
Lekas Beng Goan-cau merintangi.
"Masih ada gunanya kita biarkan dia tetap hidup."
Namun Ciok Tio-ki sudah kena beberapa kali gebukan. Kata Beng Goan-cau lebih lanjut.
"Kebetulan malah kedatangan kalian, biar aku minta tolong kepada kalian semua."
"Beng-toako, kenapa kau begini sungkan? Kau ingin aku mengerjakan apa, silakan katakan saja!"
"Perwira anjing ini tolong kalian gusur bersama dan serahkan kepada pos penjagaan di daerah yang terdekat, suruh mereka secepatnya mengantarnya kepada Siau-thau-ling untuk dijatuhi hukuman." --Ternyata Beng Gaon-cau dan Lim Bu-siang perlu cepat-cepat pulang memberi laporan, kalau menggusur tawanan tentu kurang leluasa di perjalanan. Dan lagi ia pikir Lim Busiang pasti banyak omongan yang hendak diutarakan kepada dirinya, kalau ada orang ketiga di sisi mereka, meskipun hanya seorang tawanan, tapi tidak leluasa juga.
"Beng-toako, ular berbisa atau anjing galak yang sudah terluka pun bisa menggigit orang, jangan kau terlalu lena dalam hal ini."
"Itu gampang diatasi, biar kucabut giginya yang berbisa kan beres!"
Lalu ia jinjing golok pusakanya dan berkata pula.
"Seharusnya sekali bacok jiwamu harus kuhabisi, sekarang biar kuampuni jiwamu, namun sekali bacokan harus kutambah menjadi empat kali bacokan!"
Sembari bicara goloknya berkilauan menyambar pulang pergi, naik ke kiri turun ke kanan, dalam sekejap saja badan Ciok Tio-ki ditinggali empat jalur luka-luka bacokan golok.
Di mana empat kali tabasannya ini, ia bikin putus urat nadi kaki tangan Ciok Tio-ki, betapapun tinggi ilmu silatnya, selanjutnya dia menjadi seorang cacat seumur hidup.
Beng Goan-cau serahkan Ciok Tio-ki kepada orang-orang desa, lalu tinggal pergi bersama Lim Bu-siang.
Di tengah jalan Lim Bu-siang tertawa, katanya.
"Beng-toako, kau tidak menyangka aku mendadak muncul di sini bukan?"
"Memang di luar dugaan. Beberapa waktu yang lalu kudengar kabar jelek yang tidak menguntungkan bagi Hu-siang-pay kalian, kau sebagai Hu-siang-pay ciang-bun, masakah Cioksuhengmu dan suheng lainnya membiarkan kau meninggalkan mereka seorang diri?"
Seperti udara cerah, langit membiru laut, hati Lim Bu-siang sedikit pun tidak diliputi kabut gelap atau awan mendung, mendengar pertanyaannya, seketika bergairah semangatnya, tuturnya.
"Ancaman bencana dalam Hu-siang-pay kami sudah berselang. Pakkiong Bong menghasut Boh Cong-tiu dan Cong Sin-liong dan kawanan berandal dari aliran sesat meluruk ke Thay-san membuat onar, akhirnya mereka gagal total. Kawanan berandal digebah lari semua, Cong Sin-liong mampus, Boh Cong-tiu pun digusur pulang oleh Pui-susiokku!"
Beng Goan-cau heran, tanyanya.
"O, jadi kau masih punya seorang Pui-susiok, kenapa belum pernah kudengar kau menyinggungnya."
"Pui-susiok adalah tokoh aneh misterius yang menuntun aku menemukan ajaran silat cosu dalam gua itulah. Dulu aku sendiri pun belum tahu siapa dia, setelah hari itu dia muncul dan menangkap Boh Cong-tiu hidup-hidup, baru aku tahu bahwa dia susiokku, dijuluki Tang-hay Sanjin Pui Hi-kok!"
Lalu ia tuturkan kejadian itu serta asal usul Tang-hay Sanjin kepada Beng Goan-cau. Beng Goan-cau jadi senang. Lim Bu-siang berkata dengan tersenyum.
"Masih ada sebuah kabar belum sempat kuberi tahu kepada-mu. Beng Goan-cau melengak, katanya.
"O, masih ada kabar baik apa?"
"Kabar mengenai Hun-cici dan Miao tayhiap."
"Sebelum kau datang ke Siau-kim-jwan sudah bertemu dengan mereka?"
"Malah dengan Hun-cici aku mengobrol semalam suntuk. Kebetulan waktu Boh Cong-tiu meluruk ke Thay-san hari itu, mereka berdua pun tiba dalam waktu yang tepat, sengaja belum kuberitahu sampai sekarang, supaya kau kaget dan senang."
"O, kalian mengobrol semalam suntuk, apa saja yang dibicarakan?"
"Tidak kuberi tahu!"
Seru Lim Bu-siang cekikikan.
"Tidak kau beri tahu, sedikit banyak aku bisa meraba."
Merah muka Lim Bu-siang, katanya.
"Jangan kau menebak sembarangan, omongan kaum hawa mana boleh kuberi tahu kepadamu, tapi dia minta aku menyampaikan beberapa patah kata kepadamu, sudah tentu harus kusampaikan!"
"Apa yang dia katakan?"
"Katanya dia ada keperluan harus berangkat ke Tayli bersama Miao tayhiap, mungkin tidak ke Siau-kim-jwan menengokmu. Dia pun berkata selama hidupnya dia punya dua sahabat karib paling baik, seorang kau dan yang lain Miao tayhiap. Dia amat menghargai masa-masa pergaulannya denganmu di masa lalu, namun dia minta supaya kau tidak usah mengenangnya. Katanya dia pernah mengalami berbagai kehidupan getir dan pahit, namun dia percaya kehidupan yang akan datang tentu jauh lebih baik dari dulu."
Kata-kata yang mengandung arti ini, sudah tentu Beng Goan-cau cukup mengerti.
Sesaat hatinya senang dan hambar pula.
Seketika benaknya menjadi kalut dan risau, lama kelamaan terasa hampa, entah bagaimana perasaan hatinya.
Lim Bu-siang tertegun sejenak, tanyanya kurang tentram.
"Beng-toako, kau tidak merasa senang dengan mereka?"
Barulah Beng Goan-cau tersentak dari lamunannya, sahutnya.
"Kenapa aku tidak senang? Miao Tiang-hong adalah sahabatku, aku tahu dialah satu-satunya orang yang setimpal menjadi sandaran hidup Hun Ci-lo. Bicara terus terang, sudah lama aku mengharap mereka bisa terikat menjadi suami istri. Sekarang terkabul ah keinginan hatiku, mana bisa aku tidak ikut girang bagi mereka?"
"Beng-toako,"
Ujar Lim Bu-siang lembut.
"aku tahu dulu kau pernah menyukainya, sayang takdir mempermainkan orang, urusan dunia memang sukar diramalkan, sebetulnya kalian adalah pasangan yang setimpal, namun toh dipisahkan oleh permainan takdir."
"Urusan yang sudah berselang aku tidak ingin mengungkitnya kembali. Tapi, hubunganku dengan Hun Ci-lo kelak pasti akan kujelaskan kepadamu. Meskipun aku tidak ingin mengungkitnya kembali."
Sebagai gadis mekar yang menanjak dewasa dan cerdik pula, sudah tentu Lim Bu-siang maklum juga akan arti kata-kata orang, seketika merah mukanya, katanya.
"Benar, kejadian yang sudah berselang biarlah lalu, kenapa diungkit pula? Dulu Hun-cici banyak mengalami derita hidup, kini dia sudah mendapatkan sandaran hidupnya, kita harus bersyukur dan ikut girang. Soal hubunganmu dengan dia, kelak kau pun tak perlu jelaskan dengan aku. Aku, aku sudah tahu!"
Begitulah dengan kecepatan mereka menempuh perjalanan, malam itu juga Beng Goan-cau dan Lim Bu-siang sudah kembali ke Siau-kim-jwan, saat mana sudah menjelang tengah malam, namun Leng Thiat-jiau dan Siau Ci-wan berdua menyambut kedatangan mereka, setelah mendengar laporan Beng Goan-cau, Leng Thiat-jiau jadi senang, katanya.
"Tahu diri sendiri tahu kelemahan musuh pula, seratus kali perang seratus kali menang, kau memperoleh kabar yang begini penting mengenai situasi musuh, jelas kita bakal menang."
Siau Ci-wan menimbrung sambil tertawa.
"Ciok Tio-ki sampah persilatan itu, tak nyana sudah kau bekuk hidup-hidup, sungguh menggirangkan juga."
"Bukan jasaku seorang saja, nona Lim lebih besar menghabiskan tenaganya."
"Lim lihiap,"
Ujar Leng Thiat-jiau.
"kau buang kedudukan ciang-bun, rela menempuh bahaya datang ke Siau-kim-jwan membantu kami berjuang dalam kehidupan serba sulit ini, sungguh harus dipuji dan mengagumkan. Tapi tak perlu aku banyak omong sungkan, seharian kau sudah capai dalam perjalanan, silakan beristirahat lebih pagi."
Lalu ia suruh orang membawa Lim Bu-siang ke bagian laskar perempuan. Setelah Lim Bu-siang mengundurkan diri, Leng Thiat-jiau tertawa pula katanya.
"Goan-cau, kau pun sudah penat, namun aku tidak memberi kesempatan kau istirahat lho!"
"Ya, pasukan kerajaan secara besar-besaran bakal menggempur datang, kita harus merundingkan cara untuk mematahkan gempuran mereka."
"Soal itu kesampingkan dulu setelah kita berhasil mengompes keterangan Ciok Tio-ki. Aku masih ada kabar baik belum kuberi tahu kepada kau!"
"Kabar baik apa?"
"Kau pulang membawa seorang tamu, pihak Lau Khong sana pun kedatangan empat tamu, kebetulan keempat tamu ini baru tadi siang datang."
"Siapakah keempat tamu itu?"
"Mereka datang dari Tayli, malah begitu tiba mereka ingin segera menemuimu."
"Siapakah mereka?"
Desak Goan-cau.
"Tak usah gugup, toh kau harus menemui mereka, pergilah kau ke sana,"
Timbrung Siau Ciwan.
Lau Khong sudah datang sebulan yang lalu, menempati perkemahan yang lain.
Begitulah dengan perasaan heran dan ingin tahu Beng Goan-cau beranjak menuju ke perkemahan Lau Khong.
Sudah tentu kedatangannya disambut meriah, Lau Khong berkata kesenangan.
"Beng-toako, kau sudah pulang. Mari, mari kami sedang tunggu kau, kau kuperkenalkan kepada mereka."
Kiranya keempat tamu itu adalah Thia Sin-gan, Thia Giok-cu dan Bu Toan serta Bu Cheng. Terlebih dulu Lau Khong perkenalkan Bu Toan berdua.
"Ayah mereka adalah locianpwe laskar gerilya kita, beliau adalah Bu tayhiap Bu Ting-hong dari Soatang. Miao Tiang-hong adalah susiok mereka."
Lalu ia perkenalkan Thia Sin-gan dan putrinya.
"Thia-toako adalah teman baik Kwi-hwethio, tentunya kau sudah pernah mendengar namanya Nona Thia ini adalah putri tunggalnya."
Beng Goan-cau bergelak tawa, ujarnya.
"Kalau demikian, kita termasuk orang-orang sendiri!"
Meski ia bicara sambil tertawa lebar, namun hatinya gundah dan hampa seperti kehilangan apaapa. Berkata Lau Khong sambil menuding Bu Cheng.
"Begitu tiba dia ingin bertemu denganmu. Soalnya dia membawa kabar yang mungkin cukup menggirangkan hatimu."
"Apa iya?"
Ujar Beng Goan-cau tersenyum, dalam hati ia sudah meraba sebagian.
"Beng tayhiap,"
Ujar Bu Cheng.
"aku bawakan kabar seorang sahabat baikmu, coba kau tebak siapa dia?"
"Aku tidak bisa menebaknya,"
Beng Goan-cau sengaja pura-pura.
"Perlu diketahui bahwa kami datang dari Tayli, di sana kami menginap di keluarga Toan yang pernah jadi raja di Tayli."
"Aku tahu, Toan Siu-si dari keluarga Toan adalah teman baikku. Apa dia yang titip kabar baik untuk aku?"
"Bukan, yang tinggal dalam keluarga Toan itu waktu masih ada dua orang lagi, yaitu Miao susiok dan Hun-kokoh!"
"O, Hun-kokoh yang kau maksud tentunya Hun Ci-lo?"
"Ya. Dia amat baik terhadapku, usianya jauh lebih tua, mungkin bakal menjadi bibi guruku lagi, maka kupanggil dia kokoh."
Berdetak jantung Beng Goan-cau, namun ia tekan gejolak perasaannya, katanya tertawa.
"Ah, mungkin dia bibi gurumu? Kalau demikian, memang ini kabar baik."
"Sebetulmya kami ajak dia kemari, hari itu setelah kusampaikan maksudku baru aku sadar akan kecerobohanku."
"Tentunya dia hendak pergi ke lain tempat dengan Miao-susiokmu, maka tidak kemari?"
"Waktu berpisah Hun-kokoh ada bilang, katanya kau adalah teman baik mereka berdua, setiba di sini suruh kami kalau ada persoalan supaya berunding denganmu."
"Oh, begitu, lalu ada persoalan apa yang hendak kau rundingkan dengan aku?"
"Tidak apa-apa,"
Sahut Bu Cheng dengan muka merah.
"Hun-kokoh amat perhatikan diriku, maka sebelumnya dia berpesan sekadarnya."
Dasar sama-sama gadis remaja yang bersifat lincah dan suka bercanda, tiba-tiba Thia Giok-cu tertawa geli, serunya.
"Kau tak berani bilang, biar kuwakili bagaimana?"
Semakin jengah muka Bu Cheng, rengeknya merengut.
"Tidak perlu kau goyang lidah, kau mengatai aku, sebentar aku pun menggodamu!"
Semula Beng Goan-cau keheranan, serta ia perhatikan tindak tanduk dan sikap mereka, sebentar saja lantas paham, sahutnya tertawa.
"Aku sudah tahu!"
Thia Sin-gan tertawa lebar, katanya.
"Kalian sama-sama malu, biar aku saja yang bicara. Miao tayhiap adalah susiok nona Bu, seharusnya dialah yang menjadi wali pernikahan mereka..."
"Aku sudah paham,"
Tukas Beng Goan-cau.
"Karena Miao Tiang-hong sendiri tidak bisa kemari, maka dia minta supaya aku mohon pimpinan laskar gerilya di sini mewakilinya merestui pernikahan mereka."
"Ya, begitulah!"
Ujar Thia Sin-gan.
"Gampang diurus, biar setelah pertempuran kali ini selesai, sekaligus kita bisa rayakan kemenangan dengan perjamuan pernikahan."
"Thia-toasiok, kau tidak adil. Kenapa kau hanya bicarakan urusanku..."
"Kita sama-sama putra-putri kaum persilatan, urusan masa depan kenapa harus malu-malu dibicarakan. Tapi perlu aku tanya dulu kepada Bu-kongcu dan putriku!"
"Tidak perlu tanya. Thia-cici sudah setuju menjadi ensoku!"
Merah jengah muka Thia Giok-cu.
"Jangan sembarang omong, kata siapa?"
"Engkohku yang bilang, kau sudah menerima lamarannya, apa tidak bakal jadi ensoku?"
"Kalau demikian aku bakal menjadi mertua nih,"
Kelakar Thia Sin-gan.
"Beng tayhiap, bikin capai dirimu saja untuk menjadi comblang!"
"Boleh saja. Lebih baik kalau kalian dua pasang mempelai menikah bersama, perjamuan tentu lebih ramai."
Timbrung Lau Khong.
"Sayang Miao tayhiap dan Hun Lihiap tidak berada di Siau-kim-jwan, kalau tidak tentu jauh lebih ramai lagi."
Setelah urusan besar ini selesai dibicarakan, kembali Bu Cheng menjadi lincah dan banyak mulut pula.
"Memangnya perlu kau pikirkan mereka. Agaknya mereka sudah berat berpisah, bukan mustahil mereka akan melangsungkan pernikahan di tempat lain. Kalau bersua dengan Miaosusiok pasti kutuntut arak kegirangannya!"
"Sudahlah, jangan kita bicara soal pribadi saja,"
Sela Lau Khong tertawa.
"Seharusnya bicara soal pergerakan laskar rakyat di sini."
Beng Goan-cau tersentak sadar, diam-diam ia merasa menyesal dan malu diri, cepat ia tenangkan diri, ujarnya.
"Ya, tiba saatnya membicarakan urusan pokok, bagaimana keadaan di Tayli sana?"
"Kerajaan semula hendak menyedot sebagian kekuatan pasukan di Tayli untuk digabung dengan pasukan dari Gunbing, sekaligus untuk menggempur Siau-kim-jwan. Tapi perhitungan dengan rencana muluk-muluk ini sekarang terang tak dapat terlaksana,"
Demikian tutur Thia Singan.
"Kenapa?"
Tanya Beng Goan-cau. Lau Khong tertawa, ujarnya.
"Han-ciangkun yang berkuasa di Tayli sudah binasa oleh Thiatoako. Demikian pula Sa Mi-wan yang diutus Pakkiong Bong untuk bantu Han-ciang-kun itu terbunuh juga oleh mereka kakak beradik."
Beng Goan-cau girang, katanya.
"Jasa kalian sungguh tidak kecil, dengan berhasil membunuh kedua orang ini, meski pihak kerajaan bisa mengutus atau angkat seorang pengganti yang lain, namun untuk mengerahkan pasukan, pulang pergi harus makan waktu beberapa bulan lagi."
Mereka bercakap-cakap dengan riang gembira sehingga tidak merasa sang waktu berjalan dengan cepat, tanpa terasa hari sudah menjelang fajar.
Tiba-tiba terlihat Siau Ci-wan dan Leng Thiat-jiau berdua datang bersama, sikap kedua orang kelihatan riang gembira pula.
Lau Khong melenggong, tanyanya.
"Siau-toako, Leng-toako, begini pagi kalian kemari."
"Setengah malaman kalian mengobrol, semua belum tidur bukan?"
Balas tanya Leng Thiat-jiau.
"Ya, belum!"
Sahut Beng Goan-cau.
"Kami juga semalam tidak tidur. Beng-heng, Lau-heng, cara menggempur kepungan musuh sudah berhasil kami rancang dengan baik. Sengaja kami kemari untuk merundingkan dengan kalian, marilah kita perhatikan dan analisa pula apakah boleh dilaksanakan menurut rencana ini?"
Demikian kata Leng Thiat-jiau pula. Semakin senang Beng Goan-cau dibuatnya, katanya.
"Leng-toako kau paham strategi perang, tipu daya yang kau buat tentu bagus sekali, ingin siaute mendengar penjelasanmu."
"Kalau dikatakan, jasamu pula yang paling besar, cara menggempur musuh, kami peroleh dari Ciok Tio-ki yang kau tawan tadi sore."
"Apa orang-orang desa itu sudah membawa Ciok Tio-ki kemari?"
Tanya Beng Goan-cau.
"Ya, waktu kau kemari tadi dia pun digusur ke markas pusat, barusan aku dan Siau-toako mengom-pes keterangannya."
Selanjutnya Siau Ci-wan bicara.
"Pasukan Ceng yang dipimpin Ciok Tio-ki akan dikerahkan dari Gun-bing, tampuk pimpinannya dipegang oleh seorang perwira she Ui. Menurut keterangan Cok Tio-ki, Ui-congping ini punya hubungan pribadi yang amat intim dengan Han-ciangkun yang berkuasa di Tayli itu, mereka masing-masing sudah berjanji akan tanggal dan waktu pemberangkatan dari masing-masing tempat, untuk bertemu di luar lingkungan Siau-kim-jwan. Menurut rencana perjalanan pasukan, jikalau tiada terjadi sesuatu di luar dugaan, dua hari mendatang ini pasukan dari Tayli itu akan tiba di bagian barat Siau-kim-jwan untuk bergabung dengan mereka.
"Sayang sekali, pihak di Tayli justru kebentur peristwa di luar dugaan, rencana mereka untuk menggabung kekuatan kedua pihak di Siau-kim-jwan menjadi tak terlaksana,"
Demikian timbrung Lau Khong tertawa.
"Benar,"
Ujar Leng Thiat-jiau.
"Tapi kabar dari Tayli sudah kita ketahui. Sebaliknya Ui-congping dan Ciok Tio-ki belum tahu sama sekali. Mimpi pun mereka takkan menyangka bahwa Hanciangkun dan Sa Mi-wan di Tayli sudah sama terbunuh orang."
Beng Goan-cau sadar dan paham, katanya.
"Jadi cara menggempur musuh adalah menggunakan titik perangkap yang kita atur. Kita tipu Ui-congping itu, benar tidak?"
"Benar, apa halangannya kita tipu mereka kali ini. Akan kusuruh seseorang menyamar jadi Hanciangkun itu, membawa sepasukan tentara Ceng menempuh perjalanan malam hari, lewat jalan kecil menuju ke pegunungan sebelah barat sana untuk menunggu kedatangan musuh, lalu kirim kabar kepada Ui-congping untuk bergabung di sana. Beberapa tahun terakhir, tidak sedikit tentara Ceng yang kita tawan, seragam mereka dan panji-panji barisan banyak pula yang kita miliki, cukup kalau digunakan oleh ribuan saudara kita."
"Tipu ini memang baik, cuma dari mana kita cari orang yang sama untuk menyamar Hanciangkun itu? Sebelum pertemuan kedua pasukan dimulai, paling tidak mereka mesti saling kirim kurir untuk memberi kabar, orang yang diutus sebagai kurir ke pihak Tayli, tentulah seorang yang sudah amat kenal Han-ciangkun pula, apakah Han-ciangkun samaran itu tidak kuatir ketahuan mereka?"
Demikian Beng Goan-cau utarakan pendapatnya.
"Han-ciangkun samaran itu sudah kita dapatkan, tanggung takkan ketahuan oleh musuh,"
Sahut Ciau Ci-wan dengan tersenyum.
"Siapa dia?"
Tanya Beng Goan-cau.
"Apa kau sudah lupa kepada maling sakti nomor dua sejagat Li-ma-cu yang pintar merias diri memalsu orang lain?"
"Apa Li-ma-cu sudah kemari?"
"Bukan Li-ma-cu saja, temannya Kwi-hwe-thio, si maling sakti itu pun sudah tiba. Mereka tiba kemarin dulu."
"Ya, kalau demikian aku jadi ingat,"
Sela Lau Khong.
"Semula Kwi-hwe-thio seperjalanan kemari dengan aku, di tengah jalan mendadak dia pamit hendak ke tempat lain mencari seseorang lalu akan menyusul kemari. Jadi dia pergi mencari Li-ma-cu."
"Waktu di Pakkhia, Li-ma-cu pernah menyaru Pakkiong Bong, anak buah Pakkiong Bong pun kena dikelabui olehnya, kalau dia yang menyaru jadi perwira gadungan, tanggung takkan salah lagi,"
Demikian puji Beng Goan-cau. Berkata Leng Thiat-jiau lebih lanjut.
"Tapi sebelum penggabungan itu dilaksanakan, kita harus berjaga-jaga bila Ui-congping itu menyergap secara tiba-tiba, dia memang seorang jendral perang yang berbakat. Goan-cau, di desa kecil itu kau sudah menemukan pasukan penyelidiknya, maka jangan sekali-kali memandangnya enteng."
"Aku cukup hafal keadaan bumi desa itu, biar aku saja yang menghadapinya!"
"Boleh saja. Kalau demikian Lau-toako, kau, Bu Toan dan Bu Cheng pergilah bantu Li-ma-cu."
Setelah segala sesuatunya diatur dengan baik, pihak Siau-kim-jwan segera mengerahkan tenagatenaga andalannya untuk bekerja sesuai dengan rencana, hal ini tak perlu kami terangkan.
Beng Goan-cau repot menyambut datangnya tugas perang yang akan datang, maka tak sempat pula ia merindukan Hun Ci-lo.
Sebaliknya di saat peperangan mulai berkobar itulah Hun Ci-lo kebetulan beranjak di daerah pedalaman Siau-kim-jwan.
Tiga hari kemudian sejak para pimpinan laskar gerilya merundingkan rencana melawan musuh, tempatnya pada suatu pegunungan belukar yang sepi tujuh delapan puluh li jauhnya dari pangkalan besar laskar gerilya.
Walau peperangan sudah mulai berkembang, tapi di lingkungan pegunungan, masih belum terdengar riuhnya benturan senjata tajam, belum terlihat berkibarnya panji-panji kebesaran pasukan Ceng, maka sulit diketahui bahwa peperangan sudah mulai berkobar.
Hari sudah mulai gelap, namun seorang diri Hun Ci-lo masih menempuh perjalanan.
Ingin rasanya secepatnya ia tiba di Siau-kim-jwan, namun serasa hati takut pula tiba di Siau-kim-jwan.
Siau-kim-jwan, tempat indah permai yang sejak dulu dirindukan, dirinya memang masih asing akan tempat itu, namun di sanalah kampung halaman kedua bagi Beng Goan-cau, kini ia berada di tempat yang masih asing bagi dirinya, namun semakin dekat serasa hati semakin jeri dan rawan.
Bertemu seperti tidak ketemu, ada cinta seperti tak kenal asmara.
Ia tahu besok ia akan bisa bertemu dengan Beng Goan-cau, namun hatinya masih gundah dan risau, tak tahu apakah harus menemuinya tidak.
Ia kuatir perasaannya yang sudah terpendam dan tawar bakal berkobar dan bersemi pula, seumpama dirinya kuasa mengendalikan perasaan hatinya, mungkin Beng Goan-cau takkan bisa melupakan setia dan sumpah sehidup semati masa lalu.
Begitulah sambil berjalan pikirannya bergolak timbul tenggelam tak bisa tentram.
Hari semakin gelap, cuaca mendung lagi, tiba-tiba hujan gerimis dan semakin deras, dia harus mencari tempat untuk berteduh.
Di saat ia celingukan mencari pohon besar dan rindang untuk berteduh, tiba-tiba dilihatnya di balik pepohonan di kejauhan bukit sana, seperti ada sebuah kelenteng bobrok, Iapat-lapat kelihatan sinar api dari dalam kelenteng.
Hun Ci-lo amat girang, ia kira sebangsa pemburu yang sedang berteduh di dalam kelenteng, membuat api unggun untuk mengusir hawa dingin.
Segera ia beranjak menuju ke arah kelenteng di atas bukit sana.
Hujan semakin besar dan kejap lain air seperti ditumpahkan dari atas langit.
Suara air gemericik riuh rendah, sayup-sayup terdengar suara percakapan dua orang dari dalam kelenteng.
Mungkin kuatir temannya tidak mendengar suaranya, kalau hujan semakin deras, maka suara percakapan mereka pun semakin keras pula.
Hun Ci-lo empos semangat dan menyedot napas, segera ia kembangkan ginkang.
Gerak langkahnya amat ringan, maka orang dalam kelenteng tidak mendengar, namun percakapan mereka malah didengar jelas oleh Hun Ci-lo.
"Sudahlah, besok pagi-pagi kita sudah tiba dalam pasukan besar, kau pun tak perlu takut lagi,"
Terdengar seorang berkata dalam kelenteng.
"Omong kosong, apa sih yang kutakutkan?"
Jawab seorang yang lain.
"Tak usah kau kelabui aku, dua hari ini sepanjang jalan ini kau selalu kebat-kebit, bukankah kuatir bertemu dengan Thiat-bin-su-seng Toan Siu-si itu?"
"Hm memangnya kau sendiri tidak takut? Kau merebut muridnya, membunuh suheng-nya lagi, jikalau kita sama-sama kebentur dia, kukira dia tidak akan melepas kau seorang."
Kaget Hun Ci-lo mendengar percakapan ini, serasa ia sudah kenal suara salah seorang di antaranya.
"Murid Toan Siu-si yang mereka bicarakan bukankah Hoa-ji anakku?"
Segera ia ganti haluan, ia putar ke belakang kelenteng, lalu mengintip ke dalam melalui lubang di tembok, dilihatnya seorang laki-laki berbadan kurus tinggi sedang bercakap-cakap dengan seorang tosu pertengahan umur.
Kiranya laki-laki kurus tinggi itu adalah orang ke empat atau termuda dari Tiam-lam-su-hou yaitu Kiau Hun adanya.
Tosu pertengahan itu Hun Ci-lo belum pernah melihatnya, namun setelah mendengar percakapan mereka, ia tahu bahwa Tosu inilah yang bantu Tiam-lam-su-hou membunuh Pok Thian-tiau dan merebut putranya, tosu busuk dari Khong-tong-pay itulah.
Memang Hun Ci-lo ingin tahu kabar Toan Siu-si dan putranya, maka sementara ia diam saja mendekam di tempat persembunyiannya mencuri dengar percakapan mereka.
"Bicara terus terang,"
Sambung si Tosu.
"Aku memang rada takut menghadapi si pembunuh kejam itu, kepandaiannya jauh lebih tinggi dari suhengnya Pok Thian-tiau itu. Kabarnya tiga saudaramu semua ajal di tangannya, apa betul?"
Gemeratak Kiau Hun saking dendam.
"Kau sudah tahu sengaja tanya, sejak kecil kami empat saudara dibesarkan bersama dan tak pernah berpisah, kalau sekarang tidak ketinggalan aku saja yang masih hidup, mana sudi aku lari ke pasukan besar menemanimu. Lebih jelasnya aku memang takut Toan Siau-si membabat rumput seakar-akarnya, maka terpaksa aku menyingkir ke dalam pasukan besar untuk-menyelamatkan diri."
"Kiau-heng tidak usah kuatir, aku dan kau dihinggapi penyakit sama dan harus saling kasihan. Cuma kalau tidak kau singgung, aku sendiri tidak enak mengungkit hal ini kepadamu. Bukan saja aku harus menyingkir dari kejaran Toan Siu-si, kita harus hati-hati kebentur dengan Beng Goancau di sini."
"Memangnya aku tidak seperti kau. Untung kali ini Ui-congping hanya suruh kita berkirim surat kepada Han-ciangkun, kalau membawa kita ke medan laga, mungkin bisa bentrok dengan Beng Goan-cau."
"Benar, kabarnya Ui-congping kemarin dulu pimpin sepasukan tentara gemblengannya sendiri, dari Thian-ping-san menuju ke Ho-lou-kok (lembah buli-buli), dia sudah siap menggempur Siaukim-jwan, tak nyana malah kena terperangkap di dalam lembah, pemimpin laskar gerilya musuh adalah Beng Goan-cau, Ui-congping sendiri terluka parah. Cuma apa betul dan dapat dipercaya tidak berita ini?"
"Kabar ini kudengar dari perwira di pos terdepan, kukira tidak akan meleset. Tapi kabarnya Beng Goan-cau sendiri pun terluka, untung pihak kita tidak sampai kalah habis-habisan."
Tosu itu geleng-geleng kepala, ujarnya.
"Kabar situasi di medan laga selalu baik, tak pernah menguatirkan, jikalau kabar itu menyedihkan tentulah tidak akan salah lagi. Maka kalau Uicongping dikabarkan terluka pasti takkan salah, Beng Goan-cau terluka, hal ini malah belum bisa dipercaya."
Kiau Hun tertawa, katanya.
"Untung kau bicara dengan aku, kalau didengar orang lain, mungkin kau bisa dijatuhi dosa 'menambah semangat musuh melumpuhkan semangat tempur dan wibawa sendiri'."
"Aku toh bicara menurut keadaan, memangnya aku begitu ceroboh sembarangan berkomentar dengan orang lain. Tapi sekembali kita ke pasukan besar, boleh dikata memberikan laporan yang menggirangkan."
Kiau Hun menepekur sebentar, katanya.
"Dalam hal ini kurasa malah ada sesuatu yang mencurigakan."
"Apanya yang kau curigai?"
"Dulu kau belum pernah bertemu dengan Han-ciangkun, sebaliknya aku sudah. Kubanding dari kedua kali pertemuan ini, perbedaannya jauh sekali satu sama lain."
"Bagaimana tempo hari?"
"Tempo hari aku membawa surat Ciok Tio-ki menghadap padanya di gedung rumahnya, sikapnya amat simpatik dan ramah tamah, menarikku duduk serta tanya ini itu, malah dia siapkan meja perjamuan menjamu aku. Kali ini, setelah dia menerima surat Ui-congping hanya bersuara 'aku sudah tahu'. Meski menyiapkan perjamuan juga, namun hanya anak buahnya saja yang menjamu kita."
"Ciok Tio-ki adalah wakil komandan Gi-lim-kun, orang kepercayaan Sat-congkoan lagi, tempo hari kau disuruh oleh Ciok Tio-ki, dia tahu hubungan baikmu dengan Ciok Tio-ki, sudah tentu dia harus memikat dan merangkulmu. Kali ini kita hanya membicarakan urusan dinas dengan dia, di hadapan anak buahnya sudah tentu dia harus unjuk kewibawaannya sebagai penguasa tinggi, memangnya kenapa dibuat heran?"
Kiau Hun geleng-geleng kepala, ujarnya.
"Kau hanya tahu satu tidak tahu yang kedua."
"Bagaimana yang kedua?"
"Ui-congping dan Han-ciangkun sama-sama sebagai panglima tinggi yang berkuasa di seluruh wilayah Hunlam, hubungan pribadi mereka biasanya amat intim, dinilai kedudukan jabatan, meski Ciok Tio-ki sebagai wakil komandan Gi-lim-kun, paling-paling berpangkat kelas empat, apalagi hanya sebagai wakil saja, toh tidak punya hak kekuasaan penuh, Ui-congping sebaliknya panglima tinggi kelas dua, berkedudukan di ibu kota propinsi Hunlam, kalau mau dinilai dari jabatan dan hubungan, kali ini kita sebagai utusan langsung dari Uicongpkig, seharusnya Han-ciangkun jauh lebih ramah dan simpatik kepada kita."
"Sudahlah buat apa kita merisaukan diri memikirkan hal-hal yang tidak perlu ini? Asal dia sudah memberikan jawaban kapan akan menggerakkan pasukannya, kabar yang kita bawa pulang adalah kabar baik, benar tidak?"
"Ya, semoga perasaanku saja yang salah menerka, kalau tidak bukan saja kita tiada kesempatan untuk menuntut balas, malah jiwa pun harus dipertaruhkan pula!"
Mendengar sampai di sini, sedikit banyak Hun Ci-lo sudah dapat berkesimpulan, bahwa Toan Siu-si sudah berhasil membunuh tiga musuhnya, sementara kedua orang ini sebagai kurir utusan Ui-congping yang baru saja pulang menemui Han-ciangkun dari Tayli.
Keruan dalam hati ia bertanya-tanya heran, apakah Han-ciangkun yang mereka bicarakan bukan Han-ciangkun yang sudah terbunuh oleh Thia Sin-gan itu?
Sudah tentu Ci-lo tidak akan tahu bahwa Han-ciangkun ini adalah penyaruan Li-ma-cu.
Tapi yang diperhatikan Hun Ci-lo dari tempat persembunyiannya bukan palsu atau tulennya Hanciangkun, adalah jejak putranya yang ingin diketahui.
Toan Siu-si sudah bunuh tiga saudara keluarga Kiau, entah muridnya berhasil direbut kembali tidak?
Hujan masih turun dengan lebatnya, Hun Ci-lo mencari dengar lebih lanjut, tak lama kemudian, apa yang dia ingin ketahui pun dapatlah didengarnya dari percakapan kedua orang itu.
Terdengar Kiau Hun berkata dengan tertawa getir.
"Tahukah kau bahwa murid she Nyo Toan Siu-si dan Pok Thian-tiau itu sebenarnya bukan anak Nyo Bok, tapi adalah anak tunggal Beng Goan-cau?"
"Sudah lama kutahu, kenapa?"
"Kalau kau bisa melindungi bocah itu dan membawanya kemari, bisa kita pakai dia sebagai sandera untuk mengancam Beng Goan-cau. Seumpama tak berhasil menuntut balas, hati pun tak perlu selalu waswas dan kebat-kebit, takut orang menuntut balas."
Tosu itu menjadi uring-uringan, serunya.
"Kau tahu, lantaran bocah itu, sekarang aku sudah tidak bisa bercokol dalam Khong-tong-pay lagi?"
"Apa hubungan bocah itu dengan pihak Khong-tong-pay kalian?"
"Sudah tentu tiada ikatan apa-apa, tapi Toan Siu-si adalah sahabat karib suhengku Tan Khuseng."
Kiau Hun kaget, katanya.
"Kabarnya Tan Khu-seng adalah tokoh kosen nomor satu dari Khongtong-pay kalian?"
"Memangnya, oleh karena itulah meski dia bukan ciangbun, ciangbun pun harus tunduk kepadanya. Hari itu aku merebut bocah itu dan lari lebih dulu, semula hendak kubawa ke Gunbing diserahkan kepada Ciok Tio-ki, tak nyana setiba di An-wa-poh kebentur dengan Tan Khu-seng, entah dari mana ia mendengar kabar, begitu melihat aku lantas maki diriku merebut murid sahabatnya, untung aku minta-minta ampun, hampir saja ilmu silatku dipunahkan dan badan pun bakal cacat seumur hidup."
"Hah, bocah itu terebut oleh Tan Khu-seng?"
"Masakah aku berani melawan dia, tentu kuserahkan. Malah dia berani mentang-mentang mewakili ciangbun segala mengusir aku dari perguruan Khong-tong-pay. Kejadian itu pasti akan dia ceritakan kepada Toan Siu-si, karena itulah ke sana kemari jalan sudah buntu, terpaksa ikut Ciok Tio-ki lari ke Siau-kim-jwan sini. Tak duga di dalam pasukan besar bersua denganmu, lebih tak nyana lagi Ciok Tio-ki mendadak menghilang tak keruan."
"Kabarnya Ciok Tio-ki keluar bersama Coh Thian-hiong, kalau benar Ciok Tio-ki terjadi apa-apa, berarti kita kehilangan tulang punggung, kukira kalau kita tinggal di sini lama-lama bisa celaka, lebih baik tinggal ngacir mencari sandaran lain yang lebih kuat saja?"
"Beng Goan-cau berada di Siau-kim-jwan. Apa kau tidak ingin menuntut balas kepadanya lagi?"
Tanya si Tosu.
"Siau-kim-jwan kalau bobol digempur pasukan pemerintah kerajaan, jiwanya pasti amblas, menurut pendapatku, surat dari Han-ciangkun ini, tidak usah kita bawa pulang."
"Wah, jangan, kalau menunda-nunda urusan penting kerajaan, bukankah kita bantu pihak Siaukim-jwan malah?"
"Biarlah kita cari jalan lain saja."
Tapi cara apa Kiau Hun sendiri tak kuasa mengutarakan.
Hun Ci-lo sudah tahu jejak putranya, tak sabar ia mendengar percakapan mereka lebih lanjut.
Segera ia melompat keluar dari balik tembok seraya tertawa dingin.
"Kebentur di tanganku, memangnya kalian masih bisa pergi?"
Betapa terkejut Kiau Hun, cepat ia berjingkrak bangun, namun "Sret"
Tahu-tahu ujung pedang Hun Ci-lo sudah mengancam tenggorokannya. Lekas Kiau Hun gunakan Hong-tiam-thau berkelit, serempak kedua batang potlotnya terangkat menangkis dengan tipu Ki-hwe-liau-thian.
"Trang"
Potlot kiri Kiau Hun gumpil tergores, terasa kulit kepala silir dingin, ternyata ujung pedang Hun Cilo mengelupas sebagian rambut di atas kepalanya. Tosu dari Khong-tong-pay menghardik.
"Perempuan galak dari mana, berani mengganas di sini?"
Lekas ia melolos pedang, namun belum lagi pedang ia mainkan, kaki sudah menendang api unggun, sebat sekali Hun Ci-lo mengegos miring, sebatang kayu berapi menyambar lewat dari samping badannya, kebetulan memapak ke arah Kiau Hun.
Hun Ci-lo malas buka mulut, pedang segera ia mainkan menurut ajaran keluarganya, beterbangan bintik-bintik sinar kunang-kunang dingin, tahu-tahu ujung pedangnya menusuk ke dada si Tosu.
Sekali gebrak Hun Ci-lo menggunakan akal sergapan dari samping yang melanggar kebiasaan ajaran ilmu pedang yang harus bertempur secara berhadapan, dalam kebiasaan di Bulim cara tempurnya ini merupakan suatu penghinaan dan memandang rendah musuh.
Sudah tentu si Tosu murka, sekuat tenaga pedang panjangnya lantas mengetuk miring serta disendai naik pula.
Siapa tahu permainan ilmu pedang Hun Ci-lo justru lincah, aneh dan mengandung banyak perubahan yang sukar diraba arah sasarannya, ternyata serangannya tadi hanya gertak sambal belaka, maka ketukan pedang si Tosu mengenai tempat kosong, gesit sekali Hun Ci-lo sudah menekuk lutut menggeser langkah, berkisar ke belakang lawan, berbareng ujung pedangnya berputar mengganti tipu serangan, cepatnya laksana kilat menyambar, Ceng-kong-kiam terjungkit naik ia sontek lengan kanan lawan.
"Cret"
Lengan baju si Tosu tertusuk sobek malah lengannya pun tergores luka panjang.
Untung dia masih sempat melompat minggir, kalau tidak seluruh lengannya ini sudah berpisah dengan badannya.
Kejut dan gusar pula si Tosu dibuatnya, teriaknya.
"Perempuan keji, kau, siapa kau?"-Di sebelahnya Kiau Hun sudah melompat bangun dari tanah setelah memadamkan api yang membakar bajunya. Sahutnya.
"Perempuan busuk ini adalah Hun Ci-lo!"
Hun Ci-lo tertawa dingin, jengeknya.
"Kematian sudah di ambang mata masih berani kau memaki orang!"
Ceng-kong-kiam menusuk dengan keras, hilang suaranya orangnya pun menubruk datang, dengan jurus Pek-hong-koan-jit, ujung pedangnya tahu-tahu sudah menyelonong ke mulutnya yang masih terbuka lebar.
Kedua potlot Kiau Hun sudah tak sempat untuk menangkis atau mengetuk miring.
Untung si Tosu datang menolong dengan cepat, pedang panjangnya menusuk Hong-hu-hiat di punggung Hun Ci-lo, tusukan ini merupakan serangan mematikan yang memaksa musuh harus menyelamatkan diri lebih dulu, terpaksa Hun Cilo mengayun balik pedangnya, mengguncang pergi tusukan pedang lawan, sementara Kiau Hun berkesempatan meloncat minggir sejauh mungkin.
Tapi belum lagi ia berdiri tegak dan sempat balas menyerang, sekali gebrak Hun Ci-lo sudah memukul mundur si Tosu, gebrakan kedua tahutahu ujung pedang orang sudah mengancam dadanya pula.
Sungguh laksana bayangan mengikuti wujudnya.
Lekas si Tosu menggaris miring dengan pedangnya, dengan kerja sama pedang dan sepasang potlot, mereka terus menyerang bergantian sekuat tenaga, lambat laun barulah berhasil membendung rangsakan lihay pedang Hun Ci-lo.
Bentak Kiau Hun keras.
"Perempuan busuk, biar aku adu jiwa dengamu!"
Ginkang Hun Ci-lo jauh lebih tinggi, ini sudah pernah ia rasakan sendiri.
Ia insyaf dirinya takkan bisa lolos lagi, maka ia bertindak nekad dan untung-untungan, maka ia mengeraskan kepala untuk adu jiwa dengan Hun Ci-lo.
Demikian pula si Tosu punya maksud yang sama, karena kelakuan nekad mereka, meski Hun Ci-lo tidak sampai terkalahkan, dalam waktu singkat terang dia takkan gampang merobohkan kedua musuhnya.
Maklumlah sejak melahirkan kondisi badan Hun Ci-lo belum mendapat perawatan semestinya, belakangan harus menempuh perjalanan jauh pula, betapapun tinggi ilmu silatnya, sedikit banyak kesehatannya terganggu juga.
Begitulah dengan mati-matian Kiau Hun dan si Tosu bertahan balas menggempur sekuat tenaga, dalam tiga puluhan jurus mereka hanya mampu bertahan, setelah tiga puluh jurus lebih, mereka sudah tenang dan bertahan dengan kokoh, lima puluh jurus kemudian, lambat laun sudah kuasa balas menyerang dengan teratur.
Sebaliknya ilmu pedang permainan Hun Ci-lo semakin lambat dan terasa berat, seolah-olah tenaga tidak memadai semangat tempurnya pula.
Si Tosu kegirangan, teriaknya.
"Perempuan busuk ini sudah kehabisan tenaga, ayolah pergencar serangan, gasak saja dia!"
Dari bertahan serempak mereka lancarkan serangan gencar bertubi-tubi dari kedua sisi, semakin menyerang semakin ganas.
Hun Ci-lo kertak gigi, dengan sekuat tenaga ia bertahan sambil mengempos semangat.
Sekonyong-konyong kedua potlot Kiau Hun terbagi ke kanan kiri, dengan Siang-hong-koan-ni, potlot kiri pura-pura menutul muka Hun Cilo, sedang potlot kanan langsung menusuk ke Hoa-kayhiat.
Badan Hun Ci-lo tergeliat mundur, sehingga serangan kedua potlot lawan mengenai tempat kosong, ia pegang kesempatan persis pada waktunya.
"Sret"
Pedangnya balas menusuk.
Jurus ini semestinya amat ampuh perbawanya, sayang ia sudah kehabisan tenaga, terpaut setengah dim saja ujung pedangnya mengenai sasaran.
Celaka adalah potlot Kiau Hun secepat kilat tahu-tahu sudah menyelonong balik me-notok ke Hun-tai-hiatnya, sementara tosu Khong-tong-pay itu pedangnya menggaris sebuah lingkaran membundar, cepat sekali sudah mengurung gerak-gerik badannya.
Cara gerak pedangnya ini dinamakan jurus Giok-tai-wi-yau (sabuk kemala membelit pinggang), salah satu ajaran ilmu pedang Khong-tong-pay yang tak sembarangan bisa dipelajari.
Si Tosu menyangka lawan takkan bisa lolos lagi, teriaknya kegirangan.
"Punahkan ilmu silatnya, ampuni jiwanya!"
Pikirnya dia hendak menawan hidup-hidup untuk dijadikan sandera mengancam Beng Goan-cau.
Tak nyana kejadian berlangsung secepat percikan api, tiba-tiba didengarnya Hun Ci-lo menghardik nyaring, badannya tiba-tiba melambung naik ke atas, sepatunya kebetulan menginjak ujung potlot Kiau Hun yang menusuk tiba, meminjam tekanan injakan kaki ini, bagai burung raksasa badannya mencelat lebih tinggi di udara.
Begitu Hun Ci-lo melompat lewat dari atas kepala Kiau Hun, belum lagi kakinya menginjak bumi, kembali pedangnya bergerak dengan Pek-hong-koan-jit yang lihay dari atas menusuk turun.
Lekas Kiau Hun menundukkan kepala sambil menyilangkan kedua po-tlotnya ke atas melindungi kepala.
Tak tahunya tusukan pedang Hun Ci-lo dilandasi seluruh kekuatannya, dari atas ke bawah lagi, betapa hebat perbawanya.
Begitu kedua potlot Kiau Hun kena terketuk dan tergentak nyaring, meski ujung pedang Hun Ci-lo tidak menembusi batok kepalanya, malah kedua potlotnya sendiri yang tergentak balik menusuk kepalanya sendiri.
Si Tosu mendengar pekik nyaring Kiau Hun menjelang jiwanya melayang, serasa arwahnya sudah copot terbang dari badan kasarnya, mana ia berani bertempur lebih lanjut?
Sekali putar badan, cepat ia angkat langkah seribu.
Hun Ci-lo menjengek dingin.
"Bukankah kau hendak punahkan ilmu silatku?"
Bagai harimau kelaparan ia menubruk maju, pedangnya lagi-lagi menyerang dengan jurus Giok-li-toh-so, sasarannya adalah ulu hati orang dari belakang.
Mendengar angin menderu dari belakang, tahu takkan bisa melawan, secara reflek, si Tosu membalikkan pedang untuk menangkis.
"Trang"
Pedang si Tosu kutung menjadi dua, namun punggungnya pun tergores luka, dengan luka-luka parah dan kesakitan cepat ia lari sipat kuping.
Hun Ci-lo mengejar ke luar kelenteng, setelah pedangnya melukai si Tosu, baru saja ia hendak kembangkan ginkangnya Yan-cu-sam-cau-cui, mendadak kakinya terhuyung sempoyongan hampir saja terjungkal jatuh.
Kiranya meski ia berhasil membunuh Kiau Hun, ia sudah kerahkan seluruh kekuatannya, seperti dian yang hampir kehabisan minyak, hawa murninya sudah tak mau menyambung kekuatan badannya.
Lekas ia menarik napas panjang beberapa kali, pikirnya.
"Tosu keparat itu sudah terluka, meski tenagaku sudah hab.is, yakin aku masih bisa memburunya. Apalagi dia mengundang bala bantuan pasukan pemerintah, jiwanya lebih tak bisa kuampuni."
Dengan mengeraskan hati, dengan kencang ia mengejar ke luar.
Hujan masih rintik-rintik, cuaca gelap gulita, kelima jari sendiri pun tak terlihat, setelah terluka derap langkah si Tosu terdengar berat bersuara, maka dengan gampang Hun Ci-lo menguntit jejak orang melalui gerak langkahnya.
Jalan pegunungan memang tidak rata dan banyak rintangan, apalagi di tengah hujan lagi, lebih sukar dan licin dilalui.
Karena terpeleset si Tosu terperosok jatuh terus menggelundung ke bawah lereng gunung.
"Ke mana kau lari?"
Bentak Hun Ci-lo mengejar datang.
Baru saja ia percepat larinya hendak menamatkan jiwa orang, sekonyong-konyong sesosok bayangan orang menubruk keluar dari balik tumpukan batu-batu gunung sana, sekali ayun ia membacokkan goloknya ke leher Hun Ci-lo.
Hun Ci-lo cukup pengalaman menghadapi pertempuran, meski jiwa terancam, sedikit pun tidak menjadi gugup, sebat sekali ia balas menyerang dengan Hian-niau-hoat-sa, orang itu berseru memuji.
"Ilmu pedang bagus."
Pedang dan golok beradu, kembang api muncrat, orang itu tertolak mundur setapak, namun ia masih menghalangi jalan Hun Ci-lo.
Sementara pergelangan tangan Hun Ci-lo terasa kemeng linu, hampir saja Ceng-kong-kiam tergetar lepas dari cekalannya.
"Mana kawan-kawan hayo bantulah kemari!"
Teriak orang itu tiba-tiba, bukan saja berkaok-kaok malah ia sambitkan sebatang panah berapi, Coa-yan-cian yang dia lepas ini pertanda untuk minta bantuan, begitu melesat tinggi ke tengah angkasa, dalam beberapa li seluas lingkungannya masih dapat terlihat jelas.
Seperti hujan badai sekaligus Hun Ci-lo merangsak dengan gencar tujuh delapan belas jurus pedang, agaknya lawan pandai mendengar angin membedakan senjata, di dalam kegelapan, ia masih kuasa menghadapi rangsak-an pedangnya yang lihay dan ganas ini, sedikit pun tidak kacau atau gugup, setiap jurus setiap tipu ia patahkan dengan mudah.
Keruan kaget dan heran Hun Ci-lo dibuatnya, namun pedangnya tetap dimainkan secepat kitiran, dalam sekejap saja Ia sudah menyerang empat lima puluh jurus, namun orang itu hanya bertahan dengan mantap tanpa balas menyerang, mengikuti gerak pedang Hun Ci-lo, berkelit ke timur menangkis ke barat, setiap jurus dipunahkan setiap tipu dipatahkan, ia menjaga diri dengan ketat dan tenang.
Tapi bila Hun Ci-lo hendak menerobos lewat dari samping badannya, selalu kena dihadang pula.
Gebrakan permulaan, mungkin karena orang itu belum tahu sampai di mana kekuatan Hun Cilo, jeri menghadapi ilmu pedangnya pula, terpaksa ia menghadapinya secara serius.
Puluhan jurus kemudian, setelah ia tahu Hun Ci-lo kehabisan tenaga, tenaga yang dia kerahkan pun ikut menjadi lemah.
Tidak lama kemudian tampak dari kejauhan sebarisan pasukan Ceng berkuda dibedal mendatangi, dari atas tampak barisan obor memanjang bergerak dengan cepat.
Tapi malam gelap hujan lagi, jalan licin dan susah dilalui, apalagi berkuda pula, mereka tidak tahu berapa musuh yang terpendam di atas gunung, maka mereka tidak berani sembarangan menyerbu naik, setiba di bawah gunung hanya berteriak-teriak saja.
Tosu Khong-tong-pay itu terus menggelundung ke bawah bukit, teriaknya.
Aku di sini, lekas tolong aku!"
Musuh Hun Ci-lo melihat pasukan pemerintah sudah tiba di bawah gunung, tosu itu pun belum ajal, baru ia menghela napas lega, tiba-tiba ia balas menyerang dengan gertakan, lalu bersuara rendah lirih.
"Hun lihiap, harap mengikuti jejakku!"
Putar badan terus lari. Anehnya dia tidak lari ke bawah bukit yang ada sinar api, malah lari ke arah hutan gelap pekat di atas sana. Sembari lari mulut berkaok-kaok.
"Aduh, perempuan busuk yang lihay, tolong, tolong!"
Seolah-olah kehabisan tenaga dan suara pun serak, persis juga ia berpura-pura terluka parah. Sudah tentu timbul rasa curiga Hun Ci-lo, batinnya.
"Orang ini cukup mampu mengalahkan aku, untuk membunuhku tak perlu mengatur jebakan. Baik, biar kulihat sandiwara apa yang sedang dia lakukan?"
Sayup-sayup didengarnya derap kuda berlari semakin jauh, kiranya setelah menolong si Tosu pasukan berkuda itu lantas mundur. Setiba di dalam hutan, orang itu berkata.
"Cukuplah, di sini saja!"
La mengetik batu api supaya Hun Ci-lo melihat jelas raut mukanya.
Kini hujan sudah reda.
Tampak orang ini berusia tiga puluhan, mengenakan seragam kemiliteran pasukan pemerintah, Hun Ci-lo tidak berani lena, tanyanya sambil menyoreng pedang.
"Siapa kau?"
"Aku bernama Lau Khong, sahabat baik Beng Goan-cau, Miao Tiang-hong aku pun kenal baik, kabarnya dia bersama Hun lihiap, kenapa tidak kulihat dia?"
Hun Ci-lo terperanjat, hatinya bimbang, jengeknya.
"Kudengar katanya Lau Khong seorang lakilaki gagah, kenapa kau sudi menjual jiwa bagi Tatcu?"
"Tak heran kalau Hun lihiap curiga, panjang untuk menjelaskan. Biarlah kuberi tahu sebuah hal kepada Hun lihiap."
"Hal apa?"
"Bu Toan berdua sudah berada di Siau-kim-jwan, waktu di Tayli berkat bimbingan Hun Lihiap, waktu berpisah, kau pun memberi petunjuk untuk melakukan sesuatu, perjodohan kami sampai mendapat perhatian Hun lihiap, aku pun amat berterima kasih."
Kedengarannya kata-kata iseng, namun sengaja Lau Khong mengatakan untuk membuktikan asal-usul dirinya, ia mengakui sebagai calon suami Bu Cheng, apa yang Hun Ci-lo pernah katakan kepada Bu Cheng, kecuali kepada bakal suaminya, pastilah takkan diutarakan kepada orang luar.
Baru sekarang Hun Ci-lo mau percaya, katanya.
"Kiau Hun dan si Tosu tadi bertugas mengundang bala bantuan, Kiau Hun sudah kubunuh, tosu itu pun sebetulnya takkan lolos, entah kenapa Lau tayhiap menolongnya malah?"
"Terus terang, aku mendapat petunjuk dari Siau dan Leng-toako, sedapat mungkin melindungi jiwa mereka. Untung kau hanya bunuh Kiau Hun, kalau tosu itu kau bunuh sekalian, urusan bakal gagal berantakan."
"Kenapa?"
Tanya Hun Ci-lo keheranan.
"Mereka membawa surat dinas Han-ciangkun, dalam surat itu menjanjikan Ui-congping untuk bergabung di suatu tempat, maka sedapat mungkin kita harus biarkan surat dinas itu sampai ke tangan panglima perang musuh."
"Bukankah Han-ciangkun di Tayli itu sudah terbunuh? Apa kau belum bertemu dengan Thia Singan ayah beranak?"
"Benar, Han-ciangkun yang tulen memang sudah mampus, tapi Han-ciangkun tiruan ini adalah samaran Li-ma-cu."
Baru sekarang Hun Ci-lo sadar, katanya.
"O, jadi kalian hendak pancing musuh masuk perangkap?"
"Tidak semua saudara kita tahu akan rahasia ini. Belakangan ini banyak kawan pendekar yang datang membantu, kalau sampai kedua orang ini kebentur di tangan mereka, mungkin bisa terjadi di luar dugaan, maka aku ditugaskan melindungi mereka, supaya surat dinas itu tiba sampai di alamat sebenarnya."
"Kiranya begitu, hampir saja aku menggagalkan urusan besar malah."
"Apa Miao tayhiap tidak datang?"
Tanya Lau Khong pula, karena sejak tadi Hun Ci-lo belum menjawab pertanyaannya ini. Hun Ci-lo menekan perasaan hatinya, sahutnya.
"Tiang-hong tidak datang, aku sendiri tidak akan lama di Siau-kim-jwan, setelah kalian menang dengan gemilang, sesudah bertemu dengan Goan-cau, aku segera akan berlalu."
"Goan-cau tak berada di pangkalan pusat, dua hari mendatang, mungkin dia sedang bertempur secara besar-besaran dengan pasukan Ceng. Apa kau perlu segera menemui dia?"
"Aku sudah tahu dia tak berada di pangkalan, baru saja kudengar kabar ini dari pembicaraan Kiau Hun dan si Tosu tadi."
"Bagaimana keadaannya?"
"Dia menang dengan gemilang, tapi dia sendiri pun terluka."
"Apa benar?"
Tanya Lau Khong terkejut.
"Mereka yang mengatakan, namun mereka pun tidak melihat sendiri, aku sendiri tidak tahu kebenarannya."
"Kalau benar Beng-toako terluka, aku sendiri tak bisa ke sana menjenguknya. Hun lihiap tolong kau saja yang menjenguknya ke sana sekaligus merawatnya."
"Baik, coba terangkan, di mana letak Beng Goan-cau membuat perangkap menjebak musuh serta cara jalannya?"
"Dari sini ke arah barat, setelah melampaui sebuah gugusan bukit, kira-kira enam tujuh puluh li, di mana terdapat sebuah lembah bernama Ho-lou-kok, Goan-cau dengan pasukannya menunggu musuh di sana."
Waktu Hun Ci-lo berpisah dengan Lau Khong beranjak keluar dari hutan, hari sudah mulai terang tanah, sang surya sudah terbit di ufuk timur, seorang diri Hun Ci-lo beranjak ke barat sambil menghirup hawa pagi nan sejuk dan nyaman, namun kabut dalam hatinya masih belum buyar.
Enam tujuh puluh li bagi Hun Ci-lo ditempuh dalam waktu cukup singkat, namun sepanjang jalan ini melulu hutan-hutan lebat, suasana sepi lengang tak terlihat bayangan seorang tentara pun jua, lapat-lapat Hun Ci-lo merasakan firasat jelek.
Akhirnya ia memasuki lembah buli-buli itu juga, yang terpentang di hadapannya adalah pemandangan medan laga yang seru sengit dan amat mengenaskan, namun suasana di sini pun sudah sunyi tak terlihat sesuatu gerakan apa-apa, kiranya peperangan di sini sudah usai, mayat manusia bertumpuk-tumpuk malang melintang berserakan di mana-mana, darah membasahi bumi merubah warna rumput, agaknya pertempuran belum berhenti lama, karena darah segar belum membeku dan masih mengalir.
Bau anyirnya darah hampir saja membuatnya muntah saking mual.
Burung gagak beterbangan di atas kepalanya, seolah-olah mereka berkaok-kaok senang bakal pesta pora.
"Goan-cau, Goan-cau!"
Sekeras-kerasnya Hun Ci-lo keluarkan suaranya.
Tak terdengar suara sahutan, tak terlihat ada reaksi.
Dari mulut lembah ia menjelajah.maju terus sambil memeriksa setiap mayat-mayat yang dia ketemukan, namun jejak Beng Goan-cau tidak diketemukan.
Namun ia tidak putus asa, ia terus mencari kian kemari, pandangan yang mengerikan sudah tidak menjadi perhatian benaknya, yang terpikir hanyalah dia harus menemukan Beng Goan-cau.
Pada sebuah hutan belantara, lambat laun Beng Goan-cau mulai siuman dan sadar, seolah-olah ia baru bangun dari sebuah impian buruk.
Rumput alang-alang dan dahan-dahan pohon yang menjulang tinggi ke angkasa terbayang di kelopak matanya, seperti tombak dan pedang yang tak terhitung banyaknya, hutan lebat nan gelap seakan-akan terdapat ribuan pasukan berkuda yang siap bertempur.
Sudah tentu itu hanya khayalannya saja, yang terang itulah suara burung gagak yang berkaok-kaok saling bersahutan.
"Apakah aku masih hidup? Tempat apakah ini?"
Akhirnya ia teringat kembali, waktu ia mengejar panglima musuh dan di sini terperangkap kena panah-panah musuh.
"Ui-cong-ping itu memang pandai perang, tapi akhirnya dia toh terkalahkan juga oleh kami."
Terkulum senyum puas pada ujung bibir Beng Goan-cau, namun ia tidak kuasa bergerak, entah sudah berapa lama ia jatuh pingsan di tempat itu.
"Ke manakah saudara-saudaraku, kenapa seorang pun tak kelihatan? Apa mereka terus mengejar musuh?"
Ia tidak tahu bahwa anak buah pimpinannya sudah berhasil menggempur musuh yang jumlahnya lima kali lipat dari mereka dengan habis-habisan, namun yang gugur pun tidak sedikit, kuatir bala bantuan musuh tiba, terpaksa mereka mengundurkan diri lebih dulu.
Teman-temannya mengira dengan kepandaian silatnya yang tinggi, tentu sudah lama ia menerjang keluar kepungan musuh dan mundur kembali ke Siau-kim-jwan menurut rencana yang sudah ditentukan.
"Air, air!"
Terasa tenggorokan Beng Goan-cau kering dan panas.
Orang yang terluka takkan merasa lapar, namun dahaga terasa amat menyiksa, mulutnya mengeluarkan keluhan lirih, ia mengharap setitik air pun cukuplah untuk membasahi tenggorokan.
"Air, air, minta air!"
Setengah sadar mulutnya mengigau entah berapa lama, tiba-tiba sesuatu keajaiban terjadi, terasa oleh Beng Goan-cau seluruh tubuh mendadak nyaman segar, luka-luka panahnya pun berhenti sakit, seperti air perigi nan dingin segar itu betul-betul mengalir masuk mulutnya, betapa nikmatnya.
Sekuatnya Beng Goan-cau membuka kelopak matanya, karena belum sadar benar, hanya kelihatan bayangan orang yang remang-remang di depan matanya.
Orang itu pelan-pelan mengelus mukanya, berbisik halus di pinggir kupingnya.
"Toako, toako, sadarlah kau!"
Begitu merdu dan amat dikenalnya suara ini, siapakah dia?-Tapi ia sudah dapat merasakan jari-jari tangan halus yang mengelus badannya adalah tangan perempuan.
Apakah Lu Su-bi?
Ataukah Lim Bu-siang?
Ia coba pentang matanya lebar-lebar, bukan Lu Su-bi, bukan pula Lim Bu-siang, jauh di luar dugaannya justru adalah Hun Ci-lo adanya!
Di saat ia sendiri sudah cemas akan saat-saat ajalnya dan terbayang-bayang akan Hun Ci-lo, kini ternyata menjadi kenyataan.
Benarkah ini kenyataan?
Beng Goan-cau masih ragu-ragu dan menyangka dirinya sedang mimpi.
Lama juga Hun Ci-lo mengharap-harap barulah Beng Goan-cau sadar betul-betul.
Namun, melihat keadaan orang sungguh hati merasa senang dan pedih pula, katanya.
"Syukurlah kau sudah sadar. Coba kau lihat siapa aku, aku inilah Ci-lo!"
Melonjak jantung Beng Goan-cau teriaknya dengan sekuat tenaga.
"Hah! Ci-lo, kiranya betul kau!"
Sayang hanya mulutnya saja yang megap-megap, Hun Ci-lo hanya mendengar tenggorokannya berkerutukan.
"Toako,"
Ujar Hun Ci-lo lembut.
"jangan kau bicara, biar kuobati luka-lukamu!"
Lubang lukaluka sudah dia cuci bersih, dengan tangan dan gerakan yang sudah terlatih ia cabut keluar dua batang panah yang menancap di badan Beng Goan-cau, lalu membubuhi Kim-jong-yok.
Ujung mulut Beng Goan-cau mengulum senyuman puas, mendengus kesakitan pun tidak.
Hun Ci-lo mengunyah beras goreng yang dia geledah keluar dari kantong mayat-mayat yang menggeletak lalu dijejalkan ke mulut Beng Goan-cau, dicekoki pula air dingin.
Tak lama kemudian semangat dan tenaga Beng Goan-cau mulai pulih, katanya lirih.
"Ci-lo, terima kasih akan pertolonganmu, mana Miao, Miao-toako?"
"Toako, jangan kau banyak bicara, dengarkan saja kata-kataku,"
Kata Hun Ci-lo sambil menyelimutkan selembar mantel kulit ke badan Beng Goan-cau.
"Anak Hoa kita berada di tangan Tan Khu-seng Tosu dari Khong-tong-pay. Tan Khu-seng adalah teman baik Toan Siu-si. Mereka amat sayang kepada Hoa-ji, kelak Hoa-ji, pasti akan tumbuh dewasa. Toako, kau tidak perlu menguatirkan keadaannya."
Tapi keadaan Beng Goan-cau memang teramat lemah, ia hanya melongo mendengar penjelasan Hun Ci-lo meski ia tidak tahu siapakah Tan Khu-seng itu.
Yang terpikir hanyalah di manakah sekarang Miao Tiang-hong berada?
Tapi Hun Ci-lo tidak memberitahu.
"Toako, kau terlalu letih. Kau harus istirahat, pejamkan mata dan tidurlah. Biar kunyanyikan sebuah lagu, tidurlah tidur!"
Begitulah dengan mendelong Hun Ci-lo nyanyikan lagunya, tanpa disadarinya bahwa cuaca sudah mulai gelap, entah berapa lama sudah Beng Goan-cau tertidur lelap dibuai oleh nyanyiannya, kalau sang surya masih memancarkan cahaya kuning emasnya yang kemilau menjelang magrib ini, perasaan hati Hun Ci-lo pun ikut berkabut dan menjadi gelap.
Seperti sesosok patung kayu, dia tetap duduk di pinggir Beng Goan-cau dengan terlongong.
Tiba-tiba lamunannya dikejutkan oleh derap langkah kaki yang berkumandang di dalam lembah nan sunyi ini.
Bukan mustahil yang datang adalah musuh, dengan cekatan Hun Ci-lo melompat bangun, baru saja ia hendak menyembunyikan Beng Goan-cau, namun sudah terlambat, tahu-tahu dua orang sudah melompat naik ke atas sini.
Seketika kedua pihak sama-sama kepergok dan melengak, ketiganya sama-sama kaget pula!
Kiranya pendatang ini adalah Yam-yam Hwesio dan Lian Kam-peh.
Melihat musuh lamanya Hun Cilo tidak ayal.
"sret"
Ia tusukkan pedangnya lebih dulu. Tusukan ini amat cepat dan telak.
"Trang"
Potlot baja di tangan kanan Lian Kam-peh tergoncang miring ke samping, sebetulnya tusukan pedang Hun Ci-lo sudah dilandasi seluruh kekuatannya, maka daya gerakannya masih kuat tetap menyambar ke arah mukanya.
Kepandaian Lian Kam-peh memang bukan tandingannya, namun kepandaiannya tidak terhitung lemah, cepat ia mendoyongkan badan tertekuk ke belakang, berkelit sembari balas menyerang, dengan Hengka-kim-liang, dengan keras ia ketuk tajam pedang orang.
Hun Ci-lo insyaf tenaganya teramat lemah, maka ia harus bergerak cepat dan secara kilat menyelesaikan pertempuran ini, barulah dia bisa melindungi keselamatan Beng Goan-cau.
Begitulah dengan menyerempet bahaya mendadak ia lancarkan tipu-tipu pedangnya yang aneh dan berbahaya, badannya tiba-tiba mencelat naik, dengan Beng-pok-kiu-siau, dari atas pedangnya menusuk ke bawah.
Yam-yam Hwesio berjalan di belakang, jaraknya masih rada jauh, di saat Hun Ci-lo merangsak kepada Lian Kam-peh, kebetulan dia pun melihat Beng Goan-cau yang rebah tak bergerak di atas tanah.
Memangnya dia bersama Lian Kam-peh mendapat perintah Ui-congping untuk mencari jejak Beng Goan-cau.
Hari itu Ui-congping yang terluka hampir saja tertawan hidup-hidup oleh Beng Goan-cau.
Tapi dia pun melihat di atas badan Beng Goan-cau menancap beberapa batang panah, ia duga luka-luka Beng Goan-cau pasti tidak ringan, apalagi kehabisan darah, tapi kepandaiannya tinggi, belum tentu sudah ajal, maka ia utus kedua jagonya ini untuk memeriksa medan laga.
Sudah tentu bukan kepalang girang Yam-yam Hwesio, tanpa hiraukan temannya yang menghadapi bahaya, lekas ia memburu maju seraya berteriak senang.
"Sudah kutemukan, sudah kutemukan! Haha, haha! Inilah Beng Goan-cau di sini!"
Tusukan pedang Hun Ci-lo dari tengah udara ini, sebetulnya bisa memenggal batok kepala Lian Kam-peh, sekonyong-konyong mendengar seruan Yam-yam Hwesio yang kegirangan itu, keruan tersirap darahnya, dengan sendirinya tusukan pedangnya menjadi miring.
Meski demikian tajam pedangnya menyerempet kulit kepala Lian Kam-peh serta mencukur gundul separuh rambut kepalanya.
Mati-matian Lian Kam-peh jatuhkan diri terus menggelundung sejauhnya baru melompat bangun, serasa arwah melayang dari badan kasarnya, saking ketakutan dan kuatir Hun Ci-lo mencecarnya lebih lanjut, lekas ia berteriak.
"Yam-yam Taysu, lekas, lekas tolong aku!"
Baru sekarang Yam-yam Hwesio sadar untuk menolong temannya, ia duga Beng Goan-cau sudah mampus atau terluka parah, tak perlu kuatir orang bisa melarikan diri.
Maka lekas ia putar balik menolong Lian Kam-peh.
Yang dikuatirkan Hun Ci-lo keselamatan Beng Goan-cau, mana dia sempat pikirkan mati hidup Lian Kam-peh?
Lekas ia pun putar balik memburu ke arah Beng Goan-cau, jadi kedua pihak bertemu di tengah jalan.
Yam-yam hwesio meyakinkan Hwe-liong-kang, sekali tepuk deru anginnya panas membara, seketika Hun Ci-lo merasa napas sesak seperti tertindih batu, namun ia tetap merangsak dengan hebat.
Sekaligus ia cecar lawan sampai puluhan jurus dengan tipu-tipu ilmu pedang yang lincah dan cepat, kaki pun bergerak dengan Menyusup Kembang Mengitari Pepohonan, sejurus Pek-hoih-sip, pedangnya membawa sambaran angin menusuk Hian-ki-kiat di dada lawan.
Lekas Yam-yam tarik tangan melindungi dada, cepat sekali Hun Ci-lo merubah permainannya, kini ganti sasaran menusuk tapak tangan orang.
Perubahan jurus ini amat baik dan aneh, tusukan dilancarkan dari sudut yang tidak terduga oleh Yam-yam Hwesio.
"Cret"
Kasa yang dipakai Yam-yam tertusuk berlubang, untung dia berkelit dengan cepat, kalau tidak mungkin ulu hatinya sudah berlubang.
Seperti diketahui Lau-kiong-hiat di pusat tapak tangan Yam-yam Hwesio merupakan titik terlemah dari ilmu yang dia yakinkan, kalau Lau-kiong-hiat berlubang, seperti ban yang kempes kehabisan angin, maka Hwe-kiong-kang latihannya pun pecah dan menjadi cacat.
Keruan kaget dan jeri setengah mati.
Untung Lian Kam-peh keburu datang serta berteriak.
"Taysu jangan kuatir, perempuan busuk ini sudah hampir kehabisan tenaga, paling lima puluh jurus pasti kita bisa membekuknya hiduphidup."
Memang Lian Kam-peh pernah jajal kekuatan Hun Ci-lo maka ia tahu letak kelemahannya.
Dengan membesarkan nyali segera ia angkat senjata maju mengembut bersama Yam-yam Hwesio.
Setelah beberapa jurus pula, Yam-yam Hwesio tertawa gelak-gelak.
"Lian-lote, memang tidak salah omonganmu, memang perempuan busuk ini sudah semakin jompo, cuma perempuan secantik ini, aku orang beragama jadi tidak tega melukainya."
Begitulah sambil merangsak bergantian, kedua orang ini putar bacot keluarkan kata-kata kotor membakar hati Hun Ci-lo, Dengan kertak gigi Hun Ci-lo bertahan dan menempur dengan sengit, suatu ketika melihat ada kesempatan, dengan jurus Yu-khong-tam-jiau Yam-yam Hwesio ulurkan cakarnya mencengkram hendak menawannya hidup-hidup, tak nyana mendadak Hun Ci-lo malah membentak.
"Kena!"
Cepat sekali kilat pedang menyambar, ia papaki lengan orang terus menggores.
Kiranya Hun Ci-lo memang sengaja unjuk lubang kelemahan memancing serangan musuh.
Semula Yam-yam hendak menawannya hidup, tak nyana malah dirinya kena dilukai, untung potlot Lian Kam-peh mengetuk pedang Hun Ci-lo sehingga miring, maka jari kelingkingnya saja yang terpa-pas kutung, namun sakitnya bukan main.
Sakit dan gusar hati Yam-yam, dengan menggerung ia tingkatkan kekuatan Hwe-liong-kang lalu menyerang dengan dahsyat.
Hun Ci-lo sudah kehabisan tenaga, napas pun sudah tersengal-sengal mana kuat melawan pukulan yang deras dan panas ini?
Lekas dengan Hong-biau-loh-hoa ia berkelit menyingkir, belum lagi ia berdiri tegak, segulung tenaga mendampar bagai gugur gunung hebatnya, seketika badannya mencelat naik dan terlempar beberapa tombak jauhnya.
Walau tidak kena pukulan secara_ telak, namun sambaran anginnya cukup membuatnya terbanting keras dan tidak mampu merayap bangun pula.
Dingin perasaan Hun Ci-lo, diri sendiri gugur tidak menjadi soal, sekali-kali jangan sampai musuh mencelakai jiwa Beng Goan-cau, terpaksa ia nekad hendak memutuskan urat nadi sendiri untuk bunuh diri saja.
Tiba-tiba didengarnya gelak tawa Yam-yam yang menggila itu sirap disusul bentakan kagetnya.
"Siapa itu yang datang?"
Cepat sekali kedatangan orang itu, bagai angin puyuh bergulung tiba-tiba, baru saja kata-kata Yam-yam terakhir diucapkan, tanda tanya hatinya segera terjawab.
Hun Ci-lo rebah di atas tanah sehingga tak bisa melihat siapakah pendatang ini, namun ia mendengar suara yang sudah amat dikenalnya.
Dia bukan lain adalah Lim Bu-siang.
Agaknya Lim Bu-siang mencelos melihat adegan di depan matanya, teriaknya.
"Hun-cici, Kenapa kau? Bengtoako, dia dia..."
Terbangkit semangat Hun Ci-lo, ia meronta hendak merangkak bangun, teriaknya.
"Beng-toako masih hidup!"
Barulah Lim Bu-siang lega, katanya.
"Hun-cici, jangan kau bergerak, biar kubereskan kedua anjing kurcaci ini."
Yam-yam dan Lian Kam-peh belum tahu kelihayan Lim Bu-siang, melihat seorang gadis jelita yang lebih muda dari Hun Ci-lo, tanpa berjanji mereka tertawa riang.
Yam-yam yang usil mulut, kontan buka mulut.
"Kau budak cilik ini bermulut besar, memangnya kau lebih hebat dari perempuan busuk itu?"
Belum habis ia bicara, sekonyong-konyong sinar kemilau dingin tahu-tahu menyambar di depan mata Lim Bu-siang membentak.
"Baik, silakan kalian tertawa!"
Beruntun ia lancarkan tipu-tipu ilmu pedangnya, hawa pedang laksana pelangi, ke kiri menusuk Lian Kam-peh, ke kanan menusuk Yam-yam Hwesio.
Begitu cepat serangan ini, sehingga keduanya merasa seluruh gerakan pedang Lim Bu-siang sama menusuk ke berbagai tempat di badannya.
Betapapun kuat dan rapat pertahanan gabungan kedua orang ini, masih tetap dibuat kerepotan di bawah angin.
Baru sekarang Yam-yam insyaf bahwa Lim Bu-siang memang jauh lebih hebat dari Hun Ci-lo, lekas ia tanggalkan kasanya, sekali gentak ia bikin kasanya berkembang laksana segumpal awan merah melindungi badan.
Lian Kam-peh tidak punya kekuatan sebesar itu, dalam kerepotannya lekas ia kembangkan Siang-pit-tiam-su-meh, dalam satu jurus beruntun potlotnya sudah mengincar Thay-yan, Siau-yang, Kiam-im dan Yang-kiau empat urat nadi dari delapan hiat-to besar di badan manusia.
Entah berapa kali jurus permainannya ini pernah melumpuhkan tokohtokoh kenamaan di bulim, namun menghadapi Lim Bu-siang ujung baju orang saja ia tidak mampu menyentuhnya.
Lim Bu-siang malah menjengek dingin.
"Diberi tidak membalas kurang hormat, kau sangka hanya kau saja yang pintar main totok?"
Badan dan pedang Lim Bu-siang seolah-olah sudah bersatu padu, pedang dimainkan laksana burung Hong menari dan terbang di angkasa.
Ke mana sasaran ujung pedang lawan belum lagi Lian Kam-peh melihat jelas, empat urat nadi dan delapan jalan darah besarnya tahu-tahu sudah kena pedang lawan, sasarannya sama yang dia tuju dengan totokan ujung kedua potlotnya.
Melihat ilmu pedang orang begitu tinggi dan lihay, hati Yam-yam sudah ciut dan jeri, berulang kali ia berusaha menjebol keluar dari kurungan sinar pedang lawan hendak melarikan diri, namun terjang sana terobos sini selalu gagal, terpaksa mengeraskan kepala melawan mati-matian.
Kasanya ia kembangkan semakin gencar sehingga badannya seolah-olah terbungkus segumpal awan merah yang menari-nari laksana kitiran di sekeliling badannya.
Di luar gulungan awan merah itu dilingkupi pula oleh sinar dingin kemilau.
Memang aneh kalau dikatakan, tadi bersama Lian Kam-peh mereka terdesak mencak-mencak oleh rangsakan pedang Lim Bu-siang, kini setelah satu lawan satu, keadaannya jauh lebih mending malah.
Walau selama ini ia selalu gagal membobol kepungan, tapi Lim Bu-siang pun terhalang untuk menyerang masuk.
Bahwasanya ginkang dan kepandaian Lim Bu-siang kira-kira sebanding dengan Hun Ci-lo, untung kedua lawannya sudah bertempur sekian lamanya, dengan serangan kilat yang lihay maka dengan mudah ia melukai Lian Kam-peh, apalagi ilmu pedang ajaran Jan-bau-khek yang dia pelajari ini justru lawan mematikan dari ilmu potlot Lian Kam-peh.
Maka pada babak terakhir setelah mereka kembangkan kepandaian masing-masing untuk bertahan hidup, jelas terlihat perbedaan dan tingkat kepandaian yang mereka yakinkan, bicara ilmu pedang Yam-yam bukan tandingan Lim Bu-siang, namun latihan lwekangnya selama puluhan tahun betapapun Lim Busiang tidak mampu menandingi.
Karena pusaran kasa yang kencang itu, maka tenaga membalik yang memantul keluar pun teramat keras, lambat laun ling-kupan sinar pedang Lim Bu-siang semakin melebar, maka tahulah dia bahwa lwekang lawan ciliknya masih kalah dibanding latihannya, timbul setitik harapan dalam benaknya untuk meloloskan diri.
Begitulah dengan menarikan kasanya sekencang kitiran Yam-yam tangkis semua rangsakan Lim Bu-siang, sekonyong-konyong di antara berputarnya awan merah yang kencang itu tangan kanannya menyeloriong keluar menepuk tiga kali.
Hwe-Iiong-kang sejak tadi sudah ia kerahkan dan baru sekarang sempat ia kembangkan, laksana hawa panas yang bersuhu tinggi menyembur keluar dari tungku besar yang membara, agaknya Lim Bu-siang tidak mengira perlawanan musuh yang nekad ini, tanpa terasa ia tersurut mundur tiga langkah.
Keruan bukan kepalang girang Yam-yam Hwesio, maka ia percepat lagi permainan kasanya merangsak lebih hebat diselingi pukulan Hwe-Iiong-kang yang dahsyat pula.
Tak nyana di saatsaat ia memperhitungkan langkah-langkah selanjutnya, tiba-tiba didengarnya Hun Ci-lo yang bersandar di batang pohon itu berseru.
"Lewat Kanbun, menerjang ke Tui-wi, tusuk Lau-kionghiatnya!"
Kiranya dua kali sudah Hun Ci-lo bertempur dengan Yam-yam Hwesio, sedikit banyak ia cukup hafal akan tipu-tipu permainan pukulan Hwe-liong-kangnya, apalagi ginkang Lim Bu-siang setanding dengan dirinya, sebagai penonton yang jelas akan permainan kedua orang yang lagi bertarung, segera ia berseru memberi petunjuk kepada Lim Bu-siang untuk mengarah tempat kelemahan musuh.
Memang Lim Bu-siang sedang memancing musuh supaya mendesak gencar dirinya, cuma belum diketahui di mana titik terlemah dari badan Yam-yam Hwesio, begitu mendapat petunjuk Hun Ci-lo, sebat sekali ia bergerak menurut petunjuk seraya menusuk dengan jurus Gok-li-toh-so.
Kalau hanya bertahan dengan rapat, meski asor Yam-yam Hwesio tidak akan terkalahkan dengan konyol, tak nyana karena buru-buru hendak menang dan lekas melarikan diri, perhitungan yang muluk-muluk malah mendatangkan bencana bagi jiwanya.
Maka terdengar "Cret"
Sekali, tahu-tahu kasa merahnya melayang tinggi ke tengah udara, telak sekali Lau-kiong-hiat di tapak tangannya tertusuk tembus oleh pedang Lim Bu-siang.
Setelah memunahkan ilmu silat orang, Lim Bu-siang segera menghardiknya.
"Kuampuni jiwamu, tidak lekas kau menggelinding pergi?"
Tampak Yam-yam lari sipat kuping, tapi hanya beberapa langkah saja, mendadak ia menghentikan langkah. Lim Bu-siang heran dan membentak.
"Eh, kuampuni jiwamu, kenapa tidak lekas lari?"
Terdengar tenggorokan Yam-yam berbunyi kerok-kerok, mulut menyemburkan buih, badan mengejang dan bergetar hebat seperti binatang buas menjelang ajal yang meronta-ronta, mendadak malah melompat dan mencak-mencak terus menari-nari seperti orang gila.
Maklumlah Hwe-liong-kang yang dilatihnya itu adalah ilmu sesat, begitu Lau-kiong-hiat tembus, bukan saja ilmu silat punah.
Hawa murni dan tenaga dalamnya segera bocor dan racun panas menerjang 'balik membakar jantung, dia sendiri tidak kuasa menahan dan menguasai diri lagi, akhirnya racun kumat dan senjata makan tuan, melayanglah jiwanya.
Melihat keadaan orang yang menggiriskan, luluh hati Lim Bu-siang, maka ia tidak tega lagi membunuh Lian Kam-peh.
Apalagi urat nadinya sudah dia putus, berarti takkan bisa main silat lagi, maka Lim Bu-siang lantas menotok jalan darah penidurnya terus menendangnya ke lereng bukit, katanya.
"Besok pagi kalau kau belum dimakan binatang berarti jiwamu memang masih cukup panjang."
Segala ketegangan sudah berlalu, bau darah yang amis pun terhembus angin pegunungan, suasana kembali sunyi senyap, kabut malam mulai mendatang, sementara bulan sabit sudah bercokol di angkasa.
Segera Lim Bu-siang menghampiri Beng Goan-cau, seketika timbui rasa kuatirnya, katanya.
"Pertempuran begitu dahsyat, kenapa dia masih enak-enak tidur?"
Kata Hun Ci-lo.
"Mungkin dia sudah pingsan dua hari dua malam, barusan siuman sebentar, namun pikirannya belum sadar lalu terpulas lagi. Tapi kau tak usah kuatir, pernapasannya sudah lancar dan teratur, keadaannya sudah tidak berbahaya lagi. Coba lihat, bukankah tidurnya begitu pulas?"
Perasaan Lim Bu-siang kembali tentram, katanya.
"Aku tidak tahu dia terluka begini berat, kemarin seharian aku menunggunya di Siau-kim-jwan."
Setelah semua anak buah Beng Goan-cau pulang ke pangkalan dan tidak melihat Beng Goan-cau, barulah Lim Bu-siang menyusul kemari.
"Hanya seorang diri kau kemari?"
Tanya Hun Ci-lo.
"Semua pasukan yang ada di Siau-kim-jwan sudah dikerahkan untuk menggempur pasukan musuh yang sudah terjepit di garis timur sana, terpaksa aku tidak ikut karena harus mencari Bengtoako. Hun-cici, dari mana kau bisa tahu mencari Beng-toako di sini? Mana Miao tayhiap? Aku tahu dia sudah datang, kenapa tidak bersama kau?"
Hun Ci-lo tertegun sebentar, sahutnya.
"Semalam aku bertemu dengan Lau Khong, malah hampir terjadi salah paham, pagi tadi baru aku berpisah dengan dia. Dari mana pula kau tahu bila Miao-toako kemari?"
"Ada sebarisan kawan-kawan kita yang terluka, mereka mundur kembali ke Siau-kim-jwan, di tengah jalan terkepung pula oleh barisan ronda musuh, untung Miao tayhiap datang menolong sehingga mereka lolos keluar kepungan. Malah Miao tayhiap tolong membubuhi obat kepada mereka."
Sekian lama Hun Ci-lo terlo-ngong, tanyanya kurang percaya.
"Apa benar dia sudah datang?"
"Kenapa tidak, di tengah jalan aku mendapat keterangan dari dua orang yang dia obati. Dari gambaran muka orang yang dia lukiskan kepadaku, pasti tidak salah bila dia Miao tayhiap. Semula kukira kalian datang bersama."
Mau tidak mau Lim Bu-siang heran.
"Dia tidak mengatakan hendak ke sini, tapi aku tahu bahwa dia pasti datang."
"Sekarang mungkin dia sudah berada di Siau-kim-jwan. Atau berada di timur sana membantu Lau Khong, situasi di sini sudah dke-tahui, apalagi Bu Toan dan adiknya pun di sana."
Gundah dan risau pula hati Hun Ci-lo, pikirannya bekerja dengan cepat, tiba-tiba ia berkata.
"Siang-moay, selanjutnya tolong kau saja yang merawat dan menjaga Beng-toako, seorang diri kau membawa pulang, takut menghadapi bahaya tidak?"
"Seluruh kekuatan kedua pasukan sama dikerahkan ke pertempuran di timur sana, rakyat simpati kepada kita pula, kukira tidak akan menemui kesulitan. Cuma Hun-cici..."
"Kukira sekarang juga aku harus pergi."
Lim Bu-siang kira orang ingin segera menemui Miao Tiang-hong, katanya tertawa.
"Baiklah, pergilah dengan lega hati. Semoga kalian bisa lekas bertemu di tempat Lau Khong sana. Setelah kemenangan kita capai, biar kita rayakan bersama di. Siau-kim-jwan."
Hun Ci-lo tersenyum pahit, beberapa langkah kemudian, tiba-tiba ia berpaling pula, katanya.
"Ada sebuah hal lupa kuberi tahu kepadamu."
"Hal apa?"
"Kalau Beng-toako bangun, jangan kau katakan kepadanya kau telah bertemu dengan aku, anggap saja kau sendiri yang menemukan dia di sini."
"Kenapa?"tanya Lim Bu-siang tidak mengerti.
"Supaya dia merawat luka-lukanya baik-baik, jangan banyak pikiran. Entah bisa tidak aku kembali dan bertemu pula dengan kalian, maka kalau dia tanyakan diriku, katakan saja kau tidak tahu apa-apa."
Pertempuran yang bakal terjadi di sebelah timur sana merupakan medan laga yang paling dahsyat selama ini.
Hun Ci-lo hendak melu-ruk ke sana menemui Miao Tiang-hong, maka dia pasti terjun pula dalam arena adu jiwa itu.
Lim Bu-siang kira Hun Ci-lo kuatirkan nasibnya dalam bahaya di sana, maka sebelumnya berpesan lebih dulu, maka katanya dengan alis tegak.
"Hun-cici, jangan kau bicara begitu, aku yakin kau akan pulang dengan selamat!"
Mana dia tahu bahwa Hun Ci-lo tidak akan menyingkir dari marabahaya peperangan, namun tujuannya justru hendak menghindari gelombang asmara.
"Semoga aku selamat, tapi kau harus turuti keinginanku tadi."
"Baik, akan kulakukan menurut pesanmu."
"Baik, aku berangkat dulu. Beng-toako kuserahkan kepada-mu.
"Legakan hatimu, aku akan merawatnya."
Beng Goan-cau masih terlelap dalam impiannya, senyum di mukanya masih terkulum segar.
Mungkin dia sedang mimpi dibuai dalam pelukan asmara Hun Ci-lo, di luar tahunya bahwa selangkah demi selangkah Hun Ci-lo semakin jauh meninggalkan dirinya.
Dengan mengeraskan hati ia percepat langkahnya dan tak berani berpaling lagi.
---ooo0dw0ooo---Bayangan Hun Ci-lo semakin jauh dan akhirnya tak kelihatan lagi, namun Lim Bu-siang terus melamun, tanpa terasa tiba-tiba ia bergidik dan serasa dingin hatinya.
Tajam memang perasaan seorang gadis remaja seperti dirinya, lapat-lapat terasa olehnya perasaan pedih dan rawan Hun Cilo menjelang kepergiannya ini, seolah-olah dia melihat air mata orang bercucuran deras.
"Ah, bahwasanya Hun-cici amat mencintai Beng-toako, kenapa pula dia begitu intim dengan Miao Tiang-hong? Mungkinkah lantaran aku?"
Demikian ia bertanya-tanya dalam hati, berbagai pikiran dan kemungkinan sudah ia pikirkan satu persatu, begitulah ia tenggelam dalam pikirannya sehingga tak terasa fajar sudah menyingsing, hari sudah pagi.
Hembusan angin pagi nan dingin sejuk menyentak Lim Bu-siang dari lamunannya, seketika terbangun semangatnya, lekas ia membungkuk memeriksa keadaan Beng Goan-cau, mukanya yang semula pucat lesi, kini sudah bersemu merah, namun masih tidur nyenyak.
Tiba-tiba Lim Bu-sang sadar akan tugasnya, lekas ia mengumpulkan ranting kayu lalu membuat api.
Menggunakan gembes (tempat air) Beng Goan-cau, ia ambil air di sungai yang tak jauh di pinggir hutan sana.
Lalu dikeluarkannya sepotong kolesom serta di risnya kecil-kecil dengan pedangnya, terus dimasukkan ke dalam poci air dan dimasak, dia membuat kuah kolesom untuk dicekokkan kepada Beng Goan-cau.
Entah apa yang di mpikan oleh Beng Goan-cau, senyuman di mukanya tiba-tiba menghilang, tampak mulutnya komat-kamit seperti berteriak-teriak, lekas Lim Bu-siang mendekat dan menempelkan kuping ke mulutnya, samar-samar didengarnya suara serak berteriak.
"Ci-lo, Ci-lo, kau, jangan kau pergi!"
Lim Bu-siang kaget, waktu ia tegasi Beng Goan-cau masih tidur nyenyak, jadi ia mengigau dalam impiannya, keruan pedih hati Lim Bu-siang, segera ia memeluknya serta memanggilnya pelan.
"Beng-toako, bangunlah, bangun!"
Dengan mata sepat akhirnya Beng Goan-cau siuman dan buka mata, bayangan impian masih membekas dalam pikirannya, tiba-tiba ia pegang kencang tangan Lim Bu-siang yang empuk halus, waktu ia gigit lidah sendiri terasa sakit, Beng Goan-cau tahu bahwa dirinya bukan mimpi, maka teriaknya dengan girang.
"Ci-lo, kiranya kau masih berada di sampingku!"
Lim Bu-siang mengusap air mata, katanya haru dan pedih dengan suara tersendat.
"Bengtoako, sadarlah kau! Aku ini Bu-siang!"
Walau tidak dalam mimpi, namun ia salah mengenali orang. Setelah pulih kesadaran Beng Goan-cau, tak terasa amat kaget dan menyesal pula hatinya. Lekas ia berkata.
"Kiranya kau, mana Hun Ci-lo?"
Hampir saja Lim Bu-siang menuturkan sebenarnya, namun ia ingat kesehatan orang yang masih menguatirkan, maka perihal Hun Ci-lo mencari Tiang-hong di medan perang sekali-kali jangan sampai menyusahkan dan menguatirkan hatinya?
Terpaksa hal ini dirahasiakan saja.
Maka katanya.
"Beng-toako, kau sudah sadar bukan! Di sini mana ada Hun-cici?"
"Aneh, jelas tadi dia berada di sampingku menina bobok sehingga aku terpulas, kenapa tidak kelihatan? Jadi waktu kau datang..."
"Waktu aku menyusul tiba, hanya kulihat kau seorang diri yang rebah di sini, tak pernah kulihat bayangan Hun-cici."
Cahaya matahari menyilaukan mata, sinarnya jauh berlainan dengan sinar kuning kemarin sore menjelang magrib, Beng Goan-cau kucek-kucek mata, mau tidak mau ia jadi curiga dan bertanyatanya.
"Memangnya kejadian semalam kualami dalam mimpi?"
"Aku sudah menemanimu semalam suntuk di sini. Mungkin Hun-cici pernah kemari, cuma aku tidak tahu. Sekarang semua orang sedang berperang, mungkin sukar untuk menemukan dia. Tapi asal dia benar-benar datang, akan kubantu kau menemukan dia."
Meski air mata sudah tak berlinang lagi, namun betapa pedih sanubarinya, jelas terlihat dari rona mukanya.
Mendengar kata-kata orang yang penuh penyesalan dan rawan hati, Beng Goancau jadi risi dan menyesal malah.
Maka ia tidak tega bertanya lebih lanjut maka katanya sambil tertawa.
"Mungkin memang aku sendiri yang bermimpi. Memang semua orang sedang berperang, urusan apa saja harus dikesampingkan dulu. Oh, ya, aku belum tanya kepadamu, bagaimana keadaan di medan laga? Entah berapa lama aku jatuh pingsan di sini?"
"Sergapan pasukan pimpinanmu kali ini berhasil dengan baik, pihak kita sudah mencapai kemenangan gilang gemilang. Pihak Lau Khong di sebelah sana malah belum bentrok dengan musuh, namun menurut rencana sekarang tentu sudah mulai."
"Sayang aku terluka, tidak bisa terjun ke medan perang yang teramat penting sekali artinya."
"Beng-toako, gunung tetap menghijau, tak perlu kau kuatir kehabisan kayu bakar. Tugasmu yang terpenting sekarang adalah merawat luka-lukamu sembuh secepatnya. Marilah kau minum kuah kolesom ini."
"Dari mana kau peroleh kolesom?"
"Leng-toako menduga kau pasti terluka, maka waktu aku menyusul kau kemari dia memberiku sepotong kolesom, barusan kumasak menggunakan poci airmu."
Kuah itu masih panas, begitu masuk perut seketika terasa hangat dan segar, sekujur badan serasa mengalir hawa panas yang menjalar ke seluruh badan.
Tapi lebih hangat pula uluran persahabatan sesama pejuang di medan laga.
Seketika perasaannya bergolak dan hampir saja Beng Goan-cau tidak bisa menahan emosinya, menyesal dan malu diri pula.
"Beng-toako. Sudah baikan tidak?"
Tanya Lim Bu-siang melihat air muka orang bersemu merah.
"Jauh lebih baik,"
Sahut Beng Goan-cau.
"Marilah coba kau payang aku ke tempat yang tinggi!"
Selepas mata memandang, jauh di ufuk timur sana, udara seperti bersemu merah berasap, cahaya berkilau bergulung-gulung di tengah lautan mega. Beng Goan-cau kaget, katanya.
"Busiang, coba lihat di sana itu agaknya cahaya api."
Dengan seksama Lim Bu-siang memandang jauh ke sana, katanya kemudian.
"Aku tak melihat cahaya api, apakah bukan sinar matahari di waktu fajar?" .
"Bukankah di sana letak medan laga tempat kita membasmi pasukan besar musuh?"
"Ya, jurusannya benar. Tapi jarak medan laga di timur sana kira-kira tujuh delapan puluh li dari tempat kita ini."
Beng Goan-cau seperti memikirkan apa-apa, sesaat kemudian baru berkata setelah menghela napas.
"O, begitu jauh! Meski aku tidak terluka, hari ini tak mungkin aku bisa menyusulnya ke sana. Bu-siang, coba kau lihat lebih tegas, apa benar bukan cahaya api."
"Jarak sedemikian jauh, seumpama di sana timbul kebakaran besar, toh takkan terlihat dari tempat sejauh ini."
"Sayup-sayup aku seperti mendengar gaduh dari pertempuran orang banyak."
"Itu suara hembusan angin. Hembusan angin yang deras men-dampar hutan lebat dan menimbulkan banyak pepohonan yang tumbang. Malah diselingi suara burung-burung gaok."
Beng Goan-cau menyengir tertawa geli sendiri, ujarnya.
"Benar, cahaya api saja tak kelihatan, mana bisa mendengar suara pertempuran dari tempat sejauh ini. Aku sedang berkhayal agaknya."
Waktu angin gunung menghembus datang Beng Goan-cau menyedot hawa, mendadak ia berseru kaget.
"Tidak benar!"
"Apanya tidak benar?"
"Coba kau endus sebentar, rasanya hembusan angin lalu ini mengandung bau sesuatu yang terbakar?"
"Ya, memang mengandung bau yang lain dari biasanya."
"Pastilah terbit kebakaran besar di sebelah sana, bau ini adalah bau mayat-mayat manusia yang terbakar hangus di sana,"
Kata Beng Goan-cau.
Sesaat bergetar sanubari Beng Goan-cau, seketika terbayang olehnya adegan dalam mimpinya tadi.
Dalam impian buruknya tadi, bayangan Hun Ci-lo menghilang di lautan api yang sedang berkobar besar.
"Eh, Beng-toako, kenapa kau?"
Tanya Lim Bu-siang kaget melihat perubahan air muka yang jadi pucat pias.
"Tidak apa-apa,"
Sahut Beng Goan-cau, sedapat mungkin ia tekan kekuatirannya. Sambungnya pula tawar.
"Aku hanya sedikit kuatir akan kebakaran besar ini."
Dengan mesra Lim Bu-siang menatapnya, katanya lembut.
"Beng-toako, kau tak usah kuatir, kita pasti menang dalam perang kali ini. Leng dan Siau kedua pimpinan sudah siap dan matang dalam rencana, kukira pasti pihak kita yang menggempur musuh menggunakan api. Beng-toako, yang terpenting sekarang kau harus istirahat dan merawat luka-lukamu."
Beng Goan-cau menenangkan hati, diam-diam ia tertawakan diri sendiri.
"Kenapa aku jadi percaya akan khayalan mimpi? Ci-lo sekarang sudah punya Miao-toako, memangnya aku masih mengharap rujuk kembali dengan dia?"
Melihat orang terlongong, tak tahan Lim Bu-siang bertanya lagi.
"Beng-toako, kau tidak apaapa bukan?"
Bangkit gairah Beng Goan-cau, sahutnya.
"Bu-siang segera kita pulang!"
"Apa kau bisa jalan? Lebih baik..."
"Aku bisa jalan pelan-pelan,"
Tukas Beng Goan-cau.
"Seumpama tidak bisa mencapai medan pertempuran, di tengah jalan pasti bisa bertemu dengan saudara-saudara kita, baik juga kita cari tahu kabar baik dari garis depan!"
Begitulah pelan-pelan Lim Bu-siang papah Beng Goan-cau turun dari atas bukit, terbayang para kawan seperjuangan sedang menggasak musuh habis-habisan, perasaan hatinya ikut diliputi ketegangan dan gairah yang menyala-nyala, namun di tengah berkobarnya semangat juangnya ini terselip pula rasa kuatir dan takut.
Dia cukup yakin dan optimis akan menang, tapi apakah dia bisa bertemu pula dengan Hun Ci-lo, sanubarinya tidak yakin akan hal ini.
Pikirnya.
"Apakah kejadian semalam hanya impian belaka? Yang kutemui hanyalah bayangan Hun Ci-lo? Tidak, tidak, itu bukan bayangan belaka! Ci-lo pasti masih berada di Siau-kim-jwan. Ai, Ci-lo, kenapa kau harus menyingkir dari hadapanku?"
Memang tidak salah dugaan Beng Goan-cau, cahaya merah di ufuk timur yaug cemerlang di antara lautan mega itu memang benar adalah suatu kebakaran besar.
Demikian pula dugaan Lim Bu-siang tidak meleset, kebakaran besar ini timbul, karena pihak laskar gerilya dari Siau-kim-jwan sedang membasmi musuh dengan sergapan api.
Pasukan Ceng terjepit di dalam sebuah lembah sempit yang panjang, kedua jalan keluarnya sudah tersumbat oleh batu-batu gunung dan batang pohon besar.
Tak terhitung banyaknya semburan api seperti naga api melayang turun dari angkasa, itulah untaian kayu-kayu bakar yang dilempar dari puncak gunung setelah dinyalakan lebih dulu.
Itulah sebuah lembah belukar yang dijepit oleh lamping gunung yang berbentuk amat aneh, seolaholah lamping gunung dipapas dari atas ke bawah sehingga menjadi lekuk dan mendekuk dalam ke bawah, bukit-bukit kecil dan gundukan tanah berbatu banyak berserakan di dalam lembah, mungkin sejak ribuan tahun yang lalu, lembah ini sudah menjadi aliran sungai deras setiap terjadi hujan lebat sehingga terjadi banjir bandang di sini, lama kelamaan maka tercip-talah bentuk lembah aneh ini oleh alam.
Di dasar lembah banyak tumbuh pohon rotan yang melingkarlingkar saling libat memanjang, sehingga setelah termakan api, lekas sekali merambat dari satu ke lain tempat seperti naga api yang mengamuk.
Ditambah hembusan angin di sini cukup deras, sehingga percikan api dan asap membumbung tinggi ke angkasa, seluruh lembah menjadi lautan api.
Ui Tang-seng panglima tertinggi pasukan Ceng menjadi merah matanya, bentaknya.
"Lekas terjang ke atas gunung, siapa takut mati biar kubunuh dia lebih dulu."
Dari puncak gunung, hujan panah terus berlangsung dengan lebatnya, yang paling menakutkan masih banyak lagi batang pohon besar dan batu-batu gunung segede gajah bergelundungan menerjang barisan tentara Ceng yang berusaha menerjang naik ke atas.
Leng Thiat-jiau membentak dingin.
"Yang ingin hidup lekas lempar senjata dan menyerah sambil angkat tangan tinggi! Kami takkan bunuh tawanan yang tidak bersenjata."
Bertahan di bawah jelas bakal mati terbakar, menerjang naik melawan dengan kekerasan akhirnya juga mati, kecuali menyerah tiada jalan lain untuk menyelamatkan diri?
Maka terdengarlah suara ke-rontangan yang ramai, banyak sekali pasukan Ceng yang buang golok, dan tombak, beramai-ramai mereka angkat tinggi kedua tangan, berebut lari menuju tempat yang ditunjuk oleh pasukan gerilya.
Beberapa perwira kepercayaan Ui Tang-seng pun mengikuti jejak teman-temannya yang lain.
Keruan Ui Tang-seng amat gusar, sekaligus ia bacok mati dua orangnya, sebelum ia mengganas lebih lanjut, orang kepercayaannya itu beramai-ramai jemput senjatanya pula serta berteriak.
"Kau suka jual jiwa bagi raja itulah urusanmu, kami hanya ingin hidup, kau melarang dan merintangi, biarlah aku adu jiwa dulu denganmu!"
Terkejut dan gusar pula Ui Tang-seng, mungkin sebelum bentrok dengan musuh, jiwa sendiri sudah ajal oleh anak buah sendiri, terpaksa ia tinggalkan pasukan melarikan diri sendiri, ia pilih tempat yang kobaran apinya tidak begitu besar.
Sekonyong-konyong didengarnya bentakan keras.
"Antek kerajaan, lari ke mana!"
Yang mengejar datang kiranya Lau Khong. Setelah dekat Lau Khong lantas menjengek dingin.
"Kau kira sampai mati kau tidak mau menyerah lantas boleh dianggap sebagai enghiong atau pahlawan gagah? Itu tergantung kepada siapa kau mengabdikan diri, demi siapa kau gugur? Tatcu menjajah negeri kita, menindas rakyat jelata, kau sebagai orang Han, terima menjadi antek kerajaan penjajah, jual jiwa bagi Tatcu lagi, he, he, ini namanya bukan enghiong, tapi adalah anjing dan biruang! Masih belum terlambat kau berpaling, cobalah pikir baik-baik, kau suka jadi enghiong atau anjing?"
Selamanya tidak pernah ada orang bicara seperti itu kepada Ui Tang-seng, sesaat hatinya menjadi hambar dan kosong melompong.
"Apakah aku ingin jadi panglima yang setia kepada junjungan malah kelakuan yang salah?"
Sayang pengertian kolot seperti ini sudah berakar dalam benaknya, dalam waktu dekat mana ia bisa menginsyafi kesalahan ini? "Bagaimana, belum terlambat kau berpaling dan insyaf,"
Desak Lau Khong.
"Mulut siluman mengelabui mata orang, jangan harap aku suka mendengar obrolanmu! Orang she Ui terjebak oleh tipu daya kalian, biar kutebus kegagalan ini dengan kematianku, apa pula yang harus kutakutkan? Lihat golok!"
"Baik, otakmu memang sudah tumpul dan tak mau sadar, biar kusempurnakan keinginanmu!"
"Sret"
Pedangnya bergerak, ia kerahkan tiga bagian tenaganya, dengan ringan ia guncang golok Ui Tang-seng miring ke samping.
Ui Tang-seng lulus dalam ujian kemiliteran, boleh terhitung seorang panglima perang yang lihay dan perkasa, namun bicara soal ilmu silat sejati, sudah tentu terlampau jauh dibanding Lau Khong.
Apalagi tiga hari yang lalu di lembah buli-buli ia pun pernah kalah dan terluka, meski hanya luka ringan saja.
Enteng dan lincah sekali Lau Khong mainkan pedangnya, hanya berapa jurus saja "Cras"
Ia berhasil menusuk pergelangan tangan Ui Tang-seng, kontan golok besarnya jatuh di atas batu mengeluarkan suara kerontangan.
Cepat dan tangkas sekali Lau Khong ulur tangan, sekali raih dan tarik serta ditelikung pula ia ringkus Ui Tang-seng hidup-hidup.
Tiba-tiba Lau Khong lempar badan Ui Tang-seng ke atas, katanya.
"Kau bawa pasukan menggempur kami,, jangan salahkan kami bertindak ganas."
Ia raih badan Ui Tang-seng lalu melemparnya pula ke atas, begitulah berulang kali turun naik badan Ui Tang-seng jungkir balik di tengah udara, katanya pula.
"Asal tentaramu mau meletakkan senjata, kami tidak akan melukai tawanan, coba tanya kalian suka melakukan peringatan ini tidak?"
Teringat akan janji setia dan pesan atasannya di waktu dirinya hendak berangkat ke medan perang, berdiri bulu kuduk Ui Tangseng.
"Lihatlah lautan api di bawah sana,"
Kata Lau Khong lebih lanjut.
"kalau kami tidak memberi sedikit peluang, seluruh anak buahmu sudah terbakar hangus seluruhnya, kau sebaliknya masih kepala batu, menjual jiwa bagi raja anjingmu itu! Cukuplah sampai di sini saja kata-kataku, kau hendak menjadi pembesar setia kepada rajamu, terpaksa aku menyempurnakan keinginanmu, melemparmu ke lautan api di bawah sana!"
Berapa kali naik turun di tengah udara, betapa menggiriskan pemandangan yang terlihat di bawah sana.
Meski tujuh delapan puluh persen anak buahnya selamat karena menyerah, namun tak sedikit pula yang terbakar mampus hidup-hidup di dalam lembah.
Betapa ngeri dan mengenaskan jerit tangis dan lolong kematian mereka, serasa bisa memecahkan jantung manusia yang berperasaan, Ui Tang-seng mendengar dan melihatnya sendiri, di saat jiwa terancam antara mati dan hidup, mau tidak mau jeri juga hatinya, jangan toh manusia, semut pun takut mati.
Di saat mulutnya terpentang belum lagi sempat bersuara minta ampun, tiba-tiba terlihat seorang perwira menerjang datang dari balik pengkolan selat sebelah samping sana, lebih dulu ia lontarkan pukulan jarak jauh menyerang Lau Khong, begitu melesat datang, tangan kiri lantas meraih ke badan Ui Tang-seng yang mencelat naik ke udara.
Tujuan Lau Khong hendak menundukkan Ui Tang-seng supaya orang suka menyerah, tak nyana mendadak menyelonong keluar seorang musuh tangguh, ternyata dalam sekali gebrak berhasil menolong tawanannya, keruan bukan kepalang terkejutnya.
Perwira tinggi ini berlepotan darah sekujur badan dan mukanya, namun hanya melawan sejurus saja, Lau Khong sudah tahu siapa musuhnya ini.
Setelah hilang rasa terkejutnya segera ia membentak gusar.
"Bagus sekali, kiranya kau..."
Cepat sekali perwira tinggi itu sudah turunkan badan Ui Tang-seng serta mencabut pedang, dengan sejurus Liong-bun-sam-tiap-long (tiga gelombang ombak di pintu naga) cepat dan keras pedangnya menusuk kepada Lau Khong, jengeknya.
"Kau sudah tahu siapa aku, masih berani turun tangan? Hm, tadi aku tertipu oleh muslihatmu, sekarang akan kubuat kau tahu akan kelihayanku."
Liong-bun-sam-tiap-long yang dikembangkan ini, dalam jurus sembunyi jurus, ada tipu mengandung tipu, sejurus tiga gerakan mengandung tiga gelombang dam-paran tenaga yaug dahsyat, dilontarkan secara menyeluruh dilandasi seluruh kekuatannya lagi, keruan laksana damparan ombak samudra yang mengamuk, damparan ombak satu lebih hebat dari yang lain.
Terpaksa Lau Khong harus keluarkan seluruh kemampuannya, paling hanya kuat bertahan saja.
Mereka bertempur di dalam hutan lebat di lamping gunung, karena letak dan keadaan di sini tersembunyi dan berbahaya, rumput tumbuh subur setinggi manusia, batu-batu gunung tersebar di mana-mana, nyala api di bawah belum merembet sampai di sini, maka pasukan laskar gerilya yang berjaga di atas bukit belum ada yang melihat jejak mereka, oleh karena itu selama ini belum kelihatan orang datang membantu.
Agaknya perwira ini tahu, cepat atau lambat pihak musuh pasti akan kedatangan bala bantuan, maka ia harus gerak cepat mengalahkan lawannya, dengan posisinya yang lebih menguntungkan di tempat atas, ia lancarkan serangan pedangnya yang lihay bertubi-tubi.
Tampak sesosok bayangan tibatiba melayang turun, sinar pedang memanjang bagai pelangi, secepat kilat membabat dan membelit ke pinggang Lau Khong.
Ternyata serangan hebat dan licik si perwira adalah sejurus Heng-hun-toan-hong yang lihay, apalagi dilancarkan dari atas ke bawah, sinar pedang berpadu dengan tubrukan badannya lagi, maka perbawanya pun bertambah berlipat ganda.
Posisi Lau Khong lebih berbahaya, lwekangnya juga kalah kuat lagi, lekas Lau Khong membalas dengan Heng-ka-kim-liang, kedua pedang saling bentur dengan keras, suaranya yang nyaring menusuk kuping bergema di lembah pegunungan.
Berbareng si perwira pasang kuda-kuda, tumit kakinya menjejak batu gunung terus mendorong sekuatnya, keruan Lau Khong tak kuasa berdiri tegak, dalam seribu kerepotannya lekas ia kembangkan Pek-ho-can-ci, gaya pedangnya meluncur miring ke atas, entah berhasil tidak melukai musuh, segera ia menjatuhkan diri menggelundung ke lereng bukit.
Perwira itu pun kehilangan keseimbangan badannya, namun ginkangnya cukup tinggi, di tengah udara ia gunakan gaya Burung Dara Jumpalitan meluncur turun dengan enteng, cuma baju di bawah lambungnya berlubang kecil dan teriris panjang oleh pedang lawan.
Api yang menyala besar sedang menjalar naik ke atas, Lau Khong menggelundung jatuh ke bawah berarti mengarah ke arah kobaran api.
Tiba-tiba Lau Khong kerahkan tenaga, jari-jarinya mencakar dengan kekuatan Tay-lik-eng-jiau-kang, kesepuluh jarinya amblas ke dalam tanah keras, barulah badannya berhenti menggelundung, dengan gerakan Ikan Lele Meletik ia melompat bangun.
Dilihatnya perwira itu sudah menyeret Ui Tang-seng melarikan diri.
Pada saat itulah, tiba-tiba didengarnya seruan nyaring.
"Lau-toako, kaukah di situ?"
Yang datang ternyata Bu Cheng dan Bu Toan. Girang dan kaget Lau Khong, lekas ia berteriak.
"Lekas kemari, kalian cegat musuh jangan sampai lari!"
Waktu turun dan menginjak bumi dilihatnya bajunya berlubang tergores panjang, perwira itu pun mencucurkan keringat dingin saking kaget.
Untung tusukan Lau Khong dilancarkan setelah dia kehilangan keseimbangan badannya, tenaganya kurang kuat, kalau tidak tentu perutnya sudah berlubang sobek dan keluar isi perutnya.
Kedua pihak sama-sama menghadapi elmaut dan sama lolos pula, walau dalam gebrakan ini ia berada di atas angin, namun belum bisa dikatakan bahwa dia sudah mengalahkan Lau Khong.
Setelah melancarkan serangan berbahaya sehingga Lau Khong jatuh menggelundung ke lereng bukit sana, sebetulnya dia berniat memburu turun dan membunuh Lau Khong sekalian, serta dilihatnya Lau Khong kalah tidak mengenaskan seperti yaug dia bayangkan, sementara Bu Toan berdua sudah menyusul datang, mana dia berani mengejar ke bawah?
Terpaksa mengubah haluan, ia seret Ui Tang-seng melarikan diri.
Dengan kencang Bu Cheng Bu Toan lari mendatangi, namun bayangan perwira itu sudah tidak kelihatan.
Sementara Lau Khong sedang mengejar ke arah sana.
Belum lagi mendekati Lau Khong, dari kejauhan Bu Cheng berteriak tanya.
"Lau-toako, siapa sih yang kau kejar?"
"Ui Tang-seng dan seorang musuh besar pembunuh ayah bundamu."
Sekilas Bu Cheng melengak, teriaknya.
"Bagus, memang Thian mentakdirkan kami membalas dendam hari ini!"
"Ya, mereka takkan dapat lolos!"
Timbrung Bu Toan.
"Ser"
Ia lepas sebatang panah bersuit ke tengah angkasa, itulah pertanda minta bala bantuan, pasukan laskar gerilya di atas puncak segera membagi tenaga turut membantu.
Baru saja Ui Tang-seng dibuat mainan Lau Khong seperti melempar bola turun naik, kepala masih pusing dan mata berkunang-kunang, lari beberapa langkah, luka-lukanya pecah dan berdarah lagi, tenaga pun habis tak kuat lari pula, keluhnya.
"Aku, aku tak mampu lagi, kau... kau..."
"Jangan putus asa, kalah menang sudah biasa dalam peperangan, jangan ingin mati saja, junjungan ingin kau memikul dosa mendirikan pahala!"
Sekali cengkram dan jinjing ia kempit Ui Tang-seng di bawah ketiaknya terus berlompatan lari bagai terbang. Dalam hati ia berpikir.
"Kalau Hong-siang (raja) tidak pandang berat dirimu yang pandai perang ini, masakah aku peduli mati hidupmu!"
Kepandaian perwira ini memang hebat, dengan mengempit seseorang, dia lari ke jurusan semak-semak dan tempat-tempat yang berbahaya malah, di atas lereng di pinggir jurang, ternyata ia masih bisa lari bagai terbang cepatnya.
Panah-panah sambitan pasukan gerilya dengan mudah ia kebut rontok berjatuhan dengan ayunan tangannya.
Cepat sekali ia sudah lari tiba di atas bukit dan menghadapi jurang, setiba di sini baru si perwira sadar dirinya lari menuju ke jalan buntu.
Setiba di pinggir jurang ini, tiada jalan ke depan, di bawah adalah lembah sempit yang dijepit dua puncak.
Sedang di bawah lembah sana sudah jadi lautan api.
Lamping yang melekuk ke bawah jadi jurang ini seolah-olah bikinan manusia, curam dan tinggi, kalau dilihat dari bawah karena jaraknya terlalu dalam, kelihatan langit tinggal sebuah garis sempit yang memanjang, seolah-olah berdiri di seberang sini bisa melangkah ke seberang sana dengan sekali lompatan, bahwasanya meski jurang ini sempit namun jarak antara kedua bibir jurang ini kira-kira enam tujuh tombak jauhnya.
Jarak sedemikian, betapapun tinggi ginkang seseorang, tidak mungkin bisa lompat ke seberang sana.
Menghadapi jalan buntu seketika Ui Tang-seng mencelos dan dingin bulu kuduknya katanya meratap kepada si perwira.
"Pakkiong Tayjin, turunkan aku. Mengandal kepandaian silatmu yang tinggi, tanpa aku membebani, kau pasti bisa melarikan diri."
Bahwasanya ia hanya ingin mencari hidupnya sendiri, karena ia berpikir.
"Lau Khong berjanji tidak akan membunuh aku. Tentaraku sudah terbunuh sekian banyaknya, kenapa aku harus jual jiwa bagi Hong-siang?"
Tapi si perwira tidak meluluskan permintaannya, ia perkencang kempitannya serta berkata.
"Uicongping jangan kau berpikiran begitu bodoh, Hong-siang masih ingin pakai tenagamu. Hari ini mati atau hidup biar kita alami bersama. Hehe, kau kira aku tidak mampu lari, coba kau lihat!"
Sambil kertak gigi, ia perkencang kempitan Ui Tang-seng, tumitnya lantas menjejak di pinggir jurang badan melesat turun ke sana bagai anak panah.
Perbuatan nekad menempuh bahaya ini amat di luar dugaan Lau Khong bertiga.
Lekas Lau Khong merebut busur dan anak panah dari tangan seorang thaubak terus membidik dan memanah.
Bu Toan juga ayun tangan, sebatang panah berapi meluncur pula ke depan.
Perwira itu lompat di tengah udara, ia pun ayun sebelah tangannya.
Kiranya ia sedang lempar seutas tali panjang, ujung yang satunya dia adalah kaitan, dengan lemparan kekuatannya tali tiga tombak itu menyangkut ke arah sebatang pohon yang tumbuh di pinggir jurang, panah bidikan Lau Khong meluncur lewat di belakangnya, dengan sebelah tangan mengempit Ui Tang-seng, tangan yang lain menyendal dan menarik tali, segera mereka berayun ke depan, sekejap saja sudah terbang naik dan hinggap di bibir jurang sebelah depan.
Panah berapi Bu Toan mengenai tali panjang itu, sehingga ikut termakan api, sayang si perwira sudah menginjak bumi dan tak terlukakan.
Bu Toan membanting kaki, katanya.
"Wah, sayang, lolos juga dia!"
Kobaran api yang besar di bawah lembah menjulang tinggi ke angkasa sehingga langit seperti terpanggang merah membara.
Di tengah kobaran api dan bergulungnya asap, lapat-lapat kelihatan perwira itu langsung lari masuk ke dalam hutan dan menghilang.
Mendadak Lau Khong berkata.
"Eh, di atas bukit di seberang sana kelihatannya ada bayangan seorang?"
"Apa ya, aku kok tidak melihatnya?"
Tanya Bu Cheng. Waktu Lau Khong menegasi, bayangan itu sudah menghilang. Kata Lau Khong.
"Ginkang orang itu tidak lebih asor dari Pakkiong Bong, pasti bukan pandanganku yang kabur. Cuma belum tahu dia kawan atau lawan."
"Peduli dia kawan atau lawan, pendek kata kita jangan biarkan musuh melarikan diri!"
Seru Bu Cheng uring-uringan.
"Sudah tentu. Kita bisa putar ke belakang gunung, cuma..."
"Ya, pertempuran di sini belum selesai,"
Tukas Bu Toan tahu maksud orang.
"Lau-toako sebagai pimpinan yang bertanggung jawab, saat ini belum bisa dia meninggalkan medan laga ini."
"Kalau begitu mari kita dulu ke sana,"
Ajak Bu Cheng tak sabar lagi.
"Toako, jangan kau rintangi kami, meski musuh tangguh, pastilah dia takkan lolos dari keadilan."
Terpaksa Lau Khong kabulkan keinginan mereka, katanya.
"Baik, boleh kalian bawa sebarisan pemanah, lebih baik tawan Ui-congping hidup-hidup. Setelah bergabung dengan Leng dan Siautoako, segera aku menyusul ke sana."
Hari menjelang magrib cuaca mulai petang, cahaya api besar itu menganga sehingga langit berwarna merah darah.
Untuk sampai di seberang jurang sana harus berputar dan memanjat dari belakang gunung.
Bu Toan sudah bertekad, namun bisa tidak menemukan musuh dan membunuhnya, dia sendiri belum yakin...
---ooo0dw0ooo---Di atas gunung di seberang sana, sesosok bayangan sedang berlari bagai terbang menghilang ditelan bayangan pepohonan.
Penglihatan Lau Khong tadi memang bukan kabur, yang dia lihat memang bukan lain adalah Miao Tiang-hong.
Tatkala itu dia sedang kembangkan ginkang tingkat tinggi, berlari ke atas puncak.
Terendus angin yang menghembus datang berbau amis dan hangus, keruan jantung Miao Tiang-hong berdetak keras, ia tahu pasukan pimpinan Lau Khong berada di gunung seberang, di bawah gunung sanalah medan laga.
Cuma dia tidak tahu bahwa pasukan gerilya menggunakan api menyerang musuh, dan kini sudah mencapai kemenangan gilang gemilang.
Karena tidak tahu menang kalah, kini dirinya hampir tiba di garis depan, maka perasaannya menjadi kurang tentram.
Dari nyala api yang membumbung tinggi ke angkasa, ia dapat membayangkan di bawah sana tentu sudah jadi lautan api.
Dirinya tak mungkin bisa terbang ke seberang sana melewati lautan api ini, terpaksa lari ke atas puncak dan memandang sekelilingnya.
Dari sini dengan jelas ia bisa melihat seluruh arena peperangan.
Pasukan Ceng banyak yang menyerah dan pihak gerilya sudah mencapai kemenangan terakhir.
Maka legalah hatinya.
Pikirnya.
"Semoga Goan-cau dan Ci-lo selamat tidak kurang suatu apa, kalau aku bisa bersua pula dengan mereka, betapa baiknya. Ci-lo pasti tidak menduga aku bakal berada di sini!"
Sejak berpisah dengan Hun Ci-lo, tujuan Miao Tiang-hong adalah menyambangi Ciang-bunjin Thian-san-pay Tong Keng-thian, sekaligus untuk menemui Lau In-long ayah angkat Hun Ci-lo yang sudah menyingkir ke sana lebih dulu.
Di samping hendak mengasuh dan mendidik putra Hun Ci-lo yang kedua, sebab dia sudah berjanji untuk angkat anak itu jadi ahli warisnya kelak.
Tapi di tengah jalan, setelah dipikir bolak-balik akhirnya ia ber-keputusan mengubah niatnya semula.
Bukan dia ingkar janji kepada Hun Ci-lo, namun karena dia beranggapan perlu dia mampir dulu ke Siau-kim-jwan.
Demi persahabatan dan cintanya, namun yang terpenting demi peperangan yang sedang berlangsung di Siau-kim-jwan, maka ia berkeputusan menunda dulu perjalanan ke Thian-san.
Kini dia sudah berhadapan di garis depan, namun tak mampu terbang menyeberang ke seberang lautan api, entah apa benar Hun Ci-lo sudah berada di Siau-kim-jwan.
Maka tujuan yang terpenting sekarang adalah mengetahui situasi sebenarnya dari akhir peperangan ini.
Segala sesuatu yang terjadi dalam dunia ini sering berada di luar dugaan manusia umumnya.
Di saat Miao Tiang-hong menerawang keadaan medan laga di bawah sana, pikiran ikut timbul tenggelam, serta menyesali diri tak bisa terjun di dalam arena perjuangan ini, suatu yang tak terduga terjadi atas dirinya.
Tiba-tiba didengarnya derap langkah kaki yang mendekat dari dalam hutan yang lebat, seseorang sedang berlari kencang menuju ke puncak di mana dirinya berada, dibedakan dari suaranya, kira-kira orang tujuh delapan tombak di depannya.
"Orang ini bisa berlari terbang seperti di tanah datar cepatnya, ginkangnya terang tidak lemah, kenapa derap langkahnya begitu berat?"
Belum hilang pikirannya, tiba-tiba didengarnya suara percakapan orang.
Ternyata bukan satu tapi dua orang.
Itulah seorang perwira tinggi yang berbadan tegap kekar menggendong seseorang berlari ke atas bukit sini.
Maklumlah pepohonan di sini tumbuh lebat, batu-batu gunung mencuat tinggi berserakan, walau jarak kedua pihak cuma tujuh delapan tombak, kedua orang itu masih belum melihat diri Miao Tiang-hong.
Sebaliknya mendengar percakapan mereka, bukan kepalang kaget Miao Tianghong.
Hampir saja ia tidak percaya akan pendengaran kuping, sendiri.
Kiranya kedua orang ini bukan lain adalah Panglima tertinggi pimpinan pasukan Ceng yang menggempur Siau-kim-jwan, yaitu Ui Tang-seng, seorang yang menggendongnya jauh lebih tenar dan besar asal-usulnya, dia bukan lain adalah komandan Gi-lim-kun Pakkiong Bong.
Miao Tiang-hong segera membentak.
"Thian memang maha adil, Pakkiong Bong, kau takkan sangka berjumpa dengan aku di sini!"
Waktu melihat tegas Miao Tiang-hong hanya seorang diri perasaan kaget Pakkiong Bong rada lega, ia pun menghardik keras.
"Miao Tiang-hong, kalau bukan kau yang mati, biar aku yang mampus!"
Di tengah bentakan kedua pihak, kedua orang sama-sama menubruk maju.
Sebagai Komandan Gi-lim-kun, latihan ilmu pedang Pakkiong Bong sudah tentu bukan olah-olah hebatnya, badannya melejit naik, sinar pedangnya memanjang bagai rantai, menusuk ke Hian-kihiat di dada Miao Tiang-hong, Kui-ciang-hiat di bawah lambung dan Ih-gi-hiat di bawah ketiak, sejurus tiga gerakan pedangnya ini teramat cepat dan ganas, inilah ilmu pedang tunggal perguruannya yang paling dia banggakan kehebatannya, cukup satu di antara tiga hiat-to itu tertusuk oleh pedangnya, kalau tidak mampus Miao Tiang-hong, pasti terluka parah.
"Trang"
Alunan benturan senjata bergema di tanah pegunungan, dengan sejurus Liong-yausim-gan, pedang panjang Miao Tiang-hong meluncur seperti bianglala perak terayun bagai kilat menyambar, sekaligus ia patahkan sejurus tiga gerakan lawan.
Boleh dikata kedua lawan saling terjang lewat adu pundak di tengah udara, setiba di atas bumi kedua pihak sama tidak terluka sedikit pun.
Setelah jurus gebrakan laksana geledek menyambar ini, kedua pihak tanpa berjanji malah menenangkan diri, keduanya sama berhadapan seperti ayam aduan yang siap menyerang, tanpa bergerak.
Maklum ilmu pedang mereka sama hebat dan mencapai titik kesempurnaan, bila serangan pertama tidak mengenai sasaran, harus mencari kesempatan lain pula, oleh karena itu siapapun tak berani lena dan sembarangan bergerak.
Sebentar saja, di bawah pengawasan Miao Tiang-hong, hati Pakkiong Bong jadi gundah dan gugup sendiri.
Kekuatan kedua pihak kira-kira setanding, bila salah satu pihak sudah dihinggapi rasa jeri dan hati tidak tenang, jiwa bisa terancam elmaut.
Sebagai ahli silat yang kenamaan sudah tentu Pakkiong Bong tahu akan pantangan ini.
Kalau toh dia kuatir musuh kedatangan bala bantuan, maka dia harus bertindak cepat menyelesaikan pertempuran ini.
Sebagai tokoh kosen yang luas pengalaman, melihat sorot mata orang yang tidak tenang ia dapat meraba jalan pikiran orang, sekonyong-konyong Miao Tiang-hong bersuit panjang, sigap sekali ia bergerak pedangnya merangsak lebih dulu.
Pakkiong Bong lintang-kan pedang balas merangsak, dengan sejurus Kim-ciam-toh-sian, pedangnya menusuk miring ke dada musuh, kelihatannya balas menyerang, bahwasanya gerakannya ini mengandung perubahan pertahanan yang kokoh untuk mundur.
Tapi gerak-gerik badan Miao Tiang-hong di ringi gerakan pedangnya yang ikut terayun bersama lengannya, ujung pedangnya berbintik-bintik laksana sinar kunangkunang dingin, bagaikan sambaran kilat, sebat sekali kaki Pakkiong Bong menggeser kedudukan sehingga badan ikut berputar, gerak pedangnya berubah cepat menggores miring ke tengah udara melindungi mukanya, di samping berkelit sekaligus ia balas menyerang, hebat benar permainan pedang dan kelincahan badannya, memang tidak malu sebagai tokoh kosen yang lihay.
Siapa tahu ilmu pedang Miao Tiang-hong ternyata susah dijajaki sampai di mana tingkatannya, di mana pergelangan terbalik, pedangnya menjungkit naik, dengan sejurus Jun-hun-ka-jan, tahu-tahu ujung pedangnya menusuk tiba dari arah yang tidak terduga oleh Pakkiong Bong.
Lekas Pakkiong Bong jejakkan kaki, badannya melompat ke atas terus jumpalitan mundur, meski cepat gerak refleknya ini.
"Cret"
Tak urung lengan bajunya terpotong secuil oleh pedang Miao Tiang-hong.
Kalah sejurus maka dalam gebrakan selanjutnya Pakkiong Bong bertindak cepat dan sengit, ia pertaruhkan jiwa dan mainkan seluruh kemampuan ilmu pedangnya yang ganas dan hebat.
Saking dahsyat permainannya, boleh dikata laksana gelombang ombak men-dampar pantai, hujan angin mengamuk sejadi-jadinya.
Sebaliknya Miao Tiang-hong perlihatkan kegesitan badannya dan kelincahan ilmu pedangnya, dengan mantap ia hadapi rangsakan musuh yang sengit.
Keduanya mengeluarkan ilmu pedang tingkat tinggi, serang menyerang dengan seru dan cepat, sulit ditentukan siapa asor siapa bakal menang.
Sekejap saja lima puluh jurus sudah berlalu.
Di tengah pertempuran sengit adu kekuatan, adu tipu, adu kecepatan dan adu kepandaian ini, tiba-tiba Pakkiong Bong membentak.
"Lepas pedang!"
Pedang panjang dia gunakan seperti golok tebal membacok dengan dahsyat. Miao Tiang-hong menjengek dingin, tiba-tiba ia pun membentak.
"Lepas pedang!"
Gerak pedangnya belakangan tapi mengincar sasarannya lebih dulu, kejadian berlangsung teramat cepat, tahu-tahu ujung pedangnya sudah mengancam urat nadi Pakkiong Bong.
Pakkiong Bong kendorkan pegangan kelima jarinya melepas pedang, tangan kiri ditegakkan tapak tangannya menebas ke depan, di tengah sambaran kilat pedang dan bayangan tapak tangan, kedua pihak tiba-tiba mencelat berpencar ke dua sisi.
Tampak pundak kiri Pakkiong Bong mengalirkan darah, sementara dada Miao Tiang-hong berpetakan lima jari tangan.
"Klontang!"
Dua batang pedang jatuh bersama di atas tanah.
Ternyata Pakkiong Bong tidak sabar pertempuran ini terlalu berkepanjangan, maka sengaja ia lancarkan serangan berbahaya, sekaligus memancing serangan lawan pula.
Memang tidak malu kedua orang ini dijuluki ahli pedang yang kosen, di saat penentuan antara mati hidup jiwa mereka, masing-masing melontarkan serangan jarak pendek, dan begitu mengenai sasaran cepat melompat mundur, sehingga keduanya tidak sampai gugur bersama.
Karena pundak tertusuk berlubang, luka-luka Pakkiong Bong tidak ringan, namun dada Miao Tiang-hong pun terkena pukulan tapak tangannya, meski Hou-teh-sin-kang pelindung badannya amat hebat, tak urung hawa murninya pun sudah susut dan terluka.
"Miao Tiang-hong, aku tidak mampu kalahkan kau, kau pun takkan bisa kalahkan aku, lebih baik sampai di sini saja pertempuran hari ini, tiga tahun lagi boleh kau cari aku untuk melanjutkan pertandingan hari ini."
"Urusan hari ini diselesaikan sekarang juga, siapa sabar menunggu tiga tahun?"
Menyala biji mata Pakkiong Bong, seolah-olah hampir menyemburkan api tiba-tiba menghardik.
"Baik, kalau begitu tanpa salah satu pihak ajal jangan kita hentikan pertempuran ini!"
Dengan ujung kakinya ia cungkil pedangnya yang terjatuh, tapi belum lagi ia meraihnya, dari kejauhan Miao Tiang-hong sudah melontarkan Bik-khong-ciang sehingga pedang panjangnya itu terguncang terbang jauh.
"Baik, biar aku adu kekuatan kepalan tangan dan tendangan kaki dengan kau!"
Di tengah bentakannya, ia menubruk dengan beringas, sekaligus kedua tapak tangannya menepuk ke depan.
"Serangan bagus!"
Seru Miao Tiang-hong, seperti acuh tak acuh ia menepukkan sebelah tapak tangannya dengan enteng, kepalan dan tapak tangan beradu.
Pakkiong Bong berteriak keras, badannya yang segede kerbau terpental balik sungsang sumbel tergentak tenaga pukulan Miao Tiang-hong, di tengah udara lekas ia gunakan gaya Burung Dara Jumpalitan, meluncur turun tiga tombak jauhnya.
Karena ditumbuk oleh pukulan Lo-han-sin-kun lawan, tak tertahan Miao Tianghong mendehem sekali, kakinya tersurut mundur tiga tapak, badan pun tergeliat hampir roboh.
Seperti diketahui Thay-ceng-khi-kang yang dilatih Miao Tiang-hong merupakan raja di antara ilmu-ilmu lwekang, terutama amat bermanfaat untuk menandingi kekerasan dengan kelunakan.
Kelihatannya tadi hanya menepuk seenaknya saja, bahwasanya sudah dilandasi seluruh kekuatan latihannya selama puluhan tahun.
Demikian pula Lo-han-sin-kun Pakkiong Bong memerlukan lan-dasan lwekang yang ampuh baru bisa dilontarkan, cuma lwekang yang dia latih merupakan aliran keras dan ganas, kebetulan berlawanan dengan lwekang latihan Miao Tiang-hong.
Lwekang Pakkiong Bong memang rada asor dibanding Miao Tiang-hong, namun gwakangnya justru sudah dilatihnya amat tinggi, jauh lebih unggul dari Miao Tiang-hong.
Maka adu kekuatan barusan, akhirnya tetap setanding sama kuat, Miao Tiang-hong cuma unggul sedikit.
"Miao Tiang-hong, Thay-ceng-khi-kangmu memang hebat luar biasa, namun belum tentu dapat mengalahkan aku."
Ternyata ia masih ingin damai menghentikan pertarungan ini.
"Sebelum mati takkan berhenti! Kenapa cerewet!"
Bentak Miao Tiang-hong. Tangan kiri terayun, kakinya melayang menendang Pek-hay-hiat di tekukan lututnya. Pakkiong Bong gusar, dampratnya.
"Memangnya kau kira aku takut terhadapmu!"
Kepalan kiri di-sodokkan ke depan, tangan kanan mencengkram tumit kaki orang.
Sebat sekali Miao Tianghong merubah permainannya, ujung kakinya berputar berbalik menutul ke Hoan-tiau-hiat di lutut lawan.
Begitu cengkramannya luput, kelima jarinya tegak memotong ke dada, Miao Tiang-hong sudah berdiri tegak pula dengan kedua kaki, tangan yang satu melindungi badan, tangan yang lain memapak serangan musuh, sekaligus ia punahkan Lo-han-kun lawan berbareng memunahkan Thibi-ba-jiu.
Semakin bergerak kedua orang semakin cepat, batu terbang debu mengepul, lingkungan pertempuran semakin lebar, dahan pohon dan daun-daun sama rontok dan berserakan roboh.
Lohan-kun adalah ilmu kepalan yang paling umum dipelajari dari Siau-lim-pay.
Thi-bi-ba-jiu pun tidak sukar dipelajari, namun dimainkan oleh Pakkiong Bong perbawa dan keampuhannya sungguh lain dari yang lain.
Kepalan dan tapak tangan sekaligus dia mainkan, dua macam ilmu silat yang paling umum sekaligus ia kombinasikan dalam permainan, bolak-balik saling mengisi dengan dilandasi perubahan yang tak habis-habisnya.
Sebenarnya kepandaian Miao Tiang-hong pun bukan olaholah hebatnya, namun sedikit pun ia tidak berani lena menghadapi musuhnya.
Sebaliknya lama kelamaan Pakkiong Bong sendiri pun mencelos hatinya.
Seperti diketahui permainan ilmu tapak tangan Miao Tiang-hong justru berlawanan dengan Pakkiong Bong, perubahannya sih tidak begitu rumit, perbawanya pun sepintas tidak begitu mengejutkan, betapapun gencar tendangan, pukulan dan serangan tapak tangan musuh, tetap dia gunakan sebelah tangan melindungi badan, sementara tangan kanan dengan lincah memukul, setiap gerakan tangannya tidak membawa deru angin, seolah-olah tangannya melayang dan menari dengan gemulai, namun segulung kekuatan yang ulet dan kokoh membendung rangsakan kekuatan lawan.
Sebaliknya setiap gerakan kaki tangan Pakkiong Bong membawa deru angin, apa lagi kekuatan pukulan dan tubrukannya, namun ia rasa selalu dihadang oleh selapis tenaga lunak yang tidak kelihatan seumpama tembok baja kuatnya, tak mampu ia menjebolnya.
Lama kelamaan Pakkiong Bong baru menyadari, terasa mukanya seperti dihembus angin musim semi yang sejuk nyaman dan segar, semangatnya menjadi ogah-ogahan dan malas serta mengantuk, susah mengerahkan tenaga.
Keruan Pakkiong Bong tersentak kaget, sebagai ahli silat cepat sekali ia sudah menyadari bahwa dirinya terpengaruh oleh kekangan lwekang lunak musuh.
Seketika ia kerahkan seluruh kekuatannya, serempak bagai geledek menyambar seperti gelombang badai menerjang pantai, pukulan dia percepat, sejurus demi sejurus lebih hebat dan dahsyat.
Terasa pukulan Pakkiong Bong bagai gugur gunung hebatnya, meski rada payah juga ia melawannya, namun hatinya malah senang.
Maklumlah adu kekuatan bagi tokoh-tokoh kosen memerlukan tenaga simpanan terakhir untuk menjaga segala kemungkinan, kalau merangsak dan mencecar hebat dengan seluruh tenaga tak berhasil, akhirnya tenaga sendiri ludes dan celakalah kalau sampai balas dicecar oleh musuh.
Pakkiong Bong tahu akan teori ini, soalnya dia terdesak oleh situasi, tidak bisa tidak ia berusaha percepat akhir pertarungan ini.
Namun Miao Tiang-hong tetap melayani dengan mantap dan tenang, setiap jurus, tipu dan permainan Pakkiong Bong satu persatu dipatahkannya dengan baik.
Di tengah pertempuran sengit itu, Pakkiong Bong menyerang dengan seluruh kekuatan penghabisan, kelima jarinya menggores, terdengar "Bret"
Baju di depan dada Miao Tiang-hong seperti teriris oleh pisau tajam sobek memanjang.
Untung lekas Miao Tiang-hong menekuk dada menarik perut, tanpa menggeser kaki, badan atasnya sudah menyurut satu dim, namun cukup hanya satu dim saja, Thi-bi-ba-jiu Pakkiong Bong hanya mampu menggores bajunya, kekuatan dalamnya tak mampu menyentuh kulit badannya.
Secepat kilat Miao Tiang-hong malah balas dengan tepukan tapak tangan yang membalik, telak mengenai Pakkiong Bong.
"Huuuaaah!"
Pakkiong Bong memuntahkan sekumur darah segar, bentaknya.
"Miao Tianghong, biar aku adu jiwa sama kau!"
Kedua lengan terkembang bagai burung elang ia menubruk dengan beringas.
Tapi karena lawan menggunakan cara ini, mau tidak mau Miao Tiang-hong harus melayaninya dengan kekerasan pula.
Tangan keduanya beradu mengeluarkan suara keras seperti ledakan bom yang menggetarkan bumi, mendadak keduanya sama seperti patung kayu yang tiba-tiba kaku kejang, tapak dan tapak menempel, siapa pun tak mampu bergerak sedikit pun.
Sungguh aneh, tenaga tapak tangan Pakkiong Bong bukan susut menjadi lemas karena terluka, malah sebaliknya semakin kuat berganda.
Semula Miao Tiang-hong sedang heran, pukulan telaknya tadi bikin lawan muntah darah, baru sekarang ia paham bahwa Pakkiong Bong ternyata sudah menggunakan Thian-mo-kay-teh-tayhoat dari golongan Sia-pay, menggigit pecah lidahnya sendiri.
Thian-mo-kay-teh-tay-hoat adalah sejenis lwekang dari Sia-pay yang aneh dan jahat, suatu ilmu yang merusak badan sendiri untuk menimbulkan kekuatan berlipat ganda dari sumber tenaga dalamnya, paling tidak satu lipat lebih besar dari kekuatan biasanya!
Tapi setelah pertempuran berakhir luka yang dideritanya amat parah, seumpama tidak mati tentu akan jatuh sakit keras.
Agaknya Pakkiong Bong sudah bertekad untuk gugur bersama.
Saluran tenaga dalam Pakkiong Bong mendampar deras bagai ge-lpmbang pasang, bergulunggulung yang satu lebih keras dan hebat dari yang lain.
Tak lama kemudian, dari kepala Miao Tiang-hong mengepulkan uap putih, terasa mata berkunang-kunang, bumi yang dipijak serasa berguncang.
Lekas Miao Tiang-hong kerahkan sisa tenaganya yang penghabisan, pergelangan tangannya bergerak hendak menuntun ke samping, pikirnya hendak punahkan terjangan kekuatan lawan, sayang tenaga tak memadai keinginan hatinya, begitu damparan tenaga bagai gugur gunung Pakkiong Bong menerjang dadanya, sekelik i badannya diterjang dan jatuh tig.i tombak jauhnya.
Seketika pandangan jadi gelap.
Di saat kesadaran mulai pulih dan pandangannya melihat cahaya terang, badannya sudah lemas lunglai tak mampu bergerak sedikit pun.
Dingin perasaan Miao Tiang-hong, sungguh ia amat menyesal akan usahanya yang gagal dan sakit hati sang suci agaknya takkan mampu dia balaskan.
Tapi ia pun heran, kenapa jiwanya masih hidup, kenapa Pakkiong Bong tidak membunuhnya sekaligus?
Waktu ia celingukan, tak jauh dari tempatnya, dilihatnya seseorang pun rebah di tanah, sepasang matanya sedang menatap dirinya.
Orang ini bukan lain Pakkiong Bong.
Kiranya serangan dahsyat Pakkiong Bong terakhir tadi pun menguras seluruh kekuatannya.
Setelah berhasil menggempur Miao Tiang-hong, dia sendiri umpama pelita yang kehabisan minyak, sampaipun bernapas juga teramat berat dan sesak, mana dia mampu menghabisi jiwa Miao Tiang-hong?
Keduanya sama sebagai tokoh silat kosen, selintas pandang lantas paham akan situasi sekelilingnya.
Bilamana ada orang ketiga datang membantu salah satu pihak, maka itu memang sudah ditakdirkan pihak yang lain pasti akan mampus tanpa mampu melawan.
Miao Tiang-hong sendiri sudah pasrah akan nasib dan berpikir secara bajik, mati pun tak perlu dibuat menyesal.
Lain halnya dengan Pakkiong Bong, dia mengharapkan terjadinya sesuatu keajaiban sehingga terhindar dari ke-matian.
Tiba-tiba ia teringat kepada Ui Tang-seng yang tadi ditolongnya.
Setelah istirahat sebentar, tenaga sudah pulih sedikit, segera Pakkiong Bong berteriak.
"Uitayjin, Ui-tayjin, di mana kau, lekas keluar! Bantulah aku bunuh orang ini, jasamu tentu tidak kecil artinya!" -Alam pegunungan nan kosong sunyi senyap, tak terdengar penyahutan. Ternyata di saat mereka berhantam mati-matian tadi, Ui Tang-seng diam-diam sudah melarikan diri.
"Pasti ada orang datang, kau tunggu saja! Hm, semoga kau tidak mampus secepat itu. Bu Toan kakak beradik masih perlu membuat perhitungan sama kau!"
Tersirap darah Pakkiong Bong, batinnya.
"Benar, cepat atau lambat Bu Toan, Lau Khong dan lain-lain pasti akan menyusul datang, kalau hendak melarikan diri, terlebih dulu aku harus lekas pulihkan tenaga, lalu melarikan diri."
Apa yang dia pikirkan sudah tentu terpikir pula oleh Miao Tiang-hong, maka kedua orang segera tutup mulut dan mulai mengerahkan hawa murni memulihkan tenaga, sedikit demi sedikit mereka mengumpulkan tenaga murni.
Pihak mana berhasil mengumpulkan tenaga, pasti bisa membunuh lawannya.
Dalam hal lwekang Miao Tiang-hong memang punya landasan yang lebih kuat, dan lagi ia tidak punya pikiran kusut, kira-kira setengah jam kemudian, hawa murni sudah terbenam turun ke bawah pusar, tenaganya sudah mulai terkontrol dan semangatnya pun mulai bergairah.
Sebaliknya Pakkiong Bong sedang kebat-kebit, lwekang latihannya tidak semurni itu, pula kuatir pihak musuh kedatangan bantuan, meski tenaganya mulai pulih satu dua bagian, namun ia belum mampu bergerak.
Dengan dilandasi dua bagian tenaganya ini, dengan kedua sikunya Pakkiong Bong merambat maju ke arah Miao Tiang-hong.
Dia tidak tahu sampai di mana kekuatan Miao Tiang-hong sekarang, tapi keputusan yang menentukan ini, perlu dia tentukan dengan pertaruhan jiwa sendiri.
Tiba-tiba Miao Tiang-hong bersuit panjang dan nyaring, pelan-pelan ia bangun berduduk, jengek-nya dingin.
"Bagus, tidak mati tidak bubar, mari kau maju!"
Baru sekarang Pakkiong Bong insyaf bahwa tenaga lawan pulih lebih cepat dan lebih besar dari dirinya, keruan mencelos dan dingin bulu kuduknya.
Lekas ia gigit lidahnya menyemburkan sekumur darah, dua bagian tenaganya yang baru pulih ia gunakan untuk menimbulkan gairah kekuatannya dengan Thian-mo-kay-teh-tay-hoat.
Sebetulnya Thian-mo-kay-teh-tay-hoat harus dikerahkan dengan kekuatan lwekang tertentu baru bisa memperlihatkan perbawa-nya yang luar biasa, kekuatan terpendam dalam badannnya boleh dikata sudah ludes, dikuras pun takkan bisa dikeluarkan lagi.
Sekuat tenaga Pakkiong Bong merambat bangun berdiri, badannya limbung dan bergoyang gontai seperti api lilin dihembus angin.
Mempertaruhkan jiwa?
Atau melarikan diri di saat Miao Tiang-hong belum mampu berdiri?
Di saat Pakkiong Bong ragu-ragu dan belum berkeputusan, sementara Miao Tiang-hong sudah memulihkan semangat dan siap beraksi.
Sekonyong-konyong terdengar langkah kaki orang yang sedang datang.
Siapakah dia?
Kedua orang sama bertanya-tanya dengan hati cemas.
Maka tampaklah sesosok bayangan orang bagai terbang berlari mendatangi ke puncak sebelah sini, belum lagi tiba suara orang itu sudah berkumandang dari kejauhan.
"Eh, kau, bukankah kau Pakkiong Tayjin, Pakkiong Tayjin, kenapa kau?"-Waktu Pakkiong Bong menegasi, itu dia orang yang sedang dia tunggu, Tong Thian-chong penolong yang paling dia harapkan. Di dalam menggempur Siau-kim-jwan ini Pakkiong Bong tidak ketinggalan membawa Tong Thian-chong yang paling dia andalkan bantuannya. Waktu pasukan mereka disergap dalam perangkap musuh, Pakkiong Bong melindungi Ui Tang-seng membobol kepungan, tapi Tong Thian-chong ketinggalan di dalam keributan itu. Sungguh tidak terduga, di saat-saat jiwanya terancam bahaya, orang tiba-tiba muncul. Keruan girangnya seperti ketiban rejeki nomplok.
"Lekas, lekas kau bunuh Miao Tiang-hong. Lihat tidak, dia duduk di sana!"
Dengan membelakangi sebatang pohon pelan-pelan Miao Tiang-hong bangkit berdiri, dengan dingin ia tatap Tong Thian-chong, sembari menjalankan pernapasan mengatur hawa mumi, sedikit pun ia tidak menunjukkan rasa jeri pada sorot matanya.
Melihat Miao Tiang-hong pun berada di sini, sekilas Tong Thian-chong amat kaget.
Maklum dia pernah terjungkal di tangan orang, kini dia belum tahu bahwa lawan terluka parah, melihat sikap dan rona mukanya yang tenang hatinya sudah gugup sendiri.
Untung Pakkiong Bong bicara dengan cepat, kalau tidak mungkin dia sudah putar badan melarikan diri lebih dulu.
"Tong-locianpwe, kau seorang ahli silat, memangnya tidak bisa melihat keadaannya? Dia kupukul luka parah, jangan kata lari berjalan pun tak mampu, cukup sebatang senjata rahasiamu dari kejauhan sudah cukup menamatkan jiwanya!"
Baru sekarang Tong Thian-chong melihat tegas raut muka orang memang pucat lesi.
Sementara dengan tatapan tajam Miao Tiang-hong awasi orang, selekasnya ia kerahkan hawa murninya menjebol jalan darahnya yang buntu, Thay-ceng-khi-kangnya sudah pulih tiga bagian, asal hawa murninya bisa tersalur jalan, maka dia boleh mengadu jiwa sama Tong Thian-chong, meski bukan tandingan, paling tidak bisa bertahan beberapa jurus.
Sayang di saat hawa murninya sudah tersalur hampir menjebol Hoan-tiau-hiat, senjata rahasia Tong Thian-chong sudah melesat datang, Miao Tiang-hong kerahkan tenaga pada ujung jari terus menjentik "Creng"
Sebutir Thi-lian-cu timpukan Tong Thian-chong ia jentik mencelat jatuh, jengeknya dingin.
"Sebutir senjata rahasia dapat mengapakan jiwaku?"
Keruan Tong Thian-chong berjingkrak kaget, namun betapapun ia cukup pengalaman, melihat Miao Tiang-hong tidak menubruk maju, dari jatuhnya Thi-lian-cu itu, dapatlah dia menjajaki tenaganya, meski lwekang Miao Tiang-hong tidak terkuras habis seperti keadaan Pakkiong Bong, tapi sisa tenaganya pun tak seberapa lagi, jelas orang bukan tandingannya.
Tong Thian-chong tergelak-gelak senang, serunya.
"Hebat memang kepandaian Tan-ci-sinthong, ingin lohu melihat berapa banyak kau kuasa menyambuti senjata rahasiaku?"
Sekaligus ia timpukkan pula dua butir Thi-lian-cu.
Miao Tiang-hong berhasil menjentik jatuh Thi-lian-cu yang di atas, namun yang meluncur ke bawah tak berhasil dia kelit, walau tidak mengenai hiat-to, namun telak mengenai lututnya.
Kebetulan hawa murninya baru tersalur ke tempat ini, begitu hawa murni buyar, seketika badannya tergeliat sempoyongan akhirnya jatuh terduduk di atas tanah.
Tong Thian-chong tertawa kesenangan, ejeknya.
"Sudah tak mampu menangkis lagi?"
Kembali ia ayun tangan, tiga butir peluru berduri ia timpukkan bersama, bobot peluru besi ini rada berat, meski tidak bisa menamatkan jiwa Miao Tiang-hong, kalau kena cukup membuat Miao Tiang-hong menjadi cacat.
Sekonyong-konyong terdengar seruan memanggil-"Miao-toako, Miao-toako!" --"Tring, tring"
Entah dari mana melesat datang tiga butir mata uang sekaligus membentur jatuh ketiga peluru besi berduri Tong Thian-chong. Sesaat Miao Tiang-hong seperti tersentak sadar dari impian, teriaknya kaget.
"Ci-lo, kaukah itu!"
Teriak Hun Ci-lo.
"Benar, inilah aku, jangan kuatir! Sebentar kawan-kawan datang kemari, kedua bangsat tua ini takkan bisa lolos lagi!"
Pakkiong Bong balas berteriak.
"Jangan kena tipu gertakannya! Hanya perempuan jalang saja yang datang, perempuan jalang ini pun bukan tandinganmu!"
Tong Thian-chong bergelak tertawa, serunya.
"Kau hendak menggertak aku supaya lari? Aku justru tidak pergi. Kalau rombongan besar kawan-kawanmu meluruk kemari, memangnya kami tidak bisa lolos, biar kubekuk kau lebih dulu untuk sandera."
Di tengah gelak tawanya, cepat ia membalik badan seraya kembangkan kepandaian menimpuk senjata rahasia tunggal dari keluarga Tong mereka yaitu Hoan-pi-im-piau, sebatang pisau baja langsung memapak ke arah datangnya Hun Ci-lo, tepat mengarah Hun-tai-hiat di perutnya.
Jarak cukup dekat, bobot piau ini cukup berat lagi.
Lekas Hun Ci-lo ayun pedang menyampuk jatuh, seketika tangan terasa linu kemeng.
Memangnya tenaganya sudah jauh susut, bukan saja senjata rahasia Tong Thian-chong lihay, lwekang orang pun lebih tinggi dari dirinya.
Cepat sekali piau kedua, ketiga sambitan Tong Thian-chong beruntun menyambar datang, satu mengarah Sinthing-hiat bagian atas, yang lain mengarah Hoan-ma-hiat di bagian bawah badan.
Badan berputar sambil berkelit, piau menyambar lewat menyerempet pahanya, disusul ia kembangkan ginkangnya dengan It-ho-ciong-thian, badannya melambung tinggi ke atas, sekaligus Hun Ci-lo luputkan diri dari sambaran piau yang mengarah dari bawah.
Meski berhasil lolos dan selamat, Hun Ci-lo cukup kepayahan juga.
Sekonyong-konyong teringat olehnya cara Toan Siu-si menghadapi timpukan senjata rahasia Tong Thian-chong di Pak-bong-san tempo hari, menyedot napas, badan melesat terbang, secepat kilat ia menubruk ke arah Tong Thian-chong lebih dulu.
Jarak cukup dekat, badan Hun Ci-lo mengapung di tengah udara, dengan sejurus Ya-can-pathong ia pukul jatuh dua senjata rahasia Tong Thian-chong, disusul jurus Ing-kik-tiang-khong, belum lagi ujung kakinya menyentuh bumi, ujung pedangnya sudah mengancam dada Tong Thian-chong.
Terpaksa Tong Thian-chong angkat tanduk menjangan untuk menyampuk pedang, bentaknya.
"Perempuan galak yang kejam, hendak adu jiwa ya?"
"Ya, biar aku adu jiwa dengan bangsat tua macam kau ini!"
Pedang diputar bagai kitiran, sekaligus ia serang tujuh delapan belas jurus.
Dengan pertempuran jarak dekat ia cecar sekuatnya sehingga lawan tak berkesempatan menggunakan senjata rahasianya.
Miao Tiang-hong dapat melihat tenaga Hun Ci-lo yang lemah, teriaknya.
"Ci-lo, lekas kau pergi, jangan hiraukan aku!"
Mana Hun Ci-lo mau menurut seruannya, serangannya malah semakin gencar.
Mendengar teriakan Miao Tiang-hong tergerak hati Tong Thian-chong, mendadak timbul sebuah akal dalam benaknya, lekas ia lintangkan tanduk menjangan sambil mundur dua langkah, berbareng tangan kiri menyambitkan senjata rahasia, dua batang panah meluncur mengarah Miao Tiang-hong.
Senjata rahasia alat menyerang dari tempat jauh, karena tidak menduga, Hun Ci-lo hanya sempat mengetuk jatuh satu di antaranya, sebatang yang lain melesat ke arah lutut Miao Tiang-hong.
Keruan Hun Ci-lo gugup dan kerepotan dibuatnya, untung serangannya dipergencar sehingga sambitan tiga buah senjata rahasia susulan Tong Thian-chong kehilangan arah.
Berkerut alis Hun Ci-lo, tiba-tiba terpikir sebuah akal.
"Sret, sret"
Ia desak Tong Thian-chong mundur dua langkah, mendadak ia membalik tubuh menubruk ke sana.
Belum lagi Pakkiong Bong melihat jelas, tengkuknya tiba-tiba terasa kencang sakit, tahu-tahu Hun Ci-lo sudah mencengkram tulang pundaknya.
Tulang pundak merupakan bagian yang lemah dan berbahaya, jangan kata Pakkiong Bong sudah terluka parah, seumpama dalam keadaan biasa, sekali tulang pundaknya kena dicengkram, betapapun tinggi ilmu silatnya takkan mampu dikembangkan lagi.
"Tong Thian-chong!"
Bentak Hun Ci-lo mengancam.
"Kau ingin selamatkan jiwanya tidak?"
"Tong locianpwe,"
Mohon Pakkiong Bong dengan muka kecut.
"biarlah saling tukar tawanan saja!"
"Baik!"
Sahut Tong Thian-chong, namun tangannya kembali terayun, ia sambitkan senjata rahasianya ke arah Miao Tiang-hong.
Waktu itu Hun Ci-lo berada di samping belakang, Miao Tiang-hong kebetulan berhadapan dengan dirinya.
Tong Thian-chong ayun tangan ke depan, namun senjata rahasia justru menyambar balik ke belakang.
Dalam anggapan Hun Ci-io senjata rahasia musuh menyerang Miao Tiang-hong, di luar tahunya malah dirinya yang menjadi sasaran.
Betapapun Hun Ci-lo tidak menyangka Tong Thian-chong bertindak selicik itu, melihat orang menyambitkan senjata rahasia ke arah Miao Tiang-hong, keruan bukan kepalang terkejut hatinya, dalam gugupnya tak sempat ia meremas tulang pundak Pakkiong Bong, cepat ia melesat lari ke sana.
Tapi baru saja kakinya melangkah kontan ia rasakan dadanya sakit kesemutan, tahu-tahu sebatang jarum berbisa Tong Thian-chong menembus dadanya.
Sambitan jarum beracun ini tak bersuara, kalau Hun Ci-lo berhadapan dengan penuh perhatian, mungkin sempat menangkis atau mengelak, kini orang menggunakan akal licik serta membokong, sudah tentu tak bisa mengelakkan diri.
Begitu Hun Ci-lo lepas tangan, lekas Pakkiong Bong jatuhkan diri menggelundung ke bawah lereng.
Jiwa berhasil lolos, namun ia masih belum tahu perubahan apa yang terjadi, dengan mengerahkan sisa tenaga Thian-mo-kay-the-tay-hoat, ia menggelundung sampai di lamping gunung terus merangkak bangun melarikan diri.
Melihat Pakkiong Bong sudah melarikan diri, Tong Thian-chong semakin lega hati.
Kembali ia ayun tangan, segenggam jarum berbisa ia tebarkan ke arah Miao Tiang-hong, dengan pukulan Bik-khong-ciang sedapat mungkin Miao Tiang-hong meruntuhkan jarum-jarum yang menyambar tiba, sayang ia pun terluka tenaganya amat lemah, tak urung pundak kanan dan lengan kirinya kena dua batang jarum berbisa.
Begitu pandangan menjadi gelap sekeras-kerasnya ia berteriak.
"Ci-lo, lekas kau lari!"
Pakkiong Bong sudah lolos, Hun Ci-lo tak mungkin lari. Badannya gentayangan hampir roboh, dengan kertak gigi ia lari menghampiri. Bentaknya.
"Bangsat tua tak tahu malu, biar aku adu jiwa dengan kau!"
Tong Thian-chong tergelak-gelak, serunya.
Baca Juga: Bendera Maut Kwee Oen Keng
Baca Juga: Kemelut Di Ujung Ruyung Emas 6