Eps 16 Kelana Buana - Liang Ie Shen
Baca online Kelana Buana - Liang Ie Shen
Cersil Kelana Buana - Liang Ie Shen.
"Kalian berdua sudah terkena jarum beracunku, masih berani kau hendak adu jiwa sama aku? Hehe, biarlah kutunggu pada penirisanmu yang akan datang!"
Hun Ci-lo berlari ke samping Miao Tiang-hong, dilihatnya Miao Tiang-hong rebah kaku, kedua mata terpejam, raut mukanya sudah diliputi hawa hitam.
Dilihat keadaannya memang sudah mati.
Sungguh sakit seperti di ris-iris ulu hati Hun Ci-lo, tiba-tiba terasa mata berkunang-kunang, kepala semakin berat, sekujur badan menjadi lemas lunglai, tak tahan ia menunjang badan, segera ia pun meloso jatuh.
Saking kesenangan Tong Thian-chong tergelak-gelak, ujarnya.
"Pakkiong Bong akhirnya toh takkan lolos jiwanya. Haha, jasa ini hanya aku sendiri yang akan memilikinya!"
Selangkah demi selangkah ia maju menghampiri.
Saking kesenangan Tong Thian-chong lupa diri membayangkan pahala muluk-muluk yang bakal diperolehnya, baru saja ia menghampiri hendak memenggal kepala kedua orang ini, tak nyana belum lagi gelak tawanya sirap, tiba-tiba dilihatnya selarik sinar menyambar, kontan dada terasa sakit luar biasa dan napas seketika sesak, tak sempat bersuara tiba-tiba badannya terjungkal roboh dan melayanglah jiwanya.
Tiba-tiba Miao Tiang-hong merangkak duduk sambil tertawa dingin, jengeknya.
"Bangsat tua, pergilah menghadap raja akhirat untuk minta persen!"
Ternyata kemurnian dan peryakinan lwekang Miao Tiang-hong jauh lebih tinggi dari penilaian Tong Thian-chong.
Sebelumnya dia sudah berhasil memusatkan sebagian hawa murninya, walau terkena jarum berbisa, dalam waktu dekat tenaganya masih kuat bertahan, maka dia pura-pura sudah ajal untuk melancarkan serangan terakhir, dengan Pek-hong-koan-jit ia lempar pedangnya dan telah menembus dada Tong Thian-chong.
Tapi lemparan pedang ini betul-betul menghabiskan seluruh kekuatannya, hawa murni tak kuat lagi menahan menjalarnya racun, maka suara tawanya pun semakin lemah.
Sebelum terkena jarum berbisa Hun Ci-lo masih segar bugar cuma tenaganya saja yang lemah, tapi terasa racun mulai bekerja membuat selebar dadanya terasa gatal dan linu, makin lama menjalar ke seluruh badan, ia insyaf jiwanya takkan tertolong lagi, namun ia mengharap Miao Tiang-hong masih kuat bertahan untuk hidup.
Ia kira kalau toh dia kuat menimpuk pedang membunuh musuh, mungkin masih kuat bertahan beberapa kejap pula, sambil menunggu kedatangan Lau Khong dan lain-lain untuk menolongnya.
Begitu roboh terjengkang sambung menyambung Miao Tiang-hong tertawa puas, ujarnya.
"Dengan tanganku sendiri aku bunuh musuh besar, mati pun tak menyesal. Hun-moay, tak nyana aku bisa mati bersama kau, ini, ini..."
Dingin hati Hun Ci-lo, katanya dengan tertawa kecut.
"Benar, Miao-toako, kita tidak dilahirkan pada tahun bulan dan hari yang sama, namun bisa mati bersama dalam waktu ini juga, tidak siasia persahabatan kita selama ini."
Pelan-pelan ia menggeser badan merambat mendekati Miao Tianghong, dcni-an ki-nciiu; ia genggam kedua tangannya.
Terasa tapak tangan kanan sedingin es dan berkeringat pula, namun detak jantung orang masih berdebar keras.
Berkala Miao Tiang-hong pula.
"Tapi aku tidak ingin kau mati bersama aku, aku akan berusaha supaya kau bertahan hidup. Kau masih punya Goan-cau, dia, dia..."
Entah dari mana datangnya tenaga, tiba-tiba ia membalik badan menindih ke atas badan Hun Ci-lo, lalu ulur tangan menotok jalan pelemas di bawah ketiaknya, katanya.
"Hun-moay, maaf akan perbuatanku yang kurang sopan ini, aku harus membuka pakaianmu baru bisa menghisap darah beracun dalam dadamu."
Sudah tentu Hun Ci-lo terperanjat, baru sekarang ia paham, kiranya Miao Tiang-hong rela berkorban demi menolong dirinya, maka teriaknya.
"Tidak, tidak, Miao-toako, jangan kau lakukan."
Namun Miao Tiang-hong sudah mulai menarik pakaiannya, katanya.
"Hun-moay, maafkanlah aku, kali ini aku tidak akan menurut kata-katamu. Hidup seorang diri akan merana dan sedih, namun lebih baik daripada dua-duanya mati."
Diam-diam Hun Ci-lo menarik napas dan mengempos semangat, mendadak ia meronta sekuatnya dengan gaya Ikan Lele Meletik, ia membalik dan menindih Miao Tiang-hong malah, hiatto pele-masnya ditotoknya pula sehingga orang tak bisa berkutik, katanya.
"Miao toako, memang tidak salah ucapanmu, hidup seorang pun lebih mending daripada keduanya sama-sama mati!"
Agaknya setelah menimpukkan pedang tadi tenaga Miao Tiang-hong sudah terkuras habis, meski belakangan ia kuat meronta dan menotok hiat-to Hun Ci-lo, namun tenaganya teramat lemah, sehingga hiat-to yang tertotok tidak membawa faedah apa-apa.
Miao Tiang-hong menjerit-jerit dalam hati.
"Ci-lo, biar aku mati. Kau harus hidup, kau harus hidup! Kau masih punya Goan-cau, sudah selayaknya kau rujuk kembali dengan dia."
Namun mulutnya tak mampu bergerak.
Dia sudah pertahankan sisa tenaganya yang penghabisan, seumpama Hun Ci-lo tidak menotok hiat-tonya, dia pun sudah jatuh semaput.
Hun Ci-lo meraih pedang, pelan-pelan dengan ujung pedang ia korek kulit daging di pundak dan lengan kiri Miao Tiang-hong.
Sekitar luka-luka sudah melepuh besar kehitam-hitaman.
Hanya sebentar saja, sebatang jarum sekecil itu, racunnya bekerja demikian cepat dan lihay, agaknya ancaman Tong Thian-chong tentang jarum beracunnya yang paling jahat bukanlah gertakan belaka.
Namun Hun Ci-lo berpikir.
"Tapi tidak pernah dia bayangkan Miao-toako ada melatih Thayceng-khi-kang, meski badan keracunan jiwanya masih kuat bertahan, tak terpikir pula olehnya aku bakal menghisap darahnya, mengurangi kadar racun yang mengeram dalam badannya."
Menyusul ia berpikir pula.
"Kenapa tadi tidak terpikir olehku akan cara ini? Terang betapa cinta Miao-toako terhadapku, agaknya ratusan kali lebih mendalam dari cintaku kepadanya!"
Beruntun Hun Ci-lo menghisap puluhan kali darah beracun, sampai darah yang merembes keluar dari kedua luka-luka Miao Tiang-hong berwarna merah segar, rasanya di mulut pun tidak begitu busuk dan amis.
Barulah Hun Ci-lo merasa lega, dengan sisa tenaganya ia keluarkan obat dan membubuhi luka-luka serta membalutnya pula, barulah dia menarik napas panjang.
Lambat laun Miao Tiang-hong siuman dari pingsannya, namun ia tak bertenaga untuk bicara.
Dia cuma bisa menentang dengan sorot matanya.
Hun Ci-lo unjuk tawa pilu, katanya rawan.
"Miao-toako, maafkan aku, kau harus hidup dan mengasuh anakku, kau akan lebih baik mendidiknya. Bicara soal kepandaian silat sejati, soal pengalaman dan pengetahuan lainnya, kau jauh lebih unggul dari aku, kau hidup jauh lebih berguna dari diriku!"
Miao Tiang-hong menjerit dalam hati.
"Tapi kau masih punya Goan-cau! Aku sebaliknya tiada sanak tiada kadang!"
Agaknya Hun Ci-lo dapat meraba pikirannya, ia menghirup hawa dan bertahan sekuatnya, katanya lebih lanjut.
"Goan-cau sudah punya Bu-siang, mereka adalah pasangan setimpal, aku tidak ingin merusak hubungan mereka. Memang aku masih mencintai Goan-cau, dulu dia kekasihku, tapi aku pun mencintaimu, kau adalah saudaraku satu-satunya. Kalian orang-orang baik, harus tetap hidup dalam dunia ini."
"Semalam, aku menolong Goan-cau, hampir saja jiwaku ikut melayang. Waktu itu aku sudah berpikir, kalau yang terluka parah adalah kau, aku pun akan menolongmu meski harus mengorbankan jiwaku sendiri."
"Kau menghisap darah beracun dalam badanku, walau tidak berhasil, terhitung sudah menolongku juga. Miao-toako, kau sering bilang, hidup manusia mendapatkan teman karib yang paling intim, mati pun takkan menyesal, demikianlah akan diriku, mati pun aku tak menyesal. Sementara jangan kau beritahu kepada Beng Goan-cau, aku harap kau, kau jangan bersedih karena kematianku!"
Sekaligus Hun Ci-lo keluarkan kata-katanya, seumpama dian yang sudah kehabisan minyak, pelan-pelan ia meloso roboh.
Pada tarikan napasnya yang terakhir, terbayang olehnya akan sumpah setia sehidup semati dengan Beng Goan-cau dulu, teringat pula akan kasih sayang Miao Tiang-hong serta perlindungannya terhadap dirinya.
Hatinya dirundung tiga bagian sedih, namun lebih banyak merasa senang dan terhibur.
Dia berdoa bagi Beng Goan-cau, berdoa pula bagi kesehatan Miao Tiang-hong, pada raut mukanya yang diliputi hawa hitam terkulum senyuman mekar bak sekuntum bunga.
Seingat Miao Tiang-hong, belum pernah dia melihat kecantikan orang yang begitu elok rupawan sekejap ini.
Lambat laun Miao Tiang-hong siuman dan kembali tenaganya, pelan-pelan ia mengelus kaki tangan Hun Ci-lo, kaki tangan yang sudah dingin kaku.
Menghadapi pujaan hati yang amat dicintai rebah tak bernyawa lagi di sampingnya, ingin rasanya menangis meng-gerung-gerung sepuasnya, namun air mata tak bisa meleleh keluar, maka hatinya berpikir.
"Apa artinya aku hidup seorang diri?"
Hun Ci-lo sudah ajal, senyuman yang menghias raut mukanya masih belum pudar, seolah-olah ia memberi ingat kepada Miao Tiang-hong supaya selalu ingat akan pesan terakhirnya sebelum mangkat.
Di seberang puncak sana sorak sorai laskar gerilya yang mencapai kemenangan gilang gemilang gegap gempita menggetarkan tanah pegunungan, Miao Tiang-hong tersentak sadar, segera ia angkat sumpah di hadapan jenazah Hun Ci-lo.
"Ya, walau aku hidup belum tentu lebih berguna darimu, tapi kalau toh aku masih hidup, maka selamanya aku harus ingat pesanmu! Dengan hayat yang masih dikandung badan ini barulah aku dapat membalas budi kebaikanmu."
Entah berapa lama berselang tiba-tiba didengarnya langkah kaki mendatangi, lekas Miao ianghong merangkak duduk bertopang pedangnya, pikirnya.
"Semoga yang datang bukan musuh!"
Sesuai dengan harapannya, yang berlari datang lebih dulu adalah Bu Toan kakak beradik, disusul Lau Khong berada jauh di belakang.
Tangan Bu Toan menjinjing batok kepala seseorang, dari kejauhan mereka belum melihat Hun Ci-lo yang rebah di semak rumput yang tumbuh tinggi, begitu melihat Miao Tiang-hong sungguh girangnya bukan main, teriaknya senang dari kejauhan.
"Miao-susiok, ternyata kaulah yang membuat Pakkiong Bong terluka parah, kami sudah berhasil membunuhnya, coba lihat, inilah batok kepalanya yang ku-penggal! Lho, Miao-susiok kenapa kau, kau, kau pun terluka?"
Cepat sekali Lau Khong pun sudah menyusul tiba, matanya lebih tajam, sekilas ia melihat keadaan Hun Ci-lo lebih dulu, namun ia sangka orang hanya terluka saja, teriaknya.
"O, kau berada di sini bersama Hun lihiap. Beratkah luka-lukamu? Goan-cau pun sedang merawat lukalukanya di Siau-kim-jwan, marilah kubawa kalian ke sana menemuinya."
Miao Tiang-hong tertawa getir, ujarnya.
"Ya memang Goan-cau harus melihat muka Hun Lihiap yang penghabisan kali, bikin susah kalian untuk mengurus jenazahnya, aku tidak akan menemui Goan-cau lagi!"
Baru sekarang Lau Khong terkejut, tanpa berjanji bersama Bu Toan bertiga mereka berteriak.
"Kau, apa katamu?"
Berkata Miao Tiang-hong pelan-pelan.
"Hun Ci-lo, dia, dia sudah meninggal!"
Habis katakatanya kembali ia tersungkur jatuh dengan lemas lunglai tak sadarkan diri.
---ooo00ooo---Pada jalan raya yang menuju ke luar perbatasan, tampak seseorang sedang berjalan dengan langkah lebar dan gagah, orang itu adalah Miao Tiang-hong, dia sedang menempuh perjalanan menuju ke Thiansan memikul beban mengasuh dan mendidik anak Hun Ci-lo.
Satu bulan lebih sejak Hun Ci-lo meninggal dunia, namun rasa sedih, rawan dan kepiluan hatinya masih belum luntur.
Sambil jalan ia tarik suara bersenandung dengan suara lantang dan mengalun tinggi menjelajah gunung menyusuri lembah sungai, darah panas masih bergolak di dalam rongga dadanya, ini dapat didengar dari nada suaranya.
Sekali lagi lewat senandungnya, ia berjanji dan bersumpah kepada almarhum teman karibnya, selama hayat masih di kandung badan dia akan tetap ingat akan pesannya dan memikul beban tanggung jawab yang dipasrahkan dirinya.
TAMAT CATATAN 5) halaman 1078.
Kejadian tsb diceritakan dalam Pendekar Jembel.
6) halaman 1273.
Kejadian ini ada dalam cerita San Hoa Liehiap (Pendekar Wanita Penyebar Bunga).
Thi King-sim = Tiat Keng Sim 7) halaman 1273.
Bok Ling=Bhok Lin.
Kakak perempuan Bhok Lin yang menikah dengan Thi King-sim (Tiat Keng Sim) adalah Bhok Yan.
Bhok Lin dan Bhok Yan adalah murid Thio Tan Hong, tapi hanya beberapa bulan saja.
Cerita selengkapnya dapat diikuti dalam San Hoa Liehiap (Pendekar Wanita Penyebar Bunga) dan Lian Kiam Hong In (Kisah Pedang Bersatu Padu).
Baca Juga: Tangan Berbisa 8
Baca Juga: Pendekar Pemetik Harpa 4