Anak Pendekar 1

Eps 1 Anak Pendekar - Liang Ie Shen

Baca online Anak Pendekar - Liang Ie Shen

Cersil Anak Pendekar - Liang Ie Shen.

Sumber . djvu Manise Dimhader & Top Md Website Trim"s yee Edited & Ebook. Dewi KZ.

Tiraikasih website

http.//kangzusi.com/

http.//kang-zusi.info/

http.//cerita-silat.co.cc/.

Anak Pendekar -Mu Ye Liu Xing Seri Thiansan Karya .

Liang Ie Shen Saduran .

Gan KH.

Meteor Melintas DI Padang Gembala.

Pendahuluan Bagi pecinta cersil khususnya yang gemar membaca karangan Liang I-shen tentu sudah tahu apa itu Ciok-Iin atau Hutan Batu, yang terletak di karesidenan Lok-Iam di wilayah Inlam.

Ciok-Iin merupakan salah satu keajaiban alam di dunia yang amat mempesona, pemandangannya sukar dilukiskan dan tak habis-habis bila dikisahkan.

Dalam salah satu karya Liang I-shen yang berjudul KHONG LING KIAM (Pendekar Pemetik Harpa) tentu pembaca juga sudah banyak tahu tentang seluk beluk Hutan Batu, karena di sini Pendekar Pemetik Harpa Tan Ciok-sing pernah menggembleng diri, mempelajari ilmu pedang peninggalan pendekar besar maha guru silat Thio Tan-hong Thio tayhiap.

Di sini pula Thio Tan-hong tetirah menghabiskan masa tuanya hingga dimakamkan di situ."

Seorang suseng setengah umur bermuka putih berdebu sedang mengayunkan langkahnya pelan-pelan ke arah mulut Ciok-Iin.

Meski kelihatan kurus dan agak pucat, tapi sorot matanya yang tajam memperlihatkan bahwa orang ini memiliki kungfu yang tinggi.

Alisnya berkerut, sikapnya prihatin seperti sedang dirundung persoalan ruwet, sehingga dia tidak perhatikan keadaan sekelilingnya meski Ciok-Iin sudah terkenal di mata para pelancong.

Di mulut Hutan Batu dia berhenti sejenak, akhirnya melangkah ke dalam.

Keadaan dalam Hutan Batu memang sukar dibayangkan.

Jalanjalan simpang siur, batu bersusun dan bersambung, berliku-liku tak karuan, segala bentuk batu yang beraneka ragam ada di sini, bila orang melangkah lebih dalam yang tidak tahu jalan akan tersesat dan jangan harap bisa keluar lagi dari tempat itu.

Demikian pula suseng setengah umur itu, setelah belak-belok beberapa kali dia sudah kehilangan arah, sukar membedakan timur, barat, utara dan selatan.

"Keajaiban alam memang menakjubkan,"

Demikian pikir suseng itu.

"sayang aku tiada minat untuk menikmatinya sekarang."

Kedatangannya ternyata bukan untuk tamasya, tapi untuk mencari atau menyambangi seseorang.

Di saat dia berada di antara rumpun batu tiba-tiba dirasakan angin menyambar, seseorang melompat keluar di belakangnya terus mencengkeram tulang pundaknya.

Setelah turun tangan baru orang itu bersuara dengan bentakannya.

"Siapa kau?"

Suseng setengah umur menurunkan pundak mengkeretkan sikut, dengan gaya Koay-bing-hoan-sin (Ular sanca membalik badan) badannya setengah berputar, dengan sedikit tenaga menurunkan pundak dan berputar itu, dia tuntun orang itu terseret ke samping.

Dia tetap bungkam tidak menjawab pertanyaan orang itu.

Baru saja jari orang itu menyentuh pundaknya, tahu-tahu tangannya tergetar lepas oleh daya tolak tenaga dalamnya yang tinggi, karena cengkeramannya luput karuan amat kaget, insyaf menghadapi musuh tangguh, lekas dia bertanya pula.

"Siapa kau sebetulnya? Jangan salahkan kalau aku tidak sungkan kepadamu!"

Suseng itu seperti tidak mendengar atau melihat, dia tetap kembali kedudukannya semula, tetap membelakangi lawan. Pembokong itu lantas bersuit panjang. Pikirnya.

"Asal aku kuat bertahan sekejap, bila suhu datang, persoalan mudah dibereskan,"

Dia tahu lawan teramat tangguh bagi dirinya, maka turun tangannya pun tidak kenal kasihan lagi, dengan jurus Pay-san-to-hay (Mendorong gunung menguruk laut) kedua telapak tangan membelah bersama sekaligus, tenaganya ternyata cukup dahsyat, sayup-sayup terdengar suara gemuruh bagai guruh menggelegar Sesuai namanya, kekuatan pukulannya ternyata bagai gugur gunung.

Seenaknya suseng mengayun tangan ke belakang, gerakannya jurus biasa yaitu Hian-ciau hoat-sa (Burung sakti menggaris pasir) dengan kekuatan satu tangan untuk melawan gempuran dua tangannya Tenaga pukulan dahsyat orang itu ternyata tidak mampu mendorongnya maju selangkah pun, sekaligus dia rasakan daya tolak perlawanan lawan yang hebat.

Dua jurus serangannya tak berhasil menyelidiki asal usul lawan, sekonyong-konyong dia rasakan tenaga perlawanan musuh sirna begitu saja, sehingga ia kehilangan keseimbangan, tanpa kuasa ia tersuruk maju selangkah dan hampir saja jatuh.

Gerak-gerik orang itu ternyata cukup lincah dan cekatan, di saatsaat kritis itulah mendadak dia berkelit terus melayang ke sana, maka posisi satu sama lain pun menjadi berubah.

Begitu membalik bukan membela diri malah balas menyerang.

Tangan kanan seperti meng-gantol ke luar, sementara tinju kiri menjotos dengan jurus Ling-yang-kwa-kak (Kambing gembel menanduk) menjotos muka musuh.

Susengsetengah umur agaknya tidak menduga tinju dan ilmu pukulan telapak tangan lawan ternyata semahir dan selihai ini, tanpa terasa dia memuji perlahan, kedua tangan mendadak mendekap lutut.

Perubahan ini lebih-lebih di luar dugaan, maklumlah serangan tinjunya sekeras itu, bila lawan tidak menangkis, pasti juga harus berkelit.

Tak nyana si suseng malah menjulurkan lurus kedua tangan ke bawah, tidak menangkis atau berkelit Sudah tentu hal ini membuatnya tertegun.

Kejadian berlangsung cepat sekali, mendadak pelajar setengah umur menggerakkan kedua tangan, telapak tangan seperti mengelus sambil tubuh membungkuk seperti menjura.

Maka terdengar "Blang", tahu-tahu orang itu terkena pukulan tinjunya.

Kelihatannya jotosannya keras dan dahsyat namun si korban yang kena pukulan ternyata tidak merasa sakit sama sekali.

Sekilas orang itu melongo, lalu menjerit keras-keras serta berteriak.

"Kau, bukankah kau ji-suhu?"

Ternyata jotosan pelajar setengah umur tadi menggunakan jurus Jing-jiu-sek dari Tiam-jong-pay, kalau perguruan lain jurus permulaan dan pembuka serangan hanyalah merupakan gaya kembangan sebagai tanda penghormatan kepada lawan, tapi lain dengan Jing-jiu-sek dari Tiam-jong-pay, jurus pembuka gaya ini ternyata mampu melukai lawan.

Sejak berusia 8 tahun orang itu pernah belajar silat di perguruan Tiam-jong-pay, pernah belajar dasar ilmu silat dari suseng setengah umur ini.

Kungfu yang lebih tinggi dan mendalam memang belum sempat belajar, tapi jurus Jing-jiu-sek ini dia sudah teramat apal.

Suseng setengah umur itu ter-gelak-gelak, katanya.

"Hoa-ji, kau sudah tumbuh besar, kungfumu juga sudah banyak maju."

Kini mereka telah berdiri di tempat yang terang, dengan seksama suseng setengah umur memperhati-.

kan, pemuda tanggung di depannya ini, wajahnya sudah jauh berbeda dengan waktu kecilnya dulu.

Tapi semakin dipandang, semakin mirip teman karibnya Beng Goan-cau.

Terkenang kepada Beng Goan-cau, serta merta suseng setengah umur terkenang pula kepada kekasihnya Hun Ci-lo.

Jejak Beng Goan-cau sekarang tidak diketahui arah paran-nya, sementara Hun Ci-lo sudah istirahat panjang di dalam bumi.

Tak tertahan dia menghela napas panjang, hatinya kecut, sekuatnya dia menahan airmata.

Pemuda itu tak perhatikan mimik si suseng, dengan girang dia peluk suseng itu serta berseru.

"Ji-suhu, bagaimana kau bisa datang kemari? Mana toa-suhu?"

Suseng atau pelajar setengah umur ini bernamaToan Siu-si, salah satu dari Tiam-jong-siang-sat, pemuda ini adalah muridnya bernama Nyo Hoa Toa-suhu yang ditanyakan Nyo Hoa adalah toa-suheng Toan Siu-si yang bernama PokThian-tiau, yang sudah meninggal tujuh tahun yang lalu.

Saat kematiannya itu adalah saat Nyo Hoa diculik oleh musuh besar keluarga mereka Melihat sikap gurunya agak ganjil, Nyo Hoa mendapat firasat jelek, tanyanya.

"Ji-suhu, sebetulnya apa yang terjadi, jelaskan kepadaku,"

Bahwa setelah berpisah tujuh tahun, hari ini guru dan murid bertemu lagi, seketika menimbulkan kenangan lama dalam benaknya.

Tiba-tiba didengarnya Toan Siu-si tertawa getir, hingga Nyo Hoa tersentak dari kenangannya, kata Toan Siu-si.

"Musibah yang menimpa toa-suhu-mu nanti akan kuceritakan. Masih banyak persoalan lain yang harus kujelaskan padamu. Tapi sekarang kau harus ajak aku menemui gurumu yang sekarang."

Kejut dan girang hati Nyo Hoa, katanya.

"Ji-suhu, ternyata kau sudah tahu, aku pun ingin melaporkan kepada kau."

"Sudah tentu aku tahu,"

Ujar Toan Siu-si tertawa getir.

"Suhu-mu adalah sahabatku, sudah tujuh tahun aku mencari kalian."

Belum habis dia bicara, mendadak dirasakan desir angin menyambar di belakang.

Kontan Toan Siu-si menggantol balik ke belakang, orang itu menyanggah sikutnya, dua jarinya laksana jeruji besi menyelinap dari bawah ketiak menotok hiatto.

"King-sin-ci-hoat bagus,"

Kontan Toan Siu-si berseru memuji, telapak tangan menekan sambil menolak, kedua pihak bergerak secepat kilat Dari samping Nyo Hoa lantas berteriak.

"Jiwi (berdua) suhu, bukankah... kalian adalah,"

Belum sempat mengucapkan "sahabat", Toan Siu-si sudah bergandeng tangan sambil tertawa tergelak-gelak. Pembokong itu bukan lain adalah guru Nyo Hoa yang sekarang, yaitu Tan Khu-seng.

"Selamat atas keberhasilan latihan King-sin-ci-hoat yang telah lama putus turunan,"

Demikian puji Toan Siu-si.

"selamat pula atas muridmu yang bagus."

Tan Khu-seng tertawa, katanya.

"Bian-ciang Kangcu-mu juga sudah kau latih sehebat itu menurut penilaianku masih lebih tinggi dari pukulan berbisamu dulu. Bicara tentang murid secara tidak langsung aku toh merebut dari tanganmu, apakah kedatanganmu hendak menagih dia dari tanganku?"

Toan Siu-si tertawa, katanya.

"Kau telah mendidiknya sebagus "

Ini, belum sempat aku berterima kasih kepadamu, mana ada niatku merebut segala. Tapi kenapa kau tidak di Khong-tong-san, tapi pindah kemari?"

"Apakah tempat ini jelek?"

Tanya Tan Khu-seng.

"Bagus sih memang bagus, istana gua malaekat dewata yang sering kubayangkan ternyata juga begini saja. Tahukah kau tujuh tahun aku mencari kalian dengan susah payah."

Ada satu persoalan yang selama ini mengganjal hatinya ingin dia minta bantuan Tan Khu-seng untuk membeber persoalan itu.

"Mari kita bicara di dalam,"

Ajak Tan Khu-seng.

"pemandangan terindah dari Ciok-lin toh belum pernah kau saksikan. Hoa-ji ambilkan arak."

Toan Siu-si mengikuti Tan Khu-seng menerobos gua-gua gelap dan lembab, mendadak dilihatnya pandangan di depan terang dan terbuka, tampak di bawah dinding curam di depan sana terdapat sebuah telaga kecil, pinggir telaga ditaburi tanaman kembang dan rumput yang beraneka ragam, harum wangi merangsang hidung, di atas dinding gunung yang curam terukir dua huruf besar "KIAM HONG"

Dengan gaya kuno dan indah.

Sebuah batu besar di pinggir telaga di sana juga diukir dua huruf "KIAM TI", cuma tulisannya agak kecil.

Bias sinar matahari di atas Kiam-hong menampilkan pancaran cahaya terang benderang di permukaan telaga, bunga mekar kelihatan lebih indah dan semarak, memetakan gambaran permai di dalam air.

Toan Siu-si menggelengkan kepala sambil menghela napas, ujarnya.

"Tempat ini memang mirip taman firdaus, tak heran kalau kau betah dan kerasan hidup di sini.

"Konon pendekar besar Thio Tan-hong yang hidup pada jaman dinasti Beng dahulu pernah berlatih pedang tiga tahun di atas puncak itu, setiap hari dia mencuci pedang dengan air telaga. Maka puncak itu dinamakan Kiam-hong (Puncak pedang), telaga itu dinamakan Kiam-ti (Telaga pedang)."

"Kau kira aku tentram dan senang di sini?"

"Kukira kau sudah meniruJi-sia-khek yang sudah menjelajah gunung-gunung ternama dan mencari gua dewa untuk tempat tetirah dan terakhir kau memilih Hutan Batu ini. Apakah kau pun ada kesulitan atau perkara yang menyulitkan dirimu?"

"Betul, karena kepepet dan terdesak oleh keadaan, baru terpaksa aku sembunyi di sini."

Toan Siu-si merasa heran di luar dugaan pula, tanyanya.

"Siapa yang mendesakmu?"

"Aku dianggap berbuat salah terhadap ciangbun susiok, sesama saudara seperguruan pun salah paham terhadapku, sekarang aku sudah menjadi murid murtad yang diusir dari Khong-tong-pay,"

Demikian tutur Tan Khu-seng. Toan Siu-si kaget, katanya.

"Kau kan tokoh terkemuka dari Khong-tong-pay, walau watakmu dianggap eksentrik oleh sementara orang, aku yakin kau tak pernah melakukan pelanggaran besar, kenapa setega itu mereka memecat dan mengusirmu."

"Aku sendiri juga tidak pernah merasa berbuat salah, salahku lantaran aku tak mau sealiran dalam lumpur kotor,"

Nada akhir perkataannya terasa agak marah dan penasaran.

"Apakah karena kau menolong Hoa-ji hingga timbul persoalan itu? Menurut hasil penyelidikanku, Hoa-ji berhasil kau rebut dari seorang sute-mu yang jahat dan bersekongkol dengan Tiam-lam Sihou, mereka pun merebut dan menculik Hoa-ji dari tangan suhengku. Belakangan aku dengar kau mewakili ciang-bun susiok-mu memutuskan hukuman, sute-mu yang berbuat jahat itu kau pecat dan diusir dari perguruan."

"Ternyata peristiwa itu sudah kau ketahui sejelas itu, maka tak perlu aku menjelaskan lagi. Memang ciangbun susiok pernah menegur aku karena aku berani bertingkah atas namanya Tapi bukan karena persoalan ini sehingga aku diusir dan sesama perguruan tak mau menganggap diriku lagi."

"Lalu lantaran persoalan apa?"

Tan Khu-seng menggeleng kepala, katanya.

"Keburukan keluarga tidak boleh-disiarkan. Tan-heng meski kau adalah sahabat baikku, maaf dalam persoalan ini aku tidak bisa menjelaskan kepadamu "

Karena Tan Khu-seng sudah memberi pernyataan tegas, maka Toan Siu-si tidak tanya lebih lanjut Maka dia mengalihkan pokok pembicaraan.

"Jadi karena kau juga tidak mau menemui sesama perguruan, maka kau sembunyi di sini?"

"Bukan aku sengaja menyingkir dari hadapan mereka, soalnya mereka hendak membunuhku."

Toan Siu-si terbeliak kaget.

Baru sekarang dia maklum kesulitan Tan Khu-seng bukan lantaran diusir dari perguruan saja.

Tapi karena persoalan itu menyangkut keburukan keluarga Tan Khuseng, kalau orang tidak mau menjelaskan, meski bersedia juga Toan Siu-si tahu, dirinya takkan bisa membantu apa-apa Dengan tawa getir Tan Khu-seng berkata.

"Sekarang tentu kau sudah paham, kenapa aku tidak ingin kau tahu diriku? Soalnya aku khawatir kau membela aku."

"Persoalan intern perguruanmu . orang luar jelas tidak boleh turut campur. Tapi susiok-mu kan orang yang bisa menilai urusan secara obyektif, apa boleh aku berusaha ke arah itu?"

Dengan tegas Tan Khu-seng berkata.

"Toan-heng, maksud baikmu sungguh mengharukan. Untuk persoalanku ini lebih baik kau tidak turut campur saja."

Apa boleh buat Tan Siu-si berkata.

"Aku tahu diriku takkan bisa membantumu. Tapi apa kau rela hidup mengasingkan diri sampai tua di sini?"

"Kalau tidak rela memangnya mau apa, biarlah aku menerima nasib. Tempat ini semula sudah ditinggali orang, 3 tahun yang lalu waktu aku menemukan tempat tersembunyi ini, terpaksa aku mengikat permusuhan dengan seseorang."

"Siapa orangnya?"

"Tigapuluh tahun yang lalu ada seorang gembong iblisryang malang melintang di dunia bernama Beng Sin-thong, tentunya kau sudah tahu?"

"Konon Beng Sin-thong adalah gembong silat yang setingkat dengan mahaguru silat Kim Si-ih, kedua orang ini pernah bentrok beberapa kali, masing-masing pernah kalah dan menang. Tapi akhirnya dia mati di bawah pedang lihiap Le Seng-lam."

"Betul, kisah Beng Sin-thong memang banyak diketahui oleh kaum persilatan, tapi meski dia sudah mati, masih ada pula seorang cucu muridnya Si Yang, secara diam-diam berhasil menggembleng diri meyakinkan Siu-lo-im-sat-kang peninggalannya, hal ini mungkin jarang diketahui orang."2* Toan Siu-si kaget sekali, tanyanya.

"Maksudmu musuh itu adalah cucu murid Beng Sin-thong?"

"Benar. Dia sudah menerima beberapa murid lain dan menduduki Hutan Batu di sini, secara diam-diam siap membangun perguruan leluhurnya supaya berjajar dan saling merebut kedudukan dengan berbagai perguruan besar. Karena Siu-lo-im-sat-kang yang dilatihnya belum sempurna dan khawatir rahasianya bocor, maka bukan saja dia melarang orang memasuki Ciok-lin, malah penduduk setempat yang berdekatan pun dibunuhnya semua."

Toan Siu-si membatin.

"Tak heran aku tak berhasil menemukan penduduk di sekitar sini."

Katanya.

"Manusia durjana ini memang teramat jahat, kalau kepergok olehku, aku pun akan mengganyangnya"

"Sayang aku belum mampu mengganyang dia Tapi untung juga Siu-lo-im-sat-kang-nya belum berhasil diyakinkan, hingga aku masih mampu mengusirnya dari Ciok-lin."

"Kalau demikian kau harus siaga tuntutan pembalasannya."

"Waktu itu tidak ringan luka yang dideritanya akibat pukulanku, aku yakin dalam tiga tahun lwekang-nya tidak akan sembuh secepat itu."

"Mungkin tidak dia bersekongkol dengan perguruanmu untuk melabrakmu?"

"Kukira tidak sampai terjadi. Jelek-jelek Khong-tong-pay adalah perguruan lurus ternama, tanpa sebab mana mungkin bersekongkol dengan kawanan siluman jahat itu? Padahal manusia-manusia jahat itu juga khawatir bila orang lain tahu dirinya adalah cucu murid Beng Sin-thong, maka kupikir tak berani dia mencari orang Khongtong-pay."

"Ya, semoga demikian,"

Ucap Toan Siu-si, tapi nadanya tetap khawatir.

"Toan-heng,"

Kata Tan Khu-seng tiba-tiba "Kalau kau ingin membantu aku, ada satu hal yang aku ingin minta bantuanmu."

"Katakan saja. Urusanmu meski harus menerjang lautan api juga takkan kutolak."

Tak perlu kau menerjang lautan api.

Baiklah kau dengarkan dulu ceritaku tentang Ji Sia Khek.

Adalah seorang hwesio bergelar Cing Sian menurut catatan Ji Sia Khek, ia pernah membaca mantera selama 20 tahun, menusuk jari, dan dengan darahnya dia menulis Hoat-hoa-king, cita-citanya terlaksana di Ke-cu-san.

Di akhir dinasti Beng, di kala Congtin berkuasa, Ji Sia Khek pernah menemani perjalanannya.

Di Siang-kiang mereka ketemu begal, hwesio itu dipukul jatuh ke air, tapi Hoat-hoa-king tetap dipegang di atas kepalanya hingga tidak basah dan tidak hilang.

Untung kawanan begal hanya mengincar uang dan harta benda tanpa menyakiti jiwa.

Setelah dirampok habis-habisan sepanjang jalan Ji Sia Khek mencari derma, sementara Cing Sian ber-kotbah hingga tibadi kota Lam-Iing di Khong-say lalu mereka menetap di Cong-sian-si.

Akhirnya Cing Sian sakit dan mati di tempat itu.

Belakangan Jing Sia Khek membawa abu dan Hoat-hoa-king karyanya itu sejauh Iimaribu Ji, akhirnya tiba di Ke-cu-san dan diserahkan ke pihak Sip-tam-si, abunya juga dikebumikan di sana serta didirikan menara sebagai peringatan kesuksesannya."

Toan Siu-si menghela napas, katanya.

"Persahabatan sekental dan seluhur itu, sungguh patut dibuat contoh."

"Aku sudah terusir dari perguruan, mengikat permusuhan dengan lawan tangguh, entah kapan aku bakal mati di tempat ini. Jenazah atau tulang belulangku tak usah kau mengangkutnya pulang ke kampung kelahiran, tapi hasil karyaku tentang kungfu Khong-tongpay sudah menyerap seluruh daya pikir dan memeras keringatku, hasil yang ku-peroleh untuk memperdalam ajaran leluhur ini justru perlu dilindungi. Hal ini kupandang sama pentingnya Ji Sia Khek yang membawa pulang Hoat-hoa-king karya Cing Sian yang ditulisnya dengan darah."

Toan Siu-si baru paham, katanya.

"Jadi kau minta aku meniru cara Ji Sia Khek, kalau dia membawa Hoat-hoa-king ke Ke-cu-san lalu kau ingin supaya kuantar karyamu kepada siapa?"

"Setelah aku mati tolong kau sampaikan surat wasiatku kepada ciangbun susiok, umpama pun dia sudah meninggal, serahkan pada ciangbunjin yang menjadi ahli warisnya. Kau mau membantuku?"

Toan Siu-si tertawa, katanya.

"Itu hanya kerjaan sambilan saja, tapi kau justru bicara soal mati hidup, siapa tahu justru panjang umur sampai seratus tahun, bagaimana kalau aku mati lebih dulu malah?"

Tan Khu-seng tergelak-gelak, katanya.

"Biasanya kau ini periang dan tidak percaya soal nasib, masa sekarang juga takut mati? Sekarang kau sehat walafiat, dalam jangka tiga bulan, mungkinkah kau akan mampus?"

"Cuaca sering berubah, nasib manusia sukar diramalkan, siapa tahu kapan aku mati."

Serius sikap Tan Khu-seng, katanya.

"Toan-heng, aku tidak berkelakar, bila kau pergi, buku karyaku itu akan kuserahkan kepadamu, betapapun tolong kau bereskan keinginanku."

Melihat orang minta dengan sungguh-sungguh, terpaksa Toan Siu-si menjawab.

"Baik, aku berjanji. Tapi, saudara perguruanmu...."

Tan khu-seng tahu maksudnya, katanya.

"Aku tahu apa yang akan kau ucapkan. Aku memang sudah dipecat dari perguruan, sesama saudara seperguruan juga memusuhi aku, betapapun mereka tetap saudara seperguruan* Kungfu mumi dari Khong-tongpay jangan sampai terjatuh di tangan musuh."

"Kenapa tidak kau turunkan kepada Hoa-ji?"

Tanya Toan Siu-si.

"biar kelak dia yang mengembalikan ke perguruannya?"

"Seperti juga kau, aku tidak memandang, penting perguruan. Hoa-ji adalah muridku, juga muridmu, putra Nyo Bok lagi, dia mempelajari tiga cabang ilmu silat. Umpama aku tidak dipecat dan menerimanya sebagai murid, itu juga merupakan pantangan. Bila aku serahkan hasil karyaku kepadanya jram balikan kepada ciangbun nasibnya akan lebih buruk lagi."

Toan Siu-si tahu apa yang diucapkannya memang betul, maka katanya tertawa.

"Baiklah biar aku bantu kau untuk; membalas kejahatan dengan kebajikan,"

Sementara dalam hati dia membatin.

"Tapi kau belum tahu riwayat Hoa-ji sebenarnya, padahal dia bukan putra Nyo Bok."

Lega hatinya setelah mendengar janji Toan Siu-si, katanya.

"Sekarang giliranku tanya, kedatanganmu tentu lantaran Hoa-ji?"

"Betul,"

Sahut Toan Siu-si.

"Sepantasnya aku harus kembalikan muridku kepadamu, tapi setahun lagi pelajarannya akan tamat, seluruh kungfu milikku akan dapat dipelajarinya semua, sudikah kau menunggu setahun lagi?"

"Kedatanganku bukan hendak menagih murid kepadamu. Bicara setulus hati, aku sendiri tidak tahu kapan aku akan mati, banyak pet-soalan di waktu masih kecil tidak boleh kubicarakan dengan dia, sekarang dia sudah berusia enam belas tahun, sudah tiba saatnya aku memberi tahu kepadanya."

Sampai di sini pembicaraan mereka, tampak Nyo Hoa mendatangi sambil membawa seguci arak dan muncul di pinggir Telaga Pedang. Tan Khu-seng berkata.

"Inilah arak buatanku sendiri, coba kau cium,"

Begitu tutup guci dibuka, bau arak wangi segera menyerang hidung.

"Arak bagus, arak bagus,"

Puji Toan Siu-si. Tan Khu-seng tertawa, katanya.

"Hari ini harus dirayakan dengan riang gembira, cukup kau minum setengah guci?"

"Sayang takaranku amat sedikit, mungkin tak bisa menemani kau minum sesuka ria. Jangankan satu orang setengah guci, umpama kau enam bagian aku satu bagian juga pasti aku mabuk."

"Baiklah, sebagai tuan rumah aku minum dulu secangkir sebagai kehormatan, boleh kau mengikuti."

Di meja batu, Nyo Hoa meletakkan cangkir serta mengisinya penuh. Tan Khu-seng tertawa, katanya.

"Tidak usah pakai cangkir."

Langsung dia angkat gucinya ke dekat mulut, seperti ikan paus menyedot air saja, arak tertuang masuk ke dalam mulurnya, hanya sekejap setengah guci telah"dihabiskan sendiri.

Selama beberapa tabun bercampur dengan gurunya yang satu ini, kapan Nyo Hoa pernah melihat gurunya minum secara demikian, karuan dia melongo.

Tan Khu-seng agak mabuk, segera dia mengetuk-ngetuk jarinya di atas meja batu sambil bersenandung.

Toan Siu-si ikut merasakan penderitaan batin sahabatnya, setelah menenggak lagi beberapa teguk, Tan Khu-seng berkata.

"Toan-heng, kau paham akan karakterku. Minum, mari minum."

Toan Siu-si juga minum dua teguk, dia pun memukul batu bersenandung, makna syairnya merupakan jawaban syair yang dibawakan oleh Tan Khu-seng. Tan Khu-seng tergelak-gelak, katanya.

"Toan-heng yang tidak bisa terbang bebas adalah aku, memang aku pantas banyak berpikir secara cermat. Mengenai dirimu, kurasa tidak perlu aku memberi dorongan kepadamu, kau pasti bisa pentang sayap terbang bebas ke mana kau suka pergi. Marilah habiskan scguci arak ini, kudoakan kau dapat terbang berlaksa li jauhnya."

"Toan-heng, aku pun mendoakan kau bisa terbang menjulang ke langit. Tapi maafkan bila aku tak bisa mengiringi kau minum arak pula."

Anak muda memang sulit menyelami perasaan orang.

Nyo Hoa seperti tahu, tapi juga tidak paham mendengar pembicaraan mereka, namun lapat-lapat dia juga merasakan bahwa kedua gurunya masing-masing dirundung persoalan ruwet yang merisaukan.

"Oh ya, banyak persoalan yang ingin kau bicarakan dengan Hoaji. Baiklah aku tidak memaksamu minum lagi,"

Demikian ujar Tan Khu-seng, lalu dia angkat gucinya serta menghabiskan sisanya yang masih ada, dia sudah delapanpuluh persen mabuk.

Nyo Hoa memang mengharapkan berita ibu dan toa-suhu-nya, syukurlah kesempatan yang ditunggu sejak tadi kini telah tiba, segera dia bertanya.

"Iya, sebetulnya bagaimana keadaan toa-suhu? Bagaimana pula kabar ibuku? Ji-suhu kau tahu bukan? Aku yakin beliau pasti mencariku ke mana-mana."

Seperti diiris-iris hati Toan Siu-si, dengan kencang dia genggam tangan Nyo Hoa, katanya.

"Hoa-ji, aku harap kau menjadi laki-laki sejati yang tabah dan berkeras hati, kau mau berjanji kepadaku?"

Nyo Hoa melongo, tak tahu kenapa gurunya bertanya demikian, sahurnya.

"Sudah tentu aku harus menjadi laki-laki sejati, ibu dan toa-suhu pun sering menganjurkan dan mendidikku demikian."

"Bagus, anak baik! Baiklah kuberi tahu kepadamu, kau harus tabah. Ibumu dan toa-suhu sudah-sudah meninggal semua."

Bagai disambar geledek, seketika terbalik mata Nyo Hoa, hatinya sedih tapi airmata tidak bisa keluar, saking kaget dia melongo sekian lama. Dengan berat Toan Siu-si membujuknya.

"Hoa-ji, sadarlah. Apakah kau tidak ingin menuntut balas sakit hati mereka?"

"Uuaaaaa,"

Akhirnya pecah juga tangis Nyo Hoa, lama dia menggerung-gerung, kedua suhu juga membiarkan dia melampias rasa dukanya, dengan sesengguk akhirnya Nyo Hoa bertanya setelah tangisnya reda.

"Siapakah yang mencelakai mereka?"

"Yang membunuh adalah Tiam-lam-si-hou, mereka sudah kubunuh satu persatu. Musuh pembunuh ibumu, sebelum ajalnya dia pun telah berhasil dibunuhnya juga. Tapi mereka masih punya musuh yang sama"

"Siapakah dia?"

Tanya Nyo Hoa "Yaitu dinasti kerajaan yang berkuasa sekarang, yaitu bangsa Ciu.

Kau harus tahu, ini bukan dendam pribadi, musuh yang membunuh mereka adalah cakar alap-alap, atau antek kerajaan Ceng itu."

Hambar perasaan Nyo Hoa, tanyanya.

"Lalu bagaimana aku harus menuntut balas?"

"Kerajaan menguras harta benda rakyat, menindas dengan berbagai peraturan dan menggorok leher rakyat dengan pajak tinggi bukan saja kerajaan yang berkuasa beserta antek-anteknya adalah musuh besarmu, mereka pun musuh besar rakyat jelata. Di luar tersebar pejuang-; pejuang bangsa penentang penjajahan, kelak kau harus berdsi berdampingan dengan mereka, berpihak kepada laskar rakyat baru kau dapat membalas sakit hati,"

"Ji-suhu,"

Ujar Nyo Hoa kertak gigi sambil mengepal tinju, pasti paruh akan naschat dan petunjukmu."

Saking pilu kembali dia menangis menggerung-gerung. Mendadak Tan Khu-seng berkelak tawa tiga kali, bentaknya.

"Tidak boleh menangis."

Nyo Hoa berjingkat kaget.

"Mungkin suhu sudah gila?"

Demikian batinnya. Didengarnya Tan Khu-scng berkata.

"Manusia siapa tidak akan mati, aku justru ingin mati seperti mereka. Ada orang panjang usia hidup sampai seratus tahun, tapi hidupnya biasa dan tawar, meski hidup juga tidak membawa manfaat bagi masyarakat, maka tidak lebih dia itu hanyalah seekor ulat tak berguna. Ada sementara orang meski usianya pendek, tapi kcmatian mereka amat berharga, nilainya setinggi gunung, kcmatiannya membawa manfaat besar bagi orang lain, kema-tiannya menjadikan suri teladan bagi pejuang bangsa dan patriot tanah air. Nah, kau suka menjadi orang macam yang mana?"

Bergolak darah Nyo Hoa, tanpa pikir segera dia menjawab.

"Aku lebih suka menjadi orang yang belakangan suhu sebut"

Tan Khu-seng tergelak-gelak, serunya.

"Maka itulah, kau justru harus merasa bangga mempunyai ibu dan toa-suhu yang gagah berani; gugur demi nusa dan bangsa, karena mereka adalah manusia teladan. Lalu untuk apa kau menangis? Kalau sampai kesehatanmu, terganggu, apa menangis dapat membantu kau menuntut balas?"

Nyo Hoa mengusap airmata, katanya.

"Ya, aku tidak akan menangis lagi."

"Betul, begitu baru anak baik,"

Puji Tan Khu-seng, tapi mengingat sejarah hidupnya sendiri yang serba susah dan hanya bergulat dalam urusan pribadi, setelah tergelak tak terasa airmatanya berlinang-Iinang.

Berkata Toan Siu-si lembut.

"Hoa-ji, masih ada yang ingin kubicarakan dengan engkau."

"Ya, boleh suhu bicara saja,"

Ujar Nyo Hoa.

"Masih setahun lagi baru pelajaranmu tamat dengan sam-suhu, bila tiba saatnya mungkin aku akan datang menjemputmu, tapi mungkin juga aku takkan bisa datang. Maka kau harus memanfaatkan tempo setahun ini."

"Ji-suhu, kenapa kau tidak menetap di sini dengan kami?"

"Karena di luar masih banyak persoalanku yang harus kubereskan,"

Sembari bicara Toan Siu-si merogoh keluar se

Jilid buku kumal tulisan tangan, pada sampulnya yang sudah kuning tertera empat huruf berbunyi "Beng-keh-to-hoat" (Buku ilmu golok keluarga Beng) diserahkan kepada Nyo Hoa.

Nyo Hoa bingung dan tidak mengerti, tanyanya.

"Beng-keh-tohoat? Ji-suhu, untuk apa kau berikan kepadaku?"

Sejak kecil hobi Tan Khu-seng belajar silat, melihat Beng-keh-tohoat dia amat terkejut, matanya terbeliak memancarkan sinar terang, katanya.

"Beng-keh (keluarga Beng) ini, apakah Beng-keh dari karesidenan Sam-ho itu?"

"Betul,"

Sahut Toan Siu-si. Semakin besar mata Tan Khu-seng mendelik, katanya.

"Bengkeh-kwi-to (Ilmu golok kilat keluarga Beng) nomor satu di dunia, dari mana kau peroleh.buku pelajaran ilmu golok ini?"

"Yang pasti bukan hasil curian,"

Sahut Toan Siu-si tertawa.

Tan Khu-seng tahu orang tidak mau menjelaskan kepada dirinya, meski kurang senang, tapi dia yakin pasti ada sebabnya.

Maka dia tidak menyelidiki asal-usulnya, katanya lebih lanjut.

"Konon ahli waris satu-satunya dari Beng-keh-kwi-to adalah Beng Goan-cau, usianya belum genap empatpuluh tahun, namanya sudah menggetarkan Kangouw, apa kau mengenalnya?"

"Dia adalah salah satu pimpinan penting dari laskar rakyat di Siau-kim-jwan, syukur aku sempat berkenalan sama dia."

"Ah,"

Nyo Hoa menimbrung.

"kalau demikian dia enghiong penentang kerajaan penjajah?"

"Betul,"

Ujar Toan Siu-si.

"Hoa-ji, aku akan minta kau melakukan satu hal bagiku, soal ini secara langsung akan menyangkut pribadi Beng Goan-cau. Nyo Hoa membatin.

"Ji-suhu memberi buku ini kepadaku tentu dia akan menganjurkan aku meyakinkan ilmu golok di dalam buku ini. Bahwa pelajarannya adalah ilmu golok kilat dari keluarga Beng, sudah tentu menyangkut pribadi Beng Goan-cau."

Betul juga didengarnya Toan Siu-si berkata.

"Aku menuntut kepadamu, dalam jangka setahun inii kau harus berhasil meyakinkan golok kilat dari keluarga Beng cu pergilah cari Beng Goan-cau dan ajaklah dia bertanding."

Bahwa dirinya harus menantang duel dengan Beng Goan-cau sungguh membuat Nyo Hoa kaget, katanya.

"Menantang duel Beng Goan-cau, kenapa?"

"Kau harus melampiaskan penasaranku,"

Sahut Toan Siu-si, jawabnya justru menambah heran dan kaget Nyo Hoa.

"Ji-suhu, bukankah kau bilang Beng Goan-cau adalah enghiong, ksatria sejati penentang penjajah? Lalu, lalu..."

Dalam hati dia membatin.

"Kalau dia seorang pejuang besar kenapa ji-suhu mengikat permusuhan dengan dia?"

Toan Siu-si tahu apa yang terkandung dalam benak Nyo Hoa. katanya.

"Betul, Beng Goan-cau adalah temanku, tapi di antara kami dulu pernah juga terjadi persclisihan, meski bukan urusan serius, tapi penasaran gurumu betapapun harus terlampias. Tentang perselisihan di antara aku dengan dia, kenapa aku harus menuntut kau untuk duel dengan dia, sementara aku tak akan menjelaskan kepadamu. Kelak setelah kau berduel dengan Beng Goan-cau, pasti akan kujelaskan kepadamu. Cukup asal kau berbuat menurut petunjukku saja"

"Ji-suhu minta bagaimana aku harus menantangnya berduel,"

Tanya Nyo Hoa "Setelah kau berhadapan dengan Beng Goan-cau, sebelum bertanding, jangan kau katakan sebagai muridku. Tapi kau harus gunakan kungfu yang kuajarkan bersama sam-suhu, sampai...."

Belum habis orang bicara, Nyo Hoa sudah menukas.

"Aku memang cuma bisa kungfu ji-suhu dan sam-suhu saja Waktu kecil memang ibu pernah mengajarkan pelajaran dasar lwekang, tapi permainan silat sama sekali belum diajarkan."

"Tidak,"

Ucap Toan Siu-si.

"bila kau latih dengan tekun dan rajin, setahun kemudian kau pasti sudah berhasil meyakinkan Beng-kchto-hoat dengan baik."

Nyo Hoa heran, katanya.

"Ilmu golok itu warisan keluarganya, apakah kau ingin aku menggunakan golok keluarganya mengalahkan dia?"

Toan Siu-si tertawa, ujarnya.

"Sudah tentu aku mengharap kau cukup menggunakan ilmu silat ajaranku untuk mengalahkan dia. Tapi hal itu takkan tercapai meski kau latihan sepuluh tahun lagi, apalagi dalam setahun ini kau sudah harus berhadapan dengan dia Maka menurut perhitunganku, kau tetap takkan dapat mengalahkan dia"

"Bukankah aku tetap tak dapat melampiaskan penasaran suhu?"

Tanya Nyo Hoa "Tapi aku punya satu cara, sehingga kau dapat mengalahkan dia"

"Cara apa?"

"Tadi sudah kau katakan, yaitu menghadapinya dengan Bcngkch-to-hoat. Tapi kau harus menunggu sampai tiga jurus terakhir baru menggunakannya"

Nyo Hoa ragu-ragu dan setengah percaya katanya.

"Aku harus menggunakan Beng-keh-to-boat menempur jago kosen nomor satu dari keluarga Beng, bukankah aku bermain kayu di depan seorang ahli?"

Tan Khu-seng adalah seorang ahli silat, segera dia tergelakgelak, katanya.

"Cara itu memang bagus. Itu dinamakan menyerang lawan yang tidak siaga secara mendadak. Pada tiga jurus terakhir baru kau melancarkan ilmu golok warisan keluarganya dia pasti kaget. Jago kosen bertempur mana boleh terpecah perhatiannya, saat itulah kau dapat merebut kemenangan dengan kesempatan baik itu."

Toan Siu-si tertawa, ujarnya.

"Bukan kesempatan terbaik, tapi yakin kau pasti dapat menang."

Maklum Tan Khu-seng hanya menilai dari bidang ilmu silat, sejauh ini dia belum tahu bahwa Nyo Hoa adalah, putra Beng Goancau.

Sebaliknya Toan Siu-si dapat membayangkan, bila Beng Goancau tahu putranya yang menantang duel dirinya, betapa tergoncang perasaan hatinya.

Maka Toan Siu-si berkata lebih lanjut.

"Begitu kau lancarkan tiga jurus Beng-keh to-hoat, Beng Goan-cau pasti kehabisan akal tidak tahu cara bagaimana harus melawan. Tapi aku larang kau melukainya"

"Sudah tentu,"

Ucap Nyo Hoa "Beng Goan-cau adalah pejuang besar pembela nusa dan bangsa, mana boleh aku melukainya?"

"Masih ada lagi. Jurus terakhir, aku tetap menghendaki kau menggunakan kungfu ajaranku, gunakan jurus Jing-jiu-sek itu, cukup kau menyengkelitnya.jatuh. Berarti kau sudah merebut nama baik dan memberi muka kepadaku."

Nyo Hoa hanya mengiyakan saja, namun dalam hati dia tak habis heran.

"Apa yang diuraikan ji-suhu seakan-akan kejadian sudah berada dalam genggamannya, aku justru tak mau percaya urusan dapat semudah itu untuk mencapai kemenangan,"

Maka dia bertanya.

"Ji-suhu, kau bilang banyak urusan silahkan dibicarakan dengan aku, ini____"

"Betul. Masih ada satu hal, kau harus ingat apa pun yang diucapkan Beng Goan-cau kepadamu, kau harus mempercayainya"

Maklum Nyo Hoa adalah anak kandung Beng Goan-cau, persoalan ini Toan Siu-si tidak enak menjelaskan di hadapan Tan Khu-seng, walau mereka adalah sahabat kental puluhan tahun.

Malah terhadap muridnya sendiri berat juga dia membuka suara Kembali Nyo Hoa dibuat heran, pikirnya.

"Beng Goan-cau adalah toa-cnghiong, seorang gagah perkasa apa yang diucapkan patutkah tidak kupercaya? Buat apa suhu berpesan demikian kepadaku?"

Tan Khu-seng juga merasakan sepak terjang Toan Siu-si agak nyentrik, katanya "Toan-heng untuk mengalahkan Beng Goan-cau, kau mengatur rencana dan memeras keringat, kurasa hal ini berbeda dan kebiasaanmu dulu."

"Seperti ceritamu tadi, Ji Sia Khek menangisi kematian kawannya dan rela menunaikan cita-citanya yang belum terlaksana Aku pun punya seorang teman yang telah meninggal, tugas yang dibebankan kepada Hoa-ji, tiada lain untuk melaksanakan cita-cita kami dua sahabat yang masih hidup dan yang sudah mati. Yang kenal diriku tahu berapa penderitaan batinku, yang tidak mengenalku takkan tahu apa yang kudambakan. Tan-heng, maaf bila sekarang aku belum bisa memberi penjelasan kepadamu."

Nyo Hoa terheran-heran, pikirnya.

"Semula ji-suhu bilang hendak melampiaskan penasaran hatinya, tapi sekarang putar balik bilang menunaikan cita-cita teman baik yang telah meninggal, bukankah alasannya serba bertentangan satu dengan yang lain? Kenapa pula bila aku menantang duel Beng Goan-cau akan dapat menunaikan cita-cita temannya?"

Mana Nyo Hoa tahu teman Toan Siu-si yang telah mati itu adalah ibu kandungnya sendiri, sementara teman yang masih hidup adalah ayah kandungnya.

Tujuan Toan Siu-si adalah meminjam alasan berduel supaya ayah dan beranak bertemu dan tahu siapa lawannya itu.

Tan Khu-seng menduga orang ada kesulitan untuk menjelaskan, dia pikir dirinya juga ada persoalan serupa, maka dia merasa lapang dada, katanya.

"Toan-heng, maaf bila aku terlalu menyalahkan kau. Walau aku tidak tahu persoalannya, tapi usaha dan jerih payahmu demi sahabat, sedikit banyak aku dapat merasakan. Mari, mari hayo kita minum lagi."

"Suhu,"

Ucap Nyo Hoa.

"arak dalam guci ini sudah habis. Apakah perlu kuambilkan seguci lagi?"

Mendadak dilihatnya Tan Khu-seng angkat jarinya ke depan mulut serta mendesis supaya jangan berisik, bergegas dia berdiri. Nyo Hoa kaget, tanyanya.

"Suhu, kenapa kau?"

"Tidak apa-apa,"

Ujar Tan Khu-seng tawar.

"tapi arak tak boleh kuminum lagi."

Walau sikapnya tidak kelihatan gugup, tapi sorot matanya menatap tajam ke mulut Kiam-hong di depan sana.

Nyo Hoa masih belum tahu apa yang telah terjadi, sementara Toan Siu-si sudah mendengar ada orang sedang memasuki Ciok-lin, malah yang datang tidak cuma seorang.

Pikirnya.

"Orang yang membuat Tan Khu-seng setegang ini amat jarang di dunia ini. Mungkinkah musuh besarnya itu yang datang?"

Betul juga didengarnya sebuah suara dingin berkumandang di luar.

"Tan Khu-seng, tidak kau kira secepat ini aku kembali bukan?"

"Sudah lama kuduga kau pasti akan datang, cepat atau lambat sama saja. Siapa teman yang kau ajak kemari, kenapa tidak muncul sekalian?"

Tampak seorang laki-laki aneh berperawakan sedang melangkah masuk, wajahnya jelek pipinya menonjol, hidung belang mulut singa, jidatnya sempit berbentuk lonjong, dengan tertawa dia berkata.

"Kenapa buru-buru, biarlah persoalan kubicarakan lebih dulu."

Nyo Hoa berkata lirih.

"Ji-suhu, apakah orang itu gembong iblis she Yang?"

Toan Siu-si memperhatikan dengan cermat wajah orang itu memang jelek tapi kedua matanya bercahaya, sekilas dapat diketahui, orang ini meyakinkan Iwekang tinggi.

Dengan kencang Toan Siu-si memegang tangan Nyo Hoa, dengan perlahan dia berpesan.

"Jangan takut Hoa-ji, peduli berapa banyak mereka datang, bila nanti bergebrak, kau ikut aku saja."

Nyo Hoa berkata keras.

"Kenapa aku takut? Dia kan jago yang sudah keok di tangan sam-suhu."

Iblis she Yang itu hakikatnya tidak melihat atau tidak mendengar akan percakapan Toan Siu-si dan Nyo Hoa, matanya tetap menatap Tan Khu-seng sambil menyeringai iblis, katanya.

"Tan Khu-seng, tampaknya kau hidup bahagia di sini, tampak gemuk kau!"

"Yang Ke-beng, ingin kentut lekas kentut, ada persoalan apa lekas paparkan saja,"

Bentak Tan Khu-seng dengan suara berat. Toan Siu-si baru tahu nama gembong iblis itu, pikirnya.

"Namanya Ke-beng, mungkin maksudnya hendak meneruskan kejayaan dan kebesaran cosu-nya Beng Sin-thong."

Yang Ke-beng tertawa, katanya.

"Tan Khu-seng, otakmu kan masih sehat, memangnya perlu aku putar lidah lagi? Kukira sudah lama dan puas merebut tempat tetirahku ini."

"O, agaknya kau sudah berhasil meyakinkan Siu-lo-im-sat-fainr kini hendak merebut Cio k-lio aaL Walau dia tidak takut bahwa secepat ini kepandaian Yang Kebeng pulih kembali, namun juga di luar dugaannya Semula dia mengira sedikitnya tiga tahun, baru kungfu Yang Ke-beng pulih, tak nyana bukan saja luka dalamnya sudah sembuh, dari sorot matanya yang tajam dan suaranya yang berisi, terasa kungfunya bertambah dari dahulu. Yang Ke-beng berkata kalem.

"Pandanganmu memang tajam, sayang hanya separo kau betul meraba maksud kedatanganku."

Tan Khu-seng tertawa dingin, katanya.

"Sudah tentu aku tahu kedatanganmu bermaksud jahat Bagaimana kehendakmu? Sebutkan saja caranya."

"Hutang jiwa bayar jiwa, hutang uang bayar uang. Kau merebut tempatku adalah jamak kalau sekarang kau kembalikan kepadaku. Tapi bukan hanya soal perebutan tempat saja urusanmu dengan aku."

"Memang aku memukulmu luka parah. Kau ingin menuntut balas, aku siap menandingimu. Tapi berapa banyak jiwa penduduk setempat yang kau bunuh?"

"Itu urusan lain, aku hanya membuat perhitungan dengan kau."

"Begitu boleh, apa kehendakmu.? Tiba-tiba Yang Ke-bcng menga-kak tiga kali, tidak segera turun tangan malah berkata.

""Mengingat dahulu kau adalah murid Khongtong-pay, terhadapmu aku boleh bertindak murah. Asal kau menyembah tiga kali dan menyebut kakek kepadaku, boleh...."

"Kentutmu busuk!"

Bentak Tan Khu-seng mendadak dengan tertawa dingin.

"Enyahlah kau dari sini."

"Tan Khu-seng hari ini masih kau pikir hendak menindasku dengan kekerasan, jangan bermimpi di siang hari bolong."

"Jadi kau tidak mau enyah?"

Bentak Tan Khu-seng.

"Justru kau yang harus enyah dari sini!"

Yang Ke-beng balas membentak.

"Baiklah, biar aku tentukan siapa jantan dan betina Ingin aku rasakan betapa lihay Siu-lo-im-sat-kang yang berhasil kau yakinkan lagi."

"Tan Khu-seng,"

Yang Ke-beng tertawa dingin.

"jangan kau kira kau telah mengundang jago kosen untuk membantumu lantas berani bertingkah di hadapanku. Ketahuilah, aku pun membawa dua teman yang pasti tidak pernah kau sangka, apa kau ingin bertemu dengan mereka?"

"Hanya kau dan aku yang membuat perhitungan, sesama teman tidak perlu dilibatkan dalam urusan ini. Memangnya aku juga sudah menduga bila kau pasti membawa komplotan anjing kawanan rase."

Mendadak dia menuding ke mulut gunung sana serta membentak dengan meninggikan suara.

"Kalian sudah datang, buat apa longak longok macam pencuri ayam, silakan keluar."

Di antara batu-batu yang berserakan, di tempat yang dituding memang berdiri dua orang, mendengar seruannya lantas keduanya beranjak keluar.

Yang jalan di depan adalah seorang to"su berambut uban, yang di belakang adalah seorang perwira setengah umur.

Tosu itu tampak gusar, dengan muka mem-besi dia tuding Tan Khuseng sambil memaki.

"Tan Khu-seng, kau kurang ajar terhadap orang tua, berani memakiku lagi."

Seketika berubah hebat air muka Tan Khu-seng, bukan karena takut, tapi lantaran sedih dan sakit hatinya. Sesaat kemudian, baru dia berkata.

"Susiok, aku... aku tidak menduga kau orang tua yang datang."

Ternyata tosu beruban ini bukan lain adalah salah satu dari Khong-tong-sam-lo, bernama Tong-hian-cu.

Tong-hian-cu adalah sute dari ciangbunjin Ling-hi-cu, berarti adalah susiok Tan Khu-seng.

Baru saja Tan Khu-seng membantah kekhawatiran Toan Siu-si bahwa pihak Khong-tong-pay berse-kongkol dengan gembong iblis she Yang, tapi sekarang kenyataan terpampang di depan mata, komplotan yang diajak kemari ternyata adalah susiok-nya Bahwa Tan Khu-seng amat kaget, ternyata lebih besar rasa kaget Toan Siu-si.

Bukan saja Toan Siu-si kenal tianglo Khong-tong-pay ini, dia pun kenal siapa perwira itu.

Perwira itu bernama Auyang Ya, murid keponakan Pakkiong Bong komandan Gi-Iim-kun yang terdahulu, putra Auyang Kian, gembong iblis yang pernah malang melintang belasan tahun dulu.

Setelah Auyang Kian dan Pakkiong Bong beruntun mati, Auwyang Ya masih tetap bekerja di Gi-Iim-kun, sekarang pangkatnya sudah tinggi, menjadi wakil komandan Gi-Iimkun.

Bahwa manusia jahat macam Yang Ke-beng menjadi antek kerajaan tidak perlu dibuat heran, tapi tianglo Khong-tong-pay ternyata sekongkol dengan wakil komandan Gi-lim-kun, benar-benar di luar dugaan Toan Siu-si.

"Tong-hian-cu yang bejat hingga dia terjun ke lumpur atau seluruh Khong-tong-pay sudah terbeli oleh pihak kerajaan?"

Demikian batin Toan Siu-si, sudah tentu harapannya hanya Tonghian-cu yang tipis imannya saja yang terjerumus ke jurang nista. Terdengar Tong-hian-cu berkata kepada Tan Khu-seng.

"Tahukah kau kenapa sejak tadi aku tidak lantas keluar? Aku sengaja hendak memeriksa sepak terjangmu. Hm, hm, Tan Khu-seng ternyata semakin tua kau memang makin bejat"

Timbul amarah Tan Khu-seng, tapi dia tetap menaruh hormat kepada orang yang lebih tua, katanya sambil menahan amarah.

"Mana berani. Selama beberapa tahun ini, meski keponakan muridmu ini tidak memperoleh kemajuan apa pun, tapi aku yakin selama ini tidak pernah melakukan apa pun yang merugikan perguruan."

Tong-hian-cu tertawa dingin, katanya.

"Masih berani kau bicara tentang perguruan, sudah lama kau bukan murid perguruan kita"

Tawar suara Tan Khu-seng.

"Susiok sudah tidak mengakui aku sebagai murid perguruan, lalu untuk apa kau orang tua jauh-jauh ke sini mau periksa segala?"

Tong-hian-cu naik pitam, serunya.

"Walau kau sudah dipecat dari perguruan, dosamu tetap harus dihukum, biar aku bicara secara gamblang, atas perintah ciangbun su-heng, aku kemari untuk menggusurmu pulang menjalani hukuman."

"Aku melanggar peraturan apa dan apa dosaku?"

Bantah Tan Khu-seng.

"Dosa lama belum terhukum, kini ditambah dosa baru. Bukan hakmu kau mengusir sute sehngga dia mati tak karuan paran, itu dosa lama. Kau merebut dan menduduki tempat orang lain serta melukai orang itulah dosa bara. Tadi Yang ig menuntut kebenaran kcpa-asal mau berlutut mengaku salah, kemungkinan kesalahanmu dapat diampuni Tapi kau bertingkah dan sewenang-wenang mengusirnya lagi. Dengan mata kepala sendiri aku saksikan perbuatanmu, masih berani mungkir."

"Susiok. dosa lama yang kau katakan, pernah aku memberi penjelasan langsung kepada ciangbun Susiok, waktu itu kau pun hadir, di sini kukira tidak perlu aku banyak mulut Kalau kalian tidak mau memaafkan, apa yang dapat kulakukan. Tentang kejadian hari ini memangnya kau tidak tahu bahwa Yang siansing ini adalah cucu murid keturunan iblis besar Beng Sin-thong?"

"Kalau benar memangnya kenapa? Jangan kau mempersulit urusan."

Jengek Tong-hian-cu.

"Betul, yang jernih biar jernih, yang kotor biarkan kotor, sebab antara cosu dan cucu murid tidak sepantasnya dibicarakan bersama Sayangnya perbuatan Yang siansing ini ternyata meniru perbuatan kakek moyangnya dulu, berarti dia menempuh jalan sesat yang pernah dilakukan leluhurnya, hal ini tidak boleh dibicarakan secara terpisah. Berapa banyak jiwa yang pernah dibunuhnya, susiok, mungkin kau masih belum tahu?"

Tong-hian-cu tertawa dingin, katanya.

"Terang mulut memang tiada kata-kata baik, sepantasnya kau menjelekkan dia, aku tak punya tempo untuk menyelidik kebenaran obrolanmu. Yang terang kusaksikan sendiri kau anggap diri sendiri lebih kuat lalu berbuat sewenang-wenang. Setelah merebut dan menduduki tempat orang masih berani mengusirnya. Sampai pun aku yang diundang untuk menegakkan keadilan juga kau caci maki."

Tan Khu-seng menahan gejolak amarahnya, katanya tawar.

"Susiok, sudah jelas kau berpihak kepada manusia siluman yang jahat ini, aku pun tak perlu banyak mulut lagi."

"Memang kau setimpal menerima ganjaran sesuai dosamu, memangnya masih berani mungkir,"

Demikian bentak Tong-hian-cu.

"Thay-susiok,"

Tiba-tiba Nyo Hoa menyeletuk.

"kau selalu menandaskan guruku merebut tempat orang lain, memangnya Ciok-lin ini milik pribadi keluarganya?"

Sekilas Tong-hian-cu mendelik kepada Nyo Hoa, katanya.

"Apakah binatang cilik ini anak Hun Ci-lo?"

Nyo Hoa berseru gusar.

"Walau kau adalah thay-susiokku, tidak sepantasnya kau memaki orang."

"Hoa-ji."

Tukas Tan Khu-seng.

"orang lain tidak tahu bagaimana menghargai diri sendiri, itu urusan orang lain. Pandanglah muka gurumu, maka bersabarlah, jangan kau ribut mulut dengan thaysusiok."

Lalu dia berpaling ke arah Tong-hian-cu dan berkata.

"Betul, muridku ini adalah anak Hun-lihiap, kenapa?"

"Sute yang kau usir seenak perutmu itu, akhirnya mati di bawah pedang Hun Ci-lo, perempuan bawel yang busuk itu, apa kau tahu?"

Nyo Hoa berjingkrak gusar.

"Kau maki aku boleh saja, tapi memaki ibuku, maka aku tak peduli kau ini thay-susiok atau tua bangka, kau ini tosu bangsat yang busuk...."

"Siapa thay-susiok-mu,"

Bentak Tong-hian-cu.

"kau memang akan kugusur pulang supaya murid perguruan kita menuntut balas kepadamu,"

Tan Khu-seng maju menghadang di depan muridnya, sehingga ceng-kraman Tong-hian-cu luput, seketika dia merasa ada serangkum tenaga lunak sekokoh tembok menahan serangannya, meski lunak tenaga orang tapi tak urung dia terdesak mundur selangkah.

Karuan hatinya kaget, pikirnya.

"Kungfu murid murtad ini ternyata lebih maju dari tiga tahun yang lalu. Mungkin ciangbun suheng sendiri yang harus tampil membekuknya"

"Hoa-ji,"

Bentak Tan Khu-seng.

"jangan kurang ajar."

Lalu dia berkata pula.

"Susiok, kau adalah angkatan tua, kenapa berpandangan sesempit anak kecil. Dan lagi sute mati di bawah pedang ibunya, tiada sangkut pautnya dengan dia Menurut apa yang kutahu, muridmu itu membantu kerajaan menggempur laskar rakyat di Siau-kim-jwan hingga terbunuh oleh Hun-lihiap, maka urusan kukira tak boleh menyalahkan Hun-lihiap."

Menyala mata Tong-hian-cu, bentakmya.

"Jadi aku harus menyalahkan siapa?"

Bicara sambil men-jingkrak, kelakuannya yang kasar sudah tidak mirip seorang tua angkatan tinggi, jelas tanpa alasan dia memang mau cari perkara. Dengan tenang Tan Khu-seng berkata.

"Dia adalah muridku, sute yang terbunuh oleh Hun-lihiap juga aku meme-catnya, maka boleh menyalahkan aku saja"

"Baik, segera kau punahkan kungfumu sendiri, ikut aku pulang menerima hukuman."

"Masih ada persoalan lain?"

"Ada, kau telah menurunkan kungfu perguruan kita kepada binatang cilik ini, maka kau pun harus punahkan kungfunya juga Mengingat dia masih bocah, jiwanya boleh diampuni."

Tan Khu-seng diam saja, setelah orang selesai bicara tiba-tiba dia tertawa terbahak-bahak. Tong Hian-cu gusar, dampratnya "Apa yang kau tertawakan? Berani membangkang perintah ketua kita?"

Tan Khu-seng tertawa, katanya.

"Bahwa kau tidak mengakui aku sebagai murid perguruanmu kenapa aku harus tunduk pada perintah ketuamu yang masih diragukan kebenarannya "

"Walau kau sudah dipecat tapi dosamu belum dihukum. Kalau kau tidak mau memunahkan kungfumu sendiri, biar aku saja yang melakukan."

Memangnya Tan Khu-seng terpengaruh oleh air kata-kata (arak), jengkel dan amarah menggejolak dalam hati, maka dia terbahak lagi tiga kali, katanya.

"Betul, aku memang salah, tapi kesalahanku tak seperti yang kau katakan tadi. Tak usah kau tanya, biar kujelaskan sendiri. Pertama, kalian ingin mencari tulang punggung dan terima menjadi antek kerajaan supaya memperoleh pangkat dan harta benda, aku tak mau ikut dalam intrik kalian, maka beberapa kali di hadapan ciangbun susiok aku berusaha merintangi rencana busuk kaljan. Maka kau yang paling getol memperoleh pangkat dan kedudukan ini lantas pandang aku sebagai musuh utama, sebelum aku dilenyapkan, kau pandang sebagai duri dalam daging.

"Kedua, perbuatan kotormu teramat busuk sehingga ciangbun susiok ikut terkena getahnya, sejauh ini orang luar masih belum tahu duduk persoalannya, hanya aku saja yang jelas mengetahui. Kau tidak bertobat dan menebus dosa kesalahanmu malah ingin mencelakai aku."

Berubah pucat muka Tong-hian-cu, gusar dan kaget bukan main, dengan suara gemetar.

"Kau, kau, kau membual apa, memangnya perbuatan apa yang pernah kulakukan hingga malu berhadapan dengan orang?"

"Apa perlu kubeber di hadapan umum? Ai, betapapun keburukan keluarga tidak boleh tersiar, kalau sampai kubeber, jika kau tidak malu, di hadapan sahabat baikku, akulah yang malu."

Toan Siu-si yang mendengarkan di samping amat kaget, pikirnya.

"Tak heran dia bilang punya kesulitan, ternyata jika membicarakan perbuatan kotor itu, Ciangbunjin Khong-tong-pay ternyata juga kerembet. Sejauh ini aku masih kira Ling-siau-cu adalah laki-laki sejati."

"Tutup mulutmu,"

Saking malu, gusar dan dongkol, Tong-hian-cu menghardik, mendadak dia menubruk sengit.

Sebat sekali Tan Khu-seng gunakan Ih-sing hoan-wi (Merubah bentuk pindah kedudukan).

Tan Khu-seng mengelakkan diri, katanya dingin.

"Susiok apa betul kau ingin bergebrak dengan aku? Jelek-jelek kau adalah angkatan tuaku, kalau kau tetap ingin bergebrak, baiklah aku mengalah tiga jurus. Bagus, ini jurus pertama."

Saking marah, Tong-hian-cu sampai mendelik, barusan dia sudah merasakan kelihayan Tan Khu-seng, tahu dirinya belum tentu dapat mengalahkan dia.

Bila dirinya betul kecundang di tangan murid keponakan, betapa malu dirinya, begitu Tan Khu-seng berseru "jurus pertama", meski hati gemas, namun jurus kedua tidak berani dilancarkan lagi, bukan saja dongkol dan marah, keadaannya pun serba runyam.

Tan Khu-seng berkata tawar.

"Susiok, kuanjurkan bila urusan bisa damai sampai di sini saja."

Melihat Tong-hian-cu kehabisan akal dan kebingungan, lekas Yang Ke-beng tampil ke depan, katanya.

"Tong-hian toheng, tak usah marah, kau menegakkan keadilan untukku, sungguh aku sangat berterima kasih. Tapi permusuhanku dengan dia biar kuperhitungkan sendiri. Toheng boleh tidak ikut campur."

Lega hati Tong-hian-cu, namun dia masih berkata.

"Dia adalah murid murtad perguruan kita, sewajarnya aku yang membersihkan nama baik perguruan. Tapi hubungan dengan kau bukan biasa, jikalau kau tidak mampu menuntut balas dengan tangan sendiri, tentu hatimu kurang tenang, baiklah kau tolong bantu aku membekuknya saja."

Untuk menghadapi Yang Ke-beng, Tan Khu-seng tidak perlu khawatir, katanya.

"Sebelum dimulai perlu dibicarakan biar jelas, apakah kau akan melawan seorang diri?"

"Aku minta susiok-mu menjadi saksi, sudah tentu aku akan melawanmu seorang diri."

Kiranya Yang Ke-.beng juga khawatir bila Toan Siu-si membantu Tan Khu-seng, meski dia yakin Tong-hian-cu dan Auwyang Ya pasti akan merintanginya, tapi kalau pertempuran menjadi kacau balau lalu Tan Khu-seng dan Toan Siu-si bertindak nekad terus melabraknya bersama, jelas dia tidak akan mampu mempertahankan diri, maka lebih baik kalau bertanding satu lawan satu.

Tan Khu-seng memang memancing pernyataan ini, katanya.

"Baik persoalan hari ini biar kau dan aku saja yang menentukan kalah menang, mati dan hidup. Siapa berani menyentuh seujung rambut muridku ini, selama aku tetap bernapas pasti aku akan adu jiwa dengan dia"

Tong-hian-cu tahu pernyataannya ditujukan kepada dirinya, dia hanya mendengus kembali sambil menarik muka, tapi tidak memberi reaksi apa-apa namun dalam hati dia merencanakan akal busuk.

Wakil komandan Gi-lim-kun Auwyang Ya melirik ke arah Toan Siu-si dan Nyo Hoa, dalam hati dia pun sedang merancang suatu langkah menguntungkan.

Tapi mereka baru akan bertindak sesudah pertempuran Yang Kebeng melawan Tan Khu-seng dimulai, bagaimana kelanjutan adu kekuatan ini baru mereka bisa memutuskan bagaimana mereka akan turun tangan.

Maka empat orang dari dua pihak yang berlawanan berdiri di pinggir Telaga Pedang, menonton sambil menahan napas.

"Lekas turun tangan, masih tunggu apalagi,"

Bentak Tan Khuseng.

Di saat lawan bersuara itulah mendadak Yang Ke-beng melontarkan pukulan telapak tangannya, pukulannya dilandasi kekuatan Siulo-im-sat-kang tingkat delapan yang berhasil dia yakinkan belum lama ini.

Tingkat tertinggi Siu-lo-im-sat-kang adalah tingkat sembilan, tingkat delapan sudah luar biasa.

Setiap kali pukulan dilontarkan pasti menimbulkan pergolakan hawa dingin, hawa dalam Hutan Batu yang semula hangat seperti di musim semi di bawah pancaran sinar matahari mendadak berubah dingin seperti berada dalam lembah salju.

Toan Siu-si yang memiliki lwe-kang tangguh pun seketika merinding dibuatnya, Waktu dia menoleh, dilihatnya Nyo Hoa kedinginan sampai menggigil dengan gigi gemerutuk, tapi pipinya tetap bersemu merah seperti buah apel.

Legalah hati Toan Siu-si, pikirnya.

"Sejak kecil bocah ini sudah belajar dasar Iwekang yang kokoh dari aliran murni, yang diyakinkan adalah Thong-cu-kang, dibanding aku waktu masih seusia dia jauh lebih kuat. Gelagatnya dia masih kuat bertahan, tak perlu aku menguatir-kan dia."

Lalu terpikir pula.

"Siu-lo-im-sat-kang memang tidak bernama kosong, bila aku yang menghadapi iblis she Yang ini, mungkin aku takkan kuat bertahan lama. Tan Khu-seng bergerak yang berat seringan kapas, beberapa tahun belakangan ini, kemajuan kungfunya sungguh luar biasa."

Di luar tahu Toan Siu-si, Tan Khu-scng sendiri juga amat kaget.

Di tengah damparan angin pukulan lawan sekuat badai, Tan Khuseng berdiri sekokoh gunung, orang lain mengira dia cukup kuat menghadapi rangsakan lawan, padahal dia sendiri merinding hatinya.

Pikirnya kaget.

"Latihan Siu-lo-im-sat-kang iblis ini agaknya jauh lebih kuat dari dahulu, bagaimana dia bisa pulih secepat ini?"

Dalam pertempuran dulu, Yang Ke-beng terpukul luka parah, semula dia kira untuk memulihkan kungfu semula Yang Ke-beng harus berlatih lagi dari permulaan paling cepat tiga tahun.

Ternyata Yang Ke-beng memperoleh bantuan Auyang Ya.

Auwyang Ya memberi sebutir Tiang-jun-tay-po-hoan dari gudang obat istana yang dicurinya, khasiat obat ini dapat memulihkan semangat dan menambah tenaga, mujarabnya tidak kalah dibanding Tay-hoan-tan buatan Siau-lim-si.

Karena itu pula Yang Ke-beng mau merendahkan derajatnya, terima menjadi antek kerajaan diperalat oleh Auwyang Ya.

Meski kaget tapi Tan Khu-seng tetap bersikap angkuh dan tidak gentar.

Beberapa tahun ini meski Siu-Io-im-sat-kang Yang Ke-bcng memperoleh kemajuan, namun gwakang dan Iwekang Tan Khuseng sendiri pun tidak sedikit kemajuannya.

Selangkah pun dia tidak mau mengalah.

"Sreeet"

Kontan dia menusuk seraya membentak.

"Walau Siu-lo-im-sat-kang berhasil kau yakinkan sampai tingkat delapan, memangnya kau dapat berbuat apa terhadapku?"

Kiam-sut (ilmu pedang) Tan Khu-seng sungguh setenang air, sekokoh gunung, selincah kelinci, tampak Ceng-kong-kiam berkelebat di tengah udara, seketika menaburkan lapisan pedang yang tak terhitung banyaknya.

Lengan baju kanan Yang Ke-beng terpapas hancur beterbangan di udara seperti kupu-kupu.

Tapi Tan Khu-seng tidak segera merangsak meski memperoleh posisi lebih unggul, tampak pedangnya dia pindah ke tangan kiri serta berdiri terlongong malah.

Dalam scgebrak yang singkat ini kedua pihak sudah menukar serangan yang berbahaya dan mematikan.

Yang Ke-beng diserang tusukan pedang dari arah yang tak terduga sehingga sebagian lengan bajunya terpapas hancur, Ki-ti-hiat dan Ih-khi-hiat terpaut serambut saja hampir tertusuk.

Tapi Tan Khu-seng juga tergetar kedinginan karena punggung pedangnya kena dijentik sekali oleh Hian-im-ci, betapa tepat dan telak sasaran dan waktu yang diperhitungkan, lebih lihay lagi karena jentikan itu mengakibatkan pedang Tan Khu-seng dingin beku seperti es, hampir tak kuat dipegangnya lagi.

Dengan rasa terkejut lekas Tan Khu-seng pindah pedang di tangan kiri, pikirnya.

"Ternyata iblis ini juga sudah meyakinkan Kekbu-thoan-kang."

Kek-bu-thoan-kang merupakan sejenis ilmu lihay dan aneh dari aliran sesat, dahulu Beng Sin-thong pernah menggunakan ilmu ini untuk bertanding dengan lociangbun Thiansan-pay, Teng H iau-lan (Tong Siauw Lan), dengan kesudahan sama kuat alias seri.

Taraf latihan Yang Ke-beng sekarang jelas tidak setinggi Beng Sin-thong dulu tapi kemampuan Tan Khu-seng sekarang jelas juga jauh ketinggalan dibanding Teng Hiau-lan Oleh karena itu, setelah kedua pihak sama pamer kepandaian, masingmasing mengalami sedikit kerugian.

Yang Ke-beng menggunakan Kek-bu-thoan-kang menjentik pedang lan Khu-seng dengan Hian-im-ci, seketika terasa segulung hawa dingin merembes ke batang pedangnya menerjang urat nadi di tangan Tan Khu-seng yang memegang pedang.

Oleh karena itulah meski lebih unggul seurat, namun dia tidak mampu menyerang lebih jauh, lalu memindah pedang ke tangan kiri.

Hampir saja hiatto mematikan ditusuk pedang, maka Yang Kebeng tersuruk mundur tiga langkah, tak urung keringat dingin bercucuran.

Baru saja Tan Khu-seng memindah pedang ke tangan kiri, mendadak Yang Ke-beng sudah menubruk maju pula.

Sebab sekali gerakan Tan Khu-seng menuding timur memukul barat, memukul utara menyerang selatan, dalam sekejap hanya sinar pedang yang kelihatan membungkus badan.

Mau tidak mau Yang Ke-beng menarik napas dingin, pikirnya.

"Tak terduga permainan pedang dengan tangan kirinya juga lihay."

Dalam pertempuran sengit, kembali Yang Ke-beng mengembangkan ilmu Kek-bu-thoan-kang, kali ini dia mengincar dengan tepat "Creng"

Jarinya menjentik punggung pedang, kali ini Yang Ke-beng memperhitungkan waktu lebih tepat, begitu jentikan berhasil, secepat kilat sebelah tangannya menyambar terus mencengkeram. Bentaknya.

"Lepas pedang!"kelimajari seperti gantolan, untuk menambah kekuatan pukulan Siu-lo-im-sat-kang tingkat kedelapan yang dilancarkan dengan telapak tangan kiri. Siapa tahu, dia kira gerakannya sudah cepat tapi Tan Khu-seng lebih cepat lagi, cengkramannya tetap mengenai tempat kosong. Tahu-tahu Tan Khu-seng sudah pindah pedang di tangan kanan pula.

"Sret, sret"

Beruntun tiga jurus berantai, setiap tusukan pedang dilancarkan dari sudut dan posisi yang aneh dan lihay.

Yang Ke-beng dipaksa melancarkan Kek-bu-thoan-kang, tapi kali ini jarinya tidak mampu menjentik punggung pedang lawan.

Tan Khu-seng membentak.

"Diberi tidak membalas kurang hormat, nah kau pun rasakan keli-hayan ilmu pedang menotok hiatto-ku!"

Mendadak gaya pedangnya berubah, serangannya ibarat kilat menyambar guntur menggelegar, pertahanannya pun serapat gelombang menghimpun cahaya.

Kontan Yang Ke-beng merasakan penjuru sekelilingnya hanya kelihatan bayangan Tan Khu-seng, telapak tangannya ternyata tidak mampu menyentuh ujung baju orang.

Di mana ujung pedang Tan Khu-seng bergerak, selalu mengincar hiatto mematikan di tubuhnya.

Walau tidak sampai tertusuk, namun setiap hiatto-nya yang terincar pasti terasa dingin semilir.

Toan Siu-si pun seorang ahli silat yang lihay, terutama dalam permainan pedang dia pun memiliki taraf yang tinggi, pikirnya.

"Kim Tiok-liu digelari jago kosen ilmu pedang nomor satu di seluruh dunia, sayang pada pertemuan besar di Taysan dulu, aku hanya sempat menonton petilannya saja. Tapi menilai apa yang pernah kusaksikan itu, bila Tan Khu-seng mau berlatih beberapa tahun lagi, mungkin dapat dia mengejar taraf Kim Tiok-liu dulu."

Saking kagum dan terpesona melihat temannya mengembangkan kehebatan ilmu pedangnya, tanpa merasa dia bersorak sambil bertepuk tangan.

"Sip-hun-kiam-hoat bagus, King-sin-ci-hoat hebat!"

Perlu diketahui, Sip-hun-kiam-hoat (Ilmu pedang penyedot mega) mengutamakan kelincahan dan berkelebat pergi datang, merupakan salah satu kungfu kelas tinggi dari Khong-tong-pay.

Sementara King-sin-ci-hoat adalah ilmu tiam-hoat dari Khong-tongpay yang sudah lama lenyap dan putus turunan.

Tokoh tua dan tingkatan tinggi macam Tong-hian-cu sebagai tianglo dari Khongtong-pay pun hanya tahu namanya dan tidak tahu cara bagaimana melatihnya.

Tong-hian-cu menonton dengan melongo, iri dan kepingin.

"Apakah lo-ciangbun dulu berat sebelah hanya menurunkan ilmu ini kepadanya secara diam-diam, atau dia memperoleh se

Jilid buku rahasia pelajaran silat perguruan kita, di luar tahu ciangbun suheng yang sekarang?"

Demikian dia mereka-reka dalam hati.

Di luar tahunya bahwa King-sin-ci-hoat ini adalah karya Tan Khu-seng sendiri berkat jerih payah dan keenceran otaknya.

Tan Khu-seng memang seorang jenius ilmu silat, bakat tinggi otak cerdas, setelah mahir dan memahami banyak kungfu ajaran perguruannya, dengan tekun dia menyelidiki, memperdalam dan mengembangkan ilmu silat yang pernah dipelajarinya, satu tembus seratus terangkai, hingga ilmu silat perguruan warisan leluhurnya yang telah putus turunan dapat dia ciptakan kembali, bukan saja karya besarnya ini kira-kira sepadan malah ciptaannya itu lebih unggul dari yang pernah ada.

Malah King-sin-ci-hoat dia ubah dalam permainan ilmu pedang, jadi antara pedang dan jari berhasil dikombinasikan untuk menotok hiatto, jelas perbawanya berlipat ganda lebih hebat dan lihay.

Umpama para guru besar dari generasi yang telah lalu dari Khongtong-pay hidup kembali juga cuma begitu saja.

Akan tetapi Yang Ke-beng adalah ahli waris dari iblis aneh Bulim, Beng Sin-thong, kepandaiannya sekarang juga lebih unggul dibanding sebelum ini, maka kehebatannya pun tidak boleh dipandang enteng.

Begitu dahsyatnya jalan pertempuran sampai angin pukulan membisingkan telinga, debu pasir berter-bangan, sinar pedang berkelebatan menyilaukan mata.

Cahaya dingin dan aliran angin dingin berseliweran berbentuk gumpalan-gumpalan putih laksana kabut atau mega Nyo Hoa sudah tidak tahan lagi.

terpaksa dia mundur lagi sejauh duapuluhan tombak di luar arena Bukan hanya Siu-lo-im-sat-kang Yang Ke-beng saja yang lihay, langkah kakinya ternyata juga ajaib memang dia tidak ungkulan melawan Tan Khu-seng, namun per-mainan pedang Tan Khu-seng yang lincah itu pun tak mampu melukai dirinya.

Maklum Beng Sinthong memiliki campuran ilmu silat yang ruwet dan luas, apa yang dipahami Yang Ke-beng sekarang paling hanya tigapuluh persen kemampuan cikal bakalnya dulu, tapi di antara sekian ilmu yang pernah dipelajarinya ada sejenis Thian-lo-pou-hoat (Langkah jaring langit) yang khusus berguna untuk menghindari serangan pedang kilat atau golok cepat, dan manfaatnya ternyata memang patut dibanggakan.

Seratus jurus kemudian Tong-hian-cu menghela napas lega, batinnya.

"Bila pertempuran berkepanjangan, yakin Yang Ke-beng akan memperoleh kemenangan. Dia hanya berusaha mematahkan setiap jurus serangan pedang Tan Khu-seng, sebaliknya di samping harus melawan serangannya, Tan Khu-seng harus kerahkan lwekang supaya tidak terserang hawa dingin jahat yang ditimbulkan dari Siu-lo-im-sat-kang. Lwekang-nya belum tentu lebih unggul dibanding aku, jadi dalam seratus jurus lagi, yakin dia tidak akan kuat bertahan lagi."

Sementara Toan Siu-si juga merasa lega hati, pikirnya.

"Siu-loim-sat-kang yang diyakinkan Yang Ke-beng memang lihay, tapi lwekang yang diyakinkan Tan Khu-seng dari aliran mumi dan tulen, kurasa dia cukup kuat untuk mempertahankan diri. Kurasa Thayjing-khi-kang yang diyakinkan Miao Tiang-hong juga begitu saja."

Dua orang ahli silat punya dua pandangan yang berbeda, mungkin mereka lebih cenderung ke pihak kawan sendiri supaya menang, maka pandangan mereka sedikit berat sebelah.

Namun dinilai gelagatnya sekarang, kedua lawan ini memang setanding, sukar dibedakan siapa lebih unggul.

Taraf kepandaian Nyo Hoa masih cetek, dia tidak bisa menyelami di mana letak intisari kehebatan pertempuran kedua orang ini, tapi begitu asyik dia menonton sampai tak disadarinya kaki tangan ikut bergerak dan menari, jelas dia pun teramat tegang.

Pernah satu jurus Tan Khu-seng melancarkan serangan menyerempet bahaya hingga tak kuasa Nyo Hoa berteriak.

"Bagus, coba kau iblis laknat ini akan lari ke mana? Sayang, sayang hanya terpaut serambut saja."

Ternyata tusukan pedang Tan Khu-seng tetap tidak dapat melukai Yang Ke-beng. Tong-hian-cu tiba-tiba menyeringai dingin, sentaknya dingin.

"Setan kecil gembar gembor apa nah, dengarkan perintahku, tidurlah saja."

Dia kira Yang Ke-beng jelas di pihak yang unggul sebentar lagi juga menang, tiada yang perlu ditakuti lagi maka sengaja dia mencari-cari alasan hendak mencari perkara dengan Nyo Hoa.

Toan Siu-si membentak.

"Menganiaya bocah, kau tahu malu tidak?"

Kumandang suaranya, orangnya pun datang, baru saja cakar jari Tong-hian-cu mencengkeram Nyo Hoa, tiba-tiba dilihatnya sinar dingin berkelebat, pedang panjang Toan Siu-si sudah mencegat perge-langan tangannya.

Lekas Tong-hian-cu menarik tangan sambil membentak.

"Aku menghukum murid perguruan sendiri, apa sangkut pautnya dengan kau?"

Toan Siu-si balas membentak.

"Nyo Hoa adalah muridku, memangnya kau tidak tahu? Dan lagi Tan Khu-seng sudah kalian pecat dari perguruan, apakah Nyo Hoa masih boleh terhitung murid Khong-tong-pay?"

Saking jengkel membesi hijau muka Tong-hian-cu, bentaknya.

"Dia pernah mempelajari kungfu Khong-tong-pay, aku punya hak untuk memunahkan kungfunya, tahu"

"Tidak sukar bila kau ingin memunahkan kungfunya, tapi kau harus tanya dulu kepada pedang di tanganku, apakah dia setuju atau akan menamatkan jiwamu."

Jawaban Toan Siu-si tegas dan berani, nadanya seolah-olah tidak memandang Tong-hian-cu sebelah mata pun.

Jelek-jelek Tong-hiancu termasuk Bulim cianpwc, mana bisa dia menelan penghinaan ini?

Maka dia mencak-mencak serta gembar gembor, hardiknya.

"Toan Siu-si, berani kau kurang ajar, kau kira pinto tidak berani menghajar kau?"

"Kau bukan susiok-ku lho, jangan jual tampang sebagai cianpwe segala. Bila kau di pihak yang benar, siapa pun akan mengalah kepadamu, sekarang biar aku yang menghajar adat kepadamu."

Sudah tentu Tong-hian-cu jadi malu untuk mengundurkan diri, dengan gusar dia turun tangan, tangan kiri memegang hud-tim, tangan kanan menyoren pedang panjang, kebutan dan pedang adalah keahliannya Hud-tim menyerang dengan jurus Hud-hun-kianjit (Mengebut mega melihat mentari), tangan kanan pakai tipu Tokiat-kim-ciam (Terhindar bencana jarum emas).

Bila dinilai sifat senjatanya, hud-tim lunak pedang keras, dua sifat senjata yang berbeda digunakan bersama memang sukar dikendalikan.

Tapi Tong-hian-cu pandai menguasai diri dan berlatih secara tekun hingga berhasil mengkombinasikan kedua senjata yang lunak dan keras ini saling bantu, bila dua jurus dilancarkan bersama, yang satu menyerang yang lain bertahan, dan yang bertahan mampu balas menyerang sementara yang menyerang bisa bertahan pula "Tosu busuk,"

Maki Toan Siu-si sambil tertawa dingin.

"kepandaian-mu terlalu jauh dibanding murid keponakanmu itu."

Tiba-tiba dia bergerak cepat, serangan dibalas serangan, walaupun dia tidak memegang dua senjata, tapi pedang dan ilmu pukulan telapak tangannya juga tidak kalah lihay, kedua tangannya juga mahir melancarkan dua jenis ilmu sekaligus.

Suatu Jcetika Tong-hian-cu menyabet kepala dengan kebutan lemasnya, kontan Toan Siu-si menyambut dengan pukulan telapak tangan, enteng dan perlahan seperti tidak menggunakan tenaga namun rambut-rambut kebutan yang ribuan itu ternyata tertolak pergi oleh angin pukulannya.

Perlu diketahui, dahulu Toan Siu-si pernah meyakinkan pukulan berbisa, belakangan dia sadar pukulan beracun kurang dihargai, maka dia ganti haluan, rajin meyakinkan bian-ciang (Pukulan kapas), tujuh tahun lamanya dia berlatih secara tekun, akhirnya Pukulan Kapas-nya itu mencapai taraf memukul batu menjadi bubuk.

Memang untung dia meyakinkan bian-ciang, dengan tenaga lunak dapat memunahkan kekuatan lunak, hingga permainan kebutan Tong-hian-cu dapat dia atasi dengan baik.

Di kala dia menyampok pergi kebutan lawan, pedang panjang Toan Siu-si di tangan kanan pun telah menusuk tiba.

"Trang", dua pedang panjang beradu. Di tengah meletiknya kembang api, gerakan kedua orang sama terhuyung, telapak tangan mereka pun terasa sakit dan kesemutan. Jelas kedua pihak tiada yang menarik keuntungan, berarti taraf kepandaian mereka seimbang alias setanding. Tong-hian-cu menjengek sekali, kebutannya bergerak pula, namun benang-benang kebutannya tidak berhamburan tapi mengeras jadi satu, digunakan sebagai boan-koan-pit untuk menotok hiatto Toan Siu-si. Berbareng pedang di tangan kanan bergerak selincah kupu-kupu menari, nyata titik kelemahan permainan kebutannya dapat disumbat dengan kelincahan pedangnya. Tercekat hati Toan Siu-si, pikirnya.

"Tosu busuk ini memang tidak bernama kosong sebagai satu jago dari Khong-tong-sam-lo, kungfu lunak dan keras ternyata mampu dimainkan semahir ini, tokoh lihay dalam bidang ini memang jarang terdapat di Bulim."

Tujuan Toan Siu-si menggoda dan mengolok-olok lawannya memang memancing kemarahannya.

Yang benar umpama kepandaian Tong-hian-cu tidak setaraf dengan Tan Khu-seng, tapi juga tidak terpaut terlalu jauh seperti yang diucapkan Toan Siu-si.

Bila bicara kematangan dan latihan murni kungfu Khong^-tong-pay, jelas Tan Khu-seng harus mengaku asor.

Tong-hian-cu adalah rase tua yang licik dan licin, walau dia naik pitam oleh olok-olok Toan Siu-si, namun tidak sampai lupa daratan.

Dia maklum pertempuran jago kosen sekali-kali pantang marah dan terpecah perhatian, maka dia menahan amarah serta mengembangkan kedua ilmunya menyerang secara menggebu-gebu.

Bayangan pedang berseliweran, kebutan menari timbul tenggelam dengan bayangan telapak tangan.

Pertempuran Toan Siu-si melawan Tong-hian-cu ternyata setanding dan sengit, masingmasing pihak mempunyai keunggulan dan kekurangannya sendiri, begitu seru pertarungan mereka seumpama dilerai juga bukan soal gampang.

Nyo Hoa memeluk dada menonton penuh perhatian tanpa berkedip, kepalanya menoleh lalu berpaling ke sana ganti berganti..

Kedua orang itu adalah orang yang sangat memperhatikan dirinya, dia pun amat memperhatikan keselamatan kedua gurunya, jantungnya berdebar cepat atau lambat mengikuti perubahan pertempuran di tengah arena.

Bila pertarungan memuncak, tak terasa dia bersorak dan bertepuk sambil berjingkrak, sering pula dia geleng kepala menyatakan sayang dan membanting kaki dengan jengkel.

Usia Nyo Hoa masih muda, tapi sejak umur lima tahun dia sudah meyakinkan kungfu, sampai sekarang latihannya sudah mencapai sebelas tahun, lapi dalam latihan biasa sering dia bertarung dengan gurunya, jadi belum punya pengalaman tempur sesungguhnya dalam medan laga.

Kini mendapat kesempatan menyaksikan pertarungan seru jago kosen"

Yang mengadu jiwa, maka timbul hasrat dalam hatinya untuk membandingkan dan menerawang latihan dirinya dengan pertarungan sengit ini.

"Justru Thui-thangbong-gwat (Mendorong jendela melihat rembulan) yang dilancarkan suhu, kukira hanya pukulan biasa yang harus dipelajari setiap calon murid baru, ternyata memiliki gaya perubahan sehebat dan selihay ini. Justru Hian-ciau-soat-soa (Burung sakti menggaris pasir) samsuhu semula lambat menjadi cepat, jelas berbeda dengan gerakan biasa, jadi di sinilah letak intisari dari bergerak belakangan menundukkan lawan lebih dulu."

Setelah menyaksikan ratusan jurus, tak disadarinya banyak rahasia dari permainan silat yang berhasil diselami. Tengah menonton dengan asyik, mendadak didengarnya Toan Siu-si membentak.

"Hoa-ji, awas anjing galak menggigiti"

Nyo Hoa tersentak kaget, dilihatnya Auwyang Ya tiba-tiba sudah berada di sampingnya. Auwyang Ya tertawa, katanya.

"Setan cilik, kaki tanganmu gatal bukan setelah menyaksikan pertarungan seru, bagaimana kalau main-main dengan aku?"

Nyo Hoa melompat, sebelum ia sempat melolos pedang, cepat sekali Auwyang Ya mendadak telah merangkap kedua jari menotok lebih dulu.

Belum lagi jari mengenai tubuh, sudah terasa segulung hawa panas menerpa tubuhnya.

Kaki Nyo Hoa melangkah dengan Sip-hun-pou-hoat, bergegas dia meloloskan diri.

Auwyang Ya memaki.

"Setan alas, licin juga kau!n Totokan jari dirubah pukulan telapak tangan, serangkum angin panas menderu kencang. Ternyata itulah pukulan Lui-sin-ciang (Pukulan geledek) keluarganya, setiap pukulan yang dilancarkan pasti menimbulkan deru angin seperti hembusan angin yang keluar dari tungku yang membara apinya. Tan Khu-seng segera memberi aba-aba.

"Menuju Kian-kun, belok ke Kan-wi, tusuklah Lau-kiong-hiat."

Nyo Hoa berbuat sesuai petunjuk gurunya, jarinya segera menotok dan telak mengincar Lau-kiong-hiat di telapak tangan musuh.

Auwyang Ya meyakinkan Lui-sin-ciang, paling takut bila Laukiong-hiat ditotok, karena sekali kena totokan, hawa muminya pasti buyar dan itu berarti ilmunya pun pecah, maka lekas dia tarik tangannya.

Karena memberi petunjuk kepada muridnya, Tan Khu-seng harus memecah perhatian, sedikit terlena Yang Ke-beng berbalik balas menyerang.

Siu-lo-im-sat-kang tingkat delapan memang hebat luar biasa, rangsakannya tiba-tiba menindih tiba, betapapun tangguh lwekang Tan Khu-seng, tak urung dia menggigil kedinginan.

Toan Siu-si berteriak.

"Dengan pedang kilat serang bagian bawah!"

Sedikit terpecah perhatian, dia pun terdesak oleh Tonghian-cu, hampir saja muka tersabet oleh kebutan Tong-hian-cu.

Nyo Hoa sudah menggerakkan pedang, berkelit meloloskan pedang, balas menyerang dilakukan sekaligus.

"Sret, sret, sret"

Beruntun tiga kali serangan berantai dia berebut serangan dengan lawan, teriaknya.

"Jiwi suhu tidak usah khawatir, murid tidak takut anjing galak ini."

Toan Siu-si tergelak-gelak, katanya.

"Betul, namanya kambing kecil tidak takut harimau."

"Tidak betul,"

Tan Khu-seng menimpali.

"Lebih pantas dikatakan kambing kecil tidak takut anjing jahat"

Melihat murid mereka meski berhadapan dengan musuh tangguh, tapi dapat melayani dengan baik, hatinya girang bukan main, maka tak hiraukan musuh tangguh sedang mencecar dirinya.

Tong-hian-cu dan Yang Ke-beng memang bukan lawan sembarang lawan, begitu memperoleh inisiatif serangan, mereka, lantas memberondong selebat hujan deras, sambung menyambung tidak ada putusnya.

Toan Siu-si dan Tan Khu-seng jadi kerepotan juga, hingga tidak sempat lagi memberi petunjuk kepada sang murid.

Kepandaian.sejati Nyo Hoa sudah tentu jauh dibanding lawan, tapi Si-hun-pou-hoat-nya cukup lincah dan gesit, dalam hal kegesitan jelas Auwyang Ya tidak bisa mengungguli dia.

Toan Siu-si tahu kelemahan lawan maka dia suruh Nyo Hoa menyerang bagian bawah Auwyang Ya supaya lawan tidak sempat menghimpun tenaga mumi untuk melancarkan Lui-sin-ciang.

Akan tetapi karena perbedaan kungfu mereka terlalu jauh, apalagi situasi dalam sekejap telah berubah, umpama kedua guru Nyo Hoa sempat memberi petunjuk juga tidak mungkin bisa mengatasi perubahan yang terjadi dalam waktu sesingkat itu.

Oleh karena itu belasan jurus permulaan Nyo Hoa memang masih mampu bertahan, namun setelah seratus jurus, meski tinggi semangat tempurnya, tapi tenaga sudah tidak memadai lagi.

Mendadak Tan Khu-seng melancarkan tiga jurus serangan kilat, Yang Ke-beng didesaknya mundur, begitu sempat ganti napas segera berteriak.

"Hoa-ji dengarkan, kau harus berlaku di mata ada musuh di hati tiada musuh."

Kedua patah kata ini merupakan petuah tinggi dari intisari permainan silat kelas wahid, biasanya entah berapa kali Tan Khuseng memperingatkan kepada Nyo Hoa.

Begitu mendengar peringatan gurunya, seketika Nyo Hoa maklum dan berpikir.

"Betul. Kenapa aku melupakan kedua petunjuk itu?".

"Di mata ada musuh dalam hati tiada musuh"

Diartikan harus menghadapi musuh secara serius, namun juga harus anggap enteng lawannya.

Menghadapi musuh kau harus memperhatikan segala gerak-geriknya, hadapi secara telaten dan sungguh-sungguh, tapi hatinya tidak boleh gentar atau takut terhadap musuh tangguh sekali pun.

Bila kebiasaan ini berhasil diyakinkan mencapai taraf tinggi, dalam pertarungan bisa terasa seperti kau tidak menghadapi musuh dan tidak sedang mengadu jiwa, maka segala pikiran ruwet bisa kau lempar serta mengembangkan seluruh kemampuanmu sampai puncak yang tertinggi.

Nyo Hoa sudah lama memaklumi dan menyelami makna kedua petuah itu, segera dia bergerak lincah, setiap jurus serangan dipunahkan setiap tipu dipatahkan; hakikatnya tak terpikir olehnya untuk merebut menang demi mengejar nama, kedudukan atau gengsi segala, tidak perlu terburu nafsu mengalahkan musuh, syukur musuh akan kewalahan sendiri, betul juga setelah bertempur dengan pedoman itu, keadaannya yang semula terdesak lambat laun terasa longgar.

Auw-yang Ya sendiri juga merasakan permainan pedang Nyo Hoa sejurus demi sejurus makin lihay dan ganas, setiap gerakan pedangnya seolah-olah mengincar hiatto mematikan di atas tubuhnya, meski dia berkepandaian jauh lebih tinggi dari Nyo Hoa, lama kelamaan kebat-kebit hatinya.

Tanpa terasa seratus jurus telah lewat pula.

Dalam jangka waktu selama ini, Tan Khu-seng sudah memperbaiki posisinya, kini dia yang unggul di atas angin.

Sementara Toan Siu-si dengan Tonghian-cu masih sama kuat alias setanding.

Tapi seratus jurus kemudian, kembali Nyo Hoa merasa kehabisan tenaga.

Diam-diam dia mengeluh dan menyesali diri sendiri.

"Aku sudah diberi petunjuk, tapi masih juga tidak mampu mengalahkan keparat ini."

Padahal Auwyang Ya adalah seorang gembong silat di Kangouw, jago silat di Bulim yang mampu melawannya sama kuat jaman ini tidak lebih belasan orang saja, bahwa sekarang dia mampu melawannya sampai tigaratus jurus, ini menandakan kemampuannya sudah cukup hebat.

Karena sekian lama tidak mampu merobohkan bocah ingusan, lama kelamaan Auwyang Ya sendiri juga gelisah, maka tenaga pukulannya bertambah keras.

Panas dan gerah luar biasa, Nyo Hoa sudah mandi keringat.

Padahal dia sudah menumpahkan seluruh konsentrasinya untuk menghadapi musuh, tapi rasa panas memang luar biasa sehingga dia sukar mengontrol diri, permainannya menjadi makin kacau.

Melihat kesempatan sudah tiba, mendadak Auwyang Ya membentak keras, telapak tangannya memukul pergi pedang Nyo Hoa, kelima jari tangan kirinya, bagai gantolan, mencengkeram batok kepalanya.

Jurus ini merupakan serangan mematikan yang biasa dibanggakan Auwyang Ya, dia yakin jalan mundur Nyo Hoa sudah tercegat dan ke mana pun dia berkelit tak akan bebas dari ancaman serangannya.

Tan Khu-seng yang melawan Yang Ke-beng kini sudah berada di atas angin, indranya tetap memperhatikan keadaan muridnya.

Melihat Nyo Hoa terdesak terancam bahaya, mendadak dia menghardik sekeras guntur, tubuhnya mencelat melambung.

Mendadak Yang Ke-beng merasa pandangannya seperti terhalang oleh halimun tebal, berbareng bau arak menyerang hidung, baunya memualkan.

Ternyata di kala badannya melejit itulah, Tan Khu-seng menyemburkan arak dalam perutnya.

Lekas Yang Ke-beng memejamkan mata, kedua tangan bergerak sekencang kitiran melindungi badan.

Semburan arak sederas hujan berjatuhan di atas badannya, meski dia sudah meyakinkan kekebalan badan umpama sekeras tulang besi kulit tembaga, tak urung sekujur badan terasa sakit dan panas.

Tak pernah dia duga bahwa Tan Khu-seng masih punya kepandaian simpanan ini, karuan hatinya kaget sekali.

Semburan arak Tan Khu-seng kelihatannya perbuatan nakal yang kurang pada tempatnya, padahal dia sudah kerahkan seluruh Iwekang yang pernah diyakinkan.

Beberapa hiatto Yang Ke-beng kena semprot arak panas itu hingga hawa dingin dari pukulannya jauh berkurang juga, tapi Tan Khu-seng sendiri juga telah kehabisan hawa murni.

Maklum Iwekang mereka sebenarnya setanding, kungfu juga sama kuat.

Kalau Tan Khu-seng tidak bertindak senekad ini, jelas dia sukar untuk membebaskan diri dari sergapan Yang Ke-beng.

Di sebelah sana mendadak Toan Siu-si juga bersuit panjang, di mana pedang panjangnya bergerak dengan sepuluh bagian kekuatan lwekang-nya membelah ke arah Tong-hian-cu.

Karuan Tong-hian-cu tersirap kaget, bentaknya.

"He, mau adu jiwa?"

Maka terdengar "Pletak"

Begitu kedua pedang beradu, ternyata pedang patah menjadi empat potong.

Kontan Toan Siu-si timpukkan kurungan pedangnya, tanpa hiraukan bagaimana kelanjutan dari keadaan Tong-hian-cu, segera dia putar tubuh berlari ke arah muridnya.

Tujuannya sama dengan Tan Khu-seng, yaitu hendak menolong jiwa Nyo Hoa.

Maka timpukan pedangnya itu dinamakan Sin-liong-tiau-bwe (Naga sakti melempar ekor) merupakan salah satu jurus tunggal dari Toan-keh-kiam-hoat yang terlihay.

Tong-hian-cu tidak menduga dan tidak sempat berkelit "Bles"

Kutungan pedang telak menghunjam dadanya.

Ternyata ketahanannya kuat luar biasa, meski terluka parah, mata merah membara, dia masih mampu ulur tangan me-notok tiga hiatto di sekitar lukanya.

Itulah ilmu totok menutup jalan darah khusus dari Khong-tong-pay sehingga orang yang terluka tidak lemas dan mati karena kehabisan darah, namun setelah menotok hiatto sendiri dia sudah tidak kuat lagi.

Tapi usahanya ini juga hanya pertolongan pertama yang sementara saja.

Tahu jiwa sendiri takkan bisa ditolong lagi, namun dia masih berusaha merebut waktu, dengan suara serak dia membentak.

"Toan Siu-si, jangan harap kau bisa hidup."

Kutungan pedang menancap di dadanya, tapi dia masih kuat mengejar Toan Siu-si.

Toan Siu-si seperti tidak mendengar ancamannya.

Kedatangan kedua orang memang tepat waktunya, cengkeraman jari Auwyang Ya sudah hampir mengenai batok kepala Nyo Hoa, ternyata Tan Khu-seng setindak lebih dulu, sebat sekali tangannya, pcrgelangan tangan lawan berhasil dipegangnya, lekas Auwyang Ya menarik tangan menekuk sikut, sekaligus mengerahkan tenaga terus menyodok.

Kedua pihak sama menggunakan kekerasan, sudah tentu yang kuat menang yang lemah asor.

"Biang"

Kontan seorang terlempar jauh tiga tombak.

Yang terlempar itu adalah Auwyang Ya.

Dalam sekejap saja Yang Ke-beng, Toan Siu-si dan Tong-hian-cu juga telah menubruk tiba segesit tupai setangkas kelinci, hampir dalam waktu yang sama mereka memburu tiba.

Nyo Hoa sudah kehabisan tenaga, cengkeraman Auwyang Ya sudah hampir menyentuh kulit rambutnya tapi tenaga pukulan Luisin-ciang cukup membuatnya pusing tujuh keliling, batok kepalanya seperti ditindih gosokan listrik yang panas sekali, sehingga dalam waktu singkat dia tidak tahu apa yang telah terjadi, mendadak dia merasa tubuhnya tertarik melambung terus terlempar pergi, ternyata Toan Siu-si sempat menariknya keluar kalangan.

Meski berhasil memukul jatuh Auwyang Ya, tapi Tan Khu-seng sendiri juga amat menderita.

Maklum setelah ratusan jurus berhantam dengan Yang Ke-beng, hawa murninya sudah ludes, berarti dia sudah terluka dalam, sekarang harus melawan pukulan Lui-sin-ciang Auwyang Ya lagi, maka racun panas dari Lui-sin-ciang dan racun dingin dari Siu-lo-im-sat-kang bergulat dalam tubuh Yang Ke-beng, seperti terserang sakit malaria saja tiba tiba menggigil dingin, kadang-kadang gemetar kepanasan.

Meski lwekang-nya amat tangguh, namun dia tersiksa juga oleh dua jenis hawa racun yang bergulat dalam tubuhnya, giginya sampai gemerutuk.

Rebah di atas tanah, Auwyang Ya berteriak serak.

"Tan Khu-seng sudah terluka dalam, lekas kalian sikat dia."

Yang Ke-beng membentak.

"Bagus biar aku menuntut balas sakit hatimu, yakinlah keparat ini takkan terlepas dari tuntutan keadilan."

Kedua tangan mendorong bersama sambil menubruk ke arah Tan Khu-seng.

Setaker kekuatan Siu-lo-im-sat-kang dia kerahkan.

Tan Khu-seng beruntun berkisar dua kali dengan langkah sempoyongan, belum lagi berdiri tegak, tiba-tiba terasa angin menyambar di belakang, kontan dia menyambut dengan pukulan membalik, bentaknya.

"Bagus, hari ini bila bukan kau mampus, biar aku yang gugur."

Tenaga pukulannya bergolak dan bergemuruh seperti bunyi geledek.

Terasa oleh Tan Khu-seng hawa dingin seperti meresap ke tulang sumsum, darah dalam tubuhnya serasa membeku.

Tapi Yang Ke-beng sendiri pun dalam keadaan payah, darah seperti mendidih, isi perutnya seperti dibetot dan dipelintir hingga berpindah dari tempatnya semula.

Berhasil menarik Nyo Hoa keluar dari kalangan, Toan Siu-si juga baru saja membalik badan, kebetulan berpapasan dengan Tonghian-cu yang menubruk tiba.

Menyadari jiwanya takkan tertolong lagi, maka dia bersumpah untuk gugur bersama musuh, maka sergapannya ini sungguh kejam dan telengas.

Nyo Hoa juga merasakan deru angin yang menerpa datang, baru saja dia bergerak hendak melawan, mendadak Toan Siu-si mendorongnya ke pinggir, teriaknya.

"Hoa-ji, lekas pergi!"

Dorongannya itu menggunakan tenaga pas-pasan, tanpa kuasa Nyo Hoa tersuruk maju -berlari puluhan langkah baru berhasil menegakkan badan lagi. Begitu berdiri tegak lekas dia memutar badan, pikirnya.

"Ji-suhu, maaf kali ini aku tidak mendengar perintahmu."

Timbul pikirannya hendak menggunakan ginkang membantu gurunya yang melabrak musuh, tiba-tiba hawa mumi tak mampu dikerahkan lagi hingga tak mungkin dia bisa mengembangkan ginkang.

Baru sekarang dia sadar dirinya sudah terluka dalam, tak heran gurunya melarang dia bergerak.

Waktu dia menoleh itulah, kebetulan dilihatnya Tong-hian-cu dan Toan Siu-si sama-sama melontarkan serangan maut mengadu jiwa.

Kebutan Tong-hian-cu bergerak mengurung, sementara bayangan telapak tangan Toan Siu-si beterbangan selincah kupu-kupu menari, namun tak mampu lolos dari ruang lingkup bayangan kebutan.

Mendadak bayangan mereka terpental mundur, Tong-hian-cu melolong keras, suaranya amat menyayat hati, begitu roboh tidak berkutik lagi.

Tapi Toan Siu-si sendiri juga ber-lepotan darah selebar mukanya, seperti api lilin yang tertiup angin, badannya pun limbung hampir jatuh.

Dalam pertempuran adu jiwa ini, Tong-hian-cu terpukul lagi dadanya oleh bian-ciang Toan Siu-si yang mampu memukul remuk batu menjadi bubuk hingga kuningan pedang yang menancap di dada itu ambles seluruhnya.

Tong-hian-cu menggeletak dalam genangan darah, jelas jiwanya sudah tamat Tapi serangan terakhir menjelang ajalnya tadi sungguh merupakan serangan dahsyat, benang-benang kebutnya menyabet muka Toan Siu-si sehingga jalur-jalur luka menghiasi kulit mukanya, tulang pipi pun terpukul remuk.

Tersirap darah Nyo Hoa, entah dari mana datangnya tenaga, secepat terbang dia memburu ke samping gurunya, teriaknya.

"Suhu, kenapa?"

Dia tahu gurunya selalu pasti membawa Kim-jongyok, lekas dia papah gurunya terus merogoh kantongnya. Toan Siu-si mendorongnya perlahan, katanya.

"Hoa-ji, aku sudah tak kuat lagi, lekas kau bantu sam-suhu."

Perang tanding Tan Khu-seng melawan Yang Ke-beng saat itu juga sudah mencapai puncaknya.

Dengan pukulan tangan tunggal dia melawan pukulan sepasang tangan Yang Ke-beng, tangan kiri memegang pedang, pelan-pelan menusuk ke leher Yang Ke-beng.

Hakikatnya Yang Ke-beng seperti tidak melihat atau menghiraukan ujung pedang yang mengancam lehernya, badan bagian atas bergerak sedikit pun tidak.

Tapi aneh memang bila diceritakan, pedang yang dipegang Tan Khu-seng itu seperti barang ribuan kati saja, untuk didorong maju sesenti harus mengerahkan tenaga luar biasa.

Ternyata mereka sedang mengadu lwekang, yang kuat menang, yang lemah kalah, pertarungan adu tenaga jelas tidak bisa menggunakan muslihat atau main untung-untungan.

Walau Tan Khu-seng hanya sebelah tangan menahan kedua tangan lawan, tapi tangan kanannya itu sudah dilandasi seluruh kekuatannya.

Betapa lihay Siu-lo-im-sat-kang tingkat kedelapan, bila sedikit kendor tenaga pertahanan di tangan kanannya, jiwanya mungkin amblas di tangan Ke-beng.

Kekuatan kedua pihak sekarang ternyata setali tiga uang alias sama kuat, pihak mana bila mendapat bantuan seorang meski dia seorang bocah kecil, maka jiwa lawannya pasti amblas.

Nyo Hoa melenggong, dia berdiri kebingungan, harus menolong sam-suhu atau mengobati ji-suhu.

Luka-luka ji-suhu separah ini, kalau tidak lekas diobati, bila terlalu banyak kehilangan darah, jiwanya juga susah diselamatkan.

"Tidak lekas kau pergi?"

Teriak Toan Siu-si serak.

Terpaksa Nyo Hoa kertak gigi, dengan langkah goyah tubuh sempoyongan ingin rasanya dia lekas memburu ke sana, tapi baru selangkah mendadak dia tersungkur jatuh.

Sambil menahan sakit, Nyo Hoa merangkak bangun lalu melangkah maju pula.

Dilihatnya ujung pedang Tan Khu-seng sudah hampir menempel di leher Yang Ke-beng, ujung pedang kini sudah menggaris luka di kulit lehernya, darah mulai mengalir.

Nyo Hoa amat girang, dia kira Tan Khu-seng pasti mampu membinasakan iblis besar ini.

Siapa tahu mendadak Tan Khu-seng dan Yang Ke-beng membentak bersama, keduanya terjengkang roboh bersama pula.

Nyo Hoa kaget, kontan dia ikut jatuh.

Maklum dia pun sudah kehabisan tenaga, begitu jatuh lantas tidak sadarkan diri.

Entah berselang berapa lamanya, lapat-lapat Nyo Hoa rasakan tubuhnya kepanasan, lambat laun dia mulai siuman.

Setelah membuka mata, dilihatnya kedua gurunya duduk di kanan kirinya, sebelah tangan masing-masing menekan dada dan punggungnya, ternyata menggunakan sisa tenaga mereka berusaha menyalurkan lwekang ke tubuh Nyo Hoa, supaya luka dalamnya lekas sembuh.

"Suhu,"

Teriak Nyo Hoa.

"kalian, kalian...."

"Jangan bicara,"

Cegah Tan Khu-seng.

Sekilas Nyo Hoa melirik ke sana, dilihatnya Auwyang Ya dan Tong-hian-cu rebah ter) entang di tanah tak bergerak.

Sedikit jauh Yang Ke-beng duduk menggelendot di pohon, kedua mata terpejam mukanya pucat lesi, entah masih hidup atau sudah mati?

Beberapa kejap lagi baru Tan Khu-seng bisa tersenyum, katanya.

"Syukurlah jiwa Hoa-ji berhasil direbut kembali."

Di tengah gelak tawa mereka, tiba-tiba badannya meliuk ke depan dengan lunglai, keadaan Toan Siu-si juga sama, begitu tangan mereka terlepas, keduanya mendadak roboh di tanah.

"Suhu kenapa kalian?"

Teriak Nyo Hoa kaget. Sebelah menarik Tan Khu-seng, sebelah yang lain menarik Toan Siu-si, namun dia tak mampu menarik mereka. Kata Tan Khu-seng.

"Jangan khawatir, luka yang diderita Yang Ke-beng tidak lebih ringan dari aku, jikalau aku mati, dia pun jangan harap bisa hidup lagi."

Karena disuruh jangan khawatir, maka Nyo Hoa kira luka-luka gurunya tidak separah yang diduganya, namun setelah membandingkan dirinya dengan Yang Ke-beng, baru dia tahu luka dalam gurunya malah lebih parah lagi.

Dengan gemetar Nyo Hoa berseru.

"Tidak, tidak suhu, kau, kalian jangan, kalian jangan mati."

"Manusia mana yang takkan mati? Asal matinya berguna, mati pun takkan menyesal. Waktu sudah mendesak, hidupku takkan lama lagi, kemarilah kau lebih dekat, banyak yang ingin kusampaikan kepadamu,"

Akhir katanya sudah lemah dan napas sudah mendesah. Nyo Hoa kebingungan, terpaksa dia mendekat dan mendengarkan.

"Dalam kantongku ada se

Jilid buku pelajaran silat hasil jerih payahku selama ini yang berisi kungfu perguruan kita, semula akan kutitip kepada ji-suhu untuk diserahkan kepada ciangbunjin kita, terpaksa sekarang kuwariskan kepadamu.

Tapi ciang-bun susiok tetap tidak akan mengakui kau sebagai murid perguruan Khong-tong-pay, maka kau pun tidak usah serahkan buku itu kepada mereka, bolehlah kelak kau mendirikan sendiri suatu aliran lain.

Dan lagi...."

Nyo Hoa sedang mendengar sepenuh perhatian, tiba-tiba dirasakan Toan Siu-si sedang menariknya sambil kerahkan tenaganya.

"Betul, kenapa aku jadi lupa, ji-suhu-mu juga perlu berpesan kepadamu, nah dengarlah lebih dulu,"

Tampak oleh Nyo Hoa luka-luka ji-suhu ternyata lebih parah dari sam-suhu, hatinya seperti disayat-sayat, lantas dia membungkuk mendengarkan pesan Toan Siu-si.

"Ingat, Beng-keh-to-hoat harus kau yakinkan sampai sempurna. Beng Goan-cau, dia, dia adalah...."

Tiba-tiba Toan Siu-si mendadak teringat bahwa Nyo Bok masih hidup, cepat atau lambat Nyo Hoa pasti akan bertemu pula.

Bila dia ketemu dengan Nyo Bok lebih dulu, mungkin takkan mau percaya pada omongan Beng Goan-cau dan pandang Nyo Bok sebagai ayah kandungnya.

Bila dirinya sudah mati, tiada seorang pun yang menjadi saksi hidup bagi Nyo Hoa.

Maka dia merasa perlu sebelum ajal tiba rahasia ini harus dibeber kepada Nyo Hoa.

Sayang sekali dalam keadaan penting ini keadaannya justru sudah seperti pelita yang kering minyaknya Nyo Hoa melengak, tanyanya.

"Beng Goan-cau, dia pernah apa dengan aku?"

Beruntun Nyo Hoa tanya dua kali, setelah Toan Siu-si tetap tidak menjawab, dia meraba hidungnya, baru diketahui bahwa ji-suhunya sudah putus napas, jiwanya telah melayang.

Karuan kagetnya bukan main, lekas Nyo Hoa berpaling dan berteriak-teriak.

"Sam-suhu, sam-suhu."

Dilihatnya wajah Tan Khu-seng yang pucat lesi mengulum senyum, tapi senyum yang beku, siapa pun akan merinding bila melihat senyumannya.

Kaget ditambah kaget, lekas Nyo Hoa menggoncang tubuh gurunya, teriaknya sesambat-an.

"Sam-suhu, bukankah kau masih ingin berpesan kepadaku?"

Tiba-tiba rasa dingin merembes ke luar hatinya.

Ternyata badan Tan Khu-seng juga telah dingin dan kaku, entah kapan jiwanya pun telah melayang.

Dalam sekejap beruntun kehilangan dua orang yang amat dicintainya, memangnya kondisi Nyo Hoa sudah lemah setelah kehilangan tenaga, maka dia pun tak tahan lagi, hatinya hambar, pikiran kosong, ingin menangis tiada airmata.

Mendadak dirasakan pandangan berkunang-kunang, kepala pusing tujuh keliling, akhirnya dia meloso jatuh pingsan.

Bila Nyo Hoa siuman pula keesokan harinya.

Sinar surya sudah menyinari Hutan Batu, cahayanya memantul di permukaan Telaga Pedang, kembang dan pepohonan dipinggir telaga tampak mekar dan subur bergoyang dihembus angin, burung tampak meninggalkan sarangnya di pohon yang tumbuh di Puncak Pedang.

Kehidupan ini terasa nyaman dan tentram, kapan pernah terjadi pertumpahan darah di sini?

Sesaat Nyo Hoa menenangkan diriy lambat laun pikirannya makin jernih, teringat peristiwa yang terjadi kemarin sore, sungguh hancur perasaannya, batinnya.

"Kedua guruku sudah meninggal secara mengenaskan, sepantasnya aku lekas menggali liang mengubur jenazah mereka."

Tapi waktu dia mencari jenazah kedua gurunya, bukan saja jenazah Toan Siu-si dan Tan Khu-seng tidak ditemukan, Yang Kebeng, Tong-hian-cu dan Auwyang Ya juga telah lenyap seluruhnya.

Sudah tentu Nyo Hoa tidak percaya akan mata sendiri, dia kucekkucek mata sekian lama lalu berdiri terlongong, ia berpikir.

"Apakah kejadian semalam hanya mimpi buruk belaka?"

Masih segar dalam ingatannya, ji-suhu dan sam-suhu rebah berjajar di pinggir telaga, pedang menancap di dada Tong-hian-cu dan menggeletak agak jauh, Auwyang Ya mati di bawah batu besar sana, Yang Ke-beng masih mcnggelendot di pohon memejamkan mata.

Tapi sekarang tidak kelihatan semua, segalanya seperti dalam khayal belaka.

"Mungkin Yang Ke-beng belum mati, dia yang menggotong pergi mayat-mayat itu?"

Tapi dia berpikir pula.

"Sam-suhu bilang, lukaluka Yang Ke-beng jelas lebih parah, kalau suhu tidak bisa hidup, jiwanya pun pasti amblas. Sam-suhu menganjurkan aku menetap di Giok-Iin meyakinkan ilmu peninggalannya, jelas beliau bukan bohong, umpama Yang Ke-beng beruntung tidak sampai ajal, untuk meninggalkan tempat ini juga bukan soal mudah, mana dia kuat membawa pergi mayat orang lain? Lalu untuk apa pula dia memindahkan mayat-mayat itu?"

Nyo Hoa masih memeluk setitik harapan, maka dia berteriakteriak.

"Ji-suhu, sam-suhu!"

Dia mengharap keajaiban muncul di depannya, mengharap ji-suhu dan sam-suhu-nya belum mati.

Burung-burung terbang kaget oleh teriakannya, namun kecuali suara ribut burung yang ketakutan gema suaranya sendiri.

Keajaiban yang diharapkan tidak muncul, tapi noda darah yang berceceran di atas tanah ditemukan sebagai tanda, apa yang terjadi semalam bukan khayalan belaka Jelas itulah noda darah dari pertempuran sengit semalam.

Noda darah musuh juga noda darah gurunya, ada pula darah dari tubuhnya Kembali Nyo Hoa kucekkucek mata, mengawasi alam sekitarnya yang ditaburi cahaya mentari, lalu mengawasi noda darah di tanah.

Jelas ini bukan mimpi.

Mendadak pandangannya tertarik pada suatu benda, yaitu se

Jilid buku yang diletakkan di atas batu.

Batu di mana kemarin guci arak ditaruh, di situ pula ji -suhu dan sam-suhu minum arak.

Guci sudah remuk dan berserakan di tanah, tapi buku itu terletak di atas batu.

Waktu dia menjemputnya, itulah buku ajaran silat karya Tan Khuseng yang memuat intisari pelajaran Khong-tong-pay.

Sebelum ajalnya Tan Khu-seng sudah bilang hendak mewariskan kepada dirinya.

Kejadian aneh beruntun menimbulkan setitik harapan dalam benak Nyo Hoa.

"Jikalau sam-suhu terbunuh, mungkinkah orang itu sebaik itu meninggalkan buku ini di atas batu? Kejadian aneh ini suatu ketika pasti akan kuselidiki"

Lalu terpikir pula.

"Semoga samsuhu dan ji-suhu masih sehat dan hidup, peduli mereka masih hidup atau sudah mati, yang terang aku tidak boleh mengabaikan harapan mereka kepadaku, mengabaikan jerih payah mereka yang telah menurunkan ilmu kepadaku."

Karena mengemban harapan ini, maka sedihnya banyak berkurang, segera Nyo Hoa periksa barang-barang miliknya, Bengkeh-tofhoat pemberian Toan Siu-si itu juga masih berada dalam sakunya, demikian pula barang lain tiada yang kurang.

Beruntun dua hari penuh Nyo Hoa menjelajah seluruh Ciok-lin, tapi tiada seorang pun yang dia temukan.

Bila tiada seorang yang tahu seluk beluk Ciok-lin sebagai penunjuk jalan, orang takkan mudah hilir mudik atau keluar masuk.

Diam-diam Nyo Hoa berpikir.

"Di antara para musuh hanya Yang Ke-beng yang tahu jelas akan seluk beluk Ciok-lin, umpama iblis itu beruntung tidak mampus, sedikitnya perlu beberapa tahun untuk merawat luka-lukanya. Umpama ada musuh lain yang berani masuk kemari, umpama dirinya bukan tandingannya, dengan mudah dirinya akan menyingkir ke tempat aman. Maka selanjutnya dia menetap di Ciok-lin, sesuai pesan kedua gurunya, dia giat dan rajin memperdalam kungfunya. Ransum yang disimpan Tan Khu-seng cukup dia gunakan setahun lamanya, di dalam Ciok-lin dia masih bisa mengail ikan, menangkap binatang, kehidupan di sini dilalui seperti biasa cuma agak kesepian karena tiada teman untuk diajak bicara, Nyo Hoa berlatih Beng-keh-to-hoat lebih dulu, bila dia membuka lembaran pertama buku itu beruntun dia membaca dua lembar, tiba-tiba didapatinya sesuatu yang aneh. Lembar pertama memuat pedoman permulaan kata, ditulis makna dari golok kilat.

"aku"

Sebagai poros. Dengan "neng"

Untuk menambal "lo" (neng=muda, lo=tua), dengan "kip" (cepat) menambal "ut" (lambat).

Tenang mengatasi aksi, dari diserang berbalik menyerang.

Semua perubahan ini harus dikuasai sebagai pokok dasar latihan.

Tenang seperti permukaan kaca, beraksi selincah kelinci, paling penting mengutamakan "kecepatan".

Tapi posisi gampang berubah, tenang atau beraksi mudah terjadi, semua ini harus disesuaikan kondisi dan situasi, tidak boleh digunakan sebagai dalil atau pegangan tetap.

Dasar pelajaran silat Nyo Hoa cukup kuat, maka tidak sukar dia memahami pedoman ini.

Tapi tentang istilah "neng".

"lo".

"ut", dan "kip", memang masih sukar diselami olehnya. Untung di lembar kedua telah diberi penjelasan yang terperinci tentang pedoman itu, tinta tulisannya juga jauh lebih baru, ini menandakan penjelasan ini. merupakan tambahan seseorang di saat tempat yang berbeda. Anehnya gaya tulisan dari penjelasan ini, Nyo Hoa seperti sudah kenal baik. -Semula Nyo Hoa memang tidak memperhatikan, begitu asyik dia membaca, arti huruf "neng*"

Adalah dengan ujung golok untuk membentur gegaman lawan.

"Lo"

Adalah menggunakan gagang golok memukul kepala, bila gagang golok digunakan menyodok dan menekan diartikan "ut", kalau menyambut dengan ujung golok dinamakan "kip".

Bukan saja penjelasan ini jelas dan terperinci, istilah-istilah dan pendapat orang yang memberi penjelasan ini juga tercantum di dalamnya.

Neng harus lincah dan ringan, lo harus menggunakan tenaga.

Kip untuk mengendalikan diri supaya tidak gegabah, sementara ut berjaga menghadapi segala perubahan.

Kedudukan satu sama lain sering berubah maka manfaatkanlah di kala lawan melancarkan serangannya yang paling gencar lalu mengatasinya secara di luar dugaan Dan masih banyak lagi.

Huruf penjelasan ini ditulis lebih kecil dan padat, jauh lebih banyak dari tulisan inti.

Maka terbukalah pikiran Nyo Hoa, banyak yang tidak dimengerti kini jelas seluruhnya, karuan senangnya bukan main, pikirnya.

"Intisari ilmu golok ini dapat juga dipraktekkan dalam ilmu pedang. Dari sini dapat kusimpulkan bahwa kungfu tingkat tinggi satu dengan yang lain berasal dari satu sumber yang sama."

Mendadak tergerak hatinya, pikirnya.

"Gaya tulisan orang ini seperti pernah kukenal dan dan lihat entah di mana?"

Di belakang setiap lembar pelajaran Beng-keh-to-hoat pasti ditambah satu lembar baris penjelasan, mau tidak mau timbul rasa curiga Nyo Hoa, sebelum berlatih dia baca dan periksa dulu setiap lembar tulisan buku itu, makin dipandang terasa makin kenal, tapi dia tidak ingat itu tulisan siapa.

Duduk di pinggir Telaga Pedang, dia menunduk terpekur.

"Karena ini Beng-keh-to-hoat, maka kemungkinan besar yang mencantumkan kata penjelasan ini adalah Beng Goan-cau sendiri. Padahal aku tidak pernah melibat dan kenal Beng Goan-cau, mana mungkin kenal baik tulisannya?"

Tampak dalam air muncul bayangannya sendiri, seketika dia teringat di waktu kecil bersama ibu naik perahu bertamasya di sungai, seketika hatinya sedih dan pilu, pikirnya.

"Ayah memang baik terhadapku, tapi ibu lebih baik lagi. Sejak kecil bukan saja dia mengajar aku kungfu, membaca dan menulis, sejak kecil aku pun dididik menjadi manusia berguna Ai, siapa nyana sekarang aku takkan bisa bertemu lagi dengan beliau selamanya Maka aku harus patuh pada pesan ji-suhu, menamatkan pelajaran kungfu menuntut balas sakit hatinya. Peduli siapa yang menulis penjelasan ini, aku harus lekas meyakinkan ilmu golok ini sampai sempurna. Kelak bila berhadapan dengan Beng Goan-cau, masih sempat kutanyakan kepadanya"

Sebetulnya dia sudah memutuskan untuk tidak memikirkan gaya tulisan itu, tapi waktu dia teringat saat ibunya dulu mengajar menulis dan membaca, mendadak hatinya tergerak, seketika dia paham duduknya perkara, teriaknya.

"Ini gaya tulisan ibu."

Tapi setelah teringat dan mengenal gaya tulisan ibunya, hatinya makin heran.

"Mana mungkin ibu paham Beng-keh-to-hoat? Umpama dia diminta menuliskan oleh salah seorang keluarga Beng, mungkinkah dia kenal Beng Goan-cau? Apakah Beng Goan-cau mau mempercayainya memberikan buku pelajaran golok warisan keluarga ini kepada orang lain, serta minta dia membubuhkan penjelasan hasil jerih payahnya?"

Lalu berulang kali dia bolak-balik membaca dari depan sampai lembar terakhir, kini dia betul yakin bahwa semua tulisan penjelasan itu memang tulisan ibunya Sungguh dia tidak habis mengerti.

Pandangan Nyo Hoa memang tajam, otaknya juga cerdas.

Tulisan penjelasan itu memang dikerjakan oleh Hun Ci-lo yang diminta bantuannya oleh Beng Goan-cau, waktu itu mereka adalah sepasang kekasih yang memadu cinta.

Heran dan curiga serta berbagai perasaan berkecamuk dalam benak Nyo Hoa lapat-lapat terasa olehnya bahwa ibunya pasti punya suatu hubungan dengan keluarga Beng, sudah tentu mimpi pun tak pernah terbayang dalam benaknya bahwa dia adalah anak Beng Goan-cau.

Akhirnya Nyo Hoa berpikir.

"Kelak aku harus berhadapan dengan Beng Goan-cau, setelah kutanyakan duduk perkaranya, semua akan jelas. Kenapa sekarang aku susah-susah memikirkan semua ini."

Sejak kecil Nyo Hoa sudah digembleng ibunya, otaknya cerdas berbakat lagi, belum setengah tahun dia giat berlatih Beng-keh-tohoat, ternyata permainannya sudah lancar dan cukup matang.

Jadi setengah tahun lebih cepat dari perhitungan Toan Siu-si.

Sekarang dia mulai mempelajari kungfu Khong-tong-pay hasil cip-taan Tan Khu-seng sendiri.

Karena dasar kungfu perguruannya sendiri sudah kokoh, maka lebih cepat hasil yang dicapainya Tapi untuk kungfu yang mendalam sudah tentu tak seketika dapat diselaminya.

Bila dia selesai meyakinkan pit-kip peninggalan Tan Khu-seng, tanpa terasa setahun sudah hampir penuh.

Di kala menggembleng diri meyakinkan kungfu tingkat tinggi selama setahun ini, satu hal yang membuatnya pusing kepala adalah cara bagaimana untuk mengkombinasikan kedua aliran ilmu silat tingkat tinggi ini.

Nyo Hoa sudah paham, ilmu golok dari keluarga Beng bisa dipraktekkan ke dalam ilmu pedang Khong-tong-pay, namun kedua aliran kungfu tinggi ini masing-masing mempunyai keistimewaan sendiri, umpamanya Beng-keh-to-hoat mengutamakan "kecepatan"

Sementara Khong-tong-kiam-hoat harus dikembangkan secara santai dan kalem; aliran dan sumbernya berbeda, permainan jurusnya juga berlawanan dengan yang lain.

Lalu cara bagaimana supaya perbedaan ini dapat dipersatukan menjadi satu?

Maklum latihan Nyo Hoa masih terbatas, pengetahuan pun belum mendalam, sudah jelas sukar dia berhasil dalam usahanya Apa pun setelah setahun menggembleng diri, kungfunya sekarang telah maju berlipat, sudah jauh lebih tinggi dibanding setahun yang lalu Tujuh hari lagi genap setahun, bila waktu itu tiba Nyo Hoa sudah siap meninggalkan Ciok-lin.

Sudah berapa tahun dia menetap di Ciok-lin, dalam waktu dekat dia akan meninggalkan tempat ini, maka perasaannya tergoncang, betapapun berat meninggalkan gunung yang indah pemandangannya ini.

Maka dalam tujuh hari ini dia tidak berlatih lagi, sejak pagi sampai petang dia putar kayun bertamasya sepuas hati.

Hari itu dia terjun ke Telaga Pedang mandi dan bersuka ria Setelah melompat naik ke daratan pula, dia angkat kepala mengawasi ukiran huruf "Kiam-hong"

Di atas dinding. Ukiran "Kiamhong"

Itu adalah karya Thio Tan-hong pendekar besar yang hidup di jaman dinasti Beng, gaya tulisannya kuat dan dalam seperti ditatah dengan pahat besi saja.

Begitu asyik Nyo Hoa mengawasi gaya ukiran itu sampai melamun, terasa olehnya gaya tulisan Thio Tan-hong itu lapat-lapat seperti mirip gaya ilmu pedang, mendadak terpikir suatu keinginan dalam hatinya, ingin dia naik meraba gaya tulisan huruf yang terukir di atas itu.

Bila perlu dia ingin tahu apakah ukiran batu di atas itu dapat diturunkan.

Puncak Pedang itu berdiri lurus tegak, tulisan itu diukir di atas batu cadas yang rata dan mengkilap seperti kaca, di bawahnya jelas tiada tempat berpijak, entah cara bagaimana dahulu Thio Tan-hong dapat mengukir huruf itu di tempat setinggi itu.

Puncak tegak dan licin seperti itu, umpama orang hutan juga takkan mampu naik ke atas.

Tapi bagi Nyo Hoa yang sekarang sudah memiliki kungfu tinggi, tidak sulit lagi.

Dengan Pia-hou-kang (Ilmu cicak), ginkang kelas tinggi, dia merambat pelan-pelan semakin tinggi, seutas tali panjang yang sudah disiapkan diikat di gagang pedang.

Pedang mestika dia tancap di dinding gunung, sementara ujung tali yang lain dia ikat di pinggang sendiri hingga badannya terapung, dengan asyik dia mulai meraba dan meniru gaya tulisan "Kiam-hong"

Karya Thio Tan-hong. Pelan-pelan dia menelaah, apakah gaya tulisan ini punya persamaan dengan gaya ilmu pedang. Goresan huruf "hong"

Terakhir mirip sebilah pedang yang ditarik ke bawah, tapi di tengahnya ada sedikit gumpil, seolah-olah goresan ini semula tidak bisa ditarik ke bawah sekaligus. Nyo Hoa jadi heran.

"Waktu menulis huruf ini, kenapa Thio Tan-hong tidak melakukannya sekaligus?"

Nyo Hoa dekatkan matanya ke tempat gumpilan itu serta mengawasi ke dalam, tampak di dalamnya ternyata merupakan gua yang gelap, entah berapa dalamnya.

Timbul rasa ingin tahunya, dengan kerahkan sedikit tenaga dia pegang batu yang menonjol terus digoyang-goyang, mendadak didengarnya suara berkeriut, batu besar di mana huruf "Kiam-hong"

Terukir tiba-tiba bergerak memutar ke samping, maka muncullah pintu gua yang lebar cukup untuk seorang menerobos ke dalam.

Nyo Hoa mencabut rumputrumput kering di sekitar mulut gua lalu mengetik batu menyalakan rumput itu, asapnya yang cukup tebal dihembus masuk ke dalam gua supaya hawa apek di dalamnya sima lebih cepat, lalu dia merambat turun membuat obor dari ranting-ranting ring lalu beranjak dari gua.

Pintu masuknya sempit, tapi makin ke dalam makin longgar, setelah Nyo Hoa menyusuri sebuah lorong mendadak pandangannya terang, di depannya menghadang sebuah meja batu dari jade putih, di atas meja terdapat beberapa baris tulisan.

Seluruh meja ternyata ukiran dari sebentuk batu jade besar, warnanya putih mulus seperti susu.

Batu meja ini tidak perlu dibuat heran tapi batu jade sebesar ini, entah berapa nilainya?

Di belakang meja di atas dinding terpampang sebuah lukisan seorang pelajar setengah umur, wajahnya ganteng, gagah dan kereng seperti hidup saja.

Di pinggir bawah sebelah kiri terdapat beberapa huruf kecil berbunyi.

lukisan Thio Tan-hong rakyat awam di jaman dinasti Thian-sun bertahta tujuh tahun "Thian-sun"

Adalah simbol tahunan dari raja keenam dinasti Beng yang bergelar Beng-eng-cong Cu Sia-tiu.

Jadi sudah tigaratus tahun waktu Nyo Hoa menemukan potret Thio Tan-hong di gua ini.

Berdiri di depan potret pendekar besar mahaguru silat Thio Tan-hong, mengkirik bulu kuduk Nyo Hoa.

Sesaat dia berdiri khidmat dan memberi penghormatan besar.

Waktu dia menoleh memeriksa huruf-huruf di atas meja, didapati ada empat tulisan yang berbunyi.

Siapa,yang masuk kemari berarti ada jodoh dengan aku.

Bila mau menjadi muridku, beberapa pantangan harus dipatuhi.

Di sampingnya lagi terdapat sepuluh baris huruf-huruf kecil dari kesepuluh pantangan yang harus dipatuhi, di bawahnya lagi terdapat sebaris huruf melintang berbunyi.

Cara menghormat kepada guru, setiap membaca satu pantangan harus menyembah sepuluh kali, harus pakai tenaga.

Di atas meja tiada tertaruh benda apa pun, jadi tidak kelihatan pedang, buku atau peninggalan lainnya.

Nyo Hoa berpikir.

"Aku bukan orang tamak yang mengincar kungfu sakti, tapi pendekar besar di jaman dulu ini memang patut kusembah seratus kali banyaknya, kuagungkan dia sebagai guru besar yang tiada taranya di jamannya dulu sampai sekarang."

Di antara sepuluh pantangan yang tercantum, hanya syarat pertama yang istimewa, sementara sembilan syarat yang lain biasa saja, seperti larangan perguruan lain yang siidah umum di kalangan Kangow tidak boleh menindas orang, tidak boleh merampok, membunuh dan memperkosa, tidak boleh mengambil barang bukan miliknya dan lain-lain...

Tapi syarat pertama justru berbunyi.

Tidak menjadi pembesar dinasti Beng tapi bila menghadapi serbuan bangsa asing boleh bekerja demi membela nusa dan bangsa negeri Beng.

Perlu diketahui, kakek Thio Tan-hong yaitu Thio Su-seng dahulu pernah saling berebut kekuasaan dengan Cu Goan-ciang, cikal bakal pendiri dinasti Beng.

Dalam pertempuran besar di Tiangkang, pasukan Thio Su-seng musnah dan tenggelam seluruhnya di dalam air, hingga Cu Goan-ciang berhasil merebut kekuasaan.

Oleh karena itu dalam syarat pantangan yang ditinggalkan Thio Tan-hong, melarang anak muridnya menjadi pembesar atau menjabat pangkat kerajaan Beng sebagai larangan yang utama.

Tak nyana setelah larangannya ditemukan orang, dinasti lama ternyata sudah berganti dinasti Boan yang sekarang.

Nyo Hoa berpikir.

"Aku jelas tidak akan menjadi pembesar. Tapi syarat utama dari larangan ini maksudnya adalah harus melawan penjajahan, sekarang penjajah Boan-ciu menduduki tanah air kita, sesuai larangan pertama ini, adalah logis kalau aku menggabungkan diri ke dalam laskar rakyat yang menentang penjajahan, dan itu memang merupakan tugas utama yang kelak harus kulakukan."

Sembilan larangan yang lain adalah aturan umum kaum lurus yang harus bisa menempatkan dirinya, sudah tentu Nyo Hoa mematuhi seluruhnya.

Maka tanpa ragu sedikit pun ia menekuk lutut di depan lukisan Thio Tan-hong.

Rasa kagumnya terhadap pendekar besar ini memang setulus hatinya, maka cara menyembahnya pun tak terlalu dipaksakan, setiap habis membaca satu syarat menyembah sepuluh kali hingga selesai membaca sepuluh larangan, maka dia pun sudah genap menyembah seratus kali, jidatnya sampai bengkak dan membiru saking dia bernapsu menyembah.

Mendadak keajaiban muncul di depan matanya, tampak lantai di mana jidatnya menyentuhnya setiap kali menyembah ternyata dekok ke bawah dan retak hingga tampak sebuah lubang di bawahnya, di bawah lubang mencorong cahaya benda pusaka Lekas Nyo Hoakeduk tanah sekitarnya, ternyata di dalam lubang disimpan sebuah kotak batu giok, di setiap sudut kotak dihiasi sebutir mutiara yang besarnya sama.

Baru sekarang Nyo Hoa mengerti kenapa Thio Tan-hong suruh dia berlutut dan menyembah seratus kali, ternyata memang mengandung maksud tertentu.

Setelah dia buka kotak persegi itu ternyata di dalamnya hanya berisi se

Jilid buku, pada sampulnya tertera empat huruf berbunyi "Hian-kang-pwe-coat."

Sejak memperoleh ajaran ilmu golok dan ilmu pedang kedua gurunya pengalaman Nyo Hoa menghadapi musuh sudah cukup matang, tapi bagaimana meyakinkan Iwe-kang tingkat tinggi selama ini belum pernah tahu atau mempelajarinya.

Waktu kecil, ibunya dan Toan Siu-si memang pernah mengajarkan dasar latihan lwekang, belakangan Tan Khu-seng juga mengajarkan cara semadi dan mengatur pemapasan, tapi ajaran lwekang kedua gurunya itu gelagatnya menjurus ke aliran sesat, jadi tidak boleh terhitung lwekang murni dari aliran lurus.

Buku peninggalan Thio Tan-hong yang memuat H ian-kang-pwe-coat ini jelas merupakan hasil karyanya selama puluhan tahun setelah dia menyepi di Puncak Pedang ini hingga terciptakan pelajaran lwekang kelas tinggi ini.

Nyo Hoa berpikir.

"Thio Tan-hong adalah mahaguru silat besar, entah betapa tinggi dan mendalam ajaran lwekang simhoat-nya."

Setelah membaca permulaannya saja dia menjadi bingung dan tak tahu apa maknanya.

Tapi Nyo Hoa tidak patah semangat, dengan seksama dia tekuni terus membaca, akhirnya ditemukan juga setitik terang dari ketekunannya karena didapati olehnya bahwa setiap huruf setiap patah kata yang tertera dalam tulisan ini merupakan ajaran simhoat yang tiada bandingannya Makin dicoba Nyo Hoa makin tertarik dan tenggelam dalam pemikiran.

Hian-kang-pwe-coat adalah ajaran bagaimana seorang harus memupuk dirinya dengan tenaga dalam sebelum meyakinkan kungfu, walau bukunya tipis, tapi di dalamnya mencakup seluruh ajaran mumi yang ada di dunia Bila apa yang dulu pernah dipelajarinya dibanding dengan Hiankang-pwe-coat, sungguh berbeda seperti sungai dengan samudra raya Tanpa terasa dia membalik sampai lembar terakhir, pada baris terakhir berbunyi demikian.

Bila simhoat sudah dikuasai, boleh masuk ke dalam bilik dalam mempelajari Bu-beng-kiam-hoat (Ilmu pedang tanpa nama).

Nyo Hoa berpikir.

"Hian-kang-pwe-coat laksana lautan teduh yang tak terukur luas dan dalamnya bicara soal menguasai dan mendalami, memangnya semudah ini? Sayang aku takkan lama lagi tinggal di Ciok-lin, baiknya aku masuk ke bilik dalam melihat-lihat Bu-beng-kiam-hoat itu."

Lalu terpikir pula.

"Kiam-hoat ini dinamakan Bu-beng, agak istimewa memang. Konon Thio Tan-hong adalah cikal bakal Thian-san-pay, kenapa hasil ciptaannya tidak dinamakan Thian-san-kiam-hoat?"

Nyo Hoa langsung masuk ke kamar terakhir di atas puncak, tampak dua dinding kanan kiri bilik itu penuh digoresi gambargambar, semuanya ada delapanbelas lukisan manusia yang bergaya memegang pedang.

Tapi hanya gambar lukisan saja tanpa dibubuhi keterangan dengan huruf.

Nyo Hoa memperhatikan dengan seksama, gambar pertama seperti mirip jurus Tio-thian-it-cu-hiang (Sebatang dupa terangkap ke arah langit), tapi gaya pedangnya ternyata tegak lurus, jadi ujung pedang menuding ke tengah udara.

Demikian pula meski ujung pedang pada gambar ini juga menuding miring ke atas, tapi dipandang dari sudut samping, ujung pedang seperti mengincar tangan lawan yang berkedudukan di sebelah bawah.

Jurus kedua mirip Hian-ciau-hoat-sa, tapi setelah diteliti ternyata tidak mirip.

Padahal jurus Hian-ciau-hoat-sa dilancarkan sambil memutar badan mengayun pedang secara terbalik, waktu Nyo Hoa coba mempraktekkan, hakikatnya tidak mungkin dari jurus Tio-thian-it-cu-hiang langsung diubah menjadi Hian-ciau-hoat-sa.

Demikian pula keadaan jurus-jurus pedang yang lain.

Kelihatannya seperti jurus pedang yang biasa dan umum, namun setelah dipraktekkan dan dicoba ternyata berbeda, malah ada beberapa jurus ilmu pedang yang tercantum bila dipandang dari sebelah kiri seperti jurus ilmu pedang dari aliran A, tapi kalau dipandang dari sebelah kanan lebih mirip ilmu pedang dari golongan B, bila dipandang dari tengah lurus, lebih cenderung pada jurus pedang dari perguruan C.

Celakanya dari delapanbelas gambar lukisan itu, gaya pedang satu dengan yang lain hakikatnya tidak bisa menyambung atau berurutan.

Nyo Hoa menjadi heran dan kebingungan sendiri, pikirnya.

"Kiamhoat ini ternyata lebih sukar dipahami dari Hian-kang-pwe-coat, malah nama-nama jurusnya juga tidak dicantumkan, tak heran dinamakan Bu-beng-kiam-hoat."

Ternyata ilmu pedang ini dicip-takan Thio Tan-hong menjelang hari tuanya, beberapa tahun setelah Thian-san-pay berdiri.

Pada waktu itu istrinya yang tercinta, In Lui, sudah meninggal, ciangbun tecu-nya Toh Thian-tok (Hok Thian Touw) juga sudah memegang tampuk pimpinan perguruan, maka dia lantas kembali ke Tionggoan lalu pulang ke Ciok-lin, tempat yang paling disukai In Lui di waktu mereka memadu cinta di masa muda dulu, di sinilah Thio Tan-hong menghabiskan waktunya sehingga tercipta-lah Bu-beng-kiam-hoat.

Bu-beng-kiam-hoat memang setingkat lebih unggul dibanding ilmu pedang ternama yang pernah menggetarkan dunia persilatan.

Tergantung kepada kepintaran dan bakat orang yang belajar ilmu pedang ini untuk menyelami dan men-cipta yang baru.

Hian-kangpwe-coat saja Nyo Hoa belum sempat mempelajari, sudah tentu dia tidak paham di mana letak kebagusan Bu-beng-kiam-hoat ini.

Keluar dari bilik Nyo Hoa berpikir.

"Sekarang aku belum bisa memahami makna Hian-kang-pwe-coat, tidak perlu tergesa-gesa memburu keberhasilan, karena hal itu takkan menguntungkan diriku sendiri. Tapi ilmu pedang ciptaan cosu yang kelihatannya tidak karuan pasti mengandung makna yang dalam, biar aku catat semua gambar lukisan ini dalam hati, kelak bila tiba saatnya dan aku mampu mempelajarinya, bukan mustahil akan banyak manfaat yang berhasil kuselami."

Waktu dia keluar dari gua, ternyata hari sudah menjelang petang, tanpa terasa karena dia tenggelam dalam ajaran Thio Tan-hong yang tiada taranya, tanpa terasa hampir sehari penuh dia berada di atas puncak pedang, baru sekarang dia merasakan perutnya lapar.

Nyo Hoa menyumbat pula lubang gua itu dengan batu besar yang berukir "Kiam-hong"

Lalu merambat turun dari puncak terjal itu.

Beruntun beberapa hari Nyo Hoa naik ke puncak pedang mempelajari dan mencatat gambar itu secara berurutan di dalam ingatannya, tanpa terasa batas tujuh hari yang pun celah berakhir, untung gambar lukisan dari delapanbelas jurus Bu-beng-kiam-hoat juga berhasil diingatnya semua.

Sebetulnya Nyo Hoa masih bisa tinggal di Ciok-lin berapa lama yang dia kehendaki, tapi sesuai pesan ji-suhu-nya dia harus mencari Beng Goan-cau mengajaknya duel, serta ingin tahu dan memecahkan banyak persoalan yang selama ini mengganjal hatinya, maka dia memutuskan, melakukan rencana semula, yaitu meninggalkan Ciok-lin setelah gurunya lenyap tepat setahun lamanya.

Hari terakhir dengan rasa berat dia meninggalkan rumah batu yang ditinggalinya sekian tahun.

Tapi waktu dia hampir keluar dari Ciok-lin mendadak dia teringat sesuatu.

Nyo Hoa teringat kejadian aneh hari itu, batinnya.

"Mati hidup kedua guru susah diramalkan, kemungkinan beliau-beliau masih hidup. Tapi urusan tidak boleh kupikirkan hanya dari sudut kebaikannya saja, keburukannya juga harus kuperhatikan, siapa tahu kalau iblis laknat Yang Ke-beng juga masih hidup?"

Lalu dia berpikir pula.

"Jikalau Yang Ke-beng belum mati, lalu dia yang pulang dulu ke Ciok-lin, bila cha menemukan rahasia di puncak Kiam-hong, dengan bekal kungfunya yang tinggi, bukan mustahil degan mudah dia akan menyelami dan mempelajari Bu-beng-kiam-hoat ciptaan Thio tayhiap, bukankah harimau tumbuh sayap, kejahatannya pasti lebih merajalela. Lebih baik kuhapus saja seluruhnya."

Di samping itu sesungguhnya Nyo Hoa juga berat meninggalkan Ciok-lin, ingin lekas pulang melihat-lihat tempat yang paling dia sukai itu serta minum seteguk air telaga nan jernih sejuk, memetik sekuntum kembang semerbak di pinggir telaga.

Waktu dia beranjak ke arah Kiam-ti itulah mendadak didengarnya ada langkah orang seperti berjalan di sampingnya.

Nyo Hoa kaget, lekas dia melompat ke samping sembunyi di belakang sebuah batu besar.

Lekas sekali langkah orang semakin dekat, percakapan dua orang juga sudah didengarnya.

Tapi hanya mendengar suara tidak melihat orangnya.

Nyo Hoa melenggong sekejap, akhirnya dia tertawa geli sendiri.

"Sia-sia aku hidup sekian tahun dalam Hutan Batu ini, kenapa aku melupakan keadaan Ciok-lin yang serba ajaib ini?"

Maklum betapa banyak jumlah lorong dan jalan-jalan di dalam Hutan Batu yang berlika-liku, puncak berhimpitan jalan pun berputar, ada kalanya kau sudah melihat orang di sebelah depan, jaraknya kelihatan dekat sekali, tapi untuk mencapainya kau harus berputar-putar beberapa kali baru bisa bertemu dan berhadapan orang di depan itu.

Nyo Hoa berpikir.

"Bila suhu yang kembali, dia pasti akan bersuara atau memanggil aku. Mungkinkah Yang Ke-beng yang pulang dulu mengajak seorang teman lain?"

Teka-teki segera terjawab sendiri, kedua orang itu ternyata mulai buka suara, ternyata seorang lelaki dan seorang perempuan, malah didengar dari suaranya, usia mereka masih muda.

Perempuannya mendecak menyatakan kekagumannya, katanya.

"Tempat ini memang indah mempe-sona seperti istana dewata."

Yang lelaki tertawa, katanya.

"Jangan kau lupa meninggalkan tanda, bila tidak berhasil menemukan pamanku mungkin kita takkan bisa keluar lagi."

Nyo Hoa masih ingat ji-suhu-nya memang pernah bilang, di rumah dia punya seorang keponakan, batinnya.

"Yang Ke-beng juga pernah tinggal di sini, entah dia keponakan siapa?"

Lalu berpikir pula.

"Dulu ji-suhu minggat dari keluarga, maka keponakannya ini yang mewarisi kedudukan siau-ongya itu. Kabarnya sejak minggat dari rumah, ji-suhu tidak pernah pulang, selamanya dia membenci keluarganya Waktu kecil dua tahun aku ikut ji-suhu paling hanya sekali dia pernah menyinggung tentang keponakannya, bila hubungan paman dan keponakan tetap terjalin baik, kurasa tidak perlu hubungan sedemikian renggang. Kini keponakannya sebagai siau-ongya datang kemari, kurasa tidak bakal membuang kedudukannya untuk mencari bahaya di Ciok-lin?"

Adalah logis kalau Nyo Hoa berpikir demikian, karena dia tidak tahu apakah Yang Kebeng juga punya keponakan, maka boleh saja bila dia anggap pemuda ini adalah keponakan Yang Ke-beng.

Maka secara diamdiam dia kuntit kedua muda-mudi ini, ingin dia mencuri dengar percakapan mereka untuk membuktikan, bila pemuda ini betul adalah keponakan Yang Ke-beng segera dia akan melompat keluar melabraknya Ginkang Nyo Hoa sekarang jauh lebih tinggi dari kedua orang ini, dia lebih paham seluk-beluknya pula ternyata kedua muda-mudi itu tidak tahu bahwa di belakang, seseorang tengah memperhatikan gerak-gerik mereka Tapi setelah mendengar percakapan mereka lebih jauh, Nyo Hoa harus membuang dugaannya semula.

Terdengar si gadis berkata.

"Jangan khawatir, aku tidak akan lupa Waktu aku datang kemari Beng tayhiap sudah berpesan kepadaku."

Mendengar sampai di sini, tergerak hati Nyo Hoa pikirnya "Beng tayhiap mana yang dia maksud?"

Syukurlah lantas didengarnya pemuda itu berkata "Beng Goancau adalah teman baik pamanku, tapi aku sendiri belum pernah bertemu dengan dia.

Ping-moay, dari mana kau tahu aku baru mencari tahu kepadanya?"

Tidak lepas dari dugaan Nyo Hoa.

"Beng tayhiap"

Yang dimaksud si gadis ternyata memang Beng Goan-cau. Gadis itu cekikikan, katanya.

"Ceng-ko, kenapa kau begini ceroboh, apa yang kau katakan sendiri masa sudah dilupakan?"

Pemuda agaknya melenggong, sesaat baru dia tertawa katanya.

"Ya betul. Sekarang aku ingat. Suatu ketika kita pernah membicarakan orang-orang gagah di jaman ini, waktu itu pernah aku menyinggung hubungan pamanku dengan Beng Goan-cau. Orang yang kita bicarakan waktu itu teramat banyak, didengarkan oleh orang lain lagi, tak nyana urusan sudah setahun yang lalu, kau masih ingat sebaik ini."

"Setiap patah kata yang pernah kau ucapkan selalu kucatat dalam hatiku."

"Ping-moay, kau memang teliti. Tapi, ai, wah celaka"

"Apanya yang celaka?"

Nadanya kurang senang. Si pemuda tertawa, katanya.

"Kau seteliti ini, selanjutnya aku takkan berani omong salah sepatah pun di hadapanmu."

"Ya, asal tahu saja"

Kedua muda-mudi ini bicara saling pukul dan cubit bersenda mencuri dengar kaget dan girang.

"Ternyata dugaanku meleset, pemuda itu keponakan ji-suhu."

Tapi perasaannya lantas mendelu.

"Bila dia tahu berita duka cita pamannya, entah betapa sedih hatinya?"

Sesaat dia bingung cara bagaimana dia harus keluar menemui mereka.. Didengarnya pemuda itu berkata lebih lanjut.

"Sekarang mari kita bicarakan persoalannya bagaimana Beng tayhiap memberi pesan kepadamu?"

"Bukankah pernah kuceritakan kepada kau?"

"Aku ingin tahu lebih jelas."

"Baiklah, kuulangi sekali, mungkin tempo hari ada yang ketinggalan. Bila kau belum jelas boleh tanya lagi."

"Aku ingin tahu lebih banyak tentang Beng Goan-cau, tentang pamanmu dan laskar rakyat di Siau-kim-jwan."

"Baik, apa yang kutahu akan kututurkan kepadamu. Sekarang bicarakan dulu tentang pamanmu,"

Demikian ucap si gadis. Apa yang ingin diketahui si pemuda juga ingin diketahui oleh Nyo Hoa, kebetulan malah dia bisa "

Mencuri dengar lebih jelas duduk persoalannya. Semula dia sudah siap keluar menemui mereka, tapi pikirannya berubah.

"Baru pertama kali aku bertemu dengan mereka, rikuh juga untuk tanya ini itu kepada mereka, biarlah aku curi dengar pembicaraan mereka tentang Beng Goan-cau saja."

Hari itu Toan Siu-si terputus suaranya waktu membicarakan hubungan Beng Goan-cau dengan dirinya, dalam hati dia sudah mendapat firasat bahwa dirinya pasti ada hubungan entah apa dengan Beng Goan-cau.

Maka didengarnya si gadis berkata.

"Akhir kali pamanmu bertemu dengan Beng tayhiap, pernah memberi tahu bahwa dia hendak pergi ke Ciok-lin. Konon hendak mencari seorang teman."

"Entah siapa teman yang dicarinya itu?"

Tanya si pemuda.

"Dia tidak menjelaskan kepada Beng tayhiap. Tapi sebagai keponakannya, mungkin kau banyak tahu tentang teman-temannya. Coba kau pikir-pikir."

"Kau tidak tahu, dahulu lantaran bertengkar dengan ayahku maka paman minggat dari rumah, waktu aku berusia duapuluh baru dia pernah pulang sekali. Aku ikut keluar bersama dia, tapi tak lama lantas berpisah. Temannya yang kutahu hanya Beng Goan-cau dan Miao Tiang-hong, kecuali itu masih ada seorang suheng-nya Pok Thian-tiau yang sudah meninggal."

Nyo Hoa berpikir.

"Jadi setelah kejadian di Tiam-jong-san hingga toa-suhu gugur itu, baru ji-suhu pulang ke rumah. Tak heran sebelum ini jarang dia menyinggung tentang keponakannya ini."

"Kiranya begitu,"

Ujar si gadis, pi kalau penghuni Ciok-lin adalah teman pamanmu, yakin dia bukan orang jahat."

"Kejadian sudah setahun yang lampau, entah paman masih berada di sini? Kita sudah selama dan sejauh ini, tapi belum ketemukan jejak manusia."

"Di dalam Hutan Batu seperti berada dalam Pat-tin-toh ini, apakah kau takut?"

"Umpama di sini ada bahayanya, aku juga tetap akan kemari."

"Ada sepatah kata, entah pantas tidak aku tanya kepada kau."

Si pemuda agaknya melengak, tertawa pun dipaksakan, katanya.

"Terhadapku tiada persoalan yang tidak boleh kau tanyakan, mana bisa aku mengelabui kau. Boleh saja kau tanya."

Si pemuda tertawa lebar, ujarnya.

"Kau memang lihay, isi hatiku juga teraba olehmu. Memang kedatanganku kecuali mencari paman, aku pun akan menyelidik satu hal lain."

"Menyelidik hal apa?"

"Hutan Batu ini ada hubungan erat dengan keluarga Toan kami. Tapi sekarang aku belum melihat Kiam-hong dan Kiam-ti, setelah menemukan tempat itu, baru akan kujelaskan kepadamu."

Sudah tentu si gadis dan Nyo Hoa sama heran, kenapa rahasianya baru mau dibeber setelah menemukan Kiam-hong dan Kiam-ti?

Perangai si gadis ternyata arif dan penyabar, meski kurang senang, wajahnya tetap mengulum senyum, katanya.

"Baiklah. Biar aku bicarakan tentang Siau-kim-jwan. Mereka adalah pejuang besar, orang-orang gagah masa kini, berkumpul untuk menentang penjajahan kerajaan Ceng, walau kehidupan di sana agak sengsara, namun tekad juang mereka tak pernah padam. Aku betul-betul pengagum mereka."

"Nah, kenapa kau tidak tinggal di Siau-kim-jwan saja?"

Tanya si pemuda.

"Susiokdan pekhu menghendaki aku meninggalkan tempat itu, waktu itu menjelang peperangan besar. Semula aku tetap ngotot tinggal di sana, tapi aku dipaksa meninggalkan tempat itu. Karena mereka sudah memutuskan untuk mengosongkan Siau-kim-jwan."

"Lho, mereka mau mengosongkan Siau-kim-jwan? Wah, apa tidak terlalu sayang?"

Si gadis terpekur sejenak, baru melanjutkan.

"Beng tayhiap pernah bilang, perjuangan mereka jangka panjang, tujuannya jelas untuk mengusir penjajah dan merebut kembali tanah pusaka, mungkin sepuluh tahun atau seratus tahun perjuangan itu harus dipertahankan, jadi tidak perlu terlalu mengukuhi satu pangkalan atau dipersoalkan untung ruginya. Yang penting adalah manusianya, bukan tempat atau pangkalan. Selama gunung tetap menghijau, tak usah khawatir kehabisan kayu bakar. Oleh karena itu meski mereka anggap Siau-kim-jwan sebagai rumah tangga besar, tapi bila waktu dan situasi amat mendesak, mereka sudah siap meninggalkan Siaukim-jwan."

"Wah, kalau begitu, kelak aku tak bisa ke Siau-kim-jwan untuk mencari Beng Goan-cau,"demikian ujar si pemuda. Nyo Hoajuga ingin menyatakan demikian. Tanpa merasa tangannya meraba kantong di mana dia menyimpan Beng-koh-to-hoat, hatinya jadi hambar.

"Betul. Mereka sudah siap mundur ke perbatasan, selanjutnya jejak mereka lebih sukar ditemukan lagi. Tidak lama setelah aku meninggalkan tempat itu, pasukan besar kera-jaan telah memasuki Sujwan. Hubungan terputus, keadaan yang sesungguhnya sukar diketahui, kemungkinan sekarang Siau-kim-jwan juga sudah diduduki musuh. Ai, kalau tidak____"

"Kalau tidak apa? Kenapa tidak kau lanjutkan?"

"Kali ini coba kau terka isi hatiku?"

"Kalau tidak ingin membawa berita pamanku kepadaku, kau pasti nekat ikut mereka mundur. Betul tidak?! "Eh, kali ini kau pandai juga."

"Waktu kau berada di Siau-kim-jwan tempo hari apakah kau bertemu dengan Lau Khong?"

"Ya, ketemu. Istri Lau tayhiap bernama Bu Ceng, kabarnya kenal baik dengan kau. Tapi tak pernah kau bicarakan dengan aku."

Tawar suara si pemuda.

"Betul, dahulu dia bergaul dengan Hun Ci-lo lihiap dan Miao tayhiap Miao Tiang-hong, pernah menginap beberapa hari di rumahku. Tapi itu bukan soal penting maka aku lupa menceritakan kepadamu."

"Lau-hujin amat baik kepadaku, usianya lebih tua beberapa tahun. Tapi sudah punya dua anak Jenaka dan nakal, sifatnya masih binal dan suka humor seperti gadis yang belum menikah saja Suatu hari kami berdiri berjajar, Beng-hujin lantas menggoda katanya kami seperti kakak beradik. Bicara tentang usia Lau-toaso lebih tua sepantasnya dia menjadi enci, tapi bicara tentang keadaan perangainya yang lincah itu, dia lebih mirip jadi adik."

Pemuda itu diam saja seperti sedang memikirkan sesuatu. Setelah menceritakan lelucon ini, melihat si pemuda tidak memberikan reaksi, si gadis menjadi rikuh sendiri, katanya.

"Memang istri Beng tayhiap sengaja memuji aku, waktu itu, aku masih genduk pingitan yang bodoh, mana bisa dibanding Lau-hujin. Pasukan wanita yang dipersenjatai di Siau-kim-jwan semua di bawah didikan dan pimpinan Beng-hujin dam Lau-hujin."

"Ah, kenapa melulu membicara-n Lau-hujin saja"

Ujar si pemuda sebal.

"Eh, eh, kenapa kau kurang senang, ada ganjalan hati lagi?"

"Mendengar laskar rakyat mau mengosongkan Siau-kim-jwan, pantaskah aku senang?"

"Bukankah penjelasan Beng tayhiap sudah gamblang? Dulu mereka mendirikan pangkalan di Siau-kim-jwan sebagai pusat komando, yakinlah takkan lama lagi mereka pasti akan mendirikan dan membuka permukiman baru yang lebih besar dan kuat Mereka membekal jiwa ksatria dan semangat juang yang tinggi, memangnya perlu dikhawatirkan?"

"Aku tahu persoalannya namun hati tetap penasaran."

Si gadis segera menghiburnya "Mendengar laskar rakyat yang akan mengosongkan tempat itu, hati siapa takkan mendelu?

lapi seperti malam panjang di musim dingin akhirnya akan berlalu.

Bila siang mendatang mentari akan menyinari jagad raya pula Betul tidak?"

"Ya, memang benar,"

Ujar si pemuda lesu.

Yang benar kelesuan hatinya bukan lantaran mundurnya laskar rakyat dari Siau-kim-jwan.

Mari kami perkenalkan pemuda ini bernama Toan Kiam-ceng, memang keponakan Toan Siu-si.

Delapan tahun yang lalu Bu Ceng menetap di rumahnya, pernah dia jatuh cinta kepada gadis nakal itu.

Belakangan setelah tahu kembang jelita sudah dimiliki orang, baru dia berusaha menghilangkan rasa rindunya.

Selama ini belum pernah ada orang tahu akan rahasia hatinya.

Bahwa sengaja tadi dia tanya Lau Khong, maksudnya yang utama adalah ingin tahu tentang Bu Ceng.

"Tadi kau tanya aku kenapa tidak tinggal di Siau-kim-jwan, sekarang giliranku tanya kau. Kenapa kau tidak ikut pamanmu pergi ke Siau-kim-jwan?"

"Seperti dirimu, pamanku melarang aku ikut ke Siau-kim-jwan."

Dalam hati dia menyesal karena jawabannya ini bohong. Sebab utama adalah karena dia menghindari pertemuan dengan Bu Ceng.

"Ya, aku paham. Pamanmu tentu khawatir kau tidak tahan derita. Memang kau siau-ongya."

Toan Kiam-ceng kurang senang, katanya.

"Sejak lama aku sudah bukan siau-ongya lagi. Jikalau aku kemaruk hidup senang, memangnya aku mau berkelana di Kangouw? Jangan kau kira aku tidak tahan hidup menderita aku, aku..."

Seperti ingin menunjukkan suatu kenyataan untuk membuktikan bahwa dia kuat "menderita", tapi tiada alasan yang dapat dia kemukakan. Si gadis cekikikan geli, katanya.

"Aku hanya berkelakar, kenapa serius?"

Tiba-tiba Toan Kiam-ceng merasa bersalah, katanya tertawa "Sebetulnya aku harus menyesal kenapa dulu aku tidak pergi ke Siau-kim-jwan?"

"Lho kenapa?"

"Jikalau dua tahun yang lalu aku sudah pergi ke Siau-kim-jwan, bukankah sejak itu aku sudah kenal dengan kau?"

Secerah kembang mekar tawa si gadis, katanya.

"Masa kau punya maksud sebaik ini? Sebetulnya apa sih kebaikanku? Patutkah kau sengaja pergi ke Siau-kim-jwan untuk berkenalan dengan aku?"

Maksud Toan Kiam-ceng hanya mengumpak supaya hatinya riang, melihat orang begitu besar menaruh cinta terhadap dirinya, terharu juga hatinya, katanya.

"Karena hanya kaulah orang yang paling memperhatikan aku, bila kita bisa kenal lebih dulu, kan lebih baik."

Kali ini dia bicara setulus hati dan sesadar-sadarnya. Dalam hati dia membatin.

"Bila aku kenal dia lebih dulu sebelum aku kasmaran terhadap Bu Ceng, mungkin banyak mengurangi kesulitan yang pernah kuhadapi selama ini."

Gadis itu kira sang pujaan memang benar mencintai dirinya, katanya tertawa.

"Dua tahun yang lalu aku masih berada di Cengseng-san. Persahabatan baik tidak ditentukan oleh waktu dan tidak boleh diukur dengan waktu. Meski sekarang baru kita berkenalan kurasa juga belum terlambat"

Gadis ini bernama Lcng Ping-ji murid perempuan generasi ketiga dari Ceng-seng-pay.

Leng Thiat-jiau, pemimpin besar laskar rakyat di Siau-kim-jwan, adalah paman semarga.

Siau Ci-wan, wakil pemimpin, adalah susiok-nya.

Tapi sejak kecil dia belajar kungfu di Ceng-seng-san, baru tahun lalu dia turun gunung setelah pelajaran silatnya tamat.

Kembali ke Siau-kim-jwan adalah setelah dia berkenalan dengan Toan Kiam-ceng.

Maklum baru berkenalan dengan Toan Kiam-ceng, maka dia tidak berani menceritakan asalusul dirinya.

Di samping terima kasih, baru Toan Kiam-ceng juga merasa menyesal, katanya dengan tertawa dipaksakan.

"Ucapanmu betul. Marilah kita bicara lain tokoh di Siau-kim-jwan saja, bagaimana dengan Beng-hujin? Lau-hujin sudah kau ceritakan, tapi belum pernah kau ceritakan tentang peranan istri Beng tayhiap, Beng-hujin, yang menduduki pimpinan ketiga di Siau-kim-jwan."

Sengaja dia mencari alasan lain untuk mengalihkan perhatiannya.

"Istri Beng tayhiap bernama Lim Bu-siang, sebenarnya dia adalah ciangbunjin Hu-siang-pay, belakangan karena menikah dengan Beng tayhiap, maka kedudukan ciangbunjin dia serahkan kepada sang suheng yang bernama Ciok Wi."

"O, jadi semula dia seorang iangbunjin, pastilah perempuan gagah dan perkasa"

"Memang perlu diragukan? Di antara sekian banyak orang gagah yang kumpul di Siau-kim-jwan, ilmu pedangnya diakui nomor satu. Bukan saja ilmu silatnya tinggi, tindak tanduknya sebagai seorang pimpinan dan istri pendekar besar ternyata tidak kalah dengan Beng tayhiap sendiri."

Toan Kiam-ceng tertawa katanya "Kau kan bukan teman lamanya dari mana kau tahu?"

"Apakah kau tahu pendekar perempuan yang pernah menggemparkan Kangouw Hun lihiap Hun Ci-Jo?"

Nyo Hoa masih terus menguntit dan pasang telinga. Mendengar mereka membicarakan ibunya di samping girang dia pun berduka. Senang karena ibunya dipuji, berduka karena ibunya sudah meninggal. Pikirnya.

"Baru saja mereka membicarakan Beng Goan-cau suami istri, kenapa lantas menyinggung ibuku? Biar kudengar apa yang mereka bicarakan."

Toan Kiam-ceng tertawa katanya "Bukan hanya tahu, Hun lihiap dulu malah pernah tinggal di rumahku. Sayang kabarnya dia sudah meninggal."

"Semasa hidupnya Hun lihiap adalah sahabat baik Beng tayhiap suami istri,"

Ujar Leng Ping-ji.

"O, memangnya kenapa?"

"Aku pernah ikut Beng tayhiap suami istri bersembahyang di depan pusara Hun lihiap. Karena mereka hendak meninggalkan Siau-kim-jwan, maka khusus menyempatkan diri untuk memohon diri kepada Hun lihiap. Hari itu mereka suami istri menangis amat sedih, Beng-hujin sampai jatuh pingsan saking sedihnya."

Agaknya Toan Kiam-ceng keheranan, katanya.

"Beng tayhiap sekarang pendekar besar yang perkasa masa dia pun"

Menangis?"

"Iya malah menangis begitu sedih. Sering aku dengar cerita orang, di dalam beberapa kali pertempuran, sering Beng tayhiap mengalami cedera yang parah, tapi belum pernah dia mencucurkan airmata. Hari itu aku sampai ikut mencucurkan airmata bersama mereka."

Toan Kiam-ceng menghela napas, ujaraya.

"Orang seperti Beng tayhiap suami istri yang menghargai persahabatan, dalam jaman ini mungkin jarang sekali."

Ucapannya tercetus dari lubuk hatinya yang paling dalam, bukan lantaran dia sudah tahu betapa intim hubungan Beng Goan-cau dengan Hun Ci-lo.

Leng Ping-ji berkata "Kukiratidak demikian halnya menurut pendapatku, semua orang gagah yang kumpul di Siau-kim-jwan semua memang paling menjunjung tinggi persahabatan."

Ping-ji memang berkata setulus hati, dalam hati dia membatin.

"Hanya aku khawatir, orang baik terhadapmu tapi kau sendiri justru tidak tahu."

Tapi Toan Kiam-ccng juga dapat meraba isi hatinya, katanya dengan tertawa.

"Betul, aku berani berkata demikian memang patut digampar. Di depan mataku kan sudah ada teman yang amat menghargai persahabatan?"

Merah muka Leng Ping-ji, katanya.

"Aku kan bicara secara obyektif, secara umum, kenapa kau mengolok-olok aku malah?"

"Ah, memangnya kau tidak?"

Goda Toan Kiam-ceng tertawa. Nyo Hoa tiada minat mendengar pembicaraan mesra ini, dalam hati ia membatin.

"Agaknya ibu dike-bumikan di Siau-kim-jwan, kapan-kapan aku harus pergi ke Siau-kim-jwan, umpama tidak ketemu Beng Goan-cau, sebagai seorang putera selayaknya aku berziarah di makam ibunda."

Lalu berpikir pula.

"Ibu adalah sahabat baik Beng Goan-cau suami istri. Lalu kenapa Beng Goan-cau tidak suruh istrinya menuliskan penjelasan Beng-keh-to-hoat itu? Tapi bukan mustahil Beng-hujin yang minta toldng ibu menuliskan."

Dia kira persoalan ini tak perlu diragukan lagi, maka dengan seksama dia mendengarkan pembicaraan Toan Kiam-ceng dan Leng Ping-ji.

Mendadak didengarnya Toan Kiam-ceng menjerit aneh, suaranya mengandung rasa kaget dan senang.

Itulah suarajeritan yang mendadak setelah sekian saat mereka berdiam diri.

Ternyata tanpa sadar mereka sudah menerobos masuk ke lorong yang menembus ke Kiam-ti.

Leng Ping-ji menghela napas, katanya.

"Tempat ini bak sorga di dunia. Sungguh tak pernah terpikir olehku bahwa di dunia ini masih ada tempat seindah dan sepermai ini."

"Nah, lihat, bukankah itu Kiam-hong. Huruf Kiam-hong itu adalah goresan Thio Tan-hong."

Suaranya setengah memekik, nadanya tinggi, jelas betapa gembira hatinya.

Di saat kedua orang menyatakan kekagumannya, Nyo Hoa berputar dari jalan rahasia lain mendahului mereka memanjat ke Kiam-hong, lalu sembunyi di belakang sebuah batu besar.

Dari nada pembicaraan Toan Kiam-ceng tadi, dia menduga pemuda ini seperti tahu rahasia Kiam-hong yang ada sangkut pautnya dengan keluarga Toan.

Dalam hati dia membatin.

"Sekarang aku belum boleh keluar, salah-salah mereka curiga menyangka aku sengaja mau mencuri dengar pembicaraan mereka."

Didengarnya Leng Ping-ji berkata dengan tertawa.

"Wah, begini senang kau ini. Apakah Thio Tan-hong yang kau katakan adalah mahaguru silat Thio Tan-hong yang hidup di jaman dinasti Beng dulu?"

"Kalau bukan dia siapa yang patut membuatku segirang ini? Hahaha, akhirnya aku temukan juga."

"Kau temukan apa?"

Tiba-tiba Toan Kiam-ceng menghela napas, ujarnya.

"Tidak, tidak mungkin. Kali ini kemungkinan aku harus pulang bertangan kosong lagi."

Leng Ping-ji keheranan, katanya.

"Jadi kau kemari hendak cari pusaka?"

"Yang kucari bukan uang perak atau perhiasan umumnya"

Sembari bicara dia mendongak, matanya tertuju ke atas puncak pedang.

"Tadi"

Kau bilang hendak membicarakan sesuatu di bawah Puncak Pedang...."

"Baiklah, kau memang lebih pintar dari aku, tolong kau bantu aku mencarikah akal."

"Akal apa?"

"Di atas puncak terdapat suatu rahasia yang tersembunyi, ada hubungannya dengan Thio Tan-hong, juga ada sangkut pautnya dengan keluargaku."

"Omonganmu membuatku bingung. Thio Tan-hong adalah mahaguru silat yang hidup di jaman dinasti Beng, mana mungkin punya hubungan dengan keluargamu?"

"Jangan sangsi, aku tidak menipu kau. Kalau dibicarakan, sebetulnya Thio Tan-hong masih terhitung kakek moyangku."

Nyo Hoa heran, pikirnya.

"Bagaimana mungkin Thio Tan-hong juga terhitung moyangnya? Padahal baru pertama ini dia datang kemari, jelas takkan mungkin menemukan peninggalan Thio Tan-hong seperti aku."

Maka didengarnya Leng Ping-ji bertanya.

"Urusan makin ruwet, aku tidak habis heran, kau bukan murid Thian-san-pay, bagaimana mungkin Thio Tan-hong terhitung moyangmu?"

"Tigaratusan tahun yang lalu Thio Tan-hong pernah menjadi tamu keluargaku, beliau meninggalkan beberapa lembar pelajaran kungfu sebagai dasar latihan Iwekang. Entah sejak kakek moyangku yang mana keluarga kita turun temurun dilarang belajar ilmu silat. Pamanku justru berkukuh hendak belajar silat hingga dia minggat dari rumah."

Sebetulnya dia tahu masih ada alasan lain, tapi di hadapan Leng Ping-ji tidak enak dia membeber kesalahan ayahnya sendiri.

"Tapi bukankah kau sendiri juga belajar silat?"

"Aku belajar sembunyi-sembunyi. Waktu aku berusia duapuluh tahun, tanpa sengaja aku menemukan tulisan Thio Tan-hong yang ditinggal di rumahku.-Sayang hanya tulisan permulaan dari pelajaran dasar saja. Tapi Thio Tan-hong masih menyimpan ilmu silatnya yang paling tinggi di atas Puncak Pedang ini."

"Dari mana kau tahu?"

"Di jaman jayanya Thio Tan-hong dahulu, terdapat pula seorang jago pedang yang kenamaan, namanya Thi King-sim. Tentunya kau juga tahu tentang dia?"

"Betul, aku pernah mendengar beritanya dari beberapa cianpwe perguruanku, konon beliau dulu kira-kira sejajar sebagai jago pedang bersama Thio Tan-hong."

"Tidak, jaraknya cukup jauh, hal ini diakui sendiri oleh Thi Kingsim. Terhadap ilmu pedang ciptaan Thio Tan-hong, dia tunduk lahir batin."

"Mereka hidup di jaman dinasti Beng, apa yang dikatakan Thi King-sim, dari mana kau tahu sejelas itu? Apakah percakapan mereka juga tercatat dalam lembaran sejarah?"

"Catatan sejarah sih tidak ada, tapi catatan pribadi seseorang memang ada,"

Demikian tutur Toan Kiam-ceng.

"Istri Thi King-sim, Bok Yan, adalah seorang kuncu (putri raja) dari Bing-kok-kong yang berkuasa di jaman itu. Sementara adik Bok Yan bernama Bok Ling adalah menantu keluarga Toan kita. Jadi hitung-hitung Thi King-sim masih terhitung famili dengan keluarga Toan kita."51 Leng Ping-ji tertawa, katanya.

"Orang-orang ternama yang jadi famili keluargamu kok banyak juga. Tapi lalu bagaimana?"

"Di hari tuanya Thio Tan-hong menyepi di Ciok-lin, suatu hari Thi King-sim dan istrinya datang mengunjunginya, Thio Tan-hong lantas mendemonstrasikan rangkaian ilmu pedang ciptaannya yang belum sempurna di hadapan mereka, waktu itu Thi King-sim sudah nyatakan kekagumannya, dipujinya karya besar ini tiada bandingannya sejak jaman dulu sampai jaman yang akan datang. Waktu itu telah dianjurkan supaya beliau selekasnya mencari ahli waris, lapi Thio Tan-hong menyatakan sebelum ilmu pedang ciptaannya sempurna, dia tiada maksud menerima murid."

Toan Kiam-ceng berkata lebih lanjut.

"Jarak Ciok-lin dan Thiansan laksaan H jauhnya, Thi King-sim sendiri waktu itu tidak punya waktu sementara Thio Tan-hong juga rikuh minta bantuannya untuk mengundang muridnya datang kemari."

"Apa Thio Tan-hong tidak khawatir bila ilmu pedang ciptaannya itu tiada yang.mewarisi?"

"Thio Tan-hong seorang berjiwa besar yang berpandangan luas, pikirannya terbuka, waktu berbincang-bincang dengan Thi King-sim suami istri dulu, dia pun pernah menyatakan penyesalannya, menyesal bahwa sang waktu mungkin tidak memberi kelonggaran padanya, entah bila ilmu pedangnya sempurna, apakah dia masih bisa hidup di dunia ini. Akhirnya dia bilang bila tidak menemukan ahli waris, sebelum ajalnya dia akan sembunyikan seluruh karya hasil jerih payahnya di atas Kiam-hong, biar nanti orang yang punya jodoh mendapatkannya. Dia hanya mengejar cita-cita, semoga di masa hidupnya dapat menyumbang karyanya bagi dunia persilatan. Umpama kelak karyanya tidak ditemukan orang, umpama mati juga tidak menyesal."

"Ya, itulah yang dinamakan hanya tahu bercocok tanam tidak memikirkan panennya, selama hidup berjerih payah sampai mati takkan berhenti. Jiwa besar mahaguru silat ternama ini memang patut dijadikan teladan."

Toan Kiam-ceng melanjutkan.

"Pembicaraan Thio Tan-hong dengan Thi King-sim dicatat oleh istrinya, Bok Yan, belakangan suami istri ini beruntun meninggalkan dunia, maka catatan harian itu jatuh di tangan adiknya, Bok Ling. Situasi waktu itu amat genting, pihak kera-jaan bermaksud melebarkan sayapnya menundukkan sukusuku kecil, terpaksa Bok Ling mengungsi ke rumah mertua maka buku catatan itu pun tertinggal di rumahku. Aku menemukannya bersama beberapa lembar ajaran dasar Iwekang pemberian Thio Tan-hong di gudang buku."

"Kalau demikian, bila ada orang dapat menemukan tempat di mana Thio Tan-hong menyembunyikan ajaran silat ciptaannya bukankah dia tiada tandingannya di kolong langit ini?"

"Juga belum tentu. Itu tergantung bagaimana bakat orang itu serta betapa tinggi dan dalamnya karya Thio Tan-hong, apakah orang itu mampu mempelajari dan memahaminya"

Nyo Hoa mengangguk.

"Pendapatnya betul. Aku umpamanya, apa gunanya aku memperolehnya, hakikatnya aku tak mampu mempelajarinya"

Lebih lanjut Toan Kiam-ceng berkata "Bagaimanapun juga ini merupakan pusaka yang jarang ditemukan di dunia ini."

Leng Ping-ji tertawa, katanya "Tak heran kau begitu getol ingin lekas sampai di sini."

Toan Kiam-ceng menghela napas, katanya.

"Tapi Puncak Pedang ini tegak lurus seperti pinsil, orang hutan juga sukar memanjat ke atas, entah di mana pit-kip itu disembunyikan?"

Sembari bicara dia menatap Leng Ping-ji lekat-lekat Leng Ping-ji bimbang sejenak, katanya "Kalau aku bisa membantu pasti aku akan membantu kau.

Bicara sejujurnya ginkang-ku mungkin lebih baik dari kau, tapi untuk memanjat ke puncak terjal ini jelas aku tidak akan mampu."

"Aku punya akal, coba kau ikut pikirkan apakah bisa dilaksanakan. Kita cari tambang panjang, kau pegang ujung tambang yang satu, sementara tali diikat di pingangku. biar aku yang merambat ke atas, bila terpeleset dan jatuh, tolong kau bantu menyangga badanku."

"Kalau luput dan tak mampu menyangga kau bagaimana?"

Tidak masuk gua mana dapat menangkap anak harimau? Umpama harus berkorban jiwa, betapapun pit-kip itu harus ditemukan."

"Aku tidak setuju kau menyerempet bahaya Kungfu seseorang tinggi atau rendah kurasa tidak jadi soal. Mungkin kau bisa bilang ini pandangan cupat seorang perempuan, tapi aku rasa, untuk menjadi seorang pendekar, kungfu adalah yang nomor dua, yang penting adalah jiwa ksatria. Bila kungfunya tidak nomor satu di dunia, juga tetap dapat menjadi pendekar yang berjiwa ksatria."

Leng Ping-ji bicara secara bajik dan bijaksana, tapi hati Toan Kiam-ceng kurang senang.

Ternyata maksudnya supaya Leng Ping-ji menyerempet bahaya merambat ke atas, sementara dia yang berjaga di bawah.

Cuma dia rikuh untuk menyatakan maksudnya, tapi dia berpikir.

"Kau begini ayu jelita, cerdik pandai lagi, masa belum tahu maksudku?"

Di luar tahunya, Leng Ping-ji memang tidak berpikir ke arah itu, dia ingin bilang.

"Ceng-ko, umpama ilmu silatmu rendah, aku tetap mencintaimu."

Tapi dia pun rikuh menyatakan isi hatinya. Kata Toan Kiam-ceng kurang senang.

"Ya, sudahlah, kalau kau tidak setuju, tapi rahasia ini sekali-kali jangan kau bocorkan kepada siapa saja."

Leng Ping-ji tertegun, matanya merah, katanya.

"Kau tidak percaya kepadaku, kenapa kau tuturkan rahasia ini kepadaku?"

Toan Kiam-ceng unjuk senyum, katanya.

"Jangan kau ambil di hati, masa aku tidak percaya kepadamu? Soalnya rahasia ini menyangkut urusan besar dan penting artinya, maka aku merasa perlu berpesan kepadamu."

"Tapi aku yakin bukan hanya kau dan aku saja yang tahu rahasia ini."

"Betul, aku juga curiga mungkin paman juga tahu akan rahasia ini. Maka dia tidak mau kutemani, secara diam-diam seorang diri dia datang kemari."

Pernyataan Toan Kiam-ceng ini terasa menusuk pendengaran Nyo Hoa yang sembunyi di atas, diam-diam dia membatin.

"Siauongya ini ternyata banyak curiga, aku yakin ji-suhu tidak tahu akan rahasia ini. Bila dia tahu, di kala tahu jiwanya sudah dekat ajal, pasti dia berusaha memberi tahu rahasia penting ini kepadaku."

Lalu dia berpikir pula.

"Dari nada bicara siau-ongya ini, agaknya dia lebih mementingkan pit-kip itu daripada menemui pamannya di sini, cuma alasannya saja mencari paman, tapi tujuan yang sebenarnya adalah mencari pit-kip itu. Ternyata Leng Ping-ji bersikap peduli, katanya.

"Kurasa bukan pamanmu sengaja datang kemari secara diam-diam. Bukankah sebelum pergi dia memberi tahu kepada Beng tayhiap? Dia bilang tujuannya mencari teman, bukan mencari pit-kip segala."

Dingin sikap Toan Kiam-ceng, katanya.

"Walau dia pamanku, tapi apa salahnya kita hati-hati terhadap orang, bukan mustahil dia pun mengelabui Beng Goan-cau?"

"Kalau betul demikian, buat apa perjalanan menuju ke Ciok-lin ini dia beri tahu kepada Beng Goan-cau?"

"Mungkin dia kira Beng Goan-cau tahu seluk beluk Ciok-lin dengan harapan Beng Goan-cau memberi sedikit bantuan untuk perjalanannya ini?"

Leng Ping-ji geleng-geleng, katanya.

"Aku justru tidak banyak curiga seperti kau."

"Masih ada alasanku untuk curiga, dalam Ciok-lin ini belum tentu ada seorang teman yang hendak dicarinya, kalau tidak kenapa dia tidak sebutkan nama teman yang tinggal di sini?"

Pertanyaan Toan Kiam-ceng ini sebetulnya Nyo Hoa bisa memberi jawaban. Maka dalam hati dia membatin.

"Kurasa hal ini tidak sukar dijawab, pertama, sam-suhu tinggal di sini bersama aku, tidak ingin diketahui orang luar. Kedua, sam-suhu dipecat oleh ciangbun susiok-nya, di sini dia bermusuhan dengan Yang Ke-beng, iblis besar yang laknat itu, kapan saja kemungkinan bisa menghadapi marabahaya. Ji-suhu tahu kami berada di sini, maka dia pasti akan menyusul datang. Padahal Beng tayhiap mengemban tugas berat yang menyangkut mati hidup laskar rakyat di Siau-kimjwan, mana boleh dia bertambah khawatir akan keselamatan jisuhu? Mereka adalah teman baik, jikalau ji-suhu membeber persoalan sesungguhnya, lalu Beng tayhiap harus atau tidak menemani dia kemari? Bukankah hal ini akan mempersulit posisi Beng tayhiap?"

Leng Ping-ji tertawa, katanya.

"Lalu kau mencurigai pamanmu, kemungkinan dia sudah menemukan Pit-kip peninggalan Thio Tanhong itu?"

"Sukar kukatakan, betapapun aku masih mengharap dapat menemukan sendiri. Aneh, sampai sekarang kami belum kepergok dengan seorang pun, kemungkinan besar paman sudah meninggalkan Ciok-lin."

"Kalau benar pamanmu sudah menemukan dan membawa pergi pit-kip itu, maka tak perlu kita lama-lama tinggal di sini. Sebaliknya jikalau belum dia temukan, dengan bekal kepandaian kita sekarang juga takkan mampu memanjat ke Puncak Pedang, terpaksa biarlah tunggu kelak bila ginkang kita sudah mencapai kemajuan."

Toan Kiam-ceng diam saja, Nyo Hoa sembunyi di belakang batu jadi tidak tahu gerak-geriknya, sesaat kemudian baru didengarnya Leng Pin-ji cekikikan geli, katanya.

"Hey, kenapa kau menggoresgores di telapak tanganku?"

Ternyata Toan Kiam-ceng jadi masgul dan merasa berat, sambil mendongak dia mengawasi ukiran huruf "Kiam-hong"

Tulisan Thio Tan-hong sampai melamun, saking asyik dia pegang tangan Leng Ping-ji serta meniru tulisan huruf "Kiam-hong."

Sesaat mendengar omelan Leng Ping-ji baru dia tersentak sadar.

"Coba perhatikan huruf Kiam-hong itu, bukankah goresannya amat kuat dan gayanya juga berseni. Gaya tulisan Thio Tan-hong agahnya mirip gaya permainan ilmu pedang. Kau lebih cerdik dari aku, tolong kau perhatikan dan ikut menyelami,"

Demikian pinta Toan Kiam-ceng. Mencuri dengar pembicaraan mereka, terasa oleh Nyo Hoa akan pendapat yang sama Toan Kiam-ceng dengan dirinya, pikirnya.

"Pandangan sesama enghiong memang sama. Walau aku ini bukan enghiong. Demikian pula keponakan ji-suhu ini agak sesat kurasa dia juga tidak setimpal dianggap seorang enghiong."

Semula ada maksud memberikan pit-kip peninggalan Thio Tan-hong kepada Toan Kiam-ceng, tapi mengingat hal ini, dia jadi bimbang. Didengarnya Leng Ping-ji cekikikan, katanya.

"Agaknya kau sudah gila ilmu silat. Aku ini anak perempuan bodoh, mana bisa memahami sesuatu. Tapi aku punya satu akal, bila kukatakan jangan ditertawakan lho."

"Eh, kenapa pakai sungkan segala. Pendapatmu pasti baik, coba katakan."

Leng Ping-ji tertawa, katanya.

"Kau punya raga. Kau ingin latihan menulis, ilmu pedang, kenapa tidak latihan di atas ragamu sendiri? Maksudnya yaitu kenapa tidak melatih raga sendiri, kok meyakinkan raga orang lain?"

Sejenak Toan Kiam-ceng kebingungan, tiba-tiba dia berteriak sambil keplok.

"Ping-moay, ucapanmu seperti petuah ayat-ayat Nabi saja. Memang untuk menjadi seorang cikal bakal seperti Thio Tanhong, jelas harus memiliki raganya sendiri. Tapi untuk mencapai taraf setinggi itu mungkin selama hidupku juga takkan bisa kugapai."

Nyo Hoa yang bersembunyi di atas Puncak Pedang juga seperti kaleng kosong yang mendadak berisi penuh setelah mendengar ucapan Leng Ping-ji, seketika dia sadar dan paham segala-galanya.

"Raga"

Yang dimaksud oleh Leng Ping-ji dalam hal ini mengandung dua makna yang mendalam, boleh dianggap sebagai badan, tapi juga boleh dianggap sebagai suatu aliran.

Isi dari aliran itu, gayanya, sifatnya, badannya dan usahanya yang mencakup kesemuanya sebagai syarat utama sehingga sesuatu badan itu terbentuk.

Sinar ilham seperti berkelebat dalam benaknya, Nyo Hoa berpikir.

"Betul, untuk mencapai kesempurnaan tingkat tinggi, peduli itu seni tulisan, ilmu pedang, sepantasnya mempunyai gaya alirannya sendiri. Jikalau hanya mencontoh bentuk orang lain, serta meyakinkan aliran atau bentuk orang lain, umpama hasilnya baik dan mutunya tinggi, juga tetap di bawah taraf orang itu."

Maka berbagai kungfu yang pernah dipelajarinya seperti Sip-hunkiam-hoat dari Khong-tong-pay, Beng-keh-to-hoat dan Bu-bengkiam-hoat ciptaan Thio Tan-hong semua berkecamuk dalam benaknya, terasa di antara ketiga ilmu itu mempunyai titik persamaan.

Lalu bagaimana menyatukan sehingga berbagai ilmu tingkat tinggi melebur dan menciptakan suatu raga tersendiri?

Nyo Hoa seperti sudah memperoleh gambaran kunci yang nyata, tapi dalam waktu singkat itu dia sendiri menjadi bingung dan tak mampu membuka lembaran baru.

Di saat Nyo Hoa keasyikan merenungkan penemuannya hingga seperti orang mabuk, tiba-tiba seperti mendengar sesuatu suara, seketika dia sadar dan melenyapkan segala pikiran, mendekam mendengarkan suara.

Didengarnya sebuah suara yang sudah dikenal berkata.

"Aneh, barusan kugeledah kamar batu itu, dalam rumah masih banyak ransum, tapi bayangan orang tidak kelihatan satu pun. Sekarang kita sudah hampir tiba di Kiam-ti, namun masih belum melihat ada orang."

Nyo Hoa keheranan, batinnya.

"Siapakah orang ini, suaranya seperti amat kukenal, apa maksud tujuan dia menggeledah rumahku?"

Seorang lagi bersuara serak lantas menanggapi.

"Ciok-sing apakah kau takut?"

Nyo Hoa terperanjat, baru sekarang dia teringat.

"Kiranya murid tertua Yang Ke-beng. Bagus kedatanganmu memang kebetulan, coba saja sekarang apa kau mampu menghina aku?"

Murid Yang Ke-beng ini bernama Ban Ciok-sing, empat tahun yang lalu Nyo Hoa pernah bergebrak melawannya.

Waktu itu usianya baru empatbelas, jelas kepandaiannya masih rendah dan bukan tandingannya.

Untung Tan Khu-seng keburu mengalahkan Yang Ke-beng hingga lawan melarikan diri dengan luka parah, terpaksa Ban Ciok-sing ikut lari bersama gurunya.

Tapi Nyo Hoa sudah dihajar, dan mendapat rugi cukup besar.

Ban Ciok-sing berkata.

"Kepandaian Tan Khu-seng bukan olaholah lihaynya, aku jadi khawatir akan keselamatan suhu, kemungkinan sudah mengalami nasib jelek di sini."

Suara serak tua itu berkata.

"Kau khawatir gurumu tidak mampu membunuh Tan Khu-seng, malah terbunuh oleh musuh-musuh, begitu?"

"Suhu tentu yang kuharap tidak demikian."

"Yakin tidak demikian halnya,"

Suara serak berkata tegas.

"Jikalau hanya gurumu seorang, terus terang aku tidak berani tanggung. Tapi gurumu datang bersama Tong-hian suheng, dibantu oleh jago kosen dari Taylwe (istana raja) Auwyang Ya lagi. Lwekang Tong-hian suheng di dalam kalangan Khong-tong-pay kita, kecuali Ciangbun suheng tiada yang mampu mengalahkan dia. Umpama berduel satu lawan satu yakin Tan Khu-seng juga bukan tandingannya."

Ban Ciok-sing berkata.

"Tapi bila mereka berhasil membunuh Tan Khu-seng, urusan sudah setahun yang lalu, kenapa selama ini belum juga kunjung pulang?"

Setelah mendengar percakapan kedua orang ini, Nyo Hoa sudah jelas asal-usul kedua orang ini serta apa maksud tujuan mereka, pikirnya.

"Mungkin karena menunggu gurunya setahun tidak pulang, maka Ban Ciok-sing mengajak sute Tong-hian-cu ini meluruk kemari untuk mencari jejak gurunya."

Maka suara serak tua itu berkata pula.

"Dari mana aku bisa tahu? Mungkin mereka sengaja sembunyi di dalam Ciok-lin dan belum tahu kedatangan kami. Atau kemungkinan mereka langsung ikut Auwyang Ya masuk ke kota raja? Cuma kalau kau benar-benar takut, bolehlah kau kembali."

Agaknya Ban Ciok-sing jadi rikuh, katanya.

"Tong-bing totiang, kau orang tua berada di sampingku, apa yang kubuat takut? Aku hanya menguatirkan keselamatan suhu."

Mendengar nama Tong-bing to-tiang, kembali Nyo Hoa terperanjat Lebih kaget daripada waktu mendengar kedatangan murid Yang Ke-beng.

Nyo Hoa memang belum pernah melihat Tong-bing-cu, namun sam-suhu-nya Tan Khu-seng pernah bercerita kepadanya.

Konon di dalam dua generasi murid perguruan Khong-tong-pay, kecuali ciangbun-jin, bicara soal lwekang Tong-hian -cu nomor satu, dalam bidang kiam-sut atau ilmu pedang adalah Tong-bing-cu paling unggul.

Ilmu pedang yang berhasil diyakinkan dinamakan Lianhoan-toh-beng-kiam-hoat (Ilmu pedang mencabut nyawa berantai), bila dilancarkan seorang diri dapat menjaga delapan penjuru angin, berarti ada delapan jago pedang merangsak sekaligus.

Waktu itu secara berkelakar Tan Khu-seng pernah bilang.

"Sayang aku bercekcok dengan susiok ini, kalau tidak, aku bisa mohon petunjuk kepadanya, sekarang terpaksa aku harus memeras keringat dan memutar otak siang malam untuk mempelajari ilmu perguruan yang telah lenyap dan putus turunan."

Teringat akan cerita gurunya dulu, Nyo Hoa membatin.

"Ucapan suhu sudah merupakan penghargaan terhadap orang yang lebih tua, tapi suhu terang beranggapan dia boleh diajak untuk mempelajari dan menyelami kiamhoat, dari sini dapatlah diperkirakan bahwa thay-susiok ini memang memiliki ilmu pedang yang benar-benar tinggi."

Maklum di bidang ilmu pedang, kecuali Thio Tan-hong yang sudah meninggal sejak tigaratus tahun yang lalu, orang yang paling dikagumi adalah sam-suhu-nya.

Umpama Tan Khu-seng bilang ilmu pedang Tong-bing-cu termasuk nomor satu di Khong-tong-pay, kemungkinan sekarang dia tidak akan mengambil perhatian.

Tapi waktu itu sam-suhu-nya bilang ingin mohon petunjuk kepadanya, maka dia pun tidak berani memandang rendah padanya.

"Dari nada perkataan sam-suhu aku dapat menarik kesimpulan bahwa Lian-hoan-toh-beng-kiam-hoat sebetulnya masih belum mampu mengalahkan Sip-hun-kiam-hoat yang diajarkan kepadaku, sayang Sip-hun-kiam-hoat aku baru mempelajari setengah tahun lamanya, bila nanti aku harus berhadapan dengan thay-susiok, mungkin aku masih bukan tandingannya,"

Demikian batin Nyo Hoa.

Tong-bing-cu dan Ban Ciok-sing bicara dalam suara lirih, tapi lwekang Nyo Hoa sekarang sudah punya dasar, dengan mendekam di tanah mendengarkan suara, dia dapat dengar jelas pembicaraan mereka.

Sementara Toan K iam-ceng dan Leng Ping-ji yang berada di pinggir Kiam-ti masih belum tahu bahwa orang jahat telah datang, bahaya tengah mengancam mereka Leng Ping-ji masih tertawa, katanya.

"Aku saja percaya akan kecer-dikanmu, kenapa kau sendiri tidak punya keyakinan malah. Marilah pulang meyakinkan "raga"

Sendiri, yang jelas sekarang kita belum mampu menemukan Bu-kang-pit-kip peninggalan Thio Tan-hong itu."

Toan Kiam-ceng merasa berat, katanya susah.

"Pamanku juga tidak ketemu. Kali ini aku harus pulang dengan tangan kosong, baiklah mari pulang."

Kala itu Tong-bing-cu dan Ban Ciok-sing sudah tiba di lorong jalan menuju Kiam-ti. Tong-bing-cu lantas mendesis dan berbisik.

"Jangan bersuara di dalam ada orang."

Leng Ping-ji juga sudah mendengar langkah mereka"

Setelah bersuara heran dia berkata.

"Ceng-ko, kau dengar, agaknya ada orang datang."

Toan Kiam-ceng terkejut dan girang, lekas dia berteriak.

"Aku adalah Kiam-ceng paman, paman, kau..."

Dia kira orang yang muncul di dalam Ciok-lin kecuali pamannya masih ada siapa lagi? lak nyana belum habis dia bicara, tampak yang muncul adalah seorang tosu tua dan satu laki-laki setengah umur.

"Kalian siapa?"

"Kalian siapa?"

Tanpa berjanji Toan Kiam-ceng menegur bersama Ban Ciok-sing. Tong-bing-cu malah tergelak-gelak, katanya.

"Kiranya kau ini siau-ongya dari Tayli. Toan Siu-si adalah pamanmu, betul tidak? Siau-ongya, selamat bertemu, selamat bertemu!"

Toan Kiam-ceng keheranan, katanya.

"Tofong tanya, siapa gelar totiang? Sebelum ini agaknya kita belum pernah bertemu, dari mana totiang tahu diriku?"

Tong-bing-cu tertawa lebar, katanya.

"Siau-ongya orang kaya nomor satu di seluruh Tayli, walau pinto orang gunung yang rudin, tapi tahu juga tentang diri siau-ongya. Apalagi pamanmu juga cukup terkenal di kalangan Kangouw, sejak lama pinto juga mengaguminya. Pinto adalah Tong-bing-cu dari Khong-tong-pay, entah pamanmu pernah menyinggung namaku kepadamu?"

Toan Kiam-ceng terkejut, batinnya.

"Gelagatnya dia hanya saling mengagumi dengan paman, namun belum pernah ketemu alias tidak kenal. Lalu dari mana dia bisa tahu tentang diriku? Mungkin pembicaraanku dengan Ping-ji tadi telah dicuri dengar mereka?"

Segera dia gelengkan kepala, katanya.

"Paman jarang membicarakan tokoh-tokoh Bulim dengan aku Mohon maaf bila pertanyaanku lancang, entah untuk apa kedatangan totiang kemari?"

Tong-bing-cu tertawa, katanya.

"Pertanyaan ini sepantasnya aku yang balik tanya kepada siau-ongya."

Secara tidak langsung dia mau bilang adalah biasa dan sepantasnya kalau dirinya datang ke Ciok-lin ini. Toan Kiam-ceng melenggong, didengarnya Tong-bing-cu berkata pula tawar.

"Penghuni Hutan Batu ini adalah keponakan murid pinto."

"Bahwa paman menengok temannya di Hutan Batu ini ternyata memang kenyataan,"

Demikian batin Toan Kiam-ceng dengan melenggong, tanyanya.

"Siapakah sutit totiang?"

"Siau-ongya,"

Tong-bing-cu balas tanya.

"kau betul tidak tahu atau pura-pura saja?"

Merasa pertanyaan orang agak janggal, Toan Kiam-ceng mengerut kening, sikapnya kurang senang, katanya.

"Berdasarkan apa totiang mengira aku sudah tahu? Aku betul tidak tahu."

Perlahan Tong-bing-cu menjelaskan.

"Sutit-ku bernama Tan Khuseng, menurut apa yang kutahu, pamanmu adalah sahabat baiknya. Sayang sekali meski dulu pamanmu pernah sekali berkunjung ke Khong-tong, kebetulan aku tidak di atas gunung hingga tak sempat bertemu. Siau-ongya, apa kau mencari pamanmu?"

Tahu urusan tidak bisa mengelabui orang, maka Toan Kiam-ceng berkata.

"Betul. Tapi aku tidak tahu kalau paman kemari mencari sulitmu."

"Baiklah, anggap saja sebelumnya kau memang tidak tahu, sekarang kau sudah tahu keadaan mereka bukan?"

Nadanya mendesak dan mengancam. Toan Kiam-ceng bersikap kurang senang, katanya kasar.

"Tidak tahu. Maaf, aku mau pulang, silakan kalian cari sendiri saja."

"Nanti dulu,"

Tiba-tiba Ban Ciok-sing membentak setelah dia adu pandang sejenak dengan Tong-bing-cu. Tong-bing-cu tersenyum, ujarnya.

"Iya, sudah saatnya kau bicara persoalan itu dengan dia."

Toan-kiam-ceng menjengek, katanya.

"Siapa kau? Ada petunjuk apa?"

"Jejak guruku, apa kau sudah tahu?"

Tanya Ban Ciok-sing.

"Aku tidak tahu siapa gurumu?"

"Guruku adalah Yang Ke-beng, apa betul kau tidak tahu?"

Toan Kiam-ceng kelihatan tenang-tenang saja, tapi Leng Ping-ji terkejut mendengar nama suhu orang.

Maklum, meski Yang Ke-beng mengasingkan diri di Ciok-lin, orang-orang Kangouw yang kenal dirinya hanya beberapa orang, tapi tokoh tua Ceng-seng-pay seperti Siau Ceng-hong dan Leng Thiat-j iau dari Siau-kim-jwan dan beberapa orang lagi tahu bahwa dia adalah cicit murid Beng Sin-thong, namun tidak tahu kalau dia pernah sembunyi di Ciok-lin.

Leng Ping-ji pernah dengar Siau Cenghong dan Leng Thiat-jiu menyinggung Yang Ke-beng dan cikal bakal perguruannya, maka dia tahu kalau Yang Ke-beng adalah gembong iblis masa kini, kini mendadak tahu bahwa laki-laki di depan mata ini adalah murid Yang Ke-beng betapa hatinya takkan terkejut Tapi Tan Kiam-ceng memang tidak tahu, sikapnya tetap tak acuh, katanya.

"Siapa itu Yang Ke-beng, aku tidak pernah dengar?" -Ban Ciok-sing menyeringai dingin, katanya.

"Apa pun kau tidak tahu. Tapi di mana Thio Tan-hong menyimpan Bu-kang-pit-kip-nya, kau tidak akan bilang tidak tahu lagi bukan?"

"Bu-kang-pit-kip karya Thio Tan-hong"

Tercetus dari mulut Ban Ciok-sing, baru sekarang Toan Kiam-ceng betul-betul terkejut "Pitkip apa? Aku, hakikatnya aku tidak tahu apa-apa..."

Sahut Toan Kiam-ceng gelagapan.

"Anak bagus,"

Jengek Ban Ciok-sing, jangan pura-pura pikun. Apa yang kau bicarakan dengan nona ini tadi sudah kami dengar."

Toan Kiam-ceng tidak tahu keli-hayan lawan, dalam hati dia membatin.

"Soal pit-kip sudah bocor, terpaksa harus adu jiwa dengan mereka."

Maka dengan angkuh dia berkata.

"Aku tidak pernah mengatakan, pasti kau salah dengar. Hayo minggir."

"Siau-ongya.

"sela Tong-bing-cu tawar.

"percayalah kepadaku, serahkan saja. Ketahuilah, gurunya sudah tinggal beberapa tahun di Ciok-lin ini sebelum diduduki Tan Khu-seng, tujuannya adalah hendak mencari pit-kip itu. Memang itu barang milik keluarganya, mana kau boleh mengambilnya seenakmu?"

Ternyata dia juga kira Toan Kiam-ceng sudah temukan pit-kip itu.

"Aku bilang tidak tahu ya tidak tahu, kenapa kalian tidak tahu aturan rnain tuduh saja?"

Demikian semprot Toan Kiam-ceng gusar.

"Baiklah kau kira aku boleh dihina dan di permainkan?"

"Sreet"

Segera dia cabut pedangnya Tong-bing-cu tertawa keras, katanya.

"Siau-ongya, kau menantang berkelahi dengan aku? Sepuluh tahun lagi baru kau setimpal melawan aku."

Toan Kiam-ceng tidak paham apa maksud ucapan orang, katanya.

"Kau tidak berani melawan aku, lekas enyah."

Ban Ciok-sing tertawa katanya.

"Totiang, kenapa kau memberi angin kepada keparat ini. Meski latihan sepuluh tahun lagi juga dia bukan tandinganmu. Biarlah serahkan aku saja untuk menghajarnya"

Sembari bicara orangnya sudah melangkah maju.

"Sret"

Kontan Toan Kiam-ceng menusuk dengan pedangnya. Ban Ciok-sing tidak banyak gerak, jari tangannya menjentik di punggung pedang "Tring"

"perlahan saja, tapi telapak tangan Toan Kiam-ceng seketika kedinginan luar biasa, saking dingin jari-jarinya seperti beku seketika hingga tak kuat lagi memegang pedang dan jatuh berkerontang. Saking terkejut, sigap sekali Toan Kiam-ceng membalik telapak tangan dengan jurus Lan-kang-koat-to, melindungi dada melawan musuh. Sudah tentu Ban Ciok-sing tidak pandang sebelah mata lawan ingusan ini. Tapi begitu kedua tangan beradu, mau tidak mau Ban Ciok-sing bersuara kaget. Ternyata kepandaian silat Toan Kiam-ceng memang biasa, tapi dasar latihan Iwekang-nya adalah ajaran Thio Tan-hong yang murni. Maka cengkeraman Ban Ciok-sing yang seenaknya itu ternyata berhasil disampuk pergi. Ban Ciok-sing tertawa, katanya.

"Tidak kusangka siau-ongya ternyata juga punya sedikit bekal yang lumayan."

Telapak tangan kirinya tiba-tiba menyusup ke depan terus menangkap pergelangan Toan Kiam-ceng serta menelikungnya Kalau tadi dia menilai rendah lawan, tapi dalam gerakan kedua ini ternyata dia kecele lagi, kali ini dia menilai terlalu tinggi.

Dalam cengkeramannya kali ini menggunakan tenaga Siu-lo-im-sat-kang.

Sudah kedinginan, lengannya kena telikung, sudah tentu sakitnya bukan kepalang rasanya.

Tanpa kuasa dia menjerit keras, mukanya pucat lesi.

"Lepaskan dia."

Tiba-tiba Leng Ping-ji membentak, meski tahu awak sendiri bukan tandingan lawan, namun dia nekat menubruk maju. Ban Ciok-sing tertawa, katanya.

"Aku sih tidak tega melukai gadis semolek engkau."

Dalam waktu sesingkat dia bicara, Leng Ping-ji sudah menyerang tujuh jurus.

Ilmu pedang Ceng-seng-pay memang tidak boleh dibuat main-main, karena tidak ingin melukai orang, Ban Ciok-sing hampir tertusuk dan terdesak hebat.

Bentaknya gusar.

"Baiklah, kau tusuk!"

Toan Kiam-ceng dicengkeram terus disodorkan ke ujung pedang lawan. Di tengah gelak tawa Ban Ciok-sing itu, dari puncak pedang mendadak menggelegar sebuah bentakan keras laksana guntur.

"Berhenti!"

Tampak satu sosok bayangan orang terjun bebas laksana seekor burung raksasa dari atas puncak.

Yang menukik turun ini bukan lain adalah Nyo Hoa Di tengah udara tangannya menyerang dengan amgi.

Senjata rahasianya adalah sebutir batu kerikil.

Mimpi pun Ban Ciok-sing tidak kira ada lawan yang terjun menyerang dirinya dari atas, mendengar bentakan mengguntur itu hatinya melonjak kaget, tibatiba pandangannya menjadi kabur, batu kerikil itu sudah melesat tiba di depan mukanya mengincar thay-yang-hiat di pelipisnya mau berkelit juga sudah terlambat Untunglah mendadak terdengar "Cring"

Batu itu pecah menjadi dua melesat terbang ke dua arah.

Ternyata pada waktu yang menentukan itu, Tong-bing-cu sempat menimpukkan sekeping mata uang tembaga membentur batu kerikil timpukan Nyo Hoa Mata uang tembaga lebih kecil dan ringan dari batu, tapi batu tertumbuk pecah, jelas lwe-kang-nya masih lebih unggul di atas Nyo Hoa Batu itu memang tidak kena Ban Ciok-sing, tapi pecah di depan mukanya mau tidak mau perhatiannya menjadi terganggu dan tenaga pun mengendor.

Kebetulan Leng Ping-ji menusuk dari belakang lagi, lekas Ban Ciok-sing mendekam tubuh terus menggelinding jauh, untuk menyelamatkan diri terpaksa dia melepaskan Toan Kiam-ceng.

Batu itu pecah menjadi dua, tenaga timpukannya masih membuatnya melesat ke samping, satu di antaranya menyerempet jidat Leng Ping-ji, rasanya pedas dan panas.

Tanpa hiraukan luka lecet di jidatnya lekas dia bopong Toan Kiam-ceng terus dibawa lari.

Ban Ciok-sing sendiri juga berkeringat dingin saking kaget, untung Tong-bing-cu sempat menimpukkan mata uang sehingga batu itu tertangkis pergi, umpama dia mampu meluputkan thayyang-hiatriya dari timpukan batu, matanya pasti buta Waktu dia membuka matanya, dilihatnya Nyo Hoa sudah berdiri di depannya sambil tolak pinggang, katanya tertawa mengejek.

"Ban Ciok-sing, masih kenal padaku?"

Sesaat Ban Ciok-sing melongo, akhirnya sadar dan membentak.

"Kurang ajar, kiranya kau bocah keparat ini!"

"Siapa bocah ini?"

Tanya Tong-bing-cu.

"Inilah bocah she Nyo murid Tan Khu-seng itu, hitung-hitung masih terhitung cucu muridmu."

Tong-bing-cu berkata.

"Gurunya sudah dipecat dari perguruan, kapan aku pernah punya cucu murid seperti ini. Jangan karena kau pandang mukaku, berlaku sungkan. Nah, silakan kau melayaninya."

Tong-bing-cu terlalu tinggi hati, meski kepandaian Nyo Hoa di luar dugaannya, namun dia masih belum ambil perhatian.

Tapi setelah tahu Nyo Hoa murid Tan Khu-seng, timbul juga rasa heran dan kaget.

Pikirnya.

"Konon Tan Khu-seng berhasil menyempurnakan Sip-hun-kiam-hoat perguruan kita yang lenyap, kecuali itu entah ilmu mujijat apa pula yang berhasil diyakinkan. Muridnya selihay ini, dapatlah dibayangkan gurunya, mungkin apa yang sering kudengar itu bukan berita angin melulu. Baiklah, biar kusaksikan permainan bocah ini untuk menilai kungfunya"

Pertama, dia bermaksud meneliti kepandaian ,Nyo Hoa untuk menjajaki sampai di mana Tan Khu-seng telah berhasil memperdalam ilmu silat perguruan.

Kedua, wataknya memang angkuh apalagi dua tingkat lebih tinggi dari Nyo Hoa, jelas dia tidak sudi turun -tangan sendiri.

Tapi dia berpesan kepada Ban Ciok-sing untuk hati-hati, secara tidak langsung hal ini sudah menunjukkan rasa khawatirnya, khawatir bahwa Ban Ciok-sing bukan tandingan Nyo Hoa.

Setelah tahu yang dihadapi ternyata Nyo Hoa, rasa jeri Ban Cioksing banyak berkurang.

Pikirnya.

"Baru tiga tahun berselang, memangnya kepandaiannya bisa mengungguli diriku, paling dia berhasil meyakinkan ginkang dan permainan senjata rahasia untuk menggertak aku."

Nyo Hoa tertawa besar, katanya.

"Bagus, ternyata kau masih ingat diriku. Hutangmu di tiga tahun yang lalu padaku tentu belum kau lupakan?"

Mendengar Tong-bing-cu suruh dirinya "hati-hati"

Diam-diam Ban Ciok-sing kurang senang. Mendengar ejekan Nyo Hoa seketika dia naik pitam, dampratnya.

"Keparat yang tidak tahu diuntung, baiklah pergi kau menagih hutangmu kepada raja akhirat!"

Dengan marahmarah kontan dia layangkan pukulannya Kalau dia bisa mengendalikan amarah dan kekasarannya, mungkin kuat melawan dua atau tigapuluh jurus serangan Nyo Hoa, tapi karena dia pandang enteng lawan, belum berapa gebrak dia sudah kecundang dan menderita rugi.

Nyo Hoa memang sengaja hendak membuat lawan menderita, tanpa bergerak dia menanti serangan lawan, setelah tiga dim hampir menyentuh badannya, baru mendadak dia mengegos miring berbareng telapak tangan melintang terus memapas ke atas.

Ban Ciok-sing membatin.

"Dalam sepuluh jurus kalau aku tidak mampu merobohkan bocah ini mungkin aku bisa dipandang enteng oleh Tong-bing-cu."

Melihat Nyo Hoa tidak berkelit, menangkis atau melawan, hatinya girang bukan main.

"Keparat ini berani melawan pukulanku, biar dia rasakan keli-hayan pukulanku."

Ternyata pukulannya ini dilandasi Siu-lo-im-sat-kang.

Tak nyana belum lenyap jalan pikirannya, kedua telapak tangannya beradu, maka terdengarlah suara "Pletak", lengan kanan Ban Ciok-sing tahu-tahu keseleo.

Ternyata jurus permainan Nyo Hoa ini menggunakan jurus golok kilat dari keluarga Beng yang dia praktekkan dalam pukulan telapak tangan, bergerak belakangan tapi menundukkan lawan lebih dulu.

Sekaligus dia sudah mempraktekkan makna utama dari pedoman ilmu golok itu yang berbunyi.

Aku sebagai poros utama, dari lambat menjadi cepat, yang kosong diisi, berlaku tenang mengatasi aksi lawan, dari pihak yang diserang berubah menjadi pihak yang menyerang.

Kungfu Ban Ciok-sing sebetulnya tidak lemah, namun mana dia tahu akan jurus tunggal yang lihay dari permainan golok yang dipraktekkan dalam ilmu pukulan ini Akan tetapi setelah melawan serangan lawan, tak urung Nyo Hoa sendiri juga bergidik dingin mundur dua langkah, giginya berkerut beberapa kali.

Maklum meski setahun ini dia menggembleng diri, namun latihan lwekang-nya masih terbatas.

Racun dingin dari Siulo-im-sat-kang langsung terserap ke dalam tubuhnya, walau masih kuat bertahan, namun hatinya mencelosjuga Melihat lawan menggigil kedinginan, diam-diam Ban Ciok-sing masih merasa syukur bahwa dirinya masih mampu menyiksa lawan, pikirnya.

"Jikalau aku kalah oleh bocah ini, jangan kata Tong-bingcu akan menghinaku, di hadapan orang lain aku pun harus malu diri. Jelas dia tidak kuat melawan Im-sat-kang yang kulontarkan. Baiklah, biar lenganku terluka pula, apa pun "dia harus kupukul mampus."

Setelah bergidik kedinginan, tiba-tiba Nyo Hoa teringat di dalam Hian-kang-pwe-coat ajaran Thio Tan-hong ada diajarkan cara mengatur napas menghimpun tenaga mengusir hawa racun dalam tubuh, lekas dia praktekkan ajaran itu serta menuntun hawa murni berputar tiga putaran dalam tubuh, lekas sekali badannya sudah merasa hangat dan nyaman, lebih segar malah.

Karuan senang Nyo Hoa bukan main, pikirnya.

"Hian-kang ajaran cosu memang mustajab, bila nanti kutempur hidung kerbau itu, yakin aku takkan mudah dikalahkan."

Di saat semangatnya pulih, kebetulan Ban Cioksing melancarkan pukulannya pula Sambil menahan sakit Ban Ciok-sing membentak.

"Bocah keparat, biar aku adu jiwa dengan kau."

Dengan Say-cu-yo-thau (Singa menggeleng kepala), telapak tangan terbalik melancarkan Keng-yo-kwa-kak (Kambing gembel menyeruduk) tinjunya memukul muka Nyo Hoa, meski lengannya keseleo, tapi Siu-lo-im-sat-kang yang diyakinkan tidak terpengaruh sedikit pun, jurus Kambing Gembel Menyeruduk ini dilontarkan dengan buas.

"Serangan bagus!"

Seru Nyo Hoa Kedua telapak tangan terangkap terus didorong maju memapak pukulan lawan, keras dilawan keras.

Jurus ini adalah gaya permulaan yang diajarkan Toan Siu-si, tapi lwekang-nya sekarang jauh berbeda dengan dulu, gaya permulaan yang umum ini ternyata perbawanya hebat luar biasa Kembali terdengar suara "Pletak"

Yang lebih keras, kali ini Ban Cioksing menjerit-jerit seperti babi disembelih, badannya terbanting jatuh terguling-guling di tanah, ternyata lengan kirinya juga keseleo.

Nyo Hoa tergelak-gelak, katanya.

"Tiga tahun yang lalu kau memukulku sekali, hari ini aku menagih modal berikut rentenya, biarlah kuampuni jiwamu."

Kali ini setelah melawan pukulan Siu-loim-sat-kang segera bergelak tertawa, gelak tawanya lebih lantang dan nadanya berisi pula, jelas hawa dingin pukulan lawan yang beracun tak mampu melukainya lagi.

Tong-bing-cu yang menonton disamping amat kaget dan heran.

Semula dia sudah duga bahwa Ban Ciok-sing bukan tandingannya Nyo Hoa, tapi juga tidak menduga kekalahannya begitu fatal dan secepat itu pula.

Hanya dua gebrak kedua lengannya telah dipelintir keseleo.

Maka dia berpikir.

"Aneh, dua jurus permainan bocah ini jelas bukan kungfu perguruan kita Usianya masih semuda ini, lwekang-nya ternya-. ta sudah seampuh ini, Siu-lo-im-sat-kang pukulan Ban Ciok-sing ternyata tidak mampu membuatnya cedera."

Sementara itu Leng Ping-ji yang membopong Toan Kiam-ceng lari, saat itu sudah tiba di ujung lorong keluar dari Kiam-hong, mendadak Tong-bing-cu membentak.

"Tinggalkan untukku!"

Dia khawatir Toan Kiam-ceng yang disangkanya telah mendapatkan pitkip karya Thio Tan-hong melarikan diri, Ban Ciok-sing sudah terluka.

Sebentar lagi masih ada tempo untuk dia membereskan Nyo Hoa Sambil lari Leng Ping-ji men-jengek.

"Sebagai Bulim cianpwe, omonganmu dapat dipercaya?"

Tong-bing-cu menjengek.

"Aku pernah omong apa?"

"Bukankah tadi kau bilang, berlatih sepuluh tahun lagi juga tidak setimpal melawan engkau?"

Damprat Lengg Ping-ji. Tong-bing-cu tergelak-gelak, katanya.

"Aku memang tak usah bergebrak dengan kalian, tapi juga mampu menahan kalian di sini."

Sembari bicara, beruntun beberapa kali dia melompat dan melesat, cepat sekali dia sudah menyusut di belakang Leng Ping-ji, di mana lengan bajunya mengebas, menimbulkan segulung angin kencang, Leng Ping-ji disampuknya hingga hampir jatuh.

Nyo Hoa cukup cerdik dan pandai melihat gelagat, untuk menolong mereka sudah terlambat, tiba-tiba otaknya mendapat akal, mendadak dia terbahak-bahak, katanya.

"Ban Ciok-sing, kalau tidak terima, boleh suruh gurumu menuntut balas kepadaku, akan kubuat kalian tahu orang pandai masih ada yang lebih pandai, jangan kira meski dia berhasil meyakinkan Siu-lo-im-sat-kang tingkat kesembilan lantas berani bersimaharaja di Bulim. Baiklah, boleh kau rawat lukamu, aku tiada tempo menemanimu lagi."

Segera dia putar tubuh lari ke arah lain di mana ada jalan tembus keluar. Tong-bing-cu sedang mempermainkan Toan Kiam-ceng dan Leng Ping-ji berdua, mendengar seruannya, hatinya kaget, dia sadar.

"Bocah itu membual atau kenyataan memang demikian. Aku belum tahu kungfu aliran mana di dunia ini yang mampu mematahkan Siulo-im-sat-kang tingkat kesembilan."

Menyusui dia membatin pula.

"Kepandaian bocah itu memang lihay dan mencurigakan, dinilai sewajarnya, dalam usia semuda dia, meski Iwekang perguruan kita berhasil diyakinkan sempurna juga tak akan kuat menandingi Siu-loim-sat-kang. Em, ya, bukan mustahil dia sudah mengambil pit-kip karya Thio Tan-hong?"

Lalu terpikir pula bahwa Nyo Hoa sudah sekian tahun tinggal di Ciok-lin, barusan juga terjun dari puncak bukit, adalah logis kalau dia telah menemukan pit-kip itu daripada Toan Kiam-ceng yang baru tiba ini.

"Kenapa aku begini gegabah, tidak memikirkan hal ini. Bocah ini hafal seluk-beluk di sini, jangan sampai aku kehilangan jejaknya."

Semula Tong-bing-cu hendak membereskan Nyo Hoa paling akhir, kini perasaannya yang kacau dan pikirannya yang cupat lantas merubah haluannya Toan Kiam-ceng sudah terluka, Leng Ping-ji nona muda yang tenaganya terbatas, harus lari menggendong orang lagi, memangnya berapa jauh dia bisa melarikan diri?

Setelah membereskan Nyo Hoa masih sempat menyusul mereka di luar Hutan Batu.

Cepat sekali kerja otak Tong-bing-cu, maka kakinya pun bergerak secepat terbang mengejar ke arah larinya Nyo Hoa.

Nyo Hoa sengaja memperlambat larinya supaya terkejar.

Katanya sambil menoleh.

"Apa kau hendak bergebrak dengan aku?"

Tong-bing-cu membentak.

"Serahkan Bu-kang pit-kip Thio Tanhong, jiwamu boleh kuampuni."

"Kau ini tianglo Khong-tong-pay yang bernama Tong-bing-cu bukan?"

Tanya Nyo Hoa "Kalau benar mau apa?"

Sentak Tong-bing-cu. Nyo Hoa berkata tawar.

"Walaupun guruku sudah dipecat, betapapun kau adalah angkatan tuaku yang patut dihormati, baiklah aku memberi kelonggaran tiga jurus kepadamu."

Menurut peraturan Bulim, bila dua orang angkatannya berbeda mau duel, umumnya yang lebih tua memberi kelonggaran kepada yang muda.

Sekarang tingkatan Tong-bing-cu dua tingkat lebih tinggi dari Nyo Hoa, tapi Nyo Hoa justru memutar balik peraturan, dia yang memberi kelonggaran kepada Tong-bing-cu.

Betapa Tongbing-cu tidak gusar?

Sambil menggerung dia membentak.

"Bocah keparat yang takabur, agaknya kau sudah bosan hidup, baiklah biar kutamatkan jiwamu."

"Wut"

Sembari mengakhiri perkataannya, jari tangannya mendadak mencengkeram.

Nyo Hoa memang memancing amarahnya, begitu merasa angin menyambar, selicin ular air, sedikit sebelum serangan tiba secara gesit dia mengelakkan diri.

Mau tidak mau Tong-bingucu kaget, pikirnya.

"Gerakan tubuhnya aneh sekali, mirip Sip-hun-pou-hoat perguruan kita yang lenyap itu."

Konon Sip-hun-kiam-hoat ajaran Khong-tong-pay murni yang hilang itu mengutamakan kelincahan dan berkelebat kian kemari, untuk mempraktekkan ilmu pedang ini dikombinasikan dengan ajaran langkah yang ajaib pula sehingga permainan pedangnya lebih berisi.

Tong-bing-cu memang belum pernah membaca catatan lama yang lengkap, catatan lama yang berupa petilan-petilan tidak lengkap memang ada dalam perpustakaan pribadinya maka sedikit banyak Tong-bing-cu tahu sedikit seluk-beluk hal ini.

Kalau Tong-bing-cu kaget, Nyo Hoa juga tidak kurang kagetnya.

Ternyata kuku jari Tong-bing-cu menggaris lewat di punggungnya meski tidak menyentuh kulit badannya tapi punggungnya terasa panas seperti kena cap besi yang membara, sakitnya lumayan.

Kalau Tong-bing-cu tidak dipancing amarahnya sehingga gerak permainannya kurang terkontrol, cengkeramannya itu mungkin lebih fatal.

Maka Nyo Hoa berpikir.

"Tak heran sam-suhu mengaguminya ilmu pedangnya nomor satu dalam perguruan, Iwekang-nya untung bukan yang paling tinggi, tapi cengkeraman yang luput ini pun sudah begini lihay, kalau terkena serangannya mungkin punggungku sudah luka parah."

Sigap sekali Tong-bing-cu sudah menyergap tiba pula.

Setelah mengenal kepandaian Nyo Hoa, serangannya kali ini diperhitungkan benar-benar, satu jurus dua gerakan, telapak tangan dan tinju merangsak bersama mengurung gerak-gerik Nyo Hoa, mendadak tinju kirinya tiba Jurus ini dinamakan Thian-io-te-bong (Jala langit menjaring bumi).

Gerakannya dari atas ke bawah seperti jala langit, sementara tinjunya dari bawah terayun ke atas seperti jaring bumi.

Telapak tangan lunak tinju keras, yang lunak kosong yang keras isi, jadi sekaligus telapak tangan dan tinju dilancarkan bersama sehingga lunak dan keras, kosong dan isi, digunakan bersama.

Kiranya permainan ini merupakan petilan dari Lian-hoan-toh-bingkiam-hoat yang paling dibanggakan Tong-bing-cu.

"Coba saja bocah keparat ini mampu meloloskan diri dari serangan Thian-lo-te-bongku ini?"

Demikian pikir Tong-bing-cu.

"Bret"

Terdengar sobekan kain yang cukup nyaring.

Pakaian Nyo Hoa ternyata tercengkeram sobek, tapi selicin belut badannya sempat menyelinap lolos dari Jala Langit Jaring Bumi Tong-bing-cu "Aduh celaka, syukurlah,"

Demikian Nyo Hoa berkaok-kaok, sekali tubuh bergerak tahu-tahu sudah melesat setombak lebih, terus menendang menimbulkan taburan debu.

Nyo Hoa bilang mengalah tiga jurus, debu yang dia tendang memang bermaksud mengaburkan pandangan orang, permainannya boleh dikata nakal dan mengambil keuntungan.

Tapi dia tetap tidak balas menyerang, jadi tidak terhitung melanggar janji.

Tong-bing-cu kira orang sengaja mempermainkan dirinya, karuan gusarnya makin menyala bentaknya.

"Bocah takabur, bangsat licik, hari ini kalau tidak kupukul mampus di tanganku, aku bersumpah tidak akan jadi orang!"

Suara bagai geledek deru pukulannya seperti kilat menyambar.

"Biang"

Sebuah pohon tak jauh di samping Nyo Hoa kena dipukulnya roboh.

"Keparat,"

Bentak pula Tong-bing-cu.

"kau memang ingin mampus, jangan salahkan aku!"

Dia kira Nyo Hoa terkena getaran pukulannya yang dahsyat, kalau tidak mampus juga terluka parah.

Pandangan Nyo Hoa memang gelap, darah seperti bergolak di rongga dada, isi perut bagai dipelintir dan pindah dari tempatnya.

Lekas dia membuka lebar mulutnya menarik napas dalam.

Lwekang sim-hoat menurut ajaran pit-kip Thio Tan-hong segera dia praktekkan, hawa mumi dihimpun tenaga pun pulih.

Sebelum Tongbing-cu bicara habis, debu yang berhamburan pun telah ditiup angin, dilihatnya Nyo Hoa berdiri di depannya, sikapnya tenang wajahnya tidak mirip orang yang terluka parah.

Nyo Hoa bergelak-gelak, katanya.

"Thay-susiok, wanpwe sudah mengalah tiga jurus, beruntung tidak mati. Setelah mengalah tiga jurus berarti aku sudah melakukan kewajiban sebagai sesama perguruan, sekarang maaf aku takkan mengalah lagi kepadamu."

Mengingat kedudukan Tong-, bing-cu, setelah tiga jurus tidak mampu merobohkan lawan yang terhitung cucu muridnya, sepantasnya dia tahu diri menyudahi pertempuran ini.

Tapi rasa penasaran ini betapapun tak terlampias, pikirnya "Dalam Hutan Batu ini kecuali Ban Ciok-sing tiada orang lain lagi, kejadian hari ini kalau dia tidak cerewet di luaran, orang luar pasti takkan tahu.

Bila kubunuh bocah ini, tak perlu khawatir ditertawakan orang-orang gagah di dunia ini."

Maka tangannya diam-diam memegang pedang mempersiapkan diri, namun dia masih bimbang untuk mengeluarkan pedangnya. Nyo Hoa justrru tahu isi hatinya, seperti tertawa tidak tertawa dia berkata pula.

"Tong-bing totiang, kalau ingin membunuhku lebih baik kalau pakai pedang. Kalau sebilah belum cukup, boleh pakai sepasang."

Dia tidak lagi memanggil thay-susiok, tapi merubah panggilan totiang, ini menandakan bahwa hu-bungam sesama perguruan sudah putus. Dari malu Tong-bing-cu jadi gusar.

"Sret"

Segera dia mencabut pedang, satu sarung pedang tapi sekaligus menyimpan sepasang pedang, batang pedang amat tipis, berkilauan laksana permukaan air yang terkena sinar, jelas pedang tajam.

Memegang sepasang pedang Tong-bing-cu tertawa dingin, katanya.

"Gurumu tentu pernah cerita tentang Lian-hoan-toh-bing-kiam-hoat perguruan kita kepadamu, tadi kau mengolok-olok, sayang sekali kalau jiwa kecilmu harus berkorban lantaran ocehanmu sendiri, perang mulut tidak kulayani, nah seranglah lebih dulu."

Lian-hoan-toh-bing-kiam-hoat teramat ruwet dan sukar dipelajari, sebetulnya harus dikembangkan bersama menjadi suatu barisan pedang, paling sedikit juga harus dilancarkan dua orang baru mampu memperlihatkan kehebatannya.

Tong-bing-cu sendiri sudah puluhan tahun menenggelamkan dirinya dalam penyelidikannya untuk ilmu pedang ini, akhirnya seorang diri dia berhasil mengembangkan Lian-hoan-toh-bing-kiam ini.

Tapi karena ajaran ilmu pedang ini teramat luas dan rumit, terpaksa dia harus menggunakan sepasang pedang.

Nyo Hoa berkata.

"Baik, kali ini kau mengalah supaya aku menyerang lebih dulu, memang adil. Lihat serangan."

Ujung pedang mendadak menegak, seperti seorang diri sedang latihan saja, kedua mata menatap tajam ujung pedang sendiri, pelan-pelan menggaris sebuah bundaran, gerakan pedangnya melingkar mengelilingi tubuhnya.

Tong-bing-cu mengerut kening, pikirnya.

"Ilmu pedang apa ini?"

Bentaknya "Main-main apa kau?"

Nyo Hoa tertawa, sahutnya.

"Kenapa buru-buru?"

Sekejap itu pedangnya berkelebat, dari kosong menjadi gerakan berisi, dengan jurus Pek-ho-ih-hap (Bangau putih mematuk) mendadak pedangnya menusuk ke tenggorokan Tong-bing-cu.

Yang dilancarkan Nyo Hoa memang jurus tunggal yang paling menakjubkan dari Sip-hun-kiam-hoat, dengan gerak kosong atau pancingan untuk memancing perhatian lawan, baru menyerangnya secara tiba-tiba di kala lawan kurang siaga.

Tapi pengalaman Tongbing-cu cukup matang walau dia tidak kenal rangkaian ilmu pedang ini tapi hanya melihat gerakan tangan Nyo Hoa dia sudah tahu bahwa gerakannya itu dari kosong menjadi berisi.

Maka tipu dibalas tipu, sekalian dia mengkeretkan tubuh, ujung pedang Nyo Hoa hampir saja mengenai sasaran, tapi karena lawan mengkeret turun hingga tusukannya luput, karena kehilangan berat badan tubuhnya limbung.

Pada saat itulah mendadak Tong-bing-cu melancarkan serangan balasan, pedangnya membelah angin mengeluarkan desis tajam menusuk dada Nyo Hoa.

"Celaka!"

Nyo Hoa berteriak sambil membalik gagang pedang, jadi ujung pedang mengancam diri sendiri. Karuan Tong-bing-cu melengah pikirnya.

"Bocah ini sadar bukan lawanku, apa dia mau bunuh diri?"

Tak tahunya lawan kembali melancarkan ilmu pedang yang teramat aneh dan ganjil.

Ujung pedangnya menggaris sebuah leng-kungan kecil, mendadak ujung pedangnya menyelonong keluar dari bawah ketiak, menusuk ke sasaran yang tidak terduga oleh Tong-bing-cu.

"He,"

Tong-bing-cu bersuara heran, pedang ditekan terus menyontek, dengan jurus Jeng-ciam-ing-soa (Menembus jarum menuntun benang) mematahkan serangan balas menyerang. Pikirnya.

"Apakah yang dilancarkan Sip-hun-kiam-hoat, memang hebat."

Tenaga disalurkan di ujung pedang.

"Sret, sret"

Beberapa kali dia tekan gerakan pedang Nyo Hoa hingga bergerak dalam ruang lingkup yang kecil untuk bertahan belaka. Tong-bing-cu membentak.

"Anak jadah, perlihatkan berapa banyak permainan anehmu? Umpama kau ini Suh-go-kong juga jangan harap bisa lolos dari genggamanku."

"Apa benar?"

Jengek Nyo Hoa.

Gerak pedangnya lincah dan enteng, beruntun dua jurus dia menangkis, mendadak dia angkat tangan tinggi-tinggi, pedang digunakan sebagai golok terus membacok.

Tong-bing-cu tertawa dingin, je-ngeknya.

"Kau kurcaci ini memang sudah bosan hidup."

Maklum ilmu pedang menitikberatkan pada gerakan enteng dan lincah serta cepat, mana ada permainan cara membacok begini?

Bertempur cara begini, umpama yang dilayani seorang keroco yang rendah ilmu silatnya juga merupakan pantangan, apalagi kini dia berhadapan dengan tokoh lihay seperti Tong-bing-cu?

Tong-bing-cu melancarkan jurus Ki-hwe-liau-thian (Angkat obor menerangi langit), tenaga tersalur di ujung pedang, dia kira sedikit pedang menyontek terus disendai sudah cukup memapas kutung pedang lawan, tak nyana begitu sepasang pedang bentrok, pedang Nyo Hoa tiba-tiba menggelincir ke samping, gaya pedangnya mendadak berputar, kembali menusuk dari arah yang tidak terduga.

Tiga jurus Nyo Hoa dilancarkan secara berantai, dua jurus yang terdahulu adalah Sip-hun-kiam-hoat, jurus yang ketiga adalah perubahan yang sengaja diciptakannya sendiri dari Beng-keh-tohoat.

Secara langsung dia sudah mempraktekkan teori "angkat berat seperti ringan, gerakan dungu mengatasi kecepatan."

Itulah salah satu perubahan dari pedoman ajaran Beng-keh-to-hoat.

Sudah tentu Tong-bing-cu tidak tahu.

Untung lwekang-nya memang jauh lebih unggul dari Nyo Hoa, kiamsut-nya juga tinggi dan matang, begitu merasa gelagat jelek, secara reflek dia merubah gerakan.

Nyo Hoa memang memungut sedikit keuntungan, tapi badannya tetap terkurung dalam lingkupan cahaya pedangnya.

Tong-bing-cu berpikir.

"Ilmu yang dipelajari bocah ini terlalu ruwet, jurus terakhir tadi jelas bukan ajaran perguruan kita Entah apakah ilmu pedang ciptaan Thio Tan-hong? Kalau hari ini bocah ini tidak kubunuh, tiga tahun lagi mungkin aku sudah bukan lawannya"

Makin dipikir makin iri dan dengki menghadapi permainan ilmu pedang Nyo Hoa yang beraneka ragam itu, nafsu membunuh seketika merasuki hatinya, beruntun Lian-hoan-toh-bing-kiam dikembangkan dengan gencar.

Kepandaian sejati Nyo Hoa betapapun terpaut jauh dibanding Tong-bing-cu, beruntun dia merubah permainannya dengan beberapa jenis ilmu pedang, meski gaya perubahannya cukup membingungkan, tapi dia tetap tidak mampu membobol lingkaran pedang lawan.

Kaki Tong-bing-cu melangkah dengan formasi Ngo-hing-pat-kwa, sepasang pedang di tangannya menari kencang berputar naik turun, dalam sekejap delapan penjuru angin semua adalah bayangannya Walau hanya satu orang dengan sepasang pedang, sayup-sayup ternyata terdengar suara gemuruh pertempuran.

Yang dihadapi Nyo Hoa seolah-olah bukan hanya satu musuh, tapi sebuah barisan pedang.

Bara sekarang dia maklum apa yang pernah diceritakan gurunya bila Tong-bing-cu mengembangkan Lian-hoan-toh-bingkiam-hoat sekaligus berarti kau harus menghadapi delapan jago kelas wahid sekaligus.

Kenyataan memang hebat dan tak bernama kosong.

Tanpa terasa mereka sudah saling labrak hampir seratus jurus, sekuatnya Nyo Hoa masih kuat bertahan, namun tenaganya lambat laun sudah makin lemah, ruang gerak pertahanannya juga makin menciut.

Melihat saatnya sudah tiba mendadak pedang"

Tong-bingcu menusuk langsung, bentaknya.

"Bocah, lepaskan pedangmu!"

Dalam sejurus; ini dia mencecar tujuh hiatto di tubuh Nyo Hoa, dia yakin Nyo Hoa pasti tak sanggup berkelit.

Dalam keadaan kritis ini, tanpa pikir Nyo Hoa menggunakan Bubeng-kiam-hoat yang selama beberapa hari selalu diselaminya.

Ujung pedang menuding miring ke atas, itulah gambar pertama dari Bu-beng-kiam-hoat yang mirip Tio-thian-it-cu-hiang tapi setelah dipraktekkan ternyata bukan.

Padahal Nyo Hoa belum memahami betul manfaat dari jurus Bubeng-kiam-hoat ini, tapi bagi pandangan Tong-bing-cu seorang yang sudah cukup ahli dalam bidang ini, gaya pedang ini dipandangnya teramat lihay, bila dirinya menyerang, pedang lawan kemungkinan balas menyusup ke lubang kelemahan sendiri.

Maklum betapapun tinggi ilmu pedang seseorang, di kala menyerang sedikit banyak pertahanan sendiri pasti ada titik kelemahannya, bila lawan sempat merebut posisi dan selangkah lebih dulu menyerang ke titik kelemahan ini, maka dirinya pasti akan kalah.

Kalau lawan seangkatan mungkin masih boleh balas menyerang meski harus menyerempet bahaya, tapi Tong-bing-cu dua tingkat lebih tinggi dari Nyo Hoa, itu artinya dia hanya boleh menang tidak boleh kalah, karena itu sebelum dia yakin dapat mematahkan setiap permainan aneh Nyo Hoa betapapun dia tak berani gegabah, lekas dia tarik pedang melindungi badan.

Semangat Nyo Hoa menyala, tanpa peduli apakah jurus ini dapat mematahkan serangan lawan, maka setiap gambar lukisan di atas dinding dari Bu-beng-kiam-hoat itu satu per satu dia tiru dan kembangkan.

Walau hanya gayanya saja yang benar, maksudnya hanya untuk meruntuhkan nyali lawan.

Makin dipandang makin aneh dan tidak karuan, makin bertempur makin terkejut, akhirnya Tong-bing-cu membentak.

"Anak gila, kiam-hoat apa yang kau mainkan?"

Nyo Hoa tertawa, katanya.

"Yang kumainkan bernama Bu-bengkiam-hoat, sia-sia kau diagulkan sebagai jago pedang nomor satu dari Khong-tong-pay, ternyata pandanganmu cupat, pengetahuanmu cetek."

Nyo Hoa bicara sejujurnya, Tong-bing-cu justru gusar karena anggap dirinya dipermainkan, bentaknya "Umpama benar kau memperoleh warisan murni ajaran Thio Tan-hong, paling lama juga hanya bertahan hidup satu jam lagi, berani kau menghina dan mempermainkan diriku."

Apa yang diucapkan Tong-bing-cu juga bukan gertakan. Lwekang-"

Nya jauh lebih unggul dari Nyo Hoa barisan pedang yang dilancarkan dari Lian-hoan-toh-bing-kiam juga tidak mampu dibobol, dia hanya menjaga diri tak mampu balas menyerang, bila waktu makin lama, lambat laun Nyo Hoa pasti kelelahan dan kalah.

Nyo Hoa tidak mampu memecahkan barisan pedangnya itu berarti tak mampu meloloskan diri dari kurungan sinar pedangnya, diam-diam"

Dia memang mengeluh dalam hati.

Kini Tong-bing-cu kerahkan Iwekang-nya lebih kuat lagi sehingga putaran sepasang pedangnya makin gencar, sayup-sayup seperti ada bunyi geledek di kejauhan.

Katanya sambil menyeringai.

"Anak muda, tahu tidak kelihayanku? Tanpa kubunuh, akhirnya kau juga akan mampus kehabisan tenaga."

Nyo Hoa makin gelisah.

"Bu-beng-kiam-hoat memang hebat, namun aku belum mampu mengembangkan perbawanya yang paling ampuh, lalu bagaimana baiknya?" -Tiba-tiba dia teringat ucapan Leng Ping-ji.

"Kau punya ragamu sendiri, aku.punya ragaku sendiri, kenapa harus meyakinkan raga orang lain?"

Lalu terbayang pula olehnya petunjuk gurunya yang sering mengatakan.

"Di mata ada musuh dalam hati tiada musuh". Semua ini bagai sinar terang berkelebat di benaknya.

"Sreet"

Kontan pedangnya menusuk, barisan pedang lawan mendadak ditusuknya bolong. Tong-bing-cu juga mundur tiga langkah, matanya terbeliak kaget dan heran. Pikirnya.

"Bagaimana mungkin kiamhoat bocah ini makin lihay saja Bila jurus tusukannya ini sedikit lebih cepat lagi, Ih-khihiat-ku mungkin sudah ditusuknya bolong."

Ternyata di dalam mempraktekkan teori ilmu pedang di dalam pertempuran ini, lambat laun Nyo Hoa memperoleh kemajuan dan memahami ilmu silat tinggi, serangan pedangnya ini secara di luar tahunya telah menggabung dan menjiwai Sip-hun-kiam-hoat dan Beng-keh-tohoat sehingga terciptalah sejurus ilmu pedang hasil pemikirannya sendiri.

Seorang bermain wajar semakin mantap, sebaliknya yang lain makin jeri dan bingung.

Nyo Hoa tidak anggap ada musuh tangguh di hadapannya, kembali gerakan pedangnya berubah, memukul, menusuk, menyontek, mengiris, mengetuk, membelah, menyendal dan menepis, semua gerakannya makin lancar dan tepat untuk mematahkan setiap serangan lawan.

Gerakannya betul-betul sudah serasi dengan lambat dalam kecepatan, lincah dalam ringan, lembut laksana air mengalir, kokoh kuat dan mantap.

Tanpa terasa dia bertahan lagi sampai seratusan jurus lebih, lama kelamaan Tong-bing-cu merasakan payah, setiap jurus permainannya selalu tertutup atau digagalkan oleh Nyo Hoa, maka hatinya makin takut, khawatir terjadi nenek tua delapanpuluh tahun kena disengkelit bocah kecil.

Maklum, bicara soal tingkatan dia termasuk thay-susiok, dalam hati hanya boleh menang dan tidak boleh kalah.

Tak tahunya semakin khawatir kalah, malah makin tersudut Hati Tong-bing-cu makin gelisah dan ngeri, mendadak dia kertak gigi, Lian-hoan-toh-bing-kiam mendadak dipergencar, harapannya meski menang seurat juga cukuplah demi mempertahankan gengsi, lalu mencari alasan dengan sayang kepada angkatan muda segera menghentikan pertempuran ini, supaya dirinya tidak menjadi buah tertawaan orang.

Dengan bekal ginkang-nya yang tinggi, dia yakin dirinya masih mampu menyelamatkan diri keluar dan Ciok-Iin tanpa kurang suatu apa.

Karena terlalu memikirkan gengsi, tujuan ingin menang justru menjadi sebaliknya.

Sebenarnya umpama ilmu pedangnya tidak unggul dari permainan pedang ciptaan baru Nyo Hoa, lwekang-nya masih lebih tinggi, kalah menang ditentukan oleh waktu, bila Nyo Hoa dapat melukainya sebelum dia kehabisan tenaga, betapapun tinggi lwekang-nya juga tak berguna lagi.

Sebaliknya bila dia menghadapi perlawanan Nyo Hoa dengan tabah dan santai, bertahan lagi kira-kira setengah suiutan dupa, Nyo Hoa pasti dapat dia kalahkan.

Atau kalau dia mau sekarang dia mengundurkan diri, Nyo Hoa pasti takkan mampu menahannya.

Celakanya justru dia terlalu mempertahankan gengsi, rangsakan gencarnya ini justru membakar semangat tempur Nyo Hoa, makin cepat dan lama semakin banyak ilham yang dicerna dalam benaknya, dari berbagai ilmu tingkat tinggi yang pernah dipelajarinya Syukur lawan teramat tangguh, hingga di luar sadarnya dia pun dapat mengembangkan kemampuannya mencapai puncaknya.

Sekaligus Tong-bing-cu menyerang sepuluhjurus, kedua pedangnya membundar menerbitkan lembayung putih yaag membesar hingga Nyo Hoa terkurung dalam lingkaran pedangnya bentaknya "Mengingat usiamu masih muda, ilmu pedangmu juga boleh, kalau mau minta ampun aku akan membebaskan kau!"

Nyo Hoa mencipta jurus baru secara lancar dan baru berhasil, maka dia tertawa lebar, katanya.

Baca Juga: Meteor Kupu Kupu Dan Pedang 2

Baca Juga: Wanita Gagah Perkasa 6

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger