Anak Pendekar 2

Eps 2 Anak Pendekar - Liang Ie Shen

Baca online Anak Pendekar - Liang Ie Shen

Cersil Anak Pendekar - Liang Ie Shen.

"Tong-bing totiang, ilmu pedangmu dinamakan Lian-hoan-toh-bing-kiam, kurasa belum tentu mampu mencabut nyawa orang."

Belum habis dia bicara, gaya pertama dari gambar Bu-beng-kiam-hoat kembali dia gunakan, ujung pedang menuding serongke atas.

Padahal jurus ini sudah terulang beberapa kali, tapi dalam pandangan Tong-bing-cu ternyata satu dengan yang lain selalu berbeda, satu lebih lihay lebih sempurna dari yang dahulu.

Kebetulan waktu itu Nyo Hoa berdiri di atas batu besar kedudukannya lebih tinggi ujung pedangnya yang serong ke atas itu posisinya justru tepat dan baik.

Tong-bing-cu berdiri di bawah terasa gaya pedang lawan yang menuding miring itu ternyata menusuk turun sekaligus mengincar It-khi, Hian-ki dan Yang-pekhiat, tiga hiatto ini mematikan.

Sulitnya karena ujung pedang Nyo Hoa teracung ke atas hingga gayanya sukar diraba, seolah-olah ketiga hiatto-nya itu kemungkinan bisa tertusuk sekaligus.

Kalau pedang lawan dapat dijajaki tujuannya, hiatto mana yang akan ditusuk, dengan taraf kepandaian Tong-bing-cu, rasanya tidak sukar untuk mematahkannya.

Tong-bing-cu punya pengalaman tempur yang luas, permainan silatnya menghadapi lawan juga cukup tangguh, dalam detik-detik yang gawat ini, mendadak dia menekuk pinggang seperti menanam rumput, kaki menginjak Kiam-bun berputar ke Kian-wi, kedua pedangnya berkembang dari kiri kanan melindungi kedua ketiaknya Bahwa kakinya menginjak Ngo-hing-pat-kwa, melancarkan jurusjurus lihay dari Lian-hoan-toh-bing-kiam untuk menghadapi serangan pedang yang banyak perubahannya menusuk hiatto sebetulnya memang tepat, di luar tahunya, ilmu pedang Nyo Hoa justru berbeda dengan ilmu pedang aliran mana pun.

Begitu dia merubah jurus permainannya yang semestinya dapat dihindarkan justru tak bisa menghindarkan diri lagi.

Terhadap gambar-gambar lukisan di dalam gua itu Nyo Hoa sudah hafal di luar kepala, jurus pertama yang mirip Tio-thian-it-cuhiang itu disusul dengan gaya lukisan Hian-ciau-hoat-sa Tapi posisi dan kedudukan Hian-ciau-hoat-sa justru terbalik dengan Tio-thian-itcu-hiang, bila bertempur secara berhadapan dengan musuh, jelas tidak mungkin jurus kedua ini disambung atau dirangkai menjadi gerak susulan, tapi sekarang tanpa banyak pikir Nyo Hoa justru telah melancarkan dengan sempurna.

Bayangan orang tampak berlompatan, sinar pedang berkelebat seperti mengalir, mendadak terdengar seorang memekik kesakitan, ternyata pundak kiri Tong-bing-cu telah tertusuk luka, kontan dia bersalto tiga tombak jauhnya.

Dengan menahan sakit dia lari sipat kuping, dalam hati masih merasa syukur, syukur karena hiatto-nya tidak tertusuk oleh Nyo Hoa, sehingga jiwanya dapat dipertahankan, lekas sekali dia sudah meninggalkan Ciok-Iin.

Nyo Hoa berdiri menjublek, dalam sekejap bayangan Tong-bingcu telah lenyap.

Waktu dia menoleh ternyata Ban Ciok-sing yang menggeletak di sana tadi juga telah lenyap.

Ternyata melihat Nyo Hoa makin berada di atas angin, tahu gelagat jelek, lekas Ban Cioksing merangkak bangun, untung dia tahu seluk beluk Ciok-Iin, dengan leluasa dia lari ke arah lain.

Setelah menjublek lama dengan rasa kaget dan senang, mendadak Nyo Hoa berteriak girang.

"O, ternyata begitu."

Selama beberapa hari lamanya Nyo Hoa sudah mencoba mempraktekkan dan berdaya, tidak juga berhasil menyelami dua gambar permulaan dari Bu-beng-kiam-hoat itu.

Betapapun dia tetap tidak berhasil merangkai perubahan dari jurus Tio-thian-it-cu-hiang menjadi Hian-ciau-hoat-sa.

Tapi barusan Tong-bing-cu berkelit minggir, begitu posisi berpindah secara tepat dia justru menyerahkan dirinya ke dalam jurus Hian-ciau-hoat-sa, hakekatnya dia sendiri tidak perlu memutar badan membalik tangan melancarkan serangan pedang, baru sekarang disadari bahwa kiamsut tingkat tinggi, bukan saja menuntut diri sendiri harus dapat mengembangkan secara baik, harus juga bisa mengendalikan dan menggerakkan posisi lawan.

Sejurus dilancarkan, bagaimana musuh akan melayani dan gerak susulannya sudah harus dalam perhitungan sendiri.

Kali ini sudah tentu karena kebetulan lawan masuk dalam perhitungannya, tapi lantaran Bu-beng-kiam-hoat ciptaan Thio Tan-hong ini sudah menduga gerak perubahan lawan serta posisinya yang berpindah.

Setelah memahami teori tingkat tinggi dalam praktek ini, maka taraf ilmu pedang Nyo Hoa telah maju selangkah.

Musuh sudah lari tak kelihatan bayangannya, suasana Ciok-lin kembali hening dan tenang.

Mimpi juga Nyo Hoa tidak pernah membayangkan bahwa dirinya bakal mampu mengalahkan thaysusiok-nya, setelah hilang rasa girangnya, mendadak dia merasa sekujur badan lelah dan lemas, tulang belulang seperti lepas semua Pelan-pelan dia jatuh terus rebah celentang, lekas sekali dia sudah tidur lelap.

Waktu dia siuman lagi, hari sudah fajar pada keesokan harinya Nyo Hoa teringat.

"Keponakan ji-suhu dan nona Leng itu entah ke mana perginya?"

Segera dia pulang ke kamar batunya, ternyata keadaannya kacau balau, perabot jungkir balik, dinding juga bolong-bolong seperti ditusuk dan digali, entah apa yang dicari musuh hingga kamarnya digeledah sekasar ini.

Untung ransum masih utuh, setelah makan kenyang segera Nyo Hoa keluar pula mencari Toan Kiam-ceng dan Leng Ping-ji.

Seharian ini dia jelajahi seluruh Ciok-lin tapi tidak menemukan mereka Nyo Hoa berpikir.

"Toan Kiam-ceng adalah keponakan jisuhu, dengan menempuh bahaya menghabiskan waktu dan tenaga tujuannya hendak mencari pit-kip karya Thio Tan-hong, sepantasnya aku memberikan kepadanya, tapi dia sudah pergi, aku tidak bisa menyerahkan kepadanya"

Lalu dia berpikir pula.

"Keponakan ji-suhu ini agaknya bukan orang baik, pikirannya nyeleweng, lebih baik pit-kip tidak kuberikan kepadanya Tapi kemarin dia terluka, semoga di tengah jalan tidak kepergok dengan Tong-bing-cu hidung kerbau itu."

Setelah berbenah membawa bekal seadanya dan membawa sekantong ransum kering, dengan rasa berat Nyo Hoa meninggalkan Ciok-lin.

Setelah tinggal sekian tahun dan tempat ini amat disukai, bila mau pergi, hatinya menjadi rawan dan masgul, rasanya seperti ada sesuatu yang belum dapat diselesaikan.

Waktu dia lewat di bawah Kiam-hong, mendadak dia teringat.

"Hian-kang-pwe-coat ciptaan Thio Tan-*hong tidak akan kuberikan kepada Toan Kiam-ceng, apakah gambar lukisan Bu-beng-kiam-hoat di dalam kamar batu itu kubiarkan tetap utuh begitu saja?"

Tong-bing-cu dan Ban C iok-si ng sudah tahu rahasia ini dari mulut Toan Kiam-ceng, bukan mustahil suatu ketika mereka akan balik ke sini.

Kepandaian Tong-bing-cu jelas cukup mampu untuk naik ke Kiam-hong, kamar batu itu pasti dapat ditemukan juga Supaya Bu-beng-kiam-hoat peninggalan Thio Tan-hong tidak dicuri oleh orang jahat, terpaksa Nyo Hoa memanjat ke atas Kiam-hong untuk terakhir kali dan masuk ke kamar batu, delapan belas gambar lukisan Bu-beng-kiam-hoat dia kerik dan tak berbekas lagi.

Lalu dia keluar dari Ciok-lin, selama tiga tahun pertama kali ini dia keluar dari Hutan Batu.

Tampak sang surya menyinari jagat raya di luar ternyata merupakan dunia lain yang berbeda, perasaannya haru, senang tapi juga sedih.

Bukan lantaran pertama kali selama tiga tahun baru dia sempat keluar dari Ciok-Lin tapi sekaligus merupakan perpisahan setelah dia melampaui usianya yang tujuhbeias Dulu banyak petaka, siksa derita dia alami, beruntun dirinya ditolong oleh paman Song lalu dilindungi oleh ketiga gurunya silih berganti.

Tapi sekarang dia harus hidup sebatang kara, berkelana seorang diri di Kangouw.

Untuk berkelana di Kangouw, bukan melulu harus punya ilmu silat tinggi saja baru bisa selamat "Ke mana aku harus pergi?"

Demikian dia menerawangi cuaca cerah, alam terbentang permai di depan mata, tapi hatinya hambar tak tahu ke mana harus melangkah.

Menurut rencana semula dia mestinya akan pergi ke Siau-kimjwan mencari Beng Goan-cau.

Tapi Siau-kim-jwan kini telah diduduki pasukan Ceng, entah Beng Goan-cau sekarang pindah ke mana, jelas rencananya itu harus diubah.

Tiba-tiba dia teringat percakapan Leng Ping-ji dengan Toan Kiam-ceng.

Leng Ping-ji pernah bilang.

"Dulu kita membuka Siaukim-jwan sebagai pangkalan, kelak mereka masih bisa membuka pangkalan lain yang baru dengan fasilitas yang baru pula Mereka punya tekad juang yang tinggi, jiwa ksatria memangnya takut tak mampu membangun dunia baru?"

Situasi memang berubah tapi pengertian ini tetap sama. Nyo Hoa berpikir.

"Suhu mengajakku sembunyi di Ciok-lin, ternyata tempat tersembunyi itu pun tidak aman lagi. Aku harus meniru Beng tayhiap dan lain-lain, membuka lembaran hidup baruku sendiri, asal tegak aku berdiri meletakkan ragaku dijalan yang benar, tidak menyianyiakan harapan suhu menjadi pendekar, maka syukur aku bisa pergi ke Siau-kim-j wan, kalau tak berhasil juga tidak soal."

"Agaknya jiwa nona Leng itu lebih baik dari keponakan ji-suhu, entah ke mana mereka pergi?"* Menyongsong datangnya sang fajar, berbagai pikiran berkecamuk dalam benaknya, namun dengan langkah lebar dia semakin jauh meninggalkan Ciok-lin menuju ke dunia baru. ---ooodwooo---Leng Ping-ji sedang beranjak di jalan pegunungan yang naik turun, berendeng dengan Toan Kiam-ceng, mereka beradu pundak. Waktu itu adalah hari ketiga sejak mereka meninggalkan Ciok-lin. Untunglah Toan Kiam-ceng hanya terluka lecet kulit saja, yang lebih keras adalah pukulan Ban Ciok-sing. Untung Iwekang-nya meski tidak tinggi, tapi dasarnya kuat Setelah dibubuhi Kim-jongyok, dan dirawat tiga hari, luka luar dan dalam sudah mulai sembuh. Tapi jalannya masih belum bisa cepat, apalagi di jalan pegunungan berbatu yang tidak rata ini. Terbayang kejadian hari itu, rasa sesal Toan Kiam-ceng belum lenyap.

"Ping-moay, kau menyerempet bahaya menolongku, sungguh aku tidak tahu bagaimana aku harus berterima kasih kepadamu"

Leng Ping-ji tertawa, katanya.

"Terhadapku masih perlu sungkan segala? Terus terang yang menolong jiwamu sebetulnya bukan aku. Jiwaku dan jiwamu ditolong orang lain."

Sampai di sini hatinya jadi masgul, senyum pun sirna, setelah menghela napas lalu dia menyambung.

"Pemuda yang melompat turun dari atas Kiam-hong itu entah siapa, dia menolong jiwa kita, mungkin dia sendiri....."

Toan Kiam-ceng berkata.

"Kepandaian pemuda itu agaknya cukup lihay, kalam kita bisa lolos, yakin dia pun dapat menyelamatkan diri."

"Ya, semoga demikian,"

Ucap Leng Ping-ji.

"Tapi kau tidak tahu, orang Biau itu adalah murid gembong iblis pada jaman ini, kepandaian tosu tua itu agaknya lebih lihay lagi. Orang itu masih begitu muda, meski berkepandaian tinggi juga pasti bukan tandingan mereka. Dia menolong jiwaku, aku malah melarikan diri, sungguh aku amat menyesal."

Tawar suara Toan Kiam-ceng.

"Akulah yang harus disalahkan, akulah yang menyeretmu jadi begini"

"Tapi bicara sejujurnya, umpama hari itu aku putar balik, juga takkan mampu membantu dia. Dia masih hidup atau sudah terbunuh kita tidak tahu, sungguh hatiku tidak tentram,"

Demikian Leng Ping-ji menyatakan penyesalannya.

"Kita tidak tahu kapan kedua gembong iblis itu akan meninggalkan Ciok-lin untuk mencari tahu keselamatannya, terpaksa harus ditunda entah kapan. Terus terang lebih besar hasratku untuk kembali ke Ciok-lin, perjalanan ini sia-sia tanpa membawa hasil. Bila pit-kip peninggalan Thio Tan-hpng ditemukan orang lain, pasti celaka."

"Toako, jangan berduka lantaran soal itu, segala sesuatu di dunia ini sudah suratan takdir, bisa selamat itulah rejeki. Tanpa pit-kip kita tetap bisa hidup dengan tenang dan senang. Seperti yang kau katakan tadi, biarlah segalanya ditentukan kelak saja."

Kini giliran Toan Kiam-ceng yang tertawa getir, katanya.

"Yang terang kita tidak mampu mengambil pit-kip itu, terpaksa ya begini saja."

Dalam hatinya tiba-tiba timbul pikiran jahat "Orang yang lompat turun dari atas Kiam-hong, entah di atas puncak dia sudah menemukan pit-kip Thio Tan-hong?

Sudah tentu aku tidak harapkan dia mati di tangan kedua gembong iblis itu, tapi kalau benar nasibnya jelek syukurlah, berarti kurang satu orang yang menjadi sainganku."

Karena melamun tanpa sadar dia menendang batu besar, hampir saja dia tersungkur jatuh. Lekas Leng Ping-ji memburu maju memapahnya, katanya.

"Hati-hati toako."

"Jalan pegunungan ini memang jelek, untung kalau bisa menunggang kuda."

"Jalan gunung memang sukar dilalui, asal nyali besar dan berhati-hati, jangan takut kesukaran, lama kelamaan juga biasa."

"Apa yang kau ucapkan agaknya selalu mengandung arti yang dalam."

"Ah, jangan kau kira aku ber-kotbah, akil hanya bicara sesuai keadaan. Coba kau lihat kakek di depan itu dia mendorong kereta, bukankah jauh lebih payah dari kita. Soalnya dia sudah biasa jalan di tempat yang jelek ini."

"Kau pula yang betul, tapi aku mengharap bisa mendapat seekor kuda."

Tiba-tiba didengarnya suara kelinting kuda. Leng Ping-ji berkata dengan tertawa.

"Baru kau bilang kuda lantas datang. Kebetulan juga dua ekor. Sayang kita tidak bisa main rebut seperti begal."

"He,"

Than Kiam-ceng bersuara heran.

"kedua ekor kuda itu gelagatnya kuda jempolan."

Jalan pegunungan itu melingkar dan naik turun, tidak rata lagi, waktu Leng Ping-ji angkat kepalanya, tampak dua ekor kuda berlari kencang di jalan pegunungan ini seperti di tanah datar saja, diamdiam dia memuji dalam hati.

Lekas sekali kedua ekor kuda itu telah mendekati kakek yang mendorong kereta di sebelah depan.

Tibatiba Leng Ping-ji berteriak kaget.

"Wah, celaka!"

Kakek itu mendorong kereta dengan membungkuk tertatih-tatih, saat mana dia tiba di belokan jalan, kedua ekor kuda itu lari secepat angin, datangnya cepat sekali, jalan agak sempit lagi, jelas dia bakal ketumbuk dan tidak mungkin berkelit lagi.

Penunggang kuda adalah seorang berdandan perwira, seorang lagi pegawai sipil.

Perwira itu di sebelah belakang, mendadak dia keprak kudanya ke depan serta membentak.

"Tua bangka, lekas menyingkir!"

Cambuk pun terayun, kereta dorong kakek itu mendadak terbelit cambuk, sekali sendai kereta itu ditariknya nyelonong ke pinggir dan meluncur jauh ke lereng bawah mengeluarkan suara gaduh.

Kereta itu memuat gamping, maka kapur putih berhamburan tertiup angin.

Kakek itu menggelinding jauh ke pinggir, untung hanya luka lecet saja.

Setelah rasa kagetnya hilang melihat keretanya tercebur jurang dan dagangannya habis, segera dia menangis menggerung-gerung.

Leng Ping-ji kaget, katanya.

"Kepandaian itu ternyata tidak lemah."

Lalu dia berpikir.

"Sayang Ceng-ko terluka, seorang diri aku tidak mampu merebut kuda mereka"

"Eh,"

Tpan Kiam-ceng bersuara perlahan.

"pegawai sipil itu seperti sudah kukenal."

Perwira itu mengamuk.

"Tua bangka tidak tahu diri, paling kehilangan kereta dan kapur, kenapa dibuat sedih? Bajuku kotor kena kapurmu, kalau menangis lagi biar kubacok mampus kau!"

Pegawai sipil itu agaknya lebih baik, katanya "Untung mataku tidak buta kemasukan kapur, kita perlu menempuh perjalanan, sudah kau ampuni dia saja"

Leng Ping-ji mendengus, katanya kepada Toan Kiam-ceng.

"Kedua orang ini menindas rakyat jelata aku jadi sebal melihatnya. Toako, minggiriah, biaraku melampiaskan penasaran itu."

Lekas Toan Kiam-ceng tarik Leng Ping-ji ke pinggir, katanya.

"Ping-moay, jangan cari perkara"

Cepat sekali kedua penunggang kuda itu sudah membedal tunggangannya lewat di samping mereka Tiba-tiba pegawai sipil itu menarik kekang kudanya teriaknya.

"Hei, bukankah kau siau-ongya dari Toan-hu? Siau-ongya, kau masih kenal aku?"

Pegawai sipil ini bernama Kim Kong-to, dulu adalah teman tetap yang keluar masuk di gedung ciang-kun yang berkuasa di perbatasan, juga sering bertamu di istana Toan.

Hati Toan Kiam-ceng kebat-kebit, terpaksa dia balas menyapa.

"O, kiranya Kim tayjin. Kim tayjin sudah naik pangkat, patut diberi selamat"

Mendengar Toan Kim-ceng adalah "siau-ongya", agaknya perwira itu menaruh perhatian, katanya dengan tertawa "Lo-kim rejekimu agaknya memang besar, keluar pintu lantas ketemu orang agung, aku akan ikut keserempet rejeki."

Lekas Kim Kong-to melompat turun, katanya.

"Siau-ongya, mari kuperkenalkan, inilah Li-tothau."

Perwira itu juga melompat turun, lalu memperkenalkan diri.

"Selamat bertemu siau-ongya aku bernama Li Tay-yong, salah seorang tothau dari ciankunhu yang menguasai kekuasaan seluruh Tayli."

Melihat mereka berhenti dan turun, Toan Kiam-ceng semakin bingung. Tapi dia tenangkan diri dan berkata.

"Kalian terlalu sungkan, silakan melanjutkan perjalanan. Urusan dinas tidak boleh ditunda"

"Tidak perlu tergesa-gesa,"

Ujar Kim Kong-to.

"kebetulan bertemu siau-ongya di sini, ada sesuatu yang perlu kulaporkan kepada siauongya Nona ini...."

"Dia piaumoay-ku,"

Ujar Toan Kiam-ceng.

"Kuku (adik laki-laki ibu) hanya punya seorang putera, maka sejak kecil sering berpakaian lelaki, karena jaman ini sering tidak aman, maka dia pun disuruh latihan silat."

Karena melihat Kim Kong-to mengawasi pedang di pinggang Leng Ping-ji, maka dia menjelaskan lebih dulu.

Diam-diam Leng Ping-ji sudah bertekad, bila mereka terlalu banyak menanya asal-usul, dia sudah siap turun tangan lebih dulu.

Untunglah meski agak curiga dirinya tidak ditanyai.

Kim Kong-to berkata.

"Siau-ongya sudah tiga tahun kau meninggalkan rumah, bukan? Aku tahu itu Han-ciangkun dibunuh orang, sehari sebelum peristiwa itu aku masih melihat siau-ongya, belakangan terdengar siau-ongya sudah tamasya ke lain tempat Hari ini kebetulan adalah tiga tahun hari kematian Han-ciangkun."

Jantung Toan Kiam-ceng berdebar-debar.

Maklum pembunuhan tiga tahun yang lalu itu memang ada sangkut paut dengan dirinya Yang membunuh Han-ciangkun, sebagai jenderal yang berkuasa akan ketenangan di Tay li, adalah Thia Sin-gan dan Bu Toan, Bu Ceng kakak beradik, waktu itu Bu Toan tinggal di rumahnya Hari kedua perwira Gi-lim-kun Sebun Yan, seorang kepala wisu dan anak buah Han-ciangkun meluruk ke rumahnya akhirnya kedua orang ini pun terbunuh oleh pamannya Toan Siu-si dan Bu Toan kakak beradik.

Toan Kiam-ceng tertawa dipaksakan, katanya.

"Betul, karena keamanan Tayli amat buruk, terpaksa aku mengungsi ke tempat lain."

"Sekarang sudah lebih baik,"

Ujar Kim Kong-to.

"pihak kerajaan mengutus seorang Ting-ciangkun, selama tiga tahun ini tidak pernah terjadi perampokan atau pencurian sekali pun."

"O, begitu baik dan keamanan terjamin? Wah, kapan aku harus pulang,"

Ujar Toan Kiam-ceng. Kim Kong-to tertawa, katanya.

"Untuk penjaga keamanan sebetulnya juga bukan soal sulit asal peraturan keras, hukuman berat. Bagi pencuri yang ketangkap basah akan dipotong tangannya, mencuri setahil potong satu tangan, mencuri lima tahil potong sepasang tangan. Bila mencuri lebih dari sepuluh tahil dipenggal kepalanya di depan umum Maka keamanan yakin terjamin, mana orang berani mencuri lagi?"

Leng Ping-ji amat geram, pikirnya.

"Itulah yang dinamakan hanya pembesar boleh membuat api, rakyat dilarang menyulut pelita. Hanya mencuri sepuluh tahil harus dipeng-"

Gal kepalanya di depan umum, sebaliknya para pembesar yang korup memeras rakyat justru hidup tenteram dan aman sentosa."

Karena menguatirkan luka Toan Kiam-ceng, bila sampai bergebrak mungkin tidak menguntungkan, terpaksa dia menahan sabar. Dengan tertawa nyengir Toan Kiam-ceng berkata.

"O, kiranya begitu. Makanya aman sentosa."

"Siau-ongya,"

Ujar Kim Kong-to pula.

"sekarang kau boleh pulang, tanggung kau hidup tenang. Ting-ciangkun pernah bilang mengharap kedatanganmu. Kalau siau-ongya di Tayli membantu dia, kebijaksanaan pemerintah kerajaan juga pasti lebih leluasa dilaksanakan."

"Kim-tayjin jangan berkelakar, aku paling tidak bisa bergaul, apalagi dengan pembesar tinggi mana bisa membantu pihak kerajaan segala? Ting-ciangkun sendiri serba bisa, memangnya perlu aku membantu dia."

Kim Kong-to berkata.

"Bukan, bukan demikian. Soalnya Toan-hu kalian di Tayli sudah berakar dan mempunyai kewibawaan di pandangan rakyat jelata. Bila kau mau pulang dan menguasai daerah, berarti kau sudah membantu pihak pemerintah. Ada satu hal belum kuberi tahu kepadamu, selama kau tidak di rumah, Tingciangkun tetap melindungi dan merawat istanamu dengan baik. Ting-ciangkun benar-benar mengharap siau-ongya lekas pulang."

Toan Kiam-ceng jadi kewalahan, terpaksa dia membelokkan pembicaraan.

"Kim-tayjin, aku belum beri selamat kepadamu yang telah mendapat pangkat di Ciangkunhu. Hari ini kau bertugas penting, waktu amat penting tak berani aku menunda tugas dinas kalian."

"Pangkat sih aku tidak punya, berkat Ting-ciangkun sudi menggunakan tenagaku, kebetulan juga di sana kekurangan tenaga, maka aku disuruh membantu di sekretariat. Kali ini bersama Litothau, kami disuruh mengantar surat dinas ke Siau-kim-jwan, hanya tugas rutin saja,"

Demikian ujar Kim Kong-to. Leng Ping-ji yang sejak tadi mendengar saja, tiba-tiba menyela.

"Bukankah peperangan sedang berkecamuk di Siau-kim-jwan?"

"Tidak, perang sudah usai,"

Ujar Kim Kong-to.

"Apa kau punya famili di Siau-kim-jwan?"

Agaknya dia heran kenapa Leng Ping-ji memperhatikan peperangan di Siau-kim-jwan.

"Ibu inangku punya seorang anak yang dinas di Siau-kim-jwan, tempo hari dia menyusul puteranya itu, tapi tentara negeri melarang dia masuk di wilayah itu. Maka aku kira peperangan masih berkecamuk di sana,"

Demikian Leng Ping-ji menjawab. Li Tay-yong suka bermuka-muka, sejak tadi dia tidak diberi kesempatan bicara oleh Kim Kong-to, baru sekarang dia sempat menimbrung.

"Nona, kau tidak tahu, Siau-kim-jwan dulu adalah sarang pemberontak, sekarang sudah direbut dan diduduki oleh pasukan negeri, namun penjagaan tidak boleh ken-dor. Menurut apa yang kutahu, bukan saja rakyat jelata tidak boleh masuk ke wilayah itu, petugas pemerintah yang membawa tanda dinas juga harus berhenti di pos terdepan, demikian pula surat-surat dinas cukup diserahkan di sana saja."

"Kalau demikian kalian juga tidak boleh masuk ke Siau-kimjwan?"

Tanya Leng Ping-ji. Li Tay-yong memang menunggu pertanyaan ini, katanya dengan tertawa.

"Sebagai piaumaoy siau-ongya boleh kujelaskan kepada kau. Terus terang, kalau aku tanpa membawa surat dinas juga boleh keluar masuk dengan leluasa. Demikian pula Kim-tayjin, dia pun boleh masuk."

Secara tidak langsung dia mau mengagulkan diri bahwa jabatannya lebih tinggi"

Dari orang she Kim ini. Kim Kong-to menyengir, terpaksa dia menjelaskan.

"Li-tothau dulu berdinas di dalam pasukan Gi-lim-kun."

Li Tay-yong membusung dada, katanya.

"Banyak perwira yang kali ini bertugas di Siau-kim-jwan adalah teman sekolahku dulu, walau aku dimutasikan ke Tayli namun namaku masih tercantum dalam daftar anggota Gi-lim-kun. Bagi anggota Gi-lim-kun yang bertugas di luar, semua diberi lencana tembaga, umpama sesama kerabat tidak kenal juga tidak jadi soal asal bisa menunjukkan lencana tembaga, aku tetap bisa keluar masuk."

Mendengar orang melulu meng-agulkan diri sendiri, diam-diam Kim Kong-to mengerut kening, tapi dia juga tidak memberi komentar apa-apa Leng Ping-ji perhatikan rona muka Toan Kiam-ceng juga sedang mengerutkan kening sambil melirik kepadanya Leng Ping-ji lantas tertawa katanya "Sayang lencana tembagamu itu tidak boleh dipinjamkan orang lain."

"Putra ibu inangmu itu bernama siapa dan bertugas di sebelah mana?"

Sekenanya Leng Ping-ji menyebut sebuah nama, lalu berkata.

"Aku hanya tahu dia bertugas di Siau-kim-jwan, tapi di mana dia bertempat tinggal, aku tidak tahu."

"Kim-tayjin,"

Sela Toan Kiam-ceng "banyak terima kasih akan perhatianmu, waktu amal mendesak, kami juga harus melanjutkan perjalanan. Setiba kau di -Tayli, aku akan berusaha membantumu."

Kim Kong-to kegirangan, katanya.

"Siau-ongya, jadi kau sudah akan pulang rumah?"

"Aku kan mengungsi, kalau kampung halaman sudah aman tenteram, Ting-ciangkun kalian juga mengharap kehadiranku, kapan-kapan tentu aku akan pulang menikmati hidup tenteram,"

"Betul. Memang lebih baik pulang. Bila kau pulang, Ting-ciangkun pasti menyambut dirimu."

Tiba-tiba dia bertanya.

"Siau-ongya kenapa kau tidak menyiapkan kuda atau kereta dengan piaumoaymu? Apakah jalan pegunungan yang rusak ini tidak menyusahkan kalian?"

Toan Kiam-ceng tertawa katanya.

"Kami suka bertamasya, kalau naik kuda jadinya sambil lalu belaka, rasanya tidak berkesan."

"Ya memang betul. Siau-ongya memang suka melancong. Baiklah, sampai bertemu di Tayli." ---ooodwooo---Setelah Kim Kong-to dan Li Tay-yong pergi jauh, Toan Kiam-ceng lantas mengomel kepada Leng Ping-ji.

"Ping-moay, kapan kau pernah punya ibu inang di Siau-kim-jwan? Tadi sungguh aku takut kau nge-lantur tak karuan hingga menimbulkan rasa curiga mereka"

Leng Ping-ji tertawa katanya.

"Tadi kalau kau tidak memberi tanda kedipan mata aku sudah akan merebut kuda dan lencananya itu."

"Untung kau tidak sembrono, kalau tidak urusan pasti berkepanjangan."

"Takut kena urusan? Terus terang, aku malah khawatir tidak mampu membunuh mereka"

"Kalau kau bunuh mereka, maka aku jangan harap bisa pulang ke Tayli lagi."

Leng Ping-ji melongo, katanya "Jadi kau benar ingin pulang?"

Toan Kiam-ceng mengangguk, katanya.

"Siau-kim-jwan sudah direbut kerajaan Ceng, kau sendiri juga tidak punya tujuan lagi, lebih baik ikut aku pulang, sementara tinggal di rumahku saja."

Melihat Leng Ping-ji mengunjuk rasa bimbang, lekas dia memahami.

"Jangan kau kira aku kemaruk hidup senang. Maksudku hendak merawat luka-luka meyakinkan ilmu, bila bekal sudah cukup baru berkecimpung lagi di Kangouw."

Leng Ping-ji menghela napas, katanya.

"Aku memang harapkan suatu tempat tenang dan aman untuk menenangkan pikiran, tapi aku tidak setuju bila kau pulang menyerempet bahaya.** "Terus terang, aku sebetulnya tidak berani pulang. Tapi setelah bertemu kedua keparat tadi aku jadi tidak bimbang."

"Apa, jadi kau percaya obrolan mereka? Juga percaya akan "maksud baik"Ting-ciangkun?"

"Bukan percaya kepada mereka, aku hanya percaya bahwa Tingciangkun tidak anggap aku sebagai pelarian."

Yang dimaksud adalah pembunuhan Han-ciangkun dan pembunuhan yang terjadi hari kedua di rumah keluarga Toan itu, hal ini juga diketahui Leng Ping-ji setelah diceritakan Toan Kiamceng.

"Betul,"

Ucap Toan Kiam ceng.

"dari gelagatnya tadi, rahasia itu agaknya tidak bocor. Ting-ciangkun yang menjabat kedudukan belakangan agaknya tidak menaruh curiga terhadap aku."

"Dari mana kau bisa berpendapat demikian?"

"Perwira itu mampu menarik kereta hingga terbalik hanya dengan cambuknya, kepandaiannya jelas tidak rendah, betul tidak?"

"Betul. Tadi aku tidak berani merebut kudanya karena khawatir bukan tandingannya yang celaka akhirnya kau sendiri."

"Belum tentu dia tahu bahwa kita pandai main silat, yakinlah dia tidak pandang kita sebelah matanya betul tidak?"

"Memangnya kenapa?"

"Tapi sikap mereka terhadapku tetap hormat dan sopan."

"Ya, karena kau siau-ongya"

"Kau begini pintar, kenapa belum juga mengerti."

"Aku tahu maksudmu, dari sini kau mendapat bukti, terbukti bahwa mereka tidak curiga kepada kau."

"Makanya, kalau mereka sedikit curiga, hari ini bertemu di tengah jalan, memangnya aku tidak dibekuknya? Mungkin sejak tadi sudah melabrak dan menangkapku."

"Ucapanmu masuk akal, tapi bukan mustahil mereka sengaja hendak memancing kau pulang, atau mungkin ada muslihat keji lainnya"

"Ping-moay, kenapa selalu banyak curiga karena tidak akan ada bahaya. Sudah tiga tahun aku meninggalkan rumah, terus terang aku memang sudah kangen dan ingin pulang."

Leng Ping-ji masih bimbang, katanya kemudian.

"Coba lihat, kakek itu masih menangis di sana, sungguh kasihan."

Mendadak dia mengalihkan perhatian, Toan Kiam-ceng mclengak, katanya.

"Baiklah mari kita hampiri dan beri beberapa tahil kepadanya."

"Ya, kita harus berbuat baik menolong sesama, lalu bicara soal itu lebih lanjut"

Tak tahunya kakek itu tidak mau teruna uang mereka. Leng Ping-ji berkata.

"Setulus hati kami memberi kepadamu, kenapa tidak kau terima?"

Lelaki tua itu berkata.

"Biasanya hanya pembesar yang mengulur tangan merebut uang rakyat kapan pernah rakyat jelata menerima uang orang?"

Leng Ping-ji paham, katanya.

"O, maksudmu lantaran kedua pembesar tadi bicara dengan kami, maka kau kira kami ini juga pembesar? Yang benar kami seperti juga kau, rakyat jelata."

Mana kakek itu mau percaya?

Walau dia tidak mendengar Li Tayyong dan Kim Kong-to berdua memanggil siau-ongya, tapi dia merasa sikap mereka begitu hormat dan munduk-munduk kepada Toan Kiam-ceng, maka betapapun dia tidak mau terima uang.

"Mereka hanya menjilat kepada temanku ini, dalam hal ini memang ada sebabnya, namun kau tidak perlu tahu, tapi boleh aku beri tahu kepadamu, seperti juga kau, aku pun membenci mereka."

"Tadi aku pun amat jengkel, kau jangan khawatir, terima saja uang ini, yakinlah kau tidak akan mengalami kesulitan."

Lalu dia sesapkan uang ke tangan orang, tanpa perduli orang mau atau tidak dia tarik tangan Toan Kiam-ceng diajak pergi.

Kakek itu tetap ngotot tidak mau terima dan hendak kembalikan uang itu, tapi mana dia mampu mengejar?

Akhirnya dia pegangi uang itu sambil berdiri menjublek.

Toan Kiam-ceng kurang senang, katanya kemudian.

"Kakek itu memang terlalu, jelas harta bendanya sudah ludes, dengan baik hati kita memberi uang ganti rugi, memangnya kita bakal menipunya?"

"Soalnya dia dirugikan oleh pembesar yang berkuasa, umpama dia kira kita tidak akan menipu dia, juga dikira kita akan mempermainkan dia."

Lalu dengan tertawa dia menambahkan.

"Seorang desa yang tidak tahu apa-apa ternyata juga tidak mau percaya kepada pembesar, piauko, kenapa kau justru percaya kepada mereka?"

Toan Kiam-ceng melenggong, akhirnya tertawa, katanya.

"Pingmoay, kau memutar balik persoalannya untuk menyindir aku ya." ---ooodwooo---Sementara itu Kim Kong-to juga sedang mengomel kepada Li Tay-yong.

"Li-tothau, aku tahu kau adalah perwira Gi-lim-kun, di hadapanku tiada halangan kau tepuk dada, kenapa rahasia dinas juga kau bicarakan dengan orang luar?"

"Lho, bukankah kau bilang Ting-ciangkun menghargai siau-ongya itu?"

"Ya, lahirnya saja demikian, yang benar...."

"Yang benar bagaimana?"

Kim Kong-to melotot katanya.

"Mulutmu tidak bisa dikendalikan, tak berani aku memberi tahu kepadamu."

Li Tay-yong tertawa, katanya.

"Ting-ciangkun mungkin hendak meminjam siau-ongya untuk suatu kepentingan dinas, jadi bukan betul-betul menghargai dirinya, begitu?"

"Kiranya otakmu tidak tumpul, syukurlah bila kau tahu!"

"Apa kau tahu kenapa sengaja aku membocorkan rahasia kepada mereka?"

Kim Kong-to melengak, katanya.

"Jadi kau punya maksud tertentu?"

"Betul. Aku memancing reaksi mereka. Kau kira aku ini pintar omong tanpa menggunakan pikiran?"

"Lalu apa yang kau pancing dan mereka?"

"Siau-ongya itu pandai main silat tapi gadis itu, kepandaiannya mungkin lebih tinggi lagi, apa kau tahu?"

"Apa betul? Hal itu memang aku tidak tahu."

"Paman Toan Kiam-ceng bernama Toan Siu-si, namanya cukup terkenal di Kangouw. Konon dia punya hubungan dengan beberapa pentolan Siau-kim-jwan, apa kau tahu?"

"Karena meyakinkan ifanu silat maka Toan Siu-si bentrok dengan Lo-ongya, hal ini aku tahu jelas. Perihal yang terjadi di Kangouw aku memang tidak sejelas yang kau ketahui. Tapi apakah berita yang kau dengar dapat dipercaya?"

Li Tay-yong sengaja jual mahal, katanya tertawa "Sumber beritanya juga tidak akan kujelaskan kepadamu, pendek kata setelah mendengar berita.ini, mau tidak mau aku harus mencurigai mereka."

Kim Kong-to kurang senang, batinnya.

"Apa yang kutahu mungkin lebih banyak dari kau, kau tidak mau blak-blakan, aku pun tidak akan beri tahu kepadamu, lalu dia berkata.

"Tapi penduduk Tayli semua tahu, siau-ongya ini hakekatnya tidak punya hubungan dengan pamannya yang minggat itu. Apalagi keluarga Toan sejak lama sudah tidak mencantumkan embel-embel ongya, namun di kalangan penduduk Tayli mereka masih dihargai dan disanjung, walikota dan ciangkun sedikit banyak masih memberi muka kepada keluarganya."

"Makanya aku memancing reaksi siau-ongya, sengaja aku membocorkan rahasia, maksudku untuk memancing mereka merebut lencana tembagaku, bila mereka turun tangan, yakinlah aku bahwa mereka pasti komplotan pemberontak dari Siau-kimjwan."

"Sayang mereka tidak turun tangan."

"Juga tidak jadi soal bagi aku, kuda kita larinya cepat, umpama rahasia lencana ini sudah mereka ketahui, memangnya sempat mereka menghubungi temannya untuk mengejar kita dan merebut lencana itu dari tanganku."

Berubah pandangan Kim Kong-to kepadanya, katanya tertawa.

"Dengan bekal kungfumu yang tinggi, umpama ada orang mau merebutnya, juga tidak perlu takut"

"Untung siau-ongya terbujuk mau pulang ke Tayli, kali ini kita tidak mendapatkan bukti biarlah hal ini pelan-pelan kita selidiki."

"Untuk mencari bukti kukira tidak sulit."

Li Tay-yong melenggong, tanyanya.

"Kau tahu kenapa tidak lekas kaukatakan?"

"Bukan aku tidak mempercayaimu,"

Demikian ujar Kim Kong-to.

"Mari kita bersumpah, selanjutnya dapat rejeki sama dirasakan, menghadapi bencana sama dipikul, kalau mau akan kuberi tahu kepadamu."

"Kim-tayjin,"

Kata Li Tay-yong tertawa "ada-ada saja kau.

Baiklah, kita menjadi saudara angkat, selanjutnya mati hidup bersama sepanirnya kita sama bicara jujur.

Siapa mengingkari sumpah dia akan mati tanpa liang kubur."

Dalam hati dia membatin.

"Ilmu silatku tinggi siapa pun tidak mudah untuk membunuhku."

Tapi Kim Kong-to juga punya pikirannya sendiri.

"Aku pegawai sipil, tidak perlu berperang. Kesempatan hidup jelas lebih panjang dari dia yang harus terjun ke medan laga."

Setelah kedua orang sama bersumpah, Kim Kong-to baru bicara "Dalam peristiwa pembunuhan Han-ciangkun dulu, siau-ongya ini patut dicurigai."

"Dari mana kau tahu?"

"Di antara pembunuh Han-ciangkun ada sepasang muda mudi, pernah aku melihat mereka di rumah kediaman keluarga Toan."

"Kenapa kau tidak laporkan hal ini kepada Ting-ciangkun?"

"Waktu peristiwa itu terjadi aku tidak berada di tempat, aku hanya mendengar cerita para wisu tentang wajah dan perawakan para pembunuh."

"Ya, jadi kau belum yakin dan tidak berani mengatakan apakah pembunuh itu betul adalah muda mudi yang pernah kau lihat di rumah Siau-ongya?"

"Betul. Urusan menyangkut jiwa aku hanya pembantu kecil di sekretariat, sebelum aku memegang bukti nyata bila kulaporkan dan Ting-ciangkun berbalik menganggap aku main fitnah belaka salahsalah jiwaku sendiri yang jadi korban. Apalagi siau-ongya tidak berada di Tayli, Ting-ciangkun juga tiada alasan untuk menangkapnya dan diadu muka dengan aku."

"Siau-ongya segera akan pulang ke Tayli, bukankah kau bisa segera lapor? Lekas kau berusaha mencari alasan untuk mengangkat kembali perkara ini."

"Alasan sih sudah kudapatkan, tapi kau harus bantu aku."

"Bagaimana aku harus membantu?"

Kim Kong-to berpikir sejenak, katanya kemudian.

"Kelak bila kita pulang ke Tayli dari Siau-kim-jwan, bila siau-ongya itu masih berada di rumahnya, malam hari kau harus menyamar jadi pembunuh gelap membekukku, aku punya akal untuk mengorek keterangannya"

"Urusan tidak main-main, konsekwensi yang kutanggung cukup berat lho."

"Jangan khawatir, aku punya pegangan untuk mengorek keterangannya, umpama aku salah duga, juga kau tidak akan terlibat Tapi bila urusan berhasil, kau akan memperoleh setengah dari pahala besar ini."

Li Tay-yong tahu orang ini hanya membual belaka, dia berpikir.

"Agaknya dia memang sudah mendapat bahan tuduhan kepada siau-ongya tapi entah karena apa dia masih ingin memperoleh pengakuan tertulis dari Toan Kim-ceng baru berani mengajukan laporannya. Kalau betul aku bakal mendapat rejeki sebaik ini, buat apa aku banyak tanya lagi kepadanya?"

Lalu dia tertawa katanya "Kim-toako, sekarang kita sudah terhitung saudara angkat untung rugi dipikul dan dirasakan bersama kalau kau sudah punya rencana baik, baiklah siaute mendengar petunjukmu saja"

Dugaan Li Tay-yong memang benar, Kim Kong-to memang punya kelemahan dalam peristiwa ini sehingga dia tidak berani membuat laporan.

Gambar denah dari Ciang-kunhu (markas militer) dahulu adalah dia yang membuat dan diberikan kepada Bu Toan dan Bu Ceng.

Malam itu bersama seorang temannya pejabat cadangan she Ci dibekuk hidup-hidup oleh Bu Toan dan adiknya di hotel, demi keselamatan jiwa mereka terpaksa dia menggambar denah markas militer di Tayli.

Bila dia melaporkan hal itu, dan urusan diselidiki, dirinya pasti terlibat Tapi kejadian sudah tiga tahun berselang, Bu Toan dan adiknya kini berada di Siau-kim-jwan Jelas tidak mungkin pulang ke Tayli membongkar rahasia dirinya, seorang diri jelas dia tidak perlu takut berhadapan dengan Toan Kiam-ceng.

Setelah persekongkolan mereka, untuk menjebak dan membekuk Toan Kiam-ceng selesai dirundingkan, Kim Kong-to dan Li Tay-yong tertawa kegirangan.

Di saat mereka tertawa latah itulah mendadak seseorang membentak.

"Bagus, kalian bersekongkol hendak mencelakai orang. Hayo menggelinding turun!"

Lenyap suaranya, orang pun tiba, dari kaki bukit di pinggir jalan dalam semak-semak rumput mendadak melompat keluar seorang pemuda, tangan terayun, Li Tay-yong belum sempat melihat senjata rahasia apa yang ditimpukkan orang, kuda tunggangannya mendadak melonjak kaget hingga dirinya dilempar melambung dari punggung kuda.

Keadaan Kim Kong-to lebih parah lagi, dia terbanting jatuh dari punggung kuda bergulingan sambil menjerit ngeri, kejap lain dia roboh tak bergerak, agaknya dia terbanting pingsan.

Pemuda itu menarik kedua tali kendali kedua ekor kuda, dituntun ke pinggir dan diikat di bawah pohon di pinggir jalan, setelah tepuktepuk tangan, berkata dengan tertawa.

"Kedua ekor kuda ini memang tunggangan bagus."

Betapapun kepandaian Li Tay-yong cukup lumayan, meski terjatuh tanpa siaga dan secara mendadak, lekas sekali dia meletik berdiri.

Namun melihat pemuda ini begini lihay, sesaat dia berdiri melongo tak berani bertindak.

Di saat dia mengawasi si pemuda, pemuda itu sudah menghampiri dirinya serta mengulur tangan.

"Berikan lencana kepadaku!"

Demikian bentak si pemuda. Li Tay-yong gusar, bentaknya.

"Maling cilik dari mana kau, berani membegal pembesar negeri."

"Kalian dua keparat yang patut mampus, bersekongkol mencelakai orang, mau merampas harta, bukankah nyali kalian lebih besar."

Berubah air muka Li Tay-yong, bentaknya.

"Maling keparat, membual apa? Kau, apa yang kau ketahui?"

"Kalau ingin orang tidak tahu, kecuali diri sendiri tidak berbuat demikian,"

Olok si pemuda.

"barusan kalian kasak-kusuk merundingkan apa? Hehehe, maaf ya, aku dengar seluruhnya."

Tadi, setelah perundingan mereka dirasa cukup sempurna, baru Kim Kong-to dan Li Tay-yong naik kuda menempuh perjalanan cukup jauh baru melihat pemuda ini.

Makin curiga dan bimbang hati Li Tay-yong, pikirnya.

"Di tengah jalan jelas tidak kelihatan ada orang di mana dia mencuri dengar? Umpama ginkang-nya sudah tinggi, tak mungkin dapat melebihi kecepatan lari kuda?"

Ternyata dia tidak tahu bahwa pemuda ini hanya mencuri dengar pembicaraan mereka dengan Toan Kiam-ceng, dia hanya tahu bahwa mereka berusaha menipu Toan Kiam-ceng pulang ke Tayli, tentang tuduhannya tadi hanya bualan si pemuda sendiri berdasarkan rekaannya.

Di samping kaget dan curiga, Li Tay-yong juga merasa jeri terhadap si pemuda.

Tapi muslihatnya telah terbongkar, betapapun dia merasa perlu membunuh pemuda ini untuk menutup mulutnya.

"Lote, urusan bisa kita rundingkan, apa keinginanmu marilah kita bicarakan,"

Sembari bicara mendadak L i Tay-yong sambitkan amgi yang sejak tadi telah digenggamnya.

Yang disambitkan adalah dua buah Toh-kut-ting, maka terdengar "Ting, ring", si pemuda tidak kelihatan bergerak, kedua buah paku pencmbus tulang itu pun jelas mengenai badannya, tapi tidak amblas atau menancap di badannya tapi malah terpental.

Pemuda itu tertawa lebar, katanya.

"Yang kuinginkan adalah lencana tembaga itu, siapa ingin paku karatan yang tumpul ini?"

Ternyata si pemuda gunakan Can-ih-cap-pwe-tiat, lwekang tingkat tinggi, lawan yang Iwekang-nya lebih rendah cukup menyentuh bajunya saja akan tersengkelit jatah, demikian pula amgi yang menyentuh pakaiannya juga terpental jatuh.

Bahwa amgi-nya tidak berhasil melukai orang, Li Tay-yong seumpama bercokol di punggung harimau, tidak berani turun, terpaksa dia mengeraskan kepala, sambil menggerung segera dia menubruk terus membacok.

Si pemuda melirik dan tersenyum sinis, di saat golok Li Tay-yong hampir mengenai badannya, baru dia angkat tangannya menjentik, jengeknya dingin.

"Bekal kungfumu serendah ini, berani bertingkah di hadapanku, cukup kau rasakan jentikan jariku saja."

"Creng"

Golok terpental balik membacok jidat Li Tay-yong sendiri hingga mukanya bermandi darah.

Setelah jidatnya terluka baru Li Tay-yong insyaf, dirinya, memang bukan tandingan lawan, daripada mati-konyol lekas dia buang golok serta berteriak.

"Lencana kuserahkan. Hohan... ampuni jiwaku."

Pemuda itu tertawa, katanya.

"Gentong nasi seperti kau juga jadi perwira Gi-lim-kun. Hm, sebetulnya aku boleh mengampuni jiwamu, sayang aku tidak percaya kepadamu...."

Sebelum orang habis bicara, Li Tay-yong sudah berteriak.

"Bukankah barusan kau bilang tidak setimpal membunuhku?"

"Maksudku kau tidak setimpal mengotori pedang pusakaku. Tapi mengingat kau mohon ampun, baiklah terserah pada nasibmu sendiri."

Di akhir perkataannya dari jarak sepuluhan langkah.

"Wut"

Dia lontarkan Bik-khong-ciang. Li Tay-yong rasakan segulung angin kencang menampar dirinya, seketika dada seperti dipalu godam, badannya terjengkang roboh pingsan. Si pemuda berpikir.

"Orang she Kim itu sudah pingsan, umpama jiwanya tidak melayang, sedikitnya harus berobat setengah tahun baru akan sembuh, tak mungkin bisa lari ke Siau-kim-jwan menyampaikan laporan."

Segera dia cemplak seekor kuda serta menarik kuda yang lain, putar balik mencari Toan Ki am-ceng dan Leng Ping-ji.

Kepandaian si pemuda memang tinggi, namun pengalaman masih cetek, agak ceroboh lagi, dia lupa memeriksa keadaan Kim Kong-to apakah dia betul-betul terbanting pingsan.

---ooodwooo---Kim Kong-to menggeletak di pinggir jalan tanpa bergerak, setelah si pemuda pergi jauh baru dia menghela napas dan pelan-pelan merangkak bangun.

Ternyata dua tulang rusuknya terbanting patah, lukanya memang cukup parah, tapi jiwanya tidak mati.

Tadi dia rebah pura-pura pingsan.

Terhindar dari bencana kematian, baru sekarang Kim Kong-to merasa kesakitan luar biasa.

Sedikit bergerak, tulangnya yang patah sakitnya bukan kepalang hingga dia menjerit kesakitan.

Meski sakit luar biasa, namun dia berucap syukur jiwanya selamat.

Setelah istirahat sekian lama baru Kim Kong-to angkat kepalanya dilihatnya Li Tay-yong rebah tergenang darah, timbul rasa terhibur hatinya gumamnya "Kau kena ganjaranmu sendiri karena ingkar sumpah.

Tanpa bantuanmu, aku memang lebih banyak menyerempet bahaya tapi seorang diri aku berani menghadapi bahaya besar itu."

Sungguh tak pernah terbayang-kan olehnya di saat dia menggumam itulah mendadak Li Tay-yong menggeliat terus membalikkan badan.

Karuan Kim Kong-to terperanjat, didengarnya Li Tay-yong merintih lalu berkata terputus-putus.

"Toako kemarilah... aku... ingin... bicara dengan... kau...."

Melihat keadaan orang yang mengerikan, ciut nyali Kim Kong-to, pikirnya.

"Di sini jauh dari kota atau dusun, aku sudah kehilangan kuda, seorang diri belum tentu bisa selamat, bagaimana aku bisa merawat dan menolong dia?"

Waktu dia menunduk dilihatnya golok baja milik Li Tay-yong yang tadi dipukul jatuh si pemuda, diam-diam dia pungut dan sembunyikan dalam lengan baju, katanya.

"Hiante, kau ini Bu-koan (tentara), sepantasnya memandang kematian sebagai berpulang ke pangkuan Yang Maha Kuasa. Saudaramu ini terluka dan tak punya tenaga maaf, aku tidak mampu menolong dirimu lolos dari kematian. Aku berjanji jenazahmu akan kukubur selayaknya."

Kiranya dia khawatir Li Tay-yong membuat gara-gara sehingga dia sendiri yang sudah terluka ini mengalami kesulitan, maka sengaja dia sembunyikan golok dalam lengan baju, pikirnya.

"Jiwamu toh tidak bisa ditolong lagi, biarlah ku-percepat kepergianmu supaya tidak terlalu menderita maka aku pun tak usah mendengar keluhan dan rintihan."

Khawatir orang tidak mau datang, Li Tay-yong berkata pula terputus-putus.

"Aku... aku tahu jiwaku takkan tertolong lagi, bukan aku ingin minta kau menolong aku... aku, aku... ada sebuah rahasia... ingin kuberi tahu kepada kau kelak kau... bisa naik... pangkat dan mendapat pahala cuma tolong kau pulang ke Tayli, mohon Ting-ciang-kun... membalas sakit... hatiku, aku, aku tak kuat lagi, lekas, lekas, lekas...."

Suaranya makin memburu dan lemah, dalam jarak sepuluhan langkah Kim Kong-to sudah tidak mendengar ucapannya Kim Kong-to kegirangan, pikirnya.

"Tak nyana sebelum ajal dia masih baik hati, tidak sia-sia aku angkat saudara dengan dia."

Khawatir orang sebelum membeber rahasia sudah mati, dengan tertatih-tatih dia maju menghampiri, berjongkok lalu mendekatkan telinga di mulutnya, teriaknya.

"Hiante, lekas katakan."

Tak nyana mendadak Li Tay-yong tertawa dingin, katanya "Toako, kau masih ingat sumpah kita bersama bukan? Kita kan.saudara angkat, sepantasnya mati hidup bersama"

Di tengah tawa dinginnya itu dia layangkan telapak tangannya.

Mimpi juga Kim Kong-to tidak menduga bahwa adik angkatnya ini bakal menamatkan jiwanya meski Li Tay-yong sendiri juga sudah dekat ajal, tenaganya jauh lebih lemah, tapi pukulan telapak tangannya ini toh cukup memukulnya tumpah darah.

Li Tay-yong tergelak, katanya "Hari ini orang she Li memang mampus sia-sia tapi syukurlah aku masih bisa mengajak, mengajak kau berangkat bersama Kelahiran kita berbeda tapi biarlah mati bersama.

Hahaha, tidak sia-sialah kita angkat saudara"

Ternyata waktu Li Tay-yong siuman dari pingsannya kebetulan dia mendengar Kim Kong-to menggumam, sungguh bukan kepalang gusar hatinya karena itu meski tahu jiwa sendiri sukar tertolong, maka dia berusaha mengajak Kim Kong-to mati bersama.

Setelah menyemburkan darah segar, Kim Kong-to berteriak parau.

"Kau, kau kejam."

Seperti tonggak kayu dia roboh menindih badan Li Tay-yong, golok baja yang dipegangnya kebetulan menancap di tenggorokan Li Tay-yong.

Waktu mereka angkat sumpah tadi, mungkin tidak pernah membayangkan bukan musuh yang mematikan jiwa.

mereka, tapi bersama mati di tangan saudara angkat, jadi setimpal dan terkena oleh ganjaran sumpah sendiri.

Sementara itu Toan Kiam-ceng dan Leng Ping-ji masih saling debat dan belum ada ke-putusan, ke mana mereka harus pergi.

Kalau Toan Kiam-ceng ingin lekas pulang, sebaliknya Leng Ping-ji selalu menghalangi.

Ruwet pikiran Toan Kiam-ceng, katanya dengan tertawa getir.

"Sebetulnya aku memang tak kuat menempuh perjalanan jauh, untuk pulang juga bukan soal gampang. Ai, kalau bisa naik kuda kan mending, tanpa kuda mau ke mana pun jadi serba susah."

"Tadi kau larang aku rebut kuda pembesar anjing itu, tapi umpama dapat kuda juga aku tetap tidak setuju kau pulang ke Tayli."

Mereka tengah berjalan dijalan pegunungan yang melingkar turun naik, mendadak didengarnya derap kuda yang mencongklang turun dari jalan lingkar sebelah atas begitu cepat sederas hujan saja Leng Ping-ji berkata heran.

"Kedua kuda ini agaknya juga gagah dan jempol, rasanya tidak kalah dibanding kuda kedua pembesar anjing tadi."

Toan Kiam-ceng tertawa getir, katanya.

"Buat apa kau memuji melulu, yang terang kita kan tidak akan merebut kuda orang."

"Aneh,"

Ucap Leng Ping-ji.

"Kuda sebaik itu jarang terlihat, entah kenapa beruntun kita bertemu di atas gunung sepi ini? Mungkin kedua pembesar anjing itu putar balik?"

Belum habis dia bicara, tampak dua ekor kuda sedang mencongklang turun dari jalan lingkar sebelah atas namun tanpa penunggang. Sebuah suara seperti sudah pernah mereka kenal berkumandang dari atas.

"Siau-ongya, temanmu titip aku supaya menyerahkan kedua kuda ini kepada kalian, tapi dia berpesan supaya Tingciangkun dari Tayli jangan melihat kedua ekor kuda ini."

Waktu Leng Ping-ji mendongak, sempat dilihatnya bayangan punggung seorang pemuda berkelebat hilang di balik semak-semak. Tanpa merasa Leng Ping-ji menjerit.

"Oh, kiranya dia"

"Siapa dia?"

Tanya Toan Kiam-ceng.

"Terima dulu hadiah orang, bicara belakangan,"

Seru Leng Pingji. Toan Kiam-ceng bimbang, katanya.

"Patutkah kita terima hadiah ini?"

"Kalau sudah datang kenapa ditolak? Orang kan bermaksud baik."

Toan Kiam-ceng lihat kedua ekor kuda ini adalah tunggangan Kim Kong-to dan Li Tay-yong tadi, dalam hati dia membatin.

"Bukan aku menolak, toh kedua kuda ini yang lari mendekat."

Toan Kiam-ceng harus memeras keringat, setelah berhasil mencem-plak di punggung kuda baru lega hatinya, katanya hambar.

"Ping-moay, menurut pendapatmu apakah yang telah terjadi?"

"Orang yang memberi hadiah sebesar ini, adalah pemuda yang tempo hari menolong jiwa kita di Ciok-lin itu."

Toan Kiam-ceng melengak heran.

"Apa benar orang itu?"

"Kenapa kau merasa heran?"

"Kim Kong-to dan Li Tay-yong bertugas ke Siau-kim-jwan mengirim surat dinas, bagaimana mungkin dia titip kepada pemuda itu menyerahkan kedua kuda ini kepada kita? Kalau mereka mau berbuat apa-apa, kenapa harus pinjam tangan orang lain, bukankah di sini mereka bisa serahkan secara langsung?"

Leng Ping-ji cekikikan, katanya.

"Persoalan sepele begini, masa kau tidak paham?"

Toan Kiam-ceng memang pandai, sekilas berpikir segera dia pun mengerti, katanya.

"Jadi menurut hematmu, pemuda itu telah membunuh Kim Tay-yong dan Li Kong-to berdua?"

"Kukira demikian. Kalau bukan pemuda berkepandaian tinggi itu, kukira takkan mudah membunuh perwira Gi-lim-kun she Li itu."

"Kalau kita naik kuda mereka, apakah kita tidak akan di curigai?"

"Bukankah tadi kau juga mendengar peringatannya, asal tidak diketahui Ting-ciangkun di Tayli, siapa yang tahu kalau kuda ini milik mereka?"

Toan Kiam-ceng menghela napas, katanya lesu.

"Baiklah, terpaksa aku ikut kau berkelana ke mana saja Jelas aku tidak bisa pulang ke Tayli lagi."

Lalu dia menambahkan.

"Tapi aku masih merasa aneh, pemuda ini pernah menolong jiwa kita, memberi kuda tunggangan lagi, kenapa dia berbuat baik terhadap kita, kenapa tidak mau menemui kita?"

"Aku juga tidak tahu apa sebabnya, bahwa dia lolos dari keroyokan kedua gembong iblis itu lega juga hatiku." ---ooodwooo---Dugaan Leng Ping-ji memang tidak meleset, yang memberi kuda kepada mereka benar adalah Nyo Hoa. Hari kedua setelah dia meninggalkan Ciok-lin, telah menyusul Leng Ping-ji dan Toan Kiamceng, sejak itu dia menguntit dan mengawasi kedua muda-mudi ini. Setelah membantu kedua muda-mudi ini hatinya amat riang, pikirnya.

"Pit-kip cosu jelas takkan kuberikan kepadanya, biar kuberikan kedua ekor kuda saja, jelek-jelek aku sudah membantu keponakan ji-suhu."

Lencana tembaga milik Li Tay-yong sudah dia rampas serta disimpannya baik-baik, katanya setelah tertawa besar.

"Dengan memiliki lencana tembaga ini, dengan bebas aku bisa pergi ke Siaukim-jwan." ---ooodwooo---Pada sebuah lekuk gunung yang jarang diinjak manusia di daerah Siau-kim-jwan hidup sepasang suami istri pemburu yang masih muda usia. Pagi hari itu pemburu muda itu sudah bangun dan berkata kepada sang istri.

"Hari ini aku akan berburu, di rumah kau harus hati-hati, kalau ada apa-apa lekas kau lari sembunyi di gunung belakang, segala milik kita, boleh tidak usah kau pikirkan."

Istrinya yang muda dan cantik berkata.

"Milik kita tiada yang berharga, bukan aku khawatir tentara negeri merampas barang kita, yang kukhawatirkan kau ditangkap mereka"

Si pemburu membujuk.

"Ah, tidak mungkin, letak rumah kita di dalam cekung gunung yang sukar dijangkau oleh tentara negeri, aku akan berburu di hutan. Malah kau yang di rumah harus selalu berjaga-jaga"

"Cu-ko,"

Ujar sang istri.

"aku memang agak takut. Laskar rakyat telah mundur, tiada orang yang melindungi kita Walau kau bukan anggota laskar rakyat, bila antek-antek musuh tahu kau punya hubungan baik dengan Beng-thauleng dan Song-thauleng...."

Pemburu itu menghela napas, katanya "Aku tahu rasa takutmu, sepantasnya aku di rumah menemani kau. Tapi makanan sudah habis, tidak bisa tidak aku harus keluar berburu."

Apa boleh buat sang istri menghela napas, katanya.

"Baiklah, lekas berangkat, semoga Thian melindungi kita..."

"Jangan khawatir, aku akan pulang dengan selamat. Aku akan berusaha dengan, tenagaku-sendiri, jadi tidak usah dilindungi Thian segala"

Dengan mesra sang istri antar suaminya keluar pintu serta memandangnya lembut, katanya "Baiklah, semoga kau lekas pulang."

Dalam hati dia berpikir.

"Dia belum tahu bahwa aku sudah mengandung anaknya"

Hal ini sengaja tidak dia beri tahu kepada sang suami supaya tidak khawatir dan pikiran ruwet.

Setelah tutup pintu, dia menyibukkan diri jahit menjahit membikin pakaian bayi.

Mendadak pintunya digedor keras, suara suaminya berteriak gugup.

"Lekas, lekas buka pintu, aku pulang."

Memang dia mengharap suami lekas pulang, tapi juga tidak menduga sedini ini dia sudah balik. Lekas sang istri buka pintu serta tanya suaminya.

"Ada kejadian apa?"

Setelah menutup pintu, sang suami berkata lirih.

"Kulihat serombongan tentara negeri naik gunung, aku lihat mereka sudah memasuki lembah. Karena khawatir, lekas aku pulang, hayo kita menyingkir."

Istrinya kaget, tapi tentara negeri baru masuk lembah, takkan secepat ini memburu tiba Katanya.

"Apa betul? Lekas berbenah.""

"Tidak usah, lekas lari, lewat pintu belakang. Wah, celaka"

Belum lenyap rasa khawatirnya, didengarnya langkah kuda yang berlari kencang sederas hujan memburu kemari.

Bila lari keluar pasti kepergok rombongan tentara itu.

Suami istri ini hanya berpelukan, diam-diam sang istri berdoa supaya pasukan negeri yang terkenal seperti serigala tidak menangkap suaminya Sayang keinginan yang baik justru terbalik dari kenyataan.

Langkah kuda yang riuh itu berhenti di depan rumah, jelas beberapa orang lari berpencar mengepung rumah gubuk ini.

Kesiapsiagaan mereka seperti sedang menghadapi musuh besar saja "Biang"

Daun pintu yang terbuat dari papan tipis itu lekas sekali sudah dijebol ambruk, pasukan negeri seperti kawanan serigala kelaparan segera menerjang masuk.

Menghadapi kawanan pasukan negeri yang garang seperti harimau ini, pemburu muda ini malah lebih tenang, sambil angkat kepala dia berkata lantang.

"Untuk apa kalian kemari?"

"Apakah kau ini Ho Thi-cu?"

Bentak seorang perwira "Benar, kenapa?"

"Hmm, tentu kau sendiri sudah tahu, hayo berlutut dan mengaku terus terang."

"Mengaku apa?"

"Hm, masih pura-pura pikun."

Bukti sudah di tangan kami, kau ada hubungan dengan pemberontak, kau kira kami tidak tahu?

Berapa banyak sisa pemberontak yang masih sembunyi di sini sebutkan satu per satu.

Hanya pengakuanmu yang akan menebus dosamu.

Kalau tidak, hm, hm, jangan salahkan kalau kami bertindak keji kepadamu."

Ho Thi-cu tertawa dingin, katanya lantang, Tempat kami ini jauh dari rumah penduduk, selamanya tidak pernah ada rampok atau pemberontak, kalau ada juga yang baru pindah ke sini, siapa mereka mana aku tahu?"

Beberapa tentara berkaok-kaok gusar, kata seorang.

"Tingkoan, (pemimpin) pemburu busuk ini menyindir dan memaki kita!"

Perwira itu menarik muka, bentaknya.

"Baik, beri hajaran padanya."

Diberi ijin, kawanan tentara itu merubung maju memisah kedua suami istri. Sekali jotos Ho Thi-cu pukul seorang tentara pada hidungnya. Perwira itu membentak.

"Goblok!"

Sekali ulur tangan, tahu-tahu urat nadi Ho Thi-cu kena dicengkeramnya, jari tangannya sekeras tanggam menjepit pergelangan tangannya.

Sementara istrinya juga ditelikung dan diseret ke samping oleh tentara lain.

Ho Thi-cu meronta dan memaki.

"Nah, kan tidak salah apa yang kukatakan? Apakah perbuatan kalian ini tidak mirip rampok atau begal?"

Perwira itu gusar, makinya.

"Berani kau memaki aku? Sedikit kerahkan tenaga, Ho Thi-cu terjepit kesakitan sampai keringat dingin ber-ketes-ketes. Tapi dia kertak gigi tetap tak merintih, malah makinya.

"Rampok begal, memangnya kenapa kalau aku caci kalian? Kalau berani boleh kalian bunuh bapakmu ini."

Mendadak perwira itu tertawa, katanya.

"Bagus, kau ini orang gagah, kau tidak takut mati, tapi apakah istrimu juga tidak takut mati?"

Melotot merah mata Ho Thi-cu, makinya.

"Apakah kalian ini manusia? Mau bunuh, boleh bunuh aku, kenapa menganiaya perempuan lemah?"

Saking puas dan senang bahwa gertakannya berhasil, perwira itu tergelak-gelak, katanya "Kau ingin mati aku justru tidak akan segera membunuhmu, di hadapanmu akan kuperlihatkan betapa istrimu menderita"

Segera dia suruh anak buahnya membelenggu suami istri ini, lalu dia terima sebuah cambuk dari anak buahnya lalu bergaya hendak menghajar istri Ho Thi-cu.

Bentaknya "Lekas mengaku, kalau tidak di hadapanmu akan kuhajar istrimu sampai mampus."

Ho Thi-cu menggigit bibir kencang-kencang seperti murka dan kaget.

Dia boleh tidak takut mati, atau khawatir bila istrinya tersiksa tapi betapapun dia tidak boleh menjual kawan laskar rakyat demi menolong istrinya Semula di lihatnya istrinya gemetar, mukanya pucat ketakutan, kini mendadak membusung dada, katanya.

"Cu-ko, jangan kau scmbarang-an omong. Bila kita mati, ada orang yang akan menuntut balas sakit hati kita"

Berkobar semangat Ho Thi-cu, katanya "Kau memang istriku yang baik, kalau kau tidak takut kenapa aku harus takut Kau memang benar, pasti ada orang yang akan menuntut balas kematian kita""

Perwira itu tergelak-gelak, katanya.

"Leng Thiat-jiaU dan Beng Goan-cau juga sudah kami pukul melarikan diri entah ke mana kalian masih mengharap orang menuntut balas sakit hati segala? Hehe, jangan bermimpi di siang hari bolong. Hm, gembreng kalau tidak ditabuh tidak akan berbunyi, mau bicara tidak, cambuk kulitku ini segera akan menghajar tubuh istrimu yang montok dan mulus ini." ---oooooo---Perwira ini mengejek Ho Thi-cu sedang mimpi di siang hari, di luar tahunya penolong Ho Thi-cu memang sudah datang. Sudah tentu hal ini pun tidak pernah diduganya dalam mimpi. Penolong Ho Thi-cu suami istri bukan lain adalah Nyo Hoa Sudah sebulan Nyo Hoa berada di Siau-kim-jwan. Lencana milik Li Tay-yong itu ternyata amat berguna, manfaatnya besar, bila teringat kejadian di pos terdepan waktu dia mulai memasuki daerah terlarang ini, dia masih geli sendiri. Begitu dia keluarkan lencana, pemimpin barisan yang berjaga di pos ini lantas membungkuk-bung-kuk menyilakan masuk. Tapi pemimpin yang sudah lama berdinas di ketentaraan dan banyak pengalaman ini juga bukan tidak menaruh curiga terhadapnya Sekarang Nyo Hoa menyamar laki-laki setengah umur, tata rias memang pernah Nyo Hoa pelajari dari sam-suhu-nya Tan Khu-seng, samarannya kali ini juga cukup baik dan mirip. Tapi pemuda berusia delapan belas, dalam sikap dan tutur katanya betapapun masih kelihatan kekanak-kanakan dan lugu. Bahwa perwira Gi-lim-kun berdandan atau menyamar memang tidak perlu dibuat heran, tapi pemimpin barisan ini heran dan tidak percaya bahwa orang semuda ini dapat menjadi perwira Gi-lim-kun. Nyo Hoa merasa bahwa orang agak curiga padanya, maka sengaja dia pamer kepandaian, waktu pemimpin barisan ini menyuguhkan secangkir teh, perlahan dia letakkan cangkir itu di atas meja meja kayu itu seketika dekuk. Barulah pemimpin barisan itu percaya, karena pemuda ini berilmu silat tinggi baru dia dipilih jadi seorang perwira. Maka dia menyediakan diri mau mengantar Nyo Hoa ke markas besar tempat kediaman tetok (gubernur) pasukan besar kerajaan yang berkuasa di sini. Untung Nyo Hoa cukup cerdik, dia berbohong bahwa dia menerima tugas khusus ke Siau-kim-jwan untuk menyelidiki keadaan, kedatangan dirinya tidak boleh diketahui orang banyak. Pemimpin barisan itu ragu-ragu, terpaksa membiarkan Nyo Hoa berangkat sendiri. Bahwa Nyo Hoa bilang menyelidiki memang betul, dia harus mengadakan kontak dengan pihak laskar rakyat, harus mencari letak makam ibunya pula. Tapi sebulan sudah lewat, usahanya tetap nihil. Maklum rakyat Siau-kim-jwan siapa yang tidak takut antek-antek anjing alap-alap kerajaan Ceng, siapa pula yang tidak takut kalau dituduh ada hubungan dengan kaum pemberontak. Siapa . berani percaya kepada seorang laki-laki pendatang baru yang tidak dikenal? Terpaksa Nyo Hoa mengembara di daerah Siau-kim-jwan, kebetulan hari itu dia berada di lekuk gunung di mana Ho Thi-cu tinggal. Melihat sebarisan kecil pasukan kerajaan menyusup sejauh ini, dia pun heran, pikirnya tertarik.

"Untuk apa pasukan kerajaan datang ke pelosok gunung ini?"

Namun dalam hati dia menduga bahwa barisan berkuda ini pasti sedang menjalankan tugas atau hendak menangkap buronan.

Dengan ginkang-nya yang tinggi, diam-diam Nyo Hoa menguntit dari atas pohon sampai ke rumah sepasang suami istri muda ini.

Dalam rumah gubuk, perwira itu sudah angkat cambuknya tinggi di atas kepala serta membentak.

"Mau mengaku tidak? Kuhitung tiga kali, kalau tetap bungkam biar istrimu . kuhajar, satu, dua.."

Sebelum dia mengucap tiga, mendadak terdengar sebuah bentakan sekeras guntur.

"Berhenti!"

Lalu didengarnya suara keras dari papan rumah ambruk, dua tentara yang berjaga di luar pintu terpental jatuh satu tombak lebih.

Sementara beberapa orang tentara yang mengepung rumah berkaok-kaok merubung maju.

Yang melabrak masuk ini adalah Nyo Hoa Dengan gerakan secepat kilat dia menyelinap masuk dari kepungan beberapa tentara yang mengepung rumah.

Dua tentara di depan pintu ayun golok terus membacok, tapi keduanya terpental jatuh dengan kepala bocor.

Seperti kedua kawannya di luar, mereka terbanting jatuh oleh lwekang tingkat atas yang digunakan Nyo Hoa yaitu Can-ihcap-pwe-tiat.

Lebih celaka lagi, mereka menubruk sambil mengayun golok, begitu senjata terpental balik, makan tuan malah hingga luka mereka lebih parah.

Kepandaian perwira itu juga biasa saja, tapi dia cukup cerdik melihat gelagat tidak menguntungkan, kepandaian Nyo Hoa jelas lebih tinggi, maka timbul akal busuknya, tidak menyerang Nyo Hoa tapi dia membelit cambuk kulit di leher Ho Thi-cu.

Setelah Nyo Hoa merobohkan empat anak buahnya menerjang masuk, langkahnya setindak terlambat "Berdiri!"

Bentak si perwira.

"Berani kau bergerak, biar kujerat dia biar mampus. Apa kau tidak pikirkan jiwa kawanmu ini?"

Jiwa Ho Thi-cu tercengkeram di tangan lawan, meski berkepandaian tinggi, Nyo Hoa jadi mati kutu tidak berani bertindak gegabah.

Untung dia masih menyimpan lencana tembaga milik Li Tayyong, tiba-tiba timbul akalnya "Pakai kekerasan tidak bisa, kenapa tidak ku-tipu dia?"

Segera dia rogoh lencana terus diacungkan ke depan mata si perwira, bentaknya "Bedebah, kawan apa? Kau tidak kenal aku, juga harus kenal lencana ini?"

Sebagai perwira tetok yang berkuasa di Siau-kim-jwan sekarang, sudah tentu dia kenal baik lencana dari Gil im-kun.

Satu hal lagi, waktu Nyo Hoa menyusup ke Siau-kim-jwan dan melewati pos penjagaan pertama, dia berbohong sedang mengemban tugas rahasia Hal ini sudah dilaporkan oleh pemimpin barisan penjaga itu ke markas besar, hal ini juga diketahui oleh perwira ini, kini mendadak melihat Nyo Hoa memperlihatkan lencana Gi-Um-kun, sungguh kagetnya bukan main.

"Ya, hamba memang bodoh, hamba punya mata tidak tahu gunung Thaysan, harap tayjin memberi ampun. Tayjin ada pesan apa?"

"Lepaskan mereka, ikut aku keluar, aku ingin bicara dengan kau."

Perwira itu ragu-ragu, pikirnya "Sebagai perwira tinggi Gi-lim-kun dia menerima tugas rahasia kalau dia ingin bicara empat mata dengan aku juga masuk akal."

Maka tanpa menaruh curiga segera dia turuti kehendak Nyo Hoa Empat anak buahnya yang ter-luka sudah merangkak bangun, meski kesakitan mereka tidak berani merintih, sambil meringis matanya melotot saja Perwira itu membentak.

"Bedebah, kalian berbuat salah masih melotot segala, hayo lekas enyah dari sini."

Lekas anak buahnya saling papah terus keluar dan diberi pengobatan..Setelah keluar dari lekuk gunung, perwira itu masih kebat-kebit, tanyanya kepada Nyo Hoa "Orang she Ho itu terbukti sekongkol dengan pemberontak, konon dia punya hubungan erat dengan pemimpin pemberontak Beng Goan-cau.

Entah kenapa hamba harus membebaskan dia, .mohon tayjin suka memberi petunjuk."

Nyo Hoa kegirangan, pikirnya.

"Sungguh kebetulan sekali, tanpa membuang tenaga aku menemukan sumber berita"

Namun sikapnya tetap kaku, katanya tawar.

"Memangnya kau tidak tahu? Untuk mengail ikan besar harus mengulur tali panjang?"

Perwira itu menepuk jidat, katanya manggut-manggut.

"O, jadi tayjin membiarkan orang she Ho itu bebas supaya dapat mengamati gerak-geriknya dan menyelidiki komplotannya?"

"Betul, memangnya aku tidak tahu watak mereka yang tidak gampang menyerah? Jangan kira pakai kekerasan dapat mengorek keterangan, justru sebaliknya hasilnya nihil."

Lalu dia merendahkan suara berbisik di pinggir telinganya.

"Biar rahasia ini kuberi tahu kepadamu, tugasku kemari adalah secara diam-diam menyelidiki tokoh-tokoh kosen mereka yang masih ditinggalkan di sini, baru saja sumber penyelidikan sudah k u peroleh, datang-datang kau telah merusak segala rencanaku."

Bahwa dirinya dicaci maki Nyo Hoa, tapi Nyo Hoa mau membeber rahasia, perwira itu merasa was-was malah.

"Mohon ampun tayjin, hamba sungguh tidak tahu. Kedatanganku kemari juga menjalankan tugas"

Demikian kata si perwira dengan merendahkan suaranya pula.

"Tidak tahu tidak berdosa. Tapi sumber yang baik ini jadi berantakan, kita harus berusaha memperbaikinya."

Pura-pura berpikir sejenak, lalu berkata pula.

"Suruhlah anak buahmu pulang dulu, kau saja yang membantuku. Aku sudah punya akal untuk memperbaiki rencana ini."

Perwira itu melenggong, sejenak dia bimbang. Lekas Nyo Hoa berkata.

"Apa yang kau khawatirkan?"

"Ah, tidak, tidak, tidak ada,"

Sahut si perwira gelagapan.

"Tapi perintah membatasi waktu sebelum hari petang aku harus pulang memberi laporan."

"Aku suruh kau membantu sudah tentu aku yang bertanggung jawab kepada atasanmu. Kalalu kau tidak percaya padaku dan khawatir merusak tugasmu, terserah apa kehendakmu."

Maksud si perwira memang ingin memancing pertanyaan Nyo Hoa, pikirnya "Di mana pun anggota Gi-lim-kun selalu mendapat prioritas, syukur hari ini aku dapat kenal dengan dia, rasanya jauh lebih berguna daripada aku menjilat kepada pemimpin."

Lekas dia berkata.

"Kenapa tayjin bilang begitu, justru tayjin sudi mengundangku dalam tugas ini sungguh merupakan penghargaan bagiku."

Nyo Hoa tertawa, katanya.

"Baiklah, mari kau ikut aku." ---ooodwooo---Bahwa mereka lolos dari lubang jarum sungguh Ho Thi-cu seperti sadar dari mimpi saja. Tapi bayangan kematian masih menyelubung benak mereka "Cu-ko, sungguh tak nyana kita bisa terhindar dari petaka. Entah siapa orang yang melukai tentara negeri tadi? Perwira penjilat itu pun agaknya takut kepadanya,"

Demikian ujar istri pemburu. Ho Thi-cu masih bersikap prihatin, katanya menggeleng.

"Jangan keburu senang, terhindar dari petaka apa mungkin petaka justru akan cepat menamatkan jiwa kita. Bukankah kau sendiri mendengar pembesar anjing itu membungkuk-bung-kuk dan memanggilnya tayjin?"

"Aku sih tidak tahu apa artinya,"

Ujar sang istri.

"kalau betul mereka orang sendiri, kenapa dia malah bantu kita memukul pergi kawanan tentara itu?"

"Memangnya tidak jelas, ini toh hanya permainan sandiwara belaka,"

Demikian ujar Ho Thi-cu tertawa getir.

"Dengan golok baja dapat membunuh orang, dengan permen beracun juga bisa membunuh orang. Cuma bedanya orang lebih suka rela menelan permen yang beracun. Pendek kata setiap perwira atau pejabat pemerintah satu pun tidak boleh dipercaya."

Sang istri masih membujuk.

"Mungkin dia teman laskar rakyat yang sengaja menyamar perwira musuh?"

"Perkataanmu seperti sedang mimpi saja, kecuali dia bunuh pembesar anjing itu di depanku, aku tidak akan percaya."

"Lalu kita bagaimana? Aku mirip bernapas tapi tidak punya tenaga mau lari juga tidak mampu lagi, toako lekaslah lari saja"

"Kawanan rampok itu takkan berhenti begini saja, di luar secara diam-diam masih terus mengawasi gerak gerik kita Jangan kata aku tidak tega meninggalkan kau seorang diri, umpama benar aku lari, hanya akan masuk perangkap mereka. Lebih baik kita tunggu kedatangan mereka pula, bila perlu adu jiwa mati satu balik pokok, mati dua sudah untung."

Dengan lembut sang istri berkata.

"Betul, jangan kita mudah ditipu dan tak usah takut. Paling, mati, suami istri dapat mati bersama juga baik."

Ho Thi-cu acungkan jempolnya, katanya.

"Istriku yang baik, biasanya kukira kau bernyali kecil, perempuan lembut dan nyonya yang bijaksana, ternyata kau pun gagah dan pemberani."

"Toako, aku belajar dari kau,"

Katanya lembut sambil rebah dalam pelukan sang suami, wajahnya cerah dihiasi senyum manis, namun air-mata berlinang di pelupuk matanya Senang tapi juga sedih, senang karena mendapat pujian suami, sedih karena dirinya sudah mengandung tapi tidak mau memberi tahu suami "Mati bersama Cuko, mati pun aku tidak menyesal.

Yang harus disesalkan adalah anak dalam kandunganku belum lahir dan harus ikut berkorban."

Di saat suami istri berpelukan, terasa betapa besar cinta mereka betapa besar luhur kehidupan ini meski dalam keadaan serba kekurangan dan menderita hal ini malah menambah dalam cinta mereka.

Mendadak Ho Thi-cu berjingkat sambil menarik istrinya perlahan, katanya.

"Istriku yang manis, lekas kau sembunyi ke kamar, ada orang datang pula."

Tapi si istri tidak mau sembunyi, dia tetap berdiri mendampingi suami, katanya sambil kertak gigi.

"Bukan orang, tapi perampok. Toa-ko dugaanmu tidak salah, kawanan rampok datang lagi."

Belum habis mereka bicara, Nyo Hoa dan perwira itu telah melangkah masuk.

Begitu Nyo Hoa buka suara, Ho Thi-cu lantas dibuatnya kaget dan melongo hingga mulutnya yang sudah siap melontarkan makian jadi lupa bicara lapi kalau dia hanya merasa di luar dugaan, adalah perwira itu justru kaget luar biasa.

Sebetulnya hatinya memang kebat-kebit entah apa kehendak Nyo Hoa, tapi dia menduga sesama sejawat dalam ketentaraan yakin Nyo Hoa tidak akan memerintahkan sesuatu yang membuatnya serba susan-dan malu.

Tak nyana Nyo Hoa lantas berkata.

"Kau berbuat salah terhadap mereka suami istri, lekas menyembah dan minta maaf.""

Meski perwira ini menindas rakyat, mana dia mau tunduk kepala serunya kaget.

"Tayjin harap periksa, pohon ada kulitnya manusia punya muka, aku... aku... aku...."

"Kau apa?"

Bentak Nyo Hoa.

"Kusuruh kau berlutut dan minta ampun, berani kau menentang kehendakku?"

Perwira itu sebetulnya hendak membantah.

"Biarlah aku minta maaf ala kadarnya saja", tapi karena bentakan Nyo Hoa yang keras, tanpa sadar lututnya goyah terus jatuh berlutut dan benar juga beruntun dia menyembah tiga kali. H o Thi-cu menyeringai dingin, katanya.

"Kalian main sandiwara apa main kekerasan atau menggunakan cara lembut juga jangan harap dapat membujuk aku."

Nyata dia tetap tidak percaya kepada Nyo Hoa Setelah berlutut ingin si perwira merangkak bangun. Tapi Nyo Hoa lekas menekannya, bentaknya.

"Nanti dulu, aku masih mau bicara"

Perwira itu meringis, katanya "Tayjin, ampunilah aku."

Nyo Hoa tertawa katanya "Kau harus minta ampun kepada mereka bukan minta ampun kepadaku."

Istri Ho Thi-cu berkata.

"Sebetulnya apa yang sedang kalian perankan? Kalian yang jadi penguasa sudah mending kalau tidak menindas rakyat."

Lekas perwira itu berkata "Tayjin, kau dengar mereka sudah mau mengampuni aku."

Nyo Hoa berkata.

"Mereka penasaran tapi tidak terlampias, siapa bilang mereka sudah mengampuni kau? Kalau tidak percaya biar mereka katakan sendiri."

Baru sekarang Ho Thi-cu sadar akan suatu hal yang ganjil, maka dia coba berkata.

"Tadi aku hampir mati di tangan pembesar anjing macammu, itu belum jadi soal, yang paling menjengkelkan adalah kau hendak memaksa aku membawa kalian pergi mencelakai jiwa orang baik. Aku jadi ingin menghajarmu sampai puas."

"Bagus, boleh silakan kau menghajarnya sampai puas dan terlampias kedongkolanmu,"

Kata Nyo Hoa "Jangan takut, aku yang suruh kau menghajarnya"

"Aku takut apa, paling kalian membunuhku,"

Kata Ho Thi-cu sengit.

Segera diraihnya sebatang tombak trisula yang biasa dia bawa bila berburu, sekali ayunan kontan dia pukul si perwira.

Perwira itu juga dongkol dan gusar, saking tak tahan dia berjingkrak sambil angkat lengan menangkis, Ho Thi-cu mundur dua tindak, tapi perwira itu sudah kena gebuk dan berkaok-kaok kesakitan.

Saking gusar dia memburu hendak merebut tombak trisula Ho Thi-cu.

Tapi Nyo Hoa lantas menekan pundaknya, cukup tiga bagian tenaganya saja perwira itu sudah tidak tahan dan tak mampu bergerak, katanya dingin.

"Dia tidak menusukkan tombak trisula ke lambungmu sudah untung, kau masih berani melawan?"

Kejut dan gusar si perwira, mau tidak mau dia curiga kepada Nyo Hoa katanya.

"Tayjin, kau tidak terlalu? Siapa kau sebetulnya, kenapa kau malah membantu berandal menghajarku?"

Nyo Hoa tertawa, katanya.

"Betul, sejak tadi kau sudah harus tanya, kau tahu siapa aku?"

Gemetar suara si perwira.

"Kau, apakah kau bukan perwira Gilim-kun?"

"Kau memang pintar, sekali tebak jitu,"

Ujar Nyo Hoa tertawa "Terus terang, lencana itu kurampas dari seorang perwira Gi-limkun. Jadi aku ini adalah kawan dari berandal."

Serasa terbang arwah si perwira, lekas dia meratap dan menyembah.

"Hohan ampun, ampun."

Nyo Hoa berkata.

"Ho-toako, bagaimana pendapatmu?"

Setelah menghajarnya, rasa dongkol Ho Thi-cu sudah terlampias, katanya "Silakan hohan sendiri memutuskan. Asal dia tidak sewenang-wenang menindas rakyat, aku sih boleh mengampuni jiwanya"

Lekas perwira itu bersumpah.

"Selanjutnya aku tidak berani lagi, umpama mendapat perintah atasan aku lebih rela kena hukum dan hanya menjalankan perintah ala kadarnya saja Jikalau aku ingkar sumpah, biar aku terserang penyakit aneh dan mati tak bisa diobati."

"Baik, sementara boleh aku percaya akan sumpahmu, tapi aku juga hanya mengampuni setengah jiwamu,"

Demikian kata Nyo Hoa.

Bukan hanya si perwira, Ho Thi-cu suami istri pun heran mendengar ucapan Nyo Hoa, mereka tidak mengerti kenapa hanya diampuni setengah jiwanya?

Setelah lenyap tawa Nyo Hoa, mendadak dia gunakan Siau-kimna-jiu menyangga dada si perwira, kontan orang menjerit kesakitan, di saat mulurnya terbuka lebar itulah Nyo Hoa jejalkan sebutir pil ke dalam mulutnya.

Terasa oleh si perwira, pil itu rasanya getir asin juga apek, mau ditumpahkan juga tidak bisa, tahu-tahu sudah tertelan ke perut Nyo Hoa tertawa, katanya.

"Tidak usah takut, obat yang kujejalkan tadi adalah pil racun, jiwamu juga tidak akan segera mati."

"Racun? Pil racun?"

Ratap perwira itu kaget dan ketakutan.

"Hohan, kau, kau ampunilah jiwaku."

"Jangan salah,"

Ucap Nyo Hoa.

"aku sudah hilang hanya mengampuni setengah jiwamu."

Lalu dia menambahkan pelan.

"Kadar racun baru akan kumat setahun lagi, obat penawarnya akan kuberikan kepada Ho-toako, bila tiba saatnya boleh kau minta kepadanya. Ho-toako, selama ini kau boleh perhatikan perbuatannya, mau beri atau tidak terserah kepadamu."

Ho Thi-cu berkata "Asal dalam setahun ini dia tidak sewenangwenang, aku pasti memberi."

Nyo Hoa menjelaskan.

"Walau racun itu baru akan kumat setahun lagi, tapi kadar racunnya sekarang sudah merembes ke dalam tulang. Selanjutnya kau tidak boleh marah dan banyak mengeluarkan tenaga kalau lupa akan pantangannya, racun kumat lebih dini. Kalau tidak percaya, sekarang boleh kau gunakan cara kau berlatih lwekang lalu menarik napas panjang."

Perwira itu berpikir.

"Racun yang akan kumat setahun kemudian, kok belum pernah aku dengar."

Hatinya kcbat-kebit, setengah curiga setengah percaya, tapi diam-diam dia mencoba tarik napas, terasa Ih-khi-hiat di bawah ketiaknya terasa sakit seperti ditusuk jarum Karuan hatinya kaget.

"Ternyata memang benar ada racun sejenis itu."

"Jangan kau sekarang bermuka-muka di hadapanku, mengira aku tidak tinggal lama di sini, laju kau akan datang memaksa Ho-toako menyerahkan obat penawarnya. Untuk mencabut jiwamu segampang aku membalik telapak tangan. Ke mana. kau sembunyi juga takkan lolos dari tanganku. Mengerti?"

"Ya ya, hamba tidak berani,"

Perwira itu meratap pula Ho Thi-cu mendengus, katanya "Memangnya kau berani.

Sebelum saatnya, jangan kau harap dapat memaksa aku menyerahkan obat.

Paling aku mati bersama kau, obat penawar sekali-kali takkan kuberikan kepadamu."

Perwira ini sudah tahu wataknya ia tahu ucapannya bukan gertak sambal belaka, katanya dengan menyengir.

"Ho-toako jangan kau curiga. Kau adalah penolongku, betapapun aku harus berbuat baik kepadamu, mana berani kurang ajar? Tapi untuk tidak menimbulkan curiga orang, mungkin aku tidak bisa sering kemari menengok kau. Baiklah setahun kemudian baru aku akan kemari."

"Siapa sudi kau menengok aku, sudahlah enyah,"

Kata Ho Thi-cu. Perwira itu kegirangan, lekas dia merangkak hendak lari ke luar.

"Tunggu,"

Tiba-tiba Nyo Hoa menahan. Berdebar jantung si perwira katanya pucat.

"Hohan masih ada petunjuk apa?"

"Kalau jalan harus pelan-pelan. Ingat tidak boleh menggunakan banyak tenaga"

Nyo Hoa berpesan.

"Terima kasih akan petunjuk hohan, hamba akan selalu ingat,"

Demikian katanya sambil membung-kuk-bungkuk padahal hatinya benci setengah mati tapi lahirnya dia tidak berani memperlihatkan rasa dendamnya Setelah melihat perwira itu pergi jauh, baru istri Ho Thi-cu berkata dengan tertawa.

"Cu-ko aku bilang pasti ada orang baik menolong kita, ternyata doaku kesampaian."

Hubungan batin suami istri memang terjalin, di waktu istrinya tertawa riang, Ho Thi-cu sudah meraba apa kata kelanjutan yang hendak diucapkan istrinya "Walau orang ini tidak membunuh perwira itu, tapi sekarang kau pasti percaya kepadanya?"

Berbareng mereka mengatakan terima kasih kepada Nyo Hoa, Tolong tanya siapa nama mulia inkong (tuan penolong)?"

"Kita kan orang sendiri, jangan sungkan, aku she Nyo bernama Hoa kau boleh panggil namaku saja aku masih ingin mendapat bantuan kalian."

"Nyo-toako,"

Kata Ho Thi-cu.

"aku khawatir tak bisa membantumu, ada urusan apa boleh katakan saja"

"Ho-toako, kau adalah teman baik Beng tayhiap Beng Goan-cau, aku ingin tanya satu orang kemungkinan dia adalah sahabat Beng"

Goan-cau, paling tidak punya hubungan dengan laskar rakyat."

Begitu buka mulut Nyo Hoa lantas menyinggung laskar rakyat, mau tidak mau timbul rasa curiga Ho Thi-cu, sesaat dia bimbang, katanya.

"Aku hanya kenal Beng tayhiap, tapi bukan sahabatnya, tentang laskar rakyat aku juga hanya tahu sekadarnya saja Entah siapa yang ingin kau ketahui?"

"Nyo-inkong,"

Timbrung istri Ho Thi-cu.

"hubunganmu dengan Beng tayhiap kukira juga cukup intim?"

Nyo Hoa tahu suami istri ini belum percaya seratus persen kepada dirinya, namun dia juga tidak lantas menjelaskan, katanya dengan tertawa.

"Aku agak lapar, bagaimana kalau kalian suguhkan ketela rebus untuk mengganjal perutku yang kelaparan ini? Setelah kenyang baru nanti bicara lagi."

Persoalan penting dikesampingkan, sikapnya yang wajar dan santai malah membuat bingung Ho Thi-cu suami istri. Istri Ho Thi-cu minta maaf, katanya.

"Keluarga kami miskin tiada makanan enak untuk kusuguhkan pada inkong. Ketela ini biarkukuliti dulu."

"Ah, tak usahlah,"

Ujar Nyo Hoa lantas mengambil sebuah ketela Tampak sinar putih menari-nari, cahayanya menyilaukan mata Ternyata ketela yang diambil Nyo Hoa dilempar ke tengah udara, begitu pedang terlolos, dalam sekejap ketela itu telah dikuliti olehnya Begitu pedang tersimpan ke dalam sarungnya Nyo Hoa sambut ketela yang melayang jatuh itu.

Setelah digigit sekali baru berkata tertawa "Rasanya memang enak.

Ho.-toako, konon ilmu golok Beng tayhiap tiada bandingan, tentu kau pernah menyaksikan?"

Karuan demonstrasi permainan pedang Nyo Hoa bikin Ho Thi-cu berdiri menjublek.

Ternyata dengan pedang, Nyo Hoa memainkan ilmu golok, yang dimainkan justru Beng-keh-to-hoat.

Kejut dan girang Ho Thi-cu bukan main, lekas dia bertanya.

"Nyo-toako, pernah apa kau dengan Beng tayhiap?"

Dia kira kalau Nyo Hoa bukan murid Beng Goan-cau juga pasti sesama perguruan.

Tapi dilihatnya usia Nyo Hoa masih muda, pasti dia muridnya "Terus terang, aku belum pernah kenal dengan Beng tayhiap, tapi ilmu goloknya itu dia suruh orang menurunkan kepadaku.

Kenapa aku diwarisi ilmunya, aku pun tidak tahu,"

Demikian Nyo Hoa memberi keterangan. Sekarang Ho Thi-cu tidak curiga lagi, katanya.

"Sayang Beng tayhiap sudah mundur bersama laskar rakyat, entah di mana sekarang mereka berada? Sebetulnya sukar untuk menemuinya."

Nyo Hoa berkata "Ada seorang Hun lihiap bernama Hun Ci-lo, konon waktu Siau-kim-jwan dulu dikepung pasukan besar kerajaan, dia pernah datang membantu.

Apakah Ho-toako pernah dengar peristiwa itu?

Yang ingin kuketahui adalah Hun lihiap itu."

Tiba-tiba merah mata istri Ho Thi-cu, katanya.

"Jadi kau ingin tahu tentang dia Ai..."

"Kenapa?"

Tanya Nyo Hoa Kata Ho Thi-cu khidmat.

"Kau memang tepat tanya peristiwa itu kepadaku. Waktu Hun lihiap tiba di Siau-kim-jwan hari itu, dia pun pernah menolong kami suami istri. Waktu itu kami belum menikah, aku menjadi tawanan pasukan kerajaan, untung di jalan ketemu Hun lihiap hingga pasukan kerajaan dipukul mundur dan kami pun tertolong. Bukan menolong kami saja banyak lagi teman-teman sekampung pun telah ditolongnya. Sayang sekali budi pertolongannya tak mungkin kami membalasnya."

Kata istri Ho Thi-cu setelah mengusap airmata.

"Hun lihiap sudah mati, memang benar dia adalah sahabat Beng tayhiap suami istri, mereka setiap tahun pasti sembahyang di depan makamnya"

Walau tahu ibunya sudah meninggal, tapi Nyo Hoa ikut bersedih. Katanya terisak.

"Aku tahu, aku kemari juga ingin bersembahyang di depan makamnya Entah di mana letak makamnya?"

"Mari kuantarkan,"

Kata Ho Thi-cu.

"Tidak usah. Tolong gambarkan saja letaknya dan sedikit petunjuk jalannya, aku akan bisa menemukan sendiri,"

Demikian kata Nyo Hoa Selama sebulan ini hampir seluruh pelosok Siau-kimjwan pernah dijelajahi, maka dia hanya perlu diberi petunjuk saja "Makam Hun lihiap berada di Ho-lo-kok (Lembah Buli-buli) empat penjuru dikelilingi dinding batu dan ngarai jadi merupakan sebuah lembah, makamnya terletak di tengah lembah.

Dari luar kelihatannya tiada jalan masuk, padahal ada jalan rahasia yang tembus ke dalam."

Sambil bicara dia gunakan dahan kering menggambar di atas tanah. Nyo Hoa berpikir.

"Tak heran dua kali aku pergi ke Ho-lo-kok tidak menemukan makam itu."

Dengan cermat dia perhatikan keterangan Ho Thi-cu, katanya kemudian.

"Terima kasih Ho-toako."

"Kau pergi sendiri, aku jadi agak khawatir."

"Kenapa?"

Tanya Nyo Hoa.

"Letak makam yang dirahasiakan ini orang luar jarang tahu,"

Demikian ujar Ho Thi-cu.

"Tapi sudah setahun pasukan kerajaan Ceng menduduki Siau-kim-jwan, bukan mustahil makam itu sudah mereka temukan."

"Aku akan hati-hati. Ho-toako, kebaikanmu membuatku terharu, tapi aku takkan mengajakmu menyerempet bahaya"

Ho Thi-cu ikut terharu, katanya "Kau menolong jiwa kami suami istri, sayang aku tidak bisa balas membantu kau."

"Kau sudah memberi keterangan kepadaku. Hanya satu angananganku yang terbesar yaitu sembahyang di makam Hun lihiap. Em, mumpung hari belum gelap, aku harus segera berangkat."

"Nyo-toako,"

Ucap Ho Thi-cu "tunggu sebentar. Ada satu hal aku tidak habis mengerti, tolong kau menjelaskan."

"Soal apa?"

Dalam hari Nyo Hoa berpikir.

"Kalau dia tanya pernah apa Hun iihiap dengan aku, bagaimana aku harus menjawab?"

"Dalam kalangan Kangouw mengutamakan setia kawan, juga menjunjung tinggi kebenaran, perkataan seorang kuncu ibarat seekor kuda lari cepat. Betul tidak?"

Tanya Ho Thi-cu.

"Betul, tapi harus dilihat terhadap siapa kita berhadapan."

"Betul,"

Seru Ho Thi-cu menepuk paha.

"Aku memang sedang berpikir terhadap kawan sendiri sepantasnya demikian, tapi terhadap musuh, seperti tentara kerajaan umpamanya apakah lata juga demikian?"

Legalah hati Nyo Hoa katanya tertawa "Ho-toako, yang kau persoalkan tentu obat penawar yang harus kau serahkan kepada pembesar anjing itu setahun yang akan datang?"

Istri Ho Thi-cu menimbrung.

"Aku ini kaum hawa menurut pendapatku, omongan pembesar itu tak perlu dipercaya Setahun kemudian bila obat penawar kau berikan kepadanya, bukankah dia akan membuat perhitungan dengan kita? Terus terang, meski dalam setahun ini dia tidak berani mencari perkara dengan kita, hidup kita juga akan kebat-kebit selalu."

"Nyo-toako,"

Kata Ho Thi-cu.

"bagaimana pendapatmu? Obat penawarnya juga belum kau serahkan kepadaku?"

"Ya, hal ini belum kujelaskan, bahwasanya aku tidak punya obat penawar segala"

Ho Thi-cu melengak, serunya "Ha jadi kau menipu dia?"

"Aku juga tidak menipu dia aku kan sudah mengampuni jiwanya"

Ujar Nyo Hoa tertawa Ho Thi-cu keheranan. Nyo Hoa berkata pula dengan tertawa "Karena obat yang kuberikan itu bukan racun, maka aku pun tidak punya obat penawarnya"

Ho Thi-cu paham, tanyanya.

"Lalu apa yang kau jejalkan ke mulurnya?"

Nyo Hoa tertawa geli, katanya "Pil racun yang kujejalkan ke mulutnya adalah obat darurat buatanku sendiri, yaitu daki badanku yang kupuntir jadi sebutir pil."

Ho Thi-cu suami istri tertawa terpingkal-pingkal, katanya.

"Nyotoako caramu mempermainkan pembesar anjing itu memang menyenangkan, meski jiwanya tidak terancam, tapi setahun ini yakin dia cukup menderita."

"Dalam jangka setahun ini pembesar anjing itu pasti takkan berani mempersulit kau, selekas-lekasnya kalian pindah saja Uang dan sekantong ransum kering ini, boleh kalian gunakan untuk bekal di tengah jalan."

Istri Ho Thi-cu berkata.

"Kau telah menyelamatkan jiwa kami, mana boleh kami menerima..."

"Kalau tidak mau terima berarti tidak anggap aku sebagai kawan,"

Tukas Nyo Hoa.

Terpaksa Ho Thi-cu terima uang dan ransum kering, katanya "Baiklah, budi kebaikanmu tak perlu banyak kubicarakan, uang dan makanan ini kuterima.

Kami suami istri memang sudah siap naik ke gunung mencari para teman kami, kalau kau perlu tenaga kami boleh kau susul ke sana Setahun lagi...."

"Kurasa tidak perlu khawatir. Setahun lagi, kemungkinan Siaukim-jwan sudah berubah." ---ooodwooo---Bulan sabit bercokol di angkasa raya, bintang bertaburan berkelap-kelip. Malam hari di tengah hutan, suasana hening dan sepi. Di sebuah tanah lapang berumput di tengah hutan terdapat sehuah makam tunggal, seorang pemuda berlutut di depan makam sambil sesenggukan. Pemuda itu bukan lain adalah Nyo Hoa Setelah puas menangis, Nyo Hoa melolos pedang membabati rumput yang subur di sekitar makam. Lalu dia bersihkan batu nisan serta menyulut api melihat tulisan di atas sana Dilihatnya batu nisan itu bertulis "Tempat Hun Ci-lo lihiap beristirahat"

Gaya tulisannya mirip tulisan Beng Goan-cau dalam Beng-keh-to-hoat itu.

Berlutut di depan makam, Nyo Hoa berdoa "Ibu, sepuluh tahun aku terlambat datang, tak bisa bertemu lagi dengan kau.

Aku akan mengemban cita-citamu, bersumpah membela nusa dan bangsa"

Lalu membatin.

"Bila ingin tahu lebih hanyak tentang ibu, mungkin aku harus menemukan Beng Goan-cau. Entah ke mana aku harus menemukan dia?"

Cukup lama Nyo Hoa bersembahyang, waktu dia mau meninggalkan tempat itu, mendadak didengarnya sebuah suitan panjang di kejauhan, suaranya melengking menembus hutan bergema dalam lembah, telinga Nyo Hoa pekak rasanya Entah suitan itu bernada sedih atau suitan gagah, yang jelas nadanya tinggi dan perkasa.

Nyo Hoa kaget, pikirnya "Agaknya inilah Say-cu-hong-kang lwekang tingkat tinggi, lwekang orang ini sungguh luar biasa Gelagatnya masih lebih tinggi dibanding Khong-tong-ji-lo, Tong-hian dan Tong-bing kedua tosu hidung kerbau atau gembong iblis macam Yang Ke-beng."

Karena tidak tahu pendatang ini kawan atau lawan, dia tidak ingin terjadi keributan di depan makam ibunya maka terpaksa menyingkir saja Makam ini terletak di tengah tanah lapang, jadi nada tempat untuk sembunyi.

Untung di belakang makam terdapat dua batu besar sepelukan orang tegak berdiri, di tengahnya terdapat celahcelah yang cukup untuk sembunyi seorang bocah, tapi Nyo Hoa pernah meyakinkan Siok-kut-kang (Ilmu mengerutkan tulang) untung badannya cukup menyelinap di tengah batu.

Di sekeliling batu juga terdapat semak-semak rumput setinggi manusia, sembunyi di sini lebih aman dan sukar diketahui orang daripada sembunyi di atas pohon.

Baru saja Nyo Hoa menyembunyikan diri, terdengar suitan itu berhenti, orang itu pun sudah berdiri di depan makam ibunya.

Dari celah batu yang tertutup dahan-dahan rumput dia mengintip ke luar.

Di bawah keremangan cahaya bulan dia masih bisa melihat jelas keadaan sekelilingnya.

Maka dia melihat jelas pendatang ini lelaki berusia limapuluhan memelihara jenggot panjang bercabang tiga.

Begitu berdiri di depan makam, orang itu mendapatkan rumput yang dibabati, mulutnya bersuara heran, katanya.

"Agaknya ada orang pernah kemari, mungkinkah Goan-cau pulang diam-diam dan bersembahyang serta membersihkan makam?"

Lalu dia berseru lantang.

"Aku ini Miao Tiang-hong, sahabat manakah yang membersihkan makam Hun lihiap, silakan keluar bertemu."

Nyo Hoa juga heran, pikirnya.

"Entah siapa orang she Miao ini? Nada bicaranya dapat disimpulkan bahwa dia sahabat baik Beng Goan-cau."

Ternyata sam-suhu Nyo Hoa, ji-suhu-nya Toan Siau-si meski kenal Miau Tiang-hong, sayang dalam pertemuannya di Ciok-lin terakhir kali, waktu teramat mendesak hingga banyak persoalan yang hendak dibicarakan jadi terlupakan, demi-.

kian juga hubungan baik Miao Tiang-hong dengan Hun Ci-lo juga lupa diberitahukan kepadanya.

Nyo Hoa berpikir.

"Sementara biar tak usah kutemui dia, lihat dulu apa yang hendak dia lakukan?"

Setelah ditunggu sekian saat tidak kelihatan orang muncul, Miao Tiang-hong kira orang sudah pergi.

Sesaat dia berdiri melamun, wajahnya kelihatan sedih, sambil menghela napas panjang, mulutnya menggumam bersenandung, habis bersenandung tiba-tiba dia menangis menggerung-gerung.

Hampir Nyo Hoa tak kuat menahan rasa sedih, airmata bercucuran, pikirnya.

"Mendengar tangisannya yang begini sedih, tentu kawan ibu dan bukan musuh. Berlutut di depan nisan, Miao Tiang-hong berdoa.

"Ci-lo, sengaja aku kemari, hendak memberi tahu kepadamu, aku sudah bekerja sesuai pesanmu, putramu sudah kuasuh sampai besar. Sayang usianya baru sepuluh tahun, tak bisa aku membawanya kemari untuk sembahyang di depan makammu. Aku masih ingin memberi tahu kecuali aku mengajar kungfu kepadanya, aku pun telah mencarikan seorang guru ternama, bulan lalu aku membawanya ke Thian-san dan ciangbunjin Thian-san-pay Teng King-thian (Tong Keng Thian) berjanji menerimanya menjadi murid penutup. Kepandaian Teng King-thian sepuluh kali lipat lebih tinggi dari aku, kelak putramu yang kecil itu pasti menjadi pendekar besar."

Makin mendengar makin heran, Nyo Hoa membatin.

"Ternyata aku masih punya seorang adik lelaki, tapi baru sekarang aku tahu."

Didengarnya Miao Tiang-hong berdoa pula.

"Orang hidup dapat kawan setia, mati pun boleh tak menyesal. Perkataan ini pernah kau ucapkan, Ci-lo, meski sudah sepuluh tahun kau meninggal, dalam hatiku, kau masih seperti masih hidup. Semoga...."

Tanpa merasa Nyo Hoa mengerutkan kening, terasa ucapan Miao Tiang-hong ini agak ganjil, dia merasa tidak sepantasnya kata-kata ini dilontarkan kepada seorang nyonya mati yang sudah punya suami.

"Semoga..."

Belum sempat Miao Tiang-hong katakan mendadak dia angkat kepala seraya bersuara heran lalu bergegas berdiri.

Nyo Hoa me-lenggong, segera dia pasang telinga mendengarkan, didengarnya dua langkah orang seperti menuju ke arah makam ini.

Miao Tiang-hong seperti tahu siapa yang akan datang, setelah menghela napas, dia menggumam sendiri.

"Sungguh tak. nyana suami yang rendah martabat ini juga masih ada muka datang ke makam Ci-lo. Jikalau kebentur di tempat lain, aku pasti tidak akan mengampuni dia Tapi di depan makam Ci-lo, demi memberi muka kepada Ci-lo, tak boleh aku membunuh di sini, terpaksa aku menyingkir saja."

Suaranya lirih, tapi Nyo Hoa sembunyi dalam jarak dekat maka dia mendengar jelas.

"Suami yang bermartabat rendah", bagi pendengaran Nyo Hoa agak menusuk telinga diam-diam dia merasa heran, pikirnya "Entah siapa orang itu, tapi Miao Tiang-hong memakinya demikian, pastilah perbuatan orang itu terlalu jahat atau kejam. Tapi kenapa dia harus memandang muka ibu dan tidak akan menghajarnya di sini? Ibu adalah pendekar perempuan yang dihormati para pemimpin laskar rakyat, mungkinkah dia punya teman serendah itu?"

Langkah kedua orang itu makin dekat, dua orang jalan beradu pundak mendatangi.

Miao Tiang-hong sembunyi ke dalam hutan, sekali enjot kaki dia melompat naik ke atas pohon.

Dahan tidak bergerak daun tidak rontok, ternyata tidak mengeluarkan sedikit suara pun.

Diam-diam Nyo Hoa memuji.

"Kepandaian lain orang ini aku belum tahu, ginkang-nya jelas teramat tinggi, jelas aku bukan tandingannya. Tak heran sam-suhu sering bilang orang pandai masih ada yang lebih pandai."

Belum habis dia berpikir, dari lereng bukit sana muncul bayangan dua orang, mereka beranjak menuju ke arah makam sini.

Hati-hati Nyo Hoa menyingkap rerumputan lalu mengintip ke luar.

Yang jalan di depan adalah dua orang perwira, yang di belakang adalah laki-laki setengah umur berperawakan sedang.

Tercekat hati Nyo Hoa, pikirnya.

"Aneh, orang yang di belakang itu seperti pernah kulihat? Tapi di mana?"

Sayang dia hanya mengintip dari celah-celah, sinar bulan agak guram pula, hingga wajah orang itu tidak kelihatan jelas.

Tapi entah kenapa jantung Nyo Hoa mendadak berdebar keras seakan-akan mendapat firasat jelek.

Orang di belakang bersuara, katanya dengan nada menyesal.

"Sungguh tak nyana di sini ada dunia lain, Coan-tayjin kalau bukan kau yang menunjukkan jalan, makam ini sungguh sukar ditemukan."

Begitu orang ini bersuara, kembali jantung Nyo Hoa berdegup lebih keras.

"Aneh, suaranya amat kukenal. Pasti bukan sekali dua aku pernah bertemu dia, lalu siapa? Siapa dia?"

Perwira she Coan itu tertawa katanya.

"Memang nasibmu yang mujur, kalau kau minta tolong orang lain, tak mungkin secepat ini dapat menemukan tempat ini."

"Memang aku tahu kau banyak akal, maka sejak aku ikut kau me-luruk ke Siau-kim-jwan ini sengaja aku minta bantuanmu,"

Demikian ujar laki-laki perawakan sedang itu.

"Bukan aku banyak akal, tapi lantaran aku punya rejeki. Apa kau tahu duduk persoalannya?"

Kata perwira she Coan itu.

"Ya, memang tidak tahu. Coba kau ceritakan,"

Kata orang di belakang itu.

"Tentu ceritanya cukup menarik?"

Perwira she Coan itu tertawa bangga katanya "Sedikit pun tidak menarik.

Dulu aku pernah ikut Pak-kiong Bong bertempur di lembah ini, bila terbayang pertempuran besar tahun itu, sungguh rasa giris masih menghantuiku.

Dulu Pakkiong Jongling juga gugur tak jauh dari sini, dia mati di tangan Miao Tiang-hong.

Aku beruntung dapat meloloskan diri, tapi secara tak terduga aku kesasar masuk ke lembah, di dalam lembah ini beberapa hari aku sembunyi di sini merawat luka baru terhindar bahaya"

"O, jadi kau kembali ke tempat lama namanya."

"Betul, meski kalau dibayangkan menakutkan, namun besar juga hasratku untuk kembali ke tempat lama ini. Tempo hari secara tidak terduga kutemukan makam yang pernah kau pesan untuk bantu mencarikan. Setelah kutemukan, diam-diam aku merawatnya baik dan melarang anak buahku datang ke tempat ini."

"Semasa hidupnya dia menentang kerajaan, setelah mati kau sudi melindungi makamnya, sungguh aku harus berterima kasih kepadamu."

"Nyo-heng, urusan sekecil ini, memangnya aku tidak memberi muka kepadamu?"

Sampai di sini Nyo Hoa sudah menjublek. Perasaannya hampa, pikirnya "Lho, orang ini kok she Nyo?"

Firasat jelek itu semakin menghantui sanubarinya Setelah tenangkan hati dia berpikir.

"Syukur sebagian sudah kupahami, orang she Miao tadi ternyata kaum pendekar. Pakkiong Jongling yang dikatakan tadi pasti adalah komandan Gi-lim-kun Pakkiong Bong yang berkuasa sepuluh tahun yang lalu."

Semasa hidupnya, Pakkiong Bong adalah musuh kaum pendekar. Hal ini Nyo Hoa pernah dengar cerita kedua gurunya. Tapi masih banyak pula persoalan yang belum dimengerti.

"Orang she Nyo ini jelas sehaluan dengan perwira musuh kenapa dia melindungi ibuku?"

Semakin dipikir Nyo Hoa semakin bingung seperti terombang-ambing dalam kabut tebal.

Mungkin dalam lubuk hatinya yang paling dalam takut membuka tabir kegelapan yang menyelimuti hatinya.

Sambil bicara kedua orang itu sudah tiba di depan makam Hun Ci-lo.

Orang she Nyo itu bersuara heran, katanya "Barusan agaknya ada orang kemari?"

"Konon setiap tahun Beng Goan-cau pasti sembahyang kemari, cintanya ternyata tidak pernah pudar. Entah ke mana Beng Goancau melarikan diri, bukan mustahil dia titip pesan kepada pemburu setempat untuk merawat dan menjaga makam ini secara diamdiam."

Mendengar sampai di sini hati Nyo Hoa gusar, pikirnya.

"Berani kau menghina ibuku, biar nanti kau rasakan kelihayanku."

Sudah tentu mimpi pun tak pernah terpikir oleh Nyo Hoa bahwa Beng Goan-cau adalah ayah kandungnya Dia kira perwira she Coan ini sengaja memfitnah dan menghina hubungan Beng Goan-cau dengan ibunya Nyo Hoa gusar, ternyata laki-laki she Nyo itu juga naik pitam, katanya setelah mendengus.

"Beng Goan-cau, sayang aku tak tahu di mana dia sembunyi, ingin rasanya aku mencacah tubuhnya"

Aneh adalah Nyo Hoa tidak merasa benci atau menaruh permusuhan kepada lelaki she Nyo yang datang bersama perwira she Coan itu, tapi setelah mendengar ucapannya, hatinya menjadi jengkel, pikirnya.

"Jangan mimpi kau mampu mencacah tubuh Beng Goan-cau. aku malah bisa menghajarmu sampai rontok gigimu."

Hampir saja dia akan menerjang keluar menghajar adat kedua orang ini, tapi dia lantas berpikir, Miao Tiang-hong yang berkepandaian lebih tinggi saja bisa bersabar dalam hal ini pasti ada sebabnya.

Banyak persoalan yang mengganjal hatinya belum terjawab, terpaksa dia bersabar dan kesampingkan urusan lain mendengarkan percakapan mereka lebih lanjut Tak nyana percakapan selanjutnya justru pembicaraan yang menyangkut dirinya.

"Nyo-heng,"

Ucap perwira she Coan.

"ingin aku tanya satu hal kepadamu"

"Soal apa?"

"Bulan lalu baru kau berangkat dari kota raja, pernahkah kau dengar pihak kerajaan ada mengutus seorang perwira Gi-lim-kun ke Siau-kim-jwan dengan mengemban tugas rahasia?"

"Lho, apa ada persoalan itu? Aku sih tidak dengar. Sayangnya hubunganku dengan komandan Gi-lim-kun yang sekarang Hay-tayjin tidak seerat dengan Pakkiong Jong-ling dulu, kalau orang itu menjalankan tugas rahasia, sudah tentu tidak leluasa bicara dengan aku."

"Nyo-heng kau terlalu merendah. Siapa tidak tahu komandan kita Hay-tayjin juga menaruh harapan besar terhadapmu? Dibanding sepuluh tahun yang lalu keadaanmu sekarang kan lebih baik. Walau pangkatmu tituler, kau juga termasuk anggota Gi-lim-kun yang terpuji. Aku sebaliknya sudah kepalang basah di luar, tak mungkin kembali ke dalam kalangan Gi-lim-kun."

"Coan-tayjin juga tidak perlu kecil hati. Persoalanmu pernah kubicarakan dengan Hay-tayjin, pernah Hay-tayjin berjanji kepadaku secara lisan, bila situasi di sini sudah agak tenteram kau akan ditarik balik menduduki jabatanmu semula."

"Terima kasih atas bantuan Nyo-heng."

Lalu perwira she Coan berkata lebih lanjut.

"Betapapun aku harus merebut pahala dulu baru enak pulang ke pangkalan. Bicara tentang saudara utusan rahasia dari Gi-lim-kun yang tindak tanduknya serba rahasia itu bagaimana?"

Laki-laki she Nyo berkata.

"Aku benar-benar tidak tahu akan orang ini, hubungan kita sebaik ini, memangnya aku harus mengelabui kau?"

Perwira itu tertawa, katanya.

"Bukan aku curiga kau mengelabui aku. Aku justru mencurigai orang itu. Orang itu masih muda, kebetulan juga she Nyo."

Laki-laki she Nyo geleng-geleng, katanya.

"Menurut apa yang kutahu, tanpa aku di dalamnya, dalam Gi-lim-kun rasanya tiada anggota she Nyo lainnya."

Lalu dia balas bertanya.

"Apa yang kau curigai tentang orang itu?"

Perwira she Coan berkata.

"Kukira dia itu palsu."

"Palsu?"

Laki-laki she Nyo kaget.

"Dia punya lencana Gi-lim-kun tidak?"

"Punya, tapi sepak terjangnya agak mencurigakan. Menurut pendapatku lencananya itu memang tulen, cuma orangnya yang palsu."

"Lho kenapa begitu?"

"Ada dua hal yang patut dicurigai. Pertama sudah sebulan lebih dia datang kemari tapi tidak pernah menghadap kepada tetok tayjin."

Laki-laki she Nyo mengangguk, katanya.

"Betul, seorang yang mengemban tugas rahasia sebesar apa pun sepantasnya juga harus melaporkan diri kepada penguasa setempat. Kecuali dia mendapat perintah langsung dari sri baginda untuk mengawasi...."

"Kurasa tidak mungkin. Sejauh ini tiada alasan baginda mencurigai tetok, apalagi urusan yang harus berkuasa di sini juga harus pandai dan orang kepercayaannya, mana mungkin mengutus seorang pemuda yang masih hijau pelonco. Bocah itu juga bilang bahwa tugasnya menyelidik sisa-sisa pemberontak yang tertinggal di sini."

Maka laki-laki she Nyo berkata.

"Kalau demikian, apa pula persoalan kedua yang mencurigakan?"

"Kemarin petugas ronda mengutus sebarisan kecil anak buahnya mengeroyok seorang pemburu binatang she Ho, orang she Ho ini terbukti punya hubungan intim dengan pihak pemberontak. Sebetulnya pihak kita sudah yakin, membekuk seorang pemburu tak terlalu membuang banyak tenaga, tak nyana terjadi peristiwa di luar dugaan."

"Peristiwa apa?"

"Di rumah pemburu she Ho itu mereka kepergok perwira Gi-limkun yang masih muda usia itik"

"Lalu kenapa?"

"Anak buahnya disuruh pulang, hanya pemimpin barisan yang disuruh tinggal membantu dia menyelesaikan tugas. Pagi tadi pemimpin barisan itu pulang, badannya luka-luka"

"Siapa yang melukai?"

"Menurut cerita, pemimpin barisan itu, pemburu she Ho itu yang menghajarnya"

"Lalu pemuda itu, dia menonton saja dari samping?"

"Tidak, kalau kuceritakan yakin kau pun merasa di luar dugaan. Menurut cerita pemimpin barisan, pemuda itu sengaja membuatnya menderita dipukul dan dihina dengan alasan supaya leluasa mengambil kepercayaan pemburu muda itu, lalu akan mengulur benang panjang mengail ikan besar."

Nyo Hoa yang sembunyi dan mencuri dengar pembicaraan mereka jadi geli.

"Pemimpin barisan itu ternyata tidak berani lapor sejujurnya."

Laki-laki she Nyo ternyata mengerutkan alis, katanya.

"Kurasa perwira tiruan itu sengaja mau melindungi komplotannya."

"Betul, tetok tayjin juga sudah curiga, maka pemimpin barisan itu lantas disekap dan aku diutus ke sana untuk menyelidiki asal-usul pemuda itu. Sayang aku tidak tahu sekarang dia sembunyi di mana. Nyo-heng kuharap kau sudi membantu aku."

Nyo Hoa tertawa geli pula dalam hati.

"Jauh di langit, dekat di depan mata. Nanti sebentar kau akan berhadapan langsung dengan aku."

Orang she Nyo itu berkata.

"Di antara kita kenapa harus sungkan, persoalanmu adalah persoalanku juga."

Mendadak dia seperti sadar, katanya.

"Mungkin tidak bocah itu yang tadi sembahyang di makam ini?"

"Ya, aku memang curiga, konon kungfu pemuda itu amat tinggi."

"Coan-toako,"

Kata orang she Nyo.

"Ngo-hou-toan-bun -to yang kau yakinkan sudah menggetarkan utara dan selatan sungai besar,"

Jangan kata menghadapi pemuda ingusan, umpama Beng Goan-cau yang dijuluki golok kilat nomor satu di dunia juga belum tentu menjadi tandinganmu.

Kalau dia benar berada di sini, aku harus mengucap syukur malah."

"Bagus,"

Batin Nyo Hoa.

"sebentar biar kau rasakan kelihayanku."

Diam-diam Nyo Hoa tertawa geli, tapi mendengar pembicaraan mereka selanjurnya, mau tidak mau hatinya kaget. Perwira she Coan itu berkata dengan tertawa.

"Nyo-toako, kenapa kau mengagulkan diriku malah? Kim-kong-liok-yang-jiu yang kau yakinkan juga tiada bandingan di kolong langit ini, bicara terus terang, berada di sampingmu baru nyaliku besar."

Kim-kong-liong-yang-jiu adalah ajaran warisan keluarga Nyo Hoa.

Walau usia Nyo Hoa dulu masih kecil, belum pernah meyakinkan ilmu ini dari sang ayah, tapi dia tahu seluk beluk ilmu warisan keluarganya ini.

Setahunya, yang setimpal dijuluki jago nomor satu di dalam ilmu pukulan ini, bila ayahnya masih hidup, jelas ayahnya takkan ada bandingannya.

Tapi ayahnya sudah mati, tinggal Lak-jiukoan-im Nyo toakoh.

Tapi laki-laki she Nyo di depan mata ini bukan perempuan, jadi bukan Nyo toakoh.

"Aneh, dari mana dia bisa mempelajari Kim-kong-liok-yang-jiu? Berani mengagulkan diri sebagai jago nomor satu yang tak terkalahkan di dunia? Eh, kenapa, kenapa justru kebetulan dia she Nyo pula?"

Entah kenapa rasa dingin tiba-tiba meresap ke relung hati Nyo Hoa, tanpa terasa dia bergidik seram sendiri, dan tak berani berpikir lebih lanjut.

Tapi pembicaraan kedua orang ini memang tidak memberi kesempatan, pembicaraan selanjutnya semakin mendebarkan jantungnya.

Didengarnya laki-laki she Nyo itu tertawa, katanya.

"Banyak terima kasih akan pujianmu. Terus terang saja, selama sepuluh tahun ini aku juga giat berlatih memperdalam ilmu warisan keluarga, tapi Kim-kong-liok-yang-jiu kupersiapkan untuk menghadapi Beng Goan-cau."

"Betul, menyembelih ayam kenapa pakai golok jagal. Menghadapi pemuda ingusan kenapa harus menggunakan keahlianmu? Barusan aku salah omong."

"Mungkin kita terlalu banyak curiga sendiri, orang yang sembahyang di makam Hun Ci-lo tadi memang sudah pergi, mana berani sembunyi di sini?"

"Betul, sekarang sudah saatnya kau menyelesaikan urusanmu, apakah aku perlu menyingkir lebih dulu?"

Laki-laki she Nyo agaknya me-lengak, katanya.

"Ada soal apa yang harus kau menyingkir?"

"Nyo-heng, kau ini laki-laki romantis, kini sembahyang di depan almarhumah istrimu, mungkin ada sepatah dua patah yang ingin kau sampaikan di depan makamnya. Kalau aku mendengarkan di samping mungkin merikuhkan."

Laki-laki she Nyo itu mendengus, katanya marah.

"Aku kan sudah menceraikan dia, sekarang aku sendiri bingung bagaimana harus memanggilnya, nyonya Beng, nona Hun, atau nyonya Miao? Hm, coba lihat batu nisannya itu, Beng Ooan-cau yang membuatkan kukira, mungkin dia harus dipanggil nyonya Beng lebih tepat."

"Karena itu aku merasa kagum kepadamu, sebagai suami yang romantis, dia sudah serong dan mengingkari dirimu, tapi kau masih mencintainya sepenuh hati."

Laki-laki she Nyo menghela napas, sikapnya pura-pura seperti laki-laki romantis sungguhan, katanya.

"Memang, meski perempuan sundal ini ingkar janji dan serong betapapun aku Nyo Bok pernah menjadi suaminya."

Makin mendengar makin kaget, tubuh pun gemetar, sampai akhirnya hampir saja Nyo Hoa jatuh pingsan.

"Apakah aku sedang mimpi?"

Lekas dia gigit jari, sakit sekali, jelas ini bukan mimpi.

"Betulkah orang ini ayahku? Mungkinkah ini ayahku? Bukankah ayahku sudah mati?"

Masih segar dalam ingatannya, ayahnya mati menggantung diri.

Malam itu dia terjaga oleh jerit tangis ibunya, waktu membuka mata yang masih mengantuk, dia melihat ibunya menurunkan jenazah ayahnya.

Tapi ibunya suruh bu inang membopongnya pergi.

Waktu itu ibunya tidak memberi penjelasan apa-apa, hal itu diketahui belakangan setelah dia beranjak besar, dia kira ibunya tidak tega dirinya yang masih kecil sedih, maka bu inang disuruh membawa dirinya pergi.

Tapi sekarang timbul rasa curiganya.

"Aku tidak melihat jenazah ayah dimasukkan ke dalam peti, mungkin, mungkin waktu itu dia pura-pura mati."

"Tidak, tidak mungkin, ayah pasti sudah mati. Orang ini menyaru ayahku."

Lalu terbayang keadaan menyedihkan pada hari ayahnya dikubur.

"Kalau ayah tidak mati kenapa ibu menangis sesedih itu? Demikian juga kokoh (bibi) dan beberapa suheng yang lain juga menangis pilu? Dengan mata kepalaku sendiri aku saksikan mereka menggotong peri jenasah ayah."

Di luar tahunya bahwa di belakang peristiwa itu banyak liku-liku yang tidak dia ketahui.

Sungguh kasihan, Nyo Hoa menipu diri sendiri dengan cara berpikirnya maksudnya karena dia tidak ingin mengetahui bahwa orang ini adalah ayahnya.

Sebenarnya sejak dia mendengar suara Nyo Bok, hatinya sudah mendapatkan firasat jelek, maka hatinya amat takut Tapi hanya satu pegangan yang dipercayainya, bahwa ayahnya sudah mati sepuluh tahun yang lalu.

Tapi kenyataan sekarang ayahnya masih hidup segar di depan matanya, dan mulutnya mengakui siapa dia dan menyebut nama sendiri pula Walau dia tidak mau percaya namun dalam lubuk hatinya yang paling dalam sudah tahu bahwa laki-laki ini memang betul adalah ayahnya "Bagaimana aku?

Bagaimana aku harus bersikap?"

Nyo Bok berdiri di depan makam membaca ukiran "tempat Hun Ci-lo lihiap beristirahat", didirikan Beng Goan-cau, semakin berkobar amarah Nyo Bok, katanya dengan gigi gemertak.

"Coan-toako, boleh kau di sini saja, saksikan siaute latihan." -Perwira she Coan itu melongo, katanya tertawa.

"Kau tidak menangisi istri yang sudah tiada malah sempat mau latihan segala? Latihan di depan makam istrimu, apakah tidak sungkan dan salah?"

Nyo Bok menjengek, katanya "Aku justru sengaja mau bikin ulah di depan kuburannya untuk melampiaskan dongkolku kepada mereka"

Perwira she Coan tahu "mereka"

Yang dikatakan Nyo Bok adalah Beng Goan-cau dan Hun Ci-lo. Diam-diam perwira itu tertawa dalam hati.

"Istrimu sudah mati sepuluh tahun, ternyata masih cemburu."

Tapi dia tidak utarakan rasa gelinya, katanya tertawa.

"Nyo-heng, kau mau latihan ilmu apa?"

Nyo Bok kertak gigi, katanya "Aku akan gunakan batu nisan ini untuk mencoba Kim-kong-liok-yang-jiu."

"Betul, batu nisan yang didirikan Beng Goan-cau di depan makam istrimu memang merendahkan derajat keluarga Nyo kalian. Baik juga kau coba kekuatan Kim-kong ciang-Iat di atas batu nisan ini supaya terbuka mataku."

Nyo Bok menarik napas, lwekang dikerahkan, tulang sekujur tubuhnya berkeretekan, sesaat kemudian pelan-pelan dia angkat telapak tangannya katanya dingin.

"Hun lihiap apa? Ci-lo, jikalau bukan kau kemaruk julukan lihiap, pasti kau tidak akan tertipu dan terpelet oleh Beng Goan-cau hingga kau menemui ajalmu di sini."

Ucapan Nyo Bok laksana sebatang panah beracun yang mendadak menghunjam ke ulu hati Nyo Hoa "Apa benar ibu dan Beng tayhiap pernah melakukan sesuatu yang memalukan terhadap ayah?"

Sebetulnya dia tidak mau percaya bahwa laki-laki bernama Nyo Bok di depan matanya ini adalah ayah kandungnya, lebih tidak percaya lagi akan tuduhan yang dilontarkan itu, tapi racun sudah bersemayam di relung hatinya, lubuk hatinya yang paling dalam sudah timbul rasa curiga dan hal ini menimbulkan rasa sakit seperti disayat-sayat.

Tapi bagaimanapun juga Nyo Bok hendak merusak atau menghancurkan batu nisan ibunya, bagaimana juga dia tidak boleh berpeluk tangan.

"Apa salahnya batu nisan bertuliskan lihiap? Ibu berkorban bagi rakyat banyak, gugur di medan laga oleh tangantangan jahat kaum penjajah, tidak malu kalau dia dijuluki lihiap,"

Demikian batin Nyo Hoa "Peduli siapa salah atau benar, umpama betul dia adalah ayah kandungku, meski betul ibu pernah melakukan kesalahan terhadapnya tidak sepantasnya dia menghina ibuku yang telah tiada"

Tapi bagaimana kalau tidak bisa berpeluk tangan?

Kini dia sudah tahu laki-laki ini betul adalah ayahnya mungkinkah dia keluar untuk melabrak ayahnya?

Sementara itu telapak tangan Nyo Bok sudah terangkat tinggi dan hampir dipukulkan ke batu nisan, saking gusar terasa hampir pecah dada Nyo Hoa tanpa terasa giginya gemerutuk.

Mendadak perwira she Coan itu berteriak.

"Sahabat dari aliran manakah yang sembunyi di sini, silakan keluar."

Nyo Hoa kaget, dia kira jejaknya sudah ketahuan. Untung sebelum dia bergerak sudah didengarnya suitan panjang laksana pekikan naga, lalu didengarnya bentakan Miao Tiang-hong.

"Kunyuk kurang ajar."

Bentakan sekeras guntur menggetar membuat ciut nyali, tangan Nyo Bok yang terangkat di udara gemetar, sesaat dia berdiri melongo.

Melompat turun dari atas pohon, secepat kilat Miao Tiang-hong sudah berdiri di depan makam.

Makinya sambil menuding.

"H ayo berlutut dan menyembah minta maaf kepada Ci-lo."

Dari malu Nyo Bok jadi gusar, jengeknya dingin.

"Aku memaki istriku, apa sangkut pautnya dengan kau? Memangnya kau ini gendak-nya?w "Plak, plok"

Sebelum habis dia bicara pipi kanan kiri Nyo Bok sudah kena gampar, mukanya seketika bengap. Nyo Bok jadi kalap, kedua tangan bergerak, membentak gusar.

"Biaraku adu jiwa."

Sepuluh tahun dia giat meyakinkan Kim-kong-liok-yang-jiu, kini ilmu kebanggaannya dilontarkan, perbawanya memang luar biasa, empat penjuru yang kelihatan hanya bayangannya.

Ternyata ilmu tunggal warisan keluarganya ini, setiap melancarkan sejurus pukulan, di dalamnya mengandung enam gerakan yang berbeda, jadi bukan melulu dalam jurus sembunyi jurus, dalam tipu bertambah tipu lagi.

Sayang lawan yang dihadapi sekarang justru tokoh silat paling top saat ini, dalam pandangan Miao Tiang-hong, meski Kim-kongliok-yang-jiu ini bukan permainan anak-anak, paling juga silat eakar kucing.

Miao Tiang-hong tertawa dingin, katanya.

"Kepandaianmu memang lebih maju dibanding sepuluh tahun lalu, sayang martabat dan karaktermu tidak lebih baik, justru semakin bejat, lebih rendah dan memalukan dari sepuluh tahun lalu."

Khawatir merusak kuburan Hun Ci-lo, dia kerahkan tenaga pukulan memukul mundur.

Nyo Bok terhuyung mundur dengan badan berputar-seperti gangsingan, melingkar makin jauh "meninggalkan kuburan Hun Ci-lo.

Perwira itu tidak tahu yang datang ini Miao Tiang-hong, mendengar Nyo Bok memakinya dia berpikir.

"Apakah orang ini Beng Goan-cau? Kenapa dia tidak memakai golok?"

Sedikit bimbang, dilihatnya Nyo Bok sudah terhuyung mundur dengan tubuh berputar-putar di sampingnya.

Perwira she Coan ini tidak sempat berpikir, golok dilolos lantas membacok, dari kiri goloknya membacok miring menggunakan jurus Poat-hun-kian-jit (Menyingkap mega melihat matahari) dari kanan tajam goloknya menggelincir dengan tusukan, yang digunakan jurus Sian-jin-ci-lo (Sang dewi menunjuk jalan) sementara dari tengah, goloknya membacok lurus, serangan yang sekaligus untuk menjaga diri yaitu jurus Thi-bun-san (Palang pintu besi).

Tiga jurus berantai ini merupakan serangan mematikan paling lihay Ngo-hou-toan-bunto.

Miao Tiang-hong melangkah minggir selangkah, tangannya bergerak dengan Kong-jiu-jip-peh-to, dengan jurus Si-kwa-tam-pian (Menggantung cambuk miring), secara kekerasan dia rebut golok lawan.

Begitu tangannya menangkap tempat kosong, Miao Tianghong sudah susuli dengan jurus Pek-ho-liang-ci (Burung bangau pentang sayap) menyampok pergeiangan tangan lawan, tapi sampokannya tetap tidak mengenai sasaran.

Namun demikian golok baja perwira itu pun tak mampu mengenai dirinya.

Miao Tiang-hong mendengus sekali, jari tengahnya menjentik, kebetulan golok si perwira tengah membelah pula dari tengah, gagang golok telak kena dijentik hingga mata golok berputar arah, membacok pemilik sendiri, kalau dia berlaku kurang gesit menarik tangan, hampir saja jidatnya terbelah oleh golok sendiri.

Miao Tiang-hong berkata.

"Kabarnya waktu masih hidup dulu Pakkiong Bong membeli murid murtad dari perguruan Ngo-houtoan-bun-to, namanya Coan Tay-hok, jadi kau inilah murid murtad itu?"

Coan Tay-hok gusar, dampratnya.

"Kau ini barang apa, berani memaki dan menghina aku?"

Miao Tiang-hong tertawa dingin, jengeknya.

"Ngo-hou-toan-bunto yang diciptakan Ciok losu dari Jiang-ciu sebetulnya termasuk aliran lurus yang murni, sungguh tak nyana dia mendidik murid durhaka macam dirimu. Kau manusia tidak berbuat baik malah terima menjadi anjing, kenapa salahkan aku memakimu? H mm, kabarnya kau hendak menantang Beng Goan-cau bertanding golok, sungguh tidak tahu diri. Kemampuanmu begini saja cuma mengotori golok pusaka Beng Goan-cau, biar aku wakili Beng Goan-cau menghajarmu."

Di tengah jengek tawanya, mendadak kedua telapak tangannya menari lincah. Kini dia sudah menjajaki permainan golok lawan, dalam beberapa gebrak lagi terdengar "Traaang"

Golok baja di tangan Coan Tay-hok telah di pukulnya jatuh.

Setelah berdiri tegak Nyo Bok tahu bahwa Miao Tiang-hong pasti tidak akan mengampuni dirinya, mau lari mungkin juga tidak akan bisa lolos, maka dia perlu mengeraskan kepala pura-pura jadi lakilaki gagah, makinya.

"Beng Goan-cau adalah gendak perempuan jalang itu, sedang kau jadi gendaknya saja tidak setimpal, kini kau mau bantu sepasang manusia kotor itu membunuh suaminya? Hm, sayang semasa Hun Ci-lo masih hidup keinginanmu tidak tercapai, sekarang meski di depan kuburannya kau bisa membunuhku, juga terlambat."

Miao Tiang-hong memaki saking gusar.

"Memandang muka Hun Ci-lo sebetulnya tidak akan kubunuh kau. Sekarang, terpaksa aku harmembunuhmu."

Nyo Bok melawan sekuat tenaga, seringan daun melayang telapak tangan Miao Tiang-hong tiba, gaya serangannya mengandung banyak variasi sukar diraba isi kosongnya, tahu-tahu pipi kiri Nyo Bok kena tampar lagi, tamparan kali ini lebih keras dari gebrakan pertama tadi, seketika mukanya seperti ditambal balon merah, ingus bercucuran, mukanya bengap membiru.

Coan Tay-hok berusaha lari, Miao Tiang-hong lantas membentak.

"Lari ke mana? He he, kalian dua laki-laki bangsat hari ini harus mampus di depan kuburan Ci-lo baru terlampias rasa dongkolku."

Coan Tay-hok baru melangkah beberapa tindak lekas dia tarik pula kakinya karena tercegat lawan, namun dengan keroyokan Nyo Bok dan Coan Tay-hok ternyata mereka hanya mampu melawan delapan sepuluh jurus.

Bahwa Miao Tiang-hong hendak membunuh murid murtad dari Ngo-hou-toan-bun-to memang benar, bilang mau membunuh Nyo Bok, cuma menggertaknya saja Maklum Miao Tiang-hong paling pegang teguh persahabatan, jelek-jelek Nyo Bok adalah suami Hun Ci-lo, masa tega dia membunuhnya di depan makam Hun Ci-lo?

Jikalau Nyo Bok tidak gila dan mau merusak batu nisan Hun Ci-lo, Miao Tiang-hong tidak akan menampilkan diri.

Tapi Nyo Hoa yang sembunyi di celah batu tidak tahu jalan pikiran orang, apakah itu gertak sambal atau ancaman sungguhan, dia kira Miao Tiang-hong betul-betul mau membunuh Nyo Bok.

Nyo Hoa memang malu punya ayah serendah ini martabatnya, namun bagaimana juga Nyo Bok adalah ayahnya, tegakah hatinya melihat ayahnya dibunuh orang?

Apalagi banyak persoalan yang perlu dia pecahkan, betapapun Nyo Bok tidak boleh mati.

Sayang sekali, bila Nyo Hoa tahu Nyo Bok bukan ayah kandungnya maka akibatnya mungkin berbeda pula Sekali mengebas lengan baju kembali Miao Tiang-hong merebut golok Coan Tay-hok, di kala tangannya melayang pula hendak menampar pipi kanan Nyo Bok, mendadak dari belakang kuburan dilihatnya seorang pemuda bermuka kotor menerobos keluar.

Kedatangan Nyo Hoa tepat pada waktunya, kebetulan dia mewakili Nyo Bok sambut pukulan Miao Tiang-hong.

Begitu telapak tangan mereka beradu terdengar ledakan keras bagai guntur menggelegar.

Miao Tiang-hong rasakan telapak tangannya panas dan pedas, tak kuasa tubuhnya limbung sekali.

Sementara Nyo Hoa tergetar mundur, untung reaksinya cekatan, cepat dia tutul kaki kiri sementara kaki kanan sebagai poros di tempat dia memutar tubuhnya satu lingkaran hingga tidak sampai terhuyung jatuh.

Putaran tubuhnya ternyata tetap menghadang di depan Nyo Bok.

"Siapa kau?"

Bentak Miao Tiang-hong setelah bersuara heran. Dalam hati dia berpikir.

"Walau aku tidak kerahkan tenaga sepenuhnya, tapi orang ini masih begini muda ternyata mampu menahan Thay-jing-khi-kang-ku, boleh juga"

Pukulan Miao Tianghong kepada Nyo Bok tadi bukan hendak membunuhnya maka dia hanya menggunakan tiga bagian tenaganya.

Bila telapak tangannya berhantam dengan Nyo Hoa baru dia tahu lawannya bukan lawan enteng baru dia kerahkan Thay-jing-khi-kang melawan, tenaga pukulannya memang tidak sepenuhnya, namun demikian, orang yang mampu menangkis tiga bagian tenaga mumi Miao Tian-hong dalam kalangan Bulim sudah termasuk kelas satu.

Reaksi Nyo Hoa memang cekatan, namun dengan bekal kungfu Miao Tiang-hong yang sudah sempurna di saat Nyo Hoa belum berdiri tegak dia sudah bisa mendesaknya, namun Miao Tiang-hong merasa sayang kepada tunas muda maka pukulan susulannya yang sudah siap dilontarkan terhenti di tengah udara.

Nyo Hoa tutup mulut, pertanyaan Miao Tiang-hong tidak dihiraukan.

Sikapnya sudah jelas bahwa dia bermaksud melindungi dan membela Nyo Bok.

Muka Nyo Hoa berlepotan lumpur, berpakaian seragam Gi-Iimkun lagi meski sudah kumai.

Coan Tay-hok sadar lebih dulu, hatinya kaget dan senang, teriaknya "Apakah kau Nyo-heng dari Gi-lim-kun?

Orang ini buronan raja yang bernama Miao Tiang-hong."

Nyo Hoa hanya mendengus saja tidak menjawab juga tidak memberi reaksi apa pun. Miao Tiang-hong sadar, pikirnya.

"Bocah ini juga cakar alap-alap kerajaan, semakin tinggi kungfunya makin tidak menguntungkan bagi kita. Mumpung ada kesempatan, harus kusikat dia supaya kelak tidak menjadi beban berat."

Maka dia membentak.

"Anak muda kalau tahu diri lekas minggir, kalau tidak kau sendiri akan berkorban percuma"

Sembari mengancam, telapak tangan yang terhenti di tengah udara pelan-pelan ditepukkan.

Nyo Hoa tahu lwekang sendiri terpaut jauh dibanding Miao Tianghong, namun dia teringat ajaran lwekang dalam Hian-kang-pwecoat karya Thio Tan-hong, di mana dianjurkan menyingkir dari yang isi balas menggempur yang kosong, dengan langkahnya selicin belut dia menyelinap sambil mengembangkan kedua lengan memunahkan membunuhmu."

Nyo Bok melawan sekuat tenaga, seringan daun melayang telapak tangan Miao Tiang-hong tiba, gaya serangannya mengandung banyak variasi sukar diraba isi kosongnya, tahu-tahu pipi kiri Nyo Bok kena tampar lagi, tamparan kali ini lebih keras dari gebrakan pertama tadi, seketika mukanya seperti ditambal balon merah, ingus bercucuran, mukanya bengap membiru.

Coan Tay-hok berusaha lari, Miao Tiang-hong lantas membentak.

"Lari ke mana? He he, kalian dua laki-laki bangsat hari ini harus mampus di depan kuburan Ci-lo baru terlampias rasa dongkolku."

Coan Tay-hok baru melangkah beberapa tindak lekas dia tarik pula kakinya karena tercegat lawan, namun dengan keroyokan Nyo Bok dan Coan Tay-hok ternyata mereka hanya mampu melawan delapan sepuluh jurus.

Bahwa Miao Tiang-hong hendak membunuh murid murtad dari Ngo-hou-toan-bun-to memang benar, bilang mau membunuh Nyo Bok, cuma menggertaknya saja Maklum Miao Tiang-hong paling pegang teguh persahabatan, jelek-jelek Nyo Bok adalah suami Hun Ci-lo, masa tega dia membunuhnya di depan makam Hun Ci-lo?

Jikalau Nyo Bok tidak gila dan mau merusak batu nisan Hun Ci-lo, Miao Tiang-hong tidak akan menampilkan diri.

Tapi Nyo Hoa yang sembunyi di celah batu tidak tahu jalan pikiran orang, apakah itu gertak sambal atau ancaman sungguhan, dia kira Miao Tiang-hong betul-betul mau membunuh Nyo Bok.

Nyo Hoa memang malu punya ayah serendah ini martabatnya, namun bagaimana juga Nyo Bok adalah ayahnya, tegakah hatinya melihat ayahnya dibunuh orang?

Apalagi banyak persoalan yang perlu dia pecahkan, betapapun Nyo Bok tidak boleh mati.

Sayang sekali, bila Nyo Hoa tahu Nyo Bok bukan ayah kandungnya maka akibatnya mungkin berbeda pula Sekali mengebas lengan baju kembali Miao Tiang-hong merebut golok Coan Tay-hok, di kala tangannya melayang pula hendak menampar pipi kanan Nyo Bok, mendadak dari belakang kuburan dilihatnya seorang pemuda bermuka kotor menerobos keluar.

Kedatangan Nyo Hoa tepat pada waktunya, kebetulan dia mewakili Nyo Bok sambut pukulan Miao Tiang-hong.

Begitu telapak tangan mereka beradu terdengar ledakan keras bagai guntur menggelegar.

Miao Tiang-hong rasakan telapak tangannya panas dan pedas, tak kuasa tubuhnya limbung sekali.

Sementara Nyo Hoa tergetar mundur, untung reaksinya cekatan, cepat dia tutul kaki kiri sementara kaki kanan sebagai poros di tempat dia memutar tubuhnya satu lingkaran hingga tidak sampai terhuyung jatuh.

Putaran tubuhnya ternyata tetap menghadang di depan Nyo Bok.

"Siapa kau?"

Bentak Miao Tiang-hong setelah bersuara heran. Dalam hati dia berpikir.

"Walau aku tidak kerahkan tenaga sepenuhnya, tapi orang ini masih begini muda ternyata mampu menahan Thay-jing-khi-kang-ku, boleh juga"

Pukulan Miao Tianghong kepada Nyo Bok tadi bukan hendak membunuhnya maka dia hanya menggunakan tiga bagian tenaganya.

Bila telapak tangannya berhantam dengan Nyo Hoa baru dia tahu lawannya bukan lawan enteng baru dia kerahkan Thay-jing-khi-kang melawan, tenaga pukulannya memang tidak sepenuhnya, namun demikian, orang yang mampu menangkis tiga bagian tenaga mumi Miao Tian-hong dalam kalangan Bulim sudah termasuk kelas satu.

Reaksi Nyo Hoa memang cekatan, namun dengan bekal kungfu Miao Tiang-hong yang sudah sempurna di saat Nyo Hoa belum berdiri tegak dia sudah bisa mendesaknya, namun Miao Tiang-hong merasa sayang kepada tunas muda maka pukulan susulannya yang sudah siap dilontarkan terhenti di tengah udara.

Nyo Hoa tutup mulut, pertanyaan Miao Tiang-hong tidak dihiraukan.

Sikapnya sudah jelas bahwa dia bermaksud melindungi dan membela Nyo Bok.

Muka Nyo Hoa berlepotan lumpur, berpakaian seragam Gi-Iimkun lagi meski sudah kumai.

Coan Tay-hok sadar lebih dulu, hatinya kaget dan senang, teriaknya "Apakah kau Nyo-heng dari Gi-lim-kun?

Orang ini buronan raja yang bernama Miao Tiang-hong."

Nyo Hoa hanya mendengus saja tidak menjawab juga tidak memberi reaksi apa pun. Miao Tiang-hong sadar, pikirnya.

"Bocah ini juga cakar alap-alap kerajaan, semakin tinggi kungfunya makin tidak menguntungkan bagi kita. Mumpung ada kesempatan, harus kusikat dia supaya kelak tidak menjadi beban berat."

Maka dia membentak.

"Anak muda kalau tahu diri lekas minggir, kalau tidak kau sendiri akan berkorban percuma"

Sembari mengancam, telapak tangan yang terhenti di tengah udara pelan-pelan ditepukkan.

Nyo Hoa tahu lwekang sendiri terpaut jauh dibanding Miao Tianghong, namun dia teringat ajaran lwekang dalam Hian-kang-pwecoat karya Thio Tan-hong, di mana dianjurkan menyingkir dari yang isi balas menggempur yang kosong, dengan langkahnya selicin belut dia menyelinap sambil mengembangkan kedua lengan memunahkan pukulan Miao Tiang-hong.

Miao Tiang-hong memuji, namun kejap lain dia geleng-geleng serta menyatakan.

"Sayang."

Nyo Hoa baru keluar kandang dan selama ini belum pernah kebentur lawan tangguh, maka semangat tempurnya menyala, seluruh pikiran ruwet terlempar dari benaknya Kini benar dia mempraktekkan musuh di depan mata, dalam hati tiada musuh, berbagai kungfu yang pernah dipelajarinya dalam sekejap ini seperti terjalin menjadi satu, semuanya dipraktekkan dalam permainan pukulan tangan kosong.

Tanpa terasa dia lawan Miao Tiang-hong sampai tigapuluhan jurus, namun tetap bertahan kuat tidak terdesak sedikit pun.

Mau tidak mau Miao Tiang-hong keheranan juga Nyo Bok dan Coan Tay-hok juga kegirangan, hasrat melarikan diri semula sudah terlupakan, kini mereka ingin merebut pahala malah.

Melihat Nyo Hoa bertempur mati-matian, mereka lebih yakin lagi bahwa Nyo Hoa perwira Gi-1 im-kun yang rmstrius itu.

Diam-diam Coan Tay-hok menyesal.

"Kukira dia barang palsu ternyata tulen."

Demikian pula Nyo Bok kegirangan, pikirnya.

"Pemuda ini jelas melindungi aku sekuat tenaga kenapa dia sebaik ini kepadaku? Oh, ya, mungkin dia tahu bahwa aku yang paling dihargai oleh Hay tayjin. Haha, mendapat pembantu sebaik ini, kebetulan aku mendapat kesempatan untuk mengganyang Miao Tiang-hong."

Miao Tiang-hong masih bermain santai, kaki tangan bergerak lincah, dia hanya memecah sedikit perhatian untuk mematahkan serangan Nyo Bok dan Coan Tay-hok, sebagian besar tenaga dan perhatiannya dicurahkan menghadapi permainan-Nyo Hoa Karena pikiran tenang hati jernih, makin bertempur semangat Nyo Hoa makin bergairah.

Tampak permainannya banyak variasi, telapak tangan, tinju, totokan, dan cengkeraman jari, perubahannya beraneka ragam, kakinya pun bergerak lincah dengan langkah kuda, langkah layang, langkah undur lompat dan empat langkah empat pintu, maju mendesak mundur berkelit, semua bergerak leluasa dan lancar.

Sungguh sesuai teori yang berbunyi.

"tenang bagai lautan kokoh seperti gunung, cepat bagai kilat menubruk seperti elang menerkan ayam."

Lama kelamaan Miao Tiang-hong tak habis kagumnya, pikirnya.

"Dalam sepuluh tahun mendatang, pemuda ini pasti dapat mengalahkan aku. Sayang sekali tunas muda sebaik ini ternyata menjadi antek musuh."

Di tengah pertempuran sengit itu, mendadak Miao Tiang-hong bersuit panjang, kini dia kerahkan delapan-puluh persen Thay-jingkhi-kang.

Sekali pukulan telapak tangan yang ringan bagai kapas mengambang.

Gaya pukulannya biasa dan enteng, namun di dalam gerakan umum ini ternyata tersembunyi intisari ilmu silat tinggi yang dapat mengalahkan musuh dengan hanya gerakan yang sederhana.

Nyo Hoa merasakan dadanya panas, padahal tangan Miao Tiang-hong belum mengenai badannya, tapi dia sudah seperti ditindih palu raksasa Beruntun Nyo Hoa terhuyung tiga langkah baru kuasa tegak berdiri.

"sreet"

Pedang tiba-tiba dilolos. Berkerut alis Miao Tiang-hong, katanya.

"Anak muda, masih ingin bertanding pedang dengan aku? Baiklah, biar aku menilai permainan pedangmu."

Tak nyana begitu pedang Nyo Hoa menusuk tiba, mau tidak mau Miao Tiang-hong berjingkrak kaget Tusukan ini adalah hasil ciptaan Nyo Hoa sendiri, bersumber dari Bu-beng-kiam-hoat, gaya pedangnya mengambang tidak menentu arah, gerakannya seperti tidak tentu gayanya juga tidak jelas, namun serangan ini dapat berubah sembarang waktu mengikuti balasan musuh.

Semula Miao Tiang-hong kira gerakannya itu jurus Hian-ciau-hoat-sa, tapi mendadak sudah berubah menjadi Soh-cinpwe-kiam (Soh dan Cin memanggul pedang) lalu berubah pula menjadi gaya Jay-hap-sip-hoa (Jay-hap bermain kembang).

Beruntun Miao Tiang-hong melawan beberapa jurus, setiap jurus serangan lawan datang dari arah yang tak pernah diduganya Untung taraf kepandaian Miao Tiang-hong sudah mencapai bergerak sesuai keinginan hati, beberapa kali dia toh hampir terluka oleh pedang lawan.

Miao Tiang-hong adalah jago kosen yang cukup ternama, walau kepandaian Nyo Hoa jauh di luar dugaannya, semula dia masih melayani dengan santai, maka bila Nyo .

Hoa sudah mencabut pedang, dia tetap bertangan kosong.

Kini baru dia betul-betul mengeluh dan tak sempat mencabut pedang lagi.

Mendadak Nyo Bok berteriak kegirangan.

"Bagus, hayo pergencar serangannya kita bunuh bangsat keparat ini"

Sebelum Nyo Bok bicara habis Coan Tay-hok sudah melancarkan serangan keji dari Ngo-hou-toan-bun-to, jurus Palang Pintu Besi dilancarkan untuk membelah pundak kiri Miao Tiang-hong.

Ngo-hou-toan-bun-to yang dilancarkan Coan Tay-hok terlampau ganas dan keji, serangannya juga cukup lihay.

Serangannya ini pun tepat waktunya, meski permainannya belum sempurna tapi boleh dikata kebetulan mendapat kesempatan.

Di waktu Miao Tiang-hong terdesak oleh rangsakan pedang Nyo Hoa, tahu-tahu goloknya membelah tiba Dengan tangan kosong harus menghadapi serangan ilmu pedang Nyo Hoa yang lihay menakjubkan, betapapun tinggi kungfunya juga terdesak dan kerepotan, apalagi harus selalu waspada oleh serangan dua lawan yang lain.

Mendadak terjadilah suatu peristiwa yang tidak terduga oleh kedua pihak, di kala Coan Tay-hok membacokkan goloknya itu, terdengarlah Tiang", di mana sinar putih berkelebat, golok tebal Coan Tay-hok mendadak kutung menjadi dua Sekilas dia melongo, akhirnya sadar bahwa Nyo Hoa yang membabat kutung goloknya Melongo sejenak Coan Tay-hok lantas berjingkrak.

"Apa yang kau lakukan?"

Dia kira Nyo Hoa salah gerakan hingga secara kebetulan goloknya kutung. Mendadak Nyo Hoa membentak dengan suara rendah.

"Minggir"

Mendadak dengan gerakan To-ting-tui (Kaki menyepak balik) Coan Tay-hok ditendangnya mencelat setombak lebih, sementara pedang di tangannya masih menyerang kepada Miao Tiang-hong.

Nyo Bok juga sudah siap melancarkan Kim-kong-liok-yang-jiu hendak mencengkeram tulang pundak Miao Tiang-hong, perubahan ini terjadi begitu mendadak seketika dia terdiam kaget.

Miao Tiang-hong heran dan kaget, bentaknya "Sebetulnya kau ini kawan dari kalangan mana?"

Nyata dia pun tidak habis mengerti kenapa Nyo Hoa yang merangsak sengit dengan ilmu pedang selihay ini mendadak bisa membela dirinya Kawan atau lawan jadi susah diraba maka mulut bicara gerakan kaki tangan sedikit pun tidak berani ken-dor.

Tak nyana pedang Nyo Hoa kembali berkelebat.

"Sret"

Kali ini seperti menyerang dengan jurus Heng-hun-toan-hong, hingga Miao Tiang-hong dan Nyo Bok terpisah arah.

Tapi jurus ini ini bukan serangan terbuka, tujuannya jelas, di samping mencegah Miao Tiang-hong mencelakai Nyo Bok, dia pun berusaha mencegah Nyo Bok menyergap Miao Tiang-hong secara licik.

Jangan kata Miao Tiang-hong yang memiliki kepandaian tinggi, maha guru silat lagi, Nyo Bok juga merasakan maksud dan tujuan gerak pedang Nyo Hoa ini..

Setelah menusukkan pedang, dengan menyerakkan suara Nyo Hoa membentak.

"Enyah, lekas enyah kalian dari sini."

Nyo Bok masih ragu-ragu, sementara Coan Tay-hok sudah lari sipat kuping membawa lukanya, dia pikir seorang laki-laki harus bisa melihat gelagat, kalau bocah ini membalik muka putar haluan, mengeroyok dirinya bersama Miao Tiang-hong, salah-salah jiwa sendiri bisa celaka.

Maka tanpa banyak bicara segera dia angkat langkah seribu.

Nyo Hoa mundur beberapa langkah, pedang di tangan masih berkembang seperti latihan seorang diri layaknya yang benar dia mencegat di depan Miao Tiang-hong.

supaya tidak mengejar Nyo Bok.

Miao Tiang-hong bingung menghadapi sepak terjang Nyo Hoa Tapi sebagai seorang guru silat dari suatu aliran tersendiri, mana dia sudi pergi begitu saja karena dibentak "enyah"

Oleh anak muda ini? Sifat gagahnya lantas berkobar, rasa ingin menang menghantui sanubarinya, mumpung Nyo Hoa mundur beberapa langkah.

"sreet"

Dia pun mencabut pedang, katanya "Saudara cilik, aku tidak tahu kau siapa dan dari mana tapi sekarang tanpa diganggu orang, kita bisa bertanding pedang secara terbuka"

Dalam hati Nyo Hoa berpikir.

"Kau tidak kenal aku tapi aku tahu siapa kau, buat apa aku harus me-nempurmu?"

Dia malu mengakui Nyo Bok sebagai ayahnya di hadapan Miao Tiang-hong.

Kalau tidak bisa dan malu mengakui, sukar pula memberi penjelasan kenapa barusan dia melindungi Nyo Bok.

Di samping itu dalam lubuk hatinya juga dihantui rasa takut, takut Miao Tiang-hong melontarkan kata-kata yang tidak enak didengar.

Karena itu meski dia tahu Miao Tiang-hong adalah sahabat baik ibunya di masa masih hidup, dia pun tidak berani banyak tanya "Awas,"

Bentak Miau Tiang-hong.

"sambut serangan!"-"Sret"

Pedangnya menusuk secepat kilat. Lekas Nyo Hoa angkat pedang melintang, Trang"

Telapak tangan dan pergelangan tangannya tergetar sakit. Seketika Nyo Hoa melengak dan berubah air mukanya Miao Tiang-hong tertawa katanya "Jurusku ini kutiru dari gerakanmu tadi, entah betul tidak?"

Gerak pedang yang digunakan Miao Tiang-hong sekarang adalah gerakan Nyo Hoa untuk menabas kutung golok Coan Tay-hok tadi, bukan saja gerak serangannya mirip, gayanya pun tidak berbeda, sesuai teori ajaran silat.

Di kala sepasang pedang beradu, menggunakan waktu yang tepat, hanya terpaut waktu sedetik sebelum lawan sempat melontarkan seluruh tenaganya, dengan tenaga sendalan menabas kutung senjata lawan, ini sesuai dengan teori yang diajarkan dalam Hian-kang-pwe-coat yang dipraktekkan Nyo Hoa tadi.

Bekal kungfu Nyo Hoa sekarang jelas tidak boleh dibanding dengan Coan Tay-hok, jelas Miao Tiang-hong takkan mampu melakukan apa yang dilakukan Nyo Hoa waktu menabas kutung golok Coan Tay-hok tadi.

Tapi Miao Tiang-hong agaknya bermurah hati waktu melontarkan serangannya Kalau dia kerahkan tenaga muminya umpama tidak mampu menabas kutung pedang Nyo Hoa juga sudah menggetarnya terlepas jatuh.

Nyo Hoa gusar, serunya.

"Ilmu pedangmu sepuluh lipat lebih lihay d ariku, aku jelas bukan tandingan-mu, apa kehendakmu, kenapa mengolok-olok?"

Miao Tiang-hong tergelak, katanya.

"Kurasa tidak demikian, taraf ilmu pedangmu tidak sampai di sini saja, kenapa kelihatannya kau punya ganjalan hati? Awas jurus kedua aku tidak sungkan lagi."

Tiba-tiba sirna senyumnya, katanya dengan serius.

"Tadi kau membantu aku, dengan jurus ini aku tidak melukai kau, jadi satu sama lain tidak saling hutang. Sejak sekarang kita boleh bertanding lagi."

Terpancing rasa ingin menang serta hatinya sedang dirundung sedih, maka mati hidup jiwa sendiri tidak dipikir lagi. Bentaknya.

"Baik, mari maju. Kalau mampu boleh kau bunuh aku, siapa suruh kau berbelas kasihan kepadaku?"

"Bagus anak muda punya ambisi besar,"

Puji Miao Tiang-hong, dalam hati dia berpikir.

"Walau bocah ini jadi antek kerajaan, tapi jiwanya berbeda dengan anjing alap-alap biasa."

Karena rasa dongkol menjalar dalam hati, Nyo Hoa memutar pedang secepat baling-baling, sekaligus dia menyerang tujuh jurus.

Miao Tiang-hong balas lima jurus, gerak pedang Nyo Hoa agaknya lebih cepat, namun dia tetap tak berhasil menemukan titik kelemahan Miao Tiang-hong, akhirnya dia sadar.

"Kenapa aku melupakan inti dari Bu-beng-kiam-hoat?"

Bu-beng-kiam-hoat mengutamakan perubahan mengikuti situasi lalu menundukkan lawan lebih dulu.

Setelah menenangkan hati Nyo Hoa tidak diburu nafsu, maka tidak menyerang dengan kecepatan gerak pedangnya lagi, kini dia bertempur secara gerilya dengan Miao Tiang-hong.

Seluruh kungfu yang berhasil diselami, dipraktekkan dan dikembangkan mengikuti perubahan serangan lawan yang lihay, ternyata variasi gerak serangannya tak habishabis, memberondong sederas hujan.

Kini Miao Tiang-hong mulai memperlambat gerakannya, setelah puluhan jurus pula, ujung pedang kedua orang seperti dibebani barang berat, lama baru melancarkan sejurus serangan.

Menuding ke timur menggaris ke barat, senjata tidak beradu, malah jarak mereka pun semakin jauh kira-kira setombak lebih, hakikatnya mereka tidak pernah bertempur secara ketat lagi.

Kelihatannya kedua pihak hanya bergaya sendiri dan memasang kuda-kuda sedang latihan dengan santai, yang benar mereka masih terus bertanding sengit, lebih seru dan menegangkan daripada bertanding secepat kilat tadi.

Beberapa kejap lagi gerak-gerik mereka lebih lamban pula.

Tapi begitu sama-sama melompat, secepat kilat pula beberapa gebrak mereka saling serang.

Di kala saling serang itu, gaya permainan mereka justru berlawanan satu dengan yang lain.

Jurus-jurus aneh dan lihay Nyo Hoa ternyata tidak habis-habisnya, sebaliknya permainan Miao Tiang-hong biasa saja, tiada keistimewaan, tidak mengutamakan perubahan tapi lebih mementingkan pertahanan dan balas menyerang.

Setiap pedang beradu, mau tidak mau tersirap hati Nyo Hoa, tangannya pegal kesemutan.

Miao Tiang-hong menghela napas, katanya.

"Bicara tentang kehebatan variasi ilmu pedang dalam jaman ini, yakin hanya beberapa gelintir jago saja yang mampu menandingi kau. Tapi pada inti permainan "jong".

"joh"

Dan "tay" (berat, sederhana dan besar) kurasa kau masih perlu melangkah setapak lagi."

Ilmu pedang umumnya mengutamakan gerak enteng dan lincah.

Enteng dapat mengatasi berat, variasi mengalahkan sederhana, kecil menindas yang besar.

Tapi kalau bicara tentang taraf latihan yang mencapai tingkat kesempurnaan, praktek sering terjadi kebalikan dari teori, angkat berat seperti enteng, gerakan sederhana mengandung banyak variasi, seperti gerakan besar padahal kecil.

Dalam hati Nyo Hoa berpikir.

"Jong, joh dan tay, tiga sari ilmu pedang siapa tidak tahu, jikalau aku sempat meyakinkan Hian-kangpwe-coat beberapa tahun lagi, belum tentu aku kalah terhadapmu."

Bukan Nyo Hoa tidak paham teori ilmu pedang tingkat tinggi, soalnya lwekang-nya masih terlalu rendah. Tapi dia masih menyatakan.

"Terima kasih atas petunjukmu."

Mendadak ujung pedangnya menuding miring ke atas, diam tidak bergerak, dengan tajam dia awasi ujung pedang Miao Tiang-hong. Miao Tiang-hong melengak sejenak, katanya tertawa.

"Bagus, ternyata kau lebih lihay dari aku. Sungguh aku ini mengagulkan diri menjadi guru di depan seorang ahli."

Pertandingan pedang kedua pihak kini berubah pula dalam bentuk yang berbeda, masing-masing mencari titik kelemahan dan kesalahan gerak, hakikatnya tidak perlu bergerak dan menyerang lagi.

Kadang kala hanya sedikit menggerakkan atau memindah letak pedang, mengubah letak ujung pedang yang mengincar tubuh lawan.

Setengah jam tanpa terasa telah bertahan sama kuat, diamdiam Nyo Hoa sudah mengeluh dalam hati.

Ternyata bertanding cara demikian justru memeras tenaga dan semangat.

Setelah bertanding setengah jam lagi Nyo Hoa sudah merasa lelah.

Mendadak Nyo Hoa jumpalitan keluar dari kalangan, pedang dibuang ke tanah dan berkata dengan murka.

"Aku sudah kalah, terserah bagaimana kau mau membunuhku."

Miao Tiang-hong pegang kencang gagang pedang, ujung pedang mengancam leher Nyo Hoa, cukup dua langkah maka bila ujung pedangnya disorong ke depan, pemuda berilmu pedang tinggi ini sudah dapat dibunuhnya, melenyapkan petaka di kemudian hari bagi kalangan pendekar.

Tapi entah kenapa, beberapa kali nafsu membunuh sudah membakar hati tetap dia tidak tega turun tangan.

Akhirnya dia menghela napas panjang, katanya.

"Sia-sia kau memiliki kepandaian sebagus ini tapi tidak tahu membedakan putih dan hitam, baik dan buruk, terima menjadi antek orang membantu kejahatan. Hari ini aku tidak membunuhmu, silakan kau pikir dan renungkan sendiri patutkah perbuatanmu?"

Habis bicara pedang disarungkan lalu pergi sambil bersenandung.

Nyo Hoa menjublek mendengarkan makna senandungnya, suaranya yang lantang mengalun lembut dalam lembah menimbulkan gema panjang di tengah udara.

Senandung yang membawa kerisauan hati, bermakna gagah dan penuh sifat perjuangan.

Agaknya Miao Tiang-hong ingin melampiaskan rasa rindunya di depan makam Hun Ci-lo.

Nyo Hoa tahu dan merasakan rindu itu, tapi terasa pula dalam nada senandung itu mengandung isak yang memilukan mohon diri kepada kawan karib yang telah tiada.

Sementara kawan karibnya itu adalah ibu kandung sendiri.

Ingin menangis tapi airmata tidak bisa keluar.

Nyo Hoa jadi hampa perasaan.

Sekarang dia tahu banyak persoalan yang dulu tak pernah diketahui meski dalam alam mimpi, tapi kabut pekat masih menyelimuti sanubarinya.

Berdiri tegak di depan makam ibunya, lama dan lama sekali akhirnya dia berlutut dan menyembah tiga kali, katanya.

"Ibu, sungguh sengsara hidupmu, sudah mati masih ada juga orang yang mencaci maki dirimu. Tapi apa pun yang dikatakan mereka, kau tetap adalah ibuku yang tercinta dan kuhormati. Ada juga isi hatiku yang ingin kuutarakan kepadamu, aku harus mencari tahu duduk persoalan yang sebenarnya, mencuci bersih nama baikmu."

Setelah mohon diri kepada ibunya, rasa dukanya sungguh tak terlukiskan.

Nyo Hoa jemput pedangnya yang dibuang di tanah lalu berlari pergi sambil menutup muka dengan kedua tangan.

Dunia seluas ini, ke mana dirinya harus pergi?

Dia tidak tahu juga tidak mau memikirkan.

Dia hanya lari dan lari kesetanan tanpa arah tujuan, semak belukar dianggap tanah datar, pakaiannya koyak, kulit badannya lecet juga tidak dihiraukan, tidak merasa sakit.

Tanpa terasa dia lari ke puncak sebuah gunung, seperti balon kempes akhirnya Nyo Hoa menjatuhkan diri duduk di tanah terus menangis menggerung-gerung.

Di tengah isak tangisnya itu mendadak didengarnya seseorang berkata.

"Hoa-ji, syukurlah bila kau bisa menangis."

Suaranya sudah amat dikenal.

Nyo Hoa kaget, mendadak berjingkrak berdiri.

Orang ini sudah berdiri di depannya, siapa lagi kalau bukan ayahnya, Nyo Bok?

Setelah diusir Nyo Hoa, semakin berpikir Nyo Bok makin curiga.

Kenapa pemuda yang tidak dikenal asal-usulnya ini mau melindungi dirinya?

Kenapa pula melarang Coan Tay-hok membokong Miao Tiang-hong, malah Coan Tay-hok ditendangnya mencelat dan berbalik mengusir dirinya?

Nyo Bok memang sedikit pintar, setelah beberapa persoalan yang tidak dimengerti dirangkai serta dicerna dengan seksama, akhirnya berhasil dia menyimpulkan suatu analisa.

"Sekarang aku tahu siapa pemuda itu. Dia pasti Ah-hoa, tapi mungkin dia belum tahu asalusulnya sendiri, kalau tidak dia pasti membiarkan Miao Tiang-hong membunuhku?"

Setelah berhasil membongkar asal-usul Nyo Hoa, bahwa pemuda yang berkepandaian tinggi ini ternyata adalah putranya, ya, paling tidak dirinya pernah merawat dan memeliharanya, diam-diam Nyo Bok amat girang.

Tapi di hadapan "putra"nya ini dia harus bermuka-muka dan menyembunyikan wataknya.

Dia harus bersandiwara sungguhsungguh, supaya Nyo Hoa tidak tahu kemunafikan dirinya, supaya rencana jahatnya tidak gagal.

Punya seorang anak setinggi itu ilmu silatnya, bila mau mengakui dirinya sebagai ayah, bukankah berarti dirinya mendapat rejeki?

Oleh karena itu, kini setelah Nyo Bok berdiri di hadapan "putranya"

Mau tidak mau terpaksa dia harus bersikap sebagai orang tua yang welas asih, ayah yang arif dan penuh kasih sayang, bertemu dengan anak yang telah hilang sekian tahun lamanya, harus senang juga sedih dan terharu.

Sekali menangis, segala duka lara kehidupan selama ini tercurahkan dalam airmata yang tak terbendung, namun pikiran menjadi lebih jernih malah, Nyo Hoa yang tidak pernah mengenyam apa artinya cinta seorang ayah, mendengar pertanyaan Nyo Bok yang bernada menghibur dan penuh kasih sayang lagi, seketika dia merasa dadanya seperti bergejolak.

Pikiran kalut hati tidak tenteram, apakah dia harus mengakui ayahnya serta menyembahnya atau anggap tidak kenal sama sekali?

Nyo Bok berkata lebih lanjut.

"Ibumu mati begitu mengenaskan, tidak heran kalau kau menangis sesedih itu. Tapi yang mati tidak dapat hidup lagi, kau masih punya ayah yang masih segar bugar."

Untung dia tidak berbicara tentang dirinya begitu mendengar ucapannya, amarah Nyo Hoa malah memuncak. Dalam hati Nyo Hoa membatin.

"Sungguh tidak tahu malu, masih berani kau menyinggung ibu di hadapanku. Apa sebab kematiannya? Beliau mati di tangan musuh. Kau justru mencuri hidup dan terima menjadi antek musuh membunuhi kawan sehaluan."

Melihat Nyo Hoa diam saja, tidak tahu apa yang sedang dipikir, namun dinilai dari sudut "bai k"ny a, dia beranggapan dengan pancingan hubungan ayah dan anak meski Nyo Hoa berhati baja akhirnya juga terbujuk luluh, maka dia berkata pula.

"Aku tahu kau ini adalah anak Hoa, apakah kau tidak tahu kalau aku ini ayahmu?"

Sungguh tak tahan lagi Nyo Hoa, dia membentak dengan suara serak.

"Kau membual apa? Ayahku sudah lama mati, berani kau memalsu ayahku. Kau, enyah kau dari sini. Enyah!"

Sungguh tebal muka Nyo Bok, katanya dengan tertawa nyengir.

"Anak Hoa, jangan kau salah sangka. Aku betul adalah ayahmu, aku belum mati", dulu aku hanya pura-pura mati, soalnya urusan amat mendesak, kalau kau ingin tahu...."

"Siapa bilang aku salah,"

Sentak Nyo Hoa berjingkrak berdiri.

"kaulah yang salah."

"Ya, ya, betul memang aku yang salah,"

Nyo Bok tersipu-sipu.

"Tapi apa kau tidak ingin tahu kenapa aku melangkah ke arah yang salah?"

"Aku tidak kenal siapa kau, persetan dengan persoalan yang ingin kau katakan. Kalau masih berani kau mengaku sebagai ayahku, aku tidak akan sungkan kepadamu."

Waktu mengatakan "sungkan", mendadak dia angkat tangannya menabok batu di sebelahnya menjadi hancur.

Nyo Hoa melampiaskan rasa dongkolnya, tapi jantung Nyo Bok kebat-kebit melihat kehebatan pukulannya.

Karena jeri dan bingung, apa boleh buat, terpaksa Nyo Bok mundur dari depan Nyo Hoa, gumamnya.

"Baik, baiklah aku akan pergi. Suatu hari kau pun akan mengerti duduknya persoalan."

Dalam hati dia mengharap Nyo Hoa tanya "mengerti soal apa?", tapi Nyo Hoa tidak tanya.

Walau kebingungan dan kehabisan akal, tapi Nyo Bok merasa berat untuk melepaskan muslihatnya.

Setelah mundur puluhan langkah yakin dalam jarak sejauh ini Nyo Hoa takkan dapat memukul dirinya, dia berdiri diam.

Dalam hati berpikir cara bagaimana untuk membujuk Nyo Hoa.

Sebenarnya bukan Nyo Hoa tidak ingin tahu banyak persoalan yang selama ini mengganjal hatinya, dan dia tahu hanya Nyo Bok yang dapat membuka persoalan yang membelit hatinya.

Walau dia juga tahu kalau Nyo Bok tidak akan bicara jujur terhadap dirinya.

Tapi patutkah dia mengakui ayah bangsat ini?

Kalau harus mengakui ayah bangsat, baru duduk persoalannya menjadi terang, betapapun dia tidak rela, lebih baik persoalan itu tetap terselubung, di dalam benaknya Setelah yakin akan rencananya, Nyo Bok batuk-batuk lalu berkata.

"Biar kukisahkan satu cerita kepadamu, kau boleh tidak anggap aku sebagai ayahmu, demikian pula kisah ini boleh kau anggap sebagai cerita yang tiada sangkut pautnya dengan dirimu. Tapi kisah ini adalah cerita nyata."

Tanpa dijelaskan, orang pun sudah tahu bahwa kisah yang akan diceritakan itu bukan lain adalah pengalaman hidupnya sendiri.

Melihat Nyo Hoa tidak memberi reaksi atau buka mulut memaki dirinya, legalah hati Nyo Bok, maka kisah yang sudah dirangkai sebelumnya perlahan-lahan dia ceritakan.

"Ada satu orang piausu yang terkenal di kalangan Kangouw, walau kepandaiannya tidak terhitung tinggi, tapi hubungannya luas dan banyak kenalan, demi mempertahankan sesuap nasi maka dia banyak mengikat persahabatan dari golongan hitam maupun aliran putih. Terutama dari golongan pendekar, tidak sedikit pula sahabatnya"

Nyo Hoa berpikir.

"Ucapannya ini mungkin tidak bohong, kalau tidak tak mungkin ibu dulu mau menikah dengan dia"

"Tapi,"

Nyo Bok meneruskan kisahnya.

"walau temannya banyak tapi yang betul-betul dapat dianggap teman sejati hanya satu, temannya itu adalah seorang pejuang bangsa penentang penjajah malah dia bukan pendekar sembarang pendekar, tapi adalah seorang pemimpin besar laskar rakyat di Siau-kim-jwan."

Melonjak jantung Nyo Hoa mendengar sampai di sini.

"Akhirnya membicarakan Beng Goan-cau. Ingin aku tahu bagaimana komentarnya tentang Beng tayhiap?"

"Tapi waktu piausu itu berkenalan dengan temannya itu, teman itu belum pernah pergi ke Siau-kim-jwan, dia sering bertamu ke rumah piausu temannya itu.

"Piausu muda itu punya seorang istri cantik bijaksana, orang persilatan juga, setiap kali datang bertamu ke rumah si piausu, istri si piausu sering keluar menyambut dan meladeni."

"Hidup piausu itu cukup bahagia, punya istri cantik, bijaksana dan baik hati, punya teman baik dan tak lama kemudian istrinya melahirkan seorang putera, sekeluarga hidup tenteram sentosa dan bahagia. Ai, sungguh bencana sukar dibendung, suatu hari terjadilah suatu peristiwa memalukan yang tidak pernah terbayang sebelumnya."

Diam-diam berdebar jantung Nyo Hoa mendengar sampai di sini, pandangannya gelap, ingin dia mendekap telinga sendiri, tapi badan terasa lunglai.

Nyo Bok pura-pura menderita tekanan batin, katanya dengan tertawa rawan.

"Ternyata istri dan sahabatnya itu adalah kenalan lama, tapi hal ini di luar tahu sang piausu. Sahabatnya itu ternyata masih menaruh cinta dan kasmaran pada istri sahabatnya, meski dia sudah menikah punya suami, tapi cintanya tidak pemah pudar. Tujuannya berkenalan dengan sj piausu bukan lain adalah untuk bisa berdekatan dengan istrinya.

"Mungkin dulu mereka adalah sepasang kekasih, atau mungkin bukan? Piausu itu tidak percaya bahwa sebelum ini mereka sudah ada hubungan cinta gelap, penyelidikan belakangan tetap tidak ada bukti bahwa dulu mereka adalah sepasang kekasih. Sungguh menggemaskan adalah sahabat itu menggunakan cara yarg rendah dan kotor."

Ai, sebagai pendekar besar yang ternama dan diakui khalayak ramai, siapa pemah menyangka bahwa dia manusia berkulit serigala.

Diam-diam dia mengadakan hubungan gelap dengan istri si piausu, tapi si piausu masih tidak tahu menahu.

"Tapi kertas mana bisa membungkus api, suatu ketika si piausu pulang dari perjalanan ekspedisi yang jauh dan melelahkan, beruntung kerja kali itu leluasa dan mencapai tujuan dengan aman, pulangnya lebih dini dari waktu yang ditetapkan. Waktu dia tiba di rumah, dilihatnya temannya itu berada di kamar bersama istrinya... ai, memalukan kalau perbuatan kotor ini kuucapkan sendiri, yakin kau sendiri akan merinding mendengar ceritaku, baiklah tidak perlu kujelaskan kejadian itu."

Hampir saja Nyo Hoa pingsan, tapi dia tidak percaya seratus persen bahwa kisah ini memang kenyataan. Pikirnya.

"Kalau Beng Goan-cau sering datang ke rumah, kenapa jarang melihatnya? Walau usiaku masih kecil dan waktu dia mati aku baru berusia tujuh tahun, bila aku pernah melihat Beng Goan-cau, orang yang setenar dia, tidak mungkin aku tidak punya kesan sama sekali terhadapnya."

Agaknya Nyo Bok meraba jalan pikiran Nyo Hoa, katanya lebih lanjut.

"Memergoki perbuatan kotor istrinya, si piausu amat sakit hati, maka dia berkata kepada sang istri.

"Seharusnya aku bisa mengalah dan merangkap perjodohan kalian, tapi anak masih kecil dan perlu perawatan ibunya, bagaimana setelah anak ini besar baru kau berpisah dengan aku?"

Istrinya menangis sedih dan mengakui kesalahannya, mohon sang suami memaafkan.

Piausu itu memang amat mencintai istrinya, maka dia menyatakan asal istrinya bertobat dan menyesali perbuatannya, selanjutnya putus hubungan dengan orang itu, maka piausu itu masih mau rujuk kembali dengan dia.

"Sejak peristiwa itu, istri si piausu memang jarang keluar pintu, seperti dahulu dia memang istri baik yang bijaksana. Hubungan dengan sahabatnya itu sudah putus dan orang itu pun tidak pemah datang ke rumahnya."

Rangkaian ceritanya memang sempurna, seorang anak kecil yang belum genap setahun sudah tentu takkan ingat kepada tamu bapaknya yang sering datang.

Nyo Bok menghela napas panjang, sikapnya bimbang ingin melanjutkan tapi segan, akhirnya dia mengertak gigi, katanya.

"Umumnya habis hujan terbitlah terang, si piausu anggap persoalan sudah jernih, tak nyana hubungan cinta kedua orang itu ternyata tidak pemah padam. Kira-kira tujuh tahun kemudian, sahabat itu secara diam-diam kembali ke tempat lama. Kedatangannya kali ini lebih berani lagi, dia membujuk istri piausu itu minggat bersama dia."

Semula Nyo Hoa belum genap setahun, tujuh tahun kemudian adalah tahun di mana Nyo Bok pura-pura mati. Nyo Hoa merinding dibuatnya.

"Apa betul ibu berbuat serong dengan Beng Goan-cau? Aku tidak percaya, tidak percaya."

Suara Nyo Bok serak, sikapnya pura-pura sedih dan putus asa, katanya lebih lanjut.

"Malam itu, ai, malam itu, mereka berunding di taman belakang merencanakan untuk minggat, dan ketahuan oleh si piausu, malu perbuatan rendahnya ketahuan, dia turun tangan lebih dulu, sekali pukul si piausu dipukulnya roboh. Untung beberapa murid si piausu mendengar ribut-ribut berlari keluar. Mengingat pihak sendiri salah sebelum orang banyak keluar, orang itu sudah melarikan diri. Maka piausu itu pun tidak sampai terbunuh. Keburukan keluarga betapapun tak baik tersiar di luar, terpaksa si piausu hanya bilang kemasukan maling di rumahnya."

Lapat-lapat Nyo Hoa masih ingat keributan adanya "maling"

Di malam hari dulu, esok harinya ayahnya lantas dinyatakan mati menggantung diri.

Setelah dia besar, terasa kedua peristiwa ini satu dengan yang lain ada hubungannya, di samping dia merasa heran, mana mungkin seorang maling punya nyali sebesar itu berani menyatroni rumah busu besar yang terkenal berkepandaian tinggi?

(Dalam kisah Nyo Bok, busu terkenal dia ubah menjadi piausu supaya tidak menimbulkan kecurigaan, tapi apa sangkut paut kedua hal ini, Nyo Hoa sendiri juga merasa heran dan tidak habis mengerti).

Kini setelah mendengar cerita Nyo Bok baru dipahami ternyata kejadian adalah berkisar perbuatan seseorang yang tidak pernah diimpikan.

Tapi apakah kisah itu betul terjadi?

Tidak aku tidak boleh percaya, tidak percaya.

Marah, sedih dan terhina dan berbagai perasaan ruwet semua bergejolak dalam sanubarinya, tubuh Nyo Hoa menggigil hatinya menjerit-jerit Tujuan Nyo Bok memang hendak mematahkan semangatnya, katanya pula setelah menghela napas.

"Yang paling membuat piausu sedih adalah waktu orang itu hendak membunuh suaminya, sang istri ternyata berdiri menonton tidak berusaha menolong atau merintangi, setelah dia terpukul roboh sang istri juga tidak berusaha membimbingnya.

"Ketika kembali di kamar, dengan suara sinis istrinya berkata.

"Kau sudah melakukan perbuatan yang memalukan, apa kau kira aku masih mau menjadi istrimu?"

Piausu memang tahu kejadian kali ini tidak seperti kejadian dulu yang bisa dirujukkan kembali tapi tak pernah dia sangka bahwa sang istri justru tega melontarkan perkataan yang diputar balik.

Perbuatan kotor dia yang melakukan tapi dia justru menuduh aku.

"Piausu rela memberi surat cerai, namun rasa penasaran ini betapapun tidak terlampiaskan maka dia tanya kepada sang istri.

"Aku pernah melakukan perbuatan apa yang memalukan dirimu. Coba kau jelaskan/ Istrinya bilang.

"Perbuatanmu sendiri, yakin kau tahu sendiri pula. Orang-orang gagah di Kangouw, siapa tidak memandang rendah dirimu, masih perlu aku menjelaskan satu per satu? Hm, kau boleh mengusir dia dari sini tapi takkan mungkin mengusir dia dari lubuk hatiku."

Habis bicara dia lalu membelakangi sang suami tidak mau bicara "Di samping sedih piausu putus asa pula, setelah keluar dari kamar baru rasa marah mendorongnya untuk mencari jalan pendek.

Betapapun sang istri masih punya perasaan, dia berusaha menolongnya.

Maka dia tanya istrinya kenapa tidak membiarkan dia mati saja, semula dia kira istrinya sudah bertobat dan menginsafi perbuatannya Tak nyana jawaban sang istri sungguh amat di luar dugaan.

Dia bilang.

"Dalam hatiku, aku sudah anggap kau sudah mati. Dalam keadaanmu sekarang, memang lebih baik kalau membuat orang percaya bahwa kau sudah mati. Tapi bagaimana aku tega kalau anak tidak punya ayah, maka terpaksa aku mengharap kau tetap mencuri hidup secara diam-diam."

Sudah tentu perkataannya itu amat menjengkelkan sang suami hingga hampir saja dia mati lagi saking marah."

Nyo Hoa bingung dan tersesat ke arah yang tidak menentu hingga dia merasa simpati kepada sang piausu, pikirnya.

"Kalau ceritanya itu benar, adalah logis kalau dia mencari jalan pendek."

Nyo Bok mengusap airmata, katanya lebih lanjut.

"Sudah tentu bukan kepalang marah, malu dan penasaran si piausu, akhirnya dia nekad, baiklah aku mengalah supaya mereka bisa hidup bersama, maka dia pura-pura mati. Dia harus hidup untuk menyelidiki persoalan ini sampai terang. Kenapa istrinya tega berkata demikian? Bukan mustahil di belakang persoalan ini ada muslihat keji?"

"Belakangan baru dia tahu, ternyata sahabatnya itu menyiarkan kabar angin di Kangouw, dikatakan dia kena tipu antek kerajaan dan sekarang sudah menjadi anggota anjing alap-alap. Padahal dia punya hubungan luas antara golongan hitam dan aliran putih, dalam Gi-lim-kun juga ada teman yang dikenalnya. Oleh karena itu kabar angin yang diucapkan oleh seorang"

Pendekar yang diakui oleh kaum persilatan sebagai teman baiknya itu, bukan saja orang luar percaya istrinya pun percaya seratus persen.

"Dalam keadaan demikian bila dia kebentur di tangan golongan pendekar penantang kerajaan, meski lidahnya kering pun dia tidak akan bisa membela diri. Malah menurut apa yang dia ketahui, khawatir perbuatan kotornya sendiri terbongkar, maka dia berusaha membunuh sahabatnya itu. Baru sekarang dia mengerti bahwa istrinya suruh dia pura-pura mati adalah masih mengingat adanya hubungan suami istri.

"Akan tetapi, betapapun dia tidak bisa menjadi "mayat hidup"

Untuk selamanya H mm, -urusan memang sudah mendesak, langkah juga sudah salah, untuk menghindari tangan jahat sahabatnya itu, dia pikir kalau dia sudah memfitnahku sedemikian rupa, baiklah aku pura-pura jadikan sesungguhnya Karena itulah didesak oleh situasi dan kondisi terpaksa dia menyembunyikan diri dalam kalangan Gilim-kun, mohon perlindungan dari para sahabatnya yang berada di kalangan pemerintah."

Mendengar sampai di sini, kembali membara amarah Nyo Hoa, pikirnya.

"Enak saja kau ngomong, setelah menjadi antek kerajaan, mana boleh dianggap kecerobohan belaka, memangnya seringan ini dosamu?"

Agaknya Nyo Bok merasakan sorot mata Nyo Hoa yang kurang senang, lekas dia menambahkan.

"Sedikit kecerobohan ini memang menyebabkan kesalahan lebih besar dalam hidupnya.

"Tapi dia sih belum sampai betul-betul bejat dan terima menjadi alat penjajah membunuhi sesama bangsa dan saudaranya.

"Setelah dia pura-pura mati, maka istrinya itu pun direbut oleh sahabatnya yang keji bagai serigala itu, suatu hari berita ini masuk ke telinganya, betapa hatinya takkan marah dan penasaran, dendamnya lebih membara.

"Perlu diketahui Song Theng-siau dan Beng Goan-cau adalah sepasang sahabat yang tak pernah berpisah, ibarat sendok dan garpu?"

Nyo Hoa tahu akan persahabatan mereka yang kental dan abadi. Maka diam-diam berpikir.

"Jadi waktu Song Theng-siau merebut aku dari rumah adalah karena dia mendapat petunjuk dari Beng Goancau. Untung belakangan kedua guruku berhasil merebut diriku dari tangan Song Theng-siau, kalau tidak aku diasuh dan hidup di tangan musuh."

Nyo Bok pandai melihat rona muka menerka perasaan, dia tahu sedikit banyak Nyo Hoa sudah terkena oleh kisahnya, dalam hati amat senang, katanya pula.

"Bahwa pute-ranya juga direbut musuh, sudah tentu lebih benci pula piausu itu hingga hampir gila. Waktu dia sudah nekat hendak minta bantuan teman-temannya dari Gi-iimkun menuntutkan balas, tapi akhirnya dia dapat berpikir panjang, sekali salah tak boleh diulang kesalahan itu, jangan lantaran dendam pribadi sehingga dirinya terperosok semakin dalam ke jurang nista. Karena itu meski berada di dalam kalangan Gi-limkun, selama sepuluh tahun ini dia tetap preman, pangkat atau tugas pun tidak pernah dia dapatkan. Memang lantaran suatu kesalahan langkah, hingga tidak terhitung sebagai kaum pendekar, tapi dia yakin selama ini belum pernah mencelakai orang baik."

Nyo Bok mencuci bersih nama baik sendiri dan menempel emas di muka, di luar tahunya bahwa pembicaraannya dengan Coan Tayhok di depan makam Hun Ci-lo telah dicuri dengar oleh Nyo Hoa.

Semula Nyo Hoa sudah merasa simpati kepadanya, tapi setelah mendengar cerita sampai di sini, kembali amarahnya terbakar, jengeknya dalam hati.

"Tadi kau berunding dengan orang she Coan itu hendak membekuk aku yang dianggap tiruan ini untuk mendapat pahala. Orang she Coan tadi juga bilang bahwa kau sekarang adalah orang kepercayaan Hay-tayjin, walau aku tidak melihat sikap dan mimik mukamu, tapi dari nada suara dapat kuraba bahwa kau sangat senang dan bangga."

Nyo Bok bersandiwara secara sungguh-sungguh. Entah dari mana dia berhasil memeras airmata. sambil mengusap mata dia membuang ingus, katanya.

"Sepuluh tahun kemudian, istri piausu itu sudah mati, tapi anaknya belum berhasil ditemukan.

"Sepasang suami istri yang sebetulnya hidup rukun penuh cinta kasih, siapa nyana akhirnya mengalami nasib sejelek itu. Sumber petaka dari peristiwa ini bukan lain adalah sahabat baiknya yang pura-pura jadi orang gagah berjiwa ksatria segala.

"Lebih menyedihkan lagi, dia hanya punya seorang putera tapi tidak diketahui di mana sekarang puteranya berada, bagaimana nasibnya? Jikalau dia dapat menemukan puteranya itu, yakin dia pasti dapat bertobat dan kembali ke jalan baik. Umpama tidak setimpal jadi kaum pendekar, betapapun dia juga ingin menjadi manusia yang dihormati dan dihargai."

Nyo Hoa berpikir dalam hati.

"Manis juga ucapanmu, sayang aku bukan lagi anak umur tujuh tahun yang gampang ditipu dengan bujuk rayu mulut manis."

Khawatir dia tidak percaya sengaja Nyo Bok menambahkan.

"Mungkin kau bisa bertanya begini, kenapa harus puteranya itu ketemu baru dia mau bertobat dan insyaf akan kesalahan? "Karena sekarang usianya sudah agak lanjut, kepandaiannya pun tidak tinggi. Tanpa dibantu anaknya. jelas dia tidak akan bisa lolos dari genggaman musuh. Apalagi dia harus menuntut balas, padahal sahabatnya itu memiliki ilmu golok kilat nomor satu di dunia, jikalau dia tidak sembunyi di kalangan tentara, mungkin sejak lama takkan lolos dari kekejian temannya itu. Ai, terpaksa dia mengharap anaknya yang sekarang sudah besar memiliki ilmu tinggi, bukan saja melindungi juga menuntutkan balas sakit hatinya."

Sampai di sini diam-diam Nyo Bok melirik ke arah anaknya dan memperhatikan perubahan rona mukanya. Di luar tahunya Nyo Hoa sedang berpikir.

"Umpama betul kau punya maksud baik hendak bertobat dan menginsafi kesalahan, umpama harus mati di tangan musuh juga setimpal dan berusaha melarikan diri. Hm, kau merangkai cerita ini jelas untuk menipu aku."

Nyo Bok menghela napas, katanya.

"Bagaimana pendapatmu setelah mendengar kisah ini? Jikalau kau menjadi putera piausu itu, bagaimana kau harus bertindak?"

Mendadak Nyo Hoa berdiri dan membentak.

"Satu orang apakah dia harus lewat jembatan kayu atau jembatan besi, hanya dia sendiri yang boleh menentukan pilihannya, tidak boleh percaya pada petunjuk orang lain. Jikalau aku adalah putera piausu itu, jikalau dia berani membual di hadapanku, tanpa pandang bulu peduli siapa dia, aku akan membunuhnya, habis perkara."

Waktu mengucapkan "membunuh", sebelah tangannya mendadak membabat sebatang pohon di sampingnya, pohon itu roboh mengeluarkan suara gaduh, debu beterbangan, keadaan lebih mengejutkan.

Nyo Bok tidak menyangka setelah dirinya memutar lidah panjang lebar, hasilnya tetap nihil.

Takut Nyo Hoa benar-benar melaksanakan ancamannya, saking ketakutan lekas dia mencawat ekor dari tempat itu.

Nyo Bok sudah pergi jauh, perasaan Nyo Hoa masih bergolak seperti air mendidih, sampai lama belum juga tenteram.

Sudah tentu tak pernah terpikir meski dalam mimpi bahwa Nyo Bok sebetulnya bukan ayah kandungnya.

Jikalau dia tidak sembunyi di belakang makam dan menyaksikan sendiri permainan sandiwara Nyo Bok dalam percakapannya dengan Coan Tay-hok tadi, bila di lain tempat dan suasana yang berbeda, bila anak dan bapak bersua setelah berpisah sekian tahun, tahu bahwa ayahnya belum mati, betapa hatinya takkan senang.

Tapi sekarang dia justru amat sedih.

Tanpa sengaja dia membongkar kemunafikan ayahnya, terima jadi antek kerajaan melakukan kejahatan menumpas kaum pendekar yang menentang penjajahan.

Bukan saja marah, hatinya pun malu dan sedih, banyak persoalan dan perasaan berkecamuk di dalam benaknya.

Sedikit pun dia tidak merasa menyesal barusan telah mengusir ayahnya.

Tapi apa yang diceritakan Nyo Bok, cerita tentang ibunya seperti ular beracun yang menggerogoti hatinya, dia tidak ingin memikir dan tidak sudi memikir lagi.

"Aku tidak percaya, tidak percaya. Aku yakin ibu bukan perempuan serendah yang dia katakan,"

Teriaknya dalam hati.

Sudah tentu jeritan hatinya takkan terlontar dari mulutnya, maka dapatlah dibayangkan betapa besar derita batihnya.

Dia ingin berteriak, ingin menjerit, ingin menangis sepuasnya.

Sungguh kasihan, cerita Nyo Bok yang beracun telah meresap ke dalam lubuk hatinya, begitu jahatnya hingga dia hampir gila.

"Aku tidak percaya, aku tidak percaya."

Mendadak entah sengaja atau tidak, tangannya menyentuh buku pelajaran ilmu golok yang disimpan dalam kantong bajunya, Beng-keh-to-hoat yang tiada bandingannya di dunia ini.

Di dalam buku ada tulisan ibunya, tulisan ibunya yang membantu Beng Goan-cau mencatat pelajaran ilmu goloknya.

"Tidak percaya, tidak percaya, tidak... percaya...."jeritannya makin kendor dan lemah, hingga keteguhan hatinya mulai goyah. Angin dingin menghembus lewat, Nyo Hoa tersentak sadar kedinginan, suara Nyo Bok seperti masih mengiang di pinggir telinganya, diusut asal mula dari penyebab semua petaka ini adalah sahabat keji itu yang membuat keluarganya berentakan. Sekuat tenaga Nyo Hoa menekan perasaannya hingga gejolak perasaannya mulai tenang, pikirnya.

"Beng Goan-cau memang benar adalah pemimpin laskar rakyat, tapi dalam laskar rakyat itu bukan mustahil tercampur orang-orang jahat di dalamnya. Bukan mustahil pula dia satu orang jahat di antara sekian banyak orang baik, sampah persilatan dari kaum pendekar, sudah tentu dia tidak bisa mengutuk dan menyumpahi ibunya, maka segala amarah, penasaran dan dendam hatinya dia limpahkan kepada Beng Goancau. Beng-keh-to-hoat itu sudah dikeluarkan dan hendak disobeknya hancur, tapi pikirannya lantas tergerak, dia teringat pesan j i-suhunya.

"Dengan bekal kepandaianmu sekarang jelas kau bukan tandingannya, hanya bila secara tak terduga kau lancarkan Bengkeh-to-hoat baru kau akan bisa mengalahkan dia. Tapi jangan kau melukainya."

Nyo Hoa simpan kembali buku pelajaran ilmu golok itu, pikirnya.

"Aku akan lempar dan kembalikan buku ini kepadanya, mengalahkan dia dengan ilmu goloknya. Tapi ji-suhu, aku harus mohon maaf kepadamu, aku tidak akan memberi ampun kepada sampah persilatan dari golongan pendekar ini."

Akhirnya tak tahan, dia membulatkan sumpahnya.

"Beng Goancau, tunggulah akan datang suatu hari, aku pasti akan membunuhmu."

"Sret"

Dia meloloskan pedang menebas kutung sebatang pohon sebesar paha, seolah-olah pohon itu adalah batok kepala Beng Goan-cau. Mendadak sebuah suara dingin bernada nyaring seperti kelintingan bertanya.

"Kenapa kau ingin membunuh Beng Goancau?"

Nyo Hoa berjingkrak sadar seperti siuman dari mimpi, dilihatnya di depannya berdiri seorang pemuda cakap lembut.

Kalau pemuda ini bukan berdandan seorang lelaki, sekilas pandangan Nyo Hoa pasti yakin bahwa orang ini adalah dewi kahyangan yang mendadak turun ke hutan ini.

Dengan taraf kepandaian Nyo Hoa sekarang, sebetulnya mata dan telinga cukup jeli, tapi dia dalam keadaan setengah sinting karena perang dalam batinnya, maka si pemuda sudah berada di depannya masih belum disadarinya.

Dari ini dapatlah dibayangkan bahwa ginkang pemuda ini cukup tinggi.

Karena ditanya begitu Nyo Hoa gelagapan, sesaat dia tidak mampu menjawab.

Ditatapnya muka Nyo Hoa dengan tajam, pemuda itu membentak pula.

"Lekas katakan, kenapa kau mau membunuh Beng Goan-cau? Kalau tidak menjelaskan aku tidak sungkan lagi kepadamu."

Nyo Hoa menenangkan pikiran, katanya.

"Aku mau bunuh Beng Goan-cau ada sangkut paut apa dengan kau? Kau pernah apanya?"

Pemuda itu tertawa dingin, katanya.

"Aku bukan sanak bukan kadang dengan Beng Goan-cau, tapi dia adalah pemimpin besar laskar rakyat, jangan kata kau bilang hendak membunuhnya, umpama sikapmu sedikit kurang ajar terhadapnya, aku tidak akan memberi ampun kepadamu. Kecuali kau menerangkan apa alasanmu hendak membunuh dia, apa salahnya kau jelaskan kepadaku."

Bagaimana mungkin Nyo Hoa berbicara dengan seorang asing yang belum dikenalnya? "Beng Goan-cau dia... dia sampah persilatan,"

Nyo Hoa berkata terputus-putus.

"Omong kosong!"

Sentak pemuda ganteng itu menarik muka.

"Beng tayhiap berjuang demi nusa dan bangsa, siapa tidak tahu bahwa dia seorang enghiong, seorang gagah perkasa, berdasar apa kau justru menuduh dia sampah persilatan?"

Merah hijau lalu putih, rona muka Nyo Hoa berubah berulang kali.

"Berdasar apa? Ya, berdasarkan apa?"

Soal ini biar kau membunuhnya juga dia tidak mampu menjawab.

"Yakin kau takkan bisa mengatakan alasanmu. Biarlah aku menjelaskan. Karena kau adalah perwira Gi-lim-kun kerajaan penjajah."

"Siapa bilang, aku bukan, aku bukan,"

Teriak Nyo Hoa. Mendadak dia rogoh lencana Gi-lim-kun terus dibuang entah jatuh di mana. Sikap dan perbuatannya ini malah membuat suara si pemuda ganteng menjadi lembut, katanya.

"Baiklah aku percaya kau bukan perwira Gi-lim-kun, siapa kau sebenarnya?"

Pertanyaan yang tidak bisa dijawab pula oleh Nyo Hoa. Pemuda ganteng itu bertanya pula.

"Apakah kau masih ingin membunuh Beng Goan-cau?"

Nyo Hoa berpikir.

"Tidak membunuhnya juga akan memakinya sampai puas."

Tapi mulutnya berkata.

"Aku tetap akan membunuhnya."

Pemuda itu gusar, serunya.

"Kau masih ingin membunuhnya, maka kaulah sampah persilatan!"

Makin bicara makin jengkel, mendadak dia membentak lebih gusar.

"Cabut pedangmu!"

Nyo Hoa melengak, katanya.

"Untuk apa kau suruh aku cabut pedang?"

"Kau sampah persilatan tidak setimpal membuat kotor golok pusaka Beng tayhiap, biar aku saja mewakili Beng tayhiap membunuhmu."

"Baiklah boleh kau bunuh saja"

Pemuda itu mengira dia mengejek, katanya dingin.

"Aku tahu kau berkepandaian tinggi, tapi melawanku dengan tangan kosong berarti kau cari penyakit sendiri, tapi aku tidak sudi mengambil keuntungan. Jikalau aku tidak mampu membunuhmu biar kau pun boleh membunuhku, hayo keluarkan pedangmu."

Nyo Hoa berkata.

"Pedang mestikaku hanya membunuh orang jahat. Aku tidak bermusuhan tiada dendam dengan kau, kulihat kau juga bukan orang jahat, kenapa harus adu jiwa denganmu?"

"Enak didengar ocehanmu. Apakah Beng tayhiap orang jahat?"

Nyo Hoa menutup rapat mulutnya, tapi sikapnya seperti mau bilang.

"Tadi sudah kukatakan, kenapa kau tanya lagi?"

Pemuda itu tidak tahan, serunya.

"Kalau kau tidak mau adu jiwa dengan aku, biar aku yang melabrakmu. Memangnya kau mau menyerah dan terima kupenggal kepalamu?"

Nyo Hoa menghela napas, katanya.

"Kau memanggil Beng Goancau dengan sebutan Beng tayhiap, tentu kau pun anggota laskar rakyat. Kau ingin membunuhku, silakan Saja. Aku tidak sudi bertempur dengan kau."

Kembali pemuda itu meleng-gong, siapakah Nyo Hoa sebetulnya? Sungguh dia heran dan bingung serta kehabisan akal, katanya sesaat kemudian.

"Apa betul ucapanmu?"

"Ya, mati pun tidak akan menyesal,"

Jawab Nyo Hoa. Melotot bundar bola mata si pemuda, mendadak dia melompat maju dan "plak"

Dia gampar muka-Nyo Hoa dengan keras. Nyo Hoa ternyata diam saja tidak berkelit atau melawan. Pemuda itu mendengus, katanya.

"Kalau bukan karena kau pernah menolong jiwa Ho Thi-cu suami istri, bukan mustahil sudah kucabut jiwamu sejak tadi. Siapa suruh kau berani menghina dan merusak nama baik Beng tayhiap, aku hanya menggampar mukamu sebagai pemuas penasaran hatiku."

Kedatangan pemuda ini teramat cepat, perginya juga teramat mendadak. Gunung sunyi hutan lengang, tinggal Nyo Hoa berdiri menjublek seorang diri.

"Dari mana dia tahu aku pernah menolong Ho Thi-cu suami istri? Eh, ya, mungkin dia sudah bertemu mereka. Kalau Ho Thi-cu mau menceritakan hal itu kepadanya, pasti dia orang gagah dari laskar rakyat,"

Demikian batin Nyo Hoa. Tanpa merasa Nyo Hoa meraba pipinya yang barusan kena gampar, terasa panas dan pedas, mau tidak mau dia tertawa geli sendiri.

"Demi dendam pribadi aku mau membunuh pemimpin besar laskar rakyat, tidak heran kalau dia menampar mukaku, tapi bagaimana juga dendam pribadi ini tidak boleh tidak harus kutuntut. Beng Goan-cau terlalu rendah dan memalukan."

Kalau pikirannya sudah jernih, tetapi kesadarannya masih butek, pikirnya lebih lanjut.

"Pemuda itu menampar mukaku, siapa namanya aku tidak tahu, sungguh lucu. Tapi aku yakin dia pasti tahu, di mana Beng Goancau sekarang berada. Lalu bagaimana bila dia tahu? Dalam hatinya aku sudah dipandang sebagai sampah persilatan, apakah dia mau percaya dan sudi menerangkan kepadaku?"

Surya sudah doyong ke barat, hari sudah mulai gelap. Terasa capai lahir batin Nyo Hoa, pikirnya.

"Sekarang aku sudah sembahyang dan membersihkan pusara ibu, tercapailah keinginanku. Beng Goan-cau tidak berada di Siau-kim-j wan, aku pun harus meninggalkan tempat ini."

Setelah makan roti kering, dia memejamkan mata bersemadi, pikirnya setelah memulihkan tenaga dan semangat, akan segera pergi.

Sesuai ajaran Iwekang ciptaan Thio Tan-hong, dia duduk bersimpuh, memejamkan mata mengkonsen-trastkan pikiran, tanpa terasa dia sudah dalam keadaan lupa rasa lupa diri.

Entah berapa lamanya, sayup-sayup didengarnya suara orang.

Nyo Hoa tersentak sadar, ternyata sang puteri malam sudah bergantung di angkasa, hari sudah menjelang tengah malam.

Rembulan bundar besar laksana meja bundar terbuat dari kaca bening, cahayanya yang redup menyinari alam semesta, sekelilingnya hening lelap.

Nyo Hoa merasa heran, pikirnya.

"Jelas aku mendengar suara orang, mungkinkah telingaku salah dengar? Oh, ya, pasti pemuda itu penasaran kepadaku, diam-diam dia meluruk balik."

Tengah dia mereka-reka, dari perut gunung sana tiba-tiba didengarnya suara gemerisik di tengah belukar, Nyo Hoa mendekam di tanah mendengarkan, didengarnya seseorang berkata.

"Coantoako, hanya karena bocah kecil yang masih menyusu, sampai mengerahkan Si-ceng-si-to-ngo-koan, bukankah persoalan kecil dibesar-besarkan?"

Nyo Hoa lantas paham, bukan saja musuh telah datang, seluruhnya ada sembilan orang, malah bukan sembilan orang sembarangan.

Sudah sebulan lebih Nyo Hoa tinggal di Siau-kim-jwan, dia tahu Cui Po-san komandan tertinggi pasukan kerajaan Ceng yang berkuasa di Siau-kim-jwan sekarang punya anak buah yang diandalkan dengan julukan Si-ceng (Empat paderi), Si-to (Empat tosu) dan Ngo-koan (Lima berpangkat).

Si-ceng adalah paderi lama yang diundang dari Tibet, Si-to adalah murid-murid murtad dari Butong dan Khong-tong-pay sementara Ngo-koan adalah lima perwira Cui Po-san sendiri, yang mempunyai jabatan tinggi, dua di antaranya pernah menjabat kedudukan penting dalam barisan Gilim-kun.

Kejap lain, seseorang yang suaranya pernah dikenal berkata.

"Ma toako, jangan kau pandang eriteng bocah itu, usianya masih muda, tapi kungfunya lihay luar biasa. Melawan Miao Tiang-hong ternyata dia mampu bertanding sama kuat."

Orang yang bicara ini bukan lain adalah Coan Tay-hok.

Cukup lama mereka sembunyi di semaksemak, lalu maju sambil bicara berbisik-bisik.

Untung sejak kecil Nyo Hoa pernah meyakinkan "mendengar suara membedakan amgi", maka pembicaraan kedua orang ini dicuri dengar dengan jelas.

"Orang she Coan ternyata termasuk salah satu dari Ngo-koan,"

Demikian pikir Nyo Hoa.

"Apa betul?"

Perwira she Ma itu agaknya kurang percaya. Coan Tay-hok berkata.

"Aku saksikan sendiri, memangnya salah? Tapi di samping melabrak Miao Tiang-hong, dia pun membantunya memukul aku, aku jadi bingung, entah dia di pihak mana? Kemungkinan dia sehaluan dengan Miao Tiang-hong,"

Demikian ucap Coan Tay-hok. Orang she Ma berkata.

"Dulu Pakkiong Jongling mati di tangan Miao Tiang-hong, Miao Tiang-hong memang tidak boleh dipandang enteng, soal bocah itu...."

Nadanya sudah jelas dia tidak pandang sebelah mata kepada Nyo Hoa. Diam-diam Nyo Hoa berpikir.

"Gelagatnya Si-eeng-si-to-ngo-koan sudah dikerahkan seluruhnya, tujuannya jelas untuk menghadapi Miao Tiang-hong. Orang she Coan itu pernah kudepak sampai jungkir balik, tentu dia lebih membenciku daripada Miao Tianghong."

Agaknya perwira she Ma itu berpikir sejenak, baru berkata pula.

"Entah pernah apa bocah itu dengan Nyo Bok. Dia laporkan tempat persembunyian bocah itu, tapi dia sendiri tidak berani kemari. Malah dia mohon kepada kita supaya menangkap hidup-hidup, tidak melukai atau membunuhnya."

"Memangnya, malah Cui-tayjin sendiri yang memberikan janji kepadanya, baru dia mau membocorkan persembunyian bocah itu. Malah Cui-tayjin juga berjanji bila bocah itu sudah diringkus akan langsung diserahkan"kepadanya."

Karuan dongkol dan gemas serta benci hati Nyo Hoa.

Walau dia sudah tahu kalau ayahnya menjadi antek kerajaan, anjing alap-alap yang memusuhi kaum patriot, namun tak pernah terbayang dalam benaknya, kalau Nyo Bok sampai hati menjual puteranya sendiri.

Didengarnya orang she Ma sedang bertanya kepada Coan Tayhok.

"Kau tahu apa sebenarnya?"

"Tidak tahu. Ah, tidak... ya, aku menemukan hubungannya."

"Hubungan apa?"

"Bukankah bocah itu juga she Nyo?"

Orang she Ma menepuk paha seperti mengerti, katanya.

"O, jadi kau curiga bahwa bocah itu mungkin famili atau keponakan Nyo Bok?"

"Kalau dugaan kita betul, lalu bagaimana kita bertindak?"

Tanya Coan Tay-hok.

"Kau adalah teman karibnya, bagaimana menurut pendapatamu?"

"Hubunganku denganNyo Bok memang intim, tapi persoalan pribadi harus di belakang tugas. Kungfu bocah itu amat tangguh, menurut hematku bila tak bisa meringkusnya hidup-hidup, terpaksa dibunuh saja."

Mendidih darah Nyo Hoa, tak tahan segera dia berjingkrak berdiri seraya membentak.

"Aku ada di sini, kemarilah kalian!"

Dari empat penjuru segera terdengar siulan dan sempritan, dari berbagai jurusan tampak bayangan orang bergerak, dari timur muncul empat paderi asiag berkasa merah dengan senjata tongkat besi berge-lang sembilan.

Dari selatan muncul empat tosu bersenjata pedang, dari barat mendatangi tiga perwira, tangan mereka memegang senjata, sementara Coa Tay-hok dan perwira she Ma itu berada di utara.

Si-ceng, Si-to dan Ngo-koan mengepung dari empat penjuru, maka Nyo Hoa terkepung dalam lingkaran mereka.

Orang she Ma bergelak tertawa, serunya.

"Dugaan Nyo Bok memang tidak meleset, bocah busuk ini ternyata masih di sini, sayang hanya dia seorang."

Seorang perwira lain membentak.

"Bocah, kalau ingin hidup lekas bicara terus terang, di mana Miao Tiang-hong?"

Orang ini pemimpin dari Ngo-koan, bernama Ting Tiong-ai, seperti juga Coan Tay-hok, dulu pernah bertugas di dalam pasukan Gi-lim-kun. Nyo Hoa naik pitam, bentaknya.

"Membunuh ayam kenapa meski pakai golok? Kalian ini yang disebut Si-ceng, Si-to dan Ngo-koan boleh maju bersama!"

Seorang tosu berjenggot panjang berkata dengan tertawa.

"Tidak dangkal pengetahuan bocah ini, ternyata tahu kebesaran nama Siceng, Si-to, Ngo-koan."

Tosu ini adalah tertua dari Si-to, bergelar Gun-goan-cu, semula adalah murid kesayangan ciangbunjin Butong-pay Lui-tin-cu, belakangan karena bergaul dengan kawankawan yang kemaruk harta dan gila pangkat, dia pun menerima undangan Cui Po-san untuk menjadi pembantunya Seorang Lama gemuk bertanya kepada Gun-goan-cu dengan bahasa Tibet.

"Apa yang dikatakan bocah ini?"

Lama gemuk ini adalah ketua empat paderi, gelarnya Thian-thay Siangjin.

Sebetulnya dia pun mahir berbahasa Han, tapi Nyo Hoa bicara terlalu cepat, dia tidak mendengar jelas.

Gun-goan-cu tergelak-gelak, katanya perlahan.

"Mungkin bocah ini kira kepandaiannya nomor satu di dunia, seorang diri dia menantang kita bersembilan."

Thian-thay Siangjin ingin angkat nama di Tionggoan, paling pantang diremehkan oleh orang Han.

Secara berkelakar pula Gungoan-cu menjelaskan, karuan Thian-thay Siangjin naik pitam, wajahnya membesi hijau.

Nyo Hoa mendengus, sepatah demi sepatah berkata.

"Menghadapi kalian kawanan keledai gundul, hidung kerbau dan perwira anjing, memangnya harus memiliki kungfu nomor satu? Bocah keroco yang masih hijau seperti diriku ini pun sudah lebih dari cukup untuk menghajar kalian."

Sudah tentu olok-olok Nyo Hoa membakar amarah musuh, Thianthay Siangjin paling tidak tahan, bentaknya.

"Bocah keparat, ingin mampus bukan soal sulit, biar hud-ya mengantarmu ke dunia barat"

Lalu dia menoleh dan berkata kepada Gun-goan-cu.

"Biar bocah ini tahu kelihayan kungfu aliran Tibet kami, jangan kalian ikut turun tangan."

Tiga Lama yang lain khawatir bocah busuk ini betul-betul memiliki kelebihan, sambil menjinjing tongkat sembilan gelang mereka maju bersama berdiri di pinggir gelanggang, bila perlu siap membantu Thian-thay Siangjin.

Si-to dan Ngo-koan memang ingin tahu betapa lihay bocah yang menurut cerita Coan Tay-hok mampu menandingi Miao Tiang-hong, syukur Si-ceng tampil lebih dulu.

Nyo Hoa tertawa, katanya.

"Aku pun bisa membaca mantra kehidupan, hwesio gede tak usah khawatir, akan kupanjatkan doa untukmu supaya arwahmu diterima di alam baka."

Diam-diam dia kerahkan tenaga mumi, pedang bergerak dari bawah ke belakang naik terus membacok turun seperti gerakan golok.

"Trang"

Kembang api berpijar.

Tongkat besar Thian-thay Siangjin gumpil sedikit, sementara telapak tangan Nyo Hoa linu kesemutan.

Keduanya terkejut, Thian-thay Siangjin lantas tahu bahwa bocah ini memang luar biasa.

Nyo Hoa juga tahu taraf lwekang lawan tidak di bawah dirinya.

Pikirnya.

"Untuk mengalahkan hanya boleh menggunakan akal, pakai kekerasan hanya merugikan."

Otak berpikir, akal pun dilakukan, langkahnya mendadak gentayangan gerakannya seperti hendak menubruk jatuh ke arah Thian-thay Siangjin.

Thian-thay Siangjin terlalu pongah, walau tahu Nyo Hoa lihay, pengalaman tempur jelas masih dangkal, dia kira Nyo Hoa terkena akibat dari getaran tenaga dalamnya, karuan hatinya girang, mumpung Nyo Hoa belum berdiri tegak, tongkat sebesar mulut mangkok itu langsung memukul batok kepala Nyo Hoa.

Sebat sekali, mendadak Nyo Hoa bergerak dengan H ong-pweho-hoa (Angin menghembus kembang teratai) menyelinap ke dalam pelukan Thian-thay Siangjin malah.

Begitu tongkat memukul tempat kosong, ujung tongkatnya memukul bumi.

"Blum".

"Cret"

Kasa merah yang dipakainya itu telah sobek tertusuk oleh pedang Nyo Hoa.

Perlu diketahui Thian-thay Siangjin meyakinkan 1 wekang Miciongdari Tibet, Lwe-kang itu mempunyai ketahanan yang kokoh, waktu pedang Nyo Hoa menusuk badannya, serta merta kasa lebarnya itu menggembung laksana layar yang tertiup angin, sehingga tusukan Nyo Hoa menjadi sirna kekuatannya.

Ilmu ini mirip dengan Can-ih-cap-pwe-tiat dari ajaran Siau-lim-pay.

Tusukan pedang Nyo Hoa tidak mampu melukainya, hanya menusuk bolong kasanya saja, hatinya pun heran.

Tiga Lama yang menyaksikan di luar kalangan juga terperanjat, serempak mereka membentak terus angkat tongkat gelangnya, dari tiga jurusan memukul kepala Nyo Hoa.

Duapuluh tujuh gelang baja serempak gemerincing, suaranya yang keras memekakkan telinga.

Ternyata gelang-gelang baja di atas tongkat para paderi Tibet ini juga merupakan senjata, bila gelang diguncang akan mengeluarkan irama suara yang dapat menggetarkan nyali dan membuat kalut pikiran lawan, sukmanya seperti disedot.

"Irama setan apa ini?"

Sentak Nyo Hoa.

Sambil bersiul keras, tubuhnya mendadak melejit ke udara.

Gerakan tongkat gelang ketiga Lama ternyata rapat ketat, serangan dan penjagaan ternyata bergerak dengan serasi, perhatiannya berlapis-lapis.

Nyo Hoa tahu bila dirinya sampai terkepung mereka, dalam limapu-luhan jurus jelas dirinya takkan bisa menang.

Apalagi masih ada Si-to dan Ngokoan yang mengawasi gerak-geriknya, semakin lama pertempuran berlangsung semakin tidak menguntungkan dirinya.

Karena itu dia merasa perlu melancarkan serangan mematikan dengan tipu-tipu Iihay, dari tengah udara "Sret"

Pedangnya menusuk ke arah Lama di sebelah kiri.. Lama itu angkat tongkatnya menangkis, di tengah udara Nyo Hoa gunakan gerakan Burung Dara Jumpalitan, tenaga dalam dicurahkan di ujung pedang.

"Plak plok"

Dua kali tendangan secepat kilat, Lama di sebelah kanan dan tengah tidak menduga lawan menendang setangkas ini, mau menangkis dengan tongkat sudah tidak keburu, hingga mereka tertendang secara telak, mereka mengeluarkan raungan keras seperti lembu digorok lehernya, keduanya terpental jauh menggelinding di tanah.

Lebih celaka lagi Lama di sebelah kiri, begitu tongkatnya menangkis pedang, tenaga raksasa tiba-tiba tersalur lewat tongkatnya menerjang lengannya, Ki-ti-hiat seketika linu.

"Trang"

Tongkat gelang bajanya jatuh berkerontang di tanah, dua jari tangan kanannya terpapas putus oleh pedang Nyo Hoa.

Thian-thay Siangjin meraung bagai geledek terus menerkam nekad, baru saja dia hendak mencabut tongkatnya yang amblas di tanah, Nyo Hoa pun baru saja memapas dua jari Lama sebelah kiri.

Kaki hinggap di tanah, sebat seperti angin lesus, di mana sinar pedangnya memanjang bagai rantai, pergelang-an tangan sendiri terancam oleh tabasan pula, untung Thian-thay Siangjin sempat menarik tangan, kalau tidak luka-lukanya pasti lebih parah.

Di tengah jeritan kaget orang banyak, Thian-thay Siangjin menggertak, kedua lengan kasa merah besar yang dipakainya segera ditanggalkan sekali kebut seperti segumpal mega dengan suaranya yang mendesir berputar kencang.

Dalam sekejap terdengarlah rentetan suara aneh, ternyata kasa merahnya itu sudah bolong-bolong seperti sarang tawon, jelas kasanya tidak bisa dipakai lagi, terpaksa dia mengundurkan diri.

Bahwa lawan mampu menahan serangan pedangnya dengan kasa lebar itu dengan akibat bolong-bolong saja, mau tidak mau Nyo Hoa memuji kehebatan Iwekang lawan, maka dia pun tidak melabraknya lagi meski mumpung menang.

Sekali gebrak Nyo Hoa berhasil meruntuhkan perlawanan Siceng, karuan Si-to-dan Ngo-koan yang menonton di luar kalangan tersirap kaget Gun-goan-cu memuji.

"Ilmu pedang bagus. Marilah kita bertanding."

Pedang panjang dilolos mengeluarkan dengung suara yang keras, jelas lwekang-nya sudah sempurna. Beberapa kali dia menggerakkan pedangnya hingga mencipta-kan beberapa kuntum sinar pedang, lalu berkata.

"Kami Bu-tong dan Khong-tong empat sekawan, maju bersama mundur berbareng, jangan kau kira kami mengeroyokmu."

"Jangan cerewet, lihat pedang!"

Bentak Nyo Hoa Gun-goan-cu adalah ahli pedang ternama, begitu melihat Nyo Hoa melancarkan jurus Hoan-ciau-hoat-sa (Burung sakti menggaris pasir) dalam hati dia heran.

"Permainan pedang yang umum dan biasa, kenapa bisa dimainkan seketat dan sebagus ini"

Pada detikdetik bentrokan senjata ini, sudah tentu tak sempat dia menerawang keadaan dan menyelami permainan lawan.

Lekas pedangnya menggaris bundar melancarkan jurus Hong-kim-liu-sa (Angin menggulung pasir bergerak), inilah ilmu pedang Bu-tong-pay yang khusus untuk mematahkan jurus Hian-ciau-hoat-sa itu.

Tak nyana jurus pedang Nyo Hoa itu hanya gayanya saja yang kelihatan seperti Hian-ciau-hoat-sa, mendadak ujung pedangnya menye-lonong miring ke atas, menusuk dari"

Posisi yang tak terduga oleh Gun-goan-cu, Gun-goan-cu betul-betul kaget, teriaknya tersirap.

"Ilmu pedang apa ini?"

Untung kiamsut-nya sudah mencapai taraf yang dapat dikendalikan sesuka hati, reflek pedang ditarik untuk melindungi badan, terus diubah gerakan Heng-kangcoat-to (Muat arak sungai melintang).

Pedang Nyo Hoa berkelebat, secuil lengan bajunya tertabas hancur.

Merah padam muka Gun-goan-cu, katanya.

"Orang gagah memang tumbuh dari generasi muda, kagum, kagum, siapakah gurumu?"

Maklum Gun-goan-cu adalah tokoh ternama dari generasi kedua, tingkat dan kedudukannya cukup tinggi, setelah dikalahkan sejurus, terpaksa dia harus basa-basi untuk menjaga pamor, menunjukkan kebesaran jiwa mempertahankan gengsi.

Nyo Hoa bergeiak tawa, katanya.

"Siapa suhu-ku tidak boleh dikatakan, kalau kukatakan pasti pecah nyali kalian."

Gun-goan-cu mendengus, jengeknya.

"Paling ciangbunjin dari perguruan mana. Tahukah kau, para ciangbunjin dari perguruan besar, ilmu pedang tingkatannya juga sejajar dengan aku."

Nyo Hoa tertawa pula, katanya.

"Apa betul kau ingin aku mengatakan? Baiklah, terus terang kukatakan kepadamu, guruku adalah Thio Tan-hong, Thio tayhiap yang di jaman sekarang sedikitnya lebih tinggi sepuluh duapuluh tingkat, ilmu pedang yang kumainkan tadi adalah warisan beliau, namanya Bu-beng-kiamhoat."

Nyo Hoa menerangkan sejujurnya, G un-Goan-cu justru anggap dia meledek dan mempermainkan dirinya, bentaknya gusar.

"Bocah keparat, berani kau mempermainkan aku!"

Sekali tangannya bergerak, empat tosu maju bersama menggencet dari dua arah.

"Nah, begini betul. Majulah bersama supaya menghemat tenagaku,"

Ucap Nyo Hoa tertawa.

Di tengah gelak tawanya dia mulai bergerak dengan jurus Meh-jan-pat-hong (Perang malam di delapan penjuru), sinar pedangnya bergumpal-gumpal menerjang ke empat penjuru.

Ternyata kali ini Gun-goan-cu sudah mempersiapkan diri, berdiri berjajar adu pundak dengan sang sute, sepasang pedang bersilang, gerak pedang mereka rapat dan serasi, berbeda dengan gabungan ilmu pedang umumnya.

Serangan pedang Nyo Hoa ternyata tidak mampu menembus pertahanan mereka.

Dua jago pedang dari Khong-tong-pay lagi ternyata bertarung secara gerilya mengelilingi arena, permainan pedang enteng, mengambang dan bolak-balik secara aneh.

Tidak sukar Nyo Hoa mengalahkan kedua orang ini, tapi Gun-goan-cu bersama sutenya ternyata lebih sulit dilawan.

Bila bertahan rapat, balas menyerang secara gencar dan lihay, Nyo Hoa tak mampu mematahkan permainan mereka.

Teng Tiong-ai pimpinan Ngo-koan berseru sambil bertepuk tangan.

"Kiu-kiong-pat-kwa-kiam-hoat dari Bu-tong-pay memang tangguh dan kokoh, hari ini betul-betul terbuka mata kami.*1 Mendengar pujian orang, seketika Nyo Hoa sadar maka terbayang olehnya waktu sam-suhu Tan Khu-seng membicarakan ilmu pedang empat aliran besar di Tionggoan, masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Bicara soal ketahanan yang kokoh dan rumit, Bu-tong-kiam-hoat terhitung paling tangguh, terutama Kiu-kiong-pat-kwa-kiam-hoat-nya bila permainan sudah dikembangkan, disiram air pun takkan tembus, begitu tangguhnya sehingga sukar dipatahkan atau dipecahkan. Sesuai Kiu-kiong-patkwa-tin, barisan ilmu pedang ini seharusnya dimainkan oleh sembilan orang. Belakangan ciangbunjin Bu-tong Lui-tin-cu bersama sute-nya Ui-ciok Tojin memperdalam ilmu ini secara tekun, hasilnya memang amat memuaskan. Setiap murid Bu-tong yang memiliki kepandaian dalam taraf tertentu, hanya dengan dua orang sudah cukup mampu mengembangkan barisan ilmu pedang yang lihay ini. Nyo Hoa berpikir.

"Kedua tosu bangsat ini ternyata mampu mengembangkan barisan ilmu pedang Bu-tong-pay. Untuk memecahkan barisan ini aku perlu meneliti dan menyelaminya lebih dulu."

Padahal Nyo Hoa sudah mampu memahami teori dasar ilmu pedang tingkat tinggi, Bu-beng-kiam-hoat pun dapat dimainkan secara terbuka, sering pula secara reflek dia berhasil mencip-takan jurus-jurus baru malah.

Namun barisan pedang yang dilancarkan Gun-goan-cu bersama sute-nya ini, memang betul-betul tangguh dan tiada titik kelemahannya, apalagi mereka dibantu kedua jago pedang Khong-tong-pay sehingga perbawa barisan pedang mereka bertambah ampuh dan berkembang lebih menyeluruh.

Untuk mempertahankan diri supaya tidak terkalahkan saja, Nyo Hoa merasa sukar, bagaimana dia dapat menghancurkan barisan pedang ini?

Beberapa jurus kemudian Nyo Hoa selalu terancam bahaya, hatinya risau pikiran gundah.

Kembali pedang salah seorang tosu Khong-tong-pay hampir menusuk perutnya, untung dia sempat berkelit, pedang lawan hampir menyerempet kulitnya.

Gun Goan-cu membentak.

"Anak bagus, mengingat kiamsut-mu sudah kau yakinkan setaraf ini, lekaslah kau menyerah saja, aku ampuni jiwamu."

"Kentut busuki"

Hardik Nyo Hoa. Pedang terangkat mematahkan pedang panjang Gun-goan-cu, mendadak dia teringat "Kenapa aku melupakan petuah di mata ada musuh dalam hati tiada musuh?"

Segera dia tabahkan hati bertahan lagi beberapa jurus. Sementara benaknya memikirkan pula Hian-kang-pwe-coat ajaran Thio Tanhong yang mengatakan.

"Jangan menanti musuh menang baru mengejar kemenangan itulah ajaran kungfu taraf tinggi."

Seketika otaknya seperti makin encer, saking senang hampir dia berteriak gembira, batinnya.

"Benar, pertahanannya memang kokoh tiada kelemahan, lalu dengan cara apa baru berhasil menciptakan kelemahan musuh?"

Setelah berpikir pulang pergi, akhirnya Nyo Hoa memutuskan untuk menggunakan Beng-keh-to-hoat yang akan dikembangkan dengan permainan pedang.

"Tapi pantaskah aku menggunakan ilmu golok dari musuh?"

Sedikit lena.

"Creet"

Pedang panjang Gun-goancu tiba-tiba menusuk tiba, pakaian Nyo Hoa tertusuk bolong, hampir saja badannya terluka. Akhirnya Nyo Hoa kertak gigi, pikirnya.

"Walau Beng Goan-cau itu seorang hina dina, itu kan menyangkut pribadinya yang kotor, dinilai secara obyektif, betapapun dia adalah seorang pejuang yang perkasa menentang penjajah. Kenapa tidak boleh aku menggunakan ilmu pedang keluarganya untuk mengganyang cakar alap-alap dari keraja-anCeng?"

Hati memutuskan, pedang pun segera bergerak melancarkan serangan kilat Ganas, cepat dan tangkas.

Di saat musuh menusukkan pedangnya, Nyo Hoa justru balas menyerang tujuh jurus.

Tapi Kdu-kiong-pat-kwa-kiam-hoat yang dimainkan Gungoan-cu bersama sute-nya memang teramat rapat, dalam waktu cepat jelas Nyo Hoa masih harus berusaha keras untuk dapat memecahkan barisan ini.

Tapi kedua tosu Khong-tong-pay itu sudah berani terlalu dekat dan merang-sak lagi.

i Makin bertempur makin cepat, sampai akhirnya Nyo Hoa memberondong dengan segala gerakan apa saja yang bisa dilontarkan secara reflek hingga dia sendiri tidak bisa menyebutkan jurus apa yang pernah"

Dilancarkan barusan.

Maklum dia menggunakan Bu-beng-kiam-hoat dikombinasikan dengan Bengkeh-to-hoat yang mengutamakan gerak cepat, bukan saja tiada jurus permainan tertentu, badan pun tidak perlu berlompatan main sergap segala, tanpa perubahan atau variasi lagi, serangan demi serangan makin cepat, terdengarlah suara "trang tring"

Yang ramai dari benturan l logam keras sampai puluhan kali.

Begitu pedang kilat dilancarkan, gerakan Nyo Hoa ternyata makin lancar dan leluasa, selama dia meyakinkan ilmu belum pernah kejadian ini dialaminya.

Maklum dia sudah memahami dan mencangkok ilmu tingkat tinggi, di dalam sanubarinya, semakin tangguh lawannya semakin hebat pula reaksi yang dia tampilkan, hingga kelihatan betapa aneh dan mendalam bekal yang dimilikinya.

Begitu cepatnya dia menggempur keempat musuhnya sehingga bayangan tubuhnya seperti dibungkus oleh berkelebatnya sinar pedang.

Di kala bertempur itulah, kelihatan dia melancarkan suatu jurus serangan secara enteng namun membawa pertahanan yang kokoh tak terpatahkan.

Kelihatannya tidak terjaga, namun pertahanan itu sekokoh benteng.

Gun-goan-cu berempat makin silau oleh sinar pedang yang berkelebat, ujung pedang Nyo Hoa seolah-olah selalu mengancam di depan mukanya.

Permainan Bubeng-kiam-hoat Nyo Hoa ternyata membikin keempat lawannya kebingungan dan kerepotan pula, dianggapnya setiap jurus permainan pedangnya khusus mengincar diri sendiri.

Mendadak Nyo Hoa membentak, gerakan Ciang-to-sek dari jurus Meh-jan-pat-hong ilmu Beng-keh-to-hoat dia lebur dalam permainan pedang, dengan tumit kaki kanan sebagai poros, secepat kilat badannya berputar satu lingkar.

Hanya sekali putaran saja, ujung pedangnya sempat menotok sekali ke arah empat musuhnya di empat penjuru, yang diincar kalau bukan tenggorokan pasti batok kepala dan tempattempat berbahaya lain di tubuh lawan.

Satu jurus serangan sekaligus mengancam jiwa empat musuh, maka dapat dibayangkan betapa cepatnya.

Sesuai dugaan Nyo Hoa, Bu-tong-kiam-hoat yang sebetulnya tangguh dan tiada kelemahannya itu setelah dicecar dengan pedang kilatnya, dipaksa menunjukkan kelemahannya sendiri.

Menyusul Nyo Hoa membentak.

"Kena!"

Cret, pedangnya berhasil menusuk luka sute Gun-goan-cu, ujung pedang menggores di pergelangan tangan hingga pedang panjang di tangannya jatuh berkerontangan.

Lekas Gun-goan-cu melintangkan pedangnya menutup bagian depan menjaga serangan Nyo Hoa selanjutnya.

Nyo Hoa tahu kepandaian Gun-goan-cu paling tinggi, maka dia tidak ingin bertempur terlalu lama.

sana capung menutul air terus melayang pergi, lapi jurus pedang yang enteng dimainkan seenaknya ini, dalam pandangan Gun-goan-cu justru merupakan serangan mematikan yang-lihay.

Untuk melindungi jiwa sendiri Gungoan-cu sudah kerepotan, mana sempat dia balas menyerang?

Sementara itu kedua tosu Khong-tong-pay itu menyerang dari dua sayap kanan kiri secara licik, dengan gerakan pedang ganas.

Di luar dugaan, gerakan Nyo Hoa secepat kilat, baru saja dia berkelebat dari samping Gun-goan-cu, di mana pedangnya berputar, pedang panjang tosu sebelah kiri ternyata telah ditindih-nya.

Tenaga disalurkan di ujung pedang dan sekali pelintir, pedang panjang tosu itu tanpa kuasa ikut berputar.

"Trang"

Pedang panjang musuh seketika mencelat terbang ke udara dan secara kebetulan membentur pedang tosu sebelah kanan yang menusuk tiba, dua pedang jatuh bersama.

Seorang diri mana mampu Gun-goan-cu melawan, terpaksa dia pun mengundurkan diri.

Teng Tiong-ai ketua Ngo-koan membentak.

"Bocah bagus, jangan takabur, biar aku mencoba kau."

Senjatanya adalah"sepasang boan-koan-pit, panjangnya hanya dua kaki empat dim, jadi lebih pendek dari boan-koan-pit umumnya.

Bagi kaum persilatan ada pemeo yang bilang "satu dim lebih pendek, satu dim lebih bahaya", bahwa orang yang satu ini mampu menggunakan boan-koan-pit yang jauh lebih pendek, maka dapatlah dimengerti bahwa dia seorang jago lihay yang ahli dalam ilmu totok.

Sebelum Ceng-kong-kiam Nyo Hoa menabas ujung potlot lawan, Teng Tiong-ai sudah merunduk balik menggeser langkah, berbareng potlot di tangan kiri mendadak me-nyelonong keluar menotok Jiankin-hiat di pundak Nyo Hoa.

Gebrak ini kedua pihak sama menyerang, sungguh lihay dan berbahaya.

Cuma gerak pedang Nyo Hoa lebih cepat sedikit, sebetulnya dia bisa menusuk lawan lebih dulu, namun situasi di depan mata justru tidak menguntungkan Nyo Hoa.

Maklum saat itu Nyo Hoa seorang diri harus menghadapi keroyokan lima lawan, dua orang perwira telah menyerang pula dari arah lain.

Tiam-hiat-jiu-hoat yang dilancarkan Teng Tiong-ai ternyata telak dan ganas, walau gerak pedang sedikit lebih cepat, terpautnya juga hanya dua rambut, umpama lawan berhasil ditusuknya roboh, Jian-kin-hiat sendiri juga mungkin berlubang oleh potlot lawan.

Yang diperebutkan dalam pertempuran jago-jago kosen hanyalah kesempatan sedetik.

Di bawah keroyokan lima musuhnya, sudah tentu Nyo Hoa tidak mau gugur bersama.

Dalam detik-detik yang berbahaya itu Nyo Hoa menyerong badan sehingga bacokan golok Coan Tay-hok mengenai tempat kosong.

Di kala tubuhnya miring itulah kakinya melangkah dengan Cui-pat-sian, berbareng tangan kiri diulur menyangga siku Teng Tiong-ai, menghindar serangan, menggempur kekosongan lawan sekaligus dia punahkan totokan lihay Teng Tiong-ai.

Kejadian berlangsung amat cepat, sementara itu Nyo Hoa sudah menyelinap keluar, lolos dari rang-sakan golok baja, kecer tembaga dan potlot besi, dengan badan berputar dia memapak dua perwira lain yang sedang merunduk dari belakang dengan serangan mematikan.

Kedua perwira ini bersenjata Sam-goat-gun, tongkat tiga ruas yang terikat rantai.

Seorang lagi bertangan kosong.

Tujuan Nyo Hoa, selekasnya mengakhiri pertempuran maka dia memilih menggempur serta merobohkan lawan yang terlemah.

Pedangnya turun naik, sepasang tangan perwira bertangan kosong itu dibabatnya.

Strategi perangnya memang betul, sayang analisanya keliru.

Bahwa perwira ini hanya bertangan kosong berani melawan permainan pedangnya yang lihay, sepantasnya dapat dia sadari bukan lagi "titik terlemah"

Dari kelima musuhnya, sebaliknya adalah jago kosen yang hanya setingkat di bawah Teng Tiong-ai, kemahirannya adalah Tay-kim-na-jiu-hoat yang memiliki tujuhpuluh dua jalan, reaksinya cepat gerak-gerik pun cekatan.

Tabasan pedang Nyo Hoa menggunakan jurus Tok-pi-hoa-san, gayanya bagus tenaganya kuat, sayang kebagusannya itu kurang sempurna karena jurus ini sepantasnya dilancarkan dengan sebatang golok, sekarang dia justru menggunakan pedang sehingga gerakannya kurang mantap dan terlalu enteng.

Di sinilah terbukti bahwa Nyo Hoa memang masih kurang pengalaman di dalam menilai para musuhnya.

Di saat pedang hampir menabas tangan musuh, gerak perubahan lawan ternyata lebih cepat dari bacokan Nyo Hoa, dengan ujung jarinya ternyata dia berhasil menjepit ujung pedang Nyo Hoa.

Melihat temannya berhasil, perwira yang lain amat girang, tongkat tiga ruas di tangannya kontan dipukulkan ke batok kepala Nyo Hoa.

Tapi perwira ini terlalu cepat merasa senang, Nyo Hoa sudah memahami intisari ilmu silat tingkat tinggi, tahu cara bagaimana bereaksi dan berubah sesuai kondisi dan situasi, meski mendadak menghadapi bahaya, secara reflek dia sudah mengubah gerakan, gerak perubahannya ini pun jauh lebih cepat dan aneh pula dari Kim-na-jiu si perwira.

Tampak sinar putih berkelebat, mendadak Nyo Hoa membuang pedangnya.

Lwekang orang itu masih lebih rendah dibanding Nyo Hoa, sudah tentu tak kuat menyambut gentakan tenaganya, terpaksa dia pun melepas tenaga.

Saat itulah kedua telapak tangan Nyo Hoa sudah menggempur.

"Biang"

Dadanya terpukul telak.

Perwira itu muntah darah dan roboh pingsan.

* Sebat sekali Nyo Hoa melejit menyambar pedangnya yang melayang jatuh, sebelum berdiri di tengah udara tubuhnya bersalto, sekalian pedangnya membacok.

Perwira yang saru tidak mempunyai kemampuan merampas senjata lawan dengan tangan kosong, tongkat tiga ruasnya itu tahu-tahu terbacok putus di tengahnya, begitu meluncur turun dan disodok ke depan pula, ujung pedangnya menusuk ke dadanya.

Gebrakan cepat berlangsung singkat ini sekaligus telah merobohkan dua musuh, namun Teng Ti ong-ai masih tidak kapok, bersama dua rekannya dia mengejar serta mengepung dalam bentuk segi tiga.

Setelah dua musuh dirobohkan permainan pedang Nyo Hoa lebih lancar lagi.

"Sret"

Ke kiri dia menusuk Coan Tay-hok, ke kanan dia menahas perwira she Ma. Coan Tay-hok sudah jeri terhadapnya, bergegas dia melompat mundur. Karuan Teng Tiong-ai memaki dalam hati,"

"Goblok, penakut!"

Lekas kedua tangan terangkat mengetuk sepasang potlot lalu menubruk dengan serangan Hcngka-kim-lian (Menyangga belandar emas melintang) sekaligus menangkis pedang Nyo Hoa.

Berbareng perwira she Ma mengayun kecer tembaga menggempur punggung.

Sebelum kecer tembaga itu berhasil melukai Nyo Hoa, mendadak Nyo Hoa jatuh sendiri di tanah.

Karuan perwira itu melongo keheranan.

Baca Juga: Raja Naga Tujuh Bintang 3

Baca Juga: Hikmah Pedang Hijau 12

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger