Eps 3 Anak Pendekar - Liang Ie Shen
Baca online Anak Pendekar - Liang Ie Shen
Cersil Anak Pendekar - Liang Ie Shen.
Karena serangan sepasang potlot besinya luput, Teng Tiong-ai angkat kakinya mau menginjak tubuh Nyo Hoa, pada saat itulah Coan Tay-hok menjerit sekeras-kerasnya, kedua kakinya tertabas buntung oleh pedang Nyo Hoa yang menggelundung di tanah.
Kali ini Nyo Hoa menggunakan Te-tong-to dari permainan golok keluarga Beng.
Seperti diketahui, Coan Tay-hok ada intrik dengan Nyo Bok, Nyo Hoa juga amat membencinya, setelah membabat buntung kedua kaki orang baru terlampias rasa dendam dan penasarannya.
Sebat sekali Nyo Hoa sudah melenting berdiri, seiring dengan gerak tubuhnya itu, pedangnya membalik dengan tusukan, bentaknya.
"Kau bersahabat baik dengan orang she Coan, pergilah temani dia"
Karuan terbang sukma perwira she Ma, dia kira Nyo Hoa juga akan menabas buntung kedua kakinya, segera dia angkat langkah seribu.
Tapi kecepatan larinya ternyata kalah cepat dari gerak pedang Nyo Hoa, di mana sinar putih menyambar, seketika mulutnya menjerit, ternyata sebelah lengannya telah dita-bas buntung oleh Nyo Hoa Lima perwira, dua mati dua luka parah, hanya Teng Tiong-ai saja yang masih segar bugar.
Kekalahan yang diderita Ngo-koan ternyata jauh lebih mengenaskan dibandingkan Si-ceng dan Si-to.
Sudah tentu kaget dan gusar Teng Tiong-ai bukan kepalang, bentaknya.
"Hayo maju semua, bocah ini berani melawan hukum, kenapa kita mematuhi aturan Kangouw segala?"
Nyo Hoa bergelak tawa, serunya.
"Bukankah sejak permulaan sudah kuanjurkan kalian maju bersama, siapa suruh kalian tidak mau menerima anjuranku?"
Meski semangat juang tetap menyala, namun seorang menghadapi sekian banyak musuh tangguh, betapapun susah dilayani.
Ngo-koan tinggal seorang, tapi Si-ceng dan Si-to jumlahnya masih sembilan orang.
Thian-thay Siangjin dari Si-ceng, Gun-goan-cu dari Si to dan Teng Tiong-ai dari Ngo-koan dibanding kepandaian pribadi masingmasing, satu lawan satu kemungkinan masih bukan tandingan Nyo Hoa, tapi terpautnya juga tidak banyak.
Untuk menghadapi keroyokan mereka bertiga, Nyo Hoa sudah pasti kewalahan, apalagi masih ada enam lagi yang membantu, kepandaian mereka juga tidak lemah.
Lebih menguatir-kan lagi karena Gun-goan-cu dan sute-nya masih mampu mengembangkan barisan pedang yang tangguh.
Sekaligus harus menghadapi musuh tangguh sebanyak ini, mana mampu Nyo Hoa melawan dengan santai seperti tadi?
Dalam sekejap Nyo Hoa sudah dikepung sembilan musuh.
Sembilan orang tiga lapis kepungan, membuat Nyo Hoa tidak mampu menyelinap keluar.
Lapisan dalam terdiri Teng Tiong-ai bersama Gun-goan-cu dan sute-nya, ketiganya ini dapat kerja sama dengan rapi dan serasi, serang menyerang sambil bertahan amat ketat.
Thian-thay Siangjin bersama dua paderi Tibet memainkan tongkat sembilan gelang mereka membuat lingkaran angin kencang, bersiaga menyambut musuh yang coba menerjang keluar.
Sementara lapis terakhir di paling luar adalah dua jago pedang Khong-tong-pay dan seorang paderi Tibet Terkepung di tengah arena, terasa oleh Nyo Hoa tenaganya makin lemah.
Untung Teng Tiong-ai beramai agak jeri menghadapi permainan ilmu pedangnya yang menakjubkan, mereka kira kemenangan sudah pasti di pihak mereka, maka tak perlu menyerempet bahaya, karena serangan lawan tidak gencar sejauh ini Nyo Hoa masih mampu bertahan, padahal para pengeroyoknya sudah berkesimpulan, bila berlangsung lama, tenaga Nyo Hoa akan terkuras habis, dalam keadaan lunglai bukankah segampang membekuk itik, menawannya hidup-hidup.
Tengah Nyo Hoa terdesak, mendadak Teng Tiong-ai membentak.
"Siapa? Berdiri di luar!"
Sekilas Nyo Hoa sempat melirik ke sana, tampak bayangan seorang meluncur cepat sekali, yang datang ternyata adalah pemuda cakap yang menampar pipinya.
Sukar Teng Tiong-ai menebak maksud kedatangan orang, namun melihat dia masih muda, lega hatinya, pikirnya.
"Mungkinkah dia perwira muda yang baru datang dari markas besar, kebetulan hari ini bertugas ke desa mengadakan inspeksi?"
Memang setiap hari markas besar pasukan kerajaan yang menduduki Siau-kim-jwan pasti mengutus beberapa barisan ronda mengadakan penggrebekan ke desa-desa sekitarnya mengejar sisa-sisa pemberontak yang masih bersembunyi.
Di antara sekian banyak petugas mata-mata yang dikirim ke desa-desa itu tidak sedikit perwira-perwira muda usia yang berkedudukan agak rendah, sudah tentu mereka berpakaian preman.
Teng Tiong-ai menduga musuh takkan berani datang seorang diri menolong Nyo Hoa, tapi umpama benar pemuda ini seorang perwira muda, kepandaiannya juga terbatas, tak perlu dia maju membantu, maka dia membentaknya suruh berhenti.
Nyo Hoa tahu kepandaian pemuda ini tinggi tapi dia pun tak tahu asal-usulnya.
Pikirnya.
"Dia sudah tahu Beng Goan-cau adalah musuhku, tadi juga dia sudah menampar aku, jelas dia tidak akan membantu aku. Paling juga berpeluk tangan menonton di luar arena, supaya aku saling labrak dengan kawanan cakar alap-alap ini hingga gugur bersa-ma."
Ternyata dugaan kedua pihak meleset, pemuda itu tidak berhenti, kedatangannya malah lebih cepat.
Tampak tubuhnya berkelebat, seperti burung seriti menyelinap ke hutan, dalam sekejap dia sudah menerobos lapisan kepungan paling luar.
Paderi Tibet itu membentak.
"Anak muda, kenapa tidak mengukur diri sendiri, memangnya di sini setimpal kau ikut campur?"
"Apa iya?"jengek pemuda cakap itu dingin. Belum habis dia bicara.
"sret"
Tahu-tahu tangannya sudah memegang sebatang ruyung lemas, kontan menyapu muka paderi Tibet.
Kungfu paderi Tibet ini tidak lemah, meski serangan tidak terduga, masih sempat dia ayun tongkat besarnya menangkis.
Tapi sudah terlambat sedikit,"
Terasa pergelangan tangan kesemutan, didengarnya pemuda cakap itu membentak.
"Menyingkir kau!"
Tongkat gelang sembilan paderi Tibet itu sudah tergulung ruyung lemas lawan, demikian pula badannya yang kekar itu terbanting terlentang.
Kedua tosu Khong-tong-pay yang berada di lapisan luar baru sadar bahwa pemuda ini adalah musuh tangguh, lekas mereka menyerbu dengan serangan gabungan pedang mereka.
Berpadu bentakan mereka.
"Anak bagus kau ingin mampus biar kuantar arwahmu ke neraka!"
"Apa iya?"
Kembali pemuda cakap menyeringai dingin dengan nada yang sama, tongkat besar paderi Tibet yang tergulung di ujung ruyungnya mendadak dia ayun ke depan.
Panjang tongkat itu ada setombak lebih, dilontarkan dengan tenaga kuat lagi, mana kedua tosu itu mampu menyingkir?
"Trang", pedang di tangan tosu sebelah kiri terbentur jatuh.
Kepandaian tosu sebelah kanan lebih tinggi, lekas dia merendahkan badan, pedang menuding ke atas serta menyampuk kc luar hingga tongkat itu berputar ke arah lain.
Padahal kedua tosu Khong-tong-pay ini mahir memainkan ilmu pedang yang ganjil, tak nyana belum sempat melancarkan serangan, permainan pedang mereka sudah dipatahkan oleh si pemuda.
Salah satu pedang mereka jatuh, gabungan permainan ilmu pedang mereka tak bisa dilancarkan.
Mendapat angin, pemuda cakap itu ternyata tidak memberi peluang lagi, ruyungnya dimainkan secepat baling-baling, maka terdengarlah suara "plak plok"
Nyaring, wajah tosu yang kehilangan pedangnya dihiasi dua jalur sabetan ruyung.
Tosu yang masih bersenjata itu lebih mengenaskan lagi, tulang lututnya terketuk pecah, sakitnya tak tertahan.
Meski masih memegang pedang, lekas dia menjatuhkan diri terus menggelinding ke bawah lereng sana, khawatir setelah lututnya terluka kalau tidak lekas melarikan diri lebih dulu celaka kalau nanti tidak sempat lolos.
Tongkat sembilan gelang yang diputar ke arahnya, kebetulan mencelat tinggi jatuh ke tengah gelanggang.
Lekas Thian-thay Siangjin angkat tongkatnya dengan jurus Ki-hwe-1 iau-thian (Angkat obor menerangi langit), tongkat besar itu dia sampuk pula terbang ke udara, sembilan gelangnya gemerantang di udara, terus melesat terbang puluhan tombak melayang jatuh ke dalam lembah.
Pemuda cakap itu membatin.
"Paderi asing ini tidak boleh dipandang enteng."
Tubuhnya berkelebat dan menyelinap, setangkas ular merayap selicin belut menerobos, cepat sekali dia sudah berhasil menyelinap ke dalam kepungan lapisan dalam.
Tangan bergerak ruyung bekerja, Lama sebelah kiri diserang.
Lekas Lama itu mengelak sambil mengubah langkah berkelit balas menyerang, namun permainan ru-yung lemas pemuda cakap seperti kilat menyambar, mendadak berputar menyabet ke arah Lama sebelah kanan.
Lekas Lama itu juga mengelak dan menggeser langkah, sambil berkelit dia pun balas menyerang.
Maka terdengarlah suara nyaring beradunya benda berat, ternyata dua tongkat si Lama saling bentur sendiri.
Celakanya, kedua Lama itu pun bertumbukan juga hingga jatuh bergulingan ke lereng gunung.
Pemuda cakap ini masih muda, ternyata dia pun seorang ahli silat seperti halnya Nyo Hoa.
Dia sudah meneliti permainan kedua Lama ini dan sudah menentukan arah yang akan ditempuh, dia pun sengaja memancing dengan sabetan ruyung, bila lawan berkelit dan keduanya pun pasti akan saling tubruk sendiri.
Keruan Thian-thay Siangjin gusar bukan main, bentaknya.
"Anak sundal, berani melukai muridku!"
Pemuda cakap tertawa, katanya.
"Aku malah akan melukai kau pula, nah perhatikan."
Segera dia lancarkan jurus Yang-koan-ai-liu dari permainan ruyung lemasnya yang lihay.
Ruyungnya itu dibuatnya melingkar-lingkar seperti tali laso hendak menjerat kepala Thian-thay Siangjin.
Thian-thay Siangjin membentak.
"Keparat, jangan menghina.""
Tongkat diayunkan menderu, ruyung si pemuda berhasil disampoknya pergi.
Tapi ruyung lemas tidak termakan oleh sambaran tongkat besarnya.
Thian-thay Siangjin harus banyak menguras tenaga, namun juga hanya mampu bertahan saja.
Dua lapis kepungan kocar-kacir, sudah tentu merupakan keringanan bagi Nyo Hoa, kini dia bisa lebih mengkonsentrasikan dirinya menghadapi tiga musuh di lapis dalam, walau belum bisa menang, namun permainan sudah makin lancar dan wajar.
"Sret"
Mendadak dia menusuk hingga Teng Tiong-ai dipaksa mundur selangkah, maka tangan kirinya sempat melayang enteng memukul ke arah Thian-thay Siangjin dari jarak jauh.
Walau di tengah pertempuran sengit, namun pukulan Bik-khong-ciang ini mampu membikin Thian-thay Siangjin gelagapan.
Betapa sebat dan lincah gerak-gerik pemuda cakap itu, mumpung ada kesempatan tiba-tiba dia menyelinap masuk, ruyung lemas sudah membelit pinggang, mendadak dia menghardik.
"Pergi!"
Meminjam tenaga mengerahkan tenaga, tubuh Thian-thay Siangjin yang besar kekar itu ternyata terangkat ke udara, sekali sendai lagi tubuhnya melayang jatuh ke bawah lereng sana.
Kini tinggal tiga jago kosen di lapisan terakhir.
Teng Tiong-ai harus memainkan sepasang potlotnya untuk menandingi ruyung lemasnya.
Dinilai kepandaian sejari, sebetulnya Teng Tiong-ai lebih unggul dari pemuda ini, namun kedatangan pemuda ini telah berhasil mengobrak-abrik barisan mereka, mau tidak mau Teng Tiong-ai agak jeri menghadapinya.
Teng Tiong-ai mendesak maju, ruyung lemas si pemuda hampir saja tergencet oleh sepasang potlotnya.
Mendadak pemuda cakap itu membentak.
"Kau ahli tiam-hiat, memangnya aku bukan ahli?"
Tiba-tiba dia tarik ruyungnya dari jepitan po-tlot lawan terus disendai mengencang dan lurus menotok Gan-ih-hiat di bawah ketiak orang. Teng Tiong-ai berseru.
"Bagus, baiklah aku bertanding ilmu tiamhiat dengan kau"
Sebagai jago totok yang kosen begitu potiot kiri menyontek ujung ruyung, berbareng potiot kanan sudah menyelonong ke Hian-ki-hiat di dada pemuda cakap. Pemuda cakap balas membentak.
"Kungfu tidak terbatas pada satu sumber, hanya ahli dalam satu bidang mana boleh diagulkan sebagai jago kosen?"
Sebat sekali dia berputar, mendadak ruyungnya menggulung miring, kadang-kadang melingkar seperti bundaran mendadak lurus kencang seperti potiot lawan.
Dalam belasan jurus berulang kali dia sudah mengubah beberapa jenis gerakan berbeda.
Bukan saja permainan ruyungnya aneh dan banyak variasi, setiap saat bila perlu, dia pun bisa gunakan ruyung lemas itu sebagai boan-koan-pit untuk menotok Hiatto, permainannya juga jauh di luar dugaan lawan.
"Bukan jago kosen juga dapat mengalahkan kau,"
Demikian Teng Tiong-ai balas mengolok, namun permainan ruyung pemuda cakap memang selincah naga bermain di udara, indah menakjubkan susah diraba dan dijajaki.
Lama kelamaan rasa takut menghantui dirinya, maka gebrakan selanjutnya dia tidak berani pandang enteng lawannya ini.
Dalam adu keuletan itu, pemuda cakap melancarkan Lian-hoansam-pian (Tiga pecut berantai) disusul Wi-hong-sau-liu (Angin lesus menyapu pohon).
"Ser, ser, ser"
Di tengah deru sambaran angin kencang, ruyungnya mcnciptakan gugusan lurus bayangan ruyung menyapu tiga kali ke arah Teng Tiong-ai.
Melihat serangan cukup kencang Teng Tiong-ai tidak berani melawan secara keras, lekas dia kerahkan tenaga pinggang, tubuhnya melambung ke udara setinggi satu tombak, kedua potlotnya menindih silang ke bawah.
Tujuan pemuda cakap memang ingin merebut kesempatan yang sekejap ini, membebaskan diri dari rangsakan balasan Teng Tiongai.
Begitu potlot Teng Tiong-ai mengincar tempat kosong, cepat sekali bagai angin puyuh kencangnya, pemuda cakap sudah menubruk maju dari lubang yang terbuka ini.
"Sret", ruyungnya menyerang Gun-goan-cu Gun-goan-cu termasuk jago kosen dari Bu-tong-pay saat ini, sudah tentu dia tidak mudah dibokong. Dalam detik yang berbahaya itu, mendadak dia menekuk pinggang seperti lazimnya petani yang bercocok tanam di sawah, sebat sekali badannya mendadak ke bawah seraya melancarkan jurus So-cin-pak-kiam (So Gin memanggul pedang) membela diri sekaligus balas menyerang. Di tengah sambaran ruyung dan berkelebatnya sinar pedang, terdengar seorang menjerit ngeri, darah seketika membasahi muka, sebuah telinga ternyata telah lepas oleh petikan ruyung lemas pemuda cakap. Yang terluka ternyata adalah sute Gun-goan-cu. Pemuda cakap itu-memang cerdik dan banyak akal, sengaja dia menggempur di timur tapi bersuara di barat. Dia juga tahu kalau Gun-goan-cu tidak mudah dibokong, namun dalam sedetik waktu Gun-goan-cu menurunkan badan, ru-yungnya menyambar lewat di atas punggung orang, tempo dimanfaatkan secara tepat, Gun-goancu tidak terluka, dirinya pun sempat mengegos dari tusukan pedang lawan, namun ruyungnya masih terus menyambar ke sana dan sekali sendai ujung ruyungnya melingkar bundar terus memetik sebuah telinga sute Gun-goan-cu. Bahwa serangannya berhasil, pemuda cakap lantas tertawa dingin.
"Kau bantu aku sekali pukulan, maka kubalas sekali sabetan ruyung, siapa pun tidak berhutang kepada siapa."
Ucapannya ditujukan kepada Nyo Hoa.
Tadi sekali pukul Nyo Hoa menghajar Thian-thay Siangjin hingga pemuda cakap berhasil melilitnya dan dibuang ke bawah lereng.
Kini pemuda cakap melukai sute Gungoan-cu dengan ruyungnya sekaligus membantu Nyo Hoa membobol barisan pedang Bu-tong-pay yang tangguh.
Habis mengucapkan beberapa patah kata pemuda cakap berputar, menyongsong Gun-goan-cu yang baru saja menginjak bumi.
Beberapa patah perkataan pemuda cakap itu bukan saja membikin TengTiong-ai keheranan, Nyo Hoa juga hanya bisa menyengir tawa.
Teng Tiong-ai heran karena dari nada bicara si pemuda dapat dia simpulkan kalau pemuda cakap ini tidak kenal Nyo Hoa, jadi orang luar.
Sementara Nyo Hoa tertawa getir dalam hati maka dia membatin.
"Ternyata meski kau membantu aku menggebah musuh, ternyata dalam hati kau masih membenciku. Kau sudah membantu aku sebesar ini, justru tidak sudi menerima ban tuanku yang tidak berati, jelas kau tidak sudi anggap aku sebagai kawan."
Dengan bekal Nyo Hoa sebetulnya dia sudah dapat mengalahkan barisan pedang Gun-goan-cu dengan sute-nya, ditambah sambaran ruyung pemuda cakap, maka kemenangan dicapai lebih cepat Setelah telinganya dipetik, meski bukan luka parah, namun sakitnya juga cukup membuat sute Gun-goan-cu tersiksa hingga pikirannya takut.
Pedang kilat Nyo Hoa membobol pertahanan mereka, maka sute Gun-goan-cu .memutar tubuh terus lari.
"Kena!"
Menyusul Nyo Hoa menusuk pula sekali, yang diserangnya adalah Gun-goan-cu.
Lekas Gun-goan-cu menangkis dengan pedang melintang, sepuluh bagian tenaga dikerahkan, tujuannya hendak adu jiwa dengan Nyo Hoa.
Tak nyana Nyo Hoa sudah menduga akan tindakan ini, sedikit mengegos dia luputkan diri dari pedang lawan.
"Plak"
Tamparan tangannya mengenai punggung tangan Gun-goan-cu hingga pedangnya terlepas jatuh.
Tampak sinar putih berkelebat, kontan Gun-goan-cu menjerit ngeri, seperti juga sute-nya tadi, wajahnya berlepotan darah, sambil mendekap muka dia lari sipat kuping.
Ternyata luka-luka yang dideritanya lebih parah lagi dari sang sute, mata kirinya buta tertusuk pedang Nyo Hoa.
Bahwa Gun-goan-cu suheng-te melarikan diri, mana Teng Tiongai masih berani bertempur, sudah tentu dia pun angkat langkah seribu.
Si-ceng, Si-to dan Ngo-koan sudah berantakan, ada yang mati ada yang lari, maka pertempuran sengit ini pun berakhir begitu saja, suasana kembali hening tenang, tinggal Nyo Hoa dan pemuda cakap saja yang masih berada di atas bukit Dingin tatapan mata pemuda cakap mimiknya kelihatan aneh.
Nyo Hoa masukkan pedang ke dalam serangka lalu maju memberi hormat, katanya.
"Siaute Nyo Hoa, banyak terima kasih akan pertolongan heng-tay (saudara), maaf bila aku kurang sopan, mohon tanya siapakah she dan nama besar saudara?"
Pemuda cakap berkata dingin.
"Kau dan aku bukan teman sehaluan, kenapa harus memperkenalkan diri segala?"
Nyo Hoa seperti kebentur paku, katanya menyengir kecut "Kau telah menolong jiwaku, kan pantas kalau aku menghaturkan terima kasih."
"Hm, kau kira aku sengaja kemari menolong kau?"
"Entah apa maksudmu, kenyataan kau sudah membantu aku."
"Jikalau kau tidak pernah melakukan kebaikan untuk rakyat jelata di daerah ini, memangnya aku sudi membantu kau?"
"Yang benar aku tidak pernah berbuat baik, cuma dua hari yang lalu aku sedikit membantu keluarga pemburu itu. Tapi mereka banyak membantu aku."
"Kami tegas membedakan budi dan dendam, keluarga pemburu itu adalah temanku, kau menolong mereka suami istri, maka hari ini aku menolongmu. Jadi bukan untuk kau, tapi hanya membalas budi mereka akan kebaikanmu. Sekarang kebaikanmu telah ku lunasi, siapa pun tidak berhutang kepada siapa. Kau tidak usah berterima kasih kepadaku, aku pun tidak perlu terima kasih kepada kau."
Habis bicara dia terus berlalu. Lekas Nyo Hoa memburu ke depan orang, teriaknya.
"Tunggu sebentar saudara."
Mendelik pemuda itu, katanya dingin.
"Kau melarang aku pergi, memangnya ingin mencoba aku?"
"Mana berani siaute membalas kebaikan dengan perbuatan kasar, aku hanya ingin mohon sedikit bantuanmu."
Berkerut alis si pemuda, katanya.
"Dinilai budi pertolonganmu kepada suami istri pemburu itu, ban tuanku kepadamu hari ini masih belum setimpal, tapi kau bukan orang sehaluanku, tak bisa aku menerima permintaanmu. Tapi coba kau katakan dulu, soal apa?"
"Apakah saudara juga dari laskar rakyat?"
Berdiri alis si pemuda, katanya.
"Kalau betul kenapa?"
"Siaute juga sedang mencari laskar rakyat, entah saudara sudi memberi petunjuk?"
"O, maksudmu kau minta aku menjelaskan di mana laskar rakyat kini menyembunyikan diri?"
"Ah, agaknya kau masih curiga dan tidak percaya kalau aku bukan cakar alap-alap."
"Mari bicara blak-blakan saja, apakah kau masih bertekad hendak membunuh Beng Goan-cau?"
"Itu soal lain...."
"Betul atau tidak?"
Sentak si pemuda.
"Coba jelaskan dulu"
Akhirnya Nyo Hoa naik pitam, pikirnya.
"Tidak mau menjelaskan ya sudah, kenapa main bentak."
Tapi lekas sekali benaknya berpikir, jelek-jelek pemuda ini sudah memberi bantuan kepadanya, maka terpaksa dia bersabar, katanya.
"Betul, dengan Beng Goan-cau aku memang ada persoalan yang harus diselesaikan. Kalau lantaran hal ini kau juga memusuhiku aku pun tak bisa banyak omong. Tapi aku boleh bersumpah kepada bumi dan langit, aku mencari laskar rakyat bukan bermaksud jahat. Kalau kau tidak mau percaya, aku pun tak berani mohon bantuanmu."
Segera dia putar rubuh melangkah pergi. Kini ganti si pemuda yang memburu, bentaknya.
"Berhenti.""
"Ada petunjuk apa?"
Tawar suara Nyo Hoa, hatinya panas.
"Untuk apa kau mencari laskar rakyat?"
"Leng Thiat-jiau dan Siau Ci-wan thauling dari laskar rakyat adalah teman baik guruku."
Heran dan tertarik si pemuda, katanya.
"Siapa gurumu? "
"Aku punya tiga guru, toa-suhu PokThian-tiau sudah meninggal, ji-suhu Toan Siu-si, sam-suhu Tan Khu-seng. Setahun yang lalu mereka mengalami musibah, mati hidupnya sampai sekarang susah diramalkan. Ji-suhu pernah berpesan kepadaku bahwa beliau punya hubungan baik dengan pemimpin laskar rakyat di Siau-kim-j wan, yaitu Leng Thiat-jiau dan Siau Ci-wan tayhiap, bila perlu suruh aku pergi membantunya."
Apa yang dijelaskan ini memang betul.
Tapi Toan Siu-si juga punya teman baik di dalam laskar rakyat itu, teman baiknya itu bukan lain adalah Beng Goan-cau, cuma Nyo Hoa tidak enak menjelaskan.
Tampak kendor sikap si pemuda katanya.
"Jadi kau ini murid Toan Siu-si. Nama cianpwe ini pernah aku mendengar orang membicarakan."
Nyo Hoa girang, katanya.
"Jadi kau mau memberi tahu kepadaku?"
Tiba-tiba si pemuda bertanya pula.
"Toan Siu-si adalah gurumu, lalu Nyo Bok pernah apa dengan kau?"
Nyo Hoa tidak menyangka orang akan mengajukan pertanyaan langsung yang tidak suka ia menjawabnya, karuan dia melenggong, akhirnya dia menjawab getir.
"Dia bukan apa-apaku."
"Lalu kenapa kau membiarkan dia lari?"
Makin terkejut hati Nyo Hoa, pikirnya.
"Apakah dia sembunyi di tempat ini serta mencuri dengar percakapanku dengan ayah?"1 Melihat Nyo Hoa kaget, pemuda itu tampak senang, katanya lebih lanjut.
"Jangan kau mungkir, aku saksikan sendiri Nyo Bok berlari turun dari gunung ini. Kungfunya jelas bukan tandinganmu, jikalau kau tidak sengaja melepas dia pergi, memangnya dia bisa lolos?"
Nyo Hoa menghela napas, ujarnya.
"Betul. Memang aku sengaja membebaskan dia. Aku punya rahasia pribadi, jangan kau mendesak aku."
"Memangnya kau kira aku ingin tahu urusan pribadimu?"
Jengek si pemuda.
"Kau ingin membunuh Beng Goan-cau, apakah ini juga menyangkut urusan pribadi?"
"Betul,"
Desis Nyo Hoa kertak gigi.
"tapi hal ini tiada sangkut pautnya dengan laskar rakyat."
Pemuda cakap mengejek sinis.
"Kau telah berbuat baik untuk rak-yat jelata, maka aku balas membantu kau. Tapi perbuatan baik, perbuatan mulia yang pernah dilakukan Beng tayhiap lebih banyak lagi, mana kau boleh membunuhnya? Nyo Bok sebaliknya adalah cakar alap-alap, peduli dia pernah apa dengan kau, yang terang tidak pantas kau melindungi orang jahat dan memutar balik persoalan."
Tergerak hati Nyo Hoa mendengar protesnya, tapi mungkinkah ganjalan hatinya semudah ini ter-lampias? Dalam waktu singkat ini otaknya bekerja, akhirnya dia berkata dengan jengkel.
"Umpama salah juga aku tidak akan mengubah tekadku, paling setelah aku membunuh Beng Goan-cau, aku pun akan bunuh diri mengiringi kematian-nya."
"Lebih parah kesalahanmu. Mana boleh dalam sehari sekaligus mati dua orang yang berguna. Hm, sia-sia kau memiliki kungfu setinggi ini, ternyata jiwamu begini sempit"
Kalut pikiran Nyo Hoa, tanpa sadar dia berteriak kalap.
"Jangan kau urus aku, kau tidak tahu, tidak tahu...."
"Baiklah, terserah bagaimana kau senang berbuat, aku tidak akan urus."
Namun segera dia menambahkan dengan tawa dingin.
"Kungfumu memang tinggi, tapi aku yakin kau belum mampu membunuh Beng Goan-cau. Biar kuberi tahu kepadamu. Sekarang dia berada dalam laskar rakyat, mungkin berada di Jik-tat-bok hutan belantara di propinsi Jinghay, boleh kau ke sana mencarinya."
"Kau mau ke mana?"
Teriak Nyo Hoa.
"Kau takut aku memberi kabar kepada Beng Goan-cau? Hm, jangan kau meremehkan Beng tayhiap, kau kira dia takut bila kau menuntut balas kepadanya?"
"Bukan begitu maksudku..."
Setelah ditampar dan kini dicaci maki oleh pemuda cakap ini, entah kenapa bukan saja dia tidak marah, malah tumbuh rasa simpati kepada si pemuda.
Dan simpati ini bukan lantaran orang pernah menolong jiwanya.
"Memangnya apa maksudmu?"
"Ah, urung kukatakan, bisa tambah parah salah pahammu kepadaku."
Ternyata Nyo Hoa bermaksud seperjalanan dengan si pemuda.
Bahwa pemuda ini juga anggota laskar rakyat, bila tugas rahasianya di Siau-kim-j wan sudah selesai, pasti dia akan kembali ke kesatuannya.
Tapi mengingat salah paham si pemuda terhadapnya makin mendalam, sementara segan dia memberi penjelasan, jelas orang takkan mau seperjalanan dengan dirinya.
Maka Nyo Hoa batalkan niatnya, omongan yang sudah hampir dilontarkan ditelannya kembali.
Sudah tentu si pemuda menjadi tertarik, sesaat dia menatap Nyo Hoa lekat-lekat, katanya kemudian.
"Coba jelaskan saja. Aku tidak akan salahkan kau."
Diam-diam Nyo Hoa tertawakan dirinya yang keburu nafsu, pikirnya.
"Dia sedang jengkel karena aku memusuhi Beng Goan-cau, aku justru minta dia membawaku ke tempat tinggal Beng Goan-cau, apakah keinginanku ini tidak terlalu ganjil? Ah, aku memang terlalu hijau. Salah-salah aku bisa dicaci maki olehnya, dimaki juga tidak jadi soal, celaka kalau dia salah sangka aku punya maksud jahat terhadapnya."
"Eh, bocah segede kau ini kenapa juga malu-malu kucing seperti nona manis. Hayolah bicara blak-blakan."
Makin risih Nyo Hoa dibuatnya, segera dia menundukkan kepala, katanya.
"Terus terang aku tidak bermaksud jelek, aku hanya inginingin bersahabat dengan kau."
Tiba-tiba merah muka si pemuda, katanya.
"Kenapa kau ingin bersahabat dengan aku?"
"Karena kau baik terhadapku."
Si pemuda menarik muka, katanya.
"Sudah kukatakan tadi, sikap baikku kepadamu adalah karena kau telah menolong keluarga pemburu itu."
"Aku tahu. Tapi sikapku ini juga bukan lantaran kau pernah menolong aku, baru aku merasa perlu berbaik hati terhadapmu."
Semakin jengah selebar muka si pemuda, katanya.
"Aku menampar mukamu, kau malah anggap aku baik terhadapmu?"
Sampai di sini tiba-tiba dia cekikikan geli sendiri. Sungguh tak terduga oleh pemuda cakap, setelah Nyo Hoa diolok-olok malah bersikap sungguh-sungguh, katanya tulus.
"Betul. Aku tahu kau menamparku karena ingin aku baik. Sayang aku punya kesulitan yang tak bisa kujelaskan. Tapi aku amat berterima kasih dan haru akan kebaikanmu."
"Kau tahu siapa aku?"
"Tidak,"
Sahut Nyo Hoa pendek. Dalam hati dia membatin.
"Siapa she dan namamu toh belum kau beri tahu kepadaku, bagaimana aku berani tanya asal-usulmu?"
"Kau tidak tahu aku siapa, aku pun tidak tahu kau siapa. Kau hanya menduga bahwa aku orang baik. Kalau sebaliknya aku orang jahat?"
"Aku tahu kau pasti orang baik."
Pemuda cakap geleng kepala, kembali dia tertawa cekikikan. Mendelu hati Nyo Hoa, katanya.
"Aku bicara setulus hati, kenapa kau tertawa?"
Pemuda cakap bersikap serius.
"Kutertawakan kau terlalu gampang percaya kepada orang, kelak kau bisa dirugikan. Kau harus tahu memang tidak sedikit orang baik di dunia ini, tapi manusia jahat yang kelihatan berwajah vvelas asih juga tidak sedikit Nyo Bok umpamanya. Duapuluh tahun yang lampau dia pernah dianggap kaum pendekar, sungguh kasihan Hun lihiap Hun Ci-lo pernah tertipu olehnya sehingga hidup merana dan sengsara seumur hidup."
Menyinggung ayah bundanya, sedih hati Nyo Hoa, pikirnya.
"Dari nadanya, agaknya dia tahu urusan keluargaku. Apakah dahulu ibu terpaksa menikah dengan ayah? Atau benar karena tertipu?"
Lalu dia berpikir pula.
"Bocah ini kenal Beng Goan-cau, tidak heran kalau tahu tentang keluargaku. Umpama benar ayah bukan orang baik, tapi dia bermusuhan dengan Bcng Goan-cau, tidak heran kalau di luar sering tersiar berita angin yang menista dirinya."
Harus dimaklumi meski Nyo Hoa amat jengkel dan membenci Nyo Bok namun dia masih sangka Nyo Bok adalah ayah kandungnya.
Sebagai anak, meski tahu ayahnya bersalah apa pun, hatinya akan kesal bila mendengar orang lain membicarakan kejelekan ayahnya di hadapannya sendiri.
Dan karena itu, semula Nyo Hoa ingin mencari tahu tentang masa hidup ibunya dulu, terpaksa dia batalkan niatnya.
Pemuda itu berkata lebih lanjut.
"Dan lagi kau mau percaya kepadaku, aku sebaliknya belum percaya kepadamu."
"Aku tahu,"
Getir suara Nyo Hoa.
"Salah pahammu kepadaku, terus terang aku tak mampu menghapusnya. Baiklah, anggap aku yang salah omong, kalau kau memandang hina diriku, aku pun tidak berani berpikir muluk-muluk. Biarlah kita tempuh perjalanan masingmasing."
Tiba-tiba pemuda itu tertawa getir katanya.
"Siapa bilang aku memandang hina dirimu? Kalau aku memandang hina kau, memangnya aku sudi bicara panjang lebar seperti ini? Tapi, ya, aku memang agak curiga kepadamu, semoga sepak terjangmu selanjurnya dapat menghapus kesan burukku terhadapmu."
Gundah dan risau hati Nyo Hoa, maka sikapnya menjadi dingin.
"Aku tetap akan mencari perhitungan dengan Beng Goan-cau, tekadku ini tidak boleh ditawar lagi, maka tindakanku jelas tidak akan dapat menghapus kesanmu terhadapku."
Pemuda itu masih tertawa, katanya.
"Tiada sesuatu yang abadi dalam dunia ini, kejadian sering terjadi di luar dugaan manusia, seperti apa yang pernah kau bilang, sesama manusia bukan mustahil akan timbul kesalahpahaman. Tapi dunia seluas ini, dendam permusuhan yang tidak menyangkut urusan besar kurasa tidak perlu dijadikan ganjalan hati. Betul tidak?"
Apa boleh buat terpaksa Nyo Hoa berkata.
"Terima kasih atas kata-kata mutiaramu."
"Baiklah, semoga kau dapat mengerti maksud baikku. Waktuku sudah banyak terbuang, aku harus lekas pulang. Setelah pertarungan hari ini musuh pasti tidak akan membebaskan dirimu, kau seorang diri, meski kungfumu tinggi setiap langkahmu selanjurnya juga perlu hati-hati. Jikalau persoalanmu sudah kau selesaikan, kuanjurkan lebih baik kau lekas meninggalkan tempat ini."
Betapa besar perhatiannya terunjuk pada mimik muka dan nada perkataannya.
Akhirnya pemuda itu pergi.
Nyo Hoa berdiri mendelong mengawasi bayangan punggungnya lenyap di balik hutan.
Hembusan angin menyentuh lamunannya, pikirnya.
"Orang ini memang aneh, dia tidak mau bersahabat, namun begitu besar perhatiannya terhadapku. Sebentar memakiku kejam, lain waktu membujuk dan menghiburku. Omong punya omong entah kenapa mendadak mukanya berubah jengah, sungguh membingungkan."
Sampai di sini tanpa terasa dia tertawa geli sendiri.
"Dia bilang aku seperti nona manis, kurasa kau justru lebih mirip nona pingitan."
Sejak kecil Nyo Hoa mendapat kasih sayang dan asuhan tiga gurunya, tapi sebesar ini dia belum pernah punya seorang teman, karena itu setelah dia berhadapan dengan pemuda cakap ini, tanpa terasa timbul rasa ingin bersahabat dan punya teman.
Lantaran itu pula sehingga sikapnya tadi kelihatan masih hijau, tahu bahwa orang mungkin salah paham, namun tak kuasa dia membendung rasa ingin bersahabat dan seperjalanan dengan si pemuda, untung hal ini urung dia kemukakan.
Bayangan pemuda cakap sudah tidak kelihatan, terasa hampa hati Nyo Hoa.
"Persoalan yang kuhadapi sudah cukup merisaukan, seorang yang kutemukan di tengah perjalanan, aku pun tidak tahu asal-usulnya, kenapa aku susah-susah memikirkan dia?"
Pelan-pelan dia turun gunung.
Pancaran terakhir sinar surya masih kelihatan mencorong di ufuk barat, hari sudah menjelang petang.
Burung-burung kembali ke sarangnya, banyak yang terbang lewat di atas kepalanya "Burungburung terbang bebas di angkasa, betapa riang gembira.
Kenapa aku justru dirundung banyak persoalan yang menyusahkan hati?
Em, ya, apa yang dikatakan memang benar dunia tidak selebar daun kelor kenapa aku harus berpikiran sempit, bila lapang dada, pasti perasaannya longgar."
Teringat apa yang dikatakan si pemuda, tanpa terasa Nyo Hoa tertawa geli sendiri.
Dia berhenti di pinggir sebuah sungai kecil, sorot matanya tertarik pada ikan yang berenang di dalam air, dalam hati membatin.
"Eh, di sini juga ada kiong-hu (ikan busur)"
Seketika wajahnya tersenyum riang, seriang bertemu dengan kenalan lama.
Ternyata ikan busur banyak terdapat di Ni-hay di negeri Tayli, sejenis ikan yang punya sifat aneh.
Ikan biasanya senang berenang mengikuti arus air, hanya ikan busur ini yang justru suka berenang melawan arus, selamanya tidak pernah membalik.
Nyo Hoa bersama gurunya pernah tinggal di Jong-san, sering ikan busur ini berenang melawan arus dari Ni-hay, menyusuri delapanbelas aliran cabangnya mencapai puncak Jong-san.
Bila tak mampu maju lebih jauh terus menekuk badan melenting maju dari permukaan air, biarlah menanjak dan arus deras, tetap tidak mau bertolak balik.
Itulah sebabnya kenapa dia dinamakan ikan busur.
Bahwa di puncak Siau-kim-jwan Nyo Hoa juga menemukan ikan busur, seketika hatinya amat tenang tapi juga rawan, pikirnya.
"Sakit hati toa-suhu belum terbalas, mati hidup ji-suhu dan samsuhu susah diramalkan. Cita-cita ibu juga harus aku sendiri yang menunaikan, umpama aku menghadapi persoalan yang menyulitkan, tidak sepantasnya aku bersikap sehambar dan lesu seperti ini."
Burung terbang, ikan melompat menyadarkan pikiran, tiba-tiba Nyo Hoa menghembuskan napas menghilangkan kekesalan hatinya, semangatnya pun menyala.
"Dunia seluas ini, harus mendar-ma baktikan tenagaku untuk berbuat bajik bagi umat manusia. lapi persoalan keluargaku dengan Beng Goan-cau tetap akan kubereskan, jikalau kuketahui dia memang bisul jahat di dalam laskar rakyat, aku pasti akan membunuhnya."
Dengan perasaan serba bertentangan, Nyo Hoa melangkah ke dunianya yang baru.
---ooodwooo---Bulan sembilan musim rontok, rumput subur di luar perbatasan sudah mengering.
Belum lama dia meninggalkan Siau-kim-jwan yang sejuk hangat laksana musim semi, kini dia sudah berada di dataran tinggi propinsi Jing-hay, di sini cuaca buruk sudah tiba, hawa dingin meresap tulang.
Di dataran tinggi yang berkepanjangan itulah seorang pemuda berusia delapan belas tahun sedang berjalan seorang diri melawan amukan angin dan taburan salju.
Pemuda ini adalah Nyo Hoa, dari Siau-kim-jwan dia menempuh perjalanan ke barat laut, melewati propinsi Kam-siok memasuki Giok-bun-kwan dan tiba di Jing-hay.
Padang rumput di luar perbatasan sudah kering kerontang tapi di atas Giok-jiu-san ini pemandangan gunung kelihatan masih begitu indah permai.
Itulah keindahan yang megah.
Menghadapi keindahan alam dan kebesarannya, Nyo Hoa "
Menghela napas dan memuji dalam hati.
"Ciok-lin (Hutan Batu) di mana aku tinggal dulu, sudah merupakan keajaiban dunia, tapi setiba aku di dataran tinggi di luar perbatasan ini, baru aku sadar betul, betapa besar dan luasnya mayapada ini."
Tengah Nyo Hoa merasa takjub menghadapi keindahan alam nan permai ini, mendadak didengarnya kelinting kuda, waktu dia menoleh, dilihatnya dua perwira sedang men-congklang kudanya berlari ke arahnya.
Jalan pegunungan amat jelek, perwira di depan sedang mengayun cambuk membedal kudanya, dari kejauhan dia sudah mencaci.
"Bocah goblok, memangnya ingin mampus, hayo lekas menyingkir."
Kecepatan lari kuda memang luar biasa, meski dijalan pegunungan rusak, belum habis dia memaki, kudanya sudah tiba di depan Nyo Hoa, kontan dia ayun pecutnya menyabet kepala Nyo Hoa.
Karuan Nyo Hoa naik pitam, tidak berkelit juga tidak menyingkir, sekalian dia maju ke tengah jalan, bila cambuk menyabet tiba dia hendak menariknya supaya jatuh dari punggung kuda.
Tak nyana tiba-tiba terasa angin menyambar keras, kedua ekor kuda itu ternyata melompat tinggi satu tombak melampaui kepala Nyo Hoa.
Ternyata kedua kuda ini sudah terlatih baik sebagai kuda perang, tanpa dikendalikan penunggangnya, segera dia melompati penghalang di depannya.
Perwira yang mengayun pecut hampir saja terjungkal jatuh, karuan dia marah dan memaki.
"Bocah keparat, ingin rasanya aku putar balik menghajarnya."
Perwira yang di belakang tertawa, katanya.
"Kenapa kau berurusan dengan bocah gunung, urusan dinas kita harus lekas diselesaikan."
"Memangnya bocah gunung kau kira bodoh, aku justru merasa sikapnya agak ganjil."
"Apanya yang kau anggap ganjil?"
"Aku membentaknya, bukan saja tidak menyingkir malah mencegat jalan. Memangnya dia berani pertaruhkan jiwa raganya berkelakar dengan maut?"
"Kuda berlari kencang hampir menumbuknya, mungkin saking kaget dan takut dia melenggong tak mampu bergerak. Ah, kenapa kau susah-susah memeras otak untuk bocah gunung. Hayolah cepat berjalan."
Perwira di depan agaknya masih curiga, temannya yang di belakang berkata pula.
"Melihat cuaca, sebentar bakal turun hujan salju. Sebelum mentari terbenam kalau kita belum melewati Hekhou-kiu kemungkinan hujan salju akan menutup gunung."
Karena bujukan temannya maka perwira di depan itu urung balik menghajar Nyo Hoa. Dalam hati Nyo Hoa tertawa dingin.
"Kalau kau kembali, malah kebetulan bagiku."
Belum jauh dia berjalan, tiba-tiba didengarnya pula derap lari kuda yang ramai, ada delapan kuda berlari kencang. Nyo Hoa kira barisan perwira pula yang datang, pikirnya.
"Kalau kalian tidak mengusik aku, aku sebaliknya ingin memberi tahu akan kelihayan-ku."
Waktu dia berpaling, dilihatnya bendera dari sebuah piaukiok berkibar ditiup angin, seorang penunggang kuda membawa bendera itu berjalan paling depan.
Mungkin tahu daerah pegunungan ini tiada kawanan rampok, maka pembuka jalan ini tidak tarik suara seperti biasanya.
Panji besar yang berkibar itu bergambar seekor burung elang yang gagah, di bawahnya berderet empat huruf berbunyi "Tin-wan Piaukiok"
Nyo Hoa membatin.
"Kiranya rombongan pengawal barang, setahuku Tin-wan Piaukiok mempunyai nama baik dan cukup tenar di dunia persilatan."
Tin-wan Piaukiok adalah perusahaan ekspedisi terbesar di Pakkhia, Cong-piauthau Han Wi-bu memiliki kungfu yang tinggi, dengan sebatang galah dan panji besarnya itu dia mondar-mandir di selatan dan utara sungai besar, belum pernah mengalami kegagalan dalam usahanya, kebesaran nama Tin-wan Piaukiok memang cukup menggetarkan empat penjuru.
Bagaimana asal-usul dari Tin-wan piaukiok dari ji-suhu-nya Toan Siu-si Nyo Hoa pernah mendengar ceritanya.
Yang berjalan di tengah adalah empat orang, setiap orang menuntun seekor keledai, setiap keledai membawa delapan peti di punggungnya, hingga pelananya lebih tinggi dari ukuran para penuntunnya.
Entah apa isi muatan keledai itu, tampak keledaikeledai itu keberatan berjalan naik ke atas gunung.
Dua piausu tampak berjalan di belakang, kudanya dijalankan pelan-pelan.
Nyo Hoa berpikir.
"Han Wi-u apakah ada di antara kedua orang ini?"
Namun lekas dia sudah tertawa geli sendiri, pikirnya.
"Sebagai cong-piauthau, mana mungkin dia mau tampil sendiri."
Tahu Tin-wan Piaukiok memiliki nama baik, maka Nyo Hoa menyingkir ke pinggir.
Melihat Nyo Hoa seorang diri menempuh perjalanan di pegunungan yang sepi, kedua piausu itu tampak keheranan, salah seorang segera bertanya.
"Saudara cilik, hendak ke mana kau?"
"Mau cari famili di Jik-tat-bok,"
Sahut Nyo Hoa. Piausu itu melengak, katanya.
"Maaf kalau aku bertanya lagi, apa kerja familimu di Jik-tat-bok?"
"Dia punya peternakan. Aku disuruh ke sana bantu mengurus kuda,"
Sahut Nyo Hoa.
"Apakah kau tidak takut kedinginan, salju tebal di sana, jalan pegunungan amat sukar."
"Ya, demi sesuap nasi, apa boleh buat? Tidak tahan juga harus tahan, apalagi anak miskin seperti aku, jalan pegunungan yang paling sukar juga sering kulalui. Mumpung musim dingin sudah di ambang mata, maka aku harus cepat-cepat tiba di Jik-tat-bok, kalau bumi sudah tertutup salju perjalanan tentu lebih sukar lagi."
"Memang. Tapi melihat cuaca, dalam beberapa hari ini pasti datang hujan salju, bukan mustahil terjadi pula gugur gunung menyumbat perjalanan. Bila senja mendatang kau belum melewati lekuk gunung di sebelah depan itu, kuanjurkan lebih baik kau singgah saja di rumah petani atau pemburu, minta menginap beberapa hari."
"Terima kasih atas petunjukmu."
"Saudara cilik kau kedinginan tidak?"
Tanya sang piausu tiba-tiba. Seragam perwira yang dipakai Nyo Hoa sudah dicopot dan dibuang, yang dipakainya sekarang hanyalah pakaian tipis yang sudah sobek sebagian.
"Anak keluarga miskin seperti diriku sudah biasa menahan lapar dan kedinginan."
Piausu itu menjadi iba, sejenak berpikir lalu berkata kepada piausu di sampingnya.
"Ciok-lote, perawakanmu hampir sama dengan dia, boleh kau berikan seperangkat pakaian kapasmu kepadanya."
Piausu she Ciok mengiakan lalu menurunkan buntalan serta mengeluarkan satu setel pakaian kapas tebal langsung diangsurkan kepada Nyo Hoa Nyo Hoa berkata.
"Aku bukan sanak kadang kalian, mana boleh menerima barang kalian."
Piausu itu tertawa lebar, katanya.
"Di empat penjuru lautan semua adalah saudara, kenapa harus pernah kenal atau sanak kadang segala? Seperangkat pakaian juga tiada artinya, silakan kau pakai saja."."
Piausu she Ciok ikut menimbrung dengan tertawa.
"Han-congpiauthau suruh kau menerima, maka terimalah jangan sungkan. Ketahuilah, Han-cong-piauthau kami paling suka bersahabat, kalau kau menampik kebaikannya, hatinya bisa tidak tenang malah."
Nyo Hoa kaget, katanya tersendat.
"Dia, dia inikah Han-congpiauthau?"
Han Wi-bu tatap Nyo Hoa sejenak. Piausu she Ciok segera tanya.
"Jadi kau tahu Han-cong-piauthau kami? Apa kau pernah mendengar orang membicarakan dia?"
Nyo Hoa geleng-geleng, katanya.
"Aku dibesarkan di tengah pegunungan, orang-orang dari kota besar mana pernah aku tahu? Cuma aku kira, cong-piauthau tentu seorang besar bukan?"
Han Wi-bu tampak tertawa geli, rasa curiganya lenyap seketika, katanya dengan tertawa.
"Aku mana boleh dianggap orang besar, aku ini orang yang mencari hidup di bawah tajamnya senjata."
Setelah rombongan Tin-wan Piaukiok melampaui dirinya, Nyo Hoa pasang telinga, sayup-sayup dia mendengar Han Wi-bu berkata.
"Pemuda ini ternyata cukup menyenangkan."
Piausu she Ciok bertanya.
"Apakah dia patut dicurigai?"
"Sukar aku melihatnya. Bahwa dia anak miskin tapi tidak mau pemberian orang lain kurasa dia bukan anak miskin sembarangan."
Kalau kedua piausu ini membicarakan Nyo Hoa, sebaliknya Nyo Hoa juga merasa heran akan barang-barang kawalan Han Wi-bu.
Maklum Tin-wan Piaukiok adalah perusahaan ekspedisi terbesar di kota raja, di dalam seluruh negeri terhitung salah satu piaukiok yang punya pengaruh besar pula.
Sebagai cong-piauthau dari perusahaan ekspedisi yang berkedudukan tinggi, ternyata Han Wibu memerlukan diri untuk ikut mengawal barang, hal ini jarang terjadi dan sekaligus membuktikan barang yang dikawal ini tentu mempunyai arti besar.
Pengalaman Nyo Hoa memang masih cetek, namun dari gurunya dia sering mendengar cerita tentang dunia pengawalan, sedikit banyak dia tahu seluk-beluk kalangan piaukiok.
Bahwa congpiauthau sendiri dipaksa menampilkan diri ikut mengawal barang, pastilah barang yang dikawal itu teramat besar artinya, kalau tidak mau dikata sebagai barang gelap.
Barang gelap yang dimaksud umumnya adalah barang-barang yang gampang dibawa tapi punya nilai yang sukar diukur, umpamanya berlian, mutiara, obat-obatan sejenis ho-siau-oh yang sudah ribuan tahun atau sebangsa jinsom.
Tapi barang kawalan mereka kali ini dimuat di punggung empat keledai, jumlahnya ada puluhan peti, barang-barang seberat itu, sepantasnya adalah barang-barang umum, nilainya juga pasti terbatas, kenapa cong-piauthau sendiri pun harus ikut mengawal?
Apalagi rombongan piausu ini mengibarkan bendera, menggunakan pembuka jalan lagi, kalau barang kawalannya merupakan barang gelap sepantasnya juga harus mengerahkan banyak tenaga, tapi kenyataan rombongan piaukiok ini hanya beberapa orang saja.
Jadi satu dengan yang lain terasa serba bertentangan.
Cong-piauthau hanya mengawal empat keledai yang membawa barang hanya dengan beberapa piausu, apakah ini tidak merendahkan derajatnya sebagai cong-piauthau yang terkenal di kota raja?
Satu hal lagi, dinilai situasi dan kondisi masa itu, bagi pedagang besar, hartawan kaya atau tuan tanah, kebanyakan berdiam di daerah timur selatan yang tanahnya subur rakyatnya hidup makmur, propinsi daerah barat laut ini penduduknya banyak orang miskin, tanah gersang, perdagangan pun sepi.
Maka perusahaan ekspedisi besar jarang mau menerima kiriman barang yang ditujukan ke daerah barat laut.
Umpama ada dan terpaksa harus diterima juga jarang cong-piauthau-nya sendiri yang harus turun tangan.
Nyo Hoa berpikir.
"Dari Pakkhia mengirim barang ke Jinghay seberat itu, jarak sejauh ini jalan pegunungan rusak dan jelek lagi, jelas merupakan kiriman yang merugikan dipandang dari waktu dan biaya. Han Wi-bu adalah tokoh besar nomor satu dari kalangan piaukiok di kota raja kenapa dia sudi merendahkan derajat mengawal sendiri barang-barang ini?"
Rombongan piaukiok itu sudah meninggalkan Nyo Hoa di belakang, saat itu sudah memasuki sebuah lekuk gunung, karena beban teramat berat, maka kawanan keledai itu sering ngambek dan jalannya pelan.
Setiba mereka di lereng gunung seberang dari kejauhan Nyo Hoa masih sayup-sayup mendengar suara mereka.
Saat mana sang surya sudah doyong ke barat, angin dingin mulai menghembus dari puncak gunung, menderu dengan suaranya yang menggiriskan.
Secara mendadak cuaca berubah.
Mega mendung angin pun menghembus kencang, debu pasir beterbangan.
Walau Nyo Hoa memiliki kungfu tinggi di sini dia merasa sukar beranjak meski maju setapak langkah pula.
Bunyi geledek menggelegar di kejauhan, karuan Nyo Hoa kaget, pikirnya.
"Cuaca memang sering berubah mendadak, celaka bila turun hujan lebat."
Tengah dia berpikir dan kebingungan, didengarnya Han Wi-bu yang sudah berada di lereng seberang berteriak.
"Adik cilik, lekas lari ke tempat yang tinggi, cari tempat dan sembunyi, kita terhadang oleh salju gugur."
Nyo Hoa belum tahu apa itu salju gugur dan betapa dahsyatnya, namun mendengar suara Han Wi-bu bernada gugup dan panik, maka dia pun mendapat firasat jelek.
Nyo Hoa angkat kaki, dilihatnya lereng gunung di seberang sana mendadak mengepul asap dan buih-buih hitam, itulah reaksi dari lapisan salju yang retak oleh getaran keras.
Dalam sekejap, lereng di mana tadi dia berpijak telah ditelan asap putih yang mengepul hingga seluruh bukit berubah seperti kawah gunung berapi.
Sementara itu gumpalan-gumpalan salju dari puncak gunung mulai berjatuhan, salju sebesar gajah tampak bergerak menggelinding dari pelan makin keras dan cepat suaranya yang gemuruh laksana ledakan guntur.
Begitu dahsyat salju gugur ini, kekuatannya sungguh bukan kepalang, pohon besar pun diterjangnya sampai tumbang dan hanyut terbawa arus kepingan salju, batu-batu gunung, pohon tanah dan lain sebagai-nya seperti dituang dari atas, merupakan arus dahsyat yang tak bisa dibendung oleh apa pun, makin lama makin besar dan luas arena yang diterjang arus besar itu.
Nyo Hoa mendekam di belakang sebuah batu, terasa kepingan salju, batu, pasir dan pepohonan laksana amukan badai, meledak dan gugur melewati atas kepalanya.
Gemuruh suaranya bergema di angkasa, menggetar lembah pegunungan, seolah-olah dunia mulai kiamat.
Padahal salju gugur ini terjadi di seberang puncak sana, walau tidak sampai melanda ke daerah mereka di sebelah sini bahayanya juga tidak begitu besar, lapi kapan Nyo Hoa pernah melihat salju gugur sedahsyat ini, kini mendadak menghadapi kedahsyatan alam yang sedang mengamuk, sungguh tegang dan berdebar jantung Nyo Hoa.
Di kala dia menonton dengan pandangan terkesima, mendadak didengarnya seorang berteriak minta tolong, jeritan panik dan takut manusia ini, seketika menarik perhatian Nyo Hoa, kontan dia melompat berdiri dari tempat sembunyinya.
Jeritan ngeri tadi membakar jiwa ksatria Nyo Hoa.
Sebetulnya dia sendiri dalam keadaan takut dan panik, entah dari mana datangnya keberanian, yang terpikir dalam benaknya sekarang hanyalah berusaha menolong sesama manusia, hingga keselamatan jiwa sendiri tidak dipikir lagi.
Dilihatnya seekor keledai sudah terguling jatuh ke sebuah lereng, orang yang menuntun keledai itu pun ikut terguling jatuh, tak mampu merangkak bangun.
Keledainya mati karena kepalanya pecah tertumbuk batu sementara penuntunnya itu patah tulang betisnya.
Arus masih terus bergulung-gulung menerjang ke bawah, walau penuntun keledai itu tidak kena terjang secara langsung tapi bila dia terseret turun lagi, kemungkinan bisa ditelan oleh arus dahsyat yang mengalir terus ke bawah lembah.
Padahal letak penuntun keledai itu masih berjarak seratusan langkah dari tempat Nyo Hoa, ingin Nyo Hoa menolong juga tidak keburu lagi.
Mendadak dilihatnya Han Wi-bu sudah menubruk turun, sekali raih dia pegang sebelah kaki penuntun keledai itu serta menariknya secara tiba-tiba, sekalian dia menyendat ke atas seraya membentak.
"Ciok-heng, awas sambutlah!"
Piausu she Ciok segera membuka kedua tangan, penuntun keledai itu berhasil dipeluknya, namun lekas dia pun berteriak.
"Cong-piauthau, lekas kau naik kemari.""
Lega hati Nyo Hoa, kaget namun girang pula, pikirnya.
"Han Wibu memang tidak bernama kosong, gaya permainan yang diperlihatkan barusan jelas aku tidak mampu melakukan."
Maklum cara Han Wi-bu menolong penuntun keledai tadi hanya mengandalkan kekuatan pegangannya serta dilempar ke atas dalam ketinggian belasan tombak, kalau dia tidak memiliki lwekang tangguh tak mungkin dia bisa menggunakan Tay-lik-eng-jiau-kang.
Baru saja Nyo Hoa mengucap syukur akan keselamatan penuntun keledai, tak nyana bahaya masih juga mengintip jiwa Han Wi-bu.
Ternyata piausu she Ciok itu juga melihat bahaya maka dia suruh Han Wi-bu lekas ke atas.
Tak nyana Han Wi-bu tidak terima anjurannya, setelah menolong penuntun keledai dia masih berusaha menolong barang-barang kawalan.
Keledainya sudah mati, belasan peti-peti di atas punggungnya juga jatuh berserakan di lereng.
Ada beberapa peti malah kelihatan melorot turun karena letak lereng itu miring cukup curam.
"Jangan khawatir, sebentar lagi,"
Sahut Han Wi-bu.
Sembari bicara kembali badannya meluncur ke bawah, waktu kakinya menyentuh bumi kebetulan dia berada di depan peti-peti yang melorot ke bawah, maka kedua tangannya bekerja cepat, satu persatu dia raih peti-peti itu langsung dilempar ke atas.
Kejadian berlangsung begitu cepat, arus yang terdiri dari kepingan es, batu, pasir, dan pepohonan itu sudah melanda tiba hampir menerjang dirinya.
Karuan piausu she Ciok itu amat kaget dan gugup.
"Congpiauthau, jiwa lebih penting, barang-barang hilang tidak jadi soal, pemiliknya tentu juga mau memaafkan kita."
"Betul, jiwa manusia lebih penting,"
Seru Han Wi-bu kereng.
"tapi dapat menyelamatkan satu peti berarti menolong lebih banyak jiwa manusia, memangnya kau tidak tahu?"
"Aku tahu, tapi kau..."
Suara piausu she Ciok lebih panik.
"Baiklah, ini yang terakhir. Sebentar aku ke atas,"
Ujar Han Wi bu.
Tak nyana belum dia habis bicara, arus besar itu sudah melanda lebih dulu.
Baru saja Han Wi-bu melempar peti terakhir, tiba-tiba sebuah batu yang menggelinding turun menumbuk dadanya.
Han Wi-bu menggen-tak kedua lengan sambil melompat minggir beberapa langkah, namun demikian dia kalah cepat dari terjangan arus besar itu, namun masih untung dia tidak di pusat arus besarnya, tapi toh badannya sudah terseret turun tak bisa dikendalikan lagi.
Setelah terhuyung beberapa saat akhirnya dia pun terpeleset, badannya terguling lebih ke bawah.
Sementara arus besar itu hanyut di sebelah badannya.
Tapi arus itu makin besar dan meluas.
Jikalau dia tidak lekas menyingkir, akhirnya juga pasti ditelannya.
Padahal dia sudah kehilangan banyak tenaga, dalam keadaan lemas, tak mampu menguasai diri lagi.
Karuan piausu she Ciok menjerit ngeri dan berdiri terbelalak.
Arus besar sudah menelan setengah lereng gunung, jalan tembus atas dan bawah"
Sudah terpotong.
Kalau Han Wi-bu tidak mampu merangkak ke atas, piausu she Ciok juga tidak mampu turun menolongnya.
Han Wi-bu sendiri juga sudah merasa ajalnya di depan mata, mendadak terasa sebatang kayu menyentuh badannya, seseorang berteriak;
"Cong-piauthau, lekas pegang kencang...."
Ternyata dahan pohon sebesar lengan telah diulur melintang di sebelah atasnya.
Ternyata arah Han Wi-bu terseret turun oleh arus kebetulan adalah arah Nyo Hoa berlari naik, pada detik-detik yang berbahaya itu Nyo Hoa mematahkan dahan pohon dan kebetulan sempat menolong jiwanya.
Di ambang pintu maut, sudah tentu Han Wi-bu tidak sia-siakan kesempatan hidup, dengan kencang dia pegang dahan pohon, sementara dengan sekuat tenaga Nyo Hoa menariknya ke atas.
Pada saat italah arus besar telah menelan tempat di mana dia tadi berdiri.
Nyo Hoa masih tetap menariknya ke tempat yang lebih tinggi, setelah dirasa selamat Han Wi-bu menghela napas, katanya dengan penuh semangat.
"Saudara cilik, banyak terima kasih akan pertolonganmu."
"Cong-piauthau, bukankah tadi kau bilang di empat penjuru lautan semua adalah saudara? Kau memberi seperangkat pakaian kapas, aku toh belum sempat mengucapkan terima kasih padamu."
Sejenak Han Wi-bu menatapnya, terasa pemuda ini seperti memiliki sesuatu yang ganjil, katanya.
"Adik cilik dengan menempuh bahaya kau menolong aku, tahukah kau mungkin kau bisa terjerumus pula bersamaku?"
"Cong-piauthau, dirimu kujadikan teladan, kau berani menolong orang lain tanpa hiraukan keselamatan sendiri kenapa aku tidak boleh mencontoh perbuatanmu?"
Han Wi-bu tergelak-gelak, katanya.
"Ucapan bagus. Adik cilik, kau memang menyenangkan."
Salju gugur hanya berlangsung beberapa kejap saja, lekas sekali sudah reda, arus besar itu pun sudah memenuhi lembah.
Tampak di sana sini celah-celah retakan tanah, batu-batu gunung sebesar kerbau, pepohonan yang tumbang berserakan mencegat jalan.
Menyaksikan betapa dahsyat kekuatan perusak dari salju gugur ini, jantung Nyo Hoa masih berdebar, katanya.
"Syukur tiada yang jadi korban di antara kita, salju gugur memang mengerikan."
Han Wi-bu tertawa, katanya.
"Padahal salju gugur kali ini belum seberapa. Puluhan tahun yang lalu pernah terjadi salju gugur juga di puncak Himalaya, bukit-bukit salju sebesar rumah berjatuhan hingga suaranya terdengar ratusan li jauhnya, puluhan li di sekitar kejadian, manusia dan hewan tiada yang selamat, semua tertimbun hiduphidup, itu lebih dahsyat dan mengerikan lagi."
Nyo Hoa meleletkan lidah dan merinding mendengar cerita Han Wi-bu.
"Adik cilik,"
Kata Han Wi-bu tiba-tiba.
"kapan kau pernah latihan kungfu?"
Nyo Hoa sudah menduga suatu ketika orang pasti tanya hal ini, maka jawaban yang sudah dirangkai sebelumnya segera dikatakan.
"Kapan aku pernah latihan kungfu, soalnya sejak kecil aku sudah biasa berburu binatang di pegunungan, hingga tenaga kaki tanganku lebih kuat dari orang biasa."
Setelah berbohong diamdiam hatinya agak menyesal, pikirnya.
"Han-cong-piau-thau adalah orang baik, seharusnya aku tidak pantas membohongi dia. Tapi kalau aku berterus terang pandai main silat, pasti dia akan tanya siapa guruku dan lain-lain persoalan tetek bengek, akhirnya siapa diriku pun tak bisa dirahasiakan lagi. Apalagi ji-suhu sudah bermusuhan dengan kerajaan, mana boleh aku menjelaskan kepadanya. Bahwa Tin-wan Piaukiok bisa angkat nama di kota raja, pasti dia punya kenalan di kalangan pemerintahan. Apa yang dikatakan pemuda cakap itu memang benar, jangan gampang percaya kepada orang lain."
"Siapa namamu adik cilik?"
Tanya Han Wi-bu. Nyo Hoa berpikir.
"Diriku adalah kambing kecil yang baru keluar kandang, yakin dia tidak pernah mendengar namaku,"
Maka sejujurnya dia beri tahu nama aslinya. Han Wi-bu berkata.
"Adik cilik, tenagamu sungguh kuat sekali, apakah keluargamu memang pemburu? Tinggal di mana?"
"Aku tinggal di Siau-kim-jwan, tapi sudah lama aku tidak punya rumah."
Mendengar Siau-kim-jwan, kelihatan Han Wi-bu kaget, katanya.
"Bukankah Siau-kim-jwan baru saja mengalami huru-hara, tahun lalu kabarnya telah direbut dan diduduki pasukan kerajaan?"
"Aku anak keluarga miskin yang tinggal di atas gunung, apa yang kuketahui tentang dunia ramai tidak banyak. Tapi sebelum pasukan kerajaan berkuasa di sana kehidupan kami tenteram dan sentosa, yang bertani bekerja di sawah ladang, para pemburu boleh memburu binatang apa saja yang ditemukan, setiap keluarga hidup tenteram sejahtera Setelah pasukan kerajaan datang, setiap lelaki kecuali masih bocah dan orang tua jompo diseret untuk kerja paksa, setiap keluarga ditarik pajak, mereka bertindak keji melebihi kawanan rampok, suasana menjadi kacau dan geger. Karena di sana aku tak bisa hidup tenang, terpaksa aku nekad turun gunung dan mencari nafkah di tempat lain saja."
Nyo Hoa berani mengarang cerita bohongnya ini, karena dia pernah berada di Siau-kim-jwan, secara langsung mengikuti penderitaan rakyat jelata di sana, maka tak perlu khawatir Han Wi-bu tahu akan bualannya.
Di samping dia pun ingin tahu bagaimana sikap Han Wi-bu terhadap laskar rakyat.
"Siau-kim-jwan memang tanah yang baik, belasan tahun lalu aku pun pernah ke sana. Waktu itu Leng Thiat-jiau dan Siau Ci-wan kedua tayhiap itu belum mendirikan pangkalan di sana Apa kau tahu kedua pimpinan besar itu?"
Kalau Nyo Hoa memancing dia, ternyata dia balas memancing Nyo Hoa.
"Pernah kudengar nama mereka, sayang belum pernah melihatnya. Han-cong-piauthau apa kau kenal mereka?"
"Sayang sekali aku pun belum pernah melihat mereka. Tentang nama mereka sudah tentu sudah lama aku pun mengaguminya."
"Setelah aku meninggalkan Siau-kim-jwan, baru tahu orangorang luar daerah menganggap mereka sebagai kepala rampok. Sebaliknya penduduk miskin setempat justru tiada yang pandang mereka sebagai orang jahat. Han-cong-piauthau, kau banyak pengalaman, menurut pendapatmu, orang macam apakah mereka sebenarnya?"
"Dengan mereka aku tidak punya hubungan, tak berani aku memberi komentar,"
Demikian jawab Han Wi-bu.
"Kalau bicara secara umumnya di kalangan Kangouw, mereka boleh disebut orang gagah."
Lega hati Nyo Hoa, pikirnya.
"Sebagai cong-piauthau sepantasnya dia mengikat hubungan secara luas dengan golongan hitam atau aliran putih, sudah tentu tidak berani menentang hukum, namun dari nada bicaranya, sedikit banyak dia bersimpati terhadap laskar rakyat."
Han Wi-bu cukup kenyang makan asam garam kehidupan, tujuan Nyo Hoa mau memancing sikap dan keterangan, tidak disadarinya telah menunjukkan kelemahannya sendiri. Dalam hati Han Wi-bu berpikir.
"Anak miskin dari keluarga biasa yang hidup di atas gunung, mana mungkin bisa bicara seperti ini? Agaknya pemuda ini punya sedikit asal-usul."
Maka dia bertanya pula.
"Tadi kau bilang sudah lama tidak punya rumah, lalu di mana ayah ibumu?"
"Sejak kecil orang tuaku sudah meninggal, seorang paman di sebelah, tetangga yang baik hati, sudi merawat dan mengasuhku hingga tumbuh dewasa sampai sekarang."
Dalam hati dia sudah anggap ayahnya sudah mati, maka hatinya menjadi haru, tanpa terasa kedua matanya merah berlinang airmata.
"Ai, sungguh kasihan. Apa kau mau ikut aku kerja di piaukiok?"
Tanya Han Wi-bu.
"Kulihat kau cekatan dan lincah, berbakat untuk meyakinkan kungfu. Bila kudidik selama beberapa tahun, pasti kau kelak bisa menjadi seorang piausu."
Ajakannya ini sudah secara langsung memberi petunjuk kepada Nyo Hoa, bahwa dia ada maksud mengangkat Nyo Hoa menjadi murid.
Kalau orang lain, punya kesempatan menjadi murid dari cong-piauthau dari perusahaan terbesar nomor satu di kota raja, siapa tidak akan berjingkrak girang dan segera menyembah kepadanya?
Tak nyana Nyo Hoa justru berkata.
"Terima kasih atas kebaikan cong-piauthau yang sudi membimbingku, sayang aku sudah berjanji dengan sanak kadang, terpaksa maksud baikmu tidak bisa kuterima."
Han Wi-bu tampak kecewa, katanya.
"Apa betul kau mau ke Jiktat-bok?"
Nyo Hoa mengiakan sambil mengangguk.
"Baiklah, kalau begitu kau boleh seperjalanan dengan kami."
Tatkala itu hujan salju sudah reda, jalanan menuju ke atas gunung juga sudah tembus, piausu she Ciok saat itu juga sedang memanggil-manggil.
"Cong-piauthau."
"Aku tidak apa-apa,"
Seru Han Wi-bu.
"sebentar aku naik."
Lalu dia berpaling kepada Nyo Hoa dan berkata.
"Setelah salju gugur jalan pegunungan teramat licin, hati-hati ikutilah jejakku."
Beberapa bagian tenaga Han Wi-bu sudah pulih.
Nyo Hoa mengikuti di belakangnya, melihat langkah orang masih ringan dan cekatan, menginjak salju tidak mengeluarkan suara, diam-diam dia memuji dalam hati.
Pikirnya.
"Jikalau aku, setelah mengalami kejadian ini mungkin selangkah juga susah berjalan."
Arus besar itu memang sudah mengalir ke dalam lembah namun lereng bukit ini juga masih ditaburi kepingan es dan tanah serta pepohonan, bila kurang hati-hati, sekali terpeleset salah-salah bisa jatuh ke jurang.
Nyo Hoa berada di belakangnya, Han Wi-bu melompati sebuah selokan yang lebarnya beberapa kaki, katanya.
"Lihat jelas tempat kakiku berpijak,"
Di seberang selokan karena arus basah baru saja lewat, permukaannya masih tergenang sisasisa air.
Begitu Nyo Hoa ikut melompat, tiba-tiba kakinya terpeleset, tempat kakinya berpijak ternyata tiada tempat yang kokoh, baru saja dia mau mengembangkan ginkang, dengan daya lompatannya tadi sekalian dia hendak melesat ke depan melewati sekeping salju yang terapung, dilihatnya Han Wi-bu sudah membalik badan sambil berteriak.
"He, kenapa kau tidak berhati-hati."
Tergerak hati Nyo Hoa, pikirnya.
"Apa dia berniat mencoba aku, apakah aku pandai menggunakan ginkang."
Lekas dia pura-pura terpeleset terus jatuh.
Namun sigap sekali mendadak Han Wi-bu berputar secepat angin lesus, tubuhnya telah disambar dan dipapahnya.
Dugaan Nyo Hoa memang benar, Han Wi-bu sengaja menginjak pecah lapisan es di permukaan air, sekaligus mengendorkan posisi batu di bawahnya, tujuannya untuk mencoba sampai di mana taraf kepandaian Nyo Hoa.
Tapi kali ini dia kena dikelabui oleh Nyo Hoa Dalam hati, diam-diam dia menyesal pikirnya.
"Pemuda ini sudah menolong jiwaku, umpama betul dia mengelabui aku pura-pura tidak pandai kungfu, aku juga tidak pantas mencobanya."
Melihat cong-piauthau mereka selamat tidak kurang sesuatu bersama Nyo Hoa, orang-orang piaukiok di samping senang dan kaget, mereka pun merasa heran. Piausu she Ciok berkata dengan tertawa.
"Adik cilik, tadi kau tidak lari ke tempat tinggi malah turun ke tempat rendah, terus terang hariku khawatir setengah mati. Untunglah kau memang dilindungi Yang Maha Kuasa sehingga terhindar dari bencana ini."
Ternyata dia hanya melihat Nyo Hoa memburu ke arah Han Wi-bu yang mengalami musibah, di tengah hamburan salju dan batu, sementara arus besar masih menerjang, dia tidak menyaksikan cara bagaimana Nyo Hoa telah menolong cong-piauthau mereka.
Maka Han Wi-bu bergelak tawa, katanya.
"Lo-ciok, kenapa persoalan justru kau putar balik."
Ciok piausu melenggong, tanyanya.
"Lalu bagaimana kejadiannya?"
Han Wi-bu tertawa, katanya.
"Kalau bukan adik cilik ini yang menolong aku, pasti aku sudah tertimbun hidup-hidup oleh longsoran salju."
Sudah tentu orang banyak kaget dan heran pula, siapa pun tidak sangka pemuda yang berpakaian butut ini ternyata mampu menolong jiwa cong-piauthau mereka, kalau bukan Han Wi-bu sendiri yang bicara, pasti mereka tidak mau percaya.
"Tio-toasiok,"
Kata Han Wi-bu.
"bagaimana luka-lukamu?"
Orang she Tio ini adalah penuntun keledai yang dia tolong tadi.
"Untung hanya terkilir sedikit tulang betisku, barusan Ciok piausu telah membetulkan tulang, mengurut urat dan membubuhi obat, sekarang sudah lebih baik. Sayang keledai itu mati, obat-obatan ini...."
Ada belasan peti yang dibawa oleh keledai yang mati.
Waktu jatuh ke lereng bukit, tidak sedikit di antara peti-peti itu yang rusak, di tempat itu mereka tidak sukar mencari kayu, sibuk sebentar, dengan mudah mereka telah menambal dan memperbaiki peti-peti yang rusak itu.
Baru sekarang Nyo Hoa sadar, pikirnya.
"Tak heran Han Wi-bu berani mempertaruhkan jiwa untuk menolong peti-peti itu, ternyata isinya obat-obatan untuk menolong orang sakit."
Sikapnya lebih hormat lantaran kagum. Han Wi-bu tertawa, katanya.
"Setelah mengalami salju gugur ini, kita hanya kehilangan seekor keledai, ini boleh dianggap beruntung di tengah bencana. Tio-toasiok, kau tidak usah khawatir. Puluhan peti ini kita boleh membagi rata untuk memanggulnya secara bergiliran, setelah keluar dari mulut gunung, nanti kita beli lagi seekor keledai, cuma lukamu...."
"Lukaku tidak jadi soal,"
Penuntun keledai itu tersipu-sipu.
"Walau tidak apa-apa, selanjutnya kau tidak boleh ikut dalam perjalanan ini,"
Ujar Han Wi-bu.
"Betul,"
Kata Ciok piausu.
"kau harus cari tempat supaya Tiotoasiok bisa beristirahat merawat luka-lukanya, tapi di tengah pegunungan ini...."
"Di atas gunung sebelah depan ada sebuah kuil Lama dari sekte Pek-kau (Agama putih), aku kenal Lama yang memimpin kuil itu."
Ciok piausu kegirangan, katanya.
"Kiranya Lama dari Pek-kau sungguh kebetulan."
"Memang,"
Ucap Han Wi-bu pula.
"umpama aku tidak kenal baik dengan Lama yang jadi pimpinan kuil itu, bila kita jelaskan duduk perkaranya pasti dia mau menerima kehadiran Tio-toasiok di sana."
"Setelah salju longsor ini, besok baru bisa kita melanjutkan perjalanan,"
Demikian kata Ciok piausu.
"Kalau di atas gunung ada kuil Lama, baiknya malam ini kita semua menginap di sana saja."
"Begitulah maksudku, walau kuil Lama kecil, namun beberapa orang kita ini masih cukup tidur berhimpitan. Adik cilik, ikutlah bersama kami, kami anggap kau orang sendiri, selanjutnya harap kau tidak sungkan lagi terhadap kami."
Nyo Hoa memanggul dua peti, katanya tertawa.
"Cong-piauthau, kalau kau anggap aku orang sendiri, maka kau pun tak usah sungkan terhadapku."
Terpaksa Han Wi-bu membiarkan Nyo Hoa memanggul dua peti itu. Piausu itu bernama Ciok Kian-ciang, pembantu utama yang dipercaya oleh Han Wi-bu, orangnya supel berhati baik, katanya.
"Nyo-lote, seorang lelaki harus pandai membawa diri dan menyesuaikan keadaan, bahwa kau sudah sebatang kara, daripada jauh-jauh pergi mencari sanak kadangmu, lebih baik kau bekerja bersama kami saja Di bawah asuhan cong-piauthau, yakin kau akan belajar kungfunya yang bagus."
Nyo Hoa tetap menjawab dengan alasan yang sama atas pertanyaan Han Wi-bu tadi. Sudah barang tentu Ciok Kian-ciang agak kecewa juga, katanya.
"Lote, bila kau tidak menemukan familimu, kembalilah mencari kami. Oh, ya, di mana familimu itu mendirikan peternakan, boleh kau beri tahu kami? Biarlah aku yang mencarimu saja."
"Aku hanya tahu dia berada di Jik-tat-bok dan mempunyai peternakan, sesampai di sana aku harus tanya orang baru akan dapat menemukan alamatnya."
"O, jadi familimu punya peternakan di Jit-tat-bok, itu lebih kebetulan, barang-barang yang kami kawal ini memang harus lewat Jit-tat-bok,"
Demikian ucap Ciok Kian-ciang, reaksinya seperti Han Wi-bu tadi, setelah tahu Nyo Hoa mau pergi ke Jit-tat-bok sikapnya kelihatan sedikit kaget dan curiga.
Dalam pembicaraan selanjurnya terasa dia lebih hati-hati.
Mau tidak mau Nyo Hoa juga bingung dan bimbang.
"Apakah mereka sudah tahu bahwa laskar rakyat dari Siau-kim-jwan sudah hijrah ke pegunungan Jit-tat-bok?"
Maka Ciok Kian-ciang mengalihkan pembicaraan, tanyanya.
"Kuil Lama itu masih jauhkah?"
"Tidak jauh. Setelah melampaui lekuk gunung di depan itu, dari kejauhan sudah kelihatan,"
Demikian ujar Han Wi-bu. Ciok Kian-ciang tertawa, katanya.
"Cong-piauthau, pergaulanmu sungguh luas, belum pernah aku tahu bahwa kau ada hubungan kental dengan Lama dari Pek-kau, tak heran..."
Sampai di sini seperti dia sadar di sampingnya ada Nyo Hoa, soal-soal rahasia tidak boleh dibicarakan. Han Wi-bu bergelak tawa, katanya.
"Maksudmu tak heran kali ini kita dapat menerima kawalan pengiriman obat-obatan ini bukan?""
Sikap Ciok Kian-ciang tampak rikuh dan menyengir, terpaksa dia mengiakan, seperti tidak sengaja dia melirik kepada Nyo Hoa.
Bahwasanya Nyo Hoa tidak tahu bahwa agama yang dipeluk oleh para Lama ada terbagi beberapa cabang, di antaranya seperti Pekkau, selama ini dia hanya tahu Lama yang ada di Tibet hanya memeluk Ang-kau (Agama merah) dan Ui-kau (Agama kuning).
Tatkala itu kekuatan Ui-kau paling besar dan berkuasa di segala lapisan masyarakat.
Dalai Lama dan Pancen Lama juga termasuk Uikau.
Di luar tahunya bahwa kecuali Ang-kau dan Ui-kau masih ada juga Pek-kau.
Sebetulnya dia ingin tanya Han Wi-bu, namun terasa sikap Han Wi-bu dan Ciok Kian-ciang terhadapnya seperti agak bimbang dan curiga, maka dia urungkan niatnya.
Han Wi-bu seperti meraba jalan pikiran Nyo Hoa, katanya dengan tertawa.
"Lote, mungkin kau belum tahu di antara agama yang dipeluk para Lama di sini, masih ada Pek-kau bukan? Sepanjang jalan ini kita bisa ngobrol, biarlah kujelaskan kepadamu."
Lekas Nyo Hoa berkata.
"Kalau ada sesuatu yang kurang enak dibicarakan, kurasa tak usah kau menjelaskan kepadaku."
Han Wi-bu tertawa, katanya.
"Lote, kita sudah orang sendiri, ada soal apa yang tidak leluasa dibicarakan?"
Dalam hati dia berpikir.
"Pemuda ini memang sederhana dan jenaka. Aku yakin dia pasti punya asal-usul, tapi peduli bagaimana asal-usulnya yang jelas aku boleh percaya kepadanya."
Setelah tertawa lebar Han Wi-bu berkata lebih lanjut.
"Aliran Pekkau sebetulnya berdiri lebih dulu dari Ang-kau dan Ui-kau. Ang-kau berkuasa dijamin dinasti Goan. Belakangan Cong-gi-pa berdiri mengubah La-ma-kau, saat itulah mulai berdirinya Ui-kau, lambat laun kekuatan Ang-kau dioper ke tangan Ui-kau, Pek-kau-akhirnya tersingkir sesudah Ang-kau dan Ui-kau makin kuat. Akhirnya, kirakira seratus tahun yang lalu, Pek-kau tidak mampu bercokol lagi di Tibet, terpaksa mereka hijrah ke Jinghay dan di sana mereka membangun To-lun-si, berafiliasi pada kekuasaan raja Ok-khek-cobeng, hingga bertahan sampai sekarang. Umat mereka jelas tidak lebih banyak dari umat Ui-kau, tapi Ok-khek-co-beng adalah raja kecil yang paling berkuasa di propinsi Jinghay, seluruhnya ada tigabelas suku minoritas di bawah pimpinannya. Sehingga para Lama dari Ui-kau di Tibet tidak berani mencari setori kepada mereka, demikian pula pihak kerajaan juga berusaha merangkul mereka."
"Pemimpin tertinggi dari Pek-kau sekarang adalah Khong-ciokbeng-ong seorang yang punya ambisi besar dan berpandangan jauh, selama ini dia bisa bekerja sama dan rukun dengan Ok-khekco-beng, cita-citanya adalah meningkatkan gengsi dan kedudukan Pek-kau pada taraf kejayaannya dulu."
Setelah menjelaskan sejarah Pek-kau, lebih lanjut Han Wi-bu berkata.
"Permulaan tahun ini, di daerah kekuasaan Ok-khek-cobeng terjangkit semacam penyakit menular, penduduk yang terserang penyakit ini cukup banyak. Terus terang, obat-obat yang kami kawal ini akan kami kirim ke Ong-khek-co-beng. Untuk ke Ong-khek-co-beng harus lewat Jik-tat-bok maka kita bisa seperjalanan, cuma aku tidak bisa temani kau mencari familimu."
Sambil bicara tanpa terasa mereka sudah melewati lekuk gunung dan membelok ke sana, tampak tak jauh di sebelah depan kuil Lama yang dimaksud itu, besarnya tidak lebih seperti rumah petani umumnya, pagar temboknya sudah runtuh dan bolong-bolong.
Ciok Kian-ciang tampak sedikit kecewa, katanya.
"Usia bangunan kuil itu agaknya cukup tua kalau nada satu abad juga pasti ada delapan-puluh tahun. Setelah terjadi satyu gugur ternyata kuil ini tetap berdiri sungguh merupakan suatu keajaiban."
"Itulah salah satu kuil yang dibangun paling awal saat Pck-kau berdiri di Jinghay. Walau keadaannya sudah bobrok, tapi Sama Hoatsu yang jadi pimpinan kuil Lama itu seorang ramah dan supel, malah dia pun pandai bicara bahasa Han kita;"
Betul juga, waktu rombongan mereka tiba di depan kuil, Sama Hoatsu bersama seorang Lama kecil sudah menunggu di depan kuil dengan sikap ramah dan hormat.
Sama Hoatsu adalah seorang kakek berusia enampuluhan bertubuh kurus kuyu.
Lama kecil itu pun bermuka pucat kuning kurus lencir, usianya kira-kira sepadan dengan Nyo Hoa.
Melihat rombongan mereka, Sama Hoatsu tampak gembira, katanya tertawa.
"Kukira kalian adalah rombongan pedagang yang terhambat jalan karena terjadi salju gugur, ternyata kau congpiauthau yang pimpin rombongannya sendiri."
Han Wi-bu berkata.
"Memang sengaja aku hendak menyambangi kawan lama. Tahukah kau kami akan pergi ke Hwe-hud (Budha hidup) kalian sana?"
"Hal itu sudah kutahu, tapi tidak nyana kalian datang sendiri ini. Em, salju gugur tadi...."
Dia pun perhatikan peti-peti yang dipanggul serta penuntun keledai yang berjalan terseok-seok. Han Wi-bu tergelak-gelak, katanya.
"Berkat lindungan Thian, hanya seekor keledai yang jadi korban. Tapi Tio-toako ini terjatuh dan terkilir tulang betisnya, terpaksa harus minta bantuanmu."
"Dari jauh kalian tidak kenal lelah, tidak takut menderita, menempuh perjalanan hujan angin mengantar obat-obatan untuk kami, kenapa main sungkan pula kepadaku? Jangan khawatir, bila kalian kembali, kutanggung tulang betis toako ini yang terkilir pasti sudah sembuh. Silakan masuk."
Kuil Lama ini hanya punya sebuah kamar tamu.
Sama Hoatsu suruh Lama kecil membimbing penuntun keledai masuk ke kamar istirahat serta mengganti obat dan membalurnya pula.
Sementara orang banyak berkumpul di ruang pemujaan duduk di lantai dalam sebuah lingkaran.
Sama Hoatsu membuka suara lebih dulu.
"Tempatnya kecil, terpaksa kalian duduk di lantai saling berhimpitan sedikit. Kalian lapar?"
"Kami membawa ransum, di jalan sudah makan. Lapar sih tidak, syukur kalau ada arak."
"Benar, minum arak bisa menghilangkan rasa dingin. Kebetulan aku masih punya simpanan seguci arak susu kuda yang kubawa dari To-lun-si dan seguci lagi arak anggur. Kalian boleh minum sepuasnya."
Setelah tenggak semangkok arak, Ciok Kian-ciang berkata.
"Aneh, tadi badan rasanya penat sekarang rasa ngantuk sedikit pun tidak."
Han Wi-bu tertawa, ujarnya.
"Terlalu lelah malah tidak bisa tidur, sekarang baru kau tahu?"
Ciok Kian-ciang tertawa, katanya.
"Kukira karena minum arak segar dan nikmat ini. Cong-piauthau, setiap ada arak minumku tidak takaran, takaran minum arakmu lebih besar dari aku, silakan tambah semangkok lagi. Cuaca seburuk ini, kurasa besok juga belum tentu bisa berangkat"
Han Wi-bu berkata.
"Adik cilik, marilah jangan sungkan, kau minum juga, arak susu kuda hanya ada di propinsi Jinghay dan Tibet, di tempat lain kau tak akan bisa merasakan. Arak anggurnya rasanya juga sedap."
Seperti diketahui, sam-suhu Ny o Hoa, Tan Khu-seng, juga penggemar arak, maka Nyo Hoa juga suka minum.
Arak susu kuda rasanya agak asam dan getir, bagi yang suka minum dianggap enak, namun Nyo Hoa tidak cocok, tidak memenuhi selera, maka Han Wi-bu mengiringinya minum dua cawan arak anggur.
Arak anggur kwalitas nomor satu rasanya memang luar biasa, siapa pun pasti senang minum arak anggur, tapi setelah masuk perut baru alkohol bekerja, bagi yang tidak kuat sebentar saja pasti mabuk.
Nyo Hoa memang biasa minum arak, tapi perutnya kosong, maka hanya beberapa cawan saja dia sudah mulai linglung.
Tiba-tiba terdengar derap kuda mendatangi dan berhenti di depan kuil.
Baru saja Nyo Hoa merasa heran, hari sudah petang dari mana ada tamu yang mau menginap.
Begitu dia angkat kepala, tampak dua perwira melangkah lebar memasuki kuil Lama ini.
Kedua perwira inilah yang siang tadi bersua di tengah jalan.
Han Wi-bu segera berteriak.
"Haya, Ma-tayjin, Ciu-tayjin, angin apa yang menghembus kalian kemari?"
Kedua perwira ini yang satu bernama Ma Gun, temannya bernama Ciu Jan.
Ma Gun adalah wakil komandan Gi-lim-kun, sementara Ciu Jan adalah perwira tinggi dalam kalangan Gi-lim-kun.
Ma Gun tertawa getir, katanya.
"Memang benar, kami sedang dihembus angin salju hingga sampai di sini. Cong-piauthau, kenapa kau sendiri juga ikut mengawal barang?"
"Barang kawalan ke daerah Jinghay dan Tibet belum pernah perusahaan kami mengerjakan, khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, terpaksa aku temani para saudara mengadu nasib. Tayjin berdua kenapa jauh-jauh berada di tempat ini?"
"Kami sih makan gaji kerajaan, harus patuh pada urusan dinas. adanya perintah dari yang berkuasa, terpaksa jauh-jauh kemari menjual jiwa,"
Demikian ujar Ma Gun.
Setelah saling basa-basi, kedua belah pihak merasa mcndclu.
Han Wi-bu adalah cong-piauthau dari perusahaan ekspedisi nomor satu di Pakkhia, ternyata dia sendiri harus menampilkan diri ikut mengawal barang, hal ini jelas sudah menimbulkan rasa curiga Ma Gun.
Sebaliknya sebagai wakil komandan Gi-lim-kun, mendadak Ma Gun muncul di kuil bobrok ini, mau tidak mau Han Wi-bu juga merasa kaget dan heran, pilarnya.
"Semoga mereka bukan hendak pergi ke Jik-tat-bok."
Meski kedua pihak sama-sama merasa curiga, namun tiada yang enak buka suara.
Maklum merupakan pantangan bagi siapa saja yang tanya kepada rombongan piaukiok, barang apa yang mereka kawal dan ke mana tujuannya.
Dengan alasan yang sama, Han Wibu juga tidak enak tanya kepada Ma Gun, untuk urusan dinas apa mereka sampai berada di daerah minus ini.
Tapi secara tidak sengaja ia telah mencetuskan sedikit rahasia pihaknya, katanya.
"Syukur kami terhindar dari salju gugur tadi Semula kami hitung sebelum petang sudah akan berada di luar mulut gulung dan menginap di kota Kiang-bun. Tak nyana salju gugur terjadi di depan gunung, mulut gunung di belakang juga ikut tersumbat salju."
Kiang-bun adalah salah satu kota yang terletak di sebelah depan, pergi ke Jik-tat-bok harus lewat kota ini. Han Wi-bu mengerutkan kening, katanya.
"Gelagatnya memang berbahaya, salju menutup gunung, syukur kalau cuaca besok cerah, salju akan segera lumer, besok lusa kita akan bisa melanjutkan perjalanan. Kalau beberapa hari lagi mendung dan selalu turun hujan, entah kapan kita baru bisa meninggalkan tempat ini.
"Sejak tadi Ciu Jan tidak bicara, kini mendadak mendengus, katanya.
"Wah kebetulan, ternyata setan cilik ini juga sembunyi di sini. Locu (bapak) memangnya ingin membuang penasaran kepadamu."
Han Wi-bu kaget, walau dia angkat kepala dilihatnya Ciu Jan sedang menuding Nyo Hoa dan memaki sambil mendelik.
"Setan cilik, hayo lekas menggelinding keluar."
Ternyata Nyo Hoa sembunyi di belakang tumpukan peti obatobatan, namun Ciu Jan akhirnya melihat kehadirannya juga. Lekas Han Wi-bu tampil bicara.
"Entah dalam hal apa bocah ini berbuat salah terhadap Ciu-tayjin, sudilah Ciu-tayjin pandang mukaku, ampunilah kesalahannya."
Dengan seksama Ciu Jan awasi Nyo Hoa, katanya.
"Lho? Apakah setan cilik ini orang kalian?""
Sungguh dia tidak percaya bahwa pemuda berpakaian butut ini ternyata punya hubungan dengan Tinwan Piaukiok yang terkenal. Han Wi-bu unjuk tawa lebar, katanya.
"Saudara cilik ini adalah penunjuk jalan kami."
"Han-cong-piauthau,"
Kata Ma Gun.
"sebelum ini apa kau kenal dia?"
"Bocah ini penduduk pegunungan ini, mana pernah aku mengenalnya?"
Sahut Han Wi-bu.
"Jalan pegunungan di sini memang berbahaya, sebagian penduduk pegunungan sini bekerja sebagai penunjuk jalan, apa boleh buat terpaksa kami memberi upah kepada bocah miskin ini."
Ciu Jan berkata.
"Jadi kau pun tidak tahu asal-usulnya. Kukira dia tidak mirip anak miskin kebanyakan."
Mau tidak mau Han Wi-bu agak kaget, maklum dia omong kosong bagi Nyo Hoa, padahal dia sendiri juga tidak tahu asal-usul Nyo Hoa Jikalau di hadapan kedua perwira ini Nyo Hoa menunjukkan sikap yang mencurigakan.
Dan kenyataan Nyo Hoa bukan bocah sembarangan, dalam hati dia pun sudah bersiap-siap.
Pikirnya.
"Bila dia juga orang yang berpihak kepada laskar rakyat di Siau-kim-jwan dan asal-usulnya terusut oleh kedua perwira ini, tanggung jawabku sungguh teramat berat."
Ciu Jan berkata pula.
"Siang tadi kami lewat jalan pegunungan yang sempit, kami sedang keprak kuda, ternyata dia berani mengadang di tengah jalan, mungkin sudah bosan hidup, celaka adalah kuda kami malah yang ketakutan hingga hampir terperosok."
Setelah tahu duduk persoalannya, lega hati Han Wi-bu, katanya tertawa,"
Ciu-tayjin, dalam hal ini jangan kau salahkan dia, bocah ini dilahirkan di atas gunung, kapan pernah melihat kuda segagah tung-ganganmu, apalagi berlari sekencang itu, bukan dia tidak tahu takut, tapi justru ketakutan malah."
Ciu Jan berkata.
"Kalau dia benar adalah penunjuk jalan kalian, kenapa waktu itu dia berjalan sendirian?"
Han Wi-bu menjelaskan dengan tertawa.
"Ciu-tayjin, ada yang tidak kau ketahui. Barisan keledai kami membawa banyak barang, berat lagi, berjalan di pegunungan yang terjal cukup berbahaya, maka aku memerlukan penunjuk jalan yang memeriksa sepanjang jalan yang akan kami lalui sejauh sepuluh li, setelah dia kembali memberi laporan baru rombongan kami berangkat Khawatirnya bila bertemu dengan salju gugur, celakalah kalau terpendam hiduphidup. Namun meskipun kami sudah berlaku hati-hati, seekor keledai kami mati dan seorang patah kaki."
Keterangan Han Wi-bi masuk akal dan beralasan, ada bukti dan saksi, maka Ma dan Ciu setengah percaya. Han Wi-bu berkata pula.
"Bocah pikun, kau bikin kaget kuda kedua tayjin ini, hayo kemari, lekas beri hormat dan minta maaf."
Apa boleh buat, Nyo Hoa maju membungkuk-bungkuk serta mohon maaf. Tapi dalam hati dia mengumpat.
"Akan datang suatu ketika, kalian akan kubikin bertekuk lutut dan menyembah kepadaku."
Ma Gun tertawa, katanya.
"Baiklah memandang muka Han-congpiauthau yang mohon pengampunanmu, kali ini kami tidak akan cari perkara kepada bocah bodoh ini."
Maka Han Wi-bu suguhkan masing-masing secawan arak, katanya.
"Inilah arak anggur bikinan pemimpin kuil ini, orang she Han suguhkan kepada tayjin berdua, silakan cicipi."
Setelah minum arak, sikap Ciu Jan kelihatan lebih cerewet, dia ajak Han Wi-bu ngobrol panjang lebar, akhirnya dia berkata.
"Hancong-piauthau, bukan kami terlalu curiga. Di Siau-kim-jwan belakangan ini terjadi suatu peristiwa kecil, beberapa jago kosen terjungkal di tangan seorang pemuda berusia delapan-belas tahun. Bocah-itu ternyata berani menyaru jadi perwira tinggi dari pasukan Gi-lim-kun kami."
"O, ada kejadian itu? Kapan?"
Tanya Han Wi-bu.
"Ya, belum lama berselang. Jikalau kami tidak diutus ke Siau-kimjwan untuk mengusut perkara ini, aku pun tak berani percaya bahwa kejadian ini kenyataan,"
Ucap Ciu Jan.
"Orang macam apa dan dari pihak manakah bocah itu? Apa tayjin sudah tahu?"
Ma Gun geleng-geleng, katanya.
"Bocah itu mengaku she Nyo, sayang tiada yang tahu siapa namanya."
Tergerak hati Han Wi-bu.
"Apakah pemuda gagah itu jauh di ujung langit, dekat di depan mata, yaitu pemuda di depan mataku ini? Untung aku tidak menyebut namanya barusan."
Nyo Hoa juga sedang berpikir.
"Untung kedua pembesar anjing ini hanya tahu she tidak tahu namaku, kalau dia membeber di hadapan orang banyak, tentu rahasiaku terbongkar."
Seperti diketahui, mengira Han Wi-bu tidak pernah mendengar namanya, di waktu memperkenalkan diri Nyo Hoa menyebut nama aslinya. Ciok Kian-ciang menimbrung.
"Entah perkara apa yang dilakukan bocah itu, sudilah kiranya tayjin menjelaskan?"
"Kita kan kawan lama, kenapa tidak leluasa?"
Demikian ucap Ciu Jan.
"Perkara itu pun sudah menjadi rahasia umum di Siau-kimjwan. Tapi bicara soal perkara ini, mau tidak mau mendongkol hatiku. Ada seorang sejawat kami bernama Li Tay-yong, dia bertugas mengirim surat dinas ke Siau-kim-jwan, ternyata di tengah jalan dia lenyap tak karuan jejaknya. Tak lama setelah Li Tay-yong lenyap, muncul seorang perwira muda dari Gi-lim-kun di Siau-kimjwan, pemuda tiruan itulah yang muncul dengan seragam lengkap dan tanda pangkat tulen. Jadi bisa diduga bahwa Li Tay-yong pasti sudah dibunuh olehnya."
Han Wi-bu pura-pura kaget, katanya.
"Bukankah Li Tay-yong adalah orang yang diangkat langung oleh Pakkiong tayjin dahulu? Waktu di kota raja pernah aku1 berkenalan dengan dia Menurut apa yang kuketahui, kungfunya sungguh tangguh."
"Orang yang punya kungfu lebih tinggi dari Li Tay-yong juga ada yang kecundang oleh pemuda itu,"
Demikian ucap Ma Gun.
"Cuiciang-kun yang berkuasa di Siau-kim-jwan sekarang punya anak buah yang bergelar Si-ceng, Si-to dan Ngo-koan, tentunya kau juga tahu?"
"Pernah aku mendengar, cuma tak ingat siapa-siapa nama mereka secara lengkap. Tapi pimpinan Si-ceng adalah Thian-thay Siangjin, ketua Si-to adalah Gun-goan-cu, demikian pula tertua dari Ngo-koan adalah Teng Tiong-ai."
"Kepandaian ketiga orang itu bagaimana menurut pendapatmu?"
Tanya Ma Gun.
"Thian-thay Siangjin adalah jago kosen dari agama para Lama, Gun-goan-cu sudah memperoleh pelajaran mumi dari Bu-tong-kiamhoat, sepasang boan-koan-pitTeng Tiong-ai mcrupakan kepandaian tunggal di Bulim, sudah tentu mereka termasuk jago kosen kelas wahid."
"Akan tetapi bukan mereka bertiga, malah Si-ceng, Si-to dan Ngo-koan semua kecundang oleh bocah she Nyo itu. Padahal bocah itu hanya punya seorang pembantu yang sepadan usianya, pembantunya itu datang agak terlambat setelah bocah she Nyo itu melawan sendiri para musuhnya"
"Wah, kalau benar ada pemuda selihay itu sungguh sesuai pepatah yang mengatakan gelombang sungai belakang mendorong yang di depan, patah tumbuh Kilang berganti."
Jelas pepatah itu memuji pemuda gagah itu, setelah melontarkan kata-kata, bara Han Wi-bu sadar telah salah omong, untung Ma dan Ciu berdua tidak terlalu memperhatikan.
Setelah menghela napas Ma Gun berkata.
"Memangnya? Wibawa Gi-lim-kun boleh dikatakan tersapu bersih oleh bocah bergajul itu. Tapi syukur juga kami tidak pernah berjumpa dengan dia terhitung beruntung juga kami berdua."
Dalam hati Nyo Hoa tertawa geli, batinnya.
"Aku duduk di depan kalian, kalian berani bilang tidak bertemu."
Tiba-tiba terasa Han Wibu seperti melirik ke arahnya, Nyo Hoa lantas sadar, lekas dia menunduk pura-pura ngantuk sambil menguap dan menggeliat Ciu Jan mengerut alis, sikapnya tampak kurang senang karena Nyo Hoa menguap, hingga seleranya minum arak terganggu, namun dia tidak sudi berurusan dengan bocah seperti Nyo Hoa, maka dia menyambung keterangan Ma Gun.
"Kami diutus untuk manyelidiki perkara itu serta mengusut asal-usul pemuda yang menyaru perwira Gi-lim-kun itu. Setiba di Siau-kim-jwan, baru kami tahu di sana terjadi banyak peristiwa yang mengejutkan. Tapi bocah itu bersama temannya sudah kabur entah ke mana. lak lama kemudian kami menerima surat kilat Hay-congling, kami dimutasikan ke Lhasa, terpaksa kami meninggalkan Siau-kim-jwan."
Giliran Ma Gun mengerutkan kening, katanya sambil mengedipkan mata kepada Ciu Jan.
"Lo-ciu, terlalu banyak kau minum arak? Jangan minum lagi."
Secara tidak langsung dia memberi peringatan kepada Ciu Jan jangan sembarang membocorkan urusan dinas. Sikap Ciu Jan kelihatan runyam, pikirnya.
"Apa salahnya mereka tabu tujuan kita ke Lhasa? Jelasnya hal ini kan untuk mengelabui mata orang belaka."
Ternyata ada tujuan lain dalam perjalanan mereka kali ini, mengantar kado ke Lhasa hanyalah alasan belaka.
Tapi Ma Gun berkedudukan lebih tinggi dari Ciu Jan, maka Ciu Jan segera mengiakan.
Seperti Nyo Hoa, segera dia pura-pura mengantuk dan menguap sambil menggeliat.
"Ciu-tayjin, silakan istirahat,"
Ujar Han Wi-bu yang pengalaman.
"besok kita ngobrol lagi."
Sama Hoatsu segera menimbrung.
"Sungguh kurang enak, tay-jin berdua berkunjung ke tempat kami, tapi tiada kamar untuk tayjin istirahat Kalau tayjin tidak merasa kotor, kamar semadiku...."
"Taysu tak usah sungkan,"
Tukas Ma Gun.
"biar kami melepas lelah di sini saja"
Karena kedua perwira ini sudah menyatakan mau tidur, orang lain tahu diri, mereka tidak enak melanjutkan ngobrol, maka malang melintang mereka pun merebahkan diri.
Ruang pemujaan yang semula ramai, dalam sekejap menjadi hening.
Di tengah keheningan malam itulah, di luar mendadak terdengar suara.
"Tut... tut..."
Bunyi tanduk kerbau yang ditiup orang, menyusul puluhan kuda yang dilarikan kencang dibedal mendatangi.
Han Wi-bu, Ma Gun, Ciu Jan dan lain-lain berjingkrak bangun.
Maka terdengar seorang berteriak di luar pintu.
"Orang lain boleh tidak usah turut campur, kami hanya merampas barang kawalan."
Nyo Hoa kaget, pikirnya.
"Suara orang ini sudah amat kukenal."
Waktu dia angkat kepala, tampak seorang lelaki setengah umur bermuka burik bersama seorang lelaki kepala gundul berusia limapuluhan melangkah masuk bersama. Sekilas Nyo Hoa melongo, pikirnya.
"Aneh, entah di mana aku pernah melihat lelaki burikan ini?"
Tapi seingarnya orang-orang yang pernah dikenalnya tiada yang bermuka burik.
Begitu masuk kuil si burik lantas berdiri dengan kedua kaki terpentang lebar, kedua telapak tangannya terletak di atas kedua lutut, telapak tangan tegak menghadap ke luar, itulah gaya pelindung dari gerakan Kim-kong-liok-yang-jiu warisan keluarga Nyo, bersiaga menjaga sergapan musuh secara mendadak.
Setelah berdiri dan pasang gaya, si burik segera tertawa, katanya.
"Hancong-piauthau, kau tidak akan menduga di tempat ini bertemu dengan orang she Bun bukan?"
Mendengar dia menyebut "she Bun", seketika Nyo Hoa ingat "O, kiranya dia toa-suko."
Si burik ini memang bukan lain adalah murid Nyo Bok yang tertua bernama Bun Seng-liong.
Bun Seng-liong sebetulnya pemuda gagah dan cakap, tiga hari setelah Nyo Bok pura-pura mati, sebelum layonnya dikubur, terjadilah suatu peristiwa, saat itulah Bun Seng-liong cidera dan selanjutnya menjadi burik, (baca Kelana Buana) Bun Seng-liong muncul secara mendadak, Han Wi-bu pun meleng-gong, lekas dia berdiri dan berkata dengan tertawa.
"Kukira siapa, kiranya Bun-toako. Bun-toako, kelakarmu ini apa tidak keterlaluan?"
"Siapa berkelakar dengan kau?"
Jengek Bun Seng-liong.
"Biarlah bicara blak-blakan saja, barang-barang kawalanmu itu harus kau serahkan kepada kami, nanti aku mohon keringanan dari Siangthocu supaya kalian pulang tanpa cidera. Kalau tidak, hehe, terpaksa kami menggunakan kekerasan."
Ciok Kian-ciang mendadak berdiri, bentaknya.
"Bun Seng-liong, apa betul kau hendak merampas barang kawalan kami?"
"Memangnya kau kira aku pura-pura? Lalu untuk apa aku membawa sekian banyak orang? Mereka sudah kusiapkan untuk mengangkut obat-obatan yang dikawal Tin-wan Piau-kiok."
Han Wi-bu kaget, pikirnya.
"Aneh, dari mana dia bisa tahu sejelas ini, bahwa yang kukawal adalah obat-obatan? Siapa pula orang she Siang ini?"
Sebetulnya bagaimana kepandaian Bun Seng-liong, hakikatnya Han Wi-bu tidak memandang sebelah mata kepadanya.
Tapi laki-laki pelontos yang datang bersama dia itu, mau tidak mau Han Wi-bu harus hati-hati menghadapinya.
Sepasang bola mata lelaki ini mencorong terang, kedua Tayyang-niat pun menonjol besar, berdiri tegak sekokoh gunung Setenang lautan.
Sebagai ahli silat, sekali pandang juga Han Wi-bu dapat melihat bahwa kepandaiannya tidak boleh diremehkan.
Sejak masuk, belum pernah dia bersuara, sikapnya kaku angker.
Kalau Han Wi-bu memperhatikan lelaki pelontos, sebaliknya Nyo Hoa memperhatikan Bun Seng-liong.
Dalam hari dia merasa heran, pikirnya.
"Bukankah dahulu toa-suko juga anggota Tin-wan Piaukiok? Kenapa sekarang dia berbal i k mau merampas barang Tinwan Piaukiok"
Masih segar dalam ingatan Nyo Hoa, pada hari penguburan ayahnya dulu, Bun Seng-liong juga keburu datang dari kota raja.
"Dari nada bicaranya, entah sejak kapan dia sudah meninggalkan piaukiok. Meski demikian hubungan pegawai dan majikan dengan Han-cong-piauthau masih terjalin baik, kenapa justru dia mau merampas barang-barang kawalan?"
Terdengar Ci ok Kian-ciang menuding serta memaki.
"Bun Sengliong, jelek-jelek kau pernah menjadi pegawai Tin-wan Piaukiok beberapa tahun, dengan kebesaran nama piaukiok kita, kau pernah malang melintang di Kangouw, angkat derajat dan nama, persoalan pribadimu dengan Han-cong-piauthau anggap saja tidak pernah terjadi, tapi piau-kiok tidak sedikit memberi keuntungan bagimu, kenapa hari ini kau berbalik merampas barang yang dikawal sendiri oleh cong-piauthau? Hm, hm, bukan aku takut menghadapimu, aku menyesal bahwa otakmu ternyata sudah tidak beres lagi."
Berubah air muka Bun Seng-liong, beruntun dia terkekeh dingin tiga kali, katanya.
"Ciok Kian-ciang, karena kau menyinggung Tinwan Piaukiok, semakin besar keinginanku membuat perhitungan dengan kalian. Kau bilang aku mendapat keuntungan dari piaukiok, memang beberapa tahun permulaan memang demikian, tapi kapan orang she Bun pernah melakukan sesuatu yang merugikan piaukiok? Tolong tanya Han-cong-piauthau, kesalahan apa yang pernah kulakukan, kenapa dua ;tslhun kemudian setelah kau menjabat cong-piauthau, kau memecat aku?"
Maka jelas bagi Nyo Hoa bahwa Bun Seng-liong dipecat oleh Han Wi-bu dari Tin-wan Piaukiok. Hari ini alasannya merampas barang kawalan tujuan sebenarnya adalah membalas sakit han"
Pribadi. Han Wi-bu tertawa dingin, katanya.
"Tin-wan Piaukiok seumpama air dangkal tak mungkin bisa memelihara ikan besar, kau mempunyai ambisi besar, mana berani aku merendahkan derajatmu untuk menjadi piausu seumur hidup? Bahwa aku menyilakan kau mencari nafkah yang berpenghasilan lebih tinggi juga untuk menyempurnakan keinginan dan cita-citamu."
Ternyata selama Bun Seng-liong berada di Tin-wan Piaukiok secara diam-diam dia berintrik dengan Nyo Bok, gurunya, mengatur muslihat untuk merebut kedudukan dan kekuasaan di Tin-wan Piaukiok.
Mereka berani berintrik karena secara sembunyi-sembunyi Pakkiong Bong yang dahulu menjadi komandan tertinggi pasukan Gi-Iim-kun menjadi tulang punggung mereka, tujuannya sudah tentu menguasai Tin-wan Piaukiok, perusahaan ekspedisi terbesar nomor satu di kota raja ini.
Belakangan muslihat mereka diketahui Han Wi-bu, maka sebelum mereka sempat bertindak, Han Wi-bu sudah memecat Bun Seng-liong.
Tapi Nyo Bok waktu itu adalah orang yang terpandang juga di kalangan Gi-lim-kun, bila Tin-wan Piaukiok masih ingin bercokol di kota raja, maka sedikit banyak Han Wi-bu masih memberi muka kepadanya.
Itulah alasan dan sebabnya Han Wi-bU hanya memecat Bun Seng-liong secara terhormat, namun borok ini tak enak dia korek di hadapan orang banyak.
Bun Seng-liong tertawa dingin, jengeknya.
"Cong-piauthau, tak usah kau meminta aku. Secara blak-blakan saja, bukankah kau anggap kcpandaianku tidak becus? Tidak setimpal lagi menjadi piausu perusahaan besarmu?"
Tawar suara Han Wi-bu.
"Tak pernah aku punya maksud demikian, kalau kau mencurigai diriku, terserah."
Bagi pendengaran orang lain, pernyataan Han Wi-bu itu penjelasan yang ditujukan kepadanya, tapi bagi pendengaran Bun Seng-liong, dia anggap Han Wi-bu sudah mengakui tuduhannya.
"Bagus,"
Seru Bun Seng-liong gusar.
"Kau anggap aku tidak setimpal menjadi piausu perusahaanmu, hari ini biar aku merampas barang kawalan kalian."
"Orang she Bun, berapa tinggi kepandaianmu, berani kurang ajar di hadapan cong-piauthau. Boleh kau katakan caranya, biar aku melayani-mu,"
Demikian tantang Ciok Kian-ciang.
"Ya, orang she Bun juga tahu diri, aku memang bukan tandingan Han-cong-piauthau. Tapi gunung tinggi, ada yang lebih tinggi. Jangan kira pihak kami semua bukan tandingannya. Baiklah sekarang boleh kita mulai, kalian maju dua orang, pihak kami pun maju dua orang, jadi dua babak. Kaulah lawanku. Perlu kutegaskan babak pendahuluan hanya sebagai cara ekstra, penandingan tulen adalah antara cong-piauthau melawan temanku ini."
"Begitu pun boleh, marilah babak ekstra kita maju lebih dulu,"
Seru Ciok Kian-ciang.
"saudara-saudara tolong minggir lebih jauh."
"Nanti dulu,"
Tiba-tiba Han Wi-bu mengulap tangan. Dia bertindak menurut aturan kalangan piaukiok, terhadap musuh bersikap sopan dulu kalau terpaksa, baru menggunakan kekerasan. Katanya.
"Saudara ini aku belum kenal, aku mohon tanya siapa nama besarnya?"
Sejak tadi laki-laki pclontos ini tidak bersuara, baru sekarang dia bicara.
"Cayhe Siang Thi-hong."
"Siang Thi-hong?"
Dalam hati Han Wi-bu memikirkan nama orang.
"belum pernah aku mendengar nama ini,"
Demikian pikirnya. Lalu bertanya.
"Selama ini di mana Siang-thocu berpangkalan? Entah kesalahan apa pula yang pernah kulakukan kepadamu harap suka jelaskan."
"Kau tidak pernah berbuat salah terhadapku, tak usah kau menarik rasa simpatiku,"
Demikian ucap Siang Thi-hong.
Maksudnya, pe-rampasnya merampas barang kawalan, tiada kompromi.
Kapan Han Wi-bu pernah dipermainkan dan diremehkan seperti hari ini?
lapi sebagai seorang yang punya kedudukan dan berjiwa luhur, meski hati berang, lahirnya tetap biasa, katanya.
"Agaknya Siang-thocu ingin angkat nama lebih besar, terpaksa orang she Han harus tampil untuk menyambut tantangan. Nah, iang-thocu maju lebih dulu, atau besar she Bun ini yang akan tampil?"
"Nanti dulu!"
Tiba-tiba Siang Thi-hong berseru.
"Ada persoalan apa pula Siang-thocu?"
Tanya Han Wi-bu.
"Perlu aku menyampaikan beberapa patah kata lebih dulu kepada kedua tayjin ini,"
Kata Siang Thi-hong.
Sejak kawanan begal ini memasuki kuil dan adu mulut dengan Han Wi-bu, Ma Gun dan Ciu Jan berpeluk tangan tidak buka suara sepatah kata pun.
Sekarang baru Ma Gun berkata dengan tertawa.
"Siang-thocu, kita baru pertama kali ini bertemu, Bun-lote ini adalah kenalan lama. Dia mau membuat perhitungan lama dengan Hancong-piauthau, . kami orang luar tidak berani turut campur, congpiauthau kau pun jangan salah paham anggap aku jadi penonton saja. Tin-wan Piaukiok kalian sudah terkenal, jikalau kami ikut campur, salah-salah merusak nama baik kalian malah."
"Memangnya kami juga tidak berani minta bantuan tayjin berdua,"
Segera Han Wi-bu memberi tanggapan. Dalam hati amat berang.
"Yang jelas kau sengaja bermuka-muka di hadapan murid Nyo Bok yang tertua ini, memangnya kami juga tidak perlu bantuan kalian."
Siang Thi-hong berpaling ke sana lalu menjura kepada Ma Gun, katanya.
"Terima kasih, tayjin memang berpandangan luas, kami tidak dipandang sebagai begal umumnya, lapi mumpung tayjin juga hadir di sini, kurasa perlu aku bicarakan dulu persoalan ini biar jelas."
Agaknya Ma Gun tidak ingin terlibat dalam kesulitan, katanya.
"Sudah kukatakan, pihak mana pun aku tidak akan membantu, urusan kalian boleh silakan dibereskan sendiri, kenapa harus memberi penjelasan segala."
"Tayjin harus maklum, cayhe dilahirkan dari kalangan begal, manusia kasar dari pegunungan, tapi selalu berpikir untuk mencurahkan tenaga kami demi kepentingan kera-jaan. Bahwa hari ini kami merampas barang kawalan, sebetulnya bukan rampas sembarang rampas. Pertama, memang untuk melampiaskan dendam Bun-lote. Kedua, yang lebih penting, kami juga ingin menyampaikan kado kepada pihak keraja-an."
Bahwa merampas atau membegal barang orang lain dikatakan sebagai kado kepada pihak yang berkuasa, jelas kedengarannya agak menusuk telinga.
Secara tidak langsung perkataannya itu dimaksud bahwa pihak kerajaan justru adalah kepala begal yang selalu harus menerima upeti dari anak buahnya.
Karuan berubah air muka Ma Gun, bentaknya.
"Apa maksud perkataanmu?"
Siang Thi-hong menyengir tawa, katanya.
"Harap tayjin tidak salah paham, biar kujelaskan. Apakah tayjin tahu barang apa yang dikawal oleh Han-cong-piauthau?"
Tergerak hati Ma Gun, namun dia pura-pura membesi muka, katanya.
"Asal barang yang dikawalnya itu tidak melanggar hukum, memangnya aku sudi turut campur?"
Kalem Siang Thi-hong berkata "Tapi untuk urusan yang satu ini, tayjin mau tidak mau harus ikut campur. Karena dia memang melanggar hukum"
Diam-diam Han Wi-bu terkejut, bentaknya.
"Omong kosong. Tinwan Piaukiok didirikan di kota raja, usaha kami selama puluhan tahun halal, hubungan luas dan resmi, siapa yang tidak tahu akan kebersihan nama kami? Kalau kami mengawal barang secara terang-terangan, memangnya hukum apa yang kami langgar?"
Ma Gun batuk-batuk, katanya.
"Merk emas Tin-wan Piaukiok sudah tentu amat kupercaya. Tapi emas mumi tidak takut dibakar, biarkan dia buka suara, kau tidak keberatan bukan?"
Han Wi-bu tahu Ma Gun sudah mulai curiga, dirinya pun tidak bisa mencegah orang bicara, terpaksa dia berkata.
"Boleh saja, silakan katakan, memangnya aku takut kau fitnah dan masuk perangkapmu?"
Siang Thi-hong berkata.
"Baiklah, di hadapan kalian yang bersangkutan aku pun tidak akan membual, boleh kau berterus terang kepada kedua tayjfn ini, barang apa yang kau kawal, dan milik siapa barang-barang itu?"
"Keterangan boleh kuberitahukan kepada kedua tayjin, tapi tidak di hadapanmu,"
Jengek Han Wi-bu.
"Han-cong-piauthau,"
Ucap Ma Gun.
"jangan kau banyak curiga, yang jelas aku tidak akan berat sebelah dan percaya satu pihak belaka Tapi berilah kesempatan dia bicara, betul tidak?"
Katanya tidak berat sebelah, tapi sikapnya ini sudah jelas menjajarkan Tinwan Piaukiok dan kawanan begal.
Karuan Han Wi-bu amat gusar, tapi hanya mendelik tak berani banyak mulut Siang Thi-hong tampak senang dan bangga, katanya.
"Tolong tanya apakah barang kawalanmu ini akan kau angkut lewat Jik-tatbok?"
"Memangnya kenapa kalau lewat Jik-tat-bok?"
Jengek Han Wi-bu.
"Kawanan pemberontak dari Siau-kim-jwan sekarang justru bersarang di pegunungan Jik-tat-bok, obat-obatan yang-kau kawal ini bukankah hendak kau kirim untuk perbekalan mereka?"
Tuduhan ini sungguh amat mengejutkan. Tapi anehnya Ma Gun tidak kelihatan kaget atau heran, katanya tersenyum.
"Kau punya bukti apa atas tuduhanmu? Jangan asal tuduh sembarang tuduh."
"Harap tayjin periksa,"
Ucap iang Thi-hong.
"Dia punya hu-ungan dengan pihak pemberontak, sudah tentu bukti-bukti amat dirahasiakan dan pantang terjatuh ke tangan orang lain. Tapi tayjin boleh pikir, bila mereka tidak melakukan kerja yang melanggar hukum, apakah perlu congpiauthau dari Tin-wan Piaukiok sendiri yang harus mengawal obatobatan itu? Hehe, malah aku juga tahu dia punya hubungan kental dengan Beng Goan-cau, salah satu pentolan pemberontak dari Siaukim-jwan."
Diam-diam Han Wi-bu amat kaget, tak habis herannya bagaimana rahasia ini bisa diketahui oleh orang luar yang tiada sangkut pautnya. Ma Gun bertanya.
"Dari mana kau tahu?"
"Hal ini aku berani jadi saksi,"
Segera Bun Seng-liong tampil ke depan.
"Sepuluh tahun yang lalu Beng Goan-cau pernah menyamar dan muncul di dalam Tin-wan Piaukiok, belakangan baru aku tahu akan dirinya"
Untung Han Wi-bu amat tabah dan sebelumnya juga sudah siap diri, untuk menghadapi Bun Seng-liong dia tidak perlu gentar, maka dia menjengek dingin.
"Ya, setelah kau kupecat dari Tin-wan Piaukiok tidak heran kalau kau memfitnah aku. Jikalau betul apa yang kau katakan, kenapa urusan yang terjadi sepuluh tahun yang lalu baru sekarang kau bongkar?"
"Setelah peristiwa itu terjadi baru kau mengusirku dari piaukiok, dikota raja aku sudah tak bisa bercokol lagi, lalu kepada siapa aku harus membongkar rahasia ini? Apalagi waktu itu aku tidak bisa membekuk Beng Goan-cau, mulut bicara tanpa bukti, apakah orang lain mau percaya kepadaku?"
"Syukur kalau kau tahu mulut bicara tanpa bukti tak boleh dipercaya,"
Jengek Han Wi-bu pula "Hm,"
Siang Thi-hong mendengus.
"Han-cong-piauthau, jangan memutar balik persoalan. Kalau Bun Seng-liong berkisah tentang kejadian sepuluh tahun yang lalu, aku justru bicara tentang kejadian di depan mata. Bukankah barang kawalanmu ini milik Leng Thiatjiau dan Beng Goan-cau?"
Han Wi-bu gelak tertawa, katanya.
"Untung aku juga punya seorang saksi."
"Siapa?"
Bentak Siang Thi-hong.
"Jauh di langit dekat di mata,"
Ujar Han Wi-bu.
"yaitu Sama Hoatsu ketua kuil Lama ini."
"Omitohud,"
Sama Hoatsu bersabda, sementara jari-jarinya bergerak menghitung tasbih.
"Sicu ini memang salah terka, Hancong-piauthau bisa penasaran. Obat-obatan ini adalah milik hoatong agama kita yang diserahkan kepada Han-cong-piauthau untuk mengawalnya. Beberapa bulan ini daerah Ok-khek-co-beng diserang penyakit menular banyak orang jatuh korban, maka bahan obat ini amat diperlukan."
"Karena Sama Hoatsu sudah bicara, biarlah aku pun menjelaskan,"
Demikian ujar Han Wi-bu.
"Mengawal barang milik hoat-ong dari Pek-kau, mana boleh orang she Han tidak bekerja sepenuh hati? Umpama bakal menimbulkan kecurigaan juga terpaksa harus tampil sendiri."
Pergi ke Ok-khek-co-beng memang harus lewat Jik-tat-bok, hal ini juga diketahui oleh Ma Gun dan Ciu Jan. Ma Gun berpikir.
"Pekkau memang lemah, tapi pihak kerajaan sedang berusaha merangkulnya. Pek-kau dijadikan tulang punggungnya, aku jadi rikuh untuk bertindak kepadanya."
Bun Seng-liong menimbrung.
"Siapa tahu kalau sebagian obatobatan itu kau bagikan kepada pihak pemberontak yang bersarang di Jik-tat-bok itu?"
Han Wi-bu menarik muka, katanya mendengus dingin.
"Orang she Bun, sebetulnya aku tidak merasa perlu kau harus percaya, tapi boleh kau ikut dalam rombongan kami, aku berjanji menjamin keselamatanmu, biar engkau sendiri yang membuktikan kebenaranku."
Sudah tentu Bun Seng-liong tidak berani seperjalanan dengan Han Wi-bu ke Jit-tat-bok.
Umpama Han Wi-bu berjanji tidak akan mengusik dirinya, tapi dia takut di tengah jalan kepergok Beng Goan-cau dan celaka kalau sampai terbunuh olehnya Segera dia bersikap angkuh, katanya.
"Kuda bagus tidak makan rumput murahan, siapa sudi menjadi pembantumu? Hm, hm, terus terang orang she Bun sekarang tiada tempo melakukan kerjaan kasar ini."
"Tutup bacotmu, bedebah,"
Ciok Kian-ciang kontan memakinya. Ma Gun berkata.
"Persoalan tanpa bukti sukar aku mengambil keputusan, lebih baik kita bicarakan urusan di depan mata, jangan nge-lantur ke persoalan tetek bengek lagi."
Lahirnya dia membantu pihak Han Wi-bu padahal maksud sebenarnya mendesak kawanan begal segera bertindak sesuai maksud kedatangannya.
"Ucapan Ma-tayjin memang betul,"
Ucap Siang Thi-hong.
"maksudku hanya supaya tayjin berdua tahu persolannya dan memaklumi maksud baikku."
"Baik, aku sudah mengerti,"
Ujar Ma Gun.
"aku tetap pada pendirianku, pihak mana pun aku tidak berpihak."
Bun Seng-liong segera membentak.
"Nah, Siang-thocu sudah menjelaskan persoalan, kini tiada cara lain untuk menyelesaikan persoalan ini kecuali ditentukan dalam adu silat Nah, orang she Ciok silakan maju."
"Bun Seng-liong,"
Bentak Ciok Kian-ciang.
"Kelihatannya kau segalak harimau dan sewenang-wenang, memangnya aku takut kepadamu?"
Nyo Hoa berpikir dalam hati.
"Nah, kukira Bun Seng-liong hanya sedikit sesat saja, ternyata dia sudah menjadi antek kerajaan. H m, kenapa aku masih tetap mengaku sebagai toa-suko?"
Meski Bun Seng-liong tidak mengaku secara terang-terangan, tapi dari sikap dan tutur katanya sudah membuktikan bahwa sekarang dia sudah menjadi cakar alap-alap kerajaan."
Waktu masih bekerja di piaukiok memang Bun Seng-liong tidak akur dengan Ciok Kian-ciang, kini bertemu di tengah arena, maka Bun Seng-liong menyerang dengan ganas dan sengit.
Ternyata Ciok Kian-ciang juga tidak kenal kasihan.
Tampak Bun Seng-liong melangkah gesit mengitari gelanggang, dalam sekejap empat penjuru kelihatan bayangan pukulan telapak tangannya.
Kim-kong-liok-yang-jiu warisan keluarga Nyo memang lihay permainannya, di samping cepat, di dalam tipu tersembunyi tipu, gerakan ditambah variasi pula, setiap kali pukul satu gerakan mengandung enam gerak perubahan yang mematikan dan menakjubkan.
Umumnya dalam permainan ilmu pukulan, Satu jurus dapat melancarkan dua gerakan sudah teramat sukar, apalagi satu jurus enam gerakan, lebih jarang terlihat maka perbawa pukulan ini tidak kalah tangguh dibanding Ciok Kian-ciang yang dari Siau-Iimpay.
Bila berhadapan dengan musuh yang bertaraf setingkat, ilmu pukulan keluarga Nyo ini ternyata sering membawa keuntungan.
Permainan Bun Seng-liong jelas belum setaraf Nyo Bok, gurunya, namun juga sudah mencapai taraf yang cukup memadai.
Ciok Kianciang memusatkan perhatian, dalam gebrak belasan jurus permulaan, ternyata dia kerepotan dicecar.
Ciok Kian-ciang ahli dalam permainan bian-ciang, Pukulan Kapas yang lunak, pukulannya dapat meremukkan batu jadi bubuk.
Lwekang-nya masih di atas Bun Seng-liong, tapi permainan pukulannya kurang variasi dan kalah aneh dibanding Bun Sengliong.
Apalagi situasi dan kondisi tidak menguntungkan dirinya.
Penonton sudah mundur mepet dinding, tapi ruang pemujaan kuil Lama ini memang sempit, maka gelanggang pertempuran cukup terbatas.
Gerak lincah tubuh Ciok Kian-ciang sukar dikembangkan, menghadapi serbuan kedua tangan lawan yang lincah memerlukan kegesitan pula, maka keadaan jelas lebih memojokkan dirinya di bawah angin.
Setelah menyaksikan belasan jurus, diam-diam Nyo Hoa berpikir.
"Kim-kong-liok-yang-jiu yang dimainkan Bun Seng-liong sudah jauh lebih lihay dibanding dulu. Sebetulnya Ciok piauthau mampu menandinginya, sayang bertempur dalam ruang sesempit ini, sukar dia mengembangkan keampuhan Pukulan Kapas-nya, bila bertempur lebih lama jelas akhirnya dia yang kalah."
Terbayang dalam benak Nyo Hoa kejadian sepuluh tahun yang lampau di kala ayahnya mati.
Waktu itu sepulangnya dari kota raja Bun Seng-liong lantas berlutut dan menyembah sesambatan sambil menangis menggerung-gerung di depan layon gurunya, dia menuduh Hun Ci-lo yang membunuh gurunya.
Terbayang akan kejadian itu, terbakar amarah Nyo Hoa.
"Kalau perbuatannya tidak benar dan akhirnya dipecat dari piaukiok aku masih boleh mengampuninya. Kini dia sudah menjadi antek kerajaan, demi pribadi dan untuk umum adalah patut kalau aku melampiaskan penasaran ibu sepuluh tahun yang lalu. Walau pertarungan Ciokpiauthau dengan dia ini tidak akan menentukan situasi mendatang, betapapun aku tidak boleh berpeluk tangan sehingga Ciok-piauthau dikalahkan dia"
Tapi cara bagaimana dia membantu Ciok Kian-ciang secara diamdiam di hadapan banyak orang?
Terpaksa Nyo Hoa harus memeras otak untuk mencari akal.
Secara kebetulan, dalam pertempuran sengit itu Ciok Kian-ciang terdesak mundur berulang-ulang, saking jengkel dan gemasnya, mendadak dia memukul dengan sepenuh tenaga Di mana damparan angin pukulan melanda ternyata mengeluarkan deru kencang dan terdengarlah suara barang jatuh pecah bcrantakan di atas lantai.
Ternyata seorang penuntun keledai yang sedang memegang cawan telah disambar pukulan hingga terlepas.
Dalam saaatsesingkat inilah otak Nyo Hoa yang cerdik telah bekerja-seketika dia pura-pura keserempet angin pukulan juga hingga mangkok di tangannya ikut mencelat Sikap kagetnya sungguh menyerupai kenyataan, sementara cawan di tangannya mencelat ke arah Bun Seng-liong dan jatuh di depan kakinya.
Pecahan cawan berantakan di atas lantai, salah satu pecahan cawan kebetulan terinjak oleh kaki Bun Seng-liong, sepatu sobek dan tembus hingga melukai daging telapak kakinya.
Seketika Bun Sengliong menjerit kesakitan.
Perubahan yang tak terduga ini berlangsung amat cepat, kontan Ciok Kian-ciang menggenjotnya roboh.
Tersipu Siang Thi-hong memapahnya, telapak tangan menekan punggung orang, segera dia punahkan sisa tenaga pukulan Ciok Kian-ciang yang lunak tapi mengandung kekuatan bergelombang.
Syukur Bun Seng-liong tidak sampai terluka dalam, namun pukulan Ciok Kian-ang yang jengkel ini memang tidak ngan, dua giginya lepas dan mulutnya penuh darah.
Siang Thi-hong gusar, dampratnya.
"Han Wi-bu, orang pihak plau-kiok kalian kenapa main bokong, menyerang secara gelap?"
Han Wi-bu menjengek, katanya.
"Apakah ucapan Siang-thocu tidak keliru?"
"Kenapa keliru?"
Damprat Siang Thi-hong.
"memangnya perbuatan kotor kalian harus dihalalkan?"
"Berdasar apa dan apa buktinya kau berani menuduh pihak kami membokong?"
"Jikalau bocah itu tidak menjatuhkan mangkoknya hingga pecah sehingga Bun Seng-liong terpeleset hampir jatuh, memangnya Ciok Kian-ciang mampu mengalahkan dia?""
Ciok Kian-ciang balas mendamprat.
"Buka matamu, aku sendiri pun terluka oleh pecahan cawan. Ini hanya luka-luka di luar dugaan, kenapa kau memfitnah orang lain? Jikalau Bun-hiangcu kalian tidak terima, boleh diulang lagi satu babak."
Sembari bicara dia angkat kaki kanannya di hadapan orang banyak, ternyata punggung kakinya juga tergores berdarah oleh pecahan cawan.
Ternyata pecahan cawan itu sengaja dilempar oleh Nyo Hoa dengan landasan lwekang-nya yang lihay, tenaganya bisa diatur menurut ukuran, gerakannya juga lincah dan sempurna.
Maka kalau Bun Seng-liong terluka di Yong-coan-hiat di telapak kaki, sebaliknya Ciok Kian-ciang hanya terluka lecet sedikit saja.
Akan tetapi Ciok Kian-ciang sendiri tidak tahu bahwa Nyo Hoa diam-diam membantunya.
Han Wi-bu tergelak-gelak, katanya.
"Jadi begitulah duduk persoalannya, yang kalian tuduhkan kepada kami dengan istilah "membokong". Saudara cilik ini memang penunjuk jalan yang kami sewa dalam perjalanan ini, hakekatnya dia tidak pandai silat, karena kaget hingga cawannya terlepas jatuh. Bun-hiangcu kalian.adalah murid tertua Nyo Bok guru silat terbesar yang terkenal di lima propinsi utara, bahwa seorang pemuda tanggung yang tidak sengaja melakukan kesalahan ternyata juga boleh dianggap "membokong", apakah hal ini tidak menggelikan?"
Walau curiga tapi Bun Seng-liong paling pandang gengsi dan harga diri, setelah dibantah Han Wi-bu maka dia pun tidak mau meruntuhkan wibawa sendiri, membenarkan bahwa pemuda tanggung yang keroco ini telah membokong dirinya, Maka dia purapura sebal dan penasaran, teriaknya.
"Sudah, sudahlah anggap saja aku yang sial!"
Ma Gun, wakil komandan Gi-lim-kun juga sedang bingung dan sedikit curiga, tapi dia pun tidak yakin bahwa Nyo Hoa memiliki kungfu yang lihay. Batinnya.
"Kepandaian bian-ciang Ciok Kian-ciang memang lebih unggul dari Bun Seng-liong, bila kedua pihak samasama ketimpa bencana di luar dugaan, wajar kalau Bun Seng-liong terluka lebih parah."
Tiada orang yang mendukung tuduhannya sementara Bun Sengliong sendiri juga tidak memprotes, Siang Thi-hong juga tidak enak meributkan soal ini. Setelah mendengus dia berkata.
"Han-congpiau-thaii, silakan keluar saja, biar-aku mohon petunjuk beberapa jurus kepadamu."
Di luar ada belasan pembantunya secara langsung dapat bantu mengawasi gerak-gerik para piausu. Han Wi-bu berkata.
"Boleh, tuan rumah mengiringi kehendak tamu, apa pun kehendakmu orang she Han tetap mengiringi."
Beramai-ramai orang keluar pintu dan berdiri di tengah pelataran dalam sebuah lingkaran besar, semua siap menyaksikan adu kekuatan antara Siang Thi-hong kontra Han Wi-bu.
Supaya tidak dicurigai, para piausu tiada yang membawa sesuatu, sementara cawan arak juga sudah dibawa masuk seluruhnya oleh Lama kecil pembantu Sama Hoatsu.
Siang Thi-hong berkata.
"Han-cong-piauthau, adu pukul sudah tiada artinya, marilah kita adu senjata saja. Cuma senjata tidak>punya mata, mati hidup kita terserah pada nasib."
Han Wi-bu mengeluarkan golok panjang berpunggung tebal yang selalu dibawanya, katanya.
"Boleh, silakan Siang-thocu keluarkan senjatamu dan boleh mulai."
Seorang lelaki perawakan sedang tampil ke depan sambil memeluk sebuah kotak panjang persegi langsung dihaturkan kepada Siang Thi-hong, katanya.
"Thocu. milah senjatamu."
Siang Thi-hong tidak ulur tangan menyambut, mendadak jari tengahnya menjentik "tak"
Jentikan jarinya tidak menimbulkan suara keras, tapi tutup kotak persegi itu seketika terbuka Kotak itu terbuat dari kayu cendana yang tebal, hanya menggunakan kekuatan jentikan jari tangannya ternyata Siang Thi-hong mampu membukanya, karuan orang banyak terkejut.
"Lwekang sehebat ini memang luar biasa."
Setelah tutup kotak terbuka, Siang Thi-hong ulur tangan menjemput sebuah gitar besi, katanya dingin.
"Tamu tidak mendahului tuan rumah. Han-cong-piauthau, silakan kau memberi petunjuk lebih dulu."
Berubah buruk air muka HanWi-bu, katanya.
"Ternyata Siangthocu adalah pewaris dari gitar besi Hari ini orang she Han dapat menghadapi ilmu tunggal Bulim yang telah lenyap tigaratus tahun lamanya, sungguh merupakan suatu kebanggaan dan kehormatan besar."
Siang Thi-hong tergelak-gefak, ujarnya.
"Ilmu tunggal Bulim segala, sungguh tak berani kuterima. Han-cong-piauthau, ternyata kau luas pengetahuan dan banyak pengalaman, sungguh mengagumkan dan patut dipuji."
Seperti diketahui Thi-bi-ba-bun (Aliran Gitar Besi) diciptakan atau didirikan oleh seorang jago kosen Bulim yang berwatak setengah sesat setengah lurus di jaman dinasti Beng mulai bertahta.
Cikal bakalnya bernama Siang Ho-yang.
Gitar besi adalah senjata tunggal perguruannya, selama malang melintang di Kangouw belum pernah menghadapi musuh.
Hingga masa tuanya baru dia terkalahkan oleh jago pedang nomor satu pada jaman itu, yaitu Thio Tan-hong Thio tayhiap, sejak dikalahkan beliau mengasingkan diri dan tak karuan jejaknya.
Maka kepandaian tunggal Bulim seperti gitar besi itu pun selanjurnya putus turunan di kalangan Kang-ouw.
Bahwa Siang Thi-hong bersenjata gitar, juga she Siang, Han Wibu menduga bahwa orang yang satu ini pasti ada hubungan erat dengan Ho-yang, dugaannya memang benar karena dia memang keturunan lurus dari tokoh besar itu.
Kalau kepandaian gitar besi sudah putus turunan sekian puluh atau ratus tahun, maka Han Wi-bu tidak jelas tentang seluk beluk perguruan silat yang memiliki ilmu tunggal ini, pikirnya.
"Menurut cerita orang tua, letak kelihayan dari gitar besi ini adalah di perutnya yang kosong, di dalamnya dipasangi senjata rahasia. Maka aku harus berhati-hati terhadap amgi-nya yang lihay."
Siang Thi-hong tertawa, katanya.
"Basa-basi sudah cukup. Nah cong-piauthau, boleh turun tangan lebih dulu."
"Maaf,"
Ucap Han Wi-bu, goloknya bergerak menciptakan cahaya kemilau, perlahan-lahan membacok ke arah Siang Thi-hong. Bila goloknya sudah mengancam di depan orang, mendadak "sret"
Goloknya membacok secara main-main. Hai ini dilakukan Han Wi-bu demi menjaga gengsi sebagai cong-piauthau, dia tidak mau turun tangan lebih dulu.
"Senjata tak bermata, awas sambut seranganku!"
Siang Thi-hong membentak, gitar besinya melintang di udara terus disapukan seperti martil raksasa.
Gempuran gitar ini ternyata hebat luar biasa, penonton yang berjarak agak dekat merasa tersampuk angin kencang mukanya, tanpa kuasa mereka menyurut mundur beberapa langkah.
"Tang"
Kembang api berpijar. Han Wi-bu memutar balik punggung golok mengetuk gitar lawan dengan delapan bagian tenaganya. Gitar besi itu terpental balik ke pinggir, golok besar Han Wi-bu juga tertolak balik.
"Kepandaian bagus!"
Han Wi-bu bersorak memuji sambil menurunkan pundak menekuk siku, memunahkan tenaga tolakan keras dari benturan kedua senjata, sebat sekali bacokan kedua pon sudah dilancarkan.
Penonton hanya melihat goloknya terayun, jurus kedua pun dilancarkan, orang lain tidak tahu bahwa Han Wi-bu sedikit terpengaruh oleh daya pental benturan tadi, yang jelas dalam segebrak Han Wi-bu sudah menempatkan diri pada posisi yang lebih baik hingga lawan dicecar dengan gencar, maka bersoraklah orangorang piaukiok.
Hanya Nyo Hoa yang diam-diam kaget, pikirnya.
"Lwekang kedua orang ini agaknya setanding, tapi di mana letak keistimewaan permainan gitar lawan, mungkin Han-cong-piauthau belum tahu."
Siapa bakal menang memang sulit diramalkan, maklum kepandaian Siang Thi-hong jelas tak bisa dibandingkan Bun Seng-liong, kalau Nyo Hoa ingin membantu dengan cara yang telah dilaksanakan terhadap Ciok Kian-ciang tanpa diketahui lawan, jelas bukan soal gampang.
Apalagi sekarang Ma Gun dan Ciu Jan sudah menaruh perhatian terhadap dirinya, maka dia menonton dengan hati kebatkebit.
"Han-cong-piauthau terlalu memuji,"
Ucap Siang Thi-hong tertawa.
"tapi lebih baik kita tentukan kalah menang dengan adu kekuatan, supaya tidak ditertawakan orang bahwa kita hanya pandai saling meng-agulkan diri."
Sembari bicara dia sudah menyerang dengan jurus Hing-sau-jian-kun, mematahkan serangan balas menyerang, yang diserang bagian bawah Han Wi-bu.
Han Wi-bu menegakkan goloknya, menggunakan cara meminjam tenaga melawan tenaga Siang Thi-hong menggempur dengan punggung gitarnya, di tengah jalan mendadak berputar, kelima jari tangan kiri berbareng bergerak, maka ber-deringlah suara yang menusuk telinga, para pendengarnya seketika merasa hati risau, gundah, dan tidak tenteram.
Para penuntun keledai dari piaukiok seketika tidak tahan, beramai-ramai mereka mendekap telinga Dalam hati Han Wi-bu tertawa dingin.
"Dengan suara gitarmu yang jelek, kau hendak membuyarkan perhatian dan mengacau pikiranku, apakah tidak terlalu meremehkan diriku?"
Dia tunggu bila gitar lawan memukul tiba ke depannya, sekali bacok dan iris, yakin kelima senar gitarnya itu pasti dapat diputuskan.
Siang Thi-hong tahu maksud dan tujuan lawan, namun dia tidak mengubah gerakannya Jurus H ing-sau-jian-kun tetap disapukan dengan tenaga keras.
Begitu golok Han Wi"bu menyontek dan mengiris, gitar besi Siang Thi-hong tertarik minggirdan melayang miring.
Lima senar gitar yang kencang itu ternyata mengiris ke urat nadidi pergelangan tangan Han Wi-bu.
Walau tidak tahu di mana letak keistimewaan senar gitar besi Siang Thi-hong, namun Han Wibu sudah melihatnya bahwa kelima senar gitar itu pasti merupakan semata pula, jikalau urat nadi sampai teriris, umpama kelima senar gitar lawan berhasil dibikin putus diri sendiri juga terluka.
Reaksi Han Wi-bu ternyata juga amat sigap, dengan menekuk pinggang seperti bercocok tanam, badan bergerak mengikuti putaran golok.
"ering, ering"
Dua kali, dua senar gitar lawan putus tapi urat nadinya tidak terluka sedikit pun. Ma Gun agak kecewa, pikirnya.
"Gitar Besi adalah ilmu tunggal dalam Bulim ternyata hanya bernama besar dan tidak selihay yang diberitakan."
Siang Thi-hong mendengus sekali, katanya.
"Pusaka warisan keluargaku kau rusak, kau harus mengganti."
"Kenapa Siang-thocu berkelakar dengan aku, dari mana orang she Han bisa mendapatkan gitar macam ini untuk menggantinya?"
Siang Thi-hong menarik muka, bentaknya.
"Kau harus ganti dengan jiwamu!"
Dua senar gitar yang putus itu semula menjuntai turun, begitu Siang Thi-hong mengayun gitarnya, kedua senar putus tadi mendadak tegak lurus laksana kawat, menusuk kedua mata Han Wi-bu.
Betapa lihay cara dia menggunakan tenaga dalamnya, sungguh mengejutkan.
Han Wi-bu juga bermuka masam, bentaknya pula menyeringai dingin.
"Kau mau mengambil jiwa orang she Han, memangnya segampang yang kau duga?"
Dua utas senar yang tegak lurus menusuk mata itu, begitu tiba di depan matanya mendadak lemas dan terdorong ke samping terus menjuntai ke bawah pula.
Ternyata Han Wi-bu meniupnya.
Meniup dua utas senar yang lemas sebetulnya bukan kerja yang sulit, sulitnya justru kedua senar itu sedang menusuk dengan pengerahan tenaga dalam Siang Thi-hong yang tangguh, bahwa Han Wi-bu mampu mematahkan tusukan kedua senar itu hanya dengan tiupan mulutnya, jelas bahwa lwekang-nya masih lebih tinggi dari Siang Thi-hong.
"Jangan pongah, masih ada yang enak rasanya boleh kau cicipi!"
Bentak Siang Thi-hong.
Ujung gitar besinya mendadak mengetuk ke Hoan-tiau-hiat di lutut Han Wi-bu.
Ternyata gitar besi yang besar ini juga bisa digunakan menotok seperti boan-koan-pit.
Han Wi-bu mundur selangkah, goloknya bergerak dengan jurus Thi-li-keng-te (Cangkul besi meluku sawah) menutup rapat pertahanannya.
Cepat sekali gitar Siang Thi-hong memukul miring mengincar pahanya.
Kali ini gitar besi itu dipakai menyerang seperti sebatang gada raksasa, permainannya menggunakan Thay-co-gun-hoat.
Dalam beberapa jurus permainannya, ternyata dia berganti gerakan dengan aneka variasi yang lihay.
Kepandaian Han Wi-bu memang sedikit unggul, tetapi menghadapi serangan bertubi yang beraneka ragam ini, kebat-kebit juga hatinya Tapi yang terlihay adalah kedua senar putus itu, mengikuti gerak ayunan gitar besi, senar itu bergerak selincah ular berbisa, setiap ada peluang pasti mematuk ke hiatto di tubuh lawan, kalau tadi menusuk mata dan kena ditiup pergi oleh Han Wi-bu, kini yang ditusuk adalah hiatto di bawah pusar dan di atas lutut.
Betapapun tinggi lwekang Han Wi-bu takkan mungkin meniupnya pergi.
Hebat memang kepandaian Han Wi-bu, golok di tangan kanan ternyata diputar di sekeliling tubuhnya, setiap serangan gitar besi ditangkis atau dipatahkan, sementara jari tengah dan ibu jari tangan kirinya selalu siap dengan ilmu Tan-ci-sin-thong, datang dari kanan dijentik ke kanan, menyerang dari kiri disentil ke kiri, hingga suara berdering terus berbunyi.
Padahal senar gitar itu kecil dan lemas sedang dimainkan lagi dengan ayunan tangan dan dilandasi lwekang yang tinggi, bagi yang memiliki pandangan tajam juga takkan bisa melihatnya tapi kenyataan Han Wi-bu selalu menjentiknya pergi.
Tapi karena dia harus memecah perhatian melayani tusukan hiatto ketubuhnya, sehingga Siang Thi-hong mendapat kesempatan merangsak-nya dengan gencar.
Di tengah pertempuran sengit itulah, mendadak Siang -Thi-hong cabut seluruh kelima senar gitarnya terus disendai mengencang lurus, setiap jurus serangan sekaligus mengincar lima hiatto di tubuh Han Wi-bu.
Karena kewalahan dan serangan lawan susah dijaga, mendadak Han Wi-bu melejit ke atas terus bersalto ke belakang sejauh dua tombak.
Siang Thi-hong membentak.
"Kalah menang belum ada ketentuan, kenapa lari?"
Han Wi-bu membentak sekeras geledek, Mwutn sebelah tangan membalik terus menggempur, bentaknya.
"Jangan takabur, mari buktikan siapa lebih lihay dan siapa yang lari?"
Tenaga pukulan telapak tangannya bagaikan badai, walau kuat bertahan tak urung dia mundur sempoyongan juga, sudah tentu serangan gencarnya pun terhenti.
Agaknya Han Wi-bu sudah perhitungkan, bila pertempuran ini berjalan lama, kemungkinan dirinya bisa kalah oleh permainan lawan yang aneh dan sukar diraba, maka dia merasa perlu mengubah cara bertempur, maka kini dia lawan dengan serangan gencar dan keras.
Beberapa langkah mundur tadi adalah untuk melontarkan Bik-khong-ciang.
Permainan golok diselingi pukulan telapak tangan, tenaganya besar lagi memang cukup hebat, begitu permainan golok berubah, selanjurnya Siang Thi-hong tidak mampu mendekati dirinya.
Karena tak bisa bertempur dalam jarak dekat, maka keistimewaan gitar besinya tak mampu dikembangkan, dengan sendirinya permainannya menurun beberapa bagian, maka pertempuran selanjutnya lebih sering dikuasai oleh Han Wi-bu.
Legalah orang-orang piaukiok, Ciok Kian-ciang segera bersorak serunya.
"Bagus, biar bajingan itu tahu kelihayan Han-congpiauthau kita."
Siang Thi-hong tertawa melengking, katanya.
"Memang aku ingin tahu sampai di mana kelihayan Han-cong-piauthau kalian."
Di tengah suara tawanya itu mendadak tubuhnya menubruk ke arah Han Wi-bu. Di antara hadirin ada juga ahli silat, semua merasa heran, pikirnya.
"Pukulan tangan Han Wi-bu amat hebat, pantasnya Siang Thi-hong mencari keuntungan dalam adu senjata, dengan main tubruk begitu bukankah malah lebih menguntungkan lawan?"
Maka terdengarlah suara "Cret, cret"
Dari sambaran-sambaran amgi, ternyata Siang Thi-hong telah melancarkan jurus pembunuh terakhir yang paling ganas, yaitu amgi yang tersembunyi di dalam perut gitar telah disambitkan seluruhnya.
Jarak teramat dekat, amgi menyerang mendadak dengan kencang, bila orang lain pasti tubuhnya sudah penuh ditaburi senjata rahasia Untung Han Wi-bu sudah siaga, dalam detik yang kritis itu sebat sekali dia menyingkir sambil berjongkok, berbareng sinar goloknya berputar sekencang baling-baling pesawat terbang.
Jurus ini dinamakan Kong-ciok-kay-ping (Burung merak mengembang bulu), merupakan salah satu jurus lihay dari ilmu golok warisan keluarga Han yang khusus untuk menangkis dan mematahkan serangan amgi.
Suara "tang ting"
Berdering nyaring seperti bunyi musik, dalam sekejap Han Wi-bu sudah memukul jatuh tiga batang toh-ku-ting, dua batang ou-tiap-piau, empat panah pendek, berbareng kedua tangannya menggentak, serumpun bwe-hoa-ciam telah dikebutnya kembali.
Ternyata bwe-hoa-ciam berbobot ringan, tak mungkin dipukul rontok oleh golok besar, terpaksa Han Wi-bu menggulungnya dengan lengan baju, hingga lengan bajunya penuh lubang.
"Kepandaian bagus,"
Bentak Siang Thi-hong.
"tapi belum tentu kau mampu bertahan."
Di tengah bentakannya, gitar besinya dipukulkan.
Han Wi-bu sedang menumpahkan perhatian menghadapi serangan amgi, dalam keadaan terdesak tak mungkin melontarkan Bik-khong-ciang pula.
Kini lawan berinisiatif menyerang hingga dia terdesak mundur beberapa kali.
Han Wi-bu belum sempat ganti napas dan menempatkan diri pada posisi yang lebih baik, kembali Siang Thi-hong menekan tombol, amgi di dalam perut gitar besinya kembali melesat keluar.
Serangan amgi kedua kali ini jauh lebih banyak dari yang pertama, jenisnya juga aneka ragam, senjata rahasia yang dipakai menyerang seperti tak habis-habisnya.
Betapapun tinggi kungfu Han Wi-bu, setelah diserang bertubi-tubi begitu mau tidak mau dia kerepotan juga.
Orang-orang piaukiok berkeringat telapak tangannya, demikian pula Ma Gun dan Ciu Jan ikut terpesona, pikirnya.
"Ilmu tunggal dari Thi-bi-ba-bun ternyata memang tidak bernama kosong."
Di tengah sambaran sinar golok dan hamburan senjata rahasia, mendadak terdengar suara sobek Ternyata sebatang ou-tiap-piau menyerempet pundak Han Wi-bu hingga pakaiannya sobek dan terlihat dagingnya Bila ou-tiap-piau ini menyambar sedikit rendah lagi, tulang pundak Han Wi-bu tentu patah dan pundaknya berlubang.
Siang Thi-hong bergelak tawa, bentaknya.
"Nah tahu kelihayanku? Jikalau tidak lekas menyerah, masih ada yang lebih nikmat. Hahaha, aduh, aduh...."
Gelak tawanya terhenti berganti jerit kesakitan, badan sempoyongan terus roboh.
Perubahan yang terjadi mendadak ini sungguh mempesona kedua pihak.
Siapa pun tidak menduga di kala Siang Thi-hong sudah di pihak yang unggul mendadak bisa terjadi perubahan ini, tidak ada yang tahu apa sebab Siang Thi-hong mendadak jatuh.
Pada saat itu Han Wi-bu sedang melontarkan sejurus Bik-khongciang, dalam hati dia maklum dengan Iwekang dan kepandaian Siang Thi-hong, pukulan Bik-khong-ciang pasti belum mampu memukulnya jatuh.
"Siapa yang membantuku? Meski Sama Hoatsu salah satu dari delapan murid terbesar Pek-kau, kepandaiannya juga belum setaraf itu."
Kalau dalam hati sendiri tahu, tapi penonton tiada yang mengerti.
Hadirin masih berdiri melongo, mereka kira Siang Thi-hong terpukul oleh Bik-khong-ciang Han Wi-bu.
Giok Kian-ciang gelak-gelak, serunya.
"Sekarang kau yang sudah merasakan kelihayan cong-piauthau kami bukan?"
Taraf kepandaian Ma Gun jauh lebih tinggi dibanding Ciok Kianciang, namun dia pun tidak tahu siapa yang turun tangan secara sembunyi, pikirnya.
"Apa betul kungfu Han Wi-bu tinggi sekali, pada detik yang menentukan baru dia mengeluarkan ilmunya yang mengejutkan?"
Hatinya masih bimbang, khawatir Han Wi-bu maju dan membunuh lawannya lekas dia tampil ke depan sambil membuka kedua tangan, katanya.
"Permusuhan lebih baik dihapus sampai di sini daripada dipertajam, anggap kalian hanya bertanding sambil mengukur kepandaian saja, selanjutnya juga tidak perlu saling dendam. Bagaimana pendapat Han-cong-piauthau?"
Kedua tangan yang terpentang ini sengaja hendak mencoba Iwekang orang.
Begitu tangan bersentuhan, Ma Gun rasakan Iwekang orang memang kokoh dan tangguh, seketika ia tergeliat dua kali namun tidak sampai terjatuh, pikirnya.
"Kungfu Han Wi-bu tinggi, namun belum tentu mampu merobohkan Siang Thi-hong dengan Bikkhong-ciang. Lalu siapa yang memiliki kungfu setinggi itu? Kecuali Tong Keng-thian ciangbunjin Thian-san-pay, ciang-bunjin Bu-tongpay Lui-tin-cu dan hongtiang Siau-lim Tay-pi Siansu."
Han Wi-bu berkata perlahan.
"Ma-tayjin sebagai penengah, baiklah aku tidak menarik panjang persoalan ini. Sebenarnya kungfu Siang-thocu tidak rendah, aku hanya menang secara kebetulan saja. Selanjutnya asal Siang-thocu tidak mencari permusuhan dengan aku, kejadian hari ini boleh anggap tidak pernah terjadi. Siangthocu, silakan, maaf aku tidak mengantar."
Siang Thi-hong sudah berdiri, badannya tiada terluka sedikit pun.
Ternyata dalam pertarungan itu mendadak Hoan-tiau-hiat di lututnya linu kesemutan, tanpa sebab dia tersungkur jatuh.
Tapi lwekang-nya memang cukup tinggi, begitu dia kerahkan hawa mumi, hiatto yang tertotok seketika bebas dan lancar.
Sudah tentu Siang Thi-hong jauh lebih angkuh dan tahan gengsi dibanding Bun Seng-liong, meski hati curiga, tapi malu kalau mau bilang ada orang membokong dirinya, padahal siapa pembokong juga dia tidak tahu?
Apalagi dia juga tahu pembokong itu memiliki kungfu lebih tinggi, bila dia membongkar perbuatan orang, kemungkinan tidak menguntungkan dirinya.
Pernyataan Han Wi-bu memang cukup adil, di samping mempertahankan nama baik Siang Thi-hong, secara halus pula mengusir dirinya.
Betapapun gusar dan penasaran Siang Thi-hong, kalau lawan bersikap ramah dan sopan, terpaksa dia harus segera menyingkir dari tempat itu.
Tapi sebelum berlalu pandangannya menyapu sekitarnya, tiba-tiba dilihatnya Sama Hoatsu sedang sibuk mencari biji tasbihnya yang terjatuh.
Tergerak hati Siang Thi-hong.
"Mungkin hwesio ini yang membuat gara-gara?"
Ma Gun juga sudah melihat, tanyanya.
"Sama Hoatsu, apa yang sedang kau cari?"
"Dua biji tasbihku jatuh,"
Sahut Sama Hoatsu.
"Rentengan tasbih tergantung di lehermu, bagaimana bisa jatuh dua butir?"
Sama Hoatsu tertawa nyengir, katanya.
"Kalian bertarung begitu sengit, aku ikut menjadi tegang. Sambil menghitung tasbih tanpa terasa tenagaku terlalu keras hingga benangnya putus. Untung seketika aku sadar dan lekas kusambar, tapi ada dua butir telah jatuh."
"O, masa kejadian begitu kebetulan?"
Tanya Siang Thi-hong. Lekas Ma Gun memberi isyarat kepadanya, katanya.
"Hal ini tidak boleh menyalahkan Sama Hoatsu, pertarungan kalian tadi memang amat seru, tak usah gelisah akan ku-bantu kau mencarinya"
Seorang Lama kecil tiba-tiba berseru.
"Suhu, kutemukan sebutir. Nih di pinggir kakimu."
Diam-diam Ma Gun berpikir.
"Konon Pek-kau lama memiliki kungfu aneh dari aliran tersendiri. Tapi kalau dia yang dituduh membokong Siang Thi-hong, aku tidak mau percaya."
Segera dia jemput biji tasbih itu terus diletakkan di telapak tangan Sama Hoatsu, ujung jari sengaja menyentuh Lau-kiong-hiat di pusat telapak tangannya.
Lau-kiong-hiat memang bukan jalan darah mematikan, namun merupakan perpaduan dua jalur Siau-yang-kingmeh,, jikalau hiatto ini tertotok dengan Jong-jiu-hoat, hawa murni bisa ludes, tidak mati juga terluka parah.
Sama Hoatsu seperti tidak menyadari maksud jahat orang, telapak tangannya tetap terpentang lebar, dia terima biji tasbih itu dengan tersenyum, katanya.
"Terima kasih."
Bagi pesilat yang memiliki kungfu tinggi, membela diri dan selalu siaga adalah merupakan kewajiban dan hal itu bisa terjadi secara otomatis.
Terutama dalam keadaan yang cukup menegangkan ini, demi keselamatan jiwa raga, tidak mungkin tidak berusaha menyelamatkan diri dengan kerahkan lwekang.
Ma Gun bimbang, pikirnya.
"Mungkinkah taraf kepandaian hwesio tua ini belum mencapai tingkatan itu? Bahwasanya dia tidak tahu kalau ada Lau-kiong-hiat di telapak tangannya?"
Ternyata di waktu ujung jari tangannya hampir mengenai hiatto orang baru dia mengendorkan tenaga.
Tapi juga hanya dia sendiri yang maklum.
Jikalau kungfu Sama Hoatsu memang tinggi, berarti dia mempertaruhkan jiwa raga sendiri.
Ma Gun yakin orang tidak akan berani menempuh bahaya ini.
Pihak kerajaan sedang berusaha merangkul Pek-kau Hoat-ong, sudah tentu Ma Gun tidak berani melukai Sama Hoatsu.
Agaknya Siang Thi-hong juga tahu akan titik ini, apalagi Ma Gun sudah mencoba kungfu Sama Hoatsu, maka dia segan membuat onar lagi.
Dengan membekal rasa curiga dan bimbang, setelah basa-basi ala kadarnya, segera dia tinggalkan tempat itu.
Kalau Siang Thi-hong pergi dengan hati tetap dirundung tanda tanya, adalah Nyo Hoa tertawa geli dalam hati.
Dia menyingkir di samping sana di antara para penuntun keledai, siapa pun takkan pernah menyangka bahwa orang yang membokong Siang Thi-hong adalah bocah ingusan yang masih berbau bawang ini.
Di saat Siang Thi-hong menghamburkan amgi-nya ke arah Han Wi-bu tadi, diam-diam Nyo Hoa membuat butiran tanah kecil, dengan cara sentilan dia gunakan butir tanah itu sebagai amgi mengincar Hoan-tiau-hiatdi lutut orang.
Begitu menyentuh badan orang, tanah itu lantas hancur, maka amgi istimewa ini jelas takkan bisa ditemukan.
Waktu itu pertarungan berjalan sengit dan tegang, pasir dan debu juga beterbangan ditambah amgi berseliweran, hingga pandangan orang banyak menjadi kabur, lalu siapa bisa memperhatikan luncuran sebutir tanah kecil?
Apalagi dalam benak Ma Gun mengira hanya beberapa tokoh besar saja yang mampu melakukan pembokongan selihay ini, mana mungkin mencurigai Nyo Hoa yang dianggapnya masih kero-coini?
Pertarungan usai, keadaan pun tenang kembali, orang banyak balik ke dalam ruang pemujaan.
Pihak piaukiok segera merayakan kemenangan ini dengan minum arak sepuasnya.
Ma Gun sendiri amat kecewa, namun lahirnya dia melayani suguhan arak dan ajak Han Wi-bu bicara.
Han Wi-bu berkata.
"Terima kasih Ma-tayjin telah memberikan keadilan, orang she Han menang secara kebetulan juga, tak berani aku menerima pujian."
Ma Gun merah muka, katanya.
"Sejak lama kutahu kepandaian Han-cong-piauthau memang lihay, cukup berkelebihan untuk menghadapi kawanan begal itu, jikalau aku bantu turun tangan tentu menjatuhkan pamor cong-piauthau. Kenyataan memang Hancong-piauthau yang menang, untuk ini harap cong-piauthau maklum akan maksudku."
"Tayjin terlalu memuji. Bukan saja tayjin telah menegakkan keadilan, kau pun menjadi penengah, untuk ini perlu aku sampaikan banyak terima kasih."
Ma Gun tahu arti terbalik dari ucapan orang maka dia bergelak tawa untuk menutupi mimik dan sikapnya, katanya pula.
"Tadi permusuhan lebih baik dihabiskan daripada saling dendam, maka aku mau menjadi penengah. Tapi sekarang aku tidak berpendapat begitu pula, jikalau terjadi pula hal seperti ini, kupikir aku takkan berpeluk tangan saja"
"Terima kasih akan maksud baik tayjin. Dalam beberapa hari ini, yakin rombongan Bun Seng-liong dan Siang Thi-hong takkan berani putar balik lagi."
"Beberapa hari ini mungkin tidak, tapi beberapa hari kemudian kukira sukar diramalkan. Dan lagi bukan mustahil ada rombongan begal lain yang juga mengincar barang kawalanmu. Dengan bekal kungfumu mungkin mampu bertahan, tapi kalau musuh terlalu banyak, betapapun kau harus berhati-hati. Walau aku tidak bisa membantu kau, tapi tambah satu tenaga juga lebih baik, karena itu bersama Ciu Jan, kami bermaksud seperjalanan dengan kalian hingga di Jik-tat-bok."
Han Wi-bu kaget, katanya.
"Mana berani aku menunda perjalanan kedua tayjin?"
"Obat-obatan ini akan diserahkan ke pihak Ok-khek-co-beng bukan?"
"Betul, Pek-kau Hoat-ong titip padaku supaya mengawal sendiri barang-barang ini, untung Sama Hoatsu ada di sini bisa menjadi saksi...."
"Hari-cong-piauthau, jangan salah paham,"
Ucap Ma Gun tertawa lebar.
"Bukan aku tidak percaya keteranganmu, maksudku bahwa kau akari pergi ke Ok-khek-co-beng dan pasti lewat Jik-tat-bok, kebetulan kita akan seperjalanan. Tujuan kami Lhasa, juga harus lewat Jik-tat-bok, boleh nanti kita berpisah di Jik-tat-bok. Perjalanan dari Jik-tat-bok ke Ok-khek-co-beng jauh lebih aman."
"Obat-obatan yang kami bawa ini terlalu berat, menuntun keledai sehari paling harus menempuh Hma-puluhan li. Kalian punya urusan dinas penting, mana boleh seperjalanan dengan kami?"
"Demi kawan berkorban sedikit juga tidak jadi soal, urusan dinasku tidak mendesak. Kecuali kau tidak pandang aku sebagai teman."
"Ma-tayjin sudi bersahabat dengan aku, sungguh patut aku berbangga. Tapi hubungan pribadi mana boleh mengabaikan urusan dinas? Kuda kalian bisa berlari cepat, kalau berjalan dengan kami lambat-lambat, kalau urusan dinas sampai terbengkalai, terus terang tak berani aku memikul dosanya."
"Terus terang, kami hanya akan mengantar kado saja ke Lhasa. Hay-tayjin juga tidak menentukan batas waktunya kapan kami harus serahkan kado itu. Jadi kalau dibandingkan, keselamatan barang kawalan kalian jauh lebih penting daripada urusan dinasku, bila hal ini kulapor-kan kepada Hay-tayjin, bukan saja tidak salah, pasti mendapat anugerah dan bukan mustahil pangkatku bisa dinaikkan tiga tingkat malah."
Dalam hati, Han Wi-bu amat gelisah, sikapnya juga kelihatan bingung, katanya.
"Ma-tayjin, aku jadi tidak mengerti, aku mengawal barang mana mungkin lebih penting dari urusan dinas kalian malah?"
Ma Gun tiba-tiba merendahkan suara berbisik.
"Komplotan pemberontak dari Siau-kim-jwan itu konon sekarang sembunyi di daerah Jik-tat-bok, masa kau tidak tahu?"
"Aku tinggal di kota raja dan jarang keluar pintu, mana mungkin bisa tahu rahasia ini? lapi, ya untung kami hanya lewat Jik-tat-bok, kan tidak usah memasuki pegunungan."
"Memangnya mereka tidak bisa turun gunting melakukan pembegalan? Obat-obatan ini bila terjatuh ke tangan mereka, manfaatnya tentu amat besar."
"Kalau sampai terjadi peristiwa begitu, mana berani aku membuat tayjin berdua tersangkut?"
"Bekerja demi baginda, mati pun tidak menyesal. Apalagi membantu sahabat seperti dirimu, sesama kawan kan pantas kalau saling bantu." . Han Wi-bu adalah orang yang amat teliti dari cerdik, mana dia tidak tahu maksud orang? Dalam hati dia berpikir.
"Bantuan itu jelas palsu atau pura-pura belaka, yang benar adalah hendak mengawasi diriku. Sayang sebelum ini. aku sudah berjanji dengan Leng Thiat-jiau untuk menyerahkan obat-obatan ini di Suatu tempat, umpama sekarang sempat kukirim kabar supaya dia turun gunung membegal obat-obatan ini juga tidak keburu lagi. Bagaimana baiknya?"
"Bagaimana cong-piauthau? Kau khawatir kepandaian kami rendah, tidak bisa membantu malah menjadi beban kalian saja?"
Tercekat hati Han Wi-bu.
"Dia sudah curiga kepadaku, kalau kau tetap menolak kehendaknya urusan pasti runyam"
Terpaksa dia berkata.
"Ma-tayjin, harap jangan kecil hati, aku hanya khawatir mengganggu urusan dinas kalian. Bahwa tayjin .judi membantu kami, wah sungguh terima kasih sekali."
"Bila menghadapi kesulitan, kita kan keluarga sepenanggungan. Han-vcorig-piauthau, kenapa kau begini sungkan? Baiklah demi menambah rejekimu dan aku bisa naik pangkat, nah mari kita habiskan secawan arak Sengaja Han Wi-bu habiskan secawan arak besar lalu pura-pura sinting, katanya sambil melecetkan lidah.
"Sayang di sini tidak ada ikan bandeng, kalau ada semangkok kuah bandeng sayur asin, wah sungguh nikmat Seingatku tahun lalu hampir saja lidahku kaku waktu minum-minum kuah bandeng sayur asin sambil minum arak."
"Han-cong-piauthau, silakan istirahat,"
Ucap Ma Gun. Sama Hoatsu menimbrung.
"Han-cong-piauthau, kau teramat lelah, tidur di lantai mungkin mengganggu kesehatanmu, silakan tidur di kamarku saja."
Han Wi-bu berkata.
"Kalian tidak usah repot. Hwesio tua, kau ini tuan rumah, mana boleh aku merebut sarang tidurmu. Oh, Ciokheng di mana kau simpan peti yang berisi jinsom?"
"Ada di kamar tamu,"
Sahut Ciok Kian-ciang.
"Memangnya Tio-toasiok terluka, sepantasnya aku menengok keadaannya,"
Demikian gerutu Han Wi-bu. Buru-buru Ciok Kianciang hendak memapahnya, Han Wi-bu mengibaskan tangan, katanya gusar.
"Kau kira aku tidak berguna? Kau adalah wakilku, sepantasnya kau melayani kedua tayjin ini."
Sembari bicara diamdiam dia memberi tanda lirikan kepada Nyo Hoa. Nyo Hoa tertegun, lekas dia mengerti, katanya, Tio-toasiok amat baik terhadapku, biar aku pun ikut menengoknya."
Lalu dia mengikuti Han Wi-bu ke dalam, ternyata Han Wi-bu tidak merintanginya.
Bahwa Han Wi-bu melarang Ciok Kian-ciang mengantarnya, khawatir menimbulkan rasa curiga Ma Gun, dikira diam-diam mereka berunding untuk menghadapi perkembangan selanjutnya, kalau masuk bersama Nyo Hoa, yakin Ma Gun tidak akan banyak curiga terhadap anak tanggung.
Tak nyana, dugaannya justru meleset.
Mahal sejak tadi Ma Gun memperhatikan Nyo Hoa, tidak percaya bahwa Nyo Hoa anak miskin biasa.
Kini Han Wi-bu diam saja Nyo Hoa ikut masuk, meski diam saja, tapi Ma Gun merasa curiga, pikirnya.
"Entah intrik apa yang dilakukan Han Wi-bu dengan bocah ini, mungkin hendak mengerjai aku? Tapi sebagai seorang yang punya kedudukan tak enak aku cari alasan untuk ikut masuk atau berusaha mencuri dengar pembicaraan mereka."
Maklum Ma Gun adalah wakil komandan Gilim-kun, yang terluka hanyalah seorang penuntun keledai Adalah wajar kalau Han Wi-bu memperhatikan kesehatannya karena dia bekerja untuk Tin-wan Piau-kiok.
Nyo Hoa masuk di belakang Han Wi-bu, ternyata penuntun keledai itu sudah tidur pulas dan menggeros keras.
Nyo Hoa tertawa, katanya.
"Di luar terjadi keributan segaduh itu, ternyata dia bisa tidur sepulas ini."
Han Wi-bu berkata perlahan.
"Jangan mengusiknya, ada persoalan penting ingin kubicarakan dengan kau."
Mencelos hati Nyo Hoa, katanya.
"Silakan cong-piauthau memberi pesan."
"Jangan sungkan. Nama baik Tin-wan Piaukiok bisa dipertahankan adalah berkat bantuanmu, aku belum sempat mengucap terima kasih kepadamu."
Nyo Hoa kaget, pikirnya.
"Han Wi-bu ternyata seorang ahli, pandangannya pun tajam. Kukira tiada orang yang tahu perbuatanku, ternyata tidak luput dari matanya"
Bahwa bantuannya secara rahasia terbongkar oleh Han Wi-bu, sesaat lamanya Nyo Hoa kebingungan, harus mengaku atau mungkir, sebelum dia buka suara, Han Wi-bu sudah herkata pula di samping telinganya perlahan.
"Adik cilik, hari ini kau membantu kami. Tak perlu aku berpura-pura terhadapmu lagi. Ada sebuah persoalan penting, kuharap kau suka membantu."
Membara jiwa ksatria Nyo Hoa, katanya.
"Terima kasih, congpiauthau sudi anggap aku sebagai teman, ada tugas apa, bila mampu melakukan pasti tidak kutolak, silakan cong-piauthau katakan saja."
"Terus terang, separo dari bahan obat itu akan kuserahkan kepada laskar rakyat. Kedua perwira itu bilang mau ikut aku pergi ke Jik-tat-bok, tujuannya jelas hendak mengawasi gerak-gerikku. Kuharap kau bantu aku menghadapi mereka."
"Tidak sukar menghadapi mereka, aku khawatir kau akan terlibat dalam persoalannya."
"Kau boleh berusaha memancing mereka pergi dan hajar saja biar babak belur, asal tidak di hadapanku. Walau mungkin mereka curiga bahwa aku biang keladinya, tapi urusan sudah terlanjur sejauh ini, aku juga tidak perlu takut menghadapi urus-Nyo Hoa berpikir sejenak segera dia maklum duduk persoalannya, katanya.
"Betul. Akal bagus. Mereka adalah perwira tinggi Gi-lim-kun, kalau sampai dihajar oleh anak miskin macamku ini demi gengsi dan kedudukan jelas takut diketahui orang, seumpama orang bisu minum obat baik tidak bisa mengeluh. Cuma dengan cara apa aku harus memancing mereka?"
"Terserah kepadamu, sepanjang jalan boleh kau bekerja menurut situasi, yakin pasti ada cara dan kesempatan."
Tengah bicara tibatiba terdengar suara ringkik kuda di luar, dua ekor kuda kedengaran berjingkrak-jingkrak.
Ma Gun sedang bingung dan mencari akal dan alasan, bagaimana supaya tidak merendahkan derajat mengawasi gerak-gerik mereka.
Baru saja dia dapat akal.
"kamar mandi tentu terletak di belakang kuil, aku pura-pura buang air kecil dan cuci tangan, pasti akan ada kesempatan mencuri dengar pembicaraan mereka."
Tapi sebelum dia buka suara, didengarnya kuda meringkik dan berjingkrak di luar.
Karuan Ma Gun kaget, kedua ekor kuda mereka dilepas bebas makan rumput di luar kuil.
Dia kenal betul suara ringkik kuda mereka, juga maklum akan tabiat tunggangannya, dari suara ringkik dan kakinya seperti ada seorang asing duduk di atas punggungnya, kuda itu tidak menurut perintah.
Tergerak hati Ma Gun dan Ciu Jan, tanpa berjanji keduanya lantas berlomba lari ke luar, tampak seorang pemuda menunggang seekor kuda serta menuntun kuda yang lain.
Karuan Ma Gun gusar kontan dia menyambit dengan sebatang kong-piau seraya membentak.
"Maling cilik dari mana berani beroperasi di depan mata tuan besar, mencuri kuda tunggangan Gikim-kun kami?"
Pemuda itu memegang seutas cambuk lemas, memang itulah senjata yang selalu dibawanya, kini dia gunakan sebagai cambuk kuda.
Bila kong-piau itu meluncur tiba, si pemuda ayun cambuknya menggulung, kong-piau itu tergulung lalu ditimpuk balik.
Karuan Ma Gun terkejut, batinnya.
"Kungfu bangsat cilik ini ternyata tidak lemah."
Pemuda itu bergelak tawa katanya "Memang betul aku ini maling kecil.
Kalian begal besar merampok barang kawalan piaukiok, aku maling cilik tidak berani merampok, terpaksa jadi maling cilik mencuri koda kalian pembesar yang banyak duit ini."
Senjata rahasia Ma Gun memang tidak mengenai si pemuda, tapi untuk mematahkan serangan kong-piau itu si pemuda dipaksa menggerakkan sebelah tangannya maka seekor kuda lain yang dituntunnya terpaksa harus dilepas, mendengar panggilan sang majikan, kuda itu segera putar balik.
Kuda tunggangan Ma Gun dan Ciu Jan adalah kuda pilihan dari barat yang banyak terdapat dalam pasukan Gi-lim-kun, setiap orang harus bertanggung jawab kepada kuda tunggangan sendiri dan tidak boleh hilang.
Karuan kedua orang ini gusar dan gugup, dan dua orang satu kuda mengejar dengan kencang.
Sambil mengejar tidak henti-hentinya mereka menimpukkan senjata rahasia, walau tahu serangan mereka takkan mampu melukai pemuda itu, sedikitnya dapat menghambat larinya kuda.
---ooodwooo---Mendengar ringkik kuda di luar, Nyo Hoa yang masih berada di kamar amat girang di samping kaget Dari suara orang di luar dia tahu pencuri kuda itu bukan lain adalah pemuda cakap yang pernah menolong dirinya mengalahkan Si-ceng, Si-to dan Ngo-koan waktu masih di Siau-kim-jwan dulu.
"Agaknya Thian memang maha adil. Han-cong-piauthau, kini tak usah aku mencari akal lagi. Temanku sudah memancing pergi mereka. Sekarang juga aku akan susul ke sana membantunya. Tapi selanjutnya mungkin aku tidak akan kembali, harap cong-piauthau maafkan dan terima kasih."
Secepat angin dia lari keluar.
Nyo Hoa kembangkan ginkang, berlari pesat di permukaan salju.
Untung tapak kuda meninggalkan bekas yang jelas di permukaan salju.
Nyo Hoa terus mengejar menurut jejak kuda.
Kedua ekor kuda itu adalah kuda pilihan yang dapat berlari kencang, walau ginkangnya tinggi mana mampu Nyo Hoa mengejarnya?
Tapi besar harapannya menemui pemuda cakap itu, meski tahu takkan mampu mengejar, dia tetap genjot langkahnya.
Kejar punya kejar, mereka sudah berlari sekian lama dan jauhnya, Ma Gun berdua masih terus menyerang dengan senjata rahasia hingga akhirnya amgi mereka habis.
Kekuatan lari kedua ekor kuda itu berimbang, pemuda itu menunggang seorang diri, jelas bebannya lebih ringan maka larinya lebih pesat.
Lama kelamaan Ma Gun menjadi patah semangat, bentaknya.
"Maling cilik, kalau berani sebutkan namamu!"
Dia kira setelah berhasil mencuri kuda pemuda itu tentu segera lari menyembunyikan diri.
Tanya siapa namanya hanya untuk melampiaskan penasaran hatinya.
Tak nyana mendadak pemuda itu memperlambat lari kudanya malah, katanya tertawa dingin sambil menoleh.
"Kalau berani boleh kalian kejar kemari, kalian tidak setimpal jadi temanku, kenapa harus memperkenalkan nama segala?"
"Bagus,"
Bentak Ma Gun.
"kalau berani jangan lari. Mari kita tentukan siapa jantan atau betina."
"Di sini bukan tempat untuk berkelahi, kalau berani boleh kejar aku, entah kapan bila hatiku merasa senang, saat itulah aku akan bermain-main dengan kalian. Sekarang aku sih masih ingin lari saja."
Ma Gun murka, peduli apa yang dikatakan benar atau tidak, dia terus mengejar kencang.
Ternyata pemuda itu memang bermainmain menggodanya, tiba-tiba diperlambat, bila jarak sudah agak dekat dia pecut kudanya hingga kabur lebih cepat dan meninggalkan mereka jauh di belakang.
Tanpa terasa pemuda itu tujukan kudanya ke tempat yang berbahaya, kedua samping diapit dua bukit yang menjulang tinggi, timbunan salju tinggi mencegat jalan, di sebelah samping kiri adalah lembah yang dalam sekali.
Ma Gun sudah kegirangan.
"Kau sendiri membawa kami ke jalan buntu, mau lari ke mana pula kau?"
Ternyata si pemuda juga menghentikan kuda, melompat turun, katanya dengan tertawa.
"Tempat ini kurasa cukup baik untuk berkelahi, kalian boleh maju bersama"
Ciu Jan berkata.
"Menyembelih ayam masa perlu pakai golok besar. Ma-toako, biar aku bekuk maling cilik ini."
Maklum Ma Gun adalah wakil komandan Gi-lim-kun, atasan Ciu Jan, demi mempertahankan kedudukan dan gengsinya, maka Ciu Jan merasa berkewajiban menampilkan dirinya.
"Bagus, kau harus hati-hati,"
Ujar Ma Gun. Taraf kepandaiannya"
Lebih tinggi, tadi dia melihat pemuda ini seperti memiliki kungfu tinggi, dalam hati sudah waspada khawatir Ciu Jan bukan tandingannya Tapi Ciu Jan orangnya kasar, berangasan lagi, dia merasa jengkel karena merasa dianggap rendah oleh Ma Gun.
"Sret"
Dia cabut golok serta berseru.
"Ma-toako tak usah khawatir, maling kecil seperti ini memangnya aku tidak mampu membekuknya"
Pemuda cakap itu tertawa, katanya.
"Kau sendirian tidak akan mampu menyentuh aku, majulah bersama supaya aku tidak membuang waktu."
Ciu Jan gusar, bentaknya.
"Maling pongah, kalau tidak kusembelih kau, aku bersumpah takkan mau jadi manusia."
Sekali serang beruntun tiga bacokan mematikan.
Ciu Jan adalah jago kosen yang mewarisi Ban-liong-to, serangannya itu dinamakan Hunmo-sam-ba, satu jurus tiga gerakan, setiap gerakan mengandung tiga pembahan pula, setiap menghadapi musuh perubahan boleh dilakukan menurut situasi.
Musuh yang bertaraf rendah pasti takkan mampu meloloskan diri dari serangan tiga jurus golok selebat hujan badai ini.
Ternyata si pemuda cakap berdiri santai, katanya tertawa.
"Oho, hanya kepandaian cakar kucing begini saja."
Sembari bicara seperti tak acuh cambuknya disapukan ke luar.
Golok Ciu Jan membacok miring, dari gerakan kosong menjadi serangan sungguhan, yang dibabat adalah pinggang, ujung golok mengancam Ih-gi-hiat di bawah ketiak pula.
Satu jurus tiga gerakan ternyata isi kosong mengandung perubahan yang tak teraba, memang sukar dilayani Tak nyana permainan pecut dari pemuda cakap itu ternyata jauh lebih aneh dibanding permainan goloknya, di saat sinar golok menyambar dan bayangan cambuk bergerak, tampak dia menggunakan Koay-bong-hoan-sin (Ular sanca membalik badan) "Sret"
Cambuk lemasnya melingkar mcmbundar laksana naga menari di udara, seperti angin lesus saja menyapu, pundak kanan Ciu Jan telah dipatahkan.
Karuan Ciu Jan kaget, baru sekarang dia insyaf pemuda yang dihadapi ternyata adalah lawan yang tangguh.
Tapi dia berpengalaman menghadapi musuh tangguh, meski kaget dia tidak gugup hebat sekali dia membungkukkan tubuh memperkokoh kedudukan, goloknya segera diubah menjadi jurus Ki-hwe-liau-thian, sinar golok laksana rangkaian rantai perak menggubat di atas kepalanya sehingga cambuk kecil pemuda cakap itu tak mampu melukai dirinya.
Gerak tubuh pemuda itu teramat cepat, cambuk lemas membalik terbang, kakinya bergerak dengan To-jay-jit-sing-po, tubuhnya seringan angin menghembus, orang dan cambuknya mendadak berkisar ke belakang Ciu Jan.
"Awas, belakangmu Ciu-toako!"
Lekas Ma Gun berseru memberi peringatan.
Untung mendapat peringatan Ma Gun begitu merasa sambaran angin di belakang, lekas Ciu Jan gunakan Hu-te-liong (Naga mendekam di tanah) sekuatnya dia tarik diri menekuk pinggang merebahkan badan, cambuk lawan menyambar lewat di atas punggungnya, tapi gerak dan keadaanya sudah runyam.
Cepat sekali pemuda cakap juga sudah membalik tubuh mengembangkan Jay-hong-sian-ou disusul Hun-liong-tiau-bwe dan Kim-beng-jan-ji, tiga jurus serangan cambuk beruntun.
Sekaligus pemuda cakap mengembangkan kesehatan gerak tubuh disertai serangan cambuk yang lihay, jadi tiga kali putar tiga jurus serangan lihay, membelit kepala, menyabet pinggang dan berkisar dengan kedua langkah sejurus lebih gencar dari jurus yang lain, sehingga Ciu Jan dicecarnya mencak-mencak seperti kera mencium terasi.
Melihat Ciu Jan bukan tandingan si pemuda, Ma Gun berteriak.
"Ciu-toako, mundurlah kau biar aku bekuk..."
Belum habis dia bicara.
"Cret"
Punggung Ciu Jan sudah termakan cambuk, robekan baju Ciu Jan tampak beterbangan, punggung pun tampak merah sejalur.
Untung kulit punggung Ciu Jan keras dan tebal, namun cambuk itu pun cukup membuatnya menjerit kesakitan.
"Robohlah kau,"
Bentak pemuda cakap. Cambuk lemasnya tibatiba diturunkan terus menyapu datar dari bawah, tiba-tiba terdengar "Cring"
Di kala cambuknya hampir menyapu roboh Ciu Jan ternyata Ma Gun memburu tiba menjentik ujung cambuknya. Kecepatan gerak tubuh Ma Gun ternyata tidak kalah dibanding pemuda cakap.
"Ciu-toako,"
Seru Ma Gun.
"minggirlah istirahat, biar kubekuk bocah ini."
Melihat kepandaian si pemuda cukup tinggi, dia juga tidak yakin dirinya pasti menang, maka nada suaranya sedikit bimbang tidak segalak tadi. Pemuda cakap tertawa, katanya.
"Sudah, kalian maju bersama, kenapa tidak mau dengar nasehatku, sehingga temanmu kena kuhajar, tapi sekarang juga belum terlambat."
"Kalau kau mampu mengalahkan sepasang tangan kosongku, boleh nanti kau membual lagi,"
Demikian damprat Ma Gun.
Dengan tangan kosong ternyata dia layani serangan cambuk si pemuda.
Sebagai wakil komandan Gi-Iim-kun, kepandaian Ma Gun jelas lebih tinggi dari Ciu Jan.
Pemuda cakap bergerak lincah mengelilingi gelanggang, dengan jurus Sin-liong-jip-hay, ujung cambuknya menegang terus melingkar, menyapu dari tiga arah kepada Ma Gun, ujung cambuk dapat digunakan menotok hiatto, juga dapat berubah setiap saat untuk melilit leher Ma Gun, bila leher terjirat napas putus tentu jiwa melayang.
Ma Gun mendengus, serunya.
"Permainan cambukmu amat keji, memangnya kau dapat berbuat apa terhadap orang she Ma."
Sekali raih dia sambar cambuk lawan.
Cambuk lemas yang menyapu ini bergerak laju.
Ternyata Ma Gun tidak kalah cepat, sebelum cambuk menyentuh badannya, kedua pundaknya tampak bergerak, ujung kaki menjorok ke depan secepat angin lesus tubuhnya berputar keluar menempel cambuk orang.
Serangan cambuk si pemuda yang aneh dan keji ini ternyata tidak mengenai sasaran, ujung cambuknya masih beberapa dim di samping badannya tapi jari tangannya juga mencengkeram tempat kosong, cambuk lawan tak mampu direbutnya."
Begitu cambuknya luput mengenai sasaran, sebat sekali pemuda cakap sudah pindah posisi, selebat hujan kembali dia menyerang dengan Wi-hong-sau-yap.
"ser, ser, ser"
Ujung cambuknya mendesis keras, bayangan cambuknya berkelebat di empat penjuru seperti membungkus badan Ma Gun.
Melihat serangan cukup deras, tak berani Ma Gun merebut cambuk orang secara kasar, lekas dia kerahkan tenaga pingggang, dengan Yan-cu-coan-hun (Burung walet menyelinap mega) tubuhnya melambung setombak ke udara turun di belakang si pemuda cakap, telapak tangan kanan sekalian membelah turun.
Bahwa cambuknya mengenai tempat kosong, pemuda cakap juga sudah berhati-hati pada bagian belakang, mendengar angin menentukan arah, seolah-olah tumbuh mata di belakang kepalanya, secara tepat cambuknya menyambar ke tempat Ma Gun berpijak.
Cepat laksana kilat, peluang tiada, cambuk panjang lengan pendek, jikalau Ma Gun tidak segera mengubah permainan dan tetap menubruk turun, kemungkinan sebelum telapak tangannya mendarat di tubuh lawan, tubuhnya sudah terbelit cambuk lebih dulu.
Padahal dalam saat genting dan terjepit demikian jelas dia tidak akan sempat berkelit, sekali dia mundur, pemuda cakap itu berbalik punya peluang balas menyerang, jelas Ma Gun tidak mampu mendekati lawan sementara senjata musuh panjang, bila kesempatan lenyap maka tenaganya akan sia-sia dan terbuang percuma.
Kungfu Ma Gun memang luar biasa, pengalaman tempurnya juga amat luas, dalam detik yang kritis itu dia dapat mengambil keputusan menurut situasi.
Mendadak dia memberatkan badan terus menggunakan Thi-pan-kio, gerakan tubuh membungkuk sehingga tubuhnya hampir menyentuh bumi.
Maka cambuk melesat lewat menyerempet baju punggungnya, namun sedikit pun dia tidak kurang suatu apa.
Sigap sekali, sebelum lawan menarik cambuk lemasnya, Ma Gun sudah menerobos maju sambil badan membungkuk, sementara punggung telapak tangannya menyangga cambuk, telapak tangannya menepis tegak membelah masuk, seperti hujan badai laksana amukan gelombang, ternyata dia sudah kembangkan serangan terbuka yang mematikan.
Kepandaian kedua pihak setan-ding sama kuat Ma Gun mengembangkan Khong-jiu-jip-pck-to mc-rangsak dengan kecepatan dan lan-dasan tenaga hebat sehingga angin menderu kencang menggebu ke arah musuh.
Ternyata kepandaian pemuda cakap juga bukan main lihaynya, cambuk lemas itu dapat dibuat kaku dan lurus seperti sebatang tongkat, gerakan cambuknya juga mengundang damparan angin kencang.
Begitu mundur sigap sekali sudah menerjang maju pula, dia pun melancarkan permainan cambuknya yang aneh, maka seperti berlomba mengadu kecepatan serang menyerang ini berlangsung dengan sengit.
Seratus jurus telah tercapai, mau tidak mau kedua orang sama kaget.
Pemuda cakap berpikir.
"Agaknya aku terlalu pandang enteng musuh. Setelah Pakkiong Bong mampus, dalam kalangan Gi-lim-kun masih ada juga jago sekosen ini. Kalau tahu begini seharusnya aku mengajak teman untuk membantu."
Demikian pula Ma Gun juga terkejut, pikirnya.
"Betapapun aku ini adalah wakil komandan Gi-lim-kun, kalau seorang maling cilik pun aku tidak mampu mengalahkan, bila tersiar di luar bukankah bakal ditertawakan orang? Untung Ciu Jan sudah kecundang oleh bocah ini, kejadian yang memalukan jelas takkan diceritakan kepada orang lain. Tapi sejak hari ini, bagaimana juga dia pasti akan memandang rendah diriku."
Ciu Jan sudah beristirahat dan sedikit pulih tenaganya, katanya setelah menjemput goloknya pula.
"Waktu sudah mendesak, kita harus lekas bereskan bocah ini."
"Baiklah,"
Sahut Ma Gun tawar. Pemuda cakap tertawa besar, katanya.
"Kan sudah kusuruh kalian maju bersama, kenapa harus pakai alasan segala."
Lahirnya dia bersikap tak acuh, padahal dalam hati mengeluh, maklum kepandaian Ciu Jan memang lebih rendah namun juga terhitung jago lihay.
Sekarang dia hanya setanding dengan Ma Gun, bila lawan ditambah satu musuh, jelas dirinya berada di pihak yang dirugikan.
Merah muka Ma Gun, bentaknya.
"Bangsat kecil, kemarian di depan mata, masih berani bertingkah."
Tenaga dikerahkan, pukulannya semakin gencar lagi.
Ciu Jan bantu menggempur dari pinggir, goloknya diputar sekencang baling-baling, yang dicari setiap lubang kelemahan musuh.
Bertempur beberapa kejap, pemuda itu sudah mulai kendor gerakannya, tenaganya sudah berkurang, gerak dan permainan cambuknya sudah tidak selincah tadi.
Tengah dia terjepit, tiba-tiba didengarnya seorang tertawa dingin.
"Dua mengeroyok satu, huh, tidak tahu malu, apalagi kalian kan perwira tinggi dari Gi-lim-kun."
Ma Gun berpaling, dilihatnya kacung cilik Tin-wan Piaukiok itu menggendong sebuah kantong kulit dan menjinjing sebuah buntalan tengah berlari bagai terbang di tanah pegunungan yang tidak rata.
Ma Gun kaget pikirnya.
"Memangnya aku sudah curiga bocah ini bukan orang biasa, ternyata memang dia memiliki kepandaian yang tinggi, kali ini aku betul-betul terkelabui."
Ciu Jan membentak.
"Bocah busuk, kau tidak terima, boleh maju sekalian."
Nyo Hoa tergelak-gelak, katanya.
"Memangnya, kalau tidak ingin berkelahi dengan kalian, buat apa jauh-jauh aku menyusul kemari, tapi aku sih tidak ingin memungut keuntungan percuma. Saudara ini silakan minggir dan istirahat. Aku punya permusuhan dengan kedua cakar alap-alap ini, jikalau mereka kau bunuh, selanjutnya aku takkan bisa membuat perhitungan dengan mereka."
Sembari bicara sekenanya dia raih dua butir batu terus dijentik-nya.
Ma Gun dan Ciu Jan sedang melabrak pemuda cakap, jelas tak sempat menghadapi serangannya, terpaksa mereka melompat menyingkir.
Ada kesempatan, segera pemuda cakap menarik cambuk melompat ke luar kalangan.
Cepat sekali Nyo Hoa sudah menggantikan kedudukannya menghadapi kedua perwira Gi-lim-kun ini Ma Gun membentak.
"Kau menantang kami berdua?"
Lahirnya dia membentak menjaga gengsi, padahal dalam hati dia sudah keder dan mengharap Nyo Hoa menantang mereka berdua maju bersama.
"Betul,"
Ucap Nyo Hoa.
"kalian sudah bertempur satu babak, bila satu lawan satu bukankah aku mengambil keuntungan?"
Khawatir pemuda cakap itu tiba-tiba membokong di kala mereka bertarung, Ma Gun berpikir biarlah Ciu Jan bersiaga di pinggir arena mengawasi orang, kepandaian kacung ini kelihatannya tidak rendah, namun dia yakin kepandaiannya juga tidak banyak berbeda dengan pemuda cakap, betapapun dirinya masih kuat menghadapinya.
Tapi dia juga khawatir Ciu Jan bukan tandingan pemuda cakap.
Walau tenaga pemuda itu sudah banyak terkuras, khawatir yang ini berpikir yang itu, berpikir yang itu khawatir yang ini, sesaat dia bimbang.
Nyo Hoa seperti tahu pikiran orang, mendadak dia menurunkan kantong kulitnya dilempar ke arah pemuda cakap, katanya.
"Sekantong arak anggur ini, sengaja kubawa untuk kau minum.""
Pemuda cakap menerima kantong itu, katanya.
"Tidak usah tergesa-gesa, setelah kau bereskan kedua cakar alap-alap ini, nanti kita rayakan bersama dengan menikmati arak ini."
Seolah-olah dia sudah memastikan bahwa Ma Gun dan Ciu Jan pasti kalah, lapi secara langsung dia pun telah memberi pernyataan bahwa dirinya tidak akan ikut campur. Nyo Hoa tergelak-gelak, katanya.
"Nah sudah dengar kalian, temanku ini tidak akan bertindak seperti kalian yang tidak tahu malu. Kalau sudah bilang tidak akan memungut keuntungan ya tidak. Tuan pembesar, di tengah jalan kemarin bukankah kalian hendak menghajar aku? Kenapa sekarang berpura-pura? Hayolah tak usah sungkan, silakan maju."
Ma Gun membentak.
"Baik, kau sendiri yang ingin mampus!"
Tangan kanan menjaga badan, dua jari tangan kiri menotok hiatto Nyo Hoa. Nyo Hoa menekuk sebelah lutut menggeser langkah, berkelit sambil balas menyerang. Dua telapak tangan beradu.
"Biang", Nyo Hoa tergeliat Ma Gun mundur dua langkah. Tapi ujung jari Ma Gun menyerempet walau tidak menotok hiatto, tapi menggores sobek bajunya. Sebetulnya lwekang Ma Gun setanding dengan Nyo Hoa, tapi setelah dia bertarung satu babak, tenaganya sudah berkurang, namun pengalaman tempurnya jauh lebih luas, demikian pula dalam permainan pukulan dia juga masih lebih unggul dari Nyo Hoa. Sebelum lawan berdiri tegak, Nyo Hoa sudah bergerak dengan jurus Cap-ji-pay-lian, orangnya belum maju tapi kakinya sudah tiba lebih dulu, yang ditendang adalah selangkangan Ma Gun. Diamdiam Ma Gun girang, pikirnya.
"Pengalaman tempur bocah ini masih cetek, rangsakan yang terburu nafsu begini, kapan kau takkan kukalah-kan?"
Sigap dia miringkan rubuh, telapak tangannya menebas lutut Nyo Hoa.
Di luar dugaan tendangan Nyo Hoa ternyata serangan gertak sambal belaka, mendadak tubuhnya mencelat ke atas kedua telapak tangannya sudah memukul ke muka Ma Gun, sudah tentu Ma Gun tidak berani menangkis, dia berkelit pula.
"Bret"
Kali ini Nyo Hoa berhasil merobek pakaiannya. Nyo Hoa membentak.
"Masih ada satu, kenapa tidak maju sekalian? Takut kubunuh ya? Jangan takut, aku tidak akan mencelakai jiwamu."
Ciu Jan tidak tahu kalau Nyo Hoa amat lihay, dia kira dalam tiga empat gebrak Ma Gun pasti sudah berhasil merobohkan dia, jadi yang diawasi justru pemuda cakap.
Kenyataan Ma Gun tidak mampu membereskan kacung cilik ini, dirinya ditantang pula, memangnya dia be-rangasan, mana tahan sabar segera dia ayun golok seraya membentak.
"Bocah bagus, kau ingin lekas menghadap Giam-loong, biarlah tuan besarmu kirim kau ke sana."
"Baik,"
Ujar Nyo Hoa tertawa.
"buktikan saja surat undangan Giam-lo-ong bakal dikirim kepada siapa?"
Ciu Jan menubruk sambil ayun golok dengan jurus Hun-mo-sambu, sinar goloknya berkilauan membungkus seluruh rubuh Nyo Hoa, sekaligus mengincar atas, tengah dan bawah tubuhnya.
Hun-mosam-bu adalah jurus golok perguruannya yang terlihay, serba lengkap dan mumi, banyak variasinya pula, jurus serangan yang paling cocok untuk mengatasi kepandaian lawan.
Seperti yang telah dilaksanakan terhadap pemuda cakap tadi, terhadap Nyo Hoa kembali dia gunakan jurus ini dalam gebrakan pertama.
"Bagus, mau adu tangan atau bertarung senjata juga boleh, aku iringi kehendakmu,"
Seru Nyo Hoa.
Perlu diketahui, kiam-sut atau ilmu pedang Nyo Hoa memang sudah teramat tinggi, namun permainan pukulan tangannya justru masih cetek.
Ma Gun menyerang dengan tangan kosong maka dia tidak enak keluarkan senjata, padahal dalam hati dia mengharap Ciu Jan lekas bergabung dengan Ma Gun menyerangnya.
Belum lenyap suaranya, mendadak muncul cahaya kemilau menyilaukan mata, dari dalam buntalannya Nyo Hoa sudah mengeluarkan pedang, hanya dalam segebrak di mana golok menyambar pedang bergerak, kontan Ciu Jan menjerit keras sambil melompat mundur tiga langkah.
Pakaian bagian atas tampak berlepotan darah, ternyata tangan kirinya tergores luku sepanjang tiga dim.
Pemuda cakap yang menyaksikan dari luar arena diam-diam amat kagum "Dengan sejurus yang mirip lay-bok-hou-yan, seketika dia mematahkan jurus Hun-mo-sam-bu Ciu Jan, dapat melukainya pula, cara yang digunakan jelas lebih unggul dan lihay dari cara yang kugunakan untuk mematahkan serangan yang sama.
Sungguh tak nyana di dunia ini ada ilmu pedang seaneh ini."
Maklum kepandaian Ciu Jan juga tidak rendah, walau pemuda cakap tadi mengalahkan dia, tapi juga duapuluh jurus kemudian.
Ma Gun kaget, telapak tangannya digerakkan sekencang angin, dia mencecar Nyo Hoa supaya tidak menggempur Ciu Jan lebih lanjut.
Kepandaiannya memang berbeda dengan Ciu Jan, begitu tenaga dikerahkan, tenaga pukulannya memang bergulung-gulung laksana gelombang sungai, dengan sendirinya pertahanan tubuhnya juga rapat dan kokoh, dalam waktu singkat jelas sulit bagi Nyo Hoa untuk mengalahkan dia Nyo Hoa tertawa manis, katanya.
"E, e, apa sih yang kau buat gugup, menerima tamu juga harus ada aturannya, setelah temanmu ini berangkat belum terlambat aku kembali melayani kau."
"Sret, sret", secepat kilat dia menyerang tiga jurus, setiap jurus menyerang dari sudut yang tidak terduga oleh Ma Gun, kini Ma Gun harus sibuk menyelamatkan diri sendiri, mana mampu mencegat lawan pula? Sebat sekali Nyo Hoa mendadak melompat ke luar kalangan, sinar pedangnya mencorong putih memanjang laksana rantai menggulung datar ke arah Ciu Jan. Ciu Jan mainkan goloknya putaran demi putaran, dengan Banliong-to-hoat dia bertahan melindungi badan, jurusnya ini dinamakan Sam-coan-hoat-lun (Tiga kali memutar roda). Ciu Jan kembangkan jurus ini dengan kencang, sehingga tubuhnya terbungkus rapat, seumpama disiram air juga tidak tembus, yang diharap hanya bisa bertahan beberapa kejap, hingga Ma Gun sempat memburu datang menolongnya, sekaligus membokong pemuda dekil ini dari belakang.
"Robohlah kau,"
Nyo Hoa membentak.
"Sret"
Tahu-tahu pedangnya menyelonong ke dalam tabir cahaya golok Ciu Jan.
"Trang", pertahanan Sam-coan-hoat-lun yang dikembangkan Ciu Jan ternyata tidak mampu menahan sejurus serangan pedang Nyo Hoa. Golok bajanya mencelat terbang ke udara, Nyo Hoa layangkan kaki menendang lututnya, seperti bola yang tertendang, tubuh Ciu Jan mencelat jatuh menggelinding ke bawah lereng. Kejadian teramat cepat, setelah Nyo Hoa berhasil menendang Ciu Jan baru Ma Gun menubruk tiba di belakang. Kontan Nyo Hoa balikkan pedang seraya berkata dingin.
"Jangan gugup dan gelisah, sekarang giliranmu."
Seperti tak acuh, seenaknya dia menggerakkan pedangnya, gaya pedangnya biasa dan lamban, padahal di dalam gerakan sederhana ini terkandung gerakan lihay yang tiada taranya, umpama jarum yang tersembunyi di dalam kapas.
Diartikan secara sederhana ialah mengalahkan kekerasan dengan tenaga lunak, bila sebatang jarum tersembunyi di dalam kapas, bila orang memukul kepada kapas itu, semakin besar tenaga yang digunakan, luka-lukanya pasti , makin parah.
Sebagai seorang ahli silat Ma Gun tahu kelihayan jurus ini, lekas dia tarik tangan mengubah gerakan.
Tapi cepat sekali Nyo Hoa sudah berputar, ser, ser, ser, beruntun tiga kali pula dia menyerang dalam sekali tarikan napas, kali ini dia menggunakan tenaga besar, gaya pedangnya bergerak laksana panah yang terbang di angkasa.
Ma Gun dicecamya mundur berulang kali.
Nyo Hoa tertawa, katanya.
"Sekarang boleh kau tahu anak miskin juga tidak boleh dihina dan dianiaya bukan? Setelah begini keadaanmu, apa tidak lekas kau menyerah? Lekas berlutut dan sembah tiga kali kepadaku, nanti kuampuni jiwamu."
"Bangsat cilik,"
Damprat Ma Gun kalap.
"biar aku adu jiwa."
Mendadak dia ubah permainan pukulan, tangan kanan melintang membabat laksana golok, dua jari tangan kiri terangkap tegak, di tengah sambaran pukulan tangan dan sinar golok, dia mencari peluang untuk mengincar hiatto Nyo Hoa.
Dia bertangan kosong, kini kedua telapak tangannya dia gunakan sebagai senjata.
Tangan kanan bergerak menurut permainan Kim-na-jiu, ternyata dapat bergerak laksana sebatang Bcng-gak-to yang terulur, tangan kiri seperti sebatang potlot baja, saban-saban menotok hiatto mematikan, jadi sekaligus dia mainkan dua jurus ilmu silat yang berbeda dengan kedua tangan, serangannya gencar dan nekad seperti ingin adu jiwa.
Keadaan sementara bertahan sama kuat, Nyo Hoa belum mampu mengalahkan lawannya dalam waktu singkat ini.
Menonton di luar arena, pandangan pemuda cakap menjadi berkunang-kunang, batinnya.
"Kalau tadi dia senekad ini melabrak aku, mungkin aku sudah dikalahkan dia."
Didengarnya Nyo Hoa tertawa, katanya.
"Adu jiwa juga tidak berguna."
Mendadak pedangnya putar balik seperti arus air yang mendadak terbendung dan mengalir balik, tiba-tiba menusuk dari arah yang tak terduga Ma Gun.
Pedang panjang itu seperti benda yang, berjiwa saja, mendadak bisa lemas dan bergerak sesuka hati, lincahnya melebihi ular.
Terasa oleh Ma Gun mendadak kepalanya silir dingin, ternyata separo rambutnya sudah tercukur oleh ta-basan pedang, rambutnya bertaburan di tengah sambaran pedang.
Pemuda cakap bersorak sambil bertepuk tangan.
"He, kenapa kau berbuat senakal ini. Jelek-jelek dia itu seorang pembesar,"
Mana mau menjadi hwesio. Kenapa kau mencukur rambutnya."
"Memang beralasan,"
Ucap Nyo Hoa.
"Baiklah, dia punya mata tapi seperti buta, biarlah aku mencukur seluruh alis matanya supaya lebih melek matanya, yakin kau pasti setuju dengan tindakanku."
Kedua tangan Ma Gun sudah melindungi muka, entah kenapa terasa sinar kemilau menyilaukan mata hingga matanya terpejam.
Karuan kejut Ma Gun tak kepalang, lekas dia menjejak kaki bersalto ke belakang sejauh beberapa tombak, begitu tangan meraba dan mata dibuka, telapak tangannya tidak ber-lepotan darah.
Tadi Ma Gun mengira kedua matanya sudah tertusuk buta, kini baru lega hatinya, tapi rasa kejut selanjutnya sungguh bukan kepalang.
Karena Nyo Hoa dapat mencukur alisnya di bawah pertahanannya yang ketat, dalam gerakan secepat dan sesukar itu ternyata kulit mukanya tidak terluka sedikit pun, sungguh susah dibayangkan bagaimana kedua alisnya bisa tercukur begini kelimis.
Tahu ilmu pedang lawan teramat tinggi dan susah dilawan, berdiri bulu kuduk Ma Gun, katanya.
"Siapa kau sebetulnya? Aku tidak bermusuhan dengan kau, kenapa menghinaku begini rupa?"
Nyo Hoa menyeringai dingin, je-ngeknya.
"Memangnya belum puas dan cukup kau menindas rakyat jelata? Memangnya ada permusuhan apa rakyat yang lemah dan tidak tahu apa-apa itu dengan kau? Kenapa kau menjadi antek penjajah menindas bangsamu sendiri, hehe, kau ingin mencari tahu asal-usulku, boleh, tidak sukar."
Nyo Hoa gerakkan pedangnya membundar hingga Ma Gun menyurut mundur ketakutan.
"Boleh kau kembali ke Siau-kim-j wan dan tanya kepada Teng Tiong-ai dan Gun-goan-cu atau kepada Thian-thay Siangjin, gambarkan wajah dan bentuk tubuhku, tentu mereka bisa memberi tahu kepadamu siapa aku."
Seketika Ma Gun paham, teriaknya terkesiap.
"Kau, jadi kau, jadi kau bocah inilah yang menyamar perwira tinggi Gi-lim-kun di Siaukim-jwan itu?"
Nyo Hoa tertawa, katanya.
"Betul, ternyata kau juga pintar, sekali tebak kena sasaran. Hehehe, bukan saja aku menyaru jadi perwira kalian, aku pun menyaru jadi penunjuk jalan untuk Tin-wan Piaukiok. Kau berhasil kukelabui, demikian juga Han Wi-bu kutipu mentah-mentah. Hahaha, lucu tidak?"
Ma Gun juga seorang licik dan banyak akal bulusnya seketika dia paham, batinnya.
"Perkataannya ini dengan jelas untuk melindungi Han Wi-bu supaya tidak tersangkut dalam peristiwa ini. Tapi kenapa dia khawatir aku mencari perkara dan mengusut Han Wi-bu? Ah, ya, agaknya tidak sungguh-sungguh dia hendak membunuh aku."
Maklum semalam Ma Gun dan Ciu Jan berada bersama Tin-wan Piaukiok, Bun Seng-liong melihat mereka bersama, padahal Bun Seng-liong juga bekerja untuk kerajaan secara sembunyi, jadi agen rahasia atau intel dalam istilah yang lebih populer sekarang.
Jikalau mereka mendadak hilang, maka Bun Seng-liong pasti melaporkan kepada atasannya.
Kalau perkaranya diusut maka Han Wi-bu tidak akan lolos dari kecurigaan.
Paham akan hal ini maka dia berpikir pula.
"Jika kau mau membunuh aku segampang membalikkan tangan. Dia sengaja hanya mencukur rambut dan alisku, adalah untuk memberi muka kepadaku, selanjutnya tidak akan berani membongkar keburukan sendiri, putar balik mencari perkara ke pihak Tin-wan Piaukiok H mm, bocah ini masih muda, dari masa dia dapat memikirkan muslihat sekeji ini? Bukan mustahil Han Wi-bu yang memberi petunjuk kepadanya."
Sambil berpikir kembali Ma Gun sambut sejurus serangan lawan terus mundur tiga langkah. Maka didengarnya Nyo Hoa berkata lebih lanjut.
"Kalau kau tidak percaya omonganku, boleh kau kembali tanya kepada Han Wi-bu. ."Hai, bocah yang mencukur rambut dan alisku itu siapa?"
Han Wi-bu pasti takkan mampu menerangkan asal-usulku tapi kemungkinan dia akan membawa kau ke daerah sekitar waktu dia bertemu aku di atas gunung.
Tapi aku khawatir kau menindas dan menyiksa keluarga miskin yang tidak berdosa, maka, hche, sekarang kucukur rambut dan alismu masih pula ingin kukorek biji matamu, kupotong lidahmu."
Sembari bicara pedangnya bergerak pula seperti ular galak di depan muka Ma Gun.
Betapapun usia Nyo Hoa memang masih muda, dia hanya pikir menggertak dan menakuti lawan, tidak disadarinya bahwa ucapannya yang terakhir justru berkelebihan, seperti orang yang menggambar ular sengaja ditambahi kaki.
Walau Ma Gun tahu kalau Nyo Hoa membual, tapi dia tidak berani menggunakan badan sendiri sebagai percobaan melawan permainan pedang Nyo Hoa.
Meski tahu Nyo Hoa tidak berani membunuh dirinya, tapi tak berani dia meyakini bahwa orang tidak akan melukai badannya, bukan mustahil kedua biji matanya akan ditusuk benar-benar.
Semula dia kira Nyo Hoa tidak akan mengampuni jiwanya, maka dia bertekad mengadu jiwa.
Kini setelah tahu Nyo Hoa tidak akan membunuh dirinya, semangat tempurnya sudah luluh, rasa takut memenuhi hati, dan khawatir Nyo Hoa melukai dirinya pula.
Maka setiap kali pedang Nyo Hoa menusuk dia mundur dan mundur terus hingga kakinya menginjak tempat kosong, kontan dia pun terjerumus jatuh ke bawah lereng mengejar Ciu Jan yang telah mendahuluinya.
Pemuda cakap berseru memuji.
"Ilmu pedang bagus."
Terdengar suara kuda meringkik, daun pohon berjatuhan.
Ternyata pemuda cakap sudah menjinakkan kedua kuda Ma Gun dan Ciu Jan, serta mengikatnya di dahan pohon.
Kini melihat kedua majikan mereka menggelinding-ke bawah lereng, mendadak keduanya berjingkrak-jingkrak dan meronta, ikatan tali kekang di atas pohon cukup kuat hingga pohon kecil itu tergetar hampir roboh.
Nyo Hoa berkata.
"Kau menangkap kuda mereka, aku malah membiarkan mereka lari, sungguh harus disesalkan, aku, sebetulnya aku...."
"Memang lebih baik membiarkan mereka pergi,"
Tukas pemuda cakap.
"kau tak usah khawatir, salju di dasar lembah cukup tebal, mereka tidak akan mati jatuh ke bawah."
Nyo Hoa seketika sadar, diam-diam dia mentertawakan dirinya.
"Dia ini orang yang berpihak kepada laskar rakyat, tentu dia lebih jelas dari aku tentang rahasia Han Wi-bu. Memangnya perlu aku memberi penjelasan ini kepadanya?"
Tawa pemuda cakap tampak manis seperti kembang mekar, dia membawa kantong arak yang dilempar Nyo Hoa kepadanya, katanya.
"lak nyana kita akan bertemu pula di sini, kali ini kau membantu aku, sepantasnya aku menghaturkan terima kasih. Marilah kita rayakan kemenangan ini dengan minum arak."
"Tidak, justru kau yang membantu aku. Aku sedang bingung bagaimana memancing kedua cakar alap-alap itu, kebetulan kau datang. Hm, sejak kita berpisah di Siau-kim-jwan, sepanjang hari ini aku amat merindukan kau, selalu aku berdoa semoga dapat bertemu lagi dengan kau. Ternyata keinginanku dikabulkan."
Berhenti sebentar lalu menyambung dengan tertawa.
"Sebetulnya memang aku yang ceroboh, sepantasnya aku sudah menduga, kau pasti akan ikut kemari."
Merah muka pemuda cakap, seperti marah seperti kesal, dia melotot sekejap kepada Nyo Hoa, katanya.
"Siapa bilang aku mengikuti kau kemari, tak usah ya?"
Nyo .Hoa melengak, dia tidak mengerti kenapa mendadak muka pemuda ini jengah, kenapa pula marah. Katanya rikuh.
"Han-congpiauthau hendak mengirim obat-obatan itu kepada laskar rakyat, kukira kau pasti melindunginya diam-diam. Apakah dugaanku salah? Hitung-hitung kita sudah menjadi teman, sesama teman mengharap bisa sering kumpul, kan...."
Baru sekarang pemuda cakap tahu dirinya salah paham, seketika dia tertawa cekikikan, tukasnya.
"Kau tidak salah, aku... akulah yang salah duga."
Mendadak tergerak hatinya, pikirnya.
"Sebetulnya aku bisa meloloskan diri dari kejaran kedua cakar alap-alap itu, kenapa aku justru memperlambat lari kuda hingga mereka dapat mengejarku? Mungkin tujuanku bukan menunggu mereka, tapi menunggu pemuda gagah ini? Sebetulnya aku pun kangen dan ingin bertemu dengan dia."
Mendadak menyadari rahasia hati sendiri, seketika makin jengah mukanya.
Sudah tentu Nyo Hoa keheranan, terasa kepandaian pemuda ini memang tinggi tapi tidak punya jiwa seorang lelaki gagah, sedikitsedikit merah mukanya, sungguh mengherankan.
Tapi dia memang lugu, sesaat sukar dia menemukan kata-kata yang tepat untuk diucapkan, lalu dia terima kantong arak dari tangan si pemuda serta membuka tutupnya, setelah meneguk dua teguk arak anggur, dia angsurkan kepada si pemuda, katanya tertawa.
"Minumlah dulu sebagai hormat, aku tidak membawa cangkir, mari kita minum bergiliran."
Lucu sikap dan mimik si pemuda waktu menerima kantong arak itu"
Seperti rikuh, malu dan canggung, wajahnya semakin merah. -"Arak ini bagus dan enak rasanya, kenapa kau tidak minum?"
Tanya Nyo Hoa "Aku tidak biasa minum arak, mungkin seteguk juga sudah mabuk,"
Sahut si pemuda.
"Jangan khawatir, ini arak anggur bukan arak keras, kutanggung kau tidak mabuk."
Lalu Nyo Hoa menyambung.
"Minum arak juga perlu latihan seperti juga kungfu. Sam-suhuku, Tan Khu-seng; juga gemar minum arak, beliau sering bilang yang tidak suka minum arak bukan laki-laki sejati, sudah tentu ucapannya tidak boleh dibuat ukuran, tapi setelah minum arak memang mungkin bisa memperlihatkan kegagahan dan keperkasaan jiwa seorang lelaki."
Mendengar Nyo Hoa selalu menyebut "lelaki jantan"
Segala, pemuda cakap menjadi gelisah, pikirnya.
"Apakah dia sudah melihat kegan-jilanku?"
Nyo Hoa bicara asal bicara saja, pemuda cakap itu justru menerima dengan rasa was-was, terpaksa dia juga menenggak seteguk arak.
Begitu arak masuk perut, wajahnya seketika makin merah laksana buah apel yang ranum.
Nyo Hoa membatin.
"Ada pemuda setampan ini dalam dunia, jikalau dia menyamar jadi perempuan pasti sukar diketahui orang."
Tiba-tiba dia sadar pikirannya tidak benar, lekas dia melengos tidak berani menatap si pemuda.
"Kenapa aku punya pikiran ganjil ini?"
Demikian Nyo Hoa berpikir pula.
"Oh, betul, dia begini cakap, sikapnya juga mirip gadis yang aleman. Tanpa sengaja aku menghubungkan dua jenis orang yang sama dalam sifat"
Pemuda itu mengomel.
"Kenapa kau menatapku begitu rupa?"
"Agaknya kau memang baru belajar minum arak. Tadi kukira kau berbohong padaku."
"Selamanya tak pernah aku berbohong. Kalau minum lagi mungkin aku betul-betul bisa mabuk. Silakan kau minum sendiri."
"Di kuil Lama tadi memang aku belum puas minum. Baiklah, aku tidak sungkan."
"Apakah Han Wi-bu sudah menjelaskan seluruh rahasia itu kepadamu?"
"Dia bilang obat-obatan itu sebagian akan diserahkan kepada laskar rakyat Kedua pembesar itu agaknya sengaja hendak mengawasinya. Maka dia suruh aku berusaha menghadapi mereka. Tengah aku mencari akal, kebetulan kau datang."
"Agaknya Han Wi-bu percaya kepadamu."
"Dan kau?"
Merah pula muka si pemuda, katanya.
"Tindak tandukmu agak aneh, beberapa kali kau telah membantu laskar rakyat, tapi kau ingin membunuh salah seorang pemimpin besar mereka, aku jadi bingung dan tidak habis mengerti siapa kau sebetulnya, lapi kali ini kau telah banyak membantu aku, paling tidak selanjutnya aku boleh percaya bahwa kau bukan musuhku."
"Terima kasih kau sudi anggap aku sebagai teman, jadi selanjutnya kau mau memberi tahu siapa namamu sebetulnya?"
"She-ku tidak umum yaitu she Kim atau emas."
"She dan nama hanyalah simbol belaka, jago pedang nomor satu pada jaman ini Kim Tiok-liu juga she Kim, ayahnya Kim Si-ih adalah mahaguru silat yang teragung, konon beliau masih hidup sehat namun mengasingkan diri jauh di luar lautan, hidupnya sudah laksana dewa."
"Kedengarannya kau amat kagum terhadap mereka ayah beranak."
"Setiap insan persilatan di dunia ini siapa yang tidak mengagumi mereka? Kalau aku punya kesempatan dapat berhadapan dengan Kim Tiok-liu, Kim tayhiap, seumur hidupku"
Ini boleh merasa puas."
Pemuda itu tertawa cekikikan, katanya.
"Usia"
Masih semuda ini sudah bilang seumur hidup segala? Siapa tahu kelak kau pun akan memperoleh rejeki besar dalam hidupmu?"
"Terhadap Kim Si-ih locianpwe jelas aku tidak punya harapan untuk dapat bertemu lagi. Dalam dunia dan jaman ini, Kim Tiok-liu, Kim tayhiap, adalah orang yang paling kukagumi, asal dapat bertemu dengan beliau sudah cukup, tak berani aku mengharapkan penemuan aneh segala"
"Kulihat ilmu pedangmu teramat lihay, mungkin tidak kalah dibanding Kim tayhiap itu."
Mendadak tergerak hati Nyo Hoa pikirnya.
"Mendengar aku memuji Kim tayhiap kelihatan dia amat girang, mungkinkah dia punya hubungan famili dengan Kim tayhiap?"
Lalu berkata.
"Kim tayhiap adalah jago pedang nomor satu yang diakui dunia persilatan, mana berani aku dibanding beliau? Tapi kau bilang demikian, tentu kau pernah bertemu dengan Kim tayhiap?"
"Kalau Kim tayhiap mau mengajarkan ilmu pedang kepadaku, manfaatnya tentu berguna seumur hidup. Tapi walau aku ini tidak mahir ilmu pedang, tapi menilai bagus tidak permainan pedang orang aku masih punya sedikit kemampuan. Jurus permainan yang kau gunakan untuk mendesak Ma Gun jatuh ke jurang tadi, sukar aku membayangkan ilmu pedang aliran mana yang dapat dibandingkan kelihayannya Kepandaian Kim tayhiap, mungkin juga hanya begitu saja"
Jawabnya ini agak menyimpang, bukan saja tidak mengatakan pernah melihat Kim Tiok-liu juga tidak mengatakan tidak pernah melihat Kim Tiok-liu, khawatir orang anggap dirinya cerewet, maka tak berani Nyo Hoa banyak tanya, pikirnya.
"Senjata yang dipakai adalah cambuk lemas, kalau dia sanak kadang keluarga Kim tayhiap, mana mungkin dia tidak belajar ilmu pedang?"
"Baiklah tak usah bicara tentang Kim tayhiap. Selanjutnya bagaimana tindakanmu? Setelah kau menghajar kedua pembesar itu, tentu tidak leluasa berkumpul dengan Han Wi-bu."
"Memang aku ingin minta pendapa tmu, tapi siapa namamu belum kau beri tahukan kepadaku."
"Kau sudah tahu aku she Kim, selanjutnya boleh panggil Kimtoako saja, kan beres? Hehe, aku bicara blak-blakan, agaknya usiamu lebih tua, bila perlu biar aku panggil kau Nyo-toako juga boleh kau panggil aku Kim-lote."
Kalau semula sikapnya agak sinis dan kaku, kini setelah banyak bicara sikapnya kelihatan lebih akrab.
"Kurasa lebih baik aku tahu namamu, kalau orang tanya tentang dirimu, apakah aku harus bilang Kim-toako saja? Bukankah menjemukan?"
Pemuda itu tertawa geli, katanya.
"Aku jadi takut bila kau cerewet, baiklah kuberi tahu aku bernama Bik-ki."
Lalu dia mengambil ranting kering serta menggores namanya dipermukaan salju. Nyo Hoa tertawa setelah tahu nama orang, dalam hati dia membatin.
"Tindak tanduknya sudah mirip anak perempuan, ternyata namanya juga mirip perempuan."
Agaknya Kim Bik-ki tahu kenapa Nyo Hoa tertawa, namun tak enak dia memberi tanggapan, tak urung merah pula wajahnya, katanya.
"Waktu sudah tidak pagi lagi, hayo-lah kita pergi."
"Nanti dulu, kau belum berunding denganku."
"Berunding soal apa?"
"Kenapa kau lupa tanya kepadaku, selanjutnya bagaimana tindakanku?"
"Lho, kan kau yang ingin ajak aku berunding, bukan aku yang ingin berunding denganmu, kukira dalam hatimu sudah punya maksud, katakan saja bagaimana tujuanmu?"
"Memang betul, aku, aku juga sedang berpikir untuk seperjalanan dengan kau."
Untuk kedua kali ini dia mengajukan permohonan ini, tampak wajah Kim Bik-ki kian canggung, sesaat dia berpikir, mendadak tertawa, katanya.
"Tadi kau bilang kedua pembesar itu hendak mencari perkara kepada Han Wi-bu serta mau mengawasi gerak-geriknya, kenapa sekarang kau justru seperti mau merikuhkan aku saja?"
Khawatir orang menolak, lekas Nyo Hoa menjelaskan.
"Sejak kecil aku sudah kehilangan kedua orang tuaku, tanpa sanak tiada saudara lagi, seorang teman pun aku tidak punya. Kau adalah temanku yang pertama, sungguh berat rasanya untuk berpisah dengan kau seperti tempo hari."
Melihat orang berkata setulus hati, terharu juga hati Kim Bik-ki, pikirnya.
"Wataknya ternyata mirip ayah, kepandaiannya tinggi, hatinya baik, suka membantu orang dan supel lagi. Em, ya, justru karena watak ayah itulah hingga ibu kecantol kepada ayah."
Teringat akan hal ini seketika merah dan panas kulit muka-"Aku bicara sejujurnya, apa kau tidak percaya?"
"Dari mana kau tahu aku mau ke mana?"
"Terserah kau mau ke mana, kalau boleh aku ikut."
"Kalau kau kusesatkan dan ku-jual kepada musuhmu?"
Sengaja dia menarik muka hingga perkataannya perti sesungguhnya. -.stftf Tercekat hati Nyo Hoa, pikirnya.
"Beng Goan-cau adalah orang yang dia hormati, bukan mustahil dia bisa berbuat begitu."
Tapi lantas dia berpikir pula.
"Kenapa aku banyak curiga kepadanya malah. Jangan kata dia ini seorang pemuda gagah berjiwa satria, umpama Beng Goan-cau benar adalah lelaki bejat seperti yang dikatakan ayah, yakin dia tidak akan mau sekongkol dengan orang Untuk menjebak musuh."
Lalu dia berkata tertawa.
"Kalau demikian biar aku mati di tanganmu juga rela."
"Apa-apaan omonganmu ini? Sungguh bualan belaka, siapa bilang ingin kau mati lantaran aku?"
Walau lahirnya kelihatan marah tapi akhirnya dia mengangguk meluluskan permintaan Nyo Hoa.
"Kim-heng, kau setuju?"
"Kau tahu aku mau pergi ke mana?"
"Tadi sudah kukatakan, ke mana kau pergi, ke mana pula aku ikut."
Kim Bik-ki melotot sejenak, katanya.
"Jelas kau tahu kalau aku akan pergi ke Jik-tat-bok, sengaja kau hendak mengolok aku ya."
"Kalau kita memang setujuan, bukankah lebih baik seperjalanan."
"Tapi setelah sampai di Jit-tat-bok, kenapa pula aku pergi, orang sembarangan tidak boleh ikut ke sana."
"Aku tahu. Tiada perjamuan yang tak bubar di dunia ini, kapan kau ingin berpisah dengan aku, boleh kau tentukan sendiri. Aku hanya mengharap seperjalanan beberapa hari denganmu."
Manis perasaan Kim Bik-ki, tanpa merasa mukanya jengah pula, katanya.
"Ah, apa betul begini tinggi penghargaanmu tentang persahabatanmu dengan aku?"
"Belum pernah aku membual."
"Baiklah aku boleh seperjalanan dengan kau, tapi kau harus tunduk padaku, peduli tentang segala persoalan."
Nyo Hoa melengak, pikirnya.
"Jikalau dia minta supaya aku tidak menuntut balas kepada Beng Goan-cau, lalu bagaimana?"
Seperti tahu isi hatinya, KimBik-ki berkata.
"Urusan besar kecil di sepanjangjalan, apa yang kukatakan kau harus patuh, lapi setiba di Jik-tat-bok aku boleh tidak peduli kepadamu lagi."
Seperti dibebaskan dari beban berat, Nyo Hoa berkata.
"Aku ini umpama anak kambing yang baru keluar kandang, sepanjang jalan mendapat petunjuk Kim-heng juga baik bagiku."
"Jangan terburu-buru kau menerima syaratku, bukan mustahil kau harus mempertaruhkan jiwamu. Kau tahu tugasku adalah melindungi barang kawalan Tin-wan Piaukiok itu."
"Walau aku ini orang luar, tapi Han-cong-piauthau anggap aku orang sendiri, untuk kepentingan sahabat, meski tersiksa juga aku rela."
"Kau tahu siapa kepala bandit yang bersenjata gitar besi itu?"
"Menurut keterangan Han Wi-bu, orang itu bernama Siang Thihong, dari perguruan Thi-bi-ba-bun, kemungkinan sekarang sudah masuk serikat entah apa.""Benar, tapi dia masih punya kedudukan lain, mungkin Han Wi-bu sendiri belum tahu. Dia adalah saudara angkat komandan Gi-lim-kun Han Lan-ting, diam-diam dia bekerja untuk kepentingan kerajaan. Han Lan-ting sudah menaruh curiga terhadap Han Wi-bu, soalnya dia belum mendapat bukti kalau Han Wi-bu ada hubungan dengan laskar rakyat, maka dia tugaskan Bun Seng-liong menyelidiki soal ini. Kali ini mereka berani membegal barang kawalan Han Wi-bu, bukan mustahil juga karena anjuran Han Lan-ting."
Nyo Hoa sadar dan mengerti, katanya.
"Tak heran sikap kedua pembesar itu amat simpati dan seperti membela mereka."
"Siang Thi-hong berhasil kau kerjai, walau seketika tidak dibongkar perbuatanmu, tapi mereka tahu ada orang membantu Han Wi-bu diam-diam. Dengan jabatannya yang tinggi, setelah kecundang, kecuali dia yakin menang, kalau tidak pasti takkan berani meluruk lagi. Tapi bukan mustahil ada orang lain pula yang akan merampas barang kawalan Tin-wan Piaukiok."
"Baiklah, selanjutnya kita membuka dan melicinkan jalan Han Wibu, jikalau bertemu dengan orang yang patut dicurigai, tolong kau beri tahu kepadaku."
"Masih ada satu hal, aku ini berbeda dengan orang lain, hanya orang lain mengalah kepadaku, aku tak sudi mengalah kepada orang lain. Setelah seperjalanan beberapa hari dengan aku, mungkin kau bisa membenciku."
Nyo Hoa berpikir.
"Usianya masih lebih muda dari aku, bicaranya ternyata berbelit-belit. .Urusan jiwa pun sudah kupasrahkan kepada kau, apalagi urusan tetek bengek?"
Dengan tertawa dia berkata.
"Terserah apa yang kau inginkan, aku selalu mengikuti maksudmu saja."
"Bila tiba di daerah Jinghay, pihak laskar rakyat pasti sudah mengutus orang melindungi Han Wi-bu secara diam-diam. Tadi sengaja kubilang demikian untuk mencoba hatimu. Yang kukhawatirkan justru dalam urusan kecil kau tidak mau tunduk kepadaku."
Ketika itu fajar sudah menyingsing, Nyo Hoa berkata.
"Baiklah, seluruhnya aku setuju, hayolah kita berangkat."
Kim Bik-ki mencemplak ke punggung kuda, katanya tertawa.
"Kuda kedua cakar alap-alap ini betul-betul tunggangan jempolan, kita bisa beberapa hari lebih dini tiba di Jik-tat-bok, hayolah naik kudamu."
Mendadak Nyo Hoa teringat sesuatu, serunya.
"Wah celaka."
"Apanya celaka?"
"Kemarin terjadi salju gugur, aku sendiri tidak pernah melihat salju gugur, tapi menurut cerita orang-orang piaukiok, mulut gunung kemungkinan tertimbun. Apakah mereka-bisa berangkat atau harus menunggu, apakah cuaca hari ini cerah atau hujan."
"Kau tak usah gelisah, ikutlah aku saja."
Lalu dia menjelaskan.
"Salju gugur kemarin itu hanyalah kejadian kecil, mulut gunung memang tersumbat salju, tapi ada jalan kecil lain yang dapat ditempuh untuk keluar gunung."
"Han Wi-bu dan Siang Thi-hong tahu tidak akan jalan kecil ini?"
"Penduduk setempat yang memberi tahu aku jalan rahasia itu, kemungkinan mereka tidak tahu. Tapi Sama Hoatsu yang sudah lama tinggal di sini tentu tahu."
"Sama Hoatsu pasti memberi tahu kepada Han Wi-bu, syukurlah Siang Thi-hong tidak tahu. Umpama dia penasaran dan mengundang bantuan, Han Wi-bu pasti sudah keluar gunung."
Maklum setelah keluar gunung, mereka sudah berada di wilayah Jinghay, sepanjangjalan pasti dilindungi secara diam-diam oleh orang-orang laskar rakyat.
Mereka jalankan kuda berendeng, setelah keluar dari pegunungan mereka baru mempercepat lari kuda, kira-kira menjelang magrib baru mereka tiba di sebuah kota kecil.
Setelah masuk kota mereka mencari penginapan dan bermalam.
Pemilik hotel berkata.
"Kebetulan kedatangan kalian, kami punya tiga kamar kelas satu yang menghadap ke selatan, terserah kalian memilih yang mana.1* Perlu diketahui musim dingin di daerah utara datang lebih dini, bila musim dingin sudah menjelang, para pedagang sudah malas keluar pintu. Maka setengah bulan ini hotel sepi, mereka adalah tamu pertama yang menginap. Kim Bik-ki berkata.
"Aku minta dua kamar kelas satu."
Pemilik hotel melengak, katanya.
"Bukankah kalian datang bersama?"
"Ya, datang bersama. Tapi aku minta dua kamar, apa tidak boleh?"
Pemilik hotel membatin.
"Aku hanya tanya sambil lalu, syukur kalau kau membayar sepuluh kamar."
Dengan tertawa dia berkata.
"Sudah tentu boleh, ada dua kamar yang berdampingan, mau tidak?"
Nyo Hoa ingin membujuknya supaya menghemat uang, dua orang sekamar bisa ngobrol semalam suntuk, kan lebih baik?
lapi teringat akan janji dirinya harus tunduk dan patuh, Kim Bik-ki sudah berpesan kepada pemilik hotel pula, maka Nyo Hoa urung bicara.
Khawatir Nyo Hoa curiga, waktu makan malam sengaja Kim Bikki menjelaskan dengan suara lembut.
"Sejak kecil aku sudah biasa tidur sendirian, jikalau sekamar dengan orang lain, aku sukar tidur."
Nyo Hoa berkata.
"Setiap orang punya kebiasaan, kebiasaanmu juga tidak perlu dibuat heran."
Namun dalam hati dia membatin.
"Kelak bila kau sudah kawin memangnya tidak mau tidur sekamar dengan istrimu? Kalau kebiasaan tidak diubah, setiap malam kau tidak akan bisa tidur pulas, dan berabe."
Setelah makan malam Kim Bik-ki langsung masuk kamar tutup pintu tidur seorang diri, tanpa hiraukan Nyo Hoa pula.
Sebetulnya Nyo Hoa belum mengantuk dan ingin ajak dia ngobrol, tapi dia tidak berani mengetuk pintu kamarnya.
Pikirnya.
"Mungkin dia terlalu lelah. Padahal kungfunya tinggi, kenapa harus tidur sepagi ini? H m, pemuda itu memang luar biasa. Ah, urusan kecil ini, kenapa harus kurisaukan."
Hari kedua mereka melanjutkan perjalanan, kelihatannya Kim Bik-ki bersikap rikuh maka sengaja dia sering ajak Nyo Hoa ngobrol.
Walau usianya masih muda, tapi tidak sedikit persoalan Kangouw yang diketahui.
Bicara tentang tokoh-tokoh Bulim yang kenamaan, banyak yang dikenalnya baik.
Tapi tidak pernah menyinggung ayah bunda sendiri, dia juga tidak tanya siapa ayah bunda Nyo Hoa Nyo Hoa terkesan mendengar ceritanya, katanya tertawa.
"Tak nyana ternyata kau sudah kawakan Kangouw. Mendengar ceritamu lebih terkesan dari membaca buku sepuluh tahun."
"Itu kan hanya pengetahuan umum, memangnya gurumu tidak mengajar kepadamu?"
"Walau aku punya tiga orang guru, sejak umur delapan aku hanya dididik oleh sam-suhu. Beliau tetirah di Ciok-lin, dan tidak mencampuri persoalan di luar."
Mendengar nama "Ciok-lin"
Tergerak hati Kim Bik-ki, seperti ingin tanya kepada Nyo Hoa tapi pertanyaan ditelannya pula sesaat lagi agaknya Kim Bik-ki tidak tahan lagi, katanya.
"Konon Ciok-lin adalah tempat tetirah mahaguru besar Thio Tan-hong Thio-locianpwe dari jaman dinasti Beng, entah di sana masih ada peninggalannnya."
Nyo Hoa bercerita.
"Di dalam Ciok-lin ada Kiam-hong, di bawah Kiam-hong ada Kiam-ti, panoramanya amat mempesona Konon ukiran Kiam-hong adalah buah tulisan Thio Tan-hong. Setiap hari dia latihan pedang di atas Kiam-hong, mencuci pedang di Kiam-ti."
Kim Bik-ki berkata.
"Suatu hari cong-thocu Ang-i ng-hwe, Le Lam-sing, berbincang-bincang tentang ilmu pedang dengan ayahku, seluruh ahli pedang di dunia sejak jaman dulu sampai sekarang mereka bicarakan, terakhir menghela napas bersama sayang sekali kita terlambat dilahirkan tigaratus tahun, tidak bisa mohon petunjuk kepada Thio Tan-hong, betapa tulus dan ikhlas kekaguman mereka terhadap Thio Tan-hong, seperti rasa kagummu terhadap Kim tayhiap sekarang. Cuma yang satu sudah almarhum yang lain sekarang masih hidup, mungkin suatu ketika keinginanmu bisa tercapai, sementara keinginan mereka jelas tak mungkin terlaksana"
Berhenti sejenak lalu melanjutkan dengan tertawa "Cerita yang tersiar di Bulim mengatakan bahwa kiam-sut Thio Tan-hong umpama kepandaian dewa namun tiada orang pernah menyaksikan, kehebatan ilmu pedangnya Entah kenyataan ini sesuai tidak dengan beritanya?"
Dalam hati Nyo Hoa tertawa geli, batinnya "Yang kau saksikan kemarin memangnya bukan Bu-beng-ki am-hoat ciptaan Thio Tanhong?"
Sudah hampir dia berterus terang bahwa dirinya secara tidak langsung adalah murid terakhir dari Thio Tan-hong.
Tapi sekilas pikirannya tergerak, bila rahasia ini sampai bocor, pasti bakal menimbulkan banyak kesulitan.
Padahal dirinya pernah bersumpah, bahwa Bu-beng-kiam-hoat kelak akan dia kembalikan kepada Thiansan-pay yang didirikan oleh murid tertua Thio Tan-hong.
Sejak Toh Thian-tok sebagai cikal bakal Thian-san-pay sampai sekarang sudah turun temurun duabelas generasi.
Ciangbunjin Thian-san-pay sekarang adalah Tong King-thian, Nyo Hoa pernah mendengar nama Tong King-thian dari mulut Miao Tiang-hong.
Waktu Miao Tiang-hong.sembahyang dan berdoa di depan pusara ibunya, dia pernah bilang, sesuai harapan ibunya dia bawa orok cilik itu ke Thian-san dan kini sudah diterima murid Tong Kengthian.
Maka Nyo Hoa tahu bahwa dia punya seorang adik lelaki,, namun seluk beluk persoalan ini banyak yang belum jelas, setelah berhadapan dengan Tong Keng-thian baru bisa dia tanyakan supaya jelas.
Karena itu Nyo Hoa memutuskan setelah urusannya di Jik-tatbok selesai, langsung dia akan pergi ke Thian-san mencari adiknya yang belum pernah ditemui itu.
Sekalian mengembalikan Bu-bengkiam-hoat yang termasuk warisan Thian-san-pay kepada Tong Keng-thian.
Nyo Hoa memang jujur, meski tidak diharuskan, dia mengambil keputusan mengembalikan pelajaran pedang ciptaan Thio Tan-hong kepada Thian-san-pay, sebelum keinginan ini terlaksana, dia beranggapan hal ini tidak baik dibicarakan dengan pihak yang tidak berkepentingan.
Kim Bik-ki tidak langsung tanya tentang rahasia ini, setelah direnungkan maka Nyo Hoa berkepu-tusan sementara tetap merahasiakan hal ini.
Tapi dari omongan Kim Bik-ki tadi segera dia menyimpulkan bahwa asal-usul Kim Bik-ki pasti punya latar belakang yang dirahasiakan juga, diam-diam dia membatin.
"Le Lam-sing adalah ahli pedang yang menggetarkan Kangouw jaman ini, ayahnya berbicara soal pedang dengan Le Lam-sing, tentunya dia mempunyai tingkat kepandaian dan kedudukan yang setaraf dengan Le Lam-sing."
Maka dia bertanya.
"Siapakah ayahmu? Boleh aku tahu?"
"Cukup kau berkenalan dengan aku saja, jangan peduli siapa ayahku. Memangnya bila keluargaku tidak baik kau tidak mau bersahabat dengan aku?"
Nyo Hoa tergagap, katanya.
"Aku, bukan begitu maksudku...."
Kim Bik-ki tertawa geli, tukasnya dengan tertawa.
"Kalau tidak bermaksud demikian, maka tidak usah kau tanya lagi. Kau kan bersahabat dengan aku, bukan kenalan ayahku. Aku juga tidak perlu tanya seluk beluk keluargamu."
Bercekat hati Nyo Hoa, batinnya.
"Iya, bila dia tanya siapa ayahku, jelas aku pun tidak akan beri tahu kepadanya."
Dia kira Kim Bik-ki juga punya kesulitan untuk menjelaskan asal-usul sendiri seperti dirinya, maka dia putar haluan membicarakan persoalan lain.
Tanpa terasa mereka bicara juga ilmu silat.
Nyo Hoa adalah pemuda jujur dan polos, Kim Bik-ki mohon petunjuk kepadanya, tiada persoalan yang tidak dijawabnya secara tuntas, di mana kekurangannya juga langsung dia memberi koreksi.
Dengan tertawa akhirnya Kim Bik-ki berkata.
"Kepandaianku jauh di bawahmu, tapi dari berbagai ilmu pedang ternama yang pernah kusaksikan, bekal ilmu pedangmu cukup setimpal untuk menandingi setiap tokoh silat tinggi mana pun. Tapi sayang dalam ajaran ilmu pedang tingkat tinggi kau masih ada kekurangannya, latihan belum matang. Bila kau berhadapan dengan jago seperti Le Lam-sing atau Miao Tianghong, mungkin kau bisa dikalahkan mereka."
Nyo Hoa girang, katanya.
"Memangnya aku ingin mohon petunjukmu, di manakah letak kekuranganku?"
Kim Bik-ki tertawa, katanya.
"Masa aku setimpal memberi petunjuk kepadamu? Tapi dari orang lain pernah aku dengar penjelasan sekadarnya. Bila ilmu pedang sudah diyakinkan mencapai taraf yang sempurna, meski suatu gerakan yang sederhana juga cukup untuk mengatasi segala perubahan permainan lawan, seumpama angkat berat sepera"
Enteng, gerakan kaku namun lincah, kelihatan besar padahal kecil."
Setelah mendengar penjelasan Kim Bik-ki, Nyo Hoa berpikir.
Baca Juga: Golok Halilintar Khu Lung
Baca Juga: Pohon Kramat 6