Eps 4 Anak Pendekar - Liang Ie Shen
Baca online Anak Pendekar - Liang Ie Shen
Cersil Anak Pendekar - Liang Ie Shen.
"Ayahnya pasti seorang ahli pedang. Tapi aneh, kenapa dia sendiri tidak belajar ilmu pedang?"
Nyo Hoa tidak berani bertanya. Tanpa terasa hari sudah menjelang magrib. Setelah melihat cuaca Kim Bik-ki berkata.
"Celaka, kita asyik bicara hingga lupa cari penginapan, di atas tegalan seperti ini ke mana kita harus mencari tempat berteduh."
"Malam ini yakin tidak akan turun salju. Di depan ada hutan, biar kita. menginap di dalam hutan saja,"
Demikian usul Nyo Hoa. Kim Bik-ki berpikir sejenak, katanya.
"Bukan aku tidak berani bermalam di tempat terbuka, tapi tidak biasa. Tapi kalau terpaksa, ya apa boleh buat"
Sambil menuntun kuda, mereka memasuki hutan. Pohon-pohon besar tinggi seperti mencakar langit, batu-batu besar dengan berbagai coraknya bertebaran di dalam hutan. Nyo Hoa berkata.
"Dalam hutan seluas ini umpama hujan badai juga tidak perlu khawatir, siapa bilang tidak bisa berteduh di sini?"
Mereka membawa ransum kering, arak anggur dalam kantong kulit itu belum habis. Setelah meneguk arak, Nyo Hoa membagi ransum, katanya tertawa.
"Kim-heng, kau hanya makan roti kering apa tidak dahaga, silakan minum seteguk."
Lekas Kim Bik-ki menggoyang tangan sahutnya.
"Cukup minum air saja, air jernih dari sumber gunung lebih nikmat dari arak anggur."
"Ah, masa iya, minum arak bisa menahan hawa dingin nanti."
"Aku tidak merasa dingin."
"Minum seteguk kan tidak jadi soal, bukankah kau pernah bilang mau latihan minum arak?"
Karena minum sendirian kurang selera, maka Nyo Hoa membujuknya minum bersama, tak nyana Kim Bik-ki menarik muka malah, katanya aseran.
"Sebelum tidur aku tak mau minum arak. Kau suka minum boleh kau habiskan sendiri."
Namun lekas sekali dia sudah mengubah sikap, katanya pula dengan tertawa.
"Aku tahu tabiatku yang jelek bisa membuat orang benci padaku, maka sebelumnya aku sudah bicara blak-blakan, jadi bukan aku menuntut kau harus tunduk kehendakku. Nyo-toako, kau memang orang baik, selama dua hari ini kau selalu mengalah kepadaku."
Nyo Hoa tertawa getir, katanya.
"Syukurlah kalau kau tidak membenciku."
"Malam ini aku ingin tidur lebih dini."
Lalu dia keluarkan segulung kain putih serta ditebar menjadi sebuah tenda, katanya pula.
"Kain ini terbuat dari sutera alam yang tumbuh di Thian-san, kalau dilipat cukup gampang dibawa ke mana-mana, bila dibuka dapat menjadi sebuah tenda, air tidak tembus angin tidak masuk. Musim dingin terasa hangat, musim panas terasa nyaman, pokoknya serba guna."
Nyo Hoa membatin.
"Perbekalanmu serba lengkap, memangnya harus takut tiada tempat berteduh?"
Dia sudah tahu betapa jelek watak Kim Bik-ki, khawatir orang marah, hal ini tak berani dia utarakan. Setelah memilih tempat, Kim Bik-ki berkata.
"Di sini paling baik, tolong kau bantu aku membuat tenda ini."
Bagian depan tempat itu terhadang sebuah batu besar, kanan kirinya kebetulan ada dua pohon besar, di dahan pohon tumbuh akar rotan, maka dengan mudah tali panjang tenda itu bisa diikat di atas pohon.
Di tengah kedua pohon kebetulan terdapat sebuah batu bundar besar yang rata halus seperti kaca, cocok untuk tidur.
Letak batu bundar itu kebetulan di tengah tenda, maka Kim Bik-ki amat senang, katanya.
"Pilihanku di sini tepat bukan?"
"Ya, memang baik, tapi sayang sekali terlalu baik."
Kim Bik-ki melongo, tanyanya.
"Apa maksudmu?"
"Tempat ini amat tersembunyi, tidur di sini seperti berada di dalam gua, apa yang terjadi di luar tidak bisa diketahui."
"Kita kan berdua. Nyo-toako, silakan kau tidur di dalam."
"Aku? Lalu kau?"
Seperti tertawa tidak tertawa, Kim Bik-ki berkata.
"Kau lupa akan kebiasaanku lagi? Aku akan jaga malam di sebelah luar."
Nyo Hoa paham, pikirnya.
"Kiranya dia tidak takut menginap di tempat terbuka, takut bermalam bersamaku dalam satu tempat."
Segera dia tertawa, katanya.
"Biar aku yang tidur di luar saja. Jangan kau sungkan kepadaku, aku tahu kau suka tidur nyaman, aku sebaliknya di tempat mana pun bisa tidur."
"Nyo-toako, kau amat baik. Baiklah aku tidak sungkan kepadamu, besok kita bertemu."
Nyo Hoa lantas menyingkir kearah luar, dipilihnya sebuah tempat yang dapat memberi pandangan ke empat penjuru, lalu diambilnya sebuah batu sebagai bantal untuk tidur.
Namun dia tidak bisa tidur pagi, pikirannya melayang-layang, matanya melamun mengawasi bulan sabit di angkasa raya, tanpa terasa malam sudah makin larut, mendekati kentungan kedua.
Tiba-tiba dari kejauhan seperti didengarnya percakapan orang.
Sudah setahun Nyo Hoa meyakinkan lwekang ajaran Thio Tanhong, pendengarannya amat tajam, bila dia mendekam di tanah percakapan orang di tempat jauh dapat didengarnya.
Dengan mendekam dia mendengarkan, yang bicara ada tiga orang, satu di antaranya suaranya seperti sudah dikenal, katanya.
"Sebetulnya tempat ini lebih baik untuk merampas barang kawanan itu. Siang Thi-hong justru memilih kuil Lama di Giok-jiu-san itu turun tangan, sudah tentu gagal."
Hanya mendengar beberapa patah kata, Nyo Hoa lantas tahu yang bicara adalah Ting Tiong-ai, ketua dari Ngo-koan yang pernah dikalahkannya di Siau-kim-jwan. Mencelos hati Nyo Hoa, pikirnya.
"Agaknya mereka juga mau merampas barang kawalan Han Wi-bu. Hm, sungguh sukar dibayangkan ada pembesar yang merangkap jadi berandal."
"Untung kebentur di tanganku, mana bisa aku berpeluk tangan?"
Maka dia memutuskan untuk membantu Han Wi-bu sekali lagi.
"Tak perlu aku terburu nafsu bertindak terhadap mereka, coba dengar soal apa yang mereka bicarakan?"
Di dengarnya seorang lain berkata.
"Memangnya Lo-ting, aku memang ingin tanya kepadamu kukira Siang Thi-hong pasti sukses dengan tugasnya, kenapa dia gagal malah."
Ting Tiong-ai berkata.
"Di bawah Giok-jiu-san aku bertemu dengan mereka, menurut penjelasan Siang Thi-hong, Han Wi-bu sebetulnya bukan tandingannya, tapi entah kenapa secara di luar dugaan dia terbokong oleh orang."
Seorang lagi bertanya.
"Apakah Siang Thi-hong tahu siapa yang membokong dia?"
"Waktu itu sukar dia menemukan orang yang membokong, namun dalam hati sudah curiga."
"Siapa yang dia curigai?"
Tanya kedua orang itu berbareng.
"Orang pertama yang dia curigai adalah Sama Hoatsu pimpinanAga-ma Putih dari kuil Lama itu, namun belakangan dia menimang-nimang kejadian waktu itu, rasanya kecurigaannya tidak masuk akal. lau-toako, kau cukup tahu tentang seluk beluk kungfu Agama Putih, bagaimana pendapatmu?"
Lau-toako itu berkata.
"Pck-kau Hoar-ong boleh terhitung jago kelas satu. Bila dibanding Siang Thi-hong jelas dia setingkat lebih tinggi, tapi Sama Hoatsu hanya salah seorang muridnya."
Maksudnya Sama tidak mampu membokong Siang Thi-hong.
"Maka itu, setelah dipikir-pikir Siang Thi-hong tidak yakin yang membokong curinya adalah Sama Hoatsu."
"Adakah orang lain yang dicurigai?"
Tanya Lau-toako.
"Orang kedua adalah seorang kacung cilik berusia delapanbelasan. Katanya seorang pemuda gunung yang diupah Tinwan Piaukiok untuk menunjukkan jalan,"
Demikian Ting Tiong-ai menjelaskan. Seorang lain berkata.
"Seorang kacung cilik? Bukankah mengherankan malah? Coba jelaskan kenapa Siang Thi-hong curiga kepada-nya?"
Setelah Ung Tiong-ai jelaskan kejadian yang dialami Siang Thihong, agaknya Lau-toako terpekur sejenak, katanya.
"Kacung itu memang patut dicurigai, namun sukar dipercaya bahwa dia mampu membokong Siang Thi-hong, bagaimana pendapatmu?"
Orang she Yap itu berpikir sebentar, katanya.
"Aku sebaliknya agak percaya."
Ting Tiong-ai mendukung, katanya.
"Aku juga curiga kepada kacung cilik ini, paling tidak dia lebih patut dicurigai dari pada Sama Hoatsu."
Tiba-tiba Lau-toako seperti teringat sesuatu, katanya.
"Lo-ting, kabarnya kalian Ngo-koan, Si-to dan Si-ceng pernah kecundang di Siau-kim-jwan, bangsat cilik itu menyamar perwira Gi-lim-kun menyelundup ke Siau-kim-jwan. Apakah kejadian itu benar?"
Merah muka Ting Tiong-ai, katanya.
""Ilmu pedang bangsat cilik itu memang teramat lihay, susah dijaga dan dilawan. Selama hidupku belum pernah aku melihat orang yang dapat memainkan ilmu pedang sebagus itu. Tapi waktu itu dia dibantu seorang pemuda lain yang bersenjata ruyung lemas, kepandaiannya agak setingkat lebih rendah, namun lihay luar biasa. Sungguh memalukan, kami tigabelas orang ternyata dikalahkan oleh kedua keparat cilik"
Lau-toako berkata.
"Waktu kudengar kabar ini kukira sengaja dibumbui, ternyata memang kenyataan. Kabarnya Hay-jongling sudah mengutus Ma Gun dan Ciu Jan ke Siau-kim-jwan untuk mengusut perkara ini, entah sudah diperoleh keterangan?"
"Hasilnya nihil,"
Sahut Ting Tiong-ai.
"mereka juga sudah meninggalkan Siau-kim-jwan."
Lau-toako berkata.
"Mereka mengantar kado untuk Dalai Lama di Lhasa, alasannya mengantar kado, tugas sebenarnya adalah mengejar sisa gerombolan pemberontak yang kabur dari Siau-kimjwan, sekalian mengadakan kontak dengan tuan-tuan tanah setempat untuk membicarakan penumpasan tuntas terhadap kaum pemberontak itu. Konon gerombolan itu sudah memasuki Jinghay dan berpangkalan di Jik-tat-bok, kalau tidak diganyang sampai habis, kelak tentu mendatangkan bencana pula."
"O, pantas waktu meninggalkan Siau-kim-jwan, Ma Gun pernah tanya kepadaku ingin pergi ke Tibet, dia akan bantu aku naik pangkat sebagai pengawal istana guberauran di Tibet, ternyata maksudnya supaya aku bantu dia menunaikan tugas juga."
Lau-toako tertawa, katanya.
"Ma Gun tahu kemampuanmu. Haytay-jin juga menghargaimu, maka kau dimutasikan ke Tibet. Hehe agaknya Hay-tayjin ada maksud menarikmu menjadi orang kepercayaannya."
Lekas Ting Tiong-ai merendah, katanya.
"Ya, berkat bantuan Satayjin, Lau-toako dan Yap-toako."
Lau-toako tertawa, katanya.
"Hay-tayjin sudah jadi tulang punggungmu, memangnya kau masih belum puas?"
"Memang tulang punggungku belum kokoh. Apalagi meski Haytayjin sebagai komandan tertinggi di Gi-lim-kun, tapi bicara tentang kepercayaan di hadapan sri baginda, kurasa Hay-tayjin tidak lebih terpandang dari Sa-tayjin."
Lau-toako bergelak tawa, katanya.
"Kau berada jauh di Siau-kimjwan, ternyata seluk beluk di istana juga kau ketahui dengan jelas. Terus terang Sa-tayjin memang amat marah setelah mendengar kejadian itu."
Ting Tiong-ai kaget, serunya.
"Urusan sekecil itu, masakah menarik perhatian Sa-tayjin, Apakah, apakah Sa-tayjin tidak puas kepada...."
Lau-toako tertawa, katanya.
"Tidak usah gugup. Sa-tayjin marah bukan lantaran engkau."
Lega hati Ting Tiong-ai, katanya.
"Ya, ya, aku memang teledor. Betapa banyak persoalan penting yang harus dibereskan Sa-tayjin, buat apa dia marah terhadap aku yang keroco ini."
"Biarlah kujelaskan,"
Ucap Lau-toako.
"Dia marah kepada Haytayjin. Kenapa urusan sebesar ini tidak dirundingkan dulu dengan Sa-tayjin, tahu-tahu Hay-tayjin telah bertindak di luar tahunya. Tapi persoalan diselesaikan secara rahasia, namun diketahui juga oleh Sa-tayjin. Namun beliau berhari lapang berjiwa besar, bukan saja dia tidak mengadukan persoalan ini kepada baginda, malah dia menjanjikan bantuan kepada Hay-tayjin."
Orang she Yap selanjutnya bicara.
"Lo-ting, persahabatanku dengan kau sudah terjalin cukup lama dan erat, maka tidak perlu aku main sembunyi-sembunyi dengan kau. Bersama Lo-lau aku mendapat perintah dari Sa-tayjih untuk menyusul Ma Gun dan Ciu Jan berdua, terhadap mereka kami harus bicara terus terang, supaya ada nasi dimakan bersama, mendapat pahala dibagi rata. Kita kan sama-sama bekerja demi kerajaan, harus bersatu padu mencapai tujuan, jadi tidak perlu membedakan antara kau dan aku."
Nyo Hoa mendekam di tanah mencuri dengar pembicaraan mereka, kini sudah jelas tentang asal-usul kedua orang ini, maka dia berpikir.
"Sa-tayjin yang dimaksud pasti adalah Sa Hok-ting, pemimpin pasukan bayangkari yang berkuasa di dalam istana, ternyata mereka saling cakar-cakaran dengan komando Gi-lim-kun."
Lebih lanjut Lau-toako berkata.
"Setiba di Giok-jiu-san baru kami tahu adanya salju gugur di sana, untung bertemu dengan kau yang tahu jalan, kalau tidak, mungkin kami terkurung di atas gunung. Tapi ada satu yang membuatku heran."
"Soal apa?"
Tanya Ting Tiong-ai.
"Menurut ceritamu, waktu Siang Thi-hong merampas barang di kuil Lama itu, Ma Gun dan Ciu Jan juga berada di sana?"
"Betul. Waktu itu Ma Gun dan Ciu Jan berdua berpeluk tangan, sebetulnya dia sudah membantu Siang Thi-hong, karena...."
"Aku tahu mereka mau membantu Siang Thi-hong, yang tidak kumengerti adalah bahwa mereka sudah tahu rahasia barang kawalan Han Wi-bu, menempuh perjalanan bersama Han Wi-bu, kenapa aku hanya melihat rombongan Han Wi-bu, tidak melihat bayangan Ma Gun dan Ciu Jan?"
"Tak bisa menjelaskan hal ini,"
Ujar Ting Tiong-ai.
"Siang Thihong pulang ke Ni-ma-jwan mengundang temannya untuk merampas barang kawalan itu. Di jalan kami hanya bicara beberapa kejap lantas berpisah, dia pun tidak menyinggung tentang Ma Gun dan Ciu Jan."
Lau-toako geleng kepala katanya.
"Tidak mungkin. Mereka bilang mengantar kado ke Lhasa hanya alasan belaka, bahwa mereka sudah tahu rahasia barang kawalan Han Wi-bu, mungkinkah tidak menguntitnya? Memangnya mereka berani berpeluk tangan membiarkan bahan obat-obatan itu diserahkan kepada kaum pemberontak?"
Orang she Yap berkata.
"Untung Han Wi-bu tidak kenal kami, dia pun tidak tahu kecuali Siang Thi-hong dan Bun Seng-liong, kami pun tahu rahasianya. Ma Gun dan Ciu Jan memang menghilang secara aneh, sementara tak usah kita mencarinya Bila kita punya cara untuk menghadapi Han Wi-bu, bukankah lebih baik?"
Lau-toako berkata.
"Betul, mari kita bicarakan soal ini. Tapi sampai di mana?"
Orang she Yap menjawab.
"Bicara tentang bangsat cilik yang merugikan Lo-ting itu."
Lau-toako tertawa katanya "Lo-ting, apakah kau curiga kacung cilik yang membokong Siang Thi-hong itu adalah bangsat cilik yang bentrok dengan kalian di Siau-kim-jwan."
"Betul. Hal ini memang ingin kuberitahukan kepada kalian. Aku pernah tanya kepada Siang Thi-hong, wajah dan perawakan kacung cilik itu, yang dia gambarkan memang persis dan cocok dengan bangsat cilik itu."
Sesaat Lau-toako melenggong, gumamnya.
"Pemuda tanggung berusia delapan belas tahun ternyata mampu membokong Siang Thi-hong yang mahir menggunakan senjata rahasia, sungguh sulit dipercaya, kecuali... kecuali...."
Orang she Yap itu berkata.
"Kalau Ngo-koan, Si-to dan Si-ceng pernah kecundang di tangan bocah itu, kalau Siang Thi-hong juga terjungkal di tangannya tidak perlu dibuat heran."
Tergerak hati Ting Tiong-ai, katanya.
"Lau-toako, kau bilang kecuali apa?"
Lau-toako bertanya "Bagaimana asal-usul bangsat cilik itu kalian tidak tahu, tapi siapa she dan namanya ternyata kalian sudah tahu?"
Ting Tiong-ai berkata "Waktu dia menyelundup ke Siau-kim-jwan pernah memperkenalkan diri kepada penjaga pos dia she Nyo siapa namanya tidak dikatakan.
Karena dia membawa tanda kebesaran Gi-lim-kun, maka penjaga itu tidak berani banyak tanya"
"Orang she Nyo?"
Lau-toako menggumam.
"Kukira tidak benar."
Orang she Yap berkata "Sudah tentu dia tidak akan mengatakan nama aslinya Lau-toako apakah kau sudah tanya dia she apa?"
"Betul. Kukira dia bukan she Nyo, tapi she...."
Sampai di sini Ting Tiong-ai membarengi mengatakan.
"She Kim."
Lau-toako tertawa katanya "Lo-ting, ternyata kau juga menduga akan dirinya?"
"Maksud kalian...."
Orang she Yap masih bingung. Tanpa berjanji, Lau-toako dan Ting Tiong-ai mengatakan.
"Putra KimTiok-liu."
Nyo Hoa yang mencuri dengar menjadi geli dan kesal pula, pikirnya "Aku jelas she Nyo, mereka justru anggap Kim Tiok-liu adalah ayahku. Aih, masakah sebesar itu rejekiku?"
Ting Tiong-ai berkata.
"Kim Tiok-liu adalah jago pedang nomor satu di seluruh jagat, kabarnya dia saling tukar anak didik dengan suheng-nya Kang Hay-thian, ilmu pedang Kang Hay-thian setengah lebih rendah dari sute-nya, namun lwekang-nya lebih tinggi. Bangsat cilik itu berilmu pedang tinggi menakjubkan, lwekang-nya juga hebat. Kecuali anak Kira Tiok-liu, siapa lagi yang bisa memiliki kepandaian setinggi itu?"
Lau-toako terpekur sejenak, katanya kemudian.
"Analisamu memang benar, namun apakah dugaan itu betul, kurasa masih menyangkut suatu persoalan lain."
"Menyangkut persoalan apa?"
Tanya Ting Tiong-ai.
"Kapan kau berhadapan dengan bangsat cilik itu di Si au-ki m-j wan?"
Tanya Lau-toako.
"Kira-kira dua bulan yang lalu."
"Aku ingin tanggal yang pasti."
Ting Tiong-ai menghitung-hitung, lalu menjawab.
"Kalau tidak salah tanggal enam bulan delapan."
Lau-toako geleng kepala, katanya.
"Kalau begitu tidak benar."
"Apanya yang tidak benar?"
Tanya Ting Tiong-ai.
"Tanggal tigabelas bulan tujuh, putera Kim Tiok-liu pernah muncul di Khong-goan di wilayah utara Su-jwan. Atas perintah Kang Hay-thian dia bertandang ke rumah suheng-nya Yap Bok-hoa. Seorang kenalanku pernah melihatnya di rumah keluarga Yap, lalu dilaporkan secara rahasia kepada Sa-tayjin. Berita ini yakin dapat dipercaya."
Ting Tiong-ai baru mengerti, katanya.
"Dari Khong-goan pergi ke Siau-kim-jwan memakan waktu sebulan perjalanan. Umpama tanggal tigabelas bulan tujuh itu putera Kim Tiok-liu segera menempuh perjalanan, juga tidak mungkin tanggal enam bulan delapan tiba di Siau-kim-jwan."
"Dia tinggal lima hari di rumah keluarga Yap, suatu hari di hadapan para tamu yang hadir bersama suheng-nya mendemonstrasikan ilmu pedang. Menurut yang menyaksikan katanya amat menakjubkan."
"Bangsat cilik di Siau-kim-jwan itu pasti bukan putera Kim Tiokliu, tapi kacung cilik yang membokong Siang Thi-hong kemungkinan adalah satu orang yang sama."
"Bila muncul pula seorang pemuda yang memiliki ilmu pedang yang lebih unggul dari putera Kim Tiok-liu, maka urusan bakal banyak menyulitkan kita."
Orang she Yap itu tiba-tiba me-nyeletuk.
"Aneh kalau begitu."
"Apanya yang aneh?"
Tanya Tuig Tiong-ai. Orang she Yap berkata.
"Sebelum aku meninggalkan kota raja, pangcu dari Thi-san-pang di Sungai Kuning menemui aku. Dia memberi tahu kepadaku, bahwa putera Kim Hok-liu pernah muncul di Tang-koan. Mereka, pangcu dari Thi-san-pang dan Ui-ho-sam-pa terluka oleh ruyung lemasnya."
Ting Tiong-ai heran, katanya.
"Putera Kim Tiok-liu bersenjata ruyung lemas?"
"Betul, bersenjata ruyung lemas. Ciu-pangcu dari Thi-san-pang terkenal dengan kipas besinya, namun hanya tiga jurus bertarung, kipasnya sudah terampas oleh ruyung lemasnya."
"Kim Tiok-liu diakui sebagai jago pedang nomor satu di jagat ini, ternyata puteranya bersenjata ruyung lemas, hal ini perlu disangsikan."
Orang she Yap bicara lebih lanjut.
"Murid ketiga Kang Hay-thian, Li Kong-he, adalah hu-thocu dari Thian-te-hwe, waktu itu kebetulan berada di markas cabang Tang-koan. Mendapat berita, segera dia mencari sute-nya itu. Ketemu atau tidak, tidak tahu. Bahwa dia sudah tahu pemuda itu mengalahkan pangcu Thi-san-pang dan Uiho-sam-pa dengan ruyung lemas, namun buru-buru ingin menemuinya, serta menyatakan pemuda itu adalah sute-nya, maka dapat diduga bahwa bocah itu memang benar putera Kim Tiok-liu."
"Kapan kejadian itu?"
Tanya Lau-toako.
"Tepat pada hari raya Tiongciu.""
Lau-toako mengerut alis, katanya.
"Aneh juga. Dari Khong-goan ke Tang-koan, perjalanan harus melewati pegunungan yang jelek dan susah ditempuh, jaraknya juga lebih jauh dari Siau-kim-jwan. Mereka pasti bukan seorang yang sama Bangsat cilik yang kepergok Lo-ting itu masih mungkin dalam jangka sepuluh hari pergi ke Tang-koan dari Siaukim-jwan."
Orang she Yap berkata.
"Bangsat cilik itu boleh dikesampingkan, dua putera Kim Tiok-liu muncul bersama di dua tempat yang berbeda, lalu yang mana yang tulen?"
Ting Tiong-ai berkata.
"Kukira yang bersenjata pedang itu yang tulen."
"Tapi hu-pangcu Thi-san-pang bicara sendiri dengan aku, aku percaya ceritanya bukan bualan belaka,"
Demikian ujar orang she Yap. Tiba-tiba Lau-toako teringat, katanya.
"Lo-ting, agaknya kau pernah bilang bangsat cilik itu bergabung dengan pemuda bersenjata ruyung mengalahkan Ngo-koan, Si-to dan Si-ceng?"
Ting Tiong-ai sadar seketika, katanya.
"Betul, kepandaian pemuda itu juga amat tinggi, hanya setingkat lebih bawah dari pemuda berpedang itu. Lau-toako, apa kau curiga...."
"Betul; aku curiga pemuda itu pernah muncul di Tang-koan, yaitu putera Kim Tiok-liu yang mengalahkan Thi-san pangcu dengan ruyung lemas. Tapi aku tidak yakin kalau dia putera Kim Tiok-Hu."
Nyo Hoa yang mencuri dengar justru membatin.
"Kau tidak percaya, aku malah percaya."
Sikap dan tingkah laku Kim Bik-ki selama beberapa hari ini menerangkan hal-hal itu, hatinya berkesimpulan.
Pertama, dia bilang orang yang paling dikagumi adalah Kim Tiok-liu, Kim Bik-ki tampak senang.
Kedua, dalam setiap pembicaraan, nada Kim Bik-ki juga seorang yang mahir menggunakan pedang, walau dia bersenjata ruyung lemas.
Ketiga, hari ini tanggal duabelas bulan sepuluh, putera Kim Tiok-liu yang bersenjata ruyung lemas muncul di Tang-koan tanggal limabelas bulan delapan, waktu cukup panjang untuk datang ke Tang-koan dari Siau-kim-jwan, asai dia naik kuda dilarikan kencang, dalam sepuluh hari juga sudah bisa mencapai tujuan.
Ya, kemungkinan setelah tanggal enam bulan delapan dia membantu aku di Siau-ldmjwan langsung pergi ke Tang-koan, selewat hari raya Tiongciu, dari Tang-koan menuju ke Giok-jiu-san,"
Demikian batin Nyo Hoa.
Tapi malah ada satu persoalan pelik susah dipecahkan, yaitu Kim Tiok-liu hanya punya seorang anak lelaki.
Kalau yang muncul di Khong-goan itu betul adalah pute-ranya, maka Kim Bik-ki tidak mungkin puteranya Nyo Hoa berpikir.
"Dari berbagai petunjuk, gelagatnya Kim Bik-ki memang betul putera Kim Tiok-liu, walau aku tidak pernah melihat pemuda yang muncul di Khong-goan itu."
Maka didengarnya Lau-toako tertawa, katanya.
"Mana yang tulen mana yang palsu sementara tidak usah kita risaukan. Bukan mustahil pemuda yang bersenjata ruyung dan bangsat yang bersenjata pedang, malam ini bisa kita pergoki."
Nyo Hoa kaget, pikirnya.
"Agaknya dia sudah tahu bahwa kami berada di sini?"
Ting Tiong-ai juga melengak, tanyanya "Mana mungkin bisa kebetulan?"
Lau-toako berkata.
"Kau tahu kenapa aku ajak kau ke tempat belukar ini?"
"Bukankah melihat situasi untuk mempersiapkan aksi kita besok pagi?"
"Itu salah satu sebab. Dan yang penting adalah mencari jejak dua orang yang patut dicurigai, kemungkinan besar adalah kedua bangsat cilik yang kepergok kau di Siau-kim-jwan tempo hari."
Ting Tiong-ai kaget, serunya.
"Dari mana kau tahu?"
"Di balai kota aku sudah mencari tahu kepada kepala opas. Kepala opas yang sudah tua itu ternyata masih cekatan dan pandai bekerja Sejak sisa gerombolan pemberontak Siau-kim-jwan memasuki Wilayah Jinghay, setiap hari dia sebar anak buahnya yang terpercaya, entah menyamar pengemis, orang desa atau pedagang, memperhatikan orang-orang yang pergi datang. Menurut laporannya, tengah hari tadi ada dua orang pemuda menunggang kuda menuju ke barat. Kuda mereka dilarikan kencang, tapi setelah dia kembali menyelidiki setiap hotel dan rumah makan tiada orang asing yang menginap, maka dapat diduga sebelum magrib mereka sudah melewati kota kabupaten. Mereka tidak singgah di kota, kemungkinan malam ini akan bermalam di tanah tegalan atau dalam hutan ini."
Ting Tiong-ai paham, katanya "Tak heran kalian mengabaikan perjamuan yang dipersiapkan bupati, tidak mau menginap di balai kota malam-malam menempuh perjalanan.
Tapi kenapa tidak sejak tadi kalian jelaskan kepadaku?"
"Ingin kubuat kejutan kepadamu. Lo-ting, bila betul dugaanku, kau takut tidak menghadapi kedua bangsat cilik itu?"
Ternyata dia khawatir nyali Ting Tiong-ai sudah pecah terhadap kedua bocah itu, bila sebelumnya diberi tahu tentu tidak mau ikut kemari.
"Lau-toako, kau terlalu meremehkan aku, meski kepandaianku tidak becus, pernah dikalahkan Oleh kedua bangsat itu, namun sakit hatiku harus dibalas. Apalagiada kalian dua jago kosen dari istana menyertai aku, apa pula yang harus kutakuti?"
Lau-toako tertawa, katanya.
"Aku hanya berkelakar saja, jangan kau ambil di hati. Sebenarnya kepandaian ilmu totokan dengan sepasang pot lot besi itu belum tentu kalah melawan kedua bocah itu. Kukira lantaran baru bergebrak pertama kali, kau belum dapat menyelami permainan pedangnya sehingga kau tercecar oleh serangan pedangnya yang gencar, sedikit lena lantas cidera"
Terhibur hati Ting Tiong-ai mendengar umpakan Lau-toako, katanya "Lau-toako memang berpandangan luas, keadaan waktu itu memang demikian.
Semoga mereka memang betul berada di pegunungan liar ini.
Tapi gunung sedemikian besar dan luas, bagaimana kita tahu dia sembunyi di mana?
Malam begini pekat kita harus hati-hati, kalau tidak berbalik kita yang disergap mereka"
Lau-toako berkata "Lo-ting, tidak usah khawatir, aku punya akal untuk mencari tahu tempat persembunyian mereka Kuyakin mereka tidak menduga bahwa di pegunungan belukar ini mereka bakal digre-bek, maka hanya kita yang menyergap mereka bukan mereka yang menyergap kita"
Ting Tiong-ai kegirangan, katanya.
"Lau-toako, kau punya akal baik apa?"
"Nah kau dengarkan,"
Ucap Lau-toako.
Mendadak dia mengeluarkan suara auman harimau.
Auman harimau berat dan keras menggetar pegunungan menggon-cang lembah, suaranya tidak kalah dibanding auman harimau tulen yang mencari mangsa.
Nyo Hoa tahu bahwa auman itu tiruan, tak urung dia terkejut juga, pikirnya.
"Lwckang orang ini amat tangguh, tidak boleh diremehkan."
Terdengar Ting Tiong-ai tertawa, katanya.
"Ternyata Lau-toako mahir menirukan suara binatang."
Harimau adalah rajanya hutan, auman yang keras itu ternyata mengejutkan seluruh penghuni hutan, maka dalam sekejap, orang hutan, menjangan, serigala, babi hutan dan binatang-binatang liar lainnya berlari serabutan mencari tempat sembunyi, cukup lama baru keributan mereda Lau-toako berkata.
"Kau dengar tidak, di atas dataran di balik peng-kolan gunung sana, terdengar ringkik kuda, jaraknya dari sini agaknya tidak terlalu jauh."
"Akalmu ini memang manjur, kalau ada kuda di sana, penunggangnya tentu juga di sana."
"Kedua ekor kuda itu jelas adalah kuda perang yang sudah terlatih."
"Dari mana kau tahu?"
"Mereka hanya meringkik dua kali lalu berdiam diri. Malah tidak terdengar suara meronta hingga tali kekang yang terikat di pohon terlepas atau derap langkahnya yang melarikan diri, hanya kuda perang yang terlatih baik saja tetap tenang menghadapi mara bahaya sekalipun. Ringkik mereka hanya memperingatkan kepada majikannya saja."
Bahwa dari suara ribut berbagai binatang liar yang lari serabutan itu orang she Lau ini mampu membedakan suaranya secara cermat, meski Nyo Hoa mahir mendekam mendengarkan suara juga masih kalah jauh dibanding dirinya.
Didengarnya Lau-toako berkata pula.
"Aku curiga kedua kuda perang itu pasti milik Ma Gun dan Ciu Jan."
Orang she Yap kaget, katanya.
"Kalau demikian berarti mereka sudah terbunuh?"
"Sekarang belum bisa dipastikan. Tapi kalau benar mereka sudah terbunuh, maka kedua buronan ini boleh dipastikan mereka adalah kedua bangsat cilik yang kepergok Lo-ting di Siau-kim-jwan itu."
"Apakah sekarang kita boleh mencari kedua bangsat cilik itu?"
Tanya Ting Tiong-ai.
"Tunggu lagi sejenak. Kedua bocah itu pasti terjaga oleh auman harimauku tadi, setelah mereka mengira harimau sudah pergi jauh, meski berjaga secara giliran juga tidak akan siaga seketat semula."
"Betul, sekarang mereka di tempat terang, kita df tempat gelap, bila suasana tidak tegang lagi baru kita bertindak."
Nyo Hoa berpikir.
"Sekarang tak usah mengejutkan Kim-heng, yakin aku seorang diri masih mampu menghadapi ketiga cakar alapalap ini. Umpama terdesak Kim-heng pasti akan segera membantuku."
Kebetulan didengarnya Lau-toako berkata.
"Sekarang sudah tiba saatnya, mari kita cari kedua bangsat itu."
Nyo Hoa segera melompat berdiri beberapa kali lompatan, dia sudah sampai ke tempat tiga orang itu, bentaknya dingin.
"Tidak usah ber-susah payah, nah aku di sini."
Ting Tiong-ai mendengus, bentaknya.
"Ya, betul, memang bangsat ini."
Lau-toko mendengus, bentaknya.
"Bangsat cilik bernyali besar!"
"Sret", golok terlolos terus membacok, ayunan goloknya ternyata mengeluarkan desingan suara yang menusuk telinga. Agaknya dia sengaja hendak pamer kepandaian, di waktu mencabut golok mengerahkan tenaga, hingga goloknya bergesekan dengan sarung goloknya, dengan gertakan suara dia hendak menciutkan nyali lawan lebih dulu. Nyo Hoa memang memuji tenaga dalam lawan, namun sikapnya tetap wajar, jengeknya.
"Kau pamer tenaga hendak menggertak aku ya?"
Bacokan golok Lau-toako sederhana, namun golok di tangannya bagai bianglala di angkasa.
Perba-wanya memang mampu membelah gunung menghancurkan batu.
Nyo Hoa miringkan tubuh menusukkan pedang dari samping, geraknya serba membingungkan, seperti jurus Sik-li-to-so tapi juga mirip Li-khongsia-eiok.
Si-lik-to-so dalam permainan pedang termasuk gerakan lembut, gemulai, sebaliknya Li-khong-sia-eiok adalah gerakan kasar.
Lau-toako tidak pernah melihat Bu-beng-kiam-hoat, melibat gaya pedangnya, dia tertegun heran.
Maklum keras dan lunak dilancarkan sekaligus memang merupakan taraf tertinggi dari ilmu pedang yang dikejar oleh setiap pesilat, namun untuk melancarkan tenaga keras dan lunak dalam satu jurus yang sama jelas sukar dipraktekkan dan belum pernah ada aliran silat yang memperagakan.
Wisu she Lau dari raja ini berpengalaman dalam berbagai pertempuran, walau merasa heran namun dia tidak gugup.
Beruntun dia lancarkan tiga bacokan golok, ketiganya merupakan jurus golok yang lihay.
Sejak Nyo Hoa menyelami Bu-beng-kiamhoat, pengetahuannya tentang ilmu silat sudah dapat disejajarkan dengan mahaguru silat paling top jaman ini, begitu bergebrak dia lantas perhatikan permainan lawan serta memikirkan cara untk mematahkan serangan lawan, lapi ilmu golok orang she Lau ini umpama sungai yang ditahan rantai raksasa yang melintang di tengah sungai, laksana serbuan laksaan tentara di medan perang, umpama berhasil ditemukan sedikit titik kelemahan, juga sukar dipatahkan.
Nyo Hoa bergerak lincah, dengan tabah dia hadapi rangsakan lawan beberapa jurus, mendadak pedangnya menusuk Tusukan pedangnya seperti tidak karuan, yang ditusuk adalah dada orang she Lau, namun mendadak pedangnya berputar, di luar dugaan ketiga lawannya, secepat lalat pedangnya tahu-tahu menusuk pundak kanan wisu she Yapiru.
Perang gerilya yang digunakan Nyo Hoa untuk menggempur satu persatu, karena dia tahu ketiga lawannya akan bergabung mengeroyok dirinya, maka dia bermaksud membikin lumpuh kedua tangan orang ini baru selanjutnya membereskan yang lain.
Tusukan yang tidak karuan itu justru merupakan permainan silat dari ilmu golok keluarga Beng dikombinasikan dengan Bu-beng-kiam-hoat.
Nyo Hoa mengira di bawah serangan pedang kilatnya, kalau tidak mampus pasti orang she Yap ini ter-luka parah, di luar tahunya kungfu orang she Yap ini ternyata lihay luar biasa, dalam detik yang kritis itu bukan saja dia mampu menyelamatkan diri malah mampu balas menyerang.
Sebelah tangannya menepis miring, tangan yang lain mencengkeram dari jarak jauh, cengkeraman jarak jauh ini sekaligus mengincar tujuh hiatto di tubuh Nyo Hoa.
Ujung pedang Nyo Hoa tergetar miring oleh tenaga pukulannya, terpaksa dia menarik pedang melindungi badan.
Dengan jurus Giok-tay-wi-yau, sinar pedangnya berderai ke empat penjuru.
Karuan orang she Yap itu tersirap darahnya tak berani maju, lekas dia melompat mundur.
Setelah mendengus, orang she Yap berseru.
"Bocah ini bernyali besar, kurang ajar lagi, sebetulnya tidak ingin aku mengeroyoknya, tapi kau sengaja mencari perkara dengan aku, maka jangan salahkan aku berlaku keji."
Nyo Hoa dikeroyok dari depan dan belakang, golok dan telapak tangan menyerang bersama.
Walau Nyo Hoa tidak terdesak dan tidak bakal kalah dalam waktu singkat, namun permainannya cukup terhalang sehingga tidak mampu merobohkannya satu per satu.
Maklum kedua lawannya ini jago-jago tangguh, permainan golok dan ilmu pukulan mereka meski menunjukkan sedikit kelemahan, namun karena kerja sama mereka cukup baik, saling mengisi, maka kelemahan itu tidak menjadi unsur yang fatal bagi mereka.
Bahwa Nyo Hoa harus pusatkan perhatian menghadapi serangan kedua lawannya, terpaksa dia tidak bisa mencari peluang lain lagi.
Perlu diketahui, kedua wisu ini memang jago yang punya asal-usul.
Wisu yang bertugas di dalam istana ada limapuluhan orang, kedua orang ini termasuk delapan jago kosen.
Lau-toako bernama Lau Ting-ci, sute dari ciangbunj in Ngo-houtoan-bun-to yang bernama Lau Cou-pek.
Permainan Ngo-hou-toanbun-to serba sempurna dalam menyerang dan mempertahankan diri, mengutamakan ketabahan dan keuletan, mes--ki berhadapan dengan lawan yang berkepandaian lebih tinggi juga tidak mudah dikalahkan.
Lau Ting-ci adalah jago kosen nomor satu dalam Ngohou-toan-bun-to, taraf kepandaiannya masih di atas sang suheng yang menjabat sebagai ciangbunj in.
Wisu she Yap itu Kok-wij semula begal kuda dari Koan-tang.
Dengan Toa-cui-pi-jiu malang melintang di Kangouw, selama hidup belum pernah ketemu tandingan.
Tenaga pukulannya mampu menghancurkan batu pilar, dia pun mahir menggunakan tujuhpuluh dua jurus Tay-kim-na-jiu.
Kepandaian kedua orang ini cukup mampu menghadapi Nyo Hoa, apalagi sekarang mereka bergabung, jelas kemampuan mereka di atas Nyo Hoa.
Tapi permainan pedang Nyo Hoa memang teramat tinggi dan susah dijajaki, bahwasanya kedua lawan tidak.tahu ilmu pedang aliran mana dan jurus apa yang dilancarkan.
Karena ilmu pedangnya mirip ajaran Ceng-seng, Go-bi.
Siau-lim, Bu-tong, namun sukar diraba tepatnya dari aliran mana.
Bahwa di dunia ini ada permainan pedang seaneh yang dikembangkan Nyo Hoa sungguh kedua orang itu keheranan dan takjub.
Melihat Lau Ting-ci dan Yap Kok-wi mampu mengatasi permainan pedang Nyo Hoa, makin tabah hati Ting Tiong-ai, serunya.
"Toako, aku punya dendam dengan keparat ini, bukan maksudku merebut pahala dengan kalian, tapi dendamku itu harus kubalas sekarang juga."
Nyo Hoa tertawa dingin, katanya.
"Apa salahnya kau maju sekalian. Hehehe, main keroyok memang sudah menjaadi modal kalian, hayo maju, kenapa cari alasan?"
"Keparat, kematian di depan mata masih berani "bertingkah!"
Sambil membentak Ting Tiong-ai menggerakan kedua potlot besinya, ke kiri menotok Ki-bun-hiat yang kanan menusuk Pek-hwehiat Sebagai jago ilmu totok, dia percaya permainan pedang Nyo Hoa sedikit banyak sudah diselaminya, mumpung Nyo Hoa sedang mematahkan serangan golok Lau Ting-ci, begitu terjun ke arena segera dia lancarkan serangan mematikan.
Mendadak pedang Nyo Hoa berputar, bergerak belakangan tapi tiba lebih dulu, Ting Tiong-ai dipaksa menarik serangannya.
Menyusul dia bergerak dengan jurus yang mirip Tiap-jui-hu-certg.
Tusukan Tiap-jui-hu-ceng adalah jurus ilmu pedang Siong-san-kiamhoat yang kenamaan, gerakannya lincah dan enteng.
TingTiong-ai pernah merasakan kelihayan jurus pedang mirip permainan Siong-san-kiam-hoat ini.
Dia melihat Nyo Hoa melancarkan jurus serangan ini pula, karuan dia naik pitam, jengeknya.
"Kau menggunakan permainan yang mirip Siong-sankiam-hoat untuk mengelabui mata orang, kau kira orang she Ting dapat kau tipu? Hehe agaknya begini saja bekal ilmu pedangmu."
Sembari bicara kedua pot lotnya bergerak dengan tipu Moh-ja-tamhay, kaki merebut selangkah, dia mengunci gerakan pedang Nyo Hoa.
Jurus perlawanan yang dilancarkan sekarang adalah hasil jerih payahnya selama ini setelah tempo hari dia kecundang oleh jurus pedang yang satu ini, dia kira dirinya membekal persiapan matang, kali ini Nyo Hoa pasti dapat dikalahkan.
Tak nyana.
"sref", mendadak pedang Nyo Hoa menusuk dari arah yang tidak terduga, perubahan serangan kali ini tidak lagi mirip Siong-san-kiam-hoat, namun lebih mirip jurus Ko-pek-som-som dari Tay-san-kiam-hoat. Gaya permainan Tiap-jui-hu-ceng memangnya sudah enteng dan lincah, maka permainan jurus Ko-pek-som-som ternyata deras ketat berhimpitan.
"Cret"
Terdengar suara sambaran lirih, seketika Ting Tiong-ai rasakan batok kepalanya silir dingin.
Ternyata sambaran pedang Nyo.Hoa sudah mencukur botak separo rambut di tengah kepalanya, rambut yang tercukur itu seketika berhamburan disambar angin.
Untung dalam detik yang kritis itu, Lau Ting-ci dan Yap Kok-wi menubruk maju sambil melancarkan bacokan dan pukulan, sehingga gerakan Nyo Hoa sedikit tertunda, sekaligus telah menyelamatkan jiwa Ting Tiong-ai.
Nyo Hoa tertawa, katanya.
"Pengetahuanmu masih dangkal, memangnya setimpal kau memberi komentar atas permainan pedangku?"
Sudah malu karena rambut tercukur masih diolok-olok lagi, karuan Ting Tiong-ai naik pitam, bentaknya.
"Keparat, hari ini kalau bukan kau yang mampus, biar aku yang mati."
Melihat betapa lucu keadaan Ting Tiong-ai setelah tercukur kepalanya, sungguh Lau Ting-ci merasa geli dan kasihan.
Segera dia kembangkan Ngo-hou-toan-bun-to, ke kiri membacok tiga kali, ke kanan tiga kali, dari depan dia sambut beberapa jurus serangan Nyo Hoa, serunya.
"Ting-heng tak usah marah, bocah ini sudah laksana ikan dalam jaring, yakinlah dia tidak akan lolos dari tangan kita. Nanti setelah berhasil kita bekuk dia, boleh terserah bagaimana kau akan menghukum dia"
Nyo Hoa menjengek dingin.
"Kentutmu busuk, buktikan saja siapa bakal kalah."
Mendadak pedangnya bergerak ke timur memukul barat, menusuk ke utara menahas ke selatan, sekejap di depan tahu-tahu sudah berada di belakang.
Walau Ting Tiong-ai, Lau Ting-ci dan Yap Kok-wi mengeroyoknya, namun menghadapi perlawanan ilmu pedangnya yang menakjubkan, mereka tak mampu berbuat banyak.
Pertempuran sudah berjalan sekian lama, diam-diam Nyo Hoa keheranan kenapa sejauh ini bayangan Kim Bik-ki tidak kelihatan muncul?
Bagi seorang yang memiliki kungfu, meski tidur nyenyak namun pendengarannya jauh lebih tajam dari orang biasa, auman harimau disusul keributan dari binatang liar yang melarikan diri cukup mengejutkan siapa pun meski tidur sepulas babi, apalagi Kim Bik-ki seorang yang mahir silat?
Jikalau Kim Bik-ki sudah bangun,"jarak pertempuran di sini tidak terlalu jauh, tentu sudah didengarnya juga Segera Nyo Hoa bersiul panjang, siulannya dikerahkan dengan lwe-kang, sehingga menimbulkan gema yang cukup lama di pegunungan, dalam jarak tiga li orang akan mendengar siulannya ini, tapi ditunggu beberapa kejap lagi, Kim Bik-ki tidak muncul juga tidak memberi reaksi atau jawaban akan siulannya itu.
Ting Tiong-ai berteriak.
"Keparat ini mengundang bantuan, lekas kita ganyang dia."
Lau Ting-ci membentak.
"Keparat busuk, tak keburu lagi,"
Cahaya golok berkelebat, Nyo Hoa ternyata dicegah dengan ketat, sementara dengan kekuatan pukulan Toa-ciu-pi-jiu Yap Kok-wi menggetar miring setiap serangan pedang Nyo Hoa Sepasang pot lot Ting Tiong-ai juga bersilang menotok hiatto Nyo Hoa Di bawah keroyokan tiga jago lihay keadaan Nyo Hoa semakin terjepit Tanpa terasa belasan jurus telah lalu, Kim Bik-ki tetap tidak kelihatan keluar.
Ting Tiong-ai berkata "Aneh, mungkin bocah ini tidak bersama dia?"
Lau Ting-ci tertawa, katanya.
"Kukira bocah ini sudah ketakutan menghadapi kita tak hiraukan keselamatan teman, dia sudah menyelamatkan diri."
"Bik-ki jelas bukan orang yang berbudi rendah, waktu dia membantu memukul Ngo-koan, Si-to dan SU ceng padahal tidak mengenal aku, Ketiga lawan ini meski berkepandaian tinggi juga belum lebih unggul dibanding Si-ceng atau Si-to, kenapa Bik-ki harus takut terhadap mereka?"
Demikian batin Nyo Hoa Tapi kenyataan tetap kenyataan, rembulan sudah bercokol di tengah langit, Nyo Hoa masih bertempur dengan sengit hingga mencapai tigaratusan jurus, namun Kim Bik-ki tetap tidak kunjung datang.
"Mungkin seperti diriku, dia pun sedang menghadapi perkara?"
Akhirnya Nyo Hoa menduga-duga.
Kembali dia melancarkan sejurus serangan yang mirip Tiap-jut-hu-ceng, pedangnya menusuk kepada Ting Tiong-ai.
Beruntun dua kali Tmg Tiong-ai kecundang oleh jurus yang satu ini, kali ini muslihat apa pula yang dilancarkan Nyo Hoa, maka tanpa pikir lekas dia miringkan tubuh serta berkelit kepungan musuh jebol, ujung pedang Nyo Hoa bergetar, segera dia kembangkan golok kilat keluarga Beng menjadi tabir cahaya kemilau secepat lalat menotok beruntun belasan kali Seketika Lau Ting-ci dan Yap Kok-wi rasakan matanya silau, seolah-olah ujung pedang Nyo Hoa sekaligus mengancam tenggo-rokan, lekas Lau Ting-ci angkat golok menahas melintang, dengan gaya Palang Pintu Besi melindungi badan.
Demikian pula Yap Kok-wi lontarkan Bik-khongciang menggetar pergi ujung pedang Nyo Hoa, kaki pun menyurut dua langkah.
Di luar dugaan, serangan Nyo Hoa hanya gertakan belaka, hanya sekejap Nyo Hoa sudah bebas dari kepungan mereka.
Untuk mengalahkan ketiga lawannya sekaligus memang sukar, tapi untuk lari bagi Nyo Hoa bukan persoalan.
Delapan tahun Nyo Hoa hidup di Ciok-lin, seluk beluk Ciok-lin yang rumit dan menyesatkan sudah tergambar jelas dalam benaknya, dengan mata meram pun dia bisa mondar-mandir dengan leluasa, maka meski taraf ginkang-nya sekarang kira-kira setanding Lau Ting-ci, namun bergerak di atas pegunungan dia lebih gesit dan tangkas dari ketiga musuhnya.
Ginkang Ting Tiong-ai juga tinggi, namun masih kalah setingkat dari Nyo Hoa.
Sementara Yap Kok-wi terlalu tekun meyakinkan Taycui-pi-jiu.
Lwekang-nya juga sudah tinggi tapi ginkang-nya paling lemah di antara mereka bertiga, jelas dia pun tak mampu mengejar Nyo Hoa.
Lau Ting-ci tahu diri, seorang diri dia bukan tandingan Nyo Hoa, mengeroyoknya juga belum tentu bisa menang, maka mereka harus bertiga berdampingan.
Yap Kok-wi ketinggalan di belakang, dua orang yang lain harus menunggu.
Maka beberapa kejap kemudian Nyo Hoa sudah lari semakin jauh dan tidak kelihatan lagi.
Tidak lama Nyo Hoa mengayun langkah, tempat di mana Kim Bik-ki mendirikan kemahnya sudah kelihatan.
Nyo Hoa menoleh ke belakang, melihat ketiga lawannya tidak mengejar lega hatinya, segera dia memanggil.
"Kim-heng, Kim-heng."
Tidak mendapat jawaban Kim Bik-ki, mendadak didengarnya suitan panjang dari kejauhan, suaranya berisi laksana pekikan naga. Nyo Hoa kaget, pikirnya.
"Orang ini jelas bukan Kim Bik-ki tapi lwekang-nya jelas lebih tinggi dari Bik-ki. Suitan itu semakin dekat, Nyo Hoa pasang telinga, lapat-lapat dia mendengar orang yang bersuit ini juga menggerutu, apa yang dikatakan tidak jelas, tapi dua patah kata terakhir dapat didengarnya dengan jelas, orang itu membentak "minggir"
Disusul suara Lau Ting-ci meng-iakan, lalu terdengar langkah mereka turun gunung.
Nyo Hoa keheranan, entah siapa orang itu ternyata mampu memukul mundur dua Wisu kosen dan Ting Tiongai yang menjadi kepala dari Ngo-koan.
Sementara itu Nyo Hoa sudah berada di perkemahan di mana Kim Bik-ki tidur, pikirnya.
"Biar kutemui Bik-ki lebih dulu."
Kemah sutera milik Kim Bik-ki masih tergantung di pohon menutupi batu bundar di bawah pohon, namun kuda yang tertambat di bawah pohon sana tinggal seekor. Berdebar jantung Nyo Hoa, teriaknya.
"Kim-heng, Kim-heng."
Angin gunung menghembus lewat, kemah sutera itu melambai, namun di dalamnya tiada jawaban.
Tanpa hiraukan pantangan dan tidak takut diomeli Kim Bik-ki, segera Nyo Hoa melompat ke dalam seraya menyingkap kemah.
Di dalam kosong, tiada bayangan seorang pun.
Kemah Kim Bik-ki ini terbuat dari benang sutera alam dari Thiansan, bila dilipat menjadi kecil dan ringan, di pasaran susah dibeli dan harganya juga tidak ternilai, ternyata oleh Kim Bik-ki tinggal pergi begitu saja, jelas dia pergi secara tergesa-gesa dan tidak sempat membawa barang-barang miliknya "Aneh, soal apa yang dia takuti?
Mau lari kenapa tidak memberi tahu kepadaku?"
Tengah dia berpikir tiba-tiba terasa angin berkesiur di belakang, lekas Nyo Hoa menoleh.
Tampak di atas batu bundar sudah berdiri seorang pemuda berusia dua-puluhan, beralis tegak bermata terang, sikapnya gagah dan berwibawa.
Wajahnya kelihatan gusar menatap galak kepada Nyo Hoa.
Nyo Hoa keheranan, lekas dia memberi hormat, sapanya.
"Terima kasih, saudara telah menggebah ketiga cakar alap-alap...."
"Siapa kau?"
Tiba-tiba pemuda itu membentak kepadanya Sudah tentu Nyo Hoa bingung, namun dia bersikap sopan, sahutnya.
"Siaute Nyo Hoa. Mohon tanya siapakah she dan nama besar saudara?"
Pemuda itu mendengus, jengek-nya.
"O, kau bernama Nyo Hoa?"
Agaknya dia belum pernah dengar nama yang masih asing bagi dirinya maka merasa heran. Segera dia bertanya.
"Apakah Kim Bikki bersama engkau?"
"Betul Apa kaukenal dia? Kalau demikian kita terhitung orang sendiri."
"Orang sendiri."
Perkataaan Nyo Hoa menusuk pendengarannya, seketika masam mukanya.
"Di mana dia?"
"Tadi dia tidur di sini, tapi sekarang entah ke mana."
"Kau tidak tahu, aku tahu. Jelas dia tidak berani menemui aku, lalu sembunyi, rim, tidak tahu malu."
Akhirnya Nyo Hoa tidak sabar, katanya.
"Aku tidak tahu kau pernah apa dengan dia, entah benar dia takut kepadamu maka menyembunyikan diri. Tapi dia adalah sahabat baikku, tidak boleh kau sembarang-an menghina temanku."
"Memangnya aku juga akan mencacimu, kalian berdua memang tidak tahu malu."
"Kenapa aku tidak tahu malu? Jangan kau sembarangan memaki orang. Kalau tidak kaujelaskan, aku... aku...."
"Kalau kukatakan hanya mengotori mulut saja, aku ingin tanya, apa kehendakmu?"
"Aku tidak ingin apa-apa, tapi jangan kau memaki orang seenakmu sendiri, cukup asal kau minta maaf saja."
Ternyata pemuda itu makin marah.
"Sret"
Dia melolos pedang malah, bentaknya.
"Kau pemuda bergajul, berani kau menuntut aku minta maaf malah? Lekas cabut pedangmu."
Tidak salah tidak berdosa berulang kali dirinya dicaci maki, karuan Nyo Hoa naik pitam, serunya.
"Aku tidak pernah mengenalmu, bagaimana kau tahu kalau aku bergajul?"
"Tidak usah cerewet, hayo cabut pedangmu."
"Untuk apa mencabut pedang?"
"Akan kuhajar kau bocah tidak tahu adat ini."
Berkerut alis Nyo Hoa, katanya.
"Tanpa sebab kenapa aku harus...."
Tiba-tiba didengarnya angin menyambar, itulah gerakan pedang yang menusuk, ternyata ujung pedang orang sudah menuding mukanya.
Berapa cepat dan lihay gerakan pedang orang, Nyo Hoa tidak duga gerakan pedang orang secepat itu, jelas dia tidak sempat berkelit, terpaksa dia cabut pedangnya menangkis.
Tiba-tiba pedang lawan serong ke pinggir, bila Nyo Hoa sudah mencabut pedangnya, mendadak pedangnya melingkar balik "Trang"
Dua pedang beradu menerbitkan per-cikan kembang api, keduanya sama tergeliat Karuan Nyo Hoa melenggong, maklum gerak mencabut pedang menangkis pedang lawan sudah terlambat serambut.
Kalau orang itu menusuk langsung, sebelum dirinya sempat mencabut pedang matanya sudah tertusuk.
Tapi dia sengaja miringkan dulu pedangnya baru menyerang secara sungguhan, jelas tujuannya hanya memaksa Nyo Hoa beradu pedang, bukan mau melukainya Cepat sekali "Sret, sret, sret"
Beruntun orang itu menyerang pula tiga jurus, bentaknya.
"Marilah kita bertanding."
Setelah pedang Nyo Hoa terlolos, serangannya ternyata tidak kenal kasihan.
Beruntun Nyo Hoa mundur tiga langkah, setiap langkah mundur mematahkan sejurus serangan lawan, setelah mundur tiga langkah baru dia memperkokoh kedudukannya bertahan sama kuat dengan lawan.
Tapi serangan orang itu tidak ken-dor, setelah dia kembangkan permainan pedangnya, laksana dampar-an gelombang sungai yang bergulung-gulung Nyo Hoa didesaknya kerepotan, hanya mampu bertahan tak sempat memberi penjelasan tentang kesalahpahaman ini.
Padahal Nyo Hoa juga belum tahu kenapa lawan salah paham terhadap dirinya?
Setelah puluhan jurus baru Nyo Hoa tersirap kaget, batinnya.
"Kecuali lwekang-nya bukan tandingan Miao Tiang-hong, permainan pedangnya agaknya lebih unggul dari Miao Tiang-hong."
Sejak keluar kandang, dalam permainan pedang boleh dikata Nyo Hoa belum pernah ketemu tandingan, walau pernah dikalahkan Miao Tiang-hong, namun bukan kalah dalam permainan pedang, tapi setelah dia berhadapan dengan pemuda ini, dia benar-benar bertemu lawan tangguh.
Lawan lebih untung menyerang lebih dulu, setelah puluhan jurus baru Nyo Hoa berhasil memperbaiki posisinya, kini dia sudah berhasil menarik sedikit keuntungan.
Mendadak orang itu mendengus lalu berkata.
"Sayang, sayang."
"Apanya yang sayang?"
Tanya Nyo Hoa. Orang itu berkata.
"Ilmu pedangmu cukup lumayan, sayang kau ini bergajul yang tidak tahu malu."
Beruntun dirinya dimaki pemuda bergajul, karuan Nyo Hoa naik darah, bentaknya.
"Kau tidak tahu aturan? Coba jelaskan, di mana aku...."
Belum habis dia bicara mendadak lawan menyelinap maju, pedangnya menyerang dengan jurus Menusuk Lubang Langit Cerah, ujung pedang menusuk dada.
Dengan Ih-sing-hoan-wi Nyo Hoa menghindar, beruntun dia melancarkan dua gerakan ilmu pedang yamg menakjubkan baru berhasil mematahkan sejurus serangan pedang lawan.
Tapi mulut orang bicara kaki tangannya sedikit pun tidak kendor.
Karena dicecar laksana hujan badai, Nyo Hoa tak bisa buka suara, seluruh perhatian harus ditumpahkan untuk menghadapi serangan lawan.
Akhirnya Nyo Hoa sadar, pikirnya.
"Aku harus anggap dia sebagai musuh baru dapat menandingi dia"
Segera dia buang jauh pikiran yang merisaukan hati, matanya menatap gerakan pedang lawan, setiap jurus serangan dipunahkan, tipu dilawan tipu.
Ilmu pedang pemuda ini berkembang secara terbuka seperti seorang jenderal yang memimpin pasukan di medan laga menggempur musuh secara terbuka tidak pakai tipu muslihat atau jebakan.
Tapi dari gerakan yang sederhana dan kelihatan biasa itu justru dapat dinilai kehebatan permainannya.
Nyo Hoa harus melawannya sampai seratus jurus lebih, namun sejauh ini dia tak mampu menemukan kelemahan lawan.
Mau tidak mau di samping memuji hatinya amat kagum pula.
"Ilmu pedang pemuda ini sudah mencapai taraf sederhana kembali ke mumi, angkat berat bagai ringan, gerakan kaku mengatasi kelincahan, walau latihannya belum matang, tapi permainannya jelas lurus, agaknya dia lebih menyelami intisari ilmu pedang tingkat tinggi dari aku"
Lalu terbayang olehnya waktu Kim Bik-ki memberi komentar tentang permainan pedangnya yang masih belum sempurna tempo hari, sekarang benar-benar diresapinya kekurangannya setelah menghadapi lawan yang satu ini.
Sekaligus terasakan pula olehnya bahwa kepandaian pemuda ini pasti satu sumber dengan Kim Bik-ki, walau Kim Bik-ki tidak bersenjata pedang.
Karena pikiran sedikit terpecah, pedang orang itu menjungkit naik dengan jurus Li-Khong-sia-ciok, lengan baju Nyo Hoa ditusuknya berlubang, syukur Nyo Hoa bergerak secara cepat seraya berputar, begitu dekat lantas menyingkir, sekali tutul lantas mundur, kalau tidak pedang lawan tentu sudah melukai perge-langan tangannya.
Menghadapi lawan tangguh yang setaraf, makin menyala semangat tempur pemuda itu, setelah menje-ngek dia berkata "Coba saja berapa jurus kau mampu melawanku lagi."
Mendadak sinar pedang bergulung-gulung, hawa pedang menyambar kian kemari, sekujur badan Nyo Hoa seperti terbungkus di dalam gerakan pedangnya.
Lekas Nyo Hoa konsentrasikan pikiran, bila pertempuran mencapai puncaknya, keadaannya boleh dika-ta sudah melupakan antara aku dan kau.
Yang tampak dalam pandangannya hanyalah gerak pedang lawan belaka Dalam ilmu pedang tingkat tinggi walau gerakan kaku dapat mengalahkan kelincahan, namun bagi dua lawan yang bertanding bila kepandaian belum mencapai taraf yang paling tinggi, satu lurus yang lain aneh, masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan, hingga susah dibedakan mana yang lebih unggul.
Padahal bukan Nyo Hoa tidak memahami arti dari intisari ilmu pedang, soalnya lawan memang lebih mendalam dan memperoleh didikan yang murni dan petunjuk lurus, ketimbang dirinya yang mahir tanpa guru.
Tapi Nyo Hoa sudah meresapi kesaktian Bu-beng-kiam-hoat, reaksinya menghadapi segala perubahan jelas lebih unggul dari lawannya Gerakan Bu-beng-kiam-hoat seperti tidak teratur dan tidak pasti mengikuti teori, kelihatannya kacau balau, namun memiliki gerakan khusus yang benar-benar dapat diandalkan.
Setelah seratus jurus, gerakan Nyo Hoa makin leluasa dan lancar serta mantap, menyerang atau bertahan sudah mencapai tingkatan yang sempurna.
Tiba-tiba Nyo Hoa teringat akan teori yang berbunyi "aku sebagai poros halang, daripada lawan memegang peranan lebih baik aku sebagai poros mengikuti gerakan lawan".
Selanjutnya dia mainkan golok kilat keluarga Beng dalam permainan ilmu pedang, titik beratnya tetap pada arti ilmu pedang yang sesungguhnya, seperti tanpa aturan asal pedangnya terayun dan menyerang, namun gerakannya melebihi kilat.
Kalau titik kelemahan lawan tidak diketemukan, biarlah diri sendiri menciptakan kelemahan lawan itu.
Keduanya menumpahkan perhatian dalam bertanding pedang, entah berapa lama mereka berhantam, keadaan tetap seimbang, susah dibedakan mana yang menang atau kalah.
Namun setelah diserang oleh berbagai permainan pedang Nyo Hoa yang beratus ragam itu, mau tidak mau makin goyah keyakinan pemuda itu.
Dalam suatu kesempatan, pedang orang itu ke kiri menyerang dengan jurus Thian-san-soat-beng (Salju gugur di puncak Thiansan) ke kanan menyerang dengan Gin-han-hu-jay (Lelaki perak memanggul kayu), jurus pertama keras dan deras, jurus kedua cepat lagi cekatan, serangan pedangnya amat ganas dan keji.
Tapi dalam melancarkan kedua jurus ini, tanpa merasa dia menunjukkan sedikit lubang.
Kontan Nyo Hoa bergerak dengan Kim-ciam-to-coat (Jarum emas membebaskan malapetaka), pedangnya menusuk seraya membentak.
"Lepas pedang."
Jurus Kim-ciam-to-coat yang dilancarkan Nyo Hoa menyelinap tepat di saat lawan memperlihatkan kelemahan, tepat pada waktunya melumpuhkan kelemahan itu, sungguh hebat dan menakjubkan sekali.
Jikalau lawan tidak segera membuang pedang, pergelangan tangan pasti tertusuk berlubang atau putus.
Tak nyana perubahan memang sukar dijajaki, pedang lawan memang dibuang, tapi pedang itu meluncur lurus bagai anak panah.
Itulah jurus lemparan pedang yang lihay dari Thian-san-kiam-hoat untuk memperbaiki posisi yang terdesak, namanya Hwi-liong-caythian (Naga terbang di udara).
Tujuan Nyo Hoa hanya memaksa lawan melempar pedang; tidak bermaksud melukainya maka dia tidak menduga bahwa lawan melempar pedang menyerang dirinya dengan maksud mengadu jiwa.
Jarak teramat dekat, begitu pedang lawan ditimpukkan, daya luncurnya kencang lagi, Nyo Hoa tidak mungkin berkelit, menangkis dengan pedang juga tidak sempat atau tak mampu melawan luncuran kuat pedang itu, secara reflek dia menjatuhkan badan ke belakang hingga badan sejajar dengan tanah.
Pedang lawan menyambar lewat di depan hidungnya.
Nyo Hoa gunakan jurus Kihwe-liau-thian (Angkat obor menerangi langit), ujung pedangnya menyampuk ke aras Tiang"
Pedang panjang yang meluncur tiba itu membelok arah meluncur jatuh ke pinggir.
Untung reaksi Nyo Hoa cepat dan gerakannya pun lincah, hingga timpukan pedang lawan dapat dihindarkan, pedang lawan pun disam-poknya jatuh ke jurang, kelihatannya gerakannya sederhana, padahal sudah memeras seluruh tenaga dan kemampuannya.
Waktu Nyo Hoa meletik berdiri pula, baru terdengar suara pedang jatuh di dasar jurang, sudut matanya menangkap gerakan orang itu yang lari ke belakang batu besar di mana kuda Nyo Hoa ditambat Langsung dia melompat ke punggung kuda seraya memaki.
"Bocah bagus, persoalanku dengan kau belum habis, tunggu saja perhitunganku. Kalau pedangku yang terebut ini tidak ku-balas, aku bersumpah tidak jadi manusia."
Baru sekarang Nyo Hoa sadar, merebut senjata lawan dianggap penghinaan yang terbesar bagi kaum persilatan, tidak heran kalau pemuda itu amat gusar.
Tapi dirinya terdesak keadaan, dalam keadaan seperti tadi, kalau dirinya tidak memukul jatuh pedang lawan, bagaimana dirinya bisa menyelamatkan diri?
Lekas Nyo Hoa berteriak.
"Saudara kembalilah, aku... aku minta maaf kepadamu."
Tapi kuda itu sudah dilarikan kencang ke arah timur, sekejap saja sudah lari jauh mana bisa memanggilnya kembali?
Nyo Hoa menghela napas, lalu geleng-geleng kepala.
Rembulan sudah merambat ke barat, tidak lama lagi bakal terang tanah.
Kim Bik-ki pergi naik kuda, jelas takkan kembali lagi, terpaksa Nyo Hoa menurunkan kemah serta menggulungnya dalam buntalan, dengan mengembangkan ginkang dia turun gunung.
Harinya mengharap Kim Bik-ki menunggu dirinya di bawah gunung.
Setelah bertemu dengan Kim Bik-ki baru dia akan tahu asal-usul pemuda yang melabrak dirinya.
Di bawah gunung dia tidak menemukan Kim Bik-ki, tapi samarsamar melihat tiga bayangan orang yang berjalan di sebelah depan.
Ketiga orang ini bukan lain adalah Lau Ting-ci, Yap Kok-wi dan Ting Tiong-ai.
Seorang diri, habis bertempur sengit lagi, sudah tentu Nyo Hoa tidak berani melabrak mereka pula, namun dia ingin mencuri dengar pembicaraan mereka, terpaksa dia sembunyi di semaksemak rumput mencuri dengar percakapan mereka."
Yap Kok-wi sedang berkata.
"Kalian dengar derap lari kuda tidak?"
"Dua kali beruntun kudengar semua,"
Ting Tiong-ai berkata.
"kalau tidak salah yang satu ke timur yang lain ke barat Untung tidak lari ke arah kita. Aneh, kenapa mereka tidak searah lagi?"
"Kenapa dibuat heran,"
Ucap Yap Kok-wi.
"kedua bocah itu sebelumnya tidak berjanji, waktu bocah di atas gunung itu melarikan diri, bangsat cilik itu lagi berhantam dengan kita. Bangsat cilik yang lari belakangan tentu mengira temannya itu pulang ke Giok-jiu-san."
Mereka kira dua orang yang lari naik kuda itu adalah Nyo Hoa dan Kim Bik-ki, di luar tahunya bahwa Nyo Hoa masih berada di belakang mereka. Yap Kok-wi berkata dengan mas-gul.
"Sungguh tak nyana perjalanan kita kali ini sia-sia"
Lau Ting-ci mendengus, katanya.
"Siapa bakal menyangka bocah yang satu itu pun muncul, kita masih untung, bila ketiga bocah itu bergabung, mungkin kita sudah kecundang."Ting Tiong-ai berkata.
"Bocah yang datang belakangan itu apa benar putera Kim Tiok-liu?"
"Memangnya tiruan?"
Jengek Lau Ting-ci.
"Jikalau aku tidak yakin bahwa dia putera Kim Tiok-liu, memangnya aku sudi membungkukbungkuk kepadanya, dia suruh kita enyah aku lantas menyingkir? Hehe, agaknya kau mentertawakan nyaliku yang kecil tadi?"
Ting Tiong-ai tersipu-sipu; katanya.
"Ah tidak, mana aku berani bersikap demikian. Lau-toako, kau justru pandai melihat gelagat."
"Kalau seorang putera Kim Tiok-liu saja kita tidak perlu takut, tapi ilmu pedangnya pasti lebih tinggi dari bocah she Nyo itu, bila mereka bergabung, mana bisa kita melawannya. Apalagi kita tak berani berbuat salah kepada Kim Tiok-liu. Laki-laki sejati tidak mau rugi di depan, lari adalah jalan utama."
Percakapan selanjutnya tidak jelas lagi. Waktu Nyo Hoa berdiri dan melongok ke bawah, bayangan ketiga orang itu sudah tidak kelihatan. Kejut dan girang hati Nyo Hoa, pikirnya dengan tertawa getir.
"Kalau aku tahu dia putera Kim Tiok-liu, aku tak berkelahi dengan dia. Ah, tiada hujan tiada angin, tahu-tahu bermusuhan dengan Kim-siauhiap. Tapi Kim Tiok-liu hanya punya satu anak lelaki, jelas Kim Bik-ki bukan anaknya, lapi mereka sama marga Kim, mungkin dia anak pamannya, maka dia pun kembali mencari Bik-ki. lapi kenapa dia memaki aku pemuda bergajul?"
Nyo Hoa bukan pemuda dungu, tapi satu kemungkinan itu tak berani dia memikirkannya.
Maka dengan perasaan tak karuan dia melanjutkan perjalanan.
Sepanjang jalan selamat tak terjadi apa-apa, hari itu dia sudah memasuki wilayah Jik-tat-bok.
Di pinggir pegunungan ada sebuah kota kecil tapi merupakan urat nadi bagi kehidupan orang-orang yang hidup di pegunungan, kota kecil yang subur dan makmur ini membawa kesejahteraan dan sentosa bagi hidup mereka di atas gunung.
Setiap hari kelima, orang-orang gunung turun ke kota menjual hasil cocok tanamnya, barter dengan garam, beras serta sandang dan peralatan rumah tangga.
Maka kota kecil ini berpenduduk ratusan keluarga, ada puluhan toko dan sebuah hotel.
Di tengah jalan Nyo Hoa sudah mencari tahu, maju lebih jauh setelah melewati Ping-an-kip ini adalah daerah pegunungan yang jarang dijelajahi manusia, maka di kota itu dia harus beli ransum atau perbekalan lainnya.
Dianjurkan kepadanya bila orang asing dan belum jelas seluk beluk pegunungan di sini, supaya mencari penunjuk jalan, kalau tersasar di atas gunung salah-salah bisa mati kelaparan atau dimakan binatang buas.
Tahu betapa sulitnya menempuh perjalanan selanjutnya, Nyo Hoa jadi rindu kepada Kim Bik-ki.
"Bila seperjalanan dengan dia tentu lebih leluasa. Kedatanganku ini hendak nnenuntut balas kepada Beng Goan-cau, kalau cari penunjuk jalan bisa membuat dia celaka, terpaksa aku menempuh perjalanan seorang diri."
Hari itu bukan hari pasaran, maka kota kecil ini sepi-sepi saja.
Nyo Hoa menyiapkan ransum dan perbekalan yang diperlukan.
Malam itu dia bermalam di hotel satu-satunya yang ada di kota kecil itu.
Waktu itu hari sudah petang, di luar hotel terdapat sebuah istal yang terbuat dari papan, seorang kacung sedang keluar dari istal dan menutup rapat pintunya.
Tiba-tiba Nyo Hoa mendengar ringkik kuda yang sepertinya sudah dikenal baik, tergerak hatinya, segera dia menoleh ke dalam istal, dilihatnya seekor kuda berbulu putih sedang makan rumput.
Sayang tabir malam sudah menyelimuti jagat raya, hingga susah dia melihat jelas.
Karena kacung itu sudah keburu menutup pintu istal.
Kuda tunggangan Kim Bik-ki kebetulan seekor kuda putih, namun karena tidak melihat jelas Nyo Hoa tidak berani memastikan.
Karena curiga ia menghampiri kacung itu mengajaknya ngobrol.
Kacung itu bertanya.
"Tuan apa kau mau menginap?"
"Betul. Apakah penginapan ini penuh?"
"Beberapa hari ini sepi-sepi saja, hari ini baru ada dua tamu. Untuk apa kau cari tahu?"
"Ah, tidak. Aku khawatir tidak ada kamar kosong lagi."
Kacung itu tertawa, katanya.
"Mau sepuluh kamar juga ada. Silakan masuk."
"Berapa usia kedua tamu itu? Apakah seperti diriku datang dari luar daerah?"
Kacung itu menatap Nyo Hoa sikapnya dingin.
"Selamanya aku tidak suka turut campur urusan orang lain, tidak kutanya mereka datang dari mana. Berapa usia mereka aku juga tidak bisa menaksir, jelasnya satu berjenggot, yang lain tidak, usianya mungkin lebih tua dari aku. Untuk apa kau tanya usia mereka?"
Nyo Hoa tertawa kikuk, katanya "Hanya tanya sambil lalu saja."
Pemilik hotel mengamati Nyo Hoa penuh perhatian, katanya.
"Tuan kau she apa?"
"Aku she Nyo."
"Nyo-toaya kau mau ke mana?"
"Mau cari kerjaan di Ok-khek-cau-beng."
Pemilik hotel melenggong, katanya "Mau pergi ke Ok-khek-caubeng, kenapa tidak lewat jalan datar?"
"Lewat pegunungan lebih dekat, di sana memerlukan banyak tenaga"
"Tapi daerah pegunungan belakangan ini tidak aman, apa kau sudah tahu?"
"Aku tidak punya apa-apa takut apa?"
"Baiklah, kuberi satu kamar, kau sudah makan malam belum?"
"Sudah makan di pasar tadi."
"Nyo-toaya, kau baru minum arak bukan?"
"Dari mana kau bisa tahu?"
"Aku mengendus bau arak yang wangi, dalam kantong kulitmu kau membawa arak anggur bukan?"
Nyo Hoa tertawa katanya "Betul, kau memang lihay, arak apa pun dapat kau tebak dari bau wanginya"
Pemilik hotel berkata "Dalam kota kecil ini tidak pernah menjual arak anggur seperti yang kau bawa itu."
"Betul arak auggur ini kubeli di perjalanan lima hari yang lalu."
Pemilik hotel manggut, namun sikapnya menunjukkan sikap kurang percaya. Tapi dia tidak banyak bicara, katanya"
"Maaf ya tuan, hotel kami serba sederhana, kelambu pun tiada. Untung sudah tiba musim dingin, jadi tidak banyak nyamuk."
"Tidak jadi soal. Aku sudah biasa tidur di hutan."
"Silakan tuan istirahat"
Setelah pemilik hotel pamitan, Nyo Hoa menutup pintu kamarnya.
Ternyata jendela kamar juga sudah ambrol, meski tidak ada nyamuk, tapi angin malam yang dingin cukup menyiksa juga.
Untung dia membawa kain tenda Kim Bik-ki, maka sambil menggelar tenda sutera itu dia menggumam, Tenda sutera sebagus ini, ditinggal pergi begitu saja, untung aku memungutnya,"
Perkataannya ini diucapkan dengan tekanan lwekang Thong-imjip-bit tujuannya supaya didengar oleh Kim Bik-ki, walau suaranya rendah, namun dia yakin beberapa kamar di sekitarnya bila dihuni orang pasti mendengar jelas.
Tapi setengah jam kemudian, keadaan tetap tenang-tenang.
Nyo Hoa agak kecewa, segera dia turunkan kantong kulitnya mulai minum arak anggurnya sambil ketuk meja bersenandung.
Tiba-tiba sebuah suara serak tua di kamar sebelah mendengus sekali lalu mengomel.
"Sialan, tengah malam buta rata masih mengomel melulu, kau tidak tidur orang lain sudah mengantuk."
Maka Nyo Hoa tahu kamar sebelah ada orang tapi sayang bukan Kim Bik-ki, agaknya seorang lelaki tua.
Nyo Hoa tahu diri, segera dia buka baju, tanpa bersuara lagi dia naik ke ranjang.
Lampu minyak di atas meja dibiarkan tetap menyala Tidur di dalam tenda sutera yang berbau wangi, pikiran Nyo Hoa gundah gulana tidak bisa pulas.
Mendadak didengarnya suara menggeros yang keras di kamar sebelah, karuan Nyo Hoa agak heran,-batinnya.
"Orang tua biasanya susah tidur, baru saja mengomel, masa sekejap ini sudah menggeros."
Bau wangi dalam tenda sutera itu ternyata makin menyejukkan perasaan. Nyo Hoa sudah mulai layap-layap, hampir saja dia sudah terlena, mendadak hatinya berontak, pikirnya.
"Tidak beres. Bagaimana mungkin tenda ini mengeluarkan bau harum? Apakah bukan bau wangi yang memabukkan?"
Lekas dia kerahkan lwekang supaya dirinya tidak terbius oleh bau harum itu.
Nyo Hoa masih ragu-ragu, segera dia bangkit mengenakan pakaiannya pula, duduk di depan jendela mengawasi bulan sabit yang bercokol di angkasa.
Tengah dia ter-longong, sukar memutuskan apakah harus keluar memeriksa keadaan sekitarnya, mendadak didengarnya pintu kamarnya diketuk orang.
Nyo Hoa merendahkan suara bertanya.
"Siapa?"
Orang di luar tertawa cekikikan, katanya.
"Kau tidak kenal suaraku?"
Nyo Hoa berjingkrak girang, lekas dia membuka pintu. Siapa lagi yang datang kalau bukan Kim Bik-ki? Nyo Hoa berteriak tertahan.
"Ternyata memang kau di sini."
"Di empat penjuru lautan adalah saudara, di ujung langit seumpama bertetangga. Kamarku berada di seberang, bukankah boleh terhitung bertetangga?"
Riang hati Nyo Hoa, tiba-tiba dia teringat orang tua di sebelah, katanya merendahkan suara.
"Kita cari tempat di luar saja, jangan mengganggu orang di kamar sebelah."
Kim Bik-ki tertawa katanya.
"Tak usah khawatir, sebelum terang tanah dia tidak akan bangun."
Segera Nyo Hoa mengerti katanya, Tak heran aku pun mencium bau wangi, jadi kau menggunakan bius harum?"
"Aku gunakan "Wangi Tenteram"
Dari Persia.
Umumnya bius wangi merusak kesehatan badan, hanya Wangi Tenteram ini dapat untuk menenangkan pikiran dan membuyarkan tekanan batin, orang akan tidur sepanjang hari tanpa mengganggu kondisi orang."
"Kalau tahu kau menggunakan "Wangi Tenteram", tadi aku tidak usah kerahkan lwekang untuk melawan khasiatnya."
"Ya, untung kau mengerahkan lwekang kalau tidak sekarang tentu kau sudah tidur pulas. Orang tua disebelah agaknya juga kaum persilatan, namun sebelum kita mengetahui asal-usulnya, biarlah dia tidur nyenyak saja"
Mendengar orang menekankan suara "kita"
Tergerak hati Nyo Hoa namun segera dia paham katanya.
"Pemilik hotel ini apakah orang kalian?"
"Betul, dia salah seorang thaubak dari laskar gerilya, begitu kau masuk dia sudah menaruh curiga kepadamu. Lalu aku bisa beri tahu kepadanya, kau adalah temanku, baru dia berani pergi tidur."
"Sungguh aku tidak duga di sini aku bisa bertemu pula dengan kau."
"Aku kan sudah berjanji akan menunjukkan jalan, janji harus ditepati."
Sesaat lamanya Nyo Hoa bungkam, tak tahu bagaimana dia harus bicara lebih lanjut Melihat orang mengawasi tenda sutera, Nyo Hoa berkata, Tenda sutera ini milikmu, sekarang kukembalikan kepada pemiliknya."
Merah muka Kim Bik-ki, katanya.
"Untung kau, kalau orang lain yang pernah memakai tendaku ini, selanjutnya akan kubuang saja"
Nyo Hoa tidak mengerti kenapa muka orang mendadak merah, katanya.
"Barang sebagus ini kenapa sembarang dibuang? Malam itu..."
"Malam itu aku terpaksa harus pergi. Aku tahu bila orang tiba, ketiga cakar alap-alap itu pasti mencawat ekor. Akhirnya kau bersua dengan dia?".
"Bukan bersua saja, tidak hujan tidak angin kami malah berkelahi. Siapakah dia?"
"Bagaimana ilmu pedangnya?"
"Hebat sekali, sebetulnya aku bukan tandingannya, belakangan syukur aku menang satu jurus, dia marah-marah kepadaku terus pergi membawa kudaku."
"Kalau begitu kau tentu sudah tahu siapa dia?"
"Ketiga cakar alap-alap bilang dia adalah putera Kim Tiok-liu itu, tapi entah benar?"
"Kalau ilmu pedangnya tulen, memangnya orangnya tiruan? Dia bernama Kim Bik-san, putera Kim tayhiap yang kau kagumi, murid Kang Hay-thian yang tersayang."
Nyo Hoa terbelalak kaget dan senang.
Kaget lantaran Kim Tiokliu adalah orang yang paling dia kagumi, namun tanpa sebab dirinya telah mengikat pertikaian dengan dia.
Girang karena dirinya mampu mengalahkan putera seorang jago pedang nomor satu di seluruh jagat ini, jauh di luar dugaan dan lebih menyenangkan daripada setelah dia mengalahkan Tong-hian-cu yang menjadi thaysusioknya."
"Eh, kenapa kau? Ketakutan sampai linglung?"
Goda Kim Bik-ki.
"Kejadian ini sungguh di luar dugaanku. Aku tidak tahu kenapa kau takut kepadanya? Dia bernama Kim Bik-san, kau bernama Kim Bik-ki, agaknya kalian...."
Perlahan suara Kim Bik-ki.
"Sekarang aku pun tidak perlu membohongimu lagi. Dugaanmu memang benar, kami adalah saudara sekandung."
Nyo Hoa terperanjat, serunya.
"Kalian saudara sekandung?"
Semula dia kira salah satu adalah anak paman, karena Kim Tiok-liu hanya punya seorang putera "Tolong... tolong kau menghadap ke sana"
"Kenapa?"
Nyo Hoa heran dan bingung. Kim Bik-ki bersungut.
"Kau sudah janji akan patuh kepadaku, jangan banyak tanya."
Nyo Hoa sudah menduga namun dia tidak berani percaya dugaannya betul.
Segera dia membalik badan, ingin dia tahu apa yang akan dilakukan Kim Bik-ki.
Sesaat kemudian dengan suara lembut Kim Bik-ki bersuara.
"Nah, sekarang boleh kau membalik kemari."
Bila Nyo Hoa membalik, dilihatnya Kim Bik-ki sudah menanggalkan topi mencopot jtibah luarnya bagian dalam ternyata pakaian perempuan bersulam kembang.
Rambut yang panjang terurai mayang menyentuh pundak, gaun panjang yang berwarna merah muda mulus, tampak senyumannya begitu elok bak bunga mekar.
Kim Bik-ki bukan lagi seorang pemuda cakap tapi seorang gadis jelita yang rupawan.
Meski sudah menduga sebelumnya tak urung Nyo Hoa menjublek saking kaget.
Senyum Kim Bik-ki secerah sinar mentari di pagi hari, pipinya merah, katanya perlahan.
"Kau sudah paham sekarang? Dia engkoh-ku, aku adalah adik perempuannya"
Berbagai persoalan yang semula membingungkan, seketika jelas duduk persoalannya Sekarang dimaklumi kenapa kadang-kadang dia melihat Kim Bik-ki merah mukanya tanpa sebab, bermalam di hotel minta dua kamar, di hutan juga suruh dirinya tidur ke tempat yang jauh, maklum lantaran dia seorang gadis.
Kini dia pun mengerti kenapa waktu berhadapan dengan dirinya Kim Bik-san marah-marah dan memakinya bergajul.
Karena dia adalah engkoh Kim Bik-ki.
"Apa saja yang pernah dikatakan engkoh-ku kepadamu?"
Tanya Kim Bik-ki. Nyo Hoa hanya menjawab samar-samar.
"Tidak banyak yang dia katakan. Setelah menggebah ketiga cakar alap-alap itu, mungkin dia belum tahu asal-usulku, maka dia agak salah paham terhadapku."
Lega hati Kim Bik-ki, katanya "Apakah seperti aku salah paham terhadapmu waktu di Siau-kim-j wan dulu?"
"Salah paham"
Yang satu ini berbeda dengan "salah paham"
Yang dulu itu, namun Nyo Hoa hanya tertawa getir dalam hati, mana dia berani menjelaskan? Agaknya Kim Bik-ki juga segan tanya soal itu, katanya tertawa.
"Kenapa aku takut terhadap engkoh-ku, tentu kau merasa heran bukan?"
"Saudara tua bagai orang tua, biasanya engkoh-mu tentu amat keras kepadamu?"
"Kau keliru. Engkoh-ku berbeda dengan ayah, wataknya mirip gurunya malah. Yang kumaksud sudah tentu adalah tabiatnya Bukan aku takut kepadanya tapi aku tidak mau ribut dengan dia Kau tidak tahu, dia paling suka menasehati orang."
Nyo Hoa membatin.
"Siapa bilang aku tidak tahu, aku sudah merasakan sendiri."
Tiba-tiba Kim Bik-ki tertawa cekikikan, katanya lebih lanjut.
"Bicara soal ini agaknya engkoh-ku lebih menonjol dari gurunya dia bukan lagi keren atau berwibawa lebih tepat kalau dikatakan terlalu brengsek. Ada kalanya aku malah merasa kesal dan benci padanya. Tapi kalau gurunya memang patut disegani, tanpa marah juga sudah menunjukkan wibawanya walaupun dalam pandanganku dia juga sedikit brengsek, namun siapa pun yang berhadapan dengan dia pasti menaruh hormat dan segan. Oh, ya belum kujelaskan siapa guru engkoh-ku."
Maka Kim Bik-ki berkata pula.
"Supek-ku adalah Kang Hay-thian, puluhan tahun dia lebih ternama dari ayahku, tentunya kau juga sudah tahu?"
"Lwekang supek-mu nomor satu di kolong langit, sedang ilmu pedang ayahmu nomor satu. Kaum persilatan mana yang tidak tahu akan hal ini?*"
"Nomor satu di kolong langit, kukira belum tentu,"
Kata Kim Bikki.
"kan masih ada cosu-ku. Tapi beliau sudah lama mengasingkan diri di luar lautan, kaum Buhm mengira beliau sudah meninggal sebenarnya masih panjang umur. Apalagi kecuali kakekku kan masih.ada kau."
Nyo Hoa menyengir, katanya.
"Mana aku setimpal disejajarkan dengan ayahmu?"
"Sekarang kau memang bukan tandingan mereka, namun bicara soal ilmu pedang, belum tentu kau bukan tandingan ayah. Baiklah sekarang kita lanjutkan ceritaku tadi. Sampai di mana ceritaku tadi?"
"Sampai supek-mu Kang Hay-thian tayhiap."
"Kang-supek punya dua anak. Yang tua bernama Kang Siangbong, anak kedua bernama Kang Siang-hun. Usia Kang-toako jauh lebih tua daripada kami bersaudara, tahun ini hampir genap tigapuluh tahun, sejak lama sudah menonjol-kan nama di kalangan Kangouw, sekarang berada di rumah ciangbun suheng-nya yaitu Yap Bok-hoa. Yap Bok-hoa adalah murid tertua Kang-supek, pemimpin laskar gerilya yang berpangkalan di Sujwan barat. Kebetulan usia Kang-jiko sepantaran dengan engkoh-ku, dilahirkan pada bulan dan tahun yang. sama, tahun ini berusia duapuluh. Sejak kecil mereka bermain bersama seperti saudara kandung sendiri.
"Kang-supek dan ayah meniru cara orang kuno mendidik anak. Kang-jiko berguru kepada ayahku, sedang engkoh-ku menjadi murid penutupnya. Istri Kang-supek bernama Kok Tiong-lian anak pungut Kok Ci-hoa mantan ciangbunjin Bin-san-pay. Puluhan tahun yang lalu Kok Ci-hoa sudah meninggal, murid-murid Bin-san-pay mau angkat bibi Kang menjadi ciangbun, namun ditolak, ternyata dia juga yang menjabat akhirnya.
"Kedua keluarga kami sebetulnya hidup bertetangga, belakangan setelah bibi Kang menjabat ciangbunjin Bin-san-pay, keluarga Kangsupek lantas pindah ke Bin-san, hanya Kang-jiko saja yang tetap tinggal di rumahku. Sementara engkoh-ku ikut gurunya tinggal di Bin-san, belum tentu setahun pulang sekali. Maka tabiatnya lama kelamaan meniru gurunya, tidak mirip ayahku lagi."
Nyo Hoa tertawa, katanya.
"Kan wajar, dekat arang menjadi hitam, dekat kapur menjadi putih, tabiat seseorang kadangkala memang bukan pembawaan. Kang tayhiap berbudi luhur dan disegani, merupakan simbol kebesaran kaum persilatan, engkoh-mu bisa meniru dia, kan bagus."
"Tapi lain pula tabiatku, dia baru 20 tahun sudah mirip kakek. Terus terang, aku amat patuh dan hormat kepada Kang-supek, tapi aku lebih suka ayahku. Bila ibu kewalahan terhadapku, sering dia menggodaku, katanya aku betul-betul puteri sejati ayahku, engkohku menjadi anak kandung Kang-supek."
Sampai di sini mendadak dia tertawa geli.
"Nyo-toako, ada beberapa bagian kau mirip ayahku malah."
Merah muka Nyo Hoa, katanya.
"Apa betul? Bagaimana tabiat ayahmu?"
"Kang-supek amat keras dengan aturan-aturannya, jarang berkelakar. Sikap ayah justru supel, siapa pun bisa menjadi temannya. Dia pun suka humor, terhadap segala persoalan seperti tidak acuh tapi bukan berarti tidak ambil perhatian, sering kali dalam suasana senda gurau tahu-tahu persoalan dibereskan dengan baik."
"Senda gurau membereskan persoalan, wah, mana aku punya kemampuan seperti ayahmu. Mungkin aku memang bersikap terbuka, sayang aku ini lugu, tak tahu cara bagaimana harus berkelakar baru bisa menyelesaikan urusan."
"Bukan maksudku bilang kau seluruhnya mirip ayah, kau supel dan terhadap siapa pun sopan dan ramah, siapa pun akan merasa intim dan suka bersahabat dengan kau, hal inilah yang agak mirip ayah. Satu hal lagi, kau suka minum arak, ayahku juga gemar minum, terus terang saja, sebetulnya aku juga berani minum sedikit, meski takarannya sedikit saja."
Nyo Hoa pura-pura kesal, katanya sambil menarik muka.
"Jadi kau bilang tidak bisa minum sengaja membohongi aku. Baik, sekarang kuhukum kau minum."
"Lho, sudah kau minum beberapa hari arak anggur dalam kantong ini belum juga habis?"
"Hari itu kau bilang tidak mau minum, padahal kau sudah ketagihan, aku sudah melihat lidahmu yang berontak, maka sengaja sisanya ini kusimpan untuk kau."
"Bohong. Bagaimana kau tahu bakal bertemu dengan aku?"
"Aku punya firasat, betapa rinduku kepadamu, memangnya kau tidak ingin bertemu dengan aku?"
"Tak usah ya Ternyata kau juga brengsek. Baiklah bawa kemari"
"Apa yang bawa kemari?"
"Araknya"
Segera Nyo Hoa angsurkan kantong kulit itu, katanya.
"Kau memang lucu, disuguhi tidak mau minum, malah suka dihukum minum,"
"Kau berbohong untuk menyenangkan orang, juga harus dihukum."
Setelah bicara baru sadar, secara tidak sadar telah membocorkan rahasia hati sendiri, padahal arak belum diminum, namun mukanya sudah merah jengah.
Jantung "Nyo Hoajuga berdebar, pikirnya, Ternyata setelah tahu aku merindukan dia, hatinya juga amat senang."
Sesaat lamanya keduanya jadi kikuk dan risih, akhirnya Nyo Hoa memecah kesunyian.
"Baiklah, mari kita minum bersama."
Setelah minum beberapa teguk, sikap keduanya kembali wajar. Kim Bik-ki berkata.
"Hari itu aku tak berani minum arakmu, sekarang boleh aku minum dengan lega."
"Kenapa?"
"Karena aku tahu kau adalah laki-laki sejati."
"Engkoh-mu justru laki-laki sejati, laki-laki tulen, kenapa kau tidak suka terhadapnya?"
"Laki-laki tulen kan juga bermacam ragamnya. Umpamanya ayahku, dia suka berkelana dan hidup bebas, namun dia betul-betul seorang laki-laki sejati. Bukan aku tidak suka kepada engkoh-ku, aku justru khawatir dia terlalu sejati."
"Lalu mirip siapa tabiat Kang-suheng-mu?"
Kim Bik-ki berpikir sejenak.
"Sukar dikatakan. Tabiat Kang"
Suheng setengah mirip ayahnya, setengah lagi mirip ayahku, aku amat menghargai dia, waktu kecil aku senang bermain dengan dia, jarang aku kumpul dengan engkoh-ku, maka sering dia menemani aku, maka dalam sanubariku dia lebih mirip engkoh-ku sendiri."
"Ayahmu pasti juga amat suka padanya?"
"Ilmu pedang ayah diturunkan kepadanya, aku tidak pernah diajarkan malah, ada kalanya aku jadi iri terhadap ayah karena berat sebelah."
Mendengar penjelasan orang, Nyo Hoa terpekur diam. Kim Bik-ki tertawa geli, katanya "Lho memangnya kau juga cemburu terhadapnya?"
Ucapannya ini dilontarkan secara spontan, seketika merah jengah mukanya, cepat dia menambahkan.
"Sebetulnya ilmu pedangmu sudah teramat tinggi, terhadap ahli pedang mana saja tidak perlu kau gentar menghadapinya."
Nyo Hoa berkata tawar.
"Kenapa kau kira aku ini berpikiran sempit? Lebih banyak kaum ksatria yang berkepandaian tinggi kan lebih baik. Apalagi suheng-mu adalah putera Kang tayhiap, ilmu pedangnya lebih unggul dari aku, aku juga senang."
Kim Bik-ki merengut, katanya "Masih berani kau bilang tidak berpikiran sempit, aku hanya bergurau, sikapmu sudah segarang ini? Hmm, kalau tahu kau ini tidak suka berkelakar, tutup mulut saja"
Karena Kim Bik-ki merengut, terpaksa Nyo Hoa minta maaf. Terpaksa Kim Bik-ki melanjutkan.
"Aku tidak pakai pedang, sebetulnya bukan ayah sengaja berat sebelah tidak mau mengajarkan kepadaku. Soalnya di antara berbagai senjata belajar pedang paling sukar, bakat dan lwekang-ku belum setaraf untuk meyakinkan ilmu pedang tingkat tinggi. Maka ayah mendidik kami sesuai bakat dan kondisinya maka aku belajar menggunakan ruyung kepada ibu."
Perlu diketahui, istri Kim Tiok-liu adalah Su Ang-ing, mahir menggunakan ruyung lemas, orang memberi julukan Sin-pian Lihiap padanya Duapuluh tahun yang lalu, istri Koan-tang Tayhiap Utti Keng yaitu Jian-jiu-koan-im Ji Seng-in terkenal dengan tiga kepandaian tunggalnya yaitu amgi, ginkang dan ruyung lemas.
Sudah lama mereka malang melintang di Kangouw, waktu itu Su Ang-ing belum lama berkelana pernah suatu ketika bertanding ilmu ruyung lemas, ternyata setelah ratusan jurus masih tetap seimbang.
Maka duapuluh tahun kemudian, sekarang kaum persilatan sudah anggap ilmu ruyungnya tiada bandingan di kolong langit "Bila kungfu diyakinkan mencapai taraf yang tertinggi, daun kembang terbang juga dapat melukai atau membunuh orang, demikian pula latihan ruyung atau pedang."
"Biar kuberi tahu satu rahasia pada kau. Ilmu myungku sebetulnya belum tamat, ayah dan ibu sebetulnya melarang aku keluar pintu, kali ini aku meninggalkan rumah secara diam-diam."
Nyo Hoa berkata "Tak heran kau takut melihat engkoh-mu."
"Untung aku tidak keluyuran ke mana-mana aku menggabungkan diri dengan para ksatria di dalam laskar gerilya yakin ayah tidak akan marah kepadaku. Nyo-toako, kau tidak usah khawatir, salah paham engkoh terhadapmu akan kubantu menjelaskan. Ilmu pedangmu sebagus itu, bila ayah melihatmu tentu amat suka padamu."
Sampai di sini percakapan mereka tiba-tiba terdengar seorang tertawa dingin tiga kali, katanya.
"Gadis ini ternyata diam-diam bermain cinta dengan kekasih gelap di sini, celaka aku orang tua yang terbius lelap. Hmm, bila berhadapan dengan Kim Tiok-liu pasti akan kuma-ki sepuas hati, kenapa tidak mendidik puterinya dengan baik."
Merah muka Kim Bik-ki, makinya "Tua bangka, bersihkan mulutmu, jangan salahkan bila aku berlaku kurang ajar kepadamu."
Lelaki itu bergelak tawa katanya "Gendukayu, kupandang muka ayahmu maka tidak kubikin perhitungan dengan kau, beberapa patah kataku tadi hanya mewakili ayahmu saja kau justru tidak tahu di untung malah marah-marah kepadaku.
Hmm, coba jawab, apa aku salah omong?
Hehe, aku malah senang bila aku keliru omong, tahukah kau, aku malah ingin jadi mak comblangmu?"
Malu dan gusar Kim Bik-ki dibuatnya, serunya membanting kaki.
"Nyo-toako, kau terima mendengar ocehannya? Lekas beri hajaran setimpal kepadanya, memangnya kau biarkan dia menghina aku?"
Nyo Hoa melirihkan suara.
"Kedengarannya dia seperti kenalan ayahmu?"
"Kenapa kau mudah percaya ocehannya, jikalau benar dia sahabat ayahku, memangnya aku tidak mengenalnya? Hm, dia pasti orang sinting, kau segan menghadapinya, biar aku yang membunuhnya."
"Jangan marah, biar aku keluar mengusirnya pergi."
Kakek tua di luar itu tertawa ter-gelak-gelak, serunya.
"Satu ingin membunuhku yang lain akan mengusirku. Ha,ha, ha, kalian anakanak muda memang tidak tahu tingginya langit tebalnya bumi. Tapi aku tua bangka ini juga tidak akan cari perkara dengan kalian. Bocah busuk, keluarlah kau, biar kunilai betapa tinggi kepandaianmu. Kenapa puteri keluarga Kim jauh-jauh kemari mencarimu, padahal perjaka yang mencintainya sudah di depan mata."
Nyo Hoa juga tidak tahan lagi, segera dia mendorong pintu melangkah keluar, tampak di tengah pekarangan berdiri seorang lelaki brewok, wajahnya merah, tampangnya kasar, matanya bercahaya, usianya sekitar enampuluhan, namun tampak gagah.
Nyo Hoa berkata.
"Lo-siansing, jangan kau sembarangan mengoceh, aku... aku dengan nona Kim blak-blakan...."
Kakek brewok itu tertawa terbahak-bahak.
"Blak-blakan apa, kulihat kau bocah ini seperti katak buduk ingin makan daging bangau, tahu gadis ini puteri Kim tayhiap entah dengan cara apa engkau me-meletnya"
Tertusuk perasaan Nyo Hoa mendengar tuduhan semena-mena ini, segera dia cabut pedang katanya.
"Berani mengoceh lagi, aku...."
Sekenanya tangannya terayun, di mana sinar pedang menyambar, dalam pekarangan ada sepucuk pohon kecil dengan delapan dahan-dahannya yang bercabang, seluruhnya ditabasnya roboh sekaligus.
Walau amat marah, namun dia berusaha menggertak takut si kakek supaya mundur teratur.
Kakek brewok itu bersuara heran, katanya, Ternyata kau bocah ini pandai main pedang, jurus Sian-tian-kiam-hoat barusan memang lumayan, entah bagaimana kepandaianmu yang sejati?
Baiklah, bila kau mampu melawan tiga jurus setanganku, aku tidak akan memakimu katak buduk lagi,"
Di saat mengucapkan katak buduk lagi mendadak sinar kemilau menyilaukan mata, golok cepatnya ternyata sudah membelah wajah Nyo Hoa.
Bacokan golok ini cepat lagi keras, sedikit lebih cepat dari pedang kilat Nyo Hoa sendiri.
Karuan Nyo Hoa tercekat hatinya, dia tahu malam ini dirinya berhadapan dengan lawan tangguh.
"Trang", gema suaranya mendengung cukup lama di udara. Telapak tangan Nyo Hoa kesemutan, hampir saja pedang terlepas. Sebat sekali dia gunakan Ih-sing-hoan-wi, meminjam daya pental dari benturan tadi, tajam pedangnya mendadak berputar, balik dia lancarkan jurus serangan yang mirip Tiap-jiu-hu-ceng. Kakek tua ini seorang ahli, walau belum tahu di mana letak kehebatan Bu-beng-kiam-hoat, namun dia sudah tahu bahwa jurus ini mengandung gertakan yang berisi, ternyata dia tidak mudah ditipu, tangkas sekali dia sudah membacok miring membabat pundak kiri Nyo Hoa. Bila dia menangkis atau balas menyerang berhadapan, pasti terjebak oleh gerakan Nyo Hoa, namun sergapan ke titik lemah di badan lawan justru memaksa lawan menyelamatkan diri sendiri sebelum melukai dirinya, Nyo Hoa memang mengubah serangan.
"Sret"
Kembali pedangnya menusuk dari arah yang tidak terduga oleh si kakek, serangan dibalas serangan untuk mematahkan serangan lawan.
Kakek itu berseru memuji.
Selama puluhan tahun golok cepatnya belum pernah ketemu tandingan kini mendadak berhadapan dengan Nyo Hoa yang memiliki kepandaian setaraf, maka berkobar semangatnya, segera dia lawan Nyo Hoa dengan serangan kilat, golok diputar sekencang baling-baling, rangsakannya seperti hujan badai yang bergelombang besar, begitu bernafsu sehingga lupa akan ucapannya sendiri.
Lwekang kakek ini lebih unggul, ilmu goloknya lebih cepat, namun permainan pedang Nyo Hoa banyak ragamnya, menakjubkan dan membuat pandangan kabur.
Dalam hal ini lawan jelas bukan tandingannya Kedua pihak punya kelebihan, si kakek sedikit lebih unggul, namun sukar mengalahkan Nyo Hoa.
Dalam pada itu si kakek sedang melancarkan jurus Meh-jan-pathong, cahaya goloknya berpencar ke empat penjuru hingga Nyo Hoa didesaknya mundur dua langkah, bentaknya.
"Apakah kau ini murid Beng Goan-cau?"
Nyo Hoa berteriak gusar.
"Beng Goan-cau barang apa, memangnya setimpal jadi guruku, hmm, aku...,"
Beruntun dia lontarkan tiga jurus serangan pedang. Kakek brewok menyeringai.
"Kau bocah ini memang takabur."
Entah sejak kapan, Kim Bik-ki juga sudah berada di luar, mendadak dia menjengek.
"Tidak tahu malu, sebagai angkatan tua bicara tidak menepati janji. Katanya cukup tiga jurus serangan, mungkin sudah lebih tigaratus jurus."
Kakek brewok sadar seketika, katanya.
"Bocah bagus, nah sambutlah tiga jurus terakhir."
Tiga jurus serangan dilancarkan secara berantai, seperti geledek menyambar hebatnya, mau tidak mau Kim Bik-ki yang menonton juga berkeringat dingin.
Didengarnya benturan keras dari senjata mereka, bayangan pedang sinar golok mendadak sirna bersama.
Dengan gerakan Ui-hoa-tiong-siau (Burung bangau melambung ke udara) Nyo Hoa melejit Setinggi setombak lebih, di tengah udara dia bersalto lalu melayang turun dengan enteng.
Sementara kakek brewok sudah melayang keluar tembok pagar sambil menghela napas, katanya.
"Gelombang belakang sungai mendorong yang di depan, patah tumbuh hilang berganti, tunas-tunas muda memang sudah saatnya bersemi. Hehehe, kau bukan katak buduk, malah aku ini katak dalam perigi. Ai, habislah sudah urusan kalian anak-anak muda, malas aku mengurusnya lagi. Hadiah arak dari keluarga Kang sebagai comblang juga tidak akan kuterima."
Wajah merah jantung berdebar, Kim Bik-ki membatin.
"Agaknya lo-cianpwe ini memang diutus keluarga Kang-supek untuk menjadi comblang?"
Sementara itu perasaan Nyo Hoa masih bergolak, setelah napasnya tenang dia meleletkan lidah, katanya.
"Lihay sekali. Untung dia menyatakan tiga jurus terakhir, bila tiga jurus lagi, mungkin aku sudah terjungkal dan pulang dengan timpang."
Tiba-tiba terasa telapak kakinya kurang beres, lekas Nyo Hoa angkat kakinya, ternyata lapisan paling bawah alas sepatunya terpanas.
Bahwa sepasang sepatunya tinggi rendah berbeda baru sekarang dia sadari.
Bila tabasan goloknya itu terangkat naik satu senti, tapak kaki Nyo Hoa pasti terkena tabasan golok lawan.
Sekian saat Nyo Hoa terlongong, katanya menghela napas.
"Kukira dapat se tanding melawannya, ternyata dia memberi kelonggaran kepadaku."
Pada jurus terakhir, Nyo Hoa insyaf dirinya takkan kuat melawan lagi, maka dia menempuh bahaya melambung tinggi ke udara, dengan menukik dia menusuk sekaligus mematahkan serangan golok lawan.
Kedua pihak bergerak secara kilat, hanya terasa rajam golok lawan menyambar lewat di bawah kakinya, di luar tahunya bahwa lapisan terbawah alas kakinya sudah terpapas hilang, tapi satu hal di luar tahu Nyo Hoa pula, tusukan pedangnya di waktu menukik dari udara tadi juga telah menusuk lengan baju kakek brewok.
Maka dia pun menduga -Nyo Hoa memberi kelonggaran kepadanya, maka sebelum berlalu dia menghela napas panjang.
Merah muka Kim Bik-ki, katanya mendekat.
"Nyo-toako, jangan kau ambil hati ocehan kakek itu."
Nyo Hoa tertawa getir, katanya.
"Aku pantas diberi peringatan, aku memang tidak tahu diri. Padahal cianpwe itu berilmu tinggi, dia bilang adalah teman ayahmu, kukira tidak bohong. Tapi entah siapa dia sebenarnya?"
Pemilik hotel juga mendengar keributan, sambil kucek-kucek mata dia berlari keluar, katanya.
"Nona Kim, aku teringat, melihat tampang dan permainan goloknya mungkin dia itulah Utti Keng."
"Siapa itu Utti Keng?"
Tanya Nyo Hoa.
"Masa Koan-tang Tayhiap Uttti Keng kau tidak tahu?"
"Li-toasiok, kembalilah tidur. Biar aku yang jelaskan kepadanya."
Setiba di kamar, Kim Bik-ki meneguk arak, katanya dengan tertawa kecut.
"Kali ini benar-benar bersalah, kukira dia hanya membual, siapa nyana dia betul-betul angkatan tuaku, lapi salahnya sendiri tua-tua cerewet memancing amarahku."
"Utti Keng berjuluk Koan-tang Tayhiap, pastilah dia pendekar besar dari golongan ksatria?"
"Semula Utti Keng adalah berandal kuda di Koan-tang, waktu muda malang melintang di Kangou w, khusus beroperasi terhadap para pembesar jahat dan korup. Belakangan dia kenal Kang-supek, sejak itu mereka jadi sahabat baik, selanjutnya dia pun tidak melakukan kejahatan lagi, terkenal sebagai pendekar besar yang sejati."
"Ayahku, Beng Goan-cau dan lain-lain usianya lebih muda dibanding Utti Keng, belakangan mereka pun jadi sahabat baik Belasan tahun yang lalu pernah mereka membuat gempar kota raja, karena mencuri kado ulang tahun Sat hok-ting, kepala pasukan bayangkari yang paling berkuasa di istana, sayang waktu itu aku baru berusia lima tahun, tidak bisa ikut dalam gerakan besar itu, betapa gagah perwira perjuangan mereka dahulu, aku hanya bisa mendengar dari cerita ayah. Setelah peristiwa itu Utti Keng kembali ke Koan-tang, selama belasan tahun tidak datang ke Tionggoan, maka selamanya belum pernah aku bertemu dengan paman Utti Keng ini."
"Istri Utti Keng adalah pendekar perempuan yang kenamaan juga di Kangouw, dia bernama Ji Seng-in bergelar Jian-jiu-koan-un. Konon kepandaian amgi-nya dapat menandingi keluarga Tong dari Sujwan, bukan mustahil sekarang nomor satu juga di jagat Kecuali amgi, ilmu ruyungnya juga hebat sekali. Ibuku pernah bertanding beberapa kali dengan dia, saling ukur sehingga ilmu ruyung kedua pihak makin sempurna. Ilmu ruyung yang diajarkan ibu kepadaku, tidak sedikit di antaranya diperoleh dari meniru permainan ruyung Ji Seng-in itu."
Sampai di sini dia tertawa getir.
"Maka kalau diurutkan, walau aku belum pernah bertemu dengan paman Utti ini, dia masih terhitung setengah guruku."
"Kalau dibicarakan, lagi-lagi aku yang sial. Beberapa hari yang lalu, tanpa sebab aku terpaksa harus berkelahi dengan engkoh-mu, malam ini berkelahi pula dengan locianpwe ini. Dua kati aku dicaci mereka tanpa alasan."
Kim Bik-ki tunduk, katanya perlahan.
"Ya, akulah yang menjadi gara-gara."
"Untung locianpwe itu tidak banyak rewel, sebelum pergi bukankah dia telah bilang tidak mau mencampuri urusan kita?"
Merah muka Kim Bik-ki, katanya.
"Walau dia tidak mencampuri urusan kita, tapi aku tidak bisa menemani kau naik gunung."
"Kenapa?"
Tanya Nyo Hoa heran. Merah lagi muka Kim Bik-ki, katanya.
"Utti Keng muncul di sini, jelas pasti akan bergabung dengan laskar gerilya, di sana banyak sahabatnya. Memangnya hal ini tidak bisa kau pahami?"
Nyo Hoa memang kurang pergaulan namun tidak goblok, bahwa engkoh-nya sudah salah paham, kini Utti Keng juga salah paham, mereka menyangka dirinya juga main cinta dengan Kim Bik-ki, apa pun susah dia membela diri.
Kini Kim Bik-ki tidak mau seperjalanan, jelas untuk menghindari omongan iseng orang-orang yang suka Usil mulut, di samping rikuh berhadapan dengan Utti Keng.
Maklum akan maksud hati Kim Bik-ki, Nyo Hoa merasa rikuh juga.
"Nyo toako,"
Kata Kim Bik-ki lembut.
"Kau tidak salahkan aku bukan?"
"Kenapa aku salahkan kau, kau sudi anggap aku sebagai teman, banyak memberi tahu persoalan yang belum pernah kutahu, aku harus berterima kasih kepadamu. Baiklah aku akan menempuh perjalanan sendiri."
"Bagaimana menurut pendapat-mu tentang ilmu golok Utti Keng?"
Nyo Hoa melengak, selekas ini dia membelokkan pembicaraan, katanya sesaat kemudian.
"Bukankah tadi sudah kujelaskan, ilmu goloknya teramat lihay, jikalau tidak memberi kelonggaran kepadaku, sekarang aku sudah timpang."
"Kenapa kau malah sungkan kepadanya menurut pendapatku ilmu pedangmu tidak kalah dibanding ilmu goloknya. Tapi lwekangnya lebih tinggi, untuk mengalahkan dia yakin kau masih mampu. Apakah adil uraianku?"
"Kurang adil, kau agak membela aku. Mana aku mampu mengalahkan dia bila diteruskan jelas aku pasti kalah."
"Biarlah kuberi tahu satu kejadian kepadamu. Duapuluh tahun yang lalu ilmu golok Utti Keng diagulkan tiada tandingan di seluruh dunia. Belakangan Beng Goan-cau Beng tayhiap angkat nama dengan ilmu golok cepatnya Kemudian di Kangouw nama besarnya sejajar dengan Utti Keng. Tapi sekarang usia Utti Keng sudah lebih enam-puluh, sementara Beng Goan-cau di saat-saat gagahnya, permainan goloknya tentu lebih cepat dari Utti Keng. Pernah suatu ketika ayah berbincang-bincang tentang orang-orang gagah di seluruh kolong langit ini dengan Le-pangcu, mereka beranggapan untuk gelar "raja golok"
Jaman ini, kemungkinan besar harus diserahkan Utti Keng pada Beng Goan-cau."
Nyo Hoa diam saja. Kim Bik-ki tidak tahan sabar, akhirnya dia bicara biak-biakan.
"Kau sudah membuktikan kehebatan ilmu golok Utti Keng, Beng Goan-cau lebih lihay dari Utti Keng, apakah kau masih tetap mau menuntut balas kepada Beng Goan-cau?"
Nyo Hoa kertak gigi, katanya "Permusuhanku dengan Beng Goancau tak mungkin didamaikan.. Meski bukan tandingannya, tetap akan kulabrak dia"
Kim Bik-ki mengerut alis, katanya "Sungguh aku tidak habis mengerti, kau tidak mengenalnya, kenapa bisa bermusuhan dan membencinya sedemikian rupa?"
"Maaf, urusan pribadiku sekarang belum bisa kujelaskan, mungkin kelak akan kututurkan kepadamu. Bukan maksudku harus membunuhnya tapi ada satu persoalan, harus ku bikin terang duduk perkaranya Rasa penasaranku juga harus kulampiaskan pada dirinya. Meski aku harus menjadi korban golok cepatnya"
Melihat betapa teguh tekad Nyo Hoa Kim Bik-ki tidak enak terlalu mendesak, katanya "Baiklah, aku tidak akan merintangimu tapi aku akan berangkat lebih dulu."
"Baiklah, kau berangkat dulu."
"Kau tak usah terburu nafsu, ini kuberikan kepadamu."
Dia menyerahkan selembar peta.
"Nyo-toako. aku berjanji menjadi penunjuk jalanmu, sekarang aku tak bisa temani kau, maka kubuatkan peta ini sebagai gantiku. Kau berjalan sesuai petunjuk dalam peta ini pasti dapat menemukan laskar gerilya"
Nyo Hoa ulur tangan menerima batinnya "Ternyata sudah dipersiapkan sebelumnya umpama tidak terjadi salah paham dengan Utti Keng dia juga tidak akan temani aku ke atas gunung."
Kim Bik-ki berkata pula.
"Satu hal lagi perlu aku minta maaf kepadamu. Kuda putih itu sepantasnya kuberikan kepadamu, tapi aku ingin bertemu lebih dulu dengan Leng-pcpek dan Siau-pepek sebelum Utti Keng tiba di sana, terpaksa kupin-jam dulu. Li-toasiok akan kusuruh menyiapkan kuda lain untukmu."
"Aku tidak perlu naik kuda. Kuda itu hasil rampasan kita bersama, kenapa harus menggunakan istilah pinjam segala."
Kim Bik-ki sudah beranjak keluar, di ambang pintu dia berhenti dan menoleh, tanyanya.
"Nyo-toako apa betul kau tidak marah padaku?"
"Persahabatan sejari mengutamakan tahu sama tahu, aku sudah tahu kau betul-betul anggap aku sebagai sahabatmu, bagaimanapun sikapmu terhadapku, aku tidak akan marah. Aku hanya ingin tahu, beberapa hari lagi apakah aku bisa bertemu lagi dengan kau?"
"Aku tidak ingin bertemu dengan Utti Keng, setelah aku memberi laporan tugasku ke Siau-kim-jwan kepada Leng-pepek, aku akan segera meninggalkan tempat ini Semoga kita masih ada kesempatan bertemu."
"Kau pulang ke rumah tidak?"
Tanya Nyo Hoa.
"Aku juga tidak tahu ke mana aku akan pergi. Pulang ke rumah sudah pasti, tapi bukan sekarang."
"Kalau demikian mungkin tiada kesempatan kita berkumpul lagi."
"Beginilah kehidupan manusia, rembulan pun tidak abadi, marilah kita doakan saja, kapan ada kesempatan pasti akan bersua kembali."
Akhir katanya diucapkan dengan nada sendu, betapa pilu hatinya jelas lebih sedih dari Nyo Hoa.
Nyo Hoa sendiri pun merasa.
Lama Nyo Hoa berdiri termangu di tempatnya, bayangannya sudah tidak kelihatan, didengarnya ringkik kuda yang berlari kencang ke luar kota, entah berapa lama kemudian Nyo Hoa menarik napas serta menggumam.
"Ai, aku pun harus segera berangkat" ---ooo-dw-ooo---DUA hari kemudian Nyo Hoa sudah berada di pedalaman Jik-tatbok. Di atas pegunungan yang hijau permai ini, perasaannya senang dan hambar. Dua hari dia menjelajahi hutan belantara, beranjak di pegunungan yang tertutup salju, tiada seorang pun yang pernah dilihatnya. Diam-diam dia heran, kenapa selama ini tidak pernah dilihatnya seorang laskar gerilya? Namun Nyo Hoa tidak putus asa, karena dia yakin dirinya tidak tersesat karena berjalan sesuai petunjuk peta. Puluhan li telah ditempuhnya, waktu Nyo Hoa memasuki hutan, ditemukan olehnya sebuah air terjun yang cukup besar. Nyo Hoa langsung menuju ke bawah air terjun, segera dia cuci kaki tangan dan membasuh muka meneguk air dingin, sehingga badan terasa segar. Akhirnya dia duduk di atas sebuah batu beristirahat. Tiba-tiba didengarnya alunan irama seruling yang lembut terbawa angin lalu, semula masih jauh, lama kelamaan makin jelas dan dekat. Gemuruh air terjun ternyata tidak mampu menelan irama seruling yang merdu itu. Nyo Hoa kaget, bukan kaget akan I wekang peniup seruling yang tinggi, namun dia rasa lagu itu seperti pernah didengarnya entah di mana. Lagu itu memang begitu mengasyikkan sehingga Nyo Hoa duduk terlongong mengenang masa lalu. Waktu dirinya berusia tujuh tahun, Song Theng-siau merebut dirinya dari tangan Nyotoakoh, membawa, dirinya ke Kanglam, katanya mencari ibunya. Song Theng-siau senang meniup seruling, bukan sekali dua dia meniup lagu yang merdu ini dengan serulingnya. Suara seruling makin dekat, didengarnya seorang perempuan sambil bertepuk bersenandung mengiringi tiupan lagu Song Thengsiau. Nyo Hoa tidak kenal musik, namun dia dapat merasakan gejolak perasaan yang terkandung dalam lagu itu. Suara seruling mendadak berhenti, suara seorang perempuan berkata.
"Siau-ko, apa kau masih merindukan Se-ouw?"
Nyo Hoa sembunyi di belakang batu mengintip ke atas, dilihatnya yang muncul dua orang laki dan perempuan, setiba di pinggir air terjun duduk sejajar di atas batu.
Lelaki setengah baya itu masih dikenalnya baik memang betul Song Theng-siau.
Nyo Hoa berpikir.
"Perempuan itu tentu istrinya."
Dugaannya memang benar, perempuan itu adalah istri Song Theng-siau, yaitu Lu Su-bi. Song Theng-siau menghela napas, katanya.
"Ya, hitung-hitung sudah duabelas tahun aku tidak pulang. Aku jadi rindu kampung halaman."
"Toako, kukira kau bukan rindu kampung halaman, tapi mengenang sahabat lama."
"Betul juga, bila mengenang kampung halaman, maka terbayang kejadian duapuluh tahun yang lalu waktu aku bersama Goan-cau dan Ci-lo bertamasya di Se-ouw, kau tidak marah?"
Melonjak jantung Nyo Hoa.
"Ci-lo? Bukankah itu nama ibu?"
Lu Su-bi menghela napas, katanya.
"Aku pun selalu terkenang kepada Hun-cici, ai, pusaranya di Siau-kim-jwan entah tetap utuh tidak, tahun ini jelas kita tak bisa sembahyang di kuburannya."
"Kau tak usah khawatir, Goan-cau sudah menugaskan orang untuk merawat kuburan itu. Apalagi tetak kuburan itu juga susah ditemukan orang."
"Aku jadi khawatir kepada Beng-suko, Hun-cici sudah meninggal sekian tahun, kesedihannya masih belum pudar. Kalau kita tetap mengenang persahabatan lama, tapi Beng-suko seperti kehilangan separo hidupnya."
"Tak perlu dibuat heran kalau Beng-toako teramat sedih, kau tidak tahu betapa suci murni cinta mereka dahulu..."
"Siapa bilang aku tidak tahu? Aku sendiri juga ikat sedih bagi Beng-suko, ai, takdir memang mempermainkan manusia.-"
"Sebenarnya mereka bisa terang-kap menjadi suami istri, namun waktu Ci-lo tiba di Siau-kim-jwari, sengaja dia tidak memberi tahu kepada Beng-toako."
"Waktu itu Beng-suko sudah didampingi adik Bu-siang. aku maklum perasaan Hun-cici, dia rela berkorban demi kebahagiaan orang lain."
Sampai di sini dia tertawa paksa, Tapi adik Bu-siang juga patut dipuji, sejak menikah dengan Beng-suko sebetulnya hidup mereka cukup bahagia"
Cukup lama mereka berdiam, duduk terlongong mengawasi air terjun, akhirnya Song Theng-siau meniup serulingnya pula "Sayang Beng-suko tidak di sini, masih segar dalam ingatanku waktu kita berada di Siau-kim-jwari, sering dia mendengarkan kau meniup seruling di bawah pohon."
Song Theng-siau menghela napas, katanya.
"Kejadian masa lalu tak perlu dibicarakan lagi. Justru aku khawatir Beng-toako bersedih, maka tak berani meniup seruling di depannya."
Nyo Hoa sembunyi di belakang batu di bawah air terjun mencuri dengar percakapan mereka, hatinya seperti ditusuk sembilu. Pikirnya.
"Apa benar ibu pernah melakukan sesuatu yang memalukan dengan Beng Goan-cau? Tidak mungkin, yang salah mungkin Beng Goan-cau, ibu terbujuk oleh mulut manisnya""
Karena diburu perasaan tanpa sadar Nyo Hoa bergerak mengeluarkan suara
"Siapa di bawah?"
Mendadak Song Theng-siau membentak.
Nyo Hoa berdiri, mengitari air terjun terus beranjak ke lereng bukit.
Setelah berpisah duabelasan tahun lebih, Song Theng-siau sekarang sudah setengah baya, raut mukanya tidak banyak berubah.
Tapi bocah berusia tujuh tahun seperti Nyo Hoa sekarang sudah menjadi remaja berusia delapanbelas tahun, sudah tentu Song Theng-siau tidak mengenalinya.
Melihat pemuda yang tidak dikenalnya, dandanannya bukan penduduk setempat, jelas datang dari luar daerah, maka timbul curiga Song Theng-siau, bentaknya.
"Siapa kau? Kenapa berada di sini?"
Perasaan Nyo Hoa ruwet, waktu kecil Song Theng-siau teramat baik terhadap dirinya, hal ini cukup mengharukan dirinya.
Tapi hasutan Nyo Bok sudah berakar dalam sanubarinya, maka kesannya terhadap Song Theng-siau agak jelek, maka dia berdiri tegak sambil balas melotot "Eh, kenapa tidak kau jawab pertanyaanku?
Kenapa kau melotot kepadaku?"
"Kau siapa, untuk apa di sini?"
Dengan nada sama Nyo Hoa balas bertanya "He, aku yang tanya kau atau kau yang tanya aku?"
"Memangnya kau saja yang bisa tanya kepadaku?"
"Toako, jangan terburu nafsu,"
Segera Lu Su-bi menimbrung. Lalu dia berpaling, katanya lembut.
"Kami suami istri tinggal di sini. Engkoh cilik, kelihatannya kau datang dari luar daerah, jarang orang kemari, maka aku ingin tanya kau."
Ternyata Nyo Hoa tetap membisu, tidak menjawab malah bertanya.
"Berapa lama kalian tinggal di sini?"
"Untuk apa kau tanya hal ini?"
Song Theng-siau naik pitam.
"Kau memang tinggal di sini, tapi sebetulnya pindah kemari dari tempat lain, betul?"
"Ya, memang betul, kenapa?"
"Tidak apa-apa. Sama-sama orang luar, kalau kau boleh pindah kemari, kenapa aku tidak boleh?"
"Coba kau perkenalkan she dan namamu, bolehkan?"
Tanya Lu Su-bi. Akhirnya dia merasa curiga juga.
"Aku tidak pingjn berkenalan dengan kalian, kenapa aku harus beri tahu siapa namaku?"
"Memangnya aku ingin berkenalan dengan siapa?"
Desak Song Theng-siau, air mukanya sudah masam. Ternyata sikap Nyo Hoa lebih .kasar, jengeknya.
"Kau tidak usah peduli."
Mata melirik, kaki maju beberapa langkah.
"Berdiri!"
Hardik Song Theng-siau.
"Apa kehendakmu?"
Sinis suara Nyo Hoa "Kalau tidak kau jawab pertanyaanku, terpaksa aku memaksamu."
"Orang berjalan juga kau urus, apa tidak keterlaluan?"
"Jangan cerewet! Kau keluyuran di sini, apa kerjamu? Lekas katakan!"
"Baiklah, belum pernah aku ketemu orang yang tidak tahu aturan macammu ini, memangnya aku boleh dipermainkan? Mau berkelahi? Hayolah maju."
Jengkel juga geli hati Song Theng-siau; katanya.
"Anak muda, jadi kau kemari ingin berkelahi dengan orang. Sungguh tidak tahu diri. Kemarilah."
Sekali lompat dia menghadang di depan Nyo Hoa sambil ulur tangan mencengkeram. Lekas Lu Su-bi berseru.
"Mungkin bocah linglung, toako jangan kau melukai dia."
"Aku tahu,"
Sahut Song Theng-siau. Sembari bicara kelima jarinya kembali mencengkeram tulang pundak Nyo Hoa maksudnya mau mencoba apakah anak muda ini pandai silat Ternyata Nyo Hoa malah mengejeknya.
"Kau mau menggaruk pundakku yang gatal?"
Mendadak dia turunkan pundak, menghindar sambil balas menyerang, jarinya meno-tok urat nadi lawan.
Mimpi pun Song Theng-siau tidak menduga pemuda kampungan yang kelihatan linglung ini ternyata bergerak lincah dan cekatan.
Lekas dia menarik tangan lalu mendesak maju dengan Siau-kim-najiu, dalam jarak dekat dia balas mencengkeram pergelangan tangan Nyo Hoa Tapi Ngo Hoa melintangkan telapak tangan, membabat miring ke bawah, jurus ini dinamakan Heng-hun-toan-hong, permainan keras lawan keras.
"Plak"
Dua telapak tangan beradu, Song Theng-siau menyurut tiga langkah, Nyo Hoa hanya tergeliat saja.
Sebetulnya lwekang Song Theng-siau lebih unggul, soalnya dia tidak menduga Nyo Hoa memiliki kungfu tinggi, maka tenaga yang dikerahkan hanya dua bagian saja, apalagi dia khawatir melukai Nyo Hoa Siapa nyana dirinya kecundang malah, untung dia tidak bermaksud melukai Nyo Hoa kalau tidak, tulang pergelangannya pasti tertabas putus oleh telapak tangan Nyo Hoa Karuan Lu Su-bi terperanjat, teriaknya "Toako, kau tidak apa-apa?
Orang ini memang mencurigakan, tak usah kau menaruh belas kasihan."
"Memangnya mencurigakan, bocah ini pasti mata-mata kerajaan. Jangan khawatir, anak muda masih hijau pelonco begini masa aku tidak mampu menghadapi?"
Karena mengalami kerugian maka Song Theng-siau tidak sungkan lagi, serangan mulai dilancarkan, dengan telapak tangan atau totokan jari sekaligus Nyo Hoa dicecarnya belasan jurus.
Nyo Hoa melawan dengan mantap, jari sebagai pedang, telapak tangan seumpama golok; menusuk, mengiris atau menabas, membelah atau membacok, gerak-geriknya serba beraneka ragam.
Padahal Song Theng-siau terhitung ahli silat juga namun tak mampu dia meraba permainan silatnya dari aliran mana karuan hatinya tercekat.
Kini kedua pihak serang menyerang dengan gencar, ternyata Nyo Hoa tetap dapat melayani.
Nyo Hoa pandai memilih sasaran, menghindar serangan telak menyerang kekosongan lawan, sengaja dia tidak mengadu tenaga.
Song Theng-siau yakin kemampuan dirinya lebih tinggi, namun sungguh aneh, ternyata dia menjadi bingung sendiri karena tidak mampu merobohkan anak muda ini, perasaannya .
semakin kacau.
Lekas sekali tujuhpuiuh jurus telah berselang.
Song Theng-siau berwatak angkuh, walau di tempat ini tiada orang lain, hanya istrinya seorang yang menyaksikan pertempuran ini, namun hampir seratus jurus tetap tak mampu merobohkan bocah ini, hal ini dipandangnya sebagai kejadian yang memalukan.
Karena diburu nafsu, tiba-tiba dia gunakan serangan lihay yang berbahaya.
Kedua telapak tangannya menari-nari, dengan suatu putaran mendadak melompat maju ke dalam lingkaran, jurus ini dinamakan Sam-hoan-tou-gwat, maksudnya memaksa Nyo Hoa untuk menyambut serangan ini secara keras.
Song Theng-siau kira tenaga sendiri lebih kuat, di luar tahunya dia justru terjebak oleh Nyo Hoa "Biang"
Kali ini Nyo Hoa tergen-tak tiga langkah.
Tapi Song Theng-siau yang masih berdiri di tempatnya, mendadak merasa lutut lemah, tanpa kuasa tubuhnya ambruk ke depan.
Untung dia cukup sigap, begitu siku menyentuh tanah, badannya sudah mencelat berdiri lagi, terlambat sedikit pasti dia harus terguling mencium tanah.
Ternyata dalam detik-detik yang menentukan tadi, Nyo Hoa sudah berhasil menotok Hoan-tiau-hiat di lututnya walau dia sendiri terpukul mundur oleh kekuatan tangan lawan.
Bahwa Song Theng-siau seketika dapat mencelat berdiri, mau tidak mau Nyo Hoa kagum juga Maklum totokannya tadi bukan serangan biasa, orang biasa takkan mudah membebaskan diri seperti itu.
Nyo Hoa sendiri percaya dirinya takkan mampu berbuat demikian.
Mendapat angin Nyo Hoa tidak memberi kelonggaran, segera dia menjengek dingin.
"Tangan kosong jelas kau bukan tandinganku, keluarkan senjatamu."
Dia sengaja memancing kemarahan, di samping ingin mencoba ilmu pedang Song Theng-siau.
Dia tahu Song Theng-siau sejajar dengan Beng Goan-cau, dari taraf ilmu pedang Song Theng-siau dia harap dapat mengukur kepandaian Beng Goan-cau; kelak bila berhadapan sudah punya bekal untuk mengalahkan.
Sudah tentu Song Theng-siau naik pitam.
"Sret"
Dia lolos pedang sambil membentak.
"Bocah sombong, lihat serangan!"
Dalam adu pukulan tadi sebetulnya sama kuat.
Tapi sebagai orang ternama dia segan berdebat dengan Nyo Hoa.
Maka rasa penasarannya ingin dia lampiaskan dalam permainan pedang.
Bila ujung pedang lawan sudah tiba di depan mukanya, baru mendadak Nyo Hoa balas menyerang.
Jurus ini mirip Jun-hun-ka-kacan, pedangnya terayun keluar, ternyata bergerak belakangan tiba lebih dulu, menghindar sambil balas menyerang, bukan saja telak, temponya juga persis, sungguh menakjubkan.
Song Theng-siau kaget.
"Ilmu pedang apakah ini?"
Sekaligus Nyo Hoa menyerang delapan jurus.
Mulai jurus Tiapjui-hu-ceng dari Siong-san-kiam-hoat sampai jurus Ciu-hun-tohbeng dari Bu-tong-pay, tak lupa diselingi pula ilmu pedang dari Thian-san-pay, Heng-san-pay dan Siau-lim-pay, setiap jurus hanya mirip saja, selalu menyerang dari sudut yang tak terduga oleh Song theng-siau.
Memang tidak malu Song Theng-siau diagulkan sebagai ahli pedang, walau tidak tahu di mana letak kehebatan Bu-beng-kiamhoat, tapi dia tidak gugup atau kerepotan.
Tampak dia membalik pedang mundur delapan langkah, setiap langkah mundur mematahkan sejurus serangan Nyo Hoa, sekaligus mengen-dorkan rangsakan lawan.
Betapapun Song Theng-siau termasuk salah satu ahli pedang yang ternama pada jaman itu, semula dia yang menyerang dulu, kini berbalik dirinya yang terdesak, betapapun dia merasa kalau Song Theng-siau merasa malu, maka Nyo Hoa pun membatin.
"Pertahanannya serapat ini, setanganku tak bisa masuk. Bila bertempur berkepanjangan aku pasti bukan tandingannya, aku harus lekas menghentikan pertempuran."
Tengah berhantam sengit, mendadak Song Theng-siau menerobos rriinggir ke samping seraya membentak.
"Siapa itu yang datang?"
Lekas Nyo Hoa menoleh, dilihatnya seorang lelaki berpakaian suku Biau sedang muncul di lereng bukit Laki-laki ini bukan lain adalah iblis besar Yang Kek-beng, musuh besar sam-suhu-nya Tan Khu-scng, yang pernah dua kali meluruk ke Ciok-lin.
Belum lenyap rasa kaget Nyo Hoa, dilihatnya di belakang Yang Kek-beng muncul pula satu orang, seorang nyonya pertengahan umur.
Lebih kejut hati Nyo Hoa melihat perempuan ini karena dia bukan lain adalah taci Nyo Bok yaitu Lak-jiu-koan-im Nyo-toakoh, sejak kecil Nyo Hoa sudah takut kepada perempuan galak ini.
Yang Kek-beng bergelak tawa, katanya.
"Kukira berapa hebat kepandaian Song Theng-siau yang sejajar dengan Beng Goan-cau, ternyata juga begini saja, masa melawan bocah ingusan juga dikalahkan."
Di belakangnya Nyo-toakoh juga tarik suara.
"Song Theng-siau, kau merebut keponakanku, sekarang kembalikan kepadaku."
Waktu Song Theng-siau melompat ke pinggir, Nyo Hoa sengaja gentayangan, sekalian dia mencomot tanah diusapkan ke muka sendiri, sekalian dia mundur ke bawah pohon pura-pura mengatur napas, keadaannya seperti amat payah.
Padahal tanpa dia mengotori muka sendiri, Nyo-toakoh pasti tidak akan mengenalnya lagi, bahwa pemuda yang bergebrak dengan Song Theng-siau adalah keponakannya Dua tahun yang lalu Yang Kek-beng pernah melihatnya, bila dia mau memperhatikan mungkin masih mengenalnya, namun dia hanya heran dari mana datangnya pemuda berkepandaian tinggi ini, dapat menandingi Song Thengsiau, dia juga tidak mengenali Nyo Hoa Hanya Song Theng-siau yang tahu bahwa sedikitnya Nyo Hoa masih mampu melawannya ratusan jurus lagi, bahwa Nyo Hoa menyingkir ke samping juga di luar dugaannya.
Semula dia khawatir pendatang ini bala bantuan Nyo Hoa, maka sekarang dia membatin.
"Apakah aku salah lihat pemuda ini bukan cakar alap-alap?"
Demikian batin Song Theng-siau. Setelah menghela napas lega Song Theng-siau tertawa dingin, katanya.
"Nyo Hoa bukan keponakanmu."
Nyo-toakoh berjingkrak gusar, serunya.
"Omong kosong, Hun Cilo sundal itu meski sudah kuusir dari keluarga Nyo. anaknya tetap adalah darah daging keluarga Nyo kami. Hun Ci-lo boleh tidak kuakui sebagai istri adikku, tapi Nyo Hoa tetap adalah keponakanku,"
Song Theng-siau tidak ingin banyak mulut, katanya.
"Umpama betul Nyo Hoa adalah keponakanmu, sepantasnya kau menuntut kepada Toan Siu-si. Memangnya kau tidak tahu sejak lama dia sudah menjadi murid Tiam-jong-siang-sal?"
"Kau yang menjadi gara-gara perkara ini, kau pula yang merebut keponakanku dari tanganku, aku hanya tahu menuntut kepadamu."
"Memang aku juga ingin tanya jejak bocah itu kepadamu. Orang she Yang, kau pernah meluruk ke Ciok-lin mencari seton dengan Toan Siu-si, kau kira aku tidak tahu? Bagaimana keadaan Toan Siusi? Apakah Nyo Hoa sudah kau culik? Lekas katakan!"
"Pemusuhanku dengan Toan Siu-si ada sangkut paut apa denganmu? Kenapa kau mencampuri urusanku, memangnya aku takut? Bocah itu tidak berguna untukku."
"Keponakanku tidak karuan jejaknya, kepadamu aku menuntut supaya dia diserahkan,"
Demikian bentak Nyo-toakoh. Song Theng-siau tahu, menuntut keponakan hanya alasan untuk mencari perkara kepadanya, karuan Song Theng-siau amat marah, katanya.
"Kau memangnya tidak punya otak? Orangnya tidak ada, kalau mau membuat perhitungan boleh maju."
"Baik, memang aku ingin membuat perhitungan dengan kau,"
Jengek Nyo-toakoh. Kedua pihak sudah siap berhantam, tiba-tiba Yang Kek-beng melompat maju, katanya.
"Nyo-toakoh, yang akan kau bereskan perhitungan lama, boleh ditunda beberapa kejap lagi, Song tayhiap menyalahkan aku berbuat dosa terhadap temannya, biarlah aku membuat perhitungan dengan dia lebih dulu."
Sepuluh tahun yang lalu Nyo-toakoh pernah dikalahkan Song Theng-siau, meski sekarang dia sudah berhasil meyakinkan Kimkong-liok-yang-jiu, dia tidak yakin dapat mengalahkan lawan, maka dia berkata.
"Pertikaian lama atau permusuhan baru sama-sama harus dibereskan. Untung, kita berdua mereka suami istri juga berdua, dua lawan dua kan cukup adil, biarlah perhitungan samasama dibereskan."
Lu Su-bi tidak mau kalah angin, serunya.
"Baik, laki lawan laki, perempuan lawan perempuan. Aku memang ingin mencoba sampai di mana kepandaian Lak-jiu-koan-im."
"Mau coba kepandaian boleh $aja, kau sumoay Beng Goan-cau, istri Song Theng-siau, kungfumu tentu tidak lemah, biar aku melawanmu.
"Yang Kek-beng,"
Bentak Song Theng-siau.
"silakan maju."
Yang Kek-beng tergelak-gelak, katanya.
"Song tayhiap, kenapa kau begini sungkan?"
Song Theng-siau kira orang baru akan mulai setelah sekedar berbasa-basi, tak nyana belum habis bicara mendadak "Wut"
Dia lontarkan pukulan Siu-lo-im-sat-kang Yang Kek-beng sudah diyakinkan sampai tingkat ketujuh, begitu pukulan dilontarkan, gelombang dingin segera mendera.
Meski lwekang Song Theng-siau sekarang sudah cukup tangguh, tak urung dia bergidik kedinginan.
Yang Kek-beng kegirangan, dikiranya Song Theng-siau bernama kosong belaka.
Kembali dia lontarkan dua kali pukulan dengan kedua tangan.
Song Theng-siau membentak.
"Diberi tidak membalas kurang hormat, lihat pedang!"
Sinar pedang gemerlap, ternyata gerak pedangnya lebih cepat dari pukulan Yang Kek-beng.
Yang Kek-beng baru melontarkan dua pukulan, dia sudah balas menyerang tiga jurus.
Meski menyerang pertahanan juga kuat, setiap jurus serangannya dilandasi kekuatan yang tersembunyi untuk merangkai sergapan yang lebih lihay, karuan Yang Kek-beng terdesak mundur setombak jauhnya.
Walau badan kedinginan namun Song Theng-siau masih kuat bertahan.
Seketika kuncup lagak Yang Kek-beng, baru sekarang dia sadar ketenaran nama Song Theng-siau memang kenyataan.
Maklum Song Theng-siau sudah bergebrak dengan Nyo Hoa ratusan jurus, tenaga dalamnya terkuras, berarti tenaganya sekarang tidak setangguh semula.
Nyo Hoa menggelendot di dahan pohon, mulutnya menggumam.
"Daripada menjadi pemain lebih baik jadi penonton. Di sini aku bisa menyaksikan adegan-adegan yang ramai dengan santai."
Di samping harus kerahkan lwekang menahan pukulan hawa dingin lawan, Song Theng-siau harus curahkan perhatiannya melawan serangan musuh, sudah tentu lama kelamaan keadaannya makin terdesak.
Di babak lain Lu Su-bi berhantam dengan Nyo-toakoh, keadaannya ternyata juga cukup gawat.
Kim-kong-lak-yang-jiu adalah ilmu pukulan warisan keluarga Nyo, pukulan keras dan bertenaga besar, cukup terkenal di Bulim, setiap jurus pukulannya mengandung enam gerak variasi disertai perubahan-perubahan yang menakjubkan.
Umumnya pukulan keras yang memerlukan tenaga kasar tidak sesuai dipelajari kaum hawa, namun Nyo-toakoh ternyata mampu mengubah ilmu pukulan ini menjadi aliran lain dengan tambahantambahan yang lebih sesuai dipelajari perempuan.
Namanya saja tetap Kim-kong-lak-yang-jiu, namun permainan Nyo-toakoh banyak berbeda dengan ilmu pukulan warisan leluhurnya, permainannya lebih keji dan telengas.
Duabelas tahun yang lalu Kim-kong-lak-yang-jiu yang diyakinkan Nyo-toakoh baru setanding menghadapi ilmu pukulan Hun Ci-lo.
Waktu berhantam dengan Song Theng-siau, meski kalah, paling cuma satu tingkat.
Kini setelah menggembleng diri selama duabelas tahun, Kim-kong-lak-yang-jiu boleh dikata sudah sempurna diyakinkan, maka perbawanya juga jauh lebih hebat dibanding dulu, maka permainannya lebih ganas lagi.
Sepasang golok Lu Su-bi panjang pendek, golok panjang berantai menyerang jarak jauh, golok pendek untuk melindungi badan.
Ilmu goloknya juga warisan keluarga, merupakan aliran tersendiri di Bulim.
Dulu ayahnya mengajar disesuaikan bakat muridnya, Beng Goan-cau suheng-nya mendapat ajaran golok kilat, karena bakatnya maka kepandaiannya ternyata melebihi sang guru hingga belakangan dia menjadi pendekar besar.
Lu Su-bi seorang perempuan, tenaga jauh lebih lemah, sukar dia memainkan golok kilat, namun permainan sepasang goloknya juga cukup baik, dalam pertahanan dia jauh lebih kokoh.
Akan tetapi dibanding Kim-kong-lak-yang-jiu Nyo-toakoh yang diyakinkan puluhan tahun, betapapun masih kalah ulet dan matang.
Untung sepasang goloknya serba lengkap, menyerang atau bertahan sama-sama lihay dan kuat, meski lawan mencecar dengan pukulan dahsyat namun pertahanannya juga sekokoh baja.
Setelah bertempur setengah jam, Song Theng-siau merasa hawa dingin semakin tebal, tanpa kuasa dia menggigil sendiri, giginya pun ber-kerutukan.
Yang Kek-beng kegirangan, serunya tergelak-gelak, uSong-toa-kiamkhek, memangnya kau tidak mau menyerah saja?"
Song Theng-siau berwatak angkuh, sudah tentu murkanya bukan kepalang, namun sedikit pun dia tidak berani lena, apalagi balas mengejek.
Nyo Hoa menggeliat sekali, mendadak dia beranjak ke tengah gelanggang, katanya.
"Lucu, menggelikan."
Lalu dia tertawa terbahak-bahak. Yang Kek-beng kira orang membantu dirinya mengolok-olok lawannya, maka sikapnya makin takabur, serunya.
"Adik cilik, coba kau katakan apanya yang menggelikan?"
"Sungguh menggelikan, kau ini tidak tahu diri,"
Demikian ucap Nyo Hoa kalem. Seperti disiram sebaskom air dingin, seketika muka Yang Kekbeng masam, katanya.
"Aku tidak tahu diri?"
"Dengan bekal kepandaianmu yang tidak seberapa ini, bertanding satu lawan satu, mana kau kuat melawan Song tayhiap?"
Yang Kek-beng membatin.
"Mungkin dia sengaja menyindir?"
Segera dia bergelak tawa, katanya.
"Kau sudah lihat jelas bukan? Baiklah, boleh kau saksikan."
Beruntun dia melontarkan tiga jurus pukulan pula. Siu-lo-im-sat-kang dikerahkan, bukan saja Song Theng-siau diserang hingga mundur, gerak-geriknya pun kelihatan kerepotan. Nyo Hoa berkata dingin.
"Betul, sekarang kau memang lebih unggul sedikit, tapi dalam pertandingan ini kau pihak yang tidak adil."
"Lho, kan bertanding satu lawan satu, kenapa tidak adil?"
Seru Yang Kek-beng.
"Matamu kan belum buta, bukankah tadi kau sudah saksikan dia sudah bertanding dulu dengan aku? Di babak kedua ini jelas kau sudah mengambil keuntungan, masih berani kau bilang adil? Hehehe, aku saja bukan tandingan Song tayhiap, apalagi kau? Jikalau tenaga Song tayhiap belum terkuras olehku, aku yakin kau hanya mampu melawan tigapuluh paling banyak limapuluh jurus."
Melihat sikap dan mendengar nada bicara orang sungguh-sungguh, jelas bukan menyindir lawannya, seketika Yang Kek-beng naik pitam, bentaknya.
"Bocah keparat, jadi kau yakin dapat mengalahkan aku".
"Ah, tidak berani. Jikalau berte. mu lantas berhantam, mungkin kau masih kuat menghadapi aku, sekarang aku sudah beristirahat, yakin kau tidak mampu melawan sepuluh jurus."
"Baiklah,"
Seru Yang Kek-beng gusar.
"boleh kau maju membantu Song Theng-siau supaya menghemat tenagaku."
Nyo Hoa tertawa, ujarnya.
"Semula aku ingin jadi penonton saja, lama kelamaan tanganku jadi gatal ingin juga menjadi pemain. Song tayhiap silakan kau mundur dan jadilah penonton, bila tontonan ramai dan bagus, tolong kau bersorak dan bertepuk tangan, kalau permainanku jelek, tolong kau menggantikan aku."
Song Theng-siau bimbang, namun dia melompat ke pinggir, ingin dia saksikan Nyo Hoa hendak berbuat apa. Nyo Hoa berseru.
"Yang Kek-beng, mulai, hitung yang benar, inilah jurus pertama."
"Sret"
Pedangnya langsung menusuk.
Jurus pedangnya enteng lincah mengandung perubahan yang mengaburkan pandangan, cepatnya pun luar biasa.
Pengetahuan Yang Kek-beng tentang ilmu silat cukup luas, namun dia tidak habis mengerti jurus pedang apa yang dilancarkan Nyo Hoa.
Karuan kagetnya bukan main, lekas dia kibaskan lengan baju melindungi badan, dengan satu tangan dia memukul dengan Siu-lo-im-sat-kang tingkat ketujuh.
Bila angin pukulannya mendera bayangan pedang, maka terdengarlah desir angin kencang, lengan baju Yang Kek-beng tertabas secuil.
Nyo Hoa mengejek dingin.
"Dahulu Beng Sin-thong dapat mencapai tingkat sembilan, sekarang kau baru tingkat tujuh, Siu-lo-im-satkang jelas belum kau kuasai seluruhnya, memangnya kau bisa berbuat apa terhadapku?"
Sepatah kata Nyo Hoa membongkar seluk beluk kungfunya, dalam sejurus dia pun sudah mengukur taraf kepandaiannya, karuan kaget Yang Kek-beng bukan kepalang.
"Jaman ini hanya aku seorang yang mewarisi ilmu murni Beng-suco. Bocah ini masih begini muda, dari mana dia tahu rahasia inti Siu-lo-im-sat-kang? Sungguh heran."
Sudah tentu di luar tahunya meski usia Nyo Hoa masih kecil, tapi dalam kalangan lurus atau aliran sesat, hanya dia seorang yang tahu seluk beluk Siu-lo-im-sat-kang dan cara pemecahannya.
Hanya segebrak Nyo Hoa sudah menempatkan dirinya di posisi yang tak terkalahkan, mumpung semangat juang lawan goyah segera dia kerahkan tenaga memainkan pedang dengan cepat, lawan dicecar sederas hujan badai, kecepatan gerak pedangnya laksana sambaran kilat, di bawah rangsakan ketat dan deras ini Yang Kek-beng sudah tidak sempat melancarkan pukulan Siu-lo-imsat-kang lagi.
Mulut Nyo Hoa menghitung dengan suara lantang.
"Dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan...."
Mendadak dia menghardik sekali lalu menarik pedang berdiri tegak, katanya kalem.
"Bukankah belum genap sepuluh jurus?"
Tampak pedang Nyo Hoa ber-lepotan darah, beberapa tetes darah segar tercecer di atas salju.
Ternyata jurus terakhir yang dilancarkan Nyo Hoa memapas kutung sebuah jari Yang Kek-beng.
Karena terlalu cepat gerak pedangnya, hingga Song Theng-siau pun tidak melihat jelas.
"Bagus,"
Song Theng-siau bersorak memuji.
"tepat sembilan jurus."
Baru sekarang dia percaya Nyo Hoa sengaja membantu dirinya, maka rasa herannya bertambah-tambah terhadap pemuda yang berkepandaian tinggi ini.
Kalau Song Theng-siau amat kagum dan kaget serta heran melihat kepandaian ilmu pedang Nyo Hoa, sudah tentu Yang Kekbeng yang terpapas sebuah jarinya kaget dan ciut nyalinya, serasa arwah terbang ke awang-awang.
Hilang sebuah jari tidak menjadi halangan, jikalau terlambat dia menarik tangan, Lau-kiong-hiat di telapak tangannya mungkin sudah tertusuk, latihan Siu-lo-im-satkang pun bakai kandas.
Saking kaget dan takut, lekas dia putar tubuh terus lari sipat kuping.
Sesungguhnya meski Nyo Hoa tahu bagaimana mematahkan Siulo-im-sat-kang, namun dalam sepuluh jurus sebetulnya dia tidak mampu mengalahkan Yang Kek-beng.
Karena Yang Kek-beng terpancing emosinya, karena marah permainannya tidak cermat maka dia dapat dikalahkan.
Diam-diam dalam hati Nyo Hoa bersyukur, waktu menoleh kebetulan dilihatnya Nyo-toakoh sedang mengayunkan tangan memukul kepala Lu Su-bi, serangannya adalah jurus yang mematikan dari Kim-kong-lak-yang-jiu.
Satu jurus mengandung enam perubahan, Lu Su-bi sulit melawan secara sempurna, maka terdengar "Trang", golok pendek di tangan kiri terpukul jatuh.
Song Theng-siau mendahului Nyo Hoa menyerbu ke sana, dengan jurus L i Khong Memanah Batu pedangnya menusuk Honghu-hiat di punggung Nyo-toakoh, ujung pedangnya bergetar memecah memancarkan cahaya dingin, belum lagi menyentuh pakaian, namun Nyo-toakoh sudah merasa hawa dingin menyentuh badan.
Maksud Nyo-toakoh hendak membekuk Lu Su-bi untuk sandera, karena usahanya tidak berhasil mana dia berani meneruskan pertempuran?
Sekali pukul dia menggempur mundur Lu Su-bi terus menerobos jauh ke depan sana.
Melihat istrinya tidak terluka, lega hati Song Theng-siau, bentaknya gusar.
"Kau perempuan galak ini bukankah mau membuat perhitungan dengan aku, kalau berani jangan lari."
Nyo-toakoh bergerak selincah ular sakti lewat di pinggir Nyo Hoa, tangannya melayang menepuk kepala seraya memaki.
"Gara-gara kau hingga urusanku gagal total."
Terbayang masa kanak-kanak, betapa mereka ibu dan anak hidup tertekan dan dihina, di hadapannya tadi orang pun memaki dan menghina ibunya, seketika membara amarah Nyo Hoa, sebetulnya dia tetap tidak berani kurang ajar, tapi Nyo-toakoh menyerang dirinya, terpaksa dia harus membela diri.
Kim-kong-lakyang-jiu Nyo-toakoh berkelebihan melawan Lu Su-bi, terhadap Nyo Hoa tidak berguna sama sekali.
Terdengar "Plak"
Yang keras, tahutahu pipinya telah digampar sekali oleh Nyo Hoa. Cepat sekali Song Theng-siau sudah menyusul tiba, bentaknya.
"Saudara cilik, serahkan perempuan busuk ini kepadaku."
Sejurus Tay-bok-hou-yan, pedangnya meluncur bagai pelangi menusuk ke arah Nyo-toakoh.
Tusukan pedang ini amat kencang dan buas, jelas Nyo-toakoh tidak akan mampu menyelamatkan diri, namun pada detik yang kritis itulah terdengar "Tring"
Sekali, Nyo Hoa menyingkir ke samping hingga Nyo-toakoh menerobos lewat ke depan.
Nyo Hoa melintangkan pedang di depan dada, dengan jurus Thi-so-hengkang (Rantai besi melintang sungai) dia tangkis pedang panjang Song Theng-siau, katanya perlahan.
"Perempuan busuk ini memang galak dan brutal, tapi harus dikasihani juga, mohon Song tayhiap tidak berpandangan secupat dia, biarlah dia pergi."
Gugup tapi dongkol, heran lagi, Nyo-toakoh berjuluk Lak-jiukoan-im, selama hidupnya hanya orang lain yang takut padanya, kapan dia pernah dihina dan dipermainkan seperti ini?
Gamparan Nyo Hoa hampir membuatnya pingsan saking marah, tak nyana Nyo Hoa yang menempeleng dirinya tapi menyelamatkan jiwanya.
Sesaat Nyo-toakoh melotot penuh kebencian kepadanya, terus lari.
Sekejap saja bayangannya sudah tidak kelihatan.
Song Theng-siau tertawa, katanya.
"Perempuan busuk itu agaknya tidak mau menerima budi pertolonganmu."
"Aku hanya menuntut ketenteraman hati sendiri, memang aku tidak mengharap balas budi darinya,"
Tawar suara Nyo Hoa.
Maklum waktu kecil dia terlalu disiksa dan ditekan oleh aturan-aturan ketat, kalau tadi tidak naik pitam, betapapun dia tidak berani menggampar pipinya.
Setelah menampar pipi orang, entah mengapa perasaan hatinya menjadi longgar dan lapang malah.
Tergerak hati Song Theng-siau, katanya.
"Adik cilik, apa kau pernah meyakinkan Beng-keh-to-hoat? Pernah apa kau dengan Toan Siu-si?"
Dalam sepuluh jurus Nyo Hoa harus mengalahkan Yang Kekbeng, maka di luar sadarnya, beberapa jurus permainannya tadi menggunakan ajaran golok kilat keluaiga Beng yang dia praktekkan dalam permainan pedang.
Song Theng-siau tahu bahwa Beng Goancau pernah menyerahkan buku pelajaran ilmu goloknya kepada Toan Siu-si supaya diserahkan kepada Nyo Hoa.
Tahu dirinya tidak bisa mengelabui lagi terpaksa Nyo Hoa memberi hormat kepada Song Theng-siau, katanya,"
Paman Song, maaf akan kekurangajaran tadi. Sudah beberapa tahun berpisah, siautit tidak tahu kalau berhadapan dengan paman. Terima kasih akan perhatian paman kepada suhu."
Setelah dia memperkenalkan diri, tentang ilmu golok keluarga Beng tak mungkin dia rahasiakan lagi. Sudah tentu Song Theng-siau amat senang, katanya.
"Jadi kau inilah Nyo Hoa."
Di samping senang dia pun merasa rikuh.
Senang karena putera teman baiknya memiliki kungfu tinggi, rikuh karena dirinya dikalahkan oleh anak kecil itu.
Agaknya berbeda dengan Beng Goan-cau, kalau Beng Goan-cau tegas dan teguh pendirian, tabah lagi, Song Theng-siau sebaliknya terlalu angkuh, jumawa dan terlalu menjaga gengsi.
"Betul, siautit memang Nyo Hoa,"
Sahut Nyo Hoa.
"Mana ji-suhu-mu? Kenapa kau datang seorang diri?"
Bimbang sejenak, Nyo Hoa berkata.
"Jejak ji-suhu tidak jelas, aku kemari hendak mencari Beng Goan-cau Beng tayhiap."
Song Theng-siau melongo sejenak, segera wajahnya kelihatan girang, katanya.
"Ah, jadi kau sudah tahu?"
Dingin sikap Nyo Hoa.
"Segala persoalan pasti bisa dibikin terang duduk perkaranya, memang aku sudah tahu seluruhnya."
"Sudah tahu"
Yang dimaksud Song Theng-siau adalah Nyo Hoa sudah tahu kalau dirinya adalah putera Beng Goan-cau, namun Nyo Hoa salah paham, dia yakin bahwa Beng Goan-cau memang durjana yang patut dibunuh.
Maka dia menjawab terus terang bahwa dia sudah tahu duduk perkara yang sebenarnya.
Hubungan asmara Beng Goan-cau dengan Hun Ci-lo menyangkut urusan pribadi, sudah tentu Song Theng-siau tidak enak membicarakan secara terbuka.
Hanya kepada istrinya, Lu Su-bi, Song Thengsiau pernah bercerita tentang hubungan cinta Beng Goan-cau dan Hun Ci-lo, karena istrinya adalah siau-sumoay Beng Goan-cau.
Kecuali istrinya, terhadap Leng Thiat-jiau dan Siau Ci-wan dia tidak pernah bercerita tentang hal ini.
Memang Theng-siau sedang bingung cara bagaimana dia harus menjelaskan duduk persoalan sebenarnya, mendengar Nyo Hoa sudah tahu, legalah hatinya, katanya senang.
"Syukurlah kalau kau sudah tahu, boleh kau pergi mencarinya sendiri, selanjutnya aku pun tidak usah ikut campur lagi. Tapi...."
"Tapi apa? Paman memang tidak usah bersusah payah lagi. Biar aku cari Beng Goan-cau sendiri."
Bertaut alis Song Theng-siau, pikirnya.
"Kenapa dia tetap memanggil langsung nama Beng Goan-cau, tidak memanggilnya ayah?"
Meski heran dia berkata.
"Sayang kau terlambat dua hari, Bengtoako sudah tidak di sini."
Meski kecewa, lega juga hati Nyo Hoa.
Bahwa dia harus menuntut balas kepada salah seorang pemimpin besar laskar gerilya, dalam hati selama ini ia merasa tidak tenteram.
Walau dia sadar sakit hati keluarga akhirnya harus dibalas.
"Dia pergi ke mana?"
Tanyanya "Tiga hari yang lalu, Beng-toako berangkat ke Lhasa.
Sekarang ikutlah aku menemui Leng Thiat-jiau dan Siau Ci-wan, dua pemimpin tertinggi dari laskar gerilya, mereka akan memberi penjelasan kepadamu,"
Demikian kata Song Theng-siau.
Setiba di pangkalan besar laskar gerilya, hari sudah terang tanah.
Song Theng-siau langsung membawa Nyo Hoa memasuki sebuah kemah besar.
Leng Thiat-jiau dan Siau Ci-wan sedang berbicara dengan seorang lelaki setengah umur, melihat Nyo Hoa, laki-laki setengah umur lantas berteriak girang.
"Adik cilik, kau juga datang. Leng-toako, Siau-toako, saudara cilik inilah yang kuceritakan kepadamu, dialah yang membantu kami di tengah jalan.". Laki-laki setengah umur ini bukan lain adalah Han Wi-bu, congpiauthauTin-wan Piaukiok. Setelah Song Theng-siau memperkenalkan mereka, Siau Ci-wan berkata.
"Han-cong-piauthau, Nyo-hengte ini bertindak secara berani kemarin dulu, mungkin kau belum tahu."
"Bertindak berani bagaimana?"
Tanya Han Wi-bu. Siau Ci-wan menoleh ke arah Nyo Hoa, katanya tertawa.
"Nyohengte, bukankah beberapa hari yang lalu kau pernah berkelahi dengan Koan-tang Tayhiap Utti Keng?"
Merah muka Nyo Hoa, katanya.
"Wanpwe tidak tahu tingginya langit tebalnya bumi, waktu itu kedua pihak salah paham. Wanpwe tidak tahu diri, berani melawan Koan-tang Tayhiap."
Siau Ci-wan tergelak-gelak, katanya.
"Patah tumbuh hilang berganti. Utti tayhiap bilang, selama hidupnya belum pernah dia bertanding melawan golok kilat seperti yang kau kembangkan, bukan saja menyenangkan juga melapangkan perasaannya. Tanpa berkelahi dia tidak akan mengenalmu, dia juga memuji keperkasaanmu."
Dari cerita ini, Nyo Hoa menarik kesimpulan bahwa Utti Keng tidak menceritakan dirinya dengan Kim Bik-ki dalam hotel, maka legalah hatinya, katanya.
"Berkat kemurahan hati Utti-cianpwe yang memberikan pujian kepada angkatan muda."
Leng Thiat-jiau tertawa, katanya.
"Pada jaman ini yang mampu melawan golok Utti Keng kurasa hanya beberapa orang saja Sayang Beng Goan-cau tidak di sini, golok kilatnya sejajar dengan kebesaran nama Utti Keng, kalau ada dia, kau bisa bertanding dengan dia."
Mumpung ada kesempatan, lekas Nyo Hoa bicara.
"Bertanding tidak berani, wanpwe hanya mengharap petunjuk Beng tayhiap saja. Entah Beng tayhiap pergi ke mana?"
"Dia pergi ke Lhasa bersama Utti Keng. Kalau kau datang dua hari lebih awal pasti dapat bertemu dengan mereka."
"Entah kapan mereka akan pulang?"
"Tidak bisa ditentukan. Bila tugas yang harus diselesaikan leluasa, paling cepat setengah tahun baru akan kembali,"
Demikian ucap Leng Thiat-jiau. Siau Ci-wan menimbrung.
"Marilah sambil minum arak kita mengobrol di dalam, perjamuan sudah dipersiapkan."
Leng Thiat-jiau tertawa, katanya.
"Sebetulnya perjamuan ini untuk Han-cong-piauthau yang akan pamit besok pagi, sekalian untuk menyambut kehadiran Nyo-hengte. Utti tay-hiap sudah bercerita tentang pengalamannya bertemu degan kau, kami menduga kau pasti akan kemari, tapi kami tidak duga kedatanganmu begini Cepat."
Setelah menghabiskan tiga cangkir arak, hidangan pun berdatangan. Sambil makan minum, Leng Thiat-jiau berkata.
"Nyohengte, walau kita baru bertemu pertama kali, kau bukan orang luar. Keadaan kami di sini tidak perlu disembunyikan terhadapmu. Kedatanganmu memang kebetulan, saat ini kami sedang menghadapi situasi yang penting, setiap saat mungkin terjadi peperangan. Kami sudah memutuskan untuk mengosongkan pangkalan di sini, para saudara akan disebar untuk mencari pangkalan lain yang lebih strategis."
"Apakah sudah didapat berita bahwa pasukan kerajaan akan menyerbu kemari?"
Tanya Nyo Hoa.
"Betul,"
Kata Leng Thiat-jiau.
"Menurut laporan yang kami terima, pihak kerajaan ada maksud merangkul beberapa kelompok suku bangsa di Sinkiang dan Tibet. Langkah pertama, melarang mereka mengirim ransum kepada kita. Kedua, dengan kekuatan mereka untuk menggempur kita. Kau tahu, untuk berperang harus tahu memilih waktu, tempat dan kekuatan. Pasukan besar kerajaan terlampau jauh dikerahkan kemari, tidak jelas seluk beluk di sini, rakyat setempat tiada yang mau membantu mereka, maka sukar mereka menggerebek kita, karena itu mereka pikir hendak memperalat para kepala suku bangsa minoritas di Sinkiang."
Nyo Hoa berkata.
"Rakyat jelata seluruh dunia sekeluarga, kukira tidak mudah mereka mau diperalat oleh kerajaan."
"Pendapatmu betul,"
Ucap Siau Ci-wan.
"tapi para kepala suku bangsa itu bukan mustahil bakal tertipu oleh kelicikan dan mulut manis pihak kerajaan."
Lebih lanjut Leng Thiat-jiau berkata.
"KarenaItu kami menugaskan Utti tayhiap untuk membujuk para kepala suku itu. Dia pernah hidup sekian tahun di daerah padang rumput, persahabatannya dengan para kepala suku di sana cukup erat."
Siau Ci-wan berkata.
"Pek-kau Hoat-ong yang berkedudukan di Ok-khek-sim-ki mendukung perjuangan kita, tapi Pek-kau dan Uikau tersangkut perebutan kekuasaan di Tibet, padahal yang pegang kekuasaan dan pemerintahan di Tibet sekarang adalah para Lama dari Dikau. Para Lama aliran Pek-kau sudah hijrah ke luar Tibet karena terdesak oleh Ui-kau, sudah seratusan tahun mereka berada di Jinghay belum mendapat kesempatan untuk kembali. Kerajaan Ceng juga ada maksud memperalat Ui-kau untuk menindas Pek-kau. Kami mengutus Beng Goan-cau ke Tibet adalah untuk menjadi penengah mengakurkan kembali Pek-kau dengan Ui-kau. Kami pernah membantu Lama di Tibet memukul mundur serangan bangsa India, maka hubungan kami dengan kedua pihak cukup erat dan baik."
Nyo Hoa tidak menyangka bahwa banyak persoalan ruwet harus dipikirkan dan dipecahkan di dalam laskar gerilya. Han Wi-bu berkata.
"Sayang besok aku harus antar obat ke Okkhek-cau-beng, tidak bisa membantu kalian di sini."
"Bantuanmu sudah teramat besar artinya bagi kami,"
Kata Leng Thiat-jiau.
"Saat ini pihak kami bukan kekurangan tenaga, tapi harus berusaha memecahkan muslihat musuh, tidak perlu kau menyesal karena tidak bisa tinggal di sini membantu kami."
Secara tidak langsung jawaban ini diresapi juga oleh Nyo Hoa. Pikirnya.
"Kalau demikian, tak terlalu penting bagi diriku tinggal di sini, biar aku menyusul Beng Goan-cau saja ke Tibet."
"Bicara soal pembantu, Nyo-hengte inilah yang telah berjasa paling besar atas bantuannya untuk kami. Silakan Nyo-hengte, aku haturkan secangkir arak ini untukmu."
Merah muka Nyo Hoa, katanya.
"Han-cong-piauthau, kenapa kau begini sungkan, mana berani aku terima? Sebetulnya pahala apa sih yang pernah kulakukan?"
Leng Thiat-jiau tertawa, katanya.
"Bukan Han-cong-piauthau sungkan kepadamu, aku pun akan menghaturkan secangkir kepadamu. Mungkin kau sendiri belum menyadari betapa besar arti bantuanmu kepada kami. Biarlah kujelaskan, barang-barang gelap yang dilindungi oleh Han-cong-piauthau ini, entah bagaimana diketahui oleh Bun Seng-liong yang dahulu memang disusupkan di dalam Tin-wan Piau-kiok. Dia memberi laporan kepada komandan Gi-lim-kun dan kepala barisan bayangkara di istana."
Han Wi-bu melanjutkan.
"Antara komandan Gi-lim-kun Hay Lanja dengan kepala barisan bayangkari Sat Hok-ting lahirnya saja akur, padahal secara diam-diam mereka saling berlomba memupuk kekuatan dan sering cakar-cakaran. Setelah mendapat laporan, mereka bekerja tendiri-sendiri, anak buahnya disebar dan diutus untuk merampas barang k awalan ku."
"Siang Thi-hong dari Thi-bi-ba-bun sejak lama memang sudah menjadi agen Hay Lan-ja secara sembunyi-sembunyi, kali ini Hay Lan-ja mengutus dia turun tangan disertai Bun Seng-liong merampas barang kami. Untung secara diam-diam lote membantu aku, kalau tidak obat-obatan itu tentu bisa terjatuh ke tangan mereka. Malam itu kau bantu memancing kedua perwira Gi-lim-kun dari rombongan kami, sungguh aku amat berterima kasih. Oh ya, belum sempat tanya, bagaimana nasib kedua orang itu?"
Nyo Hoa tertawa, tuturnya.
"Kuhajar mereka sampai babak belur, keadaan Ma Gun masih mending, Ciu Jan menggelinding ke lereng bukit, mungkin lukanya lebih parah."
Leng Thiat-jiau berkata lebih lanjut.
"Dua wisu yang belakangan bentrok dengan engkau yaitu Phoan-liong-to Lau Ting-ci dan Taycui-pit-jiu Yap Kok-wi adalah anak buah Sat Hok-ting yang terpercaya. Menurut rencana Sat Hok-ting, kedua orang ini disuruh bergabung dengan Ting Tiong-ai yang dimutasikan ke sana dari Siau-kim-jwan untuk merampas barang kawalan itu di tengah jalan. Untung pula mereka kau pukul kocar-kacir. Mungkin mereka tidak yakin lagi dapat merampas barang kawalan itu, terpaksa harus mencari bala bantuan. Tapi pihak kita sudah bertindak lebih dulu, Han-cong-piauthau sudah kami sambut sejak di tengah jalan."
Makanya rombongan Han Wi-bu tiba di Jik-tat-bok lebih dulu, ternyata di tengah jalan sudah disongsong oleh pasukan gerilya.
Mereka tahu jalan, mengganti kendaraan dan kuda lagi, tidak heran kalau dirinya tidak mampu mengejar mereka.
Teringat kejadian malam itu, merah muka Nyo Hoa, katanya.
"Untuk kejadian yang satu ini tidak berani aku dikatakan memperoleh pahala, masih ada seorang sahabat..."
Siau Ci-wan tertawa, katanya.
"Nyo-hengte, kau belum kenal sahabat itu bukan? Dia adalah putera Kim Tiok-liu Kim tayhiap."
Sebetulnya Nyo Hoa sudah tahu, namun dilihatnya tawa Siau Ciwan agak berbeda, maka dia menduga pasti orang akan melanjutkan bicara.
Nyo Hoa diam dan menunduk, jantungnya berdebar-debar.
Betul juga, lebih lanjut Siau Ci-wan berkata.
"Waktu kau berhantam dengan ketiga musuh itu, Kim siauhiap belum muncul bukan?"
"Ya, setelah pertempuran itu baru aku bertemu dengan dia."
"Tak heran dia salah paham terhadap kau, tapi tak jadi soal, beberapa hari lagi bila Kim siauhiap kemari lagi, bila persoalan dibicarakan secara berhadapan, sedikit salah paham ini juga pasti cair sendiri."
Dari pembicaraan ini, Nyo Hoa sadar kalau Leng Thiat-jiau dan Siau Ci-wan sudah tahu tentang hubungan dirinya dengan Kim Bikki, karuan dia malu dan kaget Untung Leng Thiat-jiu bergelak tawa dan bicara lagi.
"Ilmu pedang Kim siauhiap amat tinggi, sayang belum lama berkecimpung dalam masyarakat, kurang berpikir panjang lagi. Kau menyamar seperti kacung berkepandaian tinggi lagi, mungkin dia merasa jejakmu agak mencurigakan maka dia kira kau ini mata-mata. Dia titip pesan kepada seseorang supaya dilaporkan kepadaku, katanya ada seorang pemuda yang tidak jelas asal-usulnya, bila datang ke Jik-tat-bok dia minta aku menahanmu. Tapi dia pun berpesan supaya tidak menyakiti kau, setelah dia kemari baru akan tanya sendiri kepadamu. Dia bilang, dalam setengah bulan dia pasti datang, hitung-hitung waktunya juga hanya beberapa hari ini."
Legalah hati Nyo Hoa, agaknya Kim Bik-san, juga tidak berani menceritakan rasa curiganya kepada orang lain bahwa Nyo Hoa memelet adik perempuannya.
Maka dia mencari alasan lain supaya Siau Ci-wan dan Leng Thiat-jiau menahan dirinya.
"Agaknya dia akan membuat perhitungan langsung terhadapku, melarang aku bergaul dengan Kim Bik-ki pula."
Siau Ci-wan tertawa, katanya.
"Dia tidak tahu kalau bantuanmu teramat besar bagi kami, setelah tahu pasti dia akan minta maaf kepadamu, kalian adalah pemuda-pemuda gagah perkasa setelah berkenalan pasti menjadi sahabat baik."
Nyo Hoa hanya menyengir tawa, katanya.
"Waktu di Siau-kimjwan, aku pernah menyamar jadi perwira Gi-lim-kun, tidak heran kalau dia anggap aku mata-mata"
"Pertolonganmu kepada keluarga pemburu di Siau-kim-jwan juga sudah kami ketahui,"
Ucap Leng Thiat-jiau.
"Oh, ya, kepandaianmu setinggi ini, siapakah gurumu Nyo-hengte?"
Agaknya dia menaruh perhatian akan asal-usul Nyo Hoa Maka Song Theng-siau angkat bicara.
"Dia murid bersama dari Toan Siu-si dengan Tan Khu-seng, Beng-toako adalah kenalan baik Toan Siu-si, setelah Toan Siu-si menerimanya sebagai murid, pernah hal ini diberitahukan kepada Beng-toako, dia pun amat senang. Waktu itu Beng-toako pernah menyatakan, bila kelak bertemu dengan muridnya akan memberikan pelajaran ilmu golok keluarga Beng kepada muridnya itu sebagai hadiah pertemuan."
Ucapan Song Theng-siau setengah benar setengah bohong, soalnya asalusul Nyo Hoa belum terbuka secara umum, maka sengaja dia mengarang cerita tambahan, sekaligus untuk membuktikan bahwa asal-usulnya cukup baik.
Leng Thiat-jiau bergelak tawa, katanya.
"Kiranya murid dari dua guru kenamaan, tak heran berkepandaian tinggi. Sayang Beng Goan-cau tidak di sini, kado pertemuan ini biar dia serahkan lain kesempatan."
Han Wi-bu tertawa, katanya.
"Terbayang masa lalu, aku sendiri juga tidak bakal kenal Beng Goan-cau kalau tidak berkelahi. Dalam sekejap mata permainan golok kilatnya itu mampu bergerak dalam ratusan perubahan, cepatnya seperti sambaran kilat pula. Syukur aku mampu menandinginya waktu itu, tapi bila dibayangkan sungguh sampai sekarang aku masih merasa kagum dan giris pula. Nyo-hengte, kepandaianmu sudah tinggi, bila memperoleh kado pertemuan ini, pasti kepandaianmu lebih sempurna."
Nyo Hoa berkata.
"Beng tayhiap sayang terhadap angkatan muda, sungguh wanpwe tidak menduganya Semoga harapannya bisa lekas terkabul, tapi bukan berarti bahwa aku kemaruk akan hadiahnya itu."
Song Theng-siau berkata.
"Walau kau belum pernah bertemu dengan Beng-toako, tapi dia sudah anggap kau sebagai keponakannya sendiri. Sebagai sahabat ji-suhu-mu, sudah pantas kalau dia mengharap kau menjadi seorang yang berguna."
Dalam hati Nyo Hoa timbul reaksi yang bertentangan, dia justru tidak percaya bahwa Beng Goan-cau punya iktikad sebaik itu terhadap dirinya. Han Wi-bu berkata pula.
"Sudah sepuluh tahun aku berpisah dengan Beng Goan-cau, kukira dengan kedatanganku hari ini dapat makan minum bersama dia sambil ngobrol sepuas hati, tak nyana di sini aku tidak bisa bertemu dengan dia."
"Mungkin di Ok-khek-sim-ki kau dapat bersua dengan dia."
Ucap Leng Thiat-jiau.
"kemungkinan dia akan tinggal beberapa hari di sana."
Tiba-tiba Nyo Hoa berkata.
"Leng-thauling, Han-cong-piau-thau, ada sebuah permintaanku entah kalian bisa menyetujui tidak?"
"Permintaan apa?"
Tanya Leng dan Han bersama. Kalem suara Nyo Hoa, katanya.
"Kupikir akan ikut Han-cong-piauthau pergi ke Ok-khek-cau-beng."
Han Wi-bu melengak sekejap, lalu bergelak tawa, serunya.
"Jago kosen selihay dirimu mau seperjalanan dengan aku, sungguh mimpi pun tak pernah kuharapkan. Tapi bukankah kau harus menunggu Kim siauhiap di sini?"
Song Theng-siau segera menjelaskan.
"Atas perintah gurunya dia disuruh kemari menemui Beng Goan-cau. Tahun lalu kedua gurunya itu ketimpa musibah di Ciok-lin, mati hidupnya sampai sekarang susah diramalkan. Maka dia wajib memberitahukan hal ini kepada sahabat gurunya secepat mungkin."
Sengaja Nyo Hoa berkata dengan tertawa.
"Sebetulnya aku mengharap dapat berkenalan dengan Kim siauhiap, tapi kelak masih ada kesempatan. Kukira dia tidak akan salah paham lagi mengira aku takut bertemu dengan dia karena aku di pihak yang salah."
"Kenapa Nyo-hengte bilang demikian,"
Ucap Siau Ci-wan tertawa.
"Umpama Kim siauhiap kurang pergaulan dan tetap mencurigai lote, sedikitnya dia harus percaya kepadaku dan Leng-toako. Memang lebih baik kau bisa menunggunya di sini, tapi tanpa kehadiranmu kami juga bisa memberi penjelasan kepadanya"
Leng Thiat-jiau berpikir sejenak, katanya sungguh-sungguh.
"Betul, urusan harus dibedakan mana lebih penting. Nyo-lote mau menemani Han-cong-piauthau pergi ke Ok-khek-cau-beng juga baik. Di samping membantu Han-toako melindungi barang kawalan, dia bisa lebih dini bertemu dengan Beng Goan-cau. Tadi aku agak teledor tidak memikirkan hal ini."
Keputusan telah ditetapkan. Lega hati Nyo Hoa, sudah tentu Leng Thiat-jiau dan Siau Ci-wan juga tambah girang. Seperti ingat sesuatu tiba-tiba Leng Thiat-jiau berkata.
"Han-cong-piauthau, untuk perjalananmu ke Ok-khek-cau-beng kali ini, ada sebuah persoalan pribadi ingin aku titip kau selesaikan."
"Leng-toako tidak usah sungkan, soal apa coba jelaskan."
"Soal ini menyangkut seorang keponakan perempuanku, kau belum pernah melihatnya tapi secara diam-diam dia pernah membantu kau,"
Demikian ucap Leng Thiat-jiau. Berdetak jantung Nyo Hoa.
"Nah, sudah tiba saatnya, yang dimaksud pasti Kim Bik-ki."
Han Wi-bu tertarik, tanyanya.
"Siapakah nona itu?"
"Dia puteri Kim tayhiap, namanya Kim Bik-ki."
Dugaan Nyo Hoa memang tidak keliru. Leng Thiat-jiau menjelaskan.
"Sejak kau memasuki wilayah Jiansan, secara diam-diam dia sudah menguntit rombongan kalian, siap bertindak bila kalian menghadapi hambatan, bila kau tidak leluasa mengerjakan, dialah yang menyelesaikan."
"Hanya kenapa aku tidak tahu sedikit pun,"
Seru Han Wi-bu. Leng Thiat-jiau tertawa, katanya.
"Tapi dia pun tidak menduga, ada orang kosen membantumu secara diam-diam, bahwasanya dia tidak perlu turun tangan."
"Walau dia tidak turun tangan, aku pun tetap berterima kasih kepadanya, dapatkah Leng-toako memanggilnya keluar supaya aku langsung menghaturkan terima kasih kepadanya?"
"Kalau dia masih di sini, tidak usah aku minta bantuanmu. Dia sudah pergi sehari sebelum Utti Keng tiba di sini."
"Ayahnya jago pedang nomor satu di jagat raya ini, ada persoalan apa yang tidak bisa diselesaikan, kenapa aku harus membantunya?"
"Utti Keng memberi tahu kepadaku, katanya ayahnya sedang mencari dia, suruh dia pulang. Kedatangan engkoh-nya kemari, kemungkinan juga lantaran mencari dia. Sayang dia sudah pergi sehari sebelum Utti Keng kemari, maka aku harus ikut susah karenanya."
Siau Ci-wan berkata, katanya.
"Nona Kim ini cerdik, pandai, cekatan lagi, agaknya dia sudah tahu maksud kedatangan Utti Keng maka dia datang sehari lebih-dulu, maksudnya jelas menghindari dia."
Han Wi-bu bertanya.
"Dia ke mana?"
"Waktu dia pergi memberi tahu kepada kami, katanya dia ingin pulang."
"Lha kan kebetulan?"
Seru Han Wi-bu. Siau Ci-wan tertawa pula, katanya.
"Sayang dia berbohong."
Lalu Leng Thiat-jiau menyambung.
"Seorang saudara kita yang bertugas di gunung depan kemarin pulang memberi laporan, katanya dia melihat nona Kim berangkat ke utara. Jikalau dia mau pulang, arahnya sebetulnya ke selatan, kalau ke utara menuju Okkhek-cau-beng."
"Entah kenapa dia tidak mau pulang?"
"Anak muda suka bergerak dan keluyuran, mungkin dia takut bila pulang ke rumah selanjutnya bisa dikurung tak boleh keluar."
"Han-toako,"
Ujar Leng Thiat-jiau.
"bila kau bertemu dengan nona Kim, tolong kau bantu membujuknya supaya pulang. Dia kenal baik siapa dirimu."
Han Wi-bu mengunjuk mimik serba susah, katanya.
"Dia kenal aku, sebaliknya aku tidak mengenalnya, khawatirnya dia tidak mau dengar nasehatku."
Leng Thiat-jiau berkata.
"Dengan istri Kim tayhiap kau pernah bertemu bukan?"
"Bukan sekali saja aku pernah bertemu dengan Kim tayhiap suami istri. Dahulu waktu Kim tayhiap dan Utti tayhiap dua pasang suami istri membuat geger kota raja pernah sembunyi dua hari di rumahku."
"Syukurlah, nona Kim ini nakal seperti ibunya dulu, wajahnya mirip, bila kau bertemu muka dengan dia pasti mengenalnya."
Selanjutnya Siau Ci-wan berkata.
"Kasih tahu padanya bahwa engkoh-nya pernah kemari mencari dia, ingin mengajaknya pulang. Boleh kau bicara dengan nada serius dan tekankan pentingnya dia pulang, supaya dia mereka-reka di rumah ada urusan penting sedang menanti dia."
"Baiklah,"
Ujar Han Wi-bu.
"biar aku bersilat lidah dengan dia, akan kubujuk dia seperti membujuk anak kecil."
Han Wi-bu anggap tugas ini sebagai urusan kecil, seperti membohongi bocah cilik saja.
Dalam hati Nyo Hoa justru merasa geli, tapi di samping senang terasa hambar juga hatinya.
Geli, karena Siau Ci-wan dan Leng Thiat-jiau kira bila Kim Bik-ki tahu engkoh-nya menyusul, dia pasti mau pulang.
Di luar tahunya bahwa Kim Bik-ki justru menghin?
dari pertemuan dengan engkohnya.
Hatinya pun senang karena Kim Bik-ki berangkat ke arah yang setujuan dengan dirinya, mungkin beberapa hari lagi dia bakal bertemu dengan dia.
Tapi kenapa Kim Bik-ki justru pergi ke Okkhek-cau-beng juga?
Hal ini membuat perasaan Nyo Hoa hambar.
Didengarnya Leng Thiat-jiau sedang berkata.
"Selama dua tahun ini, tunas-tunas muda bermunculan, satu hal yang patut dibuat girang. Nyo-hengte umpamanya, adalah pemuda gagah yang jarang ditemukan selama beberapa tahun terakhir ini. Besok kau akan berangkat, malam ini aku akan ajak kau minum sepuas-puasnya."
Nyo Hoa merendah hati, katanya.
"Leng-thauling memuji, aku mana setimpal diagulkan sebagai pemuda gagah?"
"Anak muda ramah dan rendah hati memang baik, tapi kalau terlalu sungkan menjadi bermuka-muka,"
Demikian kata Leng Thiatjiau.
"Bicara terus terang, dalam pandanganku ada empat pemuda gagah, kau pasti tidak kalah dibanding tiga yang lain. Kalau hanya dinilai tentang kungfunya, kau malah lebih unggul di atas mereka bertiga. Yakin mereka belum tentu dapat seperti dirimu, mampu bertanding melawan Utti Keng."
Tertarik hati Han Wi-bu, katanya.
"Leng-toako, siapakah keempat pemuda gagah menurut pandanganmu itu?"
"Coba kau terka satu per satu,"
Leng Thiat-jiau balas tanya. Han Wi-bu berkata.
"Kecuali Nyo-hengte, kakak beradik dari keluarga Kim pasti terhitung pula, benar tidak?"
"Masih ada satu, siapakah dia? Dua tahun terakhir ini aku jarang bergerak di luar, sungguh tak terpikir olehku masih ada pemuda gagah mana lagi."
"Ji-kongcu putera Kang tayhiap, apakah tidak setimpal dianggap pemuda gagah, kenapa kau melupakan dia?"
"Hooo, jadi Kang-jikorigcu juga sudah keluar kandang? Aku sih belum tahu, tadi hanya kuingat putera sulung Kang tayhiap, Kang Siang-hong, padahal usia Kang Siang-hong sudah tigapuluhan, usianya terlalu tua untuk disebut pemuda gagah."
"Ji-kongcu memang baru saja berkecimpung di Kang ouw, paling baru tiga bulan, tapi dia sudah melakukan aksi yang menggemparkan dunia persilatan."
"Aksi apa yang menggetarkan dunia persilatan?"
"Urusannya menyangkut juga bidangmu. Teng-lopiauthau dari Liong-ih Piaukiok di Hok-kiu apa kau mengenalnya?"
"Maksudmu Teng Ih lo-toako? Sudah tentu aku kenal. Dia adalah pimpinan piauhang di lima propinsi selatan. Waktu pertama kali aku terjun di kalangan Kangouw, dia sudah lama terkenal. Beberapa tahun yang lalu pernah sekali aku lewat Hok-ciu, aku disambutnya dengan meriah. Sayang jarak terlalu jauh, belakangan jarang saling mengirim kabar. Usianya sudah tua, urusan piaukiok jarang ditangani sendiri. Kena perkara apa dia?"
"Tiga bulan yang lalu, dia mengantar barang kawalannya ke Sujwan barat Kawalannya dirampas oleh seorang begal tunggal."
"Hah, aku memang ingin tahu peristiwa ini. Siapakah begal tunggal itu?"
"Murid murtad dari Siau-lim-pay, gelarannya Ciam-coan, setelah kembali preman namanya Kiat Hong."
Han Wi-bu kaget, katanya.
"Konon Kiat Hong sudah memperoleh ajaran murni Siau-lim-si, Teng Ih sudah lanjut usia, mungkin bukan tandingannya lagi. Menurut tahuku, dia punya empat pembantu yang dapat diandalkan, salah satu adalah murid tertuanya. Entah dia ikut tidak dalam rombongan itu?"
"Dia hanya membawa puterinya saja. Kabarnya nona Teng juga baru pertama kali ikut sang ayah mengawal barang, ayahnya ingin dia cari pengalaman di luar. Setelah menyelesaikan tugas kali ini, Teng-lopiauthau bermaksud mengundurkan diri, menggantung golok menutup pintu, siapa nyana, tugas terakhir belum terlaksana, justru terjungkal habis-habisan."
"Lalu bagaimana akhirnya?"
"Kebetulan Kang-jikongcu lewat di tempat kejadian, Hong-mo-tio-hoat (Ilmu tongkat iblis gila) Kiat Hong dikalahkan oleh Kang Siang-hun. Teng-lopiauthau hanya cidera sedikit. Tapi Kiat Hong yang dipandang pentolan penjahat ini, adu lwe-kang atau bertanding senjata ternyata dikalahkan oleh pemuda yang baru saja keluar kandang, sudah tentu peristiwa ini cukup menggemparkan Bulim."
"Sebelum meninggalkan kota raja, pernah kudengar kabar ini, namun tidak sejelas ini. Ternyata yang merampas barang kawalannya adalah Kiat Hong, aku pun tidak tahu yang menolongnya adalah Kang-ji-kongcu. Karena mempersiapkan diri, aku tidak mencari tahu lebih jelas. Kalian malah mendapat berita lebih lengkap dan cepat."
"Beberapa hari yang lalu"
Leng Thiat-jiau berkata.
"murid tertua Kang tayhiap yang berada di Sujwan barat yaitu Yap Bok-hoa, pernah kirim surat kemari, di samping membicarakan urusan dinas, dalam suratnya ada menyinggung peristiwa ini"
Siau Ci-wan berkata dengan tertawa.
"Menurut pembawa surat, peristiwa itu membawa buntut yang berkepanjangan."
"Buntut apa lagi? Memangnya Kiat Hong tidak terima lalu menuntut balas?"
"Bukan demikian."
"Lalu apa?"
"Justru sebaliknya, buntut peristiwa ini bukan lagi pertumpahan darah tapi soal asmara,"
Demikian ujar Siau Ci-wan tertawa. Maka Leng Thiat-jiau menjelaskan.
"Di samping berterima kasih akan budi pertolongannya Teng-lopiauthau ternyata juga berkesan terhadap pemuda gagah yang cakap dan sopan, berkepandaian tinggi pula, maka dia ada maksud menjodohkan puterinya kepada Kang-jikongcu."
Siau Ci-wan menambahkan.
"Maka Teng-lopiauthau berkesempatan mampir ke rumah Yap Bok-hoa, murid tertua Kang tayhiap itu, dia utarakan maksud hatinya itu supaya Yap Bok-hoa bantu menjalin hubungan baik ini."
"Urusan jodoh adalah urusan baik, menjadi comblang juga sesuatu yang menggirangkan, Yap Bok-hoa pasti tidak menampik permohonannya."
"Sayang persoalan jodoh ini tidak memperoleh penyelesaian yang baik."
"Yap Bok-hoa tidak mau membantu?*"
"Ya. Setelah Teng-lopiauthau menyatakan maksud kedatangannya, secara langsung Yap Bok-hoa menolak secara halus."
"Kenapa?"
"Kabarnya jawaban Yap Bok-hoa kurang tegas, dalam omongannya seperti menyatakan bahwa Kang tayhiap hendak memilih calon menantunya seftdiri. Secara tidak langsung dia mau bilang bahwa Kang tayhiap sudah punya pandangan siapa yang bakal menjadi menantunya."
Siau Ci-wan ganti menjelaskan.
"Padahal sebelumnya Tenglopiauthau sudah mencari tahu bahwa Kang Siang-hun belum bertunangan, baru dia berani mohon bantuan Yap Bok-hoa, tak nyana maksud baiknya mendapat tanggapan yang kurang menyenangkan, karuan dia amat kecewa. Dia kira keluarga Kang dan Yap Bok-hoa tidak memberi muka kepadanya, anggap dirinya dari golongan rendah maka soal jodoh ini ditolak mentah-mentah. Kabarnya setelah dia sampai di rumah lantas jatuh sakit."
Han Wi-bu berkata.
"Urusan jodoh harus mau sama mau, tidak boleh dipaksakan. Teng-toako padahal sudah cukup berpengalaman, kenapa dalam hal ini dia berpandangan secupat ini? Bila ada kesempatan bertemu dengan dia, ingin aku membujuknya."
Tiba-tiba Leng Thiat-jiau tertawa, katanya.
"Aku punya dua akal yang serba sempurna untuk menyelesaikan persoalan ini."
"Ingin aku mendengarkan,"
Ujar Han Wi-bu.
"Han toako pasti pernah melihat puteri Teng-lopiauthau, bagaimana paras dan kepandaian silatnya?"
"Sudah sepuluh tahun sejak aku melihatnya, waktu itu dia berusia tujuh atau delapan tahun, maisih nona cilik, namun parasnya sudah kelihatan jelita, kabarnya makin besar semakin ayu rupawan, banyak orang memujinya sebagai kembang dalam kalangan piauhang, entah berapa pemuda yang pernah mengajukan pinangan kepada Teng-lopiauthau, sayang Teng-toako teramat sayang kepada puteri tunggalnya ini, dia ingin mencari menantu yang setimpal untuk puterinya. Bicara tentang kungfu bahwa Tengtoako ada maksud mewariskan urusan piaukiok kepada puterinya, yakin dia sudah mendapat didikan murni ayahnya. Dibanding Kiat Hong yang termasuk jago kelas satu di Kang-ouw memang masih kalah, tapi terpautnya kurasa tidak banyak."
"Bagus,"
Ujar Leng Thiat-jiau.
"kalau begitu aku ingin menjadi comblang."
"Calon yang akan diajukan Leng-toako pasti bagus, entah siapa dia?"
"Jauh di langit, dekat di depan mata,"
Ujar Leng Thiat-jiau gelakgelak. Han Wi-bu seketika paham, katanya tertawa.
"Aku memang teledor, ada Nyo-hengte di depan mata, kenapa aku tidak pernah memikirkan dia."
Leng Thiat-jiau berkata.
"Nyo-hengte yakin tidak lebih asor dibanding Kang-jikongcu. Tapi untuk urusan comblang ini tetap harus kuserahkan kepadamu, hubunganmu lebih erat dengan Tenglopiauthau."
"Nyo-hengte, kau belum bertunangan bukan? Bagaimana?"
Tanya Han Wi-bu. Jengah selebar muka Nyo Hoa, katanya.
"Banyak terima kasih akan perhatian para cianpwe, tapi... tapi...."
"Tapi apa?"
Sela Han Wi-bu.
"Nona Teng yang satu ini tanggung cantik dan pandai, tidak gampang mencari calon istri sebaik dia."
"Usia siautit masih terlalu muda, apalagi nasib kedua suhu sukar diramalkan, sungguh tiada minat memikirkan tentang jodoh...,"
Bertaut alis Han Wi-bu, katanya.
"Jadi kalau kau tidak menemukan gurumu kau tidak akan menikah?"
"Harap Han-cong-piauthau memaafkan, siautit punya kesulitan, tak bisa menerima."
Song Theng-siau kira setelah ayah beranak bersua, baru dia ada minat bicara soal jodoh maka dengan tertawa lebar dia menyeletuk.
"Agaknya Nyo-hengte belum punya pikiran berumah tangga, urusan jodoh ini boleh ditunda saja. Beng-toako adalah sahabat baik guru Nyo-hengte, kukira biarlah soal jodoh ini kelak Beng-toako yang menjadi wali."
"Begitu pun bolehlah,"
Ujar Leng Thiat-jiau. Han Wi-bu tertawa, katanya.
"Tak nyana aku bakal gagal menjadi comblang. Nyo-hengte, biarlah sambil lalu aku menerka, kesulitan yang kau maksud tadi, bukankah kau sudah punya pandangan sendiri?"
Makin merah muka Nyo Hoa, katanya.
"Ah, tidak, bukan."
"Nyo-hengte pemalu, tak perlu kita menggodanya,"
Demikian ucap Song Theng-siau.
"Aku tahu dia memang ada kesulitan, tentang pandangan kukira belum ada"
Song Theng-siau menduga Nyo Hoa belum ada pandangan, di luar tahunya terkaan Han Wi-bu malah tepat, dalam hatinya memang sudah ada pandangan.
Hari kedua Nyo Hoa ikut rombongan Han Wi-bu.
Di tengah jalan Han Wi-bu bertanya.
"Nyo-hengte, matamu tampak merah, apakah semalam kau tidak dapat tidur?"
Nyo Hoa tertawa getir, sahutnya.
"Semalam terlalu banyak aku minum arak."
Leng Thiat-jiau ikut mengantar, katanya.
"Takaran minum arak Beng Goan-cau lebih besar lagi, bila di Ok-khek-cau-beng kau dapat menyusulnya, boleh kau beradu minum dengan dia."
Leng Thiat-jiau dan Siau Ci-wan mengantar tidak jauh sudah putar balik menyelesaikan urusan dinas.
Sementara Song Thengsiau suami istri mengantar sampai di bawah gunung.
Sebelum berpisah dia genggam tangan Nyo Hoa, katanya.
"Semoga kau lekas bertemu dengan Beng Goan-cau, sungguh merupakan kejadian yang patut dibuat gembira"
Lalu dia menoleh kepada Han Wi-bu banyak ngobrol tentang pengalamannya berkecimpung di Kangouw sehingga tidak sedikit pengetahuan yang diperoleh Nyo Hoa, tanpa menemui halangan mereka mulai memasuki daerah Ok-khek-caubeng, hari itu juga tiba di Cau-hoat, kota terbesar di daerah itu.
Ok-khek-cau-beng adalah daerah yang banyak ditempati oleh kaum gembala, walau namanya ada sebuah kota berdiri di tengah padang rumput, padahal hanya tempat berkumpul, yang banyak didiami berbagai suku bangsa belaka, jauh berbeda dibanding kotakota di pedalaman Tionggoan.
Di kota besar padang rumput, penduduknya lebih banyak tinggal di dalam perkemah-an, jarang didirikan rumah di sini, bangunan terbesar di sini adalah kuil Lama dari Agama Putih, kecuali itu adalah istana tuan tanah yang berkuasa di seluruh wilayahnya, yang dinamakan istana juga hanya sebuah rumah yang agak besar dibangun dari kayu dan genteng saja.
Dalam kota sudah tentu terdapat juga banyak toko, namun toko-toko itu juga tidak tetap di situ, setiap tenda dipindah toko pun ikut pindah.
Setiap rombongan Han Wi-bu tiba di Cau-hoat, anak buah raja bumi segera menyambut dan melayani mereka, mereka ditempatkan pada sebuah perkemahan besar, setelah barang kawalan diserahkan, menurut aturan Han Wi-bu harus menemui raja bumi.
Maksud Han Wi-bu semula mau mengajak Nyo Hoa, tapi Nyo Hoa menolak, terpaksa Han Wi-bu pergi sendiri.
Malamnya dia pulang lalu berkata.
"Sayang kita terlambat dua hari, Beng Goan-cau dan Utti Keng pernah menjadi tamu agung dua hari di istananya. Setelah meninggalkan tempat ini mereka akan berpisah, Beng tayhiap pergi ke Lhasa, Utti Keng pergi ke Wi-ciang."
"Apakah nona Kim itu tidak kemari?"
Tanya Nyo Hoa.
"Apakah nona Kim itu pernah kemari aku tidak tahu. Sudah kutanya kepada raja bumi dan anak buahnya, mereka bilang tidak pernah melihat gadis yang berpakaian lelaki, tapi bukan berarti bahwa tiada orang lain tidak melihatnya Biarlah selanjutnya aku perhatikan."
Menjelang lohor hari kedua, seorang Lama datang memberi tahu kepada Han Wi-bu bahwa Pek-kau Hoat-ong bersedia menemui dia, malam ini diundang untuk datang, diharapkan dia datang lebih dini untuk merundingkan sesuatu.
Dari perkemahan di mana mereka tinggal menuju ke kuil Lama harus naik sebuah bukit, paling cepat satu jam perjalanan, maka tak lama setelah utusan Hoat-ong pergi, Han Wi-bu sudah siap-siap berangkat.
Han Wi-bu berkata kepada Nyo Hoa.
"Di daerah Ok-khek-caubeng ini, Pek-kau Hoat-ong lebih mulia dan diagungkan dibanding raja bumi, kapan dia sudi menerima tamu, kali ini aku ingin mengajakmu menemuinya."
"Aku ini paling tidak suka dibatasi gerak-gerikku, lebih baik aku tetap di sini saja, lebih bebas."
"Aku ingin mengajakmu menemui Hoat-ong bukan lantaran dia orang yang patut diagungkan."
"Lalu apa maksudmu?"
"Bukan saja Pek-kau Hoat-ong amat mendalam tentang ajaran agama, dia pun seorang jago silat yang kosen."
"Apa benar?"
Nyo Hoa tertarik.
"Ajaran agama aku tidak mendalam. Tapi di bidang ilmu silat, aku tahu dia pernah bertanding dengan Kim tayhiap dan Utti tayhiap. Menurut cerita Utti Keng, tahun itu Iwe-kang-nya masih sedikit lebih unggul dibanding Utti Keng. Kim tayhiap mampu mengalahkan dia, tapi waktu itu sengaja dia mengalah hingga akhirnya seri."
"O, jadi dia teman baik Kim tayhiap?"
"Iya, karena itu bila dia tahu puteri Kim tayhiap pernah kemari, dia pasti akan bantu aku mencarinya."
"Sebelum ini pernahkah kau bertemu dengan Pek-kau Hoat-ong?"
"Walau belum pernah ketemu, tapi aku yakin sudah lama dia pernah dengar namaku. Kabarnya dia juga senang bergaul dengan anak-anak muda yang berkepandaian tinggi, oleh sebab itu meski dia jarang menerima tamu, bila kau menemui dia, pasti dia amat senang."
"Sementara ini aku tidak ingin menemuinya, mungkin setelah kau menemuinya, besok juga masih ada waktu."
"Baiklah, akan kuperkenalkan dirimu kepadanya, supaya dia menentukan waktunya untuk menemui engkau. Mumpung ada waktu, boleh kau mencari tahu berita nona Kim itu, kalau kita bisa temukan dia sendiri kan tidak perlu bikin capai orang lain."
Memang demikian maksud Nyo Hoa, katanya.
"Baiklah, nanti malam kita bertukar berita."
Nyo Hoa keluyuran di pasar yang ramai.
Dia tidak tahu bahasa daerah, sukar berkomunikasi dengan penduduk.
Terpaksa dia harus tanya kepada pedagang yang bisa berbahasa Han, mereka bilang tidak pernah melihat pemuda seperti yang digambarkan.
Di tempat asing mencari orang yang asing pula, harapannya sudah tentu"amat kecil.
Namun Nyo Hoa tidak patah arang, tanpa tujuan dia mengayun langkah sambil menikmati pemandangan sekitarnya.
Tanpa merasa dia berada di pasar hewan.
Di tanah luas berumput dikelilingi beberapa kemah besar di tanah lapang.
Itulah tempat berkumpul para pedagang keledai dan kuda, jual beli sedang berlangsung.
Setelah seperjalanan dengan rombongan piaukiok, sedikit banyak Nyo Hoa sudah tahu seluk beluk memilih kuda, dia melihat seekor kuda bulu merah dengan bulu surinya yang coklat lebat Kuda ini tidak sebanding kuda putih yang dibawa Kita Bik-ki, namun sudah terhitung kuda pilihan juga.
Setelah kehilangan kuda, Nyo Hoa ingin membeli kuda ini, maka dia tanya harganya.
Pemilik kuda berkata.
"Kalau kau pakai sendiri, biarlah kau bayar seratus tahi! perak saja."
Khawatir Nyo Hoa merasa terlalu mahal, lekas dia menjelaskan.
"Ini kuda pilihan dari Mongol, kuat menempuh perjalanan jauh. Kalau orang lain, aku minta duaratus tahil perak."
Nyo Hoa ingin membeli beberapa barang, uang memang dia bawa tapi semula tidak berminat beli kuda, maka uang yang dibawanya paling hanya puluhan tahil saja.
Melihat Nyo Hoa bimbang, pemilik kuda menambahkan.
"Seratus tahil perak sudah kelewat murah. Bukan aku membual, di tempat ini jarang ada kuda sebaik ini."
"Aku tahu. Sebetulnya harga kuda ini tidak seratus tahil perak, tapi...."
"Engkoh cilik,"
Kata pemilik kuda.
"apa kau tidak membawa uang?"
Nyo Hoa ingin menjelaskan, tiba-tiba seorang menyeletuk di samping.
"Po kothau apa betul kau tidak membual?"
"Kenapa aku membual?"
"Coba kau lihat kuda putih di sana, itu jelas lebih bagus dari kudamu."
Waktu Nyo Hoa memburu keluar dari kerumunan orang banyak, kuda putih itu sudah lari jauh. Diam-diam hatinya mereka-reka.
"Kuda putih apakah bukan kuda putih yang ditunggangi Kim Bik-ki?"
Lekas dia tanya.
"Siapakah penunggang kuda putih itu?"
"Di sini tiada yang melihat jelas, larinya seperti angin lesus,"
Nyo Hoa tahu, untuk menyusul dirinya harus naik kuda, semoga di tengah jalan dia istirahat, baru bisa mengejar, tapi kantongnya hanya berisi puluhan tahil.
Untunglah dari kerumunan orang banyak tiba-tiba seorang berseru.
"Nyo siauhiap, ternyata kau di sini, aku sedang mencarimu."
Nyo Hoa. tahu orang ini anak buah raja bumi, maka dia tanya.
"Ada urusan apa?"
"Tidak apa-apa, hanya memberi kabar gembira kepadamu,"
"Kabar gembira apa?"
"Waktu cong-piau thau menyinggung dirimu di hadapan Hoatong, Hoat-ong amat senang, kabarnya besok kau diundang olehnya."
"Besok urusan besok. Sekarang aku sedang ada sedikit urusan." .
"Nyo siauhiap ada urusan apa, aku siap membantu."
"Aku ingin beli kuda."
"Apa susahnya beli kuda, kuda mana pilihan Nyo siauhiap?"
Merah muka Nyo Hoa, katanya.
"Uang yang kubawa tidak cukup, tolong kau jelaskan kepada pemiliknya, supaya besok dia minta kepada Han-cong-piauthau."
Orang itu tertawa, katanya.
"Urusan sekecil ini kenapa harus merepotkan Han-cong-piauthau, biar aku yang bayar. Berapa duitnya?"
"Seratus tahil perak,"
Sahut pemilik kuda.
"Tidak, kuda ini sepatutnyaber-nuai seratus limapuluh tahil perak."
Sudah tentu pemilik kuda kegirangan, katanya.
"Aha, hari ini aku betul-betul kejatuhan rejeki."
Setelah uang diserahkan, Nyo Hoa lantas berkata.
"Tolong kau pulang memberi tahu kepada Han-cong-piauthau, malam ini mungkin aku agak terlambat pulang."
Setelah menerima pecut segera dia cemplak kuda terus dibedal sekencang angin.
Nyo Hoa larikan kudanya belasan li.
Padang rumput seluas ini hanya ada para gembala, jejak Kim Bik-ki tidak ditemukan.
Timbul suatu akal dalam benak Nyo Hoa segera dia bersenandung, Di empat penjuru lautan semua saudara, di ujung langit pun bertetangga.
Suara dilontarkan dengan tekanan tenaga dalam yang kuat, gema suaranya mengalun jauh di padang rumput Namun tiada reaksi, tak dapat tanggapan, padang rumput seluas ini, demikian sepi hanya hembusan angin lalu saja yang berkesiur.
Nyo Hoa terus larikan kudanya tanpa tujuan, tanpa terasa dia sudah mulai menanjak di daerah perbukitan, sayup-sayup didengarnya di sebelah sana terdengar derap lari kuda.
Walau suaranya lemah, namun cukup menyentak sanubari Nyo Hoa; jantungnya seketika berdebar.
Segera dia keprak kudanya naik ke atas bukit, lapat-lapat dilihatnya jauh di depan sana seseorang menunggang kuda.
Kuda itu berbulu putih, semula larinya kencang, kini mulai diperlambat, jarak masih jauh belum kelihatan siapa penunggangnya, namun jelas adalah perempuan.
Nyo Hoa percepat lari kudanya, sekarang dia sudah lebih jelas, bayangan punggung gadis itu pasti Kim Bik-ki adanya, hakekatnya tidak terpikir bahwa penunggang kuda itu orang laut Maka dia bersenandung sekali lagi.
Aneh perempuan di depan itu tetap melarikan kudanya lambat-lambat, tapi tidak menoleh melihatnya.
Tak tahan Nyo Hoa berteriak.
"Apa kau tidak dengar suaraku, tidak melihat diriku? Aku ini Nyo Hoa, tunggulah sebentar, tunggu, sengaja aku mengejarmu kemari."
Betul juga gadis itu menghentikan kudanya Nyo Hoa justru tidak menduga bahwa dia berhenti, maka dia tetap keprak kudanya, lekas sekali dia sudah memburu dekat Mendadak gadis itu membentak.
"Bajingan bernyali besar, biar kau tahu kelihayan nona."
Sambil memutar kuda, sebelah tangannya terayun menimpukkan tiga batang piau terbang.
Mimpi juga Nyo Hoa tidak menduga bahwa Kim Bik-ki akan menyambut kedatangannya dengan senjata rahasia, saking kaget dia tertegun di punggung kudanya.
Untung dia membekal kepandaian tinggi, meski menghadapi kejadian yang tak terduga, akhirnya masih lebih cepat Scbat sekali dia menyelinap turun ke bawah perut kuda menghindari sambaran piau pertama, piau kedua disampuk jatuh dengan lengan baju, sementara piau ketiga dia tangkap dengan tangannya Bila dia kembali di punggung kudanya, baru melihat jelas gadis di depannya ini bukan Kim Bik-ki, tampak wajahnya merah seperti buah apel, meski sedang merengut tampak betapa jelita dan anggun sikapnya.
Melihat Nyo Hoa menangkap senjata rahasianya, gadis itu semakin berang.
Pecut terayun.
"Tar"
Kepala Nyo Hoa dilecutnya. Lekas Nyo Hoa menyampuk dengan piau yang ditangkapnya.
"Creng"
Ujung pecut orang terpental ke samping. Lekas dia keprak kudanya minggir, serunya.
"Wah, maaf, aku, aku salah mengenalmu."
Gadis itu mendengus, semprotnya.
"Dari Cau-hoat kau mengejarku sampai di sini, hanya karena salah mengenal orang?"
Mendadak berdiri tegak alisnya, serunya pula lebih marah.
"Kukira kau sengaja ingin pamer kepandaian? Walau aku bukan tandinganmu, tak bisa kubiarkan kau bertingkah, mempermainkan aku lagi."
Merasa dirinya bersalah lekas Nyo Hoa minta maaf.
"Nona, aku minta maaf, aku memang salah, soalnya temanku itu juga seorang nona, sebaya dengan kau menunggang kuda putih juga."
Mendengar penjelasan, nona itu tertarik dan balas bertanya.
"Siapakah nona itu? Boleh kau beri tahu padaku?"
"Dia bernama Kim Bik-ki."
Gadis itu melenggong.
"Kim Bik-ki? Dia, dia adalah...."
"Dia puteri Kim tayhiap Kim Tiok-Iiu, apakah nona mengenalnya?"
Seketika gadis itu menarik muka, sahutnya.
"Tidak kenal."
Tapi dia bertanya pula.
"Kau pernah apa dengan Kim Tiok-liu?"
"Aku bukan apa-apanya."
Gadis itu merengut, jengeknya.
"Hubunganmu dengan puterinya sedemikian baik, kalau bukan tamu, tentu kenalan lama. Hm, Kang tayhiap, Kim tayhiap segala, tokoh-tokoh Bulim selalu mengagulkan mereka. Dan hanya murid didiknya .saja yang berani mempermainkan orang."
Dituduh sebagai murid Kim Tiok-liu, Nyo Hoa hanya menyengir kecut.
Agaknya gadis ini merasa si-rik karena kaum Bulim mengagumi keluarga Kang dan Kim, maka dia hanya melenggong saja tak bisa menjawab.
Akhirnya gadis itu berkata sinis.
"Kalau sudah salah dan aku bukan orang kau cari, untuk apa kau diam saja di sini?"
Nyo Hoa uring-uringan, terpaksa dia putar kudanya, katanya.
"Maaf, mengganggu nona Aku akan pulang."
"Nanti dulu,"
Teriak gadis itu. Nyo Hoa melengak, tanyanya.
"Ada apa?"
"Kembalikan pisau terbangku."
Nyo Hoa haru sadar bahwa senjata rahasia orang masih di tangannya.
Sebelum mengangsurkan pisau terbang itu, sekilas dia memeriksa senjata rahasia itu, ternyata di tengah piau itu berukir dua huruf "Liong Ih".
Tergerak hati Nyo Hoa, teriaknya kaget.
"Jadi kau ini puteri Tenglopiauthau dari Liong Ih Piaukiok."
Gadis itu menank muka, semprotnya.
"Kalau benar mau apa?"
"Ah, tidak apa-apa Apakah ayahmu baik?"
Mendengar nada Nyo Hoa seperti tahu ayahnya pernah sakit, tampak sikapnya heran, tanyanya.
"Kau kenal ayahku? Kenapa kau perhatikan dia?"
"Dari dua teman aku pernah dengar perkara yang menimpa ayahmu, seorang di antaranya adalah sahabat lama ayahmu maka dia amat prihatin akan keselamatan ayahmu."
"Siapa mereka?"
Tanya si gadis.
Agaknya dia menduga ceritanya pasti panjang, bicara di atas kuda rasanya kurang sopan, maka dia melompat turun.
Maklum tadi dia tidak tahu asal-usul Nyo Hoa, wajar kalau dia curiga Kini meski belum tahu siapa dia, sedikitnya sudah tahu dua temannya adalah sahabat baik ayahnya.
Maka sikapnya berubah.
Nyo Hoa ikut melompat turun, diam-diam dia merasa heran, pikirnya.
"Kalau betul dia puteri Teng-lopiauthau, padahal Teng Ih Piau-kiok dibuka di Hok-ciu, kenapa seorang diri dia berada di sini?"
Jengah dan kikuk sikap si gadis katanya.
"Tapi aku menyerangmu dengan pisau terbang, jangan kau berkecil hati."
"Aku selalu sembrono, memang salahku juga. Nona tidak salahkan aku, aku sudah terima kasih. Baiklah, aku belum tanya siapa nama harum nona. Aku bernama Nyo Hoa."
Gadis ini adalah supel dan pemberani, sahutnya dengan riang.
"Aku bernama Teng Bing-cu. Nyo-toako, siapakah kedua temanmu ini?"
"Mereka adalah Leng Thiat-jiau dan Hari Wi-bu."
Ternyata Teng Bing-cu terperanjat, sikapnya tampak bimbang, katanya.
"Di mana kau bertemu mereka? Bagaimana mungkin secepat itu mereka mendapat kabar buruk ayahku?"
Leng Thiat-jiau dan Han Wi-bu adalah tokoh yang terkenal di Bulim, sedang Nyo Hoa adalah pemuda tanggung yang tak ternama, maka tidak heran kalau Teng Bing-cu tidak percaya bahwa dia kenal mereka.
Nyo Hoa seperti tahu jalan pikirannya, katanya tawar.
"Sebetulnya aku tidak setimpal menjadi teman mereka, soalnya di tengah perjalanan aku membantu sedikit kesulitan Han-congpiauthau, syukur mereka sudi memandang diriku, anggap aku sebagai orang sendiri, maka terhadapku mereka pun bicarakan persoalan ayahmu."
"Yang mereka bicarakan dengan kau tentu peristiwa pembegalan beberapa bulan lalu itu?"
Tanya Teng Bing-cu. Nyo Hoa mengiakan.
"Cepat juga mereka mendapat berita,"
Ucap Teng Bing-cu heran.
"Soalnya ciangbun tecu, murid calon ketua, Kang tayhiap yang berada di Sujwan barat yaitu Yap Bok-hoa sering mengadakan kontak dengan Leng-thauling. Beberapa hari yang lalu bersama Han-cong-piauthau aku bertemu dengan Leng-thauling."
Tampak senang tapi juga masgul serta malu sikap Teng Bing-cu, mukanya jengah, pikirnya.
"Entah persoalan jodohku yang minta bantuan kepada Yap Bok-hoa pernah disinggung tidak oleh mereka?"
Dia beranggapan penolakan perjodohan ini sebagai penghinaan terhadap dirinya. Nyo Hoa merasakan juga sikap runyam Teng Bing-cu, lekas dia berkata.
"Han-cong-piauthau bercerita tentang hubungan baiknya dengan ayahmu, setelah tahu terjadinya peristiwa itu, dia amat kangen dan khawatir, ingin rasanya segera menilik ayahmu. Tak nyana nona sudah berada di sini malah."
"Jadi Han-cong-piauthau sekarang berada di...."
"Dia berada di Cau-hoat, dia mengantar obat untuk Ok-khek-caubeng. Apakah nona ingin bertemu dengan dia?". Teng Bing-cu tampak bimbang, katanya sesaat kemudian.
"Ayah sering membicarakan dia dengan aku, sudah lama ingin aku menemuinya, tapi sekarang aku ada urusan biarlah lain kesempatan saja."
Ada urusan apa, tak enak Nyo Hoa bertanya maka dia berkata.
"Wah, sayang sekali. Bagaimana keadaan ayahmu belakangan ini? Boleh aku tahu? Biar nanti kuceritakan kepada Han-cong-piauthau."
Seketika kelam rona muka Teng Bing-cu, katanya.
"Terima kasih akan perhatian Han-cong-piauthau, penyakit ayah belum sembuh. Piau-kiok kami sudah tutup."
"Kenapa?"
Tanya Nyo Hoa terperanjat "Mencari nafkah di kalangan piauhang banyak resikonya.
Ayah menanam banyak permusuhan, sekarang jatuh sakit, setelah dipikirpikir, lebih baik menutup pintu menggantung golok saja."
Ternyata setelah gagal merampas barang Kiat Hong tidak terima, dia mengancam akan terus mencari perkara kepada pihak Liong Ih Piau-kiok.
Karena gagal membicarakan perjodohan puterinya, Tenglopiau-thau jatuh sakit lagi, dia lebih putus asa, tahu dirinya bukan tandingan Kiat Hong, merasa malu minta bantuan kepada Kang Hay-thiah, terpaksa dia bubarkan piaukiok-nya, lalu pergi ke tempat lain, di samping menyembunyikan diri sekaligus merawat penyakitnya.
Sebetulnya ayah Teng Bing-cu sedang sakit tak pantas keluar sejauh ini.
Tapi Nyo Hoa baru kenal tidak ingin membuat kesalahan lagi, meski merasa heran tak berani dia tanya, setelah berbincangbincang beberapa kejap lagi, dia mohon diri.
Tak nyana di waktu dia memanggil kudanya mendadak didengarnya derap lari kuda yang kencang.
Cepat sekali dua ekor kuda dilihatnya sudah menerobos keluar di lekukan bukit sana, penunggangnya seorang laki-laki setengah umur bermuka kasar, seorang lagi hwesio kepala besar telinga lebar.
Begitu melihat kedua orang ini, berubah air muka Teng Bing-cu.
Lekas dia melompat berdiri seraya mencabut golok.
Lekas Nyo Hoa tanya.
"Siapa kedua orang ini?"
Laki-laki kasar itu sudah melompat turun di depan mereka sambil gelak tertawa.
"Nona manis, aku tabu kalian ayah beranak sembunyi menghindari aku, sayang kau tetap kepergok juga olehku."
Mendengar perkataan orang, tanpa dijelaskan lagi Nyo Hoa juga sudah tahu, bahwa orang ini pasti adalah Kiat Hong yang gagal merampas barang kawalan Liong Th Piaukiok di Sujwan barat itu.
Waktu Nyo Hoa tanya kepada Teng Bing-cu, Hwesio kepala gede itu juga tanya kepada temannya.
"Apakah bocah ini Kang Siangbun?"
Kiat Hong tertawa besar, katanya.
"Memang kuharap Kian g Siang-hun, sayang bukan. Hehehe, orang sering bilang perempuan suka ganti kekasih, ternyata memang kenyataan. H"ehe, bukti di depan mata, nona manis keluarga Teng ini sekarang sudah ganti tunangan lagi."
Saking marah, merah padam muka Teng Bing-cu, bentaknya.
"Bangsat busuk; biar aku adu jiwa dengan kalian!"
Kiat Hong tertawa dingin, je-ngeknya, Heng-siocia, kekasihmu yang baru ini mungkin takkan mampu melindungimu seperti Kang Siang-hun tempo hari.
Kau ingin adu jiwa dengan aku, apa tidak ingin dihajar malah?"
Tongkat besinya sebesar mulut mangkok diangkatnya terus dipukulkan ke pinggir batu besar hingga batu hancur, bentaknya.
"He, kau bocah pelindung kembang, kuberi kesempatan padamu, kalau berani boleh maju, kalau takut lekas enyah dari sini, kami hanya akan membuat perhitungan dengan nona jelita ini."
Dengan kalem Nyo Hoa melompat berdiri, katanya.
"Nona Teng, silakan naik kuda dan berangkatlah lebih dulu, biar kuhajar mereka."
"Kiat suheng,"
Kata Hwesio gendut.
"kali ini kau salah lihat. Tak nyana bocah ini seorang pemberani, katanya mau menghajar kita."
Betapa jumawa sikapnya, seperti tidak memandang sebelah mata kepada Nyo Hoa. Nyo Hoa berkata.
"Aku sebal melihat tingkah kalian yang tidak kenal aturan ini, mereka sudah menutup perusahaan, apa pula kehendak kalian?"
Kiat Hong terbahak-bahak, serunya.
"Bukankah kukatakan barusan, kami hanya ingin membuat perhitungan dengan nona Teng ini."
Hwesio gemuk itu berkata.
"Kiat-suheng, buat apa kau adu mulut dengan bocah keparat ini. Boleh kau petik kembang jelita itu, bocah ini serahkan kepadaku."
"Tutup bacotmu!"
Mendadak Nyo Hoa menghardik. Belum lenyap suaranya.
"Plak"
Mendadak Nyo Hoa menerjang maju memberi gamparan di mulut orang.
Dalam waktu yang sama, hwesio gendut itu sedang menubruk ke arah Teng Bing-cu.
Belum lagi Teng Bing-cu lompat ke punggung kudanya, mendadak terasa angin menyambar di belakangnya, ternyata hwesio itu sedang mencengkeram pundak.
Tapi sebelum jari-jarinya mencengkeram pundak orang, hwesio gendut juga merasakan angin menyambar di belakang, tiga biji mata uang tembaga mengincar tiga hiatto besar di punggungnya.
Ternyata hanya dalam sekejap itu, setelah menampar mulut Kiat Hong, berbareng dia timpukkan tiga mata uang ke arah si hwesio untuk menyelamatkan Teng Bing-cu.
Ternyata hwesio gendut bukan kaum keroco, terdengar "Tring", mata uang pertama kena dijentik, berbareng dia menjatuhkan diri rebah di tanah terus menggelinding menghindari mata uang kedua, namun demikian mata uang ketiga mengenai bawah Jian-kin-hiat di pundak kiri.
Meski hiatto-nya tidak terkena secara telak namun lengan kiri hwesio gendut sudah tidak mampu bergerak lagi.
Keadaan Kiat Hong lebih parah dari hwesio itu, gigi depannya copot dua karena tamparan Nyo Hoa.
Sebetulnya dinilai kepandaian sejati, Kiat Hong tidak kalah melawan Nyo Hoa.
Soalnya dia meremehkan Nyo Hoa yang masih muda dan dianggap hijau, mimpi pun tidak pernah terbayang olehnya bahwa kepandaian Nyo Hoa masih lebih tinggi dari putera Kang Hay-thian yang pernah mengalahkan dirinya, maka dengan mudah dia kecundang.
Apalagi ginkang yang diyakinkan Nyo Hoa di Ciok-lin berbeda dengan perguruan yang ada di Tionggom Begitv sebat geraknya, sekali berkelebat tahu-tahu sudah di depan mata, mau menggerakkan tongkatnya juga sudah tidak sempat lagi.
Betapapun dia terhitung seorang jago silat yang cukup tangguh, meski sudah cidera, reaksinya masih cukup gesit.
Nyo Hoa berhasil memukul mulutnya, namun dia pun tertumbuk pundaknya hingga tergentak mundur tiga langkah, sesaat napasnya terasa sesak sepera"
Dada kena hantam. Kiat Hong mencak-mencak seperti kebakaran jenggot, tongkat besarnya terayun terus mengemplang ke arah Nyo Hoa. Nyo Hoa tertawa, jengeknya.
"Kau bajingan tidak tahu malu ini, masih berani mengganas. Tadi hanya kuberi sedikit hukuman. Selanjurnya tidak hanya kugampar mulutmu saja."
Dalam sekejap ini dia sudah mengatur pemapasannya, sembari bicara dia angkat pedangnya menangkis tongkat gede Kiat Hong. Saking malu Kiat Hong naik pitam, bentaknya.
"Anak keparat, kalau tidak hancur lebur badanmu aku bersumpah tidak jadi manusia."
Tiang"
Dia tangkis pedang Nyo Hoa.
Bila tongkat gedenya diputar kencang, angin menderu-deru, hawa bergolak mengeluarkan deru seperti semburan lahar gunung berapi, rumput di sekitar kakinya seperti dicabuti, beterbangan ke udara bersama pasir dan debu.
Ada maksud Nyo Hoa menyerbu, namun tidak mampu menerobos pertahanan lawan yang kokoh, cepat sekali belasan jurus telah lewat.
Tiga kali pedang pusaka Nyo Hoa beradu selaia menimbulkan percikan kembang api, tongkat lawan juga tergores cacat Tapi berat tongkat Kiat Hong ada enampuluh tujuh kati, walau pedang pusaka itu tajam juga tidak dapat memapasnya kutung.
Dalam tipu serangan Nyo Hoa di atas angin, namun pergelang-an tangannya sudah kesemutan.
Kaget juga hati Nyo Hoa menghadapi perlawanan permainan tongkat ajaran Siau-lim-si, tak heran kalau putera Kang tayhiap hanya mampu menggebahnya, tidak mampu melukainya.
Maka Nyo Hoa menabahkan hati, permainannya lebih cermat mencari kesempatan mematahkan permainan tongkat lawan.
Kiat Hong bertempur sambil berteriak-teriak, makin bertempur makin sengit dan bernafsu.
Seperti binatang liar yang terluka, dia mengamuk dengan tongkat besarnya itu, gerakannya semakin ngawur tak karuan.
Terpaksa Nyo Hoa harus kembangkan ketangkasannya, hindar sana kelit sini, dia hindarkan benturan namun tetap membendung rangsakan lawan.
Kiat Hong adalah ahli silat, kelihatannya permainan tongkatnya tidak karuan, padahal memiliki pertahanan yang teratur.
Pengalamannya cukup luas, namun dia tidak habis mengerti ilmu pedang aliran mana yang dimainkan Nyo Hoa, karuan hatinya mencelos.
Karena itu, meski tetap merangsak dia lindungi badan sekokoh dinding baja.
Dugaan Kiat Hong memang tidak keliru.
Hwesio gendut itu meski cidera, lengan kiri tidak mampu bergerak, namun melawan Teng Bing-cu kepandaiannya masih cukup untuk mendesaknya.
Syukur Nyo Hoa mencegah lawan sejenak, waktu Teng Bing-cu membalik badan kebetulan dia disongsong golok sekop si hwesio.
Hwesio gendut ini bergelar Pek-san, bukan murid Siau-lim tapi kepandaiannya cukup lumayan, hanya setingkat di bawah Kiat Hong.
Teng Bing-cu bersenjata sepasang golok panjang pendek, dia kembangkan ilmu golok ajaran keluarga, golok panjang menyerang musuh, golok pendek melindungi badan.
Dengan kedua goloknya itu dia melabrak hwesio gendut itu.
Semula keadaan masih sama kuat, tapi setelah tenaganya terkuras, keadaan Teng Bing-cu semakin terdesak.
Rasa lemas lengan kiri hwesio gendut lama kelamaan hilang, kini mulai bisa bergerak bebas, maka permainan golok di tangan kanannya makin lincah leluasa.
Mendadak dia menghardik.
"Kena!",""Trang"
Golok panjang Teng Bing-cu kena diketuknya mencelat Hwesio gendut tertawa, katanya.
"Walau aku ini orang beribadat tapi tidak kenal kasihan, meski terhadap nona seayu engkau. Nona Teng, kau secantik ini, sayang kalau golokku salah melukai kau. Demi keselamatanmu lebih baik kau menyerah saja. Kami tidak akan menyakiti engkau."
"Kentutmu busuk!"
Hardik Teng Bing-cu.
Kini dia melawan hanya dengan golok pendek.
Meski lagi bertempur, perhatian Nyo Hoa tidak lepas pada keadaan Teng Bing-cu.
Melihat keadaan gawat, tanpa pikir panjang segera dia lancarkan serangan mematikan.
Memang dia sudah di atas angin, namun dalam waktu singkat susah dia mengalahkan lawan dan mengakhiri pertempuran secepat mungkin.
Kebetulan Kiat Hong menyapu miring dengan tongkatnya, mendadak Nyo Hoa gunakan jurus Mencabut Lobak di Tanah Kering, tubuhnya mendadak meloncat tinggi, menggunakan tenaga pinjaman, pedangnya mengetuk di ujung tongkat lawan, badannya seketika terpental melambung lebih tinggi pula Dengan menekuk badan seperti anak panah tubuhnya meluncur ke depan.
Kiat Hong hanya rasakan kepalanya mendadak dingin dan silir, saking kaget serasa arwah telah melayang.
Ternyata pedang Nyo Hoa sudah mencukur sebagian rambutnya.
Kiat Hong memangnya hwesio yang kembali preman, kini setengah kepalanya dibikin botak oleh pedang Nyo Hoa.
Serangan yang dilancarkan Nyo Hoa boleh dikata amat berbahaya, jikalau bukan lantaran Bu-beng-kianvhoat yang diyakinkan itu dapat berubah menurut situasi dan selalu di luar dugaan lawan, badannya yang terapung itu kemungkinan takkan mampu diselamatkan lagi bila musuh melancarkan jurus susulan kedua.
Dalam hati Nyo Hoa bersyukur, sebaliknya Kiat Hong merasa beruntung.
Maklum bila pedang Nyo Hoa ditekan sedikit rendah, pasti kulit kepalanya sudah terpapas pula.
Sambil meraba batok kepalanya yang pelontos, lenyap semangat tempur Kiat Hong, lekas dia ambil langkah seribu.
Untung Nyo Hoa juga sudah tidak sempat menghiraukan dia.
Kedatangan Nyo Hoa tepat pada waktunya.
Hwesio gendut itu sedang lancarkan Khong-jiu-jip-pek-to, jari mencengkeram pergelangan tangan Teng Bing-cu.
Terdengar "Cret"
Menyusul jeritan ngeri Teng Bing-cu.
Ternyata dalam detik-detik berbahaya itu, golok pendeknya berhasil mengiris robek jubah di depan dada si hwesio, namun golok pendeknya seketika terampas oleh lawan.
Nyo Hoa membentak.
"Berhenti!"
Orang pun tiba.
"Sret"
Pedangnya menusuk ke arah si hwesio. Hwesio gendut juga membentak.
"Bocah keparat, boleh kau tusuk!"
Mendadak Teng Bing-cu diraihnya terus didorong ke arah Nyo Hoa. Teng Bing-cu dijadikan tameng untuk menyelamatkan diri sendiri. Di luar tahunya permainan pedang Nyo Hoa benar-benar aneh luar biasa.
"Sret"
Batang pedang menyerempet pelipis Teng Bing-cu, namun tidak melukainya sama sekali, jari tangan si hwesio malah teriris putus oleh pedangnya, karena kesakitan lekas dia lepas tangan.
Sementara Teng Bing-cu yang didorong itu jatuh ke dalam pelukan Nyo Hoa Beberapa kali lompatan si hwesio memburu ke sana langsung dia melompat ke punggung kuda putih milik Teng Bing-cu, serunya berge-lak tawa.
"Tidak dapat orangnya, mending juga memperoleh kudanya."
Teng Bing-cu meronta dari pelukan Nyo Hoa dengan wajah merah, tapi waktu dia angkat kepala segera dia menjerit panik.
"Celaka, hwesio bangsat itu mencuri kudaku."
Kuda putih Teng Bing-cu terlatih baik, agaknya dia tahu bahwa hwesio gendut ini musuh majikannya, dia hanya berputar-putar tidak mau lari, mendadak meringkik sambil berdiri dengan kaki depannya Hwesio gendut hampir dilemparnya jatuh.
Nyo Hoa membentak.
"Lari ke mana?"
Segera dia kembangkan ginkang Patpou-kan-sian mengejar ke sana. Melihat Nyo Hoa mengejar datang, si hwesio gelisah. Mendadak dia ayun golok membacok pantat kuda, bentaknya.
"Binatang, mau lari tidak."
Karena, kesakitan kuda putih itu membedal seperti kesetanan.
Hwesio gendut sempat menimpukkan golok pendek di tangannya mencegah Nyo Hoa mengejar lebih jauh.
Nyo Hoa tangkap golok pendek itu, namun kuda putih sudah lari jauh tak terkejar lagi.
Nyo Hoa kembalikan golok pendek itu kepada Teng Bing-cu.
Teng Bing-cu amat sayang pada kuda putih itu, melihat goloknya berlepotan darah, hatinya amat sedih.-Lekas Nyo Hoa menghiburnya.
"Syukur nona tidak terluka, biarlah kuda itu dicurinya, kelak pasti dapat direbut balik. Hahaha, coba lihat betapa runyam keparat pelontos itu melarikan diri."
Ginkang Kiat Hong ternyata tidak lemah, walau tidak menunggang kuda, saat mana dia sudah lari sejauh beberapa li, bayangannya masih kelihatan di balik bukit sana.
Mungkin hatinya belum tenang, sambil lari sering dia meraba kepalanya yang botak.
Teng Bing-cu ikut geli, katanya tertawa.
"Nyo-toako, syukur ada kau. Kepandaianmu memang hebat. Kang Hay-thian diagulkan sebagai pendekar besar di Bulim, puteranya adalah murid jago pedang nomor satu macam Kim Tiok-liu, tapi puteranya, Kang Siang-hun, harus berjuang mati-matian setengah jam lamanya baru menggebah keparat itu lari. Dibanding kau hanya tiga-puluhan jurus, bukan saja menampar lepas giginya, mencukur rambutnya lagi."
Mendengar orang memuji dirinya, lantas terbayang oleh Nyo Hoa akan kelakar Leng Thiat-jiau yang akan jadi comblang merangkap jodohnya dengan nona ini, seketika merah mukanya. Katanya rikuh.
"Nona terlalu memuji. Aku ini orang yang tidak ternama, mana berani dibanding dengan putera Kang tayhiap?"
Teng Bing-cu mendengus.
"Ternama atau tidak ternama, bukan sedikit orang-orang ternama yang tidak berisi. Yang penting adalah kepandaiannya yang sejati."
"Putera Kang tayhiap memangnya tidak berkepandaian tinggi?"
Teng Bing-cu meliriknya, ujarnya.
"Ya, aku lupa kau bersahabat baik dengan puteri Kim tayhiap, Kang Siang-hun adalah suheng nona itu, tak heran kau membela dia. H m, tapi aku, aku tak sudi bicara tentang dia lagi."
"Memang, yang penting kita memutuskan bagaimana kita selanjutnya. Nona kehilangan tunggangan, hari sudah malam, entah di depan ada penduduk atau tidak, kuanjurkan kau ikut aku pulang ke Cau-hoat saja. Han-cong-piauthau teman ayahmu sekarang di sana."
"Nyo-toako, kau pandai memikirkan kepentingan orang lain, aku amat berterima kasih akan pertolongan dan maksud baikmu. Tapi aku tidak akan kembali ke Cau-hoat"
"Lho kenapa?"
"Tidak apa-apa, tidak mau ya tidak mau."
Nyo Hoa, tidak berani membujuknya lagi, katanya.
"Nona Teng, maaf kalau aku lancang tanya, kau mau ke mana?"
"Aku ingin pergi keThian-san."
Nyo Hoa kaget, katanya.
"Seorang diri kau mau pergi ke Thiansan? Perjalanan amat jauh sekali."
"Kau sudah menyelamatkan jiwaku, aku tidak akan anggap kau orang luar. Sebetulnya ayah merasa berat dipaksa menutup piaukiok. Namun dia maklum dirinya tidak mampu melawan musuh, karena dipaksa keadaan dia tutup piaukiok lari ke tempat jauh, namun terasa sukar juga menyelamatkan diri. Karena itu kami harus berdaya mohon bantuan orang pandai, kecuali demi keselamatan juga supaya piaukiok dibuka lagi."
Nyo Hoa manggut-mangut tanda mengerti. Pikirnya.
"Jadi dia mau minta bantuan Thian-san-pay. Konon kepandaian ciangbunjin Thian-san-pay Tong Keng-thian tidak lebih rendah dari Kang Haythian dan Kim Tiok-liu, apalagi mereka berjiwa ksatria. Padahal di Tionggoan tidak kurang orang pandai, kenapa jauh-jauh harus minta bantuan ke sana?"
Teng Bing-cu seperti meraba isi hatinya, segera dia menjelaskan.
"Ayah sudah tua, tenaga lemah, kekuatan sendiri tidak mampu melawan musuh, tapi wataknya justru tidak mau minta bantuan orang lain. Sudah tentu bila orang membantu dia, harinya amat berterima kasih, namun bila suruh dia buka mulut minta bantuan, apalagi kepada orang yang tiada sangkut pautnya dengan kalangan piaukiok, meski dia dibunuh musuh juga tidak akan sudi tunduk atau minta bantuan orang luar."
Bertaut alis Nyo Hoa mendapat penjelasan ini, sungguh dia tidak habis mengerti menghadapi watak aneh ayah si gadis.
Kalau tidak mau minta bantuan orang, kenapa pulennya disuruh ke Thian-san?
Maka Teng Bing-cu menjelaskan lebih lanjut.
"Aku ada seorang susiok muda, murid penutup dari kakek guruku, dia pun pemegang saham dalam Liong Ih Piaukiok. Hobinya belajar silat. Sejak suco meninggal, dia minta persetujuan ayah, lalu pindah ke perguruan Thian-san."
"O, maksud ayahmu ingin mengundang sute ciliknya itu untuk menguasai piaukiok."
"Ya. Memangnya susiok juga memegang saham, maka hal ini tidak terhitung minta bantuan kepada orang luar."
"Tapi Thian-san ribuan li jauhnya. Kiat Hong muncul di daerah ini, malam ini mereka melarikan diri, mungkin akan selalu menguntit jejakmu."
"Aku mewarisi watak ayah. Bila ingin melakukan sesuatu, meski rintangan menghadang betapapun aku tidak akan bekerja setengah jalan."
Tekadnya yang besar dan teguh membuat Nyo Hoa rikuh dan serba salah pula, sesaat teriongong kebingungan.
Sebetulnya ada hasrat mengantar nona Teng ke Thian-san sekaligus menjemput adiknya di sana.
Tapi mengingat dia harus selekasnya membuat perhitungan dengan Beng Goan-cau, sesaat dia jadi bingung.
Teng Bing-cu tidak tahu apa yang dipikir oleh Nyo Hoa, tiba-tiba dia berkata.
"Nyo-toako, kau tak usah khawatir, meski jalan kaki aku pasti akan sampai di Thian-san. Bukankah kau sendiri ingin lekas kembali ke Cau-hoat?"
"Ya, ya, tapi... tapi...."
Teng Bing-cu tertawa geli, kautnya.
"Malam ini terang bulan, lekaslah kau pulang, di sini kau tidak menemukan nona Kim, bukan mustahil nona Kim sedang menunggu kau pulang di Cau-hoat"
Bagaimanapun Nyo Hoa tidak tega, katanya.
"Biarlah sampai terang tanah kan belum terlambat"
Mendadak Teng Bing-cu bersikap kereng, katanya dingin.
"Kita bertemu di tengah jalan, aku menerima budi pertolonganmu, sungguh amat berterima kasih, mana boleh membuat kau capai lagi? Dan lagi meski kaum persilatan tidak pantang adat istiadat tapi bila sampai nona Kim tahu kau semalam suntuk menemani aku di padang terbuka begini, celaka bila menimbulkan rasa curiganya."
Nyo Hoa sadar, segera dia berdiri, katanya.
"Baik, nona Teng aku akan pulang tapi kudaku ini boleh kau pakai saja."
Teng Bing-cu melengak, katanya.
"Maksudmu kudamu kau berikan kepadaku?"
"Kudaku ini tidak secepat kudamu, namun dia sudah biasa menempuh perjalanan jauh, boleh kau berangkat naik kuda ini."
Di samping terima kasih, Teng Bing-cu terbaru dan menyesal pula Sambil berlinang airmata dia berkata tersendat "Tidak, jangan, Nyo toako aku tak bisa terima kudamu."
Mendadak terdengar kuda lari mendatangi, Nyo Hoa heran.
"Malam-malam begini siapa berkeliaran di padang rumput, mungkin Kiat Hong balik membawa bantuan?"
Mendadak terdengar dua orang menjerit bersama.
Seorang penunggang kuda yang dibedal mendatangi, seorang lagi adalah Teng Bing-cu yang ada di sampingnya.
Jelas kedua pihak sama-sama kaget dan heran, tapi sekejap ini tak tahu apa yang harus mereka ucapkan Di bawah rembulan, Nyo Hoa melihat tegas seorang yang sudah melompat turun dari kudanya yaitu seorang pemuda berusia duapuluh-an.
Setelah tenangkan diri, pemuda itu mengawasi Nyo Hoa sejenak lalu berkata.
"Nona Teng, ternyata kau memang di sini"
Agaknya dia sudah tahu jejak Teng Bing-cu, tapi tidak kira bahwa Nyo Hoa juga di sini.
"Memangnya amat kebetulan sekali,"
Ujar Teng Bing-cu tawar.
"Tak nyana disini bertemu dengan kau," .
"Menurut penyelidikanku, Kiat Hong dan seorang begundalnya mengejar ke arah sini. Nona kau.,.."
Teng Bing-cu menukas dingin.
"Terima kasih atas perhatianmu. Barusan saja aku sudah berhantam dengan mereka."
Pemuda itu kaget, serunya.
"Kau sudah berhantam dengan mereka? Mana, mana mereka?"
"Kenapa gugup, kalian belum kenal bukan? Mari kuperkenalkan,"
Tiba-tiba dia tarik Nyo Hoa berdiri jajar adu pundak dengan sikap yang mesra, maju ke depan si pemuda.
Setelah Kiat Hong digebah pergi, walau Teng Bing-cu merasa simpati terhadapnya, tapi hubungan mereka masih menjaga normanorma kesopanan, kini mendadak sikapnya begini mesra, karuan Nyo Hoa meringis runyam, namun tak enak mendorongnya, karuan merah selembar mukanya.
Perlahan Teng Bing-cu berkata.
"Biar kuperkenalkan. Inilah putera kedua Kang tayhiap, Kang Siang-hun Kang siauhiap. Dia ini temanku Nyo-toako "
Jantung Nyo Hoa berdegup keras setelah tahu pemuda ini adalah Kang Siang-hun. Pikirnya.
"Mungkin dia pun mencari Bik-ki? Entah dia sudah bertemu dengan engkoh Bik-ki? Kalau dia pun salah paham terhadapku, wah celaka."
Mendengar nama Nyo Hoa, Kang Siang-hun juga kaget, sesaat dia terbeliak mengawasi Nyo Hoa, katanya kemudian.
"Ternyata kau inilah Nyo Hoa toako, selamat bertemu"
Teng Bing-cu kira orang merasa iri terhadap Nyo Hoa, maka dia nekad tnenggelendot di dada Nyo Hoa, katanya.
"Berkat pertolongan Nyo-toako dengan mudah dia meng-gebah Kiat Hong dan hwesio gendut itu, hingga mereka lari tunggang langgang."
Sengaja dia mengagul-kan kepandaian Nyo Hoa, dia kira dapat membuat Kang Siang-hun dongkol. Tapi Nyo Hoa semakin runyam malah. Tidak tampak perubahan mimik muka Kang Siang-hun, katanya.
"Bagus sekali kau sudah mendapat perlindungan Nyo-toako, maka legalah hatiku."
Lekas Nyo Hoa berkata.
"Hanya secara kebetulan aku bertemu nona Teng dan menolongnya dari tangan Kiat Hong. Sekarang aku, aku akan pulang ke...."
Sebelum Nyo Hoa menyebut kota Cau-hoat, mendadak Teng Bing-cu menyela.
"Nyo-toako, bukankah tadi kau bilang hendak menemani aku berangkat ke Thian-san?"
Tadi Nyo Hoa memang ada maksud demikian, namun dia tak berani mengutarakan isi hatinya.
Kini Teng Bing-cu seperti sengaja main sandiwara di depan Kang Siang-hun, sesaat dia tertegun tak mampu menjawab.
Maka Kang Siang-hun tertawa kering, katanya.
"Itu lebih baik, semoga kalian selamat sepanjang jalan."
Nyo Hoa bingung, karena terdesak segera dia berontak, katanya tergagap.
"Kang-toako sudah, sudah datang, kupikir... kupikir,..."
Khawatir dia mengatakan sesuatu yang menusuk telinga, lekas Teng Bing-cu menyela.
"Kau pikir apa?"
"Kupikir pulang ke Cau-hoat saja, tadi bukankah kau menganjurkan aku pulang? Kepandaian Kang-toako lebih... lebih...."
Seketika. Teng Bing-cu naik pitam, dia kibaskan tangan Nyo Hoa, katanya dingin.
Baca Juga: Naga Merah 8
Baca Juga: Pisau Kekasih 2