Ceritasilat Novel Online

Naga Merah 8

Eps 8 Naga Merah - Khu Lung

Baca online Naga Merah - Khu Lung

Cersil Naga Merah - Khu Lung.

"Dengan apa kau hendak menolong padanya? "

"Aku tokh tidak dapat menyaksikan dia mati ...."

"Tapi kau jangan lupa, dia sudah bersuami, walaupun kalian masih saling mencinta, kalian juga tidak dapat bersatu .... ! "

"Kau kata aku tidak harus menolong dirinya? "

"Bukan itu maksudku. Kau harus menolong padanya. Dalam jiwamu kau cuma mempunyai kekasih wanita ini, cuma aku hendak tanya padamu, apakah kau benar-benar cinta padanya? "

"Ya, seumur hidupku aku tidak dapat melupakan dia."

"Kalau begitu aku hendak menolong padanya satu kali."

"Kau dapat menolong? Benarkah itu? "

"Aku dapat, cuma setelah ia tersadar kau juga tidak boleh mengaku bahwa kau adalah Tan Liong ...."

"Kau, bagaimana kau tahu kalau aku Tan Liong? "

Tanyanya Tan Liong heran. Terdengar wanita itu ketawa dingin.

"Sudah lama aku mengikuti jejakmu, jangan kata namamu, semua asal usulmu aku juga mengetahui dengan jelas. sudahlah ambillah ini! "

Ketika Tan Liong menyambuti barang itu ia terperanjat karena barang itu ternyata adalah sebutir Swat oh obat mujijat yang cuma dapat tumbuh didaerah salju juga hanya seribu tahun baru mengeluarkan buahnya tapi dari manakah wanita itu dapatkan barang ini?

Dengan perasaan terharu Tan Liong mengawasi bayangan belakang wanita itu.

Ia tidak tahu bagaimana harus menyatakan terima kasihnya!

Kembali terdengar suaranya wanita itu.

"Mengapakah tuan heran? Berikanlah makan padanya .... kalau ia tidak dapat mengunyah, kau boleh kunyah sampai halus kemudian masukkan dalam mulutnya."

"Aku tidak tahu bagaimana harus mengucapkan terima kasihku padamu ....?"

"Terima kasih ? "

Wanita itu perdengarkan suara ketawanya kemudian berkata pula.

"Asal dikemudian hari kau jangan bunuh aku saja sudah cukup."

Ia berhenti sejenak lalu berkata pula.

"Wakil pejabat ketua Ciong lam pay nona Oey Bwee Cian sudah kutolong. Ia sekarang berada dalam kamar rahasiamu itu. Aku sekarang juga harus pergi."

Setelah itu dengan cepat ia sudah keluar dari kamar tawanan.

Tan Liong mengawasi berlalunya wanita itu dengan hati mendelu.

Ketika ia berpaling ke arah Cu Lian, bekas kekasihnya itu masih tetap dalam keadaan pingsan, maka ia lalu masukkan buah Swat oh kedalam mulutnya dan dikunyah perlahan-lahan.

setelah menjadi lembut ia lalu masukkan dalam mulut Cu Lian dengan mulutnya kemudian dibantu pula dengan menyalurkan kekuatan tenaga dalamnya ke dalam tubuh Cu Lian.

Buah Swat oh ini benar-benar ada semacam obat yang sangat mujijat ia dapat menyembuhkan segala penyakit yang bagaimanapun beratnya.

Benar saja Cu Lian perlahan-lahan tersadar dan membuka matanya yang lemah.

"Siapa .... menolong .... diriku .... ? "

Demikian ia menanya dengan suara lemah.

"Aku ...."

Jawabnya Tan Liong sedih, tenggorokannya seperti tersumbat hingga tidak dapat melanjutkan perkataannya.

Tidak antara lama Cu Lian mulai bangun semangatnya.

Perlahan-lahan ia bangun dan duduk kemudian memondong bayinya yang masih menangis dan berkata dengan suara sedih.

"Ie Liong .... ibumu telah menyusahkan kau."

Air mata seorang ibu telah mengalir keluar membasahi muka bayi. Tan Liong hampir tidak sanggup menyaksikan keadaan yang mengenaskan itu baru berkata.

"Kau jangan terlalu sedih, penyakitmu baru saja sembuh."

Cu Lian mengawasi Tan Liong tanyanya.

"Kau yang menolong diriku? "

"Aku hanya sekedar membantu. Orang yang menolong kau sudah pergi."

Suara dan potongan yang tidak asing baginya itu membuat Cu Lian teringat diri Tan Liong.

Meski saat itu Tan Liong berdiri membelakangi dirinya, tapi suara itu adalah suaranya.

Itu tidak salah lagi.

Perasaan yang sudah lama terbenam dalam hatinya kini mendadak berkobar lagi tanpa terkendalikan.

"Adakah .... kau engkau engko Liong?"

Demikian satu pertanyaan keluar dari mulutnya. Dengan cepat Tan liong balikkan badannya dan menjawab.

"Bukan, aku bukan Tan Liong."

Wajah jelek dan menakutkan yang dipunyai Tan Liong sekarang membuat Cu Lian hampir saja lompat mundur, belum pernah ia menyaksikan ada orang yang mempunyai potongan muka demikian menakutkan.

Setalah tenangkan hatinya ia berkata dengan suara terputus-putus!

"Aku kira tuan adalah Tan Liong ....

suaramu ....

potonganmu sangat mirip sekali dengannya ...."

Tan Liong ketawa getir.

"Aku mirip Tan Liong? "

"Ya, mirip sekali."

"Tapi, ia sudah meninggal."

"Ya, .... sudah meninggal .... meninggal untuk selama-lamanya! "

Tan Liong gigit bibir, sedapat mungkin menahan jangan sampai air matanya keluar. Maka buru-buru alihkan pembicaraan ke lain soal.

"Mengapa kau disekap di sini? "

"Ia tidak pukul mati aku. Sudah cukup menaruh kasihan padaku! "

"Dia? .... siapa? "

"Suamiku .... Koan Beng."

"Oh! "

Tan Liong ketawa getir.

"Kalau begitu mari kuantar kau keluar! "

Tan Liong lalu ajak Cu Lian ke kamar rahasianya, begitu ia mendorong pintu, ia telah dapatkan Oey Bwee Cian.

Nona ini tampak banyak lebih kurusan.

Cu Lian dan Oey Bwee Cian sudah menjadi sahabat akrab, sebabnya ialah karena Cu Lian pernah menjadi kekasihnya Tan Liong.

Segala riwayatnya dengan Tan Liong ia pernah beritahukan pada Oey Bwee Cian.

Kini setelah berjumpa satu sama lain mereka sangat girang, dua wanita itu lantas saling berpelukan dan menangis.

Mereka tinggalkan Tan Liong berdiri disampingnya.

Sejenak kemudian Cu Lian baru berkata.

"Adik Oey, kalau bukan tuan ini, aku mungkin akan binasa dalam penjara."

Oey Bwee Cian mengawasi Tan Liong, parasnya berubah seketika, tanyanya kemudian.

"Kau yang menolongnya? "

Tan Liong anggukkan kepalanya sambil ketawa getir.

"Kaukah sahabatnya ketua partai kita? "

"Benar! Bagaimana nona tahu? "

"Seorang wanita berbaju hijau yang memberitahukan padaku, ketika ketua kami meninggal dunia, entah ada pesan apa yang ditinggalkan padamu? "

"Ia minta aku sampaikan padamu, supaya jabatan Cang bun jin generasi ke delapan kau yang pegang jabatannya."

Oey Bwee Cian berubah parasnya.

"Mana boleh Oey Bwee Cian seorang wanita, bagaimana sanggup memikul kewajiban berat ini? "

"Ini adalah pesan Ciang bun jin partai kalian sebelum ia meninggal dunia. Apa nona hendak melawan perintahnya? "

Oey Bwee Cian menghela napas.

"Kalai Ciang bun jin kami tidak meninggal, partai kami juga tidak sampai mengalami nasib seperti ini."

"Nanti tanggal 9 bulan ini akan diadakan upacara untuk kau menerima jabatan tersebut. Aku telah terima pesan Ciang bun jin kalian, untuk membantu mengadakan upacara serta melakukan tugas serah terima itu! "

"Tanggal 9 ? Sekarang dalam partai kami seorangpun tak ada ...."

"Dalam waktu sepuluh hari mereka akan kembali kemari semuanya."

"Mereka akan kembali? "

Tan Liong anggukkan kepala. Ia beritahukan rencananya kepada Oey bwee Cian.

"Tapi diatas gunung masih terdapat tiga puluh lebih orang Thian seng hwee!"

"Kau boleh legakan hatimu dalam waktu tiga hari mereka semua akan dimasukkan ke dalam peti mati! "

Selagi Oey Bwee Cian hendak menjawab diluar kamar tiba-tiba terdengar suara derap kaki mendatangi, agaknya ada orang datang.

Tan Liong dan Oey Bwee Cian diam-diam terkejut, mungkin ada orang-orang Thian seng hwee, yang mengetahui Cu Lian dan Oey Bwee Cian sudah dibawa kabur dari dalam penjara hingga pergi mencarinya.

Dugaan itu memang tepat.

Koan Beng yang mengetahui bahwa penjaga kamar tahanan binasa semua, sangat terkejut.

Ia segera mengetahui bahwa di atas gunung Ciong lam san ini telah kedatangan orang pandai.

Maka seketika itu lantas mengutus orang-orangnya yang terlihai, untuk mengadakan pemeriksaan dengan teliti.

Jika kedapatan orang yang mencurigakan harus segera dilaporkan padanya.

Dengan wajah berubah Tan Liong mendorong pintu perlahan-lahan, benar saja ia segera dapat lihat tiga orang berpakaian ringkas sedang mengadakan pemeriksaan dengan sangat teliti.

Tan Liong segera lompat keluar dan membentak dengan suara dingin.

"Kalian berbuat apa? "

Tiga orang itu terperanjat dan segera berpaling mengawasi Tan Liong yang seram, lantas pada mundur setindak. Tan Liong berkata pula sambil ketawa dingin.

"Kalian bertiga apa orang-orangnya Thian seng hwee? "

"Tidak salah .... kau .... kau manusia atau setan? "

"Setan, aku adalah setan, sekarang aku hendak ajak kalian menghadap kepada Giam lo ong ...."

Berbareng dengan itu tangannya lantas bergerak melancarkan serangan dahsyat.

Tiga orang itu masih dalam keterkejutan.

Serangan Tan Liong yang mengandung hawa panas sudah menyambar diri mereka hingga seketika itu lantas menjerit dan roboh di tanah.

Tan Liong ketawa.

Ia kumpulkan jadi satu, tiga mayat orang Thian seng hwee itu selagi hendak masuk lagi kekamarnya, sesosok bayangan manusia, dengan tak mengeluarkan suara sedikitpun melayang dibelakangnya ....

Tapi Tan Liong cukup waspada ketika merasa hembusan angin terasa dibelakangnya, tangan kirinya lantas bergerak.

Selagi hendak melancarkan serangannya, dari belakang terdengar orang berkata.

"Ciang bun jin, jangan ...."

Suara itu mengejutkan Tan Liong dengan cepat ia urungkan serangannya ketika ia berpaling buru-buru lantas berkata.

"Kiranya adalah locianpwee."

Orang itu bukan lain daripada Im yang Ie su yang telah mengeluarkan dirinya dari dalam kuburan.

"Ciang bun jin kalau aku tidak lantas peringatkan kau, barangkali sudah terkena seranganmu!"

Berkata Im yang Ie su sambil tersenyum. Tan Liong ketawa meringis.

"Maafkan kesalahan boanpwee harap locianpwee jangan sebut boanpwee Ciang bun jin ...."

"Kenapa? "

Tan Liong lalu menceritakan bahwa kedudukannya Ciang bun jin ia telah serahkan kepada Oey Bwee Cian.

"Begitupun baik. Kedatanganku ini hanya hendak memberitahukan padamu sesuatu hal ...."

"Ada urusan apa? "

"Kabarnya Yao lie lu telah dibawa kabur oleh Tok gan Lokoay ke gunung Kui leng san."

"Apa benar?"

"Sudah tentu benar.

Tok gan Lokoay membawa kabur Yao lie lu, maksudnya ialah hendak ambil kotorannya.

Apabila iblis itu berhasil mendapatkan kotoran Yao lie lu maka dalam waktu setengah bulan saja, bangkainya iblis mata satu itu pasti akan selesai.

Oleh karena itu, maka besok pagi kau harus pergi ke gunung Kui leng san, dan berdaya upaya memancing keluar Yao lie lu, kalau tidak, ini sangat berbahaya bagi dunia Kangouw."

Bukan kepalang kagetnya Tan Liong, kalau bangkai berapi itu berhasil diciptakan oleh iblis mata satu, entah berapa banyak orang rimba persilatan yang akan menjadi korban.

"Apa Yao lie lu sudi memberikan kotorannya? "

"Tentu, karena Oey Bwee Cian cinta kau, ia telah menaruh dendam maka ia sekarang berdiam ditempatnya iblis mata satu itu, melatih ilmunya. Ia hendak mencari Oey Bwee Cian untuk membalas dendam."

"Yao lie lu telah membuat susah diriku hingga aku harus menderita batin sangat hebat serta membuat sesalan seumur hidupku. Kalau aku tidak bunuh mati padanya bagaimana aku harus jadi orang? "

"Tapi ia cintakan kau setulus hati! "

Perkataan itu mengejutkan Tan Liong.

Memang benar Yao lie lu cintakan padanya dari perbuatannya yang berkali-kali telah menolong dirinya.

Ia dapat mengerti bagaimana perasaannya nona itu.

Mendadak ia ingat bagaimana Yao lie lu membuat luka orang-orang Ciong lam pay digunung Ciong lam san, maka seketika lantas naik pitam.

"Aku harus bunuh mati padanya!"

Demikian ia berkata.

"Kalau kau bisa bunuh mati padanya, itu memang baik. Tapi, mungkin kau tidak bisa turun tangan."

Tan Liong ketawa dingin.

"Aku dapat, sekarang aku berangkat ke gunung Kiu leng san. Bolehkah aku minta tolong locianpwee untuk mengawasi gunung Ciong lam san? "

"Boleh saja! "

"Kalau ada orang yang menanya tentang diriku, katakan saja bahwa aku adalah muridmu sahabatnya Tan Liong."

"Baiklah."

"Kalau begitu, mari boanpwee kenalkan cianpwee kepada Bwee Cian, setelah itu boanpwee segera berangkat kegunung Kui leng san."

Im yang Ie su anggukkan kepala. Tan Liong lalu ajak ia masuk kedalam kamar. Oey Bwee Cian melihat datangnya orang yang masih asing baginya, sesaat tampak kaget.

"Ciang bun jin, ini adalah suhuku Im yang Ie su.."

Demikian Tan Liong perkenalkan orang tua itu kepada Oey Bwee Cian.

Mendengar nama Im yang Ie su, Oey Bwee Cian terperanjat, orang tua itu dulu pernah dikabarkan telah hilang dilembah Pek kut gam, tapi mengapa tiga puluh tahun kemudian ia mendadak muncul disini?

Sebelum hilang rasa heran dan kaget Oey Bwee Cian, Im yang Ie su telah berkata padanya sambil unjuk hormat.

"Ciang bun jin, aku si orang she Kok disini unjuk hormat."

Oey Bwee Cian buru-buru membalas hormat dan menjawab.

"Locianpwee, tidak usah banyak peraturan Oey Bwee Cian tidak sanggup! "

Tan Liong menanya kepada Oey Bwee Cian.

"Ciang bun jin numpang tanya, apa Yao lie lu pernah kemari dan kemudian ditangkap oleh Tok gan Lokoay? "

"Benar! "

"Aku sekarang hendak berangkat ke gunung Kui leng san, urusan disini biarlah dibantu oleh suhu. Dalam tempo tiga hari aku pasti kembali."

"Untuk kepentingan Ciong lam pay tuan telah capaikan hati begitu rupa. Oey Bwee Cian tidak tahu dengan jalan bagaimana untuk mengucapkan terima kasihnya kepadamu."

"Ucapan Ciang bun jin ini terlalu berat bagiku, aku hanya terima pesan dari ketuamu sudah tentu harus kulaksanakan."

Im yang Ie su lantas berkata.

"Nah, kau boleh berangkat."

Tan Liong anggukkan kepala dan berkata pada Im yang Ie su.

"Jika suhu melihat dari orang-orang Thian seng hwee yang berani mengganggu urusan Ciong lam pay bunuh mati saja."

"Akupun beranggapan demikian ...."

Tan Liong lalu pamitan dengan Oey Bwee Cian untuk berangkat kegunung Kui leng san. Cu Lian mengawasi bayangan bekas Tan Liong, terkenang pula pengalamannya yang telah lalu .... -o0o0dw0o0o-

Jilid KE .

26 Keluar dari kamar keadaan diluar gelap gulita.

Tan Liong bertindak dengan amat hati-hati, setelah mengetahui tidak ada yang menjaga ia lalu lari ke bawah gunung.

Hari kedua diwaktu senja, Tan Liong sudah tiba di lembah Kui leng sam di gunung Kui leng san.

Gunung itu tidak tinggi.

Kui leng sam letaknya disebelah gunung.

Ketika Tan Liong di bawah, dari atas batu cadas tertampak gumpalan api naik ke udara.

Tan Liong terkesiap, ia perhatikan api itu, ternyata bentuknya seperti manusia, ia segera mengerti itulah bangkai berapi ciptaan Tok gan Lokoay.

Kalau dibiarkan iblis mata satu itu berhasil mengendalikan bangkai hidup itu, maka dapat dibayangkan betapa hebatnya akan membuat bencana di dunia Kangouw.

Bangkai berapi itu ditengah udara berputaran beberapa kali lalu turun lagi ke bawah.

Tan Liong terus mencari jalan untuk mendekati tempat dimana bangkai api itu dilepaskan, ternyata disuatu tempat yang letaknya setinggi kira-kira beberapa puluh tombak, yang tidak dapat dicapai dengan mengandalkan ilmu meringankan tubuh saja.

Didalam rimba dibawah gunung itu ia dapatkan jalanan kecil yang menuju ketebing tinggi itu.

Tan Liong mengawasi sejenak, akhirnya ia ambil putusan untuk naik ke atas gunung.

Ia mengerti bahwa perjalanannya ke gunung Kui leng san ini besar sekali hubungannya dengan keselamatan dunia rimba persilatan.

Apabila tidak hati-hati mungkin ia sendiri yang akan kehilangan jiwa.

Dengan cara bagaimana ia dapat memancing turun Yao lie lu dari atas tebing itu dan membunuh mati padanya.

Ia merambat naik sambil berpikir, tahu-tahu sudah ada diatas tebing.

Di atas tebing yang tinggi itu ternyata merupakan tanah kosong yang luasnya kira-kira setengah lie, disitu tampak bayangan seseorang yang sedang berlatih ilmu silat.

Melihat siapa adanya orang itu, Tan Liong darahnya mendidih.

Orang itu bukan lain daripada Yao lie lu.

Ia kertak gigi sekarang ia harus bertindak dengan cepat dengan cara apa supaya dapat memancing turun wanita itu?

Ia mengerti bahwa Yao lie lu mencintakan padanya dengan sungguh hati.

Jika ia muncul sebagai Tan Liong, Yao lie lu pasti akan ikut pada turun dari atas tebing.

Kalau tidak, dengan keadaan wajahnya seperti sekarang ini Yao lie lu pasti akan ketakutan setengah mati juga tidak nanti mau turun tangan.

Tok gan Lokoay juga tidak ijinkan ia turun.

Maka ia lantas merobek ujung bajunya, dipakai untuk menutupi wajahnya.

Dengan diam-diam ia mendekati Yao lie lu.

Ketika tiba sejarak lima kaki, ia memanggil dengan suara perlahan.

"Nona Yao lie lu."

Yao lie lu yang sedang melatih ilmu silat mendengar panggilan itu nampak terkejut.

Sudah tentu ia lantas berpaling, ketika melihat seorang berkerudung kain hitam berdiri dibelakangnya, ia kesima.

Tan Liong perdengarkan suara ketawanya kemudian berkata!

"Yao lie lu, apa kau sudah tidak kenali diriku?"

"Kau ... kau siapa? "

"Apa suaraku kau juga sudah tidak kenali? "

Pertanyaan itu mengingatkan Yao lie lu kepada suara Tan Liong, seketika ia lantas berseru.

"Kau adalah engko Tan? "

"Tidak salah"

Yao lie lu segera lompat jatuhkan dirinya dalam pelukan Tan Liong.

"Engko Tan, aku rasa hampir mati memikirkan kau."

Tan Liong kendalikan amarahnya, ia berkata.

"Nona Thio, ada sedikit urusan yang aku hendak beritahukan kepadamu."

"Urusan apa engko Tan? "

"Mari, kita bicarakan di bawah."

Tanpa menunggu jawaban Yao lie lu, Tan Liong sudah lompat turun dari atas tebing.

Yao lie lu tidak tahu kalau dirinya telah dipancing ia hanya merasa girang karena datangnya sang kekasih secara mendadak.

Maka ketika Tan Liong lompat turun ia juga segera menyusul.

Sebentar kemudian bayangan orang tampak lari dari tebing tinggi itu.

Kira-kira beberapa lie dibawah tebing Tan Liong hentikan kakinya, Yao lie lu juga tiba disisinya.

"Engko Tan, ada urusan apa sih? "

Demikian Yao lie lu menanya. Tan Liong perdengarkan suara ketawa dingin, lalu berkata.

"Yao lie lu, kau lihat aku ini siapa? "

Ia lalu buka kerudungnya, Yao lie lu menjerit ia mundur dua tindak.

"Kau siapa ....? "

Tanyanya ketakutan.

"Engko Tanmu tokh! "

"Kentut kau yang bentuknya seperti setan, mana bisa jadi engko Tan. Siapa sebetulnya kau? "

"Yao lie lu, aku adalah Tan Liong! "

"Bercermin dulu, lihat bagaimana macam wajahmu? "

Tan Liong tidak merasa tertusuk hatinya, karena perkataan itu bukankah si nona baju merah juga mengatakan demikian? "Memang betul aku bukan Tan Liong karena Tan Liong sudah meninggal dunia ...."

"Apa? .... Tan Liong sudah meninggal ....? "

Yao lie lu parasnya berubah.

"Dia sudah meninggal. Sebelum menutup mata ia meninggalkan pesan padaku ....! "

"Urusan apa? "

"Supaya membunuh mati kau Yao lie lu, hatimu terlalu kejam. Tan Liong lantaran kau telah membuat sesalan untuk seumur hidupnya ...."

"Kenapa aku mencelakan dirinya? "

"Karena cintamu padanya kau dengan tidak segan-segan menggunakan berbagai akal untuk merusak nama baik orang lain, untuk merusak rumah tangga orang supaya tercapai tujuanmu. Cu Lian telah kucar kacir rumah tangganya bukankah karena perbuatanmu seorang? Chie Peng dan Chie Cui sampai menghebohkan dunia Kangouw karena membunuh banyak pemuda, bukankah juga lantaran kau ..... Di gunung Ciong lam san kau juga melukai tiga puluh lebih anak muridnya, maka itu apa gunanya kau dibiarkan hidup lagi? "

Berbareng dengan itu, tangannya lantas bergerak melakukan serangan.

Tan Liong benar-benar sudah merasa gemas ia ingin supaya dapat segera membinasakan perempuan jahat itu.

Yao lie lu buru-buru lompat untuk mengelakkan serangan tersebut, ia berseru.

"Hei, laki-laki jelek tahan dulu seranganmu, aku hendak bicara sedikit."

"Kau ingin bicara apa katakan saja biar bagaimana kau tokh musti mati."

"Benarkah Tan Liong sudah binasa ....?"

Demikian ia bertanya dengan suara pilu tanpa tercegah lagi air matanya juga mengalir keluar. Keadaan yang mengharukan itu telah menggoncangkan hati Tan Liong.

"Ya, dia sudah meninggal! "

"Ka .... kapan .... dia meninggalnya? "

"Perlu apa kau perhatikan dirinya? "

"Aku tidak bisa kehilangan dia ...."

Tan Liong merasa terharu, ia berkata dengan nada suara dingin.

"Dia tidak usah kau perhatikan, dia suruh aku membunuh kau ...."

"Apa benar dia berkata demikian? "

"Ya."

Yao lie lu semakin sedih air matanya semakin deras.

"Tidak mungjin .... tidak mungkin dia mati .... tidak mungkin mati ....."

Setiap ucapan perempuan jahat itu bagaikan ujung pedang menusuk hatinya.

Ia kini telah dapat kenyataan betapa besar cintanya Yao lie lu terhadapnya, bagaimana ia bisa turun tangan padanya.

Kemarahannya dalam waktu sekejap mata saja tersapu bersih oleh keadaan dan perkataan Yao lie lu yang memilukan hati itu, tidak sanggup turun tangan terhadap dirinya seorang wanita mencintakan padanya begitu besar.

Tapi akhirnya ia keraskan hati, sambil kertak gigi ta membentak.

"Yao lie lu, aku hendak bunuh mati kau! "

Tangan kanannya lalu bergerak menyerang dada Yao lie lu.

Yao lie lu tidak menyingkir, hingga pukulan itu mengenakan dengan telak.

Tubuhnya terpental sejauh satu tombak, darah mengalir dari mulutnya, tubuhnya menggeletak ditanah.

Tan Liong tertegun.

Mendadak terdengar suara dibelakangnya.

"Tuan, perbuatanmu ini terlalu kejam. Seorang wanita yang sangat mencintaimu, apa kau tega melihat ia mati dibawah tanganmu? "

Tan Liong cepat berpaling.

Tidak jauh dibelakang dirinya ada berdiri seorang wanita setengah umur dengan pakaian merah.

Tan Liong matanya terbuka lebar, kecantikan wanita pertengahan umur itu bagaikan bunga teratai yang baru mekar, cantik menggiurkan sukar dicari tandingannya.

Untuk sesaat lamanya Tan Liong terpesona menyaksikan kecantikan wanita itu.

Wanita berbaju merah itu memperlihatkan senyuman seraya bertanya.

"Tan Liong, mengapa kau kesima? Apa karena kedatanganku secara mendadak ini? "

Dalam senyuman yang manis itu ada mengandung pengaruh dan wibawa begitu besar, hingga membuat jeri bagi siapa yang memandangnya.

Tan Liong tidak berani memandang langsung, dengan suara dingin ia berkata.

"Kau siapa? Mengapa mengetahui namaku? "

"Apa yang dibuat heran? Orang lain mengira kau sudah mati, tapi aku tahu kalau kau masih hidup! "

Diwajahnya Tan Liong mendadak terlintas napsunya ingin membunuh, bentaknya dengan suara nyaring.

"Lekas kau enyah dari sini! "

"Enyah? Apa yang kau andalkan? "

Tan Liong tidak berani memandang paras wanita cantik itu, bukan saja menimbulkan rasa takut bagi siapa yang melihatnya, tapi juga ada mengandung pengaruh memikat yang sukar dilawan.

Sekali memandang, orang tak dapat melupakan wajahnya untuk selama-lamanya.

Dalam otak Tan Liong pada saat itu, masih terbayang paras cantik berbaju merah itu ....

Tan Liong tundukkan kepala dan berkata.

"Aku hendak bunuh mati Yao lie lu, jika kau tidak enyah dari sini terpaksa aku akan bertindak terhadap kau."

"Dengan kepandaianmu itu? "

"Ya, mengapa? "

Wanita cantik itu tertawa, suara tawanya itu sangat menggiurkan.

ketika mata Tan Liong menatap parasnya, dengan mendadak hatinya bergoncang keras.

Sejak meningkat dewasa ia belum pernah tergila-gila terhadap wanita, tapi kini ketika berhadapan dengan wanita setengah umur itu, ia tidak berdaya melawan daya tarik yang keluar dari wanita pertengahan umur itu.

Wanita cantik itu hentikan tawanya dan berkata pula.

"Tan Liong, dengan kepandaianmu ini masih jauh sekali untuk menghadapi aku! "

Wajah Tan Liong berubah, mendadak ia ingat, Yao lie lu besar sekali hubungannya dengan keselamatan dunia Kangouw, maka ia berkata.

"Boleh kau coba."

Berbareng dengan itu, badannya lantas bergerak menerjang Yao lie lu.

Tapi baru saja Tan Liong hendak menyerang diri Yao lie lu, wanita cantik itu sudah menyambar tubuh Yao lie lu hingga terhindar dari serangan mautnya Tan Liong.

Tan Liong tertegun.

Kepandaian wanita baju merah itu sesungguhnya sangat mengagumkan.

Serangan yang dilakukan secara tiba-tiba oleh Tan Liong, wanita itu ternyata dapat mendahuluinya menyingkirkan diri Yao lie lu.

Wanita cantik itu kembali perlihatkan tawanya yang manis dan menggiurkan, yang merangsang daya pikat luar biasa ....

Satu kekuatan gaib, membuat sekujur badannya lemas, berbaeng dengan itu semacam kekuatan telah merangsang hatinya ....

Terdorong oleh kekuatan yang merangsang hatinya itu, ia seperti lupa kepada dirinya sendiri, lupa dengan tugasnya dan lupa segala-galanya.

Mendadak ia menubruk wanita cantik itu.

Perbuatan yang tak terduga itu sesungguhnya sangat aneh tapi pengaruh kecantikan wanita itu telah membangkitkan perasaan cintanya.

Ia tak berdaya melawan daya pikat wanita itu.

Tan Liong sebetulnya ada satu pemuda yang tinggi hati, kecuali pernah mencintai dirinya Cu Lian seorang yang merupakan kekasihnya yang pertama, ia belum pernah jatuh cinta kepada lain wanita, tetapi terhadap wanita didepan matanya itu, ia telah tergila-gila.

Apakah kecantikan yang luar biasa atau gaya yang menggairahkan dari wanita baju merah itu yang memikat hatinya?

Memang sikap menantang dan gaya menggairahkan wanita cantik itu bukan hanya Tan Liong saja yang tidak sanggup melawan, tapi juga sudah banyak laki-laki yang pernah berlutut dihadapannya.

Dengan tingkah laku seperti orang kalap, Tan Liong memeluk wanita cantik itu dan wanita itu juga tidak menolak, bahkan balas memeluk dengan eratnya.

Untuk pertama kali Tan Liong jatuh cinta benar-benar terhadap seorang wanita, sejak kekasihnya yang pertama menikah tapi usia wanita itu jauh lebih tua daripada usianya sendiri.

Sudah jelas bahwa jalinan cinta yang tidak wajar ini tidak mungkin terwujud tapi tidak mungkin kadang-kadang bisa terjadi secara tidak terduga.

Mereka telah berpelukan demikian hangatnya sehingga melupakan urusan dan tugas didepan matanya ....

seolah-olah dunia ini hanya mereka yang punya.

Apakah wanita itu sengaja memikat Tan Liong?

Mungkin juga sebab jikalau tidak, mereka tidak seharusnya terjerumus dalam jurang asmara yang kurang wajar ini.

Mendadak butiran air mata berlinang dalam kelopak mata wanita cantik baju merah itu dan mengalir turun di kedua pipinya ....

Menangis karena girang atau ada sebabnya, Hanya ia sendiri yang bisa menjawab.

Sejenak kemudian wanita itu tiba-tiba mendorong tubuh Tan Liong dan berkata dengan sedihnya.

"Tan Liong, kita tidak seharusnya berbuat seperti ini ...."

Tan Liong mengawasi paras wanita itu yang sudah basah dengan air matanya.

"Kau .... menangis ....? Kenapa ....? "

Wanita itu mengusap kering air matanya, ia cuma unjukkan senyumnya.

"Ya, aku menangis ...."

"Kenapa.... aku tokh cinta kepadamu? "

"Cinta aku? "

Wanita itu mendadak tertawa seperti orang gila .... Hati tan Liong bercekat, tanyanya.

"Kau kenapa? "

"Kita tak boleh saling mencinta, tahukah siapa aku? "

"Tidak tahu, sukakah kau memberitahukan padaku? "

Wanita baju merah menggelengkan kepala sambil tertawa getir.

"Tahukah kau berapa usiaku? "

"Tidak tahu, suka kau beritahukan? "

Kembali wanita itu menggelengkan kepala sambil tertawa getir.

"Dikemudian hari kau akan tahu sendiri."

Ia ketawa sinis dan berkata pula seolah-olah terhadap diri sendiri.

"Tak seharusnya kita saling mencinta.... ya tidak seharusnya memang ...."

Tan Liong menyambung dengan suara perlahan.

"Tapi aku cinta padamu."

"Cinta aku? Ini tidaklah wajar, aku tidak boleh berbuat demikian .... anak tolol pergilah! "

Dengan napas memburu Tan Liong kembali menubruk dan memeluk wanita cantik itu.

Wanita itu meski mengerti bahwa percintaan mereka tak mungkin terwujud tapi ia tak menolak, ia tetap membiarkan dirinya dipeluk erat-erat oleh Tan Liong.

Jika Tan Liong mengerti siapakah wanita cantik berbaju merah yang sedang dipeluknya itu, mungkin ia akan mati semaput.

Mereka telah terjerumus dalam satu percintaan yang tidak wajar.

Sifat kejantanan Tan Liong telah membangkitkan perasaan remajanya ....

ia telah lupa bahwa usia remajanya itu, baginya sudah tak mungkin kembali lagi ....

Ia benar-benar sudah mabuk, lupa daratan ....

Apa sebab ia bisa jatuh cinta kepada Tan Liong?

Dalam hal ini sudah tentu ada sebab-sebabnya.

Mendadak wanita cantik itu berkata sambil mendorong tubuhnya dari pelukan Tan Liong.

"Sembunyi, ada orang datang! "

Tan Liong terperanjat, matanya mencari-cari tapi tak seorangpun kelihatan.

"Benar ada orang datang, mereka sudah berada ditempat sejauh setengah lie dari sini."

Berkata si wanita baju merah. Tan Liong terkejut.

"Ditempat sejauh setengah lie, bagaimana kau dapat dengar? "

"Ya, maka kau harus pergi, tentang Yao lie lu, aku hendak tolong padanya."

"Tidak, aku akan bunuh mati padanya, aku tak dapat melepaskannya."

Wanita baju merah itu berdiam sejenak, dengan sikapnya yang seperti mengandung pengaruh besar ia berkata.

"Aku suruh kau pergi, kau harus pergi."

"Aku tidak dapat meninggalkan kau! "

"Kau nanti akan bisa melupakan dengan sendirinya, sekarang aku suruh kau pergi maka kau harus menurut."

Tan Liong benar-benar menurut apa katanya, ia rupanya tidak berdaya menghadapi wanita aneh itu.

Suara yang keluar dari mulutnya wanita cantik baju merah ini sungguh aneh agaknya mengandung kewibawaan luar biasa sehingga Tan Liong tidak berani menentang dan berlalu meninggalkannya Dalam otak Tan Liong masih tetap terbayang parasnya wanita cantik baju merah itu.

Pertemuannya yang sangat singkat itu seolah-olah satu impian belaka yang ia tidak dapat lupakan untuk selama-lamanya.

Untuk pertama ia jatuh cinta kepada seorang wanita, tapi cinta itu sangat tidak wajar ....

Tiba-tiba terdengar suaranya wanita cantik itu yang memanggilnya.

"Tan Liong, kau tunggu dulu aku berikan sesuatu benda."

Tan Liong balikkan badannya, wanita cantik itu ulurkan tangannya dan berikan Tan Liong sebatang tumbuhan yang mirip dengan rumput tetapi bukan rumput seraya berkata.

"Barang ini sangat berguna bagi kau simpanlah baik-baik barang ini, nah pergilah."

Tan Liong mengawasi padanya dengan mulut bungkam beberapa kali tampak ia hendak membuka mulut tapi tiada suatu perkataan keluar dari mulutnya. Wanita cantik itu berkata pula sambil tertawa getir.

"Pergilah, urusan ini biarlah tersimpan dalam lubuk hati masing-masing untuk selama-lamanya. Jika kau tak pergi sekarang, selamanya aku tak bisa bertemu lagi denganmu."

Perkataan ini benar-benar mempunyai pengaruh luar biasa.

Tan Liong segera putar tubuhnya dan dengan cepat berlalu.

Setelah Tan Liong berlalu, wanita cantik itu kedipkan bulu matanya yang panjang dua tetes air matanya keluar.

Ia berkata kepada dirinya sendiri.

"Orang lain tak akan memahami, juga tak akan mengerti."

Tan Liong berjalan seperti orang linglung.

Ia tidak tahu telah berbuat apa.

Semula ia hendak membunuh Yao lie lu tetapi karena munculnya wanita cantik berbaju merah yang sangat aneh itu ia telah mengingkari janjinya sendiri terhadap Im yang Ie su, dengan demikian ia telah melakukan satu perbuatan yang sukar dimaafkan.

Tapi ia seperti masih belum sadar, sebab bagi wanita yang ia telah cintakan dengan sungguh hati sejak kekasihnya yang pertama telah menikah ia dapat melakukan sesuatu yang tidak terduga.

Ia berjalan perlahan-lahan namun demikian ia masih belum kehilangan seluruh akal sehatnya, mendadak ia teringat dirinya Yao lie lu yang besar sekali hubungan keselamatan dengan dunia Kangouw, hatinya bercekat.

Hakekatnya dengan adanya wanita cantik berbaju merah itu ia juga tidak dapat membunuh Yao lie lu.

Diwajahnya terlintas suatu perasaan menyesal, ia tanya kepada dirinya sendiri, untuk apa itu?

Untuk wanita cantik baju merah itu.

Akhirnya ia telah berjanji kepada diri sendiri.

Jika benar bangkai berapi itu nanti mengganas, terpaksa aku akan menggunakan kekuatan dan kepandaianku sendiri untuk memusnahkannya.

Dengan demikian barulah aku tidak menjadi orang berdosa bagi dunia Kang-zsouw.

Karena itu hatinya agak terhibur ia mempunyai keyakinan untuk membasmi bangkai berapi, sebab dihadapan wanita cantik baju merah itu ia tidak berdaya turun tangan menghabiskan jiwa Yao lie lu.

Ia tertawa sinis, semangatnya mendadak terbangun meski ia tidak tahu namanya wanita cantik itu tapi ia percaya ia akan dapatkan dirinya.

Ia tertawa girang karena hatinya gembira tapi ia mendadak hentikan ketawanya sebab dari jauh ia telah dapat lihat dua bayangan orang yang lari menuju ke gunung Kui leng san.

Tan Liong mulai berpikir sebab semula ia tidak perhatikan tapi kini ia mendadak ingat wanita cantik baju merah itu, kepandaiannya sesungguhnya luar biasa tingginya.

Ia kini mulai memikirkan dirinya wanita cantik baju merah itu, sebab di dalam dunia Kangzsouw pada dewasa itu orang yang berkepandaian demikian tinggi jumlahnya tidak seberapa.

Kepandaian Hiat hun Koay po, boleh dikata sudah menjagoi rimba persilatan tapi suruh ia mengetahui ada berapa orang ditempat sejarak setengah lie jauhnya ia juga belum mampu.

Mendadak ia ingat dirinya seseorang ....

teringat dirinya orang itu wajahnya pucat seketika.

Mulutnya kemak kemik berkata kepada dirinya sendiri.

"Tidak mungkin, tidak mungkin ia ...."

Sepasang matanya terbuka lebar, sekujur badannya mulai gemetar.

....

Sebab orang yang ia kini teringat itu adalah orang yang menduduki kedudukan petama dalam urutan Bu lim Sam cu, Hiat im cu.

Badannya sempoyongan ia seperti merasa bahwa satu kejadian menakutkan akan terjadi diatas dirinya.

....

Namun ia masih coba menghibur diri sendiri seolah ia mengharap wanita cantik baju merah itu bukan itu orang yang ia jumpai.

Ya, ia harap wanita cantik baju merah itu bukan Hiat-im cu sebab Hiat im cu ada satu nenek yang usianya sudah hampir 70 tahun sedang wanita cantik baju merah itu tampaknya baru berusia kira-kira 27 atau 28 tahunan juga belum dapat dipastikan Hiat im cu itu wanita atau pria.

Memikir demikian hatinya mulai lega.

Pada saat itu, dua orang yang ia lihat itu tampak semakin dekat, maka dengan cepat ia sembunyikan diri kebelakang sebuah pohon besar.

Dua orang itu sudah berada tiga tombak didekat dirinya.

Ketika matanya dapat lihat siapa adanya dua orang itu, wajahnya berubah seketika, karena dua orang itu bukan lain daripada Siao hun lie dan Say phoa an.

"Manisku, aku hendak naik ketebing Kui leng sam, sebentar akan kembali, kau tunggu di sini! "

Say phoa an angguk kepala Siao hun lie lalu lari ke atas tebing.

Tan Liong terperanjat.

Tok Gan Lokoay melatih ilmu bangkai berapi agaknya ada hubungan erat dengan Thian seng hwee.

Ia lalu lompat keluar dari tempat sembunyinya dan memanggil Say phoa an.

Ketika melihat Tan Liong, Say phoa an terperanjat, katanya.

"Kau .... mengapa kau berada di sini? "

"Kedatanganku ini karena hendak membunuh mati Yao lie lu, tapi ia sudah dibawa kabur oleh lain orang, apakah kau hendak ke lembah Kui in kok? "

"Benar."

"Kalau begitu, apakah tahu Tok gan Lokoay melatih ilmu bangkai berapi itu ada hubungannya dengan Thian seng hwee? "

"Tidak salah. Tok gan Lokoay sudah menjadi anggauta Thian seng hwee."

Tan Liong berjingkrak, jika Thian seng hwee dapatkan ilmu bangkai berapi, dengan mudah saja ia dapat menguasai dunia Kangouw. Lama ia berdiri tertegun, baru berkata.

"Kalau begitu kau baru dapat menolong keluar dirinya Chio bin Ie hiap dalam tempo empat hari.

Kau dengan dia pulang kegunung Ciong lam san.

Aku hendak pulang untuk membunuh mati semua orang Thian seng hwee yang berada digunung itu."

"Tuan tak usah kuatir, aku tak akan terlantarkan kewajibanku."

Tan Liong angguk-anggukkan kepala dan berkata.

"Kalau begitu aku sekarang hendak pergi."

Dengan cepat Tan Liong bergerak, dalam waktu sekejap mata saja sudah berada tiga tombak lebih jauhnya, ia sudah berada lagi digunung Ciong lam san.

Tiba di atas gunung, tiba-tiba terdengar suara saling bentak, bercampur suara wanita, Tan Liong terperanjat, diatas gunung bagaimana ada suara wanita saling bentak?

Ia percepat gerak kaki sebentar saja sudah berada di luar kuil ketika matanya menyaksikan apa yang telah terjadi wajahnya berubah seketika.

Disitu ternyata telah terjadi pertempuran antara Teng Chun Kiok, Hoan Giok Hoa, Chie Peng dan Chie Cui disatu pihak dan orang-orang Thian seng hwee dilain pihak.

salah seorang dari rombongan orang Thian seng hwee berkata dengan sombongnya.

"Hai, kalian beberapa anak perempuan benar-benar terlalu berani mati datang ke gunung Ciong lam san membuat onar. Ciong lam pay sudah musnah. Oey Bwee Cian telah menghilang entah kemana perginya. Kalau kalian tidak lekas enyah dari sini, apakah ingin jadi bangkai keleleran diatas gunung Ciong lam san? "

"Thian seng hwee ada permusuhan besar denganku, kalau aku tidak membunuh kalian bagaimana aku dapat melampiaskan sakit hatiku? "

Jawab si nona baju merah Teng Chun Kiok dengan nada dingin.

Kemudian dengan kecepatan bagaikan kilat ia bergerak menyerang orang-orang Thian seng hwee.

Lalu terdengar suatu jeritan ngeri, dua diantara yang diserang sudah rubuh menggeletak di tanah.

Dari empat wanita itu adalah Teng Chun Kiok yang berkepandaian paling tinggi dalam waktu sekejap mata saja ia sudah berhasil membunuh mati tiga orang lihai dari Thian seng hwee.

Tan Liong perlahan-lahan tundukkan kepala, wanita-wanita yang mencintakan dirinya kini sudah berada di atas gunung Ciong lam san semuanya, kecuali Yao lie lu.

Ia ketawa kecut seakan-akan teringat sesuatu, juga seperti menemukan sesuatu Suara saling bentak dan suara jeritan ngeri memasuki gunung Ciong lam san seolah-olah diliputi oleh kabut hitam dan mengerikan.

...

Kekuatan dari orang-orang yang terpilih anggota Thian seng hwee ini, sebetulnya sangat hebat walaupun empat wanita itu mempunyai kepandaian ilmu silat sangat tinggi juga tidak sanggup melawan begitu banyak orang.

Maka sebentar kemudian mereka sudah terkurung rapat dan sudah mulai kewalahan.

Tan Liong yang menyaksikan keadaan demikian bukan kepalang kagetnya.

pikirnya.

"Kalau sekarang ini aku tidak lantas turun tangan mereka pasti akan tertangkap atau terbinasa ditangan orang-orang Thian seng hwee."

Ia tidak berani berlaku ayal lagi dengan cepat ia meluncur dan turun ditengah orang-orang yang sedang bertempur itu serta menyerang dengan kedua tangannya.

...

Orang yang datang secara tiba-tiba seolah-olah malaikat datang dari langit ini mengejutkan empat wanita itu dengan cepat lantas undurkan diri.

Tiga puluh orang-orang Thian seng hwee yang mengepung nona baju merah berempat dalam keadaan kesima, serangan Tan Liong yang mengandung hawa panas dan dingin, sudah dilancarkan berulang-ulang.

Serangan luar biasa ini sebentar saja sudah meminta korban sepuluh lebih orang-orang Thian seng hwee.

Tan Liong yang sudah kalap turun tangan secara tanpa ampun lagi.

sambil melancarkan serangannya yang hebat itu, mulutnya berseru.

"Aku akan suruh kalian menggeletak menjadi bangkai di atas gunung Ciong lam san ini! "

Berbareng dengan seruannya itu, kembali sudah ada tujuh orang binasa.

Pembunuhan secara gila ini telah terulang lagi diatas gunung Ciong lam san.

Dalam tempo sekejap mata saja sudah ada dua puluh orang yang roboh menjadi bangkai.

sisanya yang masih hidup tak lebih dari sepuluh orang.

Pembunuhan secara kalap yang dilakukan oleh Tan Liong itu, bukan saja membuat jeri sisa orang-orang Thia seng hwee tetapi juga mengejutkan empat wanita itu.

Sisa orang-orang Thian seng hwee itu karena tahu Tan Liong terlalu tangguh, semua ingin kabur.

Diwajahnya Tan Liong yang jelek tiba-tiba terkilas napsunya membunuh.

Ia membentak dengan suara dingin.

"Kalian siapapun jangan harap bisa lolos dari tanganku."

Mendadak dibelakangnya terdengar suara orang berkata dengan dingin.

"Aku justeru ingin lihat kau orang macam apa begitu berani mati membinasakan anak murid perkunpulan kita. ...."

Suara itu disusul oleh melayang turunnya sesosok bayangan orang dihadapan Tan Liong.

Tan Liong mundur dua tindak ketika ia mengawasi siapa orangnya yang begitu jumawa itu, seketika lantas naik pitam.

Orang yang berada didepannya itu ternyata adalah Koan Beng.

Koan Beng ketika menatap wajah Tan Liong juga lantas mudur dua tindak.

Ia kaget bukan karena mengenali Tan Liong melainkan karena dapat melihat wajah yang jelek dan menakutkan.

Dulu ketika Koan Beng memecut dan membikin rusak wajah Tan Liong, ia tidak perhatikan wajah itu berubah bagaimana macamnya, apalagi semua orang Thian seng hwee pada kala itu sudah menganggap bahwa Tan Liong sudah mati.

Terdengar suara ketawanya Koan Beng seperti mengejek.

"Kiranya hanya satu bocah jelek saja, tadinya aku kira ada seorang raksasa yang berkepala tiga dan berlengan enam."

Sikapnya orang she Koan itu ada begitu menghina dan tidak pandang mata orang.

Didalam otak Tan Liong pada saat itu mendadak terbayang kembali apa yang dialami ketika wajahnya dipecut sehingga rusak oleh Koan Beng, tidaklah heran kalau amarahnya lantas memuncak.

sambil kertak gigi ia berkata.

"Tidak perduli kau siapa, aku akan bunuh mati padamu."

Sehabis berkata tangan kirinya lantas bergerak, serangannya Im ciang yang mengandung hawa dingin lantas meluncur keluar.

Selagi serangan Tan Liong meluncur keluar, seorang wanita telah berseru mencegah padanya.

"Harap tuan suka tahan dahulu ...."

Suara itu dikenali oleh Tan Liong sebagai suaranya Cu Lian, maka terpaksa ia tarik kembali serangannya.

Benar saja, Cu Lian sudah memburu dan berdiri dihadapannya.

Tan Liong tertegun.

Ia mundur setindak.

Suasana digunung Ciong lam san mendadak menjadi gawat.

Sisa orang-orang Thian seng hwee yang masih hidup dengan berbaris rapi, berdiri dibelakang Koan Beng.

Setelah munculnya Cu Lian, Tan Liong pelan-pelan undurkan diri, ia alihkan pandangannya.

Ia tidak tega hati untuk menyaksikan terulangnya kembali kejadian yang amat menyedihkan ......

Sepasang mata tengah mengawasi gerak geriknya dengan perasaan jemu.

Itu adalah matanya Teng Chun Kiok.

Tan Liong tertawa sinis, ia mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh nona baju merah itu.

Sedang dalam hatinya berpikir.

"Aku tokh tidak mengemis cintamu, mengapa kau benci aku? .... Ada satu hari, aku nanti suruh kau tahu bahwa aku ialah Tan Liong."

Pada saat itu Cu Lian sudah menghampiri Koan Beng dengan paras pucat pasi.

"Koan Beng, kau coba membikin celaka diriku, tapi aku sekarang masih belum mati. Sudah tiba saatnya untuk bikin perhitungan."

Cu Lian bukan tidak tahu bahwa kepandaiannya sendiri masih belum mampu menghadapi Koan Beng tapi, karena Koan Beng hampir membuat ia binasa maka selama masih bernyawa, ia tidak mau sudah terhadap bekas suaminya itu.

Walaupun ia harus binasa ditangan Koan beng, ia juga merasa lebih baik dari pada menyaksikan perbuatan jahat yang dilakukan oleh orang yang pernah menjadi suaminya itu.

"Aku tidak bunuh mati kau perempuan cabul ini sudah baik. Kalau kau memang harus mencari mati sendiri biarlah sekarang aku kirim kau ke akhirat untuk menjumpai Tan Liong."

Pedang berkilauan sudah berada dalam genggaman tangan Koan Beng.

Tan Liong perlahan-lahan pejamkan matanya, hatinya merasa pilu, hampir ia tidak bisa bernapas.

Peristiwa rumah tangga ini bukankah karena gara-garanya?

Perlahan-lahan ia meninggalkan tempat itu ....

badannya gemetaran sedang mulutnya kemak kemik berkata kepada dirinya sendiri.

"Adik Lian...., maafkan aku .... aku adalah seorang yang berdosa ...."

Ia terus gerakkan kakinya berjalan keluar.

Dibelakangnya, ada delapan pasang mata mengawasi dengan mata tanpa berkedip, mereka itu adalah Teng Chun Kiok, Hoan Giok Hoa, Chie Peng dan Chie Cui.

Mereka semua mengawasi belakang Tan Liong, gerak-gerik dan jalannya itu agaknya tidak asing bagi mereka ....

di dalam otak mereka.

Dengan berbareng telah terbayang bayangan Tan Liong.

....

"Enci Teng, terlalu mirip dengan dia ...."

Demikian Hoan Giok Hoa berkata. Ucapan itu mengejutkan tiga wanita lainnya. Si nona baju merah itu lantas menyahut.

"Ya, ia sangat mirip dengan dia."

"Mungkinkah itu dia? "

Kata pula Hoan Giok Hoa.

"Tidak mungkin, dia, tokh sudah meninggal dunia."

Suara bentakan Koan Beng terdengar pula, kali ini Cu Lian nampaknya sudah berlaku nekad, maka juga tidak mudah bagi Koan Beng melukai dadanya ....

Tan Liong yang mendengar bentakan itu, seolah mendengar suara ledakan bom.

Ia cuma merasa bahwa airmata sedang mengalir keluar dari kedua matanya ....

pandangan matanya samar-samar ....

Ia angkat tangan mengusap airmatanya, ia telah dapatkan Im yang Ie su dan Oey Bwee Cian berdiri dihadapannya.

Dua orang itu sedang mengawasi padanya dengan penuh keheranan.

Im yang Ie su matanya beralih ke medan pertempuran sejenak, ia tersenyum dan kemudian berkata.

"Kapan kau kembali? "

"Barusan ini."

jawab Tan Liong.

"Kau sedang memikirkan apa? Yao lie lu sudah mati atau belum? "

Tan Liong gelengkan kepala, dalam otaknya terbayang paras wanita cantik baju merah.

Ia seperti seorang yang bersalah tidak berani memandang Im yang Ie su lagi.

Im yang Ie su mendadak dapat lihat kelakuan kalap Cu Lian yang bertempur mati-matian melawan Koan Beng orang yang pernah menjadi suaminya, mendadak ia mengerti apa sebabnya Tan Liong sedemikian berduka.

Maka ia berkata sambil ia menghela napas.

"Sudah lalu, apa perlunya kau pikirkan? Apa yang sudah lalu biarlah akan terukir dalam hatimu untuk selama-lamanya."

Tan Liong menganggukkan kepalanya sambil ketawa getir.

"Ya, aku harus melupakannya ...."

"Kau tidak berjumpa dengan Yao lie lu? "

"Sudah! "

"Kenapa kau tidak bunuh mati padanya. Ia tokh ada hubungan sangat erat dengan keselamatan dunia Kangouw ...."

"Aku tidak bisa turun tangan."

Im yang Ie su menghela napas.

"Itu memang sudah kuduga. Aih, asmara .... sungguh menakutkan, untuk selanjutnya terserah apa yang kau hendak lakukan ...."

"Aku dapat membasmi bangkai berapi."

"Kau hendak membasmi bangkai berapi ini tidak ubahnya bagaikan mimpi ditengah hari, biar bagaimana kau dikemudian hari pasti akan menghadapi.

Kau nanti akan tahu sendiri betapa hebatnya ilmu itu, sekarang ini rasanya terlalu pagi untuk dibicarakan."

Pada saat itu mendadak terdengar suara jeritan dari mulut wanita, ternyata Cu Lian sudah terluka tangan kanannya. Im yang Ie su berkata kepada Tan Liong.

"Kau harus ganti kekasihmu membunuh pemuda itu daripada membiarkan mereka hidup mengancam didunia Kang-zsouw, lebih baik singkirkan nyawanya."

"Aku harus bunuh mati padanya? "

"Ya, ia sudah bejat moralnya, tidak tertolong lagi, meski tidak bisa turun tangan tapi kau harus membantu Cu Lian, pergilah! "

"Tidak, tidak, aku tidak bisa menjadi orang berdosa."

"Kau tidak usah bunuh dengan tanganmu sendiri, ditempat pertempuran sebelah kiri kira-kira sepuluh tombak jauhnya, disitu ada terdapat sebuah jurang.

Kau boleh desak kepadanya agar ia loncat jatuh kebawah.

Pergilah!

Kalau tidak kau nanti menyesal terhadap Cu Lian."

"Kalau begitu baiklah! "

"Ya, apalagi kau harus balas dendam menuntut sakit hatimu! "

Dimatanya Tan Liong mendadak memancarkan sinar menakutkan, katanya dengan suara perlahan.

"Ya, aku harus balas dendam."

Dengan cepat ia telah bergerak ke depan Koan Beng dan membentak dengan suara keras.

"Koan Beng, kau binatang bekedok manusia tidak dapat dibiarkan hidup ..."

Kali ini, benar-benar sudah bernapsu hendak membunuh Koan Beng.

Setelah melancarkan serangan tangan kanannya, kembali dengan kecepatan bagaikan kilat melancarkan tangan kirinya.

Serangan yang amat dahsyat ini, terpaksa Koan Beng harus mundur beberapa tindak!

Tan liong terus mendesak dan kembali melancarkan serangan Im yang thian-tee ciang, sedang mulutnya bersuara.

"Koan Beng, isterimu bersetia padamu, sebaliknya kau fitnah kepadanya berlaku serong terhadap dirimu, apa kau masih pantas disebut manusia?...."

Kemarahan yang begitu hebat telah meluap-luap sebagai arus badai.

Jika Tan Liong bukan seorang baik dan jujur Koan Beng sudah pasti akan binasa dibawah tangannya.

Hawa dingin yang keluar dari serangannya membuat Koan Beng menggigil, kemudian hawa panas membuat dirinya seperti dijebloskan dalam kuali panas.

Hawa dingin dan panas itu.

membuat tidak berdaya.

Ia tidak tahu entah ilmu apa yang digunakan oleh pemuda wajah jelek itu.

Cu Lian perlahan-lahan undurkan diri, ia menangis dengan sedih.

Mata Teng Chun Kiok berempat semua tujukan kearah Tan Liong.

Mereka memandang dengan tanpa berkedip, pikirannya bekerja keras.

Tiba-tiba terdengar suara bentakan riuh, sisa-sisa orang-orang Thian seng hwee mendadak membuka serangan, dengan serentak menyerbu Tan Liong.

Tepat pada saat itu tiba-tiba terdengar pula suara bentakan Im yang Ie su.

"Kalian enyah dari sini! "

Tangan kanannya telah bergerak, satu kekuatan aneh telah mendesak mereka balik kembali.

Saat itu Tan Liong sudah desak Koan Beng ketepi jurang, lima tindak lagi ia akan terjatuh ke dalam jurang.

Tan Liong keluarkan bentakan keras, kembali mendesak dengan serangan hanya dua tindak lagi.

Koan beng tidak ada tempat untuk jejak kaki.

Suasana mendadak menjadi gawat, semua orang yang menyaksikan pada tahan napas.

Tan Liong mengerti apabila ia melancarkan serangan lagi, Koan Beng pasti akan terjerumus kedalam jurang dalam keadaan tidak bernyawa.

Mendadak hatinya lemas, ia tidak tega turun tangan.

"Kong Beng, kau ingin mati dibawah tanganku atau ingin lompat kedalam jurang? "

Demikian ia menanya.

Koan Beng menghela napas panjang, ia mengerti bahwa ia sudah tiada harapan lagi ia memandang wajah Tan Liong yang jelek mendadak ia seperti ingat sesuatu lalu berkata dengan perasaan kaget.

"Kau .... kau .... kau adalah ...."

Tan Liong terperanjat, sebelum Koan Beng melanjutkan kata-katanya ia telah membentak.

"Koan Beng, lekas lompat."

Lalu ayun tangan kanannya, medorong dengan ilmunya Yang ciang.

Diantara suara jeritan yang mengerikan, sesosok bayangan manusia meluncur turun ke bawah jurang.

Setelah mulai reda marahnya, Tan Liong tertegun hatinya pilu hingga dengan tanpa dirasa airmatanya turun mengalir.

Sesosok bayangan kecil langsing berjalan menuju ketepi kurang dimana Koan Beng tadi jayuh.

....

Tan Liong menyaksikan kedatangan Cu Lian, lantas berkata.

"Nona Cu, aku menyesal terhadap kau ...."

Air matanya mengalir semakin deras.

....

Menyaksikan keadaan pemuda wajah jelek itu paras Teng Chun Kiok mendadak berubah, ia merasa bahwa tetesan air mata Tan Liong itu seolah-olah jatuh ke dalam lubuk hatinya hingga parasnya pucat bagaikan mayat kepalanya seperti dikemplang, ia ingat sesuatu sekujur badannya lantas menggigil.

....

Cu Lian menanya dengan suara sedih.

"Apa dia .... telah mati .... ?"

"Ya, dia sudah mati, aku yang mendesak mati padanya ...."

Jawab Tan Liong dengan suara serak. Cu Lian tertawa bergelak-gelak.

"Matilah .... matilah semua .... kekasihku mati .... suamiku mati ..... Ya Tuhan, apa yang aku masih punyai? .... Segala-galanya sudah habis. ...."

Kalau kita dengar dengan seksama itu bukan suatu ketawa melainkan ratap tangis dari seorang yang patah hati, patah pengharapan.

....

Memang kekasihnya Tan Liong sudah mati dan suaminya Koan Beng telah pergi meninggalkan padanya mungkin juga untuk selama lamanya.

Hidup apa artinya baginya?

Mendadak ia gerakkan badannya dan terjun kedalam jurang ia hendak mengakhiri hidupnya.

Semua orang yang menyaksikan perbuatan nekad itu pada berseri kaget, mereka tak menduga kalau Cu Lian mengambil tindakan nekad sekalipun Tan Liong sendiri juga tak terkecuali.

Dalam keadaan sangat berbahaya itu, mendadak sesosok bayangan hitam dengan kecepatan bagai kilat telah menarik kembali tubuh Cu Lian yang hendak lompat terjun ke jurang.

Bayangan hitam yang merampas kembali nyawa Cu Lian dari tangan maut ternyata ia adalah Im yang Ie su.

Cu Lian yang ditarik keatas oleh Im yng Ie su mula-mula terkejut, kemudian menangis.

"Kenapa kau menolongku? Aku ingin mati saja ...."

Demikian ratapnya.

Tan Liong amat berduka ia mengawasi Cu Lian dengan perasaan pilu, air matanya mengalir membasahi mukanya.

Wanita yang merupakan kekasih pertamanya itu, pernah mempunyai segala-galanya, tapi kembali kehilangan segala-galanya dan sekarang ia telah menjadi demikian rupa, bagaimana Tan Liong tidak berduga?

Sambil kerutkan keningnya Im yang Ie su berkata.

"Mengapa kau ingin menghabiskan nyawamu? "

"Diatas dunia ini aku ada merupakan seorang yang sudah tidak mempunyai apa-apa lagi, apa artinya aku hidup ....? Kekasih ... suami .... semua sudah pergi .... pergi ke alam baka, untuk apa aku hidup? "

Suara yang menyayat hati itu sangat memilukan bagi siapa yang mendengarnya.

Suasana digunung Ciong lam sa dalam waktu sekejap mata saja diliputi oleh kabar kedukaan.

Air mata turun seperti hujan gerimis di malam hari.

....

Terutama Chie Peng dan Chie Cui yang mengalami nasib hampir serupa lebih hebat penderitaannya.

Im yang Ie su lalu berkata.

"Tapi kau masih mempunyai anak."

"Anak? "

Dengan mata sayu ia memandang Im yang Ie su. Im yang Ie su berkata pula.

"Ya, meski dalam hidupmu kau telah kehilangan segala-galanya, tapi kau masih ada mempunyai anak dan anak itu membutuhkan kau, membutuhkan rawatanmu."

Ci Lian mendadak tersadar dari kedukaannya.

Yah, ia ada mempunyai seorang anak.

Ia tidak boleh membiarkan anak itu menjadi piatu untuk menanggung dosa yang ia sendiri belum pernah lakukan.

Ia lalu hapus kering air matanya lalu berkata dengan suara perlahan.

"Ya .... aku masih mempunyai anak .... aku akan didik padanya baik-baik ...."

Akhirnya ia tersenyum .... entah senyuman derita atau bahagia. Pada saat itu Im yang Ie su dengan sorot mata dingin menyapu orang-orang Thian seng hwee lalu ia berkata.

"Kalian ingin mampus atau masih ingin hidup?"

Sisa orang-orang Thian seng hwee itu seperti baru tersadar dari rasa takutnya, satu diantara mereka lantas menjawab.

"Ingin mampus atau hidup apakah kau mempunyai hak untuk menentukannya? "

"Kalau kalian ternyata masih belum bisa mengerti terpaksa aku mengiringi kehendak kalian itu ...."

Dengan cepat orang tua itu bergerak menerjang orang-orang Thian seng hwee sambil melancarkan serangan!

Pada saat itu Cu Lian sudah menyingkir ia berjalan melalui depan Tan Liong.

Tan Liong lalu berkata padanya dengan suara perlahan.

"Nona Cu, harap maafkan padaku. .... aku tidak tahu bagaimana harus kukatakan padamu."

Cu Lian mengawasi sepasang mata Tan Liong yang masih ada bekasnya airmata lalu menjawab.

"Tuan tidak perlu berduka, ia memang sudah sepantasnya mendapat kematian."

Tan Liong diam, ia mengawasi berlalunya Cu Lian dengan hati pilu.

Ia kertak gigi kendalikan perasaannya yang bergolak hebat.

Ia ingin memberi hiburan pada bekas kekasihnya yang tidak beruntung itu tapi itu tidak mungkin.

Ia tidak boleh memberitahukan padanya bahwa ia adalah Tan Liong, juga tidak boleh membangkitkan rasa cinta mereka yang sudah lama terpendam dalam hatinya.

Meski ia sendiri masih mencintakan padanya tapi cinta kasih antara mereka dimasa yang silam, biar bagaimana cuma seperti mekarnya bunga dewijayakusuma yang tidak lebih beberapa jam saja dan esok paginya sudah menjadi layu ....

apa yang tertinggal dalam diri mereka cuma merupakan satu impian buruk.

Cu Lian ....

biar bagaimana pernah menjadi kekasihnya yang pertama, cinta pertama tidak mudah dilupakan, maka ia masih cinta padanya itu tidak dapat disangkal lagi tapi ia mengerti tidak boleh diutarakan di luar.

Akhirnya Cu Lian perlahan-lahan meninggalkan tempat tersebut dengan tindakan kaki yang amat berat.

Diantara suara bentakan terdengar suara Chie Cui yang memilukan.

"Enci, ia sungguh tidak beruntung."

Chie Peng anggukkan kepala dan berkata.

"Ia memang tidak beruntung. Kalau arwah Tan Liong di alam baka mengetahui entah bagaimana perasaannya."

Tan Liong yang mendengar pembicaraan kakak beradik itu air matanya hampir keluar tapi ia tindas perasaannya, hingga air mata itu tidak sampai keluar.

Chie Cui agaknya masih belum mengetahui kalau Cu Lian pernah menjadi sahabatnya Tan Liong, maka ia lantas tanya.

"Apa ia juga sahabat perempuannya engko Liong? "

Chie Peng anggukkan kepala sambil ketawa getir.

"Ya, ia adalah kekasih pertamanya Tan Liong kecuali dia tidak ada perempuan kedua yang ...."

"Ong locianpwee bukankah pernah berkata bahwa ia cinta kepada kita? "

"Mungkin iya, tapi itu bukan cinta yang sebenarnya. Cinta itu lain sifatnya, karena ia berterima kasih padaku yang aku sudah menolong jiwanya. Tan Liong telah mencinta kita. Semula ia tidak memberikan Lam kek Sian ong membawa kita pergi untuk dijadikan umpan ikan, itu disebabkan karena jika kita sampai binasa. Mungkin ini juga boleh dikatakan cinta. Tapi kita mengerti Tan Liong tidak pernah mencintakan wanita yang keduanya. Ia kecuali merasa kasihan kepada kita, tidak timbul rasa cinta yang setulusnya terhadap kita tapi sebaliknya bagi kita yang sungguh hati cinta padanya. Kalau hari ini kita telah mengalami nasib seperti ini, bukankah serupa saja dengan Cu Lian? " -o0o0dw0o0o-

Jilid KE . 27

"ENCI , jika ia tidak, mati, apa ia bisa cinta kita lagi ?"

"Cinta kepada kita ?"

Chie Peng ketawa menyeringai.

"Sekalipun dia masih hidup dan masih cinta kita, tapi dengan apa kita harus balas cintanya? "

"Dengan hati kita."

"Hati? Memang dalam hati kita masih ada rasa cinta, tapi itu mungkin diwujudkan sebab antara cinta dan kesucian seorang wanita tidak dapat dipisah-pisahkan."

"Tapi justeru karena ia hingga kita korbankan kehormatan kita."

"Bukan begitu, meski pengorbanan itu kita lakukan karena dia, dan walaupun dia masih tetap mencinta kita, tapi kita juga tidak dapat memaafkan diri kita sendiri, lagipula kita sendiri yang rela berkorban sehingga kehilangan kehormatan kita."

"Hanya aku yang rela merendahkan diriku sendiri, tapi tidak demikian dengan enci. Enci tokh korbankan kesuciannya justru karena hendak menolong jiwanya."

"Aku, .... itu memang benar, tapi ah! Perlu apa kita mengenangkan segala urusan yang sudah lalu? ...."

Chie Cui mengawasi Chie Peng ....

akhirnya ia menghela napas.

Semua pembicaraan antara dua saudara itu telah masuk didalam telinga Tan Liong untuk sesaat lamanya ia telah lupakan dirinya sendiri, dimana sekarang berada.

....

Penderitaan yang satu baru saja berlalu datang lagi lain penderitaan hingga ia tidak mampu bergerak, nampaknya seperti berhenti ia ingin segera kabur dari situ kalau bisa kabur kelain dunia.

....

Ia berdiri gemetaran ....

seperti seorang tawanan yang mendengar putusan hukuman mati.

Suara saling bentakan telah berhenti.

Sisa-sisa orang Thian seng hwee telah binasa ditangan Im yang Ie su seluruhnya.

Suasana tegang akhirnya telah berlalu diganti dengan suasana kedukaan dan kesunyian.

Disitu ada berdiri delapan orang ....

dua laki-laki enam perempuan.

Semua bungkam seperti patung, entah apa yang sedang dipikirkan?

Malam makin larut, kecuali suara tindakan kaki ronda malam yang kadang-kadang terdengar dari kuil, tidak terdengar suara apa-apa lagi, kalau ada itu hanya suara jatuhnya daun-daun yang tertiup angin malam.

Akhirnya Tan Liong balikkan badan, matanya mengawasi bayangan Cu Lian.

Ia ingin memanggil padanya, tapi banyak perkataan agaknya terkandas dalam tenggorokannya.

Ia tidak tahu bagaimana harus membuka mulutnya.

Diam-diam ia telah berjanji kepada dirinya sendiri.

"Tan Liong, Cu Lian sesungguhnya tidak beruntung, untuk selanjutnya kau harus baik-baik mencintai dirinya."

Dalam otaknya mendadak terbayang-bayang wanita yang kedua, itu adalah raut muka wanita cantik setengah umur berbaju merah.

Seketika itu juga tubuhnya gemetaran.

Ia tidak menyangkal bahwa ia memang cinta Cu Lian, tapi cintanya itu kini seperti sebuah lukisan yang sudah luntur warnanya itu kini kembali disepuh oleh warna baru yang indah menarik.

Warna itu jauh berbeda dengan warna biasa membuat terpesona tergila-gila ....

Wanita cantik baju merah itu telah memberi harapan baru baginya.

Bayangan itu dalam waktu singkat sudah masuk ke dalam lubuk hatinya.

Ketika bayangan itu lenyap dari dalam otaknya, ia bergidik, karena merasa malu terhadap Cu Lian.

Suara helaan napas berat telah memecahkan suasana kesunyian, kemudian terdengar suaranya Im yang Ie su.

Semua orang itu menyadarkan semua orang yang masih dalam lamunannya masing-masing.

Oey Bwee Cian telah bergerak menghampiri Teng Chun Kiok dan berkata padanya.

"Enci Baju Merah, sungguh tidak disangka kalian bisa datang lagi ke gunung Ciong lam san.

Oey Bwee Cian karena sedang menghadapi kesulitan partai, hingga tak bisa keluar menyambut, disini aku ucapkan terima kasihku."

Si nona baju merah itu lantas menjawab sambil tersenyum.

"Perlu apa ciang bun jin merendahkan diri, justeru kitalah yang berlaku lancang, dan kita belum sampai minta maaf terhadap ciang bun jin."

"Kalau begitu, marilah kita ke kuil untuk mengaso.

Ciong lam pay tidak sampai runtuh.

Semua adalah jasanya sahabat ini.

Oey Bwee Cian tidak tahu entah bagaimana untuk menyatakan terima kasih padanya ...."

Kata-katanya itu ditunjukkan kepada Tan Liong.

Tan Liong berpaling, ia tidak berani ngawasi Oey bwee Cian, sebab sibar matanya ternyata mengandung arti.

Dalam hati Tan Liong mengerti bahwa sinar mata itu ada mengandung arti lebih dari pada persahabatan biasa.

Mungkin dapat dikata, itu adalah permainannya cinta.

Oey Bwee Cian memang benar-benar jatuh cinta pada Tan Liong, ini kedengarannya memang aneh.

Tan Liong yang mukanya sudah berubah begitu buruk dan menakutkan bagaimana Oey Bwee Cian jatuh cinta padanya?

Dalam mata Oey Bwee Cian meski diluarnya Tan Liong kelihatan jelek, tapi dalam hatinya justru baik serta berbudi luhur.

Ia anggap keluhuran budinya itulah yang menutupi kejelekannya.

Selain dari pada itu yang terpenting ialah karena Tan Liong tanpa menghiraukan jiwanya sendiri, telah berdaya keras agar Ciong lam pay bangun kembali.

Perasaan bersyukur dan terima kasih terhadap perbuatan Tan Liong yang mulia itu, akhirnya membangkitkan cinta terhadap pemuda wajah jelek itu.

Sementara itu, cinta yang didasarkan oleh rasa terima kasih dan kasihan ini, bisa berjalan langgeng atau tidak?

Hal ini sudah tentu tidak dapat diduga oleh siapapun juga.

Kecantikan Oey Bwee Cian telah menggiurkan hati setiap pria, sudah tentu tidak kecuali bagi Tan Liong.

Tapi kecantikan Oey Bwee Cian berbeda dengan kecantikan wanita cantik baju merah, sebab keindahan bentuk badan dan raut muka yang ada pada diri wanita cantik baju merah itu, tidak terhadap pada Oey Bwee Cian.

Memang, diantara gadis remaja dan wanita muda yang boleh dikata sudah matang segala-galanya, tidak boleh disamakan.

andaikata Tan Liong sudah biasa bergaul dengan banyak wanita muda, mendadak bergaul dengan gadis remaja sudah tentu ia merasa beda dan timbul rasa suka padanya.

Oleh karena dalam kehidupan dimasa lampau Tan Liong banyak bergaul dengan gadis remaja, maka keindahan bentuk badan wanita cantik yang sudah matang itu telah menarik perhatiannya.

Oey Bwee Cian memang cantik, tapi dalam mata Tan Liong sudah dianggap biasa.

Oleh karenanya, maka lantas ia berpaling tidak berani bentrok dengan pandangan mata Oey Bwee Cian.

Ia takut akan terjebak oleh asmara untuk yang ketiga kalinya.

Oey Bwee Cian senyum getir, ia alihkan pandangan matanya dari Tan Liong, lalu berkata pilu.

"Dia ada seorang berhati mulia."

Kata-katanya itu diucapkan dengan suara perlahan tapi justru keluar dari hati nuraninya, yang dapat didengar oleh siapapun juga.

"Apa, dia berhati mulia?"

Menanya Teng Chun Kiok, si nona baju merah.

"Ya, mungkin tidak bisa dicari yang keduanya."

"Apa kau anggap bahwa kemuliaan hatinya itu dapat menutupi wajahnya?"

"Lebih dari cukup."

"Tapi aku sebaliknya tidak beranggapan demikian, apa yang aku butuhkan ialah orang yang berwajah tampan .... seperti Tan Liong umpamanya!"

"Tapi Tuhan perlakukan umatnya tidak adil, meski Tan Liong tampan wajahnya, namun ia ada laki-laki yang tipis pengharapannya...."

"Aku suka diperlakukan tawar olehnya, juga tidak mempunyai suami berwajah jelek."

Oey Bwee Cian kerutkan keningnya, ia mengerti bahwa antara nona baju merah ini dengan ia sendiri, ada mempunyai perbedaan sifat yang sangat berlainan, kalau berdebat terus sudah tentu tidak ada habisnya.

Maka ia cuma tersenyum sebagai gantinya jawaban.

"Kalau begitu , mari kita naik keatas, malam sudah larut! "

Nona baju merah itu anggukkan kepala. Ia mengawasi Chie Peng dan berkata.

"Nona Chie, kita terpaksa mencekoki nona Oey."

Dalam hati Chie Peng mendadak timbul semacam perasaan ia teringat dirinya dan diri adiknya yang sudah kehilangan kehormatannya karena membela jiwa Tan Liong hingga ia anggap tiada harganya untuk berada bersama-sama dengan gadis-gadis remaja yang masih putih bersih itu.

Perasaan rendah diri timbul secara mendadak maka ia lantas unjukkan ketawa getir dan sambil gelengkan kepala ia menjawab.

"Tidak, kita masih perlu melanjutkan perjalanan kita."

jawaban ini bukan saja mengejutkan Teng Chun Kiok dan Oey Bwee Cian tapi juga mengherankan Tan Liong.

"Kalian semula bukankah berkata hendak mencari Oey ciang bun jin? "

Berkata si nona baju merah.

"Ya, tapi sekarang kita sudah tidak perlu lagi."

jawabnya Chie Peng.

"Kenapa? "

"Tidak apa-apa, sebab aku tidak suka mengenangkan kembali apa yang telah terjadi di atas gunung Ciong lam san pada masa yang lampau."

Si nona baju merah anggukkan kepala.

"Apa mesti berangkat sekarang juga? "

"Ya, sekarang."

Oey Bwee Cian mendadak berkata.

"Nona Chie, kalian tidak boleh pergi.

Kalian tokh sudah ada di gunung Ciong lam san, sudah seharusnya kalau memberi kesempatan kepadaku untuk berlaku sebagai tuan rumah.

Jikalau tidak entah bagaimana nanti Oey Bwee Cian harus menderita pikiran."

"Kita juga mengharap supaya dapat beristirahat dengan tenang untuk beberapa hari di atas gunung guna mengenangkan sedikit kenang-kenangan lama ....

tapi kita tahu bahwa dengan demikian akan menambah penderitaan batin kita."

Ia berdiam sejenak, kemudian berkata pula sambil ketawa getir.

"Kita haturkan terima kasih atas kebaikanmu, lain waktu saja kita nanti akan berkunjung lagi."

Hati Oey Bwee Cian merasa cemas, katanya pula.

"Tidak. Kalian tidak boleh berlalu demikian tidak pandang sahabat. Apakah Oey Bwee Cian berlaku salah terhadap kalian? "

"Tidak, ciang bun jin jangan salah paham. Kau menghendaki kita berdiam disini untuk menambah kedukaan dan penderitaan batin? Atau membiarkan kita berlalu supaya terbebas dari penderitaan itu? "

Perkataan itu membuat Oey Bwee Cian bungkam, dengan perasaan heran ia berkata pula.

"Kalau begitu, Oey Bwee Cian juga tidak berani memaksa, biar bagaimana aku akan tetap ingat kalian."

"Kita juga akan selalu ingat padamu, kalau begitu biarlah kita berangkat sekarang."

Sambil mengawasi Tan Liong ia berkata.

"Tuan, lain waktu kita berjumpa lagi ...."

Sehabis berkata mendadak ia merasa tidak asing dengan Tan Liong, tapi ia tidak banyak pikir lagi, dengan cepat ia balikkan badannya dan berlalu bersama adiknya. Mendadak Tan Liong memanggil.

"Nona Chie, ...."

Dengan cepat ia lantas menyusul. Chie Peng berpaling dan menanya.

"Tuan, ada urusan apa? "

Tan Liong tertegun. mulutnya hanya dapat mengeluarkan perkataan.

"Aku ...."

Lantas tidak dapat melanjutkan lagi, agaknya hendak bicara banyak, tapi ia tak tahu bagaimana harus memulainya.

Memang sesungguhnya menghadapi dua jelita yang pernah menolong jiwanya sehingga terjerumus ke kenistaan, ia harus berkata sesuatu pada mereka.

Tapi sebagai orang yang hendak ditinggalkan, ia cuma merasa bahwa ia harus mengantarkan penyesalannya yang sungguh-sungguh atau menjelaskan kepadanya sendiri, tapi ia tidak mengeluarkan sepatah katapun juga.

Ia cuma dapat mengawasi mereka dengan mata sayu, agaknya ingin menjajaki hati mereka ....

memahami isi hati mereka ....

dan jiwa mereka yang masih putih bersih.

Chie Peng tersenyum untuk kedua kalinya ia menanya.

"Tuan ada urusan apa? "

"Ow , ow, tidak .... tidak ada."

"Jika tidak ada urusan apa-apa, kita hendak pergi ...."

Dari wajah Tan Liong, Chie Peng bisa dapat lihat, bahwa ia sebetulnya ingin bicara sesuatu, tapi ia mengerti bahwa pemuda itu tidak dapat membuka mulutnya.

"Bolehkah aku antar kalian? "

Berkata Tan Liong dengan suara perlahan.

"Kita tidak sanggup menerima budi tuan, tak usah saja."

"Kalian keberatan aku antar? "

"Bukan begitu maksudku, benar-benar kita tidak sanggup menerima budi tuan."

"Aku sendiri yang suka antar, aku merasa harus antar kalian sampai ke bawah gunung, ini juga merupakan kewajibanku."

Chie Peng kembali tersenyum, katanya.

"Kalau begitu kita telah membikin repot tuan."

Tiga bayangan orang tampak turun dari gunung dengan tindakan perlahan-lahan.

Tatkala Tan Liong balikkan badan, paras Teng Chun Kiok kembali menjadi pucat, tiba-tiba ia mendapat kenyataan bahwa pikirannya terhadap pemuda itu mungkin keliru.

Keadaan Tan Liong terhadap Cu Lian sudah menggerakkan hatinya, ia anggap pemuda wajah jelek ini kalau bukan Tan Liong kenapa ia berlaku demikian terhadap Cu Lian?

Kecuali Tan Liong yang bisa berlaku demikian, orang lain tidak nanti akan kucurkan air matanya dihadapan Cu Lian ....

Dan kini selagi kedua saudara Chie hendak berlalu agaknya ingin berkata banyak, tapi tidak bisa keluar dari mulutnya ....

Dan mengapa pula ia ingin antar sendiri dua gadis itu sampai kebawah gunung?

Kalau bukan karena Tan Liong menanggung hutang budi atau bersalah terhadap mereka, kenapa ia gelagapan dihadapan Chie Peng?

Teng Chun Kiok ada salah satu gadis cantik, setelah berpikir demikian, ia lantas anggap bahwa dirinya mungkin telah melakukan sesuatu kekeliruan yang besar.

Matanya terus memandang ke badan belakang Tan Liong, sedang parasnya semakin lama semakin pucat ....

dan badannya lantas gemetar ....

sebab bayangan belakang itu adalah bentuk badan Tan Liong.

Tan Liong tidak dapat lihat sikapnya si nona baju merah itu, ia mengantar dua saudara Chie sampai ke bawah gunung Ciong lam san.

....

Ia berjalan dengan mulut membisu, sedang otaknya terus berpikir ....

ia pikirkan semua kejadian hari ini ....

juga mengenangkan semua kejadian dimasa lampau ....

Angin gunung meniup wajahnya, malam benar-benar dingin.

Kecuali suara meniupnya angin malam dan tindakan kaki mereka bertiga, sudah tidak terdengar apa-apa lagi.

....

Lama sekali baru terdengar suara Chie Peng yang memecah suasana sunyi itu.

"Mengapa tuan hendak mengantar kita? "

Tan Liong tersadar dari lamunannya, sesaat tampak terperanjat, lama baru menjawab.

"Hanya sekedar memenuhi kewajiban dari tuan rumah."

"Hanya itu saja? "

"Ya! "

"Barangkali tidak demikian sederhana! "

Tan Liong berpaling menatap paras Chie Peng, karena tampak nona itu tersenyum manis ia juga lantas tersenyum dan berkata.

"Ya, mungkin tidak sedemikian sederhana dan kalau ada, lain waktu itu kalian adalah kekasih Tan Liong."

"Kekasih, kekasih Tan Liong? "

Demikian Chie Peng berkata sambil tertawa kecut.

"Perlu apa tuan menyebut namanya. Tan Liong tokh sudah meninggal dunia? "

"Ya, ia sudah meninggal, jika ia belum meninggal apa kalian bisa mencintainya lagi? "

Chie Cui mendadak nyeletuk.

"Bisa, kita bisa mencintainya."

Chie Peng mengawasi adiknya sejenak, lantas berkata sambil ketawa getir.

"Adikku bisa tapi aku tidak."

"Kenapa? "

"Sebelum kau memahami keadaan kita, perlu apa kau harus membicarakan persoalan kita yang sudah lalu? "

Tan Liong menghela napas.

"Dikemudian hari aku dapat memahami kau! "

Chie Peng mendadak menatap wajah Tan Liong dengan penuh arti.

"Kau mengerti keadaanku? "

"Ya."

"Setelah kau mengetahui, kau nanti akan menyesal dan bahkan mungkin akan memaki kita wanita rendah."

"Tidak mungkin."

Chie Peng menghela napas.

"Kau bisa, sebab kau bukan orang luar biasa, kau bukan dewa! "

Tan Liong bukan tidak mengerti maksud perkataan Chie Peng, maka dalam hatinya lantas berpikir, jika Chie Peng tidak jemu wajahku yang buruk ini, aku harus mencintainya, karena ia pernah menolong jiwaku, cintanya kangzusi terhadap diriku lebih dalam dan lebih agung dari yang lain, ia tak segan-segan mengorbankan kesuciannya dan kehormatannya seumur hidup.

Ia telah melakukan pengorbanan yang hanya untuk menukar selembar jiwaku ....

"Sekalipun kalian sudah pernah bersuami, tapi pandanganku terhadap kalian juga tak akan berubah."

Demikian ia berkata.

"Tapi kita lebih rendah daripada wanita yang sudah bersuami."

"Itu karena kalian merasa rendah diri ....? "

"Ini bukan rendah diri, karena aku sudah bukan gadis lagi, aku sendiri yang rela berbuat rendah diri, aku telah serahkan kehormatanku kepada orang yang aku cintai."

Chie Peng mengira bahwa perkataannya itu pasti akan mengejutkan pemuda berwajah buruk itu, tapi Tan Liong sebaliknya malah tersenyum sembari berkata.

"Kehormatan dan keberuntungan seorang wanita, sudah tentu ada hubungan erat, tetapi menurut anggapanku untuk sesuatu sebab sehingga perlu mengorbankan kehormatannya, dalam hati dan jiwa itu masih putih bersih, dan jiwa yang putih inilah yang tidak boleh kita abaikan begitu saja."

Perkataan itu sesungguhnya diluar dugaan Chie Peng, ia memandang padanya dengan mata terbuka lebar, tidak tahu bagaimana harus menjawabnya. Tan Liong berkata pula.

"Nona Chie, kau ada seorang wanita yang berjiwa agung dan putih bersih, tidak peduli kapan saja, sekalipun sampai dunia kiamat, penilaianku terhadap dirimu ini tidak berubah."

"Apa benar .... ?"

"Sudah tentu benar."

Mereka kembali berada dalam keheningan. Akhirnya Chie Peng kembali hentikan kakinya sambil menatap Tan Liong lalu berkata.

"Beritahukan padaku apa sebabnya kau hendak mengantarkan kita? Jangan membohongi aku, aku sudah tahu pasti ada sebabnya."

Ditanya demikian hati Tan Liong bercekat katanya.

"Aku tadi tokh sudah katakan, aku hanya sekedar untuk memenuhi kewajibanku sebagai tuan rumah."

jawaban ini sangat mengecewakan Chie Peng, ia mengharap supaya Tan Liong mengatakan bahwa ia cinta padanya.

Pikiran itu barusan saja timbulnya karena ia anggap Tan Liong sesungguhnya ada orang yang berhati mulia, ia dapat memaafkan dirinya yang sudah kehilangan kehormatannya ini adalah suatu pikiran yang tidak dapat dipunyai oleh laki-laki lainnya.

Memikir demikian Chie Peng pura-pura mendongkol.

"Kau bohong."

"Aku .... tidak ...."

"Orang kata hatimu mulia kiranya kau juga pandai membohong. Aku bukan seorang yang gampang ditipu, pulanglah tuan! "

Tan Liong dengan perasaan mendelu mengawasi paras Chie Peng yang nampaknya mendongkol.

"Kau tidak perlu aku antar sampai bawah gunung? "

"Kalau kau membohong tak usah saja."

"Aku .... Aku ...."

Tan Liong gelagapan.

"Kau, kenapa? Katakanlah."

"Aku tidak berani mengatakan."

"Urusan apa sebetulnya? Mengapa kau tidak berani mengatakannya? "

Dalam hati Tan Liong bepikir, aku harus beritahukan padanya bahwa aku cinta padanya, apa yang ia berikan padaku rasanya belum terbalas hanya dengan jalan mencintai dirinya saja ....

Meski hatinya berpikir demikian tapi mulutnya mengatakan.

"Aku tidak pantas mengucapkan perkataan seperti ini! "

Hati Chie Peng berdebar.

"Tapi aku ingin kau mengatakannya! "

"Aku .... aku ...."

"Benar benar seperti anak gadis, perkataan apa sebetulnya? Kenapa gelagapan? "

"Aku cin .... ta padamu! "

Hati Chie Peng hampir loncat keluar, jantungnya bergoncang keras dengan paras terheran-heran ia memandang Tan Liong. Tan Liong dengan perasaan menyesal lalu berkata pula.

"Aku tahu diriku tidak pantas untukmu .... tapi kau suruh aku berkata ....."

"Tidak .... tidak apa ...."

Karena kegirangan ia tidak tahu bagaimana harus mengutarakan isi hatinya. Tapi Chie Cui lantas nyeletuk.

"Kau tidak pantas menjadi kekasih suciku."

Chie Peng goyangkan tangannya mencegah Chie Cui mengucapkan pendapatnya, lebih lanjut lalu menanya.

"Adik, aku cinta dia, Kau tentunya tidak menentang bukan ....? "

Chie Cui terperanjat. katanya.

"Enci, kau cantik ...."

"Aku tahu, adik, apa kau tidak setuju aku cinta padanya? "

"Enci, apa itu benar? Benarkah kau cintakan padanya? "

"Apakah itu perlu main-main? Aku tidak menipu padanya. Ia adalah seorang yang berhati mulia."

Dengan perasaan terheran-heran sang adik memandang encinya, ia benar-benar tidak percaya kalau encinya itu bisa jatuh cinta kepada lelaki aneh yang berwajah jelek dan menakutkan itu.

"Adik, katakanlah."

Kata pula Chie Peng sambil tersenyum.

"Ini ada urusanmu sendiri, perlu apa tanya padaku? "

"Kau tokh tidak akan tertawakan aku? "

"Tidak, enci."

"Chie Peng mengawasi Tan liong diparasnya terlintas suatu perasaan malu yang selamanya itu belum pernah ia rasakan.

"Apa perkataanmu ini ada sesungguhnya? "

Sebagai jawaban Tan liong telah menubruk dan memegang lengan Chie Peng.

Tan Liong ingin supaya hati Chie Peng yang selama ini telah beku, hidup lagi.

Gadis yang korbankan kehormatannya semata-mata hendak menolong jiwa kekasihnya ini, biar bagaimana ia harus balas dengan kecintaan yang setimpal.

Chie Cui yang menyaksikan pemandangan itu pelengoskan kepalanya, ia takut melihat wajah Tan Liong yang menakutkan?

Ataukah adegan ini membangkitkan luka dalam hatinya?

Tan Liong dan Chie Peng berpelukan dengan mesra, lama sekali mereka baru berpencar lagi.

Sambil mengawasi Tan Liong, Chie Peng berkata.

"Benarkah kau akan cintakan aku untuk selama-lamanya? Kau tidak pandang rendah diriku?"

"Tidak, aku bukan lelaki semacam itu .... aku bisa mencintakan kau untuk selama-lamanya. Aku tidak dapat melupakan kau cuma ...."

"Cuma apa? "

"Jangan lupa iblis dalam hatimu? "

"Iblis? .... Iblis apa? "

Tanya Chie Peng tidak mengerti.

"Bayangan Tan Liong."

"Apa kau kira aku tidak dapat melupakan dirinya? "

Tanya Cie Peng sambil tersenyum.

"Ya."

"Aku bisa lupakan, aku tidak akan memikirkan dia lagi aku cuma pikirkan kau."

"Benarkah perkataanmu ini? "

"Emmh."

"Bagaimana andai Tan Liong muncul lagi? "

"Aku tidak akan perdulikan lagi, aku akan meninggalkannya."

"Andaikan aku adalah Tan Liong? "

Chie Peng terkejut, dengan tanpa pikir lagi ia lantas menjawab.

"Aku bisa membunuh kau."

"Bunuh aku? "

"Tidak salah, sebab dia itulah yang menyakiti hatiku."

"Menyakiti hatimu? "

Tan Liong benar-benar tidak dapat memahami perkatan Chie Peng itu. Sesungguhnya memang tidak mengerti, apa sebabnya Chie Peng harus membenci dirinya.

"Ya, andaikata kau adalah Tan Liong tidak seharusnya kau menipu cintaku lagi, sebab aku tidak cinta padanya, kecuali ia berubah menjadi orang lain.

Kau pikir, jika kau adalah Tan Liong dan menipu lagi, betapa pilunya hatiku?

Maka aku hendak membunuh mati kau."

Tan Liong lantas mengerti, maka ia lantas berkata sambil tertawa.

"Apa kau anggap mungkin aku ini Tan Liong? "

"Aku tidak tahu, sebab suaramu, gerak gerikmu perawakanmu mirip sekali dengan dia."

"Tidak mungkin aku ini dia. Dia tokh sudah mati, lagi pula Tan Liong tidak seperti aku jeleknya."

Lama Chie Peng memandang Tan Liong baru berkata.

"Kau kata kita ini gila atau tidak? "

"Gila? "

"Ya, kita sudah saling mencinta tapi siapa namamu aku malah belum tahu."

"Oh, nama tokh tidak begitu penting dengan soal saling mencinta. ...."

"Tapi kan aku harus tahu, sebab aku akan mengingat namamu itu selalu."

"Aku .... bernama Sim Heng Jin"

"Heng Jin? "

"Kenapa? Tidak enak didengar? "

"Terlalu ganjil dan agak menjemukan, rubah saja menjadi Heng Chin."

"Kalau kau menghendaki begitu, baiklah. Kau panggil aku Heng Chin saja! "

"Nona Chie, pada nanti tanggal delapan bulan ini sukakah kau datang kegunung Ciong lam san lagi? "

"Ada urusan apa? "

"Tidak ada urusan apa-apa, hanya pada tanggal sembilan bulan ini, Ciong lam pay akan mengadakan upacara pengangkatan ketuanya. Ada banyak hal yang minta bantuanmu nanti! "

"Baiklah, dan sekarang kau boleh pulang kita hendak pergi?"

Chie Peng mendadak ingat sesuatu, ia lalu berkata.

"Engko Sim, aku hendak beritahukan padamu sesuatu hal kau dengan Oey Bwee Cian tidak boleh terlibat dalam asmara lagi! "

Tan Liong terperanjat, katanya.

"Oey Bwee Cian? Apa ia bisa cinta diriku yang jelek ini? "

"Hmm! Aku telah dapat lihat itu. Ia cinta padamu, cuma .."

Ia tersenyum.

"Aku hanya main-main saja, aku tidak bisa cemburu, kau boleh cinta padanya."

Sehabis berkata ia lantas berlalu bersama adiknya.

Bayangan Chie Peng lenyap dari dalam otaknya, terbayang lagi bayangan wanita kedua ....

Itu adalah bayangannya wanita cantik baju merah.

Kembali ia bergidik bayangan wanita cantik setengah umur itu seperti hantu setiap waktu muncul dalam otaknya.

....

Kesan wanita cantik setengah umur itu dalam sekali melekat dihatinya.

Ia tidak mengerti mengapa wanita setengah umur itu memberikan kesan demikian dalam baginya.

Ia ketawa geli sendiri, ia tidak menyangkal bahwa ia telah jatuh cinta kepada wanita setengah umur itu, tapi siapakah dia?

Apakah benar Hiat im cu yang kenamaan itu?

Berpikir sampai disitu, hatinya kembali bergidik, hingga badannya gemetaran.

Wanita cantik baju merah setengah umur itu memang ada kemungkinan benar adalah Hiat im cu, sebab meski ia ada seorang wanita yang sudah berusia tujuh puluh tahun lebih tapi umpama mempunyai ilmu rawat diri, untuk pertahankan muka dan bentuk badannya seperti seorang baru berusia duapuluh tujuh duapuluh delapan tahun sesungguhnyalah bukanlah soal sulit.

Tapi, ya Tuhan!

Apakah benar-benar ia telah jatuh cinta kepada satu nenek-nenek.

Ia pernah beritahukan kepda dirinya sendiri ini tidak mungkin.

Dan boleh jadi Hiat im cu itu adalah laki-laki, biar bagaimana ia harus bikin jelas soal itu, mungkin Im yang Ie su atau Teng Chun Kiok mengetahui tentang diri atau riwayat Hiat im ci.

Setelah berpikir demikian ia lantas lari balik keatas gunung Ciong lam san.

Pada saat itu, dipekarangan luar kuil Ciong lam san masih terlihat dirinya empat wanita, mereka mengawasi kembalinya Tan Liong.

Dalam hati masing-masing seolah-olah sedang memikirkan sesuatu.

Oey Bwee Cian yang lebih dulu membuka mulut, menegur Tan Liong.

"Mereka sudah pergi? "

"Sudah."

Mendadak dibawah gunung tampak beberapa bayangan orang berpakaian kuning, lari keatas gunung bagaikan terbang, hingga sebentar kemudian sudah berada didepan Oey Bwee Cian.

Salah satu diantaranya adalah Ciancu bagian hukum, Lie Tiauw Yang.

Disampingnya juga terdapat enam jago Ciong lam pay dan lain-lainnya.

Begitu melihat Oey Bwee Cian mereka lantas berlutut memberi hormat.

Oey Bwee Cian melihat sebagian besar anggota Ciong lam pay sudah kembali, hatinya merasa girang.

Ia berkata kepada mereka.

"Silahkan susiok sekalian bangun.

"Mereka lantas bangun dan berdiri berderet disamping.

Ketika lihat bangkai orang-orang Thian seng hwee yang berserakan di tanah, tampaknya pada kaget.

Im yang Ie su ketika dapat lihat Say thio koay Lie Bun Ching, kepala rombongan dari tujuh jago Ciong lam pay, lantas berkata sambil tersenyum.

"Lie Thio koay, apa kau masih kenal dengan aku si orang she Souw? "

Lie Bun Ching memandang Im yang Ie su ia terperanjat, kemudian berkata sambil ketawa.

"Hai! Im yang si setan tua, kiranya adalah kau? "

"Benar, ini adalah aku."

"Jadi, kau masih hidup? "

"Apa kau suruh aku terjun kelembah Pek kut gam? "

"Tidak, tidak, aku hanya mengira kau sudah mati saja."

Oey Bwee Cian lantas berkata.

"Jika bukan Locianpwee ini partai kita entah bagaimana nasibnya, susiok belum mengucapkan terima kasih padanya."

Lie Bun Ching memang sudah lama kenal Im yang Ie su.

Meski perjumpaan mereka sangat jarang tapi persahabatan sangat erat.

Ketika mendengar perkataan Oey Bwee Cian, Lie Bun Ching lantas berkata sambil ketawa.

"Tidak kukira, kau setan tua ini masih dapat memberikan bantuan besar kepada Ciong lam pay kali ini, setidak-tidaknya aku harus menyediakan sepuluh kati arak."

"Sepuluh kati arak? Aaaah, Lie loheng kau sesungguhnya terlalu pelit ...."

Jawabnya Imyang Ie su sambil ketawa bergelak-gelak.

"Baiklah, bagaimana kalau dua puluh kati? "

Kedua orang tua itu saling berkelakar, hingga suasana berubah reda, semua orang mendengar mereka bicara tentang arak, lantas pada ketawa tergelak-gelak.

"Lie loheng, terima kasih kalian itu bukan kau ucapkan kepadaku, melainkan kepada muridku ini."

Sehabis berkata, matanya ditujukan kepada Tan Liong, semua murid Ciong lam pay juga pada mengawasi Tan Liong.

Lie Bun Ching diam-diam berpikir, apa yang dikatakan oleh Kwee Yan Sian, ternyata tidak salah, orang ini benar-benar menakutkan.

Karena ia ada sahabatnya Tan Liong, juga ada membawa panji Ciong lam pay, apalagi juga telah banyak membantu partai, sudah tentu menjadi seorang yang banyak berjasa terhadap partai Ciong lam pay, seharusnya diperlakukan secara terhormat.

Oleh karena itu maka ia lantas memberi hormat kepada Tan Liong seraya berkata.

"Harap maafkan aku siorang she Liu yang mata sudah lamur, hingga tak tahu kedatangan tuan. Atas kealpaanku ini, disini aku menghaturkan maaf."

"Locianpwee tak perlu banyak peraturan, aku tak sanggup menerima."

jawabnya Tan Liong sambil tersenyum.

"Numpang tanya, adakah tuan yang suruh menyampaikan perintah kepada kita supaya segera kembali kegunung? "

Tanyanya Lie Bun Ching dengan laku hormat.

"Benar."

"Aku siorang she Lie dan semua anggauta Ciong lam pay disini menunggu perintah lebih jauh."

"Murid-murid Ciong lam pay yang lainnya apa mereka sudah dapat tahu berita ini? Apa mereka sudah berangkat kembali kegunung? "

Aku si orang she Lie telah terima laporan dari Kwee Yan Sian, bahwa tuan sudah mewakili Ciang bun jin untuk memerintahkan kita agar segera kembali keatas gunung, murid-murid yang lainnya, aku sudah titahkan beberapa puluh orang untuk menyampaikan perintah ini, aku yakin dalam beberapa hari ini mungkin akan kembali kegunung semuanya."

Tan Liong anggukkan kepala dan berkata.

"Apakah kalian tahu, apa sebabnya aku minta kalian pulang? "

"Justeru inilah yang kita ingin mendapat penjelasan."

"Aku telah menerima pesan Ciang bun jin kalian Tan Liong, untuk membantu wakil pejabat Ciang bun jin kalian nona Bwee Cian mengadakan upacara pengangkatan resmi jabatan Ciang bun jin yang akan didapat olehnya.

Upacara ini akan diadakan pada tanggal sembilan bulan ini maka kalian harus pulang dan berkumpul semua."

Perkataan ini mengejutkan semua anak murid Ciong lam pay, Lie Bun Ching berkata pula.

"Upacara pengangkatan Ciang bun jin? "

"Tak salah, dalam partai tidak boleh terlalu lama tiada kepalanya, sehingga dihina oleh partai-partai persilatan lainnya, oleh karenanya maka sebelum meninggal dunia, telah pesan aku agar menyelesaikan soal ini."

Ucapan Tan Liong sebelum meninggal dunia ini, didalam telinga Im yang Ie su merupakan suatu lelucon, hingga diam-diam merasa geli, tapi ia tahu bahwa Tan Liong ada mempunyai kesukarannya sendiri, maka ia tidak berkata apa-apa.

"Tuan telah menerima pesan Ciang bun jin kita untuk membantu wakil pejabat Ciang bun jin menjabat jabatan tersebut, tapi nanti apabila Thian seng hwee. ...."

"Urusan ini sudah dipikir masak-masak, tuan-tuan tidak usah kawatir. Say Phoa an dalam waktu beberapa hari ini sudah akan kembali ke gunung, apa sekarang Thian cu bagian pengurus keluar masuknya orang ada di sini? "

"Ya, masih ada lain urusan, belum bisa pulang, ada urusan apa tuan minta ia datang? "

"Kapan kiranya ia bisa pulang? "

"Paling lambat besok bisa tiba."

Tan Liong berpikir sejenak, lantas berkata pula.

"Kalau begitu, angkat semua bangkai ini kedalam ruangan hukum."

Lie Bun Ching agaknya tidak mengerti maksud Tan Liong, maka ia menanya.

"Semua bangkai dipindah keruang hukum? "

"Ya! "

Semua orang yang berada disitu juga tidak mengerti apa sebabnya Tan Liong suruh pindahkan bangkai-bangkai orang Thian seng hwee itu kedalam ruangan hukum?

Tapi tiada seorangpun yang berani menanya.

Lie Bun Ching berpikir, sejenak kemudian mengawasi semua murid murid Ciong lam pay seraya berpikir.

"Saudara-saudara bawalah semua bangkai ini kedalam ruangan hukum."

Semua anak murid Ciong lam pay lantas bergerak melakukan pekerjaan memindahkan semua bangkai itu kedalam ruangan hukum. Im yang Ie su berkata kepada Lie Bun Ching.

"Lie loheng, mari kita pergi setelah menghabiskan dua puluh kati arakmu, kita nanti mengobrol lagi."

Lie Bun Ching tersenyum, ia berjalan ke dalam kuil bersama Im yang Ie su. Oey Bwee Cian mengawasi Teng Chun Kiok sejenak lalu berkata.

"Mari kita jalan."

Teng Chun Kiok menganggukkan kepala dan berkata.

"Kau pergi dulu bersama nona Cu ada sedikit urusan aku hendak tanya tuan ini."

Oey Bwee Cian mengawasi Tan Liong sambil tersenyum sungguh amat menggiurkan hingga Tan Liong tidak berani memandangnya. Oey Bwee Cian lantas berkata.

"Aku jalan dulu tuan."

Tanpa menunggu jawabnya Tan Liong ia sudah pergi bersama Cu Lian. Setelah Oey Bwee Cian berlalu, Teng Chun Kiok berkata kepada Tan Liong sambil mengawasi padanya dengan mata tajam.

"Tuan, ada sedikit urusan aku hendak menanyakan padamu."

"Ada urusan apa, silahkan nona utarakan."

"Kau sebetulnya siapa? "

Tan Liong terperanjat, sejenak ia berdiam lalu ia menjawab.

"Aku? Apa maksud nona menanyakan soal ini? "

"Apa maksudnya? "

Teng Chun Kiok ketawa dingin.

"Aku ingin tahu siapa kau? "

"Aku tak mengerti maksudmu."

"Kau bernama siapa? "

Teng Chun Kiok benar-benar pasang mata, agaknya hendak menembusi hati pemuda itu. Tan Liong meski dalam hati terperanjat, tapi diluarnya tampak tenang-tenang saja.

"Aku tidak berkewajiban untuk memberi tahukan padamu."

Paras si nona mendadak berobah, dalam hati ia berpikir, kalau bukan karena aku anggap kau Tan Liong, sesungguhnya aku tidak sudi berbicara denganmu ....

"Mungkin untuk pertama kali aku salah melihat orang."

"Salah lihat orang? "

"Benar, aku telah salah lihat orang, sebab kau adalah Tan Liong."

Ia berdiam sejenak, kemudian berkata pula dengan suara bengis.

"Jawab, kau Tan Liong atau bukan? "

Tan Liong tertawa terbahak-bahak, perbuatannya itu membuat si nona baju merah itu merasa bingung, ia tidak tahu harus berbuat apa.

"Bagaimana nona bisa kata aku adalah Tan Liong? Apa aku ada mirip dengan dia? Atau nona jatuh cinta padaku? "

"Tidak tahu malu! Kau tidak katakan dirimu sendiri pantas atau tidak kalau menjadi kekasihku. Kalau kau berani berkata lagi yang bukan-bukan, awas aku nanti akan memaki kau."

"Kalau memang aku tidak pantas menjadi kekasihmu, mengapa kau anggap aku Tan Liong? Andaikata benar aku Tan Liong, apa yang bisa kau perbuat? "

Pertanyaan itu membuat si nona bungkam dengan perasaan bingung. Ia memandang Tan Liong seolah-olah perkataan Tan Liong itu telah melukai hatinya. Lama sekali ia baru bisa berkata lagi.

"Jika kau benar Tan Liong, aku akan bunuh diri."

"Bunuh diri? "

Tan Liong terkejut.

"Mengapa kau hendak bunuh diri? "

"Sebab aku telah salah lihat orang, aku juga tidak cinta kau apa artinya aku hidup? "

Tan Liong kerutkan keningnya.

"Nona, harap legakan hatimu, aku bukan Tan Liong, aku adalah sahabatnya, kau tidak perlu bersusah hati atau membunuh diri."

"Kalau begitu, kenapa ketika kau bisa kucurkan airmata didepan Cu Lian? Kenapa kau turut merasa sedih? Kecuali Tan Liong buat orang lain tidak nanti akan berlaku demikian."

Tan Liong diam-diam berpikir. Teng Chun Kiok benar-benar ada seorang berpikiran halus, ia dapat menyelami perasaan orang lain. Ia lalu balas menanya.

"Apakah nona ada seorang berhati baja sehingga tidak turut merasa berduka atas nasib yang menimpa nona Cu Lian itu? "

"Tapi sikap tuan ada jauh berbeda dengan orang lain."

"Mungkin ia betul! "

Tan Liong ketawa getir.

"Ia cinta Tan Liong dan Tan Liong pun cinta padanya, ia telah mendapatkan seorang suami yang tidak baik hingga akhirnya diterlantarkan.

Seorang wanita yang diterlantarkan oleh suaminya cukup menimbulkan rasa kasihan.

Tan Liong sebelum menutup mata pernah berpesan padaku supaya baik-baik melindunginya meski suaminya ada seorang jahat yang tidak dapat diampuni lagi kejahatannya, namun mengingat nasib istrinya sebetulnya tidak perlu sampai diambil jiwanya.

Tapi akhirnya ia tokh mati ditanganku ini berarti bahwa akulah yang merusak keberuntungan seumur hidupnya ...."

Nona baju merah itu mengangguk.

"Kalau begitu apa perlunya kau harus mengantar dua saudara Chie sampai kebawah gunung?

Sebelum mereka meninggalkan kau agaknya ada banyak perkataan yang hendak kau ucapkan kepada mereka tapi kenapa kau tidak mampu mengutarakannya?

Kecuali Tan Liong yang tahu bahwa ia ada menanggung budi dan berhutang pada mereka, sehingga berlaku demikian terhadap mereka.

Untuk orang lain tidak nanti berlaku demikian."

"Chie Peng yang hendak menolong selembar jiwa Tan Liong telah mengorbankan kehormatannya.

Cinta kasih yang sedemikian agung tidak terdapat pada diri lain gadis, maka sebelum meninggal Tan Liong telah berpesan padaku, supaya aku dapat menghibur luka dalam hatinya maka aku tidak boleh tidak dengan menggunakan alasan hendak mengantarkan mereka untuk menghiburnya."

jawaban itu meski tidak memuaskan hati Teng Chun Kiok tapi ia juga tidak dapat berbuat apa-apa.

"Nona masih ingin tahu apa lagi? "

"Sudah tidak ada apa-apa lagi.

Ada satu hari aku akan dapat mengatakan, kau sebetulnya siapa.

Selain daripada itu aku juga akan pergi lagi kebelakang gunung tempat perkumpulan Thian seng hwee untuk melihat dalam kuburan Tan Liong ada bangkainya Tan Liong atau tidak."

Perkataan itu mengejutkan Tan Liong.

Jika benar si nona baju merah itu membongkar kuburannya maka rahasianya pasti akan terbuka.

Bukan main kagetnya Tan Liong bahwa ia tahu benar karena si nona baju merah ini dapat melakukan apa yang ia ucapkan jika ia tahu bahwa dirinya belum mati sungguh hebat akibatnya.

Memikir demikian dengan tanpa sadar dirinya lantas gemetaran ....

Ia mengawasi si nona dengan bingung, sepatah perkataanpun tidak keluar dari mulutnya.

Teng Chun Kiok mengawasi sikap Tan Liong lalu berkata sambil ketawa dingin.

"Jika bangkai Tan Liong tidak terdapat dalam kuburan ini ada satu bukti bahwa kau adalah Tan Liong."

"Nona tidak dapat mengatakan demikian, jika bangkainya dicuri orang bagaimana? "

Siapa sudi mencuri bangkainya? Say phoa an melihat sendiri ia dimasukkan dalam liang kubur, aku kira tidak ada orang yang mau mencuri bangkainya."

Tan Liong benar-benar kali ini tidak bisa menjawab.

"Mengapa tuan gelisah! "

Tanyanya si nona sambil ketawa hambar "

Urusan ini cepat atau lambat tokh akan diketahui juga, kini aku juga hendak mencari nona Oey Bwee Cian, besok aku hendak berangkat ke Thian seng hwee."

Sehabis berkata ia lantas ajak Hoan Giok Hoa pergi menjumpai Oey Bwee Cian.

Tan Liong berpikir, karena urusan sudah menjadi begini, kawatir juga tidak ada gunanya biarkah aku menantikan perkembangannya lebih jauh.

Mendadak ia seperti ingat sesuatu maka lantas memanggil si nona.

"Nona, harap tunggu sebentar! "

Teng Chun Kiok berpaling dan menanya.

"Ada urusan apa? "

"Apakah nona ada muridnya Hiat im cu kepala dari Bu lim Samcu? "

"Tidak salah! kenapa? "

"Maafkan kelancanganku, numpang tanya, suhumu itu laki-laki ataukah wanita? "

"Apa perlunya tuan menanyakan soal ini? "

"Aku .... hanya ingin tahu saja."

Jawabnya Tan Liong gelagapan.

"Kalau kau tidak menerangkan sebabnya, aku tidak mau memberitahukan."

Tan Liong tidak bisa menjawab, Bagaimana ia dapat memberi tahukan perkenalannya antara ia dengan wanita cantik baju merah itu?

"Lelaki atau perempuan, tak ada hubungannya dengan kau perlu apa tanya-tanya?"

Berkata Teng Chun Kiok dingin.

Setelah itu ia melanjutkan jalannya dengan Hoan Giok Hoa.

Tan Liong menghela napas panjang.

Ia masih coba hibur diri sendiri, bahwa wanita cantik setengah umur itu bukanlah Hiat im cu.

Tuhan tidak mungkin permalukan dirinya begitu rupa, jika benar wanita cantik setengah umur itu adalah Hiat im cu dan ia telah jatuh cinta padanya, bagaimana ia bisa tancap kaki lagi di dunia Kangouw?

Saat itu sudah menjelang pagi hari, semua murid Ciong lam pay termasuk Oey Bwee Cian sudah berkumpul di ruangan tamu Khun hiong thian menantikan Tan Liong.

Tatkala Tan Liong tiba di situ, Oey Bwee Cian lantas menanya padanya.

"Oey Bwee Cian bersama anak murid Ciong lam pay disini menunggu kedatangan tuan entah masih ada pesan keperluan apa? "

"Tak ada urusan apa-apa lagi liatwie boleh mengaso, urusan lain besok kita bicarakan lagi."

jawabnya Tan Liong. Semua murid Ciong lam pay ketika mendengar perintah itu, lantas pada undurkan diri. Terdengar suaranya Oey Bwee Cian pula.

"Tuan semalam suntuk belum tidur tentunya sudah letih. Oey Bwee Cian harus memberi kesempatan kepada tuan dan nona-nona sekalian untuk mengaso."

Ia lalu ajak Hoan Giok Hoa, Teng Chun Kiok dan Cu Lian kekamar belakang.

Tan Liong melihat Im yang Ie su masih belum pergi, lantas mendapat satu pikiran, ia menghampiri padanya dan berkata dengan suara pelahan.

"Locianpwee, aku ingin meminta pertolongan locianpwee."

"Ada urusan apa kau katakan saja! "

Tan Liong lalu menuturkan pertemuannya dengan Teng Chun Kiok dan maksud nona itu hendak kelembah Lui in kiok untuk menggali kuburan Tan Liong.

Im yang Ie su lantas mengerti maka ia lalu berkata sambil senyum.

"Oleh karena itu, maka kau lantas minta aku berusaha supya rahasia itu jangan smpai terbongkar? "

"Ya, locianpwee boleh lantas kebelakang gunung mencari satu bangkai manusia bikin rusak wajahnya dan ganti pakaiannya dengan pakaian warna abu-abu, lalu letakkan dalam peti mati yang bekas kupakai, sudah tentu ia tidak dapat mengenalinya ...."

"Aku tahu, aku juga hendak pulang, urusan ini serahkan saja padaku sekarang kau pergilah mengaso dulu, jika ada waktu pada hari upacara pengangkatan ketua aku nanti akan datang lagi, nah sekarang aku pergi dulu ....

" . Tatkala Oey Bwee Cian keluar lagi dan tidak dapatkan Im yang Ie su ia terkejut. Tan Liong lalu memberitahukan padanya bahwa Im yang Ie su karena ada urusan ia pulang lebih dahulu.

"Kalau begitu mari aku antar kau pergi mengaso, kau tentunya juga sudah letih.

"Mereka berjalan berendeng menuju ke kamar belakang.

Oey Bwee Cian setiap menoleh mengawasi Tan Liong dengan sinar matanya yang menarik, pandangan mata itu membuat Tan Liong berdebaran.

Ia mendadak teringat ucapan Chie Peng ketika hendak meninggalkan padanya ....

Ia tertegun, dengan tak sadar ia menoleh dan memandang Oey Bwee Cian sinar matanya yang bening, parasnya yang cantik manis, si nona itu membuat jantungnya bergoncang keras.

Tiba didepan sebuah kamar Oey Bwee Cian berhenti lalu mendorong pintu kamar seraya berkata.

"Kau tidurlah disini."

Tan Liong anggukkan kepala.

"Aku telah membikin banyak repot ciang bun jin, hatiku sungguh merasa tidak enak."

"Jika bukan kau, entah bagaimana nasibnya Ciong lam pay? Budimu ini tidak akan kulupakan untuk selama-lamanya."

"Ciang bun jin tidak usah begitu merendah, aku telah menerima pesan sahabat, sudah tentu harus kulakukan, urusan sekecil ini, apakah artinya? "

"Setelah upacara nanti, apa tuan suka tinggal di gunung Ciong lam san? "

"Aku masih ada sedikit urusan, mungkin tidak ada tempo ....

" -o0o0dw0o0o-

Jilid KE . 28 ''Bolehkah kiranya aku minta tuan untuk tinggal beberapa hari saja?"

Tan Liong angkat kepala, ia telah kebentrok dengan sinar mata bercahaya dari sepasang mata Oey Bwee Cian, ia telah melihat sesuatu, akan tetapi....., ia tidak berani mencoba lagi.

"Katakanlah !"

Demikian Oey Bwee Cian mendesak.

"Kau, ... percuma saja minta aku tinggal .... sebab aku masih ada urusan ...."

"Jikalau aku menghendaki kau tinggal? "

"Kau ...."

"Ya .... aku ...."

Oey Bwee Cian mendadak lompat menubruk dan memeluk diri Tan Liong seraya berkata.

"Aku cinta padamu ...."

Tindakan Oey Bwee Cian yang tidak terduga ini, benar-benar mengejutkan Tan Liong.

Ia hampir tidak mau percaya bahwa ada suatu kenyataan Oey Bwee Cian satu gadis cantik jelita telah jatuh cinta seorang laki-laki yang buruk wajahnya.

....

Ia tidak tahu bagaimana harus berbuat, hingga cuma dapat memandang Oey Bwee Cian dengan mulut ternganga.

Meski jantung Tan Liong tergoncang hebat, perasaannya bergolak tapi ia tidak berani balas memeluk, sebab ia tidak suka melakukan satu kesalahan lagi.

"Apa kau tidak cinta aku.... ?"

Tanya Oey Bwee Cian lirih.

Tan Liong memandang paras Oey Bwee Cian yang cantik, akhirnya perasaannya yang selama ini masih terkendalikan....

telah meledak ....!

Ia balas memeluk tubuh si nona demikian erat seolah-olah takut terlepas lagi.

Lama, baru terdengar suara Tan Liong.

"Nona Oey, maafkan aku, aku telah menghina kau ...."

"Tidak, aku cinta padamu."

"Kau tidak bisa cinta diriku, hanya untuk membalas budiku terhadap Ciong lam pay baru kau cinta aku .... ini bukan cinta sewajarnya .... melainkan karena kasihan .... kasihan karena bentuk mukaku ...."

"Tidak."

Berseru Oey Bwee Cian.

"Kau tidak boleh demikian menghinaku. Aku cinta dirimu yang mulia, bukan cinta wajahmu ...."

Ia telah menangis benar-benardengan sedihnya .... Tan Liong menarik napas dan berkata.

"Tidak mungkin, disini setidaknya ada terkandung perasaan terima budi ...."

Oey Bwee Cian mendadak angkat kepala dan berkata.

"Aku cinta kau dengan setulus hatiku, kau demikian menghina aku, aku terpaksa mati untuk membuktikan perkataanku ini supaya kau tahu bahwa Oey Bwee Cian bukan semacam perempuan yang hanya cinta laki-laki tampan ...."

Sehabis berkata ia benar-benar lantas berlalu. Tan Liong tidak mengira kalau Oey Bwee Cian bisa jatuh cinta kepada dirinya, dengan demikian ia lantas gelisah.

"Ciang bun jin aku percaya padamu .... kau kembalilah ...."

Oey Bwee Cian balikkan badannya dan menanya.

"Benarkah kau percaya aku? "

"Aku percaya sepenuhnya."

"Benar? "

Tan Liong anggukkan kepala. Mendadak ia menanya.

"Andaikata aku berubah menjadi laki-laki tampan apa kau masih akan tetap mencintai aku? "

Pertanyaan ini membuat Oey Bwee Cian melongo.

"Jika kau berobah tampan aku tidak menjumpai kau lagi."

"Kenapa? "

"Aku cuma inginkan kau seperti sekarang ini sebab dengan demikian orang lain tidak akan merampas kau. Jika kau berubah tampan aku akan tinggalkan kau untuk selama-lamanya."

"Oh ...."

Kembali Oey Bwee Cian jatuhkan dirinya dalam pelukan Tan Liong ....

Malam telah berakhir, matahari pagi mulai memancarkan sinarnya menyinari seluruh jagat.

Hanya dalam waktu satu malam saja Tan Liong telah mendapatkan cintanya dua wanita, cinta yang setulus hati ....

sebab mereka tidak pandang wajah Tan Liong yang jelek.

Satu persoalan yang lebih penting kini telah mengganggu Tan Liong ia harus balik ke wajahnya yang semula.

Atau tetap begitu jelek untuk selama-lamanya.

Ia telah berhadapan dengan dua kenyataan, jika ia balik kembali kepada asalnya ia bisa dapatkan cintanya Hoan Giok Hoa, Teng Chun Kiok, Chie Cui dan Yao lie lu tapi Oey Bwee Cian dan Chie Peng akan meninggalkan padanya.

Jika ia tetap seperti dalam keadaan sekarang ia bisa dapatkan dirinya Oey Bwee Cian dan Chie Peng tapi akan kehilangan empat wanita yang lainnya.

....

Ini merupakan suatu persoalan yang amat pelik.

Ia tidak dapat memecahkannya maka ia cuma bisa serahkan kepada nasib.

....

Waktu dia mendusin dari tidurnya matahari sudah naik tinggi.

Sedang si nona baju merah Teng Chun Kiok sebelum ia bangun dari tidurnya sudah berada di tanah kuburan dibelakang gunung lembah Lui in kok.

Waktu tengah hari Tiancu Kwee Yan Sian sudah balik kembali kegunung, Tan Liong perintahkan padanya supaya empat puluh mayatnya orang-orang Thian seng hwee dimasukkan dalam peti mati yang telah dibikin.

Ketika Tan Liong perintahkan orang-orang Ciong lam pay masukkan mayat orang-orang Thian seng hwee kedalam peti mati hal ini membuat semua orang Ciong lam pay merasa terheran-heran mereka tidak mengerti apa maksudnya.

Tanggal enam bulan Sembilan murid murid ciong lam pay yang sudah dibubarkan oleh Oey Bwee Cian, telah kembali semuanya keatas gunung, bersedia menghadiri upacara pengangkatan ketua.

Tidak antara lama, Say Phoa an dan Chio bin Ie hiap juga sudah balik ke gunung Ciong lam san.

Tan Liong sangat girang.

ia bersama Oey bwee Cian serta enam jago yang lainnya menyambut diluar pekarangan.

Tan Liong haturkan terima kasih pada Chio bin Ie hiap yang sudah menolong jiwanya ia perlakukan tabib kenamaan itu dengan menghormat sekali.

Iapun merasa girang bahwa Say phoa an ternyata tidak mengecewakan pengharapannya.

Karena Chio bin Ie hiap sudah diberi keterangan oleh Tan Liong, maka ia tidak menyebut padanya Ciang bun jin lagi.

Sambil tersenyum ia berkata.

"Bocah, sungguh tidak mengira kau masih hidup, benar-benar Tuhan telah melindungimu."

"Kalau bukan Locianpwee yang menolong jiwa boanpwee, mungkin boanpwee tidak bisa hidup sampai hari ini, maka budimu ini ...."

"Apa .. budi segala? Bukankah kau juga menolong jiwaku? "

Selagi Tan Liong hendak menjawab, Say phoa an sudah berlutut dihadapan Oey Bwee Cian seraya berkata.

"Teecu hunjuk hormat kepada Ciang bun jin ...."

Belum sampai melanjutkan ucapannya, air matanya sudah mengalir turun.

Oey Bwee Cian dan enam jago Ciong lam pay sudah dapat dengar dari Tan Liong tentang peranan Say Phoa an yang pura-pura main cinta dengan siao hun lie supaya dapat menolong dirinya chio bin Ie hiap dan mengambil obat peledak.

kini ketika melihat keadaan say phoa an, jangan kata oey bwee Cian yang juga lantas surut mengucurkan air mata, sekalipun enam jago Ciong lam pay dan lainnya juga turut merasa sedih.

Dengan suara serak Oey Bwee Cian berkata.

"Cit siok, silahkan bangun .... aku , aku tahu kau banyak menderita. Ciong lam pay bisa bangun lagi seperti hari ini jasa Cit siok yang paling besar."

Chio bin Ie hiap lalu berkata sambil kerutkan keningnya.

"Sudah, sudah. Kalau bicara lagi nanti semua akan hujan tangis."

Semua orang yang mendengar ucapan orang tua itu pada tertawa. Chio bin Ie hiap berkata pula kepada Tan liong.

"Untuk apa kau menghendaki obat peledak? "

"Entah Locianpwee ada mempunyai obat itu atau tidak? "

"Sudah tentu ada, kau lihat dalam kantong ini apa? "

Tan Liong coba mencari-cari, benar saja ditangan Say Phoa an ada membawa sekantong obat peledak. Didalam girangnya ia lantas berkata.

"Locianpwee, bagaimana kekuatannya obat peledak ini? "

Chio bin Ie hiap tertawa bangga.

"Obat peledak ini telah kubuat dengan menggunakan bahan dari biang belerang yang sudah tua sekali usianya, pembuatannya saja sudah memakan waktu empat puluh tahun lamanya, kekuatannya meski belum dapat dibandingkan dengan bom Pek lek tannya Pek lek cu, tapi kalau menggunakan sepuluh buah kekuatannya tak kalah dengan Pek lek tan."

"Benar? "

"Lohu selamanya belum pernah membohong. Kalau orang yang minta, aku nanti tak mau berikan."

Sambil mengawasi murid Ciong lam pay Tan Liong berkata.

"Aku sedia obat peledak ini adalah untuk menjaga orang-orang Thian seng hwee, kalau datang nanti hari upacara pengangkatan ketua.

Karena kalau kita tak siap sedia, kedatangan mereka secara mendadak itu mungkin kita sulit melawannya sehingga menjadi bahaya lagi bagi Ciong lam pay."

Ia berdiam sejenak. Kemudian berkata pula.

"Terhadap Ciong lam pay hendak melakukan upacara pengangkatan ketua dan kematian orang-orangnya empat puluh orang itu.

Thian seng hwee tak boleh tidak pasti sudah dapat dengar.

Dengan demikian maka mereka pasti akan kirim orang-orang yang lihai untuk menyerbu secara besar-besaraan lagi, apalagi Say phoa an telah berhasil menolong dirinya Chio bin Ie hiap locianpwee, mereka pasti akan merasa curiga."

Tak ada jawaban dari mereka.

Mereka sesungguhnya tidak menduga bahwa persiapan pemuda buruk itu ada sedemikian rapi.

suasana tampak hening, semua mata dutujukan kepada Tan Liong.

Lalu Tan Liong berkata pula.

"Maka dari itu kita harus tanam obat peledak dibawak kaki gunung Ciong lam san ini. Begitu melihat orang-orang Thian seng hwee datang menyerbu kita lantas gunakan obat peledak untuk menyambut kedatangan mereka! "

Thio koay lie Bun Ching lantas berkata.

"Tapi siapa yang ditugaskan untuk menyundut obat peledak itu? "

"Aku sudah minta pertolongan seseorang, ia nanti akan tiba pada saatnya, Sekarang biarlah aku periksa keadaan dibawah gunung, tolong Chio bin Ie hiap locianpwee yang menanam obat peledak."

Chio bin Ie hiap anggukkan kepalanya.

Tan Liong bersama Oey Bwee Cian dan tujuh jago Ciong lam pay turun kebawah gunung, mereka memasang obat peledak dijalan-jalan penting yang menuju keatas gunung.

Tan Liong juga pesan semua anak murid Ciong lam pay supaya rahasia itu jangan sampai bocor, jikalau tidak, akan membawa akibat sangat hebat.

Karena urusan ini ada menyangkut nama baiknya Ciong lam pay, maka meski Tan Liong tidak memberi peringatanpun mereka juga mengerti sendiri.

Kembali keruangan tamu, hari sudah sore setelah dahar malam, Tan Liong perintahkan Kwee Yan Sian datang keruangan tamu.

Ia perintahkan melarang segala orang keluar masuk tempat-tempat penting di gunung itu.

Selama itu, perhubungan antara Tan Liong dan Oey Bwee Cian, sudah tentu makin erat sedang si nona baju merah yang melakukan perjalanan ke lembah Lui in kiok, benar saja telah menemukan peti mati Tan Liong yang masih berisi mayatnya.

Maka, ia telah dapat kenyataan bahwa Tan Liong benar-benar sudah mati.

Tan Liong sering menghibur Cu Lian.

Selama beberapa hari itu Cu Lian jarang bicara, ia benar-benar sangat menderita.

Ia sekarang menjadi seorang yang sudah tak mempunyai apa-apa lagi, kecuali anaknya Ie Liong, yang memberi hiburan bagi hatinya yang luka.

Sang waktu berlalu dengan tanpa terasa, tanggal sembilan akhirnya tiba.

Partai Ciong lam pay tampak amat sibuk dan riang gembira, bagi semua anak murid Ciong lam pay sudah tentu hari itu merupakan suatu hari yang amat penting.

Partai Ciong lam pay sejak meninggalnya Yo Swie Peng yang tanpa diketahui dimana mayatnya, telah menjadi suatu partai yang tak mempunyai ketua.

Ayah Oey bwee Cian yaitu Oey Jit Hie, juga cuma merupakan wakil pejabat ketua saja.

Dan setelah Oey jit Hie menutup mata, jabatan itu jatuh ditangan Oey Bwee Cian.

Hari itu semua anak murid Ciong lam pay sudah berkumpul dalam ruangan Tiang gie tian, untuk menghadiri upacara bersejarah itu.

Tan Liong kawatir orang-orang Thian seng hwee akan menggunakan kesempatan itu datang menyerbu kegunung, maka pada sehari sebelumnya, ketika Chie Peng dan Chie Cui tiba diatas gunung telah minta pada mereka untuk menjaga obat peledak.

Apabila melihat orang-orang Thian seng hwee datang segera meledakknanya.

Tentang kematian empat puluh lebih orang-orangnya dan tentang pengangkatan ketua partai Ciong lam pay, sudah tentu diketahui oleh Thian seng hwee, maka pada tanggal sembilan hari itu, juga mengirim lima puluh lebih orang-orangnya yang terpandai untuk menyerbu gunung Ciong lam san.

Dengan demikian, maka gunung Ciong lam san dengan sendirinya telah diliputi suasana gawat.

Di dalam ruangan Tiang gie tian, meski semua anak murid Ciong lam pay diliputi perasaan riang gembira, namun tampak sunyi dan khidmat.

Upacara itu akan dilakukan pada jam tiga siang.

Menjelang jam tiga siang, Oey Bwee Cian dengan diantar oleh Tan Liong, Lie Bun Ching, Li Tiauw Yang dan tujuh jago dari Ciong lam pay memasuki ruangan upacara.

Ketika Oey Bwee Cian memasuki ruangan tersebut, semua anak murid Ciong lam pay pada berdiri memberi hormat.

Oey Bwee Cian setelah melakukan upacara sembahyang di hadapan meja leluhur dan couwsunya lantas duduk di atas kursi ketua.

Karena saat itu panji partai masih berada ditangan Tan Liong, maka ia juga duduk diatas kursi yang disediakan untuk tempat yang harus menyerahkan panji tersebut.

Menurut tingkatan, adalah Li Tiauw Yang yang menjadi Tiangcu bagian hukum yang tertinggi tingkatannya, maka ia yang bertindak selaku ketua dalam upacara tersebut.

Berdiri diatas panggung, Li Tiauw Yang sambil memandang semua anak murid Ciong lam pay lalu berkata.

"Saudara-saudara semua duduklah! "

Mendengar perkataan itu, semua anak murid yang semula pada berdiri lantas duduk ditempatnya masing-masing, Li Tiauw Yang berkata pula.

"Jabatan ketua partai kita, selama empat puluh lima tahun ini telah lowong sebab sejak menghilangnya ketua partai kita yaitu almarhum Yo Swie Peng siansu, panji partai kita juga turut menghilang sehingga tidak dapat dilakukan upacara serah terima secara resmi.

Oey Jit Hie suheng meski untuk sementara menjabat kedudukan tersebut dan yang kemudian jatuh dipundak Oey Bwee Cian, hingga hari ini partai kita merupakan satu partai yang tidak ada ketuanya yang resmi.

Sejak partai kita didirikan oleh couwsu kita, hingga kini sudah mempunyai riwayat tidak kurang dari beberapa ratus tahun.

Selama itu, nama partai kita dapat disejajarkan dengan partai-partai Siao Lim pay, Bu tong pay dan lain-lainnya.

Tapi sejak Yo Siansu menghilang, partai kita mulai mundur.

sudah tentu ini disebabkan karena tiada ada ketuanya, tapi sebab yang utama ialah pertempuran antara partai kita dengan partai Ngo bie pay, yang mengakibatkan runtuhnya banyak tenaga lihai, sehingga partai kita menjadi seperti sekarang ini.

Belum lama berselang Thian seng hwee telah menganggap partai kita sebagai satu partai kecil yang tak berarti, hingga hendak digabung menjadi satu, untung Tuhan masih melindungi kita, dalam saat genting itu telah muncul ketua kita untuk generasi kedelapan.

Tan Liong.

Ia ada membawa panji partai kita, dan untuk menolong partai kita dari keruntuhan sudah seharusnya ia menjabat kedudukan ketua untuk generasi ke delapan.

Tapi sayang Tan Liong yang berusaha hendak menolong partai kita dari cengkeraman tangan Thian seng hwee akhirnya ia gugur ditangan perkumpulan tersebut, hal ini sesungguhnya merupakan suatu kerugian besar bagi partai kita.

Ketua kita Tan Liong sebelum menutup mata, telah menyerahkan panji partai kita kepada sahabat ini dan beliau berpesan supaya Oey Bwee Cian menjabat ketua untuk generasi kedelapan.

Kalau partai kita masih berdiri sampai sekarang ini, saudara-saudara tentunya semuanya sudah tahu itu adalah berkat bantuan tenaga dari sahabat kita ini.

Ia bukan saja membasmi semua orang-orang Thian seng hwee yang jumlahnya empat puluh jiwa yang ditugaskan untuk menguasai partai kita, bahkan telah menolong jiwa Ciang bun jin kita nona Oey Bwee Cian serta mengatur upacara pengangkatan ketua kita.

Jika tidak ada dia Ciong lam pay mungkin sudah bubar, maka sahabat ini tidak salahnya kalau kita anggap sebagai orang yang paling berjasa bagi partai kita ...."

Bicara sampai disitu Li Tiauw Yang tampaknya sangat terharu sambil memandang Tan Liong sejenak ia berkata pula.

"Selanjutnya, nanti setelah Oey Bwee Cian menjabat kedudukan ketua, harap saudara-saudara suka mencintai Ciong lam pay seperti dulu, tetap membantu ketua kita yang baru melakukan tugasnya. Jika saudara-saudara masih ada persoalan yang ingin dibicarakan, harap segera dikemukakan."

Pertanyaan Li Tiauw Yang itu ternyata tidak ada yang menyambut.

Enam ratus lebih anak murid yang hari itu dalam upacara tersebut semua pada diam.

Li Tiauw Yang dengan sinar mata tajam mengawasi semua anak murid itu sejenak lalu berkata.

"Jika saudara-saudara sudah tak ada usul apa-apa, sukalah saudara-saudara turut perintah ketua generasi ke delapan partai kita."

"Teecu semua mentaati pimpinan, jika ada yang melanggar peraturan partai, kami rela menerima hukuman ...."

Demikian terdengar suara riuh dari murid-murid yang hadir. Li Tiauw Yang tersenyum kemudian berkata.

"Terima kasih atas bantuan saudara-saudara semua, sekarang waktunya telah tiba, maka upacara serah terima ini akan dimulai."

Sehabis berkta ia segera mengundurkan diri bersama tujuh jago Ciong lam pay.

Tan Liong lantas berdiri, dari dalam bajunya ia mengeluarkan panji partai.

Para hadirin pada berdiri memberi hormat.

Tan Liong tancapkan panji kepercayaan di atas meja sembahyang, setelah itu ia kembali ketempat duduknya.

Setelah Oey Bwee Cian hendak berdiri, mendadak dari luar terdengar suara orang ketawa aneh, sesosok bayangan manusia, dengan cepat melayang terus ke dalam ruangan upacara.

Kedatangan orang secara mendadak itu bukan saja mengherankan Tan Liong, tapi juga mengejutkan semua anak murid Ciong lam pay.

Orang yang baru datang itu ternyata mempunyai tiga mata.

Li Tiauw Yang dan Lie Bun Ching ketika melihat datangnya orang itu, tampaknya juga terperanjat.

Mereka buru-buru maju memberi hormat seraya berkata.

"Teecu hunjuk hormat kepada Susiok! "

Orang bermata tiga itu lantas menjawab sambil ketawa dingin.

"Jiwi tidak usah banyak memakai peraturan, sungguh tidak mengira pada hari terpenting ini hampir saja aku tak keburu hadir."

Sikapnya yang sangat jumawa dari orang bermata tiga itu Tan Liong yang menyaksikan wajahnya lantas berubah.

Li Tiauw Yang dan Lie Bun Ching tampaknya sangat cemas, pada saat itu orang bermata tiga itu sudah berjalan menghampiri meja sembahyang.

Say phoa an segera lompat maju dan berjata dengan suara gusar.

"Jisusiok, sekarang hendak dilakukan upacara serah terima jabatan ketua, susiok seharusnya bantu jaga ketertiban, jangan sampai terjadi heboh."

Orang bermata tiga itu perdengarkan suara dingin kemudian berkata.

"Apa? Apakah kau tidak ijinkan aku datang? "

"Bukan begitu, hanya ...."

"Hanya takut kalau aku mengacau upacara ini? "

Kala itu ia sudah naik keatas mimbar, mata menyapu semua anak murid Ciong lam pay lalu berkata dengan nada suara dingin.

"Tidak disangka semua anak murid partai kita hari ini berkumpul disini seluruhnya, ini paling baik. Aku dengan seorang diri merantau diluar sudah enam puluh tahun lebih lamanya, hingga hampir saja tidak keburu menghadiri hari penting ini! "

Sehabis berkata ia perdengarkan pula suara ketawa yang aneh.

...

Dengan sinar mata dingin Tan Liong mengawasi orang bermata tiga itu.

Dalam otaknya mendadak teringat sesuatu ....

wajahnya mendadak berubah, lalu menanya kepada salah satu dari tujuh jago.

"Numpang tanya siapa orang itu? "

"Orang ini adalah sute Yo Swie Peng siansu, dia bernama Hoan Bun Liang, gelarnya iblis bermata tiga, dia selalu berada di luar saja, tidak disangka hari ini mendadak dia datang ke gunung. ...."

Mendengar disebutnya nama Iblis bermata tiga, wajah Tan Liong berubah seketika, sebab dalam pesan Yo Swie Peng ada pernah kata bahwa Iblis bermata tiga ini bersama Tan Liok lie yang mencelakakn dirinya.

....

Ingat pesan tersebut, ia lantas ambil keputusan hendak menyingkirkan jiwa Iblis mata tiga itu.

Iblis bermata tiga sangat jumawa dan tidak pandang mata kepada siapapun juga, sudah tentu tidak tahu kalau ada orang yang mengincar dirinya.

Ia malah masih berkata dengan suara lantang.

"Semua anak murid Ciong lam pay yang berada di sini, siapa diantara kita yang tingkatnya paling tinggi? "

Li Tiauw Yang segera menjawab dengan perasaan kurang senang.

"Sudah tentu susiok yang tingkatnya paling tinggi, tapi susiok sudah lama meninggalkan partai kita hingga berarti sudah keluar ...."

"Kapan aku pernah keluar dari partai Ciong lam pay? Karena suheng Yo Swie Peng sudah meninggal dunia, maka kedudukan ini sudah tentu disarankan padaku. Oey Bwee Cian ada seorang wanita, bagaimana bisa menyambut kedudukan penting ini .... ? "

Sebelum iblis mata tiga itu melanjutkan ucapannya mendadak terdengar suara bentakan bagaikan geledek.

"Iblis mata tiga, tutup mulutmu ...."

Suara itu bukan saja menggetarkan semua anak murid Ciong lam pay, tapi si Iblis mata tiga sendiri juga terperanjat!

Suasana menjadi kalut, semua anak murid Ciong lam pay yang ada disitu pada terkejut, Iblis bermata tiga mengawasi Tan Liong sejenak, lalu berkata dengan sombongnya.

"Bocah jelek, kau siapa? Mengapa begitu berani mati di hadapanku? "

Tan Liong berdiri perlahan-lahan nafsunya membunuh semakin besar.

"Iblis mata tiga, harap kau segera keluar dari sini ...."

Ucapan Tan Liong kembali mendebarkan semua anak anak murid Ciong lam pay. Mereka sesungguhnya tidak sangka pemuda wajah jelek itu berani mengusir keluar si iblis bermata tiga.

"Keluar dari sini? "

Balas menanya si iblis mata tiga sambil ketawa besar.

"Dengan hak apa kau mengusir? "

"Apakah saudara-saudara tahu bagaimana Yo Swie Peng menemukan ajalnya .... ? "

Tidak ada jawaban dari semua anak murid Ciong lam pay. Mereka hanya memandang Tan Liong dengan sinar mata keheran-heranan. Tan Liong berhenti sejenak lalu berkata pula.

"Tentang peristiwa ini, kecuali ada dalam buku catatan, ternyata semua anak murid Ciong lam pay tidak satupun yang tahu! "

Ia lalu berpaling dan mengawasi Iblis mata tiga dengan sinar mata dingin kemudian berkata pula.

"Si iblis bermata tiga karena hendak merebut kedudukan ketua, ia telah menggunakan akal busuk mencelakakan diri Yo Swie Peng."

Perkataan Tan Liong ini kembali menghebohkan ruangan upacara, sedang iblis bermata tiga juga lantas berubah wajahnya.

"Saudara-saudara jangan berisik. Urusan ini aku yang akan membereskan, sekarang aku hendak bunuh mati iblis bermata tiga ini."

Sehabis berkata dengan kecepatan bagaikan kilat ia menyergap iblis mata tiga dan menyerang dengan tangan kanannya.

Suasana menjadi gawat, semua anak murid Ciong lam pay gempar.

Tan Liong menyerang dengan menggunakan ilmunya Yang ciang yang mengandung hawa panas, hingga hawa panas itu dengan cepat sudah menyerbu diri si iblis mata tiga.

Iblis bermata tiga itu karena mengandalkan kepandaiannya sendiri yang sangat tinggi semula tak pandang mata Tan Liong yang dianggapnya masih bau pupuk bawang, maka ketika Tan Liong melancarkan serangannya, ia lantas menyambuti dengan tangan kanan juga ....

Siapa tahu ketika serangan mereka beradu, hawa panas telah menyerang ulu hatinya, dalam kagetnya buru-buru lompat mundur.

Tan Liong tak memberi kesempatan padanya untuk mundur.

Sambil keluarkan bentakan nyaring, ia menyerang lagi dengan tangan kirinya yang mengandung hawa dingin.

Diserang secara demikian iblis bermata tiga itu benar-benar tak sanggup bertahan, seketika itu juga lantas jatuh roboh ditanah.

Kembali Tan Liong ayun tangan kanannya menyerang si iblis mata tiga yang sudah rebah ditanah.

Mendadak terdengar suara jeritan.

"Ayah! "

Tapi suara itu datangnya terlambat, karena serangan Tan Liong sudah membikin batok kepala Iblis mata tiga itu hancur berantakan dan mati seketika itu juga.

Sesosok bayangan putih segera menubruk mayatnya iblis bermata tiga sambil berteriak.

"Ayah ....! "

Dan kemudian menangis tersedu-sedu.

Tan Liong mundur dua tindak, matanya segera dapat lihat siapa adanya bayangan putih itu seketika itu ia lantas roboh ditanah.

Bayangan yang menubruk mayat si iblis bermata tiga itu bukan lain daripada Hoan Giok Hoa ....

Otak Tan Liong mau pecah, matanya berkunang-kunang sekujur badannya dirasakan dingin.

Sungguh tidak disangka-sangka si iblis bermata tiga Hoan Bun Liang itu ternyata adalah ayahnya Hoan Giok Hoa.

Ini kembali merupakan suatu penderitaan batin yang sangat hebat bagi Tan Liong.

Dalam ruangan upacara saat itu menjadi heboh, apa yang mengejutkan dan membuat heran semua orang Ciong lam pay dalah kepandaian Tan Liong yang dalam beberapa jurus saja sudah membikin tamat riwayatnya iblis bermata tiga.

Ratap tangis Hoan Giok Hoa, telah membuat suasana upacara itu diliputi oleh kesedihan.

Tapi bagi Tan Liong setelah berpikir masak-masak dapat menguasai kembali perasaannya.

Meski tidak seharusnya ia membinasakan ayahnya Hoan Giok Hoa, tapi dalam pesan Yo Swie Peng yang mengatakan dengan tegas, tidak boleh tidak ia harus melaksanakan pesannya itu.

Matanya lalu menyapu anak murid Ciong lam pay lalu memandang Hoan Giok Hoa yang masih menangis sambil memeluki tubuh ayahnya.

Ia menghela napas lalu berjalan menghampiri Li Tiauw Yang dan berkata padanya.

"Locianpwee, sekarang sudah tiba saatnya atau belum? "

Li Tiauw Yang melihat cuaca lalu menjawab.

"Belum"

"Kalau begitu, upacara ini dapat dilakukan tepat pada waktunya."

Saat itu Hoan Giok Hoa mendadak lompat bangun dan menerjang Tan Liong seraya berkata.

"Laki-laki buruk rupa, kembalikan nyawa dari jiwa ayahku! "

Tangannya lalu diayun, menyerang Tan Liong.

Tan Liong tidak menduga Hoan Giok Hoa akan menyerang padanya dengan secara mendadak, dalam kagetnya ia lantas lompat mundur beberapa tindak untuk menghindarinya.

Juga pada saat itu Hoan Giok Hoa melancarkan serangannya, sesosok bayangan merah dengan kecepatan bagaikan kilat melayang terus keruangan upacara.

Bayangan merah itu bukan lain daripada si nona baju merah Teng Chun Kiok.

Serangan Hoan Giok Hoa yang mengenakan tempat kosong, tampaknya sangat penasaran, ia maju menerjang lagi dengan beruntun melancarkan serangaannya sampai tiga kali.

Tata tertib upacara telah menjadi kalut.

Sikap anak murid Ciong lam pay tampak sangat gelisah, beberapa diantaranya sudah lari keluar.

Oey Bwee Cian yang menyaksikan keadaan demikian, parasnya juga berubah, ia tidak menduga bahwa pada hari yang sangat penting itu bisa timbul keributan tersebut.

Kita balik lagi pada Hoan giok Hoa yang menyerang Tan Liong secara kalap, walaupun serangannya cukup hebat tapi ia masih tidak berdaya.

Tan Liong tidak mau balas menyerang hanya dengan jalan mundur dan mengelak, ia hindarkan setiap serangan si nona.

satu waktu ia desak mundur Hoan Giok seraya berkata.

"Nona Hoan, kau dengarlah keteranganku."

Hoan Giok Hoa yang sudah kalap, mana mau dengar keterangan Tan Liong?

Maka ia lantas membentak, Kembali ia menyerang bertubi-tubi.

Tan Liong hilang sabarnya, terpaksa ia balas menyerang dengan ilmu Im ciang.

Hoan Giok Hoa tiba-tiba merasa dingin sekujur badannya, parasnya lantas berubah, kakinya gemetaran dan akhirnya roboh ke tanah.

Hati Tan Liong merasa sedih, hampir saja ia menubruk tubuh Hoan Giok Hoa untuk memberitahukan padanya bahwa ia sendiri adalah Tan Liong.

Mendadak terdengar suaranya si nona baju merah.

"Tuan, kau sungguh kejam."

Mendengar perkataan si nona baju merah Tan Liong menjawab dengan bernada suara dingin.

"Si iblis bermata tiga ada seorang jahat yang tidak dapat diampuni lagi dosanya, sudah seharusnya diberi hukuman mati. Bagaimana aku bisa dikatakan kejam? "

"Tan Liong, kau tak usah mengelabuhi mata orang lagi terhadap gadis yang cinta dirimu dengan tulus hati mengapa kau berlaku begitu kejam? Apalagi dia dengan kau sudah ada hubungan suami isteri."

Ucapan si nona baju merah itu bukan saja mengejutkan hati Tan Liong tapi juga Oey bwee Cian yang mendengarnya lantas pucat rupanya.

Dengan cepat Tan Liong sudah dapat menguasai perasaannya.

Jawabnya dengan nada suara dingin.

"Apa artinya perkataan nona ini? Siapa yang kau maksudkan dengan Tan Liong? "

"kau."

Sahutnya sambil tertawa seperti orang gila.

"Tan Liong, kau jangan menipu orang lagi, dengan agungkan ilmu Im yang Thian tee ciang kau telah membinasakan dirinya Cong hay Seng kun, dengan ilmu itu pula membunuh mati Hoan Bun Liang apakah ada Tan Liong kedua? "

Tan Liong benar-benar terperanjat ia memandang si nona baju merah dengan perasaan heran, badannya mulai gemetar ia tidak menduga bahwa perbuatannya itu sudah diketahui oleh nona baju merah itu.

Tapi ia tidak boleh mengakui perbuatannya itu, sebab itu ada sangat penting bagi wajahnya yang sudah berubah jelek dan kemungkinan akan pulihnya kembali wajah aslinya, ada mempunyai hubungan erat dengan jiwa beberapa wanita.

Karena berpikir demikian, maka ia tenangkan pula pikirannya.

"Kau sudah melihat jenasahnya Tan Liong, tidak mungkin itu ada bohong, sementara tentang ilmu Im yang Thian tee ciang kau tokh tidak bisa kata bahwa hanya aku seorang saja yang bisa."

"Kalau begitu kau bukan Tan Liong? "

"Bukan."

Ia berdiam sejenak kemudian berkata pula.

"Harap nona suka bawa pergi nona Hoan, karena upacara sudah akan dimulai."

"Aku harus turut perintahmu? "

"Kau mau apa? "

"Menuntut balas buat nona Hoan Giok Hoa."

"Kalau begitu kau memaksa aku turun tangan? "

"Terserah padamu! "

Tan Liong maju tiga tindak dan membentak dengan suara keras.

"Aku tidak percaya kau Teng Chun Kiok ada mempunyai kepandaian setinggi langit ...."

Tan Liong sudah akan melakukan serangannya, tiba-tiba terdengar suaranya Oey Bwee Cian "Tahan! "

Secepat kilat Oey Bwee Cian sudah lompat dan berdiri ditengah-tengah diantara Tan Liong dan Teng Chun Kiok.

"Nona Teng, harap nona sabar dulu, kau dengan tuan ini, walaupun ada ganjalan hati, tapi seharusnya juga pandang mukaku untuk sementara kau lepaskan dulu. Apalagi kau sudah pernah banyak membantu terhadap Ciong lam pay, maka orang Ciong lam pay pandang kau sebagai tuan penolong. Dalam hal ini, sukakah memikirkan kesulitanku? "

Teng Chun Kiok anggap perkataan Oey bwee Cian itu memang benar, memang tidak seharusnya pada hari penting bagai partai Ciong lam pay itu membikin kacau suasana..

Tapi jika oleh karenanya ia lantas mundur, bagaimana ia taruh mukanya?

Karena memikirkan soal muka itu ia telah ambil putusan tidak mau mundur begitu saja, walaupun oleh karenanya ia harus berlaku salah terhadap Oey Bwee Cian.

"Nona Oey, ucapanmu memang benar, tapi aku percaya kau pasti dapat memaafkan kesalahanku, sebab tindakanku ini semata-mata hanya hendak membela kawan! "

"Apakah nona Teng tidak dapat menunda sampai lain waktu untuk dibicarakan lagi? "

"Tidak dapat."

Tan Liong juga tidak sabar lagi, katanya.

"Ciang bun jin, harap kau suka mundur dulu, aku hendak melihat nona baju merah ini ada mempunyai kepandaian apa."

Oey bwee Cian kerutkan keningnya, dalam hatinya berpikir baik juga diberikan pelajaran sedikit padanya.. Setelah itu perlahan-lahan lantas undurkan diri.

"Nona baju merah, karena kau berkepala batu terpaksa aku tidak berlaku merendah lagi padamu!"

Demikian Tan Liong berkata.

Ia tahu meski saat itu untuk dilakukannya upacara tinggal beberapa menit saja, maka jika tidak dapat menundukkan si nona baju merah itu dalam waktu sesingkat-singkatnya pasti akan menghalangi dilakukannya upacara tersebut.

Maka setelah mengucapkan pekataan demikian, ia lantas melakukan serangan.

Si nona baju merah sesungguhnya hebat, ia mengelakkan serangan Tan Liong dan balas menyerang, ternyata dapat dilakukan dalam waktu sangat cepat sekali, sehingga mengagumkan semua anak murid Ciong lam pay.

Tan Liong penasaran, sambil membentak dengan suara keras tangan kirinya melancarkan dengan ilmunya Im ciang, hingga hawa dingin lantas menyambar Teng Chun Kiok.

Sesaat sebelum hawa dingin itu melanggar tubuh si nona baju merah, si nona itu merasakan bahwa Cit seng Ceng mehnya seolah-olah diserbu oleh hawa dingin, hingga seketika itu juga lantas rubuh ketanah.

Rubuhnya nona baju merah ini benar-benar di luar dugaan Tan Liong, sebab serangannya tadi sama sekali belum mengenakan sasarannya.

Ia tidak tahu bahwa pertama kali si nona baju merah itu terkena serangan Im ciang, hawa dingin itu belum hilang dari dalam tubuhnya, karena nona itu menolak disembuhkan olehnya, dan kini selama si nona menggunakan banyak tenaga hawa dingin itu lalu keluar dari dalam Cit seng Ceng mehnya.

Sekalipun Tan Liong tidak menyerang padanya, hawa dingin itu telah mengganggu padanya.

Namun demikian, tapi apa yang telah terjadi dalam waktu itu, sudah cukup membuat Tan Liong merasa tidak enak hati, karena bukan saja sudah membinasakan ayah kekasihnya tapi juga melukai Hoan Giok Hoa sendiri dan sahabatnya.

Suasana tegang telah berlalu, sebagai gantinya adalah keheningan dan kesunyian!

Tan Liong berkata kepada Li Tiauw Yang.

"Li Locianpwee, harap perintahkan anak murid untuk bawa mereka keluar ruangan lebih dulu, upacara pengangkatan ketua boleh segera mulai."

Li Tiauw Yang angguk kepala lalu perintahkan tiga orang membawa keluar Hoan Giok Hoa dan Teng Chun Kiok yang terluka dan mayatnya si iblis bermata tiga.

Keadaan dalam ruangan upacara pulih kembali seperti biasa.

Pada saat itu Oey Bwee Cian berjalan menuju Tan Liong dan berkata.

"Benarkah kau ini adalah Tan Liong? "

Mengawasi sepasang mata Oey Bwee Cian hati Tan Liong berguncang keras.

"Bukan, aku bukan dia."

Katanya sambil tertawa hambar.

"Semoga kau bukan dia."

Katanya sambil tertawa hambar.

Jawaban ini mengandung arti sangat besar, hingga hati Tan Liong semakin pilu.

Sambil tundukkan kepala ia membiarkan Oey Bwee Cian berjalan ketempat duduk sendiri.

Ia menarik napas panjang.

Ia tahu bahwa dirinya telah melakukan suatu kekeliruan besar, sebab tindakannya itu dengan tanpa disadari telah membuat sulit beberapa wanita, jiwa mereka seluruhnya tergantung pada dirinya.

Dengan tindakan lesu ia balik ketempat duduknya, pikirannya mendadak merasa berat.

Diam-diam ia menanya kepada dirinya sendiri.

"Tan Liong! Apa yang telah kau lakukan? Apa sebetulnya yang kau dapatkan? "

Berpikir demikian, akhirnya ia ketawa sendiri. Saat itu Li Tiauw Yang sudah naik ke atas mimbar, dengan suara lantang a berkata.

"Semua anak murid Ciong lam pay dengar! "

Ucapan Li Tiauw Yan itu disambut riuh oleh semua anak murid Ciong lam pay yang jumlahnya ada 78 orang. Sambil menghela napas Li Tiauw Yang berkata pula.

"Hari ini yang berada di ruangan ini, adalah anak murid partai kita yang setia. Barusan kalian telah menyaksikan sendiri bagaimana perbuatan saudara siansu, si iblis bermata tiga yang hampir saja menimbulkan malapetaka bagi partai kita. Si iblis bermata tiga adalah saudara muda siansu kita. Ia meninggalkan partai sudah lebih enam puluh tahun lamanya. Semula karena perbuatannya yang mencemarkan nama baik partai ditegur oleh siansu. Dalam gusarnya ia telah meninggalkan gunung Ciong lam san. Jika bukan tuan ini yang menerangkan duduknya pekara, kita belum tahu kalau dia yang membinasakan diri siansu. Maka kita harus mengucapkan terima kasih kepada tuan ini kalau bukan ia, partai Ciong lam pay mungkin akan hancur di dalam tangannya iblis itu. Sudah enam puluh tahun lamanya iblis itu tidak majukan diri di gunung Ciong lam san, tadi ia juga belum keluar dari partai secara resmi, maka dalam tingkatan dialah yang terhitung paling tinggi hingga siapapun tak berdaya terhadapnya. Maka itulah, perbuatan tuan ini tadi bukan saja telah menolong partai kita, tetapi juga berarti menuntut balas terhadap musuh siansu. Li Tiauw Yang dengan ini mengusulkan supaya tuan ini diangkat sebagai wakil ketua Ciong lam pay, entah para saudara merasa keberatan atau tidak?"

Dari semua hadirin lalu terdengar sambutan riuh.

"Kita setuju tuan itu sebagai wakil ketua partai kita."

Menyaksikan keadaan demikian, Tan Liong merasa terharu. dengan cepat ia lantas berkata.

"Mana boleh begitu .... aku bukan orang Ciong lam pay, bagaimana boleh menjabat jabatan penting ini? "

Oey Bwee Cian lantas berkata.

"Baik kau terima saja, untuk selanjutnya kau adalah orang Ciong lam pay."

Tan Liong merasa berat menolak permintaan si nona itu, beberapa kali ia hendak membuka mulut tapi akhirnya ia diam saja. Li Tiauw Yang lalu berkata kepada Tan Liong.

"Bersediakah tuan menerima jabatan tersebut? "

Belum lagi Tan Liong menjawab, Oey Bwee Cian sudah mendahului padanya.

"Li Siok-siok, tuan ini sudah menerima baik."

"Ini ada suatu keuntungan bagi partai, kalau begitu sekarang kita mulai melakukan upacara!"

Berkata Li Tiauw Yang sambil tersenyum dan kemudian undurkan diri.

Oey Bwee Cian bangkit dari tempat duduknya, lebih dulu berlutut dihadapan meja sembahyang leluhur kemudian mengucapkan sumpahnya.

Setelah upacara selesai ia lalu mengambil panji kepartaian.

Saat itu semua anak murid Ciong lam pay berlutut di tanah untuk memberi hormat.

Oey Bwee Cian hampir mngeluarkan air mata menyaksikan kesetiaan orang-orangnya.

Dengan perasaan terharu ia memberi amanatnya.

"Oey Bwee Cian mengucapkan terima kasih atas bantuan saudara-saudara yang telah mengangkat Oey Bwee Cian sebagai Ciang bun jin partai Ciong lam pay.

Oey Bwee Cian ada seorang wanita yang lemah walaupun demikian, untuk kepentingan partai Oey Bwee Cian bersedia untuk korbankan segala apa dengan saudara-saudara sekalian agar Ciong lam pay bisa berdiri sejajar dengan lima partai besar yang lainnya, dengan demikian tidak sia-siakan harapan leluhur kita.

Nah, sekarang saudara-saudara bangunlah."

Semua anak murid Ciong lam pay menyatakan terima kasih lalu bangun dan berdiri dengan sikap menghormat.

Selagi Oey Bwee Cian hendak berkata lagi tiba-tiba terdengar suara ledakan hebat.

Tan Liong bersama anak murid Ciong lam pay lantas berubah wajahnya.

Baru ledakan pertama disusul oleh ledakan yang kedua.

Tan Liong segera bangkit dan berkata kepada Oey Bwee Cian.

"Ciang bun jin, harap segera perintahkan semua anak murid untuk kembali di posnya masing-masing. Thian seng hwee sudah kirim orangnya lagi."

Sehabis berkata, ia lompat melesat lari ke bawah gunung.

Begitu keluar dari ruangan Tiang gie tian, matanya segera dapat lihat dirinya Hoan Giok Hoa dan Teng Chun Kiok.

Hatinya bercekat.

Ia hentikan kakinya dan tundukkan kepalanya.

Perasaan tidak enak timbul dalam hatinya.

Dengan hati pilu ia memandang paras dua wanita muda yang pernah jatuh cinta padanya itu tapi kini telah terluka dalam tangannya sendiri.

Kalau ia tidak memberi pertolongan dengan cepat, mungkin jiwa mereka benar-benar tidak akan tertolong lagi.

Terhadap kekasihnya, Hoan Giok Hoa, ia telah melakukan suatu perbuatan yang tidak dapat diampuni, karena ia telah membunuh mati ayahnya.

Hoan Giok Hoa tidak akan mengampuni dosanya, itulah sudah pasti maka jika kandungan dalam perut Hoan Giok Hoa itu adalah darah dagingnya Tan Liong sendiri, maka warisan dosa itu bagaimana harus dibereskannya?

Dengan hati risau Tan Liong mngawasi dua wanita itu ....

akhirnya ia telah mengambil keputusan hendak menolong mereka, tidak perduli mereka nanti akan memaafkan padanya atau tidak.

Setelah itu, ia lalu lari kebawah gunung sambil mengempit tubuh Hoan Giok Hoa dan Teng Chun Kiok.

Tiba di bawah gunung, ia masuk kedalam rimba lebat.

Ia letakkan tubuh dua nona itu, mendadak ia merasakan kesulitan, bagaimana ia akan menolong mereka?

Ia masih ingat perkataan Teng Chun Kiok dulu, maka jika ia memberi pertolongan mereka dengan cara yang dulu telah ditolak oleh Teng Chun Kiok, maka jika perbuatannya itu bukan saja tidak dapat balasan terima kasih dari mereka, bahkan sebaliknya mereka pasti akan memaki dirinya manusia rendah bahkan mungkin akan membunuh.

Mendadak dibelakangnya terdengar suara wanita.

"Huciangbunjin, bukankah kau berada dalam kesulitan? "

Tan Liong dengan cepat membalikkan badannya, tubuh seorang wanita berbaju hijau yang berdiri membelakangi dirinya segera terlihat olehnya.

Bentuk badan itu sudah tidak asing lagi baginya, tapi siapakah wanita ini?

Mengapa ia tahu kesulitannya?

Apa yang lebih mengherankan?

Wanita baju hijau itu ternyata sudah tahu, kalau Tan Liong sudah diangkat menjadi Huciangbunjin atau wakil ketua partai Ciong lam pay.

Berkata pula wanita serba aneh itu sambil ketawa hambar.

"Tuan, herankah kau? Mengapa tidak menjawab? "

Tan Liong masih mengawasi bentuk badan belakang wanita itu, ia benar-benar tidak tahu bagaimana harus menjawab. Lama ia baru berkata.

"Numpang tanya nona ...."

"Ingin tahu siapa aku? "

"Tepat! "

"Bukankah kau merasa heran terhadap sebab aku cuma membelakangi kau."

"Benar."

"Tentang ini perlu apa kau ingin tahu, seperti apa yang kau ingin tahu, seperti apa yang kau telah katakan sendiri, namun itu cuma merupakan suatu tanda saja, perlu diketahui atau tidak, tidaklah menjadi soal, maka kita sebaiknya jangan bicarakan soalnya dan sebaiknya kita jangan memperdulikannya."

Tan Liong memang merasa heran, mengapa wanita itu setiap kali menjumpai padanya selalu berdiri membelakangi tidak mau unjukkan mukanya? Tertarik oleh perasaan ingin tahu, maka ia lantas menanya.

"Bolehkah aku melihat parasmu? "

"Tidak boleh."

jawaban itu ada demikian tegas, hingga tidak memberi kesempatan bagi Tan Liong untuk mendesak lagi.

"Kenapa? "

"Tidak boleh ya tidak boleh, perlu apa harus tahu apa sebabnya? "

Tan Liong benar-benar kewalahan, tapi ia tidak kekurangan akal.

dengan kecepatan bagaikan kilat, ia melesat tinggi ke atas, kemudian melayang turun dihadapan wanita aneh itu!

Tindakan yang dilakukan secara tidak terduga itu, benar telah mengejutkan wanita aneh itu, hingga keluar jeritan menyusul terdengar suara jeritan si nona.

Tan Liong juga berseru kaget, dua orang sama-sama mundur dua tindak.

Tan Liong berdiri kesima, ia telah dapat melihat paras si nona, tapi paras itu ada demikian jelek dan menjemukan!

Tan Liong sungguh tidak menduga bahwa wanita yang mempunyai potongan dan bentuk badan yang sangat menggiurkan itu ternyata parasnya demikian jelek.

Saat itu segera terdengar suara ketawa nyaring dari mulut si nona, suara ketawanya itu ada agak begitu menyeramkan, hingga membuat berdiri bulu roma!

Sebentar ia berhenti ketawa dan berkata dengan suara bengis.

"Tan Liong, kau terlalu tidak menghargai diriku."

Diparasnya yang jelek dengan tegas menunjukkan kegusaran hingga Tan Liong yang menyaksikan itu, dengan tanpa dirasa telah mundur satu tindak dan menyahut dengan suara gelagapan.

"Nona, aku hanya tertarik oleh perasaan heranku ...."

"Heran? Sekarang kau sudah dapat menyaksikan wajahku, tapi tahukah apa akibatnya? "

Ia gerakkan kakinya, dengan tindakan perlahan-lahan menghampiri Tan Liong.

Semacam perasaan dan firasat menakutkan yang selama itu belum pernah dialaminya oleh Tan Liong mendadak timbul dalam hatinya, ia merasa tegang dan tidak tenang.

"Akibatnya ....? "

"Ya, akibatnya setelah melihat wajahku."

Tan Liong Cuma dapat mengawasi dengan sorot mata kawatir sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Wanita baju hijau itu tampak semakin gusar, ia perdengarkan suara ketawa dingin dan berkata dengan nada ketus.

"Aku hendak bunuh mati kau."

"Bunuh mati aku? Kenapa? "

"Karena kau melihat wajahku."

"Karena melihat wajahmu, lantas kau hendak membunuh mati aku? "

"Tidak salah."

"Tindakan nona ini sebetulnya keterlaluan, apa gunanya? "

"Gunanya? Kau Tan Liong, semula aku hargai dirimu, hingga aku suka membantu kekasihmu, sungguh tidak kukira kau tidak pandang aku, bahkan menghina diriku."

"Kapan aku menghina kau? "

"Kau tidak menghina aku? Aku suruh kau jangan lihat wajahku, mengapa kau memaksa melihatnya? Bahkan menggunakan akal rendah, maka aku harus mematuhi sumpahku."

Setelah itu, wanita baju hijau itu lantas bergerak, dengan gerakannya yang amat lincah menerjang Tan Liong dan melancarkan serangannya.

Kecepatan wanita baju hijau itu benar-benar sangat mengagumkan.

Tan Liong sungguh tidak menduga bahwa perbuatan yang lancang itu akan menimbulkan akibatnya begitu besar.

Betapapun juga, wanita baju hijau itu pernah menolong Cu Lian, kalau bukan dia yang memberikan sebutir Swat oh, Cu Lian barangkali sudah tak tertolong lagi jiwanya.

Karena memikir demikian, maka ia lantas melompat mundur dan berkata.

"Nona, kau harus dengarkan dulu keteranganku.

" -o0o0dw0o0o-

Jilid KE . 29

"Tidak perlu keterangan."

jawabnya dingin.

"Karena kau tidak hargai diriku, maka aku tidak usah hargai dirimu lagi. Sebab bagi siapapun yang melihat wajahku, akibatnya ialah mati."

Perkataannya itu ditutup dengan serentetan serangan dahsyat. Tan Liong terdesak, beberapa kali ia terancam bahaya. Dalam cemasnya ia lantas membentak.

"Nona, dengarlah kata-kataku ...."

Karena tergesa-gesa, ia telah mulai melancarkan serangannya dengan menggunakan ilmunya Yang ciang. Ketika ia sadar serangannya itu telah meluncur keluar, dalam kagetnya ia lantas berseru.

"Nona lekas mundur, ini adalah Yang ciang! "

Diluar dugaan, wanita baju hijau itu bukan saja tidak mundur, bahkan diantara gelombang hawa panas dari serangannya Tan Liong itu, badannya malah bergerak maju sambil balas menyerang.

Tan Liong terkejut, ia hampir tidak percaya wanita buruk itu ada mempunyai kepandaian luar biasa tingginya ia tidak takut hawa panas dari ilmunya Yang ciang, malah balas menyerang.

Belum hilang rasa kagetnya, serangan wanita baju hijau itu sudah mengancam dadanya.

Oleh karena ia tidak menduga akan dihujani serangan dalam keadaan tergesa-gesa, ia sodorkan tangan kanannya untuk menyambuti serangannya nona.

Terdengar suara beradunya dua kekuatan, Tan Liong mendadak merasakan dadanya bergolak, kakinya mundur tiga tindak, baru berdiri lagi.

Demikian pula keadaannya dengan wanita baju hijau itu.

Ia juga mundur terhuyung-huyung hingga tiga empat kaki.

Bukan kepalang kagetnya Tan Liong, ia sungguh tidak mengira bahwa wanita jelek itu ada memunyai kekuatan tenaga dalam begitu sempurna sekali.

Diwajahnya nona jelek itu tampak jelas rasa penasaran dan kegusarannya, sepasang matanya memancarkan sinar buas.

Tan Liong yang menyaksikan itu hatinya bergidik.

"Nona ...."

Perkataan nona baru keluar dari mulutnya, suara bentakan si nona sudah memutuskannya.

Untuk kedua kalinya nona itu lompat menerjang Tan Liong.

Tan Liong tahu kepandaian nona buruk itu tidak dibawah kepandaiannya sendiri, ia tidak berani menyambuti secara sembrono.

Dengan cepat ia lompat mundur.

"Tan Liong, kau sambuti lagi seranganku ini ...."

Demikian bentaknya si nona.

Dengan cepat ia melancarkan serangannya, mengarah ke dada Tan Liong.

Serangan yang amat dahsyat itu, hampir membuat Tan Liong tidak mendapat kesempatan untuk mengelakkannya, maka seketika itu lantas ambil keputusan nekad, ia sambuti serangan ini dengan menggunakan ilmunya Im ciang dan Yang ciang berbareng.

Hawa panas dan dingin meluncur keluar dan wanita baju hijau itu setelah menghadapi dua macam hawa berlainan itu lantas lompat mundur.

Melihat tindakan wanita buruk itu, Tan Liong malah kesima.

Sebab wanita itu tidak takut dengan serangan hawa panas, mengapa takut hawa dingin?

Suara ketawa si nona yang menyeramkan telah terdengar pula, suara itu semakin lama semakin tinggi melengking ...

tapi kalau kita dengar dengan seksama, itu bukan suara dari ratapan ketawa, melainkan suara dari ratapan hati yang retak dan putus asa.

Tan Liong semakin bingung, ia mengawasi si nona baju hijau yang saat itu telah menangis dengan sedihnya.

Tan Liong tidak mengerti apa sebabnya nona baju hijau itu mendadak menangis demikian sedih, ia mana tahu bahwa tangisnya si nona itu karena tersinggung rasa harga dirinya.

Tan Liong juga tak tahu, bahwa dalam hati sanubarinya wanita buruk itu telah tumbuh rasa cinta yang tak wajar, dan Tan Liong tidak dengar perkataannya, ia telah mencuri lihat wajahnya yang buruk, bagaimana ia tidak berduka?

Tan Liong menghampiri si nona ia berkata.

"Nona tidak perlu bersedih, aku sebetulnya tidak sengaja."

Tapi nona itu menangis semakin sedih hingga Tan Liong tidak berdaya. Dalam cemasnya ia berjata.

"Nona tidak perlu menangis, ada urusan apa kau katakan saja."

Belum habis ucapan Tan Liong, wanita itu mendadak membalikkan badannya, dengan kecepatan bagaikan kilat, tangannya sudah mampir ke pipi Tan Liong.

Pipi Tan Liong di rasakan sakit sekali dengan sendirinya ia lantas mundur setengah tindak.

Ia tidak sangka nona itu akan menampar dirinya, dengan perasaan heran ia mengawasi si nona buruk itu, sambil mengusap pipinya berkata.

"Kau .... kenapa kau pukul aku? Dengan hak apa kau memukul aku? "

Tanya Tan Liong dengan gusar.

"Dengan hak apa kau mencuri lihat wajahku? "

Balas pula si noana. Ditanya demikian, Tan Liong malah bungkam tak dapat menjawab.

"Nona sesungguhnya keterlaluan! "

Kata Tan Liong sambil menghela napas.

"Keterlaluan? "

"Walaupun aku mencuri lihat wajahmu dan kau anggap tidak menghargai dirimu, tapi tokh tidak seharusnya memukul aku."

"Aku bukan hendak memukul kau saja, tapi juga hendak membunuh mati kau."

"Barangkali kau tak sanggup."

"Ya, mungkin aku tak sanggup, tapi aku harus beritahukan padamu, sejak aku dewasa setiap orang yang pernah melihat wajahku, tiada satupun yang kuberi ampun, kecuali suhuku.

Terhadap kau aku juga tidak ada kecualinya."

"Karena melihat wajahmu aku harus binasa ditanganmu? "

"Tidak salah, menurut hitunganku, hingga saat ini sudah ada lima puluh sembilan orang binasa ditanganku dan caraku membinasakan mereka ada berbeda-beda."

"Kau benar-benar tidak tahu aturan."

"Tidak tahu aturan? Bukankah berkali-kali aku sudah mengingatkan kau? "

"Tapi andaikata aku, apakah aku harus berbuat seperti kau, tidak boleh ada orang lain yang melihat wajahku? "

"Kau adalah kau, aku adalah aku."

"Kalau begitu, kau tidak boleh tidak harus membinasakan diriku? "

"Tidak boleh cuma, sekarang ini aku tidak akan membunuh kau, tapi kau harus hati-hati aku dapat menggunakan segala daya upaya untuk mecelakakan dirimu.

Melihat ucapan dan sikapnya yang sungguh-sungguh Tan Liong diam-diam bergidik.

"Kalau begitu, tidak boleh tidak aku harus binasa ditanganmu? "

"Kalau nasibmu tidak akan binasa ditanganku mungkin kau dapat lolos dari kematian."

"Kalau begitu aku tunggu, nona turun tangan saja."

Wanita aneh itu mendadak ketawa, ia agaknya sudah melupakan apa yang telah terjadi barusan.

"Hucianbujin, kau sekarang boleh pergi.

Si nona baju merah dan Hoan Giok Hoa terkena serangan ilmumu Im ciang.

Kalau kau yang menyembuhkan rasanya kurang patut, lagi pula kau susah payah menolong mereka tapi barangkali tidak akan berterima kasih padamu.

Sebaiknya kau pergi saja."

Tan Liong dapat memastikan, bahwa ucapan nona itu keluar dari hati yang sejujurnya maka ia merasa menyesal terhadap tindakannya yang gegabah kalau tidak tentu tidak menimbulkan peristiwa insiden tidak enak lagi.

"Aku tidak tahu bagaimana harus katakan padamu? "

"Kau tidak perlu mengucapkan apa-apa, pergilah! "

Tan Liong mengawasi si nona yang parasnya jelek ini.

Ia anggap si nona ini meski parasnya jelek mungkin hatinya tidak sejelek mukanya.

Ia balikkan badan meneruskan perjalanannya ke bawah gunung.

Setelah meninggalkan wanita baju hijau itu perasaan Tan Liong mendadak berat, sebab ia anggap telah melukai hatinya dan perasaan harga diri seorang wanita.

Soal hidup atau mati, bagi Tan Liong tidak merupakan soal sebab ia tokh ada seorang yang sudah pernah satu kali.

Maka kematian baginya tidak merupakan hal yang perlu ditakuti lagi tapi apa yang membuat ia berduka ialah karena telah melukai hatinya.

Ketika ia tiba dikaki gunung Tan Liong telah menyaksikan bekas-bekas tempat ledakan yang ternyata masih diliputi oleh pasir-pasir dan tanah yang berterbangan.

Ia merasa sangat heran, karena ditempat tersebut ternyata tidak terdapat seorangpun yang mati karena ledakan itu.

Padahal ia pernah berpesan pada Chie Peng bersama adiknya, apabila melihat kedatangan orang-orang Thian seng hwee, barulah obat peledak itu boleh dipasang.

Ia segera mencari ditempat mana Chie Peng dan Chie Cui harus sembunyikan diri tapi apa yang dilihatnya?

Kembali membuat ia kaget dan heran hingga mundur satu tindak.

Ternyata dua nona yang dicari itu terdapat rebah terlentang ditanah.

Ia segera mengetahui bahwa kedua saudara Chie itu sudah dibokong oleh musuhnya, maka dengan segera ia menghampiri dan membuka totokannya.

Ketika kedua saudara itu sadar dan melihat Tan Liong berada dihadapannya, Chie Peng lantas berseru.

"Engko Sim mengapa kau juga berada di sini? Apa upacara sudah selesai? "

Mendengar pertanyaan itu ia segera mengerti bahwa Chie Peng dan Chie Cui ternyata tak tahu sama sekali tentang peledakan yang telah terjadi, maka ia lantas menanya.

"Nona Chie, kalian melihat sesuatu atau tidak? "

Pertanyaan Tan Liong itu telah mengingatkan dua saudara itu apa yang terjadi, dengan paras berubah Chie Peng lantas berkata.

"Oh ya! Kemana itu orang baju merah? "

Tan Liong terperanjat.

"Orang baju merah? "

"Ya, orang baju merah!"

Berkata Chie Peng sambil memandang Tan Liong dengan mata kesima.

"barusan telah kedatangan seorang berpakaian warna merah!"

Tan Liong mendadak seperti teringat sesuatu .... dalam hati bergidik.

"Lelaki atau perempuan? "

Demikian tanyanya.

"Kita tak dapat lihat dengan jelas."

"Tidak melihat jelas? .... Kenapa? Apa sebetulnya yang telah terjadi? Obat peledak yang dipendam dijalanan terpenting mengapa telah meledak secara mendadak? "

Mendengar pertanyaan paras Chie Peng segera berubah.

"Apa obat peledak itu sudah meledak? "

"Benar, justeru karena itu maka aku datang kemari."

Dengan cepat Chie Peng memeriksa tempat dimana ada terletak sumbu untuk meledakkan obat itu.

Benar saja sumbu itu sudah disundut oleh tangan jail, hingga mengakibatkan ledakan tersebut.

Ia lantas berkata dengan badan gemetaran.

"Pasti perbuatan orang baju merah itu."

Setelah menenangkan perasaan kagetnya Chie Peng baru menjawab.

"Ketika aku dan adik menjaga disini tiba-tiba dibelakang kita sembunyi terdengar suara ketawa dingin ....

aku tahu ada orang iseng, maka lantas lompat mengejar tapi orang itu sudah menghilang dan kemudian terdengar pula suaranya.

"Nona-nona sesungguhnya terlalu jujur, tahukah kalian apabila orang-orang Thian seng hwee tiba entah berapa banyak jiwa yang binasa ditangan kalian? "

"Selagi aku hendak menangkap orang itu, mendadak aku melihat berkelebatnya bayangan merah, dan kemudian kehilangan ingatanku, hingga kau datang baru aku tersadar."

"Apakah kau tak dapat lihat jelas wajahnya orang itu? "

Baca Juga: Lembah Nirmala 10

Baca Juga: Pendekar Pengejar Nyawa 11

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert