Ceritasilat Novel Online

Lembah Nirmala 10

Eps 10 Lembah Nirmala - Khu Lung

Baca online Lembah Nirmala - Khu Lung

Cersil Lembah Nirmala - Khu Lung.

"Kim Thi sia memang benar-benar seorang manusia hebat, sungguh mengagumkan sungguh mengagumkan. Memang bukan lelaki kalau tak kejam, tindakanmu tepat sekali, tentang syaratku yang ketiga. AKu harus minta kau menyerahkan semacam ilmu silat kepadaku."

"llmu silat yang mana?"

Kim Thi sia berlagak pilon, bahkan habis bertanya dia menatap lawannya dengan pandangan tak mengerti. sipedang besi menjadi tak senang hati, katanya singkat.

"Kau tak usah berlagak bodoh, ilmu silat yang kuminta adalah Tay goan sinkang."

"Baik"

Jawab Kim Thi sia tanpa gusar.

"Aku bersedia memenuhi permintaanmu, sekarang katakan syarat yang keempat."

Sipedang besi segera manggut-manggut sambil tertawa.

Para jagi pedang yang lainpun menunjukkan rasa kegirangan, terutama sipedang emas.

Sorot matanya yang memancar keluar nampak berkilat-kilat, jelas dia merasa sangat kegirangan-Semua orang mulai berpikir dihati kecil masing-masing.

"Bila sudah kuperoleh ilmu sati itu."

Setelah berhenti berapa saat, sipedang besi berkata lagi.

"Syaratku yang keempat adalah putri Kim huan tetap akan kami bawa serta menanti ilmu Tay goan sinkang, pedang Leng gwat kiam serta nona itu sudah kau serahkan-Putri Kim huan pun akan kukembalikan kepadamu."

"ooooh jadi kau tetap akan menyandra dirinya?"

Tanya Kim Thi sia.

"Benar"

Jawab sipedang besi gembira.

"Sesungguhnya syarat-syaratku amat sederhana dan mudah dilaksanakan, kau tak akan repot-repot untuk memenuhinya......."

"Apakah masih ada yang lain, apakah syaratmu yang kelima So Bun pin-.......?^ "Sudah tak ada lagi"

Sipedang besi tertawa.

"Asal kau bersedia memenuhi berapa syaratku ini, putri Kim huan tentu akan memperoleh kembali kebebasannya"

"Aku amat bersyukur atas kebesaran jiwamu itu, cuma........"

Jilid 37 Kim Thi sia sengaja menghentikan kata-katanya dan tersenyum, kemudian pelan-pelan maju dua langkah kedepan.

Sekilas perasaan heran memancar dibalik wajah sipedang besi setelah mendengar perkataan itu, buru-buru tanyanya.

"cuma kenapa?"

Sikap Kim Thi sia kelihatan amat tenang, dengan sikap yang luar biasa ia berkata.

"cuma sayang saatnya tidak cocok sehingga susah untuk memenuhi pengharapanmu......"

"Apa maksud perkataanmu itu?"

Tanya sipedang besi tertegun.

Sekalipun ia dapat menangkap maksud yang tak beres dibalik perkataan tersebut, namun untuk sesaat ia tak tahu apa yang dimaksudkan orang itu.

Dengan senyuman dikulum kembali Kim Thi sia berkata.

"Seharusnya kau tahu, seorang perempuan belum tentu bisa melenyapkan semangat jantan seorang lelaki. Dalam keadaan dan situasi seperti apapun, seseorang perlu mempertahankan harga dirinya yang tak ternilai. Hey pedang besi, haruskah kau sayangkan bahwa aku Kim Thi sia bisa tenar karena kebenaran dan kesetian kawanku?"

Sipedang besi menjerit tertahan, agaknya ia sudah mulai memahami arti sesungguhnya dari pemuda tersebut.

Tapi sayang......segala sesuatunya telah terlambat.

Dalam waktu singkat, Kim Thi sia yang tenang dan termenung sudah kehilangan seluruh senyumannya disusul kemudian terlihat bayangan pukulan menyambar dan menari didepan mata.

Jeritan ngeri yang memilukan hati pun bergema memecahkan keheningan, tahu-tahu sipedang besi sudah terkapar tewas dengan tujuh lubang inderanya mengucurkan darah segar.

Rupanya Kim Thi sia telah mempergunakan dua jurus "

Angin mencabut pohon siong"

Dan "

Kejujuran mengalahkan batu emas"

Untuk menggempur jalan darah Khi hay hiat dan Ki bun hiat didada lawan-Segulung tenaga pukulan yang sangat kuat dan maha dahsyat segera menggempur dadanya serta menghancurkan isi perutnya.

Bayangkan saja, dalam keadaan begini bagaimana mungkin lawannya bisa tetap melanjutkan hidup?

Perubahan yang sama sekali tak terduga itu seketika menggemparkan kawanan jago pedang lainnya, serentak mereka membentak gusar sambil meloloskan pedang masing-masing.

Bagaikan orang kalap mereka menerjang dan menyerang secara membabi buta.

Hanya pedang emas seorang tetap berdiri tak bergerak diposisi semula, yang lebih aneh lagi disaat orang lain menyerang musuh secara membabi buta dengan semangat yang berkobar-kobar, maka ia sendiri justru membungkukkan badan sambil merintih kesakitan-Mungkinkah pemimpin dari sembilan pedang dunia persilatan ini telah kehilangan tenaga dalamnya akibat termakan oleh pukulan Kim Thi sia?

Bukan, bukan demikian keadaannya.

Saat ini ia sedang menderita siksaan "pertarungan antara langit dan manusia"

Yang merupakan kunci penting bagi seseorang yang belajar ilmu silat, sering kali keadaan demikian timbu dalam situasi yang tak terduga.

Apabila sang penderita berhasil mengatasi keadaan tersebut maka biasanya tenaga dalam yang diperoleh akan mendapatkan kemajuan pesat.

Tapi bila gagal semua hasil latihannya selama puluhan tahun akan gagal.

Apalagi jika cara mengatasinya tak sempurna, salah-salah akan menderita siksaan jalan api menuju neraka yang mengakibatkan kelumpuhan total.

Kebetulan sekali sipedang emas mengalami keadaan tersebut dalam situasi demikian seketika itu juga rasa kaget, risau dan gembira bercampur adui didalam dadanya.

Maka diapun menghentikan semua gerak geriknya, dengan tenang ia berusaha mengatasi masa sulit tersebut.

Ia sadar, apabila berhasil mengatasi keadaan tersebut maka tenaga dalamnya akan peroleh kemajuan yang amat pesat, tapi bila gagal.

Tenaga dalamnya akan penuh dan keempat anggota badannya menderita cacad total.

Sementara itu, sipemuda tampan tersebut telah memahami maksud hati Kim Thi sia ia sangat berterima kasih atas kebesaran jiwa pemuda itu.

Dengan langkah lebar dia mau beberapa tindak kedepan dan menghadang didepan sipedang tanah kemudian katanya dengan suara dalam.

"Kami orang-orang dari Tiang pek san cukup jelas membedakan mana budi dan mana dendam. Kim Tayhlap telah bersikap ksatria dengan menyelamatkan kami dari bahaya, dia merupakan tuan penolong pihak kami, maka aku hendak peringatkan kepada kalian, jika kalian masih melakukan tindakan yang tak menguntungkan-Sekalipun berhasil hari ini, dikemudian hari pihak Tiang pek san tetapi akan mencarinya sampai dapat."

Saat ini, kecuali sipedang emas, pedang kayu, pedang tanah dan pedang air yang masih berdiri tegak.

sipedang tembaga dan pedang bintang telah dibunuh Dewi Nirmala, sipedang besi dan pedang api tewas oleh pukulan Tay goan sinkang milik Kim Thi sia.

Sipedang perakpun terluka parah dalam keadan sekarat, boleh dikata sembilan pedang dunia persilatan telah mengalami nasib yang sangat tragis.

Dengan pancaran sinar benci dan dendam sipedang kayu, pedang tanah dan pedang air mengawasi Kim Thi sia tanpa berkedip.

semua penderitaan dan dendam mereka melampiaskan pada Kim Thi sia seorang.

Itulah sebabnya perkataan dari pemuda tampan itu sama sekali tak digubris, tak heran pemuda itu menjadi berkerut kening dan merasa amat gusar.

Dalampada itu Kim Thi sia telah meningkatkan kewaspadaannya setelah menyaksikan sikap ketiga orang musuhnya, ia berpikir.

"Jangan-jangan mereka berniat mengajak ku beradu jiwa........?"

Mendadak tampak sipedang kayu Gi ceng yung menghantam tubuh putri Kim huan hingga jatuh terjerembab keatas tanah, jalan darah sinona yang tertotok membuat gadis tersebut tak mampu berteriak, kontan saja seluruh badannya kotor oleh debu.

Pemuda tampan membentak keras sambil menerjang kedepan, tapi gerakan itu segera dihadang oleh pedang emas yang menerobos maju dari samping sambil melepaskan sebuah pukulan-Tak terlukiskan rasa kaget sipemuda tampan itu, dia tak mengira dalam waktu yang begini singkat tenaga dalam sipedang emas telah peroleh kemajuan yang amat pesat.

Ia pernah bertarung melawan sipedang perak.

atas dasar kepandaian silat dari sipedang perak sebagai orang kedua dalam urutan sembilan pedang, ia berpendapat ilmu silatnya tidak selisih jauh bila dibandingkan pedang emas.

Tapi setelah sipedang emas turun tangan sekarang, dimana dalam sebuah gempuran yang amat sederhana ternyata mampu menjebolkan hawa khikang pelindung badannya.

ia menjadi tercengang, kaget dan tak habis mengerti, tergopoh-gopoh tubuhnya melompat mundur kebelakang.

Sipedang emas mendengus dingin, dengan sorot mata berkilat tajam ia berseru.

"Sute sekalian, jaga perempuan itu baik-baik. Biar aku yang menghadapi dua orang bocah keparat yang tak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi ini."

"Toa suheng, kau tidak apa-apa bukan?"

Seru sipedang tanah sangat gembira.

Baru sekarang ia berani mengemukakan rahasia toa suhengnya, sebab tadi ia takut musuh mengetahui keadaan yang sebenarnya hingga membunuh atau mencelakai toa suhengnya itu.

Dan kini setelah menyaksikan gerak geriknya cekatan dan penuh disertai tenaga dalam yang sempurna.

ia tahu toh suhengnya telah memperoleh kembali kekuatan badannya.

"Aku tidak apa-apa"

Sahut pedang emas.

Sambil berkata ia menerjang maju kedepan bagaikan sukma gentayangan-Belum sempat Kim Thi sia mengambil sikap untuk menghadapi situasi tersebut, tahu-tahu telapak tangannya telah menepuk diatas bahunya.

Tak terlukiskan rasa terkejut Kim Thi sia menghadapi kejadian ini, tubuhnya mencelat sejauh satu kaki lebih oleh serangan tadi.

Sebaliknya pedang emas tidak melanjutkan serangannya ketika serangan yang pertama tadi berhasil mengejar lawannya.

Agaknya ia sudah menganggap Kim Thi sia pasti akan tewas ditangannya saja, tampak ia mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

Gelak tertawa yang keras dan nyaring bergema memenuhi seluruh angkasa, begitu keras dan tajamnya sehingga terasa menusuk pandangan-Diam-diam Kim Thi sia merasa amat terkejut oleh kepesatan yang dicapai musuh dalam tenaga dalamnya, ia tak mengira kekuatan musuhnya bisa berlipat kali lebih hebat hanya didalam waktu singkat.

Namun ia tak rela mengaku kalah dengan begitu saja, sambil mempersiapkan tenaga Tay goan sinkangnya, ia berseru kembali.

"Kau jangan keburu merasa gembira, coba rasain dulu sebuah pukulanku ini"

Telapak tangannya segera diayunkan kedepan melepaskan sebuah bacokan kilat yang didalamnya mengandung perubahan jurus "

Kecerdikan menguasahi seluruh langit"

Yang amat hebat.

Tampak bayangan pukulan yang menyilaukan mata memancarkan keempat penjuru, dalam waktu singkat bagaikan mematikan disisi kiri tubuh pedang emas sudah terkurung dibalik bayangan serangannya.

"Hmmm, nasibmu sudah hampir berakhir. Apa gunanya membuang tenaga dengan percuma?"

Jengek sipedang emas dingin.

Sementara berbicara, telapak tangannya sama sekali tidak menganggur, tidak sampai serangan musuh mencapai sasaran, dia telah melancarkan sebuah babatan kilat kedepan.

Serangan tersebut mengandung kekuatan yang luar biasa, itulah sebabnya sebelum jurus serangan dari Kim Thi sia berhasil menyentuh ujung baju lawan, lengannya sudah kena digetarkan oleh kekuatannya yang maha dahsyat hingga terasa linu, kaku dan mundur sempoyongan-Menyaksikan hal ini diam-diam Kim Thi sia bergidik, segera pikirnya.

"Tak usah dicoba lagi, jelas tenaga dalam yang diperoleh sipedang emas telah memperoleh kemajuan yang amat pesat. Aaaa i...... kalau begitu aku telah sia-sia membuang tenaga......."

Dalampada itu, sipedang air, pedang tanah dan pedang kayu telah menatap sekejap kewajah pemuda tampan itu dengan sorot mata marah dan dendam.

Kematian dari sipedang besi dan api serta lukanya sipedang perak membuat perasaan dendam mereka berkobar-kobar.

Tiba-tiba mereka membentak keras.

"Kami tak ambil perduli siapakah kau, pokoknya hari ini kalau ada kau tak ada kami."

Hampir pada saat yang bersamaan mereka berpekik nyaring, suara pekikannya tinggi melengking dan menusuk pendengaran Dalam waktu singkat tampaklah ketiga orang itu sudah duduk bersila diatas tanah.

Sementara asap putih yang tipis menyembur keluar dari lubang hidung dan mulutnya.

Kim Thi sia yang bermata tajam menjadi sangat terkejut setelah melihat keadaan mereka yang mengerikan hati itu, teriaknya cepat-cepat.

"Lekas mundur, mereka telah menggunakan tenaga dalam ci yang ceng khi"

Cepat-cepat pemuda tampan itu mundur tiga langkah, tapi secara tiba-tiba seperti teringat akan sesuatu.

Dia balik kembali keposisinya semula, paras mukanya yang putih nampak berubah menjadi buas dan bengis.

Pikirnya kemudian.

"Bila aku tak berhasil menyelamatkan nona itu, jelas Hay jin yang akan meninggalkan aku demi dia......aku harus berjuang dengan sepenuh tenaga. Aku percaya seandainya terjadi sesuatu musibah atas diriku. Dia pasti akan sangat terharu dan berterima kasih kepadaku......."

Sementara dia berpikir, sipedang kayu dengan sorot matanya yang tajam seperti elang telah berbisik kepada rekannya.

"Aku akan menyerang dari kanan suheng dari kiri dan sute dari belakang........."

Bersamaan dengan ucapan itu, ketiga orang tersebut mulai melancarkan serangan dengan sekuat tenaga.

Tampak tiga sosok bayangan manusia berkelebat kedepan laksana sambaran petir, mereka langsung menerjang pemuda tampan itu sementara desingan angin pukulan yang menderu-deru terdengar amat memekikkan telinga.

Dalam waktu singkat terdengar sipedang kayu menjerit ngeri sambil mundur dengan sempoyongan-Sebaliknya pemuda tampan itupun mendengus tertahan sambil mundur dengan sempoyongan kekanan-Kim Thi sia yang berada tak jauh dari situ mendengar pemuda tampan tersebut bergumam dengan napas memburu.

"IHmmm.......bukan perbuatan lelaki gagah......main bokong secara licik....."

Ditinjau dari kata "main bokong"

Jelas bisa disimpulkan bahwa kecuali mereka yang hadir dalam arena, disekitar situ masih terdapat pula jago-jago lihay lainnya yang sengaja bersembunyi disana.

Sebagai seorang pemuda yang cukup teliti Kim Thi sia segera menyadari apa yang terjadi, sambil menarik muka teriaknya kepada sipedang emas.

"Cepat kau suruh para begundalmu unjukkan diri, mari kita bertarung secara terang-terangan-Jangan bertindak macam manusia pengecut saja."

Waktu itu, sipedang emas sudah bersiap-siap melancarkan serangan, ia segera menggunakan niatnya setelah mendengar perkataan dari Kim Thi sia, diawasinya pemuda itu agak termangu, ia tak mengerti apa yang dimaksudkan-Kim Thi sia sendiripun tidak sempat berpikir panjang, ia segera membalikkan badan menerjang kearah pemuda tampan.

Berkilay sepasang mata sipedang tanah tiba-tiba dia mengangkat tangannya melancarkan serangan-Pedang air tidak ambil dlam, dia melancarkan bacokan pula dari arah samping.

Kim Thi sia sama sekali tak gugup kendatipun harus menghadapi gempuran dari muka maupun belakang, ia membentak keras sambil mengangkat tinggi sepasang telapak tangannya, lalu melepaskan pukulan dengan jurus "mati hidup ditangan nasib"

Dan "kepercayaan menguasahi seluruh jagad."

Kalau jurus yang pertama memiliki perubahan gerakan yang luar biasa, maka jurus kedua mengutamakan kekuatan yang keras dan dahsyat.

Dua jurus serangan yang dilancarkan secara beruntun memaksa sipedang tanah dan pedang air terdorong mundur sejauh berapa kaki dari posisinya semula.

Pedang air mendengus dingin, kabut putih yang tebal menyelimuti seluruh badannya dan tidak buyar walau terhembus angin-Kini tubuhnya kokoh bagaikan batu karang, jauh berbeda dengan kelincahan semula.

Setiap kali melancarkan serangan pasti disertai dengan desingan angin tajam yang memekikkan telinga.

Waktu itu tangan Kim Thi sia telah menyambar pinggang pemuda tampan itu dan berniat menahan tubuhnya yang sempoyongan, namun karena serangan dari pedang air sudah keburu menyambar tiba, terpaksa ia harus menghimpun segenap kekuatan tubuhnya dan tanpa berpaling menyongsong datangnya ancaman tersebut.

"Blaaaaammmmmm. ......"

Dalam bentrokan kali ini Kim Thi sia tidak lebih menguntungkan lagi posisinya, ia termakan oleh getaran tenaga pukulan sipedang air yang maha dahsyat sehingga terdorong maju kedepan-Tatkala jidatnya menyentuh diatas wajah pemuda tampan tadi, tiba-tiba saja ia merasakan wajah orang itu dingin seperti es.

Kenyataan ini sangat mengejutkan hatinya, begitu kagetnya sehingga luka sendiripun sama sekali tak digubris lagi.

Dibawah sinar rembulan, tampak paras muka pemuda tampan itu pucat pias bagaikan mayat, sepasang matanya terpejam rapat napasnya lemah dan keadaannya berada dalam keadaan tak sadar.

Dengan cepat Kim Thi sia berhasil menemukan sebatang jarum hitam yang menancap diatas bahunya, jarum itu lembut bagaikan rambut dan susah ditemukan-Bila ditinjau dari luka yang diderita sang pemuda tampan tersebut tanpa sebab yang jelas, bisa disimpulkan racun yang dipoleskan diujung arum itulah sebagai penyebabnya, tapi dari mana datangnya jarum beracun itu?

Kim Thi sia berusaha memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, namun tak sesosok bayangan manusiapun yang ditemukan-Pemuda itu sadar, keadaan daripemuda tampan ini sangat kritis dan berbahaya.

Jiwanya berada diujung tanduk.

namun situasi yang begitu gawat membuatnya tak berkesempatan untuk memberi pertolongan-Lagi pula diapun tidak mengerti ilmu pertabiban hingga sekalipun ada kesempatanpun ia tak tahu apa yang mesti diperbuat.

Untuk sesaat Kim Thi sia berdiri tertegun dengan pikiran bingung dan kalut.

Saat itulah sipedang tanah mengayunkan pedangnya melepaskan sebuah bacokan maut.

Dalam keadaan bingung dan bercabang pikiranya, nyaris Kim Thi sia termakan oleh bacokan tersebut.

Dalam benci dan dendamnya ia segera menghimpun ilmu ciat khi mi khinya untuk mementalkan pedang ditangan pedang tanah.

Dengan kemampuan sipedang tanah, bagaimana mungkin ia sanggup menahan gempuran dahsyat itu?

Tubuhnya seketika terdorong mundur dengan sempoyongan-Mendadak kesempatan yang sangat baik ini terburu-buru ia membopong pemuda tampan itu serta membaringkannya diatas rumput setelah itu ia baru membalikkan badan menerjang kearah pedang air.

Dalampada itu si pedang air sudah kehabisan tenaga karena pertarungan yang baru berlangsung, belum sempat angin serangannya menghantam tubuhnya, ia sudah jatuh terduduk diatas tanah dengan lemas.

Angin pukulan yang maha dahsyat segera meluncur kedepan dan siap menghajar mampus sipedang air.

Disaat yang kritis itulah sipedang emas berhasil menyusul tiba ia segera melepaskan sebuah pukulan untuk membendung ancaman tersebut.

Tenaga dalam yang dimiliki sipedang emas saat ini betul-betul hebat dan luar biasa.

Pukulannya seketika memaksa tawanannya terdesak keluar dari dalam hutan-Diam-diam Kim Thi sia menggertak giginya kencang-kencang, walaupun pertarungan yang berlangsung cukup lama sempat menguras tenaganya, namun serangan dari sipedang emas yang kuat dan hebat justru memberikan kekuatan pula baginya untuk mempertahankan diri lebih jauh.

Sambil bertarung ia mulai memikirkan tempat persembunyian gadis cantik berbaju putih itu, sebab diapun mengerti, dengan robohnya pemuda tampan ini berarti pula gadis tersebut kehilangan pegangannya .

Sebagai jago kawakan yang berpengalaman dengan cepat pedang emas berhasil melihat ia bersiap-siap mengerahkan segenap kekuatan ceng yang khikangnya untuk melenyapkan pemuda tersebut.

Mendadak.

Dari balik hutan bergema datang suara langkah kaki manusia yang segera memotong jalan pemikirannya yang licik dan keji.

Ketika berpaling, tampaklah serombongan jago persilatan bermunculan dari balik hutan dan berjalan menghampirinya dengan langkah lebar.

Yang mula-mula terlihat adalah empat orang kakek berjenggot pendek.

bermata tajam dan berwajah sangat dikenal, seperti pernah bersua disuatu tempat tapi lupa siapa namanya.

Ia mencoba untuk mengingat-ingat siapa gerangan keempat orang tersebut ketika seorang kakek diantara keempat orang tersebut telah berseru dengan lantang.

"Selamat bersua sembilan orang gagah dari dunia persilatan-"

Sipedang emas segera teringat kembali akan asal usul orang-orang itu, dengan cepat dia menyahut.

"Selamat berjumpa, panglima andalan dari Pek kut sinkun."

Nada suaranya dingin dan hambar, sudah jelas ia memandang rendah orang-orang tersebut.

Dibelakang keempat orang kakek itu berdiri serombongan jago persilatan yang terdiri dari puluhan orang lebih, mereka mempunyai perawakan tubuh yang tidak merata namun memiliki pancaran sinar mata yang tajam dan tenaga yang hebat.

Dalam sekilas pandangan saja dapat diketahui bahwa kawanan manusia tersebut bukan manusia sembarangan-Kim Thi sia segera berpikir.

"Jelaslah sudah, si kongcu berwajah tampan itu terluka oleh bokongan mereka"

Karena ingin mengetahui duduknya persoalan yang pasti, diapun segera membentak.

"Hey apa sebabnya kalian melukai sobatku tanpa sebab? Sebetulnya apa maksud tujuan kalian yang sebenarnya? Ayoh cepat utarakan-"

Keempat orang itu menjengek dingin.

"Hmmm, besar amat bacotmu, tapi sayang kami tidak mengenal siapa anda, apakah kau pun terhitung seorang jagoan hebat dari dunia persilatan?"

Dengan ucapan mana, jelas ia hendak menerangkan bahwa semua orang berbakat dan "orang ternama"

Dalam dunia persilatan dikenal semua olehnya.

Sedangkan Kim Thi sia yang dinilai berkata besar, dalam kenyataan cuma seorang manusia yang sama sekali tak ternama.

Sebagai pemuda yang pintar tentu saja Kim Thi sia dapat menangkap sindiran tajam dibalik perkataan tersebut, ia tak senang hati serunya kemudian sambil mendengus.

"Ya aabetul, memang setiap orang bisa berkelana didalam dunia persilatan, apakah aku ini seorang enghiong atau bukan, sekaranglah kuminta kepada ciangyee berempat untuk membuktikan sendiri."

Dengan perkataan tersebut dia artikan, bila keempat orang tersebut tidak puas, maka mereka dipersilahkan untuk mengerahkan segenap kemampuan yang dimiliki untuk mencoba.

Sipedang emas menyela secara tiba-tiba dengan suara dingin.

"Juan tiong supa empat macam kumbang dari luar perbatasan cuma bisa berkelana diwilayahnya sendiri. Bila ingin turun gunung dan berkelana.... hmmmm, masih ketinggalan jauh"

Rupanya dia merasa amat gusar ketika melihat keempat orang tersebut dengan sorot mata yang sinis dan pandangan yang menghina sedang mengawasi keadaan sipedang besi, pedang api, pedang perak dan pedang air yang tergeletak ditanah dalam keadaan memilukan itu tanpa berkedip.

Ia sadar mereka sedang mengolok-olok dirinya dengan perkataan tersebut.

Saking mendongkolnya maka dia pun mengeluarkan kata-kata pedas itu untuk menyindir keempat orang tersebut.

Juan tiong supa segera tertawa terbahak-bahak.

mereka tidak menanggapi sindiran sipedang emas, sebaliknya bertanya kepada Kim Thi sia.

"Apakah mereka yang tergeletak ditanah......adalah hasil karya anda.......?"

Kali ini, mereka berempat tidak lagi menunjukkan sikap memandang rendah, sebab hanya orang yang berilmu silat tinggi saja yang mampu memporak-porandakan sembilan pedang dari dunia persilatan hingga dalam keadaan demikian-Sebagai manusia-manusia licik yang banyak tipu muslihatnya, sudah barang tentu mereka tak ingin menanam bibit permusuhan dengan musuh setangguh ini.

Dalam kagetnya, tanpa terasa nada pembicaraanpun berubah menjadi lemah lembut dan ramah.

Tapi sayang sekali Kim Thi sia adalah seorang manusia kasar, ia tak bisa menerima penyelesaian tersebut dengan begitu saja.

Sesudah termenung sebentar, kembali bentaknya.

"Hey, jawab dulu. Kaliankah yang telah mencelakai sobatku itu?"

Nada tegurnya keras dan tidak sungkan-sungkan-Hal inipun dikarenakan ia selalu berprinsip "bila orang lain tidak mengusikku, akupun tak akan mengganggu orang lain-"

Ia tak ingin diganggu dan diusik orang, sekali orang mencari gara-gara dengannya, maka biarpun dia seorang kaisarpun, ia tetap akan menghadapinya sebagaimana terhadap orang lain-Dengan suara pelan Juan tiong supa menjawab.

"Yaa betul, tapi tindakan kami ini bukan dikarenakan sikap permusuhan kami terhadapmu. Ketahuilah, sudah berulang kali orang ini memusuhi kami, sikap maupun perbuatannya amat menggemaskan-Bila tidak diberi pelajaran yang setimpal, ia tentu akan mengira kalau setiap orang dalam dunia persilatan bisa dipermainkan sesuka hatinya."

"Aku tak perduli"

Tukas Kim Thi sia.

"Pokoknya dia sudah terluka ditangan kalian, maka kalianlah yang berkewajiban menolongnya. Kalau tidak. aku Kim Thi sia akan membalaskan dendam bagi sahabatku itu."

Selesai mendengar perkataan tersebut, juantiong supa segera mendongakkan kepalanya dan tertawa keras.

"Haaaah.....haaaah.......haaaah......rupanya anda adalah Kim Thi sia. Kim Tayhiap. maaf..."

Kemudian setelah berhenti sejenak. lanjutnya.

"Tapi kau mesti maklum, orang ini adalah musuh besar kami semua. Persoalan ini tiada sangkut pautnya dengan Kim Tayhiap. karenanya kuminta Kim Tayhiap suka mengalah agar kamipun bisa mempertanggung jawabkan diri sekembalinya dari sini nanti."

Sembari berkata, mereka berempat dengan delapan matanya sama-sama mengawasi wajah Kim Thi sia tanpa berkedip. Agaknya mereka sedang menyelidiki jalan pemikiran pemuda itu.

"Sudah kukatakan sejak tadi, aku tak mau mencampuri urusan pribadi kalian"

Ucap Kim Thi sia.

"Tapi dia datang kemari bersamaku, berarti dia adalah rekanku. Bila kalian ingin membalas dendam, kesempatan dikemudian hari masih banyak sekali. Mengapa kalian justru melakukannya sewaktu berada dihadapanku?"

"Kim Tayhiap, bila ditinjau dari ucapan itu bisa diketahui Kim tayhiap tidak mempunyai hubungan yang akrab dengan orang itu. Apalah artinya memusuhi kami dengan urusannya? Harap Kim tayhiap sudilah untuk memakhlumi kesulitan kami, lagi pula sudah lama kami mengagumi nama besar Tayhiap dan bersedia menjalin tali persahabatan denganmu."

Kim Thi sia segera berpikir.

"cerewet betul orang ini, rasanya biar berbicara sampai mulutjebolpun belum tentu ada penyelesaian yang baik. Lebih baik aku hadapi secara tegas saja."

Begitu mengambil keputusan, diapun segera membentak keras.

"Sebetulnya kalian bersedia menuruti perkataanku atau tidak?"

Berubah hebat paras muka keempat orang itu, dengan suara dalam mereka segera berseru.

"Maaf, perintah majikan susah ditentang."

Mendengar itu, kembali berpikir.

"Nyata kalau dugaanku memang benar, ternyata mereka memang tidak berniat menyelesaikan persoalan ini secara baik-baik."

Sambil tertawa tergelak ia segera berseru.

"Mengapa tidak kalian ucapkan sedari tadi? Haaaah.....haaaah.....haaah......beginikan lebih enak....."

Setelah berhenti sejenak, terusnya.

"Kita tak usah banyak berbicara lagi, banyak bicarapun hanya membuat kesabaranku habis, mari kita buka kartu saja dengan bicara blak-blakan. Kalau hendak bertarung kita segera bertarung, kalau mau damai kita segera damai........"

"Maaf, kami tak bias menentukan kehendak sendiri"

Sahut Juan tiang supa cepat.

Selesai berkata, mereka berempat segera berdiri menyebarkan diri, sementara puluhan orang jago persilatan yang berada dibelakangnya meraba gagang senjata masing-masing sambil mengawasi pemuda itu tanpa berkedip.

Situasi bertambah kritis dan nampaknya pertarungan tak bisa dielakan lagi.....

Biarpun jumlah musuh lebih banyak.

namun Kim Thi sia tidak gentar ataupun takut.

Sambil tertawa terbahak-bahak serunya.

"Haaaah......haaaah......haaaah......bagus sekali, mari kita selesaikan persoalan ini dengan pertarungan"

Pelan-pelan ia berjalan mendekati Juan tiang supa, kemudian berkata lebih jauh.

"Siapa yang akan maju duluan? Ataukah....."

"Sesungguhnya kami tidak berniat mengikat tali permusuhan dengan Kim tayhiap"

Ujar Jua n tiong supa mencoba menerangkan-"Tapi........"

"Tak usah menyebut tapi, tapi lagi"

Tukas Kim Thi sia cepat.

"Kalau tidak mau bertarung berarti damai, kalau tak mau damai berarti bertarung, bukankah urusan amat sederhana? Aku paling benci dengan mereka yang berpura-pura."

"Baik, baiklah. Kalau begitu kita selesaikan persoalan ini dengan pertarungan-"

Begitu selesai berkata, orang yang berdiri disebelah kiri menerobos maju dengan menyelinap kebelakang Kim Thi sia.

Disusul orang yang berdiri disebelah kanan menyusup pula kesisi kanan pemuda itu.

Mereka berdua mempersiapkan diri dengan menghimpun tenaga dalamnya, jelas pertarungan segera akan berkobar.

Pada saat itulah mendadak sipedang emas berseru.

"Tunggu sebentar, tungguh sebentar"

"Apa yang hendak kau sampaikan?"

Tegur Juan tiong supa dengan kening berkerut.

"Kim Thi sia merupakan musuh besar kami suheng te, jadi sepantasnya bila akulah yang menyelesaikan persoalan ini lebih dulu."

"Kuharap kalian tunggu sebentar.

Bila aku tak mampu membereskan dirinya nanti, kalian baru boleh menggantikan aku, sebab peristiwa ini bukan timbul karena urusan kalian jadi aku merasa berhak untuk turun tangan lebih dulu."

"tentu, tentu saja"

Juan tiong supa segera tersenyum.

"Sudah lama sekali kukagumi nama besar anda tentu saha kami akan menuruti permintaan itu....."

Padahal empat macan kumbang inipun enggan bermusuhan dengan Kim Thi sia, tapi mereka terpaksa haris melayaninya karena didesak oleh keadaan-Setelah sekarang sipedang emas tawarkan diri untuk menyelamatkan persoalannya lebih dulu dengan Kim Thi sia, tentu saja dengan senang hati mereka mengundurkan diri dan membiarkan sipedang emas menyelesaikan persolaan itu lebih duluan-Sementara itu Kim Thi sia pun sedang berpikir.

"Mereka semua adalah orang-orang yang punya nama serta kedudukan, bagaimanapun jua kau tak boleh kehilangan pamor dihadapan mereka. Kalau tidak. begitu kabar tersebut tersiar luas, selama hidup jangan harap aku bisa mengangkat kepala kembali."

Menyadari gawatnya persoalan tersebut diam-diam ia menghimpun tenaga sakti Tay goan sinkangnya kedalam lengan lalu sepasang tangannya direntangkan dan siap menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan-Mendadak........

Tampak sesosok bayangan abu-abu berkelewat lewat dan meluncur ketengah arena.

Begitu cepatnya gerakan tubuh orang tersebut sampai manusia seperti sipedang emas Juan tiong supa maupun Kim Thi sia sekalian merasa amat terperanjat.

Ketika bayangan abu-abu itu sudah mencapai diatas tanah, terlihatlah jelas bahwa orang itu adalah seorang kakek botak.

Tak seorangpun yang mengetahui siapa gerangan kakek botak ini, dia mewakili wajah merah segar dan kulit tubuh yang putih bersih, keanehan yang memancar menunjukkan bahwa orang ini memiliki asal usul yang luar biasa.

Selain tubuhnya gemuk, kepalanya botak kakek inipun memiliki perawakan badan yang pendek seperti anak kecil.

Begitu munculkan diri, dengan sorot matanya yang tajam bagaikan sembilu dan dia mengawasi sekejap sekeliling arena.

Sekali lagi semua orang dibuat terkesiap satu ingatan yang samapun melintas didalam benak mereka.

"Dari ketajaman sorot matanya, bisa diketahui bahwa tenaga dalamnya telah mencapai tingkatan yang amat sempurna."

Diantara sekian orang, sipedang emaslah yang merasa paling malu, ditinjau dari gerak gerik kakek botak itu, jelas dia adalah seorang "angkatan tua"

Dari dunia persilatan namun kenyataannya ia tak berhasil menduga asal usulnya. Satu hal lagi yang membuat semua orang tak habis mengerti adalah apa maksud kedatangan "

Angkatan tua"

Tersebut kemari?

Padahal biasanya manusia aneh seperti ini paling tak senang mencampuri urusan orang lain-Kalau dibilang kedatangannyapun karena tertarik oleh suara pertarungan, hal inipun tidak mirip.

sebab semenjak kehadirannya ia selalu sedang mencari orang.

Padahal dari mereka yang hadir disitu, tak seorangpun yang kenal dengannya, lantas siapa yang sedang ia cari?

Terdengar kakek botak itu berseru keras.

"Dimana anak ku? Dimana anak ku?"

Suaranya nyaring dan lantang, tapi begitu ucapan tersebut bergema, kecuali dicekam perasaan heran semua orangpun merasa amat geli hingga hampir saja tertawa.

Mana ada seorang ayah yang begitu pikun hingga kehilangan anak?

Sementara itu sikakek telah mendekati Kim Thi sia, bertatapan mata dengan sorot matanya yang tajam, tanpa sadar Kim Thi sia mundur beberapa langkah kebelakang.

Tapi entah gerakan tubuh apa yang dipergunakan kakek botak itu, hanya sedikit dia menggerakkan tubuhnya tahu-tahu kakek itu sudah berada hanya tiga depa dihadapannya.

Kontan saja Kim Thi sia dibuat sangat terkejut.

Dengan mempergunakan sorot matanya yang keheranan dia mengawasi Kim Thi sia sekejap.

lalu berkata.

"Hey bocah cilik, tampang mu paling polos dan jujur diantara yang hadir. Aku tahu kau tentu lebih jujur ketimbang mereka. coba katakan kepadaku, dimanakah anakku sekarang?"

"Aku toh tidak mengetahui siapa nama anakmu, bagaimana mungkin aku bisa memberitahukan kepadamu?"

Mendengar jawaban tersebut, tiba-tiba saja sikakek itu mencaci maki kalang kabut.

Kim Thi sia mengira dia sedang dimaki, hatinya menjadi tak senang, tapi sebelum ia sempat mengucapkan sesuatu, kakek itu teriah bergumam kembali.

"Bocah keparat, benar-benar tak becus. Aku suruh kau berkelana mencari nama, tak nyana sudah mengembara sekian lamapun belum berhasil meraih gelar apapun-Betul-betul berbapak harimau berputra anjing, manusia tak berguna."

Mendengar hal ini, Kim Thi sia seketika terbungkam, pikirnya.

"Aneh betul kakek ini, masa putranya yang disuruh berkelana harus mendapatkan nama besar dalam dunia persilatan?"

Sementara dia masih termenung, sambil menghentakkan kakinya keatas tanah kakek botak itu berseru lagi.

"Betul-betul telur busuk. tiga bulan sudah lewat namun belum kudengar namamu bergema dalam dunia persilatan, sampai untuk mencari jejakmupun susahnya setengah mati. Hmmmm, padahal aku hanya membutuhkan waktu tidak sampai sebulan untuk menjadi tenar dalam dunia persilatan dimasa lalu tak nyana anakku justru tak becus dan tak berguna sama sekali."

Kim Thi sia tak mampu menahan diri lagi, dia segera bertanya.

"Empek tua, siapa sih namamu?"

"Apa? Kau bertanya duluan kepadaku......?"

Gembor sikakek botak itu.

"Tidak. tidak seharusnya aku yang bertanya dulu kepadamu."

Kemudian setelah berhenti sejenak. dengan suara yang parau dia berseru lantang.

"Terus terang saja aku bilang, aku menjadi gemas setiap kali melihat orang muda yang tak berguna, hey siapa namamu anak muda?"

"Aku bernama Kim Thi sia"

Kakek botak itu berpikir sebentar, kemudian sahutnya.

"Bagus, rasanya akupun pernah mendengar nama Kim Thi sia, kuanggap kau memang cukup hebat......"

Kim Thi sia segera berseru lagi.

"Empek. sekarang kau boleh menyebutkan gelarmu......."

"Aku bernama Ang Bu im"

Kim Thi sia termenung sebentar, tapi segera serunya.

"Aneh, kalau menurut penuturan empek tadi hanya sebulan turun gunung namamu sudah menjadi tenar, seharusnya nama locianpwee diketahui setiap umat persilatan, mengapa aku belum pernah mendengar nama besarmu itu?"

Kontan saja kakek botak itu mencak-mencak macam anjing kebakaran jenggot, teriaknya lantang.

"Bocah muda ini menunjukkan telingamu congek tuli, banyak kotorannya. Siapa bilang orang tak mengenali Ang Bu im? Hmmm, kau memang telur busuk......"

Kim Thi sia sangat tak senang hati, dia balas berteriak.

"Lebih baik empek tidak usah mengibul, ketahuilah setiap jago kenamaan dalam dunia persilatan boleh dibilang kuketahui semua. Tentang nama besarmu itu......hmmm, rasanya kok belum pernah kudengar, tapi bila kau kurang percaya, coba tanya kepada yang lain-Apakah merekapun pernah mendengar nama Ang Bu im"

Tampaknya kakek botak itu mudah naik darah, dalam gemas dan jengkelnya seluruh tubuhnya gemetar keras. Dengan sangat berangasan ia cengkeram bahu Kim Thi sia, lalu bentaknya keras-keras.

"Hey anak muda, bosan hidup nampaknya? Hmmmm, namaku Ang Bu im boleh kau sebut semaunya?"

Begitu bahunya kena dicengkeram, Kim Thi sia segera merasakan keempat anggota badannya gemetar keras dan sakitnya bukan kepalang, hampir saja dia matanya jatuh berlinang.

Tapi dasar berwatak kerbau, sekalipun kakek botak itu sudah mengerahkan tenaga yang lebih besarpun ia sama sekali tidak mengeluh, malah sebaliknya umpatnya keras-keras.

"Maknya, aku tak percaya kalau namamu tak boleh disebut-sebut. IHmmm......"

"Ang Bu im.....Ang Bu im......Ang Bu im."

Secara beruntun ia menyebut nama kakek botak itu sampai beberapa kali.

Kakek botak itu semakin mendongkol, cengkeramannya makin kencang hingga jari jemarinya menancap kedalam daging.

Entah siapa yang kemudian tahu akan asal usul kakek tersebut, tiba-tiba teriaknya lantang.

"Kim Thi sia, kau benar-benar manusia yang tak tahu diri. Ang caianpwee tak lain adalah ketua Tiang pek san, sipukulan sakti tanpa bayangan"

Mendengar nama tersebut, Kim Thi sia pun segera tersadar kembali, segera teriaknya.

"cepat lepas tangan, kalau tidak putra mu bakal mampus."

"Apa?"

Teriak sipukulan sakti tanpa bayangan dengan wajah berubah hebat.

"Putraku akan mampus? Apa maksudmu? Apakah kau telah......"

Sementara itu Juan tiong supa pun merasa terperanjat sekali, dengan perasaan tak tenang pikirnya.

"Aduh celaka, jangan-jangan bocah keparat yang tak dikenali identitasnya itu adalah putra tunggalnya?"

Mereka berempat adalah orang pintar, begitu berpikir merekapun segera menyadari apa yang terjadi.

Sadarlah mereka berempat bahwa ancaman bahaya maut telah berada didepan mata.

sekarang mereka baru menyesal mengapa tidak menuruti saja nasehat dari Kim Thi sia tadi.

Dalam pada itu Kim Thi sia telah berseru lagi.

"Hey kau bersedia melepaskan tangan tidak? Kau harus tahu, aku selamanya bicara satu tetap satu."

Kali ini Ang Bu im atau sipukulan sakti tanpa bayangan menuruti dan segera melepaskan cengkeramannya.

Mendapatkan kembali kebebasannya, Kim Thi sia segera mengatur pernapasan untuk memulihkan kekuatannya, setelah itu baru katanya.

"Bukankah putramu berwajah tampan?"

Pukulan sakti tanpa bayangan berdiri dibelakangnya sambil mengawasi pemuda itu lekat-lekat, ia memiliki keyakinan untuk mencegah musuhnya melarikan diri dari lingkungan wilayah seluas sepuluh kaki, karenanya dia tak kuatir musuh "pembunuh putra"

Nya mampu meloloskan diri.

Biarpun sekarang dia merasa gelisah, cemas karena menguatirkan keselamatan putranya, namun dikala Kim Thi sia mengatakan putranya tampan, sebagai ayahnya, sedikit banyak timbul juga perasaan gembiranya.

"Yaa betul"

Sahutnya cepat-cepat.

"Setiap orang yang pernah bertemu dengannya selalu berkata begitu."

Berbicara sampai disini, mendadak ia berpaling kearahJuan tiong supa serta mengawasinya dengan mata yang tajam bagaikan sembilu.

Kim Thi sia agak melengak dan segera berpaling, rupanya juan tiong supa beserta puluhan orang jago persilatan sedang bermaksud ngeloyor pergi dari situ secara diam-diam.

Mau tak mau timbul juga perasaan kagumnya terhadap ketajaman pendengaran sipukulan sakti tanpa bayangan-Sementara itu sikakek botak telah berseru sambil tertawa dingin.

"Kalian masih tersangkut dalam kecurigaanku, apakah ingin ngeloyor dengan begitu saja?"

Berbicara sampai disitu lengannya segera diayunkan kedepan, tidak terdengar apapun tapi Juan tiong supa seperti terhajar panah saja, mereka berteriak keras dan serentak menghentikan langkahnya.

Tedengar sipukulan sakti tanpa bayangan berkata lagi.

"Jangan mencoba bergerak lagi, siapa berani melanggar perintah akan kusuruh dia mampus tanpa liang kubur disini."

Kemudian dia berpaling lagi kearah Kim Thi sia dan berseru lebih lanjut.

"Sekarang katakan, dimanakah putraku?"

"Ia keracunan hebat saat ini, aku rasa saat kematiannya sudah mulai menjelang tiba"

"Kau yang melakukan?"

Teriak sipukulan sakti tanpa bayangan dengan perasaan terkejut bercampur gusar. cepat-cepat Kim Thi sia gelengkan kepalanya berulang kali.

"Bukan, kau salah menuduh"

"Lantas siapa yang telah meracuni putraku?"

Desak sipukulan sakti tanpa bayangan dengan gelisah.

Mendadak sorot matanya yang tajam dialihkan kewajah Juan tiong supa beserta para jagonya, kemudian dengan kemarahan yang meluap-luap teriaknya lagi.

"Pasti kalian yang melakukan, kalau tidak mengapa kalian bermaksud melarikan diri tadi. IHmmmm....."

"Tepat sekaali, merekalah yang melakukan perbuatan itu"

Sambung Kim Thi sia cepat. Pukulan sakti tanpa bayangan seegra mendongakkan kepalanya dan tertawa nyaring tanyanya lagi.

"Dimana anakku sekarang?"

"Ditanah berumput sana"

Pukulan sakti tanpa bayangan berpaling kearah yang ditunjuk, benar juga disisi batu besar tergeletak sesosok tubuh manusia.

Dalam sekilas pandangan saja dia segera mengenali orang itu sebagai putra kesayangannya.

Tersentuh oleh perasaan sayang orang tua terhadap anaknya cepat-cepat dia memburu kedepan sambil bergumam.

"Kasihan benar anakku......kasihan benar anakku......"

Sampai ditengah jalan mendadak dia membalikkan badan, seperti teringat akan sesuatu, sebuah pukulan segera dilontarkan ketubuh Kim Thi sia.

Tentu saja Kim Thi sia dibuat keheranan setengah mati oleh perbuatan lawannya, segera pikirnya.

"Apa yang hendak ia perbuat?"

Belum habis ingatan tersebut melintas lewat segulung tenaga pukulan yang lembut telah menghantam jalan darah Ki bun hiatnya, namun pukulan tersebut sama sekali tidak menimbulkan luka dalam isi perutnya.

Dari sini bisa diketahui bahwa tenaga dalam yang dimiliki pukulan sakti tanpa bayangan telah mencapai tingkatan bisa dilepaskan dan ditarik sekehendak hatinya.

Terdengar orang tua itu berkata.

"Terpaksa aku harus menyiksamu sebentar, disaat duduknya persoalan yang telah menjadi jelas nanti, tentu saja aku akan membebaskan dirimu lagi."

Kemudian sambil menatap sekejap kearahJuan tiong supa, dia berseru lagi dengan bengis.

"Kalian jangan mencoba melarikan diri ketahuilah aku sipukulan sakti tanpa bayangan sanggup melukai sasaranku dalam jarak sepuluh kaki, siapa berani menentang perintahku, pohon inilah yang menjadi contoh."

Nampak dia mengayunkan tangannya sebatang pohon yang berada lima kaki dihadapannya telah patah menjadi dua bagian dan tumbang keatas tanah.

Serangan tersebut dilakukan amat sederhana dan sama sekali tidak menggunakan tenaga yang besar, namun kenyataannya pohon yang tumbuh lima kaki jauhnya bisa tumbang ketanah.

Bisa diketahui sampai dimanakah kehebatan dari ilmu pukulan saktinya.

Juan tiong supa berdiri mematung ditempat, kendatipun dihati kecil mereka sangat ingin melarikan diri, namun tak seorangpun bernyali untuk melakukannya.

Sebab berani menentang perintah sipukulan sakti tanpa bayangan berarti mencari kematian buat diri sendiri.

Rasa kaget, ngeri dan putus asa segera menyelimuti perasaan hati mereka semua.

Sipedang emaspun baru pertama kali ini menyaksikan kehebatan ilmu silat dari ketua Tiang pek san-Dalam terkejut dan tertegunnya dia mulai berpikir bahwa jagoan berilmu tinggi didalam dunia persilatan ternyata banyak sekali.Jelas ambisinya untuk menguasahi dunia persilatan bukan suatu pekerjaan yang mudah untuk tercapai.

"Yaa, dengan kemampuanku sekarang, ambisiku tak mudah dicapai. Tapi bila aku berhasil......"

Berpikir sampai disitu tiba-tiba ia berpaling kearah Kim Thi sia, dia tahu ilmu Tay goan sinkang memiliki kehebatan yang luar biasa.

Bila kepandaian tersebut dilatih dengan bersungguh-sungguh, paling tidak tenaga dalamnya akan mencapai tingkatan yang lebih hebat lagi.

Iapun membayangkan bagaimana Kim Thi sia yang baru terjun kedalam dunia persilatan dengan tenaga dalam yang begitu minim, ternyata dengan bantuan ilmu Tay goan sinkang bisa mencapai tingkatan sedemikian rupa didalam waktu singkat.

Seandainya ilmu tersebut dipelajari olehnya, dengan dasar kekuatan yang dimilikinya sekarang, bukankah dalam wakti singkat tenaga dalamnya sudah bisa mencapai ketingkatan yang luas biasa sekali.

Berpikir sampai disitu, napsu serakahnya segera berkobar, secara diam-diam ia mulai menggeserkan kakinya mendekati Kim Thi sia.

Saat itu jalan darah Kim Thi sia berada dalam keadaan tertotok hingga sekujur badannya tak mampu berkutik.

Dalam keadaan begini dia hanya bisa mengawasi musuh besarnya mendekati tanpa mampu berbuat apa-apa.

Akhirnya sambil pejamkan matanya rapat-rapat dia menyumpah didalam hati.

"Sipukulan sakti tanpa bayangan memang telur busuk. Gara-gara ulahnya aku terancam bahaya maut."

Sementara itu sipedang emas telah mencapai belakang tubuhnya dengan jari tangannya yang tajam ia mengancam jalan darah Yang seng hiat yang merupakan jalan darah kematian ditubuh Kim Thi sia.

Dalam keadaan begini, asal dia mengerahkan sedikit tenaga saja, niscaya Kim Thi sia akan mati konyol.

Begitu musuh berhasil dikuasahi dengan wajah tak berubah, dia berkata dingin.

"Apa katamu sekarang?"

Kim Thi sia mendengus, dia sama sekali tak gentar, dengan wajah sinis serunya cepat.

"Ayoh bunuhlah, aku tidak takut"

"Tentu saja akan kubunuh dirimu, kau berani membunuh abang seperguruan sendiri, dosamu amat besar dan tak bisa diampuni lagi"

Kata sipedang emas.

Tapi kemudian dengan nada yang lebih lembut dia menambahkan-"Tapi kau masih mempunyai kesempatan untuk melanjutkan hidup, cuma saja tergantung padamu sendiri apakah bersedia memanfaatkan kesempatan baik ini atau tidak."

Tanpa membuka matanya Kim Thi sia tertawa dingin.

"Omongan setan, kau jangan harap bisa membohongi aku lagi."

"Kau tahu, aku bersungguh hati mengajakmu berunding, tapi kau selalu saja menaruh prasangka jelek kepadaku ataukah kau benar-benar ingin mampus dan tak ingin bertemu dengan sanak keluargamu lagi?"

"Sialan"

Pikir Kim Thi sia cepat.

"Memangnya kau anggap aku masih mempunyai sanak keluarga? Biar kau bicara sampai bacotmu sobekpun, jangan harap bisa mengubah jalan pikiranku."

Namun.......

Tiba-tiba saja ia teringat kembali dengan putri Kim huan yang begitu cantik dan romantis.

Kini diantara mereka berdua sudah terjalin hubungan batin yang sangat erat.

Bisa diduga kebahagiaan hidup mereka dimasa mendatang telah terbentang didepan mata.

Sementara dia masih terbuai dalam lamunan, sipedang emas telah berkata lagi sambil tertawa dingin.

"Bila kau tak bersedia diajak berunding, terpaksa aku harus menotokmu sampai mampus."

"Berunding bagaimana? coba katakan-....."

Ujar Kim Thi sia tiba-tiba sambil membuka matanya kembali.

"Sederhana sekali, kau cukup,......"

Dengan wajah yang licik sipedang emas mengerdipkan matanya berulang kali.

"Kau cukup menerangkan rahasia ilmu Tay goan sinkang kepadaku, begitu rahasia tersebut kudapat, kaupun akan peroleh kembali kebebasanmu."

Kim Thi sia mendengus dingin.

"Hmmm, lagi-lagi ilmu Tay goan sinkang, aku sudah tahu kalian memang menaruh ambisi yang besar terhadap kepandaian tersebut."

Sekali lagi sipedang emas tertawa licik.

"Kalau permintaan yang diajukan sute keempat tadi kelewat banyak sehingga memberi kesan kebangetan, maka aku cuma mengajukan sebuah permintaan saja. Aku rasa bila dibandingkan dengan keselamatan jiwamu yang begitu berharga, syarat yang kuajukan terhitung tidak terlalu merugikan dirimu. Ketahuilah seorang manusia hanya memiliki selembar nyawa, bila ia sudah mampus maka benda apapun tak mungkin bisa diperoleh. Karenanya kuharap pandanganmu bisa terbuka, bila kau masih berpikir wajar, aku percaya keselamatan jiwa sendiri merupakan masalah utama yang terpenting."

Dengan pandangan menghina memandang sekejap kearahnya, lalu berkata.

"Kau tak perlu membujukku dengan kata-kata yang manis, akupun mengerti.

Bila ilmu sakti tersebut telah kuserahkan kepadamu, berarti kematian akupun akan tiba.

Kelicikanmu memang mengagumkan, sayang aku tidak gampang terperangkap oleh tipu muslihatmu lagi."

Pedang emas tertawa dingin, dia segera mengerahkan tenaga dalamnya kedalam lengan-Kontan saja Kim Thi sia menjerit-jerit bagaikan babi yang disembelih, pandangan matanya menjadi gelap dan tubuhnya bergoncang keras, seakan-akan setiap saat bakal roboh.

"Bagaimana?"

Ancam sipedang emas.

"Apa yang kuperbuat barusan hanya merupakan peringatan, bila kau tetap membande tindakan yang lebih keji akan segera menyusul datang"

Sambil menggertak gigi, Kim Thi sia menahan derita tersebut, peluh dingin bercucuran membasahi seluruh tubuhnya......

Namun apa yang bisa dan berani diperbuat sipedang emas hanya terbatas sampai disitu saja, sebab ilmu sakti Tay gian sinkangnya sangat berpengaruh besar sekali bagi kehidupannya.

ia memang bisa membunuhnya secara mudah, namun akibatnya dia sendiripun tak akan memperoleh apa-apa.

Maka diapun mulai merubah taktik siksaannya, ia berusaha untuk melenyapkan semangatnya.

Menggunakan penderitaan dan siksaan untuk menghilangkan rasa percayanya terhadap kemampuan guru mereka.

Semula sipukulan sakti tanpa bayangan masih belum mengerti apa yang sedang diperbuat kedua orang itu, disaat Kim Thi sia mulai menjerit kesakitan, dia mulai dan mengerti duduk persoalan yang sebenarnya.

Kini dia baru sadar bahwa manusia berkerudung itu sesungguhnya adalah musuh besar Kim Thi sia.

Dia mulai menyesal, tidak seharusnya dia totok jalan darah Ki bun hiatnya sehingga menyebabkan pemuda tersebut terjatuh ketangan lawan-Dipihak lain diapun merasa gusar sekali, paling tidak tindakannya simanusia berkerudung yang "mengerjai"

Tawanannya dianggap sebagai perbuatan yang tak sopanoleh sebab itu begitu ia mengetahui kalau putra kesayangannya hanya menderita luka beracun yang umum dan untuk sementara waktu tidak membahayakan jiwanya, dengan perasaan lega diapun mengalihkan perhatiannya kepada sipedang emas.

"Tinggalkan dia jauh-jauh, mendengar tidak?"

Bentaknya kemudian keras-keras. Pedang emas melengos kearah lain menghindari tatapan matanya yang tajam, lalu menjawab dengan suara dalam"

"Dia adalah musuh besarku."

"Aku tak perduli siapakah dia, pokoknya kubilang lepas, kau harus melepaskannya"

Bagaimanapun jua sipedang emas merupakan seorang manusia angkuh yang tinggi hati, mendengar kata-kata sekasar itu kontan saja amarahnya berkobar, sambil tertawa dingin ia berseru.

"Betul, sipukulan sakti tanpa bayangan sebagai ketua Tiang pek san memang memiliki kedudukan yang tinggi serta dihormati banyak orang. Tapi sayang kau lupa bahwa wilayah ini merupakan wilayah Tionggoan, disini bukan tempat yang sesuai bagimu untuk berlagak sok."

Mimpipun sipukulan sakti tanpa bayangan tidak mengira kalau ada orang berani menentangnya, dengan amarah yang meluap segera teriaknya.

"Baik, kau mengatakan aku tak berhak memberi perintah kepadamu, akan kupaksa dirimu untuk tunduk dibawah telapak kakiku."

Selesai berkata dia segera melepaskan pukulan yang tak berwujud maupun suara kedepan, itulah ilmu pukulan sakti tanpa bayangannya.

Pedang emas mundur setengah langkah kebelakang, setelah memperkokoh kuda-kudanya, dia menghimpun segenap tenaga dan kekuatan yang dimilikinya dan balas melepaskan sebuah pukulan juga.

Ketika dua gulung ilmu pukulan yang maha sakti itu saling bertumbukan satu dengan lainnya, tidak terdengar suara benturan maupun letusan yang terjadi, nyata sekali hal tersebut berbeda sekali dengan keadaan yang sesungguhnya.

Dalam sedetik itulah, para jago yang hadir diarena sama-sama mempunyai pengharapan yang berbeda.

Kalau Juan tiong su pa sangat berharap kekalahan diderita oleh sipukulan sakti tanpa bayangan menderita kekalahan berarti jiwa mereka terjalin keselamatannya, paling banter mereka hanya akan menjilati pantat sipedang emas.

Sekalipun harus menjilat pantat satu hal namun bisa peroleh kembali jiwa mereka dalam perhitungan Juan tiong supa, hal ini dianggap amat sesuai dan tidak rugi.

sebab bagi pandangan mereka, yang penting adalah keselamatan jiwa saat ini, toh kesempatan untuk membalas dendam masih panjang dikemudian hari.

Sebaliknya Kim Thi sia sangat berharap kemenangan sudah berada dipihak sipukulan sakti tanpa bayangan, sekalipun dia sadar sesaat menjelang afalnya sipedang emas masih berkemampuan untuk membunuhnya, namun dia bukan manusia yang takut mati.

Paling tidak dia tidak ingin dibunuh dalam keadaan terhina.

Jilid 38 Andaikata dia tidak merisaukan keselamatan putri Kim huan, andaikata jalan darah Ki bun hiatnya tidak tertotok sehingga sama sekali tak berkekuatan untuk mengerahkan tenaga, dalam keadaan begini bisa jadi ia akan menghabisi nyawa sendiri daripada dirinya terhina ditangan orang lain.

Perhatian semua orang tertuju ketengah arena, masing-masing menahan napas untuk mengendalikan perasaan tegang yang mencekam perasaan setiap orang.

Tampak sipedang emas berdiri sempoyongan, seakan-akan tergempur oleh segulung kekuatan tak berwujud yang maha dahsyat, tubuhnya terdorong mundur sejauh dua langkah lebih.

Mendadak......

Kain kerudung yang dikenakan olehnya tersapu oleh sisa kekuatan pukulan yang dilancarkan sipukulan sakti tanpa bayangan hingga terjatuh keatas tanah, seketika itu juga terlihatlah raut mukanya yang jelek, seram dan mengerikan hati.

Dalam sekejap mata, semua orang terbelalak dibuatnya dengan mulut melengos, mereka rasakan darah yang mengalir dalam tubuhnya seakan-akan membeku.

Yaa, berbicara sesungguhnya, raut muka orang ini jauh lebih jelek dan menyeramkan daripada wajah memedih atau dedemit sekalipun.

Begitu jelek dan seramnya sehingga susah untuk dilukiskan dengan perkataan.

Selama ini, para umat persilatanpun belum pernah melihat raut wajah aslinya selain berita yang tersiar, maka hampir pada saat yang bersamaan mereka sama-sama berpikir.

"Konon dia berwajah tampan dan amat menarik hati, jangan-jangan berita tersebut hanya bernada menyindir akan keseraman raut wajahnya....? Yaa......bila dilihat dari tampangnya yang merah berdarah, panca inderanya yang tak utuh serta mimik mukanya yang begitu seram bagaikan dedemit. Dimana letak "ketampanan"

Serta "daya tarik"

Nya.......?"

Sekalipun semua orang tidak mengemukakan jalan pemikiran tersebut, namun ingatan semacam itu telah menyelimuti perasaan mereka semua.

Hanya Kim Thi sia seorang yang mengetahui keadaan sebenarnya, pikirnya kemudian.

"Inilah pembalasan bagi manusia jahat yang terkutuk macam dia. Siapa suruh dia berniat mencelakai guru sendiri."

"Toa suheng......"

Terdengar sipedang tanah menjerit dengan suara yang amat memilukan hati.

Segala sesuatunya telah terbongkar wajah asli sipedang emas pun telah diketahui oleh umum.

Dalam keadaan begini dia hanya bisa menahan perasan sedih dan sakit hati yang luar biasa.

Pukulan terakhir si Malaikat pedang berbaju perlente telah menghancur lumatkan wajahnya yang tampan-Selain sepasang matanya masih tetap utuh, yang lain telah terjadi perubahan besar.

Ia benci.......benci........benci........

Perasaan "malu"

Yang lebih banyak dipengaruhi perasaan rendah diri membuat pedang emas menutupi wajahnya secara tiba-tiba dengan kedua belah tangan dan menjerit lengking bagaikan tangisan setan-Suara jeritannya yang seram dan memedihkan hati itu cukup membuat semua orang merasakan bulu kuduknya pada bangun berdiri.

Disusul kemudian ia memukul dada sendiri sambil menangis keras-keras.

Sementara itu, sipukulan sakti tanpa bayangan telah bisa menilai usia sipedang emas dari tubuhnya.

Ketika melihat pemuda terseut sangat menderita, diapun menegur.

"Hey kau murid siapa? Siapakah yang telah merusak wajahmu itu?"

Dari bentuk daging merah yang meliputi wajah pedang emas, diapun bisa menduga kalau wajahnya bukan berbentuk begitu semenjak dilahirkan, tapi terluka oleh serangan dari luar.

Dengan suara keras penuh geram, pedang tanah menyahut.

"Tua bangka Ang, dengarkan baik-baik. Hari ini kau telah menyingkap raut wajah toa suheng ku sehingga membuatnya sangat menderita. Hal ini membuat kami semua menaruh dendam kepadamu, untuk membalas sakit hati ini. Hmmm, tunggu saja tanggal mainnya."

"Boleh-boleh saja"

Sahut pukulan sakti tanpa bayangan sambil tertawa dingin.

"Kalian boleh menyerangku bersama-sama buktikan saja siapa yang akhirnya bakal mampus."

Sebagai pentolan suatu perguruan besar sipukulan sakti tanpa bayangan memang memiliki watak yang sangat aneh, ditambah lagi putra kesayangannya yang ditemukan dalam keadaan terluka parah, maka semua rasa mendongkol dan jengkelnya pun segera dilampiaskan keluar.

Begitu selesai mengucapkan kata-kata itu dengan sorot mata yang tajam diawasinya orangorang itu tanpa berkedip.

Dia telah bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan.

Mendadak sipedang emas berhenti menangis, sambil mengalihkan sorot mata buasnya menatap sekejap kearah sipukulan sakti tanpa bayangan, dia membentak.

"Setan tua Ang, bila sipedang emas tak ammpu menghancur lumatkan tubuhmu, hari ini aku bersumpah tak akan menjadi manusia."

Pukulan sakti tanpa bayangan berkerut kening kemudian tertawa dingin lagi.

"oooh rupanya kau adalah anak murid dari Malaikat pedang berbaju perlente. bagus sekali kalau ebgitu. Sudah lama aku tak puas akan nama besar si Malaikat pedang berbaju perlente, hanya sayang selama ini tak berkesempatan untuk mencobanya, kalian sebagai anak muridnya sudah pasti memiliki ilmu silat yang tangguh, kalau begitu akupun bisa memenuhi pengharapanku itu."

"Heeeeh......heeeeeh........heeeeeh.......bagus, bagus sekali"

Sipedang emas tertawa seram.

"Aku tak percaya kalau ketua dari Tiang pek san memiliki kepandaian yang sangat luar biasa"

Sambil menghimpun segenap tenaga dalam yang dimilikinya, dia melepaskan sebuah pukulan dahsyat kedepan-"Tunggu sebentar"

Mendadak Kim Thi sia berteriak keras. Mendengar seruan tersebut, sipedang emas segera menarik kembali serangannya sambil menegur dengan marah.

"Apa yang hendak kau katakan?"

"Kau tidak berhak untuk mewakili suhu, sebab kau tak lebih cuma seorang murid murtad. Akulah yang lebih berhak untuk menghadapi pertarungan ini"

"Heeeeh.....heeeeh.....heeeeh......bukankah kau ingin mempergunakan kesempatan yang baik ini untuk memulihkan kembali kebebasanmu?"

Jengek sipedang emas sambil tertawa dingin-Kim Thi sia menjadi sangat mendongkol teriaknya.

"Kau jangan menilai rendah orang lain dengan kaca mata anjingmu, aku Kim Thi sia bukan manusia rendah seperti apa yang kau bayangkan-"

Dengan perasaan heran sipukulan sakti tanpa bayangan segera menimbrung dari samping.

"Mengapa sih hanya kau yang berhak untuk mewakili Malaikat pedang berbaju perlente? Apa hubunganmu dengannya."

"Aku adalah muridnya yang terakhir bila kau tak puas, lebih baik carilah aku."

"ooooh, jadi kaupun anak muridnya?"

Nampak jelas sipukulan sakti tanpa bayangan amat terkejut.

"Aku hanya mendengar kalau Malaikat pedang berbaju perlente cuma mempunyai sembilan orang murid. Aneh, kenapa aku tak pernah mendengar kalau kau Kim Thi sia juga merupakan anak muridnya?"

"Masalah ini merupakan urusan pribadi perguruan kami. Kau sebagai orang luar memang tak pantas untuk mengetahuinya, lagi pula biar diterangkanpun belum tentu kau akan mengerti. Pokoknya aku berhak mewakili suhuku karena mereka semua murid murtad, mereka sama sekali tidak berhak untuk mencampuri urusan budi dan dendam perguruan-......"

"Mengapa begitu?"

Desak sipukulan sakti tanpa bayangan dengan perasaan tak mengerti.

"Seingatku, Malaikat pedang berbaju perlente belum pernah mengumumkan kepada umum kalau ia sudah mengusir sembilan pedang dunia persilatan dari perguruannya, menurut adat sepantasnya murid pertama yang mewakili gurunya, mengapa tanggung jawab tersebut malah terjatuh ketanganmu?"

"Aku rasa, masalah yang penting itu tak perlu disinggung kembali. Katakan saja sekarang, kau masih ingin mencoba kemampuan silat dari Malaikat pedang berbaju perlente atau tidak?"

Kemudian setelah berhenti sejenak. dengan nada tak sabar dia berkata lebih jauh.

"Jika kau tak berani, tarik kembali kata-katamu yang mengatakan "tak puas"

Terhadap guruku tadi, kemudian sifat ekor dan cepat angkat kaki dari tempat ini."

"Telur busuk"

Umpat sipukulan sakti tanpa bayangan teramat gusar.

"Sudah lama aku ingin beradu kepandaian dengan Malaikat pedang berbaju perlente, hanya sayang selama ini kami tak berjodoh untuk saling bertemu. Kau anggap aku bakal kembali dengan tangan hampa? Paling tidak. aku harus pulang dengan membawa sebuah telinga milik murid kesayangannya lebih dulu......"

Kim Thi sia semakin gusar lagi setelah mendengar perkataannya makin membual dan latah, tanpa sungkan-sungkan lagi dia berseru.

"Banyak berbicara tak ada gunanya, bila kau memang merasa bernyali, silahkan saka mencabut nyawaku ini, tapi sebelum itu kau mesti membebaskan jalan darahku lebih dulu yang tertotok. sebab kalau tidak biar menangpun tidak jantan-Tentunya kaupun tahu bukan bahwa aku tak mampu bergerak sekarang."

Sipukulan sakti tanpa bayangan segera tertawa terbahak-bahak.

"Haaah.....haaaah......haaaah......bocah muda, kau jantan dan bersemangat. Belum pernah kujumpai pemuda setinggi hati dirimu, baik akan kuturuti semua keinginanmu itu."

Seraya berkata, diapun mengayunkan tangannya siap membebaskan jalan darah Ki bun hiat ditubuh Kim Thi sia yang tertotok.

Tapi sipedang emas segera menangkis dengan cepat, terdengar ia membentak nyaring.

"Sebelum mendapat persetujuanku, atas dasar apa kau si setan tua Ang hendak membebaskan jalan darahnya yang tertotok?"

Sipukulan sakti tanpa bayangan benar-benar naik darah, ia mendongakkan kepalanya dan tertawa seram, kemudian balik bertanya.

"Baik, kalau begitu akupun ingin bertanya, apa pula yang kau andalkan sehingga berani mengajukan pertanyaan tersebut kepadaku?"

"Aku?"

Sipedang emas tertawa seram.

"Heeeh.....heeeh.....sebagai murid terakhir dari Malaikat pedang berbaju perlente, aku yang menjadi toa suhengnya berhak untuk menghukum kekurang ajaran adik seperguruanku ini."

Kim Thi sia tertawa dingin.

"Huuuh, siapa sih yang menjadi adik seperguruanmu? Hmmm, kalian bersembilan telah berkomplot untuk membunuh guru sendiri. Apakah kalian masih punya muka untuk mengaku sebagai murid suhu? Aku ikut malu oleh ulah kalian ini."

Waktu itu, sipukulan sakti tanpa bayangan sedang gelagapan karena tak mampu mengucapkan sepatah katapun, dia menjadi sangat kegirangan setelah mendengar perkataan tersebut, segera serunya sambil tertawa tergelak.

"Haaaah.....haaaah......haaaaah.......bagus, bagus sekali. Nah manusia-manusia kurcaci, sudahkah kalian mendengar perkataan itu?"

Baru selesai perkataan tersebut diutarakan, mendadak terlihat olehnya sipedang emas sedang melepaskan sebuah pukulan dahsyat kearah Kim Thi sia dengan wajah penuh amarah.

Serangan yang dilancarkan dalam keadaan gusar ini benar-benar hebat serta mengandung tenaga yang luar biasa, bila sampai terkena serangan itu biar tak mampuspun paling tidak akan terluka parah.

Sesungguhnya sipukulan sakti tanpa bayangan memang tidak menaruh kesan jelek terhadap Kim Thi sia, baik untuk kepentingan umum atau pribadi, dia merasa berkewajiban untuk melindungi keselamatan jiwa anak muda itu Karenanya cepat-cepat dia melancarkan pula sebuah pukulan dahsyat, gulungan tenaga lembek yang sangat hebat tanpa menimbulkan sedikit suarapun menyambar kedepan dan memaksa sipedang emas tergetar mundur dua langkah kebelakang.

Menyusul kemudian tampak sesosok bayangan abu-abu menerjang kebawah, dengan jurus "sepasang gunting memapas ranting", ia desak mundur sipedang emas, pedang tanah, pedang air dan pedang kayu secara bersama.

Ia tak berani berayal lagi, sepasang kakinya begitu melayang turun keatas tanah dengan suatu gerakan cepat dia menotok bebas jalan darah Ki bun hiat ditubuh Kim Thi sia yang tertotok.

seketika itu juga Kim Thi sia memperoleh kembali kebebasannya.

Dengan cepat dia meluruskan otot-otot tubuhnya yang kaku sambil mengatur pernapasan, setelah terbukti bahwa tenaga dalamnya telah pulih kembali seperti sedia kala, diapun berkata kepada sipedang emas sekalian-"Terus terang saja kubilang, kalian sama sekali tidak berhak untuk mewakili suhu nah tunggulah sebentar disini, setelah menang kalah antara aku dengan dia telah ditentukan, akan kuajak kalian untuk berduel pula."

Sementara itu sipukulan sakti tanpa bayangan berdiri menghadang didepan pedang emas, pedang tanah dan pedang kayu.

Asal seorang saja diantara mereka berani bertindak secara gegabah, niscaya dia akan melancarkan pukulan untuk melakukan penghadangan.

Dengan kemampuan ilmu pukulan sakti tanpa bayangannya, dia percaya pedang emas, pedang air, pedang tanah maupun pedang kayu tak akan mampu melewati rintangannya.

Sebaliknya putra kesayangan sipukulan sakti, yakni sipemuda tampan itu telah sadar kembali dari pingsannya setelah mendapat pertolongan dari ayahnya, namun berhubung tubuhnya masih lemah, maka dia hanya berdiri menonton saja.

Kemudian pelan-pelan dia berjalan menuju kesuatu tempat yang amat rahasia tempat itu penuh dengan batuan karang yang berserakan dengan rumput ilalang tumbuh setinggi lutut, tempatnya amat rahasia.

Tapi pemuda tersebut berjalan terus tanpa berpaling, entah apa yang sedang diperbuatnya disana?

Setelah berjalan sejauh lebih kurang puluhan kaki, mendadak dia berhenti disamping setumpukan batu cadas dan berbisik pelan.

"Hay sin, keluarlah. Kita sudah aman sekarang."

Ketika sampai lama sekali tidak nampak juga sesuatu gerakan, dia maju lebih kedepan dan memperhatikan dengan lebih seksama. Mendadak serunya lagi sambil tertawa geli.

"Aaaah, rupanya kau telah tertidur, tak heran kalau suasananya begitu sepi dan hening."

Ketika sipukulan sakti tanpa bayangan berpaling dibawah cahaya rembulan dan bintang yang redup terlihat sepasang muda mudi munculkan diri dari balik semak belukar.

Yang pria adalah putra kesayangannya sedang yang perempuan berwajah cantik jelita bak bidadari dari khayangan, namun sama sekali tak dikenal.

Tanpa terasa iapun menegur.

"Diakah nona Hay jin yang datang dari Lembah Nirmala?"

"Benar ayah"

Sahut pemuda tampan itu sambil manggut-manggut. Dengan cepat gadis cantik berbaju putih itu maju memberi hormat seraya berseru.

"Siauli Hay jin memberi hormat untuk kesehatan empek Ang"

Sembari berkata, dengan sengaja tak sengaja dia melirik sekejap kearah Kim Thi sia.

Ketika tidak dijumpai kehadiran putri Kim huan disitu, selapis hawa marah segera menghiasi wajahnya.

Terdengar sipukulan sakti tanpa bayangan tertawa terbahak-bahak.

"Haaah......haaaah.......haaaah......betul, betul keponakan perempuan memang amat cantik dan menawan hati, tak malu menjadi putri kesayangan si Dewi Nirmala."

Setelah memuji berulang kali, ia baru berpaling kembali kearah Kim Thi sia, sambil berkata lebih jauh.

"Silahkan dimulai, aku ingin menyaksikan sampai dimanakah kehebatan ilmu simpanan dari Malaikat pedang berbaju perlente. Demi kejayaan perguruamu, kau sianak muda harus mengeluarkan segenap kepandaian silat yang kau miliki. Hmmm, kutemukan bahwa kau sedang menyembunyikan ilmu silatmu, akan kujatuhi hukuman kepadamu."

Selesai berkata, tubuhnya yang tinggi besar nampak bergetar dua kali, tampaknya sedang menghimpun tenaga, kemudian sambil bersenyum dia berdiri sekokoh batu karang dan tak nampak melakukan suatu gerakan lagi.

Kim Thi sia memandang sekejap sinona cantik berbaju putih itu, tiba-tiba dia berseru.

"Sebelum pertarungan dilangsungkan aku ingin mengajukan sebuah pertanyaan lebih dulu. Apakah empek bersedia menjelaskan?"

"Katakanlah"

Sambil menuding kearah nona cantik berbaju putih itu, Kim Thi sia segera bertanya.

"Apakah dia adalah calon menantu empek?"

Pukulan sakti tanpa bayangan tertawa terbahak-bahak.

"Haaaah.......haaaah........haaaah........bocah muda, kau terlalu senang mencampuri urusan orang lain-Masalah perkawinan tersebut tergantung pada reaksi dari kedua belah pihak. tapi sejak bertemu dengan nona ini, aku telah menyenangi kepolosannya, tapi.......hay anak muda, mengapa kau bertanya soal ini?"

Sambil menunduk sahut Kim Thi sia.

"Memang beginilah tabiatku, suka mencampuri urusan orang lain-"

Lalu setelah berdiri tegak dan menatap lawannya tajam-tajam, dia berkata lebih jauh.

"Baiklah, kita mulai sekarang juga, kalau ditunda-tunda lagi niscaya empek akan marah."

Sambil tertawa sipukulan sakti tanoa bayangan manggut-manggut, ucapnya cepat.

"Kau boleh melancarkan serangan lebih dulu."

"Baik"

Bentak Kim Thi sia dengan suara rendah. Sepasang kakinya segera direntangkan lebar-lebar, telapak tangannya diputar kencang, kemudian dengan jurus "

Menimpuk batu merontokkan burung"

Dari ilmu pukulan panca Buddha, dia mencoba kemampuan musuhnya.

"Hey bocah muda, seranganmu cukup mantap"

Puji sipukulan sakti tanpa bayangan sambil tertawa.

Tubuhnya yang tinggi besar bergerak cepat dengan merubah posisinya dari hadapan musuh menjadi sisinya, lalu dengan tangan sebelah dia memusnahkan serangan lawan secara jitu dan manis.

Kim Thi sia amat terperanjat, sesaat menarik kembali ancamannya, dia berpikir.

"Bila dilihat dari gerak jurus serangan yang digunakan sipukulan sakti tanpa bayangan untuk memusnahkan serangan-seranganku, rasanya sulit untuk meraba maka serangan sungguhan dan mana tipuan, dari sini dapat disimpulkan bahwa ilmu silatnya memang sangat hebat, agaknya dia menganut prinsip menghadapi "kekerasan"

Dengan "kelincahan"

Dengan "kelembutan"

Mematahkan "keganasan"......."

Berpikir demikian, secara beruntun dia melancarkan dua buah serangan berantai dengan jurus "Buddha tumbuh dimimbar suci"

Serta "cahaya Buddha memancar dijagad"

Dari ilmu pukulan panca Buddha.

Angin pukulan yang menderu-deru dengan membawa suara guntur yang memekikkan telinga segera menyambar kedepan dan mengancam lambung musuh.

Dia tahu si pukulan sakti tanpa bayangan memiliki tenaga dalam yang amat sempurna karena itu dia berusaha menghindari suatu pertarungan beradu tenaga dengannya.

"Bocah muda itu memang cerdik"

Puji sipukulan sakti tanpa bayangan lagi keras-keras.

Ditengah teriakan tersebut, tubuhnya yang tinggi besar berkerut kencang, pinggangnya seakanakan terbuat dari bola karet saja, dengan mudah sekali dikempeskan untuk menghindari sergapan msuuh.

Melihat keampuhan tersebut, Kim Thi sia segera berpikir.

"Bila ditinjau dari keluwesannya mempermainkan pinggang sendiri untuk mematahkan serangan musuh, jelas ilmu tersebut telah dipelajarinya semenjak kecil. Kalau tidak. bagaimana mungkin bisa mencapai tingkat kesempurnaan seperti ini?"

Belum habis ingatan tersebut melintas lewat, pukulan yang dilancarkan sipukulan sakti tanpa bayangan telah menggulung datang dengan cepatnya.

Kim Thi sia segera menundukkan kepalanya rendah-rendah, dengan membawa sedingan angin tajam serangan tersebut segera menyambar lewat dari atas kepalanya, keadaan amat mengerikan-Setelah berhasil lolos dari ancaman tersebut, diapun mulai berpikir.

"Aneh, andaikata dia menumbuk tubuhku dengan lengan kiri sementara membacok dengan tangan kanannya niscaya akan sulitlah bagiku untuk menghindarkan diri mengapa ia tidak berbuat demikian, mungkinkah dia tidak mengerti? Aaaa h.......tak mungkin, tak mungkin."

Sipukulan sakti tanpa bayangan adalah manusia luar biasa, mustahil dia tidak memahami hal tersebut, lalu mengapa ia tak berbuat demikian?

Yaa, dia pasti mempunyai maksud tujuan yang lain, ia memang sengaja berbuat begitu......."

Ketika ingatan mana masih melintas didalam benaknya, serangan dari sipukulan sakti tanpa bayangan telah menyergap kembali dengan hebatnya.

Kali ini serangan datang dari atas menuju kebawah.

Dengan tubuhnya yang amat pendek.

sewaktu melancarkan serangan tersebut ia mesti berdiri dengan ujung kakinya, maksudnya agar tubuhnya bisa lebih tinggi lagi.

Sikap dan tindakan yang sangat bodoh ini dengan cepat menimbulkan kecurigaan dalam hati Kim Thi sia, diam-diam ia meningkatkan kewaspadaannya untuk menghindari serangan mematikan yang mungkin akan datang menyerang secara tiba-tiba.

Apa yang diduga ternyata memang benar, belum habis serangan yang dipergunakan sipukulan sakti tanpa bayangan itu, tahu-tahu sudah dibatalkan ditengah jalan-Serangan yang semula mengancam dari atas kebawah, menanti Kim Thi sia sudah menghindari ancaman tersebut, tahu-tahu berubah lagi menjadi sergapan dari bawah menuju keatas.

Dengan serangan tersebut bukan saja pertahanan Kim Thi sia dibagian bawah tubuhnya menjadi terbengkalai, jalan darah penting ditubuh bagian atasnyapun menjadi terancam.

Keadaannya saat ini benar-benar mengenaskan sekali.

Baru sekarang dia mulai mengerti bahwa sipukulan sakti tanpa bayangan yang tersohor dalam dunia persilatan karena ilmu pukulannya memang nyata memiliki ilmu simpanan yang luar biasa, kali ini dia tak berani bertindak secara gegabah lagi.

Setelah berputar setengah lingkaran dengan cepat hingga posisinya berdiri disamping musuh, tiba-tiba ia melepaskan pukulan dengan jurus "

Melempar pedang kebalik hutan-serta "menyucikan diri menjadi Buddha"

Dari ilmu pukulan panca Buddha. Sipukulan sakti tanpa bayangan segera tertawa tergeletak.

"Haaaah......haaaah......haaaaah.......tidak benar, serangan berikut kau mesti menyerang dengan lebih rendah lagi"

Sementara Kim Thi sia masih tertegun dibuatnya, tiba-tiba ia merasakan telapak tangan telah menyentuh keatas pinggangnya dalam keadaan terperanjat cepat dia mundur dua langkah sambil pikirnya .

"Yaa, perkataannya memang betul, seandainya seranganku dilancarkan satu inci lebih kebawah, niscaya tiada kelemahan lagi dalam gerak seranganku itu....."

Baru saja dia hendak mengeluarkan jurus serangan "tumbuh api dibalik batu"

Tiba-tiba pandangan matanya sudah menjadi kabur, dan sebuah tangan yang kasar telah menempel diatas pinggangnya.

Dalam keadaan demikian, cepat-cepat dia berganti jurus dengan mengeluarkan gerak "panca Buddha munculkan diri"

Diciptakan selapis jaring-jaring pukulan untuk membendung datangnya ancaman-Sementara itu kakinya bergeser kekiri, dan gerakan "panca Buddha munculkan diri"

Dirubahnya menjadi gerakan "Buddha hidup naik diawan", pinggangnya ditekuk dengan tubuh begini atasnya dibuang kemuka, lengannya menyambar kebawah.

Sebaliknya tubuh bagian bawahnya berselisih jarak lima depa dari tangan musuh, hal ini membuat lengan lawan tak cukup mencapai sasaran-Siapa sangka perhitungannya kali ini ternyata meleset, tahu-tahu kelima jari tangan sipukulan sakti tanpa bayangan telah menerobos masuk melalui sela-sela angin pukulannya, langsung mencengkram kearah dada.

Tak terlukiskan rasa terperanjat Kim Thi sia kali ini, cepat-cepat dia menarik napas panjangpanjang sambil menghimpun tenaga dalamnya kedalam pusar.

Dengan ditariknya napas dalam-dalam secara otomatis dadanya tersedot kebelakang dengan cara beginilah dia melepaskan diri dari ancaman musuh yang amat membahayakan itu Pukulan sakti tanpa bayangan tertawa terbahak-bahak.

belum habis gelak tertawanya tiba-tiba membalikkan badan sambil melesat kemuka dengan kecepatan luar biasa.

Dikala tubuhnya masih melambung diudara, sepasang lengannya diayunkan bersama kedepan, dua gulung tenaga pukulan yang hebat dan dahsyat pun segera menyambar keempat penjuru.

Untuk sesaat Kim Thi sia dibuat tertegun, pikirnya.

"Heran, kenapa dia melancarkan pukulan dengan membelakangi aku? Apakah tenaga pukulannya bisa memutar balik dan menyergapku secara tiba-tiba?"

Tapi setelah diamati dengan lebih seksama, ia segera menjadi sadar apa gerangan yang sebenarnya telah terjadi.

Rupanya juan tiong supa hendak memanfaatkan kesempatan ini untuk melarikan diri.

Belum lagi ingatan tersebut selesai melintas, disebelah sana sudah berkumandang datang tiga kali jeritan ngeri yang memilukan hati disusul suara robohnya tubuh manusia.

Dalam waktu singkat tampaklah bayangan manusia berkelebat diudara dan memencarkan diri keempat arah delapan penjuru.

Tampaknya mereka telah mempersiapkan diri secara baik-baik, kecuali tiga orang rekan mereka yang telah binasa, lainnya berusaha menarik selisih jarak sejauh-jauhnya dengan rekan lainnya, masing-masing berusaha menyelamatkan diri dari situ.

"Bajingan keparat berhati licik, kalian anggap dengan cara begitu bisa meloloskan diri dari kematian?"

Teriak sipukulan sakti tanpa bayangan penuh kegusaran-Ditengah bentakan keras, sepasang tangannya dirapatkan menjadi satu, kemudian diayunkan sejajar dengan tanah.

Desingan tajam menderu d iatas permukaan tanah menimbulkan pusaran angin kencang dan pasir yang beterbangan-Mendadak terdengar kawanan jago persilatan yang berada disebelah timur dan utara menjerit kesakitan dengan suara yang memilukan hati, disusul kemudian tubuh mereka bertumbangan keatas tanah dan tewas seketika.

Mimpipun Kim Thi sia tidak menyangka kalau sipukulan sakti tanpa bayangan memiliki kepandaian silat yang begitu hebat dan luar biasa, bukan saja sanggup menyergap musuhnya yang berada dijarak jauh, bahkan sanggup menggempur musuh pada posisi yang berbeda, perasaan hatinya benar-benar tercekat.

Kawanan jago persilatan yang berada disebelah barat dan selatan segera dibuat ketakutan oleh kehebatannya, mereka berdiri tertegun dan sama sekali lupa untuk berusaha meloloskan diri.

Sipukulan sakti tanpa bayangan segera merentangkan sepasang lengannya sambil menyerang, jeritan-jeritan ngeri yang memilukan hatipun bergema saling menyusul, disusul kemudian terlihat tubuh manusia bertumbangan keatas tanah dihancurkan pukulan dahsyat tersebut.

Melihat kehebatan lawannya, tiba-tiba saja Kim Thi sia berpikir.

"Menurut keadaan ini, agaknya ilmu Tay goan sinkang pun belum tentu mampu menandingi kehebatan ilmu pukulan sakti tanpa bayangan-"

Sementara itu sipukulan sakti tanpa barangan baru mendengus dingin dan berkata setelah selesai membasmi musuh-musuhnya.

"Manusia-manusia keparat yang kepingin mampus, sudah kuberi kesempatan yang baik bagi kalian untuk melanjutkan hidup kalian justru tak mau menuruti nasehatku dengan melarikan diri. Hmmm......beginilah akibatnya bila berani membangkang perintah."

Kim Thi sia mencoba untuk memandang sekejap sekeliling tempat itu, menyaksikan mayat bergelimpangan memenuhi seluruh permukaan tanah, timbul perasaan iba dihati kecilnya.

Sambil menggelengkan kepalanya berulang kali ia berkata.

"Empek kau terlalu kejam"

Perkataan yang diucapkan tanpa maksud itu segera ditanggapi tak senang oleh sipemuda tampan, dengan suara dingin ia menimbrung.

"Sahabat Kim, lebih baik engkau jangan mengeritik dia orang tua daripada kau sendiripun akan mendapat celaka."

"Aku toh berbicara sejujurnya"

Sahut Kim Thi sia tak senang hati.

"Hanya karena marah, Ang locianpwee sudah menghabisi belasan jiwa manusia, tidakkah perbuatan tersebut merupakan tindakan keji?"

Pelan-pelan sipukulan sakti tanpa bayangan mengalihkan sorot matanya yang tajam kewajah pemuda itu, lalu bertanya.

"Perbuatan yang bagaimanakah kau anggap tak kejam? Bocah muda, coba kau terangkan"

"Yang pantas dibunuh, bunuhlah, yang tak pantas dibunuh ampunilah"

"oooh......begitu?"

Sipukulan sakti tanpa bayangan tertawa dingin.

"Kalau begitu aku perlu bertanya lagi, siapakah diantara mereka yang hadir sekarang pantas dibunuh dan siapa pula yang tidak pantas dibunuh?"

Kim Thi sia memang tahu akan keanehan watak orang tua itu, diapun mengerti dalam marahnya besar kemungkinan sikakek akan melakukan pembantaian, namun sebagai seorang lelaki sejati, dia pantang menyerah, ia tak sudi menunjukkan sikap pengecut.

Dengan suara keras ia menjawab.

"Justru persoalan inilah yang ingin kutanyakan kepada empek. sebab empek telah membunuh mereka sekaligus. Hal ini membuat aku menjadi sulit untuk membedakan mana baik mana jahat. Aku ingin bertanya empek diantara puluhan orang ini sebenarnya berapa banyak sih yang mempunyai dosa yang tak terampuni lagi?"

Merah padam selembar wajah sipukulan sakti tanpa bayangan, ujarnya kemudian dengan wajah tak senang hati.

"Anak muda, lebih baik tak usah banyak bicara lagi, jangan membuat amarahku meledak sehingga kau pun turut kubantai."

Kim Thi sia sama sekali tak gentar, dia tertawa tenang.

"Aku mengerti bila empek hendak membunuhku maka bisa kau lakukan hal ini semudah membalikkan telapak tangan sendiri tapi kau harus melakukannya sendiri."

"Kau anggap aku tak berani?"

Teriak pukulan sakti tanpa bayangan teramat gusar.

Seraya berkata dia segera mengayunkan tangannya, seketika itu juga muncul segulung tenaga pukulan yang maha dahsyat menerjang kedepan.

Kim Thi sia mendengus tertahan, dia sambut datangnya serangan dengan mengerahkan ilmu Tay goan sinkangnya.

Dalam waktu singkat, tubuh Kim Thi sia mencelat ketengah udara dan jatuh tertunduk diatas tanah.

Sebaliknya sipukulan sakti tanpa bayangan pun merasakan hatinya amat terkesiap dengan rasa kaget dia menerjang kemuka seraya bertanya.

"Anak muda, ilmu pukulan apakah yang kau pergunakan?"

Belum sempat bagi Kim Thi sia untuk berdiri tegak.

tahu-tahu musuh tangguh telah muncul didepan mata, dalam keadaan begini, tak ragu lagi dia menyerang dengan jurus "kecerdikan menguasahi seluruh jagad"

Dari ilmu Tay goan sinkang.

Angin pukulan bercampur deruan guntur menggelegar diudara.

Sekali lagi sipukulan sakti tanpa bayangan merasakan hatinya tergetar keras sesudah menyambut datangnya ancaman tersebut, sekarang bukan saja dia merasa kaget, bahkan gusarnya bukan siang kepalang.

Tubuhnya melejit keudara seperti burung elang kemudian menerkam kebawah dengan garangnya, diantara putaran telapak tangannya, sbeuah pukulan sakti tanpa bayangan telah dilepaskan-Kim Thi sia tak berani bertindak gegabah, cepat-cepat dia mengerahkan pula ilmu Tay goan sinkangnya untuk menghadapi ancaman tersebut.

Sementara itu perasaan heran mencekam pula perasaannya, dia berpikir.

"Banyak orang bilang, siapa yang terkena pukulan sakti tanpa bayangan, dia tentu akan mampus, padahal tenaga dalamku selisih jauh bila dibandingkan dengannya. Kenapa steelah kusambut serangannya dengan ilmu Tay goan sinkang, isi perutku sama sekali tidak menderita luka?"

Tentu saja dia tak pernah menyangka bahwa kesaktian ilmu pukulan Tay goan sinkang bukan hanya terletak pada tenaga pukulannya saja.

Sering kali dalam pertarungan tingkat tinggi kepandaian tersebut sanggup merusak dan menghancurkan tenaga dalam musuh secara diamdiam.

Begitu pula keadaan sipukulan sakti tanpa bayangan sekarang, setiap kali terjadi bentrokan kekerasan, secara tanpa sadar ia merasakan tenaga dalamnya menderita kerugian Sekalipun kejadian seperti ini yang dianggap adalah masalah kecil yang tak perlu dikuatirkan olehnya, namun dengan tenaga dalamnya yang begitu sempurna, dimana tak mempan dengan api maupun air.

Setelah tenaga dalamnya mendapat kerugian otomatis perasaannya menjadi terperanjat, paling tidak selama ini belum pernah dia menjumpai manusia yang sanggup mengalahkan dirinya secara begini.

Begitulah watak manusia, semakin tak habis mengerti, semakin besar pula hasratnya untuk menyelidiki duduk persoalan yang sebenarnya.

Didalam waktu yang amat singkat, mereka telah empat kali beradu tenaga pukulan-selisih jarak kedua belah pihak pun makin menjauh sehingga gempuran demi gempuran harus dilancarkan dengan mengerahkan tenaga dalam.

Akhirnya sipukulan sakti tanpa bayangan menghentikan semua gerakannya, ia betul-betul tak habis mengerti, apa sebabnya setiap kali terjadi bentrokan kekerasan dengan musuh, tenaga dalamnya selalu bertambah lemah sebagian?

Ia seperti merasakan munculnya suatu tenaga penghisap yang menghisap tenaga murninya.

Sebagai manusia yang cerdik dan cekatan, ia segera menyadari akan ketidak beresan itu, karena itulah cepat-cepat dia menghentikan pertarungan dan tak berani melancarkan serangan lagi.

Ia cukup sadar, bila pertarungan dilanjutkan lagi niscaya tenaga murninya akan semakin rusak dan hancur oleh tenaga pukulan Kim Thi sia tersebut.

sementara itu sipedang emas turut mengikuti jalannya pertarungan dengan seksama, hanya dia seorang yang tahu bahwa ilmu Tay goan sinkang memang memiliki daya perusak yang bisa menghancurkan tenaga dalam orang secara tak sadar.

Terbukti sekarang, ilmu pukulan sakti tanpa bayangan yang begitu lihaypun bukan tandingannya bisa diduga sampai dimanakah taraf kehebatan yang dimiliki kepandaian tersebut.

Justru karena itulah hasratnya untuk mendapatkan ilmu tay goan sinkang semakin besar, satu akal licikpun segera disusun sementara senyuman licik menghiasi ujung bibirnya.

Dalam pada itu sipukulan sakti tanpa bayangan telah menegur dengan gusar.

"Katakan kepadaku ilmu pukulan apakah yang telah kau pergunakan?"

"oooh, soal ini mah merupakan rahasia perguruan, maaf aku tak bisa memberitahukan kepadamu."

Sipukulan sakti tanpa bayangan benar-benar dibuat kehabisan akal, mukanya hijau membesi saking mendongkolnya, dengan gusar dia membentak lagi.

"Kau benar-benar tak bersedia untuk berbicara?"

"Tentu saja tak bersedia"

Sahut Kim Thi sia sambil tertawa.

"Bila kau merasa berkemampuan hebat, silahkan saja untuk memaksaku mengungkap rahasia tersebut."

Ia sudah menduga kalau sikakek ini keras diluar lembek dihati kecilnya, maka dalam berbicarapun dia tak sungkan-sungkan, kembali katanya.

"Bila enggan bertarungpun boleh saja, toh guruku belum sampai kehilangan muka"

Mendadak.......

Terdengar jeritan lengking bergema memecahkan keheningan-Dengan wajah berubah hebat Kim Thi sia segera berpaling, ia segera menyaksikan jalan darah putri Kim huan telah dibebaskan oleh sipedang emas, namun sebilah pedang mestika kini sudah ditempelkan diatas tengkuknya yang halus dan putih itu.

Sbeelum ingatan kedua sempat melintas lewat, sipedang emas yang berdiri disamping gadis itu telah berkata sambil tertawa seram.

"Dengarkan baik-baik Kim Thi sia, dia hendak meninggalkan pesan terakhirnya padamu."

"Hey pedang emas"

Kim Thi sia segera berteriak keras-keras.

"Jika kau berani mengganggu seujung rambutnyapun, aku Kim Thi sia bersumpah akan menghancur lumatkan tubuhmu."

Sipedang emas merasa amat gembira, apa lagi setelah melihat kecemasan yang mencekam wajahnya, dia sengaja mendengus dingin dan berkata lagi.

"Aku tak akan termakan oleh gertak sambalmu, aku cukup mengetahui akan kepandaian silatmu yang terbatas Aku berani mengatakan dalam sepuluh gebrakan saja bisa memenggal batok kepalamu."

Kemudian setelah tertawa seram, terusnya.

"Hanya ada satu kesempatan bagimu untuk menyelamatkan jiwanya, terserah kau yang memilih sendiri"

"Kesempatan apa?"

Seru Kim Thi sia serius.

"Huuuh, paling banter toh menyuruh aku menyerahkan ilmu sakti tersebut."

"Lebih bauk lagi bila kau sudah tahu. Nah cepatlah tentukan pilihanmu, tidak banyak waktu yang tersedia."

Dalam keadaan begini, Kim Thi sia merasa dirinya seakan-akan dipaksa untuk mengambil tindakan tegas, rasa sedih dan gusar yang meluap-luap membuat perasaan dendamnya berkobar.

Ditatapnya sipedang emas tanpa berkedip.

kemudian serunya.

"Pedang emas, aku bilang terus terang. Anjing yang dipojokkan pun akan melompati pagar, apalagi manusia. Aku bisa membunuhmu secara keji. IHmmm, bila kau mendesak terus menerus, aku bisa berbuat nekad. Ayoh lekas bebaskan dia, aku berjanji mengampuni selembar jiwamu."

"Manusia sombong yang tak tahu diri"

Sipedang emas tertawa dingin.

"Untuk melindungi keselamatan jiwa sendiripun tak sanggup, masih berani bicara sesumbar? Bila aku tidak melihat pada ilmu saktimu itu, hmmm cukup dengan ucapanmu barusan, aku sipedang emas sudah membunuhnya sejak tadi kemudian membunuhmu."

Sambil berkata secara diam-diam dia mengawasi terus reaksi dari lawannya, melihat pemuda itu sangat gusar, seakan-akan ia sudah mengambil keputusan hendak mengambil tindakan tanpa memperdulikan soal apapun, diapun sadar bila tidak dipergunakan cara yang keji dan ganas, niscaya lawan enggan menuruti permintaannya.

Maka dengan mempergunakan ujung telunjuknya dia mengetuk tilang bahu putri Kim huan keras-keras.

Sebagai seorang gadis yang pada dasarnya bertubuh lemah, bagaimana mungkin putri Kim huan bisa menahan ketukan jari tangan yang keras dan kuat itu?

seketika ia menjerit kesakitan dan terbungkuk-bungkuk sambil melelehkan air mata.

Semakin berkilat sepasang mata Kim Thi sia melihat kejadian tersebut, teriaknya keras-keras.

"Hey pedang emas, sebagai seorang jago persilatan kenamaan kerjamu hanya mempermainkan dan menyiksa seorang gadis lemah? Terhitung manusia macam apa dirimu itu?"

Pedang emas sama sekali tidak menggubris, sekali lagi dia mengetuk tulang bahu putri Kim huan keras-keras.

Pucat pias selembar wajah putri Kim huan karena kesakitan, dia merasa seluruh badannya seakan-akan mau remuk.

Sambil merintih kesakitan, tiba-tiba serunya kepada Kim Thi sia.

"Engkih Thi sia, cepat balaskan dendam bagiku. Aku....... biar matipun tidak mengapa."

Kim Thi sia sangat sakit hati, perasaan sedih dan matah bercampur aduk didalam benaknya, tanpa sadar dua titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya.

Sambil menggertak gigi keraskeras dia segera berseru.

"Lepaskan dia, asal kau membebaskan dia semua permintaanmu kupenuhi......."

Pedang emas menurut dan mengendorkan cengkeramannya atas diri putri Kim huan, kemudian menarik pula pedangnya yang dipulangkan diatas tengkuk gadis tersebut namun dia tetap berdiri mendampinginya takut gadis tersebut melarikan diri secara tiba-tiba.

sementara itu sipukulan sakti tanpa bayangan hanya bisa mengawasi kedua orang itu dengan wajah tertegun, untuk beberapa saat dia tidak mengetahui apa gerakan yang terjadi.

Tapi secara lamat-lamat diapun bisa menduga, ilmu silat yang diinginkan sipedang emas dari Kim Thi sia bisa jadi merupakan suatu kepandaian yang luar biasa.

Mendadak perasaannya bergetar keras, pikirnya kemudian.

"Jangan-jangan ilmu sinkang yang diinginkan tak lain adalah kepandaian sakti yang barusan dipergunakan Kim Thi sia?"

Saat itu juga timbul ambisinya untuk turut merebut kepandaian sakti itu, sebab dia sadar ilmu tersebut merupakan satu-satunya kepandaian silat yang mampu menandingi ilmu pukulan sakti tanpa bayangannya.

Semenjak terjun kedalam dunia persilatan berapa puluh tahun berselang, sipukulan sakti tanpa bayangan belum pernah menjumpai musuh yang berarti, sebab itu dia selalu membanggakan kehebatan ilmu silatnya.

Siapa tahu, hari ini dia telah bertemu dengan tandingannya, membuat ilmu silat yang dibanggabanggakan selama ini kehilangan daya kemampuannya.

Tak heran kalau kejadian tersebut membuatnya sifat dan timbul keinginan jahat dalam hatinya.

Tiba-tiba dia melirik sekejap kearah Kim Thi sia, satu ingatanpun segera melintas lewat.

"Dia tahu gadis cantik yang disandera sipedang emas sekarang merupakan satu-satunya benda yang bisa memaksa Kim Thi sia untuk tunduk dibawah perintahku tak disangkal gadis cantik itu adalah kekasih hati Kim Thi sia, sebab kalau bukan begitu tak mungkin pemuda tersebut menunjukkan perasaan gusar yang meluap."

Diam-diam ia berpikir.

"Ilmu pukulan sakti tanpa bayanganku sama sekali tak berdaya menghadapi serangan, agaknya untuk bisa mendapatkan ilmu sakti tersebut, aku harus dapat merampas gadis tersebut........"

Tapi sekarang, putri Kim huan dijaga oleh sipedang emas bersama saudara-saudara seperguruannya, kecuali dia sanggup menggempur sipedang emas sekalian, mustahil gadis itu bisa terjatuh ketangannya.

Begitu mendapat gambaran yang nyata atas keadaan didepan mata, diapun sengaja berseru kepada sipedang emas sambil tertawa dingin-"Menang kalah diantara kami belum lagi selesai, apa maksudmu mengganggu pertarungan ini?"

"Masalah ini merupakan urusan pribadi kami sendiri, kau sebagai orang luar tak usah turut campur."

Jawabannya sangat ketus dan amat tak sedap didengar.

Kontan saja sipukulan sakti tanpa bayangan berkerut kening, serunya kemudian-"Kalau begitu.......kau sama sekali tidak memandang sebelah mata pun terhadap aku sipukulan sakti tanpa bayangan?"

"Hmmm^ soal itu mah sulit untuk dibicarakan-..."

Dengus pedang emas sinis.

Ia sama sekali tidak menyangka kalau sipukulan sakti tanpa bayangan memang bermaksud mencari gara-gara, ketika mendengar perkataan kakek botak itu sangat angkuh, dia menjadi mendongkol dan berhasrat memberi pelajaran yang setimpal kepadanya.

Siapa tahu tindakan tersebut justru memenuhi pengharapan sipukulan sakti tanpa bayangan-Terdengar kakek botak itu berseru dengan lantang.

"Bagus, bagus sekali. Aku sipukulan sakti tanpa bayangan memang sudah tua, sudah tak berguna, sampai manusia cecunguk macam dirimupun berani mencari gara-gara denganku."

Kepada sipemuda tampan yang berada disampingnya ia segera berkata.

"Berdiri baik-baik ditepi arena, sebelum mendapat perintahku jangan bertindak secara Sembarangan. Selama aku memberi pelajaran kepada manusia cecunguk yang punya mata tak berbiji ini, kau perhatikan baik-baik semua jurus serangan yang kugunakan-"

Sepintas lalu, orang mengira dia sedang berbicara kepada putranya, padahal dengan perkataan tersebut dia justru bermaksud memancing kobaran hawa amarah sipedang emas agar dia bisa melaksanakan rencananya tanpa disadari lawan-Apa yang diduga ternyata memang benar, ketika mendengar perkataan tersebut, sipedang emas menjadi sangat gusar.

cepat-cepat dia serahkan putri Kim huan kepada adik seperguruannya, kemudian dengan langkah lebar tampilkan diri ketengah arena.

"Pedang emas siap menerima pelajaran dari Ang locianpwee"

Serunya dengan suara dingin-Pukulan sakti tanpa bayangan tertawa nyaring, tanpa mengucapkan sepatah katapun, dia maju kedepan seraya melepaskan pukulan tanpa bayangannya.

Kali ini sipedang emas tidak menghadapi datangnya ancaman dengan kekerasan, dia meloloskan senajta andalannya, kemudian menjejakkan kakinya keatas tanah dan melejit keudara.

Ditengah angkasa, pedangnya digerakkan membiaskan cahaya bianglala yang amat menyilaukan mata, secepat petir serangan tersebut mengurung seluruh tubuh musuhnya.

Pukulan sakti tanpa bayangan menggetarkan tubuhnya yang gemuk berulang kali.

Sungguh aneh, meskipun dia memiliki perawakan badan yang gemuk dengan gerak gerik yang bebal, ternyata pertarungan berkobar, gerak geriknya menjadi lemas seakan-akan tak bertenaga dan lincahnya bukan kepalang.

Hanya didalam berapa kali gerakan saja, dia telah menghindari tiga gerak serangan maut dari sipedang emas.

Sekali lagi pedang emas melejit keudara, cahaya bianglala memancar makin meluas.

Sementara pedangnya dialihkan ketangan kiri, rupanya dia telah mengeluarkan ilmu pedang tangan kiri yang maha dahsyat.

Ilmu pedang tangan kiri sebagai kepandaian andalan si Malaikat pedang berbaju perlente dimasa lalu memang nyata keampuhannya, apalagi dipergunakan sipedang emas dalam keadaan gusar.

Deruan angin serangan yang dihasilkan seketika merasa sipukulan sakti tanpa bayangan seorang tokoh persilatan yang tersohor pun menjadi kalang kabut dibuatnya.

Tapi bagaimana dalam menghadapi pertarungan seperti ini, berapa gebrakan kemudian dia mulai bisa meraba dan menguasahi kehebatan dari ilmu pedang tangan kiri.

Serunya kemudian dengan suara lantang.

"Bagus sekali, malaikat pedang berbaju perlente memang terbukti seorang tokoh dalam ilmu pedang, ternyata ilmu pedang keluarga Tiap yang termashur dimasa lalupun sudah terjatuh pula ketangannya, tak heran kalau setiap orang memuji kehebatannya, sayang sekali kau bicah ingusan masih belum cukup sempurna menguasahi ilmu tersebut. Sayang. sayang sekali......."

Habis berkata dia segera mengincar gerak laju serangan lawan dengan merubah gerakan tubuhnya, kali ini dia melayani serangan pemuda itu dengan ilmu pukulan hian thian kiu ciang hoatnya.

Ilmu pukulan sembilan bentakan ini merupakan sejenis pukulan tenaga Yang yang mengutamakan kekerasan-Setiap pukulan dan gerakannya selalu berat, mantap dan penuh kekuatan.

Betapapun lihaynya ilmu pedang keluarga Tiap.

begitu berjumpa dengan gerak serangan lawan yang bebal dan lamban, ternyata tak satupun yang berhasil menembusi pertahanannnya.

Makin bertarung sipedang emas makin gusar, tiba-tiba bentaknya keras.

"Siluman tua, kau jangan berbangga hati lebih dulu, rasain sebuah tusukan pedang ini."

Begitu selesai berkata, tiba-tiba saja pedangnya melepaskan diri dari kurungan angin pukulan musuh dan langsung menerobos masuk kedalam.

Kali ini dia telah menghimpun segenap kekuatan yang dimilikinya, ketika sampai ditengah jalan dia mendengus, lalu dengan melipat gandakan tenaga serangannya dia melancarkan tusukan lebih hebat lagi.

Pukulan sakti tanpa bayangan cepat-cepat melompat kesamping untuk menghindarkan diri, agaknya ia tak berani menyambut datangnya serangan dengan kekerasan-Sebuah pukulan yang berkekuatan dahsyat segera menggetarkan pedang itu hingga miring kesamping.

"Huuuh, ternyata kemampuan dari Ang locianpwee hanya begitu-begitu saja........heeeh.......heeeeh....."

Karena kuda-kudanya gempur dia mundur selangkah kebelakang, baru saja bersiap-siap akan melepaskan serangan dengan jurus "selaksa pedang menembusi hati"

Yang merupakan serangan terhebat dari ilmu pedang keluarga Tiap.

tahu-tahu sipukulan sakti tanpa bayangan telah melejit keudara dan menerjang kearah pedang tanah, pedang kayu dan pedang air.

Untuk sesaat sipedang emas tertegun, tapi ia segera menyadari apa yang terjadi, pikirnya cepat.

"Rupanya dia hanya pura-pura bukan tandingan-"

Sayang sekali keadaan sudah terlambat, terdengar sipedang tanah menjerit kesakitan dengan suara yang memilukan hati, tubuhnya mencelat sejauh tiga kaki lebih terhajar oleh pukulan tanpa bayangan yang maha dahsyat itu.

Sebetulnya ilmu silat yang dimiliki sipedang tanah cukup tangguh dan tak mungkin bisa dibinasakan oleh sipukulan sakti tanpa bayangan hanya dalam satu gebrakan saja.

Sayang pemuda ini terlalu gemar bermain perempuan, semenjak melihat kecantikan putri Kim huan yang begitu menawan bak bidadari dari kahyangan, sukmanya seraya melayang meninggalkan raganya, timbul ambisi dalam hatinya untuk memiliki nona itu.

Maka dengan manfaatkan kesempatan disaat medapat tugas untuk menjaganya, dia mencoba membelai dan merabai sekubur badan sinona yang cantik.

Akibat dari ulahnya itu, dia menjadi kehilangan kontrol dan kurang waspada, disaat pukulan sakti tanpa bayangan melancarkan serangannya ia menjadi gelagapan-Begitulah tak sempat lagi melihat raut wajah musuhnya secara jelas, tahu-tahu tulang dadanya sudah remuk tergempur serangan musuh hingga tewas seketika.

Yaa, inilah pembalasan bagi perbuatan mesumnya selama ini dengan merusak banyak wanita.

Siapa yang jahat, dia harus menerima hukumnya.

Dengan tewasnya pedang tanah, pedang air serta pedang kayu menjadi ketakutan setengah mati, tanpa banyak berbicara mereka membalikkan badan dan melarikan diri terbirit-birit.

Keadaan sipedang kayu terhitung paling mengenaskan, tadi ia telah melancarkan pukulan kearah Kim Thi sia dengan mengerahkan ilmu ci yang Ceng khinya meski berhasil menghajar lawan hingga sekarang tenaga dalamnya belum pulih kembali, sudah barang tentu dia tak berani menghadapi serangan dari ketua Tiang pek san yang maha dahsyat itu.

Mungkin saking tergopoh-gopohnya berusaha melarikan diri, dia sampai menubruk batang pohon, dan jatuh terjengkang keatas tanah.

Dengan perasaan gusar sipedang emas memburu kedepan, ketika dilihat tampaklah sipedang tanah telah tewas dalam keadaan mengerikan.

Sepasang matanya terpejam rapat, darah bercucuran keluar dari lima lubang inderanya.

Tanpa terasa sinar matanya dialihkan kesekeliling arena, ketika melihat saudara-saudara seperguruannya yang mati telah mati, yang terluka telah terluka, suasana begitu mengenaskan-Meski dia adalah manusia berhati buas, namun setelah melihat keadaan yang begini mengenaskan, tak urung becucuran juga air matanya.

Sementara itu sipedang pukulan sakti tanpa bayangan tak berani berayal lagi, dengan suatu gerakan cepat dia menyambar pinggang putri Kim huan, kemudian tertawa terbahak-bahak.

Putri Kim huan yang ketimpa kemalangan lagi-lagi terjatuh ketangan majikan-yang berbeda.

Ketika Kim Thi sia menyaksikan kejadian tersebut, dengan gembira ia segera berseru.

"Ang locianpwee, terima kasih banyak atas bantuanmu."

Ia tidak mengetahui kalau sipukulan sakti tanpa bayangan pun mempunyai rencananya dengan merampas putri Kim huan dari tangan musuh, dia masih menyangka kakek botak itu menolong putri Kim huan dengan maksud baik.

Pukulan sakti tanpa bayangan nampak agak tertegun sesudah mendengar seruan itu.

Biji matanya segera berputar, agaknya ia sudah mengetahui maksudnya, maka sambil menarik muka ujarnya dingin.

"Tak usah berterima kasih akupun hendak mengajukan permintaan kepadamu......."

"Katakan saja terus terang?"

Kim Thi sia tertawa.

"Pokoknya asal aku sanggup melakukan tentu akan kupenuhi........"

Setelah mengetahui bahwa putri Kim huan telah terlepas dari "

Mulut harimau", pikiran maupun perasaan hatinya menjadi sangat lega, perasaan terima kasih yang meluap membuat ia tidak mempertimbangkan lagi semua permintaan yang mungkin akan diajukan kakek botak itu.

Selalun daripada itu, diapun tidak menyangka kalau pukulan sakti tanpa bayangan merupakan seorang manusia yang berambisi pula, dalam anggapannya permintaan-yang diajukan paling banter hanya terbatas pada bantuan tenaga.

Demi kekasih hatinya, sekalipun ia harus kelelahan sampai kehabisan tenagapun dia merasa rela.

Melihat kepolosannya pemuda tersebut, tiba-tiba saka timbul perasaan yang tak tega dihati kecil sipukulan sakti tanpa bayangan-Tapi dengan cepat dia menguasahi gejolak perasaan tersebut, sengaja katanya dengan suara dingin dan hambar.

"Belum tentu kau bisa penuhi permintaanku itu"

Kakek ini memang sengaja menunjukkan sikap ketus dan dingin dengan maksud agar bila terjadi "bentrokan"

Nanti ia bisa bersikap dan bertindak lebih gampang, paling tidak bila permintaannya diajukan disaat Kim Thi sia sedang gusar.

Hal ini akan lebih menenteramkan hatinya.

Kim Thi sia tidak menduga sampai kesitu, sambil tertawa tergelak serunya.

"Haaaah.......haaaah......haaaaah........hal ini lebih baik lagi, aku memang sangat berharap bisa mendapat kesempatan untuk membalas budi kebalkan Ang locianpwee?"

Sipukulan sakti tanpa bayangan yang segera berkerut kening, diang-diam ia berpikir bagaimana caranya merangsang amarah pemuda tersebut agar api kegusarannya memuncak, kemudian "permintaan"

Nya baru diajukan-Sementara itu, nona cantik berbaju putih tersebut sedang berkata kepada pemuda tampan.

"coba lihat, tugas yang kuberikan kepadamu akhirnya diselesaikan oleh ayahmu, apakah kau tidak merasa malu?"

"Aku benar-benar tak habis mengerti, kenapa sih kau memaksa aku untuk menyerempet bahaya menolongnya? Apa maksud dan tujuanmu yang sebenarnya........?"

Jilid 39

"Kita hidup sebagai manusia harus bisa membedakan antara budi dan dendam secara jelas. Kita tak boleh menerima budi orang, tak mau pula disakiti orang lain."

"Padahal seharusnya kau selalu berdoa agar dia selalu terancam jiwanya."

"Apa maksud perkataanmu itu?"

Sang pemuda tampan tidak segera menjawab, katanya tergagap.

"Aaaah, aku.......aku tidak bermaksud apa-apa."

Nona cantik berbaju putih itu segera tertawa dingin.

"Heeeh.... heeeeh...... heeeeh.......sekalipun tidak kau katakan akupun mengerti, harap kau jangan salah menilai orang. Aku tak menaruh perasaan dengki atau iri atas hubungan mereka yang harmonis......."

Merah padam selembar wajah pemuda tampan itu, dengan kepala tertunduk kembali bisiknya.

"Aku tidak bermaksud demikian."

Sementara itu sipukulan sakti tanpa bayangan telah muncul sambil menggandeng tangan putri Kim huan, sembari mendekati putranya, kakek itu berpesan.

"Jaga dia baik-baik, jangan beri kesempatan kepadanya untuk melarikan diri"

Lalu sambil berpaling, katanya pula kepada Kim Thi sia yang masih kebingungan.

"sekarang, dengarkan baik-baik. Aku akan mengajukan permintaanku........"

"Apa.......apa maksudmu......cepat......cepat serahkan dia......."

Kim Thi sia sangat tergagap. Mendadak seperti memahami akan sesuatu, mendadak dia melompat kemuka dan menatap wajah kakek botak itu lekat-lekat teriaknya lantang.

"Ang locianpwee apakah kau....... apakah kau sama seperti mereka, menghendaki ilmu Tay goan sinkang?"

Pukulan sakti tanpa bayangan tertawa terbahak-bahak.

"Haaah......haaaah......tepat sekali, kau memang pintar tanpa kuterangkanpun kau sudah mengerti."

"Ayah......."

Sipemuda tampan itu berteriak pula.

Perasaan kaget, bingung, gugup dan perasaan tak habis mengerti berkecamuk dibalik seruan itu, ia benar-benar tidak menyangka kalau ayahnya akan berbuat demikian-Belum lama dia membual tentang kebajikan serta kebijaksanaan ayahnya siapa sangka kini telah terjadi perubahan yang begitu besar, ia tak berharap ayahnya melakukan perbuatan tidak terpuji seperti ini, paling tidak selama berada d ihadapan sinona kekasih hatinya.

Benar juga, baru saja ingatan tersebut melintas lewat, sinona cantik berbaju putih itu telah bertanya keheranan "Apakah ayahku bukan berniat sungguh-sungguh untuk menolongnya dari ancaman bahaya?"

Pemuda tampan itu memperhatikan sekejap wajah putri Kim huan, untuk sesaat dia tak tahu bagaimana mesti menjawab pertanyaan dari nona cantik berbaju putih itu.

Setelah tergagap berapa saat, dia baru berkata.

"Mung kin...... mungkin ayahku mempunyai maksud lain."

"Maksud apa?"

Desak Hay jin lebih jauh.

Dibalik nada pertanyaannya jelas tersisip perasaan memandang hina atas kakek botak tersebut.

Pemuda tampan itu jadi pusing tujuh keliling, untuk berapa saat dia tidak berhasil menemukan kata-kata yang tak cocok untuk menjawab pertanyaan itu, tak kuasa lagi ia berdiri tertegun-Tiba-tiba terdengar sipukulan sakti tanpa bayangan berkata dengan suara dalam.

"Setuju atau tidak tergantung dirimu, ayoh pertimbangkan secepatnya......."

Lalu setelah berhenti sejenak dia melanjutkan-"Atas jawabanmu tadi aku merasa amat puas, bukankah kau mengatakan asal kau sanggup melakukannya tentu aka dipenuhi.

Nah sekarang aku akan melihat sampai dimanakah katakatamu dapat dipercaya......."

Putri Kim huan amat sedih, belum lama dia lolos dari cengkeraman iblis sipedang emas, kini dia terjatuh pula ketangan sipukulan sakti tanpa bayangan, perasaan sedih yang luar biasa membuat gadis itu menangis tersedu-sedu.

Sekarang Kim This ia baru tahu bahwa umat persilatan tak bisa dipercaya, siapa kuat dia bisa berbuat semena-mena.

Maka sambil mengacungkan tinjunya dia berteriak.

"Hey sipukulan sakti tanpa bayangan, kuhormat dirimu sebagai seorang Bulim cianpwee. tak kusangka kaupun sama bajingannya dengan mereka. Ayoh maju, asal kai mampu menangkan aku dengan kungfumu sejati, tanpa ragu akan kuserahkan ilmu Tay goan sinkang kepadamu. Kalau tidak-biar dibunuhpun jangan harap aku bersedia mengucapkan sepatah katapun?"

Sipedang emas yang menyaksikan adegan tersebut segera menimbrung pula sambil tertawa tergelak.

"Haaaah.....haaaah......haaaah.......kau sudah mendengar belum hey simakhluk tua. Terus terang aku bilang, adik seperguruanku ini bukan manusia yang gampang ditipu."

Kim This ia yang mendengar perkataan itu segera berpikir pula.

"Hmmm, semua gara-gara kau, coba kau tidak berbuat begitu, mustahil sipukulan sakti tanpa tandingan akan mengincar ilmu Tay goan sinkang ku."

Berpikir demikian, hawa amarahnya segera berkobar, dengan suara keras bentaknya.

"Hmmm, siapa yang menjadi sutemu, betul-betul manusia yang tak tahu malu"

Dengan menghimpun tenaga Tay goan sinkangnya, dia melepaskan sebuah bacokan maut kedepan.

Sipedang emas sama sekali tak menyangka kalau pemuda tersebut akan bertindak begini, diapun membentak gusar sambil menyambut datangnya serangan tersebut dengan keras melawan "

Duuuukkkk. ......"

Akibat dari bentrokan yang terjadi, kedua orang itu sama-sama tergetar mundur satu langkah.

Sipedang emas merasakan pusarnya sangat sakit bagaikan ditusuk dengan jarum tajam, tak kuasa lagi dia berseru tertahan-"Tunggu sebentar, aku hendak berbicara dulu."

Kim Thi sia yang sudah teria njur membenci sama sekali tidak menggubris teriakannya itu, sekali lagi dia melancarkan sebuah gempuran dengan ilmu Tay goan sinkangnya.

Dalam keadaan terkejut bercampur gugup, sipedang emas tak berani menyambut serangan dengan keras melawan keras, buru-buru dia menghindarkan diri kesamping.

Kim Thi sia sudah nekad hendak mengajak musuhnya mengadu jiwa, tak sampai berdiri tegak.

dia maju kembali kedepan sambil melepaskan sebuah pukulan dahsyat.

Jurus "kekuasaan menguasahi seluruh dunia"

Ini merupakan jurus yang ampuh, ganas dan amat dahsyat.

seketika sipedang emas terdesak mundur lagi sejauh berapa langkah.

Dari malunya sipedang emas jadi naik darah, dia maju menyerang dengan pedangnya, tapi lagilagi tubuhnya tergetar mundur dengan sempoyongan terhajar dengan jurus "mati atau hidup ditangan nasib"

Yang dilancarkan pemuda Kim, keadaannya bertambah mengenaskan-Melihat Kim Thi sia menyerang secara bertubi-tubi bagaikan orang kalap.

sipedang emas terperanjat sekali, dalam gugupnya dia memindahkan pedangnya ketangan kiri dan melancarkan sebuah tusukan dengan jurus "selaksa panah menembusi hati."

Kim Thi sia bendung datangnya serangan lawan dengan tangan kirinya yang memainkan jurus "

Kecerdikan mencapai tingkatan langit", sementara telapak tangan kanannya dengan jurus "hembusan angin mencabut pohon"

Mencengkeram dada musuh.

Pedang emas sama sekali tak menyangka akan datangnya ancaman tersebut, seketika itu juga dadanya kena dicengkeram oleh kelima jari tangan lawan yang kuat bagaikan jepitan besi, kontan separuh badannya menjadi kaku dan kesemutan-Baru saja Kim Thi sia hendak menggerakkan tenaga dalamnya untuk membunuh lawan d isaat itu juga dia merasakan datangnya semburan cahaya pelangi yang amat menyilaukan mata.

Berada dalam keadaan begini, dia tak sempat lagi mengurusi musuhnya, buru-buru cengkeramannya dibetot kedepan dan-.....

"Braaat"

Pakaian yang dipakai sipedang emas sudah tertarik hingga robek.

Mendadak......

Sebuah benda hitam dari balik saku bajunya dan terjatuh ketanah, buru-buru sipedang emas berusaha merebutnya, namun sebuah tendangan dari Kim Thi sia membuat benda tersebut mencelat ketempat yang jauh.

cepat-ceoat sipedang emas, menengok kearah dimana benda tersebut terjatuh agaknya ia sudah tak bersemangat lagi untuk melanjutkan pertarungan, tergopoh-gopoh sebuah bacokan dilancarkan, setelah itu dia cepat-cepat menerjang kemuka.

Menyaksikan sikap musuhnya yang panik, satu ingatan segera melintas didalam benak Kim Thi sia.

"Benda itu pasti penting sekali artinya kalau tidak mustahil dia kelihatan begitu tegang dan panik"

Berpikir demikian, dia segera mengerahkan tenaga dalamnya dan melancarkan sebuah pukulan dengan jurus "kelincahan menguasahi empat samudra."

Menggunakan kesempatan disaat sipedang emas tertegun karena datangnya ancaman itu, Kim Thi sia menyerbu benda yang terjatuh tadi.

kemudian tanpa diperiksa lagi apa isinya dia masukkan bungkusan tersebut kedalam sakunya.

Pemuda itu memang berdiri tak jauh dari sipedang emas, apalagi diapun mendapat bantuan yang amat besar dari ilmu Tay goan sinkang, karenanya ia berhasil mendapatkan benda tadi jauh mendahului sipedang emas.

Tak terlukiskan rasa gusar sipedang emas melihat kejadian ini, dengan gemas dia melotot sekejap kearah lawannya, lalu sambil menjulurkan tangannya kemuka dia berteriak.

"Kembalikan kepadaku"

"Hmmm, tidak akan semudah itu"

Sahut Kim Thi sia sinis. Raut muka sipedang emas yang jelek nampak mengejang berapa kali, tapi akhirnya dia berusaha membujuk dengan suara yang lebih lunak.

"Benda tersebut sama sekali tak berguna bagimu, kembalikanlah kepadaku"

"Tidak bisa"

Sahut Kim Thi sia lantang.

"Tatkala kau berhasil membekuk putri Kim huan tadi,akupun pernah memohon kepadamu dengan sikap yang lembut dan halus, namun kau sama sekali tak menggubris, bahkan menuntut kepadaku untuk menukarnya dengan ilmu Tay goan sinkang. Nah sekarang aku harus memberi pelajaran kepadamu."

"Kalau dihitung-hitung, kita masih termasuk sesama saudara seperguruan-Betapapun jeleknya hubungan kita, toh tidak pantas bergurau sehebat ini, lagi pula........"

Baru berbicara sampai separuh jalan, tiba-tiba ia menerjang maju kedepan sambil melakukan cengkraman kilat.

Nyaris Kim Thi sia termakan sambaran itu, amarahnya semakin memuncak.

tanpa mengucapkan sepatah katapun dia menghimpun tenaga Tay goan sinkangnya hingga mencapa delapan bagian, lalu melepaskan sebuah serangan dengan jurus "

Kejujuran mengalahkan batu emas."

Sejak menderita luka pada pusarnya, sipedang emas tak berani menghadapi musuhnya dengan kekerasan, dengan perasaan apa boleh buat ia terpaksa menarik diri kebelakang.

Kim Thi sia tidak melakukan pengejaran lebih jauh, dia berdiri sambil termenung.

Rupanya pada saat itulah, dia telah merasakan suatu kejadian yang sangat aneh.

Kalau pada mulanya, setiap kali dia beradu tenaga dengan sipedang emas, pihaknya selalu didesak mundur secara mudah, maka sekarang keadaan justru terbalik, bukan saja ia berhasil mendesak musuh bahkan mampu membuatnya gelagapan setengah mati, lantas apa yang sebenarnya telah terjadi?

Kalau dibilang dia berbakat kelewat bagus sehingga kemajuan yang dicapai amat cepat.

Hal ini mustahil bisa diterima dengan akal sehat, sebab kejadian satu dengan kejadian lainnya hanya terpaut dua jam, rasanya selama seribu tahun sejarah dunia persilatan belum pernah ada kejadian seperti ini.

"Atau mungkin dialah yang mengalami kemunduran secara drastis?"

Ingatan ada sempat melintas didalam benaknya.

Tapi hal inipun tak mungkin sipedang emas tidak terluka, diapun tidak kehabisan tenaga, bagaimana mungkin ilmu silatnya bisa menderita kemunduran sebesar itu?

setelah berpikir berapa saat akhirnya ditemukan satu titik terang tentang persoalan ini.

Sebagaimana diketahui sebelum dia bertarung melawan sipukulan sakti tanpa bayangan tadi setiap serangan yang dilepaskan olehnya selalu berhasil dipukul balik oleh pedang emas, namun setelah berlangsung pertarungan sengit, ia justru berhasil mendesak musuhnya secara mudah, jelas kunci dari jawaban persoalan ini terletak padadiri sipukulan sakti tanpa bayangan-Dia masih teringat dengan jelas bagaimana situasi pada awal pertarungan, serangan demi serangan yang dilancarkan kakek botak itu selalu dahsyat dan mematikan, kehebatannya sukar dilukiskan dengan kata-kata, namun setelah berlangsung berapa saat, bukan saja musuhnya bertambah lemah, bahkan diapun mulai mendapat kesempatan untuk melancarkan serangan balasan-Ketika sipukulan sakti tanpa bayangan menemukan keadaan yang tak beres ini, dia segera menghentikan pertarungannya .

seingatnya, peristiwa semacam ini belum pernah dialami sebelumnya.

Diam-diam Kim Thi sia berpikir.

"Sudah pasti dia menderita kerugian karena ilmu Tay goan sinkangku menurut ciang sianseng, kepandaianku ini sanggup menghancurkan tenaga dalam musuh tanpa wujud dan gejala apapun, agaknya apa yang dia katakan memang menjadi kenyataan sekarang"

Kemudian dia berpikir lebih jauh.

"Sipukulan sakti tanpa bayangan sebagai seorang tokoh sakti dari Tiang pek san nyata memiliki ilmu silat yang luar biasa hebatnya, kini aku telah banyak menghisap tenaga murninya dengan ilmu ciat khi mi khi, tak heran banyak manfaat yang berhasil kuperoleh sehingga sipedang emaspun merasa tak mampu menandingiku."

Berpikir demikian, rasa percaya pada kemampuan sendiripun semakin meningkat, dengan sangat berani dia mengambil keluar bungkusan milik sipedang emas itu serta membuka bungkusannya .

Ternyata benda itu berbentuk segi empat ketika dibuka maka dibawah sinar rembulan yang redup tampaklah benda tadi berupa sebuah kotak besi.......

Begitu kotak tadi diamati dengan seksama, tiba-tiba saja ia berseru tertahan-"oooh, rupanya lentera hijau."

Dia masih teringat dengan jelas betapa "

Lentera hijau"

Tersebut pernah menyelamatkan jiwanya, waktu itu dua sudah terkapar ditempat yang terpencil, bila tidak datang pertolongan niscaya dalam berapa hari kemudian jiwanya akan melayang.

Siapa tahu d isaat yang kritis itulah dia berhasil menemukan kasiat "

Lentera hijau"

Sehingga jiwanya terselamatakan, tak disangka setelah benda itu terlepas dari tangannya berapa saat, kini terjatuh kembali ketangannya, inikah yang dinamakan berjodoh?

Diapun teringat kembali dengan pembicaraan antara ciang sianseng dengan Dewi Nirmala, dia tahu benda tersebut merupakan benda mestika yang amat langka, kasiatnya selain mampu mengobati luka juga untuk memanjangkan usia seseorang.

Lebih-lebih bagi orang persilatan yang mengalami keadaan "jalan api menuju neraka"

Benda ini sanggup memulihkan kembali kekuatannya.

Tak heran kalau ciang sinseng dan Dewi Nirmala sekalian berusaha dengan segala kemampuannya untuk mendapatkan benda ini.

Maka sambil tertawa terbahak-bahak dia membungkus kembali benda tersebut dan dimasukkan kembali kedalam sakunya.

Kini diapun telah mengambil sebuah keputusan, pikirnya.

"Rasanya untuk bisa menyelamatkan jiwa putri Kim huan tanpa kehilangan ilmu saktiku, satusatunya jalan cuma menyerempet bahaya."

Dia amat percaya dengan kemampuan serta kasiat dari "lentera hijau", sebab benda itu pernah menyelamatkan jiwanya, ini berarti benda ini jauh lebih bisa diandalkan daripada benda apapun-Maka dengan nada pembicaraan yang lebih meyakinkan dia berseru kepada sipukulan sakti tanpa bayangan dingin-"Empek Ang, bila kau ingin menggunakan keselamatan gadis tersebut untuk ditukar dengan ilmu silatku, maka rencanamu itu pasti akan gagal total, sebab hubungan ku dengannya tal lebih cuma teman biasa.Jadi sama sekali tiada hubungan yang istimewa, bila kau mendesakku terus menerus, sama artinya memaksaku membuka kartu lebih awal."

"Kau betul-betul kelewat polos dan kekanak-kanakan, kau anggap dengan berkata demikian, maka aku akan membebaskannya?"

"Aku tak perduli, pokoknya aku tak ambil pusing dengan keselamatannya toh kau pun tak mampu berbuat apa-apa kepadaku?"

"Kau jangan sembarangan mengaco belo lagi bila amarahku sampai berkobar, akan kuhajar sampai mampus"

Ancam sikakek geram. Kim Thi sia sengaja tertawa sinis sahutnya.

"Alahkan, silahkan"

"Kau mengira aku tak berani?"

Teriak sipukulan sakti tanpa bayangan lagi dengan gemas.

Sambil tertawa dingin jari telunjuk dan jari tangannya segera ditempelkan diatas jalan darah Tay gi hiat ditubuh putri Kim huan-Dalam keadaan begini, asal dia mengerahkan sedikit tenaga saja, niscaya gadis tersebut akan mampus dalam keadaan yang mengenaskan.

"Kau harus tahu"

Ancam slkakek lagi.

"Sepanjang hidupku, aku selalu menganggap nyawa orang bagaikan rumput, bila amarahku sudah berkobar, aku bisa membacoknya sampai mampus, tanpa perduli siapakah dia."

Walaupun dihati kecilnya Kim Thi sia amat tegang, namun dia berniat menyerempet bahaya, buru-buru dia unjukkan lagak "acuh tak acuh"

Nya, malah sambil tertawa teriaknya.

"Ang locianpwee, kau memang seorang algojo yang amat hebat, haaaah......haaaah.....haaaah......"

Sipukulan sakti tanpa bayangan berwatak berangasan, setelah bersabar terus akhirnya dia tak mampu lagi menahan diri pikirnya.

"Perduli amat dengan ilmu Tay goan sinkang, keparat ini amat menggemaskan, dia berani memperolok-olok diriku, biar kubunuh gadis tersebut terlebih dulu."

Napsu membunuhnya segera memancar keluar dari balik mata, baru saja dia akan mengerahkan tenaga dalamnya, mendadak terdengar seseorang berseru dari belakang.

"Empek harap tunggu sebentar"

Dengan wajah tertegun sipukulan sakti tanpa bayangan berpaling, setelah mengetahui siapa orangnya, dengan wajah tertegun ia bertanya.

"Keponakan perempuan, ada urusan apa?"

Ternyata orang yang berseru barusan tak lain adalah sinona cantik berbaju putih, putri dari Dewi Nirmala. Terdengar gadis itu berkata dengan pelan.

"Empek dia toh sama sekali tak bersalah, harap kau sudi mengampuni selembar jiwanya"

Ketika Kim Thi sia mendengar perkataan tersebut, dalam hati kecilnya segera timbul perasaan tak senang hati disamping rasa terima kasih, pikirnya cepat.

"Aku justru sengaja memaksanya berbuat demikian, siapa tahu kau malah menghalangi perbuatannya, sungguh menjengkelkan-......."

Sementara itu sipukulan sakti tanpa bayangan telah bertanya agak keheranan.

"Maksudmu, aku harus membebaskan dirinya?"

"Yaa benar"

Gadis itu mengangguk. Sambil menarik mukanya kakek botak itu berseru lagi.

"Mengapa sih kau mencampuri urusanku ini?"

"Keponakan perempuan tidak ingin menyaksikan orang yang tak bersalah......"

Sipukulan sakti tanpa bayangan segera memahami maksud dihatinya, setelah memandang sekejap wajahnya yang cantik dan polos itu, dia berpikir.

"Gadis ini berwajah halus, lembut dan saleh, nyata sekali dia memang seorang nona yang lembut dan berwelas kasih........"

Karena itu diapun segera memaafkan tindakannya itu, katanya pelan.

"Aku tahu, kau merasa tak tega melihat orang yang tak bersalah menemui ajalnya tapi........"

Sesudah berpikir sebentar, kembali dia melanjutkan.

"Kau tentu menganggap diriku sebagai seorang manusia yang gemar membunuh, tapi aku benar-benar tak habis mengerti, kau adalah putri dari Dewi Nirmala, sedangkan perbuatan maupun sepak terjang Dewi Nirmala sepanjang hidupnya justru berlipat ganda lebih kejam dan buas ketimbang aku. Kau yang tambah dewasa dalam suasana begini, mengapa masih bisa mempertahankan kewelas kasihanmu itu? Apakah kau belum pernah melihat semua kekejaman dan kebuasan dilembah Nirmala? Atau mungkin gadis ini adalah sahabatmu.......?"

Air mata segera bercucuran keluar dari mata sinona ketika ia selesai mendengar perkataan itu, dengan kepala tertunduk katanya pelan.

"Aku tak tahu kalau ibuku sangat gemar membunuh orang, dia tak pernah menyinggung persoalan ini kepadaku. Aku........."

Sementara itu, putri Kim huan yang menghadapi saat kematiannya justru dapat mengendalikan gejolak perasaannya, dia menghela napas dengan sedih, lalu sambil memandang rembulan diangkasa, selanya pelan.

"Adikku, aku matipun tak menjadi soaL paling-paling cuma mengurangi beban baginya. Kalau bukan begini, dikemudian hari dia pasti akan bertambah repot karena aku."

Kim Thi sia paling suka melihat wajah gadis tersebut disaat ia sedang termenung, memandang wajahnya yang cantik dan begitu menawan hati, hampir-hampir saja dia akan berubah pikiran-Dalam pada itu sipukulan sakti tanpa bayangan kelihatan mulai ragu, tapi kemudian ia berkata.

"Bagaimanapun juga, aku tak kuat menahan diri melihat lagak bocah keparat tersebut."

Hay Jin, sinona cantik berbaju putih itu mengangkat kepalanya dan memandang sekejap kearah putri Kim huan dengan sepasang matanya yang keji, sesudah menghela napas katanya.

"cici, aku tak berdaya membuat ia......."

Belum selesai perkataan itu diutarakan, air matanya telah jatuh bercucuran membasahiu wajahnya.

Dia menutupi mukanya dengan kedua belah tangan kemudian berpaling kearah lain, agaknya dia tak tega melihat gadis tersebut mati secara mengenaskan-Kim Thi sia cepat-cepat mengeraskan hatinya seraya membentak nyaring.

"Hey sipukulan sakti tanpa bayangan, kalau memang bernyali, cepatlah turun tangan"

Mencorong sinar tajam dari balik mata sipukulan sakti tanpa bayangan, dengan gemas dia melotot sekejap kearahnya, lalu menegur.

"Sekali lagi aku ingin bertanya kepadamu, kau menyanggupi permintaanku atau tidak?"

"Tidak"

Sahut Kim Thi sia lantang.

Sipukulan sakti tanpa bayangan segera mendengus, jari tangannya disodokkan kuat-kuat keatas jalan darah Tay gia hiatnya.

Tanpa sempat mengeluarkan sedikit suara pun, putri Kim huan segera roboh terjungkang keatas tanah.

Dengan sinar mata yang tajam Kim Thi sia memandang sekejap tubuh putri Kim huan yang tergeletak tak berkutik diatas tanah.

Perasaan gugup, tak senang, kaget dan marah bercampur aduk didalam benaknya.

Sampai berapa saat lamanya dia tak mampu mengucapkan sepatah katapun.

Tindakannya "menyerempet bahaya"

Telah tercapai setengah bagian, ini berarti masih ada keadaan yang lebih berat dan lebih mengejutkan hati yang belum sempat dilaksanakan.

Bila hal ini sampai gagal berarti dia tak akan memperoleh ketentraman hidup lagi dikemudian hari.

Menghadapi pilihan yang begini kritis dan menyeramkan, sekalipun pemuda itu berjiwa luar biasa pun tak urung juga dibuat bergidik juga hatinya.

sementara itu sipukulan sakti tanpa bayangan yang sedang mengawasi putri Kim huan dengan wajah yang cantik jelita, telah roboh ditangannya.

Betapapun gusarnya kakek tersebut tak urung timbul juga perasaan menyesalnya.

Dengan wajah yang lesu kakek itu menggelengkan kepalanya berulang kali, sambil menghela napas ia berbisik.

"Aaaah, dia telah tewas."

Kim Thi sia melompat maju kemuka, teriaknya keras-keras.

"Yaabetul, dia memang sudah mati, tapi urusanmu denganku belum selesai."

Teriakan ini seketika melenyapkan perasaan menyesal yang muncul didalam hati sipukulan sakti tanpa bayangan, dia berseru dingin.

"Biar mampus, siapa suruh kau menolak permintaanku?"

Dengan penuh amarah Kim Thi sia menghimpun tenaga murni Tay goan sinkangnya, sekarang tiada persoalan yang merisaukan lagi, dalam keadaan gusar dan dendam yang meluap-luap.

tenaga serangannya menjadi dua kali lipat lebih hebat.

Tergopoh-gopoh sipukulan sakti tanpa bayangan menghimpun tenaga dan melepaskan pula sebuah pukulan untuk membendung datangnya ancaman tersebut.

Dua gulung tenaga pukulan yang sangat kuat, tanpa menimbulkan suara ataupun desing suara segera bertumpukan satu dengan lainnya.

Akibat dari benturan tersebut, kedua belah pihak sama-sama tergetar mundur kebelalang, air mukanya berubah menjadi merah membara.

Kim Thi sia tahu bahwa ilmu tay goan sinkang memiliki kemampuan untuk merusak ten-dalam lawan, maka begitu tergetar mundur sekali lagi dia menubruk kemuka.

Sepasang telapak tangannya disilangkan kekiri kanan, dan secara beruntun dia melancarkan dua buah serangan sekaligus dengan jurus "menyapu rata seluruh bumi"

Serta "kepercayaan menguasahi seluruh dunia."

Untuk sementara waktu sipukulan sakti tanpa bayangan menempati posisi diatas angin, namun dihati kecilnya dia merasa amat sedih danpedih hatinya, sebab setiap kali terjadi bentrokan kekerasan, ia segera merasakan tenaga dalamnya makin lemah dan berkurang.

Makin bertarung pikirnya semakin risau, sepuluh gebrakan kemudian, tenaga serangannya sudah tidak selancar awal pertarungan lagi, kenyataan tersebut kontan saja membuat hatinya sangat terkejut.

Waktu itu kentongan kelima sudah menjelang tiba, secercah fajar muncul diufuk timur.

Dibawah cahaya sang surya yang redup tampaklah dua sosok bayangan manusia sedang saling bertarung dengan serunya, untuk beberapa saat sukar untuk diketahui siapa bakal menang dan siapa bakal kalah.

Tiba-tiba sipukulan sakti tanpa bayangan menarik diri kebelakang seraya berserur "TUnggu sebentar"

"Ada apa?"

Tegur Kim Thi sia sambil menghentikan pula serangannya.

Suara pembicaraannya memburu, persis seperti dengusan napasnya yang memburu dan cepat, ditengah pagi hari yang dingin, jidatnya justru basah oleh peluh sebesar kacang kedelai.

Ternyata keadaan dari sipukulan sakti tanpa bayangan tidak jauh berbeda, sekujur badannya telah basah oleh keringat.

Dengan napas tersengkal-sengkal dia berkata.

"Lebih baik pertarungan hari ini kita tunda dulu sampai besok........."

Baru berbicara sampai disetengah jalan, mendadak teringat kembali olehnya akan kedudukan serta pamornya dalam dunia persilatan, cepat-cepat dia menutup mulutnya kembali.

Tapi semua jago yang hadir dalam arena dapat memahami maksud dan arti dari perkataannya itu.

Kim Thi sia sama sekali tidak mengejek ataupun mencemooh dirinya, dengan suara dalam dia berkata.

"Baik, kita lanjutkan pertarungan ini besok"

Dia memang terbuuru-buru ingin menyelesaikan persoalan terakhir putri Kim huan maka setelah mendengar usul lawannya, semangat tempurnya ikut mengendor pula.

Tampaknya sipukulan sakti tanpa bayangan tak ingin membuang waktu terlalu lama disitu, dia segera berpaling kearah pemuda tampan itu dan berseru keras.

"Ayoh berangkat"

Dari wajah ayahnya yang letih dan murung, pemuda tampan ini mengerti kalau orang tua tersebut butuh waktu untuk beristirahat, diapun tidak menunggu terlalu lama lagi.

Sambil menggandeng tangan nona cantik berbaju putih itu, cepat-cepat mereka pergi meninggalkan tempat tersebut.

Sepeninggal ketiga orang itu, ternyata bayangan tubuh dari sipedang emas sekalianpun sudah tak nampak lagi disitu.

Kim Thi sia mencoba melakukan pencarian disekeliling tempat itu, namun sesosok bayangan setanpun tak nampak.

dengan perasaan heran ia segera berpikir.

"Aaaaah, sungguh aneh, kenapa mayat pun sudah dipindahkan semua?"

Padahal diarena pertarungan masih terdapat puluhan sosok mayat, tapi semuanya berasal dari pihak Juan tiong supa.

Sebaliknya mayat-mayat dari pihak sembilan pedang dunia persilatan, kini sudah lenyap tak berbekas, jelas sudah semuanya ini merupakan hasil karya dari sipedang emas, pedang air dan pedang kayu.

"Beginipun ada baiknya juga, biar persoalan ini diperhitungkan kembali dikemudian hari......"

Pikir pemuda itu cepat.

Pelan-pelan dia berjalan menuju kearah putri Kim huan, sesuai berlangsungnya pertarungan sengit, tiba-tiba saja dia merasakan setiap langkah kakinya sangat berat.

Setiap langkahnya seakan-akan diberi beban ribuan kati beratnya.

Dengan wajah yang teramat letih dia mendekati putri Kim huan, tampak gadis itu memejamkan matanya bagaikan bidadari sedang tidur, hatinya tercekat, pikirnya segera.

"Celaka, rupanya lentera hijau telah kehilangan kasiatnya, aku terlalu menyerempet bahaya, kini semua telah berakhir......."

Ia mulai menyesal, menyesal telah menyerempet bahaya yang amat besar.

Dia mencoba mengulurkan tangannya untuk memayang bangun gadis tersebut siapa tahu tenaganya seakan-akan sudah membuyar semua, tangannya lemas dan tak berkekuatan lagi, dengan lunglai dia terduduk kembali diatas tanah.

sebagaimana diketahui, dia sudah bertarung setengah harlan lamanya tanpa berhenti, terutama sekali pertarungan sengitnya melawan sipukulan sakti tanpa bayangan, seandainya dia tak memiliki watak tinggi hati, niscaya sejak tadi ia sudah roboh terjungkal diatas tanah dan mampu bangun kembali....

Sekarang, sekujur badannya terasa lemas dan sama sekali tak bertenaga, kelopak matanya terasa berat sekali ingin terpejam tak tahan lagi gumamnya sambil menghela napas.

"Aaaa i....... mengapa keadaanku berubah selemah ini? Bila muncul musuh dalam keadaan begini, bagaimana caraku untuk menghadapinya?"

Pelan-pelan dia merangkak kesamping tubuh putri Kum huan dan duduk bersandar diatas batu besar, matanya buru-buru dipejamkan kemudian mengatur pernapasan untuk memulihkan kembali kekuatannya.

Tapi rasa mengantuk yang datang menyerang membuat dia tak sanggup menahan diri lagi, akhirnya dia terduduk dan tidur nyenyak.

Tak lama kemudian-....

Ditengah keheningan yang mencekam seluruh jagad, tiba-tiba terdengar suara derap kaki kuda yang amat ramai berkumandang datang dari kejauhan sana.

Disusul kemudian muncullah serombongan penunggang kuda yang semuanya mengenakan baju hijau dengan ikat kepala berwarna biru, wajah mereka nampak keren dan sorot matanya amat tajam Jelas orang-orang itu merupakan sekawanan manusia yang berilmu tinggi.

Namun Kim Thi sia sudah tertidur nyenyak dalam keadaannya begini kendatipun ada sebuah batu besar yang jatuh menindihi tubuhnya pun, belum tentu ia akan terjaga dari tidurnya.

Derap kuda yang amat ramai semakin mendekat, gulungan pasir dan debu memancar keempat penjuru.

Mendadak rombongan jago persilatan itu menghentikan perjalanannya dan terdengarlah seseorang berteriak keras.

"Hey coba lihat,Juan tiong supa, empat macan kumbang dari Juan tiong telah habis ditumpas orang"

Kawanan jago itu segera berpaling kearah yang ditunjuk.

bergemalah kemudian teriakan gusar dan suara orang yang melompat turun dari kudanya memburu ketempat kejadian tersebut.

Terdengar mereka berseru keras.

"Sudah pasti peristiwa ini merupakan hasil karya dari bocah keparat itu, nyata benar kelihayan dari keparat tersebut......."

Tak lama kemudian terlihatlah ada tiga orang lelaki kekar berjalan menuju kearah Kim Thi sia. Rupanya mereka segera menemukan jejak anak muda tersebut, tiba-tiba mereka berhenti sambil berbisik.

"Jangan berisik, sasaran kita berada disini."

Dengan berjalan pelan ketiga orang itu menyusup maju kedepan, sementara tangan mereka merogoh kedalam saku dan mengeluarkan sebuah tongkat tulang dan segulung tali agaknya mereka hendak menangkap sang pembunuh dalam keadaan hidup, Tak lama kemudian, empat arah delapan penjuru disekeliling Kim Thi sia telah berdiri puluhan orang manusia berbaju biru yang rata-rata bersinar tajam.

Mereka adalah jago-jago pilihan dari dunia persilatan dengan ilmu silat yang luar biasa, bila orang-orang itu sampai turun tangan bersama-sama, kemungkinan besar kekuatan mereka sanggup untuk melenyapkan kawanan jago yang tiga kali lebih hebat daripada mereka.

Tampaknya rombongan tersebut mempunyai disiplin yang tinggi dengan pengalaman yang hebat, mereka tidak langsung melancarkan serangan, tapi meninggalkan empat orang untuk mengurusi kuda-kudanya.

Dalam waktu singkat puluhan ekor kuda itu sudah diperintahkan berjongkok keatas tanah tanpa menimbulkan sedikit suarapun, jelas kuda-kuda itu merupakan jenis unggul yang hebat.

Sementara puluhan orang penunggangnya dengan sorot mata yang tajam mengawasi sang pembunuh yang masih tertidur itu tanpa berkedip.

Mereka tidak tahu kalau Kim Thi sia sudah kehabisan tenaga hingga tertidur nyenyak.

Mereka mengira musuhnya sengaja berbuat demikian untuk menjebak mereka masuk perangkapnya.

Maka semua orangpun tidak berani bergerak secara sembarangan, setiap orangpun berusaha menjaga jaraknya sejauh tiga kaki dari Kim Thi sia, dengan begitu seandainya Kim Thi sia melancarkan serangan secara tiba-tiba mereka tidak akan sampai dibuat kacau.

Tunggu punya tunggu, Kim Thi sia belum bergerak juga dari posisi semula, napasnya tetap teratur, matanya tetap terpejam, sikap seperti ini persis dengan sikap yang dikata orang "biar gunung meletuspun wajah tidak berubah", tentu saja hal mana semakin meningkatkan kewaspadaan kawanan jago itu hingga siapapun tak berani bertindak secara sembarangan-Mendadak salah seorang diantara mereka maju selangkah kedepan dan menegur.

"Sobat, kau benar-benar manusia luar biasa. Ditinjau dari keteranganmu ini bisa diduga bahwa kau bukan manusia sembarangan tapi........"

Setelah tertawa dingin berulang kali, lanjutnya.

"Dalam semalam saja sobat telah membantai mereka hingga punah, tindakan semacam ini benar-benar merupakan tindakan yang kelewat batas, kau anggap dibawah pimpinan Pek Kut sinkun sudah tiada orang pandai lagi?"

Kim Thi sia sama sekali tidak mendengar perkataan itu, entah sedang apa bermimpi atau mengingau, tiba-tiba ia berteriak keras.

"Telur busuk. mau apa kau?"

Bentakan tersebut seketika menggemparkan semua jago yang hadir, sebagai manusia berilmu tinggi dan tak pernah percaya dengan segala tahayul, sebetulnya mereka sudah bersiap-siap melancarkan serangan, karena musuhnya tak bergerak sama sekali.

Siapa sangka sebelum tindakan tersebut dilakukan, sang pemuda telah membentak keras, kontan saja orang-orang itu menjadi amat terperanjat dan segera mengurungkan niatnya untuk menyerang.

Sambil tertawa dingin orang itu berseru.

"Sobat, kaupun terhitung seorang lelaki jantan dari dunia persilatan, sepantasnya kau tahu bahwa siapa membunuh orang dia harus membayar dengan nyawa sendiri. Apa gunanya kami banyak bicara, haaaaah.....haaaaah........"

Suasana hening untuk berapa saat, mendadak terdengar Kim Thi sia berseru lagi.

"Maknya, bila kau berani maju lagi, jangan salahkan kalau toaya akan bertindak keji."

Mungkin dalam impiannya dia sedang mengalami kejadian yang sama, terdengar ia bergumam lagi.

"Huuuuh, apa sih hebatmu, kau tak lebih hanya seorang manusia kurcaci yang tak berguna. Aaai....berani amat berlagak dihadapanku, apakah kau tak tahu kalau Kim Thi sia adalah manusia paling susah dilayani."

Gumaman itu cukup keras, apalagi ditengah tanah lapang yang sepi seperti sekarang, hampir semua orang dapat mendengar nama Kim Thi sia dengan jelas sekali.

Perasaan terkejut, ngeri dan tergetar menyelimuti mereka semua....

"Aaaah, rupanya dia adalah Kim Thi sia........"

Tampaknya lelaki bermuka kuning yang tampilkan diri kedepan itupun sudah pernah mendengar nama besar "Kim Thi sia", ia segera berpikir.

"Orang bilang Kim Thi sia adalah manusia bernyali yang paling susah dilayani, betapapun lihaynya ilmu silat seseorang, bila sudah berurusan dengannya pasti akan dibuat pusing kepalanya. Tak nyana apa yang dikatakan orang memang benar, cukup dilihat dari sikapnya yang begini tenang, hati orang sudah cukup dibuatnya menjadi keder......."

Ia mencoba memperhatikan wajah Kim Thi sia dengan seksama, tampak ia memiliki wajah yang lebar dengan alis mata tebal, mukanya meski tak terhitung tampan namun cukup menarik hati.

"Tak heran orang lain ngeri kepadanya, ia memang memiliki wajah yang cukup keren dan menyakinkan......"

Demikian dia berpikir lebih jauh. Ketika melihbat Kim Thi sia tidak menggubris mereka lagi setelah bergumam tadi, ia semakin tak senang hati, pikirnya lebih jauh.

"Sekalipun pamormu cukup besar, namamu cukup tersohor, tapi sikap memandang rendahmu sangat menjengkelkan-Aku tak percaya kau benar-benar mempunyai tiga kepala enam lengan sehingga tak takut mati......."

Sambil maju mendekat, ia menegur keras.

"Perkataan Kim tayhiap memang benar, aku tak lebih cuma seorang manusia tidak bernama yang tak berkemampuan apa-apa. Tapi biar tak bernamapun masih terhitung seorang manusia. Kim tayhiap. perbuatanmu membantai puluhan orang saudara kami telah menimbulkan amarah khalayak ramai, betapapun hebatnya asal usulmu, betapa lihay ilmu silatmu, kami bertekad akan membalaskan dendam bagi kematian saudara-saudara kami."

Suasana hening untuk sesaat, lalu terdengar Kim Thi sia menjengek sambil tertawa dingin.

"Hmm, kau benar tak tahu diri, hari ini aku bertekad akan menghancur lumatkan tubuhmu menjadi berkeping-keping."

Lelaki bermuka kuning itu gusar sekali, mendadak dia mengayunkan telapak tangannya sambil menyerbu kedepan, sebuah pukulan dahsyat siap dilontarkan ketubuh lawan-Namun baru mencapai tengah jalan tiba-tiba ia buyarkan serangan sambil melompat mundur kebelakang.

Rupanya pada saat itulah Kim Thi sia telah mengayunkan pula telapak tangannya seolah-olah hendak membendung serangannya.

Untuk sesaat lamanya lelaki berwajah kuning itu menjadi tertegun, beginikah cara Kim Thi sia yang termashur namanya itu menghadapi serangan musuhnya?

Sekalipun ia belum pernah menyaksikan sendiri kehebatan ilmu silat Kim Thi sia namun sering mendengar dari cerita rekan-rekannya, beginilah cara Kim Thi sia menghadapi lawannya?

Bertarung dengan sikap kemalas-malasan?

Atau mungkin musuhnya memandang rendah dirinya dan merasa tak sudi bertarung seorang lawan seorang dengannya?

Sementara dia masih kebingungan, tiba-tiba terdengar Kim Thi sia berseru lagi.

"Keparat, tak nyana kau punya ilmu simpanan juga. Haaaah......haaaah.......haaaaah........"

Gelak tertawanya penuh diliputi perasaan bangga, seakan-akan ia memiliki kemampuan cukup untuk membasmi musuhnya.

Lelaki bermuka kuning itu dibuat terperanjat sekali oleh gelak tertawa itu, rasa takut yang tibatiba muncul membuat paras mukanya berubah hebat, tergopoh-gopoh dia melompat mundur kebelakang.

Biarpun saat ini dia didampingi oleh keempat orang rekannya yang terkenal sebagai "chin nia su coa"

Atau empat ular dari tebing chin, namun bila dipertimbangkan kekuatan gabungan mereka, jelas masih ketinggalan jauh bila dibandingkan dengan kehebatan Kim Thi sia.

Empat ulat dari tebing chin segera saling bertukar pandangan ketika melihat rekan mereka ini menyusut mundur dengan wajah ngeri.

Agaknya mereka telah dapat menebak jalan pikiran rekannya itu, sambil mendengus marah, serentak mereka maju mendekati Kim Thi sia, lalu teriaknya keras-keras.

"Hey Kim Thi sia, apa sih hebatmu. jangan harap kau bisa menakuti orang lain dengan andalkan pamormu itu, kalau ingin hebat, tunjukkan dulu kepandaian silatmu yang sebenarnya........"

Sambil berkata serentak mereka meloloskan golok masing-masing.

Ucapan dari keempat orang ini kontan saja membuat lelaki bermuka kuning itu menjadi tersipusipu malu, sekalipun dihati kecilnya dia tahu maksud dan tujuan keempat ular dari tebing chin ini, namun tak urung timbul juga rasa tak senangnya.

Tiba-tiba Kim Thi sia menggeliat, lalu berkata dengan kemalas-malasan-"Siapa yang barusan membicarakan diriku?"

Tampaknya dia belum tersadar kembali dari tidurnya, sehingga sewaktu bertanya matanya masih tetap terpejam.

Empat ular dari tebing chin tidak mengetahui keadaan sebenarnya, bahkan mereka menganggap pemuda tersebut berada dalam keadaan sadar selama ini, melihat lagaknya itu kontan mereka tertawa dingin seraya menjawab.

"Kim tayhiap. orang yang membicarakan dirimu berada disisimu sekarang........"

Kim Thi sia segera mengenyitkan alis matanya yang tebal, baru sekarang dia merasakan sesuatu yang tak beres.

Dia merasa bukan lagi bermimpi maka sambil membuka matanya ia mulai Celingukan memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu.

Dengan cepat terlihat olehnya serentak wajah-wajah asing yang belum dikenalnya selama ini.

Keempat lembar wajah yang hitam kemerah-merahan itu sedang menyeringai dan tertawa seram, sorot matanya berkilat penuh amarah.

Mimik muka yang menyeramkan ini kontan saja mengejutkan hatinya.

cepat-cepat dia melompat bangun sambil mengawasi lagi sekeliling arena, segera dilihatnya ada sekelompok manusia yang tak dikenal telah mengepungnya ditengah arena.

Untung saja reaksinya cukup cepat, dari mimik wajah kawanan manusia itu, ia segera mengetahunya kalau memang orang-orang itu datang dengan "

Maksud tak baik", dengan perasaan terkesiap buru-buru ia membuat persiapan-"Sobat, apa maksud kalian datang mencari aku orang she Kim?"

Dengan suara yang keras tegurnya.

"Kim tayhiap. apakah kau masih akan berlagak pilon?"jengek keempat ular dari tebing chin dingin.

"Apakah orang-orang yang mati mengenaskan itu bukan merupakan hasil karyamu?"

Sembari berkata mereka menuding kearah mayat-mayat yang terkapar ditanah, mati oleh sipukulan sakti tanpa bayangan itu.

Sebelum Kim Thi sia sempat mengucapkan sesuatu, keempat ular dari tebing chin telah berkata lagi.

"Kim tayhiap. setelah membunuh orang kau masih bisa berbaring dan tiduran disini tanpa menggubris apapun, memangnya kau anggap manusia yang terbunuh itu sama sekali tak bernyawa?"

"Telur busuk sialan"

Umpat Kim Thi sia dihati.

"Orang lain yang membunuh sahabat kalian, masa aku Kim Thi sia yang kena getahnya? Betul-betul sekawanan manusia bodoh."

Ia tidak langsung menanggapi perkataan terse but, sebaliknya malah bertanya.

"Apakah sobat adalah saudara-saudara mereka?"

"Betul"

Jawab empat ular serentak.

"Kami memang sengaja datang kemari untuk mengganggu Kim tayhiap sebentar"

Yang dimaksud "

Mengganggu"

Disini jelas adalah hendak melakukan "pembalasan dendam". Sebagai pemuda yang tak bodoh tentu saja Kim Thi sia dapat menangkap arti dari perkataan itu, dia segera tertawa terbahak-bahak.

"IHaaaah......haaaaah.......haaaaah.......rupanya kedatangan sobat untuk menuntut balas, sayang kalian telah salah mencari orang....."

Dengan nada tak senang hati empat ular dari tebing chin berseru.

"Seorang lelaki sejati berani berbuat berani pula bertanggung jawab.Jawaban dari Kim tayhiap sangat mengecewakan hati kami semua."

"Apa maksud perkataanmu itu?"

Kim Thi sia segera menegur.

"Sudah lama kami mendengar akan nama besar Kim tayhiap. dalam anggapan kami Kim tayhiap pasti seorang lelaki j antan yang berani berbuat berani pula bertanggung jawab. Siapa tahu setelah bertemu muka sekarang, kami jumpai dirimu hanya seorang gentong nasi belaka. Tahu begini, kamipun tak usah banyak bicara lagi."

Kim Thi sia merasa kegelian setelah mendengar perkataan itu, segera katanya.

"Sobat Jangan salah sangka, mereka semua tewas dibunuh oleh si Pukulan sakti tanpa bayangan, ketua dari Tiang pek san"

Empat ular dari tebing chin kembali mendengus.

"Hmmm, mayat belum diangkat, kenyataan masih terpampang didepan mata, tidakkah Kim tayhiap menganggap sangkalanmu itu sungguh menggelikan hati?"

Melihat kawanan manusia itu menuduh dirinya terus menerus sedangkan dia sendiri tak mampu memberikan penjelasan, lama kelamaan Kim Thi sia menjadi naik darah, dengan nada tak senang hati ia berseru.

"Aku sudah mengatakan yang sesungguhnya namun kalian tak mau percaya, hmmmm Tentu saja kalian tak berani mempercayainya karena orang yang melakukan pembunuhan adalah tokoh tersohor dari dunia persilatan-Kini kalian telah meninggalkan musuh besar yang sebenarnya dengan mencari gara-gara kepadaku. Perbuatan kalian inilah yang benar-benar menggelikan hati"

"Ngaco belo"

Teriak empat ular dari tebing chin dengan wajah berubah dan nada penuh amarah? Kim Thi sia tertawa dingin.

"Heeeeh......heeeeh......heeeeh......si pukulan sakti tanpa bayanganpun yang memang mempunyai nama besar yang termashur, nama besarnya didengar dimanapun-sekarang kalian tak berani pergi mencarinya, sebaliknya malah berkaok-kaok dihadapanku, memangnya kau anggap aku adalah manusia tak berguna yang mudah dipermainkan?"

"Siapa membunuh orang, dia harus membayar dengan nyawa sendiri. Betapapun liciknya Kim tayhiap untuk menyangkal peristiwa inijangan harap bisa mengelabuhi aku. Hmmm kenyataan masih terpampang didepan mata, siapa yang melihat peristiwa ini pasti akan menganggap kau sebagai pembunuhnya, tentu saja kecuali kalau orang itu adalah orang tolol.........."

Sekali lagi Kim Thi sia tertawa dingin.

"Baiklah, kalau toh kalian bersikeras menuduh diriku sebagai pembunuhnya, rasanya biar aku bicara apapun kalian tak akan percaya, sebelum kalian hendak bertindak lebih jauh, aku harap kamu semua bersedia untuk berpikir lagi dengan kepala dingin. Sebetulnya kalian menyaksikan dengan mata kepala sendiri atas kejadian ini ataukah ada orang lain yang memberitahukan soal ini kepada kalian?"

Sesungguhnya ia tak pernah bersikap mengalah seperti hari ini, tapi berhubung keselamatan putri Kim huan masih menjadi tanda tanya, kedua iapun merasa terfintah, maka pemuda tersebut berusaha untuk mengendalikan gejolak hawa amarahnya.

Untuk sesaat lamanya keempat ular dari tebing chin terbungkam dalam seribu bahasa, lama kemudian mereka baru berkata lagi.

"Bagaimanapun juga, kematian dari saudara-saudara kami itu tak akan terlepas dari dirimu.......siapa suruh kau berbaring ditempat ini?"

Dengan geram Kim Thi sia mengumpat dihati kecilnya.

"Hmmmm... kurang ajar betul, nampaknya manusia-manusia ini memang sengaja mencari gara-gara dihadapanku"

Walaupun amarahnya telah berkobar, namun sikapnya tetap tenang sekali, pelan-pelan dia berkata.

"Jadi persoalan ini biar dijelaskanpun tak akan menjadi jelas?"

"Benar, sekalipun bukan perbuatanmu, namun berdasarkan kehadiranmu ditempat ini. Kau tak mungkin bisa menjelaskan apa-apa lagi, kau hanya bisa mengatakan nasibmu lagi sial."

Tak terlukiskan rasa gusar Kim Thi sia sehabis mendengar ucapan ini, pikirnya lagi.

"Kalian betul-betul punya mata, tak berbiji, selama ini aku sudah cukup sadar dan memberi muka kepada kalian, tak disangka kalian justru membuat gara-gara terus. HHmmm, nampaknya kalian memang sudah bosan hidup lagi didunia ini."

Berpikir sampai disitu, diapun berkata.

"Bila kalian bersikeras hendak mencari gara-gara denganku, akupun tak bisa berbuat lain kecuali melayani kalian dengan sepasang telapak tanganku."

Tampaknya pemuda ini sadar bahwa pertarungan tak mungkin bisa dihindari lagi, maka ia mengeluarkan "lentera hijau", membuka bungkusannya dan menempelkan lentera tersebut diatas hidung putri Kim huan-Setelah itu dia baru berpaling kembali kearah keempat ular dari tebing chin sambil bentaknya.

"Agaknya pertarungan memang tak bisa dihindari lagi, sekarang coba sambut dulu sebuah pukulan ini"

Empat ular dari tebing chin sebagai manusia-manusia tinggi hati pada hakekatnya telah berhasrat untuk membunuh lawannya karena dengan berbuat demikian kemungkinan besar nama besar mereka akan menanjak tinggi.

Karenanya, tidak sampai lawannya sempat melepaskan pukulan, serentak mereka bertindak lebih dulu dengan melepaskan pukulan yang maha dahsyat.

Dengan bertindaknya keempat orang itu, kawanan jago persilatan lainnya berteriak pula sambil mengayunkan senjata masing-masing dan ikut menyerbu kedepan-Dengan sebuah pukulan yang kencang Kim Thi sia menghalau keempat ular tersebut, kemudian katanya sambil tertawa terbahak-bahak.

"Haaaah......haaaah......haaaah......ternyata kemampuan kalian hanya begini-begini saja."

Sejak meninggalkan Lembah Nirmala, tenaga dalam yang dimilikinya hari demi hari mendapat kemajuan yang semakin pesat.

Kemampuannya saat ini boleh dibilang sudah mencapai tingkatan yang luar biasa.

Itulah sebabnya serangan dahsyat yang dilancarkan kali ini kontan menyapu hilang semua kecongkakan dan kejumawaan empat ular dari tebing chin, baru sekarang mereka sadar bahwa apa yang tersiar dalam dunia persilatan selama ini nyata bukan kosong belaka.

Sementara itu, lelaki berwajah kuning itu sangat berharap kematian dari keempat rekannya, kendatipun ia mempunyai hubungan persahabatan dengan keempat ular dari tebing chin, namun bila keempat orang rekannya tak mampus dalam pertarungan ini, berarti dia akan kehilangan muka untuk selamanya atas sifat kepengecutannya tadi.

Pertarungan ditengah arena berlangsung makin seru, sebuah tendangan kilat dari Kim Thi sia yang dikombinasikan dengan sebuah pukulan dahsyat langsung dilancarkan kearah lima orang lelaki bermuka merah yang berdiri disisi kiri.

Kelima orang lelaki bermuka merah itu memiliki perawakan badan yang tinggi kekar, ketika melihat datangnya serangan tersebut, serentak mereka sambut datangnya ancaman dengan keras melawan keras.

Dalam sekejap mata, kuda-kuda kelima orang itu menjadi tergempur, tergesa-gesa mereka melompat mundur kesamping untuk menghindarkan diri dari ancaman maut.

Kim Thi sia sadar kini bahwa musuh yang dihadapi sekarang merupakan jagi pilihan dari dunia persilatan, namun ia sama sekali tak gentar, serangan demi serangan yang dilancarkan olehnya selalu memaksa musuhnya mundur dengan mandi keringat dingin.

Tak lama kemudian puluhan gebrakan telah lewat, Kim Thi sia yang harus bertarung melawan puluhan jago lihay, bukannya bertambah lemah, sebaliknya makin bertarung ia nampak semakin perkasa.

Tiba-tiba bentaknya lantang.

"Hey, apakah kepandaian yang kalian miliki cuma bisa makan nasi saja? Ayoh keluarkan simpanan yang lain-"

Paras muka empat ular dari tebing chin berubah hebat, sambil mendengus mereka mengeluarkan ilmu toya menghancur bukitnya.

Bayangan toya yang berlapis-lapis meluncur keempat penjuru bagaikan amukan ombak besar ditengah samudra, kelih ayannya sungguh mengagumkan-Kim Thi sia tidak gentar, dia menyerobot maju kedepan sambil mencengkeram sebatang toya yang mengancam tubuhnya, lalu membetot kebelakang kuat-kuat.

Jerit kesakitan segera bergema memecahkan keheningan, ternyata telapak tangan orang itu pecah dan berdarah, sementara senjatanya sudah mencelat entah kemana.

Dalam keadaan begini, orang itu menjadi bergidik dan ketakutan setengah mati sambil berteriak keras buru-buru ia melompat mundur dan melarikan diri terbirit-birit.

Kim Thi sia tertawa tergelak.

dengan toya hasil rampasannya dia menghajar serangan toya orang lain-....

"Traaaangg....."

Kembali terjadi bentrokan nyaring, orang itu menjerit tertahan, lengannya menjadi lunglai kebawah dan ternyata tak mampu diangkat kembali.

Untuk sesaat kawanan jago itu saling berpandangan dengan perasaan ngeri, ketika semua orang menjadi bimbang dan tak tahu apa yang mesti dilakukan, mendadak tampak seorang kakek berjenggot pendek melompat kedepan dengan langkah lebar sambil membekuk nyaring.

"Berhenti semua!!"

Jilid 40 Begitu suara bentakan bergema, serentak puluhan orang jago persilatan itu menarik kembali senjata masing-masing sambil melompat mundur kebelakang, suasana dalam arenapun menjadi hening, sepi dan tak kedengaran suarapun.

Menanti semua jago telah mundur teratur, kakek berjenggot pendek itu baru berkata lagi.

"Harap kalian mendengar perkataanku dulu......."

Belum selesai ucapan tersebut diutarakan, mendadak terdengar seseorang berseru sambil tertawa merdu.

"Ayoh bertarung lagi..... kenapa sih kalian menghentikan pertarungan ini?"

Begitu mendengar suara merdu tersebut, bagaikan disengat kalajengking beracun, dengan cepat berpaling dan mengawasi sekeliling tempat itu dengan sorot matanya yang tajam, kemudian dengan wajah kaku dan serius ia membentak.

"Sungguh tak disangka Dewi Nirmalapun telah hadir disini. Bagus, bagus sekali......."

Tiba-tiba nampak sesosok bayangan manusia meluncur datang dengan kecepatan bagaikan sambaran petir, sedemikian cepatnya gerakan tubuh orang itu membuat bukan saja kawanan jago itu menjadi terkejut, Kim Thi sia sendiripun amat terperanjat jadinya.

Ternyata orang itu adalah seorang perempuan berbaju ungu, begitu munculkan diri dan semua orang dapat melihat wajahnya dengan jelas, kawanan jago persilatan itu segera berpikir dengan perasaan kaget.

"ooooh, benar-benar amat cantik......sungguh tak disangka perempuan secantik ini ternyata memiliki kepandaian silat yang luar biasa hebatnya......."

Perempuan cantik itu memang tak lain adalah Dewi Nirmala, sambil tertawa terkekeh ia berkata.

"Wahai Kim Thi sia, aku sudah tahu kalau kau tak bakal mampus"

Kim Thi sia seperti sudah melihat panah beracun yang tersembunyi dibalik senyuman manisnya itu, bukan saja ia tidak terpikat oleh kecantikan wajahnya, malahan dengan perasaan muak dan sebal dia tertawa dingin.

"Heeeh..... h eeeeh...... h eeeeh.......perkataanmu memang benar. Takdir belum menentukan Kim Thi sia harus mati, tentu saja aku tak akan mati konyol"

"Aku dengar, kau berhasil mengobrak abrikan sembilan pedang dari dunia persilatan semalam?"

Kata Dewi Nirmala sambil tertawa.

"Terima kasih atas perhatianmu"

Dengus sang pemuda makin sebal.

"Kau memang seorang lelaki hebat, hanya didalam semalaman saja, sembilan pedang dari dunia persilatan yang begitu termashur ternyata berhasil dikalahkan......."

Berbicara sampai disitu ia tertawa terkekeh-kekeh, kemudian baru lanjutnya lebih jauh.

"Bukan cuma begitu, konon sipedang besi, pedang tanah, dan pedang api tewas pula ditanganmu......"

"Hmm, kau tak usah gembira karena tragedi yang menimpa orang lain"

Dengus Kim Thi sia sinis.

"cepat atau lambat kau......"

Gelak tertawa Dewi Nirmala bertambah keras, berapa saat kemudian ia baru berkata.

"Bagaimanapun juga, aku patut berterima kasih kepadamu, sebab kau telah membantuku untuk mengurangi banyak kerepotan."

"Masalah ini merupakan masalah budi dan dendam dari saudara seperguruanku tak usah kau berterima kasih kepadaku. Kaupun tak usah mencampurinya......."

"Tidak!! kedatanganku hari ini adalah untuk menyampaikan rasa terima kasihku....."

Kim Thi sia mengetahui kekejaman serta kebuasan hatinya. Ketika mendengar perkataan tersebut, tak kuasa lagi ia tertawa terbahak-bahak.

"Haaaah......haaaah.......haaaaah.......kau hendak menggunakan ilmu Tay yu sinkang untuk berterima kasih kepadaku?"

"Keliru,aku justru hendak menggunakan "darah"

Untuk membalas kesungguhan hatimu itu....."

"Apa kau bilang?"

Seru Kim Thi sia tertegun.

Sebagai seorang yang pintar, dari perkataan tersebut secara lamat-lamat ia bisa menarik kesimpulan, kontan saja hatinya bergetar keras.

Selapis awan hitam yang tidak menguntungkan pun secara menyelimuti sekeliling tubuhnya.....

sementara itu kawanan jago persilatan lainnya telah meninggalkan tempat itu secara diamdiam, mereka pergi sejauh-jauhnya dari tempat kejadian tersebut.

Biarpun nama "Dewi Nirmala"

Belum lama muncul didalam dunia persilatan, namun mereka dapat menyadari dan memahami manusia macam apakah perempuan tersebut.

oleh sebab itulah dikala semua orang tahu bahwa perempuan yang berada dihadapannya adalah "Dewi Nirmala", pikiran dan perasaan merekapun segera berubah.

Mereka sudah sering kali mendengar orang bercerita bahwa Dewi Nirmala adalah seorang perempuan yang cantik rupawan namun berhati keji bagaikan ular berbisa.

Itulah sebabnya mereka segera mengambil keputusan untuk meninggalkan tempat tersebut sejauh-jauhnya.

Kemunculan Dewi Nirmala mendatangkan pula pelbagai kesulitan bagi Kim Thi sia, dengan kehadirannya bukan saja semua rencananya selama ini mengalami kegagalan total lagi pula memberikan ancaman yang lebih sering bagi keselamatan putri Kim huan.

Ia sengaja tidak menggubris keadaan putri Kim hUan, dengan berbuat begitu dia berharap Dewi Nirmala tidak mengetahui akan kekuatirannya sehingga turun tangan mencelakai gadis tersebut.

Tiba-tiba Dewi Nirmala bertepuk tangan nyaring, disusul kemudian dari balik hutan tak jauh dari situ muncul tiga orang kakek berambut putih yang kepalanya mengenakan gelang emas.

Ketiga orang itu munculkan diri dengan langkah lebar dan tegap.

jelas ilmu silat yang mereka miliki amat hebat.

Kim Thi sia mengalihkan sorot matanya kearah orang yang berdiri dipaling kiri dari ketiga orang tersebut, mendadak serunya kaget.

"Aaaah......bukankah dia adalah Nirmala nomor tujuh?"

Nirmala nomor tujuh memang orang yang bersikap paling baik terhadapnya.

andaikata tiada bantuan dari orang tua ini, bisa jadi dia tak akan berhasil lolos dari Lembah Nirmala untuk selamanya.

Kini, Nirmala nomor tujuh yang tegap dan gagah sama sekali tak bergerak ditangan rekanrekannya, jelas orang tua itu sudah mendapat celaka.

Tampak Dewi Nirmala menarik kembali senyumnya, lalu berkata dingin.

"Yaa betul, dia memang Nirmala nomor tujuh."

"Kenapa dia? Kenapa ia berada ditangan-....."

Paras muka Dewi Nirmala berubah sangat cepat, terdengar ia tertawa dingin tiada hentinya kemudian berkata.

"Bila ditinjau dari kegelisahan yang mencekam wajahmu, rasanya apa yang kuduga memang benar. Hmmm^ hmmm......ia berani berhianat dan bersekongkol dengan musuh, dosanya tak bisa diampuni lagi"

"Mengapa ia tak mampu berkutik? Sebetulnya apa yang telah kau lakukan kepadanya?"

Seru Kim Thi sia semakin terkejut.

"Ia sudah mampus"

Jawab Dewi Nirmala singkat.

Kata-kata itu muncul dari bibirnya tanpa sesuatu reaksi, pada hakekatnya ia tak menganggap peristiwa ini sebagai suatu kejadian yang berarti.

Menyaksikan hal mana, tanpa terasa para jago berpikir.

"Apa yang diduga ternyata benar, kekejaman siluman perempuan ini melebihi ular berbisa."

Sementara itu Kim Thi sia telah berteriak keras.

"Apa? Sudah mati? Kau yang membunuhnya?"

"Omong kosong, memangnya aku harus bertanya dulu kepada orang lain bila hendak menghukum anak buahku sendiri?"

Jengek Dewi Nirmala sambil tertawa dingin. Kim Thi sia semakin gusar, teriaknya.

"Siluman perempuan, kau jahat, kau kejam. Berani amat kau mencabut nyawanya....."

Sementara berteriak.

titik air mata tanpa terasa jatuh berlinang membasahi wajahnya.

Dipandangnya mayat Nirmala nomor tujuh sekejap dengan pandangan tertegun, kemudian sambil berusaha mengendalikan kobaran api dendamnya, dia bertanya.

"Dosa dan kesalahan apa yang telah diperbuatnya? coba kau terangkan kepadaku"

"Ia telah berhianat, telah bersekongkol dengan musuh"

Dengus Dewi Nirmala.

"Siapa yang kau maksudkan sebagai musuh?"

"Kau"

"Apa?"

Bagaikan peluru yang dibidikkan Kim Thi sia melompat keatas, lalu teriaknya lagi.

"Atas dasar persoalan inikah kau telah membunuhnya secara keji?"

Kembali Dewi Nirmala mendengus dingin.

"Hmmm, aku bukan orang tolol, terus terang sudah lama aku ini menaruh curiga kepadanya, sejak ia gagal menemukan tubuhmu didalam kolam, kecurigaanku makin bertambah. Aku curiga kau belum mampus dan atas bantuannya kau berhasil meloloskan diri. Hmmm kini terbukti kau masih hidup, bukankah hal ini membuktikan bahwa dugaanku memang benar?"

"Jadi ia mati lantaran aku?"

"Boleh dibilang begitu"

Mencorong sinar tajam dari balik mata Dewi Nirmala yang jeli.

"Nirmala nomor tujuh telah menghianati diriku, bersahabat dengan musuh, dosanya tak bisa diampuni lagi. Hmmm gara-gara ulahnya kau sikeparat yang meraih keuntungan-"

"Jadi ia mati lantaranaku. ...... dia mati lantaran aku.......oooh Nirmala nomor tujuh aku telah mencelakai dirimu......"

Gumam Kim Thi sia amat sedih. Mendadak api dendam dan benci membara didalam dadanya, dengan mata berapi-api pemuda itu segera membentak keras.

"Dewi Nirmala , bila kau tak mampus hari ini, akulah yang akan tewas"

Seusai berkata, dengan menghimpun tenaga Tay goan sinkangnya sebesar sepuluh bagian, ia lancarkan sebuah pukulan yang maha dahsyat ketubuh lawan-Belum lama berselang, Dewi Nirmala sudah pernah bertarung melawan pemuda ini, dia cukup mengetahui sampai dimanakah taraf kepandaian silat yang dimilikinya, iapun mengerti kecuali ilmu Tay goan sinkang, pemuda itu tidak memiliki ilmu silat lain yang patut dikuatirkan-Atas dasar pandangan itulah, dengan suatu gerakan yang santai dia melontarkan pula sebuah pukulan kedepan-Benturan keras yang kemudian terjadi seketika membuat perasaan kedua orang itu sama-sama bergetar keras.

Dengan sempoyongan Kim Thi sia mundur kebelakang hingga bahunya menumbuk diatas batanga pohon, walaupun tubuhnya berhasil untuk berdiri tegak.

namun menimbulkan rasa sakit yang luar biasa.

Tapi Dewi Nirmala lebih terkejut lagi, ia dapat merasakan bahwa kekuatan yang dimiliki Kim Thi sia sekarang sudah jauh berbeda dari keadaan semula, kemajuan yang berhasil dicapainya sama sekali diluar dugaan-Kejadian mana seketika menimbulkan perasaan ngeri yang baru pertama kali ini timbul dalam hatinya.

Sementara itu Kim Thi sia sama sekali tidak ambil perduli dengan keadaan luka yang dideritanya, kembali ia membentak keras.

"IHey Dewi Nirmala manusia keparat, jika bernyali ayoh sambut sekali lagi pukulanku ini" ^ sambil berkata dia menghimpun kembali tenaga dalam Tay goan sinkangnya, kemudian melepaskan sebuah pukulan lagi. Dewi Nirmala mendengus dingin, hawa napsu membunuh telah menyelimuti wajahnya, dia sambut datangnya ancaman tersebut dengan keras melawan keras...... Kini, ia sudah bertekad akan melenyapkan "bocah keparat"

Tersebut secepatnya, sebab ia sadar, kehadiran pemuda itu sudah menjadi sebuah ancaman yang mengerikan baginya, terutama kemajuan ilmu silat yang berhasil dicapainya dalam waktu singkat, jelas hal ini merupakan suatu momok baginya.

Bentrokan demi bentrokan segera berlangsung susul menyusul, setiap kali bentrokan kekerasan terjadi, diluarnya Kim Thi sia nampak tak tahan dan mundur dengan sempoyongan Padahal setiap kali sehabis terjadi bentrokan tenaga dalam yang dimilikinya mendapat kemajuan yang lebih hebat.

Disaat bentrokan keenam selesai berlangsung, Dewi Nirmala mulai merasakan akan gejala tersebut, mendadak ia berteriak keras.

"Tunggu dulu"

"Mau apa kau?"

Tegur sang pemuda sambil menghentikan serangannya.

"Aku ingin bertanya kepadamu"

"Apa yang ingin kau tanyakan?"

Seru Kim Thi sia tak sadar.

"Ayoh cepatlah sedikit, toaya tak sabar untuk menunggu lebih lama lagi."

Untuk pertama kali ini Dewi Nirmala harus menahan sabar, sekalipun dia merasa tak terbiasa dengan sikap tersebut, tidak urung dia harus berusaha untuk mengendalikan diri, katanya dengan tenang.

"Selain ilmu Tay goan sinkang, kepandaian apa lagi yang diwariskan Malaikat pedang berbaju perlente kepadamu?"

"Buat apa kau menanyakan tentang persoalan ini?"

Tanya Kim Thi sia keheranan-"Tak usah bertanya, jawab dulu pertanyaanku itu"

"Aku tak mau menjawab"

Berubah hebat paras muka Dewi Nirmala teriaknya dengan marah.

"Bila kau tak bersedia menjawab, akan kuperintahkan orang untuk mencincang mayat Nirmala nomor tujuh hingga hancur berkeping-keping........."

Kim Thi sia sama sekali tidak menyangka kalau perempuan tersebut akan berbuat serendah ini, untuk sesaat dia menjadi terbelalak dengan mata melotot, untuk berapa waktu lamanya tak sepatah katapun yang mampu diucapkan-Melihat pemuda itu "

Masuk perangkap". Dewi Nirmala segera mengetahui bahwa lawannya adalah seorang setia kawan yang tak tega melihat sobatnya mengalami keadaan tragis. Maka sambil tertawa puas ia berkata.

"Bersedia untuk menjawab atau tidak silahkan kau pertimbangkan sendiri......."

Karena terdesak oleh keadaan, terpaksa Kim Thi sia berkata.

"Ilmu pukulan Panca Buddha"

Dewi Nirmala segera manggut-manggut.

"Yaa benar, ilmu pedang dan ilmu pukulan ini merupakan kepandaian silat yang luar biasa, batu emaspun tak akan mampu membendungnya."

Kemudian setelah berhenti sejenak. ia bertanya lagi.

"Kecuali ilmu pukulan panca Buddha, masih ada yang lain?"

"Aku rasa, hanya satu itupun sudah lebih dari cukup,"

Cepat-cepat Dewi Nirmala menggeleng.

"Yang kumaksudkan adalah semuanya, ayoh cepat sebutkan semua ilmu yang telah diwariskan Malaikat pedang berbaju perlente kepadamu."

"Kau kelewat memojokkan orang, aku tak sudi menjawab"

Seru Kim Thi sia mulai marah. Dewi Nirmala tertawa dingin.

"Heeeeh......heeeeh......heeeeh.......aku mampu untuk memaksamu agar memberi jawaban"

Ia segera mengulapkan tangannya, seorang kakek berjenggot panjang yang berdiri disisinya segera tampilkan diri dengan langkah lebar, tanyanya dengan hormat.

"Sincu ada perintah apa?"

"Turunkan nirmala nomor tujuh"

Orang yang disebelah kiri menurut dan turunkan jenasah tersebut, lalu berdiri tegap dengan sikap yang menghormat.

"Siap menunggu perintah selanjutnya dariSincu"

Katanya kaku."

Loloskan pedang"

Hardik Dewi Nirmala.

orang yang berada disebelah kanan segera meloloskan sebilah pedang, tampak tubuh pedang tersebut bergetar keras hingga mendengung nyaring, jelas senjata itu merupakan sebilah senjata mestika.

Dengan kaku orang itu mengangkat pedangnya, lalu berkata singkat.

"Siap melaksanakan perintah Sincu"

Dewi Nirmala tertawa terkekeh-kekeh, setelah memandang sekejap kearah Kim Thi sia pelanpelan ia berkata.

"Inilah peraturan pertama dari lembah kami, cincangan pedang menembus hati"

"Aku mengerti."

Sembari berkata matanya dipejamkan, sikapnya seakan-akan tak acuh, namun butiran air mata sempat bercucuran keluar membasahi pipinya. Terdengar pemuda itu berkata.

"Apa yang hendak kau perbuat, lakukanlah sesuka hatimu."

"Kau benar-benar tak bersedia untuk menjawab?"

Kim Thi sia mengangguk.

"Aku tak berhak untuk membocorkan rahasia perguruanku"

Mendengar perkataan mana, tiba-tiba saja Dewi Nirmala tertawa dingin, serunya lantang.

"Turun tangan"

Suara tertawa dinginnya yang bergema nyaring, ibarat tusukan jarum yang menembusi hati siapapun yang mendengarnya, bukan saja seluruh badan terasa tak sedap perasaan hatinya pun ikut bergetar keras.

Ditengah gelak tertawa yang mengerikan hati itu, dua orang kakek berjenggot panjang yang nampaknya sudah kehilangan sukma itu, tanpa perasaan mengangkat senjata masing-masing dan siap melaksanakan hukuman "cincangan pedang penembus hati."

Ketika ujung pedang sudah tinggal tiga inci diatas jantung Nirmala nomor tujuh, tiba-tiba Kim Thi sia merasa hatinya amat sakit, segera teriaknya keras-keras.

"Berhenti.....berhenti......."

Pada saat yang hampir bersamaan, Dewi Nirmala berteriak keras.

"Berhenti"

Dengan gerakan yang kaku, kakek berjenggot panjang itu menarik kembali gerakan pedangnya dan diangkat tinggi-tinggi keatas.

Wajahnya termangu-mangu, sorot matanya kaku, seakan-akan ia sedang menunggu perintah berikutnya.

Dengan suara keras Kim Thi sia berteriak lagi.

"Bila kau berani merusak tubuh Nirmala nomor tujuh, dikemudian hari pasti akan mati secara mengenaskan-..."

Dewi Nirmala tertawa dingin.

"Heeeh.....heeeeh......heeeeh...... .jangan kau anggap setelah mengatakannya keluar berarti kau telah membocorkan rahasia perguruan, ketahuilah Malaikat pedang berbaju perlente adalah abang seperguruanku, sedang kau masih terhitung keponakan muridku. Mengungkap keadaan yang sebenarnya dihadapanku, boleh dibilang merupakan suatu kejadian yang lumrah?"

"Aku tidak mengakui dirimu sebagai paman guruku, kau tak usah banyak lagak lagi"

Seru Kim Thi sia marah. Bukan marahi Dewi Nirmala malahan tertawa tergelak.

"Haaaah......haaaaah.......haaaaaah......kau memang tak malu disebut seorang enghiong hohan yang berhati lurus dan jujur. Malaikat pedang berbaju perlente memang benar-benar bernasib baik."

Setelah berhenti sejenak dan menarik kembali senyumnya, dengan suara dalamnya ia berseru lebih jauh.

"Soalnya ini tak usah diperbincangkan lagi, yang penting jawab dulu kepandaian silat apa saja yang pernah kau pelajari darinya."

"Ilmu Tay goan sinkang"

"Kau ingin mengulur waktu?"

Dewi Nirmala menegur dengan nada tak senang hati.

"Aku sudah lama mengetahui kepandaian tersebut."

Kim Thi sia melirik sekejap kearah Nirmala nomor tujuh, lalu sambil mencoba menahan diri katanya.

"Ilmu sim hoat ciat khi mi khi"

Apa yang dibicarakan selama ini antara perempuan itu dengan sang pemuda, boleh dibilang hanya diketahui mereka berdua, oleh karena itu dikala Kim Thi sia mengungkapkan ilmu sakti yang pernah dipelajarinya dari Malaikat pedang berbaju perlente, kawanan jago lainnya hanya berdiri melongo tanpa memahami maksudnya.

Apakah ilmu Tay goan sinkang itu?

Apa pula ilmu pukulan panca Buddha serta sim hoat ciat khi mi khi?jangan lagi memahami, mendengarpun baru pertama kali ini.

Untuk berapa saat lamanya semua orang cuma bisa saling berpandangan tanpa bicara, sementara dihati kecilnya tambah semacam pemikiran yang sangat aneh.

Tentu saja pemikiran yang aneh itu bukan disebabkan nama-nama ilmu silat yang dilaporkan Kim Thi sia itu, melainkan pengakuan Dewi Nirmala sebagai paman guru Kim Thi sia.

Selama ini, orang persilatan hanya tahu kalau Kim Thi sia adalah murid terakhir dari Malaikat pedang berbaju perlente, siapapun tak pernah mendengar kalau pemuda tersebut mempunyai hubungan yang erat dengan Dewi Nirmala, bahkan perempuan iblis itu masih terhitung paman gurunya.

Maka, dikala rahasia tersebut tersiar kedalam pendengaran para jago, semua orang merasa tertegun dan diluar dugaan, siapapun tidak menduga kalau perempuan iblis Dewi Nirmala yang begitu termashur namanya dalam dunia persilatan sebetulnya adalah adik seperguruan dari Malaikat pedang berbaju perlente.

"Tak aneh kalau ilmu silat yang dimilikinya begitu hebat dan luar biasa, rupanya dia mempunyai asal usul yang hebat"

Pikir para jago dengan perasaan ngeri. Sementara itu Dewi Nirmala telah berkata lagi.

"Belum pernah kudengar ilmu silat tersebut, rupanya sisetan tua berbaju perlente sengaja merahasiakan ilmunya ini......"

Sebagai adik seperguruannya, dia memang cukup ber "hak"

Untuk mengatakan demikian terhadap Malaikat pedang berbaju perlente. Mendengar ucapan mana, Kim Thi sia segera berteriak gusar.

"Hey, kalau bicara jangan mencoba menghina atau memperolok-olok guruku."

"Heeeeh......heeeeeh......kau memang seorang muridnya yang baik"

Jengek Dewi Nirmala sambil tertawa dingin.

Dengan sorot matanya yang tajam ia memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, kawanan jago persilatan yang bersembunyi disekeliling tempat tersebut menjadi sangat terkejut, tanpa terasa pikirnya.

"Jangan-jangan dia telah mengalihkan sasarannya kepada kami?"

Ternyata Dewi Nirmala tidak berniat untuk berbuat begitu, terdengar ia berkata lagi.

"Keponakan muridku, apa sih yang dinamakan ilmu ciat khi mi khi?"

"Meminjam kekuatan musuh untuk menyerang musuh."

"Ehmmm, jawabanmu amat berterus terang, aku sangat gembira"

Senyuman manis kembali tersungging diujung bibir Dewi Nirmala.

"Tapi aka sih kegunaan serta manfaatnya?"

"Soal ini. ......aku sendiripun kurang begitu jelas, aku hanya dapat merasakan, tak dapat mengemukakan alasannya."

"Kau benar-benar aneh....."

Tegur Dewi Nirmala dengan perasaan mendongkol.

"Baru saja kupuji akan keterus teranganmu. sekarang kau sudah berubah pendirian-"

Sewaktu marah, kecantikan wajahnya makin menawan hati, terutama sepasang lesung pipinya yang tampak jelas, menambah daya tarik dan pesona siapapun yang memandangnya.

Namun Kim Thi sia cukup memahami tabiatnya itu, dia tahu perempuan tersebut adalah seorang siluman wanita yang berhati kejam karenanya hatinya sama sekali tidak tertarik.

"Aku telah berbicara secara terus terang"

Katanya.

"Apakah ilmu ciat khi mi khi dapat menambah tenaga dalam seseorang?"

Tanya Dewi Nirmala kemudian-Tiba-tiba saja ia teringat dengan "sikap aneh"

Kim Thi sia, dimana tenaga dalamnya dapat tumbuh dengan aneh, mungkinkah hal ini dikarenakan ilmu ciat khi mi khi?

"Yaa, kepandaian tersebut mampu menghisap tenaga murni musuh untuk memperkuat tenaga sendiri......"

Sahut Kim Thi sia menerangkan.

Iapun tak ingin banyak berbicara, demi keuntungan jenasah Nirmala nomor tujuh, banyak sudah pengorbanan yang dilakukan olehnya.

Ketika mendengar perkataan tersebut, tergelak hati Dewi Nirmala, pikirnya.

"Ternyata dugaanku tidak meleset.

"sikap aneh"

Bocah keparat ini disebabkan ilmu ciat khi mi khi nya, kalau begitu ilmu simhoat tersebut bukan kepandaian sembarangan-......"

Segera timbullah tekadnya untuk merebut kepandaian tersebut, namun diluaran ia sama sekali tidak menunjukkan perubahan apapun-Katanya sambil tertawa terkekeh.

"Tak aneh kalau aku tidak takut menghadapi pertarungan apapun, rupanya kau memiliki kepandaian untuk melindungi badan-"

"Sudah selesai pertanyaanmu?"

Tegur Kim Thi sia sambil memandang sekejap kearahnya dengan pa ndangan dingin.

"Apakah sudah tak ada yang lain?"

"Apa yang kau pelajari selama ini hanya terbatas sampai disini, tapi semua kepandaian tersebut cukup kugunakan seumur hidupku."

"Betul"

Dewi Nirmala sependapat dengan pikirannya.

"Semua kepandaian yang kau pelajari memang termasuk ilmu pilihan dari dunia persilatan, kepandaian tersebut memang cukup untuk seumur hidupmu."

Kim Thi sia mendengus dingin.

"Hmmm, sekarang kau harap mengubur jenasah Nirmala nomor tujuh dengan sebaik-baiknya. Kau harus memberi jaminan tak akan mengusik seujung rambutnya lagi."

"ooooh, tentu saja......tentu saja"

Dewi Nirmala tertawa.

"Tapi setelah kau selesai mengucapkan permintaanmu, akupun hendak mengajukan permintaan pula agar adil"

Diam-diam Kim Thi sia terkesiap. namun tanyanya juga dengan suara dingin dan berat.

"Apa yang kau inginkan?"

Dewi Nirmala tersenyum.

"Tidak banyak. cuma Tay goan sinkang serta sim hoat ciat khi mi khi tersebut."

Tidak sampai ia selesai berkata, Kim Thi sia sudah mendonggakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

"Haaah.....haaaah......haaaah.......ternyata kalian memang satu komplotan.....haaah.....haaaah"

Gelak tertawa kalapnya itu mengandung suara yang amat tak sedap didengar, terselip juga perasaan gusar yang amat tebal.

Dewi Nirmala nampak agak tertegun sejenak.

lalu tanoa terasa tegurnya keras-keras.

"Apa yang kau tertawakan? Apa sih yang perlu ditertawakan?"

Kim Thi sia tertawa kalap tiada hentinya dengan suara lantang dia menyahut.

"Rupanya kalian memang berasal dari satu golongan-Haaah.....haaaah........lebih baik tak usah kubicarakan lagi, sebab kalau dibicarakan membuat aku teringat pula dengan dua orang yang lain-Haaah.......haaaah......merekapun mempunyai maksud yang sama denganmu, sungguh kebetulan sekali."

"Siapakah kedua orang itu?"

Tanya Dewi Nirmala agak tertegun.

"Yang seorang adalah sipedang emas sedangkan yang lain adalah sipukulan sakti tanpa bayangan, sobat lama mu"

Dewi Nirmala semakin tertegun.

"Apa? Sipukulan sakti tanpa bayangan pun telah turun gunung?"

"Benar"

Kim Thi sia berhenti tertawa dan melanjutkan dengan lantang.

"Si tua bangka itu selalu memaksaku untuk menyerahkan Tay goan sinkang. Akhirnya dia kebentur batunya, tak disangka kaupun demikian juga, hmmm Agaknya kalian memang sealiran dan sependirian."

Dewi Nirmala tidak menggubris soal itu, cepat dia berseru.

"Kalau begitu, kaupun telah bertemu dengan putriku Hay jin?"

Menyinggung soal Hay jin, paras muka sianak muda tersebut segera berubah hebat sambil tertawa dingin serunya.

"Tentu saja, dia mendapat perintah darimu untuk pergi bersama pemuda tersebut."

Tampaknya Dewi Nirmala rikuh sekali, buru-buru tanyanya lagi.

"Kau melihat kemanakah mereka telah pergi? Sudah lamakah kepergian mereka?"

"Tak usah terburu-buru, gampang sekali bila kau ingin mencari jejak mereka"

Ucap Kim Thi sia dengan suara dalam.

"Tengah malam nanti, sipukulan sakti tanpa bayangan telah berjanji denganku untuk meneruskan pertarungan yang belum selesai semalam ditempat ini"

"Sungguh?"

Dewi Nirmala sedikit agak tak percaya.

"Pertarunganmu dengan sipukulan sakti tanpa bayangan belum selesai dilaksanakan? Jadi ilmu pukulan saktinya juga tak mampu berbuat banyak terhadap dirimu?"

Kim Thi sia mendengus dingin.

"Hmmm, tua bangka itu cuma pandai mengibul, padahal kepandaian aslinya belum tentu sangat hebat"

Dari mimik wajah serta sikapnya, Dewi Nirmala dapat merasakan sikap "tidak menghormat"

Pemuda tersebut terhadap sipukulan sakti tanpa bayangan, jelas ilmu silat yang dimiliki sipukulan sakti tanpa bayangan tak mampu mengejutkan hatinya, itulah sebabnya menyinggung soal kakek botak ini.

Nada pembicaraannyapun berubah tak menghormat.

"Apakah malam nanti sipukulan sakti tanpa bayangan pasti datang?"

Kim Thi sia sendiripun dapat menangkap ketidak tenangan perempuan tersebut, hal mana membuat hatinya jadi bingung, segera pikirnya.

"Toh putrinya sudah dijodohkan kepada keluarga Ang, memangnya dia mempunyai perselisihan dengan kakek botak itu?"

Berpikir sampai disitu, diapun menjawab.

"Tentu saja dia akan datang, tapi kenyataannya sipukulan sakti tanpa bayangan benar-benar akan kehilangan muka."

Terdengar Dewi Nirmala bergumam lirih.

"Ternyata dia.......tak lebih hanya begitu, hmmm......"

Sewaktu berbicara, hawa pembunuhan telah menyelimuti seluruh wajahnya, seakan-akan setiap saat ia bisa membunuh orang untuk melampiaskan hawa amarahnya itu hal mana tentu saja membuat Kim Thi sia keheranan dan tidak habis mengerti.

Pada saat itulah mendadak, terdengar suara rintihan lirih bergema datang....

Kim Thi sia terperanjat sekali setelah mendengar suara itu, dengan satu gerakan cepat dia melompat kesamping putri Kim huan lalu sambil menghimpun tenaga dalamnya dia berdiri sering disitu sambil berusaha menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan-Dewi Nirmala kelihatan agak tercengang, ia tak mengerti apa sebab terjadinya gerak gerik yang aneh itu.

Sementara itu putri Kim huan yang berbaring tak bergerak.

kini secara pelan-pelan telah bangun dan duduk.

Perasaan sedih, kaget, gembira berkecamuk didalam benak Kim Thi sia.

Keberaniannya meningkat, dengan suara amat nyaring dia membentak.

"Dewi Nirmala, dengarkanlah baik-baik bila kau berani maju selangkah lagi, jangan salahkan kalau ilmu Tay goan sinkang ku tak mengenal belas kasihan-"

Dewi Nirmala merasa amat terkejut oleh kecantikan wajah putri Kim huan, pikirnya segera.

"Bila dibandingkan dengan Hay jin, kecantikan perempuan ini boleh dikata seimbang, tapi darima na datangnya wanita secantik ini?"

Terdorong oleh perasaan ingin tahunya, sambil tertawa merdu ia segera menegur.

"Siapa kau?"

Tanya putri Kim huan tertegun.

"Aku bernama Dewi Nirmala."

Dengan sepasang matanya yang jeli putri Kim huan memperhatikan sekejap sekeliling arena, lalu sahutnya sambil tersenyum.

"Namamu memang bagus sekali, aku rasa kau pasti seorang perempuan yang lembut suci bersih dan romantis."

Lalu dengan suara yang amat santai, ia memperkenalkan diri.

"Aku berasal dari Negeri Kim, orang-orang menyebutku putri Kim huan-"

"oooh, kalau begitu kau adalah tuan putri dari negeri Kim?"

Tanya Dewi Nirmala tertegun. Putri Kim huan segera tersenyum.

"Ehmm, sudah lama kukagumi daratan Tiongg goan, itulah sebabnya aku sengaja datang kemari untuk menikmatinya."

"Kau pernah berkunjung ke Lembah Nirmala?"

"ooooh, sbeuah nama yang amat menawan hati"

Puji putri Kim huan tersenyum.

"Meski belum pernah kesana, tapi dari namanya sudah pasti tempat tersebut merupakan sebuah tempat yang indah dan sangat menawan hati. Dewi Nirmala, betul bukan perkataanku ini?"

"Perkataanmu memang tepat sekali, pemandangan alam di Lembah Nirmala memang nomor wahid didunia."

Ia seperti merasa cocok dengan perempuan tersebut, dengan cepat katanya lagi.

"Bersediakah kau untuk berpesiar ke Lembah Nirmala?"

Melihat pihak lawan memberikan undangan dengan hati tulus, putri Kim huan siap-siap menyanggupi sambil mengucapkan terima kasih, tapi sebelum perkataan itu sempat diucapkan, mendadak terdengar Kim Thi sia yang berada disisinya telah menimbrung.

"Jangan kesitu, jangan kesitu, tempat itu tak baik"

Putri Kim huan yang tidak mengetahui keadaan yang sebenarnya ternyata menurut sekali, dengan nada minta maaf, ujarnya kepada Dewi Nirmala.

"Aku harus minta maaf, karena dia menyuruh ku jangan pergi, akupun tak ingin kesitu."

"Apa sih hubunganmu dengannya?"

Mendapat pertanyaan ini putri Kim huan menjadi tersipu-sipu dan tanpa terasa menundukkan kepalanya.

"Kami adalah teman"

Kim Thi sia segera menjelaskan-Dewi Nirmala tersenyum.

"Kau.......kau tidak seharusnya mengganggu kegembiraan orang lain, kalau toh kalian cuma teman biasa, siapapun berhak untuk menetapkan kebebasan sendiri, benar bukan perkataan ini?"

Mendengar perkataan itu, dengan perasaan keheranan Kim Thi sia segera berpikir.

"Kenapa sih perempuan ini? Mengapa secara tiba-tiba ia berubah sikap dan nada pembicaraannya? Mungkinkah"

Ia cukup memahami sifat kekejian dan kekejaman dibalik senyuman manis si Dewi Nirmala, karena itulah dia berpikir lebih jauh, ia sadar bahwa perempuan itu mempunyai maksud yang jahat, tapi rencana keji apakah yang sedang diperbuat perempuan ini?

Karena tak bisa menebak jalan pemikirannya, terpaksa dia berkata.

"Kau memang benar, tapi sayang dia sudah sama sekali tak berniat untuk berpesiar."

Pelan-pelan putri Kim huan bangkit berdiri, perawakan tubuhnya yang indah menawan segera mendapat perhatian yang serius dari Dewi Nirmala. Terdengar perempuan keji itu memuji.

"Kau benar-benar amat cantik"

Dengan tersipu-sipu putri Kim huan menundukkan kepalanya, tapi ia merasa amat senang, sebab pu Jian dari sesama kaum memberikan bobot yang berbeda, tanpa terasa kesan baiknya terhadap perempuan inipun semakin bertambah.....

"Apakah kau yang merasa lebih baikan?"

Dengan perasaan tak habis mengerti putri Kim huan balik bertanya.

"Apa maksudmu?"

"Maksudku, apakah tubuhmu sudah jauh lebih segar?"

Kim Thi sia segera memberi penjelasan-"Yaa, aku merasa agak baikan"

Lalu sambil melemparkan sekulum senyuman manisnya, dengan sikap tersipu-sipu dia melanjutkan.

"Aku sudah tertidur sesaat, bagaimanapun jua kesegaranku sudah jauh lebih membaik."

Kim Thi sia manggut-manggut, dengan cepat dia mengambil "

Lentera hijau"

Dari atas tanah dan cepat-cepat dimasukkan kembali kedalam saku. Dia tak ingin orang lain tahu kalau "lentera hijau"

Berada ditangannya, tapi tindakannya ini justru menimbulkan kecurigaan Dewi Nirmala. Terdengar perempuan itu menegur sambil tertawa merdu.

"Hey, gerak tanganmu cepat benar, benda apa sih yang kau sembunyikan itu?"

Merah padam selembar wajah Kim Thi sla, sahutnya segera.

"Sebuah benda milikku sendiri, kau tidak berhak untuk mengetahuinya."

Dewi Nirmala semakin curiga, pikirnya kemudian.

"Sudah pasti benda tersebut menyangkut diriku, kalau tidak tak mungkin sikapnya setegang itu......."

Terdorong oleh rasa ingin tahu, tanpa terasa dia maju beberapa langkah kedepan sambil gumamnya.

"Rasanya benda itu seperti......"

Kim Thi sia makin terkejut, tanpa terasa ia berpikir.

"Jangan-jangan ia sudah mengetahui?"

Tatkala Kim Thi sia melihat Dewi Nirmala mendekatinya ia lantas mengira peremuan kejam itu sudah mengetahui kalau benda yang disembunyikan adalah lentera hijau dan sekarang siap merampasnya, secara diam-diam diapun menghimpun tenaga Tay goan sinkangnya untuk berjagajaga terhadap segala kemungkinan yang diinginkan-Sudah barang tentu segala tindakan serta gerak gerik dari Kim Thi sia ini tak bisa mengelabuhi Dewi Nirmala, sambil tersenyum ia segera menegur.

"Apakah kau hendak bertarung melawanku?"

"Kau hendak merampas barangku"

Mendengar ucapan ini, Dewi Nirmala semakin curiga, dia tahu apa yang diduganya besar kemungkinan benar, maka dengan berlagak tidak mengerti katanya.

"Barang apa yang pantas kurampas?"

"Sekali salah berbicara, tak mungkin buat Kim Thi sia menariknya kembali"

Paras mukanya berubah menjadi merah padam karena gelisah, untuk berapa saat lamanya dia berdiri tertegun dan tak mampu mengucapkan sepatah katapun.

Dewi Nirmala tahu, saat itu disekeliling tempat tersebut hadir banyak sekali anak buah dari Pek kut sinkun.

Dia merasa rahasia pribadinya tak boleh sampai ketahuan orang laun, maka kepada para utusan Nirmala ia menitahkan.

"cepatlah kalian usir semuanya kurcaci-kurcaci disekeliling tempat ini, jangan biarkan siapapun memasuki wilayah seluas tiga li disekitar tempat ini barang siapa berani melanggar,jatuhi hukuman sesuai dengan peraturan kita"

Ketiga orang kakek berjenggot panjang yang berdiri disisinya serentak menjawab dengan kaku.

"Siap melaksanakan perintah sincu."

Dengan pedang terhunus mereka segera beranjak pergi meninggalkan tempat tersebut.

Tak selang berapa saat kemudian suasana disekeliling tempat itu dicekam kegaduhan yang luar biasa.

Anak buah Pek kut sin kun pada melarikan diri terbirit-birit.

Dalam waktu singkat tak seorangpun yang masih tertinggal disana.

Kini yang masih hadir dikawasan tersebut tinggal Dewi Nirmala, Kim Thi sia , putri Kim huan beserta Nirmala nomor tujuh yang sudah terkapar diatas tanah dalam wujud mayat.

Dengan sorot matanya yang tajam Dewi Nirmala memandang sekejap kesekliling tempat itu, setelah dirasakan amat sesuai dengan kehendak hatinya, dengan senyuman dikulum ia baru berkata.

"Mengapa kau tidak menjawab pertanyaan ini?"

"Kau...... kau hendak merampas putri Kim huan ku"

Tiba-tiba Kim Thi sia memberikan jawaban yang amat cerdik.

Baru pertama kali ini dia berbicara bohong, hal mana membuat perasaan hatinya amat tidak tenang.

Sebaliknya putri Kim huan segera memandang sekejap kearahnya dengan pandangan penuh rasa cinta yang mendalam.

Agaknya dia merasa amat terhibur oleh perkataan anak muda tersebut.

Sambil tersenyum Dewi Nirmala berkata lagi.

"Kau tak perlu curiga, aku tak akan merebut putri Kim huan mu"

Apa yang dikatakan Kim Thi sia sesungguhnya merupakan alasan yang dibuat-buat untuk mengatasi situasi sesaat, sudah barang tentu diapun tahu bahwa Dewi Nirmala tak akan merampas putri Kim huan-Ketika situasi telah berkembang lain, diapun berseru lagi dengan suara cepat.

"Kalau toh kau tak berniat merampasnya, biar aku mohon diri lebih dulu........"

Sekali lagi Dewi Nirmala tersenyum.

"Kau hendak pergi dari sini? HHmmm^ tidak akan semudah itu"

"Aneh benar"

Kim Thi sia berseru tertegun.

"Aku toh punya sepasang kaki yang tumbuh ditubuhku sendiri, kenapa tak boleh pergi? Baik, akan kuperlihatkan bahwa aku dapat pergi sendiri dari sini"

Dewi Nirmala tidak mengucapkan perkataan apapun, dia cuma tertawa terkekeh-kekeh.

Gelak tertawanya itu mendatangkan perasaan yang amat tak sedap bagi Kim Thi sia, dan kakinyapun sudah disiapkan untuk kabur meninggalkannya, tanpa terasa ditarik kembali, serunya gusar.

"Hey, apa yang kau tertawakan?"

Suara tertawa Dewi Nirmala semakin keras, sesaat kemudian dia baru berkata.

"Apakah orang yang termashur dalam dunia persilatan sebagai manusia yang paling susah dilayani pun berniat hendak melarikan diri"

Kim Thi sia sangat mendongkol, teriaknya keras-keras.

"Kau mengatakan aku, Kim Thi sia bermaksud melarikan diri?"

"Benar"

"Mengapa aku harus melarikan diri?"

Seru Kim Thi sia gusar.

"Hari ini bila kau tak bisa menrangkan alasannya yang tepat kepada ku, jangan harap pertikaian diantara kita akan berkahir."

"Heeeh......heeeeh......heeeeh......sesungguhnya diantara kita memang terjalin pertikaian yang tak ada akhirnya"

Jengek Dewi Nirmala sambil tertawa dingin.

Selesai berkata dia segera berjalan mendekati putri Kim huan.

Terhadap Dewi Nirmala, putri Kim huan sama sekali tidak menaruh kesan jelek.

melihat perempuan tersebut menghampirinya, dengan lembut dia berkata.

"Dewi Nirmala, sesungguhnya dia adalah seorang yang baik"

Dewi Nirmala sama sekali tidak menggubris perkataannya itu, sambil menggenggam tangannya yang putih dan halus, dia memuji.

"Nona, tubuhmu betul-betul putih, halus dan amat lembut........"

Mendadak.......

Dewi Nirmala merasakan datangnya desingan angin tajam dari belakang tubuhnya, ketika ia berpaling secara tiba-tiba, tampaklah Kim Thi sia sedang melancarkan sebuah bacokan kilat tanpa menimbulkan sedikit suarapun.

Melihat datangnya ancaman itu, dengan suatu gerakan yang sangat ringan Dewi Nirmala mengayunkan telapak tangannya melancarkan pula sebuah pukulan untuk membendung datangnya ancaman tersebut.

Ketika dua gulung tenaga pukulan itu saling beradu satu sama lainnya, segera terjadilah suara benturan keras yang amat memekikkan telinga.

Kim Thi sia segera merasakan datangnya segulung tenaga tekanan yang menghimpit dadanya, hal mana membuat kuda-kudanya tergempur dan tak kuasa lagi ia mundur tiga langkah dengan sempoyongan-Sambil tersenyum Dewi Nirmala segera berseru.

"Hey, aku rasa lebih baik simpanlah tenagamu baik-baik"

Kim Thi sia tidak mengucapkan sepatah katapun, sambil membungkukkan badan dia menyerbu maju kemuka, sepasang telapak tangannya diayunkan bersama, agaknya sikap Dewi Nirmala telah membuat berkobarnya api kegusaran didalam dadanya, sehingga dia melanggar pentungan terbesar dalam suasana pertarungan melawan jago tangguh.

Dewi Nirmala masih berdiri tetap ditempat semula, tiba-tiba saja dia membalikkan badan, lalu sambil menghimpun tenaga dalamnya sebesar enam bagian sebuah pukulan dahsyat dilontarkan kedepan-Kim Thi sia membenci ucapannya yang penuh sindiran, menyembunyikan golok dibalik senyuman serta kelicikan akal muslihatnya karenanya dalam serangan kali ini dia telah mengeluarkan jurus "kekerasan menguasahi seluruh jagad"

Dari ilmu Tay goan sinkangnya yang amat dahsyat itu.

Melihat berkobarnya pertarungan sengit antara kedua orang tersebut putri Kim huan hanya bisa merasa amat cemas dan gelisah.

Teriaknya tiba-tiba dengan suara keras.

"Hey, kalian jangan berkelahi, bila ada persoalan mari kita bicarakan dengan sebaik-baiknya"

"Blaaaammm......."

Sementara itu terjadilah kembali bentrokan keras yang memekikkan telinga rupanya kedua orang itu sudah beradu tenaga lagi.

Terdengar Kim Thi sia mendengus tertahan tubuhnya mundur dua langkah secara beruntun, ia merasakan hawa murninya bergejolak keras, matanya berkunang-kunang dan telinganya mendengung nyaring.

Sebaliknya Dewi Nirmala seperti tidak merasakan sesuatu yang aneh, dengan santai dia malah mengejek.

"Hey anak muda, jangan terburu napsu, mari kita bertarung secara pelan-pelan-...."

Kim Thi sia tertawa dingin-"Heeeeh.....heeeeh.......heeeeh.......pokoknya sebelum kau memberi keterangan sejalannya. Kita bakal bertarung sampai salah satu diantara kita mampus"

Sehabis berkata, kembali dia mengeluarkan jurus "mati hidup ditangan nasib"

Dan "kejujuran melebihi batu emas"

Dari ilmu Tay goan sinkang untuk melepaskan serangan-Terlihatlah selapis bayangan, pukulan yang berlapis-lapis menyelimuti seluruh angkasa dan mengurungi tubuh Dewi Nirmala rapat-rapat.

Dewi Nirmala amat terkejut, dari menotok serangannya dirubah menjadi bacokan, dia segera menciptakan pula selapis bayangan telapak tangan untuk melindungi diri dari ancamanjurus serangan yang dipergunakan kali ini adalah jurus "selaksa lentera menyemburkan api, dari ilmu pukulan nirmala nya, dibalik kelembutan terselip perubahan yang luar biasa, kemanapun musuhnya menghindar, serangan tersebut akan segera menerobos masuk serta menarik musuhnya terjerumus kedalam lingkaran pengaruhnya.

Baru saja Kim Thi sia merasakan serangannya mengenai sasaran yang kosong, tahu-tahu bahu kirinya sudah tersambar oleh ujung jari tangan Dewi Nirmala rasa sakit, panas dan linu segera menyelimuti seluruh tubuhnya.

Melihat serangannya berhasil mengenai sasaran, sambil tertawa genit Dewi Nirmala berseru.

"Anak muda, kau harus berhati-hati"

Secara beruntun dia melancarkan serangkaian serangan, lalu dengan jurus "tangan suci menggapai sukma"

Dia mengancam jalan darah Thian leng hiat dan Tiong hu hiat ditubuh Kim Thi sia.

Dua buah jalan darah tersebut merupakan jalan darah kematian-Barang siapa terkena totokan niscaya jiwanya akan melayang.

Keadaan dari Kim Thi sia pun segera terancam dalam bahaya maut, jiwanya amat kritis.

Putri Kim huan yang menyaksikan kejadian itu menjadi amat terperanjat hingga menjerit keras.

Kim Thi sia memang amat hebat, walaupun jiwanya terancam bahaya maut ternyata ia sama sekali tak gugup atau kelabakan.

Sepasang kakinya dijajakkan keatas tanah lalu pinggangnya ditekuk dan tubuhnya dilemparkan kebelakang, maksudnya untuk menjauhkan diri dari jarak totokan tersebut.

Dengan tindakan tersebut, maka serangan Dewi Nirmala yang seharusnya dapat mencapai sasaran, kini malah selisih sejauh tiga inci dari sasaran yang sesungguhnya.

Pemuda tersebut segera manfaatkan kesempatan yang sangat baik ini dengan sebaik-baiknya, mendadak kaki kanannya melancarkan telapak tangannya melancarkan pukulan bersama dengan menggunakan jurus "kelincahan menguasahi empat samudra."

Dalam waktu singkat seluruh angkasa telah diliputi bunga pukulan dan hujan serangan yang amat gencar.

Bergidik juga perasaan Dewi Nirmala menghadapi serangan itu, ia tak berniat untuk beradu kekerasan, terpaksa ia memutar tubuhnya secepat petir dan menghindari sejauh lima depa dari posisi semula.

Kim Thi sia tidak berniat memberi kesempatan kepada musuhnya untuk berganti napas, kembali dia melancarkan serangan dengan jurus-jurus "kepercayaan menguasahi dunia".

"kekerasan mengurungi seluruh jagad"

Dan "hembusan angin mencabut pohon-"

Berada dalam keadaan begini, ternyata Dewi Nirmala tidak berniat untuk beradu kekerasan, dia hanya berputar dan melompat kian kemari menghindari setiap ancaman yang tiba.

Begitulah pertarungan pun segera berkobar dengan hebatnya, untuk berapa saat keadaan tetap berimbang, siapapun tak berhasil menentukan menang ataupun kalah....

Dalam pada itu, kegelapan malam sudah mulai mencekam seluruh jagad, kentongan kedua telah lewat, rembulan bersinar dengan terangnya menyelimuti angkasa.

Dewi Nirmala yang melihat keadaan tersebut diam-diam merasa amat girang, dengan cepat ilmu Tay yu sinkangnya dihimpun siap melancarkan serangan maut.

Seperminum teh kembali telah berlalu.

"B laaaaaammmmmmm. ......"

Mendadak terdengar suara benturan keras bergema memecahkan keheningan, lalu terlihat Kim Thi sia mendengus tertahan dan roboh terjungkal kebelakang.... Putri Kim huan segera menjerit keras.

"Engkoh Thi sia"

Dewi Nirmala sendiripun berusaha keras untuk mengendalikan gejolak perasaannya, pelanpelan dia berkata.

"Nona, kau tidak usah terkejut ataupun gugup,"

Seraya berkata, dia segera berjalan menghampiri Kim Thi sia. Tiba-tiba........ Dari balik kegelapan terdengar seseorang membentak nyaring.

"Jangan sentuh orang itu."

Belum lagi orangnya muncul, angin pukulannya telah menyambar datang dengan hebatnya, serangan tersebut amat kuat dan segera menghadang jalan pergi Dewi Nirmala.

Tak terlukiskan rasa terkejut Dewi Nirmala menghadapi kejadian ini, satu ingatan segera melintas didalam benaknya, dia sadar sang penyergap adalah seorang tokoh persilatan yang berilmu sangat tinggi.

Berada dalam keadaan begini, ia tak berani berayal lagi, ilmu Tay yu sinkang segera dilontarkan keluar.

Dua gulung tenaga pukulan yang sangat dahsyat dan hebat itu segera saling bertemu ditengah udara.

"B laaaaaammmmmmm"

Ledakan dahsyat yang memekikkan telinga bergema memecahkan keheningan ditengah hujan pasir dan batu.

Tubuh putri Kim huan serta Kim Thi sia segera tergulung sejauh tiga kaki lebih dan jatuh berguling keatas tanah.

Bersamaan waktunya......

Dari balik kegelapan, muncullah kakek botak berwajah penuh senyuman menyeramkan-Begitu tahu siapa yang datang, Dewi Nirmala segera menegur dengan suara ketus.

"TUa bangka celaka, baik-baiklah kau selama ini?"

"Hey besanku, kau terlampau serius"

Ternyata orang yang baru saja munculkan diri tak lain adalah ketua Tiang pek san sipukulan sakti tanpa bayangan Ang Bu im. Dewi Nirmala segera tertawa dingin, kembali ia berseru.

"IHey tua bangka celaka, kemana perginya putriku Hey Jin?"

"Besanku, kau tak usah kuatir, putrimu berada bersama putraku"

Jawab pukulan sakti tanpa bayangan Ang Bu im gembira.

"Hmmm, kau harus membawa putriku kemari. Aku ada urusan hendak disampaikan kepadanya."

Tiba-tiba sipukulan sakti tanpa bayangan Ang Bu im menarik muka lalu dengan wajah masam dia berkata.

"Ehmmm, aku rasa persoalan ditempat ini jauh lebih penting daripada urusan apapun biar kuselesaikan dulu masalah ditempat ini sebelum mengajakmu pergi mencari putrimu."

Selesai berkata, dia segera berjalan mendcekati Kim Thi sia.

"Berhenti kau"

Mendadak Dewi Nirmala membentak nyaring. Ternyata kali ini sipukulan sakti tanpa bayangan sangat menurut, ia segera berhenti, berpaling sambil tertawa dan tegurnya.

"Besanku, kau masih ada pesan apa lagi?"

"Jadi kau yang telah menyergapku barusan? Ayoh katakan, apa maksud tujuanmu yang sebenarnya?"

Sipukulan sakti tanpa bayangan tertawa terbahak-bahak.

"Haaaah.....haaaah.......haaaaah.......aku takut kau akan melukainya, karena itu seranganku tadi berusaha menghalangi hal tersebut sampai terjadi. Aku sudah cukup merasakan sampai dimanakah kehebatan dari ilmu Tay yu sinkang mu itu."

Ketika mendengar perkataan ini, diamdiam Dewi Nirmala berpikir.

"Nampaknya ilmu pukulan sakti tanpa bayangan yang dimiliki situa bangka ini memang bukan nama kosong belaka, nyatanya ilmu Tay yu sinkang tak mampu berbuat banyak terhadapnya....."

Berpikir demikian, dia segera berusaha keras untuk mengendalikan hawa amarahnya lalu dengan wajah senyuman dia berkata lagi.

"Kim Thi sia mempunyai hubungna yang amat besar denganku, karenanya aku bermaksud hendak membawanya pulang ke Lembah Nirmala. IHey tua bangka, urusan penting apakah yang sedang kau risaukan? Mari kita selesaikan persoalan ini didalam Lembah Nirmala saja........."

Seraya berkata dia melanjutkan perjalanan lagi menghampiri Kim Thi sia.

Mendengar perkataan itu, sipukulan sakti tanpa bayangan Ang Bu im segera mendengus dingin-"Hmmm, aku telah berjanji dengannya untuk melanjutkan pertarungan pada kentongan ketiga ini.

Besanku, lebih baik kau mengalah saja untukku........"

Dewi Nirmala segera tertawa dingin.

"lHeeeh.....heeeeh......heeeeh......ia sudah tergetar pingsan oleh ilmu Tay yu sinkang ku, dalam tiga jam dia tak bakal sadar kembali. Aku lihat perjan Jian diantara kalian terpaksa harus diundurkan pelaksanaannya."

Seraya berkata dia segera membungkukkan badannya sambil merogoh kedalam saku Kim Thi sia dan mengeluarkan bungkusan persegi empat itu, selanjutnya bungkusan itupun dibuka satu persatu.

Dibawah cahaya rembulan terlihatlah dengan jelas bahwa benda tersebut berupa sebuah kotak terbuat dari besi.

Mendadak satu ingatan melintas dalam benak perempuan itu, baru saja dia hendak membuka kotak tadi.

Pada saat itulah, tiba-tiba........

Sipukulan sakti tanpa bayangan membentak dengan suara keras.

"Benda tersebut merupakah hadiah bagiku. Hey besanku kau jangan menyentuhnya"

Bersamaan waktunya, dia mendorong sepasang telapak tangannya kemuka, dua gulung tenaga pukulan yang lembut dan kuat tanpa mengeluarkan sedikit suarapun segera meluncur kedepan dan menggempur tubuh Dewi Nirmala.

Dalam keadaaan tak siap Dewi Nirmala menjadi sangat terperanjat, dalam keadaan begini ia tak sempat memperdulikan kotaknya lagi, serta merta sebuah pukulan Tay yu sinkang dilontarkan kemuka.

Akibat dari bentrokan tersebut, ternyata Dewi Nirmala tergetar mundur sejauh tiga langkah lebih, wajahnya berubah menjadi merah padam seperti orang mabuk.

Jelas terlihat dalam bentrokan kali ini, sipukulan sakti tanpa bayanganlah yang berhasil menempati posisi diatas angin-Dewi Nirmala segera membentak keras.

"Tak kusangka kau situa bangkapun mempunyai rencana serapi ini"

Sipukulan sakti tanpa bayangan mendengus dingin.

"Kau tahu apa maksudku turun dari bukit Tiang pek san dan jauh-jauh datang kedaratan Tlonggan ini........tidak lain adalah disebabkan benda tersebut, bukan cuma aku seorang yang mengincar benda ini, aku tidak lebih hanya salah seorang diantara sekian banyak manusia yang datang lebih duluan-"

Jilid 41 Sembari berkata dia hendak menyambar kotak besi yang berada dalam saku Kim Thi sia itu.

"Tua bangka celaka, tak kusangka hatimu licik. Baik, hutang piutang diantara kita harus diperhitungkan lebih dulu"

Teriak Dewi Nirmala dengan wajah mendongkol.

Pukulan dengan ilmu Tay yu sinkang kembali dilancarkan dengan hebatnya, kali ini kedua belah pihak telah membuat persiapan-Karena itu pertarungan yang berlangsungpun makin dahsyat dan seru.

Hawa pukulan yang memancar keempat penjuru membuat tubuh putri Kim huan dan Kim Thi sia terlempar sejauh berapa kaki dari tempat semula.

Lentera hijau pun terjatuh keatas tanah.

Saat itu kentongan kelima telah menjelang tiba, sinar sang surya sudah mulai muncul diufuk timur, angin dingin yang menderu-deru serasa tak digubris oleh dua orang tokoh silat yang bertarung itu.

Mereka saling menyerang secara gencar dan hebat.

Untuk sementara waktu sulit rasanya untuk menentukan siapa menang dan siapa kalah.

Pada saat itulah, mendadak.....

Disisi arena muncul seorang manusia berkerudung, dengan gerakan yang amat cekatan bagaikan seekor burung elang yang menyambar anak ayam, dalam waktu singkat ia telah melayang turun disisi "lentera hijau"

Kemudian sekali menyambar benda tadi telah dimasukkan kedalam sakunya.

Setelah itu dia menyambar pula putri Kim huan yang masih tergeletak tak sadar dan didalam dua tiga lompatan kemudian, tubuhnya sudah berada sejauh sepuluh kaki dari tempat semula.

Waktu itu sipukulan sakti tanpa bayangan masih bertarung seru melawan Dewi Nirmala.

Kedua orang itu tak ada kesempatan lagi untuk mengurusi persoalan lain-Tiba-tiba........

Dengan suara nyaring Kim Thi sia membentak.

"Pedang emas hendak lari kemana kau?"

Sambil berseru dia melompat bangun dan siap melakukan pengejaran-Pada saat itulah, tiba-tiba teriihat dua sosok bayangan manusia mencelat ketengah udara sambil serempak mengejar kearah Kim Thi sia.

Menyusul kemudian terdengar sekali bentakan dan dua kali dengusan tertahan, tampak dua sosok bayangan manusia meluncur jatuh ke atas tanah.

Rupanya ditengah udara ketiga orang tersebut telah saling melancarkan tiga pukulan dan dua tendangan-Sementara sipukulan sakti tanpa bayangan dan Dewi Nirmala siap bertarung kembali mendadak terdengar Kim Thi sia membentak keras.

"Anak jadah, lenteraku telah hilang."

Teriakan ini kontan saja mengejutkan hati sipukulan sakti tanpa bayangan serta Dewi Nirmala yang sedang bertempur.

Sadar kalau usaha mereka tak akan mendatangkan hasil, serentak mereka menghentikan pertarungan.

Dengan hati gelisah Ang Bu im segera bertanya.

"Hey anak muda, sungguhkah perkataanmu itu?"

Waktu itu Kim Thi sia sedang melakukan pencarian disekeliling tempat itu, ketika mendengar pertanyaan tersebut, buru-buru dia menjawab.

"Hilang yaa hilang, memangnya aku sedang membohongi dirimu?"

"Kalau memang sudah hilang, hey bocah kunyuk mengapa kau tidak melakukan pengejaran secepatnya?"

Tegur sipukulan sakti tanpa bayangan dengan marah. Seraya berseru, ia bersiap-siap melakukan pengejaran kearah mana manusia berkerudung tadi melenyapkan diri. Tiba-tiba Dewi Nirmala berkata.

"Kakek celaka, tunggu dulu, sipedang emas tak akan berhasil meloloskan diri"

"Keparat"

Umpat sipukulan sakti tanpa bayangan sambil menjejakkan kakinya.

"Ternyata aku sudah terperangkap oleh siasat kalian berdua"

Dengan cepat dia melancarkan dua buah pukulan, satu ditujukan kepada Dewi Nirmala, sedang yang lain mengancam Kim Thi sia. Merasakan dirinya diserang, Kim Thi sia membentak dengan marah.

"Memangnya kau anggap aku takut dengan tua bangka macam dirimu?"

Dengan mempergunakan jurus "kepercayaan menguasahi seluruh dunia"

Dari ilmu Tay goan sinkang. ia sambut datangnya ancaman itu dengan keras melawan keras. Sebaliknya Dewi Nirmala melayang mundur sejauh enam depa sambil melepaskan sebuah pukulan pula.

"Blaaaaammmm......."

Suara benturan yang amat memekikkan telinga bergema memecahkan keheningan.

Baca Juga: Beruang Salju 3

Baca Juga: Ular Belang Putih Kauw Tan Seng

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert