Eps 11 Lembah Nirmala - Khu Lung
Baca online Lembah Nirmala - Khu Lung
Cersil Lembah Nirmala - Khu Lung.
Seketika itu juga sipukulan sakti tanpa bayangan tergetar mundur sejauh empat langkah.
sepasang bahunya bergetar keras, mukanya merah padam.
Jelas tak kecil kerugian yang dideritanya.
Kim Thi sia sendiripun tergetar mundur sejauh tiga langkah, napasnya tersengal-sengal.
Hanya Dewi Nirmala seorang tetap berdiri tenang dengan sikap yang amat santai.
Diawasinya kedua orang itu sambil tersenyum tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Tiba-tiba........
Suara pekikkan yang amat nyaring bergema datang.......
Paras muka Dewi Nirmala segera berubah hebat, tanpa memperdulikan lagi pertarungan antara sipukulan sakti tanpa bayangan melawan Kim Thi sia, ia membalikkan badan dan melejit setinggi empat kaki ketengah udara, lalu meluncur kearah mana datangnya suara pekikkan itu.
Dalam waktu singkat, bayangan tubuhnya sudah lenyap dibalik pepohonan sana.
Rupanya suara pekikkan nyaring itu berasal dari anak buah Dewi Nirmala yang memohon bantuan, tentu saja sipukulan sakti tanpa bayangan maupun Kim Thi sia tidak mengetahui duduk persoalan yang sebenarnya sambil mengatur pernapasan mereka siap sedia melakukan pertarungan untuk kedua kalinya.
Tiba-tiba Kim Thi sia memutar biji matanya dan mengawasi sekejap sekeliling tempat itu, ketika ditemukan bahwa disitu tinggal bersama sipukulan sakti tanpa bayangan saja, hatinya menjadi gelisah, segera teriaknya keras-keras.
"Putri Kim huan Putri Kim huan."
Suasana disekeliling tempat itu amat hening, sepi dan tak kedengaran suara jawaban. Kim Thi sia semakin gelisah, serunya kemudian.
"Hey orang tua, persoalan kita lebih baik dibicarakan dikemudian hari saja, sekarang aku harus mencari putri Kim huan serta lentera hijau........"
"Baiklah"
Sipukulan sakti tanpa bayangan menanggapi.
"Hari ini aku bersedia memberi kesempatan kepadamu, kita bersua lagi di Lembah Nirmala setengah bulan kemudian"
"Bagus, kita tetapkan dengan sepatah kata ini, setengah bulan kemudian kita berduel lagi di Lembah Nirmala"
Waktu itu matahari sudah muncul diufuk timur dan memancarkan sinar keemas-emasannya keempat penjuru dunia.
Sambil berpekik nyaring, Kim Thi sia segera berangkat meninggalkan tempat tersebut.
Belum jauh ia berjalan, mendadak ditepi jalan ditemuinya tubuh seorang kakek bergelang emas dikepalanya yang penuh dengan luka bacokan, agaknya kakek itu tewas setelah melangsungkan pertarungan yang seru dan menderita luka parah.
Dari dandanan kakek itu, Kim Thi sia segera mengenalinya sebagai utusan Nirmala dari Lembah Nirmala.
Kim Thi sia tidak berniat memperhatikan kejadian itu lebih jauh, sekarang dia hanya menguatirkan keselamatan putri Kim huan dan lentera hijau.
Sambil mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya dia bergerak makin kencang kedepan.
Baru saja melewati sebuah bukit, tiba-tiba dari balik hutan lebat disebelah kiri jalan lamat-lamat terdengar suara pertarungan-Kim Thi sia segera mempercepat langkahnya, dalam waktu singkat ia telah sampai ditepi hutan, suara pertarunganpun kedengaran makin jelas.
Tanpa berpikir panjang lagi Kim Thi sia menerobos masuk kedalam hutan dengan cepat ia mendapat tahu siapa yang sedang terlibat dalam pertarungan tersebut.
Untuk berapa saat lamanya, pemuda kita menjadi tertegun-Rupanya dua orang yang sedang bertempur snegit itu adalah sipedang kayu Gi cu yong serta sipelajar bermata sakti, muridnya si Malaikat pukulan ciang sianseng.
Untuk sesaat lamanya Kim Thi sia berdiri termangu.
Sipedang kayu adalah abang seperguruannya, tapi penghianatan dan kemurtadannya merupakan dosa yang besar, orang ini harus dibunuh untuk menebus dosa-dosanya itu.
Sebaliknya sipelajar bermata sakti termasuk lelaki sejati, akan tetapi gurunya ciang sianseng telah berkomplot dengan Dewi Nirmala melakukan pelbagai kejahatan-Ini menunjukkan kalau kehadiran sipelajar bermata sakti yang sangat tiba-tiba ini pasti dikarenakan sesuatu alasan yang tidak sederhana, bisa jadi dia mempunyai suatu maksud atau tujuan tertentu.
Untuk berapa saat pemuda itu hanya berdiri kaku tanpa mengetahui apa yang mesti diperbuatnya.
sementara itu sipedang bermata sakti dan sipedang kayu nampak semakin loyo dan lemah tampaknya pertarungan telah berlangsung cukup lama, atau dengan kata lain menang kalah sukar untuk ditentukan dalam waktu singkat.
Kemunculan Kim Thi sia yang sangat tiba-tiba ini amat mengejutkan hati kedua orang tersebut, sebab asal Kim Thi sia membantu salah satu pihak niscaya pihak yang lain akan tewas seketika.
Agaknya keadaan dan situasi semacam ini cukup dipahami dan dimengerti oleh sipelajar bermata sakti maupun sipedang kayu.
Karena itu sipedang kayu buru-buru berseru.
"Sute, kebetulan sekali kedatanganmu, ayoh cepat bantu suhengmu untuk melenyapkan bajingan keparat ini."
Sementara sipedang kayu harus memecahkan perhatiannya untuk berbicara, sipelajar bermata sakti segera manfaatkan kesempatan itu dengan sebaik-baiknya, sambil mengerahkan sisa kekuatan yang dimilikinya dia melancarkan sebuah pukulan dahsyat kedepan.
Sipedang kayu terkesiap.
sekuat tenaga dia berusaha menghindar kesamping untuk meloloskan diri dari ancaman tersebut.
Walaupun akhirnya ia dapat menghindari sergapan langsung yang tertuju ketubuhnya, tak urung badannya tergetar juga keras-keras.
Sipelajar bermata sakti berseru kemudian.
"Sampah masyarakat bermulut besar, tampaknya semua anak murid si Malaikat pedang berbaju periente hanya manusia-manusia kunyuk semua. Ayolah kalau hendak maju, majulah. Lihatlah saja aku sipelajar bermata sakti membasmi kalian serentak."
Mendengar seruan mana buru-buru Kim Thi sia berseru.
"Kau jangan sembarangan melukai perasaan orang lain, aku Kim Thi sia adalah seorang lelaki sejati yang tak sudi melakukan perbuatan rendah dan terkutuk"
Mendadak sipedang kayu melepaskan sebuah bacokan kilat, angin pukulan yang kuat dan tajam laksana anak panah menerobos kedepan.
Tak kuasa, sipelajar bermata sakti mundur selangkah untuk menghindari ancaman yang tiba.
Rupanya serangan tersebut telah membangkitkan amarah sipelajar bermata sakti, tiba-tiba saja dia melancarkan sebuah tendangan kilat, telapak tangan kirinya diayunkan berulang kali melepaskan sebuah pukulan dahsyat.
Sementara sorot matanya memancarkan sinar tajam yang amat menggidikkan hati.
"Blaaaaammmmmm........."
Ketika dua gulung tenaga pukulan saling bertemu satu dengan lainnya, terjadilah suara ledakan yang amat memekikkan telinga.
Dalam waktu singkat sipedang kayu merasakan datangnya segulung tenaga raksasa yang menumbuk dadanya, tak kuasa lagi ia mundur selangkah dengan sempoyongan-Sipelajar bermata sakti memang tak malu menjadi anak murid dari ciang sianseng.
Sesudah melepaskan sebuah pukulan, posisinya yang semula terdesakpun segera berubah.
Terdengar ia berseru sambil tertawa dingin.
"Sudah melarikan anak gadis orang disiang hari bolong, masih berani bicara semaunya hati, benar-benar perbuatanmu kelewat batas."
"Kau tak usah mengaco belo"
Bentak Kim Thi sia marah. Sipedang kayu segera menimpali.
"Hmmm, kau sudah main todong dan membagul, sekarang masih memfitnah lelaki sejati. Sute, cepat kita bereskan bocah keparat ini."
Seraya berkata ia mendesak maju lagi dengan kelincahan seperti kucing.
Sepasang telapak tangannya satu didepan yang lain dibelakang segera menciptakan beribu-ribu kuntum bunga pukulan yang menerjang kedepan bagaikan amukan guntur.
Tampaknya sipelajar bermata sakti cukup mengetahui bahwa ilmu silat dari sipedang kayu sangat lihay, dia tak berani bertindak gegabah setelah menarik napas panjang-panjang, ia segera menggetarkan lengannya dan menyambut datangnya ancaman dengan jurus "menyambut malaikat ditengah awan"
Serta "udara sakti menembus langit"
Dari ilmu silat andalan perguruannya, ilmu pukulan tenaga sakti api guntur.
Dua gulung bayangan pukulan secepat kilat membentuk selapis dinding hawa sakti dan membendung datangnya serangan lawan-Dalam waktu singkat sipedang kayu merasakan pandangan matanya menjadi kabur oleh ilmu pukulan sipelajar bermata sakti yang maha dahsyat itu, sepasang tangannya terdesak hingga mau tak mau dia harus menghindar sejauh tiga depa dari posisi semula.
Kenyataan tersebut seketika membuat perasaan hatinya amat terperanjat......
Ketika untuk kesekian kalinya sipelajar bermata sakti berhasil mendesak mundur musuh tangguhnya, tak kuasa lagi dia berseru sambil tertawa nyaring.
"Haaah.....haaaah......haaaah......kau menuduhku malu todong dan mainjambret, apakah ada buktinya?"
"Hmmm, kau gagal menjambret barang kami, karenanya dari malu menjadi naik darah"
Seru sipedang kayu cepat. Kim Thi sia yang mengikuti jalannya pembicaraan tersebut tiba-tiba teringat akan sesuatu, ia segera bertanya kepada sipedang kayu.
"Suheng, benda apa sih yang hendak dirampasnya?"
"Dia ingin merebut "lentera hijau......."
Begitu jawaban tersebut meluncur dari mulutnya, pedang kayu segera sadar bahwa dia telah membocorkan rahasia tersebut, buru-buru katanya lagi.
"ooooh......bukan-......bukan-......"
Dengan gemas dan jengkel Kim Thi sia melotot sekejap kearah sipedang kayu, lalu bentaknya nyaring.
"Keparat, rasain sebuah pukulan ini"
Sambil menggetarkan tangannya, dia melepaskan serangan dengan jurus "kelembutan mengatasi air dan api"
Dari ilmu Tay goan sinkang.
Angin pukulan yang maha dahsyat langsung menyapu keatas tubuh sipedang kayu.
Waktu itu, sipedang kayu baru saja kena didesak oleh sipelajar bermata sakti hingga menghindar sejauh tiga depa yang kebetulan persis berada didepan Kim Thi sia.
Mimpipun dia tak menyangka kalau Kim Thi sia akan segera melepaskan serangannya begitu mengatakan mau menyerang.
Padahal pertahanan tubuhnya waktu itu sama sekali terbuka, serangan Kim Thi sia yang muncul secara mendadak dan amat cepat itu langsung menerjang keatas dadanya.
"Blaaaammmmm"
Sipedang kayu menjerit tertahan, tubuhnya tergetar mundur sejauh tiga langkah.
Hawa darahnya bergolak sangat keras dan sukar sekali untuk dikendalikan-Ketika sipelajar bermata sakti menyaksikan Kim Thi sia melancarkan sergapan secara tiba-tiba, ia segera menarik kembali serangannya dan mengundurkan diri kesamping.
Tampaknya tidak enteng serangan yang bersarang ditubuh sipedang kayu, tampak ia duduk bersemedi dan mengatur pernapasannya.
Kim Thi sia yang berhasil menyarangkan serangannya diatas jalan darah Hoat hek hiat ditubuhnya dapat pulih kembali seperti sedia kala, maka ia membiarkan abang seperguruannya itu mengatur pernapasannya .
Terdengar sipelajar bermata sakti berkata sambil tersenyum.
"Kau tak boleh mengampuni sampah masyarakat seperti ini......."
Kim Thi sia hanya membungkam diri dalam seribu bahasa, ia sama sekali tidak memberi tanggapan apa-apa. Sampai lama kemudian-..... Kim Thi sia baru berkata kepada sipedang kayu.
"Suheng, lebih baik berterus teranglah. Kalau tidak. jangan salahkan bila aku akan bertindak keji kepadamu"
Sipelajar bermata sakti yang mendengar perkataan tersebut nampak agak tercengang katanya kemudian dengan wajah tak habis mengerti.
"Jadi kau berniat melepaskan harimau pulang gunung? Aaaah, tidakkah kau sadari bahwa perbuatan itu sama artinya meninggaikan bibit bencana dikemudian hari?"
Dengan gemas dan penuh kebencian sipedang kayu melotot sekejap kearah kedua orang itu, lalu memejamkan kembali matanya dan sama sekali tidak menggubris lawannya lagi.
Kim Thi sia segera menegur kembali.
"Suheng, bila kau masih berlagak bisu dan tuli terus menerus, aku tak akan bersikap sungkansungkan lagi kepadamu"
Sipedang kayu tetap duduk tak berkutik, mulutnya membungkam dalam seribu bahasa.
Amarah Kim Thi sia segera memuncak sambil mengayunkan kepalan kirinya ia segera melepaskan sebuah pukulan dahsyat.
Andaikata sipedang kayu terhajar oleh pukulan tersebut, paling tidak batok kepalanya pasti akan hancur berantakan dan tewas seketika.
Tampaknya sebentar lagi sipedang kayu akan tewas ditangan sianak muda tersebut.
Mendadak.........
Sipelajar bermata sakti melakukan suatu gerakan yang cepatnya luar biasa.
Sepasang tangannya bergerak bagaikan ular lincah, meliuk kesana kemari bagaikan petir saja menyerangkan dua buah serangan yang luar biasa.
Sebuah serangan mengancam jalan darah nang seng hiat danpek hwee hiat, sementara serangan yang lain mengancam hoat hiat dan Hong wi hiat, keempatnya merupakan jalan darah kematian ditubuh manusia.
Bukan saja serangannya lincah dan cekatan, bahkan sama sekali tidak menimbulkan sedikit suarapun.
Merasakan dirinya disergap.
mau tak mau Kim Thi sia harus menarik kembali telapak tangan kirinya, sementara tangan kanannya dengan cepat mengeluarkan jurus "kecerdikan menguasahi seluruh langit"
Untuk membendung datangnya ancaman itu. Tak teriukiskan rasa gusar Kim Thi sia teriaknya sengit.
"Pelajar bermata sakti, mau apa kau?"
Sipelajar bermata sakti mendehem pelan, lalu sahutnya.
"Bila kau membunuhnya dalam sekali gebukan, lantas kepada siapa hutangku harus ditagih?"
"Tagih saja kepadaku"
"Ditagih kepadamu?"
Jengek sipelajar bermata sakti dingin.
"Mengapa tidak?"
"Kau cuma bisa membayar rentenya, lantas kepada siapa aku mesti menuntut modal pokokknya?"
"Akan kubayar"
"Kau mampu untuk membayarnya?"
"Tentu saja mampu"
"Ehmm.....perkataan yang enak didengar kalau begitu harap kau keluarkan dulu "lentera hijau"
Sebagai tanda bukti"
Seketika itu juga Kim Thi sia dibuat terbungkam dalam seribu bahasa. Kembali sipelajar bermata sakti berkata.
"Saudara cilik, betul bukan perkataanku bahwa kau tak mampu untuk membayarnya?"
Merah padam selembar wajah Kim Thi sia karena malu, buru-buru ia menjelaskan.
"Baru saja benda itu dicuri orang"
"Baru saja dicuri?"
Jengek pelajar bermata sakti sambil tertawa dingin.
"Maksudku semalam........."
Pemuda Kim benar-benar tergagap. Dia enggan menyinggung kembali peristiwa semalam, sebab kejadian itu benar-benar sangat memalukan-Tapi dengan setengah mendesak sipelajar bermata sakti berkata lagi.
"Siapa yang telah mencurinya?"
Agaknya pertanyaan tersebut membuat Kim Thi sia menjadi gelisah, tiba-tiba ia berteriak keras.
"Persoalan ini merupakan urusan pribadiku, buat apa kau menanyakan terus?"
"Urusan pribadimu? IHmmm, betul-betul tak tahu malu, justru persoalan ini merupakan urusan pribadiku sendiri."
"Bagaimana bisa kau katakan sebagai urusan pribadimu?"
Tanya Kim Thi sia tak habis mengerti. Sambil menuding kearah sipedang kayu yang masih duduk bersila diatas tanah, kembali sipelajar bermata sakti berkata.
"Sejak kemarin malam hingga sekarang aku selalu berada bersamanya, hal ini tidak lain disebabkan "lentera hijau". Sekarang kau datang mengacau, apakah aku tidak berhak untuk menanyakan persoalannya? "
"Bila kau bertanya kepadaku, aku tak akan mengetahuinya dimanakah lentera hijau itu sekarang berada"
Kata Kim Thi sia pelan-"Siapa yang hendak bertanya kepadamu?"
"Lantas kau hendak bertanya pada siapa?"
"Aku hendak bertanya kepadanya"
Kata sipelajar bermata sakti sambil menunjuk kearah sipedang kayu. sekarang Kim Thi sia baru memahami duduk persoalan yang sebenarnya, segera katanya.
"Kalau ingin bertanya, silahkan bertanya"
Sipelajar bermata sakti melirik sekejap kesamping, dia tahu sipedang kayu belum sembuh kembali seperti sedia kala. Maka setelah mendehem katanya lagi.
"Gi cU yong, kau tak usah bermain gila dihadapanku, aku bertanya sepatah kau harus menjawab pula sepatah dengan sejujurnya. Kalau tidak, aku akan menyuruhmu merasakan peredaran darah yang terbalik akibat ilmu cung goan sam coat sinkang"
Sipedang kayu masih tetap duduk tanpa berbicara.
"Hmmmm, tampaknya kau sedang mencari penyakit buat diri sendiri"
Umpat sipelajar bermata sakti dingin.
Bersamaan waktunya dia mengerahkan telapak tangan kanannya dan menotok jalan darah Hun tian hiat diatas lutut sipedang kayu.
Sebagaimana diketahui, jalan darah Huan tian hiat merupakan salah satu diantara dua belas buah jalan darah kaku ditubuh manusia.
Begitu sipedang kayu yang tertotok jalan darahnya, seketika itu juga seluruh badannya tak mampu bergerak lagi.
Tangan kiri sipelajar bermata sakti sama sekali tidak menganggur pada saat yang bersamaan dia menekan pula jalan darah Hiat oong hiat dilambung musuh.
Seperminum teh kemudian-.....
Butiran keringat sebesar kacang kedelai sudah bercucuran membasahi seluruh jidat sipedang kayu, giginya saling menggertak menahan rasa sakit yang luar biasa, jelas ia sudah berusaha sekuat tenaga untuk menahan diri dari siksaan tersebut.
Sampai lama kemudian-......
Sipedang kayu baru berbisik lirih.
"Berilah kematian yang cepat kepadaku"
Kim Thi sia menjadi tak tega setelah menyaksikan keadaan sipedang kayu yang begitu mengenaskan, desaknya kemudian.
"Suheng, lebih baik katakan cepat"
"Ya betul"
Sambung sipelajar bermata sakti.
"Bila ingin mampus secara wajar, lebih baik katakan secepatnya."
"Apa yang mesti kukatakan?"
Tanya sipedang kayu.
"Gampang sekali, asal semua pertanyaan yang kuajukan kau jawab dengan jujur dan aku merasa puas dengan jawabanmu, otomatis penderitaanmu semakin berkurang."
"Kalau begitu tanyalah dengan selekasnya"
Desak Kim Thi sia. Pelajar bermata sakti mendehem beberapa kali, lalu dengan suara nyaring ia berkata.
"Kaukah yang telah mencuri lentera hijau?"
"Bukan"
"Lantas siapa?"
"Toa suhengku."
"Hmmm, rupanya benar-benar perbuatan dari pedang emas"
Sela Kim Thi sia dengan gemas"
Kalau begitu aku tak salah melihat orang."
Mendengar itu, dengan perasaan yang tak senang hati pelajar bermata sakti menegur.
"Eeeeh, selagi aku bertanya, lebih baik kau jangan ikut menimbrung. Kalau kau ingin bertanya, tunggulah sampai nanti kalau pertanyaanku telah selesai"
Kim Thi sia segera mendengus dingin, pikirnya.
"Hmmm, sekarang kau boleh bergaya dulu, tunggu sampai saatnya, aku pasti akan mengajakmu untuk berduel mati-matian-"
Sementara itu terdengar sipelajar bermata sakati bertanya lagi.
"Apa kegunaan toa suhengmu mencuri lentera hijau tersebut?"
Tampaknya penderitaan sipedang kayu sudah jauh lebih berkurang, pelan-pelan ia menjawab.
"Toa suheng ingin menggunakan lentera hijau untuk memulihkan kembali ketampanan wajahnya."
"Selain itu?"
"selain itu, aku kurang tahu."
"Sungguh?"
Jengek sipelajar bermata sakti sambil tertawa dingin, kembali butiran keringat sebesar kacang kedelai jatuh bercucuran membasahi seluruh wajah sipedang kayu, sambil menahan rasa sakit sahutnya lirih.
"Sungguh"
"Baiklah, untuk sementara waktu aku percaya dengan ucapanmu itu, katakan sekarang dimanakah sipedang emas berada?"
"Aku tidak tahu."
Serta merta sipelajar bermata sakti mengerahkan tenaganya dan menekankan tangannya kuatkuat, hingga membuat sipedang kayu menjerit kesakitan-"cepat katakan?"
Hardik pelajar bermata sakti. Setelah menghembuskan napas panjang pedang kayu baru berkata.
"Jejak Toa suheng susah diketahui secara pasti. Aku benar-benar tak tahu dimanakah ia berada sekarang."
"Kalau begitu sebutkan saja beberapa tempat yang kau ketahui"
"Bukit sepuluh laksa selat bunga Tho"
Agaknya sipelajar bermata sakti sudah puasa dengan pertanyaan yang diajukan, kepada Kim Thi sia ujarnya kemudian.
"sekarang kau boleh bertanya."
Selesai berkata, ia segera meninggalkan kedua orang itu dan beranjak pergi, Kim Thi sia berpikir.
"Kini lentera hijau sudah kuketahui, rasanya persoalan ini tak perlu ditanyakan kembali."
Maka dengan rasa kuatir ia bertanya.
"Dimanakah putri Kim huan berada sekarang?"
"Pergi bersama Toa suheng"
"omong kosong"
Bentak Kim Thi sia gusar.
"Tak mungkin ia mau pergi bersama Toa suheng."
"Toa suheng berjanji akan mengajarkan ilmu silat kepadanya, dan diapun bersedia pergi bersamanya"
Mendengar sampai disini, Kim Thi sia segera menghela napas panjang.
"Aaaai, semua perempuan memang tidak dapat dipercaya"
Tiba-tiba sipedang kayu berkata.
"Nona Lin lin sedang mencarimu kemana-mana."
Menyinggung soal Lin lin, tanpa terasa Kim Thi sia terbayang kembali kejadian dimasa lalu.
Ia pernah memeluk tubuhnya kuat-kuat, memeluknya hingga gadis tersebut tak bisa bernapas.
Ia pernah mencium wajah Lin lin yang cantik jelita dengan mulutnya yang berbau arak, mencium matanya yang jeli dan kening.
Diapun pernah mencium bibirnya yang kecil mungil, basah dan hangat itu......
Kim Thi sia tak dapat berpikir lebih lanjut.
Mendadak ia berteriak dengan suara keras.
"cepat katakan, dimanakah Lin lin sekarang?"
"Ia berada disekitar sini"
"Disekitar mana?"
Pedang kayu berpikir sebentar, lalu sahutnya.
"Disuatu tempat yang berjarak tidak sampai seratus li dari sekeliling tempat ini."
Berkilat sepasang mata Kim Thi sia, ditatapnya wajah sipedang kayu sekejap lalu katanya dengan suara dalam.
"Mengingat pemberitahuanmu ini, aku bersedia mengampuni jiwamu untuk kali ini, tapi bila kita bersua lagi dikemudian hari aku tak akan melepaskan dirimu dengan begitu saja."
Setelah membebaskan jalan darah kakunya, sbeelum berangkat Kim Thi sia berpesan lagi.
"Moga-moga suheng bisa memperbaiki perbuatanmu dan menjaga diri baik-baik."
Selesai berkata, ia segera berangkat meninggalkan tempat itu dengan kecepatan luar biasa.
sepanjang jalan, pelbagai persoalan berkecamuk didalam benaknya.
Setengah bulan kemudian, dia harus pergi memenuhi janjinya dengan sipukulan sakti tanpa bayangan di Lembah Nirmala tapi apa sebabnya simakhluk tua itu menantangnya justru di Lembah Nirmala?
Apakah dia mengira dirinya pasti tak berani memenuhi?
Lentera hijau yang telah hilang berhasil ditemukan kembali dan sekarang telah dicuri lagi.
Benda yang kelihatannya tidak menarik ternyata sangat aneh sekali, sudah tiga kali jiwanya berhasil diselamatkan oleh benda tersebut.
Dan kini ternyata Dewi Nirmala, ciang sianseng, si Pukulan sakti tanpa bayangan, sipelajar bermata sakti, pedang emas........serta sekalian jago-jago kelas satu dari dunia persilatan bertekad akan mendapat lentera tersebut, sesungguhnya kasiat apa yang terdapat dibalik benda ini?
-oodwoo Putri Kim huan telah kabur bersama sipedang emas, sekarang terbukti sudah bahwa setiap perempuan memang tak bisa dipercaya, ia mulai menganggap wanita bagaikan tahi kerbau.
Sejak kini ia bersumpah tak akan bersua lagi dengan gadis tersebut.
Dari sembilan pedang dunia persilatan kini tinggal empat orang lagi yang masih hidup.
Sipedang emas merupakan dalang dan otak dari semua peristiwa kejahatan, ia bertekad akan membunuhnya sampai mati.
Lin lin sedang mencarinya kemana-mana iapun berjanji pada diri sendiri akan menjaga gadis tersebut baik-baik.
Sekarang dia telah memutuskan untuk mencari Lin lin teriebih dulu.
Begitu keputusan telah diambil, Kim Thi sia segera mempercepat langkah kakinya menuruni bukit.
Ketika senja menjelang tiba, sampailah pemuda itu ditepi sebuah sungai dengan aliran air yang deras.
ia berjalan menelusuri sungai itu, ketika kakinya mulai terasa panas didepan sana muncullah sebuah kota.
Baru beberapa gang ditelusuri, malam pun telah menjelang tiba, merasa perutnya mulai lapar, ia mencari sebuah rumah makan dan bersantap.
Seperminum teh kemudian, ia sedang bersantap dengan penuh kenikmatan, ketika secara tibatiba muncul dua orang lelaki kekar yang berjalan menghampirinya.
Tanpa terasa Kim Thi sia mengangkat kepalanya, ketika merasa ada dua orang lelaki sedang mengawasinya dengan mata melotot ia balas melotot, begitu empat mata bertemu, tiba-tiba saja paras muka kedua orang lelaki itu berubah hebat, mereka saling berpandangan sekejap kemudian cepat-cepat beranjak pergi dari situ.
Kim Thi sia sedang murung, dia tak bisa menebak slapa gerangan kedua orang itu, segera pikirnya.
"Gerak gerik kedua orang ini sangat mencurigakan, lebih baik cepat bersantap dan segera menyelesaikan urusan sendiri."
Baru saja ia selesai bersantap dan siap membayar rekening, mendadak......
Dari luar pintu rumah makan telah muncul belasan sosok manusia yang semuanya bersenjata lengkap.
Dua orang yang berjalan dipaling depan tak lain adalah dua orang lelaki tadi.
Terdengar orang itu berteriak keras.
"Itu dia orangnya, cepat kita cincang bocah keparat tersebut"
Kim Thi sia menjadi amat terkejut, sambil mendengus pikirnya.
"Entah dari mana datangnya kawanan cecunguk itu? Aku tidak kenal dengan mereka mengapa mereka datang mengusikku? jangan-jangan mereka telah salah mengenali orang?"
Sementara itu, dari balik rombongan manusia itu telah muncul dua orang lelaki kekar, seorang bersenjatakan sepasang poan koanpit, berperawakan sedang dan langkah gesit.
Sedangkan yang satunya lagi berperawakan lebih pendek lagi dan bersenjatakan sebuah golok besar.
Terdengar orang yang bersenjata poan koanpit itu berseru.
"Hey kunyuk, bila tahu diri, ayo cepat menggelinding keluar"
Teriakan tersebut kontan langsung membangkitkan hawa amarah Kim Thi sia dengan sebuah lompatan lebar dia menerjang kehadapan kedua orang tersebut lalu sambil meloloskan pedang Leng gwat kiam, ia berseru lantang.
"Kalian kawanan anjing geladak yang tak tahu diri, sebutkan dulu slapa kalian-Hari ini taoaya harus memberi pelajaran yang setimpal kepada kalian-........"
Lelaki pendek yang bersenjata golok itu segera berkaok-kaok.
"Bocah keparat, kau sombong. Toayamu adalah sibangau sakti dibalik asap Khu Kim hiong, sedangkan dia adalah loji dari sepasang ular Tiong ciu, siular putih Si Thian coat. Hey keparat, ayoh kita keluar kota, tempat ini bukan tempat untuk berduel."
"Baik"
Sahut Kim Thi sia sambil tertawa dingin.
"Kau boleh berjalan dimuka."
Pemuda kita mengerti, sekalipun Khu Kim tiong mempunyai tampang yang sidak menarik, sesungguhnya dia merupakan salah satu jago andalan dari perkumpulan sinar emas.
Sedangkan sepasang ular dari tiong ciupun merupakan kawanan jago tangguh dari kawasan Kang lam.
Terdengar sibangau sakti dibalik asap Khu Kim tiong mendengus dingin lalu berkata.
"Saudara Si, aku akan berjalan duluan, kau mengikuti dari belakangnya."
Siular putih Si Thian coat segera manggut-manggut.
Tanpa membuang waktu lagi sibangau sakti dibalik asap Khu Kim tiong segera menjejakkan kakinya keatas tanah dan bagaikan asap ringan saja, secepat sambaran petir telang berangkat menuju keluar kota.
Menyaksikan kepandaiannya ini mau tak mau Kim Thi sia harus mengaguminya juga.
ia segera menghimpun tenaga dan menyusul dibelakangnya.
Siular putih Si Thian coat tidak membuang waktu, dia menyusul pula dipaling belakang.
Berbicara soal ilmu meringankan tubuh, ternyata kepandaian Kim Thi sia masih kalah setingkat, betapapun ia telah berusaha mengejar dengan sepenuh tenaga, ternyata dia hanya sanggup mengikuti dibelakang mereka.
Tampaklah tiga sosok bayangan manusia meluncur kedepan secepat sambaran petir, tak selang berapa saat kemudian mereka telah tiba diluar kota.
Sibangau sakti dibalik asap Khu Kim tiong berhenti disebuah tanah lapang yang luas, dia berpaling dan menatap sekejap kearah Kim Thi sia, kemudian sambil tertawa dingin serunya.
"Bocah keparat, kau tak usah sombong, lihat serangan."
Habis berkata, sepasang penanya direntangkan kedua belah sisi, denganjurus "ular panjang menjulurkan lidah"
Secara terpisah dia mengancam tenggorokan dan lambung Kim Thi sia.
Dari senjata poan koanpit yang dipergunakan, Kim Thi sia dapat menebak bahwa orang ini memiliki keahlian didalam menotok jalan darah, kewaspadaannya segera ditingkatkan-"Serangan yang bagus"
Serunya dingin.
Tiba-tiba pedang Leng gwat kiamnya dibabat kemuka membentuk sekilas cahaya putih, langsung membacok sepasang pergelangan tangan musuh.
Berbicara sesungguhnya, kedudukan sibangau sakti dibalik asap Khu Kim tiong dalam perkumpulan sinar emas cukup tinggi, sudah barang tentu diapun cukup berpengalaman dalam pertarungan.
Melihat kilatan cahaya putih yang terpancar dari hawa pedang musuh ia segera tahu bahwa senjata lawan merupakan sebilah senjata mestika.
Ia tak berani menyambut datangnya serangan dengan sepasang senjatanya, cepat-cepat pergelangan tangannya ditekuk pena ditangan kanannya mengancam pergelangan tangan musuh, sementara pena ditangan kirinya menotok jalan darah Siau yau hiat dipinggang Kim Thi sia.
Dengan cekatan Kim Thi sia mengingos sambil menyelinap kesamping, ia sempat melihat si ular Si Thian coat dengan golok bersiap siaga disisi arena.
Melihat itu dia segera berpekik nyaring, dengan mengembangkan ilmu pedang Panca Buddhanya, ia ciptakan gulungan cahaya putih disekelilingnya tubuhnya untuk melindungi diri dari ancaman Dalam waktu singkat puluhan gebrakan telah lewat......
Posisi bangau sakti dibalik asap Khu Kim tiong lebih rugi dari musuhnya karena sepasang senjatanya tak berani saling membentur dengan pedang musuh, terpaksa dia harus mengandalkan jurus totokannya yang lihay serta pengalamannya yang matang untuk mendesak dan mengurung musuh.
Kim Thi sia sendiripun merasakan harinya tercekat, ia sadar bahwa ilmu silat yang dimiliki orang ini sangat tangguh, tapi siapa gerangan mereka?
ia tidak merasa kenal dengan orang-orang itu, mengapa mereka menyerangnya tanpa menjelaskan dulu duduk persoalan yang sebenarnya?
Ketika pertarungan berlangsung berapa puluh gebrakan kemudian, lambat laun posisi Kim Thi sia mulai menempati kedudukan diatas anginsi ular putih Si Thian coat yang mengikuti jalannya pertarungan dari sisi arena segera merasakan gelagat yang tidak menguntungkan, melihat Khu Kim tiong terancam bahaya, ia segera mengeluarkan tiga batang senjata rahasia Kim cheepiau sambil serunya lantang.
"Sobat, sambutlah seranganku ini"
Tangan kirinya segera diayunkan kedepan, desingan tajam segera membelah angkasa dan menyambar ketubuh lawan-Waktu itu Kim Thi sia sedang mengeluarkan jurus "membunuh hati tampak wataknya"
Dari ilmu pedang panca Buddha dengan perubahan yang luar biasa, nampaknya musuh akan segera dapat dikalahkan ketika secara tiba-tiba terdengar Si Thian coat berteriak dan senjata Kim chee piau telah menyambar tiba Pemuda kita segera berteriak keras, cepat-cepat pedangnya memainkan jurus "Buddha berkembang kejahatan sirna"
Diantara kilauan cahaya pedang Leng gwat kiam, tiga pasang senjata rahasia Kim cheepiau itu bagaikan tertahan oleh selapis dinding yang kuat, tanpa menimbulkan sedikit suara pun segera rontok keatas tanah.
Tapi dengan terjadinya hambatan tersebut, sibangau sakti ditengah asap Khu Kim tiong bagaikan terlepas dari badan berat, dia segera menghembuskan napas lega.
Sementara itu si ulat putih Si Thian coat yang sengaja melepaskan senjata rahasia dengan maksud memukul mundur serangan Kim Thi sia menjadi amat terkejut setelah menyaksikan cara yang dipakai pemuda itu untuk memusnahkan serangan aneh sekali.
Buru-buru dia memutar goloknya dan ikut terjun kearena pertarungan.......
Kim Thi sia yang mesti melayani dua orang musuh sekaligus menjadi berkobar semangatnya, jurus-jurus sakti ilmu pedang panca Buddhanya dilancarkan secara beruntun.
Tampak cahaya putih berkilauan memenuhi seluruh angkasa.
Hawa pedang menyelimuti setiap sudut ruangan, hawa pedang memancar kemana-mana.
dibandingkan dengan pertarungan melawan Khu Kim tiong keadaannya sama sekali berbeda.
Baik sibangau sakti ditengah asap Khu Kim tiong maupun si ular putih Si Thian coat, keduanya merupakan jago persilatan yang berilmu silat tangguh melihat jurus serangan yang digunakan lawan begitu aneh dan luar biasa kontan saja perasaan hati merasa menjadi tercekat.
Untung saja pengalaman yang dimiliki kedua orang itu cukup matang, tenaga dalam yang dimiliki pun amat sempurna, karena itu dengan kerja sama yang cukup serasi diantara mereka berdua, setengah memaksakan diri mereka masih mampu bertahan sambil dua puluhan jurus.
Ditengah bayangan pedang dan cahaya golok, tiba-tiba siular putih Si Thian coat menjerit keras sambil melompat mundur dari lingkungan pertempuran.
Ternyata golok andalannya telah patah menjadi dua bagian, buru-buru dia merogoh segenggam senjata rahasia Kim cheepiau sambil teriaknya keras-keras.
"Saudara Khu, mari kita mundur."
Belum selesai perkataan itu diucapkan, mendadak terdengar lagi suara gemerincing nyaring.
"Traaaaangggg"
Ternyata sepasang koanpit ditangan sibangau sakti asap Khu Kim tiongpun sudah terpapas kosong menjadi dua bagian.
Si ular putih Si Thian coat segera mengayunkan tangannya berulang kali, senjata rahasia Kim cheepiaupun meluncur secara gencarnya mengancam tubuh pemuda itu.
Dengan memanfaatkan kesempatan inilah Kho Kim tiong melompat mundur kebelakang lalu melarikan diri terbirit-birit.
Melihat musuhnya melarikan diri dalam keadaan begitu mengenaskan, Kim Thi sia menjadi kegelian setengah mati.
Setelah menyarungkan kembali pedangnya, dia menggelengkan kepalanya berulang kali sambil mengawasi kedua orang itu hingga lenyap dari pandangan mata.
Kemudian ia memandang sekejap cuaca menentukan arah dan berangkat pula menuju kedepan-Waktu itu kentongan pertama sudah menjelang tiba, dibawah timpaan sinar rembulan Kim Thi sia menempuh perjalanan dengan cepat, dia ingin selekasnya menemukan Lin lin.
Sementara ia masih melakukan perjalanan, mendadak dari sisi sebelah kirinya dijumpai ada seseorang sedang melakukan perjalanan malam, selisih jarak diantara mereka berdua hanya sepuluh kaki, namun dibawah sinar rembukan semuanya tampak amat jelas.
Ternyata orang yang menempuh perjalanan malam itu adalah seorang wanita.
Berdebar keras perasaan Kim Thi sia, dia segera mempercepat larinya untuk melakukan pengejaran-Begitu pengejaran dilakukan, ternyata perempuan sipejalan malam didepan berlarian semakin kencang.
Kejadian tersebut tentu saja memancing rasa ingin tahunya, ia segera berpikir.
"Biarpun kejadian aneh sangat banyak. rasanya tidak sebanyak malam ini, aku harus menyelidiki persoalan ini hingga tuntas"
Berpikir sampai disitu, ia segera melakukan pengejaran dengan makin cepat lagi.
Baru melewati sebuah bukit, ternyata Kim Thi sia telah kehilangan jejak orang itu.
Untuk berapa saat lamanya pemuda itu termangu, perasaan mendongkol, gemas dan jengkel bercampur aduk menjadi satu.
Sudah bersusah payah melakukan pengejaran ternyata usahanya hanya sia-sia belaka.
Dalam keadaan begini, dia cuma bisa memperlambat langkahnya menelusuri jalan bukit.
Mendadak.......
Terasa desingan angin tajam menyambar datang dari belakang, ternyata sebilah pedang tajam dengan membawa suara desingan yang luar biasa telah mengancam batok kepalanya.
Waktu itu Kim Thi sia berada dalam keadaan tidak siap.
menanti dia sadar akan datangnya serangan tersebut, keadaan sudah terlambat.
"Sreeett........"
Tahu-tahu ujung bajunya usdah robek tersambar pedang, lengan kirinya teriuka sepanjang tiga inci dengan kedalam dua inci darah segar segera jatuh bercucuran membasahi sebagian tubuhnya.
Sementara itu, sipenyergap segera melarikan diri terbirit-birit begitu berhasil dengan serangannya.
Dengan cepat Kim Thi sia menutup seluruh jalan darahnya untuk menghentikan aliran darah, ketika melihat penyergapnya sedang melarikan diri, ia segera berteriak keras.
"Telur busuk. biarpun kau lari sampai ujung langitpun, aku Kim Thi sia tetap akan mengejarmu sampai dapat"
Dengan meloloskan kembali pedang Leng gwat kiamnya, ia segera melakukan pengejaran-Tibatiba sipenyergap itu membalikkan badan dan berlarian mendekat. Melihat hal ini, kembali Kim Thi sia berteriak.
"Nah, begini baru bernyali, mari, mari mari, kita tentukan mati hidup ditempat ini."
Sebelum mendekat orang itu telah berteriak lagi.
"Benarkah kau Kim Thi sia."
"Selama hidup aku tak pernah berganti nama, Kim Thi sia adalah aku, aku Kim Thi sia"
Tibatiba orang itu menangis terseduh-seduh, suara tangisannya sangat memilukan hati. Dengan cepat Kim Thi sia mengawasi orang itu dengan lebih seksama, ia segera berteriak.
"oooh, rupanya kau"
"Aku adalah Nyoo Soat hong"
Seru orang itu sambil menangis semakin sedih.
"Mengapa kau membacokku tanpa menjelaskan dulu duduk persoalan yang sebenarnya?"
Tegur Kim Thi sia dengan mendongkol.
"Aku menjadi mata gelap karena pertarungan-"
Sahut Nyoo soat hong sambil berhenti menangis.
"Kau berkelahi dengan orang?"
Nyoo Soat hong mengangguk, pelan-pelan dia berjalan mendekati pemuda itu dan memeriksa keadaan lukanya, kemudian dengan rada minta maaf, katanya lagi.
"Peristiwa malam ini merupakan peristiwa kedua kalinya aku melukai tubuhmu. Aku, aku minta maaf."
Mimik mukanya yang mengenaskan dan memedihkan hati ini seketika membuat api amarah Kim Thi sia mereda dengan sendirinya, cepat-cepat dia menyahut.
"Luka sekecil ini sama sekali tak ada artinya, kau berkelahi dengan musuh."
"Ya a, siaumoay sudah bertarung semalam suntuk."
"Kau telah bertarung semalam suntuk?"
Seru Kim Thi sia kaget.
"Yaa benar."
"Bertarung dengan siapa?"
Desak pemuda itu dengan perasaan kuatir dan tak habis mengerti.
Diapun berharap bisa mendapatkan sebuah jawaban yang pasti, hingga teka teki yang menyelimuti pikirannya selama ini dapat terpecahkan-Nyoo Soat hong tidak langsung menjawab, dia celingukan dan memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu kemudian baru katanya.
"Sudah tak ada yang mengejarku lagi, mari kita mencari tempat untuk beristirahat dulu, nanti akan kuceritakan secara pelan-pelan"
"Apakah ceritamu memakan banyak waktu? Aku masih ada urusan yang mesti diselesaikan secepatnya."
Sambil menggandeng tangan sia nak muda itu, Nyoo Siat hong berkata dengan lembut.
"Kau tak perlu terburu napsu, bila kau hendak menyelesaikan urusanmu, akupun tak akan mengganggumu dengan tidak membiarkan kau pergi."
Mendengar itu, Kim Thi sia pun mengikuti ajakan gadis tersebut duduk diatas sebuah batu besar. Setelah duduk, Nyoo Soat hong baru berkata.
"Bersama abang, kami pergi mencari Pek Kut sinkun......."
"Kemana kalian hendak mencari Pek kut sinkun?"
Timbrung Kim Thi sia.
"Ia toh sudah dibunuh oleh sipedang emas?"
"Kau jangan terburu napsu dulu, dengarlah cerita sejak awal"
"Baik, baik, berceritalah sejak awal"
"Tenryata belum sampai kami berhasil menemukan sarang Pek kut sinkun, jejak kami sudah ketahuan anak buahnya sehingga gerak gerik kami selalu dikuntil dan diawasi."
"Huuuh, sudah mampuspun masih sok"
Gumam Kim Thi sia dengan perasaan tak puas.
"Kau harus mengetahui, saat ini telah muncul seorang tokoh silat yang jauh lebih lihay dari Pek kut sinkun yang memimpin umat persilatan dikawasan Kanglam."
"Aku pernah bersua dengan semua anak buah Pek kut sinkun, darimana munculnya seorang jagoan yang lebih hebat?"
Nyoo Soat hong segera tertawa misterius.
"Kujamin kau pasti belum pernah bertemu dengan orang ini"
"Aku belum pernah bertemu dengannya, apakah kau pernah bertemu dengannya?"
"Tentu saja, aku telah jatuh pencundang ditangannya."
"Hey, sudah setengah harian lamanya kau berbicara, sebetulnya siapakah orang itu? Aku Kim Thi sia pasti akan pergi mencarinya"
Seru sang pemuda tak sabar.
"Apa yang hendak kau perbuat setelah bertemu dengannya?"
"Tentu saja membalaskan dendam bagimu"
"Terima kasih banyak"
Merah padam selembar wajah Kim Thi sia, desaknya kemudian.
"cepat katakan, siapakah dia?"
"Dia adalah putri kesayangan Pek kut sinkun."
"Oooh, rupanya dia adalah seorang wanita"
"Apakah kau memandang hina kami kaum wanita?"
Tegur Nyoo soat hong dengan wajah serius.
"Kau tahu, ilmu silatnya lihay sekali."
"Aaaah.......aku........aku bukan bermaksud begitu"
Cepat-cepat pemuda kita berseru agak tergagap.
"Lantas apa maksudmu?"
"Aku hanya khusus mencari orang yang berilmu silat lebih hebat daripada diriku untuk diajak berduel. Kalau ilmu silatnya lebih rendah daripada diriku, lalu apa artinya?"
"Seandainya kau bertemu dengan seseorang dengan ilmu silat yang sangat lihay, sedangkan tak mampu mengunggulinya, lantas apa yang hendak kau perbuat?"
"Tidak usah kuatir, mereka tak akan mampu membunuhku."
"Waaah, kalau begitu kau punya nyawa rangkap?"
Seru sang nona dengan gembira.
"Bukan hanya begitu, bila aku sering bertarung dengan orang-orang semacam ini, maka tenaga dalamkupun akan mendapat kemajuan yang lebih pesat lagi"
"oooh, rupanya begitu"
Kata Nyoo Soat hong sambil manggut-manggut. Kim Thi sia segera bertanya lagi.
"Siapa sih perempuan itu? Kau tahu dia berasal dari perguruan mana?"
"Aku sendiripun kurang tahu, konon dia adalah anak murid dari Raja langit berlengan delapan-"
"Raja langit beriengan delapan?"
Berubah hebat paras muka Kim Thi sia.
"Ayahku pernah berkata, nama besar orang ini sudah termashur semenjak enam puluh tahun berselang ilmu melepaskan senjata rahasianya merajalela disegala penjuru dunia persilatan dan tak pernah ada tandingannya."
"Bila kau sudah tahu, akupun tak usah menerangkan lagi."
"Apakah masih ada yang lain?"
"Sudah tak ada lagi"
Kim Thi sia segera bangkit berdiri, lalu bertanya lagi.
"Bagaimana persoalan selanjutnya?"
"Kemudian-.....aku tertangkap dan digusur oleh seorang manusia yang bernama lelaki berpipi licin, dan selanjutnya.......selanjutnya......"
Tiba-tiba saja paras muka berubah menjadi merah padam, nampaknya dia merasa malu sekali.
"Bagaimana selanjutnya?"
Desak Kim Thi sia lagi.
"Aaaah, kalian orang lelaki memang bukan manusia baik-baik"
Kim Thi sia yang dikatai begitu jadi tertegun, buru-buru dia berseru dengan wajah keheranan.
"Aku toh tak pernah berbuat salah kepadamu, kenapa akupun turut kau maki?"
"Siapa sih lelaku berpipi licin itu?"
"Dia adalah orang jahat, dia telah mempermainkan aku"
"Mempermainkan? mempermainkan bagaimana?"
Tanya Kim Thi sia keheranan.
"agaknya dia belum mengerti apa yang dimaksudkan aku?"
"Aaaah, masa soal inipun tidak kau mengerti?"
"Aku berani bersumpah, aku benar-benar tak mengerti?"
Kim Thi sia berkata serius. Dari keseriusan pemuda itu, Nyoo Soat hong percaya kalau pemuda itu benar-benar tak mengerti, agak tergagap iapun berkata.
"Mempermainkan adalah.....adalah.....aaah, memalukan-Aku tak mau menerangkan"
Kim Thi sia membelalakkan sepasang matanya lebar-lebar, diawasinya gadis itu tanpa berkedip.
dia sangat keheranan-Lama kelamaan Nyoo Soat hong menjadi rikuh sendiri karena ditatap secara begitu, dengan kepala tertunduk ia berbisik.
"Dia..... dia hendak mencium pipiku"
Setelah mendengar perkataan ini, Kim Thi sia baru memahami apa yang dimaksud.
Dia pernah mempunyai pengalaman semacam ini, karenanya meski masih ada berapa persoalan yang tidak dipahami olehnya, dia agak rikuh untuk mengajukan keluar.
Untuk berapa saat pemuda itupun berdiri termangu disitu.
Nyoo Soat hong sangat keheranan melihat sikap termangu anak muda ini, tiba-tiba desaknya.
"Hey, apa yang sedang kaupikirkan?"
"Apakah kau menangis waktu itu?"
Tanya sang pemuda acuh tak acuh. Dengan gemas Nyoo Soat hong segera meninju pemuda itu, serunya dengan mendongkol.
"Buat apa sih kau menanyakan persoalan tersebut begini jelas?"
"Kau jangan marah. Baik, baiklah aku tak akan bertanya."
Setelah berhenti sejenak. kembali dia berkata.
"Bagaimana seterusnya?"
Dengan kening berkerut Nyoo Soat hong berkata.
"Disaat sitelur busuk itu sedang gembira dan lupa diri, tiba-tiba dari luar muncul seseorang. ilmu silatnya sangat hebat, dalam tiga gebrakan saja ia telah behrasil memukul mundur telur busuk itu dan menolongku lolos dari bahaya."
"ooooh, baik benar orang yang menyelamatkan dirimu itu, siapa sih orang itu? "Ia bernama Yu Kiem"
"Apa? Dia adalah Yu Kiem?"
Kim Thi sia segera berseru tertahan-"Jadi kau kenal dengannya?"
Tanya Nyoo Soat hong sambil melotot.
"Ya a, aku memang kenal dengannya."
"Hmmm, nampaknya tidak sedikit gadis cantik yang kau kenali"
"Dia adalah putri sulung Thi ki ci locianpwee, dia masih mempunyai seorang adik perempuan yang berwajah mirip sekali dengannya. ibarat pinang dibelah dua susah sekali untuk membedakan mana sikakak dan mana adiknya."
Nyoo Soat hong tertawa dingin.
"Begitu jelas kau mengetahui tentang mereka. Kau tahu, kemungkinan besar enci Yu mu sedang terancam bahaya saat ini"
"Mengapa dengan Yu Kiem?"
Tanya Kim Thi sia cemas. Nyoo Soat hong tertawa lagi, tertawa misterius.
"Apakah kau sangat menguatirkan keselamatannya?"
"cepat katakan, bagaimana keadaannya?"
"Aku keluar dari ruangan bersamanya tapi belum jauh berjalan, dia yang telah berada dengan beberapa orang tongcu dari perkumpulan Tay sang pang, tanpa banyak berbicara lagi mereka segera saling gontok-gontokan, dengan andalkan jumlah yang banyak mereka bertarung sampai setengah malaman, akibatnya kami berduapun menjadi terpencar. Aku takut keadaan enci Yu amat berbahaya, bisa jadi ia telah ditangkap hidup-hidup oleh berapa orang itu."
"Darimana kau bisa tahu?"
"Aku dengar mereka hendak membawanya pulang agar dijatuhi hukuman oleh ketuanya"
Jilid 42
"Jadi kau meninggalkan Yu Kiem seorang diri untuk menyelamatkan diri sendiri?"
Tiba-tiba Kim Thi sia menegur.
"Huuuuh, kau jangan sembarangan bicara."
Bentak Nyoo Soat hong panik.
"Aku seorang diri tak sanggup menghadapi kerubutan mereka, posisiku amat terdesak hingga untuk melarikan diripun tak mampu..... itulah sebabnya tadi aku telah salah menganggap dirimu sebagai salah seorang yang mengejarku sehingga secara diam-diam kuhadiahkan sebuah tusukan kepadamu"
"Tak apa, sekarang kau boleh beristirahat sendiri disini, aku segera pergi mencari orang-orang itu."
"Kau hendak mencari siapa?"
Tanya sinona penuh perhatian-"Tentu saja mencari orang-orang yang mengejarmu itu untuk membuat perhitungan."
Nyoo Soat hong segera tertawa manis, pesannya.
"Mereka pasti masih berada dibelakang sana, tempat disekeliling sini merupakan daerah kekuasaan mereka, kau mesti berhati-hati, cepat pergi dan cepat kembali, aku akan menantimu disini"
"Kau tak usah kuatir"
Selesai berkata, dengan langkah cepat pemuda itu meluncur kedepan menelusuri jalan setapak tersebut.
Kim Thi sia berjalan amat cepat, perasaan gusar dan benci yang bercampur aduk membuat semangat tempurnya makin berkobar, dia bersumpah akan mencari orang-orang dari perkumpulan Tay sang pang dan melampiaskan seluruh rasa benci dan mendongkolnya itu kepada mereka.
Tiba-tiba terdengar ia berseru keras.
"Yaa...betul betul sudah pasti semuanya ini hasil perbuatan dari komplotan yang sama"
Waktu itu fajar mulai menyingsing, setitik cahaya terang mulai muncul diufuk timur.
Dibawah sinar matahari yang masih samar-samar, terlihatlah ada tiga sosok bayangan manusia munculkan diri dari depan sana.
Selisih jarak ketiga orang tersebut dengan dirinya masih teramat jauh, namun secara lamatlamat dapat terlihat bahwa ketiga orang itu berbaju hijau, mempunyai langkah yang tegap dan cepat.
cukup ditinjau dari kepandaian tersebut, dapat diduga bahwa mereka adalah sekawanan jago persilatan yang berilmu silat tinggi.
Dalam waktu singkat........
Tampak bayangan manusia berkelebat lewat, tahu-tahu tiga orang lelaki setengah umur berwajah dingin kaku telah munculkan diri dan berdiri menghadang dihadapannya.
Menyusul kemudian-.....
Dari belakang ketiga orang tersebut, bermunculan lagi belasan sosok bayangan manusia.
Seorang diantaranya sedang membopong tubuh Yu Kiem.....
Menyaksikan adegan ini, meledak hawa amarah Kim Thi sia, tanpa mengucapkan sepatah katapun dia segera meloloskan pedang Leng gwat kiam dari sarungnya.
Salah seorang diantara ketiga orang jago tersebut, seorang lelaki setengah umur yang berkulit agak hitam, segera mendengus dingin seraya menegur.
"Anda adalah sobat dari golongan mana? Ayoh cepat sebutkan dulu namamu. Kami coat bun kiam Ban Sang Teng pasti akan memenuhi semua pengharapanmu......"
Kim Thi sia tertawa terbahak-bahak.
"Haaaah......haaaah......haaaaah........aku adalah manusia yang hidup dibumi ini. Hey, bila kulihat dari tampang serta dandanan kalian, tampaknya kamu semua berasal dari pukulan Tay sang pang? Nenek busuk dengan kemampuan dari ketua kalian Khu It Cing pun aku masih belum memandang sebelah mata, kalian tiga manusia rongsokan sudah berani sesumbar dihadapanku. Hmmm Betul-betul manusia tak bermata, permainan kalian ini masih belum dapat menggertak jari aku Kim Thi sia"
Begitu nama "Kim Thi sia"
Disebutkan, kontan saja Ban Sang teng dan kedua orang rekannya menjadi terperanjat hingga tanpa terasa mundur selangkah kebelakang. Berapa saat kemudian, Bang Sang baru berseru dengan suara dalam.
"Antara perkumpulan Tay sang pang dengan diri anda sama sekali tak terjalin perselisihan apapun, ketua kami pun sudah beberapa kali berjumpa dengan Kim tayhiap. Aku harap Kim tayhiap jangan mencampuri urusan ini"
Mendengar perkataan mana, Kim Thi sia segera tertawa dingin tiada hentinya.......
"Heeeeh.....heeeeh......^heeeeh........bila aku tak mau menuruti anjuranmu?"
Ban Seng segera melototkan sepasang matanya bulat-bulat, serunya dengan gusar.
"Kim Thi sia, aku bermaksud baik dengan menganjurkan dirimu tidak mencampuri urusan ini, hal mana dikarenakan mencari nama bukan pekerjaan yang gampang, lagipula kau pernah mempunyai hubungan dengan ketua kami, maka kamipun tak ingin menyusahkan dirimu, namun bila anda menganggap partai Tay sang pang kami hanya macan kertas, maka hal ini sama artinya dengan mencari penyakit buat diri sendiri"
Seorang jago yang berada disampingnya segera membentak pula.
"Hey orang she Kim, lebih baik jangan mencampuri urusan orang lain, bila kau menolak arak kehormatan dengan memilih arak hukuman, aku Sam kiam coat hun sitiga pedang mencabut nyawa Ho cuan pasti akan memberi pelajaran kepadamu"
"Haaaah....haaaah......haaaah......"
Kim Thi sia kembali tertawa tergelak.
"orang bilang aku adalah manusia yang paling susah dilayani, nyatanya kalian lebih susah dilayani ketimbang aku, orang bilang aku tak takut mampus, rupanya kalian lebih tak takut mampus daripada aku"
Sementara ketiga orang itu masih tertegun, karena perkataan tersebut sambil tertawa tergelak tiba-tiba saja Kim Thi sia sudah melancarkan serangan dengan jurus "Guntur menggelegar angin berhembus"
Serta "awan muncul kabut membuyar"
Dari ilmu pedang panca Buddha.
Tampaklah pedang Leng gwat kiam dengan kecepatan bagaikan sambaran petir secara langsung menyerang ketiga orang tersebut.
Semenjak tadi ketiga orang tersebut telah membuat persiapan yang matang, dua pedang dan sepasang telapak tangan serentak melancarkan serangan pula bersama-sama.
Kim Thi sia sama sekali tidak memberi kesempatan kepada musuhnya untuk berganti napas, serangan demi serangan dilancarkan dengan mempergunakan jurus-jurus serangan paling ampuh dari ilmu pedang panca Buddhanya.
Suatu ketika, dia menyerang kekiri dan kanan secara bersamaan sehingga penjagaan pada tubuh bagian depannya terbuka sama sekali.
Salah seorang dari lelaki setengah umur itu segera mendengus dingin, tangan kirinya disapu kedepan kuat-kuat, segulung tenaga pukulan yang kuat langsung menerjang kedepan.
Kim Thi sia tak mampu berdiri tegak lagi, secara beruntun tubuhnya mundur dua langkah kebelakang.
Terdengar lelaki itu segera menjengek dingin.
"Heeeeh.....heeeeh.....heeeeh......tak disangka kau cuma seorang gentong nasi yang sama sekali tak berguna"
Kim Thi sia gusar sekali, pedangnya diputar kencang dan secara beruntun melancarkan serangan dengan jurus jaring langit perangkap bumi dan batu merekah bukit merekah dari ilmu pedang panca Buddha.
Begitu kedua jurus serangan tersebut dilancarkan, hawa pedang yang menyayat badanpun memancar bagaikan jaring laba-laba yang menyelimuti seluruh angkasa.
Ditengah jeritan ngeri yang bergema secara beruntun, dengan suatu gerakan sangat cepat Kim Thi sia telah merampas Yu Kiem dari tangan musuh.
Anak buah perkumpulan Tay sang pang menjadi tertegun semua ketika mereka mendengar suara jeritan ngeri yang menyayat hati bergema susul menyusul diikuti robohnya bayangan manusia.
Begitu mereka tahu apa yang sebenarnya telah terjadi, kontan saja rasa kaget dan ngeri mencekam perasaan setiap orang.
Ternyata orang yang roboh paling duluan bukan lain adalah sipedang sakti.
Ban Seng, pedang andalannya telah terpapas kutung menjadi dua bagian dan tergeletak diatas tanah.
Lengan kanan hingga kepinggangnya telah robek dan merekah besar, darah segera bercucuran keluar dengan derasnya.
Kalau dilihat dari keadaannya, mungkin tipis harapan baginya untuk tetap hidup, sementara itu Kim Thi sia dengan mata melotot dan pedang terhunus masih berdiri angker ditempat semula.
Sitiga pedang pencabut nyawa Ho cuanpun berdiri tertegun setelah melihat rekan-rekannya kalau tidak tewas, tentu berada dalam keadaan luka parah.
Ia sadar apabila keadaan seperti ini dibiarkan lebih jauh, niscaya dia sendiri pun akan menjadi korban-Kontan saja semua kebengisan dan kebuasannya lenyap tak berbekas, katanya cepat.
"Tak nyana kau betul-betul berhati keji, kami mengaku kalah"
Selesai berkata ia segera mengulapkan tangannya segenap anak buahnya serentak menggotong orang-orang mereka yang terluka dan tewas dan cepat-cepat kabur meningalkan tempat tersebut.
Waktu itu hawa amatah berkobar dalam dada Kim Thi sia, sebetulnya dia enggan menyudahi persoalan tersebut sampai disitu saja, namun setelah melihat sekejap Yu kiem didalam bokongannya yang masih belum sadarkan diri, semua semangatnya mengendor kembali.
"Betul"
Bentaknya kemudian-"Kaupun bukan si penanggung jawab dalam peristiwa ini.
Toaya tak akan menarik panjang persoalan-Untuk kali ini aku bersedia mengampuni jiwamu, tapi lain kali, jika sampai kamu semua terjatuh lagi ketangan toaya.
Hmmmjangan salahkan kalau aku akan bertindak kejam"
Selesai berkata, dia memandang sekejap kawanan jago itu dengan pandangan gusar tentu saja kawanan manusia itu menjadi ketakutan setengah mati dan secara beruntun mundur berapa langkah.
Dengan angkuh Kim Thi sia maju beberapa langkah kedepan, mendadak ia membalikkan badan lagi sambil bentaknya kepada Ho cuan.
"Enyah dari sini dan beritahu kepada ketua kalian, suruh dia menunggu, dalam sebulan mendatang akan kusuruh ketua kalian tahu akan kehebatanku"
Tiga pedang pencabut nyawa Ho cuan tak berani banyak bicara, dia hanya bisa mengawasi bayangan tubuh Kim Thi sia menjauhi tempat tersebut.
Mendadak......
Kim Thi sia melayang kembali dengan gerakan amat cepat.
Pada mulanya Ho cuan mengira pemuda tersebut tak bersedia mengampuni jiwa mereka semua, baru saja akan bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan, tahu-tahu Kim Thi sia sudah menggeledah saku Ban Seng dan mengeluarkan berapa buah bungkusan kecil dari balik dadanya yang basah oleh darah.
Kemudian tanpa mengucapkan sepatahpun, dia berlalu lagi dari situ, sekejap mata kemudian bayangan tubuhnya telah lenyap dari pandangan mata.
sementara itu Kim Thi sia dengan membopong Yu Kiem telah menempuh perjalanan sekian waktu, setelah tiba disuatu tempat yang jauh dari keramaian manusia.
Dia baru membaringkan tubuh gadis itu keatas tanah dan meneliti berapa buah bungkusan yang diperolehnya dari Ban Seng.
Tapi sayang, biarpun sudah diteliti setengah harianpun, ia tak berhasil menemukan obat penawar racun itu.
Menjumpai Yu Kiem tetap tak sadarkan diri, sedang kemungkinan datangnya serangan dari perkumpulan Tay sang pang juga bisa muncul setiap saat.
Cepat-cepat ia membopong kembali gadis itu dan muncul ditepi jalan raya.
Secara kebetulan lewat sebuah kereta kuda, ia segera menghadangnya dan naik kedalam kereta tersebut.
Belum berapa puluh mil mereka berjalan tiba-tiba dari depan situ terdengar seseorang membentak keras, disusul kereta itu berhenti berlari.
Kim Thi sia menjadi amat tertegun, cepat-cepat dia mengintip dari balik tirai kereta, tampak olehnya sikusir kereta sedang berdiri termangu-mangu ditepijalan mengawasi dua batang pohon besar yang roboh melintang ditengah jalan raya.
Kedua batang pohon itu besar sekali, paling tidak harus ada tiga orang yang mengangkat untuk menggesernya dari situ, jelas ada orang yang sengaja berbuat demikian disana.
Ketika sikusir melihat Kim Thi sia sedang melongok keluar, dengan nada murung diapun berkata.
"Toaya, coba lihatlah, jalanan ini menjadi buntu. Apa daya kita sekarang.....?"
Sambil tertawa dingin Kim Thi sia melompat turun dari kudanya, kepada sang kusir dia berseru.
"Beristirahatlah sebentar, biar aku yang menyingkirkan batang pohon itu......"
"toaya, aku rasa lebih baik kita memutar kejalanan yang lain saja"
Tergerak perasaan Kim Thi sia setelah mendengar perkataan itu, tapi segera pikirnya lebih jauh.
"Aaaah, aku tak boleh berbuat begini, jelas perbuatan ini merupakan hasil permainan busuk dari perkumpulan Tay sang pang. Bila aku mengambil jalan melingkar, bukankah sama artinya aku pengecut? Mereka tentu akan mentertawakan aku"
Maka sambil menggelengkan kepalanya berulang kali, ia berkata dengan suara pelan.
"IHey kusir kuda, kau tidak usah gelisah, aku punya rencana sendiri"
Sambil berkata, pelan-pelan dia berjalan mendekati pohon tersebut.
Sikusir kelihatan agak melongo setelah mendengar perkataan tersebut, seperti orang ingin tahu seperti juga hendak maju membantu, dengan membawa pecutnya ia menyusul dari belakang.
Kim Thi sia sama sekali tidak menaruh perhatian akan hal itu, dihampirinya ujung pohon lalu sambil merentangkan sepasang tangannya, ia mendorong batang pohon tersebut kesamping.
Terdengar bunyi gemericik yang amat nyaring, belum sempat sikusir melihat secara jelas, tahutahu batang pohon yang besar itu sudah mencelat ketepi jalan.
Siapa sangka, baru saja Kim Thi sia berhasil mengangkat batang pohon tersebut, mendadak kakinya terasa mengendor dan tubuhnya segera terjerumus kebawah dengan cepatnya.
Pada waktu itu, seluruh perhatian Kim Thi sia sedang dipusatkan pada batang pohon tersebut, maka sewaktu tanah injakannya amblas kebawah.
Pemuda itu sama sekali tidak menaruh perhatian khusus.
Siapa sangka menyusul amblasnya tanah injakan terdengar pula suara gemuruh yang amat keras, diikuti pasir dan ranting pohon yang berguguran dimana-mana, batang pohon tersebut ambruk kembali kebawah dan menekan badannya.
Tak ampun tubuhnya langsung terjerumus kebawah.
Menghadapi perubahan yang sangat mendadak dan sama sekali diluar dugaan ini, mustahil bagi Kim Thi sia untuk menghindarkan diri.
Untunglah disaat yang begitu berbahaya, tiba-tiba muncul sebuah akal dalam benaknya, sambil menghimpun tenaganya kedalam tangan, ia tempelkan badannya pada batang pohon tersebut, dengan begitu badannya segera terjerumus kebagian liang tanah yang melekuk kebawah.
Andaikata ia tak berbuat begitu, niscaya badannya akan segera tertindih oleh batang pohon yang amat berat itu, bahkan badannya akan penuh berlubang begitu terhujam ketanah dan menghajar batang-batang tombak runcing yang agaknya telah dipersiapkan dibawah liang tersebut.
Berada dalam keadaan begini, dengan perasaan terkejut bercampur gusar Kim Thi sia meloloskan pedang Leng gwat kiam nya sambil membabat kian kemari.
Setelah bersusah payah sekian waktu akhirnya berhasil juga dia melompat keluar dari liang tanah.
Tapi begitu lolos dari ancaman dan memandang sekejap sekeliling tempat itu kontan saja pemuda kita dibuat malu bercampur gusar.
Ternyata disitu sudah tak nampak lagi bayangan kereta berkuda itu, jelaslah sudah sekarang bahwa ia sudah terjebak oleh siasat licik perkumpulan Tay sang pang.
Masih beruntung ia tak sampai terluka oleh jebakan musuh sehingga kesempatan baginya untuk membalas dendampun tetap ada.
Dengan geram bercampur penasaran dia segera berlari menelusuri jalan dengan mengikuti bekas roda kereta diatas tanah.
Tak lama kemudian sampailah dia dibawah kaki bukit, disana bekas roda kereta sudah makin kabur dan susah diikuti lagi.
Kim Thi sia kehilangan akal, dalam terkejut bercampur gugupnya mendadak dari tebing bukit ia saksikan kereta kuda terguling ditepi jalan-Dengan gerakan cepat ia segera memburu kedepan-Tak selang berapa saat kemudian-.....
Kim Thi sia telah tiba ditepi kereta tersebut, namun disana tak dijumpai lagi bayangan tubuh dari Yu Kiem, akibatnya dia semakin naik darah.
Sambil mengepal tinjunya dia menghantam kereta tersebut keras-keras.
"Braaaakkk......braaakkkk......."
Dalam waktu singkat ruangan kereta itu sudah hancur berantakan tak berwujud lagi.
Tiba-tiba......
Ditengah suara benturan keras, bergema pula suara benturan senjata yang amat nyaring, jelas ada orang yang sedang bertarung sengit sekitar tempat tersebut.
Kim Thi sia merasakan semangatnya bangkit kembali, dengan cepat dia memburu kearah mana datangnya suara tersebut.
Setelah melalui dua buah gunduk bukit kecil, suatu pertarungan terdengar makin lama semakin dekat.
Selain itu dari balik suara bentrokan senjata secara lamat-lamat terdengar suara seorang pria sedang berseru keras.
"IHey budak. tak usah bertempur lagi......."
Kata selanjutnya tak terdengar dengan jelas karena segara tenggelam dibalik suara bentrokan senjata yang ramai.
Buru-buru Kim Thi sia memburu kedepan, kali ini suara pembicaraan semakin jelas.
Terdengar lelaki itu berkata sambil tertawa terkekeh-kekeh.
"Masa kau belum tahu, coba lihat lentera hijau pun tidak menarik perhatianku. Sebaliknya aku malah tertarik kepadamu. Kau sibudak malah tak tahu diri, kenapa sih mesti begitu?"
Kemudian terdengar ia berkata lagi.
"Sekalipun pertarungan dilanjutkan, kau toh akhirnya tetap menjadi milikku. Disini tak ada seorang manusiapun, kau anggap mampu untuk melarikan diri dari cengkramanku?"
Selesai berkata, kembali ia tertawa terbahak-bahak.
Sementara itu, jarak antara Kim Thi sia dengan mereka sudah makin dekat, namun belum nampak bayangan tubuh mereka, tapi ia bisa menduga besar kemungkinan sinona yang dimaksud adalah Yu Kiem.
Akan tetapi, ketika dia tidak mendengar suara bentakan atau umpatan dari Yu Kiem lama kelamaan timbul juga rasa herannya.
Dengan langkah cepat dia memburu kemuka, setelah melalui sebuah tikungan tebing, maka muncullah didepan mata bayangan tubuh dari sepasang lelaki dan perempuan-Sang pria bersenjatakan tombak berantai, sedangkan yang perempuan menggunakan sebilah golok besar.
Bila ditinjau dari potongan badannya, perempuan itu adalah Yu Kiem yang sedang dicari.
Sementara itu sang nona sedang melancarkan serangkaian serangan yang gencar, namun tak berhasil menempati posisi diatas angin, sedang yang pria dengan tombaknya menangkis kekiri menyodok kekanan, serangan demi serangan, gerakan demi gerakan, semuanya dilakukan secara tingan dan amat santai.
Meninjau dari keadaan tersebut, tahulah Kim Thi sia bahwa sang pria sedang mengalah.
Andaikata ia benar-benar berniat memenangkan pertarungannya melawan Yu Kiem, hal tersebut bisa dilakukan olehnya semudah membalikkan telapak tangan sendiri.
Begitulah, sambil berjalan sambil mengamati jalannya pertarungan, tanpa terasa selis ih jarak mereka tingal satu panahan-Waktu itu, Kim Thi sia merasa amat lega hatinya dan tak bermaksud turun tangan cepat-cepat steelah dilihatnya Yu Kiem berada dalam keadaan selamat tanpa kekurangan sesuatu apapun, sebaliknya kedua orang itupun sama sekali tidak mengetahui kehadirannya, sehingga pertarungan masih berlangsung dengan sengitnya.
Makin lama Kim Thi sia berjalan semakin dekat, suatu ketika secara kebetulan pria itu membalikkan badan dan melihat kehadiran pemuda tersebut, ia nampak agak terperanjat menyusul kemudian sambil menarik muka tertawa seram tiada hentinya.
Kim Thi sia yang melihat kejadian tersebut segera mengetahui bahwa lelaki itu mempunyai maksud tertentu, buru-buru serunya kepada Yu Kiem.
"Nona Yu, berhati-hatilah, biar aku saja yang membereskan bajingan keparat ini"
Baru selesai perkataan itu diutarakan, pedang Leng gwat kiamnya dengan jurus "bintang lenyap rembulan hilang"
Segera menciptakan berkuntum-kuntum pedang dan langsung menghadang senjata tombak berantai dari lelaki tersebut.
Agaknya sinona itu belum sempat melihat dengan jelas sipendatang, ia tetap memutar goloknya sedemikian rupa dengan melancarkan serangkaian serangan beradu jiwa yang mematikan.
Tampaknya lelaki itu menganggap ilmu silat yang dimilikinya amat tinggi sehingga sama sekali tak memandang sebelah matapun terhadap orang lain, sekalipun sedang diserang oleh Kim Thi sia , dia bersikap acuh tak acuh, bahkan memandang sekejappun tidak.
Ketika serangan dari Kim Thi sia sudah meluncur datang, ia segera menggetarkan pergelangan tangan kirinya dengan tombak berantai dia gulung pedang lawan, sementara tangan kanannya menggunakan ilmu merampas senjata untuk mencengkeram bacokan golok dari sinona.
"Kurang ajar"
Terdengar dia membentak gusar.
"Dari mana datangnya pemuda liar, toaya harus memberi pelajaran yang setimpal kepadamu"
Habis berkata, tombak berantainya dengan mengerahkan tenaga sebesar delapan bagian langsung menyerang Kim Thi sia.
Pemuda itu tertawa dingin, pedang ditangan kanannya mengikuti gerak menggulung tombak berantai itu langsung menusuk kedalam dengan jurus "batu merekah bukit ambruk", seketika itu juga dua macam senjata saling menggulung satu sama lainnya.
Kim Thi sia merasa terkejut juga sewaktu melihat senjata musuh tak berhasil dikutungi.
Buruburu tangan kirinya menyambar kedepan mencengkeram ujung tombak yang menggulung dan segera berhasil mencengkeramnya erat-erat^ Tindakan tersebut sama sekali diluar dugaan lelaki mimpipun dia tidak menyangka kalau musuhnya berani berbuat seberani ini, pikirnya.
"Kurang ajar benar orang ini, nampaknya toaya mesti beradu jiwa denganmu....."
Berpikir demikian, ia segera membetot senjatanya kuat-kuat lalu dengan suatu gerakan yang amat lincah dia menghindarkan diri dari bacokan golok Yu Kiem.
Setelah itu sambil membentak dia mengerahkan seluruh kekuatannya kedalam tangan, maksudnya dia hendak menggulung pergi pedang Kim Thi sia dan berusaha membinasakan dirinya diujung senjata tombak berantainya.
Dipihak lain bacokan golok Yu Kiem baru saja mengenai sasaran yang kosong dan belum sempat membalikkan badan, ia sudah mendengar lelaki tersebut membentak keras.
Ketika dia mencoba melirik sekejap.
tampaklah Kim Thi sia masih berdiri tegak d itempat semula, ujung tombak berantai itu masih melilit pedangnya kencang-kencang dengan ujung yang lain masih tergenggam ditangannya.
Senyuman dingin menghiasi ujung bibirnya Kim Thi sia, namun kedua belah pihak sama-sama membungkam diri dalam seribu bahasa, agaknya mereka telah saling beradu tenaga dalam.
Entah apa sebabnya, tahu-tahu dari atas pedang dan tombak berantai itu mengepulkan asap panas kemudian terlihat lelaki itu menunjukkan rasa kaget dan rasa kesakitan yang luar biasa, seakan-akan dia sudah berusaha melepaskan senjatanya namun entah mengapa tangannya seperti tertempel kuat-kuat pada senjatanya itu.
Menyaksikan mimik wajahnya itu, Yu Kiem segera mengerti bahwa kesempatan baik tak boleh disia-siakan dengan begitu saja.
Sambil membalikkan badan ia segera melancarkan sebuah bacokan maut.
Tampaknya bacokan golok itu segera akan memenggal kutung batok kepala pria tersebut, ketika secara tiba-tiba terdengar orang itu menjerit kesakitan dan senjata rantainya sudah terputus-putus menjadi beberapa bagian.
Menanti bacokannya sudah hampir tiba pria itu telah roboh terjungkal lebih dulu keatas tanah akibatnya babatan golok itu cuma memapas kulit kepalanya saja.
Baru saja peria itu roboh keatas tanah, Yu Kiem kembali telah mengayunkan goloknya melakukan bacokan-Kali ini nampaknya lelaki tersebut tak akan mampu lagi untuk meloloskan diri.
siapa tahu, disaat kritis inilah.....
Mendadak terdengar Kim Thi sia membentak keras, sambil melancarkan sebuah pukulan dahsyat ia berseru.
"Nona Yu, jangan bunuh dia. orang ini masih ada kegunaannya"
Berbareng dengan seruan itu, bacokan goloknya seketika itu terdorong kesamping hingga meleset dari sasaran-Merah padam selembar wajah nona itu dengan termangu-mangu dia mengawasi sekejap wajah Kim Thi sia tanpa berkata-kata.
Dalam pada itu lelaki yang roboh terjungkal diatas tanah itu sudah melompat bangun sambil menahan tubuhnya yang gemetar ia berseru.
"Baiklah, anggap saja ilmu silat toayamu memang kurang sempurna, tapi awas kau bocah keparat. selama gunung nan hijau dan air tetap mengalir, kita akan bersua lagi lain waktu"
Habis berkata, ia cepat-cepat angkat kaki meninggalkan tempat tersebut.
"Berhenti"
Dengan suara keras, tiba-tiba Kim Thi sia membentak.
"Bocah keparat, mau apa kau?"
Teriak lelaki itu sambil melotot penuh amarah.
"Hey, kalau kulihat tampangmu, agaknya lagakmu masih lebih besar ketimbang aku. Apakah kau kira bisa pergi dari sini dengan begitu saja?"
"Hari ini, aku siraja akhirat pelesiran Nyoo Beng tong memang sudah jatuh pecundang ditanganmu, anggap saja nasibku memang jelek. Hey bocah keparat, apa lagi yang kau kaokkaokkan? "
"Aku ingin bertanya, apakah kau berasal dari perkumpulan Tay sang pang?"
Sambil membusungkan dadanya si Raja akhirat pelesiran Nyoo Beng tong segera menjawab dengan angkuh.
"Ehmm, hitung-hitung kau memang bermata jeli. Betul, toaya memang seorang hiocu dari perkumpulan Tay sang pang. Bila kau serahkan kembali nona itu kepadaku, maka kau pasti akan memperoleh banyak keuntungan"
Mendadak......
Kim Thi sia tertawa dingin tiada hentinya, dengan sekali ayunan pedang tahu-tahu batok kepala si Raja akhirat pelesiran Nyoo Beng tong sudah terbabat putus dan berpisah dengan badannya.
Semua rasa mendongkol, gusar dan mangkelnya selama ini, seketika sudah terlampiaskan keluar semua.
Sesaat kemudian, ia baru bertanya dengan lembut.
"Nona Yu, apakah kau masih ketakutan?"
Gadis itu menggelengkan kepalanya berulang kali dengan wajah tersipu-sipu malu, mulutnya tetap membungkam dalam seribu bahasa.
Kim Thi sia tidak habis mengerti, sambil menggandeng tangannya kembali ia berkata.
"Nona Yu, apakah sudah terjadi sesuatu denganmu?"
Paras muka nona itu berubah makin merah seperti kepiting rebus, ia semakin malu, setelah meronta dan melepaskan diri dari genggaman tangan Kim Thi sia, ia membetulkan letak bajunya dan menuding kesana kemari.
Untuk sesaat Kim Thi sia cuma melongo.
Dia tidak memahami apa yang dimaksudkan gadis itu.
Melihat pemuda itu tetap tak mengerti, sinona segera mendelik, kemudian setelah mencari tempat duduk diatas sebuah batu besar, diapun memberi tanda kepada Kim Thi sia agar duduk pula.
Kim Thi sia segera menyarungkan kembali pedang Leng gwat kiamnya, setelah duduk disampingnya dia menghibur.
"Bila aku bertemu lagi dengan orang-orang Tay sang pang dikemudian hari, pasti akan kubantai mereka satu per satu, akan kulihat apakah mereka masih berani mengganggu dirimu atau tidak"
Gadis itu tersenyum dan manggut-manggut. Kembali Kim Thi sia berkata.
"Gara-gara mesti menolong adik angkatku Nyoo Soat hong, nona baru mengalami nasib seperti ini, kejadian mana benar-benar membuat perasaanku menjadi tak enak."
Melihat gadis itu tetap melengos tanpa menggubris dirinya, pemuda kita menjadi amat mendongkol.
Dia segera merangkul pinggang sinona dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya digunakan untuk memutar kepalanya.
Gadis itu berusaha meronta dari pukulannya, tapi sayang tenaga pemuda itu kelewat besar sehingga ia sama sekali tak mampu meloloskan diri.
Kim Thi sia segera menundukkan kepalanya memandang sekejap wajahnya, tapi dengan cepat ia dibuat tertegun-Ternyata gadis itu menunjukkan wajah tersipu-sipu malu disamping rasa gusar.
Dibalik rasa jengahnya terselip pula kewibawaan yang membuat orang tak berani mengusik secara sembarangan-Tanpa terasa Kim Thi sia mengendorkan genggamannya.
Bangkit berdiri dan berdiri menjauhinya.
Melihat pemuda itu menjauh, sinona segera mengambil goloknya dari atas tanah, lalu tanpa mengucapkan sepatah katapun menggoreskan goloknya keatas tanah.
Lama sekali gadis itu menanti, namun Kim Thi sia tetap berdiri membelakanginya tanpa bergerak.
Lama kelamaan gadis itu tak sabar lagi menunggu, dia mendekati dan mendorong tubuh Kim Thi sia, tapi pemuda itu tetap tidak menggubris.
Agaknya sinona menjadi gelisah, sambil mendelik ia segera menjewer Kim Thi sia dan menyeretnya.
Mimpipun Kim Thi sia tak mengira kalau gadis tersebut akan berbuat begini, tak kuasa lagi badannya terseret kebelakang, tapi begitu ia melihat keatas tanah, hatinya menjadi terkejut.
Rupanya diatas tanah tertera berapa huruf yang berbunyi begini.
"Kim siangkong, terima kasih atas pertolonganmu, tapi aku bukan Yu Kiem yang sedang kau cari. Ia telah ditangkap orang-orang Tay sang pang"
Ketika Kim Thi sia selesai membaca, gadis tersebut melepaskan cewerannya.
Dengan perasaan terkejut anak muda itu membalikkan badan dan menatap sinona dengan lebih seksama.
Gadis itu berdiri dihadapannya dengan wajah bersemu merah dan penuh nada minta maaf.
Tapi yang aneh, baik potongan badan, raut wajah maupun dandanannya tak berbeda seperti Yu Kiem.
Kalau dibilang ada perbedaan, mana bedanya hanya terletakpada sikap.
Gadis ini nampaknya lebih binal dan galak.
Tiba-tiba......
Kim Thi sia seperti teringat akan sesuatu buru-buru ia bertanya.
"Nona, siapa namamu? Rasanya kita pernah bertemu muka."
Sambil tertawa gadis itu manggut-manggut, dengan goloknya dia segera menulis sebuah huruf "hong"
Diatas tanah. Membaca tulisan ini, Kim Thi sia berseru tertahan sambil manggut-manggut.
"oooh....rupanya nona adalah Yu Hong, adik kandung Yu Kiem"
Kembali Yu Hong manggut-manggut. Tiba-tiba Kim Thi sia menegur.
"Nona, mengapa kau tidak berbicara?"
Yu Hong tertawa getir, dengan jari tangannya ia menuding jalan darah bisu dibelakang tengkuknya.
"Apakah jalan darah bisumu tertotok?"
Kim Thi sia segera bertanya. Yu Hong manggutmanggut membenarkan.
"Ditotok oleh siapa? Apakah bisa dibebaskan?"
Kembali pemuda itu bertanya cepat.
Sambil tertawa getir Yu Hong menggelengkan kepalanya berulang kali, namun sepasang matanya mengawasinya wajah Kim Thi sia dengan pandangan sangsi serta tak habis mengerti.
Dengan wajah kebingungan Kim Thi sia bertanya lagi.
"Masa kau sendiri pun tak tahu siapa yang telah menotok jalan darahmu itu?"
Kembali Yu Hong mengangguk.
"Nona, aku lihat ilmu silatmu cukup tangguh."
Kata Kim Thi sia tercengang.
"Apakah kau sudah menduga siapa yang menotok jalan darahmu itu?"
Dengan wajah serba susah Yu Hong mengangguk.
"Siapakah dia?"
Desak sang pemuda. Tapi Yu Hong telah menggeleng kembali. Dengan perasaan gelisah Kim Thi sia berseru.
"Bagaimana sih kau ini, jangan membuat aku gelisah........"
Lama sekali suasana menjadi hening, akhirnya Yu Hong menuding kearahnya.
"Siapa orang itu? Nona mengatakan aku orangnya?"
Seru Kim Thi sia keheranan-Sambil tersenyum Yu Hong manggut-manggut. Kim Thi sia betul-betul dibuat tak habis mengerti, katanya cepat.
"Nona, jangan salah menuduh, buat apa aku mesti bergurau denganmu?"
Dengan wajah serius, Yu Hong menggelengkan kepalanya berulang kali.
Kim Thi sia berpikir bahwa keadaan seperti ini kalau dibiarkan berlangsung terus, niscaya tak akan ada habisnya, maka dia pun berseru kemudian.
"Nona, aku akan memeriksa dulu tubuhmu, kemudian baru berusaha untuk membebaskan totokan jalan darahmu."
Habis berkata ia segera memeriksa tengkuk sinona dengan seksama, diatas jalan darah bisunya ia segera menemukan sebuah titik berwarna hitam, tapi tak diketahui olehnya tertotok karena ilmu apa.
Sesudah termenung sebentar, diapun berkata kemudian.
"Aku segera akan membebaskan jalan darahmu dengan menggunakan tenaga dalam."
Yu Hong memandang sekejap kearahnya dengan pandangan kaget.
Kim Thi sia sama sekali tak menggubris apakah gadis itu setuju atau tidak.
Sambil menghimpun tenaga dalamnya dia menempelkan telapak tangannya diatas tangan sinona.
Dalam waktu singkat Yu Hong merasakan munculnya aliran hawa panas yang menyusup kedalam telapak tangannya bagaikan aliran listrik, kemudian dengan melewati pusar membalik keatas menembusi bagian-bagian penting dibadannya hingga akhirnya terhimpun dibalik telinga dan tidak mampu lagi mengalir lewat.
Makin lama hawa panas yang terhimpun disitu makin banyak dan deras, tapi kenyataannya jalan darah bisunya belum berhasil juga ditembusi.
Yu Hong mulai merasakan kepanasan setengah mati, hampir saja dia tak mampu menahan diri.
Melihat kejadian ini, Kim Thi sia segera menarik kembali sebagian tenaganya untuk mengurangi penderitaan dari Yu Hong.
Pada saat itulah tiba-tiba dari belakang tubuhnya muncul sesosok bayangan manusia.
Dengan suatu gerakan yang amat cepat orang itu menyusup kebelakang punggung Kim Thi sia, lalu menempelkan ujung pedangnya dipunggung pemuda tersebut.
Dalam keadaan begini, asal orang tersebut menghujamkan senjatanya, niscaya Kim Thi sia akan tewas seketika.
Namun Kim Thi sia masih tidak menyadari hal tersebut, seluruh perhatian dan tenaganya sekarang telah terhimpun untuk berusaha menembusi jalan darah bisu Yu Hong.
Mendadak dia mengerahkan kembali tenaganya kuat-kuat.
Yu Hong yang sama sekali tak menyangka akan hal ini menjadi terperanjat sekali tahu-tahu segulung hawa panas yang luar biasa hebatnya menerjang tembus jalan darah bisunya dan memancarkan peredaran darah dengan hebatnya.
Yu Hong tak mampu menahan diri lagi ia segera berseru tertahan, kemudian teriaknya.
"Sute, cepat hentikan perbuatanmu"
Sementara itu Kim Thi sia pun merasa hatinya lega setelah mendengar Yu Hong dapat berteriak.
Hawa murninya segera membuyar dan tubuhnya tertunduk lemas diatas tanah.
Berada dalam keadaan begini, dia sama sekali tidak menaruh perhatian lagi atas teriakan gadis tersebut.
Dia hanya tahu duduk bersila dan segera mengatur kembali pernapasannya .
Yu Hong pun tidak mengusiknya, kepada orang yang dipanggil sute tadi ia memberi tanda agar menyingkir dari situ.
Lelaki yang disebut sute tadi bernama Li Beng poo, dengan gelisah segera bertanya.
"Sute, kau tidak terluka bukan?"
"Luka sih tidak"
Jawab Yu Hing.
"Tapi aku sudah tiga hari tak berbicara Untung dia telah membantuku membebaskan totokan jalan darah bisuku."
Seraya berkata, dia segera memandang sekejap kearah Kim Thi sia dengan mesrah. Dengan perasaan tak habis mengerti Li Beng poo bertanya lagi.
"Bukankah dia berada bersama mereka?Jangan-jangan orang ini mempunyai maksud dan tujuan tertentu?"
Yu Hong tertawa dingin.
"Sekarang, kekuatanku sudah pulih kembali seperti sedia kala. Seandainya ia berniat melakukan sesuatu, memangnya kekuatan kita berdua tak mampu untuk menghadapinya?"
"Suci"
Li Beng poo segera berbisik.
"Mengapa kita tak manfaatkan kesempatan yang baik saat ini untuk membelkuknya dulu, bila duduk persoalan yang sebenarnya telah jelas, kita baru melepaskannya kembali?"
Dengan cepat Yu Hong menggeleng.
"Bila kita membekuknya sekarang, dia tentu akan menuduh kita benar-benar rakus. Hmmm, aku tak sudi berbuat begitu"
Kemudian setelah mendengus lagi, dia berkata lebih jauh.
"Sute, apakah kau telah berjumpa dengan ayahku?"
"Semenjak berpisah dengan suhu, aku tak pernah bersua lagi dengan dia orang tua. Kemungkinan besar suhu sedang mengejar jejak sipedang emas......."
"Dengan kekuatan ayah seorang, aku kuatir kena dicelakai mereka......."
Kata Yu Hong risau.
"Yaa, anak murid si Malaikat pedang berbaju perlente memang rata-rata berakal busuk dan kejam. Dengan kemampuan suhu seorang, belum tentu ia sanggup menghadapi kerubutan orang banyak akupun amat menguatirkan keselamatannya"
Mendadak terdengar Kim Thi sia membentak keras.
"Hey, kau jangan bicara sembarangan-Siapa bilang anak murid Malaikat pedang berbaju perlente semuanya orang jahat?"
"Maksud anda semuanya orang baik?"jengek Li Beng poo dengan suara keras. Merah padam selembar wajah Kim Thi sia setelah mendengar ucapan ini, cepat-cepat dia berkata.
"Paling tidak aku, Kim Thi sia toh bukan manusia sebangsa apa yang kau katakan"
"Aaaah, tahu muka, tahu wajah belum tentu tahu hatinya"
Sela Yu Hong tersipu-sipu.
"Siapa tahu kaupun mempunyai rencana lainnya?"
Dengan wajah serius Kim Thi sia segera berkata.
"Siapa bilang aku mempunyai maksud tertentu? Kau jangan memfitnah orang baik"
"orang baik?"
Yu Hong tertawa dingin.
"Tak nyana kau berani menempeli wajah sendiri dengan emas. Huuuh, tak tahu malu"
"Apakah nonapun tidak percaya kepadaku?"
Seru Kim Thi sia gelisah.
"Bukankah aku telah membebaskan-...."
"Jadi kau anggap setelah menolongku lantas kau menganggap dirimu sebagai orang baik? IHmmm, apa yang telah kauperbuat dengan ciciku?"
Sambil melompat bangun Kim Thi sia berseru.
"cicimu telah ditangkap orang-orang Tay sang pang. Sekarang pun aku sedang bersiap-siap pergi menolongnya. coba tidak bertemu denganmu, aku telah pergi mencarinya. Nona bagaimana kalau kita bersama-sama pergi menolong cicimu?"
"Kalau hendak pergi, kau boleh pergi sendiri"
Kata Yu Hong sambil mencibirkan bibirnya.
"Aku hendak pergi mencari ayah. Bila kau tak berhasil menolong ciciku, tanggung ada orang yang akan datang untuk membunuhmu."
"Hmmm, siapa orangnya? Orang-orang dari Tay sang pang? Aku sih tak bakal takut"
"Orang itu bukan anggota Tay sang pang"
"Lantas siapa?"
LoBeng poo menyela secara tiba-tiba.
"Suci, tak usah ribut dengannya, mari kita mengurusi pekerjaan sendiri."
Dengan mata melotot Kim Thi sia segera menegur.
"sewaktu aku berbicara dengannya, lebih baik kau jangan turut menimbrung......"
"Hmmm, kau tak usah berlagak sok sekarang."
Jengek Li Beng poo sinis.
"Andaikata suci tidak melarang ku tadi, semenjak tadi pedangku telah menembusi punggung mu"
"oooh, rupanya kau berbuat begitu?"
Seru Kim Thi sia sambil tertawa dingin dengan angkuhnya.
"Mari, mari kita coba sekarang dan buktikan bersama, punggung siapa yang bakal ditembusi pedang"
Seraya berkata dia segera mencabut ke luar pedang Leng gwat kiamnya siap melancarkan serangan. Li Beng poo menyiapkan pula pedangnya seraya berkata.
"Memangnya kau anggap aku takut kepadamu?"
Kedua belah pihak sama-sama telah meloloskan pedang masing-masing, nampaknya pertarungan sengit tak bisa dihindari lagi..... Dengan perasaan gelisah Yu Hong segera berseru.
"Kalian jangan berkelahi dulu, bukan suteku yang berniat membinasakan kau......."
Dengan pedang terhunus Kim Thi sia segera berpaling kehadapan gadis itu, katanya dengan perasaan mendongkol.
"Bila kau tidak menerangkan hingga jelas, jangan harap bisa pergi dari sini"
Dengan geram Li Beng poo maju selangkah kedepan, tapi ia segera ditarik oleh Yu Hong dan melarangnya untuk turun tangan-"Hey, jangan kau halangi dirinya"
Teriak Kim Thi sia setelah melihat kejadian itu.
"Terus terang saja aku katakan kepadamu, si pelajar bermata sakti ang berniat membunuhmu."
"ooh, rupanya orang ini"
Kim Thi sia segera tertawa tergelak^ "Haaah.....haaah....haaah.....
cepat atau lambat aku memang akan mengajaknya untuk berduel serta menentukan siapa mati.
Baiklah, sehabis menyelamatkan jiwa cicimu nanti, aku segera akan pergi mencarinya"
Belum lagi pergi meninggalkan tempat tersebut, tiba-tiba dia berpaling dan tanyanya lagi.
"Apalagi yang telah dia katakan kepadamu?"
Yu Hong tertawa misterius.
"Dia bilang, selama kau masih berkelana didalam dunia persilatan, maka tak pernah ada kedamaian ditempat ini, tapi bila kau telah menolong jiwa ciciku, akupun bersedia membantumu untuk menengahi masalah tersebut......."
"Hmmm, siapa yang kesudian dengan maksud baikmu itu?"
Selesai berkata ia segera membalikkan badan dan beranjak pergi dengan perasaan mendongkol. Dari kejauhan sana kedengaran Yu Hong sempat mengomel.
"Huuuh, betul-betul manusia yang tahu diri"
Dengan membawa perasaan mangkel dan mendongkol, Kim Thi sia berangkat meninggalkan kedua orang itu, dia tak menyangka air susu telah dibalas dengan air tuba.
Kini dia berencana untuk berangkat mencari Nyoo Soat hong terlebih dulu, ia kuatir gadis tersebut menunggunya terlalu lama.
Baru berjalan sejauh empat, lima li angin terasa berhembus amat kencang.
Pemuda kita merasa haus, ketika melihat ada warung teh dikejauhan situ, cepat-cepat dia berjalan menghampirinya .
Diluar kedai teh parkir sebuah kereta kuda, semenjak pandangan pertama Kim Thi sia sudah menaruh perhatian atas kereta tersebut dan berkeinginan untuk melongoknya, namun diapun merasa rikuh untuk melongok kereta orang tanpa sebab musabab yang jelas, untuk berapa saat lamanya dia menjadi bimbang dan tak tahu apa yang mesti diperbuatnya.
Tiba didalam warung, terdengar si kusir kereta sedang menggerutu dengan keringat bercucuran membasahi wajahnya.
"Menyuruh orang lain menempuh perjalanan siang malam, tapi enggan membayar mahal, apaapaan ini....."
Kim Thi sia yang mendengar omelan itu segera berpaling dan memandang lagi kearah kereta yang diparkir didepan pintu, pikirnya.
"Entah barang apa yang diangkat didalam kereta tersebut."
Karenanya dia semakin menaruh perhatian atas kereta tersebut.
Ketika si kusir kerera melihat pemuda kita berbaju kotor karena debu, dia tahu orang ini pasti sedang menempuh perjalanan jauh, maka segera tegurnya.
"Siangkong, apakah kau hendak menuju kebarat pula?"
Kim Thi sia segera manggut-manggut dan bersiap-siap mengadakan perkenalan dengan si kusir kereta itu. Terdengar si kusir kembali berkata.
"Kebetulan sekali keretaku akan menuju kebarat juga. Siangkong, bila kau bersedia memberi uang arak untukku, mari ikut menumpang diatas keretaku saja."
Kim Thi sia segera merasakan pucuk dicinta ulam tiba, serta merta dia mengangguk tanda setuju.
Selesai minum teh diapun duduk disisi si kusir kereta itu.
Mendadak.....
Dari balik kereta terdengar seseorang mendengus dingin dengan suara yang tinggi melengking.
Dengan cepat Kim Thi sia menghentikan langkah kakinya.
Menyusul kemudian dari balik kereta menongol sebuah kepala orang.
Sebetulnya wajah orang itu diliputi hawa amarah, tapi setelah melihat Kim Thi sia, semua amarahnya seperti lenyap tak berbekas.
Kim Thi sia memperhatikan kembali wajah orang itu, dia menjumpai tamu tersebut beralis mata tipis, mata yang tajam bagaikan kilat, hidung mancung mulut kecil dan suatu perpaduan yang serasi sekali.
Segera pikirnya cepat.
"Aaaah, rupanya aku telah salah sasaran-"
Baru saja hendak mengundurkan diri dari situ, orang tersebut telah manggut-manggut sambil tertawa kepadanyha, dengan kejadian ini terpaksa dia harus keraskan kepala dan naik keatas kereta.
Ketika saling memperkenalkan diri, orang itu mengaku bernama Lam wi, sedang Kim Thi sia memperkenalkan nama yang sebenarnya.
orang itu kelihatan sangat aneh, agaknya dia belum pernah mendengar nama Kim Thi sia bahkan sama sekali tak memandang sekejappun kearah pedang Leng gwat kiamnya.
Menjelang tengah hari, ketika kereta mereka melalui sebuah kota.
Lam wi berkata sambil tersenyum.
"Saudara Kim, tempat ini bernama Ban kian, si sute berniat beristirahat dulu disini, kemudian baru meneruskan perjalanan lagi magrib nanti"
Terpaksa Kim Thi sia harus manggut-manggut menyetujui, selain itu dia sendiripun merasa amat penat dan berniat manfaatkan kesempatan tersebut untuk beristirahat.
Kereta berhenti didepan sebuah rumah penginapan, kedua orang itu segera turun dari kereta.
Lam wi langsung menuju kesebuah tumpukan batu diluar rumah penginapan agaknya ia sedang menghitung hari.
Kim Thi sia masuk kedalam penginapan lebih dulu dan memesan sebuah kamar.
Lam wi segera menyusuk pula dari belakang dan berseru pelan.
"Pelayan, kami memesan dua buah kamar"
Kim Thi sia yang mendengar perkataan itu menjadi tertegun segera pikirnya.
"Aneh, mengapa mesti memesan dua kamar? Atau mungkin dia enggan tidur sekamar denganku?"
Karenanya diapun membungkam dalam seribu bahasa. Agaknya Lam wi dapat menebak jalan pemikiran pemuda kita, dia segera berpaling dan berkata sambil tertawa.
"Saudara Kim, siaute sudah terbiasa tidur sendirian, harap kau jangan marah"
"Aaah, mana, mana, silahkan saudara Lam."
Setelah masuk kedalam kamar, Kim Thi sia segera membaringkan diri keatas ranjang.
Menurut perhitungannya sudah beberapa hari dia tak dapat tidur nyenyak maka saat ini tanpa berpikir panjang lagi ia tidur dengan nyenyaknya.
Ditengah kegelapan tidurnya, mendadak terdengar suara yang pelan mengejutkan hatinya ketika pemuda itu membuka matanya, ia seakan-akan melihat ada sesosok bayangan manusia berkelebat lewat.
Melihat kejadian ini Kim Thi sia segera melompat bangun, ia menjumpai pintu kamar masih tertutup rapat.
Pedang Leng gwat kiampun masih utuh dibawah ranjangnya.
Maka diapun menghembuskan napas lega, ketika mendekati jendela, ternyata sore telah menjelang.
Keluar dari kamar ia segera bertanya kepada seorang pelayan.
"Hey pelayan, apakah siangkong yang datang bersamaku belum bangun?"
"Siangkong itu belum bangun, apakah perlu hamba memanggilnya?"
"ooh, tidak usah, biarkan ia tidur......"
Pelayan itu mengiakan berulang kali.
Sampai sekarang Kim Thi sia masih teringat dengan bayangan manusia yang membangunkannya dari tidur tadi.
Pelan-pelan dia berjalan keluar dari penginapan dan memandang sekejap sekeliling tempat itu.
Mendadak ia melihat dari seberang jalan sana terdapat dua orang yang membalikkan badan segera tiba-tiba kemudian beranjak pergi dengan langkah tergesa-gesa.
Melihat kejadian ini timbul rasa curiga dihati kecilnya, ia segera berpikir.
"Kebetulan sekali, aku memang sedang risau karena tak dapat mencari jejak kalian-"
Maka sambil menguntil dibelakang kedua orang tersebut, dia melakukan pengejaran-baru berjalan berapa langkah, tiba-tiba pikirnya lagi.
"Mereka mempunyai banyak akal muslihat, aku tak boleh terperangkap oleh siasatnya, lagi pula pedang Leng gwat kiam tidak kubawa. Aku tidak boleh bertindak gegabah."
Maka diapun meninggalkan kedua orang tersebut dan cepat-cepat balik kembali kedalam rumah penginapan.
Belum lama ia tiba didalam kamar, pelayan telah muncul menghantarkan hidangan dasar sudah laparpemuda itu segera bersantap dengan lahapnya.
Tiba-tiba pintu kamar didorong orang dan muncul seseorang, ternyata orang itu adalah Lam wi.
Dengan cepat Lam wi duduk disisinya seraya berseru.
"Saudara Kim, bagaimana kalau aku turut bersantap?"
Buru-buru Kim Thi sia mengangguk ketika melihat wajah dan kulit tubuh rekannya yang putih bersih dan halus itu, untuk sesaat ia nampak tertegun dan termangu-mangu.
Lam wi kelihatan berkerut kening, dengan pancaran sinar tajam dia mengawasi pemuda itu lekat-lekat.
Kim Thi sia segera menyadari kehilafannya, sambil tertawa minta maaf katanya.
"Selesai bersantap nanti, kita harus melanjutkan perjalanan, setuju bukan-....?"
"Tentu saja......"
Kim Thi sia memang ingin cepat-cepat berangkat, mendengar jawaban tersebut ia segera mengambil pedangnya dan siap berangkat.
Keluar dari kota, sampailah mereka ditepi sungai, terdengar Lam wi berkata secara tiba-tiba.
"Saudara Kim, bagaimana kalau kita lanjutkan perjalanan dengan menumpang perahu?"
"Bagus sekali"
Sahut Kim Thi sia sambil mengangguk.
"Mari kita mencari perahu."
Lam wi segera mencari perahu lalu mengajak Kim Thi sia keatas sebuah perahu kecil.
Tak lama kemudian perahu mulai berlayar, ketika Lam wi melongok ketepi pantai tiba-tiba saja dia mendengus dingin.
Kim Thi sia pun melihat ditepi pantai berdiri dua orang manusia yang sedang mengawasi gerak gerik mereka, tanpa terasa dia berpikir.
"Besar kemungkinan kedua orang itu datang mencari gara-gara denganku"
Berpikir begitu, hatinya pun menjadi gusar bercampur mendongkol sehingga tanpa terasa dia turut mendengus.
Lam wi segera berpaling dengan sorot matanya yang tajam bagaikan sembilu dia awasi sekejap pemuda kita.
Sekulum senyumanpun segera tersungging diujung bibirnya.
Waktu itu senja telah menjelang tiba, setelah berlayar sekian waktu sampailah perahu itu ditepi sebuah dermaga.
Tiba-tiba Kim Thi sia menemukan lagi ada tiga, empat lelaki sedang mengawasi gerak gerik mereka dengan tindak tanduk yang sangat mencurigakan-Dengan perasaan amat mendongkol Kim Thi sia melotot sekejap kearah beberapa orang itu, kemudian dengan langkah lebat berjalan mendekatinya.
Paras muka ketiga, empat orang lelaki itu berubah hebat.
Tanpa banyak bicara mereka segera terjunkan diri kedalam sungai.
Melihat kawanan manusia itu bernyali sekecil tikus hingga kabur dalam keadaan mengenaskan, tanpa terasa lagi Kim Thi sia tertawa bangga.
Sekembalinya keatas perahu, terdengar Lam wi menyapa sambil tertawa terkekeh.
"Saudara Kim, mengapa sih kau mengusir orang-orang itu kedalam air?"
Sambil mengangkat bahu Kim Thi sia tertawa nyaring, sahutnya.
"Siapa suruh kawanan cecunguk itu mengikuti diriku terus? Aku memang bermaksud membekuk mereka untuk ditanyai keterangan-Aaah slapa tahu mereka telah terjun semua kedalam air"
"Jadi kau tak kenal dengan mereka?"
"seorangpun tak kukenal, memang aneh sekali."
"Aku sih tahu"
Batin Lam wi.
"Kejadian semacam ini sama sekali bukan kejadian aneh"
Tapi diluaran dia tersenyum, lalu sambil menyambar pedang Leng gwat kiam ditangan pemuda itu, katanya hambar.
"Kelihatannya pedangmu ini bukan barang sembarangan"
Kim Thi sia sama sekali tak menduga sampai kesitu, dia amat terperanjat dan buru-buru merebut kembali pedang tersebut dari tangannya.
"Soal ini......bukan......."
Saking gelagapannya dia sampai tak tahu apa yang mesti dikatakan-Melihat kepanikan pemuda itu, Lam wi kembali tertawa geli.
"Buat apa kau panik dan gelisah macam cacing kepanasan? Aku toh cuma melihatnya sebentar. Bila sampai diambil orang-orang tadi, bagaimana jadinya......?"
"sore tadi.........siapakah dia?"
Tanpa terasa dia teringat kembali dengan bayangan manusia yang lamat-lamat terlihat sewaktu mendusin dari tidurnya sore tadi.
Dengan rasa curiga bercampur keheranan dia segera mengawasi rekannya lekat-lekat Kembali Lam wi tertawa misterius.
Mendadak.......
Dari arah pantai sana berkumandang datang suara langkah kaki manusia yang ramai sekali.
Kali ini Kim Thi sia tak bisa menahan diri lagi, dengan membawa pedang Leng gwat kiamnya, ia melompat keatas daratan-Sementara itu, kawanan manusia tersebut sudah mendekat ketika Kim Thi sia mengamati dengan lebih seksama, terlihat olehnya jumlah mereka semua mencapai belasan orang, maka dia pun segera menghadang jalan perginya.
Mendadak terdengar seseorang berseru.
"Yaa betul, dia orangnya"
Kim Thi sia mengalihkan perhatiannya ternyata orang yang berbicara tak lain adalah sipendek yang bertarung dengannya kemarin.
Jilid 43 Rombongan jago itu serentak menghentikan perjalanannya. Salah seorang diantara mereka, seorang pendek yang tangan kanannya masih dibalut kain putih segera berseru lagi keras-keras.
"Keparat ini satu rombongan dengan bajingan tersebut, sewaktu aku hendak mengambil pedangnya sore tadi, bajingan itu mengacau secara diam-diam....."
Mendengar pembicaraan ini, tanpa terasa Kim Thi sia berpikir.
"Bangsat, rupanya kalian mempunyai maksud untuk mengincar pedang Leng gwat kiam ini. Bagus hari ini aku harus memberi pelajaran yang setimpal kepada kalian."
Berpikir sampai disini, diapUn bersiap sedia untuk memberi pelajaran yang setimpal kepada mereka.
Pada saat itulah, seorang lelaki setengah umur berbadan bungkuk yang berdiri ditepi arena telah berkata dengan serius.
"Tutup mulut, kau jangan membuat aku kehilangan muka."
Bila didengar dari nada pembicaraan, jelas dia adalah pemimpin dari rombongan tersebut. Seorang lelaki setengah umur yang lain segera tampailkan diri pula, serunya sambil menuding kearah Kim Thi sia.
"Sembilan pedang dunia persilatan mengandalkan ilmu silatnya untuk membantai rekan-rekan perguruan dan melukai banyak diantaranya. Untuk itu aku khusus datang untuk minta petunjuk. Harap sobat jangan bersungkan-sungkan lagi."
Selesai berkata dia berdiri dengan angkuh siap menanti serangan dari Kim Thi sia. Baru sekarang Kim Thi sia dapat menangkap bahwa dibalik pembicaraan terselip arti lain, segera pikirnya.
"Entah dari mana datangnya rombongan manusia ini, kenapa urusan dari sembilan pedang dunia persilatan diselesaikan denganku."
Makin dipikir dia semakin keheranan, baru saja akan menanyakan persoalan ini hingga jelas..... Mendadak terdengar lelaki setengah umur itu berkata lagi sambil tertawa dingin.
"Sobat, apakah kau merasa ketakutan karena berada seorang diri? Sebutkan kau adalah pedang yang mana dari sembilan pedang? Aku bersedia memberi waktu satu dua hari kepadamu, bila kau telah menghimpun kembali rekan-rekanmu yang lain, barulah perhitungan kita mulai dengan begitu perkumpulan kamipun tak usah membuang banyak waktu lagi untuk mencari kalian satu persatu......."
Ucapan yang berbau memandang rendah ini dengan cepat mengobarkan hawa amarah Kim Thi sia, sambil menarik muka serunya hambar "Kau jangan bicara sembarangan, memangnya kau anggap aku takut kepadamu.
Sambutlah seranganku ini......"
Belum selesai perkataan itu diutarakan, dia telah melancarkan serangan dengan jurus "kelembutan mengatasi air dan api"
Dari ilmu Tay goan sinkang.
Gerakan tubuhnya cepat bagaikan sambaran petir, cengkeraman mautnya lansung mengancam tubuh lelaki setengah umur itu dengan membawa desiran angin tajam.
Lelaki setengah umur itu adalah seorang Liong bon thamau dari perkumpulan cahaya emas yang bernama sipeluru perak Si Goanpah.
Sesungguhnya dia sama sekali tak kenal dengan Kim Thi sia, tentu saja dla tak mengira kalau musuhnya akan menyerang begitu mengatakan hendak menyerang, bahkan serangannya begitu cepat dan ganas.
Keadaannya waktu itu benar-benar, sangat kritis dan berbahaya sekali.
Dalam waktu singkat angin serangan dari Kim Thi sia telah menghimpit didepan dadanya, membuat thamcu dari perkumpulan bahaya emas ini tak sampai lagi melancarkan serangan untuk menyambut datangnya serangan tersebut.
Untung saja kepandaian silat yang dimilikinya cukup tangguh, berada dalam keadaan begini dia harus memikirkan keselamatan diri lebih dulu.
Mendadak sepasang lengannya ditekan kebawah.
perawakan tubuhnya yang tinggi besar segera dijatuhkan kesisi kanan-Secara nyaris sekali dia meloloskan diri dari ancaman tersebut.
Kendatipun berhasil lolos dari kematian, tak urung seluruh badannya kotor juga dibuatnya, keadaannya waktu itu sungguh mengenaskan.
Akhirnya si Goanpah melompat bangun dan melihat Kim Thi sia masih berdiri tak bergerak dari posisi semula, dari diam dia menjadi naik darah, serta merta ruyung baja beruas tiganya diloloskan dari pinggang, lalu teriaknya keras-keras.
"Bocah keparat, mari kita beradu kepandaian dengan senjata"
Kim Thi sia sama sekali tak ambil pusing atas teriakan lawan, melihat senjata ruyung musuh meluncur datang dengan kekuatan dahsyat, dia segera tahu bahwa musuh memiliki tenaga dalam yang sempurna.
Ia tak berani Berayal lagi, sambil membalikkan badan, pedang Leng gwat kiam segera diloloskan dari sarungnya.
Kedua belah pihak sama-sama telah menghimpun tenaganya, agaknya mereka bermaksud menentukan menang kalah dalam satu gebrakan.
Pada saat itulah, mendadak.......
Tampak seseorang melompat turun diantara kedua orang itu, dengan pedang terhunus orang itu berseru nyaring.
"Si thamcu, beristirahatlah dulu untuk sementara waktu biar kongcu yang menghadapinya "
Si Goanpah segera mengenal orang itu sebagai ciu thong kongcu Kim Si dari perkumpulannya, tahu kalau ilmu pedang orang ini sangat lihay, diapun menyahut.
"Kalau toh kongcunya berniat turun tangan, tentu saja aku orang she Si akan menuruti perintah."
Ciu thong kongcu Kim Si segera berpaling dan melotot sekejap kearah Kim Thi sia, lalu katanya dingin.
"Selama ini kami orang-orang dari perkumpulan cahaya emas cukup jelas membedakan mana budi dan mana dendam, tapi nyatanya selama ini sembilan pedang dari dunia persilatan selalu mencari gara-gara dengan ulah dimana-mana dosa dan kejahatan sudah melampaui batas. Nah sobat, sebutkan terlebih dahulu siapa dirimu, kau adalah pedang yang mana diantara pedang emas, besi, tembaga, perak, kayu, air, api, tanah dan bintang?"
Kim Thi sia segera dibuat kebingungan setengah mati oleh perkataan tersebut, padahal dari sembilan pedang, sudah lima orang diantaranya telah mati.
Namun kenyataan mereka masih belum mengetahuinya, maka dari itu diapun menjawab lantang.
"Aku bukan pedang yang manapun dari sembilan pedang"
Begitu perkataan tersebut diutarakan, para jago pun menjadi gempar dibuatnya. Tiba-tiba terdengar salah seorang diantara mereka berteriak.
"Hey sobat, apakah kau hendak menyangkal?"
Dengan amarah yang meluap-luap sahut Kim Thi sia.
"Aku bernama Kim Thi sia, aku adalah murid kesepuluh dari Malaikat pedang berbaju perlente"
Ciu thong kongcu segera tertawa dingin.
"Asalkan saja kau masih anak muridnya Malaikat pedang berbaju perlente, hutang piutang ini masih menjadi bebanmu, sungguh tak disangka anak-anak murid dari Malaikat pedang ternyata telah menjalin hubungan dengan kelima naga dan seorang burung hong dari raja langit berlengan delapan, silahkan mulai menyerang"
Sehabis berkata dia segera menudingkan pedangnya keluar, menanti Kim Thi sia melancarkan serangannya.
Kim Thi sia semakin kebingungan setengah mati, biarpun dia mencoba memikirkan persoalan ini namun belum juga peroleh jawabnya.
"Ia memang pernah mendengar nama si Raja langit berlengan delapan dari Nyoo Soat hong, tapi siapa pula kelima naga dan burung hong yang dimaksud? Apa pula hubungan dengan dirinya?"
Biarpun demikian, beberapa patah kata lawan sempat membangkitkan juga hawa amarahnya, tanpa berpikir panjang lagi dia menggetarkan pedang Leng gwat kiamnya dan berseru lantang.
"Hey orang she Kim, akan kusuruh kau rasakan kelihayan ilmu silat dari si Malaikat pedang berbaju perlente"
"Bocah keparat, kau jangan takabur"
Seru ciu thong kongcu sambil tertawa dingin.
"Dalam sepuluh gebrakan bila aku tak berhasil mengungguli dirimu, aku bersedia dihukum menurut keputusan kalian-"
Mendengar itu, ciu thong kongcu segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahakbahak.
"Haaaah....haaaaah......haaaaah.......sungguh tak disangka di kawasan Kanglam terdapat begitu banyak orang gila, bila dalam sepuluh gebrakan kongcu sampai menderita kalah ditanganmu, mulai saat ini jangan anggap diriku sebagai anggota perkumpulan cahaya emas. Kecuali dendam sakit hati ini bisa terbalas, kalau tidak aku tak akan menginjakkan kaki lagi diwilayah Kanglam ini, tapi bila hari ini kongcu bisa mengungguli dirimu, maka kau mesti meninggalkan selembar nyawamu"
Kim Thi sia tidak banyak berbicara lagi, pedangnya segera dipersiapkan dengan jurus "awan muncul kabut membuka"
Dari ilmu pedang panca Buddha.
Ujung pedangnya menuding kelangit sementara kakinya melangkah kedepan, ia siap mengancam alis mata ciu thong kongcu.
Sebaliknya ciu thong kongcu pun tak malu menjadi anak didik ketua perkumpulan cahaya emas serta Kim seng nio-nio pedangnya segera digetarkan pula sambil serunya lantang.
"Ilmu pedang bagus, selama ini kongcu selalu membanggakan ilmu pedangku, sungguh beruntung aku bisa menjumpai anak murid dari Malaikat pedang berbaju perlente untuk mencoba kemampuannya."
Pedangnya segera digetarkan dan melancarkan serangan dengan jurus "Malaikat bengis sukma dingin pekikan beku".
Pedangnya dengan membawa suara guntur segera mendesing kedepan-Sebaliknya ilmu pedang panca Buddha dari Kim Thi sia yang merupakan sejenis ilmu pedang yang luar biasa hebatnya dibalik setiap jurus serangan terselip banyak perubahan-Tampak ia menyambut serangan musuh dengan ujung pedang ditujukan keujung pedang.
Waktu itu kendatipun ciu tong kongcu telah mengerahkan segenap tenaga dalam yang dimilikinya, namun ia selalu berpendapat tiada kekuatan yang bisa digunakan-Melihat pedang musuh berulang kali mengejar dirinya bagaikan bayangan badan hatinya benar-benar amat terperanjat dibuatnya.
Tak salah lagi Kim Thi sia memang mengeluarkan ilmu ciat khi mi khinya yang khusus digunakan untuk menghisap sari hawa murni pihak lawan sebagai orang yang awam tentu saja ciu tong kongcu tak sempat menduga sampai kesitu....
Diam-diam perasaan hati ciu tong kongcu tersekat dalam waktu singkat dia telah merubah jurus serangannya menjadi gerakan "awan menyelimut dipuncak bukit."
Tampak berpuluh-puluh jalur cahaya pedang yang memancarkan hawa pedang menyelimuti angkasa seperti gulungan ombak dahsyat.
Kim Thi sia segera melakukan gerakan pancingan dengan pedang Leng gwat kiamnya, kemudian dengan gerakan kedua "bintang lenyap rembulan sirna"
Dia menangkal pergi pedang ciu tong kongcu.
Dalam keadaan begini, ciu tong kongcu segera merubah jurus serangannya menjadi "Bangau berpekik terbang tinggi".
Pedang berikut tubuhnya berputar kencang melingkari tubuh musuh.
Kebetulan sekali Kim Thi sia telah merubah gerak serangannya menjadi Jaring langit perangkap bumi."
Kabur hawa pedang yang menyelimuti angkasa segera menyambar kebawah dengan hebatnya.
Dalam waktu singkat kedua orang itu sudah bertarung tiga jurus enam gerakan-Sementara para penonton menyaksikan jalannya pertarungan dengan mata terbelalak mulut melongo.
Selama hidup belum pernah mereka saksikan pertarungan setegang dan sesengit ini.
Tampak kedua orang itu saling menempel kemudian berpisah.
cahaya putih hawa perak amat menyilaukan mata, pertarungan kedua orang ini benar-benar tegang dan mencekam perasaan.
Berapa gebrakan kemudian, Liong hou tha meu Si Goanpah serta dua orang jago lihay dari perkumpulan cahaya emas lainnya dapat melihat gelagat yang tidak menguntungkan pihaknya, dengan mata melotot besar mereka menggenggam senjata masing-masing lebih kencang dan bersiap sedia untuk turun tangan memberi bantuan.
Sekejap kemudian, antara ciu tong kongcu dengan Kim Thi sia telah bertarung sebanyak delapan jurus.
Kini, ciu tong kongcu telah mengerahkan segenap tenaga dalam yang dimilikinya, dengan jurus "mencari pahlawan memburu naga"
Terlihat cahaya perak memancar rata diatas permukaan tanah, hawa serangan memercik bagaikan gulungan ombak yang terhembus angin-Kim Thi sia mendengus dingin, sambil mengerahkan ilmu ciat khi mi khinya, dengan jurus "Buddha mengembang kejahatan sirna"
Pedang Leng gwat kiamnya memancarkan berpuluh cahaya putih yang langsung menerobos masuk kebalik sinar keperakan musuh.
Ditengah bentorkan inilah terdengar ciu tong kongcu menjerit kesakitan dan terhuyung mundur kebelakang.
Hampir pada saat yang bersamaan Si Goanpah sekalian tiga orang jago membentak keras dan secara beruntun melompat ke arena langsung menerjang Kim Thi sia.
Mendadak terdengar lagi suara bentakan nyaring, tiga titik cahaya emas secara terpisah menyergap ketiga orang itu.
Sebagai jago-jago lihay dari dunia persilatan, rata-rata mereka bermata tajam, dalam sekilas pandangan saja ketiga orang itu tahu kalau senjata rahasia yang mengancam mereka merupakan sejenis senjata rahasia yang paling lihay, yaitu jarum emas penembus jalan darah.
Tergopoh-gopoh mereka menyelinap kesamping untuk menghindarkan diri dan melompat mundur sejauh tiga depan.
Terlihatlah seseorang melayang turun dari atas sebatang pohon tak jauh dari arena pertarungan-Ketika Kim Thi sia memperhatikan dengan lebih seksama, dia segera mengenali orang itu sebagai Lam Wi, tentu saja hal ini membuatnya terkejut bercampur keheranan, diam-diam pikirnya .
"Jangan-jangan orang inipun memiliki ilmu silat yang sangat tangguh.......?"
Belum habis ingatan tersebut melintas lewat, Lam Wi telah berkata dengan nada santai.
"Kalian beberapa orang adalah kawanan jago yang datang dari utara, tak disangka rupanya jagoan dari utara cuma bisanya mencari kemenangan dengan mengandalkan jumlah banyak. Bila kalian ingin berbuat sesuatu, silahkan saja mencari gara-gara denganku."
Waktu itu, meskipun ciu tong kongcu belum menderita kekalahan secara total, dalam kenyataan sudah kalah satu jurus.
Paras mukanya nampaknya amat tak sedap dipandang.
sewaktu mendengar perkataan itu, ia segera berkata.
"Jadi kaupun bermaksud membuat perselisihan dengan kami....."
"Heeeeh......heeeeh.......heeeeh.......berkelahipun sudah, apalagi soal persilatan?"
Jengek Lam wi sambil tertawa dingin. Liong hou tamcu Si Goanpah turut menimbrung.
"Bila dilihat dari gerak gerikmu, agaknya sobat mempunyai asal usul yang besar. Aku bersedia untuk memenuhi keinginanmu itu."
Selesai berkata, diapun, bersiap sedia untuk turun tangan.
"Si thamcu, tunggu dulu."
Mendadak ciu tong kongcu mencegah.
"Apakah kongcu masih ada pendapat lain?"
"Kedatanganku keselatan kali ini tak lain adalah hendak menyelidiki duduk persoalan yang sebenarnya hingga tuntas sehingga sekembalinya dari sini bisa memberi laporan kepada kongcu nio-nio. Padahal apakah betul dua orang yang berada didepan kita adalah orang yang sedang dicari, hingga kini persoalannya belum jelas, karena itu aku pikir kita tak usah membuang waktu dengan sia-sia"
Mendengar perkataan itu, Lamwi segera mendengus dingin.
"Perkataan kongcu memang benar, silahkan anda mengambil keputusan."
Ciu tong kongcu mendehem pelan, kemudian katanya kepada kedua orang lawannya.
"Aku selalu membedakan mana budi, mana dendam serta tidak melakukan pembunuhan secara mengawur, sekarang aku ingin mengajukan pertanyaan kepada kalian, bersediakan kalian untuk menjawabnya?"
Sekarang, Kim Thi sia pun sudah mulai jelas dengan masalah yang dihadapinya, mengetahui bahwa persoalan dapat diselesaikan secepatnya, buru-buru dia berseru sesudah mendengar perkataan ini.
"Bila hendak bertanya, cepat ajukan pertanyaanmu"
Sebaliknya Lam wi dengan mata melotot dan menghentakkan kakinya keatas tanah segera berseru kepada Kim Thi sia.
"Hmmm, kau hanya tahu berkentut"
Kemudian sambil berpaling kearah, ciu tong kongcu serunya lagi.
"Kalau ingin bertanya, lebih baik ajukan saja kepadaku"
Ciu tong kongcu tertawa tergelak.
"Haaah........haaaah.......haaaah........sobat memang seorang yang amat terbuka"
"Sudah tak usah banyak ngebacot lagi"
Tukas lam wi tak sabar. Merah padam selembar wajah ciu tong kongcu, katanya kemudian.
"Tiga hari berselang, kantor-kantor cabang perkumpulan kami disepanjang sungai Tiang kang telah menerima selembar kartu undangan secara tiba-tiba yang menerangkan bahwa pemimpin dari sembilan pedang dunia persilatan yakni sipedang emas dengan membawa pusaka lentera hijau dan seorang wanita yang punya asal-usul besar hendak melewati daerah disekitar sini apakah sipenulis surat tersebut adalah anda?"
"Benar"
Jawab Lam wi lantang.
"Apakah kau telah mencatut nama perkumpulan kami untuk melakukan banyak perselisihan dengan sembilan pedang dunia perselisihan hingga menimbulkan serangan dari sembilan pedang yang melakukan pembantaian secara besar-besaran terhadap anggota perkumpulan kami, dengan peristiwa tersebut perkumpulan kami jadi bermusuhan dengan sembilan pedang sedang kau berpeluk tangan saja menonton kami saling gontok-gontokan. Apakah perbuatan inipun merupakan hasil karyamu?"
"Benar......"
"Hmmm, semua orang yang dikirim perkumpulan kami untuk menguntilmu akhirnya dipecundangi semua. Sekalipun hatimu keji, namun cara kerjamu kurang bersih hingga meninggaikan bekas yang sengaja memancing anak buah kami datang kekawasan Kanglam, apakah perbuatan inipun benar-benar dilakukan olehmu?"
"Benar.........."
"Benarkah anda telah membuat persiapan disekeliling kawasan kota Kanglam ini, yang membuat sobat-sobat dari perkumpulan kami yang tidak mengetahui persoalan sebenarnya menjadi bermusuhan dengan pelbagai partai dan perkumpulan lain?"
"Memang begitu."
"Dari nada jawabanmu, aku percaya kau telah menjawab jujur, tapi aku ingin bertanya. Sesungguhnya apa maksud dan tujuanmu dengan semua perbuatan ini?"
"Soal ini kau tak perlu turut campur"
"Kau harus tahu, sejak perkumpulan cahaya emas muncul didalam dunia persilatan kami tak pernah takut dengan siapa saja. Apakah kau tak berani mengutarakannya keluar?"
"Kenapa tak berani?"
"Kalau memang berani, ayoh katakan"
"Aku hanya melaksanakan perintah."
Mendengar jawaban tersebut semua orang menjadi terperanjat dibuatnya.
Bukan hanya orang-orang dari perkumpulan cahaya emas yang dibikin tercengang, bahkan Kim Thi sia timbul kecurigaan didalam hatinya.
Diam-diam iapun berpikir.
"Kalau dibilang dia melaksanakan perintah dari Dewi Nirmala, lantas Nirmala nomor berapakah dia? Semua utusan Nirmala memiliki ilmu silat yang sangat tangguh, bahkan sipedang tembagapun tewas ditangan Nirmala nomor tujuh."
"Tapi setahuku, para utusan Nirmala rata-rata sudah berusia lanjut, sedangkan dia baru berumur dua puluhan tahun, mana mungkin? Tapi..... Kalau dipikir-pikir Dewi Nirmalalah yang paling mencurigakan-"
"Atau mungkin juga dia sedang melaksanakan perintah dari ketua perkumpulan Tay sang pang, sipukulan sakti penggetar langit Khu It cing, Tapi setahuku perkumpulan Tay sang pang tidak mempunyai ikatan dendam yang terlalu dalam dengan sembilan pedang dunia persilatan, jadi kemungkinannya kecil."
"Selain kedua orang ini, rasanya cuma si Pukulan sakti tanpa bayangan serta ciang sianseng yang berhasrat merebut lentera hijau......tapi siapakah atasan orang ini?"
Sementara dia masih berpikir, ciu tong kongcu telah berkata lagi sambil tertawa dingin.
"Seorang lelaki sejati tak akan melakukan perbuatan gelap. perduli perintah siapa yang sedang kau laksanakan-Perkumpulan cahaya emas pasti akan menanggapi peristiwa ini dengan serius. Nah, apakah anda bersedia memberi penjelasan lebih dulu?"
"Tak perlu terburu napsu"
Tukas Lamwi dingin.
"Sampai waktunya kalian toh akan mengetahui dengan sendirinya"
Mendadak terdengar seseorang berseru keras.
"Bajingan ini sangat menggemaskan, biar siaute yang membereskan dirinya lebih dulu"
Lam wi segera tertawa terkekeh-kekeh, serunya mendadak.......
"Haaaah.....haaaah.....haaaaah.....benar-benar menggelikan, katanya saja dari perkumpulan cahaya emas, ternyata ilmu jarum emas penembus jalan darah pun tidak dikenali, sungguh mengenaskan. Benar-benar mengenaskan-"
Sambil berkata ia menggelengkan kepalanya berulang kali dengan wajah mengejek.
orang itu sangat gusar, dnegan mata melotot besar ia membentak dan menyiapkan senjatanya untuk melancarkan serangan-Siapa tahu dia cepat, Lam wi jauh lebih cepat lagi, tampak dia mengayunkan tangan kanannya, beberapa titik cahaya emas segera meluncur kedepan dengan kecepatan luar biasa.
"Kawanan tikus yang tak tahu diri"
Serunya sambil tertawa.
"coba kau rasakan dulu bagaimana hebatnya jarum emasku"
Waktu itu selisih jarak antara kedua belah pihak tidak terlalu jauh, walaupun orang itu menyerang lebih dulu namun serangan dari Lam wi ternyata mengenai sasaran duluan.
Terdengar orang itu menjerit kesakitan, tubuhnya terbanting keatas tanah berikut senjata dan tak mampu merangkak bangun lagi.
Ternyata jalan darahnya sudah ditotok oleh Lam wi.
Tidak menunggu sampai orang lain berbicara, kembali Lam wi mengayunkan tangan kanannya berulang kali.
Lagi-lagi tampak berapa kali cahaya emas berkelebat lewat dan menyerang kawanan jagoan tersebut.
Dalam waktu singkat suasana menjadi kalut sekali, kembali ada dua orang yang roboh terluka oleh serangan jarum itu.
Para jago lainnya yang selamat segera membentak sambil menyerbu kedepan, tak selang sesaat Kim Thi sia serta Lam wi sudah terkepung rapat-rapat ditengah arena.
Berada dalam keadaan begini, sekalipun Kim Thi sia tidak berniat untuk turun tanganpun tak bisa.
Apalagi tiga orang jago langsung menyerang kearahnya sambil tertawa, pedang Leng gwat kiam dengan jurus "guntur menggelegar angin berhembus"
Dengan membawa cahaya putih yang berkilauan langsung menyambar tiga orang itu. Terdengar salah seorang diantaranya berteriak.
"Bocah keparat, kau jangan takabur, enam harimau dari bukit saiju siharimau hijau bermuka besi cu Ho tin siap membereskan dirimu"
Dengan mengayunkan senjata ia maju menyongsong datangnya serangan tersebut.
Sebagai seorang jago kawakan yang sudah berpengalaman dalam pertarungan, begitu melihat jurus pedang yang digunakan Kim Thi sia membawa segulung tenaga hisapan tak berwujud yang kuat, ia segera sadar kalau musuhnya memang tangguh dan bukan bernama kosong belaka.
Maka pergelangan tangannya segera diputar, tangan kanannya langsung menyerang pinggang musuh.
Sementara tangan kirinya menotok jalan darah siau yau hat ditubuh pemuda itu.
Dari senjata poan koan pit yang digunakan lawan, Kim Thi sia pun tahu kalau musuhnya seorang ahli dalam menotok jalan darah.
Kewaspadaannya segera ditingkatkan-Dengan mengandalkan ilmu tay goan sinkang, ilmu pedang panca Buddha serta ciat khi mi khi dia segera melayani musuhnya dengan cermat dan seksama.
Sebab dia sadar, sekali bertindak kurang hati-hati, niscaya dia akan roboh terjungkal ditangan lawan-Saat ini, ketika ia melihat sepasang penanya menyodok tiba, cepat-cepat tubuhnya berkelit kesamping untuk menghindarkan diri.
Ketika berpaling ia melihat dua orang lainnya dengan senjata terhunus sedang bersiap sedia dengan penuh keseriusan-Kim Thi sia yang melihat kejadian tersebut segera berpikir.
"Mereka berjumlah sangat banyak. bila aku tak menyelesaikan pertarungan ini secepatnya, rasanya sulit untuk meninggalkan tempat ini secara gampang......"
Berpikir sampai disini, dia segera berpekik nyaring dan mengeluarkan jurus serangan terampuh dari ilmu pedang panca Buddhanya.
Tampak bayangan pedang yang amat tebal menyelimuti seluruh angkasa dan mengurung ketiga orang musuhnya rapat-rapat.
Ketiga orang itu sama sekali tak menduga kalau Kim Thi sia bernyali begitu besar.
Dimana dengan seorang diri berani melawan tiga orang musuh sekaligus.
Si Harimau bermuka besi cu ci tin segera mengerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya untuk melancarkan serangan, sepasang penanya dengan gerakan menotok, memukul, mengetuk, mencukil dan merejam semuanya ditunjukkan untuk merobohkan musuh.
Dalam waktu singkat, keempat orang itu sudah bertarung puluhan gebrakan lebih.
Sementara itu, dipihak lain Lam wi telah bertarung pula melawan tiga orang musuh, hanya saja sistim pertarungannya berbeda dengan keempat orang dipihak sini.
Tampak sepasang tangannya diayunkan berulang kali memancarkan bertitik cahaya emas yang meluncur kedepan sambil menyerang serunya sambil tertawa.
"Aku mah tak ada waktu banyak untuk bermain-main dengan kawanan harimau kertas semacam kalian."
Mendadak terdengar ketiga orang jago yang mengerubutinya menjerit kesakitan pada saat yang bersamaan dan serentak melompat mundur kebelakang.
Dipihak sini, begitu merasa gelagat kurang menguntungkan, salah seorang diantaranya seorang lelaki bergolok besar segera mengayunkan pula tangan kirinya.
"criiiiing.....criiiing......criiing......."
Tiga dentingan nyaring berbunyi bersamaan dengan melesetnya tiga batang senjata rahasia Kim Chee piau mengarah ketubuh Kim Thi sia.
Sementara itu, Kim Thi sia sedang mengeluarkan jurus "bintang lenyap rembulan punah", melihat datangnya sambaran Kim cheepiau, cepat-cepat dia mengerahkan ilmu ciat khi mi khi untuk melindungi tubuh.
Aneh memang kalau dibicarakan, tatkala ketiga batang Kim cheepiau tersebut hampir mengena pada sasarannya, tiba-tiba seperti membentur suatu dinding tak berwujud yang kuat sekali, tanpa menimbulkan sedikit suarapun segera rontok keatas tanah.
orang yang melancarkan serangan dengan ketiga Kim cheepiau itu bukan lain adalah orang kedua dari Enam harimau puncak salju, yaitu si harimau sutera berwajah kemala.
Betapa terkejutnya jagoan ini setelah melihat kemampuan Kim Thi sia untuk mematahkan serangan senjata rahasianya yang begitu aneh.
Pada saat itulah, mendadak terdengar suara teriakan seseorang.
"Angin kencang cepat mundur"
Ternyata yang berteriak adalah ciu tong kongcu.
Begitu mendengar teriakan tersebut, serentak orang-orang itu mengundurkan diri dari sana.
Baru saja Kim Thi sia hendak melakukan pengejaran, mendadak Lamwi menghalangi jalan perginya seraya berseru.
"Saudara Kim, penjahat yang melarikan diri tak perlu dikejar. Dengan siasat licik mereka jangan bisa lolos dari cengkeramanku. Kenapa kita mesti terburu napsu? sekarang yang penting kita mesti mencari jejak Yu Kilem lebih dahulu."
Kim Thi sia menjadi terperanjat sekali setelah mendengar kata itu, pikirnya segera.
"Aneh, darimana dia bisa mengetahui semua urusanku?"
Tanpa terasa dia mulai mengamati Lam wi yang misterius asal usulnya itu dengan lebih seksama. Lam wi segera tertawa rahasia, katanya.
"Saudara Kim, kau tak usah banyak bertanya ikutlah aku"
Dalam keadaan begini, Kim Thi sia segera merasa bahwa kepandaian silatnya seakan-akan sama sekali tak berguna lagi, terpaksa dia mengiakan.
"Baiklah"
Lamwi pun segera berangkat menuju ketenggara.
Gerakan tubuhnya amat cepat dan tak bisa ditandingi Kim Thi sia.
Sampai detik itulah Kim Thi sia baru sadar bahwa Lam wi sesungguhnya merupakan seorang jagoan yang berilmu silat sangat hebat, hanya saja hingga kini ia masih belum mengetahunya secara pasti akan asal usulnya.
Setelah menempuh perjalanan berapa saat akhirnya sampailah mereka didekat sebuah bukit kecil.
Mendadak......
Ditengah keheningan yang mencekam seluruh jagad, terdengar seseorang membentak keras.
"Berhenti"
Baru saja suara itu bergema, tampak bayangan manusia munculkan diri diatas puncak bukit kecil itu.
Lam wi yang berjalan dimuka segera menghentikan langkahnya, sedangkan Kim Thi sia yang membuntuti dari belakang turut berhenti pula.
Terdengar orang yang berada dibukit itu berseru lagi.
"Ada urusan apa sobat berdua berkunjung kemari ditengah malam buta begini?"
"Kami datang untuk menjenguk seorang sahabat kami"
Sahut Lam wi cepat-cepat.
"Kalau toh kedatangan kalian untuk menjenguk seorang teman, lebih baik sebutkan dulu siapa nama kalian, agar kami bisa memberi laporan dengan segera."
Tampaknya Lam wi sudah mempunyai perhitungan yang masak. ketika mendengar perkataan itu segera sahutnya dengan suara hambar.
"Boleh saja bila ingin mengetahui namaku, tapi kalian mesti memperkenalkan diri terlebih dulu."
"Kami adalah orang-orang Tay sang pang"
Sahut orang diatas bukit cepat.
"Nah harap sahabat menyebutkan nama kalian."
Selama ini Kim Thi sia hanya berdiri dibelakang Lam wi tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Sewaktu mendengar nama "Tay sang pang", darahnya segera mendidih, hampir saja dia akan turun tangan melancarkan serangan-Mendadak terdengar Lam wi berkata lagi.
"Kami datang untuk menjenguk si Ulung beracun. Aku bernama Lam wi, sedang dia adalah Kim Thi sia."
Belum habis perkataan itu diucapkan tampak Lam wi telah menerobos maju kedepan dan langsung menyerbu keatas bukit.
Bersamaan waktunya ia mengayunkan tangan kanannya, dua titik cahaya emas segera melesat kedepan menghajar tubuh kedua orang tersebut.
Terdengar dua kali dengusan tertahan, tahu-tahu kedua orang itu sudah roboh terjungkal keatas tanah.
Setibanya diatas bukit ternyata Lam wi sama sekali tidak menghentikan gerakan tubuhnya, kembali dia melambung ketengah udara.
Sepasang tangannya diayunkan berulang kali masingmasing diayunkan kebalik semak belukar sana.
Berapa kali jeritan kesakitan dan suara robohnya tubuh berat segera bergema susul menyusuli.
Mendadak.......
Terdengar suara ledakan keras ditengah udara, ternyata ada sebatang anak panah berapi yang meledak ditengah udara.
Cahaya api berwarna merah yang tersebar keempat penjuru dapat terlihat jelas dari jarak berapa puluh li.
Lam wi tahu, musuh telah melepaskan tanda bahaya, ini berarti jejak mereka segera akan ketahuan musuh.
Maka sambil berpaling kearah Kim Thi sia yang berada dibawah tebing, serunya lantang.
"Saudara Kim ayoh, cepatlah naik keatas pertunjukkan bagus segera akan dimulai"
Dalam pada itu Kim Thi sia sedang berpikir keras setelah menyaksikan kemampuan Lam wi untuk mencabut berapa lembar jiwa sekaligus dalam berapa kali gebrakan saja, pikirnya.
"Sepintas lalu ia kesakitan begitu lembut dan halus, tapi nyatanya serangan yang dilancarkan tidak mengenal ampun-Bahkan kekejamannya melebihi aku, aku mesti bersikap lebih waspada terhadap sobat kejam seperti ini."
Ketika dilihatnya Lam wi sedang menggapainya, diapun segera melejit keudara dan melompat naik kepuncak tebing itu. Sambil tersenyum Lam wi segera berkata.
"Bila kulihat dari tampang wajahmu, bukankah dalam hati kau sedang mengumpat kekejaman hatiku?"
Kim Thi sia yang mendengar teguran mana, dalam hati kecilnya segera berpikir.
"Lihay amat ketajaman mata orang ini. Baru saja ingatan tersebut melintas lewat, kau sudah dapat membacanya secara tepat."
Berpikir begitu, agak tersipu-sipu iapun berkata.
"Aaaaah, mana, mana. Aku hanya berpikir bahwa kepandaian silatmu ternyata jauh lebih hebat berapa kali lipat ketimbangan aku......"
Sampai disini tanpa terasa dia menggelengkan kepalanya sambil menghela napas.
"Saudara Kim"
Lam wi segera menegur lagi dengan wajah gusar.
"Diantara kita berdua boleh dibilang hanya perkenalan biasa, berteman karena cocok dalam pandangan pertama. Sekarang mengapa kau justru mengucapkan kata-kata semacam ini? Padahal bicara sesungguhnya ilmu silatmu masih beratus kali lipat lebih hebat ketimbang kemampuanku, cuma tenaga dalamnya saja belum mencapai kesempurnaan. Dengan usia semuda itu, apakah kau takut dikemudian hari tak bisa mengejar ketinggalan itu?"
"orang ini benar-benar lihay......."
Batin Kim Thi sia lagi. Baru saja dia hendak membantah, mendadak......
"Sreeeettt..... Sreeeettt..... Sreeeet......."
Ditengah desingan angin tajam, tampak ada lima sosok bayangan manusia melayang turun ketengah arena, seorang diantaranya adalah seorang kakek yang membawa kipas lebar.
Begitu muncul ditengah arena, kakek tersebut segera menegur sambil menuding kearah kedua orang tersebut "Bocah keparat, siapa yang menyuruh kalian datang menghantar kematian?"
Kemudian, seorang yang lain menyambung pula.
"Kim Thi sia, tak disangka kita akan bersua kembali disini"
Selesai berkata ia tertawa dingin tiada hentinya.
Kim Thi sia segera mengenali orang tersebut sebagai salah satu diantara dua belas orang tongcu dari perkumpulan Tay sang pang, tanpa terasa sahutnya sambil tertawa dingin pula.
"Dimanakah ketua kalian? Aku sedang mencarinya."
"Bocah keparat"
Tukas kakek berkipas lebar itu gusar.
"Kau anggap ketua kami adalah orang yang bisa ditemui secara sembarangan-"
Belum selesai perkataan itu diutarakan, mendadak ditengah kegelapan malam terdengar lagi dua kali ledakan yang amat keras.
Satu berasal dari arah barat laut, sedang yang lain berasal dari selatan-Rupanya kembali ada dua batang panah api yang meluncur ketengah udara dan meledak keras.
Pancaran cahaya merah segera menghiasi kegelapan malam.
Paras muka kelima orang jago dari perkumpulan Tay sang pang ini segera berubah hebat, sebab ditinjau dari tanda bahaya yang dilepaskan hampir saja yang bersamaan waktunya dari dua arah yang berbeda, menunjukkan bahwa anggota perkumpulan mereka telah bertemu dengan musuh tangguh hampir pada saat yang bersamaan.
Bila keadaan tidak semakin kritis, tak mungkin orang-orang itu akan melepaskan tanda bahana untuk mohon bantuan-Pada saat itulah.....
Dari arah jalan raya disebelah selatan, kembali muncul ketiga sosok bayangan hitam yang meluncur datang dengan kecepatan tinggi.
Dalam waktu singkat ketiga orang tersebut telah muncul disisi arena, ternyata mereka terdiri dari dua pria dan seorang wanita.
Dalam sekilas pandangan saja, Kim Thi sia segera kenali orang yang berjalan dipaling muka adalah sastrawan bermata sakti, dibelakangnya mengikuti Yu Hong serta adik seperguruannya Li Beng po.
Begitu tiba, sipelajar bermata sakti segera berseru nyaring.
"Selamat bersua Selamat bersua Rupanya kedatangan kami tepat pada waktunya......."
"Hey pelajar bermata sakti"
Kim Thi sia segera menegur.
"HHutang piutang diantara kita berdua harus diperhitungkan lebih dulu."
"Aku harap kalian bersedia menolong ciciku lebih dulu sebelum melakukan perhitungan atas hutang piutang kalian"
Seru Yu Hong cepat-cepat.
"Tentu saja begitu"
Sahut pelajar bermata sakti keras. Sampai disitu, dia lantas berpaling kearah kelima orang musuhnya dan berseru lagi.
"Benarkah nona Yu Kiem telah kalian tangkap?"
Kakek berkipas lebar itu segera mendehem beberapa kali, kemudian baru menyahut.
"Benar atau tidak. rasanya tak perlu kau campuri urusannya"
Perlu diketahui, kakek tersebut merupakan salah satu diantara dua belas orang tongcu dari perkumpulan Tay sang pang.
orang menyebutnya si Rajawali emas berkipas baha Cu Kim, kepandaian gwakang maupun kwekangnya begitu hebat, boleh dibilang jarang menjumpai musuh tandingan dikawasan Kanglam oleh sebab itu sikapnya menjadi sombong, angkuh dan sangat takabur.
"Kalau aku bersikeras akan mencampuri, mau apa kau?"
Teriak sipelajar bermata sakti sambil mendelik.
"Ya a, bila kalian tidak membebaskan ciciku, kalian akan kami bantai sampai ludes"
Sambung Yu Hong dengan marah.
"Kalian mau membebaskannya atau tidak"
Teriak Kim Thi sia pula keras-keras.
Dalam pada itu sikap Lam wi lebih santai, dia berdiri disisi Kim Thi sia dengan senyuman dikulum.
Seakan-akan persoalan tersebut sama sekali tiada sangkut paut dengan dirinya.
si Rajawali emas berkipas besi cu Kim kontan saja tertawa dingin tiada hentinya.
"Heeeeh......heeeeeh......heeeeeh........akan kulihat sampai dimana sih kehebatan dari jagoan yang disebut "manusia yang paling susah dilayani dari dunia persilatan-...."
Kim Thi sia segera meloloskan pedang Leng gwat kiamnya dan siap untuk turun tangan-Tapi saat itulah........
Mendadak dari arah barat laut muncul dua sosok bayangan manusia yang meluncur datang dengan kecepatan luar biasa, kalau dilihat dari gerak tubuh mereka, dapat diketahui bahwa mereka adalah sepasang jagoan yang berilmu tinggi.
Belum lagi orangnya muncul, terdengar ia sudah berteriak keras.
"Thian tong, semua orang yang kita cari telah berkumpul disini. Rasanya tidak sia-sia penjelasan kita ayah beranak kali ini."
Sementara pembicaraan berlangsung, kedua orang tersebut sudah muncul dihadapan banyak orang. Hal mana tentu saja amat mengejutkan semua orang tanpa terasa mereka sama berpikir.
"Kenapa si tua bangka inipun bisa mencari sampai disini?"
Ternyata dua orang yang datang tak lain adalah ketua Tiang pek pay, sipukulan sakti tanpa bayangan serta putra kesayangan Ang Thian tong."
Begitulah munculkan diri, sipukulan sakti tanpa bayangan segera berseru.
"Kalian jangan bertarung dulu, tunggu sampai persoalannya menjadi jelas sebelum kita membuat penyelesaian hingga tuntas."
"Makhluk tua, kau jangan mencampuri urusanku"
Teriak Kim Thi sia. Sipukulan sakti tanpa bayangan segera tertawa terbahak-bahak.
"Haaaah.....haaaah.......haaaah.....kau masih ada kesempatan hidup selama sepuluh hari lagi. Sekarang aku tak ingin ribut denganmu."
"Kalau ingin berkelahu, sekarang juga aku dapat melayani"
Seru Kim Thi sia marah.
"Kenapa kita mesti menunggu sepuluh hari lagi di Lembah Nirmala?"
"Jadi kau benar-benar tak takut mampus? Kau anggap paling susah dilayani?"
Kim Thi sia tertawa dingin.
"Hmmm, jadi kau baru tahu sekarang?"
Mendadak terdengar Ang Thian tong menyela.
"Ayah, tak usah banyak cincong dengannya, yang penting kita selidiki dulu jejak Hay Jin"
"Apa? Nona Hay Jin telah lenyap?"
Sela Kim Thi sia terperanjat.
"Hmmm, soal ini bukan urusanmu. Lebih baik tak usah turut campur"
Tukas sipukulan sakti tanpa bayangan dingin. Lalu sambil berpaling kearah lima orang jago dari perkumpulan Tay sang pang, ia berkata lebih jauh.
"Apakah kalian telah berjumpa dengan menantuku?"
"Hmmm, kau toh tidak pernah serahkan menantuku kepadaku, dari mana aku bisa tahu?"
Sahut si rajawali emas berkipas besi Cu Kim sambil tertawa dingin. Sipukulan sakti tanpa bayangan kembali tertawa seram.
"Hmmm, menantuku telah hilang di kawasan Kanglam, sedang perkumpulan Tay sang pa adalah penguasa diwilayah ini. Kalau tidak bertanya kepada kalian, lantas kepada siapa aku mesti bertanya?"
Tuduhan yang dilontarkan setengah paksa ini tentu saja membuat kelima orang jago dari Tay sang pang menjadi meringis dan serba salah.
Mau mengaku tak bisa, tak mengakupun rasanya tak mungkin, bisa diduga suatu pertarungan sengit tak bisa dihindari lagi.
Tiba-tiba terdengar si Pelajar bermata sakti menyela.
"Ang locianpwee, harap jangan gusar dulu. Sekalipun apa yang locianpwee katakan memang benar, namun sebelum diperoleh bukti yang nyata, kau tidak boleh bersikeras menuduh pihak Tay sang pang sebagai biang keladinya, kuharap locianpwee suka berpikir tiga kali dulu sebelum bertindak"
"Bocah keparat, jadi kau hendak membonceng nama besar gurumu untuk mencampuri urusan orang lain?"
Seru sipukulan sakti tanpa bayangan dengan wajah merah membara.
"Hmmm, ilmu cakar kucing gurumu masih belum kupandang sebelah matapun.Jika kau berani mencabut gigi harimau disini, hakekatnya tindakanmu ini benar-benar kelewat memandang rendah orang."
Buru-buru sipelajar bermata sakti menjelaskan-"Ang locianpwee, aku sama sekali tidak bermaksud begitu, tapi kalau ingin berkelahi kita harus lihat dulu siapa duluan dan siapa belakangan.
Tunggulah sampai kudapatkan kembali orang yang kucari sebelum locianpwee membuat perhitungan dengan pihak Tay sang pang."
"Kurang ajar........"
Teriak sipukulan sakti tanpa bayangan semakin sewot.
"Jadi hanya kau yang boleh meminta orang sedang orang lain tidak......?"
"Tentu saja boleh, cuma aku datang menuntut karna dasar dan bukti yang nyata, aku tidak menuntut secara mengawur"
Agaknya hawa amarah sipukulan sakti tanpa bayangan sudah tak terbendung lagi, dengan suara keras teriaknya.
"Menantu ku telah hilang tak berbekas. Apakah kejadian ini bukan suatu fakta yang jelas? Bocah keparat, kalau kau tidak memberi penjelasan yang memuaskan hati ini akan kubunuh dirimu lebih dulu sebelum membuat perhitungan dengan sisetan tua"
Tampaknya si Pukulan sakti tanpa bayangan sudah mata gelap sehingga siapa saja dituduh sebagai pembawa lari menantunya.
Sementara itu semua orang membungkam diri tanpa banyak bicara siapapun.
Berselisih dengan sipukulan sakti tanpa bayangan mencari penyakit buat diri sendiri.
Hanya Kim Thi sia seorang yang masih saja tertawa dingin tiada hentinya.
Dalam pada itu, sikap sipelajar bermata sakti nampak lebih tenang dan mantap pelan-pelan ia berkata.
"Aku merasa beruntung sekali bisa peroleh petunjuk dari cianpwee. Bila aku disuruh memberi penjelasan, mungkin aku tak berkemampuan begitu, hanya saja aku dapat memberi sebuah petunjuk kepadamu?"
Sipukulan sakti tanpa bayangan ingin mengetahui kata-kata selanjutnya dengan cepat, buruburu dia menyela.
"cepat katakan, asal betul aku pasti akan memberi kebaikan untukmu"
"Itu sih tak perlu, cara pertama yang paling baik tentu saja mencari keterangan langsung kepada pihak Tay sang pang .Jalan kedua, silahkan locianpwee mengunjungi Lembah Nirmala, sedangkan cara yang ketiga......rasanya jauh lebih sulit lagi."
"Ngaco belo, benar-benar ngaco belo. Ayoh cepat katakan bagaimanakah caramu yang ketiga itu"
Seru sipukulan sakti tanpa bayangan tidak sabar.
"Belakangan ini, didalam dunia persilatan telah muncul Lima naga satu burung hong. Konon mereka adalah murid-murid kesayangan dari Pat pit thian ong si raja langit berlengan delapan dari bukit sin bau toa san. Aku dengan orang-orang kenamaan dari daratan Tiong goan, bisa jadi menantu cianpwee telah diculik oleh lima orang naga satu burung hong"
Paras mukanya Ang Thian tong segera menunjukkan kegelisahan yang amat sangat sesudah mendengar perkataan ini. Sedang sipukulan sakti tanpa bayangan nampak termenung sebentar, kemudian serunya.
"Bocah keparat, kenapa bicaramu makin lama semakin melantur"
Lam Wi melirik sekejap kearah sipelajar bermata sakti, lalu serunya pula, sambil mendengus dingin.
"Hmmm, pendapatmu memang bagus sekali."
Tiba-tiba sipukulan sakti tanpa bayangan melancarkan sebuah pukulan kearah lima orang jago dari perkumpulan Tay sang pang itu.
Kelima orang jagoan tersebut pun bukan manusia sembarangan-Mereka sudah mengerahkan tenaga dalamnya untuk bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan, begitu serangan dilancarkan merekapun serentak melakukan perlawanan.
Pertarungan sengitpun berkobar dengan hebatnya, kedua belah pihak sama-sama mengerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya untuk merobohkan lawan-Kim Thi sia gembira sekali setelah menyaksikan peristiwa ini.
Diapun bersiap-siap untuk terjun kearena pertarungan-Pada saat itulah bergema suara gelak tertawa yang amat keras dari tengah udara.
Suara tertawa itu yang amat nyaring dan menggema tiada hentinya ditengah kegelapan malam, dari sini bisa disimpulkan bahwa orang tersebut memiliki tenaga dalam yang teramat sempurna.
Walaupun gelak tertawa itu kedengarannya amat mengejutkan hati, akan tetapi para jago yang hadir disitu rata-rata merupakan jagoan berilmu tinggi.
Nyatanya mereka sama sekali tak terpengaruh oleh gelak tertawa ini.
Ditengah gelak tertawa yang amat nyaring inilah, kembali muncul dia orang manusia.
Ketika melihat kehadiran dua orang tersebut, kelima orang jago dari perkumpulan Tay sang pang itu segera menunjukkan wajah berseri.
orang yang baru datang itu memiliki perawakan badan setinggi tujuh depa, Jenggotnya panjang dan jubahnya berwarna hijau, hidung belang, mata tajam dan wajahnya amat licik serta menyeramkan-Ternyata orang ini tak lain adalah kelima perkumpulan Tay sang pang, sipukulan sakti penggetar langit Khu It cing, sedang dibelakangnya mengikuti si utusan beracun Hon chin.
Dengan sorot matanya yang tajam sipukulan sakti penggetar langit Khu It cing memperhatikan sekejap kesekeliling arena lalu dengan senyum tak senyum ia berkata.
"Setelah kehadiran sobat sekalian disini, rasanya bila aku tak datang sendiri, kalian akan menganggap aku Khu It cing kurang bersahabat. Sekarang aku tak ambil perduli apa maksud kedatangan kalian semua, paling tidak aku adalah tuan rumah disini, mumpung jarak dari sini ke Siau yan lo tak begitu jauh bagaimana kalian memberi muka kepadaku dengan ikuti aku kesana?"
Sipukulan sakti tanpa bayangan segera tertawa tergelak.
"Haaaaah.....haaaaaah......haaaaah.......sudah lama kukagumi nama siau yau lo. Beruntung sekali aku bisa membuka mata hari ini"
Kim Thi sia tak mau kalah, serunya pula.
"Sekalipun harus memasuki sarang naga gua harimau, aku Kim Thi sia tetap akan mengunjunginya pula"
"Bagus sekali"
Seru Khu It cing kemudian-"Kalau toh kalian bersedia memberi muka untukku. Nah Yap tongcu, Cu tongcu, cepat membawa jalan....."
Dua orang anak buahnya segera mengiakan dan beranjak lebih dulu meninggalkan tempat tersebut.
Walaupun semua orang tahu bahwa kepergian mereka kali ini tak akan membuahkan keberuntungan, akan tetapi tak seorangpun yang berbicara, bagaimanapun juga mereka enggan memperlihatkan kelemahan sendiri dihadapan orang lain-Sebab itu, biarpun harus mendaki bukit golok terjun ke kuali berminyak mendidih, mereka tidak akan menolak.
Sipukulan sakti tanpa bayangan bersama putranya Ang Thian tong berjalan lebih dulu mengikuti dibelakang musuhnya sipelajar bermata sakti, Yu Hong dan Li Beng po bertiga menyusul pada rombongan kedua, sedangkan Kim Thi sia dan Lam wi mengikuti dipaling belakang.
Setelah melewati sebuah tikungan bukit loteng, Siau yau lo telah nampak didepan mata.
Tak lama kemudian sampailah mereka didepan gedung itu, pintu gerbang nampak terpentang lebar, cahaya lentera memancarkan sinarnya menerangi setiap sudut ruangan-Ketika para anggota perkumpulan melihat kedatangan tamunya, ternyata tak seorangpun yang menghalangi jalan perginya .
Dengan menelusurijalan besar, secara mudah mereka tiba dibawah sebuah bangunan loteng yang amat tinggi.
Waktu itu semua orang sudah mengambil tempat duduk maka Kim Thi sia dan Lam wipun segera mencari tempat duduk yang kosong.
Tak lama kemudian, ketua Tay sang pang sipukulan sakti penggetar langit Khu It cing bangkit berdiri dari tempat duduknya, sambil mengangkat cawan arak.
ia berseru lantang.
"Jarang sekali aku mendapat kesempatan sebaik malam ini untuk menyelenggarakan suatu pertemuan, apalagi pertemuan yang dihadiri dua orang murid dari dua tokoh termashur dalam dunia persilatan, ditambah lagi kehadiran ketua Tay sang pang dari tepi perbatasan-benar-benar suatu kehormatan besar untukku. Nah, silahkan saudara sekalian mengeringkan secawan arak lebih dahulu"
Selesai berkata dia mengeringkan isi cawannya lebih dulu.
Namun tak seorangpun dari tamunya yang menanggapi ajakan itu, jangan lagi mengeringkan isi cawan, menyantun cawan arakpun tidak.
Sudah barang tentu Khu It cing dapat menyaksikan kejadian ini secara jelas sekalipun hati kecilnya tak senang namun ia tak sampai hati untuk mengumbar hawa amarahnya dalam keadaan begini.
Setelah berhenti sejenak.
Khu It cing memperhatikan kembali kawanan jago tersebut dengan mata siangnya, kemudian berkata lebih jauh.
"Aku cukup memahami maksud kedatangan anda sekalian, tapi ada satu hal perlu kujelaskan dulu. Yu Kiem adalah menghianat partai, soal ini menyangkut urusan rumah tangga kami yang tak bisa dicampuri urusan orang luar. Tentang lenyapnya menantu ketua Ang, aku berani bersumpah tidak tahu menahu. Kuharap saudara sekalian dapat memahami dan memaklumi keadaan ini."
"Hmmm, maknya"
Tiba-tiba Kim Thi sia berteriak keras.
"Perkumpulan apaan Tay sang pang ini, aku mah tak ambil perduli urusan rumah tangga atau bukan. Pokoknya jika kalian tidak membebaskan Yu Kiem maka siauya akan segera membakar habis gedung atau yau lo ini"
Teriakannya yang begitu lantang seketika membangkitkan hawa amarah itu dari para jago perkumpulan Tay sang pang.
Hampir bersamaan waktunya mereka berpaling dan melotot kearah pemuda tersebut.
Sedangkan sipelajar bermata sakti tertawa dingin tiada hentinya.
Mendadak......
Belasan orang lelaki kekar yang berdiri ditepi arena melompat bangin bersama-sama dan menghampiri Kim Thi sia, dengan mata mendelik mereka berteriak.
"sobat, tak usah berkaok-kaok terus disini, kalau berani kita berbicara diluar saja."
Kesepuluh orang lelaki kekar itu kesemuanya memakai baju biru dengan senjata tersoren dipinggang, wajahnya keren dan tenaganya sempurna. Sambil tertawa dingin Kim Thi sia balas menjengek.
"Apa salahnya kalau berbincang disini saja?"
Belum habis perkataan itu diutarakan seorang lelaki bermata tajam telah mendesak maju secara tiba-tiba dan secepat kilat mencengkeram jalan darah Sang hi hiat ditubuh pemuda itu.
Dalam waktu singkat belasan orang lelaki kekar itu telah mengepung Kim Thi sia ditengah arena.
Suasana menjadi amat tegang.
Kontan saja Kim Thi sia naik darah setelah diperlakukan begitu, melihat datangnya sambaran tersebut cepat-cepat doa menarik lengan kirinya kebelakang, sementara telapak tangan kanannya didorong kedepan-"
Duuuuukkkk. ....."
Lelaki kekar itu segera terhantam hingga mundur sejauh dua langkah kebelakang.
Dalam pada itu ketua Tay sang pang Khu It cing cuma tertawa dingin tiada hentinya tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Setelah berhasil berdiri tegak.
lelaki kekar tadi kembali membentak nyaring.
"Bocah keparat, kau berani bersikap kasar? Saudara sekalian, beresi bajingan ini"
Dalam waktu singkat deruan angin pukulan telah menyambar kian kemari, tubuh Kim Thi sia seketika terkepung ditengah arena.
Kim Thi sia berpekik nyaring, dengan cepat dia menggunakan dua jurus terdahsyat dari ilmu Tay goan sinkang yakni jurus mati hidup ditangan nasib dan kelembutan mengatasi air dan api.
Begitu dua serangan tersebut dilontarkan bayangan pukulan yang berlapis-lapis segera mengurung sepuluh orang musuhnya ditengah ancaman mautnya.
"Duuuukkkkkk Duuuuukkkkk Duuuukkkkk"
Beruntun kedengaran suara benturan keras yang saling menyusul, berapa orang lelaki kekar diantaranya segera tergetar mundur sejauh empat lima langkah sembari memegangi dada sendiri, rasa kaget dan ngeri jelas terpancar dari balik wajahnya.
Mendadak......
"Berhenti"
Terdengar seseorang membentak keras.
Waktu itu Kim Thi sia sedang asyik bertarung, ia sama sekali tidak menggubris teriakan tersebut.
Bacokan demi bacokan dilancarkan terus secara gencar.
Sebaliknya kesepuluh orang lelaki itu serentak mengundurkan diri setelah mendengar bentakan ini.
Akibatnya beberapa orang diantaranya yang sial kena dihajar oleh Kim Thi sia hingga roboh terjungkal diatas tanah.
Pelan-pelan muncullah seorang kakek ceking dihadapan anak muda itu.
Jilid 44 Begitu melihat tampang muka orang tersebut, sambil tertawa dingin Kim Thi sia segera berseru.
"ooooh, rupanya kau adalah Yap tongcu bagus sekali, bagaimana kalau kita bertarung berapa ratus jurus lagi?"
Ternyata kakek ceking itu tak lain adalah satu diantara dua belas tongcu perkumpulan Tay sang pang, si Utusan langit Yap Jit beng.
Sambil menarik mukanya yang seram Yap Jit beng mendengus dingin, tiba-tiba saja ia melancarkan sebuah cengkeraman maut kedepan.
cengkeraman itu dilancarkan dengan menggunakan satu diantara jurus-jurus ilmu Thian sim heng.
Kim Thi sia yang tidak mengenal kelihayan lawan sama sekali tidak melakukan sesuatu tindakanpun.
Menanti ia sadar akan datangnya ancaman bahaya, untuk berkelit sudah tak sempat lagi.
"Breeeettt......"
Tak ampun lagi pakaian dibagian bahunya kena tersambar hingga robek besar sekali. Kim Thi sia sangat gusar, dia segera melancarkan serangan balasan sambil teriaknya.
"Hey si jenggot ceking, cakar setanmu hebat betul. Ayoh coba dilancarkan sekali lagi."
Dengan suatu gerakan yang cekatan Yap Jit beng berkelit kesamping menghindarkan diri dari serangan Kim Thi sia, kemudian serunya dingin.
"Bocah keparat, kau kelewat sombong tempo hari aku pernah membebaskan dirimu. Tapi hati ini.... hmmmm, jangan harap bisa lolos kembali. Hari yang sama pada tahun mendatang merupakan hari ulang tahun kematianmu yang pertama"
Selesai berkata ia mendesak maju kemuka, tiba-tiba saja sepasang telapak tangannya diputar balik sambil mendorong kedepan-Dua gulung tenaga pukulan yang maha dahsyat segera saling bertemu satu sama lainnya.
"Blaaaaammm....."
Ditengah benturan yang amat keras Kim Thi sia tak sanggup lagi berdiri tegak.
Tubuhnya roboh terpelanting diatas tanah.
Semua jago menjadi gempar, Lam wi menggerakkan pula tangan kanannya siap membangunkan pemuda tersebut.
Namun Kim Thi sia telah merangkak bangun dengan amat cepatnya, merah padam selembar wajahnya, tanpa mengeluh ataupun mengucapkan sepatah katapun dia menerjang kembali kedepan sambil melepaskan pukulan dahsyat.
Dengan penuh kegusaran Yap Jit beng segera membentak.
"Bocah keparat, nampaknya kau benar-benar sudah bosah hidup."
Ia menarik napas panjang, dada dan lambungnya segera ditarik lima inci kedalam, kemudian sambil membentak nyaring, telapak tangannya diputar sambil mendorong kedepan-Angin pukulan yang maha dahsyatpun segera meluncur kedepan dengan cepatnya.
Kali ini Yap Jit beng telah menggunakan sepuluh bagian tenaga dalamnya.
ia berhasrat membinasakan Kim Thi sia diujung pukulannya, maka begitu sepasang tangan mereka saling bertemu.
Kim Thi sia yang memang lemah dalam tenaga dalam kontan saja tergetar hingga mencelat sejauh berapa kaki kebelakang, kepalanya menjadi pusing tujuh keliling.
Matanya berkunang-kunang dan hampir saja ia tak sanggup merangkak bangun kembali.
Anggap semua orang waktu itu, Kim Thi sia pasti akan mampus saat ini.
Pelajar bermata sakti yang melihat peristiwa itu kontan saja berseru sambil mendengus dingin.
"Hmmm, sampai akupun merasa kehilangan muka karena perbuatanmu itu......"
Ternyata serangan yang dipergunakan Kim Thi sia barusan adalah jurus serangan yang diajarkan ciang sianseng kepadanya.
Tapi sayang berhubungan tenaga dalamnya kurang sempurna, dia tak mampu menunjukkan kehebatan dari serangannya itu.
Yu Hong segera berseru tertahan-Tapi saat itulah mendadak terdengar Yap Jit beng mendengus tertahan dan ikut roboh terjungkal keatas tanah.
Pelan-pelan Kim Thi sia merangkak bangun, sewaktu melihat Yap Jit beng roboh terkapar, dia masih mengira hal itu merupakan hasil serangannya.
Dipihak Tay sang pang, suasana pun menjadi gempar setelah melihat tongcu mereka roboh terjungkal, serentak mereka maju kedepan-"Jangan bertindak sembarangan"
Tiba-tiba terdengar seseorang berteriak nyaring.
Rupanya ketua Tay sang pang Khu It cing yang mencegah anak buahnya maju kedepan-Hampir pada saat yang bersamaan, dari luar gedung kedengaran suara suitan yang berpekik saling bersahutan.
Mendengar suara suitan itu, sambil tertawa seram Khu It cing segera bergumam.
"Heeeeh.....heeeeeh......heeeeeh.......entah darimana lagi yang datang berkunjung?"
Kemudian dengan suara keras dia berseru.
"Apa yang hendak kusampaikan telah diselesaikan kuutarakan, kalian boleh pergi sekarang"
Habis berkata dia segera mengundurkan diri dari situ.
"Jangan kabur"
Teriak Kim Thi sia tiba-tiba.
Dengan suatu gerakan cepat dia mengejar dari belakang.
Lam wi menggerakkan badannya pula menyusul dari belakang pemuda tersebut.
Saat itulah dari luar kedengaran ada orang berteriak keras.
"ciu tong kongcu dari Kim kong kau serta thameu harimau naga Si Goanpah datang berkunjung"
Lam wi segera nampak bangga dan gembira setelah mendengar seruan nyaring tadi.
Ketika tiba diluar lorong, mereka berdua melihat Khu It cing masih berlarian dimuka, segera pengejaran dilakukan dengan lebih ketat.
"Hey bajingan tua, mau kabur kemana kau?"
Teriak Kim Thi sia keras-keras.
Mendadak ia melancarkan serangan dengan jurus "kejujuran meretakkan batu emas".
kelihatannya serangan tersebut segera akan mencapai sasaran secara telak.
Disaat yang kritis inilah, tiba-tiba....
"Aduuuuuh........"
Lam wi yang mengikuti dari belakang menjerit tertahan, kemudian bayangan tubuhnya lenyap tak berbekas.
dalam keadaan begini tak mungkin lagi buat Kim Thi sia untuk melanjutkan pengejaran-Dia segera membalikkan badan melakukan pemeriksaan, tapi aneh sekali, keadaan disitu tetap seperti sedia kala tanpa gejala apapun untuk sesaat pemuda itu jadi tertegun dan tidak habis mengerti.
Tiba-tiba......
Dari atas tiang besar disisinya muncul sepasang tangan raksasa yang mengancam tubuhnya.
Kim Thi sia tidak begitu menaruh perhatian terhadap hal tersebut, tak ampun pinggangnya kena dirangkul sepasang tangan raksasa itu erat-erat.
Menyusul kemudian tiang besar itu terperosok jatuh kedalam tahan-dalam waktu singkat tibalah ditengah sebuah ruang bawah tanah.
Kim Thi sia segera sadar kalau terjebak.
serentak dia meloloskan pedang Leng gwat kiamnya sambil membacok lengan raksasa itu secara bertubi-tubi, begitu mencapai atas tanah, ia melihat ada sebuah jalan setapak membujur kesana, maka diapun berjalan menelusurinya .
Sementara dia masih berjalan, tiba-tiba terlihat olehnya Lam wi dengan tubuh basah kuyup sedang berjalan keluar dari sudut ruangan-Kim Thi sia kegirangan setengah mati, selesai berunding mereka berduapun melanjutkan perjalannnya menelusuri jalan setapak tadi.
Sepanjang jalan Lam wi menyeka wajahnya dari butiran air, sementara tangannya kelihatan gemetar keras.
Rupanya meski ia memiliki ilmu silat yang luar biasa, tapi sayang tidak mengerti ilmu berenang.
Akibatnya begitu terjebur kedalam penjara air, tubuhnya menjadi basah kuyup dan keadaannya mengenaskan sekali.
Kim Thi sia tak tega melihat keadaan rekannya itu, cepat-cepat dia menyeka wajahnya dengan ujung bajunya.
Dengan manja Lam wi menjatuhkan diri bersandar diatas dadanya, lalu sambil mendekap pemuda itu erat-erat serunya gemetar.
"oooh........dingin........dingin sekali......."
Kim Thi sia mengira rekannya masih dicekam rasa kaget, dengan lembut diapun menghibur.
"Saudara Lam tak usah takut, kalau memang takut dingin, lepaskan dulu pakaianmu yang basah itu."
"Kalau kulepas pakaianku yang basah, lantas aku mesti memakai apa?"
"Kalau begitu pakailah jubahku lebih dulu mau bukan?"
Sambil berkata Kim Thi sia melepaskan jubah luarnya. Tapi Lam wi mendekap Kim Thi sia semakin erat katanya lagi.
"ogah, aku tak mau memakai bajumu"
Sikap maupun gerak gerik tak berbeda seperti anak gadis.
Terpaksa Kim Thi sia mengurungkan niatnya, ia menyaksikan pakaian yang basah membungkus tubuhnya yang kecil ramping.
Wajahnya nampak agak putih kepucat-pucatan-Ketika melihat bagian dadanya, ia seperti menyaksikan dua gumpalan bola daging yang cukup besar menonjol disitu.
Yang jelas ia merasa tak memiliki gumpalan bola daging seperti itu.
Dasar bodoh, Kim Thi sia tidak berpikir lebih lanjut, dia hanya menganggap kejadian tersebut wajar saja.
Saat itulah tiba-tiba terdengar Lam wi berkata.
"Aku sangat lelah bagaimana kalau beristirahat sebentar sebelum meneruskan perjalanan?"
Sebenarnya Kim Thi sia bermaksud kabur dulu dari ruang bawah tanah sebelum berbuat lain, tapi setelah melihat wajah Lam wi yang penat, pakaiannya yang basah kuyup, diapun berpikir.
"Sebagai seorang lelaki, ia benar-benar tak becus, baru tercebur kedalam air, keadaannya sudah berubah begini rupa. percuma saja dia belajar ilmu silat"
Mendadak..... Dari langit-langit ruangan itu terdengar ada dua orang sedang berbincang-bincang, salah seorang diantaranya terdengar sedang berkata.
"Yap tongcu telah berpesan untuk menangkap hidup, hidup dua orang tawanan kita yang terjerumus kebawah. Li Piau, kita harus segera masuk melalui gua nomor tiga."
Agaknya orang yang dipanggil Li Piau tidak sependapat dengan rekannya, terdengar dia berkata.
"Apa sesungguhnya menangkap hidup,hidup? Kim Thi sia sudah tertangkap tangan Buddha, jelas jiwanya tak akan melayang, berbeda dengan orang yang tercebur kedalam penjara air. Kita mesti menolong lebih dulu, kalau kita sampai membiarkan dia banyak minum air, wajah kita bakal berani. Hey si antik, aku rasa kita mesti pergi kepenjara air dulu, untuk pergi kepenjara air seharusnya kita jangan lewat gua nomor tiga bukan?"
"Betul...Betul... Nampaknya kau lebih pintar dari padaku, baru saja aku minum berapa mangkuk arak, sekarang kepalaku mulai pusing.....yaaa, kita mesti lewat jalan yang mana......?"
"coba lihat, makin lama kau semakin tak berguna saja"
Terdengar Li Piau berkata lagi.
"Bicara soal ilmu silat, aku Li Piau memang tak mampu mengunggulimu, tetapi takaran arakku jauh lebih hebat dari padamu. Aku rasa kita mesti turun lewat gua nomor tujuh"
"Li Piau, kau jangan ngoceh terus, selesai bertugas nanti bagaimana kalau kita beradu seratus cawan arak lagi"
Sementara itu Kim Thi sia telah dibuat terperanjat sekali setelah mendengar pembicaraan itu, langsung dia mencoba untuk memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu.
Ternyata seluruh dinding gua tersebut dari baja murni, hal ini menunjukkan bahwa usahanya untuk keluar dari situ bukan suatu pekerjaan yang mudah.
cepat-cepat Kim Thi sia menerobos maju kedepan, dia melihat dari tempat tersebut mencorong masuk cahaya rembulan, cepat-cepat tubuhnya melejit keatas.
"Bluuuukkk"
Tampak Kim Thi sia terjatuh kembali sambil memegangi batok kepala sendiri dan berkaok-kaok kesakitan-Ternyata diatas lubang kecil itu dipasang terali besi yang amat besar, karena sama sekali tak menduga akan hal tersebut, tentu saja batok kepala anak muda itu menjadi kesakitan setengah mati.
Sementara itu Lam wi telah berjalan mendekat sambil menghibur dengan suara lembut.
"Saudara Kim, lebih baik berhematlah dengan tenagamu"
Kim Thi sia tidak menggubris anjuran tersebut, sekali lagi dia mengerahkan tenaganya untuk menggempur, tapi akibat dari gempuran tersebut kembali kepalanya terasa pusing tujuh keliling.
Pandangan matanya berkunang-kunang dan telinganya terasa mendengung keras sekali.
Sekali lagi usahanya untuk menerobos keluar dari tempat tersebut mengalami kegagalan total.
"Nah, coba lihat sendiri"
Seru Lam wi kemudian-"Siapa suruh kau tak menuruti perkataanku, akibatnya mencari penyakit buat diri sendiri."
Hawa amarah berkobar dengan hebatnya didalam dada pemuda itu, dengan gemas dia melotot sekejap kearah rekannya, lalu berseru angkuh.
"Saudara Lam, lihat saja nanti"
Kali ini dia telah menghimpun segenap kekuatan tubuh yang dimilikinya sambil melejit keatas.
"Blaaaaammmm......."
Benturan keras yang terjadi kali ini segera membuat anak muda itu roboh terkapar diatas tanah dan untuk berapa saat lamanya tak mampu untuk merangkak bangun kembali.
Agaknya anak muda itu sudah jatuh pingsan-Sebagaimana diketahui Kim Thi sia merupakan seorang pemuda yang keras kepala serta tak pernah mengaku kalah kepada siapapun.
Akibatnya dia terlalu tak tahu diri serta tak ammpu menilai kekuatan sendiri.
Lam wi menjadi amat terperanjat setelah melihat kejadian ini, buru-buru dia menotok dua buah jalan darahnya.
Tak selang berapa saat kemudian.....
Kim Thi sia berseru tertahan dan merangkak bangun dari atas tanah.
Steelah beristirahat sejenak.
tiba-tiba saja dia teringat kembali dengan pedang Leng gwat kiamnya, diam-diam ia berpiklr.
"Dasar tolol, kenapa aku lupa dengan senjataku itu"
Dengan suatu gerakan cepat dia segera meloloskan pedang Leng gwat kiamnya.
Dibawah cahaya rembulan terlihat pancaran cahaya tajam berkilauan dari tubuh pedang tersebut serta menyebar kemana-mana.
Dengan memnggenggam pedangnya kencang-kencang, ia segera maju kedepan sambil melakukan babatan-Pedang Leng gwat kiam memang nyata sebilah pedang mestika yang tajam sekali.
"Sreeeet Sreeeet Sreeeeet"
Diiringi tiga kali desingan tajam, ketiga batang terali besi sebesar kepalan diatas langit-langit gua itu seketika terpapas kutung dan rontok keatas tanah.
Tak terlukiskan rasa girang Kim Thi sia setelah menyaksikan keberhasilannya itu.
Sedangkan Lam wi memuji dengan suara hambar.
"Pedang mestikamu memang nyata sekali sebilah pedang hebat"
"Saudara Lam, mari kita keluar dari sini secepatnya"
Seru Kim Thi sia cepat-cepat. Steelah menyimpan kembali pedangnya kedalam sarung, dia menerobos keluar lebih dulu melalui lubang gua tadi. Mendadak.......
"Bocah keparat, kau berani menjebol penjara untuk melarikan diri?"
Suara bentakan keras bergema memecahkan keheningan-Menyusul suara bentakan itu, tampak empat lima sosok bayangan hitam berkelebat lewat dengan kecepatan luar biasa.
Waktu itu Kim Thi sia sudah menahan rasa mendongkolnya dan tak ada tempat pelampiasan-Melihat datangnya musuh yang menyerang, kontan saja dia menghimpun kekuatan tubuhnya serta melepaskan dua buah serangan berantai yang amat gencar.
Mencorong sinar tajam dari balik mata keempat, lima orang lelaki berbaju biru itu, setelah mengawasi sekejap sekeliling tempat itu mereka segera mengepung Kim Thi sia ditengah arena.
Empat gulung angin pukulan yang maha dahsyat menyambar tiba dalam waktu singkat Kim Thi sia segera terdesak mundur sejauh satu kaki lebih.
Melihat musuhnya tergetar mundur, keempat, lima orang lelaki berbaju biru itu mendesak maju lebih kedepan sambil tertawa dingin mereka menjengek sinis.
"Bocah keparat, hendak kabur kemana kau?"
Sementara mengejek.
tubuh mereka sama sekali tak menganggur.
Dengan menghimpun kekuatan yang dimilikinya, kembali delapan gulung tenaga pukulan yang maha dahsyat bak gulungan ombak ditengah samudra melanda kedepan-Kim Thi sia membungkam diri dalam seribu bahasa, diam-diam ia mengerahkan ilmu ciat khi mi khinya, meski akibat gempuran tersebut tubuhnya tergetar mundur berulang kali, namun secara paksakan diri ia masih sanggup untuk menahan diri.
Melihat kemampuan musuhnya, kelima orang lelaki kasar itu saling berpandangan sekejap.
lalu sambil tertawa dingin sekali lagi mereka ayunkan tangan melancarkan serangan Kim Thi sia segera mengincar salah seorang musuhnya, lalu melepaskan sebuah serangan balasan-Dengan sikap lelaki kekar berbaju biru itu mengayunkan tangannya menyambut ancaman tadi.
"Blaaaammmm....."
Begitu empat tangan saling beradu satu sama lainnya, terjadilah suara benturan keras yang memekikkan telinga, seketika itu juga lelaki kekar tadi tergetar mundur sejauh dua langkah.
Diiringi caci maki yang sengit kelima orang lelaki itu segera melancarkan serangan kembali.
Mendadak......
Salah seorang diantara mereka berteriak keras.
"cepat kejar, keparat yang satunya berusaha melarikan diri, cepat kalian hadang jalan perginya......."
Belum habis teriakan itu, dua orang rekannya sudah melejit kedepan serta melakukan pengejarandalam repotnya Kim Thi sia sempatkan diri untuk melirik sekejap kedepan, ia menemukan Lam wi sedang berusaha melarikan diri dari sana.
Rasa gusar dan gemas segera berkecamuk dalam benak Kim Thi sia, ia segera mengubah semua perasaannya itu menjadi kekuatan, diiringi bentakan keras, sebuah pukulan dahsyat kembali dilontarkan ketubuh seorang lelaki berbaju biru.
Lelaki kekar itupun bukan jagoan yang berkepandaian lemah, serta merta dia melontarkan pula sepasang tangannya kedepan.
"Blaaaammmm......."
Ledakan keras kembali menggelegar memecahkan keheningan, diantara pasir dan batuan yang beterbangan kemana-mana, lelaki berbaju biru itu nampak terpental kebelakang, memuntahkan darah segar dan tak mampu merangkak bangun kembali.
Melihat keberhasilannya ini, ia tertawa seram, sekali lagi dia melepaskan serangan dengan jurus "angin menggoncangkan pohon siong"
Dari Tay goan sinkangnya.
dalam serangan kali ini, dia telah sertakan segenap tenaga dalam yang dimilikinya, belum lagi ancamannya tiba, batu dan pasir yang beterbangan memenuhi angkasa telah mencekatkan hati kedua orang lawannya.
Dengan cepat enam tangan saling beradu satu sama lainnya, lelaki-lelaki berbaju biru itu segera tergetar mundur sejauh tiga kaki lebih lalu rontok keatas tanah dan tak mampu merangkak bangun lagi.
Sebaliknya Kim Thi sia sendiripun terpental jauh sekali, punggungnya menumbuk diatas sebatang pohon besar.
"Blaaaammmm"
Daun dan ranting berguguran ketanah, tapi pemuda itu tertawa keras, dengan cepat dia melompat bangun dan selangkah demi selangkah maju mendekat kemuka.
Biar suara tertawanya amat nyaring, sayang langkahnya kelihatan mulai gontai, mukanya penuh berpelepotan darah, jelas luka yang dideritanya cukup parah.
Mendadak.......
Beberapa kali suara bentakan keras bergema memecahkan keheningan, lalu terdengar desingan angin tajam dan muncullah tiga sosok bayangan manusia ditengah arena.
"Aku akan beradu jiwa dengan kalian"
Bentak Kim Thi sia keras-keras.
Dengan mengerahkan sisa tenaga yang dimilikinya, dia melancarkan sebuah pukulan kedepan-Tapi dengan cepat pemuda itu berseru tertahan.
lalu roboh terjungkal keatas tanah.
Rupanya dibawah kerubutan beberapa orang jagoan dari perkumpulan Tay sang pang tadi, Kim Thi sia telah mengerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya berusaha menghalau serangan musuh dan menanti bala bantuan dari rekannya Lam wi.
Siapa tahu belum sempat serangan tersebut dilontarkan keluar, lima gulung tenaga serangan yang maha dahsyat bak bukit Tay san yang runtuh saja, serentak menggempur keatas dadanya.
dalam keadaan begitu, buru-buru Kim Thi sia mengeluarkan ilmu ciat khi mi khinya untuk menahan serangan mana.
Sayang sekali keadaan sudah terlambat dia mendengus tertahan dan tubuhnya roboh terpental keatas tanah.
Tapi pada saat yang bersamaan, kelima enam orang jagoan dari Tay sang pang pun turut roboh terjungkal keatas tanah.
Pada saat itulah Lam wi muncul kembali ditepi arena, terdengar ia berseru sambil tertawa dingin.
"Heeeeh.....heeeeh.....heeeeh.....siapa saja yang bosan hidup silahkan maju kedepan-"
Disaat dia berbicara, Kim Thi sia kembali merangkak bangun sembari memegangi batok kepala sendiri, terdengar ia bergumam.
"Huah, sungguh tak kusangka beberapa orang cecunguk dari Tay sang pang memiliki tenaga dalam yang begini sempurna."
"Saudara Lim, kau tidak terluka bukan?"
Tanya Lam wi sambil maju menghampirinya.
"Hmmm, hanya mengandalkan kemampuan dari beberapa orang cecunguk ini, bagaimana mungkin ia mampu melukai diriku?"
Tiba-tiba dia menyaksikan keenam, tujuh orang jagoan dari perkumpulan Tay sang pang itu sudah roboh binasa semua, dengan perasaan tak habis mengerti pemuda itu berpikir lagi.
"Munginkah mereka tewas karena pengaruh ilmu ciat khi mi khi ku? Tapi hanya kepandaianku tak seberapa hebatnya."
Sementara dia masih termenung, Lam wi telah menjelaskan.
"Saudara Kim, tak usah diperiksa lagi, mereka tewas karena jalan darah sang Hiatnya sudah terhajar sebatang jarum emasku."
Mendengar itu, Kim Thi sia segera berpikir.
"Sungguh keji caramu membunuh orang."
Tapi setelah melihat keadaan rekannya yang begitu mengenaskan, ia pun berseru pula.
"Ya a, mereka memang pantas dibunuh, pantas dibunuh."
Menyusul kemudian dia berkata lagi.
"Saudara Lam, lebih baik kita tinggalkan tempat ini secepatnya"
Waktu itu Lam wi memang merasa amat letih, mendengar ajakan tersebut ia segera mengangguk seraya berkata.
"Ya a, bajuku yang basah kuyup memang harus ditukar secepatnya, kalau hendak pergi kita harus pergi sebelum bala bantuan mereka tiba. Kalau tidak. kita pasti akan kerepotan sendiri, bukan begitu saudara Kim?"
Sesungguhnya Kim Thi sia berniat melakukan penyelidikan digedung Siau yau lo tapi setelah Lam wi berkata begitu, diapun tidak bersikeras lagi, maka berangkatlah mereka berdua meninggalkan gedung ini.
dalam keadaan begini Kim Thi sia tidak memperhatikan arah perjalanan lagi, begitu meninggalkan gedung atau yau lo, mereka segera menempuh perjalanan hampir satu jam lamanya.
Makin berjalan Lam wi semakin merasakan keadaan yang tak beres, saat itu mereka berdua telah tiba ditepi sungai, sebuah perahu kecil sedang membuang sauh disitu.
sambil menghentikan perjalanan Lam wi berbisik.
"Saudara Kim, bagaimana kalau kita beristirahat diatas kapal saja? Aku rasa disitu tentu lebih aman?"
Kim Thi sia memang lagi kebingungan, mendengar itu diapun mendekati perahu tadi dan berseru.
"Hey pemilik perahu, kami ingin menyewa perahumu"
Tampaknya sipemilik perahu terjaga dari tidurnya karena teriakan Kim Thi sia, dia membuka mata dan memandang sekejap keadaan cuaca. Lalu sahutnya kemalas-malasan.
"Tuan, sekarang hari masih gelap. kami tak bermaksud untuk berlayar."
Tak sampai perkataan itu selesai diutarakan, Lam wi telah menyela.
"Tak apa kalau tak ingin berlayar sekarang, tapi kami sudah memastikan diri untuk menyewa perahu ini. Hey pemilik perahu, kau boleh tidur sekarang dan baru berangkat esok pagi. Hantar kami kekota terdekat, pokoknya akan kubayar sewa perahunya lipat dua."
Lalu tanpa menunggu persetujuan dari pemilik perahunya lagi, Lam wi ikut melompat naik keatas perahu disusul Kim Thi sia.
Walaupun sipemilik perahu nampaknya keberatan, tapi setelah memegang uang, iapun tak banyak bicara lagi dan segera bergeser dari tempatnya.
Lam wi memandang sekejap kearah Kim Thi sia, mendadak ia mendorong pemuda itu sambil serunya.
"Sekarang masuklah dulu dalam ruangan perahu, aku hendak mengeringkan pakaian dulu diluar."
Kim Thi sia memandang sekejap kearahnya, lalu tanpa banyak bicara masuk keruang dalam.
Memandang bayangan punggungnya sekulum senyuman segera menghiasi wajah Lam wi, diapun duduk diujung perahu bermaksud mengeringkan pakaiannya yang basah.
Tapi gara-gara perbuatannya ini, tanpa ia sadar racun keji telah menyusup kedalam tubuhnya serta mengancam jiwanya.
Ternyata air yang berada didalam penjara air gedung Siau yau lo telah dicampuri racun yang amat keji sebab Khu It cing sadar bahwa penjara air yang umum tak mungkin bisa mengurung jagoan lihay apalagi melukai serta membunuhnya.
oleh sebab itulah diapun memohon bantuan dari si utusan racun Goa chin sebagai seorang ahli racun untuk mencampuri sejenis racun kedalam air penjara itu.
Barang siapa tercebur kesitu dan meneguk air penjara niscaya dia akan keracunan yang menyebabkan kematian-Sejak didirikan, entah sudah banyak jiwa yang melayang dalam penjara air tersebut.
Ketika Lam wi tercebur tadi, beruntung seali ia tak sampai meneguk air penjara tersebut, namun tubuhnya cukup lama berendam dalam air beracun itu ditambah lagi setelah basah kuyup dia enggan tukar pakaian-Bukan hanya begitu, dalam keadaan demikian ia sempat bertarung pula dengan jag-jago dari perkumpulan Tay sang pang, akibatnya sari racunpun secara pelan-pelan menyusup masuk kedalam tubuhnya melalui pori-pori badannya.
Masih untung tenaga dalam yang dimiliki Lam wi cukup sempurna sehingga sari racun tersebut sempat dibendung untuk sementara waktu, tapi bibit racunnya sempat tertanam dalam tubuhnya tanpa dia sadari.
Sementara itu Kim Thi sia telah menerobos masuk kedalam ruang perahu dan merebahkan diri untuk beristirahat.
Setelah melakukan pertarungan sengit dan menempuh perjalanan cukup jauh, Kim Thi sia merasa tubuhnya agak penat, begitu pejamkan mata diapun tertidur dengan nyenyaknya.
Entah berapa lama sudah berlalu, tatkala ia membuka matanya kembali secercah cahaya pagi telah mencorong masuk melalui celah-celah jendela.
Pelan-pelan Kim Thi sia menggeserkan badannya, mendadak ia merasa ada orang tidur disisinya, orang itu tertidur dengan napas yang amat berat.
Satu ingatan segera melintas didalam benaknya, dengan cepat dia membalikkan badan untuk memeriksa.
Ternyata Lam wi tidur melingkar disisinya, napas berat yang terdengar tadi tidak lain berasal dari hidungnya.
Kim Thi sia mencoba memeriksa air mukanya, tampak wajah Lam wi merah dadu bagaikan bunga tho, ketika ia mencoba meraba jidatnya, segera tangannya menyentuh jidat yang amat panas.
Kim Thi sia segera sadar bahwa Lam wi telah jatuh sakit, perasaan hatinya mulai tak tenang.
Mendadak Lam wi menggerakkan tubuhnya dan pelan-pelan membuka matanya kembali, sewaktu menyaksikan Kim Thi sia berada disisinya, sekulum senyuman segera tersungging diujung bibirnya.
Tiba-tiba Lam wi merintih.
"Dingin-.....dingin-....."
Mendengar itu cepat-cepat Kim Thi sia melepaskan jubah luarnya dan diselimutkan diatas tubuhnya tapi Lam wi masih saja berteriak kedinginan-Kim Thi sia menjadi kebingungan setengah mati, akhirnya karena kehabisan akal diapun memeluk tubuh Lam wi erat-erat, maksudnya hendak menghangatkan tubuh rekannya dengan panas tubuhnya.
Ternyata cara tersebut memang amat manjur, begitu tubuh Lam wi sudah dipeluk erat-erat iapun tidak berteriak kedinginan lagi.
Tak lama kemudian fajarpun telah menyingsing, Kim Thi sia mencoba memperhatikan wajah Lam wi, tiada rasa sakit atau mengeluh yang terpancar dari balik mukanya.
Keadaan mana sedikit banyak melegakan juga hatinya.
Sementara itu sipemilik perahu telah bangun dari tidurnya dan mendayung perahu itu menelusuri sungai.
Kim Thi sia tak ingin membangunkan rekannya, diapun tidak melepaskan pelukannya karena takut membangunkan Lam wi dari tidurnya.
Waktu itu kebetulan sekali tangan kanan Kim Thi sia berada diatas dada Lam wi, setelah dipeluk sekian lama, mendadak pemuda kita menemukan sesuatu yang aneh.
Tiba-tiba saja dia merasa tangannya menyentuh suatu gumpalan bola daging yang empuk.
montok dan aneh kalau dipegang.
Yang lebih mencekam hatinya, ia merasa tidak memiliki gumpalan bola daging semacam itu pada dadanya.
Terdorong oleh rasa ingin tahu, Kim Thi sia segera memegang bola daging itu serta meremasnya berapa kali, ia segera merasakan suatu perasaan yang amat aneh, makin diremas gumpalan bola daging itu, perasaannya terasa makin nyaman saja.
Dengan perasaan semakin keheranan, pemuda itu mulai menggerayangi seluruh dada Lam wi, ia segera menemukan bahwa rekannya memiliki sepasang payudara yang montok.
padat berisi serta sepasang puting susu yang mengeras tegang, sepasang payudara yang indah dan nikmat dipegang.
Kim Thi sia semakin bernapsu lagi setelah meraba sekarang dia ingin melihat sendiri apa gerangan gumpalan bola daging itu serta bagaimanakah bentuk sebenarnya.
Pelan-pelan ia bangkit dari tidurnya dan mulai meraba kancing baju Lam wi kemudian secara berhati-hati sekali berusaha melepaskan kancing baju itu serta membuka pakaiannya.
Tapi saat itulah Lam wi telah menggerakkan badannya.
Kim Thi sia tahu rekannya telah terjaga dari tidurnya, maka diapun segera menegur.
"Kau masih kedinginan?"
Lam wi menggelengkan kepalanya berulang kali, lalu menggeserkan badannya, kali ini dia tidak membiarkan tangan pemuda tersebut berada diatas dadanya. Kim Thi sia segera bertanya lagi.
"Saudara Lam, apakah kau merasa haus?"
Lam wi mengangguk.
cepat-cepat Kim Thi sia mengambil secawan air dan memberikan kepadanya, selesai meneguk air tersebut Lam wi menghembuskan napas panjang dan menatap pemuda itu dengan pandangan yang lembut dan mesrah.
sudah beberapa kali Kim Thi sia mengalami tatapan mata selembut dan semesrah ini.
Mula pertama, Lin lin yang memandang begitu kepadanya.
Kemudian Nyoo soat hong pun pernah memandangnya dengan sinar mata hangat, lembut dan penuh rasa cinta.
Selanjutnya putri Kim huan pernah memandang mesrah pula dirinyha, pandangan yang membuat perasaan hatinya tak karuan-Terakhir pandangan dari Hay Jin putri tunggal Dewi Nirmala sempat membuat perasaan hatinya kebat kebit.
Teringat kesemuanya itu, Kim Thi sia seperti menyadari akan sesuatu, ia segera balas menatap rekannya.
Lam wi segera menyadari akan hal itu, merah padam selembar wajahnya secara tiba-tiba bisiknya kemudian.
"Saudara Kim, sekarang kita sudah tiba dimana?"
Setelah berhenti sejenak, kembali dia berkata.
"Tak usah perduli sudah sampai dimana yang penting kau harus tidur dulu dengan perasaan lega."
Sekali lagi Lam wi memandang sekejap kearahnya dengan pandangan berterima kasih, kemudian baru ujarnya.
"Aku tak ingin tidur lagi."
Selesai berkata, ia menyandarkan kembali tubuhnya dalam pelukan Kim Thi sia dan pejamkan matanya rapat-rapat. Berapa saat kemudian terdengar s ipemilik perahu berseru keras.
"Tuan, sudah sampai ditempat tujuan"
Kim Thi sia segera membangunkan Lam wi dan membantunya naik kedaratan, dari sakunya Lam wi mengeluarkan sekeping uang dan diserahkan kepada pemilik perahu sambil berkata.
"Uang kembalinya tak usah diberikan kepadaku, anggap saja sebagai hadiah untuk minum arak."
Tentu saja pemilik itu kegirangan setengah mati, cepat-cepat dia berterima kasih kepada kedua orang tersebut.
Tiba didaratan, Kim Thi sia berdua menelusuri jalan masuk kedalam kota, kota itu sangat ramai dan banyak orang berlalu lalang.
Setelah menempuh perjalanan berapa waktu, tiba-tiba Lam wi berbisik.
"Saudara Kim, mari kita mencari rumah penginapan untuk beristirahat."
Melihat ada rumah penginapan dengan merek "Sim-an"
Dikejauhan sana, Kim Thi sia mengajak Lam wi menuju kesitu. setibanya didalam penginapan, Lam wi baru berbisik kepada Kim Thi sia.
"Kita pesan sebuah kamar saja"
Kim Thi sia menurut dan segera berteriak.
"ciangkwee, kami pesan sebuah kamar kelas satu yang baik dan tenang......."
Pemilik penginapan mengiakan berulang kali, ia perintahkan pelayan untuk menghantar tamunya kekamar terbaik diruang timur.
Melihat kamar itu luas lagi dan bersih, Lam wi sangat puas, ia segera memerseni pelayan tadi sambil bertanya.
"Apakah disitu ada tabib kenamaan? Tolong undang dia kemari secepatnya......"
Pelayan itu menyahut dan beranjak pergi cepat-cepat.
Tak lama kemudian pelayan telah muncul kembali dengan membawa obat yang dipesan-Malam itu mereka berdua bersantap d idalam kamar, kemudian masing-masing pergi tidur.
Keesokan harinya, Lam wi berkata kepada Kim Thi sia.
"Saudara kim, aku memang benar-benar tak berguna, baru terendam air saja sudah jatuh sakit, sampai sekarang kepalaku masih terasa pening dan lemas badan-Sudah berapa kali aku mencoba untuk mengatur pernapasan, tapi setiap kali usahaku selalu gagal."
Kim Thi sia tidak berbicara, ia membungkam diri dalam seribu bahasa. Melihat itu, Lam wi segera berkata lagi sambil tertawa.
"Perutku agak lapar, bersediakah kau keluar sebentar untuk membelikan berapa macam hidangan lezat untukku?"
Kim Thi sia memang ingin berjalan-jalan keluar, mendengar itu segera sahutnya.
"Tentu boleh saja, aku segera berangkat"
Dengan riang gembira Kim Thi sia keluar penginapan dan membeli berapa macam hidangan, kemudian dengan riang gembira balik kembali kekamar.
Begitu melangkah masuk kedalam kamar segera teriaknya keras-keras.
"Saudara Lam, aku sudah membeli banyak hidangan, bila kau berminat akan kucarikan berapa kati arak"
Siapa tahu suasana dalam kamar tetap sepi dan sama sekali tak terdengar suara jawaban ia melangkah masuk kamar, namun kamar itu kosong dan tak nampak seorang manusiapun.
Kim Thi sia mengira Lam wi sedang pergi kekamar kecil, diapun menghidangkan sayur yang dibeli keatas meja, lalu menanti rekannya kembali.
Siapa tahu tunggu punya tunggu Lam wi tak nampak muncul kembali bahkan hingga malam menjelang tibapun bayangan tubuh Lam wi masih tak nampak muncul kembali.
Kim Thi sia mulai gelisah, pikirnya.
"Jangan-jangan ia sudah tertimpa musibah atau suatu kejadian yang tak diinginkan? Kalau tidak-mengapa kini belum muncul kembali?"
Sampai keesokan harinya, Lam wi belum juga nampak muncul kembali, dalam keadaan begini Kim Thi sia segera membereskan rekening kamarnya, dan berjalan menelusuri jalanan kota.
Entah berapa lama sudah dia berjalan menelusuri setiap sudut kota, ketika tengah hari menjelang tiba dan udara terasa panas, diapun memasuki sebuah rumah makan dan memesan berapa macam sayur.
Sementara dia masih bersantap.
mendadak dari meja samping terdengar seseorang berkata.
"Saudara sekalian jangan minum kelewat banyak. kalau sampai mabuk kau tak bisa bangun lagi. Kita bisa berabe, ingat malam nanti kita masih ada tugas penting."
"Lotoa, kau jangan ribut melulu"
Terdengar seorang yang lain berteriak.
"Bicara soal akal muslihat mungkin aku simacan kumbang bukan tandinganmu, tapi soal takaran minum arak, aku masih jauh lebih hebat ketimbang dirimu."
Ucapan tersebut segera didukung oleh beberapa orang rekan lainnya. Terdengar orang pertama tadi berkata lagi.
"Pangcu telah menginstruksikan kepada seluruh kantor cabang agar tingkatkan kewaspadaan, sebab bila urusan malam nanti sampai menemui kegagalan, maka perkumpulan kita tak bisa menancapkan kaki lagi didalam dunia persilatan-"
"Mengapa sih pangcu mesti bersikap tegang seperti ini?"
Teriak seorang yang lain tak puas.
"Toh dalam peristiwa beberapa hari berselang perkumpulan kita sama sekali tak dipecundangi musuh."
Seorang lagi berteriak.
"Lau hiocu, kau tak usah menempel emas diwajah sendiri, orangnya toh sudah ditolong musuh, apakah peristiwa semacam ini bukan suatu musibah buat kita?"
Kim Thi sia yang mencuri dengar pembicaraan tersebut segera merasakan semangatnya berkobar kembali, segera pikirnya.
"Bersusah payah aku melacak jejak mereka, akhirnya kuperoleh secara begini gampang."
Maka diapun segera memusatkan seluruh perhatian untuk mencuri dengar lebih jauh. Sementara itu Lau hiocu telah berkata lagi.
"Apa artinya orang tersebut ditolong mereka? Toh malam nanti sibocah perempuan tersebut tak akan lolos dari tangan kita. Apalagi dalam keadaan peristiwa kemarin dulu, banyak sekali jago-jago kenamaan dari dunia persilatan yang menderita kekalahan total serta melarikan diri terbirit-birit"
"Betul, perkumpulan cahaya emas yang pengaruhnya menyebar sampai lima propinsi diutara pun tak mampu berbuat banyak terhadap kita, buktinya thamcu naga harimau hidup, hidup, Sedang ciu tong kongcu untung berilmu tinggi dan cepat merasakan gelagat tidak menguntungkan sehingga bisa kabur secepatnya, yang lain nyatanya toh menjadi korban diujung golok kita."
Seorang yang lain segera menyambung pula.
"Sipukulan sakti tanpa bayangan juga bukan manusia yang luar biasa, apalagi putri kesayangannya itu benar-benar seorang gentong nasi yang tak berguna, kini tak berhasil ditemukan hampir saja nyawanya hilang ditangan pihak kita"
"Aku dengan pang cu telah beradu pukulan tiga kali dengan sipukulan sakti tanpa bayangan-Tidak ringan luka yang dideritanya"
Kata seseorang dengan nada kuatir.
"Bagaimana keadaannya sekarang?"
"Luka pangcu tidak seberapa hebat, hey kau jangan bicara sembarangan diluaran-Bisa merusak martabat ketua kita"
Tegur orang pertama tadi dengan suara lengking. Kemudian setelah berhenti sejenak ia berkata lagi.
"Yang hebat adalah murid si Malaikat pukulan, dialah yang berhasil menyelamatkan jiwa Yu Kiem"
"Huuuuuu, apanya yang hebat dnegan sipelajar bermata sakti itu? coba kalau jagoan kita cukup banyak jumlahnya, tak mungkin dia akan berhasil menyelamatkan perempuan tersebut."
"Tapi aku rasa yang paling hebat adalah Kim Thi sia, setelah terperangkap oleh alat jebakan kita, ia masih mampu melukai enam orang hiocu kita sebelum melarikan diri, menurut laporan dari pihak kantor cabang, konon dia belum pergi jauh, masih berada disekitar tempat ini."
Kim Thi sia yang mendengar pembicaraan tersebut, diam-diam menjadi kegelian-Mendadak terdengar suara kegaduhan dari ruang samping, lalu terdengar suara seorang asing berseru.
"Hey, rupanya kalian sedang mencari kenikmatan dengan bersembunyi disini, aku jadi repot semalaman-......."
"Song hiocu, Tan hiocu apakah terjadi suatu peristiwa besar dimarkas kita?"
Tanya orang yang pertama tadi dengan suara melengking.
"Aku sedang lapar nih, kita bersantap dulu sebelum berbicara"
Sahut orang itu lantang. Menyusul kemudian terdengar suara orang yang bersantap dengan rakusnya. Beberapa saat kemudian baru terdengar seseorang bertanya.
"Song hiocu, pertunjukan apakah yang sedang berlansung dimarkas besar kita? Tanganku sudah mulai gatal."
"Tak ada gunanya kau ikut keramaian dimarkas besar, bila tanganmu sudah gatal, lebih baik pulang kerumah sana untuk menggerayangi tubuh binimu"
"Hey si pipi licin, kau jangan menghina toayamu, kemarin dulu toaya mampu membunuh empat orang jagoan lihay dari perkumpulan cahaya emas"
"Bukan aku memandang rendah kalian, maksudku dimarkas besar kita telah dilengkapi dengan pelbagai alat jebakan yang sangat hebat, jangan lagi orang lain tak mampu menyusup masuk kedalam. Biar orang sendiripun tak berani berjalan sembarangan disana, lantas buat apa kita mesti bersusah payah untuk kesitu?"
"Hey toako, jangan sesumbar dulu kalau mau bicara"
Seru orang yang dipanggil Song hiocu dengan suara keras.
"Bukankah kemarin dulu kita sudah kehilangan muka?"
"Apakah sipukulan sakti tanpa bayangan telah muncul kembali?"
Terdengar orang yang bicara pertama tadi bertanya dengan suara melengking.
"Ehmmm........situa b angka itu memang tak mudah dihadapi, putranya sudah kita lukai. Aku lihat perselisihan ini tak akan berakhir dengan begitu saja. Bila kita bersua lagi dengan situa bangka tersebut dikemudian hari, kita semua harus bertindak lebih berhati-hati."
Song hiocu segera mendehem beberapa kali lalu katanya.
"Seandainya situa bangka itu yang datang lagi, kita tak akan kehilangan muka"
"Kalau bukan sipukulan sakti tanpa bayangan, siapa lagi yang memiliki keberanian serta kemampuan semacam itu?"
"Jangan-jangan sipelajar bermata sakti?"
"Jangan-jangan sembilan pedang dari dunia persilatan?"
Mendadak terdengar slorang asing itu berseru.
"Saudara sekalian, jangan menebak secara sembarangan"
"orang itu tentu Kim Thi sia"
Seru slorang pertama dengan suara melengking. Kim Thi sia yang menyadap pembicaraan tersebut hampir saja tertawa tergelak saking gelinya.
"Lotoa, dugaanmu sudah hampir benar."
Ujar Song hiocu.
"Jadi orang itu bukan Kim Thi sia?"
Agaknya sisuara lengking tak percaya kalau dugaannya meleset.
"Sesungguhnya orang itu bukan manusia yang punya nama didalam dunia persilatan-"
Song hiocu menerangkan agak kurang sabar.
"Song hiocu"
Sela si suara asing itu cepat.
"Darimana kau bisa tahu kalau sipendatang semalam bukan manusia yang punya nama?"
"Hmmm, kalau aku tidak tahu, memangnya kau tahu?"
Melihat terjadi percekcokan, buru-buru si suara melengking menukas.
"Tan hiocu, kalau toh kau sudah tahu, cepatlah katakan agar kita semua turun mengetahuinya ."
Tah hiocu mendehem berapa kali seperti hendak menjernihkan suaranya, lalu baru sahutnya.
"Baiklah, kita sebagai sesama saudara sendiri memang tak salahnya untuk bicara terang, cuma kalian jangan sembarangan bicara diluaran-"
"Tentu saja, tentu saja"
Sahut orang cepat-cepat. Tan hiocu segera berkata lebih jauh.
"orang yang datang semalam adalah sibocah keparat macam perempuan yang datang bersama Kim Thi sia tempo hari itu."
"Huuuh, rupanya siprajurit tak bernama itu"
Seru Song hiocu.
"song hiocu"
Seru Tan hiocu cepat.
"Kalau tak tahu jelas lebih baik jangan sembarangan bicara, darimana kau tahu kalau dia adalah seorang prajurit tak bernama?"
"Kalau bukan prajurit tak bernama mengapa aku tak kenal?"
"Song hiocu, tidak mengenal orang atau orang yang tak mengenal dirimu? Tahukah kau siapa orang tersebut?"
Melihat terjadi percekcokan lagi, sisuara lengking cepat-cepat mengalihkan pembicaraan, serunya.
"Mari, mari, mari kita keringkan secawan arak lebih dulu."
Setelah meneguk arak. suasanapun jauh lebih mereda, Tan hiocu pun melanjutkan kembali keterangannya.
"Lebih baik aku terangkan saja kepada kalian-"
Bicara sampai disini, diapun merendahkan suaranya. Untuk bisa mendengar lebih jelas terpaksa Kim Thi sia harus menempelkan telinganya diatas dinding. Terdengar Tan hiocu berkata lebih jauh.
"Semalam, entah dari mana datangnya bocah keparat tersebut ternyata ia berhasil menyusup kedalam markas besar kita serta melukai beberapa orang hiocu dengan jarum emasnya sebelum pergi dia meninggalkan sepucuk surat. Konon pangcu menjadi tak tenang sehabis membaca tulisan-"
"Eeeeeh, siapa yang mengetahui pula tentang cerita ini.......?"
Sela Song hiocu.
"Song hiocu"
Si suara lengking segera napsu.
"Lebih baik biar Tan hiocu menerangkan lebih jauh."
"Yaa, yaaa. Tan hiocu, lanjutkan ceritamu......"
Buru-buru semua orang berteriak. Melihat hal ini, Tan hiocu pun melanjutkan kembali kata-katanya, ia berkata.
"Ternyata bocah keparat itu adalah anak buah siraja langit berlengan delapan, dia datang dengan membawa kartu undangan dari siraja langit bertangan delapan-Apa isi surat tersebut tidak begitu kutahu, tapi aku tak tahu dnegan fakta bahwa pikiran dan perasaan pangcu menjadi sangat tak tenang"
Untuk berapa saat lamanya suasana menjadi hening, sepi dan tak kedengaran sedikit suarapun. Sampai lama kemudian-....... Si suara lengking baru berkata.
"dalam setengah bulan belakangan ini, Raja langit berlengan delapan sigembong iblis ini sudah banyak melakukan perbuatan yang menggemparkan dunia persilatan-Aku dengar anak buahnya yang disebut Lima naga satu burung hong sering kali melakukan keonaran dimana-mana, entah apa yang menjadi maksud dan tujuan mereka yang sesungguhnya?"
"Kalau begitu bocah keparat yang datang semalam adalah.......Lima naga burung hong tersebut?"
Ketika mengucapkan kata yang terakhir, kedengaran sekali nada suaranya menjadi kurang leluasa.
Waktu itu Kim Thi sia sudah lupa untuk bersantap.
apalagi saat ini, dia memasang telinga dengan lebih seksama lagi.
Terdengar Tan hiocu berkata lagi setelah termenung sebentar.
"Aku rasa bukan burung hong pasti seorang wanita, sedangkan lima naga sudah diundang sipedang kayu dari sembilan pedang dunia persilatan untuk menjadi tamu agung diistana pembesar Kanglam pada enam hari berselang."
"Kalau begitu, bocah keparat tersebut sudah pasti hasil penyaruan dari siburung hong"
Sela seseorang. Yang lain segera menyambung.
"Kalau begitu, manusia yang bernama Kim Thi sia benar-benar punya rejeki bagus."
Kim Thi sia merasa gusar sekali setelah mendengar pembicaraan mana, baru saja dia hendak berbuat sesuatu...... Mendadak terdengar seseorang berkata lagi.
"Bujiko, andaikata bocah keparat itu benar-benar hasil penyaruan dari siburung hong, kau bakal berebut rejeki dengan Kim Thi sia."
"IHuuuuuuh, apa sih hebatnya dengan Kim Thi sia?"
Dengan penuh kegusaran BU jiko berteriak.
"Sekalipun dia belajar silat sejak kecil, usianya tak akan lebih panjang dengan usia sianak jadah yang dikandung oleh perempuan busuk mu Lim Man huu."
"Hey, jangan memandang enteng kemampuan Kim Thi sia"
Seseorang segera berseru.
"Walaupun tenaga dalamnya kurang becus, namun orang lain tak akan sanggup untuk membunuhnya, apalagi memiliki pedang mestika yang amat tajam, ilmu pedang yang dipelajaripun luar biasa hebatnya. Bila kalian bertemu dengannya lain waktu, bersikaplah lebih berhati-hati."
"Hmmmm, Tan hiocu, baru berapa hari sih kau datang kemari?"
Seru Bu jiko dengan angkuhnya.
"Aku lihat kau seperti lebih memahami soal Kim Thi sia ketimbang aku? Ketika jiwa mulai bertarung melawan Kim Thi sia, mungkin kau masih ingusan waktu itu."
Kim Thi sia betul-betul naik pitam karena mendengar ucapan tersebut, dengan cepat dia melompat bangun...... Pada saat itulah, tiba-tiba dari ruang sebelah kembali terdengar seseorang berteriak keras.
"Apalagi yang bisa dibicarakan tentang Kim Thi sia? Bocah keparat itu sudah berhasil diringkus oleh orang-orang dari kantor cabang Tou kang....."
Tentu saja berita tersebut sangat mencengangkan hati Kim Thi sia.
"Bukankah ia duduk tenang ditempat tersebut, dari mana datangnya orang yang mengaku sebagai Kim Thi sia?"
"Benar-benar suatu peristiwa yang sangat aneh"
Demikian ia berpikir didalam hati. Sementara itu, suasana dlkamar sebelah menjadi sangat gempar, semua orang pada berteriak keras.
"Ku tocu, benarkah perkataanmu itu?"
"Memangnya buat apa kubohongi kalian?Jika kurang percaya, silahkan saja datang berkunjung kekantor cabang Tou kang. Aku yakin Ku Lay hong tidak pernah berbohong"
"Waaaah.......kalau begitu kita mesti kasih ucapan selamat buah Bu jiko......"
Teriak beberapa orang lainnya.
"Yaa betul"
Seseorang menimpali.
"Si burung hong tersebut tentu akan menjadi milikmu"
Kedengaran orang yang disebut Bu jiko itu tertawa tergelak penuh kegirangan sahutnya agak tersipu.
"Tak usah kuatir, pokoknya asal burung kong sudah terjatuh ketanganku dan sudah kucicipi, pasti kalian akan turut mencicipi pula."
Gelak tertawapun bergema kembali dengan ramainya.
dalam keadaan begini, Kim Thi sia enggan mendengarkan lebih lajut ia segera membereskan rekeningnya dan beranjak pergi dari situ dengan langkah cepat.
Waktu itu udara amat cerah, matahari bersinar dengan terangnya ditengah angkasa.
Dengan langkah lebar dia berjalan menelusuri jalan raya, kini Yu Kiem telah diselamatkan sipelajar bermata sakti, berarti diapun tak usah repot-repot untuk pergi menolongnya lagi.
Lam wi yang dikenal ternyata adalah siburung hong, anak buah Raja langit berlengan delapan-Padahal kelima naga mengadakan hubungan yang akrab dengan abang sepergurua sipedang kayu, ditinjau dari persoalan ini rasanya persoalan inipun tak akan mudah diselesaikan.
Disamping itu dia menguatirkan juga tentang orang yang mencatut namanya, apa yang menjadi maksud dan tujuan orang itu?
"Mengapa aku tidak pergi kesana untuk melihatnya sendiri?
Siapa tahu bakal ada keramaian disana?"
Ingatan tersebut melintas lewat didalam benaknya dengan cepat.
Berpikir begitu diapun menghembuskan napas panjang dan meneruskan perjalanan kedepan-Ketika berjalan hingga mendekati suatu tikungan, tiba-tiba dia melintas ditepi jalan berbaring seorang lelaki bertubuh pendek, ceking, berlutut lebar, mata besar, hidung mancung, telinga lebar seperti kipas dan sebuah mulut lebar dengan sebaris gigi tikus berwarna kuning kehitam-hitaman-......
Tampang muka seperti ini tidak asing lagi buat Kim Thi sia, sudah baran tentu ia segera mengenalinya dalam sekilas pandangan saja.
Dengan wajah agak tertegun, segera pikirnya.
"Sungguh aneh, ditengah siang hari bolong begini, mengapa situa bangka celaka itu berbaring ditepi jalan? Jangan-jangan dia telah mampus?"
Ia tahu, manusia tersebut paling susah dilayani, bahkan lebih sudah dilayani ketimbang dirinya, atau lebih tegasnya dia merasa rada takut dengannya.
Maka sambil mempercepat langkahnya dia bermaksud meninggalkan situa bangka celaka itu, si unta secepatnya.
Siapa tahu.......
Baru dua langkah dia berjalan, terdengar olehnya suara dengkuran si unta yang amat nyaring, agaknya ia sedang tertidur dengan nyenyaknya.
Kim Thi sia pernah menderita kerugian besar ditangan si unta ini, setelah tahu kalau lawannya belum mati, dia semakin sadar bahwa usahanya untuk meloloskan diri tak mungkin akan berhasil, daripada mencari penyakit buat diri sendiri, terpaksa dia menghentikan langkahnya sambil membalikkan badan.
Waktu itu, meskipun cahaya matahari yang bersinar diangkasa tak begitu terik.
namun udara panas sekali.
Anehnya siunta dapat tidur ditepi jalan dengan begitu nyenyaknya, seakan-akan sedang tidur diatas pembaringan yang empuk saja.
Pada saat Kim Thi sia menghentikan langkahnya itulah.....
Mendadak terdengar si unta mengingau.
"Jangan-jangan barang berharga yang hendak kubegal telah tiba?"
Kim Thi sia menjadi terkejut sekali setelah mendengar perkataan itu, diam-diam pikirnya.
"Situa bangka keparat ini benar-benar pikun, masa hendak membegal barang berharga milik orang lainpun dia bicarakan secara blak-blakan? Untung aku yang sedang dihadapi, andaikata orang lain, bukankah selembar jiwanya bakal melayang?"
Jilid 45 Dengan langkah lebar dia maju beberapa tindak kemuka, lalu serunya lantang.
"Hey tua b angka, kita telah berjumpa lagi"
Siapa tahu si unta sama sekali tidak menggubris, malahan suara dengkurannya makin lama semakin bertambah nyaring.
Mendongkol juga perasaan melihat lagak musuhnya, dengan gemas dia menginjak kaki si unta keras-keras, kemudian serunya.
"Hey si tua bangka, aku sedang menunggumu disini, mengapa kau tidak segera bangun untuk berbicara?"
Biarpun sudah diinjak kakinya keras-keras, namun si unta masih mendengkur dengan kerasnya.
Melihat lagak lawannya ini, habis sudah kesabaran, dia segera mengayunkan telapak tangannya dan siap melancarkan pukulan-Pada saat itulah si unta baru melompat bangun dan berteriak.
"Hey kunyuk kecil, mau apa kau kemari? Apakah ingin berebut dagangan dengan abangmu?"
Melihat dia sudah bangun, sambil menahan diri berkata.
"Hey tua bangka, aku menantimu bangun dari tidur untuk diajak berangkat bersama."
"Hey bocah keparat, siapa yang mengutusmu kemari untuk menungguku? Aku harus membunuhnya sekarang juga."
Tapi secara tiba-tiba dia menghentikan pembicaraannya kemudian berseru pelan-"Hey jangan berisik dulu, ada orang datang kemari"
Secara lamat-lamat pun mendengar suara derap kaki kuda yang bergema datang dari kejauhan sana.
dalam waktu singkat rombongan manusia berkuda itu sudah berada didepan mata.
Mendadak terdengar si unta berteriak lagi.
"Aduh celaka, aku salah melihat orang"
Dalam waktu singkat belasan ekor kuda jempolan itu sudah berada didepan mata, berada dalam keadaan begini tak sempat lagi buat kedua orang itu untuk melarikan diri. Si unta segera berteriak lagi.
"Kim Thi sia berada disini, kenapa kalian sukma-sukma gentayangan tidak segera turun dari kuda?"
Sebetulnya rombongan itu sudah hampir melintas lewat dari situ, tapi begitu mendengar teriakan dari si unta, separuh dari rombongan itu serentak menghentikan lari kudanya dan melompat turun dari kuda masing-masing.
Sebelum Kim Thi sia sempat melihat dengan cepat siapa gerangan yang datang, si unta telah berbisik.
"Hey bocah keparat, coba bantulah aku menahan serbuan mereka, kawanan cecunguk pencabut nyawa itu telah berdatangan semua."
Dengan cepat Kim Thi sia membalikkan tubuhnya, kini dihadapannya telah berdiri tujuh, delapan orang lelaki kekar berbaju hijau. Terdengar salah seorang diantara mereka berteriak keras.
"Kim Thi sia, kau hendak kabur kemana lagi?"
Sementara pembicaraan masih berlangsung, deruan angin pukulan telah dilontarkan ketubuh siunta serta Kim Thi sia. Buru-buru si unta berteriak lagi.
"Bocah keparat cepat kau sambut serangan itu."
Buru-buru Kim Thi sia mengeluarkan jurus "kecerdikan menyelimuti seluruh langit"
Dari ilmu Tay goan sinkang untuk menyambut datangnya ancaman musuh.
dalam waktu singkat pemuda itupun bertarung melawan tiga, empat orang musuhnya.
Ketika melihat pertarungan telah berlangsung, si unta segera membalikkan badan dan melarikan diri dari situ meninggalkan Kim Thi sia seorang yang masih bertempur.
Melihat itu, buruburu Kim Thi sia berteriak.
"Hey tua bangka celaka, kaujangan kabur dari sini"
Dari kejauhan sana kedengaran suara si unta menyahut.
"Hey bocah kunyuk, apalagi aku datang terlambat, barang berharga itu bisa diketahui orang lain, lebih baik kau bantulah aku untuk mengundang mereka sejenak."
Lari si unta memang amat cepat, sementara pembicaraan berlangsung, bayangan tubuh-sudah lenyap dari pandangan mata.
dalam keadaan begini mustahil buat Kim Thi sia untuk meloloskan diri dengan begitu saja.
Melihat si unta kabur meninggalkan taman tersebut dia cuma bisa menggertak gigi menahan diri.
Sesungguhnya sianak muda itupun tidak berminat untuk melanjutkan pertarungan-Akan tetapi ketiga, empat orang musuhnya ternyata bukan manusia sembarangan, untuk berapa saat lamanya Kim Thi sia dipaksa sampai kalang kabut dan terdesak dalamposisi yang amat berbahaya.
Betapapun mendongkol dan gelisahnya Kim Thi sia ketika itu, semua perasaannya tak mampu terlampiaskan keluar, saking gelisahnya dia seperti seekor semut yang kepanasan diatas kuali panas, tidak tahu apa yang harus diperbuatnya.
Mendadak terdengar salah seorang penunggang kuda itu berteriak dengan suara keras.
"hiocu sekalian, tak usah menunda waktu gara-gara bocah keparat itu lagi, ayoh kita harus berangkat secepatnya"
"Tapi orang yang mengaku sebagai Kim Thi sia ini harus dibekuk sekalian-....."
Sahut seseorang lantang. Secara beruntun Kim Thi sia melepaskan dua buah serangan dahsyat dengan jurus "mati hidup ditangan takdir"
Serta "kelincahan menguasahi empat samudra", kontan saja ketiga orang musuhnya berhasil didesak mundur.
Begitu melihat ada kesempatan yang sangat baik didepan mata, Kim Thi sia segera manfaatkan dengan sebaik-baiknya, dia membalikkan badan kemudian kabur dari situ menuju kearah mana si unta pergi tadi.
Biarpun baru pertama kali ini dia mengambil sikap untuk melarikan diri dari suatu pertarungan, akan tetapi dalam keadaan begini Kim Thi sia tak ingin berpikir panjang lagi.
Sayang sekali walaupun Kim Thi sia dapat lari dengan cepat, para pengejarnya bukan manusiamanusia kemarin sore yang tak mampu berlari cepat, dalam sekejap mata ada delapan orang lelaki kekar berbaju hijau yang membuntuti dari belakangnya secara ketat.
Sudah sekian lama Kim Thi sia mencoba kabur selekasnya, tapi ia tak pernah berhasil melepaskan diri dari kejaran mereka.
Pada saat itulah dia sampai disuatu tebing yang tinggi, dengan dasar ilmu meringankan tubuh yang tak seberapa Kim Thi sia tak berani melompat kebawah, akibatnya sementara dia masih ragu-ragu.
Kedelapan orang pengejarnya telah mengepung datang dari empat penjuru.
Empat gulung tenaga pukulan yang maha dahsyat langsung dilontarkan kearah pemuda itu.
dalam gugup dan kalutnya buru-buru Kim Thi sia mengeluarkan ilmu ciat khi mi khi sinkangnya untuk menahan serangan, sementara sepasang tangannya diayunkan kemuka menyambut serangan musuh dengan jurus "Kelincahan menguasahi empat samudra"
"Blaaaaammmm......."
Ditengah getaran keras yang diselingi empat, lima kali benturan nyaring, tampak air dan debu beterbangan diangkasa, tahu-tahu tubuh Kim Thi sia sudah terpental sejauh lima kaki lebih danjatuh terjungkal keatas tanah.
Saat itulah seorang lelaki berbaju hijau mengangkat tinggi-tinggi sebuah tanda perintahnya seraya berteriak keras.
"Tanda perintah Tay sang leng hu berada disini, kuperintahkan kailan segera berangkat barang siapa berani melanggar perintah ini segera dijatuhi hukuman sesuai dengan peraturan perkumpulan-"
"Turut perintah"
Sahut kedelapan orang lelaki berbaju hijau itu serentak. Sebelum berangkat meninggalkan tempat tersebut, terdengar kawanan jago itu melirik sekejap kearah Kim Thi sia dan berseru.
"Ternyata orang ini cuma gadungan, Kim Thi sia terkenal sebagai manusia yang paling sukar dilayani dalam dunia persilatan, mana mungkin dia akan melarikan diri dari pertarungan?"
"Ucapan Tan hiocu memang benar, orang ini pasti gadungan-Ayoh kita teruskan perjalanan"
Sambung yang lain-Tak lama kemudian suasana disekeliling tempat itupun pulih kembali.
dalam keheningan, diatas pasir yang gersang tinggal Kim Thi sia seorang masih terkapar disitu, sekalipun dia anggap sebagai gadungan, namun jiwanya berhasil diselamatkan dari lubang jarum.
Waktu itu senja telah menjelang tiba.
Tiba-tiba dari arah jalan raya sana muncul seorang perempuan-Ketika perempuan itu melihat ada orang terkapar ditepi jalan, ia segera mendekati sambil memeriksa keadaannya, Tapi tiba-tiba saja ia berteriak kaget.
"Bocah, kenapa bisa kau?"
Sambil berseru dia memeriksa keadaan Kim Thi sia dengan lebih seksama lagi, sewaktu tak berhasil ditemukan tanda luka, dengan perasaan lebih lega dia bergumam.
"Rupanya cuma jatuh tak sadarkan diri."
Setelah itu ia bergumam lagi.
"Disini tak ada air, bagaimana caraku untuk menyadarkan dia.......tapi menolong orang paling penting, terpaksa aku harus bertindak menurut keadaan-"
Bicara sampai disitu dia memandang sekejap sekeliling tempat itu, setelah yakin disana tak ada orang, perempuan tadi segera melepaskan celananya dan berjongkok diatas kepala Kim Thi sia.
Tak lama kemudian pancaran air kencingnya telah menyirami seluruh tubuh Kim Thi sia hingga basah kunyup, dalam suasana beginilah pelan-pelan Kim Thi sia tersadar kembali dari pingsannya, dia mencoba memperhatikan sekejap sekitar situ.
Tubuhnya masih berbaring diatas pasir, tapi lima kaki disisinya telah bertambah dengan seorang perempuan-Perempuan itu sangat dikenal olehnya, begitu bersua dengannya, Kim Thi sia segera melompat bangun seraya berteriak keras.
"Lin lin, Lin lin........"
Dengan air mata bercucuran, perempuan itu berseru pula.
"Engkoh Thi sia, aku telah mencarimu dengan bersusah payah."
Kim Thi sia segera memeluk tubuh Lin lin dalam rang kulannya, menciumi pipi dan bibirnya, lalu berbisik.
"Kau semakin kurus."
"Kau pun bertambah kurus"
Sahut Lin lin penuh rasa cinta. Mendengar itu Kim Thi sia segera tertawa terbahak-bahak.
"Haaaah.....haaaah......haaaaah......hampir setiap hari aku berkelahi dengan orang bagaimana mungkin tubuhku tidak bertambah kurus?"
"Engkoh Thi sia, mengapa sih setiap hari kau mesti berkelahi?"
"Hmmm kawanan telur busuk itu selalu mencari gara-gara denganku"
Baca Juga: Tiga Maha Besar 5
Baca Juga: Legenda Bunga Persik 2