Eps 12 Lembah Nirmala - Khu Lung
Baca online Lembah Nirmala - Khu Lung
Cersil Lembah Nirmala - Khu Lung.
Sahut Kim Thi sia menahan rasa dongkol.
"Engkoh Thi sia, bukankah ilmu silatmu sangat hebat, masa masih ada orang yang berani mencari gara-gara denganmu?"
"Sekalipun memiliki ilmu silat bukan berarti bisa menjamin keselamatan hidup sendiri. Hal ini masih tergantung pada sikap serta watak orang tersebut. Apakah cukup jujur dan terbuka atau tidak-seperti misalnya kesembilan orang abang seperguruanku itu, bukankah nama besar mereka tersohor diseantero jagad, bukankah ilmu silat mereka sangat hebat dan luar biasa? Tapi nyatanya dari sembilan orang ada lima orang diantaranya telah mampus secara konyol. Apakah hal ini bukan merupakan contoh yang jelas sekali?"
Lin lin segera menghela napas sedih.
"Aaaah, rupanya begitu, aku masih menganggap hanya kaum wanita seperti kami saja yang sering dianiaya orang."
"dalam persoalan ini tak ada bedanya antara pria dan wanita, semuanya sama saja. seperti perempuan yang bernama Dewi Nirmala, lelaki seperti mana yang tidak menaruh tiga bagian rasa takut kepadanya?"
"Apakah kaupun takut dengan Dewi Nirmala?"
Tanya Lin lin penuh rasa kuatir.
"Siapa bilang aku takut kepadanya, aku sempat bertarung sebanyak dua kali melawan dia. Dia tak bisa berbuat apa-apa denganku, bahkan sekarang dia sedang mencari-cari jejakku"
"Dia toh seorang wanita, buat apa mencari dirimu? Hmmm, kalian orang lelaki memang tak ada yang baik"
Seru Lin lin tak senang hati, nada suaranya jelas mengandung nada cemburu.
cepat-cepat Kim Thi sia memeluk pinggangnya erat-erat dan berseru memberi penjelasan-"Adik Lin lin, mengapa kau memaki diriku juga?
Dewi Nirmala mencari diriku karena alasan yang lain-"
Lin lin berusaha meronta namun usahanya tak pernah berhasil, terpaksa katanya sengit.
"Hmm, kalau seorang wanita mencari seorang lelaki, alasan apa lagi yang digunakan?"
"Tapi adik Lin.....kau jangan salah paham"
Kim Thi sia merasa sangat gelisah. Melihat pemuda itu panik, Lin lin segera berkata serius.
"Pokoknya jika kau tidak mengaku sendiri, jangan salahkan bila aku tak akan menggubris dirimu lagi."
Selesai berkata dia segera melengos kearah lain.
"Adik Lin, kau memang keterlaluan, Dewi Nirmala mencari aku karena dia sedang mengincar ilmu silatku"
Tapi Lin lin tetap tak percaya, serunya dingin.
"Bukankah ilmu silatmu tak mampu mengungguli dirinya, buat apa dia mengincar ilmu silatmu itu? Sudahlah, kau tak perlu membohongi aku dengan kata-kata yang manis, sekalipun aku tak mengerti ilmu silat, kalau teori semacam itu mah cukup kupahami"
Kim Thi sia memang seorang pemuda yang tak pandai berbicara, apalagi dalam keadaan panik begini, dia semakin kebingungan dan tak tahu apa yang mesti diperbuatnya.
Lama kelamaan watak kerbaunya segera kambuh kembali, dengan suara lantang dia segera berteriak.
"Adik Lin, aku tak akan berbicara lagi denganmu, pokoknya aku berbuat demikian demi dirimu. Aku bersedia angkat sumpah."
Sambil bicara ia segera berlutut diatas tanah dan bersumpah dengan suara nyaring.
"Demi Thian diatas langit, Kim Thi sia bersumpah tak punya hubungan apa-apa dengan perempuan yang bernama Dewi Nirmala. Biar aku berbohong biar guntur menyambarku sehingga aku mati secara mengenaskan"
Menyaksikan keseriusan Kim Thi sia disaat mengangkat sumpahnya, dari marah Lin lin menjadi kegirangan setengah mati.
Tidak menunggu sampai Kim Thi sia bangkit berdiri seperti seekor burung yang pulang sarang dia segera menubruk kedalam pelukannya.
Dipeluk oleh gadis pujaan hatinya secara hangat dan begitu mesrah, kontan saja semua kesalahan dan kemasgulan yang dialami Kim Thi sia selama berapa hari ini tersapu lenyap hingga tak berbekas.
Lin lin sendiri pun harus bersusah payah selama belasan hari lamanya sebelum berhasil menemukan kembali jejak kekasih hatinya, dalam gembiranya yang meluap-luap tanpa terasa air matanya jatuh bercucuran.
Kim Thi sia benar-benar mencintai Lin lin, melihat gadis itu menangis, ia segera menjilati air matanya hingga mengering.
Rasa asin yang bercampur aduk mendatangkan suatu perasaan yang aneh dalam hati kecilnya.
Lin lin merasa kegelisahan setengah mati, dia menggeliat kian mesrah dalam pelukan pemuda tersebut.
Akibatnya Kim Thi sia merasa amat terangsang, dia segera memeluk tubuh Lin lin semakin kencang lagi membuat gadis tersebut hampir saja tak dapat bernapas.
Sampai lama kemudian-......
Dengan napas tersengkal-sengkal, Lin lin berbisik.
"Engkoh Thi sia, aku benar-benar tak tahan."
Tentu saja Kim Thi sia enggan melepaskan gadis tersebut dengan begitu saja, dia tetap memeluknya dengan amat kencang. Akhirnya Lin lin berbisik dengan napas terengah-engah.
"Engkoh sayang, hari sudah hampir gelap. lepaskanlah aku dari pelukanmu. Toh waktu dikemudian hari masih panjang, buat apa kau mesti tergesa-gesa dalam keadaan begitu?"
Mendengar perkataan tersebut, bagaikan baru sadar dari impian dengan sepasang mata merah membara Kim Thi sia mengawasi wajah Lin lin tanpa berkedip. Kembali Lin lin berkata dengan suara lembut.
"Engkoh yang baik, ampunilah aku dikemudian hari aku pasti menuruti semua permintaanmu, tapi jangan sekarang......."
Kim Thi sia segera memeluk tubuh sinona dan mengecup bibirnya dengan mesra h setelah itu katanya.
"Adikku sayang, kau sendiri yang berjanji begitu, lain kali jangan sangkal lagi yaa......"
"Koko, aku tak akan ingkar janji......"
Setelah peroleh janji dari gadis tersebut, Kim Thi sia baru melepaskan pelukannya dan mengajak Lin lin meneruskan perjalanan menelusuri jalan raya.
Setelah menempuh perjalanan sekian lama akhirnya sampailah kedua orang itu ditepi sebuah dermaga, kebetulan disana terdapat sebuah perahu yang siap berlayar.
Melihat itu, dari kejauhan Kim Thi sia telah berteriak keras.
"Eeeeeh, tunggu sebentar, aku mau menumpang perahu kalian"
Sambil membopong tubuh Lin lin, dia segera berlarian dan melompat naik keatas perahu.
Tentu saja kejadian tersebut sangat menggemparkan semua orang, tak heran kalau orangorang yang berada diatas perahu sama-sama mengawasi gerak gerik mereka dengan pandangan terkejut.
Sampai Kim Thi sia melotot kearah mereka, orang-orang itu baru melengos kearah lain dan tak berani banyak mencari urusan-Tali pengikat perahu telah dilepaskan tukang perahu sudah mulai menggerakkan bambu galanya untuk mendorong perahu menuju ketengah sungai.
Tiba-tiba......
Saat itulah terdengar seseorang berteriak keras dari tepi pantai.
"Tukang perahu, tunggu sebentar, lolap juga ingin menumpang perahu kalian-"
Teriakan orang itu amat nyaring bagaikan suara genta, suaranya jauh lebih hebat dari pada teriakan Kim Thi sia tadi.
Semua penumpang perahu segera berpaling kearah mana berasalnya suara teriakan itu, tampak diatas daratan lebih kurang sepuluh kaki dari dermaga tampak sepasang pendeta sedang berlarian mendekat dengan langkah tergesa-gesa.
Kim Thi sia menjadi agak tertegun, pikirnya.
"Besar amat lagak Hwesio itu....."
Belum habis ingatan tersebut melintas lewat, langka h perjalanan pendeta itu tampak semakin bertambah cepat lagi, dalam waktu singkat mereka telah tiba ditepi pantai.
Ternyata mereka adalah seorang pendeta setengah umur dan seorang pendeta muda.
Yang setengah umur berusia antara tiga puluh tahunan, tubuhnya tinggi besar dan mengerikan sekali, kepalanya amat besar dengan pinggang yang amat kasar dan gemuk.
Pada batok kepalanya yang gundul licin tertera sembilan buah bekas cap yang dalam, mukanya bulat gemuk dandanannya seperti sebuah patung dalam kuil saja.
Sebaliknya Hwesio yang seorang lagi justru mempunyai dandanan yang bertolak belakang.
Kalau ditinjau dari usianya mungkin dia baru berumur dua puluh tahunan, bertubuh kecil, ramping dengan hidung yang mancung dan bibir yang kecil, terutama sekali sepasang matanya nampak amat jeli dan bening.
Bila kedua orang itu berjalan bersama, maka dapat dibilang yang satu gemuk yang lain ceking, satu tampan, dua perbedaan yang menyolok sekali.
Saat itu mereka berdua telah tiba ditepi pantai, jaraknya dengan perahu tinggal satu kaki lagi.
Mendadak......
Diiringi desingan angin tajam, tahu-tahu sepasang pendeta itu sudah berlompatan naik diatas perahu, langkah tubuhnya ringan bagaikan daun kering, ternyata perahu kecil itu sama sekali tidak bergerak sedikitpun.
Agaknya semua penumpang perahu tahu kalau ditempat itu banyak terdapa tjagoan lihay, tak seorangpun diantara mereka yang banyak komentar atau memperhatikan dengan seksama.
Hanya Kim Thi sia dan Lin lin saja yang memandang berapa kejap terhadap dua orang Hwesio tersebut.
Dengan cepat Lin lin menundukkan kepalanya rendah-rendah dengan wajah merah padam, ia tak berani memandang kedua orang Hwesio itu lagi.
Kim Thi sia yang seksama segera menyaksikan bagaimana si Hwesio gemuk itu dengan sepasang mata bajingannya sedang mengawasi tubuh Lin lin dari atas hingga kebawah, tanpa terasa lagi dia mendengus dingin dan semakin memperhatikan gerak gerik mereka.
Setelah mengambil tempat duduk.
tiba-tiba Hwesio tampan itu berkata kepada sHwesio gemuk.
"Suheng, kenapa perahu inipun ada tikusnya?"
Agaknya untuk berapa saat si Hwesio gemuk itu tidak memahami apa yang dimaksud. ia nampak agak tertegun sejenak setelah mendengar perkataan itu, kemudian sambil tersenyum katanya.
"Sute, mengapa kau selalu gemar bergurau, perahu ini tidak terbang melayang tidak pula menginjak daratan, darimana bisa muncul tikus? Sebetulnya kau telah melihat dimana?"
Dengan pandangan ngeri Hwesio tampan itu melotot sekejap kearah Kim Thi sia, lalu sengaja berteriak keras.
"Suheng, bukankah yang berjongkok disitu adalah seekor tikus?"
Hwesio gemuk itu mengira rekannya maksudkan Lin lin, merasa rahasia hatinya sudah terbongkar, diapun berseru.
"Sute, mana mungkin tikus itu berani berjongkok untuk dipertonton orang lain?"
Bicara sampai disitu dia segera membisikkan sesuatu disisi telinga rekannya membuat Hwesio tampan tadi tertawa terkekeh-kekeh, nampaknya perkataan tersebut telah membangkitkan rasa gelinya.
Saat itulah........
Kebetulan Hwesio gemuk itu melotot kembali kearah Kim Thi sia, ketika dilihatnya pemuda tersebut sedang mengawasi si Hwesio tampan tanpa berkedip.
dia segera mendelik dan dengan wajah berubah hebat bentaknya.
"Anjing budukan, jika kau berani sembarangan melotot lagi, jangan salahkan bila kukorek keluar sepasang mata anjingmu itu"
Tentu saja Kim Thi sia menjadi panas hatinya setelah mendengar ucapan mana, baru saja dia akan mengumbar hawa amarahnya, Lin lin telah menghalangi niatnya itu dengan cepat.
Terdengar Lin lin berseru sambil tertawa.
"Koko, coba lihatlah betapa indahnya bianglala senja......"
Kim Thi sia mengetahui maksud tujuan gadis tersebut mendengar perkataan mana terpaksa ia harus menahan rasa gusarnya dan melengos kearah yang lain-Terdengar Hwesio tampan itu berkata lagi.
"Waaah......tikusnya sudah kabur, suheng Tikus manakah dikolong langit ini yang tidak takut dengan manusia?"
Bicara sampai disitu ia segera tertawa, wajahnya kelihatan sangat bangga.
Kim Thi sia tetap berpura-pura tidak mendengar, ia sama sekali tidak menggubris ajakan lawan-Tak lama kemudian....
Ketika secara kebetulan Lin lin berpaling tiba-tiba saja dia menyaksikan dibalik jubah pendeta si Hwesio tampan yang agak tersingkap.
lamat-lamat dia melihat ujung gaun berwarna merah yang berkibar terhembus angin.
Sebagai seorang wanita sudah barang tentu Lin lin mengetahui apa arti dari ksemuanya itu, dengan cepat diapun mengetahu bahwa si Hwesio gemuk tampan tersebut merupakan hasil penyaruan dari seorang wanita.
Buru-buru bisiknya kepada Kim Thi sia.
"Koko, sipendeta kecil itu hanya pendeta gadungan"
Baru selesai ucapan dari Lin lin, terdengar si Hwesio gemuk dan Hwesio tampan itu sudah tertawa dingin tiada hentinya, jelas perkataannya itu sempat terdengar juga oleh kedua orang tersebut.
Dengan angkuh Kim Thi sia berpaling, ia saksikan Hwesio tampan itu menundukkan kepalanya dengan cepat.
Sepasang pipinya berubah menjadi merah padam, jelas ia merasa sangat malu hingga keadaannya nampak mengenaskan sekali.
Sebaliknya si Hwesio gemuk itu melotot bulat-bulat seperti mata kerbau saja, dengan cahaya merah berapi dia mengawasi lawannya tanpa berkedip.
sepasang giginya saling beradu gemerutukan-Kim Thi sia menjadi sangat kegelian sekali, tak kuasa lagi serunya sambil tertawa.
"Adik Lin, sebetulnya tikus yang takut manusia, atau manusia yang takut tikus?"
Lin lin melotot sengit, dia menyalahkan pemuda kekasihnya yang banyak bicara.
Tapi Kim Thi sia tak ambil perduli, sekali lagi dia tertawa angkuh.
Tak lama kemudian-......
Perahu sudah merapat didaratan, para penumpangpun beruntun turun kedarat, agaknya kedua orang Hwesio itu sengaja berjalan dipaling belakang.
Mereka menunggu sampai Kim Thi sia yang membimbing Lin lin melangkah naik kepapan penyebrangan lebih dulu sebelum mereka berdua membuntuti dari belakang.
Dasar kaum wanita berhati kecil, Lin lin melewati papan penyebrang tersebut menuju kedaratan.
Kim Thi sia sendiripun takut sinona kekasih hatinya tercebur kedalam air, dengan berhati-hati sekali dia membimbingnya melewati papan penyeberangan itu.
Dengan susah payah akhirnya Kim Thi sia berhasil membimbing Lin lin mencapai setengah jalan-Pada saat itulah tiba-tiba Hwesio gemuk yang berjalan dibelakangnya melepaskan sebuah pukulan dengan jurus "naga sakti muncul dilaut"
Sodokan tangan kanannya langsung menghajar telak diatas punggung Kim Thi sia.
dalam keadaan tak bersiap sedia, sama sekali mustahil bagi Kim Thi sia untuk menghindarkan diri.
Tak ampun lagi dia bersama Lin lin segera terjungkal dari atas papan penyeberangan dan tercebur kedalam air.
Melihat serangannya berhasil dengan baik Hwesio gemuk itu segera menarik tangan Hwesio tampan dan melarikan diri dari situ.
Masih untung tempat dimana Kim Thi sia dan Lin lin tercebur masih berada didekat pantai, dan lagi pula air sungai itu tidak begitu terlalu dalam dengan cepat pemuda itu telah menarik Lin lin dan mengajaknya naik keatas daratan-Lin lin mengira pemuda tersebut berjalan kurang berhati-hati hingga terpeleset jatuh kesungai, dengan penuh rasa kuatir ia bertanya.
"Koko, apakah kau terluka?"
"Tidak-aku tak apa-apa, bagaimana dengan keadaanmu sendiri?"
"Aku hanya merasa sepasang kakiku rada sakit"
Dengan gemas Kim Thi sia berseru.
"Aku harus membunuh kedua orang itu serta mencincang tubuhnya hingga hancur berkepingkeping ."
"Koko, siapa yang hendak kau bunuh?"
Tanya Lin lin dengan wajah tak habis mengerti.
"Siapa lagi kalau bukan sepasang pendeta bajingan itu"
Peristiwa tersebut dengan cepat menarik perhatian banyak orang, hampir semua mata tertuju pada kedua orang muda mudi yang basah kuyup itu.
Setibanya diatas daratan, Kim Thi sia mencoba mencari jejak kedua orang Hwesio tadi namun tak terlihat lagi, dalam keadaan basah kuyup terpaksa kedua orang itu beranjak pergi dari situ dengan langkah tergesa-gesa.
Setibanya dalam rumah penginapan, Kim Thi sia dan Lin lin bertukar pakaian sambil merubah dandanan mereka, sewaktu muncul kembali mereka berdua telah berubah seolah-olah dua manusia yang berbeda.
Karena lapar mereka berduapun memasuki sebuah rumah makan yang memakai merek "Bian kang cu lo", suasana disitu amat ramai.
Baru naik keatas loteng, Kim Thi sia telah melihat bahwa kedua orang pendeta tadi berada pula disitu waktu itu mereka sedang bersantap dengan lahapnya, bukan saja hidangannya masakan berjiwa, lagipula minum arak.
Tanpa mengucapkan sepatah katapun Kim Thi sia mencari tempat duduk yang bersebelahan dengan mereka.
Kebetulan si Hwesio gemuk itu mendongakkan kepalanya, ketika melihat Kim Thi sia serta Lin lin duduk disamping mereka, ia nampak tertegun dan berpikir.
"Heran, mengapa seranganku tadi tak berhasil membunuh bocah keparat itu? Hmm, kini mereka datang mengantarkan diri lagi, betul-betul jalan kesurga tak ditempuh. Jalan keneraka justru dipilih jangan salahkan kalau aku akan bertindak kejam nanti."
Dalam gembiranya ia segera meneguk habis tiga cawan arak sekaligus.
Mungkin karena terpengaruh oleh arak^ ternyata pendeta gemuk itu tak sempat berpikir apa sebabnya serangan yang biasanya berhasil menghancurkan isi perut orang lain, kini tidak membaringkan hasil yang baik bagi pemuda lawannya.
Begitulah, tak sampai setengah jam kemudian Kim Thi sia pun sudah selesai bersantap.
Lin lin meski merasakan ketegangan suasana disekitar sana, namun dia tak tahu apa yang bakal terjadi selanjutnya, oleh sebab itu dia cuma mengikuti perubahan situasi dengan tenang.
Mendadak.......
Ketika si Hwesio gemuk itu sedang bersantap dengan lahapnya, ia mendengus tertahan secara tiba-tiba.
Rupanya dia merasa mulutnya dijejali dengan sebuah benda yang empuk, berminyak dan panas sekali rasanya.
Saking banyaknya benda itu menyumbat mulutnya, untuk sesaat dia tak mampu untuk mengeluarkannya sekaligus, akibatnya keadaan Hwesio itu menjadi lucu sekali.
Dia harus mengeluh sambil repot mengorek keluar benda tadi dari mulutnya.
Setelah berusaha sampai lama sekali, benda-benda itu baru dapat terkorek keluar semua.
Kim Thi sia yang melihat kejadian itu kontan saja mengejek sambil tertawa.
"Haaaah.....haaaah.....haaaaah.....inilah yang disebut daging terbang memberi makan tikus"
Tak terlukiskan rasa gusar sipendeta gemuk itu, darah panasnya serasa mendidih, tanpa banyak bicara lagi dia melompat bangun dari tempat duduknya dan langsung menerjang kearah Kim Thi sia.
Sepasang telapak tangan raksasanya dengan menggunakan jurus "jenderal langit memberi cap"
Secepat samba ran petir langsung dihantamkan keatas batok kepala lawan-Waktu itu, Kim Thi sia sendiripun telah mempersiapkan diri sebaik-baiknya, dengan jurus "kedamaian menenangkan sembilan langit"
Dari ilmu Tay goan sinkang, ia sambut datangnya serangan lawan-Agaknya Hwesio gemuk itu tak mengira akan kelihayan musuhnya, begitu sepasang tangan saling beradu sama lainnya, kontan saja tubuhnya yang gemuk besar terpental mundur sejauh lima langkah dan tidak mampu lagi berdiri dengan tegak.
sesudah terhuyung sesaat akhirnya ia jatuh terduduk diatas tanah membuat mangkuk dan cawan bertumpahan diatas tanah.
Untung saja si Hwesio tampan itu tak bersikap lebih cekatan, dengan cepat dia membangunkan rekannya, dan kepada Kim Thi sia serunya lengking.
"Tempat ini kelewat sempit, kalau berani mari kita berbicara diluar saja"
Agaknya Kim Thi sia sudah mempunyai perhitungan yang matang, tanpa mengucapkan sepatah katapun dia menuntun Lin lin dan diajak beranjak meninggalkan tempat itu.
Setelah turun dari loteng rumah makan, kedua orang Hwesio itu segera mempercepat langkahnya mengejar Kim Thi sia berdua.
Mendadak Kim Thi sia membentak.
"Keledai gundul, kalau berani kita berbicara diluar kota saja"
"Binatang kecil, tunggu saja sampai tanggal mainnya, akan kusuruh kau rasakan kelihayan"
Sahut Hwesio gemuk itu sambil menahan rasa geramnya.
Tak lama kemudian sampailah mereka berempat disebuah tempat yang sepi dan jauh dari keramaian manusia.
Melihat disekitar tempat itu tak ada orang lagi, Hwesio gemuk itu segera mendengus dan maju kedepan menghantam tubuh Kim Thi sia.
Waktu itu Kim Thi sia takut Hwesio gemuk itu melukai Lin lin, dia tidak sempat lagi untuk menghindarkan diri, dengan mengerahkan ilmu ciat khi mi khinya ia siap menerima serangan tersebut dengan kekerasan-Tentu saja Hwesio gemuk itu tak mengira kalau kepandaian yang paling diandalkan Kim Thi sia adalah ilmu ciat khi mi khi.
Begitu serangannya yang gencar menghajar telak diatas bahu Kim Thi sia, tiba-tiba saja dia merasa seperti menghantam sebuah kapas saja, semua tenaganya seakan-akan lenyap dengan begitu saja.
Bukan hanya begitu, saking besarnya tenaga yang dipergunakan, ia tak sanggup lagi untuk menahan diri, badannya langsung menyerunduk kearah Hwesio tampan itu.
cepat-cepat si Hwesio tampan memegangi tubuhnya sambil berbisik.
"Suheng hati-hatilah, tikus itu cukup tangguh"
Tampaknya Hwesio tampan itu jauh lebih teliti, dalam sekilas pandangan saja ia sudah mengetahui kalau kepandaian silat yang dimiliki Kim Thi sia cukup tangguh itulah sebabnya dia memperingatkan rekannya agar bertindak lebih hati-hati.
Setelah berhasil berdiri tegak, dari malunya Hwesio gemuk itu menjadi naik darah, sambil memutar senjata sekopnya ia segera membentak.
"Bocah keparat, hendak kabur kemana kau?"
Dengan menggunakan jurus serangan tertangguh "naga marah menggulung samudra"
Dia melepaskan sebuah sapuan maut kedepan.
dalam waktu singkat angin pukulan yang menderu-deru seperti amukan topan menyambar kian kemari dan mengepung seluruh arena.
Kim Thi sia sama sekali tidak menjadi gugup ataupun gelagapan, pedang Leng gwat kiamnya telah dipersiapkan sejak tadi, dengan jurus "batu merekah bukit membelah"
Dari ilmu pedang Panca Buddha, ia sambut datangnya serangan lawan-"Traaaaaaanggg......."
Ditengah dentingan nyaring yang menimbulkan percika n bunga api, tahu-tahu senjata sekop ditangan Hwesio gemuk itu sudah berubah lebih pendek separuh bagian-Kontan saja kejadian mana membangkitkan hawa amarahnya, sambil menggertak gigi dia berkaok-kaok marah, caci maki yang kotorpun berserakkan keluar dari balik mulutnya.
Melihat serangannya yang pertama mendatangkan hasil, dengan cepat Kim Thi sia mengeluarkan jurus "guntur menggelegar angin menderu"
Untuk melancarkan serangan berikut.
Sementara itu si Hwesio tampan telah meloloskan senjata kebutannya begitu melihat senjata rekannya terpapas kutung oleh senjata lawan, bulu-bulu senjata kebutannya yang menyebar luas bagaikan bidadari menyebar bunga, dalam waktu singkat tampak percikan cahaya keperakperakan menyebar kemana-mana dan menggulung pedang Leng gwat kiam tersebut.
Melihat si Hwesio tampan telah turun tangan menghadang Kim Thi sia, si Hwesio gemuk itu segera tertawa dingin, dari sakunya dia mengeluarkan tiga batang jarum sin lo teng dan segera diayunkan kedepan seraya membentak keras.
"Kena"
Tiga cahaya bintang dalam posisi segi tiga langsung menyambar ketubuh Kim Thi sia serta Lin lin.
ujung jarum sin lo teng itu amat tajam lagipula beracun amat ganas, begitu mencium darah, darah itu segera akan bekerja dan menewaskan korbannya, boleh dibilang senjata tersebut merupakan senjata andalan Hwesio gemuk itu.
Sebagaimana diketahui, Kim Thi sia paling tak becus dalam soal senjata rahasia, melihat datangnya ancaman tersebut, tergopoh-gopoh dia melejit keudara untuk menghindarkan diri.
Tapi saat itulah mendadak.......
"Aduuuuh"
Lin lin menjerit kesakitan lalu tubuhnya roboh terjungkal keatas tanah.
Kim Thi sia menjadi terkejut sekali, cepat-cepat dia mengeluarkan dua jurus serangan berantai untuk mendesak mundur sepasang pendeta itu.
Dengan manfaatkan kesempatan yang ada Kim Thi sia melompat mundur sambil memeluk tubuh Lin lin, tampak olehnya paras muka gadis itu pucat pias bagaikan mayat, darah segar bercucuran keluar dari bahunya yang teriuka parah.
Terkejut bercampur gusar Kim Thi sia melihat kejadian itu, dia tahu Lin lin sudah kena bokongan musuh, dalam keadaan begini dia tak berminat lagi untuk melanjutkan perjalanan, untuk kedua kalinya dia mengambil langkah seribu untuk kabur dari situ.
Hwesio gemuk itu segera berteriak.
"Bocah keparat, kau hendak kabur kemana.......?"
Tiba-tiba....... Dari balik kegelapan malam terdengar seseorang berseru.
"Kurang ajar, siapa yang begitu beryali, berani berkaok-kaok sembarangan disini?"
Menyusul kemudian terdengar Kim Thi sia berteriak marah.
"Tua bangka celaka gara-gara ulahmu, aku cukup menderita dibuatnya."
"Tak usah takut bocah kunyuk. biar aku yang membereskan semua persoalan ini."
Ternyata orang yang munculkan diri saat itu adalah si Unta. Kembali terdengar Kim Thi sia membentak gusar.
"Tua bangka celaka, aku harus membacok mampus dirimu untuk melampiaskan keluar semua rasa mangkel dan mendongkol dalam hatiku"
"Huuuuh, kau sibocah kunyuk benar-benar manusia tak tahu diri, bukan berterima kasih dulu kepada lo toako mu, sekarang malah mengancam akan membacokku, benar-benar dunia sudah terbalik."
"Hmm, mengapa aku harus berterima kasih kepadamu?"
"Kau si kunyuk benar-benar tolol, kalau bukan lo toako membantumu, bagaimana mungkin kau bisa temukan kembali perempuan dalam boponganmu itu. Betul-betul manusia tak tahu budi"
Untuk berapa saat lamanya Kim Thi sia dibuat terbungkam oleh perkataan si unta itu, dia tak tahu bagaimana mesti menjawab.
dalam pada itu, Hwesio gemuk tadi sudah mengejar semakin mendekat, si Hwesio tampan yang mengikuti dari belakangnya tiba-tiba berteriak keras.
"Suheng, jangan lepaskan bocah keparat itu"
Kim Thi sia pun makin berang, dia berteriak pula.
"Hey tua bangka, cepat jagakan keselamatan adik Lin lin ku"
Seraya berkata dia menurunkan gadis tersebut dari bopongannya, kemudian sambil meloloskan pedang Leng gwat kiamnya dia maju menyongsong kedatangan lawannya.
Dengan hilangnya beban yang merisaukan hatinya, Kim Thi sia segera merasakan semangatnya semakin berkobar, jurus-jurus serangan yang sangat ampuh dari ilmu pedang panca Buddha yang dikombinasikan dengan ilmu pukulan Tay goan sinkang segera dilontarkan secara beruntun.
Mimpipun si Hwesio gemuk itu tak mengira kalau serangan dilancarkan Kim Thi sia bisa berubah seganas itu secara tiba-tiba.
dalam waktu singkat dia dibuat kalang kabut tak karuan dan terdesak hebat.
Suatu saat dia bersikap lengah hingga sebuah babatan kilat menyambar diatas tengkuknya....
Tak sempat menjerit kesakitan lagi, batok kepalanya yang gemuk besar tahu-tahu sudah terpapas kutung dari tubuhnya dan menggelinding jatuh keatas tanah, tamat pulalah riwayat hidup Hwesio gemuk itu.
HHwesio tampan tersebut menjadi ketakutan setengah mati, tiba-tiba saja paras mukanya pucat pias bagaikan mayat, sambil menjadi kaget dia membalikkan badan dan melarikan diri terbirit-birit.
Waktu itu Kim Thi sia sudah terlanjur naik darah, tentu saja tak sudi melepaskan musuhnya dengan begitu saja, dengan suatu lompatan cepat ia mengejar kemuka, lalu pedangnya menyambar lagi kedepan.
"Aduuuuh"
Kasihan si Hwesio tampan itu, batok kepalanya segera terlepas pula dari tubuhnya tentu saja selembar jiwapun ikut melayang menyusul arwah suhengnya kealam baka.
Si unta segera maju kedepan menendang batok kepala itu, tiba-tiba kain penutup kepalanya terlepas hingga rambutnya yang panjang terurai, melihat itu iapun berseru tertahan.
"Waaaah, rupanya betina......."
"Hey tua bangka"
Dengan gelisah Kim Thi sia berseru.
"Siapa suruh kau datang kemari, mana adik Lin lin ku?"
Si unta segera mendehem berulang kali, lalu menjawab.
"Hey bocah kunyuk, lebih baik jangan bersikap kasar dihadapan lo toako mu, kalau aku sampai mendongkol dan kabur dari sini, kau bisa celingukan macam tikus kepanasan"
Dengan gemas Kim Thi sia mendesak maju kedepan, dan mencengkeram tengkuk si unta, setelah itu teriaknya.
"Tua bangka, akan kulihat kau hendak kabur kemana?"
Si unta sama sekali tak menduga sampai kesitu, terpaksa katanya.
"Siapa bilang aku hendak kabur? Padahal bila aku pingin kabur dari sini, dalam keadaan begini pun sama saja."
Kim Thi sia segera mengerahkan tenaganya mencengkeram tengkuk orang itu makin keras, tentu saja si unta segera menjerit kesakitan-Kim Thi sia belum puas sampai disitu, kembali dia mencengkeram dengan lebih keras lagi.
Akibatnya si unta kesakitan setengah mati, air matanya sampai bercucuran keluar, tiba-tiba sepasang kakinya menjejak kebawah kemudian tak bergerak lagi.
Kim Thi sia takut rekannya itu tercekik mati, buru-buru dia mengendorkan tangannya.
Siapa tahu begitu dia mengendorkan cengkeramannya, si unta segera meronta dan melepaskan diri dari cengkeraman, kemudian melarikan diri terbirit-birit meninggalkan tempat itu.
Sebelum pergi jauh, dia sempat berpaling seraya mengancam.
"Bocah kunyuk, kau benar-benar manusia tak tahu diri, tunggu saja pembalasanku"
Kim Thi sia tak berani mengejar lebih jauh, apalagi mati hidup Lin lin belum diketahui, terpaksa dia membiarkan si unta kabur meninggalkan tempat tersebut.
Kembali ketempat semula, Lin lin sudah berada dalam keadaan tak sadar, tubuhnya terbanting kaku diatas tanah seerti orang mati.
Menyaksikan kejadian ini, Kim Thi sia segera mendepakkan kakinya berulang kali dan menghela napas seraya mengeluh.
"ooooh adik Lin, akulah yang menyebabkan dirimu jadi begini........."
"Adik Lin, kau tak boleh mati........"
"Adikku yang kusayang, biarpun Kim Thi sia harus mengarungi ujung langitpun, aku harus menyelamatkan dirimu dari kematian."
"Adik Lin, biar kita tak dilahirkan pada saat yang sama, aku ingin mati pada saat yang sama denganmu serta dikubur dalam satu liang yang sama......."
Begitulah keadaan Kim Thi sia waktu itu, dia hanya bisa merintih, mengeluh dan menelusuri jalan itu sambil membopong tubuh Lin lindalam keadaan begini, dia tak ingin memikirkan persoalan yang lain, menyelamatkan jiwa Lin lin merupakan satu-satunya persoalan penting baginya sekarang.
Malam sudah lewat, fajarpun mulai menyingsing.
Kim Thi sia masih saja berjalan terus, dia tak mengenal arti lelah, juga tak mengenal arti lapar, sebab saat pertemuannya dengan Lin lin dirasakan terlalu pendek.
Mendadak........
Ia teringat kembali dengan lentera hijau yang berada ditangan sipedang emas, dengan "lentera hijau.
itulah dia baru bisa menyelamatkan jiwa Lin lin dari kematian-"Tapi.....dimanakah sipedang emas sekarang?
Kemanakah dia harus mencari dirinya?"
Dengan termangu-mangu dia berdiri sambil termenung, akhirnya teringat olehnya akan gedung pembesar Kanglam dimana sipedang kayu berada.
"Ya a, mengapa aku tidak datang kesana untuk melacaki jejak toa suhengku.......?"
Demikian ia berpikir.
Karena dianggapnya hal tersebut merupakan satu-satunya jalan yang bisa ditempuh, Kim Thi sia segera mengambil keputusan untuk menyerempet bahaya.
Dengan menempuh perjalanan siang malam tanpa berhenti, akhirnya Kim Thi sia berhasil tiba ditempat tujuan-Kemudian tanpa banyak berpikir panjang dia melompati dinding pekarangan dan langsung menerobos masuk kedalam gedung.
Belum jauh dia menelusuri halaman rumah, mendadak dari balik kegelapan terdengar seseorang membentak keras.
"Manusia dari mana yang berani mendatangi tempat ini? Hayo cepat berhenti"
Ketika Kim Thi sia mendongakkan kepalanya dia segera mengenali orang yang berdiri dihadapannya adalah Kan Jin.
Agaknya Kan Jin segera mengenali pula orang itu sebagai Kim Thi sia, sambil mengubah nada suaranya dia berseru.
"ooooh, rupanya Kim sauhiap yang telah datang"
"Tuan Kak"
Kim Thi sia menegur kemudian-"Apakah suhengku berada disini?"
"Kedatangan sauhiap sangat kebetulan baru saja suhengmu tiba disini, kau telah menyusul tiba, cuma saja......."
"cuma kenapa?"
Tukas Kim Thi sia tak sabar.
"Aku ada urusan hendak pergi mencarinya."
"Saat ini Tuan Gi sedang menemani tamu agung, aku rasa ia tak punya waktu sekarang......"
"Aku tak ambil perduli apakah suheng punya waktu atau tidak, pokoknya aku harus menemui dia sekarang juga"
Sambil berkata anak muda itu menerjang kangsung kedalam halaman rumah.
"Kalau memang begitu, biar kulaporkan kedatanganmu itu kepadanya"
Seru Kan Jin cepat. seryaa berkata ia segera bertepuk tangan dua kali. Dari balik kegelapan dengan cepat muncul dua orang lelaki kekar berbaju ringkas. Kepada kedua orang itu, Kan Jin berseru.
"Lim Ji, cepat kau laporkan kepada Tuan Gi bahwa Kim sauhiap telah datang berkunjung"
Lim Ji menyahut dan buru-buru beranjak pergi dari situ. Tak lama kemudian, sipedang kayu Gi Cu yong telah munculkan dirinya didepan mata. Belum tiba orangnya, suara teguran telah bergema datang.
"Sute, angin apa yang menghembusmu kemari? Benar-benar tumben-....... benar-benar tak kusangka."
Sewaktu melihat dalam bopongannya memeluk seorang wanita, ia segera berseru lagi dengan terkejut.
"Sute, siapakah perempuan itu? Apakah perempuan itu lagi"
Dengus Kim Thi sia gusar.
"Lantas siapakah dia?"
Desak sipedang kayu.
"Lin lin"
Mendengar nama itu Kan Jin serta pedang kayu segera menjerit kaget, agaknya hal tersebut sama sekali tak terduga oleh mereka.
"Apakah Lin lin sudah tertimpa suatu musibah?"
Tanya Kan Jin lagi dengan perasaan ingin tahu^ "Ia telah tewas"
"Aaaah, mana mungkin?"
Seru Kan Jin tak percaya.
"Lin lin baru belasan hari minggat dari gedung ini, bagaimana mungkin dia bisa mati?"
Kim Thi sia tidak menanggapi pertanyaan tersebut, kepada sipedang kayu kembali ujarnya.
"Aku sedang mencari toa suheng, tahukah kau dia berada dimana sekarang? cepat beritahu kepadaku"
Agak ngeri juga sipedang kayu melihat wajah seram dari adik seperguruannya itu, namun diluaran dia berusaha untuk menenangkan diri, katanya cepat.
"Sute, kita tak usah membicarakan persoalan ini lebih dulu, mari biar kuselenggarakan sebuah perjamuan untuk menjamu kedatanganmu."
Sampai disitu, iapun berteriak keras.
"Hey, cepat kalian siapkan perjamuan untuk menghormati adik seperguruanku ini"
Tapi Kim Thi sia tetap berdiri tak bergerak dari posisi semula, kembali ia bertanya.
"cepat katakan kepadaku dimana toa suheng berada sekarang. Aku ada urusan hendak mencarinya."
"Sute, mengapa kita tak membicarakan persoalan ini selesai perjamuan nanti?"
"sudah kubilang aku tak akan bersantap"
"Aaaah, hal ini mana boleh terjadi? Kita sudah lama tak karuan, dengan menggunakan kesempatan ini aku ingin berbicara sebaik-baiknya dengan sute."
Mendadak Kim Thi sia meloloskan pedang leng gwat kiamnya, lalu berseru dengan gusar.
"suheng, jika kau enggan berbicara jangan salahkan kalau aku akan bertindak kejam"
Melihat kejadian ini buru-buru sipedang kayu memutar haluan menurut arah angin, katanya sambil tersenyum.
"Sute tak perlu gelisah, aku benar-benar tidak tahu dimanakah toa suheng berada sekarang, tapi kalau toh sute ingin mencarinya segera, silahkan berdiam barang dua hari dulu disini."
"Tidak. menolong nyawa sama dengan menolong kebakaran"
Tukas Kim Thi sia tidak sabar.
"Aku tak bisa menunggu terlalu lama."
Sipedang kayu Gi cu yong segera termenung berapa saat lamanya, setelah itu baru katanya.
"dalam tiga hari mendatang toa suheng pasti akan singgah ditempat ini, bila sute bersedia tinggal disini, bukankah kau akan segera bertemu dengannya?"
Sementara itu Kan Jin tidak mengetahui kalau antara sesama saudara seperguruan itu sudah terjadi perselisihan-Kalau semua dia merasa tak leluasa untuk turut menimbrung maka sekarang dia bantu membujuk.
"Kim sauhiap, lebih baik tinggallah barang dua hari lebih dulu disini."
Kim Thi sia berpikir sebentar sewaktu dianggapnya memang tak ada jalan lain, terpaksa dia manggut-manggut.
"Baiklah, kalau dalam tiga hari mendatang toa suheng belum muncul juga, akan kubakar tempat ini hingga rata dengan tanah."
"Sute, jangan gusar, jangan gusar dulu......"
Buru-buru sipedang kayu berseru agak tergagap.
"Yaa"
Sambung Kan Jin-"Kim sauhiap jangan bergurau macam begitu......."
"Hmmmm, aku tak ambil perduli, pokoknya apa yang telah kuucapkan, akan kubuktikan dengan kenyataan-"
Sipedang kayu segera mengajak Kim Thi sia menuju keruang tamu, pemuda itu mengenali kamar tersebut sebagai ruangan yang pernah didiami tempo hari, tanpa terasa dia menundukkan kepala memandang sekejap wajah Lin lin, setelah itu menghela napas panjang.
Pedang kayu yang melihat hal ini, dengan cepat berseru.
"Sute, cepat baringkan dulu Lin lin keatas pembaringan, biar kutolong dulu apakah dia bisa tertolong atau tidak"
"Suheng tak perlu repot-repot, maksud kedatanganku mencari toa suheng tak lain adalah untuk menolong Lin lin"
Baru sekarang sipedang kayu dapat menghembuskan napas lega, sambil tersenyum diapun berkata.
"Biar kuperiksa sebentar saja, kau tak usah kuatir"
"Baiklah, kau boleh memeriksanya, tapi dilarang menyentuh tubuhnya secara sembarangan"
Sipedang kayu mencoba untuk memperhatikan beberapa saat lamanya, kemudian ia berkata.
"Aku rasa Lin lin terluka oleh sejenis senjata rahasia beracun, kemudian tertotok pula jalan darahnya......."
Kim Thi sia menjerit kaget, serunya cepat.
"Yaaa h, sudah pasti situa bangka itu yang melakukan-Hmmm, bila aku bertemu dengannya, dikemudian hari, pasti akan kukuliti tubuhnya dan kucincang dagingnya......."
"Sute, kau jangan salah menuduh orang, seandainya orang itu tidak menotok jalan darah Lin lin, mungkin selembar jiwa Lin lin sudah lama melayang dari tubuhnya."
"Kalau begitu aku harus berterima kasih kepadanya?"
Tanya Kim Thi sia tak habis mengerti.
"Yaa memang seharusnya begitu"
Kim Thi sia menjadi sangat gembira, tanpa terasa diapun semakin mempercayai sipedang kayu, tanyanya lagi.
"Suheng, menurut pandanganmu apakah Lin lin masih bisa diselamatkan jiwanya?"
Paras muka sipedang kayu segera berubah menjadi amat serius katanya dengan nada sungguhsungguh .
"Soal ini.....soal ini......aku tak berani sembarangan berbicara......"
"Ya a, asal lentera hijau itu sudah kudapat, nyawa Lin lin pasti dapat tertolong......."
Gumam pemuda itu.
Begitu mendengar gumaman tersebut, tiba-tiba saja paras muka sipedang kayu berubah hebat, cepat-cepat dia mencari alasan untuk mengundurkan diri dari sana.
dalam keadaan begini, terpaksa Kim Thi sia harus sabar menanti.
Pada malam hari kedua itulah, disaat Kim Thi sia sedang berjaga-jaga disisi Lin lin, mendadak dari luar menerobos masuk seorang pemuda yang berwajah tampan-Kim Thi sia tak kenali orang ini, dengan langkah cekatan ia segera melompat bangun dan membentak.
"sobat, mau apa kau datang kemari?"
"Bukankah kau hendak mencariku?"
Seru orang tersebut lantang. Tentu saja Kim Thi sia tercengang sekali dibuatnya, dia segera balik bertanya.
"Siapa yang hendak mencarimu? Jangan-jangan kau salah mencari orang.......?"
"Hmmm, kaulah yang salah mengenali orang"
Jengek orang tersebut sambil tertawa dingin-Tiba-tiba tangan kirinya meloloskan pedang dan langsung menusuk tenggorokkan Kim Thi Berada dalam keadaan tak siap.
Kim Thi sia segera terdesak mundur sejauh tiga langkah lebih kebelakang sebelum berhasil meloloskan pedang Leng gwat kiamnya.
Kemudian sambil melancarkan serangan balasan, dia berteriak keras-keras.
"Bagaimana sih orang ini? Sudah gila nampaknya? Hey, aku tidak mengenali dirimu."
Orang itu sama sekali tidak berbicara, dengan mulut membungkam secara beruntun dia melancarkan tiga buah seragan berantai yang segera mendesak anak muda itu kelab akan setengah mati.
Mimpipun Kim Thi sia tidak menyangka kalau orang tersebut begitu lihay, terpaksa dia harus mengeluarkan dua jurus serangan dari ilmu pedang Panca Buddha untuk menyelamatkan diri dari ancaman bahaya maut.
Terdengar orang itu berseru.
"Hmmm, tak kusangka ilmu pedangmu kembali memperoleh kemajuan yang sangat pesat."
Kim Thi sia yang diserang secara terus menerus akhirnya naik darah juga.
ilmu pukulan Tay goan sinkang dan ilmu pedang Panca Buddha segera dipergunakan secara bergantian.
Belasan gebrakan kemudian, orang tadi sudah kena terdesak hebat hingga berada pada posisi dibawah angin.
Kembali kedua orang itu bertarung belasan gebrakan, ketika orang itu mulai sadar bahwa kemungkinan untuk menang tak ada tiba-tiba saja dia melancarkan dua buah serangan gencar mendesak musuhnya, kemudian cepat-cepat dia melompat mundur dari ruangan dan berlalu dari situ.
Kim Thi sia pun tidak melakukan pengejaran, dia hanya berdiri termangu-mangu tak tahu apa yang harus diperbuatnya.
Jilid 46 Tak selang berapa saat kemudian, sipedang kayu baru nampak munculkan diri dengan langkah tergesa-gesa, begitu masuk kedalam kamar, ia segera berseru.
"Sute, apakah kau telah bertemu dengan toa suheng?"
Dengan mata terbelalak Kim Thi sia menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Tidak, aku tak bersua dengan suheng"
Pedang kayu segera menghela napas panjang, katanya lagi.
"orang yang barusan datang kemari tak lain adalah toa suheng"
"Suheng, kau jangan membohongi aku"
Teriak Kim Thi sia berang.
"Aku bukannya tak pernah bersua dengan toa suheng........."
"Buat apa aku membohongimu?"
Kata pedang kayu sambil menghentakkan kakinya keatas tanah.
"orang itu tak lain adalah sipedang emas yang tulen......."
"Aaaai baiklah, biar kuceritakan keadaan yang sebenarnya kepadamu......" ^^ooo Pedang emas mengajak pedang perak. pedang kayu, pedang air dan putri Kim huan menuju kesuatu tempat yang sangat rahasia, disitulah tiba-tiba terlintas suatu pemikiran yang sangat aneh didalam benaknya. Pemikiran yang sangat aneh ini membuat sipedang emas tertawa terkekeh-kekeh tanpa disadari. Dengan perasaan tertegun bercampur keheranan putri Kim huan segera berpaling seraya menegur.
"Pedang emas, apa yang kau tertawakan?"
"Apa urusanmu dengan gelak tertawaku?"
Sahut pedang emas sambil menarik muka. Putri Kim huan agak tertegun, kemudian katanya lagi.
"Aku hanya merasa keheranan, mengapa kau harus bersikap begitu dingin dan menyeramkan-"
"Kau tak usah berlagak sok dihadapanku"
Ujar sipedang emas dengan wajah serius.
"Dihadapanku kau bukan putri akan permaisuri, pokoknya setelah mengikuti aku, lebih baik jangan banyak bicara......"
Saat itulah pedang kayu berkata lirih kepada putri Kim huan.
"Tabiat toa suheng kami memang sangat aneh, lebih baik kau jangan mencari gara-gara dengannya........."
Putri Kim huan sangat tak puas dengan keadaan itu, tak tahan dia menggerutu lagi.
"Aku hanya menganggap gelak tertawanya tidak pada tempat, bukankah sipedang perak saudara seperguruan kalian? Kini dia menderita luka yang begitu parah, jiwanya tak mungkin bisa diselamatkan sebagai orang yang berperasaan mengapa dia malah tertawa dalam keadaan begini."
Belum habis perkataan itu diutarakan, dengan marah sipedang emas telah berkata.
"IHmmm, kau hanya tahu berkentut, seandainya aku tidak menguatirkan keselamatan pedang perak. mengapa aku gunakan "lentera hijau"
Untuk menyembuhkan lukanya?"
Putri Kim huan jadi tertegun dan terbungkam. Terdengar sipedang emas kembali berkata.
"Putri Kim huan, lentera hijau memiliki kasiat yang luar biasa sekali, aku yakin tak sampai setengah jam kemudian, luka yang diderita sipedang perak telah sembuh kembali."
Waktu itu sipedang kayu telah meletakkan "lentera hijau"
Diatas tubuh pedang perak, kalau semula tubuh pedang perak basah oleh darah yang menguncur keluar tiada hentinya, maka dalam waktu singkat aliran darah tersebut telah terhenti semua.
Menyusul kemudian kelihatan tubuh pedang perak mulai bergerak.
Pedang air sebagai orang yang berperasaan paling baik diantara sembilan pedang segera kegirangan setelah melihat kejadian itu, serunya tak tertahan.
"Lentera hijau benar-benar merupakan benda mestika dari dunia persilatan, kelihatannya jiwa pedang perak bakal tertolong, haaah...haaah...haaah..."
"Apa yang kau tertawakan"
Mendadak pedang emas membentak.
"Sekalipun pedang perak dapat sembuh kembali, apa yang perlu kau girangkan?"
Sekalipun kata-kata itu tanpa alasan, namun pedang air segera terbungkam dalam seribu bahasa, sekalipun dia masih ingin berbicara sesuatu, terpaksa kata-kata itu ditelan kembali kedalam perut.
Sementara itu sipedang emas mulai tertawa, ia tak mengira lentera hijau memiliki kasiat yang begitu dahsyat sehingga seseorang yang hampir tewas pun dapat disembuhkan kembali.
Tanpa terasa dia teringat pula dengan wajah sendiri yang rusak dan buruk akibat perbuatan suhunya dulu.
Bila lentera hijau tersebut dapat digunakan untuk menyembuhkan wajahnya yang jelek.
bukankah dia akan mendapatkan kembali ketampanannya seperti dulu?
Sementara itu sipedang emas telah berpaling kembali kearah putri Kim huan dan menatapnya lekat-lekat.
Merah padam selembar wajah putri Kim huan ketika ditatap seperti itu, dengan mulut cemberut serunya.
"Pedang emas, sekalipun kain kerudung wajahmu menutupi selembar wajahmu hingga aku tak tahu perubahan perasaanmu sekarang tapi......"
Berbicara sampai disitu, ia menundukkan kepalanya lagi rendah-rendah.
Sebetulnya sipedang air hendak mengucapkan berapa patah kata untuk mencegah putri Kim huan membangkitkan amarah pedang emas tapi sebelum ia sempat berbicara, pedang emas telah berkata.
"Hey tuan putri, apakah kau ingin melihat wajahku?"
Putri Kim huan tertawa hambar.
"Aku tak usah melihat wajahmu, sebab dari sepasang matamu itu dapat menebak jalan pikiranmu"
"oya? Lantas apa yang berhasil kau lihat dari balik mataku itu?"
"Yang berada dibalik matamu, semuanya hanya kesesatan dan kejahatan-......"
"Kesesatan? Bagus sekali, aku memang seorang manusia sesat yang banyak melakukan kejahatan-"
Pelan-pelan putri Kim huan mengalihkan pandangan matanya ketempat kejauhan, kemudian katanya lebih jauh.
"Kau bukan seorang manusia sesat, aku pernah mendengar ayah Baginda berkata disaat seseorang merasa bahwa dirinya berdosa, maka orang itu bukan orang yang berdosa lagi."
"Kenapa? "tanya pedang emas keheranan "Sebab disaat dia merasa dirinya berdosa berarti dia telah mengakui dosanya, manusia, dia pasti akan berusaha menghindarkan perbuatan dosa untuk mencari kebajikan."
Padahal dia sendiripun tidak tahu apa sebabnya kata-kata seprti itu bisa meluncur keluar dari mulutnya, tapi putri Kim huan merasa kata-kata tadi seperti melompat keluar dari mulutnya secara spontan.
Dengan gemas pedang emas segera mendengus.
"Hmmm, dasar pendapat seorang perempuan"
Tiba-tiba putri Kim huan berseru lagi.
"Hmmm, akupun tahu apa yang sedang kau pikirkan sekarang?"
"Kau tahu apa yang sedang kupikirkan?"
Dalam mendongkolnya putri Kim huan segera berseru.
"Hmmm, yang kaupikirkan semuanya adalah perbuatan-perbuatan cabul yang kotor"
Kali ini pedang emas tertawa tergelak.
"Haaaah.....haaaah.....haaaaah......betul memang itulah tabiatku yang sebenarnya.....cabul Haaaah.....haaaah......memang kau tepat menebak watakku, sebab kau sendiripun orang cabul hanya orang cabul yang memahami jalan pemikiranku. Terus terang saku bilang aku ingin makan dirimu"
Pada saat inilah mendadak sipedang kayu berkata kepada pedang emas.
"Toa suheng, menurut pendapatku meski luka bacokan yang diderita pedang perak sudah disembuhkan oleh lentera hijau namun kerusakan tenaga dalamnya masih cukup memusingkan kepala......"
"Yaa betul"
Sipedang air segera menyambung.
"Aku rasa luka dari suheng tak bisa disembuhkan sama sekali dengan lentera hijau."
Untuk berapa saat lamanya suasana menjadi hening, semua orang tak tahu bagaimana mesti menanggapi perkataan itu. Akhirnya dengan perkataan agak terbata-bata, sipedang air berkata.
"Toa suheng, aku rasa...... untuk menyembuhkan luka yang begitu parah dari suheng..... maka dia mesti ditolong oleh seseorang yang memiliki tenaga dalam sempurna....... kalau tidak........ sekalipun kita bisa menyembuhkan lukanya dengan mengandalkan lentera hijau.....tapi dia....dia tetap akan cacad seumur hidup,.....ilmu silatnya tetap akan musnah."
"Ehmmmm, ucapanmu memang benar"
Pedang emas manggut-manggut sambil berjalan kian kemari.
"coba lanjutkan kata-katamu itu."
Pedang air berkata lebih jauh.
"Dari sembilan orang bersaudara banyak diantara kita telah tewas. Sekarang yang tersisapun tinggal tak seberapa, bila suheng sampai lumpuh, hal ini pasti mempengaruhi kekuatan kita dikemudian hari....."
Setelah berhenti lagi untuk menukar napas, terusnya lebih jauh.
"Aku kuatir bila keadaan seperti ini dibiarkan berlangsung terus, pandangan umat persilatan terhadap sembilan pedang akan mengalami perubahan yang besar, mungkin merka tak akan takut lagi kepada kita. Lagipula Kim Thi sia yang baru munculkan diri itu akan semakin tenar dimanamana.
"Yaa betul"
Pedang kayu segera menimpali.
"Kim Thi sia pasti akan bertambah angkuh dan meraja rela dimana-mana."
Mendadak pedang emas berhenti berjalan, teriaknya keras-keras.
"Huuuh, manusia macam apakah Kim Thi sia itu, seorang bocah ingusan kemarin sore. Kenapa mesti kita takuti?"
Pedang air dan pedang kayu segera saling bertukar pandangan tanpa berkata-kata. Kembali pedang emas berkata.
"Tapi aku memang setuju untuk menyembuhkan pedang perak selekasnya, sebab persoalan ini amat penting buat kita"
Sementara pembicaraan berlangsung, terdengar sipedang perak mulai merintih kesakitan-Tentu saja hal ini merupakan gejala baik, karena dengan merintih kesakitan berarti pedang perak telah mendapatkan kembali perasaannya.
Pedang air segera berkata.
"Toa suheng, berbicara menurut keadaan saat ini, walaupun tempat kita ini terletak sangat rahasia tapi aku kuatir akan segera ditemukan oleh para begundalnya Dewi Nirmala"
"Kalau ditemukan lantas kenapa?"
"Aku takut pertemuan itu bakal mengobarkan kembali suatu pertarungan yang amat seru"
"Yaa betul"
Putri Kim huan menimpali.
"Jika sampai terjadi pertarungan sengit, siapa yang akan mengurusi pedang perak? Bukankah riwayat hidupnya bakal kiamat?"
"Sungguh aneh"jengek pedang emas kemudian-"Kenapa sih kau menaruh perhatian yang begitu besar terhadap pedang perak. Jangan-jangan-...."
"Hmmm, ngaco belo tak karuan"
Bentak putri Kim huan sengit.
"Kau jangan menilai seorang kuncu dengan pandangan sempit seorang manusia kurcaci...."
Pedang emas tertawa terbahakbahak.
"Haaaah......haaaaah......haaaaah......maaf, maaf, rupanya kau masih terhitung seorang lelaki sejati?"
Merah padam selembar wajah putri Kim huan dibuatnya, kembali ia berseru dengan sengit.
"Aku toh cuma bicara seadanya, mau menolong sipedang perak atau tidak, itu mah urusan kalian sendiri, apa sangkut pautnya dengan diriku?"
"Tapi sipedang perak terhitung seorang lelaki jantan juga"
Seru sipedang emas dengan suara dalam.
"Huuuh, dasar manusia cabul"
Umpat sigadis.
Sipedang air dan pedang kayu yang mendengar umpatan tersebut sama-sama tertegun dibuatnya.
Mereka menduga sipedang emas pasti tak senang hati dan akan mengumbar hawa amarahnya.
Ternyata dugaan mereka melesat sama sekali tidak menjadi gusar oleh umpatan tersebut sebaliknya malah tertawa cengar cengir belaka.
"Sesungguhnya apa yang telah terjadi?"
Rupanya tanpa disadari sipedang emas telah jatuh cinta kepada putri Kim huan-Memang begitulah kalau manusia sedang dimabuk cinta. Sekalipun putri Kim huan memakinya sebagai manusia "cabul"
Dihadapan orang banyak.
lagi bagi pendengaran pedang emas, umpatan tersebut justru amat sedap didengar.
Sementara itu pedang perak telah menggeliat sambil mengingau terus dengan suara lemah.
Melihat itu, pedang emas segera berkata.
"Aaaai, bila ditinjau dari keadaan sipedang perak sekarang, tampaknya bila tiada seseorang yang bertenaga dalam sempurna membantunya, tak mungkin kesehatan tubuhnya dapat pulih kembali dalam waktu singkat, persoalannya sekarang kemana kita harus mencari orang yang bertenaga dalam amat sempurna.....?"
Pedang air dan pedang kayu serentak berseru.
"Didalam kolong langit dimasa ini, rasanya hanya toako seorang yang memiliki tenaga dalam paling sempurna."
"Jadi maksudmu, kau berharap aku menolong pedang perak dengan menggunakan tenaga dalamku?"
Tanya pedang emas seraya berpaling kearah pedang kayu.
"Tentu saja begitu"
Dengan cepat pedang air manggut-manggut.
"Bagaimana dengan dirimu?"
Tanya pedang emas lagi sambil berpaling kearah pedang kayu.
"Apakah kaupun berpendapat demikian?"
Pedang kayu tak bisa meraba jalan pemikiran pedang emas, terpaksa dla mengangguk juga.
"Yaa benar"
Mendadak pedang emas mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.
suaranya keras menusuk pendengaran.
Seperminum teh kemudian ia baru berhenti tertawa, lalu sambil menuding kearah pedang air danpedang kayu, serunya.
"Bagus sekali, rupanya kalian dua manusia busukpun sedang menyusun rencana untuk mengerjai diriku?"
Untuk berapa saat lamanya pedang air dan pedang kayu cuma saling berpandangan saja, mereka ingin mengucapkan sesuatu, namun tak tahu apa yang mesti dikatakan. Terdengar sipedang emas berkata lagi.
"Tapi kalian coba pikir kembali, seandainya para utusan dari Lembah Nirmala menyerbu datang secara tiba-tiba, siapakah yang akan melawan mereka.......?"
Seandainya dihari biasa, pedang air dan pedang kayu tentu akan menuruti adatnya dengan berteriak begini.
"Apa yang mesti ditakuti, tentara datang menyerang kita cegat, air bah datang kita bendung, apa yang mesti kita takuti semua?"
Tapi berada dihadapan dipedang air dan pedang kayu tak berani mengucapkan perkataan seperti ini.
oleh sebab itulah mereka terbungkam dalam seribu bahasa dan untuk sesaat lamanya hanya bisa saling berpandangan belaka.
Sementara itu terdengar sipedang emas berkata lagi.
"Padahal menurut keadaannya saat ini, luka yang diderita sipedang perak bukannya masalah yang dapat ditunda lagi......"
Belum selesai perkataan itu diutarakan sipedang air telah menimbrung dengan cepat.
"Itulah sebabnya kami jadi teringat akan toa suheng, dengan kesempurnaan tenaga dalam yang kau miliki....."
"Hmmm, kentut anjingmu"
Teriak sipedang emas sewot.
"Tapi aku berbicara sejujurnya....."
Seru pedang air sedikit agak ketakutan-"Berbicara sejujurnya, kaulah yang seharusnya mengeluarkan tenaga untuk membantu sipedang perak"
"Aku?"
Pedang air tertegun-"Yaabetul, memang kau"
Pedang emas menegaskan-Saat itulah putri Kim huan menimbrung.
"Pedang kayu, kaupun seorang jagoan kenamaan, apakah kaupun berniat untuk pekerjaan mulia ini?"
Pedang emaspun segera memerintahkan.
"Pedang air, cepat pergunakan ilmu Siaut cut thian kui goan tong hian hoat mu untuk membantu abang seperguruanmu....."
Begitu perintah dikeluarkan, paras muka pedang air segera berubah sangat hebat.
Seperti diketahui, ilmu yang dimaksudkan abang seperguruannya adalah sejenis ilmu tenaga dalam yang sering kali dipakai untuk membantu orang lain menembusi dua jalan darah penting ditubuh manusia.
Tapi cara tersebut paling banyak menghabiskan tenaga dalam biasanya apabila sudah digunakan maka tenaga dalamnya akan menderita kerusakan hampir sepuluh tahun hasil latihan-Dengan keadaan seperti ini siapakah yang bersedia mengorbankan tenaga latihannya selama sepuluh tahun untuk menolong orang lain?
Tentu saja kecuali orang tersebut adalah ayah atau ibu kandungnya sendiri.
Untuk berapa saat lamanya sipedang air sendiri termangu-mangu dengan mulut membungkam, dia tak tahu apa yang mesti dikatakannya sekarang.
Terdengar sipedang emas berkata lagi.
"Pedang air, apakah kau sudah mendengar perintahku?"
Terpaksa pedang air menyahut.
"Sudah mendengar"
"Kalau toh sudah mendengar, mengapa masih belum kau lakukan?"
Tanpa terasa pedang air berpaling kearah pedang kayu, dia berharap pedang kayu bisa mengucapkan sepatah dua patah kata, sehingga dia terlepas dari kesulitan tersebut.
Tapi pedang kayu hanya menolongakkan kepalanya memandang ketempat lain, ia membungkam dalam seribu bahasa.
Dalam keadaan begini terpaksa pedang air merengek.
"Toa suheng, biarlah kita mengurut jalan darahnya menggunakan tenaga panas, toh kita tak perlu terburu napsu."
"Kentut busuk. cara semacam itu membutuhkan waktu selama tiga hari, siapa yang kemudian berdiam hampir tiga hari lamanya ditempat seperti setan ini......"
"Tapi....tapi......"
Suara sipedang air kedengaran sangat gemetar keras.
"Kurang ajar"
Pedang emas mulai marah.
"Memangnya kau belum pernah mempelajari ilmu Kui goan tong hian hoat tersebut."
Begitu ucapan tersebut diutarakan, sipedang air menjadi kegirangan setengah mati. Dengan cepat dia menyahut.
"Yaa betul, aku memang tak bisa."
Pedang emas segera mendengus dingin.
"Baiklah, kalau memang kau tidak bisa, biar ku ajarkan cara tersebut kepadamu"
"Pedang air"
Sipedang kayu segera menimbrung.
"Mengapa kau tidak segera menyembah toa suheng dan mengucapkan terima kasih kepadanya karena mewariskan kepandaian sakti itu kepadamu?"
Padahal sipedang air sebagai seorang jago kenamaan, tentu saja dapat menggunakan ilmu Lui thian tong goan hiat hoat tersebut.
Hanya saja ia sengaja mengatakan tak bisa agar terhindar dari tugas yang sangat berat itu.
Tapi urusan telah berkembang menjadi begini, hal mana membuatnya kehabisan daya dan apa boleh buat.
Sambil tertawa kering buru-buru pedang air maju berlutut dan berkata dengan sikap yang seolah-olah serius.
"Terima kasih toa suheng, atas pelajaran yang akan kau wariskan kepadaku."
Tanpa sungkan-sungkan lagi pedang emas segera berseru.
"cepat bangkit berdiri, mendekati pedang perak. pegang jalan darah pada pergelangan tangannya, Ngo khi kui sim, Lo song siau goan-....."
Dalam keadaan begini terpaksa pedang air harus melaksanakan perintah kakak seperguruannya itu, tapi perasaan hatinya dibuat terkejut juga setelah mendengar perkataan tersebut, tiba-tiba serunya.
"Toa suheng, kenapa kau suruh aku menggunakan cara "lo song tiau goan-tersebut? bukankah hal ini sama artinya dengan mengurangi masa hidupku didunia ini?"
Pedang emas sama sekali tidak menggubris, kembali dia melanjutkan-"Hian thian oh tee, Pat piau ji sim."
Ternyata yang diwariskan kepada sipedang air waktu itu hampir semuanya merupakan cara menyalurkan tenaga dalam yang paling merusak kekuatan inti sendiri serta merugikan usia hidup pribadi.
Pedang air benar-benar mengeluh dihati namun tak berani membantah diluar, terpaksa dia harus menuruti semua perintah tersebut.
Bagi putri Kim huan yang menyaksikan semua kejadian tersebut, mungkin saja dia tak merasakan sesuatu keistimewaan atau keanehan Tapi bagi sipedang kayu, dia justru terbelalak dibuatnya dengan hati terkesiap dan jantung berdebar keras.
sementara itu pedang emas masih mengoceh tiada hentinya, makin bicara suaranya semakin nyaring.
Sedangkan sipedang air menggetarkan tangannya berulang kali menuruti semua petunjuk yang diberikan abang seperguruannya itu.
Makin cepat pedang emas berbicara, semakin cepat pula gerakan yang dilakukan pedang air.
Sampai pada akhirnya, bukan saja putri Kim huan tak melihat bayangan tubuh sipedang air, sekalipun bayangan tubuh pedang perakpun sudah tertutup oleh bayangan badan pedang air.
Mendadak terdengar suara jeritan kesakitan yang amat keras.
Bersamaan itu juga terdengar suara bentakan keras dari pedang emas dan teriakan kesakitan yang muncul dari mulut pedang air.
Pedang kayu yang menyaksikan adegan tersebut selain merasa girang, diapun menghela napas panjang.
ia bergembira karena melalui cara pengobatan semacam itu, kesehatan badan pedang perak akan segera pulih kembali seperti sedia kala.
Dia menghela napas karena sejak peristiwa tersebut, sipedang air telah ditakdirkan akan kehilangan usianya hampir belasan tahun lamanya.
Selain itu, bila sipedang air bertindak kurang hati-hati, niscaya dia akan hidup dalam keadaan cacad mental dan cacad badan-Dalam pada itu, sipedang emas telah membentak keras.
"Berhenti"
Tiba-tiba saja tampak pedang air terjatuh keatas tanah dengan mandi keringat, napasnya tersengkal-sengkal dan mukanya pucat pias bagaikan mayat.
sebaliknya sipedang perak tertidur bagaikan bayi tidur tanpa bergerak sedikitpun jua.
Dengan air mata bercucuran pedang kayu segera melangkah maju mendekatinya lalu berbisik.
"Wahai pedang perak. untung sekali pedang kayu bersedia untuk berkorban demi menyelamatkan jiwamu. ......"
Sedangkan putri Kim huan berebut maju mendekati pedang air dan memeluknya erat-erat sambil berbisik.
"Pedang air, bagaimana keadaanmu sekarang?"
Menghadapi pelukan sigadis cantik ini, pedang air jadi terbelalak dan napasnya semakin memburu.
"Pedang air, kau terlalu lelah....."
Kembali putri Kim huan berpikir lembut. Pedang air memaksakan diri untuk tersenyum sambil mengiakan.
"coba kau lihat"
Kembali putri kim huan berbisik.
"Sekujur badanmu basah oleh keringat, seperti baru tercebur kedalam air kolam saja."
Baru selesai kata-kata tersebut diutarakan pedang emas telah berteriak keras.
"Tuan putri, kemari kau. Mau apa kau?"
Dengan suara lembut pedang emas berkata.
"Kemarilah kau, ada urusan penting hendak kubicarakan dengan dirimu."
Terpaksa putri Kim huan bangkit berdiri dan berjalan menghampirinya.
Tapi setelah gadis itu tiba dihadapannya, ternyata tiada sesuatu apapun yang dikatakan pedang emas.
Dalam keadaan begini terpaksa gadis itu mengambil tempat duduk dan duduk dengan kesal disitu.
Setelah duduk sejenak.
putri Kim huan baru berkata lagi.
"Apakah kau hanya menyuruh aku duduk disampingmu?"
"Benar"
Pedang emas mengangguk. Putri Kim huan segera berkerut kening, tapi mulutnya membungkam dalam seribu bahasa. Pedang emas segera berseru pula kepada pedang kayu.
"Pedang kayu, kaupun kemarilah."
Tentu saja pedang kayu tak berani membantah perintah itu.
Untuk berapa saat lamanya mereka bertiga duduk bersama, sampai lama sekali tak seorangpun yang berkata-kata.
Lama kelamaan habis sudah kesabaran putri Kim bhuan, mendadak serunya dengan sengit.
"Pedang emas, sebenarnya apa maksud tujuanmu?"
Pedang emas membungkam diri, sipedang kayupun tak berani mengucapkan sesuatu, suasana tetap hening dan sepi.
Senja sudah menjelang tiba, namun suasana tetap hening dan tak terdengar suara apapun.
Putri Kim huan benar-benar tak mampu menahan sabar lagi, teriaknya kembali secara tiba-tiba.
"Pedang emas, sebenarnya apa maksudmu?"
Pedang emas tetap membungkam dia malah pejamkan mata dan mengatur pernapasan-Tentu saja pedang kayu tak berani membantah perintah itu.
Untuk berapa saat lamanya mereka bertiga duduk bersama, sampai lama sekali tak seorangpun yang berkata-kata.
Lama kelamaan habis sudah kesabaran putri Kim huan, mendadak serunya dengan sengit.
"Pedang emas, sebenarnya apa maksud tujuanmu?"
Pedang emas membungkam diri, sipedang kayupun tak berani mengucapkan sesuatu, suasana tetap hening dan sepi.
senja sudah menjelang tiba, namun suasana tetap hening dan tak terdengar suara apapun.
Putri Kim huan benar-benar tak mampu menahan sabar lagi, teriaknya kembali secara tiba-tiba.
"Pedang emas, sebenarnya apa maksudmu?"
Pedang emas tetap membungkam dia malah pejamkan mata dan mengatur pernapasan-Ketika menengok kearah pedang kayu, ternyata orang itupun sedang duduk bersemedi tanpa bergerak.
melihat itu putri Kim huan segera berseru dengan sengitnya.
"Hey pedang emas, kalau kau tak bicara lagi, bila ada orang masuk ketempat ini."
"Tuan putri, kau takut?"
Sela pedang emas.
"Aku tak takut, hanya........"
"Apa yang kau pikirkan?"
"Aku pikir, bila ada orang lewat disini, mereka tentu akan mengira kalau kita...."
"Mengira apa?"
"Mereka akan mengira aku serta pedang kayu sedang belajar ilmu semedi darimu."
Begitu perkataan tersebut diutarakan, pedang emas dan pedang kayu menjadi kegelian hingga tertawa terbahak-bahak.
^ Terutama sekali pedang emas, dia tertawa sampai terpingkal-pingkal.
Terdengar putri Kim huan berkata lagi.
"Aaaaah, kalian hanya tahu tertawa, tak seorangpun diantara kalian yang menggubris pedang perak maupun pedang air."
"Siapa bilang kami tidak menggubris? Bukankah pedang perak telah memperoleh pertolongan, sekarang dia butuh beristirahat secukupnya, buat apa kita mesti mengganggu ketenangannya? "
"Bagaimana dengan pedang air?"
"Pedang airpun membutuhkan ketenangan untuk memulihkan kembali kekuatan tubuh dimilikinya."
"Dia nampak begitu kelelahan, mengapa kau tidak pergi menghibur hatinya, agar dia merasa sedikit terhibur."
Waktu itu sipedang air tetap merintih dan mengeluh kesakitan, kelihatan sekali kalau dia amat tersiksa.
"Dia tak boleh dihibur"
Tampik pedang emas.
"Kenapa?"
"Sebab bila dia berani berbicara dengan orang lain dalam keadaan seperti ini, berarti dia akan kehilangan usianya dengan lima tahun lagi."
"Aaaah....."
Putri Kim huan menjerit kaget.
"Dia sudah kehilangan usianya hampir sepuluh tahun, bila ditambah lima tahun lagi, bukankah menjadi lima belas tahun?"
"Yaa, begitulah keadaan yang sebenarnya itulah sebabnya dia tak boleh diganggu sekarang."
"Aku benar-benar tidak habis mengerti"
Kata putri Kim huan setelah termenung sebentar.
"Apanya yang tak mengerti?"
Kata pedang kayu.
"Seandainya pedang air bisa hidup sampai usia delapan puluh lima tahun, maka sekarang dia hanya bisa hidup sampai usia tujuh puluh lima tahun."
"Benar-benar tak kusangka kalau persoalan demikian serius dan gawatnya."
"Apakah kau senang melihat pedang air cuma bisa hidup sampai usia tujuh puluh tahun?"
Ancam pedang emas.
"Antara dia dengan aku sama sekali tiada jalinan permusuhan atau sakit hati apapun, kenapa aku mesti memperpendek usia hidupnya?"
"oleh sebab itulah kau tak boleh mendekatinya, tak boleh mengajaknya berbicara untuk sementara waktu....."
Putri Kim huan segera memandang sekejap kearah pedang emas dengan pandangan mendalam, kemudian serunya.
"Sungguh tak kusangka kau adalah seorang yang baik hati."
Pedang emas tertawa dingin.
"Hmmmm..... bukankah kau menuduhku sebagai seorang manusia rendahan yang cabul?"
Ternyata sindiran tersebut tidak mendatangkan reaksi apapun, putri Kim huan hanya tertawa saja. Pedang emas segera berkata lagi.
"Tuan putri, apabila kau menyukai sipedang air, aku bisa memerintahkan kepadanya....."
Siapa tahu belum selesai perkataan itu diutarakan, putri Kim huan telah berteriak keras.
"Kentut busukmu"
"Ya a, bau sekali kentutmu......."
Pedang emas menimpali. Pedang kayu tak tahan untuk ikut tertawa pula, selanya.
"Belum pernah kujumpai toa suheng menunjukkan kegembiraan seperti hari ini. Tuan putri, kau seharusnya mengerti."
"Pedang kayu, kau tak ada sangkut pautnya dengan persoalan ini, lebih baik kau tak usah banyak bicara"
Tiba-tiba pedang emas berseru.
"Baik......baik......."
Buru-buru pedang kayu mengiakan. Sementara itu putri Kim huan telah berkata lagi.
"Seandainya ada orang hendak mencari pedang air untuk diajak berkelahi, apa yang akan terjadi dengannya?"
"Seandainya benar-benar terjadi peristiwa semacam ini. Hmmm, anggap saja nasibnya memang lagi sial"
Kata pedang emas dengan wajah bersungguh-sungguh.
"Apakah dia akan mati?"
"Sekalipun dia tak akan mati terbunuh ditangan lawan, dalam kehidupan selanjutnya pedang air pasti akan menjadi setan penyakitan yang lemah dan hingga mati tetap sengsara......tapi apa maksudmu bertanya begini?"
"Aaaah, aku hanya bertanya seadanya saja."
Mendadak terdengar pedang kayu berseru.
"Aduh celaka, ada orang yang menemukan jejak kita ditempat ini"
"Yaa betul"
Sahut pedang emas sambil meraba gagang pedangnya.
"Aku lihat orang itu memiliki ilmu meringankan tubuh yang sangat lihay kita tak boleh memandang enteng dirinya"
Sementara itu "lentera hijau"
Masih berada diatas kepala pedang perak, ketika pedang kayu menyaksikan hal tersebut, diapun segera berbisik.
"Toa suheng, perlukah kita ambil kembali lentera hijau?"
Baru saja sipedang emas hendak pergi mengambilnya, tiba-tiba muncul seorang gadis muda yang cantik sekali bak bidadari dari khayangan menghampiri tempat tersebut.
Gadis cantik itu muncul dengan pedang terhunus, begitu melihat lentera hijau, ia segera berteriak kaget.
"Aaaaah.....bukankah benda itu lentera hijau, benda mestika dari dunia persilatan?"
Sesaat kemudian kembali muncul seorang kakek berambut putih, dengan wajah berseri dia segera berteriak pula.
"Benar-benar tak kusangka benda yang kucari kemana-mana tak berhasil ditemukan, akhirnya kutemukan disini dengan tanpa sengaja. Anak Kian, cepat ambil benda itu"
Begitu perkataan tersebut diutarakan gadis cantik tersebut benar-benar berjalan mendekati pedang perak dan siap mengambil lentera hijau tersebut.
sejak munculkan diri hingga detik itu, ternyata dua orang tamu yang tak diundang itu sama sekali tak menggubris akan kehadiran orang-orang lain disitu seakan-akan mereka sama sekali tak memandang sebelah matapun terhadap orang-orang itu.
Pedang emas menjadi mencak-mencak kegusaran, dengan suara keras bagaikan guntur ia membentak.
"Tunggu dulu"
Sambil membentak dia segera menerobos maju kedepan menggunakan gerakan bintang lewat mengejar rembulan-Dalam waktu singkat ia telah tiba disisi pedang perak dan merebut kembali lentera hijau tersebut.
Gadis cantik itu kedengaran berseru tertahan lalu serunya.
"Sungguh tak kusangka kau memiliki ilmu gerakan tubuh yang begitu indah dan luar biasa"
Pedang emas hanya mendengus dingin tanpa memberikan tanggapan apapun jua. Sebaliknya sipedang kayu segera mengumpat.
"Budak ingusan, besar amat bacotmu"
"Hey anjing keparat"
Teriak sikakek berambut putih itu mendadak.
"Selama hidup belum pernah kusebut putriku sebagai budak ingusan, tampaknya kau sudah bosan hidup?"
Ooooooooo Pedang kayu segera tertawa terbahak-bahak, sikapnya sinis dan memandang hina. Kakek berambut putih itu segera berseru lagi.
"Anak Kian, bocah keparat itu sangat kurang ajar, coba beri tiga kali tempelengan keras pada mulutnya"
Gadis cantik yang biasa dipanggil "Anak Kian", itu segera mengiakan dan berjalan menghampiri pedang kayu.
Nampaknya dia benar-benar bermaksud memberi hadiah tiga kali tamparan keras diwajahnya, tentu saja pedang kayu tidak membiarkan musuhnya berbuat sekehendak hati sendiri.
Melihat gerak maju sinona yang begitu mantap dan tegas, mau tak mau pedang kayu berpikir juga.
"Maknya, dua orang ayah beranak ini tangguh sombong dan takabur, aku harus bersikap lebih berhati-hati."
Berpikir demikian, diapun segera berseru.
"Budak ingusan, apakah kau mempunyai kemampuan tersebut? Baiklah, jika kau mampu menampar mulutku tiga kali......."
Sementara berbicara sampai disitu, gadis cantik itu telah tiba dihadapannya dan siap menampar, karena itu terpaksa dia harus menghentikan pula kata-katanya.
"Ayoh lanjutkan perkataanmu, kau bermaksud untuk berbuat apa?"jengek kakek berambut putih itu. Sambil mendengus dingin, pedang kayu segera berseru.
"Sejak hari ini, biarlah namaku sipedang kayu ditulis orang secara terbalik"
"oooh, rupanya kau adalah pedang kayu, anak murid Malaikat pedang berbaju perlente"
Kata sikakek berambut putih itu sambil tertawa.
"Betul"
"Bagus, bagus sekali"
Sementara itu meskipun sipedang emas tidak ikut berbicara namun dari samping arena secara diam-diam dia awasi terus gerak gerik musuhnya.
Ia segera menyimpulkan bahwa ayah dan anak berdua ini memiliki tenaga dalam yang amat sempurna, jelas ilmu silat yang mereka milikipun luar biasa hebatnya.
sementara itu, kakek berambut putih tersebut telah berkata lagi kepada gadis cantik itu.
"Anak Kian, dengan dasar kepandaian yang dia miliki, yakinkah kau untuk bisa menampar mulutnya tiga kali."
Dalam perkiraan pedang kayu semula, setelah ayah beranak dua orang itu mengetahui identitas dirinya yang sebetulnya, mereka tentu akan takut atau paling tidak tak berani memandang akan menampar mulutnya.
Siapa sangka apa yang diduganya semula ternyata meleset sama sekali.
Terdengar gadis cantik itu menyahut sambil tertawa.
"Tak usah kuatir ayah, bila putrimu berniat menampar pipi kirinya, tak nanti aku akan salah menampar pipi kanannya"
Dengan bergemanya ucapan mana, bukan saja sipedang emas dan mulai dicekam rasa gusar yang meluap-luap.
"Baik"
Seru pedang kayu kemudian.
"Aku akan berdiri disini budak cilik, akan kulihat sampai dimanakah taraf kemampuanmu"
Dengan memperkokoh kuda-kudanya dia sengaja menjulurkan kepalanya kemuka siap menantikan tamparan lawan-Biarpun ia bersikap demikian, sesungguhnya secara diam-diam ia telah mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya.
Dengan sorot mata yang tajam dia awasi terus gerak gerik sinona itu tanpa berkedip.
Apabila gadis cantik itu turun tangan menamparnya, maka pedang kayu telah bersiap sedia membabat tubuhnya hingga kutung.
Mendadak terdengar pedang emas berteriak keras.
"Pedang emas tak perlu sungkan-sungkan lagi terhadapnya, ia begitu memandang hina kita semua, bunuh saja tanpa ampun."
"Tentu saja"
Sahut pedang kayu dengan bersemangat.
"Budak cilik ini tak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi. Aku mesti memberi ganjaran yang setimpal kepadanya."
Dalam pada itu Kiau ji telah mengalihkan pedangnya ketangan kiri, kemudian teriaknya nyaring.
"Nah, berhati-hatilah sekarang, akan kugunakan tangan kananku untuk menampar pipi kirimu"
Belum selesai perkataan itu diutarakan, tubuh Kian ji telah berkelebat lewat kemuka dengan kecepatan luar biasa.
"Plaaaaakkk....."
Tahu-tahu saja bunyi tamparan keras telah bergema memecahkan keheningan-Terdengar kakek berambut putih itu berseru sambil tertawa terbahak-bahak.
"Haaaaah.....haaaaah......haaaaah......bagus sekali tamparanmu kali ini selain cepat pun amat cekatan-"
Sebaliknya paras muka pedang emas berubah sangat hebat, dia sama sekali tak mengira kalau musuhnya memiliki kecepatan gerak tubuh yang begitu luar biasa hebatnya.
Pedang kayu yang kena ditampar tergetar mundur sampai beberapa langkah jauhnya dari posisi semula, wajahnya telah berubah pucat bercampur semu merah.
Sambil tertawa dan mempermainkan kuncirnya, Kian Ji segera menjengek.
"Nah, bagaimana hasil tamparanku ini pedang kayu? Bukankah aku boleh menulis namamu secara terbalik sekarang?"
Pedang kayu benar-benar berdiri kaku ditempat semula.
Rasa malu, menyesal, kesal, mendongkol dan gusar bercampur aduk menjadi satu dalam perasaannya sekarang.
Putri Kim huan yang selama ini membungkam, mendadak berseru.
"Tidak bisa, kalian telah berjanji dengan tiga kali tamparan, sekarang kau baru satu kali tamparan-"
"Kalau begitu akan kutampar dua kali lagi pipinya, dengan begitu jumlahnya akan menjadi tiga"
Sahut Kian Ji ringan. Berbicara sampai disitu, tiba-tiba saja dia segera mendesak maju kemuka dengan kecepatan tinggi.
"Hati-hati"
Teriak pedang emas cepat.
"Gerakan tubuh yang digunakan budak ini adalah ilmu langkah tanpa bayangan pembingung sukma"
Pedang kayu mengiakan, buru-buru dia sambut datangnya terjangan musuh dengan ayunan pedang.
Berbicara seharusnya, dengan kemampuan pedang kayu sekarang, tidak sepantasnya kalau ia sampai kena tertampar oleh Kian Ji sebab bagaimanapun jua dia masih terhitung seorang jagoan tangguh dari dunia persilatan-Tapi sayang pedang kayu terlalu memandang rendah kemampuan musuhnya, sehingga sifat memandang entengnya membuat ia kurang sigap dan waspada.
Tapi sekarang rasa memandang rendah musuhnya telah hilang sama sekali, ia telah menghadapi musuhnya secara bersungguh-sungguh.
Sudah barang tentu Kian Ji tak bisa memenuhi pengharapannya secara gampang.
Sementara itu sipedang emas telah berseru lagi.
"Pedang kayu, cepat pergunakan ilmu pedang awan guntur untuk melancarkan serangan dengan gencar"
Perlu diketahui, ilmu pedang awan guntur merupakan salah satu ilmu simpanan dari Malaikat pedang berbaju perlente, kelihayannya luar biasa.
Dalam waktu singkat berkobarlah suatu pertarungan yang amat sengit ditengah arena.
"Anak Kian"
Kedengaran kakek berambut putih itu memberi petunjuk.
"cepat kau pergunakan jurus naga marah menembusi langit untuk meloloskan pedangmu, lalu gunakan ilmu pedang ular emas untuk mengancam batok kepalanya."
Kian Ji segera menuruti petunjuk itu, dibawah kepungan cahaya emas dari pedang kayu, tubuh gadis tersebut melejit keudara dengan kecepatan luar biasa.
Berada diudara, Kian Ji berjumpalitan beberapa kali dengan pelbagai gaya, menggunakan kesempatan tersebut dia meloloskan pedangnya dari dalam sarung.
Pedang kayu tak berani berayal, ia menerjang maju kemuka dengan menggunakan jurus "Bunga berguguran putik bertumbangan."
Tapi sayang gerakan tubuh Kian ji jauh lebih cepat. tiba-tiba saja terjadi benturan yang amat keras.
"Traaaaangggg......."
Ditengah dentingan nyaring yang bergema terdengar Kian Ji berseru dengan keras.
"Ayah, bolehkah kupenggal batok kepalanya?"
"Tentu saja boleh"
Sahut sikakek. Maka pertarunganpun kembali berkobar dengan sengitnya. Dipihak lain, kemarahan sipedang emas sudah mencapai pada puncaknya dengan suara keras dia membentak.
"Tua bangka celaka, sebetulnya apa maksud tujuanmu?"
"Aku menghendaki lentera hijau"
Jawab sikakek terang-terangan-Kontan saja pedang emas tertawa dingin tiada hentinya.
"Heeeeeh......heeeeeh......heeeeeh.......aku lihat kau belum mempunyai kemampuan yang cukup untuk berbuat begitu"
"Haaaaah.....haaaaah......kau tahu, waktu itu Ko Anjin sendiripun pernah menderita kekalahan sebanyak tiga jurus ditanganku, sekarang kau baru berhasil mempelajari kulitnya saja dari Malaikat pedang berbaju perlente, tapi nyatanya lagakmu luar biasa"
Perlu diketahui, Ko Anjin yang dimaksud adalah ayah kandung sipedang emas.
Mendengar perkataan mana, pedang emas menggertak giginya kencang-kencang menahan emosi, serunya kemudian-"Rupanya kau sitelur busuk tua masih punya perselisihan dengan ayahku?"
"Ko Hong liang, kepandaian apa sih yang kau miliki?"
Jengek kakek berambut putih itu.
"Apa itu pedang emas? IHuuuuh, kalau hendak digunakan untuk menakut-nakuti seorang bocah cilik mah pantas, tapi kalau untuk mengancam diriku? Waaaah, masih ketinggalan jauh."
Rupanya nama asli sipedang emas adalah Ko Hong liang, teguran secara langsung itu semakin mengobarkan hawa amarahnya. Terdengar kakek berambut putih itu berkata lagi.
"Ko Hong liang, ayoh cepat serahkan lentera hijau itu kepadaku"
Didalam gusarnya pedang emas segera mengerahkan lentera hijau ketangan putri Kim huan, lalu serunya.
"Hey tua bangka celaka, sekarang juga akan kuserahkan lentera hijau ini kepada putri Kim huan."
"oooh, rupanya kau masih mempunyai pendukung yang tangguh?"
Kata sikakek sambil mengelus jenggotnya dan tertawa. Dalam pada itu putri Kim huan telah menerima lentera hijau itu seraya berseru.
"Hey, mana boleh jadi, aku tak sanggup melindungi benda mestika tersebut."
Untuk berapa saat lamanya gadis itu kebingungan setengah mati dan tak tahu apa yang mestu diperbuat. Sambil tertawa dingin pedang emas segera berseru.
"Aku toh berada disampingmu, siapa yang berani merebut lentera hijau itu dari tanganmu?"
"Siapa lagi? Tentu saja aku"
Sambung sikakek sambil tertawa terkekeh-kekeh suaranya sangat aneh.
"Bagus sekali"
Dengus pedang emas.
"Asal kau memiliki kemampuan tersebut, tentu saja lentera hijau akan kuserahkan kepadamu"
"Kalau begitu, aku akan segera merebutnya"
Dengan suatu gerakan cepat pedang emas menghadang dimuka gadis tersebut, lalu katanya.
"Tua bangka celaka, sebelum kau berhasil merampas benda tersebut, coba melangkahi dulu mayatku"
"Haaaah.....haaaaah^.....haaaaaah.......kalau itu mah gampang sekali"
Seraya tertawa tergelak. selangkah demi selangkah kakek berambut putih itu maju mendekat.
"Tua bangka celaka"
Kembali pedang emas membentak.
"Tahukah kau, siapa yang berdiri dihadapanmu sekarang?"
"Hey pedang emas Ko Hong liang, buat apa sih kau berkaok-kaok terus macam kera kepanasan-"
"Kalau sudah tahu, mengapa kau tidak segera meloloskan senjata andalanmu itu?"
Dibelakang punggung sikakek tersoren sepasang senjata poan koanpit,jelas benda itu merupakan senjata andalannya, tapi kakek itu sama sekali tidak mencabutnya keluar.
Pedang emas segera menganggap tindakan musuh sebagai suatu penghinaan terhadapnya, dengan geram ia berseru.
"Tua bangka busuk. bila kau enggan mencabut keluar senjatamu, jangan menyesal kalau mati konyol nanti."
"Haaaah.....haaaah......haaaaah......untuk menghadapi manusia seperti kau, kenapa aku mesti mempergunakan senjata andalanku?"
Sikapnya amat angkuh dan sama sekali tak memandang sebelah mata pun terhadap lawannya. Putri Kim huanpun turut tertegun sehabis mendengar perkataan itu, diam-diam pikirnya.
"Kalau dibilang siapakah manusia paling latah dikolong langit dewasa ini, rasanya orang tersebut adalah kakek ini, ia betul-betul sombong dan takabur"
Sementara itu kakek berambut putih tadi telah berkata lagi.
"Ko Hong liang, kau jangan kuatir, asal aku betul-betul tak sanggup menghadapi dirimu nanti, aku akan pergunakan senjata. Nah cabutlah pedangmu sekarang."
Sebagai seorang jago kenamaan, sudah barang tentu pedang emas enggan menunjukkan kelemahannya dihadapan orang lain, dengan cepat dia menyarungkan kembali pedangnya, kemudian berkata.
"Baiklah, jika kau tak pergunakan senjata akupun tak akan menggunakan pedang ku."
"Hey, kalau pedang mu tak dipergunakan jangan menyesal bila sampai mampus diujung telapak tanganku nanti"
Berbicara sampai disitu, kedua belah pihak sama-sama mulai bergerak menuju kedepan.
Gerakan tubuh mereka berdua sama-sama diluar dengan kecepatan luar biasa dalam waktu singkat mereka telah terlibat dalam suatu pertarungan yang amat seru.
Suatu ketika sepasang telapak tangan mereka saling beradu satu sama lainnya tanpa menggerakkan posisi semula, dan hal ini dilanjutkan dengan gerakan saling menggempur.
Berapa saat kemudian seluruh badan pedang emas sudah basah kuyup oleh keringat.
Begitu pula keadaan sikakek berambut putih itu, badannya basah kuyup bagaikan baru tercebur kedalam air.
sementara tanah yang mereka injak pun kian lama melesat kian kedalam dari sini dapat dibayangkan petapa serunya pertarungan adu jiwa yang berlangsung saat itu.
Dalam pada itu pertarungan antara pedang kayu dengan Kian Ji pun berlangsung tak kalah serunya.
Sesudah bertempur seperminum teh lamanya dengan cepat pedang kayu menemukan bahwa jurus serangan yang digunakan Kian Ji meski sangat hebat dan luar biasa namun tenaga dalam yang dimilikinya amat bersahaja.
Berhasil menemukan titik kelemahan itu pedang kayu segera memanfaatkan dengan sebaikbaiknya.
Kian Ji bukan orang bodoh, dengan cepat diapun berhasil menebak jalan pemikiran lawannya, serta merta dia mengandaikan kelincahan dan kegesitan tubuhnya untuk bergerak kian kemari.
Makin bertarung pedang kayu semakin gemas karena usahanya tak pernah berhasil seperti yang dlinginkan, akhirnya sambil bertarung dia mengumpat tiada hentinya.
Suatu ketika, tiba-tiba pedang kayu berpikir.
"Jika aku tak berhasil membunuh sibudak ingusan, dan merobek mulutmu yang kotor, aku bersumpah tak akan hidup sebagai manusia dikemudian hari....."
Begitu amarahnya makin berkobar, tanpa disadari dia semakin terperangkap oleh jebakan Kian Ji.
Rupanya Kian Ji memang bermaksud hendak membangkitkan hawa amarah lawannya sebab dengan berkobarnya amarah musuh, berarti kekuatan serangannya akan bertambah mengendor.
Mendadak terdengar suara ledakan keras yang amat memekikkan telinga bergema memecahkan keheningan-Rupanya pertarungan antara sipedang emas dengan kakek berambut putih itu sudah mencapai pad a puncaknya, dua kekuatan yang saling beradu menimbulkan ledakan yang amat dahsyat.
Pasir dan debu berguguran dimana-mana, bukan saja seluruh badan pedang emas berpelepotan lumpur, bahkan kakek berambut putih itupun menjadi mengenaskan sekali keadaannya, baik badan maupun jenggot putihnya penuh dengan pasir dan tanah.
"Hey tua bangka"
Seru pedang emas kemudian-"Pertarungan semacam ini benar-benar memantapkan hati bukan?"
Kakek itu tertawa tergelak.
"Haaaaah.......haaaaah.......haaaaaah........Ko Hong liang, ilmu Tay jiu eng hoatmu memang benar-benar luar biasa hebatnya"
"Hey tua bangka celaka, kau tak usah banyak bicara lagi, bagaimanapun juga ilmuku masih seimbang dengan ilmu pukulan Tui mo jiu mu bukan?"
Mendengar perkataan tersebut berubah hebat paras muka sikakek berambut putih itu dia sama sekali tak mengira kalau musuhnya dapat mengenali ilmu pukulan andalannya secara tepat.
Setelah menghela napas panjang, akhirnya kakek itu mengeluh.
"Aaaai, dasar sudah tua, dasar sudah tua....."
"Bagaimana? Sekarang kau harus meloloskan senjata andalanmu bukan?"
Jengek sipedang emas lagi.
"Kau anggap ilmu pedangmu memiliki kemampuan yang luar biasa?"
"Tentu saja,aku justru akan menyuruh kau rasakan kehebatan ilmu pedang tangan kiriku"
Pelan-pelan kakek berambut putih itu meloloskan senjata poan koan pitnya lalu bergumam.
"Sudah lama sekali aku tak pernah menggunakan sepasang penaku ini....."
"Oleh sebab itu kau pasti akan teledor dengan latihanmu dan aku percaya kau bukan tandinganku lagi."
"Aaaah, belum tentu begitu"
Meski berkata begini, namun ia sudah tak berani memandang enteng kemampuan lawannya lagi.
Dalam pada itu pedang emas pun telah meloloskan dan melepaskan sebuah serangan gencar kedepan.
Kakek berambut putih itu sama sekali tak menjadi gugup, dengan cekatan dia menggetarkan senjata poan koan pitnya lalu melancarkan bacokan balasan-Pertarungan sengitpun berkobar dengan serunya.
Dalam pada itu, pedang perak masih belum sembuh sama sekali, dia tetap tertidur dengan nyenyaknya.
Sebaliknya pedang air telah sadar kembali sepasang matanya sedang mengawasi kearena tanpa berkedip.
Walaupun dia melihat bagaimana sipedang kayu terdesak hebat dan saban kali menghadapi ancaman bahaya maut, tapi sayang kekuatan tubuhnya sudah banyak menderita kerugian hingga ia tak berani maju kemuka untuk memberikan bantuannya.
Putri Kim huan yang melihat kejadian ini kontan saja berseru.
"Hey pedang air, bagaimanapun jua pedang kayu adalah sesama saudara seperguruanmu. Apakah kau hanya akan berpeluk tangan belaka membiarkan saudaramu dibunuh orang?"
Ucapan mana dengan cepat membangkitkan kembali semangat didalam dada pedang air.
Tanpa memikirkan resikonya lagi, pedang air segera melompat bangun, meloloskan pedangnya dan langsung membacok tubuh Kian Ji.
Dengan ikut sertanya pedang air didalam pertarungan ini, keadaan situasi perta runganpun segera mengalami perubahan besar.
Pedang kayupun merasakan semangatnya berkobar kembali, serangan demi serangan segera dilancarkan makin bersemangat dan bertenaga.
Dibawah gencetan sipedang kayu dan pedang air yang hebat, pelan-pelan keadaan Kian Ji makin terdesak.
Posisinya makin terjepit dan keselamatan jiwanya berada diujung tanduk.
Tak selang berapa saat kemudian tiba-tiba terdengar Kian Ji menjerit kesakitan lalu roboh terjungkal keatas tanah dengan tubuh berlumuran darah.
Kasihan gadis yang cantik jelita itu, jiwanya segera melayang meninggalkan raganya.
Melihat putri kesayangannya tewas, kakek berambut putih itu menjadi amat gusar, teriaknya keras-keras.
"Bocah keparat, aku bersumpah akan mencincang tubuh kalian berdua hingga hancur berkeping-keping .
"Sayang sekali serangan demi serangan yang dilancarkan pedang emas dengan ilmu tangan kirinya terlampau cepat dan luar biasa, sehingga untuk berapa saat kakek berambut putih sama sekali tak mampu bergeser dari kedudukannya semula.
Belum lagi kakek berambut putih itu sempat menyerang pedang kayu dan pedang air, sebaliknya kedua orang lawan tangguhnya ini telah menyerbu masuk kearena pertarungan dan mengerubutinya dari empat penjuru.
Dengan demikian, kakek berambut putih itu harus menghadapi serbuan dari tiga orang musuhnya sekaligus.
Mendadak terdengar pedang emas berteriak.
"Kalian tak usah membantu aku, ayoh cepat mundur."
Padahal perkataan itu hanya diucapkan untuk melindungi dirinya dari rasa malu, sebab yang benar dia memang sangat mengharapkan bantuan dari pedang kayu danpedang air.
Bagaimanapun jua kepandaian silat mereka berimbang, ini berarti tanpa bantuan dari kedua orang saudara seperguruannya mustahil baginya untuk bisa meraih kemenangansementara itu sikakek berambut putih itu paling benci terhadap pedang kayu, sebab dengan mata kepala sendiri dia menyaksikan bagaimana sipedang kayu membunuh putrinya.
oleh sebab itu begitu pedang kayu terjunkan diri kedalam arena pertarungan, ia segera mengalihkan seluruh serangannya ketubuh pedang kayu.
Jalan darah Hu tiong hiat merupakanjalan darah penting yang mematikan, saat itu sikakek telah memusatkan perhatiannya untuk menghajar jalan darah itu ditubuh pedang kayu dengan senjatanya.
Bisa dibayangkan, andaikata jalan darah tersebut sampai terhajar, niscaya selembar jiwa pedang kayu akan melayang.
Namun pedang kayu sama sekali tak gentar, dengan memutar pedangnya menggunakan jurus sukma gentayangan dalam neraka, dia sambut datangnya ancaman tersebut.
"Traaaaannnggggg......"
Sepasang senjata saling beradu menimbulkan suara benturan yang amat nyaring.
Akibat dari bentrokan tersebut, tubuh sipedang kayu tergetar mundur sejauh beberapa langkah dari posisi semula.
Tapi pada saat itu pula sipedang emas dengan jurus "delapan penjuru angin berhembus"
Langsung melepaskan ancaman maut ketubuh kakek berambut putih itu.
Serangan itu datangnya sangat cepat dan sama sekali diluar dugaan menanti kakek berambut putih itu menyadari akan datangnya ancaman, ia tak sempat lagi untuk berkelit kesamping.
Jilid 47 Dalam keadaan begini terpaksa dia harus menggetarkan senjatanya untuk menyambut ancaman mana dengan kekerasan.
Tapi sayang pada saat yang bersamaan pula sipedang air telah melepaskan serangan mautnya pula dengan jurus ombak dahsyat memecah dipantai.
Tak terlukiskan rasa kaget kakek berambut putih itu, tiba-tiba ia menjerit lenking.
"Habis sudah riwayatnya kali ini......"
Disusul kemudian terdengar suara badan yang tersambar senjata, semburan darah segar memercik keluar dari tubuh kakek berambut putih itu.
Tatkala pedang emas mencabut keluar pedangnya yang berlumuran darah, kakek berambut putih itu tak mampu menahan diri lagi.
ia mundur tiga langkah dengan sempoyongan dan tak pernah bangun kembali.
Ditengah keheningan yang mulai mencekam seluruh ruangan, tiba-tiba terdengar seseorang memuji.
"Bagaimanapun juga pedang emas masih tetap pedang emas"
Ketika semua orang berpaling, ternyata orang yang berbicara barusan adalah pedang perak.
Waktu itu dia sudah bangkit berdiri dengan semangat yang lebih segar kembali.
Sebaliknya sipedang air terbatuk-batuk keras sambil berbisik.
"Habis sudah.....habis sudah riwayatnya..... oooh.....oooh......aku benar-benar tak sanggup menahan diri lagi."
"Siapa suruh kau banyak mencampuri urusan orang lain?"
Tegur pedang emas dengan kening berkerut. Kemudian setelah mengalihkan sorot matanya dan memperhatikan sekejap sekeliling ruangan, dia berkata lagi.
"Sudahlah, sekarang kalian segera mengikuti aku"
Dalam keadaan begitu, meski mereka enggan menuruti, namun tak seorangpun yang berani membantah.
Maka pedang emaspun membopong putri Kim huan dan berlarian meninggalkan tempat tersebut dengan kecepatan tinggi.
Pedang perak serta pedang kayu dan pedang air terpaksa harus mengikuti dari belakang.
Sepanjang jalan tak seorangpun berani berbicara, kalaupun ada suara yang terdengar maka suara itu hanya pedang air yang makin lama makin bertambah parah.
Semakin cepat mereka melanjutkan perjalanan, semakin kepayahan sipedang air untuk mengikutinya .
Tapi pedang air tak berani banyak bicara, terpaksa dia harus pertaruhkan nyawa sendiri untuk mengikuti terus.
Waktu itu, putri Kim huan yang berada dalam bopongan pedang emas merasa kegirangan setengah mati, terdengar ia berkata.
"Tak disangka kau mampu berlarian secepat ini, betul-betul sangat menarik hati, kalau aku bisa berbuat seperti dirimu. ooooh..... betapa bahagianya hatiku"
"Jadi kau ingin berlarian secepat aku?"
Tanya pedang emas.
"Mengapa tidak?"
"Kalau begitu kau harus melatih diri dengan tekun."
"Sebetulnya aku ingin berlatih, sayang tak ada orang yang mau mengajarkan kepadaku, bersediakah kau mengajarkan ilmu itu kepadaku?"
"Tentu saja, tapi kau harus mengangkat diriku sebagai guru?"
"Aku bersedia"
"Bukan masalah yang gampang untuk bisa diterima sebagai murid"
Kata pedang emas tertawa.
"Boleh saja bila kau ingin, tapi ada sebuah syarat yang harus dipenuhi dulu."
Putri Kim huan memang berhasrat sekali belajar ilmu silat, dengan wajah bersungguh-sungguh ia segera bertanya.
"Apa syaratmu? cepat katakan-"
"Dekatkan telingamu kemari, akan kuberitahukan kepadamu."
Putri Kim huan segera menempelkan telinganya diatas bibir pemuda itu.
oleh karena mereka berdua memang berjalan dalam jarak yang begitu dekat maka pedang emas perlu berbicara dengan suara keras.
Bukan saja pedang kayu, pedang perak danpedang air yang mengikuti dari belakangnya tidak mendengar apa yang dibicarakan, rasanya para membacapun tidak akan mendengarnya bukan?
Apa yang sebenarnya dibisikkan oleh pedang emas?
Tiba-tiba saja terlihat paras muka putri Kim huan berubah menjadi merah padam seperti kepiting rebus, lalu serunya gemas.
"Huh, dasar cabul"
Perjalanan kembali dilanjutkan hampir selama berapa jam lamanya sebelum akhirnya tiba didepan sebuah gua yang rahasia sekali letaknya. Sambil menghentikan perjalanannya, pedang emas berkata.
"Tuan putri, disinilah rumahku, orang menyebutnya gua sembilan tikungan, sukakah kau dengan tempat ini?"
Waktu itu pedang kayu, pedang air danpedang perak telah menghentikan pula perjalannnya dan berdiri mematung disamping.
Mereka tak habis mengerti apa sebabnya pedang emas mengajak mereka datang kesitu, sebab sebelum hari ini tak seorangpun diantara mereka yang pernah berkunjung kemari.
Putri Kim huan memeriksa sebentar sekeliling tempat itu, lalu serunya tertahan.
"Woo..... gua ini betul-betul aneh"
Pedang emas merasa sangat gembira mendengar gadis itu memuji tempat tinggalnya dengan bangga dia berkata lagi.
"Disini mah belum seberapa, setelah masuk kedalam nanti, kau pasti akan menjumpai hal-hal lain yang lebih menarik lagi"
Putri Kim huan benar-benar amat gembira apalagi tujuan kedatangannya kedaratan Tionggoanpun untuk berpesiar, maka cepat-cepat katanya.
"Bagus sekali, cepat kau ajak aku masuk kedalam."
Pedang emas tidak menanggapi perkataan itu, sebaliknya kepada para adik seperguruannya dia menjelaskan.
"Gua ini disebut gua sembilan tikungan karena ditempat ini terdapat sembilan buah tikungan gua, tapi yang benar-benar bisa tembus sampai keruang tidurku hanya tiga buah saja."
Pedang perak, pedang kayu danpedang air tidak memahami maksud abang seperguruannya, maka sahutnya bersama-sama.
"Mengerti.......mengerti......"
"Sesungguhnya aku mengajak kalian datang kemari karena kubutuhkan bantuan dari kalian semua"
Kembali pedang emas menerangkan-"Silahkan toa suheng memberi perintah."
"Aku hendak meminta kepada kalian masing-masing menjaga pintu masuk ketiga mulut gua tersebut, barang siapa saja yang berani datang kemari, kalian harus berusaha untuk menghalaunya pergi."
Untuk sesaat ketiga orang itu saling berpandangan tanpa berkata-kata.
Sebagaimana diketahui, baik pedang perak.
pedang kayu maupun pedang air, mereka semua merupakan orang-orang sibuk yang mempunyai pekerjaan serta kepentingan sendiri.
Tentu mereka segan menjadi anjing penjaga pintunya pedang emas.
Tapi perintah dari pedang emas pun tak berani dibantah atau ditentang oleh siapapun.
Tak heran kalau untuk berapa saat lamanya semua orang berdiri menjublak dengan wajah serba salah.
Terdengar sipedang emas berkata lagi.
"Tapi kalian tak usah gelisah, sebab aku hanya minta bantuan kalian selama tiga hari saja."
Begitu ucapan tersebut diutarakan, semua orang segera merasa hatinya amat lega, buru-buru sahutnya.
"Kami bersedia, kami bersedia."
"Bagus sekali kalau kalian bersedia, mulai sekarang pedang perak menjaga dimulut gua sebelah timur pedang kayu menjaga diutara danpedang air dibagian selatan .Jangan biarkan siapapun memasuki tempat ini sekalipun dia adalah Baginda raja, mengerti?"
Ketiga orang itu segera mengangguk bersama. Kembali pedang emas menjelaskan.
"Pada ketiga buah mulut gua itu masing-masing terdapat sebuah ruang batu, disitu telah kusiapkan semua kebutuhan yang diperlukan, termasuk pula bahan rangsum."
"Aku percaya pekerjaan ini tidak terlalu melelahkan, asal tak biarkan orang lain masuk. aku rasa kalian pun tak usah menguatirkan keselamatan jiwa kalian lagi."
Ketiga orang itu cukup memahami watak abang seperguruannya, apa yang telah diucapkan dapat pula dilaksanakan, dengan membawa beban pikiran yang berat merekapun bergerak menuju ke posnya masing-masing.
Pedang emas sendiri dengan mengajak putri Kim huan langsung memasuki gua tersebut melalui mulut gua sebelah timur.
Setelah menempuh perjalanan yang berliku-liku sekian waktu, akhirnya sampailah mereka didalam sebuah ruangan.
Ruangan itu amat indah dengan perabot yang mewah, cahaya lentera menerangi setiap sudut ruangan-Pedang emas mengajak putri Kim huan menuju kesebuah pembaringan, lalu katanya.
"Kita sudah sampai ditempat tujuan"
"Mau apa kau mengajakku kemari?"
Tanya putri Kim huan-"cepat letakkan lentera hijau disana"
Putri Kim huan menurut dan meletakkan lentera hijau itu diujung pembaringan.
Pada saat itu pedang emas sudah berjalan makin mendekat, bau aneh yang terpancar keluar dari tubuh pedang emas segera menggetarkan perasaan putri Kim huan-Tiba-tiba gadis itu seperti menyadari akan sesuatu, segera teriaknya tertahan-"IHey......mau.......mau apa kau?"
"Masa kau masih belum mengerti?"
Pedang emas balik bertanya sambil tertawa terkekehkekeh. Putri Kim huan semakin terperanjat, dengan wajah ketakutan cepat-cepat berteriak.
"Jangan..... jangan-......aku tidak mengerti"
Sambil berkata ia berusaha menahan gerak maju pemuda tersebut dan menolak permintaannya.
Tapi dengan kemampuan yang dimiliki pedang emas, mampukah gadis tersebut untuk menolak keinginannya?
Dalam keadaan apa boleh buat terpaksa putri Kim huan harus mencakar, menyambar dan mendorong dengan menggunakan segala kemampuan yang dimilikinya.
Suatu ketika karena bersikap kurang hati-hati, dia telah menyambar kain kerudung muka pedang emas hingga terlepas.
Raut muka pedang emas yang jelek dan menyeramkan pun segera muncul didepan mata.
Putri Kim huan menjerit histeris, teriaknya keras-keras.
"Kau.......kausetan-.....kau bukan manusia"
Pedang ems tertawa keras, suara gelak tertawanya lebih mengerikan daripada jeritan kuntilanak. ditengah malam.
"Bagus, bagus sekali"
Serunya dingin.
"Setelah kau melepaskan kain kerudung mukaku, rasanya akupun tak perlu merahasiakan wajahku lagi dihadapanmu."
Putri Kim huan merasa takut bercampur sedih, sambil menangis tersedu-sedu pintanya.
"Lepaskanlah aku....bebaskanlahaku.... kumohon-.. lepaskan aku........"
"Membebaskanmu? IHuuuuh, gampang amat kalau bicara"
Jengek pedang emas dengan suara dalam.
"Setan busuk. kau......kau setan biadab"
"Hmmm, apakah kau menganggapku kelewat jelek? Siapa suruh nasibmu kurang beruntung, salahmu kau masih mau ikut bersamaku"
"Tidak. jangan-... jangan sentuh aku"
Sekuat tenaga putri Kim huan berusaha memberikan perlawanan.
"cepat lepaskan aku, lepaskan aku......"
Pedang emas tertawa seram gelam tertawanya kian lama kedengaran makin mengerikan hati.
"Haaaaah....haaaaaah......bukankah kau mengatakan aku cabul? Baik, anggaplah aku memang cabul, sekarang akan kubuktikan kecabulanku dihadapanmu"
Putri Kim huan menjerit sambil menangis, dia masih berusaha memberikan perlawanan yang terakhir, meski perlawanan tersebut sama sekali tak ada artinya.
Sesungguhnya pedang emas berniat memulihkan wajahnya lebih dulu dengan menggunakan lentera hijau.
Namun setibanya dalam ruangan tadi, ia tergiru oleh kecantikan wajah putri Kim huan sehingga tak mampu untuk mengendalikan diri lagi.
Kini, pedang emas telah dipengaruhi oleh kobaran api birahi, tiada hentinya dia tertawa seram.
Putri Kim huan merasa mual, dia ingin muntah, gelak tertawa yang begitu mengerikan dari pedang emas membuat perutnya seperti diaduk-aduk.
dia tak mampu menahan diri lagi, dia mencoba memberi perlawanan sekuat mungkin-"Kau....kau setan biadab, kau setan jelek......
lepaskan aku......kau setan terjelek didUnia ini....."
Teriak-teriakan keras bergema mengiringi isak tangisnya yang memilukan hati. Pedang emas tetap tertawa, ia tertawa terus dengan suaranya yang mengerikan hati.
"Haaaah....haaaaah.....haaaaah.....memang aku memang jelek. aku memang manusia terjelek dikolong langit......."
Sambil berseru dengan sepasang tangannya yang kuat dia mulai merangkul tubuh putri Kim huan dan memeluknya kencang-kencang.
Putri Kim huan sudah berusaha untuk melawan, tapi tubuhnya seketika terpeluk oleh rangkulan pedang emas sehingga tak berkutik lagi.
Tangannya yang halus lembut sudah tertindih dibalik tubuh pedang emas yang keras berotot, ia tak mampu berkutik saat itu dia hanya bisa merasakan aliran darahnya yang mendidih.
"Setan jelek. setan busuk. lepaskan aku, cepat lepaskan aku......."
Jerit putri Kim huan lagi sambil menangis.
"Melepaskan kau? Haaaah.....haaaah..... takdirlah yang telah mengatur kesemuanya itu, takdirlah yang mengirim kau dari negeri Kim yang begitu jauh kesisi tubuhku, mengapa aku harus menentang takdir dengan membebaskan dirimu?"
"Tapi aku....aku tak sudi bersama setan jelek seperti kau....."
Putri Kim huan masih mencoba meronta.
"Haaaah.....haaaaah.....aku tak perduli kau bersedia atau tidak, pokoknya saat ini kau harus melayani aku"
Gelak tertawa pedang emas semakin keras. ooo0ooo Putri Kim huan merasa napasnya sesak. pelukan pedang emas membuatnya sukar bernapas, sambil meronta terus kembali teriaknya.
"Aku tak mau, aku tak mau..... apa artinya kau memaksaku untuk melayani dirimu?"
"Justru keadaan beginilah baru asyik, semakin kau menolak. semakin asyik bagiku."
"Aku benar-benar tak mengerti, mengapa kau harus berbuat begini? Uuuuh......uuuh.....aku sama sekali tak suka kepadamu"
"Jadi kau ingin tahu? "jerit pedang emas.
"Baik, akan kuberitahu, aku berbuat begini karena kau perempuan dan aku laki-laki."
"Apakah seorang laki-laki harus menganiaya seorang perempuan?"
"Memang begitulah seharusnya, setiap lelaki harus dapat menaklukkan kaum wanita."
"Kuharap kau jangan berbuat demikian, jangan-.... kumohon kepadamu.... jangan-"
Kembali pedang emas tertawa seram.
"Heeeeh......heeeeh.....heeeeh......tuan putri, semestinya kau bangga karena kutaklukkan, sebab akulah lelaki diantara kaum lelaki, sedang kau adalah perempuan diantara kaum perempuan-Kita memang sudah ditakdirkan untuk berpasangan-"
"Hmmm, siapa yang sudi berpasangan denganmu? Kau manusia kotor, manusia rendah cabul"
Pelan-pelan pedang emas menarik napas panjang-panjang, katanya kemudian-"Kau tak usah takut karena tubuhmu berhasil kucicipi, sebab disaat kaum lelaki berhasil menaklukkan kaum wanita, kaum wanita belum menderita kekalahan total, sebab wanitapun bisa membentak kaum lelaki semua dengan keinginan hatinya."
Berbicara sampai disitu secara setengah paksa dia menempelkan wajahnya yang jelek dan rusak itu keatas wajah putri Kim huan yang cantik jelita bak bidadari dari kahyangan itu.
Tiba-tiba saja putri Kim huan merasakan jantungnya berdebar keras, bau lelaki yang khas serasa menyusup kelubuk hatinya, membuat dadanya terasa sesak.
Tak lama kemudian suasana pun menjadi hening dan sepi.
Yang terdengar hanya dengusan napas dan rintihan kenikmatan dari pedang emas yang sedang merasakan kenikmatan hidup,...
Sampai lama kemudian-....pedang emas baru menghembuskan napas panjang hembusan napas kepuasan-....
Saat itu pula terdengar putri Kim huan berteriak dengan penuh amarah.
"Kau setan jelek. manusia biadab berhati busuk. kau pasti akan mati konyol, mati secara tragis....."
Pedang emas tertawa tergelak.
"Haaaah.....haaaaah.....haaaaah......apakah aku kurang baik terhadap dirimu? Kau toh bisa menciptakan aku sebagai lelaki yang sesuai dnegan kehendak hatimu?"
"Tidak, tidak, aku tak sudi bersama lelaki semacam kau? Kau lelaki cabul, lelaki biadab"
Putri Kim huan menangis terisak.
"Tak usah takut"
Bujuk pedang emas sambil merangkul pinggang gadis itu erat-erat.
"Bila kau bisa melahirkan seorang putri untukku, aku percaya putri kita pasti merupakan seorang gadis paling hebat dikolong langit dewasa ini."
"Tapi sayang aku tak sudi"
Tampik putri Kim huan tegas-tegas.
"Tidak usah kau kelewat keras kepala, putri kita pasti yang akan mewarisi kecantikan wajahmu dan kecerdikan setiap orang didunia ini tentu akan mengagumi mereka."
"Tidak-bila aku melahirkan anak dengan kau, sudah pasti bocah itu akan menjadi manusia yang paling dikasihani dikolong langit."
"Kenapa?"
Tanya pedang emas keheranan-"sebab bocah itu akan mewarisi wajahmu yang jelek dan watak yang lemah dariku"
Mendengar sampai disitu, pedang emas tak bisa menahan diri lagi, ia segera tertawa terbahakbahak.
Gelak tertawa mana segera membuat wajahnya yang jelek kelihatan lebih seram dan menggidikkan hati.
Memandang raut muka pedang emas yang rusak dan jelek seperti setan itu kembali putri Kim huan merasa muak dan ingin muntah segera bentaknya sinis.
"cepat lepaskan aku, kau manusia jelek."
Pedang emas berbicara, dia hanya tertawa tiada hentinya. Kembali putri Kim huan berkata.
"Kumohon kepadamu, lepaskan aku, aku percaya tak akan ada seorang manusiapun yang bersedia hidup secara baik-baik dengan manusia jelek macam dirimu itu."
Pedang emas kelihatan tertegun, lalu tanyanya serius.
"Kau selalu mengatakan aku jelek benarkah kau tidak menyukai diriku......"
"Tentu saja"
Pedang emas segera tertawa seram.
"Toaya toh tidak harus memaksamu untuk mencintai aku, lagi pula tampang ku jelek atau tidak-toh merupakan urusan pribadiku sendiri"
"Tapi sayang tampangmu kelewat jelek andaikata aku menjadi dirimu......."
"Mau apa kau?"
Sela pedang emas gusar.
"Aku pasti akan menjauhi setiap orang aku pasti akan membebaskan semua perempuan, daripada mereka merasa muak dan ingin muntah, daripada orang menyumpahi dirimu, ini merupakan langkah pertama."
Pancaran sinar amarah mulai mencorong keluar dari balik mata pedang emas, tiba-tiba jeritnya.
"Apa langkah yang kedua?"
"Langkah kedua, aku akan pergi kelautan timur dan menceburkan diri kedalam laut untuk menghabisi hidup sendiri, daripada kejelekannya dicaci maki orang dan disumpahi orang sepanjang masa"
Perlu diketahui, titik kelemahan yang terbesar bagi manusia adalah disaat kelemahannya dikorek-korek orang, apalagi buat pedang emas yang selalu menganggap dirinya hebat dan luar biasa, kata-kata putri Kim huan diterimanya bagaikan sebuah tamparan keras.
Untuk berapa saat lamanya pedang emas berdiri tertegun, memandang wajah putri Kim huan dengan termangu-mangu sementara kobaran api kegusarannya makin membara didalam dadanya.
Putri Kim huan yang menyaksikan peristiwa ini menjadi tertegun, katanya kemudian.
"Hey......kenapa......kenapa kau?"
"Kau tak usah mencampuri urusanku"
"IHuuuh, siapa yang akan mencampuri?"jengek putri Kim huan dengan nada menghina.
"Benarbenar manusia tak tahu diri cepat lepaskan aku"
Dengan berangnya pedang emas segera berteriak.
"Kau anggap dirimu adalah perempuan yang luar biasa, siapa yang kesudian denganmu?"
Sambil berkata ia segera membebaskan pelukannya dan mendorong gadis itu kebelakang.
Putri Kim huan sama sekali tak menyangka kalau pedang emas akan membebaskannya secara tiba-tiba lalu mendorongnya, seketika itu juga tubuhnya terlempar keujung pembaringan, dan kepalanya menumbuk ditepi ranjang hingga terasa pusing sekali.
Kembali pedang emas berseru sambil tertawa dingin.
"Sebenarnya aku menyukai dirimu, tapi sekarang....seka rang aku sudah berubah pikiran-Aku benci dirimu, tidak.....aku muak kepadamu, aku bosan kepadamu....."
"Aku tak ambil perduli kau bosan kepadaku atau muak kepadaku....."
Seru putri Kim huan sambil menangis.
"Lalu apa yang kau minta?"
Teriak pedang emas sambil menggertak giginya kencang-kencang .
"Aku hanya berharap kau jangan menggubris diriku lagi."
Pedang emas segera meludah.
"cuuuh, sekalipun kau berlutut dihadapanku dan merengek-rengek, tak nanti aku tak akan menggubris dirimu lagi."
"Bagus, sepanjang hidup kau tak usah berpikir untuk mengusik diriku lagi....."
Putri Kim huan tertawa dingin. Pedang emas agak tertegun, tapi segera teriaknya gemas.
"Apa kau bilang? Aku belum sempat mendengarnya dengan jelas."
Dengan angkuh putri Kim huan melengos kearah lain, sambil membelakangi pedang emas dia berkata.
"Kecuali kau menggunakan kekerasan untuk menggagahi diriku, jangan harap aku bisa berbuat baik kepadamu."
Tapi....saat itulah mendadak pedang emas menerjang kemuka seperti harimau kelaparan yang menerkam domba, dengan suatu gerakan cepat ia mencengkram tubuh putri Kim huan-Dengan perasaan terkejut putri Kim huan berpaling, jeritnya kaget.
"Kau.......mau apa kau?"
Dengan kasar pedang emas menarik celananya hingga robek. teriaknya keras-keras.
"Akan kurobek kulit luarmu yang palsu itu, agar kau bisa mengetahui dirimu yang sebenarnya."
Tidak menanti reaksi dari putri Kim huan ia menarik celana itu keras-keras hingga kerobek sama sekali.
Tubuh putri Kim huan yang indahpun segera muncul didepan mata dalam keadaan bugil, diatas kulit tubuhnya yang putih, kini telah membekas sambaran jari kuku yang panjang.
Keadaan pedang emas saat itu seperti orang kalap.
dia menarik dan merobeki semua pakaian yang dikenakan putri Kim huan dari atas sampai kebawah sehingga dalam waktu singkat gadis tersebut berada dalam keadaan telanjang bulat tanpa secuwil benangpun.
Putri Kim huan berusaha menutupi tubuh bagian rahasianya dengan jari tangan, ia merasa malu, gusar dan mendongkol, sambil menangis terseduh-seduh teriaknya.
"Apa maksudmu....... kau.......kau tak ubahnya seperti hewan, kau binatang berkedok manusia."
Melihat keadaan putri Kim huan yang begitu mengenaskan, pedang emas merasa amat puas dan bangga, serunya sambil tertawa terbahak-bahak.
"H^aaah......haaaaah......haaaaah......sekarang boleh bercermin, coba lihat siapa yang lebih mirip hewan"
Secara kasar dia menarik tangan putri Kim huan dan diajak berdiri didepan cermin, setelah itu kembali katanya.
"coba lihatlah, beginikah tampang seorang tuan putri dari negeri Kim? Betul-betul tak mirip..."
Dalam keadaan dicengkeramnya tak mungkin buat putri Kim huan untuk membungkukkan tubuhnya, tapi diapun enggan melihat keadaannya yang bugil didepan cermin, maka sambil menjerit-jerit teriaknya.
"Kau bajingan keparat, manusia laknak suatu ketika kau bakal mati konyol disambar geledek"
Pedang emas sama sekali tak menanggapi dia malah tertawa terbahak-bahak. Kembali putri Kim huan berteriak.
"Setan jelek. cepat lepaskan aku, jepitan tanganmu membuat aku merasa kesakitan."
"Kau takut kesakitan"
Jengek pedang emas sambil menyeretnya kembali kearah pembaringan. Kembali putri Kim huan didorong hingga roboh tertelentang diatas pembaringan, melihat itu dengan suara gemetar gadis tersebut berseru.
"Kau.....kau jangan mengulangi lagi perbuatan biadabmu itu."
Pedang emas tidak menggubris, dia masih tertawa dengan seramnya.
Dalam keadaan begini, putri Kim huan tak bisa berbuat banyak kecuali tidur terlentang dengan badan gemetar keras, ia takut ia ngeri tapi diapun merasa marah dan mendongkol.
Pedang emas masih berdiri diujung pembaringan bagaikan seekor serigala yang sedang mengincar mangsanya, ia tidak berbuat lain kecuali melayangkan pandangan matanya dari atas hingga kebawah, dia seperti hendak menikmati keindahan tubuh sinona yang bugil sepuaspuasnya .
Saat ini putri Kim huan memang berada dalam keadaan telanjang bulat, seluruh lekukan tubuhnya yang paling rahasia tertera dengan jelas.
Dalam keadaan begini, dia bukan lagi seorang bangsawan putri darisuatu kerajaan.
Kini dia tal lebih hanya seorang wanita.
seorang buruan yang sedang diincar serigala lapar.
"Kau setan jelek, binatang rakus......"
Putri Kim huan mengumpat tiada habisnya.
Kalau bisa, dia ingin menggunakan semua kata-kata yang paling kotor dan paling keji untuk menghina dan memaki pedang emas.
Dengan suara dalam pedang emas menyahut.
"Yaabetul, aku memang jelek, sekalipun aku mirip binatang rakus, kaupun belum tentu mirip manusia baik. Hmmm, kau sendiripun tak lebih cuma seekor rase yang licik"
"Aku memang rase, lebih baik kau jangan mengusikku lagi"
"Kalau aku senang, mau apa kau?"
Putri Kim huan betul-betul merasakan seluruh badannya lemas, tulang belulangnya seperti sudah terlepas dari kerangka tubuhnya, dengan perasaan apa boleh buat akhirnya dia memohon.
"Lebih baik.....berilah......berilah kematian secepatnya kepadaku, agar aku terbebas dari siksaan secepatnya......."
Melihat rasa takut yang mulai membayangi wajah gadis itu, tanpa sadar sekulum senyum kemenangan tersungging diujung bibir pedang emas.
Semula putri Kim huan mengira permohonannya percuma saja, tak mungkin pemuda tersebut akan memenuhi permintaannya.
Diluar dugaan, tiba-tiba saja pedang emas menarik tangannya hingga terbangun dari pembaringan.
Dengan wajah tak percaya putri Kim huan segera berseru.
"Apa? Kau bersedia membebaskan aku?"
"Haaaah.....haaaah.....haaaaah......omong kosong, kau anggap aku benar-benar berniat memaksamu? "
"Tapi kau tadi......"
Putri Kim huan berbisik ragu-ragu.
"Hmmm, tadi toaya cuma bermaksud menjajal dirimu."
"Apa yang hendak kau coba?"
"Aku ingin tahu apakah kau benar-benar seorang perempuan suci yang saleh dan jujur."
"Hmmmmm, ngaco belo."
"Biar kau menuduh apa saja, buktinya kau memang tak bisa menahan diri nyatanya kau tak sanggup mengendalikan rangsanganku. Kau memang seorang perempuan rendah yang murahan?"
Merah padam selembar wajah putri Kim huan karena ucapan trsebut serunya kemudian.
"Rupanya kau sengaja hendak mempermainkan aku?"
"Haaaah.....haaaaah.....haaaaah.....memang begitulah niatku. Padahal sekalipun kau berlutut dihadapanku dan mohon kepadaku untuk memuaskan dirimu, belum tentu aku bersedia......hmmmm, kau anggap dirimu itu manusia macam apa? Masih ketinggalan jauh sekali."
Putri Kim huan tak tahan menghadapi ejekan tersebut, dia segera membantah.
"Aku adalah tuan putri dari negeri Kim sedang kau manusia macam apa? Huuuh kau tak lebih cuma manusia gelandangan dari dunia persilatan, berani amat kau menghina aku?"
"Jadi kau merasa terhina bukan?"
Jengek pedang emas. Setelah berhenti sejenak. dengan wajah serius terusnya.
"Tapi tahukah kau siapakah aku sipedang emas? Semenjak masih kecil dulu aku yang telah berkelana didalam dunia persilatan mencari nama besar dan banyak mendapat cinta kasih dari gadis-gadis cantik, tapi tak seorangpun yang kusenangi. IHmmm, sedang kau manusia macam apa dirimu itu?"
"Aku toh tak pernah memohon kepadamu untuk mengusikku"
Teriak putri Kim huan mendongkol.
Dengan geram pedang emas menyambar pakaian putri Kim huan yang kini sudah terkoyakkoyak tak karuan itu dan dilemparkan kearahnya sambil berseru penuh kegusaran-"Lebih baik tutup tubuhnya yang jelek itu secepat mungkin, kemudian enyah dari tempat ini"
Putri Kim huan tak kuasa menahan rasa sedihnya lagi, dia menangis tersedu-sedu.
"IHey, sudah kau dengar perkataanku?"
Kembali pedang emas berteriak nyaring.
"Sekarang juga enyah dari sini, enyah dari hadapanku"
Ternyata apa yang telah diucapkan itu benar-benar pula dilaksanakan, tanpa menggubris apakah putri Kim huan bersedia atau tidak-ia segera mencengkeram tubuh gadis itu kemudian mendorongnya keluar.
Putri Kim huan adalah seorang gadis yang lemah dan tak pandai bersilat terpaksa ia membiarkan pemuda tersebut berbuat sekehendak hatinya.
Tak selang beberapa saat kemudian, putri Kim huan sudah didorong dari ruangan itu.
"Blaaaaammmmm......"
Terdengar pintu ruangan dibanting keras-keras, dengan penuh amarah pedang emas telah menutup kembali pintu kamarnya.
Kini, tinggal putri Kim huan seorang diri tersekap diluar ruangan dalam keadaan telanjang bulat.
Sesungguhnya putri Kim huan ingin meninggalkan tempat itu secepatnya, berusaha menjauhi cengkeraman iblis hingga tak sampai diperkosa kembali oleh pedang emas.
Tapi kini, dia berada dalam keadaan telanjang bulat, bagaimana mungkin ia dapat meninggalkan tempat tersebut dalam keadaan begini?
Membayangkan apa yang baru saja dialaminya, putri Kim huan tak sanggup menahan diri lagi.
Rasa malu, menyesal, marah dan jengkel bercampur aduk menjadi satu dalam hatinya.
Sebaliknya pedang emas kelihatan amat senang, ia tertawa terbahak-bahak.
Sambil menahan rasa malu, putri Kim huan berteriak.
"Pedang emas, jikalau kau masih berperasaan, seharusnya kau memberi sebuah pakaian untukku......"
"Pakaian?"
Jengek pedang emas sambil tertawa tergelak.
"Untuk apa kau minta pakaian?"
"Kau betul-betul biadab"
Umpat sinona sambil menggertak gigi.
"Tak ada manusia didunia ini yang tak bermoral semacam dirimu."
"Bagus sekali, bukankah kau merasa muak melihat wajahku yang jelek? Nah sekarang kau boleh pergi dari sini, coba buktikan sendiri adakah orang didunia luar yang menganggap dirimu cantik"
Selesai mengucapkan perkataan itu, suasana menjadi hening dan tak terdengar suaranya lagi, jelas hal itu merupakan keputusannya yang terakhir.
Betapapun sedihnya putri Kim huan menangis dan berteriak^ pedang emas sama sekali tidak menggubris.
Sampai lama kemudian-.....setelah yakin kalau permintaannya tak mungkin terkabul, dengan perasaan sedih terpaksa putri Kim huan meninggalkan tempat itu.
Gua sembilan tikungan memang aneh sekali bentuknya, bukan saja tikungannya berliku-liku, terdapat pula banyak cabang jalan yang membingungkan-Berada dalam keadaan yang amat mengenaskan inilah putri Kim huan meneruskan perjalanannya menelusuri gua.
Sambil berjalan, tiada hentinya dia berpikir.
"Bagaimanapun juga aku adalah seorang putri bangsawan, kenapa aku tak mau hidup senang dalam istana, sebaliknya malah mengembara kedaratan Tionggoan dan mengalami nasib setragis ini."
"Pedang emas sisetan jelek. manusia biadab itu benar-benar terkutuk, dia telah menodai diriku secara biadab."
"Setan jelek ini memang lelaki yang paling busuk didUnia saat ini, mungkin semua lelaki sama jahatnya seperti dia...."
Berpikir sampai disitu, mendadak terlintas bayangan seorang lelaki didalam benaknya.
"Lelaki itu kekar, jujur, polos dan mengandung jiwa kelakian yang jantan serta perkasa."
"Rasanya hanya lelaki seperti dialah merupakan lelaki yang baik......"
Lelaki yang dipikirkan sekarang tak lain adalah Kim Thi sia.
"IHmmm, bila lelaki macam pedang emas dibandingkan dengan Kim Thi sia maka mereka berdua ibarat iblis dan Malaikat"
Diapun mulai membayangkan, seandainya orang yang merobek-robek pakaiannya tadi adalah Kim Thi sia, sekalipun pemuda itu berbuat lebih jauh pun akan dia layani dengan hati rela dan gembira.
Berpikir demikian tanpa terasa merah padam selembar wajah putri Kim huan, kembali pikirnya.
"Heran, mengapa aku mempunyai jalan pemikiran seperti ini? Kim Thi sia tak nanti akan berbuat sekurang ajar pedang emas, tak mungkin dia akan mempergunakan cara yang licik dan kotor semacam itu......"
Tiba-tiba terasa angin kencang berhembus lewat dia merasa menggigil dan bersin berulang kali.
Rupanya tanpa disadari ia telah berjalan keluar dari gua itu.
Dengan mempercepat langkahnya gadis itu segera berhambur keluar dari situ, dia ingin secepatnya meninggalkan tempat itu.
Mendadak......
Dihadapannya tahu-tahu telah muncul seorang jago pedang yang masih muda, putri Kim huan segera mengenali siapakah orang itu serunya tertahan.
"Pedang perak, rupanya kau"
Dengan sepasang mata yang tajam tak berkedip. pedang perak sedang mengawasi dirinya terus menerus, senyuman menghiasi ujung bibirnya. Putri Kim huan menjadi sangat keheranan pikirnya.
"Sungguh aneh, mengapa dia mengawasi diriku terus menerus?"
Berpikir demikian iapun segera menegur.
"Hey apa yang kau lihat?"
"Aaaah, tidak apa-apa....."
Sahut pedang perak sambil tertawa. Putri Kim huan semakin keheranan oleh tingkah lakunya itu.
"Mengapa kau tidak bersama-sama toa suheng?"
Tanya pedang perak kemudian dengan suara lembut. Mendengar ia menyinggung kembali soal pedang emas, putri Kim huan menjadi tak senang hati, ia tidak menjawab selain menggeleng.
"Jadi dia telah melepaskan dirimu dengan begitu saja?"
Sambung pedang perak lebih jauh.
"Lebih baik jangan kau singgung tentang sisetan jelek itu lagi, aku membencinya setengah mati"
"ooooh, rupanya kalian sedang cekcok?"
"Bukan hanya cekcok. pokoknya selama hidup aku tak sudi bertemu lagi dengannya"
Untuk sesaat pedang perak menjadi tertegun, diawasinya gadis tersebut dengan pandangan termangu-mangu.
Mendadak putri Kim huan menjumpai sorot mata yang sangat aneh dari balik pandangan mata pedang perak.
cahaya tersebut bagaikan sambaran petir yang menyambar hatinya seketika membuat hatinya bergidik dan merasa ngeri.
Penampilan cahaya mata yang terpancar dari balik mata pedang perak saat ini lebih mirip dengan pandangan rakus seekor binatang buas yang sedang mengawasi mangsanya.
Putri Kim huan pernah menyaksikan pandangan rakus ini belum lama berselang yakni disaat pedang emas sedang menerkamnya secara brutal dan memperkosanya secara keras.
Sungguh tak disangka, setelah bersusah payah meloloskan diri dari terjangan harimau lapar, kini harus berhadapan kembali dengan serigala buas.
"Pedang perak"
Gadis itu segera menegur.
"Apa yang sedang kau tertawakan?"
Pedang perak segera mendorong dinding batu dibelakang tubuhnya dan membuka pintu rahasia menuju keruangannya, kemudian menyahut.
"Tidak apa-apa, aku hanya akan mengajakmu memasuki kamar penjaga disudut timur gua sembilan tikungan-"
Begitu pintu ruangan terbuka, maka tampaklah sebuah ruangan yang indah dengan segala perabot yang mewah.
"Hey, apa maksudmu?"
Tegur putri Kim huan dengan wajah tercengang.
"Aku hanya berniat baik, aku ingin mempersilahkan dirimu untuk tidur dulu disini"
Kata pedang perak lagi sambil tertawa. Putri Kim huan jadi tak senang hati, ia segera menegur.
"Mengapa aku harus tidur disini?"
"sebab kau butuh istirahat."
"Tidak, aku tak mau beristirahat."
Pedang perak segera menengok sekejap kearah luar ruangan, kemudian katanya lagi.
"sekarang sudah menjelang tengah malam, kau ingin pergi kemana......?"
"Kau tak usah mencampuri urusanku"
Tukas putri Kim huan sambil cemberut.
Selesai berkata, dia segera melanjutkan langkahnya menuju keluar gua.
Dengan suatu gerakan cepat pedang perak segera melompat kedepan dan menghalangi jalan perginya, dia berseru.
"Tapi aku hanya bermaksud baik"
"Tidak. kaupun bukan orang baik-baik"
Bentak sinona nyaring.
"Sekarang tengah malam sudah tiba, bila kau berada seorang diri ditempat luar, bisa jadi akan bertemu dengan orang yang lebih jahat daripada aku.......apa jadinya bila sampai demikian?"
"Aku benar-benar tak habis mengerti, permainan busuk apakah yang sesungguhnya sedang kau rencanakan?"
Pedang perak segera tertawa nyaring.
"Apakah kau ingin pergi keluar untuk memikat hati semua lelaki didunia ini?"
"Kau anggap aku sudah gila....."
Jerit putri Kim huan dengan geramnya.
"Kau memang belum gila, tapi lelaki-lelaki yang bertemu denganmu akan menjadi gila semua."
"IHmmm, rupanya kau pun seorang manusia rendah yang cabul dan bejad moralnya."
"Bukan aku yang sudah bejad moralnya atau cabul......"
Kata pedang perak cepat. Kemudian setelah menelan air liur terusnya.
"Sebaliknya keadaanmu sekaranglah yang membuat orang tak bisa menahan diri dan menjadi gila."
"Apa istimewanya dengan keadaanku sekarang?"
Tanya putri Kim huan sambil berkerut kening.
"Apakah kau sendiripun tidak tahu?"
Perlu diketahui, sejak putri Kim huan dicemooh dan dipermainkan pedang emas mungkin karena cekaman rasa tegang, kaget dan ngeri yang kelewat batas, hal ini membuatnya seperti melupakan keadaan dirinya yang sesungguhnya.
Ia sudah lupa kalau pakaian yang dikenakan telah dicabik-cabik oleh pedang emas hingga tak karuan lagi bentuknya.
Dia lupa kalau dirinya saat ini berada dalam keadaan telanjang bulat tanpa selembar pakaianpun yang melekat ditubuhnya.
Sekalipun kemudian ia telah bertemu dengan pedang perak.
namun saat itu yang terpikir olehnya hanyalah berusaha melepaskan diri dari tempat itu, sehingga dia sendiripun lupa kalau dirinya saat itu belum berpakaian sama sekali.
Seandainya dia tahu kalau dirinya sekarang sedang berdiri dihadapan seorang pria dalam keadaan bugil, niscaya ia sudah dibuat malu sekali^ Begitulah, ketika pedang perak mengingatkan dirinya, dengan cepat gadis tersebut memeriksa tubuhnya.^ Begitu mengetahui keadaan dirinya, dia segera menghembuskan napas dingin seraya berseru.
"Aduh celaka, aku lupa kalau tak berpakaian...."
Sebaliknya pedang perak tertawa terbahakbahak kegelian.
cepat-cepat putri Kim huan berusaha menggunakan sepasang tangannya untuk melindungi bagian tubuhnya yang paling rahasia dan terlarang.
Sayang dalam gua tersebut hanya terdapat berapa butir batu kecil saja, sekalipun batu kecil itu bisa diambil namun tak mungkin bisa digunakan untuk menutupi bagian tubuhnya yang paling rahasia.
Dalam keadaan begitu, dia hanya bisa berjongkok diatas tanah sambil menutupi alat vitalnya.
Pedang perak tertawa makin keras, malah sambil bertepuk tangan serunya.
"Bagus, bagus sekali, dalam gaya begitu kau nampak lebih cantik dan menarik hati"
Putri Kim huan merasa malu selain mendongkol, cepat-cepat dia mengambil segenggam pasir kemudian diayunkan kewajah pedang perak.
Pedang perak tidak menyangka kalau gadis itu akan berbuat demikian matanya kemasukan pasir hingga mesti dikucak cepat-cepat.
Menggunakan kesempatan itulah putri Kim huan segera melarikan diri masuk kedalam ruangan-Sambil berlarian, gadis itu berteriak tiada hentinya.
"Pedang perak. kau setan menjemukan, kau betul-betul bukan manusia."
Dengan cepat pedang perak menyusul dari belakangnya, sambil berlarian ia menyahut.
"Baru saja aku bicara, kau sudah menjadi begini tegang, padahal tak perlu kau sembunyikan lagi, aku toh sudah melihat semua bagian tubuhmu dengan amat jelas."
"Apa yang kau lihat, apanya yang bagus dilihatnya?"
Jerit si nona.
Meskipun berkata begitu, dia merasa tak rela membiarkan tubuhnya yang telanjang bulat ditonton oleh pedang perak.
Sambil tergesa-gesa masuk kedalam ruangan dia mencoba menemukan sesuatu guna menutupi bagian tubuhnya yang rawan-Tapi untuk berapa saat dia menjadi bingung, apa yang harus dicari untuk digunakan menutupi badannya?
Tak sedikit benda yang terdapat dalam kamar itu, tapi sedikit sekali yang bisa digunakan untuk dipaksa menutupi badannya.
Setelah mencari kesana kemari dengan susah payah, akhirnya putri Kim huan berhasil menemukan selembar handuk kecil untuk mencuci muka.
Dengan cepat dia menyambar handuk tersebut, tapi kembali kesulitan lain dijumpai.
Bila handuk kecil itu dipakai untuk menutupi tubuh bagian atasnya, maka bagian bawah tubuhnya akan kelihatan, kalau dipakai untuk menutupi bagian bawah tubuhnya, bagian atasnya akan terlihat jelas.
Belum lagi dia sempat berbuat sesuatu, pedang perak telah tertawa tergelak sambil berteriak.
"Waaaah..... jangan, jangan kau gunakan handuk tersebut, handuk itu kupakai untuk mencuci muka, masa kau memakainya untuk menutupi anumu...waah, mukaku bakal ikut bau jadinya....."
Putri Kim huan sungguh merasa malu bercampur mendongkol, dalam gemasnya ia segera melemparkan handuk itu kearah pedan perak.
Secara kebetulan sekali handuk tadi terjatuh menimpa batok kelapa sipedang perak.
Melihat itu kembali pedang perak berteriak.
"Habis sudah, aku bakal sial selamanya, masa handuk yang kau pakai untuk menutupi anumu, sekarang kau lemparkan keatas kepalaku?"
Sementara dia membuang handuk itu keatas tanah, putri Kim huan telah melompat naik keatas pembaringan dan menyembunyikan diri dibalik selimut yang tebal.
Pedang perak segera menutup rapat pintu ruangan, lalu sambil tertawa ia berjalan mendekatinya .
"Tuan putri yang cantik"
Katanya pelan-"Rupanya takdir menghendaki demikian...."
Dengan tubuh gemetar keras putri Kim huan melindungi badannya dibalik selimut, serunya agak tertegun.
"Kau......mau apa kau mendekati aku? Jangan, kau jangan menyentuh tubuhku."
Kembali pedang perak tertawa.
"Apa salahnya kau tidur denganku? Thian lah yang telah mengaturkan kesempatan baik ini untuk kita, anggap saja kita berdua memang berjodoh"
"Pedang perak"
Jerit putri Kim huan keras-keras.
"Kau tak boleh meniru perbuatan sipedang emas yang biadab, dia amat jahat...."
"Tidak-aku pasti berbeda dengan toa suheng"
Kata pedang perak sambil mendekati pembaringan-"Aku bisa melayanimu secara baik-baik, aku tak akan membuatmu menderita biar sedikitpun."
Putri Kim huan benar-benar tersudut, dia tak mampu untuk melarikan diri lagi.
Sementara itu pedang perak telah melompat naik keatas pembaringan dan memeluk tubuh putri Kim huan erat-erat.
Tubuh yang lembut dan halus serta gemetar keras itu segera membangkitkan napsu birahi dalam tubuhnya, terutama sekali bau khas kewanitaan yang terpancar keluar dari tubuh gadis itu, pedang perak semakin terbuai dalam api birahinya.
"Jangan, jangan Kumohon janganlah kau berbuat demikian, jangan berbuat demikian"
Pinta putri Kim huan setengah merengek.
Pedang perak sama sekali tidak menggubris, dia malah tertawa tergelak penuh rasa senang.
Manusia macam pedang perak memang merupakan manusia yang banyak melakukan kejahatan didalam dunia persilatan, tak ada perbuatan jahat yang tak berani ia lakukan-Bagaimana mungkin dia bersedia menuruti permintaan dari putri Kim huan-Disaat pedang perak sudah mulai bersiap-siap melakukan tindakan lebih lanjut......mendadak tubuhnya nampak bergetar keras.
Getaran keras yang muncul sangat mendadak ini hampir saja mengejutkan hati putri Kim huan Rupanya dari balik pintu ruangan terdengar gema suara keleningan yang amat nyaring.
ooooooo Paras muka pedang perak segera berubah hebat, serunya tertahan.
"Aduh celaka."
"Apa yang terjadi?"
Tanya putri Kim huan dengan perasaan terperanjat pula.
Pedang perak sama sekali tidak menjawab, dengan suatu gerakan yang amat cepat sekali dia melompat bangun dari atas pembaringan-Kemudian sambil menyambar pedangnya dia berhambur menuju kepintu ruangan-Putri Kim huan benar-benar tercengang dibuatnya, dengan perasaan ingin tahu kembali dia bertanya.
"Kenapa sih kau ini? Soal kecil saja dibesar-besarkan, bikin orang kaget saja?"
Tapi sikap pedang perak bagaikan berhadapan dengan musuh tangguh, ia segera berbisik.
"Kau jangan mengurusi aku, untuk sementara waktu lebih baik kau beristirahat dulu disini?"
Kemudian setelah mengencangkan bajunya, dia membuka pintu dan melompat keluar dari dalam ruangan-Menanti putri Kim huan menyusul kedepan, pedang perak sudah lenyap dari pandangan mata.
cepat-cepat gadis itu melompat bangun dan memeriksa isi ruangan tersebut, ketika dari bawah ranjang ditemukan pakaian lelaki, buru-buru dia mengenakannya.
Setelah merapikan bajunya, putri Kim huan mendekati jendela dan melongok keluar dengan cepat hatinya dibuat sangat gembira.
Rupanya pada waktu itu pedang perak sedang bertarung seru melawan seorang kakek berambut putih yang mengenakan gelang emas diatas kepalanya.
Kakek berambut putih itu mempunyai wajah berwarna merah darah, kepandaian silat yang dimilikinya sangat hebat.
Putri Kim huan tahu, kakek berambut putih yang berwajah merah ini sudah pasti anak buah Lembah Nirmala, ini berarti bukan pekerjaan yang mudah bagi pedang perak untuk mengalahkannya .
Diam-diam gadis itu berpikir.
"Mengapa aku tidak manfaatkan kesempatan yang sangat baik ini untuk keluar dari sini dan meloloskan diri?"
Berpikir begitu ia segera mendekati pintu ruangan dan mendorongnya.
Siapa tahu pintu ruangan amat kuat dan berat, sekalipun sudah didorong dengan sepenuh tenaga, pintu itu sama sekali tak bergerak.
Putri Kim huan adalah gadis yang cerdik, dengan cepat dia berpikir.
"Ya a, betul sudah pasti pintu ruangan ini dikendalikan oleh alat rahasia, bila aku berhasil menemukan tombolnya, sudah pasti dapat keluar dari sini....."
Maka diapun mulai melakukan pemeriksaan disekeliling dinding ruangan, dia tahu waktu sangat berharga pada saat ini, dia harus dapat memanfaatkan dengan sebaik-baiknya.
Sebab bila harus menunggu sampai pedang perak selesai bertarung melawan kakek bermuka merah itu, akan hilanglah kesempatan baik baginya untuk meloloskan diri.
Dalam pada itu, pertarungan diluar berlangsung amat serunya.
Apa yang diduga putri Kim huan memang benar, kakek bermuka merah itu memang anak buah si Dewi Nirmala.
Ketika pedang perak munculkan diri dengan pedang terhunus tadi, kakek bermuka merah itu sudah menanti dimuka gua.
Dengan perasaan terkesiap pedang perak segera berpikir.
"Sungguh sempurna tenaga dalam yang dimiliki kakek bermuka merah ini, kehebatan ilmu meringankan tubuhnya boleh dibilang telah mencapai taraf sama sekali tidak bersuara, aku tak boleh memandang enteng kemampuannya."
Sementara dia masih berpikir, kakek bermuka merah itu telah tertawa terbahak-bahak seraya berseru.
"Haaaah.....haaaah.....haaaaah......hebat betul persiapan rahasia yang ada ditempat ini."
Belum selesai perkataan itu diutarakan pedang perak telah maju kedepan sambil membentak.
"Tua bangka celaka, lebih baik tak usah banyak bicara ditempat ini"
Kakek itu tetap tertawa.
"Sudah cukup banyak ilmu barisan yang kutemui, tapi kalau dibandingkan dengan tempat ini, rasanya tempat ini merupakan tempat yang paling hebat....."
"Apa maksudmu?"
Tegur pedang perak sambil menatapnya lekat-lekat.
"Aku lihat alat rahasia ditempat ini berhubungan langsung dengan ruang dalam, buktinya baru saja aku datang kemari, ternyata sudah ada orang yang menyambut kedatanganku, kewaspadaan yang begitu tinggi sungguh mengagumkan diriku"
"Huuuh, kau ini manusia macam apa? Siapa yang kesudian dengan kagumanmu itu?"
Jengek pedang perak sambil tertawa sinis. Mendadak paras muka sikakek yang sudah merah nampak lebih merah lagi, untuk sesaat dia terbungkam dalam seribu bahasa. Terdengar pedang perak berkata lagi.
"Bila ditinjau dari dandananmu itu, semestinya kau adalah anak buah dari Dewi Nirmala bukan?"
"Betul"
Kakek itu mengangguk.
"Aku adalah Nirmala nomor sembilan."
"Bagus sekali"
Teriak pedang perak nyaring.
"Setiap anak buah siluman perempuan itu yang bertemu dengan aku, jangan harap bisa pulang lagi dalam keadaan hidup"
Selesai berkata, ia segera maju kedepan melancarkan serangan-Sudah cukup banyak penderitaan yang dialami pedang perak ditangan Dewi Nirmala, rasa bencinya boleh dibilang sudah tak terbendung lagi, tak heran kalau begitu melancarkan serangan, ia segera pergunakan jurus serangan yang paling tangguh.
Kalau bisa, dia ingin membunuh lawannya didalam sekali bacokan pedang saja.
Sayang sekali kakek bermuka merah itu bukan manusia sembarangan, sebagai Nirmala nomor sembilan dia memiliki kepandaian silat yang luar biasa hebatnya.
Begitu melihat datangnya serangan, dengan cekatan Nirmala nomor sembilan berkelit kesamping lalu melejit keudara.
Sementara itu serangan dari pedang perak sudah terlanjur dilontarkan, ia tak sempat lagi untuk menarik diri, buru-buru tubuhnya berputar sambil memutar pedangnya melindungi badan, serunya.
"Aduh celaka......"
Baru selesai ia berseru, segulung angin pukulan yang kuat telah mengancam tiba.
Ternyata Nirmala nomor sembilan telah menyerang dengan telapak tangannya, sementara kelima jari tangannya yang dipentangkan lebar-lebar secara terpisah mengancam jalan darah Khi hay hiat, Hu tiong hiat, lo teng hiat, yu hun hiat, dan Koan hiat ditubuh lawan-Dalam serangannya ini bukan saja Nirmala nomor sembilan menyerang dengan pukulan, lagi pula mengancam jalan darah lawan sekaligus, kelihayan dan kehebatannya benar-benar tak terlukiskan dengan kata-kata.
Namun sipedang perakpun tak malu menjadi murid Malaikat pedang berbaju perlente, sekalipun menghadapi ancaman maut, dia tidak menjadi gugup karenanya.
Sambil tertawa dinginjengeknya.
"Serangan yang amat bagus."
Dengan gerak langkah "pemabuk melangkahi mayat"
Dia berjalan sempoyongan kian kemari dan menyusup kedepan. Tanpa terasa berubah hebat paras muka Nirmala nomor sembilan melihat kejadian itu, segera teriaknya.
"Aaaah, teringat aku sekarang rupanya kau lah yang disebut orang sebagaipedang perak."
Dimulut ia berbicara, gerak serangannya sama sekali tak terhenti, dalam waktu singkat kembali dia melancarkan tiga buah serangan berantai.
Pedang perak sama sekali tidak menghindar atau mengalah dengan mengandalkan sim hoat perguruannya ia halau semua ancaman yang datang kemudian serunya keras-keras.
"IHmmm, akan kusuruh kau situa bangka celaka merasakan juga kelihayan dari pedang perak"
Dikala pergelangan tangannya digetarkan keras-keras, bayangan pedang yang berlapis-lapis telah menyelimuti seluruh angkasa.
Ilmu pedang dari pedang perak memang amat termashur dalam dunia persilatan, begitu serangan dilancarkan, nyata sekali kehebatannya.
Tampak bayangan pedang berlapis-lapis bagaikan bukit, berkuntum-kuntum bunga pedang yang aneka ragam berhamburan dimana-mana.
Jilid 48 Agaknya Nirmala nomor sembilan dapat merasakan gawatnya situasi yang dihadapi sekarang, dia tidak berani berbicara lagi, tapi memusatkan seluruh perhatiannya untuk menghadapi serangan musuh.
Dengan gerakan-gerakan yang lincah dia berkelit kiat kemari, semua gerak serangan yang dipergunakan kelihatan sangat aneh tapi amat gesit dan lincah sekali.
Pedang perak merasakan gerak gerik Nirmala nomor sembilan bagaikan monyet yang berlompatan diantara lapisan bayangan pedangnya yang membukit.
Dilihat hanya sepintas lalu, gerak gerik Nirmala nomor sembilan memang amat tak beraturan, sebentar keatas sebentar kebawah, lalu kiri dan mendadak kekanan, tapi pukulan-pukulan kombinasinya betul-betul hebat, semuanya ditujukan ketubuh bagian mematikan lawan.
Seperminum teh kemudian dua puluh gebrakan sudah lewat dengan begitu saja.
Tapi gerak gerik Nirmala nomor sembilan masih tetap lincah dan cekatan, bayangan pukulan dan serangan jari tangannya kian lama pun kian bertambah gencar.
Walaupun saat itu posisi pedang perak nampaknya berada diatas angin, sesungguhnya ia berada dalam keadaan yang amat sulit.
Tiba-tiba ia membentak keras.
"Hm-mm, jika aku sipedang perak tak mampu menaklukkan seorang manusia semacam dirimu. apalah artinya berkelana lagi didalam dunia persilatan.......?"
Selesai membentak, ia segera mengayunkan pedangnya sambil menghindar lalu mundur sejauh tiga depa lebih dari posisinya semula.
Nirmala nomor sembilan seperti tidak memahami tujuan musuhnya, tapi seperti juga telah mempunyai perhitungan yang masak, ketika melihat musuhnya mundur, ia justru mendesak maju lebih kedepan.
Dalam pada itu pedang perak yang telah mundur senjauh tiga langkah telah mempersiapkan serangan yang gencar tiba-tiba saja pedangnya diayunkan ketengah udara membentuk sebuah gerakan busur.
Gerakan busur itu sama sekali tidak meninggalkan bekas apa-apa, namun tahu-tahu saja ujung pedangnya telah mengancam dada lawan.
Jurus serangan dari sipedang perak boleh dibilang amat dahsyat, sakti dan membahayakan.
Nirmala nomor sembilan menjadi amat terkesiap, untuk menghindarkan diri jelas sudah tak sempat lagi.
Nampaknya serangan pedang dari pedang perak segera akan menembusi dada lawan serta merenggut nyawa Nirmala nomor sembilan.
Disaat yang amat kritis itulah tiba-tiba terlihat Nirmala nomor sembilan memutar tubuhnya dengan kecepatan tinggi, lalu dia melejit ketengah udara hingga ketinggian berapa kaki.
Pedang perak bukan manusia sembarangan, melihat musuhnya hendak meloloskan diri dengan melejitkan diri keudara, serta merta dia menggetarkan kembali pedangnya dengan gerakan "Bunga pedang memenuhi angkasa."
"Sreeeettt......"
Kedengaran suara baju yang robek tersambar pedang, tampakiah pakaian yang dikenakan Nirmala nomor sembilan telah tersambar robek, bahkan ujung pedang tersebut sempat melukai tubuh lawan sedalam berapa inci.
Melihat serangannya berhasil melukai lawan, pedang perak segera tertawa terbahak-bahak, Belum habis gelak tertawanya, mendadak ia merasa datangnya desingan angin tajam dari belakang kepalanya, ingatan kedua belum sempat melintas lewat, jalan darah Im seng hiatnya sudah digempur Nirmala nomor sembilan keras-keras.
"Aduh celaka"
Keluh pedang perak dihati.
Cepat-cepat dia menghimpun tenaga dalamnya sambil mundur delapan langkah dengan sempoyongan, walaupun akhirnya dapat berdiri tegak, tak urung darah segar mengucur juga membasahi ujung bibirnya.
Menanti ia memandang kearah Nirmala nomor sembilan, sekujur tubuhnya terlihat telah basah oleh darah, napasnya tersengkal-sengkal bagaikan dengusan napas kerbau.
Pedang perak nampak agak tertegun, kemudian bentaknya dengan suara dalam.
"Kakek celaka, apakah kau.......kau adalah Pangeran berkaki sakti Khu Kong?"
Nirmala nomor sembilan membungkam diri dalam seribu bahasa. Melihat lawannya membungkam, dengan napas terengah-engah kembali pedang perak berseru.
"Seingatku, hanya pangeran berkaki sakti Khu Kong seorang yang mampu mempergunakan ilmu sakti lompatan dewa. Kau pasti sipangeran sakti bukan.....?"
"Aaaaai......apakah kaupun mengetahui tentang Pangeran berkaki sakti Khu Kong?"
Tanya Nirmala nomor sembilan menghela napas panjang.
Sewaktu pedang perak baru belajar silat dari Malaikat pedang berbaju perlente, dia pernah mendapat keterangan tentang pelbagai ilmu silat yang berada didalam dunia persilatan, dari situlah dia pernah mendengar tentang si Pangeran berkaki sakti Khu Kong beserta kepandaian tunggalnya.
Menurut penuturan gurunya, Pangeran berkaki sakti Khu Kong amat lihay didalam ilmu meringankan tubuh, terutama sekali ilmu "lompatan dewanya".
Konon sangat hebat dan tiada tandingannya.
Sekalipun selama ini pedang perak belum pernah bersua dengan si Pangeran berkaki saktu Khu Kong, namun penampilan yang barusa dilihat olehnya membuktikan bahwa apa yang didengarnya dulu memang nyata selalu.
Sementara itu Nirmala nomor sembilan masih berdiri termangu disitu dengan sepasang matanya berkaca-kaca.
Cepat-cepat pedang perak berkata lagi.
"Hey tua bangka celaka, Ketahuilah meski aku belum pernah bersua dengan Pangeran berkaki sakti Khu Kong, namun kuketahui dia adalah seorang tokoh silat yang terhormat serta mempunyai harga diri, tak mungkin dia menjadi cecunguknya siluman perempuan Dewi Nirmala dan membantunya berbuat pelbagai kejahatan."
Nirmala nomor sembilan kembali menghela napas.
"Yaa, kau memang benar, aku memang bukan Pangeran berkaki sakti Khu Kong."
"Lantas darimana kau pelajari ilmu lompatan dewa itu?"
Bentak pedang perak, Nirmala nomor sembilan tertawa pedih.
"Soal ini lebih baik tak usah kau urusi"
"Hmmm, tua bangka celaka"jengek pedang perak sinis.
"Padahal kau tak usah merahasiakan identitasmu lagi, akupun tahu bahwa kaulah si Pangeran berkaki sakti Khu Kong. Aku benar-benar merasa malu atas perbuatanmu itu, akupun ikut bersedih hati atas nasibmu yang tragis"
Begitu ucapan tersebut diutarakan keluar, paras muka Nirmala nomor sembilan segera berubah hebat, dengan penuh amarah bentaknya.
"Aku katakan sekali lagi, aku bukan Pangeran berkaki sakti Khu Kong, dia adalah seorang enghiong hohan, seorang lelaki sejati yang tak mau tunduk kepada siapapun, tapi sayang umurnya tak panjang, sebab.....Pangeran berkaki sakti Khu Kong sudah mati"
"Lalu siapakah kau?"
Jengek pedang perak lagi sambil tertawa dingin.
"Bukankah sudah kukatakan sedari tadi, aku adalah Nirmala nomor sembilan....."
"Yaa, aku memang tahu kau adalah Nirmala nomor sembilan, tapi akupun tahu bahwa Nirmala nomor sembilan adalah Pangeran berkaki sakti Khu Kong"
Nirmala nomor sembilan menjadi teramat gusar, paras mukanya merah membara seperti kobaran api, tiba-tiba saja dia melepaskan sebuah serangan dahsyat kedepan.
Waktu itu, walaupun pedang perak masih bisa berbicara sampai tertawa, sesungguhnya jalan darah Im teng hiatnya telah terluka dan darah segar mengucur keluar tiada hentinya, ataw dengan perkataan lain dia hanya mampu menahan diri secara paksa agar Nirmala nomor sembilan tak tahu kalau ia sudah terluka.
Oleh sebab itu disaat serangan lawan menyambar tiba, pada hakekatnya dia tak mampu lagi untuk menghindarkan diri.
Tampaknya sipedang perak segera akan tewas diujung tangan Nirmala nomor sembilan.
Pada saat yang terakhir inilah, mendadak terdengar seseorang membentak keras.
"Kawanan tikus darimana yang berani membuat keonaran disini?"
Bersamaan dengan bergemanya bentakan itu, terdengus desingan suara nyaring bergema tiba, dan segulung hawa pedang yang menyayat tubuhpun mengancam datang.
Nirmala nomor sembilan segera merasa tak sanggup menahan diri lagi, ia segera roboh terjungkal keatas tanah.
"Siapa kau?"
Nirmala nomor sembilan segera menegur.
"Bila tahu diri, cepatlah menggelinding pergi dari sini. Hmmmm Jika aku sipedang emas sampai naik darah,jangan salahkan bila kucabut selembar nyawamu"
"Apa? Kau adalah pedang emas?"
Seru Nirmala nomor sembilan dengan perasaan terperanjat.
Pendatang adalah seorang pemuda gagah yang berwajah tampan, andaikata ilmu silatnya tidak amat hebat, siapapun tak akan percaya bahwa orang ini adalah sipedang emas, pemimpin dari sembilan pedang dari dunia persilatan.
"Bagus sekali, kalau toh kau mengaku sebagai pedang emas, aku percaya kau memang orangnya."
Kata Nirmala nomor sembilan lagi.
"Mau apa kau datang kemari?"
"Aku segera akan melaporkan kejadian ini kepada Dewi Nirmala, ia akan segera kemari untuk mencarimu"
Perkataan tersebut seperti diutarakan sebagai gumaman, tapi begitu selesai berkata ia segera beranjak pergi meninggalkan tempat itu.
Dalampada itu sipendatang sudah tak sabar lagi, tiba-tiba dia membentak keras.
"Hmmm, manusia macam apakah Dewi Nirmala itu, mau dia datang kemari?"
Seraya berkata, sebuah pukulan yang maha dahsyat segera dilontarkan kemuka.
Angin serangan yang gencar dan kuat seperti amukan angin puyuh, dengan secepatnya menyambar kemuka.
Tapi sayang Nirmala nomor sembilan sudah keburu beranjak pergi dari situ, bukan saja serangan mana tak berhasil melukainya malahan membantu Nirmala nomor sembilan untuk meninggalkan tempat tersebut jauh lebih cepat lagi.
Dalam waktu singkat bayangan tubuh Nirmala nomor sembilan sudah lenyap dari pandangan mata.
Agaknya sipendatang tidak berniat untuk melakukan pengejaran; dengan langkah pelan dia berjalan menghampiri sipedang perak, Saat itu walaupun sipedang perak roboh terlentang diatas tanah namun kesadarannya masih jernih dia hanya merasa peredaran darahnya saja kurang lancar.
Maka Ketika dilihatnya orang itu berjalan menghampirinya, dengan perasaan gelisah segera menegur.
"Be.....benarkah kau adalah sipedang emas, toa suko?"
Orang itu tersenyum sambil mengangguk.
"Betul, masa sampai akupun tidak kau kenali lagi?"
Ternyata orang ini memang benar-benar adalah sipedang emas.
Setelah mengusir putri Kim huan tadi, seorang diri ia mengobati luka wajahnya dengan lentera hijau.
Dalam perhitungannya semula, dia mengira paling tidak membutuhkan waktu selama berapa hari untuk mengembalikan wajah jeleknya seperti bentuk wajah semula.
Diluar dugaan ternyata kasiat lentera hijau memang sangat hebat, tidak sampai dua belas jam, wajahnya telah berubah sama sekali, kesegarannya pun jauh melebihi keadaan semula.
Begitulah, setelah kenyataan membuktikan bahwa orang yang berada dihadapannya adalah sipedang emas, dengan perasaan gembira pedang perak segera berseru.
"Toa suko, maaf kalau aku pangling, aku harus mengucapkan selamat atas keberhasilanmu kali ini"
Pedang emas tidak berkata apa-apa, dia hanya tertawa hambar. Setelah mengatur sebentar napasnya yang terengah-engah, kembali pedang perak berkata.
"Toa suko, tidak seharusnya kau lepaskan bajingan tua tadi"
"Mengapa?"
"Dia bukan manusia sembarangan."
"Aku tahu akan hal ini, dia adalah anak buah Dewi Nirmala."
"Bukan itu maksudku"
Sela pedang perak cemas.
"Kau tahu sesungguhnya orang itu adalah Pangeran berkaki sakti Khu kong."
"Apa hubungannya dengan diriku?"
Pedang emas balik bertanya sambil tertawa.
"Besar sekali hubungannya"
"Apa maksudnya?"
Sembari berkata dia segera mengawasi wajah pedang perak dengan lebih seksama. Ternyata paras muka pedang perak nampak pucat pias bagaikan mayat jelas kalau isi perutnya terluka parah.
"Aduh celaka"
Pekik sipedang emas kemudian.
"Rupanya jalan darah Im teng hiatmu telah tertotok olehnya."
"Itulah sebabnya aku bilang, melepaskan orang itu merupakan tindakan yang salah."
Pedang emas manggut-manggut pelan, kemudian gumamnya.
"Tak kusangka Pangeran berkaki sakti Khu Kong telah menjadi anak buahnya Dewi Nirmala, lantas kemana larinya semua kegagahan dan keperkasaannya dulu?"
Pedang perak segera berkata lagi.
"Orang itu telah membantu lembah Nirmala melakukan pelbagai perbuatan, bisa jadi dia akan mengajak sepasukan besar anggota Lembah Nirmala untuk menggempur kita...."
"Kenapa aku mesti takut kepadanya?"
Jengek sipedang emas dengan angkuhnya. Cepat-cepat pedang perak tertawa paksa.
"Bukan begitu maksudku......"
"Sudahlah, tak usah memperbincangkan masalah lain lagi, yang penting sekarang peredaran darahmu harus disembuhkan lebih dulu......"
Seraya berkata, dia mengeluarkan lentera hijau dari sakunya dan mengobati luka pedang perak, Sembari melakukan pengobatan, merekapun berbincang-bincang kian kemari, pedang perakpun segera menceritakan masalah sekitar putri Kim huan kepada kakak seperguruannya ini.
Walaupun ada sementara persoalan telah dirahasiakan olehnya, tapi pada garis besarnya dia telah menuturkan apa adanya.
Ketika pedang emas mendengar kalau putri Kim huan masih tersekap didalam ruangan, dengan cepat dia menarik tangan pedang perak sambil serunya.
"Ayoh jalan, kita tengok kedalam."
Dengan langkah yang amat cepat, pedang emas dan pedang perak berlarian memasuki gua.
Siapa tahu apa yang kemudian terlihat sama sekali diluar dugaan.
Pintu rahasia ruang batu itu sudah berada dalam keadaan terbuka lebar, ternyata putri Kim huan telah berhasil menemukan tombol rahasianya sehingga berhasil pula melarikan diri dari situ.
Melihat kejadian mana, sambil menghela napas panjang sipedang perak segera berkata.
"Tak kusangka perempuan ini betul-betul sangat cerdik dan hebat sekali."
"Bagaimana cerdiknya?"
Tanya pedang emas dengan wajah agak tertegun.
"Bukan saja dia telah berhasil menemukan tombol rahasia sehingga berhasil melarikan diri, lagipula......"
"Lagi pula kenapa?"
Sela pedang emas lagi.
"Lagi pula ia dapat merobek kain seprei ranjangku untuk menutupi anggota badannya, bahkan dengan cara tersebut dia mencoba meloloskan diri dari tempat ini."
Perkataannya memang benar, karena seprei ranjangnya berada dalam keadaan kacau balau tak karuan. Pedang emas segera termenung dan berpikir sejenak, kemudian berkata.
"Ehmmmm....yaaa betul juga perkataanmu, disaat putri Kim huanpergi meninggalkan aku tadi, ia memang berada dalam keadaan telanjang bulat tanpa sehelai benangpun yang melekat ditubuhnya."
"Betul, dia memang muncul disini dalam keadaan demikian."
Pedang emas segera menarik mukanya, dengan bersungguh-sungguh dia menegur.
"Ditengah malam buta begini, apa yang sedang kalian lakukan ditempat ini?"
"Ti....tidak.....tidak.....kami tidak berbuat apa-apa......."
Sahut pedang perak dengan perasaan tegang, jawabannya sampai terbata-bata. Pedang emas kembali mendengus.
"Hmmm, lebih baik kau tak usah membohongi aku"
"Toa suko, kau tak usah kuatir...."
Pedang perak mencoba untuk tertawa paksa.
"Tak usah menguatirkan apa?"
"Aku toh tahu bahwa putri Kim huan adalah perempuan yang paling disukai toa suko. masa aku berani berbuat sesuatu yang kurang sopan terhadap dirinya?"
"Hmmm, memangnya aku belum cukup memahami perangaimu?"jengek pedang emas sambil tertawa dingin. Cepat-cepat pedang perak menjura dan memberi hormat, serunya gelisah.
"Toa suko-, kau tak boleh menaruh kecurigaan kepadaku, aku sungguh-sungguh tidak berbuat sesuatu dengan putri Kim huan."
"Kecurigaan apa? Kau toh bukan patung yang sama sekali tidak berperasaan, mungkinkah seorang lelaki akan tetap alim bila ia berada dalam satu kamar dengan seorang wanita telanjang, cantik lagi rupanya?"
Seperti diketahui, pedang emas memang merasa tak senang hati karena penolakan putri Kim huan untuk bercinta dengannya.
Diapun sadar, bila putri Kim huan yang meninggalkannya kemudian berbaikan dengan pedang perak, atau mungkin juga mereka berdua malah saling bercinta.
Dapat dipastikan kejadian tersebut akan merupakan sebuah tamparan yang cukup keras baginya.
Begitulah perasaan pedang emas sekarang, walaupun ia tak bisa membuktikan bahwa pedang perak telah bercinta dengan seorang gadis pujaannya, namun rasa kesal dan mendongkolnya tak bisa dihilangkan dengan begitu saja.
Pedang perakpun bukan orang bodoh, sebagai orang yang teliti dan pandai membaca perasaan orang lain, dengan cepat dia dapat memahami perasaan pedang emas saat itu, maka kembali serunya.
"Toa suko, kau tak usah gelisah"
"Kenapa?"
"Kau tak usah cemas, karena aku dan putri Kim huan benar-benar tidak melakukan sesuatu perbuatanpun."
Mendengar perkataan mana, dari malunya tiba-tiba saja pedang emas menjadi naik darah, segera bentaknya keras-keras.
"Apa maksud perkataanmu itu? Apa yang tak perlu kucemaskan? Apa pula yang perlu kau jelaskan kepadaku.......Hmmm, dihadapanku, lebih baik kau tak usah menggunakan cara seperti ini......"
"Baik, baik....."
Pedang perak harus menahan sabar dengan mengiakan berulang kali. Pedang emas semakin naik darah, kembali bentaknya.
"Lebih baik kau jangan memancing kemarahanku, jika aku sampai marah betul-betul....hmmm, tentu akan kubuat kau tersiksa jadinya."
Pedang perak sendiripun merupakan seorang jago kenamaan yang tinggi hati, akan tetapi berada dihadapan pedang emas sekarang boleh dibilang semua kewibawaannya seperti hilang lenyap tak berbekas.
Sewaktu mendengar perkataan itu, paras mukanya berubah menjadi hijau kepucat-pucatan, ia benar-benar merasa sakit.
Kembali pedang emas berkata dengan hambar.
"Ayoh bicara, sebenarnya kau masih mempunyai alasan apa lagi? Permintaan busuk apa lagi yang belum kau gunakan?"
Betapapun tebalnya iman seseorang, bila rasa harga dirinya mulai tersinggung, dia tak akan tahan juga apa lagi beberapa patah kata itu jelas menunjukkan sikap yang kelewat keterlaluan.
Pedang perak tak bisa menahan diri lagi, dengan nada melawan dia berseru.
"Lantas kau inginkan aku berbuat apa?"
Pedang emas semakin naik darah lagi setelah mendapat pertanyaan ini, teriaknya.
"Sungguh tak kusangka kau berani berdebat dihadapanku. Hmmm, sesungguhnya apa maksudmu?"
"Aku tidak bermaksud apa-apa, aku justru sedang mendengarkan perkataanmu."
"Bagus sekali"
Bentak pedang emas kemudian.
"Aku perintahkan kepadamu untuk segera enyah dari hadapanku, makin jauh kau pergi semakin baik, mengerti?"
Merah padam selembar wajah pedang perak dibuatnya sambil berusaha menahan kobaran hawa amarah didalam hatinya dia berkata.
"Toa suko, sungguh tak kusangka gara-gara seorang wanita, kau menjadi begitu marah kepadaku?"
"Aku bukan marah karena urusan wanita"
"Lalu karena apa?"
"Karena aku muak melihat tampangmu, muak melihat kecerimisanmu, muak melihat segala tingkah lakumu, mengerti? Nah, sekarang kau boleh enyah dari hadapanku, enyah secepatnya dari sini"
Kali ini pedang perak tak bisa menahan ledakan hawa amarahnya lagi, dengan perasaan yang tak karuan dia menjawab.
"Baik, pergi yaa pergi....."
Begitu selesai berkata, dia segera membalikkan badan dan beranjak pergi meninggalkan tempat itu.
Sebagaimana diketahui, sesungguhnya pedang perak memang enggan menjadi sipenjaga pintunya pedang emas, setelah keadaan berkembang menjadi begini rupa, dia pun segera manfaatkan kesempatan baik ini untuk pergi meninggalkannya.
Gara-gara persoalan putri Kim huan, akhirnya hubungan persaudaraan harus menjadi retak seperti ini, sesungguhnya pedang emas sendiripun tidak menduga sampai disini.
Tapi karena nasi sudah menjadi bubur, peristiwapun telah berlangsung, maka pedang emaspun tidak berusaha untuk mencegahnya lagi.
Menanti pedang perak sudah pergi jauh, pedang emas mulai merasa kesepian, iapun berpikir.
"Aaaaai.....mengapa harus terjadi begini? Yaaa, watak pedang perak memang terlalu berangasan, mengapa sih dia tak mau mengalah kepadaku?"
Darimana dia tahu bahwa bencana sering kali disebabkan urusan wanita, setiap masalah wanita sudah muncul, maka berbagai kesulitan dan kerumitanpun akan berdatangan.
Begitulah dengan membawa perasaan yang murung dan masgul pedang emas berjalan menuju kegua sebelah utara.
Gua sebelah utara dijaga oleh pedang air.
Waktu itu dia bermaksud menuju kegua sebelah utara untuk mengobati luka dalam yang parah dari si pedang air dengan menggunakan lentera hijau mestika itu.
Tapi dikala pedang emas tiba digua sebelah utara dan belum lagi memasuki ruangan batu, ia sudah dibuat naik darah lagi.
Waktu itu, bukan saja ia sudah tak berniat mengobati luka dalam dari pedang air lagi.
Bahkan kalau bisa ingin membacok mampus adik seperguruannya ini.
Apa yang telah terjadi?
Seperti apa yang telah disebutkan tadi, wanita adalah sumber dari segala bencana.
Rupanya disaat pedang emas tiba dimulut gua sebelah utara, dari luar ruangan dia telah mendengar suara pembicaraan sepasang lelaki perempuan yang memanaskan hatinya.
Tak salah lagi yang lelaki adalah sipedang air sedang sang perempuan adalah putri Kim huan.
Terdengar pedang air sedang berkata waktu itu.
"Apa salahnya kalau mengikuti aku? Huuuh.....aku telah mencarikan pakaian untukmu, mempersilahkan kau tidur diatas ranjangku......huuu....huuu.....apakah kurang baik pelayananku ini kepadamu?"
"Setan kau, kau jahat sekali tadi....."
"Bagaimana jahatnya?"
Putri Kim huan segera mengucapkan sesuatu dengan suara rendah, namun karena suaranya kelewat kecil sehingga sama sekali tak terdengar secarajelas.
Walaupun begitu sipedang air yang berada disampingnyajustru tertawa terbahak-bahak.
Selang sesaat kemudian, suasana didalam ruangan gua itu pulih kembali dalam keheningan, tidak kedengaran suara apapun disitu.
Pedang emas yang berada diluar gua segera merasakan hatinya tersiksa hebat, dia tak dapat membayangkan bagaimanakah perasaan hatinya sekarang......
Mendadak terdengar suara putri Kim huan berseru kembali.
"Jangan....jangan berbuat begitu"
"Tadi saja kau mau dibeginikan, mengapa kau menolak sekarang?"
Tanya pedang air.
"Tidak, aku tak mau......"
Seru putri Kim huan dengan manjanya.
"Apakah aku membohongimu? Tak usah kuatir, aku pasti akan mewariskan ilmu silatku kepadamu, agar kaupun bisa lari secepat terbang seperti aku.....uuuhuuu.....uuuhhuuu.....apakah semua perbuatanku ini bukan untuk memenuhi keinginanmu?"
Sewaktu berbicara, seringkali ia harus berhenti sejenak karena terbatuk-batuk, nampak luka yang dideritanya masih cukup parah.
Namun putri Kim huan tidak memperdulikan hal itu, malahan nampaknya lebih bergembira.
Pedang emas yang mengikuti jalannya pembicaraan itu semakin mendongkol lagi, tanpa terasa umpatnya.
"Mak-nya benar perempuan ini, bedebah terkutuk, karena melihat wajahku jelek, dia berlagak seperti perempuan suci yang alim dan tak suka begituan. Siapa tahu setelah bertemu dengan pedang air yang bertampang agak mendingan, meski keadaannya seperti orang yang terserang penyakit, ia sudah memperlihatkan sifat lontenya......?"
Rupanya disaat putri Kim huan berhasil kabur keruang tempat tinggal pedang air tadi, ia sudah berada dalam keadaan lemah dan lelah, itulah sebabnya dia tak mampu menolak kehendak pedang air sewaktu menyetubuhi dirinya tadi.
Bagi seorang wanita yang sudah terlanjur ternoda, biasanya dia tak akan menampik untuk disetubuhi lagi oleh pria lain disaat keadaannya lemah dan tak mampu menolak, terutama sekali berada dihadapan pedang air yang pandai merayu dan merangsang.
Sementara itu terdengar putri Kim huan telah berkata lagi.
"Aku merasa agak takut, kalau sampai diketahui pedang emas, bagaimana jadinya?"
"Apa salahnya kalau diketahui oleh toa suko?"
"Dia pasti akan cemburu dan membencimu, dia pasti akan berusaha merusak hubungan kita dan bahkan mencelakai kita berdua."
Mendengar sampai disitu, pedang emas sudah tak sanggup menahan diri lagi, tiba-tiba ia membentak keras.
"Kentut busuk!!! Siapa yang akan cemburu siapa yang berminat untuk mencelakai dirimu. Hmmm, perempuan macam apa sih dirimu itu?"
Dua orang yang berada dalam ruang gua itu menjadi tertegun setelah mendengar perkataan ini. Buru-buru sipedang air berkata.
"Toa suko, rupanya kau sudah datang."
Sebaliknya putri Kim huan ketakutan setengah mati, air mulanya pucatpias seperti mayat, untuk berapa saat lamanya dia tak tahu bagaimana mesti berbuat. Terdengar sipedang emas berkata lagi.
"Yaa benar, memang aku telah datang, tapi sekarang aku tak berniat bertemu lagi dengan kalian, lebih baik kalian sepasang laki perempuan anjing segera enyah dari hadapanku"
Dengan perasaan apa boleh buat terpaksa pedang air mengajak putri Kim huan berjalan keluar dari ruangan. Sambil menyembunyikan diri dibalik kegelapan, pedang emas berkata lagi.
"Hey pedang air, sebenarnya aku bermaksud mengobati luka dalammu dengan menggunakan lentera hijau, tapi kenyataannya sekarang kau telah lalai didalam menjalankan tugas, bahkan kaupun berani berbuat mesum dengan perempuan tersebut disini, kau.....perbuatanmu benar-benar kurang ajar."
"Toa suko"
Seru pedang air agak gemetar.
"Aku mengaku salah, tapi aku benar-benar kelewat mencintai putri Kim huan, itulah sebabnya tak kuasa lagi aku telah...."
Sementara itu putri Kim huan pun sadar bahwa pedang emas akan naik pitam, maka dengan nekad dia menyela.
"Akupun sangat mencintai pedang air, bila kau ingin membunuhnya, lebih baik bunuhlah kami berdua bersama-sama, aku tak akan kerdipkan sepasang mata ku......."
Baru berbicara sampai separuh jalan, pedang air telah menukasnya dengan cepat.
"Toa suko....kau....uuuhuuu.....uuuhuuu....kau harus mengampuni kesalahanku?"
Pedang emas segera tertawa dingin.
"IHaaaah.....haaaah.....haaaah......pedang air, bila kujatuhkan hukuman berat kepadamu hanya disebabkan urusan perempuan semacam putri Kim huan, aku rasa tindakanku ini kelewat cepat pikirannya."
"Yaa, betul-betul....."
Buru-buru sipedang air mengiakan berulang kali. Baru saja putri Kim huan hendak menimbrung, buru-buru pedang air mendekap mulutnya seraya berkata lagi.
"Toa suko, kuharap kau jangan menjadi marah hanya dikarenakan berapa patah perkataan tadi seorang wanita"
Kali ini pedang emas tertawa terbahak-bahak.
"Haaah....haaaah....haaaah.....aku tak akan marah, tapi aku berharap kaupun jangan menjumpai diriku lagi seumur hidupmu. Cepat ajak perempuan itu dan pergi dari sini sejauhnya, aku tak akan menarik panjang persoalan ini lagi"
Sambil terbatuk-batuk pedang air mengiakan berulang kali, kemudian ia berkata lagi.
"Tapi kuharap toa suko sudi menyembuhkan penyakit batukku ini dengan lentera hijau, aku......"
Belum selesai perkataan itu diutarakan, terdengar pedang emas telah membentak keras.
"Lebih baik tak usah berangan-angan yang muluk, enak betul jalan pemikiranmu itu, bila kau tidak segera angkat kaki dan enyah dari sini sekarang juga ,jangan salahkan bila aku akan berubah pikiran serta bertindak keji kepadamu"
Pedang air dan putri Kim huan benar-benar dibuat kelabakan setengah mati.
mereka jadi bingung dan tak tahu apa yang mesti dilakukan.
Sementara itu pedang emas hanya menyembunyikan diri dibalik kegelapan, dia tak pernah munculkan diri, hal mana menambah suramnya situasi disekitar sana.
Akhirnya putri Kim huan berseru.
"Pergi yaa pergi, apalagi yang memberatkan hatimu?"
Agaknya pedang airpun cukup tahu bahwa pedang emas bukan manusia yang gampang dihadapi, setelah ia perintahkan kepadanya untuk pergi dari situ, lebih baik dituruti saja kemauannya daripada ditentang.
Karenanya sambil menjura diapun berkata.
"Toa suko, aku akan pergi duluan, bila bertamu kembali dikemudian hari aku tentu akan memberikan penjelasan kepadamu atas kesalahan paham yang terjadi hari ini"
Selesai berkata, sambil terbatuk-batuk dia segera mengajak putri Kim huan beranjak pergi meninggalkan tempat itu.
Suasanapun pulih kembali dalam keheningan dan kesepian yang luar biasa.
Pedang emas merasakan pikirannya kosong dengan langkah yang sedikit gontai akhirnya dia berjalan menuju kepintu gua sebelah selatan.
Tapi sebelum ia mencapai tempat tujuan, seseorang telah munculkan diri dari depan situ.
Ternyata orang itu adalah sipedang kayu.
Pedang kayu memang mendapat perintah untuk menjaga kawasan tersebut.
begitu bertemu dengan pedang emas, sambil tertawa paksa pedang kayu segera berkata.
"Kionghi toa suko atas keberhasilanmu pulihkan kembali raut mukamu, aku yakin ilmu silatmu pasti akan peroleh banyak kemajuan ketimbang keadaan dahulu?"
Berkat lentera hijau, pedang emas memang memperoleh banyak manfaat dan kemajuan dalam ilmu silatnya. Tapi dengan suara dingin ia segera menyahut.
"Tak ada urusan yang perlu diberi selamat"
"Tapi toa suko, selama bertugas disini, segalanya berjalan dengan lancar......"
Pedang kayu mencoba memberi penjelasan.
"Sudahlah, tak usah banyak bicara lagi"
Tukas pedang emas cepat.
"Darimana kau bisa tahu kalau aku telah mencapai kesuksesan?"
Sebenarnya pertanyaan ini diutarakan tanpa maksud, tapi pedang kayu segera menyahut.
"Tadi......."
Baru berbicara sampai setengah jalan, tiba-tiba saja dia menelan kembali kata berikut. Pedang emas segera mendesak lebih jauh.
"Kenapa tadi? Apakah pedang air dan putri Kim huan telah datang kemari? Atau kah mungkin putri Kim huan sudah datang kemari lebih duluan?"
Pedang kayu adalah seorang lelaki yang cerdas dan panjang pikirannya, mendengar ucapan mana, sambil tertawa paksa ia segera menjawab.
"Dugaan toa suko memang sangat hebat, aku rasa segala sesuatunya pasti sudah kau ketahui, sehingga rasanya akupun tak usah banyak berbicara lagi."
"Hmmm, memang tak ada yang perlu dibicarakan lagi."
Selama ini dia selalu menganggap penampikan putri Kim huan untuk bercinta dengannya sebagai suatu peristiwa yang sangat memalukan, karena itu setelah pedang kayu enggan membicarakan persoalan mana, sudah barang tentu diapun tak ingin mengorek luka sendiri.
Maka setelah hening sesaat, diapun bertanya.
"Kini tugasmu telah selesai, apa rencanamu selanjutnya?"
"Aku mempunyai kedudukan digedung pembesar Kanglam, oleh sebab itu aku harus pergi kesana untuk menjenguk keadaan ditempat tersebut."
Pedang emas termenung berapa saat lalu sahutnya.
"Yaa, begitupun ada baiknya juga ."
Pedang kayu kembali berkata.
"Selama berapa hari terakhir, didalam dunia persilatan pasti sudah terjadi perubahan besar, entah permainan busuk apa lagi yang sedang dilakukan Kim Thi sia sisetan kecil itu, aku ingin mencari berita tentang semuanya itu."
"Bagus sekali, tapi kau mesti berhati-hati dalam perjalananmu kali ini, bila ada suatu berita penting cepat laporkan kepadaku, tak sampai tiga hari aku tentu akan datang kegedung pembesar Kanglam untuk mencarimu......"
Pedang kayupun segera mohon diri dan pergi meninggalkan tempat tersebut.
sepeninggal pedang kayu, pedang emas manfaatkan sisa tiga hari yang ada untuk menambah tenaga dalam sendiri dengan bantuan lentera hijau, lagi pula dia mencoba melatih kembali semua kepandaiam silat yang pernah dipelajarinya.
Hingga dia merasa puas dengan hasil latihannya, berangkatlah pemuda ini menuju kegedung pembesar Kanglam.
Setibanya digedung istana tersebut dan bertemu dengan pedang kayu, ia menjumpai adik seperguruannya datang melapor dengan gugup.
"Aduh celaka toa suko, Kim Thi sia bocah keparat itu sedang datang mencarimu katanya dia hendak mengambil kembali lentera hijau tersebut untuk mengobati seorang wanita yang bernama Lin lin."
Mendapat laporan itu, sipedang emas segera tertawa terbahak-bahak.
"Haaaah.....haaaah......haaaah.....kebetulan sekali kedatangannya, aku memang bermaksud pergi mencarinya serta minta kembali pedang mestika Leng gwat kian, agar dua mestika dari dunia persilatan, pedang Leng gwat serta lentera hijau bisa berkumpul menjadi satu ditanganku"
Maka diapun mengikuti petunjuk pedang kayu pergi mencari Kim Thi sia serta mencoba kepandaian silatnya.
Siapa tahu ilmu silat yang dimiliki Kim Thi sia pun telah peroleh kemajuan yang amat pesat, hingga tak mungkin buat pedang emas untuk menangkan pertarungan itu dalam waktu singkat.
Karenanya dia berlari keluar dari ruangan dengan maksud mencari tempat lain guna melanjutkan perta rungan ini.
Diluar dugaan Kim Thi sia sama sekali tidak mengenali dirinya sebagai sipedang emas hingga tidak melakukan pengejaran, sampai pedang kayu muncul kembali dan menjelaskan duduknya persoalan, Kim Thi sia baru memahami apa gerangan yang telah terjadi.
Karena ingin menolong Lin lin dengan menggunakan lentera hijau, begitu mendengar penuturan tersebut Kim Thi sia segera berangkat meninggalkan ruangan untuk melakukan pengejaran.
Tak lama kemudian sampailah disebuah tempat yang sepi dan jauh dari keramaian manusia, disitulah dia mendengar suara pekikkan nyaring yang bergema memecahkan keheningan.
Kemudian ia mendengar sipedang emas membentak keras.
"Bocah keparat, memang kebetulan sekali kedatanganmu, hari ini aku hendak mengajakmu untuk berduel serta menentukan siapa yang lebih unggul diantara kita, akan kulihat seberapa banyak kepandaian silat yang berhasil kau pelajari dari suhu."
Kim Thi sia yang bertemu kembali dengan pedang emas, dengan suara keras berseru pula.
"Hey pedang emas, tak kusangka kau telah merubah tampang mukamu seperti ini dengan menggunakan lentera hijau."
Pedang emas tertawa tergelak.
"Haaaah....haaaah....haaaah.....bukan cuma tampang mukaku yang berubah, lagipula ilmu silatku telah peroleh kemajuan yang amat pesat, kau jangan samakan keadaan sekarang dengan keadaan dulu"
"Kionghi, kionghi....."
Buru-buru Kim Thi sia menjura memberi selamat.
"Hmmm, tak usah banyak adat"
Setelah hening sesaat, kembali Kim Thi sia berkata.
"Sesungguhnya lentera hijau itu merupakan benda milikku yang hilang, sekarang kau harus mengembalikan kepadaku"
Pedang emas tidak menjawab, dia malah mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.
Gelak tertawanya amat keras dan mengandung nada bangga selain sindiran yang tajam.
Hingga sepertanak nasi lamanya dia baru menghentikan gelak tertawanya itu.
oooOooo Selama ini, Kim Thi sia hanya berdiri tenang disamping tanpa mengucapkan sepatah katapun, agaknya dia memang sengaja memberi kesempatan buat pedang emas untuk tertawa sepuasnya.
Sampai lama kemudian, Kim Thi sia baru menegur.
"Apa yang kau tertawa kan selama ini?"
"Kau ingin kembali meminta lentera hijau tersebut dari tanganku?"jengek pedang emas sambil tertawa geli.
"Benar"
Jawaban Kim Thi sia tegas dan keras.
"Tahukah kau apa maksud kedatanganku kemari mencarimu?"
"Darimana aku bisa tahu?"
"Aku justru kemari untuk meminta pedang Leng gwat kiam tersebut dari tanganmu"
Tanpa terasa Kim Thi sia meraba gagang pedang Leng geat kiamnya, lalu menjawab.
"Omong kosong, benda ini milik keluargaku, mengapa aku harus serahkan kepadamu?"
"Atas dasar apa kau mengatakan bahwa pedang Leng gwat kiam tersebut milikmu?"
"Sekarangpun masih tergantung dipinggangku, inilah bukti yang paling jelas."
"Oooh, lentera hijaupun saat ini berada disakuku, apakah benda inipun milikku?"
Jengek pedang emas sambil tertawa hambar. Merah padam selembar wajah Kim Thi sia ia segera mengumpat.
"Kau benar-benar kurang ajar."
Sebagai seorang pemuda yang polos dan jujur, dia memang takpandai berdebat, karenanya dia berteriak lagi.
"Hmmm, kau hanya membuat-buat alasan saja"
"Oya? Lantas apa alasanmu?"
"Pedang Leng gwat kiam merupakan mestika dari keluargaku sejak turun temurun"
"Oooh......begitu? Bagus sekali, kebetulan lentera hijau inipun merupakan pusaka keluargaku sejak turun temurun."
"Mengapa aku belum pernah mendengar tentang soal ini?"
Teriak Kim Thi sia dengan mendongkol.
"Akupun belum pernah mendengar kalau pedang leng gwat kiam merupakan benda pusaka dari keluarga Kim kalian."
"Mungkin telingamu sudah tuli sehingga berita inipun belum pernah kau dengar."
"Hey Kim Thi sia, terus terang aku bicara kepadamu, Leng gwat kiam maupun lentera hijau merupakan benda mestika dari dunia persilatan, kau tak perlu mengaku-ngaku lagi"
Bentak pedang emas nyaring.
"Siapa yang tak mengerti tentang soal ini?"
"Tapi mungkin kau belum pernah mengerti tentang sepatah kata......."
"Perkataan apa?"
"Benda mestika dari dunia persilatan hanya diperoleh bagi mereka yang berbakat serta berjodoh dengan benda tersebut......"
Mendengar ucapan ini, Kim Thi sia segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahakbahak.
"Haaah....haaah....hey pedang emas, apakah kau anggap dirimu adalah seorang manusia yang berbakat serta berjodoh dengan benda mestika itu?"
"Tepat sekali perkataanmu itu"
Dengan gemas Kim Thi sia segera meludah, serunya.
"Aku jadi malu karena mendengar ucapanmu itu, kau betul-betul seorang manusia latah yang tak tahu diri."
Tiba-tiba pedang emas menarik mukanya lalu dengan serius dia berseru.
"Itu mah menurut pandanganmu pribadi, apa sangkut pautnya dengan diriku? Tapi......"
Berbicara sampai disitu dia sengaja termenung sampai lama sekali, tingkah lakunya kelihatan amat rahasia.
"Tapi kenapa?"
Kim Thi sia yang tak sanggup menahan diri segera bertanya dengan rasa ingin tahu.
"Siapa yang membawa benda mestika, dia bisa ketimpa malapetaka, pernah kau dengar ucapan ini?"
"Apa maksudmu?"
"Artinya bila kau tidak segera menyerahkan pedang mestika Leng gwat kiam tersebut kepadaku, maka bencana besar mungkin akan segera menimpa dirimu."
"Bencapa apa?"
"Bencana kematian."
Mendengar itu, Kim Thi sia segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.
"IHaaah....haaah....haaaah....justru kau si penghianat perguruan, murid durhaka yang bakal ketimpa bencana kematian."
"Kentut busuk."
"Tidak kau akuipun percuma, sebab kenyataan toh demikian, nah cepat serahkan lentera hijau itu kepadaku atau kalau tidak......"
"Kalau tidak kau bisa berbuat apa kepadaku?"
"Kau toh sudah tahu sejak dulu, aku adalah murid kesepuluh dari Malaikat pedang berbaju perlente."
"IHuuuuh, terhitung jagoan macam apaan dirimu itu?"
Kembali pedang emas menjengek sinis.
"Aku mendapat pesan terakhir dari suhu untuk mengirim kalian semua berangkat keakhirat."
Kali ini pedang emas tertawa menyeramkan.
"IHeeeehh.....heeeeeh.....heeeeeh......sebaliknya aku justru akan mengirim nyawamu untuk berpulang kealam baka, agar bisa bersua kembali dengan gurumu itu"
Tanpa meloloskan pedangnya lagi, tiba-tiba saja dia menerobos maju kedepan sambil melepaskan sebuah pukulan gencar.
Kim Thi sia tidak menyangka kalau musuhnya akan melancarkan serangan secara tiba-tiba dengan kekuatan demikian dahsyatnya, dia tak sempat lagi menghindarkan diri buru-buru ilmu Ciat khi mi khi dikerahkan untuk menahan datangnya gempuran tersebut.
begitu ilmu Ciat khi mi khi dikerahkan, segenap kekuatan tubuhnya terhimpun menjadi satu.
Tapi serangan yang dilancarkan sipedang emas ini benar-benar mengandung kekuatan yang mengerikan, ibarat amukan topan yang menggulung ombak ditengah samudra, dengan dahsyat dan hebatnya menyambar dan melanda kemuka.
Kim Thi sia sama sekali tak gentar, ia memang sengaja mengandalkan ilmu Ciat khi mi khinya untuk menerima gempuran musuh, sebab dia ingin mencoba sampai dimanakah taraf kemampuan yang berhasil dicapai pedang emas.
Sebab ia mendengar pedang emas berhasil mendapat kemajuan yang pesat dalam bagian tenaga dalamnya berkat bantuan dari lentera hijau tersebut.
Siapa tahu begitu dicoba, ia segera menyadari betapa dahsyat dan luar biasanya kekuatan lawan.
Sementara itu serangan yang dilancarkan pedang emas telah menerobos kemuka siap menghajar bahu kiri Kim Thi sia.
Serta merta sianak muda itu menggetarkan bahu kirinya siap menghisap kekuatan inti musuh.
Akan tetapi diluar dugaan kekuatan yang dimiliki pedang emas sekarang sudah jauh berbeda dengan keadaan dulu.
"Blaaaammm......"
Bentakan keras yang memekikkan telinga pun segera bergema memecahkan keheningan.
Ditengah berhamburannya pasir dan debu keempat penjuru, terdengar Kim Thi sia berseru tertahan, sambil muntahkan darah segar tubuhnya terpental kebelakang.
Seketika itu juga ia merasakan perutnya terguncang hebat, kepalanya pusing tujuh keliling dan kesadaranya mulai kabur.
Melihat musuhnya mundur dengan sempoyongan, pedang emas menjadi kegirangan setengah mati, kembali ia tertawa tergelak, Apa bila menuruti adatnya semula, pedang emas tentu akan menganggap Kim Thi sia pasti akan mati oleh serangannya dan saat itu akan merasa bergembira.
Tapi ilmu Ciat khi mi khi yang dimiliki Kim Thi sia sudah cukup termashur dalam dunia persilatan, terutama sekali pedang emas sudah beberapa kali menderita kerugian ditangan lawannya, sudah barang tentu dia tak mau menyudahi serangannya sampai disitu saja.
Belum habis gelak tertawanya bergema, pedang emas telah melompat kemuka dengan menggunakan jurus "delapan langkah mengejar comberet"
Sekali lagi ia mendesak maju kemuka.
Tak sampai darah yang muntah keluar dari Kim Thi sia selesai mengucur, dan tak sampai pemuda itu sempat merangkak bangun, kembali sebuah serangan telah dilancarkan kedepan.
Perlu diketahui, ilmu Ciat khi mi khi memiliki daya kemampuan sangat hebat, betapa pun besarnya tenaga serangan yang mengancam datang, kepandaian tersebut mampu untuk menghisap sarinya tanpa merugikan tubuh sendiri.
Tapi seandainya tenaga dalam yang dimiliki pihak musuh jauh lebih dahsyat dan kuat, sekalipun kepandaian tersebut tetap berfungsi menghisap sari kekuatan lawan, namun paling tidak keadan pada saat itu amat tidak menguntungkan.
Begitulah posisi Kim Thi sia saat ini, berhadapan langsung dengan musuh seperti pedang emas yang sama sekali tidak memberi peluang baginya untuk istirahat, ia benar-benar kewalahan dibuatnya.
Baru saja serangan yang pertama membuat dia memuntahkan darah segar, serangan kedua kembali menggelora darah panas didalam dadanya hingga menerobos naik lagi keatas tenggorokan.
Tapi berhubung darah panas yang bergolak pertama tadi belum sempat ditumpahkan secara keseluruhan, sedang darah berikut sudah menerjang naik bergumpalnya dua gulung darah panas membuat muka dan mulut Kim Thi sia menggelembung besar.
Tampak tubuhnya menggelinding diatas tanah bagaikan bola sambil bergulingan dia menjerit tiada hentinya.
Pada saat itulah dari sekeliling arena pertarungan bergema gelak tertawa yang ramai.
Rupanya sipedang kayu sambil mengempit tubuh Lin lin dengan sebilah pedang ditempelkan diatas tengkuknya telah muncul disana, disekelilingnya berdiri pula lima orang pria dan seorang wanita.
Kelima orang pria itu rata-rata berperawakan tinggi besar dan bermata amat tajam, jelas mereka adalah sekawan jago pedang yang berilmu silat sangat tinggi.
Sedangkan yang perempuan bertubuh ramping, berkulit putih bagaikan sayu dan berwajah cantik jelita bak bidadari dari khayangan.
Sementara itu sipedang kayu sedang bersorak memuji.
"Toa suko, tenaga saktimu benar-benar luar biasa hebatnya"
Kelima orang pria dan seorang wanita itu turut bertepuk tangan tiada hentinya, mereka sama-sama memperlihatkan rasa kagum dan hormatnya kepada sipedang emas, karena dalam dua buah serangan beruntun telah berhasil merobohkan Kim Thi sia.
sebetulnya waktu itu sipedang emas berniat menyusulkan tiga buah serangan lagi untuk segera membinasakan Kim Thi sia diujung telapak tangannya, namun sesudah mendengar tempik sorak yang gegap gempita dari sekeliling tempat itu, dia segera mengurungkan niatnya dan tertawa terbahak-bahak penuh rasa bangga.
Dipihak lain, Kim Thi sia sedang merangkak bangun dari atas tanah dalam keadaan yang amat mengenaskan.
Melihat Kim Thi sia telah berhasil merangkak bangun, pedang emas segera sadar bahwa usahanya selama ini bakal sia-sia belaka.
Kontan saja ia menjadi tak senang hati agak marah dia menegur.
"Pedang kayu, apa maksudmu datang kemari?"
Buru-buru sipedang kayu tertawa paksa sahutnya.
"Aku takut toa suko menjumpai suatu peristiwa yang tak diinginkan, maka aku sengaja datang kemari sambil membopong badak ini maksudku bila terjadi sesuatu yang tak diinginkan, maka akan kubunuh budak ini lebih dahulu"
Kim Thi sia baru saja memuntahkan keluar darah kental yang mendesak keluar dari rongga dadanya, dia menjadi gusar sekali sesudah mendengar perkataan itu. serunya kemudian.
"Bajingan keparat, kau licik, kau busuk berani amat menggunakan cara yang begini licik dan memalukan untuk menghadapiku"
Sementara itu sipedang emas telah menuding kearah lima orang pria dan seorang gadis itu sambil bertanya.
"Siapa pula orang-orang ini?"
Perlu diketahui, kelima orang lelaki dan seorang gadis itu berdiri agak jauh dari arena sehingga dari kejauhan tak begitu terlihat jelas raut wajah mereka. Cepat-cepat sipedang kayu menjawab.
"Toa suheng, mereka adalah lima naga seekor burung hong, anak buah raja langit berlengan delapan."
Kim Thi sia yang mendengar ucapan mana segera berseru tertahan, kemudian teriaknya.
"Bagus sekali, rupanya kalian sekawanan anjing budukan telah berkumpul menjadi satu komplotan"
Pedang kayu sama sekali tidak menggubris ejekan Kim Thi sia itu kembali ia berkata.
"Lima naga satu burung hong sengaja datang kemari untuk menyambut kedatangan toa suko"
Dengan cepat pedang emas berpaling kearah keenam orang tersebut, lalu tegurnya ketus.
"Siapa suruh kalian datang menyambut kedatanganku?"
Si nona atau burung hong itu segera menjawab.
"Sudah lama kami mendengar tentang nama besr sembilan pedang dunia persilatan yang menjagoi seluruh dunia, karena itulah kami sengaja datang untuk menggabungkan diri"
Kim Thi sia merasa suara perempuan ini seperti amat dikenal olehnya, dengan cepat dia menyela.
"Hey, apa tujuan kalian?"
Dalam pada itu kelima naga dan burung hong telah berjalan semakin mendekat. Burung hong kembali berkata.
"Kami berniat untuk bekerja sama dengan sembilan pedang dunia persilatan dan bersama membangun pekerjaan besar didunia persilatan."
Sementara itu Kim Thi sia telah mencoba meminjam sinar rembulan untuk mengamati wajah gadis itu, kemudian pikirnya lagi.
"Heran, kenapa perempuan ini berwajah mirip sekali dengan saudara Lam wi?"
Dalam pada itu sipedang emas telah menyahut sambil tertawa nyaring.
"Orang bilang siburung hong dari Leng han. Lam Peng pandai sekali berbicara, nyata sekali berita tersebut memang bukan omong kosong belaka, kau memang tak malu pula menjadi putri kesayangan dari Pek kut sinkun."
Siburung hong Lam Pang segera memberi hormat sambil tertawa-tawa, sahutnya.
"Terima kasih pujian itu, aku tak berani menerimanya."
Kim Thisia adalah seorang pemuda yang polos dan terbuka, melihat tingkah laku mereka itu ia menjadi kesal, mendadak teriaknya.
"Huuuuh, lebih baik tak usah bertingkah laku tengik"
Si burung hong Lam Peng melirik sekejap kearahnya, kemudian berkata lebih jauh.
"Kami tak berani dibandingkan dengan Kim sauhiap, kau selalu menjagoi dunia persilatan dengan mengutamakan kesetiaan kawan, sudah lama kami kagum akan hal ini."
Biarpun ucapan ini ditujukan kepada pedang emas, sesungguhnya mengandung arti dari perkataan tersebut, dengan mendongkok ia segera berseru.
"Kenapa aku dibilang tak setia kawan?"
Pedang kayu segera menyela.
"Jika kau mengutamakan soal kesetiaan kawan, sudah tidak sepantasnya kau berani menentang bahkan melawan toa suheng."
"Kenapa?"
Tanya Kim Thi sia lagi gemas.
"Bukankah suhu sudah lama meninggal dunia, ini berarti kedudukan toa suheng sama seperti kedudukan suhu, sudah sepantasnya bila kau menaruh hormat kepadanya."
Mendengar ucapan mana, Kim Thi sia segera tertawa terbahak-bahak,jengeknya.
"Haaaah.....haaaah.....haaaaah.....kalian telah berkomplot untuk mencelakai suhu, membuatnya menderita sepanjang akhir hayatnya dan mati secara mengenaskan, dosa kalian sudah tak terampuni lagi. Kenapa aku mesti menaruh hormat kepadanya?"
"Hmmmm, itukan merupakan tuduhanmu sepihak"
Seru pedang kayu lagi.
"Sudahlah, lebih baik kau tak usah membicarakan soal orang lain, bukankah kau sendiripun terlibat dalam peristiwa ini? IHmmm, kau lebih munaflk, kau manusia hina."
"Hmmm, omong kosong"
"Siapa bilang? Kau telah mendapat tugas berat dari negara untuk mengurusi bahan pangan negara, tapi kenyataannya kau tidak berbakti untuk rakyat banyak sebaliknya malah menindas dan mempermainkan rakyat jelata secara semena-mena, perbuatan ini lebth terlutuk."
"Bocah keparat, lebih baik kau tak usah mencampuri urusan ini"
Teriak pedang kayu marah.
Jilid 49
"Hmmm"
Kembali Kim Thi sia berkata sambil mendengus.
"Kau telah mendapat budi dan pendidikan dari pihak istana pembesar Kanglam, kaupun diberi kedudukan yang terhormat, besar sekali budi kebaikan yang ia berikan kepadamu, tapi nyatanya kau justru membalas air susu dengan air tuba, engkau manusia keparat yang tak mengenal budi"
Mimpipun si pedang kayu tak mengira kalau Kim Thi sia akan membongkar rahasia kemunafikannya dihadapan orang banyak. kontan saja ia menjadi tak senang hati, katanya Cepat.
"Ayoh katakan, kesalahan apa lagi yang telah kuperbuat?"
Dalam anggapannya Kim Thi sia tak pandai berbicara, sekalipun hendak memaki orang lainpun tak akan mampu banyak bicara, maka dia berusaha menahan diri sebisa mungkin, agar hal tersebut justru membangkitkan amarah si pedang emas sekalian hingga mereka menyerang si pedang emas sekalian hingga mereka menyerang seCara bersama-sama dan menghabisi nyawa Kim Thi sia.
Terdengar Kim Thi sia membentak lagi.
"Apa dosa dan kesalahan nona Lin lin terhadap dirimu? Mengapa kau mengancam jiwanya dengan ujung pedang disaat dia berada dalam keadaan tak sadar? Hmm, bukankah tindakan seperti ini membuktikan pula kemunafikan dan kelicikanmu?"
Dari malunya si pedang kayu menjadi naik darah ia segera mengancam.
"Hey bocah keparat, bila kau berani banyak cincong lagi, jangan salahkan bila kubacok Lin lin sampai mampus"
Sambil berkata, dia segera mengayunkan pedangnya dansiap melancarkan sebuah bacokan yang mematikan. Kim Thi sia menjadi sangat gelisah, buru-buru serunya.
"Eeeeh.....tunggu dulu"
Siburung hong Lam Peng yang mengikuti adegan tersebut, tiba-tiba saja merasakan hatinya kecut, serunya cepat.
"Kenapa? Kau merasa sakit hati bukan Kim Thi sia?"
"Aku sih tidak merasa sedih hati"
Sahut sang pemuda cepat.
Padahal sewaktu melihat pedang si pedang kayu hendak membacok tubuh Lin lin tadi, ia sudah ketakutan setengah mati hingga mandi keringat dingin.
Sambil tertawa licik si pedang kayu berkata.
"Hmmm, aku tahu meskipun diluar kau mengatakan tak sakit hati, padahal tubuh sudah gemetar keras."
"Mengapa engkau harus gemetar keras?"
Teriak Kim Thi sia sambil menahan geramnya.
"Sebab kauamat mencintai Lin lin"
Kata siburung hong Lam Peng dengan suara lantang.
"Sebab kau merasa tak tegamelihat ia mati diujung pedangmu, maka setelah melihat jiwanya terancam bahaya, kau segera berteriak-teriak seperti orang kerasukan setan."
Waktu itu, Kim Thi sia benar-benar merasa amat gelisah, sebagai orang yang polos dan jujur, beleh dibilang ia tak berhasil menemukan sesuatu carapun untuk mengatasi keadaan.
Ia cukup tahu, manusia sebangsa pedang kayu merupakan manusia yang keji dan berhati buas, apa yang telah diucapkan sanggup pula dilaksanakan-Itu berarti jika ia bersikap kurang hati-hati atau terpengaruh oleh emosi, maka akibatnya akan susah dihayangkan dengan kata-kata.
Maka untuk berapa saat lamanya ia cuma berdiri tertegun dengan perasaan cemas, peluh sebesar kacang kedele bercucuran membasahi seluruh wajahnya.
Wajah si pedang kayu kelihatan seram dan mengerikan hati, sambil menatap kearah pedang emas ia bertanya.
"Toa suheng, menurut pandanganmu perlukah bagi kita untuk menghabisi nyawa Lin lin Sibudak ingusan ini?"
Pedang emas berdiri tegak ditempat semula sambil memandang kelangit, wajahnya nampak amat serius. Sementara itu siburung hong Lam Peng telah melihat sesuatu yang tak beres, ia segera berkata.
"Jangan kau naik dirinya, saat ini pedang emas sedang memutar otak memikirkan suatu masalah penting yang amat besar"
"Baik, kalau begitu biar kubacok mampus dulu Lin lin"
Kata si pedang kayu kemudian-Kim Thi sia makin gelisah, buru-buru teriaknya keras.
"Eeeeh, tunggu dulu"
"Haaah....haaaah....haaaaah.....sungguh tak kusangka ternyata Kim Thi sia adalah seorang lelaki romantis yang banyak menebarkan benih cinta"
Jengek siburung hong Lam Pang sinis. Kim Thi sia tak ambil perduli terhadap sindiran tersebUt, buru-buru katanya lagi.
"pedang kayu, apakah kau benar-benar tak ingin bertahan lebih lanjut digedung pemerintahan Kanglam?"
"Itu urusan pribadiku, lebih baik tak usah kau campuri"
"Kim sauhiap. tak usah berkeras kepala"
Sela siburung hong Lam Peng lagi.
"Aku dapat melihat, bila Lin lin sampai mati, sudah pasti kau akan bersedih hati, malah bisa jadi akan mengakhiri hidupmu sendiri."
Kim Thi sia yang mendengar perkataan tersebut segera tertawa terbahak-bahak.
"Hey setan cilik, apa yang kau tertawa kan?"
Si pedang kayu segera menegur keras.
"Aku sedang mentertawakan ketololanmu, lebih baik janganlah melakukan perbuatan yang bakal merugikan diri sendiri"
"Ngaco belo."
"Ketahuilah pedang kayu, andaikata kau sampai membinasakan Lin lin, maka jangan harap kau bisa tancapkan kaki terus dalam gedung istana pemerintahan Kanglam ini"
"Tapi aku rasa, seandainya kau bersedia menyerahkan pedang Leng gwat kiam kepada kami, bisa jadi dia tak akan membunuh Lin lin"
Seru burung hong Lam Peng.
"ooooh, rupanya kalian mengincar pedang mestika Leng gwat kiamku......?"
"Tepat sekali dugaanmu itu."
"pedang tersebut berada ditanganku sekarang, bila menghendakinya, silahkan mencoba merampasnya dari tanganku."
"Hmmm, sekarang juga kami akan merampasnya dari tanganmu"
Kata si pedang kayu hambar.
Berbicara sampai disitu, dia melirik sekejap kearah si pedang emas.
Waktu itu si pedang emas masih berdiri tak bergerak.
keadaannya tidak berbeda seperti pendeta tua yang sedang duduk bersemedi, suasana terasa sangat hening.
Dalam keadaan seperti ini, si pedang emas seolah-olah menganggap orang yang hadir dalam arena sekarang bagaikan rerumputan atau batang kayu.
Sebaliknya para jago yang hadir diarena pun seakan-akan telah melupakan kehadiran si pedang emas disitu.
Dengan suara lantang Kim Thi sia berseru lagi.
"Bila ingin merebut pedang Leng gwat kiam dari tanganku, mengapa tidak kalian pergunakan cara yang jujur dan terbuka?"
"Kami toh memintanya secara blak-blakkan, apakah tindakan seperti ini kurang jelas dan terbuka?"
"Hmmm, menyandera orangpun cara yang jujur?"
"Tentu saja, menyandera orang merupakan salah satu tindakan yang jujur dan terbuka."
"Kalau begitu tak ada perbuatan yang rendah dan memalukan lagi dikolong langit ini"
Teriak Kim Thi sia jengkel.
"Mencuri baru perbuatan yang memalukan, main cinta dimana-mana atau menipu orang lain juga merupakan perbuatan yang memalukan-"
"Oooh, rupanya itulah prinsipmu?"
"Ya, terutama sekali manusia semacam kau, tak setia dalam bercinta dan menipu orang dimana-mana, perbuatan semacam inilah baru merupakan yang memalukan-"
Pada dasarnya Kim Thi sia memang tidakpandai berbicara, setelah menghadapi pemutar balikkan fakta oleh Lam Peng, ia menjadi sangat pusing tujuh keliling dan tak tahu bagaimana mesti berbuat.
Sementara itu si pedang kayu telah mendesak lebih jauh.
"Hey orang she Kim, lebih baik kau sedikit tahu diri"
Dalam cemas dan bingungnya mendadak Kim Thi sia teringat kembali dengan sikap yang diambilnya sewaktu menghadapi Dewi Nirmala tempo hari, maka sambil berlagak acuh tak acuh ia segera berkata.
"Hmmm, aku rasa sekalipun pedang leng gwat kiam tidak kuberikan kepada kalianpun tak akan berpengaruh apa-apa denganku."
Sedang dihati kecilnya ia berpikir.
"Bagaimanapun juga meski pedang ini kuserahkan kepada mereka, tapi karena lentera hijau berada ditangan si pedang emas, tak mungkin aku bisa menolong Lin lin, alangkah baiknya jika kutunjukkan sikap acuh tak acuh saja, tentu mereka tak akan mengancam diri ku lagi dan untuk berapa saatpun mereka tak bakal mencelakai Lin lin."
Berpikir demikian, Kim Thi sia pun mengambil keputusan untuk menyerempet bahaya. pedang kayu menjadi bertambah sewot lagi melihat sikap lawannya yang acuh tak acuh, segera ancamnya.
"Perduli amat kau mengacuhkan atau tidak, atau kubacok dulu Lin lin sampai mampus"
Sembari berkata dia segera menggetarkan pedangnya dan siap membabat leher Lin lin. Kim Thi sia merasa tak mungkin untuk menolong kekasihnya, cepat-cepat ia melengos kearah lain sambil berteriak.
"Kalau ingin membacok. silahkan saja membacok. toh mati hidup Lin lin tak ada sangkutpautnya denganku."
"ooooh, jadi nyawa Lin lin tak senilai sebilah pedang mestika Leng gwat kiam?"
Desak siburung hong Lam Peng. Kim Thi sia amat terdesak. tubuhnya sampai menggigil menahan diri, namun ia mencoba menggigit bibir seraya berkata.
"Biarpun ara seratus orang perempuan semacam Lin linpun tak akan bisa menandingi nilai pedang Leng gwat kiamku ini"
Mendengar perkataan ini, siburung hong Lam Peng segera berkerut kening sambil melototkan matanya bulat-bulat. Pada saat itulah, kembali si pedang kayu membentak keras.
"Bocah keparat, bila kau memang bernyali coba berpaling dan menengoklah sendiri."
Kim Thi sia memang sudah tak tahan untuk berpaling, maka sahutnya segera.
"Berpaling yaa berpaling, memangnya aku takut?"
Tapi apa yang kemudian terlihat seketika membuat paras mukanya berubah menjadi pucat pias seperti mayat.
Ternyata diujung pedang si pedang kayu itu sudah ternoda oleh percikan darah segar.
Sementara leher Lin lin sudah terluka, darah segar masih bercucuran keluar dengan derasnya dari mulut luka tersebut, keadaannya kelihatan mengerikan hati.
"Nah bocah keparat, sudah terlihat jelas?"
Jengek si pedang kayu dengan suara bangga.
Paras muka Kim Thi sia seketika itu berubah menjadi pucat pias bagaikan mayat, untung saja sinar rembulan agak redup sehingga perubahan wajahnya tidak terlihat lawan-"Tentu saja sudah kulihat dengan jelas."
Sahutnya sambil berusaha menahan diri.
"Kini aku telah merobek tenggorokan Lin lin sedalam setengah inci"
"Bagus, bagus sekali, setengah inci memang merupakan ukuran yang paling ideal"
Sahut Kim Thi sia sambil memaksakan tertawa^ Dengan serius pedang kayu segera berseru.
"Aku sengaja berbuat demikian dengan maksud memberi jalan mundur untuk mu tapi bila kau tetap tak mau sadar dan berkeras kepala terus......"
"Hmmmm...."
Si burung hong Lam Peng menyambung pula.
"Yaa, kecuali kau memang menghendaki kematian Lin lin. Kalau tidak. lebih baik serahkan pedang Leng gwat kiam tersebut kepada kami."
"Tidak, aku tak akan menyerahkan pedang ini kepada kalian,jangan mimpi disiang hari belong."
"sebenarnya apa maksud tujuanmu yang sebenarnya?"
"Sederhana sekali, pedang Leng gwat kiam merupakan benda mestika dari dunia persilatan, sedangkan Lin lin tak lebih hanya seorang wanita."
"Seorang wanita? Apa maksudmu?"
"Didunia ini terdapat banyak sekali kaum wanita."
"Kurang ajar"
Umpat si pedang kayu dengan gemas.
"Bila kau berani bicara sembarangan lagi, jangan salahkan kalau sekali ayunan pedang kubacok mampus perempuan ini."
"Huuuh, paling banter juga mati, apa lagi yang mati toh bukan aku tapi Lin lin, kenapa aku mesti takut?"
"Kau.......kau benar-benar manusia yang tak berperasaan didunia ini....."
Dengan agak terkejut siburung hong Lam Peng berseru.
Kim Thi sia segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.
menggunakan kesempatan itu kembali dia berpaling kearah lain-Ia kuatir si pedang kayu menunjukkan kembali sikap garang dan buasnya sehingga membuat ia merasa amat bersedih hati.
Sebaliknya si pedang kayu menjadi mendongkol setengah mati, teriaknya agak sewot.
"Baik, kalau toh kau tidak acuh, kenapa aku mesti segan-segan untuk membacok mati perempuan ini?"
Seraya berkata, pedangnya kembali diayunkan kebawah membabat tubuh Lin lin. Disaat yang amat kritis inilah, mendadak terdengar seseorang membentak keras.
"Ampuni selembar jiwanya"
Ketika semua orang berpaling, tampaklah Kek Jin telah munculkan diri disitu dengan langkah tergesa-gesa.
"Hey, melihat seluruh badanmU basah kuyup dengan keringat, apa sih yang membuat hatimu risau?"
Pedang kayu segera menegur.
"Apakah kau...... kau sudah gila?"
Tegur Kek Jin keras-keras.
Perlu diketahui Kek Jin masih termasuk anak buah si pedang kayu, dihari-hari biasa ia selalu bersikap menghormati serta mengiakan semua perkataannya.
Tak disangka sikapnya hari ini berubah sama sekali, bahkan sempat mengumpat si pedang kayu sebagai gila.
Bisa dibayangkan betapa gusarnya si pedang kayu mendengar makian tersebut, segera bentaknya.
"Apa kau bilang?"
"Mengapa kau hendak mencelakaijiwa Lin lin?"
Tegur Kek Jin lagi dengan wajah bersungguhsungguh . Sementara itu Kim Thi sia telah berpaling, cepat-cepat dia menyambung.
"Sungguh kebetulan kedatanganmu, hampir saja nyawa Lin lin terbang meninggalkan raganya, mati hidupnya sekarang tergantung pada keputusan si pedang kayu."
"Tidak bagaimanapun juga Lin lin tak boleh dicelakai jiwanya"
Tukas Kek Jin lagi. Seraya berkata, ia segera berjalan menghampiri si pedang kayu.
"Dari mana kau tahu kalau aku hendak mencelakaijiwa Lin lin?"
Seru pedang kayu kemudian-"Aku toh bertindak begini sebagai suatu tipu muslihat saja?"
Cepat-cepat Kek Jin merebut tubuh Lin lin dari bopongan si pedang kayu, setelah itu baru katanya.
"Bagaimanapun juga jiwa Lin lin tak boleh dianggap sebagai barang permainan"
Dari sakunya dia segera mengeluarkan obat luka serta membubuhi mulut luka Lin lin dengan obat. Melihat itu, dengan gemas si pedang kayu segera berseru.
"Kek Jin, kau boleh dibilang merupakan manusia paling tolol dikolong langit dewasa ini."
Sedangkan Kim Thi sia tertawa terbahak-bahak seraya berseru.
"Haaaah......haaaaah......haaaaah......sedari tadi aku sudah menduga perbuatanku ini hanya berupa tipu muslihat belaka."
"Siapa yang mengusulkan tipu muslihat ini?"
Kek Jin segera menegur.
"Aku"
Si burung hong Lam Peng menjawab lantang. Kepada si pedang kayu kembali Kek Jin menegur.
"Andaikata benar-benar sampai terjadi sesuatu, bagaimana kau akan memberikan pertanggunganjawabnya? Apakah perbuatan seperti ini bukan merupakan suatu perbuatan tolol?"
"Sudahlah, tak usah dibicarakan lagi"
Tukas pedang kayu sengit.
"Jadi kau menganggap dirimu sebagai manusia paling pintar dikolong langit?"
"Tapi aku toh tidak salah bertindak?"
Kek Jin membantah.
"Hmmmm, tahukah kau bahwa perbuatanmu itu telah menggagalkan sebuah rencana besar kita?"
Dengan suara dingin si burung hong Lam Peng menyambung pula.
"Walaupun kita gagal dalam rencana ini, tapi aku berhasil mendapatkan suatu hasil yang diluar dugaan."
"Apa yang telah kau peroleh?"
Tanya si pedang kayu keheranan.
"Sekarang aku telah mengenali perasaan hati seseorang secara jelas dan nyata."
"Perasaan siapa?"
Tanya Kek Jin pula.
"orang itu berhati keji dan buas bagaikan bisa, kebuasannya boleh dibilang tiada ternyata didunia ini"
Pada saat itulah mendadak terdengar si pedang emas berseru sambil tertawa keras.
"Haaah....haaaah bagu sekali, bagus sekali....tak kusangka rupanya begitu"
Begitu ucapan tersebut diutarakan keluar, semua yang hadir segera dibikin tertegun dan berdiri melongo. sebaliknya paras muka siburung hong Lam Peng berubah menjadi pucat kemerah-merahan.
"Eeeeei, apa yang kau gelikan?"
Dengan rasa heran Kim Thi sia segera menegur. Si pedang emas tidak menjawab, kembali wajahnya berubah menjadi amat serius dan berat sekali.
"Haaaaah, dasar sinting"
Umpat Kim Thi sia kemudian sambil meludah ketanah. Si burung hong Lam Peng segera mengangkat kepalanya lagi dan ia menegur dengan marah.
"Dasar orang kasar, kenapa sih tanpa sebab musabab kau selalu mencaci maki orang dengan seenaknya saja?"
Kim Thi sia jadi tertegun.
"Aku kan tidak memaki mu, aneh betul kenapa sih kau selalu mencari gara-gara denganku?"
"Haaaah.....haaaah.....haaaaah......aku merasa tidak leluasa meyakinkan segala tingkah laku mu"
Jengek si burung hong sambil tertawa dingin.
Boleh dibilang Kim Thi sia dibuat tak habis mengerti oleh sikap maupun tingkah laku gadis berwajah cantik tapi bermulut tajam ini, dia tak tahu mengapa gadis tersebut selalu mengusiknya.
Setelah termenung sejenak.
akhirnya diapun berkata.
"Aku adalah seorang lelaki yang terbuka dan jujur, aku tak ambil perduli kau merasa leluasa atau tidak menyaksikan tingkah polaku."
"Hmmm, tentu saja kau tak acuh, sampai mati hidup teman wanita sendiri yang paling akrab dan intimpun tak ambil perduli apakah perbuatan semacam ini bukan merupakan perbuatan orang kejam yang tidak berperasaan?"
Baca Juga: Dendam Asmara Okt
Baca Juga: Duri Bunga Ju 8