Eps 13 Lembah Nirmala - Khu Lung
Baca online Lembah Nirmala - Khu Lung
Cersil Lembah Nirmala - Khu Lung.
"Itu merupakan urusan pribadiku sendiri kenapa kau mesti turut campur.....?"
Seru Kim Thi sia jengkel. Burung hong Lam Peng membenahi rambutnya yang kusut, kemudian menjawab.
"Tentu saja aku tak akan turut campur, tapi aku sudah menaruh perasaan seram dan bergidik terhadapmu"
"Tak menjadi soal, karena selamanya aku Kim Thi sia tak pernah melupakan sahabat sejak aku terjun kedunia persilatan sampai sekarang, kejadian semacam ini belum pernah kualami."
"Haaaah.....haaaaah......haaaaah.......benarkah itu?Jadi kau masih ingat dengan orang yang pernah menempuh perjalanan bersamamu tempo hari? Hmmm...... aku rasa kau sudah lama melupakan dirinya?"
Untuk berapa saat Kim Thi sia tak bisa mengingat kembali siapa yang dimaksudkan, karena itu segera tanyanya.
"siapa yang kau maksud kan?"
"Tentu saja kau tak akan teringat kembali, bukankah dihati kecilmu sekarang hanya ada bayangan nona Lin lin seorang?"
"omong kosong, aku tak pernah berbuat salah keapda siapa saja"
Kim Thi sia mulai berkerut kening. Dalampada itu...... Secara tiba-tiba si pedang emas tertawa tergelak lagi, sambil melompat kegirangan teriaknya nyaring.
"Bagus sekali, bagus sekali, akhirnya kau berhasil juga memahami hal tersebut."
"Toa suheng, apa yang berhasil kau pahami?"
Tegur si pedang kayu keheranan.
"pedang kayu, masih ingatkah kau disaat kita masih bersama-sama belajar silat dulu? Setiap pagi, suhupasti melatih diri dibukit belakang, ia selalu melarang kita semua untuk melihatnya?"
"Yaa benar, waktu itu kita selalu menaati perintah suhu dan tidur diatas pembaringan."
"Tapi aku tak pernah berbuat begitu, sering kali aku mencuri lihat dibelakang, sehingga semua ilmu silat yang dilatih suhu secara diam-diam kulatih pula seorang diri siapa tahu akibat perbUatanku itu darah segarku susah beredar dengan lancar hingga nyaris mengalami jalan api menuju neraka....."
"Ilmu silat apaan itu? Apakah ilmu sakti Tay goan sinkang?"
"Betul, memang ilmu Tay goan sinkang"
Si pedang emas Ko Hong liang menyahut sambil tertawa hambar.
"Kau tidak mendapat petunjuk dari suhu tentu saja setiap saat bisa mengalami keadaan jalan api yang menuju keneraka"
Timbrung Kim Thi sia dengan suara yakinla cukup menyadari akan kehebatan ilmu Tay goan sinkang, barang siapa melatih ilmu tersebut kurang berhati-hati niscaya akan mengalami marabahaya yang membahayakan jiwanya.
Malahan dia sendiripun nyaris mengalami jalan sesat apa bila tidak segera mendapat tuntunan dari gurunya.
Sementara itu si pedang emas telah berkata lebih jauh.
"Tapi semenjak aku mendapatkan pergobatan lewat lentera hijau, semua pikiranku yang tersumbat telah terbuka sama sekali, semua kesulitan yang semula mencekam ku kini sudah tertembus semuanya"
"Kalau begitu kaupun telah berhasil mempelajari ilmu Tay goan sinkang?"
Tanya Kim Thi sia tertegun. Si pedang emas segera tertawa terbahak-bahak.
"Haaaah.....haaaah......haaaaah^....dengarkan baik-baik bocah keparat, sejak kini ilmu Tay goan sinkang bukan hanya milikmu seorang......"
Rupanya selama ia berdiri termenung disisi arena tadi, pemuda tersebut sedang menggunakan semua kecerdikannya untuk menyaring kembali semua inti sari kepandaian Tay goan yang dlingatnya, dan ternyata ia berhasil memahami semua rahasia kepandaian tersebut bisa dibandingkan betapa gembiranya dia sekarang.
Menggunakan kesempatan itulah siburung hong Lam Peng segera menyela.
"Sungguh mengherankan, rupanya kedatangan kita semua ketempat ini seperti hanya bertujuan untuk cekcok mulut saja"
"Lantas bagaimana menurut pendapatmu?"
Tanya si pedang emas.
"Bila aku merasa yakin kalau ilmu silat yang kumiliki jauh mengungguli lawan, sedari tadi aku telah turun tangan untuk merampas benda yang kuharapkan."
"Yaa betul toa suheng"
Sambung si pedang kayu cepat.
"Ia sedang memperingatkan kepadamu agar tidak melepaskan bocah keparat she Kim tersebut dengan begitu saja."
"Sudah,jangan ribut dulu"
Tukas si pedang emas cepat.
"Aku cukup memahami persoalan ini, aku akan segera memaksanya untuk menyerahkan pedang Leng gwat kiam tersebut kepadaku"
Sambil berkata ia segera berjalan mendekati Kim Thi sia, kini ia merasa yakin dengan kemampuan yang dimilikinya sehingga terhadap kemampuan Kim Thi sia, ia tidak memandang sebelah mata lagi.
"Tunggu dulu"
Bentak Kim Thi sia tiba-tiba.
"Mau apa lagi kamu?"
Tegur pedang emas agak melengak.
"Barusan kau mengakui telah berhasil menguasahi ilmu Tay goan sinkang, padahal kepandaian itu memiliki daya kemampuan yang luar biasa, nampaknya kau seperti yakin bisa menangkan aku secara mudah?"
"Tentu saja"
Sahut si pedang emas bangga.
"oleh sebab itulah tak ada salahnya bila kita berduel dengan mengandalkan ilmu Tay goan sinkang itu?"
"Memang cara tersebut paling baik"
"Seandainya aku yang kalah, aku bersedia menyerahkan pedang Leng gwat kiam itu kepadaku"
"Haaaah.....haaaah.....haaaah.....bukan kau yang berhak menentukan hal tersebut, sebab bagaimanapun jua, pedang tersebut harus kau serahkan kepadaku."
Ucap si pedang emas Ko Hong liang sambil tertawa terbahak-bahak.
"Bagaimana kalau kau yang kalah?"
Tanya Kim Thi sia lagi.
"Aku tak mungkin kalah"
Si pedang emas menegaskan dengan nada yang meyakinkan.
"Aku rasa, penemuan yang berhasil kau peroleh tanpa sengaja tentu tak akan terhindar dari segala kebocoran dan kesilafan, terus terang saja aku bilang, diantara kita berdua, masing-masing memegang separuh kemungkinan untuk meraih kemenangan-"
"Itu toh menurut jalan pemikiranmu sendiri."
"Aku tak perduli bagaimana jalan pemikiranmu, tapi kau harus menyebutkan dulu bagaimana tindakanmu seandainya kau yang menderita kalah."
Si pedang emas tidak menjawab pertanyaan itu, dia malah mendongakkan kepalanya dan tertawa keras. Kembali Kim Thi sia mendesak.
"Bila kau yang menderita kekalahan, maka kau harus memenuhi sebuah syaratku."
"Apa syaratmu?"
Tanya si pedang emas sinis.
"Serahkan lentera hijau kepadaku dan ijinkan aku membawa pergi nona Lin lin dan mengobati lukanya."
"Hmmm, nampaknya kau sedang bermimpi disiang hari belong"
"Berhasil atau tidak^ itu urusanku sendiri."
Tiba-tiba siburung hong Lam Peng menimbrung.
"Seringkali didalam suatu pertarungan antara jago-jago lihay, menang kalah hanya selisih sekali, apakah kau berani mengaku kalah bila benar-benar menderita kekalahan nanti?"
Kim Thi sia tertawa nyaring.
"Hmmm, itu mah soal gampang, pokoknya aku tak bakal menyangkal bila terbukti aku memang kalah?"
"Yaa, kalau ngomong sih gampang sekali, tapi kalau sudah sampai waktunya aku takut kau bisa mengingkari janji."
"Begini saja kalau begitu biar kau yang menjadi jurinya?"
"Apa kau bilang?"
Seru Lam Peng tercengang.
"Biar kau yang menjadi wasitnya serta menentukan siapa menang dan siapa kalah dalam pertarungan melawan si pedang emas nanti."
"Kau benar-benar percaya kepadaku?"
Tanya siburung hong sambil tertawa-tawa. Belum sempat Kim Thi sia memberikan jawabannya, dengan tak sabar si pedang eams telah menukas.
"Nona Lam, kau tak usah menampik lagi"
Dengan langkah pelan siburung hong Lam Peng segera tampilkan diri kedepan diikuti kelima naga dibelakangnya. Si pedang emas segera berkata lagi.
"Setelah menjadi wasit, kuharap nona Lam jangan berat sebelah didalam keputusanmu nanti, berilah keputusan yang jujur dan adil."
Sementara berbicara, ia mengerdipkan matanya kepada nona itu. Padahal siburung hong sudah mempunyai perhitungan sendiri didalam hati kecilnya iapun segera berkata.
"Kalau dilihat dari sebutannya, ilmu Tay goan sinkang, aku pikir pertarungan ini tentu dilangsunkan dengan saling beradu tangan kosong. Nah sekarang kuharap kedua belah pihak sama-sama menjulurkan lengannya bersiap sedia. Disaat aku berteriak mulai nanti kalian boleh mulai melangsungkan pertarungan."
Baik si pedang emas maupun Kim Thi sia segera menuruti perkataannya dan bergerak maju kedepan.
Agar bisa mengikuti jalannya pertarungan dengan lebih seksama, tanpa sadar si pedang kayu maju berapa langkah kemuka.
Sebaliknya Kek Jin kuatir gelombang angin pukulan yang dihasilkan dari pertarungan tersebut akan mencelakai nona Lin lin yang tak sadar, maka cepat-cepat dia membepong gadis itu dan menyingkir kebawah pohon besar.
Ditengah keheningan yang mencekam seluruh arena tiba-tiba terdengar si burung hong Lampeng berseru.
"Yaa dimulai"
Sambil berseru dia segera melompat mundur sejauh berapa kaki kebelakang dengan gerakan cepat.
Kim Thi sia dan si pedang emas segera mulai saling menyerang, kedua belah pihak sama-sama mengandalkan ilmu Tay goan sinkang untuk menggepur musuhnya, mereka sama-sama berusaha untuk mendapatkan lentera hijau, dan pedang Leng gwat kiam sekaligus.
Sebab merekapun tahu, barang siapa bisa mendapatkan lentera hijau dan pedang Leng gwat kiam sekaligus, besar kemungkinannya dia akan memimpin dunia persilatan-Pertarungan inipun merupakan pertarungan yang pertama bagi Kim Thi sia dalam menghadapi musuhnya dengan mempergunakan ilmu Tay goan sinkang.
Tak selang berapa saat kemudian, baik siburung hong Lam Peng, maupun si pedang kayu, Kek Jin serta kelima naga, mereka semua sama-sama mengikuti jalannya pertarungannya yang berlangsung diarena dengan pandangan terkejut dan mulut melongo.
Rupanya si pedang emas dan Kim Thi sia telah berdiri saling berhadapan, mereka berdua samasama membungkam dengan wajah serius, sementara sepasang tangannya saling menempel satu sama lainnya secara ketat dan kencang sekali.
Bukan hanya begitu, dari atas ubun-ubun mereka berduapun, mengepul keluar asap putih yang amat tebal.
Melihat adegan ini, diam-diam siburung hong mengeluh.
"Habis sudah riwayat Kim Thi sia kali ini, dia tentu akan kalah secara mengenaskan."
"Atas dasar apa kau berkata begitu?"
Tanya Kek Jin. Si pedang kayu menyela.
"Toa suheng memiliki tenaga dalam yang amat sempurna, bagaimana mungkin Kim Thi sia sanggup menandinginya?"
Ooooooo "Kalau sudah tahu begitu, apa sebabnya Kim Thi sia bersikeras hendak memberi perlawanan?"
Tanya Kek Jin lagi.
"Apakah kau merasa sayang dan kuatir baginya?"
"Seandainya aku menjadi dia, tak nanti akan kulakukan perbuatan bedoh ini, sudah tahu tenaga dalam sendiri bukan tandingan musuh, aneh dia malah mengajak lawannya beradu tenaga dalam, apakah perbuatan semacam ini bukan perbuatan tolol?"
Sementara itu Kim Thi sia sendiripun sedang mengeluh.
Sesungguhnya dia sendiripun tidak bermaksud mengajak si pedang emas untuk beradu tenaga dalam.
Rupanya disaat siburung hong Lam Peng menyuruh sepasang tangan mereka saling menempel tadi, si pedang emas telah menggunakan akal licik untuk menjebak pemuda tersebut.
Begitu sepasang tangan mereka saling menempel tadi, si pedang emas segera memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mengalirkan tenaga dalamnya untuk menggencet musuh.
Dalam keadaan begini, Kim Thi sia hanya bisa mengeluh didalam hati, sebab tahu-tahu saja dia merasakan datangnya segulung tenaga kekuatan yang menggencet serta menggempurnya .
Bila ia tidak memberi perlawanan dalam keadaan begini, niscaya isi perutnya akan terluka parah, atau bahkan bisa merenggut selembar jiwanya.
berada dalam keadaan apa boleh buat terpaksa Kim Thi sia harus membungkam diri serta melakukan perlawanan dengan menggunakan ilmu Toa kim kong leknya.
Menanti semua orang dapat melihat kejadian tersebut, sesungguhnya mereka berdua sudah cukup lama saling menggempur.
Walaupun banyak ocehan dan pendapat dari para jago yang terdengar oleh Kim Thi sia waktu itu namun keadaannya tak berbeda seperti si bisu empedu, biar kepahitanpun tak mampu mengeluh.
Sebaliknya si pedang emas merasa gembira sekali setelah mendengar pelbagai pendapat itu, sambil tertawa tergelak segera serunya.
"Bocah keparat, kau sendiri yang mencari mampus, hmmm jangan sala h kan bila aku bertindak kejam."
Menggunakan kesempatan itulah Kim Thi sia berjumpalitan secara tiba-tiba kebelakang seperti sebuah bola yang menggelinding.
Padahal si pedang emas sedang menggempur dengan sekuat tenaga, begitu musuhnya mengendor, ia jadi gelagapan hingga nyaris jatuh terjerembab keatas tanah.
Masih untung kepandaian silat yang dimiliki si pedang emas cukup tangguh sehingga secara paksa ia mampu mengendalikan keseimbangan badannya.
Sebaliknya keadaan Kim Thi sia waktu itu sungguh mengenaskan sekali.
Secara beruntun dia berjumpalitan sampai belasan kali sebelum akhirnya jauh terduduk diatas lumpur, badannya berubah jadi kotor sekali, keadaannya menggelikan.
"Aduh celaka"
Tiba-tiba terdengar siburung hong Lam Peng menjerit kaget.
"Ada apa?"
Si pedang kayu menegur dingin.
"Tampaknya Kim Thi sia menguasahi ilmu menyembah Kwan Im"
Sebagaimana diketahui, bila sepasang jago sedang beradu tenaga dalam, maka peristiwa tersebut hanya bisa diakhiri bilamana salah satu pihak sudah terluka atau mati.
Sebaliknya ilmu menyembah Kwan Im merupakan ilmu peringankan tubuh tingkat tinggi.
Ketika Kim Thi sia berhasil menggunakan kepandaian yang luar biasa untuk meloloskan diri dari gencatan senjata musuh tadi, kejadian tersebut boleh dibilang jarang terjadi dalam dunia persilatan, tak heran bila orang-orang menjadi terperanjat dibuatnya.
Si pedang kayu pun dapat menyaksikan peristiwa itu, ia segera berkata.
"Huuuh, apanya yang luar biasa, toh toa suheng masih tetap mampu untuk membinasakan dia."
Dalampada itu si pedang emas Ko Hong liang telah melejit maju kedepan, kemudian sambil mengayunkan telapak tangannya ia melepaskan sebuah bacokan dahsyat kedepan-Kim Thi sia melejit dengan kecatan, tubuhnya berputar kencang bagaikan putaran roda lalu meluncur kesamping.
si burung hong yang melihat itu, diam-diam berpikir dihatinya.
"orang ini memiliki tenaga dalamnya yang hebat, kemajuan yang dicapai dalam ilmu silatnya benar-benar mengagumkan-"
Sementara itu si pedang kayupun sedang berpikir.
"Bila bangsat ini tidak dilenyapkan secepatnya, dikemudian hari dia tentu akan menjadi bibit bencana, itu berarti sebuah ancaman yang berbahaya sekali bagi kami."
Dalam pada itu Kim Thi sia telah melayang turun keatas tanah seraya berteriak keras.
"Pedang emas, kau terlalu kurang ajar, mengapa kau mengingkari janji?"
"Hmm, bukankah kau sedang bertarung dengan menuruti peraturan yang telah ditentukan"
"Kau seharusnya bertarung dengan mengandaikan ilmu Tay goan sinkang.....^"
"Kepandaian silat yang kugunakan sekarang tak lain adalah ilmu Tay goan sinkang"
Sahut pedang emas cepat.
Begitu selesai berkata, ia kembali mendesak maju kedepan, sebuah pukulan yang maha dahsyat dilancarkan ketubuh musuh.
Ternyata jurus serangan yang dipergunakan adalah jurus "kecerdikan menguasahijagad dari ilmu Tay goan sinkang.
Pada dasarnya Kim Thi sia memang tak pandai bicara sehingga biarpun mempunyai alasan yang kuat namun ia tak mampu mengutarakannya keluar.
Sebetulnya dia hendak menegur pedang emas mengapa begitu dimulai musuh telah mengajaknya beradu tenaga dalam.
Tapi tindakan serta desakan si pedang emas kelewat cepat sehingga pada hakekatnya dia tak berkesempatan untuk memberi reaksi.
Hal ini masih ditambah lagi dengan sikap berat sebelah dari Lam Peng sebagai wasit, kesemuanya itu membuat posisinya menjadi sangat tidak menguntungkan.
Kim Thi sia merasa amat gusar, darah panas serasa mendidih didalam dadanya.
Maka dikala melihat si pedang emas telah melancarkan serangan lagi, Kim Thi sia pun segan untuk banyak berbicara.
Diam-diam pikirnya dihati.
"Baiklah, bertarung yaa bertarung, percuma banyak bicara lagi biar menang kalah yang menentukan Segala Sesuatunya."
Dengan menggunakan jurus yang Sama dia Sambut datangnya serangan musuh itu.
sewaktu berhembus datang tenaga serangan dari kedua belah pihak sama-sama tidak menimbulkan suara.
Tapi begitu bertemu maka terjadilah benturan demi benturan meski suara benturan itu kecil sekali.
Sebagai akibat dari benturan-benturan ini kawasan selUas tiga kaki disekeliling tempat itu segera tercekam dalam daya pengaruh tenaga sakti Tay goan sinkang.
Melihat kedahsyatan tersebut, semua jago menjadi tertegun dibuatnya, terutama sekali kelima naga, untuk sesaat mereka sampai saling berpandangan dengan wajah tertegun.
Perlu diketahui, kelima naga itu termasuk anak buah dari si Raja langit berlengan delapan yang berdiam dikawasan Biau, suatu daerah yang jauh dari daratan Tiong goan-Untuk kawasan Biau dan sekitarnya, kelima orang itu memang mempunyai nama serta reputasi yang luas biasa.
oleh karena selama ini belum pernah menjumpai lawan tandingan yang hebat, selama ini mereka selalu berpendapat bahwa ilmu silat sendiri amat tangguh dan tiada taranya dikolong langit.
Siapa tahu setelah menginjakkan kakinya didaratan Tionggan dan menyaksikan kedahsyatan dari ilmu Tay goan sinkang tersebut, mereka baru sadar bahwa diatas langit masih ada langit, diatas manusia pandai masih ada manusia pandai lainnya.
Dalam pada itu pertarungan antara Kim Thi sia melawan pedang emas sudah mencapai tingkat yang amat sengit.
Kini mereka makin bertarung makin lamban, setiao gerakannya kelihatan amat berat dan ngotot.
Peluh sebesar kacang kedelai pun telah bercucuran membasahi seluruh wajah dan tubuh mereka.
Pada saat inilah mendadak terdengar siburung hong Lam Peng berseru dengan bahasa yang sangat aneh.
Bahasa yang digunakan gadis itu sangat aneh, baik si pedang kayu maupun Kek Jin sama-sama tidak mengerti.
Tapi kelima naga itu segera memencarkan diri menjadi dua rombongan, dua orang diantaranya langsung mendekati Kek Jin.
Belum sempat Kek Jin memberikan reaksinya, tahu-tahu kedua orang tersebut telah merampas Lin lin dari bopongannya.
Kejadian yang sama sekali tak terduga ini kontan saja membuat Kek Jin menjadi kelabakan setengah mati, buru-buru serunya.
"Heeeeey......mau apa......mau apa kalian?"
Kedua orang itu tidak menjawab, seorang diantaranya yang berhasil merampas tubuh Lin lin segera melompat mundur kebelakang, sedang rekannya dengan cepat mengeluarkan sebuah ilmu pukulan yang sangat aneh tapi dahsyat, langsung menggempur Kek Jin.
Dalam keadaan tidak siap sama sekali Kek Jin menjadi semakin gelagapan, dia terdesak mundur terus kebelakang.
Dipihak lain, pada rombongan kedua yan terdiri dari tiga orang, saat itu sudah mengambil posisi dan mengepung si pedang kayu.
Menanti salah satu dari lima naga itu berhasil mendesak Kek Jin mundur hingga kesisi si pedang kayu, keempat naga tersebut baru memencarkan diri pada posisi empat penjuru dan mengepung Kek Jin serta si pedang kayu ditengah arena.
Keempay orang itu tidak berbicara apa-apa, namun wajah mereka nampak bangis, sorot matanya memancarkan sinar yang menggidikkan hati^ "Hey, apa-apaan kalian ini?"
Kek Jin segera menegur dengan perasaan kesal bercampur menyesaL sedangkan si pedang kayu membentak penuh amarah.
"Lam Peng, sebenarnya apa maksud tujuanmu?"
Sahut siburung hong Lam Peng sambil tertawa dingin.
"Aku rasa, lebih baik kalian berdua jangan sembarangan bergerak."
Bicara sampai disitu kembali dia berkata dengan menggunakan bahasa yang tidak dimengerti.
Lelaki yang menyerobet Lin lin tadi segera mengiakan berulang kali, dengan cepat dia menyandarkan tubuh Lin lin diatas sebatang pohon, kemudian lelaki itu maju kemuka dan menggabungkan diri dengan keempat orang rekannya.
Semua perbuatan dan tingkah laku mereka ini membuat Kek Jin maupun si pedang kayu menjadi tertegun, keheranan dan tidak tahu apa yang mesti diperbuatnya.
Selang berapa saat kemudian-.....
Kelima naga itu sudah membuat posisi pengepungan yang amat ketat, dari depan, belakang, kiri maupun kanan, mereka menempati lima posisi yang berbeda.
Dengan suara lantang siburung hong Lam Peng berseru.
"Hey Go yong, orang menyebutmu si pedang kayu, tahukah kau akan perubahan dari barisan ngo heng?"
"Kalau mengerti kenapa? Kalau tidak mengerti kenapa pula?"
Sahut si pedang kayu dengan kening berkerut.
"Dengan dialek suku Biau aku telah memberitahukan kepada lima naga agar mengurung kalian dengan menggunakan barisan naga beracun ular emas........."
"Hmmmm Aku tahu barisan naga beracun ular emas memang termasuk sebuah barisan yang besar dan hebat, tapi aku takut barisan tersebut belum cukup tangguh untuk mengurungi diriku"
"Kau jangan memandang kelewat rendah kemampuan dari lima naga dari wilayah Biau ini. Sejak terjunkan diri kedalam dunia persilatan, belum pernah ilmu pukulan naga beracun ular emas mereka menjumpai tandingan. Kau tahu, pendekar besar dari Hong san, Ko An Jin sendiripun pernah dikurung oleh kelima naga tua dari wilayah Biau didalam barisan naga beracun ular emasnya hampir setengah bulan lamanya , kini putra dari kelima naga tersebut muncul pula didaratan Tiong goan setelah melatih diri sekian waktu nah bila kau tetap tak tahu diri serta mencoba untuk melawannya, itu berarti kau sudah bosan hidup terus didunia ini"
Mendengar uraian tersebut, Kek Jin merasa sangat tegang, buru-buru bisiknya kepada si pedang kayu.
"Waduh celaka, jagoan yang begitu lihay seperti pendekar bukit Hong san, Ko AnJ in kena terkurung, apa lagi manusia macam kau dan aku......?"
Si pedang kayu terhitung seorang jagoan yang tinggi hati, ketika mendengar perkataan mana buru-buru bentaknya.
"Benar-benar omong tak karuan, kenapa sih kau mesti merasa bingung dan tegang?"
Kemudian dengan suara lantang serunya.
"Sudah cukup lama aku si pedang kayu melakukan perjalanan didalam dunia persilatan, aku tak pernah percaya dengan segala macam tahayul...."
Seraya berkata dia segera meloloskan pedangnya dan melancarkan serangan dengan kecepatan bagaikan sambaran petir.
Serangan tersebut dilancarkan tanpa dibebani perasaan takut barang sedikitpun jua, malahan dengan mengandung kekuatan penuh dia langsung menyergap kelima naga itu.
Tampaknya Kek Jin merasa terangsang oleh semangat si pedang kayu yang tinggi serta merta dia meloloskan juga senjata andalan sambil berteriak keras.
"Bagus sekali, akupun akan mencoba kepandaian mereka, aku tak percaya kalau kita berdua bakal dipecundangi oleh beberapa orang kurcaci dari wilayah Biau ini"
Dengan semangat yang berkobar dia segera melancarkan serangkaian bacokan ketubuh musuh.
Kelima naga tersebut sama sekali tak gugup, tampaknya mereka telah mempersiapkan diri secara baik-baik untuk menyambut datangnya serangan dari si pedang kayu serta Kek Jin.
Tanpa gugup barang sedikitpun jua, kelima orang tersebut mulai menggerakkan barisannya melakukan pengepungan.
Tampaknya lima bayangan manusia bergerak kesana kemari, setiap kali bergerak mereka saling mempersempit ruang gerak lawan-Begitu kuat dan tangguhnya pertahanan mereka, sehingga betapa pun lihay dan gencarnya serangan yang dilancarkan si pedang kayu serta Kek Jin, ternyata tak sebuah seranganpun dari mereka yang berhasil menembusi pertahanan barisan itu.
Sebaliknya si pedang kayu dan Kek Jinpun jangan harap bisa menembusi pertahanan musuh untuk meloloskan diri dari sana.
Dalam waktu singkat, pertarungan sengit telah berlangsung dengan hebatnya disana.
Dalam pada itu, pertarungan antara si pedang emas melawan Kim Thi sia telah mencapai puncaknya, kedua belah pihak sama-sama merasa lelah dan kehabisan tenaga.
Dalam keadaan beginilah siburung hong Lam Peng menampilkan diri menghampiri mereka berdua, kemudian ucapnya.
"Kim Thi sia, keadaanmu sekarang sudah amat berbahaya, tahukah kau akan keadaan tersebut?"
"Saat ini aku masih memiliki sisa tenaga, aku rasa kau pasti akan menderita kekalahan total"
Sambung si pedang emas Ko Hong liang dengan napas tersengkal. Kim Thi sia membalikkan telapak tangannya dengan cepat menyongsong serangan musuh, sahutnya gagah.
"Silahkan saja menyerang terus, kecuali aku sudah mampus, kalau tidak......"
Belum selesai perkataan tersebut diutarakan keluar, serangan dari si pedang emas telah menyambar datang, serangan tersebut langsung mengancam jalan darah Leng tay hiatnya.
"Kalau tidak kenapa kau?"
Jengeknya lebih lanjut. Kim Thi sia segera menghindarkan diri dengan jurus "angin berhembus menimbulkan reaksi", lalu sahutnya.
"Kalau tidak. aku tak akan bertekuk lutut untuk selamanya"
Sementara kedua orang itu masih melangsungkan pertarungannya yang amat seru, siburung hong Lam Peng telah berkata lagi.
"Kim Thi sia, aku bersedia membantumu"
Pedang emas yang mendengar seruan tersebut menjadi naik darah buru-buru teriaknya.
"Kurang ajar, kau berani menghianati aku."
"Menghianati atau bukan, rasanya bukan urusanmu"
Jengek siburung hong sambil tertawa.
"Hey, sebetulnya apa maksudmu?"
Tegur Kim Thi sia pula dengan wajah keheranan-"Maksudku? Dalam sebuah pertempuran, toh tak ada salahnya bila seseorang menggunakan strategi perang bukan? "
Dengan amat mendongkol si pedang emas berseru.
"Kim Thi sia kau jangan mau diperalat olehnya, dia bisa memperalat diriku lagi kemudian menghianati aku, sampai waktunya kaupun bisa diperalat olehnya, dan kemudian dihianati pula olehnya ....."
Kim Thi sia jadi tertegun dibuatnya, untuk sesaat dia tak tahu apa yang mesti diperbuatnya.
Menggunakan kesempatan disaat pemuda tersebut sedang tertegun, kembali si pedang emas melancarkan gempuran dengan menggunakan jurus "tenaga murni menembusi jagad."
Perlu diketahui, jurus "tenaga murni menembusi jagad"
Tersebut merupakan sebuah jurus serangan yang paling dahsyat dan keji dalam ilmu Tay goan sinkang.
Agaknya si pedang emas hendak memanfaatkan kesempatan disaat lawannya teledor untuk menghabisi nyawanya dalam serangan tersebut.
Sayang sekali Kim Thi sia bukan orang bedoh, lagi pula sejak kecil ia telah memperoleh didikan yang tinggi dari guru kenamaan.
Dalam kagetnya ia tidak menjadi gugup, cepat-cepat dia mengeluarkan jurus "gaya burung hong menganggukkan kepala"
Untuk memusnahkan ancaman lawan-Lalu dengan suatu kecepatan luar biasa dia melancarkan serangan balasan dengan menggunakan jurus "membacok runtuh bukit timur."
Sekali lagi kedua orang tersebut terlibat dalam suatu pertarungan yang amat seru. Burung hong Lam Peng yang menyaksikan peristiwa ini segera tertawa cekikikan, serunya kemudian.
"Kim Thi sia, kau seharusnya dapat berpikir lebih jelas bukan?"
Dengan geramnya si pedang emas berseru.
"Perempuan sialan,awas kamu, bila bersua kembali dikemudian hari, itulah saat kematian bagimu"
Si burung hong Lam Peng tidak menanggapi ancaman tersebut, sebaliknya berkata lagi.
"Kim Thi sia , kita tak usah membicarakan soal peraturan persilatan untuk menghadapi manusia semacam si pedang emas......"
"Aku mengerti"
Sahut Kim Thi sia sambil bertarung terus.
"Sekalipun kau bersedia menolong ku, itupun disertai dengan syarat bukan?"
"oooh, sudah barang tentu demikian."
"Apa syaratmu?"
"Bukankah kau ingin menolong Lin lin?"
"Benar."
"Dan kau ingin mendapatkan kembali lentera hijau tersebut dari tangan orang ini?"
"Tentu saja."
"Bila kau mengharapkan bantuanku, maka kau jangan berharap bisa mendapatkan kembali lentera hijau tersebut."
"Tapi.....tapi.....tanpa lentera hijau, bagaimana mungkin aku bisa menolong Lin lin?"
Seru Kim Thi sia cemas.
"Soal itu sih tak perlu dikuatirkan, aku mempunyai cara yang lain."
Sementara itu si pedang emas telah membentak penuh amarah.
"Hmmm, dasar perempuan, rupanya benakmu cuma dipenuhi dengan segala macam akal busuk."
Si burung hong Lam Peng tetap tidak menggubris umpatan tersebut, kembali dia berkata.
"Setelah kubantu dirimu untuk mengalahkan si pedang emas...."
"Saat itulah waktu ajalmu telah tiba"
Sambung si pedang emas segera sebelum Kim Thi sia sempat berbicara. Si burung hong Lam Peng segera tertawa cekikikan.
"Haaaah.....haaaaah....haaaaah......demi menjaga keseimbangan kekuatan dalam dunia persilatan, aku tak akan membunuh siapapun diantara kalian berdua."
"Sebenarnya apa yang kau inginkan?"
Tanya Kim Thi sia.
"Aku akan membantumu untuk menyembuhkan Lin lin-"
"Tapi kau akan membawa pergi lentera hijau tersebut, mana mungkin janjimu itu bisa terwujud?"
"Bukan hanya itu saja permintaanku"
Kata Lam Peng cepat.
"Apakah kau masih ada syarat yang lain?"
Tanya Kim Thi sia sambil berkerut kening.
"oleh karena ilmu silatmu terlalu hebat dan melebihi siapa saja....."
"Apakah kau ingin memusnahkan ilmu silatku?"
Tanya sang pemuda agak terperanjat.
"oooh tidak. aku tak bermaksud begitu?"
"Lantas apa keinginanmu?"
"Asal kau bersedia ditotok jalan darah kakunya saja, itu sudah lebih dari cukup,"
"Kau hendak menotok jalan darah kaku ku?"
"Yaa, selain itu kaupun harus bersumpah untuk tidak menangis soal lentera hijau lagi kepadaku."
"Aku bukan bermaksud begitu, maksudku tadi...."
"Buat apa sih kau banyak bicara lagi?"
Sela si pedang emas cob amenghasut.
"Saat itu kau pasti akan menjadi seekor anak domba yang siap untuk dijagaL......"
"Apa kau bilang?"
Seru Kim Thi sia marah.
"Kau tak pernah melepaskan setiap kesempatan untuk membinasakan aku. Hmmm, kau anggap aku akan termakan oleh hasutanmu itu?"
Sementara pembicaraan tersebut berlangsung pertarungan masih berjalan terus dengan serunya.
Selama ini si pedang emas masih tetap berusaha untuk membinasakan Kim Thi sia secepat mungkin.
Siapa sangka gara-gara kerakusannya itu, sekarang siburung hong Lam Peng lah yang bakal meraih keuntungan.
Sementara itu siburung hong Lam Peng telah berkata lagi sesudah memutar biji matanya sebentar.
"Kim Thi sia, kau tak perlu cemas, aku sudah memahami maksud hatimu itu"
Dengan cepat Kim Thi sia berkata lagi.
"Bagaimanapun juga aku toh tak bisa berada dibukit ini untuk selamanya karena pengaruh totokanmu tersebut......"
"Bukankah kau masih ada nona Lin lin yang akan mendampingimu?"
Tanya siburung hong dengan perasaan kecut.
"Bagaimana mungkin dia sanggup menolongku?"
"Soal itu mah bukan urusanku, pokoknya jawab saja sekarang mau atau tidak kau terima syaratku ini......"
Dalam pada itu, serangan yang dilancarkan si pedang emas kian lama kian bertambah gencar, segenap tenaga yang dimiliki telah dipergunakan, rupanya ia sadar bahwa mengulur waktu lebih lama hanya akan merugikan pihaknya sendiri.
oleh sebab itulah mumpung perjanjian antara kedua orang itu belum terwujud, dia berusaha keras untuk membinasakan lawannya lebih dulu.
Kim Thi sia segera terdesak hebat, dalam waktu singkat keselamatan jiwanya sudah terancam berulang kali.
Terdengar siburung hong kembali berseru.
"Ayo cepat beri jawaban, bersedia atau tidak kau menerima syarat yang kuajukan?"
Sambil tertawa terbahak-bahak si pedang emas mencoba menghasut lagi.
"Haaaah.....haaaah.....haaaaah......Kim Thi sia merupakan seorang jago kenamaan, seorang lelaki sejati, manusia segagah dia mana mau menuruti bujuk rayu seorang wanita?"
Waktu itu Kim Thi sia benar-benar sudah merasa tak sanggup lagi untuk mempertahankan diri segera serunya.
"Lam Peng mari kita rundingkan persoalan ini secara baik-baik."
Burung hong Lam Peng tertawa hambar.
"Bila kau bersikeras tak mau menerima syaratku tadi, terus terang saja aku sendiri pun tak ingin menyalahi si pedang emas lebih jauh."
Selesai berkata, ia segera membalikkan badan dan siap pergi meninggalkan tempat tersebut.
Dalam gelisah dan cemasnya, buru-buru Kim Thi sia berteriak keras "Baiklah Lam Peng, mari kita robehkan si pedang emas lebih dulu"
Mendengar jawaban tersebut, siburung hong Lam Peng menjadi kegirangan setengah mati.
Jilid 50 cepat-cepat dia membalikkan badan sambil meloloskan senjatanya, kemudian seCepat kilat menyerang sipedang emas sambil bentaknya nyaring.
"coba kau saksikan kehebatan permainan ilmu pedang awan bergerak ku ini..^..."
Belum selesai bentakan itu bergema, tubuhnya telah mendesak maju kedepan sementara ujung pedangnya telah mengancam didepan mata.
Sipedang emas hanya merasakan pandangan matanya menjadi kabur, tahu-tahu berkuntumkuntum pedang yang amat rapat telah memancar diseluruh angkasa dan mengancam bagianbagian mematikan ditubuh lawan-Dengan terjadinya sergapan ini, situasi dalam arena pertarunganpun segera mengalami perubahan besar.
Keadaan Kim Thi sia saat itu bagaikan harimau ganas tumbuh sayap.
semangat tempurnya nampak berapa kali lipat lebih membara.
Ilmu pedang awan bergerak dari siburung hong Lam Peng mengutamakan kelincahan serta keringanan badan, serangannya lebih mengandalkan kegesitan tubuh ketimbang kekuatan badan, biar begitu serangan demi serangan yang dilancarkan hampir semuanya mengandung daya ancaman yang menggidikkan hati...
Waktu itu sesungguhnya sipedang emas sudah berada dalam keadaan lemah dan lelah, ketika secara tiba-tiba harus menghadapi seorang musuh yang begitu tangguh lagi, kontan saja dia menjadi kelabakan setengah mati dan tak sanggup untuk mempertahankan diri lebih jauh.
dalam waktu singkat dua puluh gebrakan sudah lewat.
Memanfaatkan peluang yang sangat baik ini, Kim Thi sia segera melancarkan sebuah gempuran dahsyat dengan jurus "harimau serigala merajalela."
Jurus serangan tersebut amat dahsyat dan hebat, begitu hebatnya hingga persis menghantam diatas jalan darah Thian teng hiat ditubuh sipedang emas tersebut.
Sebagaimana diketahui jalan darah Thian teng hiat merupakan salah satu jalan darah penting ditubuh manusia, bilamana sampai tergempur maka orang akan kehilangan kesadarannya.
Tampak sipedang emas memuntahkan darah segar akibat gempuran yang bersarang telak itu.
Menyusul kemudian ia berteriak keras, suaranya seram dan menggidikkan hati membuat siapapun yang mendengarkan merasakan bulu kuduknya pada bangun berdiri.
Jeritan itu hanya berlangsung sebentar, tahu-tahu badan sipedang emas sudah roboh terjengkang keatas tanah dalam keadaan tak sadar, ia sudah kehilangan sama sekali tenaga untuk perlawanan.
Dengan napas terengah-engah Kim Thi sia segera meloloskan pedang Leng gwat kiamnya dan siap menghabisi nyawa musuhnya itu.
"Jangan"
Teriak siburung hong Lam Peng secara tiba-tiba sambil menghalangi perbuatannya.
"Kenapa?"
Tanya Kim Thisia agak tertegun.
"Tadi akukan sudah bilang, demi menjaga keseimbangan kekuatan didalam dunia persilatan, aku tak ingin membinasakan sipedang emas"
"Tapi itukan merupakan pandanganmu, pandangan tersebut tiada sangkut pautnya dengan aku?"
"Tapi kau tidak berhak untuk membunuhnya"
Dengan gemas Kim Thi sia segera berseru.
"Tapi sipedang emas merupakan penghianat perguruanku, dia adalah murid murtad yang harus mempertanggung jawabkan semua kejahatan serta kebejadannya. Aku wajib membunuhnya Sekarang juga ."
"Bila kau ingin membalaSkan dendam bagi gurumU, sudah barang tentu aku merasa segan untuk menghalangi niatmu."
"Kalau toh kau merasa tak keberatan, mengapa kau halangi usahaku untuk membunuhnya?"
"Sebab kau tidak menantangnya untuk berduel secara jujur, terang-terangan dan terbuka."
"Tapi apa salahnya kalau kubunuh dirinya sekarang juga ?"
"Hmmm, kau harus ingat, paling tidak kau belum tentu bisa mengunggulinya tanpa bantuanku"
Mendengar perkataan ini, Kim Thi sia termenung berapa saat lamanya, kemudian baru mengangguk.
"Yaa benar juga perkataanmu itu."
"Maka dari itu bila kalian bisa bersua kembali dikemudian hari dan kau berhasil mengungguli dirinya, sekalipun kau hendak menghabisi nyawanyapun aku pasti tak akan mencoba untuk menghalangi."
Berbicara sampai disitu, ia segera membungkukkan badan dan mengambil lentera hijau tersebut dari dalam saku sipedang emas.
Menyaksikan kesemuanya ini, Kim Thi sia segera menghembuskan napas panjang, katanya kemudian.
"Sungguh tak kusangka akhirnya kaulah yang keluar sebagai pemenang terakhir"
Siburung hong Lam Peng tertawa tergelak.
"Haaah....haaah....haaaah.....tujuan kemunculanku didalam persilatan kali ini adalah mendapatkan Lentera hijau, coba bila aku mengincar pedang Leng gwat kiam tersebut, mungkin semenjak dulu benda tersebut telah terjatuh ketanganku."
"Bagaimana kau bisa berkata begitu?"
Siburung hong tertawa hambar.
"Kau masih ingat dengan Lam Wi?"
"Tentu saja masih ingat"
"Seandainya dia yang mengambil pedang Leng gwat kiam tersebut dari tanganmu, tolong tanya apakah kau mampu untuk melindungi benda mestika tersebut?"
Kim Thi sia menjadi tertegun, selang sesaat kemudian dia baru menyahut agak tergagap.
".......Yaaa, rasanya....rasanya aku memang tak sanggup untuk melindungi benda tersebut."
Kembali siburung hong Lam Peng tertawa.
"Kalau begitu aku perlu memberitahukan kepadamu, orang yang bernama Lam Wi tersebut tak lain adalah aku sendiri"
"Aaaah, rupanya kau adalah wanita yang sedang menyaru sebagai pria"
Ia segera menengok kearah lain, tampaknya kelima naga dari suku Biau tersebut masih terlibat dalam suatu pertarungan amat seru.
Waktu itu sipedang kay userta Kek Jin sudah kehabisan tenaga dan merasa amat penat, serangan demi serangan yang mereka lancarkan sudah tidak pakai aturan lagi keadaannya amat kritis.
Bila keadaan saat itu dibiarkan berlangsung lebih lanjut, tak bisa disangkal lagi mereka berdua pasti akan tewas dalam keadaan yang amat mengerikan hati.
Untunglah pada saat itu siburung hong Lam Peng telah memberikan perintahnya dengan memakai bahasa suku Biau.
Tampaknya kelima naga tersebut amat tunduk dibawah perintah Lam Peng, begitu perintah diturunkan serentak mereka menarik kembali serangannya sambil melompat mundur kebelakang.
Sebetulnya sipedang kayu dan Kek Jin merasa amat penasaran, mereka berniat mengejar musuhnya lebih lanjut.
Tapi sayang meski ada kemauan namun tenaga kurang, baru berjalan dua tiga langkah tubuh mereka telah gontai dan akhirnya roboh terjungkal keatas tanah.
Dalam keadaan begitu mereka cuma bisa saling berpandangan saja dengan wajah tertegun, napasnya kelihatan tersengkal-sengkaL Ditengah keheningan, tiba-tiba terdengar si burung hong Lam Peng berkata lagi kepada Kim Thi sia.
"Nah, sekarang kita harus melaksanakan janji yang telah disepakati tadi....."
"Sebagai seorang lelaki sejati, tentu saja aku takakan memungkirinya, silahkan turun tangan"
Baru selesai perkataan tersebut diutarakan Lam Peng telah menotok jalan darah kaku ditubuh Kim Thi sia keras-keras.
Seketika itu juga Kim Thi sia merasakan peredaran darahnya membeku, tubuhnya terasa lemas dan ia segera roboh terjungkal keatas tanah.
"Maaf!"
Kata siburung hong kemudian sambil tertawa hambar.
Waktu itu, kendatipun Kim Thi sia merasa amat tak puas dengan cara kerja siburung hong terutama terhadap dirinya, namun ada satu hal yang membuatnya merasa amat berterima kasih.
Karena Lam Peng telah memerintahkan kelima naga dari suku Biau untuk mengobati luka Lin lin dengan mempergunakan lentera hijau.
Bersamaan itu juga , siburung hong telah membopong tubuh Kim Thi sia dan membawanya pergi dari situ dengan gerakan tubuh secepat sambaran petir.
Setelah melewati beberapa bukit dan sampai didalam sebuah hutan yang lebat, gadis tersebut menurunkan Kim Thi sia keatas tanah.
Walaupun Kim Thi sia tak mampu bergerak saat itu, namun kesadarannya masih tetap jernih.
Dia dapat mengendus bau harum kegadisan yang terpancar keluar dari tubuh Lam Peng, diapun dapat mencium bau harum rambut sinona tersebut, tanpa disadari ia menaruh rasa senang atas keindahan serta kecantikan dari gadis tersebut.
Diam-diam pikirnya .
"Aaaaai, andaikata hatinya tidak selicik dan sekeji ini, alangkah baiknya gadis ini.."
Ketika dia mencoba untuk menengok kearah lain, tampak olehnya Lin lin telah dibaringkan juga tak jauh dari tubuhnya, waktu itu wajahnya kelihatan merah segar. Terdengar siburung hong berkata.
"Sepanjang jalan menuju kemari tadi, Lin lin telah memperoleh pengobatan dengan menggunakan lentera hijau."
"Terima kasih atas bantuanmu"
"Kau tak perlu berterima kasih kepadaku, tak sampai setengah jam kemudian, kesehatan tubuhnya akan pulih kembali seperti sedia kala."
"Aaai, tak kusangka kau begitu pandai mengatur urusan"
Puji Kim Thi sia sambil tertawa. Burung hong Lam Peng ikut tertawa pula.
"Aaaai, aku tak berkemampuan apa-apa, yang kuharapkan sangat adalah kau masih bisa teringat akan diriku"
"Selama hidup aku tak akan melupakan dirimu....."
Janji sang pemuda sambil tertawa. Kembali burung hong Lam Peng tertawa hambar, ia segera memberi tanda kepada kelima naga dari suku Biau untuk pergi dari situ, sebelum berangkat katanya lagi lembut.
"Kim sauhiap. sampai jumpa lagi dikemudian hari"
Dengan suatu gerakan yang amat cepat bagaikan hembusan angin, berangkatlah gadis itu meninggalkan tempat tersebut, dalam waktu singkat bayangan tubuhnya telah lenyap dikejauhan sana.
Setengah jam kemudian-.......
Akhirnya Lin lin sadar kembali dari pingsannya.
Tapi pada saat yang bersamaan, tiba-tiba saja Kim Thi sia mendengar ada suara langkah manusia yang berjalan mendekati tempat tersebut.
Ia tak tahu apakah musuh atau teman yang muncul ditempat tersebut, andaikata musuh yang munculkan diri dalam keadaan lemah tak berkekuatan begini bukankah dia bakal dibunuh secara mudah oleh lawan?
Kim Thi sia menjadi amat gelisah, keluhnya berulang kali.
"Waduh, bisa celaka, bisa celaka......"
"Kenapa sih kamu ini?"
Lin lin yang tak tahu apa yang terjadi bertanya agak tercengang. Gadis ini sama sekali tidak mengira kalau ancaman bahaya maut telah berada didepan mata.
"Sttt, jangan berisik Lin lin ayo jangan bergerak secara sembarangan-...."
Bisik Kim Thi sia lagi.
sikapnya amat serius dan tegang seolah-olah menghadapi sesuatu yang amat gawat.
Lin lin yang baru sadar dari pingsannya menjadi tertegun setelah menyaksikan keadaan itu.
Sejak sadarkan diri dan melihat dirinya berada ditempat yang sepi, gadis tersebut sudah merasa gugup dan takut.
Apalagi sekarang ia melihat Kim Thi sia begitu tegang dan serius, tentu saja hatinya makin terperanjat lagi, saking kagetnya untuk berapa saat ia tak mampU berbuat apa-apa.
Menanti Kim Thi sia sudah memberi tanda dan minta Lin lin berjalan mendekat, gadis itu baru memberanikan diri untuk maju menghampirinya.
Tapi sayang Lin lin berjalan kurang hati-hati, kakinya menginjak diatas berapa buah ranting pohon sehingga menimbulkan suara berisik.
Ditengah hutan yang begitu sepi dan leng gang, biarpun suara tersebut sebenarnya amat pelan, tapi dalam keadaan begitu justru kedengarannya cukup nyaring.
Lin lin amat menyesal, ia menjadi tertegun untuk berapa saat lamanya.
Kim Thi sia lebih tegang lagi, buru-buru ia menarik tangan Lin lin agar cepat menghampirinya .
Mungkin karena terlalu tegang hingga tenaga betotannya kelewat keras, atau mungkin juga keseimbangan tubuh Lin lin kurang baik.
Begitu tertarik, tak kuasa lagi tubuh gadis itu terjatuh kedalam pelukan Kim Thi sia.
Dengan cepat anak muda itu merasakan sebuah tubuh yang empuk dan halus terjatuh menindihi tubuhnya.
Sebaliknya Lin lin sendiripun tiba-tiba merasa bau lelaki yang khas menerobos masuk kedalam penciumannya .
dalam waktu singkat kedua orang ini saling berpelukan satu sama lainnya, walaupun dalam suasana tegang dan seram, namun rasa malu, manis, hangat dan terangsang bercampur aduk didalam perasaan hati mereka.
Paras muka Lin lin seketika berubah menjadi merah padam lantaran amat jengah.
Sebaliknya Kim Thi sia merasa terangsang sifat kejantanannya, sambil mengawasi wajah sinona ia berteriak.
"Lin lin, kau tak usah takut, aku pasti akan melindungi mu sebisa mungkin."
Berbicara sampai disitu, dia segera merentangkan tangannyalebar-lebar dan memeluk gadis tersebut erat-erat.
Lin lin sendiripun segan mengeluarkan banyak tenaga, dengan manjanya diapun menjatuhkan diri bersandar dalam pelukan pemuda itu.
Sementara sepasang matanya yang bulat besar dan jernih menatap wajah Kim Thi sia tanpa berkedip.
Sekalipun ia tak berkata-kata, namun pandangan matanya itu seakan-akan sedang berkata.
"Lindungilah aku engkoh Thi sia, aku rela menerima perlindungan seperti ini......"
Begitulah, untuk berapa saat lamanya kedua orang itu bagaikan terbuai dalam mabuk cinta, seakan-akan sudah melupakan keadaan disekelilingnya lagi.
Tapi hal tersebut hanya beriangsung sebentar, tak selang berapa saat kemudian Kim Thi sia dan Lin lin sudah terjaga kembali dari lamunan mereka.
Dengan suara lirih Lin lin segera berbisik.
"Engkoh Thi sia, apa yang sedang engkau takuti? Mengapa aku bisa sampai disini? Seingatku, aku telah terluka ditangan seorang hwesio gemuk. apakah kau yang telah menolongku? Bagaimana caramu menolongku.....?"
Serangkaian pertanyaan diajukan secara bertubi-tubi, seakan-akan semua persoalan ingin diketahui dalam waktu singkat.
Kim Thi sia tidak langsung menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, dia masih dicekam perasaan tegang, sebab jalan darahnya masih tertotok hingga sekarang, berarti bila yang muncul adalah musuh tangguh maka keselamatan jiwa mereka akan terancam.
Sampai lama kemudian, pemuda itu baru menjawab gelagapan-"Lin lin, kau....kau......"
"Kenapa dengan aku?"
Tanya Lin lin terheran-heran-Dengan peluh membasahi seluruh tubuhnya karena cemas, Kim Thi sia berbisik.
"Kuminta kau jangan berbicara lagi....."
Ia tak berani berbicara terlalu keras, namun dia berharap gadis itu bisa mendengar dengan jelas tak heran kalau wajahnya nampak lucu dan menggelikan hati.
Sambil mencibirkan bibirnya Lin lin berseru manja.
"Tapi kau belum menjawab semua pertanyaan yang kuajukan tadi?"
Dengan jelas Kim Thi sia memeluk tubuhnya dengan mesrah kemudian berbisik pelan.
"Pertanyaanmu terlalu banyak, aku tak tahu bagaimana mesti menjawabnya......."
"Tapi......sebenarnya apa maumu?"
Sementara itu suara langkah manusia kedengaran semakin mendekati tempat tersebut.
Didengar dari langkah kaki yang kacau balau, bisa diketahui bahwa pendatang bukan terdiri dari seorang saja.
Rombongan pendatang itu berjalan kesitu dengan langkah cepat, bila yang muncul adalah sipedang emas, pedang perak atau pedang kayu sekalian, maka bagaimana akhirnya pasti susah dibayangkan dengan perkataan.....
Mengetahui etapa gawatnya situasi waktu itu, buru-buru Kim Thi sia berbisik lagi.
"Lebih baik kau jangan bergerak dulu dan jangan berbicara, berbaringlah saja dalam pelukanku"
Mungkin saking cemasnya, pembicaraan tersebut tanpa disadari telah diutarakan dengan suara agak keras.
Baru selesai perkataannya diucapkan, terdengar suara langkah manusia itu telah berhenti secara mendadak.
Disusul kemudian terdengar seorang berseru keras.
"Bagus sekali, tingkah laku sibocah keparat ini benar-benar menarik hati, rupanya dia sedang bermesrah-mesrahan disini...."
Jelas sudah, rombongan pendatang itu telah melihat kehadiran mereka disana. Waktu itu Lin lin masih belum sadar kalau bahaya sedang mengancam, dia malah berseru dengan manja.
"Engkoh Thi sia, kau jangan memelukku begitu kencang......"
Diam-diam Kim Thi sia mengeluh, tanpa terasa dia mengendorkan pelukannya atas gadis tersebut.
Ketika ia berpaling kembali, maka terliharlah didepan mata telah muncul tiga orang jagoan persilatan.
sebagai orang pertama, ternyata ia tak lain si Unta, musuh bebuyutannya.
Dibelakang si unta mengikuti dua orang lelaki lagi, yang seorang bertubuh jangkung sedang lainnya bertubuh ceboL Yang jangkung bertubuh kurus kering tinggal kulit pembungkus tulang, mukanya panjang dengan sepasang mata menonjol keluar persis seperti mata ikan emas.
Sedangkan yang cebol bertubuh gemuk seperti babi, mukanya bulat dan mempunyai sepasang mata yang sipit tinggal sebuah garis.
Melihat sipendatang adalah si unta, diam-diam Kim Thi sia berhembus napas lega, serunya kemudian.
"Hey tua bangka, tak disangka kita akan bersua lagi disini"
"Ya betul"
Sahut si unta tak acuh.
"Kita telah bersua kembali, tapi rasanya pertemuan kali ini bukan pada saat yang baik."
"Kenapa?"
Tanya Lin lin polos. Si unta mendehem beberapa kali, kemudian baru sahutnya.
"Kalian berdua sedang bermesrah-mesrahan disini, rasanya aku situa bangka jadi iri hati."
Begitu ucapan tersebut diutarakan, sijangkung dan sicebol sama-sama tertawa tergelak.
Gelak tertawa mereka amat keras dan seakan-akan membutuhkan banyak tenaga, begitu habis tertawa napas mereka kedengaran tersengkal-sengkaL Paras muka Lin lin kontan saja berubah menjadi merah padam bagaikan kepiting rebus.
Ilmu meringankan tubuh ketiga orang tersebut memang kelewat sempurna, dengan gerakan yang cepat sekali mereka munculkan diri didepan mata sehingga tidak memberi kesempatan kepada kedua orang muda mudi itu untuk memberikan reaksinya.
Waktu itu Lin lin hanya memusatkan perhatiannya untuk berbicara, dia seperti lupa kalau tubuhnya masih berada dalam pelukan mesrah Kim Thi sia.
Seorang gadis tanggung ternyata tertangkap basah sedang bermesrahan dengan seorang lelaki ditengah gunung yang sepi, kejadian seperti ini boleh dibilang merupakan peristiwa yang merikuhkan.
cepat-cepat Lin lin melompat bangun dari pelukan, lalu serunya kepada Kim Thi sia dengan gemas.
"Huuuh, semuanya gara-gara kau"
Saking malunya dia tak berani mendongakkan kepalanya lagi, cepat-cepat gadis itu bersembunyi dibalik pepohonan-Melihat itu, si unta segera berseru sambil tertawa.
"Tadi, apa yang dia lakukan terhadapmu?"
"Dia.....minta kepadaku....."
Lin lin merasa amat malu, kepalanya sampai tertunduk rendahrendah. Ternyata si unta tak ambil perduli apakah gadis itu merasa malu atau tidak, kembali desaknya.
"Dia minta apa kepadamu?"
"Dia yang menyuruh aku berbaring dalam pelukannya...."
Sahut Lin lin seraya menutupi wajahnya dengan kedua belah tangan. Si unta segera tertawa terbahak-bahak.
"Haaah.....haaaah.....haaaah.....bagus, suatu permintaan yang bagus......."
Sementara itu sijangkung dan si cebolpun ikut tertawa terpingkal-pingkaL Lin lin sigadis polos ini masih belum sadar apa yang sebenarnya sedang mereka tertawa kan-Dia malah mengira Kim Thi sia telah melakukan suatu gerakan yang lucu sehingga memancing gelak tertawa mereka.
Tanpa sadar dia melirik sekejap kearah pemuda itu.
Tampak Kim Thi sia masih berbaring diatas tanah agaknya diapun dibuat tersipu-sipu oleh godaan si unta sambil menuding orang itu serunya gemas.
"Hey tua bangka, kau.....kau........"
"Kenapa aku?"
Tanya si unta cepat.
"Aku mah sudah tua, sudah tak berguna lagi, mana mungkin aku bisa seromantis dirimu?"
"Apa itu romantis atau tidak?"
Teriak Kim Thi sia dengan wajah memerah.
"Tadi aku takut....."
"oooh, takut?"
Si unta kembali menggoda. Setelah berseru keheranan, ia segera berkata lagi kepada sijangkung dan sicebol.
"Wah......hebat betul dia, rupanya setelah memeluk seorang gadis dengan mesrah maka semua rasa takut bisa hilang. Ehm, tentu cara ini bagus sekali....."
Kim Thi sia amat mendongkol, ia ingin membantah, tapi sebelum sempat berbicara, kembali siunta telah berkata lagi.
"Sayang aku sudah tua, tak laku mencari nona lagi, coba kalau tidak....."
"Eh tua bangka, kau tidak memahami maksudku"
Seru Kim Thi sia dengan cemas.
"Kenapa aku tak mengerti? Akupun takut......"
Seru si unta.
"Apa gunanya kau merasa takut?"
Teriak siceboL Sambil melotot si unta segera berseru.
"Kalau aku takut, akupun bisa memeluk seorang nona untuk menghilang rasa takutku itu."
"Aaaah, kalian tidak mengerti....."
Teriak Kim Thi sia keras-keras.
"Bagaimana mungkin aku tidak mengerti tentang perbuatan kaum muda seperti kalian? Dulu aku masih muda dan mengalami hal yang sama....."
"Aku......kau tahu, jalan darah kaku ku telah ditotok oleh siburung hong Lam Peng hingga tak mampu berkutik, oleh sebab itu aku takut jejakku diketahui musuh hingga dicelakai jiwanya oleh mereka......."
Tutur Kim Thi sia cepat.
"Apa kau bilang?"
Si unta berseru sambil menarik muka.
"Saat ini aku tak mampu berkutik"
"Aduh celaka......"
Pekik siunta kemudian dengan wajah tertegun.
Ucapan tersebut diutarakan dengan wajah serius, seakan-akan menghadapi suatu kejadian yang gawat.
Lin lin yang mendengar seruan itu menjadi terkejut sekali.
Tanpa ambil perduli persoalan lain lagi ia segera berlutut didepan Kim Thi sia dan bertanya dengan rasa kuatir.
"Engkoh Thi sia, gawatkah keadaanmu?"
"Tidak ada yang gawat"
Sahut Kim Thi sia sambil tertawa dingin. Dengan penuh kasih sayang Lin lin membelai rambutpemuda itu, menyeka peluhnya dengan sapu tangan, lalu katanya lagi.
"Mungkinkah ......"
Tapi berbicara sampai disitu ia segera berhenti berkata, sedih sempat melintas diatas wajahnya.
dalam keadaan begini ternyata si unta belum dapat menghilangkan juga sifat menggodanya, cepat dia berkata.
"Hey bocah kunyuk. nona ini menguatirkan dirimu apakah kau bakal mampus atau tidak......"
"Aku tak bakal mati"
Kim Thi sia tertawa nyaring.
"Asal tidak mati, hatikupun merasa lega....."
Kata Lin lin sambil tertawa pula.
"Bocah kunyuk, andaikata kau benar-benar sampai mati, tentu tragis sekali keadaannya."
"Hey tua bangka, aku bakal mati atau tidak, apa sangkutpautnya dengan dirimu?"
"Dengan diriku tentu saja tak ada sangkut paut yang terlalu besar"
Teriak si unta.
"Tapi....."
Bicara sampai disitu, dia sengaja mengerling sekejap kearah Lin lin-Dengan cepat Lin lin bertanya.
"Tapi kenapa?"
"Tapi keadaanmu tentu tragis."
"Siapa bilang aku bakal begitu?"
"Hmmm, kau berbicara lain dimulut lain dihati, andaikata Kim Thi sia benar-benar ketimpa suatu kemalangan, bila kau sedang takut, siapa yang akan memelukmu?"
"Hmmm"
Dengan gemas Lin lin mencibir.
Tapi kali ini dia tidak menyingkir jauh, melainkan hanya bersandar disisi Kim Thi sia dengan wajah tersipu-sipu.
dalam pada itu si cebol dan sijangkung sudah tak tertawa lagi, mereka saling berpandangan berulang kali, agaknya antara mereka berdua sedang merundingkan sesuatu.
Akhirnya dengan suara dingin sijangkung berseru.
"Jadi bocah ini bernama Kim Thi sia?"
"Wah coba lihat, aku memang sudah pikun."
Si unta segera berteriak lantang.
"Aku hanya bicara melulu hingga lupa untuk memperkenalkan kalian semua......."
Ternyata kedua orang itu mempunyai asal usul yang luar biasa.
Sijangkung bernama Yo Kian, dia selalu malang melintang diwilayah utara dan selama praktek sebagai pencuri belum pernah meleset dari sasarannya, karena kemampuannya itu orang menyebutnya sebagai si Pencuri ulung dari utara.
Sebaliknya sigemuk pendek bernama Ho Tay hong, orang menyebutnya sipencuri sakti dari selatan, orangnya licik dan pintar, selama praktek belum pernah menjumpai lawan tandingan-Baik sipencuri ulung dari utara maupun sipencuri sakti dari selatan, mereka berdua tidak termasuk dalam golongan partai apapun selama ini merekapun segan turun tangan bila sasarannya bukan bernilai luar biasa besarnya.
Dan kini kedua orang pencuri sakti tersebut telah munculkan diri bersama-sama disitu tak heran kalau peristiwa tersebut amat mengejutkan hati.
Yang lebih mengagetkan lagi adalah kehadiran si unta, setan kemaruk harta ini dengan mereka berdua.
Dilihat dari bergabungnya tiga manusia rakus harta dalam satu kelompok, bisa diduga bahwa bendayang sedang mereka incar pasti merupakan sebuah benda langka yang amat berharga.
Kalau bukan demikian, bagaimana mungkin mereka bertiga bisa berkumpul menjadi satu?
Tapi benda mestika apakah yang sedang mereka incar?
Walaupun dalam hati kecilnya Kim Thi sia merasa amat terperanjat, namun ia tetap berusaha untuk mengendalikan diri dan berlagak pilon.
Sambil manggut-manggut dan tertawa paksa segera katanya.
"ooooh, aku harus minta maaf karena tak mampu memberi hormat kepada kalian"
Pencuri sakti dari utara maupun selatan sama-sama mendengus, mereka sama sekali tidak menanggapi sikap hormat pemuda itu.
Ketika si unta memperkenalkan nama mereka, kedua orang itu malahan mendongakkan kepalanya dan sama sekali tak menggubris.
Lin lin jadi gemas sendiri, pikirnya tanpa terasa.
"Sombong amat kedua orang ini, apanya sih yang luar biasa dengan mereka berdua?"
Tapi sebagai seorang perempuan dari golongan baik-baik, sudah barang tentu Lin lin tak ingin menunukkan sikap yang kurang meng hormat, katanya kemudian sambil tertawa paksa.
"Engkoh Thi sia, keadaanmu diluar kemampuan, aku yakin kedua lo siangseng ini tidak akan menyalahkan dirimu."
Pencuri ulung dari utara dan pencuri sakti dari selatan segera mendengus dingin, mereka tetap membungkam dalam seribu bahasa. Si unta menjadi tak senang hati, dia menegur keras.
"Hey, bagaimana sih kalian berdua ini?"
"Tidak apa-apa"
Sahut pencuri sakti dari selatan Ho Tay hong dingin.
"Aku hanya merasa keheranan."
"Apanya yang perlu kau herankan?"
"Dalam bayanganku semula, Kim Thi sia yang tersohor sebagai manusia yang paling susah dihadapi semestinya....."
Sikap memandang rendah yang diperlihatkan orang ini dalam sekejap mata telah menimbulkan perasaan anti patik dalam hati si unta.
Belum lagi ucapan Ho Tay hong selesai diutarakan, si unta telah menukas cepat.
"Jadi kau anggap Kim Thi sia semestinya adalah manusia luar biasa yang mempunyai tiga kepala dan enam lengan?"
"Bukan begitu maksudku"
"Lalu apa maksudmU?"
Desak si unta sambil melotot.
"Bagaimanapun jua, tidak seharusnya dia adalah seorang bocah kecil seperti pemuda yang berada dihadapan kita sekarang."
"Tapi masih mudakan bukan kesalahan yang berdosa?"
Sipencuri ulung dari utara mendengus dingin.
"Hmmm, kalau masih muda, bicaranya melantur, manusia begini tak bisa dipercayai"
"Biarpun umurmu lebih tua, apanya yang luar bias a?"
Bantah si unta cepat. Sipencuri ulung segera tertawa terbahak-bahak.
"Haaaah....haaaah......haaaaah.....selama aku menjalankan aksi mencuri diutara, belum pernah usahaku meleset."
"Dan kau?"
Si unta balik bertanya kepada sicebol. Sipencuri sakti dari selatan Ho Tay hong tertawa tergelak pula.
"Haaah.....haaaah....haaaah.....selama aku melakukan pekerjaanku diselatan semua perbuatanku bisa kulakukan secara hebat tanpa diketahui orang."
"oooh, inikah prestasi kerja yang berhasil kalian raih?"
Jengek si unta.
"Memangnya masih kurang?"
Kali ini si unta tertawa terbahak-bahak.
"Haaah....haaaah.....haaaah.....kalian benar-benar sudah pikun, makin tua semakin melamur saja."
"Aku sungguh tak mengerti apa sebabnya kau berkata demikian?"
Teriak sipencuri ulung penuh amarah.
"Sesungguhnya prestasi yang berhasil kalian raih selama ini masih terlalu minim. Bahkan memalukan untuk diutarakan keluar."
"Jadi menurutmu Kim Thi sia luar biasa? Apa sih prestasi yang berhasil diraihnya?"
Seru pencuri sakti dari selatan tidak puas.
"Biarpun Kim Thi sia masih muda, namun kepandaian silatnya sangat hebat, nama besarnya sejajar dengan orang kenamaan didalam dunia persilatan, bukan saja ia berhasil mengalahkan sembilan pedang dunia persilatan, ciang sianseng serta si pukulan sakti tanpa bayanganpun bukan tandingannya malahan diapun berani menentang kekuasaan Dewi Nirmala......"
Tiada hentinya dia mengutarakan smeua kegagahan dan kehebatan Kim Thi sia, tentu saja hal ini membuat anak muda tersebut merasa ripuh sendiri. Buru-buru pemuda itu menukas.
"Tua bangka, kau tak perlu mengibul terus, apalah artinya?"
Si unta mendelik besar, kepada pencuri dari utara maupun selatan serunya cepat.
"coba lihat, biar hebat dia masih tahu merendah"
Dengan sorot mata yang tajam pencuri ulung dari utara dan pencuri sakti dari selatan samasama melotot sekejap kearah Kim Thi sia, kemudian serunya bersama.
"Apalah artinya kesemua itu?"
"Hey, kalian jangan sombong."
"Sombong atau tidak. toh kebebasan kami kenapa kau mesti mencampuri urusan kami?"
"Eeeeh, terus terang saja aku bilang, bila tak ada Kim Thi sia maka benda itu...."
"Memangnya dengan kemampuan yang kami miliki, benda tersebut tak bisa didapatkan?"
"Yaa, memang itulah maksudku."
Sipencuri ulung dari utara YoJin kian segera tertawa menghina.
"Huuuh, seandainya Kim Thi sia memang memiliki kemampuan sehebat itu kenapa jalan darah kakunya bisa ditotok oleh Lam Peng hingga badannya sama sekali tak mampu berkutik?^ Perkataan ini memang mempunyai daya pengaruh yang amat besar, seketika itu juga siunta dibuat tertegun dan mulutnya terbungkam sama sekali. Sebetulnya Kim Thi sia sendiripun segan untuk menggubris kata-kata semacam itu, setelah disindiri berulang kali, akhirnya berkobar juga amarahnya. Dengan hati panas ia segera menceritakan semua pengalamannya selama ini hingga bagaimana dia ditotok jalan darah kakunya. Bila berada dihari-hari biasa, Kim Thi sia tak akan berbuat begitu, dia memang bukan orang yang suka menonjolkan diri. Tapi sikap kedua orang pencuri itu kelewat batas, sehingga mau tak mau timbul juga kesan jelek dihatinya. Ketika ia menyelesaikan kata-katanya itu untuk berapa saat suasana dalam arena menjadi hening, sepi dan tak kedengaran suara apapun. Masing-masing sedang terbenam didalam jalan pemikirannya sendiri-sendiri. sipencuri ulung dari utara dan pencuri sakti dari selatan sudah lama hidup memencilkan diri, sekarang mereka mulai menyadari akan keadaan yang sebenarnya. Mereka mulai menaruh kesan baru terhadap sembilan pedang dari dunia persilatan-Merekapun mulai memberi penilaian yang lain terhadap lima naga dan burung hong yang baru muncul didalam dunia persilatan-Diantara semua yang hadir nampak si unta paling gembira, wajahnya berseri-seri.
"Haaah....haaah.....haaaah.....sobat-sobat tua, sekarang mata kalian tentu sudah melek bukan?"
Serunya sambil mengelus jenggot dan tertawa tergelak.
"Dunia persilatan dewasa ini sudah jatuh ketangan kaum muda lebih baik kita yang sudah tua tak usah berlagak sok tua lagi, sebab sikap demikian tak bakal menguntungkan diri sendiri"
Sementara itu Lin lin nampak amat bersedih hati, tiba-tiba ia berseru dengan gemas.
"Hmmm, engkoh Thi sia, kau......kau bukan orang baik-baik"
"Apa maksudmu?"
Tanya Kim Thi sia tertegun.
"Hmmm, kau harus mengerti, bahwa hubunganmu dengan Lam Peng......."
"Hubungan apa antara diriku dengan Lam Peng?"
Tukas sang pemuda semakin keheranan. Sepasang mata Lin lin berubah menjadi merah, sambil menahan lelehan air matanya ia berkata.
"Lam Peng si siluman kecil itu pernah berkumpul bersamamu."
"Lin lin, kau tak boleh mencaci maki Lam Peng"
"Kenapa?"
Teriak Lin lin sambil melotot.
"la pernah menyelamatkan jiwamu"
"Hmmm, siapa yang kesudian......."
Seru Lin lin sambil mencibirkan bibirnya. Kim Thi sia semakin tertegun.
"Lin lin, mengapa kau jadi tak tahu diri?"
"Hmmm, memangnya kau sendiri tahu diri?"
Kata Lin lin semakin mendongkol. Diam-diam Kim Thi sia mengeluh dihati, katanya kemudian.
"Lin lin,jika kulihat dari perubahan muka mu, agaknya kau sedang marah kepadaku?"
"Hmmm, tentu saja kau merasa gembira"
"Kenapa aku mesti gembira?"
Kim Thi sia makin tertegun. Tiba-tiba saja air mata jatuh bercucuran membasahi wajah Lin lin, agak terisak ia berkata.
"Perempuan yang bernama si burung hong Lam Peng mana cerdik, cantik jelita lagi."
"Tapi apa sangkut pautnya Dia menyukai dirimu, membantumu."
"Tapi justru dia yang menotok jalan darah kaku ku sehingga sampai sekarang badanku tak mampu berkutik"
Teriak Kim Thi sia dengan kening berkerut.
"Aku tak perduli"
Kata Lin lin sembari menghentak-hentakkan kakinya keatas tanah.
"Pokoknya......."
"Sebetulnya mau apa sih kamu ini?"
Merah padam selembar wajah Lin lin-"Pokoknya mulai sekarang......"
"Mulai sekarang, jika aku bersua lagi dengan Lam Peng, tak akan kuampuni dirinya dengan begitu saja"
"Apakah kau berbicara dengan sejujurnya?"
Tanya Lin lin sambil membelalakan matanya lebarlebar.
"Tentu saja sejujurnya"
"Nah, begitu baru lumayan-...."
Kata Lin lin dengan perasaan amat gembira.
sementara sepasang muda mudi ini sedang cekcok, sipencuri ulung dari utara dan pencuri sakti dari selatan sedang berunding pula dengan serius, namun suara pembicaraan mereka amat lirih sehingga tak kedengaran dengan jelas apa yang sedang dibicarakan.
Tap ijika dilihat dari keseriusan wajahnya, dapat diketahui bahwa persoalan yang dibicarakan amat serius.
Dipihak lain, si unta hanya mengawasi terus Kim Thi sia dan Lin lin sambil tertawa tiada hentinya.
Sepintas lalu dia nampak seperti asyik menonton percekcokan antara kedua orang tersebut.
Padahal sebagai seorang jago kawakan yang sudah berpengalaman dalam melakukan perjalanan dalam dunia persilatan, dia mempunyai tujuan yang lain-Selama ini dia memasang telinga tajam-tajam, dia sedang berusaha untuk menyadap apa yang sedang dibicarakan antara sipencuri ulung dari utara dnegan pencuri sakti dari selatan-Tapi sayang apa yang dibicarakan kedua orang tersebut terlalu lirih sehingga tak sepatah katapun yang berhasil didengar oleh si unta.
Lama kelamaan habis sudah kesabarannya, amarahnya mulai berkobar didalam hati.
Dengan suara yang tinggi melengking, ia berteriak keras.
"Hey pencuri ulung dari utara, pencuri sakti dari selatan, sebenarnya apa yang sedang kalian kasak kusukkan disitu?"
"Kami sedang merundingkan suatu masalah besar"
Sahut sipencuri selatan Ho Tay hong.
"Ya betul, hey unta, persoalan ini tak ada sangkut pautnya denganmu"
Sambung sipencuri utara.
"Kalau toh persoalannya tak ada sangkutpautnya dengan diriku, kenapa kalian tidak berbicara keras-keras sehingga akupun bisa turut menyumbangkan pendapat?"
"Aku rasa....hal ini kurang leluasa"
Ucap pencuri dari selatan, sedang pencuri dari utara segera berseru.
"Kemarilah kau hey unta, mari kita berunding secara baik-baik"
Seraya berkata mereka berdua segera beranjak pergi meninggalkan tempat tersebut. Rupanya mereka berniat mengajak si unta meninggalkan tempat tersebut sehingga dapat diajak berunding dengan leluasa.
"Baiklah"
Kata si unta kemudian-"Mau berunding juga boleh, agar akupun ikut mengetahui apakah yang sedang kalian lakukan."
Berbicara sampai disitu, dia segera bersiap-siap meninggalkan tempat tersebut. Lin lin takut si unta akan meninggalkan mereka buru-buru teriaknya.
"Tuan unta, harap jangan pergi dulu."
Dalam pada itu sipencuri ulung dari utara dan pencuri sakti dari selatan telah berada disebuah tebing dan berdiri menanti disitu. Dengan perasaan serba salah si unta segera berkata.
"Nona Lin lin, kenapa sih kamu ini?"
"Apakah kau tega meninggalkan dia dengan begitu saja?"
Tanya Lin lin sambil menuding kearah Kim Thi sia.
"Ada persoalan apa?"
Tanya si unta berlagak tidak mengerti.
"Jalan darah kaku engkoh Thi sia telah ditotok oleh Lam Peng, sehingga badannya sama sekali tak mampu berkutik, andaikata ada orang jahat yang memanfaatkan kesempatan ini, akibatnya tentu luar biasa. Apakah kau tak pernah berpikir kesitu?"
"Lantas apa yang kau kehendaki?"
"Kau adalah orang yang mengerti akan ilmu silat, tentunya kau bisa menolong dia bukan?"
Pinta sinona. Si unta segera tertawa.
"Nona Lin lin, rupanya kau tidak mengetahui duduk persoalan yang sebenarnya, kau tahu sesungguhnya permintaanmu ini hanya akan menyusahkan orang lain saja"
"Kenapa?"
"Si burung hong Lam Peng merupakan anak murid si Raja langit bertangan delapan, ilmu totokan jalan darahnya berasal dari wilayah Biau yang jauh berbeda dengan sistem didaratan Tionggoan, sesungguhnya aku sendiripUn kehabisan daya"
"Lantas bagaimana......bagaimana baiknya?"
Lin lin mulai murung dan berkerut kening.
"Kau jangan takut Lin lin, tiada jalan buntu didunia ini asal kita mau berusaha"
Hibur Kim Thi sia cepat. Si unta turut tertawa.
"Bocah kunyuk, tak kusangka kau mempunyai keyakinan yang begitu besar."
Lin lin segera berseru lagi dengan gelisah.
"Tuan unta, bagaimana kalau kau memohon kepada sipencuri dari utara dan pencuri dari selatan-...."
"oooh nona, kau jangan begitu aaah, aku tak akan bantu....."
"Apa maksudmu?"
"Si unta yaa si unta, tua bangka yaa tua bangka, kau jangan memanggil tuan kepada ku. Seperti Khong hucu lagi berkentut saja baunya menyebar sampai dimana-mana, membuat aku yang mendengarpun ikut geli rasanya."
"Aku ingin memohon kepadamu untuk mengajak mereka berunding, bersediakah mereka memberi bantuan......."
"Aku memang bermaksud mengajak mereka berunding"
Kata si unta sambil tertawa aneh.
Berbicara sampai disitu ia segera beranjak dan meninggalkan tempat tersebut.
Sesungguhnya Kim Thi sia tidak berniat untuk memohon bantuan dari kedua orang pencuri sakti itu, dia berniat menghalangi maksud pencuri sakti tersebut, belum sempat ia berbicara, si unta sudah keburu meninggalkan tempat tersebut, terpaksa ia menghela napas panjang.
"Aaaai......"
"Mengapa sih kau menghela napas?"
Tanya Lin lin penuh rasa kuatir.
"Aku tak ingin dibantu mereka, apa lagi dibantu manusia seperti pencuri-pencuri utara dan selatan-"
"Apakah kau sendiri sudah memukul jalan darahnya?"
Tanya Lin lin keheranan-"Jalan keluar apa yang kudapat?"
Kim Thi sia balik bertanya sambil tertawa getir.
"Kenapa sih kau berkeras kepala bila kau sendiri tak bisa menemukan cara terbaik?"
"Lin lin, kau adalah seorang gadis pingitan, kau tak akan memahami seluk beluknya dunia persilatan-"
"Tapi apa salahnya?"
"Kau mesti tahu, baik siunta maupun kedua orang pencuri dari utara dan selatan, semuanya adalah orang-orang dari rimba hijau"
"Kenapa kita mesti takut kepada mereka?"
"Sekarang kita tak berduit, sepeserpun tak punya, tentu saja keadaan seperti ini bukan masalah, tapi......."
"Memangnya mereka bisa mencelakai dirimu?"
Tanya Lin lin lagi dengan perasaan ingin tahu.
"Tentu saja tak sampai begitu"
Kali ini Kim Thi sia tertawa.
"Kalau memang tak sampai begitu, apa lagi yang mesti kita kuatirkan-.....?"
"Setelah kita mohon bantuan kepada mereka, sudah pasti merekapun akan mengajukan syarat kepada kita."
"Kau toh boleh saja pergi membantu mereka? Apa salahnya bisa saling tolong menolong?"
"Seandainya aku disuruh membunuh orang atau membakar rumah apakah akupun mesti menurut serta melaksanakannya?"
Lin lin termenung berapa saat lamanya kemudian ia menjawab.
"Tapi aku rasa tak mungkin permintaan sampai melampaui batas seperti itu."
"Aaaai......kalau tak percaya, tunggu saja nanti"
Ucap Kim Thi sia sambil menghela napas.
Sementara itu dipuncak seberang sana terlihat si unta bersama pencuri dari utara dan selatan sedang melangsungkan perundingan yang amat sengit dan serius.
Berapa saat kemudian jelas terlihat bahwa mereka bertiga telah berhasil mendapatkan penyesuaian pendapat.
Dengan wajah berseri-seri mereka bertiga segera menuruni bukit dan berjalan menghampiri mereka.
Belum sempat Lin lin dan Kim Thi sia mengajukan pertanyaan, sipencuri sakti dari selatan Ho Tay hong telah berjalan mengelilingi tubuh Kim Thi sia sampai beberapa kali, kemudian mulai tersenyum.
Lin lin yang menyaksikan peristiwa itu kontan saja berkerut kening, dia tidak mengerti apa yang sedang dilakukan orang itu.
Berapa saat kemudian, sipencuri sakti dari selatan Ho Tay hong baru berkata dengan nyaring.
"Kim Thi sia, berbicara sebenarnya, bagi kami membebaskan totokan jalan darahmu itu merupakan suatu pekerjaan yang mudah dan sederhana sekali."
"Tapi kami punyasyarat yang mesti kau sanggupi"
Sambung si unta dengan cepat. Mendengar sampai disini, Kim Thi sia segera berpaling kearah Lin lin dan berkata sambil tertawa.
"coba lihat, dugaanku tak salah bukan?"
"Tidak bisa, tidak bisa......."
Lin lin segera berteriak dengan suara keras.
"Kenapa?"
Tanya si unta agak melengak.
"Engkoh Thi sia tak sudi melakukan segala macam perbuatan yang jahat seperti membunuh orang atau membakar rumah."
"Andaikata syarat kami bukan menyuruhnya melakukan perbuatan jahat?"
Si unta balik bertanya sambil tertawa. Lin lin jadi tertegun, kemudian sambil berpaling kearah Kim Thi sia katanya.
"Kalau soal ini.......kalian harus bertanya sendiri kepada engkoh Thi sia."
Si unta segera tertawa tergelak.
"Haaah.....haaah.....haaaah.....aku justru tak mau bertanya kepadanya tapi ingin bertanya dulu kepadamu."
"Hal ini mana boleh?"
Tanya Lin lin dengan perasaan sangsi.
"Masa kau sendiripun tak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang jelek?"
"Tentu saja aku dapat membedakan mana yang baik dan mana yang jelek........"
Si unta segera berpaling kearah Kim Thi sia dan berseru.
"Kalau begitu tentu gara-gara kau sikunyuk kecil"
"Hey, kenapa dengan aku?"
Seru Kim Thi sia tertegun.
"Apakah kau tidak setuju kalau Lin lin yang mewakili dirimu untuk mengambil keputusan?"
"Aku sama sekali tidak bermaksud begitu."
Kembali si unta berpaling kearah Lin lin seraya berkata.
"Kalau memang begitu, kau boleh memberikan jawaban untuk mewakili dirinya...."
"Aku rasa hal ini.....hal ini kurang baik"
Ucap Lin lin dengan perasaan serba salah.
"sebab....sebab....."
"Sebab apa?"
"sebab persoalan ini merupakan masalah pribadi engkoh Thi sia"
"Masa antara kalian berduapun masih dibedakan antara kau dan aku?"
Kata si unta sengaja mengejek. Dengan perasaan apa boleh buat Kim Thi sia menjawab kemudian.
"Lin lin, biarlah mereka bertanya kepadamu dan yang memberikan jawabannya."
Karena orang yang bersangkutan telah memberikan persetujuannya, Lin linpun segera berkata.
"Baiklah, aku bersedia mendengarkan syarat kalian."
"Nona Lin lin, apakah membunuh orang jahat merupakan suatu perbuatan jahat?"
"Bukan"
Si unta segera berpaling kearah Kim Thi sia dan^ bertanya pula.
"Hey kunyuk kecil, apakah orang-orang yang tergabung dalam perkumpulan Tay sang pang terhitung orang jahat?"
"Tentu saja orang-orang jahat"
Sahut Kim Thi sia tanpa berpikir panjang lagi.
Kali ini si unta bertanya kepada Lin lin-"Bila ada orang pergi membunuh kawanan orang jahat dari perkumpulan Tay sang pang, pantaskah bila kita pergi membantunya?"
"Soal ini......."
Lin lin jadi tertegun. Kim Thi sia yang berada disampingnya segera menyambung.
"Tentu saja pantas dibantu"
"Jadi kau menghendaki engkoh Thi sia memberikan bantuan itu?"
Tanya Lin lin cepat. si unta tertawa.
"Tak usah terburu napsu, aku masih ingin mengajukan pertanyaan lagi kepadamu"
"Soal apa?"
"Ketua perkumpulan Tay sang pang, Khu It cing telah berhasil mengumpulkan banyak sekali harta kekayaan selama hidupnya. Aku yakin kau tak pernah tahu tentang hal ini bukan?"
"Yaa, aku memang tak tahu"
Sahut Lin lin agak tertegun.
"Aku tahu"
Sela Kim Thi sia.
"Semua harta kekayaannya itu didapatkan dari cara yang tidak halal."
Si unta segera tertawa, kembali ujarnya kepada Lin lin.
"Pantaskah bila barang-barang yang diperoleh secara tak halal itu dirampas dan dikembalikan lagi kepada rakyat?"
"Ha a, memang pantas."
"Asal kau menganggap pantas saja, ini sudah lebih dari cukup,"
"Aku tidak memahami maksudmu."
"Aku mempunyai sebuah rencana yang sangat baik."
"Apa rencana mu?"
Tanya Kim Thi sia.
"Pada saat ini wilayah disekitar Kangsiok sedang dilanda kekeringan dan kelaparan. Aku ingin merampok semua harta kekayaan milik Khu It cing itu guna dipakai menolong rakyat jelata yang sedang menderita."
"Sebuah rencana yang amat bagus"
Seru Lin lin sambil bertepuk tangan memuji.
"Itulah sebabnya aku membutuhkan bantuanmu."
"Apa yang bisa kubantu?"
Lin lin agak tertegun.
"Setelah kurubah harta kekayaan tersebut menjadi bahan rangsum, kuminta kau bersedia membantu kami untuk membagikan kepada rakyat yang ketimpa bencana alam itu."
Lin lin sama sekali tak mengira kalau si unta bakal memilih dirinya, dengan ragu-ragu ia bertanya.
"Tapi......mampukah aku melaksanakan tugas ini?"
"Aku yakin pasti bisa."
Lin lin termenung dan berpikir berapa saat lamanya, kemudian ia bertanya lagi.
"Tapi......siapa yang mampu merampok harta kekayaan milik ketua perkumpulan Tay sang pang, Khu It cing itu?"
"Lin lin, kau tak perlu terlalu gelisah, aku telah mengatur segala sesuatunya"
Kata si unta sambil tertawa.
"Bagaimana caramu mengaturnya?"
"Pencuri ulung dari utara, pencuri sakti dari selatan akan membantu usahaku ini, dan lagi ada bantuan pula dari Kim Thi sia"
"Eeeeg, sedari kapan aku mengatakan bersedia membantu usaha kalian itu......?"
Tegur Kim Thi sia cepat.
"Kau berani ingkar janji?"
"Ingkar janji?"
"Sewaktu aku bertanya kepadamu tadi, pantaskah orang-orang Tay sang pang dibunuh, kau mengatakan pantas, dan waktu aku bertanya pantaskah kau membantu, kau bilang pantas. Aaah, masa kau sudah melupakan hal tersebut.......?"
"Jika kau belum lupa, sekarang tidak boleh menyangkal lagi."
"Yaa aku memang tidak menyangkal"
Kata Kim Thi sia dengan perasaan mendongkol.
"Bila suatu persoalan sudah dianggap pantas untuk dilakukan, sebagai seorang lelaki sejati, kau tidak boleh mengingkarinya kembali"
Kata si unta lebih jauh.
"Eeeeh tua bangka, kau memang pandai bersilat lidah, aku tak mampu mengungguli dirimu."
"Bukankah Lin lin pun telah menyanggupi untuk membantu kaum rakyat yang sedang menderita akibat bencana alam? Apakah kau tetap menolak untuk merampas barang-barang milik Khu It cing itu?"
"Tapi kita bukan merampas, tapi merampoknya...."
Teriak Kim Thi sia penasaran-"Kau tak perlu kuatir, pokoknya aku tak akan menyuruhmu merampoknya barang-barang itu."
"Kalau tidak dirampok. memangnya Khu It cing bersedia mempersembahkan harta kekayaannya itu kepadamu?"
"Tentu saja tidak. tapi kami mendapat laporan pihak perkumpulan cahaya emas telah berangkat keselatan dan bermaksud menumpas habis perkumpulan Tay sang pang"
"oooh, rupanya begitu......."
"Kau tahu bukan dalam perkumpulan cahaya emas terdapat seorang yang bernama Ciu tong kongcu, orang ini berotak cerdas dan berilmu pedang sangat hebat"
"Rasa-rasanya aku sudah pernah bertemu dengan orang ini"
Jilid 51
"Tapi aku takut ciu tong kongCu masih bukan tandingan dari Khu It Cing. oleh sebab itu harus ada orang pandai yang bersedia pergi membantunya."
"Dan kau minta aku pergi membantunya?"
"Tepat sekali, memang demikian maksudku."
"Kalau toh begini tujuanmu, mengapa sih kau harus berputar kayuh lebih dulu dalam pembicaraan tadi? Apa salahnya bila berbiara langsung pada saSaran?"
Si unta segera tertawa terbahak-bahak.
"Haaah....haaah.....bocah kunyuk, bila aku tak berbuat begini, memangnya kau bersedia menuruti permintaanku itu......."
Mendengar ucapan mana Kim Thi sia turut tertawa tergelak.
"Haaaah.....haaaaah.....haaaaah.....tua bangka, aku tidak mengira kalau kau mempunyai banyak akal setan"
Sementara kedua orang itu masih tertawa tergelak.
sipencuri sakti dari selatan telah menyelinap maju kedepan seCepat sambaran petir.
Dalam waktu singkat dia telah berhasil menepuk bebas semua jalan darah kaku Kim Thi sia yang tertotok.
Tak lama kemudian Kim Thi sia sudah terbebas dari pengaruh totokan dan melompat bangun dari atas tanah.
"Nah, setelah bocah kunyuk ini segar kembali, semua urusanpun dapat diselesaikan sekarang"
Kata si unta kemudian. Kepada Kim Thi sia dengan cepat sipencuri ulung dari utara berseru keras.
"Tapi haruslah diingat didalam gedung Siau yau lo itu milik Khu It cing itu terdapat sebuah mestika yang bernama penenang angin."
"Benda itu milikku"
Sambung pencuri sakti dari selatan Ho Tay hong cepat.
"Kenapa?"
Tanya pencuri dari utara mendelik.
"Sebab akulah yang telah membebaskan Kim Thi sia dari pengaruh totokan, jadi sudah sepantasnya bila aku yang mendapatkan-"
"Tapikan aku yang pertama kali menemukan Kim Thi sia"
Bantah sipencuri dari utara.
Dengan cepat kedua orang itu sudah terlibat dalam percekcokan yang sengit memperebutkan mutiara mestika itu.
UntUk sesaat Kim Thi sia dibuat sengit, rikUh dan serba salah, dia tak tahu bagaimana mesti berbuat sekarang.
Si unta yang melihat kejadian tersebut cepat-cepat menengahi.
"Eeeeeh, apa sih yang kalian sengketakan? Barangnya saja belum diperoleh, kenapa kalian sudah ribut sendiri?"
"Yaa betul"
Kim Thi sia menimpali.
"Kita harus memperbincangkan langkah kita berikut serta bagaimana caranya melaksanakan rencana besar ini kenapa kalian malah ribut duluan?"
"Aku mempunyai sebuah rencana yang amat bagus"
Kata si unta kemudian-"Apa rencana mu?"
"Aku telah berhasil mendirikan sebuah perkumpulan yang bernama Liok limpang. sekarang aku menjadi ketuanya, sedang orang yang tergabung dalam perkumpukan ini semuanya memakai baju berwarna hijau......"
"Aaaah, kalau bicara yang penting saja"
Tukas sipencuri sakti dari selatan tak sabar.
"Besok pagi perkumpulan cahaya emas sudah siap menyerang gedung Siau yaU lo, maka sekarang kita harus berkUmpul dulU di gubuk. Saudara-saudara kami dari perkumpulan Liok lim telah siap menanti disitu, kita harus tukar pakaian dulu sebelum bekerja....."
"Baik, kalau begitu kita segera berangkat"
Tanpa membuang banyak waktu lagi, berangkatlah mereka menuju ketempat yang dinamakan "gubuk"
Itu. Benar juga , disitu telah hadir banyak sekali jago-jago persilatan yang rata-rata berilmu tinggi. Keesokan harinya, baru saja fajar menyingsing si unta telah berteriak keras.
"Hey bocah kunyuk. cepat bangun dan mohon diri kepada bini mu itu....."
Kim Thi sia mengiakan dan seperti juga yang lain, tukar pakaiannya dengan baju berwarna hijau. Sementara itu Lin lin sudah berdiri diambang pintu sambil berseru.
"Engkoh Thi sia, aku akan selalu menunggumu"
"Nona Lin lin tak perlU kuatir, kami pasti akan berhasil dengan sUkses"
Hibur unta sambil tertawa.
Sebenarnya Kim Thi sia ingin mengucapkan sesuatu kepada Lin lin, namun setelah sampai dibibir, diapun meraSa tiada persoalan yang akan dibicarakan lagi.
Akhirnya sambil mengulapkan tangannya dia berkata.
"Lin lin, lebih baik kau menanti aku disini saja"
Begitulah, ditengah cahaya fajar yang mulai menyingsing, berangkatlah si unta sekalian menuju kesasaran.
Mereka semua boleh dibilang merupakan jago-jago pilihan dari dunia persilatan, ilmu meringankan tubuhpun amat hebat, maka perjalanan dapat ditempuh dengan cepatnya.
Entah berapa lama sudah mereka menempuh perjalanan......
Ditengah keheningan yang mencekam dipagi hari itu, mendadak dari kejauhan sana terdengar suara senjata beradu yang amat nyaring.
Kim Thi sia yang pertama kali mendengar dulu suara tersebut, dengan cepat dia memburu kesitu.
Dari balik hutan yang lebar, terdengar suara orang berteriak kesakitan lalu tampak percikan darah segar berhamburan keempat penjuru.
Rupanya si harimau bermuka besi cu ci thin sedang bertarung sengit melawan Li Beng poo, anak murid Thi khi ci.
Waktu itu keadaan Li Beng poo sudah amat parah, sekujur badannya penuh berpelepotan darah, tampaknya ia sudah tak mampu untuk bertahan lebih lanjut.
Teriakan kesakitan yang terdengar tadipun berasal dari teriakan Li Beng poo.
Sebaliknya golok kepala harimau milik siharimau bermuka besi cu Ci Thin telah menancap dalam-dalam diatas dada Li Beng poo.
Biar masih muda Li Beng poo memiliki keberanian yang luar biasa, sekalipun ajal sudah berada didepan mata namun sepasang tangannya masih tetap menggenggam gagang goloknya kencangkencang.
Harimau bermuka besi cu Ci thin yang melihat peristiwa itu menjadi sangat terperanjat, teriaknya cepat.
"Bocah keparat, kenapa sih kamu ini?"
Sambil tertawa seram sahut Li Beng poo.
"Tak ada yang luar biasa, paling banter juga kehilangan selembar nyawa......."
"orang she Li"
Serusi harimau bermuka besi lagi dengan suara gemetar.
"Kau pantas untuk mampus, kau tahu sudah berapa orang saudara kami dari enam harimau yang tewas ditanganmu?"
Memang benar, diatas tanah telah berserakan mayat-mayat manusia yang bergelimpangan disana sini.
Tapi Li Beng poo masih tetap mempertahankan diri dengan menggenggam gagang golok yang menancap diatas dadanya erat-erat.
Darah masih bercucuran keluar dari mulut lukanya, tapi ia sempat berteriak keras kearah balik hutan.
"Yu Kiem sumoay, kau harus cepat bangun dan lari dari sini......."
Ternyata disudut lain Yu Kiem yang terluka parah masih terkapar disitu, darah segar masih mengucur keluar dengan derasnya dari mulut luka.
Dengan menggunakan kekuatan yang terakhir kembali Li Beng poo berteriak keras.
"Cepat lari Yu Kiem sumoay...aduuuh...aku...aku benar-benar sudah tidak tahan lagi......"
Sementara itu si harimau bermuka besi cu Ci thin telah meronta dengan sekuat tenaga, akhirnya ia berhasil juga mencabut keluar goloknya dari dada Li Beng poo.
Kasihan Li Beng poo pah lawan mudaini, biarpun ia berhasil memiliki ilmu silat yang luar biasa, tapi sebelum berhasil mendapatkan nama besar didalam dunia persilatan, dia harus tewas secara mengenaskan disitu.
Sementara itu si harimau bermuka besi cu Ci thin telah tertawa seram, dengan golok berlumuran darah dia melejit kedepan dan langsung menyerbu ketepi hutan-Agaknya dia sedang berusaha membacok mati Yu Kiem yang saat itu sudah terkapar sekarat disana.
Kim Thi sia yang menyaksikan peristiwa itu tentu saja tidak membiarkan si harimau bermuka besi ini melaksanakan niatnya, ia tidak akan membiarkan Yu Kiem tewas dibunuh orang.
Disaat yang amat kritis itulah tiba-tiba saja dia membentak keras.
"Bocah keparat, lihat pedang"
Pedang Leng gwat kiam yang telah terhunus sedari tadi langsung diayunkan kemuka melancarkan sebuah tusukan dengan menggunakan jurus "Menuding langit selatan"
Dari ilmu pedang panca Buddha.
"Traaaanngggg......"
Suara benturan nyaring bergema memecahkan keheningan disusul percikan bunga api yang menyebar kemana-mana.
Seketika itu juga si harimau bermuka besi cu Ci thin merasakan telapak tangannya menjadi sakit dan robek.
Darah segar bercucuran keluar dengan derasnya ia mundur berapa langkah dengan sempoyongan.
Dalam pada itu si unta sekalian telah menyusul tiba dan menyaksikan semua kejadian itu.
Namun didepan situ tampak cahaya terang menerangi seluruh jagad, suara pertarungan yang sengitpun bergema dari arah situ.
Jelas sudah dalam gedung Siau yau lo sudah berlangsung pertarungan yang amat sengit antara orang-orang perkumpulan cahaya emas melawan orang-orang Tay sang pang.
Melihat hal ini si unta segera berteriak.
"Bocah kunyuk, cepat pergi, dia bukan sasaran kita yang utama. Kita tak boleh membuang waktu dengan percuma disini"
Kim Thi sia amat menguatirkan keselamatan Yu Kiem, tentu saja ia tak mau pergi dari situ dengan begitu saja. Dengan gerakan "burung manyar terbang dipasir"
Ia mengejar kearah si harimau bermuka besi dengan kecepatan tinggi, lalu sambil melancarkan serangan kilat teriaknya.
"Tua bangka, lebih baik kalian berangkat dulu, aku segera menyusul setelah menyelesaikan bajingan ini lebih dulu"
Si unta tak ingin menunggu lebih lama lagi hingga kehilangan kesempatan baik, sahutnya cepat.
"Baiklah kalau begitu, tapi kau harus menyusul datang selekasnya."
Dibawah pimpinannya, berangkatlah kawanan jago dari rimba hijau itu menuju kearah gedung siau yau lo.
Berbicara sesungguhnya, harumau bermuka besi cu Ci thin bukan termasuk orang biasa yang gampang dihadapi, apalagi saat ini amarahnya sudah berkobar akibat desakan Kim Thi sia yang terus menerus.
Sebaliknya Kim Thi sia bertekad hendak membasminya secepat mungkin, sehingga begitu turun tangan ia telah mempergunakan jurus mematikan dari ilmu pedang Panca Buddhanya.
Dalam waktu singkat, pedang Leng gwat kiam ditangan Kim Thi sia telah bergerak kian kemari seperti ular sakti, secara beruntun dia telah melancarkan tiga buah serangan berantai.
Dibawah serangan yang begitu dahsyat, siharimau bermuka besijadi kelabakan setengah mati, ia mundur kebelakang dalam keadaan yang amat mengenaskan.
Melihat serangannya belum berhasil juga merobohkan lawan, Kim Thi sia menjadi amat penasaran, teriaknya tiba-tiba.
"Keparat, bila dalam tiga jurus mendatang aku Kim Thi sia tak berhasil membacok kutung batok kepalamu......."
"Kau pasti akan mampus ditanganku"
Sambung siharimau bermuka besi cepat.
Kim Thi sia amat murka, dengan semangat yang berkobar-kobar secara beruntun dia melancarkan serangkaian serangan yang hebat.
Baru dua gebrakan berlangsung, tiba-tiba terdengar harimau bermuka besi menjerit kesakitan lengan kirinya telah terpapas hingga kutung menjadi dua bagian.
Ketika jurus ketiga yaitu "Buddha sakti menunjuk jalan suci"
Berkelebar lewat, batok kepala siharimau bermuka besi segera terpapas kutung dan roboh binasa.
Melihat serangannya telah berhasil, Kim Thi sia tertawa dingin tiada hentinya.
Ia menyarungkan kembali pedangnya, kemudian memburu kebalik hutan lebat disisi arena.
Tampak oleh Yu Kiem berbaring diatas tanah dalam keadaan mengerikan, rambutnya terurai kusut.
Luka yang membekas dimana-mana masih mengeluarkan darah kental, mengenaskan sekali keadaannya.
Cepat-cepat Kim Thi sia memburu kesampingnya dan memeluk gadis itu erat-erat sambil berseru.
"Adik Yu Kiem....adik Yu Kiem......"
"Ada apa? Kau......"
Suara sinona kedengaran amat lirih dan lemah sekali.
"Aku adalah Kim Thi sia, apakah masih ingat?"
Yu Kiem tersenyum.
"Ya.....aku.....aku masih ingat"
"Mengapa kau tidak menatapku?"
Wajah Yu Kiem amat lusuh dan sayu, dia hanya tertawa getir sambil menahan rasa sakit. Kim Thi sia segera tertawa lagi.
"Yu Kiem, adik Kiem, apakah kau sudah tak kenal lagi denganku?"
"Masih.....masih kenal....."
"Kalau begitu pa nggilah aku, beritahu kepadaku, siapakah aku ini?"
"Engkoh Thi sia.....kau adalah engkoh Thi sia......"
Bisik Yu Kiem sambil tertawa hambar. Kim Thi sia merasa sangat gembira, serunya kemudian.
"Bagus sekali, rupanya kau masih kenal denganku"
"Siapa bilang....aku.....aku tak kenal lagi denganmu?"
"oooh, alangkah bahagiaku, ternyata kau masih kenal denganku"
"Apa yang kau gembira kan?"
Yu Kiem berbisik kemudian dengan lemah.
"Kau masih bisa mengenaliku, hal ini membuktikan bahwa kesadaranmu masih tetap jernih"
"Tapi aku.....aku sudah hampir mati engkoh Thi sia."
"Tidak. kau tak boleh berkata begitu"
"Tidak. aku harus bicara, aku harus berbicara....."
"Jangan, kau tak boleh berbicara terus"
Teriak Kim Thi sia keras-keras.
"Kenapa? Kenapa kau melarangku untuk.....untuk bicara?"
"Coba lihat, wajahmu pucat pias seperti mayat, sudah terlalu banyak darah yang mengucur keluar dari badanmU."
"Aku tahu"
"Kalau sudah tahu, kau tak seharusnya banyak berbicara lagi."
"Aku harus bicara, sebab aku sudah hampir mati."
"Tidak. kau tidak bakal mati"
Teriak Kim Thi sia lagi dengan perasaan amat gelisah.
"Kenapa?"
"Sebab kau masih bisa mengenali aku semangatmu masih baik, kau tak bakal mati"
Yu Kiem tertawa pedih.
"sebetulnya aku.....akupun tak ingin mati."
"Itulah sebabnya kau harus tetap hidup, Kau harus berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan hidupmu."
Tiba-tiba gadis itu memuntahkan darah kental berwarna hitam, keadaannya nampak bertambah lemah, ia berbisik.
"Senang sekali kesempatan semacam itu sudah tak ada lagi, segala sesuatunya sudah terlambat."
Dalam keadaan begini, diam-diam Kim Thi sia berpikir.
"Andaikata lentera hijau berada disakuku, sudah pasti selembar nyawa Yu Kiem bisa kutolong kembali, sayang benda mestika tersebut telah diperoleh Lam Peng secara licik, kalau tidak...."
Berpikir sampai disitu dia segera berseru.
"Adik Kiem, kau harus berusaha untuk menahan diri....."
"Tapi aku sudah tidak tahan-...aku.....aku....."
"jangan bicara sembarangan, mau apa kau? Tunggulah, akan kucarikan akal untuk mengatasi keadaan ini......"
Sekulum senyum mengenaskan tersungging diujung bibir Yu Kiem, dia berbisik lirih.
"Aku minta kau berkata terus terang kepadaku..."
"Soal apa?"
"Aaaai....."
Yu Kiem menghela napas panjang.
"Lebih baik aku saja yang mengatakan kepadamu."
"Kalau begitu katakanlah cepat"
Sambil menggigit bibirnya kencang-kencang Yu Kiem berkata.
"Engkoh Thi sia, tahukah kau bahwa aku.... aku amat mencintai dirimu?"
Kim Thi sia merasa terharu sekali, sambil manggut-manggut bisiknya.
"Yaa, aku mengerti"
"Tidak. kau tak akan tahu, diantara lelaki yang ada didunia ini aku hanya......"
"Kau jangan berbicara terus coba lihat kau harus ngotot dan membuang banyak tenaga untuk berbicara."
"Tapi aku harus mengatakannya keluar"
"Aku sudah memahami maksudmu."
"Kau benar-benar mengerti?"
Yu Kiem membelalakkan sepasang matanya lebar-lebar.
"Tentu saja"
"Kalau begitu, apakah kau pun menyukai pula diriku?"
"Benar"
Kim Thi sia mencoba untuk tertawa paksa. Ia berkata dengan jujur, serius dan tulus hati. Yu Kiem amat terharu dibuatnya, dengan suara gemetar dia berbisik pelan.
"Engkoh Thi sia, cepat peluk aku, dekaplah aku kencang-kencang."
Kim Thi sia menurut dan memeluk Yu Kiem erat-erat.
"Engkoh Thi sia, peluk aku kencang-kencang, peluk aku kencang-kencang...."
"Adik Kiem, coba lihat tubuhmu telah kotor oleh noda darah......"
"Kau merasa jijik karena aku kotor?"
Yu Kiem bertanya cepat.
"Tidak, bukan maksudku untuk mengatakan begitu......"
"Kalau begitu kau sudah seharusnya memeluk kencang-kencang."
"Aku takut kondisi badanmu tak kuat untuk menahan hal tersebut"
Keluh Kim Thi sia.
"Tidak apa-apa."
"Tidak. kalau sampai begitu maka kau bisa....."
"Kau takut aku mati didalam pelukanmu?"
"Yaa, memang begitu,"
Kali ini Kim Thi sia manggut-manggut.
"Tapi aku bersedia, aku rela mati didalam pelukanmu"
Seru Yu Kiem makin manja.
"Tidak, tidak baik kita berbuat begitu?"
"Kenapa tidak? Riwayat hidupku sudah hampir berakhir."
"Belum, hidupmu belum akan berakhir, kau......"
"Aku amat membenci orang-orang Tay sang pang"
Tiba-tiba Yu Kiem berseru dengan penuh rasa dendam. Seketika itu juga Kim Thi sia merasakan darah didalam dadanya bagaikan mendidih, ia berseru pula.
"Kau tak usah kuatir adik Kiem^......"
Dengan sedih Yu Kiem berbisik.
"Engkoh Thi sia, apakah kau tahu siapakah Khu It cing itu?"
"Dia adalah ketua perkumpulan Tay sang pang"
"Dengarkan baik-baik, Khu It cing sigembong iblis ini......."
"Aku tahu, ia sudah terlalu banyak melakukan kejahatan."
"Dia telah menodai aku"
"Apa?"
Seru Kim Thi sia tertegun.
"Bukan hanya aku, diapun telah memperkosa adikku"
"Maksudmu Yu Hong?"
"Yaa...."
Dengan air mata bercucuran Yu Kiem mengangguk.
"Secara berturut-turut dia telah memperkosa aku dan adikku"
"Hmmm, sungguh tak kusangka dikolong langit masih terdapat manusia jahat berhati busuk seperti dia"
"Andaikata Li Beng poo tidak pertaruhkan jiwanya untuk menolongku, mUngkin kita tak pernah akan bertemU kembali."
"Kau tak usah kuatir, aku berjanji akan membalas dendam bagi kalian berdua."
"Adikku, dia......dia......."
"Apakah dia sudah mati?"
"Belum......"
"Jadi ia masih hidup?"
"Ya, tapi ia lebih tersiksa daripada mati. oleh Khu It cing ia telah diberikan kepada si utusan beracun."
"oooh....begitukah kejadiannya?"
Kim Thi sia makin tertegun.
"Sebentar lagi aku akan mati, aku..... aku ingin memohon sesuatu kepadamu....."
Melihat keadaan Yu Kiem sudah bertambah parah, Kim Thi sia sadar bahwa ajalnya sudah hampir tiba, cepat-cepa6t teriaknya.
"Soal apa?"
Dengan napas tersengkal-sengkal Yu Kiem berkata.
"Kuharap kau bersedia menolong adikku Yu Hong....rawatlah dia se.... .secara baik-baik....."
"Baik, aku akan segera pergi menolongnya"
Janji Kim Thi sia.
Agaknya Yu Kiem seperti ingin mengucapkan sesuatu lagi, tapi sayang ajalnya sudah keburu sampai.
Dia menghembuskan napas panjang lalu tertidur untuk selamanya.
Dengan perasaan sedih, Kim Thi sia segera mengubur jenasah Yu Kiem dan Li Beng poo, kemudian dengan langkah cepat berangkat menuju kegedung Siau yau lo.
Sementara itu.....
Suasana didalam gedung Siau yau lo diliputi asap dan kabut yang tebal, disana sini terendus bau arang dan anyirnya darah yang menusuk penciuman.
Suara pertarungan masih bergema tiada hentinya.
Dengan dicekam perasaan sedih yang amat sangat, Kim Thi sia memburu ketempat tersebut dengan langkah lebar.
orang-orang Tay sang pang dengan mengenakan baju serba hitam masih melakukan perlawanan dengan sengit, sebaliknya anak buah perkumpulan cahaya emas dengan baju berwarna kuning maju tiada hentinya.
Ditengah sengitnya pertarungan yang berlangsung, tampak pula banyak sekali jago-jago berbaju hijau yang menyerbu kedalam gudang harta, serta menyikat semua benda berharga yang ada disitu dan dibawa kabur.
Kim Thi sia tak ambil perduli apa yang sesungguhnya sedang etrjadi ditempat itu, dia hanya mempunyai satu tujuan sekarang yaitu menuntut balas.....
Kematian Yu Kiem yang mengenaskan dan keadaan Yu Hong yang dinodai orang secara keji melukiskan sebuah pemandangan yang tragis didalam benaknya.
Sekarang dia harus menemukan Yu Hong lebih dulu dan menyelamatkan jiwanya, setelah itu dia baru mencari Khu It cing serta membalaskan dendam bagi kematian Yu Kiem.
Tapi suasana didalam gedung Siau yau lo waktu itu sangat kalut, kemanakah harus mencari Yu Hong?
Mendadak.......
Ditengah suasana pertarungan yang berlangsung dengan sengit, Kim Thi sia mendengar suara teriakan dari seseorang yang amat dikenal olehnya.
Ia menjadi tertegUn, lalu pikirnya.
"BUkankah suara ini suara sipelajar bermata sakti?"
Dengan cepat dia memburu kearah mana berasalnya suara tersebut.
Dibawah reruntuhan dinding pagar, tampak dua orang jago persilatan sedang berdiri saling berhadapan.
Kedua orang itu tak lain adalah sipelajar bermata sakti serta si utusan beracun Hoa Chin-Waktu itu terdengar si utusan beracun Hoa Chin sedang berteriak dengan wajah kaget bercampur gugup.
"Keparat, bila tahu diri cepat serahkan Yu Hong kepadaku"
Kim Thi sia yang mendengar seruan tersebut menjadi amat keheranan, diam-diam pikirnya.
"Aaaaah, tak kusangka Yu Hong telah terjatuh ketangan sipelajar bermata sakti"
Sementara dia masih termenung, sipelajar bermata sakti telah menyahut dengan nyaring.
"Utusan beracun, lebih baik kau tak usah bermimpi disiang hari belong......"
"Seharusnya kau yang bermimpi disiang hari belong, karena setiap saat aku dapat mencabut nyawamu."
Mendengar itu, pelajar bermata sakti segera tertawa terbahak-bahak.
"Haaah....haaah....haaah.....hal semacam ini tak mungkin bisa terjadi, sebab perkumpulan Tay sang pang yang kau dukung sudah berada diambang pintu kehancuran."
Si utusan beracun Hoa Chin segera melototkan matanya bulat-bulat, katanya cepat.
"Terus terang aku bilang, mati hidupnya perkumpulan Tay sang pang sama sekali tak ada sangkutpautnya dengan diriku."
"Hmmm, dasar manusia rendah yang tak kenal budi"
Umpat pelajar bermata sakti kesaL "Sudahlah"
Sela si utusan beracun Hoa Chin cepat-cepat.
"Lebih baik kita jangan persoalkan masalah-masalah itu lagi, ayoh cepat serahkan Yu Hong kepadaku."
"Yu Hong? Hmm, tak akan semudah itu"
Sahut pelajar bermata sakti sinis.
"Apa syaratmu?"
"Kau tahu, apa tujuanku bersusah payah menyerbu kedalam gedung Siau yau lo ini? Hmm,kesemuanya tak lain demi Yu Hong"
"Asal kau bersedia menyerahkan Yu Hong kepadaku, akupun berjanji akan menghantar kepergianmu dari sini dalam keadaan selamat."
"Yu Hong tak akan selamat bila berada bersamamu"
"Tapi aku berjanji akan merawat serta melindunginya secara baik-baik dan sepenuh tenaga."
Pelajar bermata sakti tertawa dingin.
"Heeeh.....sayang Yu Hong tidak membutuhkan perlindunganmu."
"Dia pasti membutuhkan diriku"
Kata si utusan beracun Hoa Chin sambil tertawa licik.
"Hubungan suami istri biar hanya semalamanpun memberikan kesan yang kelewat mendalam. Aku yakin kalian kaum muda tidak akan memahami perasaan semacam ini."
"Apa?"
Seru sipelajar bermata sakti tertegun.
"Dia telah mengadakan hubungan intim denganmu?"
"Bukan hanya begitu, malahan ia sudah berbadan dua?"
Sepasang mata sipelajar bermata sakti terbelalak lebar-lebar, katanya kemudian pedih.
"Dia telah berbadan dua? Yu Hong telah mengandung benih anak sikeparat tua macam dirimu itu?"
Agaknya pukulan batin yang dirasakannya sekarang teramat berat baginya, hampir saja ia robeh terjungkal keatas tanah.
Kim Thi sia yang bersembunyi disisi arena dapat menyaksikan semua adegan tersebut dengan jelas, diam-diam ia menghela napas panjang.
"Aaai, sama sekali tak kusangka rasa cinta sipelajar bermata sakti terhadap Yu Hong sudah mencapai tingkatan yang begitu hebat."
Waktu itu diatas punggung sipelajar bermata sakti telah menancap tiga batang pisau terbang.
Darah segar masih jatuh bercucuran dengan amat derasnya.
oleh karena ia berdiri saling berhadapan dengan siutusan beracun, maka kakek berhati keji itu sama sekali tak tahu apakah musuhnya masih berkemampuan untuk melanjutkan pertarungan atau tidak.
Ia segera berkata.
"Aku mengerti ilmu silatmu memang sangat tangguh, itulah sebabnya aku segan melangsungkan pertarungan adu kekerasan denganmu, sebab pertarungan semacam itu tak akan bermanfaat bagimu maupun aku. Coba pikirkanlah kembali persoalan ini dengan seksama"
Tibatiba sipelajar bermata sakti berseru keras.
"Aku telah mengambil keputusan yang bulat, Yu Hong akan pergi bersamaku."
"Kenapa ia harus pergi bersamamu?"
"Ini merupakan urusan pribadiku dengan Yu Hong, kami berdua saling mencintai."
Mendengar jawaban tersebut, si utusan beracun segera mendonggakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.
"Haaaah....haaaah.....haaaah......itu mah menurut jalan pemikiran sendiri."
"Kenyataan memang demikian-"
"Hey, bila kau kurang percaya lebih baik tanyakan sendiri persoalan tersebut kepada Yu Hong."
"Kau maksudkan Yu Hong bersedia pergi bersamamu?"
Tanya pelajar bermata sakti penasaran.
"Dulu mungkin dia menolak tapi sejak kami melakukan hubungan intim......."
"Tidak... tidak... tidak mungkin Yu Hong tak akan bersedia mengikuti dirimu"
"Kau bisa berkata demikian karena kau tidak memahami perasaan seorang wanita^"
"Apa sih yang menarik dengan dirimu?"
Bentak pelajar bermata sakti sambil menahan geram.
"Aku telah menyelamatkan Yu Hong dari cengkeraman iblis Khu It cing dan melindungi kesucian tubuhnya dari perkosaan."
"Tapi akhirnya kau telah menodainya, dia pasti membencimu seumur hidup,"
"Justru sebaliknya, malam itu dikala kami tidur seranjang, dia telah mengatakan sendiri kepadaku....."
"Apa yang dia katakan?"
"Dia merasa amat puas dengan hebatan ilmu silatku, dia mencintai aku dengan setulus hati"
"Tidak!! kau sedang menipu aku, kau sedang menipu......"
Teriak pelajar bermata sakti keraskeras, air mata jatuh bercucuran membasahi wajahnya.
"Bila kau tak percaya, suruh Yu Hong tampil kemari. Mari kita adakan pembicaraan secara terbuka......" ^ "IHmmm, apa gunanya mengadakan pembicaraan dengan manusia Semacam dirimu itu?"
Seru pelajar bermata sakti penuh rasa benci.
"Seandainya terbukti Yu Hong menyukai aku, bagaimana dengan dirimu......?"
"Tidak mungkin, hal ini tak mungkin terjadi"
Utusan beracun segera mendengus dingin.
"Hmmm, asal dia mengatakan sendiri hal tersebut dihadapanku, maka aku......."
"Mau apa kau?"
"Aku bersedia menghantar kalian pergi meninggalkan tempat ini"
"Sungguhkah perkataanmu itu?"
Tanya sipelajar bermata sakti agak tercengang. Utusan beracun segera tertawa nyaring.
"Bagi anggota dunia persilatan, perkataan yang diucapkan lebih berat daripada bukit karang."
"Sungguh aneh, mengapa kau menaruh keyakinan yang begitu besar?"
Seru pelajar bermata sakti terperanjat.
"Sebab d isaat kami sedang melakukan hubungan intim, dia memang benar-benar bilang kalau dia sangat mencintaiku"
Seketika itu juga sipelajar bermata sakti merasa api cemburunya berkobar dengan hebat, dengan geram dia berseru.
"Tapi hubungan cintaku dengan Yu Hong bukan dimulai sejak sekarang....."
"Perasaan cinta memang merupakan suatu kejadian yang sukar diraba perubahan sering terjadi tanpa diduga."
"Lalu menurut anggapmu apa yang paling berharga bagi hubungan antara lelaki dan perempuan?"
"Yang penting tentu saja hubungan batin-Antara aku dengan Yu Hong telah menjalin sebuah hubungan batin yang amat mendalam."
"Hubungan apa? Hubungan cabul, hubungan terkutuk....."
Seru pelajar bermata sakti makin gusar.
"Aku tak perduli apa yang hendak kau kata kan, pokoknya aku tak dapat melepaskan Yu Hong dengan begitu saja, sedang Yu Hongpun tak akan rela meninggalkan aku"
Kalau semula sipelajar bermata sakti masih dapat mempertahankan diri berkat keteguhan hatinya, maka pukulan batin yang amat berat ini seketika membuat wajahnya kuyu dan sayu.
Semua semangatnya seolah-olah menjadi rontok.
"Utusan beracun"
Ujarnya kemudian sambil tertawa hambar.
"Aku mengerti, tujuanmu berkata demikian tak lain ingin membangkitkan amarahku, agar kuajak Yu Hong untuk datang bersua denganmu."
"Sungguh aneh, kenapa aku harus menghindari kejadian seperti ini?"
Tiba-tiba sipelajar bermata sakti bergumam.
"Tentu saja, sebab kau merasa takut"
Teriak si utusan beracun dengan suara keras.
"Ngaco belo, siapa yang takut?"
"Kau takut Yu Hong mengakui kebenaran dari ucapan tadi sehingga kau akan kehilangan dia."
"Tidak. aku tak mungkin akan kehilangan Yu Hong. Tidak mungkin, aku tak akan kehilangan dia."
"Tapi bila kau tidak menyuruh Yu Hong tampilkan diri, tidak membuktikan hubungan yang sebenarnya dihadapanmu serta melakukan pilihan secara jujur, kendatipun kalian hidup bersama dengan Yu Hong dikemudian hari, namun dalam hubungan cinta pasti akan selamanya dilapisi oleh bayangan hitam......"
"Bayangan hitam apa?"
Teriak pelajar bermata Sakti penaSaran.
"Karena Yu Hong Sesungguhnya amat mencintai aku."
Pelajar bermata sakti merasa amat sakit hati, mukanya pucat pasi bagalkan mayat.
Peluh bercucuran bagalkan hujan gerimis, luka dipunggungnya akibat tusukan tiga bilah pisau terbang membuat aliran darah makin deras, ia kelihatan sangat emosi.
Akhirnya dengan suara keras dia berteriak^ "Yu Hong keluar kau?"
Ternyata Yu Hong sedang bersembunyi tak jauh dari tempat tersebut.
Sesungguhnya gadis yang bernasib jekek ini telah mendengarkan semua pembicaraan yang berlangsung.
Dalam hati kecil Yu Hong sebetulnya ia menaruh cinta yang mendalam sekali terhadap pelajar bermata sakti.
Tapi diapun pernah bilang kepada si utusan beracun bahwa dia menyukai dirinya, dan kini menyesalpun tak ada gunanya.
Dia hanya merasakan hatinya sedih bercampur malu.
Ketika pelajar bermata sakti berteriak agar dia keluar, gadis itu tak bisa menyembunylkan diri lebih jauh lagi.
Dengan rambut yang kusut, air mata membasahi wajahnya, selangkah demi selangkah Yu Hong munculkan diri dari tempat persembunyiannya.
ia berjalan dengan kepala tertunduk rendahrendah.
"Yu Hong ayoh katakan, ayoh katakan yang sebenarnya......"
Dengan suara keras sipelajar bermata sakti segera berseru. Sebaliknya si utusan beracun berkata pula sambil tersenyum.
"Siau Hong kusayang, kau pernah bilang amat mencintaiku, bersedia hidup bersamaku untuk selamanya. Nah sekarang katakanlah hal tersebut kepada pemuda ini"
"Aku.....aku......"
Tiba-tiba saja gadis itu menangis tersedu-sedu menubruk kedalam pelukan pelajar bermata sakti dan memeluknya kencang-kencang.
"Yu Hong mengapa kau tak berani menyangkal persoalan?"
Teriak pelajar bermata sakti marah.
"Apa yang perlu dia sangkal?"
Sambung si utusan beracun cepat. Yu Hong tetap membungkam, dia hanya menangis tersedu-sedu dalam pelukan pelajar bermata sakti.
"Yu Hong ayoh katakan, ayoh katakan....."
Kembali sipelajar bermata sakti berteriak keras.
la mencengkeram tangan Yu Hong keras-keras dan menggoncang dengan sekuat tenaga, rasa benci dan dendamnya tertera jelas diatas wajahnya.
Dengan lemah Yu Hong berbisik.
"Apa.....apa yang harus kukatakan?"
Mendengar perkataan ini tiba-tiba saja pelajar bermata sakti merasakah hatinya amat pedih.
Sekarang dia telah menyadari betapa seriusnya persoalan itu, Yu Hong yang selama ini dianggap sebagai gadis suci, perempuan pujaan, akhirnya harus ditemukan dalam kenyataan yang berbeda.
Sekarang dia mengerti, Yu Hong tak berani membantah ucapan dari si utusan beracun, karena apa yang dikatakan kakek jahat itu bukan karangan belaka tapi merupakan kenyataan-Hal ini membuktikan pula kalau Yu Hong telah kehilangan keperawanannya ditangan si utusan beracun.
Bahkan disaat melakukan hubungan intim dan mencapai pada klimaksnya gadis itu telah mengatakan rasa cintanya terhadap utusan beracun, si kakek bertampang jelek ini.
Bagalkan kepalanya diguyur dengan sebaskom air dingin, pelajar bermata sakti merasakan tubuhnya lemas, semua harapannya hilang lenyap tak berbekas.
Lama sekali dia termenung, kemudian dengan air mata bercucuran katanya lirih.
"Yu Hong, tak perlu kau ucapkan lagi, aku telah mengerti"
"Apa yang kau pahami?"
Tanya Yu Hong tertegun. Sambil tertawa paksa pelajar bermata sakti berkata.
"Pokoknya hubungan diantara kita berdua hanya begini saja."
"Apa maksud perkataanmu?"
Yu Hong semakin gugup, Sambil menggigit bibirnya kencang-kencang pelajar bermata sakti berkata.
"Kau perempuan rendah, cepat menggelinding pergi dari sini, pergilah bersama utusan beracun."
Sambil berkata ia melepaskan diri dari pelukannya serta mendorong tubuh gadis tersebut kebelakang.
Yu Hong segera terpental sejauh berapa langkah dan jatuh berguling diatas tanah.
Cepat-cepat si utusan beracun memburu kedepan ingin membangunkan gadis itu, katanya lembut.
"Siau Hong, ikutlah aku pergi dari sini"
Yu Hong tidak menggubris ajakan tersebut, air matanya telah jatuh bercucuran membasahi wajahnya, dia merasa amat sedih.
Tiba-tiba ia melompat bangun lagi dan menubruk kearah pelajar bermata sakti sambil serunya.
"Tidak^ kau tak boleh meninggalkan aku"
"Aku sama sekali tidak meninggalkan dirimu"
Sahut pelajar bermata sakti sambil mendorong tubuhnya lagi kebelakang.
"Tapi kau sudah tak maul diriku lagi...."
Pekik Yu Hong sambil berdiri tertegun. Pelajar bermata sakti tertawa dingin.
"Yaa, karena kaupun telah meninggalkan aku."
"Tidak^ aku tidak meninggalkanmu......aku tidak......"
Kembali sipelajar bermata sakti tertawa dingin.
"Heeeh......heeeh...^..heeeeh......kau telah melakukan hubungan suami istri dengan utusan beracun, bahkan mengucapkan pula kata-kata cinta dan kesetiaan-Sekalipun kita bisa hidup bersama kembali, tolong tanya dimanakah harga diriku akan kuletakkan?"
Yu Hong menghela napas sedih.
"Aaaai....kau harus memaafkan aku karena....."
Tidak sampai perkataan tersebut selesai diucapkan, sipelajar bermata sakti telah menukas sambil tertawa seram.
"Heeeh......heeeeh.....heeeeeh......aku rasa penjelasan macam apapun tak bergUna lagi. Pokoknya hubungan kita berdua berakhir sampai disini saja."
"Kau bersungguh-sungguh?"
Seru Yu Hong dengan perasaan amat terperanjat.
Pelajar bermata sakti tidak menjawab, dia malah tertawa keras, suara tertawanya lebih tak sedap daripada suara tangisan-Dari sini bisa dibayangkan betapa pedihnya perasaan pemuda tersebut.
"Tidak!! kau tidak bersungguh-sungguh, kau tak akan meninggalkan aku......"
Jerit Yu Hong lagi. Pelajar bermata sakti sama sekali tak menggubris lagi, selesai tertawa seram dan menyeka air matanya dia berseru.
"Selamat tinggaL"
Dengan membawa hatinya yang duka, dia beranjak dari situ dan melangkah pergi dengan cepat.
"jangan pergi.....kembalilah.....kembalilah...."pekik Yu Hong amat sedih. Tapi sipelajar bermata sakti sama sekali tak menggubris dia melangkah terus dengan cepatnya. Sekarang ia telah kehilangan segala-galanya, dia tidak menganggap Yu Hong sebagai kekasih hatinya lagi. Yu Hong pun sadar bahwa pemuda tersebut tak akan berpaling kembali kepadanya. ia merasa hatinya remuk redam. Tiba-tiba ia menjadi nekad, dengan langkah cepat gadis itu memburu kedepan. la bukan berlari untuk memeluk pelajar bermata sakti, sebaliknya mencabut ketiga bilah pisau terbang yang masih menancap dipunggungnya itu. Si utusan beracun yang menyaksikan kejadian tersebut menjadi amat terperanjat segera teriaknya.
"Siau Hong, Siau Hong.....kau jangan mengambil keputusan pendek..... jangan-....."
Tapi sayang jaraknya terlalu jauh lagi pula peristiwa itu berlangsung sangat mendadak dan diluar dugaan-Pada hakekatnya tiada kesempatan lagi buat siutusan beracun untuk memberikan pertolongan-Sementara itu Yu Hong telah mengayunkan ketiga bilah pisau terbang itu keatas dadanya.
Ternyata didalam keputus asaan, gadis ini menjadi nekad dan ingin mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.
Disaat yang amat kritis itulah mendadak terdengar seseorang membentak keras.
"Tunggu sebentar"
Terdengar ujung baju terhembus angin, Kim Thi sia yang bersembunyi dibalik kegelapan tahutahu sudah munculkan diri dengan kecepatan tinggi.
Dengan menggunakan gerakan tubuh yang paling cepat ia melayang turun dihadapan Yu Hong dan merampas ketiga bilah pisau terbang yang siap menembusi dada gadis itu.
Yu Hong yang gagal mengambil jalan pendek menjadi semakin sedih, serunya sambil menangis pedih.
"Kau jangan mengurusi aku......."
Si utusan beracun tertegun, untuk berapa saat lamanya dia seperti tak tahu apa yang mesti dilakukan.
Sebaliknya pelajar bermata saktipun sudah tak sanggup menahan diri lagi, tubuhnya robeh terjengkang keatas tanah.
Dalam pada itu Kim Thi sia telah menyambar tubuh Yu Hong sambil berbisik.
"Kau tak boleh mati, aku mendapat pesan dari encimu Yu Kiem untuk menyelamatkan kau dari tempat ini."
Yu Hong tetap menangis tersedu, semula dia mengira ketiga bilah pisau terbang tersebut akan mengakhiri hidupnya yang serba salah itu, siapa tahu Kim Thi sia muncul pada saatnya dan menghindarkan dia dari kematian-Kini dia harus balik kembali dalam kehidupan nyata yang serba merikuhkan hatinya.
Membayangkan apa yang terjadi, gadis itu sedih sekali.
Dia menangis sambil meronta, ia berusaha terus untuk mencari jalan pintas.
Dalam keadaan apa boleh buat tiba-tiba terlintas sebuah keputusan dalam hatinya, Kim Thi sia segera berpikir.
"Kini Yu Hong sedang mengalami pukulan batin yang amat berat, bicara pun rasanya tak berguna dalam keadaan begini. Lebih baik kubawa dia pergi dari sini sebelum mengambil tindakan lebih jauh."
Begitu keputusan diambil, pemuda ini tidak ragu-ragu lagi.
Dengan cepat dia menyambar pinggang Yu Hong, lalu dengan gerakan burung manyar terbang diangkasa, tubuhnya melejit setinggi berapa kaki kemudian beranjak pergi meninggalkan tempat tersebut.
Utusan beracun serta pelajar bermata sakti yang melihat kejadian ini tentu saja tidak berpeluk tangan belaka.
Pelajar bermata sakti segera berjumpalitan dari atas tanah siap melakukan pengejaran.
Ia belum sempat melihat dengan jelas siapa gerangan orang tersebut.
Tapi utusan beracun telah melihat dengan nyata, cepat-cepat teriaknya lantang.
"Kim Thi sia, persoalan ini tak ada sangkut pautnya denganmu"
Kemudian sambil melakukan pengejaran dengan gerakan burung walet menembusi awan, melakukan pengejaran seraya berteriak.
"Cepat turunkan Siau Hong ku"
Kim Thi sia sama sekali tak berpaling, sambil mengempit tubuh Yu Hong, dia belarian terus menerjang kemuka.
Sesungguhnya Kim Thi sia memiliki dasar ilmu meringankan tubuh yang amat sempurna ditambah lagi ia diburu oleh keadaan, tak heran kalau kecepatan larinya bagaikan terbang.
Dalam waktu singkat berapa puluh li telah ditempuh tanpa terasa.
Yu Hong yang berada dalam pelukannya tetap meronta dan menjerit-jerit.
"Lepaskan aku, lepaskan aku......."
"Yu Hong, aku adalah Kim Thi sia, bukan orang jahat. Aku datang untuk menolongmu"
Ujar Kim Thi sia sambil meneruskan larinya.
"Aku tak perduli siapakah kau,pokoknya kau harus lepaskan aku, aku tak perlu ditolong. Aku ingin mati saja....."
Yu Hong tetap menangis sambil menjerit-jerit.
"Tidak bisa, demi cicimu, kau harus hidup,....."
"Kau tak usah mengurusi aku, aku tak mau hidup,...."
Kemudian sambil meronta dengan sepenuh tenaga teriaknya lagi.
"Aku tak perduli siapakah kau, pokoknya aku tak mau hidup,....." ^ Kim Thi sia bukan seorang pemuda yang pandai berbicara, sekalipun dia ingin membujuk dan menghibur gadis tersebut, akan tetapi tak sepatah katapun yang mampu diutarakan. Dalam bingungnya diapun mengambil keputusan untuk tidak menggubris perkataan Yu Hong lagi, sambil menutup telinganya dia melanjutkan perjalanannya dengan sepenuh tenaga. Utusan beracun melakukan pengejaran secara ketat, caci maki yang keras bergema tiada hentinya. Sebentar suaranya amat jauh tapi sebentar lagi makin dekat, jelas kakek jelek itu masih mengikuti terus jejaknya tanpa berhenti. Peluh sebesar kacang kedele telah bercucuran keluar membasahi seluruh tubuh Kim Thi sia. Mendadak...... Dalam larinya itu Kim Thi sia telah menemukan suatu peristiwa yang mengejutkan hati. Ternyata seluruh badan Yu Hong telah basah oleh darah, suara teriakan dan rontaanya waktu itu makin lama makin melemah. Ternyata dalam keputus asaannya Yu Hong jadi nekad dan melakukan suatu tindakan bedoh. Dengan sepasang tangannya dia mencakari luka didadanya akibat tusukan pisau terbang tadi kemudian merobeknya keras-keras. Dengan perbuatan ini, mulut lukanya menjadi makin melebar, darah segarpun mengucur keluar makin deras. Bila keadaan seperti ini dibiarkan berlangsung lebih jauh, dapat dipastikan akhirnya Yu Hong akan tewas dalam keadaan mengenaskan-Dalam kagetnya Kim Thi sia segera menghentikan larinya dan membaringkan gadis tersebut keatas tanah, serunya cemas.
"Mengapa sih kau...... kau ingin mati?"
Si utusan beracun yang menyusul datang segera dibuat tertegun pula setelah menyaksikan peristiwa ini.
"ooooh, Siau Hong kusayang....."
Teriaknya keras.
"Mengapa kau membuat senekad itu?"
Yu Hong meludah keatas tanah dan mengumpat.
"Hmmm, bedebah tutup mulutmu kau tahu aku amat membencimu kalau bisa aku ingin makan dagingmu dan disaat telah mati akan kugigit sukmamu....."
"Yu Hong, jangan banyak bicara, darah mengalir amat deras"
Bujuk Kim Thi sia. Pelan-pelan Yu Hong berpaling, dengan pandangan berterima kasih dia berbisik.
"Aku merasa berterima kasih sekali dengan maksud baikmu......"
Kemudian setelah mengatur napasnya terengah-engah, katanya lebih lanjut.
"Harap kau membantu aku untukmeng ir pergi sisetan tua ini"
"Kenapa?"
Tanya Kim Thi sia tertegun. Sambil tertawa hambar sahut gadis itu.
"Disaat ajalku hampir tiba, aku tak sudi melihat dia lagi"
Kim Thi sia segera berpaling kearah utusan beracun dan bentaknya keras-keras.
"Nah, sudah mendengar belum?"
Utusan beracun berdiri tertegun, dia seperti tidak mendengar apa yang sedang dikatakan pemuda itu. Terdengar Yu Hong berseru lagi.
"Kuharap kau suka melihat diwajah ciciku untuk mengusirnya secepat mungkin"
Tiba-tiba utusan beracun maju berapa langkah kemuka, serunya keras-keras.
"Siau Hong, mengapa kau harus berbuat begini?"
Sebelum sinona menjawab, Kim Thi sia telah membentak lagi dengan suara keras.
"Utusan beracun, kau sudah mendengar belum? Ayoh cepat enyah dari sini"
"Kim Thi sia, kunasehati dirimu, lebih baik jangan mencampuri urusan ini"
Bentak utusan beracun mulai berang.
"Tidak bisa, aku telah mendapat titipan seseorang, bagaimanapun jua aku tetap akan mencampuri urusan ini."
"Tapi sekarang akupun telah mengambil keputusan-...."
Seru utusan beracun keras.
"Apa yang kau putuskan?"
"Barang siapa berusaha untuk memisahkan aku dengan Siau Hong......."
"Kau hendak beradu jiwa dengannya bukan?"
Jengek Kim Thi sia sambil tertawa sinis.
"Hmmm, kau harus tahu aku si Utusan beracun Hoa Chin bukan manusia sembarangan yang bisa dipermainkan dengan begitu saja"
"Haaaah.....haaaah.....haaaaah.....memangnya kau anggap aku takut kepadamu?"
"Ilmu pedang beracun pencabut nyawaku tiada tandingan didunia ini, kuharap kau jangan menghantar kematian gara-gara urusan ini"
Ancam utusan beracun dengan wajah serius.
"oooh, jadi kau hendak menakut-nakuti aku?"
"Aku harap kau jangan berlagak terus......"
"Siapa bilang aku berlagak? Aku selalu bersungguh-sungguh"
"Kau tahu apa akibatnya bila seseorang terkena serangan ilmu pedang beracun pencabut nyawaku?"
"Paling banter mati keracunan"
"Hmmm, kalau cuma sederhana begitu, percuma orang lain menjuluki aku sebagai Utusan beracun"
Kata kakek jelek itu sambil tertawa dingin tiada hentinya.
"Jadi masih ada kehebatan lainnya?"
Tanya Kim Thi sia dengan perasaan ingin tahu.
"Aku mempunyai sebilah pedang mestika yang berbentuk seperti ular, pedang itu bernama pedang ular beracun"
Seraya berkata, pelan-pelan dia meloloskan pedang ular beracunnya dari dalam sarung.
Hawa dingin yang menggidikkan hati segera memancar keempat penjuru.
Kim Thi sia tidak berbicara, dia hanya tertawa sambil mengawasi gerak gerik lawannya.
Dengan suara keras kembali si utusan beracun membentak.
"Bila kau tahu diri, kuanjurkan lebih baik pergilah dari sini secepatnya"
Kim Thi sia segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.
"Haaaah.....haaaah.....haaaah......bila aku segera angkat kaki dengan begitu saja, maka percuma aku Kim Thi sia....."
"Kenapa?"
"Percuma orang persilatan mengatakan diriku sebagai manusia yang paling sudah dihadapai"
Baru selesai perkataan itu, mendadak ia berdiri tertegun lalu membungkam diri dari dalam seribu bahasa. Sebaliknya si utusan beracun segera berseru sambil tertawa dingin.
"Tentunya kau sudah tahu akan kelihayan sentilan sakti pasir pembingung sukma ku bukan?"
Ternyata menggunakan kesempatan disaat pembicaraan masih berlangsung tadi, dia telah menyentilkan jari tangannya kedepan memancarkan selapis kabut tipis yang tak berwujud tapi terendus bau harum.
Bgeitu mencium bau harum yang sangat aneh, Kim Thi sia segera sadar bahwa keadaannya sangat tidak menguntungkan-Sekarang dia baru sadar bahwa nama besar si utusan beracun memang bukan bernama ong belaka.
Cepat-cepat pemuda itu menutup pernapasannya dan mencoba melawan pengaruh racun tersebut dengan mengandalkan tenaga dalamnya yang sempurna.
Belum selesai ia bersemedi, utusan beracun kembali telah membentak nyaring.
"Bocah keparat, aku akan segera mengirimmu untuk berpulang kealam baka......."
Pedang ular beracunnya dengan menciptakan beribu-ribu lapis bayangan ular secepat petir menyerang kedepan.
Perlu diketahui, si utusan beracun memiliki tiga andalan ilmu beracunnya yang mematikan.
Ilmu beracunnya yang pertama adalah sentilan pasir pembingung sukma.
Ilmu beracunnya yang kedua adalah ilmu pedang pencabut nyawa.
Sedangkan ilmu beracunnya yang ketiga merupakan kepandaiannya yang paling ampuh.
Racun tersebut disemburkan lewat mulut dan disebut sebagai "semburan darah".
Begitulah keadaan dalam arena saat itu, sementara melancarkan serangan dengan pedang mautnya, si utusan beracun tiada hentinya me nyentilkan pasir-pasir pembingung sukma.
Bahkan dari mulutnya menyemburkan pula kabut berwarna hitam yang segera menyelimuti seluruh angkasa.
Kim Thi sia benar-benar terdesak hebat, untuk menghadapi serangan tiga macam racun sekaligus dia menjadi kelabakan setengah mati.
Untuk berapa saat lamanya kim Thi sia tak tahu apa yang mesti diperbuatnya, berulang kali dia mengganti gerak tubuhnya tapi selalu terdesak mundur dengan sempoyongan-Dalam pada itu Yu Hong yang berbaring diatas tanah dapat menyaksikan semua peristiwa tadi dengan jelas.
berbicara sejujurnya, dia belum ingin mati, paling tidak ia belum ingin mati sebelum mendapat pengertian dari kekasihnya.
oleh sebab itu dia berharap Kim Thi sia bisa mengalahkan si utusan beracun, menghancurkan tua bangka yang memuakkan itu.
Dalam keadaan begini untuk ikut terjun kearena dan membantu Kim Thi sia, maka diam-diam iapun berdoa.
"ooooh Thian, berilah kekuatan untuk Kim Thi sia sehingga dia mampu mengalahkan tua bangka jahanam itu"
Sementara itu Kim Thi sia bergerak mundur terus sambil secara diam-diam mengeluarkan ilmu Ciat khi mi khi nya.
Rupanya dalam keadaan terdesak tadi, tiba-tiba saja Kim Thi sia mendapatkan sebuah pikiran yang sangat aneh pikirnya.
"Betapapun lihaynya si utusan beracun, bukankah tubuhnya pun terdiri dari darah dan daging? Kalau dia bisa menyimpan hawa beracun didalam tubuhnya tanpa merugikan diri sendiri, mengapa aku tak mencoba mempergunakan ilmu ciat khi mi khi untuk menghisap dan menyimpan pula didalam tubuhku. .....?"
Karena berpendapat begitu, maka diapun segera mencoba untuk membuktikan pendapatnya ini.
Alhasil ia berhasil mengalami sebuah penemuan yang sangat aneh.
Sebagaimana diketahui, apa bila seseorang menghisap hawa beracun kedalam tubuhnya, maka sekujur badannya akan berubah menjadi amat beracun, dan bila hawa racun itu kemudian dipakai untuk melawan racun akibatnya tawarlah kemampuan racun tersebut.
Dengan teori ini pula, hawa racun yang terhisap didalam tubuhnya melalui ilmu Ciat khi mi khi membuat daya racun tersebut sama sekali menjadi hambar dan tak berguna.
Sekalipun begitu disaat sari racun mulai menyerang tubuhnya, timbul juga daya reaksi yang cukup keras.
Hal mana membuat Kim Thi sia merasakan kepalanya pusing tujuh keliling dan tubuhnya mundur dengan sempoyongan.
Si utusan beracun yang menyaksidkan kejadian tersebut menjadi amat girang, dia segera memperketat serangannya.
Melihat itu, Kim Thi sia segera berpikir.
"Biarpun dengan ilmu ciat khi mi khi aku berhasil menawarkan daya pengaruh hawa racunnya, tapi aku harus bertindak lebih berhati-hati jangan sampai tubuhku dilukai oleh pedang ular beracunnya......."
Berpikir begitu, pedangnya segera diputar dengan kencang menciptakan selapis bayangan pedang yang menyelimuti seluruh angkasa.
Dalam serangannya kali ini, ilmu pedang yang dipergunakan adalah ilmu pedang Panca Buddha.
Seandainya bukan terpengaruh oleh hawa beracun, sudah dapat dipastikan ilmu pedang pencabut nyawa dari siutusan beracun itu tidak memiliki daya kemampuan yang luar biasa.
Apa lagi bila dibandingkan dengan kehebatan ilmu pedang panca Buddha, boleh dibilang ketinggalan jauh sekali.
Beruntung Kim Thi sia masih pusing kepalanya hingga serangannya tidak mengena kurang tepat, sehingga untuk Sementara waktu posisi mereka tetap berimbang.
Dalam waktu Singkat puluhan gebrakan sudah lewat tanpa terasa.
Mendadak terdengar si utusan beracun berteriak keras.
Jilid 52
"Bocah keparat, paras muka sudah mulai berubah menjadi kehitam-hitaman-...."
"Aku mengerti"jawab Kim Thi sia masih bertarung dengan penuh semangat.
"Tahukah kau, bahwa kau segera akan mati?"
"Aku tak mungkin akan mati"
"Apakah kau sama sekali tidak merasakan apa-apa?"
"Tentu saja ada"
"Bagaimana perasaanmu sekarang?"
"Mulutku kering, sekujur badanku terasa panas sekali."
Mendengar itu, si utusan beraCun segera tertawa terbahak-bahak. serunya Cepat.
"Haaah.....haaah.....haaah.....bagus sekali, itu tandanya saat kematianmu sudah hampir tiba"
"Aku sama sekali tidak berpendapat begitu....."
Jengek Kim Thi sia sambil tertawa nyaring.
"Tak lama kemudian kau akan kehilangan sama sekali seluruh tenaga dan kekuatanmu."
"Tidak mungkin, saat ini aku justru merasakan tenaga dalamku meningkat tajam. Bukan mundur malahan kuperoleh kemajuan yang luar biasa sekali......"
"Kau sedang bohong"
"Jadi kau tak perCaya? baiklah, aku akan segera membuktikan kepadamu......"
"Bagaimana cara membuktikan?"
Si utusan beracun mulai ragu-ragu dan curiga.
"Tak ada salahnya jika kita beradu kekerasan"
"Kalau sampai begitu, berarti kau akan segera roboh."
Sekalipun pertarungan diantara mereka berdua berlangsung amat seru, namun kedua belah pihak sama-sama menghindari suatu pertarungan kekerasan, sehingga untuk berapa saat lamanya kedua belah pihak sama-sama bertahan seimbang.
Ketika ucapan mana diutarakan, si Utusan beracun menjadi amat bergirang hati.
Diam-diam pikirnya .
"Bocah keparat ini sudah keracunan hebat, kenapa aku mesti takut untuk beradu kekerasan dengannya?"
Berpendapat begitu, buru-buru sahutnya.
"Baiklah"
Kim Thi sia sendiripun merasa amat gembira setelah mendengar persetujuan itu, katanya kemudian.
"Kalau memang setuju, bagaimana kalau kau segera menyerang dengan jurus pedangmu?"
"Jurus serangan apa sih yang hendak kaupergunakan?"
Tiba-tiba saja si utusan beracun bertanya.
Sesungguhnya pertanyaan semacam ini merupakan pantangan terbesar bagi umat persilatan dan tak mungkin ada orang yang bersedia menyebutkan jurus serangan yang hendak digunakan itu kepada musuhnya.
Tapi Kim Thi sia justru menjawab dengan polos.
"Aku akan pergunakan jurus "pedang menunjuk langit selatan"
Dari Ilmu pedang panca Buddha."
"Bagus sekali"
Si utusan beracun segera mendengus dingin.
"Dan kau sendiri akan menggunakan jurus apa?"
Tanya Kim Thi sia kemudian-Utusan beracun sama sekali tidak menjawab pertanyaan itu, dengan mulut membungkam dia menggerakkan pedangnya langsung menyerang kedepan.
Sambil melancarkan terkaman kilat bentaknya keras-keras.
"Aku akan pergunakan jurus seranganku ini untuk memenggal batok kepalamu."
Jurus serangan yang dipergunakan saat itu merupakan jurus tertangguh dari ilmu pedang pencabut nyawa.
Kim Thi sia sama sekali tidak menjadi gugup dengan tenaganya dia sambut datangnya serangan musuh dengan jurus "kecerdikan menguasahi seluruh langit."
"Traaaanggg......"
Benturan nyaring yang amat memekikkan telinga bergema memecahkan keheningan-Dengan amat terkesiap si utusan beracun berseru.
"Ternyata kau.....kau......."
Rupanya dia hendak berkata begini kepada Kim Thi sia.
"Ternyata kau menipu ku, kau tidak menggunakan jurus "Pedang menuding langit selatan"
Seperti yang dikatakan tadi......"
Atau mungkin juga dia hendak berkata begini.
"Ternyata kau sama sekali tidak terluka oleh racunku ternyata tenaga dalammu masih sempurna....."
Apa yang sebenarnya hendak dikatakan tak akan diketahui oleh siapapun, sebab pada saat itulah....
Sambil membentak keras Kim Thi sia melancarkan tiga buah serangan dahsyat secara beruntun.
Diiringi jeritan ngeri yang memilukan hati, si utusan beracun segera tertusuk oleh serangan maut itu dan roboh binasa keatas tanah.
Memandang mayat yang terkapar didepan mata, Kim Thi sia menghembuskan napas panjang kemudian memasukkan kembali pedangnya kedalam sarung.
Dalam pada itu, Yu Hong yang berbaring diatas tanah dapat mengikuti semua peristiwa tersebut dengan amatjelas, melihat orang yang dibencinya telah binasa, sekulum senyum kepuasan segera tersungging dibibirnya.
la berusaha meronta bangun, lalu serunya.
"Aku..... aku merasa gembira sekali."
"Kau benar-benar gembira?"
Tanya Kim Thi sia sambil berjalan menghampirinya. Yu Hong tertawa hambar.
"Setelah utusan beracun menemui ajalnya secara tragis ditanganmu, biar matipun aku akan mati dengan perasaan tenang."
"Jangan menyebut soal mati, aku tak senang mendengar kata-kata semacam itu...."
Buru-buru Kim Thi sia berseru. Yu Hong membelalakan sepasang matanya lebar-lebar, kemudian berkata lagi.
"Sebelum ajalku tiba, aku berharap....."
"Apa harapanmu?"
"Aku harap kau sudi membopongku dan pergi menjumpai sipelajar bermata sakti......"
Pinta Yu Hong dengan napas tersengkal-sengkaL "Tidak bisa"
"Tegakah kau melihat aku mati dengan membawa rasa sesal yang berkepanjangan?"
"Saat ini gedung Siau yau li sedang diliputi kekalutan yang luar biasa, bila kita harus kembali kesitu, jiwa kita bakal terancam bahaya maut......^"
Yu Hong segera menghela napas panjang setelah mendengar perkataan itu, ucapnya kemudian.
"Aaaai, aku memang tak bisa menyalahkan dirimu^ Kau memang tidak pantas membawaku pergi menyerempet bahaya."
"Bukannya aku takut pergi menyerempet bahaya."
"Kalau begitu aku mohon bantuanmu"
Desak Yu Hong.
Perkataan tersebut diutarakan dengan perasaan amat sedih dan nada yang bersungguhsungguh, dalam keadaan begini biarpun seseorang berhati sekeras bajapun tentu akan luluh dibuatnya.
Kim Thi sia mengangguk juga akhirnya, dia berkata.
"Baiklah kalau begitu."
Dengan cepat dia menggendong Yu Hong kemudian dengan langkah lebar berlarian kembali kegedung Siau yau lo.
Sepanjang jalan darah mengucur keluar dengan derasnya dari mulut luka Yu Hong kondisi tubuhnya yang sudah lemah kini semakin lemah lagi.
Sebetulnya Kim Thi sia sudah berlarian dengan sepenuh tenaga, kecepatan larinya luar biasa sekali.
Tapi sepanjang jalan tiada hentinya Yu Hong berseru.
"Ayolah cepatan sedikit......cepatan sedikit......"
Mendadak..... Dari depan situ muncul seseorang yang berjalan mendekat dengan langkah sempoyongan. Begitu bertemu dengan orang tersebut, Yu Hong segera berteriak keras-keras.
"Lepaskan aku, turunkan aku......."
Ternyata orang yang muncul dari depan situ tak lain adalah sipelajar bermata sakti.
cepat-cepat Kim Thi sia menurunkan tubuh Yu Hong dari bopongannya.
Entah dari mana datangnya kekuatan, ternyata Yu Hong dapat bangkit berdiri dan menatap wajah pelajar bermata sakti dengan wajah termangu-mangu.
Waktu itu seluruh badan sipelajar bermata sakti telah berlumuran darah, tapi keadaannya mengerikan sekali.
Tapi pemuda itu masih berusaha mempertahankan diri, agaknya sebelum ajalnya tiba dia ingin menjumpai Yu Hong lebih dulu, sehingga dengan mengerahkan sisa tenaga yang dimilikinya dia menempuh perjalanan jauh untuk mencari gadis itu.
Kini kedua orang tersebut telah berdiri saling berhadapan, namun kedua belah pihak samasama terbungkam dalam seribu bahasa.
Kim Thi sia merasa terharu sekali melihat adegan ini, untuk berapa saat dia sampai berdiri tertegun tanpa berbicara.
Mendadak terdengar pelajar bermata sakti dan Yu Hong saling menyebut nama lawannya, kemudian berlarian kedepan, saling berpelukan dengan kencang dan bersama-sama roboh terjungkal keatas tanah.
Akhirnya disaat ajal hampir tiba, sepasang kekasih ini dapat bertemu kembali satu dengan lainnya.
Mereka bertemu tanpa berbicara....
berpelukan tanpa kata-kata.....dalam keadaan tanpa bicara dan saling berpelukan inilah kedua orang tersebut menghembuskan napasnya yang penghabisan.
Kim Thi sia yang menyaksikan kesemuanya itu hanya bisa menghela napas panjang.
Sementara itu.....
Matahari sudah condong kelangit barat, tapi cahaya api dari arah gedung siau yau lo masih berkobar dengan hebatnya.
Pertarungan masih berlangsung amat seru, percikan darah masih menyebar menodai seluruh permukaan tanah.
Dengan perasaan sedih Kim Thi sia mengubur jenasah Yu Hong dan sipelajar bermata sakti ditepi jalan.
Kemudian setelah berdoa sebentar didepan pusara kedua orang itu, pelan-pelan ia berjalan menelusuri tepi hutan.
Tiba-tiba dia merasa lapar, segera pikirnya.
"Perutku sudah mulai sekarang, perduli amat dengan urusan di gedung Siau yau lo kenapa aku tidak mengisi perut dulu?"
Dengan langkah cepat pemuda itu berlarian menuju kearah sebuah rumah penduduk yang berada tak jauh dari tepi jalan.
dalam anggapannya dirumah penduduk itu tentu akan diperoleh makanan paling tidak dia tak sampai kelaparan.
Siapa sangka walaupun ia sudah berteriak berulang kali didepan rumah, ternyata tak seorangpun yang menyahut.
Dengan perasaan ingin tahu ia segera membuka pintu rumah dan nyelonong masuk kedalam.
Pada saat itulah mendadak......
Sebilah pedang tajam tahu-tahu sudah meluncur dengan langsung mengancam dada anak muda itu.
Tergopoh-gopoh Kim Thi sia mengeluarkan jurus "bintang bergerak komet bergeser"
Untuk meloloskan diri dari ancaman mana. Setelah itu dengan perasaan tegang bentaknya keras-keras.
"Jagoan darimana yang bersembunyi disitu? Berani amat main sergap siauyamu?"
Seraya membentak pemuda itu mengawasi sekeliling ruangan dengan seksama, dengan cepat dijumpainya mayat bergelimpangan disana sini, ada mayat lelaki ada pula mayat perempuan.
Mendadak dari antara mayat-mayat tersebut ia menemukan selembar raut muka yang amat dikenal olehnya, dengan suara keras segera teriaknya.
"Ooooh, rupanya kau......"
Ternyata orang yang dimaksud adalah Nyoo Soat hong. Waktu itu Nyoo soat hong pun telah mengetahui bahwa sipendatang adalah Kim Thi sia, sambil tertawa serunya.
"Engkoh Thi sia"
"Adik Nyoo....."
Teriak Kim Thi sia pula. Pertemuan yang sangat mendadak dan sama sekali diluar dugaan ini membuatnya berdiri menjublak, hampir saja ia tak mampu bergerak. Nyoo Soat hong segera berseru lagi.
"Engkoh Thi sia, kau tak usah takut, aku yang menyerangmu tadi."^ "Jadi kau yang menyambitku dengan pedang?"
Seru Kim Thi sia dengan wajah tertegun.
"Yaa, maklumlah aku tidak tahu kalau orang tersebut adalah kau......"
Melihat Kim Thi sia masih berdiri termangu-mangu, kembali gadis itu berkata.
"Tak usah kuatir, kecuali aku disini hanya ada mayat-mayat belaka."
"Mengapa kau harus berbaring diantara tumpUkan mayat?"
Seru Kim Thi sia keheranan, dengan langkah cepat ia maju mendekati. Tapi belum selesai perkataan itu diutarakan, kembali ia berteriak kaget.
"ooooh adik Nyoo, siapa yang telah mencelakai dirimu hingga menjadi begini rupa?"
Ternyata separuh tubuh bagian bawah Nyoo Soat hong telah hancur dan berlumuran darah. Sambil tertawa gadis itu menukas.
"Engkoh Thi sia, lebih baik kita tak usah membicarakan persoalan seperti ini."
"Tapi kau ahrus memberitahukan kepadaku, aku hendak membalaskan dendam bagimu"
"Tidak usah"
Si nona tertawa hambar.
"Apakah kau tak ingin menuntut balas atas sakit hati ini?"
"Bukannya aku tak mau menuntut balas, karena orang yang mencelakai diriku sebagian besar telah kubunuh sampai mati."
Mendengar ucapan mana Kim Thi sia segera berseru tertahan.
"Aaaah, tak kusangka kau benar-benar seorang jagoan wanita yang luar biasa."
Nyoo Soat hong tertawa lirih, katanya kemudian.
"Engkoh Thi sia, aku hendak memberitahukan sesuatu kepadamu....."
Tampaknya luka yang diderita amat parah, ketika berbicara sampai disitu napasnya sudah nampak tersengkal-sengkaL "Apa yang hendak kau bicarakan? Katakan cepat?"
Buru-buru Kim Thi sia berseru.
"Sebetulnya banyak persoalan yang hendak dibicarakan, tapi sayang tidak banyak waktu yang tersedia........"
"Kalau begitu katakan yang penting-penting saja."
"Soalpertama, toako.......dia telah tewas."
"Apa?"
Seru Kim Thi sia tertegun.
Sebagaimana diketahui toako yang dimaksud Nyoo Soat hong adalah Nyoo Jin hui, padahal dia adalah saudara angkat Kim Thi sia.
Itulah sebabnya pemuda tersebut menjadi sedih sekali setelah mendengar berita kematian itu, tanpa terasa titik air mata jatuh bercucuran.
"Toa ko tewas dikarenakan. ......"
"Karena apa?"
Tukas Kim Thi sia cepat.
"Dia tewas karena lentera hijau....."
Pelan-pelan Nyoo Soat hong menghembuskan napas panjang.
"Ia tewas lentera hijau?"
Seru Kim Thi sia dengan perasaan amat terperanjat. setelah berhenti sejenak, Nyoo Soat hong berkata lebih jauh.
"Kami telah bersua dengan lima naga burung hong, ternyata siburung hong Lam Peng memiliki lentera hijau"
"Yaa benar, dia memang mendapatkan benda tersebut dari tanganku."
Kim Thi sia membenarkan dengan perasaan dendam.
"Toako telah tewas ditangan lima naga dan burung hong, sedang akupun sudah habis......"
"Kau tak usah kuatir"
Kim Thi sia mencoba menghibur.
"Merekapun tak akan memperoleh akhir yang baik."
"Kini mereka telah berkomplot dengan Dewi Nirmala."
"Aaaah......."
Dengan perasaan terkejut Kim Thi sia berseru tertah an.
"Sama sekali tak kusangka semua orang jahat didunia ini telah berkumpul menjadi satu."
"Dengan berkomplotnya mereka, berarti daya pengaruh orang-orang itu menjadi bertambah besar, kau mesti bersikap hati-hati."
"Aku sama sekali tak takut kepada mereka"
Ucap Kim Thi sia dengan gagah.
"Setahuku, saat ini mereka sedang berkumpul didalam Lembah Nirmala......"
"Bagus sekali, aku tentu akan pergi menjumpai mereka......"
"Kau harus merampas kembali lentera hijau itu"
Buru-buru Nyoo Soat hong berseru.
"Soal ini......."
Kim Thi sia jadi tertegun dan gelagapan sendiri. Agaknya Nyoo Soat hong dapat menemukan keanehan itu, dengan cepat dia menegur.
"Apakah kau menjumpai suatu kesulitan?"
Kim Thi sia adalah seorang pemuda yang jujur, dengan cepat ia berterus terang.
"Dihadapan Lam Peng aku pernah bersumpah tidak akan merebut kembali lentera hijau dari tangannya."
"Kenapa?"
Tanya Nyoo Soat hong tercengang.
Secara ringkas Kim Thi sia segera menceritakan apa yang telah dialaminya kepada gadis tersebut.
Nyoo Soat hong mendengarkan keterangan itu dengan tenang, kecuali sering terbatuk-batuk dan muntah darah, dia sama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun.
Sampai lama kemudian......
Akhirnya Nyoo Soat hong menghela napas dan berkata.
"Aaaaai......kalau jadi orang jujur seperti kau, memang selamanya kerugian yang diperoleh."
Kim Thi sia hanya membungkam diri dalam seribu bahasa. Kembali Nyoo Soat hong berkata.
"Aku merasa ajalku sudah hampir tiba, kuharap....kau.....kau bisa menjaga diri baik-baik."
Dengan cepat Kim Thi sia memeluk gadis itu kedalam pelukannya, lalu berseru dengan pedih.
"Tidak kau tak akan mati, kita akan berada bersama untuk selamanya....."
"Moga-moga saja begitu"
Nyoo Soat hong tertawa pedih.
"Selain itu kita tak akan berpisah kembali, kita tak akan berpisah kembali......."
Sambung Kim Thi sia dengan penuh luapan emosi.
Mungkin terdorong oleh luapan emosi yang berkobar-kobar sehingga sewaktu berbicara, suaranya seperti orang sedang berteriak.
Pukulan batin yang diterima selama berapa hari ini terasa amat berat baginya.
Pertama-tama adalah kematian dari Yu Hong.
Dilanjutkan kemudian dengan kematian dari Yu Hong.
Kini, dia hanya bisa memeluk tubuh Nyoo Soat hong sambil menangis tersedu-sedu.
Ia rela menyerahkan seluruh cinta kasihnya kepada gadis tersebut asal ia mati, tapi......mungkinkah hal ini bisa terjadi?
Dan kini Nyoo Soat hong telah menghembuskan napas nyayang terakhir didalam pelukannya.
Dalam keadaan begini, ia tak bisa berbuat lain kecuali menangis sambil berteriak.
"Adik Nyoo, jangan tinggalkan aku...^ jangan tinggalkan aku......"
Tapi mungkinkah gadis tersebut dapat hidup kembali?
Sementara itu, Lin lin sedang menanti kedatangan Kim Thi sia di "GUbuk.".
Hari demi hari dia menanti tanpa melihat kekasihnya kembali, ketika kesabarannya sudah mulai hilang, tiba-tiba suatu hari ia menerima sepucuk surat.
Rupanya surat itu dikirim oleh si Unta.
Ketika ia selesai membaca surat tadi, perasaan hatinya menjadi amat terperanjat sehingga gadis itu cepat-cepat berangkat meninggalkan "gubuk".
Ternyata surat itu bertuliskan begini.
"Nona Lin lin..... Engkoh Thi sia mu meski menempuh perjalanan bersama kami, namun ditengah perjalanan ia telah bertarung dengan orang lain sehingga tidak datang kegedung Siau yau lo bersama-sama kami."
Bila dihitung waktunya, kemungkinan sekali engkoh Thi sia mu sudah berada digedung Siau yau lo sekarang.
Menjelang mag rib tadi, pertarungan sengit telah berkobar digedung Siau yau lo.
Pertarungan ini merupakan suatu pertempuran yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Mayat bertumpuktumpuk membukit, darah segar bercucuran menganak sungai, tapi kami tak pernah bersua kembali dengan engkoh Thi sia mu.
Bukankah kau merasa amat kuatir?
Aku tahu, kau tentu amat kuatir itulah sebabnya tak ada salahnya bila kau pun segera datang kemari untuk menengok sendiri keadaan ditempat ini.
Tertanda "Unta"
Tatkala Lin lin selesai membaca isi surat tersebut, perasaan hatinya menjadi amat berat, dia bingung dan kesal.
Yang paling menguatirkan adalah keselamatan jiwa Kim Thi sia yang telah pergi dan hilang jejaknya itu.
Dengan membawa perasaan sedih dan kuatir, berangkatlah Lin lin menuju kearah gedung siau yau lo.
Akhirnya dibelakang kebun gedung tersebut mereka berhasil menemukan Kim Thi sia.
Waktu itu Lin lin merasa kegirangan setengah mati, dia ingin segera maju mendekatinya, namun apa yang kemudian terlihat membuat hatinya amat kecewa.
Sambil tertawa si unta segera berkata.
"Sungguh tak disangka bocah keparat itu telah bersua kembali dengan seorang gadis cantik disini......."
Tiba-tiba ia seperti merasa telah salah berbicara, cepat-cepat sambungnya kembali.
"Lin lin tunggulah sejenak disini, biar aku pergi memanggilnya."
"Tidak usah"
Sahut Lin lin dengan air mata bercucuran-"Kenapa?"
Si unta agak tertegun.
"Saat ini dia sedang memeluk gadis tersebut, mengapa kita harus mengusik ketenangannya? "
"Tapi...... mengapa kau memandang persoalan ini begitu serius....."
"Tentu saja, aku memang menganggap serius persoalan ini."
Mendengar itu, si unta segera menghela napas panjang. Terdengar Lin lin berkata lagi.
"Alu tidak tahan melihat dia memeluk gadis itu dengan begitu hangat dan mesrah."
"Aku bisa menyuruh dia datang minta maaf kepadamu"
Bujuk si unta sambil tertawa.
"Persoalan semacam ini tak mungkin bisa diselesalkan dengan cuma minta maaf saja."
"Lalu apa keinginanmu sekarang?"
"Aku tak ingin berbuat apa-apa"
"Apakah kau tak ingin bertemu denganku lagi?"
Lin lin tertawa hambar.
"Untuk saat ini tidak, entah kalau hatiku yang duka telah bisa kuatasi dan pikiranku yang sempit bisa kubuka......"
"Kau....."
Lin lin hanya menggelengkan kepalanya berulang kali, sementara air matanya jatuh berlinang membasahi pipinya.
"Nona Lin lin, kau jangan bersedih hati......."
Cepat-cepat si unta berusaha membujuk. Pelan-pelan Lin lin membasuh air matanya yang meleleh membasahi pipinya, kemudian berkata.
"Tuan Unta, mari kita pergi dari sini."
"Bagaimana dengan Kim Thi sia.....?"
"Biarkan dia memeluk gadisnya itu."
"Tapi......."
"sudahlah, tak usah banyak berbicara lagi, aku ingin secepatnya pergi dari sini."
"Mendadak?"
"Aku hendak pergi dari sini untuk sementara waktu dan tak ingin bertemu dengannya dalam jangka waktu tertentu."
"Tapi kemana kau hendak pergi?"
"Aku berniat mencari sebuah tempat yang sepi dan hidup sebagai rakyat biasa disitu. Siapa tahu hatiku yang lara bisa terobati dan suatu ketika aku bisa menerima kehadirannya kembali"
"Tapi, mana boleh kau berbuat begitu?"
"Aaaai......aku tidak ingin kau merintangi niatku ini, aku cuma berharap kau bisa menemani aku selama ini......kuharap kau tidak menampik permohonanku ini........"
"Baiklah, untuk sementara waktu aku akan melindungi keselamatan jiwamu, moga-moga saja kau bisa cepat berubah pikiran-....."
"Kalau memang begitu, mari kita tinggalkan tempat ini secepatnya....."
Si unta manggutmanggut.
Maka berangkatlah Lin lin, gadis yang bersedih hati itu meninggalkan tempat tersebut diiringi si Unta.
Bayangan tubuh mereka makin lama makin mengecil akhirnya lenyap dikejauhan sana.
Kim Thi sia tersadar kembali dari lamunannya, lalu menghela napas panjang.
Nyoo Soat hong yang berada dalam pelukannya sudah lama menghembuskan napas yang penghabisan-Kematian Nyoo Soat hong nampak begitu tenang, seakan-akan ia tidak merasa berat hati untuk meninggalkan dunia ini.
Menjelang malam, pemuda tersebut kembali berkerja keras untuk mengubur jenasah gadisnya.
Perasaan Kim Thi sia saat itu amat kaku dan bingung.
Seusai berdoa didepan pusara Nyoo Soat hong, dengan langkah agak gontai ia berjalan kembali menuju ke Gedung Siau yau lo.
Tampak pertempuran sengit yang berlangsung ditempat itu sudah mencapai titik terakhir, tapi suasana disitu benar-benar amat seram dan menggidikkan hati.
Sepanjang jalan yang dijumpai hanya mayat-mayat yang bergelimpangan diatas genangan darah.
Ada yang lengannya kutung, ada pula yang kakinya terpapas kutung.
Tapi Kim Thi sia sama sekali tak acuh terhadap mayat-mayat tersebut, dengan memegang pedangnya erat-erat dia melanjutkan perjalanannya menuju kearah gedung Siau yau lo.
Mendadak ia menyaksikan ada serombongan besar jago persilatan yang berkumpul disuatu tempat, rombongan itu terdiri dari empat, lima puluhan orang.
Dari keempat, lima puluhan orang itu, mereka terbagi dalam dua barisan yang berdiri saling berhadapan.
orang-orang yang berada disebelah kiri mengenakan pakaian berwarna kuning, mereka adalah kawanan jago dariperkumpulan cahaya emas.
Sedangkan orang-orang yang berada disebelah kanan memakai baju berwarna hitam, mereka adalah orang-orang perkumpulan Tay sang pang.
Rupanya kedua belah pihak saling menghentikan pertarungan karena ditengah arena saat itu sedang berlangsung pertarungan sengit antara dua orang jago tangguh.
Mereka berdua tak lain dalah ciau thong kongCu melawan Khu It cing, ketua perkumpulan Tay sang pang.
Dengan pertarungan itu pula agaknya pihak perkumpulan cahaya emas dan perkumpulan Tay sang pang ingin menentukan siapa menang pun siapa kalah dalam pertarungan tersebut.
Pelanpelan Kim Thi sia berjalan mendekati arena pertarungan itu.
tak seorang manusiapun yang merasakan kehadiran pemuda itu, sebab seluruh pikiran dan perhatian mereka saat ini telah tertuju kearena pertarungan sehingga tak seorangpun yang memperhatikan kedatangan Kim Thi sia.
Sesungguhnya Kim Thi sia sama sekali tidak menaruh kesan baik terhadap ciu thong kongcu, tapi tentu saja ia tak akan membiarkan Khu It Cing hidup dengan tenang didunia Ditengah gelap dan remang-remangnya suasana, tampak dua orang yang sedang bertarung itu berpisah satu sama lainnya.
Agaknya suatu bentrokan kekerasan baru saja berlangsung dengan gebatnya, menang kalahpun nampaknya segera akan ketahuan-Para jago dari Tay sang pang dan perkumpulan cahaya emas sama-sama berseru tertahan, mereka maju setengah langkah kedepan tanpa terasa untuk melihat siapa yang berhasil meraih kemenangan dalam bentrokan itu.
Mendadak terdengar sipukulan sakti penggetar langit Khu It cing tertawa terbahak-bahak.
Dengan perasaan tak senang hati, ciu thong kongcu segera menegur.
"Khu It cing, apa yang kau tertawa kan?"
"Tak kusangka kau memang seorang jago muda yang tangguh"
Ucap Khu It cing uring-uringan-"Selama puluhan tahun kulatih ilmu pukulanku, tak disangka akhirnya hanya mampu mengimbangi permainan silat seorang bocah cilik macam kau......."
Kemudian setelah menyeka air ludahnya dia berkata lebih jauh.
"ciu tong kongcu, usiamu masih muda biarpun akhirnya harus mampus ditanganku, rasanya kau tetap bisa merasa berbangga hati."
"Hmmm, kongcu mu berasal dari perguruan kenamaan-Justru kaulah yang harus merasa bangga bila dapat mampus diujung pedangku."
"Sudahlah, kita tak perlu meributkan masalah tersebut lebih dulu. sebelum kau mampus nanti, bersediakah kau untuk memberitahukan sesuatu kepadaku secara berterus terang."
Ciu tong kongcu tertawa dingin.
"Hmmm.. mengingat kematianmu sudah berada diambang pintu. Baiklah, kau boleh menanyakan persoalan yang tidak kau pahami."
Khu It cing termenung sambil berpikir sejenak, kemudian baru katanya.
"Berapa hari berselang kau pernah datang kemari......"
"orang yang kau maksud bukan kongcu mu sendiri, dia adalah salah seorang duplikatku"
Tukas ciu tong kongcu cepat.
"oh, rupanya begitu......"
Khu It cing seperti baru memahami akan sesuatu.
"Apa...."
"Berapa waktu berselang, perkumpulan Tay sang pang telah membinasakan dua orang secara beruntun, pertama adalah ciu tong kongcu......"
"Haaah....haaah.....siapa pula orang yang satunya lagi?"
Tanya ciu tong kongcu sambil mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.
"orang itupun terhitung seorang jagoan tenar didalam dunia persilatan, dia masih muda namun memiliki ilmu silat yang cukup tangguh."
"Hmmm, tampaknya kau seperti tak berani mengatakan siapa kah orang yang kau maksudkan itu?" ^ "Kenapa tidak berani? orang itu adalah Kim Thi sia."
Kim Thi sia yang turut mendengarkan pembicaraan tersebut menjadi kegelian, tanpa sadar ia tertawa terbahak-bahak.
Gelak tertawa yang muncul secara tiba-tiba ini sangat mencengangkan hati para jago, tanpa terasa mereka semua sama-sama berpaling kearah mana berasalnya suara tertawa itu.
Tampaknya Kim Thi sia berdiri dengan wajah dingin dan kaku, ketika melihat semua orang berpaling memandang kearahnya, sambil tertawa dingin ia segera berseru.
"Sekalipun aku Kim Thi sia bukan manusia yang terdiri dari tiga kepala atau sembilan lengan, namun aku percaya orang-orang Tay sang pang tidak akan mampu berbuat apa-apa terhadap diriku."
Sambil berkata dengan pedang siap ditangan selangkah demi selangkah dia berjalan mendekati arena. Sipukulan sakti penggetar langit Khu It cing kini menjadi sangat terperanjat sekali, serunya tertahan.
"Sii.....sii......siapa kau^....?"
Kembali Kim Thi sia tertawa dingin.
"Akulah Kim Thi sia, orang yang siang malam ingin kau bunuh tapi tak pernah mampus ditanganmu"
"Kau^.....kau juga ikut datang?"
Kembali Khu It cing berseru tertahan ia kelihatan agak panik. ciu tong kongcu yang menyaksikan hal tersebut kontan saja tertawa terbahak^bahak, jengeknya dingin.
"Sungguh tak disangka dua orang musuh tangguh yang ingin dibunuh oleh pihak Tay sang pang ternyata tak seorangpun yang mampus"
Kemudian setelah tertawa dingin sambungnya lebih jauh.
"Itu berarti saat kematianmu sudah hampir tiba Khu It cing...^."
Khu It cing sama sekali tidak menggubris ejekan tersebut, dan ia segera berpaling kearah Kim Thi sia dan menegur.
"sebenarnya apa maksudmu datang kemari?"
"Apa lagi, tentu saja akan memenggal batok kepalamu"
"Tidak bisa......"
Tiba-tiba ciu tong kongcu menyela.
"Kenapa tidak bisa?"
Seru Kim Thisia agak tertegun.
"Pertarunganku dengannya belum berakhir menang kalahpun belum berhasil ditentukan-"
"Tapi aku datang dengan membawa maksud ingin menuntut balas kepada bajingan tua itu."
"Kim Thi sia, lebih baik aku jangan mengambil kesempatan untuk mencari keuntungan"
Seru Khu It cing pula. Kim Thi sia tertawa nyaring.
"Aku tak ambil perduli apapun perkataanmu,pokoknya aku merasa cukup beralasan untuk datang mencabut nyawamu"
"Tapi dendam kesumat atau permusuhan apa yang terjalin diantara kita berdua?"
"Kau tentu masih ingat bukan dengan nama-nama Yu Hong, Yu Klem, Li Beng poo......."
"Jadi kau datang demi mereka semua?"
"Tepat sekali ucapanmu itu."
"Tidak bisa.......tidak bisa......."
Cepat-cepat ciu tong kongcu menukas kembali.
"Sudah terlalu banyak anggota perkumpulanku yang tewas ditangan mereka.Jumlahnya tak tehitung dengan jari tangan, oleh sebab itu perkumpulan kami berhak untuk menuntut balas kepada pihak mereka."
"Aku tak ingin mencampuri urusan kalian masalah tersebut merupakan masalah kalian dengan pihak Tay sang pang sendiri."
"Tapi Khu It cing adalah ketua Tay sang pang jadi sudah sepantasnya bila kongcu yang menghadapi manusia"
Sambung ciu tong kongcu sambil tertawa hambar.
"Tapi...."
Kim Thi sia memang tak pandai berbicara untuk sesaat diapun menjadi kelabakan dan tak tahu bagaimana harus mengemukakan alasannya. Melihat itu ciu tong kongcu segera bertanya lagi.
"Apa alasanmu?"
Tiba-tiba Kim Thi sia teringat akan sesuatu, cepat-cepat serunya.
"Sebab kau sudah terlalu lama bertarung melawannya tanpa berhasil ditentukan siapa menang siapa kalah.Jadi aku cukup beralasan untuk mendapat giliran berikut"
Sipukulan sakti penggetar langit Khu It cing segera tertawa terbahak-bahak, selanya.
"Wahai Kim Thi sia, yakinkan kau untuk bisa mengungguli diriku?"
"Tentu saja."
"Kau tahu Kim Thi sia, aku sudah bertarung tiga ratusan jurus melawan Khu It cing...."
Sambung ciu tong kongcu cepat.
"Tapi sekarang aku hanya berharap bisa bertarung dalam tiga jurus saja melawannya."
"Tiga jurus?"
Ulang ciu tong kongcu dnegan wajah tertegun.
"Seandainya belum bisa ditentukan hasil akhirnya?"
"Tentu saja aku akan segera angkat kaki meninggalkan tempat ini"
Ciu tong kongcu segera termenung dan berpikir berapa saat lamanya, kemudian baru berkata.
"Jadi aku mengabulkan permintaanku?"
"Ehmm, aku bersedia untuk mengalah dan memberi kesempatan kepadamu untuk bertarung sebanyak tiga jurus melawan Khu It cing."
Sementara itu Khu It cing telah menjengek sambil tertawa keras.
"IHaaaah......haaaaah.......haaaaah....^...belumpernah kudengar ada orang yang mampu menentukan menang kalah melawanku dalam tiga jurus saja. Seandainya terjadi, sudah pasti batok kepalamu yang bakal berpindah tempat"
"Bagaimana akhir dari pertarungan nanti, lebih baik kita buktikan dengan kenyataan saja."
Ia segera menyarungkan kembali pedangnya, kemudian berseru lagi dengan nyaring.
"Khu It cing, kau tersohor karena ilmu pukulanmu, maka sekarang akupun hendak membunuhmu dengan tangan kosong."
"Kau hendak bertarung menggunakan tangan kosong? Haaaah......haaaaah.......haaaaah.........akan kulayani keinginanmu itu dengan senang hati."
Kim Thi sia tertawa keras pula, kepada ciu tong kongcu dia segera menjura seraya berkata.
"ciu tong kongcu memang tak malu menjadi anak murid perguruan kenamaan, kegagahan serta kesediaanmu untuk mengalah pada hari ini sungguh membuat hatiku amat terima kasih."
Ciu tong kongcu tidak berkata apa-apa dia hanya tersenyum sambil memberi hormat. Dalam pada itu Khu It cing sudah diliputi hawa amarah yang meluap-luap diam-diam ia berpikir.
"Kurang ajar, kau anggap aku sebagai barang rongsokan yang tak berguna sehingga bisa dioperkan semaunya sendiri?"
Tapi sebagai seorang jagoan yang berilmu tinggi dan berotak licik, sekalipun dalam hati kecilnya merasa amat gusar namun perasaannya itu tidak sampai diperlihatkan diwajahnya, dia tertawa seram kemudian berkata pelan-pelan.
"Kim Thi sia, kulihat kau begitu yakin bisa mengungguli diriku, sebetulnya kepandaian apa sih yang kau andaikan?"
"Tay goan sinkang"
"Haaaah? Tay goan sinkang? Masa kepandaian tersebut memiliki daya kekuatan yang hebat?"
Khu It cing berseru tertahan.
"Tepat sekali perkataanmu."
"Lantas ketiga jurus serangan yang manakah dari ilmu Tay goan sinkang yang memiliki kekuatan amat besar?"
"Tiga jurus serangan yang manapun"
"Jadi kau hendak menggunakan ketiga jurus serangan tersebut?"
"Hmmm, sekarang juga akan kupertunjukkan kepadamu."
Begitu selesai berkata, tiba-tiba saja pemuda itu melejit ketengah udara dengan kecepatan tinggi.
Lalu seperti seekor rajawali raksasa yang mementangkan sayapnya, dia menukik kebawah sambil melancarkan serangan, bentaknya keras-keras.
"Jurus pertama......."
Belum habis suara itu berkumandang, sebuah serangan yang amat dahsyat telah dilontarkan kebawah.
Khu It cing bukan manusia sembarangan sudah barang tentu dia tak akan tergetar perasaannya oleh ancaman tersebut.
Dengan sikap yang sangat tenang dia sambut datangnya serangan tersebut dengan kekerasan, lalu tegurnya.
"Apa nama jurus seranganmu yang pertama ini?"
"Jurus ini bernama Mati hidup di tangan nasib"
Bentak Kim Thi sia seraya membiaskan beratusratus bayangan pukulan yang amat menyilaukan pandangan mata.
"Itu mah sederhana sekali, coba lihat jurus matahari tenggelam disungai panjangku ini"
Seru Khu It cing. Dengan sebuah terjangan kilat ia sambut datangnya ancaman tersebut. ciu tong koncu yang melihat kejadian ini segera berseru sambil menghela napas ^ "Bagus sekali"
Kemudian bagaikan sedang bergumam ia berkata lebih jauh.
"Serangan dari Kim Thi sia kuat dan tangguh, sedangkan pukulan Khu It cing mantap dan berpengalaman, nampaknya dalam jurus serangan yang pertama ini menang kalah belum bisa ditentukan-"
Baru selesai perkataan tersebut diutarakan, dalam arena pertarungan sudah terjadi benturan yang amat keras.
"Blaaaammmm......."
Ditengah suara bentrokan yang memekikkan telinga serta beterbangannya pasir dan debu, terlihatlah Khu It cing serta Kim Thi sia telah berganti posisi tubuh masing-masing .
Mendadak terdengar Khu It cing berseru lagi.
"Berhati-hatilah kau Kim Thi sia."
Dengan cepat tubuhnya mendesak maju kemuka dan berseru kembali.
"Jurus seranganku ini bernama kuda berpekik angin berhembus"
Kim Thi sia segera menekuk pinggang samil memutar tangan, sahutnya keras-keras.
"Serangan yang hebat."
Telapak tangannya diputar kencang lalu menyongsong datangnya ancaman sambil berseru.
"Lihatlah jurus kejujuran meretakkan batu emasku ini......."
"Blaaaaammmm......."
Benturan yang terjadi kali ini berlangsung lebih keras dan dahsyat, jauh lebih hebat dari pada bentrokan yang pertama kali tadi.
Tampak pasir dan debu beterbangan mengakibatkan suasana menjadi amat kabur sehingga untuk seperminum teh lamanya orang susah untuk mengetahui hasil dari pertarungan tersebut.
Menyaksikan hal ini, ciu tong kongcu segera menghela napas panjang, serunya dengan perasaan terkejut.
"Sungguh tak disangka pertarungan yang berlangsung saat ini merupakan pertarungan terhebat yang pernah kusaksikan selama ini."
Semua orang hanya termangu, karena merekapun tidak mengerti apa yang dimaksudkan orang tersebut. Mendadak terdengar seseorang dari pihak Tay sang pang menegur keras.
"Hey ciu tong kongcu, kau bilang ilmu silatmu hebat, apakah kau bisa dengan menemukan sesuatu dari pertarungan ini?"
"Aku memiliki ketajaman mata yang luar biasa, tentu saja dapat kulihat semua kejadian dengan jelas^"
"Kalau begitu siapa yang menang siapa yang kalah didalam pertarungan jurus kedua ini?"
Sementara itu pasir dan debu sudah mulai membuyar secara pelan-pelan, kemudian tampaklah Khu It cing dan Kim Thi sia masih berdiri saling berhadapan dengan kaku.
Sikap mereka amat serius namun tak seorangpun yang tahu apa yang sedang mereka pikirkan sekarang.
Tapi ada satu hal yang pasti yakin kedua belah pihak sama-sama sudah merasa lelah dan kehabisan tenaga sesudah terjadinya pertarungan sengit tadi, dan sekarang mereka sedang memanfaatkan kesempatan yang ada untuk mengatur pernapasan.
Mendadak terdengar jagoan dari Tay sang pang tadi berseru lagi.
"Kalian coba lihat, paras muka ketua kita amat tenang dan wajar, tampaknya ia sama sekali tak terpengaruh oleh pertarungan yang barusan berlangsung......."
"Tapi aku lihat Kim Thi sia pun masih gagah perkasa dan bersemangat tinggi"
"Hmm, memangnya kau bisa mengikuti semua peristiwa dengan jelas?"
"Tentu saja, aku rasa Khu It cing mengangap tenaga dalamnya terlalu sempurna sehingga dalam serangannya tadi ia kombinasikan pukulan dengan ilmu jari Tay lek kim kong ci....."
"Ya benar, ilmu Tay lek kim kong ci memang merupakan ilmu silat andalan ketua kami."
"Hmm, ilmu silat itu memang licik, ganas dan hebat, suatu kepandaian yang susah dihadapi."
"Kalau dugaanku tak keliru, semestinya isi perut Kim Thi sia sudah mengalami luka parah bukan?"
"Hmm, justru sebaliknya."
"Maksudmu?"
"Tay goan sinkang milik Kim Thi sia mengandung unsur keras dan lembut, ia sama sekali tidak terpengaruh oleh serangan lawannya."
"Huuuh...... lebih baik jangan mengumpak. bagaimana hasil pertarungan kali ini?"
"Kenyataan yang berada didepan mata membuktikan bahwa menang kalah belum bisa ditentukan-....."
"IHmmm, ini berarti pada jurus ketiga akan diketahui dengan segera siapa yang paling tangguh."
Ciu tong kongcu tertawa dingin.
"Tepat sekali perkataanmu itu......"
Sementara mereka masih berbincang-bincang, Kim Thi sia sudah mulai menggerakkan tubuhnya pelan-pelan berjalan maju kemuka.
Sebaliknya Khu It cing dengan sepasang matanya yang tajam mengawasi tanpa berkedip setiap langkah tubuh musuhnya.
suasana menjadi tegang dan setiap saat suatu pertarungan yang dahsyat akan berkobar.
Tibatiba terdengar jagoan Tay sang pang tadi berseru lagi.
"Aku lihat, bagaimanapun juga kim Thi sia tetap adalah seorang bocah cilik yang belum pernah mengalami situasi seperti ini."
"Apa maksudmu berkata begini?"
Tanya ciu tong kongcu sambil tertawa.
"Bukankah keadaan sudah jelas terlihat lantaran takut maka tiada hentinya Kim Thi sia berusaha untuk menghindarkan diri."
"Atas dasar apa kau berkata begini?"
"coba kau lihat."
Sepintas lalu gerak gerik Kim Thi sia memang mirip orang yang ketakutan, setiap Khu It cing mengerakkkan tangannya melakukan sesuatu gerakan, pemuda tersebut selalu menghindar kesana kemari dengan cepat.
Tapi ciu tong kongcu agaknya berpendapat lain, setelah menyaksikan kejadian tersebut, ia segera berkata.
"Pendapat kalian itu keliru besar menurut pandanganku justru ketua kalian yang mulai dicekam oleh perasaan takut."
Jawaban tersebut tentu saja membuat para jago dari Tay sang pang jadi tertegun.
Namun kenyataan yang tertera didepan mata memang menunjukkan keadaan begitu.
Setiap kali Kim Thi sia menggerakkan tangannya, maka segera terlihatlah Khu It cing menggeserkan badannya secara panik untuk menghindar kian kemari.
Melihat kejadian mana, para jago dari Tay sang pang jadi tercengang dan gelagapan sendiri.
"Waaaah......kalau begini......kalau begini....."
"Kau tentu tak akan mengerti kenapa jadi begini bukan?"
Jengek ciu tong kongcu sambil tertawa nyaring.
"Hmmm, ketua kami gagah dan berilmu tinggi, siapa tahu ia sengaja berbuat begitu untuk menjebak lawannya?"
"Tak mungkin begitu, coba jawab dulu bukankah mereka berdua telah berjanji hanya akan bertarung sebanyak tiga gebrakan?"
"Benar"
"Dan sekarang jurus ketiga sudah menjelang tiba, bukankah menang kalah segera akan ditentukan?"
"Benar"
"Padahal dalam pertarungan yang menentukan begini maka kecepatan dan ketetapan sekarang sangat mempengaruhi hasil terakhir, itulah sebebanya mereka nampak agak tegang."
Sementara itu Kim Thi sia dan Khu It cing telah saling melancarkan serangan dengan kecepatan luar biasa.
Dalam waktu singkat kedua orang itu sudah bermandikan peluh, napasnya tersengkal-sengkal seperti dengusan napas kerbau.
Mendadak terdengar ciu tong kongcu berteriak keras.
"Bagus sekali"
"Apanya yang bagus?"
Tanya jagoan dari Tay sang pang itu dengan wajah tertegun.
"Aku.......aku merasa sangat gembira."
"Apa yang kau gembira kan?"
"Gerak serangan yang digunakan kedua belah pihak dalam serangan tadi sungguh indah dan mempunyai makna yang mendalam boleh dibilang jurus serangan mereka amat jarang ditemui didalam dunia persilatan."
Pada saat itulah terdengar suara jeritan ngeri yang memilukan hati bergema memecahkan keheningan.
Bersamaan dengan bergemanya suara pekikkan tadi, tampak Khu It cing mundur setengah langkah dengan sempoyongan.
Sipukulan sakti penggetar langit Khu It cing memang tak malu menjadi seorang pemimpin dunia persilatan, kendatipun tubuhnya terhajr oleh serangan musuh dan lukanya terletak pada bagian yang mematikan namun ia masih sanggup untuk mempertahankan diri.
Sebaliknya Kim Thi sia berdiri ditempat semula sambil tertawa dingin tiada hentinya.
la bersikap serius dan penuh wibawa bagaikan dewa.
Setelah berusaha keras untuk mempertahankan tubuhnya, sipukulan sakti penggetar langit Khu it cing memuntahkan darah segar.
Tiba-tiba Kim Thi sia menggerakkan tubuhnya beranjak dari posisi semula, kepada ciu tong kongcu katanya sembari menjura.
"Pertarungan tiga jurus telah berlalu, sayang tenaga ku kurang memadai sehingga gagal untuk membunuh Khu It cing, tapi aku berharap kongcu suka meneruskan usahaku yang gagal tadi dengan melenyapkan bibit bencana bagi umat persilatan ini dari muka bumi"
"Tak perlu sungkan-sungkan"jawab ciu tong kongcu sambil tertawa nyaring. Kemudian sambil menyerbu kedepan dengan jurus pasir dingin bayangan meluncur, dia terkam kehadapan musuhnya seraya membentak.
"Khu It cing, serahkan nyawamu sekarang"
Dalam pada itu, Khu It cing tidak menunggu lebih lama lagi ditempat tersebut, ketika selesai berkata tadi ia segera beranjak pergi meninggalkan tempat tersebut.
Belum jauh dia melangkah pergi, dari arah belakang sana sudah terdengar suara jeritan ngeri yang memilukan hati.
Menyusul jeritan yang mengerikan hati tadi, terdengar pula suara bentakan nyaring dari ciu tong kongcu.
Pertarungan sengit rupanya berkobar kembali, kawanan jago dari perkumpulan cahaya emas mulai melancarkan serbuannya untuk menumpas orang-orang dari perkumpulan Tay sang pang.
Tak lama kemudian terdengar lagi ciu tong kongcu membentak nyaring.
"Ketua Tay sang pang Khu It cing telah tewas ditanganku, kita jangan biarkan kawanan manusia dari perkumpulan Tay sang pang itu meloloskan diri dari sini. Mereka adalah orang-orang jahat yang tak boleh diampuni, bantai saja sampai tumpas......"
Ucapan tersebut bagaikan perintah saja, segenap jago dari perkumpulan cahaya emas serentak memperketat serangannya dan membantai musuhnya habis-habisan.
Kim Thi sia dapat mendengar suara jeritan kesakitan yang bergema tiada hentinya itu, namun ia tak ambil perduli, sambil tertawa terbahak-bahak pemuda ini malah mempercepat langkahnya meninggalkan tempat itu.
Entah berapa lama ia sudah menempuh perjalanan, akhirnya sampailah pemuda tersebut disebuah tebing bukit yang amat sepi.
Mendadak dari balik keheningan malam yang mencekam tanah perbukitan itu, secara lamatlamat ia mendengar ada orang yang sedang bercekcok sengit.
Kim Thi sia segera dibuat terkejut bercampur keheranan setelah mendengar suara percekcokan itu, dengan langkah cepat ia memburu kemana berasalnya suara tadi.
Akhirnya ia memilih sebuah batu cadas yang tingginya mencapai dua kaki untuk menyembunyikan diri dari pengintaian orang lain-Ketika ia mencoba untuk melongok kearah tebing tersebut segera terlihatlah cahaya senjata yang berkilauan memenuhi angkasa, rupanya pertarungan seru sedang berlangsung ditempat itu.
Bukan hanya begitu, diapun merasa suara caci maki yang bergema berasal dari suara seseorang yang amat dikenalnya.
Terdengar salah seorang diantara mereka yang bertarung itu berseru lantang.
"Demi mendapatkan mutiara penenang angin dari gedung Siau yan lo, aku telah membuang banyak pikiran dan tenaga untuk mendapatkannya. Eee tahunya kau hendak mengangkanginya sendiri sekarang....."
Suara seorang lagi segera menyerocos keluar.
"IHmmm, kau anggap aku tidak membuang banyak pikiran dan tenaga untuk mendapatkan mutiara mestika ini.....?"
"Baiklah, kalau begitu mari kita tentukan pemilik mutiara tersebut lewat suatu pertarungan-"
"Hmm, boleh-boleh saja, asaikan kau bisa menangkan diriku biar setengah juruspun, aku pasti akan serahkan mutiara mestika itu kepadamu."
"Bagus sekali, kita tetapkan dengan sepatah kata ini. Hmmm, terus terang saja aku bilang, aku tak akan takut terhadap ilmu silat cakar kucingmu itu....."
Pertarungan sengitpun segera berkobar kembali dengan ramainya.
Dalam pada itu Kim Thi sia telah dapat melihat dengan jelas raut muka dua orang yang sedang bertarung itu.
Ternyata mereka berdua tak lain adalah si Pencuri ulung dari utara Yoji kian dan pencuri sakti dari selatan Ho Tay hong.
Satu ingatan dengan cepat melintas dalam benaknya, pemuda itu segera berpikir.
"Aneh betul, kenapa si pencuri ulung dari utara saling bertarung sendiri dengan pencuri sakti dari selatan? Apa gerangan yang telah terjadi dengan mereka berdua?"
Sekalipun Kim Thi sia tahu bahwa mereka berhasil mencuri mutiara mestika Teng Hong cu dari gedung Siau yan lo, lagi pula diapun tahu bahwa mutiara Teng hong ci merupakan mestika dari perkumpulan Tay sang pang, namun satu hal membuatnya tak habis mengerti yaitu mengapa kedua orang pencuri yang semula bersahabat kini malah saling membantai sendiri?
Sementara dia masih ragu-ragu, mendadak terdengar si pencuri dari selatan berteriak keras.
"Bagaimana kunyuk?Bila kau belum puas aku akan menyerang sekali lagi...."
"Hmmm, enam gebrakan sudah kita lalui tanpa berhasil diketahui siapa yang menang dan siapa yang kalah"
Ucap pencuri dari utara cepat.
"Sayang Kim Thi sia tak ada disini kalau dia berada ditempat ini dia pasti bisa memberikan penilaian yang adil."
Mendengar ucapan tersebut, si pencuri dari selatan Ho Tay hong segera tertawa tergelak.
"Haaah.....haaaah.....haaaah.....persoalan yang kita hadapi sekarang adalah mutiara Teng hong cu, apa sangkut pautnya dengan Kim Thi sia?"
"Hey, kau masih ingat bukan, sebelum kita berhasil mencuri mutiara Teng Hong ci dari gedung Siau yan lo, akulah yang pertama kali menemukan jejak Kim Thi sia. Apakah kau sudah melupakannya?"
"Haaah.....haaaah.....haaaaah.....omong kosong"
Tukas pencuri dari selatan sambil tertawa seram.
"Waktu itu Kim Thi sia tertotok jalan darah kakunya ditangan si burung hong Lam Peng dari wilayah Biau. Andaikata bukan aku yang membebaskan pengaruh totokannya, memangnya kita bisa berhasil mendapatkan mutiara tersebut? Sudahlah, tak usah banyak ngebacot lagi, bila kau memang mengaku kalah, mutiara Teng hong ci akan segera kubawa pergi. Mulai detik kini kitapun tak usah bekerja sama lagi...."
Agaknya sipencuri ulung dari utara menjadi naik pitam setelah mendengar kata-kata yang sombong itu, dengan amarah yang berkobar teriaknya.
"Kita sama-sama terhitung lelaki tinggi hati, baiklah, kita tak usah banyak bicara lagi. Asal kau dapat mengalahkan aku hari ini, aku segera akan menyerah kalah. Kalau tidak......hmmm Lebih baik tak usah bermimpi disiang hari belong."
Maka pertarungan sengitpun kembali berlangsung dengan hebatnya disitu.
Lama kelamaan Kim Thi sia tidak tega juga melihat adegan tersebut, dengan cepat ia munculkan diri dari balik batu, lalu teriaknya kepada mereka berdua keras-keras.
"Hey, sobat berdua, hentikan pertarungan kalian"
Bentakan yang bergema sangat mendadak ini amat mengejutkan dua orang pencuri yang sedang bertarung itu, serentak mereka menghentikan serangan masing-masing.
Begitu mengetahui siapa yang datang, dengan penuh bersemangat si pencuri selatan berteriak.
"Bagus sekali kedatanganmu Kim Thi sia, ayoh cepat kemari."
Sementara itu sipencuri utara berteriak pula.
"Hey, sungguh tak kusangka kau malah menonton pertarungan dari situ ayoh kesini."
Tidak sampai perkataan mereka berdua selesai diutarakan, Kim Thi sia telah melompat kehadapan mereka dengan kecepatan tinggi.
Memandang wajah kedua orang itu mendadak pemuda kita merasa kegelian sehingga tertawa terbahak-bahak.
Tentu saja pencuri selatan dan pencuri utara dibuat kebingungan setengah mati, mereka tak habis mengerti kenapa si anak muda itu tertawa tergelak secara tiba-tiba.
Si pencuri ulung dari utara segera menarik kembali pedang Go binya yang tajam, lalu sambil menatap anak muda tersebut lekat-lekat, tegurnya keras.
"Kim Thi sia, apa sih yang kau tertawakan?"
Sementara itu Kim Thi sia masih tertawa tiada hentinya, saking kerasnya dia tertawa sehingga seluruh tubuhnya bergoncang keras.
Lama kelamaan habis sudah kesabaran si pencuri dari selatan, ia menepuk bahu si anak muda itu dan tegurnya.
Jilid 53
"Kim Thi sia, ayoh Cepat katakan, apa yang sebenarnya kau tertawakan. ......? "
Pelan-pelan Kim Thi sia menarik kembali gelak tertawanya dan mengambil tempat duduk diatas sebuah batu besar, lalu dengan pandangan yang meyakinkan dia mengawasi sekejap kedua orang tersebut.
Sikap serius dan bersungguh-sungguh yang mendadak diperlihatkan Kim Thi sia itu sekali lagi membuat sipencuri dari selatan dan pencuri dari utara dibuat kebingungan setengah mati.
Akhirnya kedua orang pencuri ini saling berpandangan sekejap yang bersih untuk duduk bersila.
Suasana menjadi hening untuk sesaat....
Mendadak sipencuri dari selatan menengok sekejap kewajah Kim Thi sia, lalu dengan tak senang hati ia menegur.
"Hey kenapa kau? Kim Thi sia, mengapa kau hanya membungkam diri dalam beribu bahasa?"
Kim Thi sia sama sekali tidak menjawab pertanyaan itu, dia menghela napas panjang. Sesaat kemudian pemuda itu baru berkata dengan wajah serius.
"Pantangan pertama bagi umat persilatan adalah saling bunuh membunuh, kenapa kalian berdua justru saling gontok-gontokan sendiri ditempat yang sepi begini? Apa lagi artinya sesama teman saling menyerang?"
Mendengar perkataan itu, gemas dan mendongkol sipencuri dari selatan berseru.
"Maknya, aku masih mengira kau mempunyai sesuatu pendapat yang hebat, tak tahunya cuma mengucapkan kata-kata yang membosankan begitu."
"Tidak. aku tidak berbicara sembarangan-Aku berkata menurut suara hatiku sendiri."
"Apakah kau tidak mengetahui tujuan dari kedatangan kami kemari.......?"
Seru sipencuri selatan-Pelan-pelan Kim Thi sia mengangguk. Melihat itu sipencuri dari selatan segera berkata lebih jauh.
"Selama aku sipencuri dari selatan berkelana didalam dunia persilatan, maka disaat kita pergi mencuri mutiara Teng hoo cu di gedung Siau yan lo, tentunya kaupun memahami bukan apa maksud dan tujuan yang sebenarnya.......?"
"Aku tahu, tujuan kalian dalam mencuri mutiara Teng hong cu adalah untuk menolong kaum rakyat yang menderita akibat bencana serta membantu mereka untuk meringankan penderitaan."
"Benar, memang begitulah maksud tujuan ku, siapa tahu sipencuri dari utara ini justru mengacau rencana tersebut, maka......"
Tidak sampai perkataan tersebut selesai diutarakan, Kim Thi sia telah menukas dengan cepat.
"oleh karena itu kalian berdua melangsungkan pertarungan mati-matian disini?"
Sipencuri dari utara tidak ambil diam, dengan cepat dia menimbrung.
"Terus terang saja aku bilang, nama serta kedudukanku sebagai sipencuri utara dalam dunia persilatan cukup tinggi dan terhormat, tapi hari ini aku mesti berjuang keras, tentunya nama baikku itu tak boleh dirusak orang lain dengan begitu saja bukan?"
"Kalau begitu kalian telah bersikeras akan melangsungkan pertarungan mati-matian pada hari ini?"
Baik sipencuri dari selatan maupun pencuri dari utara, mereka serentak menganggukkan kepalanya berulang kali.
Kim Thi sia jadi kebingungan, ia segera bangkit berdiri dan berjalan bolak balik tak hentinya, dia seperti lagi memutar otak untuk memecahkan masalah tersebut.
Selang berapa saat kemudian Kim Thi sia baru berkata.
"Kalau toh kalian berkeinginan untuk beradu kepandaian disini. Baiklah, akupun bersedia menyumbangkan ide kepada kamu berdua."
Begitu ucapan tersebut diutarakan, kedua orang pencuri sakti itu menjadi terkejut, katanya kemudian-"Menurut pendapatku, ada baiknya kalian memilih sebuah batu cadas sebagai arena pertarungan."
"Apa yang harus kami lakukan?"
Tanya pencuri dari selatan ragu-ragu.
"Kalian berdua harus menutupi mata kalian dengan secarik kain, kemudian tapi boleh aku akan menjadi wasitnya, bila aku sudah menghitung sampai angka ketiga, kalian boleh segera mulai."
"Mulai untuk apa?"
Tanya pencuri dari utara gelisah.
"Mulai saling meraba, siapa yang terjatuh lebih dulu dari atas batu cadas tersebut, dia harus dianggap kalah."
"Tapi..... apa maksudmu?"
"Maksudnya kalian boleh bertarung tapi bukan bertarung yang membahayakan jiwa sebagai jago-jago lihay didalam dunia persilatan bukan cuma ilmu Silatnya yang tangguh, akal dan kecerdikanpun harus dipuji. Sebab hanya orang yang berakal cerdik yang pantaS disebut jagoan hebat."
Kedua orang itu segera berunding sendiri berapa saat, akhirnya setelah saling berpandangan sekejap mereka menyahut.
"Baiklah, kita boleh segera mencoba?"
Dengan cepat Kim Thi sia mengambil sapu tangan mereka dan menutupi sepasang mata pencuri selatan kemudian pencuri utara, lalu mereka berdua diajaknya naik keatas batu besar.
Mendadak terdengar sipencuri dari utara berseru.
"Hey Kim Thi sia, aku hendak bicara dulu."
"Apa yang hendak kau ucapkan? Katakanlah......"
"Aku hanya berharap sampai waktunya nanti sipencuri dari selatan jangan mengingkari janji lagi."
Pencuri dari selatan menjadi sangat marah, teriaknya.
"Aah, kau si keparat hanya bisa menilai orang lain dengan pikiran yang picik, bila kali ini kau benar-benar kalah, tak akan kuingkari janjiku lagi....."
"Bagus......"
Sementara itu Kim Thi sia merasa amat kegelian, tapi ia berusaha menahan diri, setelah menempatkan kedua orang yang bermusuhan itu pada posisi masing-masing, dia sendiripun berkemak kemik dengan suara lirih.
Dengan perasaan keheranan sipencuri dari selatan segera bertanya.
"Kim Thi sia, apa yang sedang kau lakukan?"
"Aku sedang mendoakan kalian berdua?"
"Mendoakan apa?"
"Aku berdoa agar kalian berdua bisa meraih kemenangan dengan mengandaikan kecerdikan"
"Sudah, sudahlah, ayoh cepatan sedikit memberi aba-aba."
Dengan suara keras Kim Thi sia mulai menghitung.
"Satu....dua....tiga......"
Begitu angkat ketiga disebutkan, pencuri dari utara dan selatanpun mulai saling meraba diatas batu cadas yang lebarnya cuma berapa kaki itu.
Kim Thi sia menyaksikan perbuatan kedua orang itu dari sisi arena, ia merasa amat kegelian-Entah berapa lama lewat.....
Tiba-tiba ia mendengar ada suara orang yang terjatuh dari atas batu, ketika ia berpaling, tampaklah sipencuri dari utara dan pencuri dari selatan saling berangkulan satu sama lainnya.
Bahkan mereka berdua sama-sama terjungkal dari atas batu.
Dengan cepat kedua orang itu melepaskan sapu tangan yang menutupi mata masing-masing.
Pencuri dari selatan segera merangkak bangun dari atas tanah, kemudian serunya.
"Tidak bisa, tidak bisa. Kim Thi sia, kalau mesti berbuat begini, mak selamanya kita tak akan mendapatkan jawabannya."
Sedangkan sipencuri dari utara segera mengomel.
"Hmmm, Kim Thi sia, kau rupanya memang sengaja berbuat begini untuk mempermainkan kami......"
"Siapa bilang aku berniat mempermainkan kalian?"
Bantah Kim Thi sia.
"Tujuanku yang terutama adalah tidak berharap kalian saling membacok, akupun tak berharap kalian gontokgontokan sendiri, maka....."
"Maka ia berpaling sengaja mempermainkan kami, agar kami berdua tersiksa?"
Sambung pencuri dari selatan-"Tidak,^ aku sama sekali tidak bermaksud begitu, jika kalian masih bersikeras hendak saling beradu jiwa. Yaa apa boleh buat, terpaksa aku harus angkat kaki dari sini."
Sipencuri dari selatan kelihatan agak sangsi sebentar, akhirnya diapun berkata.
"Baiklah, bila ingin pergi, kau boleh sekarang. Kim Thi sia sampai berjumpa lagi lain waktu......"
"Apakah kalian bersikeras hendak saling membunuh, apakah kalian belum puas bila salah seorang diantara kalian tewas?"
Tanya Kim Thi sia kemudian-Sipencuri dari selatan tertawa terbahak-bahak.
"Haah....haaaah...^.asal mutiara Teng hong cu berada ditanganku, urusan bisa diselesaikan. Kalau tidak, silahkan memenggal batok kepalaku lebih dulu."
Sipencuri dari utara segera tertawa dingin.
"Heeeeh.....heeeeh.....heeeeh.....kalau begitu biar kupenggal batok kepalamu."
Begitu selesai berkata, dia segera melepaskan sebuah pukulan dengan jurus "
Matahari terbenam dibalik sungai".
Bersamaan waktunya ia mendesak maju kedepan dan mengancam jalan darah Tiong teng hiat, Impoh hiat dan Hiat hay hiat ditubuh lawan.
Reaksi dari pencuri setan benar-benar amat cepat, belum lagi deruan angin serangan musuh meluncur datang, pedangnya telah meluncur lebih dulu kedepan dengan jurus "pencabut nyawa berdiri tegak"
Berkuntum-kuntum bunga pedang menyelimuti seluruh angkasa dengan cepat.
Pertarungan sengitpun kembali berkobar.
Sesungguhnya Kim Thi sia berusaha untuk mencegah berkobarnya pertarungan, tapi sayang keadaan sudah terlambat.
Melihat keadaan tersebut, tanpa terasa ia menghela napas panjang sambil berpikir.
"Aaai....tampaknya soal mana, kedudukan dan harta hanya menjadi bibit bencana bagi umat manusia, hanya gara-gara mutiara Teng hong cu saja kedua orang pencuri yang telah berusia lanjut itu harus saling gontok-gontokkan sendiri macam anak kecil saja. Aaai....benar-benar keterlaluan......"
Berpikir sampai disitu, ia segera menjura seraya berseru.
"cianpwee berdua, aku benar-benar tak sanggup untuk menyelesaikan urusan kalian-Maaf kalau terpaksa aku harus mohon diri"
Baik pencuri selatan maupun sipencuri utara sama-sama tidak menggubris teriakan itu, mereka telah memusatkan pikiran dan pertarungannya dalam pertarungan itu.
Dengan perasaan berat Kim Thi sia pun berpisah dengan mereka dan meneruskan perjalanannya.
Dengan ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya sekarang pemuda itu bergerak dengan kecepatan luar biasa, sekejap mata kemudian berpuluh-puluh li sudah dilewati tanpa terasa.
Suatu ketika Kim Thi sia mendengar suara deruan angin puyuh yang dingin menyeramkan berhembus datang.
Sebagai seorang jagoan, Kim Thi sia segera merasakan sesuatu yang aneh, cepat-cepat dia menghentikan langkahnya sambil melakukan terhadap sekeliling tempat itu.
Tapi sungguh aneh, ia tak berhasil menemukan sesuatu apapun disekitar tempat itu bahkan yang terlihat disekitar sanapun hanya sebuah hutan yang gelap gulita.
Dengan langkah yang amat berhati-hati, pemuda itu menelusuri hutan dan menyelinap diantara pepohonan untuk mencari sumber suara aneh tadi.
Akhirnya setelah melalui hutan yang lebar ia menemukan sebuah jalan setapak yang amat sempit.
Di ujung jalan tadi terpancang sbeuah tugu dengan beberapa tulisan yang amat besar, tulisan tersebut berbunyi begini.
"Aku yang membuka jalan ini, aku yang membeli tempat ini, bila ada yang ingin lewat, tinggalkan dulu batok kepalamu."
Membaca tulisan mana, Kim Thi sia pun berpikir.
"Sungguh tak disangka aku akan menjumpai tulisan semacam ini ditengah hutan yang terpencil begini, benar-benar suatu kejadian yang sangat aneh....."
Dengan cermat sekali lagi berapa huruf yang berarti.
"Ditulis oleh orang Tiang Pek san."
Siapakah orang Tiang pek san yang dimaksud?
Kim Thi sia tidak habis mengerti tapi timbuljuga rasa ingin tahu didalam hatinya.
Sementara pemuda itu masih ragu-ragu mengambil keputusan, tiba-tiba......
Dari balik keheningan bergema suara gelak tertawa yang amat menyeramkan.
Suara tertawa itu amat keras dan amat menusuk pendengaran-Kim Thi sia tertegun dibuatnya, ia segera sadar bahwa manusia yang menyebut diri sebagai orang Tiang pek san itu merupakan seorang tokoh persilatan yang berilmu tinggi.
Kalau tidak.
mustahil gelak tertawanya dapat menimbulkan getaran sekeras ini.
Dengan suatu gerakan yang cepat Kim Thi sia meloloskan pedang Leng gwat kiamnya dan bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan.
Menyusul suara gelak tertawa yang amat mengerikan tadi, terdengar pula seseorang menegur dengan lantang.
"Haaah.....haaaah......bajingan busUk dari mana yang berani membUat keonaran disini?"
Belum sempat ingatan kedua melintas lewat dalam benaknya, Kim Thi sia telah menyaksikan seorang kakek ceking berambut putih telah melayang turun dihadapannya.
Kakek ceking itu memiliki sepasang mata yang tajam menggidikkan, diatas bibirnya tertera sebuah codet bekas bacokan golok sepanjang tiga inci, dandanan maupun potongan mukanya memberi kesan yang menyeramkan bagi siapapun yang memandang.
Namun Kim Thi sia tidak merasakan kesan seram tersebut, malah pikirnya dihati.
"Ia bisa bercokol disini dengan peraturannya, pasti dikarenakan sesuatu alasan tertentu."
Karena berpendapat begini, Kim Thi sia segera menjura seraya menegur.
"Tolong tanya cianpwee, mengapa kau bercokol disini dengan peraturan yang begitu aneh?"
Orang Tiang pek san itu tersenyum sahutnya.
"Haaaah.....haaaah.....haaaah......sudah cukup lama aku siorang gunung menanti disini"
"Boleh aku tahu cianpwee, apa yang sedang kau nantikan?"
Kim Thi sia makin tercengang.
"Aku sedang menantikan kedatangan dari para jago lihay dunia persilatan dan menantang mereka untuk berduel."
Kim Thi sia semakin keheranan lagi setelah mendengar perkataan itu, kembali dia berkata.
"cianpwee, apa maksudmu menunggu para jago dan mengajak mereka berduel?"
Kali ini orang dari Tiang pek san itu tertawa seram.
"Haaaah.....haaaaah......."
"cianpwee, apa yang gelikan?"
"Aku geli terhadap CeCunguk ingusan macam dirimu itu, ternyata kaupun berani berlagak didepanku. Hmmm, tidakkah hal ini menggelikan."
Sikap congkak dan tinggi hati dari orang ini dengan cepat mendatangkan kesan jelek dihati kecil Kim Thi sia, namun dia pun berusaha untuk menghindarkan diri dari pertarungan tak berguna.
Karenanya sambil tertawa paksa kembali pemuda itu berkata.
"Akupun mengerti, cianpwee bisa bercokol disini tentu disebabkan sesuatu alasan. Bolehkah kau utarakan alasan tersebut sehingga akupun ikut tahu, bila ada sesuatu yang kurang jelas, aku Kim Thi sia bersedia pula membantu."
"Aku Sun It tiong orang Tiang pek san selalu malang melintang seorang diri. Hmmm, dulu dengan susah payah kucari si raja pedang berbaju putih dan mengangkatnya menjadi guru dengan harapan bisa mempelajari ilmu silat yang tangguh, tak disangka akhirnya guruku itu mati disaat bertarung melawan Malaikat pedang berbaju perlente, itulah sebabnya aku melatih diri disini sambil menanti saatnya untuk melakukan pembalasan dendam."
"Waaah, sungguh tak kusangka cianpwee adalah murid kesayangan si Raja pedang berbaju putih, maaf, maaf."
Belum habis pemuda itu berbicara, dengan gusar orang Tiang pek san itu memotong.
"Siapa kau? cepat sebutkan namamu."
Kim Thi sia mengangguk pelan, katanya.
"Aku adalah Kim Thi sia anak murid Malaikat pedang berbaju perlente...."
Begitu mengetahui siapa yang dihadapi, amarah orang Tiang pek san itu semakin membara, serunya cepat.
"Bagus sekali, sudah tiga tahun lamanya aku menanti disini, akhirnya kau munculkan diri juga disini."
"Tapi cianpwee, diantara kita berdua toh tak pernah terjalin permusuhan apapun, mengapa kau menunjukkan sikap bermusuhan terhadapku.....?"
Seru Kim Thi sia tercengang. orang Tiang pek san itu segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.
"Haaah....haaaah.....haaaah.....kautahu, apa sebabnya aku Sun It tiong hidup menyendiri dalam jangka waktu yang lama ditempat seperti ini? Tak lain harapanku adalah suatu saat bisa bertarung melawan anak muridnya Malaikat pedang berbaju perlente serta melampiaskan rasa dendamku"
Kim Thi sia segera tersenyum.
"cianpwee, kau tak usah gusar, bila ada persoalan katakan saja seCara terus terang mari kita selesaikan seCara baik-baik."
Tapi orang Tiang pek san itu sama sekali tidak menggubris, tiba-tiba saja ia mendongakkan kepalanya dan berhembus keras-keras keatas sebatang ranting pohon-Entah bagaimana jadinya, tahu-tahu saja ranting sepanjang lima enam kaki itu sudah terpapas kutung dan terjatuh keatas tangannya.
Menyaksikan kelihaian musuhnya, diam-diam Kim Thi sia merasa terperanjat sekali.
Terdengar orang Tiang pek san itu berkata lagi.
"Marilah bocah muda, hari ini kau telah muncul diwilayahku, bila ingin berlalu dari sini maka kalahkan dulu aku."
Seusai berkata, kembali segulung desingan angin tajam berkelebat kemuka dengan hebatnya. Kim Thi sia segera meloloskan pedang Leng gwat kiamnya, lalu berkata dengan tenang.
"Baiklah, kalau toh cianpwee berkeinginan untuk melangsungkan pertarungan, Kim Thi sia tentu akan melayani keinginanmu itu"
Sambil menggetarkan pedang Leng gwat kiamnya, pemuda tersebut melancarkan sebuah terkaman kilat kedada orang Tiang pek san-Merasakan datangnya serangan yang begitu hebat, orang Tiang pek san itu buru-buru mengeluarkan jurus "cecak mendaki gunung."
Untuk meloloskan diri dari ancaman yang tiba.
dalam waktu singkat pertarungan berlangsung dengan serunya, tiga ratus gebrakan kemudian keadaan tetap berimbang.
Kim Thi sia yang diserang terus menerus akhirnya marah juga dibuatnya, darah mudanya membuat pemuda tersebut menyerang makin bersemangat.
Secara beruntun dia melancarkan serangkaian serangan mautnya dengan jurus-jurus tangguh dari ilmu pedang panca Buddha, ia berusaha menekan lawannya sampai kepayahan.
Namun orang Tiang pek san itupun tidak jeri, sebaliknya dia justru mengembangkan pula ilmu silat andalannya untuk melancarkan serangan balasan.
Terdengar ia berseru sambil menyerang dengan gencar.
"Bocah keparat, bila aku tak mampu membelah dua tubuhmu dengan jurus serangan ini, percuma aku dipanggil orang Tiang pek san-"
Kim Thi sia tak mau kalah, ia segera balas mengejek.
"Hmmm, dulu gurumu siraja pedang berbaju putih pun keok ditangan guruku sudah dapat dipastikan kaupun bukan tandinganku hari ini, lebih baik cepat-cepat menyerah kalah saja?"
Sambil mengcjek pemuda itu segera mengancam jalan darah Ki hay hiat, to boan hoan hiat, Koan ciau hiat dan Thian teng hiat dengan jurus "naga sakti muncul disamudra."
Orang Tiang pek san bukanlah jagoan sembarangan, merasakan datangnya ancaman yang begitu hebat, cepat-cepat dia punahkan ancaman dengan gerakan "menggeser bayangan memindah posisi", lalu teriaknya.
"Bocah kunyuk, sungguh tak kusangka ilmu silatmu hebat sekali, tak malu kau menjadi anak muridnya Malaikat pedang berbaju perlente"
Kim Thi sia sama sekali tidak menggubris tiba-tiba ia menyelinap kebelakang punggung orang Tiang pek san dengan gerakan "sepasang walet terbang berbareng".
Baru saja pedang Leng gwat kiamnya siap menusuk punggung lawannya tiba-tiba siorang Tiang pek san itu membalikkan badan, lalu melepaskan sebuah serangan balasan-"
Duuuukkkk. ......"
Diluar dugaan serangan tersebut bersarang didada Kim Thi sia dengan telak.
Pemuda itu segera mengeluh dan memuntahkan darah segar.
Menyaksikan musuhnya terluka, orang Tiang pek san tertawa senang, ejeknya.
"Haaaah.....haaaah.....haaaaah.....bagaimana rasanya? Sekarang kau si kunyuk pasti sudah mengetahui bukan akan kelihayan aku si orang Tiang pek san?"
Kim Thi sia mendengus dingin, biarpun dadanya terhajar sampai memuntahkan darah segar, namun berkat ilmu ciat khi mi khi nya yang lihay, kejadian tersebut sama sekali tidak berpengaruh banyak terhadap kekuatan badannya.
Dengan badan bergetar keras Kim Thi sia bangkit berdiri kembali, serunya lantang.
"cianpwee, tahukah kau bahwa aku, Kim Thi sia termashur didalam dunia persilatan sebagai manusia yang paling susah dihadapi?"
Orang Tiang pek san itu menjadi semakin mendendam dan marah setelah menyaksikan Kim Thi sia tidak roboh akibat serangannya dengan kesal dan geram ia berteriak.
"Aku tak perduli kau susah dihadapi atau tidak. pokoknya hari ini kau si kunyuk harus mampus disini"
Berbicara sampai disitu, kembali ia menggerakan ranting pohonnya melancarkan serangan.
Kim Thi sia tak sudi menunjukkan kelemahannya, dengan pedang Leng gwat kiam nya ia melancarkan serangan balasansekali lagi pertarungan sengit berkobar dengan hebatnya.
Tiga kentongan sudah pertarungan itu berlangsung, baik Kim Thi sia maupun si orang Tiang pek san, kini kedua belah pihak sama-sama sudah kehabisan tenaga dan keCapaian setengah mati.
Mendadak terdengar si orang Tiang pek san itu berteriak keras.
"Bocah keparat, hari ini aku telah merasakan sampai dimanakah kelihayan ilmu silatmu, bagaimana kau sekarang kita beristirahat dulu kemudian baru dilanjutkan pertarungan ini setelah fajar nanti?"
Mendengar perkataan tersebut, Kim Thi sia tertawa seram.
"Heeeh....heeeeh.....bila cianpwee sudah mengaku kalah, aku Kim Thi sia akan menyudahi pertarungan sampai disini saja, kalau tidak, hmmm Jangan harap bisa lolos dari ujung pedang leng gwat kiam ku."
Orang Tiang pek san itu menjadi geram, serunya jengkel.
"Bocah keparat, kau tak usah sombong, biarpun harus mampus diujung pedangmu sekarang, akupun rela, ayoh maju"
Sambil berkata ia langsung menerkang kedepan Kim Thi sia dengan jurus "sukma gentayangan menggapai angin-"
Tapi Kim Thi sia sudah bertekad akan mengakhiri pertarungan tersebut secepat mungkin, begitu musuhnya datang menyerang, ia segera mengeluarkan jurus "naga sakti bermain dilaut"
Untuk menggempur lawan-Betapa kagetnya si orang Tiang pek san itu ketika secara tiba-tiba bahu kirinya sudah tergempur oleh serangan musuh, tak ampun tubuhnya mundur berapa langkah dengan sempoyongan-Kim Thi sia tidak ambil diam, secara beruntun dia melancarkan dua serangan lagi untuk membacok lengan kanan lawan-Dengan usia si orang Tiang pek san yang telah lanjut lagipula tenaga dalamnya sudah banyak berkurang, bagaimana mungkin ia sanggup melawan serangan musuh yang begitu gencar?
Tak bisa dihindari lagi, kengan kanan orang Tiang pek san itu tertusuk tepat oleh serangan pemuda itu, darah segar bercucuran keluar dengan derasnya.
Merasakan keadaannya semakin terdesak.
orang Tiang pek san itu menjadi marah bentaknya.
"Bocah keparat, jangan engkau kira setelah berhasil menusuk lenganku dua kali maka aku si orang Tiang pek sanjadi takut kepadamu. Hmmm kalau jantan, ayoh majulah."
Seraya berkata, dia segera mengeluarkan jurus "pekerja langit membuat tangga"
Siap untuk merobohkan musuh.
Kim Thi sia mendengus dingin, dengan suatu gerakan cepat dia membalikkan badannya menggunakan jurus burung walet kembali kesarang, lalu secepat kilat menusuk kedada orang Tiang pek san itu.
Di luar dugaan, siorang Tiang pek san itu sama sekali tak bergerak dari posisinya semula, ia tidak nampak berusaha untuk berkelit ataupun melancarkan serangan balasan tubuhnya berdiri kaku bagaikan patung.
Dengan keheranan Kim Thi sia segera menegur.
"Cianpwee, meng apa kau tidak berusaha untuk bercelit ataupun menghindarkan diri dari seranganku ini?"
Pelan-pelan orang Tiang pek san itu membuka matanya kembali, kemudian menjawab.
"Sungguh tak disangka setelah malang melintang dalam dunia persilatan selama puluhan tahun tanpa tandingan, akhirnya aku si orang Tiang pek san harus......."
"Kenapa kau Cianpwee?"
Buru-buru Kim Thi sia menukas.
"Sungguh tak disangka aku telah menderita kekalahan total ditangan seorang pemuda ingusan pada hari ini, dengan kekalahan tersebut, bagaimana mungkin aku punya muka untuk berkelana lagi didalam dunia persilatan?"
"Cianpwee"
Kim Thi sia mencoba menghibur.
"Memang kalah adalah suatu kejadian yang lumrah dalam setiap pertarungan, meng apa sih persoalan tersebut harus dipikirkan?"
Orang Tiang pek san itu tidak berkata-kata, ia cuma berdiri tertegun disitu tanpa bergerak, sementara sepasang matanya mengawasi Kim Thi sia tanpa berkedip.
Menyangka musuhnya amat berputus asa, buru-buru Kim Thi sia memberi hormat seraya berkata.
"Cianpwee, maafkan aku bila aku telah bertindak kurang hormat kepadamu tadi."
Belum habis perkataan tersebut diutarakan mendadak orang Tiang pek san itu menerobos maju kedepan dan merebut pedang Leng gwat kiam ditangan Kim Thi sia dengan kecepatan luar biasa.
Dengan amat cekatan Kim Thi sia melompat mundur beberapa langkah kebelakang lalu serunya.
"Locianpwee, apa...... apa maksudmu?"
Setelah berhasil merampas pedang Leng gwat kiam dari tangan Kim Thi sia tadi, si orang Tiang pek san itu sama sekali tidak menggunakannya untuk melancarkan serangan, sebaliknya sambil mendonggakkan kepala ia menghela napas panjang.
"oooh suhu....."
Keluhnya.
"Dalam masa hidupku saat ini tak mungkin aku si orang Tiang pek san membalaskan dendam bagimu tampaknya hal ini hanya bisa dibicarakan dalam penitisan mendatang..^..."
Kemudian ia berdiri kaku ditempat tersebut, sikapnya persis seperti sebuah patung tembaga. Bukan cuma begitu, malah sambil menatap kearah Kim Thi sia, dia seolah-olah berkata begini.
"Sobat, apa gunanya kita mesti bertarung? Apa gunanya kita mencari nama besar dan kedudukan?"
Kemudian dengan sekali ayunan pedang tahu-tahu ia telah menghujamkan pedang Leng gwat kiam tersebut kedalam perutnya.
Kim Thi sia tak sempat lagi menghalangi perbuatannya itu, tampak olehnya orang tersebut roboh terjungkal keatas tanah sambil bermandikan darah segar.
Untuk berapa saat lamanya pemuda itu hanya berdiri tertegun, dia seolah-olah dibuat terperanjat oleh peristiwa yang berlangsung didepan matanya saat itu.
Sampai lama kemudian ia baru menghela napas panjang dan mencabut keluar pedangnya dari perut orang itu, setelah membersihkan dari noda darah, dengan masgul dan murung berangkatlah pemuda itu meninggalkan tempat tersebut.
Baca Juga: Hati Budha Tangan Berbisa 9
Baca Juga: Rahasia Ciok Kwan Im 5