Eps 14 Lembah Nirmala - Khu Lung
Baca online Lembah Nirmala - Khu Lung
Cersil Lembah Nirmala - Khu Lung.
Pertarungan yang baru saja berlangsung seru membuat pemuda itu merasa amat letih tapi ia mencoba berjalan terus tanpa berhenti, dia berniat menggunakan kesempatan tersebut untuk pergi meninggalkan tempat tersebut sejauh-jauhnya.
Angin berhembus sepoi-sepoi, hari berganti hari, suatu ketika disaat Kim Thi sia sedang menempuh perjalanan tanpa tujuan tiba-tiba ia mencium bau harum semerbak berhembus lewat.
Bersama dengan berhembusnya angin sejuk itu, terlihat pula sesosok bayangan manusia menerjang datang kehadapannya.
Begitu melihat siapa yang berada dihadapanya, Kim Thi sia jadi melengak, serunya tanpa sadar.
"oooh, rupanya kau"
Ternyata orang yang barusan datang bukan lain adalah putri Kim huan.
Tampaknya gadis itu sudah berhasil memiliki ilmu meringankan tubuh yang cukup sempurna, gerak geriknya sangat enteng, lincah dan cepat sekali.....
Melihat kegugupan serta kepanikan yang menyelimuti wajah gadis tersebut, dengan keheranan Kim Thi sia segera menegur.
"Putri Kim huan, mengapa kau?"
"Aduh celaka, aduh celaka......"
Seru putri Kim huan dengan napas tersengkal-sengkaL "Harap kau sudi menolongku......"
"Kesulitan apa sih yang sebenarnya kau hadapi?"
Tanya Kim Thi sia keheranan-"Dia.....dia sedang mengejar diriku, dia.....dia hendak membunuhku......."
Seru putri Kim huan dengan cemas bercampur panik.
"Iyaa, sudah tahu kalau kau ada kesulitan, tadi siapa yang kau maksudkan sebagai dia?"
Sela Kim Thi sia.
Dengan cepat putri Kim huan menarik tangan Kim Thi sia dan diajak lari menuju kedalam hutan, katanya kemudian-"Cepat kita sembunyikan diri disini, jangan sampai ketahuan orang itu........"
"Kau tak usah takut, katakan kepadaku siapakah orang yang sedang mengejarmu?"
Kata Kim Thi sia dengan suara dalam, ia menarik tangan gadis itu dan mengajaknya berhenti berlari.
"Tapi aku takut sekali"
Keluh putri Kim huan dengan keringat bercucuran keluar.
"Wajahnya buas dan seram, ilmu silatnya lihay dan luar biasa sekali........"
Cepat-cepat Kim Thi sia memeluk gadis itu erat-erat, kembali hiburnya dengan lembut.
"Selama ada Kim Thi sia disini, kau tak usah merasa takut lagi"
Berbicara sampai disitu, ia segera mengalihkan pandangan matanya kearah mana berasalnya gadis tersebut.
Dikejauhan situ terlihatlah sebuah titik hitam yang sedang bergerak mendekat dengan kecepatan luar biasa.
Dalam waktu singkat bayangan hitam itu kian lama kian bertambah besar dan semakin dekat didepan mata.
Ternyata orang itu adalah seorang jago persilatan yang sedang berlarian dengan pedang terhunus.
Dengan mata melotot besar Kim Thi sia segera berteriak.
"Hey pedang perak. kenapa kau tergopoh-gopoh seperti orang yang gugup saja?"
Pedang perak nampak agak tertegun setelah mengetahui siapa yang berada dihadapannya, serunya tertahan.
"Thi sia sute, kau......."
Sesudah berhenti sejenak, segera katanya lagi.
"Apakah kau telah berjanji lebih dulu dengan perempuan ini dan kau sengaja menunggu kedatangannya disini?"
"Tidak. sama sekali tidak ada kejadian seperti ini"
Jawab Kim Thi sia sejujurnya. Mendengar jawaban tersebut, sipedang perak segera tersenyum, katanya pelan.
"Kalau begitu bagus sekali, harap kau segera menyingkir dari sini......"
"Kenapa?"
Setelah melotot sekejap kearah putri Kim huan denganpandanganpenuh kebencian sipedang perak berseru.
"Aku hendak mencabut nyawa perempuan ini"
"Hmmm, kau tak bisa berbuat semena-mena disini"
"Jadi kau tidak mengijinkan aku berbuat begitu?"
Tanya sipedang perak dengan wajah tertegun.
"Tepat sekali"
Sebetulnya sipedang perak terhitung juga sebagai seorang jagoan yang angkuh dan tinggi hati, kontan saja ia merasa tak senang hati setelah mendengar perkataan ini, segera peringatnya.
"Kuharap kau jangan main api, hati-hati kalau sampai membakar jenggotmu sendiri"
"Heeeeh.....heeeeh.....omong kosong"
Kim Thi sia tertawa dingin.
"Hmmm, tahukah kau, mesti putri Kim huan berparas cantik, sesungguhnya ia jahat, berhati busuk dan kejam seperti kalajengking"
"Itukan terbatas pada pandanganmu seorang terhadapnya."
"Bukan pandanganku, tapi memang begitu kenyataannya."
"Kenyataan yang bagaimana maksudmu?"
"Mula-mula dia memikat toa suheng, dengan kecantikan mukanya, kemudian secara beruntun dia merayU sipedang kayu, pedang air dan lain-lainnya, dia perempUan jalang."
"HUUuh, ngaco belo......."
Tukas putri Kim huan sambil meludah. Pedang perak tidak menggubris seruan tersebut, kembali ujarnya kepada Kim Thi sia.
"Gara-gara ulah perempuan ini, hubungan kami kakak adik seperguruan menjadi tak akur, lebih baik kau jangan menerjunkan diri lagi dalam persoalan ini, daripada kau sendiripun turut tertipu."
"Aku berbeda sama sekali dengan kalian tadi mungkin aku akan menimbrung dengan begitu saja."
Putri Kim huan yang mengikuti pembicaraan tersebut tiba-tiba menimbrung lagi.
"Pedang perak. katakanlah sejujur hati didalam hal yang manakah aku pernah bersikap jahat kepadamu?"
Pedang perak tertawa dingin.
"Heeeh....heeeeh.....heeeeh.....memangnya aku tak tahu akan semua ulahmu. Hmmm, dengan bujuk rayumu kau berhasil membohongi sipedang air sehinga dia mengajarkan ilmu pedang tiga ribu air lemasnya kepadanya......."
"Tapi ia toh mengajarkan ilmu tersebut kepadaku secara rela dan tanpa paksaan?"
"Tapi tidak seharusnya kau mencelakai sipedang air hingga tewas secara mengenaskan-"
"Kau jangan menfitnah orang dengan kata-kata yang tak karuan"
Bantah putri Kim huan cepat. sekali lagi sipedang perak mendengus dingin.
"Hmmm, setelah berhasil mempelajari ilmu silat dari sipedang air, siang malam kau telah menghisap sari lelakinya, kau menggunakan kecantikan wajahmu untuk merayu dan memikat hatinya sehingga pada akhirnya sipedang air tewas karena kehabisan air mani"
"Kau.....kau jangan menfitnah orang dengan tuduhan yang bukan-bukan-..^...."
Jerit putri Kim huan sambil menangis tersedu-sedu. Kim Thi sia segera berpaling kearah pedang perak dan menegur.
"Apakah kau mempunyai bukti dengan tuduhanmu itu?"
"Kau ingin melihat mayat sipedang air yang tewas karena kehabisan air mani? Dia berada ditebing kuda liar, tidak jauh dari tempat ini"
"Sungguhkah itu?"
Tanya Kim Thi sia agak tertegun.
Tanpa terasa dia berpaling dan menengok kearah putri Kim huanberada dalam pandangan dua orang pria secara bersamaan waktu, putri Kim huan segera merasa amat malu bercampur sedih.
"Putri Kim huan"
Tiba-tiba sipedang perak membentak lagi.
"Cepat katakan, benarkah ada kejadian seperti ini?"
"Aku tak bisa disalh kan dalam peristiwa tersebut......"
Putri Kim huan mencoba untuk membela diri.
"Kurang ajar, kau masih berusaha membantah?"
Bentak sipedang perak dengan gusarnya.
"Buat apa aku membantah, didepan Thian sebagai saksi, aku tak ingin berbohong, kenyataanpun berkata begitu."
"Nona, lebih baik kau berbicara secara terus terang saja"
Desak Kim Thi sia pula. setelah didesak berulang kali, putri Kim huan menjadi nekad, serunya kemudian.
"Baiklah, aku akan memberitahukan hal yang sebenarnya, semoga saja kau bisa mempertimbangkan dengan bijaksana."
"Akupun berharap agar kau tidak merahasiakan kejadian yang sebenarnya."
Setelah menyeka air mata yang membasahi wajahnya, putri Kim huan mulai bercerita.
"Malam tadi, kondisi badan sipedang air mulai melemah."
"Sebab musabab melemahnya kondisi badan sipedang air sudah pernah kudengar dari penuturan pedang kayu, didalam persoalan ini kau memang tak bisa disalahkan."
Setelah berhenti sejenak, putri Kim huan berkata kembali.
"Waktu itu, dia......dia minta kepadaku......"
"Kalau toh kau sudah tahu bahwa kondisi badannya lemah, sudah sepantasnya bila aku memikirkan keadaannya dengan akal yang sehat serta menampik permintaannya."
Sela pedang perak cepat. Dengan sedih putri Kim huan menghela napas panjang.
"Aaaai, tapi aku terlalu mencintai dirinya"
"Apa kau mencintai pedang air?"
Tanya Kim Thi sia dengan wajah agak tertegun, berita tersebut sama sekali diluar dugaannya. Dengan sedih kembali putri Kim huan menghela napas panjang.
"Benar, setiap kali dia berlutut dihadapanku dan mulai memohon agar aku bersedia melayani keinginannya, maka betapapun besarnya alasan yang tersedia, aku tak akan menampik keinginannya lagi."
"Hmmm, itu toh menurut pembelaanmu sendiri"
Jengek pedang perak dengan penuh amarah.
"Kalian sama sekali tidak memahami perasaan seorang wanita, kau tahu perasaan kaum wanita adalah paling lemah, disaat ia sudah terpengaruh oleh perasaannya maka persoalan apapun tak pernah akan membuatnya takut atau sangai"
"Bagaimana selanjutnya?"
Tanya Kim Thi sia.
"Kemudian sipedang air memeluk aku sambil berteriak-teriak keras, dia bilang ingin mati dihadapanku"
Ucap putri Kim huan lebih sedih lagi. Air matanya meleleh semakin deras. Tapi pedang perak cepat menyela.
"Dan saat itulah kebetulan aku menyusul kesana dan melihat semua kejadian....."
"Waktu itu sipedang air sudah.....sudah berada diambang pintu kematian, aku cepat-cepat merangkak bangun sambil berpakaian saking gugupnya, aku sampai tak tahu apa yang mesti dilakukan, tapi aku bersumpah bila aku bisa menyumbangkan nyawaku untuk menggantikan kematian dari sipedang air, aku rela berbuat begitu."
Pedang perak mendengar dingin.
"Hmmm, kasihan sipedang air, belum sempat ia berpakaian kembali, nyawanya sudah keburu melayang selagi masih berada dalam pelukanku"
"Pedang perak. seharusnya kau pergunakan ilmu Tay kim kong lek untuk menolong nyawa sipedang air....."
Tegur Kim Thi sia. Putri Kim huan yang mendengar ucapan mana buru-buru nimbrung.
"Dia sama sekali tidak berbuat begitu bukan saja tidak melakukan usaha apa-apa untuk menyelamatkan jiwa pedang air, malahan memanfaatkan kesempatan tersebut dia mempermainkan aku"
"Aku mempermain bagaimana terhadap dirimu?"
Sela pedang perak dengan wajah berseru marah.
"Kau menyuruh aku tidak usah memikirkan sipedang air lagi tapi ikut bersamamu kabur sejauhjauhnya darisini, bahkan mengatakan pula......."
Ketika berbicara sampai disitu, tiba-tiba dia menghentikan pembicaraannya sementara paras mukanya berubah menjadi merah padam.
Bagaimana pun juga dia adalah seorang wanita sebagai perempuan tentu saja ada banyak persoalan yang kurang leluasa untuk diutarakan dengan begitu saja.
"Dia bilang apalagi?"
Desak Kim Thi sia agak tertegun. Putri Kim huan melirik sekejap kearah pedang perak, kemudian berkata lebih jauh.
"Dia bilang, kemampuannya jauh lebih hebat dari pada pedang air......."
Kim Thi sia segera berseru tertahan dengan cepat ia memahami apa arti "kemampuan"
Disini, tentu saja diapun merasa rikuh untuk bertanya lebih jauh. Setelah berkata demikian, agaknya putri Kim huan pun tidak merasa rikuh atau malu lagi, dengan cepat ia berkata lebih jauh.
"Pedang perak. seandainya kau adalah seorang manusia yang berperasaan, coba bayangkan sendiri, pantaskah kau mengucapkan perkataan seperti ini........?"
"Apa yang kukatakan?"
Dari malunya sipedang perak jadi gusar.
"Kau mengatakan kepadaku, asalkan bersedia kabur bersamamu, tanggung hidupku akan penuh kenikmatan dan kehangatan cinta......."
"Pedang perak"
Seru Kim Thi sia kemudian-"Kalau begini persoalannya, maka kaulah yang berada dipihak yang salah"
"Salah atau tidak, aku rasa tak ada sangkut pautnya dengan kalian"
Bentak pedang perak segera dengan sewot. Kim Thi sia tak senang hati, ia berkata.
"Kalau begitu, kau tidak seharusnya berniat mencelakai jiwa putri Kim huan......"
"Tidak, aku bertekad hendak membunuhnya."
Mendengar ucapan mana, tanpa terasa tubuh putri Kim huan bergetar keras sekali. Sedangkan Kim Thi sia segera berseru.
"Pedang perak terus terang aku berkata kepadamu, Kau tahu, nyawamu sendiripun berada dalam ancaman"
"Apa maksudmu?"
"Maksudnya aku hendak memenggal batok kepalamu."
"Apakah dikarenakan perempuan yang bernama putri Kim huan?"
Jengek pedang perak dengan wajah tercengang.
"Bukan dikarenakan persoalan ini saja."
Bentak Kim Thi sia.
"Lalu dikarenakan persoalan apa lagi?"
"Untuk menuntut balas bagi kematian suhuku, Malaikat pedang berbaju perlente."
Pedang perak menjadi gusar sekali, teriaknya gusar.
"Hmmm, saban kali bertemu, engkau si kunyuk busuk selalu berkaok-kaok tentang peristiwa itu, sungguh memuakkan"
"Asal batok kepalamu sudah terpenggal dan lepas dari badan, akupun tak akan menyinggung persoalan itu lagi dihadapanmu"
Agaknya sipedang perak sadar bahwa jiwanya tak akan lolos dari kematian, ia menjadi nekad dan segera memutuskan untuk melancarkan serangan lebih dulu, serunya kemudian.
"Manusia keparat, jangan kau anggap pedang perak adalah manusia yang gampang dipermainkan dengan begitu saja, aku memang sudah lama berniat menyelesaikan persoalan ini secepatnya denganmu"
Berbicara sampai disitu, ia segera meloloskan pedangnya lalu dengan jurus "sukma pedang arwah mutiara"
Melepaskan sebuah sergapan kilat kedepan-Kali ini amarahnya benar-benar telah berkobar dia berniat membacok mati Kim Thi sia didalam serangan kilatnya itu.
Kim Thi sia tertawa dingin, bukannya mundur dia malah mendesak maju kemuka tiba-tiba saja tubuhnya melejit ketengah udara, lalu pedang Leng gwat kiamnya berkilauan membiaskan selapis cahaya pedang menyelimuti seluruh angkasa.
Begitu ilmu pedang panca Buddha dilancarkan, dalam waktu singkat kabut pedang telah mengurung musuhnya rapat-rapat.
Melihat kelihayan musuhnya, tak urung timbul juga perasaan gugup dalam hati pedang perak, tapi ia sudah terlanjur bicara besar sehingga sekarang menyesalpun tidak ada gunanya.
Dalam keadaan begini dia hanya bisa memberi perlawanan dengan sekuat tenaga.
sementara pikirannya berputar terus mencari akal untuk meloloSkan diri dari situ.
Dalam waktu singkat tiga ratus jurus sudah lewat.
Sementara itu Kim Thi sia makin bertarung semakin bersemangat, makin menyerang jurusjurus serangannya makin ganas dan mematikan.
Sebaliknya pedang perak makin lama makin terdesak hebat, tenaga serangannya bagaikan air yang mengalir kebawah, mengalir keluar tiada habisnya.
Sedang kan putri Kim huan, pada mulanya merasa hatinya kebat-kebit karena menguatirkan keselamatan jiwa Kim Thi sia.
Secara diam-diam ia berdoa terus dihati kecilnya.
"oooh Thian, moga-moga kau bisa membantu pihak yang benar untuk menegakkan keadilan didunia ini......"
Tatkala putri Kim huan menyaksikan posisi pedang perak mulai terdesak hebat apa lagi dibawah kepungan lapisan pedang Kim Thi sia, tubuhnya mundur terus dengan sempoyongan, peluh bercucuran deras dan keadaannya sangat mengenaskan, dia menjadi amat kegirangan-Dengan suara keras soraknya.
"Pedang perak, jangan harap kau bisa berbuat kejahatan lagi didalam dunia persilatan-...."
Tak terlukiskan rasa gusar pedang perak mendengar teriakan itu sambil mengerahkan segenap tenaga dan kepandaian silatnya untuk melakukan perlawanan. teriaknya keras-keras.
"Putri Kim huan, kau jangan keburu bersenang hati....."
"Haaaah.....haaaaah......haaaah......aku justru merasa senang aku merasa gembira......"jengek putri Kim huan sambil tertawa terbahak-bahak. Kemudian dengan suara lantang teriaknya lagi.
"Aku ingin melihat batok kepalamu menggelinding teriepas dari badan akupun ingin melihat hatimu hitam atau tidak warnanya."
Pedang perak benar-benar merasa mendendam.
Tiba-tiba saja dia manfaatkan peluang yang ada untuk melejit setinggi tiga depa ketengah udara, lalu melesat keluar dari arena pertarungan Ilmu meringankan tubuh yang dipergunakan kali ini adalah ilmu "seratus setan berubah wujud", bukan saja luar biasa anehnya pun amat jarang dijumpai dalam dunia persilatan-Untuk berapa saat lamanya Kim Thi sia menjadi tertegun, tahu-tahu saja dia telah kehilangan jejak pedang perak.
"Aaaah, sungguh tak kusangka kau masih memiliki ilmu simpanan setangguh ini......."
Keluh Kim Thi sia dengan perasaan terkejut.
Sementara dia masih tertegun, tubuh pedang perak telah melejit balik seperti bola karet, tahutahu ia telah menyerang datang lagi.
Kali ini dia menyerang datang dengan kecepatan bagaikan kilat, pada hakekatnya tidak memberi kesempatan kepada orang untuk mempertimbangkan lebih dulu.
Dalam keadaan begini Kim Thi sia tidak melakukan tindakan apapun, dia cuma berdiri termangu-mangu diposisi semula.
Putri Kim huan yang menyaksikan kejadian itu menjadi amat terperanjat dengan peluh dingin bercucuran membasahi tubuhnya, ia berteriak.
"Hati-hati......"
Belum habis seruan tersebut, pedang sipedang perak telah mendesak muncul didepan mata.
Pedang perak mendengus dingin, begitu pedangnya diayun kedepan, ia sudah memperhitungkan bahwa pedang Leng gwat kiam ditangan Kim Thi sia tentu akan menyongsong kedepan, maka dia segera melepaskan pula sebuah pukulan tangan kirinya dnegan kekuatan luar biasa.
"Bocah keparat, hari ini kau tak akan lolos dari tanganku lagi, jiwamu hanya bisa selamat bila matahari dapat terbit dilangit barat"
Mimpipun Kim Thi sia tak pernah menduga sampai kesitu, dia tak mengira kalau disaat terakhir musuhnya masih mengeluarkan ilmu simpanan yang begitu dahsyat.
Sadar bahwa ia tak mampu memusnahkan serangan tersebut, cepat-cepat pemuda itu mengerahkan ilmu Ciat khi mi khi nya untuk menahan setiap serangan yang datang sementara tubuhnya melompat mundur dengan sempoyongan-Sayang sekali gerak serangan dari sipedang perak meluncur datang dengan kecepatan luar biasa, Kim Thi sia tak sempat lagi untuk menghindarkan diri.
"Blaaaammmm........"
Dimana angin pukulan itu menyambar lewat,pusaran angin tajam menyebar kemana-mana dan membumbung keangkasa.
Putri Kim huan pun tidak mengira akan datangnya pusaran angin tajam tersebut.
Tak ampun tubuhnya segera tersambar hingga jatuh terjengkang menubruk diatas dahan pohon, gadis itu menjerit tertahan lalu memuntahkan darah segar.
Waktu itu, keadaan Kim Thi sia lebih mengenaskan lagi, dengan jurus serangan pedang perak yang begitu aneh, bukan saja ia berhasil meraih kemenangan dari kekalahannya, bahkan berhasil pula merobohkan Kim Thi sia dan membuat pemuda tersebut memuntahkan darah segar.
Sambil tertawa terbahak-bahak sipedang perak mengejek.
"Bocah keparat, habis sudah riwayatmu kali ini....haaahh....haaaahh....^."
Dalam keadaan begini dia dicekam rasa bangga yang meluap-luap sehingga dia pula kalau Kim Thi sia memiliki ilmu Ciat khi mi khi yang mampu menahan pukulan serta menyelamatkan dirinya dari luka yang parah.
Sementara itu Kim Thi sia telah merangkak bangun kembali.
Baru selesai sipedang perak tertawa tergelak.
tiba-tiba saja Kim Thi sia melompat bangun dan menyerbu kedepan sambil melancarkan serangan dengan jurus "kejujuran mengalahkan batu emas."
Dalam gusar dan dendamnya, Kim Thi sia telah mengerahkan tenaga nya hingga mencapai sepuluh bagian, bisa dibayangkan betapa dahsyatnya serangan tersebut.
Benturan keras yang memekikkan telinga segera bergema diangkasa dan hampir boleh dibilang menyelimuti gelak tertawa pedang perak.
Mendadak terdengar jerit kesakitan yang memilukan hati bergema diudara.
Tahu-tahu terlihatlah tubuh pedang perak mencelat kebelakang kemudian roboh terjungkal keatas tanah.
Ia cuma berkelejitan beberapa kali, kemudian menghembuskan napasnya yang penghabisan.
Melihat kematian sipedang perak, Kim Thi sia mendengus dingin, kemudian pelan-pelan mengalihkan pandangan matanya kearah putri Kim huan-Waktu itu, putri Kim huan masih berbaring ditepi pohon sambil merintih kesakitan.
Cepat-cepat Kim Thi sia membimbingnya bangun dan menegur.
"Bagaimana keadaanmu sekarang? "
Putri Kim huan menghembuskan napas panjang, lalu manggut-manggut.
"Keadaanku masih rada mendingan."
Dengan seksama Kim Thi sia mengawasi sekejap keadaan wajah tersebut, setelah yakin kalau lukanya tidak berbahaya, hatinya baru terasa amat lega katanya kemudian-"Bagus sekali kalau begitu"
"Bagaimana apakah pedang perak telah mampus?"
Tanya putri Kim huan sambil tertawa.
Pedang perak telah meninggaikan dunia ini dengan membawa semua dosa serta kejahatannya, dia mati dengan mata melotot besar.
Mendapat pertanyaan tersebut, Kim Thi sia mengangguk.
"Yaa benar, pedang perak sudah mati konyol manusia berhati busuk semacam dia memang tak ada perlu dikasihani, dia harus dibunuh secara keji....."
"Kenapa?"
"Bila manusia berhati busuk macam dia bisa mati dengan tenang, bukankah kejadian lebih menyayangkan lagi?"
Putri Kim huan segera tertawa.
"Tak kusangka pikiranmu sudah sejauh itu....aku......"
Melihat gadis itu ragu-ragu untuk melanjutkan kata-katanya, dengan cepat Kim Thi sia bertanya.
"Apa yang ingin kau katakan, katakan saja berterus terang."
"Aku merasa amat berterima kasih kepadamu"
"Aaah, soal itu mah tak perlu dibicarakan lagi....."
Ucap Kim Thi sia sambil tertawa nyaring.
"Tapi untuk kesekian kalinya aku telah menyelamatkan jiwa kau lagi......"
"Sudah sepantasnya bila kita hidup didunia ini saling tolong menolong, apa lagi sebagai sebagai anggota persilatan, aku memang berkewajiban menolong kaum lemah dari penindasan kaum kuat."
Putri Kim huan segera menghela napas panjang, tanya tiba-tiba.
"Apakah kau menyukai kehidupan dalam dunia persilatan?"
"Kini aku sudah hidup dalam dunia persilatan, kenapa mesti dipersoalkan kembali suka atau tidak?"
"Seandainya kau merubah lingkungan hidupmu serta merubah kebiasaan hidupmu dalam suasana yang lain-Apakah kau bersedia untuk menjalaninya?"
"Tidak. karena aku memang ditakdirkan sebagai manusia pengembara yang hidup dialam dunia persilatan"
Putri Kim huan segera tersenyum, katanya lembut.
"Tapi takdir belum tentu akan membiarkan seseorang hidup menuruti kehendak hatinya."
"Apa maksudmu?"
Tanya Kim Thi sia agak tertegun.
"Kuharap kau jangan terlalu kesemsem dengan kehidupan tak menentu yang penuh dengan rintangan, percobaan serta ancaman bahaya maut ini......"
Kim Thi sia segera tertawa.
"Ada kalinya akupun pernah berpendapat demikian tapi......"
"Apalagi yang kau risaukan?"
"Dendam sakit hatiku belum terbalas penghinaan yang pernah kualami belum pernah kutuntut, lagipula aku masih berhutang budi kepada beberapa orang."
"Tapi kesemuanya itu tak terhitung apa-apa, sama sekali tak ada harganya untuk dipikirkan....."
Seru putri Kim huan cepat. Kemudian setelah berhenti sejenak. lanjutnya.
"Kau toh bisa saja membuang jauh-jauh semua persoalan tersebut serta tidak memikirkannya lagi?"
"Apa yang harus kulakukan?"
Tanya Kim Thi sia ragu-ragu.
"Aku hanya berharap kau bisa memahami apa maksud tujuan seorang manusia hidup didunia ini, kita hidup untuk merasakan serta menikmati kebahagiaan hidup,"
"Sayang sekali aku tak punya rejeki untuk merasakan kesemuanya itu"
Keluh anak muda tersebut.
"Siapa bilang begitu? Kaupun dapat merasakannya....."
Jerit putri Kim huan keras-keras. Kemudian setelah berhenti sejenak. lanjutnya lagi.
"Ikutlah bersamaku kembali ke negeri Kim. Ayah Baginda pasti akan menerimamu secara baikbaik dan sejak itu pula kau akan terangkat menjadi kaum bangsawan. Kau tak usah berkeliaran lagi didalam dunia persilatan sebagai pengembara yang tak menentu kehidupannya....."
"Tidak mungkin hal ini terjadi atas diriku...."
Tampik Kim Thi sia sambil tersenyum.
"Kenapa?"
Tanya putri Kim huan agak tertegun.
"Apakah kau menganggap aku sudah ternoda, menganggap aku sudah bukan gadis perawan lagi sehingga memandang rendah diriku?"
"Bukan, bukan begitu maksudku"
"Lalu apa maksudmu yang sebenarnya?"
Tanya putri Kim huan sambil membelalakkan mata nya lebar-lebar. Kim Thi sia tersenyum.
"Sebab aku tahu orang yang paling kau cintai sesungguhnya adalah sipedang air"
"Tapi sayang ia telah meninggal dunia"
"Bila seorang gadis telah mencintai seseorang dengan tulus hati, maka tidak seharusnya dia mengalihkan perasaan cintanya itu kepada orang lain, kendatipun orang dicintainya itu sudah meninggal dunia."
Jilid 54
"Apakah kau menyuruh aku bermesraan dan berCinta dengan seorang yang sudah mati? Apakah aku harus menyia-nyiakan kehidupanku ini dengan menjanda sepanjang masa?"
Cepatcepat Kim Thi sia menyela.
"Waah, kalau masalah itu sih merupakan urusan pribadimu sendiri, tiada sangkut pautnya denganku....."
"Engkoh Thi sia...."
Cepat-cepat putri Kim huan berseru. Belum sempat gadis itu melanjutkan kata-katanya, dengan cepat Kim Thi sia telah menukas.
"Kuminta kau jangan menyebut aku dengan istilah itu lagi......"
"Mengapa?"
Tanya putri Kim huan tertegun.
"Apakah kau lupa bahwa dahulu akupun selalu menyebut koko kepadamu?"
"Persoalan antara kita dimasa lalu, kini telah berakhir sama sekali, lebih baik kita tak usah menyinggung kembali kejadian tersebut"
Kata Kim Thi sia dengan wajah serius.
"Engkoh Thi sia....."
Pekik putri Kim huan dengan manjanya.
"Apakah semua perasaan cintamu kepadaku waktu itu, semua sikapmu yang begitu menurut kepadaku....."
"Sudahlah, tak perlu kau lanjutkan kata-kata mu itu"
Kembali Kim Thi sia menukas dengan serius.
"Ketahuilah, Kim Thi sia tak pernah mengerti tentang hal-hal semacam itu terhadap kaum wanita...."
Tapi putri Kim huan tetap merengek dengan manja.
"Aku tahu, dalam hati kecilmu sekarang bukan aku yang kau cintai lagi...."
Kim Thi sia tertawa dingin, sambungnya cepat.
"Lebih baik lagi kalau kau sudah mengerti benar. Aku Kim Thi sia memang sudah bersumpah serta akan sehidup semati dengan nona Hay Jin, dan lagi....."
"Dan lagi kalian pernah melihat rembulan bersama-sama, menunggu matahari terbit bersamasama, dan pernah mendaki bukit bersama-sama bukan?"
Sela putri Kim huan agak marah. Dengan kewibawaan seorang lelaki, Kim Thi sia mengangguk dengan angkuhnya.
"Ehm, benar Kami pernah melewati saat-saat yang paling manis dan bahagia. Apa sangkut pautnya persoalan ini denganmu?"
"Tentu saja semua persoalan tersebut ada sangkut pautnya dengan diriku"
Kata putri Kim huan cepat.
"Aneh benar kami ini"
Agak tertegun Kim Thi sia sehabis mendengar jawaban mana.
"Dimanakah letak sangkut pautnya persoalan ini dengan dirimu......?"
"Disaat aku menjumpai seorang pria yang kucintai sedang bermesraan dan berkasih-kasihan dengan perempUan lain, perasaan pedih dan sakit hati yang kualami saat itu tak terlukiskan dengan kata-kata, lagipula....."
"Lagipula kau merasa cemburu? Merasa tak senang dan tak puas?"
Sambung Kim Thi sia polos.
"Benar, aku memang merasa sangat tidak puas, terus terang saja aku katakan, mungkin hal ini dikarenakan rasa cintaku yang terlalu mendalam kepadamu, orang bilang perempuan adalah wajar bila merasa cemburu. Engkoh Thi sia, apakah kau masih belum memahami perasaan hati seorang wanita."
"Aku minta janganlah kau membicarakan persoalan semacam ini lagi denganku, mau bukan?"
Kim Thi sia merasakan agak sebaL Tapi putri Kim huan tidak melepaskan korbannya dengan begitu saja, ia merengek lebih jauh.
"Tidak. aku harus membicarakan persoalan ini denganmu, kita harus berbicara dengan sebaikbaiknya. Engkoh Thi sia, kuminta kau mengucapkan sepatah kata lagi kepadaku, hanya sepatah kata saja......."
"Apa yang harus kukatakan?"
Pelan-pelan putri Kim huan menjatuhkan diri kedalam pelukan pemuda tersebut. Lalu dengan manja katanya.
"Aku hanya berharap kau mengatakan sekali lagi kepadaku bahwa kau tetap mencintai ku, maka biarpun aku harus mati dalam pelukanmu, hatiku akan rela dan puas....Engkoh Thi sia, katakanlah cepat Hayolah katakan cepat......"
Berbicara sampai disitu, ia membenamkan sama sekali tubuhnya kedalam pelukan anak muda tersebut, Sepasang matanya dipejamkan rapat-rapat, seakan-akan dia sedang menikmati kehangatan tubuh pemuda itu.
Kim Thi sia tidak berkata apa-apa, tiba-tiba saja ia mendorong tubuh gadis tersebut hingga terjaga dari pelukannya.
Akan tetapi keadaan putri Kim huan waktu itu ibarat seekor ular kecil saja, dengan cepat dia bersandar kembali diatas tubuh Kim Thi sia bahkan meliuk-liuk kesana kemari melakukan gerakan yang amat merangsang hawa napsu.
Dengan cepat gerak gerik gadis tersebut menimbulkan perasaan muak dan sebal dihati kecil Kim Thi sia, sebab orang yang dia cintai bukan putri Kim huan, paling tidak ia tidak menyenangi sikap serta tingkah laku gadis tersebut.
Dengan gemas ia mendorong tubuh itu kesamping.
Tapi dikala dia melihat putri Kim huan sedang mengawasi wajahnya dengan pandang an merengek serta sikap yang mengenaskan hati, dia menjadi tertegun dan tak tega.
Akhirnya pelan-pelan ia jalan menghampiri gadis tersebut dan memeluknya dengan lembut.
Sementara itu air mata telah jatuh bercucuran membasahi wajah putri Kim huan dengan sedih dia berbisik.
"Engkoh Thi sia, kau....kau amat tega...."
Isak tangis putri Kim huan makin lama semakin keras, makin lama semakin memedihkan hati, isak tangis yang memilukan hati itu seakan-akan memerlukan sikap keras kepala Kim Thi sia, membuat pemuda itu tak tega dan merasa terharu.
Akhirnya dengan nada menyesal Kim Thi sia berbisik.
"Putri Kim huan, aku...... aku memang bersikap terlalu kasar, maafkan aku"
Begitu ucapan tersebut meluncur keluar dari bibirnya, putri Kim huan segera merangkul tubuh pemuda itu kencang-kencang.
Bahkan sembari merapatkan tubuhnya diatas tubuh pemuda tersebut, dia berbisik dengan suara merangsang.
"Engkoh Thi sia, peluk aku, rangkullah tubuhku erat-erat, ciumlah aku....ciumlah bibirku dengan mesrah......."
Mereka berdua segera saling berpelukan dengan hangat.
Kedua orang itu seakan-akan sudah melupakan keadaan disekelilingnya lupa akan segala sesuatunya.......
Mereka saling berciuman dengan hangat, saling meraba dengan penuh napsu.
Disaat keadaan makin panas dan tindak lanjut segera akan berlangsung antara sepasang muda mudi ini, mendadak dari tengah udara terdengar suara bentakan keras seorang pria yang mendekati kalap.
"Kalian sepasang laki perempuan anjing yang tak tahu malu, berani benar kamu berdua melakukan perbuatan terkutuk yang memalukan ditempat terpencil ini, cepat hentikan semua perbuatan kalian"
Bentakan yang muncul sangat mendadak ini seketika membuat Kim Thi sia dan putri Kim huan jadi tertegun dan segera menghentikan perbuatan mereka....
Dengan suatu gerakan cepat Kim Thi sia mendorong tubuh putri Kim huan kebelakang, lalu dengan cekatan sekali meraba pedang leng gwat kiamnya.
Pada saat itulah tampak sesosok bayangan tubuh manusia melayang turun dihadapan mereka berdua dengan kecepatan luar biasa.
dalam sekilas pandangan saja Kim Thi sia telah mengenali sipendatang tersebut sebagai sipedang emas Ko Hong liang serta sipedang kayu Gl CU yong.
Dengan pandangan penuh amarah Kim Thi sia mengawasi kedUa orang musuhnya itu lalu membentak.
"Bagus sekali kehadiran kalian berdua, aku memang berniat mencari kamu berdua untuk dikirim keakhirat. Hmmm, sekarang kalian telah muncul sendiri, akupun tak usah repot-repot lagi mencari kalian lagi."
Baru selesai perkataan itu diutarakan, pedang emas telah tertawa dingin sambil mengejek.
"Bocah keparat, lebih baik jangan bicara sombong. Jangan kau kira setelah memiliki pedang leng gwat kiam maka dunia persilatan berada dibawah telapak kaki mu, terus terang saja aku bilang, aku sipedang emas akan membunuhmu hari ini......"
Tanpa banyak membuang waktu lagi, sipedang emas Kho Kong liang menerjang maju kedepan dan melancarkan serangkaian serangan dengan jurus "Raja dari segala kekuatan"
Serta "kaitan seribu tahun"
Dari ilmu Tay jin eng nya......
Sementara itu putri Kim huan telah menyusul datangpula dengan meloloskan sepasang pedang, agaknya ia telah bersiap sedia mendampingi Kim Thi sia untuk menghadapi serangan musuh.
Pedang kayu Gl CU yong yang menyaksikan hal tersebut dari sisi arena menjadi amat gusar, bentaknya keras-keras.
"PerempUan rendah, kau jangan bertindak seenaknya sendiri....."
Dengan menggunakan ilmu pukulan Sian ka ciang, ia segera melepaskan dua buah serangan kedada kiri putri Kim huan,jurus yang dipakai adalah jurus yang melompat harimau mengaum serta "api membawa air menggulung."
Dengan cepat sipedang kayu telah terlibat dalam pertarungan yang amat seru melawan putri Kim huan-Dipihak lain Kim Thi sia dan sipedang emas telah saling berhadapan dengan tak kalah serunya pula.
Selang berapa saat kemudian....
Ketika sipedang emas melihat ilmu pukulan Tay Jin engnya tak berhasil mengungguli lawannya, dengan suara keras ia segera membentak.
"Bocah keparat, sungguh tak kusangka baru berpisah berapa hari, ilmu silatmu kembali telah memperoleh kemajuan yang amat pesat."
"Hmmm, kau jangan mengira aku takut dengan ilmu pukulan tay Jin eng tersebut. Ayoh lancarkan kembali seranganmu"
Seru Kim Thi sia penuh amarah.
Sampai disini, anak muda itu melancarkan pula serangkaian pukulan dengan ilmu Tay goan sinkangnya.
Pertarungan yang berlangsung saat ini benar-benar sangat hebat dan ramai, begitu hebatnya pertarungan itu membuat pasir dan debu beterbangan menyelimuti angkasa, udara serasa menjadi gelap secara tiba-tiba.
Berapa ratus gebrakan telah lewat, namun sipedang emas dan Kim Thi sia masih bertempur terus dengan serunya, menang kalah susah ditentukan dalam waktu singkat.
Melihat itu, sipedang emas segera mengeluarkan ilmu pedang tangan kirinya untuk menghadapi serangan musuh.
Kim Thi sia sendiripun bukan orang bodoh, ketika ia melihat musuhnya telah mengandalkan ilmu pedang tangan kiri untuk menggencet dirinya, dengan cepat dia mengeluarkan jurus "Kejujuran melebihi batu emas"
Dan "Hawa sakti menyelimuti sembilan langit"
Dari ilmu pukulan Tay goan sinkang untuk membendung datangnya ancaman itu. Berapa puluhan gebrakan kembali sudah lewat. Tiba-tiba terdengar sipedang emas berseru.
"Bocah keparat, aku lihat lebih baik kau menyerah kalah saja, dengan begitu akupun bersedia mengampuni selembar jiwamu."
Kim Thi sia menjadi gusar sekali setelah mendengar perkataan mana, teriaknya lantang.
"Hmmm, lebih baik kau tak usah berkentut disiang hari belong. Ketahuilah aku Kim Thi sia......" ^ "Mengapa dengan dirimu?"jengek pedang emas.
"Tidak sampai berapa gebrakan lagi, aku pasti dapat memenggal batok kepalamu"
Mendengar itu, sipedang emas tertawa seram.
"Haah....haaah......lebih baik tak usah takabur lebih dulu Jangankan memenggal kepalaku, menyentuh ujung bajukupUn kau belum mampu. Aku lihat justru kau sendiri yang bakal mampus hari ini."
Pertarungan kembali dilanjutkan kali ini kedua belah pihak sama-sama telah mengeluarkan segenap kemampuan yang dimiliki.
Suatu ketika, mendadak sipedang emas mengayunkan pukulannya menggempur sebuah batu cadas besar dan langsung melontarkan batu tadi menerjang dada musuh.
Kim Thi sia mendengus dingin, dengan sikap yang tenang sekali ia memutar pedang Leng gwat kiamnya dan membendung datangnya ancaman tersebut.
"Braaaakkkk....."
Ditengah suara benturan keras yang memekikkan telinga batu cadas itu kena ditangkis oleh bacokan pedang hingga hancur berguguran keatas tanah.
Melihat keampuhan musuhnya, pedang emas agak tertegun, segera tegurnya keras-keras.
"Bocah keparat, tak kusangka kepandaian mu sangat tangguh. Hmmm coba lihat kelihayanku ini sekali lagi"
Sambil menghimpun tenaga dalamnya sipedang emas menyambar sebatang pohon raksasa dan membetotnya keluar, lalu melemparkan batang pohon yang besar itu kearah lawan-Kim Thi sia segera melejit ketengah udara dengan gerakan cepat dan enteng, menanti batang pohon itu sudah tumbang keatas tanah.
Ia baru berdiri diatas batang pohon tadi sembari mengejek sinis.
"Hey bajingan murtad, lebih baik jangan kaupergunakan cara yang amat bedoh ini untuk menghadapiku"
Gagal dengan kedua serangannya, pedang emas merasa gusar bercampur mendendam. Tanpa mengucapkan sepatah katapun dia segera mengeluarkan jurus "bunga mar dibulan lima"
Dan "bunga anyelir dibulan sembilan", dua diantara jurus-jurus serangan ilmu pedang tangan kiru yang paling tangguh untuk menerjang Kim Thi sia.
Si anak muda itupun merasa gusar sekali tak segan-segan dia mengeluarkan jurus serangan yang paling tangguh pula untuk balas menusuk pinggang musuh.
"Traaanggg"
Benturan nyaring bergema memecahkan keheningan.
Pada saat itulah mendadak sipedang emas membentak keras, memanfaatkan kesempatan disaat Kim Thi sia belum berhasil mengubah gerak serangannya, ia membacok lengan dan pinggang kiri pemuda itu dengan sepenuh tenaga.
Kim Thi sia menjadi kaget sekali, sekalipun ia dapat melihat datangnya serangan tersebut namun tak sempat lagi untuk menghindarkan diri tak ampun lengan kirinya tertusuk telak hingga darah segar jatuh bercucuran dengan derasnya.
Pedang emas segera tertawa terbahak-bahak.
serunya.
"Haaah.....haaaah.....haaaah......apa kataku tadi? Lebih baik letakkan senjata dan menyerah kalah saja, asal kau masih pingin hid up, sekarang masih belum terlambat"
Kim Thi sia benar-benar merasa gusar sekali, dia balas mengumpat.
"Manusia busuk, babatan pedangmu bahaya menyebabkan kulit lenganku lecet sedikit, kau anggap seranganmu hebat?"
Kembali sipedang emas tertawa seram.
"Hmmm, bukankah tadi kau bilang akan memenggal batok kepalaku dalam berapa jurus? Aku lihat, justru batok kepalamu sendiri yang bakal tak utuh."
"Omong kosong, mari kita buktikan saja perkataan siapa yang lebih tepat."
"Kemarilah kunyuk jelek, hari ini akan kulihat seberapa hebat sih kepandaiaan silat yang kau miliki?"
Dengan mengerahkan jurus "Buddha sakit membersihkan debu"
Kim Thi sia melancarkan sebuah tubrukan kilat kearah lawan-Jurus serangan ini merupakan sebuah jurus yang sangat aneh dari ilmu pedang panca Buddha.
Tidak sembarangan orang dapat menghindarkan diri dari sergapan tersebut.
Sipedang emas hanya merasa berkelebatnya bayangan hitam dihadapannya, kemudian ia merasakan perutnya sakit sekali.
"Aduh celaka"
Pikir sipedang emas cepat.
"Jurus pedang ini aneh sekali....."
Ingatan tersebut belum habis melintas, Kim Thi sia telah menyusulkan sebuah pukulan lagi dengan ilmu Tay goan sinkang.
Tak ampun sipedang emas menjerit ngeri, tubuhnya gemetar keras, darah segar menyembur keluar dari mulutnya.
Kemudian setelah berkelejitan berapa kali, dia awasi Kim Thi sia dengan pandangan sayu, kemudian tubuhnya pelan-pelan robeh ketanah dan menghembuskan napas yang penghabisan.
Melihat musuhnya telah tewas, Kim Thi sia mendongakkan kepalanya dan tertawa seram, serunya.
"Haaah......haaaaah.......akhirnya pentolan dari sembilan pedang dunia persilatan berhasil kubasmi dari muka bumi haaaah.....haaaaah......"
Kemudian dengan suara lirih dia berdoa.
"Suhu, aku telah melaksanakan perintahmu dengan baik, akhirnya aku tidak mengecewakan hatimu, sipedang emas telah kubasmi dari muka bumi...."
Mendadak......
Terdengar jerit lengking bergema memecahkan keheningan, jeritan itu amat memilukan hati.
Rupanya ujung pedang sipedang kayu Gl cU yong telah menempel diatas tenggorokan putri Kim huan.
Sementara putri Kim huan sendiri berdiri dengan wajah pucat pias bagaikan mayat, ia nampak kelabakan dan tak tahu apa yang mesti dilakukan.
Sekalipun ilmu pedang tiga ribu air lemahnya berasal dari dudukan pedang air tapi kemampuannya masih terbatas sekali, bagaimana mungkin ia bisa menandingi kehebatan pedang kayu?
Disaat pedang kayu melontarkan pedangnya melancarkan tusukan kedepan, pada hakekatnya putri Kim huan tak sempat lagi untuk menghindarkan diri......
Belum habis gadis itu menjerit kesakitan, tubuhnya telah robeh terjungkal keatas tanah.
Kim Thi sia yang menyaksikan peristiwa tersebut buru-buru berteriak keras.
"Tunggu sebentar."
Tapi tubuh putri Kim huan sudah keburu robeh terjungkal keatas tanah dengan darah segar bercucuran membasahi seluruh tanah gadis itu telah kehilangan tenaganya sama sekali.
Sementara itu sipedang kayu telah siap melancarkan tusukan kembali untuk menghabisi nyawa gadis tersebut, untung pada saat itulah Kim Thi sia muncul tepat pada waktunya.
Dengan geram dan sepasang mata berapi-api sipedang kayu membentak nyaring.
"Bocah keparat, sembilan pedang dunia persilatan beleh dibilang telah punah sama sekali ditanganmu"
"IHmmm, aku hanya menjalankan pesan terakhir dari suhu. Malaikat pedang berbaju perlente menjelang ajalnya"
"Apakah orang terakhirpun tak akan kau lepaskan? Apakah kau tega membunuh diriku pula?"
Tanya pedang kayu sambil tertawa pedih.
"Sudah menjadi tugasku untuk membasmi kalian sampai seakar-akarnya."
Pedang kayu segera mendengus dingin.
"Hmmm, kalau toh kau berniat jahat kepadaku, akupun tak akan melepaskan dirimu dengan begitu saja."
Dengan menggunakan jurus "hati kesal pikiran kalut"
Ia melancarkan sebuah tusukan kedepan. Kim Thi sia menjengek dingin, tanpa gugup barang sedikitpun ia sambut datangnya ancaman tersebut dengan jurus "menuding langit selatan."
"Traaaangggg......."
Sepasang pedang saling membentur satu sama lainnya dengan keras, percikan bunga api memancar keempat penjuru.
Akibat dari bentrokan ini Kim Thi sia tetap berdiri tegak ditempat semula, tubuhnya sama sekali tak bergeser.
Sebaliknya pedang kayu merasakan pergelangan tangannya menjadi kesemutan, dengan sempoyongan tubuhnya mundur Sejauh berapa langkah kebelakang.
"Bocah keparat"
Pedang kayu Segera berteriak keras.
"Tak nyana tenaga dalammu telah mendapat kemajuan yang begitu pesat."
Kim Thi sia sama seklai tidak menanggapi seruan itu, dengan gerakan yang enteng dan cekam ia mendesak maju lebih jauh.
Pedang kayu berusaha meloloskan diri dari ancaman, ia mencoba berkelit kian kemari namun usahanya tak pernah berhasiL Sementara itu Kim Thi sia telah mendesak maju lebih jauh, dengan ilmu pedang panca Buddha, ia menciptakan berkuntum-kuntum bunga pedang yang amat menyilaukan mata.
sekali lagi sipedang kayu terdesak hebat hingga mundur berulang kali kebelakang.
Mendadak dari gusar ia menjadi tertawa, serunya dengan suara keras.
"Saudara Thi sia, mengapa sih kau harus mengumbar hawa amarahmu semacam ini, bagaimanapun juga kita kan masih terhitung sesama saudara seperguruan."
"Hmmm, tak usah banyak bicara, rasa benciku kepadamu sudah telanjur merasuk ketulang sumsum"
Bentak Kim Thi sia sambil mendesak maju lebih jauh.
"Haaah.....haaah.....haaaah.....buat apa saling membenci? Kalau ada persoalan kita kan bisa membicarakan seCara baik-baik."
"Tak usah banyak bicara lagi"
Tukas Kim Thi sia kesaL "Diantara kita berdua tak ada persoalan lagi yang bisa dibicarakan-...."
Tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benaknya, pemuda itu segera berpikir kembali.
"Pedang kayu adalah seorang yang licik dan berakal busuk. jangan-jangan ia sedang mengatur siasat untuk menjebakku?"
Sementara itu sikap sipedang kayu kian lama kian bertambah lunak, kembali dia berkata.
"Aku bermaksud baik kepadamu, harap kau pertimbangkan perkataan tadi....."
"Hmmm, bukankah kau berniat menyelamatkan jiwamu?"
"Toh tak ada salahnya aku berbuat begini."
"Hmm, bila manusia busuk semacam kau pun dibiarkan hidup terus didunia ini semua umat persilatan bakal mencaci maki aku."
Berbicara sampai disini, ia semakin mempergencar serangannya, jurus pedangnya bagaikan amukan angin topan melanda kedepan dan meneter musuhnya habis-habisan.
Sipedang kayu jadi kelabakan setengah mati, dia mencoba menangkis kian kemari namun tubuhnya mundur terus tiada hentinya.
Desingan tajam kembali menyambar tiada hentinya, kini pakaian yang dikenakan pedang kayu sudah compang camping tak karuan lagi bentuknya.
Namun Kim Thi sia tidak melepaskan lawannya dengan begitu saja, serangan demi serangan kembali dilancarkan dengan gencar.
Dalam waktu singkat seluruh badan sipedang kayu sudah penuh dengan luka bacokan, darah segar yang masih bercucuran deras membuat pemuda itu berubah menjadi manusia berdarah.
Dengan sinar mata buas dan penuh luapan rasa dendam, Kim Thi sia meneter terus dengan serangan yang lebih gencar.
Mendadak terdengar pedang kayu menjerit ngeri, tubuhnya robeh terjungkal keatas tanah dan tewas seketika itu juga.
Begitulah nasib pedang kayu yang semasa hidupnya banyak melakukan kejahatan-Kini dia harus tewas dalam keadaan yang mengerikan.
Selesai membantai musuhnya, cepat-cepat Kim Thi sia memburu kesamping putri Kim huan-Saat itu putri Kim huan masih berbaring diatas genangan darah sambil merintih kesakitan.
Wajahnya pucat pias bagaikan mayat, napasnya amat lemah,jelas luka tusukan yang dideritanya amat parah dan jiwanya susah diselamatkan lagi.
Melihat nasib tragis yang menimpa gadis cantik itu, Kim Thi sia merasa sangat beriba hati, cepat-cepat ia berjongkok disisi tubuhnya dan berbisik dengan lembut.
"Apakah kau ingin kugendong?"
"Tidak usah"
Putri Kim huan tertawa manis.
"Tapi...."
"Tapi apa?"
"Aku harap kau.......aku harap kau...."
"Apa yang kau inginkan?"
Dengan napas yang lemah putri Kim huan berbisik.
"Kau harus memenuhi dua buah permintaanku"
"Apa permintaanmu?"
"Kau jangan tanya dulu, jawablah apakah kau bersedia atau tidak......"
"Mana boleh jadi kalau tidak kau kata kan dulu?"
Seru Kim Thi sia tertawa paksa.
"Mengapa tidak boleh?"
"Bila tidak kau katakan dulu....."
"Apakah kau merasa kuatir?"
"Yaa, aku takut aku tak mampu melaksanakan permintaanmu itu"
"Kau pasti dapat melakukannya, kau pasti dapat melakukannya"
Seru putri Kim huan cepat.
"sebenarnya apa sih permintaanmu itu?"
"Katakan saja, bersedia tidak kau memenuhinya?"
"Aku......."
Melihat keraguan anak muda itu, dengan sedih putri Kim huan berbisik.
"Aku sudah hampir mati, apakah kau masih tetap ragu....."
Kemudian setelah menghela napas panjang, terusnya.
"Apakah kau tidak menaruh perasaan kasihan terhadap seorang wanita yang sebentar lagi akan mati?"
Kim Thi sia menjadi amat pedih, setelah termenung sejenak akhirnya dia berkata.
"Baiklah."
"Kau.... kau.... kau benar-benar menyanggupinya?"
Seru putri Kim huan dengan gembira.
"Yaa, benar"
"Pertama, aku minta kau memanggilku dengan sebutan......"
"Putri Kim huan"
"Tidak, aku minta kau memanggilku sebagai....."
Tiba-tiba ia menarik kepala pemuda tersebut dan membisikkan sesuatu disisi telinganya.
Mendengar bisikan ini, paras muka Kim Thi sia segera berubah menjadi merah padam.
tapi karena ia sudah berjanji akan memenuhi permintaannya, terpaksa dengan wajah tersipusipu dia berbisik.
"Adikku sayang......adikku sayang....."
Biarpun panggilan itu diucapkan dengan nada tersipu-sipu, namun bagi pendengaran putri Kim huan justru jauh lebih merdu dari nada suara musik yang terindah pun.
Pelan-pelan putri Kim huan pejamkan matanya rapat-rapat, gumamnya pelan.
"Engkoh Thi sia, boleh kau kusebut demikian kepadamu? Aku......aku......."
Tiba-tiba ia merasa darah panas mengalir keluar dengan derasnya. Dengan perasaan terkesiap Kim Thi sia segera berseru.
"Kee......kenapa kau?"
"Aku tidak apa-apa......"
Sahut putri Kim huan sambil menyeka darah yang membasahi tubuhnya itu.
"Apakah permintaanmu yang kedua?"
Kim Thi sia segera bertanya. Dengan pandangan penuh rasa cinta putri Kim huan memandang sekejap wajah pemuda lalu bertanya.
"Apakah kaupun bersedia melakukannya bagiku?"
"tentu saja, akan kulakukan dengan senang hati"
Janji Kim Thi sia sambil tertawa getir.
"Sungguh?"
"Bila aku berbehong dihadapanmu, biarlah aku Kim Thi sia mati tanpa sempat kabur."
"Kalau begitu peluklah aku erat-erat, peluklah tubuhku didalam rangkulanmu......"
Tanpa membuang waktu Kim Thi sia segera merangkul tubuh putri Kim huan yang penuh berlepotan darah itu dan memeluknya dengan lembut dan mesrah.
"Apakah begini?"
Ia bertanya.
"Tidak, bukan begitu......."
"Lantas harus bagaimana?"
Kim Thi sia agak tertegun.
"kau harus memelukku kencang-kencang, memelukku dengan penuh kehangatan cinta."
"Aku bukannya tak mau memelukmu erat-erat, tapi......"
Pemuda itu mencoba memberi penjelasan.
"Kau takut tubuhmu menjadi kotor?"
Tanya putri Kim huan cepat.
"Tidak... aku tidak bermaksud berbuat begitu"
"Lalu apa maksudmu?"
"Saat ini kau sedang terluka parah, aku kuatir."
"Kau kuatir aku mati dalam pelukanmu karena dipeluk terlalu keras?"
Dengan cepat anak muda tersebut mengangguk.
"Yaa, begitulah maksudku"
"Kalau begitu kau tak perlu kuatir......."
Kata si nona sambil menghela napas panjang.
"Kenapa harus begitu, tahukah kau bahwa nyawa merupakan benda yang paling berharga bagi manusia."
"Tapi nyawa sudah tidak berharga lagi bagiku"
Tukas putri Kim huan-"Aaaah, masa ada pendapat seperti ini dipikiran manusia......?"
"Sesungguhnya alasanku sederhana sekali"
Kata si nona dengan sedih.
"Kuharap kau jangan menyalahkan aku, terus terang saja aku sudah tergila-gila olehmu sehingga aku rela mati dalam pelukanmu......"
"Tapi.....mana boleh begitu?"
Seru Kim Thi sia gugup.
"Kenapa tidak boleh, aku toh sudah tak mungkin untuk hidup lebih lanjut...."
"Jangan teriampau emosi"
Bujuk pemuda Kim.
"Aku bersedia menggendongmu untuk pergi mencari Lentera hijau, siapa tahu benda mestika itu bisa menyelamatkan jiwamu."
Kata-kata itu diucapkan dengan jujur, serius dan penuh dengan perasaan sayang.
"Tidak, aku tak mau hidup, aku tak ingin hidup terus......"
Tampik putri Kim huan.
"Apakah kau memang berniat untuk mati?"
"Benar, aku ingin mati."
"Aaaai, sungguh tragis kejadian ini....."
Bisik Kim Thi sia sambil menghela napas.
"Tidak tragis, sama sekali tidak memedihkan hati, aku justru menganggap pikiranku ini lebih terbuka......."
"Sebenarnya bagaimana sih jalan pemikiranmu?"
"Aku merasa kehidupan di dunia ini sama sekali tak berarti lagi."
"Kau toh bisa pulang kenegeri Kim, kembali kepangkuan orang tuamu serta mencicipi kehidupan yang mewah dan penuh kebahagiaan?"
"Aaaai.....? Kau toh enggan pulang bersama ku, apa artinya kehidupan menyendiri bagiku....?"
Sahut putri Kim huan sambil menghela napas sedih. Kim Thi sia jadi gelagapan-"Soal ini.....soal ini.....sesungguhnya aku mempunyai alasanku sendiri."
"Yaa aku tahu, orang yang kau cintai sesungguhnya bukan aku, kau lebih mencintai nona Hay Jin bukan?"
Cepat-cepat Kim Thi sia mengalihkan pokok pembicaraan kesoal lain, ujarnya.
"Mari kita jangan membicarakan persoalan ini?"
"Kalau begitu peluklah aku,peluk aku kencang-kencang......."
Kali ini Kim Thi sia menurut, ia peluk gadis tersebut kencang-kencang. Kembali putri Kim huan berseru.
"Panggillah aku, panggillah aku, Cepat panggil aku......?"
"Adikku sayang?"
Kegelapan malam makin larut, ketika fajar mulai menyingsing terdengar putri Kim huan berseru lagi dengan suara.
"Peluklah aku......panggillah aku..^..ooh engkoh Thi sia jangan tinggalkan aku, peluklah aku dan panggillah aku hingga ajalku tiba....aku.....aku ingin mati dalam pelukanmu......"
Begitulah, akhirnya putri Kim huan menghembuskan napasnya yang terakhir didalam pelukan Kim Thi sia.
Sinar matahari telah berada diatas awang-awang Cahaya yang panas bersinar diatas pusara putri Kim huan-Suasana terasa begitu sepi, begitu hening seakan-akan dunia turut terharu atas kematian nona yang cantik jelita.
Kim Thi sia berdiri termangu didepan pusara, peluh telah bercucuran membasahi seluruh tubuhnya, tetapi ia masih termangu merasa sedih sekali.
Dia tak ambil perduli bau busuk yang terendus dari mayat si Pedang emas, iapun tak ambil perduli bau busuk dari mayat sipedang kayu.
Kim Thi sia amat membenci kedua jahanam ini, ia bersyukur mereka berhasil dibunuh dari muka bumi ini.
Sambil memandang keangkasa ia bergumam.
"oooh, suhu sekarang kau dapat beristirahat dengan tenang dialam baka, walaupun dengan susah payah akhirnya muridmu yang tak becus berhasil juga membalaskan sakit hatimu, apa yang disebut sebagai sembilan pedang dunia persilatan berhasil kutumpaskan-........"
Setelah termenung sejenak kembali ia bergumam.
"Aku harus pergi ke Lembah Nirmala secepatnya, kesatu untuk membasmi dewi Nirmala, keduanya untuk menolong nona Hay Jin, selain itu akupun harus memenuhi janjiku dengan sipukulan sakti tanpa bayangan-....."
Makin berpikir ia makin risau dan kesal, akhirnya dengan suara lantang ia membawakan lagu dendam kesumat.
"Dendam sakit hatiku, jauh melebihi samudra. Harus kan aku mati dalam keadaan begini? Biar badan hancur, biar tubuh remuk, akan kucuci semua sakit hatiku ini....... Lidahku dipotong, mataku dicukil, rambutku dipapas, tulangku dikunci, telingaku diiris, ototku dicabut, lenganku dikuntung dan kakiku ditebas. Rasa dendamku serasa merasuk ketulang. Aku merasa pedih, aku merasa sedih. Dendam kesumat ini harus kutuntut balas."
Dengan mengerahkan kemampuan yang ada Kim Thi sia berangkat kelembah Nirmala.
ia bergerak bagaikan sambaran kilat.
Menjelang matahari terbenam sampailah pemuda itu disebuah tebing, dari situ ia dapat melihat pemandangan di Lembah Nirmala dengan amat jelas.
Mendadak ia menyaksikan suatu pemandangan yang amat mengerikan hati.
la melihat Dewi Nirmala sedang memeluk Hay Jin dengan senyum licik buas menghias wajahnya, begitu kencang ia memeluk gadis tersebut hingga membuat si nona terengah-engah.
Paras muka Hay Jin kelihatan pucat pias seperti mayat, rambutnya amat kusut.
Menyaksikan peristiwa itu merah padam paras muka Kim Thi sia, dengan mata melotot bentaknya keras-keras.
"Lepaskan dia.......lepaskan dia......"
Bagalkan kemasukan setan ia mengayunkan pedang Leng gwat kiamnya sambil menyerang Dewi Nirmala.
"Braaaakkkk"
Sebatang pohon besar tersambar pedangnya hingga tumbang, pasir dan debu beterbangan menyelimuti udara.
Tiba-tiba Kim Thi sia berdiri tertegun.
Pada saat itulah terdengar seseorang berseru sambil tertawa dingin, suara itu berasal dari balik hutan yang lebat.
"Lepaskan dia......? Haaaah....haaaaah.....aku rasa tidak segampang itu."
Gelak tertawa yang keras menyadarkan kembali Kim Thi sia dari lamunannya.
la mengerti Lembah Nirmala bukan tempat sembarangan, tempat itu berupa sarang naga gua harimau yang diliputi kemisteriusan dan ancaman bahaya yang mengerikan.
cepat-cepat ia menghimpun tenaga murninya, lalu dengan gerakan burung walet terbang keselatan secepat kilat ia menyembunylkan diri dibalik sebuah batu cadas.
Sementara itu orang didalam hutan kembali menegur dengan suara dingin.
"Hey, yang berbicara barusan nirmala nomor berapa?"
Kim Thi sia tidak menjawab, dengan sangat berhati-hati ia melongok keluar dan memperhatikan keadaan disekelilingnya.
Walaupun hutan yang lebat membuat ia tak dapat melihat dengan jelas, namun secara lamatlamat tampak olehnya seorang pemuda sedang mencengkeram tubuh seorang kakek berambut putih yang mengenakan gelang emas dikepalanya.
Agaknya pemuda tersebut telah berhasil menotok jalan darah Mia meh hiat ditubuh kakek berambut putih itu sehingga sama sekali tak mampu bergerak^ oleh sebab itu sewaktu mendengar ada orang berteriak, ia kelihatan gusar sekali.
Menyaksikan kesemuanya ini, diamdiam Kim Thi sia berpikir.
"Ternyata sudah terjadi kesalahan paham dia mengira aku hendak mencampuri gerak geriknya, padahal andaikata dia tidak berteriak keras, mungkin akupun akan bertindak gegabah dan tidak menyangka dalam hutan ini masih ada orang yang lain-"
Sementara itu pemuda tersebut makin bertambah gusar setelah tidak mendapat reaksi apapun dari lawannya, ia membentak nyaring.
"Aku tak perduli kau adalah Nirmala nomor berapa, setelah berani membentakku untuk lepaskan dla, kenapa tidak berani tampilkan diri?"
Saat itu, kendatipun Kim Thi sia tidak berani memastikan siapa gerangan orang tersebut, namun bila ditinjau dari bentakannya, sudah dapat dipastikan orang itu bukan anggota Lembah Nirmala, itulah sebabnya tanpa ragu-ragu dia munculkan diri dari balik tempat persembunyiannya .
Baru muncul dari balik hutan, dia sudah melihat dengan jelas paras muka pemuda tadi, tanpa terasa serunya tertahan.
"Aaaah, rupanya kau adalah Sastrawan menyendiri"
"Betul, memang aku yang berada disini, mau apa kau?"
Bentak sastrawan menyendiri lagi penuh amarah. Kim Thi sia tertawa.
"Buat apa sih kau marah-marah dan menganggap diriku seperti musuh besar saja?"
Sastrawan menyendiri mendengus dingin.
"Hmmm, Kim Thi sia, aku tak akan berkata terus terang kepadamu setiap manusia yang membantu Dewi Nirmala untuk melakukan kejahatan, aku akan menganggapnya sebagai musuh besarku"
"Apa yang hendak kau lakukan terhadap mereka?"
"Akan kutumpas mereka sampai keakar-akarnya...."
Cepat-cepat Kim Thi sia mengacungkan jempolnya memberi pujian, serunya dengan lantang.
"Tindakan yang tepat, perbuatan yang amat bagus, kalau begitu kita mempunyai cita-cita serta tujuan yang sama. Sudah sepantasnya bila kita berkomplot dan bekerja sama untuk membasmi Dewi Nirmala serta melenyapkan bibit bencana umat persilatan-"
"Apa maksudmu?"
Tanya Sastrawan menyendiri dengan wajah tertegun-Kim Thi sia segera tersenyum.
"Harap jangan menaruh kesalahan paham kepadaku, teriakanku tadi bukan ditujukan kepadamu. Akupun tidak bermaksud membantu pihak Lembah Nirmala, sesungguhnya apa yang terjadi tadi hanya kebetulan saja. Sebab aku sedang bermimpi disiang hari bohong. Aku seolaholah melihat Dewi Nirmala sedang mencekik leher putrinya sehingga nyaris putrinya mati konyol, kau tahu bukan, nona Hay Jin adalah seorang nona yang baik hati......"
"Apakah kau telah jatuh cinta kepada nona Hay Jin, putri dari Dewi Nirmala itu?"
Tegur Sastrawan menyendiri ketus.
"Paling tidak. aku dan nona Hay Jin pernah menjalin hubungan yang sangat baik."
"Kalau memang begitu, bagaimana mungkin aku bisa mempercayaimu? Siapa tahu kau sudah menjadi begundalnya Dewi Nirmala?"
Kim Thi sia menjadi sangat marah, serunya.
"Apakah kau baru percaya setelah kurobek keluar hatiku dan diperlihatkan kepadamu?"
Sastrawan menyendiri segera tertawa tergelak.
"Haaaah......haaaah.......haaaaah.......itu mah tak usah, tapi ada satu kesempatan bagimu untuk membuktikan ucapanmu tadi"
"Kesempatan apakah itu?"
Sambil menuding kearah kakek berambut putih yang sedang dicengkeramnya itu Sastrawan menyendiri berkata.
"Tua bangka ini mengenakan gelang emas diatas kepalanya, kau tentu sudah tahu bukan siapakah dia?"
"Semestinya dia adalah Utusan nirmala anak buah dari Dewi Nirmala bukan?"
"Tepat sekali"
Sahut Sastrawan menyendiri sambil tertawa dingin.
"Dia adalah Nirmala nomor tujuh yang paling dipercayai oleh Dewi Nirmala....^"
"Waaah, aneh sekali kalau begitu"
Seru Kim Thi sia keheranan.
"Sudah jelas Nirmala nomor tujuh telah tewas, lagipula sewaktu menghembuskan napasnya, akupun berada dihadapanya, mustahil kakek ini adalah Nirmala nomor tujuh."
Kakek berambut putih yang dicengkeram jalan da rah Mia meh hiatnya segera meronta keras dan berseru.
"Aku bukan gadungan, selama ini dalam peraturan Lembah Nirmala berlaku satu undangundang, yaitu utusan nirmala harus berdiri dari dua puluh orang Jika terdapat seroang anggotanya yang terkena musibah. Maka akan dicari pengganti lainnya dari dalam tanah Yu ming toe tong......"
Begitu mendengar nama gua neraka tersebut, tanpa terasa Kim Thi sia teringat kembali cerita ayahnya dulu.
Konon di gua tadi disekap berpuluh orang jago persilatan yang kehilangan kebebasannya serta menjalani penghidupan yang amat menderita disitu.
Sementara dia masih termenung, dengan sinis Sastrawan menyendiri telah berkata lagi.
"Padahal tua bangka ini sudah cukup banyak merasakan penderitaan dan siksaan ditangan Dewi Nirmala, tapi sungguh aneh setelah diangkat menjadi Utusan nirmala dia malah seolah-olah menerima budi kebaikan yang amat besar saja, bukan cuma melupakan segala penderitaannya, bahkan bersedia pula untuk membantu Dewi Nirmala untuk melakukan pelbagai macam kejahatan-....."
"Aaaai......sesungguhnya aku sendiri pun mempunyai kesulitan yang tak bisa diterangkan"
Keluh Nirmala nomor tujuh sambil menghela napas panjang.
"Sudahlah, tak usah banyak bicara lagi. Nah Kim Thi sia, beranikah kau membunuh Nirmala nomor tujuh?"
"Kenapa tak berani?"
Jawab Kim Thi sia agak tertegun.
Walaupun ia menaruh perasaan benci yang merasuk sampai ketulang sumsum terhadap Lembah Nirmala, tapi sebutan nirmala nomor tujuh menaruh kesan yang amat mendalam baginya.
Walaupun Nirmala nomor tuuh yang berada dihadapannya sekarang sama sekali tidak mempunyai hubungan apa-apa dengannya, tetapi entah bagaimana, dia merasa agak ragu juga untuk menghukum mati dirinya.
Maka setelah berhenti sejenak, kembali ia berkata.
"Mengapa sih kita harus membunuhnya?"
"Hmmm, dengan susah payah aku mengembara untuk mencari sanak keluargaku, tapi dia telah berbuat buas, ia telah membunuh mati satu-satunya adik perempuanku yang masih hidup,....."
"Tapi setahuku, mereka hanya menjalankan perintah dari Dewi Nirmala yang bukan bertindak menurut kehendak sendiri"
Sastrawan menyendiri mendengus dingin.
"Siapa yang berani membunuh, dia harus mampus, dosa kesalahan orang ini tak bisa diampuni lagi"
Kim Thi sia merasa iba sekali, terutama setelah melihat kegaduhan Nirmala nomor tujuh yang nampak tersiksa hebat ditangan Sastrawan menyendiri, bukan saja seluruh badannya gemetar keras, mukanya menyeringai seram dan peluh dingin jatuh bercucuran membasahi seluruh tubuhnya.
Dengan suara lantang ia pun berseru kemudian.
"Kalau toh kau menaruh perasaan benci yang mendalam terhadap terhadap Nirmala nomor tujuh, mengapa kau tidak memberi kematian yang cepat baginya?"
Sastrawan menyendiri segera tertawa terbahak-bahak.
"Haaah.....haaaah......haaaah......keenakan baginya diberi kematian yang terlalu cepat IHmmm, akan kupetoti otot-otot tubuhnya, akan kulubangi tulang belulangnya, akan kukuliti tubuhnya dan akan kukorek hatinya......akan kubuat dia mati tak bisa, hiduppun serasa tersiksa, akan kusuruh dia merasa kan bagaimana tersiksanya dia karena berani membunuh adik kandung Sastrawan menyendiri"
"Kau kelewat kejam, buas dan tidak berperikemanusiaan, tak heran orang lain menyebut Sastrawan menyendiri"
Kata Kim Thi sia sambil menghela napas panjang. Kembali Sastrawan menyendiri mendengus dingin.
"Hmmm, setelah bertemu denganmu barusan, tiba-tiba saja aku berubah pikiran. Aku merasa siksaanku terhadap Nirmala nomor tujuh sudah lebih dari cukup, maka aku putuskan untuk tidak menghabisi nyawanya dengan tanganku sendiri..."
"Kenapa?"
Tanya Kim Thi sia agak tertegun.
"Apakah secara tiba-tiba kau menjadi tak tega, apakah kau merasa beriba hati menyaksikan penderitaannya?"
Sastrawan menyendiri tertawa hambar.
"Tidak, karena aku ingin kaulah yang membunuh orang itu."
"Kenapa mesti aku?"
Seru Kim Thi sia dengan wajah tertegun. Paras muka sastrawan menyendiri dingin dan kaku bagaikan es, dengan suara dalam ia berkata.
"Aku ingin menikmati jeritan ngeri yang memilukan hati dari Nirmala nomor tujuh disaat dia menemui ajalnya diujung pedang Leng gwat kiamnya, karena hanya suara jeritan yang memilukan hati itulah yang bisa melenyapkan kecurigaan dihatiku, membuktikan bahwa kau Kim Thi sia memang suci bersih. Menunjukkan bahwa kau bukan begundalnya Dewi Nirmala."
"omong kosong"
Bentak Kim Thi sia teramat gusar.
"Kau mesti tahu dengan jelas aku Kim Thi sia adalah seorang lelaki sejati yang tak sudi dieprintah oleh siapa pun aku selalu bertindak menuruti suara hatiku sendiri."
"Kalau memang begitu, hadiahkan saja dua tusukan pedang diatas dada Nirmala nomor tujuh"
Kata Sastrawan menyendiri sambil mendorong tubuh Nirmala nomor tujuh kedepan-Waktu itu, Nirmala nomor tujuh berdiri dengan tubuh terbetot kebelakang, begitu didorong kuat-kuat oleh Sastrawan menyendiri, tubuhnya menjadi gontai dan akhirnya roboh terjungkal keatas tanah.
Ia segera muntahkan darah hitam, matanya melotot makin besar, dengan wajah berkerut kencang menahan penderitaan yang luar biasa, serunya dengan terengah-engah.
"Kim, Kim Thi sia......berbuatlah kebaikan padaku.....bunuh......bunuhlah aku dengan sekali tusukan-....."
Rupanya ilmu silat yang dimiliki Nirmala nomor tujuh telah dimusnahkan, meskipun tak sampai tewas namun tubuhnya sudah berada dalam keadaan cacad.
Jarak dengan saat ajalnya pun sudah tak jauh lagi, tak heran kalau dia berusaha mencari kepastian yang cepat untuk melepaskan diri dari siksaan dan penderitaan tersebut.
"Baik...."
Sahut Kim Thi sia sambil melolos kan pedang Leng gwat kiamnya.
Dengan memutar pedangnya kencang-kencang, dia bermaksud menusuk jalan darah Tiong leng hiat didada kakek itu, serta mengakhiri kehidupannya dalam waktu singkat.
Tapi sayang.....
Belum sempat tusukan tersebut menembusi dada Nirmala nomor tujuh, tiba-tiba Sastrawan menyendiri membentak keras.
"Tunggu sebentar"
Sambil membentak ia rentangkan telapak tangannya lebar-lebar, dengan jurus "Harum bunga menyebar luas"
Ia melepaskan sebuah pukulan yang maha dahsyat mengancam tubuh Kim Thi sia.
"Hey, apa-apaan kamu ini?"
Dengan perasaan amat terkesiap Kim Thi sia berseru. Dalam keadaan terancam ia tak berayal-ayal lagi dengan gerakan "kupu-kupu menyelinap dibalik bunga"
Ia segera mengerahkan ilmu meringankan tubuh tanpa bayangan untuk melejit ketengah udara dan menghindarkan diri dari sergapan kilat itu sejauh tiga depa dari posisi semula.
Kemudian setelah berhasil berdiri tegak.
dengan wajah tertegun tegurnya sengit.
"Sastrawan menyendiri, bagaimanapun jua ia terhitung seorang jago kenamaan dalam dunia persilatan, mengapa perbuatanmu justru begitu licik dan memalukan? Kenapa kau menyergapku secara munafik?"
Sastrawan menyendiri tertawa nyaring.
"Sesungguhnya aku tidak berniat sama sekali untuk melancarkan sergapan terhadapmu meski ilmu silatmu cukup tangguh, namun aku, Sastrawan menyendiri masih mampu untuk bertarung melawanmu. Hmmm, kenapa aku mesti main bokong.....?"
"Hmmm, tapi buktinya kau telah menyerangku secara tiba-tiba, bagaimana penjelasanmu dengan perbuatan ini?"
Teriak Kim Thi sia marah.
"Aku hanya berniat menghalangi niatmu untuk menghabisi nyawa Nirmala nomor tujuh dengan sebuah tusukan saja"
"Tapu kau sendiri yang menyuruh aku menghabisi nyawa Nirmala nomor tujuh......."
Bantah Kim Thi sia keheranan-"Aku kan menyuruh kau menusuknya tiga kali"
Tukas Sastrawan menyendiri dengan wajah mendongkol.
"Tusukan pertama maupun tusukan kedua tak boleh membuat Nirmala nomor tujuh mati konyol, aku ingin dia mampus secara pelan-pelan tusukan yang ketiga........"
Sastrawan menyendiri tertawa dingin.
"Heeeh....heeeeh.....heeeeh.....pada tusukan yang pertama kau harus menusuk tulang bahu Nirmala nomor tujuh, luka pada bagian bahu cuma menyebabkan darah yang bercucuran deras, tapi untuk sesaat tak sampai membuatnya menemui ajalnya mengerti? Nah, cepat tusuklah"
Diam-diam Kim Thi sia mempertimbangkan tawaran tersebut, dia berpendapat bagaimana pun jua Nirmala nomor tujuh telah membantu durjana untuk berbuat kejahatan, dosa semacam ini memang tak terampuni, ditambah pula jiwanya sudah berada diambang pintu kematian, bila ia tidak mengikuti permintaan Sastrawan menyendiri, niscaya sikapnya akan menimbulkan kecurigaan dalam hatinya.
oleh sebab itu tanpa banyak berbicara, dia segera melaksanakan apa yang diminta orang itu.
"Aduuuuuh"
Akibat dari tusukan yang tepat melubangi tulang bahu Nirmala nomor tujuh itu membuat kakek tersebut menjerit kesakitan, suara pekikkannya amat mengerikan hati, bisa dibayangkan betapa tersiksanya orang itu.
Sastrawan menyendiri segera tertawa terbahak-bahak.
pujinya.
"Haaah....haaaah^....sebuah tusukan yang tepat sekali, tusukan kedua harus kau tujukan pada tulang iga Nirmala nomor tujuh......"
Tanpa berpikir panjang lagi Kim Thi sia segera melaksanakan kata-katanya itu.
Untuk kedua kalinya Nirmala nomor tujuh menjerit ngeri, tapi tindakan yang dilakukan Kim Thi sia ini sungguh teramat cepat, belum habis Nirmala nomor tujuh menyelesaikan jeritan ngerinya, pedang Leng gwat kiamnya sekali lagi menyambar kemuka kali ini dia menusuk jalan darah Yu bun hiat ditubuh lawan-Tampak cahaya putih yang berkilauan tajam berkelebat lewat, lalu tampak Nirmala nomor tujuh menyeringai seram, selembar jiwanya segera melayang meninggaikan raganya.
Dengan wajah berubah hebat Sastrawan menyendiri berseru.
"Kim Thi sia, gerak serangan pedangmu sungguh amat cepat da njarang dijumpai dalam dunia persilatan."
Pada saat yang bersamaan itupula tiba-tiba dari balik hutan bergema suara derap kaki manusia yang cukup ramai.
Berbareng dengan gema suara derap kaki manusia tadi, muncullah berapa orang kakek berambut putih yang semuanya memakai gelang emas diatas kepalanya ditempat tersebut.
Terdengar beberapa orang Utusan Nirmala itu membentak keras.
"Manusia latah darimana yang berani membuat keonaran didalam Lembah Nirmala. Hmmm, tampaknya kalian sudah bosan hidup semua"
Cepat-cepat Kim Thi sia mencabut keluar pedang Leng gwat kiamnya dari atas mayat Nirmala nomor tujuh, kemudian dengan gerakan "Ikan terbang pantang sayap"
Ia melejit sejauh berapa depa dari posisi semula dan memilih sebuah tempat yang strategis untuk bersiap diri menghadapi segala sesuatu yang tidak diinginkan.
Sikap Sastrawan menyendiri amat tenang, ditatapnya berapa orang Utusan Nirmala itu sekejap.
kemudian katanya.
"oooh, ternyata lagi-lagi ada tiga orang Utusan Nirmala yang datang menghantarkan diri hmmmm Kalian dengarkan baik-baik, saat kiamat bagi Lembah Nirmala sudah diambang pintu, bila tahu diri lebih baik kalian tinggaikan tempat ini selekasnya. Kalau tidak...... hmmm, jangan menyesal bila kepala sudah terpapas kutung. Nirmala nomor tujuh merupakan contoh soal yang terjelas untuk kalian semua."
Ketiga orang Utusan Nirmala itu mendengus dingin kemudian tertawa terbahak-bahak. Terdengar salah seorang diantara mereka bertiga, seorang kakek bermuka hitam berteriak lantang.
"Siapa kalian berdua dan berasal dari mana? cepat laporkan sejelasnya kepada kami ketahuilah diujung tangan Nirmala nomor enam tak pernah ada setan tanpa nama yang dibikin mampus."
"Aku adalah Kim Thi sia"
Sahut pemuda kita lantang.
"sedangkan dia adalah jagoan muda yang amat tersohor dari dunia persilatan, orang menyebutnya sebagai Sastrawan menyendiri...."
Seorang utusan Nirmala yang berdiri paling dekat, bersenjatakan sebuah sekop berbentuk aneh yang berwarna hitam segera membentak keras sebelum Kim Thi sia menyelesaikan kata-katanya.
Sambil memutar senjata sekop anehnya, dia berseru.
"Bocah keparat, kau berani membunuh Nirmala nomor tujuh, hmmm Hari ini aku harus menumpas dirimu dari muka bumi"
Dengan kecepatan bagaikan sambaran petir, dia memutar senjatanya menciptakan lapisan sekop yang berlapis-lapis ditengah udara, dalam waktu singkat jalan darah Lo leng hiat, Yu bun hiat, Im ku hiat, dan Yang wi hiat ditubuh Kim Thi sia sudah terkurung dibawah ancamannya.
Serangan yang dilancarkan Nirmala nomor delapan benar-benar dilakukan sangat mendadak dengan kecepatan bagaikan sambaran petir, bukan saja diluar dugaan, lagipula amat mengerikan.
Baru saja Kim Thi sia hendak melakukan satu tindakan, tiba-tiba terdengarlah berapa kali suara dentingan nyaring bergema memecahkan keheningan-....
"Traaang.... Traaanng..... Traaaannng....."
Dentingan demi dentingan yang bergema susul menyusul ini seketika membuat senjata sekop itu miring kian kemari tak berbentuk serangan lagi, otomatis ancamannya terhadap Kim Thi sia punjadi buyar.
Tak terlukiskan rasa kaget Nirmala nomor enam, buru-buru serunya dengan lantang.
"Nirmala nomor delapan, senjata rahasia yang dilancarkan Sastrawan menyendiri adalah jarum penggetar langit, kau tak boleh bertindak gegabah......."
Kembali Nirmala nomor delapan memutar senjata sekopnya melepaskan tiga buah serangan berantai, tapi berhubung jarum penggetar langit yang dilancarkan Sastrawan menyendiri kelewat dahsyat, pada hakekatnya susah baginya untuk mendekati Kim Thi sia, otomatis semua ancamannya pun mengenai sasaran yang kosong.
Kepada Sastrawan menyendiri segera bentaknya.
"Kenapa sih kau suka mencampuri urusan orang lain? Aku hendak menghajar Kim Thi sia untuk membalaskan dendam bagi kematian Nirmala nomor tujuh, apa sangkut pautnya urusanku denganmu?"
Sastrawan menyendiri tertawa sinis.
"Aku tahu, kalian menjadi anggota perguruan Nirmala bukan atas dasar kemauan sendiri, kini musuh tangguh sudah muncul didepan mata, saat kiamat Dewi Nirmala pun sudah berada diambang pintu, lebih baik kaburlah cepat-cepat untuk menyelamatkan diri, apa artinya menuntut balas buat kalian semua.......?"
"Tidak bisa"
Teriak Nirmala nomor delapan dengan mata mendelik.
"Nirmala nomor tujuh adalah saudara kandungku, kini Kim Thi sia telah membunuhnya maka kaupun berkewajiban untuk membalaskan dendam bagi sakit hatinya itu....."
"Kau justru salah menuduh"
Jengek Sastrawan menyendiri dengan wajah penuh amarah.
"Nirmala nomor tujuh mampus karena aku, maka bila kau ingin membalas dendam lebih baik langsung membalas kepadaku."
"Apa maksud ucapanmu itu?"
Seru Nirmala nomor delapan agak tertegun-"Sederhana sekali maksudnya, oleh karena Nirmala nomor tujuh telah membunuh adik kandungku si Dewi awan Khu Hui cu, maka......"
"Apa? kau adalah saudaranya si Dewi awan Khu Hui cu?"
Seru Nirmala nomor delapan agak tertegun.
"Tepat sekali, itulah sebabnya aku harus membalaskan dendam bagi kematian adik kandungku, maka dari itu bila kalian merasa tidak terima atas kematian dari Nirmala nomor tujuh, silahkan langsung mencari aku"
Jilid 55 Mengetahui bahwa Nirmala nomor tujuh tewas ditangan Sastrawan menyendiri, Nirmala nomor delapan menjadi sangat berang. Dengan sepasang mata merah membara,bentaknya keras keras"
"Kalau begitu, kau harus menyerahkan nyawa."
Dengan memutar senjata sekopnya, ia segera menyerang Sastrawan menyendiri dengan amat dahsyatnya.
Menghadapi datangnya ancaman tersebut, Sastrawan menyendiri tertawa dingin.....
Ditengah senyuman dingin ia sama sekali tidak menggerakkan tangannya, tapi sepasang kakinya dengan gerakan "Bintang berubah meteor berpindah"
Ia melompat kian kemari meloloskan diri dari ancaman, kenyataannya seluruh serangan dari Nirmala nomor delapan berhasil dipunahkan olehnya dengan mudah sekali.
Dalam waktu singkat, sepuluh jurus telah lewat, sikap Nirmala nomor delapan mulai tegang, peluh bercucuran membasahi seluruh tubuhnya.
Mendadak terdengar Nirmala nomor enam berteriak keras.
"Nirmala nomor dua puluh, kau cepat memberi laporan kepada Sin-cu, hanya Nirmala nomor sembilan yang bisa menaklukan bocah keparat ini."
"Baik. aku segera berangkat!!"
Sahut Nirmala nomor dua puluh cepat.
Selesai berkata, ia segera melejit ke udara dan kabur menuju kearah Lembah Nirmala.
Sebagaimana diketahui, andaikata Nirmala dua puluh berhasil lolos dari situ dan memberi laporan kepada Dewi Nirmala, niscaya dari pihak Lembah Nirmala akan dikirim sekelompok besar jagoan untuk membasi mereka berdua, sudah barang tentu Kim Thi sia tidak ingin kejadian tersebut sampai berlangsung.
Menyaadari akan bahaya yang sedang mengancam, cepat cepat Kim Thi sia melejit ketangan udara dengan gerakan "Naga sakti terbang ke angkasa"
Bagaikan perputaran roda kereta, dengan gerakan amat cepat dia mengejar Nirmala nomor dua puluh, lalu dengan pedang Leng gwat kiam yang di putar bagaikan ular berbisa, secepat petir ia lancarakan tusukan kemuka menggunakan jurus "Bunga Buddha tumbuh berkembang."
Diluar dugaan ternyata Nirmala nomor dua puluh sama sekali tidak becus, belum sempat membalikkan badan atau memberikan suatu reaksi, tahu tahu tubuhnya sudah tertusuk telak.
Diiringi jeritan ngeri yang menyayat hati, tubuhnya segera terjungkal ke atas tanah dan tewas seketika.
Melihat gelagat tidak menguntungkan pihaknya, Nirmala nomor enam menjadi amat terkejut, pikirnya.
"Aaah, ilmu silat yang dimiliki kedua orang pemuda ini sungguh lihay, aku tidak boleh melayani mereka secara tolol."
Mengutamakan kesempatan itu segera teriaknya keras-keras.
"Bocah keparat, kalian jangan kabur, tunggu saja orang lain akan datang membereskan kalian...."
Selesai berkata, bagaikan burung rajawali yang mementangkan sayap, dengan suatu gerakan cepat dia melarikan diri dari situ.
Setelah membereskan Nirmala nomor dua puluh,Kim Thi sia segera membalikkan badannya, tentu saja dia tak membiarkan Nirmala nomor enam berhasil kabur dari situ.
Dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya, secepat sambaran petir dia melakukan pengejaran dari belakang.
Keadaan Nirmala nomor enam saat ini seperti seekor anjing ayng kena di gebug.
seluruh otot tubuhnya hanya kelihatan gemetar keras, dengan mengerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya dia melarikan diri terbirit-birit.
Dalam waktu singkat dua buah bukit telah dilewatinya, sementara itu selisih jarak diantara mereka berdua pun kian lama kian bertambah dekat, Mendadak......
Dari depatn situ muncul kembali seorang kakek bermuka merah yang memakai gelang emas diatas kepalanya, kakek itu sedang berjalan mendekat dengan langkah santai.
Nirmala nomor enam menjadi teramat girang sesudah menyaksikan kemunculan orang itu, buru-buru teriaknya "Nirmala nomor sembilan, cepat kemari dan tolonglah aku..."
Siapa sangka gara-gara teriakan tersebut, gerak langkahnya menjadi lebih melamban.
Kim Thi sia segera menyusul ke depa dengan kecepatan luar biasa.
lalu dengan menggunakan jurus "Daun kerng gugur berterbangan."
Hawa pedang serasa menyelimuti seluruh angkasa, tahu-tahu batok kepala Nirmala nomor 6 sudah terpapas kutung dan jatuh menggelinding diatas tanah.
Saat ituah secara kebetulan Nirmala nomor sembilan mendengar teriakan tadi dan memburu ketempat kejadian, melihat apa yang barusan berlangsung, ia pun membentak nyaring "Bocah keparat, lihat pukulan!!"
"Blaaaaaammm......."
Dengan segulung angin pukulan yang maha dahsyat bagaikan gemuruh guntur disiang bolong, dia melancarkan sergapan yang mengerikan ke depan.
Agaknya Kim Thi sia pun mengerti bahwa Nirmala nomor sembilan bukan manusia sembarang, dia tak berani bertindak gegabah.
Cepat-cepat ilmu Ciat Khi mi khi-nya dikerahkan untuk melindungi tubuhnya menyurut mundur kebelakang.
Rupanya dia bermaksud mencoba kekuatan lawannya terlebih dulu sekalian menghidap sari kekuatan musuh sebelum melancarkan serangan balasan.
Namun sayang, serangan yang dilancarkan Nirmala nomor sembilan itu tiba-tiba saja ditarik kembali, Aliran hawa murni yang semula menyelimuti seluruh angkasa pun secara tiba-tiba hilang lenyap tak membekas.
Dari sini bisa diketahui pula bahwa tenaga dalam yang dimiliki kakek ini sudah mencapai puncak kesempurnaan hingga bisa dipergunakan dan ditarik kembali sekehendak hati sendiri.
Tat kala dia menyaksikan Kim Thi sia sama sekali tidak berhasrat melancarkan serangan balasan, ia segera mengerti bahwa sistem pertarungan semacam ini belum tentu mendatangkan hasil seperti yang diinginkan, oleh sebab itulah cepat-cepat dia menarik kembali serangannya.
Menggunakan kesempatan yang ada, tubuhnya segera melejit ketengah udara seperti burung walet yang terbang diangkasa, lalu dengan kecepatan luar biasa dia menyelip kebelakang punggung Kim Thi sia/ Mimpipun Kim Thi sia tidak menyangka kalau ilmu meringankan tubuh yang miliki Nirmala nomor sembilan telah mencapai kesempurnaan yang luar biasa, untuk sesaat ia menjadi kelabakan dan tak tahu bagaimana mesti menghadapi ancaman tersebut.
tak heran kalau pertahanan tubuhnya otomatis terbuka sama sekali.
Nirmala nomor sembilan segera tertawa terbahak-bahak..
"Haaahh...Haahh.... bocah keparat, sebelum mati kau harus mengerti lebih dulu nama dari kemampuanku ini, kepandaiant ersebut tak lain adalah gerakan Lompatan Dewi yang amat tersohor dikolong langit!"
Berbicara sampai disitu, dengan jurus "Kapak raksasa membelah batu"
Dia membabat punggung pemuda itu keras-keras.
"Duuukkk....!!"
Dengan telak serangan tersebut bersarang ditubuh pemuda tersebut.
Kim Thi sia segera maju sempoyongan dan akhirnya roboh terjungkal diatas tanah.
Melihat kejadian ini, Nirmala nomor sembilan segera tertawa terbahak-bahak lagi.
Belum habis gelak tertawanya itu, tiba-tiba suaranya terhenti sampai ditengah jalan dengan wajah berubah hebat dan sikap tertegun, serunya kaget "Apa....?
Mengapa kau...
kau bocah keparat belum mampus?"
Rupanya dia sedang menyaksiakn Kim Thi sia merangkak bangun dari atas tanah Sekalipun serangan yang dasyat tadi bersarang telak diatas punggungnya dan mengakibatkan tubuhnya roboh terjerembab keatas tanah hingga muntah darah, namun dengan ilmu Ciat Khi mi khi, ia mampu memunahkan kekuatan serangan lawan dan kini bangkit berdiri kembali.
Kembali Nirmala nomor sembilan berseru dengan suara yang keheranan "Hey, bocah keparat, betulkah kau tak mempan digebugi?
sebenarnya apa yang kau andalkan?"
Kim Thi sia segera tersenyum.
"Aku Kim Thi sia sudah termasyur didalam dunia persilatan sebagai manusia yang paling susah dihadapi, kepandaian inilah yang menjadi modal utamaku, aku tak mempan digebugi.."
"Apa sebabnya bisa begitu?"
Tanya Nirmala nomor sembilan dengan kening berkerut.
"sekalipun kuberitahukan kepadamu, belum tentu kau akan emngerti, inilah ilmu Ciat khi mi khi yang diwariskan oleh guruku, si Malaikat Pedang berbaju Perlente kepadaku."
Tiba-tiba Nirmala nomor sembilan mengaruk garuk rambut putihnya yangt ak gatal, seperti memahami sesuatu, segera serunya.
"Aaah, jadi kaulah Kim Thi sia, anak murid Malaikat pedang berbaju perlente kesepuluh."
"Benar-benar omong kosong!"
Tukas Kim Thi sia sambil membentak.
"bukankah sudah keberitahukan kepadamu sedari tadi?"
Dengan cepat Nirmala nomor sembilan menunjukkan wajah yang amat serius, katanya lebih lanjut.
"Benar-benar suatu peretua yang tak kusangka, sudha bersusah payah kucari jejakmu tanpa berhasil, tak tahu akhirnya berjumpa dalam keadaan tak terduga. Hhmmm.... aku memang sedang mengemban tuas dari Dewi Nirmala untuk mencarimu serta menggusurmu ke Lembah Nirmala."
"Bukankah aku sudah datang di Lembah Nirmala sekarang? Kebetulan aku pun sangat berharap bisa bersua dengan Dewi Nirmala."
"Kalau begitu, kebetulan sekali."
Seru Nirmala nomor sembilan sambil bertepuk tangan.
"Cepat serahkan pedangmuitu dan membelenggu diri sendiri, aku segera akan membawamu ke sana."
Berbicara sampai disitu dia benar benar mengeluarkan sebuah tali otot kerbau dan dilemparkan ke arah Kim Thi sia. Melihat benda ini, Kim Thi sia segera tertawa terbahak-bahak.
"Eeeh, apa yang kau tertawakan?"
Seru Nirmala nomor sembilan dengan wajah tertegun.
"memangnya aku telah salah berbicara?"
"tentu saja salah besar, kau anggap aku Kim Thi sia manusia macam apa? Hmmnn bila ingin bertemu dengan Dewi Nirmala kalian, buat apa aku mesti memikirkan segala hal yang sepele begitu?"
"Hmnn, bila kau tak mau menuruti perkataanku, maka ajalmu akan segera tiba di tempat ini juga."
Ancam Nirmala nomor sembilan dengan wajah yang amat serius.
"Antara aku dan dirimu toh tiada ikatan dendam sakit hati apapun jua, buat apa sih kau mesti mejual jiwa tuamu untuk Dewi Nirmala?"
"Terus terang saja aku beritahukan kepadamu, aku bekerja bagi Dewi Nirmala sesungguhnya demi diriku."
Kim Thi sia memang berhasrat untuk menyelidiki rahasia dari para utusan Nirmala, maka sambil menyabarkan diri dan sama sekali tidak menjadi gusar dia bertanya lebih jauh.
"Apa maksud perkataan itu?"
"Sesungguhnya aku sendiri pun amat membenci terhadap Dewi Nirmala. rasa benciku boleh dibilang sudah merasuk ke tulang sumsum. dia merayu ku dengan menggunakan kecantikan wajahnya sehingga membuat aku hancur, namaku dan pamorku kemudian tersekap didalam gua neraka hampir sepuluh tahun lamanya. dalam keadaan terpaksalah akhirnya kukabulkan permintaan Dewi Nirmala dan bersedia menuruti seluruh perintahnya."
"Bukankah sejak saat itu kau pun kehilangan hak mu untuk mendapatkan kebebasan?"
Kata Kim Thi sia sambil tertawa. Nirmala nomor sembilan segera menghela napas perlahan.
"Kebebasan memang merupakan hal yang paling berharga, dan sekarang Dewi Nirmala telah menjanjikan harapan tersebut kepadaku."
"Harapan apakah itu?"
Desak Kim Thi sia lebih jauh.
"Asal aku dapat membekukmu baik mati atau hidup, maka aku bisa peroleh kembali kebebasanku, tapi bila dalam keadaan hidup. Maka aku harus membekukmu hidup-hidup, nah kuanjurkan kepadamu lebih baik sedikilah tahu diri dan segera menyerahkan diri untuk diikat."
Kim Thi sia segera tertawa geli, jengeknya.
"Bagaimana mungkin hal semacam ini bisa terjadi? Sekalipun kau peroleh kembali kebebasanmu, baukankah kebebasanmu yang justru kau korbankan? "Aku sudah tua dan umurku hampir berakhir, aku ingin melewatkan sisa hidupku dalam alam kebebasan.
"Hal semacam ini bukan merupakan alasan yang kuat."
Nirmala nomor sembilan segera melotot gusar, bentaknya kemudian.
"Bagimu tak berartim bagiku justru merupakan alasanku yang terutama, ketahuilah, kebebasan tiada bernilai begitu, dari muda aku hidup tersiksa sepanjang masa, lebih baik kau saja yang aku korbankan."
Berkata sampai disini, dia segera melejit kedepan dengan menggunakan gerakan sakti lompatan dewanya.
Dalam waktu singkat tampaklah bayangan pukulan telah menyelimuti seluruh angkasa, deruan angin serangan serasa menusuk pendengaran.
Dengan perasaan apa boleh buat, terpaksa Kim Thi sia meloloskan pedang Leng Gwat kiam-nya dan mengeluarkan ilmu pedang panca Budha untuk menghadapi serangan serangan musuh yang gencar itu.
Secara beruntun pedangnya mengeluarkan serangkaian jurus serangan yang aneh, kabut pedang yang tebal menyelimuti seluruh tubuhnya, sementara tubuhnya selangkah demi selangkah maju menyongsong ke depan.
Dalam waktu singkat......
Terasa angin pukulan menyelimuti seluruh arena, hawa pembunuhan mencekam empat penjuru, keadaan saat itu sungguh mengerikan hati siapapun yang melihatnya.
Ditengah gulungan kabut dan debu yang berterbangan, tampak dua sosok bayangan manusia saling menggempur dengan serunya, sebentar mereka saling bergumul, sebentar lagi saling berpisah.
Perlu diketahui semasa masih mudanya dulu Nirmala nomor sembilan lebih dikenal sebagai Pangeran berkaki sakti, ilmu meringankan tubuhnya memang luar biasa mengagumkan, dengan andalkan kepandaian inilah dia banyak mengalahkan musuh-musuhnya.
Akan tetapi Kim Thi sia dengan bakat hebatnya telah mewarisi pula seluruh kepandaian sakti dari Malaikat pedang berbaju perlente, baik gerakan tubuh maupun tenaga khikangnya semua nya boleh dibilang top, terutama sekali ilmu pedang panca buddhanya, boleh dikata jarang menemui lawan tandingan....
Sementara itu pertarungan antara kedua orang tersebut yang telah berlangsung mencapai ratusan gebrakan lebih, namun menang kalah maish belum bisa ditentukan.
Dalam pada itu....
Sastrawan menyendiri telah berhasil menghabisi nyawa Nirmala nomor delapan dan menyusul ke sana, kini dia sedang menonton jalannya pertarungan dari tepi arena.
Pada mulanya secara lamat-lamat dia masih bisa menyaksikan bagaimana Kim Thi sia dan Nirmala nomor sembilan bertarung sengit.
lama kelamaan secara pelan pelan ia berhasil menemukan keadaan yang sebenarnya dari kedua orang itu.
Dalam waktu singkat ia berhasil mengenali jurus-jurus silat yang dipergunakan oleh Nirmala nomor sembilan, tanpa terasa gugamnya "Ah, jurus serangan ini adalah seratur dewa menyembah malaikat...
ya...
jurus yang ini adalah tongkat berdiri tampak bayangan....
sedang yang ini adalah lompatan dewa, ilmu andalan dari keluarga Khu kami di Hoa-im...."
Perlu diketahui ilmu "Lompatan Dewa"
Milik si Pangeran berkaki sakti Khu Kong hanya diwarikan kepada putra bungsunya Khu Cu kian seorang, dia pernah bersumpah selain ahli warisnya, biar putri kesayangannya pun tidak diajarkan.
Dan kebetulan sekali Sastrawan menyendiri tak lain adalah putra dari si Pangeran berkaki sakti Khu Kong-ci yang bernama Khu Cu kian itu.
Sejak kecila ia telah kehilangan ayahnya hingga membuat dia terseret untuk berkelanan didalam dunia persilatan, tujuannya yang utama tak lain adalah untuk melacaki jejak ayahnya itu.
Mimpipun dia tak menyangka kalau utusan Nirmala yang sedang bertarung melawan Kim Thi sia sekarang, menguasai pula ilmu Lompatan Dewa yang merupakan kepandaian khas dari keluarga Khu mereka.
Tergopoh-gopoh Sastrawan menyendiri mengamati wajah kakek itu dengan lebih seksama, begitu melihat wajah Nirmala nomor sembilan yang merah membara, air matanya segera jatuh bercucuran dengan deras.
Teriaknya keras-keras.
"Ayah... ayah... kau adalah ayahku... kau adalah ayahku....."
Dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya, secepat anak panah yang terlepas dari busurnya ia segera menerjang masuk ke dalam arena pertarungan.
Betapapun lamanya mereka berpisah, antara ayah dan anak memang selalu terjalin hubungan batin yang akrab.
Apalagi Nirmala nomor sembilan memang tak lain adalah Pangeran berkaki sakti khu Kong.
Ketika secara tiba tiba dia mendengar teriakan dari Sastrawan menyendiri Khu Cu kian tadi, indera keenamnya segera terasa bergetar keras, tanpa menggubris serangan dari Kim Thi sia lagi serta merta ia menghentikan serangannya secara mendadak dan berdiri tertegun.
"Anak Ce kian, benarkah kau..."
Serunya kemudian. Dalam pada itu Kim Thi sia yang sedang bertarung sengit sedang melancarkan sebuah serangan dahsyat dengan jurus "Panca buddha duduk di teratai..."
"Seeerrr!!"
Ditengah desingan angin tajam yang menyambar lewat, tahu tahu tubuh si Pendekar berkaki sakti telah terpapas kutung menjadi dua bagian, darah segar segera menyambar ke empat penjuru dan tewaslah kakek tersebut seketika itu juga.
Kebetulan sekali Sastrawan menyendiri memburu datang pada waktu yang bersamaan, dia segera memeluk tubuh ayahnya dan berpekik nyaring "Kim Thi sia!!
apa...
apa yang sedang kau lakukan??"
Dengan napas tersengal-sengal jawab Kim Thi sia "sungguh hebat kepandaian silat yang dimiliki Nirmala nomor sembilan, aku harus bersusah payah mengerahkan segenap kemampuan yang kumiliki sebelum berhasil mengakhiri hidupnya."
Dalam pada itu Sastrawan menyendiri Khu Cu kian telah menyandarkan mayat ayahnya ditepi pohon besar,lalu sambil melotot penuh kegusaran, bentaknya keras-keras.
"Kim Thi sia, aku si bajingan keparat benar-benar kelewat kejam dan tak berperi kemanusiaan."
Sesungguhnya dalam arena pertarungan tadi, Kim Thi sia sama sekali tidak mendengar bagaimana Sastrawan menyendiri memanggil ayah kepada Nirmala nomor sembilan, oleh sebaba itu dia masih belum mengetahui dengan jelas hubungan erat antara kedua orang tersebut.
Ia menjadi tertegun setelah mendengar teguran tadi, cepat cepat serunya keras.
"Kenapa aku kejam? Kenapa aku tak berperi kemanusiaan? Bukankah Nirmala nomor sembilan adalah begundalnya Dewi Nirmala?"
"Dia adalah ayahku!"
Pekik Sastrawan menyendiri dengan suara lantang.
"Aaai..."
Kim Thi sia berseru tertahan setelah mendengar pekikan tersebut.
"kejadian ini benarbenar diluar dugaanku."
Sambil menggertak gigi menahan gejolak emosi yang membara didalam dadanya. Sastrawan menyendiri kembali berseru dengan rasa benci.
"Sekarang kau telah menjadi musuh besar pembunuh ayahku.. dalam kehidupan selanjutnya, aku bersumpah tak akan melepaskan dirimu dengan begitu saja..."
Kim Thi sia hanya berdiri tertegun serperti sebuah patung, untuk sesaat lamanya dia tak tahu apa yang mesti diperbuatnya...
Tiba tiba terdengar suara seruan tertahan dari Nirmala nomor sembilan, rupanya kakek itu belum putus nyawa, dengan suara keras terdengar ia berkata.
"Oooh, anak cu-kian, akhir yang dialami ayahmu sekarang bukan menjadi kesalahan Kim Thi sia... sesungguhnya akulah yang mencari celaka bagi diri sendiri..."
"Ooohh ayah.. apa yang harus ananda lakukan bagimu?"
Pekik Sastrawan menyendiri sedih.
"Kau harus membalasakn dendam bagiku."
"Bila Kim Thi sia tidak ku bunuh. kepada siapa dendam sakit hati ini harus ku tuntut balas?"
Pangeran berkaki sakti Khu kong memuntahkan darah segar, kemudian dengan suara terputusputus katanya lagi "Kau...
kau harus membunuh Dewi Nirmala...
sebab...
sebab dia...
dialah musuh besar ayahmu yang sesungguhnya."
Kata kata itu diutarakan dengan bersusah payah, seakan akan terdapat beribu patah kata yang hendak disampaikan, anmun kekuatannya sudah tak mampu untuk berbuat begini.
Melihat keadaan ayahnya semakin lemah, tanpa terasa air mata jatuh bercucuran mebasahi wajah Sastrawan menyendiri, buru-buru dia menempelkan bibirnya disisi telinga ayahnya dan berbisik.
"Ayah.. pesan apa lagi yang hendak kau sampaikan... katakanlah cepat...."
Tapi sayang keadaan sudah terlambat, selembar nyawa Pangeran Berkaki sakti Khu kong sudah keburu meninggalkan raga untuk selamanya.
Isak tangis yang memedihkan hatipun bergema memecahkan keheningan malam.
Kim Thi sia berdiri menyesal disisi arena, dengan mulut membungkam, dia membantu Sastrawan menyendiri untuk menggali liang kubur serta mengubur jenazah ayahnya.
Mereka berdua sama-sama merasakan pikiran dan perasaannya sangat berat, siapapun tidak berbicara, mereka hanya mengangkuti batuan dengan mulut membungkam dan membentuk sebuah kuburan batu yang megah dan kuat.
Menjelang larut malam akhirnya pekerjaan telah diselesaikan, mereka berdua duduk bersama didepan kuburan sambil melepaskan lelah.
Angin malam berhembus sepoi-sepoi mendatangkan perasaan yang sepi di hati mereka.
Tiba-tiba Sastrawan menyendiri menghela napas panjang, lalu gugamnya pelan.
"Aaaai,... perubahan nasib manusia memang sukar diduga, sore tadi aku masih mamaksamu dengan ancaman pedang untuk membunuh Utusan Nirmala, sungguh tak disangka, menjelang malam aku justru membencimu setengah mati setelah melihat kau membunuh seorang Utusan Nirmala."
Sambil menghela napas panjang Kim Thi sia mengelengkan kepalanya berulang kali, katanya "Yaa, siapa yang menyangka akan terjadi perubahan seperti ini, aku pun tidak menyangka Nirmala nomor sembilan yang berhasil ku bunuh sesungguhnya adalah ayah kandungmu."
"Seandainya kau menjadi aku, apa yang hendak kau lakukan?"
Tanya Sastrawan menyendiri secara tiba-tiba. Kim Thi sia termenung sejenak, kemudian sahutnya.
"Aku adalah orang yang tak senang berbohong, maaf kalau aku akan berbicara terus terang, kuharap kau jangan marah setelah mendengar nanti...."
Dengan tak sabar Sastrawan menyendiri menukas.
"Tak usah berbasa basi lagi, aku ingin tahu seandainya ada orang telah membunuh mati ayahmu, apa yang hendak kau perbuat?"
"Aku pasti tak akan mengampuni dia dengan begitu saja!"
Jawab Kim Thi sia cepat. Sastrawan menyendiri segera tertawa sedih.
"Yaa... perkataan mu memang benar!"
Tapi setelah memandang kuburan ayahnya sekejap, ia segera menghela napas panjang sambil menyambung.
"Tapi... aku pun tak bisa melanggar pesan terakhir dari ayahku tadi..."
"Perkataan dari ayahmu tadi memang benar, meski kita saling berhadapan tadi, namun orang yang sesungguhnya membunuh ayahmu bukan aku, melainkan Dewi Nirmala."
"Bagaimanapun juga kita tak bisa menghilangkan kenyataan yang ada dengan begitu saja."
Seru Sastrawan menyendiri ketus.
"Aku toh melihat dengan mata kepalaku sendiri bagimana ayahku tewas diujung pedamu tadi."
"Lalu apa yang sebenarnya hendak kau perbuat?"
Kembali Sastrawan menyendiri menghela napas panjang.
"Aaai, sekarang aku sudah kehilangan pegangan sama sekali."
"Kau tak boleh berputus asa, aku harus bangkitkan kembali semangatmu, mari kita bekerja sama menyerbu. Lembah Nirmala bisa kita kalahkan, akupun yakin Dewi Nirmala pasti dapat kita cincang hingga hancur berkeping-keping."
Mendadak Sastrawan menyendiri membentak keras.
"Membalas dendam atau tidak adalah urusanku sendiri, dalam kejadian mana kau sama sekali tak ada sangkut paunyta denganku!"
"Tapi aku berbicara sejujurnya kepadamu..."
Seru Kim Thi sia agak tertegun.
"Harap kau jangan berbicara itu lagi denganku, harap kau tinggalakn aku secepatnya."
"Mengapa harus begitu?"
"tak ada alasan lain, aku cuma tak ingin bertemu lagi denganmu. tak ingin melihat tampangmu yang memuakan lagi.."
Teriak Sastrawan menyendiri lantang.
"Tapi.. buat apa kau mesti berteriak begitu? Aku toh tidak berniat sungguh sungguh untuk membunuh ayahmu, takdirlah yang telah salah mengatur kesemua ini, mengapa kita tidak bersahabat saja?"
"Aku tak ingin bersahabat dengan siapapun, selama hidup aku suka menyendiri, dalam melakukan pekerjaan apapun aku lebih senang melakukannya seorang diri, lebih baik tinggalkan tempat ini secepatnya, kau tak usah mengganggu ketenanganku lagi!"
Kim Thi sia mengerti bahwa rasa benci Sastrawan menyendiri terhadapnya sudah merasuk hingga ke tulang sum sum, akan tetapi dia tak pandai bicara dan tak mampu menjelaskan soal ini kepada Khu cu-kian, akhirnyasambil menghela napas, katanya "Kalau memang begitu, aku pun tak ingin memaksa lagi."
"Cepat pergi dari sini. cepat tinggalkan tempat ini!"
Bentak Sastrawan menyendiri keras-keras. Sambil tertawa getir, Kim Thi sia segera menjura dan berkata.
"Terlepas bagaimana pun anggapanmu terhadapku, aku masih tetap menyebut kau sebagai sahabat, selamat tinggal!"
Selesai berkata ia segera membalikkan badan dan meneruskan perjalannnya menuju ke Lembah Nirmala.
Sastrawan menyendiri sama sekali tidak menghantar kepergiannya, sambil tetap duduk didepan kuburan ayahnya, dia berseru keras.
"Kuharap kita jangan pernah bersua kembali dikemudian hari, sebab bila sampai bertemu muka, aku pasti akan mencari alasan lain untuk membunuhmu, kuharap kau bisa memahami keadaan ini."
Kata-kata tersebut sengaja diucapkan dengan suara keras-keras sehingga sekeliling hutan itu penuh dengan gema suaranya.
Tentu saja Kim Thi sia dapat mendengar seruan tadi dengna jelas, namun dia tak ambil pusing, sambil tertawa getir, ia meneruskan kembali perjalanannya kedepan.
Pikiran dan perasaannya saat ini sangat kalut, pada hakekatnya dia tak tahu apa yang mesti diperbuatnya.
Tanpa terasa betapa buah bukit telah dilewati, kini dia mulai memasuki kawasan Lembah Nirmala.
Ditengah lembah terbentang hutan batu yang amat luas sekali.
Diantara bebatuan cadas, seringkali ia jumpai tengkorak-tengkorak manusia yang berserakkan dimana-mana, yang aneh adalah diantara tengkorak manusia yang berserakkan tadi tersebar pula emas yang berbongkah-bongkah banyaknya, dibawah pantulan sinar rembulan terlihat biasan cahaya emas yang menusuk pandangan mata.
Kim Thi sia memang bukan seorang pemuda yang kemaruk akan harta, selama ini dia selalu menganggap harta kekayaan bagaikan kotoran manusia, ditambah lagi pikiran dan perasaannya sekarang amat kalut, karenanya meski ia sudah melampaui banyak sekali tengkorak manusia dan gemerlapannya bongkah emas pikirannya sama sekali tak tergerak.
Tapi......
Pemadangan yang terbentang didepan mata sekarang segera mengingatkan Kim Thi sia akan suatu persoalan.
Sambil menghela napas panjang pikirnya.
"Sebelum menghembuskan napas yang penghabisan dulu, ayah pernah beritahu kepadaku bahwa pihak Lembah Nirmala sengaja menyebarkan uang emas dalam jumlah yang banyak disekitar lembahnya untuk memikat orang mengambilnya, malah ayah sendiri pernah keracunan hebat akibat uang emas ini. Aaaah.....mungkin jalan yang kutempuh hari ini adalah jalan yang pernah ditempuh ayahku dulu."
Berpikir sampai disini, Kim Thi sia segera merasakan semangatnya berkobar kembali. Sambil meloloskan pedang Leng gwat kiamnya, dia mendongakkan kepalanya dan berdoa.
"Ayah......kau orang tua tak usah kuatir, hari ini juga ananda akan menyelesaikan pesan terakhirmu itu, akan kubongkar rahasia Lembah Nirmala yang sebenarnya."
Baru selesai dia memanjatkan doa, mendadak dari balik semak belukar takjauh dari tempatnya berdiri, bergema suara tertawa dingin yang kaku menyeramkan bagaikan hembusan angin beku dari gudang salju itu.
Dengan cekatan Kim Thi sia membalikkan badan kemudian melejit kemuka dengan mengerahkan gerakan "delapan langkah menempuh ombak."
Begitu melihat dengan jelas siapa gerangan yang berada disitu, dia segera menyapa.
"ooh, rupanya cian sianseng yang amat termasyur namanya telah hadir disini, selamat bersua kembali"
Cian sianseng tertawa keras, kemudian tegurnya.
"Ditengah malam buta begini berani amat kau datang kemari. Kaupun nampaknya tidak tertarik menyaksikan begini banyak bongkahan emas yang berserakkan diatas tanah. Hei anak muda, kau hebat sekali."
Kim Thi sia segera tertawa.
"Sesungguhnya aku tidak terlalu hebat, tapi bila dibandingkan dengan kawanan manusia munafik yang baik diluar busuk didalam, sesungguhnya aku masih jauh dari bagus."
Merah padam selembah wajah cian sianseng sesudah mendengar perkataan itu, agak tergagap serunya.
"Tidakkah kau merasa bahwa masalah yang kau singgung sama sekali tidak menarik hati......."
Kim Thi sia tertawa dingin.
"IHeeeh....heeeh.....aku pingin bertanya, persekongkolan apakah yang sebenarnya sedang kau lakukan dengan Dewi Nirmala? Rencana busuk apapula yang hendak kau perbuat? Aku anjurkan kepadamu lebih baik berterus terang saja dihadapanku."
Dengan penuh amarah cian sianseng segera berseru.
"Baik, akan kukatakan apa yang sebenarnya terjadi kepadamu, siburung Hong lampeng dengan membawa kelima pengikutnya, lima naga dari wilayah Biau yang telah membawa lentera hijau datang ke Lembah Nirmala, bukan itu saja mestika tersebut telah memulihkan kekuatan Kun han sam coat khikang ku, bahkan membantu Dewi Nirmala dalam latihan ilmu Tay yu sinkannya hingga memperoleh kemajuan yang amat pesat. Hmmm, kini kau telah memasuki daerah terlarang, lebih baik berhati-hatilah sedikit kalau berbicara"
Kim Thi sia tertawa nyaring.
"soal itu mah sudah kuketahui sejak dulu lama dengan andaikan kalian berdua barang rongsokan, aku belum bisa dibuat ketakutan"
"Pukulan sakti tanpa bayangan Ang Bum ayah dan anak berduapun sudah hadir disini sekarang...."
Sela ciang sianseng cepat.
"Mau apa mereka datang kemari?"
"Kau mesti tau keluarga Ang dari Tiang pek san adalah besan Dewi Nirmala, sudah sepantasnya bila mereka saling mendukung."
"Hmmm, sayang sekali nona Hay Jin tak sudi kawin dengan Ang Thian tong, ia sudah kabur keujung langit danjejaknya tidak ketahuan rimbanya lagi....."
Sela Kim Thi sia.
"Hmm, sayang sekali kau hanya tahu itu, tak tahu yang lain?"
Sesudah tertegun sejenak Kim Thi sia segera berseru.
"Jadi nona Hay Jin telah berhasil kalian temukan kembali?"
"Bukan hanya ditemukan saja, bahkan sudah melangsungkan perkawinan dengan Ang Thian tong, malam ini adalah malam pengantin mereka."
Seketika itu juga Kim Thi sia merasakan darah yang mengalir dalam tubuhnya telah mendidih, teriaknya cepat.
"Kau.......kau situa bangka hanya ngaco belo, rupanya kau sengaja hendak membohongi aku"
Mendengar itu, ciang sianseng tertawa terbahak-bahak.
"Haaah.....haaaah.....haaaah....rasanya tiada kepentingan bagiku untuk berbohong."
"Lalu apa maksudmu memberitahukan semua persoalan tersebut kepadaku......."
"Aku hanya bermaksud agar kau mengetahui kenyataan dengan sejelasnya, dalam Lembah Nirmala sekarang bukan cuma ada aku bersama Dewi Nirmala, disinipun hadir lima naga burung hong, hadir pula Pukulan sakti tanpa bayangan serta putranya, dengan kekuatan sebesar ini,jelas kau bukan apa-apa dalam pandangan kami semua"
"Hmmm, sayang aku justru datang kemari untuk menumpas kawanan anjing semaCam kalian itu"
Kembali ciang sianseng tertawa terbahak-bahak. Rasa benci dan dendam telah menyelimuti seluruh wajah Kim Thi sia, dengan wajah merah membara bentaknya lagi.
"Beranikah kau memberitahukan kepadaku, dimanakah letak kamar pengantin orang she Ang itu?"
"Hmmm, tampaknya kau tidak mempercayai perkataanku."
Seru ciang sianseng dengan kening berkerut.
"Baik, akan kuberitahukan kepadamu, kamar pengantin mereka diruang burung hong, dari sini belok kiri akan kau turuni sebuah bukit, dipunggung bukit itulah letaknya, disitu akan kau jumpai Cahaya lentera yang terang benderang."
"Baik"
Seru Kim Thi sia dengan amarah yang berkobar-kobar.
"Sekarang juga aku akan berangkat kesana dan membumi ratakan gedung tersebut."
Baru saja dia hendak beranjak pergi dari situ, tiba-tiba terasa desingan angin pukulan yang sangat dahsyat menyergap tiba dengan hangatnya.
Tampak olehnya ciang sianseng telah turun tangan melancarkan serangan, jelas dia bermaksud mencabut selembar nyawa Kim Thi sia.
cepat-cepat pemuda itu mengeluarkan gerakan "impian indah berputar dikebun"
Lalu meloloskan diri dari ancaman lawan lalu dengan amarah yang membara bentaknya.
"Sungguh aneh, mengapa aku jadi begitu garang dan buas macam harimau kelaparan saja?"
Ciang sianseng tertawa dingin.
"Aku merasa amat menyesal karena tidak berhasil membacok mampus dirimu dalam sekali ayunan tangan"
"Padahal antara kau dengan aku toh tak terjalin permusuhan apapun. Buat apa kau mesti senekad ini?"
Kata Kim Thi sia sambil tertawa getir. Dengan kebencian yang meluap ciang sianseng menyahut.
"Ilmu Tay goan sinkang dari guru setanmu telah merusak ilmu Kun goan sam coat khikangku sehingga hal ini membuatku tersiksa selama banyak tahun. Dendam sakit hati ini tak pernah akan kulupakan kembali untuk selamanya."
"Jadi kau hendak melampiaskan rasa dendammu itu kepadaku?"
Kata Kim Thi sia.
"Kau adalah murid terakhir dari Malaikat pedang berbaju perlente, sudah sepantasnya bila kau yang menanggung segala resikonya."
"Kalau toh kau berpendapat demikian, bukankah Dewi Nirmalapun masih terhitung adik seperguruannya Malaikat pedang berbaju perlente, kenapa kau tak berani mencari gara-gara dengannya?"
"Hmmm, aku bebas menentukan lawan tandinganku"
Seru ciang sianseng agak tersipu-sipu. Mendengar itu, Kim Thi sia tertawa tergelak.
"Haaah.....haaaah......sudahlah, kau tidak usah berlagak sok gagah dimulut, padahal aku Cukup memahami bagaimanakah watak manusia rendah semaCam kau itu. Hmmm oleh karena kau melihat perempuan itu mempunyai banyak anak buah dan pengaruhnya besar, maka kau hendak mendukung serta menjilat pantatnya......IHmmm, kalau dibicarakan sesungguhnya, aku malah menaruh perasaan kasihan kepadamu."
"Lebih baik kau mengasihani dirimu sendiri"
Terlak ciang sianseng dengan gemas.
"Sekarang kau hidup berkelana seorang diri bukankah kau merasa sedih setelah mendengar bahwa Ang Thian tong telah mengawini nona Hay Jin dan sekarang lagi menikmati malam pengantinnya?"
Merah padam selembar wajah Kim Thi sia, buru-buru ia berseru.
"Aku justru merasa gembira akan hal ini"
"Tapi sayang dengan kehadiranku disini, aku tak akan membiarkan kau merasa gembira"
Ucap ciang sianseng dengan suara dalam.
"Lantas apa yang kau kehendaki?"
Kemudian setelah meludah keatas tanah, kembali lanjutnya.
"Aku justru akan berkunjung kesitu, akan kubumi hanguskan gedung burung hong tersebut, mau apa kau?"
"Haaaahhhh.......boleh saja kalau kau ingin berkunjung kesitu, tapi aku mempunyai sebuah syarat yang mesti kaupenuhi dulu."
Kim Thi sia berkerut kening, agakjengkel serunya.
"Apa syaratmu?"
"Silahkan kau minta ijin dulu dengan sepasang kepalanku ini"
Kata ciang sianseng sambil mengacungkan tinjunya. Hawa amarah yang berkobar didada Kim Thi sia benar-benar tak terkendalikan lagi, dia berseru.
"Kalau begitu kau hendak mencari kesulitan denganku rupanya. Baik, mari kita bertarung untuk menentukan siapa yang berhak untuk melanjutkan hidup didunia ini?"
"Malam ini adalah saat berlangsungnya malam pengantin yang amat meriah. Kau tahu aku telah berjanji kepada Dewi Nirmala untuk persembahkan pedang Leng gwat kiam kepadanya"
"Hmmm, aku lihat, mungkin kau sudah dibuat mabuk oleh air kata-kata sehingga mengigau tak karuan Pedang Leng gwat kiam toh menjadi milikku, atas dasar apa kau hendak mendapatkannya? "
Berbicara sebenarnya, ciang sianseng memang masih terpengaruh oleh alkohol waktu itu, hanya suatu munculkan diri pertama kali tadi Kim Thi sia belum merasakan hal itu, setelah pembicaraan berlangSung dan ia mengendus bau arak.
rahaSia mana baru diketahui olehnya.
Benar juga, dibawah Sinar rembulan tampak paras muka ciang sianseng merah padam seperti bara api, otot-ototnya pada menonjol keluar semua.
Ketika mendnegar ejekan pemuda tadi, dengan suara berang ia segera berteriak.
"Kenapa aku tak bisa mendapatkan pedang Leng gwat kiam itu?"
"Hmmm, tentu saja tak bisa, karena pedang Leng gwat kiam adalah benda milikku dan sekarangpun masih berada ditanganku."
"Bukankah lentera hijau dulunya juga menjadi milikmu? Tapi buktinya sekarang.....benda tersebut telah berpindah tangan."
"Keadaan tersebut sama sekali berbeda, lentera hijau bisa berpindah tangan karena si burung hong Lam Peng telah mendapatkannya dengan Cara yang amat licik. Akupun tidak rela menyerahkan benda itu kepadanya."
"Sudahlah, tak usah dipersoalkan lagi rela atau tidak, pokoknya sekarang pun aku datang untuk merampasnya dari tanganmu."
"Hmmm, ngomong sih gampang, tapi dengan cara apa kau hendak merampasnya dari tanganku?"
Jengek Kim Thi sia sambil tertawa dingin.
"Akan kuandalkan dengan ilmu pukulan Tiu khi ciang."
Kembali Kim Thi sia tertawa.
"Lebih baik jangan terlalu percaya dengan kemampuan sendiri, ketahuilah aku Kim Thi sia bukan kucing atau anjing yang bisa digertak secara mudah. Bukan saja kau sedang mabuk sekarang, pikiranmupun dalam keadaan tak jernih. Betapapun hebatnya ilmu silatmu, jelas kekuatannya akan menderita banyak kekuarangan."
"Mabuk bukan masalah yang serius"
Bantah ciang sianseng penuh keyakinan pada diri sendiri.
"Aku perCaya dalam tiga gebrakan saja kau paSti sudah keok ditanganku."
"Haaaah.....haaaaah......haaaaah......kau terlalu merendah-rendah kemampuanku"
Kim Thi sia tertawa tergelak. ciang sianseng pun ikut tertawa seram.
"Bukan memandang rendah, tapi memang begitulah kenyataannya, ketahuilah dibalik pukulan Tin khi ciang ku ini tersisip racun jahat sembilan bisa yang mematikan-Kau tahu, gurumu sendiri si Malaikat pedang berbaju perlentepun tak berani menyambut dengan kekerasan."
Begitu mendengar asal "racun jahat sembilan bisa"
Tanpa terasa Kim Thi sia teringat pula dengan si Utusan beracun, diam-diam segera pikirnya.
"Rasul raCun adalah raja diantara pelbagai raCun, tapi dengan andalkan ilmu ciat khi mi khi buktinya aku toh tak terpengaruh apapun, apalagi hanya sembilan bisa dari ciang sianseng......?"
Berpikir sampai disitu, diapun segera berkata.
"Aku jauh berbeda dengan guruku tempo dulu Malaikat pedang berbaju perlente belum berhasil menguasai ilmu ciat khi mi khi sedang saat ini ilmu ciat khi mi khi ku telah menembusi semua bagian tubuhku......."
"Sudah, tak usah banyak ngaco belo lagi."
Tukas ciang sianseng tak sabar.
"Asal kau mampu menerima tiga buah pukulanku tanpa Cedera...."
"Apa yang hendak kau perbuat saat itu?"
Sela Kim Thi sia dingin.
"Aku akan musnahkan seluruh kepandaian ku dengan tenaga Kun goan sam coat khikang ku sendiri"
Menyaksikan keyakinan orang, Kim Thi sia pun berkata.
"Baiklah, akan kusambut ketiga buah serangan tersebut tanpa melakukan perlawanan-"
"Apa? Kau benar-benar tidak akan melawan?"
Tanya ciang sianseng agak tertegun.
"UCapan seorang Kun Cu ibarat kuda yang dipecut, sekali dicambuk tanpa akan bisa ditarik kembali. Aku harap kaupun bisa menepati janjimu sendiri......"
"Tak usah kuatir, aku tak pernah mengingkari janji."
"Hmmm, yang ku kuatirkan sekarang justru dirimu, berpuluh-puluh tahun berupaya memperdalam ilmu, beratus pertarungan dialami untuk meraih kedudukan dan pamor yang tinggi, tidakkah merasa sayang apabila kedudukan dan nama besar yang berhasil kau raih, dengan bersusah payah ini akhirnya mesti hancur gara-gara dorongan emosi?"
"Justru kau sendiri yang mesti merasa sayang dengan keberhasilan yang berhasil kau raih hingga sekarang."
Teriak ciang sianseng keras-keras.
"Hmmm, bila kau hendak menyampaikan pesan terakhir, cepat katakan, mengingat usiamu masih kecil, dalam keadaan yang memungkinkan aku bersedia memenuhi untukmu."
Kim Thi sia tertawa lebar.
"Aku tidak merasa perlu untuk meninggalkan pesan terakhir."
Lalu setelah mencopot pedang Leng gwat kiam dan meletakkannya keatas tanah dia berdiri sambil bertolak pinggang dan berseru.
"Sekarang bersiap-siap. bila ingin menggunakan pukulan thian khi ciang mu, silahkan di gUnakan secepatnya."
"Baik"
Seru ciang sianseng sambil tertawa nyaring.
begitu selesai berkata, tubuhnya telah melejit kedepan sambil merentangkan tangannya lebarlebar, sebuah pukulan segera dilontarkan kedepan-"Jurus seranganku ini bernama Bintang dan rembulan berebut sinar"
Dalam perkiraan Kim Thi sia semula, serangan yang dilancarkan lawan sudah pasti dahsyat dan mengerikan hati.
Siapa tahu ang in serangan yang dilontarkan ciang sianseng begitu ringan sehingga dia hanya merasakan badannya bergetar sedikit saja tanpa perubahan apapun.
Tanpa terasa ia berseru.
"Hmmmm, rupanya Cuma begitu saja.^...."
Setelah melepaskan serangannya tadi tiba-tiba ciang sianseng menggerakkan tubuhnya melingkari sekeliling pemuda tersebut tiga kali, setelah kembali ujarnya.
"Dalam serangan yang kedUa akan kupergunakan jurus bunga berguguran ditengah salju"
"Huh, ilmu pukulan Thian khi ciang macam apaan itu?"
Jengen Kim Thi sia sambil tersenyum.
"Aku lihat lebih mirip dengan gerak membersihkan debu"
Gerak serangan dari ciang sianseng kali ini dilakukan dengan keCepatan bagaikan sambaran kilat, dalam waktu Singkat terdengar suara ujung baju yang terhembus angin, tahu-tahu ia sudah menempuh lagi jalan darah cian Ceng hit dibahu Kim Thi sia pelan.
Tiba-tiba saja Kim Thi sia merasakan tubuhnya bergetar keras, hampir saja ia bersin berapa kali.
Tapi pemuda tersebut mengandalkan kemampuan ilmu ciat khi mi khi nya, sekalipun dia dapat merasakan bahwa pukulan Thian khi ciang lawan agak berbeda dengan pukulan lain, akan tetapi ia tidak teriak memikirkannya dihati.
Segera ujarnya lagi.
"ciang sianseng, kau sudah melepaskan dua buah serangan tanpa menimbulkan Celaka bagiku, aku lihat usahamu cuma sia-sia belaka."
Sementara itu paras muka ciang sianseng telah berubah menjadi merah membara, napasnya tersengkal-sengkal, peluh membasahi tubuhnya dan agak payah untuk berbicara.
Dengan ucapan yang terputus-putus terdengar ia berkata.
"Siapa bilang seranganku ini sia-sia saja. Aku tahu tenaga dalammu amat sempurna, tapi aku telah menggunakan dua belas bagian tenaga dalamku untuk melancarkan serangan tadi....."
"Kau telah menggunakan tenaga sebesar dua belas bagian?"
Kim Thi sia semakin tercengang.
"Mengapa aku hanya merasakan pukulan yang begitu ringan?"
"Jangan kau anggap seranganku enteng....padahaL...padahal besar sekali pengaruhnya bagimu....kaau....kau akan merasakan akibatnya nanti......."
"Tapi hingga sekarang aku tidak merasakannya sama sekali"
Ucap Kim Thi sia sambil tertegun.
"Sepintas lalu kau memang tidak merasakan apa-apa, padahal isi perutmu sudah terluka parah biarpun Hoa Tho hidup kembali pun belum tentu bisa mengobati luka itu."
Diam-diam Kim Thi sia mencoba untuk menyalurkan tenaga dalamnya, kemudian berkata.
"Aku hanya merasakan diatas hatiku secara lamat-lamat terasa sakit, tapi aku percaya sakit itu tak akan berpengaruh besar......."
Sementara itu ciang sianseng telah berhasil mengatur kembali pernapasannya, ia segera berseru keras.
"Bocah keparat, saat ajalmu tiba sudah dekat diambang pintu......."
"Tak mungkin, aku tidak akan mati secepat itu."
Ciang sianseng tertawa terbahak-bahak.
"Haaah....haaah....haaaah.....inilah seranganku yang terakhir. Setan iblis pembetot sukma. kuharap kau bersikap lebih berhati-hati lagi...."
Selesai berkata, sepasang telapak tangannya segera didorong sejajar dada serangan itu dilancarkan amat lembut, baru saja menyentuh tubuh Kim Thi sia.
Sea kan-akan tersentuh aliran listrik berarus kuat, cepat-cepat serangannya ditarik kembali.
Tiba-tiba saja Kim Thi sia merasakan tubuhnya bergetar keras kemudian terbatuk-batuk.
Melihat keadaan pemuda tersebut, ciang sianseng segera tertawa terbahak-bahak seraya berseru.
"Haaaah.....haaaaah.....haaaaah......Kim Thi sia. Wahai Kim Thi sia, sekalipun kau mempunyai nyawa rangkap tiga pun. Hari ini kau bakal mampus secara mengenaskan."
"Eeeei, rupanya kau sedang mabuk hebat, kenapa bicaramu ngelantur tak ada ujung pangkalnya....."
Tegur Kim Thi sia agak tertegun. Dengan wajah serius dan bersungguh-sungguh kembali ciang sianseng berkata.
"Aku sama sekali tidak ngelantur, aku pun tidak berbicara sembarangan. Bila dalam hitungan kesepuluh nanti kau tidak roboh binasa, aku akan melaksanakan janjiku tadi, menghabisi nyawaku sendiri dihadapanmu."
Kim Thi sia semakin keheranan, dari keseriusan kakek tersebut dia dapat merasakan betapa besarnya keyakinan ciang sianseng dengan ucapannya, agak terCengang ia segera berkata.
"Baiklah, kau boleh menghitung sampai angka sepuluh"
Ternyata ciang sianseng benar-benar mulai menghitung dengan suara lantang.
"Satu... dua ...tiga ... empat... lima ... enam...tujuh ... delapan...sembilan...sepuluh "
Angka kesepuluh sengaja diucapkan dengan suara yang keras sekali. Hampir saja Kim Thi sia dibuat terperanjat oleh hitungan kesepuluh dari ciang sianseng yang menggeledek itu, cepat tegurnya.
"Bagaimana sih kamu ini, kenapa berteriak sekeras itu? Memang nya kau hendak mengagetkan aku?"
Ciang sianseng sama sekali tidak menggubris perkataan mana, dengan wajah sangat tegang ia berteriak lagi.
"Roboh.....roboh.....roboh......"
Secara beruntun dia meneriakkan kata "roboh"
Sampai berapa kali, tapi Kim Thi sia masih tetap berdiri tegak ditempat semula tanpa bergerak sedikitpun jua, malah pemuda itu berdiri sekokoh batu karang.
ciang sianseng segera berdiri tertegun dengan mata terbelalak lebar dan mulut melongo.
Sesudah terbatuk sedikit, Kim Thi sia berkata sambil tertawa.
"Nah bagaimana sekarang? Tentunya kau boleh segera menghabisi nyawamu sendiri bukan?"
Ciang sianseng kelihatan amat sedih, tanpa sadar air mata telah jatuh berCucuran membasahi wajahnya, ia berseru kemudian.
"Bagus, bagus, bagus sekali"
"Jadi kau benar-benar mengakui kekalahanmu?"
Tegur Kim Thi sia dengan wajah keheranan.
"Yaa kejadian ini memang tak bisa dibantah lagi"
Ucap ciang sianseng sambil menyeka air matanya.
"Aku telah berusaha dengan sepenuh tenaga, seluruh hasil latihanku selama puluhan tahun telah kupergunakan habis-habisan, tapi nyatanya masih belum mampu menandingi bocah cilik macam kau Aaaai..... apa lagi yang bisa kukatakan sekarang? Rasanya hanya satujalan yang bisa kutempuh sekarang yakni mati dengan cepat. Namun sebelum ajalku tiba nanti, kuharap kau bersedia mengabulkan sebuah permintaanku"
"Apakah itu?"
Dengan wajah bersungguh-sungguh ciang sianseng berkata.
"Kuharap kau jangan menceritakan kejadian yang kualami hari ini kepada siapapun setelah aku mati nanti, rusaklah wajahku dengan bacokan pedangmu lalu kuburlah aku dalam-dalam, makin dalam makin baik......Kau harus melakukan kesemuanya itu bagiku, aku tidak ingin orang lain memandang rendah nama ciang sianseng yang sudah menggetarkan seluruh dunia persilatan, buatlah orang lain menganggap hilangnya ciang sianseng sebagai sebuah teka teki besar yang tak pernah terjawab"
Mendengar permintaan ini, diam-diam Kim Thi sia berpikir.
"Aaaai, tampaknya nama besarpun dapat menyiksa orang, gara-gara soal nama dan kedudukan, sampai menjelang ajalnyapun setan tua ini masih berusaha untuk melindungi nama baiknya."
Dengan cepat dia menyahut.
"Aku rasa soal ini bukan masalah lagi."
Setelah mendengar jawaban tersebut, dengan suatu gerakan yang amat cepat ciang sianseng menyambar pedang Leng gwat klam yang tergeletak diatas tanah itu dan ditempatkan diatas leher sendiri, kemudian teriaknya keras-keras.
"Puluhan tahun lamanya aku ciang sianseng mengembara didalam dunia persilatan dengan susah payah kuraih nama serta kedudukan sehingga setenar saat ini. Tapi hari ini.....akhirnya semuanya punah dan hilang dengan begitu saja......."
Selesai mengucapkan perkataan tersebut, tiba-tiba saja ia menggorok leher sendiri dalamdalam.
PerCikan darah segar segera berhamburan dimana-mana, diiringi jeritan ngeri yang menyayat hati, robohlah ciang sianseng keatas tanah dalam keadaan tak bernyawa lagi.
Semua peristiwa berlangsung begitu cepat dan sama sekali di luar dugaan, untuk beberapa saat lamanya Kim Thi sia sampai berdiri termangu-mangu tanpa memberikan reaksi apapun.
Lama.....lama......sekali........
Entah berapa lama sudah lewat, akhirnya Kim Thi sia tersadar kembali dari lamunannya, dia memungut kembali pedang Leng gwat kiamnya, lalu sambil menghela napas panjang keluhnya.
"See.....sesungguhnya apa.....apa yang telah terjadi?"
Sesuai dengan pesan terakhir ciang sianseng, Kim Thi sia segera membuat liang kubur yang amat dalam ditempat tersebut dan mengubur jenasah ciang sianseng.
Ketika semua pekerjaan telah selesai dilakukan, malam sudah makin kelam.
Bintang bertaburan diangkasa, sinar rembulan yang terang menyinari seluruh lembah Nirmala.
Dikejauhan sana, dalam gedung burung Hong terlihat Cahaya lentera belum padam, mungkin disitulah letak kamar pengantin Ang Thian tong dengan nona Hay Jin.
Memang sinar yang gemerlapan dikejauhan sana, Kim Thi sia meludah keatas tanah seraya bergumam.
"Nona Hay Jin, kecuali perkawinan ini kau lakukan atas dasar keinginanmu sendiri. Kalau tidak, aku pasti akan berusaha untuk menyelamatkan dirimu dari lautan kesengsaraan."
Dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya, ia segera berangkat menuju kearah cahaya api tersebut dengan kecepatan tinggi.
Bila menuruti perasaan Kim Thi sia saat itu, kalau bisa dia ingin selekasnya bertemu dengan Hay Jin.
Tapi sayang kakinya enggan menuruti keinginan hatinya itu, walaupun ia telah mengerahkan segenap kemampuannya yang dimilikinya, kecepatan yang berhasil dicapaipun tak seberapa.
Tiba-tiba saja Kim Thi sia merasa sangat dahaga, kepalanya pusing dan peluh bercucuran amat deras setelah menempuh perjalanan selama setengah jam lebih ia baru mencapai tanah perbukitan tersebut dan tiba didepan sebuah hutan lebat.
Dari balik hutan itulah cahaya lentera yang terlihat tadi terpancar keluar.
Dibawah sinar lilin merah, lamat-lamat ia melihat ada sepasang lelaki perempuan sedang berbisik-bisik dengan asyik.
Jelas kedua sosok bayangan manusia itu adalah Ang Thiang tong serta nona Hay Jin-"Apa yang sedang diperbincangkan sepasang pengantin baru dimalam pertamanya ini?"
"Membicarakan nona Hay Jin dengan perkawinannya itu? Tidakkah ia merasa muak dan benci terhadap suaminya?"
Dalam keadaan begitu, Kim Thi sia merasa emosinya bergelora keras, tak tahan lagi ia berteriak keras-keras.
"Nona Hay Jin, aku telah datang....."
Begitu membuka mulut gumpalan darah kental segera melompat keluar dari mulutnya.
Teriakanpun kedengaran amat lemah sehingga dia sendiri juga tak mendengar dengan jelas, jangan lagi Hay Jin yang berada dalam kamar pengantinnya.
Begitu gumpalan darah itu muntah keluar, ia segera terbatuk berulang kali darahpun muntah keluar tiada hentinya.
Setelah mengalami batuk-batuk yang gencar ini, tiba-tiba Kim Thi sia merasa tak sanggup untuk melanjutkan perjalanannya lagi, ia segera roboh terjungkal dibalik semak.
Sambil berbaring dibalik semak belukar dengan napas tersengkal, diam-diam ia mulai berpikir.
"ciang sianseng, ternyata pukulan Tin khi ciang mu memang bukan bernama kosong. sekarang tubuhku mulai terasa sakit, lemas dan sedikitpun tak bertenaga. Aku seperti seorang yang kehilangan seluruh ilmu silatku saja......"
Perlu diketahui, ilmu pukulan Thian khi ciang memang merupakan pukulan tenaga Im yang lembut.
Pada mulanya sang korban memang tak merasakan apa-apa tapi sesungguhnya isi perut mereka sudah terluka dan mulai rusak.
ketika saatnya tiba, seluruh isi perutnya akan hancur dan akhirnya mati secara mengerikan.
Sayang sekali Kim Thi sia merasakan akibatnya jauh lebih lamban seperti keadaan pada umumnya, hal ini jauh diluar dugaan ciang sianseng hingga ia mengira dirinyalah yang menderita kekalahan dalam pertarungan tersebut.......
Jilid 56 Dengan bekal ilmu Ciat khi mi khi yang dahsyat, keselamatan jiwa Kim Thi sia memang tak akan terpengaruh, tapi begitu luka itu kambuh, sedikit banyak pemuda itu harus merasakan juga penderitaan yang amat hebat.
Saat itulah mendadak dari arah jalan kecil disisi hutan bergema datang suara langkah manusia, suara itu bergema mendekati tempat persembunyiannya...
Kim Thi sia sadar, situasi saat ini amat berbahaya, dalam kondisi lemah dan sama sekali tak bertenaga begini, seandainya tempat persembunyiannya itu sampai ketahuan orang, niscaya akibatnya tak akan terlukiskan dengan kata kata.
Sdara akan bahaya, cepat cepat pemuda itu menutup semua pernapasannya dan sambil melotot bulat bulat dia mengawasi daerah disekitar situ dengan seksama.
Dibawah sinar rembulan, terlihatlah sepasang muda mudi sedang berjalan mendekat dengan langkah santai.
Yang perempuan tampak lemah gemulai dengan paras muak yang cantik jelita, ternyata dia tak lain adalah Hay Jin, gadis yang dimimpikan siang maupun malam.
Sedangkan yang lelaki adalah Ang Thian tong, pemuda gagah yang berwajah tampan itu.
tiba-tiba saja Kim Thi sia merasa cemburu sekali setelah melihat kedua orang muda mudi itu jalan bersama, ia merasa sakit hati.
pikirnya kemudian.
"Aai, beginikah perasaan cinta antara muda mudi? Mengapa aku harus sakit hati...?"
Tapi setelah menyaksikan kegagahan serta ketampanan Ang Thian tong, mendadak timbul perasaan rendah diri dihati kecilnya, kembali dia berpikir.
"Oooh, nona Hay Jin, kau memang pantas menjadi istri Ang Thian tong, aku Kim Thi sia berwajah biasa dan rudin sekali, aku tak lebih hanya seorang pengembara yang tidak mempunyai tempat tinggal tetap, kebahagiaan macam apakah yang bisa ku berikan untukmu..."
Sementara dia masi termenung, Ang Thian tong serta Hay Jin pun telah berjalan mendekat dengan mulut bungkam dalam beribu basa, agaknya pikiran dan perasaan mereka pun dibebani oleh masalah yang berat, sehingga boleh dibilang mereka tidak sadar bahwa dibalik semak belukar , Kim Thi sia sedang berbaring disitu.
Dengan luapan emosi Kim Thi sia pelan pelan menyingkap semak dihadapannya lalu mengintip keluar.
Ia menyaksikan Ang Thian tong dan Hay Jin sedang duduk besanding disebuah batu besar.
Suasan hening sampai lama sekali.
Tampak Hay Jin hanya duduk termangu sambil memandang ke langit, sementara titik air mata jatuh bercucuran membasahi pipinya.
Melihat itu, sambil menghela napas Ang Thian tong segera menegur.
"Dimalam pengantin yang seharusnya dilewatkan dalam suasana gembira, mengapa kau justru mengucurkan air mata?"
"Aku sedang menangisi nasibku!"
Sahut Hay Jin sambil terisak. Ang Thian tong tertawa getir.
"Apa jeleknya dengan nasibmu?"
"Semenjak masih kecil aku sudah tidak tahu siapakah ayahmu, sedang ibu, meski dia menyayangi aku, tapi ia lebih sibuk dengan urusan dunia persilatannya hakekatnya dia tidak memperdulikan kehadiranku didunia ini."
"Sekarang kau tak perlu risau lagi."
Tukas Ang Thian tong cepat.
"Aku sudah menjadi suamimu, aku berjanji akan memperhatikan serta menyayangimu sebesar mungkin."
Kembali Hay Jin menghela napas.
"Aaai, tak akan ada yang memahami kepahtian dan penderitaan hatiku."
"Terus terang saja aku bilangm berapa banyak si suami yang baik kepada istrinya seperti aku?"
Tukas Ang Thian tong tidak senang hati.
"KEbaikan apa yag kau berikan kepadaku?"
Hay Jin balik bertanya dengan tertegun.
"Aku sangat menuruti perkataanmu, kecuali mengambilkan rembukan diangkasa, permintaaan apapun yang kau ajukan selalu kuusahakan untuk dipenuhi, berbicara menurut liangsimmu, dalam hal yang manakah aku tak pernah penuhi kehendakmu?"
Sambil menghela napas Hay Jin menggelengkan kepalanya berulang kali, ucapnya.
"Aku bukannya tidak mengerti atas kebaikanmu selama ini."
"Aaaah, kau ini mengetahui soal apa?"
Tukas Ang Thian tong mendongkol.
"disaat malam pengantin kita, engkau malah bersikeras hendak datang kemari, dan setelah sampai ditempat sini, kau pun hanya menangis melulu."
"Sebab aku pun tak akan melupakan untuk selamanya semua kejahatan yang telah kau perbuat terhadap diriku,"
Kata Hay Jin tiba tiba dengan wajah serius. Ang Thian tong segera mendehem beberapa kali, setelah itu ucapnya.
"Kejelekan dan kejahatan apa sih ayng pernah kulakukan terhadapmu..."
"Aku selalu mengingatkan secara baik baik, disaat aku diculik oleh lima naga dari wilayah Biau dibukit Ya be Poo tempo hari, kau telah memperlihatkan perbuatan biadabmu bagaikan binatang."
"Kau jangan salah melihat,"
Tukas Ang Thian tong cepat.
"Seandainya aku tidak muncul tepat pada saatnya, mungkin kau telah diperkosa secara bergantian oleh kelima naga dari wilayah Biau tersebut, kau anggap dirimu masih bisa mempertahankan kesucian badanmu?"
"Tapi setelah kejadian itu, bukankah kau pun memperkosa aku, menodai kesucian diriku?"
Pekik Hay Jin sengit. Dengan jengkel, Ang Thian tong menukas.
"Aaaah, sama saja, toh sekarang kita telah menjadi suami istri!"
"Hmmn, kau tahu sesungguhnya aku tidak sudi kawin dengamu."
Teriak Hay Jin lagi sambil menggertak gigi menahan emosi "justru lantaran tubuhku sudah ternoda ditanganmu, aku hanya terpaksa menuruti kehendakmu."
Ang Thian tong yang mendengar perkataan ini, agaknya semakin gusar pula dibuatnya, dengan mendongkol ia berseru lagi.
"Sebelum itu, kita sudah bertunangan, kawin hanyalah masalah peresmian belaka"
"setelah tahu hubungan kita belum diresmikan, tidak seharusnya kau mendahului untuk menodai aku......"
Akhirnya dengan perasaan apa boleh buat Ang Thian tong berkata "Kau tahu, betapa cintanya aku kepadamu, aku mencintai dirimu dengan setulus hati."
"Aku justru benci kepadamu, aku benci setengah mati kepadamu. rasa benciku sudah merasuk samapi ke tulang sum sum."
Ang Thian tong segera menghela napas panjang.
"Apa gunanya kau selalu mengungkit ungkit kejadian yang telah lewat?"
Sambil membesut air matanya Hay Jin berseru.
"Ketahuilah dengan jelas, jangan harap kita bisa menjadi sepasang suami istri yang berbahagia, jangan harap ini bisa terjadai sepanjang hidup kita."
Ang Thian tong merasa gusar sekali, namun ia berusaha mengendalikan perasaan jengeknya itu, kembali dia mencoba menbujuk "Janganlah terlalu emosi, jangan kelewat menuruti perasaan sendiri, kau harus mengerti, kita sudah bakal punya anak..."
"Aku benci dengan anak itu."
Teriak Hay Jin keras keras.
"Kenapa?"
Tanya Ang Thian tong dengan tertegun. Sambil menangis tersedu sedu Hay Jin berseru "karena anak yang berada dalam perut ini mengalir darahmu, darah kaum durjana, darah manusia cabul."
Mungkin sangking bencinya, tiba iba saja dia menghantam perut sendiri keras keras. sambil memukul teriaknya terus.
"Aku tak sudi melihat anak keparat dari bibit cabul itu lahir didunia. aku menghendaki kematian dari bocah ini.... aku ingin bocah ini mampus....."
Ang Thian tong sangat terkejut, dengan suatu gerakan cepat ia menccengkram tangan Hay Jin dan menekannya diatas batu, kemudian serunya..
"Bagaimana sih kau ini? sudah gila nampanya...."
Hay Jin masih mencoba untuk meronta, ketika usaha ini gagal, dia mulai menangis tersedu sedu sambil berteriak.
"Aku memang gila, aku dibuat gila oleh bibit yang ditanamkan diperutku, aku gila karena bocah cabulmu itu..."
Makin menangis makin menjadi, seakan akan perempuan itu hendak melampiaskan keluar seluruh rasa benci yang tertanam dihatinya ini.
Menyaksikan kejadian ini, Ang Thian tong segera menghela napas panjang, keluhnya.
"Aku tidak sejahat apa yang kau bayangkan... sungguh!! aku tidak sejahat apa yang kau pikirkan..."
"hhmnn, tak usah berkata begitu, percuma aku tak akan menaruh kasihan kepadamu, sebab aku membencimu setengah mati..."
Lalu setelah menagis terisakm dia melanjutkan.
"Kau tak usah memegangi tanganku, cepat lepaskan, aku tak ingin bersentuhan dengan tubuhmu... kumohon... lepaskanlah aku dengan cepat.."
"Boleh saja aku lepaskan dirimu, tapi kau tak boleh menggila lagi, tak boleh memukul diri sendiri lagi.."
"Baik...baik.. apapun syaratmu akan kupenuhi, asal kau segera lepaskan aku..."
Terpaksa Ang Thian tong menurut dan melepaskan Hay Jin dari cengkramannya, setelah mengehela napas berkata "Sekarang kau telah membebaskanmu, tentunya kau pun bisa tenang kembali bukan?"
"Tidak!! selama hidup aku tak bakal tenang."
"Buat apa sih mencari penderitaan buat diri sendiri?"
Ang Thian tong mulai mengeluh.
"Apa gunanya bila tubuhmu menjadi rusak akibat ulahmu sendiri...?"
"Tubuhku telah kau nodai, bagiku hidup sudah tak ada artinya lagi..."
Ang Thian tong amat tak senang hati, tiba tiba serunya.
"Benarkah aku adalah binatang yang buas dan berbahaya?"
"Kau lebih kejam dari binatang, lebih buas daripada harimau, kau.. kau... kejam.."
Sampai disini, Ang Thian tong segera menghela napas panjang.
"Aaai, semenjak peristiwa ditebing YA be poo, setiap kali kau selalu menangis dan ribut tiada habisnya, sesungguhnya apa maksudmu?"
"AKu ingin berpisah denganmu, semakin cepat semakin baik!"
Teriak Hay Jin keras keras.
Ang Thian tong sudah merasa amat sedih hatinnya, ia merasa hatinya bagaikan diiris iris dengan pisau tajam, paras mukanya segera berubah menjadi amat tak sedap dipandang, ucapnya agak tergagap.
"Kalau memang begitu, rasanya hubungan antara kita berdua memang sudah tak bisa diselamatkan lagi.."
"Semoga kau lebih memahami tentang masalah tersebut sehingga mendapat mempertimbangkan diri dengan semakin baik."
Ang Thian tong menghembuskan napas panjang.
"Baiklah, mari kita kembali dulu ke kamar sekarang, mari kita pikirkan bersama persoalan diantara kita dengan lebih seksama"
"Lebih baik kau pergi dulu."
Sahut Hay Jin cepat.
"kecuali dipaksa dengan mempergunakan kekerasan, kalau tidak, aku tak sudi tidur sekamar denganmu."
Ang Thian tong bangkit berdiri lalu tertawa sedih, katanya cepat.
"Kau enggan pergi dari sini? Apakah kau senang duduk diluar hingga fajar menyingsing nanti?"
"Aku tidak tahu."
Bagaimanapun juga, Ang Thian tong adalah seorang lelaki, sudah barang tentu dia tahan diperlakukan semacam ini oleh wanita yang secara resmi sudah menjadi istrinya .
tak urung meledak juga hawa amarahnya, dengan geram ia berseru.
"Sekarang aku telah mempunyai keputusan, aku akan kembali kekamar untuk tidur, sedang kau... hmmn, kau boleh tetap duduk disini sambil mempertimbangkan hubungan kita selanjutnya secara seksama, apabila persoalannya sudah menjadi jelas, ku harap kau bisa kembali kekamar untuk memberitahukan keputusanmu kepadaku."
"Keputusan sudah lama kuambil, selama hidup aku tak pernah akan berhubungan secara baik denganmu."
"Apabila memang begini kenyataannya, aku pun tak usah terlalu memaksa dirimu lagi, terserah kehendak hatimu sendiir kemanapun kau hendak pergi, silahkan pergi kesitu.."
Kali iniAng Thian tong betul betul sewot dan tak mampu menahan gejolak emosinya lagi. Mendadak Hay Jin bertanya dengan serius.
"Sungguhkah perkataanmu itu?"
"perkataan seorang lelaki bagaikan kuda yang dicambuk, sekali telah diutarakan untuk selamanya tak akan ditarik kembali."
Ketika selesai mengucapkan perkataan ini, paras mukanya telah berubah menjadi hijau membesi karena mendongkolnya, dengan langkah lebar ia segera beranjak pergi meninggalkan tempat tersebut.
Dengan termangu mangu Hay Jin mengawasi bayangan punggung Ang Thian tong ayng berlalu dari situ dengan rasa benci hingga lenyap dari pandangan, kini dia tidak tertegun lagi, tapi menangis tersedu sedu dengan amat sedihnya.
Sementara itu........
Kim Thi sia yang berbaring dibalik semak belukar sambil mengatur pernapasan, kini kekuatannya sudah pulih kembali.
Begitu ia merasa yakin kalau Ang Thian tong telah pergi jauh, pelan pelan pemuda ini bangkit berdiri dan berjalan menghampiri gadis tersebut, bisiknya kemudian lirih.
"Nona Hay Jin, sudah lama kita tidak bersua.."
Hay Jin yang sedang menangis tersedu sedu menjadi tertegun seudah mendengar teguran itu, apalagi setelah dia dapat melihat dengan jelas siapa gerangan yang muncul, tak kuasa lagi serunya tertahan.
"Engkoh Thi sia, sungguh tak disangka engkau yang telah datang."
Dengan cepat dia memburu maju kemuka dan menubruk ke dalam pelukannya Kim Thi sia, dirangkulnya pemuda tersebut dengan mesra.
Kim Thi sia balas memeluk gadis itu dengan luapan rasa haru, sampai lama sekali dia tak sanggup berkata kata.
Dengan dasar tak mampu banyak bicara tentu saja pemuda ini semakin gelagapan lagi dalam luapan emosi begini, ditambah pula hubungan yang menjadi makin rumit dengan munculnya Ang Thian tong sebagai suami resmi gadis tersebut, untuk beberapa saat lamanya dia tak tahu bagaimana mesti bertindak.
Dengan mesra dan hangat mereka saling berpelukan, saling berciuman dua hati serasa bersatu padu, mereka melupakan diri sendiri, lupa dengan lingkungan, lupa dengan adat,lupa denga tradisi....
pokoknya tiada persoalan yang mereka pikirkan saat itu...
Yang tersisip dan menyelimuti perasaan mereka berdua sekarang hanyalah luapan cinta yang membara...
Ehtah berapa lama sudah lewat...
Tiba tiba Hay Jin tersedara kembali dari rasa gembiranya, dengan gugup rasa takut ia berbisik.
"Engkoh Thi sia, kenapa kau kembali kesini?"
"Aku ingin mejengukmu, ingin bersua kembali denganmu!"
Sahut pemuda itu gembira. Tapi paras muka Hay Jin segera berubah menjadi pucat pias bagaikan mayat, dengan perasan tegang dia berkata.
"Engkoh thi sia, keadaan sudah berubah, kita bisa celaka.... kita bisa celaka...."
Tadi dengan jelas Kim Thi sia menyaksikan Ang Thian tong pergi meninggalkan disekeliling tempat tersebut tiada orang itu.
Tapi sikap tegang dan gugup dari Hay Jin sekarang membuatnya terkejut juga, ia segera celingukan memandang sekejap sekeliling tempat itu, lalu katanya.
"Kenapa aku tidak melihat sesuatu yang tak beres?"
Dengan napas tersengal sengal sahut Hay Jin "Tentu saja kau tak akan melihatnya, tapi Lembah Nirmala telah menjadi sarang naga gua harimau, selain ibuku dan Cian sianseng, disinipun hadir lima naga dari wilayah Biau, hadir pula pukulan sakti tanpa bayangan."
"Aku sudah tahu!!"
"Tidak! kau tak akan tahu, semalam mereka telah berunding, mereka telah sepakat dengan cara apa untuk menghadapi dirimu."
Mendengar kabar tersebut, Kim Thi sia segera berkerut kening, katanya kemudian.
"Aneh, kenapa sih secara tiba-tiba aku bisa berubah menjadi begitu penting sehingga harus menggerakkan begitu banyak orang khusus hanya untuk menghadapi aku seorang?"
"Sebab mereka telah mendapatkan lentera hijau dan sekarang mengincar pedang mestika Leng gwat kiam mu."
Hay Jin menerangkan "ibuku bahkan pernah sesumbar, dia akan mempersatukan pedang Leng Gwat kiam dengan lentera hijau sebagai modal dalam usahanya memimpin seluruh dunia persilatan."
"Waaah.... besar amat ambisi ibumu..."
Kata Kim Thi sia sambil tertawa. Kembali Hay Jin celingukan memandang sekejap sekeliling tempat itu, lalu serunya gelisah.
"Cepat pergi, jangan sampai jejak kita diketahui mereka, ayoh cepat tinggalkan tempat ini."
Tanpa bertanya lagi kepada Kim Thi sia apakah setuju dengan pendapatnya itu, begitu selesai berkata ia segera mencengkram ujung baju Kim Thi sia dan tergopoh-gopoh menelusuri jalan setapak untuk pergi meninggalkan tempat tersebut.
Terpaksa Kim Thi sia mengintil terus dibelakangnya, sambil berlarian tanyanya agak tertegun.
"Kita hendak kemana?"
"Aku hendak mengajakmu pergi kegua neraka."
Bisik Hay Jin lirih.
"Disudut lorong tersebut terdapat sebuah lorong rahasia yang bisa berhubungan langsung dengan dunia luar, kecuali ibuku, jarang sekali ada yang mengetahui letak lorong rahasia tersebut."
"Masa ibumu tak akan memberitahukan lorong rahasia tersebut kepada mereka semua?"
"Sssttt... jangan berisik, jangan berbicara dengan suara yang begini keras..."
Bisik Hay Jin lagi dengan wajah yang amat tegang. Dalam waktu singkat ia telah membawa Kim Thi sia menelusuri hutan dan menyusup ke sebuah jalan setapak diantara gundukan batu cadas kembali bisiknya.
"SEkarang malam sudah larut, sekalipun mereka tahu tempat tujuan yang sedang kita tempuh, rasanya belum tentu bisa menemukan kita secara cepat, Engkoh Thi sia,ikuti saja diriku dengan perasaan lega."
"Baik!"
Sahut Kim Thi sia sambil tertawa.
Padahal untuk menyerbu ke dalam lembah Nirmala seorang diri pun Kim Thi sia tidak merasa ngeri,apa lagi yang ditakutinya sekarang?
Ia mengikuti Hay Jin saat ini tak lain hanya tak ingin menampik maksud baiknya saja...
Dalam waktu singkat sampailah mereka dimuka sebuah gua, suasana dalam gua itu sangat dingin dan menggidikan hati, rintihan kesakitan berkumandang tiada hentinya dari balik gua tersebut.
Mendadak Kim Thi sia merasa seperti pernah mengenali tempat itu, segera tanyanya.
"Bila kita masuk melalui mulit gua tersebut, seharusnya kita akan sampai di gua neraka bukan?"
"Lebih baik kita tak usah mencampuri urusan itu, bila kita belok kekiri dari tempat ini maka kita akan sampai dilorong rahasia tersebut, mari kita menuju ketempat yang aman terlebih dulu sebelum membicarakan soal yang lain..."
Terpaksa Kim Thi sia mengangguk tanda mengiakan dan mengikut dibelakangnya berangkat kelorong rahasia tersebut.
Setelah belok kekiri dari sisi goa neraka, mereak berjalan selama seperminum teh lamanya sebelum akhirnya sampai dmuka sebuah jalan setapak yang amat sempit Jalan setapak itu sudah dipenuhi lumut, titik air mengalir terus tida hentinya bila ditinjau dari keadaannya yang sama sekali tak terawat, terbukti kalau tempat tersebut sudah lama tak pernah dilewati manusia Hay Jin menarik Kim Thi sia untuk duduk diatas sebauh batu dibawah pohon besar, kemudian sambil membetulkan rambutnya yang kusut, dia berkata lembut.
"Engkoh Thi sia, sekarang kita sudah aman."
"Kau benar benar amat menguatirkan keselamatanku!"
Ucap Kim Thi sia sambil tertawa girang. Dengan wajah serius dan bersungguh-snugguh Hay Jin cepat menyela.
"Kenapa sih aku tak pernah memperhatikan dirimu? Tahukah kau, engkoh Thi sia, hampir setiap saat, setiap detik aku selalu merindukan dirimu...."
Merah padam selembar wajah Kim Thi sia sehabis mendengar ucapan mana, buru buru katanya pula...
"Akupun demikian......"
"Sungguhkah itu?"
Tanya Hay Jin sambil tertawa senang.
"Tentu saja sungguh, kalau tidak begitu, akupun tak akan menyerempet bahaya untuk datang kemari untuk mencarimu!"
Melihat kesungguhan hati anak muda itu Hay Jin segera menghela napas sedih, katanya.
"Akupun pernah berusaha untuk pergi mencarimu, sayang sekali belum lama aku meninggalkan Lembah Nirmala, lima naga dari wilayah Biau telah berhasil membekukku kembali ditebing kuda liar, mereka sengaja membohongiku dengan mengatakan kau berada ditebing itu, tapi dengan cepat aku menyadari bahwa diriku tertipu, kemudian.... kemudian Ang Thian tong si manusia cabul yang tak tahu malu itupun turut datang, dia... dia....."
Berbicara sampai disini, gadis itu merasakan emosi meluap-luap, air matapun jatuh bercucuran dengan derasnya. ia menangis terisak. Cepat cepat Kim Thi sia menghibur.
"Sudahlah, tak usah kau lanjutkan ceritamu itu, sebab aku sudah mengetahui semua penderitaan dan pengalaman yang kau alami selama ini."
"Dari mana kau bisa tahu?"
Tnaya Hay Jin agak tertegun.
"Ketika kau sedang cekcok hebat dengan Ang Thian tong tadi, aku bersembunyi disisi kalian, karenanya semua percakapan kalian berdua sudah kudengar semua..."
"Apa? kau telah mendengar semuanya?"
Hay Jin merasakan hatinya amat pedih bagaikan diiris dengan pisau tajam. Pelan-pelan Kim Thi sia mengangguk.
"Yaa.. benar!!"
BAgaikan kehilangan pegangan secara tiba tiba, dengan perasaan yang kosong Hay Jin berakat lagi.
"Kalau begitu, kaupun tahu kalau akupun telah menjadi istrinya Ang Thian tong? kau tahu kalau aku telah mengandung bibit dari Ang Thian tong....?"
"Yaa.. benar!!"
Kim Thi sia menghela napas panjang.
"Sesungguhnya kesemuanya ini merupakan sesuatu kenyataan yang tragis buatku. agaknya Thian telah mengatur yang lain buat kita berdua..."
"Tahukah engkau Engkoh Thi sia, bahwa aku tak sudi menjadi istrinya Ang Thian tong?"
"Aku tahu!!"
"Mengertikah kau bahwa aku tak sudi mengadakan hubungan suami istri dengan Ang Thian tong?"
"Yaa.. aku mengerti"
"Pahamkah kau bahwa akupun tak sudi melahirkan anak untuk Ang Thian tong??"
"Aku Paham.."
Sampai disini, Hay Jin tak bisa mengedalikan sedihnya, ia menangis tersedu-sedu.
Sedangkan Kim Thi sia hanya bisa menggelengkan kepala berulang kali sambil menghela napas panjang lebar.
Untuk beberapa saat lamanya sepasang muda mudi yang bernasib jelek itu hanya bisa saling berpandangan dibawah cahaya rembulan, air mata berlinang mengiringi kesunyian yang mencekam.
Sampai lama kemudian, Kim Thi sia baru menghela napas panjang sambil berkata.
"Kesemua ini memang merupakan kesalahanku, kenapa aku tidak mengajak kau pergi bersamaku ketika meninggalkan Lembah Nirmala dulu!"
"Yang sudah lewat biarlah leat, disesalipun tak ada gunanya."
Sahut Hay Jin sambil menangis terisak.
"Sekarang kenapa engkau datang lagi kesini?"
"Aku ingin datang kemari untuk menjengukmu, apakah tindakan ku ini tidak benar?"
Hay Jin segera menghela napas sedih.
"Aku tidak mengatakan tindakanmu keliru, lagipula saat ini aku sudah tidak pantas lagi untuk mendampingi dirimu."
"Kenapa?"
Tanya Kim Thi sia dengan wajah tertegun.
"Karena... karena aku sudah ternoda, tubuhku sudah tidak suci bersih lagi."
Ia membelalakan sepasang matanya lebar-lebar dan menaguasi pemuda itu tanpa berkedip.
terutama disaat mengucapkan kata katnaya itu rasa sedih yang pedih yang amat sangat tercermin jelas dibalik wajahnya."
"Terhitung seberapakah hal tersebut?"
Aku tak pernah merisaukan masalah sepele itu!"
Kata Kim Thi sia tertawa.
pikiran dan perasaan Hay Jin sangat kalut, untuk sesaat dia hanya bisa mempermainkan rambutnya sambil termenung, Entah berapa saat telah lewat, akhirnya ia berkata lagi dengan tiba tiba.
"dan kini statusku sudah menjadi istri resmi dari Ang Thian tong"
"Apa maksudmu mengucapkan kata-kata tersebut?"
Tanya Kim Thi sia. Dengan perasaan yang bertentangan Hay Jin menjawab ragu.
"Aku kuatir kau memandang hina diriku!"
"Kenapa harus begitu?"
Tanya Kim Thi sia serius "Tahukah kau, selama ini aku selalu menilaimu amat tinggi, ku anggap kau sebagai dewi suci yang tiada taranya didunia ini."
"Tapi kenyataannya sekarang , aku adalah bini seorang lelaki rendah yang terkutuk."
Kim Thi sia garuk-garuk kepalanya. sembari menggeleng, dia berkata.
"Mengapa sih kau peringatkan diriku terus menerus bahwa kau adalah istri Ang Thian tong? Apakah kau berharap aku meninggalkan tempat ini secepatnya? Padahal gampang sekali, aku tak pernah akan melakukan perbuatan rendah yang memalukan, aku pun tak akan membuntuti dirimu terus menerus, nah selamat tinggal, aku akan segera pergi."
Berbicara sampai disitu, dia segera angkat kepala sambil membusungkan dada, dengan langkah lebar dia siap meninggalkan tempat tersebut.
Hay Jin menjadi terperanjat sekali sesudah mendengar perkaatn itu, sebelum Kim Thi sia sempat beranjak dari tempat itu.
dengan cepat dia memeluk pemuda itu kencang-kencang, lalu keluhnya dengan sedih.
"Jangan! kau tak boleh meninggalkan aku, kau tak boleh meninggalkan aku..."
Agaknya dia takut Kim Thi sia pergi meninggalkan dirinya dalam keadaan gusar, karena itu dipeluknya pemuda tersebut erat erat.
Pada waktu itulah, tiba-tiba Ang Thian tong datang munculkan diri dari balik hutan belukar, sambil tampilkan diri dia berseru sambil tertawa dingin.
"heeeh.. Heehh..... Heeehh... bagus sekali, ternyata beginilah kejadiannya.."
Hay Jin seklihatan sangat ketakutan setelah melihat kemunculan Ang Thian tong secara tibatiba.
Dengan wajah pucat pias, dia semakin erat memeluk Kim Thi sia.
Kepada pemuda she Ang itu, tegurnya "Sedari kapan kau...
kau datang kemari?"
Hijau membesi selembar wajah Ang Thian tong, sahutnya sambil mendengus dingin.
"Hmmn, semenjak kau menjadi biniku, baru pertama kali ini kau memperhatikan kau."
Hay Jin terbungkam seketika dan tak mampu mengucapkan sepatah katapun. Kembali Ang Thian tong berpaling kearah Kim Thi sia sambil menegur nyaring.
"Apakah kau senang dengan seorang istri semacam ini?"
Kim Thi sia agak tertegun, tiba-tiba dia merasa seperti dihina, hawa amarahnya segera berkobar, teriaknya keras.
"Antara aku dengan istrimu sama sekali tidak melakukan apa-apa. kuharap kau jangan terlalu memojokkan orang dengan kata kata yang begitu ta sedap!"
Ang Thian tong tertawa terbahak-bahak.
"Haah...Haah... aku selamanya memutuskan suatu masalah secara tenang dan damai, sesuatu yang tak mungkin bisa kuperoleh, tak akan kurebut kembali secara paksa."
"Apa maksud perkataan mu itu?"
Tegur Kim Thi sia dengan kening berkerut kencang.
"Aku tak pernah berhasil merebut perasaan hati nona Hay Jin terhadap diriku, segala upaya da usaha ku selalu sia sia belaka, oleh sebab itu dengan perasan sedih telah ku tulis surat pengunduran diri dengan darah jari tanganku, dalam surat mana telah kujelaskan bahwa mulai sekarang nona Hay Jin sudah bukan istriku lagi, aku pun bukan suaminya lagi."
"Hmmn, sejak dulu hingga sekarang aku belum pernah mengakui dirimu sebagai suamiku!"
Bentak Hay Jin sewot. Sebalinya Kim Thi sia berseru agak tersipu sipu.
"Ang Thian tong, kau jangan melakukan tindakan yang begitu ceroboh dan gegabah gara gara penampilanku disini."
Tapi Ang Thian tong telah mengeluarkan sepucuk surat darah dari sakunya, lalu dengan suara lantang dia berseru.
"Kim Thi sia, persoalan ini sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan dirimu, karena jauh sebelum kau munculkan diri disini, aku telah selesai mempersiapkan surat cerai ini."
"Apakah kau menulisnya setelah kembali kekamar tadi?"
Tanya Hay Jin tiba-tiba. Ang Thian tong segera tertawa.
"Seharusnya kau dapat menyelami bagaimanakah perasaanku sewaktu menulis surat cerai ini bukan?"
Dengan cepat ia serahkan surat darah itu ketangan Hay Jin, serunya keras keras.
"Ambillah! Mulai detik ini kau telah peroleh kembali kebebasanmu..."
Sesungguhnya Hay Jin ingin menyambut surat cerai tersebut dan memutuskan hubungan mereka dengan begitu saja, tapi berhubung surat cerai itu datangnya sangat tiba tiba, sehingga sama sekali diluar dugaan maka untuk beberapa saat dia tak berani mempercayai kenyataan tersebut.
jadinya dia telah berdiri tertegun serta tak tahu apa yang mesti dilakukan.
Kim Thi sia dalam posisi saat itu menjadi serba salah, buru buru dia berkata.
"Lebih baik kalian suami istri berdua membicarakan sendiri masalah tersebut. maaf kalau aku harus pergi lebih dulu!"
"Kau tak boleh pergi!"
Hampir pada saat yang bersamaan Ang Thian tong dan Hay Jin berteriak bersama. Kim Thi sia tertawa getir.
"Tapi, aku benar benar tidak berkepentingan untuk tetap tinggal disini."
"Bila persoalan ini bisa ada penyelesaiannya."
Kata Ang Thian tong cepat cpeat "dan nona Hay Jin bersedia menerima surat cerai tersebut, maka dia akan segera tinggalkan tempat ini bersamamu, kuharap kau bisa merawat serta menjaganya secara baik baik."
"Tapi, mana boleh aku membawahnya pergi dengan begitu saja?"
Seru Kim Thi sia gelagapan. Dengan mata terbelalak lebar lebar Hay Jin berseru pula.
"Engkoh Thi sia, apakah kau bersedia mengajakku pergi dari tempat ini?"
Setelah menelan air ludah, Kim Thi sia menyahut.
"Kau harus mengerti, bagaimanapun juga kau tetap adalah istri Ang Thian tong, kalian telah dikawinkan secara resmi sudah menyembah langit dan bumi, tapi yang terpenting adalah kalian sudah punya anak."
"Tapi aku lebih suka pergi mengikutimu!"
Seru Hay Jin sambil menangis tersedu-sedu.
"kemanapun kau pergi, biar harus menderita ditimpa terika matahari dan hujan, aku rela menyertai dirimu, aku tak pernah akan mengeluh mendampingimu."
Melihat ketulusan hati dan kesungguhan hati gadis tersebut, Kim Thi sia benar-benar terharu, untuk sesaat ia menjadi terbungkam dan tak tahu apa yang mesti diucapkan untuk membujuk gadis tersebut.
Berapa saat lamanya dia hanya berdiri termangu mangu ditempat.
tiba tiba Ang Thian tong tertawa dingin, bentaknya "Kim Thi sia, apakah kau sudah mendengar?
Istriku sedang berbicara denganmu!"
Sementara itu keadaan Hay Jin sudah menyerupai orang kalap, terdengar dia berteriak keras keras.
"Ang Thian tong, cepat serahkan surat cerai kepadaku, aku akan tinggalkan tempat ini secepatnya."
Ang Thian tong tertawa dingin, sambil menyimpan kembali surat cerai tersebut kedalam sakunya dia menjengek.
"Boleh saja kuserahkan surat itu kepadamu, tapi...?"
"Kau hendak mempersulit diriku lagi?"
Tukas Hay Jin kesal.
"Tidak.. aku ingin berbicara dulu dengan Kim Thi sia."
Kata Ang Thian tong dengan suara dalam. Kim Thi sia melirik sekejap ke arah Hay Jin, lalu tanyanya kepada pemuda itu.
"Apa yang hendak kau bicarakan denganku?"
Ang Thian tong tertawa dingin, sambil memperlihatkan kembali surat cerai tersebut, bagikan malaikat bengis yang berwajah buas, dia berseru penuh kebencian.
"Kim Thi sia, karena kau telah mengadakan hubungan gelap dengan istriku,maka secara resmi aku akan menyerahkan biniku ini kepadamu.."
Hay Jin menjadi amat gusar sesudah mendengar perkataan ini, sambari menahan isak tangisnya dia membentak.
"Ang Thian tong, mengapa kau mengucapkan kata-kata seperti ini?"
"KEnapa aku tak boleh berbicara?"
Teriak Ang Thian tong pula.
"Apakah setelah kehilangan istri, aku tak boleh berbicara barang sepatah katapun juga??"
"Tentu saja kau boleh berbicara !"
Sela Kim Thi sia sambil tertawa getir.
"Tapi kata katamu harus sedikit tahu diri, jangan menggunakan kata yang begitu menyakitkan hati,"
Sambung Hay Jin mendongkol.
Paras muka Ang Thian tong berubah menjadi amat serius, dengan melototkan sepasang matanya bulat bulat dia mengawasi kedua orang itu secara bergantian tanpa berkedip.
Sampai lama...
lama sekali...
dia masih mengawasi terus tanpa berkedip, lama kelamaan Kim Thi sia dan Hay Jin menjadi rikuh sendiri dan amat tak tentram.
Agaknya pemuda itu merasa gembira melihat ketidak tenangan kedua orang muda itu, mendadak serunya lagi sambil tertawa bergelak..
"Haaah... haaahhh... haahhh... baik, kalian menuduhku tak tahu diri, mengatakan kata-kataku menyakitkan hati, maka aku pun ingin bertanya pula kepada kalian, apa yang dimaksud tak tahu diri dan apa pula kata yang menyakitkan hati? Hmm, kalian berdua mengadakan hubungan gelap ditengah malam buat begini, apakah kejadian semacam ini tidak lebih tak tahu diri, apakah perbuatan kalian tidak lebih menyakitkan hati?"
Bagaimanapun jua Kim Thi sia adalah seorang lelaki yang berperasaan dan mengutamakan tata kesopanan, sekalipun dia berpendapat bahwa perkawinan Hay Jin dengan Ang Thian tong buka muncul atas kehendak sendiri, tapi dikawinkan dalam keadaan terpaksa, meskipun dia pun menaruh rasa iba dan simpatik terhadap pendriaan serta musibah yang menimpa gadis tersebut.
Namun bagimanapun juga Hay Jin telah dinikahkan secara resmi dengan Ang Thian tong,ini berarti Hay Jin sudah menjadi istri pemuda tersebut secara sah.
Ini berarti pula perkataannya ditengah malam buat begini dengan istri orang lain memang bisa dituduh sebagai melakukan hubungan dengan bini orang lain.
Tak heran kalau pemuda kita jadi kelabakan setengah mati, wajahnya merah padam seperti kepiting rebus, untuk beberapa waktu dia cuma berdiri tertegun ditempat semula.
Hay Jin sendiri pun terbungkam dalam seribu basa, sementara air matanya jatuh berlinang dengan derasnya, sungguh tak terlukiskan rasa pedih yang dideritanya sekarang.
SEkalipun Ang Thian tong mempunyai kesalahan yang bertumpuk tumpuk, tapi resminya dia adalah suaminya.
Sekalipun Hay Jin mempunyai berbagai alasan untuk tidak mengakui Ang Thian tong sebagai suaminya, meski dia membenci pemuda tersebut atas perlakuan yang pernah dilakukan terhadapnya, tapi bagaimanapun jua ia memang tak bisa menyangkal bahwa dia adalah bini sah Ang Thian tong.
Dalam posisi serta kondisi seperti ini, apa yang bisa dikatakan lagi oleh Kim Thi sia.
apa yang bisa diperbuat olehnya, dan apa pula yang bisa dikemukakan olehnya?
Cinta segitiga memang suatu kasus yang peluk dan memusingkan kepala, untuk beberapa saat ketiga orang itu masih berdiri termenung tanpa berkata kata.
Setelah hening beberapa saat lamanya....
Tiba tiba Hay Jin menyeka air matanya dan berkata dengan suara nyaring...
"Apa yang terjadi sampai hari ini merupakan kejelekan dari nasibku sendiri.. tampaknya kehidupanku didunia ini sesungguhnya percuma..."
Dalam anggapan Ang Thian tong dan Kim Thi sia, Hay Jin berakata begitu tentu mempunyai alasan yang luar biasa, maka merekapun memperhatikan lebih jauh dengan lebih seksama.
Akan tetapi Hay Jin yang ditatap sedemikian rupa oleh kedua orang itu, tiba tiba saja dia merasa apa yang seungguhnya merasa perlu dikatakan, kini menjadi sama sekali tak berarti lagi.
Maka setelah tertegun beberapa saat, diapun berkata sambil menangis terisak.
"Ooohh... Thian, dalam kehidupanku yang lalu, kejahatan apakah yang pernah kulakukan? kenapa kehidupanku didunia saat ini menjadi begini tak berarti?... aku... aku tak ingin hidup lagi, aku tak ingin hidup lagi..."
Dengan luapan emosi, dia segera berlarian meninggalkan tempat tersebut bagaikan orang kalap.
Sesungguhnya Hay Jin pun tidak mampunyai suatu tujuan tertentu, dia hanya menganggap kehidupannya didunia ini sudah tidak berarti lagi, amak dia berharap bisa meninggalkan tempat tersebut, makin jauh makin baik, dia tak ingin berdiri dihadapan Ang Thian tong, bahkan dia pun tak ingin menyaksikan Kim Thi sia yang berdiri tersipu sipu dan serba salah itu.
KArenanya dia berlarian seperti orang gila berlari kencang meninggalkan tempat itu secepat cepatnya.
Baik Kim Thi sia maupun Ang Thian tong sama sekali tidak menduga sampai kesitu, mereka berdua sama sama tertegun dibuatnya.
Sambil menangis Hay Jin berlari kencang meninggalkan tempat itu, dalam waktu singkat gadis itu berada dikejauhan sana.
Tiba-tiba Kim Thi sia menegur sambil menghela napas.
"Ang Thian tong, apakah kau tidak berniat mengejar istrimu?"
Sebenarnya Ang Thian tong masih berdiri tertegun disitu, dia sekaan lupa akan segala-galanya.
Tapi setelah mendengar seruan tersebut, bagaikan baru sadar dari lamunannya, ia menepuk kepala sendiri lalu berseru "Mengejar?
Ya..
betul, aku harus mengejar kembali istriku."
Dengan kecepatan bagaikan kilat ia segera berlarian kencang menyusul kearah mana Hay Jin melenyapkan diri tadi.
Tak selang berapa lama kemudian bayangan kedua orang itu sudah tertelan dibalik kegelapan.
Kini tinggal Kim Thi sia seorang diri termangu mangu disitu, dia merasa seperti kehilangan sesuatu, sementara isak tangis Hay Jin sekaan akan masih berdengung disisi telinganya.
Ia menghela napas panjang, rasa sedih dan kosong tiba tiba saja menyelimuti seluruh perasaanya.
Lama kemudian ia bergugam "Semenjak aku terjun dan berkelana didalam dunia persilatan banyak anak gadis yang kukenal, tapi rasanya aku tak pernah bisa melupakan kasih sayang Hay Jin kepadaku...Kim Thi sia wahai Kim Thi sia sesungguhnya kau pun manusia yang terdiri dari daging dan darah, kau punya liangsim, punya sukma, punya pikiran....."
Pada saat itulah....
Mendadak Kim Thi sia mendengar suara geeresek ramai bergema dari balik hutan, ketika ia berpaling, terlihatlah sepasang lelaki tua muda sedang berkejaran kearahnya.
Ternyata kedua orang iut adalah Sastrawan menyendiri Khu cu kian serta si pukulan sakti tanpa bayangan Ang Bu Im dari bukit Tiang peksam.
Ilmu meringankan tubuh yang dimiliki kedua orang itu benar benar sempurna, daam waktu singkat mereka telah berada dihadapannya.
Waktu itu Khu Cu kian si Sastrawan menyendiri sedang melarikan diri terbirit-birit .
keadaannya tak berbeda seperti anjing yang kena gebuk, sungguh menggenaskan sekali.
Sebalikanya si pukulan sakti tanpa bayangan Ang Bu im mengjear dengan kencang bagaikan malaikat bengis.
Telapak tangannya diayunkan berulang kali, sekana akan dia berniat menghabisi nyawa musuhnya dalam sakali ayunan tangan saja.
Padahal Kim Thi sia sendiripun sedang berdiri ditengah jalan, karena peristiwa itu berlangsung sangat mendadak sekali, pada hakekatnya dia tidak mungkin sempat lagi baginya untuk menghindarkan diri.
Betapa terperanjatnya Sastrawan menyendiri ketika dalam usahanya melarikan diri, tiba-tiba dia melihat ada seseorang berdiri menghadang ditengah jalan.
Ia semakin tertegun lagi setelah mengetahui dengan jelas bahwa orang yang berdiri ditengah jalan itu tak lain adalah Kim Thi sia.
Sesungguhnya Kim Thi sia sama sekali tidak menaruh perasaan benci atau dendam terhadap Sastrawan menyendiri Khu Cu kian, tapi sebaliknya si Sastrawan menyendiri justru menganggap pemuda tersebut sebagai musuh besar pembunuh ayahnya.
Tak heran kalau kemunculannya yang sangat tiba-tiba itu sempat membuatnya bermandikan peluh dingin.
Sambil menghentikan gerak larinya, Sastrawan menyendiri berpekik tertahan.
"Tak disangka, aku bersua denganmu disini, habis sudah riwayat ku kali ini."
Belum habis perkataan itu diutarakan, si pukulan sakti tanpa bayangan Ang Bu Im yang mengejar dari belakang telah menyusulnya dengan kecepatan luar biasa.
Sambil menerjang kedepan musuhnya, kedengaran si pukulan sakti tanpa bayangan membentak keras.
"Hey, Sastrawan menyendiri, jikalau kau tak berhasil mampus ditanganku, aku bersumpah tak akan menjadi manusia mulai hari ini."
Dengan mengayunkan telapak tangannya dia mengembangkan serangan dahsyat mengancam jalan darah Yu bun hiat ditubuh lawan dengan jurus "Kemunculan iblis mengagetkan hati", sebuah pukulan yang dahsyat dari ilmu pukulan tanpa bayangan.
SEbagaimana diketahui, jalan darah Yu bun hiat merupakan jalan darah mematikan ditubuh manusia, apabila tempat itu sempat terserang, niscaya jiwanya akan melayang.
Sastrawan menyendiri jadi amat terperanjat ketika secara tiba-tiba merasa datangnya sambaran angin tajam dari belakang, ia makin terkesiap lagi setelah sadar bahwa tiada kesempatan lagi baginya untuk menghindarkan diri.
Paras mukanya segera mengejang keras, rasa ngeri dan seram menjelang ajal menghiasi seluruh wajahnya.
Kim Thi sia tak tega membiarkan Sastrawan menyendiri kehilangan nyawa ditangan musuhnya, disaat yang kritis itulah dia rentangkan tangannya lalu melontarkan sebuah pukulan ke arah lawan.
Siapa tahu dengan tangkisannya itu, ternyata situasi dalam arena segera mengalami perubahan yang amat besar.
Sejak permulaan Kim Thi sia sudah tahu kalau si Pukulan sakti tanpa bayangan bukan manusia sembarangan, karena itu dia selalu berpendapat bahwa serangan musuh tak akan berhasil dibendung apabila ia tak menggunakan tenaga yang besar.
Oleh sebab itulah dalam tangkisannya kali ini, dia telah sertakan tenaga dalamnya sebesar sepuluh bagian, sedangkan jurus serangan yang digunakan pun merupakan jurus serangan paling tangguh dari ilmu Tay goan sinkang, yakni, jurus "kejujuran membelah batu emas."
"Bllaaammmm...!"
Ditengah benturan keras yang memekikan telinga, terlihat pasir dan debu beterbangan memenuhi angkasa.
Kim Thi sia mengerti, bagaimana pun juga hebatnya serangan yang dilepaskan tak mungkin Si pukulan Sakti tanpa bayangan akan terluka diujung telapak tangannya, maka sewaktu melihat Ang Bu im roboh terjengkang keatas tanah, dengan rasa heran ia menegur.
"Ang Bu Im, usiamu sudah cukup tua, buat apa sih masih bergurau denganku. permainan busuk apa yang sedang kau persiapkan?"
Tapi kali ini, si pukulan sakti tanpa bayangan ternyata tidak bergurau, ia benar benar yang terkena serangan Kim Thi sia hingga roboh terjengkang dan muntah darah segar.
Dengan perasaan apa boleh buat Kim Thi sia mengangkat bahunya, tapi setelah melihat keadaan dari Sastrawan menyendiri, segera serunya tertahan.
"Hey Khu Cu kian, bagaimana keadaanmu?"
Khu Cu kian bersandar dibawah sebuah pohon besar, sekujur badannya basah kuyup oleh keringat, mulutnya berbuih dan napasnya pun tersengal sengal bagaikan napas kerbau.
Dengan kening berkerut, kembali Kim Thi sia menegur.
"Berapa jauh sih perjalanan yang kau tempuh? Nampaknya kau begitu kecapaian?"
Melihat Kim Thi sia tidak berniat melukainya, diam diam Sastrawan menyendiri merasa leag, ia menghembuskan napas panjang.
SEmentara itu Kim Thi sia telah menghampiri Si pukulan sakti tanpa bayangan dan memeriksa keadaannya, lalu dengan kaget bercampur keheranan gugamnya.
"Waaah, sama sekali tak ku sangka kalau serangan yang ku lancarkan menyebabkan luka yang begitu parah bagi Ang Bu Im, kalau dilihat dari darah yang bercucuran terus agaknya tidak jauh lagi ajal orang ini..."
Pelan pelan Khu Cu kian bangkit berdiri, dengan napas masih tersengal sengal dia mencoba bergerak maju kemuka lalu siap melepaskan sebuah pukulan keatas tubuh Ang Bu Im.
Walaupun serangan yang dipergunakan sangat aneh, lagipula dengan kecepatan luar biasa, namun kekuatan yang disertakan jelas tidak seberapa...
Dengan perasaan heran Kim Thi sia segera menegur.
"Eeeh, Khu cu kian, apakah kau bermaksud membersihkan debu diatas tubuh Ang Bu Im?"
Sastrawan menyendiri sama sekali tidak menggubris sindiran tersebut, wajahnya kelihatan amat serius, Hawa amarah menyelimuti seluruh mukanya, dengan mengerahkan segenap sisa kekuatan yang dimiliki dia memukul si pukulan sakti tanpa bayangan dengan gencar.
Dalam pandangan Kim Thi sia, pukulan-pukulan seperti itu tak lebih hanya menimbulkan rasa geli saja, tapi bagi si pukulan sakti tanpa bayangan yang sudah terluka parah, ia segera merintih kesakitan, wajahnya kelihatan amat tersiksa.
Sastrawan menyendiri seperti sadar kalau kesempatan sebaik ini jarang ditemukan, ia sama sekali tidak melepaskan peluang itu dengan begitu saja, pukulan dan tendangan yang bertubi-tubi dilancarkan dengan gencar, Lebih kurang sepertanak nasi kemudian, ia baru menghentikan perbuatannya itu.
dengan napas tersengal sengal dia mencari sebuah batu besar lalu duduk bersila disitu untuk mengatur pernapasan.
Kim Thi sia sangat keheranan melihat tingkah laku kedua orang itu, dengan rasa tercengang segera tegurnya kepada Ang Bu Im.
"Sebetulnya permainan sandiwara apakah yang sedang kalian perankan??"
Waktu itu, pukulan sakti tanpa bayangan masih berbaring diatas tanah dengan tubuh berlepotan darah, serangkaian pukulan dari Khu Cu kian membuat wajahnya sembab dan membengkok, mukanya jadi amat tak sedap dipandang.
Tapi ia merasa agak lega juga setelah melihat Kim Thi sia hanya berdiri saja disitu.
Terdengar Kim Thi sia menegur lagi dengan tertawa.
"Hey, apa maksudmu berbaring saja diatas tanah membiarkan orang lain menggebukimu? Apa gunaya berlagak mati?"
Pukulan Sakti tanpa bayangan muntahkan darah segar, dengan napas terengah-engah katanya "Aku...Aku... aku sudah hampir mati..."
"Aaah, jangan bicara sembarangan, buat apa kau membohongi aku?"
Tegur Kim Thi sia tak senang hati.
"Aku...aku tidak berbohong"
Kembali si pukulan sakti tanpa bayangan berkata dengan napas terengah engah.
"isi perutku sekarang telah hancur karena termakan seranganmu tadi..."
Mendengar ucapan mana, Kim Thi sia segera tertawa terbahak-bahak.
"Haaahhhh... Haaahhh.. setan tua, mana mungkin seranganku bisa membunuhmu? Kau tak usah kelewat mengunggulkan diriku.."
Dengan mata mendelik, si pukulan sakti tanpa bayangan menelan kembali darah kental yang hampir muntah keluar, lalu katanya.
"Kalau dulu, jangan harap bisa melukai tubuhku... tapi hari ini... keadaannya sama sekali berbeda..."
Kim Thi sia semakin tertegun, terutama setelah menyaksikan darah yang meleleh keluar dari mulut orang itu berwarna hitam, segera katanya "Kenapa bisa begitu?"
Setelah terbatuk batuk, si pukulan sakti tanpa bayangan berkata "Aku telah bertarung ribuan jurus melawan Sastrawan menyendiri...
dan akhirnya kami saling beradu tenaga dalam...
ketika terpisah tadi, kekuatan kami saling sama sama sudah habis...jangan kau lihat kami masih bisa berlarian dengan begitu cepat...
padahal keadaan kami tak berbeda dengan cahaya lilin yang hampir padam...
kami tak mampu menahan gempuran seperti apa saja...
dalam keadaan seperti ini, bagaimana mungkin aku bisa menahan pukulan ilmu..
ilmu pukulan Panca Buddhamu,, apalagi disertai dengan ilmu Tay goan sinkang yang maha dahsyat..."
"Oooh... rupanya begitu, aku sama sekali tidak menduga sampai kesitu!"
Kembali si pukulan sakti tanpa bayangan tertawa getir.
"Akupun lebih-lebih tak mengira kalau pada akhirnya aku bakal tewas diujung telapak tanganmu."
"Kau jangan mengira kau memang sengaja berbuat demikian untuk memanfaatkan kesempatan yang ada, coba aku tahu begini, tak nanti akan kupergunakan cara seperti ini untuk menyerangmu!"
"Aku... aku tak akan menyalahkan dirimu..."
Kembali si pukulan sakti tanpa bayangan batukbatuk.
"sebab diantara kita memang sudah ada perjanjian untuk melangsungkan pertarungan mati hidup."
"Yaa, betul dan aku yakin dapat mengungguli dirimu, tapi hal ini baru bisa diselenggarakan apa bila kekuatan tubuhmu telah pulih kembali seperti sedia kala."
Pukulan sakti tanpa bayangan menghela napas panjang.
"Aaai.. akupun merasa agak menyesal karena tak bisa melangsungkan pertarungan itu... sebelum pertarungan bisa dilangsungkan, rasanya matipun aku tak akan mati dengan mata meram."
Menyaksikan si pukulan sakti tanpa bayangan sudah mendekati ajalnya, tiba tiba saja kesan jelek Kim Thi sia terhadapnya berkurang banyak sekali, serta merta hiburnya lagi.
"Sudahlah, kau jangan terlalu memikirkan soal mati, cobalah bertahan sebisa mungkin, mari kutotok jalan darahmu, siapa tahu masih ada cara lain mengatasinya."
Sebelum Kim Thi sia melakukan sesuatu tindakan, si pukulan sakti tanpa bayangan telah menggoyangkan tangannya berulang kali sambil menampik.
"Tidak usah, biarlah maksud baikmu kuterima dalam hati saja..."
Melihat semangat kakek itu mendadak nampak lebih segar, buru buru Kim Thi sia berseru.
"Tak usah mengatakan begitu, coba lihat semangat mu tiba tiba menjadi segar kembali, agaknya masih ada harapan bagimu untuk melanjutkan hidup!"
"Percuma, tak ada harapan lagi....tak ada harapan lagi..."
Kata si pukulan sakti tanpa bayangan sambil tertawa lemah "sekarang aku hanya nampak segar menjelang saat ajalku tiba...
mumpung ada kesempatan aku ingin berbicara secara baik baik denganmu, bersediakah kau membantuku akan satu hal..."
"Hey, mengapa secara tiba tiba kau mengharapkan bantuanku? Bukankah kita saling bermusuhan?"
Ucap Kim Thi sia sambil tertawa.
"Dari berumusuhan kita dapat menjadi kawan, apalagi saat ajalku sudah hampir tiba sekarang. kuharap diantara kita tak perlu memperbincangkan masalah lampau yang sudah lewat lagi, akupun berharap aku jangan memikirkan dihati semua kejahatan yang pernah ku perbuat terhadapmu, bahkan aku sendiripun tak akan mempersoalkan lagi seranganmu tadi yang membuatku tak ada harapan untuk hidup lagi, sejak kini kita adalah sahabat, biarpun persahabatan ini mungkin hanya berlangsung dalam waktu singkat, tentunya kau bersedia bukan?"
Perkatan ini diutarakan dengan wajah tulus dan bersungguh sungguh, sehingga siapapun yang mendengarkan tak urung tergetar juga perasaan hatinya...
"Baiklah..."
Kata Kim Thi sia kemudian.
"Sekarang kuakui dirimu sebagai sahabatku, bila menjumpai suatu persoalan katakan saja kepada dirimu, aku tentu akan berusaha untuk menyelesaikannya bagiu!"
Si Pukulan Sakti tanpa bayangan tertawa puas.
"sesungguhnya masalah yang ingin kutitipkan kepadamu sederhana sekali, yaitu bila suatu saat kau bertemu dengan putra kesayanganku Ang Thian tong, tolong sampaikan beberapa patah kata pesanku ini kepadanya,"
"Pesan apa?"
Tanya Kim Thi sia serius. Mendadak Si Pukulan sakti tanpa bayangan muntah darah tiada hentinya, sambil muntah darah serunya berulang kali.
"Aduh celaka... aduh celaka.. isi perutku sudah terjadi pendarahan hebat, aku hampir mati..."
"kalau begitu, cepat kau sampaikan pesan tersebut kepadaku.."
Desak Kim Thi sia dengan perasaan tegang.
Darah kental telah menodai seluruh wajah dan badan si Pukulan sakti tanpa bayangan, tapi sekulum senyuman lega tersungging di ujung bibirnya, ia berkata dengan napas tersengal.
"Tolong... tolong beritahu kepadanya.. tidak.. tidak gampang kucarikan bini baginya.. aku.... aku... telah banyak mengeluarkan tenaga untuk itu... maka... kau... kau harus beritahukan kepadanya.. agar dia menjadi orang baik baik...."
"Masih ada pesan yang lain?"
Desak Kim Thi sia lebih jauh.
"Selain itu, keluarga... Keluarga Ang hanya ada seorang putra saja... katakan.. katakan kepadanya aku... aku... sangat menyayanginya..."
Belum selesai kata kata tersebut diutarakannya, pukulan sakti tanpa bayangan telah menghembuskan napas yang penghabisan.
Tiba tiba saja Kim Thi sia merasa hatinya amat pedih, sambil memegangi jenazah Ang bu lim, bisiknya pelan.
"Kau tak usah kuatir Ang lo-cianpwee, aku tentu akan menyampaikan pesanmu itu kepada Ang Thian tong"
Dalam pada itu..... Sastrawan menyendiri telah menyelesaikan semedinya, ia berdiri dibelakang Kim Thi sia sambil tertawa dingin tiada hentinya, kemudian dengan suara melengking berseru.
"Kim Thi sia, sesungguhnya aku membencimu hingga merasuk ke tulang sumsum, sedang saat ini kau sedang dipengaruhi oleh emosi sehingga ketajaman pendengaran maupun perasaan mu amat terganggu, andaikata kulancarkan sebuah pukulan yang menggempur punggungmu tadi, maka saat ini jiwamu pasti dalam perjalanan menuju ke akhirat."
"Lalu mengapa kau melepaskan kesempatan tersebut?"
Tanya Kim Thi sia sambil membalikkan badan dan bangkit berdiri.. Sastrawan menyendiri mendengus dingin.
"Aku sendiri pun sedang bertanya kepada diri sendiri, mengapa kesempatan sebaik ini kulepaskan dengan begitu saja, mengapa aku tidak manfaatkan peluang itu untuk membunuhmu?"
Jilid 57 -Tamat Kim Thi sia tertawa getir, katanya cepat.
"Padahal diantara kita berdua tiada jalinan permusuhan, kenapa sih kau harus berpikiran begitu?"
"Dengan mata kepala sendiri kusaksikan bagaimana kau membunuh ayahku.."
Bentak Sastrawan menyendiri dengan suara lantang. Sambil menelan air liur Kim Thi sia menyahut.
"Kuakui bahwa peristiwa tersebut memang suatu kenyataan, tapi kau toh tidak berniat sunguh sungguh untuk membunuhnya!"
Sastrawan menyendiri segera tertawa sinis.
"Kalau begtu, tentunya kau bisa menjelaskan pula bahwa seranganmu yang mematikan si Pukulan Sakti Tanpa Bayangan tadi juga bukan pembunuhan yang disengaja."
"Meski begitu, kenyataannya si Pukulan Sakti Tanpa Bayangan justru berpikiran lebih terbuka daripadamu, Walaupun dia telah mengorbankan jiwanya, namun tidak memandangku sebagai musuh besarnya."
"Hmn, itukan berkat kelicikanmu.."
Jengek Sastrawan menyendiri sambil tertawa dingin.
"Bagaimana bisa dikatakan berkat kelicikanku?"
Keluh Kim Thi sia "Belum pernah aku berbohong dengan siapapun."
"Huuuh, kau anggap aku tidak bisa melihatnya? Hmmn Ang Bu-im si tua bangka celaka itu sudah dibunuh olehmu malah menyatakan terima kasihnya hal ini bisa terjadi karena berhasil kau kelabui."
"Tapi aku kan tidak membohonginya."
Teriak Kim Thi sia lagi.
"Misalkan saja diriku, mula pertama kau telah membunuh ayahku terlebih dulu, kemudian mencari kesempatan untuk menyelamatkan diriku, hal ini membuat aku berada dalam posisi antara budi dan dendam, perasaan batinku jadi saling bertentangan hingga pada akhirnya aku malah merasa berterima kasih kepadamu."
"Tapi kenyataannya toh kau tidak berterima kasih keadaku!"
"Hmmnn, aku tidak akan setolol apa yang kau bayangkan sekarang, terus terang saja kukatakan, aku benci dirimu, selama hidup membencimu. asal aku berhasil mendapatkan suatu alasan yang kuat maka kesempatan bagiku untuk membalas dendam segera akan tiba, aku tetap akan membunuhmu... aku tetap akan membunuhmu!"
Boleh dibilang dia berkata sambil mengertak gigi menahan rasa benci dan dendam yang meluap-luap, apa lagi sewaktu mengucapkan kata kata hendak membunuh, suaranya keras dan nyaring hingga mengetarkan seluruh lembah tersebut.
Dalam waktu singkat, seluruh lembah telah dipenuhhi oleh gema suaranya yang memantul...
"Aku hendak membunuhmu! aku hendak membunuhmu..."
"Aku hendak membunuhmu..."
"Aku hendak membunuhmu..."
Pada saat itulah.... Tiba tiba terdengar seseorang berkata dengan suara yang lembut dan genit, suara yang amat menawan hati.
"Wahai Sastrawan menyendiri, apakah kau masih kurang untuk membunuh manusia?"
Munculnya suara teguran yang amat mendadak ini sama sekali diluar dugaan Sastrawan menyendiri maupun Kim Thi sia, untuk sesaat kedua orang itu jadi tertegun.
Tanpa terasa mereka berdua sama-sama berpaling kearah mana berasalnya suara terguran itu...
Dibawa sinar rembulan yang cerah, tampaklah Dewi Nirmala dengan bajunya yang tipis lagi indah telah berdiri santai disitu dengan senyuman dikulum.
Kemunculan Dewi Nirmala saat ini benar-benar diluar dugaan, dibalik kegelapan malam ia tmapak begitu cantik, begitu anggun, begitu menawan hati, tak ubahnya bagaikan bidadari yang baru turun dari khayangan.
Dibelakang wanita cantik rupawan ini berdiri berjajaran lima orang utusan Nirmala.
Mereka berdiri dengan sikap menghormat, sepasang tangan lurus kebawah dan tubuh setengah membungkuk, sikap demikian membuat kedudukan Dewi Nirmala kelihatan lebih anggun dan berwibawa.
Keadaan tersebut tak ubahnya seperti seorang Ratu yang sedang melakukan pemeriksaan diiringi para pengawalnya.
Untuk beberapa saat lamanya Sastrawan menyendiri berdiri tertegun, tapi kemudian serunya dengan berang.
"Hmm, mengapa aku tidak boleh membunuh? Kau tahu, tujuan kedatanganku ke Lembah Nirmala saat ini adalah untuk membunuh orang, membunuh orang semacam kalian itu."
Dewi Nirmala tertawa geli.
"Benarkah begitu? Ehmm, akupun tahu, Kau memang sudah membunuh banyak orang, semula utusan Nirmala ku terdiri dari dua puluh orang, tapi sekarang tinggal lima orang yang masih hidup, tentunya mereka telah tewas ditanganmu semua bukan?"
"Soal ini..."
Sastrawan menyendiri Khu Cu kian tampak agak tertegun, tapi kemudian sahutnya.
"Baik anggap saja memang aku yang telah membunuh mereka semua, mau apa kau?"
Kembali Dewi Nirmala tertawa cekikikan.
"Aku hanya ingin bertanya akan satu hal, bagaimanakah perasaan hatimu setelah membunuh begitu banyak orang? Apakah kau merasa puas sekali?"
"Buat apa kau menanyakan persoalan ini?"
Seru Sastrawan menyendiri dengan rasa heran dan tak habis mengerti. Dewi Nirmala sengaja memperingati nada suaranya pelan-pelan dan dia berseru lantang.
"Sesungguhnya pertanyaanku ini memang sedikit berlebihan, tapi aku beranggapan bahwa kematian dari para utusan Nirmala itu kelewat kejam, kelewat brutal, tentu saja setelah kau membunuh mereka maka kau bisa cuci tangan dan angkat kaki dari sini tanpa ambil perduli masalah yang lain, tapi bila kau memperhatikan mayat mereka dengan lebih seksama, dan mengamati keadaan mereka sewaktu tewas, mungkin jalan pemikiran itu akan berubah sama sekali."
Tanpa terasa Kim Thi sia berkerut kening setelah mendengar uraian itu, diam-diam ia pun merasa keheranan sehingga akhirnya menukas cepat.
"Dewi Nirmala kau benar benar aneh sekali, orang bilang kau kejam, buas, brutal dan membunuh orang tanpa berperi kemanusiaan. kenapa sih sikapmu hari ini barubah sama sekali? Mengapa secara tiba tiba kau menjadi begitu welas hati dan penuh belas kasihan?"
Dewi Nirmala tertawa hambar, dia melirik sekejap kearah pemuda kita lalu menjawab.
"Terus terang saja, aku merasa agak tak tega setelah menyaksikan kematian yang begitu menggenakan dari utusan utusan Nirmalaku.. mereka dibunuh kelewat kejam dan berutal..."
"Tentu saja mereka harus dibunuh scara kejam, Bila perlu mencincang tubuh mereka hingga hancur berkeping-keping, karena kawanan utusan Nirmala itu merupakan orang orang kepercayaanmu, begundalmu, kaki tanganmu untuk melakukan pelbagai kejahatan dan kenistaan, jika berkurang seorang saja berarti akan mengurangi pula kekuatanmu untuk menteror dunia persilatan..."
Kata kata dari Sastrawan menyendiri Khu Cu kian ini diutarakan dengan suara keras diiringi tertawa dinginnya yang amat tak sedap didengar.
"Oooh.. bukan begitu, aku tidak maksudkan demikian..."
Buru buru Dewi Nirmala menjelaskan.
"Lantas dikarenakan apa?"
Tanya Kim Thi sia dengan perasaan agak ragu.
Bagaimanapun juga, Sastrawan menyendiri Khu Cu kian jauh lebih berpengalaman dari pada Kim Thi sia dia pun seorang yang cermat dan seksama, dari sikap Dewi Nirmala yang semenjak kehadirannya hingga sekarang tidak melakukan sesuatu tindakan, melainkan mengajak lawannya berbicara, ia segera menjadi curiga, bisa jadi musuhnya mempunyai suatu rencana tertentu.
Berpikir demikian dia pun segera berkata "Hey, Dewi Nirmala, bila kau mempunyai rencana busuk atau akal licik, lebih baik gunakan semua, bila ingin berkentut, cepat pula berkentut, lalu bicara jangan berputar putar begitu, hmmn, bikin jemu orang yang mendengar saja!"
Kembali Dewi Nirmala tertawa manis.
"Dengan cepat semua perkataan yang ingin kusampaikan akan selesai kuutarakan keluar, sesungguhnya aku hanya inin memberitahukan satu hal saja kepadamu, yakni tentang Nirmala nomor sembilan..."
Bagaikan terkena aliran listrik bertegangan tinggi tiba tiba saja sejujur badannya Sastrawan menyendiri merasa begetar keras tanpa sadar ia bertanya.
"Bagaimana Nirmala nomor sembilanmu? Apa maksud perkataanmu itu?"
Dewi Nirmala pura pura berlagak sedih dan amat murung sekali, pelan pelan ia berbisik.
"Ai... bila ingin aku berbicara sejujurnya, ia betul betul mati dalam keadaan menggenaskan..."
"Kurang ajar..!!"
Teriak Kim Thi sia penuh amarah.
"apa maksudmu mengucapkan kata kata yang bersifat mengadu domba kepada kami? Hmn, rupanya kau ingin melihat aku saling gontok gontotok sendiri."
Dewi Nirmala sama sekali tidak menggubris perkataan dari Kim Thi sia, kembali dia berkata dengan sedih.
"Dikala kami menemukan Nirmala nomor sembilan, entah atas perbuatan siapa ternyata mayatnya sudah dikubur, dengan susah payah kami menggalinya keluar... Aii.. kasihan.. benar benar amat kasihan...............Nirmala nomor sembilan.....!!!!!! Dia... dia...."
Dengan perasaan amat terperanjat, Sastrawan menyendiri Khu Cu kian berteriak keras.
"Apa yang telah kau perbuat terhadapnya?"
Dewi Nirmala tertawa misterius.
"Kau anggap apa yang telah kami lakukan terhadapnya? Waktu itu kau telah menyerbu masuk kedalam lembah serta melakukan pengacauan secara ganas, buas dan brutal, seperti misalnya Nirmala nomor sembilan belas, Nirmala enam belas... entah dengan cara apa kau melukai mereka, kenyataannya jago jago andalanku itu sudah dibuat cacad oleh serangan yang brutal."
"Ooohh.... jadi kau bermaksud untuk melakukan balas dendam...?"
Jengek Kim Thi sia . Kembali Dewi Nirmala tidak menggubris perkataan pemuda itu, dengan hambar dia meneruskan kata-katanya.
"Hey, Sastrawan menyendiri, kepandaian silatmu memang nyata hebat dan luar biasa. mungkin saja banyak orang tak sanggup buat sesuatu terhadapmu, tapi dalam gusarku tadi, terpaksa kugali keluar tubuh Nirmala sembilan dari liang kuburnya dan...."
"Dan kau mencambuki mayatnya untuk menuntutu balas?"
Sambung Kim Thi sia cepat.
"Aaah, mencambuki mayat bukan permainan yang menarik lagi bagi kami, justru kami telah praktekan suatu sistem baru yang lebih mengasyikan lagi, kau tahu bagaimana kami telah bertindak tadi?"
Melihat kedua orang pemuda itu tetap membungkam sambil menunggu jawabannya Dewi Nirmala segera tertawa. Setelah menarik napas panjang panjang, ia lalu melanjutkan kata kata yang lebih jauh.
"Stelah menggali keluar mayat Nirmala nomor sembilan tadi, kami cincang daging tubuhnya hingga hancur berkeping keping, kemudian pula berikut sisa tulang belulangnya kami bagikan daging cincangannya serta sisa tulang tadi untukk makan anjing liar, aku rasa saat ini sudah tak bersisa lagi..."
Bisa dibayangkan betapa gusar dan dendamnya Sastrawan menyendiri stelah mendengar keterangan itu, sepasang matanya merah berapi api. dengan muka menyeringai seram teriaknya keras keras.
"kau... kau... perempuan jalang...keji amat hatimu..."
Melihat kegusaran orang, Dewi Nirmala bertambah senang, ia tertawa terkekeh kekeh..
"Haaah...Hahaaaahh.... Haaah.... kau marah? kau jengkel. tentu saja kau mendongkol setengah mati dan membenci kepadaku karena Nirmala nomor sembilan adalah ayahmu, karena Nirmala nomor sembilan adalah Pangeran Berkaki Sakti, Khu Kong, tentunya kau sudah tahu bukan, tentang hal ini?"
"Aku.. tentu saja aku tahu.."
Teriak Sastrawan menyendiri Khu Cu kian dengan sepasang mata merah membara, jelas rasa rasa dendamnya sudah merasuk sampai ketulang.
"Cckkk...Cckkkk... sayang, sungguh sayang!"
Kembali Dewi Nirmala mengejek.
"seandainya kau telah mengenalinya sedari semula,tak nanti dia akan terbunuh secara menggenaskan, padahal menguburnya kedalam liang kubur pun sudah terhitung suatu perbuatan yang berbakti dari seorang putra terhadap orang tuanya."
Ternyata dalam anggapan Dewi Nirmala dalam serbuannya ke dalam Lembah Nirmala tadi, orang pertama yang diserang dan dibunuh Sastrawan menyendiri adalah Nirmala nomor sembilan tanpa mengetahui bahwa sesungguhnya Nirmala Nomor sembilan adalah ayahnya.
Sampai korbannya terbunuh dan mengetahui identitasnya yang sesungguhnya, pemuda itu jadi emosi dan melakukan pembunuhan secara besar besaran....
Dengan dasar dugaan itulah maka Dewi Nirmala menyusul kesana dan hendak merangsang perasaan Sastrawan menyendiri hingga dia marah sedih dan menjadi gila.
Andaikata musuhnya berhasil dibuat gila dan kalap, maka diapun akan membunuh lawannya ini secara mudah sekali.
Tentu saja menurut anggapannya, Sastrawan menyendiri pasti sedih dan menyesal karena telah salah tangan membunuh ayahnya sendiir, maka seandainya ia menggunakan masalah ini sebagai bahan ejekannya.
dapat dipastikan lawannya akan menjadi kalap dengan cepat.
dengan sendirinya ia pun bisa melakukan rencananya secara berhasil.
Dalam pada itu Sastrawan menyendiri Khu Cu kian telah di cekam perasaan benci yang meluap luap, dengan suara yang keras bagikan guntur, teriaknya keras "Apakah aku termasuk anak yang berbakti atau bukan, aku rasa urusan ini tak ada sangkutpautnya dengan dirimu!"
Betapapun juga, pemuda ini masih termasuk seorang pemuda yang tenang dan berkepala dingin, kendatipun ia berada dalam keadaan dicekam rasa benci dan dendam yang berkobar kobar, namun sedapat mungkin ia berusaha unutk mengendalikan diri.
Setelah menarik napas panjang panjang, dengan mata melotot besar dan memancarkan sinar berapi api, ia berkata lagi.
"Dewi Nirmala, dengarkan baik baik, kau adalah musuh musuh ayahku, bia kau tidak bisa menghancur lumatkan tubuhmu hingga berkeping keping aku Khu Cu kian bersumpah tak akan menjadi manusia, aku pun akan menganggap keturunan keluarga Khu sudah musnah sampai disini.."
Perlu diketahui, sejak Sastrawan menyendiri Khu Cu kian akan terjun ke dalam dunia persilatan serta melakukan pengembaraan, belum pernah ia memberitahukan nama aslinya kepada siapapun.
Tapi hari ini dia telah menyebutkan nama marganya secara jelas dan nyata, dari sini bisa ditarik kesimpulan bahwa ia telah mengambil keputusan untuk membinasakan Dewi Nirmala walau dengan cara serta pengorbanan macam apapun!
Sementara itu Dewi Nirmala telah tertawa hambar,sambil mengejek lagi dengan suara dingin.
"heeeeh...Heeeehhh...Heeehhh.. sesungguhnya kau pun dapat memahami bagimanakah perasaan hatimu sekarang, tapi kau pun harus tahu secara jelas bahwa ayahmu bukan mati ditanganku, bukankah aku tak pernah membunuh ayahmu dengan tangan serta kekuatanku sendiri? betul bukan...?"
Dengan geram dan penuh kebencian Sastrawan menyendiri Khu cu Kiam mendengus dingin.
"Hmmn, sekalipun beliau bukan tewas ditanganmu, tapi ia mati lantaran dirimu!"
"Waah.. Waahh... benar benar perbuatan seorang anak yang sangat berbakti."
Jengek Dewi Nirmala lagi dengan terkekeh-kekeh, suaranya dingin penuh penghinaan.
"bukankah kau sendiri yang telah turun tangan membunuh ayahmu? Masa utang-piutang itu kau limpahkan keatas tubuhku.. bagaimana bisa terjadi?"
Hmm, siapa yang bilang aku limpahkan hutang berdarah tersebut kepadamu?"
Teriak pemuda itu dengan berang.
"Lantas kalau bukan kau yang melakukan pembunuhan terhadap ayamu sendiri, siapa pula yang melakukannya? Aaai... terus terang saja aku ikut merasa kecewa dengan perbuatanmu yang terkutuk itu..."
Sastrawan menyendiri Khu Cu kian tertawa pedih.
"Aku tak pernah bohong, tak pernah memjadi manusia munafik, aku selalu bersikap terbuka dan terang terangan, buat apa kau mesti memutar balikkan fakta dan kenyataan?"
Dewi Nirmala tertawa sinis, diawasinya pemuda tersebut dari atas kepala hingga keujung kakinya, kemudian ejeknya lagi.
"Hmmn, kau anggap didunia ini terdapat orang kedua yang begitu berbakti kepada ayahnya sendiri seperti kau? Membunuh ayah kandung sendiri secara keji dan brutal?"
Setelah diejek berulang ulang kali, akhirnya Sastrawan menyendiri Khu cu kian menjadi naik darah, tiba tiba teriaknya keras.
"Siapa yang berani menuduhku sebagai pembunuh ayah kandungku sendiri...?"
"Kalau bukan kau lantas siapa lagi? Aku tahu kau memang seorang anak yang sangat berbakti!"
Kim Thi sia yang selama ini berdiri disisi arena dan mengikuti jalannya peristiwa itu, lama kelamaan ia jadi habis juga kesabarannya, terutama sekali setelah melihat Sastrawan menyendiri disindir dan diejek sampai kelabakan sendiri.
Mendadak dia tampilkan dir ke tengah arena, lalu selanya dengan suara lantang.
"Kau keliru besar, ayah Sastrawan menyendiri bukan tewas ditangannya tapi mati diujung pedang Leng-Gwat kiam-ku."
"Apa?"
Dewi Nirmala kelihatan tercengang bercampur keheranan, agaknya kejadian ini sama sekali diluar dugaannya. Tapi setelah termenung dan berpikir sebentar, sambil tertawa katanya lagi.
"Haaah....Haaah...haaaah... tak heran kalau sewaktu bertemu dengan kalian berdua pertama kali tadi, kusaksikan kamu berdua sedang saling melotot dengan penuh penasaran dan saling mencaci maki, rupanya ada ganjalan dibalik kesemuanya ini."
Kemudian setelah melirik sekejap kearah Sastrawan menyendiri, ia berkata lebih jauh.
"Aaaii... kalau aku disuruh berbicara secara terus terang, ya.... aku benar benar kasihan denga nasib Nirmala nomor sembilan yang begitu tragis, baru saja bertemu putranya, dia sudah harus mati duluan ditangan orang lain, lagipula mati dalam keadaan yang begitu tragis dan menggenaskan... aaaii... kasihan... benar benar kasihan...."
Ketika mendengar kata kata yang terakhir ini bukannya bertambah marah, tiba tiba Sastrawan menyendiri merasa terperanjat sekali.
segera sadar bahwa ia sedang diadu domba.
Denga penuh amarah segera tegurnya.
"Dewi Nirmala, lebih baik kau tak usah menggunakan akal muslihat semacam itu untuk mengadu domba kami berdua, ketahuilah kami tak akan termakan oleh hasutanmu itu.."
Tiba-tiba Dewi Nirmala menutupi wajah sendiri dengan kedua belah tangannya lalu sambil tersipu-sipu malu ia tertawa.
Senyumannya kelihatan begitu polos, suaranya begitu merdu merayu, tapi dibalik kesemuanya itu justru terselip sindiran serta pandangan yang menghina.
Sesungguhnya apa yang sedang ditertawakan oleh perempuan cantik yang misterius ini?
Rencana busuk apakah yang terselip dibalik kesemuanya ni?
Benar benar suatu peristiwa yang mencurigakan dan membuat orang tidak habis mengerti.
Dewi Nirmala tertawa aneh secara begini dalam waktu sepertanak nasi lamanya, tapi dia masih tertawa terus tiada hentinya.
Lama kelamaan Kim Thi sia jadi habis kesabarannya, dengan perasaan jengkel ia menegur.
"Eeei, sebenarnya apa suh yang menggelikan?"
Bagaimanapun juga, pemuda ini termasuk orang yang tidak pandai berbicara, untuk mengajukan sebuah pertanyaan yang samapun dia harus merangkainya secara pelan-pelan dan diutarakan dengan terbata-bata.
Kemudian sewaktu pihak lawan tidak mengacuhkan pertanyaannya itu, lama kelamaan dia menjadi bosan sendiri dan segan berkata lebih lanjut.
Kali ini Dewi Nirmala memberikan tanggapannya, sambil tertawa cekikikan ia berkata "Aku tertawa geli karena tidak menyangka kalau Sastrawan menyendiri yang sudah tersohor dalam dunia persilatan sebagai manusia aneh, ternyata sudah kehilangan semua keangkuhan serta ketinggian hatinya, bukan cuma begitu, bahkan wataknyapun berubah seratus delapan puluh derajat, benar benar suatu kejadian yang diluar dugaan, bikin hati orang tidak percaya saja!"
"Hmmn, heran, mengapa aku justru tidak menyaksikan hal-hal yang kau katakan menggelikan tadi?"
Serut Kim Thi sia lagi dengan suara lantang. Dengan matanya yang jail dan indah, Dewi Nirmala mengerling sekejap kearah pemuda itu, lalu jawabnya.
"Ya.... tentu saja au tak akan merasa geli dengan apa yang kukatakan.!"
Kim Thi sia tertegun, serunya cepat..
"Kenapa?"
Dengan padangan yang sinis dan penuh ejekan Dewi Nirmala mengerlingkan lagi biji matanya yang sangat indah itu kearah Sastrawan menyendiri Khu Cu kian, lalu dengan genit ia berkata "hei Kim Thi sia..
seharusnya kau merasa berbangga hati, sebab walaupun ayah kandung Sastrawan menyendiri Khu cu kian telah tewas ditanganmu, tapi kenyataannya bukan saja ia tidak menganggap kau sebagai sahabat karibmu, menghormati kau sebagai malaikat penyelamatnya!"
"Hmmn, dia tak usah menghormati aku, toh aku bukannya orang yang gila akan kehormatan."
Kata Kim Thi sia dengan penuh perasaan tak senang hati.
"tapi kenyataannya... Hmm, penampilannya sekarang begitu tengik dan menyebalkan, bukan saa ia munduk munduk dihadapanmu serta menghormati kau sebagai malaikat penyelamatnya, malahan dia mengekor dibelakangmu seperti anjing yang patuh kepada majikannya untuk ikut bersamamu datang ke Lembah Nirmala ini untuk mencari gara-gara denganku... benar benar perbuatan yang menyebalkan...."
"Kentut busuk mak-mu...!"
Teriak Kim Thi sia dengan gusarnya.
"Aku toh tidak mengajaknya datang bersama, diapun tidak kemari karena mengekor dibelakangku. ia datang ke Lembah Nirmala ini atas dasar kehendka serta kemauannya sendiri!"
"Oh ya??!"
Dewi Nirmala mendengus sinis, pelan pelan dia berpaling lagi kearah Sastrawan menyendiri Khu Cu kian, lalu katanya lebih jauh dengan suara lembut.
"Coba kau tanyakan kepada hati sanubarimu sendiri, benarkah kedatanganmu kemari timbul atas kehendak dan kemauanmu sendiri?"
"Mau datang karena mengekor atau atas kehendak sendiri, aku rasa itu merupakan urusan sendiri, lebih baik kau tak usah turut campur dan banyak ngebacot lagi!!"
Tukas Sastrawan menyendiri Khu Cu kian secara tiba-tiba dengan suara dingin.
"Heeehh...heeehh....terserah apapun yang ining kau katakan, pokoknya aku akan tetap berpendapat bahwa kejadian ini kelewat aneh. Setahuku, bila orang lain menyaksikan musuh besar pembunuh ayahnya berdiri dihadapannya sambil berbicara dengan santi, dia tentu akan berusaha untuk membalas dendam, bahkan bila perlu mempertaruhkan selembar jiwa sendiir. Tapi apa yang kusaksikan sekarang....? Hmmm, tetapi kenyataannya Sastrawan menyendiri yang termasyur dalam persilatan sebagai manusia aneh malah bersikap acuh tak acuh terhadap pembunuh ayahnya, bahkan dia menghormatinya sebagai malaikat penyelamat."
Kim Thi sia merasa amat tidak sedap perasaannya, tiba tiba dia menyela dengan suara keras.
"Dibalik semua peristiwa ini sesungguhnya masih terdapat pelbagai lika liku yang tak nanti akan dipahami orang lain, apa lagi dipahami olehmu...."
Sementara itu, Sastrawan menyendiri Khu Cu kian sudah mulai termakan oleh hasutan Dewi Nirmala yang mengarah pada pengaduan domba itu, betapa pun tebalnya iman orang ini, akhirnya rasa dendam tersebut pelan pelan muncul kembali dan menyelimuti perasannya, apa lagi pada dasarnya dia memang merasa amat idak puas dengan diri Kim Thi sia.
Mendadak ia membentak dengan suara yang keras bagaikan guntur membelah bumi.
"Kim Thi sia, mengapa kau tidak enyah sejauh jauhnya dari hadapanku? Mengapa kau masih berdiri mematung disitu? Enyah kau dari situ dan jangan mencampuri urusan kami lagi..."
Melihat hasutannya mulai termakan, Dewi Nirmala tertawa geli, diam diam ia harus mengigit bibirnya untuk menahan gelak tertawanya.
Posisi Kim Thi sia saat ini sungguh menggenaskan, ia tampak tersipu sipu malu dibuatnya, dengan suara tergagap segera serunya.
"Apa yang ingin kukatakan belum selesai kuucapkan. sesungguhnya Sastrawan menyendiri tidak mempunyai alasan untuk membenci atau mendendam kepadaku, sebab aku..."
Belum habis perkataan tersebut disampaikan dengan suara hambar kembali Dewi Nirmala menghasut.
"Terlepas bagaimana pun juga duduk persoalan yang sebenarnya, kenyataan membuktikan bahwa kau adalah musuh besar pembunuh ayahnya, asal ia mau mencari sebuah alasan atau persoalan apapun, ia bisa membinasakan dirimu dengan segera. misalkan saja dengan alasan kau ribut terus disini, atau mungkin juga dengan alasan kau berani mengatakan ayahnya tetap gagah dan tidak gentar meski dibunuh olehmu..."
Sastrawan menyendiri Khu Cu gian tidak tahan lagi, dengan rasa benci yang meluap luap ia segera berteriak kepada Kim Thi sia "Eeei...
sudah kau dengar semua perkatannya itu?
Sedari dulu toh sudah kukatakan, bila aku dibikin sewot maka dengan alasan apapun yang dibuat buat aku bisa menggunakan kesempatan tersebut untuk membunuhmu..."
Kim Thi sia tertegun, lalu serunya dengan keheranan "Jadi kau benar benar akan menuruti perkataan dari Dewi Nirmala itu dan membuat alasan yang dibuat buat untuk menyerangku?"
"Sesungguhnya aku bisa menuruti perkataannya itu dan menggunakan apa yang dia katakan sebagai alasanku untuk membunuhmu, namun berhubung perkataan tersebut keluar dari mulutnya, sudah barang tentu aku tak sudi melaksanakan menurut keinginannya, meski begitu... kuanjurkan kepadmu lebih baik sedikitlah tahu diri dan secepatnya menggelinding pergi dari sini!"
"Tidak. aku tak sudi pergi dengan begitu saja."
Teriak Kim Thi sia keras keras.
"Dengan susah payah aku datang ke Lembah Nirmala ini untuk memenggal batok kepala Dewi Nirmala si perempuan busuk itu, sebelum tujuan dan cita citaku ini tercapai, tak nanti aku akan pergi meninggalkan tempat ini."
Sambil tertawa Dewi Nirmala segera menghasut.
"Eeei, Sastrawan menyendiri, coba dengarkan pertanyaannya itu, dia enggan pergi meninggalkan tempat ini sesuai dengan keinginannya, jelas dia memang sengaja bermaksud memusuhi dirimu."
"Dewi Nirmala tutup bacot anjingmu yang bau itu!"
Teriak Sastrawan menyendiri Khu Cu kian dengan benci.
"Sekali lagi kau buka bacotmu yang bau itu, akan kurobek mulutmu sampai hancur."
"Hey, bagaimana sih kamu ini? aku kan lagi memikirkan kepentinganmu!"
Seru Dewi Nirmala dengan kening berkerut.
"Tutup mulutmu yang bau!"
Kembali Sastrawan menyendiri Khu Cu kian membentak dengan marah,"
Sekali lagi kau ngebacot, kujajal dirimu terlebih dulu."
"Kenapa..."tanya Dewi Nirmala sambil berlagak keheranan dan tak habis mengerti. Sambil menggigit bibir menahan amarah Sastrawan menyendiri Khu Cu kian berseru.
"sebab musuh besarku adalah kau, orang yang hendak ku bunuh untuk membalasnya dendam sakit hati ayahku adalah kau. Pokoknya rasa benciku terhadap dirimu tidak kalah dengan rasa benciku terhadap Kim Thi sia...tapi batinku sedang bertentangan, aku tak dapat memutuskan siapa yang harus dibunuh terlebih dahulu dua diantara kalian semua..."
"Bila musuh besar pembunuh ayahmu telah berada didepan mata, tentu saja orang yang pertama harus kau cari adalah dirinya."
Sahut Dewi Nirmala sambil tertawa licik. Sastrawan menyendiri Khu cu kian meraung keras, suaranya bagaikan harimau terluka."
"Sekali lagi kau berani banyak bicara, batok kepalamu yang akan menjadi sasaran serangan ku yang pertama."
Begitu pemuda ini mulai naik darah, suasana tegang dan serius pun seketika menyelimuti seluruh arena.
Dalam perkiraan Kim Thi sia semula, dengan keangkuhan serta kesombongan Dewi Nirmala, dia pasti tak akan tahan setelah dibentak bentak lawan sekasar ini.
Siapa tahu apa yang kemudian terjadi ternyata sama sekali diluar dugaannya.
Dewi Nirmala seperti hendak mengucapkan sesuatau, tapi setelah kata kata sampai di ujung bibir mendadak ditahan kembali dan tak berani berbicara lebih jauh.
Pada saat inilah.....
Tiba tiba dari balik sebatang pohon besar ditengah hutan belukar tepi arena, bergema gelak tertawa orang yang tak terkendalikan, jelas orang itu tertawa karena kegelian.
Padahal kawanan jago yang hadir diarena dewasa ini rata rata merupakan jago silat pilihan yang berilmu tinggi, tapi kenyataannya ternyata tak seorang pun diantara mereka yang mengetahui bahwa dibalik pohon ada orang yang bersembunyi.
Setelah gelak tawa itu berkumandang, semua orang baru tertegun dibuatnya dan bersama sama mengalihkan perhatiannya ke arah mana berasalnya suara itu.
Dari balik pohon besar tampak melayang turun lima orang lelaki dan seoarang wanita.
Perempuan yang melayang turun lebih duluan memiliki paras muka yang cantik jelita, gerakan tubuhnya sangat ringan, saat itu dia memakai baju berwarna coklat.
Ternyata perempuan ini tak lain adalah si Burung Hong dari Leng hun Lam peng adanya.
Sedangkan kelima lelaki yang mengikuti dibelakangnya tak lain adalah lima naga dari wilayah biau yang belum lama terjun ke dalam dunia persilatan.
Dalam sekejap mata sikap Dewi Nirmala telah pulih kembali menjadi amat tenang.
pelan-pelan dia berkata.
"Ooohh.... rupanya kalian, rupanya sudah sedari tadi menyadap pembicaraan kami, megapa baru sekarang munculkan diri dari tempat persembunyian?"
Si Burung Hong Lam peng bukan seorang wanita bodohm dengan kecerdikannya yang luar biasa ia dapat menangkap nada teguran dibalik ucapan Dewi Nirmala itu.
Tapi gadis ini sama sekali tidak gentar, malahan dengan suara lembut katanya.
"Sudah lama kudengar orang berkata bahwa Dewi Nirmala adalah seorang wanita licik yang banyak tipu muslihatnya dan memiliki kemampuan untuk memimpin seluruh umat persilatan. Tapi sungguh mengecewakan! setelah melihat sendiri penampilannya pada malam ini, aku justru merasa sedikit diluar dugaan."
"Sebenarnya apa maksudmu berkata begitu?"
Tegur Dewi Nirmala dengan tak senang hati.
Baca Juga: Hina Kelana Balada Kaum Kelana 15
Baca Juga: Hina Kelana Balada Kaum Kelana 6