Ceritasilat Novel Online

Lembah Nirmala 15

Eps 15 Lembah Nirmala - Khu Lung

Baca online Lembah Nirmala - Khu Lung

Cersil Lembah Nirmala - Khu Lung.

"Dengan jelas sekali kau telah melihat keadaan situasi yang sesungguhnya pada saat ini, kekuatan dari Lembah Nirmalamu sekarang benar-benar sudah banyak berkurang, bukan cuma utusan Nirmalanya tinggal lima orang yang masih hidup, bahkan si Pukulan Sakti Tanpa Bayangan Ang Bu im serta Ciang sianseng pun secara beruntun ditemukan telah tewas, Ehm, keadaan semacam ini sungguh amat mempengaruhi kekuatan inti yang sesungguhnya, bukankah dikarenakan alasan tersebut maka sekarang kau merasa takut bila Sastrawan menyendiri yang termasyur sebagai manusia aneh akan bekerja sama dengan Kim Thi sia yang tersohor sebagai manusia yang paling susah dilayani untuk menyingkirkan dirimu?"

Tak terlukiskan rasa gusar Dewi Nirmala setelah mendengar perkataan itu, jelas semua rahasianya sudah terbongkar sekarang.

Tapi sebagai manusia licik, ia tidak memperlihatkan perasaan bencinya itu diatas wajahnya, malah dengan suara hambar ia berkata.

"Hmn, penilaian mu itu terlalu cetek dan sama sekali tidak berarti."

"Hmmn, tentu saja kau harus berkata begitu karena rahasia pribadimu sudah terlanjur terbongkar."

Ucap si Burung Hong Lam peng lebih jauh dengan penuh keyakinan.

"sesungguhnya rasa bencimu terhadap Kim Thi sia sudah merasuk sampai ke tulang sum sum, tapi sekrang kau sengaja membakar hati Sastrawan menyendiri, apa tujuanmu yang sebenarnya? hmmn, maksudmu tak lain adalah ingin membasmi Sastrawan menyendiri terlebih dahulu dan membiarkan Kim Thi sia berpeluk tangan saja hingga antara kedua orang ini terjadi kesalahan paham yang mengakibatkan mereka saling gontok-gontokan sendiri.... tapi kemudian kau menemukan bahwa antara mereka berdua sesungguhnya sudah terdapat ganjalan, maka kau pun mulai menghasut sana sini dengan harapan mereka berdua saling gontok-gontokan sendiri sementara kau menjadi penonton yang beruntung dan mendapat keuntungan dari pertarungan mereka berdua, nah coba berilah jawaban dengan menggunakan liangsimmu yang sejujurnya, bukankah uraianku diatas amat tepat dan sesuai dengan jalan pemikiran mu yang sesungguhnya...??"

Dewi Nirmala benar benar amat gusar, Alis matanya berkernyit, matanya melotot besar dan wajahnya merah padah seperti udang bakar, lalu dengan suara keras menahan geram teriaknya.

"Lam peng, apakah kau sudah lupa dengan kejadian semalam? Apakah kau telah melupakannya sama sekali?"

Pelan pelan si Burung Hong Lam peng mengangguk, sahutnya sambil tersenyum sinis.

"Semalam aku telah menghadiri perjamuan besar Nirmalamu, bukankah kau pun hendak mengundangku untuk menghadiri perjamuan Nirmala yang lebih besar lagi?"

"Hmmn, kalau toh sudah mengetahuinya dengan jelas maka kau seharusnya memikirkan kembali posisimu saat ini, mengapa kau masih berceloteh tak karuan disini dan mengaco belo tak karuan?"

Sekali lagi si Burung Hong Lam peng tertawa.

"Aku rasa apa yang kubicarakan dalam pertemuan saat ini sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan masalah itu."

"Hmmn, aku sudah menduga sedari dulu, manusia macam kau memang tak menentu pendiriannya..."

Bentak Kim Thi sia pula dengan mata melotot gusar. Burung Hong dari Leng hun, Lam peng berpaling dan memandang sekejap ke arah pemuda itu, lalu katanya sambil tertawa.

"Sekalipun begitu, toh tak bisa disangkal bahwa apa yang kukatakan berusan merupakan situasi yang sesungguhnya!!"

Sastrawan menyendiri Khu Cu kian termenung sejenak dan berpikir sebentar kemudian katanya pula.

"Yaa.. apa yang telah kau uraikan selama ini memang merupakan suatu kenyataan yang tak bisa dibantah lagi, tapi numpang tanya, sebenarnya apa pula maksud dan tujuanmu yang sebenarnya? Kenapa tidak memanfaatkan kesempatan yang sangat baik ini untuk sekalian diutarakan keluar?"

Dengan gemas dan penuh kebencian Dewi Nirmala melotot sekejap ke arah si Burung Hong Lam peng, diam diam pikirannya di hati.

"Bagus sekali, Hmn, sungguh tak ku sangka, kau siluman setan kecil berani tampilkan diri untuk mengkhianati aku dalam situasi yang penting dan kritis seperti ini, Hmmn.... tunggu saja hingga pertikaian disini telah selesai, akan keberi pelajaran yang setimpal dengan perbuatanmu itu..."

Bagaimanapun juga perempuan ini memang seorang permepuan licik yang banyak akal muslihatnya dan panjang pikirannya, begitu mengambil keputusan dalam hatinya.

dia pun tidak berniat mengumbar hawa amarahnya lagi.

"Apa yang menjadi maksud tujuanku sebenarnya merupakan urutan kedua, berbicara dari situasi yang terpampang dihadapan kita sekarang terdapat sebuah kenyataan penting yang harus diselesaikan terlebih dulu, Kalian berdua sebagai jago jago muda tak boleh tidak harus mempertimbangkan dengan seksama serta nenaruh perhatian yang khusus.."

"Kenyataan apakah itu?"

Tanya Kim Thi sia keheranan, ia tak habis mengerti apa maksud perkataan perempuan itu. Tapi Sastrawan menyendiri Khu Cu kian segera menjelaskan dengan suara lantang.

"Padahal sangat sederhana, andai kita kita berdau mau bekerja sama, maka kelompok kita pun akan menjadi satu kelompok yang berkekuatan hampir seimbang dengan kelompok Dewi Nirmala nya, maupun kelompok Burung Hong Lam peng bersama kelima naganya, maka kita akan menjadi tiga kelompok kekuatan yang berimbang..."

Mendengar perkataan tersebut, dengan wajah kegirangan si burung Hong Lam peng segera memuji.

"Kau memang tak malu disebut pendekar cerdik yang berotak encer, tepat sekali ucapanmu itu, memang begitulah yang ku maksudkan dengan uraianku tadi!"

Baru sekarang Kim Thi sia memahami maksud yang sebenarnya dari ucapan mana, ia berseru tertahan dan katanya.

"Ooohh,, rupanya begini..!"

Dengan cepat si Burung Hong Lam peng berkata lebih jauh.

"Oleh sebab itulah kuusulkan kepada kalian berdua, kendatipun diantara kalian terdapat ganjalan hati yang betapapun besarnya, entah permusuhan biasa atau permusuhan dendam kesumat, lebih baik masalah itu dikesampingkan lebih dulu untuk sementara waktu, kalian harus bekerja sama membentuk kelompok kekuatan hingga kelemahan kalian tidak dimanfaatkan lawan!"

"Lam peng, sebenarna apa maksud dan tujuanmu berbuat kesemuanya ini?"

Tegur Dewi Nirmala tiba-tiba. Si burung Hong Lam peng segera tertawa.

"Aku tidak terbiasa menjadi seorang bawahan yang mudah diperintah dengan semaunya sendiri, selama beberapa hari berdiam di Lembah Nirmala-mu, aku sudah tidak puas dan tidak senang diperintah dan dibentak olehmu sekehendak hati sendiri, andaikata dikemudian hari kau benar benar berhasil menguasai jagad, maka apa jadinya?"

Dewi Nirmala tertawa dingin "Oooh... karena itulah maka kalian berani memberontak serta mengkhianati aku? apakah kalian tidak pikirkan dulu bagaimana akibatnya nanti?"

Dengan penuh kepercayaan dan keyakinan si burung Hong Lam peng berkata.

"Tiada akibat apapun yang akan kami alami, sebab kelima orang utusan Nirmalamu masih mampu dihadapi oleh aku bersama kelima naga, dan aku yakin kekuatan kami maish lebih dari cukup untuk memusnahkan mereka, tinggal engkau seorang yang mana aku percaa pada Kim Thi sia dan Sastrawan menyendiri masih mampu untuk menghabisi nyawamu, tentu apa bila mereka berdua bersedia untuk bekerja sama?"

Dewi Nirmala tertawa hambar.

"Andaikata perhitunganmu ternyata meleset dan tidak sesuai dengan apa yang kalian duga semula, bagaimanakah akibat yang akan kalian alami?"

"Sepanjang hidupku aku tidak suka melakukan transaksi yang berbahaya atau menyerempet bahaya, jadi soal risiko tak perlu kau urusi lagi. aku percaya tak akan ada risiko apa apa dalam rencanaku kali ini.."

Melihat gadis itu sudah menyatakan sikapnya secara terang terangan, sadarlah ia bahwa keadaan tak mungkin bisa dirubah lagi secara mudah, kontan saja hawa amarahnya berkobar, MEndadak ia berpaling ke arah Kim Thi sia serta Sastrawan menyendiri lalu serunya.

"Lebih baik kalian jangan menuruti perkataannya, dia adalah orang asing dari negeri perbatasanm jelas dia memutar lidah membujuk kalian karena hendak memperalat kau beruda untuk menghadapiku, jelas dibalik kesemuanya itu masih terdapat rencana busuk lainnya."

"Kalau rencana busuk sih tidak ada.."

Cepat si Burung Hong Lam peng menyambung "tapi memang kuakui, setelah kami bersedia melakukan tindakan yang mempunyai risiko besar dan harus menyerempet bahaya tentu saja kamipun mempunyai suatu tujuan."

Benar benar diluar dugaan, dalam waktu yang amat singkat dalam arena telah terjadi dua kali perubahan besar yang sama sekali diluar dugaan.

Kini baik kelompok dari Lembah Nirmala maupun kelompok dari si burung Hong dan kelima naganya telah saling berhadapan sebagai musuh, dan mereka sama sama beruaha memanfaatkan kekuatan dari Kim Thi sia serta Sastrawan menyendiri bagi pikirannya.

PAdahal siapapun dari mereka berdua tak ada yang berani memastikan pada akhirnya pada pihak manakah kedua pemuda itu akan berpihak.....

Sastrawan menyendiri Khu cu kian memang tak malu disebut seorang pemuda yang teliti dan cermat, dengan cepat ia berpaling ke arah si burung Hong Lam peng dan menegurnya terang terangan.

"Sesungguhnya apa dan maksud tujuanmu yang sebenarnya? Kenapa tidak diutarakan secara terang terangan?"

"Tujuanku hanya sederhanam yaitu bila urusan disini telah usai, maka Lembah Nirmala berserta kawasan sekitarnya menjadi milikku!"

Sastrawan menyendiri Khu Cu kian yang mendengar perkataan tersebut jadi amat keheranan, segera tegurnya.

"Aneh betul, sebetulnya apakah ada sesuatu yang amat penting didalam Lembah Nirmala ini?"

"Sebenarnya bagi kami soal harta karun bukanlah menjadi tujuan kami yang terutama, karena yang menjadi incaran kami tak lain adalah gua neraka dalam Lembah Nirmala ini....."

"setahuku didalam gua itu tersekap beratus-ratus orang jago persilatan yang berilmu tnggi."

Kata Kim Thi sia "mereka berhasil ditawan Dewi Nirmala dengan menggunakan pelbagai akal muslihat dan siasat licik, ada yang ditawan ada pula yang terperangkap, tapi rata rata mereka adalah kawanan jago yang termasyir dari jaman sekarang.

Bukankah mereka tersekap sepanjang masa dan hidup dalam kegelapan?"

"Yaa.. benar, keinginan mereka untuk peroleh kemerdekaan mungkin jauh lebih hebat daripada siapapun."

Kembali si burung Hong Lam peng menegaskan. Tiba tiba Dewi Nirmala berseru dengan keheranan.

"Apakah secara tiba tiba timbul belas kasihan dihati kecilmu dan berkeinginan menyelamatkan mereka semua dari kurangan? Ehm... bila kau benar benar berbuat demikian, niscaya mereka akan berterima kasih sekali kepadamu, bahkan mungkin akan mengangkat dirimu dewi penyelamatnya..."

"Justru karena aku dapat menyelami perasaan mereka serta apa akibat yang baka timbul inilah maka aku ingi memanfaatan kesempatan yang sangat bagus ini dengan sebaik baiknya."

Kata si burung Hong Lam peng sambil tertawa lirih.

"Aku berharap setelah berhasil membinasakan Dewi Nirmala, maka mereka bisa kelepaskan semua dari kurungan, aku percaya dengan dukungan sekawanan besar jago persilatan yang berilmu tinggi ini, aku pasti bisa menguasai seluruh dunia persilatan dan menjadi pemimpin seluruh dunia."

Dewi Nirmala tertawa sinis.

"Heehh.....heeehhh....Heehhh.... sayang sekali jalan pemikiranmu itu terlalu kekanak-kanakan, kau tau dari sekian banyak orang yang kusekap didalam gua neraka, sebagian ada yang telah kupakai menjadi para utusan Nirmala, adapula yang bunuh diri karena putus asa,ada pula yang sengaja kuracuni karena berani memberontak, dari sekian banyak jago yang kau sebutkan tadi,sesungguhnya kini tinggal delapan belas orang saja."

"Kedelapan belas orang tersisa ini betul betul memiliki semangat juang yang mengagumkan untuk tetap mempertahankan kehidupannya, yang bisa kita dibayangkan ilmu slat yang mereka miliki pasti hebat sekali, apa bila bisa kurangkul menjadi pengikutku, sudah pasti mereka merupakan pembantu yang cukup bisa diandalkan dalam perjalananku didunia persilatan. Hmmnn biar cuma delapan belas orang, aku sudah merasa puas sekali."

Baru sekrang Sastrawan menyendiri Khu cu kian menyadari duduk perkara yang sesungguhnya, ia segera berseru.

"Oohh... rupanya kau berniat merebut hati kedelapan belas orang yang tersekap dalam gua neraka itu untuk membantumu membangun perguruan besar serta menguasai dunia persilatan?"

"Tepat sekali. kecuali itu aku memang tiada permintaan lain!"

Jawab siburung Hong Lam peng terang terangan.

"Ehmm...."

Sastrawan menyendiri Khu cu kian segera mengangguk memberikan persetujuannya.

"permintaanmu ini memang tidak merugikan aku, lagi pula tidak berkepentingan langsung denganku, karena aku bisa menyetujuinya dan memberikan gua neraka tersebut sesuai dengan apa yang kau kehendaki."

Dewi Nirmala menjadi teramat gusar setelah melihat transaksi tersebut telah mencapai kesuksesan besar. Mendadak terdengar si Sastrawan menyendiri bertanya lagi.

"Kim Thi sia, apakah kau mempunyai pendapat lain?"

Dengan mengajukan pertanyaan itu sama artinya bahwa ia telah menyataan persetujuannya dengan cara berpikir serta pandangan si burung Hong Lam peng.

Dan kini diapun bersedia untuk bekerja sama dengan Kim Thi sia dalam usahanya melawan Dewi Nirmala bersama-sama.

Asal Kim Thi sia memberikan persetujuannya, maka pertarungan pun segera akan berkobar.

Siapa tahu Kim Thi sia justru berdiri termangu mangu dengan wajah tak habis mengerti.

"Apa? Pendapat apa...?"

Rupanya dia sedang dibuat kebingungan oleh sikap orang orang yang ada di hadapannya yang sebentar bergaul hangat, sebentar bermusuhan dengan seru.

dari sikap orang orang itu diapun merasakan betapa berbahayanya dunia persilatan itu.

Sampai berapa kal Sastrawan menyendiri Khu cu kian mengajukan pertanyaan yang sama kepada Kim Thi sia tanpa memperoleh jawaban yang pasti dari pemuda itu.

lama kelamaan hatinya menjadi tidak senang, segera pikirnya dalam hati.

"Hmm, kau ini manusia macam apa, memangnya kau anggap aku harus membutuhkan bantuan darimu baru bisa melawan musuh? Jangan anggap aku sangat membutuhkan bantuanmu...."

Berpikir demikian, perasaan bencipun segera muncul diatas wajahnya.

Si burung Hong Lam peng kuatir terjadi perubahan lagi gara gara peristiwa ini sehingga menggagalkan semua rencanaya, cepat cepat dia peringatkan kepada Kim Thi sia dengan suara keras.

"Kim Thi sia! Sastrawan menyendiri sedang bertanya kepadmu, mengapa kau tidak memberikan jawabannya?"

Dewi Nirmala yang melihat ada kesempatan baik untuk menimbrung, cepat cepat manfaatkan pula peluang tersebut dengan membentak.

"Kalau Kim Thi sia segan menjawab, persoalan ini tak ada sangkut pautnya denganmu, lebih baik kau pun ikut membungkam."

Berbicara sampai disitu, dengan suatu gerakan amat cepat tiba tiba saja dia melepaskan sebuah babatan kedepan.

Sekilas pandangan serangan itu amat bersahaja, ringan dan tiada sesuatu kekuatan yang terkandung, padahal kehebatannya sungguh mengerikan sekali.

Serangan tersebut tak lain adalah serangan ilmu Tay yu sinkang ayng menggunakan jurus serangannya yang tertangguh "Burung gagak merajai Angkasa"

Rupanya perempuan cantik ini berhasrat untuk membinasakan si burung hong Lam peng dalam sekali serangan saja guna melampiaskan semua rasa bencinya yang menumpuk dihatinya.

Siburung Hong Lam peng hanya berdiri mematung diposisinya yang semula, oleh karena itu serangan dari Dewi Nirmala dilancarkannya kelewat cepat, dan lagi sama sekali tidak menimbulkan sedikit suarapun, maka dia hanya berdiri mematung ditempat semula tanpa memberikan suatu reaksipun.

Sastrawan menyendiri yang menyaksikan kejadin ini segera membentak keras.

"Siluman perempuan, kau hendak membokong orang disaat orang lain sedang tak siap?"

Berbareng dengan suara bentakan itu, dengan jurus "menghajar kuda hancur berkeping", dia mengayunkan telapak tangannya yang besar dan menyongsong datangya serangan dahsyat dari Dewi Nirmala.

Ilmu lompatan dewinya merupakan ilmu khas dari keluarganya, ditambah lagi dia berlatih sangat baik, maka dalam ilmu meringankan tubuh, pada hakekatnya dia memiliki kesempurnaan yang bisa diandalkan.

Kebetulan sekali, dengan mengandalkan kelebihan inilah dia telah menyelamatkan selembar jiwa si burung Hong Lam peng dari ancaman.

"Bllaaaaammm....."

Suara benturan keras yang amat memekakan telinga bergema memecahkan keheningan malam.

Jangan dilihat dari serangan yang dilancarkan kedua orang tersebut dilakukan secara seenaknya, tapi kenyataannya bentrokan yang kemudian terjadi menimbulkan suasana yang mengerikan, dari sini bisa diketahui bahwa kedua belah pihak sesungguhnya sama sama telah pergunakan tenaga besar.

Siburung Hong Lam peng baru tersadar kembali dari lamunannya setelah peristiwa itu berlalu, dengan rasa terima kasih yang meluap luap ia segera berpaling kearah Sastrawan menyendiri Khu cu kian, kemudian serunya sambil tertawa manis.

"Terima kasih banyak atas pertolonganmu tadi, kau telah selamatkan jiwaku dari ancaman!"

Sastrawan menyendiri Khu cu kian hanya tersenyum tanpa menjawab, ia sudah terdesak mundur sejauh setengah langkah dengan sempoyongan, peluh bercucuran membasahi tubuhnya sementara napasnya tersengal-sengal.

Sebaliknya Dewi Nirmala hanya tertawa, pelan pelan dia pejamkan pula matanya untuk mengatur pernapasan.

Menyaksikan keadaan tersebut,si burung Hong Lam peng segera sadar bahwa situasi saat itu ibarat anak panah yang berada dalam busur, serangan harus dapat dilancarkan secepatnya.

Buru buru teriaknya kepada Kim Thi sia "Eeei, bagaimana sih kamu ini?

Kenapa sampai sekrang masih berlagak pilon?"

"Kenapa sih kalian saling beradu jiwa dengan saling melancarkan serangan tadi?"

Sahut Kim Thi sia "Sastrawan menyendiri telah menyatakan pendiriannya dan bersedia untuk bekerja sama dengan ku dalam melawan Dewi Nirmala, bagaimana dengan kau sendiri?"

Mendadak Kim Thi sia teringat kembali dengan pengalamannya ketika melawan si pedang emas tempo hari, waktu itu si burung Hong Lam peng pun mendesaknya dengan kata kata begitu, tapi kenyataannya dia justru memanfaatkan kesempatan yang ada untuk merebut lentera hijau.

Teringat akan hal tersebut dia pun segera berseru.

"Ooh, kau lagi lagi berniat untuk bekerja sama dengan ku, apakah kau sedang mengincar pedang Leng Gwat kiam ku ini?"

Sebagai orang yang tidak terlalu pintar, boleh dibilang Kim Thi sia tak sadar sama sekali akan betapa gawatnya situasi saat ini, dalam situasi demikian bagaimana mungkin si burung hong Lam peng masih berani mengincar benda mestikanya?

SEbaliknya si burung Hong Lam peng adalah seorang gadis cerdas, dari bentrokan kekerasan yang baru berlangsung antara Sastrawan menyendiri dengan Dewi Nirmala barusan, ia telah melihat dengan jelas bahwa kepandaian silat dari Dewi Nirmala masih lebih tinggi daripada Sastrawan menyendiri.

Hal ini berarti mereka sangat membutuhkan dukungan kekuatan dari Kim Thi sia, bila pemuda itu sampai menolak, maka dengan kerja sama Sastrawan menyendiri saja, akhirnya dari pertarungan itu sudah pasti memberikan kekalahan total kepada pihaknya.

Karena itu, dia berpendapat tindakan pertama yang terpenting sekarang adalah menarik Kim Thi sia untuk mendukung pihaknya, asal Kim Thi sia mau turun tangan niscaya kemenangan akan berada dipihaknya.

Begitu sadar dengan keadaan situasi didepan mata, cepat cepat gadis itu mengambil keputusan didalam hati, serunya.

"Aku bukan saja tak akan merebut pedang Leng Gwat kiam mu, malah setelah urusan disini, akan kuserahkan lentera hijau tersebut kepadamu."

"Sungguhkah ini?"

Tanya Kim Thi sia dengan kegembiraan yang meluap-luap.

"Tentu saja sungguh! nah tak usah menanti lagi, cepat lancarkan seranganmu ke tubuh Dewi Nirmala". Walaupun si burung Hong Lam peng sadar bahwa lentera hijau adalah benda mestika yang tak ternilai harganya, namun keadaan situasi yang dihadapinya amat kritis dan berbahaya, andai kata tiada benda yang merangsang perhatiannya, mustahil Kim Thi sia bersedia membantu pihaknya. Oleh sebab itulah ia segera menjanjikan bedan kesayangannya itu sebagai hadiah untuk menarik perhatian orang. dan diluar dugaan ternyata tawaran tersebut diterima dengan kegembiraan yang meluap luap. Terdengar Kim Thi sia membentak dengan suara nyaring.

"Berhati hatilah Dewi Nirmala, aku segera akan melancarkan seranganku..."

Sambil merentangkan sepasang tangannya, dia mendesak maju kemuka dengan jurus "Kepercayaan menguasai jagad"

Dari ilmu Tay Goan sinkang, dia melancarkan sebuah serangan kilat.

Sementara si burung Hong pun memberikan penampilan yang bisa dipercaya, begitu menyaksikan Kim Thi sia melancarkan serangannya, cepat cepat ia pergunakan bahasa Biau untuk memberi perintah kepada kelima naga dari wilayah Biau agar menyerang ke lima orang utusan Nirmala tersebut.

Dalam waktu singkat berkobarlah pertarungan yang amat sengit ditempat itu.

Sementara Kim Thi sia masih menyerang Dewi Nirmala, Sastrawan menyendiri pun memanfaatkan kesempatan tersebut dengan mendesak maju menggunakan ilmu lompatan dewanya, lalu dengan jurus "Perasaan hati kacau balau"

Ia sergap lawannya.

Dewi Nirmala sama sekali tak nampak kaget ataupun gugup menghadapi serangan gabungan dari Kim Thi sia serta Sastrawan menyendiri, sambil merentangkan sepasang tangannya kekiri dan kekanan, secara beruntun dia melepaskan dua serangan dengan jurus "Hawa siluman menguasai bumi"

Dan "hawa sesat mencapai neraka". dua jurus ampuh dari Tay yu sinkangnya.

"Blaammmm....!"

Suara bentrokan yang amat nyaring bergema memecahkan keheningan malam..

Dewi Nirmala tetap berdiri tegak ditempat semual dengan wajah serius dan sedikit tertegun.

Sebaliknya Kim Thi sia dan Sastrawan menyendiri pun berdiri tanpa cedera.

mereka berdua segera saling bertukar pandangan sekejap, begitu mengetahui kalau rekannya tidak cedera senyuman puas pun tersungging di ujung bibir masing masing.

MEndadak terdengar Dewi Nirmala berseru dengan suara sedingin es.

"Kalian tidak usah tertawa dulu, apanya yang perlu kalian banggakan? Hmmmn, terus terang saja aku bilang, sekalipun kalian berdua maju bersamapun, kalian masih bukan tandinganku...."

Perkataan ini kelewat takabur, dia seolah olah mengejek lawannya memiliki kepandaian yang tak mungkin bisa menandingi kemampuannya.

Sastrawan menyendiri segera merasa tak puas dengan ucapan tersebut, serunay lantang.

"Aku tak percaya dengan perkataanmu itu, apa salahnya bila kita gunakan nyawa kita sebagai taruhannya untuk membuktikan kebenaran dari ucapanmu tadi...."

Berbicara sampai disitu, dia segera melepaskan serangan lebih dulu ke tubuh Dewi Nirmala.

Melihat kejadian ini Kim Thi sia pun tidak ketinggalan, cepat cepat ia mendesak kedepan sambil melancarkan serangan kembali.

Pertempuran pun terbagi menjadi dua kelompok yang terpisah, masing masing pihak berusaha menyelesaikan pertarungan yang sedang dihadapi secepat mungkin.

Disatu pihak lima naga dari wilayah Biau, dibawah pimpinah si burung Hong Lam peng bertarung sengit melawan kelima utusan Nirmala yang masih tersisa.

SEmentara dipihak lain, Dewi Nirmala dengan mengandalkan tenaga dalam hasil latihannya selama puluhan tahun harus bertarung sengit melawan Kim Thi sia dan Sastrawan menyendiri.

Sekilas pandangan, pertarungan antara mereka berlangsung amat tenang dan tidak kelihatan ketegangan yang mencekam, tapi dalam kenyataan situasi amat gawat dan berbahaya sekali, sebab siapa salah melangkah setengah tindak saja bisa berakibat kehabisan yang mengerikan.

Sepertanak nasi kemudian....

Tiba tiba Dewi Nirmala menemukan suatu kejadian yang aneh, ia merasakan meskipun tenaga dalam yang dimiliki Kim Thi sia hampir berimbang dengan kekuatan Sastrawan menyendiri, namun setiap kali dia merasakan datangnya suatu gelombang serangan yang aneh sekali.

Ia dapat merasakan setiap kali setelah terjadi gelombang serangan tersebut, secara tiba tiba saja kekuatan tenaga dalam milik Kim Thi sia memperoleh kemajuan yang lebih pesat, kekuatan yang terpancar keluarpun terasa makin menghebat.

Sudah barang tentu dia tak akan menyangka bahwa semua peristiwa ini bisa berlangsung karena Kim Thi sia telah menguasai ilmu Ciat Khi mi khi yang sangat hebat itu.

Dalam pertarungannya melawan si pedang emas temp hari, dia bisa unggul dari lawannya, sebagian besar hal inipun disebabkan ilmu Ciat khi mi khi-nya berhasil menghisap kekuatan musuh tanpa musuh bisa menghalanginya.

Dan kini tenaga dalamnya telah peroleh kemajuan yang pesat, apalagi diapun masih dibantu oleh Sastrawan menyendiri yang tak kalah tangguhnya, tidak heran kalau kemampuannya semakin dahsyat lagi.

SEbagai seorang perempuan yang sombong dan tinggi hati, Dewi Nirmala pun enggan menunjukkan kelemahannya didepan orang lain pula, dia tak mau percaya dengan segala macam tahayul, karenanya dia semakin menekan Kim Thi sia dengan kekuatan yang lebih hebat.

Siapa sangka semakin besar dia menekan makin berlipat pula tenaga perlawanan yang timbul dari tubh lawan.

Begitulah untuk sementara waktu pertarungan berlangsung seimbang, kedua belah pihak sama sama tidak mampu mengalahkan musuhnya.

Fajar mulai menyingsing diufuk timur....

cahaya keemasan yang terang benderang mulai menyinari wajah Dewi Nirmala,Kim Thi sia serta Sastrawan menyendiri, wajah keringat, air mukanyapun berubah menjadi merah padam.

Tiba tiba terlihat Dewi Nirmala tersenyum dan mundur sempoyongan ke belakang.

Menyusul kemudian tampak perempuan itu roboh terjungkal keatas tanah dan tak pernah bangun lagi untuk selamanya....

ternyata isi perutnya sudha terluka parah, dalam keadaan yang menggenaskan itulah ia menghembuskan napasnya yang penghabisan.

Kim Thi sia mendongakkan kepalanya sambi menghembuskan napas panjang, ia menjumpai Sastrawan menyendiri telah terkapar pula diatas tanah tanpa diketahui mati hidupnya...

Sementara itu, si burung hong Lam peng serta lima naga dari wilayah Biau berlumuran darah pula, tapi mereka masih dapat berjalan mendekat dengan wajah gembira.

Dari sakunya si Burung Hong mengeluarkan Lentera Hijau lalu sambil menyerahkan ke tangan Kim Thi sia, ia berseru.

"Nah sekarang kita sama sama telah peroleh apa yang diinginkan, bersediakah kau pergi bersamaku?"

Kim Thi sia segera tertawa.

"Kini Lentera hijau serta pedang Leng Gwat telah berada ditanganku, kemanapun aku tak ingin pergi, lagi ula kau hendak membangun organisasimu, cita cita demikian tidak pernah akan cocok dengan seleraku, sebab aku lebih suka hidup bergelandangan dengan bebas merdeka, karenanya kau tak usah menarik aku lagi.."

"Tentu saja aku tak dapat memaksamu.."

Sahut siburung Hong Lam peng sambil tertawa.

"Tapi kau bisa saksikan nanti, tak sampai berapa tahun kemudian aku pasti sudah dapat memanfaatkan kedelapan belas orang jago lihay yang kin masih terkurung dalam gua.

mereka sebagai tulang pungungku, dibantu pula oleh kelima naga dari wilayah Biau yang berada disisiku sekarang.

Suatu perkumpulan terwujud, akan kunamakan perkumpulan ku itu sebagai Perkumpulan Burung Hong, sedang kedelapn belas orang jago lihay itu adalah utusan-utusan burung Hong ku....."

Berbicara sampai disitu, ia nampak amat gembira, hingga wajahnya kelihatan berseri seri.. Setelah berhenti sejenak, kembali dia berkata.

"Kuharap disaat kita bersua kembali nanti, aku bisa menyambut kedatanganmu dalam markas perkumpulan burung hong kami dengan suatu perjamuan yang sangat meriah..."

Kim Thi sia tersenyum, sambil mengulapkan tanganya ia berseru.

"Kalau begitu, selamat tinggal...."

Burung Hong Lam peng dengan membawa kelima naga dari wilayah Biau nya segera berangkat menuju ke arah gua neraka.

Sedangkan Kim Thi sia hanya berdiri termangu sambil mengawasi bayangan punggung orang itu lenyap dari pandangan, kemudian gugamnya sambil menghela napas panjang.

"Aaaiii.. siburung Hong Lam peng barulah menjadi pemenang yang sebenarnya, sungguh tak disangka dengan susah payah aku dan Khu cu kian pertaruhkan nyawa untuk melenyapkan Dewi Nirmala si perempuan iblis itu, tapi sekarang justru memberi kesempatan kepada perempuan licik yanglain. siburung hong Lam peng untuk munculkan diri dalam dunia persilatan, aaii... apakah dikemudian hari diapun akan menteror dunia persilatan seperti halnya dengan perbuatan Dewi Nirmala? Yaa.. susah untuk dikatakan.. susah untuk dikatakan mulai sekarang..."

Dibawah sinar rembulan, tiba tiba dia menyaksiakan ada sesosok tubuh manusia sedang bergerak mendekat dengan langkah gontai dan wajah kebingungan....

begitu mengetahui siapa yang datang, Kim Thi sia segera berteriak keras.

"Ang Thian tong, sungguh kebetulan sekali kedatanganmu, aku hendak memberitahukan sesuatu kepadamu."

Ang Thian tong sama sekali tidak menghentikan langkahnya karena ucapan tersebut, dia masih berjalan terus kedepan seperti orang yang kehilangan sukma saja.

Mendadak dari sisi arena ia temukan sesosok mayat, begitu melihat mayat tersebut, ia seperti tersambar guntur disiang hari bolong sambil memeluk mayat tadi dan menangis tersedu-sedu teriaknya keras.

"Ayah... ayah... oh ayah... putramu yang tidak berbakti ternyata tak mau menuruti kata katamu yang terakhir menjelang ajalmu... oh ayah.... aku malu dengan arwahmu dialam baka..."

Sementara itu Kim Thi sia telah berjalan mendekat, segera hiburnya "Ang Thian tong, yang sudah mati biarkan mati, kau tak boleh kelewat bersedih hati..."

Tiba tiba timbul suatu perasaan tak enak dihatinya, maka katanya lebih lanjut.

"mari, biar kubantu dirimu untuk mengubur jenazah ayahmu ini.."

Seraya berkata dia segera bekerja keras menggali liang kubur ditempat tersebut.

Ang Thian tong hanya berdiri membungkam bagaikan sebuah patung, agaknya pukulan batin yang diterimanya terlampau hebat sehingga ia menjadi kehilangan kesadaran dan berdiri bagaikan orang bodoh.

Dengan cepat Kim Thi sia mengubur jenazah si pukulan sakti tanpa banyangan.

ketika pekerjaannya telah selesai semua, ia baru berkata kepada Ang Thian tong.

"Ada sebuah perkataan hendak kusampaikan kepadamu...."

"Kau jangan sembarangan berbicara denganku!"

Tukas Ang Thian tong dengan penuh amarah. Kemudian secepat kilat dia memandang sekejap sekeliling arena, menyaksikan mayat yang bergelimpangan diatas tanah, kemudian ia berseru.

"Sudah pasti kaulah yang membantai orang orang itu, kalau begitu....."

Berbicara sampai disini, tiba tiba saja dia menjadi emosi, lanjutnya "sudah pasti kau pula yang membunuh ayahku!"

"Benar!!"

Jawab Kim Thi sia jujur. Seketika itu juga Ang Thian tong membentak keras, suaranya nyaring bagaikan guntur.

"Kau telah membunuh ayahku, merebut istriku, dendam sakit hati ini tak akan terlukiskan dengan kata kata dan kenyataannya kau telah melakukan kedua hal yang paling terkutuk itu terhadapku.... bagus... bagus sekali.... wahai Kim Thi sia, aku bertekad akan beradu jiwa denganmu!"

Kim Thi sia kuatir Ang Thian tong melakukan suatu tindakan yang gegabah dalam keadaan terpengaruh oleh gejolak emosinya, cepat cepat dia menyingkir kesamping sambil berseru.

"Tunggu dulu, aku hendak memberitahukan sesuatu kepadamu, kau tak boleh beradu jiwa dulu denganku!"

Ang Thian tong menunduk secara pelan pelan, sinar matanya menjadi redup dan sayu, tiba tiba gugamnya.

"Ya.. aku tak boleh beradu jiwa denganmu.. tidak, aku tak boleh beradu jiwa denganmu, sebab... sebab aku hendak mencarimu, aku harus mencarimu untuk menyelamatkan jiwa Hay Jin ku..."

"Mengapa dengan Hay Jin?"

Tanya Kim Thi sia tertegun.

"Nona Hay Jin.. dia... saat ini dia telah berada ditepi jurang yang sangat dalam... dia.. dia hendak bunuh diri... aku... ketika aku ingin menolongnya tadi tahukah kau apa yang dia katakan? Katanya bila aku berani mendekati tubuhnya, maka dia akan segera terjun kedalam jurang, kau tahu, jurang itu dalamnya mencapai ribuan kaki, jangankan tubuh Hay Jin yang begitu ramping, begitu lembut, sekalipun seorang yang berilmu amat lihay pun niscaya akan hancur lebur badannya... aku... aku telah memohon kepadanya dengan segala macam cara, tapi ia enggan menuruti perkataanku, akhirnya.. dia minta kepadaku untuk mengundang kau, Kim Thi sia kesisinya... dia bilang...hanya kehadiran Kim Thi sia disampingnya yang bisa membatalkan niatnya untuk bunuh diri... dia berjanji akan meninggalkan tepi jurang apabila kau sudah berada disampingnya.."

Kata-katanya itu diucapkan terpotong-potong dan tak karuan bahasanya, mungkin hal ini dikarenakan perasaan kaget dan panik yang luar biasa.

Namun laporan tersebut cukup mengejutkan hati Kim Thi sia, segera tanyanya cepat "Dimanakah letak jurang itu?

Cepat ajak aku kesana..."

"Baik!"

Ang Thian tong segera mengajak Kim Thi sia berlarian menuju ke tepi jurang tersebut.

Benar juga, Hay Jin berada ditepi jurang, ia berdiri tegak disitu tanpa bergerak, tubuhnya berdiri diantara perbatasan hidup dan mati.

Baginya, hidup merupakan suatu penderitaan batin yang berkepanjangan karena dirinya itu telah dikawinkan kepada seorang lelaki yang dibenci, bahkan semua ibunya adalah gembong iblis wanita yang ditakuti umat manusia.

Sedang mati baginya merupakan suatu hal yang tragis, dia begitu cantik, begitu muda, tak pernah merasakan cinta yang sejati.

Tapi, manakah yang harus dipilihnya sekarang?

mati atau hidup?

Untuk beberapa waktu lamanya dia merasa ragu untuk menentukan sikapna.

Kim Thi sia yang melihat keadaan mana buru-buru berteriak keras "Nona Hay Jin, cepat kembali....."

Dia ingin berlarian kedepan untuk memeluk gadis tersebut dan mengajaknya kembali ke tempat yang aman. Tapi sambil menangis Hay Jin segera berseru.

"Berheti!! Kim Thi sia kau jangan kemari, kalau tidak aku akan segera melompat ke bawah....."

Terpaksa Kim Thi sia harus menghentikan langkahnya, dengan sedih keluhnya.

"Mengapa harus begini?"

"Aku ingin mengajukan beberapa pertanyaan kepadamu, asal jawabanmu benar, maka aku akan balik kesitu, kalau tidak... lebih baik aku terjun saja kebawah, mati lebih enak dari pada hidup menderita."

"Kau jangan melompat, baik... akan kujawab pertanyaanmu."

Seru Kim Thi sia dengan tegang. Kemudian setelah menarik napas panjang, katanya lebih jauh.

"Pertanyaan apa yang ingin kau ajukan? BAgaimana harus ku jawab agar benar jawabannya?"

"Kau tak perlu tahu jawabannya yang bagaimana yang dianggap benar, karena aku sendiri yang akan menentukan, kau hanay boleh menjawab pertanyaanku dengan dua pilihan."

"Dua pilihan yang mana?"

"Jawab saja dengan kata "ya"

Atau "tidak"."

"Baik, kau boleh mulai berntaya."

"Kim Thi sia, sebenarya kau mencintai aku dengan bersungguh hati atau tidak? bila kau tidak bersungguh hati, jawab saja dengan kata "Tidak...""

Kim Thi sia menjadi serba salah dibuatnya, dia memandang sekejap kearah Ang Thian tong yang berdiri dibelakangnya dengan sikap rikuh. Cepat cepat Ang Thian tong maju mendekat, lalu bisiknya.

"Aku tak berani berbicara terlalu keras, tapi kumohon kepadamu, cepatlah jawab dengan kata "iya...."". Kim Thi sia menelan air liurnya, ia semakin tersipu sipu dibuatnya.... Kembali Ang Thian tong merengek.

"Sekali pun kau tidak mencintai Hay Jin pun ku harap kau sudi mengasihani aku, jawablah dengan kata 'iya..' oohh, aku bisa sakit ingatan kalau tersiksa terus hatiku... aku... tak ingin menyaksikan Hay Jin menceburkan diri ke dalam jurang, kumohon... kumohon kepadamu, berbuatlah kebaikan dan jawablah denga kata 'iya..'". Terpaksa Kim Thi sia harus menjawab dengan lantang.

"Yaa. benar, aku mencintaimu."

Kembali Hay Jin bertanya.

"Kim Thi sia, bersediakah kau membawaku serta untuk hidup bersama-sama denganmu? Bersediakah kau menerima ku sebagai istrimu?"

Pertanyaan ini semakin membuatnya konyol.. Namun dibawah desakan dan permintaan Ang Thian tong, kembali Kim Thi sia menjawab.

"Yaaa, aku berjanji.."

Ketika mengucapkan perkataan ini, baik Kim Thi sia maupun Ang Thian tong merasa amat sedih hingga tanpa terasa air matanya jatuh bercucuran.

Agaknya Hay Jin merasa puas sekali dengan ketiga jawaban tersebut, pelan pelan ia berjalan meninggalkan tepi jurang dan menghampiri Kim Thi sia.

Bukan hanya begitu bahkan ia segera merangkul Kim Thi sia dan memeluknya erat-erat.

Bisa dibayangkan betapa pedih dan sakit hatinya Ang Thian tong setelah menyaksikan kejadian ini.

Sebaliknya Kim Thi sia sendiri pun merasa amat rikuh oleh pelukan tadi, apa lagi Hay Jin memeluknya dihadapan suami yang sah.

Cepat cepat ia melepaskan diri dari pelukan gadis itu, lalu bisiknya.

"Kau tentu lelah, beristirahatlah dulu dibawah pohon besar, aku...."

Meski Hay Jin menuruti perkataanya itu dan duduk dibawah pohon namun serunya pula dengan suara kaget.

"Mau apa kau? Apakah kau sudah lupa dengan janjimu tadi, tak akan meninggalkan aku selamanya."

Dengan pandangan yang merah dan hangat, Kim Thi sia menjawab.

"Kau tak usah khawatir, aku tak akan mengingkari janji.."

Sementara itu keadaan Ang Thian tong tak ubahnya seperti patung, saat Kim Thi sia membimbing Hay Jin duduk dibawah pohon, dia sendiri justru berjalan menuju ketepi jurang dengan langkah yang amat berat, ia siapapun dapat melihat bahwa pemuda ini berniat untuk bunuh diri.

Kim Thi sia yang menyaksikan peristiwa itu segera berbisik.

"Hay Jin duduklah disini, aku ingin berbicara dulu dengan Ang Thian tong....."

Berbicara sampai disitu, ia segera memburu maju kedepan dan serunya cepat cepat.

"Ang Thian tong, tunggu sebentar, aku hendak menyampaikan pesan kepadamu..."

Waktu itu Ang Thian tong telah berada di tepi jurang, ketika melihat Kim Thi sia berjalan mendekat, ia pun berkata.

"Apa lagi yang harus diperbincangkan? Ayahku telah mati ditanganmu, istriku lebih suka denganmu, apakah arti kehidupan bagiku? Aaai.. aku tahu, Hay Jin sangat mencintaimu, kuharap kau suka menjaga Hay Jin baik baik, rawat juga putraku yang masih berada dalam rahim Hay Jin..."

"Tidak, kau tak boleh meninggalkan kami. apakah kau hendak mencari mati?"

"Kalau tidak mati, apa artinya kehidupan bagiku?"

"Engkau harus menjaga istrimu."

"Tapi dia mencintai dirimu.."

"Aaah, itu bukan alasam, kalian telah kawin resmi, apalagi didalam rahim Hay Jin sudah terkandung bibit anakmu..."

Akhirnya Kim Thi sia berhasil menemukan alasan yang kuat untuk memberikan jawabannya, ia segera menarik tangan Ang Thian tong untuk meninggalkan tepi jurang, sementara ia sendiir segera menggantikan tempat Ang Thian tong ditepi jurang.

Melihat hal ini, Ang Thian tong segera menegur.

"Kim Thi sia, mau apa kau? kau hendak terjuan ke jurang itu?"

Kim Thi sia tersenyum, sahutnya "Aku telah mendapat sebuah akal yang bagus untuk mengatasi semua persoalan ini.

terus terang saja aku katakan, sesungguhnya aku tidak mencintai Hay Jin.

Sekarang aku sadar bahwa kasih sayangku terhadap Hay Jin yang sebenarnya hanya timbul karena rasa kasihku, iba melihat nasibnya yang jelek, melihat dia beribu seorang gembong iblis wanita.

Selama ini cintaku terhadapnya hanya terbatas pada cinta seorang abang terhadap adik, apa lagi ia telah menjadi isterimu yang sah, ia telah mengandung putramu, apakah aku harus merebut istrimu untuk kunikahi?

Apakah aku mesti mengawini gadis yang kucintai sebagai adikku sendiri?

Nah, saudara Ang, sebentar aku akan pura pura terjun ke dalam jurang, aku percaya dengan ilmu meringankan tubuh serta ilmu Tay Goan sinkang yang kumiliki sekarang, jurang ini bukan tempat yang bisa mematikan dirimu, setelah aku terjun nanti, Hay Jin tentu akan mengira aku telah mati, saat itu kau bisa kembali ke sisinya..."

"Tapi... bukankah kau telah berjanji kepada Hay Jin bahwa untuk selamanya kau tak akan meninggalkan dirinya lagi?"

"Tentu saja perjanjian ini ada satu pengecualian yaitu bila aku telah mati, Nah setelah aku terjun ke dalam jurang nanti, Nona Hay Jin akan mengira aku telah mati, dan berarti pernjanjian kami tadipun jadi batal..."

Ang Thian tong termangu, ia tak habis mengerti dengna keadaan yang tertera didepan matanya sekarang. Sambil tertawa nyaring, kembali Kim Thi sia berakata.

"Sebelum ayahmu meninggal, ia telah berpesan kepadaku agar kau bisa merawat istrimu secara baik baik. Kau harus meneruskan generasi Ang berikutnya...."

Ang Thian tong sangat terharu, tanpa terasa air matanya jatuh bercucuran. Kim Thi sia meloloskan Pedang Leng Gwat kiam-nya dan diserahkan kepada Ang Thian tong, kembali ia berkata.

"Pedang ini sudah tak berguna lagi bagiku, kuhadiahkan untuk anaknya yang dilahirkan Hay Jin, nah terimalah..."

"Kenapa pedang ini tak berguna lagi?"

Tanya Ang Thian tong keheranan..

"Setelah urusan disini selesai, aku bermaksud mencari gadis pujaan yang sesungguhnya amat kucintai, dia adalah Lin lin.... entah dimana dia berada sekarang, tapi aku akan mencarinya sampai ketemu, kemudian akan kuajak Lin lin unutk hidup mengasingkan diri disuatu tempat yang terpencil, jauh dari keramaian manusia, disitu aku ingin Lin lin melahirkan beberapa orang anak untukku, kami akan melewatkan hidup sebagai rakyat biasa, nah coba kau bayangkan sendiri, sebagai seorang rakyat biasa yang hidup terpencil, apa gunanya pedang mestika itu bagiku?"

Selesai berkata, ia segera melompat turun ke dalam jurang tersebut dengan gerakan yang amat cepat.

Sambil termangu mangu, Ang Thian tong berdiri disisi jurang sambil memegang pedang Leng Gwat kiam, ia tertegun untuk beberapa saat.

Sementara itu, Hay Jin yang berada dikejauhan dapat menyaksikan semua peristiwa dengna jelas.

Ia pun melihat bagaimana Kim Thi sia terjunkan diri ke dalam jurang...

Sambil menangis tersedu sedu, ia segera memburu kedepan...

Dengan gerakan cepat Ang Thian tong memburu kedepan, menghalangi jalan pergi istrinya.

Sambil menangis dan berteriak, Hay Jin mengumpat.

"Ang Thian tong, kau binatang jahat, mengapa kau memaksa Kim Thi sia untuk bunuh diri?"

"Kim Thi sia, dia... dia rela terjun sendiri ke dalam jurang!!"

"Omong kosong, dia.. apa yang dia katakan kepadamu?"

"Dia berharap kita bisa hidup rukun sebagai suami istri yang bahagia dan mempunyai beberapa orang anak..."

"Tidak mungkin, aku benci... aku benci dirimu..."

"Hay Jin, jangan terlalu emosi.. demi anak kita..."

"Anak kita??"

Hay Jin tertawa kalap.

"Benar.. aku harus memelihara anak ini, setelah dewasa nanti aku akan menyuruh anak ini membunuhmu!!!"

"Aaahh. mana boleh jadi.. aku toh ayahnya.."

Tapi Hay Jin tertawa tergelak bagaikan orang yang kalap, sambil memegangi perutnya yang mulai membesar, dia berlarian menuruni bukit..

Ang Thian tong kaget, cepat cepat dia memburu mengikut dibelakangnya...

Ketika suasana mulai hening, nun jauh dibawah jurang sana terlihat seorang pemuda sedang berjalan dengan langkah lebar meninggalkan lembah tersebut, dia adalah jago kita, Kim Thi sia.

Setelah melompat turun dari atas jurang tadi, ia telah menggunakan segenap kemampuan yang dimilikinya untuk melayang turun didasar Lembah dengan selamat.

Kini tujuannya tinggal satu, yaitu menemukan kembali Lin lin, ia percaya Lin lin masih mencintainya dan menantikan kedatangannya, ia pun tahu keselamatan jiwa lin lin terjamin karena ia dikawal oleh si unta sahabatnya yang sering justru memusingkan kepalanya.

Berapa tahun kemudian....

Kadang kala ada pemburu yang melihat sekeluarga kecil manusia bermunculan disekitar sebuah bukit yang tinggi dan terpencil itu dan jauh dari keramaian manusia, tapi bila mereka berusaha menyelidikinya, bayangan tersebut tidak pernah ditemukan kembali.

Siapakah mereka?

Mungkinkah keluarga Dewi yang sedang berpesiar dari khayangan?

Tentu saja tidak, sebab keluarga yang sering munculkan diri itu bukan lain adalah Kim Thi sia bersama Lin lin dan beberapa orang putra putrinya, semenjak hidup mereka mengasingkan diri ditempat tersebut, mereka dapat melewatkan sisa hidupnya dengan gembira dan penuh kedamian.

Dan sampai disini pula kisah "LEMBAH NIRMALA"

Ini. semoga anda puas dan bertemu di lain cerita. ==TAMAT==

Baca Juga: Merpati Pedang Purba 1

Baca Juga: Senyuman Dewa Pedang 4

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert