Eps 1 Lencana Pembunuh Naga - Khu Lung
Baca online Lencana Pembunuh Naga - Khu Lung
Cersil Lencana Pembunuh Naga - Khu Lung.
************
http.//ecersildejavu.wordpress.com/***************
Tiraikasih Website
http.//kangzusi.com/ .
Tiraikasih Website
http.//kangzusi.com. Lencana Pembunuh Naga Khu Lung Diceritakan oleh Tjan ID
Jilid I DITENGAH-TENGAH remangnya cuaca senja, sebuah perahu sampan melaju dengan cepatnya dari mulut telaga Tong-ting-ou menuju ke arah bukit Kun-san.
Diujung geladak duduk seorang bocah laki-laki berusia empat lima belas tahunan, ia mempunyai potongan badan yang bagus dengan bibir yang merah, sebaris gigi yang putih dan pakaian serba putih.
Ia duduk diujung geladak dengan wajah riang, matanya melihat kesana kemari, menyaksikan perahu-perahu sampan yang hilir mudik bagaikan kunang-kunang, sekulum senyuman segera menghiasi bibirnya.
Dibelakang bocah laki-laki berbaju putih itu, berdiri seorang pemuda baju hijau yang berusia dua puluh tahunan, alis matanya melentik ke atas dengan mata yang jeli, tubuhnya tegap kekar, mukanya tampan menawan hati.
Cuma sayangnya, pemuda berbaju hijau itu tidak berniat untuk menikmati keindahan malam di telaga tersebut mukanya dingin serius tak tampak senyuman, malah dahinya berkerut, rupanya banyak persoalan yang merisaukan hatinya sehingga mengurangi minatnya untuk memperhatikan alam semesta di sekelilingnya.
Memandang air yang koyak terbelah oleh dayung ia berdiri termenung dengan mulut membungkam.
Di tengah keheningan malam yang menyelimuti sekitarnya tiba-tiba bocah laki-laki berbaju putih itu berbisik.
"Toako, ada perahu mendekati kita!"
Yaa, dari depan sana muncul dua titik sinar lentera yang makin lama makin dekat ke arah mereka.
Pemuda baju hijau itu mendesis lalu mengalihkan sorot matanya yang jeli ke arah depan, memandang sampan-sampan di kejauhan sana.
Murungkah dia?
Atau sedihkah dia?
Apa yang menyebabkan dia bersikap demikian?
Tiba-tiba dua buah sampan kecil itu memisahkan diri, kemudian satu dari sebelah kiri yang lain dari sebelah kanan, dengan kecepatan yang luar biasa langsung menerjang perahu yang mereka tumpangi.
Agaknya kejadian tersebut diluar dugaan sibocah baju putih itu, dengan kaget dia lantas membentak.
"Hei, kenapa kalian tumbuk perahu kami......"
Sepasang telapak tangannya segera diayun ke depan menyongsong datangnya terjangan sampan-sampan tersebut.
Hembusan angin pukulan menderu-deru, termakan oleh pukulan yang begitu dahsyat kedua buah sampan tadi terseret hingga meluncur lewat dari kedua belah samping sampan mereka.
Suara tertawa dingin segera berkumandang dari atas sampan-sampan tersebut.
Begitu mendengar suara tertawa dingin, paras muka si anak muda berbaju hijau yang semula hambar tanpa emosi berubah hebat, hawa pembunuhan yang tebal mencorong keluar dari balik matanya, ia mendengus lalu bagaikan burung elang yang mencari mangsa tubuhnya melambung ke udara dan langsung menerkam sebuah sampan yang sudah berlalu dari sampingnya itu.......
Saat tubuhnya melambung di udara, tangannya diayun ke muka berulangkali, dan tiga rentetan cahaya putih yang menyilaukan mata langsung mengenai ke atas sampan itu.
Jerit kesakitan yang menyayatkan hati berkumandang memecahkan kesunyian, sesosok bayangan manusia tiba-tiba melambung ke udara dan kabur ke arah telaga.
Pemuda berbaju hijau itu tertawa dingin, begitu badannya melayang turun diatas geladak, telapak tangan kirinya langsung diayun ke muka.
"Aduuh.......!"
Kembali suatu jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang memecahkan keheningan, bayangan manusia yang mencoba kabur itu terhajar telak oleh pukulan musuh hingga tubuhnya tercebur ke dalam air telaga.
Tiba-tiba bentakan nyaring menggelegar di angkasa.
"Kalian mau kabur kemana........"
Ternyata pembunuhan yang terjadi di sampan itu menimbulkan kepanikan pada sampan lainnya, orang-orang yang berada dalam sampan itu segera mengambil keputusan untuk melarikan diri.
Tapi si bocah berbaju putih yang bermata jeli tidak berpeluk tangan belaka, mengikuti di belakang pemuda berbaju hijau, tubuhnya langsung menerjang ke arah sampan tersebut.
Tiga orang laki-laki berbaju ringkas berwarna hitam segera berlompat keluar dari ruangan sampan masing-masing bersenjatakan sebilah pedang tajam, begitu musuhnya tiba, serentak menyerang dari tiga jurusan yang berbeda.
Selincah kijang gerak-gerik bocah berbaju putih itu, tubuhnya berputar bagaikan gasingan, tiba-tiba lengan kirinya diayun ke muka dan langsung melepaskan sebuah pukulan gencar.
Salah seorang laki-laki berbaju hitam yang ada di tengah menjerit kesakitan, pedangnya terlepas dan jatuh diatas geladak.
Bocah berbaju putih itu bergerak cepat, sambil memutar badan, ujung jarinya kembali menotok jalan darah Cian-keng-hiat di tubuh laki-laki yang lain.
Baik memukul jatuh senjata musuh, maupun menotok jalan darah lawan kedua gerakan itu sama-sama dilakukan dengan kecepatan yang hampir bersamaan waktunya.
Terkesiap laki-laki yang pedangnya terpukul jatuh itu setelah menyaksikan kelihayan kungfu musuhnya, mereka tak sempat memperdulikan nasib rekannya yang tertotok lagi, tanpa komando serentak orang-orang itu melompat ke dalam telaga untuk melarikan diri.
Bocah berbaju putih itu membentak keras, pedangnya berkelebat menusuk ke muka, sekilas cahaya putih membelah angkasa.
Ditengah jerit kesakitan yang memilukan hati, darah berhamburan membasahi seluruh permukaan tanah, tahu-tahu laki-laki itu sudah mati terpapas senjata.
Tapi pada saat yang bersamaan pula, laki-laki di depan sana sudah melompat masuk ke dalam air telaga.
Detik terakhir sebelum laki-laki itu lenyap di bawah permukaan air, suara tertawa dingin kembali berkumandang, pemuda baju hijau yang berada di sampan sebelah kiri telah menyergap tiba secepat meteor, telapak tangannya langsung diayun menghantam permukaan air telaga.
"Plaaak......! Byuuar...! Percikan butir-butir air bermuncratan keempat penjuru, tubuh laki-laki itu mencelat beberapa kaki ke udara, lalu dengan lemas badannya tercebur kembali ke dalam air dan tenggelam ke dasar telaga. Setelah berhasil membinasakan orang itu, menggunakan tenaga pantulan yang masih tersisa pemuda berbaju hijau tadi melayang kembali ke atas sampan, kemudian memandang bocah baju putih itu, diapun tertawa.
"Adik Liong, ilmu silatmu telah mendapat kemajuan yang amat pesat.......!"
Tampan sekali senyuman itu, lagipula begitu polos dan halus, siapapun tidak akan percaya kalau pemuda sehalus itu sebetulnya memiliki ilmu silat yang amat tinggi dan baru saja secara beruntun membinasakan empat orang musuh tangguh.
Bocah berbaju putih itu tertawa merdu.
"Aah.....toako yang lebih cerdik dan cekatan, hampir saja aku terkecoh oleh mereka!"
Tiba-tiba kekesalan dan kemurungan kembali menyelimuti wajah pemuda berbaju hijau itu, begitu suram wajahnya hingga mendatangkan perasaan yang sayu bagi siapapun yang melihat, ia menghela napas ringan.
"Aaai.....! Tampaknya jago-jago lihay dari dunia persilatan sudah mendapat pula berita tentang soal itu!"
Kembali suatu kemurungan menyelimuti raut wajah anak muda itu. Mendadak bocah berbaju putih itu seperti teringat akan sesuatu, ia berpaling lalu serunya.
"Toako, apa salahnya kalau kita tanyai orang ini?"
Sambil berkerut kening pemuda berbaju hijau itu mengangguk, tindakan semacam itu tanpa terasa membuat suasana di sekelilingnya bertambah guram.
Setelah mendapat persetujuan, bocah berbaju putih itu lantas membebaskan jalan darah laki-laki yang tertotok tadi, kemudian tegurnya.
"Hei! Engkau berasal dari perguruan mana?"
Laki-laki itu berwajah keren gagah dan jelas merupakan orang gagah yang tak takut menghadapi kematian, dengan pandangan gusar ditatapnya sekejap kedua orang itu, kemudian menengadah dan tertawa terbahak bahak.
"Haahh.....haahh.....haahh..... bagi seorang ksatria lebih baik mati terbunuh daripada hidup terhina, bocah bocah kunyuk, tak usah banyak bicara lagi, kalau mau bunuh hayo cepat laksanakan keinginanmu itu.
"Hmm... memangnya kau anggap siauya tak berani membunuh engkau?"
Teriak bocah baju putih itu dengan wajah melotot penuh kemarahan.
"Hidup sebagai enghiong, matipun sebagai hohan mau bunuh mau cincang cepat lakukan tak nanti toaya mu bakal kerutkan dahi"
Sepasang mata pemuda baju hijau itu kontan mendelik, mukanya juga berubah sedingin es, dengan sinar mata yang menggidikkan hati ditatapnya laki-laki berbaju hitam itu tanpa berkedip.
"Apakah engkau ingin merasakan bagaimana nikmatnya kalau otot-ototmu dipisahkan dan tulang-tulangmu dialihkan posisinya?"
Dia mengancam.
Bertemu dengan sinar mata si pemuda baju hijau yang begitu tajam, bergidik seluruh perasaan laki-laki berbaju hitam itu, dia merasa betapa buas keji dan kejamnya sorot mata itu hingga melebihi sinar mata majikannya.
Setelah merenung sebentar, laki-laki berbaju hitam itu tertawa dingin.
"Heeehhh.....heeehhh.....heeehhh......aku tahu otot-ototku dipisahkan dan tulangtulangku dialihkan posisinya, aku akan merasakan kesakitan yang bukan kepalang tapi percuma kalau hendak diterapkan diatas diriku, sebab penyiksaan semacam itu masih terhitung enteng dalam pandangan kami!"
Dengan kening berkerut, pemuda berbaju hijau itu lantas menengadah memandang bintang-bintang di langit, lama sekali dia membungkam.
Mungkin ia sedang merasa heran, apa sebabnya laki-laki itu tak takut mati?
Bukankah kematian adalah suatu kejadian yang paling ditakuti oleh setiap manusia?
Tiba-tiba pemuda berbaju hijau itu berkata.
"Adik Liong, totok jalan darahnya, kemudian mari kita pergi!"
"Jangan! Jangan!"
Mendadak laki-laki itu menjadi ketakutan, mukanya berubah hebat.
"lebih baik bunuhlah diriku....."
Suaranya begitu tegang, membuat orang jadi keheranan atas sikapnya itu.
Ketika jiwanya diancam dengan kematian, dia sama sekali tak takut, tapi ketika pemuda baju hijau itu tak jadi membinasakannya, kenapa laki-laki berbaju hitam itu malah ketakutan setengah mati.....?
Rupanya pemuda berbaju hijau itu bukan seorang laki-laki yang bodoh, dengan kecerdasan otaknya, cukup dipikir sebentar saja dia lantas mengerti kenapa laki-laki berbaju hitam itu rela dirinya dibunuh.
Maka sambil tertawa ujarnya lagi.
"Adik Liong, waktu sudah tidak pagi, cepat kerjakan!"
Bocah berbaju putih itu segera menggerakkan jari tangan kanannya siap menotok jalan darah musuhnya.
"Tunggu sebentar!"
Laki-laki itu berseru cemas, kumohon kepada kalian bunuhlah diriku ini, dan apa yang kalian tanyakan pasti akan kujawab sejujurnya!"
"Bagus sekali!"pelan-pelan pemuda berbaju hijau itu putar badannya.
"sekarang akan kuajukan satu pertanyaan, kuminta kaupun segera menjawab pertanyaanku itu, mengerti?"
Laki-laki berbaju hitam itu menghela napas sedih.
"Aaai.... tanyalah!"
"Mengapa kau tak mau hidup?"
"Sebab lolos dari cengkeraman kalian justru lebih mengerikan daripada mati secara konyol!"
Pelan-pelan pemuda berbaju hitam itu mengangguk.
"Lantas apa maksud dan tujuan kalian mencari gara-gara dengan kami....?"
Tanyanya pula. Laki-laki berbaju hitam itu tertegun.
"Masa kalian tidak tahu kalau Tok liong-cuncu (datuk naga beracun) mau datang ke bukit Kun-san untuk menerima To-liong-leng-pay (lencana pembunuh naga)? Padahal berita besar itukan sudah menggetarkan seluruh dunia persilatan?!"
"Hei, apa yang kami tanyakan jawab saja secara langsung! Mengapa kau singgungsinggung urusan yang tak ada gunanya?"
Bentak si bocah cilik itu.
"Kami mendapat tugas untuk menghadang serta membinasakan kawanan jago persilatan yang berdatangan ke bukit Kun-san!"
Jawab laki-laki berbaju hitam itu kemudian. Tiba-tiba diatas wajah pemuda berbaju hijau itu melintas kembali rasa kesal yang dalam.
"Adik Kiu-liong, binasakan orang itu!"ujarnya kemudian. Si bocah berbaju putih yang bernama Ji Kiu liong itu segera mengayunkan telapak tangannya ke depan, ujung jarinya yang tajam menyambar hanya setengah depa di depan dada laki-laki berbaju hitam itu. Meski begitu, laki-laki berbaju hitam itu segera mendengus dan tubuhnya langsung tergeletak ke atas geladak dalam keadaan tak bernyawa lagi. Pemuda berbaju hijau itu menghela napas, pelan-pelan ia melangkah kembali ke sampannya, sementara paras mukanya makin lama berubah makin layu seakan-akan dalam waktu yang amat singkat ia sudah mengidap penyakit yang amat parah hingga tak sanggup berdiri tegak lagi, ia terduduk diujung geladak. Sementara itu Ji Kiu-liong sudah melompat kembali ke perahunya setelah menenggelamkan kedua buah sampan itu, tapi ia jadi tertegun setelah menyaksikan raut wajahnya itu. Sebab sekalipun ia tahu betapa menyedihkan asal usul toakonya, namun tak diketahui olehnya apa yang menyebabkan toakonya jadi begini putus asa.
"Toako!"
Ji Kiu-liong lantas menegur "Jangan sampai merusak kesehatanmu sendiri!"
Pemuda berbaju hijau itu seperti tidak mendengar teguran tersebut, air matanya meleleh keluar membasahi pipinya, memandang air ditengah telaga tiba-tiba ia berteriak keras.
"Aku Gak Lam-kun juga manusia yang dilahirkan ayah dan ibu, aku juga manusia yang berhati bersih, tapi mengapa semua orang di dunia ini memandang hina kepadaku?"
Mengikuti teriaknya itu, air matanya semakin deras membasahi pipinya.......
Saat itulah, kenangan lama bagaikan sambaran kilat melintas dalam benaknya..
..dia teringat kembali pengalamannya yang getir sewaktu masih bocah dulu.
Ibunya sudah lama meninggal, sedang ayahnya adalah seorang guru ilmu sastra yang rudin dan mengajar disebuah sekolahan yang letaknya dalam dusun lain.
Ketika ia berusia tujuh tahun, ayahnya dipecat dari jabatannya karena usianya yang sudah lanjut dan sakit-sakitan.
Karena kehilangan mata pencaharian, sedang keahlian lain tidak dimiliki terpaksa sambil mengemis ayahnya pulang kembali ke rumah, tapi sakitnya disepanjang jalan makin bartambah parah, tiga tahun kemudian sampai juga ayahnya didesa kelahirannya, tapi sakitnya yang parah akhirnya merenggut juga selembar jiwanya.
Sejak itulah ia menjadi seorang pengemis cilik yang bergabung dengan pengemis lainnya untuk meminta-minta disepanjang rumah, bajunya dekil dan tubuhnya penuh dengan kutu, keadaannya waktu itu tak ubahnya dengan pengemis lainnya, tak ada orang yang memperhatikan keadaannya.....
Hidup sebagai pengemis kembali dilewatkan selama tiga tahun, entah lantaran hidupnya terlalu kotor atau terkena penyakit aneh, tiba-tiba sekujur tubuhnya timbul bintik-bintik bisul kecil yang menjalar sampai Wajahnya, mula-mula bisul itu berwarna merah akhirnya pecah dan bopeng-bopeng menjijikkan.
Waktu itu dia masih kecil, tentu saja tak tahu apa yang telah menimpa dirinya, tapi sejak itu pengemis-pengemis yang lain selalu menghindari dirinya, waktu meminta-minta semua orang juga menjauhi dirinya, ini menyebabkan bocah itu seringkali menderita kelaparan.
Seorang pengemis tua yang baik hati memberitahu kepadanya, ia bilang begini.
"Agaknya kau sudah mengidap penyakit kusta, lebih baik janganlah meminta-minta di tempat yang banyak orangnya, sebab orang bisa menghajar dirimu sampai mampus!"
Mendengar peringatan tersebut, dia jadi sangat ketakutan, sekarang dia baru mengerti apa sebabnya rekan-rekan pengemis yang lainpun menjauhi dirinya.
Sejak itu dia tak berani meminta-minta lagi, bila malam sudah tiba, diam-diam dia baru keluar dari tempat persembunyiannya dan mencuri buah-buahan serta sayur-mayur di kebun orang untuk mengisi perutnya yang lapar.
Suatu hari ia tertangkap dan dihajar sampai setengah mampus, beberapa bulan dia harus beristirahat sebelum tubuhnya menjadi kuat kembali.
Setiap kali dia munculkan diri di pagi hari, maka orang memakinya sebagai "si kusta"
Yang bernyali kecil pada kabur sedang yang bernyali agak besar mengejarnya sambil berteriak-teriak hendak menguburnya hidup-hidup, untung larinya cukup cepat hingga setiap kali berhasil lolos dari kematian.
Begitulah, setelah beberapa bulan ia hidup bagaikan orang liar, siksaan batin yang dialaminya ketika itu sungguh amat sukar dilukiskan dengan kata-kata.
Makin dipikir ia merasa semakin tak berarti hidupnya di dunia ini, suatu hari dia mendaki ke atas puncak gunung yang tinggi, perutnya dan badannya kedinginan, setelah berteriak memanggil nama ayahnya dan memanggil nama ibunya, tiba-tiba ia jadi nekad dan melompat masuk kedalam jurang yang dalam.
Dibawah tebing itu adalah sebuah air terjun yang dalamnya ratusan kaki lebih, dengan jiwa yang tertekan dan perasaan yang hancur lebur, terjunlah bocah itu ke bawah untuk menghabisi nyawanya.
Ketika tubuhnya meluncur kebawah, kesadarannya hampir hilang tiba-tiba ia merasakan ada sebuah tangan yang amat besar menyambar tubuhnya dari tengah udara dan menariknya keluar dari lembah Kematian.
Ia merasa seperti mendapat suatu impian buruk yang menakutkan, badannya seakanakan dilempar ke atas awan, tapi seakan-akan pula diceburkan ke dalam samudra yang dalam, secara lapat-lapat telinganya mendengar suara gulungan ombak yang memekikkan telinga.
Entah berapa lama sudah lewat, tiba-tiba ia mendengar seperti ada orang berbisik.
"Aaaah.....bocah yang patut dikasihani!"
Sejak itu nasibnya telah dirubah oleh seorang kakek yang luar biasa, dan kakek itu bukan lain adalah orang yang paling dihormati sepanjang hidupnya.
Tapi delapan tahun kemudian, kakek itu telah tewas secara mengenaskan, sesaat sebelum menghembuskan napasnya yang terakhir, ia telah menyerahkan tugas yang maha besar kepadanya.
Itulah dendam kesumat yang lebih dalam dari samudra.......
maka dengan membawa sikap yang pongah, ia mulai menantang terhadap dunia yang pernah menganiaya dirinya, ia mulai melakukan pembalasan dendam!
Dalam tiga tahun belakangan ini, sudah banyak jago lihay yang dirobohkan, nama besar Tok liong Cuncu (Datuk naga beracun) juga sudah termashur diseluruh dunia persilatan, baik jago-jago dari golongan putih maupun jago-jago dari golongan hitam pada menyingkir jauh-jauh bila mendengar nama besarnya.
Setiap kali ia berhasil mengalahkan musuhnya, suatu perasaan bangga selalu muncul dalam hatinya, tapi kemudian dia merasa kesepian dan bersedih hati, karena semakin menang dia, semakin sedih pula hatinya.
Sebab keganasan dan keangkuhannya, mengikuti setiap kali kemenangan yang berhasil diraih bertambah makin dalam, setiap kemenangan dan rasa bangga yang diperolehnya ibarat bianglala diujung langit.
Kesepian, kesedihan dan kedukaan yang dalam selalu dan selamanya menyelimuti perasaan pemuda itu.
Suatu senja, ia bertemu dengan seorang gadis yang cantik jelita, dia tak lain adalah kakak perempuan Ji-Kiu-liong yang bernama Ji-Cing-peng.
Sejak bertemu dengan gadis itu, ibaratnya sebuah lembah gersang yang ketimpa cahaya matahari, mendatangkan suasana yang hangat dan nyaman bagi hatinya yang beku, sebab di dunia ini kecuali gurunya yang sudah tiada, hanya dia seoranglah yang dapat merubah wataknya yang aneh dan kaku itu......
Tapi, gadis cantik yang amat jelita itu hanya mendatangkan luka yang semakin tak tertahan dalam hati kecilnya, sebab jiwa gadis itu telah direnggut oleh sekawanan penyamun......
Yaa, pengalaman getir yang dialaminya sejak kecil ditambah lagi kematian kekasihnya....
membuat pemuda yang baru berusia dua puluh tahunan itu selalu murung, selalu kesal dan selalu bersedih hati.
Justru karena itu, dia semakin membenci dunia ini, ia semakin ganas, semakin keji dan tak kenal apa artinya perikemanusiaan.......
Ia membenci langit, membenci bumi, membenci semua orang jahat di dunia ini, bahkan hampir saja membenci dirinya sendiri, kesemuanya itu membuat pikirannya bertambah cupat, membuat pemuda itu merasa bahwa setiap orang yang berani mencari gara-gara dengannya, tak boleh dilepaskan dengan begitu saja.
Sampan bergerak maju membelah air telaga, kenangan Gak Lam-kun semasa kecilpun lewat bagaikan air telaga yang mengombak.
Ditengah kegelapan malam, dari kejauhan muncul kembali sebuah perahu besar yang pelan-pelan berlayar mendekat, tak lama kemudian perahu itu sudah tiba didekat mereka, berbareng itu juga dari sebelah kanan meluncur kembali empat buah sampan.
"Lam-kau toako!"
Bisik Ji Kiu liong kemudian mari kita kasih pelajaran yang setimpal kepada mereka"
Sementara Ji Kiu-liong masih berbisik, keempat buah sampan itu dengan formasi satu garis telah menghadang di depan perahu kecil itu, pada ujung geladak masing-masing perahu berdirilah seorang laki-laki berbaju pendek.
Sambil tertawa dingin Ji Kiu-liong segera membentak.
"Hei! Kalian tidak kenal dengan kami, dan kamipun bukan perompak-perompak yang membegal harta kekayaan milik orang lain, apa maksud kalian semua menghadang di depan perahu kami ini?"
Diatas sampan cepat sebelah kiri berdiri seorang laki-laki berusia empat puluh tahunan, sambil balas tertawa dingin sahutnya.
"Andaikata kalian berdua adalah kaum pedagang kaya, kamipun tak usah bersusah-payah menggerakkan anggota kami sebanyak ini. Tolong tanya sobat, siapakah diantara kalian yang bernama Gak Lam-kun sauhiap?"
Paras muka Gak Lam-kun agak berubah, tapi sebentar kemudian sudah pulih kembali seperti sedia kala, sambil menjura dia tertawa.
"Tolong tanya ada persoalan apa kalian mencari aku orang she-Gak?"
Tegurnya kemudian. Laki-laki kekar itu tertawa ringan.
"Tidak berani!"
Tidak berani!
Nama besar Gak sauhiap sudah menggetarkan seluruh kolong langit kami tak ada urusan lain, hanya nona kami berhubung sudah lama mengagumi nama besar sauhiap maka sengaja mengundang kedatangan sauhiap untuk berkenalan"
Gak Lam-kun berkerut kening, hawa napsu membunuh menyelimuti seluruh wajahnya, ia berpikir.
"Walaupun sudah banyak jago persilatan yang pernah kujumpai, tapi aku rasa belum pernah berhubungan dengan orang-orang dari suatu perkumpulan, apalagi namaku memang tak banyak yang tahu, darimana bisa muncul seorang perempuan yang kenal dengan diriku? Biasanya yang datang itu selalu membawa maksud tak baik, kali ini aku harus lebih waspada"
Kalau sikap Gak Lam-kun tadi murung, kesal dan sedih, maka sekarang wajahnya tampak tampan dan gagah, perubahan sikapnya itu sungguh diluar dugaan orang.
Ji Kiu-liong sendiri juga berkerut kening, tiba-tiba ia menegur.
"Siapakah nama siocia kalian?"
"Cerdik betul bocah cilik ini!"pikir Gak Lam-kun. Ternyata Ji Kiu-liong sendiri juga merasa tercengang, sebab sejak encinya tewas, toakonya selalu membawa dia bergelandangan kesana kemari, sangat jarang orang mengetahui namanya, sekalipun julukan Tok-liong Cuncu juga merupakan julukan suhu toakonya yang dicatut, padahal kemunculan kembali Tok-liong Cuncu dalam dunia persilatan teramat rahasia, tentu saja orang lebih-lebih tak akan menyangka kalau Datuk naga beracun yang muncul saat ini tak lain adalah penyaruan Gak Lam-kun. Laki-laki kekar itu tersenyum.
"Saudara cilik, kau memang hebat! Pada hakekatnya siocia kami memang belum pernah kenal dengan Gak sauhiap, beliau cuma mengagumi saja nama besar sauhiap....."
"Empat penjuru adalah saudara, ujung langit adalah tetangga, kalau toh siocia kalian mengagumi diriku, sudah sepantasnya, kalau aku Gak Lam-kun juga datang menyambanginya"
Kata anak muda itu sambil tertawa.
"Bagus sekali"
Laki-laki itu mengangguk, Nio-nio yang mendampingi siocia telah berangkat sendiri kemari untuk menyambut kedatangan sauhiap....!"
Seraya berkata, laki-laki itu lantas menuding ke arah belakang.
Mengikuti arah yang ditunjuk Gak Lam-kun melihat perahu besar itu sudah membuang sauh dihadapannya, pintu ruang perahu terbentang lebar cahaya lampu memancar terang benderang dari dalam.
Empat orang laki-laki berpakaian ringkas warna hijau dengan memegang golok besar berdiri tegak ditepi pintu.
Saat itulah dari balik ruangan perahu pelan-pelan muncul empat orang dayang berbaju hijau, mereka berdua membawa dua buah lentera yang indah.
Dibelakang dua orang dayang itu, mengikutlah seorang kakek berjenggot panjang yang rambutnya telah beruban semua, menyusul kemunculan kakek itu, perahu besar pelanpelan bergerak kembali mendekati sampan.
Kepada Gak Lam-kun, kakek tersebut segera menjura sambil tertawa.
"Tanpa sebab kami telah menghalangi perjalanan saudara, untuk menebus kesalahan itu bagaimana kalau kupersilahkan naik ke perahu untuk meneguk secawan arak lebih dahulu?"
Sebenarnya Gak Lam-kun mengira nona itu berada diatas perahu besar, maka terdorong oleh perasaan ingin tahunya, ia menerima tawaran tersebut.......
Tapi kemudian, setelah mendengar bahwa nona itu tidak hadir di perahu, rasa ingin tahunya segera tersapu lenyap, namun kakek itu keburu munculkan diri dalam keadaan demikian ia merasa kurang leluasa untuk menolak tawaran orang.
Kepada Ji Kiu liong yang berada disisinya, dia lantas berkata.
"Adik Liong, tunggulah disini, aku sebentar akan balik lagi kemari!"
Begitu selesai berkata, dia lantas melompat naik ke atas perahu besar.
Dikala tamunya sedang melompat naik ke atas perahu, kakek berjenggot panjang itu lantas berpaling ke arah dua orang dayang baju hijau di belakangnya seraya berkata.
"Berilah laporan kedalam! Katakan kalau tamu sudah tiba di atas perahu....."
Dua orang dayang cilik yang membawa lentera itu segera mengiakan dan masuk ke ruangan dalam.
Sepeninggal dua orang dayang tersebut, kakek berjenggot panjang itu baru berkata kepada Gak Lam-kun sambil tertawa.
"Silahkan Gak sauhiap, dalam ruang perahu sudah disiapkan arak, bagaimana kalau meneguk beberapa cawan dulu?"
"Terima kasih banyak atas jamuan yang disiapkan, tapi sebelum itu, bolehkah aku tahu siapa nama saudara?"
Sambil mengelus jenggotnya yang panjang, tergelaklah kakek itu.
"Haaahhh........haaahhh........haaahhh.......... aku she Siangkoan bernama It. Mari masuk ke dalam ruangan untuk minum arak, majikan kami masih ada beberapa urusan yang hendak dirundingkan"
Diam-diam terkesiap juga Gak Lam-kun setelah mengetahui bahwa kakek itu bukan lain adalah Siangkoan It, dia tak mengira kalau kakek itu adalah Tam-ciang-teng-kan-kun (telapak tangan tunggal penenang jagad) Siangkoan It yang namanya termashur di utara maupun selatan sungai besar, lebihlebih lagi karena orang itu sudah sejak dua puluh tahun berselang mengundurkan diri dari keramaian dunia, sungguh tak disangka malam ini bisa muncul di telaga Tang-ting-ou, bahkan sudi menjadi budaknya orang lain, dari kesemuanya itu terbuktilah sudah bahwa majikannya sudah pasti adalah seorang jago silat yang amat lihay.
Sebenarnya Gak Lam-kun mempunyai rencana akan mengundurkan diri setelah mengucapkan beberapa patah kata, tapi untuk mengetahui asal usul majikannya, maka diapun tersenyum.
"Selamat bertemu, selamat bertemu, sudah lama kudengar nama besar Sam-ciang-lamkok (sukar lewati tiga buah pukulan) yang telah menggetarkan seluruh dunia persilatan itu Siangkoan lo sianseng, perjumpaan ini sungguh menggembirakan hatiku"
Telapak tangan tunggal penenang jagad Siangkoan It tertawa ringan.
"Tidak berani tidak berani itulah julukan yang dihadiahkan sahabat-sahabat persilatan kepadaku, padahal lohu malu untuk menggunakannya!"
Sambil melangkah masuk kedalam ruangan, diam-diam Gak Lam-kun menyumpah dalam hati.
"Huuuh....jangan keburu bersenang hati dulu, suatu waktu aku pasti akan menjajal sampai dimanakah kepandaian silat yang kau miliki!"
Ruang perahu dihiasi dengan aneka barang antik yang indah dan mahal-mahal, permadani merah menutupi lantai, hiasan mahal tergantung didinding, dibawah pantulan cahaya yang terpancar dari dua buah lilin besar, tampaklah horden hijau menjadi latar belakang hiasan ruang perahu itu, disisi jendela tertera pula sebuah meja perjamuan dimana dua orang bocah laki-laki berbaju hijau berdiri dengan tangan terjulur ke bawah.
Setelah Tam-ciang-teng-kan-kun Siangkoan It mempersilahkan tamunya duduk, Gak-Lam kun segera menjura sambil bertanya.
"Tolong tanya Siangkoan lo sianseng, siapakah nama besar dari majikanmu......?"
Mendengar pertanyaan itu, dengan wajah serius telapak tangan tunggal penenang jagad Siangkoan It segera menjawab.
"Majikan ada perintah, maafkanlah lohu bila tak bisa mengatakannya secara berterus-terang"
Diam-diam Gak Lam-kun mengerutkan dahinya.
"Lalu, apakah aku dapat berjumpa dengan Nio-nio dan siocia kalian yang berada di perahu ini?"
Ujarnya pula. Sekali lagi air muka Siangkoan It menunjukkan perasaan keberatan. Kebetulan dari belakang ruangan muncul dua orang dayang cilik berbaju hijau yang segera berkata.
"Nio-nio ada perintah, harap Siangkoan loya saja yang melayani tamu kita!"
Gak Lam-kun adalah seorang jagoan berwatak tinggi hati, menyaksikan sikap memandang rendah musuhnya, dia jadi mendongkol, kontan saja ia bangkit berdiri.
"Kalau toh majikan kalian tidak berada diatas perahu"
Demikian ujarnya sambil menjura ke arah Siangkoan It.
"harap maafkan diriku lebih tak bisa menemani lebih lama lagi, sebab aku sendiripun masih ada urusan"
Tiba-tiba dari luar ruang perahu terdengar jeritan dari Ji Kiu-liong.
"Toako......kau hendak pergi kemana?"
Suara itu penuh kekuatiran dan gelisah, jelas perahu besar itu sudah mulai bergerak.
Gak Lam-kun mengerutkan dahinya!
kemudian melangkah keluar dari ruang perahu itu.
Empat orang laki-laki berpakaian ringkas yang menjaga di depan pintu itu mendadak melintangkan golok besarnya dan menghadang jalan pergi si anak muda itu.
Gak Lam-kun tertawa dingin, ia bersikap seolah-olah tidak melihat gerakan tersebut, bahkan langkahnya sedikitpun tidak nampak gugup atau panik.
Suara seruan dari Siangkoan It kembali berkumandang dari belakang.
"Perahu sudah bergerak jauh meninggalkan tempat semula, Gak sauhiap, apa salahnya kalau duduk saja dalam ruangan dengan tenang sambil minum beberapa cawan arak?"
Mendengar ucapan tersebut, tiba-tiba napsu membunuh menyelimuti seluruh wajah Gak Lam-kun pelan-pelan ia putar badan lalu berkata dengan hambar.
"Kuperintahkan kepadamu untuk menjalankan kembali perahu ini ketempat semula, kalau tidak jangan salahkan kalau aku akan bermain kasar"
Siangkoan It tertawa tergelak-gelak.
"Haaahhh. .....haaahhh.......haaahhh...... di dunia ini belum pernah ada orang yang bernyali begitu besar untuk memandang hina diriku, bila Gak sauhiap enggan untuk bercakap-cakap diperahu ini kenapa tidak segera angkat kaki.......?"
Gak Lam-kun menggerakkan bahunya, sekali lompat tahu-tahu ia sudah menerobos keluar dari ruangan perahu itu.
Empat orang laki-laki berbaju ringkas itu serentak menggerakkan pula senjata mereka untuk melancarkan serangan, diantara kilauan cahaya berwarna keperak-perakan, senjata mereka langsung membacok tiga bagian tubuh yang berbeda dari Gak Lam-kun.
Sepintas lalu, gaya Gak Lam-kun seperti seseorang yang sama sekali tak siap, tapi kenyataannya serangan yang kemudian dilancarkan lebih cepat dari sambaran kilat.
Dua dengusan tertahan berkumandang susul menyusul, dua orang laki-laki berbaju ringkas yang ada dipaling depan serentak tergeletak tak berkutik dilantai.
Demikian cepatnya serangan itu dilancarkan, sampai-sampai Siangkoan It yang nama besarnya menggetarkan di utara maupun di selatan sungai besarpun tak sempat melihat jelas dengan cara apakah Gak Lam-kun menyarangkan serangan-serangannya itu.
Menyaksikan rekannya roboh, dua orang laki-laki yang lain segera membentak keras, golok besarnya diputar sedemikian rupa menciptakan dua jalur cahaya perak yang segera menutup pintu keluar ruang perahu itu.
Gak Lam-kun tertawa dingin, tangan kirinya berkelebat kemuka dan tahu-tahu ia sudah mencekal pergelangan tangan kanan salah seorang laki-laki berpakaian ringkas itu, lalu menggunakan kesempatan itu tangannya diayun kedepan dan.
bentrokan nyaringpun berkumandang memecahkan kesunyian, golok besar lainnya kena ditangkis sampai mencelat ke belakang.
Gak Lam-kun tidak berdiam sampai disitu saja, lutut kirinya segera diangkat dan sikut kanannya menyodok ke belakang, kembali dua kali dengusan tertahan menggema diudara, dan robohlah dua orang laki-laki tersebut.
Begitu beres menghabisi keempat orang musuhnya, Gak Lam-kun melompat keluar dari ruang perahu, tapi sepanjang pandangannya ke depan yang tampak hanya air telaga yang menggulung, dari kejauhan sana tampak setitik cahaya lentera, tapi letaknya sangat jauh, dari arah titik cahaya itulah lapat-lapat terdengar suara teriakan Ji Kiu-liong yang memilukan hati........
Hawa napsu memburuh tiba-tiba membakar di rongga dada Gak Lam-kun, pelan-pelan ia putar badannya lalu memandang sekejap ke sekeliling tempat itu dengan pandangan tajam.
Dua belas orang Laki-laki berbaju hitam sudah mengelilingi geladak, ditangan mereka masing-masing tersoren sebilah pedang yang memancarkan cahaya perak, terutama posisi dari belasan orang itu jelas merupakan sebuah barisan pertahanan yang cukup tangguh.
Gak Lam-kun sama sekali tak menggubris kedua belas orang laki-laki bersenjata pedang itu, orang-orang berbaju hitam yang berdiri dengan napsu membunuh membara itu seakan-akan dianggapnya sebagai patung yang tak berguna malah sinar matanya yang tajam langsung mencorong kedalam ruangan perahu, sementara kakinya pelan-pelan melangkah maju mendekati Siangkoan It.
Angin malam menderu-deru, deburan ombak memekikkan telinga, suasana syahdu yang semula menyelimuti perahu itu, kini sudah berubah jadi tegang dan penuh dengan hawa pembunuhan.
Siangkoan It tertawa dingin tiada hentinya, dengan suara yang menyeramkan ia berseru.
"Setelah berada di perahu kami, berarti hanya ada dua jalan yang bisa kau tempuh, yakni tunduk dibawah perintah majikan kami, atau mampus dalam keadaan mengerikan. Gak sauhiap, aku percaya engkau adalah seorang yang cerdik, aku rasa pilihan yang kau caripun seharusnya pilihan yang cerdik dan tepat"
"Heeehhh........heeehhh.......heeehh.......bagus sekali, bagus sekali"
Gak Lam-kun tertawa dingin tiada hentinya.
"kalau begitu biarlah kupilih jalan kematian saja, ingin kulihat jalan kematian macam apakah yang akan kulalui?"
Telapak tangan tunggal penenang jagad Sang kwan It memang seorang jagoan yang termashur namanya dalam dunia persilatan, entah berapa banyak sudah jago lihay yang telah ditundukkan olehnya selama ini, dia merasa sedikit kewalahan dibuatnya.
Terutama kemampuan Gak Lam-kun yang berhasil menaklukkan empat orang anak buahnya dalam sekali gebrakan, ilmu selihay itu sungguh membuat hati jago kawakan tersebut jadi bergidik.
Siangkoan It tertawa kering, kemudian berkata.
"Gak-sauhiap, kalau toh engkau tetap membandel, jangan salahkan kalau akupun tak akan sungkan-sungkan lagi"
Begitu selesai berkata, tiba-tiba ia menerobos maju sambil melancarkan serangan, telapak tangan kirinya menyerang dengan jurus tui-poh-cu-lan (mendengar riak membantu ombak), sedang telapak tangan kanannya menyodok dengan gerakan Liu-imcha-san (awan hitam menutupi bukit), sekali menyerang menggunakan dua jurus yang berbeda, bahkan kekuatan yang digunakanpun tak sama, hal ini semakin menunjukkan betapa lihaynya si kakek tersebut.
Gak Lam-kun tak berani gegabah menghadapi serangan yang begitu dahsyatnya dengan telapak tangan kiri dia pancing serangan musuh miring ke arah lain, sementara tubuhnya segera melompat tiga depa ke samping, darimana sebuah pukulan segera balas dilancarkan pula.
Tapi dua orang laki-laki baju hitam yang ada disampingnya tidak berpeluk tangan belaka, diantara kilatan cahaya tajam, dengan menciptakan berkuntum-kuntum bunga pedang, mereka tusuk tubuh si anak muda itu dari dua arah.
Gak Lam-kun tertawa dingin, sepasang kakinya melayang ke atas melancarkan beberapa buah tendangan berantai.
Dua buah tendangan dilepaskan dengan suatu gerakan yang sangat aneh, tak sempat dua orang laki-laki berbaju hitam itu menghindarkan diri masing-masing terkena sebuah tendangan yang bersarang telak di dadanya.
Diiringi jerit kesakitan yang memilukan hati, dua orang itu mencelat ke belakang dan roboh tak bernyawa lagi.
Betapa gusarnya Siangkoan It melihat anak buahnya tewas, sambil membentak penuh kemarahan sepasang telapak tangannya melancarkan sebuah pukulan dahsyat menghajar punggung Gak Lam-kun, serangan itu belum tiba, angin pukulannya sudah terasa menyayat badan.
Gak Lam-kun agak kaget menyadari akan hal itu, segera pikirnya.
"Sungguh sempurna tenaga dalam yang dimiliki kakek ini!"
Tiba-tiba ia tarik ke belakang sepasang kakinya kemudian berjumpalitan di udara, setelah itu badannya menerobos kesamping dan menumbuk seorang laki-laki berbaju hitam yang kebetulan berada di sampingnya.
Setelah menyaksikan kelihayan Gak Lam-kun yang dalam sekali gebrakan berhasil membinasakan dua orang rekannya, kedua belas orang laki-laki berbaju hitam itu merasa terkesiap, maka ketika Gak Lam-kun menyambar tiba, pedang mereka serentak diayun kedepan menciptakan selapis bayangan pedang menyongsong tibanya tubuh Gak Lamkun.
"Mundur ke belakang dan pertahankan sudut barisan!"
Tiba-tiba Siangkoan It membentak.
Terhadang oleh belasan pedang sekaligus, terpaksa Gak Lam-kun harus tarik kembali terjangannya, sepasang telapak tangannya melancarkan serangan berantai, dua gulung angin puyuh yang menusuk telinga berhembus keluar memaksa belasan orang laki-laki berbaju hitam itu harus menarik kembali serangannya sambil mundur ke belakang.
Siangkoan It mendengus dingin, dia menerobos maju kemuka, sepasang telapak tangannya melancarkan serangan berulangkali untuk merangsek lawannya.......
Gak Lam-kun tertawa panjang, nyaring sekali suaranya, dengan sinar mata mencorong keluar dia himpun tenaga murninya ke dalam lengan kiri untuk membendung tibanya ancaman tersebut.
Selincah ular sakti telapak tangan kirinya melambung ke atas menerobos kebawah, dengan jurus yang lihai dan tersakti, dan secara beruntun dia hujani sekujur badan Siangkoan It dengan delapan buah pukulan.
Memang hebat tenaga pukulan yang dimiliki Siangkoan It, setiap pukulan yang dia lepaskan tentu membawa desingan angin tajam yang memekikkan telinga, belasan gerakan kemudian, daya pantulan yang terpancar keluar dari serangannya telah mencapai beberapa depa.
Gak Lam-kun memang berhasrat menyaksikan kehebatan lwekang Siangkoan It, dengan sedikitpun tak jeri disambutnya semua pukulan itu dengan keras lawan keras.
Sebagaimana diketahui, Siangkoan It terkenal sebagai Telapak tangan tunggal penenang jagad, itu berarti hawa pukulannya lebih mengandalkan pada tenaga Yang-kang yang maha dahsyat.
Justru karena kehebatan itu, setiap orang yang bertarung melawan dirinya, tentu berusaha untuk menghindari suatu bentrokan secara kekerasan.
Tapi kini, Gak Lam-kun malahan berani menerima pukulannya itu dengan keras lawan keras, kejadian ini segera menimbulkan hawa napsu membunuh didalam hati Siangkoan It.
Tiba-tiba hawa murninya dihimpun menjadi satu kemudian melepaskan serangan dengan sepenuh tenaga.
Otomatis dua gulung tenaga murni yang terpancar keluar dari balik telapak tangannya juga semakin dahsyat ibaratnya bacokan kampak yang membelah bukit.
Melihat kakek itu makin bertarung makin gagah, angin pukulannya makin lama semakin gencar, tanpa terasa Gak Lam-kun memuji dalam hatinya.
"Memang hebat orang tua itu, nama besarnya ternyata bukan nama kosong belaka!"
Siangkoan It sendiri diam-diam juga terkesiap, sepanjang masa berkelananya dalam dunia persilatan, belum pernah angin pukulannya itu mendapat tandingan yang setimpal, tapi malam ini, setelah berjumpa dengan jago muda tersebut, ternyata tenaga pukulannya beberapa bagian lebih dahsyat dari apa yang dimilikinya, bahkan jurus serangan yang digunakannya juga jauh lebih sempurna.
Dalam kaget dan ngerinya, tanpa terasa ia berpikir.
"Menurut majikan, ilmu silat yang dimiliki orang ini sudah menggetarkan sungai telaga, diapun merupakan jagoan paling lihay diantara kelompok kaum muda, setelah kubuktikan sendiri malam ini, ternyata ucapan tersebut memang bukan nama kosong belaka, tapi apa julukannya dalam dunia persilatan?"
Meskipun Siangkoan It mengetahui nama Gak Lam-kun, tapi mereka tak tahu kalau dia adalah Tok-liong Cuncu yang telah muncul kembali dalam dunia persilatan.
Karena ada yang dipikirkan dalam benaknya, tanpa sadar perhatian Siangkoan It juga ikut bercabang, tiba-tiba ia merasa ada segulung angin pukulan yang maha dahsyat menerjang dadanya, dalam kagetnya cepat-cepat ia menyingkir kesamping.
Gak Lam-kun tidak mengejar karena keberhasilan itu, dia malah menarik kembali serangannya sambil berdiri dengan wajah gagah, ujarnya sambil tertawa nyaring.
"Kuakui bahwa tenaga pukulan yang kau miliki terhitung nomor satu dalam dunia persilatan, aku orang she-Gak menyesal tak mampu menandinginya, untuk menghindari pertikaian lebih lanjut yang tak berguna, harap Siangkoan lo-sianseng segera menjalankan perahu ini kembali ke tempat semula, tapi jika engkau menolak permintaan ini terpaksa aku orang she-Gak pun tak akan sungkan-sungkan lagi"
Ucapannya itu setengah bernada lembut setengah bernada keras, seperti juga suatu sindiran, seperti juga suatu cemoohan.
Siangkoan It yang mendengar sindiran itu jadi naik pitam, kontan saja ia tertawa seram.
"Heeehhh....... heeehhh........ heeehbh......... meskipun ilmu silatmu terhitung lihai dalam dunia persilatan, tapi kalau ingin paksa lohu menyerahkan diri.....oohoo..... kau musti melatih diri beberapa tahun lagi"
Gak Lam-kun tertawa dingin.
"Di dunia ini memang terlampau banyak terdapat manusia-manusia bandel, Siangkoan sianseng, kalau begitu jangan kau salahkan lagi jika aku bertindak kejam"
Begitu selesai berkata, Gak Lam-kun segera melangkah maju ke posisi tiong kiong dan menerobos kedepan, telapak tangan kirinya langsung dikebaskan ke tubuh lawan.
Siangkoan It tidak menyangka kalau pemuda itu segera menyerang begitu mengatakan akan menyerang, sedikit kurang cermat, ia sudah terjatuh dibawah angin.
Untung pengalamannya dalam menghadapi serangan lawan cukup sempurna, meski menghadapi mara bahaya, ia tak sampai gugup.
Dengan cepat pinggangnya ditekuk kebawah, lalu memakai jurus Gi-san-tiam-hay (memindahkan bukit menimbun samudra) sepasang telapak tangannya didorong kemuka sejajar dengan dada, disambutnya serangan tersebut dengan keras lawan keras.
"Blaaaaang....!"
Desingan angin berpusing memancar keempat penjuru menyusul terjadinya bentrokan itu.
Seketika itu juga Siangkoan It merasakan darah dalam dadanya bergolak keras, hampir saja ia tak sanggup berdiri tegak.
Dengan mata mencorongkan sinar tajam, Gak-Lam kun tertawa dingin tiada hentinya, kemudian ia berseru.
"Suatu kekuatan yang luar biasa, hayo sambutlah pukulan lagi......!"
Tanpa mengubah posisi telapak tangan kirinya, ia membalik tangan itu ke belakang lalu dikebaskan ke tubuh lawannya dengan gerakan aneh.
Siangkoan It terkesiap, buru-buru dia tarik napas sambil menghimpun tenaga murninya guna menyambut datangnya ancaman tersebut.
00000O00000 TAPI, sebelum niat tersebut dilaksanakan, mendadak terdengar suara bentakan yang amat merdu bagaikan suara keleningan menggelegar memecahkan kesunyian.
"Siangkoan sianseng, cepat hentikan pertarungan...!"
Begitu ucapan tersebut timbul, tiba-tiba muncullah segulung tenaga pukulan yang lembut menerjang ke tengah-tengah mereka berdua, dimana angin pukulan Gak Lam-kun yang amat tangguh tersebut segera tersapu lenyap hingga tak berbekas.
Menggunakan kesempatan itu Siangkoan It menarik kembali serangannya dan melompat mundur ke belakang, sambil memberi hormat buru-buru serunya lirih.
"Menanti perintah dari Nio-nio!"
Gak Lam-kun mendengar, meski suara itu merdu bagaikan kicauan burung nuri tapi dibalik kemerduan tersebut terkandung kewibawaan yang luar biasa, ini membuat anak muda itu tanpa terasa berpaling ke arah mana berasalnya suara.
Seorang perempuan berbaju hijau diiringi empat orang dayang berbaju hijau pula pelan-pelan memunculkan diri dari balik ruangan perahu.
Dibawah cahaya lentera yang dibawa keempat orang dayang itu, tampaklah perempuan itu mempunyai sepasang alis mata yang lentik dengan bibir yang mungil, dibalik sepasang matanya yang bulat mencorong keluar sinar mata yang memikat hati, hidungnya mancung dan sekulum senyuman manis menghiasi bibirnya.
Kepada Gak Lam-kun ia berkata lembut.
"Aaaah......! Kamu ini sungguh tak tahu suasana, dimalam yang romantis seperti ini, bukannya menikmati arak wangi sambil memandang alam yang indah, apakah tidak kau rasakan bahwa berkelahi hanya akan merusak suasana yang bagus ini?"
Diantara suara pembicaraannya itu terselip kerlingan mata yang mendatangkan gairah orang, memang daya pikat dari seorang perempuan yang sudah matang.
Gak Lam-kun berusaha menenangkan hatinya, lalu berkata dengan nada yang dingin.
"Aku masih mempunyai seorang saudara cilik yang tertinggal di sampan, karena itu maafkan daku bila tak dapat menikmati keromantisan ditempat ini. Kalau toh Nio-nio majikan dari perahu ini harap segera turunkan perintah untuk menjalankan perahu ini balik ke tempat semula daripada pertarungan ini harus dilanjutkan"
Perempuan berbaju hijau itu tertawa, dengan mata yang memikat ia mengerling pemuda itu sekejap kemudian berkata.
"Jika kau hanya menguatirkan saudara cilikmu menunggu sendirian di sampannya, kalau begitu biarlah kuutus tiga orang untuk menemaninya"
Gak Lam-kun semakin mengerutkan dahinya.
"Tolong tanya nio-nio, dengan maksud apakah kau menahan diriku dengan paksa? Kalau tidak kau terangkan......."
Agaknya perempuan berbaju hijau tak menyangka kalau ia bakal mendapat pertanyaan semacam itu, tanpa terasa pipinya jadi merah, setelah termenung sebentar dia baru tertawa ewa.
"Kalau tidak, bagaimana? Jika engkau merasa kurang leluasa diatas perahuku ini, silahkan pergi!"
Gak Lam-kun tahu bahwa perahu besar yang sedang melaju ini tak bisa dihentikan lagi, dengan sinar mata yang menggidikkan dia lantas menatap ke arah musuhnya, mendadak pemuda itu menerobos maju kemuka dan telapak tangan kanannya diayun kedepan melepaskan sebuah pukulan yang amat gencar.
Sedikit saja perempuan berbaju hijau itu menggerakkan bahunya, tahu-tahu dia sudah bergeser tiga depa dari posisinya semula, kemudian sambil tertawa cekikikan katanya.
"Hiiihh..... hiiihh..... hiiihh.... dalam sepuluh gebrakan mendatang, jika engkau sanggup menjawil ujung bajuku, maka segera kuhantar engkau untuk kembali ke tempat semula"
Gak Lam-kun ikut tertawa dingin.
"Dalam tiga jurus, bila aku tak berhasil melukai dirimu aku orang she-Gak juga akan menyerahkan diri untuk kau jatuhi hukuman."
Begitu selesai berbicara, tiba-tiba ia tarik kembali pukulannya lalu sambil memutar badan, sebuah totokan dilancarkan.
Perempuan berbaju hijau itu mengegos kesamping, dengan suatu langkah yang enteng dan lincah tahu-tahu ia sudah melepaskan diri dari ancaman totokan tersebut.
Indah dan menawan hati gerakan tubuhnya itu, meskipun menghadapi suatu pertarungan yang mempertaruhkan jiwa raganya, gerak-geriknya sama sekali tidak kehilangan kebagusan serta daya tariknya.
Begitu berhasil melepaskan diri dari serangan yang pertama, perempuan berbaju hijau itu tertawa terkekeh-kekeh.
"Heehhh.... heeehhh.... heeehhh.... masih ada delapan gerakan lagi, gunakanlah dengan lebih berhati-hati!"
Begitu gagal dengan serangan yang pertama, tiba-tiba Gak Lam-kun menarik tangan kanannya ke belakang, kemudian ia menyerang sejajar dengan dada, secepat kilat ia menerobos kemuka melakukan pengejaran.
Sekulum senyuman masih tersungging diujung bibir perempuan berbaju hijau itu ketika tangan kiri anak muda itu diayun kedepan melepaskan sebuah pukulan dengan jurus Huijian-cing tham (Menyapu debu berbicara santai).
Rupanya perempuan berbaju hijau itu mengetahui bahwa dibalik jurus serangan tersebut terkandung dua perubahan yang berbeda, ditengah lengkingan gelak tertawanya kembali ia melejit kesamping untuk melepaskan diri dari ancaman.
Padahal ketika itu, jurus serangan yang digunakan Gak Lam-kun belum mencapai pada puncaknya, ia lantas mendengus, mumpung perempuan musuhnya belum melayang turun ketanah, telapak tangan kirinya dengan mengandung hawa pukulan yang maha dahsyat tiba-tiba dilontarkan kedepan.
Sungguh tepat penggunaan waktu yang dilakukan dalam serangan tersebut, pada saat sepasang kaki perempuan berbaju hijau itu hampir menempel diatas permukaan tanah, serangan dari Gak Lam-kun yang ibaratnya gulungan ombak dahsyat itu sudah melanda tiba.
Jangan dilihat perempuan baju hijau itu genit dan meliuk-liuk manja, pada hakekatnya dia memiliki ilmu silat yang maha dahsyat.
Ketika serangan tersebut menyergap datang, cepat lengannya dikebaskan, lalu badannya melambung keudara secara tiba-tiba, setelah berjumpalitan beberapa kali, ia melayang turun kembali ditempat lain yang jauh lebih aman.
Tapi, Gak Lam-kun juga bukan orang bodoh, tampaknya ia sudah memperhitungkan sampai disitu, buktinya dalam serangan itu terkandung lima jalur desingan angin tajam yang memekikkan telinga.......
"Sreeeeet ......! akhirnya gaun panjang yang dikenakan perempuan berbaju hijau itu kena tersambar juga hingga robek sebagian, maka terlihatlah paha kakinya yang putih mulus seperti salju. Tiba-tiba Gak Lam-kun menghela napas sedih.
"Aaaai... aku sudah menggunakan setengah jurus lebih banyak dari seharusnya, terserah hukuman apa yang hendak kau jatuhkan atas diriku!"
Katanya.
Ketika gaun panjangnya tersambar robek, perempuan berbaju hijau itu merasa amat jengah hingga seluruh wajahnya berubah jadi merah padam, lama sekali dia termangumangu tanpa mengetahui apa yang harus dilakukan.
Setelah mendengar helaan napas dari Gak Lam-kun, ia baru terkejut dan merasa seperti baru sadar dari impian, setelah berhasil menenangkan hatinya perempuan itupun menghela napas panjang.
"Aaaai.....Sungguh tak nyana kalau ilmu silatmu amat lihay pergilah dari sini!"
"Hmm.....! Perkataan seorang laki-laki sejati lebih berat dari batu karang, aku Gak Lamkun mengaku kalah!"
"Huuuh..... Memangnya ucapan pun-kiong (aku) tidak masuk hitungan.....?"
Perempuan berbaju hijau itu mengernyitkan sepasang alis matanya.
Sekalipun perempuan berbaju hijau itu telah berjanji, bahwa anak muda itu akan dihantar pulang andaikata dalam sepuluh gebrakan ujung bajunya berhasil dijawil, tapi Gak Lam-kun sendiripun baru berhasil merobek gaun lawannya dalam tiga jurus setengah, padahal pemuda itu mengatakan dia akan berhasil dalam tiga gebrakan belaka.
Mereka berdua sama-sama merupakan tokoh persilatan yang punya nama besar, mereka berduapun sama-sama berwatak angkuh dan tinggi hati, setelah apa yang disumbarkan tak terwujud, kedua belah pihak sama-sama tak mau mengingkari janjinya.
Dengan wajah murung baik Gak Lam-kun maupun perempuan berbaju hijau itu samasama termenung dan berdiri melamun.
Untuk sesaat lamanya, suasana di sekeliling tempat itu diliputi keheningan, seandainya tiada suara air telaga yang menyampok perahu, mungkin jatuhnya sebatang jarumpun akan kedengaran dengan jelas.
"Toako, aku datang membantumu!"
Tiba-tiba terdengar suara jeritan memecahkan kesunyian.
Menyusul kemudian sesosok bayangan manusia melompat naik ke atas perahu, siapa lagi orang itu kalau bukan Ji Kiu-liong?
Kemunculan Ji Kiu-liong secara tiba-tiba membuat Gak Lam-kun terkejut bercampur gembira, dia tidak habis mengerti kenapa adiknya bisa muncul disitu secara tiba-tiba.
Sementara dia masih termenung, mendadak dari balik perahu besar menggema lagi gelak tertawa yang amat nyaring.
"Haaaahhh......haaahhh......haaahhh.......Si Tiong pek dari barisan Tiat-eng tui perkumpulan Tiat-eng-pang (elang baja) sengaja berkunjung datang, harap Han Nio-nio sudi memaafkan kedatanganku yang tidak terduga ini!"
Seorang pemuda tampan berbadan kurus dan berbaju warna biru melompat naik ke perahu, lalu pelan-pelan maju kedepan. Ji Kiu liong segera menuding ke arah pemuda baju biru itu seraya berseru.
"Toako, Si toako itulah yang menghantar aku sampai kesini!"
Gak Lam-kun berpaling dan memandang sekejap wajah Si Tiong-pek, lalu dia menjura.
"Terima kasih banyak atas bantuan saudara yang telah menghantar adikku sampai disini, aku orang she Gak mengucapkan banyak-banyak terima kasih......."
"Aaaaaaah ......mana, mana"
Si Tiong pek tertawa.
"sudah selayaknya kalau orang persilatan itu saling membantu, urusan sekecil itu kenapa harus dipikirkan terus? Boleh aku tahu siapa nama saudara?"
"Aku she-Gak bernama Lam-kun!"
Sahut si pemuda sambil tertawa ewa. Betapa kecewanya Si Tiong pek setelah mendengar kalau nama itu masih terlampau asing dalam dunia persilatan, namun ia tersenyum juga.
"Selamat berjumpa, selamat berjumpa!"
Han Nio-nio atau perempuan berbaju hijau itu rupanya sudah tidak sabaran, mendadak dengan paras muka serius ia berkata.
"Si Tiong pek, berani betul engkau mencari garagara dengan kami!"
Kalau tertawa, perempuan cantik ini tampak genit dan mempesonakan hati, tapi setelah serius, kelihatanlah betapa agung dan berwibawanya dia.
Gak Lam-kun merasa seakan-akan dalam waktu sekejap perempuan itu sudah berubah menjadi seorang manusia yang lain, dibalik keagungannya secara lapat-lapat terpancar pula kewibawaan yang sangat tebal.
Si Tiong pek mengangguk lirih sebagai tanda hormatnya kemudian berkata.
"Han Nionio, kau jangan salah paham, aku orang she Si tidak lebih hanya manusia diluar garis yang cuma ingin menonton keramaian belaka lihatlah sendiri, perahuku sudah berada sepuluh kaki jauhnya dari sini, bila Han Nio-nio tak senang menyambut kedatanganku, lebih baik aku orang she Si mohon diri saja"
Selesai berkata, dia lantas putar badan dan siap berlalu dari tempat itu.
"Berhenti!"
Bentakan nyaring menggelegar memecahkan kesunyian.
Tiba-tiba Han Nio-nio melompat kedepan secepat sambaran kilat, jari-jari tangannya yang lentik langsung mencengkeram ke arah bahu Si Tiong-pek.
Sekalipun ketika itu Si Tiong-pek berdiri membelakanginya, namun seakan-akan dipunggungnya juga tumbuh mata baru saja Han Nio-nio beraksi tiba-tiba dia putar badannya dan melejit enam depa kesamping untuk menghindarkan diri.
"Haaahhh...haaahhh...haaahhh...Han Nio-nio"
Serunya sambil tertawa tergelak, lebih baik kita jangan bergerak dulu, kalau ingin beradu kekuatan tunggu sesampainya di bukit Kun-san, perkumpulan elang baja kami pasti akan melangsungkan suatu pertarungan yang seru melawan perguruan Ciang-ciam-bun kalian!"
Kembali Gak Lam-kun merasa terkesiap, konon ia dengar orang berkata bahwa dalam dunia persilatan telah muncul sebuah perguruan rahasia yang disebut Ciang-ciam-bun (perguruan panah bercinta) siapakah ciangbunjinnya?
Ternyata tak seorang manusia persilatanpun yang tahu.
Dia tak pernah mengira kalau perempuan berbaju hijau serta Siangkoan It yang dijumpainya sekarang ternyata adalah anggota perguruan panah bercinta, dari sini dapat diketahui bahwa Ciang-ciam-bun memang terhitung sebuah perguruan besar yang mempunyai kekuatan amat tangguh.
Dengan kening berkerut Han-Nio-nio sudah tertawa dingin.
"Heeehhh...heeehhh...heeehhh...memang pada tiga puluh tahun berselang perkumpulan Tiat eng pang kalian menjagoi seluruh daratan Tiong-goan, tapi sekarang...Hmm! Perkumpulan Tiat eng-pang kalian tak akan bisa menandingi kehebatan Ciang ciam-bunkami..."
Perlu diterangkan disini, semenjak dua puluh tahun berselang, perkumpulan Tiat-engpang memang merupakan suatu perkumpulan yang amat besar dalam kalangan hek-to di dunia persilatan, banyak jago tangguh dan pandai yang bergabung dalam perkumpulan itu, ini menyebabkan kekuatan mereka pada hakekatnya jauh melampaui kekuatan sembilan partai besar.
Ketua mereka Tiat eng sin siu (kakek sakti elang baja) Oh Bu hong adalah seorang tokoh persilatan yang berilmu tinggi, dia merupakan seorang manusia berbakat yang muncul belum lama berselang, namun kemampuannya memimpin para anak buahnya sangat hebat, orang ini merupakan seorang tokoh persilatan yang paling susah dihadapi dalam golongan hitam maupun putih.
Si Tiong-pek adalah murid kesayangan Oh Bun-hong, dengan kedudukannya sebagai komandan pasukan Elang Baja, bukan saja namanya termashur sampai dimana-mana, pengaruhnya juga menyebar luas baik diutara maupun diselatan sungai besar.
Dalam pada itu Si Tiong-pek sudah tersenyum seraya berkata.
"Kalau memang begitu, mari kita saksikan saja!"
Katanya sambil berjalan.
"Hmm...!"
Han Nio-nio mendengus.
"barangsiapa sudah naik keperahu ini, maka dia harus menyambut sepuluh buah seranganku lebih dulu sebelum bisa tinggalkan tempat ini dengan selamat, Si Tiong-pek! Bersiap sedialah menerima seranganku ini!"
Tiba-tiba ia menerobos maju kedepan sambil menyerang, jari tangannya menotok jalan darah juga sikutnya menyodok ulu hati, dua serangan yang berbeda namun memiliki kekuatan yang hampir sama.
Si Tiong-pek tertawa dingin lalu berseru.
"Han Nio-nio, kalau engkau mendesak terus menerus diriku, janganlah dianggap aku Si Tiong-pek jeri kepadamu!"
Berbicara sampai disitu, tubuhnya lantas miring kesamping menghindarkan diri dari terjangan sikut Han Nio-nio, lalu bukannya mundur dia malah mendesak maju kedepan, tangan kanannya dengan jurus Kim-cian toam-bwe (memotong sakura dengan gunting emas) langsung menyodok ketubuh Han Nio-nio pula.
Tapi pada saat itulah tendangan kaki kanan dari perempuan itu sudah mengancam lutut kanan Si Tiong-pek...
Agaknya Si Tiong-pek tidak menyangka kalau ilmu silatnya itu begitu lihay, dengan terkesiap dia mundur dua langkah untuk menghindarkan diri dari serangan dua buah pukulan dan sebuah tendangan kilat itu.
Mendadak hembusan angin tajam menyambar lewat, tahu-tahu kelima jari tangan Han Nio-nio bagaikan kuku garuda sudah menyambar tiga inci diatas wajah Si Tiong-pek.
Kali ini Si Tiong-pek benar-benar merasa terkesiap, bahunya langsung dibuang kesamping seraya melompat mundur, tapi gerakan itu toh masih terlambat satu langkah...
"Sreeeet...!"
Baju putih dibahu kiri Si Tiong-pek segera tersambar oleh jari-jari tangan Han Nio-nio yang lentik hingga robek besar sekali...
Kejut dan gusar Si Tiong-pek menghadapi kenyataan tersebut, sepanjang masa berkelananya dalam dunia persilatan belum pernah ia dipecundangi orang seperti kali ini, sambil membentak keras, sepasang telapak tangannya segera diayun kedepan melepaskan pukulan-pukulannya yang amat dahsyat...
Sedikit miring kesamping, tubuh Han Nio-nio sudah berada empat depa disisi gelanggang, mendadak ia menerobos maju lagi ke depan.
Bayangan manusia melintas lewat, tiba-tiba Gak Lam-kun menerobos masuk kedalam arena dan menghadang dihadapan Han Nio-nio seraya berseru.
"Saudara Si, sisanya enam jurus biar aku orang she Gak saja yang menyambutnya!"
Ketika menyaksikan Gak Lam-kun terjun kearena, tiba-tiba Han Nio-nio menghentikan gerakan tubuhnya lalu tertawa merdu.
"Bagus sekali, bagus sekali, boleh saja kalau engkau hendak mewakilinya untuk menerima sisa enam jurus itu"
Sebenarnya Si-Tiong-pek tidak pandang sebelah matapun atas diri Gak Lam-kun, tapi setelah menyaksikan gerakan tubuhnya sekarang, dia baru terperanjat.
"Masa seorang pemuda yang tak ternama semacam dia, sebetulnya adalah seorang jago lihay?"
Demikian dia berpikir. Sementara itu Gak Lam-kun sudah berkata dengan dingin.
"Tadi aku sudah kebagian menyerang tiga setengah jurus, maka sekarang adalah giliranku untuk menerima keenam jurus seranganmu tanpa menggeserkan sepasang kakiku"
Ketika Han-Nio-nio berangkat ketelaga Tong-ting ou, majikannya telah berpesan.
Gak Lam-kun merupakan seorang tokoh persilatan yang amat lihay!
Waktu itu dia masih tidak percaya, tapi setelah terjadi bentrokan fisik barusan, dia baru mengakui bahwa si pemuda pada hakekatnya adalah seorang musuh tangguh yang belum pernah dijumpainya.
Misalnya, ucapan semacam itu diucapkan orang lain kepadanya, Han-Nio-nio pasti tidak akan membiarkan dirinya dihina begitu saja, tapi keadaannya sekarang justru berbeda, dia sudah menderita kalah ditangan Gak Lam-kun, meskipun dalam pertarungannya itu dia cuma bertahan tanpa menyerang, namun pada hakekatnya tiga setengah jurus serangan yang dilancarkan Gak Lam-kun itu betul-betul luar biasa bebatnya.
Kendati begitu, ia tersenyum juga melihat kepongahan orang.
Hendak menerima enam jurus serangannya tanpa menggeserkan sepasang kakinya?
Kecuali orang goblok, rasanya tak mungkin dia berani mengucapkan kata-kata sesumbar seperti itu.
Sekulum senyuman lantas menghiasi wajah Han Nio-nio, ia berkata dengan hambar.
"Cukuplah sudah asal kau mampu menerima enam jurus seranganku itu, mau menggeserkan kaki atau tidak, aku tak ambil perduli. Nah, sambutlah seranganku ini!"
Dengan kelima jari tangan yang direntangkan, secepat kilat tangan kirinya menyambar kedepan Gak Lam-kun sama sekali tidak bergeser dengan jari tengah dan jari telunjuknya dia balas menotok urat nadi dari Han Nio-nio.
Cepat-cepat perempuan berbaju hijau itu merentangkan pukulannya jadi totokan, dan dia ganti menotok urat nadi penting diatas pergelangan tangan kanan Gak Lam-kun.
Serangan itu bukan saja dilancarkan dengan kecepatan luar biasa perubahan yang dilakukan juga sangat mendadak...
Gak Lam-kun terperanjat, dalam keadaan demikian terpaksa telapak tangan kanannya membalik kebawah kemudian memapas pergelangan tangan Han Nio-nio.
Serangan ini berhasil juga memaksa Han Nio-nio harus menarik pergelangan tangan kirinya untuk menghindari bacokan anak muda itu, tiba-tiba ia melompat kesamping, telapak tangan kanannya secepat kilat menerjang jalan darah penting dibahu lawan.
Demikianlah, suatu pertarungan sengit segera berkobar, kedua belah pihak sama-sama menggunakan serangan yang tercepat dan terlihay untuk berusaha menundukkan pihak lawan, dalam waktu singkat lima gerakan sudah lewat.
Meskipun hanya lima jurus tapi kecepatan berubah jurus yang berlangsung sukar diikuti dengan pandangan mata, semua jurus serangan yang dipakai, otomatis merupakan pula serangan yang paling tangguh.
Tiba-tiba Han Nio-nio melepaskan sebuah tendangan kilat, gaun yang robekpun lantas menyingkap hingga tampak pahanya yang putih dan mendatangkan gairah birahi.
Tendangan tersebut boleh dibilang dilancarkan dengan suatu gerakan yang sangat aneh, sekalipun ilmu silat Gak Lam-kun lebih lihaypun jangan harap dia bisa hindari serangan itu tanpa menggeserkan kakinya.
Gak Lam-kun yang lihay memang tak malu disebut jagoan kosen, ketika ujung kakinya Han Nio-nio hampir menyentuh tubuhnya, tiba-tiba Gak Lam-kun menjatuhkan tubuh bagian atas ke belakang sementara telapak tangannya disilangkan di depan dada untuk menjaga segala sesuatu yang tidak diinginkan.
Jilid 2 MEMANG aneh dan lihay gerakan tersebut malahan sama sekali diluar dugaan siapapun.
Si Tiong-pek yang menonton jalannya pertarungan itu dari tepi gelanggang segera berseru tertahan, jelas dia sudah dibikin terkesiap oleh gerakan Gak Lam-kun yang aneh dan diluar dugaan itu.
Setelah Gak Lam-kun mengeluarkan gerakan aneh untuk menghindari tendangan lawan, Han Nio-nio tak sanggup melancarkan tendangan yang kedua kalinya, dalam posisi begini terpaksa ia tarik kembali kakinya sambil mundur ke belakang.
Enam jurus pertarungan jarak dekat yang baru saja berlangsung ini memang keliarannya tidak seberapa hebat, tapi dalam pandangan mata seorang ahli pertarungan tersebut justru merupakan sengit yang menentukan mati hidup seseorang........
Tiba-tiba Han Nio hio menghela napas panjang katanya.
"Gak siauhiap, ilmu silatmu memang sangat lihay Pun Kiong merasa benar-benar takluk dengan hati yang rela, Nah, kalian boleh segera berlalu."
Pada waktu itulah, Si Tiong-pek ikut tertawa tergelak.
"Haaah...... haaah........ haaah...... sudah lama Han Nio-nio malang melintang dalam dunia persilatan nama besar juga sudah tersohor sampai di mana-mana, Sungguh beruntung pada malam ini aku orang she Si berkesempatan menyaksikan kelihayanmu"
Han Nio-nio melotot sekejap ke arah Si Tiong-pek dengan mata lebar, kemudian mendengus.
"Hmmm.....! Seandainya aku tidak memandang diatas wajahnya pada malam ini, jangan harap kau Si Tiong-pek bisa tinggalkan perahu ini dalam ke adaan selamat!"
Berkerut sepasang alis mata Si Tiong-pek sesudah mendengar perkataan itu, hawa amarah tertera ternyata diwajahnya, tapi secara tiba-tiba kemarahan itu ditahan kembali kemudian tertawa tergelak.
"Haaahhh....... aaahhh........... aaahhh........ bagus, bagus, bila lain waktu ada kesempatan aku orang she-Si pasti akan berkunjung lagi kesini untuk merasakan kelihayanmu"
Selesai berkata dia lantas menjura kepada Gak Lam-kun seraya berkata.
"Saudara Gak jika engkau tak ada urusan, apa salahnya kalau duduk sebentar diperahu kami?"
"Atas kebaikan saudara Si rasanya tidak pantas kalau kutolak tawaranmu itu, baiklah lebih baik aku turut perintah saja"
Selesai berkata pelan-pelan dia berjalan menuju ke tepi perahu.
"Gak singkong, harap tunggu sebentar!"
Tiba-tiba teguran lembut berkumandang lagi dari belakang.
Gak Lam-kun segera berpaling, dilihatnya Han Nio-nio dengan rambutnya yang panjang terurai sebahu sedang berdiri dibelakangnya dengan agung wajahnya tampak begitu cantik dan sikapnya begitu agung membuat orang merasa kagum dibuatnya.
"Ada urusan apa Nio-nio memangil aku?"
Tegur Gak Lam-kun kemudian dengan suara hambar.
"Pun-kiong benar-benar ada urusan penting yang hendak dibicarakan denganmu, bagaimana kalau kita masuk keruang belakang dulu untuk membicarakan persoalan ini?"
"Aku rasa kalau ada persoalan katakan saja di sini, toh disini atau disana juga sama saja"
Dari belakang terdengar suara Si Tiong-pek berseru sambil tertawa ringan.
"Saudara Gak, siaute berjalan setindak dulu kutunggu kedatanganmu dalam perahu!"
"Si toako tunggu sebentar"
Suara teriakan Ji Kiu-liong berkumandang pula.
"siaute ikut engkau lebih dulu!"
Habis berkata Ji Kiu liong melompat turun pu la keperahu kecil, dan kedua orang itupun mendayung sampannya menuju ke sebuah perahu besar yang membuang sauh beberapa puluh kaki jauhnya.
Sepeninggal kedua orang itu, Han Nio-nio baru berkata lagi sambil tertawa.
"Kalau toh engkau tak mau masuk ke dalam ruangan, baiklah kita bercakap cakap di luar sana, silahkan Gak siangkong"
Dengan tubuhnya yang tinggi semampai perempu an itu menuju ke belakang perahu lebih dulu kepada seorang pelaut dia ulapkan tangannya memerintahkan orang itu mengundurkan diri.
Setelah suasana disekitar sana jadi hening, Han Nio-nio baru membereskan rambutnya yang awut-awutan lalu sambil tersenyum ia berbatuk.
"Kehebatan ilmu silatmu, keketusan watakmu di tambah pula kebesaran nyalimu, sungguh merupakan suatu perpaduan yang baru pertama kali ini, aku Han Hu-hoa jumpai!"
"Kelihayan ilmu silat yang dimiliki Han Nio-nio juga baru kali ini kujumpai dalam dunia persilatan"
Sahut anak muda itu ketus.
Segulung angin berhembus lewat menyingkapkan gaun bajunya yang robek, hingga pahanya yang putih mulus kembali terlihat jelas.
Cepat tangannya menyambar gaun yang berobek itu dan menutupi pahanya yang kelihatan, pelan-pelan ia pejamkan matanya lalu berkata dengan sedih.
"Selama malang melintang dalam dunia persilatan hampir tiga puluh tahunan, aku cuma pernah takluk kepada dua orang"
"Dua orang tokoh silat macam apakah yang bisa peroleh kehormatan dari Nio-nio?"
Tanya Gak Lam-kun dengan perasaan ingin tahu. Ha Hu-Hoa tertawa.
"Yang satu adalah engkau dan yang lain adalah majikanku!"
Mula-mula Gak lam-kun agak tertegun, tiba-tiba selapis kemurungan melintas diatas wajahnya. Ha-Hu-hoa tertawa kembali ujarnya.
"Kalau kulihat dari kemurungan keputusan yang menyelimuti wajahmu tampaknya engkau punya kenangan masa lalu yang cukup menyedihkan hati, tapi kau musti tahu bahwa diantara sepuluh bagian di dunia ini ada delapan sampai sembilan bagian yang tak bisa diselesaikan dengan lancar. Sebagai anak muda kenapa pikiranmu tak bisa terbuka. Terus terang kukatakan kepadamu belasan tahun berselang kedaan kupun semua seperti dirimu sekarang, aaii..!"
Tiba-tiba ia menghela napas sedih, titik air mata mendadak mengembang dibalik kelopak matanya.
"Terima kasih atas petunjukmu"
Kata Gak Lam-kun cepat.
"Bila Nio-nio masih ada urusan cepatlah utarakan keluar"
Titik air mata mengembang dalam kelopak ma ta Hau Hu-hoa, dan akhirnya meleleh keluar membasahi pipinya.
"Sebenarnya aku ingin mengundang dirimu masuk ke perguruan panah bercinta kami, agar bisa menanggulangi masalah besar bersama sama majikan kami, tapi sekarang aku rasa kau pasti menolak tawaranku itu"
Ujarnya dengan sedih. Gak Lam-kun tertawa ewa.
"Terima kasih atas kebaikanmu, jika sudah habis perkataanmu, aku orang she-Gak segera akan mohon diri"
Setelah merangkap tangannya memberi hormat, dia putar badan dan berlalu dari sana.
"Gak siangkong, tunggu sebentar!"
Teriak Han Hu-hoa lagi. Gak Lam-kun berhenti seraya berpaling, kemudian tegurnya.
"Masih ada perkataan apa lagi yang hendak kau Ucapkan?"
Pelan pelan Han Hu-hoa maju ke depan lalu menyahut.
"Apakah engkau sedikit memandang hina diriku karena aku menjadi budak orang lain?"
"Aku tidak tahu!"
Kembali Han Nio-nio menghela napas sedih "Setelah berpisah pada malam ini, entah dikemudian hari masih ada kesempatan untuk berjumpa lagi atau tidak, sekalipun kita hanya bertemu tanpa sengaja, aku Han Hu hoa mengucapkan semoga kau menjaga diri baik baik.......
Oya, masih ada satu urusan hendak kuperingatkan kepadamu, Si Tiong-pek dari perkumpulan Tiat-eng-pang adalah seorang manusia licik dengan akal busuk yang berbahaya.
kau musti berjaga-jaga atas manusia sema-cam itu"
Gak Lam-kun bukan manusia sembarangan sudah tentu diapun merasakan betapa liciknya manusia yang bernama Si Tiong-pek itu, terutama melihat bagaimana caranya menghindari kobaran hawa amarah akibat sindiran dari Han Hu-hoa tadi.
Perlu diterangkan disini, Si Tiong-pek bisa memimpin pasukan elang baja, tentu saja ilmu silat yang dimilikinya bukan termasuk golongan yang lemah, tindakannya tak mau bertarung melawan Han Nio-nio tadi memang merupakan suatu tindakan yang cerdik, sebab ia telah mengesampingkan kekuatan yang sebenarnya untuk digunakan merebut lencana pembunuh naga dibukit Kun-san.
Ia tak mau lantaran dua harimau yang berkelahi mengakibatkan dua belah pihak terluka hingga memberikan peluang yang baik bagi orang lain untuk mendapatkan keuntungan.
Gak Lam-kun sebagai orang yang berhak menerima Lencana Pembunuh Naga, sudah tentu mempunyai ilmu silat yang tinggi serta kecerdasan yang seimbang dengan kecerdikan gurunya Tok liong Cuncu dimasa lalu dengan kecerdasannya itu, masa ia tak dapat menebak jalan pikiran orang lain?
"Aku sudah tahu!"
Seru Gak Lam-kun kemudian sambil tersenyum. Dia menjura lantas berlalu pergi, tapi baru beberapa langkah, Han Hu-hoa sudah berseru lagi dengan manja.
"Gak sianngkong, bagaimana kalau kuperintahkan anak buahku untuk menyiapkan perahu bagimu?"
"Tak usah repot repot!"
Tiba-tiba dari belasan kaki sebelah depan sana berkumandang suara dari Si Tiong-pek.
"Gak heng, siaute telah siapkan perahu untuk menyambut kedatanganmu.....!"
Menyusul teriakan itu, perahu besar tersebut pelan-pelan bergerak maju kedepan dan sekejap kemudian sudah berada empat kaki dari perahu Han Nio-nio.
"Gak siang kong, baik baiklah jaga diri!"
Kata Han Hu-hoa kemudian sambil tertawa sedih.
Gak Lam-kun segera merangkap tangannya memberi hormat, kemudian sekali loncat dia sudah be rada diatas perahu elang raksasa yang berada dua kaki jauhnya itu.
Begitu anak muda tersebut sudah melayanag pergi, Han Hu hoa segera memerintahkan anak buah nya untuk menaikkan layar, kemudian dalam sepeminuman teh perahu itu sudah lenyap dari pandangan mata.......
Perahu tiang raksasa dari Si Tiong-pek terang ben derang bagaikan ditengah hari, sambil tersenyum simpul pemuda itu menyambut kedatangan Gak Lam-kun ditengah geladak.
Ji Kiu-liong juga mengikuti dibelakangnya, sedang dibelakang sipemuda berbaris delapan belas orang laki-laki bertubuh kekar, beralis mata tebal dan berbaju biru dengan sebilah pedang bergagang burung rajawali yang sedang merentangkan sayapnya tersoren di punggung.
Menyaksikan kedelapan belas orang manusia ber baju biru itu, Gak Lam-kun segera berpikir.
"Aku pikir kedelapan belas orang itu pastilah delapan belas elang baja yang dipimpin Si Tiong-pek dalam pasukan elang bajanya, aku lihat mereka rata-rata gagah perkasa dengan sorot mata yang tajam, jelas ilmu silat yang dimilikinya amat tinggi, tak heran kalau pasukan elang baja bisa populer dan disegani orang dalam dunia persilatan"
Ketika dia masih termenung, Si Tiong-pek sudah berseru sambil tertawa nyaring.
"Haaahh.......haaah.........haaahh........ Saudara Gak sedia menumpang diperahu kami kejadian tersebut merupakan suatu kebanggaan bagi kami semua, sambutlah penghormatan diri delapan belas elang baja anak buah kami......!"
Cepat-cepat Gak Lam-kun menjura.
"Kemampuan dan keehebatan apakah yang dimiliki aku orang she Gak, tak berani aku menerima sambutan dari delapan belas elang baja yang ramanya tersohor di dunia"
Sementara itu dari dalam ruang perahu berjalan seorang kakek cebol yang berbaju hitam dengan jenggot putih, badannya kurus seperti lidi dan senjatanya adalah sebuah tongkat berkepala ular hitam.
Dengan senyum tak senyum ia lantas berseru.
"Si lote, jago muda dari manakah yang telah datang sehingga memerlukan sambutan semeriah ini. Suara teriaknya itu menyeramkan, ditambah pula badannya yang kurus kecil melambung seperti setan gentayangan, membuat siapapun yang melihatnya merasa kurang begitu senang. Sedingin salju panas muka Gak Lam-kun bahkan melirik sekejappun ke arahnya tidak, dia malahan menengadah sambil memandang bintang bintang yang bertaburan di angkasa. Menyaksikan kecongkakan orang, kakek cebol itu semakin naik pitam, ia tertawa dingin tiada hentinya dengan suara yang menggidikkan hati.... Si Tiong-pek yang menyaksikan kejadian itu alis matanya kontan berkenyit, tapi cepat ia tertawa nyaring.
"Ou thamcu, saudara ini adalah Gak Lam-kun sauhiap, dialah yang barusan mengalahkan Han Nio-nio dari perguruan panah bercinta!"
Kakek cebol yang kurus kering itu tertawa dingin tiada hentinya dengan suara yang mengerikan.
"Heehh..... heeeeh.... Heeeh..... ombak di belakang sungai Tiangkang mendorong ombak yang di depannya, kembali dalam dunia persilatan telah muncul seorang toa-enghiong yang gagah perkasa"
Sengaja perkataan yang terakhir itu diucapkan dengan nada memanjang, sudah tentu nadanya adalah nada mencemooh. Diatas wajah Gak Lam-kun yang dingin tiba-tiba tersungging sekulum senyuman ia bertanya.
"Saudara Si konon anggota elang bajamu itu terdiri dari manusia-manusia gagah yang kosen dan berilmu tinggi, tolong tanya apakah dia juga seorang anak buahmu?"
Kakek cebol berambut putih itu merupakan seorang jagoan yang angkuh dan tinggi hati, sudah tentu dia tak tahan mendengar sindiran dari Gak Lam-kun, maka sebelum Si Tiong-pek menjawab dia sudah membentak lebih dulu dengan nyaring.
"Bagus sekali! Kau si bocah kunyuk memang pingin mampus!"
Begitu selesai berkata, tongkat kepala ularnya langsung menyokot kemuka dengan jurus hui-pau-bong-cwen (air terjun merupakan sumber mata air) Ji Kiu-liong yang berdiri disamping Gak Lam-kun bertindak cepat, sebelum saudaranya bertindak tiba-tiba dia cabut keluar pedangnya, kemudian pergelangan tangannya digetarkan menciptakan dua kuntum bunga pedang yang langsung manabas tubuh lawan.
"Kakek cebol, rupanya kau gemar bertarung? Hayo hadapilah seranganku ini!"
Hardiknya.
Kakek cebol berambut putih itu tertawa dingin tubuhnya mengigos kesamping kemudian menerobos maju kemuka secara tiba-tiba, jari tengah dan jari telunjuknya di kakukan bagaikan tombak, kemudian disodoknya jalan darah Hian-ki-hiat di tubuh Ji Kiuliong dengan keras.
Ji Kiu-long tak berani gegabah, cepat dia mundur setengah langkah, kemudian pedangnya dengan menciptakan selapis cahaya yang menyilaukan mata balas menusuk ke depan.
0000000000 KAKEK berambut putih itu kembali menyelinap ke samping melepaskan diri dari ancaman tersebut, tiba-tiba ia membentak.
"Lepas tangan!"
Toya kepala ularnya menyodok pergelangan tangan kanan Ji Kiu-liong yang memegang pedang, dan ....
"Criiing!"
Diiringi dengusan tertahan bocah laki-laki itu, pedangnya benar-benar terjatuh dari genggaman.
"Kau juga lepas tangan!"
Tiba-tiba bentakan lain berkumandang memecahkan kesunyian.
Bagaikan sambaran sukma gentayangan, tahu tahu Gak Lam-kun sudah menyusup datang, tangan kirinya membabat pergelangan tangan kanan si kakek cebol, sedang tangan kanannya melancarkan sebuah totokan aneh.
Sambil berkerut kening cepat-cepat kakek cebol itu mundur dua langkah, begitu terhindar dari kebasan tangan kiri dan sodokan jari lawan, dengan membawa deruan angin pukulan yang tak kalah cepatnya dia lepaskan pula sebuah serangan balasan.
Sungguh dahsyat tenaga serangannya itu.
Ibaratnya bendungan yang jebol dilanda air bah, bisa dilayangkan berapa besar tenaga dorongan yang dihasilkan oleh pukulan itu?
Ketika dua gulung angin pukulan saling bertemu jadi satu, tidak terjadi benturan apapun, bahu si kakek cebol itu cepat bergoyang untuk membuang daya tekanan yang menekan dirinya, namun toh badannya terdorong mundur juga dua langkah.
Sebaliknya Gak Lam-kun juga tidak berhasil meraih keuntungan apa apa, sambil mendengus, tubuhnya terdorong mundur setengah langkah.
Setelah terjadi bentrokan kekerasan, kedua belah pihak sama sama mengagumi kehebatan tenaga dalam yang dimiliki musuhnya, merekapun tahu bahwa musuh yang sedang dihadapi adalah musuh yang paling tangguh, untuk sesaat kedua belah pihak tak ada yang berani melancarkan bentrokan untuk kedua kalinya.
Saat itulah Si Tiong-pek menyela sambil tertawa tergelak.
"Haaahhh..... haaahhh..... haaahhh..... kagum, kagum! Ternyata tenaga dalam yang dimiliki kalian berdua memang seimbang! Itulah yang dinamakan kalau tidak saling bertarung tidak akan saling mengenal, kebanyakan orang persilatan baru akan kenal jika sudah terjadi pertarungan. Saudara Gak, untuk kejadian tersebut harap engkau jangan marah. Saudara ini juga merupakan seorang jagoan yang ternama dalam dunia persilatan, orang menyebutnya sebagai Tang-hay coasiu (kakek ular dari lautan timur) Ou Yong-hu, kini jabatannya adalah Thamcu ruang elang sakti dari perkumpulan kami. mari...... mari..... mari ..... kita semua bersama sama minum seteguk arak dalam ruangan"
Ketika mendengar disinggungnya nama "Tang-hay-coa-siu Ou Yong-hu"
Paras muka Gak Lam-kun agak berubah, dendam sakit hati karena kematian gurunya Tok-liong Cuncu segera berkobar kembali dalam rongga dadanya, tanpa sadar ia bergumam.
"Diantara tujuh belas orang musuh besarku, ada sepuluh orang yang sudah tewas ditanganku, sisanya yang tujuh orang sukar dilacaki jejaknya, sungguh tak disangka sekarang aku berhasil temukan seorang Ou Yong-hu lagi jadi, selama ini dia bersembunyi dalam perkumpulan elang baja... pantas jejaknya sukar ditemukan...... Ou Yong-hu wahai Ou Yong-hu..... saat kematianmu sudah tiba"
Berpikir sampai disitu, tiba-tiba dalam benaknya terlintas kembali pesan Tok-liong Cuncu sebelum tiba ajalnya.
".......diantara tujuh belas orang musuh besarku rata-rata mereka merupakan gembong iblis yang berilmu silat amat tinggi terutama sekali Si kakek ular dari lautan timur Ou Yong-hu mereka merupakan jago-jago yang berilmu paling tinggi, bahkan kungfu mereka yang satu lebih hebat dari yang lain Dalam catatan musuh besarku sudah kucatat masing-masing keistimewaan ilmu silat yang mereka miliki, bila kau jumpai salah seorang diantara ke tujuh orang itu, maka sebelum membalas dendam lebih baik periksalah dulu catatan musuh besarku!"
Teringat sampai disitu, hawa amarah dan rasa dendam yang semula berkobar di rongga dada Gak Lam-kun, tiba-tiba berhasil dikendalikan kembali, lagi pula dia tahu bahwa dialah yang mencatut nama gurunya untuk menuntut balas bila rahasianya terbongkar, niscaya orang persilatanpun akan mengetahui pula rahasia dibalik kemunculan Tok liong Cuncu dalam dunia persilatan.
Begitu selesai mempertimbangkan untung ruginya, dengan cepat paras muka Gak Lamkun pulih kembali seperti sedia kala.
Baik Si Tiong-pek maupun Ou Yong-hu sama-sama merasakan pula perubahan wajah Gak Lam-kun, cuma mereka mengira anak muda itu sedang terperanjat setelah mengetahui nama besar dari Tang-hay-coa-siu, maka sekulum senyuman tanpa terasa tersungging diujung bibir Ou Yong-hu.
"Sungguh hebat ilmu silatmu"
Demikian ujarnya kemudian.
"aku Ou Yong-hu merasa amat kagum!"
Gak Lam-kun tersenyum.
"Aaah..... cuma ilmu silat kucing kaki tiga, malu untuk dibicarakan!"
Cepat Gak Lam-kun menyanggah.
"Heeeehhh..... heeeehhh..... heeeehh........ mana, mana....."
Tang hay-coa-siu Ou Yonghu tertawa seram.
"Aku Ou Yong-hu sudah memastikan diri untuk bersahabat lote!"
"Hmmm.......! Ou Yong-hu, engkau telah perkenalan dengan setan pencabut nyawa dari mereka!"
Menyumpah Gak Lam-kun dalam hati kecilnya. Betul senangnya Si Tiong-pek setelah menyaksikan suasana yang semula serba kaku kini berubah jadi tenang kembali, ia lantas berseru dengan lantang.
"Saudara Gak betulbetul seorang jagoan lihay yang sukar ditemui di dunia ini, sungguh beruntung aku bisa berkenalan dengan dirimu. Mari-mari kita masuk ke dalam ruangan dan minuman arak sambil bercakap-cakap!"
Berbicara sampai disitu, Si Tiong-pek melangkah masuk ke dalam ruangan lebih dahulu diiring salam hormat dari ke delapan belas elang baja yang berjajar di sekeliling sana.
Perlu diterangkan disini bahwasanya ke delapan belas elang baja itu adalah jago jago berilmu tinggi, hal ini rasanya tak perlu diterangkan lagi selain itu mereka juga berwatak tinggi hati.
Dihari-hari biasa mereka tak pernah pandang sebelah matapun terhadap kawanan jago silat yang ditemuinya.
Tapi keampuhan angin pukulan yang didemontrasikan Gak Lam-kun tadi telah menimbulkan rasa hormat dihati kecil mereka, maka tanpa sadar timbul pula rasa kagumnya dihati mereka semua untuk menghormati jagoan muda itu.
Gak Lam-kun segera merangkap tangannya balas memberi hormat.
"Terima kasih banyak atas perhatian saudara sekalian!"
Ujarnya.
Ruang dalam perahu itu luas sekali, kemewahan dan kemegahannya tidak kalah dengan perahu milik Han Nio-nio.
Si Tiong-pek, Ou Yong-hu, Gak Lam-kun dan Ji Kiu-hong serentak masuk ke dalam ruangan.
Mereka duduk disebuah ruangan mungil yang dia tur dengan arsitek tinggi, empat dilapisi kain hor den berwarna biru langit, sebuah meja yang indah teratur ditepi jendela dan aneka masakan yang lezat telah dihidangkan di depan meja.
"Silahkan saudara Gak!"
Ujar Si Tiong-pek.
Maka diiringi pembicaraan yang amat santai, keempat orang itu duduk berbicara sambil menikmati hidangan.
Ji Kiu-liong tak pandai minum arak, setelah mereguk beberapa cawan, ia lantas berhenti, sebaliknya Gak Lam-kun, Si Tiong-pek maupun Ou Yong-hu mempunyai takaran minum yang luar biasa.
Dalam waktu singkat puluhan cawan sudah di teguk ke dalam perut.
Si Tiong-pek adalah seorang jago kawakan yang sudah berpengalaman, ia berkenalan dengan Gak Lam-kun memang disertai dengan suatu rencana besar yakni menariknya masuk kedalam perkampungannya, tapi sampai perjamuan di langsungkan, niat tersebut sama sekali tak disinggung, bahkan pembicaraan yang berlangsungpun hanya pembicaraan yang santai-santai.
Akhirnya Gak Lam-kun tak kuasa menahan diri, mendadak dia alihkan pembicaraan ke pokok persoalan yang sebenarnya tanyanya.
"Saudara Si, konon aku dengar Tok-liong Cuncu yang namanya pernah menggetarkan dunia persilatan dimasa lalu telah memunculkan diri kembali, malah katanya pertengahan bulan delapan ini akan datang ke bukit Kun-san untuk menerima lencana pembunuh naga, benarkah ada kejadian seperti itu........?"
Berbicara sampai disitu, dengan ujung matanya Gak Lam-kun melirik sekejap ke arah Tang-hay-coa-siu.
Betul juga paras muka kakek cebol itu segera diliputi oleh kemurungan dan kekesalan yang sangat tebal.
Si Tiong-pek segera menghela napas panjang seraya menjawab.
"Kemunculan Tokliong Cuncu dalam dunia persilatan sudah mulai tersiar sejak tiga tahun berselang, mengenai kehadiran Tok-liong Cuncu di bukit Kun-san untuk menerima lencana pembunuh naga pada pertengahan bulan delapan nanti, hal ini merupakan suatu janji Tok-liong cuma dengar Soat san thian li yang telah berlangsung dua puluh tahun berselang, tapi sejak Tok-liong Cuncu tewas dibelakang tebing Yan-po-gan dibukit Hoa-san peristiwa itu juga sudah dilupakan oleh orang-orang persilatan, tapi anehnya dua puluh tahun kemudian tiba-tiba si Datuk naga beracun itu muncul kembali dalam dunia persilatan, ini mengakibatkan kawanan jago dari pelbagai perguruan telah berkumpul semua di wilayah Siang-pek. Aku dengar tidak sedikit jumlah manusia yang berkumpul disini. Yaa beberapa hari kemudian suatu perebutan mustika tak bisa dihindari lagi, entah berapa banyak manusia lagi yang bakal tewas peristiwa akibat Lencana Pembunuh naga? bagaimanakah keadaan yang sebenarnya, aku sendiripun kurang begitu jelas, tapi terus terang saja kukatakan kedatangan siaute kesini juga lantaran Lencana Pembunuhan naga itu, Apakah kehadiran saudara Gak dan saudara Ji juga disebabkan benda mustika tersebut.......?"
"Aaaah....... aku orang she-Gak dengan adik Liong ku ini cuma mengembara didalam dunia persilatan tanpa tujuan tertentu, adapun kehadiran kami kesini pun tak lebih cuma ikut menonton keramaian belaka. Mengenai soal Lencana pembunuh naga..... Haaahh..... haaahhh..... Aku orang she-Gak tak lebih hanya mempunyai perasaan ingin tahu."
Mendengar jawaban tersebut Si Tiong-pek segera menengadah dan tertawa terbahakbahak.
"Haaahhh..... haaahhh...... haaahhh..... bagus sekali, bagus sekali sebagai anak muda memang harus mempunyai perasaan ingin tahu, cuma kalau toh kedatangan saudara Gak bukan lantaran lencana pembunuh naga, maka ada baiknya kalau jejak lain mulai kini lebih dirahasiakan, daripada mengundang datangnya segala kerepotan yang tak inginkan haahh..... haaahh......... haaahh......"
Si Tiong-pek kembali tertawa bergelak, dengan sepasang matanya yang jeli dia melirik sekejap wajah Gak Lam-kun, kemudian lanjutnya lebih jauh.
"Haaahh.... haaahh.... haaahh..... ilmu silat yang dimiliki saudara Gak sangat tinggi, tentu saja kau tak takut urusan, cuma saudara Gak harus waspada terhadap segala kelicikan serta kebusukan hati orang-orang persilatan, seringkali mereka lebih mengutamakan tercapainya tujuan daripada mengindahkan keselamatan serta kebajikan, sebab banyak urusan yang tak bisa dihadapi hanya mengandalkan dengan kekuatan ilmu silat belaka"
Perkataan tersebut betul-betul berpengalaman dan bermaksud luas, selain memberi peringatan ke pada Gak Lam-kun, diapun seakan-akan sedang berusaha menyelidiki suara hati lawannya, dari sini dapat diketahui bahwa Si Tiong-pek memang seorang manusia yang amat licik.
"Terima kasih banyak atas petunjukmu!"
Jawab Gak Lam-kun hambar. Sementara itu, Ji Kiu-liong yang berada disisinya ikut menimbrung pula dengan mata melotot besar .
"Sebetulnya watak toako lembut dan baik hati, tapi bila ada orang berani mencari urusan dengannya, maka dia akan menjatuhkan hukuman yang berat kepadanya, tapi bila orang tidak memusuhinya, diapun segan untuk mencampuri urusan orang lain. Maka Si toako, bila kau masih ada persoalan katakan saja cepat-cepat, sebab kami masih ada urusan lain yang perlu diselesaikan!"
Si Tiong-pek tertawa nyaring.
"Saudara cilik. Kau memang orang pintar pandai berbicara, tindakanmu itu tak malu disebut sebagai tindakan seorang jagoan muda, kemanakah kalian berdua akan pergi selanjutnya? Mari sekalian kuhantar, dengan demikian bukan saja tak usah membuang waktu dengan percuma, kitapun bisa memanfaatkan waktu dalam perjalanan sambil bercakap cakap"
"Kami akan berhenti di kota Gak-ciu dekat bukit Kun-san"
Jawab Gak Lam-kun cepat.
"tolong saudara Si hantar kami kesana saja"
"Aaah...... kita memang sejalan dan setujuan, apa salahnya kalau kita menempuhnya bersama?"
Ujar Si Tiong-pek seraya tertawa dan gelengkan ke palanya berulang kali.
Sejak Gak Lam-kun menyinggung tentang diri Datuk naga beracun, Si kakek ular dari lautan timur Ou Yong-hu cuma membungkam diri tanpa berbicara, dengan sendirinya Gak Lam-kun juga tak dapat menebak begaimana jalan pikirannya itu.
Ditengah keheningan, tiba-tiba Ji Kiu-liong bertanya.
"Si Toako. Barusan kau mengatakan bahwa kawanan jago persilatan berbondong-bondong telah mendatangi sekitar bukit Kun-san untuk ikut memperebutkan Lencana pembunuh naga, tolong tanya benda macam apakah Lencana pembunuh naga itu sehingga demikian berharganya sampai semua orang tak segannya menempuh perjalanan jauh demi benda itu?"
Si Tiong-pek tertawa ringan.
"Saudara Ji, kamu sudah tahu pura-pura bertanya ataukah sungguh sungguh tidak tahu?"
"Tentu saja tidak tahu, tolong Si toako bersedia memberi penjelasan....."
Si Tiong-pek seperti takut rahasianya yang berharga itu sampai diketahui orang. Dia termenung sebentar sebelum akhirnya menjawab.
"Berita tentang betapa berharganya Lencana Pembunuh naga terdiri dari aneka macam raganya. Tiap orang persilatan mempunyai versi cerita yang berbeda. Aku tak bisa memberi jawaban yang sesungguhnya kepadamu......"
Ji Kiu-liong memang seorang setan cerdik yang cilik, dia tahu Si Tiong-pek enggan membicarakan rahasia itu, maka dia sengaja mendesaknya lebih lanjut, kembali ujarnya sambil tertawa.
"Kalau begitu bicarakanlah secara singkat, Si-toako tentunya engkau tidak keberatan bukan?"
Si Tiong-pek benar-benar dibuat serba salah hingga mau menangis tak bisa mau tertawapun enggan, tapi diapun tahu jika dirinya menolak untuk memberi keterangan, orang pasti akan menuduh jiwanya terlalu sempit.
Akhirnya sesudah merenung sebentar, dia lantas menengadah ke arah Gak Lam-kun dan balik bertanya sambil tertawa.
"Saudara Gak, apakah engkau mengetahui raha sia tentang Lencana Pembunuh Naga itu?"
"Tidak!"
Si Tiong-pek segera terbahak bahak.
"Haaahhh..... haaahhh..... haaahhh..... konon dimana tersimpan harta karun didalam petunjuk lencana pembunuh naga terdapat juga se
Jilid kitab pusaka yang tak ternilai harganya serta sebilah pedang emas yang tajam sehingga rambut yang ditiupkan ke atasnya akan putus, juga terdapat seorang gadis cantik jelita bak bidadari dari kahyangan serta emas permata yang tak terhitung jumlahnya"
"Kalau dikatakan lencana pembunuh naga menyimpan kitab pusaka, dengan mustika dan emas permata siapa saja akan percaya, bagaimana mungkin menyangkut pula seorang gadis yang cantik jelita?"
Sela Ji Kiu-liong keheranan. Si Tiong-pek kembali tertawa misterius.
"Apa yang kudengar hanya terbatas pada berita yang tersiar dalam dunia persilatan tentu saja keadaan yang sebenarnya tidak kuketahui".
"Tapi.... tentu saja tanpa angin pohon tak akan bergoyung, masa orang akan menyiarkan berita bohong tanpa wujudnya?"
Gumam Ji Kiu-liong seorang diri, kalau bilang ada pedang dan kitab si orang percaya saja, tapi kalau dibilang bisa mendapatkan gadis cantik... aaah, aku tak akan percaya!"
Si Tiong-pek tidak memperdulikan gumaman orang, ujarnya lebih jauh.
"Saudara Gak kita sudah berbicara lama sekali, tapi belum kuketahui siapakah nama gurumu?"
Ketika mendengar pertanyaan itu, sepasang mata Tan-hay coa-siu Ou Yong-hu yang jeli segera menatap tajam wajah Gak Lam-kun, dia ingin sekali mengetahui asal perguruan dari Gak Lam-kun setelah ia gagal untuk menebaknya sendiri terutama setelah pemuda itu berhasil memunahkan pula sebuah pukulan dahsyat yang lancarkan tadi.
Gak Lam-kun menghela napas sedih sahutnya.
"Guruku sudah lama tutup usia, maaf bila aku tak akan sebutkan namanya daripada menambah kepedihan hatiku"
Jawaban itu sungguh bikin hati orang kecewa tapi Ou Yong-hu yang licik dan banyak tipu muslihatnya mendadak teringat akan sesuatu.
kecurigaannya segera timbul.
Kepada Si Tiong-pek tiba-tiba tanyanya dengan nada menyeramkan.
"Si lote, kau selamanya adalah orang yang pintar, tahukah engkau bahwa berita tentang kemunculan kembali Tok-liong Cuncu dalam dunia persilatan adalah sebuah berita yang patut dicurigai?"
Ketika mengucapkan kata-kata tersebut, dengan ujarnya matanya Ou Yong-hu melirik sekejap ke wajah Gak Lam-kun. Diam diam Gak Lam-kun tertawa dingin didalam hati, pikirnya.
"Ou Yong-hu kau jangan harap bisa mendapatkan keterangan apapun dari perubahan wajahku!"
Yaa, memang!
Paras muka Gak Lam-kun ketika itu amat dingin dan kaku, sedingin salju ditengah bukit yang tinggi membuat orang sukar untuk merasakan perubahan wajahnya.
Si Tiong-pek manggut-manggut lirih.
"Ketika berada di puncak Hong-po-gan bukit Hoasan tempo dulu, Tok-liong Cuncu sudah terkena delapan buah tusukan pedang yang mematikan, tiga buah pukulan beracun yang amat jahat, dua belas batang senjata rahasia yang amat beracun selain obat pemutus usus yang diminumnya lebih dulu sebelum pertempuran, kemudian sesudah terluka parah tubuhnya terjatuh pula ke dalam jurang dengan air terjun yang amat dahsyat, aku pikir sekalipun dia dewa juga jangan harap bisa lolos dari lubang kematian......"
Mendengar kembali kisah pembunuhan terhadap gurunya yang mengerikan, hawa amarah serasa mendidih dalam dada Gak Lam-kun, hampir saja ia menjerit dan menghajar musuh besar yang berada dihadapannya, meski demikian, paras mukanya sedikitpun tidak berubah.
Setelah selesai berkata Si Tiong-pek lantas berpaling ke arah Gak Lam-kun sambil bertanya.
"Saudara Gak, apakah engkau tahu juga tentang peristiwa berdarah di bukit Hoa-san tebing Yan-po-gan tersebut?"
Gak Lam-kun tertawa.
"Kalau dibicarakan kembali, sesungguhnya memalukan sekali, sebab walaupun aku orang she-Gak termasuk salah seorang anggota dunia persilatan, tapi oleh karena kurang suka bergaul, maka pengetahuanku mengenai peristiwa dalam dunia persilatan juga picik sekali. Tentang Tok-liong Cuncu, aku cuma tahu kalau dia telah dikerubuti oleh orang-orang persilatan yang mendendam kepadanya, mengenai lainnya..... aku kurang begitu tahu"
Perkataan itu diucapkan dengan kata-kata yang sejujurnya, ditambah pula mukanya yang polos dan tidak berpura-pura, membuat orang jadi percaya bahwa perkataannya bukan kata-kata bohong.
Tang-hay-coa-siu Ou Yong hu tertawa dingin.
"Ilmu silat yang dimiliki Tok-liong Cuncu waktu itu memang sangat luar biasa, bila orang lain yang terkena pukulan dan tusukan sebanyak itu mungkin jiwanya akan segera melayang tapi dia memang jauh berbeda dengan orang lain"
"Waaah........jadi kalau begitu, dia benar-benar masih hidup di dunia ini.......?"
Seru Si Tiong-pek dengan kaget. Ou Yong-hu kembali tertawa dingin.
"Jika dia masih hidup, buat apa kukatakan kejadian ini sedikit mencurigakan?"
"Aduuh mak, kalau begitu aku malah dibikin tak mengerti dengan teka teki dibalik ucapan Ou thamcu!"
"Si lote tahukah kau racun pemutus usus yang diminum Tok liong Cuncu tempo hari adalah buatan siapa?"
Si Tiong-pek menggeleng. Sambil tertawa seram Ou Yong-hu berkata lebih jauh.
"Dalam dunia dewasa ini masih ada siapa lagi yang mampu membuat obat racun lebih dahsyat daripada Jit-poh-toan-hun (tujuh langkah pemutus nyawa) Kwik To sianseng?"
"Bagus sekali!"
Pikir Gak Lam-kun dalam hati kecilnya dengan gemas.
"Jadi Jit-pohtoan-hun Kwik To lah pembunuh utama yang menyebabkan kematian guruku!"
Ketika Ou Yong-hu menyebutkan nama orang itu, sepasang matanya dengan cepat melirik sekejap ke atas wajah Gak Lam-kun, tapi ia kembali ia merasa kecewa. Kembali Tang-hay-coa-siu berkata lagi.
"Arak beracun pemutus usus itu dibuat oleh Kwik To sianseng sebagai sejenis arak beracun yang bersifat amat keras, besar sekali daya pengaruhnya bila terteguk kedalam perut seseorang. Pada mulanya kami kuatir Tok-liong Cuncu tahu rencana busuk kami dan tak sudi meneguk habis arak beracun yang telah dipersiapkan, maka ketika menciptakan racun itu kami membubuhkan racun yang berdaya kerja sangat hebat, dimana asal Tok-liong Cuncu hanya meneguk setetes saja, sekalipun ia mencoba untuk mendesak keluar racun itu dari tubuhnya namun tak akan bisa menghindari suatu kematian yang mengerikan setelah racun tersebut mengeram selama belasan tahun dalam tubuhnya. Yaa, waktu itu Tok-liong Cuncu memang tidak menghabiskan arak racun yang kami siapkan, sekalipun demikian bukan berarti Tok-liong Cuncu tak akan mati apalagi tubuhnya yang terkena tiga buah pukulan rata-rata pukulan beracun yang amat dahsyat"
"Kalau memang begitu, lantas menurut anggapan Ou Thamcu, siapakah yang telah muncul diri didalam dunia persilatan sebagai Tok-liong Cuncu itu?"
"Kalau ditinjau dari tanda-tanda kematian yang dialami Kang lam Tiat-san-cu sekalian bersepuluh..... mereka memang terkena oleh Ton-liong jin (cakar naga perenggut nyawa) itu senjata rahasia andalan Tok-liong Cuncu dimasa lalu, konon menurut orang melihat kemunculannya, baik potongan badan maupun dandannya persis dengan Tok-liong Cuncu. Wajahnya juga mengenakan topeng kulit berkepala naga yang sama. Meski begitu aku berani yakin bila Tok-liong Cuncu sudah lebih banyak mampusnya daripada hidupnya kalau belakangan ini dalam dunia persilatan tersiar berita yang mengatakan bahwa Tokliong Cuncu telah muncul kembali, sudah pasti hal itu merupakan perbuatan dari muridnya"
Si Tiong-pek melirik sekejap ke arah Gak Lam-kun, kemudian gelengkan kepalanya berulang kali.
"Seandainya Tok-liong Cuncu mempunyai anak murid kenapa dalam dunia persilatan tidak tersiar berita tentang hal ini?"
Dalam pembicaraan yang berlangsung selama ini rupanya Tang-hay-coa-siu Ou Yonghu tidak berhasil mendapatkan sesuatu yang mencurigakan diwajah Gak Lam-kun, dan agaknya kejadian ini membuat hatinya jadi mendongkol, dia lantas menghela napas.
"Lohu yakin kalau kejadian ini besar kemungkinannya adalah demikian. Cuma tentu saja masih terbatas pada perkiraan belaka"
Diam-diam Gak Lam-kun tertawa dingin. pikirnya.
"Heeehhh..... heeeehh..... heeeehh...... sekalipun Cuma anak muridnya, jangan harap kalian bisa lolos dari cengkeraman mautnya"
Sementara dia masih termenung, Si Tiong-pek sudah berkata sambil tertawa ringan.
"Ou thamcu. sekarang kau adalah seorang thamcu dari perkumpulan elang baja, ilmu silatmu juga luar biasa lihaynya, sekalipun Tok-liong Cuncu itu berilmu tinggi, tak nanti dia berani mengganggu seujungpun rambut dari anggota anggota Tiat-eng-pang"
Dengan perkataannya jelas dia mengartikan bahwa seandainya Tang hay coa siu Ou Yong-hu sampai dicari oleh Tok-liong Cuncu untuk dibunuh.
maka seluruh jago lihay dari Tiat-eng-pang akan serentak membantu dipihaknya........
Tiba-tiba Tang-hay-coa-siu Ou Yong-hu menengadah sambil tertawa seram.
"Haaahhh.... haaaahh.... haaahhh.... masih mendingan kalau Tok-liong Cuncu tidak datang kebukit Kun-san, asal ia berani berkunjung kebukit Kun-san, akan kami buat orang itu tak mampu lolos dari jebakan langit dan bumi yang kami atur"
Mendengar perkataan itu, Gak Lam-kun merasa hatinya agak tergerak, segera pikirnya.
"Masa mereka sudah mengadakan persiapan? Suhu sendiri juga tewas oleh siasat busuk yang mereka susun, aku tak boleh terlalu gegabah menghadapi mereka......"
Ji Kiu-liong mengetahui jelas asal usul dari Gak Lam-kun, diapun dengan jelas menyaksikan adu otak yang sedang berlangsung antara ketiga orang itu, maka cepatcepat dia unjukkan pula sikap seakan akan tidak tahu urusan.
Tiba-tiba Gak Lam-kun buka suara, ujarnya ke pada Si Tiong-pek.
"Pengetahuan yang dimiliki saudara Si sungguh amat luas, apa yang kudengar malam ini ibaratnya bersekolah selama sepuluh tahun, semua kebodohanku selama ini dapat diungkapkan sedikit demi sedikit. Oya, ada satu urusan ingin kutanyakan kepada saudara Si, apakah kau bersedia memberi petunjuk?"
"Aaah..... mana tahu"
Si Tiong pek tertawa lirih.
"saudara Gak terlalu sungkan, tentu saja kalau aku mengetahui tentang persoalannya, akan kuterangkan sejelas-jelasnya"
Gak Lam-kun merenung sebentar dengan wajah membesi, kemudian ujarnya.
"Atas kebaikan dan kepercayaan nona Han yang kujumpai malam tadi, sebenarnya dia hendak mengajak siaute untuk masuk menjadi anggota perguruan panah bercinta, padahal siaute boleh dibilang merasa asing terhadap segala sesuatu yang menyangkut perguruan Cingcian-bun tersebut, maka bila saudara Si tidak keberatan, bersediakah kau terangkan segala sesuatu yang menyangkut perguruan itu?"
Agak terperanjat Si Tiong-pek ketika mendengar perkataan itu, segera pikirnya.
Meskipun asal-usul orang ini tidak begitu jelas, tapi kelihayan ilmu silat yang dimilikinya mungkin tidak lebih lemah daripada Ou Yong hu pada hal sejak Cing-cian-bun muncul dalam dunia persilatan, pengaruhnya meluas sampai dimana-mana, terutama sebagai saingan utama dari perkumpulan kami, bila manusia berbakat semacam Gak Lam-kun sampai kena ditarik oleh pihak Cing-cian-bun, maka peristiwa ini tanpa serasa justru akan menambah daya pengaruh mereka, yaa, bagaimanapun, juga aku harus berusaha untuk menariknya ke pihakku"
Ingatan tersebut secepat kilat melintas dalam benak Si Tiong-pek. dia lantas tersenyum.
"Saudara Gak"
Ujarnya kemudian.
"jadi engkau sudah menyanggupi tawaran dari Han Nio-nio untuk bergabung dengan pihak Cing-cian-bun?"
Gak Lam-kun segera menggeleng tanda belum.
Jangan dilihat usia Si Tiong-pek masih muda.
Pada hakekatnya dia adalah seorang manusia yang berotak cerdas, begitu menyaksikan gerak gerik Gak Lak-kun, dia lantas tahu bahwa manusia semacan ini bukanlah manusia yang gampang dipergunakan tenaganya, sudah tentu tanpa ditanyapun dia sudah tahu kalau Gak Lam-kun tidak secepat itu menggabungkan diri dengan pihak Cing-cian-bun.
Paras muka Si Tiong-pek berubah jadi serius, ujarnya dengan suara rendah.
"Saudara Gak! bukannya aku sengaja menjelek-jelekkan orang, tapi jika saudara Gak sudah menyanggupi untuk menjadi anggota Cing-cian-bun, maka runyamlah keadaannya. Orang persilatan dewasa ini jarang sekali ada yang tahu tentang perguruan panah bercinta tersebut, tapi siaute bukan sombong nih! Sedikit banyak soal rencana busuk organisasi perguruan itu masih mengetahuinya juga. Mereka adalah suatu organisasi perkumpulan yang khusus menggunakan perempuan-perempuan cantik sebagai umpannya untuk membohongi kawanan jago di dunia ini agar bersedia menjual tenaganya bagi mereka serta bantuan mereka untuk mencapai suatu ambisi yang jahat terhadap umat persilatan!"
"Oya, lalu rencana ambisi apakah mereka tuju?"
Si Tiong-pek merenung sebentar sebelum akhirnya menjawab.
"Ambisi itu adalah suatu rencana yang busuk begitu kejam begitu, buas dan begitu jahatnya untuk menumpas seluruh umat persilatan di dunia ini. Kalau dibicarakan pada hakekatnya betul-betul membuat bulu kuduk orang pada bangun berdiri"
Diam-diam Gak Lam-kun tertawa dingin dalam hal kecilnya, ia membatin.
"Huuh...... aku rasa engkau sendiri tak tahu keadaan mereka yang sebenarnya, maka sengaja menjual kecap dan mengaco belo tak karaun.... sialan!"
Tapi diluaran dia pura-pura bertanya lagi.
"Apakah saudara Si tahu, siapakah ketua pergurua panah bercinta itu.......?"
Dengan cepat Si Tiong-pek menggeleng.
"Tentang soal ini aku rasa kecuali beberapa orang pentolan dalam perguruan Cing-cian-bun, tak seorangpun yarg akan tahu. Sebab orang luaran tak seorangpun yang tahu siapa gerangan ciangbunjin mereka, maaf, tentang soal ini siaute sendiripun kurang begitu jelas,"
Satu ingatan tiba-tiba melintas dalam benak Gak Lam-kun, dia kembali berpikir.
"Yaa benar, ketika kuajukan pertanyaan kepada Telapak tangan tunggal penenang jagat Siangkoan It, jago tersebut segera menunjukkan perasaan keberatan dan mengemukakan alasannya waktu itu bahwa dia mendapat perintah untuk merahasiakan hal itu. Atau mungkin Siangkoan It sendiripun tak tahu siapa nama majikannya? Wah, kalau begitu perguruan panah bercinta memang terhitung sebuah perguruan yang amat misterius"
Perahu melaju dengan lancarnya, waktu itu kentongan kelima sudah menjelang tiba, itu berarti fajar hampir menyingsing dari ufuk sebelah timur Tiba-tiba seorang laki-laki berbaju ringkas warna biru masuk kedalam seraya lapor.
"Komandan Si kota Gak-ciu sudah tiba!"
Si Tiong-pek mengangguk seraya mengulapkan tangannya mengundurkan orang itu. Gak Lam-kun segera berkata sambil tertawa.
"Waktu berlalu dengan cepat, berbicara setengah malaman tanpa terasa kota Gak-ciu sudah di depan mata, sayang siaute masih ada urusan yang harus diselesaikan, terpaksa aku harus minta diri dulu ke pada saudara Ou thamcu"
"Haaahhh..... haaahhh.... haaahhh...."
Si Tiong-pek tertawa tergalak, Mumpung perahu belum merapat, siaute ingin menggunakan kesempatan ini untuk menyampaikan sesuatu kepada saudara Gak cuma sukur rasanya untuk membuka suara".
Gak Lam-kun sudah dapat menebak persoalan apakah yang hendak disampaikan, maka berkata.
"Tak apa saudara Si, katakanlah!"
Dengan raut wajah yang bersungguh-sungguh Si Tiong pek berkata.
"Aku lihat saudara Gak gagah perkasa dan jiwa besar, sekalipun baru bertemu untuk pertama kalinya dengan saudara Gak, namun aku merasa engkaulah sahabatku yang paling berkenan dihati......."
Setelah berhenti sebentar, lanjutnya.
"Dan engkaulah yang paling mencocoki watak ku maka setelah kuketahui bahwa saudara Gak mengembara tak menentu tanpa tempat tinggal yang tetap, dengan memberanikan diri siaute ingin menawarkan diri untuk mengajak saudara bergabung dengan perkumpulan kami. Ilmu silat yang dimiliki saudara Gak amat lihay. Ditambah pula masih muda usia, asal kau setuju untuk menggabungkan diri dengan Tiat-eng-pang, Oh pangcu kami pasti akan menyelenggarakan suatu upacara besar dengan memimpin keempat thamcu kami untuk menyambut kedatanganmu.... Apalagi Saudara Gak juga tahu, dewasa ini dunia persilatan sedang mengalami goncangan besar dengan ancaman badai berdarah yang setiap saat bisa melanda seluruh jagad, padahal mereka yang menganggap dirinya sebagai sembilan partai besar dalam dunia persilatan tak pernah memandang sebelah matapun kepada kita, bila kita manusiamanusia persilatan tidak bersatu padu dalam wadah yang sama, niscaya kita-kita juga yang bakal menjadi sasaran pembunuhan bagi mereka yang kuat. Karena itu, bersediakah saudara Gak untuk bergabung dengan kami serta bersama sama angkat senjata melawan penindasan dari perguruan perguruan besar lainnya?"
Meskipun hanya suatu ajakan, namun tanpa di sadari pemuda itu sudah menerangkan pula tujuan dari perkumpulan Tiat-eng-pang ini membuat Gak Lam-kun diam-diam merasa terkejut.
Sekarang dia baru tahu kalau beginilah keadaan yang sebenarnya dari dunia persilatan tapi dari situ pula dia menjadi tahu bahwa ketua Tiat-eng-pang, Tiat eng-sin-siu (kakek sakti elang baja) Oh Bu-bong sebenarnya adalah seorang pemimpin dunia persilatan yang tak boleh dianggap remeh.
Tang-hay-coa-siu Ou Yong-hu ikut pula berkata "Saudara Gak, apa yang dia ucapkan memang benar, sekarang pertikaian dalam dunia persilatan telah dimulai, sekalipun kau memiliki ilmu silat yang tinggi, jangan harap kau bisa melawan anggota persilatan yang begitu banyak jumlahnya.
Memang perkumpulan Tiat-eng-pang yang sekarang bukan suatu perkumpulan orang-orang pandai belaka, tapi pada hakekatnya hampir semua orang pandai dari sembilan partai besar telah bergabung dalam perkumpulan Tia-tengpang kami bukan saja ilmu silat pangcu kami sangat lihay, lagi pula dia berjiwa besar dan penuh kebijaksanaan......."
Gak Lam-kun cuma tertawa ewa belaka, sementara dalam hati dia berpikir iapun berkata pula.
"Tiat-eng-sin-siu Oh Bu-hong ternyata memang seorang manusia luar biasa, buktinya orang yang bisa mengalahkan Teng-hay-coa-siu Oh Yong-hu tunduk seratus persen hanya dia seorang saja.
"Saudara Si, Ou-thamcu, maksud baik kalian biarlah kusimpan saja didalam hati. Sementara ini masih banyak urusan yang harus kuselesaikan, maka maaf kanlah daku jika tak bisa cepat-cepat mengambil keputusan"
"Haaahhh.... Haaahhh.... haaahhh.... apakah saudara Gak bersedia menggabungkan diri dengan Tian-eng-pang kami atau tidak, tentu saja kami tidak akan memaksa"
Kata Si Tiong-pek sambil tergelak.
"kalau toh begitu, harap saudara Gak bersedia mempertimbangkan kembali persoalan ini sebaik-baiknya. Yang pasti pintu Tiat-eng-pang selalu terbuka lebar lebar untuk menyambut kedatangan para jago dari seluruh kolong langit yang ingin menggabungkan diri. Nah, mari kita keringkan cawan yang terakhir demi kesejahteraan kita semua"
"Terima kasih atas kebaikan saudara Si!"
Sambil tersenyum Gak Lam-kun menjura, kemudian ia sambar cawan arak dimeja dan sekali teguk menghabiskan isinya.
Perahu elang raksasa sudah menepi ke pantai, di antar sendiri oleh Si Tiong-pek dan Ou Yong-hu, Gak Lam-kun.
serta Ji Kiu-liong segera berpamitan sambil melompat ke daratan.
"Semoga menjaga diri baik-baik!"
Masing-masing saling memberi hormat sebagai tanda perpisahan.
Maka perahu besar itupun meneruskan kembali pelayarannya menuju ketengah telaga, sekejap kemudian bayangan mereka sudah lenyap dibalik kegelapan.
Waktu itu fajar belum menyingsing, orang yang berlalu lalang ditengah jalan masih amat sedikit, Gak Lam kuu serta Ji Kiu liong segera mencari sebuah penginapan didekat dermaga untuk beristirahat, setengah harian lewat tanpa kejadian apa apa.
Kota Gak-ciu betul-betul merupakan sebuah kota yang amat besar diselatan sungai Tiang-kang dan diutara telaga Tong-ting-ou, bukan saja letak kota itu ditepi telagapun berdempetan dengan bukit yang permai, ini menyebabkan pemandangan disekitarnya tampak sangat indah menawan hati.
Tengah harinya, Gak Lam-kun serta Ji Kiu-liong kembali menyewa sebuah sampan untuk berpesiar di telaga.
Sampai itu hilir mudik kurang lebih tujuh li di luar dermaga, Gak Lam-kun duduk ditepi jendela sambil menikmati keindahan alam di sekeliling telaga, dalam keadaan seperti ini mukanya tetap dingin dan penuh diliputi kemurungan, sebaliknya Ji Kiu-liong masih kekanak-kanakan berdiri di ujung geladak sambil celingukan kesana kemari.
Tiba-tiba....
dari arah sebelah barat sana muncul sebuah sampan berwarna merah yang meluncur datang deagan kecepatan tinggi.
Ketika Ji Kiu-liong menyaksikan sampan berwarna merah itu indah menawan hati, dia lantas memerintahkan tukang perahu untuk menjalankan sampannya menyongsong kedatangan sampan merah itu.
Yang satu meluncur datang yang lain menyongsong pergi, ibaratnya dua buah anak panah yang terlepas dari busurnya, sekejap kemudian selisih jarak kedua buah perahu itu tinggal dua kaki saja.
Betapa terperanjatnya kedua orang tukang perahu itu setelah melihat sampan merah tersebut langsung menerjang keperahu mereka, cepat-cepat mereka mendayung dengan sekuat tenaga untuk memutar haluan perahu dengan menyingkir ke sebelah kiri.
Tapi rupanya sampan merah itu memang bermaksud mencari gara-gara, mendadak mereka putar haluan kembali dan meluncur pula ke muka untuk meneruskan terjangannya ke atas perahu yang ditumpangi Gak Lam-kun.
Merasakan gelagat tidak baik, terutama setelah dilihatnya orang hendak merusak mangkuk nasi mereka, serentak dua orang tukang perahu itu melompat bangun lalu dengan menggunakan dayung ditangan, mereka siap membela diri.
Ji Kiu liong tidak berpeluk tangan belaka, dia melompat keluar lalu merampas sebuah dayung dari tangan tukang perahu itu dan bersiap siaga menghadapi segala kemungkinan.
Ketika selisih jarak antara kedua buah perahu itu tinggal dua tiga depa belaka, serentak Ji Kiu-liong menggerakkan lengan kanannya dan menutul ujung perahu merah itu dengan dayung.
Pada saat itulah, tiba-tiba cahaya putih berkelebat keluar menyilaukan mata, tahutahu muncul sebilah pedang yang langsung menebas ke arah dayung Ji Kiu-liong diiringi gelak tertawa yang merdu.
"Hei, hati-hati dengan dayungmu, awas kalau kena di papas kutung....."
"Aaaah.....belum tentu!"
Cepat si anak muda itu putar pergelangan tangannya memutar dayung itu ke samping, kaki kirinya menginjak dipinggir perahu sementara kaki kananya menyongsong datangnya terjangan perahu itu sambil putar dayung dengan jurus Hong-im-pit-gwat (menyegel awan menutup rembulan).
Serangan itu ditujukan untuk memaksa lawan menarik kembali senjatanya.
Setelah itu sepasang kakinya direntangkan dan diapun melompat ke atas perahu lawan.
Bentakan nyaring segera menggelegar memecahkan keheningan jendela segera terpental lebar dan sesosok bayangan manusia berikut pedangnya menerobos keluar dengan kecepatan yang luar biasa.
Dengan lompatnya itu, orang tak justru sudah mendahului pemuda kita untuk berdiri lebih dulu diatas perahu yang ditumpangi Gak Lam-kun.
Ketika itu Ji Kiu-liong baru saja berdiri tegak ketika pedang lawan sudah menerobos tiba dengan membawa kilatan cahaya yang menyilaukan mata.
Buru buru Ji Kiu-liong menarik tubuhnya sambil melompat mundur ke belakang, dayungnya menyapu kedepan untuk menghalau serangan tersebut, tapi pergelangan tangan lawan sudah keburu berputar, ujung pedangnya dengan membawa getaran cahaya keperak perakan yang menyilaukan mata tahu-tahu mengancam urat nadi penting diatas pergelangan tangan kanan Ji Kiu-liong.
Sungguh cepat serangan pedang itu.
Rasanya jarang ditemui dikolong langit dewasa ini.
Ji Kiu-liong sangat terperanjat, ia merasa dua buah serangan pedang yang dilancarkan orang itu sedemikian cepatnya, sampai-sampai dia tak empat menyaksikan raut wajah lawannya yang sebenarnya.
Ketika pikirannya bercabang, sekali lagi dia kena didesak sehingga mundur selangkah ke belakang.
Lebar sampan kecil itu cuma beberapa kaki saja setelah didesak berulang kali oleh si baju merah, ia sudah mundur sampai ditepi perahu, tapi saat itu juga pemuda tersebut dapat melihat juga kalau musuhnya tak lebih hanya seorang nona cilik berusia empat lima belas tahunan yang mengenakan baju warna merah dengan muka seperti bunga Tho, rambut tergulung menjadi satu, mata yang jeli bibir yang mungil serta senyuman yang polos.
Setelah berhasil dengan serangan-serangannya nona kecil berbaju merah itu semakin tak mau mengalah, sambil tertawa cekikikan, pedangnya sekali lagi menggulung kedepan membacok tubuh bagian tengah dari anak muda itu.
Padahal Ji Kiu-liong sudah berdiri ditepi perahunya, bila ia sampai terdesak mundur selangkah saja, niscaya tubuhnya akan tercebur ke dalam te laga padahal pemuda itu masih bingung dan tak tahu bagaimana caranya untuk memecahkan jurus serangan lawan.
Gak Lam-kun yang berada dalam ruangan dengan wajah murung, kali ini tampil dengan sikap keheranan dia tahu ilmu silat yang dimiliki Ji-Kiu-liong cukup tangguh sebab sendirilah yang mendidik anak muda itu sejak kecil, tapi nyatanya untuk menghadapi seorang bocah perempuan dengan usia sebaya saja ia tak sanggup mempertahankan diri, malahan secara berulang-ulang kena didesak sampai tak bertenaga untuk melancarkan serangan balasan, siapa tak jadi kaget karenanya?
Dengan dahi berkerut Gak Lam-kun segera memberi petunjuk.
"Lam-hay-poh-liang (menangkap naga dilaut selatan)!". Waktu itu Ji Kiu-liong sedang gugup dan gelagapan setengah mati, maka demikian mendapat petunjuk dari Gak Lam-kun, seperti baru sadar dari impian, secepat sambaran petir tubuhnya melejit ke udara, lalu berputar keselatan mengikuti gerakan pedang, begitu berhasil merebut posisi ti-ong kiong, tangan kirinya segera menyambar kemuka balas mencengkeram pergelangan tangan kanan si nona baju merah yang memegang pedang. Jurus serangan tersebut memang tangguh dan luar biasa, si nona berbaju merah itu benar-benar tak mampu menghindarkan diri. Hampir saja telapak tangan kanan Ji Kiu-liong mencengkeram diatas pergelangan tangan nona itu ketika satu ingatan tiba-tiba melintas dalam benaknya, cepat dia tarik kembali tangannya, lalu menggunakan kesempatan tersebut badannya berputar satu lingkaran dan menyelinap ke belakang punggung si nona. Merah padam selembar wajah si nona berbaju merah itu lantaran jengah, ia segera membentak gusar.
"Kau tak usah berlagak sok gagah, huuh! Tak tahu malu!"
Ditengah bentakan nyaring, pedangnya melancarkan serangan semakin gencar, maka tampaklah cahaya bayangan setinggi bukit dan menekan tiba tiada hentinya, semua serangan tertuju pada jalan darah penting di sekujur badan Ji Kiu-liong.
Ji Kiu-liong mendengus dingin.
"Hmm..... budak sialan, siapa yang kau maki?"
Tegurnya.
Serangannya dipergencar, dalam waktu singkat tiga buah pukulan berantai sudah dilepaskan secara beruntun, ini membuat gadis tersebut terdesak hebat sehingga harus mundur dua langkah untuk menyelamatkan diri.......
Saking marahnya sepasang alis mata sinona kecil berbaju merah itu sampai melentik, dengan mata melotot karena gusar bentaknya.
"Kunyuk kecil, siapa yang kau maki? Memangnya kalian sudah bosan hidup semua?"
Permainan pedangnya segera berubah, kali ini dia menyerang dengan jurus serangan yang jauh lebih dahsyat, sekejap kemudian ilmu jurus sudah lewat tanpa terasa.
Dasar masih muda dia berjiwa panas, sementara pembicaraan baru saja berlangsung, kedua orang itu sudah saling bertempur belasan gebrakan banyaknya, yang dipakaipun rata-rata merupakan jurus serangan terkeji dan arah yang dituju juga jalan darah kematian di tubuh manusia.
Gak Lam-kun yang menyaksikan jalannya pertarungan itu, mengerutkan dahinya semakin rapat, namun sepasang matanya masih tetap mengawasi jalannya pertarungan tanpa berkedip.
Ji Kiu liong diam-diam mengakui juga akan kelihayan ilmu pedang lawannya, waktu dia rada lega karena mendapat petunjuk dari Gak Lam-kun hingga bisa lolos dari jebakan lawan, tahu-tahu si nona berbaju merah itu sudah menyerang lagi dengan jurus Pek-imjut-siu (awan putih muncul dari lembah).
Dengan cepat Ji Kiu-liong berkelit ke samping sambil melancarkan serangan balasan, telapak tangan kirinya menggunakan jurus Tui-bung-kian-san (mendorong pintu melihat bukit), sedang tangan kanannya menggunakan jurus Sam-seng-cut-gwat (tiga bintang mengejar rembulan), yang atas menyerang jalan darah Thian-leng-hiat, yang bawah mengikut Ci-jit-hiat di lengan.
Si nona berbaju merah itu segera membuyarkan pedang sambil berkelit kesamping Ji Kiu-liong menerobos maju makin kedepan, begitu tiba di samping si nona, telapak tangan kanannya secepat kilat membacok kebawah dengan jurus Pang-hoa hud-liu(disini bunga pohon liu melambai)........
Jurus serangan itu adalah salah satu diantara tiga jurus yang ampuh diajarkan Gak Lam-kun kepada anak muda tersebut, jurus itu paling tetap di gunakan untuk suatu pertarungan jarak dekat.
Serentak si nona berbaju merah itu merasakan pergelangan tangan kanannya yang memegang pedang jadi kaku, dan tahu-tahu dia sudah termakan sebuah sapuan ujung jari pemuda itu.
Gak Lam-kun kuatir kalau Ji Kiu-liong melancarkan serangan mematikan tiba-tiba ia berseru.
"Adik liong, cepat tahan!"
Mendengar seruan itu, Ji Kiu-liong benar-benar tak berani turun tangan keji, ia tarik kembali serangan sambil melompat mundur ke belakang sementara cekalan si nona baju merah atas senjatanya mengendor, pedangnya itu lantas terjatuh ke atas geladak.
Tapi menggunakan kesempatan itulah mendadak nona itu melompat kedepan, secepat kilat telapak tangan kirinya melepaskan sebuah pukulan ke depan.
Mimpipun Ji Kiu-liong tidak menyangka kalau nona itu tak mau menghentikan pertarungan sampai disini saja.
untuk sesaat sulitlah baginya untuk menghindarkan diri.......
Tak ampun sebuah pukulan keras dengan telak bersarang diatas dadanya........
Ji Kiu-liong menjerit tertahan lalu muntah darah segar, seluruh tubuhnya mencelat ke belakang dan tercebur kedalam telaga.
Betapa terkejutnya Gak Lam-kun ketika dilihatnya Ji Kiu-liong tercebur kedalam telaga dengan tubuh menderita luka parah, lalu tangannya berkelebat dan menyambar tubuh Ji Kiu-liong yang baru tercebur kedalam telaga itu.
Begitu korbannya berhasil disambar, telapak tangan kirinya kembali menepuk permukaan air telaga, menggunakan tenaga pantulan tersebut sambil memandang tubuh Ji Kiu-liong, tubuhnya melambung lima depa ke udara, kemudian berjumpalitan dan melayang turun dengan tenangnya diatas geladak.
Ketika itu si nona kecil berbaju merah berdiri termangu-mangu disana dengan wajah tercekat rupanya dia tak mengira kalau serangannya berhasil melukai lawannya, maka waktu Gak Lam-kun menyalamatkan dirinya saudaranya dari air telaga dia malah berdiri mematung.
Setelah diatas geladak, Ji Kiu-liong yang berada dalam bopongan Gak Lam-kun tiba-tiba melejit bangun, lalu sambil membentak marah dia menerjang ke arah si nona berbaju merah itu.......
"Duuub.......!"
Sebuah pukulan dahsyat bersarang pula diatas dada si nona cilik berbaju merah sambil mendengus tertahan, nona itu mundur tiga langkah dengan sempoyongan, kemudian roboh kejengkang ke atas geladak dengar wajah pucat pias bagaikan mayat.
Ji Kiu-liong sendiri, begitu berhasil menyerangkan pukulan di tubuh lawan dia mundur dengan sempoyongan, setelah muntah darah segera pelan-pelan tubuhnya roboh terjengkang pula ke atas geladak Yaa, pada hakekatnya kedua orang muda-muda itu sama-sama tak ada yang mau mengalah, akibatnya kedua belah pihak sama-sama berluka parah.
Sambil gelengkan kepalanya Gak Lam-kun menghela napas panjang, dia maju dan membopong tubuh Ji Kiu-liong.
Belum habis helaan napas panjangnya, tiba-tiba terdengar suara helaan napas lain berkumandang pula dari belakang.
Dengan cepat Gak Lam-kun berpaling, ia lihat seorang pemuda berbaju putih berada diatas sebuah sampan kecil kurang lebih lima kaki disisi sara pan merah tersebut, waktu itu dengan melangkah diatas ombak orang itu sedang bergerak mendekat Sepintas lalu, orang itu tampak berjalan sangat lambat, padahal cepatnya bukan kepalang, dalam waktu singkat dia membopong tubuh si nona berbaju putih itu dan melayang kembali ke atas sampan merah tersebut Lalu beberapa dayungan saja, sampan itu berlalu pula dari sana dan lenyap ditengah gulungan ombak.
Gak Lam-kun yang menyaksikan kejadian itu merasa amat terkejut padahal ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya memang, sempurna dan tak sulit baginya untuk berjalan pula diatas ombak seperti apa yang dilakukan orang itu.
Tapi cara pemuda berbaju putih itu berjalan diantara gulungan ombak mempunyai kelainan dibandingkan dengan cara pada umumnya, yang lebih sulit lagi ternyata langkahnya begitu santai dan lembut hingga sepintas lalu orang akan menganggap dia berjalan dengan sangat lambat, padahal kecepatannya tak terkirakan.
Sejak orang itu menghela napas sampai dia pergi sambil memandang nona berbaju merah itu, boleh dibilang waktu yang dipakai teramat singkat, jelek-jelek begini Gak Lamkun termasuk juga seorang jago persilatan yang amat lihay, tapi kenyataannya dia tidak berhasil menyaksikan raut wajahnya.
Rasa kejut dan heran menyelimuti seluruh benak Gak Lam-kun, pikirnya.
"Ilmu meringankan tubuh yang dimiliki orang ini sungguh amat lihay dan jelas setingkat diatas kepandaianku, siapakah dia? Kenapa belum pernah kudengar kalau dalam dunia persilatan terdapat seorang jagoan muda selihay itu?"
Tanpa sadar Gak Lam-kun mengawasi berlalunya orang itu dengan terpesona, hampir saja dia lupa untuk memeriksa luka yang diderita Ji Kiu-liong.
Dua orang tukang perahunya waktu itu sedang berlutut sambil menyembah ke arah dimana orang tadi lenyap, mulut mereka berkemak-kemik seperti sedang berdoa rupanya mereka sudah menganggap pemuda berbaju putih tadi sebagai malaikat yang baru turun dari kahyangan.
Tiba-tiba Ji Kiu-liong merintih.
"Toako... aku.... aku kedinginan.....? Seperti baru sadar impian, Gak Lam-kun segera memeriksa keadaan tubuh saudaranya itu, ia merasa jidatnya dingin bagaikan salju kenyataan ini membuat jago muda kita merasa amat terperanjat, ia tak tahu ilmu pukulan apakah yang telah dipergunakan lawan untuk melukai Ji Kiu-liong itu?
Jilid 3 KETIKA dia masih melamun, Ji Kiu-liong sudah merintih lagi dengan penuh penderitaan.
"Toako...Oh toako... sekujur urat nadiku terasa sakit, darah yang mengalir seperti mendidih tapi badanku kedinginan sekali, seperti terjatuh kedalam liang bawah tanah yang dingin dan membeku. Mendengar ucapan tersebut Gak Lam-kun menjerit kaget, secepat kilat tangan kirinya menotok delapan buah urat penting disekujur badan Ji Kiu-liong kemudian terakhir sepasang tangannya menempel diatas pusar anak muda itu... Bagaimana hasilnya? Rasa kedinginan yang dialami Ji Kiu-liong sama sekali tidak berkurang, dia malah merintih kesakitan, sekujur badannya makin lama makin membeku membuat Gak Lam-kun makin gelisah dibuatnya. Secara beruntun dia telah mencoba dengan berbagai cara pengobatan untuk mengurangi penderitaan dari saudaranya, namun hasilnya tetap nihil, pengobatannya tidak berhasil juga untuk mengurangi penderitaan yang dialami Ji Kiu-liong. bocah muda itu tetap kesakitan dan kedinginan bahkan selang sesaat kemudian ia malah jatuh tak sadarkan diri. Gak Lam-kun yang memondong tubuhnya seakan-akan memondong sebuah batu pualam yang amat dingin. Percuma Gak Lam-kun memiliki kepandaian silat yang amat tinggi, nyatanya ia tak berhasil mengetahui luka apakah yang diderita Ji Kiu-liong mendadak satu ingatan melintas dalam benaknya sambil memondong tubuh Ji Kiu-liong yang dingin kaku dia melompat ke arah sampan kecil yang masih terombang-ambing dipermainkan ombak itu. Rupanya dia bermaksud membawa Ji Kiu-liong yang tak sadarkan diri untuk menyusul si anak muda berbaju putih itu.. Tapi belum jauh ia berjalan tiba-tiba diantara gulungan ombak nan hijau, dari puluhan ombak sebelah depan situ meluncur datang sebuah sampan berwarna merah, sampan itu meluncur datang ibaratnya anak panah yang terlepas dari busurnya dan sastrawan berbaju putih itu berdiri diujung geladak. Tak selang sesaat kemudian, sampan itu sudah mendekati perahu yang ditumpangi Gak Lam-kun. Ketika mencapai jarak empat kaki dari sampan itu, mendadak sampan merah itu putar haluan dan berhenti, sementara sastrawan berbaju putih yang berdiri diujurg perahu dengan setengah melirik Gak Lam-kun tiba-tiba tersenyum.
"Aliran hawa murni mengalir terbalik dalam delapan nadi penting, bila ditembuskan sampai Hian kwan, hawa itu akan balik kembali ke pusar!"
Ujarnya dari kejauhan dengan suara lembut.
Dibalik senyuman manisnya tersimpan beberapa bagian keanehan yang misterius, ia tampak demikian tampannya dibawah sorot cahaya matahari, membuat Gak Lam-kun sedikit tergetar juga hatinya setelah menyaksikan hal itu.
"Oooh...belum pernah kujumpai pemuda setampan dia didunia dewasa ini!"
Dalam pada itu, sastrawan berbaju putih itu sudah memutar kembali sampan merahnya sambil menjauh dari sana, sekejap kemudian bayangan tubuhnya sudah lenyap ditempat kejauhan sana.
Menunggu bayangan orang sudah tak kelihatan lagi, Gak Lam-kun baru menghela napas ringan, dengan mengikuti cara pengobatan yang diterangkan pemuda berbaju putih tadi dia menyalurkan tenaga dalamnya kedalam kedelapan buah nadi penting ditubuh Ji Kiu-liong, kemudian sesudah berputar satu lingkaran hawa murni itu ditembuskan langsung ke Hian kwan kemudian digiring lagi masuk kedalam tiam-tam yang terletak dipusar.
Betul juga, setelah hawa panas mulai mengalir didalam pusar Ji Kiu-liong, hawa hangat itu segera membumbung ke atas dan menyusup kedalam keempat anggota badannya, dimana hawa dingin yang membekukan badan lambat laun terdesak keluar, paras muka yang pucat piaspun berubah jadi merah kembali, hanya saja ia belum sadarkan diri.
Untunglah tenaga dalam yang dimiliki Gak Lam-kun cukup sempurna, kendatipun cara pengobatan semacam itu paling banyak membutuhkan tenaga, tapi dengan tenaga murninya yang amat sempurna pemuda itu tidak nampak kecapaian kecuali diatas paras mukanya yang tampan semakin diliputi oleh kemurungan yang makin menebal.
Sebagaimana diketahui, kedatangan Gak Lam-kun kebukit Kun-san kali ini adalah demi mengemban tugas penting dari gurunya untuk menerima Lencana Pembunuh Naga yang dibawa oleh Soat-san Thian-li (perempuan langit dari bukit salju).
Pada mulanya, dia merasa tugas itu tidak akan terlalu banyak menemui kesulitan, tapi belakangan ini, orang-orang persilatan pada hakekatnya sudah dibuat mata gelap oleh kemustikaan Lencana Pembunuh Naga itu, malah jagoan yang berkumpul disekitar bukit Kun-san tak terhitung jumlahnya, hal ini mengakibatkan perasaannya menjadi bertambah berat.
Kendati demikian, dasar sebagai pemuda yang angkuh, ditambah lagi ia merasa bahwa ilmu silatnya tiada tandingan dikolong langit, sekalipun harus berhadapan dengan sekian banyak jago silat yang mengincar mustika itu, ia tak pandang sebelah matapun kepada mereka.
Tapi sekarang, dengan mata kepala sendiri ia menyaksikan betapa lihaynya sastrawan berbaju putih itu, meskipun ia belum menyaksikan kepandaian silatnya, tapi demontrasi berjalan diatas ombak yang dilakukan orang itu sudah cukup membuktikan bahwa ilmu meringankan tubuhnya sudah mencapai puncak kesempurnaan.
Dan sekarang, sastrawan tersebut memberitahukan pula bagaimana caranya mengobati luka kedinginan yang diderita saudaranya, dari kesemuanya itu semakin terbuktilah sudah bahwa ilmu silat yang dimiliki orang itu benar-benar luar biasa.
Demikianlah, kurang lebih seperminuman teh kemudian, Ji Kiu-liong telah sadar kembali dari pingsannya.
Dengan kepala tertunduk Gak Lam-kun memeriksa sebentar keadaan lukanya, lalu bertanya.
"Adik Liong, apakah kau merasa ada sesuatu bagian tubuhmu yang kurang enak?"
Sambil menggigit bibir menahan gemasnya, Ji Kiu-liong segera berseru.
"Toako, bila aku sampai berjumpa lagi dengan dayang itu, pasti akan kusuruh dia rasakan penderitaan yang jauh lebih hebat!"
Baru saja ia menyelesaikan kata-katanya, mendadak dari arah belakang berkumandang suara bisikan lembut.
"Saudara cilik, pukulan yang kau lancarkan tadi sudah cukup membuat dia menderita!"
Dengan terperanjat Gak Lam-kun berpaling ia lihat sampan merah yang, sudah berlalu itu entah sejak kapan sudah balik lagi, bahkan berlalu kurang lebih sepuluh kaki dibelakang sampannya.
Sekalipun selisih jarak antara kedua buah perahu itu masih jauh akan tetapi suara pembicaraan dari sastrawan si baju putih itu seakan-akan berkumandang disisi telinganya, dari sini semakin terbukti bahwa tenaga dalam yang dimiliki lawan memang benar-benar amat sempurna.
Agak tertegun Gak Lam-kun menyaksikan kesemuanya itu, sepasang matanya berkerenyit.
Sebelum dia sempat mengucapkan sesuatu Ji Kiu-liong sudah membentak lebih dulu.
"Siapa kau? Darimana bisa tahu kalau pukulan yang kulancarkan itu sudah cukup membuat dayang tersebut menderita?"
Mendengar pertanyaan itu, si sastrawan berbaju putih itu tertawa berderai-derai.
"Haaahhh.... haaahhh.... haaahhh...ilmu Sau-yang-tong-im sin-kang (ilmu jejaka hawa panas)yang saudara cilik miliki memang luar biasa lihaynya, andaikata dia tidak melatih ilmu Soh-li ciat-im sin-kang (hawa dingin gadis perawan), niscaya jiwanya sudah kabur ke alam baka sejak tadi"
Sekali lagi Gak Lam-kun merasa terkejut sesudah mendengar nama Soh-li-ciat-imsinkang tersebut, sebab dia tahu bahwa ilmu sakti itu merupakan kepandaian ampuh aliran Lam-hay, bukankah itu berarti pula bahwa kedua orang itu masih mempunyai hubungan dengan Lam-hay sinni?
Tertebak jitu ilmu kepandaian andalannya, untuk sesaat Ji Kiu-liong berdiri terbelalak dengan mulut melongo, dia tak mampu berkata-kata yang bisa dilakukan tak lebih hanya memandang ke arah Gak Lam-kun dengan sinar mata bodoh.
Gak Lam-kun sendiri setelah tertegun sesaat dia seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi sebelum kata-katanya meluncur keluar dengan suara yang nyaring sastrawan berbaju putih itu sudah berkata lebih jauh.
"Duduk diatas sampan yang sempit hanya akan membiarkan tubuh basah oleh percikan ombak yang berhamburan, sungguh merusak suasana. Jika tidak keberatan, bagaimana kalau naik ke atas perahu kami?"
Terhadap kemunculannya yang secara tiba-tiba itu, Gak Lam-kun memang berhasrat untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut, maka mendengar tawaran tersebut tanpa berpikir panjang lagi dia berpaling ke arah tukang perahu itu sambil ulapkan tangannya.
"Hei tukang perahu!"
Serunya.
"lebih baik kalian kembali dulu..."
Habis berkata, tiba-tiba Gak Lam-kun melompat kedepan dan melayang diatas permukaan telaga dengan menggunakan ilmu meringankan tubuhnya yang sempurna, dalam beberapa tindakan saja tahu-tahu ia sudah mencapai diatas sampan merah.
Ji Kiu-liong terpaksa harus cepat-cepat mendayung sampan kecilnya untuk menyusul kedepan.
Tampaknya demontrasi ilmu meringankan tubuh yang dilakukan Gak Lam-kun itu mendatangkan rasa terkejut pula dihati sastrawan berbaju putih itu, sebab pada hakekatnya gerakan yang dilakukan pemuda itu jauh berbeda dengan ilmu meringankan tubuh pada umumnya, dan kepandaian tersebut sedikitpun tidak berada dibawah kepandaian berjalan diair dari sastrawan berbaju putih tadi.
Padahal untuk menyeberangi permukaan telaga seluas beberapa kaki itu, orang harus memiliki hawa murni yang betul-betul sempurna, dan berarti pula bahwa tenaga dalam yang dimiliki Gak Lam-kun betul-betul sudah amat sempurna.
Ji Kiu-liong melompat naik ke atas sampan disusul kemudian oleh Gak Lam-kun, begitu sepasang kakinya menginjak diatas geladak, bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya, sampan itu bergerak kedepan membelah ombak.
"Hebat benar ilmu silat yang kau miliki"
Kata sastrawan berbaju putih itu sambil tertawa.
"hari ini aku merasa beruntung sekali dapat naik sampan bersama-samamu"
Gak Lam-kun tersenyum.
"Tidak berani, tidak berani, justru akulah yang merasa beruntung dapat berkenalan dengan jago tangguh selincah harimau segesit naga macam dirimu!"
Menggunakan kesempatan dikala pembicaraan masih berlangsung, Gak Lam-kun mengamati sastrawan berbaju putih yang berada dihadapannya itu.
Pemuda itu memang menarik hati, alis matanya ibarat semut beriring, mukanya seperti buah Tho yang masak, kulitnya halus dan putih seperti sakura ditengah salju, demikian menawannya hingga sukar dilukiskan dengan kata-kata.
Ada sesuatu yang istimewa diantara keagungannya itu, yakni dia mempunyai sepasang mata setajam sembilu, membuat siapapun tak berani menengoknya lebih jauh.
Sastrawan berbaju putih itu supel sekali, dia tertawa tergelak dan berkata.
"Saudara, pertemuan ditelaga Gak-ciu terhitung juga suatu jodoh yang tak bisa dibantah, untuk mempererat hubungan, bolehkah tahu siapa namamu?"
"Aku bernama Gak Lam-kun, dan saudara?"
Sastrawan berbaju putih itu tersenyum, biji matanya berputar sebentar kemudian baru menjawab.
"Aku bernama Bwe Li-pek!"
Gak Lam-kun mengerutkan dahinya, tapi dengan cepat dia tertawa lagi.
"Saudara Bwe, namamu memang bagus sebagus orangnya, suatu perpaduan yang serasi"
Sastrawan berbaju putih itu tertawa ewa, dia tidak menjawab malah mengalihkan sorot matanya ketempat kejauhan, memandang ombak telaga yang saling berkejaran, lambatlaun timbul suatu kemasgulan diantara kerutan alis matanya.
Gak Lam-kun tertegun, sekalipun dia cerdik toh dibuat kebingungan juga oleh sikap rekan barunya jtu.
Akhirnya setelah berpikir sebentar, dengan nada menyelidik dia bertanya kembali.
"Bwe-heng, bolehkah kutahu, jauh-jauh dari Lam hay kau datang kedaratan Tionggoan, sebenarnya ada urusan apa?"
Bwe Li-pek berpaling, ditatapnya wajah Gak Lam-kun dengan sepasang biji matanya yang bening seperti kaca lalu lambat-lambat jawabnya lirih.
"Darimana kau bisa tahu kalau aku datang dari Lam-hay? Aaai... aku datang kemari untuk mencari seseorang! Berdebar jantung Gak Lam-kun ketika sorot matanya saling membentur dengan sinar mata orang, dia merasa betapa menawannya sorot mata orang itu, demikian keren dan berwibawanya sehingga mirip sekali dengan sepasang biji mata Ji Cin-peng, kekasihnya yang telah tiada. Terbayang kembali akan kekasihnya yang telah tiada, kesedihan, kemurungan dan kepedihan tiba-tiba saja menyelimuti seluruh perasaannya, ia menjadi murung dan masgul, ditatapnya permukaan telaga dengan termangu dan terpesona...
"Yaa, betapa sedih dan murungnya pemuda itu! Helaan napas panjang dari Bwe Li-pek menyayat keheningan disekeliling tempat itu, ketika Gak Lam-kun berpaling kembali sastrawan itu sudah beranjak, pelan-pelan dia berjalan menuju keujung perahu, berdiri membelakanginya dan memandang nun jauh disana dengan termangu. Tiada suara yang terdengar, kecuali kibaran ujung bajunya yang terhembus angin. Tiba-tiba satu ingatan kembali melintas dalam benak Gak Lam-kun, dia merasa potongan badan sastrawan berbaju putih itu terlalu mirip dengan punggung Ji Cin peng. Sang surya sudah condong diujung langit sebelah barat, tak lama kemudian senja pun menjelang tiba. Sampan itu bergerak makin lama semakin lambat, ternyata setelah melaju satu putaran, kini mereka sudah berada didermaga sebelah timur kota Gak-ciu. Bwe-Li-pek berpaling, kemudian katanya sambil tertawa.
"Sisa sinar senja yang terbias dari sang surya sungguh tampak indah menawan, sayang malam yang gelap sebentar lagi akan menjelang tiba. Saudara Gak terpaksa siaute harus berpisah denganmu"
Waktu itu Gak Lam-kun sudah tahu kalau sastrawan yang tampaknya lemah gemulai itu pada hakekatnya adalah seorang tokoh persilatan yang berilmu tinggi.
Padahal Gak Lam-kun juga orangnya angkuh, buktinya terhadap Han Nio nio yang cantik jelita dan mempesona hati, serta Si-Tiong-pek dari Tiat eng-pang yang hangat dalam pergaulan, dia tidak menaruh kesan apa-apa.
Entah mengapa, sikapnya terhadap Bwe Li pek ternyata lain daripada yang lain, ia merasa kagum dan berkesan sekali, karena itu ketika sastrawan tersebut hendak mohon diri, dia jadi tertegun.
"Saudara Bwe, apakah kita harus berpisah dengan begini saja?"
Serunya setengah berbisik. Bwe-Li-pek tertawa.
"Orang yang terlampau berkesan akhirnya cuma mendapatkan kekecewaan, apakah tidak seharusnya aku berpisah dengan dirimu?"
Gak Lam-kun tertegun, ia tak dapat menangkap arti lain dari perkataan itu.
"Meskipun kita baru berjumpa muka"
Demikian katanya kemudian "tapi aku sudah merasa cocok dengan dirimu, saudara Bwe, apa salahnya kalau kita mengangkat cawan untuk menggalang persahabatan yang jauh lebih akrab lagi?"
Bwe Li-pek tidak menjawab, sebaliknya malah bergumam seorang diri.
"Arak yang mengalir dalam usus kemurungan, paling gampang menimbulkan air mata kenangan daripada bertemu lebih baik tak bertemu, hubungan yang akrab hanya menimbulkan kesan mendalam, aai..! Kalau sudah tahu bakal berpisah kenapa harus diadakan suatu pertemuan?"
Ucapan itu amat lirih, lembut bahkan hampir tak kedengaran, bukan ditujukan untuk diri sendiri, seakan-akan dia memang sengaja mengucapkan kata-kata tersebut khusus ditujukan buat permukaan telaga...
Gak Lam-kun segera menghela napas panjang.
"Aaa! Saudara Bwe siaute tahu bahwa aku ini orang yang tak becus, aku memang tidak pantas menggalang persahabatan dengan orang pandai seperti saudara Bwe ini. Yaa kalau memang begitu terpaksa siaute harus..."
Tiba-tiba Bwe Li-pek berpaling helaan napasnya yang pedih memotong perkataan Gak Lam-kun lebih jauh.
Dari balik matanya memancar keluar sinar kelembutan yang penuh kemesraan, bukan sinar mata setajam sembilu yang menggidikkan hati melainkan sorot mata yang murung, sorot mata yang sedih, kehangatan yang tak terkirakan bagaikan dalamnya samudra bagaikan bersihnya sinar rembulan.
Tertegun Gak Lam-kun ketika sinar matanya bertemu dengan sorot mata Bwe Li-pek dia berdiri termangu lupa untuk kata-kata selanjutnya yang akan diutarakan...
Bwe Li-pek tersenyum kembali dia berkata.
"Bila engkau bersedia menerima kemurungan lebih mendalam pada perpisahan nanti, baiklah malam ini mari kita minum arak ditengah telaga sambil menikmati indahnya bulan purnama"
Baru selesai dia berkata, tiba-tiba dari balik ruang perahu berkumandang suara sapaan yang merdu "Bwe siocia..."
Seorang nona kecil berbaju merah melompat keluar dari dalam ruangan ketika melihat kehadiran Gak Lam-kun dan Ji Kiu-liong dalam perahu tersebut, tiba-tiba ia tahan kembali kata-katanya.
Dengan sepasang matanya yang jeli dia melotot sekejap ke arah Ji Kiu-liong, kemudian mendengus dingin.
"Hmm...! Bocah keparat, setelah puas mempermainkan aku, berani betul kau datangi perahu kami ini?"
Ji Kiu-liong tertawa dingin.
"Budak ingusan, kau belum puas, bagaimana kalau kita lanjutkan pertarungan lagi?"
"Adik Liong, jangan kurangajar!"
Hardik Gak Lam-kun. Sementara itu dipihak lain Bwe Li pek juga menegur nona kecil berbaju merah itu. Karena ditegur, si nona baju merah itu menjulurkan lidahnya sambil membuat muka setan.
"Waduh rupanya Bwe...Bwe toako sudah saling berkenalan?"
Godanya. Tiba-tiba Ji Kiu-liong berkata sambil tertawa ringan.
"Nona, itu namanya kalau tidak berkelahi kita tak akan berkenalan, bila kau bersedia melupakan sakit hati, aku Ji Kiu-liong juga bersedia untuk mengikat tali persahabatan denganmu"
Nona kecil berbaju merah itu mendesis lirih.
"Huuuh...! Masa kau tidak tahu kalau antara lelaki dan perempuan itu ada batasbatasnya? Tak sudi aku Pek Siau-soh berkenalan dengan monyet kecil seperti kau"
Kena diserobot dengan kata-kata yang pedas dari nona tersebut, kontan saja air muka Ji Kiu-liong berubah menjadi merah padam, dengan tersipu-sipu dia tundukkan kepalanya rendah-rendah.
Untung Bwe Li-pek menengahi, sambil tertawa ringan dia berkata.
"Saudara cilik, saudara Gak! Harap kalian jangan marah, adikku ini memang nakal, sifat kekanakkanakannya belum hilang, jadi kalau kurang sopan yaa tolong dimaafkan!"
Gak Lam-kun gelengkan kepalanya sambil menghela napas.
"Dua orang bocah itu sama-sama lincahnya, sama-sama polosnya, aaai.....!Jarang dijumpai manusia-manusia seperti mereka"
Suara air telaga yang membelah kesamping mendadak terdengar dari belakang, ternyata sampan tersebut pelan-pelan kembali bergerak menuju ketengah telaga.
Sekarang Gak Lam-kun baru menaruh perhatian, rupanya kecuali Bwe Li-pek dan Pek Siau-soh, diatas sampan tersebut masih ada seorang lagi yakni si tukang perahu, rasa kejutnya bukan alang kepalang.
Apa yang dia kejutkan?
Ternyata sampan itu dapat bergerak cepat menerjang ombak dan meluncur bagaikan sambaran kilat tak lain tak bukan kesemuanya adalah berkat dayungan dari si tukang perahu atau perkataan lain, tenaga dalam yang dimiliki orang itu betul-betul mengerikan.
Dengan perasaan terkejut Gak Lam-kun memperhatikan tukang perahu itu sayang dia duduk membelakanginya kecuali bajunya yang berwarna abu-abu, ia tak dapat menyaksikan bagaimanakah raut wajahnya.
Orang itu duduk dengan wajah menghadap kebelakang sekalipun sedang mendayung dengan tangan sebelah, tampaknya tidak terlampau kepayahan, sudah jelas kalau orang itu tidak mempunyai ilmu silat yang lihay, tak mungkin hal itu bisa dilakukan.
"Saudara Gak! kata Bwe Li pek kemudian sambil tersenyum, maaf kalau kami tidak mempunyai persiapan yang cukup untuk menyambut kedatanganmu silahkan, silahkan, mari duduk lebih dulu diatas geladak...!"
Dia masuk kedalam ruang perahu dan mengambil sebuah permadani putih yang tebal, permadani itu diletakkan diatas geladak lalu Pek Siau-soh muncul dengan membawa sebuah keranjang bambu, dari dalam keranjang dia mengeluarkan delapan macam sayur, satu poci arak dan satu baskom penuh bakpao dingin.
"Saudara Gak"
Ujar Bwe Li-pek kemudian sambil tertawa.
"diatas perahu tidak tersedia api, karena itu harap kau jangan mentertawakan jika kami hanya bisa menghidangkan sayur dingin dan arak dingin saja..."
Diangkatnya poci arak itu dan memenuhi cawan Gak Lam-kun serta Ji Kiu-liong, setelah itu dia penuhi pula cawan arak sendiri.
Perasaan Gak Lam-kun agak tergerak terutama ketika menyaksikan jari-jari tangan Bwe Li pek yang runcing, kulit badannya yang halus serta bau harum yang tersiar keluar dari tubuh sastrawan tersebut.
Tapi perasaan itu hanya melintas sebentar saja, karena waktu itu tiada kesempatan baginya untuk berpikir lebih jauh.
Bwe Li-pek mengangkat cawannya dan memberi hormat kepada rekannya, kemudian bersama Gak Lam-kun mereka teguk habis beberapa cawan arak.
Sambil memenuhi kembali cawan masing-masing, Bwe Li-pek berkata lagi sambil tertawa.
"Selama hidup jarang kita bisa mabok beberapa kali saudara Gak! Apa salahnya kalau kita manfaatkan kesempatan ini untuk minum arak sampai sepuasnya?"
Demikianlah, dengan diliputi perasaan yang gembira dan penuh gelak tawa dalam waktu singkat mereka sudah menghabiskan puluhan cawan arak.
Bulan yang bulat dan memancarkan sinarnya yang bening benar-benar muncul dari permukaan telaga sebelah timur, sinar yang lembut memancar keempat penjuru dan mendatangkan suasana yang romantis.
Bwe Li-pek berhenti minum arak, ujarnya sambil tertawa.
"Ditengah malam yang kelam, ditengah telaga yang sunyi suasana begitu paling romantis dalam kehidupan seorang manusia. Saudara Gak! Bagaimana kalau kau nikmati sebuah permainan serulingku sebagai pelipur hati yang lara?"
Sambil tertawa Gak Lam-kun manggut-manggut.
Maka Bwe Li-pek masuk kedalam ruang perahu dan mengambil sebuah seruling kemala yang halus tapi panjang.
Seruling kemala itu putih bersih dan tiada cacad, ukiran naga dan burung hong yang menghiasi disekelilingnya tampak hidup dan indah, dalam sekilas pandangan saja Gak Lam-kun sudah tahu kalau seruling itu adalah sebuah seruling kemala yang tak ternilai harganya, kenyataan tersebut diam-diam mengejutkan hatinya.
Bwe-Li-pek dapat menyaksikan ketertegunan orang, dia tertawa ewa.
"Saudara Gak!"
Demikian ujarnya.
"kendatipun seruling kemala ini mahal harganya, sayang selama ini sukar kujumpai orang yang benar-benar memahami irama seruling, sehingga tersia-sialah nilai tinggi seruling itu"
"Seruling mustika dapat bertemu dengan Bwe-heng, pada hakekatnya hal ini merupakan suatu perpaduan yang amat serasi,"
Kata Gak Lam-kun sambil tertawa "jadi aku rasa, seandainya seruling itu bisa merasakan dia pasti akan bersyukur atas pertemuan ini"
Bwe-Li-pek tertawa, dia tempelkan seruling itu disisi bibir dan berkata.
"Bila kau dapat memahami irama serulingku itu baru benar-benar tidak menyia-nyiakan seruling ini"
Begitulah dia lantas meniup seruling kemala itu dan muncullah serentetan irama yang merdu merayu.
Pada mulanya irama seruling itu lembut dan datar, tapi lama-kelamaan irama tersebut kian bertambah tinggi, akhirnya irama lagunya begitu menyedihkan hati, membuat orang jadi sedih dan sangat menderita.
Sejak pertama kali mendengar permainan seruling itu, Gak Lam-kun sudah merasa hatinya pedih, apalagi setelah permainan seruling tersebut mencapai puncak kepedihan, pemuda itu merasa tenggorokannya menjadi tersumbat, hidungnya keluar ingusnya dan hampir saja airmatanya meleleh keluar.
Akhirnya kesadaran Gak Lam-kun hampir boleh dibilang sudah hilang sama sekali, seluruh pikiran maupun perasaannya telah terpengaruh oleh permainan seruling itu.
Mendadak...irama seruling berhenti dan permainan yang memedihkan hatipun ikut membuyar ditengah keheningan malam.
Gak Lam-kun menghela napas panjang katanya.
"Irama lagu ini hebat sekali, aaai...! Rasanya hanya dilangit saja dapat menjumpai permainan semacam ini, beruntunglah hari ini aku sempat menikmatinya"
Bwe Li-pek tertawa.
"Saudara Gak toh mengerti soal irama seruling bukan? Bagaimana kalau memberi sedikit komentar atas permainanku tadi?"
Pintanya.
"Iramanya sangat membetot sukma, bagaikan hujan rintik ditengah malam yang sunyi, aaai...! Membuat orang beriba saja. Bagusnya memang bagus, cuma sayang lagunya bernadakan kesedihan, membuat orang menjadi terkenang kembali masa sedih dimasa lalu"
Bwe-Li-pek tertawa lagi.
"Permainan serulingku bisa mendapatkan sahabat sehati, tidak sia-sia jerih payah siaute pada malam ini"
Baru saja dia menyelesaikan kata-katanya, mendadak dari balik ketenangan yang mencekam telaga itu, berkumandang suara dentingan musik yang merdu dan nyaring, dentingan tersebut entah berasal dari alat musik apa, tapi setelah mendengar suara tersebut, tiba-tiba saja paras muka Bwe-Li pek berubah hebat.
Gak Lam-kun merasakan juga sesuatu yang aneh dia segera alihkan perhatiannya ke arah mana berasalnya suara itu.
Sebuah perahu naga yang berbentuk sangat aneh muncul dari permukaan telaga sebelah barat laut perahu itu, muncul tanpa menimbulkan sedikit suarapun, lalu dengan kecepatan yang sangat tinggi melesat lewat dalam jarak belasan tombak dari sampan cepat berwarna merah itu.
Ternyata suara dentingan musik yang nyaring itu berasal dari balik perahu aneh tersebut.
Dengan alis mata berkenyit Bwe Li-pek berbisik kepada Gak Lam-kun.
"Saudara Gak, sebenarnya siaute merasa gembira sekali karena dapat menemani engkau bergadang sampai pagi, sayang aku telah menjumpai suatu peristiwa yang sama sekali diluar dugaanku, terpaksa aku harus mohon maaf dan minta diri lebih dulu. Nah, saudara Gak! Kuhadiahkan sebuah sampan kecil untukmu, silahkan engkau kembali sendiri kedermaga!"
Gak Lam-kun sendiri juga merasa keheranan atas terjadinya peristiwa itu, setelah tertegun sejenak, sambil merangkap tangannya memberi hormat dia berkata.
"Kalau begitu, terima kasih banyak atas layanan saudara Bwe selama setengah malam ini, bolehkah aku tahu Bwe-heng berdiam dirumah penginapan yang mana dalam kota Gakciu? Bila ada waktu, aku pasti akan datang untuk menyambangi dirimu"
"Aku ibaratnya burung manyar yang terbang sendirian, tempat tinggalku tak tetap, ujung langit empat samudra adalah tempat kediamanku, apabila saudara Gak memang berniat sungguh-sungguh untuk menganggap siaute sebagai sahabatmu, maka tidak sepantasnya kalau engkau berterimakasih kepadaku"
"Semoga Thian yang maha adil bersedia memberi kesempatan, agar siaute dapat bersua kembali dengan dirimu"
Kata Gak Lam-kun seraya menjura.
Selesai memberi hormat.
Gak Lam-kun dan Ji Kiu-liong bersama-sama melompat naik ke atas sampan kecil itu.
Baru saja mereka berdiri tegak diatas sampan itu, dengan kecepatan luar biasa sampan merah yang ditumpangi Bwe-Li-pek itu sudah membelah ombak dan meluncur kedepan mengejar ke arah mana perginya perahu aneh berbentuk naga itu.
Dengan termangu-mangu Gak Lam-kun mengawasi sampan merah itu hingga lenyap dari pandangan, lama...lama sekali dia baru menghela napas panjang.
Tiba-tiba Ji Kiu-liong berbisik lirih.
"Hei toako cepat lihat! Begitu banyak perahu yang bergerak menuju ke arah barat laut!"
Gak Lam-kun segera menengadah betul juga dari antara dua puluh tombak disamping mereka, berkumandang suara ombak yang memecah kesamping, disusul kemudian muncul sebuah perahu berbentuk elang raksasa bergerak menuju kebarat laut.
Perahu itu tak lain adalah perahu yang ditumpangi Si Tiong pek bersama pasukan elang raksasanya, mengikuti pula enam-tujuh buah titik cahaya lampu, jelas ada tujuh buah perahu layar yang mengikuti jejak perahu pertama tadi, bergerak menuju kebarat-laut.
Kesemuanya itu segera menimbulkan kesan dalam benak Gak Lam-kun, dia merasa tentu ada hal-hal yang luar biasa sedang terjadi dibarat laut, satu ingatan dengan cepat melintas dalam benaknya.
"Adik Liong duduk yang baik"
Bisiknya kemudian.
"kita akan menyusul dibelakang mereka mari kita tengok apa gerangan yang telah tejadi disana"
Setelah Ji Kiu-liong duduk, Gak Lam-kun mengambil dan mendayung sendiri sampan itu. Dengan cepat dan mantap sampan itu bergerak mengikuti dibelakang perahu yang didepannya itu.
"Toako"
Kata Ji Kiu-liong ditehgah jalan.
"aku rasa Bwe Li-pek pasti adalah seorang tokoh persilatan yang berilmu tinggi, terutama laki-laki berbaju abu-abu yang mendayung perahu dengan tangan tunggal itu, kekuatan tangannya sungguh mengerikan sekali. Aku rasa seandainya dia tidak memiliki tenaga dalam yang amat sempurna, tak mungkin ia dapat mendayung perahu tersebut dengan cara yang istimewa begitu"
Gak Lam-kun mengangguk.
"Apa yang adik Liong terangkan memang tepat sekali, jika kita tinjau dari kemampuan si orang berbaju abu-abu itu mendayung perahunya, aku rasa tenaga dalam yang dimiliki orang itu tidak berada dibawah Bwe-Li-pek maupun aku. Cuma anehnya, kalau toh dia seorang jago persilatan yang berilmu tinggi, kenapa dia rela dirinya diperintah Oleh Bwe-Li-pek? Tidakkah kau rasakan bahwa kejadian ini aneh sekali?"
"Toako, padahal tujuanmu kebukit Kun-san adalah untuk menerima Lencana pembunuh naga, jikalau Bwe-Li-pek sendiri juga berniat dengan benda itu, waaah! Kita benar-benar mendapat seorang musuh yang amat tangguh sekali."
Gak Lam-kun mendengus dingin.
"Sebetulnya ilmu silat yang kumiliki sekarang sudah tiada tandingannya lagi dalam dunia persilatan tapi setelah kejadian demi kejadian menimpa diriku aku baru tahu kalau diluar langit masih ada langit didalam dunia persilatan yang begitu luas, banyak jago-jago silat yang tak terhitung banyaknya. Yaa walaupun aku merasa bukan tandingan dari jago tangguh yang ada dalam dunia persilatan, akan tetapi akupun tidak akan membiarkan orang lain menghalang-halangi atau merusak perintah yang dibebankan suhu kepadaku. Aku tahu asal usul diri Bwe Li-pek memang mencurigakan, tetapi sebelum aku yakin kalau kedatangannya adalah untuk memusuhi kita, aku tak ingin menimbulkan pelbagai bentrokan atau perselisihan dengannya"
"Toako!"
Tiba tiba Ji Kiu-liong bertanya, menurut pendapatmu, mungkinkah Soat-santhian-li(perempuan langit dari bukit salju) mengingkari janjinya dan tidak menghantarkan Lencana pembunuh naga itu ke bukit Ku-san?"
Gak Lam-kun menghela napas sedih.
"Aaa...! sebelum menghembuskan napasnya yang penghabisan, suhu pernah membicarakan soal janjinya dengan Soat-san-thiat li, meskipun penjelasannya ketika itu tidak terperinci, tapi menurut pendapatku antara suhu dengan Soat-san-thian-li tentu mempunyai suatu hubungan yang luar biasa, karena itu aku yakin kalau dia pasti datang memenuhi janji. Hari ini baru tanggal sembilan, berarti tinggal enam hari menjelang bulan Tiong-ciu tanggal lima belas. Menggunakan sedikit sisa waktu yang masih ada ini, kita harus selidiki baik-baik jago persilatan dari mana saja yang telah berdatangan dibukit Kunsan ini, dengan demikian kita bisa hindari segala hal yang tidak diinginkan"
"Hingga kini Soat-san-thian-li masih belum tahu kalau toakolah yang akan datang untuk menerima Lencana Pembunuh Naga itu, bagaimana caranya untuk menemukan toako?"
Kembali Ji Kiu-liong bertanya. Gak Lam-kun tersenyum.
"Kau tak perlu kuatir adikku, irama Mi-tin-loan-hun-ci (Irama Sakti Pembingung Sukma) dari Thian-san-soat-li tiada keduanya didunia ini, dan didunia ini kecuali mendiang guruku, hanya aku seorang yang memahami inti sari dari irama sakti itu. Maka apabila dia mainkan irama tadi, maka dengan mudahnya aku akan menemukan sumber dari suara permainannya itu"
Sementara mereka masih bercakap-cakap!
beberapa buah perahu besar yang bergerak dimuka sudah lenyap dibalik kegelapan.
Dengan sorot mata yang tajam, Gak Lam-kun mencoba untuk memeriksa keadaan disekeliling tempat itu, namun kecuali ombak yang berwarna keperak-perakan, tiada suatupun yang kelihatan, termasuk jejak dari rombongan perahu besar tadi.
Gak Lam-kun keheranan dengan perasaan tercengang dia mengernyitkan sepasang alis matanya.
"Aneh betul!"
Demikian dia berpikir "kemana larinya perahu-perahu itu?
Masa mereka dapat melenyapkan diri dengan begitu saja?
Kecuali lampu-lampu mereka dipadamkan semua, tak mungkin jejak perahu yang berada sekitar satu li disekeliling tempat ini tak dapat diketemukan dengan jelas"
Dengan tertinggalnya anak muda itu ditengah telaga tanpa petunjuk sesuatu apapun, terpaksa Gak Lam-kun melanjutkan kembali perjalanannya menuju ke arah barat laut.
Kurang lebih setengah jam kemudian, dibawah cahaya rembulan yang berwarna keperak-perakan, tampaklah munculnya setitik cahaya lampu ditengah permukaan telaga yang tak bertepian, Gak Lam-kun segera memutar kemudinya dan menjalankan perahunya menuju ke arah mana sumber dari cahaya tersebut.
Kesempurnaan tenaga dalam yang dimiliki Gak Lam-kun tak perlu disangsikan lagi, meskipun harus mendayung sekian lama, dia tidak nampak lelah atau kehabisan tenaga.
Sampan itu masih meluncur kedepan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.
Kurang lebih sepertanak nasi kemudian, jaraknya dengan sumber cahaya itu tinggal tiga empat puluh tombak saja.
Sekarang, Gak Lam-kun sudah dapat melihat jelas sumber dari cahaya itu, ternyata tempat itu tak lebih adalah sebuah perahu yang sedang membuang sauh ditepi pantai.
Perahu itu besar sekali, dan yang paling penting perahu itu bukan lain adalah perahu aneh berbentuk naga yang bergerak tanpa menimbulkan suara itu.
Gak Lam-kun terkesiap.
Segera pikirnya?
"Tak heran kalau aku kehilangan jejak, rupanya perahu-perahu itu sudah kehilangan jejak dari perahu aneh ini.
Yaa, siapa yang menduga kalau perahu naga ini sudah berlabuh ditempat ini?" 00000O00000 Dengan perhatian yang seksama Gak Lam-kun memeriksa keadaan disekeliling tempat itu, rupanya didepan itu merupakan sebuah pulau kecil yang luasnya mencapai puluhan hektar lebih, kedua belah sisinya merupakan tebing karang yang saling berhadapan, sekitar pulau juga merupakan tebing-tebing karang yang terjal dan licin hanya ditengah pulau terdapat sebuah tanah datar yang sempit dan menjorok jauh kedalam pulau.
Semak belukar yang rindang dengan bukit yang sambung menyambung dan menciptakan suatu pemandangan alam yang sangat indah, tempat itu tepat sekali kalau digunakan sebagai tempat mengasingkan diri.
Gak Lam-kun mendayung perahunya dengan sangat berhati-hati, dia berputar menuju ke arah kanan, dari sisi tebing tersebut pelan-pelan ia menepi kepantai.
Tiba-tiba...dari balik ruang perahu naga yang berlabuh nun jauh disana berkumandang suara bentakan yang rendah tapi bernada berat.
"Tangkap dua orang penyusup itu gusur kemari!"
Berbareng dengan bentakan itu, empat orang bocah laki-laki berbaju hitam berkelebat keluar dari balik perahu naga, lalu dengan kecepatan tinggi menerjang ke arah Gak Lamkun serta Ji Kiu-liong.
Gak Lam-kun tidak panik menghadapi serbuan itu pelan-pelan dia mengalihkan sinar matanya dan memandang sekejap ke arah empat orang bocah baju hitam itu.
Mereka semua baru berusia empat sampai lima belas tahunan, mukanya bersih dan termasuk kategori tampan.
Begitu mencapai perahu musuh serentak mereka berempat meloloskan pedangnya.
Sreeet...!
Senjata-senjata itu disilangkan didepan dada dengan sikap yang keren, tangan kiri ditekuk sejajar dada dan pedang mereka ditumpangkan diatas lengan kiri yang menyilang, begitu gagah dan berwibawanya mereka sehingga menimbulkan hawa napsu membunuh yang mengerikan.
"Hayo ikut kami!"
Bentak bocah berbaju hitam yang berada diujung kanan dengan suara keras.
Gak Lam-kun hanya tertawa dingin tiada hentinya, ia sama sekali tidak menghiraukan teguran orang.
Lain halnya dengan Ji Kiu-liong, dia tertawa dingin dengan suara yang menyeramkan, kemudian dengan gerakan cepat dia meloloskan pedang dan membabat ketubuh lawan.
"Kurangajar, kau berani melawan? Hmm, rupanya sudah bosan hidup...?"
Bentak bocah berbaju hitam diujung kanan itu semakin naik darah.
Ditengah bentakan nyaring pedang yang dipalangkan diatas lengan kirinya itu meluncur kedepan, dengan gaya Tay-tiauw-tian-gi (rajawali raksasa mementangkan sayap) dia kunci ancaman tersebut dengan cara keras lawan keras.
Dalam pikiran bocah berbaju hitam itu, serangan tersebut kendatipun tidak memukul rontok senjata yang dipegang Ji Kiu-liong, paling sedikit senjata yang berada dalam genggamannya itu akan berhasil dipukul sampai miring dari posisi semula.
Padahal Ji Kiu-liong bukan anak kemarin sore yang tak punya kepandaian apa-apa, melihat cara orang menahan serangannya dia tertawa dingin, gerak pedang yang semula main membabat tiba-tiba dimiringkan sedikit kesamping, lalu menggeliat sambil menusuk kedalam.
Mengikuti gerakan pedangnya dia ikut menerobos kedepan, pedang digunakan untuk melindungi badan dan...
"Traaang!"
Dalam suatu benturan nyaring yang memekakkan telinga, pedang si bocah berbaju hitam kena dikunci tergetar kesamping.
Bocah berbaju hitam kaget dia tak menyangka kalau musuhnya tangguh sekali dan diluar dugaannya, tak sempat lagi untuk menghindarkan diri, pedangnya kena dikunci diluar lingkaran serangan.
Dalam keadaan begini buru-buru dia melompat mundur sejauh tiga langkah untuk menyelamatkan diri.
Ji Kiu-liong merendahkan tubuhnya lalu menerobos maju lebih kedepan, dengan jurus Po-kong-liu-im (cahaya ombak bayangan mengalir) pedangnya digetarkan keras-keras menciptakan selapis cahaya pedang yang menyilaukan mata.
Tak sampai si bocah berganti gerakan tubuhnya ia sudah meryerang lebih jauh, kali ini pedangnya disertai kilatan cahaya tajam menusuk kedepan dengan jurus Giok-li-to-sou (gadis perawan memegang jarum).
"Aduuh...!"
Jerit kesakitan yang menyayatkan hati berkumandang memecahkan kesunyian, si bocah berbaju hitam yang berada dihadapannya tak sempat menyelamatkan diri dadanya kena ditusuk hingga tembus kepunggungnya, darah kental seperti pancuran menyembur keluar dan berceceran disepanjang sampan.
Tewaslah orang itu dalam keadaan yang mengerikan.
Peristiwa berdarah ini menimbulkan kemarahan yang luar biasa bagi rekan-rekannya, dua bentakan nyaring memecahkan kesunyian, dua orang bocah berbaju hitam lainnya serentak menerjang maju dua bilah senjata dengan membawa desingan angin yang memekakkan telinga serentak menyerang tubuh Ji Kiu-liong.
Menghadapi serangan dahyat Ji Kiu-liong tertawa terbahak-bahak, pedangnya membalik seraya menebas, tubuhnya ikut maju bersamaan dengan menyambarnya senjata tersebut, begitu terhindar dari bacokan senjata lawan, pedangnya kembali berputar, sambil membiaskan selapis bunga bunga pedang yang menyilaukan mata secara beruntun dia balas melancarkan serangan dengan jurus Im-liong san-sian (Naga berwarna muncul tiga kali).
Bocah berbaju hitam yang ketiga ikut bertindak sambil memutar senjatanya tiba-tiba ia menusuk kebahu kiri Ji Kiu-liong.
"Heeehhh...heeehhh...heeehhh...bagus sekali!"
Ejek Ji Kiu-liong sambil tertawa dingin "kau akan menjadi setan kedua yang mampus diujung pedangku!"
Kaki kirinya maju selangkah kemuka, pedangnya yang berada ditangan kanan balik menebas dengan jurus Liu-im-si gwat (aliran mega menutupi rembulan), pedangnya menciptakan selapis hawa pedang yang menggidikkan tubuh.
Selapis cahaya putih dengan cepatnya menyergap kemuka, sementara telapak tangan kirinya yang bersembunyi dibalik cahaya pedang diam-diam disentil kemuka melancarkan sebuah sentilan maut yang mengejar jalan darah sim-kan-hiat ditubuh musuh.
Bocah berbaju hitam itu mendengus tertahan, lalu roboh terjungkal ketanah dan tewas seketika itu juga.
Berhasil dengan serangannya, Ji Kiu-liong semakin bersemangat, pedangnya berputar bagaikan naga sakti yang bermain diawan, pergelangan tangannya berputar kencang, lalu dengan jurus It-huan-bu-tok (menyeberang dengan perahu layar) dia tangkis tibanya dua ancaman yang membacok dari sebelah kiri.
Tidak sampai disitu saja, berbareng itu juga badannya menerobos maju kedepan, ujung pedangnya menyusup masuk dari celah-celah kelemahan lawan kemudian melepaskan sebuah bacokan.
Jeritan ngeri yang menyayatkan hati kembali berkumandang memecahkan kesunyian, bocah berbaju hitam yang ada disebelah kanan kembali terbacok bahunya sehingga putus menjadi dua bagian.
Sekarang tinggal seorang bocah barbaju hitam yang masih hidup, saking terkejutnya karena menyaksikan ketiga orang rekannya mampus secara mengerikan diujung pedang Ji Kiu-liong, dia hanya berdiri melongo seperti orang kehilangan ingatan, untuk sesaat dia lupa untuk melancarkan serangan, dia lupa untuk bertindak lebih jauh, bahkan untuk kaburpun lupa...
Baca Juga: Pedang Ular Emas 2
Baca Juga: Bahagia Pendekar Binal 5