Ceritasilat Novel Online

Senyuman Dewa Pedang 4

Eps 4 Senyuman Dewa Pedang - Khu Lung

Baca online Senyuman Dewa Pedang - Khu Lung

Cersil Senyuman Dewa Pedang - Khu Lung.

"Aku mengerti, tiga puluh juta lima ratus ribu tahil emas merupakan jumlah yang bisa digunakan untuk apapun, bisa menghidupi delapan puluh keturunan kita."

"Benar, itulah sebabnya kali ini kita tak boleh melakukan kesalahan sekecil apapun, kalau tidak, jangankan kita berdua, mungkin usaha ekspedisi kita bakal jatuh dan musnah, bahkan kita akan dijatuhi hukuman pancung."

"Aku tahu, karena itu secara khusus pihak kerajaan telah mengirim Liu Ji-kong sejak tujuh bulan lalu untuk mengatur rute yang akan kita lalui."

"Apakah dari Liu Ji-kong sudah ada berita yang dikirim kemari?"

"Setiap lima belas hari sekali pasti ada berita yang dikirim,"

Jawab Kim Bong.

"tapi semuanya hanya berisi sepatah kata."

"Sepatah kata?"

"Ya, aman."

Kalau memang jalur yang akan dilalui sudah terkendali dan aman, berarti sudah waktunya mereka berangkat.

Perjalanan kali ini dipimpin langsung oleh Pek-li Tiang-cing.

--0o0 --Si Kuah daging betul-betul gelisah, selama hidup belum pernah ia merasa sedemikian gelisah seperti ini.

Lebih baik mampus dibacok golok daripada terkurung dalam penjara besar, menunggu pelaksanaan hukuman.

Saat menanti hanya akan mendatangkan kegelisahan, gelisah mendatangkan rasa duka dan tersiksa.

Ia mulai tak tahan, tak sanggup mengendalikan diri.

Sekuat tenaga ia menghantam dinding penjara, menggedor sekeliling ruangan, ia pun mulai menjerit.

Namun selain suara pantulan yang menggema dalam ruang penjara, jawaban yang diperoleh hanya tatapan mata.

Tatapan mata yang dingin.

Tatapan mata yang belum tentu memandang ke arahnya, mungkin yang dipandang hanya kekosongan di belakang tubuhnya.

Sebun Jui-soat memang manusia begitu, tak acuh terhadap keadaan sekelilingnya, keadaan di situ seakan tidak membuatnya goyah atau sedih.

Tiba-tiba si Kuah daging berhenti berteriak dan menggedor, ia berdiri di hadapan Sebun Jui-soat.

Dengan sorot mata putus asa ia pelototi wajah Sebun Jui-soat yang dingin.

"Mereka bakal membunuh kita?"

Tanyanya. Jangankan menanggapi, memandang sekejap ke arahnya pun tidak, seolah-olah pertanyaan itu tak pantas untuk dijawab.

"Apakah mereka bakal membunuh kita?"

Sekali lagi si Kuah daging mengulangi pertanyaannya, kali ini sambil menggoyang bahu Sebun Jui-soat.

"Tidak."

Jawaban itu seakan bukan diucapkan Sebun Jui-soat, seolah-olah keluar karena goncangan si Kuah daging, melompat keluar dari perut, melalui kerongkongan dan melompat dari sela-sela giginya.

Biarpun jawaban itu seakan diucapkan tanpa tenaga, namun mendatangkan pengharapan yang tak terhingga bagi si Kuah daging.

Sinar keputus-asaan tiba-tiba hilang dari balik matanya, terpancar cahaya berkilau.

"Sungguh? Mereka tak akan membunuh kita?"

Sebun Jui-soat tidak menggeleng, juga tidak mengangguk. Tapi si Kuah daging hampir saja menari dan menyanyi saking girangnya, kembali katanya.

"Aku mengerti maksudmu, mereka hanya mencampuri arak dengan obat pemabuk, bukan racun jahat, jadi mereka tak ingin menghabisi nyawa kita, bukankah begitu?"

"Salah,"

Kembali si Kuah daging mengoceh.

"kalau mereka tak ingin membunuh kita, mengapa menyekap kita di sini?"

Kelihatannya hal ini satu persoalan yang pantas dipikirkan secara mendalam.

Kenapa mereka menyekap si Kuah daging dan Sebun Jui-soat, dan bukannya dibacok mampus?

Mereka sama sekali tak ada harganya.

Liok Siau-hong sudah mati, mereka datang untuk menuntut balas, tidak membunuh mereka berarti akan menambah ancaman bahaya, sama sekali tak ada faedahnya.

Si Kuah daging mustahil mengetahui persoalan ini, biar otaknya pecah pun tak mungkin tahu.

Sebab jawabannya berada dalam otak gerombolan pembunuh di kota Ui-sik.

Kelihatannya Sebun Jui-soat mengetahui hal ini, maka ia lebih memilih memejamkan mata.

"Mengapa Sebun Jui-soat tidak dibunuh saja?"

Pertanyaan itu diajukan Sah toa-hu. Kelihatannya Sah Toa-hu sendiri tidak memahami hal ini.

"Betul, kenapa tidak kita bunuh Sebun Jui-soat?"

Pertanyaan ini diajukan Lopan toko kelontong dan Lopan toko peti mati.

Kelihatannya hanya satu orang yang mengetahui jawabannya.

Sorot mata orang yang mengajukan pertanyaan itu tertuju ke wajah scseorang.

"Kita tidak membunuhnya karena kita butuh kiam-boh (kitab pedang) miliknya,"

Kata Kiong So-so sambil bangkit berdiri.

"Kiam-boh?"

Tanya Sah Toa-hu tercengang.

"buat apa kiam-boh miliknya?"

"Kau tak ingin mempelajari ilmu pedangnya yang tiada tandingan di kolong langit?"

"Sehetulnya ingin, tapi sekarang tidak."

"Kenapa?"

"Sebab kita segera akan menjadi hartawan yang kaya raya, buat apa mempelajari ilmu pedang?"

"Setelah berduit, lantas kau tak ingin mempelajari ilmu silat?"

Tanya Kiong So-so.

"Betul. Tahukah kau, berapa banyak bagian kita?"

"Aku tak mampu menghitungnya."

"Aku pun tak sanggup menghitungnya, tapi aku tahu, uang bagian kita bisa digunakan untuk menghidupi delapan puluh generasi keturunan kita."

Sesudah memandang semua yang hadir dalam ruangan, kembali Sah Toa-hu berkata.

"Dengan bekal uang sebanyak itu, kalau tidak dipakai makan-minum sepuasnya, buat apa mesti bersusah-payah berlatih pedang?"

Paras Lopan toko peti mati yang semula pucat bagai mayat, sekarang berubah cerah, seakan telah berubah menjadi manusia lain, berubah dari sesosok mayat menjadi seorang kaisar. Dengan gembira serunya.

"Betul, setelah berduit, kita bisa berfoya-foya, berpesta pora, peduli apa dengan ilmu pedang?"

"Apalagi dengan menahan Sebun Jui-soat, berarti menambah ancaman untuk kita,"

Kata Sah Toa-hu.

"Kalian tak usah kuatir, penjara itu sangat kuat, jangankan Sebun Jui-soat, setan pun jangan harap bisa melarikan diri,"

Kiong So-so memandang sekejap wajah rekan-rekannya, katanya pula.

"baiklah, bila yang kalian pikirkan cuma duit, biarlah urusan kiam-boh dan Sebun Jui-soat kuselesaikan sendiri."

"Tapi...."

Sah Toa-hu ingin mengatakan sesuatu, tapi urung.

"Kau takut ia kabur dari penjara? Jangan kuatir, serahkan urusan ini padaku."

"Kenapa harus diserahkan padamu seorang? Sepantasnya urusan ini kita pikul bersama."

Tiba-tiba pengemis cilik muncul dengan setengah berlari, begitu masuk ke dalam ruangan, katanya.

"Tahukah kau, persoalan apa yang sedang kita bicarakan?"

"Persoalan apa?"

Tanya Kiong So-so.

"Persoalan yang sudah kita bicarakan secara baik-baik!"

"Jadi mereka sudah d'atang?"

"Benar,"

Pengemis cilik mengangguk.

Mereka?

Siapakah mereka?

--0o0 Kelihatannya si kakek kecil sangat menguasai jalanan di kota Ui-sik, la sengaja berputar kian kemari, ketika sampai di luar kota, waktu sudah mendekati senja.

"Coba lihat, benar bukan perkataanku,"

Ujar si kakek sambil memandang matahari senja.

"kan sudah kubilang, kita tiba di kota Ui-sik waktu pasti menjelang senja, aku tidak bohong bukan?"

"Kau memang tidak membohongi aku, tapi membohongi dalam hal lain,"

Kata si nenek.

"Yang lain? Soal apa?"

"Kau membohongi aku hingga mesti menempuh perjalanan setengah harian dengan percuma."

"Aku tidak membohongimu, aku hanya bilang, ketika tiba di kota Ui-sik, paling tidak matahari sudah turun gunung, tapi kau bersikeras mengatakan kalau saat itu tentu tengah hari."

Panji kebesaran Tiong-goan-piau-kiok berkibar terhembus angin malam, angin kencang membuat panji berkibar menimbulkan suara gemerisik.

Pek-li Tiang-cing duduk di atas kudanya sambil mengawasi sekeliling tempat itu dengan sorot mata tajam.

"Kim Bong, apakah di depan sana adalah kota Ui-sik?"

"Benar."

"Apakah dijamin aman?"

"Orang-orang kita selalu melakukan penyelidikan setiap tiga bulan sekali, semua penghuni kota bertampang lugu kecuali orang yang bernama Sah Toa-hu."

"Sah Toa-hu?"

"Sah Toa-hu adalah seorang bangsawan yang dibuang kemari, ia berhasil menggali emas dalam jumlah besar di atas bukit di luar kota Ui-sik, sejak itu ia tinggal di sini. Karena orang ini berduit, maka terkadang ia menampung para pelarian yang kebetulan lewat di sini.

"Ilmu silat para pelarian itu tidak cukup tangguh buat kita, cukup dengan sebuah jari pun sanggup merobohkan mereka."

"Kalau begitu malam ini kita bisa tidur dengan nyenyak."

"Aku pun berpendapat begitu."

"Bagaimana pendapatmu?"

Tanya si kakek.

"Aku pikir, bila mereka bisa tidur dengan tenang dan nyenyak, maka hanya ada semacam keadaan,"

Sahut si nenek.

"Keadaan apa?"

"Hanya orang mati yang bisa tidur tenang dan nyenyak."

"Kenapa mereka mati?"

"Berani membawa begitu banyak uang dan mendatangi kota Ui-sik yang sepintas nampak tenang, namun di balik ketenangan justru tersembunyi gelombang yang maha dahsyat, kalau bukan cari mati lantas apa?"

"Darimana kau tahu mereka membawa banyak uang?"

"Masa tidak kau periksa bekas roda kereta mereka? Coba lihat, betapa dalamnya bekas itu? Mungkin barang yang mereka kawal adalah emas murni."

"Aku rasa bukan."

"Oya?"

"Kalau emas, masakah hanya membawa beberapa pengawal?"

"Lantas barang apa yang sedang mereka kawal?"

"Batu!"

"Batu?"

"Benar, batu."

"Darimana kau tahu?"

"Aku rasa barang yang berada dalam kereta pasti batu. Justru karena mengangkut batu, maka mereka bernyali, berani memasuki Ui-sik dengan membawa beberapa orang saja."

"Kau tahu, siapakah mereka?"

"Siapa?"

"Mereka adalah Pek-li Tiang-cing, Kim Bong, Go-bi Lihiap Suto Hong, Suto Hun, Suto Yan dan jago pedang dari Cing-shia, Hian-tocu."

"Sungguh?"

"Memangnya mataku rabun?"

"Jadi barang yang mereka angkut adalah emas murni?"

"Aku tidak tahu."

"Aku tahu, cara terbaik adalah pergi ke sana dan periksa sendiri."

Gedung tempat tinggal Sah Toa-hu terang bermandikan cahaya lentera.

Bagi Sah Toa-hu, hari ini merupakan hari terpenting baginya sepanjang hidup.

Bisa menjamu seorang Congpiauthau perusahaan ekspedisi terbesar di tiga belas propinsi utara dan selatan sungai besar, jelas merupakan kejadian yang tak pernah dibayangkannya.

Sementara ia perintahkan koki menyiapkan hidangan paling lezat untuk menjamu tamunya, ia sendiri sejak awal sudah berdiri menanti di pintu gerbang, menyambut kedatangan Pek-li Tiang-cing.

Bukan hanya dia, hampir seluruh penghuni kota Ui-sik telah berdiri berjajar di depan pintu, menyambut kedatangan tamunya.

Senyum bangga menghiasi wajah setiap orang.

Pada saat itulah terdengar pengemis cilik berseru lantang.

"Mereka telah datang."

Tentu saja yang dimaksud "mereka"

Adalah orang-orang Tiong-goan-piau-kiok.

Padahal yang dimaksud pengemis cilik adalah barang kawalan yang berada dalam kereta rombongan.

Emas murni yang bisa menghidupi delapan puluh generasi keturunan mereka.

"Mereka telah memasuki gedung Sah Toa-hu,"

Ujar si kakek kecil.

"Benar, sang ikan sudah masuk jaring."

"Bagaimana selanjutnya?"

"Tentu saja menonton pertunjukan."

"Dalam keadaan seperti ini kita hanya menonton?"

"Kalau bukan begitu, apa yang hendak kau lakukan?"

"Tentu saja pergi menolong orang."

"Menolong orang? Siapa?"

"Mereka!"

"Mereka? Sekarang keadaan mereka belum berbahaya, belum makan kenyang, belum minum sampai mabuk, mana mungkin berbahaya?"

"Lalu ...."

Si kakek mulai bingung, tak tahu apa yang mesti diperbuat.

"Kita pergi menolong orang,"

Ajak si nenek.

"Bukankah kau mengatakan mereka tidak berbahaya?"

"Bukan mereka yang kumaksud, tapi orang lain."

"Orang lain? Siapa?"

"Sebun Jui-soat."

"Dia? Kau tahu dimana dia sekarang?"

"Tentu tahu, jika tidak, buat apa kuusulkan menolongnya?"

"Kenapa ia butuh pertolongan?"

"Karena ia tidak berada dalam tenda, kulihat Sah Toa-hu sekalian amat senang, kalau Sebun Jui-soat masih berada di luar, mana mungkin mereka bisa sedemikian gembira?"

"Kenapa harus menolong Sebun Jui-soat?"

"Bukankah sudah kukatakan, ia adalah sobat kecilku?"

"Karena sobat kecilmu maka harus ditolong?"

"Karena sobat kecilku ini bisa membantu kita melakukan banyak pekerjaan, misalnya memeriksa isi kereta itu, berisi batu atau emas murni?"

"Kalau begitu, kenapa tidak cepat sedikit?"

Belum selesai perkataan itu diucapkan, si kakek sudah beranjak lebih dulu. Tapi ia tak mampu berlalu, karena kerah bajunya sudah ditarik si nenek.

"Apa-apaan kau?"

"Seharusnya pertanyaan itu aku yang ajukan kepadamu?"

"Tentu saja menolong orang."

"Menolong orang? Kalau ingin menolong orang, larinya ke arah situ." --00— Bersambung ke 8 Bagian 8 Malam semakin kelam, malam tanpa rembulan. Biasanya penjara yang amat menyeramkan akan nampak lebih menggidikkan di tengah malam semacam ini. Menyaksikan betapa seramnya rumah penjara itu, alis si kakek kecil berkenyit, bahkan si nenek pun ikut mengernyitkan dahi.

"Kenapa kau mengernyitkan dahi?"

Tanya si kakek.

"Karena kau mengernyitkan alis."

"Apa sangkut-pautnya?"

"Tentu saja ada."

"Apa hubungannya?"

"Karena kerutan alismu mirip seseorang."

"Siapa?"

"Liok Siau-hong!"

"Sungguh? Aku mirip Liok Siau-hong?"

"Betul, cuma alismu berwarna abu-abu."

Si kakek tertawa, tampaknya ia merasa sangat bangga.

"Asal mirip Liok Siau-hong, peduli amat alis abu-abu atau kuning?"

Tiba-tiba ia menghela napas panjang, lanjutnya.

"Hanya sayang ...."

"Liok Siau-hong sudah mati?"

"Itu alasan pertama."

"Lalu alasan kedua?"

"Sayang saat ini kita sedang melakukan tugas penting, kalau tidak, aku pasti akan mengundangmu minum sepuasnya."

"Kenapa?"

"Karena belum pernah ada orang mengatakan aku mirip Liok Siau-hong."

"Apa bagusnya mirip Liok Siau-hong? Malah ada orang memanggil Liok Siau-hong sebagai Liok-siau-khe, apalagi Liok Siau-hong sudah mati, apa bagusnya kau mirip orang mati?"

Si kakek tidak bicara lagi, ia berjalan menuju ke pintu penjara dengan mulut bungkam. Lagi-lagi tangannya ditarik si nenek.

"Apa-apaan kau ini?"

Tegur si kakek.

"Apa yang hendak kau lakukan?"

"Bukankah kita akan menolong orang? Kini Liok Siau-hong sudah mati, bagaimanapun Sebun Jui-soat tak boleh rnampus."

"Tiba-tiba aku merasa ada satu hal yang jauh lebih penting ketimbang menolong Sebun Jui-soat. Lebih baik kita menolongnya seusai menyelesaikan pekerjaan itu saja."

"Pekerjaan apa?"

Si nenek tak menjawab, hanya melempar senyuman misterius.

--00— Malam semakin larut, malam tanpa rembulan yang gelap.

Perjamuan dimulai menjelang malam, seharusnya tengah malam perjamuan usai.

Perjamuan yang diselenggarakan di ruang tengah gedung Sah Toa-hu sudah tiba saat bubar.

Perjamuan yang diselenggarakan Sah Toa-hu adalah untuk menyambut kedatangan tamu agung dari Tiong-goan-piau-kiok.

Ketika perjamuan usai, para tetamu bersiap meninggalkan ruang perjamuan.

Para tetamu sudah berdiri, tiba-tiba Sah Toa-hu mengangkat cawannya, katanya.

"Ada satu hal aku merasa perlu minta maaf."

"Saudara Sah telah menjamu kami, budi kebaikan ini sudah membuat kami berterima kasih, kenapa kau minta maaf?"

Sahut Pek-li Tiang-cing sambil menjura.

"Hidangan kami sederhana, Congpiautau mau mencicipinya sudah memberi muka kepada kami. Oleh sebab itu aku harus didenda secawan arak sebagai ungkapan permintaan maaf."

"Soal apa?"

Tanya Pek-li Tiang-cing.

"Rumah kami kelewat kecil."

"Apa hubungannya?"

"Tentu saja ada, karena kami hanya bisa melayani tiga orang pengawal perusahaanmu."

Sebelum Pek-li Tiang-cing sempat mengucapkan sesuatu, Lopan toko kelontong menimpali.

"Tidak jadi masalah, tempatku bisa menampung dua orang."

"Benar,"

Sambung Kiong So-so pula.

"biar kedua Cici ini tinggal selama beberapa hari di rumahku."

Lopan toko peti mati tak mau kalah, selanya pula.

"Bila kalian ada yang bernyali besar dan tak takut tidur dalam peti mati, boleh tinggal di tokoku."

Bagi Pek-li Tiang-cing, tentu saja tawaran ini disambut dengan terima kasih.

Maka anggota Tiong-goan-piau-kiok pun terpisah-pisah dan tinggal di tiga gedung yang berbeda.

Dengan demikian kekuatan Tiong-goan-piau-kiok terpecah.

Sekalipun malam itu kelam tanpa rembulan, kereta barang yang berjajar di depan rumah Sah Toa-hu masih nampak jelas.

Bukan cuma kereta barang saja yang terlihat jelas, bahkan para penjaga yang bertugas mengawal kereta pun terlihat jelas.

Salah seorang penjaga yang sedang berdiri di samping kereta mendadak mengalihkan pandangannya ke balik pepohonan tak jauh di hadapannya.

la seolah menyaksikan sesosok bayangan manusia berkelebat, kemudian lenyap.

la sama sekali tidak berteriak, mendengus pun tidak, sebab disangkanya ia salah lihat.

Orang yang terlalu banyak minum arak, terkadang matanya kabur.

Andaikata ia ingin menjerit pun percuma, karena sudah tak sempat menjerit lagi.

Sebatang jarum emas yang lembut dan kecil meluncur dari balik pepohonan bersamaan dengan lenyapnya bayangan itu.

Jarum emas melesat cepat, langsung menyambar tenggorokan penjaga itu.

Ia hanya bisa membelalakkan mata, menjerit pun tak sempat, sementara tangan kanannya berusaha melolos golok.

Lalu sabetan golok menggorok tenggorokan penjaga lain.

Sementara seutas tali rnenjerat tengkuk penjaga ketiga.

Malam semakin kelam, sepi, hening, tak terdengar sedikitpun suara.

Biarpun di tengah malam buta, bangunan rumah Kiong So-so masih terang benderang.

Cahaya lentera mendatangkan kehangatan dan keramahan bagi tetamu.

Paling tidak kedua orang piausu perempuan Tiong-goan-piau-kiok mempunyai perasaan semacam ini.

Sejak melangkah masuk ke dalam ruang tengah rumah Kiong So-so, mereka telah merasakan kehangatan dan kenyamanan.

Orang yang merasa nyaman biasanya akan berusaha mengungkapkan perasaannya.

Kiong So-so hanya tersenyum, dengan tenang mendengarkan kata pujian dan sanjungan yang diberikan tamunya.

Kemudian katanya.

"Sulit untuk bertemu dengan nona berdua, bagaimana kalau kita menghabiskan waktu dengan berbincang?"

Ketika seseorang berada dalam suasana hangat dan nyaman, bagaimana bisa menampik ajakan ini?

Tentu saja sulit.

Kiong So-so pun bertepuk tangan dua kali.

Tak lama kemudian makanan kecil dan arak pun dihidangkan, tertata rapi di atas meja.

Seorang nenek mengantar arak dan sayur.

Langkah nenek itu amat gesit dan lincah, sedikitpun tidak mirip gerak-gerik seorang nenek.

Jika gaun nenek itu disingkap, akan terlihat sepasang kaki yang halus, mulus dan kenyal, persis kaki gadis muda belia.

Sayang kedua piausu perempuan itu tidak melihatnya.

Kedua orang itu tidak memperhatikannya, malah tiada rasa waswas atau curiga, ketika Kiong So-so menghormati mereka dengan secawan arak, kedua orang itu segera meneguk habis isinya.

Reaksi si nenek sangat cepat, segera kembali menuang penuh kedua cawan itu dengan arak.

Kini sudah cawan ketiga.

Ketika mengisi cawan untuk keempat kalinya, tiba-tiba nenek itu mengangkat tinggi poci arak di tangan kanannya, lalu sekuat tenaga dihantamkan ke atas kepala kedua piausu perempuan yang berada di sampingnya.

Dengan wajah berubah, cepat kedua piausu perempuan itu mengangkat tangan kanannya menangkis.

Sayang, tangannya sudah tak mampu digerakkan lagi.

Parasnya berubah hebat, jelek dan tak sedap dipandang.

Ia tak tahu, paras muka rekannya yang duduk di samping telah berubah jauh lebih jelek.

Karena batok kepalanya telah hancur, hancur dihajar poci arak.

Rekannya sudah berusaha menggerakkan tangan menangkis datangnya ancaman, tapi sayang, tenaganya telah hilang.

Tiba-tiba sekujur badannya sudah kaku, tak mampu bergerak.

Satu-satunya bagian tubuhnya yang masih normal hanya tinggal pendengarannya.

Ia dengar suara tawa Kiong So-so yang dingin, penuh kebanggaan dan rasa puas.

Lalu seluruh penerangan dalam rumah Kiong so-so padam.

Malam makin larut, terasa menyeramkan dan menggidikkan, Sebetulnya yang menyeramkan dan menggidikkan adalah peti mati serta suara tawa si Buta Tio.

"Kalian berani tidur di sini?"

Tanya si Buta Tio.

"Tentu saja berani, kami sudah terbiasa melakukan perjalanan dalam dunia persilatan, tidur di tanah kuburan pun sudah pernah, kenapa mesti takut dengan peti mati?"

Sambil berkata piausu itu menyikut rekannya. Rekannya segera menimpali.

"Benar, apalagi peti mati ini masih baru."

"Justru karena masih baru, maka aku bertanya."

"Kenapa?"

"Karena peti mati baru hanya untuk orang yang baru mati."

"Kau jangan bergurau.."

"Bergurau?"

"Memangnya bukan?"

"Bukan."

Jawaban terakhir berasal dari seseorang yang secara tiba-tiba melompat keluar dari balik sebuah peti mati.

Kedua orang piausu itu benar-benar terperanjat.

Di saat mereka masih tercekat, seseorang telah melompat keluar dari dalam peti mati itu.

Sementara sepasang tangan si Buta Tio telah berubah menjadi cakar harimau, langsung mencakar tubuh piausu yang berada di hadapannya.

Hanya dengan dua kali benturan, nyawa kedua piausu itupun seketika berakhir.

Si Buta Tio segera menyambar tubuh kedua piausu itu, ketika didorong ke belakang, mayat kedua orang itupun dengan tepat masuk ke dalam kedua peti mati itu.

Sekulum senyuman menghiasi wajah si Buta Tio, teriaknya kepada orang yang baru melompat keluar dari dalam peti mati.

"Pengemis cilik, tidak jelek bukan?"

"Tentu, jago macam begitu saja ingin mengawal barang?"

"Lantas mereka cocok jadi apa?"

"Jadi begini,"

Sahut si pengemis cilik sambil menuding ke arah peti mati.

"Tepat sekali, aku rasa bukan hanya mereka berdua saja, semua orang pantas tidur dalam peti matiku. Eh, pengemis cilik, masih ada berapa banyak peti mati kosong?"

"Rasanya sudah tidak terlalu banyak."

"Tentu saja tidak banyak, hanya tersisa enam buah."

"Enam buah? Masa sebanyak itu?"

"Dalam toko kelontong ada dua, di rumah Sah-lopan ada dua.

"Bukankah di rumah Sah-lopan ada tiga?"

"Ada tiga? Memangnya kau pun ingin membunuh Lotoa?"

"Mana berani, berarti baru empat, lantas siapa dua orang yang lain?"

"Kau lupa? Si Kuah daging dan Sebun Jui-soat."

"Mana bisa lupa? Siapa yang bisa melupakan Sebun Jui-soat?"

Betul, siapa yang dapat melupakan Sebun Jui-soat? Paling tidak si kakek kecil tak dapat melupakantvya. Selesai melaksanakan tugas yang diberikan si nenek, kakek kecil itu sudah mendesak si nenek.

"Sekarang sudah saatnya menolong Sebun Jui-soat bukan?"

"Tentu, sekarang memang saatnya kita menolong dia."

"Kenapa?"

"Karena semua penghuni kota Ui-sik sedang memusatkan seluruh kekuatan dan perhatiannya untuk menghadapi orang-orang Tiong-goan-piau-kiok, mereka takkan mengutus orang menjaga rumah penjara itu."

"Apa semua orang itu akan mereka bunuh?"

"Bisa jadi."

"Lantas kenapa kau tidak berusaha menolong mereka?"

"Memangnya kau punya akal untuk menolong mereka?"

Kakek kecil itu tidak bicara, karena tak sanggup rnenjawab pertanyaan ilu.

Mampukah mereka mcnyelamatkan orang-orang Ku hanya mengandalkan kekualan mereka berdua?

Selain itu, mereka pun tak bisa tampil secara terang-terangan, karena belum berhasil menemukan biang keladinya.

Sebelum berhasil melacak biang keladinya, siapa percaya perkataan si kakek dan nenek?

Siapa percaya kalau sekelompok manusia jujur dan polos yang tinggal di Ui-sik adalah kelompok penjahat yang mencelakai anggola Tionggoan-piau-kiok?

Justru karena Liok Siau-hong pun tak percaya maka terbunuh di sana.

"Menurut kau, siapa dalangnya?"

Tanya si kakek.

"Bcrdasarkan keadaan di depan mata, hanya dua orang yang paling pantas dicurigai."

"Siapa?"

"Pek-li Tiang-cing dan Kim Bong."

"Mereka? Kenapa? Mereka kan Congpiauthau dan Hu-congpiauthau perusahaan itu, masa ingin membegal barang kiriman sendiri?"

"Kenapa tidak? Tahukah kau nilai barang kawalannya?"

"Berapa?"

"Tiga puluh lima juta lima ratus ribu tahil emas."

"Seberapa banyak itu?"

"Jumlah yang tak akan habis unluk menghidupi delapan puluh generasi keturunanmu!"

"Wah, banyak sekali. Uang siapa itu?"

"Menurut apa yang kuketahui uang itu biaya persiapan peperangan milik kerajaan."

"Kenapa harus diangkut kemari?"

"Konon daerah selatan sedang dilanda pemberontakan, maka uang itu dikirim kemari sebagai persiapan biaya peperangan."

"Kenapa tidak langsung diangkut ke sana?"

"Kuatir menyolok, hingga memancing perhatian orang, bila pihak pemberontak mengetahui pengiriman ini, bisa jadi akan terjadi peristiwa yang tak diinginkan."

"Maka tanggung jawab pengiriman diserahkan ke pihak Tiong-goan-piau-kiok?"

"Benar,"

Si nenek membenarkan.

"Kelihatannya mereka sudah merencanakan segalanya sejak setengah tahun lalu, darimana mereka tahu sedini itu?"

"Itulah sebabnya aku curiga dalang peristiwa ini kalau bukan Pek-li Tiang-cing pastilah Kim Bong."

"Oh!"

Kakek itu mengangguk.

"memang mereka berdua yang mengetahui terlebih dulu rencana pengiriman uang ini, tapi ... bukankah uang mereka tak ada habisnya, kenapa mesti membegal barang kiriman?"

Si nenek tertawa, katanya.

"Apakah sekarang kau punya duit?"

"Punya."

"Bisa digunakan berapa lama?"

"Sampai mati pun tidak habis."

"Andaikata di depan matamu terdapat sepuluh juta tahil emas, apakah kau menginginkannya?"

"Aneh kalau tidak mau."

"Nah, itu dia, siapa sih yang tak ingin harta lebih banyak."

"Ada seseorang!"

"Siapa?"

"Liok Siau-hong!"

Kembali si nenek tertawa, katanya pula.

"Tentu saja orang yang sudah mati tak perlu menumpuk harta lebih banyak lagi."

Si kakek ikut tertawa.

"Benarkah Liok Siau-hong sudah mati?"

Tanyanya.

"Memangnya belum?"

Si kakek tidak rnenjawab, tiba-tiba ia menempelkan jarinya di atas bibir sambil berbisik.

"Ssttt!"

Rupanya mereka sudah tiba di luar kamar penjara, itulah sebabnya si kakek memberi tanda agar si nenek tidak bersuara.

Padahal sekalipun suara si kakek dan nenek itu lebih keras lagi, orang yang berada dalam penjara tak bakal mendengar.

Karena penjara itu memang tak ada penjaganya.

Yang ada hanya Sebun Jui-soat dan si Kuah daging yang tersekap di sana, seandainya mereka mendengar suara pembicaraan itupun tak masalah.

Jika ada yang berpendapat begitu, maka orang itu keliru besar.

Karena Sebun Jui-soat sudah mendengar suara manusia di luar pintu, bahkan ia sudah memadamkan lentera dalam kamar penjara.

Menyusul ia dekap mulut si Kuah daging dengan tangannya dan berbisik di sisi telinganya.

"Jangan berisik!"

Setelah itu tanpa menimbulkan suara, ia tempelkan badannya di dinding dekat pintu penjara.

Perlahan-lahan pintu penjara didorong orang.

Arah pintu yang terdorong itu kebetulan ke arah tubuh Sebun Jui-soat yang menempel di dinding penjara.

Baru saja pintu penjara terdorong setengah, si kakek sudah berseru tertahan.

Ia lihat suasana dalam penjara gelap gulita, lalu terdengar ia bergumam.

"Kita datang terlambat, Sebun Jui-soat sudah tak ada."

"Siapa bilang aku tak ada?"

Bersamaan dengan itu, segulung havva pedang telah menusuk ke tubuh si kakek.

Cepat tubuh si kakek merandek dan secepat kilat melayang mundur ke belakang.

Pedang Sebun Jui-soat dengan kecepatan tak terkirakan kembali menusuk ke arah si nenek.

Si nenek sama sekali tidak mundur, dengan gerakan yang amat cepat ia mengangkat tangannya.

Kedua jarinya tahu-tahu sudah menjepit pedang Sebun Jui-soat.

"Ah, rupanya kau!"

Sebun Jui-soat menjerit kaget.

"Bukan aku,"

Jawaban si nenek pun membingungkan.

"Betul, kau!"

Kembali Sebun Jui-soat berseru.

Kemudian perlahan-lahan ia mencabut kembali pedangnya dari jepitan jari si nenek dan cahaya api pun menerangi ruangan.

Cahaya lentera telah menerangi seluruh tempat, dengan kening berkerut si Kuah daging memandang nenek itu sekejap, kemudian serunya.

"Ternyata kau?"

"Nona masih ingat aku?"

"Tentu saja ingat, ketika Sukong Ti-sing bertemu denganmu, seperti bertemu setan saja, mana mungkin aku melupakan dirimu?"

"Kau kenal dengannya?"

Tanya Sebun Jui-soat.

"Kenal."

"Siapakah dia?"

"Jadi kau tidak mengenalnya?"

"Darimana aku tahu?"

"Seharusnya kau pun tahu siapa dia."

"Oya? Lantas siapa dia?"

Sebun Jui-soat diam, hanya mengawasi wajah nenek itu.

Si nenek pun tidak bicara, mengawasi wajah si Kuah daging.

Mendadak si Kuah daging merasa pipinya merah dan panas, seakan yang memandang wajahnya bukan seorang nenek, melainkan seorang pemuda romantis.

"Kau adalah ...."

"Benar,"

Suara si nenek mendadak berubah jadi lebih muda.

"memang aku!"

Tidak salah, ia memang Liok Siau-hong, Liok Siau-hong yang tiada duanya.

"Bukankah Liok Siau-hong sudah mati?"

"Mati? Mana mungkin Liok Siau-hong mati'?"

Si nenek tertawa riang.

Begitu si Kuah daging menyaksikan senyuman si nenek, sorot matanya yang nakal, ia segera tahu si nenek tak lain adalah Liok Siau-hong.

Mengetahui Liok Siau-hong belum mati, seharusnya si Kuah daging merasa amat gembira, tapi ia justru melototkan sepasang matanya dengan garang dan berteriak penuh amarah.

"Kenapa Liok Siau-hong tak bisa mati? Paling baik jika Liok Siau-hong mampus!"

"Benarkah paling baik Liok Siau-hong mampus?"

Kakek yang berada di samping si nenek menyela.

"Siapa kau? Apa urusannya denganmu?"

Seru si Kuah daging.

"Aku? Aku bukan siapa-siapa, cuma kalau tak ada aku, Liok Siau-hong terpaksa harus benar-benar mampus."

"Kenapa?"

"Karena aku paling ahli mengubah wajah."

"Kau? Jadi kau adalah Sukong Ti-sing?"

"Betul."

"Lantas ...."

Si Kuah daging terbelalak dengan mulut melongo.

"lanlas siapa pula Sukong Ti-sing yang berada di atas loteng rumah makan itu?"

"Dia? Dia adalah si setan mampus Liok Siau-hong."

"Bukankah dia pun Liok Siau-hong?"

Seru si Kuah daging sambil menuding nenek itu, ia benar-benar bingung dibuatnya.

"Dia adalah Liok Siau-hong hidup."

"Lalu sewaktu hidup, siapakah si setan mampus Liok Siau-hong?"

"Lausit Hvvesio!"

"Lausit Hwesio?"

"Betul, padahal ia lebih panlas disebut Put-lausit Hwesio."

"Kenapa?"

"Sebab dia seharusnya berbaring tanpa gerak dalam peti mati, tapi dia justru datang mencariku, minta aku mengubah wajahnya agar seperti Sebun Jui-soat. Katanya tidak enak menyamar sebagai Sebun Jui-soat, dia pun menyamar sebagai aku, coba bayangkan, bukankah dia sangat tidak jujur?"

Kata Sukong Ti-sing.

"Berarti orang yang kami saksikan berada dalam peti mati itu adalah Lausit Hwesio?"

"Betul, Lausit Hwesio asli."

"Tapi orang dalam peti mati itu jelas adalah sesosok mayat."

"Tentu saja sesosok mayat, kalau tidak, mana mungkin bisa mengelabui kawanan perampok dari Ui-sik?"

"Kalau ia sudah mati, kenapa sekarang bisa hidup kembali?"

"Karena ia adalah Lausit Hwesio yang tiada duanya dalam dunia persilatan."

"Jadi Lausit Hwesio bisa hidup kembali?"

"Tentu saja."

"Kenapa?"

"Sebab Lausit Hwesio pandai Kui-si-kang (ilmu pernapasan kura-kura)."

"Aku mengerti sekarang."

"Kau benar-benar mengerti?"

"Tentu saja, karena Lausit Hwesio pandai ilmu pernapasan kura-kura, maka Liok Siau-hong mencari Lausit Hwesio dan minta ia menyamar sebagai dirinya dan pura-pura mati, begitu bukan?"

"Tepat sekali, bukankah waktu itu kau sempat mengintip?"

"Ah, kau ...."

Teriak si Kuah daging .

"tapi masih ada satu hal yang tidak kupahami."

"Kau tidak mengerti kenapa aku mencari Lausit Hwesio dan memintanya pura-pura mati bukan?"

"Benar."

"Sebenarnya Ui-sik merupakan kota kecil yang tak menarik perhatian orang, ketika aku tiba di sini, hampir setiap orang berusaha menyembunyikan ilmu silatnya, aku segera tahu di balik semua ini pasti ada persoalan yang tidak beres."

"Darimana kau tahu mereka menyembunyikan ilmu silatnya?"

"Jangan lupa, aku adalah seorang nenek, sepasang mataku sudah banyak melihat kejadian besar, kau sangka si nenek hidup percuma selama puluhan tahun?"

"Benar, maaf kalau begitu, aku tidak tahu kau memiliki mata yang amat lihai,"

Tak tahan si Kuah daging tertawa cekikikan, Liok Siau-hong memandang Sebun Jui-soat sekejap, kemudian katanya lagi.

"Maka aku pun pergi mencari Sukong Ti-sing, minta ia membekal bahan untuk menyamar dan ikut aku. Ternyata tanpa bicara sepatah kata pun ia ikut aku pergi mencari Lausit Hwesio.

"Begitu bertemu Lausit Hwesio, aku langsung memukul kepalanya sambil berkata, 'He, Hwesio, tanggalkan seluruh pakaian yang kau kenakan. Tahukah kau apa reaksi Lausit Hwesio begitu mendengar pcrkataanku itu?" < "Pasti sangat terperanjat,"

Jawab si Kuah daging.

"Keliru, ternyata tanpa mengucapkan sepatah kata pun ia tanggalkan seluruh pakaiannya hingga telanjang bulat, kemudian katanya kepadaku, 'Napsu adalah kosong, kosong adalah napsu. Sungguh tak kusangka Liok Siau-hong pun sudah bosan dengan keduniawian dan sekarang ingin mengenakan pakaian Hwesio untuk hidup dalam pengasingan.' Coba bayangkan, kau jengkel tidak mendengar perkataan itu?"

"Sama sekali tidak,"

Sahut si Kuah daging.

"Oya? Kenapa tidak jengkel?"

"Karena kau mencarinya dan minta menggantikan posisimu pergi mati, apa salahnya dia pun mengejekmu dengan beberapa patah kata? Kenapa mesti jengkel?"

Mendadak Siau-hong memandang si Kuah daging lekat-lekat.

"Apa yang kau lihat?"

"Secara tiba-tiba aku merasa kau berubah begitu memahami perasaan orang. Itulah sebabnya ingin kubuktikan, benarkah kau adalah si Kuah daging yang asli."

"Menurut pendapatmu?"

"Susah untuk dijawab, apalagi setelah melakukan perjalanan bersama Sukong Ti-sing."

Pada saat itulah Sebun Jui-soat yang jarang bicara berkata.

"Aku mengerti sekarang."

"Mengerti apa?"

"Karena mengira kau sudah mati maka penjagaan mereka pun semakin kendor, dan kau pun secara diam-diam mulai melacak dan menyelidiki rencana busuk mereka."

"Ternyata kau benar-benar mengerti."

"Sebenarnya rencana busuk apa pula yang sedang mereka lakukan?"

Tanya si Kuah daging.

"Sekarang juga akan kuajak kalian menyaksikan rencana busuk mereka." --00 --Ruang utama gedung Sah Toa-hu. Di atas tiang penglari terikat tubuh seseorang dengan rambut awut-awutan dan sekujur tubuh terluka. Tampaknya orang itu berhasil dibekuk dan diikat setelah pertempuran yang amat sengit. Orang itu tak lain adalah Pek-li Tiang-cing. Suasana dalam ruangan terasa amat hening dan mencekam. Napas Pek-li Tiang-cing masih tersengal, matanya melotot penuh gusar. Sah Toa-hu sambil menggendong tangan berjalan mondar-inandir dalam ruangan dengan kepala tertunduk. Kiong So-so dan Laopan Nio duduk di atas bangku, mereka sama sekali tak bergerak. Pengemis cilik dan si Buta Tio hanya berdiri saling pandang, mereka pun tak mengucapkan sepatah kata pun. Suasana yang mencekam serasa amat menyesakkan napas, membuat orang ingin menarik napasnya yang terengah. Akhinrya si Buta Tio tak tahan menghadapi suasana seperti ini, tiba-tiba ia melompat bangun dan serunya.

"Kenapa Kim-lotoa minta kami mengampuni jiwanya?"

Sah Toa-hu membalikkan badan menghadap si Buta Tio, sahutnya.

"Kim-lotoa berbuat begitu sudah pasti ia punya maksud tertentu."

"Benar."

Kim Bong berjalan keluar dari balik ruangan, ia mengenakan pakaian yang sangat indah dan mevvah dengan renda terbuat dari emas murni.

Pakaian yang dikenakan Kim Bong mewah dan menyilaukan mata, namun raut wajahnya justru gelap, murung dan menyeramkan, membuat siapa pun enggan memandang ke arahnya.

"Tahukah kalian, kenapa aku tetap membiarkan dia hidup?"

Dengan sorot mata gusar ia melotot ke arah Pek-li Tiang-cing. Sementara Pek-li Tiang-cing pun balas melotot gusar ke arahnya.

"Aku telah membuang banyak pikiran dan tenaga untuk merancang rencana yang tiada duanya irii,"

Sorot mata Kim Bong perlahan-lahan dialihkan ke wajah setiap orang yang berada dalam ruangan.

"kita sudah banyak membunuh orang sebelum kota Ui-sik terjatuh ke tangan kita, tapi sekarang semua usaha kita sia-sia, tahukah kalian apa sebabnya?"

Tak seorang pun menjawab, karena tak ada yang tahu kenapa Kim Bong mengucapkan perkataan itu, bahkan mereka tak jelas apa yang dimaksud dengan ucapannya itu.

Semua tidak paham, terpaksa Kim Bong mengajak mereka keluar gedung, menghampiri kereta barang yang parkir di tepi lapangan.

"Buka!"

Perintah Kim Bong.

Peti yang termuat dalam kereta barang pun dibuka.

Emas lantakan yang seharusnya berwarna kuning serta memancarkan sinar berkilauan, tiba-tiba berubah jadi tak bersinar lagi.

Ternyata semua emas murni itu telah berubah menjadi besi rongsok yang hitam pekat.

Mereka pun balik ke ruang utama.

Kini suasana dalam ruangan semakin mencekam dan suram, bukan saja membuat napas jadi sesak, bahkan membuat kepala setiap orang tak sanggup diangkat kembali.

Semua orang menundukkan kepala, mengawasi besi rongsok berwarna hitam yang dibawa Kim Bong dan kini diletakkan di atas meja.

Sejenak kemudian sinar mata semua orang dialihkan kembali ke wajah Lotoa mereka, Kim Bong.

"Ini membuktikan di anlara kita ada yang telah membocorkan rahasia ini."

"Siapa yang menjadi pengkhianat di antara kita?"

Tanya Sah Toa-hu.

"Siapa?"

Seru Laopan Nio.

Dengan sorot mata berapi-api Laopan Nio menatap tajam wajah si ButaTio.

Si Buta Tio terperanjat, ia balas menatap wajah Laopan Nio, kemudian secara tiba-tiba berpaling ke arah pengemis cilik.

Pengemis cilik pun memandang ke arah Kiong So-so.

Kiong So-so balas menengok Lopan toko kelontong, sang Lopan berbalik memandang Laopan Nio.

Kini semua orang saling pandang, saling mengawasi dengan penuh curiga.

Suasana makin mencekam, serius dan menggidikkan.

Tiba-tiba Kim Bong melompat bangun, katanya.

"Sebenarnya yang penting saat ini bukan menemukan siapa pengkhianatnya."

Sambil berkata ia menghampiri Pek-li Tiang-cing, katanya pula.

"Yang penting sekarang adalah mencari tahu dimana emas murni yang telah tertukar ini disimpan."

Mendadak ia menarik rambut Pek-li Tiang-cing dan ujarnya lagi.

"Sekarang tentu kau tahu bukan kenapa aku membiarkanmu tetap hidup? Asal kau bersedia menunjukkan dimana emas itu kau sembunyikan, bukan saja aku akan membebaskan dirimu, akan kubebaskan juga seluruh anak buahmu, aku pun takkan menyelidiki siapa pengkhianat itu, malahan akan kubagikan satu bagian emas untuk bekalmu."

Pek-li Tiang-cing mengangkat kepala, memandang Kim Bong sekejap, mendadak ia menyemburkan ludah ke wajahnya.

"Bagus!"

Mendadak seseorang berseru dari luar pintu.

Semua orang segera berpaling, dialihkan ke wajah orang yang barusan bicara.

Tak seorang pun kenal si pembicara, karena ia hanya seorang nenek bertubuh kecil.

Kembali si nenek berkata;

"Kalau kau anggap benar-benar ada orang bakal mempercayai perkataanmu, itu namanya bertemu setan di siang hari bolong."

"Siapa kau?"

Tegur Kim Bong gusar.

"Aku? Aku hanya seorang yang sudah mati."

"Kurang ajar!"

Kim Bong melambung ke udara. sebuah pukulan dilontarkan menyerang tubuh si nenek. Dengan cekatan si nenek mengegos ke samping, kembali ejeknya.

"Sebelum tahu siapa aku, kau sudah menyerang lebih dulu, jika menderita kerugian, bagaimana jadinya?"

Kim Bong tak mempedulikan ejekan itu, pukulan dilancarkan semakin dahsyat, angin serangan menderu-deru, yang dituju bagian mematikan.

Si nenek hanya berkelit sambil tersenyum, tak sejurus pun ia membalas.

Semua orang yang menonton jalannya pertarungan nyaris tak percaya dengan pemandangan yang terpampang di depan mata.

Di kolong langit dewasa ini, rasanya hanya ada seorang yang mampu menghadapi tiga puluh jurus serangan Kim Bong secara beruntun tanpa membalas.

Liok Siau-hong!

Bukankah Liok Siau-hong sudah mampus?

Dalam benak setiap orang nyaris dipenuhi oleh pertanyaan itu, tiba-tiba pengemis cilik teringat sesuatu, teringat akan perkataan pertama sewaktu si nenek muncul tadi.

Aku hanya seorang yang sudah mati.

Tiba-tiba sekujur badan pengemis cilik itu gemetar keras.

"Dia ... dia ... dia adalah Liok Siau-hong!"

Si Buta Tio dan rekan-rekannya terkesiap, perasaan mereka bergetar keras setelah mendengar teriakan itu.

Si nenek yang sedang berkelit kian kemari, mendadak melambung ke udara, kemudian setelah berjumpalitan, sahutnya.

"Tepat sekali, akulah Liok Siau-hong."

Sewaktu tubuh si nenek melayang turun ke tanah, sebagian besar dandanan wajahnya telah rontok. Ketika berdiri kembali, wajah aslinya pun segera terpampang jelas.

"Kau belum mampus?"

Jerit Kiong So-so kaget.

"Tentu saja aku belum mati, mana mungkin Liok Siau-hong mati? Kalau mampus, bukankah rencana busuk kalian akan sukses?"

"Tapi...."

"Kalian pasti ingin tahu bukan siapa yang telah mampus?"

Tak ada yang menjawab, sebab semua memang ingin tahu.

"Baiklah, biar kuberitahukan kepada kalian, tak ada yang mati. Yang ada hanya orang yang pura-pura mati."

"Pura-pura mati?"

"Yang pura-pura mati adalah Lausit Hwesio,"

Siau-hong menjelaskan.

"aku minta kepada Sukong Ti-sing untuk mengubah wajahnya, menyamar menjadi aku, kemudian di atas dadanya kuikat sebuah lempengan baja serta sebuah bungkusan berisi cairan merah seperti darah ....""

Masih ingat peristiwa pengeroyokan kalian terhadapku di senja itu?

Padahal yang kalian kerubut bukan aku, tapi Lausit Hwesio, sementara aku sendiri telah bersembunyi di sisi arena sambil mengamati ulah kalian.

"Kulihat Sah Toa-hu mahir ilmu golok Sin-hong-to-hoat (ilmu golok angin sakti) dari samudra timur, seketika itu juga aku sadar, ternyata kalian memang kawanan perompak lautan timur yang termashur, membunuh orang tanpa berkedip."

"Waktu itu sudah menjelang senja, Lausit Hwesio sengaja berkelit ke kiri menghindar ke kanan, sampai akhirnya ia tabrakkan dadanya ke ujung pedang Kiong Peng. Karena benturan itu, bungkusan yang berisi cairan merah pun pecah, darah pun segera mengucur dari dadanya, saat itulah si Hwesio segera menggunakan ilmu pernapasan kura-kuranya untuk berlagak mampus."

"Ketika ia tergeletak di tanah, langit sudah bertambah gelap, tentu saja kalian tak bisa menyaksikan keadaannya dengan jelas, apalagi kalian kelewat yakin dengan tusukan pedang Kiong Peng."

"Oleh sebab itulah ia tewas di ujung pedang Sebun Jui-soat,"

Sambung Sah Toa-hu.

"Dia mampus karena terlalu yakin dengan kemampuannya, kegagalan kalian pun dikarenakan kebiasaan buruk manusia, siapa sih yang bakal menambahi sebuah tusukan pada sesosok mayat? Tidak ada, maka dari itu usaha si Hwesio yang pura-pura mati pun berhasil dengan sukses."

"Kau jangan senang dulu,"

Ejek Laopan Nio.

"jangan lupa, Sebun Jui-soat dan si Kuah daging masih berada di tangan kami."

"Benarkah begitu?"

Kembali dari luar pintu terdengar seorang berseru. Tentu saja suara itu berasal dari si Kuah daging yang mengejek dengan bangga. Sebun Jui-soat yang selamanya jarang bicara, kali ini kembali berkata.

"Kalau aku tidak sengaja berlagak masuk perangkap hingga tertawan, bagaimana mungkin rahasia Kim Bong bisa terbongkar?"

Tak ada yang menjawab, sebab paras muka semua orang telah berubah, seakan tercebur dalam pecomberan.

"Masih ada satu hal yang tidak kupahami,"

Tiba-tiba Kim Bong berkata.

"Soal apa?"

Tanya Siau-hong.

"Jadi kalian yang telah mengganti emas itu dengan besi rongsokan?"

"Benar."

"Hanya mengandaikan kau seorang dapat mengganti seluruh emas itu?"

"Pa'ahal sama sekali tidak kuganti emas itu."

"Aku tidak mengerti"

"Sederhana sekali."

Siau-hong berjalan menghampiri sekeping besi rongsok yang tergeletak di meja, diambilnya kepingan besi itu, lalu dari sakunya ia mengeluarkan sebuah kipas, dengan kipas itu ia gosok besi rongsok tadi.

Tak lama kemudian warna hitam yang melapisi besi itu mengelupas, dari balik warna hitam itu muncullah sinar kuning emas yang menyilaukan mata.

Lagi-lagi semua orang terperangah.

"Padahal aku hanya melapisi emas itu dengan warna khas, warna hitam seperti besi berkarat,"

Siau-hong menjelaskan.

"Tapi mana mungkin kau lakukan seorang diri?"

"Tentu saja tidak mungkin,"

Kembali dari luar berkumandang suara seseorang.

Lausit Hwesio telah mengenakan kembali jubah pendetanya, Sukong Ti-sing pun telah mengenakan pakaian ringkasnya yang siap digunakan untuk memetik bintang.

"Tanpa bantuan Lau-sit Hwesio, mana mungkin Liok Siau-hong dapat melumuri seluruh emas murni itu?"

"Tanpa Sukong Ti-sing memangnya kalian mampu melumuri seluruh emas murni itu?"

Tak ada yang bicara lagi, siapa yang masih mampu bicara?

Dalang rencana busuk ini sudah terungkap, apalagi yang perlu dibicarakan?

Satu-satunya yang bisa mereka lakukan hanya menggunakan nyawa dan darah untuk melampiaskan rasa gusar, kecewa dan dongkolnya.

Secara tiba-tiba Kim Bong melolos pedangnya, langsung menyerang Siau-hong.

Sah Toa-hu dan si Buta Tio menyerang Sebun Jui-soat.

Laopan Nio menyerang si Kuah daging.

Kiong So-so menyerang Sukong Ti-sing.

Si pengemis cilik menyerang Pek-li Tiang-cing yang masih terikat di belandar rumah.

Di antara sekian banyak orang, yang paling punya harapan berhasil dalam serangannya hanya pengemis cilik.

Karena Pek-li Tiang-cing sudah kehilangan kemampuannya untuk melawan.

Tapi sayang dugaan si pengemis cilik keliru besar.

Tiba-tiba ikatan tali yang melilit tubuh Pek-li Tiang-cing terlepas, di saat si pengemis cilik menyangka serangannya bakal berhasil, tinju Pek-li Tiang-cing dengan telak bersarang di atas dadanya.

Pengemis cilik itupun roboh terjungkal, ketika tubuhnya terpelanting, ia sempat mendengar Pek-li Tiang-cing berkata.

"Ketika Liok Siau-hong menghindari gempuran Kim Bong secara diam-diam ia telah memutuskan tali di tubuhku."

Pertarungan tak seimbang pun berakhir dalam waktu singkat.

Siapa yang mampu menandingi Liok Siau-hong dan Sebun Jui-soat saat ini?

Apalagi mereka turun tangan bersama?

Bukan cuma itu, masih ada Sukong Ti-sing serta Lausit Hwesio!

--O0O— Fajar telah menyingsing, pagi diselimuti kabut.

Fajar di kota Ui-sik terasa tenang, tiada angin berhembus.

Tak ada pasir kuning yang beterbangan.

Mungkin sang angin tahu gejolak yang melanda kota Ui-sik sudah reda?

Lambat-laun sang surya pun muncul, menyinari seluruh jagat.

Sinar mentari memancarkan cahayanya menerangi seluruh jagad, menyinari tanah pasir berwarna kuning.

Pek-li Tiang-cing tertawa puas, tersenyum sambil mengawasi anak buahnya mengangkut peti berisi emas murni.

Tiba-tiba seorang piausu mendongakkan kepala dan bertanya kepada Pek-li Tiang-cing.

"Siapa yang telah menyelamatkan kita?"

"Kecuali dia, siapa lagi?"

"Dia? Siapa?"

"Aku."

Semua piausu berdiri bodoh, ada tiga orang yang menjawab pertanyaan itu.

Si kakek kecil telah menghapus penyamarannya, Liok Siau-hong!

Si nenek pun muncul dengan wajah aslinya, Lausit Hwesio!

Sedang Liok Siau-hong adalah penyamaran Sukong Ti-sing!

Semua piausu pun tertawa, tertawa terbahak-bahak.

Terlebih si Kuah daging, tertawa terpingkal-pingkal.

Di antara gelak tawa mereka, yang paling nyaring adalah suara tawa Liok Siau-hong.

Karena ia mendengar suara tawa seseorang dan orang itu belum pernah tertawa.

Sebun Jui-soat!

T A M A T Koleksi

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.cc Koleksi

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.cc

Baca Juga: Kaki Tiga Menjangan 18

Baca Juga: Medali Wasiat 4

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert