Ceritasilat Novel Online

Senyuman Dewa Pedang 3

Eps 3 Senyuman Dewa Pedang - Khu Lung

Baca online Senyuman Dewa Pedang - Khu Lung

Cersil Senyuman Dewa Pedang - Khu Lung.

"Kalau tak ada cara, berarti pasti ada cara" . Hwesio memang suka bicara terselubung, dialah Hwesio yang tahu aturan. Namun dalam pendengaran si Kuah daging, ucapan itu tak beda dengan serentetan kentut, kentut yang paling bau! --00— Waktu itu Sebun Jui-soat sedang duduk di sebuah batu karang di puncak bukit sambil memandang kejauhan. Menjelang senja, awan tipis melayang di atas permukaan nan menyelimuti seluruh pemandangan, tak ada yang bisa dilihat, apapun tak terlihat. Bagi pandangan seseorang yang kehidupannya belum dimulai atau sudah puas dengan kehidupannya, pemandangan semacam ini nanyalah selapis kehampaan, mungkin juga sebuah lukisan belaka, yang dapat membuat gembira, memperoleh sedikit kenikmatan dalam ketenangan. Namun bagi pandangan Sebun Jui-soat, lapisan kehampaan itu justru wadah kehidupan itu sendiri. Dari balik kehampaan, ia dapat melihat banyak hal yang tak dapat dilihat di tempat lain, pada saat dan keadaan seperti ini, ia bisa melihat bagian mana dari dirinya yang paling sempurna. Dalam sepuluh tahun terakhir, Sebun Jui-soat nyaris tak punya kesempatan melihat diri sendiri, karena hati serta matanya sudah tertutup oleh lapisan darah, juga selapis salju. Salju yang sangat dingin dan membeku. Manusia seperti apakah Sebun Jui-soat? Orang tahu siapa Sebun Jui-soat, tapi berapa banyak di antara mereka yang mengetahui asal-usul, pikiran, perasaaan serta masa lalunya? Jangankan orang lain, ia sendiri pun tidak tahu. Bukannya tak tahu, tapi sudah melupakannya. Mampukah ia melupakannya? Dalam kehidupan, hal apa lagi yang lebih sulit daripada melupakan semua urusan? Ia harus membayar mahal untuk melupakan segalanya. Tiba-tiba Sebun Jui-soat teringat Liok Siau-hong, tidak seharusnya dalam keadaan dan saat seperti ini teringat padanya. Kesedihan paling besar manusia adalah seringkali teringat orang yang tidak seharusnya diingat dan masalah yang tidak seharusnya dibayangkan. Sudah hampir dua puluh tahun lamanya Sebun Jui-soat kenal Liok Siau-hong. Dua puluh tahun adalah waktu yang sangat panjang, ada orang yang begitu dilahirkan langsung mati, ada yang baru hidup beberapa hari sudah mati, bagi mereka, dua puluh tahun boleh dibilan waktu yang luar biasa. Bagi seorang istri yang belum lama dinikahi, bila suaminya mati setelah tiga tahun menempuh perkawinan yang bahagia, maka dua puluh tahun akan amat menyiksa dan tak bahagia. Bagi seorang tua renta, walaupun ia tahu mustahil hidup dua puluh tahun lagi, namun kenangan dua puluh tahun berselang tetap akan menjadi kenangan yang sulit dilupakan. Karena dalam kehidupan, tentu terdapat dua puluh tahun kehidupan yang penting, tiap hari selama dua puluh tahun itu bisa terjadi suatu peristiwa yang dapat mengubah jalan hidupnya. Itulah sebabnya tiba-tiba Sebun Jui-soat teringat Liok Siau-hong. Sudah dua puluh tahun ia berkenalan dengan Siau-hong, tapi pengetahuannya tentang orang itu tetap amat sedikit. Ia belum pernah tahu Liok Siau-hong dilahirkan dari keluarga macam apa, ia pun tak tahu orang yang bernama Siau-hong ini tumbuh dewasa dalam lingkungan bagaimana. Mungkin disebabkan ia memang tak pernah mencari tahu. Keadaan seperti ini memang sering terjadi antar teman, biarpun sering berkumpul dan bergaul, namun tak pernah terlintas dalam benak mereka untuk menggali lebih jauh masa lalu sahabatnya, terlebih ingin tahu rahasia pribadinya. Pergaulan dalam dunia persilatan didasari rasa saling percaya serta setia-kawan, selama kau menghadapi aku dengan sikap seorang jantan, biarpun kau cuma seorang telur busuk, hal itu bukan masalah. Sayang di dunia ini tidak banyak lelaki yang benar-benar jantan, tak banyak lagi yang berjiwa ksatria. Kalau ada orang mengatakan Liok Siau-hong bukan lelaki jantan, bukan seorang ksatria, lebih baik orang itu segera bersembunyi di kuil tengah gunung dan minta perlindungan Buddha agar ia tidak ditemukan para sahabat Siau-hong. Minta perlindungan Buddha agar tidak ditemukan Sebun Jui-soat. Sebun Jui-soat sanggup melakukan perjalanan jauh, tidak mandi tidak tidur, puasa lima hari lima malam dan melakukan pembunuhan demi seorang yang sama sekali tak dikenalnya, bahkan demi seseorang yang belum pernah dijumpainya. Ia melakukan karena rela dan senang. Dan ia tidak pernah memikirkan berhasil atau gagal, menang atau kalah, mati atau hidup dalam tugasnya itu. Bagaimana kalau ia tak mau? Kalau begitu, menyerah saja, karena biarpun kau ajak semua temannya, berlutut tujuh hari tujuh malam di depan pintu rumahnya, ia akan menganggap dirimu seperti angin, seakan tak ada bayangan manusia di situ. Termasuk demi Liok Siau-hong sekalipun! Bila ia tak mau, sekalipun ada orang menusuk mampus Liok Siau-hong di depan matanya, ia pun seakan tidak melihat. Yang terlihat oleh Sebun Jui-soat hanya pedangnya! Matahari senja tiba-tiba muncul dari balik kabut putih yang menyelimuti permukaan tanah, sinar yang terpancar tampak berwarna merah. Di saat matahari senja memancarkan sinarnya yang paling merah, itulah pertanda sang surya akan tenggelam. Bagaimana dengan manusia? Apakah manusia pun akan menunjukkan gejala seperti ini? Sebun Jui-soat tak pernah berpikir ke situ, tak ada manusia yang bisa lolos dari kesedihan, kenapa harus dipikirkan? Kalau sudah dipikir, lantas apa yang dapat diperbuat? Ia hanya tahu, sekarang tentu sudah ada orang hendak menantangnya berduel. Meski pikiran itu hanya merupakan firasatnya. Sudah dua puluh tahun ia malang melintang di sungai telaga, tak terhitung berapa kali keluar masuk antara mati dan hidup, kini ia masih segar bugar, tentunya sama seperti para pembunuh lain yang termashur di kolong langit, memiliki firasat, memiliki daya cium melebihi hewan buas. Kali ini dengan menempuh perjalanan ribuan li, tanpa tidur tanpa mandi, bahkan berpuasa, mendatangi puncak bukit ini kedatangannya karena ia punya janji. Janji pada saat ini, bertemu di tempat ini. Ia tidak tahu siapa yang telah membuat janji dengannya, tapi orang itu berani mengundangnya, tentu orang yang berbobot, penuh percaya diri, percaya pada kekuatan serta ilmu pedangnya. Tidak semua orang dapat berbuat demikian, tak semua orang punya keberanian untuk berbuat begitu. Siapakah dia? MenGapa ia mengundang Sebun Jui-soat yang tak pernah kalah, tak pernah meninggalkan mangsanya dalam keadaan hidup untuk bertemu di sini? Di saat matahari senja mulai tenggelam di balik bukit, cahayanya merah bagai pipi seorang gadis pemalu, tapi kini lebih mirip darah segar yang menetes dari tubuh seorang musuh besar. Seseorang perlahan-Iahan berjalan menaiki puncak bukit itu. Jika ia meluncur datang dengan menggunakan Ginkang atau melompati tebing dengan gerakan tubuh yang lincah dan gesit, orang ini belum terhitung lawan yang patut diperhatikan. Orang itu berjalan sangat lambat, seperti seorang suami yang sedang menuntun bininya balik ke dalam kamar di tengah malam buta, begitu ringan, lambat dan hati-hati, seakan takut bersuara, berjalan dengan melepas sepatu agar tidak bersuara. Tapi orang yang berjalan naik ke puncak bukit justru mengenakan sepatu laras panjang yang amat berat, rasanya tidak ada yang lebih berat dari sepatu itu. Sepatunya itu terbuat dari besi. Seandainya di situ hadir seorang pandai besi berpengalaman dan menyuruhnya memperkirakan berat sepatu yang dikenakan orang itu, paling tidak berbobot lebih dari paha orang tergemuk di dunia. Bobotnya memang sulit diperkirakan, paling tidak mencapai empat belas kati. Jika bobot sebuah kaki adalah sepuluh kati, berarti sepasang kaki dua puluh kati, dengan mengenakan sepatu besi berbobot dua puluh kati, tentu akan menimbulkan suara gemuruh, apalagi rnenelusuri jalanan gunung yang berliku-liku, naik turun dan curam, terlebih lagi orang ini termasuk super gemuk. Si super gemuk dengan sepasang sepatu besinya itu dapat berjalan santai menelusuri jalan perbukitan yang curam, bahkan suaranya begitu ringan, nyaris tidak menimbulkan suara, seperti seorang yang sedang menyelinap ke dalam dapur untuk mencuri makanan. Perawakan orang ini tinggi besar, kekar dan gendut, tapi bisa bergerak seenteng kupu-kupu. Kepala besar dengan telinga lebar, alis tipis, muka bersih, sekulum senyuman selalu menghias ujung bibirnya hingga mirip Buddha tertawa, tapi begitu tahu orang ini, orang lebih suka melihat setan jelek ketimbang bertemu dengannya. Sebun Jui-soat tidak berpaling, baginya tak seorang pun di dunia ini yang berharga untuk ditengok. Orang itu tak berniat mengusiknya, juga tidak menendangnya memakai sepatu besinya, pelan-pelan dari bungkusan kain di punggungnya ia keluarkan sepotong daging sapi, dua ekor ayam goreng, delapan belas potong daging panggang Cha-siu, seekor babi panggang utuh, empat puluh biji bakpao, tujuh puluh potong kue lapis, ditatanya dengan rapi di atas selembarkain bersih, kemudian ia duduk di sisinya dengan tenang. Duduk di situ, tidak menggerakkan tangan, tidak pula menggerakkan mulut, duduk persis berhadapan dengan tumpukan makanan yang lezat, ia hanya menonton tanpa mencicipi. Sebun Jui-soat tidak bergerak, apalagi meliriknya, tiba-tiba katanya.

"He, si kurus, aku tahu bukan kau, maka kau tak bakal mati, tapi tidak seharusnya kau kemari."

Orang bersepatu besi itu tiba-tiba gemetar keras, persis seekor babi yang sedang direndam dalam kuali berminyak.

Ia bukan si kurus, ia sangat gemuk, kalau Sebun Jui-soat sedang memperingatkan si kurus, kenapa si gemuk yang ketakutan?

Si gemuk takut kurus, karena sejak kecil ia kurus, maka ia mengenakan sepatu besi yang besar, karena itu setiap hari ia melalap berbagai hidangan yang bisa membuatnya gemuk.

Jika seorang bersantap dengan cara begini, bagaimana mungkin tidak menjadi gemuk?

Demi menambah bobot badannya, sejak kecil ia mulai membiasakan diri berjalan memakai sepatu besi, kalau manusia semacam ini tidak memiliki Ginkang yang tinggi, siapa yang mau percaya?

Sekarang ia sudah gemuk, sedemikian gendutnya hingga tak mungkin lebih gemuk lagi.

Biarpun ia membawa berbagai hidangan kegemarannya, ia hanya bisa menonton, tak bisa mencicipinya.

Si kurus ceking ini tak lain adalah Toa-ku (si Genderang besar), pembunuh bayaran paling tersohor yang telah menggetarkan sungai telaga sejak tiga tahun berselang.

Perutnya memang gemuk bagai genderang, napasnya juga keras seperti genderang, bahkan bentuk tubuhnya tak jauh beda dengan sebuah genderang.

Orang itu sangat bersahaja, tak ada yang aneh, tak ada yang mencolok dan menarik perhatian, siapa yang menaruh waspada terhadap manusia macam ini?

Tidak heran dalam sembilan belas bulan terakhir, jagoan tangguh yang tewas di tangannya melebihi orang yang tewas di ujung pedang Sebun Jui-soat.

Tapi Sebun Jui-soat tahu, kedatangan orang ini bukanlah untuk memenuhi janji.

Si kurus yang-sangat gemuk ini, biar sudah menelan obat pemabuk milik Mokau pun tak akan berani mengusik Sebun Jui-soat.

Lalu siapa yang berani mengganggu Sebun Jui-soat?

Tiba-tiba dari bawah tebing kembali berkumandang suara derap langkah manusia, suara langkah yang amat berat, seakan ada orang gemuk dengan berat delapan ratus kati sedang berjalan dengan memakai sepatu besi.

Belum orang itu tiba di atas puncak bukit, Sebun Jui-soat sudah tahu orang ini tidak gemuk, tidak berat, bahkan memakai sepasang sepatu sulam yang halus, tipis dan lembut.

Begitu mendengar suara langkah orang itu, perasaan tegang yang semula mencekam wajah manusia bersepatu besi itu lambat-laun kendor kembali, sebaliknya sorot mata Sebun Jui-soat justru berubah merah bagai darah, dingin bagai salju.

Seorang perempuan muncul di puncak bukit, perawakannya tinggi kurus dengan wajah tirus, alis matanya lentik, di balik kegarangan terselip sifat genit.

Biarpun tidak cantik, tapi penuh daya tarik.

Dia hanya mengenakan mantel bulu rase yang pendek sekali, sedemikian pendeknya sampai kelihatan sepasang kakinya yang ramping dan jenjang, mengenakan sepatu kain bersulam bunga.

Perempuan itu begitu ramping, tinggi semampai, mengapa waktu berjalan justru menimbulkan suara langkah yang lebih nyaring ketimbang langkah si Genderang besar?

Jawabannya hanya satu.

Ia memang sengaja berbuat begini, sengaja menarik perhatian, untuk memamerkan kepandaian silatnya.

Gwakangnya sangat istimewa, kepandaian yang sudah lama punah dari dunia persilatan, di saat diperlukan, ia mampu merubah tubuhnya menjadi lebih berat beberapa ratus kati.

Belum pernah ada perempuan berlatih Gwakang, terlebih belum ada perempuan yang berhasil mempelajarinya.

Itulah sebabnya ia selalu bangga atas kemampuannya ini.

Ia menyebut diri si Sepatu bersulam bunga.

Tentu saja itu bukan nama asli, tapi mereka yang kenal perempuan ini, siapa pun tidak tahu ia masih memiliki nama lain.

Ketika si Sepatu bersulam bunga naik ke atas bukit, sama halnya si Genderang besar, ia pun membawa sejumlah barang yang sangat aneh.

Tentu saja barang yang dibawanya bukan makanan.

Yang ia bawa adalah sebuah sending, almari sisir, seperangkat alat judi yang disimpan dalam sebuah kotak gading, di antaranya termasuk juga sepasang gundu, seperangkat kartu pay-kiu serta empat pasang kartu.

Di belakang perempuan itu mengintil seorang bocah lelaki bertampang ganteng, ia memikul seperangkat kain selimut dan sebuah permadani.

Seorang perempuan yang benar-benar sangat aneh.

Sebun Jui-soat masih memandang kejauhan, tak berpaling.

Paras muka si Genderang besar mulai berubah, sepasang matanya melotot.

Mereka tahu asal-usul serta latar belakang perempuan ini.

Ia termasuk salah satu pembunuh besar yang muncul beberapa tahun belakangan ini, kemampuannya melebihi si Genderang besar, ia menguasai kepandaian istimewa yang tak dapat dilakukan orang lain.

Konon uang yang berhasil ia kumpulkan jauh lebih banyak ketimbang gabungan uang yang dikumpulkan keempat rekannya.

Begitu bersua si Genderang besar, si Sepatu bersulam bunga tertawa, ketika tertawa ia nampak genit dan merangsang.

"Genderang besar, orang bilang bila hati lega badan pun gemuk, kelihatannya kau selalu hidup lega dan gembira sehingga badanmu makin lama semakin bertambah mekar."

"Apa gunanya badan bertambah mekar, berapa sih harga sekilo daging? Kalau bisa membuat kaya, itu baru kepandaian."

"Betul juga perkataanmu."

"Makin hari kau makin bertambah kaya, bahkan beberapa bank di wilayah San-say pinjam uang darimu?"

"Memang benar apa yang kau dengar, biarpun duit makin banyak tapi masalah makin menumpuk, aku memang sejak lahir sudah berbakat mencari duit."

Dengan bersungguh-sungguh, tanyanya lagi.

"Pernahkah kau mendengar uang yang berhasil kukumpulkan jauh lebih banyak ketimbang uang kalian?"

"Ya, betul."

"Padahal kau tahu, tarifku membunuh orang sama seperti tarif yang kalian tawarkan?"

"Aku tahu."

"Kenapa bisa begitu?"

Tanpa menunggu jawaban, ia meneruskan.

"Sebab aku pandai mencari duit, pekerjaan apapun kukerjakan, tidak seperti kalian, hanya mau mengerjakan pekerjaan kuno nomor dua saja, padahal pekerjaan kuno nomor satu pun tetap kulakukan."

"Aku tahu pekerjaan kuno nomor dua adalah membunuh orang, tapi apa pekerjaan kuno nomor satu?"

"Tentu saja menjual badan!"

Sahut si Sepatu dengan wajah tak berubah.

"usaha dagang paling kuno sepanjang sejarah adalah menjual badan."

Si Genderang tersenyum mirip senyuman orang yang mau muntah. Tapi si Sepatu seperti belum merasakan hal itu.

"Apa yang diinginkan orang lain, aku berusaha memenuhi, minta aku membunuh orang, boleh saja, asal membayar sepuluh laksa tahil, akan kucabut nyawa orang itu dan tak bakal meleset. Minta aku berjudi, boleh saja, aku punya sekeping lencana, siapa pun yang mau bertaruh denganku pasti akan kulayani, peduli uangnya baru digali dari kuburan nenek moyangnya atau bukan, aku tetap akan menangkan habis-habisan."

"Bagus,"

Puji si Genderang sambil bertepuk tangan.

"Orang lain ingin aku menyanyi, asal mau membayar lima ribu tahil per lagu, aku akan menyanyi untuknya."

"Lima ribu tahil per lagu? Apa tidak terlalu mahal?"

"Tidak, malah terlalu murah."

"Siapa yang sudi membayar lima ribu tahil perak hanya untuk mendengar sebuah lagumu?"

"Banyak."

"Memangnya mereka sudah gila?"

"Tidak."

"Apakah suaramu lebih merdu daripada orang lain?"

"Tidak, bedanya hanya status si penyanyi, coba bayangkan, betapa bangga dan bergengsinya para orang kaya mendadak itu bila dapat mengundang salah satu pembunuh bayaran paling tersohor membawakan sebuah lagu dalam pestanya?"

"Betul juga perkataanmu."

"Jika mereka mau membayar, lantas kau bernyanyi?"

"Tentu."

"Jadi lumrah bukan uang yang berhasil kukumpulkan jauh lebih banyak ketimbang kalian? Apalagi aku pun bersedia tidur dengan orang."

"Tak heran kau selalu membawa permadani dan selimut."

"Betul, kalau permadani dan selimut selalu tersedia, aku jadi lebih leluasa, kalau kau ingin tidur denganku, boleh saja, bayar sepuluh laksa tahil, begitu uang kuterima, aku segera buka celana."

"Masa harga menidurimu sama mahalnya dengan membunuh orang?"

"Tentu."

Si Genderang besar mengamati perempuan itu dari atas hingga ke bawah berulang kali, kemudian menggeleng kepala sambil bergumam.

"Tidak kusangka, sungguh tidak kusangka."

"Aku paham maksudmu,"

Sepatu bersulam mengangguk sambil tertawa, ia sama sekali tak marah.

"kau anggap wajahku jelek, badanku kurang montok dan menurutmu tak berharga sepuluh laksa tahil, cuma ...."

Belum perempuan itu selesai bicara, si Genderang segera menyela.

"Cuma lantaran kau adalah si Sepatu bersulam bunga yang termashur, biar mukamu jelek, badan kerempeng, payudara lembek, umur sudah tua, tapi masih banyak orang yang mau tertipu dan mengajak kau tidur?"

"Tepat sekali. Bila kau ingin mencicipi badanku, boleh saja, aku akan memberi diskon separoh harga."

Langit lambat laun bertambah gelap, malam sudah tiba, Sebun Jui-soat masih duduk tak bergerak, duduk di atas batu cadas bagai sebuah patung.

"Siapa sih orang itu?"

Bisik si Sepatu bersulam bunga tiba-tiba.

"Masa kau tidak tahu?"

"Sejak tadi hanya kau yang kuperhatikan."

"Dan sekarang?"

"Seorang yang bukan patung batu juga bukan patung kayu, tapi duduk tanpa gerak sejak tadi, biarpun tidak menarik terpaksa harus kau perhatikan juga, apalagi setiap kali aku memandang ke situ, tanpa terasa badanku bergidik."

"Kalau begitu, aku ingin bertanya."

"Tanyakan saja."

"Apa maksud kedatanganmu? Apa ada orang menyewamu untuk membunuh orang?"

"Mungkin begitu! Orang itu sudah membayar sepuluh laksa tahil, memangnya aku disuruh kemari untuk menemaninya tidur?"

"Jadi kau sudah tahu siapa korbanmu?"

"Belum."

"Kalau begitu, cepatlah berdoa kepada Buddha untuk mohon perlindungannya."

"Berdoa kepada Buddha?"

"Ya, berdoa pada Buddha minta perlindungan. Langgananmu belum gila, jadi tak mungkin dia menjadi sasaranmu."

Tanpa terasa si Sepatu bersulam bunga berpaling, orang itu masih duduk mematung di atas batu cadas.

"Darimana kau tahu kalau bukan dia? Siapa dia?"

"Sebun Jui-soat!"

Sepatu bersulam bunga tertegun, benar-benar terkesima dan berdiri mematung.

Sebun Jui-soat?

Belum pernah ia ketakutan sehebat ini sehabis mendengar nama itu, padahal selama hidup ia tak pernah takut kepada siapa pun.

Tapi kini tiba-tiba tubuhnya membeku, menggigil kedinginan, bulu kuduknya berdiri.

Di balik kegelapan malam yang mulai mencekam, baju putih Sebun Jui-soat nampak bersih bagaikan salju.

Saat itulah sekonyong konyong muncul dua buah cahaya lentera membelah kegelapan, sambil menggendong tangan di belakang, mereka muncul dari ujung jalan dan berjalan mendekat, mereka pun mengenakan baju serba putih.

Kedua orang yang membawa lentera itu adalah perempuan cantik dengan dandanan keraton, rambutnya disanggul tinggi pinggangnya ramping, kakinya jenjang dan mulus, penampilannya anggun, sekalipun bukan dayang keraton, paling tidak mereka adalah "perempuan cantik berkarya"

Yang dididik Ban-hujin.

Kedua orang gadis itu tidak hanya cantik dan indah dalam penampilan, mereka pun memiliki gerak tubuh yang ringan dan lincah, jelas kepandaiannya cukup hebat, kalau tidak, mana mungkin mereka dapat menelusuri jalan perbukitan di tengah malam buta dengan ringannya.

Di belakang mereka menyusul seorang berbaju putih, seorang pemuda berwajah putih dengan pakaian putih bagai salju, putih wajahnya tak beda dengan putihnya baju.

Sebuah ikat pinggang melilit di pinggangnya dengan sebilah pedang tergantung di sana, baik pedang maupun ikat pinggang, semuanya tak ternilai.

"Menurutmu bagaimana dengan orang irii?"

Kembali si Sepatu bertanya kepada si Genderang.

"Orang ini ganteng sekali, benar-benar menarik, bukan cuma tampangnya, lagaknya pun hebat, penuh semangat."

"Dia pun berduit!"

"Benar."

"Diakah yang telah membayarmu?"

"Tepat sekali."

"Kebetulan sekali, aku pun disewa olehnya, maka sejak tadi aku sudah berdoa minta perlindungan Buddha,"

Kata si Genderang sambil tertawa getir. Tiba-tiba pemuda berbaju putih itu tersenyum, katanya.

"Aku tidak minta kalian datang membunuh Sebun Jui-soat, hanya orang gila yang akan berbuat begitu!"

Tampaknya si Sepatu merasa tidak puas, tanyanya cepat.

"Kau anggap Sebun Jui-soat takkan mempedulikan kita?"

"Bukan begitu maksudku, bila sekarang aku minta kalian membunuh Sebun Jui-soat, kalian pasti akan membunuhku terlebih dulu."

Sambil tersenyum ia pun melanjutkan.

"Membunuhku tentu jauh lebih mudah ketimbang membunuhnya."

"Benar,"

Sebun Jui-soat yang sejak tadi bungkam tiba-tiba bicara.

"membunuh kau gampang, membunuh aku susah!"

Lalu dengan suara yang lebih dingin dari es, katanya pula.

"Sayang, mereka pun tak sanggup mernbunuhmu!"

"Kenapa?"

"Sebab begitu mereka bergerak, kedua orang itu akan tewas lebih dulu di ujung pedangku."

"Pedangmu?"

"BeNar, pedangku!"

"Kenapa aku tidak melihat pedangmu?"

Sebun Jui-soat tidak menjawab, ia memang tak perlu menjawab, untuk apa ia memperlihatkan pedangnya? "Kau tak ingin mereka membunuhku, lalu untuk apa mereka kemari?"

Tanyanya dingin.

"Karena aku ingin kau tahu bahwa aku adalah seorang yang mempunyai kedudukan terhormat, bukan cuma bisa mengundangmu kemari, bahkan dapat pula memerintahkan kedua orang pembunuh kenamaan itu membukakan jalan bagiku dan menanti kedatanganku di sini,"

Jelas pemuda berbaju putih itu.

"paling tidak aku ingin kau paham bahwa aku bukan manusia sederhana."

"Oh, jadi kau menghamburkan uang hanya untuk mengundang mereka, ingin menunjukkan kepadaku status sosialmu?"

"Benar."

"Kalau kau memang berkedudukan tinggi, apa pula maumu datang kemari? Kenapa mengundangku untuk bertemu di sini?"

"Menurut kau?"

"Menurut pendapatku, kedatanganmu hanya untuk mengantar kematian."

Pemuda berbaju putih itu tertawa keras.

"Jika aku yang masih muda, banyak duit, gagah, ganteng, punya kedudukan, bahkan punya kekayaan berlimpah ingin mati, mungkin orang lain di dunia ini sudah mampus semua."

Memang ucapan ini benar dan sangat tepat. Katanya pula.

"Maksud kedatanganku tak lain hanya ingjn meminjam pedangmu."

Sebun Jui-soat tidak menjawab, ia bungkam. Yang bisa ia lakukan memang hanya tutup mulut karena tak tahu harus bicara apa. Sejenak kemudian baru ia berkata.

"Pedangku hanya untuk membunuh manusia."

Ia memang hanya mampu mengucapkan beberapa patah kata, sebab sudah lama tidak bicara.

"Bagus,"

Pemuda berbaju putih itu bertepuk tangan memuji.

"pedang ksatria kalau bukan dipakai untuk membunuh orang, memangnya mau dipakai membunuh babi atau anjing? Aku ingin meminjam pedangmu karena ingin memintamu pergi membunuh orang."

"Membunuh siapa?"

"Membunuh orang yang ingin mencelakai jiwa Liok Siau-hong."

Liok Siau-hong?

Sudah lama ia tak bersua dengan Liok Siau-hong, sejak duel dua jago pedang di istana terlarang, entah sudah berapa tahun mereka tak berjumpa.

Sorot mata Sebun Jui-soat mencorong terang, namun dingin dan membeku, menatap pemuda berbaju putih itu.

"Bila kau ingin membunuh orang yang berencana mencelakai Liok Siau-hong, tidak seharusnya kau datang mencariku."

"Kenapa?"

"Karena yang menjadi sasaran adalah Liok Siau-hong, bukan aku, apa sangkut-pautnya dengan aku,"

Jawab Sebun Jui-soat ketus.

"Bila kau ingin membunuhnya, carilah orang lain."

"Siapa?"

"Liok Siau-hong! Bila kau ingin membunuh musuh besarnya, tentu saja harus mencari dia lebih dulu."

Ucapan yang masuk akal dan sejujurnya. Tapi intinya adalah "Urusan yang dapat ditangani Liok Siau-hong, kenapa aku mesti ikut campur?"

"Kalau dia sendiri pun tak sanggup menangani?"

"Biarkan saja dia mati!"

"Kalau aku nekat memaksamu melakukan pekerjaan ini, apakah kau akan membunuhku lebih dulu?"

"Benar."

"Dan aku harus segera mati?"

"Benar."

Jawaban Sebun Jui-soat memang selalu singkat, langsung dan tegas, persis seperti gerakannya ketika membunuh orang.

Pemuda berbaju putih itu tertawa.

Apabila Sebun Jui-soat memutuskan untuk membunuh, berarti orang itu pasti mati.

Kini Sebun Jui-soat memutuskan akan membunuhnya, tapi ia masih sanggup tertawa, bahkan riang sekali suara tawanya.

Kejadian yang mencengangkan, bahkan si Genderang besar serta si Sepatu bersulam bunga pun ikut terkesima.

"Sebun Jui-soat, aku tahu kau memang hebat, kemampuanmu membunuh orang ibarat orang lain memotong wortel, bila ingin membunuhku, gampang sekali,"

Kata pemuda baju putih. Suara tawa pemuda berbaju putih bukan saja sangat riang, bahkan membuat orang lain merasa gembira.

"Tadi kau mengatakan ilmu silatku sangat cetek, sedang si Genderang besar dan si Sepatu bersulam bunga walau terhitung pembunuh bayaran kelas satu, namun berhadapan dengan Sebun Jui-soat, mungkin mau bergerak pun mereka tak berani."

Si Genderang maupun si Sepatu tak bisa menyangkal, juga tak berani menyangkal. Maka pemuda berbaju putih melanjutkan.

"Ketika mendengar kau akan membunuhku, semestinya aku merasa ketakutan setengah mati, tapi nyatanya aku tidak takut kepadamu."

Lalu tanyanya pada Sebun Jui-soat.

"Kau tahu kenapa?"

Sebun Jui-soat memandangnya. sorot matanya tidak sedingin tadi, seakan tidak melihat apapun, seolah sedang melihat sebuah kekosongan.

"Aku tidak takut kepadamu karena aku tahu kau tak akan membunuhku, dan tak bisa membunuhku,"

Kembali pemuda ilu melanjutkan. Ternyata Sebun Jui-soat memang tidak mencabut pedangnya.

"Sebun Jui-soat membunuh orang dalam sekejap mata, dalam sekedipan mata dapat membunuh berpuluh orang, tapi terhadap seorang rakyal kecil yang lemah tak berdaya, atas dasar apa aku katanya Sebun Jui-soat tak berani membunuhku?"

Kembali pemuda berbaju putih itu memperlihatkan sinar mata aneh, lanjutnya.

"Tentu saja aku berani bicara karena punya alasan paling tidak, ada beberapa alasan."

Tak seorang pun dapat menduga apa alasannya, karena setiap kali Sebun Jui-soat ingin membunuh orang, tak ada alasan apapun di dunia ini yang sanggup menghalangi niatnya.

Tapi pemuda berbaju putih itu begitu yakin, benarkah alasan itu sangat manjur?

Apa alasannya?

Alasan yang dikemukakan pemuda berbaju putih itu tentu saja sangat kuat, bahkan alasan yang tidak terduga siapa pun.

Masih banyak persoalan yang hendak diucapkan, siapa sangka Sebun Jui-soat telah menukas.

"Padahal kau tak punya alasan apapun, sedang aku pun tak akan melukai seujung rambutmu."

"Sungguh?"

Tentu saja sungguh, setiap perkataan yang diucapkan Sebun Jui-soat memang tak perlu diragukan siapa pun.

"Jika Sebun Jui-soat ingin membunuh orang, ia tidak butuh alasan, begitu juga jika Sebun Jui-soat tak ingin membunuh orang."

"Itu memang benar dan aku percaya,"

Pemuda berbaju putih itu mengangguk.

"Bila Sebun Jui-soat ingin membunuhmu, biar kau adalah seorang perempuan lemah, biar kau adalah kekasih Liok Siau-hong atau si Kuah daging, sekarang kau sudah tewas di ujung pedangku."

"Kenapa sampai sekarang aku belum mati?"

"Karena alasan yang sangat bagus, aku percaya tak ada alasan lain yang lebih bagus daripada alasan itu."

"Oya?"

"Ehmm!"

"Apa alasannya? Kenapa?"

"Sebab biarpun kau bukan lelaki, biarpun kau adalah si Kuah daging yang paling disukai Liok Siau-hong, sayang, aku bukan Sebun Jui-soat, sedikitpun tak mirip Sebun Jui-soat."

Si Genderang besar, si Sepatu bersulam bunga, si Kuah daging berdiri bodoh.

Ia cukup tahu Sebun Jui-soat, tampang, gaya dan gerak-gerik orang itu semuanya adalah Sebun Jui-soat, ia menyendiri, kesepian dan dingin.

Sudah jelas ia adalah Sebun Jui-soat, si Dewa pedang yang tiada duanya di kolong langit, mengapa bicara seperti itu?

Bila Sebun Jui-soat menghendaki kematian seseorang, mengapa orang itu bisa hidup hingga kini?

"Sekarang aku tahu, kau memang bukan Sebun Jui-soat,"

Ujar si Kuah daging sambil menatap tajam orang itu.

"kalau kau bukan dia, siapa kau?"

Ia percaya orang ini adalah Sebun Jui-soat, karena ia sudah mulai merasakan keangkuhan, keseriusan serta dinginnya Sebun Jui-soat, ia pun dapat merasakan hawa pedangnya yang tajam, dahsyat dan tiada duanya itu.

Selain Sebun Jui-soat, siapa lagi yang dapat memberikan perasaan semacam ini kepada orang lain?

"Wajah Sebun Jui-soat macam orang mati, selain pucat, ia tak memiliki mimik lain,"

Kata si Kuah daging.

"orang sudah ketakutan setengah mati dan kakinya lemas ketika melihat manusia berbaju putih dari kejauhan, apalagi orang itu membawa sebilah pedang sempit dan panjang, siapa lagi yang berani memandang wajahnya."

Katanya pula setelah menghela napas.

"Bukan pekerjaan yang sulit untuk berperan sebagai Sebun Jui-soat."

Kata-katanya memang masuk akal, maka si Kuah daging berkata lebih lanjut.

"Kenyataan, berperan sebagai Sebun Jui-soat adalah perbuatan yang amat sulit."

"Kenapa?"

"Karena hawa pedangnya."

Siapa pun yang bertemu dengannya, segera akan merasakan hawa pedang yang sangat menggidikkan, bahkan perasaan orang itu segera akan tergetar.

"Tidak banyak orang di dunia ini yang sanggup menyamar sebagai Sebun Jui-soat, menurut pendapatku, rasanya cuma ada tiga orang."

"Tiga orang yang mana?"

"Giok-lo-sat dari Se-hong, Liok Siau-hong serta Sukong tising,"

Si Kuah daging menjelaskan.

"Giok-lo-sat dari barat adalah Mokau-kaucu wilayah barat, Sukong Ti-sing adalah si pencuri sakti, sementara Liok Siau-hong adalah Liok Siau-hong si pendekar empat alis."

"Semenjak peristiwa Rumah judi pancing perak, rasanya Giok-lo-sat sudah tak mungkin muncul lagi,"

Kata pemuda berbaju putih itu.

"Rasanya memang begitu."

"Oleh sebab itu pasti bukan dia."

"Memang bukan."

"Juga tak mungkin Liok Siau-hong si telur busuk itu."

"Aku rasa tidak mirip!"

"Pasti dia adalah Sukong Ti-sing."

"Kemungkinan besar memang dia."

Pemuda berbaju putih itu menghela napas panjang, katanya.

"Pandanganmu memang bagus, sayang kau salah dalam satu hal."

"Hal apa?"

"Sukong Ti-sing bukan pencuri biasa, ia pencuri sakti, raja segala pencuri, sampai Liok Siau-hong pun dibuat pusing tujuh keliling. Selain dia, tidak ada orang kedua yang sanggup menyuruh Liok Siau-hong merangkak di dalam lumpur mencari 680 ekor cacing."

Tiba-tiba Sukong Ti-sing tertawa terbahak-bahak, hawa membunuh yang dingin, begitu menggidikkan seketika hilang tak berbekas.

Kini si Kuah daging baru percaya dengan perkataan Liok Siau-hong, si Raja di antara raja pencuri memang seorang berbakat, mau menyamar jadi siapa pun dapat diperankan dengan pas.

Bersambung ke 6 Bagian 6 Liok Siau-hong pernah bercerita.

"Ketika berada di Yu-leng-san-ceng, aku sempat melihat seorang menyamar menjadi seekor anjing, tapi orang itu mengatakan kepandaiannya baru sepertiga kemampuan Sukong Ti-sing."

Kini si Genderang dan si Sepatu betul-betul berdiri bodoh, meskipun nama besar Sukong Ti-sing sering mereka dengar, dan mereka pun tahu nama besar si Raja pencuri tak kalah dengan Sebun Jui-soat, namun mereka tidak mengira si Raja pencuri bisa menyamar jadi Dewa pedang, bahkan berhasil mengelabui mereka.

Padahal mereka pun pandai menyamar, syarat mutlak bagi orang yang berprofesi sebagai pembunuh bayaran.

Mereka tak menyangka kemampuan orang ini mengubah nada suara serta hawa membunuh dapat dilakukan dalam waktu singkat.

Untuk menyamar adalah pekerjaaan mudah, tapi untuk mengubah suara dan logat, jelas bukan pekerjaan gampang, ia mesti belajar mengendalikan otot-otot tenggorokannya, kepandaian langka yang sudah lama punah.

Si Genderang besar tidak bicara lagi, dari sakunya ia ambil setumpuk uang kertas, lalu diangsurkan ke hadapan si Kuah daging, dan bagaikan seekor kupu-kupu yang gemuk, pergi meninggalkan tempat itu.

Si Sepatu bersulam bunga juga tidak bicara, ia ikut angkat kaki dari situ, suara langkahnya jauh lebih enteng bila dibandingkan sewaktu datang tadi.

Memandang kepergian kedua orang itu, Sukong Ti-sing tertawa, tiba-tiba tanyanya kepada si Kuah daging.

"Kenapa kau tidak berusaha menahannya?"

"Untuk apa?"

"Sepertinya ia lupa memberikan suatu barang padamu!"

Yang dimaksud Sukong Ti-sing adalah duit, seperti yang dilakukan si Genderang besar.

"Dalam hal ini, tidak seharusnya ia lupa, kau pun bukan seorang pelupa? Kalian pun sama-sama perempuan."

Sesudah berhenti sejenak, kembali kata Sukong Ti-sing.

"Biarpun pengalamanku tentang perempuan tidak sehebat Liok Siau-hong, tapi terhitung tidak rendah juga, menurut pengalamanku, jika emas, perak dan intan berlian sudah berada di tangan perempuan, ibarat satu guci arak Li-ji-ang masuk ke perut Liok Siau-hong, jangan harap bisa menyuruhnya memuntahkan keluar."

"Kau keliru besar,"

Tukas si Kuah daging.

"Oya?"

"Justru lantaran aku pun perempuan, maka tak menahannya."

"Kenapa?"

"Karena aku pun seorang pelupa,"

Sahut si Kuah daging tertawa cerah, secerah bunga mawar yang sedang mekar.

"aku pun lupa menyerahkan uang kepadanya."

"Kau tidak lupa memberi si Genderang besar segepok duit masakah lupa memberinya pula?'' "Ehmm."

"Kenapa?"

"Sebab ia perempuan, kalau ada orang mengatakan perempuan mesti waspada terhadap kaum pria, pendapat itu keliru besar."

"Jadi yang mesti diwaspadai kaum perempuan adalah perempuan?"

Sela Sukong Ti-sing.

"Tepat sekali!"

Perempuan memang lebih mengerti kaumnya.

"Kini tinggal satu hal yang belum kupahami, dapatkah kau beritahukan kepadaku?"

Pinta si Kuah daging pada si Pencuri sakti.

"Dapat!"

Sukong Ti-sing mengangguk.

"biarpun aku bukan Liok Siau-hong, tapi aku pun tak bisa menampik permintaan seorang gadis cantik yang menawan."

"Aku lihat kau punya kesamaan dengannya, mulutmu semanis mulutnya,"

Si Kuah daging tertawa.

Kau sudah mencicipi mulutnya, apakah ingin juga mencicipi mulutku?

Si Kuah daging selain cantik dan menawan, juga pandai, tentu saja apa yang sedang dibayangkan lelaki busuk macam Liok Siau-hong serta Sukong Ti-sing dapat dipahami olehnya, kendati belum mereka utarakan.

Oleh sebab itu ia tak memberi kesempatan kepada lelaki itu unluk bicara, segera ujarnya.

"Darimana kau bisa membaca surat tantangan duelku dengan Sebun Jui-soat yang kuminta Lau-sit Hwesio membuat?"

"Darimana kau tahu aku telah membacanya?"

"Kalau belum membaca, kenapa kau bisa menyamar sebagai Sebun Jui-soat menungguku di sini?"

"Jawabannya mudah,"

Sukong Ti-sing menghela napas panjang.

"aku yakin kau pun pasti beranggapan memang begitu kejadiannya. Sayang, dugaanmu kali ini keliru."

"Jadi bukan begitu?"

"Ya."

"Lantas bagaimana?"

"Aku tak ingin menjawab pertanyaanmu, sekarang aku hanya ingin mencicipi semangkuk besar kuah daging yang masih panas dan mengepul ...."

"Bahkan harus aku sendiri yang menyediakan untukmu."

"Tepat sekali,"

Sukong Ti-sing tertawa tergelak.

--0o0--Kuah daging sapi telah dihidangkan, masih panas dan mengepul, bahkan memakai mangkuk besar ukuran istimewa, kuahnya kental melebihi tajin beras, daging yang digunakan juga daging sapi yang paling lembut, dari jenis sapi terbaik.

Kuah daging semacam ini bila dikombinasi dengan tiga biji kue keras, semangkuk sawi dari Yinlam, ditambah sepiring tahu, sebungkus kacang serta seguci arak wangi, biar ditukar dengan 286 jenis sayur lain pun jawabannya tetap satu.

"ogah ah!" . Tentu saja tak boleh ditukar, ia bukan seekor kura-kura. Sukong Ti-sing bukan kura-kura, juga bukan telur busuk, Sukong Ti-sing hanya seorang tamu yang ditraktir makan, seorang penikmat makanan, bahkan ahli di bidang makanan. Setelah meneguk beberapa suap kuah dan mengunyah daging, ia pejamkan mata dan pelan-pelan menghembuskan napas.

"Daging has dalam ditambah daging paha dicampur sedikit koyor, wah, sedapnya, apakah sapinya sejak kecil sudah disusui arak?"

Tanya Sukong Tising sambil menghela napas.

"Benar."

"Apakah kuah daging ini sudah di tim selama empat lima jam?"

"Benar."

"Baru saja aku duduk, kuah daging ini sudah kau hidangkan."

"Sebelum berangkat, kuah daging sudah kusiapkan lebih dulu aku tak pernah melupakan kata-kata nenekku."

"Apa ia bilang?"

"Dia sering mengatakan, bila ingin menangkap hati seorang lelaki, cara tercepat adalah memperlancar lambung dan ususnya lebih dulu."

"Tepat sekali,"

Sukong Ti-sing lertawa terbahak-bahak.

"aku yakin kakekmu pasti lelaki paling bahagia di dunia ini."

"Ia pun lelaki paling gemuk di dunia ini,"

Sambung si Kuah daging sambil tertawa.

Sukong Ti-sing tertawa, si Kuah daging juga tertawa, tiba-tiba gelak tawa mereka terhenti, menyusul kau pandang aku dan aku memandangmu.

Lama kemudian baru Sukong Ti-sing buka suara lebih dulu, ia sudah menghabiskan kuah daging, ia tahu kuah daging itu bukan disajikan kepadanya dengan percuma.

"Semestinya kau tahu orang macam apa Sebun Jui-soat,"

Katanya pelan.

"memangnya surat yang ditujukan kepadanya bisa sembarangan dilihat orang?"

"Tentu saja tidak."

"Aku pun tak sempat melihat isi surat itu, aku telah bertemu Lau-sit Hwesio, si Hwesio jujur yang tidak jujur."

"Hwesio itu memang tidak terlalu jujur,"

Si Kuah daging menimpali sambil tertawa.

"Tapi ia cerdik, jauh lebih cerdik ketimbang kau."

"Lebih cerdik dari aku?"

"Dia tahu Sebun Jui-soat sudah membaca surat itu, surat itu membuat seorang gadis ingin bunuh diri."

"Maksudmu?"

"Kau tahu kenapa si gadis ingin bunuh diri?"

"Karena perasaannya hancur."

"Begitu pula dengan surat itu,"

Sela Sukong Ti-sing sambil tertawa.

"surat itu sudah dihancurkan oleh Sebun Jui-soat."

Si Kuah daging ingin tertawa, namun tak dapat tertawa.

"Dia tahu, Sebun Jui-soat pasti tak akan berangkat memenuhi janji duel dengan bocah ingusan tak ternama."

"Jika dia selalu memenuhi tantangan duel semacam ini, bisa jadi waktu untuk bikin anak pun tak punya."

"Lantaran ia pasti tak datang, maka kau yang datang?"

Tanya si Kuah daging.

"kenapa kau menggantikannya?"

"Karena aku adalah sahabat Liok-sam-tan (tiga telur), kalau Sebun Jui-soat enggan pergi menolongnya, tentu aku yang harus berangkat."

"Liok-sam-tan?"

Si Kuah daging heran.

"siapa dia?"

"Liok-sam-tan adalah Liok Siau-hong, sebab bukan saja ia telur busuk, si telur miskin, bahkan seorang telur goblok!"

Kembali si Kuah daging ingin tertawa, tapi tak sanggup tertawa.

"Lagi-lagi kau keliru besar, Liok Siau-hong pasti bukan sebutir telur, mungkin saja ia adalah barang busuk yang lain, tapi aku berani jamin ia pasti bukan sebutir telur."

"Bukan telur lalu apa?"

Si Kuah daging tertawa tergelak.

"Kau pernah melihat sebutir telur yang tumbuh di alis? Kau pernah melihat sebutir telur memiliki empat alis?"

Sukong Ti-sing tak pernah menyerah, biarpun berduel lawan Liok Siau-hong, ia tak pernah menyerah.

Tapi kali ini ia benar-benar menyerah.

Sebun Jui-soat belum pernah meniup salju (jui-soat), di dunia ini memang tak seorang pun mau meniup salju.

Yang ditiup Sebun Jui-soat hanya darah, darah di ujung pedangnya, darah musuhnya.

--00— Air dalam bak mandi masih terasa hangat, lamat-lamat terendus pula bau harum bunga yang semerbak.

Sebun Jui-soat selesai membersihkan tubuh dengan seksama, debu yang semula melekat sudah bersih.

Sekarang ia mengenakan pakaian dan berdandan, kukunya digunting dan dibersihkan.

la mengenakan pakaian baru, dari pakaian dalam sampai jubah panjang berwarna putih, putih bagai salju.

la bahkan sudah 'mutih' selama dua hari, hanya makan segumpal nasi putih dan segelas air putih.

la beranggapan pekerjaan yang hendak dilakukannya adalah pekerjaan yang paling sakral, pekerjaan suci.

la akan pergi membunuh orang.

Cong-goan-lau merupakan rumah makan terbesar di kota ini, selain ramai juga paling gaduh.

Saat bersantap, suasana Cong-goan-lau yang semula ribut secara tiba-tiba berubah tenang.

Rupanya ada dua orang muncul dari anak tangga bawah.

Orang yang berjalan di depan adalah seorang nona cantik, badannya sehat, kuat penuh daya lentur serta sifat liar.

Perempuan semacam ini selalu menjadi pusat perhatian siapa pun, muncul dimana pun tetap akan menarik perhatian.

Tapi hari ini, orang yang hadir dalam rumah makan itu seakan tak ada yang memandang ke arahnya, seakan tak seorang pun yang menaruh perhatian kepadanya.

Begitu orang kedua muncul, sinar mata semua orang nyaris terhisap padanya.

Orang ini berwajah pucat, kurus, dingin, angkuh dan sadis, pakaian yang dikenakan berwarna putih, seputih salju.

Dari balik badannya seolah terpancar hawa dingin yang menggidikkan, seakan bisa membuat beku semua suara dan tawa seliap orang yang hadir di situ.

Mereka tak lain adalah Sukong Ti-sing serta si Kuah daging.

Kemunculan Sukong Ti-sing selalu memancing perhatian orang, padahal ia paling tak senang bila diperhatikan.

Yang paling ia sukai adalah menyelesaikan pekerjaan yang harus dilakukan dalam keadaan aman, tenang dan tanpa menarik perhatian siapa pun.

Maklum pekerjaan yang ia lakukan adalah mencuri.

Jika seorang selalu mendapat perhatian berlebihan, bagaimana mungkin ia bisa mencuri?

Mana mungkin jadi raja pencuri?

Jika ia melakukan pencurian, mustahil baginya muncul dalam rumah makan yang terang benderang, sudah pasti ia akan meringkuk dalam penjara yang sempit dan gelap, yang cuma bisa berharap suatu hari nanti bisa melihat cahaya matahari secara bebas, tidak seperti saat dalam sel dimana cahaya hanya bisa masuk lewat jendela kecil, berharap suatu saat bisa bebas dari gigitan kutu busuk dan kutu rambut.

Seorang yang berpengalaman dalam hal ini pernah berkata, bila di badanmu terdapat dua tiga ekor kutu busuk, maka gigitannya bisa membuat kau gatal sampai mampus.

Tapi jika terdapat dua tiga ratus ekor, kau tak bakal merasa gatal walau digigit sampai semua kutu busuk itu mampus.

Benarkah Sukong Ti-sing termasuk orang yang selalu diperhatikan?

Tak ada yang tahu, siapa pun tak pernah melihat tampang aslinya.

Semua orang tahu, dimana pun ia muncul, tampangnya selalu mirip kakek yang tak menyenangkan atau nenek yang menyebalkan, biarpun ia berlutut di depan orang dan minta kepada mereka untuk memperhatikan sekejap, belum tentu orang mau.

Tapi penampilannya hari ini sangat berbeda.

Hari ini ia bukan seekor ulat mengenaskan yang patut dikasihani, bukan orang tengik yang tidak diperhatikan orang, hari ini ia juga bukan Sukong Ti-sing.

Hari ini ia bukan siapa-siapa, kini ia tampil sebagai Sebun Jui-soat.

Sebun Jui-soat yang tiada duanya di kolong langit.

Si Dewa pedang yang tiada tandingannya!

Ketika pedang tergantung di pinggang, ibarat anak panah di atas busur.

Sebelum usia tiga puluh tahun, pedang Sebun Jui-soat selalu tergantung di belakang punggung, diikat dengan sebuah tali yang kuat dan indah, disarungkan dalam sebuah sarung pedang yang sempit panjang, antik dan kuno.

Menurutnya, bila pedang digembol dengan cara begini, maka ia bisa bergerak lebih lincah, bertindak lebih cekatan, ia pun bisa mencabut pedangnya dalam waktu singkat.

Tapi sekarang kelincahan maupun kecepatan sudah bukan hal penting baginya.

Dalam hal ini ia sudah jauh melampaui kemampuan sendiri, melampaui kemampuan pedang itu.

Ia telah melampaui titik batas kemampuan sendiri, melampaui titik batas kemampuan pedang.

Melampaui bukan pekerjaan yang sederhana, tidak mudah mencapainya, bila ingin melampaui segala sesuatu, maka harus membayar dengan mahal, penuh pengorbanan.

Mandi, berpakaian rapi, menyisir rambut, memelihara kuku ...

pekerjaan tetek-bengek semacam ini semestinya tak bakal dilakukan Sebun Jui-soat.

Perempuan cantik, pelacur kenamaan atau perempuan apapun, mungkin akan membantunya melakukan serriua pekerjaan itu, tapi ia sendiri tak akan melakukannya, karena ia adalah Dewa pedang.

Bahkan Liok Siau-hong pernah mengatakan.

Sebun Jui-soat sesungguhnya bukan manusia!

Pekerjaan yang disukai orang tidak ia sukai, pekerjaan yang dilakukan orang, tidak ia lakukan, seakan ia sudah meninggalkan keduniawian, pedang serta pribadinya seolah sudah terpisah dari kehidupan dunia.

Ia sendiri berharap dirinya bisa berbuat begitu.

Di luar dugaan ia telah bertemu seorang gadis, gadis yang memaksanya balik ke kehidupan duniawi.

Peristiwa yang susah dihindari siapa pun, termasuk Sebun Jui-soat!

Oleh sebab itu ia melaksanakan semua pekerjaan sebagai seorang manusia, jatuh cinta, menikah, berkeluarga dan punya anak.

Bahkan ia pun sudah memiliki perasaan sebagai manusia.

Gara-gara itu ia nyaris kalah, hampir mati.

Kekalahan adalah kematian.

Dalam pertarungan sengit, duel maut di istana terlarang, Di bawah sinar bulan purnama, ia nyaris tewas di ujung pedang Pek-in sengcu Yap Koh-seng.

Bagi Sebun Jui-soat, ia boleh mati tapi tak boleh kalah.

Pedang Sebun Jui-soat selamanya tak boleh kalah, ia harus berhasil dengan serangannya.

Ia wajib mempertahankan, sebab ini adalah kewajiban serta tanggungjawabnya, juga nasibnya.

Untuk itu ia merasa perlu sekali lagi memasuki "alam dewa", dewa pedang, ia harus berpisah dengan kehidupan duniawi.

Ketika istrinya melahirkan, melahirkan darah daging yang akan meneruskan keturunannya, ia pun berpisah dengan mereka.

Inilah pengorbanan terbesar yang harus ia bayar!

Tanpa menimbulkan suara Sebun Jui-soat menggantung pedangnya, berjalan keluar pintu sempit rumahnya.

Tidak peduli pintu itu dimana, pintu itu tetap jadi miliknya, karena dia adalah Sebun Jui-soat, karena pintu itu adalah pintu kehidupannya.

Di luar pintu hanya ada bulan, bulan yang sedang purnama.

Sukong Ti-sing telah memesan hidangan.

Pelayan rumah makan berdiri di hadapannya dengan sikap sangat menghormat, berdiri menunggu tamunya memesan hidangan, biarpun tubuhnya tegak, namun sepasang kakinya justru gemetar keras.

Ketika hidangan telah disampaikan, tampang pelayan itu seketika sedikit berubah.

Hidangan yang dipesan Sukong Ti-sing adalah sepiring ca sawi putih, sepiring tahu kukus, dua butir elur ayam, dua biji bakpao kosong dan sepoci air putih.

Di dunia ini terdapat banyak kota, kota kecil dan dusun, di setiap tempat entah ada berapa banyk warung dan rumah makan, entah ada berapa banyak pelayan.

Jika paras sang pelayan tidak berubah setelah mendengar tamunya hanya memesan beberapa macam hidangan itu, itu baru aneh namanya.

Paras si pelayan rumah makan Cong-goan-lau yang sedang mengawasi wajah Sukong Ti-sing saat ini persis seperti muka lelaki hidung belang yang tiba-tiba menemukan dirinya telah berubah jadi seorang thaykam, thaykam yang sedang didampingi seorang gadis cantik dalam keadaan telanjang bulat.

Si Kuah daging tidak terperanjat, mukanya juga tak berubah mengenaskan, walau sempat sedikit berubah.

"Eh, apa yang kau pesan?"

Teriaknya kepada Sukong Ti-sing.

"Kau tuli?"

"Tidak."

"Lantas tidak kau mendengar apa pesananku tadi?"

"Mendengar, aku cuma sangsi."

"Sangsi bagaimana?"

"Aku sangsi, jangan-jangan kau bukan si Raja pencuri yang memandang emas bagai sampah."

"Oya?"

"Konon si Raja pencuri mesti tak pernah mencuri barang berharga, namun duitnya lebih banyak dari siapa pun, karena ia hanya mencuri atas dasar pesanan, untuk mengundangnya mencuri barang pesanan, orang mesti mengeluarkan banyak uang. Aku dengar suatu kali ia mencuri sebuah toilet untuk seseorang, ternyata orang itu membayar 50 laksa tahil."

Sambil berpaling ke arah Sukong Ti-sing, tanyanya pula.

"Apa benar ada kejadian itu?"

Sukong Ti-sing menghela napas panjang.

"Jika seorang nona cilik cantik dan menyenangkan bersikeras mengatakan ada kejadian ini, apa yang bisa kukatakan?"

Kuah daging tertawa.

Senyumannya ternyata tidak mirip sapi, tapi bila ada orang mengatakan sewaktu tertawa ia mirip semangkuk kuah, yang jelas kuah itu pasti bukan kuah daging tapi semangkuk kuah bunga terate yang merah, segar dan manis.

"Kalau untuk mencuri sebuah toilet saja ia bisa memperoleh 50 laksa tahil perak, mestinya si Raja pencuri punya banyak uang? "

Semestinya begitu."

"Orang berduit biasanya pelit, lebih hitungan dan rewel, tapi orang ini terkecuali."

"Oya?"

"Apalagi caranya memakai uang persis seperti Liok Siau-hong, malah kadang ia lebih royal."

"Mencari duit bukan pekerjaan hebat, pandai menghamburkan duit baru hebat, tapi kalau bisanya hanya menghambur tanpa mampu mencari, itu namanya telur busuk, telur busuk yang paling memuakkan!"

Si Kuah daging tertawa tergelak.

"Mendingan jadi telur busuk ketimbang telur busuk yang paling memuakkan."

"Sudah pasti!"

"Makanya kau adalah telur busuk yang paling memuakkan, kau bukan telur busuk yang bisa menghambur tak bisa cari duit, kau juga bukan Raja pencuri yang bisa mencuri barang berharga, kau tak lebih hanya seorang telur busuk yang bisa cari duit tapi tak mampu menghamburkan, kau adalah raja telur busuk."

Sukong Ti-sing dibikin termangu oleh umpatan itu, selama hdup belum pernah ia diumpat orang.

Ia adalah Raja pencuri, raja copet, seperti juga Dewa pedang Sebun Jui-soat, seperti juga Liok Siau-hong adalah Liok Siau-hong.

Mana ada orang berani mengumpatnya?

Atau mungkin si Kuah daging sudah mabuk air kata-kata?

"He, kau sudah mabuk?"

Tegur Sukong Ti-sing.

"Mana ada air putih yang bisa membikin orang mabuk? Aku hanya heran, orang yang bisa mencari 50 laksa tahil perak hanya untuk mencuri sebuah toilet, kenapa hanya memesan serba putih ketika mengundang makan seorang gadis cantik?"

"Serba putih?"

"Sawi putih, tahu putih, bakpao putih, ditambah air putih? Menurutku, hidangan yang disantap Lau-sit Hwesio yang Put-lausit (tidak jujur) jauh lebih enak ketimbang pesananmu."

"Kenapa?"

"Kalau hanya makan hidangan seperti ini, mana punya tenaga untuk membuat seorang Hwesio cilik?"

Sukong Ti-sing tidak tertawa, justru menghela napas panjang.

"Sekarang aku baru tahu kenapa Liok-siau-khe (ayam cilik) menyukaimu, caramu bicara persis dia."

"Sebetulnya dia itu Liok-sam-tan atau Liok-siau-khe?"

"Sama saja, kadang ia bernama Liok Siau-hong, malah sering jadi Liok-siau-kau (anjing cilik). Sebab penciumannya amat tajam, seonggok tahi yang berada delapan ribu li dari hadapannya pun sanggup ia endus secara tepat."

Si Kuah daging manahan tawa, ditatapnya Sukong Ti-sing dengan mata melotot.

"Bagaimana dengan kau? Namamu sebetulnya Sukong Ti-sing atau Boan-te-cia-say (makan tahi yang menumpuk di tanah)?"

"Mana ada manusia begitu?"

Sahut Sukong Ti-sing tertegun.

"Sukong dan boan-te kan sama artinya, begitu juga Ti-sing dan cia-say kan serasi, apalagi makanan yang kau santap selama ini lebih banyak ketimbang tahi anjing yang berserakan di tanah."

"Kau keliru,"

Ternyata Sukong Ti-sing tidak marah.

"aku sengaja memesan hidangan seperti ini lantaran saat ini aku bukan Sukong Ti-sing."

"Lantas siapa kau?"

"Sebun Jui-soat! Jadi boan-te bagi Sebun dan cia-say untuk Jui-soat, lebih pas."

"Betul,"

Mendadak seseorang menimpali.

"saking pasnya sampai ia berhak menikmati seonggok tahi anjing ditambah satu bacokan golok."

Di belakang sebuah meja di sudut rumah makan, duduk sepasang suami istri, usia mereka sudah lanjut, yang lelaki kurus kecil sementara si nenek gemuk dan putih, jika si kakek selalu bermuram durja sebaliknya si nenek penuh senyum keriangan.

Banyak sekali suami istri di dunia ini bertampang begitu, bila suami istri melakukan pekerjaan bersama, maka sang suami selalu yang dirugikan, sang suami selalu berusaha menyenangkan sang bini, sampai-sampai badan sendiri kurus kering dan wajah pucat.

Sebetulnya suami istri itu duduk di sudut ruangan yang jauh, tiba-tiba saja si kakek kurus itu sudah duduk di samping Sukong Ti-sing serta si Kuah daging.

Ucapan itu tentu saja berasal dari mulut kakek kurus ini.

"Barusan kau bilang aku harus dibacok dengan golok?"

Tegur Sukong Tising.

"Betul."

"Kenapa?"

"Sebab kau bukan Sebun Jui-soat, jika kau adalah dia, maka akulah yang akan makan tahi anjing."

Sekali lagi Sukong Ti-sing tertegun.

Sebetulnya kakek itu duduk di tempat yang jauh, sementara suara pembicaraannya dengan si Kuah daging sangat lirih, bahkan orang yang duduk di meja samping pun tidak mendengar, tapi si kakek itu justru dapat mendengar dengan jelas.

Siapakah kakek itu?

Seandainya Sukong Ti-sing tahu, mungkin ia akan langsung jatuh pingsan.

Kejadian apa di dunia ini yang mampu membuat Sukong Ti-sing pingsan?

Seandainya ada orang berkata ilmu menyamar Sukong Ti-sing bukan nomor satu di dunia, mungkin tak ada lagi manusia di dunia ini yang berani mengaku ilmu menyamarnya adalah nomor wahid di kolong langit.

Ilmu menyamar memang misterius, selalu mendatangkan perasaan seakan ada sangkut-pautnya dengan suatu misteri, serasa terlibat dalam persekongkolan busuk dunia persilatan.

Padahal ilmu menyamar, hanya tehnik mengubah wajah yang sangat biasa, gadis muda yang cantik jelita dapat berperan sebagai seorang lelaki penuh cambang.

Sama seperti mempelajari kepandaian lain, tidak sulit untuk mempelajarinya, sulit bila ingin menguasai secara sempurna.

Sampai taraf mana ilmu menyamar Sukong Ti-sing?

Susah untuk dijelaskan, seperti halnya dua jari Liok Siau-hong, pedang Sebun Jui-soat.

Tak ada tahu sampai taraf mana kepandaian mereka, bahkan tak seorang pun bisa membayangkannya.

Paling tidak, bisa dipastikan ilmu menyamar ada batasnya.

Tak ada ilmu menyamar di dunia ini yang sanggup mengubah orang menjadi orang lain, bahkan dapat mengelabui sahabat serta keluarganya yang paling dekat.

Ilmu menyamar tingkat tinggi yang paling sempurna, tak lebih hanya mampu mengubah menjadi seorang lain yang sesungguhnya tak ada, atau menjadi seorang yang di sekitarnya tak ada keluarga atau sahabat karibnya, agar orang lain tidak mengenalinya.

Asal dapat mencapai ke tingkat itu, maka ilmu menyamarnya sudah memiliki nilai dan pantas serta berharga untuk dipelajari.

Ilmu menyamar Sukong Ti-sing telah mencapai ke taraf itu, bahkan sudah melebihi, ia bahkan rnampu membuat Liok Siau-hong tidak mengenalinya lagi.

Kalau bisa membuat Liok Siau-hong sisetan licik yang jeli matanya dan cerdas pun tidak mengenalinya, maka kepandaian itu sudah luar biasa.

Sekarang seorang kakek kurus kering; yang duduk di sudut rumah makan itu dapat mengenalinya, bukankah kepandaian kakek itu luar biasa hebatnya?

Kehebatan kakek kurus itu sudah cukup membuat Sukong Ti-sing terperaiijat.

Kakek kurus itu sanggup mendengar pembicaraan mereka, walau dalam ruangan yang hiruk pikuk dan terpisah oleh berpuluh meja.

Kenyataannya Sukong Ti-sing sama, sekali tak mengetahui asal-usul kakek itu, bagaimana ia tidak terkesiap?

Akhirnya ia menghela napas dan berkata sambil tertawa getir.

"Aku kagum kehebatanmu, aku tabu kau juga telah menyamar, hanya aku belum mengetahui siapa kau, sebaliknya kau justru telah tahu siapa aku." . Kakek kurus itu mencibir, javvabnya.

"Kau tak perlu kagum, juga tak perlu tahu siapa aku, aku pun tak ingin tahu siapa kau. Aku hanya tahu satu hal, kau seratus persen bukan Sebun Jui-soat."

Dengan sikap sangat memuakkan,.kembali kakek kurus itu berkata.

"Tak masalah kau adalah Thio Sam, Li Su atau kura-kura telur busuk, yang penting aku tahu kau bukan Sebun Jui-soat, aku rasa bukan hanya aku yang mengetahui hal ini."

Setelah berhenti sejenak, kembali katanya.

"Orang persilatan yang tajam pendengaran dan luas pergaulannya pasti tak percaya jika saat ini Sebun Jui-soat mau menemani seorang nona cilik yang cantik jelita untuk bersantap bakpao tanpa isi di tempat seperti ini."

"Kenapa?"

"Karena mereka tahu saat ini Sebun Jui-soat tidak berada di wilayah Kanglam, juga tidak berada di Tionggoan, bagaimana mungkin bisa muncul seorang Sebun Jui-soat lagi di tempat ini?"

Jawaban pertanyaan ini hanya satu, Sebun Jui-soat yang ini pasti gadungan! "Maka aku tahu bahwa kau bukan Sebun Jui-soat, apalagi dengan ilmu menyamarmu, siapa yang bisa mengetahui?"

Sukong Ti-sing benar-benar takluk, ia mulai merasa kakek kurus itu tidak terlalu memuakkan, bahkan menyenangkan.

"Kalau Sebun Jui-soat memang tak ada di Kanglam, juga tidak berada di daratan Tionggoan, lalu dimana dia?"

"Pergi ke sebuah tempat yang ada setannya."

"Apakah tempat yang ada setannya itu berada di luar perbatasan?"

Sukong Ti-sing dan Kuah daging saling pandang sekejap.

"Benar."

"Dan tempat itu bernama Ui-sik?"

"Benar."

Kembali si Kuah daging saling pandang dengan Sukong Ti-sing, mereka tertegun.

"Biarpun Sebun Jui-soat hanya minum air putih serta dahar hidangan paling sederhana, namun ia amat memperhatikan masalah sekecil apapun, ia juga pandai menikmati,"

Kata Sukong Ti-sing.

"tapi kenapa kali ini ia meninggalkan perkampungannya yang makmur dan indah, justru pergi mendatangi tempat setan dimana burung tak bisa berkicau, kelinci tak bisa berak itu? Mau apa ia ke sana dan karena apa?"

"Tahukah kau, hanya demi seorang yang tak dikenalnya, ia pun rela melakukan perjalanan ribuan li hanya untuk membalas dendam sakit hatinya?"

"Pernah kudengar cerita itu."

Bukan hanya Sukong Ti-sing yang pernah mendengar cerita itu, hampir semua orang pernah mendengar kisah ini.

"Demi seorang jago yang bernama It-to-tin-kiu-ciu (golok menggetarkan sembilan telaga) Tio Kong, ia pernah naik kuda siang malam selama tiga hari tiga malam untuk membunuh Yang-tiam-to (golok berpijar) Ang To, padahal ilmu golok Giok-lian-hoan-yang-tiam-pat-to (ilmu golok Berpijar kemala berantai) Ang To sangat mematikan dan jarang membiarkan korbannya lolos dalam keadaan hidup, sementara Tio Kong hanya seorang asing yang belum pernah dijumpai sebelumnya,"

Kata Sukong Ti-sing.

"Dia seringkali melakukan perbuatan semacam ini hanya karena alasan kecil."

Kemudian tanyanya.

"Menurut kau, ia hebat tidak?"

"Tidak, sama sekali tidak hebat, semua orang bisa melakukan hal yang membingungkan, tidak terkecuali kau."

"Berarti kepergian Sebun Jui-soat ke kota Ui-sik juga lantaran alasan yang membingungkan?"

"Benar, kali inipun ia pergi lantaran seseorang, hanya saja ia lelah melanggar satu kebiasaannya."

"Melanggar kebiasaan?"

"Ya."

"Apa itu?"

"Selama ini ia selalu turun tangan demi orang lain, jarang demi sahabat sendiri, nyaris ia tak punya teman, biarpun ada teman juga tak mungkin minta pertolongannya, ia hanya mau berjuang demi orang lain."

"Ia selalu menganggap tindakannya itu adalah demi din sendiri, belum pernah kujumpai orang yang begitu jumawa macam dia, paling tidak demi kepentinganku."

Kakek kurus itu tertawa tergelak. Sukong Ti-sing tak pernah menghargai Sebun Jui-soat, semua jago dunia persilatan mengetahui hal ini masalahnya Sebun Jui-soat juga tak pernah menghargainya.

"Apa yang kau ucapkan memang benar, tapi kali ini bukan derni diri sendiri juga bukan demi orang asing, ia lakukan demi seorang sahabatnya."

Sukong Ti-sing menenggak habis air putih dalam cawan bagai rnenenggak arak, jengeknya sambil tertawa dingin.

"Masakah Dewa pedang mau melakukan demi seorang sahabatnya?"

"Benar."

"Temannya tidak banyak, orang yang mati dibunuhnya seratus kali lipat lebih banyak ketimbang sahabatnya."

"Mungkin tak sampai seratus kali lipat, sebab temannya mungkin cuma seorang."

"Berarti temannya pasti Liok-siau-kau si anjing kecil itu?"

"Liok-siau-kau tentu sama dengan Liok-siau-khe si ayam cilik, Liok-siau-jong si ulat kecil, Liok-siau-kui si setan cilik dan-Liok-sam-tan si tiga telur atau dari gabungan anjing, ayam, ulat, setan dan telur terbentuklah seorang Liok Siau-hong."

Selama pembicaraan, penampilan si Kuah daging nampak alim, tenang dan pendiam, mirip penampilan seorang nona besar keluarga bangsawan.

Mendadak ia melompat bangun, seperti seekor kucing betina yang mendadak ekornya diinjak orang, melompat sambil melototi kakek kurus itu, tapi sekejap kemudian dengan alim, lembut dan halus ia duduk kembali, menutup rapat mulutnya, tak sepatah kata pun yang diucapkan.

Seakan seorang gadis yang betul-betul alim, ingin kentut pun takberani.

"Kau bilang Sebun Jui-soat pergi ke kota Ui-sik demi Liok Siau-hong?"

Teriak Sukong Ti-sing sambil mengawasi kakek itu.

"he, apakah kau sedang kentut?"

"Tidak, berada di hadapanmu, aku belum pantas untuk kentut, mau kentut pun harus ditahan, kalau sekarang ada yang kentut, dapat dipastikan bukan aku."

Bukan ia yang kentut, berarti Sukong Ti-sing yang kentut.

Waktu itu Sebun Jui-soat sedang membuka pintu dan berjalan keluar.

Di luar pintu adalah selapis 'pasir kuning bagaikan emas', rembulan bulat bagai roda.

Sukong Ti-sing melahap bakpao tanpa isi, makan lantaran perutnya lapar, kelaparan setengah mati, di saat harus memeras otak dan perang mulut, perut memang lebih gampang lapar.

Bagaimanapun ia memeras otak, tetap saja tidak diketahuinya siapa gerangan kakek kurus di hadapannya, darimana ia tahu begitu banyak persoalan?

Sekalipun otaknya sudah diperas sedemikian rupa, hasilnya tetap nihil.

Sebaliknya kakek kurus itu bukan cuma tahu apa yang sedang ia pikirkan, bahkan tahu siapa dirinya.

"Sukong-heng, sekarang apakah kau sudah bisa mengundang nona yang cantik jelita ini untuk menikmati hidangan yang tidak putih?"

Sukong Ti-sing nyaris terjatuh dan tempat duduknya.

"Apa kau bilang?"

Teriaknya.

"Mungkin Sukong Ti-sing bukan satu orang, bisa jadi Sukong Ti-sing ada beberapa puluh orang, karena ilmu menyamar Raja pencuri ini sangat hebat dan sempurna, belum ada yang mampu menandingi kepandaiannya di dunia ini."

Menjilat pantat memang bisa membuat pantat seseorang jadi dingin, apalagi jilatan pantat kakek kurus itu bertubi-tubi.

"Aku tahu kau bukan Sebun Jui-soat karena aku tahu Dewa pedang itu berada di luar perbatasan,"

Kakek kurus itu berkata pula.

"aku pun tahu kau adalah Sukong Ti-sing, karena aku tahu selain Sukong Ti-sing di kolong langit tak ada orang kedua yang sanggup menyamar sebagai Sebun Jui-soat, lagi pula tak ada yang berani melakukan hal itu."

Sukong Ti-sing tertawa, ia mulai merasa kakek kurus yang misterius itu makin menarik, yang menjadi persoalan sekarang adalah siapa gerangan kakek itu?

Selama pertanyaan ini belum terjawab, biarpun Sukong Ti-sing adalah seekor kuda dan pantatnya dicambuk orang, ia tetap tak akan melepaskan kakek kurus itu.

"Sekarang kau sudah tahu siapa aku, boleh aku tahu siapa dirimu?"

Tanyanya kemudian.

"Boleh saja."

"Boleh? Sungguh?"

"Sungguh."

"Kalau begitu bolehkah beritahukan padaku sekarang?"

"Tidak boleh!"

"Kenapa?"

"Karena aku sendiri pun tak tahu siapakah aku, darimana aku bisa memberitahukan kepadamu?"

"Apakah masih ada orang lain yang bisa memberitahukan padaku?"

"Ada satu."

"Siapa?"

"Nenek yang duduk di sudut ruangan itu."

Semua nenek sama bentuknya.

Begitu juga dengan nenek yang duduk di sudut ruangan itu.

Mungkin ia belum terlalu tua, mungkin juga sudah tua, mungkin ia berwajah menarik tapi mungkin juga berwajah kurang menarik.

Terlepas ia sudah tua atau tidak, menarik atau tidak, yang pasti ketika orang melihat ia hanya duduk dengan sopan di sudut ruangan, biarpun belum pernah melihat seorang perempuan, mereka tetap akan menganggapnya sebagai seorang nenek.

Sejak awal Sukong Ti-sing sudah merasa ia tidak mirip seorang nenek, tiada sesuatu yang janggal, tapi indera keenamnya mengatakan begitu.

Tiga biji bintang.

Sukong Ti-sing tahu, orang yang sedang dihadapi bukan manusia, tapi sebiji bintang.

Seperti juga Liok Siau-hong, Sebun Jui-soat, Yap Koh-seng, bintang-bintang yang cemerlang.

Sepeti juga dirinya, sebuah bintang gemerlapan!

Tapi ketika ia sadar bintang apa yang sebenarnya sedang ia petik, ia tak sadarkan diri.

Di kemudian hari si Kuah daging bercerita.

"Dengan mata kepala sendiri kusaksikan Sukong Ti-sing berjalan menghampirj nenek itu, si nenek membisikkan sesuatu di sisi telinganya."

"Kemudian?"

"Kemudian aku lihat Sukong Ti-sing yang menyamar sebagai Sebun Jui-soat dan sengaja berlagak dingin, sadis tanpa perasaan berubah hebat wajahnya, dengan mata melotot ia mengawasi nenek itu tanpa berkedip, begitu besar matanya melotot, nyaris kedua bin matanya rontok ke tanah."

"Lalu?"

"Lalu aku lihat ia duduk di kursi, peluh bercucuran, matanya mendelong seperti orang kehilangan sukma, kemudian setelah menenangkan diri ia berdiri, tapi mulutnya komat-kamit seperti Tosu yang sedang membaca doa, entah sedang bicara dengan siapa?"

"Kau tidak mendengar apa yang ia komat-kamitkan?"

"Tidak."

"Sebenarnya siapa sih nenek itu?"

"Selama hidup kau tak bakal menyangka, biar Cukat Liang hidup kembali juga ia takkan bisa menebak siapa nenek itu. Ketika Sukong Ti-sing balik ke sisiku, mukanya persis orang yang baru ketemu setan berkepala besar, kepala yang lebih gede dari gilingan tahu."

Begitu melihat muka Sukong Ti-sing yang amat tak sedap dipandang itu, tidak tahan si Kuah daging bertanya.

"Memangnya barusan kau melihat setan berkepala besar?"

"Tidak ... sayang, di sini mana ada setan kepala besar?"

"Sayang? Apa maksudmu?"

"Aku lebih suka berjumpa dengan setan berkepala besar."

"Jadi nenek itu jauh lebih menakutkan ketimbang setan berkepala besar?"

"Hmm!"

"Siapa dia?"

"Hmm!"

"Apa maksudmu?"

"Biarpun aku tahu juga takkan kukatakan, apalagi aku tidak tahu."

"Tampaknya kau sedang berbohong."

Sukong Ti-sing ingin mendengus pun tak sanggup lagi. Sesudah menghela napas panjang si Kuah daging berkata pula.

"Sungguh tak disangka Sukong Ti-sing tak lebih orang macam begini, selain pintar berbohong juga pengecut bernyali kecil, baru saja orang membisikkan sesuatu, ia sudah ketakutan setengah mati macam cucu kura-kura saja, jangankan bicara, mau kentut pun tidak berani."

Mendadak Sukong Ti-sing berdiri, katanya.

"Selamat tinggal!"

Belum selesai perkataan itu diucapkan, tubuhnya sudah tak kelihatan lagi.

Kini tinggal si Kuah daging duduk termangu-mangu di situ, percuma ia marah dan tertegun, semua berakhir tanpa hasil.

Jika Sukong Ti-sing ingin pergi, tak seorang pun bisa menghalangi, tak seorang pun dapat menyusulnya.

Biar kemampuan si Kuah daging lebih hebat lagi, ia juga cuma bisa menyaksikan dengan mata terbelalak.

Bisa dibayangkan betapa dongkol dan gusarnya gadis itu.

Padahal pencuri itu sudah berjanji akan menemaninya pergi ke kota Ui-sik, tapi sekarang ia pergi begitu saja.

Apa gunanya ia marah?

Kecuali marah pada diri sendiri, apa yang bisa ia lakukan?

Suami istri misterius itu masih duduk di sudut ruangan sambil komat-kamit, kadang mereka menoleh ke arahnya dan tertawa.

Akhirnya si Kuah daging tak kuasa menahan diri, tiba-tiba badannya melejit ke udara, dengan langkah lebar ia menghampiri meja di sudut ruangan itu.

Begitu tiba di situ, si Kuah daging dibuat makin mendongkol dan gusar.

Ternyata hidangan yang disantap si kakek berwajah kuning dan si nenek berbadan bongkok itu jauh lebih banyak ketimbang jatah makan dua ekor kuda.

Hidangan yang mereka santap semuanya hidangan paling lezat yang biasa dimakan orang yang pandai menikmati masakan enak.

Kebetulan si Kuah daging termasuk orang yang pandai menikmati hidangan lezat, saat ini ia sedang kelaparan.

Yang membuatnya dongkol adalah kedua kura-kura tua itu tidak mempersilakan ia duduk, bahkan mengundangnya bersantap pun tidak.

Hati si Kuah daging tenang kembali.

Tiba-tiba ia duduk, duduk di bangku bekas Sukong Ti-sing, kemudian disambarnya sumpit di hadapannya dan tanpa sungkan lagi ia mulai menyikat hidangan di atas meja.

Dengan terperanjat nenek itu mengawasinya, lalu setelah menghela napas panjang, katanya.

"Rasanya banyak perubahan yang telah terjadi tahun ini, padahal sewaktu masih nona, aku tak pernah berbuat begitu."

"Bagaimana keadaan kalian waktu itu?"

Si Kuah daging bertanya.

"Waktu itu walau ada orang mengundang makan pun belum tentu kami berani mengambil sumpit."

"O, jadi kalian tak berani mengambil sumpit? Berarti waktu itu kalian makan dengan tangan telanjang?"

Si kakek tertawa, sementara si nenek mendelik karena mendongkol, sebaliknya si Kuah daging tertawa cekikikan tiada hentinya, saking gelinya sampai sepotong ayam yang sudah disumpitnya lupa dimasukkan ke mulut.

Tiba-tiba ia merasa kedua kura-kura tua itu ternyata tidak memuakkan seperti yang dibayangkan semula.

Baru selesai ingatan itu melintas, mendadak si nenek menggenggam tangan gadis itu, lalu memandangnya dengan sinar mata iba dan simpati, ujarnya.

"Nona cilik, pikiranmu harus lebih terbuka, jangan sekali-kali kau merasa bersedih."

"Sedih?"

Si Kuah daging tertegun.

"siapa bilang aku sedang sedih?"

"Kau tidak sedih?"

"Kenapa aku mesti sedih? Nyonya tua, masa kau tidak tahu bahwa aku adalah seorang yang sangat terbuka?"

Si nenek menghela napas, kali ini ia tidak bicara lagi.

Si Kuah daging juga tidak bicara, ia siap melanjulkan santapannya, namun tiba-tiba mengurungkan niatnya.

Di antara si kakek dan si nenek yang misterius itu seakan-akan muncul sesuatu benda, yang membuat ia tak mampu menelan sisa hidangan yang ada.

Benda itu merupakan semacam perasaan yang sangat aneh, bahkan aneh luar biasa.

Dorongan perasaan yang sangat aneh itulah yang membuat si Kuah daging meletakkan sumpitnya.

"Nyonya tua, bukankah tadi kau mengatakan agar aku tidak bersedih,"

Katanya.

"Hmm,"

Nenek itu tidak menjawab, hanya menghela napas.

"Kalau begitu tolong tanya, untuk apa aku bersedih?"

"Aku sendiri tidak tahu, keadaan belakangan ini telah banyak berubah, aku sendiri tidak tahu apakah urusan semacam ini dapat membuat orang bersedih."

Kemudian setelah menghela napas lagi, lanjutnya.

"Aku hanya tahu, sewaktu kami masih kecil, bila menghadapi kejadian seperti ini bukan saja hati kami amat sedih, bahkan secara diam-diam menangis."

Si Kuah daging mulai panik, ia mulai gelisah, lalu desaknya.

"Nyonya tua, sebenarnya apa yang terjadi?"

"Tahukah kau Sebun Jui-soat telah tiba di kota Ui-sik?"

"Ya, baru saja kudengar berita itu."

"Tahukah kau apa sebabnya ia pergi ke sana?"

"Katanya pergi mencari Liok Siau-hong, bagaimanapun juga ia adalah sahabatnya."

"Kau keliru, dia ke sana bukan untuk mencari Liok Siau-hong, karena di dunia ini tak ada orang yang bisa menemukan Liok Siau-hong."

"Kenapa?"

"Sebab orang hidup tak mungkin bisa menemukan orang mati, jika orang hidup ingin menemukan orang mati, maka ia mesti mati lebih dulu. Sebun Jui-soat bukan pergi untuk mati, ia pergi untuk membalas dendam bagi Liok Siau-hong."

Liok Siau-hong sudah tewas di kota Ui-sik, tak bisa disangkal berita itu dengan cepat menyebar ke seluruh dunia persilatan.

Tampaknya si kakek dan si nenek bukan termasuk orang yang suka berbohong, kalau tidak, mana mungkin mereka bisa membuat kaget Sukong Ti-sing hingga kabur terbirit-birit?

Si Kuah daging sendiri tidak tahu dengan cara bagaimana ia menuruni rumah makan itu, lebih-lebih tak tahu bagaimana reaksinya waktu mendengar berita itu.

Ia hanya tahu saat ini sudah duduk di bawah sebatang pohon besar dan rindang, bahkan sudah menangis hingga berubah jadi seorang gadis penuh air mata.

Zaman dulu sampai sekarang sama saja keadaannya, seorang gadis normal yang punya perasaan pasti akan bersedih untuk lelaki yang dicintainya.

Dalam hal yang lain mungkin sikap serta tindakan si Kuah daging agak berbeda dengan orang kebanyakan, tapi perasaannya sama sekaii tidak di bawah perasaan perempuan mana pun.

Air matanya yang bercucuran, tidak lebih sedikit ketimbang air mata orang lain.

--00— Angin berhembus kencang menerbangkan pasir kuning di tepi perbatasan.

Kota Ui-sik, sebuah kota yang terlupakan oleh waktu, penduduk kota Ui-sik memang sengaja melupakan waktu.

Terlepas dilupakan atau melupakan, ada satu persamaan di antara keduanya, yaitu kota Ui-sik sama sekali tidak berubah.

Ketika pertama kali mengayunkan langkah memasuki kota Ui-sik, yang terlihat pertama kali oleh Sebun Jui-soat adalah seorang pengemis yang berbaring di tepi jalan.

Tentu saja si pengemis itu adalah anak murid angkatan kedua puluh tiga Kay-pang, Ui Siau-cong.

Ketika Ui Siau-cong melihat kehadiran Sebun Jui-soat, sinar matanya yang berbinar persis sama ketika melihat Liok Siau-hong.

Tapi Sebun Jui-soat bukan Liok Siau-hong.

Kalau Liok Siau-hong segera mencari tahu dimana letak rumah penginapan, Sebun Jui-soat hanya menatapnya dengan sorot mata dingin.

Sinar mata dingin itu seakan anak panah yang langsung menghujam hati Ui Siau-cong.

"Kau ingin mencari rumah penginapan?"

Tanyanya kemudian.

Sebun Jui-soat tidak menjawab, kadangkala membungkam merupakan semacam jawaban, paling tidak bagi orang macam Ui Siau-cong yang sudah terbiasa bicara menurut perubahan wajah orang, kebungkaman Sebun Jui-soat dianggap sebagai jawaban.

Rumah kelontong milik si Mata besar yang terbuat dari kayu masih tetap seperti sedia kala, di situ masih tersedia sebuah ranjang kayu, di atas ranjang terbentang seprei berwarna putih, hanya bedanya, seprei itu nampak bersih, baru dan sangat putih, seputih pakaian yang dikenakan Sebun Jui-soat.

Ui Siau-cong mengawasi mata Sebun Jui-soat tanpa berkedip, sementara sorot mata Sebun Jui-soat terpancang pada kertas merah yang ditempelkan di atas ranjang kayu, kertas yang bertuliskan beaya sewa kamar dan makanan.

Ui Siau-cong ingin mencari tahu sesuatu dari perubahan wajah Sebun Jui-soat, tapi wajah orang itu seakan salju beku berusia ribuan tahun, dingin dan keras, seakan ditusuk dengan pedang pun tak tembus, apalagi hanya dengan sepasang mata?

Terpaksa Ui Siau-cong berkata sambil tertawa.

"Inilah satu-satunya tempat menginap di kota Ui-sik, Kongcu puas bukan?"

"Tentu saja puas, selain tidur dan makan, permintaan apapun dapat kami layani dengan baik, masakah tidak puas?"

Tentu saja yang menjawab bukan Sebun Jui-soat, karena suara itu merdu dan nyaring, sudah jelas suara seorang perempuan.

Menyusul Laopan Nio berjalan masuk sambil meliuk-liukkan badannya.

Dengan senyuman genit dan goyangan pantat merangsang ia berjalan ke hadapan Sebun Jui-soat.

"Kongcu ...."

Tiba-tiba Laopan Nio menutup mulut, bukan saja perkataannya tidak diselesaikan, senyuman genit di wajahnya pun seketika hilang tak berbekas.

Salju, bila bertemu cahaya matahari yang hangat pasti akan mencair, akan tetapi bila bongkahan salju yang telah membeku ribuan tahun, jangankan mencair, malah sebaliknya cahaya matahari yang berubah, berubah jadi dingin dan suram.

Wajah Sebun Jui-soat yang dingin sudah cukup membuai Laopan Nio tak tahan, jangankan menanggapi, melirik sekejap ke arah perempuan itupun tidak, ia segera membalikkan badan dan pergi dari situ.

Dalam keadaan begini, bagaimana mungkin Laopan Nio dapat melanjutkan perkataannya dan senyumnya tidak lenyap?

"Kongcu ...

Kongcu ...."

Ui Siau-cong memanggil sambil mengintil di belakangnya.

Sebun Jui-soat seperti orang tuli, ia melanjutkan langkahnya menuju ke depan pintu toko kelontong Bagi Ui Siau-cong, tindakan semacam ini termasuk juga jawaban.

Ui Siau-cong kecewa pada Ong Toa-yan dan Laopan Nio, sikapnya apa boleh buat, lalu ia pentang mulut hendak mencaci-maki Sebun Jui-soat.

Mulutnya sudah terpentang lebar, namun keburu tertegun, dengan mata terbelalak ia mengawasi pintu toko tanpa berkedip.

Sebun Jui-soat!

Baru saja kakinya melangkah masuk, tiba-tiba ia memutar badan dan kembali keluar.

Sekulum senyuman tersungging di ujung bibir Laopan Nio, senyumannya secerah bunga yang mekar di musim semi.

Sayang Sebun Jui-soat adalah Sebun Jui-soat, ia masih juga tidak memandang ke arah Laopan Nio.

Sorot matanya tidak melihat manusia tapi benda.

Tangannya bergerak, bergerak mengikuti sorot matanya, lalu mengambil sebuah obor dan mercon dari atas rak.

Dengan tangan kiri ia comot obor serta mercon itu, sementara tangan kanan menyentil ke depan, sekeping uang segera terjatuh di atas meja kasir.

Tingkah laku Sebun Jui-soat menarik rasa ingin tahu Laopan Nio, tak kuasa ia ikut keluar.

Buat apa Sebun Jui-soat membeli obor dan mercon?

Ketika Sebun Jui-soat melangkah di jalanan berpasir di kota Ui-sik, mercon dalam genggamannya tiba-tiba mendesis, lalu meluncur ke tengah udara.

Ketika meledak, mercon itu memancarkan cahaya api ke empat penjuru, kemudian terhembus angin berpasir dan lenyap.

Kemana Sebun Jui-soat akan pergi?

Laopan Nio sekalian tahu, arah yang dituju bukan meninggalkan kota itu.

Ia tidak meninggalkan kota Ui-sik, bahkan mencari sebuah batu besar di tepi jalan dan duduk di situ bagai seorang pendeta tua, mirip sebongkah es yang sepanjang tahun tak pernah ketemu cahaya.

--00— Bersambung ke 7 Bagian 7 Matahari telah tenggelam di balik bukit, cahaya senja merah menghiasi seluruh langit, ketika cahaya membias di atas tubuh Sebun Jui-soat yang putih, terpantullah selapis cahaya berkilauan yang memedihkan mata.

Angin berhembus makin kencang.

Suaranya keras, namun tak dapat menutupi suara derap kaki kuda yang sangat ramai.

Menyusul dua puluh empat ekor kuda telah muncul di jalan berpasir menuju kota Ui-sik.

Kuda-kuda itu berlari sangat cepat dan tiba-tiba berhenti, berhenti di luar kota Ui-sik.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun semua penunggang kuda itu melompat turun, kedua puluh empat ekor kuda membentuk garis memanjang.

Siapa mereka?

Mau apa datang kemari?

Pertanyaan ini melintas dalam benak Laopan Nio sekalian.

Kedua puluh empat orang melompat turun dari kuda dengan gerakan sangat terlatih, mulai melakukan tugas dan pekerjaan, bangga pengemis cilik itu berkata.

"Kau tahu?"

"Ya."

"Coba katakan mau apa mereka kemari?"

"Mereka datang mengantar air untuk mandi."

Kontan Laopan Nio mengangkat tangan siap menjitak batok kepala pengemis cilik itu, tapi tidak benar-benar dilakukan, bukan lantaran pengemis cilik itu mengegos, melainkan karena secara tiba-tiba Laopan Nio telah memahami sesuatu.

Sekarang ia tahu, pengemis cilik itu bukan sedang mengerjai dirinya.

Kedatangan rombongan itu memang khusus mengantar air mandi.

Maka dengan mata terbelalak dan mulut melongo ia berseru.

"Jadi ia benar-benar adalah Sebun Jui-soat?"

"Omong kosong, selain Sebun Jui-soat, siapa lagi yang berani masuk ke kota Ui-sik tanpa mengucapkan sepatah kata pun?"

"Betul. Kecuali Sebun Jui-soat, siapa lagi yang suka kebersihan? Siapa lagi yang enggan menginap di hotel paling megah di kota Ui-sik ... toko kelontong milikku?"

Lopan toko kelontong itu seakan berubah jadi sangat pintar.

"Untuk sampai di kota Ui-sik, orang harus menempuh perjalanan sehari penuh dengan diterpa pasir kuning, kecuali Sebun Jui-soat, siapa lagi yang teringat untuk mandi dan ganti pakaian?"

Kata si pengemis cilik dengan bangga. Mendadak Laopan Nio mengernyitkan alis.

"He, kenapa kau?"

Pengemis cilik menegur.

"Kenapa? Masa kau tidak melihat, berapa banyak anak buah yang diajak Sebun Jui-soat?"

"Soal itu kau tak perlu kuatir,"

Tukas pengemis cilik sambil tertawa.

"jika Sebun Jui-soat meraih kemenangan dengan mengandalkan jumlah banyak, dari dulu ia sudah bukan Sebun Jui-soat. Selama hidup ia selalu melakukan sepak terjangnya seorang diri."

"Lalu bagaimana dengan orang-orang berbaju hitam itu?"

"Mereka tak lebih hanya sekawanan pelayan yang khusus bertugas melayani keperluannya. Penampilan Sebun Jui-soat tak ubahnya seperti hartawan kaya, bukan seorang pendekar pedang."

Kening Laopan Nio yang semula berkerut kencang kini kembali normal.

Ternyata kawanan berbaju hitam itu memang datang untuk mengantar air mandi buat Sebun Jui-soat, begitu semuanya siap, Sebun Jui-soat bangkit berdiri dan berjalan menuju tenda.

"Mari kita pergi!"

Kata Lopan toko kelontong ketika melihat Sebun Jui-soat masuk ke dalam tenda, lalu ia berbalik dan kembali ke tokpnya.

"Pergi? Kalau mau pergi, kalian boleh pergi lebih dulu,"

Jawab Laopan Nio.

"Kenapa? Memangnya kau ingin melihat Sebun Jui-soat mandi?"

Pengemis cilik membelalakkan mata.

"Dasar anak pintar, sekali tebak sudah benar,"

Laopan Nio tertawa cekikikan.

"Apa bagusnya melihat orang mandi?"

Tanya Lopan toko kelontong.

"Kalau orang lain yang mandi memang tidak menarik, tapi yang mandi adalah jago pedang kenamaan macam Sebun Jui-soat, jelas peristiwa ini merupakan pertunjukan yang sangat langka."

Dengan kening berkerut Lopan toko kelontong segera membalikkan badan, siap meninggalkan tempat itu.

"Tunggu sebentar!"

Tiba-tiba pengemis cilik berteriak.

"Ada apa? Memangnya kau pun ingin mengintip Sebun Jui-soat mandi?"

"Sstt, coba dengar!"

Suara derap kaki kuda.

Lopan toko kelontong segera memandang ke arah pengemis kecil, si pengemis memandang ke arah Laopan Nio, sedang Laopan Nio berbalik memandang Lopan toko kelontong.

Tak aneh kalau mereka saling pandang, tenda sudah didirikan, air mandi sudah digotong masuk, pakaian bersih sudah diantar, keempat nona yang melayani mandi pun sudah tiba, lalu mau apa pendatang itu kemari?

Dengan cepat kuda itu mulai kelihatan, juga penunggangnya.

Kali ini bukan lelaki berbaju hitam yang menunggang kuda, melainkan seorang nona berbaju kembang-kembang.

Nona itu melarikan kudanya amat kencang dan mendekati tenda, begitu melompat turun, langsung menyelinap masuk ke balik tenda.

Hanya sebentar ia berada dalam tenda itu, lalu keluar kembali.

Sesudah keluar, ia tidak lagi menungggang kudanya, melainkan menuntun kuda itu mendekati Laopan Nio.

"Itu dia, kau bakal dapat order,"

Ujar pengemis cilik kepada Lopan toko kelontong.

"Order apa?"

"Kama bobrok di belakang rumahmu bakal disewa orang malam ini."

"Darimana kau tahu?"

"Masa kau tidak melihat perempuan itu hanya masuk sebentar lalu keluar lagi? Ia pasti ingin numpang menginap dalam tenda Sebun Jui-soat tapi segera diusir keluar, Sebun Jui-soat pasti sudah memberitahukan satu-satunya kamar mewah yang ada dalam toko kelontongmu kepadanya, kamar paling megah di kota Ui-sik."

"Sejak kau melihat Sebun Jui-soat, sudah berapa patah kata yang ia ucapkan?"

Tanya Lopan toko kelontong.

"Tak sepatah kata pun."

"Kau sangka Sebun Jui-soat bakal mengobral kata untuk memberitahukan kamar mewahku kepada perempuan itu?"

Pengemis cilik garuk-garuk kepalanya yang tak gatal, segera katanya lagi.

"Diberitahu atau tidak bukan masalah, toh di kota Ui-sik hanya kamar di tokomu yang bisa disewa, jika ia ingin mondok malam ini, berarti kau bakal mendapat order."

Lopan toko kelontong tidak menanggapi perkataannya, karena perempuan itu sudah mendekati mereka.

"Kau ingin mencari kamar pondokan?"

Tiap kali melihat nona berparas cantik, mata pengemis cilik selalu nampak berkilauan.

"Memang aku mau cari tempat menginap, tapi itu urusan kedua."

"Aku tahu apa urusanmu yang perlama,"

Wajah pengemis cilik semakin bersinar.

"Kau benar-benar tahu?"

"Tentu saja, biasanya orang yang mencari penginapan adalah orang yang melakukan perjalanan, perutnya tentu lapar, pekerjaan pertama yang ingin ia lakukan pasti menangsal perut, maka persoalan pertamamu adalah ingin tahu dimana bisa membeli makanan enak, bukankah begitu?"

"Salah!"

"Oya?"

"Pertama, kalau ingin makan, aku pasti akan makan rangsum yang kubawa sendiri. Kedua, sebelum datang kemari aku sudah makan kenyang."

"Lantas kau ...."

"Aku kemari untuk menyampaikan pesan."

"Menyampaikan pesan? Pesan siapa?"

"Pesan Sebun Jui-soat."

Pengemis cilik tak mampu berkata lagi, ia hanya melongo.

"Pesan apa yang hendak disampaikan?"

Akhirnya Laopan Nio bertanya.

"Ketika aku masuk ke dalam tenda, tahukah kau apa yang ia katakan?"

"Apa yang ia katakan?"

Tanya pengemis cilik.

"Enyah!"

"Maka kau pun datang kemari? Berarti ia tidak menyuruhmu menyampaikan pesan!"

"Ada!"

"Ada? Aku tak mengerti,"

Pengemis cilik itu garuk-garuk kepala lagi.

"Sebentar kau bakal mengerti. Karena yang disuruh enyah bukan aku, melainkan kalian!"

"Darimana kau tahu kalau bukan kau yang disuruh enyah? Mana mungkin ia menyuruh kami enyah? Toh kau yang memasuki tendanya?"

"Benar, tapi memasuki tenda orang bukan pelanggaran, yang melanggar adalah mengintip orang sedang mandi."

Perempuan itu menengok ke arah Laopan Nio, lalu melanjutkan.

"Walaupun yang ingin ia sampaikan hanya kata 'enyah', tapi arti sesungguhnya adalah minta kalian segera enyah dari sini, jangan mengintip lelaki sedang mandi."

"Apa hubunganmu dengannya?"

Tanya Laopan Nio.

"apakah kau cacing pita dalam perutnya? Kalau tidak, darimana kau tahu maksudnya?"

"Tentu saja aku tahu."

"Kenapa?"

"Karena ia adalah sahabatku, Sebun Jui-soat belum pernah menyuruh temannya enyah dari hadapannya."

Laopan Nio tidak bicara lagi, pengemis cilik serta Lopan toko kelontong juga tak bicara.

--00— Selesai membaca kertas merah Jiang tertempel di dinding bagian dalam rumah kecil di belakang toko kelontong, perempuan itu berkata kepada Laopan Nio.

"Kuputuskan untuk menyewa kamar ini, apakah harus bayar di rnuka?"

"Tentu saja,"

Jawab pengemis cilik cepat.

"Aku bukan bertanya kepadamu, siapa yang menjadi Lopan tempat ini?"

Pengemis cilik tidak bicara lagi. Setelah menerima 50 keping mata uang, Laopan Nio mengerling sekejap ke arah pengemis cilik, kemudian beranjak keluar kamar.

"Tunggu sebentar,"

Tiba-tiba perempuan itu berseru.

"Ada apa? Ingin menyampaikan pesan Sebun Jui-soat lagi?"

"Heran, darimana kau tahu?"

Benarkah pesan Sebun Jui-soat? Sambil garuk-garuk kepala, seru pengemis cilik.

"Bukankah ia hanya mengucapkan kata 'enyah'?"

"Benar, tapi tahukah kau bahwa perkataan itu mengandung arti yang sangal luas?"

"Darimana aku tahu? Kau benar-benar tak tahu aturan!"

"Sekarang baru kau tahu? Tahukah kau siapa namaku? Aku bernama si Kuah daging, nama ini sudah cukup bukan?"

Lagi-lagi pengemis cilik tak sanggup bicara.

"Dengarkan baik-baik, kata Sebun Jui-soat seluruh penghuni kota ini mulai besok pagi hingga matahari menyinari pantat kalian, secara bergilir kalian harus mendatangi tendanya, ia ingin rnengajukan pertanyaan."

"Dia sangka siapa dirinya? Memangnya kaisar?"

Jengek pengemis cilik sinis.

"Tepat, mulai saat ini dialah kaisar kota Ui-sik!"

Si Kuah daging menegas.

"Kalau kami tak bersedia?"

Tanya Iopannio.

"Tidak bersedia? Boleh saja, mungkin di kemudian hari sudah tak ada kesempatan lagi."

"Kenapa?"

"Bagaimana mungkin orang yang tak berkaki bisa berjalan ke sana?" --00— Cahaya matahari membuat debu yang beterbangan nampak jelas. Cahaya matahari pun membuat tenda putih yang berdiri di luar kota Ui-sik nampak lebih menyolok. Kain tenda di bagian depan tersingkap sedikit ke samping, terlihal jelas sebuah meja yang tertata rapi di tengah tenda, tampak pula dua orang yang sedang duduk di tepi meja. Seorang berwajah dingin kaku tak lain adalah Sebun Jui-soat. sedang yang lain menebar senyuman cerah, si Kuah daging. Di atas meja tersedia sayur, juga penganan. Di situ pun terdapat arak, tentu saja arak keras. Sambil menuding bayangan manusia yang sedang berjalan mendekat dari kota Ui-sik, bisik si Kuah daging.

"Sudah datang!!"

Wajah Sebun Jui-soat tetap dingin, kaku, tanpa perasaan.

Kelihalannya si Kuah daging sama sekali tak keberatan dengan sikapnya yang dingin kaku itu, katanya dengan suaranya yang merdu bagaikan lonceng.

"Semalam aku mengumpulkan seluruh penghuni kota Ui-sik untuk datang menghadap satu per satu, coba lihat. sekarang orang pertama sudah datang."

Sebun Jui-soat belum bicara, ia mengangkat cawannya, lalu perlahan-lahan menghirup arak dalam cawan.

"Bila mereka sudah datang, aku mewakilimu mengajukan pertanyaan, mencari tahu kabar Liok Siau-hong, bagaimana menurut pendapatmu?"

Masih belum ada jawaban.

"Tapi aku mesti jelaskan lebih dulu, apa yang kukatakan berdasarkan pendapatmu, bila pembicaraan kurang lancar hingga mereka ingin bertarung, itu urusanmu."

Sebun Jui-soat masih belum bicara, ia hanya menggunakan sorot matanya yang dingin, mengawasi orang yang sedang berjalan masuk ke dalam tenda.

"Siapa yang datang?"

Tegur si Kuah daging. Orang itu memandang sekejap ke arah Sebun Jui-soat, tapi begitu menatap sorot mata yang dingin bagaikan mata panah, segera ia alihkan sorot matanya ke wajah si Kuah daging .

"Aku she Tio, si Buta Tio."

"Matamu tidak buta, kenapa dipanggil si Buta Tio?"

"Sama seperti nona, aku tidak mengendus bau daging, juga tidak melihat ada kuah daging yang mengepul, kenapa disebut si Kuah daging?"

"Ehm, lihai benar mulutmu, aku malas bersilat lidah, sekarang aku ingin mengajukan pertanyaan, dengarkan baik-baik, pertanyaan ini bukan pertanyaanku, aku hanya mewakili Sebun Jui-soat, jadi kau mesti menjawab sejujurnya, kalau tidak, hm, jangan sampai dirimu berubah seperti julukanmu."

"Berita apa yang ingin nona ketahui?"

"Bukan aku yang ingin tahu, Sebun-tayhiap yang ingin tahu."

"Ya!"

"Baik, pernahkah kau berjumpa Liok Siau-hong?"

"Pernah."

"Dimana?"

"Di sini."

"Bagus, dimana dia sekarang?"

"Sudah mati."

"Mati?"

Si Kuah daging membelalakkan mata dengan mulut melongo. Sementara Sebun Jui-soat masih tidak menunjukkan reaksi apapun.

"Kau tidak membohongi aku?"

Suara si Kuah daging terdengar gemetar.

"Bila tidak percaya, boleh kau tanya pada orang berikutnya."

"Tentu saja aku tak percaya, siapa yang percaya Liok Siau-hong mati? Kau percaya?"

Si Kuah daging menengok ke arah Sebun Jui-soat, suaranya masih gemetar.

Sebun Jui-soat tidak menjawab, matanya mengawasi orang yang muncul di jalan raya kota Ui-sik.

Orang itu adalah si pengemis cilik.

Selanjutnya Lopan toko kelontong, lalu Laopan Nio.

Mereka memberikan jawaban yang sama.

"Liok Siau-hong sudah mati."

Apakah si Kuah daging percaya? "Aku tidak percaya, masih ada seorang lagi, jika dia pun mengatakan. Liok Siau-hong sudah mati, mungkin aku bakal percaya."

"Siapa?"

Sebelum meninggalkan pintu Laopan Nio bertanya.

"Sah Toa-hu!"

Sah Toa-hu tidak datang, yang muncul salah satu kacungnya.

Kacung keluarga Sah datang dengan membawa sepucuk surat undangan, ditujukan kepada Sebun Jui-soat yang sangat dikagumi, mengundangnya makan malam bersama.

Selesai membaca tulisan yang tertera di undangan itu, si Kuah daging mendongkol bercampur panik, tiba-tiba ia mengeluarkan tiga buah tanda waktu dari pasir.

Ia letakkan ketiga tanda waktu itu di atas meja, lalu ujarnya kepada kacung itu.

"Sudah kau lihat ketiga tanda waktu itu?"

Kacung itu mengangguk.

"Bila kubalik, maka pasir akan mulai mengalir ke bagian bawah, ketika pasir itu habis, berarti sudah saatnya kau balik ke rumah Sah Toa-hu, mengerti?"

Kacung itu mengangguk.

"Tanda waktu yang kedua akan kubalik"

Saat yang pertama habis, ketika pasir habis, berarti saatnya Sah Toa-hu tiba di sini mengerti?"

Kembali kacung itu mengangguk.

"Tanda ketiga tak perlu digunakan lagi jika Sah Toa-hu telah datang, tapi bila ia menolak datang, maka sebelum pasir ketiga habis, batok kepalanya pasti sudah melayang meninggalkan raga, kau percaya tidak?"

"Aku percaya."

"Kalau begitu cepatlah pulang, sekarang juga aku akan mulai menuang pasir yang pertama."

Kacung itu ketakutan hingga mukanya pucat, bagaikan seekor anjing digebuk, ia kabur terbirit-birit.

Tanda waktu pasir pertama sudah hampir habis tertuang, si Kuah daging memandang Sebun Jui-soat sekejap, lalu tanyanya.

"Seharusnya kacung itu sudah tiba di rumah bukan?"

Sebun Jui-soat tidak menjawab, matanya bahkan tak pernah melirik sekejap pun ke arah tanda waktu itu.

Si Kuah daging telah membalik tanda waktu kedua, tangannya sedikit gemetar.

Apakah ia takut akan kedatangan Sah Toa-hu?

Ataukah takut jika Sah Toa-hu pun mengatakan Liok Siau-hong telah mati?

Akhirnya Sah Toa-hu datang.

Pasir mesin waktu kedua sudah hampir habis tertuang.

Dari jauh tampak bayangan Sah Toa-hu sedang mendekat dengan langkah terburu-buru.

Sekujur tubuh si Kuah daging mulai gemetar, menggigil.

Kali ini Sebun Jui-soat pun dapat merasakan si Kuah daging sedang menggigil, katanya.

"Tenang!"

Biarpun hanya sepatah kata, namun mendatangkan reaksi yang cukup menghangatkan badan, si Kuah daging tidak menggigil lagi.

Si Kuah daging benar-benar tenang kembali, dengan nada amat tenang, ujarnya kepada Sah Toa-hu yang sedang mendekati tenda.

"Jadi kau yang bernama Sah Toa-hu?"

"Betul, setiap penghuni kota ini memanggil aku Sah Toa-hu."

"Ehm, kau memang mirip dari keluarga besar."

"Nona terlalu memuji."

"Aku tidak memujimu, sebagai kepala keluarga sebuah keluarga besar, kau mesti tahu diri, orang yang tidak tahu diri mana mungkin bisa menjadi kepala keluarga di tempat semacam ini?"

Sah Toa-hu tertawa. Kembali si Kuah daging berkata.

"Apakah selanjutnya kau masih bisa menjadi kepala keluarga, itu belum pasti."

"Oya? Kenapa?"

"Sebab harus dibuktikan dulu, apakah sekarang kau sudah tahu diri dan pandai menyesuaikan diri dengan kenyataan."

"Kalau aku tak tahu diri, tak pandai menyesuaikan diri dengan kenyataan, buat apa berdiri di sini?"

"Bagus sekali, kalau begitu sekarang aku mewakili Sebun-tayhiap mengajukan pertanyaan kepadamu, kau harus menjawab dengan sejujurnya."

"Pertanyaan apa? Apakah sama seperti pertanyaan yang hari ini kau ajukan kepada seluruh penghuni kota?"

"Kalau memang sudah tahu. langsung saja jawab."

"Aku mesti menjawab apa?"

"Jawab saja sejujurnya."

"Sejujurnya? Biar aku menjawab sejujurnya pun kalian tetap tak percaya!"

Paras si Kuah daging berubah hebat, pucat-pasi.

Mulutnya ternganga lebar, namun tak sepatah kata pun sanggup diucapkan.

Setetes air mata mengembeng di ujung matanya dan makin lama makin bertambah besar, akhirnya perlahan-lahan meleleh ke bawah rnembasahi pipinya.

Kembali ia berkata dengan suara terisak.

"Maksudmu ... dia ... dia sudah ... sudah mati?"

"Ya, dia sudah mati!"

Tiba-tiba suara Sah Toa-hu berubah sangat dingin. Si Kuah daging tidak sanggup bicara lagi, dengan sepasang tangannya ia menutupi wajah. Kembali Sebun Jui-soat bertanya.

"Kau punya bukti?"

"Punya!"

Bukti terbaik tentu saja kalau dapat melihat jenazah Liok Siau-hong.

Untuk melihat jenazah Liok Siau-hong, tentu saja harus berkunjung ke toko penjual peti mati.

Ini menurut pandangan Sah Toa-hu.

Biasanya jenazah akan dikebumikan di pekuburan, kenapa untuk melihat jenazah harus berkunjung ke toko penjual peti mati?

Sebab tak ada orang yang mengurusi jenazah, penghuni kota Ui-sik tak bakal mengubur jenazah orang yang telah mati.

Itupun menurut Sah Toa-hu.

Sah Toa-hu sudah selesai berkata, mereka pun tiba di toko penjual peti mati, segala sesuatu telah diperhitungkan dengan matang, mereka sudah berdiri di depan pintu..

Si Buta Tio sudah tahu mereka bakal datang ke situ, sambi!

mendengus dingin, katanya.

"Perkataanku tidak kalian percaya, ucapan Sah Toa-hu baru kalian percaya. Ini namanya jawaban yang benar pun tergantung status sosial."

Perkataannya sangat masuk akal, tak ada yang bicara, semua orang tidak menaruh perhatian kepadanya, sama sekali tidak peduli kehadirannya, mereka hanya mengayunkan langkah, memasuki toko penjual peti mati.

Kali ini si Kuah daging benar-benar menangis, isak tangisnya keras sekali.

Ia sudah melihat peti mati, telah melihat pula meja abu yang berada di depan peti mati, siapa yang tidak sedih?

Malah Sebun Jui-soat yang selalu tampil dingin, kaku, tanpa perasaan pun kelihatan wajahnya sedikit berubah.

Sebab di atas leng-pay tertulis.

"Sahabat lama Liok Siau-hong". Kata Sebun Jui-soat.

"Buka!"

"Sudah kuduga pasti ada yang akan datang menengoknya,"

Kata si Buta Tio.

"oleh sebab itu tutup peti mati ini tak dipaku."

"Buka!"

Kata Sebun Jui-soat singkat dan sederhana.

Si Buta Tio memandang Sah Toa-hu sekejap, lekas mereka menggeser penutup peti mati itu.

Suara tangis si Kuah daging bertambah keras dan nyaring.

Tiba-tiba si Buta Tio menatap si Kuah daging, tegurnya.

"Buat apa kau menangis, apakah kau yakin tubuh yang terbaring dalam peti mati itu Liok Siau-hong?"

Si Kuah daging tidak menangis lagi, dengan melotot ia mengawasi si Buta Tio.

Lalu perlahan-lahan berjalan menuju ke tepi peti mati.

Dengan seksama si Kuah daging memeriksa jenazah dalam peti mati itu, ia periksa wajahnya, luka mematikan di atas dadanya.

Kemudian tiba-tiba ia tertavva.

Ia mendongakkan kepala sambil terlawa terbahak-bahak, lalu menuding si Buta Tio, serunya.

"Kau memang sangat menarik, kau bilang ia bukan Liok Siau-hong ...."

Mendadak suara tawanya berubah amat mengenaskan.

Lama sekali Sebun Jui-soat mengawasi tubuh Liok Siau-hong, parasnya sama sekali tak berubah.

Ia memandang terus, hingga suara tawa si Kuah daging yang mengenaskan berubah jadi jeritan tangis, lalu sesenggukan, setelah itu baru ia berkata.

"Tutup!"

Ketika peti mati ditutup si Kuah daging pun tidak menangis lagi, tiba-tiba Sebun Jui-soat berkata pula.

"Turun!"

Sewaktu mengucapkan perkataan itu, kepala Sebun Jui-soat sama sekali tidak menengadah.

Justru yang menengadah adalah si Kuah daging, Sah Toa-hu serta si Buta Tio.

Begitu mendongak, mereka lihat orang itu bergelantungan di wuwungan rumah, wajahnya menghadap jendela.

Orang itu melompat turun.

"Pengemis cilik!"

Tegur si Buta Tio.

"mau apa kau sembunyi di luar jendela? Ingin mencuri peti matiku?"

"Sialan, tutup bacot busukmu, buat apa aku mencuri peti mati. Kalau terpaksa mencuri, buat siapa lagi kalau bukan untukmu?"

"Lantas mau apa kau di situ?"

"Tak apa-apa, hanya datang mengantar surat undangan."

"Mengantar surat undangan? Untuk siapa?"

"Bukan untukmu, tampang busukmu menyeramkan, siapa yang mau memberi undangan? Aku mengantar undangan untuk Sebun-tayhiap."

Isi undangan hanya terdiri beberapa patah kata.

"Lama mengagumi nama besar Tayhiap, meski aku hidup terasing kehadiranmu harus disambut, besok tengah hari, dengan air teh khusus menyambut kedatanganmu" . Apakah Sebun Jui-soat akan datang memenuhi undangan? Tentu saja tak mungkin ia datang untuk mencari Liok Siau-hong, kini Liok Siau-hong sudah mati dan ia harus menyelidiki sebab kematiannya, mana ada selera minum teh? Tapi ia tetap akan menghadirinya. Sebab di surat undangan itu masih tertera sebaris tulisan.

"Aku mengetahui sedikit kabar sebab kematian Liok-tayhiap."

Bila ingin tahu siapa yang paling tidak sopan, jawabannya mudah sekali.

Sebun Jui-soat.

Seorang yang tidak banyak bicara, tentu saja ia pun tak bakal mengucapkan perkataan basa-basi yang tak berguna.

Asal memahami watak dan kebiasaan Sebun Jui-soat, mereka tak bakal menganggapnya seorang yang tak tahu sopan santun.

Oleh sebab itu dalam dunia persilatan tinggal tersisa satu orang yang benar-benar tak mengerti sopan santun.

Si Kuah daging.

Bukan saja ia tak kenal sopan santun, bahkan ia pun tak mau membicarakan soal sopan santun.

Maka ketika berjumpa Kiong So-so, dengan nada mendesak ia menegur.

"Kau tahu sebab kematian Liok Siau-hong?"

Dalam hal mengendalikan diri, Kiong So-so adalah yang terbaik.

Sehabis mendengar kata-kata si Kuah daging, Kiong So-so tidak menjadi gusar, bahkan parasnya sama sekali tak berubah, ia masih tampil dengan sikapnya yang anggun, dingin dan cantik.

Sesudah menghela napas panjang, ujarnya.

"Orang baik kenapa justru mati dalam usia muda?"

"Siapa yang mernbunuhnya?"

Tanya si Kuah daging. Kembli Kiong So-so menghela napas panjang.

"Liok Siau-hong adalah orang yang paling kukagumi, ternyala ia tewas di kota Ui-sik, aku sungguh merasa sedih."

"Seharusnya akulah yang paling sedih,"

Sela si Kuah daging.

"Kenapa?"

"Masa kau tidak tahu hubunganku dengannya? Cepat katakan, siapa pembunuhnya? Aku pasti membalaskan dendam baginya."

"Siapa pembunuhnya? Siapa yang mampu membunuh Liok Siau-hong? Tentu hanya orang yang paling dekat dengannya, hanya dialah yang dapat membuatnya lengah."

"Siapa?"

"Kau akan segera mengetahuinya. Aku telah mengutus orang mengundangnya, sebelum mereka kemari, bagaimana kalau kita minum satu dua cawan, anggap saja sebagai penghormatan kita bagi arwah Liok-tayhiap?"

Kembali Kiong So-so menghela napas panjang, ia mengambil cawannya dan meneguk habis isinya Kuah daging meneguk juga isi cawannya hingga habis.

Bahkan Sebun Jui-soat pun dengan cepat menenggak habis arak dalam cawan, lalu meletakkan kembali cawan itu di atas meja.

Saat tangan kanannya masih memegang cawan, dari balik tirai sutera, persis di belakang tubuhnya, tiba-tiba meluncur seseorang.

Seorang perempuan yang menggenggam pedang.

Saat Sebun Jui-soat meletakkan cawan adalah kesempatan terbaik untuk menghabisi nyawanya.

Ia baru selesai menghabiskan isi cawannya, seluruh konsentrasinya belum terpusat, bahkan ia sedang meletakkan cawan, tangan kanannya dalam keadaan tak berjaga-jaga.

Tampaknya perempuan itu sudah memperhitungkan secara tepat, serangan itu pasti akan mengenai sasaran.

Sayang dugaannya keliru besar.

Kalau segampang itu Sebun Jui-soat tertusuk serangan gelap, namanya bukan Sebun Jui-soat lagi, seharusnya bernama sesosok mayat busuk.

Mayat busuk tak bisa bergerak, tapi Sebun Jui-soat mampu bergerak.

Tubuh Sebun Jui-soat bergeser miring ke sisi kanan, dengan meminjam kekuatan di saat ia meletakkan cawan ke atas meja, ia meluncur dengan kecepatan tinggi, menghindari tusukan maut itu.

Ketika serangan gelap itu gagal mengenai sasaran, perempuan itu tidak melanjutkan kembali bokongannya, ia hanya berdiri tegak di tengah ruangan, berhadapan langsung dengan Sebun Jui-soat.

Sebun Jui-soat masih berdiri dengan sikap dingin, seakan-akan sama sekali tidak melihat kehadiran perempuan itu.

Dalam pada itu Kiong So-so telah melompat bangun sambil membentak nyaring.

"Kiong Peng, apa yang kau lakukan?"

"Aku dengar ilmu pedang Sebun-kongcu telah mencapai tingkatan tanpa pedang, aku ingin menjajal kemampuannya."

"Hm! Rupanya kau sudah bosan hidup,"

Ejek si Kuah daging. Jangankan menanggpi, memandang sekejap ke arah si Kuah daging pun tidak, Kiong Peng hanya menatap tajam wajah Sebun Jui-soat sambil ujarnya.

"Cabut pedangmu!"

"Agaknya kau benar-benar sudah bosan hidup,"

Kembali si Kuah daging berkata.

"berani amat kau suruh Sebun-tayhiap mencabut pedangnya? Kau tahu apa akibatnya bila ia mencabut pedangnya?"

Kiong Peng tetap tidak menggubris.

"Kali ini kau pasti mampus,"

Kembali si Kuah daging berseru. Kiong Peng tertawa dingin.

"Setiap persoalan pasti ada pengecualian,"

Katanya.

Begitu selesai berkata ia menggetarkan pedangnya dan melancarkan serangan, dalam waktu singkat ia telah melancarkan dua puluh empat jurus.

Sebun Jui-soat dengan cepat menghindar, kemudian terlihat cahaya pedang berkelebat.

Tak seorang pun yang melihat dengan cara apa Sebun Jui-soat mencabut pedangnya, juga tak seorang pun melihat dengan cara apa pedang Sebun Jui-soat menusuk tubuh Kiong Peng, mereka hanya sempat melihat cahaya berkelebat.

Kiong Peng roboh terjungkal, tanpa sempat mengeluarkan suara.

Sah Toa-hu masuk sambil bergelak tertawa dan bertepuk tangan, katanya.

"Ilmu pedang yang hebat, ternyata tingkatan tanpa pedang Sebun Jui-soat memang bukan nama kosong belaka."

Di belakang Sah Toa-hu menyusul Laopan Nio, Lopan toko kelontong serta Ui Siau-cong, si pengemis cilik Lopan toko kelontong memandang Sebun Jui-soat dan si Kuah daging sekejap, kemudian katanya.

"Padahal sejak awal aku sudah tahu pembunuhnya."

"Siapa?"

Tanya si Kuah daging. Lopan toko kelontong hanya tertawa tanpa menjawab, yang menjawab malah Laopan Nio.

"Padahal ia sama sekali tak tahu siapa pembunuhnya."

"Siapa bilang aku tidak tahu pembunuhnya?' "Kalau tahu, mengapa tidak kau katakan sejak awal?"

"Kalau sejak awal kukatakan, memangnya aku masih bisa hidup hingga sekarang?"

"Kau tidak kuatir sang pembunuh akan membunuhmu untuk menghilangkan saksi?"

Tiba-tiba pengemis cilik menimbrung.

"Membungkam aku? Bukankah kedoknya akan terbongkar?"

"Sebenarnya siapa pembunuhnya?"

Desak si Kuah daging.

"Banyak orang yang terlibat dalam pembunuhan ini."

Ucapan itu berkumandang dari luar pintu.

"Kenapa?"

Tanya pengemis cilik pada si Buta Tio yang sedang melangkah masuk.

"Kenapa? Semakin banyak orang terlibat berarti semakin banyak orang yang akan membeli peti mati, bukankah daganganku semakin laris?"

Dari wajah Sebun Jui-soat yang dingin, mendadak terlintas tawa dingin, katanya.

"Benar, pembunuhnya memang banyak."

Siapa pun yang mendengar kata-katanya pasti akan terkesiap.

Semua orang berdiri melengak, termasuk si Kuah dagin sorot mata mereka serentak dialihkan ke wajah Sebun Jui-soat.

Si Kuah daging tak kuasa menahan diri lagi, desaknya.

"Siapa orangnya?"

"Dia!"

Sebun Jui-soat menuding ke arah Sah Toa-hu.

"Dia!"

Kembali Sebun Jui-soat menuding Lopan toko kelontong, lalu menuding Laopan Nio, si Buta Tio dan pengemis cilik.

"Masih ada lagi,"

Sebun Jui-soat menambahkan.

"Masih ada?"

Si Kuah daging membelalakkan matanya.

"Dia!"

Sebun Jui-soat menuding ke arah Kiong So-so.

Mendadak gelak tawa berkumandang di seluruh ruangan.

Tentu saja bukan Sebun Jui-soat atau si Kuah daging yang tertawa, melainkan seluruh orang yang ditunjuk Sebun Jui-soat.

Mereka tertawa dengan penuh rasa bangga, suara tawa yang membuat si Kuah daging tercengang, sebab ia tahu ilmu silat orang-orang itu masih bukan tandingan Sebun Jui-soat, tapi mengapa mereka tertawa?

Apakah karena mereka bukan pembunuhnya?

Tiba-tiba Kiong So-so berhenti tertawa dan berkata.

"Sebun Jui-soat, tebakanmu tepat sekali. Setiap penghuni kota Ui-sik adalah pembunuh Liok Siau-hong."

"Sayang kau terlambat mengetahuinya,"

Sambung Laopan Nio.

"Tidak, belum terlambat,"

Sela si Buta Tio.

"Kenapa?"

Tanya pengemis cilik.

"Sebab masih sempat berbaring sendiri dalam peti mati."

Wajah mereka kembali riang dan puas.

Wajah Sebun Jui-soat berubah hebat.

Bukan hanya berubah, peluh dingin juga mulai membasahi jidatnya.

Menyaksikan perubahan wajah Sebun Jui-soat, paras si Kuah daging ikut berubah, ia sudah membuka mulut, namun tak sepatah kata pun yang sanggup diucapkannya.

Kiong So-so memandang si Kuah daging sekejap,.

Kemudian ujarnya dengan bangga.

"Bukankah kau ingin bertanya, apakah dalam arak dicampuri racun?"

Mata si Kuah daging terbelalak semakin lebar.

"Aku beritahukan kepadamu, arak itu memang beracun."

Gelak tawa Kiong So-so makin keras, semakin bangga. Pengemis cilik berjalan menghampiri si Kuah daging, lalu meraba pipi perempuan itu, ujarnya sambil tertawa terkekeh.

"Bukankah sekarang kau merasa semakin tak jelas menyaksikan benda di sekelilingmu?"

Kembali pengemis cilik meraba wajah si Kuah daging, ejeknya.

"Apakah sekarang kau masih bisa berlagak? Apakah masih ada pesan dari, Sebun-tayhiap yang ingin disampaikan kepada kami?"

Si Kuah daging berusaha meronta, berusaha berjalan menuju ke hadapan Sebun Jui-soat, tapi baru melangkah dua tindakan, ia sudah roboh terjungkal, kebetulan jari tangannya menyentuh sepatu Sebun Jui-soat.

Tangan yang lemas tak bertenaga, sentuhan lembut yang tak berkuatan, seolah-olah ada benda ribuan kati yang jatuh menimpa, membuat tubuh Sebun Jui-soat ikut terjungkal.

Sekali lagi gelak tawa berkumandang memenuhi seluruh ruangan.

--0o0 --Di tengah jalan kota yang penuh sesak, dalam sebuah warung arak yang ramai, siapa yang mau peduli dengan kehadiran sepasang kakek nenek berusia lanjut?

Biarpun tak ada yang memperhatikan, kakek nenek bertubuh kecil itu duduk disudut yang gelap, suara pembicaraan mereka amat lirih.

Dengan kening berkerut si kakek memandang si nenek sekejap, lalu bisiknya.

"Sekarang kau akan berangkat ke Ui-sik?"

"Kalau tidak berangkat sekarang, kapan lagi?"

"Tentu saja kita berangkat setelah situasi diketahui dengan jelas."

"Aku takut ekadaan sudah terlambat."

"Mana mungkin terlambat?'' "

Biarpun sampai saatnya kasus ini terbongkar, namun sahabat kecil kita mungkin ikut celaka."

"Masakah Sebun Jui-soat bisa celaka?"

"Ya, dia yang kumaksud."

"Dia bisa celaka?"

"Kau anggap hal ini menggelikan?"

"Tidak, jangan lupa, Liu Ji-kong tewas dan Liok Siau-hong tewas di kota Ui-sik."

Kening si kakek berkerut makin kencang, tiba-tiba ia bangkit.

"Mau apa kau?"

Si nenek menariknya.

"Mau apa? Tentu saja pergi ke Ui-sik." --0o0— Dari seluruh perusahaan ekspedisi di tiga belas propinsi utara dan selatan sungai besar, andaikata Congpiauthau Tiong-goan-piau-kiok, Pek-li Tiang-cing, tampil dan mengatakan perusahaan ekspedisinya hanya sebuah perusahaan kecil, berarti di kolong langit tiada perusahaan ekspedisi yang berani mengatakan perusahaannya besar. Pek-li Tiang-cing hanya berani mengatakan perusahaannya nomor dua. Sebenarnya Tiong-goan-piau-kiok memiliki berapa kantor cabang? Jangankan orang lain, Pek-li Tiang-cing sendiri pun tak jelas. Kelewat banyak kantor cabang dan tersohor. Semua itu sudah cukup menjamin kehidupan Pek-li Tiang-cing, cukup membuatnya hidup santai, setiap hari ia bisa memelihara burung, menikmati bunga sambil tiduran. Sudah tujuh belas tahun Pek-li Tiang-cing tidak mengawal barang, setiap order ia serahkan pada Kim Bong sang Hu-congpiauthau untuk mengurusnya. Kim Bong telah menjadi tangan kanannya, belum pernah ia melakukan kesalahan. Oleh sebab itu ketika Kim Bong melapor segala sesuatunya telah siap, ia seharusnya manggut-manggut sambil tertawa puas. Tapi kali ini ia sama sekali tidak tertawa, bahkan dengan wajah serius bertanya.

"Apakah semua rute telah diperiksa dengan seksama?"

"Sudah, dan aman,"

Jawab Kim Bong.

"kami telah membuat persiapan hampir satu tahun lamanya, Congpiauthau boleh lega."

"Untung ada kau, selama ini kau tak pernah melakukan kesalahan, aku memang seharusnya lega, tapi barang yang harus kita kawal kali ini sangat penting, sangat mempengaruhi kelangsungan hidup kita."

Baca Juga: Raja Silat 8

Baca Juga: Kuda Putih 2

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert