Ceritasilat Novel Online

Rahasia Ciok Kwan Im 5

Eps 5 Rahasia Ciok Kwan Im - Gu Long

Baca online Rahasia Ciok Kwan Im - Gu Long

Cersil Rahasia Ciok Kwan Im - Gu Long.

Ujar Pipop kongcu tertawa.

Lalu ia sesalkan botol araknya ke tangan Oh Thi hoa, tapi disaat sorot matanya bentrok dengan setumpukan barang-barang, seketika kunci seri tawanya, roman mukanya tegang kaku.

Oh Thi hoa sedang melongo tawa dan menggumam "Jikalau mengakui dirinya sendiri sebagai bedebah lantas diberi arak, setiap hari kuakui sekalipun tak menjadi soal"

Baru saja dia hendak menuang arak ke dalam botol ke dalam perutnya, tiba-tiba Pipop kongcu merebut balik botol arak itu, serunya "Aku sudah merubah niatku semula, arak ini sekali-kali takkan kuberikan kepadamu."

"Kau... apakah perubahanmu tidak terlalu mendadak?"

"Barang-barang ini semua adalah milik Ulat busuk bukan?"

"Sepatu tidur dan kutang itu milik Jago Mampus, sekali-kali jangan kau cemburu kepadanya, sekali jelas, arak takkan bisa kuminum lagi."

"Bukan begitu maksudku."

Katanya Pipop kongcu menghela napas.

"Coba kau pikir barang-barang ini biasanya selalu digembol di atas badan Ulat busuk, tapi sekarang dia pendam di sini..............."

"Itulah lantaran dia menyamar dan menyaru, jikalau barang ini dia bawa, kuatir membocorkan asal usulnya."

"Tapi coba kau pikir lagi, kalau barang-barang ini dia simpan di atas badannya, cara bagaimana bisa tahu? Kecuali dia menginsyapi bahwa... perjalanannya kali ini kemungkinan bisa ditawan oleh musuh."

Berubah roman muka Oh Thi hoa.

"Benar memang aku tak boleh minum lagi, jikalau mereka sudah pada tahu perjalanan yang ditempuh ini teramat bahaya, sekali-kali Jago Mampus takkan sudi mengeluarkan barang-barang pribadinya yang dia rahasiakan kepada orang lain yang ditinggal di sini."

"Ya, memang begitulah"

Oh Thi hoa menepuk-nepuk batok kepalanya, katanya "Perempuan memang lebih cermat dari laki-laki, persoalan begini penting kenapa tidak pernah terpikir olehku."

"Bukan lantaran perempuan lebih cermat dari laki-laki, soalnya terhadap orang yang dia sukai, biasanya perempuan jauh lebih prihatin dari keadaan diri sendiri."

Tiba-tiba Oh Thi hoa mencelat bangun dikeluarkan Ki loh ci sing lalu diserahkan ke tangan Pipop kongcu, katanya Inilah Ki loh ci sing lekas kau bawa pulang!"

"Kau mau kemana?"

"Aku harus menemukan ulat busuk lebih dahulu."

"Tapi kau sudah berjanji kepada Permaisuri untuk membawa pulang barang ini."

"Benar, malah banyak persoalan pula yang pernah kujanjikan kepadanya tapi setelah aku tahu Ulat busuk dan Jago Mampus mengalami bahaya, urusan setinggi langit juga harus ku sampingkan dulu."

"Kalau toh kita sudah tahu bahwa dia sedang menghadapi bahaya, memangnya aku bisa tentram tinggal pulang?"

"Jadi kau hendak ikut aku?"

Tanya Oh Thi hoa melongo.

"Sudah tentu!"

"Lalu.... bagaimana dengan Ki loh di sing ini?"

"Kau sendiri sudah bilang, urusan sebesar langitpun boleh dikesampingkan dulu, benar tidak?"

Sebentar Oh Thi hoa menepekur, baru saja dia hendak mengangguk, lekas geleng-geleng pula, katanya "Tidak mungkin aku tak bisa bawa kau!"

"Kenapa?"

"Kalau perjalanan kali ini amat berbahaya, kau sebaliknya gadis besar putri raja yang suka aleman tak pernah kerja berat, kalau sampai terjadi........."

"Jangan kau lupa, di sini adalah gurun pasir, di sini aku jauh lebih berguna dari pada kau."

Tukas Pipop kongcu.

"Dan lagi, seumpama benar kau tak mau bawa aku pergi, aku toh bisa mengintil di belakangmu."

Kembali Oh Thi hoa mengelus-elus bidangnya katanya tertawa getir "Tiada perempuan terasa sepi dingin, sebaliknya setelah ada perempuan, anjing dan itikpun tak merasa tentram, ucapan ini memang sedikitpun tak salah.

Di sana adalah lautan cadas, besar kecil berserakan dengan bentuk dan model yang warna warni pula, yang besar menjulang tinggi laksana menembus langit mengarungi mega, paling kecilpun ada puluhan tombak, dengan corak seperti binatang-binatang purba yang liar dan buas, sedang mendekam diam-diam saja menunggu mangsanya untuk ditelan.

Di sini bukan saja seolah-olah sudah tercapai ujung dari gurun pasir, hampir terasa ujung dunia yang berpadu dengan sengit, kalau perjalanan dilanjutkan ke depan, kau akan terjungkal jatuh ke dalam jurang yang tak terhitung dalamnya.

Waktu fajar menyingsing kapal setan itupun sudah berlabuh ditempat ini, melepas pandang dari jendela, tampak puncak-puncak gunung berjajar dan tersebar luas tak berujung pangkal kalau diteruskan ke depan, kapal setan ini bakal menerjang dinding-dinding gunung.

Walau biasanya Coh Liu hiang berlaku tabah dan tenang tak urung hatinya terkejut juga tampak sebuah puncak batu gunung yang aneh dan menjulang tinggi ditelan mega, tahu-tahu laksana mulut binatang purba ukuran raksasa menubruk dari depan menyongsong ke arah mereka.

Siapa tahu tiba-tiba kapal ini membelok dengan angler dan pelan-pelan menyusup ke dalam celah-celah batu itu.

Coh Liu hiang menghela napas katanya dalam hati "Sungguh suatu daerah yang berbahaya mungkin disinilah pusat pangkalan Ciok koan im."

Sedang pikirannya bekerja, tibatiba hatinya melonjak kaget kegirangan.

Terasa kapal semakin lambat dan akhirnya berhenti dilekukan sebuah batu besar.

Maka terdengar orang serba putih itu berkata "Kaki kalian masih mampu bergerak tidak?"

Dengan terdorong Coh Liu hiang masih mengawasinya, mulut tidak bicara. Orang serba putih itu menjadi gusar, dampratnya "Apa kau ingin aku korek keluar biji matamu?"

Baru sekarang Coh Liu hiang tertawa, ujarnya "Supaya orang mengira nona adalah Ciok hujin, maka sejak tadi nona mengenakan kerudung, tapi sekarang kalau Cayhe sudah tahu bahwa nona bukan Ciok hujin, kenapa nona tidak lekas."

Orang serba putih tiba-tiba terkial-kial, nada tawanya kedengaran begitu perih memilukan wajahku?"

"Sudah lama kami dengar bahwa setiap murid Ciok hujin semuanya cantikcantik laksana bidadari, jikalau nona sudi memperlihatkan wajahmu yagn rupawan, meskipun mampus, terhitung setimpallah sepasang mataku ini."

"Diam-diam Ki Ping yan sedang membatin "Agaknya dia sedang menggunakan ketampanannya hendak menipu orang, tapi bagaimanapun manis dan pandai tutur katamu, memangnya dia bakal melepaskan kau?"

Terdengar nona serba putih itu terkial-kial seperti orang kesurupan setan serunya "Cantik rupawan.... baik, biar kuberi kesempatan kepadamu melihat rupaku yang cantik rupawan ini!"

Pelan pelan jari-jari tangannya menanggalkan kerudung yang menutupi kepala dan raut wajahnya, senyuman Coh Liu hiang seketika membeku kaku.

Masakah itu raut muka manusia, boleh dibilang mirip wajah gembong iblis yang ganas.

Takkan pernah terpikir oleh Coh Liu hiang gadis yang punya perawakan langsing padat menggiurkan ini, ternyata memiliki seraut wajah yang seram, bengis dan begitu menakutkan.

Tiba-tiba terlintas dalam ingatannya, akan wajah Jin hujin Chi Ling siok itu, bukankah muka orang mirip seperti ini jadinya, apakah lantaran jelus menghadapi kecantikan gadis ini, maka Ciok koan im lantas merusak wajahnya.

Didengarnya gadis itu berkata dengan tertawa menyeringai "Sekarang kau sudah melihat jelas?

Memang matamu cukup beruntung maka selanjutnya kau harus selalu ingat Ki Buyong adalah perempuan yang paling jelek di seluruh jagat raya ini, tiada orang yang akan bisa menandingi keburukannya."

Tapi Coh Liu hiang malah tersenyum, ujarnya "Buruk atau cantik wajah seseorang tergantung penilaian manusia, kalau wajah nona tidak cantik molek masakah mukamu dibikin cacat sedemikian rupa, jikalau nona semula memang rupawan, apa pula halangannya bila mukamu memang sudah rusak....

karena meski orang lain bisa merusak wajah nona, namun keagungan dan keluwesan nona akan tetap abadi, siapapun takkan kuasa merusaknya."

Sesaat Ki Buyong termenung mendadak ia memaki pula dengan "Turun... turun di sini tiada tempat untuk kau banyak mulut."

Setelah menjura Coh Liu hiang segera beranjak turun.

Setitik Merah mengikuti di belakangnya.

Waktu tiba di hadapan Ki Buyong mendadak Setitik Merah menghentikan langkahnya, katanya "Kau tidak jelek kau amat cantik."

Meski dia hanya mengucapkan enam patah kata, tapi enam patah kata yang keluar dari mulut seperti dirinya, sungguh jauh lebih kuat dan punya pengaruh lebih besar dari sanjung puji orang lain.

Agaknya Ki Bu-yong sendiripun tidak menyangka, orang yang biasanya jarang mau mengeluarkan sepatah kata ini, hari ini mendadak melontarkan kata-kata seperti itu, sekilas tampak badannya bergetar, tanyanya tergagap "Kau...

apa katamu?

Setitik Merah tak mau banyak kata lagi, dengan langkah lebar dia memburu ke belakang Coh Liu hiang yang sudah tiba di bawah.

Dengan terlongong Ki Bu-yong mengawasinya, kerlingan mata nan dingin dan bekuk tak berperasaan itu, kini menampilkan gelombang perubahan yang tak pernah terjadi selama ini.

Diantara puncak-puncak batu itu, ternyata ada sebuah jalan kecil yang berliku-liku berputar kian kemari, amat rumit dan bisa menyesatkan.

Yang menggusur Coh Liu hiang bertiga adalah seorang laki-laki besar, tanyanya kepada Ki Bu Yong sambil menjura "Apakah sekarang juga kita ikat mata mereka?"

Ki Bu yong kembali bersikap dingin dan keren, katanya dingin "Tak perlu banyak urusan lembah rahasia dengan jalanan setan seperti ini seumpama aku bawa mereka mondar mandir beberapa kali, merekapun takkan bisa membedakan arah, dalam kolong langit ini, siapa pun bila dia berada di sini, jangan harap dia bisa keluar sendiri dengan tetap hidup, beberapa patah kata-katanya yang terakhir sudah tentu dia tujukan kepada Coh Liu hiang.

"Masa benar?"

Ujar Coh Liu hiang tertawa.

"Kalau kau ingin keluar dari sini, kecuali kau digotong keluar!"

Jengek Ki Bu-yong dingin.

Sebetulnya lapat-lapat Coh Li hiang sudah dapat merasakan dari keadaan puncak-puncak batu di sekelilingnya, disamping tumbuh secara alamiah, ditata dan dilengkapi pula dengan tenaga manusia, diantaranya jalanan yang liku-liku dan berputar ini, terasa mengandung sesuatu rahasia barisan yang serba rumit perubahannya, seakan-akan mirip Pat tin toh ciptaan Cukat Liang, disampingnya ditambal oleh penataan dari buah karya otak manusia, terutama mementingkan situasi alamiah yang serba berbahaya, sungguh suatu proyek besar karya gabungan tenaga manusia dan kekuatan alam.

Hembusan angin keras menggulung pasir kuning bergulung-gulung di celahcelah selat yang sempit itu, menambah suasana yang seram semakin menakutkan, dua puncak gunung jajar berdiri, langit dan bumi seolah olah menempel jadi satu.

Berjalan ditengah selat sempit itu, yang kelihatan hanya pasir kuning melulu, sampai langitpun tak kelihatan lagi.

Coh Liu hiang menghela naps, katanya "Tempat yang amat berbahaya, bahwasanya Ciok hujin tidak perlu memeras keringat mengerahkan tenaga besar-besaran untuk membuat bentuk barisan sesukar dan serumit ini."

"Apa tempat seperti ini sudah terhitung berbahaya? Tempat yang betulbetul berbahaya belum lagi kalian lihat dan alami sendiri lho!"

Goda Ki Bu yong.

"Dimana?"

Tanya Coh Liu hiang.

Ternyata Ki Bu-yong tidak hiraukan pertanyaannya, segera ia pimpin di depan, belok ke timur menikung ke barat, tiba-tiba menjurus ke utara, tahu-tahu sudah menuju ke selatan, langkahnya enteng dan gampang saja seperti berjalan di lapangan luas, sedikitpun tidak nampak dimana letak bahayanya.

Tapi Coh Liu hiang cukup tahu bila mereka tidak ditunjukkan jalannya, umpama setahun lamanya, mungkin sampai jiwamu mendekati ajal, kau akan tetap berada dalam lingkungan tempat-tempat ini juga.

Dari tengah-tengah hembusan angin yang membawa taburan pasir kuning itu, tiba-tiba muncul bayangan beberapa orang, agaknya mereka sedang membawa sapu dan menyapu tanah, gerak-gerik mereka sedemikian lambatnya, namun setiap gerakan sapu mereka sedemikian teratur pula, selintas pandang mereka tak lebih adalah mayat-mayat hidup, seakan-akan sejak jaman dulu kala, mereka sudah bekerja disini, terus menyapu tanah berpasir sampai dunia kiamat.

Setelah mereka beranjak lebih dekat, pandangan Coh Liu hiang lebih jelas, tampak budak-budak mayat hidup ini, meski rambutnya awut-awutan dan pakaian kumal, tapi tiada satupun diantara mereka yang tak berparas ganteng dan tampan.

Cuma raut muka dan sorot mata mereka menampilkan warna yang beku kaku, sorot matanya guram dan kehilangan sinar kehidupan, agaknya bukan saja sudah melupakan asal usul dirinya bahwa mereka itu adalah manusia.

Namun Coh Liu hiang cukup tahu, laki-laki tampan dan ganteng seperti mereka-mereka ini dahulu kala tentu mereka mempunyai lembaran hidup masing-masing yang cemerlang dan sukses, mereka mempunyai kehidupan yang bahagia, senang punya gengsi dan pamor yang tinggi pula.

Tapi sekarang mereka justru sudah beku sama sekali, tapi yang jelas pasti masih memiliki banyak orang yang tidak akan melupakan mereka, orang lain sedang merindukan kedatangannya, sedang meneteskan air mata dengan pilu.

Tiba-tiba Coh Liu hiang merasa hatinya amat tertekan dan batinpun ikut prihatin.

Manusia jikalau pada memiliki watak welas asih dan tahu kasihan terhadap sesamanya yang sedang ditimpa kemalangan, masakah dia setimpal dipandang sebagai orang gagah, seorang pendekar?

Tapi orangorang ini justru terus menyapu pasir, terus menyapu takkan hentihentinya, seolah-olah mereka hidup untuk menyapu pasir, menyapu pasir untuk hidup.

Tak tertahan Coh Liu hiang segera menghampiri orang terdekat lalu menepuk pundaknya katanya "Saudara kenapa tidak berhenti istirahat dulu?"

Orang itu angkat kepala dengan pandangan kosong hambar dia awasi Coh Liu Hiang, cepat sekali kepalanya sudah tertunduk pula, sahutnya "Tidak perlu istirahat!"

Kembali tangannya bekerja menyapu pasir.

"Saudara ini apa kau memang senang menyapu?"

Tanya Coh Liu hiang tertawa.

"Ya, senang!"

Sahut orang itu pula tanpa angkat kepala. Coh Liu hiang tertegun, katanya menghela nafas "Tapi pasir di sini, selamanya takkan bisa disapu habis!"

"Yang ku sapu bukan pasir lho!"

Tiba...tiba... kata orang itu.

"Lalu apa yang kau sapu?"

Tanya Coh Liu hiang.

"Tulang-belulang orang mati!"

Sahut orang itu setelah berpikir sebentar.

"Tapi disini tiada orang itu, apa lagi tulang belulang mereka."

Kembali orang itu angkat kepala mengawasi dirinya, tiba-tiba tersimpul senyuman di raut mukanya, senyuman yang mengerikan katanya pelan-pelan "Walau sekarang tiada, sebentar akan banyak tercecer di sini."

Entah kenapa, sekonyong-konyong terasa segulung hawa dingin timbul dalam benak Coh Lliu hiang, sebetulnya banyak pertanyaan yang ingin dia ajukan kepada orang ini, menanyakan siapakah dia sebenarnya?

Jilid 23 Kenapa bisa berubah begini rupa?

Tapi mendadak ia sadar hakikatnya tidak berguna dia mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini.

Karena dari bayangan orang ini, seolah-olah diapun ada melihat bayangan Ciok Tho, kecuali bentuk muka dan perawakannya yang berbeda, apa pula bedanya kelakuan orang ini dengan Ciok Tho?

Mereka sudah lupa masa silam, lupa segalanya, bahwa badan kasar mereka masih utuh, namun jiwa mereka sebetulnya sudah mati, mereka tidak lebih cuma mayat-mayat yang masih hidup belaka.

Karena mereka sudah mempersembahkan jiwa raga mereka kepada Ciok koan im.

Seketika terasa oleh Coh Liu hiang kaki tangannya mendadak berkeringat dingin, diam-diam hatinya membatin "Ciok koan im, Ciok koan im, apa benar kau mempunyai kekuatan iblis yang begini besar?"

Entah berapa jauh berapa lama mereka berputar-putar ditengah hembusan angin yang sepoisepoi tiba-tiba terendus bau kembang yang harum semerbak.

Yang jelas bau kembang ini bukan Seruni, bukan kembang melati, bukan mawar juga bukan kembang padma, begitu harum dan menusuk hidung, bau kembang ini seolah-olah kembang yang cuma ada di sorga.

Hawa di sini semakin hangat, malah hampir boleh dikata hampir panas, seluruh lembah sempit ini seolah-olah berubah menjadi sebuah tungku, disinilah tempat jagal manusia, tungku untuk merenggut nyawa atau sukma manusia.

Diantara tumpuan ribuan puncak-puncak batu di sana ternyata tersebar luas lautan kembang warna warni yang sedang mekar.

Selayang pandang, seolah-olah dunia ini diliputi kembang yang sedang mekar dan segar, sampaipun Coh Liu hiang yang banyak pengalaman dan tukang kelana inipun tidak tahu nama dan jenis kembang-kembang apa yang tertanam subur di sini.

Tapi terasa olehnya kembang mekar itu begitu segar, semarak dan elok, tak tahan dia menghela nafas ujarnya "Siapa akan mau percaya ditengahKoleksi

KANG ZUSI tengah gurun pasir, ternyata terdapat lautan kembang yang sejenis lain seperti ini."

Ki Bu yong tiba-tiba mengejek "Memangnya kembang-kembang seperti ini takkan bisa dimiliki dan diimpikan oleh sembarang manusia."

"Apakah kembang ini hasil petikan dari sorga?"

Tanya Coh Liu hiang. Tak nyana Ki Bu yong manggut-manggut sahutnya "Ya memang dipetik dari langit."

Coh Liu hiang melirik kepada KI Ping yan "Kalau demikian beruntung sekali biji mata kami bisa menikmati lautan kembang seperti ini!."

Ki Ping yan diam saja.

Karena terasa olehnya, kedua kakinya tiba-tiba terasa lemas, mata berkunang-kunang, otak serasa gelap dan mata rasanya ingin tidur, seolaholah sedang mabuk arak, namun lebih nikmat dari orang mabuk arak.

Akhirnya Ki Ping yan menyadari lebih dulu bahwa dalam bau kembang ini ada gejala gejala yang tidak normal, tapi meski sudah tahupun sudah terlambat, sementara Coh Liu hiang masih mengoceh, dia lantas membanting betapapun Lwe-kangmu memang lebih tinggi ketabahanmu lebih kuat...."

Terdengar Coh Liu hiang sedang berkata "Tadi nona bilang tempat yang benar-benar berbahaya belum lagi sampai, tentunya sekarang sudah sampai bukan?"

Ki Bu-yong terdiam sesaat lamanya, lalu bertanya kalem "Menurut kau apa tempat ini amat berbahaya?"

Dengan tersenyum berkatalah Coh Liu hiang "Pada suatu benda yang terlalu cantik, kadang kala sering mengandung mara bahaya aroma bau harum yang luar biasa, kemungkinan besar mengandung racun..."

Belum habis ia bicara, badannya tiba-tiba meloso jatuh ke tanah lemas lunglai. Ki Ping yan kembali tertawa getir dalam hati, katanya "Ternyata dia tidak selihai apa yang pernah kubayangkan."

Waktu dia melirik kepada Setitik Merah, terpasang mata yang dingin dan teguh itu, kini sudah mulai pudar dan kacau.

Ki Ping yan merasa dirinya seolah-olah kembali menjadi anak-anak kecil, bermimpi buruk karena biasanya cuma anak-anak kecil saja yang benarbenar bisa menikmati mimpinya yang begini nyaman, segar dan nikmat.

Waktu dia siuman, didapatinya dirinya berada dalam sebuah rumah yang megah seperti dialam mimpi saja, Ki Bu yong sedang duduk dihadapannya, dengan termenung sedang mengawasi dirinya.

Tapi orang yang dia pandang bukan Ki Ping yan, tapi adalah Setitik Merah, begitu pesona dan kesima sorot pandangannya, sedikitpun tidak menyadari bahwa Ki Ping yan sejak tadi sudah siuman dan memperhatikan dirinya.

Melihat sepasang biji matanya yang kaku dan seperti linglung ini, hati Ki Ping yan mencelos kaget, namun merasa aneh dan ketarik batinnya "Masakah budak liar ini sudah jatuh cinta kepada manusia batu ini?"

Sayang sekali Coh Liu hiang tidak melihat apa-apa, dia masih tidur nyenyak, malah mulutnya kadang-kadang mengigau.

Dari luar beranjak masuk dua orang gadis lainnya.

Salah seorang yang berpakaian atas bawah serba kuning berkata mengawasi dirinya "Apakah dia ini perampok ganteng, atau bajingan romantis yang kenamaan dalam dongeng itu.

Gadis yang lain pakai gaun panjang dengan baju panjang pula, katanya berseri tawa "Dalam dongeng tentunya dikatakan betapa tinggi dan besar kelihaiannya, jikalau ia benar-benar selihai itu, masakah kini rebah di sini?"

Gadis baju kuning itu berkata pula "Tapi kelihatannya dia lebih mempesonakan dan lebih tampan dari apa yang pernah kudengar dari dongeng itu.

Tak heran banyak gadis-gadis remaja yang khawatir dia tidak menggerayangi barang-barang milik keluarganya, ternyata maksudnya hanya untuk bisa berkesempatan bertemu muka sama dia."

Disanjung puji oleh seorang perempuan boleh dikata merupakan peristiwa yang paling menggembirakan bagi seorang laki-laki dalam dunia ini.

Tapi jikalau perempuan itu begitu buruknya, rasa senang dan gembira itu dengan sendirinya menjadi sirna dan menjadikan dingin hatinya.

Memang pakaian kedua gadis ini serba mewah dengan mode yang mutakhir, terbuat dari bahan yang mahal harganya, tapi raut mukanya justru memualkan setiap orang yang memandangnya, oleh karena itu Coh Liu hiang jadi patah semangat, cuma dalam hati diam-diam dia tertawa getir, batinnya "Untung raut muka kalian terlalu biasa, sehingga tidak sampai dibikin cacad seperti Ki Bu yong, sering aku dengar orang suka bilang gadis yang bermuka buruk katanya jauh lebih besar rejekinya, baru sekarang aku tahu dan membuktikan kenyataan ini."

Karena pikirannya ini, hati menjadi geli dan tak tertahan dia unjuk senyuman kepada kedua gadis ini.

Seketika berobah rona muka gadis berpakaian kuning, mimik wajah yang wajar tadi kini berubah sinar tajam dan sikapnya menjadi kikuk dan genit.

Sebaliknya gadis yang lain tetap berseri tawa, seakan-akan dia tak pernah berhenti tertawa.

Ki Bu yong mengerut alis, tanpa bicara tiba-tiba ia berpaling muka terus tinggal pergi.

Gadis pakaian kuning mencibir bibir, jengeknya "Budak jelek, tahu bahwa dirinya disukai orang, lantas pura-pura unjuk harga diri.

Hm..!

Kau merasa sebal terhadap kami, kami justru pandang sepele kepadamu!."

Berputar biji mata Coh Liu hiang, sengaja merendahkan suaranya "Nona kalau bicara lebih baik pelan-pelan dan lirih saja, jangan sampai kedengaran oleh dia."

"Memangnya kenapa kalau didengar olehnya? Aku tidak takut! jengek gadis baju kuning.

"Menurut pandangan Cayhe, nona Ki itu adalah orang penting ditempat kalian ini, sebaliknya nona berdua agaknya belum lama masuk perguruan, jikalau sampai berbuat kesalahan dan membuatnya marah, bukankah tidak leluasa."

Gadis baju kuning mendelik, tiba-tiba ia tertawa lebar, katanya "Tak perlu kuatir bagi kami, suhu selamanya bertindak adil terhadap para muridnya, kami tidak perlu takut kepadanya."

Gadis yang lain ikut menimbrung dengan malu-malu "Asal kau bersikap baik terhadap kami, kamipun bisa saja bikin kau hidup nikmat dan bersenangsenang disini."

Coh Liu hiang menatapnya bulat-bulat, tiba-tiba ia menghela nafas.

"Kenapa kau menghela nafas?"

Tanya gadis gaun panjang ini.

"Sayang sekali Cayhe tidak punya tenaga sama sekali, kalau tidak...."

Dengan sikap yang dibuat-buat dia hentikan kata-katanya, matanya dengan nanar menatap mereka.

Merah muka gadis bergaun panjang, pelan-pelan bibirnya digigit lalu katanya kalem "Kau tidak perlu gelisah, akan datang suatu hari...."

"Masakah kau sendiri tidak gelisah, dan ingin lekas...?"

Tanya Coh liu hiang.

"Memangnya kau sendiri? Kau ini memang kau tidak bernama kosong, kau memang seorang bangsat romantis yang manis mungil dan menyenangkan."

Coh Liu hiang memancing "Sungguh aku tidak mengerti sebetulnya aku ini terkena obat bius apa, kenapa begini lihai?"

Mendadak ia hentikan katakatanya, lalu tertawa getir lalu katanya lebih lanjut "Tentunya nona berdua pun tidak tahu obat bius apa yang meracuni badanku, seharusnya tadi aku bertanya kepada nona yang ke satu tadi."

"Kau kira hanya dia saja yang tahu? ejek gadis gaun panjang.

"Jadi nonapun ada tahu?"

Seru Coh Liu hiang unjuk senyum girang.

Tiba-tiba gadis baju kuning sadar, sejak tadi sepasang mata Coh Liu hiang hanya mengawasi temannya yang satu ini, lama sudah tidak melirik kepadanya.

Maka segera ia menimbrung "Apa kau sudah melihat kembangkembang itu?"

"Jikalau Cayhe tidak melihat, masakah sekarang sudah bisa rebah tak bertenaga seperti ini?"

"Tahukah kau apa nama kembang-kembang itu?"

Tanya gadis baju kuning. Coh Liu hiang gelengkan kepala, sahutnya "Jenis kembang seperti ini, selama hidupku belum pernah melihatnya."

Gadis baju kuning tersenyum puas dan bangga, katanya "Baik..baik kuberi tahu kepada kau, kembang itu dinamakan Eng siok hoa, sedang rumputrumput kembang di bawahnya adalah Toa ma hasil cangkokan suhu yang dibawanya dari negeri asing.

Thian tiok, hanya ditempat yang bersuhu panas seperti ini baru bisa tumbuh subur."

Diam-diam tersirap darah Coh Liu hiang namun mulutnya berkata "Eng siok.. toa ma! Namanya aneh benar."

"Obat bius yang kau sadap adalah hasil perpaduan Eng siok hoa dan rumput Toa ma itu, kalau orang terlalu banyak makan bahan-bahan obat ini, orang akan dibikin gila, tapi kalau makannya secara pas-pasan, boleh dikata bisa memabukkan seperti hidup di kahyangan, jauh lebih nyaman, segar dan nikmat dari apa saja."

"Apa kalau makan terlalu banyak bisa gila?"

Tanya Coh Liu hiang terkejut.

"Kalau makan terlalu banyak, bukan saja bisa gila, malah pandanganmu bakal menciptakan berbagai khayalan-khayalan muluk, hakikatnya yang kau lihat itu adalah gambaran-gambaran kosong yang tidak pernah ada."

Kini gadis gaun panjang juga sadar bahwa temannya sedang berebutan sama dirinya, segera ia merebut kesempatan menimbrung lebih dulu "Ditambah kesadaran mereka sudah pudar, pikiran tidak genah lagi, maka ada kalanya mereka berloncatan menari-nari seperti sedang berkelahi dengan lawan yang tidak kelihatan, begitu besar napsu mereka merobohkan lawan, sampai akhirnya kehabisan tenaga dan binasa."

Sampai di sini ia tersenyum genit lalu menambahkan pula.

"Suatu yang tak pernah ada, siapapun tak bisa merobohkannya, meski dia itu seorang tokoh silat maha sakti, berkepandaian setinggi langit, jikalau terkena obat bius ini, palingpaling kuat bertahan beberapa kejap saja, cepat atau lambat akhirnya roboh juga."

Gadis baju kuning segera menyela "Oleh karena itu bila kaupun bisa memanfaatkan obat bius ini, berarti kau berubah dirimu sebagai orang yang takkan dapat dirobohkan oleh siapa saja, coba kau katakan bukankah khasiatnya jauh lebih besar daripada kepandaian silat betapapun lihainya?"

Serasa copot jantung Ki Ping yan mendengar hal-hal yang luar biasa ini, Coh Liu hiang malah tertawa "Tapi dalam pandangan mata Cayhe sekarang, yang kulihat hanyalah dua nona cantik molek yang manis dan mesra, tak pernah kulihat musuh yang menakutkan...semoga kedua nona jangan bikin pikiranku melayang kealam khayalan."

Gadis gaun panjang terkikik geli, katanya "Soal obat bius yang kau sedap tidak banyak, oleh karena itu paling hanya badanmu saja yang lemas lunglai."

Gadis baju kuning menimbrung pula "Letak dari pada kemujaraban obat ini, adalah khasiatnya, menurut kadar dan dosis dari penggunaannya dapat merubah keadaan si korban, kalau dosisnya terlalu banyak, obat ini adalah racun obat dewa kesenangan.

Coh Liu hiang menarik napas panjang, katanya "Nona berdua sungguh pintar dan banyak pengetahuan....."

Tiba-tiba seseorang menyeletuk dingin "Cuma sayang mereka terlalu banyak bicara."

Suara ini kedengaran amat tawar dan dingin tapi merasuk pendengaran.

Daya tarik yang luar biasa seperti ini, jauh lebih besar dari pada suara merdu dari pada rayuan genit yang sedang kehausan cinta.

Coh Liu hiang sudah banyak pengalaman dalam bidang ini dan sudah bisa mendengar suara genit dan rayuan halus, mendengar suara ini seketika terbangkit semangatnya.

Sebaliknya mendengar kata-kata ini kedua nona dihadapannya seketika berubah rona mukanya, begitu pucat dan ketakutan setengah mati.

Tampak sesosok bayangan putih tinggi semampai, seiring dengan katakatanya beranjak masuk ke dalam kamar dengan langkah gemulai.

Gayanya berjalan sebetulnya tidak luar biasa, tapi cukup membuat setiap laki-laki merasa betapa cantik elok dan menawan serta menggiurkan, tanggung kata-kata paling manis dan muluk-muluk dari segala bahasa di dunia ini takkan bisa melukiskan keindahannya.

Badannya tertutup kain sari panjang yang putih merah, dalam rumah tiada angin, tapi siapapun merasakan orang seperti datang menunggang mega menyetir angin setiap saat kemungkinan bisa lenyap terhempas oleh angin besar.

Wajahnyapun tertutup cadar yang terbuat dari kain sari putih pula.

Walaupun tiada orang yang bisa melihat raut wajahnya, tapi orang pasti menduga bahwa seorang perempuan cantik ayu tiada bandingannya sejagat ini.

Perawakan Ki Bu yong sudah cukup cantik dan menggiurkan, bentuk badannya kira-kira sebanding tapi jikalau Ki Bu yong yang mengenakan model pakaian seperti ini, dengan mengenakan cadar kain sari pula, sekali pandang orang bisa membedakan dengan jelas.

Karena gaya dan keagungan dirinya tanggung takkan ada orang yang bisa menjiplaknya, itulah buah karya dari Yang Maha Kuasa yang mengkaruniai badan elok dan rupawan hasil gemblengan dari pengalaman dan tempaan bertahun-tahun lamanya.

Tiada orang yang bakal mempunyai pengalaman seaneh dan setinggi itu, oleh karena itu selintas pandangan dia selamanya akan selalu berada di puncak tertinggi, tiada orang yang bisa menandinginya, tiada orang yang bisa mencapainya.

Coh Liu hiang menarik napas panjang pula katanya "Ciok koan im, akhirnya aku bisa berhadapan juga dengan kau!

Seorang laki-laki sejati bisa berhadapan dengan perempuan macammu ini, sungguh besar rejeki sepasang mataku ini, tapi aku lebih suka lebih baik tiada manusia seperti kau ini saja."

Sementara itu kedua gadis itu sudah mendekam di lantai dan menyapa "Menghadap Suhu."

Berkata Ciok koan im dingin "Selamanya aku pandang kalian sama tingkat dan kedudukan, kalian sendiri tadi sudah bilang, benar tidak?"

Dengan mendekam kedua gadis ini manggut-manggut sahutnya gemetar "Itulah kebijaksanaan kau orang tua!"

"Bagus sekali!"

Ujar Ciok koan im, tiba-tiba dia menggape tangan kepada Ki Bu yong yang tadi mengikuti langkahnya katanya tawar "Jikalau kau tidak bisa membunuh mereka, biar mereka saja yang membunuh kau!"

Dengan suara tawar yang dingin dia tentukan mati hidup jiwa orang lain, nilai jiwa orang lain didalam sanubarinya, seolah-olah lebih murah dari jiwa anjing atau babi.

Pelan-pelan Ki Bu yong melangkah keluar raut mukanya sedikitpun tidak menampilkan perubahan apa-apa, katanya dingin "Tidakkah lekas kalian berdiri dan turun tangan?"

Tak tahan Coh Liu hiang segera berkata "Mereka hanya bilang dua tiga patah kata Hujin lantas hendak mencabut jiwa mereka, apakah tindakan ini tidak terlalu kejam?"

"Kalau toh aku selalu selalu berlaku adil kepada mereka, maka adu jiwa ini merupakan keputusan yang adil pula, mana boleh dikatakan aku kejam?"

Kata-katanya datar dan kalem, tapi orang yang mendengar takkan bisa mendebatnya lagi. Coh Liu hiang mengelus hidung katanya tertawa getir "Bagaimana juga, mohon Hujin suka mengampuni jiwa mereka."

"Tahukah kau, kenapa mereka sendiri tidak mohon ampun kepadaku?"

Tanya Ciok koan im.

Benar juga kedua gadis itu sudah berbangkit ternyata tanpa banyak bicara, dengan badan gemetar segera mereka turun tangan.

Coh Liu hiang menghela napas, belum lagi bicara, Ciok koan im sudah menyambung dengan kalem "Itulah lantaran mereka tahu setiap patah kata yang pernah kuucapkan, selamanya takkan dirubah lagi."

"Kalau demikian bukankah mereka jadi berkorban lantaran aku?"

Ujar Coh Liu hiang menghela napas pula.

"Kau tidak perlu bersedih dan merasa salah aku ingin mereka mati, bukan lantaran mereka sudah membocorkan rahasiaku! Jikalau aku tidak ingin kau tahu rahasia ini, sejak tadi aku sudah sikap mulut mereka!"

"Benar, seseorang yang toh harus menghadapi kematian, peduli rahasia apapun yang dia dengar, juga tidak menjadi soal."

"Nah, begitulah!"

"Kalau demikian, kenapa pula Hujin menghendaki mereka mati?"

"Mereka sendiri yang ingin mati?"

Seru Coh Liu hiang melongo.

Ciok koan im tidak menjawab.

Ki Ping yan justru membatin "Kenapa kau jadi pikun?

Kalau toh dia sudah naksir kepadamu para budak ini justru berani main-main dihadapannya lebih dulu, bukankah mereka sendiri mencari mampus?"

Tatkala itu gadis baju kuning dan gadis gaun panjang serempak menggerakkan kaki tangan menyerang dengan sengit dan kalap.

Lwekang mereka masih terlalu rendah, karena itu tadi Coh Liu hiang mengatakan bahwa mereka masuk perguruan belum lama tapi serangan kerja sama kedua orang ini ternyata cukup lihai dan aneh serta cepat, di luar dugaan orang.

Maklumlah pertempuran ini bukan merebut harta benda, juga bukan demi gengsi dan pamor tapi demi mempertahankan jiwa raga mereka, menang adalah hidup, kalah tentu mati, betapa mereka tidak bertempur matimatian dan nekad.

Tampak sepuluh jari-jari gadis gaun panjang runcing-runcing setajam cakar-cakar serigala yang ganas dan buas, kertak gigi dan menjerit sengit mencengkeram ke tenggorokan Ki Bu yong.

Kedua biji mata gadis baju kuningpun membara beringas, telapak tangan kanan laksana golok, dengan seluruh kekuatan membelah ke dada Ki Bu yong pula, kepalan kiri digenggamnya kencang sampai memutih, sekali jotos ia serang ke bawah perut Ki Bu yong.

Serangan telapak tangan jotosan kepalannya ini kelihatannya memang biasa tak mengandung perubahan apa-apa, tapi posisi serangan dan gayanya yang aneh, sungguh sulit orang menyelamatkan diri arah mana orang menyerang.

Coh Liu hiang diam-diam membatin "Ilmu silat Ciok koan im memang hebat, aneh dan lihai, orang-orang seperti mereka saja sudah mampu melancarkan serangan dengan perbawa yang begitu dahsyat, bila dia sendiri yang mempraktekkan, tentu lebih luar biasa."

Tampak Ki Bu yong bergerak lincah dan tangkas, sekali berkelebat, sekaligus ia luputkan diri dari tiga jurus serangan kedua lawannya.

Kelihatannya kepandaian silatnya memang jauh lebih tinggi dari kedua lawannya namun agaknya dia tidak rela main kekerasan dengan cara serangan musuh yang ganas dan nekad, oleh karena itu begitu berkelit dia tak bertindak lebih jauh hanya bertahan saja tanpa balas menyerang.

Sebaliknya jurus demi jurus serangan kedua gadis lawannya semakin gencar, makin ganas dan berbahaya dan aneh-aneh pula, sampaipun orang seperti Coh Liu hiangpun sukar mengikuti dan tak melihat asal-usul dari tipu-tipu permainan mereka.

Jurus silat yang dimainkan ketiga orang ini ternyata jauh berbeda dari seluruh golongan silat di Tionggoan yang pernah dia selami, permainan gadis gaun panjang agaknya rada mirip dengan Eng jiau kang, tapi lebih mirip ke Kim na jiu pula, setelah diteliti lebih cermat, ternyata lebih mirip ilmu gumul dan gulat dari kepandaian orang-orang Mongol tapi tidak sekasar dan sekeras itu.

Ilmu pukulan telapak tangan yang dimainkan gadis baju kuning, kelihatannya seperti menggunakan tipu-tipu ilmu pukul telapak tangan dari aliran Lwekeh, tapi cara gerak dan serangannya secara praktek jelas sekali amat berbeda.

Bukan menabas atau membacok, tapi telapak tangannya itu selalu memotong, padahal ilmu pukulan dari aliran manapun dalam bilangan Tionggoan tiada jurus-jurus pukulan yang menggunakan tipu-tipu memotong ini.

Cuma orang-orang yang bersenjata golok saja baru ada yang menggunakan tipu memotong ini.

Makin lama makin tersirap darah Coh Liu hiang menonton pertempuran ini.

"Dilihat dari permainan mereka ini, jadi kepandaian silat Ciok koan im bukan mustahil dipelajari dari negeri seberang? Tatkala itu kedua pihak sudah bergebrak puluhan jurus. Selama ini Ki Bu yong tetap bertahan belum pernah balas menyerang. Tiba-tiba Ciok koan im tertawa dingin "Bu yong kapan sih hatimu sudah mulai lemah? Masakah kau tidak tega turun tangan?"

Belum habis kata-kata Ciok koan im tiba-tiba Ki Bu yong sudah lancarkan serangan balasan.

Sejurus serangannya ini ternyata jauh berbeda pula dengan gaya permainan kedua lawannya.

Sudah tentu gadis baju kuning tidak berani melawan pukulan ini secara keras, dengan lemas pinggangnya gemulai tertekuk, badan terbalik kaki berkisar, tahu-tahu badannya menyusup lewat dari samping pundak kiri orang terus menggeser ke belakangnya, tahu-tahu telapak tangannya membelah ke punggung Ki Bu yong.

Kali ini gerakan kakinya amat lincah dan cekatan serba wajar dan gemulai lagi, langkah-langkah kaki mereka yang berseliweran, cepat lagi tepat sehingga tidak saling tumbuk ditengah jalan, begitu tiba di belakang Ki Bu yong telapak tangannya sudah membelah dengan gempuran dahsyat laksana dampratan ombak, sedikitpun tidak kelihatan gerakan kaku atau tidak dipaksakan, dari permainan silatnya dapat dinilai, bahwa gadis baju kuning ini memang berbakat menjadi tokoh kenamaan.

Maklumlah didalam mempraktekkan suatu ajaran silat yang diperlakukan adalah keluwesan dan kewajaran dari gerak-gerik badan serta kaki tangan yang kerja serasi, kalau tidak meski tipu silat itu sendiri amat lihay dan aneh kalau dilancarkan tentu menunjukkan gerakan yang sedikit dipaksakan, maka dari sini dapat dinilai bahwa orang ini belum boleh dikategorikan sebagai tokoh kosen.

Bahwa gadis bermuka biasa, tindak-tanduknya genit dan kasaran ini ternyata dapat melancarkan jurus-jurus ilmu silat tingkat tinggi yang begini menakjubkan, Coh Liu hiang menonton menjadi bersorak dan memuji dalam hati.

Ciok Koan im sendiripun sedikit mengangukkan kepala, katanya "Dapat melancarkan jurus ini sebaik itu, tiga tahun pelajaran silatmu tidak terhitung sia-sia."

Tapi waktu ucapan kata-katanya ini selesai, tampak gadis baju kuning itu sudah terkapar di atas lantai.

Ternyata dikala telapak tangan gadis baju kuning membelah ke punggung Ki Bu yong, telapak tangan kiri Ki Bu-yong tetap mengincar urat nadi pergelangan tangan gadis gaun panjang, memaksanya menarik mundur serangan dan terdesak mundur, tahu-tahu telapak tangan kanan mendadak menyelonong lewat dari bawah ketiaknya ke belakang, dimana kelima jarijarinya rada tertekuk tapi pukulan telapak tangan dirubah menjadi cakar, maka tebasan telapak tangan gadis baju kuning berarti disodorkan ke depan dan tepat berhasil dengan digenggamnya.

"Krak"

Lengannya seketika teremas remuk dengan menjerit ngeri seketika ia terkapar roboh tak bergerak. Tak terasa Coh Liu hiang sampai berseru memuji "Bagus, hebat sekali."

Memang cengkeraman Ki Bu yong dari depan menyelonong ke belakang ini siapapun dikolong langit ini bila melihat permainannya ini takkan tahan pasti memuji.

Maklumlah betapa sulit sebelah tangan menyelonong ke belakang melalui ketiak merupakan gerakan yang amat sulit dilakukan dan serangan balasan yang terlalu dipaksakan pula demi menyelamatkan jiwa sendiri.

Tapi kali ini Ki Bu yong bisa mempraktekkan dengan seenaknya dan wajar, lengan tangannya itu seolah-olah tidak bertulang, dapat ditekuk atau diputar ke arah mana saja menurut sesuka hatinya, sedikitpun tidak menunjukkan gejala-gejala yang menyangsikan.

Gadis bergaun panjang seketika berobah roman mukanya, mendadak dia berpekik nyaring terus menubruk kalap seperti serigala buas kelaparan menubruk mangsanya, meski serangannya tidak begitu menakjubkan, tapi bahwa serangan ini cukup mengejutkan juga.

Berkilauan sorot mata Setitik Merah, mukanya yang kaku dingin selama ini tiba-tiba memancarkan cahaya cemerlang.

Sebat sekali Ki Bu yong tutulkan kaki mencelat menyingkir seenteng burung walet, sembari berkelit lekas telapak tangannya terayun balas membelah.

Sebetulnya gadis gaun panjang paling ketat melindungi batok kepalanya sejak permulaan gebrak tadi siapa tahu begitu telapak tangan Ki Bu yong terayun, dengan telak dia masih tepat membelah batok kepalanya.

Ternyata Ki Bu yong yang berkepandaian tinggi dan apal juga akan ilmu silat lawannya sudah memperhitungkan dengan cepat gerak perubahan tipu-tipu lawannya, di sela-sela antara bersilangnya kedua tangan, telapak tangannya segera membelah dengan sekuat tenaga tangannya, waktu dan sasarannya tepat sekali.

Jadi menggunakan cara atau tipu serangan gadis baju kuning ki Bu yong membunuh gadis gaun panjang, demikian pula sebaliknya menggunakan tipu serangan yang digunakan gadis gaun panjang dia bunuh gadis baju kuning malah didalam angkat tangan menggetarkan kaki saja, cepat sekali dia sudah berhasil merobohkan kedua lawannya.

Agaknya kalau dia mau, sejak gebrak pertama tadi, sebelum kedua gadis lawannya ini menyerang dirinya sebetulnya dia sudah bisa mencabut jiwa mereka.

Setitik Merah dan Ki Ping yan saling berpandangan dengan terkesima, cuma Coh Liu hiang sebaliknya mengerut kening seolah-olah sedang memikirkan pemecahan suatu masalah yang mempersulit dirinya.

Terasa oleh Coh Liu hiang gerakan Ki Bu yong yang dipraktekkan barusan agaknya sudah amat apal sekali, dalam pandangan matanya tapi satu persatu dia bayangkan semua ajaran silat seluruh cabang atau aliran di seluruh cabang atau aliran di seluruh dunia ini, tapi tak terpikir olehnya dari cabang persilatan yang mana ada jurus-jurus silat yang mirip dan sama dengan permainan silat yang dilakukan Ki Bu yong barusan.

Dilihatnya sikap Ki Bu yong tetap kaku dingin, mimik wajahnya tidak berobah, seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu apa, pelan-pelan dia menghampiri ke depan Ciok koan im katanya sambil membungkuk "Kau orang tua masih ada pesan apa?"

Ternyata Ciok koan im, termenung lama sekali, mendadak dia terkikik geli, katanya "Lama sekali tidak melihat kau bersilat, tak nyana ilmu silatmu sudah maju demikian pesat, sungguh harus dipuji."

Sahut Ki Bu yong menunduk "Bukan kepandaian silat Tecu ada kemajuan, soalnya mereka berdua biasanya kurang giat berlatih."

Ciok koan im berkata tawar "Sampaipun Maling Romantis Coh Liu hiangpun memberi pujian tinggi kepandaianmu, buat apa kau merendah dan sungkan?"

"Ya, berkat didikan dan ajaran kau orang tua yang benar dan besar manfaatnya."

Kembali Ciok Koan im terbenam dalam lamunannya sampai lama tiba-tiba ia tertawa pula dan berkata "Buka mulut tutup mulut kau selalu panggil aku orang tua, apa benar aku ini sudah tua?"

Tertunduk kepala Ki Bu yong, tak berani banyak bicara lagi. Ciok koan im menghela nafas, ujarnya "Memang, aku sudah tua, dalam beberapa tahun lagi kau tentu dapat membunuhku, benar tidak?"

"Tecu tidak berani!"

Tersipu-sipu Ki Bu yong menjawab sambil menjura.

"Apanya yang kau tidak berani, dinilai dari kepandaian silatmu sekarang, sampaipun Tiang sun Hongpun takkan kuat melawan tiga ratus jurus seranganmu, beberapa tahun lagi, untuk membunuh aku bukankah segampang kau mengangkat tangan?"

Lama juga KI Bu yong berdiam diri, tiba-tiba dari dalam lengan bajunya, dia merogoh keluar sebilah pisau perak seperti milik Tiangsun Hong itu sekali iris kontan ia kutungi pergelangan tangan kanannya sendiri.

Darah segar menyembur dengan deras, menyemprot sederas bidikan anak panah."

Tanpa menunjukkan perubahan perasaannya, berkata Ki Bu yong pelanpelan.

"Sekarang suhu kau... kau tentunya sudah percaya... percaya kepada Tecu?"

Belum habis bicara, air mata sudah bercucuran, namun kulit mukanya sudah pucat pasi tak berdarah, akhirnya pelan-pelan badannya meloso jatuh dan semaput.

Coh Liu hiang, Ki Ping yan sama menghela napas, mata dipejamkan, tak tega melihat kejadian tragis ini, selain halnya Setitik Merah matanya malah terbelalak lebar, dengan tajam dia mendelik kepada Ciok koan im.

"Budak bodoh ini sendiri yang memotong tangannya, kenapa kau mendelik kepadaku?"

Kata Ciok koan im dengan suara merdu "Apa kau beranggapan aku sedang memaksa dia?"

"Hmm!"

Setitik Merah hanya menggeram dengan suara berat.

"Tak nyana Setitik Merah yang kenamaan dan sudah banyak membunuh manusia ternyata punya hati welas dan tahu belas kasihan, apa kau sudah jatuh cinta kepadanya..."

Sepatah demi sepatah Setitik Merah berkata "Aku hanya ada maksud terhadap kau, aku bermaksud membunuhmu."

"Sayang sekali, selamanya kau tidak akan bisa melaksanakan cita-citamu ini."

Tanpa hiraukan Setitik Merah, Ciok koan im berpaling dan menambahkan "Coh Liu hiang, apa kau masih mampu berjalan?"

Coh Liu hiang tersenyum, sahutnya "Kalau Hujin ingin aku berjalan seumpama aku tak mampu bergerak, akupun akan bisa berjalan."

"Kalau demikian, silahkan Coh Liu hiang pindah tempat, mari silahkan ikut aku, dengan langkah gmulai dia beranjak keluar pintu, tiba-tiba ia berpaling pula kepada Setitik Merah katanya "Adakah kau membawa obat untuk menyembuhkan luka-luka terpotong?"

Setitik Merah hanya mendelik kepadanya tanpa menjawab.

"Orang yang suka membunuh orang, tentu sewaktu-waktu bersiaga supaya dirinya tidak terbunuh orang, jadi selalu pasti membawa obat luka-luka, kalau kau sudah punya maksud terhadap budak bodoh, kenapa tidak segera kau tolong mengobati dia?"

Coh Liu hiang tersenyum ujarnya "Tidak salah, sekarang dia selamanya takkan mungkin bisa unggul dari kau, tentunya kau masih memerlukan tenaganya."

"Maling Romantis ternyata memang dapat menyelami isi hati orang lain, disitulah letaknya kenapa banyak gadis-gadis rupawan sama jatuh hati kepadamu!"

Setitik Merah benar-benar menolong Ki Bu yong membubuhi obat pada pergelangan tangannya yang kutung, biasanya dia membunuh orang tanpa banyak membuang tenaga, namun hanya untuk mengerjakan tugas seringan ini dia malah merasa amat berat dan tersipu-sipu.

Ki Ping yan menghela napas, serunya "Eng siok hoa....

eng siok hoa....

tak nyana kembang yang begini elok dan indah ternyata adalah racun berbisa yang dapat menghilangkan daya ingatan manusia, tanpa disadari oleh manusia sedikit demi sedikit jiwanya dan sukmanya digerogotinya sampai binasa."

Setitik Merah segera menyambung "Aku sebaliknya tidak menduga bahwa dia sudi pergi mengikuti Ciok koan im"

"Kau anggap dia tidak punya pambek?"

"Hm!"

"Jikalau kau, seumpamanya Ciok koan im akan membunuhmu, kaupun takkan sudi ikut dia, benar tidak?"

"Hm!"

"Orang seperti kau ini selamanya takkan bisa memahami dan menyelami karakter dan martabat Coh Liu hiang, tapi boleh aku memberi tahu kepadamu sesungguhnya, dalam dunia ini tiada orang yang bisa memaksanya untuk melakukan sesuatu yang dia sendiri tidak mau melakukannya."

Setitik Merah tidak bicara.

Berkata pula Ki Ping yan "Boleh juga aku jelaskan lebih jauh, kelihatannya ia amat sembarangan, tapi selama hidupnya belum pernah dia melakukan sesuatu yang membuat seseorang temannya malu atau dirugikan, bahwa kau bisa berkenalan dengan kawan seperti dia, boleh kau mengelus dada senang, bahwa kau punya rejeki, sebesar ini."

Tiba-tiba terdengar Ki Bu yong mengeluarkan rintihan, pelan-pelan dia siuman dari pingsannya.

Diwaktu tak sadarkan diri raut mukanya menampilkan rasa derita yang luar biasa tapi begitu dia sadar raut mukanya seketika berubah dingin kaku, tanpa menunjukkan ekspresi wajahnya.

"Kau... kau masih kesakitan tidak?"

Tanya Setitik Merah. Tak nyana sikap dan reaksi Ki Bu yong ternyata jauh lebih kaku dinginnya "Aku sakit atau tidak apa sangkut pautnya dengan kau? Menyingkirlah jauh sedikit!"

Sesaat lamanya Setitik Merah tertunduk diam akhirnya pelan-pelan dia menyingkir ke samping.

Dengan menahan sakit pelan-pelan Ki Bu yong merangkak berdiri, mendadak dilihatnya perban membalut kutungan tangannya, tiba-tiba dia menjerit beringas "Kaukah yang membalutnya?"

"Ya!"

Sahut Setitik Merah pendek.

"Siapa suruh kau bertingkah?"

"Tidak ada."

Tiba-tiba Ki Bu yong renggut kain perban itu lalu dicopotnya dengan cepat, lalu diapun bersihkan pula bubuk obat yang melekat pada lukalukanya sampai bersih, bahwasanya luka-lukanya itu belum rapat, seketika darah bercucuran pula.

Walaupun kesakitan sampai kepalanya basah keringat dingin, namun mukanya bersikap dingin dan tawar, segera ia membanting perban putih itu katanya sambil mendelik kepada Setitik Merah "Urusanku sendiri, selamanya tidak perlu orang lain turut campur,"

Habis berkata, tanpa memandang kepala Setitik Merah pula, dengan menahan sakit dia meronta keluar.

Ki Ping yan geleng-geleng kepala dan menghela napas, katanya "Perempuan sekeras dan setabah ini, jarang kulihat."

Sesaat berdiam diri, akhirnya Setitik Merah berkata "Dia baik sekali!"

"Baik sekali!"

Kembali Setitik Merah ulangi pujiannya.

"Bagaimana juga, apa yang kau lakukan adalah baik baginya, seumpama dia tidak sudi terima kebaikanmu tiada sepantasnya sikapnya begitu galak."

Setitik Merah pejamkan mata, selanjutnya dia tidak bicara lagi.

Ki Ping yan mengawasinya sebentar, akhirnya tertawa, batinnya "Jikalau kedua orang ini dapat menjadi jodoh, tentunya memangnya pasangan yang setimpal."

Tiada toilet, tiada lemari, tiada kelambu, juga tiada segala perabot antik atau pajangan yang mewah-mewah didalam kamar ini.

Tapi keadaan kamar ini sudah cukup baik dan mungil, seumpama perempuan cantik yang dikaruniai Thian, jikalau dia merias diri berkelebihan, malah melunturkan kecantikan dan keagungannya.

Duduk di kamar ini, Coh Liu hiang merasa nyaman dan segar, selama hidup boleh dikata belum pernah dia berada dirumah senikmat ini, dalam hati diam-diam dia sedang berkeluh kesah.

Bagaimanapun juga Ciok koan im manusia yang satu ini memang bukan manusia sembarangan.

Sekarang terpikir oleh Coh Liu hiang hanya ingin selekasnya melihat wajah asli Ciok koan im.

Sekarang masih belum bisa ia bayangkan sebetulnya betapa cantik molek wajah perempuan aneh yang serba misteri ini.

Akan tetapi sesudah dia berhadapan dan melihatnya, diapun sudah membayangkannya.

Kecantikan dan keelokan Ciok koan im, ternyata sukar dibayangkan oleh siapa saja yang pernah melihatnya, karena keelokannya, boleh dikata sudah mempengaruhi seluruh daya pikiran untuk membayangkannya.

Banyak pujangga menggunakan, bintang kejora, untuk melukiskan keelokan biji mata perempuan cantik, tapi sinar bintang masakah dapat dibandingkan sepasang sorot matanya yang bercahaya bening dan lembut.

Tak tahan Coh Liu hiang menghela napas panjang untuk melapangkan dadanya.

Ciok koan im tersenyum simpul, ujarnya "Bukankah kau selalu ingin bertemu muka dengan aku, kini kalau toh keinginanmu sudah terlaksana, mengapa kau menghela napas setelah melihat mukaku?"

Suara memang amat merdu menarik, kini setelah melihat raut mukanya lagi, mendengar tutur katanya, orang lebih terpesona dan semangat seolah-olah copot dari badan kasarnya.

"Aku menghela napas lantaran kuatir orang bisa menganggap aku membual."

Sekilas CIok koan im tertegun, lalu tanyanya tertawa "Membual?.. selamanya aku selalu bisa memahami setiap patah kata-kata orang lain, tapi omonganmu ini sungguh aku tidak paham."

"Kelak kalau ada orang bertanya kepadaku "Pernahkah kau melihat Ciok hujin?"

Sudah tentu kujawab sudah pernah, kalau orang itu bertanya lebih lanjut "Bagaimana bentuk muka Ciok Hujin?"

Tentunya aku tidak bisa menjawabnya,"

Dia tertawa getir, lalu melanjutkan "Melihat aku mendadak kelakep, tentu orang itu anggap aku sedang membual, di luar tahunya bahwa kecantikan wajah Hujin, bahwasanya tiada seorang ahli tulis yang pandaipun yang mampu melukiskannya dengan kata-kata."

Ciok koan im tertawa manis, katanya "Selama hidupku tidak jarang aku mendengar kata-kata puji sanjung yang muluk-muluk tapi selamanya tak pernah ku dengar kata-kata yang betul-betul membuat hatiku riang."

Sudah tentu didalam kamar ini ada sebuah ranjang, lebar empuk dan nyaman.

Pelan-pelan CIok koan im duduk di pinggir ranjang dengan tenang tanpa banyak gerakan dia mengawasi Coh Liu hiang.

Dia hanya duduk tenang dan diam saja, mengawasi dengan sorot matanya yang redup, tiada gerakan tidak menggunakan kata-kata pancingan, tapi ketenangan dirinya ini justru lebih besar daya tariknya dari gerak-gerik yang genit dan bujuk rayu yang menggiurkan.

Badannya mengenakan kain sari panjang yang tipis untuk menutupi seluruh badannya, hanya sepasang lengan tangan dan sepasang telapak kakinya saja yang menongol di luar.

Tapi keadaannya ini jauh lebih menggerakkan sanubari setiap laki-laki yang melihat perempuan molek yang telanjang.

Demikianlah keadaan Coh Liu hiang, tanpa berkedip matanya mendelong mengawasinya seperti orang linglung.

Ciok koan im tersenyum manis pula, katanya "Sudah sejak lama kau pernah mendengar namaku bukan?"

"Em..!"

Coh Liu hiang menjawab dengan suara dalam tenggorokan.

"Tapi sampai sekarang, baru kau dapat melihat muka asliku."

"Em..!"

"Apa kau kecewa?"

"Apa Hujin melihat keadaanku seperti orang kecewa?"

"Kau tidak merasa aku terlalu tua?"

"Bagi perempuan.

"Tua"

Memang merupakan musuh yang paling ditakuti, tapi agaknya Hujin sudah berhasil menundukkan musuhmu itu."

Ciok koan im tertawa-tawa, katanya pula.

"Tahukah kau tempat apakah ini?"

"Kecuali kamar tidur Hujin, masalah ada tempat ini seperti ini di dunia ini?"

"Tahukan kau kenapa aku mengundangmu kemari?"

Kali ini Coh Liu hiang hanya manggut-manggut. Kerlingan mata Ciok Koan im tiba-tiba jadi redup, katanya lembut "Kalau kau sudah tahu, kenapa tidak kemari dan lekas mulai?"

Dalam dunia ini tanggung takkan ada laki-laki yang kuasa menahan diri untuk melawan rayuan ini bukan?

Akhirnya Coh Liu hiang sudah mendekap dan memeluknya kencang-kencang.

Ternyata badannya selembut dan sehalus kaca yang bisa menari-nari di atas telapak tangannya yang mulai nakal.

Sorot matanya seolah-olah ditaburi selaput kabut tebal, suaranya berbisik lembut dan mengasyikkan "Perduli bagaimana kejadian selanjutnya, dengan adanya kejadian malam ini, selamanya kau tidak akan menyesal."

"Selamanya aku memang tidak pernah menyesal, mendadak dia kerahkan sisa tenaganya dia angkat badan orang terus dilempar sejauh-jauhnya. Maka badan Ciok koan im lantas melayang seperti daun melambai, mesti dilempar dengan keras, namun meluncur turun dengan enteng, Cuma air matanya berubah. Bukan saja marah, diapun kaget dan heran selama hidupnya belum pernah dia mengalami mimpi seaneh dan sebrutal ini, tapi mimpipun tidak pernah terpikir olehnya bahwa Coh Liu hiang bakal melakukan ini, melemparkan dirinya. Coh Liu hiang tertawa meringis mengawasi dirinya, katanya "Melihat sikapmu agaknya kau kira aku ini orang edan, ya toh?"

Sekilas itu cepat sekali Ciok koan im sudah pulih dalam sikap dan gayanya yang molek katanya tawar "Memangnya kau bukan orang edan?"

Coh Liu hiang tertawa besar katanya "Aku hanya gegetun, kenapa sekarang aku tidak punya tenaga untuk melemparmu lebih jauh."

"Masa kau tega?"

Ujar Ciok koan im lembut aleman.

Dengan gemulai dia melangkah beberapa tindak lalu berdiri tegak pasang gaya kain sari laksana salju yang menutupi badannya itu pelan-pelan melorot ke bawah, maka terpampanglah sebentuk badan yang padat montok menggiurkan dengan kulit putih halus laksana gading.

Tiba-tiba napas Coh Liu hiang menjadi berat dan memburu, agaknya dia tidak mau percaya dalam dunia ini ada bentuk badan yang seelok dan menggiurkan seperti ini, pinggangnya yang ramping, dada yang montok dengan lekuk-lekuk badan yang jelas serta pahanya yang ...."

Kulit badan yang segar halus hangat dan licin ini, kini sudah mendekapnya kencang-kencang seperti ulat membelitnya, sepasang bukit yang kenyal tahu-tahu sudah menindih dadanya, suara nan merdu sedang berbisik di pinggir telinganya "Kau adalah laki-laki sejati yang hebat dan berpengalaman, bukan?"

"Ehm..!"

Seperti sedang mengigau bisikan Ciok koan im "Tentunya kau sudah tahu, bahwa sekarang aku amat memerlukan kau, masakah kau tega menolak keinginanku?"

Jari-jari Coh Liu hiang mulai nakal lagi, pelan-pelan merambat dan menggeremet dari atas punggungnya terus melorot turun, sekujur badan Ciok koan im mulai gemetar, tiada sesuatu peristiwa dalam dunia ini yang benar-benar dapat menyedot sukma jiwa seorang laki-laki lantaran adanya getaran badan yang wajar ini.

Matanya memincing, kepalanya rebah di atas pundak Coh Liu hiang, katanya gemetar "Di sini sudah termasuk sorga, apalagi yang sedang kau tunggu?"

Coh Liu hiang menghela napas, mulutnya menggumam "Benar badan telanjang seorang perempuan molek, memang adalah sorga dunia bagi lakilaki.... cuma sayang letak sorga itu terlalu dekat dengan akherat."

Mendadak jarinya mencubit pada tempat yang paling halus licin, paling empuk dan paling menarik di atas badannya, lalu sekeras-kerasnya pula dia dorong badan orang sampai rebah terlentang ke atas ranjang.

Ciok koan im rebah terlentang di atas ranjang di bawah sinar pelita yang redup, menyoroti seluruh kulit badannya yang putih laksana susu namun pada sela-sela tertentu masih juga meninggalkan bayangan-bayangan hitam yang tak terpandang oleh mata telanjang.

Itulah bayangan yang menarik dan menyedot sukma, biasa membuat laki-laki gila dan kehausan.

Dia tetap menunggu, itulah gaya sedang menunggu, gaya mengundangmu untuk segera mencemplak naik ke punggung kuda.

Tak nyana Coh Liu hiang mendadak meraih cangkir emas yang berada di ujung ranjang, diangkatnya tinggi, lalu pelan-pelan dituangnya arak yang berada dalam cangkir, arak merah dadu yang berada dalam cangkir segera mengalir turun laksana benang sutra, bercucuran di atas badannya, tepat di atas bayangan gelap itu sampai ke atas pusar dan dadanya.

Coh Liu hiang tertawa besar, katanya "Sekarang kau tentu lebih yakin bahwa aku ini benar-benar orang edan, benar tidak?"

Ciok koan im masih tetap rebah diam saja, tidak bergerak, dia diamkan saja arak itu membasahi badannya, mengalir melalui celah bukit di atas dadanya terus turun ke perutnya yang cekung dan datar, membasahi kasur.

Akhirnya dia menarik napas panjang, katanya "Kau bukan edan, palingpaling kau ini seorang pikun yang tak tertolong lagi."

Coh Liu hiang tersenyum, ujarnya "Kau kira seorang laki-laki yang normal, selamanya takkan kuasa menolak keinginanmu ya?"

"Ya, selamanya takkan pernah terjadi."

"Jadi budak-budak didalam lembah itu, mungkin lantaran mereka terlalu normal."

Mendadak Ciok koan im bergegas duduk teriaknya "Apa katamu?"

"Jikalau aku tidak menolak keinginanmu, akupun bakal seperti mereka, menyapu pasir yang selamanya takkan bersih, sampai ajalnya tiba baru berhenti. Karena setiap kali kau melihat seorang laki-laki yang luar biasa, maka kau lantas ingin menundukkan dia, memilikinya akan kau peras supaya sukma dan raganya, dia persembahkan demi kepuasanmu, tetapi setelah laki-laki itu betul-betul sudah mencurahkan segala miliknya kepadamu, maka kau akan segera merasa bahwa semua laki-laki ini terlalu rendah dan tak berguna lagi, paling berharga mereka cuma cocok menjadi kacungmu untuk menyapu pasir belaka."

Ciok koan im menatapnya tajam, lama dan lama sekali tidak bersuara.

"Mungkin lantaran hatimu terlalu kosong dan kau terlalu kehausan, maka tak henti-hentinya kau mencari dan mencari terus tak pernah berhenti, ingin kau mencari laki-laki untuk mengisi kekosongan dan menghilangkan rasa hausmu itu, tapi selamanya kau takkan pernah mendapatkannya."

Mendadak Ciok koan im tertawa pula, katanya lembut "Mungkin laki-laki yang sedang kucari dan hendak kucari bukan lain adalah kau!"

"Sekarang mungkin kau masih merasa bahwa aku rada berbeda dengan laki-laki lain, tapi setelah aku dapat kau kuasai dan kau tundukkan, maka keadaanku takkan berbeda dengan mereka."

Ciok koan im tertawa manis dan berkata hangat "Masa terhadap dirimu sendiri kau tidak punya keyakinan?"

"Bukan aku tidak punya keyakinan, cuma aku tidak mau menyerempet bahaya ini."

Coh Liu hiang menggosok-gosok hidungnya katanya tertawa "mungkin aku merasa tiada perempuan dalam dunia ini yakin patut membuatku harus menyerempet bahaya demi dirinya."

"Bagaimana kalau Soh Yong yong?"

Tanya Ciok koan im.

Serasa tenggelam hati Coh Liu hiang, tapi lahirnya tetap bersikap wajar, katanya dengan tertawa tawar "Dalam pandanganku, mereka bukan perempuan, mereka tidak lebih sebagai sahabat baikku saja.

Dan untuk sahabat karibnya sendiri, sering laki-laki suka menyerempet bahaya."

Sirna senyum manis yang menghias muka Ciok koan im, katanya dingin "Tapi kau tidak tahu, laki-laki yang menolak kehendakku apakah akibatnya?"

"Kecuali aku, masakah ada laki-laki lain yang pernah menolak kau?"

"Ada satu, beberapa tahun yang lalu pernah ada satu, sorot matanya menampilkan senyuman sadis, katanya menambahkan "Tahukah kau dengan cara apa aku menghukumnya?"

"Kau membunuhnya?"

"Membunuhnya? Masakah begitu gampang, aku menelanjanginya lalu kujemur diteriknya matahari, biar sinar surya yang panas itu membakar kulit mukanya, membuat picak sepasang matanya, lalu kusuruh dia menyurung gilingan seperti keledai, selamanya tak pernah kuberi kesempatan istirahat kepadanya....."

Sampai d isini dia terkekeh-kekeh, lalu menyambung "Tahukah kau akhirnya dia berubah menjadi apa?"

Maka terbayang dalam benak Coh Liu hiang akan keadaan Ciok Tho, katanya menghela napas "Aku tahu."

"Apa kaupun ingin berubah menjadi seperti itu?"

"Aku hanya tahu bahwa akhirnya dia tidak mati, belakangan malah dia berhasil meloloskan diri, akupun tahu mesti ia sekarang amat menderita dan sengsara hidupnya, tapi keadaannya akan jauh lebih baik dari pada budak-budak yang menyapu pasir itu."

Berubah rona muka Ciok koan im, katanya kertak gigi "Tapi kau... selamanya jangan harap bisa lari dari sini!."

Aku masih tahu, terhadapku kau belum sampai putus asa, tentulah tidak akan menyiksaku demikian rupa.

Mendadak Ciok koan im meraih bantal terus ditimpukkan sekuatnya ke arah Coh Liu hiang, bentaknya "Enyah!

Disaat aku belum berniat membunuhmu, lekas enyah dari sini."

Coh Liu hiang tersenyum sambil menjura, sahutnya "Aku patuh akan perintahmu."

Dengan tetap tersenyum dia melangkah keluar, didengarnya napas Ciok koan im di belakang sana masih ngos-ngosan.

Selangkah demi selangkah Coh Liu hiang kembali ke kamar asalnya.

Maling Romantis yang Gingkangnya nomor satu di seluruh kolong langit, kini setiap langkah kakinya, seolah-olah harus mengerahkan seluruh kekuatan dirinya.

Dua orang gadis lain mengintil di belakang, jarak mereka cukup jauh, agaknya seperti kuatir bila mereka rada dekat, akan datang bencana menimpa dirinya.

Tiba-tiba Coh Liu hiang menghentikan langkahnya, katanya berpaling "Aku tak mampu berjalan lagi, sukakah nona memayangku kembali?"

Gadis itu mendelik, semprotnya "Tuh sudah hampir sampai tinggal menikung didepan sana, jarak cuma dua langkah memangnya kau tidak bisa jalan?"

"Masakah nona begitu tega, memangnya kau ingin aku merangkak balik kesana?"

Gadis yang lain segera menyela "Toa siauya kumohon kepadamu, jangan kau mencari kesulitan bagi kami, sudah dua jiwa berkorban secara konyol lantaran kau, seorang terkutung tangannya demi kau, masih kau belum puas?"

"Tapi sekarang.... aku hanya minta nona suka memayang aku.... kalau tidak, terpaksa aku mendeprok di sini saja."

Kedua gadis itu membanting kaki, keluhnya.

"Kau ini memang bintang Iblis, perempuan yang berhadapan dengan kau pasti sebal atau celaka."

Ki Ping yan melihat kedua gadis ini memayang Coh Liu hiang masuk, keadaan Coh Liu hiang sudah kempas-kempis kehabisan tenaga, sungguh geli dongkol dan gemes pula hatinya.

Tak tertahan dia mengolok dingin "Agaknya kau amat membuang tenaga bagi Ciok hujin itu."

Coh Liu hiang menghela napas, ujarnya "Tak nyana daya pikiran dan rekaanmu begini subur, cuma sayang apa yang kau bayangkan salah sama sekali..."

Belum habis dia bicara kedua sikutnya tiba-tiba disodokkan kedua samping, tapi mengeluarkan jeritan kedua gadis yang memayang itu seketika roboh terkulai.

Coh Liu hiang menghela naps pula, katanya "Sungguh harus dimaafkan, bukan Cayhe ingin membalas kebaikan dengan perbuatan tercela, tapi demi melarikan diri, ya tiada jalan lain."

Setitik Merah dan Ki Ping yan sama melotot saking terkejut.

"Kau...."

Teriak Ki Ping yan tertahan "Dari mana kau mendapatkan tenagamu?"

"Agaknya seperti sejak pembawaan."

Sahut Coh Liu hiang tertawa.

"Tapi... tapi bau wangi yang memabukkan itu...."

"Kau kira akupun seperti kalian berdua terbius dan mampus oleh bau wangi kembang candu itu?"

Ki Ping yan melengak, katanya tertawa meringis "Benar, tentunya kau memang pura-pura kalau tidak masakah kau bisa jatuh semaput lebih dulu dari kami, kau siuman lebih akhir dari kami pula?

Tapi sebelum Ciok koan im belum kembali, kenapa tidak lekas kau melarikan diri?"

"Waktu itu aku masih ingin bertemu dan berhadapan sama dia, mulutnya berkata sewajarnya, tapi Ki Ping yan cukup tahu, bahwa waktu itu dia tidak mau tinggal pergi, karena dia kuatir setelah dirinya tidak lari seorang diri, jiwa mereka berdua yang bakal celaka. Berkata pula Coh Liu hiang "Sekarang aku sudah bikin Ciok koan im itu marah-marah hampir gila dalam satu atau setengah jam takkan keluar ke sini, kalau kita hendak pergi, sekaranglah saatnya yang paling baik."

"Tapi kami masih belum punya tenaga, mungkin tak kuat berjalan jauh."

Coh Liu hiang tidak segera menjawab, dia lucuti kain ikat pinggang dua gadis itu lalu berkata dengan suara berat "Terlebih dulu kau gendong Ang heng di punggungmu, diikat kencang dengan kain ini lalu ku gendong kau, tenaga untuk berdiri saja tentunya kau masih kuat bukan?"

Itulah sebuah rumah yang dibangun dari sebuah batu, sejalur sumber angin tengah mengarah keluar melalui sumber air diatas dinding batu, dua orang gadis yang telanjang, sedang mandi di bawah pancuran air sumber ini.

Wajah mereka tidak terhitung cantik tapi badan yang kekar dan montok berisi dengan dua bukit halus yang kenyal dan menjulang masih asli mengandung daya tarik yang membangkitkan napsu birahi setiap laki-laki, mereka sedang senda gurau sambil bermain air dengan cekikikan.

Sekonyong-konyong, tiga orang menerjang keluar bersama, ketiga orang ini ternyata bertumpuk, seperti karung-karung yang distapel tinggi, keadaan mereka mirip benar dengan orang sedang main akrobatik.

Keruan kedua gadis seketika kaget melongo dan terbelalak matanya, suara cekikikan mereka seketika sirap, salah satu diantaranya lekas berjongkok dengan kedua tangan berusaha menutupi dadanya, seorang yang lain tersipu-sipu meraih pakaian.

Coh Liu hiang berkata dengan tersenyum "Nona-nona tak usah kuatir, kami bertiga meski laki-laki sejati tapi kami bukan laki-laki bangor atau hidung belang, mata kamipun tidak sembarang melihat, dimana jarinya menjentik, gadis itu seketika merasa setengah badannya linu kemeng seperti tersetrom aliran listrik, pakaian yang sudah berhasil diraihnya seketika jatuh pula.

Saking malu sampai kuping gadis inipun merah mengangah seperti kepiting direbus, suaranya gemetar "Laki-laki sejati kenapa....

kenapa melarang orang pakai baju?"

"Karena Cayhe cukup tahu, bila seseorang bertelanjang, tentunya dia tidak akan berani berbohong."

"Dan lagi tentu tak enak dan malu untuk turun tangan,"

Timbrung Ki Ping yan.

Gadis itu gertak gigi, terpaksa diapun berjongkok dan menutupi dada dengan menyilangkan kedua tangannya.

Coh Liu hiang mendongak melihat cuaca katanya "Sekarang aku cuma ingin bertanya kepada nona, dimana Ciok Hujin mengurung Soh Yong yong, Li Ang siu dan Song Thian ji?"

Gadis itu melengak, tanyanya "Tiga orang? Laki-laki atau perempuan?"

Gadis itu menggigit bibir, sahutnya "hujin selamanya belum pernah menyembunyikan orang perempuan."

Seorang gadis yang lain menambahkan "Di sini seluruhnya adalah lima enam puluh saudara-saudara, tapi tiada seorangpun yang she Soh."

Coh Liu hiang mengerut alis, ujarnya berpaling ke belakang.

"Menurut pengelihatanmu apakah mereka bicara sejujurnya?"

"Didalam keadaan seperti mereka perempuan tanggung takkan berani bohong lagi."

"Kalau demikian jadi mereka benar-benar memang tidak berada disini."

Sekilas dia melirik kedua gadis itu katanya dengan menghela napas "Sedikitnya setiap hari ada sepuluh manusia yang mati kekeringan ditengah gurun pasir, nona-nona malahan enak-enak mandi disini....

ai.!"

Seiring dengan helaan napasnya yang terakhir, kembali jarinya menyentik dua kali, seketika kedua gadis telanjang ini lemas tidak bisa berkutik.

Serambi panjang ini sunyi senyap, tiada terdengar sesuatu suara, tak kelihatan ada bayangan manusia.

Dengan suara prihatin Ki Ping yan bertanya "Apa kau tahu jalan untuk keluar?.

"Waktu mereka menggotongku masuk kemari, sudah kuingat-ingat betul."

Jilid 24

"Kalau Yong ji tidak berada di sini, kenapa tidak lekas kau menyingkir dari tempat ini? Gadis-gadis ini semua berkepandaian silat yang tidak lemah, jikalau kau kebentur beberapa gadis yang berpakaian, mungkin kesulitan harus kau atasi."

"Aku memang ingin mencari seseorang,"

Tiba-tiba Setitik Merah menimbrung.

"Siapa?"

Tanya Ki Ping yan mengerut alis. Coh Liu hiang malah tersenyum ujarnya "Apakah nona Ki itu?"

Agaknya Setitik Merah menghela napas, katanya "Aku hanya merasa tidak boleh meninggalkan dia ditempat ini."

"Tapi apa kau kira dia sudi pergi bersama kita?"

Tanya Ki Ping yan.

"Mungkin tidak mau."

Sahut Setitik Merah sesaat kemudian.

"Kalau kau tahu dia takkan pergi bersama kita, untuk apa pula kau hendak mencari dia?"

Desak Ki Ping yan.

Kata Setitik Merah dengan nada berat "Tapi aku malah tahu, paling tidak dia takkan merintangi maksud kita.

Sekonyong-konyong terdengar seorang menjengek dingin "mengandalkan apa kau yakin benar bahwa aku tidak akan merintangi kau?

Kalau hanya mengandalkan keadaan kalian bertiga sekarang, jikalau mampu melarikan diri, mungkin tempat ini telah lama menjadi puing-puing.

Oh Thi hoa tidak rebah di atas gundukan pasir, napasnya sengal-sengal, mungkin sekarang dada orang yang akan dapat mengenali bahwa inilah Oh Thi hoa, mungkin dia sendiripun takkan bisa mengenali dirinya sendiri.

Dia sedang merasakan siksaan lapar, letih, haus dan kotor, tenggorokannya sudah mulai terbakar, begitu panas kering rasanya sampai hampir saja dia gila dibuatnya, seakan-akan badannya hampir meledak karena gerah.

Pipop kongcu rebah tak jauh disampingnya, keadaan putri raja ini jauh lebih mengenaskan pakaian mahal model terakhir yang dikenakannya ini sekarang sudah dedel dowel tak karuan pahanya yang putih malah tampak tergores luka berdarah yang dikotori lumpur.

Terik mata hari pelan-pelan menggeremet ke arah barat, namun suhu panasnya masih merangsang badan, menyoroti muka mereka, tidak jauh di depan sana adalah sebuah tempat berteduh yang sejuk, tapi mereka sudah tidak punya tenaga untuk merayap kesana.

Sekuat tenaga Oh Thi hoa coba membuka kedua matanya, mulutnya menggumam "Selama hidup sampai setua ini, mungkin kita takkan punya harapan untuk menemukan si Ulat busuk itu.

Pipop kongcu menimbrung "Sebetulnya kita tidak boleh menempuh perjalanan lewat jurusan ini."

Tiba-tiba terpancar sorot kemarahan dari mata Oh Thi hoa, katanya keras dan serak "Tidak salah memang kita tidak seharusnya lewat jalan ini, tapi memangnya kau harus menyalahkan kepadaku?

Bukankah kau sendiri yang mengunggulkan diri di padang pasir kau jauh lebih berguna dari aku?

Kenapa sekarang kau mirip aku, seperti anjing kelaparan rebah di sampingku tak bisa berbuat apa-apa."

Bercucuran air mata Pipop kongcu, katanya sesenggukan serak "Memangnya sebetulnya aku tidak ikut kau kemari, bikin susah kau saja, kalau tidak sekantong air itu cukup kau minum seorang diri, paling tidak masih bisa bertahan beberapa waktu lebih lama lagi."

Sesaat Oh Thi hoa terlongong, akhirnya menghela napas panjang katanya getir "Aku ini memang keparat, soal begituan mana boleh salahkan kau?

Aku ini laki-laki besar seorang gadis saja aku tidak mampu melindunginya, memangnya masih punya muka muring-muring kepadamu dalam keadaan seperti ini."

Pipop kongcu tiba-tiba menubruk ke atas badannya, tangisnya pecah semakin keras, katanya mewek-mewek "Tak bisa salahkan kau, akulah yang salah....

sekarang aku cuma ingin mati lebih baik kalau bisa segera mati!"

Pelan-pelan Oh Thi hoa mengelus rambutnya, mulut menggumam pula "Seumpama kita tidak ingin mampus, mungkin kitapun takkan bisa bertahan hidup."

Selayang pandang, pasir kuning terbentang luas tak berujung pangkal, seluruh kolong langit dan luas ini, seolah-olah tinggal mereka berdua manusia yang sedang meronta melawan maut di dunia serba kuning kering ini.

Pelan-pelan Pipop kongcu angkat kepalanya, ujung mulutnya mengulum senyum getir, katanya pula "Ternyata aku bakal mampus bersama kau, mungkin siapapun takkan pernah menduganya?"

Oh Thi hoa tiba-tiba tertawa besar, katanya "Bisa mati bersama kau, memang suatu hal yang patut dibuat girang kau...

kau sebenarnya seorang gadis rupawan yang cantik molek, kau kau....

tiba-tiba tenggorokannya seperti tersumbat sesuatu, suara tawanya yang serakpun seketika kelelap dengan pandangan napas seperti melamun, dia pandang biji matanya, katanya serak "Tapi umpama harus mampus kita harus mati dalam suasana gembira bukan?"

Agaknya badan Pipop kongcu rada gemetar suaranyapun rada ngeri "Kau...kau ingin aku...."

Sorot mata Oh Thi hoa dari biji matanya beralih ke pahanya yang terbuka, paha yang terluka dan kotor ini, masih tetap kelihatan halus panjang elok dan berisi Kala menjing di tenggorokan Oh Thi hoa naik turun menelan ludah, sorot matanya semakin membara, seolah-olah saking panas hampir saja menyela, jari-jari tangannya pelan-pelan bergerak beralih ke arah pinggangnya dengan rabaan gemetar, katanya sepatah demi sepatah.

"Aku ingin kau....aku ingin benar-benar ingin kau, kecuali kau, aku tidak tahu apa pula yang kuinginkan."

Pipop kongcu hanya bergemetaran terus tak henti-hentinya, kulit mukanya yang pucat pias tadi, kini merah membara, diulurkannya tangannya, ditariknya kain bajunya yang sobek untuk menutupi pahanya.

Tapi kain yang sudah dedel-dowel itu mana bisa menutupi sesuatu, malah gerak-geriknya ini menambah daya tarik, seperti gaya memikat, bukan saja memikat orang lain, sekaligus memikat diri sendiri.

Terasa olehnya jantungnya serasa hampir melonjak keluar dari rongga dadanya.

Manusia, memang binatang aneh yang lain dari binatang umumnya.

Nafsu birahi manusia, sering terjadi dan merangsang jiwa disaat bukan waktunya, begitulah waktu keadaan jasmani dan kondisi badan manusia dalam keadaan keletihan nafsu birahinya malah mendadak bisa merangsang lebih besar keinginannya.

Akhirnya dengan kencang Oh Thi hoa memeluknya, dibawa bayangan kematian, nafsu birahinya mendadak berkobar laksana bara yang menyala, maka dia tak kuat lagi menahan dan kendalikan diri sendiri, Pipop kongcu pejamkan mata, seolah-olah dia sudah pasrah nasib dan memang siap menerima segala akibatnya.

Suka ria dan kenikmatan menjelang ajal bukankah setiap manusia yang hampir mampuspun suka menghalalkannya?"

Pasir begitu empuk dan lembut, tapi juga terasa panas menyengat kulit.

Oh Thi hoa membalik badan menindih di atas badannya, kesedihan, kepiluan, derita dan keputus-asaan mereka, seolah-olah sudah tersapu bersih dan berkobar menjadi abu ditengah-tengah gelora nafsu birahi yang sudah memuncak ini.

Tapi pada saat itulah, Oh Thi hoa menjerit kesakitan melompat bangun, dengan kedua tangannya dia pegangi dan tutup anunya itu dengan rasa kaget dan mendelik kepada Pipop kongcu, suaranya serak "Kau....kenapa kau...

kenapa begini?

Memangnya kau tidak mau?"

Bercucuran air mata Pipop kongcu, katanya perlahan "Aku... aku mau, sebelum ajal ini aku sudah bertekad memberikan apa saja kepadamu, tapi tidak bisa tidak aku harus memberi satu hal kepadamu."

"Hal apa?"

Pipop kongcu pejamkan matanya, katanya "Baa badanku sudah tidak suci lagi, sudah kuserahkan kepada orang lain."

Terkepal kencang jari-jari Oh Thi hoa, serunya "Siapa?"

"Dia!"

Sahut Pipop kongcu tegas.

Siapakah itu dia yang dimaksudkan Pipop kongcu, memangnya Oh Thi hoa tidak tahu?

Seperti tiba-tiba diguyur segayung air dingin di atas kepalanya, seketika Oh Thi hoa berdiri menjublek tak bergerak.

Pipop kongcu tertawa pilu, katanya "Aku pun ingin merasakan punyamu, sungguh aku pun tak kuasa kendalikan diriku lagi, cuma ingin aku melakukan segalanya, mati didalam pelukanmu, tapi....

entah kenapa, aku tidak bisa mengelabuhi soal ini kepada kau."

Mendadak Oh Thi hoa mencelat berjingkrak, mulutnya menjerit "jangan katakan lagi.... jangan katakan lagi...."

Seperti orang gila dia tendang pasir kian kemari, setiap kali tendangan kakinya, mulai membarengi memaki Ulat busuk.

Pasir beterbangan memenuhi udara, seluruh badannya sudah terkurung oleh debu yang bergulung-gulung menguning itu.

Berkata Pipop kongcu dengan suara sayu "

Apa sekarang kau amat membencinya?"

"Hm.."

OH Thi hoa hanya menggeram.

"Seumpama kau amat membencinya, akupun tidak bisa salahkan kau, ada kalanya aku sendiripun membencinya.... perduli siapapun bila berada bersama dia, kemenangan dan bangga selalu hak miliknya, isi hati dan alam pikiran siapapun, cukup sekilas matanya memandang matamu, dia sudah bisa tahu dengan jelas, sebaliknya bagaimana jalan pikirannya, selamanya tiada orang lain yang bisa menyelaminya."

Mendadak Oh Thi hoa menghentikan katanya mengawasinya "kau kira bila kami berada bersama dia selalu dipihak yang rugi?"

"Em..!"

Pipop kongcu bersuara dalam tenggorokan.

"Tapi dengan senang hati dan sukarela kami berada bersama dia, hakekatnya dia tidak pernah paksa kita, kau tahu?"

"Em..!"

Tertunduk kepala Pipop kongcu.

Mendadak Oh Thi hoa tertawa besar, katanya "Bicara pulang pergi, kami berdua boleh terhitung punya penyakit sama yang harus saling menaruh belas kasihan, mesti sama-sama membencinya, tapi tak sama-sama menyukainya pula."

Pipop kongcu menghela napas, katanya "Adakalanya aku sendiri jadi kebingungan dan tidak tahu lantaran apa."

"Karena Ulat busuk memang pantas disukai oleh siapa saja, benar tidak?"

Sesaat Pipop kongcu menepekur akhirnya dia pun tertawa berseri, katanya "Memang kau tidak malu dan tidak dirugikan menjadi sahabat baiknya..."

Mendadak ia hentikan kata-katanya dengan mendelong ia awasi Oh Thi hoa sorot matanya lama kelamaan berubah kaget takut dan seram, meski mulut sudah terbuka, tapi tidak mampu mengeluarkan suara.

Oh Thi hoa tertawa, katanya "Kau lihat apa?

Memangnya kepalaku mendadak berubah jadi dua?"

Segera ia ulur tangannya untuk meraba kepalanya, seketika mulutnya pun melongo matapun terbelalak, sorot matanyapun diliputi rasa kejut dan ketakutan dengan melotot diawasi kedua tangannya, mulutpun terbuka tidak bisa bersuara.

Ternyata kedua telapak tangannya sudah berlepotan darah segar.

Darah ternyata membasahi seluruh kepalanya.

Tapi batok kepala Oh Thi hoa tidak terluka tidak pecah, tidak terasa sakit, lalu darimana datangnya darah?

Lekas Oh Thi hoa menengadah, udara nan gelap diliputi debu kuning itu dilihatnya dua titik bayangan hitam sedang terbang melayang berputar-putar, malah semakin melayang semakin rendah, agaknya sebentar lagi bakal terjatuh.

Darah tak perlu disangsikan lagi pasti jatuh dari badan dua ekor elang yang sedang berputar-putar diangkasa itu.

Terang bahwa elang ini sudah terluka, jikalau perasaan Oh Thi hoa tidak beku karena derita yang dialami sekarang ini, sejak tadi seharusnya dia sudah tahu dan merasakan.

Heran Pipop kongcu dibuatnya, katanya "Darimana datangnya elang tadi?

Kenapa pula bisa terluka Memangnya tak jauh dari sini ada orang?"

Pada kata-kata terakhir, rasa herannya berubah jadi gembira asal ada orang kemari, maka mereka punya setitik harapan untuk hidup.

Tapi raut muka Oh Thi hoa sebaliknya makin kaku prihatin tiba-tiba dia teringat elang-elang yang menggondol barang mestika yang dibawa oleh para Piausu-piausu yang gila dan akhirnya roboh mati karena keletihan itu.

Elang-elang di padang pasir ini, terang sekali adalah budak-budak Ciok koan im.

Maka terdengarlah suara "Bluk, bagai meteor jatuh, seekor elang tiba-tiba meluncur jatuh tak jauh di depannya.

Lekas Oh Thi hoa memburu maju dan menjemputnya, bulu-bulu lembut bagian perut elang yang putih itu sudah berlepotan darah, perutnya pun sudah terbelah, itulah luka-luka bekas tusukan pedang.

Agaknya diwaktu elang ini menubruk hendak menyerang kepada seseorang, maka dia terluka oleh tebasan pedang orang itu.

Oh Thi hoa mengerut kening mulutnya menggumam "Ilmu pedang yang cepat sekali."

Kembali terbetik sinar harapan pada sorot mata Pipop kongcu katanya "Apakah dia yang bakal datang?"

"Bukan, jikalau dia yang turun tangan ke dua elang ini pasti tak bisa terbang begini jauh, apa lagi, meski hanya seekor binatang diapun tidak akan membunuhnya."

Waktu itulah elang yang lainnya itupun melayang jatuh, luka-luka yang membuat ajalnyapun sama tebasan pedang yang membelah perutnya.

"Jadi, mungkin tidak salah seorang teman kalian yang lain itu?"

Tanya Pipop kongcu pula.

"Oh Thi hoa geleng-geleng kepala, sahutnya "juga bukan, Ki Ping yan selamanya tidak pernah menggunakan pedang!"

Mendadak dia tertawa sendiri, katanya "Bagaimana juga, kedatangan kedua ekor elang ini tepat pada waktunya."

Belum lagi Pipop kongcu menyadari makna dari ucapannya, tahu-tahu dilihatnya Oh Thi hoa menyodorkan seekor elang kepadanya, katanya "Makan sekenyangmu!"

"Makan elang mentah?"

Teriak Pipop kongcu terkejut.

"Mana bisa dimakan mentah-mentah begini?"

Oh Thi hoa mendelik "Jikalau kau tidak ingin mati, kan harus memakannya, betapa banyak kau bisa makan, gareslah sekuatmu, lebih banyak lebih baik, tahu tidak?"

Bagi orang-orang yang suka gegares berbagai makanan daging binatang bersayap, aging elang adalah daging yang paling besar dan liar, seumpama kau godok sampai masakpun belum tentu dapat kau kunyah sampai lembut, apalagi digares secara mentah-mentah.

Dengan kerahkan sisa tenaganya Pipop kongcu mengiris secuil daging terus dijejalkan ke dalam mulut seperti dia menelan pil obat yang pahit, dengan mengerut kening dia mengunyah sekuat-kuatnya, beberapa kali sudah hampir tak tahan hendak memuntahkannya.

Oh Thi hoa segera memberi tahu kepadanya "Dengan cara makanmu ini selamanya kau tidak akan bisa memulihkan tenagamu.

Tirulah cara makan seperti aku, coba lihat...."

Dia mengiris segumpal daging elang yang masih berlepotan darah dijejalkan ke mulut dan terus ditelannya bulat-bulat.

Jangan toh melihat melirikpun Pipop kongcu merasa jijik "Aku...

aku tidak bisa makan dengan cara itu, aku tak bisa makan...

tiada selera."

Walaupun daging elang kasar dan liat, meski darah elang amis dan memualkan, tapi bagi seorang yang sudah kekeringan menjelang ajal, sungguh jauh lebih berharga, nikmat dan menyegarkan dari segala makanan lezat atau obat-obatan penguat badan.

Setelah habis melahap seekor elang yang cukup besar itu, lambat laun muka Oh Thi hoa sudah mulai merah, dengan demikian pula Pipop kongcu sudah kuasa menghela napas pelan.

Pada saat itulah didalam keheningan padang pasir yang lelap ini, sekonyong-konyong terdengar jeritan menyayat hati dari gundukan pasir dibalik sana.

Sedikit berubah muka Oh Thi hoa, katanya dengan suara berat "Kau tunggu aku di sini biar kutengok kesana."

"Tidak aku juga mau ikut kesana."

"Baiklah, marilah ...... agaknya kecuali Ulat busuk itu, tiada orang lain yang kuasa mengurusi dirimu ... tapi kau harus berhati-hati. Dibalik gundukan pasir sebelah sana tampak sinar golok berkelebat, cahaya pedang seliweran saling sambar. Darah segar sudah berceceran diatas pasir kuning, beberapa mayat orang sudah malang melintang tak bergerak, tapi masih ada puluhan laki-laki seragam hitam yang sedang mengepung dan mengeroyok dua orang yang sedang melawan mati-matian. Akan tetapi dua orang yang terkepung itu memiliki kepandaian silat yang jauh lebih tinggi, permainan ilmu golok lawannya cukup hebat dan ganas, lebih menakutkan lagi, karena orang ini menampilkan napsu membunuh yang begitu tebal, agaknya mereka sudah kerasukan setan, ingin rasanya memecah hancur badan kedua musuhnya ini menjadi berkeping-keping."

Bahwa para laki-laki serangan hitam yang mengepung itu sudah beringas dan nekad untuk mengadu jiwa, namun kedua musuh mereka pun masih teramat lihai, sinar pedang laksana bianglala memanjang menggubat dan menabas pergi datang seperti menari-nari di udara merangsak kian kemari, jelas sekali ilmu pedang hebat ini adalah ajaran murni dari golongan Hoa san pai yang terkenal dan disegani di daerah pedalaman.

Cuma sayang tenaga mereka kelihatannya sudah mulai terkuras dan lemah, sebaliknya jumlah lawan-lawan mengeroyoknya terlalu banyak, kalau pertempuran dilanjutkan terus seperti ini, umpama tidak sampai terbacok mampus merekapun akan mati keletihan.

Pipop kongcu dan Oh Thi hoa sembunyi dibalik pasir, tiba menjerit kaget "Kau lihat itu...

bukankah dia itu tukang kuda kalian?"

Sudah tentu Oh Thi hoa juga melihat bahwa salah satu dari kedua orang yang terkepung ditengah, bukan lain adalah Ciok Tho, tampak gerakgeriknya mulai lamban dan serangannya pun rada kaku.

Seorang yang lainnya sebaliknya memainkan pedang yang lincah enteng dan jelas dia bukan lain adalah tokoh tersembunyi ahli pedang Ong Tiong yang jejaknya serba misterius, orang mengejar jejak Ciok Tho lantas ikut menghilang.

Sementara laki-laki seragam hitam yang mengeroyok mereka itu, jelas adalah anak buah Ciok koan im.

Sekian lama Oh Thi hoa perhatikan dengan seksama, akhirnya dia tidak sabar lagi, katanya "Kali ini, kau harus dengar kata-kataku dan tunggu aku di sini."

Pipop kongcu menggigit bibir, sahutnya "Tapi kalau ada orang lari kemari, aku tidak akan berpeluk tangan saja lho?"

Oh Thi hoa manggut-manggut dengan tertawa, mendadak dia menghardik bagai geledek, badannya meluncur terbang menubruk ke tengah gelanggang.

Laki-laki seragam itu sudah bertempur setengah harian dengan semangat menyala dan berani mati, tidak sedikit diantara mereka yang sudah terluka dan menemui ajalnya sesudah sekian lamanya baru mereka pelan-pelan mendesak kedua musuhnya di bawah angin, jelas sebentar lagi merasa bakal berhasil membacok hancur dua orang yang sudah mereka kejar-kejar beberapa hari lamanya ini.

Siapa tahu, pada saat-saat yang hampir menentukan ini mendadak terdengar bentakan laksana guntur menggelegar, seorang seperti terjun dari tengah udara laksana panglima langit, tahu-tahu menggencet batok kepala seorang laki-laki, berbareng sebelah kakinya menendang, sehingga laki-laki kekar itu terpental terbang tiga tombak, kembali kepalanya menjotos, dia pukul rontok seluruh gigi yang depan seorang laki-laki yang lain.

Sementara batok kepala laki-laki yang pertama yang diserangnya tadi sudah gepeng.

Dalam bergebrak menggerakkan tangan mengayunkan kaki ini, sekaligus dia sudah merobohkan tiga orang.

Begini gagah perwira dan perkasa, sungguh menciutkan nyali dan menggetarkan sukma.

Sudah tentu para lakilaki seragam hitam yang sedang bernapsu hendak merajang kedua musuhnya ini kaget dan tersiak mundur berpencar.

Di sebelah sana Ciok Tho dan Ong Tiong berdua seketika bergetar kaget dan terbangkit semangat mereka, dua bilah pedang bersilang ke depan, dimana sinar golok berkelebat, dua laki-laki seketika roboh dengan kepala kutung.

Oh Thi hoa segera membentak memperingatkan "Orang she Oh tidak suka membunuh yang tidak berdosa, asal kalian mau meletakkan golok aku pasti tidak akan melukai kalian."

Tak nyana semua laki-laki itu seperti sudah gila, dengan mata membara, mereka menubruk maju pula dengan kalap serta menyerang membabi buta.

Pedang ditangan Ong Tiongpun dikembangkan, bentaknya "Orang-orang ini sudah hilang kesadarannya, semua tidak terkontrol dan tidak bisa ditundukkan, kecuali membunuhnya seluruhnya."

Oh Thi hoa menghela napas, dilihatnya dua batang golok bagai angin puyuh membela datang, biji mata kedua laki-laki ini sudah merah, keadaan mereka tak ubahnya seperti dua ekor anjing yang benar-benar sudah gila.

Sedikit memiringkan badan, badan Oh Thi hoa tiba-tiba berkelebat lewat diantara sela-sela samberan sinar golok, berbareng sikut kiri menyodok keluar, sekaligus tangan kanan menyanggah ke atas, entah bagaimana golok ditangan laki-laki sebelah kanan tahu-tahu sudah terampas olehnya "krak"

Disusul suara suatu benda keras pecah retak, ternyata seluruh tulangtulang iga laki-laki sebelah kiri remuk disodok oleh sikutnya.

Tapi setelah terpental mundur beberapa langkah, mendadak dia menerjang maju pula dengan menggempur kalap "Buat apa kau senekat ini?"

Ujar Oh Thi hoa menghela napas.

Belum sehabis kata-katanya dua orang susul menyusul sudah roboh terkapar mandi darah.

Dari kejauhan Pipop kongcu menonton pertempuran sengit yang seram ini, tampak semua laki-laki seragam hitam itu tubruk sana terjang sini, yang satu roboh yang lain menggantikan, sambung menyambung maju menerjang, meski tahu bahwa mereka hanya mengantar kematian, namun sedikitpun mereka tidak gentar, ternyata tiada satupun yang melarikan diri.

Tak tahan diapun menghela napas, ujarnya "Kalau dalam negeri kita punya pahlawan-pahlawan segagah dan seberani ini, masakah kita sampai menderita begini mengenaskan seperti ini."

Memang tanpa disadarinya bahwa semua laki-laki ini sudah rela menjual jiwanya untuk kepentingan Ciok koan im, bahwasanya mereka tidak ubahnya seperti mayat-mayat hidup yang tinggal menunggu ajal belaka.

Pertempuran berdarah sesengit itu akhirnya berakhir juga, pasir kuning jadi merah oleh banjirnya darah, mayat bergelimpangan dimana-mana.

Kedua tangan Ciok Tho memegangi pedang napasnya tersengal-sengal, namun kulit mukanya masih tetap kaku seperti batu-batu keramik yang kasar itu, Ong Tiong segera maju menghampiri menjura kepada Oh Thi hoa, katanya setelah menarik napas "Budi besarmu ini tak berani aku mengucapkan terima kasih yang berkelebihan.

Tanpa bantuan Tayhiap, hari ini kami bersaudara terang akan mampus disini tanpa ada liang kubur."

Oh Thi hoa memandangnya, lalu memandang Ciok Tho pula, tanyanya heran.

"Kalian bersaudara?"

"Meski bukan sedarah daging, persaudaraan kita laksana kakak adik kandung sendiri,"

Sahut Ong Tiong. Oh Thi hoa heran bertanya pula "Kalau demikian jadi kalian sudah lama berkenalan?"

Ong Tiong menghela napas katanya "Cayhe menjelajah dunia, tujuannya adalah untuk mencarinya, kalau dihitung-hitung..... sudah hampir dua puluh tahun."

Dengan tajam Oh Thi hoa awasi pedang di tangannya itu, tiba-tiba berkata pula dengan tertawa "Selama dua puluh tahun ini jarang kulihat ilmu pedang Hoa san pai kalian yang betul-betul murni di kalangan Kang Ouw, jurus Kiong hong koan jit yang tuan lancarkan tadi sungguh dapat menggetarkan dunia dan dapat menjagoi Bulim!"

Sedikit berubah air muka Ong Tiong katanya sambil unjuk tawa dipaksakan "Oh Thay hiap terlalu memuji!"

Dengan mata berkilat Oh Thi hoa menatapnya "Menurut apa yang Cayhe ketahui, meski pada pihak Hoa san kalian jaya dahulu, yang betul-betul bisa melancarkan jurus King hong boan jit sebaik tadi, dan tidak lebih hanya beberapa orang yang bisa dihitung dengan jari, sebaliknya diantara tokohtokoh kosen ahli pedang dari pihak Hoa san pai kalau terang tiada seorang yang bernama Ong Tiong.

Sekarang tentunya tuan sudi memberi tahu nama asli tuan yang sebenarnya?"

Ong Tiong gelagapan katanya "Cayhe tidak lebih hanya seorang keroco saja dikalangan Kang ouw, buat apa tuan...?"

Oh Thi hoa segera menukas dengan tertawa besar "Sampai detik ini, masalah tuan masih tidak mau menerangkan asal usulmu sendiri terhadapku?

Ketahuilah nama seseorang meski dapat mengelabuhi orang lain, tapi permainan ilmu pedangnya takkan bisa mengelabuhi pandangan seorang ahli."

Lama Ong Tiong berdiam diri, akhirnya menarik napas panjang, katanya tertawa getir "Jiwa Cayhe berkat pertolongan Tayhiap, sebetulnya aku pun tidak berani memperkenalkan diri dengan nama palsu, sebentar dia merandek lalu melanjutkan "Bicara terus terang.

Cayhe she Liu bernama Yan hwi."

"Liu Yan hwi!"

Oh Thi hoa menjerit tertahan!"

Jadi kaulah murid penutup dari Hoa san pai Ciangbun yang terakhir dulu, di luar Hoa san chit kiam, Sie liong siau kiam khek yang paling ternama dan paling disegani itu?"

Liu Yan hwi tertawa rawan, katany "Sang waktu menyiksa orang, anak muda yang gagah berani dulu sekarang sudah menjadi kakek tua yang berjenggot memutih."

Berkilat dan jelalatan biji mata Oh Thi hoa, sekilas ia mengerling kepada Ciok Tho, tanyanya "Kalau tuan ternyat aadalah Liu Tayhiap, dia...?"

Agaknya Liu Yan hwi sudah ambil keputusan dan bertekad, katanay sepatah demi sekata "Dia adalah Toa suhengku Hongbu Ko."

"Jadi dia inilah tetua dari Hoa san chit kiam?"

Seru Oh Thi hoa tersirap darahnya.

"Jiwa kependekaran tersebar luas disegani di seluruh dunia kaum Bulim di seluruh jagat sama segan dan menghormatinya sebagai Jinggi kiam khek? Pendekar pedang bijaksana dan setia kawan?"

"Ya, memang dialah adanya."

Ong Tiong membenarkan.

Kembali Oh Thi melirik kepada Ciok Tho, Tampak sorot matanya kosong hambar menatap lempang ke depan nan jauh di sana, keadaannya tetap seperti semula seolah-olah apapun ia tidak mendengar dan tidak melihat pendekar pedang yang gagah dan disegani pada masa jayanya dulu, bagaimana pula terjadinya sampai berubah demikian rupa?

Tak terasa Oh Thi hoa merasa kasihan dan prihatin, tak tahan ia berkata "Sebetulnya bermusuhan apa adanya antara Ciok koan im dengan Hongbu Tayhiap?

Tega hati dia menyiksanya sampai demikian rupa?"

"Seluk beluk persoalan ini amat panjang dan berbelit-belit"

Ujar Liu Yan hwi.

"Bukan saja Hongbu Toako dibikin cacad demikian rupa seluruh Hoa san pai kitapun hancur luluh di... ditangan iblis laknat itu."

"Sekarang terhitung dan sudah berhasil menemukan dia apa pula yang kau inginkan?"

Tanya Oh Thi hoa sesaat kemudian. Liu Yan Hwi tertunduk, sahutnya tergagap "Aku...aku..."

Suaranya tersendat didalam tenggorokan, air mata sudah berkaca-kaca di kelopak matanya. Mendadak Oh Thi hoa genggam tangannya, katanya keras "Masakah tidak ingin menuntut balas?"

"Menuntut balas.... menuntut balas...."

Dengan terlongong Liu Yan hwi kemak kemik "Entah berapa kali sudah mulutnya mengulangi kedua katanya ini, air mata akhirnya menetes membasahi pipinya, mendadak dia kipatkan tangan Oh Thi hoa dengan keras, katanya dengan suara serak "Tahukan kau kenapa Hengbu Toako ku rela merendah diri menjadi kawan binatang?"

"Akupun sudah melihatnya, tentu dia punya suatu derita dan pengalaman yang tak sudi diketahui orang lain."

"Dia menyembunyikan nama mengasingkan diri, terima dihina dan hidup menderita, lantaran dia tidak mau menuntut balas."

Oh Thi hoa melengak, tanyanya "Kenapa?"

"Karena dia cukup jelas hanya mengandalkan tenaga dan kemampuan kita segelintir manusia ini, tak bedanya seperti telur membentur batu dia tidak rela aliran Hoa san pai kita putus turunan begini saja, diapun takkan tega para anak murid Hoa san pai satu persatu menjadi korban kekejaman musuh."

Pipop kongcu segera maju mendebat, timbrungnya tiba-tiba "Apakah anak murid Hoa san pay kalian ada juga yang masih hidup?"

"Yang ketinggalan hidup tidak banyak jumlahnya."

Sahut Liu Yan hwi.

"O, jadi masih ada beberapa gelintir yang masih hidup, kukira malah sudah mampus seluruhnya."

Jengek Pipop kongcu.

"Kau..."

Berubah air muka Liu Yan hwi.

Namun Pipop kongcu tidak beri kesempatan dia bicara, katanya dingin lebih lanjut "Dulu Hoa san chit kiam malang melintang di Kang ouw, betapa besar ketenaran nama kalian, setiap menyinggung nama Hoa san pai siapa yang takkan mundur dan mengalah, sampaipun rakyat kerdil di negeri asing seperti aku inipun sudah lama kagum dan merasa iri akan kejayaan Hoa san pay masa dulu, tapi sekarang..."

Dia geleng-geleng kepala, lalu meneruskan menghela napas "Tapi sekarang boleh dikata tidak seorangpun kaum Bulim yang masih ingat nama Hoa san pai, sudah lupa bahwa di Bulim pernah bercokol dengan angkernya sebuah Hoa san pai, seumpama anak murid Hoa san pai masih tetap hidup sebanyak mungkin, apa pula bedanya kalau mereka sudah mampus seluruhnya?"

Seperti kepalanya dikemplang dengan godam, Liu Yan hwi tersurut mundur selangkah dengan mata beringas kulit mukanya gemetar, keringat membasahi seluruh kepalanya.

Berkata pula Pipop kongcu "Seorang laki-laki sejati sebagai kesatria, dari pada hidup memeluk bangkai lebih baik gugur sebagai pahlawan, coba katakan benar tidak?"

Liu Yan hwi banting kaki, katanya sember "Liu Yan hwi kau kira takut mati, tapi mati harus mati dengan berharga, jikalau hanya mengorbankan jiwa secara konyol..."

"Kau sendiri beranggapan bahwa bukan tandingan Ciok koan im?"

Tukas Pipop kongcu.

"Dalam kolong langit ini, orang-orang yang benar-benar dapat melawannya sampai setanding mungkin tidak banyak jumlahnya."

"Asal kau bisa ajak kami menemukan Ciok koan im, kami tidak segan-segan berkorban demi kalian, tapi kalau toh kalian... kalian tidak berani, ya apa boleh buat."

Demikian olok-olok Pipop kongcu secara halus sambil membakar hatinya.

Berubah rona muka Liu Yan hwi, mendadak ia kertak gigi terus ia putar badan memburu ke arah Hongbu Ko, dia berlutut di hadapan orang sambil menarik tangan orang.

Tampak dengan air mata bercucuran pilu, jarijarinya tak henti-hentinya mencoret-coret di telapak tangan Hong bu Ko, sesaat kemudian Hong bu Ko seperti gusar, mendadak kakinya melayang ia tendang Liu Yan hwi terguling-guling.

Tapi Liu Yan hwei segera bangkit dan mendadak ke depan kakinya pula, tampak sekujur badan Hongbu Ko gemetar seperti orang bergidik kedinginan, dua titik air mata meleleh keluar dari sepasang matanya yang kosong hampa itu.

Sekian lamanya pula, baru terlihat Liu Yan hwei melompat bangun, katanya serak "Apa benar kalian suka menemani kami bersaudara pergi mencari Ciok koan im?"

"Sudah tentu benar!"

Oh Thi hoa memberi janjinya dengan tegas.

"Meski kita pergi dan takkan kembali dengan hidup, kalian tidak gentar?"

Tanya Liu Yan hwi menegas.

"Memang kau kira aku orang she Oh ini laki-laki yang takut mati?"

Seru Oh Thi hoa dengan lantang. Liu Yan hwi menarik napas sedalam-dalamnya, katanya bersemangat "Baik, kalau demikian marilah kalian ikut kami."

Puncak-puncak batu seperti berlomba menjulang ke angkasa, barisan batu ini laksana tak berujung pangkal ditengah-tengah gurun pasir nan indah.

Sampai di sini kaki tangan Hongbu Ko seolah-olah mulai dingin dan gemetar.

Oh Thi hoa layangkan pandangan sekelilingnya, katanya takjub "Suatu daerah yang amat berbahaya, mungkinkah kita sudah tiba diambang pintu akherat.

"Bukan diambang pintu neraka, di sini juga sudah termasuk akherat."

Ujar Liu Yang hwi.

"Diantara hutan hutan batu ini, terdapat sebuah lembah yang letaknya amat tersembunyi disanalah Ciok koan im bersemayam, disanalah Hongbu Toako mengalami derita dan siksaan yang kejam yang tak mungkin bisa dialami oleh manusia siapapun. Memancarkan cahaya berkilat biji mata Oh Thi hoa, jari-jarinya terkepal kencang, katanya lantang "Kini tibalah saatnya dia menuntut balas, marilah kita terjang ke dalam!"

"Tapi diantara sela-sela puncak batu itu, jalan berbelit-belit dan berlikuliku, setiap langkah mengandung banyak perubahan yang berbeda-beda dan tak bisa diteliti, jikalau begini saja kita menerjang masuk secara membabi buta, mungkin selamanya takkan bisa masuk ke lembah sesat itu sampai jiwa kita ajal, demikian kata Liu Yan hwi. Pipop kongcu jadi gelisah, katanya "Lalu .... lalu bagaimana?"

"Terpaksa harus tunggu sampai hari menjadi gelap, bila arah angin sudah berubah!"

Tak tahan bertanya pula Pipop kongcu "Kenapa harus menunggu sampai malam disaat arah angin berubah?"

"Bahwa mata kuping Hong bu Toako sudah cacat, maka belakangan Ciok koan im memandangnya sebagai mayat hidup layaknya sedikitpun tidak menjaga dirinya dan membiarkan gerak-geriknya, siapa tahu setelah dia biasa keluar masuk selat yang membingungkan ini mengandalkan panca inderanya yang ke enam, segala gerak perubahan dari jalanan yang menyesatkan didalam hutan batu ini sudah dia hapalkan dengan baik sekali."

"Oleh karena itu maka dia berhasil menggeremet keluar?"

Tanya Pipop kongcu.

"Ya, begitulah."

Sahut Liu Yan hwi.

"Lalu, apa pula hubungannya dengan perubahan angin itu?"

"Bagi seorang tuna-netra yang tuli dan bisa lagi, untuk menemukan arah langkahnya bukan suatu hal yang ringan, tapi dia perlu mendapat bantuan berbagai unsur yang punya ikatan erat dengan kondisi badannya, sudah tentu perubahan angin adalah satu diantara sekian unsur-unsur yang menentukan itu."

"Aku paham sekarang, ujar Pipop kongcu.

"Jadi malam dimana dia berhasil melarikan diri itu, arah anginnya berbeda dengan sekarang kuatir bekerjanya panca indra ke enamnya rada meleset, kemungkinan besar bisa salah menentukan arah, betul?"

"Betul, asal selangkah kau salah menggerakkan kakimu didalam selat yang membingungkan itu, maka saat itu pula ajalmu bakal ditentukan oleh langkah-langkahmu selanjutnya. Oh Thi hoa mendongak melihat cuaca, katanya gelisah "Sampai kapan kita harus menunggu baru angin setan ini berubah arah?"

"Di tengah-tengah gurun pasir, sering terjadi hembusan arah angin disiang hari dan malam hari berbeda."

"Kalau dia justru tidak mau berubah bagai mana?"

Oh Thi hoa rada sangsi.

"Kalau tidak berubah terpaksa kita harus menunggu dia berubah."

Untunglah nasib mereka cukup baik, menjelang malam arah angin tiba-tiba berubah dari arah semula yang menuju ke tenggara tiba-tiba berubah ke arah barat laut maka hawa dingin segera bergulung-gulung menerjang tiba ke arah barat laut.

Dengan ujung pedang sebagai tongkat menutul pasir Hongbu Ko berjalan di depan membuka jalan.

Setiap langkahnya amat berhati-hati dan lambat, seolah-olah kuatir sekali kakinya salah langkah, selamanya bakal kejeblos ke dalam neraka yang tak tertolong lagi jiwanya.

Tapi kejap lain, mereka toh beriring sudah memasuki hutan-hutan batu itu.

Malam gelap gulita tiada rembulan tiada bintang, jagat raya sedemikian gelapnya seperti didalam peti mati, sampai kelima jari sendiripun tidak kelihatan.

Hampir dikata apapun tak terlihat oleh ketajaman mata Oh Thi hoa yang sudah terlatih ini, hatinya berdetak tegang sampai serasa sesak napasnya.

Tapi dia cukup tahu, semakin gelap, malah semakin menguntungkan bagi Hongbu Ko, karena didalam keadaan yang gelap ini, orang yang punya mata malah jauh lebih tidak leluasa dari seorang picak.

Langkah Hongbu Ko teramat lambat, setiap langkahnya menghabiskan beberapa lamanya, tapi dia terus maju tak berhenti, gerak-geriknya laksana seekor kucing yang sedang merunduk mangsanya, boleh dikata hampir tak pernah mengeluarkan sedikitpun suara bahwasanya kala itu angin badai membawa damparan pasir bersuit-suit amat ributnya, umpama langkah-langkah mereka bersuarapun takkan bisa terdengar orang lain.

Tapi kalau ada orang mendatangi mengeluarkan suara berisik umpamanya, mereka tidak akan tahu.

Cuma Hongbu Ko satu-satunya, dia tidak perlu mendengar namun dia dapat merasakan.

Dan pada itulah, seolah-olah dia mendapat suatu firasat jelek, suatu perubahan yang menimbulkan kewaspadaannya.

Sigap sekali tiba-tiba dia membalik badannya terus mendekam menempel dinding batu, dalam keadaan dan saat seperti ini, terpaksa orang-orang lain sama meniru perbuatannya, serempak merekapun mendekam menempel dinding batu, bersiaga dengan tegang.

Dengan kencang Oh Thi hoa genggam golok berpunggung besar yang berhasil dia rampas dari satu musuh tadi, diam-diam dia menggeremet baju ke depan Hongbu Ko, dia pepetkan badannya ke dinding batu pula, dengan tegang dan sabar dia menunggu segala perubahan dengan menahan napas.

Malam nan gulita ini diliputi ketegangan dan napsu membunuh yang mulai memuncak.

Seperti seekor serigala buas dan kelaparan yang sedang menunggu mangsanya muncul untuk diterkam dilalapnya.

Sesaat kemudian, betul juga dari balik celah-celah batu di sebelah samping depan sana, sayup-sayup didengarkannya dengus napas orang, saking tegang telapak tangan yang menggenggam erat gagah golok sampai berkeringat.

Dengus napas itu semakin jelas dan semakin dekat.

Laksana kilat menyambar golok Oh Thi hoa berayun membacok, boleh dikata dia sudah kerahkan setaker tenaganya untuk melancarkan bacokannya ini, bukan saja cepat serangan inipun ganas, mungkin jarang orang yang bisa terhindar dari bacokan yang hebat ini.

Apa lagi ditengah malam buta rata.

Memangnya dia sengaja hendak membelah batok kepala orang menjadi dua.

Tapi mimpipun dia tidak menduga, memang selamanya dia tidak akan mengira, bahwa orang yang dia serang ini adalah Coh Liu hiang.

Sebetulnya belum tentu Coh Liu hiang bisa sampai ditempat itu.

Untunglah pada detik-detik berbahaya itu mereka tidak sampai kepergok oleh Ciok koan im, juga tidak sampai konangan murid-murid Ciok koan im tapi cuma bersua dengan Ki Bu yong.

"....hanya mengandalkan tenaga kalian bertiga begini saja, sudah lantas hendak lolos dari sini?"

Kata-kata ini ternyata diucapkan oleh Ki Bu yong.

Seluruh badannya serba putih laksana salju.

Tangannya yang kutung digendong dengan kain sutra berwarna putih pula, demikian pula kepala sampai mukanya dikerudungi kain putih juga, sehingga orang hanya bisa melihat potongan badannya yang semampai dan ramping, takkan terbayang pula akan keburukan wajahnya yang menggiriskan itu.

Coh Liu hiang, Ki Ping yan dan Setitik Merah bertiga sama membelalakkan mata mengawasinya siapapun tiada yang berani bertingkah dan bicara lagi, siapapun tiada yang tahu apa yang hendak orang lakukan.

Asal dia berteriak memanggil saudara-saudaranya, mereka bertiga takkan mungkin bisa lolos lagi.

Di luar dugaan Ki Bu yong hanya berdiri diam mengawasi mereka tanpa bersuara.

"Apa yang kukatakan, kau sudah dengar?"

Mendadak Setitik Merah berkata.

"Huh! Ki Bu yong bersuara dari hidung.

"Kau ikut pergi tidak?"

Tanya Setitik Merah pula. Ki Bu yong tertawa dingin, ejeknya "Kau sudah tahu bahwa kalian tidak akan mampu lari sendiri, kau ingin aku ikut menunjuk jalan?"

Sekian lama Setitik Merah menatapnya lekat-lekat, mendadak dia terloroh-loroh dengan mendongak.

Seorang laki-laki yang selama bertahuntahun yang tak pernah kelihatan senyum tawanya, ternyata tiba-tiba bisa tertawa besar sebetulnya suatu kejadian yang amat mengejutkan orang, cuma sayang loroh tawanya itu bukan saatnya yang tepat.

Jikalau gelak tawanya sampai mengejutkan Ciok koan im, maka tiga jiwa manusia bakal menjadi imbalan loroh tawanya ini.

Ki Ping yan gusar, semprotnya "Apa kau hendak menyatakan isi hatimu kepadanya dengan kematianmu?

Tapi kamu tidak perlu demikian, perduli apapun yang dia pikirkan demi kita, perduli bagaimana pandangannya tentang kita aku tak perlu ambil dihati."

Segera Setitik Merah menghentikan tawanya katanya tegas "Baik, kalian boleh pergi! Aku tinggal di sini."

Menggunakan sisa tenaganya yang sudah lemah itu, ia meronta dan mendorong ke depan sekuatnya, membebaskan diri dari lipatan kain pinggang itu terus menggelundung jatuh dari punggung Ki Ping yan.

"Kau.... kenapa kau berbuat demikian?"

Coh Liu hiang kaget dan haru.

"Tanpa aku bebanmu lebih ringan, harapanpun lebih besar."

Sahut Setitik Merah. Coh Liu hiang membanting kaki, katanya "Tapi mana mungkin aku meninggalkan kau di sini demikian saja?"

Selama hidup belum pernah aku anggap jiwa itu berharga, sembarang waktu aku sudah siap untuk mati, ujar Setitik Merah tawar.

Sampai di sini dia tidak banyak berkata lagi, tapi sikapnya itu tegas dan tandas, seolaholah dia mau berkata kepada Ki Bu yong "Sekali kali tidak bakal karena ingin hidup lantas aku menipu kan, jikalau kau berpikiran secepat ini bukan saja terlalu memandang rendah aku, juga memandang rendah dirimu sendiri."

Kain kerudung dibagian depan mata dan hidung Ki Bu yong kelihatannya basah.

Gadis berhati kaku dan dingin seperti dia, memangnya juga bisa menangis dan mengalirkan air mata tiba-tiba dia merogoh keluar sebuah botol kecil terus dilempar ke arah Coh Liu hiang katanya serak sambil berpaling muka "Inilah obat pemunahnya, lekas kalian pergi."

Coh Liu hiang malah menghela napas, ujarnya "Baru sekarang nona suruh kami berlalu, sudah terlambat."

"Kenapa terlambat?"

Tanya Ki Bu yong tak mengerti.

Watak Ang heng aku cukup menyelaminya, kalau dia sudah mengatakan tinggal di sini, jelas takkan mau pergi, kalau dia tidak mau pergi, masakah kami berdua harus pergi begitu saja?"

"Dia... apa lagi yang dia inginkan?"

Coh Liu hiang mengelus hidung, katanya "Dia sudah menyatakan hatinya, kalau nona sudi mempercayai dia, marilah kau ikut kami, jikalau dia sudah tahu bila nona sedikitpun tidak menaruh curiga pula kepada kami, tentu diapun mau pergi.!"

"Aku.... aku tak bisa pergi."

Bukan saja suaranya gemetar, badannyapun bergidik merinding.

"Apa pula yang patut nona kenang dan berarti di sini?"

Tanya Coh Liu hiang. Ki Bu yong tidak menjawab, agaknya dia sudah tak mampu bicara lagi. Pada saat itulah mendadak terdengar seorang membentak "Kalian berempat, satupun jangan harap bisa lolos!"

Seorang gadis berpakaian serba ungu entah kapan ternyata sudah berdiri serambi sana sedang mengawasi mereka dengan mata melotot.

Betapapun tabah ketenangan Coh Liu hiang dan Ki Ping yan, tak urung berubah air mata mereka.

"Sumoay, kau...."

Ki Bu yong pun berteriak kaget.

"Siapa sudi menjadi Sumoaymu, tukas gadis itu, kau budak tak tahu malu ini, biasanya kau pura-pura jadi gadis suci, siapa tahu begitu melihat lakilaki lantas sinting dan lupa diri, memangnya kau lupa bagaimana sikap guru kita kepadamu?"

Ki Bu yong malah tenang dan sabar, katanya tawar "Tapi kaupun jangan lupa, Suhu sekarang tak di sini."

Gadis baju ungu itu semakin naik pitam semprotnya "Memangnya kenapa kalau Suhu tidak ada, kau kira dengan kekuatan kita puluhan bersaudara tidak mampu membereskan kalian berempat?"

Dimana tangannya menekan sebuah tombol dinding, maka terdengarlah suara bel yang berbunyi nyaring.

Coh Liu hiang tahu begitu suara bel berbunyi, semua anak murid Ciok koan im, akan segera meluruh datang seluruhnya, kepandaian silat gadis-gadis itu semuanya tidak lemah, apalagi terang sekali mereka masing-masing mendapat ajaran ilmu tunggal Ciok koan im yang berlainan satu dengan yang lain, jadi pembawaan ajaran mereka berlainan dan berbeda, dengan hanya kekuatan mereka berempat, sekaligus harus menghadapi setiap banyak musuh, sungguh dia rada sangsi bisa menang.

Apalagi Ki Ping yan dan Setitik Merah tak mampu mengerahkan tenaga, jangan kata berkelahi mengerahkan senjatapun tak mampu.

Baru sekarang Ki Ping yan sadar untuk menelan obat pemunah itu, tanyanya berbisik "Berapa lama khasiat obat ini baru bekerja?"

"Paling lama satu jam, kalau cepat setengah jam sudah menunjukkan hasilnya."

Demikian sahut Ki Bu yong.

Ki Ping yan menghela napas dan geleng-geleng kepala, sebentar lagi bala bantuan musuh bakal berdatangan, umpama tenaganya bisa pulih dalam setengah jam, juga takkan berarti lagi.

Diapun berikan sisa sebutir obat itu kepada Setitik Merah.

Setitik Merah tidak menolak, cuma harus disayangkan meski kedua tokoh silat lihay setingkat mereka pada jaman ini, meski sudah menelan obat pemunah, paling-paling hanya menunggu waktu pasrah nasib digorok lehernya oleh orang lain.

Suara bel terus berbunyi Gadis baju ungu segera membentak beringas "Kalau sekarang kalian terima menyerah dan mau diborgol, mungkin jiwa kalian dapat diampuni, kalau tidak..."

Ki Ping yan mencibir bibir dan mengancam "Sepatah kata lagi kau bicara, kubunuh kau lebih dulu."

Membesi hijau muka gadis baju ungu ini, tapi dia benar-benar tak berani banyak bertingkah kali ini. Mendadak Ki Ping yan berkata "Coh Liu hiang hari ini kau tetap tak mau membunuh orang?"

Coh Liu hiang geleng-geleng kepala, sahutnya tersenyum "Kalau aku mau bunuh orang sejak lama sudah kulakukan, kenapa harus diperpanjang sampai hari ini."

"Tapi jikalau hari ini kau tidak membunuh orang, jiwamu sendiri yang akan dibunuh orang."

"Umpama benar hari ini aku harus membunuh orang, akhirnya akupun bakal terbunuh juga disini."

Bahwa Coh Liu hiang sudah mengeluarkan kata-kata yang menandakan dia patah semangat, maka dapatlah dibayangkan betapa genting situasi didepan mata ini Ki Ping yan cukup tahu, bahwasanya satu persen harapan untuk menang mereka tidak akan bisa memperolehnya.

Mendadak Setitik Merah berkata "Akulah yang membuat kau celaka!"

Kata-katanya memang dia tujukan kepada orang tertentu, tapi siapapun yang mendengar sama tahu kepada siapa dia bicara.

Sesaat lamanya, akhirnya Ki Ping yan berkata "Tak enggan-enggannya kau berani mengorbankan jiwamu, memangnya aku tidak berkorban?"

"Baik sekali."

Ujar Setitik Merah keduanya tidak banyak bicara lagi sampaipun saling pandangpun mereka tidak pernah, tapi dengan cara demikianlah seolah-olah mereka sedang pasrahkan jiwa sendiri kepada temannya.

Betapa banyak Coh Liu hiang pernah melihat dan menghadapi persahabatan laki-laki dan perempuan, atau hubungan asmara muda-mudi yang beraneka ragamnya, tapi belum pernah terpikir dalam benaknya, bahwa dalam jagat ini ada juga dua orang seperti mereka ini.

Ikatan persahabatan yang aneh seperti ini maka terjalin dalam suasana yang dingin dan tegang ini, tapi didalam situasi yang diliputi bahaya dan jiwa bakal melayang sewaktu-waktu, kelihatannya cukup menusuk hati dan besar sekali reaksinya, jauh lebih mengetuk sanubari orang lain.

Mendadak dua gadis berlari-lari mendatangi dari ujung serambi panjang sana.

Ternyata keduanya sama-sama telanjang bulat, malah badan mereka masih basah oleh butiran-butiran air, terang keduanya adalah gadis-gadis yang sedang mandi tadi.

Terang tadi mereka sudah tertutuk Hiat tonya oleh Coh Liu hiang, kenapa sekarang bisa lari secepat itu laksana mengejar angin.

Sudah tentu gadis baju ungu itu kaget dan keheranan pula, ia bertanya "Meski panggilan bel peringatan amat genting, tapi kalian toh harus berpakaian dulu!"

Belum habis kata-katanya kedua gadis telanjang ini sudah lari ke depan Coh Liu hiang, menghadapi badan gadis remaja yang padat dan montok semampai ini tiga laki-laki jadi kebingungan sendiri dan tidak tahu apa yang harus mereka lakukan.

Tak nyana begitu tiba dari dekat kedua gadis ini tanpa bersuara lantas tersungkur roboh, seolah-olah ada sebuah tangan besar yang tak kelihatan, mendadak memapak mereka dengan sekali pukulan yang mematikan.

Sudah tentu perubahan ini bukan saja membuat gadis ungu kaget dan berubah roman mukanya, Coh Liu hiang bertigapun melongo, kelihatannya dari kaki sampai kepala keadaan mereka tetap utuh tak kurang satu apapun.

Segera Ki Bu yong melangkah maju membalik badan mereka, bagian depan merekapun tetap utuh tak kelihatan luka-luka atau ada noda darah, cuma kulit muka mereka sama-sama berubah hitam semu ungu, sejalur dara segar mengalir keluar dari ujung mulut mereka.

Waktu leher mereka diperiksa, sampai bekas-bekas jalur merah yang melingkari leher mereka.

Tiba-tiba Ki Bu yong bergidik sambil menyurut mundur, teriaknya tertahan "Apa mungkin mereka mati tercekik lehernya?"

"Agaknya memang begitulah kejadiannya."

Ujar Coh Liu hiang menghela napas.

"Kalau sudah dicekik mati, bagaimana masih bisa lari kemari?. tanya Ki Ping yan.

"Cara cekikan dan tenaga yang digunakan orang itu secara pas-pasan saja, mungkin memang sudah diperhitungkan, sengaja membuatnya berlari sampai di sini baru putus napasnya, demikian Coh Liu hiang menerangkan, seperti tiba-tiba ingat apa-apa sembari bicara segera ia berjongkok, dibukanya jari-jari seorang gadis itu tergenggam kencang dari sela-sela jari itu ditariknya secarik kertas warna hijau pupus.

"Siapa yang mencekik mati mereka?"

Tanya Ki Bu yong.

"Kenapa mereka dibiarkan lari kemari?"

Mata Coh Liu hiang menatap tulisan didalam kertas itu kulit daging muka seperti berkerut kejang, sesaat kemudian, baru dia menghela napas panjang, katanya "Itulah karena orang itu ingin mengantar mayat mereka kepadaku."

"Mengantar mayat kepadamu?"

Teriak Ki Bu yong.

"Kau...kau..."

Dengan tertawa getir Coh Liu hiang angsurkan kertas hijau itu kepadanya.

Tampak kertas itu tertulis.

Disampaikan kepada Maling Romantis.

Persembahan hormat Burung Kenari.

Walau tidak melihat apa yang tertulis didalam kertas itu, tapi gadis baju ungu sudah merinding dan berdiri bulu kuduknya saking seram dan ketakutan, badannya basah oleh keringat dingin, mendadak dia putar tubuh dan berlari lintang-pukang seperti dikejar setan, mulutpun berkaok-kaok kalap "Tolong!..

Tolong..!"

Tiba-tiba jeritannya terhenti begitu saja, disusul badannya tergertak keras berhenti sebentar lalu terhuyung mundur dan mundur terus.

Kembali Coh Liu hiang dan lain-lain menjadi tegang dan berkeringat, tampak kaki orang selangkah demi selangkah sempoyongan mundur dengan teratur, terus mundur sampai di hadapan Coh Liu hiang lagi, sejak permulaan tidak pernah berpaling muka.

Terasa dingin telapak tangan Ki Bu yong tak tahan dia menjerit dengan suara sember "Kau..."

Baru sepatah kata tiba-tiba dilihatnya gadis baju ungu roboh terlentang.

Tampak selebar mukanya berlepotan darah, dan tepat ditengah mata di atas hidungnya, menancap sebatang pedang kecil yang diukir dari batu pualam hijau pula, di atas batang pedang mini inipun melekat secarik kertas Dimana tertulis juga kata-kata.

Dipersembahkan kepada Maling Romantis Persembahan hormat Burung Kenari Semua beradu pandang, tiada seorangpun yang buka suara.

Pualam sedemikian tipis adalah gelas dan gampang putus, sebaliknya tulang hidung cukup keras, tapi si Burung Kenari ternyata mampu menyerang orang dengan pedang pualam ini tepat mengenai tulang hidungnya sampai menemui ajalnya, betapa mengejutkan kekuatan timpukan ini.

Coh Liu hiang segera berseru lantang "Berulang kali saudara memberi hadiah, kenapa tidak sudi muncul?"

Mulut berkata seenteng kecapung badannya tiba-tiba sudah melayang ke depan sana.

Ki Bu yong dan lain-lainnya di belakangnya, waktu mereka memutar ke serambi panjang lainnya, berdiri di sana tanpa bergerak, seperti orang pikun yang kaget dan ketakutan.

Dimulai dari ujung kakinya setiap dua langkah menggeletak sesosok mayat seorang gadis, serambi panjang yang puluhan tombak ini ternyata berderet mayat-mayat ini yang bergelimpangan.

Puluhan mayat itu berderet seperti ditata rapi, seolah hendak berpameran, betapa seram dan menakutkan pemandangan yang mengerikan ini, siapapun yang melihatnya pasti berdiri bulu kuduk dan merinding.

Bagaimana juga Ki Bu yong adalah kaum hawa, mayat-mayat gadis yang meninggal inipun semula adalah teman-temannya, terasa olehnya kedua kaki menjadi lemas lunglai, tahu-tahu dia meloso jatuh dan pingsan.

Tak tahan lagi hampir saja Ki Ping yan pun hendak muntah-muntah, meskipun wataknya keras berdarah dingin, tapi selama hidupnya tak pernah dilihatnya mayat-mayat orang demikian banyak.

Sampaipun Setitik Merah yang selamanya tidak pernah memberi ampun jiwa musuh-musuhnya yang diincarnya, tak terasa diapun berdiri menjablek.

Entah berapa lama kemudian pelan-pelan baru Coh Liu hiang sadar dari lamunannya, katanya menarik napas panjang "Telengas benar burung kenari itu."

Ki Ping yan pun menggumam sendiri "Dia tahu kau tak mau membunuh orang, maka dia wakili kau membereskan mereka cuma... yang dia bunuh terlalu banyak."

"Jelas cara kematian gadis-gadis itu satu sama lain berbeda-beda, ada yang lehernya terdapat bekas-bekas jalur merah, terang tercekik mati, ada yang badannya hancur terbacok oleh golok, ada pula yang batok kepalanya lemas lunglai, menjurus ke arah yang tak mungkin terjadi bagi seorang hidup ternyata tulang lehernya remuk dipeluntir, ada pula yang menyemburkan darah dari mulutnya, terang dipukul dari serangan berat, ada pula yang dipotong lidahnya, ada pula yang dikorek biji matanya. Agaknya membunuh orang menjadikan suatu kenikmatan baik si Burung kenari sebagai karya seni yang menyenangkan, ternyata sekaligus dia gunakan berbagai cara yang berbeda-beda untuk membunuh para gadisgadis ini. Pada setiap mayat gadis-gadis ini semua diberikan secarik kertas yang bunyinya satu sama lain tak beda. Dihaturkan Kepada Maling Romantis, Persembahan hormat, Burung kenari.

"Burung kenari, burung kenari...."

Ki Ping yan menggumam lagi.

"Siapa nyana iblis laknat pembunuh manusia yang kejam ini menggunakan nama yang begitu molek."

Coh Liu hiang menghela napas, ujarnya "Coba kau perhatikan setiap muka mereka."

Ki Ping yan gelengkan kepala, sahutnya.

"Aku tidak suka mengawasi perempuan, yang hidup saja tidak suka, apa lagi yang sudah mati."

"Tapi kalau ini kau lihat dengan seksama maka akan kau temukan walau cara kematian mereka berbeda, tapi ada pula titik persamaannya diantara korban-korban ini."

Tak tertahankan Ki Ping yan benar melirikkan matanya, seketika berubah air mukanya teriaknya "Benar-benar mayat gadis ini semuanya sudah tidak punya bulu alis."

"Sebetulnya mereka punya alis, cuma kini sudah dicukur pelintas seluruhnya. Begidik seram Ki Ping yan yang dibuatnya katanya "Masakah sebelum dia membunuh korban-korban ini, satu persatu dia cukuri dulu alis mereka?"

"Mungkin disinilah pertanda khas bagi si burung kenari setiap kali dia membunuh orang agaknya bukan saja membunuh orang sebagai hobynya, sekaligus diapun ingin banyak orang tahu, bahwa korban-korban ini adalah karyanya."

"Tapi kali ini dia bunuh gadis-gadis ini lantaran kau, jelek-jelek sudah memberi bantuan kepadamu, benar tidak?"

"Em..!"

Coh Liu hiang mengerut alis.

"Kenapa dia mau membantu kesulitanmu? Kau kenal dia?"

"Tidak kenal!"

"Tentunya tak mungkin dia kemari membunuh orang tanpa sebab, setelah membunuh orang lantas tinggal pergi?"

"Sudah tentu dalam kejadian tentu ada sebab-sebabnya."

"Sebab apa?"

Jilid 25

"Sampai detik ini, boleh dikata aku sendiri belum bisa meraba tujuannya tapi aku percaya peduli tujuannya baik atau tidak, tak mungkin dia pergi begitu saja dengan korban-korbannya ini."

"Kau kira... tak lama lagi dia bakal muncul?"

"Bukan mustahil setiap detik setiap saat dia sedang menunggu kedatanganku, cuma kita tidak melihatnya saja."

"Merinding bulu kuduk Ki Ping-yan, tak tahan dia menghela napas untuk menghilangkan rasa seram hatinya, ujarnya "Manusia seperti itu aku malah mengharap semoga jangan sampai melihatnya,"

Mendadak dia tertawa geli sendiri.

"Tapi bagaimana juga sekarang seluruh murid-murid Ciok koan-im sudah ajal, kita boleh keluar dengan berlenggang."

Selamanya diapun tidak pernah membayangkan, bahaya besar dari tebasan golok yang mematikan sedang menunggu di luar.

Penunjuk jalannya adalah Ki Bu-yong.

Bukan lantaran dia kuatir Coh Liuhiang bertiga bakal tersesat didalam lembah membingungkan ini, dia cuma ingin selekasnya meninggalkan tempat yang diliputi baunya darah.

Dengan pandangan mendelong hampa dia beranjak pelan-pelan sekujur badannya seolah-olah sudah membeku, maklumlah seluruh kawan-kawannya sudah ajal seluruhnya cuma dia seorang saja yang masih ketinggalan hidup.

Mungkin karena bukan kematian teman-temannya itu dia bersedih, sebaliknya merasa menyesal dan terketuk sanubarinya karena jiwanya sendiri masih hidup, seolah-olah dia dibayangi perasaan, seharusnya dirinya pun sudah mampus ditempat ini.

Yan mengintil di belakangnya adalah Setitik Merah, Ki Ping-yan, Coh Liu-hiang berjalan paling belakang, bahwa mereka bisa keluar sampai di sini, sungguh patut dibuat girang.

Tapi entah kenapa, perhatian hati mereka tetap tertekan, amat prihatin.

Pad saat itulah, tiba-tiba tampak sinar golok berkelebat langsung membacok ke batok kepala Ki Bu-yong.

Sedikitpun Ki Bu-yong seperti tidak menyadari ancaman maut ini, bukan saja tidak berkelit, langkahnya tetap beranjak ke depan.

Saking kagetnya tanpa berpikir panjang Setitik Merah segera menubruk maju sekali raih ia menariknya sekuat tenaganya.

Betapa cepat dan gerakan refleks dari reaksi Setitik Merah, jelas sudah dapat menjagoi di seluruh Tionggoan, tapi betapa cepatnya pula bacokan golok itu sungguh tak bisa digambarkan dengan kata-kata apapun.

Akhirnya Setitik Merah terlambat bertindak.

Terpaksa ia tarik Ki Bu-yong jatuh ke tanah, dirinya, terus menubruk ke atas badannya, dengan badan sendiri melindungi badan Ki Bu-yong secara refleks pula sebelah tangannya memapak ke arah datangnya bacokan golok.

Maka terdengar "Cras!", darah seperti anak panah muncrat kemana-mana.

Kontan lengan kiri terbacok putus.

Saking kejutnya KiPing -yan dan Coh Liu-hiang serempak menerjang maju.

Tampak tajam golok laksana kilat berkilauan menyambar, kembali menyerang kearah mereka.

Hebat sekali gerakan Coh Liu-hiang, sedikit melegot dan berkelebat, tahu-tahu dia sudah menyusup ke dalam lingkaran sinar golok lawan, sekali sanggah dan puntir lengan orang dia berusaha merebut golok musuh.

Betapa cepat dan hebat jurus rangsakannya, sungguh amat lincah, tepat, sungguh sudah mencapai puncak kesempurnaan latihan ilmu silatnya.

Ki Ping-yan menegakkan telapak tangan bagai golok, tahu-tahu sudah mengancam tenggorokan orang terus dibabat.

Dengan kerja sama Coh Liuhiang dan Ki Ping-yan, rapatnya tiada setitik lobang sejurus serempak dari dua tokoh silat hebat ini, mungkin tiada seorang tokoh betapa lihaynya dalam kolong langit ini yang mampu menghindari diri.

Sekali bacokannya berhasil melukai orang, baru saja dia lontarkan serangan susulannya, mendadak terasa sampukan angin menerjang dari sebelah muka, tahu-tahu seseorang menyelinap ke dalam pelukan dadanya, betapa hebat dan berbahayanya serangan orang ini, betul-betul jarang dia temukan selama hidup.

Di kolong langit ini, siapa pula yang mampu menundukkan Oh Thi-hoa dalam satu gebrakan saja?

Berkelebat pikiran Oh Thi-hoa, teriaknya tertahan "Ulat busuk!"

Teriakan "Ulat busuknya ini, sudah tentu bikin Coh Liu-hiang dan Ki Pingyan amat kaget.

"kelontang"

Golok ditangan Coh Liu-hiang jatuh di atas tanah. Tebasan tapak tangan Ki Ping-yan juga segera ditariknya balik mentah-mentah, bergetar suaranya "Sianoh, kaukah?"

"Siapa lagi kecuali aku si pembawa sebal ini."

Sahut Oh Thi-hoa.

Coh Liu-hiang dan Ki Ping-yan banting-banting kaki, berbareng mereka lepas tangan Oh Thi-hoa segera berdiri dengan menghela napas lega "Jago Mampus, Ulat busuk, hebat benar kalian, tapi jika aku tidak kehabisan tenaga sampai hampir mati, kalianpun jangan harap bisa berhasil begini cepat."

Coh Liu-hiang sama Ki Ping-yan merasa tertekan perasaannya, mereka tetap bungkam.

"Kalian tak sampai membunuh aku, seharusnya berterima kasih kepada Thian-te atau langit dan bumi, kenapa malah...."

Mendadak diapun merasakan suasana yang prihatin, baru sekarang pula ia teringat akan tebasan goloknya tadi, maka seri tawanya menjadi kaku dan meringis, batuk-batuk dua kali dengan tergagap dia bertanya "Barusan....

barusan.....

barusan....

mulutnya menerocos "barusan"

Seperti tambur yang dipukul bertalu-talu.

"Barusan kau benar-benar sudah membuat celaka."

Sahut Coh Liu-hiang. Oh Thi-hoa memencet hidungnya, tanyanya lirih "Siapa yang terluka?"

Belum Oh Thi-hoa menjawab, percikan api berkelebat, Liu Yan-hwi sudah menyalakan obor, tanpa dijelaskan oleh Coh Liu-hiang Oh Thi-hoapun sudah melihat siapakah yang terluka.

Tampak dibawah genangan darah yang beketes-ketes seorang gadis serba putih duduk ditangah dengan pandangan mendelong seperti patung tak bergerak, badannya belepotan darah tapi yang terluka bukan dia.

Seorang laki-laki berpakaian serba hitam yang bertubuh jangkung, berkulit legam, sekeras baja dan sedingin es, pelan-pelan sedang merangkak bangun dari genangan darah, luka-luka pada lengan kirinya masih mengucurkan darah, tapi kulit mukanya yang pucat dingin tidak menunjukkan perasaan hatinya, badannya tetap tegak selempang tombak, agaknya umpama kedua kakinya yang terbacok putus, diapun takkan roboh.

Mengawasi orang ini, tak tahu Oh Thi-hoa apa yang harus dia katakan?

Setitik Merahpun balas mengawasi dia, mendadak tersenyum dan memuji "Hmm golok bagus!"

Jikalau dia mengomel dan mencaci kaki, betapapun kotor dan kasar caci makinya, Oh Thi-hoa akan merasa lega hatinya, tapi pujian ini seketika membuat selebar muka Oh Thi-hoa merah padam.

Berkata Setitik Merah pelan-pelan "Kau tak perlu sedih, kejadian ini tak bisa salahkan kau, kalau aku adalah kau, sama juga akan membacok kutung lenganmu."

Karena dia tak salahkan Oh Thi-hoa, Oh Thi-hoa semakin merasa sedih dan mendelu, sudah tentu kesalahan bukan terletak pada Oh Thi-hoa, tapi sekarang Oh Thi-hoa justru merasa bahwa dirinya teramat berdosa.

Tiba-tiba KiPing -yan mendekati serta menepuk pundaknya, katanya "Tahukan kau siapa dia?"

"Aku hanya tau dia seorang laki-laki sejati, orang gagah, seorang ksatria yang jarang ditemukan dalam jagat ini."

Sahut Oh Thi-hoa menghela napas.

"Dia inilah Setitik Merah, Ki Ping-yan memperkenalkan.

"Setitik Merah dari Tionggoan?"

OH Thi-hoa menegas dengan kesima.

"Ya!"

Seketika Oh Thi-hoa membanting kaki, serunya "Aku patut mati! patut mati!"

Mengapa kutungan tangan yang menggeletak di atas pasir, serasa ingin menangis tergerung-gerung karena tangan yang kutung ini bukan tangan sembarangan, pedang tercepat nomor satu di seluruh Tionggoan, dan tangan inilah yang menegakkan ketenaran itu."

Berapa banyak pula tangan-tangan seperti ada di dunia ini?

Namun tangan ini sekarang sudah tertebas kutung olehnya, apa pula yang dapat menggantinya?

Dengan apa pula ia dapat menebus kesalahannya ini?

Mendadak Oh Thi-hoa jemput golok di atas pasir itu, sekali ayun dia terus membacok ke lengannya sendiri.

Untung Ki Ping-yan cukup sebat menarik lengannya, katanya "Tak perlu kau berbuat demikian."

"Lepas tanganmu, kau tak perlu ikut campur."

Bentak Oh Thi-hoa sember.

"Tahukah kau bukankah kau berhutang sebuah lengan kepadanya, akupun berhutang sebelah kaki juga, tapi tidak perlu tergesa-gesa menebus hutang kita itu sekarang juga, kelak bila dia memerlukan baru kita bayar hutang ini, bukan kita lebih baik?"

Coh Liu-hiang manggut-manggut, ujarnya "Piutang ini, semoga kalian bisa menebusnya dengan segera."

Setitik Merah tiba-tiba menyeletuk "Ini bukan hutang, kalianpun tak perlu bayar."

Lalu dijemputnya tangan kutungnya itu, sesaat lamanya dia awasi, mendadak tertawa, katanya "Yang terang tangan ini sudah berlalu banyak membunuh jiwa manusia, biarlah dia istirahat juga baik habis katanya, badannya pun tiba-tiba tersungkur jatuh.

Pipop kongcu kembali berkumpul dengan Coh Liu-hiang, sementara KiPing -yan bersua pula dengan Ciok tho, sudah tentu pertemuan yang cukup menggembirakan, sudah tentu mereka saling menceritakan pengalaman selama ini sejak berpisah.

Waktu itu mereka sudah meninggalkan lembah sesat yang membingungkan itu, Ki Bu-yong duduk disamping Setitik Merah yang masih pingsan kehabisan tenaga dan terlalu banyak mengeluarkan darah, dengan mendelong dia awasi terus muka orang, seperti baru pertama kali ini dia pernah melihatnya.

Sudah lama Oh Thi-hoa tidak membuka mulut, baru sekarang tak tertahankan dia menyeletuk lebih dulu "Burung kenari, siapakah dia sebetulnya?

Sungguh kejam dan culas."

Berkata Pipop kongcu "Dia suka membunuh orang, kenapa tidak sekalian dia bunuh Ciok koan-im pula?"

"Mungkin kebetulan dia tidak bertemu dengan Ciok koan-im."

Timbrung Ki Ping-yan.

"Atau mungkin sengaja dia tinggalkan Ciok koan-im supaya dibunuh oleh Coh Liu-hiang."

"Bagaimana pula Ciok koan-im bisa kebetulan tak ada di sarangnya?"

Tanya Pipop kongcu.

Ki Ping-yan melirik kepada Ki Bu-yong katanya "Menurut apa yang dikatakan nona Ki ini, bahwasanya Ciok koan-im memang jarang berada di sini, terutama belakangan ini, kehadirannya di sini lebih jarang dari tidak kehadirannya."

Berkerut alis Pipop kongcu, tanyanya "Lalu biasanya ia sering berada dimana?"

Sudah tentu tiada orang yang bisa menjawab pertanyaan ini.

"Kenapa kau tidak bicara?"

Tanya Pipop Kongcu pula.

Kali ini kata-katanya ditujukan kepada Coh Liu-hiang, baru sekarang semua orang melihat, Coh Liu-hiang sedang duduk bersimpuh dengan memejamkan mata, seperti paderi tua yang sedang semedi, entah apa pula yang sedang dia pikirkan?

Maka terdengar mulutnya komat-kamit, seperti paderi yang sedang membaca mantra "Hoa san chit kiam....

Ui san si keh...

Hongbu Ko....

Ciok koan-im."

Semua orang heran dan tak mengerti apa yang sedang dikatakan?

tapi tampak rona wajahnya lambat laun memancarkan cahaya terang.

Tak tahan Pipop kongcu mendorongnya pelan-pelan, katanya "Kau tau dimana Ciok koan-im?"

Akhirnya Coh Liu-hiang membuka mata, sinar terang mencorong dari biji matanya, katanya tertawa.

"Ciok koan-im? siapa itu Ciok koan-im?"

Pipop kongcu tertegun, katanya tertawa geli "Apa sih yang kau pikirkan, sampai kau jadi linglung begini, sampai nama Ciok koan-im pun kau lupakan?"

"Ada Ciok koan-im berarti tiada Ciok koan-im, tiada Ciok koan-im berarti ada Ciok koan-im pula...., selamanya belum pernah kuingat cara bagaimana aku harus melupakannya?"

Kaget dan geli Pipop kongcu, tanyanya pula "Apa-apaan ucapanmu ini? Aku tidak paham."

"Memangnya kau tidak akan tahu, inilah rahasia alam!."

Coh Liu-hiang geleng-geleng kepala ujarnya "Rahasia Thian tak boleh dibocorkan, tidak bisa kukatakan, tak bisa kukatakan!"

"Apa kau ini sedang mengigau? Mendadak aku ingin jadi Hwesio."

"Memangnya mendadak aku teringat pada seorang Hwesio."

"Siapa?"

Tanya Pipop Kongcu.

Coh Liu-hiang mandah tersenyum tanpa menjawab.

Pipop Kongcu lantas melirik kepada Oh Thi-hoa, katanya tertawa "Omonganmu memang tidak salah, ada kalanya orang ini memang amat menyebalkan."

"Dimana sekarang Ki loh ci sing berada?"

Mendadak Coh Liu-hiang menyeletuk.

"Sebenarnya sudah kuberikan kepadanya, tapi dia kembalikan kepadaku lagi!"

Kata Oh Thi-hoa.

"Jikalau kau benar-benar sudah tahu rahasia Ki Loh ci sing ini, apa pula yang hendak kau lakukan?"

Tanya Coh Liu-hiang.

"Kalau aku sudah berjanji kepada permaisuri sudah tentu aku akan memberikan kepadanya."

"Baik sekali, mari sekarang juga kita mencarinya,"

Ujar Coh Liu-hiang.

"Tapi... tapi bagaimana dengan Ciok koan-im?"

Ujar Coh Liu-hiang tersenyum. Saking marah serasa hampir meledak perut Pipop kongcu, namun tak tahan dia tertawa geli katanya menggigit bibir "Kau ini sebenarnya sedang bertingkah apa?"

"Kau ikut saja, nanti kau akan paham!"

Liu Yang hwi batuk-batuk kering, lalu berkata "Kami bersaudara sudah puluhan tahun tak penah kembali ke Hoa san, sekarang kalau Coh heng hendak menyelesaikan urusan lain, kami berdua ingin....

ingin minta diri saja."

Sikap Coh Liu-hiang mendadak berubah serius katanya "Sekarang kalian masih belum boleh pergi."

"Apakah Coh heng ada petunjuk apa?"

Tanya Liu Yan-hwi. Lama juga Coh Liu-hiang menepekur tiba-tiba tertawa lalu berkata "Kalian ikut saja nanti kalianpun akan paham."

Liu Yan-hwi ragu-ragu sebentar, katanya "Cayhepun hanya mohon sesuatu hal kepada Coh heng."

"Liu heng ada permintaan apa?"

"Cayhe sendiri sih tidak menjadi soal, tapi ada beberapa urusan yang mana Hong bu Toako sekali-kali tidak mau mengatakan, sampai disinggungpun tidak boleh....."

"Tapi bila aku menyakan hal-hal itu kalian tidak bisa untuk membeberkannya bukan?"

"Ya, begitulah oleh karena itu Cayhe hanya minta Coh heng."

"Kau minta supaya jangan menanyakan hal-hal itu bukan?"

Liu Yan-hwi tertunduk diam sebentar, sahutnya "Jikalau Coh heng suka menerima permintaan ini Cayhe berdua sungguh amat berterima kasih."

"Adakah aku pernah menanyakan apa-apa?"

"Apapun belum sempat ditanyakan."

"Kalau sekarang tidak kutanyakan, kelak masakah aku bakal bertanya?"

"Liu Yan-hwi termenung sahutnya kemudian "Benar kalau sekarang Coh heng tidak bertanya, kelak tentunya juga takkan bertanya."

"Baiklah kalau kau sudah paham!"

"Tapi persoalan ini,"

Tiba-tiba Liu Yan-hwi berkata pula "Coh heng seharusnya bertanya kenapa pula kau tidak mau bertanya?"

"Karena apa yang perlu kutanyakan sudah kuketahui."

Pipop tak tahan lagi, segera ia menyeletuk "Apa yang harus kau tanyakan? Apa pula yang sudah kau ketahui? Minta ampun sukalah kau tidak bertekateki?"

Belum Coh Liu-hiang menjawab, tiba-tiba terdengar suara kelentingan unta dari kejauhan.

Suara kelentingan yang terputus-putus di bawa angin ke pekarangannya begitu dingin menawankan hati, begitu lengang.

Tapi dalam pendengaran Coh Liu-hiang dan lain, justeru terasa begitu merdu mengasyikkan sekali dari pada suara musik apapun yang pernah mereka dengar dalam dunia ini.

Seketika berkobar semangat Oh Thi-hoa, Liu Yan-hwi dan lain-lain, sampaipun Pipop kongcu jadi lupa mengajukan pertanyaannya lagi yang belum terjawab.

Dengan memejamkan mata dia tengah tumplek perhatian untuk mendengarkan suara kelentingan itu, ujung mulutnya mengulum senyum maniak, matanya bergairah "Tahukah kau suara apa itu?"

Oh Thi-hoa tetawa ujarnya "Dalampadang pasir ini, seumpama aku ini seorang desa yang belum pernah melihatkota , tapi suara seperti itu sekali dengar aku lantas tahu.....

itulah kelentingan, benar tidak?"

Pipop kongcu malah geleng kepalanya, ujarnya "Itu bukan suara kelentingan unta."

"Bukan kelentingan unta? Lalu suara apa?"

Tanya Oh Thi-hoa tertegun.

"Dalam pendengaran kupingku suara itu hampir mirip dengan tetesan air yang dituang ke dalam cangkir suara daging yang dipanggang di atas api unggun....."

Apa yang diuraikan Pipop kongcu memang tak salah, di padang pasir, suara yang sumbang ini, ada kalanya justru melambangkan air jernih, makanan lezat dan kehangatan, karena penggembala padang pasir, kebanyakan bersifat royal, suka menerima tamu dan terbuka tangan, meskipun kemah mereka buciok atau sederhana, tapi di sana diliputi kehangatan yang simpatik terhadap sesama teman nan jauh di rantau.

Mereka selamanya tidak pernah menolak kedatangan seorang pelancong yang kelaparan, tidak segan-segan menolong kafilah yang kesasar atau menemui kesulitan.

Agaknya kali ini dugaan Pipop kongcu salah dan meleset, waktu mereka memburu ke arah datangnya suara, kafilah yang terdiri dari rombongan besar unta itu sudah berhenti, semua ada puluhan unta yang melingkar jadi sebuah bundaran besar, beberapa orang diantara mereka sudah mulai kerja mendirikan kemah.

Begitu banyak orang dan unta namun suasana bening lelap, tiada satupun pekerja-pekerja itu yang ribut bersuara, tak terdengar pula gelak tawa riang gembira beberapa laki-laki yang bertugas jaga dibagian luar kalangan malah sudah melihat kedatangan rombongan lain, merekapun tidak menunjukkan sikap gembira atau hendak menyambut kedatangan mereka, tidak bersikap tegang bermusuhan siap pasang panah, melolos golok atau sikap yang bermusuhan.

Masih jauh Ki Ping-yan lantas menghentikan langkahnya, katanya dengan suara berat "Menurut hematku, lebih baik kita tak usah kesana."

"Kenapa?"

Tanya Pipop kongcu.

"Melihat gelagatnya rombongan ini terang bukan rombongan kafilah biasa."

Baca Juga: Si Rase Hitam 3

Baca Juga: Pendekar Pemanah Rajawali 14

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert