Ceritasilat Novel Online

Rahasia Ciok Kwan Im 6

Eps 6 Rahasia Ciok Kwan Im - Gu Long

Baca online Rahasia Ciok Kwan Im - Gu Long

Cersil Rahasia Ciok Kwan Im - Gu Long.

"Benar Oh Thi-hoa ikut memberikan suara. Mereka lebih mirip sepasukan tentara yang berdisiplin keras, apakah mereka ini pasukan ronda dari anak buah pembesar pemberontak dari negeri Kui je!"

"Mereka bukan orang Kui je!"

Kata Pipop kongcu tegas.

"Kau berani memastikan?"

Tanya Oh Thi-hoa.

Pipop kongcu tertawa sahutnya "Dipadang pasir yang berbeda-beda sedikitnya ada puluhan kelompok, dalam pandangan kalian mungkin orangorang ini lumayan, tapi sekilas pandang saja aku lantas dapat melihat adanya perbedaan dari mereka."

"Menurut pendapatmu?"

Coh Liu-hiang menimbrung.

"Mereka orang-orang apa?"

"Umpamakan saja mereka adalah kawan rampok, kitapun tak perlu gentar terhadap diri mereka bukan?"

Ujar Pipop kongcu."

"Benar"

Ujar Oh Thi-hoa, paling kita hanya ingin beli beberapa kantong air dan beberapa unta saja kepada mereka, jikalau mereka tidak aturan dan tidak mau jual, boleh kita merebutnya saja."

Ki Ping-yan menjengek dingin "Enak saja kau bicara."

"Memangnya gampang dilaksanakan, apa sukarnya?"

"Kau tidak melihatgaya mereka memegang golok? Langkah kakinya? Kau tidak melihat dalam sekejap mata saja, mereka sudah berhasil mendirikan kemah-kemah itu? Dimana-mana membagi diri untuk berjaga dengan teratur segala serba beres dan berdisiplin, unta atau kuda tiada yang brengsek."

"Akukan tidak buta, kenapa tidak melihatnya."

Sahut Oh Thi-hoa tertawa.

"Kalau kau sudah melihatnya seharusnya kau tahu bahwa mereka adalah orang-orang yang sudah berpengalaman dimedan laga serdadu pilihan yang sudah tergembleng matang, memangnya kau samakan mereka rombongan perampok yang kasar-kasar dan rendahan itu? Pihak kita hanya ada delapan orang, malah tiga orang diantaranya sudah cacat, paling dua orang diantara kami harus membagi diri untuk melindungi mereka...."

Dengan mata melotot dia awasi Oh Thi-hoa lalu menyambung "Maka yang benarbenar bisa turun tangan dipihak kita hitung-hitung hanya tiga orang saja dengan tiga kekuatan orang hendak merebut unta didalam rombongan serdadu yang sudah gemblengan dalam pengalaman tempur dimedan laga, coba katakan, apa kau yakin benar pasti berhasil?"

Oh Thi-hoa mengelus hidung, sahutnya "Memang tak begitu besar paling tidaklima enam puluh persen aku yakin!"

"Dengan hanya keyakinanlima enam puluh persen kau lantas ingin menyerempet bahaya?"

Sentak Ki Ping-yan mendelik.

"Hanya dengan keyakinan sepuluh prosenpun aku sudah pernah mencoba melakukan sesuatu, kenyataan orang tiada yang berhasil memenggal kepalaku ini"

Ujar Oh Thi-hoa tertawa-tawa.

"Itu karena nasibmu baik,"

Jengek Ki Ping-yan.

"Tapi sekarang bukan saatnya kita mencoba-coba mempertaruhkan nasib itu."

Coh Liu-hiang menghela napas, ujarnya "Tidak salah, kekuatan pihak kita sudah teramat lemah, apa yang harus kita kerjakan masih banyak lagi, sekali-kali jangan sampai terjadi diantara kita yang jatuh menjadi korban pula.

Oleh karena itu kalau hal ini ada sedikit bahayanya, kita tak usah melakukannya."

Ki Ping-yan masih muring-muring "Kalau dalam keadaan biasa, umpama kau hendak mengadu kepalamu dengan batu pasti tanda orang perduli tapi sekarang jiwamu amat besar gunanya, kalau hanya karena beberapa ekor unta dan beberapa kantong arak kau lantas hendak adu jiwa, umpama kau sendiri mereka tak menjadi soal, aku malah merasa eman-eman."

"Apa lagi umpama kita berhasil dengan tujuan mereka pasti akan selalu mengejar dan menguntit jejak kita."

Coh Liu-hiang menambahkan "Musuh kita sudah cukup banyak, kalau ketambahan rombongan orang-orang ini mempersulit kita, wah, sukar dibayangkan lagi."

"Jadi menurut pikiran kalian, bagaimana juga rombongan orang-orang ini sekali-kali tidak boleh diganggu, begitu?"

Tanya Oh Thi-hoa dengan kecut.

"Ya, begitulah,"

Sahut Ki Ping-yan. Berputar biji mata Oh Thi-hoa "Tapi jikalau mereka yang mencari garagara kepada kita, bagaimana?"

Memang pada ujung mata Coh Liu-hiang sudah melihatlima enam orang diantara rombongan itu sudah berlari-lari menuju ke arah mereka, dalam hati diam-diam ia menarik napas, namun lahirnya dia masih tersenyumsenyum, katanya tandas "Umpama benar mereka hendak cari perkara kepada kita, kita pun harus mengalah saja."

Yang mendatang ada lima orang, masing-masing mengenakan mantel lebar dan tebal untuk menahan angin, kepala mereka digubat kain panjang warna biru, kulit mereka kelihatan hitam legam bersinar karena biasa ditengah teriknya matahari, sehingga kelihatannya begitu kasar sekasar pasir di bawah kaki mereka, namun mata mereka, justru berkilat tajam laksana mata elang, tulang-tulang pipi mereka menonjol keluar jari-jari menggenggam erat gagang golok masing-masing, begitu teguh dan tenang tak tergoyahkan sekokoh batu.

Pakaian yang mereka pakai serba besar longgar gedubrahan, tapi gerakgerik mereka amat cekatan, dengan mendelong Coh Liu-hiang dan lain-lain mengawasi mereka, kejap lain mereka sudah tiba di hadapan mereka.

Orang yang terdepan adalah laki-laki cambang bauk yang lebat warna kehijauan, biji matanya yang berkilat terang, memancarkan warna kehijauan seperti mata dracula satu persatu dia menyapu pandang ke muka mereka akhirnya berhenti pada tatapan muka Coh Liu-hiang.

Umpama ada ratusan orang yang mengenakan pakaian seragam yang sama, dia tidak perlu memandang dua kali dengan tepat dia akan tahu siapa yang jadi pimpinan diantara mereka.

Coh Liu-hiang menyambut kedatangan mereka dengan tersenyum, mulutnya merocos panjang lebar, apa yang dia ucapkan adalah basa-basi yang sering digunakan kaum kafilah yang sering bertemu ditengah jalan, ucapan-ucapan menyapa dan saling tanya keselamatan satu sama lain sudah ia pelajari dengan giat dai cukup yakin bahasa latihannya sudah cukup baik dan kini tibalah saatnya untuk dia praktekkan.

Tak nyana orang dihadapannya ini seperti tidak paham apa yang dia ucapkan, sekian saat orang melotot pula kepadanya, tiba-tiba berkata "Kalian darimana?

Hendak kemana?"

Sontoloyo, orang justru fasih menggunakan bahasa orang-orang Han.

Coh Liu-hiang hanya meringis kecut, katanya "Cayhe beramai datang dari Thio keh gou, semula kami bermaksud dagang ke sini, tak nyana tak tahu jalan tak faham bahasa dan adat istiadat di sini, bukan saja unta dan tunggangan hilang, malah diantara kami ada yang terluka, oleh karena itu...."

Sampai di sini dia menyadari bahwa yang dikatakan amat meragukan, jelas sukar dipercaya oleh orang lain.

Mereka berdelapan, ada laki ada perempuan, ada yang buruk ada yang ganteng, tapi bagi siapapun yang melihatnya, tiada satupun yang akan mau percaya bahwa mereka adalah kafilah yang berdagang ditengah gurun pasir.

Coh Liu hiang menghela napas katanya pula "Bicara terus terang, Cayhe beramai adalah kaum persilatan dari Tionggoan, kedatangan kami kemari adalah untuk mencari tiga orang teman kami yang hilang, siapa tahu terjadi banyak peristiwa yang di luar dugaan barusan kami kebentur pula kejadian yang menyulitkan."

Kali ini dia bicara sejujurnya, tak nyana laki-laki itu masih mengawasinya dengan sikap dingin, sepatah kata omongannya masih tidak mau percaya.

Sorot matanya yang tajam kembali menyapu satu persatu muka mereka, lalu berkata dengan kereng.

"Persoalan sulit apa yang barusan kalian hadapi?"

Cukup panjang untuk menjelaskan, dan lagi terang tiada sangkut pautnya dengan kalian...."

Sahut Coh Liu-hiang.

"Dari mana kau tahu bila tiada sangkut pautnya dengan aku? Ribuan limalang melintang ditengah padang pasir ini, apapun yang terjadi, kapan saja dan siapa saja, bukan mustahil ada hubungannya dengan kami!"

"Oh.... entah kalian ini siapa? Dari...."

Laki-laki jambang bauk segera membentak "Sekarang aku sedang tanya kepadamu, bukan bertanya kepadaku."

Coh Liu-hiang tahu bahwa laki-laki sulit dilayani, tak tahan jari-jarinya mengelus-elus hidung inilah penyakitnya.

Oh Thi-hoa sampai ketularan olehnya.

Si jambang bauk hijau tiba-tiba menuding Setitik Merah dan Ki Bu-yong sentaknya bengis "Belum lama kedua orang ini terluka, siapa yang melukai mereka?"

Oh Thi-hoa tak tahan lagi, katanya keras "Tangannya tertebas kutung oleh aku yang kurang hati-hati."

Jambang bauk hijau menyeringai "Matamu masih genap dan normal, cara bagaimana bisa tidak hati-hati memotong lengannya? Anak-anak umur 3 tahunpun takkan mau percaya kepada ucapanmu."

Oh Thi-hoa naik pitam, semprotnya! "Perduli kau percaya tidak? Asal apa yang kukatakan adalah sejujurnya, terserah kau tidak mau percaya."

"Jawaban kalian sendiri satu sama lain tidak cocok dan simpang siur, masakah kita harus percaya begitu saja?"

Mendadak si jambang bauk menggelap tangan, bentaknya "Hayo geledah badan mereka!

setelah bentakan serempak empat orang laki-laki di belakangnya segera menubruk maju bersama.

Muka Oh Thi-hoa sudah menghijau saking gusar, serunya terloroh-loroh menggeledah "Kau hendak menggeledah badanku?

Hehe selama hidup belum pernah ada orang berani menggeledah badanku mesti dia orang tuaku sendiri!"

Tiba-tiba Coh Liu-hiang menggenggam jarinya dengan keras, katanya tersenyum "Kejadian apapun pasti akan terjadi untuk pertama kali."

"Kau mandah dilakukan semena-mena?"

Seru Oh Thi-hoa dengan suara serak.

Coh Liu-hiang hanya tertawa-tawa siapapun tak bicara lagi.

Mengikuti pandangan matanya baru sekarang Oh Thi-hoa melihat disaat mereka bicara itulah, puluhan laki-laki sudah mengepung mereka.

Mendadak Oh Thi-hoapun unjuk tawa lebar katanya "Jikalau Coh Liu-hiang bisa tahan sabar pula?"

Ki Ping-yan ikut tertawa, katanya "Si bocah akhirnya tumbuh dewasa juga, sungguh suatu hal yang harus dibuat girang."

Berbareng mereka bertiga menepuk-nepuk pakaian, lalu membentang kedua tangan, katanya bersamaan dengan tertawa "Silahkan kalian menggeledah!"

Lalu Coh Liu-hiang menambahkan "Cayhe bukan saja tidak membawa apa-apa, malah dikata kantong kosong, setelah kalian menggeledah aku, tentu bikin kecewa saja."

Tak nyana ke empat laki-laki yang maju mendekat tadi berdiri diam di tempatnya, tangan si jambang baukpun masih terangkat tinggi, selama ini belum diturunkan.

Baru saja Coh Liu-hiang merasa heran, si jambang bauk mendadak berkata "Apa benar kantong tuan kosong?

Masakah sebutir mutiarapun tiada?"

Mendengar pertanyaan ini, seketika bersinar biji mata Coh Liu-hiang.

Demikian pula Oh Thi-hoa segera turunkan kedua tangannya serta mendengar orang menyinggung mutiara hitam segala, seketika teringat olehnya bahwa Ki loh ci sing masih berada dalam kantong bajunya, katanya keras "Sebetulnya kalian mau menggeledah tidak?

Memangnya apa maksud kalian?"

Si jambang bauk tiba-tiba tergelak tawa, serunya "Umpama nyali Siaujin tinggi langin, juga tidak berani bertingkah di hadapan Maling Romantis!"

Oh Thi-hoa tertegun, katanya "Kau kenal dia? Apa benar ketenarannya begitu besar?"

Si jambang bauk tidak menjawab, langsung dia menjura rendah kepada Coh Liu-hiang, katanya "Tidak tahu tidak berdosa, semoga Maling Romantis suka memaafkan keteledoran Siaujin!"

Lekas Coh Liu-hiang memapaknya bangun, tanyanya "Jadi kau ini apanya Mutiara hitam?"

"Jikalau Siau-ongya bisa melihat Maling Romantis sehat wal-afiat sampai di sini, entah betapa girang hatinya."

Demikian kata si jambang bauk.

Tahu bahwa mereka bukan lain adalah anak buah Mutiara hitam yang dicarinya ubek-ubek tak ketemu, tak nyana bersua disini tanpa banyak membuang tenaga, keruan girangnya bukan main.

Terdengar jambang bauk menghela napas, katanya lebih lanjut "Sayang meski Maling Romantis sudah sampai disini.

Siau-ongya justru sudah ke pedalaman pula..."

"Ke pedalaman? Maksudmu dia ke Tionggoan? Kapan ia berangkat? tanya Coh Liu-hiang kaget.

"Kuatir Maling Romantis menghadapi bahaya, maka beberapa hari yang lalu Siau ongya lantas menuju ke Tionggoan untuk menyiari kabar kalian."

Tak urung terunjuk rasa heran, curiga pada rona muka Coh Liu-hiang, katanya "Dia kuatir aku menghadapi bahaya? Dia pergi mencari tahu kabar diriku?"

"Siau-ongya menemukan kuda mutiaranya itu pulang sendiri dengan kosong tanpa penunggangnya, maka ia menduga Maling Romantis pasti menghadapi bahaya, tanpa membuang waktu lagi, segera ia menyusul kesana dengan tergesa-gesa."

Mendadak si jambang bauk tertawa lucu penuh arti, katanya pula "Rasa prihatin Siau-ongya kepada Maling Romantis memangnya tuan masih belum memahaminya?"

Coh Liu-hiang menjublek di tempatnya, maka dia tidak begitu perhatikan ucapan ini, setelah menepekur sekian lamanya, akhirnya dia menarik napas katanya tertawa getir "Kuda itu memang pintar sekali, orang biasa mana mampu mengendalikan dia aku sudah kira dia pasti menerjang keluar dari kandang lari ke tempat asal majikannya.

Tak tahan Oh Thi-hoa menyeletuk "Kami banyak orang mencari ubekubekan tanpa menemkan jejaknya, masakah seekor kuda malah berhasil menemukan dia lebih dulu?"

"Dipadang pasir ini, siapa yang tidak tahu bila si mutiara hitam yang jempolan itu adalah milik Siau-ongya kita, siapapun yang melihatnya, tentu akan dibawa pulang dikembalikan kepada Siau-ongya."

Lalu dia tertawa bangga, katanya pula "Penjahat dipadang pasir sejauh ribuan li itu, siapa pula yang berani mengincar kuda tunggangan pribadi Siau ong kita?

Sampaipun Ciok koan-im yang serba misterius seperti tokoh didalam dongeng itupun tidak berani sembarangan mencari gara-gara kepada kita."

Menyinggung Ciok koan-im, seketika berubah roman muka semua orang.

"Mungkin kalian tidak tahu,"

Ujar si jambang bauk.

"kecuali kita anak buah Lo ongya yang lama ini, orang-orang yang rela dan bersedia berkorban demi Siau-ongya entah berapa banyaknya meskipun Ciok koan-im setinggi langit, bila dia berani mengganggu dan berbuat salah terhadap Siau-ongya, selanjutnya apapun yang dia lakukan disini, mungkin dia akan selalu menghadapi kesukaran."

Coh Liu-hiang menghela napas ujarnya "Agaknya nama besar "Raja Gurun Pasir"

Memang bukan kosong dan gertakan belaka."

Oh Thi-hoa tiba-tiba menyeletuk "Kalau demikian bila kita menunggu si mutiara itu kemari bukankah sudah sejak lama bertemu dengan Siauw ongya kalian?"

"Jikalau kalian benar-benar datang menunggu si mutiara itu Siau-ongya tentu takkan segugup itu, ia tahu Maling Romantis amat sayang pada kuda tunggangannya itu, maka ia berkesimpulan bila Maling Romantis tak menghadapi bahaya, sekali-kali tidak akan membiarkan dia pulang sendirian."

Oh Thi-hoa pelototi Ki Ping-yan katanya "Itulah yang dinamakan keblinger oleh kepintaran sendiri, ingin untung malah buntung, dari sini dapatlah disimpulkan ada kalanya orang gede tidak akan unggul dari anak kecil dalam melakukan kerjaan yang sama."

Ki Ping-yan, tidak menunjukkan perubahan mimik mukanya cuma dengan dingin dia menatap si jambang bauk, katanya "Dari nada perkataanmu ini, agaknya Siau-ongya kalian amat prihatin dan menguatirkan sekali keselamatan Maling Romantis?"

Kembali si jambang bauk mengunjuk senyuman lucu yang aneh tadi, katanya "Ya, memang luar biasa keprihatinannya."

Ki Ping-yan menjadi bengis, katanya "Lalu dia menculik sanak Maling Romantis kemari apa pula maksud tujuannya?"

Si jambang bauk melengak, tanyanya "Menculik sanak Maling Romantis? Mana ada kejadian itu? Kukira tuan salah paham."

Sikapnya serius, sedikitpun tidak menunjukkan kemunafikannya.

"Apakah Yong ji dan lain-lain tidak pernah kemari,"

Tanya Coh Liu-hiang.

"Yong ji.... maksud Maling Romantis apakah nona Soh, nona li dan nona......"

"Benar, apa kau melihat mereka? Dimana mereka sekarang?"

Tukas Coh Liu-hiang.

"Nona Soh bertiga sudah tentu ikut Siau-ongya menuju ke Tionggoan."

"Mereka..... apakah mereka baik-baik saja."

"Ketiga nona-nona itu sungguh amat pintar, lincah dan cantik-cantik lagi, malah raut muka mereka selalu dihiasi senyuman mekar yang manis, seolaholah mereka tidak pernah tahu bahwa dalam dunia ini ada peristiwaperistiwa yang menyedihkan, sehingga orang-orang yang melihatnya pun melupakan penderitaan". Mendadak matanya menatap Ki Ping-yan tanyanya "Tapi kenapa tuan mengatakan Siau-ongya kami yang menculik mereka kemari?"

Ki Ping-yan juga dibuat bengong, tanpa sadar diapun mengelus hidungnya tanyanya "Memangnya bukan?"

"Sudah tentu bukan, mereka bertiga adalah tamu-tamu Siau-ongya yang terhormat dan teragung, malah boleh dikata hubungan mereka begitu akrab dan intim sekali, mereka berempat sampai tidurpun berat berpisah, entah berapa banyak persoalan yang selalu mereka bicarakan."

Semua orang kembali melongo mendengar kata-katanya terakhir ini Coh Liu-hiang, Ki Ping-yan dan Oh Thi-hoa bertiga jadi saling pandang, sepatah katapun tak bersuara.

Sesaat kemudian baru Oh Thi-hoa bersuara "Katamu mereka sering tidur bersama?"

"Ya, boleh dikata keluar satu kereta, tidur satu pembaringan."

Oh Thi-hoa angkat pundak sambil menghela napas, katanya kepada Coh Liu-hiang "Agaknya Siau-ongya ini cukup pintar dan tinggi ilmunya."

Terasa getir tenggorokan Coh Liu-hiang, tak tahu apa yang harus dikatakan. Tiba-tiba Pipop kongcu menyeletuk bertanya "Siau-ongya kalian sebetulnya laki atau perempuan?"

Agaknya si jambang bauk melengak, sahutnya tertawa geli "Sudah tentu perempuan, cuma Lo ongya tidak punya putra, maka sejak kecil dia didandani seperti anak laki-laki, kitapun diperintahkan untuk memanggil Siau-ongya....

masakah Maling Romantis belum tahu malah?"

Coh Liu-hiang hanya menggosok hidungnya semakin keras, Oh Thi-hoa tak tahan terloroh-loroh, cuma rona muka Pipop kongcu yang murung dan jelek kelihatannya, katanya sambil melotot kepada Coh Liu-hiang "Agaknya tidak sedikit orang yang memperhatikan dirimu".

xxx Angin badai meniup kencang di luar perkemahan laksana mengiris kulit, didalam kemah sebaliknya terasa hangat nyaman seperti dalam musim semi, ditambah bebauan harumnya daging panggang dan arak susu kambing, boleh dikata Oh Thi-hoa sudah menghilangkan kerisauan hatinya.

Tapi Coh Liu-hiang sebaliknya tidak seriang itu, terasa olehnya persoalan justru semakin rumit semakin banyak dan berbelit belit, cukup lama sudah Ki Ping-yan mengawasinya, tak tahan ia lantas berkata "Sebetulnya apakah yang telah terjadi?

Apa sekarang sudah kau bikin jelas?"

"Aku masih belum begitu paham,"

Sahut Coh Liu-hiang tertawa getir.

Oh Thi-hoa tertawa, katanya "Lebih baik kau mulai lagi dari depan lalu satu persatu menganalisa sampai kejadian hari ini, nah mulailah kau bercerita supaya kita beramai ikut menyelesaikan persoalan ini."

"Kejadian ini dimulai waktu aku minta Mutiara hitam memberitahu kepada Yong ji supaya lekas dia pulang, karena pada waktu itu aku sendiri sembarang waktu kemungkinan mengalami bahaya, sesungguhnya tak punya tenaga untuk melindunginya lagi,"

Demikian Coh Liu-hiang mulai membuka cerita.

"Agaknya bukan saja Mutiara hitam itu menyampaikan pesanmu, malah dia sendiri yang mengantar Yong ji pulang,"

Olok Oh Thi-hoa tertawa "Sepanjang jalan, kedua orang bicara punya bicara, belakangan lantas menjadi teman baik."

"Gelagatnya memang begitulah!"

Ujar Coh Liu-hiang.

"Tapi cara bagaimana Mutiara hitam itu bisa membujuk Yong ji bertiga, sehingga mereka mau ikut dia keluar perbatasan sini? Apa pula tujuannya dia berbuat demikian? Memangnya hanya ingin supaya kau gugup dan kebingungan?"

"Disinilah titik persoalan yang tidak bisa kupahami, biasanya Yong ji bertiga amat menuruti kata......"

Pipop kongcu tiba-tiba tertawa dingin, jengeknya "Kalau kau selalu ngelayap diluaran, sebaliknya mereka selalu berada dirumah menunggu kau oleh karena itu kau lantas beranggapan adalah pantas kalau mereka selalu mengganggumu dirumah, benar tidak?"

"Sebetulnya mereka memang tiada sesuatu tujuan untuk kemana-mana."

"Dari mana kau bisa tahu bila mereka tidak punya sesuatu tujuan berpergian? Seumpama mereka adalah anjing penjara rumahmu, adakalanya juga mereka akan mondar-mandir diluaran mencari angin...."

Mencibir bibir Pipop kongcu melanjutkan dengan tertawa dingin pula.

Kalau kau jadi Yong ji, tahu kau begitu percaya kepadaku, maka akan kupikir suatu akal supaya kau gugup dan kebingungan.

Sekali tempo, aku sudah menunggumu puluhan kali, malah mungkin sudah ratusan kali, adalah pantas kalau kau harus menungguku sekali."

"Plak! Oh Thi-hoa menepuk tangan katanya keras "Betul sekali, isi hati perempuan memang hanya dipahami sesama perempuan jikalau kau membiarkan seorang perempuan tahu bahwa kau amat percaya kepadanya, maka dia justru akan mencari akal berdaya upaya untuk mempermainkan atau menyiksa kau, kalau toh dia sudah betul-betul tunduk lahir batin dan kepincut kepadamu, namun toh dia tidak akan membiarkan kau tahu akan rahasia hatinya ini."

Pipop kongcu mencemooh "Lantaran perempuan kebanyakan sudah tahu bahwa laki-laki memang punya tulang kere, seorang perempuan yang tergila-gila dan amat mencintai dirinya, maka dia akan merasa perempuan itu tidak menarik hatinya lagi, segera dia akan mencari perempuan lain."

Oh Thi-hoa tertawa bergelak "Meski ucapanmu ini keterlaluan, tapi bukan tiada artinya."

Coh Liu-hiang meringis, ujarnya "Kalau begitu, bahwa mereka mau ikut Mutiara hitam keluar perbatasan, jadi maksudnya supaya aku gelisah dan kebingungan?"

"Seumpama mereka sebenarnya tiada maksud ini, tapi karena hasutan Mutiara hitam, mau tidak mau mereka akhirnya terbujuk dan mau menurut".

"Tapi kenapa Mutiara hitam mau membujuk mereka sampai mau pergi?"

Disamping Pipop kongcu mencibir pula, ejeknya "Masakah kau belum paham akan hal ini?"

"Ya, aku tidak mengerti,"

Sahut Coh Liu-hiang terus terang. Sengaja Pipop kongcu melengos ke arah lain ejeknya pula "Orang yang mulutnya suka bilang tidak mengerti, dalam hati tentu sudah paham benar."

"Tapi aku benar-benar tidak mengerti."

"Walau dia tak tahu kalau Mutiara hitam seorang perempuan, tapi Mutiara hitam tahu kalau dia seorang laki-laki, benar tidak?"

"Hal ini kukira tak perlu disangsikan kecuali induk kera, tiada seorang perempuan yang badannya tumbuh bulu begitu banyak seperti dia itu."

Kata Oh Thi-hoa melucu.

Tak tahan Pipop kongcu tertawa geli, tapi segera ia menarik muka pula, katanya tertawa dingin "Orang seperti dia gagah dan tampan laki-laki yang romantis lagi, berapa sih jumlahnya dalam dunia ini?

Bukan mustahil sejak pertama kali bertemu Mutiara hitam sudah kecantol kepadanya, seperti menggelotok kulit telur diberikan kepadanya, celaka adalah jago kita yang jadi lakon tampan dan romantis ini justru bermain begitu buruk dan goblok sekali, sedikitpun dia tidak tahu."

Oh Thi-hoa ikut tertawa katanya "Bagi seorang gadis perawan!

bukan saja hal ini dianggapnya sebagai memandang rendah, juga suatu penghinaan, oleh karena itu bahwa gusarnya nona Mutiara hitam, lantas mencari akal untuk menghajar adat jago kita yang suka sok romantis itu bukan?"

"Ditambah nona Mutiara itu kuatir begitu berpisah, selanjutnya ia tidak akan bisa bertemu lagi dengan pemuda pujaan hatinya itu tapi dengan apa yang ia lakukan tak usah kuatir orang takkan bergegas menyusul dan mencarinya."

"Lucu, lucu menarik benar cerita ini,"

Seru Oh Thi-hoa bertepuk tangan pula.

"Coh kongcu masakah kau sendiri tidak merasa lucu dan menarik?"

Coh Liu-hiang menarik muka, sahutnya "Jikalau lidahmu hendak putus, itu baru leibh lucu dan menarik tentunya!"

Ki Ping-yan menghela napas katanya "Bocah ya tetap bocah, selamanya takkan tumbuh dewasa, orang-orang gede punya pikiran hati apa, selamanya ia tidak akan tahu!"

Pipop kongcu tertawa dingin "Kalian tuan-tuan gede ini punya isi hati apa, silahkan beberkan supaya kami bisa tahu!"

"Semula kukira pemberontakan yang terjadi di negeri Kui je, adalah kerja Mutiara hitam yang memimpinnya secara diam-diam, oleh karena itu baru tahu akan hubunganku dengan Setitik Merah, baru dia bisa mencari Setitik Merah dan mengundangnya kemari."

Demikian Coh Liu-hiang utarakan pendapatnya.

Ki Ping-yan berkata "Kini kita sudah tahu bahwa Mutiara hitam hakekatnya tiada sangkut paut dengan peristiwa ini, jadi pemimpin yang berada di belakang layar itu pasti Ciok koan-im adanya, tapi Ciok koan-im cara bagaimana bisa."

Segera Pipop kongcu menukas pula "Hanya itu sajakah isi hati tuan-tuan gede? Menurut pendapatku, bahwasannya persoalan ini sangat sederhana, anak umur tiga tahunpun bisa menebaknya dengan jitu."

Coh Liu-hiang dan Ki Ping-yan diam-diam saja, Pipop kongcu lantas meneruskan "Tiga orang........

tiga orang sanak Coh Liu-hiang diboyong kemari oleh Mutiara hitam tentunya seluruh anak buahnya sudah tahu, orang banyak mulutpun suka iseng, tidak sedikit pula anak buah Ciok koanim yang tersebar dimana-mana sebagai mata-mata, sudah tentu hal ini cepat sekali sudah dapat didengar olehnya, maka dia lantas melakukan suatu sulapan kecilan saja, supaya Coh Liu-hiang menyangka ketiga nona itu berasa di genggamannya, oleh karena itu pemuda kita yang romantis ini mana berani banyak tingkah?"

Ki Ping-yan melirik kepada Coh Liu-hiang, katanya tertawa getir "Tak nyana banyak urusan yang sukar dan berbelit-belit, cukup dibeber oleh anak kecil saja, urusan jadi mudah, gampang dan sederhana sekali persoalannya."

Pipop kongcu tidak perdulikan olok-oloknya, katanya lebih lanjut "Tapi dia masih kuatir Coh Liu-hiang tidak percaya, maka dia lantas undang Setitik Merah kemari.

Kalian tuan-tuan gede yang banyak akal dan melihatnya ini pikir pulang pergi, akhirnya yakin bahwa Mutiara hitam saja satu-satunya orang yang tahu hubungan antara Coh Liu-hiang dengan Setitik Merah, oleh karena itu tuan-tuan gede lantas beranggapan bahwa Mutiara hitamlah orang yang berada di belakang layar mengatur dan menjadikan peristiwa ini melibatkan kalian, sudah tentu kalianpun beranggapan bahwa nona Soh bertigapun terjatuh ke tangan Ciok koan-im, oleh karena itu, kalian lantas terjeblos semakin dalam ke dalam muslihat dan perangkap yang sudah mereka atur."

Melihat Coh Liu-hiang dan Ki Ping-yan sama melongo, tak tahan Pipop kongcu tertawa geli dengan riang dan kesenangan, katanya "Coba kalian pikir, bukankah amat sederhana persoalan ini?

Soalnya otak kalian saja yang terlalu pintar dan menilai persoalan terlalu tinggi dan berbelit-belit, suka unjuk kepintaran sehingga urusan berlarut-larut, maka urusan yang sebetulnya sederhana dan dapat dipecahkan, malah semakin ruwet dan tak terpecahkan oleh kalian."

Coh Liu-hiang menyengir ujarnya "Jadi menurut apa yang kau uraikan ini, pasti ada orang lain pula yang mengetahui akan hubunganku dengan Setitik Merah, oleh karena itu baru dia bisa memperalat Setitik Merah untuk memancing aku, begitu maksudmu bukan?"

"Baru sekarang kau mulai sadar,"

Ujar Pipop kongcu. Coh Liu-hiang mengerut kening pula, katanya "Tapi yang tahu hubunganku dengan Setitik Merah, kecuali Mutiara hitam yang lain-lain sudah mati!"

Pipop kongcu menjengek dingin "Berhadapan dengan Maling Romantis, orang matipun bisa hidup kembali."

Kata-kata ini sebetulnya cuma mau memancing kemarahan Coh Liu-hiang saja, tapi mendengar kata-katanya Coh Liu-hiang, justru tersentak sadar laksana ulu hatinya terhujam anak panah, seketika dia berjingkrak bangun.

Pada saat itulah, tiba-tiba terdengar derap kaki kuda yang riuh dan kencang, tanah pasir di gurun pasir cukup empuk, maka waktu mereka mendengar derap kaki kuda yang ramai mendatangi ini, jaraknya kira-kira tinggal puluhan langkah saja dan sekejap saja sudah tiba dan berhenti.

Disusul suara sorak sorai sambutan gembira dari orang banyak, agaknya pendatang mempunyai kedudukan tinggi yang dihormati makapadang pasir yang semula tenang dan sunyi ini, sekejap ini berubah jadi suasana riang gembira dan ribut dari pahlawan-pahlawan gurun pasir itu.

Mencorong terang biji mata Oh Thi-hoa, katanya girang "mungkinkah Mutiara hitam yang telah datang?"

Belum habis kata-katanya, Coh Liuhiang sudah berlari keluar kemah.

Tampak ditengah-tengah lapangan sana memang terdapat tiga ekor kuda, pelananya belum dilucuti, badannya kotor oleh debu pasir.

Ketiga ekor ini boleh dibilang terhitung kuda pilihan yang tiada bandingannya di padang pasir ini, tapi saking letihnya ketiganya sama roboh lemas dengan napas sengal, mulut berbuih lagi, boleh dikata hampir saja mati hidup-hidup kehabisan tenaga.

Pahlawan-pahlawan gurun pasir atau kafilah umumnya paling menghargai dan pandang kuda-kuda jempolan lebih berharga dari pada jiwa sendiri, tapi sekarang tiada seorangpun yang sempat mengurus ketiga ekor kuda ini.

Malah sebuah kemah yang berada di sebelah timur sana sedang dirubung orang banyak, sikap mereka amat senang dan bergairah, terang ketiga penunggang kuda yang baru datang itu kini sudah mereka songsong masuk ke dalam kemah.

Baru saja Oh Thi-hoa mengikuti Coh Liu-hiang keluar hendak memburu kesana, seseorang tahu-tahu sudah melihat mereka dan lekas memburu menghampiri, katanya membungkukkan badan dengan seri tawa "Temanteman Kongcu yang empat orang itu kami sudah memberikan tempat yang layak dan pengobatan yang baik, mereka kini sedang istirahat.

Soalnya tiba-tiba kita kedatangan tamu dari jauh, maka Ciangkun tak bisa mengiringi Kongcu minum arak, harap Kongcu suka maklum dan maaf!"

Empat orang yang dimaksud adalah Ki Bu-yong, Setitik Merah yang luka dan Liu Yan-hwi serta Suhengnya Ciok tho, sedang Ciangkun yang ia maksudkan ialah si jambang bauk itu.

Tak tahan Oh Thi-hoa bertanya "Jadi kalian kedatangan tamu dari jauh, entah siapakah tamu kalian itu?"

Orang itu unjuk tawa pula sahutnya "Mungkin Kongcu tak akan mengenal akan mengenal mereka."

"O..!"

"Sebetulnya! kalau mau dikatakan mereka tak terhitung sebagai tamu, anggaplah sebagai langganan kita beramai."

"Apa.. langganan?"

Oh Thi-hoa menegas tak mengerti.

"Sejak Lo ongya mangkat, kehidupan kita beramai boleh dikata menjadi persoalan besar, demi hidup kami terpaksa mencari obyekan sekenanya, untuk mempertahankan keadaan yang sudah tidak stabil ini."

Oh Thi-hoa jadi ketarik, katanya tertawa "Entah siapakah langganan kalian itu? Tugas apa pula yang mereka berikan kepada kalian?"

"Tugas kita tidak ubahnya seperti para Piausu yang melindungi barangbarang expedisi di Tionggoan, kali ini kamipun bertugas menyelesaikan sesuatu urusan kecil saja, malah dua hari yang lalu sudah kami bereskan dengan baik."

Oh Thi-hoa masih ingin tanya tapi Coh Liu-hiang sudah melihat roman muka orang ini sudah rada kurang senang, segera ia tarik Oh Thi-hoa katanya tertawa "Kalau begitu silahkan saudara lekas melayani tamu itu kami sih cukup mampu mengurus diri sendiri."

Setiba didalam kemahnya sendiri mulut Oh Thi-hoa masih mengoceh tak karuan "Kita ini adalah teman Siau-ongya mereka, tapi mereka pandang ketiga tamu itu jauh lebih penting dari kita, memangnya siapakah ketiga orang ini."

Coh Liu-hiang tertawa, sahutnya "Orang macam apa mereka itu, apa sih sangkut pautnya dengan kita?"

Mulutnya berkata demikian, namun dalam hati diapun sedang merasa keheranan.

Dimanapun, kuda-kuda jempolan seperti ketiga ekor yang roboh keletihan itu jarang didapat, tapi ketiga orang itu seolah-olah tidak sayang dan tidak memperhatikannya pula, mereka tak merasa sayang bila ketiga ekor kuda itu mati.

Merekapun punya urusan penting apa, begitu gugup dan tergesa-gesa menyusul kemari?

dan lagi dia menyewa tenaga si Jambang bauk yang merupakan bukan orang sembarangan di padang pasir ini, tentunya memberikan imbalan yang bukan kecil artinya, tarpi yang tinggi dari sesuatu tugas yang tinggi pula, tentunya menyelesaikan suatu tugas penting yang tinggi dan besar sekali artinya, lalu tugas rahasia apakah yang mereka lakukan?

Kenapa harus dirahasiakan sedemikian rupa?

Ingin Coh Liu-hiang kemukakan pertanyaan-pertanyaan ini, tapi Ki Ping-yan agaknya sudah meraba apa-apa yang sedang dia pikirkan, mereka berpandangan sebentar, Ki Ping-yan mendadak bicara "Biar aku pergi menjenguk Setitik Merah."

"Lebih baik kau hati-hati sedikit,"

Coh Liu-hiang segera memberi peringatan. Pergi menjenguk Setitik Merah, kenapa harus hati-hati? Berkilat mata Oh Thi-hoa, timbrungnya "Akupun mau pergi menjenguknya."

"Tak perlu kau banyak perhatian, silahkan kau minum arakmu saja di sini!"

Dengan tegas Ki Ping-yan menolak.

Mendadak Oh Thi-hoa tergelak-gelak katanya "Kalian tak usah kelabuhi aku, dengan kalian aku sudah bersahabat dua tiga puluh tahun melihat tindak tanduk kalian yang sembunyi-sembunyi ini memangnya aku tak bisa meraba kalian sedang merencanakan sesuatu muslihat apa?"

Coh Liu-hiang mengawasi Ki Ping-yan dengan tersenyum getir katanya "Urusan apapun orang-orang gede bisa mengelabuhi anak-anak kecil, tapi kalau ingin pergi main-main jangan harap kau bisa ngapusinya, begitu kau keluar munduk-munduk tentu jejakmu sudah konangan, kontan dia lantas merengek-rengek mau ikut sampai kau kewalahan dan membawanya juga."

Pipop kongcu cekikikan geli, katanya "Siapa nyana belum lagi menjadi bapak ternyata sudah punya pengalaman mengemong anak-anak.

"Pada saat itu pula tiba-tiba terdengar derap kaki kuda pula. Kali ini suaranya gemuruh sepertiguntur menggelegar terang yang datang kali ini, sedikitnya adalima ratus penunggang kuda, jelas karena melihat perkemahan d sini, maka derap kaki kuda rada diperlambat, tapi cepat sekali mereka sudah mendatangi semakin dekat, barisan segera terbagi menjadi dua sayap ke kanan kiri dengan formasi mengurung, agaknya rombongan si jambang bauk hendak dikepung. Berkata Ki Ping-yan dengan suara berat "Mungkinkah rombongan besar ini mengejar tiga orang tadi?"

"Benar."

Timbrung Coh Liu-hiang.

"Tak segan-segan mereka bikin kuda baik sampai keletihan hampir mati, kiranya mereka sedang melarikan diri dari kejaran besar-besaran ini."

Belum lagi mereka bicara habis Oh Thi-hoa sudah mendahului menerjang keluar.

Dilihatnya anak buah si jambang bauk sudah berdiri jajar siap tempur dengan memasang busur dan anak panah, golok dan tombak sudah siap dan siaga, debu menguning membumbung tinggi mengotori angkasa, derap tapal kuda akhirnya berhenti.

"Eh bakal berkelahi kenapa si jambang bauk tidak undang kami? Memangnya dia pandang ringan kita?"

Kata Oh Thi-hoa.

"Masakah dia tahu kalau kau ini suka mencampuri urusan orang lain?"

Jengek Ki Ping-yan dingin.

Jilid 26 Tiba tiba dari rombongan besar pihaksana tampil seorang penunggang kuda, kira-kira puluhan tembok di depan perkemahan mereka berhenti dan berseru lantang.

"Rombongan kalian pahlawan-pahlawan dari negeri mana?, Adakah kalian melihat tiga ekor kuda lari ke jurusan sini?"

Dari pihak sini segera seorang balas membentak.

"Memangnya kalian sendiri dari negeri mana? Kenapa di depan pasukan kita membentuk barisan mengepung kita?"

Orang itu balas membentak.

"Pihak kita adalah pasukan kavaleri dari negeri Kui-jie di bawah pimpinan Bin Ciangkun, orang yang lari itu buronan raja kami, Kalau kalian menyerahkan mereka, tentu mendapat balasan jasa yang besar, kalau sebaliknya menyembunyikan mereka atau melindunginya, sebentar pasukan besar kita bila sampai, jangan menyesal akan hancur luluh seluruhnya". Mendengar sampai di sini Pipop kongcu menjerit keras.

"Celaka, mungkinkah yang mereka kejar itu adalah ayahku?"

Segera ia berlari ke arah kemahsana , teriaknya melengking.

"Ayah.... Hu-ong.... Apakah kau yang datang?"

Dari dalam kemah disana menerobos keluar seseorang, memang benar dia adalah raja Kui-je.

Sudah tentu Coh Liu-hiang dan lain-lain amat kaget girang melihat orang berada di sini, sebaliknya Kui-je Ong pun berjingkrak kegirangan melihat mereka, serunya sambil tepuk tangan.

"Tak nyana sekalipun berada di sini bagus sekali, bagus sekali"

Pipop kongcu rebah dalam pelukan ayah bagindanya, katanya cekikan senang.

"Tapi bagaimana ayah seorang diri lari ke sini?"

"Nanti saja bicara soal keluarga, sekarang ..."

Pandang Kui-je ong terarah kepada Coh Liu-hiang katanya.

"Siau-ongya ingin bicara ke depan pasukan, apakah kalian sudi mengantar Siau-ong kesana?"

Coh Liu-hiang tersenyum sambil membungkuk badan.

"Cayhe beramai siap berbakti"

Kui-je ong tertawa besar, serunya.

"Bagus, bagus sekali"

Mau tak mau Coh Liu-hiang keheranan menghadapi Kui-je ong yang semulanya tahu foya foya tenggelam dalam minum arak melulu, biasanya badan yang begitu lemah loya dan tambun itu, jauh berbeda dengan keadaan tempo hari, bukan saja semangatnya menyala-nyala, bahkan kulit mukanya merah gagah dan berwibawa, seolah-olah sudah ganti rupa dan bentuk orang lain, tapi diapun maklum dalam keadaan situasi dan saat sekarang bukan saatnya dia banyak mengajukan pertanyaan.

Mereka bertiga ditambah si jambang bauk berempat masing-masing dua orang di kanan kiri Kui-je ong lima kuda tunggangan beranjak keluar tampil ke depan pasukan, busu yang berkeok-keok dengan temberang di depan pasukan itu, seketika kuncup nyalinya, mulutnya seketika terkancing rapat.

Setelah dekat Kui-je ong menatapnya tajam, katanya keren.

"Masih kau kenal dengan rajamu?"

Dulu busu ini adalah anak buah kepercayaannya, kini berhadapan dengan junjungan lama, tak urung hatinya jadi bingung kaget dan menyesal pula, dengan muka merah mulutnya megap-megap "Sudah lama Ongya meninggalkan negeri, Siau jin ..."

Kui-je ong tersenyum ramah, ujarnya.

"Kalian sudah tak percaya kepadaku, tapi aku tetap percaya kepada kalian"

Lebih merah muka busu itu, katanya tertunduk "Siau-jin sebagai alat Negara, hanya tahu patuh menjalankan perintah, jikalau perbuatan kami salah, bukan maksud dan tujuan Siau-jin sendiri"

"Baik, akupun tahu kesulitan kalian, kau Hong-hwa dan Ang Mak-hoa kemari menjawab pertanyaanku"

Busu itu mengiayakan, segera ia tarik kendali membalikkan kuda, terus balik ke dalam pasukannya.

Tak lama kemudian beberapa orang menunggang kuda segera dicangklong mendatangi, yang terdepan adalah Bin ciangkun, Ang siang kong dan Go Kiok-koan bertiga.

Melihat Coh Liu-hiang mendadak muncul ditempat ini, roman muka Go Kiok-koan berubah hebat, sungguh mimpipun dia tidak menduga bahwa Coh Liu-hiang bisa lolos dari cengkeraman tangan iblis Ciok koan im.

Coh Liu-hiang sebaliknya tersenyum-senyum mengawasinya, terang dalam sanubari mereka masing-masing banyak omongan yang perlu dibicarakan, tapi depan dua pasukan yang saling berhadapan tegang ini, bukan tempat dan saatnya bagi mereka mengobrol.

Roman muka Kui-je Ong yang ramah dan bijaksana itu, mendadak berubah kereng berwibawa, katanya dengan lantang dan bera.

"in Hong wa, Ang Hak hoa, biasanya Pun ong(membahasakan dengan diri sendiri) cukup baik terhadapa kalian, kenapa kalian memberontak membuat negeri geger, apakah sepak terjang kalian tidak miirip rampok dan dosa kalian patut dipenggal kepalanya"

Agak merah juga muka Bin ciangkun yang berkulit hitam, sikap Ang Siang ong sebaliknya tetap wajar dan tak berubah, katanya tertawa besar dengan menengadah.

"Kedudukan raja bukan anugerah Tuhan, hanya si arif bijaksana saja yang patut mendudukinya, kami beramai tidak ingin Cuma menegakkan keadilan dan kebenaran bagi umat tuhan, jikalau kau suka menyerah dan pulang bersama kita, mengingat hubungan lama yang baik dulu, bukan saja tak menyakiti jiwamu, kami malah akan bantu kau bermulut-mulut manis di hadapan Baginda Raja yang baru, supaya kau mendapatkan tempat yang layak menghabiskan masa tuamu"

Kui je-ong gusar, dampratnya.

"Matahari takan bersinar dua hari, negeri tiada dua raja, kecuali Pun-ong, siapa pula berani mengagulkan diri sebagai raja dalam negeri kita?"

Ang Siangkong tertawa, timbrungnya.

"Benar, matahari takkan bersinar dua hari, suatu negeri taka nada dua raja, sekarang Baginda raja yang baru sudah menduduki jabatannya, tidak kau segera menyerah dan menghamba kepada beliau bukankah kau ini sicerdik yang kelelep oleh kepintarannya sendiri?"

Mendadak Kui-je Ong bergelak tawa, serunya.

"Baginda Raja yang baru? Tahukah kalian dimana sekarang raja baru kalian berada?"

Berubah juga air muka Ang siangkong, kilas lain dia sudah tertawa tenang pula, katanya.

"Sudah tentu sedang berada di istana menunggu kabar gembira, menunggu kita membekuknya ke hadapannya"

Kui-je Ong bergelak tawa pula, serunya.

"Boleh kalian lihat dulu apa ini?"

Dari tangan si jambak bauk dia menerima sebuah kotak cendana, terus dilempar sekuatnya ke depan.

Lekas Ang Siangkong menangkapnya, begitu dia membuka tutup kotak cendana itu, seketika pucat ngeri air mukanya, seketika kedua tangannya gemetar hebat dan kotak tak kuasa dipegangnya lagi.

"Klotak!"

Jatuh menggelinding ke tanah berpasir.

Dari dalam kotak cendana itu menggelinding sebuah kutungan batok kepala orang, lekas si jambang bauk keprak kudanya ke depan dengan golok panjangnya dia sunduk batok kepala itu dibagian lehernya terus diangkat tinggi ke atas kepala.

Kui-je Ong membentak berwibawa.

"Pemberontak Ang tek san sudah dua hari yang lalu kita bekuk dan hokum mati padanya, batok kepalanya kini berada di sini. Siapa saja yang merasa diancam, sehingga mengekor kepada pemberontak, jikalau sekarang lekas-lekas membuang senjata dan menyerah, dosa-dosanya diperingan tiga tingkat atau diberi kebebasan"

Begitu pengumumannya berkumandang, pasukan pemberontak anak buah Bin ciangkun seketika gempar dan bersama-sama membuang senjata Lekas Go Kiok-kan membentak keras.

"Dia menghasut dan membual belaka untuk meruntuhkan semangat tempur pasukan, jangan kita tertipu melihatnya"

Berputar biji mata Ang siangkong, segera dia berteriak.

"Benar dia meninggalkan istana tanpa menghiraukan penderitaan rakyatnya, menyelamatkan diri saja tidak sempat, masakah punya kekuatan melakukan peristiwa sebesar ini?"

Kui-je ong bersikap tenang dan tetap tertawa besar, serunya.

"Kalian kira pun-ong hanya melarikan diri saja? Ketahuilah secara diam-diam pun ong sejak lama sudah mempersiapkan dan menggerakanlima barisan pasukan besar tiga hari yang lalu, sudah berhasil merebut kembali tahta dan kerajaan"

"Limabarisan pasukan besar apa", jengek Bin ciangkun "kalau kentut memang ada, siapa tak tahu kalau kau memang pandai kentut!"

Si Jambang bauk cemplak kembali ke atas kudanya, berdiri ke atas pelana, segera dia tarik suara sekeras-kerasnya.

"Empat barisan besar darilima barisan besar pasukan berhasil kami pinjam dari negeri tetangga, sementara barisan pertama adalah pasukan para saudaraku si jambang bauk hijau ini, memangnya kalian tidak percaya?"

Agaknya jambang bauk hijau ini punya nama dan amat disegani di padang pasir, tak sedikit anak buah Bin ciangkun yang tahu akan kebesarannya, tidak sedikit pula yang melihat bahwa batuk kepala itu bukan tiruan pula, maka kembali suasana menjadi rebut dan kacau balau, pasukan Bin ciangkun menjadi ciut nyalinya Bin ciangkun segera membentak beringas.

"Dimana Thi kak kun atau pasukan lapis baja? Lekas bekuk raja lalim ini!"

Suaranya keras dan kereng meski disiplin ketentaraannya amat keras, apa boleh buat, anak buahnya sudah goncang dan tiada satupun yang mendengar perintahnya lagi, kecuali beberapa orang pengawal pribadingya saja yang keprak kuda, tampil ke depan mengacungkan senjata.

Oh Thi-hoa tertawa besar, senyumnya.

"Nah, kini tiba saatnya kita bekerja!"

Ditengah gelak tawanya segera iapun keprak kudanya, menyongsong maju, sekali ia pentang kedua tangannya, tahu-tahu dua orang ia kempit di bawah ketiaknya, dua orang yang lain menjadi kaget dan terus menerjang kawannya sendiri yang teringkus itu, seketika dua orang terjungkal jatuh.

Si Jambang bauk tak mau ketinggalan, lekas ia aun golok maju menyerang.

Tangan kiri menenteng batok kepala raja pemberontak sementara gerakan golok di tangan kanan laksana kilat mneyambar, dua orang musuh menerjang kencang dengan kuda tunggangannya, dimana goloknya berputar, dua batok kepala kontan mencelat tingga ke udara.

Bin ciangkun berkoak-koak member perintah, tapi anak buahnya menjadi jeri, dan tercerai berai pula diterjang kesana kemari, melihat gelagat tidak menguntungkan, diam diam, Ang siangkong mundur kebelakang masukan, hendak melarikan diri.

Tiba-tiba terdengar suara dingin dekat belakangnya.

"Tuan gede ini hendak kemana?"

Dengan mencelos Ang siangkong lekas berpaling, entah kapan tahu Ki Ping Yan sudah berada di depannya, sedang tertawa dingin mengawasinya, dengan suara serak ketakutan Ang siangkong berkata.

"Sukalah Congsu lepaskan aku dulu, jasamu pasti akan kutebus dengan selaksa mas"

Ki Ping-yan menyeringai, jengeknya.

"Harta bendaku sudah terlalu banyak, aku sendiri sudah terlalu bingung cara bagai mana memakainya, kau hendak menyogok selaksa mas lagi, bukankah tambah risau hatiku"

Angsiaong unjuk ketawa dibuat-buat, katanya.

"Kalau congsun merasa kurang, bagaimana kalau kuberi sepuluh laksa mas?"

Mulut bicara mendadak tangannya mencabut sebilah badik yang dipegangnya diulasi berlian terus menusuk di perut. Ki Ping-yan tertawa dingin, ejeknya.

"Menggerakkan mulut kau masih boleh, menggunakan senjata masih terlalu jauh"

Belum habis kata-ktanya, entah dengan cara apa, tahu0tahu badik ditangan Ang siangkong direbutnya, sekali cengkram pula dia jinjing badan Ang siangkong dari punggung kudanya, lalu seperti memutar bandulan dia lempar badan orang sambil berseru.

"Nah sambutlah ini!"

Badan Ang siangkong yang besar tremok itu dilempar ke tengah udara lalu terjun bebas ke arah belakang, beramai ramai anak buak si jambang bauk menangkapnya, terus di telikung dan diikat kencang, digusur masuk ke dalam kemah.

Betapapun Bin ciangkun adalah orang militer yang berpengalaman di medan perang, meskipun keadaan menjadi kacau balau, sedikitpun ia tidak menjadi kacau, lekas ia lolos golok lalu menerjang maju hendak mengadu jiwa, kebetulan Oh Thi-hoa keprak kuda memburu ke arahnya, segera ia angkat golok membacok.

Melirikpun, seolah olah tidak sudi kepadanya, sekali ulur dan tarik secara gampang dia sudah rebut golok panjang orang, berbareng tangan yang lain terayun balik menggampar muka Bin ciangkun berkunangkunang, kontan terjungkal roboh dari punggung kuda dan jatuh semaput.

Kui-je ong membarengi teriak lantang.

"Pun ong sudah bertahta kembali, siapa buang senjata hidup, yang berani melawan bunuh semuanya, habis perkara"

Seruan ini seketika mendapat samburan sorak sorai dibarengi senjata berkerontongan dijatuhkan, ratusan senjata berbagai jenis memenuhi tanah pasir"

Perlu diketahui anak buah Binciangkun boleh dikata adalah serdadu pilihan yang sudah banyak pengalaman juga dimedan laga, untuk memaksa mereka menyerah apa lagi membuang senjata sebetulnya bukan suatu hal yang mudah, tapi mereka dulu anak buah Kui-je-ong sama juga, meski mereka ikut memberontak lantaran terpaksa karena kedisiplinan kemiliteran, kini setelah maha raja yang mereka junjung bertahta kembali, apalagi pemimpin tertinggi merekapun sudah tertawan, bak ular yang sudah tak berkepala, sudah tentu mereka tak berani nekad adu jiwa.

Cepat sekali keributan inipun sudah dipadamkan, mendadak Oh Thi-hoa berseru keheranan dengan celingukan kian kemari.

"Mana si Ulat busuk? Kenapa tak kelihatan?"

Xxx Padangpasir yang terbentang tenang dan sepi itu, mendadak tampak dua gulungan debu kuning yang membumbung tinggi ke angkasa panjang seperti naga yang sedang mengamuk, dua ekor kuda satu di depan yang lain di belakang sedang dicongklang dengan kencang saling kejar, yang depan adalah Go Kiok-kan yang sedang melarikan diri, yang di belakang dan mengejar tentunya adalah Coh Liu Hiang.

Ternyata melihat gelagat jelek Go Kiok-kan, lantas cari kesempatan untuk melarikan diri, tak kira sejak tadi Coh Liu-hiang memang sudah perhatikan dirinya sertiap gerak-geriknya tak lepas dari pengawasannya, begitu dia angkat langkah seribu, Coh Lui-hiang lantas mengetahuinya.

Begitulah mereka sudah larikan kuda masing0masing sekencang mungkin dengan kecepatan maksimum.

Tapi Coh Liu-hiang tidak menduga dan tidak mempersiapkan diri untuk saling udak begini, maka kuda tunggangannya sembarangan saja dia terima asal untuk tunggangan belaka pula kesempatan tiada waktu untuk dirinya memilih tunggangan, sebaliknya kuda tunggangannya Go Kiok-kan adalah kuda keluaran dunia barat yang jempolan.

Mula-mula mengandal tehnik Coh Liu-hiang menunggang kuda, dia masih mengudak dengan kencang dalam jarak tertentu, tapi lama kelamaan, kekuatan kedua menjadi berbeda, jarakpun diulur semakin berselisih panjang, badannya mencelat tinggi dari punggung kudanya.

Mengandal kepandaian ginkangnya yang tinggi tiada bandingan diseluruh kolong langit dia mengejar dengan tancap gas, sekaligus untuk mengadu kekuatan dengan kuda pilihan tunggangan Go Koik-kan itu.

Tampak gerak bayangan badannya laksana bintang meteor meluncur ditengah angkasa.

kuda tunggangan GO Kiok-kan yang pilihan itu ternyata tidak ungkulan dibandingkan lari kedua kaki Coh Liu-hing, sebentar saja, dia sudah hampir menyandaknya.

Go Kiok-kan segera keprak kudanya semakin kencang, semakin kencang mulutpun berteriak teriak.

"Coh Liu-hiang kau tidak bermusuhan tiada dendam dengan kau, kenapa kau mendesakku begitu rupa?"

Coh Liu-hiang tek bicara, ia tahu Go Kiok-kan hendak memancing bicara, karena begitu dia buka suara, hawa murni yang terhimpun di pusar seketika akan buyar, dengan sendiri gerakan badannya menjadi kendor dan lamban.

Dengan ketajaman kupingnya meski Go Kiok-kan tak berpaling tapi ia dengar suara lambaian pakaian Coh liu-hiang semakin dekat, jidatnya sudah dibasahi oleh keringat yang berketes-ketes sekonyong-konyong dia melambung tinggi meninggalkan pelana kudanya, ditengah udara bersalto beberapa kali, melampaui Coh Liu-hiang, terus berlari ke arah yang berlawanan dengan luncuran tubuh Coh Liu-hiang.

Sebetulnya sudah dia perhitungkan dengan seksama, saat itu Coh Liuhiang sedang tancap gas mengejar dengan kecepatan maksimum, terang tak mungkin bisa mengerem luncuran badannya yang melesat bagai anak panah itu, Coh Liu-hiang berhasil kendalikan gerakan badannya dan putar balik mengejar dirinya pula, tentu dia sudah berhasil melarikan diri dalam jarak yang cukup jauh.

Diluar perhitungannya bahwa puncak kepandaian enteng tubuh Coh Liuhiang benar benar sudah tak ada taranya di jagat ini malah jauh lebih tinggi dari apa yang dia bayangkan, belum lagi dia lari tak berapa jauh, kembali didengarnya lambaian pakaian yang mengejar datang dari belakang.

Angin kencang menerjang muka serasa seperti diiris pisau, ternyata mereka berdua berlari melawan angin.

Sekonyong konyong Go Kiok-kan kipatkan sebelah tangannya, maka terdengarlah suara "Blup!"

Suatu ledakan yang cukup nyaring juga, seketika selulung asap tebal berkembang melebar dengan cepat bergulung terhembus angin menyongsong kedatangan Coh Liu-hiang.

Baru sekarang Oh Thi-hoa tahu bahwa Coh Liu-hiang sedang pergi mengajar Go Kiok-kan, jelas pula bahwa intrik atau tugas rahasia si Jambang Bauk yang sedang dia perankan adalah harus melenyapkan atau menumpas kaum pemberontak di negeri Kui-je.

xxx Waktu itu Kui-je-ong sudah membuka suara jamuan makan minum yang meriah untuk merayakan kemenangan yang gilang gemilang ini.

Melihat Oh Thi-hoa seperti tidak tenang atau sedang memikirkan sesuatu, segera dia menegur denga tertawa.

"Buat apa kau kuatir bagi temanmu itu, dalam dunia ini siapa pula yang kuasa menandingi segebrak serangannya?"

Oh Thi-hoa menghela napas, katanya.

"Justru Cayhe merasa hal hal ini terlalu aneh, biasanya peduli siapa saja yang dia kejar, tentulah dengan mudah dapat dia ringkus kembali tanpa mendapat perlawanan yang berarti, tapi sekarang, dia sudah pergi sekian lamanya."

Kui je-ong tertawa katanya menghibur.

"Pun-ong berani tanggung, dia pasti takkan mengalami apa-apa, jangan kuatir, minumlah dan habiskan arakmu dengan lega hati."

Sekilas Oh Thi-hoa melirik kepada Pipop Kongcu, mendadak dia berbisik kepada Ki Ping yan.

"Apakah bocah itu tidak dipelet dan dipecut oleh tuan puteri yang genit ini maka tanpa pamit terus tinggal pergi?"

Ki Ping-yan mengerut alis, sahutnya.

"Kau menilai orang lain seperti tampangmu?"

"Hm !"

Oh thi-hoa mendengus.

"Kukira tidak akan meleset, perbuatan apapun berani dia lakukan, lebih baik mari kita keluar mencarinya !"

Mau tidak mau goyah juga keyakinan Ki Ping-yang, katanya berbisik juga.

"Kita membolos keluar terpencar, nanti kita bertemu di luar !"

"Baik, begitu saja kita atur"

Sahut Oh Thi-hoa.

Tiba tiba teringat olehnya bahwa Ki loh-ci sing masih berada di tangannya, Kui-je-ong memandang mestika itu begitu berharga, mana boleh dia bawa benda mestika ini pergi begitu saja.

Apalagi diapun pernah berjanji kepada permaisuri yang cantik jelita itu, untuk menanyakan rahasia yang terkandung didalam mestika ini, Segera ia merogoh keluar Ki-lohci-sing lalu diangsurkan dengan kedua tangannya, katanya tertawa.

"Cayhe beruntung tak mengecewakan harapan Baginda raja, Cayhe berhasil merebut mestika ini pulang, harap Baginda raja suka menerima balik."

Tak Nyana Kui-je-ong cuma tertawa tawa saja katanya.

"Congcu mendirikan pahala terbesar, Siao ong tiada sesuatu barang yang dapat kuhadiahkan kepadamu sebagai tanda kenangan."

Seolah-olah dia sudah melupakan bahwa Ki-loh-ci-sing ini sudah mengorbankan berapa banyak jiwa manusia, betapa besar imbalan yang dipertaruhkan bisa merebutnya kembali, tapi sekarang royal dan sembarangan saja ia hadiahkan mestika ini pada Oh Thi-hoa.

Saking kaget mulut Oh Thi-hoa sampai melongo dan tak bisa bicara, sekian lamanya baru dia tertawa dibuat buat, katanya.

"Jikalau Baginda rasa merasa Cayhe ada sedikit mendirikan jasa asal cukup memberikan beberapa poci arak padaku saja, Ki-toh ci-sing ini sekali kali aku tak berani terima."

"Kenapa?"

Tanya Kui-je ong melengak keran malah. OH Thi-hoa menyengir tawa dengan memencet hidung katanya.

"Anak melarat seperti aku bila membawa bawa mestika yang tak ternilai harganya ini, selanjutnya jangan harap bisa makan kenyang dan tidur nyenyak?"

Kui-je ong tersenyum ujarnya.

"Kalau dua tiga hari yang lalu nilai dari jambrut ini memang tak bisa diukur dengan apapun juga, Pun ong juga tak akan sembarangan menghadiahkannya padamu. Tapi sekarang, nilainya sudah jauh merosot sekali, batu jambrut seperti ini, entah masih berapa banyak dalam gudang istana bolehlah legakan saja hatimu menerimanya."

Seketika Ki Ping-yan dan Pipop-Kongcu pun ikut tertegun mendengar urusan kata kata yang susah dimengerti ini. Oh Thi-hoa membelalakkan mata, tanyanya kebingungan.

"Bukankah batu jambrut ini ada menyangkut suatu rahasia yang besar?"

"Itu hanya kabar angin yang sengaja disiarkan oleh Pun-ong sendiri, supaya orang lain sama menyengka bahwa batu jamrut ini betul mengandung suatu rahasia besar yang amat ingin diketahui oleh siapapun juga, hanya mengandal muslihat dari benda inilah Pun-ong baru bisa merebut tahta kembali. Diwaktu mereka tumplek seluruh perhatiannya untuk memperebutkan batu jambrut ini, Pun-ong sebaliknya secara diam diam sudah menggunakan harta peninggalan ayah Baginda yang diwariskan kepadaku, dan membeli lima barisan pasukan besar, tanpa diketahui oleh malaikat dan tidak dilihat oleh setan, tahu-tahu dengan gemilang aku berhasil merebut tahtaku kembali dari tangan kaum pemberontak"

Sebentar dia berhenti dengan mengelus jenggotnya, lalu menambahkan.

"Inilah yang dinamakan tipu bersuara di timur menggempur di barat."

Ki Ping-yan dan Oh Thi-hoa sama beradu pandang, bukan saja kaget, dan heran, merekapun amat kagum dan tunduk lahir batin akan kepintaran dan kecerdikan sang raja.

Semula mereka mengira raja tambun yang suka air kata-kata dan senang main perempuan ini, tak lebih hanyalah lelaki brutal dari suatu kerajaan asing yang terpencil saja.

Baru sekarang mereka tahu bahwa kepintaran dan kelihayannya, ternyata tidak lebih asor dari rajaraja dari dinasti yang sudah almarhum dulu.

Sengaja dia membentuk diri didalam pelukan perempuan-perempuan cantik, sudah tentu perbuatannya ini hanya memancing dan mengelabui mata kuping orang lain belaka.

Entah berapa lama kemudian baru Oh Thi-hoa menghela napas katanya tertawa getir.

"Tak heran selama ini Coh Liu-hiang selalu merasa keheranan, kalau toh Ki-loh-ci-sing ini menyangkut rahasia tahta kerajaan Kui-je, kenapa malah diberikan kepada para piausu dari Tionggoan untuk melindungi, dari dalam perbatasan diantara keluar perbatasan? Jikalau dia hadir disini dan mendengar uraian Sri Baginda, tentulah dia teramat kagum dan memuji Baginda."

Sementara Pipop-kongcu malah bersungut-sungut, tanyanya aleman.

"Tapi ayah kenapa kaupun mengelabui aku? Masakah seorang ayah juga harus main rahasia atau tidan mempercayai putrinya sendiri?"

"Bukan aku tidak percaya kepada putri mesti aku ini."

Ujar Kui-je-ong.

"Soalnya bila rahasia ini kerahasiakan dengan ketat, orang lain pasti akan berusaha mencari bocoran dengan berbagai daya upaya, asal sehari aku tak membocorkan rahasia ini, sehari nyawaku akan lebih panjang hidupnya dan orang-orang yang betul betul mengincar mestika ini dan hendak mengorek keterangannya mengenai rahasia ini, tentu dia berusaha pula melindungi jiwaku secara pelan-pelan."

Pipop kongcu menghela napas, ujarnya.

"Agaknya seorang gadis bila dia menjadi putri seorang raja, ternyata bukan suatu yang harus dibuat girang dan membahagiakan hidupnya, tak heran tuan putri dari dinasti yang terdahulu sebelum ajal dia menangis berkeluh kesah menutupi dukanya katanya.

"Semoga selama hidupnya kelak dalam penitisan yang akan datang dirinya tidak dilahirkan dalam keluarga kerajaan."

Tak tertahan Kui-je-ong pun menghela napas, ujarnya.

"Benar, seseorang bila ingin menjadi Baginda raja yang baik, maka belum tentu dia bisa menjadi ayah yang baik."

Apa yang dia ucapkan ini memang benar dan kenyataan, maklumlah seorang raja harus selalu ribut mementingkan urusan negara, mana ada waktu senggang untuk menunaikan tugas dirinya sebagai ayah bunda dari anak anaknya yang baik.

Oleh karena itu didalam gubuk liar, sering dilahirkan putra-putra bangsa yang berbakti.

Sebaliknya didalam keluarga kerajaan sering melahirkan putra-putra yang durhaka.

Mendadak Ki Ping-yan menjengek dingin.

"Ongya ternyata memang jenius dan berpambek besar, jarang orang yang bisa menandingi, cuma harus dibuat sayang dan kasih para Piausu yang mati secara konyol itu, demi terima bayaran beberapa keping yang perak berarti harus mengorbankan jiwa dan raga di padang pasir tanpa mendapat liang kubur yang layak."

Sikap KU-je ong berubah prihatin, katanya tawar.

"Politik negara, memangnya adalah sesuatu yang amat menakutkan. Bagi seorang panglima besar yang sukses besar, tulang tulang manusiapun bakal bertumpuk laksana gunung, apalagi bagi seorang raja dari suatu negara? Memangnya sejak dahulu kala, merupakan tragedi yang tak mungkin dielakkan. Umpamanya cikal bakal dinasti Song merekapun tak terhindar dari perbuatan tercela karena dipaksa oleh keadaan kenapa pula tuan tumplekan kesalahn ini kepada Pan-ong saja?"

Ki Ping-yan tertunduk dan menepekur sesaat lamanya, katanya kemudian.

"Ya, Cayhe yang kelepasan omong, harap Ongya maafkan kesalahan ini."

OH Thi-hoa ulurkan lehernya, terus menuang sepoci arak sedalam mulutnya, tumben bergelak tawa, serunya.

"Oleh karena itu, kunasehati kepada hadirin, cepatlah habiskan saja arakmu, tak usah banyak melibatkan diri mengenai segala tetek bengek ini, sejak dahulu kala betapa keluarga kerajaan tidak kesepian, memangnya bisa lebih unggul dari aku anak rudin yang senang dan hidup bahagia dan bebas ini."

Sekonyong-konyong seseorang menanggapi dengan tertawa merdu.

"Betul, minumlah arak dalam cangkirmu, jangan urusi segala tetek bengek. Tapi betapapun licik dan licinnya akhirnya mampus juga anjing menjadi daging panggang, burung terbangpun terjaring seluruhnya, busur sakti tersembunyi lagi, apakah kau belum pernah mendengar kata-kata ini?"

Bau harum seketika merangsang hidung setiap hadirin, sehingga semua orang merasa pikiran melayang dan seperti hampir mabuk, entah kapan tahu-tahu juwita yang tiada bandingannya kecantikannya, di bawah penerangan api yang kelap kelip benderang ini kelihatan seolah-olah bak bidadari turun dari khayangan.

Siapapun takkan menduga sang juwita yang rupawan dan molek di bawah penerangan api obor laksana bidadari ini ternyata tak lain tak bukan adalah permaisuri Kui-ji yang selalu dikatakan berpenyakitan dan berbadan lemah selalu di pembaringan.

Tampak mukanya tetap mengenakan cadar dari kain sari yang halus, bentuk mukanya yang cantik jelita laksana bayangan didalam asap, seperti kembang mawar didalam kabut, begitu cantik dam moleknya sampai siapa saja yang memandangnya pasti menahan napas.

Sungguh girang dan kejut pula Kui je-ong dibuatnya, sampai dia lupa bahwa sang permaisuri yang biasa berpenyakitan, entah cara bagaimana secara tiba-tiba bisa muncul di sini dengan gerakan badan nan aneh dan begitu menakjubkan, bergegas dia bangkit dan menyongsong maju sambil menyapa.

"Kenapa kau datang kemari?"

Permaisuri Kui-je tertawa, sahutnya.

"Aku sudah datang, apa kau kurang senang?"

"Tapi... badanmu terlalu lemah, masakan kau kuat menahan panas dan dingin yang begitu menyiksa di perjalanan nan jauh ini?"

Tiba-tiba Ki Ping-yan menyela pula dengan suara dingin.

"Jangan kata hanya cuaca buruk andaikan hujan golok angin panah juga tidak terpandang dalam mata permaisuri bukan?"

"Y, benar!"

Sahut permaisuri Kui-je tertawa. Berkilat sorot mata Ki Ping-yan, katanya pula.

"Burung habis masuk disembunyikan kelinci mampus anjing dipanggang, memangnya permaisuri hendak membunuh kita semuanya?"

Kui-je-ong bergelak tawa ujarnya.

"Pun-ong sekali kali tiada maksud ini kalian jangan kuatir dan banyak curiga."

Permaisuri justru mengejek dingin.

"Kau memang tiada maksud itu, sebaliknya kau yakin dapat melaksanakan."

"Kau..."

Baru sekarang Kui je-ong benar-benar tertegun.

Pelan-pelan permaisuri tinggalkan cadar mukanya, maka terlihatlah sepasang matanya nan bening tajam laksana air, dengan nanar dia tatap Kui-je-ong, katanya.

"Kau kenal tidak padaku, karena setiap orang yang mengenalku, jiwanya sudah menghadap kepada raja akhirat, sudah tentu dia tidak akan bisa hidup lagi."

Suasana hangat dalam kemah ini, seketika seperti digulung angin badai yang dingin dan membekuknya darah, kaki tangan setiap hadirin menjadi gemetar dingin dan berkeringat.

Karena saat mana, dalam benak setiap orang lapat-lapat sudah menebak, siapa perempuan yang tengah mereka hadapi ini.

"Ciok koan-im! Kau adalah Ciok-koan-im !"

Tapi tiada seorangpun yang berani membuka mulut. Kui-je ong melosot duduk di atas kursinya, katanya dengan tertawa sedih.

"Akupun tidak perduli kau siapa, tapi permaisuriku... masakah kau sudah membunuhnya?"

Suara Ciok-koan-im semakin merdu halus.

"Kaupun tak perlu bersedih, meskipun dia sudah meninggal, tapi aku masih hidup, aku tidak sebanding dia? Memangnya kau tidak puas?"

"Kau?"

Kui-je ong berjingkat kaget.

"Kalau toh aku sudah mewakili dia, maka selamanya aku tetap dalam kedudukanku seperti sekarang ini. Mengawasi badan yang ramping semampai dan montok berisi ini, lama kelamaan mata Kui-je ong mendelong memudar. Mendadak Ki Ping-yan tertawa dingin, katanya.

"Tidak salah, akupun tahu kau selamanya akan mewakilinya!"

"Kau... kau tahu?"

Teriak Kui-je-ong pula. Kata Ki Ping-yan.

"Baginda tak punya anak cuma seorang putri, jikalau Baginda dan tuan putri mengalami sesuatu, sebaliknya dalam negeri tak boleh sehari tanpa ada yang memerintah, sudah tentu memilih junjungan yang baru, demi memperebutkan kedudukan agung ini, semua orang betapa sudah berusaha dan berjerih payah memeras keringat, tapi tanpa mengeluarkan sedikit tenaga, ia sudah berhasil merebutnya, harus dibuat kasihan Ang-Hak-han, An Teksan orang-orang dogol itu sia-sia saja mereka dijadikan alat bonekanya, setelah mampus mereka bakal jadi setan penasaran"

Dengan dingin Ciok-koan-im tatap Ki Ping-yan dengan nanar, setelah katakata orang selesai, baru dia unjuk senyuman mekar, katanya.

"Tak nyana begitu tepat kau bisa mengorek isi hatiku, agaknya selama ini aku terlalu pandang rendah dirimu."

"Kau hendak bunuh aku?"

Suara Kui-je-ong mulai ngeri.

Ciok-koan-im tersenyum, ujarnya.

Sejak dahulu kala seorang raja mempunyai tradisi cara kematiannya sendiri, akupun tidak akan melanggar undang-undang ini cukup asal kau minum arak dalam cangkir di depanmu itu, selanjutnya kau tidak perlu merisaukan segala persoalan dalam dunia ini."

"Kau... kau sudah menaruh racun di dalam arak cangkirku ini?"

"Tidak terlalu banyak, tapi lebih dari cukup untuk kalian ayah beranak."

Mengawasi arak dalam cangkir di depan mejanya ini, mata Kui-je-ong mendelik, keringat dingin gemerobyos membasahi kepala dan mukanya.

Si Jambang bauk malam ini juga hadir dalam perjamuan minum arak dalam kemah ini selama ini dia tidak pernah buka suara, cuma dia selalu pasang mata menunggu kesempatan melihat Ciaok-koan-im tidak memperhatikan dirinya, secara diam-diam, segera dia menggeremet mundur hendak melolos keluar.

Siapa tahu ciok-koan-im justru seperti benar-benar mempunyai ribuan tangan dan ribuan mata, segala gerak gerik siapapun, jangan harap bisa lepas dari pengawasan matanya yang tajam.

Tanpa berpaling tiba-tiba dia menjengek dingin.

"Apa engkau ingin keluar mengundang bala bantuan?"

Si Jambang bauk kaget, bentaknya bengis.

"Benar, jangan kau lupa anak buahku ada delapan ratus banyaknya, semuanya sudah gemblengan di medan laga, semuanya adalah laki-laki sejati yang tiada satupun yang takut mati. mengandal tenagamu seorang, jangan harap kau mampu membunuh kita semuanya, cukup asal satu diantara kita ada yang ketinggalan hidup, melihatmu jangan harap bisa terlaksana maka kuperingatkan kepadamu, jangan kau lakukan perbuatan gila-gilaan ini."

Mendadak Ciok-koan im berkata.

"Bagus sekali ucapanmu, anak buah Ca Bok-hap memang kesatria-kesatria gagah yang tidak takut mati, cuma sayang jamuan kemenangan yang kalian adakan sekarang masih terlalu pagi waktunya, para saudara-saudaramu yang gagah perwira itu sekarang sudah sama mabok dan roboh tak sadarkan diri semuanya. Berubah rona muka si Jambang bauk, serunya.

"Memangnya kaupun memberi racun dalam arak mereka? Memangnya tiada satupun diantara mereka yang sadar?"

"Barusan aku sudah menebarkan racun di hadapanmu, apa kaupun melihat kapan aku turun tangan?"

Ujar Ciok-koan-im tersenyum manis.

Tiba-tiba Jambang bauk menggembor kalap seperti orang gila, golok diayun segera dia menubruk maju.

Kepandaian silatnya memang belum boleh dipandang sebagai tokoh kelas satu, tapi sudah gemblengan di medan laga kiranya tidak berkelebihan untuk memujinya, terang serangan bacokan goloknya ini amat sederhana tanpa mengandung variasi apa-apa, tidak mengandung tipu-tipu perubahan, cuma dengan seluruh kekuatan dan tumpuan dari semangatnya, besar hasratnya hendak memenggal kepala musuh.

Karena dia cukup insyaf hanya dengan kekuatan diri sendiri hendak melawan Ciok-koan-im, sungguh jauh sekali jaraknya, seumpama telur beradu dengan batu, jikalau serangannya ini gagal, maka tak berguna meneruskan serangannya, malah bukan mustahil jiwa sendiri uang konyol.

Maka dia sudah bertekad mempertaruhkan jiwa raganya dalam serangan dahsyat ini, kalau gagal dia siap berkorban.

Memangnya sudah menjadikan kebiasaan bagi ksatria-ksatria gagah yang hidupnya sudah dipasrah demi kehidupan kemiliteran yang selalu mempertaruhkan jiwa di medan perang, apapun yang dia lakukan, selalu senang beres dan menyeluruh, mati ya mati, tak perlu sampai berbuntut panjang.

Oleh karena itu, bacokan goloknya itu, memang gaya dan permainannya tidak enak dipandang mata tapi pembawaannya sungguhsungguh mengandung daya kekuatan yang bisa menciutkan nyali orang yang diincarnya.

Tepat pada saat goloknya terayun ditengah udara, Pipok-kongcupun membarengi bergerak laksana burung walet enteng dan cepatnya badannya melesat terbang menubruk ke arah Ciok-koan-im pula.

Selama ini diapun bungkam saja, karena diam-diam dia sudah mempersiapkan diri untuk bertindak, maka begitu dia menggertakkan badannya tahu-tahu, tangannya sudah menggenggam sebilah badik yang putih kemilau laksana perak.

Tampak dimana sinar perak itu berkelebat, laksana bintik bintang beterbangan ditengah angkasa, sekali turun tangan beruntun tiga jurus serangan dia lontarkan, masing-masing mengincar tiga Hiat-to besar dipunggung Ciok-koan-im.

Cara turun tangannya justru berlawanan dengan di Jambang bauk, lincah dan gesit tapi kekuatannya tidak mantap dan sedahsyat itu, dan lagi setiap jurus tipunya mengandung perubahan yang susul menyusul, sekali tidak kena perubahan serangan yang segera memberondong datang pula.

Kalau dinilai secara keseluruhannya, meskipun jurus permainannya ini sangat bagus dan menakjubkan, tapi bila sungguh-sungguh berhadapan dengan tokoh tangguh, hakekatnya tak membawa manfaat besar yang benar-benar berarti.

Akan tetapi, Pipop Kongcu dan si Jambang bauk punya permusuhan dan tujuan yang sama untuk mengganyang musuh mesti kepandaian silat mereka berlainan biasanya tiada pengalaman bersama mengeroyok musuh namun keduanya seakan akan seia sekata, oleh karena itu meski kepandaian mereka yang satu lemah dan yang lain keras, namun tanpa disadari mereka bisa bekerja sama dengan baik dan kebetulan.

Tampak titik perak laksana hujan deras memenuhi angkasa, selarik lembayung berkelebatan melintang, satu di depan yang lain di belakang bersama sama menungkup ke arah Ciok-koan-im.

Ciok-koan-im ternyata mandah berdiri di tempatnya sambil menggendong tangan tanpa bergeming.

Dalam kilasan kilat nan pendek itu sanubari Pipop-kongcu dan si Jambang bauk sama dilintasi perasaan kegirangan yang luar biasa disaat saat biasa golok dan badik mereka hampir mengenai sasaran itulah sekonyong-konyong suatu hardikan keras bagai guntur menggelegar, tahutahu Oh Thi-hoa sudah menerjang maju.

Gerakan Oh Ti-hoa laksana anak panah cepatnya, bergerak belakangan tapi mencapai tujuan lebih dulu.

Waktu si Jambang bauk turun tangan, masih belum menunjukkan gerakan apa-apa, tapi belum golok si Jambang bauk terayun turun, Oh Thi-hoa tahu-tahu sudah berada disamping Jambang bauk dimana kepalan tangan kirinya menjotos, kontan di Jambang bauk dihantamnya mencelat terbang, berbareng tangan kanannya tertekuk dan memuntir, seperti membagi cahaya menangkap bayangan, pergelangan tangan Pipop Kongcu tahu-tahu sudah terjepit oleh jari jarinya seketika seluruk dengan separo badannya, terasa linu dan kemeng.

Kui Je ong menjerit kaget, serunya.

"Oh Kongcu, kenapa kau malah memberontak juga?"

Pipop Kongcupun menjerit gusar.

"Kau sudah gila ya?"

Oh Thi-hoa tidak menjawab, ketika ia tarik Pipo Kongcu mundur tujuh delapan langkah baru berdiri tegak pula, ternyata Ciok-koan-im masih tetap berdiri di tempatnya tanpa bergerak, mukanya berseri tawa lebar.

Sebelah tangan Pipop Kongcu masih dapat bergerak, kontan dia ayun tangannya, menggampar muka Oh Thi-hoa, tak nyana baru saja tangannya bergerak tahu-tahu tangannya yang satu inipun tahu tahu tertelikung ke belakang.

Jurusan yang mengenai jambang bauk cukup berat, baru sekarang dia pelan pelan merangkak bangun, serunya dengan murka.

"Apa kau bukan teman baik Siao ongya kita? Kenapa kau pukul aku malah !"

Oh Thi-hoa menghela napas katanya tertawa getir.

"Sebetulnya aku tidak berniat memukul kau, menyakiti kau, tapi barusan waktu sudah terlalu mepet kuatir kehilangan kesempatan lagi sehingga tanganku kurang terkontrol sehingga jotosanku terlalu berat. Maaf !"

Pipop kongcu membanting kaki, serunya meronta-ronta.

"Kenapa Kau turun tangan kepada kami malah? Memangnya kau komplotannya? Atau kau ini melihat gelagat tidak menguntungkan, hendak menyerah dan menjadi kaki tangannya?"

Karena tangan tak bisa bergerak, segera dia menggerakkan kedua kakinya, sambil menendang kembali, mulutnya mengumpat caci.

"Kau binatang, sungguh tak nyana kau serendah dan sehina ini !"

Ciok-koan-im mendadak tertawa, ujarnya.

"Kau menolong mereka malah dicaci maki, buat aoa kau petingkah lagi?"

Pipop kongcu beringas, dampratnya.

"Kau lah yang ditolong olehnya, bukan aku, kalau dia tidak petingkah, sekarang jiwamu sudah ajal?"

"Kau kira dengan kedua jurus serangan kalian tadi lantas hendak mencabut jiwaku?"

Jengek Ciok-koan-im.

"Kenapa tidak bisa melukai kau?"

Damprat Pipop kongcu pula, dengan pongah segera dia menambahkan dengan suara lebih keras.

"Jurus kita tadi boleh dikata titik kelemahannya sekujur badanmu justru sudah terancam dalam kurungan serangan kita, akibatnya berkelitpun kau sudah tidak mampu lagi."

Ciok-koan-im lain menghela napas katanya.

"Kau memang tidak tahu betapa tingginya langit dan tebalnya bumi kenapa tidak kau pikir, bila benar seranganmu tadi hebat dan lihay serta jempolan, kenapa sekali gebrak sekali raih Oh Thi-hoa tahu-tahu sudah berhasil membekuk dan menundukkan kalian?"

Seketika Pipop-kongcu menjublek di tempatnya dengan mata terbelalak dan mulut melongo sungguh mulutnya tak kuasa berdebat lagi.

"Biar kuberi tahu sejujurnya kepadamu,"

Ujar Ciok-koan-im lebih lanjut.

"Jikalau serangan kalian tadi diteruskan, kalian berdua bakal terkapar tak berjiwa lagi, jurus serangan yang kalian anggap rapat dan ketat tiada titik kelemahannya, bahwasanya menunjukkan banyak lobang kelemahannya, sedikit ada tujuh delapan sasaran yang dapat kugunakan untuk balas menyerang kalian sampai mampus."

Tiba-tiba lengan bajunya itu beterbaran bagai gumpalan awan bergulung-gulung mengembang dengan enteng dan lincah, dalam sekejap mata, beruntun berubah tujuh delapan macam gaya dan gerakan, terdengar mulutnya berkata pula tawar.

"Coba lihat, jurus yang kumainkan ini tadi kulancarkan, apa kalian masih bisa hidup?"

Pipop-kongcu mengawasi dengan mendelong, terasa olehnya dari arah mana saja jurus permainan Ciok-koan-im ini dilancarkan, jelas dirinya takkan mungkin bisa melawan atau menandinginya, jikalau Ciok-koan-im mau merenggut jiwanya, sungguh segampang orang merogoh kantong mengambil sesuatu.

Kejap lain rona mukanya sudah pucat pias, keringat dingin bertetes-tetes menghiasi jidatnya.

"Sekarang kau sudah mengerti bukan, jurus serangan yang betul-betul ampuh dan tak terlawan oleh musuh, bukan kalian tidak mampu menggunakannya, malah berani kukatakan melihatpun mereka belum pernah."

Sorot matanya mendadak ke arah Oh Thi-hoa Katanya dingin.

"Kau tolong mereka, memangnya kau hendak turun tangan sendiri melawan aku?"

Oh Thi-hoa mematung ditempatnya, seolah-olah dia tidak mendengar pertanyaan orang bahwasanya diapun terkejut dan melenggong oleh pertunjukan kepandaian lengan baja Ciok-koan-im barusan.

Seolah-olah barusan dia melihat seorang penari jelita yang sedang menarikan selendang panjang dengan gemulai, disaat hati riang dan gembira, diiringi musik nan merdu menarik dengan asyik.

Siapapun dia, melihat tarian yang gemulai indah ini, umpama hati sedang gundah dan merana, seketika hatipun akan riang gembira, maka disaat hatimu ketarik dalam suasana riang gembira itu tanpa sadar jiwanya sudah terenggut konyol.

Cepat sekali otak Oh Thi-hoa bekerja pulang pergi, pikir punya pikir tetap tak tersimpul olehnya dengan perbendaharaan kepandaian silatnya sekarang, dengan jurus apa baru dia kuasa memecahkan serangan lengan baju yang hebat tadi, kalau Ciok-koan-im menggunakan jurus tadi menyerang dirinya, mungkin sendiripun bakal terkapar mampus.

Tidak perlu dia banyak bertanya kepada Ciok-koan-im apakah orang masih mempunyai simpanan jurus yang lebih lihay lainnya, karena bagi seorang tokoh kelas wahid, sekali gebrak dia cukup menentukan mati hidup jiwa seseorang.

Dilihatnya sikap Ki Ping yang masih tetap tenang dan mantap, tapi butiran keringat kecil mulai merembes di ujung hidungnya, terang bahwa diapun sedang mencari daya untuk berusaha memecahkan jurus serangan Ciokkoan-im yang didemontrasikan baru.

Lama suasana hening mencekam perasaan semua hadirin, akhirnya Oh Thihoa tak tahan lagi, katanya.

"Ilmu apakah yang barusan kau mainkan?"

"Tidak menjadi soal kuberitahu kepada kau jurus tadi kunamakan laki-laki tak boleh lihat!"

Oh Thi-hoa melengak.

"Laki-laki tidak boleh lihat? Ilmu silat apakah itu?"

"Sebetulnya bukan termasuk ilmu silat lihay tapi siapapun asal dia seorang laki-laki setiap kali berhadapan dengan jurus ini, dia pasti mengantar jiwa, oleh karena itu, oleh karena itu laki-laki sekali-sekali dilarang melihatnya."

Berkerut alis Oh Thi-hoa, tanyanya.

"Ilmu silat dari golongan atau dari perguruan manakah itu?"

"Di kolong langit ini golongan atau perguruan silat mana yang mampu menciptakan jurus silat seperti itu? Umpama kata dua aliran perguruan silat yang paling ternama sekarang kepandaian silat Siau lim pay terlalu kental terlalu goblok, seperti semangkok besar lima macam daging panggang, mesti penuh dan cukup mengencangkan perut, tapi paling-paling hanya bisa memuaskan kaum kuli dan serdadu rendahan belaka bagi seseorang yang benar-benar tahu menikmati masakan lezat, sekali-kali dia tidak sudi memakan hidangan serba minyak, sampai di sini dia tertawa geli, lalu melanjutkan.

"Ilmu silat Bu tong pay sebaiknya malah terlalu tawar, seumpama sepiring masakan sayur hijau campur tahu yang lupa dibumbui garam, kelihatannya warnanya memang enak dan indah, tapi setelah kau gares, selanjutnya pasti tidak akan menambah selera makan orang, benar tidak?"

Betapa tinggi dan hebat kepandaian silat dari aliran Siau lim pay dan Bu tong pay yang dipandang sebagai puncak persilatan oleh seluruh kaum Kang ouw, tapi didalam pandangan Ciok-koan-im ternyata sedemikian rendah dan tak berharga sepeserpun, sungguh komentar yang terlalu pongah dan takabur kelewat batas.

Akan tetapi perempuan yang diharapkan memangnya tepat dan serasi, Oh Thi-hoa membayangkan ilmu silat Siau lim pay dan Bu tong pay, lalu membayangkan pula apa yang dikatakan barusan, hampir tak tertahan dia tertawa geli.

Terdengar Ciok-koan-im berkata pula.

"Kalau kepandaian silat mereka sudah begitu jelek kalau tidak mau dikata celaka, namun justru menggunakan nama-nama yang indah dan merdu kedengarannya, dinamakan apa Lik-pit-sam-gak atau membelah gunung, Kiang-liong-hu-hou atau menaklukan naga menundukkan harimau. Bahwasanya dinilai dari apa yang mereka mainkan, seharusnya pantas kalau dinamakan Pit bok cai atau membelah kayu dan Kiang mao hu kau atau menaklukan kucing menundukkan anjing tepatnya. Akan tetapi nama yang kucantumkan dalam jurus ciptaanku ini meski tidak enak didengar, namun betul-betul merupakan barang tulen harga pas, kalau kukatakan laki-laki tidak boleh lihat, maka setiap laki-laki jangan harap bisa melihatnya."

Oh Thi-hoa menghela napas, ujarnya.

"Kalau demikian, jadi jurus tadi adalah hasil ciptaanmu sendiri?"

"Untuk menciptakan jurus permainan seperti ciptaanku tadi, bukan saja harus benar-benar hapal dan menyelami seluk beluk ilmu silat dari seluruh aliran silat yang ada di kolong langit ini, lebih penting pula harus mengetahui dimana titik kelemahan seseorang laki-laki, maka jurus silat seperti itu, kecuali aku siapa pula yang mampu menciptakannya?"

Lama pula Oh Thi-hoa menjublek pula, katanya dengan tertawa getir kemudian.

"Benar kenyataan memang kau amat mendalami dan cukup mendalam menyelidiki jiwa laki-laki."

"Sekarang kalian masih tetap berani turun tangan melawan aku?"

Tanpa janji Ki Ping-yan dan Oh Thi-hoa berbareng menghela napas, berbareng menjawab.

"Tidak berani lagi."

Begitu mendengar jawaban "Tidak berani lagi!"

Dari mulut Oh Thi-hoa dan Ki Ping-yan seketika pucat pias Kui je ong, badik ditangan Pipop-kongcupun jatuh.

Siapa nyana justru pada saat itu pula.

Tanpa berjanji namun Oh Thi-hoa dengan Ki Ping-yan tahu-tahu melejit secepat anak panah, gerakan kudanya begitu serasi dan seperti sudah direncanakan bersama, bukan saja bicara bersama, gerakan merekapun dimulai dalam waktu yang sama pula.

Sudah tentu jauh berbeda gerakan Ki-ping yan dan Oh Thi-hoa yang menyerang serempak ini dibanding dengan serangan si Jambang Bauk dan Pipop-kongcu tadi.

Waktu si Jambang Bauk dan Pipop kongcu menyerang tadi udara seolah-olah disinari cahaya perak, yang berkung kunang, perbawanya kelihatannya amat dahsyat, tapi berbeda pula waktu Oh Thihoa dan Ki Ping-yan turun tangan ini, orang lain tidak melihat sesuatu yang ganjil, menyolok mata atau menakjubkan.

Cuma terlihat dalam gerakan bayangan orang yang bergerak secepat kilat itu, beruntun kedua orang sudah sama-sama melontarkan tiga jurus serangan, tentang bagaimana dan cara apa mereka menyerang, hakekatnya tiada orang yang melihat dengan jelas, namun paling tidak dalam tiga jurus permulaan ini, orang-orang diluar gelanggang sama-sama masih melihat gerakan bayangan mereka, tapi tiga jurus kemudian, jangan kata bayangan mereka sampaipun yang mana Oh Thi-hoa dan siapa Ki Ping-yan orang sudah tidak bisa membedakan lagi.

Terasa dalam kemah mendadak seperti terbit angin badai yang meniup kencang laksana angin puyuh, piring mangkok dan cangkir yang berada di atas meja sampai tersapu jatuh berkelontangan, pakaian Pipop kongcu, KuiKoleksi

KANG ZUSI je-ong dan si Jambang Bauk melambai berkibar bersuara seperti dihembus angin lalu.

Pucat pasi selembar muka Kui-je-ong, seolah-olah sembarang waktu bisa jatuh semaput, lekas Pipop-kongcu memapah ayah bagindanya yang terhuyang mundur, tapi tangannya sendiripun gemetar keras.

Sementara dengan kencang si Jambang Bauk pegang goloknya dengan kedua tangan berdiri jauh diambang pintu kemah, meski dia tak bisa melihat apa-apa namun kedua matanya menatap tajam seperti biji mata ikan mas yang melotot hampir mencotot keluar.

Entah berapa kali dia pernah mengadu jiwa dengan musuh selama hidupnya ini, entah berapa banyak sudah luka-luka yang melekat di atas badannya karena luka-luka bacokan atau tusukan senjata lawan, umpama musuh menghujamkan senjatanya ke dalam badannya, diapun tidak setakut seperti hari ini.

Tapi sekarang dia justru malah lebih tegang dari pada waktu dirinya waktu mengadu jiwa dulu.

Sudah tentu lingkungan kemah ini tidak begitu besar dan luas, ketiga orang yang bergebrak bergerak begitu cepat lagi, namun ketiganya cukup hanya berkutet ditempat itu-itu saja, sampai kursi meja tidak sempat tersentuh oleh mereka.

Tak kurang diam-diam mencelos dan menarik napas panjang si Jambang Bauk dan Pipop-kongcu dibuatnya, setelah melihat pertarungan sengit ketiga orang ini baru mereka benar-benar sadar dan insaf bahwa kepandaian silat sendiri hakikatnya berbeda laksana langit dan bumi dibandingkan ketiga orang ini.

Jikalau mereka sendiri sekarang yang bergebrak, bukan mustahil meja kursi sudah keterjang sungsang sumbal, kemungkinan dinding kemah disekelilingnyapun sudah berlobang dan sobek dimana mana.

Sekonyong-konyong angin puyuh sirap dan segala sesuatunya menjadi berhenti.

Ternyata tiga orang yang serang menyerang secepat kilat itu tahu-tahu pergi dan berdiri pada posisi mereka semula.

Jari jari Oh Thi-hoa terkepal kencang raut mukanya merah padam, begitu menakutkan tampangnya.

Sebaliknya muka Ki Ping-yan pucat lesi, keduanya sama mendelong mengawasi Ciok koan-im tanpa berkesir.

Sebaliknya tulang ujung mulut Ciok koan-im tetap menyungging senyuman manis, kelihatan masih begitu cantik jelita dan tentram, sampaipun sungguh kepalanya yang diikat tidak kelihatan mawut atau berubah.

Selintas pandang, seolah baru saja mentas dari peraduan, baru saja berdandan hendak keluar menemui tamu, mana ada tanda-tanda baru saja mengadu jiwa dan berkelahi dengan orang.

Tapi ketiganya berdiri mematung tanpa bergeming sedikitpun mulutpun terkancing rapat.

Bukan saja tidak tahu kenapa mendadak berhenti, Pipop kongcu dan lain lainnya tidak tahu kalau Thi Hoa dan Ki Ping-yan tidak bergerak, maka Kuije-ong, Pipop kongcu dan si Jambang bauk serasa jantung mereka hampir berhenti, merekapun tak berani bergeming.

Beberapa kejap kemudian, tampak sejalur darah mengalir keluar dari ujung mulut Oh Thi-hoa.

Walaupun badannya tegak berdiri di tempatnya seperti tonggak, sebaliknya melihat darah di ujung mulut orang, seketika Pipop-kongcu rasakan kedua belah lututnya lemas dan hampir tak kuat berdiri, karena sekarang dia sudah tahu pikah mana yang telah dikalahkan.

Kekalahan ini boleh dikata merupakan kegagalan total dan tak mungkin ditolong kembali, bukan saja jiwa mereka berenam takkan tertolong.

Beribu berlaksa rakyat Kui-jie bakal tenggelam kehidupan kekejian dan keganasan oleh cengkeraman elmaut yang beracun.

Terdengar Ciok-koan-im menarik napas panjang, katanya.

"kalau kalian sudah tahu bukan tandinganku, kenapa masih ingin jajal dan minta digebuk?"

Oh Thi-hoa kertak gigi, bentaknya bengis.

"Seorang laki-laki berani berbuat berani tanggung jawab ! Ada kalanya sesuatu jelas memang tak mungkin kita capai, namun kita tetap berusaha akan mencapainya juga."

Maklumlah istilah "Bu Hiap"

Atau pendekar silat selalu mempunyai arti yang berlainan satu sama lain, namun arti daripada masing-masing dari kedua kata-kata itu sendiri jauh sekali bedanya.

Untuk menempuh ke jalan Bu atau silat bukan persoalan yang sukar, cukup asal kaki tangan bertenaga, bisa main berapa jurus Kung Fu, bolehlah dianggap Bu.

Tapi Hiap atau pendekar itu sendiri amat sulit pula pelaksanaannya, didalam praktek sepak terjang seseorang di dalam kehidupan Kang-ouw, memang enteng kedengarannya dan gampang diucapkan kata "berani berbuat, berani bertanggung jawab", namun kalau tidak dilandasi keteguhan hati, keberanian yang luar biasa serta jiwa yang luhur dan bajik, seseorang.

Jilid 27 Tidak mungkin bisa mendapatkan gelar atau julukan "Pendekar"

Yang amat berat pula arti dan kenyataannya.

Karena seorang kalau hanyamalang melintang dan bersimaharaja dengan begal kepandaian silatnya saja, membunuh orang semena-mena, tak ubahnya perbuatannya itu menyerupai binatang liar, hukum rimba selalu menjadikan penengah nuraninya, memang dia setimpal dianggap sebagai "pendekar"?

Ki Ping yan mendadak berkata.

"Tadi sebetulnya ada dua kali kesempatan kau dapat merenggut jiwaku, kenapa kau tidak turun tangan?"

Ciok-koan-im tertawa tawar, ujarnya.

"Hampir dua puluh tahun aku tidak pernah bergebrak dengan seseorang yang benar-benar berani melawan aku, masakah begitu gampang aku harus membunuhmu?"

Tanpa berjanji Oh Thi-hoa dan Ki Ping-yan sama menghela napas, batinnya.

"Kenapa sampai sekarang Coh Liu-hiang belum kembali? Jikalau dia datang membantu, dengan kekuatan kita bertiga, walaupun ilmu silat Ciok-koan-im nomor satu di seluruh kolong langit, tiada bandingannya sepanjang jaman, dia pasti dapat kita kalahkan.? kalau Ki Ping-yan hanya membatin dalam hati, Oh Thi-hoa justru tidak sabar lagi, Katanya setelah menarik napas panjang.

"Sayang Coh Liu-hiang tidak disini, kalau tidak..."

"Memang harus disayangkan sudah lama kudengar kepandaian silat Coh Liu-hiang, biasanya jarang terlihat kebolehannya yang menonjol, tapi musuh yang dia hadapi semakin tangguh, maka diapun bisa lebih mengembangkan perbawa kepandaiannya, sayang sekali aku justru tidak bisa menjajal kepandaiannya, memang harus disayangkan, suatu yang harus kusesalkan seumur hidup !"

"Kau tidak perlu menyesal."

Oh Thi-hoa mengolok.

"Cepat atau lambat dia pasti akan membuat perhitungan kepada kau."

"Mungkin sudah tiada kesempatan lagi, kalianpun tak perlu menunggunya."

Kata Coik-koan-im kalem. Oh Thi-hoa terloroh-loroh.

"Kau kira kepergiannya kali ini tidak akan kembali pula? Kau kira hanya mengandal Go Kiok-kan bocah ingusan itu, lantas dapat membunuhnya?"

"Ya, dalam dunia ini yang betul-betul dapat membunuh Coh Liu-hiang si Maling Romantis, mungkin juga cuma Go Kok kan saja. Karena dia juga sedemikian mendalamnya menyelidiki seluk beluk luar dalam Coh Lui-hiang dari kepalanya sampai ke ujung kakinya, dalam dunia ini tiada orang kedua yang jauh lebih paham akan kepandaian silat Coh Liu-hiang dan kelemahannya..."

Tertawa tawar, lalu meneruskan.

"Coba pikir, bilamana aku punya anggapan Coh Liu-hiang si Maling Romantis masih ada harapan pulang dengan masih hidup, buat apa dan kenapa aku harus membuang buang waktu di sini bercengkerama dengan kalian?"

Oh Thi-hoa menyeka keringat di atas jidatnya, mendadak tertawa besar, serunya.

"Dalam dunia ini tiada seorangpun yang betul betul bisa memahami Coh Liu-hiang, jangan kata luar dalamnya, kulitnya sajapun jangan harap kau mengerti, sampaipun aku yang sejak kecil bersahabat selama dua tiga puluh tahun sama dia, tidak mampu memahami dirinya, apa lagi Go Kiok-kan!"

Ciok-koan-im mencibir, katanya sinis.

"Sudah tentu kau tidak akan bisa memahami dia, karena kau tiada dendam, permusuhan dengan dia, hakikatnya kau tidak perlu memahaminya.

"bila kau terlalu memahami dari jiwa karakter lahir batin seseorang, kan malah tidak akan bisa bersahabat dengan dia. Dan lagi, perlu kuberi tahu kepada kau, orang yang paling memahamimu dalam dunia ini, jelas bukan sahabat atau istrimu, tapi pasti adalah musuh besarmu, karena hanya musuhmu yang benar-benar mau menyelidiki dengan segala susah payah untuk titik kelemahanmu."

Meski tangan Oh Thi-hoa sedang kerepotan menyeka keringat, tapi air keringat seolah-olah sengaja main-main dengan dia selamanya takkan habis-habis dia seka, keringat yang gemerobyos sudah menghanyutkan noda-noda darah diujung mulutnya yang meleleh keluar tadi.

Tanyanya dengan suara serak dan sangsi.

"Memangnya orang she Go itu punya dendam permusuhan apa dengan Coh Liu-hiang?"

Ternyata Ciok-koan-im tidak hiraukan pertanyaannya lagi, pelan-pelan dia putar badan lalu melangkah ke depan Kui-je-ong, dengan kedua tangannya dia angkat cangkir arak di atas meja, senyuman mekar yang terkulum di wajahnya, begitu rupawan dan mempesonakan dengan suaranya yang paling halus, lembut mulutnya berkata.

"Kuperingatkan supaya secangkir arak ini lekas diminum, supaya lekas bertemu dengan banyak sahabat di neraka. Bin Hong-wa, Ang Hak-han dan Ang Tek san sedang menunggumu di sana, tentu kau tidak akan kesepian."

Tabir malam di padang pasir terasa teramat panjang, namun datangnya terlalu pagi.

Waktu itu kira-kira baru jam enam sore, namun kabut sudah mulai mendatang dan tabir malampun sudah membikin jagat raya serasa gelap pekat, didalam keremangan malam yang samar-samar ini, asap ungu yang tebal itu kelihatannya menjadi begitu menyolok laksana merah darah.

xxx Rona muka Coh Liu-hiang sudah berubah tapi kejap lain mendadak dia tertawa besar, serunya.

"Kepandaian usang dipakai lagi, bukankah ini kurang cerdik, di pesisir Toa-bing ouw tempo dulu, dengan cara ini kau berhasil meloloskan diri, memangnya kali ini kau hendak lolos pula dengan cara yang sama? Kau kira aku tak punya cara untuk menghadapi permainanmu ini?"

Ditengah tawanya tiba-tiba badan Coh Liu-hiang melambung tinggi mengikuti asap tebal yang mengepul naik menjulang ke angkasa.

Bahwasanya Coh Liu-hiang memang sudah berhasil mendapatkan cara untuk mengatasi atau memecahkan cara melarikan diri dengan menghilang meminjam asap tebal sesuai ajaran Jinsut seperti ini, asal meleset terbang lebih tinggi dari tabir asap yang berkembang dan bergulung gulung di udara, perduli ke jurusan lawan melarikan diri, jangan harap bisa mengelabuhi sepasang matanya.

Walau cepat sekali asap tebal ini berkembang, tapi dalam waktu singkat itu, melebarpun tidak begitu luas, begitu badan Coh Liu-hiang melayang ke atas, tampak tiga tombak di luar gulungan asap tebal itu, pasir kuning terbentang kosong, ternyata bayangan Go Kiok kan tidak dilihatnya sama sekali, malah ditengah asap yang tebal itu mendadak kedengaran gelak tawanya yang pongah.

Sebaliknya tenaga Coh Liu-hiang seolah-olah seketika itu juga sirna dan badan menjadi lemas, badannya yang melambung terbang ke angkasa seperti burung itu, seberat batu besar yang jatuh dari angkasa terus anjlok dan terbanting keras di atas pasir.

Terdengar Go Kiok-kan terloroh-loroh.

"Kepandaian usang dilancarkan lagi memang kurang cerdik, tapi aku yakin otakku ini tidak sampai sedemikian goblok, apalagi di hadapan Coh Liuhiang si Maling Romantis yang serba pintar ini, masakah aku bakal menggunakan cara yang sama untuk kedua kalinya?"

Hembusan angin malam di padang pasir amat santer, meski asap ini amat tebal, tapi sekejap saja sudah tersapu bersih oleh deru angin yang menghembus kencang, samar-samar kabur semakin menipis, dan melihat sesosok bayangan berdiri diantara keremangan malam, dia bukan lain adalah Go Kiok-kan.

Coh Liu-hiang menghela napas, ujarnya.

"Benar, soalnya asap tebalmu tempo dulu tidak beracun, kali ini aku tidak berjaga-jaga. Sungguh tidak pernah terpikir olehku bahwa kau bagai mencampurkan obat bius yang dapat melemaskan tulang dan menyedot sukma itu di dalam asap tebalmu ini.

"Sudah tentu kau tidak akan menduganya."

Ujar Go Kiok-kan tertawa senang.

"Karena setiap orang menghadapi sesuatu yang sudah amat dipahaminya, pasti tidak akan bersikap berwaspada seperti dulu, nah disitulah letak kelemahan watak manusia..."

Sampai di sini dia tertawa geli, katanya lebih lanjut.

"Setiap orang mempunyai titik kelemahannya sendiri, dan kelemahanmu ialah keyakinanmu terhadap dirimu sendiri terlalu tebal, hatimupun terlalu lemah. Oleh karena faktor-faktor inilah maka berulang kali terjungkal di tanganku. Hari ini bila kau mau menusuk ulu hatiku atau menggorok leher ini, hari ini aku tidak akan dan tidak mungkin merangkak keluar dari liang kubur dan hidup kembali."

Coh Liu-hiang tertawa getir, ujarnya.

"Akupun tahu akan kelemahan ini, yakni aku terlalu serius dan terlalu berat menilaimu! Oleh karena itu meski aku tahu dalam dunia ini ada manusia rendah dan lemah yang hina dina, demi menyelamatkan jiwa sendiri tidak segan-segan dia pura-pura menemui ajalnya di bawah tusukan belatinya sendiri, tapi mimpipun tak pernah terpikir olehku, seorang beribadat yang romantis hidup bebas disegani seperti Biau-ceng Bu Hoa yang punya kepandaian silat sedemikian tingginya, ternyata juga sudi melakukan serendah ini. Go Kiok-kan mandah tertawa, katanya.

"Aku tahu hatimu amat mendelu sedih, karena Coh Liu-hiang si Maling Romantis yang malang melintang tiada tandingan di kolong langit, hari ini kena diingusi dan kecundang habishabisan, demi membalas kebaikanmu dulu kepadaku, hari ini akan kuberi kesempatan kepadamu untuk mengundal memakimu sesuka hatimu, berapa banyak kata-kata makian di dalam perbendaharaan hatimu boleh kau limpahkan sesukamu untuk melampiaskan kemendongkolanmu, perduli apapun makian kepadaku, sebelum selesai cacimu, aku pasti tidak akan turun tangan."

Sembari bicara, pelan-pelan dia tanggalkan topinya, dengan gerakan yang amat hati-hati mencopot rambut palsunya, lalu dengan kedua tangannya pelan-pelan kembali dia mengelotok selapis kedok muka yang amat tipis dan berwarna kuning.

Maka Biau keng si padri saleh Bu Hoa yang gagah cakap dan berwajah halus putih itu kembali terpampang di hadapan Coh Liu-hiang.

Coh Liuhiang hanya mengawasinya diam dan tenang-tenang saja, sepatah katapun tak bersuara lagi.

Bu Hoa tertawa pongah, katanya.

"Agaknya kepandaian memalsu diri Cahye meski tidak lebih unggul dari Coh Liu-hiang si Maling Romantis yang serba pandai merobah bentuk badan dan mukanya, namun cukup baik dan patut dipuji juga, yang terang aku sudah berhasil mengelabuimu bukan?"

"Masih terlalu jauh kepandaianmu yang satu ini!"

Kata Coh Liu-hiang tawar.

"Kalau masih ketinggalan jauh, masakah bisa mengelabui sepasang matamu?"

"Bahwasanya kau tidak pernah mengelabui aku, waktu pertama kali berhadapan dengan kau aku sudah tahu dan merasakan bahwa Go Kiok-kan adalah samaran orang lain, cuma dalam waktu selama ini tidak pernah terpikir olehku bahwa kaulah yang membawa gara-gara ini."

Bu Hoa menghela napas, ujarnya.

"Semula kukira selamanya kau tidak akan pernah curiga kepadaku, karena aku betul-betul sudah berjerih payah dan memeras keringat dalam usahaku ini. Setitik Merah ku undang datang tujuanku supaya kau mengira Mutiara hitamlah yang menjadi biang keladi dalam peristiwa ini dengan tindakan ini bukan saja supaya kau betindak keliwat hati-hati dan selalu was-was tidak berani sembarangan bertindak lagi, sekaligus dapat mengelabui kau sehingga persoalan kau kira semakin rumit dan berliku-liku, tanpa sadar kau akan tersesat ke jalan samping dan selamanya takkan berhasil kau ketahui seluk beluk persoalannya."

Coh Liu-hiang tertawa, ujarnya.

"Caramu ini memang pintar, sebetulnya memang aku sudah tersesat ke jalan buntu dan hampir saja tak bisa berpaling, untunglah lekas sekali kau menyadari bahwa Ciok Tho ternyata adalah salah satu dari Hoa san chit-kiam dulu, dari sini pula baru aku sadar dan terpikir bahwa Ciok-koan-im ternyata bukan lain adalah nona Li dari Ui san-si keh (Keluarga besar dari Ui san). Mendengar uraian Coh Liu-hiang ini, seketika muka Bu Hoa membeku kaku, senyum tawanya yang manis welas asih seketika sirna tak membekas lagi. Dulu Hoa-san-kiam-pay dan Ui-san-si-keh bertempur mati matian sampai kedua belah pihak jatuh korban yang tak terhitung baynyaknya, pihat Ui San-si-keh hanya tinggal nona Li saja yang berhasil melarikan diri, beruntung lolos dari malapetaka, namun nona Li merasa tidak bisa bercokol hidup lagi di Tiong-goan, maka dia melarikan diri keluar lautan dan akhirnya tiba di Hu siang. Disana bertemu dengan Thian-long-cap si long yang jatuh cinta kepadanya, disana mereka hidup bersuami istri selama beberapa tahun, malah melahirkan dua orang putra. Namun tatkala secara diam-diam dia berhasil meyakinkan ilmu silat mujijat yang tiada taranya, lantas dia tinggalkan suami, meninggalkan anak, minggat dan pulang kembali ke Tiong goan, beruntun dia berhasil membunuh Hoa-san-chit-kiam dan berhasil menuntut balas sakit hati Ui-san-si keh.

"Sejak itu nona Li tiba-tiba menghilangkan jejaknya secara misterius, tiada seorangpun dalam kalangan Kang-ouw yang tahu kemana jejaknya. Tak lama kemudian meski di dalam Bulim muncul gembong iblis perempuan Ciok-koan-im yang berkepandaian tinggi tiada bandingannya serta bersepak terjang aneh serta serba misterius, tapi siapapun tiada yang mengira bahwa gembong iblis yang jahat dan laknat seperti Ciok-koan-im itu ternyata bukan lain adalah nona Li dari keluarga besar Ui-san satusatunya yang masih hidup."

"Latar belakang yang terahasia ini sebetulnya takkan ada orang yang bisa membongkarnya, dan sayang sekali nona itu justru meninggalkan hidup jiwa salah satu dari Hoa san-chit-kiam itu... sampai disini Coh Liu-hiang, tertawa tawar lalu melanjutkan.

"Ini kemungkinan dia terlalu takabur dan merasa dirinya terlalu ampuh, betapapun derita siksa yang pernah dia alami, tidak dia pandang tidak sudi berlutut dan menyerah kepada nona Li itu, sebaliknya bila nona Li itu sudah jatuh hati kepada seseorang, bagaimanapun dan apapun yang akan terjadi dia harus mencapai dan melaksanakan keinginannya, maka selama ini dia tidak pernah membunuhnya, tak pernah pula terpikir olehnya, orang yang sudah tidak menyerupai manusia itu bakal dapat melarikan diri"

Rona muka Bu Hoa kini seperti dilapisi tabir dingin katanya ketus dingin.

"Teruskan!"

"Tapi hanya sumber ini saja, masih tidak mungkin membongkar rahasia Ciok-koan-im, dan harus disayangkan pula pada dua puluh tahun kemudian, dalam dunia ini justru muncul manusia bawel dan rewel macam Coh Liuhiang yang suka mencampuri urusan orang lain. Kebetulan Coh Liu-hiang cukup intim dan bersahabat baik serta amat mencocoki dengan kedua putra putranya nona Li itu yang sudah menanjak dewasa, lebih celaka lagi dari teman karib mereka akhirnya berubah jadi musuh yang berlawanan muka dan tujuan. Maling Romantis yang suka petingkah itu kembali menggali peristiwa besar di Bulim masa silam yang sudah dilupakan orang. Sudah tentu hal ini sekali kali tidak akan pernah terpikir atau diduga oleh nona Li alias Ciok-koan-im itu."

"Lanjutkan."

Desak Bu hoa pula dengan kaku dan ketus.

"Walau Coh Liu-hiang sudah tahu kisah kehidupan Thian Hong-cap-si-long ayah beranak namun tidak pernah terbayang olehnya bahwa mereka bisa mungkin punya sangkut paut yang begitu erat dengan Ciok-koan-im. Kedua persoalan ini hakikatnya satu sama lain tidak boleh dibicarakan secara bergandengan. Sampai pada waktu salah satu murid Hoa-san-pay yang sudah lama lenyap atau mengasingkan diri tiba-tiba muncul, dari mulut murid Hoa-san-pay ini baru diketahui rahasia Coik-koan-im yang sebenarnya, maka kedua persoalan ini mau tidak mau harus dibereskan bersama"

Dengan tajam dia pandang Bu hoa lekat-lekat, lalu berkata pula dengan tersenyum.

"Kalau kedua persoalan ini harus digandeng dan punya ikatan yang erat, persoalan apa pula yang tidak akan dapat kupikirkan dan takkan jelas seluruhnya?"

Sejenak Bu Hoa menepekur, lalu katanya kalem.

"Benar, kalau kau sudah tahu Ciok-koan-im sebetulnya adalah ibuku, maka dengan sendiri bisa kau bayangkan pula, setelah kekalahannya secara mengenaskan di Tionggoan, sudah tentu Bu Hoa malu bercokol di sana, maka terpaksa sia mundur keluar perbatasan, di sini dia dapat bersandar kepada kekuatan ibunya. Bahwa ambisi Bu Hoa selama di Tionggoan sudah kau bikin tercerai berai dan gagal total, maka terpaksa dia harus menarik diri untuk bekerja lagi mulai dari permulaan di padang pasir ini."

Biji mata Bu Hoa tiba-tiba menyorotkan sinar terang, ujung mulutnya mengulum senyum lagi, katanya.

"Tapi cara bagaimana Bu Hoa bisa tahu bila Ciok-koan-im adalah ibu kandungnya? Bukan mustahil Bu Hoa sendiripun tidak tahu menahu akan hal ini, tentunya Coh Liu-hiang sendiripun kebingungan dan tak habis mengerti bukan?"

Tak kira tanpa banyak berpikir, Coh Liu-hiang segera menjawab.

"Itulah lantaran ada hubungan erat dengan Jun-hujin Chiu Ling -siok !"

"Chiu Ling-siok?"

Bu Hoa mengerut kening.

"Apa pula sangkut pautnya dengan persoalan ini?"

"Ciok-koan-im tidak akan mau terima bila didalam dunia ini ada perempuan yang berparas lebih cantik melebihi dirinya, maka karena jelusnya itu dia merusak wajah Chiu Ling siok, sehingga Chiu Ling-siok merana dalam hidupnya, menderita siksaan batin selama hidup"

"Tak nyana Jim pangcu justru jatuh hati dan mencintainya setulus hatinya, bukan lantaran rusaknya wajahnya yang cantik itu cintanya berubah, malah dia mempersuntingnya sebagai istrinya. Orang yang hendak dirusak dan disingkirkan oleh Ciok-koan-im, Jimpangcu justru menolongnya, sudah tentu hal inipun tidak bisa diterima oleh Ciok-koan-im, sudah tentu dia pantang membiarkan orang-orang yang dirasakan mengganggu dan menghalangi keinginannya."

Sungguh tak nyana Thian-hong-cap-si-liong ternyata bertindak satu langkah lebih cepat dari dia, sang suami itu sudah menemui Jim-pangcu lebih dulu, setelah dia tahu bahwa suaminya atau Thian hong cap-si-long menitipkan putranya kedua-duanya, segera dia batalkan niatnya untuk membunuh Jim-Jip, karena dia sudah dapat satu akal yang jauh lebih baik daripada membunuhnya, tapi bukan saja dia tetap menginginkan kematiannya, malah dia akan memberantas sampai keakar akarnya."

Sampai di sini kembali Coh Liu-haing menghela napas, lalu meneruskan pula.

"Perempuan lain tentu tidak akan sabar menunggu sedemikian lamanya, tapi demi menjatuhkan seseorang, tidak sayang dia menghabiskan wektu puluhan tahun, setelah kedua putra-putranya itu sudah tumbuh dewasa, baru dia pergi mencari dan menemui mereka."

Tak urung Bu Hoa ikut menghela napas panjang pula, katanya.

"Semua hal ini, cara bagaimana kau bisa memikirkan dan menduganya?"

"Coba kau pikir jikalau bukan dia yang memberi kepada Lamkiong Ling, bahwa Jim Jip hakekatnya bukan orang yang berbudi luhur, malah tua bangka ini tak lain tak bukan adalah musuh bebuyutan pembunuh ayahnya. Kalau tidak masakah Lamkion Ling tega bertindak sekejam itu kepada Jim Jip gurunya yang mengasuh dan mendidiknya sejak kecil seperti anak kandungnya sendiri?"

"Waktu kau masuk perguruan Siau Lim pay, boleh dikata sudah tahu urusan, tapi waktu itu Lamkiong Ling masih merupakan bocah ingusan yang tidak tahu apa-apa, seumpama sejak dilahirkan dia bawa bakat dan kecerdikan yang luar biasa, tapi karena diasuh dan dibesarkan oleh Jim Jip, sedikit banyak dalam jiwanya sudah kelunturan watak kesatria dan pribadinya yang luhur dan bajik, memangnya mungkin dia tak segan-segan melakukan perbuatan rendah yang dicela itu? Untuk hal ini sejak mula aku sudah merasa heran dan tak habis mengerti bahwa si belakang persoalan justru terselip seluk beluk yang rumit ini."

"Jadi sekarang kau sudah paham keseluruhannya, ya? jengek Bu Hoa.

"Sekarang sudah tentu kupahami seluruhnya, lantaran dia menceritakan riwayat hidup kalian, barulah mereka sadar dan mengetahui bahwa kalian sebetulnya adalah saudara sepupu, oleh karena itu pula rasa dendam dan ingin membalas sakit hati kematian ayah kalian dalam sanubari masingmasing terhadap orang-orang yang menanam budi besar kepada kalian. Kalian melakukan perbuatan itu, bukan saja punya ambisi hendak merajai Bulim, tujuan yang utama adalah hendak menuntut balas."

Bu Hoa menarik napas, katanya.

"Kau betul maha cerdik dan selalu pintar, cuma sayang kau terlampau dan kelewatan pandai."

"Pujianmu ini entah sudah berapa kali perbah kudengar dari mulutmu."

"Tapi kali ini, mungkin adalah penghabisan dan yang terakhir kali."

Bercahaya biji mata Coh Liu-hiang, katanya.

"Sekarang aku terkena obat biusmu, tenaga untuk melawanpun tiada lagi, memangnya kau sudi turun tangan terhadap seseorang yang sudah mati kutu dan tidak mampu melawan lagi?"

"Sebetulnya aku boleh tidak tega membunuhmu, tapi dari sepak terjangmu selama ini aku berhasil mempelajari dan menyadari sesuatu."

"Sesuatu apa?"

Patah demi patah kata Bu Hoa menjelaskan dengan tandas.

"Yaitu jiwa seseorang apalagi dia seorang laki-laki, sekali-kali tidak boleh lemah hati, kalau sebaliknya dia bakal mampus ditangan orang lain! Dan lantaran kelemahan hatimu pula, maka hari ini kau bakal terbunuh oleh kedua tanganku ini."

Lama Coh Liu-hiang berdiam diri, lalu katanya rawan.

"Bu Hoa, Bu Hoa, sungguh salah dan keliru benar pandanganku selama ini."

"Sreng"

Terdengar golok terlolos dari sarungnya, ternyata Bu Hoa sudah menenteng senjata siap memenggal kepalanya.

Begitu tajam dan mengkilap golok di tangannya itu.

Dengan nanar Bu Hoa pandang goloknya sebentar serta katanya.

"Tentunya kau masih ingat akan jurus Ni-hun it-to-jan itu bukan?"

"Masakah aku bakal melupakan kejadian yang bersejarah itu?"

Coh Liuhiang balas mengolok dengan sinis.

"Kalau aku membunuh orang dengan jurus itu, pasti tidak akan membawa derita dan siksaan bagi si korban, malahan kau tidak akan merasa bahwa tajam golokku ini sudah memenggal kepalamu, aku boleh memberi garansi, dalam dunia ini pasti takkan ada cara kematian yang begitu menyenangkan dari pada tebasan golok ini..."

Dia menghela napas pula, katanya.

"Inilah dharma baktiku yang terakhir yang bisa kulakukan demi sahabat baikku seperti kau ini, bolehlah kau anggap sebagai pembalasan budiku kepada kebaikanmu terhadapku selama ini."

Maka batang golok yang tajam dan berkilauan itu pelan-pelan terayun, mendadak bergerak bagaikan kilat menyambar turun membacok kepala Coh Liu-hiang.

xxx Dalam lembah sunyi yang mengandung kesesatan itu sudah tiada ketinggalan seorangpun hidup, sampaipun laki-laki yang terima diperbudak seperti mayat hidup dan kerjanya cuma menyapu pasir selama hayatnya itu pun tiada satupun yang ketinggalan hidup, di Burung Kenari ternyata tidak memberi ampun juga kepada mereka.

Kini mayat-mayat yang malang melintang terkapar dimana-mana itu satu persatu sudah ditutupi dengan kain panjang, yang tak sedikit jumlahnya didalam gedung sarang Ciok-koan-im ini, tapi hawa dalam lembah masih diliputi bau amis yang memualkan.

Hanya Ciok-koan-im seorang saja yang berada didalam kamar tidurnya yang serba rahasia itu, suasana tetap hangat dan romantis di bawah sinar api yang remang-remang tampak betapa cantik jelita serta memabukkan dan merangsang birahi setiap laki-laki normal yang melihatnya.

Kini Ciok-koan-im sudah kembali di dalam kamar pribadinya, agaknya tetap begitu tenang rupawan dan tentram, seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu atau dilihatnya perobahan di sekelilingnya tiada suatu peristiwa betapapun besarnya yang dapat membuatnya kaget dan berobah.

Di pojok tembok sana tergantung kain gordyn yang menjuntai turun, bila kain gordin ini ditarik ke samping maka terlihatlah sebingkai kaca atau cermin yang besar dan jernih kemilau, sedemikian besar dan mahalnya cermin bundar ini karena sekeliling bundarannya dihiasi batu-batu jambrud dan mutiara, dipelihara dan dijaga sedemikian berharganya laksana benda mestika yang tiada taranya.

Seandainya batu-batu jambrud dan mutiara itu berbanding dengan sebuah kota, kemegahan dan kebagusan dari pada cermin itu sendiri seolah-olah mengandung kekuatan iblis yang misterius.

Siapapun yang berhadapan di depan cemin ini tak tertahan lagi pasti akan tekuk lutut dan menyembah kepadanya.

Seolah-olah kena daya sihir.

Kini Ciok-koan-im sedang berdiri dan bersolek di depan cermin besar ini, entah berapa lama sudah dia bergaya di depan cemin ini, dengan mendelong dan kesima dia mengawasi bayangan diri sendiri di dalam kaca.

Rona wajahnya yang pucat lambat laun mulai bersemu merah laksana buah yang mulai masak, mungil sekali.

Lalu pelan-pelan satu persatu dia mulai menanggalkan pakaian yang melekat di atas badannya, maka sekujur badannya yang putih halus, montok berisi dengan telanjang bulat terpampang didalam cermin besar itu keseluruhannya.

Cahaya api kelap-kelip menyoroti badannya, kulit badannya selicin sutra mengkilap dan halus, kedua bukit montok nan kenyal laksana batu jade, dengan bangga tegak menonjol di dalam hangat nan kering ditengah padang pasir ini, kedua pahanya yang tinggi membundar rata lekuk-lekuk badannya nan semampai dan gemulai laksana hembusan angin musim semi di Kanglam.

Ciok-koan-im berdiri tegak lurus laksana tonggak, dengan mendelong mengawasi bayangan bentuk badan sendiri di dalam kaca, sorot matanya itu, begitu bergairah dan menunjukkan nafsu birahi yang menyala, berkobar lebih memuncak dari seorang laki-laki yang ketagihan sex, sampaipun letak-letak yang sangat tersembunyipun tidak terlepas dari pandangan dan jamahan jari-jarinya.

Entah berapa lamanya, akhirnya dia menarik napas dengan puas, katanya seorang diri.

"Seorang perempuan sebaya aku ini masih bisa mempertahankan kecantikan badannya sedemikian rupa, kecuali aku, mungkin tiada orang keduanya dalam dunia ini."

Ciok-koan-im didalam kacapun ikut tersenyum, agaknya seperti berkata.

"Ya, takkan ada orang kedua dalam dunia ini."

Pelan-pelan Ciok-koan-im melangkah mundur lalu duduk di sebuah kursi besar dan nyaman yang berada tepat di depan kaca itu, agaknya memang badannya rada letih, namun sikapnya kelihatannya begitu riang gembira.

Dengan puas dia menarik napas, katanya.

"Aku amat penat! Tahukah kau, hari ini berapa banyak urusan yang sudah kubereskan?"

Bayangan Ciok-koan-im di dalam cerminpun menjadi ikut girang, seperti berkata.

"Urusan apapun yang kau kerjakan tentu beres dan tak perlu disangsikan lagi."

Ciok-koan-im tertawa, katanya pula.

"Kui-je-ong itu ternyata tidak ceroboh dan bodoh seperti yang kukira semula, tapi aku tetap membunuhnya juga, sekaligus akupun bunuh putrinya yang menganggap dirinya teramat cantik, racun di dalam cangkir arak itu, sekarang tentunya sudah mulai bekerja."

"Soal Ki Ping-yan dan Oh Thi-hoa itu, sebetulnya aku tidak ingin selekas itu membunuh mereka siapa nyana, malah berebutan meneguk dulu arak di dalam cangkir yang kuberi racun itu."

Kembali ia menghela napas, katanya lebih lanjut.

"Aku memang tahu orang macam Oh Thi-hoa, lebih baik membunuh diri daripada disiksa atau terbunuh orang lain. Tapi tak pernah terpikir olehku bahwa Ki Ping-yan bakal bertindak seperti itu pula, sungguh suatu hal yang harus dibuat sayang, ya toh?"

Bayangan di dalam cermin itu juga ikut menghela napas, seolah-olah ikut merasa sayang dan gegetun. Setelah berdiam diri beberapa kejap, Ciok-koan-im tertawa riang pula, katanya.

"Tapi bagaimana juga rencana terhitung sudah terlaksana dengan baik, tua bangka yang suka mengagulkan diri itu membunuh An Tek-san, hal ini memang mencocoki seleraku, memangnya cepat atau lambat aku sendiripun melenyapkan mereka semua."

Bayangan dalam cermin kembali ikut tersenyum, seolah-olah diapun berkata.

"Tidak salah, perduli siapa saja yang mampus, tidak akan menjadi ganjalan hatimu, hakikatnya tiada satu orangpun dalam dunia ini yang benar-benar menarik perhatianmu, termasuk putri-putri dan suami sendiri."

Ciok-koan-im cekikikan geli, ujarnya.

"Mereka membunuh semua orang yang menghuni lembahku ini, disangkanya aku bakal bersedih dan marah, di luar tahu mereka bahwa aku memang sedang memikirkan untuk mengganti suasana yang lain, pergi ke negeri Kui je untuk menikmati jadi seorang permaisuri yang disanjung puji, kalau orang-orang ini tidak mampus, mungkin kelak bakal menjadi beban diriku, sekarang mereka sudah ajal seluruhnya, untuk ini aku terus berterima kasih kepada mereka."

Bayangan dalam cermin juga sedang tertawa besar, seperti berkata.

"Seharusnya memang mereka sudah tahu, terhadap siapa dan mengenai persoalan apa, kau tidak akan pernah sayang dan berkesan dalam sanubarimu."

"Cuma kau, isi hatiku, hanya kau yang tahu, hanya kau yang memarahiku, dikala aku berduka, hanya kau yang menemani aku ikut sedih, bila aku riang gembira, hanya kau pula yang mengiringi kegembiraanku juga."

Senyuman muka berubah sedemikian mekar, manis dan hangat, sepasang jari-jari tangannya yang runcing-runcing dan indah, lambat-lambat mulai bergerak, mencomot, mencubit, meremas dan menggosok setiap jengkal kulit-kulit dagingnya, sorot matanya yang semula dingin beku, kini mulai berubah menjadi panas membara dan begitu bergairah, Laksana mengigau dalam mimpi mulutnya mendesis.

"Dalam dunia ini hanya kau satu-satunya yang dapat menghibur dan membuatku senang, gembira dan puas, semua laki-laki itu ....... seluruh laki-laki itu sudah memualkan seleraku."

Bayangan dalam cermin itu juga mulai menggeliat dan meraba-raba badan sendiri dengan nafsu. Ciok-koan-im mengawasi tangan si "dia"

Bergerak pelan-pelan mengelus di atas kedua puncak dadanya, pelan-pelan turun ke perut, ke paha lalu mendatangi hutan roban dan menyusup ke lembah basah, bergerak pelanpelan, terlihat olehnya jari-jari tangan itu bergerak semakin cepat merangsang, napasnya menjadi tersengal-sengal.

Kini kedua sorot matanya sudah membara laksana terbakar, kerongkongannya mengeluarkan rintihan kenikmatan yang tiada taranya, seperti ketagihan, badannya yang montok semampai itupun mulai gemetar, menggeliat dan bergelinjang, meliuk-liuk.

Terdengar mulutnya merintih penuh kenikmatan.

"Kau sungguh baik, baik sekali ...... tiada laki-laki di dunia ini yang sebanding kau, selamanya tak ada orang yang menandingi kau ...."

Pada saat itulah di luar teras diambang pintu, terdengar helaan napas orang yang amat lirih.

Helaan napas lirih, namun didalam keheningan kedengarannya laksana bunyi cemeti, yang meledak di tengah udara, seolah-olah melecut di atas badan Ciok-koan-im, yang telanjang bulat itu, rona muka Ciok-koan-im yang merah membara itu seketika seperti membeku kering, rintihan bergetar tadipun seketika sirap, sepasang paha yang tertekuk dan bertimpah itupun pelan-pelan mulai mengendur dan terpentang lebar.

Akan tetapi badannya masih duduk setengah rebah di atas kursi menghadap ke arah cermin, nafsu birahinya yang sudah berkobar dan memuncak seketika berobah menjadi amarah yang tak terkendali lagi laksana kobaran api yang tak bisa dipadamkan lagi.

Kedua jari-jari tangannya terkepal kencang dan terangkat tinggi, setelah amarah yang memuncak ini mulai mereda dan kembali tenang baru dia menghela napas dan katanya.

"Orang yang berada di luar apakah Coh Liu-hiang?"

Orang yang berada di luar kerai menghela napas pula, sahutnya.

"Ya, memang Cayhe adanya!"

Ciok-koan-im tertawa tawar, ujarnya.

"Kalau kau sudah datang, kenapa tidak masuk kemari?"

Ternyata Coh Liu-hiang menurut, pelan-pelan dia muncul di pintu dan terus beranjak ke dalam.

Dengan kesima tajam dia pandang bayangan Ciok-koanim di dalam cermin, berselang lama juga, baru Coh Liu-hiang membuka kesunyian dengan menghela napas.

"Aku tahu selama hidupmu kau sedang menganggap dan mencari, ingin menemukan seseorang yang benar-benar dapat kamu cintai, dapat memuaskan seleramu, sebetulnya aku ikut mengharapkan semoga kau lekas mendapatkan, tapi baru sekarang aku sadar, bahwa selamanya kau tidak akan pernah mendapatkan lagi."

"O? Kenapa begitu?"

Tanya Ciok-koan-im.

"Karena kau jatuh cinta pada dirimu sendiri, hanya dirimu sendiri yang kau cintai, maka terhadap siapapun tidak pernah kau menaruh perhatian, sampaipun suami dan anak-anakmu."

Ciok-koan-im mendadak berjingkrak bangun dari kursinya serta berteriak marah.

"Kau... kenapa kau mencuri lihat rahasia pribadiku?"

Walau sedang marah dan mencak-mencak namun tindak tanduknya tetap gemulai dan indah, perempuan yang selamanya halus lembut kini ternyata berubah menjadi perempuan jalang yang galak dan buas, tak ubahnya seperti seekor binatang liar.

Sepasang matanya yang indah itu, menyorotkan sinar kebencian yang meluap-luap.

Coh Liu-hiang ditatapnya sedemikian rupa, seolah-olah hendak ditelannya bulat-bulat.

Tanpa sadar Coh Liu-hiang bersitegang leher dibuatnya, dengan waspada dan siaga selangkah demi selangkah dia menyurut mundur.

Tak kira tiba-tiba Ciok-koan-im menghentikan langkahnya, kembali senyuman manis mulai menghias wajahnya nan cantik melebihi bidadari dengan pandangan sayu dia awasi Coh Liu-hiang.

Katanya lembut.

"Kau harus memaafkan kepanikanku barusan, bukan sengaja aku hendak berlaku sekasar tadi, tentunya kau cukup tahu, jikalau rahasia pribadiku sampai diketahui orang lain, bukan mustahil dari rasa malu menjadi marah dan penasaran, benar tidak?"

Lama juga Coh Liu-hiang menjublek, sahutnya tertawa getir.

"Aku sendiri bukan sengaja hendak mencuri dengar dan mengintip rahasiamu, semoga kaupun suka memaafkan kesalahanku ini."

Ciok-koan-im tersenyum ujarnya;

"Kau berani berkata demikian, aku sungguh amat girang, soalnya..."

Kembali dia menyurut mundur dan duduk ke kursi kebesarannya, katanya lebih lanjut.

"Tak perlu dipersoalkan, apakah aku yang akan membunuh kau, atau kau yang ingin membunuhku, adalah pantas kalau diantara kami masing-masing meninggalkan kesan yang mendalam. Seumpama disaat ajalmu tiba tidak kuharapkan kau anggap aku ini sebagai perempuan galak yang buruk dan jelek, oleh karena itu, andaikata kau hendak membunuh aku, paling tidak sukalah kau dudukduduk dulu mengobrol dengan aku!"

Mendadak dia berubah menjadi tuan rumah, perempuan yang genit centil dan serba halus dan pakai tata krama lagi.

Menghadapi permintaan tuan rumah yang sedemikian cantik dan lemah lembut ini, siapapun takkan sampai hati menolaknya.

Terpaksa Coh Liu-hiang menempati sebuah kursi dan duduk dengan kaki terpentang, katanya.

"Adakah kau mempunyai pertanyaan apa-apa yang hendak aku ajukan kepadaku?"

"Benar, sudah tentu aku punya omongan yang perlu kutanyakan kepada kau, tapi sebagai Maling Romantis, sebagai laki-laki sejati yang patuh adat dan sopan terhadap kaum hawa, maka kau beri kesempatan lebih dulu, kepadaku untuk mengajukan pertanyaan."

Dia berhenti untuk menghiasi senyuman pula pada wajahnya, lalu menyambung.

"Kalau begitu baiklah aku mulai bertanya, adakah kau sudah bertemu dengan Bu Hoa?"

"Sudah bertemu,"

Sahut Coh Liu-hiang, sikapnya terlalu baik kepadaku, begitu besar keyakinannya dan berkukuh untuk membalas budi kebaikanku dulu."

Agaknya Ciok-koan-im melengak heran dan tak mengerti, teriaknya kaget.

"Apa, membalas budimu? Cara bagaimana kita hendak membalas budi kebaikanmu?"

Coh Liu-hiang tersenyum, katanya kalem.

"Dia hendak menggunakan jurus Hi bun-it to-jan, sekali bacok memenggal batok kepalaku."

Ciok-koan-im tertawa cekikikan, katanya.

"Cara membalas budi kebaikan seperti itu sungguh baik dan teristimewa sekali, lucu dan menarik pula."

"Ya, memang lucu dan menarik. Cuma harus disayangkan karena batok kepalaku ini hanya satu, tidak lebih, terpaksa dengan lemah lembut aku tampik maksud baiknya."

Ciok-koan-im menghela napas, katanya.

"Kalau begitu, bukankah membuatnya amat kecewa?"

"Hujin sendiri, memang kau tidak ikut kecewa?"

Kerlingan mata Ciok-koanim berputar-putar diatas badan Coh Liu-hiang, katanya tertawa.

"Aku sih tidak begitu kecewa, tapi rada merasa heran saja."

"Heran? Apa yang kau buat heran?"

Ciok-koan-im menuding sebuah botol yang terletak diatas meja kecil tinggi yang berada di pinggir cermin berwarna hijau pupus, katanya kalem.

"Sudahkah kau melihat botol itu, kusimpan obat bius yang tak berwarna, tak berbau, obat bius ini mempunyai namanya sendiri yang enak didengar Gan-ji-bi atau "kerlingan mata genit", karena untuk membius pingsan seseorang, semudah gadis-gadis jelita yang mengerling matanya, lebih nikmat lagi karena bisa bikin orang merasa dirinya seperti terbang ke awang-awang, sedikit tenagapun takkan kuasa kau kerahkan. Coh Liu-hiang bertanya.

"Apakah Bu Hoa menggunakan obat bius semacam ini untuk menghadapi Cayhe?"

"Benar obat bius ini biasanya selalu menunjukkan khasiatnya yang luar biasa, namun kenapa tidak berguna untuk menghadapi kau?"

Coh Liu-hiang mengorek-ngorek lobang hidungnya, katanya dengan tersenyum.

"Selama hidup, entah berapa kali Cayhe pernah ditipu mentahmentah, tapi selama itu juga tidak pernah aku kepecundang oleh segala macam obat bius yang lihaipun". Agaknya Ciok-koan-im heran dan tertarik, katanya.

"Kenapa begitu?"

"Apakah Hujin pernah memperhatikan Cayhe sering menggosok-gosok hidung!"

"Bila kau menggosok-gosok hidung tampangmu kelihatan menarik sekali, aku percaya banyak gadis-gadis remaja yang kepincut dan jatuh hati melihat gerak-gerikmu ini, tapi apa pula hubungannya menggosok hidung ini, dengan obat bius itu?"

"Karena kalau aku sering dan harus menggosok-gosok hidung bukan lantaran ingin pamer, dan hendak memelet gadis, adalah karena hidungku ini sejak lama terserang penyakit, penyakit yang luar biasa dan tak mungkin diobati, sampai tabib sakti yang kenamaan di Kanglam Kim-ciam toh-wi Yap Thian cu, juga berkata bahwa penyakit hidungku ini sudah tak bisa disembuhkan dengan macam obat apapun,"

Sampai disini Coh Liu-hiang menghela napas, lalu katanya lebih lanjut.

"Seseorang bilamana pernapasannya terganggu, setiap hari pasti akan merasa pening dan mata berkunang-kunang, boleh dikata jauh lebih menderita dari terjangkit penyakit kronis apapun, oleh karena itu Cayhe lantas bersumpah untuk meyakinkan semacam Lwekang yang istimewa, ajaran Lwekang yang lain dari pada yang lain, Lwekang semacam ini tiada manfaat lain yang khusus, tapi bagi orang yang mempelajarinya sampai matang, pori-pori kulit di badannya bisa dipakai untuk bernapas. Lama kelamaan menjadi kebiasaan, maka hidungku ini menjadi benda yang tak berguna yang tercantel di mukaku sebagai hiasan belaka, tapi karena kupandang orang tanpa hidung tentu jelek mukanya, maka hidung ini tidak kucopot."

Baru sekarang Ciok-koan-im benar-benar takjub, sekian lama dia duduk terlongong, akhirnya tertawa getir.

"Kalau hidungmu itu hiasan tidak berguna diatas mukamu, sudah tentu tiada sesuatu obat bius yang betapappun lihay dan kerasnya dapat membikin kau roboh pingsan, kulit dan pori-pori badanmu bisa kau gunakan untuk bernapas, hakikatnya tidak perlu ganti napas segala, sudah tentu Ginkangmu jauh lebih hebat dari orang lain, tak heran sering orang bilang hati dan perasaan seorang picak jauh lebih peka dari orang lain, agaknya ada kalanya sesuatu hal dalam dunia ini, memang betul-betul lantaran kecelakaan lantas ketiban rejeki nomplok."

"Sekarang aku sudah memberi tahu rahasia diriku yang orang lain tidak mungkin tahu kepada Hujin, Hujin masih ada pertanyaan apa lagi?"

"Lalu bagaimana dengan Bu Hoa? Apa kau gunakan juga cara yang dia praktekkan atas dirimu untuk membalas kebaikannya?"

Tanpa menunggu jawaban Coh Liu-hiang, kembali dia tertawa dan menambahkan pula.

"Sudah tentu tidak akan bertindak demikian, kaum persilatan dalam Kangouw sama tahu sepasang tangan si Maling Romantis, selamanya tidak pernah berlepotan darah, benar tidak?"

Sikap Coh Liu-hiang mendadak berubah serius katanya.

"Ya, memang begitulah. Jiwa manusia atas karunia Thian Yang Maha Esa, siapapun tiada hak untuk merenggut jiwa orang lain, sudah tentu Bu Hoa tidak akan mati di tanganku, dia sekarang berada di suatu tempat yang tak jauh dari sini, apa Hujin ingin menjenguknya?"

Ciok-koan-im menatap hidung Coh Liu-hiang katanya.

"Jikalau aku ingin melihatnya tentunya ada syaratnya bukan?"

"Sebetulnya sih tiada syarat istimewa apa-apa, cuma Cayhe ingin bertemu dengan beberapa orang saja."

"Apakah Oh Thi-hoa, Ki Ping-yan, dan Kui je-ong ayah beranak?"

"Benar, masih ada lagi Liu Yan hwi, Ki Bu yong dan Setitik Merah."

"Nasib Setitik Merah dan Ki Bu-yong memang sedang mujur, waktu aku tiba disana mereka sudah berlalu, malah meninggalkan sepucuksurat untuk kau. Walau aku tidak pantas membukasurat orang lain, tapi apa boleh buat tak terkendali aku untuk tidak membacanya."

Coh Liu-hiang menahan sabar, katanya.

"Setelah kau baca tentunya lantas kau sobek?"

"Tapi apa yang tertulis dalamsurat itu, masih segar kuingat dalam benakku!"

Dia tertawa menggiurkan,surat itu terang adalah tulisan Ki Buyong, katanya.

"Walaupun mereka sudah cacat, namun mereka tidak ingin minta perlindungan kalian, kelak masih banyak waktu, mereka malah mengharap bisa melindungi dirimu."

Coh Liu-hiang tahu tentulah ucapan Ki Ping-yan yang sedang muring-muring itu amat mengetuk sanubari mereka, tak tertahan dia menghela napas, namun tak tahan untuk tidak tersenyum, katanya.

Kedua orang ini memang dibekali watak yang keras dan sama-sama kukuh, sama-sama angkuh dan sombong pula.

Bahwa mereka dapat rukun bersama, memang merupakan pasangan setimpal, harus dipuji dan dibuat girang, tentunya Hujin ikut bergirang bagi keberuntungan dan nasib mujut nona Ki itu."

"Soal Liu Yan-hwie bersaudara yang kau katakan, hakikatnya aku tidak pernah melihat mereka, tentunya diapun sudah pergi."

Coh Liu-hiang menghela napas lega, tanyanya.

"Lalu bagaimana dengan Oh Thi-hoa dan lain-lain?"

"Mereka sih masih berada di suatu tempat tak jauh dari sini, cuma sekarang mungkin sudah rada terlambat bila kau susul mereka kesana."

Tersirap darah Coh Liu-hiang, teriaknya tersekat.

"Mereka... apakah mereka... !"

Tenggorokannya seperti mendadak kejang sampai tidak dapat bersuara lagi.

"Biasanya aku tidak suka menggunakan obat racun karena aku masih punya banyak cara untuk membunuh orang, jauh lebih mudah dan cepat dari menggunakan racun, maka bicara soal menggunakan racun, terus terang aku bukan tandingan Chiu Ling Siok "

Jikalau kau datang setindak lebih cepat, mungkin masih bisa menolong mereka, tapi sekarang... sekarang siapapun takkan dapat menolongnya."

Sepertinya bercerita atau mendongeng saja mulutnya menerocos tanpa perdulikan perasaan Coh Liu Hiang, jantung orang, terasa ditusuk sembilu, benaknya seperti digerogoti lalu dibanting berkeping keping, serasa pecah Coh Liu hiang, darah panas seketika memuncak ke atas kepalanya.

Tapi dia cukup tahu, di hadapan seorang musuh tangguh seperti Ciok Koan-im, sekali kali tidak boleh terburu nafsu dan emosi, sekali naik pitam, kematian bakal lebih cepat terpaksa sedapat mungkin dia tekan dan menahan gejolak hatinya.

Sungguh bukan soal mudah dapat mengendalikan perasaan hati, jarinya terkepal kencang, kuku jarinya malah sudah menusuk amblas ke dalam daging kulitnya, seluruh gigi dalam mulutnya serasa hampir remuk gemeretak.

Satu hal harus diakui, bahwa hal ini merupakan kekalahan Coh Liu-hiang yang paling besar dan paling mengenaskan selama hidupnya, merupakan pukulan yang teramat berat untuk diterima!.

Seumpama sekarang dirinya berhasil membunuh Ciok Koan-im, takkan mungkin dua hindarkan lagi selama hidup ini bakal menyesal dan gegetun sepanjang masa.

Apalagi sekarang, hakikatnya dia tidak punya pegangan dan tidak yakin dengan bekal kepandaian dan perbendaharaan silatnya belum tentu dia bisa mengalahkan Ciok-Koan-im atau merobohkannya.

Sinar lilin masih tetap redup dan hangat.

Dibawah penerangan sinar api seperti ini, meski dia seorang perempuan biasa, apa lagi dalam keadaan polos tanpa selarik benang menutupi badannya yang montok menggiurkan dengan gaya dan sikap merangsang lagi, kelelaki-lakian siapa yang tidak akan bangkit dan menggelora mengkili-kili hati, apalagi keayuan dan kecantikan Ciok-koan-im melebihi bidadari dan diakui sebagai perempuan tercantik di seluruh jagat, ratu duniapun takkan bisa menandinginya, dengan berani dan meliuk-liuk badan dia bergaya di hadapan Coh Liu-hiang seperti ratu kecantikan sedang memperagakan keindahan badannya juri yang bakal menilai dirinya, kuatir sang juri tidak bisa memberi penilaian tinggi, maka dia terus bergerak berganti gaya dengan gerakan gemulai.

Tapi sorot mata Coh Liu-hiang mendelong lempang ke depan, seolah-olah apapun tidak terlihat olehnya.

Mungkin keletihan atau putus asa dan kecewa, akhirnya Coik-koan-im menghela napas, katanya.

"Aku tahu kau tentu ingin menuntut balas bagi kematian mereka, teman-teman baikmu, tapi kuperingatkan kepada kau lebih baik batalkan saja niatmu itu, karena meski ilmu silatmu amat tinggi, tetap dalam seratus jurus aku mampu mengalahkan kau, merenggut jiwamu kau percaya tidak?"

"aku percaya!"

Sahut Coh Liu-hiang mengangguk.

"Tapi aku sekarang belum ingin membunuhmu, asal kau tidak memaksa aku, selamanya mungkin aku tidak akan tega membunuhmu, sekarang, boleh dikata aku sudah kehilangan apa-apa, termasuk tiada seorangpun yang berada di dekatku, asal kau suka, bukan saja sembarang waktu aku bisa menjunjungmu menjabat kedudukan kerajaan di negeri Kui-je, malah boleh juga kubiarkan kau..."

Jari-jari tangannya kembali bergerak pelan-pelan mengelus kedua bukit montok di depan dadanya, dengan gerakan tanpa suara mewakilkan pernyataan sanubarinya, memang suatu pernyataan yang jauh lebih termakan oleh lawannya dari pada bujuk rayu dan ajakan-ajakan manis dengan mulut.

Paras cantik, gengsi dan pamor serta kedudukan tinggi, kekuasaan tak terbatas serta kekayaan harta benda...

perduli satu diantaranya cukup merupakan daya tarik yang tak terlawan oleh laki-laki siapapun, apalagi ke empatnya ditumplek jadi satu.

"Jikalau kau mau terima saranku, hidupmu bakal senang dan foya-foya sepanjang umur, kalau kau menolak, kematianlah yang mengakhiri kehidupanmu. Memangnya sukar kau memilih satu diantaranya, atau kau sendiri belum bisa berketetapan hati?"

Tiba tiba Coh Liu-hiang tersenyum lebarnya.

"Sebetulnya memang aku ingin menerima anjuranmu, cuma sayang sekali kau benar-benar terlalu tua bagi aku, andai kata kau memang pandai dan sudah berpengalaman menjual lagak, dan bergaya cabul di depanku, tapi bila kau teringat bahwa putra putramu sudah sebaya dan mungkin malah lebih tua dari aku, seleraku seketika menjadi dingin dan mual rasanya."

Bagi seorang perempuan yang mampu mempertahankan kecantikannya atau perempuan yang mati-matian ingin merenggut kembali masa remajanya, umpama kata menggunakan caci maki yang paling kotor dan rangkaian kata kata yang paling rendah di seluruh dunia ini takkan terasa menusuk dan melukai sanubari orang yang bersangkutan seperti apa yang terucapkan oleh Coh Liu-hiang.

Kata kata ini laksana martil besar yang telak sekali menghujam diborok kaki Cioh-koan-im yang paling vital.

Memang dia giat berusaha untuk mempertahankan kecantikan dan kemudaannya, senyuman manis yang menggiurkan seketika tersapu bersih tak berbekas lagi, seluruh badan bergetar dan keringat gemrobyos membasahi badan, suaranya mulai serak, dan menakutkan.

"Kau memaksaku untuk membunuhmu?"

"Benar, aku lebih rela mati, betapapun aku tidak sudi tidur seranjang dengan nenek tua seperti musang berbulu merak yang suka mempersolek diri, masih mending kalau kau memakai pakaian, lebih enak dipandang mata, dengan telanjang sebulat ini sungguh membuat aku mual dan ingin muntah muntah rasanya."

Kuatir tidak bisa memancing kemarahan Ciok-koan-im, maka kata demi katanya semakin kotor dan rendah, karena dia sadar hanya membakar kemarahan Ciok-koan-im serta membikinnya mencak-mencak gila baru kemungkinan dia bisa mencari kesempatan untuk mengalahkannya.

Ternyata tujuan dan usahanya tak sia-sia.

Saking marah selebar muka sampai dada Ciok-koan-im merah padam meski dia sadar bahwa kata-kata Coh Liu-hiang memang sengaja hendak memancing kemarahannya tapi tak kuasa dia mengendalikan perasaan hatinya yang sudah memuncak ini.

Waktu Coh Kiu-hiang mengucapkan kata katanya yang terakhir, dia masih duduk gemetar dikursi kebesarannya, tapi begitu suaranya lenyap, tahutahu badannya sudah berjingkrak dari atas kursi terus menubruk maju secepat kilat, beruntun dia sudah menyerang tujuh jurus, Setiap manusia hanya dibekali dua tangan oleh yang Maha Esa, tapi didalam sekejap mata ini, Ciok Koan-im justru seperti kelebihan tumbuh lima tangan lain, ke tujuh jurus serangan ini ternyata dilancarkan dalam waktu yang bersamaan.

Dalam sekejap ini, tenggorokan, kedua biji mata, dada lambung dan kemaluannya seolah-olah sudah terkurung didalam getaran angin pukulannya yang dahsyat.

Selama hidup dan mengembara di Kang ouw entah berapa kali Coh Liuhiang sudah pernah menghadapi tokoh-tokoh silat tingkat tinggi dari Bulim yang mampu bergerak begitu cepat dalam menyerang, ada orang yang mampu meraih cangkir yang mendadak jatuh dari atas meja sebelum cangkir itu menyentuh tanah akan pecah dan berantakan, air teh yang berada didalam cangkir setetespun tiada yang tumpah.Ada pula orang yang mampu menjepit seekor lalat yang sedang terbang hanya dengan sepasang sumpitnya, dengan duri ikan seorangpun bisa memantek ekor kecapung di atas dinding.

Tapi gerakan hebat dan cepat dari orang-orang itu bila dibandingkan dengan rangsangan kilat Ciok-koan-im sekarang boleh dikata jauh ketinggalan dan terlalu lambat seperti nenek tua yang sedang menyulam, sungguh tak habis terpikir dalam benak Coh Liu-hiang, seseorang manusia didalam waktu sesingkat ini, dapat menyerang tujuh jurus dalam waktu yang hampir bersamaan, sungguh tak terpikir pula olehnya tokoh dimana dalam kolong langit ini yang mampu melawan atau menghindarkan diri dari ke tujuh jurus serangan telak dan hebat ini.

Hakikatnya tiada satupun dari ke tujuh jurus serangan ini yang kosong atau merupakan gerakan belaka.

Berputar biji mata Coh Liu-hiang, untung untungan dia nekad tidak berkelit berusaha untuk menghindar diri, mendadak dia membentak keras "Berhenti!"

Jurus serangan yang begitu ganas, culas, cepat dan dahsyat.

begitu dilontarkan, bahwa sanya tidak mungkin bisa dihentikan ditengah jalan apa lagi ditarik balik menjadi urung, tapi Coh Liu-hiang sudah memperhitungkan dengan tepat Ciok-koan-im pasti dapat kendalikan gerak gerik sendiri dan membatalkan serangannya, malah dapat menarik diri membatalkan serangan.

Benar juga dalam jangka waktu seper-seratus detik sebelum serangannya mengenai serangannya Ciok-koan-im masih kuasa menarik diri dan menghentikan serangannya.

Tujuh jurus serangan kilat dan dahsyat laksana hujan badai ini, ternyata dalam waktu sesingkat itu secara aneh dan menakjubkan sirna begitu saja, sikap Ciok-koan-im seolah-olah tidak pernah turun tangan berdiri dengan sebelah tangan terjulur ke depan dengan jari-jari terkembang dengan nanar dia pandang Coh Liu-hiang, katanya.

"Kau masih ada omongan apa? Memangnya kau sudah berubah haluan?"

Baju bagian pungung Coh Liu-hiang sudah basah kuyup dan lengket dengan kulit dagingnya pertarungan kali ini sungguh terlalu besar dan tak nyana, jikalau Ciok-koan-im tidak perduli dan tak mau mendengar kata-katanya lagi, itu berarti dia harus menyerahkan jiwanya secara konyol.

Sekarang walau secara beruntung dia menang dalam gebrakan selintas ini, namun jantungnya serasa sudah hampir melonjak keluar dari rongga dadanya.

namun demikian, seperti juga dengan seorang penjudi kaliber besar yang sudah pembawaan dan berbakat umpama kata hatinya amat tenang, namun lahirnya tetap tenang dan wajar.

Malah dia balas mengawasi Ciok-koan-im dengan tertawa tawa tawar.

"Umpama kau ingin turun tangan, juga harus mengenakan pakaian lebih dulu! Tahukah kau, tampang dan keadaanmu seperti ini, tak ubah seperti kepiting yang matang direbus, seluruh badanmu merah menganga."

Andaikata Ciok-koan-im benar-benar menuruti katanya mau mengenakan pakaiannyapun sudah terlambat lagi.

Hakikatnya sebelum ucapan Coh Liuhiang sendiri berakhir, serangan kilat sudah dilancarkan.

Seluruh kaum persilatan di Kang-ouw sama tahu betapa cepat dan mengejutkan cara Coh Liu-hiang menyerang musuhnya, kalau tidak takjub tentu ciut nyali orang yang pernah mendengar ketenarannya.

Sampaipun Setitik Merah Tionggoan waktu bergebrak sama dia, setiap orang menyerang tujuh jurus Coh Liu-hiang sebaliknya bisa balas menyerang sepuluh jurus.

Tapi sekarang meski dia berhasil menempatkan diri dalam inisiatif menyerang lebih dulu, namun baru tiga jurus saja, Ciok-koan-im baru mulai turun tangan pula, dikala dia menyerang sepuluh jurus.

Terdengar Ciok-koan-im mengejek dingin.

"Tak heran orang sering bilang kau ini licik dan banyak akalnya, dari perbuatanmu hari ini memang terbukti omongan orang lain memang tidak salah dan sesuai dengan karaktermu, tapi jangan kau tekebur, kau bisa menipu aku sekali, jangan harap kau bisa mengelabui aku untuk kedua kalinya."

Pada akhir kata-kata Ciok-koan-im, seluruh tempat-tempat mematikan di sekujur badan Coh Liu-hiang sudah terkendalikan didalam genggaman tangan lawan, setelah dia menyerang pula sepuluh jurus.

Coh-Liu-hiang hanya mampu membalas tujuh jurus.

Lambat laun serangan lawan semakin gencar, justru serangan balasan Coh Liu-hiang semakin berkurang.

Baru sekarang dia benar-benar insaf dan mau percaya, bahwa ilmu silat Ciokkoan-im memang tiada bandingannya oleh siapapun di kolong langit ini.

Segala aliran, perguruan atau ilmu silat dari tokoh besar dan maha guru di seluruh jagat ini sedikit atau banyak Coh Liu-hiang pasti mengenal dan tau seluk beluknya, tapi kepandaian silat yang dimainkan Ciok-koan-im sekarang ini, hakekatnya dari perbendaharaannya yang begitu luas, rasanya belum pernah ada atau belum pernah dilihatnya di seluruh mayapada ini.

Siapapun yang melancarkan tipu-tipu serangan dengan jurus apapun dalam dunia ini, Coh Liu-hiang pasti dapat menyelami seluk beluk dan asal usul kepandaian silat orang itu, sudah tentu gerak variasi dan perubahannya pun cukup dipahaminya pula, tapi melihat penyerangan Ciok-koan-im, sedikitpun dia tidak berhasil menyelaminya.

Jilid 28 Tokoh-tokoh silat maha lihai dan tinggi pada jaman ini menurut apa yang diketahui Coh Liu-hiang kira-kira ada empat,lima orang.

Ada orang bilang Ciangbun-jin Siao lim pay sekte selatan.

Thian-hong Taysu, adalah maha guru silat nomor satu di seluruh Bulim, namun ada pula yang bilang bahwa Lui-ting Sianjiu dari Kun-lun Congcu membekal kepandaian silat yang tiada taranya di seluruh dunia, ada juga orang yang mengatakan bahwa pendekar kelana Hiat-in jin yang serba misterius itu memiliki kepandaian ilmu pedang yang jauh lebih kuat dari tokoh pedang yang manapun, sudah tentu ada pula yang mengatakan bahwa Hiat ih-jin dapat malang melintang di dunia persilatan lantaran dia sendiri belum pernah bentrok atau kepergok oleh Coh Liu-hiang.

Tapi Coh Liu-hiang percaya dan yakin para tokoh-tokoh silat yang diagulkan mempunyai kepandaian serba nomor satu di dunia ini.

Jikalau bergebrak melawan Ciok koan-im tanggung tiada satupun yang kuasa bertahan sebanyak tiga ratus jurus.

Coh Liu-hiang juga tahulima puluh jurus lagi, dirinya pasti bakal ajal.

Tatkala itu permainan Ciok-koan-im sudah mulai lambat, gerak geriknya seperti orang sedang menari dengan lembut dan mempesonakan.

Baca Juga: Perintah Maut 5

Baca Juga: Pendekar Tongkat Dari Liong San Kho

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert