Eps 9 Lembah Nirmala - Khu Lung
Baca online Lembah Nirmala - Khu Lung
Cersil Lembah Nirmala - Khu Lung.
Kembali Kim Thi sia berkata.
"Harusnya kau mendendam atau membasmi Dewi Nirmala, karena dialah yang telah menyekap dirimu, apa sebabnya kau marah kepadaku? Sedikitlah tahu keadaan-"
"Hmmmm^ kau tak usah berbangga hati dulu"
Tukas orang itu singkat.
"Setelah memasuki lembah Nirmala, jangan harap kau bisa meninggalkan lembah ini dalam keadaan hidup,"
Kim Thi sia mendengus dingin, pikirnya.
"Hmmm^ terhadap manusia keparat seperti ini, buat apa mesti menggubrisnya terus?"
Berpikir demikian, ia segera membalikkan badan dan beranjak pergi meninggalkan tempat tersebut.
Malam itu sangat gelap angin dingin berhembus kencang, suasana begini memang sangat ideal bagi Kim Thi sia untuk meloloskan diri, karena jejaknya tidak mudah diketahui orang.
Dengan mengerahkan ilmu gerakan tubuhnya, dia berlarian menuju kegedung utama.
Tujuh hari berselang dia pernah berkunjung satu kali kesitu keadaan yang disekitar sana boleh dibilang sudah hapal sekali, dengan menelusuri jalan setapak ia segera bergerak mendekati sasaran-Sekalipun dia tahu bahwa tenaga dalam yang dimilikinya telah memperoleh kemajuan yang pesat, namun dapatkah menandingi kepandaian silat yang dimiliki Dewi Nirmala, hal tersebut masih menjadi tanda tanya besar.
Membawa tekad untuk beradu jiwa, pemuda itu sama sekali tidak merasakah ketegangan yang mencekam.
Tak selang berapa saat kemudian, dia telah tiba didepan gedung yang amat besar itu, dengan gerakan amat lincah dia menyelinap kebalik kegelapan dan menyembunyikan diri baik-baik.
Tak lama kemudian, dari jalan setapak depan situ muncul dua sosok bayangan hitam terdengar salah seorang diantaranya sedang berkata.
"Nirmala nomor enam, apakah kau telah melaksanakan tugas yang diberikan sin li kepadamu?"
"Menggusur orang maksudmu?"
Kata Nirmala nomor enam dengan suara tidak habis mengerti.
"Aku benar-benar heran, dalam keadaan seperti ini apa gunanya mesti menggusur orang?"
"Kau tahu, tabiat sin li makin lama semakin jelek"
Kata seorang yang lain-"Terutama setelah kepergian putrinya, sifat buas dan garangnya setiap saat diperlihatkan keluar. Aaaai.....kasihan benar dengan bocah itu."
Sambil meneruskan langkahnya, Nirmala nomor enam berkata lagi.
"Sekarang ia sudah mulai melakukan pembunuhan secara besar-besaran-Dua hari berselang, lima orang telah menjadi korban keganasannya, aku lihat bocah itu sangat keras kepala, rasanya sulit baginya untuk lolos dari mara bahaya malam ini."
Ketika mendengar perkataan itu, diam-diam Kim Thi sia merasa amat terkejut, pikirnya.
"Aduh celaka, bila mereka berdua tiba didepan gua dan melihat tawanannya hilang, mereka pasti akan menyampaikan berita tersebut kepada Dewi Nirmala, meski aku tak takut kepadanya, tapi akupun tak bisa melakukan pengacauan secara diam-diam."
Melihat kedua orang itu makin lama berjalan makin jauh, sadarlah pemuda kita bahwa persoalan ini tak bisa ditunda lagi, cepat-cepat dia lari kesisi gedung.
Dengan langkah yang sangat berhati-hati, dia menyusup kedalam kebun, lalu pelan-pelan mendekati jendela dan mengintip kedalam.
Apa yang kemudian terlihat hampir saja membuatnya menjerit tertahan saking kagetnya, ternyata dia menemukan ciang sianseng tokoh persilatan yang amat termashur namanya dalam dunia persilatan itu hadir pula disitu.
Senyuman ramah tetap menghiasi ujung bibirnya ciang sianseng, saat itu pula diapun sedang duduk berhadapan dengan Dewi Nirmala sambil berbincang-bincang, meski suaranya amat lirih, namun ditengah malam buta begini dia dapat mendengar semua pembicaraan dengan jelas.
Dengan penuh amarah pemuda itu segera berpikir.
"Hmmm^ sungguh tak kusangka ciang sianseng adalah komplotan dengan Dewi Nirmala rupanya dia telah mengelabuhi seluruh umat persilatan dengan segala kemunafikan, bisa jadi tindakannya selama ini hanya bertujuan untuk menjadi seorang pemimpin dunia persilatan-"
Belum habis ingatan tersebut melintas lewat, terdengar ciang sianseng telah berkata.
"Betulkah sipedang tembaga telah tewas?"
Sambil tertawa merdu sahut Dewi Nirmala.
"Menurut laporan dari Nirmala nomor delapan, sipedang tembaga telah tewas seketika itu juga, sipedang besi terluka parah dan melarikan diri dibopong oleh sipedang perak."
Berbicara sampai disitu dia berhenti sejenak. kemudian lanjutnya.
"Dengan laporan tersebut, aku yakin Nirmala nomor delapan tak akan berani membohongi aku atau memutar balikkan kenyataan dihadapanku. Siapapun tak akan berani berbicara bohong."
Ciang sianseng segera manggut-manggut katanya kemudian.
"Aku dengar, lentera hijau, mestika yang tak ternilai harganya itu sudah terjatuh ketangan pedang emas. Kau harus menitahkan anak buahmu untuk membinasakan pedang emas. Kalau tidak maka akupun tak akan menggubris urusanmu lagi."
Kembali Dewi Nirmala tertawa.
"Ciang sianseng, kita sudah bekerja sama amat lama, masa kau masih belum memahami tabiatku?"
"Bukan begitu maksudku ketahuilah lentera hijau tersebut amat penting artinya bagiku sehari tanpa dia berarti tenaga dalamku yang paling sempurna tak bisa terwujud......."
Berbicara sampai disini, mendadak ia berhenti sejenak sambil buru-buru mengalihkan sorot matanya kewajah Dewi Nirmala, kemudian terusnya lebih jauh.
"Kaupun tahu malaikat pedang berbaju perlente sibangsat tersebut telah menghancurkan ilmu Kun goan sam coat khlkang ku dengan ilmu Tay goan sinkannya, padahal saat ini ilmu silat dari murid durhakaku itu sudah peroleh kemajuan yang sangat pesat.
Andaikata aku tidak cepat-cepat memulihkan kembali ilmu Kun goan sam coat khlkang ku dengan lentera hijau, bukankah pada akhirnya aku sendiripun akan dipecundangi olehnya?"
Kim Thi sia yang menyadap pembicaraan tersebut menjadi terkejut sekali, segera pikirnya.
"Ternyata ilmu silat yang dimiliki sisastrawan bermata sakti sudah jauh melebihi kepandaian silatnya, tak heran kalau dalam pertemuan tempo hari dia menunjukkan sikap sinis dan menghina terhadap ciang sianseng."
Dalam pada itu ciang sianseng telah berkata lagi.
"Murid murtadku itu rupanya sudah tahu kalau ilmu Kun goan sam coat khikang ku sudah punah, karena itu dia berani menegur dan memakiku secara terus terang. Aku benar-benar sudah tidak tahan menghadapinya. HHmmmm^ coba aku tidak yakin kalau kekuatan dari lentera hijau mampu memulihkan kembali kekuatanku, aku benar-benar sudah putus asa. Begitu kekuatanku pulih kembali aku segera akan melenyapkan dirinya dari muka bumi......."
Mendengar sampai disini, Kim Thi sia segera berpikir lagi.
"Kelihatannya sipelajar bermata sakti adalah seorang jagoan dari golongan lurus, tak disangka ciang sianseng yang disebut tokoh persilatan ternyata dibalik kealimannya telah melakukan perbuatan terkutuk keparat ini.
Hmmmm, bila bersua kembali dengan pelajar bermata sakti dikemudian hari, aku harus menyampaikan berita tersebut kepadanya."
Terdengar ciang sianseng berkata lagi dengan sedih.
"Semua orang persilatan mengira aku sudah bosan berkelana didalam dunia persilatan dan tidak berniat nama dan kedudukan lagi. Siapa yang mengira kalau ilmu silatku sesungguhnya telah punah sehingga aku tak berani bertindak secara sembarangan yang bisa berakibat rahasiaku terbongkar. Bisa dibayangkan betapa maluku seandainya rahasia ini sampai terbongkar......"
Dewi Nirmala segera tertawa.
"Padahal didalam dunia persilatan yang begitu luas paling banter cuma aku seorang yang mengetahui bahwa dewasa ini kau cuma seekor macan kertas........"
"Kau mesti tahu"
Kata ciang sianseng lagi.
"Lentera hijau tersebut dapat pula membantumu untuk memulihkan kekuatan ilmu Tay yu sinkang, tapi hal ini baru bisa terwujud bila ilmu Kun goan sam coat khikang ku telah pulih kembali dan aku mampu membantumu.
......"
"Sesungguhnya aku benar-benar tak habis mengerti"
Kata Dewi Nirmala tercengang.
"Sebetulnya kekuatan rahasia apakah yang dimiliki Malaikat pedang berbaju perlente? Mengapa kepandaian itu mampu menghilangkan daya kekuatan serangan yang mengancam tubuhnya?"
"Yaa, hingga sekarang aku sendiripun tidak habis mengerti"
Ucap ciang sianseng sambil menghela napas.
"Akupun tidak tahu kekuatan rahasia apakah yang terselip dibalik ilmu Tay goan sinkang sehingga ilmu kun goan sam coat khikang ku juga tak berguna sama sekali..........?"
Jilid 33 Sementara kedua orang itu memperbincangkan masalah tersebut, Kim Thi sia yang menyadap pembicaraan itu menjadi kegirangan setengah mati, tanpa terasa pikirnya.
"Kalau benar ilmu Tay goan sinkang begitu dahsyat, aku tidak usah takut dengan kalian lagi."
Tiba-tiba terdengar Dewi Nirmala berkata.
"Sebentar lagi bocah keparat she Kim itu akan dihadapkan kemari, sampai waktunya kita harus memaksanya untuk mengungkapkan rahasia ilmu Tay goan sinkang tersebut, dengan berpegang pada rahasia itu, masa kita tak mampu untuk memecahkan sendiri?"
"Hmmm, kau sedang bermimpi disiang hari bolong"
Batin Kim Thi sia.
"Toaya sudah kabur dari kurunganmu, bahkan sekarang pun telah berada disisimu"
Dengan suara dalam terdengar ciang sianseng berkata.
"Aku sudah berapa kali bertemu dengan anak muda itu, sebentar dia pasti akan mengenali diriku. Bagaimanapun juga, dia tak bisa dibiarkan hidup terus didunia ini."
Mendengar perkataan tersebut, kontan saja Kim Thi sia naik pitam, umpatnya didalam hati.
"Bajingan munafik, tak kusangka hatimu begitu keji."
Dengan cepat terdengar Dewi Nirmala menyahut sambil tertawa ringan.
"Seandainya putriku masih berada disini, tentu banyak kesulitan yang akan kita jumpai. Dia tak pernah memperkenankan aku membunuh orang, bahkan untuk membunuh seekor semutpun dia tak boleh."
Menyinggung soal Hay-jin, tanpa terasa Kim Thi sia merogoh kedalam sakunya dan meraba kembali beberapa carik kertas itu.
Entah mengapa dia menaruh pandangan yang masih lain terhadap setiap benda itu hanya secarik kertas rongsokan.
ciang sianseng telah berkata lagi.
"Sesungguhnya putrimu memiliki bakat yang bagus sekali, sayang dia tak pandai bersilat."
"Ya, siapa suruh wataknya begitu lembut jangan salahkan aku enggan mewariskan ilmu silat kepadanya"
Ucap Dewi Nirmala tertawa.
"Menurut pendapatmu, apa jeleknya membiarkan putriku pergi bersamanya? "
"Aku rasa tidak apa-apa, mereka merupakan sepasang sejoli yang amat serasi sekali. Yang lelaki tampan, yang perempuan cantik jelita."
"Yaa, akupun berpendapat demikian....."
Kata Dewi Nirmala pula sambil tertawa ringan-Kim Thi sia yang dibalik gedung menjadi sangat gusar, paras mukanya berubah menjadi hijau membesi, kulit mukanya mengejang keras menahan gejolak perasaan didalam hatinya, dia merasa apa yang didengarnya merupakan suatu kejadian yang benar-benar memedihkan hati.
Tiba-tiba saja dia melimpahkan pertanggung jawab atas kejadian itu kepada Dewi Nirmala, pikirnya.
"coba kalau bukan gara-gara kau siperempuan rendah yang membuat gila, dia tak akan pergi dengan lelaki lain. Hmmmm, perempuan bedebah, aku ingin sekali menghajarmu sampai mampus."
Segulung hawa napas tiba-tiba saja bergelora didalam dadanya, dalam waktu singkat api kegusaranpun meletus bagaikan gunung berapi dan serasa tidak terkendali lagi......
Tapi pada saat itulah tiba-tiba terdengar ciang sianseng berkata.
"Ahli waris dari si pukulan sakti tanpa tandingan tak nanti akan selemah yang diduga, aku rasa dengan kekuatannya, tak mungkin ada orang yang berani mengusiknya lagi."
Dengan perkataan mana, Kim Thi sia pun segera mengerti rupanya lelaki asing yang membawa pergi Hay jin tak lain adalah ahli waris dari sipukulan sakti tanpa tandingan dari Tiang pak san itu, dengan cepat ia bersumpah dihati kecilnya untuk mencari lelaki tersebut sampai dapat.
Ia berani berpendapat demikian, karena diapun mempunyai keyakinan, dia tahu kepergian gadis cantik berbaju putih itu bukan atas dasar kehendak sendiri, oleh sebab itu dia berani mencari orang tersebut untuk diajak berduel.
Begitulah, ketika selesai menyadap pembicaraan antara ciang sianseng dengan Dewi Nirmala, tiba-tiba saja timbul keinginan Kim Thi sia untuk mencoba kekuatan yang sesungguhnya dari ilmu Tay goan sinkang.
Dengan cepat seluruh perhatian dan pikirannya dipusatkan menjadi satu, pelan-pelan hawa murninya disalurkan kedalam telapak tangannya.
Namun sebelum serangan dilancarkan, tiba-tiba saja timbul niat jahatnya untuk mempermainkan kedua orang musuh itu, diambilnya dua genggam pasir lembut lalu dilontarkan kedalam jendela.
Hembusan angin dingin yang sangat kencang menyebarkan pasir itu keempat penjuru, dalam waktu singkat seluruh wajah ciang sianseng dan Dewi Nirmala terkurung oleh pasir lembut itu.
Waktu itu Dewi Nirmala duduk membelakangi jendela, ia sempat melihat datangnya pasir yang memaksa ciang sianseng memejamkan matanya, tanpa terasa sambil menengok sekejap keluar jendela, katanya sambil tertawa minta maaf.
"Waaah, udara memang kurang baik, terutama disaat angin kencang begini, pasir memang gampang terhembus masuk kedalam ruangan, harap kau jangan tak senang hati jadinya........."
Sambik mengucak matanya ciang sianseng menyahut.
"Aku merasa curiga dengan datangnya pasir tadi, seakan-akan ada orang yang sengaja menimpuk kedalam........"
Baru saja Dewi Nirmala hendak mengucapkan sesuatu, tiba-tiba dari luar jendela telah muncul kembali sebuah batu bata yang menghantam ketubuhnya.
cepat-cepat dia mengigos kesamping, batu bata itu segera menyambar lewat dari sisi badannya dan menghantam diatas dinding keras-keras.
Dengan terjadinya peristiwa ini, yakinlah perempuan tersebut bahwa datangnya hamburan pasir tadi memang merupakan hasil permainan seseorang, paras mukanya berubah hebat, dengan suatu gerakan cepat dia melesat keluar dari jendela.
Angin masih berhembus kencang diluar ruangan, suasana malam itu gelap gulita hingga sulit untuk melihat kelima jari tangannya sendiri, kendatipun tenaga dalam yang dimilikinya cukup sempurna, namun sulit baginya untuk melihat keadaan yang sebenarnya.
Keadaan tersebut kontan saja mengejutkan hatinya, dengan perasaan tertegun ia berpikir.
"Sejak aku benahi Lembah Nirmala hingga kini daerah ini merupakan wilayah terlarang yang tak mungkin bisa ditembusi siapapun. Aaaai, manusia dari manakah yang begitu bernyali hingga berani mengusik diriku?"
Sementara itu Kim Thi sia sudah menyelinap menuju kebelakang, diam-diam dia menyingkap tirai sambil mengintip kedalam mendadak hatinya terasa amat terkejut.
Entah sejak kapan, disekeliling tubuhnya telah bermunculan begitu banyak jago, dengan perasaan terkejut diapun bersiap-siap untuk melancarkan serangan, tapi ada satu hal yang membuatnya tercengang, ternyata kawanan "musuh"
Itu bukan saja mempunyai dandanan yang serupa, bahkan raut mereka pun memiliki bentuk yang tak jauh berbeda.
Sebelum mengetahui secara pasti kekuatan yang dimiliki pihak lawan, pemuda kita tak berani bergerak secara sembarangan.
Rupanya belasan sosok manusia yang berwajah serupa itupun sedang dikecam perasaan terkejut bercampur curiga.
Mereka sama-sama berdiri tegak dan sama sekali tidak melakukan sesuatu gerakanpun.
Sampai lama sekali mereka berdua berdiri saling berhadapan akhirnya habis sudah kesabaran Kim Thi sia dengan cepat dia maju selangkah kedepan sambil mengayunkan telapak tangannya.
Bersamaan dengan gerakan tersebut, tahu-tahu belasan manusia yang berdandan sama itu bergerak maju pula kedepan secara serentak sambil mengangkat telapak tangan mereka tinggitinggi.
Sikapnya seakan-akan siap melancarkan serangan-Melihat itu Kim Thi sia segera berpikir.
"Jangan-jangan mereka semua adalah bisu?"
Perasaan hatinya waktu itu benar-benar bingung dan kalut, dia tak habis mengerti siapa gerangan orang-orang tersebut.
Benarkah didunia ini terdapat sekian banyak manusia yang berwajah mirip satu dengan lainnya?
Kehadiran orang-orang itu sungguh amat mengejutkan hatinya.
Namun terdorong keinginannya untuk melakukan pengacauan, tampa memikirkan akibatnya lagi dia mendesak kemuka sambil melancarkan serangan yang hebat kearah orang yang berada paling dekat dengannya.
Tapi pada saat yang bersamaan, tampak orang yang berada dihadapannya berkerut kening pula sambil mengayunkan telapak tangannya menyongsong serangan tersebut.
"Braaaaakkkkkkk......."
Tiba-tiba bayangan manusia itu hilang lenyap tak berbekas, disusul kemudian Kim Thi sia merasakan telapak tangannya seakan-akan menghantam diatas sebuah benda yang keras dan lincah.
Ketika ia perhatikan dengan lebih seksama, tampak telapak tangannya telah robek berapa bagian tercocok benda tajam hingga mengucurkan darah segar.
Dengan penasaran Kim Thi sia memperhatikan musuhnya dengan lebih seksama, ia saksikan banyak bayangan manusia sedang mengamati pula kearahnya dengan mata melotot.
Tapi keadaan tersebut hanya berlangsung sejenak saja, sebab dengan cepat ia telah menyadari apa gerangan yang sebenarnya telah terjadi, pikirnya kemudian sambil tertawa geli.
"Sialan, rupanya aku sedang berdiri didepan cermin, tak aneh kalau muncul begitu banyak bayangan manusia yang berwajah dan berdandan serupa dengan wajahku."
Rupanya dia telah berada didalam sebuah ruangan yang sekeliling dindingnya dilapisi cermin, begitu hebat konstruksinya sehingga seseorang yang berada disitu akan menyangka dirinya sedang terkepung oleh begitu banyak musuh dari sekeliling tubuhnya.
Begitu mengetahui apa gerangan yang telah terjadi, sifat kekanak-kanakannya segera kambuh, sambil menuding kearah cermin umpatnya.
"Bocah keparat, kitakan sama-sama orang sendiri, mengapa sih kau bertampang seram untuk menakut-nakuti aku?"
Tentu saja tak ada yang menjawab pertanyaan itu, maka pemuda tadi berkata lebih jauh.
"Sewaktu melihat baju kalian yang begitu compang camping, muka yang begitu kotor, aku mengira kalian adalah kawanan pengemis. Tak tahunya hanya malah memaki diri sendiri. Haaaah......haaaah......haaaah........"
Dengan cepat dia memadamkan lentera dalam ruangan itu, kemudian ditengah kegelapan dia menyelinap menuju keruangan lain-Perlengkapan didalam kamar ini sangat mewah, disisi kiri terdapat sebuah cermin besar dan dibawah cermin tadi terdapat sebuah rak yang penuh berisikan bedak, gincu serta perlengkapan kewanitaan lainnya.
Kim Thi sia tidak tertarik dengan benda-benda begitu, dengan sebuah pukulan dia segera menghajar benda-benda tadi hingga jatuh berserakan diatas tanah.
Mendadak ia menyaksikan ada sebuah benda berkilat tergeletak diatas lantai, ketika diambilnya, ternyata benda itu adalah sebuah kemala hijau yang antik sekali bentuknya.
Benda itu panjangnya hanya satu inci dan berkilau tajam, Kim Thi sia segera membolak balikkan benda tersebut dengan seksama.
Mendadak dibawah kemala tadi terlihat ada ukiran dua huruf, sewaktu diamati dengan lebih seksama, terbacalah tulisan itu berbunyi.
"Hay Jin."
Menyahut nama tersebut, tanpa terasa Kim Thi sia teringat kembali dengan gadis cantik berbaju putih itu, mendadak satu ingatan melintas dalam benaknya, diam-diam ia berseru.
"Aduh celaka, rupanya barang yang berada didalam ruangan ini adalah miliknya. waaah.....kenapa aku telah menghancurkannya........"
Baru saja dia hendak membenahi benda-benda itu, mendadak terdengar seseorang berseru dari kejauhan situ.
"Hey, coba dengar, suara apakah itu?"
Ternyata orang itu adalah Dewi Nirmala agaknya suara jatuhnya benda-benda dari rak cermin tadi telah mengejutkan dirinya.
Kim Thi sia memang berniat membuat kekacauan, cepat-cepat dia menyambar lentera perak yang berada dimeja kemudian dilemparkan keluar kamar.
Ia sama sekali tidak takut dengan Dewi Nirmala, tujuannya tak lebih hanya ingin membuat kegaduhan dan kekacauan disitu.
Dengan cepatnya diapun menyelinap kegedung ketiga.
Ternyata isi gedung ini adalah benda-benda yang hampir semuanya terbuat dari emas, ada golok emas, pedang emas, toya emas, kapak emas, pokoknya delapan belas macam senjata lengkap berada disitu dan yang lebih hebat lagi, semuanya terbuat dari emas murni.
Setelah tertegun beberapa saat, akhirnya tanpa sungkan-sungkan pemuda itu memilih sebilah pedang yang segera disoren dipinggangnya dan menyambar pula sebatang tombak.
Pada saat inilah dari kamar sebelah terdengar seseorang berseru dengan penuh kegusaran.
"Hmmm, ternyata benar-benar ada orang yang sedang mengacau. Hmmm, akan kulihat Malaikat sakti dari manakah yang bernyali begitu besar."
Kim Thi sia mendengar suara teguran itu makin lama bergema semakin dekat sekali, dia sudah tahu perempuan keji itu sudah berhasil menemukan tempat persembunyiannya, cepat-cepat dia memadamkan lentera dan segera menyembunyikan diri dibelakang pintu.
Apa yang diduga ternyata memang benar tak selang berapa saat kemudian Dewi Nirmala dengan wajah hijau membesi telah muncul didalam ruangan-Kim Thi sia mengincar hingga musuhnya masuk kedalam lingkaran serangannya, tiba-tiba saja dia membentak dan sebuah tusukan kilat dilancarkan kedepan.
Segulung desingan angin tajam menyambar kepunggung Dewi Nirmala dengan kecepatan luar biasa.
Untung saja Dewi Nirmala berpengalaman amat luas, dalam keadaan kritis dan tak sempat lagi untuk menghindarkan diri, ia tangkis serangan tersebut dengan lengannya.
Ujung tombak segera menyambar lewat persis disisinya tanpa melukai seujung rambutpun.
Gagal dengan tusukan pertama Kim Thi sia tak berani berayal lagi, tiba-tiba dia menyambar sebuah kapak dan langsung diayunkan kedepan.
Sekarang Dewi Nirmala sudah melihat dengan jelas paras muka lawannya, ia nampak agak tertegun melihat sambaran kapak tajam yang menyambar datang dengan disertai desingan angin tajam itu hampir melukai paras mukanya yang halus dan cantik, dia menjadi marah.
Pada detik yang terakhir, perempuan itu berhembus keras-keras, segulung deruan angin tajam yang tak berwujudpun segera menyembur keluar serta merontokkan kapak tersebut.
Secara beruntun Kim Thi sia melontarkan kembali tombak, golok dan pelbagai senjata lainnya, namun satu demi satu berhasil dihindari semua oleh perempuan lihay ini.
Dewi Nirmala sebagai perempuan yang berhati sombong tentu saja akan menjadi mendongkol sekali setelah berulang kali mendapat serangannya yang bertubi-tubi tanpa berkemampuan melancarkan serangan balasan, paras mukanya berubah sangat hebat.
Kim Thi sia sendiripun mulai merasakan ketegangan yang luar biasa setelah beberapa kali serangannya gagal melukai lawan, dalam terdesaknya dia mengambil senjata rantai dan diputar dengan sepenuh tenaga.
Desingan angin tajampun menderu-d eri menyelimuti angkasa dan amat menusuk pendengaran.
Dewi Nimala tertawa dingin tiada hentinya, sambil mundur dua langkah katanya kemudian.
"Tak kusangka kepandaian silatmu cukup tangguh, bukan saja dapat meloloskan diri dari sekapan, berkemampuan pula menggangguku. Hmmm tapi sayang kau telah bertemu denganku, akhirnya toh jalan kematian yang bakal kau peroleh."
Kim Thi sia masih saja memutar senjata rantainya secara gencar, ujung rantai yang berupa bola besi raksasa menyambar kian kemari dengan amat dahsyatnya.
Hal ini membuat perempuan tersebut boleh dibilang tak mampu mendekati korbannya.
Berada dalam keadaan seperti ini, dengan gemas ia segera berseru.
"Hey perempuan busuk, bila kau memang berkemampuan ayoh maju dan bekuklah aku."
"Heeeh.....heeeeh.....heeeeh......bila aku berniat mencabut nyawamu, akan kulakukan hal mana semudah kubalikkan telapak tanganku sendiri, tapi aku justru tak berniat membunuhmu secepatnya, akan kulihat kau menderita siksaan lebih dulu sebelum mampus secara pelan-pelan-"
"Sudahlah, tak usah mengingau terus, bila kau berani maju dua langkah kedepan, aku akan takluk kepadamu."
"Huuuh, kalau itu mah gampang."
Sambil berkata perempuan itu segera mengayunkan telapak tangannya melepaskan sebuah pukulan-Termakan oleh getaran tenaga yang dihasilkan dari serangan tersebut, bola besi diujung rantai Kim Thi sia seketika terhenti secara mendadak, kemudian berbalik menghantam tubuh anak muda tersebut.
Kim Thi sia terkejut sekali, buru-buru dia membentakkan rantainya keras-keras, bola besi itu dengan cepat meluncur keluar lewat daun jendela.
"Blaaaammmm......."
Diiringi suara benturan yang sangat keras, jendela bambu yang berbentuk sangat indah dan menarik itu seketika terhajar hingga muncul sebuah lubang besar.
Menanti Kim Thi sia melongok kedepan, tampak olehnya Dewi Nirmala telah melangkah maju dua tindak kedepan dengan aman tenteram.
Terdengar perempuan itu mengejek.
"Bagaimana? Apakah kau sudah takluk?"
Terkejut bercampur gusar menyelimuti perasaan Kim Thi sia dengan suatu gerakan cepat dia meloloskan pedangnya, lalu berteriak keras.
"Tempat ini kelewat kecilnya, tidak leluasa untuk melangsungkan pertarungan-Hey perempuan busuk. jika kau bernyali, ayoh kita lanjutkan pertarungan ini diluaran situ"
"Hmmmm, nampaknya kau belum akan mengucurkan air mata sebelum melihat petu mati, baik berangkatlah lebih dulu."
Kim Thi sia segera melepaskan sebuah pukulan menggempur pintu kamar hingga mencelat sejauh tiga kaki lebih, katanya kemudian.
"Ayoh lewat dari sini."
Ia takut Dewi Nirmala menyergapnya secara licik hingga sengaja berubah arah dan melalui ruang tengah.
Ciang sianseng segera menyongsong kemunculannya, ketika saling bertatapan muka, jago tua itu berseru tertahan dan segera menegur.
"oooh.......rupanya kau. Hey sobat kecil kau hendak kemana?"
"Urusan toayamu tak berhak untuk kau campuri, mengerti?"
Jengek Kim Thi sia sinis. Ketika ciang sianseng tidak melihat kehadiran Dewi Nirmala disitu, ia kuatir pemuda dihadapannya akan kabur dari lembah tersebut, dengan cepat serunya.
"Hey sobat kecil, mengapa sih kau bersikap begitu kurang ajar kepadaku.......?"
Sambil berkata sebuah pukulan segera dilontarkan kedepan-Kim Thi sia mendengus dingin, disambutnya serangan tersebut dengan keras melawan keras.....
Duuuuukkkkk.
Dua gulung tenaga yang amat besar itu saling membentur satu sama lainnya, ditengah benturan dahsyat yang memekikkan telinga, menang kalah segera ketahuanciang sianseng sama sekali tak berkutik dari posisinya semula, sedangkan Kim Thi sia tergetar mundur sejauh tiga langkah lebih.
Mendadak ciang sianseng berseru dengan mata terbelalak.
"Sobat kecil, kemajuan yang kau capai dalam hal tenaga dalam benar-benar amat pesat, baru tak bertemu berapa hari kemampuanmu sudah sejajar dengan tokoh termashur dalam dunia persilatan-"
Sembari berkata telapak tangan yang lain dibacokkan kebawah secara tiba-tiba. Dengan amat cekatan Kim Thi sia berkelit kesamping untuk menghindarkan diri, lalu serunya dengan penuh amarah.
"Maknya, kalau ingin bertarung ayoh bertarung diluar saja, jangan berlagak pengecut disini"
Sebagaimana diketahui, dengan mata kepala sendiri dia menyaksikan kemunafikan ciang sianseng, karena itulah pandangannya pun turut berubah, dalam perkataanpun dia tak sungkansungkan lagi.
Berubah hebat paras muka ciang sianseng, dia ingin sekali membunuhnya secara keji namun ketika melihat Dewi Nirmala telah mundurkan diri disitu, nada pembicaraannyapun segera berubah, katanya kemudian.
"ooooh, rupanya kaupun sudah mengetahui jejaknya. Haaaah....haaaah.......bagus, bagus sekali."
Dengan langkah yang lemah gemulai Dewi Nirmala menuruni anak tangga, sahutnya sambil tertawa pula.
"Bocah keparat ini sudah bosan hidup rupanya, dia menantangku untuk berduel."
Dengan cepat ciang sianseng memberi tanda dengan kerdipan mata kepada rekannya lalu ujarnya lagi.
"Yaa hal ini bisa dimaklumi, anak muda memang berdarah panas, tapi kau jangan melukai kasihan bukan......."
Dewi Nirmala tertawa, dia dapat memahami keinginan rekannya itu, cepat katanya.
"Antara aku dengan dia sama sekali tak terjalin ikatan dendam sakit hati apapun, tentu saja aku tak usah mencabut nyawanya."
Sementara pembicaraan berlangsung, mereka berdua telah menuruni anak tangga dan tiba disebuah kebun yang luas.
Mendadak Kim Thi sia mendesak maju tiga langkah kesamping kiri, lalu serunya dengan lantang.
"Aku telah bersiap sedia, silahkan mulai melancarkan serangan."
Dewi Nirmala segera tersenyum manis.
"Malam ini, aku telah melanggar kebiasaanku dengan turun tangan sendiri melawanmu, sepantasnya kau berbangga hati karena peristiwa ini. Kenapa sih cara dan sikapmu berbicara harus menunjukkan mimik yang galak dan garang?"
"Kau jangan berniat memikatku dengan kecantikan wajahmu, aku tak bakal termakan oleh tipu muslihatmu itu"
"Waaaah.......waaaah........ucapanmu itu sungguh aneh"
Seru Dewi Nirmala sambil tertawa geli.
"Aku tak habis mengerti, atas dasar apa kau berkata begitu."
Ketika berbicara sampai disitu, kebetulan angin kencang berhembus lewat membuat bajunya melekat dengan badan, bentuk tubuhnya yang ramping dengan sepasang payudaranya besar dan montokpun segera menonjol secara menyolok sekali.
Gerak geriknya benar-benar merangsang hawa napsu birahi setiap lelaki.
Terdengar ia berkata lagi.
"Kau tentu sudah terlalu banyak mendengar kata-kata jelek orang lain dibelakang ku sehingga timbul kesan yang kurang baik terhadapku, tak heran kalau kau selalu menuduhku hendak memikatmu dengan kecantikan wajah ini. Padahal usiamu sekarang lebih pantas menjadi kekasih putriku. Kenapa sih aku mesti repot-repot merayumu?"
"Sekarang bukan saatnya untuk memperbincangkan masalah seperti ini, ayoh cepat bersiapsiaplah untuk melancarkan serangan-"
"Kau anggap ilmu Tay goan sinkang mu sudah tiada tandingannya dikolong langit? Kau anggap kepandaianmu itu sanggup merobohkan aku? Ketahuilah, belum tentu kau sanggup bertahan sebanyak sepuluh gebrakan ditanganku."
Kim Thi sia menjadi mendongkol sekali setelah mendengar perkataan itu, segera teriaknya.
"Aku justru ingin mencoba, kepandaian silat macam apakah yang sebenarnya kau miliki."
Mendadak dia maju tiga langkah kedepan, lalu sambil merentangkan telapak tangannya yang besar ia melancarkan sebuah pukulan dengan jurus "Tiga batu menindih bocah"
Satu diantara ilmu pukulan panca Buddha yang maha dahsyat.
Sekarang dia merasakah tenaga dalamnya telah memperoleh kemajuan amat pesat dibandingkan dulu.
Perbedaannya sudah menyolok sekali, oleh sebab itu paras mukanya sama sekali tak berubah kendatipun berdiri dihadapan seorang gembong iblis yang amat lihay.
Disamping itu, setelah menyadap pembicaraan perempuan itu dengan ciang sianseng tentang keampuhan ilmu Tay goan sinkang ia sudah mempunyai rasa percaya pada keampuhan kepandaiannya, karena itu diapun melancarkan serangan lebih dulu.
Jurus "tiga batu menindih bocah"
Yang dipergunakan ini merupakan jurus serangan paling tangguh dari ilmu pukulan panca BUddha, ditinjau dari tindakan yang diambil Kim Thi sia yang telah mengeluarkan jurus tangguhnya dalam kontak pertama, bisa disimpulkan bahwa dia telah memandang tinggi kemampuan musuhnya itu.
Dengan suatu gerakan yang cekatan Dewi Nirmala merubah posisinya, lalu berseru.
"Tak kusangka kau memang benar-benar adalah murid si Malaikat pedang yang berbaju perlente, dilihat dari keputusannya untuk mewariskan ilmu pukulan panca Buddhanya kepadamu, agaknya dia menaruh pengharapan yang sangat besar terhadapmu."
Padahal dalam hati kecilnya dia tetap tak habis mengerti, dia tak mengerti apa sebabnya si Malaikat pedang berbaju perlente yang begitu tinggi hati, ternyata sudi mewariskan seluruh ilmu silatnya kepada seorang bocah tolol yang sama sekali tak menarik hati ini?
Sementara itu Kim Thi sia telah merubah jurus serangannya menjadi jurus "Timbul api dibalik batu"
Setelah serangannya yang pertama tidak mendatangkan hasil.
Tampak angin pukulan menderu-deru, tiga kuntum bayangan tangan dengan cepat dan hebat mengelilingi tubuh musuh dan masing-masing menyergap jalan darah Thian leng hiat, Tee hiat serta lambung.
Dewi Nirmala memang tak malu disebut gembong iblis wanita yang berilmu tinggi sekalipun menghadapi serangan yang begitu gencar, ia sama sekali tak gugup, Bagaikan kupu-kupu yang terbang kian kemari diantara aneka bebungahan, dia menyelinap diantara serangan-serangan musuh.
Sementara sepasang telapak tangannya bergerak lincah menutup seluruh angkasa dari jangkauan lawan-Kim Thi sia terkejut sekali, tergopoh-gopoh dia mengubah jurus serangannya ditengah jalan menjadi jurus "Buddha tua membelah bukit."
Dewi Nirmala tertawa ringan, tiba-tiba saja dari balik ujung bajunya bertebaran bayangan jari tangan yang berlapis-lapis bagaikan jala ikan.
Dalam waktu singkat seluruh tubuh Kim Thi sia telah terkurung dibalik ancamannya.
Tak terlukiskan rasa kaget Kim Thi sia melihat musuhnya berhasil merebut posisi diatas angin hanya dalam satu gebrakan saja, didalam gugupnya dia semakin tidak berani berayal, ujung kakinya dijejakkan keras-keras diatas tanah, lalu sambil bertekuk pinggang dia melengos kesamping berusaha menjauhkan diri dari jangkauan angin serangan musuh.
ciang sianseng segera bersorak memuji, serunya sambil tertawa.
"Betul-betul sebuah jurus serangan yang amat tangguh, tidak malu kau menjadi murid seorang jago kenamaan."
Kim Thi sia segera berpaling dengan gemas, entah sedari kapan, si Malaikat pukulan itu sudah muncul ditepi arena, dan saat itu sedang menonton pertarungannya dengan senyum penuh ejekan-Betapa geram dan kejinya pemuda kita, diam-diam umpatnya dihati.
"Hmmm, sekarang kau boleh bergaya, tunggu saja sampai tanggal mainnya nanti, akan kugencet dirimu habis-habisan-"
Sementara itu Dewi Nirmala telah mengebaskan kembali ujung bajunya keras-keras.
Belum sampai ujung bajunya menyambar datang, segulung tenaga pukulan yang sangat kuat dan dahsyat telah mendesak Kim Thi sia mundur dua langkah kebelakang.
Tiba-tiba Kim Thi sia berpikir.
"Emangnya kau anggap tenaga dalamku masih ketinggalan jauh ketimbang kemampuanmu?"
Terburu-buru dia mengeluarkan jurus serangan "panca Buddha naik teratai"
Sepasang telapak tangannya diayunkan secara menyilang, dalam sekejap mata dia telah memancarkan bunga-bunga pukulan yang melindungi diri dari ancaman musuh.
Dewi Nirmala tertawa ringan, serunya mengejek.
"Hey, mengapa kau tak berani mengeluarkan ilmu Tay goan sinkang mu?"
"Tunggu saja nanti"
Sahut Kim Thi sia tak senang hati.
"Apabila ilmu pukulan panca Buddha ku sudah tak sanggup menandingimu, pasti akan kugunakan ilmu Tay goan sinkang. Sekarang menang kalah belum lagi diketahui. Apa gunanya kau banyak berbicara?"
Sementara itu dalam hati kecilnya dia berpikir.
"Ehmmm, dia tidak berusaha membunuhku secepatnya, tapi sengaja meluangkan waktu untuk bertarung melawanku. Rupanya dia ingin mencuri rahasia ilmu Tay goan sinkang dari permainanku nanti. Hmmm, bila dugaanku ini memang benar, aku mesti meningkatkan kewaspadaanku"
Sementara dia masih berpikir, Dewi Nirmala telah berkata lagi.
"Baiklah, lihat saja bagaimana kupaksa dirimu untuk mengeluarkan kepandaianmu itu."
Sambil berkata secara beruntun ia melancarkan tiga buah serangan berantai.
Serangan-serangan itu bukan saja dilancarkannya dengan suatu kecepatan yang luar biasa lagi pula disertai dengan tenaga dalamnya yang begitu amat dahsyat.
Jelas dia telah mengerahkan seluruh tenaga dalam yang dimilikinya.
Secara beruntun Kim Thi sia mundur sejauh tiga langkah, baru saja ia hendak membalik badan sambil melancarkan seragnan balasan, tahu-tahu ujung baju musuh telah menyapu tiba bagaikan sebilah panah tajam.
Karena tak sempat lagi untuk menghindarkan diri, tergopoh-gopoh dia menangkis dengan lengannya.
Sekilas pandangan, ujung baju itu seperti lewat tanpa membawa kekuatan yang luar biasa, akan tetapi Kim Thi sia segera mendengus tertahan dan melompat mundur kebelakang.
seketika itu juga, tangannya terasa linu, kaku dan kesemutan-Sekarang dia mengerti, ilmu silat Dewi Nirmala memang amat dahsyat dimana dalam sekali ayunan tangan saja mampu membinasakan dirinya, tapi berulang kali perempuan itu menarik kembali serangannya ditengah jalan-Sedang kalau mengenai tubuhnyapun hanya menimbulkan sakit diluar badannya saja, dari sini terbukti sudah bahwa orang itu memang mempunyi maksudmaksud tertentu.
Diapun mengerti, yang diartikan mempunyai "maksud"
Tertentu, tak lebih adalah memaksanya untuk menghadapi serangan-serangan tersebut dengan mempergunakan ilmu Tay goan sinkang.
Dengan dasar wataknya yang keras kepala, sekalipun dia sadar andaikata ilmu Tay goan sinkang tidak segera dipergunakan maka lambat laun banyak penderitaan yang bakal dialaminya, namun ia justru bersikeras enggan mengeluarkan ilmu simpanannya itu.
Dalam waktu singkat sepuluh jurus telah lewat, Kim Thi sia sudah bermandi peluh, napasnya tersengkal-sengkal bagaikan napas kerbau, tapi ia tak mau menyerah.
Dewi Nirmala menghentikan serangannya secara tiba-tiba, katanya sambil tertawa dingin.
"Ilmu pukulan panca Buddha mu bukan tandinganku, lebih baik pergunakan saja ilmu Tay goan sinkang."
Lalu setelah mendengus dingin, lanjutnya.
"Seandainya aku tidak terdorong oleh rasa ingin tahu dan pingin melihat sampai dimanakah ketangguhan ilmu Tay goan sinkang tersebut, sudah sedari tadi kuhabisi nyawamu."
Semula Kim Thi sia beranggapan dengan kemajuan tenaga dalam yang dicapainya, paling tidak ia bisa bertarung seimbang dengan lawan-Tapi setelah kenyataan menunjukkan bahwa dia masih bukan tandingan Dewi Nirmala, perasaan hatinya menjadi pedih sekali pikirnya tanpa terasa.
"Menurut suhu, ilmu pukulan panca Buddha merupakan ilmu silat andalannya, jelas kehebatannya tidak kalah dari ilmu Tay goan sinkang. Mengapa jatuh ketanganku, kemampuannya tidak sehebat kuperkirakan semula. Mungkinkah dibalik kepandaian tersebut masih terselip rahasia kekuatan lainnya yang hingga sekarang belum berhasil kupelajari?"
Dia mencoba memperhatikan Dewi Nirmala sekejap. melihat perempuan itu sedang memandangnya dengan sinis, kontan saja hawa darah didalam dadanya bergelora hebat, kembali pikirnya .
"Tay goan sinkang merupakan ilmu tandingan dari Tay yu sinkangnya, sekalipun dia berhasil melihat rahasianya, bisa tahu akupun mampu membekuknya? Kenapa aku mesti takut kepadanya?"
Semakin dipikir rasa percaya pada dirinya makin meningkat, tak kuasa lagi dia manggutmanggut.
"Apakah kau telah mempertimbangkannya?"
Tanya Dewi Nirmala kemudian-"Yaa, sudah kupertimbangkan"
Sahut Kim Thi sia keras-keras, mencorong sinar tajam dari balik matanya. Tiba-tiba ia mendesak maju kemuka sambil melepaskan sebuah pukulan hardiknya.
"Lihat serangan"
Jurus "Kecerdikan menguasahi jagad"
Yang disertai deruan angin tajam dan suara guntur yang menggelegar ini segera memancing Dewi Nirmal tercekam dalam ketegangan yang luar biasa.
"Akhirnya ilmu Tay goan sinkang muncul juga"
Diam-diam dia bergumam.
"iHmmmm Dendam sakit hatiku dimasa itutakpernah kulupakan hingga kini, aku harus menghancurkan ilmu tersebut dengan ilmu Tay yu sinkang ku."
Paras mukanya berubah menjadi dingin kaku, sepasang matanya yang melotot besar memancarkan sinar tajam yang aneh sekali.
Sementara Kim Thi sia pun dapat merasakan kemajuan tenaga dalam yang berhasil dicapainya terbukti sekarang kemajuannya mencapai tiga kali lipat, hal ini membuat rasa percaya pada dirinya semakin meningkat semangat tempurnyapun semakin meningkat.
Pelan-pelan Dewi Nirmala menggerakkan telapak tangannya, lengan yang putih bersih bak saiju ditanah itu mulai mengejang keras memancarkan kekuatan luar biasa.
Perasaan dendam yang telah terpendam puluhan tahun membuat perempuan ini berubah menjadi seram dan mengerikan hati.
Dibalik pancaran sinar matanya yang tajam entah terselip perasaan benci ataupun girang?
Tanpa menimbulkan sedikit suarapun kedua orang itu saling beradu kekuatan satu kali......
Tiba-tiba saja Kim Thi sia merasakan hatinya bergetar keras, seolah-olah tergempur oleh serangan yang maha dahsyat.
Meski tubuhnya tak sampai tergetar mundur, namun perasaan tegang telah menyelimuti seluruh perasaan hatinya.
Sementara itu, Dewi Nirmala berdiri pula tanpa bergerak bagaikan patung dewi.
sepintas lalu sikapnya menyerupai seseorang yang sedang melamunkan sesuatu, padahal dalam kenyataan dia sedang mengerahkan ilmu Tay yu sinkang tingkat atasnya.
Paras muka ciang sianseng pun kelihatan amat tak sedap dipandang, saat itu dia terkenang kembali saat pertarungannya melawan Malaikat pedang berbaju perlente, gumamnya lirih.
"Aaaah......itulah jurus kelima, pada jurus yang kelima aku..........aku telah menjadi macan kertas......."
Ditengah keheningan, deruan angin dingin dalam Lembah Nirmala terasa berhembus makin kencang.
Pakaian compang camping yang dikenakan Kim Thi sia seakan-akan hampir rontok terhembus angin, tiba-tiba saja ia membentak lagi.
"Lihat serangan"
Jurus kedua.
"kelincahan menguasahi empat samudra"
Dilontarkan kemuka dengan kekuatan besar.
Dewi Nirmala membentak gusar, telapak tangannya diputar, segulung kekuatan besar kembali menyergap keluar.
Dalam waktu yang hampir bersamaan kedua gulung tenaga pululan itu saling beradu satu sama lainnya.
"Duuuuukkkkk. ......"
Tiba-tiba saja Kim Thi sia menjerit keras sambil memuntahkan darah segar, sebaliknya Dewi Nirmala melototkan matanya bulat-bulat sambil mundur selangkah.
"Aaaah.... jurus kedua......"
Gumam ciang sianseng lagi.
"Tiga jurus lagi berarti mencapai jurus kelima."
Kim Thi sia mendongakkan kepalanya sambik berpekik panjang, dengan mengerahkan ilmu ciat khi mi khi nya dia mencoba menekan luka dalam yang dideritanya saat itu peluh telah bercucuran membasahi seluruh tubuhnya, meski yang berada ditengah udara yang dingin, namun badannya terasa panas bagaikan berada diatas gerangan api.
Sejak mempelajari ilmu Tay goan sinkang baru pertama kali ini dia melakukan perlawanan paling hebat, karena itu pula isi perutnya telah terluka oleh getaran tenaga Dewi Nirmala.
Masih untung ilmu Tay goan sinkang merupakan tandingan dari ilmu Tay yu sinkang kendatipun tenaga dalam kedua belah pihak selisih jauh, namun hal mana tak bisa ditinjau dari keadaan umum yang berlaku.
Dengan pelbagai alasan itulah maka selisih tenaga dalam Kim Thi sia dengan lawannya menyusut makin sedikit, coba kalau bukan begitu, dengan kesempurnaan tenaga dalam Dewi Nirmala yang begitu hebat, niscaya ia sudah mati terbunuh semenjak tadi.
Sebaliknya Dewi Nirmala sendiripun terjerumus dalam keadaan apa boleh buat.
Mula-mula dia hanya ingin menyelidiki rahasia ilmu Tay goan sinkang, tak disangka ilmu sakti tersebut ternyata sanggup melepaskan diri dari kontrol tenaga dalamnya dengan menjerumuskan dia sendiri kelumpur kehancuran-Itu berarti bila ia ingin hidup aman dikemudian hari, satu-satunya jalan adalah berusaha mengalahkan musuh.
Disinilah letak kehebatan dari ilmu Tay goan sinkang, sekali pertarungan sudah berlangsung maka tidak mungkin pertarungan bisa diakhiri sampai ditengah jalan, maka kedua belah pihakpun terlibat dalam suatu pertarungan mati-matian Keadaan Kim Thi sia pun bagaikan anak panah yang berada diujung gendewa, bagaimanapun pertarungan harus dilanjutkan, maka sambil menggertak gigi menahan diri, dia membentak keras dan melancarkan serangan yang ketiga dengan jurus mati hidup berada pada nasib.
Begitu kedua belah pihak saling membentur, masing-masingpun melompat mundur kebelakang, tiada suara, tiada deruan angin tajam, hanya Kim Thi sia memuntahkan kembali darah segar.
Sebagai pemuda yang keras kepala, meskipun dia sadar bakal roboh ditangan lawan, namun dia tak rela untuk menyerah dengan begitu saja, sambil menghimpun tenaganya dia menyerang hingga kejurus kelima.
Saat itu kekuatan untuk menyerangnya sudah bertambah lemah, meski begitu masih terdapat juga semacam kekuatan aneh yang memaksa Dewi Nirmala tak berani mengendorkan perhatiannya.
ciang sianseng dengan sorot matanya yang tajam bagaikan sembilu mengawasi setiap gerakan dari jurus yang kelima itu dengan seksama, gumamnya lirih.
"Yaa, yaa benar, sudut yang miring kesisi kiri persis menghantam lambungku, sedang gerakan menyodok keatas persis menghantam jalan darah Ki hay hiat^......."
Mendadak terdengar Dewi Nirmala menjerit lengking dan mundur tiga langkah dengan sempoyongan-Menyusul kemudian Kim Thi sia mendengus tertahan dan roboh terjungkal keatas tanah.
ciang sianseng mengira dia telah tewas diam-diam gumamnya.
"Sayang, sungguh amat sayang masih ada lima jurus lagi berarti seluruh kepandaian itu selesai dipergunakan-"
Belum sempat ia menyelesaikan kata-katanya, Kim Thi sia telah merangkak bangun secara pelan-pelan-Dadanya sudah basah oleh darah segar yang mengucur keluar, sorot matanya pun semakin sayu, ia nampak begitu berat dan lamban segala gerak geriknya.
Dengan napas tersengkal-sengkal dia melepaskan baju luarnya, membiarkan dadanya yang telanjang dihembusi angin dingin.
Sementara itu Dewi Nirmala telah maju pula dengan langkah sangat lamban, sorot matanya yang tajam mengawasi pemuda tersebut tanpa berkedip.
Entah sejak kapan, dibelakang tubuh perempuan itu sudah muncul empat orang kakek, seorang diantaranya amat dikenal oleh Kim Thi sia karena dia tak lain adalah Nirmala nomor tujuh.
Tentu saha dalam keadaan demikian, ia tak berhasrat lagi untuk memperdulikan soal-soal seperti ini.
Secara diam-diam ia mencoba mengatur kembali kekuatannya dengan ilmu ciat khi mi khi, tapi entah mengapa, ternyata kemajuan yang dicapainya amat lamban, seakan-akan jauh lebih lemah daripada keadaan dulu.
Dengan perasaan yang kalut dia segera berpikir.
"Aku harus menghimpun sisa kekuatan yang kumiliki, sepantasnya aku akan tewas disini. Apalagi yang mesti kuragukan?"
Berpikir demikian, diapun segera mengayunkan telapak tangannya yang berat dan melepaskan serangan dengan jurus keenam dari ilmu Tay goan sinkang, yakni "kelembutan mengatasi air dan api."
Paras muka Dewi Nirmala telah berubah menjadi pucat pias bagaikan mayat, ditengah kegelapan orang lain memang tak sempat melihat secara jelas, tapi perempuan itu sadar bahwa tenaga dalamnya telah berkorban sangat banyak, ia sudah makin tak mampu untuk mempertahankan diri.
Pelan-pelan telapak tangannya diangkat keatas, dengan jurus "bocah sakti menyembah Buddha"
Dia sambut datangnya serangan tersebut.
"Duuuukkkkk.
........Kembali serangan kedua belah pihak saling membentur satu sama lainnya, tanpa menimbulkan sedikit suarapun tubuh Kim Thi sia mencelat sejauh satu kaki lebih dari posisi semula.
Langkah kaki Dewi Nirmala pun mulai kalut ternyata dia tak mampu berdiri tegak dengan sempoyongan badannya bergeser kekiri, tapi dia menggigit bibir dan memaksakan diri untuk berdiri tegak.
Mimpipun dia tak menyangka kalau seorang pemuda rudin macam Kim Thi sia ternyata harus memeras begitu banyak tenaga miliknya, bukan cuma begitu, bahkan sekalipun sudah mengeluarkan banyak tenaga, dia masih belum berhasil juga melengkapkannya.
Dengan perasaan benci yang meluap.
dia segera menghimpun seluruh kekuatan ilmu Tay yu sinkangnya untuk menggempur pemuda tersebut habis-habisan.
Baru saja Kim Thi sia merangkak separuh jalan, tubuhnya sudah tergempur oleh ilmu Tay yu sinkang yang maka dahsyat itu, kini tenaga untuk berteriakpun tak dimilikinya lagi.
Tubuh anak muda tersebut mencelat sejauh tiga kaki lebih dan tercebur kedalam kolam.
Waktu itu udara sangat gelap.
awan tebal menyelimuti angkasa, ditambah lagi rumput ilalang yang tumbuh disekeliling kolam sangat lebat dan tinggi, oleh sebab itu tiada orang yang tahu secara pasti dimanakah pemuda itu tercebur.
Dengan sekuat tenaga Dewi Nirmala berusaha mempertahankan keseimbangan tubuhnya, lalu kepada ketiga orang anak buahnya ia berseru.
"Cepat kalian angkat keluar mayatnya"
Habis berkata, pelan-pelan ia berjalan menuju keruang tengah.
"Terima perintah"
Sahut Nirmala nomor tujuh sigap. Tergesa-gesa dia mengacak rekan-rekan lainnya lari menuju kearah kolam. Terdengar ciang sianseng berseru sambil menghela napas panjang.
"Aaaaai......sejak kini Tay goan sinkang akan lenyap dari dunia, coba kalau aku berhasil memperlajari kepandaian sakti tersebut hatiku tentu akan merasa puas sekali."
Tiba-tiba Dewi Nirmala berpaling seraya menegur.
"Jadi kau menyalahkan aku?"
Melihat ciang sianseng tidak menjawab kembali dia berkata.
"Dengan mengorbankan banyak waktu dan tenaga kuberi kesempatan kepadamu untuk menikmati keindahan ilmu tersebut, apakah kesemuanya ini masih belum cukup bagimu?"
Sewaktu mengucapkan perkataan itu, wajahnya diliputi perasaan gusar yang meluap-luap. ciang sianseng segera tertawa.
"Maafkan aku bila perkataanku salah, tapi aku betul-betul tidak bermaksud apa-apa."
"Lantas apakah kau berhasil mempelajari sesuatu?"
Ciang sianseng segera tertawa getir.
"Mungkin aku sudah kelewat tua, nyatanya walaupun sudah memperhatikan sekian lama, tak ada sesuatu yang berhasil kutemukan-"
"Bagus, besok pagi kau harus tinggalkan lembah ini"
Tukas Dewi Nirmala kemudian-"
Kenapa?"
Ciang sianseng agak tertegun. Sambil tertawa dingin Dewi Nirmala berkata.
"Kau jangan menganggap aku sangat bodoh, dengan pengetahuan serta pengalamanmu yang begitu luas, mustahil tiada sesuatu yang berhasil diraih. Sudah jelas kau sedang menipu secara licik."
"Aaaaai.......mengapa sih kau selalu mencurigai aku?"
Keluh ciang sianseng dengan perasaan apa boleh buat.
"Kau benar-benar tidak tahu bagaimana mesti memberi pernyataan kepadamu."
Tampaknya Dewi Nirmala sudah teramat lelah dan kehabisan tenaga akibat pertarungan sengit yang baru saja berlangsung.
Ia tak banyak berbicara lagi, bahkan menggubris ciang sianseng pun tidak.
begitu selesai berkata tadi, ia segera membalikkan badan dan menyingkir dari situ untuk mengatur pernapasan ciang sianseng pun tidak berkata apa-apa dia hanya menghela napas sambil menggelengkan kepalanya berulang kali seolah-olah ia merasa keputusan rekannya itu tak adil.
-00d0w00k0z00-Tempat dimana Kim Thi sia tercebur kebetulan merupakan bagian kolam yang paling cetek airnya namun paling lebat rumput ilalangnya.
Ketika ia tercebur tadi, meski tak sampai tenggelam namun keempat anggota badannya yang linu dan kaku membuatnya berbaring didalam air tanpa mampu berkutik.
Keempat orang pencari menyebarkan diri keempat penjuru dan mulai melakukan pencarian dengan menelusuri rumput ilalang yang tinggi.
Waktu itu angin dingin berhembusan kencang, langit sangat gelap.
jangan lagi kolam itu luas sekali.
Biarpun luasnya hanya satu kakipun bila tidak dilakukan pencarian secara teliti, sulit rasanya untuk menemukan jejak pemuda tersebut.
Apalagi air yang menggenangi tempat itu setinggi lutut, bagaimana mungkin jejak korbannya bisa ditemukan secara mudah?
sudah sekian lama mereka berempat melakukan pencarian namun hasilnya tetap nihil.
Mendadak Nirmala nomor tujuh tiga langkah kedepan, kini kakinya sudah mencebur kedalam air katanya.
"Perintah dari sin li tak bisa dibangkang aku lihat lebih baik kalian bertiga terjun pula kekolam untuk melakukan pencarian-Sedang aku biar menunggu disini saja, maklumlah aku tak mengerti ilmu dalam air?"
Padahal persis dibawah kakinya inilah tubuh Kim Thi sia berbaring, menggelikan sekali memang ternyata sampai sekarang jejaknya belum juga diketahui.
"Mungkin juga hal ini dikarenakan rumpun ilalang yang tingginya selutut dan susah dicapai dengan pandangan mata, sehingga dia sama sekali tidak tahu kalau dibalik lumpur lembut disisi kakinya tergeletak tubuh Kim Thi sia."
Waktu itu Kim Thi sia merasakan sekujur badannya kaku dan kesemutan, sama sekali tak mampu bergerak kalau tidak.
ia pasti akan terperanjat sekali dibuatnya.
Sementara itu, tiga orang jagoan telah terjun keair, mereka mulai melakukan pencarian yang seksama didalam kolam dengan air yang dingin membekukan badan itu.
Sampai lama......
lama kemudian, ketiga orang itu baru merangkak naik kedaratan dengan tubuh menggigil, seru mereka bersama.
"Mungkin tubuh pemuda itu sudah terseret arus air dan terseret entah kemana, kami telah melakukan pencarian yang seksama disekeliling tempat ini, namun nyatanya belum juga ditemukan-"
"Bagaimana baiknya sekarang?"
Kata Nirmala nomor tujuh kemudian sambil tertawa getir.
"Sin li hanya tahu menurunkan perintah, dia tak akan mau tahu atas kesulitan yang kita hadapi."
"Yaa, kenyataan telah berkembang menjadi begini, rasanya kita hanya bisa mohon maaf kepadanya."
"Baiklah, kalau begitu mari kita pergi minta maaf kepadanya."
Kata Nirmala nomor tujuh kemudian-Selesai berkata, dia segera mengajak ketiga orang rekannya balik menelusuri jalan semula.
Secepat sambaran kilat mereka berangkat menuju kegedung besar berwarna emas itu.
Ditengah jalan, mendadak Nirmala nomor tujuh menghentikan larinya seraya berseru.
"Aduuuuuh.........aku hendak membuang hajat sebentar, harap kalian berangkat duluan. Aku segera akan menyusul."
Ketiga orang rekannya tidak menaruh curiga apa-apa, mereka segera meneruskan perjalanannya.
Ternyata Nirmala nomor tujuh tidak pergi membuang hajat, menanti ketiga orang rekannya sudah pergi jauh, cepat-cepat dia kembali ketepi kolam dan membopong keluar tubuh Kim Thi sia dari air, kemudian setelah menguruti beberapa buah jalan darahnya dia menegur.
"Nak, bagaimana perasaanmu sekarang?"
Kim Thi sia tak mampu mengucapkan sepatah katapun selain dari tenggorokannya bergema suara pelan-Sekujur badannya sangat letih, setitik kesadarannya meski belum hilang sama sekali toh rada kabur.
Apa yang dibicarakan Nirmala nomor tujuh memang terdengar olehnya sayang dia tak mampu mengucapkan sepatah katapun-Dengan penuh kasih sayang Nirmala nomor tujuh membelai jidatnya yang membeku, lalu gumamnya.
"Bocah yang bernasib malang......setelah berhasil kabur dari gua, mengapa kau tak berupaya untuk melarikan diri.......?"
Kemudian setelah berhenti sejenak, kembali gumamnya.
"Yaa, mengingat aku menaruh kesan yang begitu sangat baik kepadamu, bagaimanapun juga aku harus berupaya untuk menolongmu."
Cepat-cepat dia duduk bersila kemudian mengatur pernapasan, tak selang berapa saat kemudian, kabut putih telah mengepul keluar dari jidatnya.
Sepasang telapak tangannya segera dia tempelkan diatas dada Kim Thi sia dan menguruti jalan darahnya.
Tak selang berapa saat kemudian, segulung hawa napasnya muncul dari pusat pemuda itu dan pelan-pelan menyebar keseluruh badan.
Begitu memperoleh kembali sebagian tenaganya, Kim Thi sia pun berkata.
"Terima kasih banyak empek atas bantuanmu, budi kebaikanmu tak pernah akan kulupakan,aku.....aku pasti akan berusaha membalas budi ini."
Kemudian setelah terbatuk-batuk sesaat lanjutnya.
"Empek, aku tiada harapan lagi, kau.......kau tak usah bersusah payah."
Nirmala nomor tujuh segera tertawa ramah, katanya.
"Nak, semangat adalah kekuatan, atas dasar apa kau mengatakan tiada harapan lagi. Ayohjangan bicara sembarangan, aku akan membantu untuk memperlancar peredaran darahmu."
Berbicara sampai disitu, dia benar-benar meninggalkan teganya dan melipat gandakan kekuatannya.
Tak lama kemudian, napas Nirmala nomor tujuh makin memburu, paras mukanya yang semula merah kini berubah menjadi pucat pias, peluh sebesar kacang kedelepun jatuh bercucuran membasahi jidatnya dan menetes diatas wajah pemuda itu.
Mendadak Kim Thi sia berkata.
"Empek. budi kebaikanmu ini bagaikan cucuran keringatmu yang membasahi tubuhku sekarang, bila aku beruntung dapat lolos dari maut, suatu keita aku pasti akan balik lagi ke Lembah Nirmala untuk membalas kebaikanmu itu."
Nirmala nomor tujuh menyadari bahwa pemuda ini berhati mulia dan tahu budi, karenanya diapun berkata.
"Ingat baik-baik perkataanku, disaat tenagamu pulih kembali segera berangkatlah menuju ketimur. Tinggalkan lembah ini disaat malam masih mencekam. Tentang kedatanganmu kembali dilain waktu, aaaaai......"
Tiba-tiba saja nada suaranya kedengaran begitu sedih dan memilukan hati, terusnya dengan parau.
"Mungkin waktu itu aku sudah tak berada didunia ini lagi."
Kim Thi sia amat terkesiap. baru saja dia hendak berbicara kakek itu telah menukas kembali.
"Kita tak perlu membicarakan soal itu. Nak, aku ingin tahu tinggal berapa banyak obat yang kuberikan kepadamu?"
"Aku tidak menghitungnya satu per satu. Tapi kemungkinan besar masih sepuluhan biji."
Sambil tertawa Nirmala nomor tujuh manggut-manggut, ucapannya.
"Aku sangat gembira karena kau tidak menghilangkannya."
Setelah berhenti sejenak, dengan cepat dia menambahkan.
"sepeninggalku nanti, telanlah seluruh pil tersebut sekaligus, obat-obat itu akan memberikan manfaat yang tak terhingga bagimu."
"Akan kuingat terus."
"Soal nona Hay jin, dia telah pergi bersama putra tunggal sipukulan sakti tanpa bayangan dari Tiang pek san"
Kata Nirmala nomor tujuh lebih jauh. Kemudian setelah menatap pemuda itu lekatlekat, terusnya dengan wajah serius.
"Biarpun ibu dari nona ini banyak melakukan kejahatan, namun gadis tersebut sesuci dirimu. Sebelum berangkat dia pernah memohon kepadaku untuk menyampaikan berita ini kepadamu, karenya kuharap kau jangan menyia-nyiakan pengharapannya......"
Rasa terkejut dan gembira segera menyelimuti perasaan Kim Thi sia begitu mendengar perkataan itu, entah semangat apa yang berkobar didalam dadanya, tiba-tiba dia bangun terduduk dan berseru.
"Benarkah dia berkata begitu? Empek kau tidak membohong bukan?"
Sambil membelai rambutnya dengan penuh kasih sayang, Nirmala nomor tujuh berkata lagi.
"Kupandang dirimu seperti anak kandungku sendiri, buat apa aku berbohong kepadamu?"
Tiba-tiba saja Kim Thi sia mempunyai keyakinan yang besar atas masa depan sendiri, segera katanya.
"Empek. aku tidak akan mati, aku pasti akan berhasil keluar dari lembah ini."
Kemudian sambil meraba kemala dalam sakunya, dia berkata lebih-jauh.
"Aku tidak tahu kalau ia berpesan begitu kepadamu. oooh.....^aku harus menyayangi keselamatan jiwaku sendiri."
"Nak. kesemuanya ini tergantung jodoh. Kuharap kau bisa memperoleh kehidupan yang bahagia"
Bisik sikakek sambil menatap pemuda itu lekat-lekat.
Mendengar perkataan itu, tanpa terasa Kim Thi sia menggenggam sepasang tangannya eraterat.
Tiba-tiba Nirmala nomor tujuh bangkit berdiri dan melepaskan diri dari genggamannya, ia berkata singkat.
"Nak. aku harus pergi, selamat berjuang"
Begitu selesai berkata, dia segera membalikkan tubuh dan beranjak pergi dari situ. -00d0w00k0z00-
Jilid 34 Memandang bayangan punggungnya yang menjauh dan mengenang kembali suara pembicaraannya yang memilukan hati, merasa hatinya pedih hingga tanpa sadar titik air mata jatuh bercucuran.
Saat ini dia merasakan hawa murni yang bergolak dalam tubuhnya telah menambah kekuatannya berlipat ganda, ia sadar Nirmala nomor tujuh tak segan-segan mengorbankan tenaga dalam hasil latihannya selama puluhan tahun untuk menolong dan membantunya.
Budi kebaikan setinggi bukit ini membuat pemuda kita merasa makin terharu.
Perlahan ia merangkak naik keatas daratan lalu memandang sekejap sekeliling tempat itu, lampu dalam gedung emas telah lama padam.
Jelas Dewi Nirmala menganggap dia benar-benar telah mati tenggelam didasar kolam.
Pelan-pelan dia menelususri jalan setapak ditepi kolam berangkat menuju kearah timur.
Diujung timur sana terdapat tebing curam yang menjulang tinggi keangkasa.
Batu karang yang tajam berserakan dimana-mana dan amat sulit didaki.
Namun Kim Thi sia tidakputus asa, sambil menggertak gigi dia berusaha dengan sekuat tenaga mendaki keatas.
Dengan watak kerbaunya yang keras kepala dan pantang mundur, pemuda itu tak rela menyerah dengan begitu saja semakin susah berjalan, semakin bersemangat dia berusaha untuk menanggulanginya.
Akhirnya dengan napas tersengal-sengal ia berhasil juga mencapai puncak bukit itu.
Sesudah beristirahat sejenak.
pemuda itu melanjutkan kembali perjalanannya menelusuri jalan setapak.
Berapa li kemudian sampailah dia ditepi jalan raya yang amat lebar.
Rasa gembira yang meluap-luap membuat tubuhnya yang lelah tak tertahan lagi, dia terjatuh ditepi jalan dan tertidur amat nyenyak.
Entah berapa saat sudah lewat, dia baru tersadar dari tidurnya ketika sebuah tangan yang berbulu muncul dihadapan matanya.
Dengan perasaan amat kaget ia segera melompat bangun dari atas tanah.
Ternyata benda berbulu itu tak lain adalah seekor anjing liar, sewaktu melihat pemuda itu terjaga dari tidurnya, binatang itu segera melarikan diri terbirit-birit.
Kim Thi sia segera berpikir.
"Sialan benar binatang itu, aku sampai terperanjat setengah mati........aku mesti memberi pelajaran yang setimpal kepadanya."
Dengan perasaan sangat menolongkol dia memburu maju kedepan dan melepaskan sebuah pukulan-Selisih jarak antara kedua belah pihak mencapai dua kaki lebih, tapi begitu angin serangan tersebut menyambar lewat, tiba-tiba anjing itu mengaing kesakitan dan roboh terkapar diatas tanah.
Sewaktu diperiksa, ternyata anjing itu sudah tewas dalam keadaan sangat mengerikan-Kemampuannya itu tentu saja sangat mengejutkan hatinya, bukan saja ia menemukan tenaga dalamnya telah pulih kembali, malah jauh lebih sempurna dibandingkan sebelum pertarungannya melawan Dewi Nirmala di Lembah Nirmala tadi.
"Aneh betul"
Tanpa terasa ia berpikir.
"Bukan saja isi perutku tidak terluka, sebaliknya kekuatanku malah berlipat ganda, sebenarnya apa yang telah terjadi?"
Sampai lama sekali ia mencoba memecahkan persoalan tersebut, namun tak berhasil menemukan sebab-sebabnya.
Ia hanya teringat sewaktu pertarungan yang sengit semalam, ia telah mengeluarkan ilmu ciat khi mi khi kemudian ilmu ciat khi mi khi nya kehilangan kasiat, membuat dia amat kecewa.
Siapa tahu bukan saja ilmu sakti tersebut sama sekali tak kehilangan kasiatnya, malahan semakin meningkatkan kemampuan tenaga dalamnya.
Hal inilah yang sama sekali diluar dugaan-Begitulah, ditengah pancaran sinar sang surya yang terang benderang, pemuda itu meneruskan perjalanannya menuju keselatan-sepanjang jalan, dia mulai berpikir.
"Pedang tembaga dan pedang bintang telah tewas, ini berarti aku harus mempercepat usahaku untuk membalaskan dendam sakit hati guruku. Kalau sampai didahului Dewi Nirmala, sudah pasti kejadian ini merupakan suatu peristiwa yang sangat tidak menggembirakan-"
Berpikir sampai disitu, hawa darah panas dalam dadanya serasa bergolak keras, dia ingin secepatnya tiba disarang sembilan pedang dari dunia persilatan dan mengendalikan kepandaian silat yang dimilikinya untuk membalaskan dendam sakit hati gurunya.
Lambat laun senjapun menjelang, kegelapan mulai mencekam kembali seluruh jagad saat itu dia telah tiba disebuah tanah perbukitan yang jauh dari rumah penduduk.
Sementara dia menelusuri pepohonan yang lebat, mendadak dari depan sana bergema datang suara langkah kaki manusia yang ringan-Ketika berpaling, dia menyaksikan ada tiga sosok manusia sedang berjalan mendekat.
Berapa saat kemudian, ia telah melihat dengan jelas raut wajah pendatang itu, kontan hatinya merasa amat terperanjat.
Rupanya dari ketiga orang itu, seorang diantaranya adalah seorang gadis yang cantik jelita, gadis itu tak lain adalah putri Kim huan yang sangat dikenalnya.
"Aaaaai.....kalau sudah bermusuhan, dunia terasa begitu smepit, tempo hari aku pernah menjengkelkan hatinya dengan meninggalkan surat kali ini dia tak akan berpeluk tangan belaka."
Ia berusaha menundukkan kepalanya rendah-rendah, akan tetapi putri Kim huan telah mengetahui kehadirannya, sewaktu melihat pemuda itu berambut kusut dan berdandan seperti seorang pengemis, gadis itu nampak tertegun dan menghentikan langkahnya.
Berbicara sejujurnya, Kim Thi sia memang menaruh perasaan kagum terhadap gadis ini, tapi benaknya selalu dipenuhi dengan perkataan yang pernah diucapkan gadis tersebut.
"Aku hendak membunuhnya......."
Ucapan itu membuat rasa rendah diri menyelimuti benaknya, membuat ia berusaha menekan rasa kagumnya dan selalu menganggap gadis itu bagaikan musuh besarnya.
Terlebih-lebih setelah dia melihat disisi gadis itu muncul seorang pendamping lain, sekalipun pendampingnya hanya seorang pemuda berwajah jelek.
namun hal mana cukup menyedihkan hatinya.
Ia melihat juga sikakek berambut kuning yang berjalan disamping pemuda jelek itu, meski dia tak kenal dengan kakek itu namun dandanannya yang aneh membuat pemuda tersebut segera mendengus.
Sementara putri Kim huan masih berdiri termangu-mangu dengan langkah lebar Kim Thi sia berjalan menghampirinya seraya menegur.
"Selamat bersua."
"Siapa kau?"
Bentak pemuda jelek itu sambil maju kedepan dan menghadang didepan gadis tersebut.
Kim Thi sia mengira pemuda itu adalah kekasih putri Kim huan, ia sangat mendongkol dan sama sekali tidak menggubrisnya.
Kembali kepada gadis tersebut dia berseru.
"cepat serahkan uang kepadaku, aku butuh pakaian baru."
Putri Kim huan manggut-manggut, kepada pemuda jelek itu dia berseru.
"Kau menyingkirlah dulu."
Kemudian tanpa menunggu jawaban dari pemuda jelek itu, ia maju kedepan menghampiri Kim Thi sia.
Bertemu dengan pemuda itu, sinona seperti melupakan segala sesuatunya, sambil tertawa lembut ia bertanya.
"Berapa tahil yang kau butuhkan?"
"Aku hanya membutuhkan dua tiga tahil perak saja"
Sahut Kim Thi sia sambil mengulurkan tangannya kemuka.
"Aaaah, dua tiga tahil kelewat sedikit, tak bakal cukup untuk membeli apa-apa. Biar kuberi tiga puluh tahil perak saja."
Sambil berkata ia mengambil sekeping uang perak dari sakunya dan segera disodorkan kedepan-"Terima kasih"
Kata Kim Thi sia sambil menerimanya. setelah mundur setengah langkah, tiba-tiba dia berseru lagi dengan kening berkerut.
"Nampaknya kau anggap aku pengemis yang minta sedekah? IHmmmm, kalau begitu aku tak sudi menerima sedekahmu itu"
Habis berkata ia segera membanting uang itu keatas tanah danpergi meninggalkan tempat itu. Putri Kim huan nampak agak tertegun, lalu sambil memburu maju kedepan serunya.
"Apakah kau tak butuh pakaian baru?"
"Sebenarnya aku ingin meminjam tiga puluh tahil perak darimu untuk membeli pakaian, siapa tahu kau tunjukkan sikap seakan-akan memberi sedekah kepada pengemis, sekali beri tiga puluh tahil. Hmmm, kau anggap aku ini tamak akan harta? Terus terang saja aku bilang, aku sih tidak butuh dengan uangmu itu."
"Aku toh tidak bermaksud begitu, kau benar-benar pandai membolak balikkan duduknya persoalan-.....aaaah. Bagaimana kalau kau sampai tak bisa makan nanti?"
Sebenarnya Kim Thi sia berniat tak akan menggubris, tapi setelah mendengar perkataan itu, bagaikan ditusuk dengan jarum tajam, ia melompat dan sahutnya keras-keras.
"Tak usah kuatir, sekalipun toaya bakal mati kelaparan, tak akan kucari dirimu lagi."
Pelan-pelan putri Kim huan memejamkan matanya rapat-rapat, dia merasa amat bersedih hati, coba kalau disekelilingnya tak ada orang lain, niscaya dia akan menangis sejadi-jadinya.
Mendadak pemuda jelek itu bertanya.
"Hey, siapa sih orang itu?"
Putri Kim huan berpaling, lalu jawabnya.
"Kim Thi sia"
"Kim Thi sia.......? Kim Thi sia.......?"
Gumam pemuda jelek itu berapa kali, tiba-tiba ia berteriak keras.
"Aaaai, dialah orangnya bocah keparat, sudah lama aku mencarimu. Beruntung sekali kita dapat bersua muka ditempat ini."
Dengan suatu gerakan amat cepat dia meluncur kedepan, menyusul kemudian sepasang telapak tangannya direntangkan dan secara beruntun melepaskan dua buah pukulan berantai.
Ketika merasakan datangnya desungan angin tajam dari belakang tubuhnya, dengan suatu gerakan cepat Kim Thi sia membalikkan tubuhnya, ia menjadi gusar sekali setelah melihat pemuda jelek itu sedang menyerangnya secara garang dan buas.
Tanpa berpikir panjang lagi, diapun mengayunkan telapak tangannya melepaskan sebuah pukulan dahsyat.
Suara benturan keras bergema memecahkan keheningan, ketika dua gulung tenaga dahsyat itu saling beradu, kedua belah pihak sama-sama tergetar mundur satu langkah.
Semenjak tenaga dalamnya peroleh kemajuan yang amat pesat, Kim Thi sia belum sempat mencari sasaran untuk mencoba kemampuannya itu, maka didalam gusarnya sekarang, tanpa banyak bicara lagi ia melepaskan tiga buah serangan berantai secara beruntun.
Tampaknya pemuda jelek itu tak pernah menyangka kalau seorang pengemis memiliki tenaga dalam yang begitu hebatnya, diam-diam ia terkesiap dibuatnya dan tak berani lagi melancarkan serangan secara sembarangan Pada saat itulah tiga gulung tenaga pukulan Kim Thi sia yang maha dahsyat telah menggulung tiba dengan kecepatan luar biasa.
Dengan suatu gerakan cepat pemuda jelek itu mengayunkan pula telapak tangannya untuk menyambut datangnya ancaman tersebut.
Seketika itu juga ia merasakan pukulan yang menyergap datang makin lama makin bertambah hebat, paras mukanya kontan berubah hebat, tak kuasa tubuhnya mundur pula tiga langkah kebelakang.
Baru pertama kali ini Kim Thi sia berhasil memukul mundur musuhnya dengan tenaga kekuatan angin pukulannya, dalam luapan rasa gembiranya pun dia makin bersemangat kembali dia maju kemuka sambil melepaskan tiga buah pukulan berantai lagi.
Pemuda jelek itu segera sadar bahwa kemampuannya bukan tandingan lawan, tetapi dia malu dengan putri Kim huan bila harus menyerah dengan begitu saja, maka dengan nekad ia menggigit bibirnya kencang-kencang dan menyambut setiap serangan musuh dengan keras melawan keras.
Tiga kali benturan keras bergema memecahkan keheningan.
Kim Thi sia tetap berdiri tegak diposisinya semula, sedangkan pemuda jelek itu mundur berulang kali kebelakang dengan keadaan kepayahan-Kim Thi sia memang berhasrat mengalahkan musuhnya secara tragis, ia tertawa melihat sang korban mundur terus, ia tetawa keras dan mendesak maju kedepan, tiba-tiba dia melepaskan sebuah pukulan dahsyat dengan jurus "kecerdikan menguasahi jagad"
Dari ilmu Tay goan sinkang.
Terkejut bercampur ngeri mencekam perasaan pemuda jelek itu, dia ingin mengerahkan seluruh kekuatan tubuhnya untuk beradu jiwa, tapi disaat yang kritis itu menyelinap masuk dari sisi arena dan tanpa mengucapkan sepatah katapun melepaskan segulung pukulan yang maha dahsyat.
Begitu dua kekuatan saling bertemu, Kim Thi sia terseret oleh segulung tenaga lembek yang amat kuat hingga tergeser kesamping dan tak mampu berdiri tegak.
tubuhnya mundur selangkah kebelakang.
Berada dalam keadaan begini, pemuda tersebut segera berpikir cepat.
"Manusia sebangsa Dewi nirmala pun berani kuhajar, apalagi hanya seorang tosu tua berambut kuning macam kau. Hmmm, hari ini aku mesti menghajarnya habis-habisan."
Dengan semangat yang berkobar-kobar ia segera mendongakkan dan berpekik nyaring, jurus kedua dari ilmu Tay goan sinkang yaitu "kelincahan menyelimuti empat samudra"
Kembali dilontarkan-Dalam waktu singkat angin dan guntur menggelegar, segulung kekuatan maha dahsyat menyambar kedepan dan menyapu segala sesuatu yang dijumpai.....
Didalam serangannya kali ini dia telah pergunakan tenaga dalamnya sebesar sembilan bagian, tentu saja kekuatan yang dihasilkan luar biasa sekali.
Tosu tua berambut kuning itu sangat terkesiap.
ia tak berani bertindak gegabah dan buru-buru mengayunkan serangan tersebut dengan keras melawan keras.
Tanpa menimbulkan suara kedua belah pihak telah saling beradu pukulan satu kali.
Kim Thi sia tetap berdiri tak bergerak.
hawa napas mengepul dari jidatnya dan menyebar kemana-mana, rupanya kedua belah pihak telah saling beradu tenaga dalam tingkat tinggi.
Sementara itu tosu tua berambut kuning itu sedang berpikir dengan perasaan terkejut.
"Entah ilmu pukulan apakah yang dipergunakan bocah muda ini, sungguh lihay dan luar biasa sekali.
coba aku tidak mundur secepatnya, sudah pasti akan menderita kekalahan ditangannya.
Waaa h.......
rupanya ilmu khikang kepiting saljuku tak akan mampu menandinginya ......."
Belum habis ingatan tersebut melintas lewat, Kim Thi sia telah melancarkan serangan berikut. Jurus "mati hidup ditangan nasib"
Yang dilancarkan kali ini nampaknya sederhana tanpa suatu yang luar biasa, yang nampak pun cuma gerakan telapak tangan yang berputar tapi serangan hawa khikang kepiting salju yang dipancarkan tosu tua berambut kuning itu seketika terbelenggu dan terkurung oleh tenaga lawan-Kejadian tersebut amat mengejutkan hati tosu tua yang berambut kuning itu, kendatipun ia sudah begitu cukup berpengalaman didalam menghadapi pertarungan namun kali ini, ia gagal untuk menduga arah manakah serangan musuh akan tiba.
Dalam keadaan begitu, terpaksa dia menarik kembali serangannya secara tergesa-gesa dan melompat mundur kebelakang.
"Hendak kabur kemana kau?"
Kim Thi sia membentak keras. Mendadak jurus "mati hidup ditangan nasib"
Nya berubah arah sasaran, lengannya diputar kencang menjangkau dada lawan, kemudian menggunakan kesempatan disaat musuh gelagapan, kaki kirinya melancarkan sebuah sapuan kilat.
Jurus serangan ini merupakan hasil ciptaan-nya sendiri yang dikombonasikan dengan ilmu Tay goan sinkang.
Tentu saja sitosu tua berambut kuning itu tidak menyangka kalau musuhnya memiliki perubahan jurus yang begitu banyak.
Sedikit dia kurang berhati-hati, kakinya segera tersipu telak dan tak ampun lagi tubuhnya roboh terjungkal keatas tanah.
Kim Thi sia memutar badannya dengan ujung kaki sebagai as, tiba-tiba dia menyerang dengan jurus keempat dari ilmu Tay goan sinkang yakni gerakan "kejujuran menghancurkan batu emas".
Sitosu tua berambut kuning itu seketika merasakan selapis jaring hitam menyelimuti batok kepalanya dan sulit baginya untuk meloloskan dirinya kembali.
Belum hilang perasaan ngeri yang mencekam perasaan hatinya, serangan yang maha dahsyat itu telah menghantam ubun-ubunnya membuat orang itu tewas seketika.
Putri Kim huan sebagai seorang gadis yang bernyali kecil, buru-buru menutupi mukanya dengan ujung baju dan tak berani menonton adegan seram ini.
Sebaliknya pemuda jelek itu mengawasi mayat gurunya yang terkapar dengan wajah termangumangu, gumamnya.
"Aaaaah, sudah tewas, sudah tewas."
Mendadak dia mengalihkan sorot matanya yang tajam menyeramkan itu kewajah putri Kim huan, lalu serunya lagi dengan penuh kebencian.
"Aaaah, kau lah penyebab dari segala sesuatunya ini."
Hawa napsu membunuh seketika berkobar dalam dadanya, menggunakan kesempatan disaat Kim Thi sia tidak menaruh perhatian, tiba-tiba ia melesat kedepan dan mengayunkan telapak tangannya menghantam tubuh putri Kim huan-Mimpipun putri Kim huan tak mengira akan kejadian tersebut, ia menjadi bergidik ketika hawa dingin yang menusuk tulang tahu-tahu menyusup ketubuhnya.
"ooooh, dingin amat......"
Keluhnya lirih.
Mendengar keluhan tersebut Kim Thi sia segera berpaling, begitu dilihatnya pemuda jelek itu sedang mengayunkan telapak tangannya menerkam gadis tersebut dan seolah-olah berhasrat untuk membinasakan dirinya, ia segera membentak nyaring, dengan menghimpun tenaga Tay goan sinkangnya hingga mencapai sepuluh bagian, dia melepaskan sebuah pukulan dahsyat kedepan-Waktu itu telapak tangan pemuda jelek itu sudah menempel dibagian mematikan dari putri Kim huan dan baru saja hendak memuntahkan tenaga dalamnya untuk membunuh gadis tersebut.
Mimpipun dia tak mengira kalau secara tiba-tiba akan muncul segulung tenaga serangan yang begitu dahsyat dari belakang tubuhnya.
Berada dalam keadaan begini, terpaksa dia harus menghentikan serangannya untuk menyambut datangnya ancaman tersebut.
"Duuuukkkk........."
Tahu-tahu saja badannya seperti kena dihantam oleh martil yang sangat berat, pandangan matanya terasa gelap.
tenggorokkannya terasa manis dan ia memuntahkan darah segar, tubuhnya langsung roboh terjerembab keatas tanah.
Ketika Kim Thi sia memburu kedepan dan memeriksa dengusan napasnya, dia temukan musuhnya telah menemui ajalnya.
Kematian mereka antara guru dan murid yang beruntun membuat Kim Thi sia tersadar.
Kembali dari luapan emosinya, tiba-tiba saja dia merasa tindakannya kelewat keji.
Namun nasi telah menjadi bubur menyesalpun tak ada gunanya.
Pelan-pelan dia mendongakkan kepala dan memandang sekejap kearah gadis tersebut.
ia temui paras muka nona itu pucat pias bagaikan mayat, mukanya sangat menderita sekali.
Baru saja dia ingin bertanya.
"Apakah kau terluka?"
Mendadak putri Kim huan telah membungkukkan badannya dengan menggigit bibir serta merintih tiada hentinya. Dengan perasaan terkejut pemuda itu segera menegur.
"IHey, apakah kau sudah terbokong oleh nya?J angan sembarangan bergerak. aku akan mencarikan tabib bagimu........"
Belum sempat dia melangkah pergi dari situ, putri Kim huan telah bangkit berdiri seraya menyambut.
"Aku tidak apa-apa, hanya tubuhku merasa agak kedinginan-"
Kemudian sambil menatap sekejap kearah Kim Thi sia, kembali berkata.
"Bagaimana kalau kita menempuh perjalanan bersama-sama?"
Kim Thi sia merasakan suasana yang aneh sekali, tapi sebelum dia sempat berbicara, putri Kim huan telah beranjak menghampirinya namun belum beberapa langkah tubuhnya kembali telah menggigil keras.
Menyaksikan hal ini, Kim Thi sia segera berpikir.
"Aduh celaka, rupanya dia telah terkena pukulan hawa dingin yang amat beracun........"
Belum habis ingatan tersebut melintas lewat tiba-tiba saja ia saksikan gadis itu roboh terjerembab keatas tanah.
cepat-cepat Kim Thi sia memburu maju kedepan dan membopong tubuhnya yang indah menawan itu, sewaktu diperiksa dengan seksama, tampaklah dibalik paras mukanya yang pucat pias terselip hawa hitam yang tipis sekali.
Dengan rasa kaget dia segera berseru.
"Nona, jangan bergerak secara sembarangan, kau sudah terkena pukulan beracun biar kubopong tubuhmu untuk pergi mencari tabib."
Saat ini pikiran dan perasaannya sangat kalut, kendatipun sedang membopong sesosok tubuh yang montok dan indah, namun ia tak sempat melayangkan pikirannya untuk membayangkan yang bukan-bukan.
Dengan langkah cepat dia berlarian menuju kedepan, kegelapan makin mencekam sedang disekeliling tempat itu belum juga kelihatan rumah penduduk akhirnya dengan perasaan gemas dia berpikir.
"Maknya, masa untuk mencari sebuah kotapun begini susah? padahal keadaan sangat mendesak......sialan......"
Ditengah jalan, putri Kim huan sudah berada dalam keadaan tak sadar, namun goncangan sepanjang jalan yang dialaminya membuat gadis itu pelan-pelan tersadar kembali. Mendadak ia berpikir.
"Thi sia, aku tak ingin belajar ilmu silat."
Suaranya amat lemah bagaikan suara nyamuk, andaikata tak didengarkan secara seksama, sulit untuk didengar. Tanpa sadar Kim Thi sia menghentikan langkahnya lalu bertanya dengan keheranan.
"Kenapa?"
"Sebab kau.......kau selalu men.......mencurigai aku........kau selalu menuduhku berniat tak......baik kepadamu........aku.......aku benar-benar tak ingin belajar."
"Tapi apa sangkut pautnya dengan diriku?"
Seru Kim Thi sia tak habis mengerti. Putri Kim huan mengerdipkan alis matanya yang jeli, lalu menjawab lirih.
"Bila.......aku.......aku tak belajar silat.....kau........kau pun tak usah kuatir lagi."
"ooooh, rupanya begitu"
Pikir Kim Thi sia. Dengan cepat dia dapat menangkap maknsa yang sebenarnya dari ucapan tersbeut, perasaan hatinya kontan bergetar keras, pikirnya lebih jauh.
"oooh....... rupanya dia tak bermaksud akan mencelakai aku, saat ini keselamatan jiwanya terancam bahaya, tapi masih saja teringat akan hal tersebut tak mungkin dia membohongi aku dalam keadaan begini......yaaaa pastilah sudah aku telah menaruh kesalahan paham kepadanya."
Dengan pikiran mana, pandangan maupun perasaan hatinyapun mengalami perubahan yang amat besar. Lama sekali dia menatap wajah gadis itu lekat-lekat kemudian hiburnya dengan lembut.
"Perkataanmu itu sangat mengharukan hatiku, dulu akulah yang bersalah, aku selalu membuatmu marah, apakah kau masih marah kepadaku? Kau....."
Mendadak ia tergagap dan tak mampu melanjutkan kata-katanya setelah sangsi sekian lama, akhirnya dia baru berkata lagi.
"Tentunya kau tak akan menganggap diriku sebagai orang liar yang kasar dan berangasan sehingga membenci diriku bukan? Aaaa i......aku benar-benar kuatir bila kau....."
Mendadak putri Kim huan tersenyum sambil menukas perkataannya yang belum habis diucapkan itu, katanya.
"Kau tak perlu gelisah, hidup sebagai seorang manusia sampai akhirnya toh harus mati juga mati lebih awal atau mati belakangan toh sama saja artinya, asal kau bersikap baik kepadaku dan asal aku bisa bersua sekali lagi dengan ayahku. Biar harus matipun aku akan mati dengan perasaan lega."
Kim Thi sia merasa terharu disamping gembira, sebagai orang kasar dia tidak tahu bagaimana mesti menanggapi itu, akhirnya dia hanya berkata begini.
"Kau tak akan mati aku sudah bertekad akan mencarikan tabib untuk mengobati lukamu itu."
"Seandainya aku mati, apakah kau akan merindukan aku?"
Tanya putri Kim huan lagi sambil menghela napas sedih.
Mendengar perkataan yang begitu memelas sehingga seseorang yang berhati sekeras baja pun akan tergerak hatinya.
Kim Thi sia menjadi sangat beriba hati, tanpa ragu-ragu lagi sahutnya.
"Tentu saja."
Putri Kim huan membuka matanya dan saling bertatapan sekejap dengannya, ketika empat mata saling bertemu, tiba-tiba saja mereka saling berpandangan sampai lama sekali.
Entah berapa saat kemudian, gadis itu baru menundukkan kepalanya dengan sekulum senyuman menghiasi ujung bibirnya, senyuman itu membuat orang merasa tertarik dan menaruh rasa kasihan kepadanya.
Diam-diam Kim Thi sia berpikir.
"Sungguh tak kusangka dia sebagai seorang gadis bangsawan, menaruh perhatian yang begitu besar terhadap seorang gelandangan macam aku......."
Dengan perasaan yang bergelora ia membelai rambutnya yang lembut dengan penuh kasih sayang, putri Kim huan mengeluh pelan kemudian menjatuhkan diri kedalam pelukannya.
Kim Thi sia merasa dirinya seakan-akan telah berubah menjadi seseorang yang lain, ia bertekad selama hayat masih dikandung badan dia tak akan membiarkan gadis itu mati oleh pukulan beracun, sebab dia sadar gadis cantik itu menempati posisi yang sangat penting dalam benaknya.
Mendadak ia merasakan napsunya bergolak.
entah darimana datangnya keberanian, tiba-tiba saja dia menundukkan kepalanya dan mencium dua lembar bibirnya......
Dalam waktu singkat dua hati saling bertautan, mereka seakan-akan lupa akan segalagalanya....
Butiran air mata jatuh berlinang membasahi wajah putri Kim huan, dengan lembut dia memeluk pemuda itu dan bergumam.
"Engkoh Thi sia, sejak berpisah setiap saat aku rindu kepadamu, hingga sekarang aku masih selalu teringat bagaimana kau menyelimuti tubuhku ketika kau tahu aku takut kedinginan-Akupun selalu teringat bagaimana kau tertidur didepan pintu dalam udara yang begitu dingin, aku selalu berpikir, kau pasti seorang lelaki yang berjiwa ksatria. Apalagi setelah kau tak segan-segan menerima pelbagai penderitaan untuk membebaskan aku dari pelbagai kesulitan, aku semakin mengagumi kegagahanmu."
Dengan perasaan terharu Kim Thi sia berkata.
"Aku hanya seorang bocah rudin, aku merasa tak sia-sia hidupku setelah memperoleh perhatian yang begitu besar dari seorang gadis cantik bak bidadari macam kau."
Kembali kedua orang itu saling berpelukan dengan mesrahnya.
"Engkoh Thi sia"
Tiba-tiba putri Kim huan berbisik lagi.
"Seandainya aku mati, apakah kau akan kawin lagi?"
"Tidak. selain kau seorang, aku tak akan kawin dengan siapapun."
Putri Kim huan segera menghela napas sedih.
"Kau keliru engkoh Thi sia, setelah aku mati kau bisa kawin lagi, sebab aku pun tetap akan bergembira."
Kim Thi sia hanya menggelengkan kepalanya berulang kali tanpa berbicara, perasaan hatinya berat sekali, saat ini persoalan yang dirisaukan terasa makin banyak.
dia merasa tidak berkeyakinan untuk menyelamatkan gadis tersebut.
Dengan menghimpun segenap kekuatan dia berlarian terus entah berapa jauh telah ditempuh ketika didepan situ muncul bayangan-bayangan sebuah kota.
Diam-diam ia merasa kegirangan setengah mati, dengan langkah lebar dia berjalan menuju kedalam kota.
Waktu itu malam semakin larut, cahaya lentera telah menerangi seluruh jalanan-Sambil membopong tubuh gadis itu Kim Thi sia berhenti didepan sebuah rumah makan dan bertanya kepada pelayannya.
"Hey tolong tanya, dimanakah tempat tinggal tabib paling hebat dikota ini?"
Sambil menunduk pelayan itu berpikir sebentar, lalu sahutnya.
"Aku sendiripun kurang jelas, lebih baik bertanyalah kepada orang lain-......."
Dengan perasaan kecewa pemuda itu berniat pindah ketempat lain untuk mencari keterangan, tapi saat itulah terdengar seorang tamu dalam warung itu berseru.
"Berbicara soal ilmu pertabiban, selalin Kong ci Sin, rasanya tiada orang kedua yang memiliki kepandaian lebih hebat dari padanya."
Orang itu berbicara dengan suara berat dan mantap.
sinar matanya tajam, dalam sekilas pandangan saja orang akan tahu kalau dia adalah seorang tokoh luar biasa.
Kim Thi sia segera merasakan raut muka sastrawan setengah umur itu seperti sangat dikenal olehnya, tapi untuk sesaat dia tak teringat dimanakah mereka pernah bersua.
Buru-buru tanyanya lagi.
"Bolehkah aku tahu dimana tempat tinggal Kong ci Sin?"
"Sisi kiri tebing song cu nia dibarat kota adalah tempat tinggalnya. Asal kau berjalan menuju kearah barat, tak lama akan kau temukan tempat tinggalnya."
Sementara berbicara, soro matanya yang tajam mengawasi terus pedang yang tersoren dipinggang Kim Thi sia tanpa berkedip.
wajahnya memancarkan rasa kaget dan tercengang yang luar biasa.
Kim Thi sia merasa terkejut bercampur keheranan, namun ia tak berani tinggal lebih lama lagi disitu.
Setelah mengucapkan terima kasih, cepat-cepat dia berangkat menuju kebarat.
Selang beberapa saat kemudian tibalah ia disebut jalan besar dengan sederet bangunan rumah yang besar.
Dibawah sebatang pohon siong berdiri sebuah gedung besar dengan selembar kain putih berkibar didepannya, diatas kain itu tertulis berapa huruf yang amat besar.
"Tempat kediaman Kongci Sin."
Dengan perasaan girang pemuda itu mendorong pintu pagar dan masuk kedalam halaman sambil berseru.
"Apakah Tuan Kongci Sin ada dirumah?"
Steelah berteriak berapa kali, pintu rumah baru dibuka dan muncul seorang kakek bermuka bersih dengan jenggot bercabang tiga menghiasi wajahnya. Kakek itu segera menegur.
"Ada urusan apa?"
"Kaukah yang bernama tuan Kongci Sin?"
Dengan sorot mata yang tajam kakek itu memandang sekejap kearah putri Kim huan yang tertidur nyenyak dalam pelukannya, kemudian menjawab dengan suara dingin dan hambar.
"Yaa benar, akulah Kongci Sin. Ada urusan apa?"
"Kau toh seorang tabib, kalau bukan pasien yang datang untuk berobat, buat apa jauh-jauh kemari untuk mencarimu?"
Namun diluarnya dia tetap bersikap lembut dan sengaja mengulumkan senyuman yang ramah katanya dengan penuh kesopanan.
"Sudah lama kudengar nama besar sianseng, maka itu kami sengaja datang untuk berobat."
Kongci Sin tetap berdiri tak bergerak didepanpintu rumahnya meski habis mendengar perkataan tersebut, sudah jelas ia berniat menolak kehadiran tamunya itu.
Dengan pandangan yang dingin ia melirik sekejap kearah putri Kim huan lalu tanyanya.
"Siapa namamu?"
Biarpun dalam hati kecilnya merasa kheki namun sedapat mungkin Kim Thi sia menahan diri, ia segera menjawab.
"Aku bernama Kim Thi sia"
Kongci Sin kelihatan agak tertegun sekali lagi ia memandang pemuda itu dengan sorot mata yang dingin, tapi sikapnya kali ini jauh lebih baikan katanya kemudian dingin.
"Masuklah"
Dengan langkah lebar Kim Thi sia masuk kedalam kamar membaringkan putri Kim huan diatas sebuah pembaringan, pikirnya.
"Hmmm, tua bangka celaka, sekarang kau boleh berlagak tapi ingat, suatu ketika aku pasti akan memberi pelajaran yang setimpal kepadamu."
Sementara itu Kongci sin sudah berganti pakaian dan muncul didalam ruangan untuk memeriksa keadaan penyakit yang diderita putri Kim huan.
cara pengobatan yang dilakukan orang tua ini sangat aneh, ia tidak memeriksa denyut nadi, tidak memeriksa detak jantung.
Melainkan hanya membelalakkan matanya lebar-lebar sambil mengawasi raut muka gadis tersebut.
Selang berapa saat kemudian, ia baru bertanya dengan suara dalam.
"Bukankah istri anda terkena pukulan tenaga dalam beracun?"
Kim Thi sia kontan saja berpikir.
"Tidak aneh kalau dia bergaya begitu sombong, ternyata ilmu pengobatannya memang sangat lihay."
Sementara berpikir, diapun manggut-manggut seraya menyahut."
Ucapan tuan memang tepat sekali, ia memang terkena pukulan beracun."
Dengan pandangan dingin Kongci sin memandang sekejap kearahnya, meski tak berkata-kata, namun Kim Thi sia dapat menangkap sikap "memandang rendah"
Dari balik sorot matanya itu.
Tanpa sadar pemuda itu mencoba membandingkan dirinya dengan putri Kim huan.
Benar juga, perbedaan diantara mereka berdua memang menyolok sekali bagaikan bertolak belakang saja.
Tak heran Kongci Sin menunjukkan sikap memandang rendah dan hina kepadanya sewaktu kata "istri anda"
Tadi. Dengan perasaan rendah diri ia tundukkan kepalanya rendah-rendah, lalu bertanya.
"Apakah tuan mampu untuk mengobati lukanya itu?"
Kongci Sin segera mendengus sebagai jawaban dari pertanyaan itu.
Kim Thi sia merasa amat mendongkol, perasaannya bercampur aduk tak karuan, tapi ketika didengarnya dari balik suara dengusannya mengandung keyakinan besar, iapun merasakan hatinya agak terhibur.
Dalam pada itu Kongci Sin telah meluruskan tubuh gadis tersebut, kemudian bertepuk tangan satu kali.
Ketika seorang pemuda berbaju putih munculkan diri, Kongci Sin segera berpesan.
"Ambilkan jarum emas dan diluarnya diberi bubuk kuning."
Pemuda berbaju pUtih itu mengiakan dan segera berlalu, tak lama kemudian dia telah muncul kembali dengan membawa dua belas batang jarum emas yang telah dibakar hingga merah membara.
Saat itulah Kongci sin baru berkata kepada Kim Thi sia.
"Ilmu pukulan beracun semacam ini merupakan jenis yang paling sukar diobati, coba kalau dimasa mudaku dulu tak pernah belajar ilmu, mungkin tak akan kupahami cara pengobatannya. cuma sebelum aku turun tangan, pertama-tama ingin kuminta persetujuanmu lebih dulu, yakni bila terjadi hal-hal yang tak diharapkan, aku tak akan bertanggung jawab. Nah bagaimana menurut pendapatmu?"
Kim Thi sia segera merasakan hatinya risau dan tidak tenang, tapi ingatan lalu kembali melintas.
"Keadaan telah berkembang menjadi begini sekarang, rasanya aku harus menyerempet bahaya untuk mencobanya."
Berpikir begitu, diapun menjawab.
"Silahkan tuan turun tangan dengan perasaan lega, seandainya benar-benar terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, aku tak bakal menyalahkan dirimu...."
Kongci Sin manggut-manggut, kepada pemuda berbaju putih itu segera katanya.
"Cepat kau tekan tubuhnya, jangan biarkan dia bergerak secara sembarangan."
Sebelum pemuda berbaju putih itu melakukan sesuatu tindakan, Kim Thi sia telah berebut kedepan untuk menahan tubuh putri Kim huan Sementara itu pemuda berbaju putih tersebut tidak berkata-kata, hanya sepasang matanya terbelalak lebar-lebar mengawasi raut muka putri Kim huan tanpa berkedip seakan-akan dia telah terpikat dan tertegun oleh kecantikan wajah gadis itu.
Kongci sin turun tangan dengan amat cekatan, dalam waktu singkat ia telah menusuk ketiga puluh enam buah jalan darah penting ditubuh putri Kim huan dengan jarum emasnya.
Setiap kali jarum itu menembusi jalan darah, segera bergemalah suara mencicit yang keras diikuti keluhan kesakitan putri Kim huan dan mengerang menahan penderitaan-Menyaksikan kesemuanya itu, Kim Thi sia merasakan hatinya amat sakit bagaikan ditusuk-tusuk dengan pisau belati.
Dalam keadaan begini, Kim Thi sia harus menyerahkan tenaga yang amat besar untuk membuat gadis itu tak bergerak.
Siapa yang tak pedih melihat kekasih hatinya mengalami penderitaan hebat.
Kongci sin memusatkan segenap perhatiannya untuk mengincar jalan darah, lalu tusukkan jarumnya dengan cepat, pengobatan seperti ini nampaknya sangat menyita kekuatan badannya, tak seberapa lama kemudian, ia telah bermandikan keringat.
Sebaliknya pemuda berbaju putih itu mengambil kipas dan mengipasi kakek tadi sekuat tenaga, meski begitu, matanya tak pernah beralih dari wajah putri Kim huan-Pandangannya termangu entah apa saja yang sedang dipikirkan olehnya.
Tak lama kemudian suara rintihan putri Kim huan makin melemah, tapi penderitaan yang dialaminyapun kelihatan jauh berkurang tubuhnya tidak gemetar sekeras semula.
Kembali lewat sesaat kemudian mendadak Kongci sin menghentikan gerakan pengobatannya dan bertanya kepada Kim Thi sia.
"Mampukah tenaga dalammu?"
"Apa maksud perkataanmu itu?"
Tanya Kim Thi sia tidak habis mengerti.
"Jangan kau tanyakan dulu masalah tersebut, jawab saja sampai ketaraf apakah tenaga dalam yang kumiliki sekarang?"
"Untuk membunuh orang dalam jarak satu kaki rasanya bukan menjadi masalah lagi bagiku."
Kongci Sin segera manggut-manggut.
"Sekalipun belum lebih dari cukup, rasanya masih bisa dimanfaatkan sebisanya."
Setelah berhenti dan berpikir sejenak, kembali dia melanjutkan-"
Cepat kau himpun tenaga dalammu dan salurkan hawa murni melalui sepasang telapak tanganmu itu kedalam pusarnya, bila peredaran darahnya telah lancar kembali usahakan untuk menyalurkan tenaga dalammu itu melalui Ui tang menuju ke Im kwan dan mengelilingi seluruh badan tiga kali, dengan demikian ia pasti akan segar kembali."
Buru-buru Kim Thi sia duduk bersila diatas tanah dan mengerahkan tenaga sesuai dengan apa yang dikatakan tadi.
Tak selang sepertanak nasi kemudian, kabut tipis telah menyelimuti seluruh tubuhnya.
Hawa murni yang mengalir dari dalam tubuhnyapun segulung demi segulung menyusup ketubuh gadis tersebut.
Tak lama kemudian putri Kim huan tersadar kembali dari pingsannya, hawa hitam yang semula menyelimuti wajahnya kini telah hilang.
Setitik warna merahpun mulai muncul menghiasi pipiny a .
Dengan termangu-mangu dia memandang sekejap kearah Kim Thi sia, kemudian menengok pula kearah Kongci Sin, setelah itu dari wajah Kongci Sin ia berpaling pula kearah pemuda berbaju putih itu.
Bagaikan baru mendusin dari impian gadis itu termangu-mangu seperti orang kebingungan, tapi setelah melihat wajah Kim Thi sia basah oleh keringat dan mukanya menunjukkan rasa penat yang luar biasa, dengan penuh kasih sayang dia mengambil selembar sapu tangan dan membantu untuk menyeka keringatnya.
Waktu itu keadaan Kim Thi sia sudah menjadi kaku, selama ini dia hanya berusaha untuk menahan diri agar kesehatan putri Kim huan dapat pulih kembali.
Tak lama kemudian...
Ia benar-benar tak sanggup menahan diri lagi, tubuhnya roboh terjungkal keatas pembaringan dan tertidur sangat nyenyak.
Kongci Sin segera berkata.
"Kaupun harus beristirahat dengan tenang, saat ini penyakitmu baru sembuh, jangan bergerak secara sembarangan-"
Sewaktu berbicara, sepasang matanya mengawasi wajah sinona dengan pandangan ramah, keadaannya tak berbeda dengan sikap pemuda berbaju putih itu.
Tentu saja sinona menjadi kaget bercampur tertegun dibuatnya.
Tapi kakek itu segera mengulapkan tangannya dan berseru lagi kepada pemuda berbaju putih itu.
"Cepat kau undang kemari empek Kim mu. Aku ada urusan penting yang hendak dibicarakan dengannya."
Pemuda berbaju putih itu kelihatan agak sangsi sejenak.
tapi dengan cepat dia zlari keluar rumah, mengambil kuda dan memacunya kencang-kencang meninggalkan tempat itu.
Kongci Sin sendiripun telah pergi entak kemana, sejak dia meninggalkan ruangan tersebut, batang hidungnya tak pernah menongol kembali.
Tak seberapa lama kemudian, Kim Thi sia mendusin dari tidurnya, sewaktu ia menjumpai putri Kim huan sedang mengipasi tubuhnya dengan penuh kasih sayang, hatinya menjadi amat terharu.
Tak kuasa lagi dia menggenggam tangannya erat-erat dan bergumam.
"........Aku tidak apa-apa......aaai, kau tahu, aku gelisah setengah mati melihat keadaanmu tadi......"
"Aku mengerti, aku bisa hidup lagi karena berkat jerih payahmu"
Ucap putri Kim huan lembut.
"oooh....engkoh Thi sia, aku tak tahu bagaimana mesti berterima kasih kepadamu........"
Sebagaimana diketahui, dia baru saja sembuh dari sakitnya, kesehatan badannya sangat lemah, tapi Kim Thi sia amat senang dengan sikapnya itu, dia telah memandang gadis itu lebih berharga daripada keselamatan jiwa sendiri.
Mendadak dia bangkit berdiri seraya bertanya.
"Kemana si tabib Kong ci? "
"Kau maksudkan si kakek berjenggot panjang itu?"
Putri Kim huan balik bertanya. Sesudah berhenti sejenak. sahutnya.
"Aku sendiripun tidak tahu ke mana dia telah pergi, sejak kepergiannya dia tak pernah muncul kembali. Hey, apakah gedung ini miliknya?"
"Kita harus berterima kasih kepadanya coba kalau bukan dia, mungkin kau........"
"Yaa, aku tahu, aku bisa hidup berkat pertolongan dari kalian berdua........"
Mendadak........
Pintu kamar dibuka orang, seorang manusia berkerudung yang bertubuh kekar telah munculkan diri didepan mata dibelakangnya mengikuti seseorang, dia tak lain adalah pemuda berbaju putih tadi.
Manusia berkerudung itu memiliki sepasang mata yang amat tajam menggidikkan begitu memasuki ruangan, dengan sorot mata yang tajam ia mengawasi kedua orang itu tanpa berkedip.
"Hey, anda ada urusan apa?"
Tanya Kim Thi sia tanpa terasa.
"Keluar"
Seru manusia berkerudung itu dingin.
"Diluar akan kuberitahu akan segala sesuatunya kepadamu."
Kim Thi sia dapat menangkap nada menantang dibalik perkataan tersebut, dengan langkah lebar dia muncul keluar dan sahutnya.
"Baik, kita berangkat."
Mereka berdua segera beranjak meninggalkan ruangan dan menuju kekebun luas diluar rumah.
Putri Kim huan yang sangat menguatirkan keselamatan kekasihnya, buru-buru menyusul dari belakang dengan langkah sempoyongan-"Kau kah Kim Thi sia si jago muda yang baru muncul didalam dunia persilatan?"
Kim Thi sia manggut-manggut.
"Yaabenar, boleh aku tahu siapa nama sobat?"
Manusia berkerudung itu segera mendengus dingin.
"Hmmm, lebih baik tanyakan sendiri kepada raja akhirat setelah kau mampus nanti."
Berbicara sampai disitu, tiba-tiba tubuhnya melejit setinggi tiga kaki ketengah udara, kemudian dengan jurus "
Elang terbang menyambar air"
Dia menerkam kebawah dengan gerakan cepat bagaikan sambaran kilat. Dengan kening berkerut Kim Thi sia segera berseru.
"Sobat, tanpa sebab musabab dan permusuhan apapun kenapa kau menyerangku? IHmmm, tampaknya sebelum aku menunjukkan kebolehanku, kau anggap aku adalah manusia yang mudah dipermainkan."
Sepasang telapak tangannya segera diayunkan ketengah udara segulung tenaga pukulan yang amat dahsyat meluncur dan menumbuk kemuka.
"IHeeeeh.....heeeeh......heeeeh......tak nyana kaupun seorang jago silat yang bertenaga dalam sempurna........"
Jengek manusia berkerudung itu sinis. Ditengah udara dia berganti jurus, dari gerakan "
Elang terbang menyambar air"
Dirubahnya menjadi "bertemu naga diatas tanah."
Tiba-tiba saja sepasang telapak tangannya dipentangkan kesamping dengan membawa dua gulung kekuatan yang maha dahsyat serangan tersebut menyapu dan membabat kemuka.
"Duuuukk"
Ketiga tenaga pukulan dari Kim Thi sia saling beradu dengan tenaga pukulannya, seketika itu tergetar keras hingga mundur tiga langkah kebelakang.
Pemuda kita menjadi gusar sekali, serta merta dia mengeluarkan jurus serangan "
Kecerdikan menguasahi jagad"
Dan "kelincahan menyelimuti empat samudra"
Dari ilmu Tay goan sinkangnya untuk menghantam musuh ibarat gulungan ombak disamudra.
Manusia berkerudung itu tertegun, ia tak berani menyambut dengan kekerasan-Tubuhnya melejit setinggi lima kaki lebih untuk meloloskan diri dari sergapannya yang maha dahsyat.
Sementara itu Kim Thi sia telah berpikir.
"Delapan puluh persen Kongci Sin lah yang mengundang kehadiran orang ini. Heran, kalau toh dia sudah menyanggupi untuk mengobati luka beracun yang diderita gadis tersebut, apa sebabnya ia menyusahkan aku dengan mendatangkan jagoan lain? Aneh......betul-betul sangat aneh."
Sementara otaknya berputar, tangannya sama sekali tak menganggur dengan mementangkan telapak tangannya kesamping secara beruntun dia melepaskan pukulan dengan jurus "mati hidup ditangan nasib"
Serta "kejujuran mengalahkan batu emas."
Bagi jagoan lihay yang sedang bertarung sekali gebrakan saja dapat diketahui kemampuan orang.
Rupanya dia telah menyadari kalau musuhnya amat tangguh, oleh sebab itu begitu serangan dilancarkan, dia segera mengerahkan tenaga sinkangnya hingga mencapai sepuluh bagian Dalam waktu singkat manusia berkerudung itu merasakan betapa lihaynya kekuatan musuh.
Bahkan tenaga dalam yang dimiliki sang pemuda masih sepuluh kali lipat lebih hebat daripada apa yang diduganya semula.
Berada dalam keadaan begini, buru-buru dia merubah gerak serangannya dengan melakukan serangan-serangan jarak dekat yang gencar dan berbahaya......
Serangan yang amat dahsyat ini kembali mendesak Kim Thi sia harus mundur sejauh dua langkah kebelakang.
Dalam keadaan terdesak.
Kim Thi sia masih menyempatkan diri untuk berpaling kesamping, ia saksikan putri Kim huan masih berdiri didepan pintu dengan wajah risau dan gelisah.Jela terlihat betapa besarnya perhatian gadis itu atas keselamatan jiwanya.
Tiba-tiba saja pemuda kita merasa terharu pikirnya.
"Dia baru sembuh dari sakit, tubuhnya masih begitu lemah, namun besar sekali perhatiannya atas keselamatan jiwaku. Ya a, bagaimanapun juga, aku tak boleh membiarkannya merasa kuatir."
Berpikir sampai disitu, darah panas dalam tubuhnya serasa mendidih, semangat makin berkobar tiba-tiba saja dia mengerahkan seluruh tenaga dalam yang dimilikinya untuk menyerang dengan dua jurus terampuh dari ilmu Tay goan sinkang, yakni jurus "kepercayaan mencengkeram seluruh jagad"
Serta "
Kekerasan menguasahi bumi."
Jurus yang pertama lemah lembut sedang jurus kedua ganas dan buas sekali, meski dimainkan beruntun namun tidak mengurangi sifat sesungguhnya dari jurus masing-masing.
Seketika itu juga manusia berkerudung itu merasakan terjangan dua jenis kekuatan yang berbeda bobotnya, dalam keadaan begitu, tergopoh-gopoh dia melompat mundur kebelakang.
Siapa tahu, baru saja dia menghindarkan diri dari jurus yang pertama, ternyata tak mampu menghindari serangan yang kedua kontan tubuhnya tergempur sehingga mundur tiga langkah dengan sempoyongan-Melihat keberhasilan ini, rasa percaya pada kemampuan sendiri semakin tumbuh dihati Kim Thi sia, secara beruntun dia melepaskan tiga buah serangan berantai yang maha dahsyat.
Begitu kehilangan posisi yang menguntungkan, manusia berkerudung itu kontan saja terdesak sangat hebat, terutama sekali setelah termakan tenaga pukulan yang ganas dan buas, ia makin terdesak sehingga harus mundur terus berulang kali.
Putri Kim huan yang menyaksikan peristiwa ini menjadi girang setengah mati, sepasang lesung pipitnya yang sudah lama tidakpernah nampak.
kini tersungging kembali dengan manisnya.
Kim Thi sia melirik sekejap.
ia benar-benar terperana oleh keayuan gadis tersebut.
sekali lagi ia melepaskan tiga buah serangan berantai.
Dari ketiga buah serangan tersebut, serangan yang pertama lebih tangguh daripada serangan berikut, sedemikian luar biasanya serangan-serangan tadi membuat manusia berkerudung itu mendengus tertahan secara tiba-tiba kemudian tanpa mengucapkan sepatah katapun membalikkan badan dan kabur dari situ.
Dalam waktu singkat bayangan tubuhnya telah lenyap dikejauhan sana.........
Sepeninggal manusia berkerudung itu, agaknya putri Kim huanpun sudah terlalu banyak membuang tenaga, dengan napas tersengkal-sengkal ia memburu maju kemuka dan menjatuhkan diri kedalam pelukan Kim Thi sia.
sementara itu Kim Thi sia masih dicekam perasaan keheranan dan tak habis mengerti.
Walaupun ia sudah memeras otak namun tak juga ditemukan jawabannya kenapa manusia berkerudung itu muncul secara tiba-tiba dan pergi pula secara tiba-tiba, padahal seingatnya ia tidak mempunyai permusuhan dengan Siapapun.
Dengan langkah cepat dia meninggalkan pagar bambu menuju ketempat tinggal Kongci Sin secara kebetulan Kongci Sin sedang melongok keluar, dengan cepat empat mata saling bertemu menjadi satu.
Tiba-tiba saja Kongci Sin menarik kembali kepalanya sambil menutup pintu rumahnya keraskeras.
Melihat sikap aneh kakek itu, Kim Thi sia segera menyadari apa yang terjadi pikirnya secara diam-diam.
"Keparat, rupanya kau yang mengundang kedatangan manusia berkerudung itu....."
Berpendapat begitu, ia segera berbicara keras-keras.
"Kongci Sin cepat keluar dan berbicara denganku"
Suasana dalam gedung itu amat sepi dan tak kedengaran sedikit suarapun seakan-akan gedung tersebut berada dalam keadaan kosong. Sambil mendengus dingin kembali Kim Thi sia berteriak keras.
"Sudah kuduga kalau kedatangan manusia berkerudung tadi atas undanganmu, tapi kau pun tak usah gelisah atau gugup, mengingat kau telah menolong adikku, tentu saja aku tidak akan mencelakakan dirimu........"
Habis berkata ia menanti sambil tertawa dingin, namun walaupun sudah ditunggu sekian lama pun tak kedengaran suara jawaban akhirnya dengan langkah lebar dia berjalan meninggalkan tempat tersebut.
Putri Kim huan menyambut pemuda itu dengan pelukan yang mesra dan mengawasi wabahnya lekat-lekat.
Ditatap seperti ini, diam-diam Kim Thi sia merasa rendah diri, mukanya berubah menjadi merah padam dan ia tergagap tak mampu mengucapkan sepatah katapun.
Dengan suara lembut putri Kim huan segera berkata.
"Wajahnya dekil dan penuh debu, tak kau pergunakan waktu yang luang ini untuk membersihkan diri?"
"Aku.......aku tak tahu kalau wajahku juga."
Mendadak ia seperti teringat sesuatu, segera tanyanya lagi dengan suara dalam.
"Kau jemu dengan diriku yang kotor?"
Putri Kim huan segera tertawa lembut.
"Kenapa mesti jemu? Aku hanya menganggap kurang sedap melihat wajah yang kotor, maka kuminta kepadamu untuk membersihkan badan-"
"Baiklah kalau begitu"
Sahut Kim Thi sia kemudian dengan perasaan lega.
"Aku segera pergi membersihkan badan-"
Putri Kim huan membenamkan kepalanya didalam dada pemuda itu, dalam kondisi baru sembuh dari sakit yang parah ia memang tak mampu untuk berjalan secara normal.
Meski begitu dia menganggap berjalan dalam keadaan seperti ini amat mesrah dan hangat, bahkan ia berharap bisa mengalami saat-saat bahagia seperti ini untuk selamanya.
Ia memang pernah membayangkan kembali kehidupan mewahnya diistana negeri Kim, iapun teringat dengan kawanan anak bangsawan atau putra raja-raja muda yang lemah lembut dan selalu mengelilingi dirinya itu, mereka selalu sopan dan menghormatinya, jauh berbeda dengan kekerasan serta keberangasan Kim Thi sia.
Tapi ia berpendapat, meski Kim Thi sia kasar tak tahu adat, gerak geriknya kasar dan polos, sesungguhnya dia adalah seorang lelaki sejati dibandingkan dengan para putra bangsawan yang lemah lembut mirip perempuan, pemuda ini memiliki jiwa jantan yang lebih kentara.
Sekalipun putri Kim huan bertubuh lemah lembut, tapi semenjak kecil ia sudah mengagumi para pahlawan yang bermain senjata.
Itulah sebabnya ia merasa bangga dan senang setelah kini, ia berhasil menggenggam seorang jago yang benar-benar berjiwa jantan.
Berpikir sampai disini, tak kuasa lagi dia tertawa cekikikan-"Hey, apa yang kau tertawakan?"
Tanya Kim Thi sia keheranan-"Adakah sesuatu yang tak beres denganku?"
Entah mengapa, semenjak ia menaruh hati terhadap gadis ini, dalam hati kecilnya selalu tumbuh perasaan ragu, dia selalu mencurigai gadis itu memandang rendah dirinya.
"Engkoh Thi sia"
Tiba-tiba putri Kim huan bertanya.
"Sebenarnya perselisihan apakah yang terjalin antara dirimu dengan pedang emas? Bukankah kau adalah adik seperguruannya?"
Sebutan "engkoh"
Dari sinona dengan cepat menenangkan kembali pikiran Kim Thi sia yang bergejolak tapi ia segera dibuat keheranan setelah mendengar kata berikut serunya cepat.
"Kenapa sih kau mengajukan pertanyaan seaneh ini?"
"Bukankah orang yang barusan bertarung denganmu adalah sipedang emas?"
"Apa? Dia adalah pedang emas?"
Teriak Kim Thi sia amat terkejut.
"Yaa benar, ketika berlangsung pertemuan puncak dengan Pek kut sinkun tempo hari, aku pernah melihat kemunculannya, waktu itu dia pun berdandan seperti hari ini, mengerudungi wajahnya dengan secarik kain hitam."
"Kau tidak salah melihat?"
Putri Kim huan segera meronta manja didalam pelukannya, berlagak marah ia berseru.
"coba lihat......sampai sekarangpun kau belum mau percaya dengan perkataanku."
Dengan ucapan mana, sama artinya dengan menegaskan bahwa apa yang dilihat tak bakal salah.
Mimpipun Kim Thi sia tidak mengira kalau pedang emas bakal turun tangan lebih dulu dengan membokongnya secara licik.
Dalam waktu singkat, pelbagai ingatan melintas didalam benaknya, ia segera berpikir.
-00d00w00-
Jilid 35
"Sudah pasti sipedang perak telah melaporkan usahaku untuk membalas dendam kepadanya. Sipedang emas adalah manusia kurcaci berhati serigala, bagaimana mungkin ia bersedia melepaskan aku setelah mendapat kabar ini?"
"Selain itu, akupun telah menyiarkan berita bahwa aku bertekad akan melenyapkannya dari muka bumi, tak heran kalau Kongci Sin sebagai orang kepercayaannya segera memberi kabar kepadanya setelah mendengar namaku tadi."
Berpikir sampai disitu, tanpa terasa dia bergumam.
"Pokoknya dipikir bolak balik, tetap masalahnya tak terlepas dari dua lingkupan diatas, delapan puluh persen Kongci Sin adalah anak buahnya. Waaah......ini berarti sipedang emas telah memasang jerat diseluruh dunia persilatan untuk menangkapku. Gerak gerikku selanjutnya meski lebih berhati-hati....."
Sementara otaknya berputar terus, tanpa terasa sampailah mereka didepan sebuah rumah penginapan Saat itu senja telah menjelang tiba, lampu lentera mulai menerangi seluruh rumah penduduk didalam kota.
Mendadak paras muka putri Kim huan berubah menjadi agak memerah, dia melirik sekejap kearah rumah penginapan lalu menundukkan kepalanya rendah-rendah sambil berusaha untuk mengendalikan jalan pemikiran sendiri yang aneh.
Tiba-tiba ia berpikir.
"Engkoh Thi sia, tampaknya kau mempunyai banyak persoalan yang mengganjal didalam hatimu, bagaimana kalau aku turut memikirkannya......."
Kim Thi sia menghela napas panjang.
"Aaaaai, seandainya aku mati, bagaimana dengan dirimu?"
Putri Kim huan tidak menyangka kalau dia akan mengajukan pertanyaan semacam itu.
Untuk sesaat ia dibuat tertegun dan tak mampu mengucapkan sepatah katapun.
Sesaat kemudian ia baru menundukkan kepalanya seraya menjawab lirih.
"Seandainya kau sampai mati, akupun tak ingin hidup lebih lanjut."
Kim Thi sia segera merasakan hatinya bergetar keras, tanpa sadar dua titik air mata jatuh berlinang, katanya pelan.
"Adikku, kau jangan bergurau. Seandainya benar-benar terjadi peristiwa setragis ini. Kau mesti baik-baik menyayangi kesehatanmu sendiri."
Putri Kim huan tak sanggup menahan rasa pedihnya setelah mendengar perkataan itu, dari sedih ia menjadi menangis terisak.
Kim Thi sia memeluk tubuhnya dengan penuh kasih sayang, tapi air matanya turut bercucuran pula karena sedih.
Selang berapa saat kemudian, ia baru dapat mengendalikan perasaan sendiri dan masuk kedalam rumah penginapan.
Setelah dapat kamar dan membaringkan putri Kim huan diatas ranjang, pemuda itu beranjak meninggalkan ruangan-Mendadak diberanda depan, dibawah sinar lentera yang redup, ia saksikan seorang manusia berkerudung telah berdiri menanti disitu.
Dengan perasaan terkejut Kim Thi sia mundur setengah langkah kebelakang, kemudian tegurnya sambil tertawa dingin.
"Hey pedang emas, sekalipun kau tidak datang mencariku, akupun akan mencarimu untuk membuat perhitungan."
Pedang emas membungkam diri dalam seribu bahasa, hanya sorot matanya yang tajam pelanpelan dialihkan dari wajahnya keatas pedang yang tersoren dipinggangnya.
Kedua belah pedang yang tersoren dipinggangnya itu sebuah adalah pedang Leng gwat kiam yang diserahkan putri Kim huan kepadanya, sedangkan yang lain adalah pedang yang diambil dari kamar rahasia Dewi Nirmala.
Tapi dia tak habis mengerti, mengapa sipedang emas menaruh perhatian yang begitu besar terhadap kedua belah pedang mestika itu.
Dengan pandangan tenang manusia berkerudung itu memandang sekejap kearahnya, dibalik sinar mata tersebut terpancar bunga api yang membara.
Tiba-tiba dia maju kedepan, kemudian teriaknya keras-keras.
"IHey, dari mana kau dapatkan pedang pendek yang tersoren dipinggangmu itu........?^ Pedang pendek yang dimaksud adalah pedang yang diambil Kim Thi sia dari kamar rahasia Dewi Nirmala. Setelah mendengar penjelasan dari putri Kim huan tadi, Kim Thi sia telah menganggap manusia berkerudung itu sebagai sipedang emas timbul gejolak hawa amarah yang luar biasa dalam benaknya. Tiba-tiba dia melangkah maju setindak dan mengayunkan telapak tangannya melepaskan sebuah pukulan-Segulung tenaga pukulan yang amat dahsyat segera meluncur kedepan dengan hebatnya, ibarat amukan ombak ditengah samudra. Manusia berkerudung itu segera mengayunkan pula telapak tangannya untuk menyambut datangnya serangan tersebut, tiba-tiba saja ia tergetar mundur selangkah. Kim Thi sia sangat kegirangan, segera bentaknya lagi penuh kegusaran.
"Hmmm, tak nyana sipedang emas hanya begitu-begitu saja."
Secara beruntun dia melepaskan kembali dua buah serangan berantai yang amat gencar.
Tampaknya manusia berkerudung itu telah dibuat tertegun oleh kesempurnaan tenaga dalam yang dimiliki pemuda itu, disaat dia menjumpai bahwa kedua serangan tersebut yang satu lebih dahsyat daripada yang lain-Sekilas perasaan jeri melintas dibalik matanya, tergesa-gesa ia berkelit kesamping.
Angin pukulan yang maha dahsyat dengan cepat menyambar lewat, sekalipun serangan utama berhasil dihindari namun tak mampu menghindari sisi serangan tadi.
Kontan ia tersapu oleh sisa tenaga serangan yang maha dahsyat hingga maju dengan sempoyongan, sementara kain kerudung yang menutupi wajahnya terlepas dari atas kepalanya.
Kim Thi sia belum pernah melihat raut wajah sebenarnya daritoa suhengnya, dia segera menghentikan serangan dan melongok kedepan-Ternyata wajah orang itu dikenalnya, dia tak lain adalah sastrawan setengah umur yang memberi petunjuk kepadanya untuk mencari Kongci Sin tadi, tentu saja pemuda kita jadi tertegun dibuatnya.
Paras muka sastrawan setengah umur itu memerah sesaat, kemudian sambil mendengus dingin serunya.
"Hey orang she Kim, sebenarnya kau dapatkan pedang mestika itu dari mana?"
Kim Thi sia berusaha mengingat kembali siapa gerangan orang ini, dalam waktu singkat teringat sudah dia.
orang ini telah dikenalnya sewaktu ia menangkan tiga rase bermuka hitam, anak buah sipedang emas malam itu.
Dia bukan lain adalah sisastrawan menyendiri yang telah membongkar semua kejahatan dari sipedang emas.
Sungguh tak disangka sisastrawan menyendiri yang telah membongkar kejahatan sipedang emas ternyata sipedang emas sendiri.
Mengapa dia memaki diri sendiri?
Peristiwa ini benar-benar diluar dugaan-Melihat pemuda tersebut tak menjawab, sastrawan menyendiri segera mendengus sambil berkata lagi.
"Hey orang she Kim, hitung-hitung kau masih punya nama juga didalam dunia persilatan-Bila engkau bisa dapatkan pedang tersebut dari guruku, tolong ungkapkanlah alasannya, kalau tidak. Hmmm sekalipun aku sisastrawan menyendiri bukan tandinganmu, tapi demi dendam kesumat perguruanku, aku tak bisa berpeluk tangan belaka."
"Hey pedang emas, kau tak usah berlagak pilon lagi, aku sudah tahu kau adalah seorang manusia licik yang banyak tipu muslihatnya."
Seru Kim Thi sia dengan suara dalam.
"Telur busuk. kau anggap aku adalah sipedang emas? Benar-benar kurang ajar."
Putri Kim huan yang mendengar suara ribut-ribut segera munculkan diri dari kamarnya, melihat peristiwa tersebut, serunya segera sambil tertawa.
"Engkoh Thi sia, ia bukan sipedang emas, pedang emas memiliki perawakan tubuh yang kekar, dalam sekilas pandangan saja aku sudah mengenalinya......"
"Lantas siapa dia?"
"Hey, bukankah kalian semua telah saling mengenal? Kenapa kau masih bertanya kepadaku?"
Sahut putri Kim huan tidak habis mengerti. Diam-diam Kim Thi sia berpikir, dengan cepat dia memahami hal tersebut, pikirnya.
"Memang banyak kejadian aneh didunia ini. Soal manusia berkerudungpun jumlahnya begitu banyak. mungkin sipedang emas pun hanya seorang diantaranya."
Berpikir begitu, dengan nada minta maaf diapun berkata.
"Sastrawan menyendiri, seandainya kau melepaskan kain kerudungmu sejak tadi, aku tak akan menyerangmu."
Air muka sastrawan menyendiri tetap dicekam keseriusan, kembali dia berkata dengan suara lantang.
"Kim Thi sia, lama kudengar kau sebagai seseorang yang senang berterus terang, tak disangka sesudah bersua ternyata bukan begitu keadaannya. Ayoh cepat jelaskan darimana kau dapatkan pedang Tong hong kiam tersebut? Apakah kau mendapatkannya dari guruku? Atau mungkin kau telah melakukan sesuatu kejahatan sehingga tak berani mengatakannya?"
Dengan nada tak senang hati, Kim Thi sia berkata.
"Mengapa sih kau menanyakan terus asal usul pedang ini? Baiklah, akan kuberi tahu secara terus terang, pedangku ini berasal dari tempat kediaman Dewi Nirmala. Maka bila kau ingin mengetahui asal usul sebenarnya silahkan saja bertanya kepada Dewi Nirmala."
"Dewi Nirmala? Siapakah Dewi Nirmala itu?"
Tanya sastrawan menyendiri dengan wajah tertegun-"Kalau dia saja tak kau kenal, buat apa bertanya lagi kepadaku."
"Dewi Nirmala, wahai Dewi Nirmala, sudah pasti kaulah pembunuh suhuku........"
Kim Thi sia yang mendengar pembicaraan mana segera melepaskan pedang Toan hong kiam itu dan diserahkan kepadanya seraya berkata.
"Kalau memang pedang mestika ini benda milik perguruanmu, ambillah sedang persoalan tentang Dewi Nirmala, lebih baik carilah keterangan sendiri tentang dirinya. Aku tak ingin turut campur."
Sementara itu putri Kim huan yang bersandar disisi tubuh pemuda itu turut menimbrung dengan suara lembut.
"Engkoh Thi sia, aku melihat wajahnya gagah dan jujur. Sudah pasti dia adalah orang baik-baik. Kau tak boleh bersikap sekasar ini terhadap orang lain."
"Lantas apa mau mu?"
"Sekarang terbukti sudah kalau pedang tersebut milik gurunya, padahal kau dapatkan dari tangan Dewi Nirmala. Hal ini membuktikan bahwa dibalik kesemuanya itu tentu terdapat hal-hal yang tak beres. Kalau bukan Dewi Nirmala sebagai pembunuh gurunya, sudah pasti gurunya mempunyai hubungan yang cukup intim dengannya. Meski aku bukan orang persilatan, namun aku tahu juga tentang pepatah yang mengatakan, pedang utuh orangnya hidup, pedang putus orangnya tewas."
"Perkataan nona cepat sekali"
Sahut sastrawan menyendiri dengan sangat sedih.
"Hey orang she Kim, hari ini kau harus memberitahukan letak sarang dari Dewi Nirmala itu kepadaku."
"Ia tinggal di Lembah Nirmala, asal kau menanyakan persoalan ini kepada orang lain, sudah pasti akan mengetahui dengan segera."
Sastrawan menyendiri segera membalikkan badan siap beranjak pergi, nampak jelas paras mukanya diliputi perasaan sedih yang amat mendalam.
Tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benak Kim Thi sia, ujarnya kemudian.
"Terus terang saja aku bilang, bila kau pergi kesana dengan cara begini sama artinya kau pergi mencari kematian buat diri sendiri. Ketahuilah ilmu silat yang dimiliki Dewi Nirmala sangat lihay, akupun belum tentu sanggup menandingi kemampuannya."
Sastrawan menyendiri sama sekali tidak menggubris perkataan tersebut, dia membalikkan badan dan beranjakpergi dari situ dengan langkah lebar.
Memandang bayangan punggungnya yang semakin menjauh, Kim Thi sia menghela panjang, gumamnya.
"Aaaai, bila kau enggan menuruti perkataanku, pasti akan mengalami nasib yang tragis."
"Engkoh Thi sia, apakah kau takut sekali dengan si Dewi Nirmala itu?"
Tanya putri Kim huan pelan-Berubah hebar paras muka Kim Thi sia sahutnya cepat.
"Omong kosong, dua hari berselang aku telah bertarung melawannya, sekalipun aku kalah, namun ia cukup kubuat ketakutan setengah mati."
Secara ringkas diapun menceritakan pengalamannya ketika bertarung melawan Dewi Nirmala dua malam berselang.
Putri Kim huan mendengarkan dengan penuh perhatian, diam-diam dia mengagumi kejujuran serta kepolosan sang pemuda didalam berkisah.
Tak lama kemudian Kim Thi sia selesai berkisah, dia membopong gadis tersebut naik keatas pembaringan, menutup tubuhnya dengan selimut, kemudian ia keluar dari pintu kamar dan duduk tertidur didepan pintu.
Putri Kim huan merasa amat kuatir, dia menyusul keluar pintu melihat pemuda tersebut duduk berjongkok didepan pintu dalam udara dingin-Tiba-tiba saja muncul perasaan sedih yang amat mendalam dihati kecilnya, ia berpikir.
"Ia benar-benar seorang yang jujur, suci dan baik hati, kenapa aku selalu menyakiti hatinya?"
Apalagi ketika sorot matanya beralih keatas pakaiannya yang begitu tipis, penuh robekan dan tak karuan, terbayang pula bagaimana menderitanya penghidupan pemuda tersebut......
Mendadak rasa pedih yang mencekam dalam hatinya tak terkendali lagi, dia berseru tertahan dan menjatuhkan diri kedalam pelukan pemuda itu seraya berbisik.
"Kau benar-benar bodoh, mengapa tidak tidur saja disisiku?"
Kim Thi sia membuka kembali matanya, kasih sayang dari sinona membuat hatinya terpesona, ia tak sanggup menahan diri lagi, sambil menghela napas panjang katanya.
"Adikku....terus terang.....tiba-tiba timbul perasaan takut dalam hatiku........."
Putri Kim huan menggenggam tangannya erat-erat dan diletakkan diatas pipinya, lalu berbisik.
"Engkoh Thi sia kau adalah seorang lelaki jantan-....aku tak percaya kau akan^ merasa takut......"
"Adikku.......kita berasal dari keturuan yang berbeda, status kitapun berbeda.....aku telah lama membayangkan persoalan ini."
Setelah berhenti sejenak. dengan mata berkaca-kaca lanjutnya.
"Mungkinkah keluargamu mengijinkan kau menikah dengan seorang pemuda rudin, pemuda gelandangan semacam aku? Adikku, aku takut semuanya akan berubah menjadi impian kosong disaat fajar mulai menyingsing......tapi aku.......aku dapat mengenangmu selalu........."
Putri Kim huan tidak mengira sejauh itu pemuda tersebut telah mempertimbangkan hubungan mereka, melihat kepedihan yang mencekam perasaannya, tiba-tiba saja timbul suatu perasaan ngeri dihati kecilnya.
Ia segera memeluk pemuda itu kencang-kencang dan katanya dengan suara lirih.
"Engkoh Thi sia aku tidak ingin pulang. Aaaai, aku tak pulang maka ayah bagindapun tak dapat berbuat apa-apa kepadaku"
"Adikku......."
Dengan perasaan sedih yang mendalam Kim Thi sia mulai menundukkan kepalanya.
"bila kita sudah tahu bahwa kejadian semacam ini tak mungkin bisa dihindari lagi, bila kita sadar penderitaan yang lebih-lebih mendalam bakal kita alami, mengapa .....mengapa kita tak berpisah saja mulai sekarang?"
"oooh...... kau...... mengapa kau harus melukai hatiku dengan perkataan seperti itu?"
Putri Kim huan semakin sesenggukan-"Apakah kau mengira dengan berbuat begitu maka aku akan peroleh kebahagiaan?"
"Aku rasa mungkin saja begitu."
Sebelum perkataan itu selesai diucapkan tiba-tiba putri Kim huan telah menempelkan bibirnya yang mungil dan basah itu keatas bibir pemuda tersebut hingga perkataanpun terhenti sampai diseparuh jalan-Kim Thi sia merasakan hatinya bergetar keras, agak tergagap ia berbisik.
"Adikku, janganlah terlalu dipaksakan-Aku sadar bukan pasanganmu yang serasi"
"Tidak. kau tak boleh berkata begitu."
"Aaaai......aku benar-benar seorang manusia yang tidak bersemangat........."
Belum habis perkataan tersebut diutarakan putri Kim huan kembali sudah mendekam diatas dada pemuda itu sambil menangis terseduh-seduh.
Kim Thi sia balas memeluk pinggang sinona dengan penuh kemesrahan, dia tak mengira kalau gadis cantik bak bidadari ini bisa menaruh rasa cinta yang begitu mendalam kepadanya.
Kobaran api asmara yang membara membuat hati mereka berdua membaur menjadi satu.
Ia seperti sudah melupakan segala sesuatunya, saat ini dia hanya tahu bagaimana cara menikmati kehangatan dan kemesrahan yang ada.
Mendadak sesosok bayangan hitam melintas lewat diatas atap rumah, disusul kemudian terdengar seseorang berseru sambil tertawa dingin.
"Bila punya kepandaian, ayoh ikuti aku"
Habis berkata bayangan tersebut kembali bergerak menuju kesebelah barat.
orang itu bertenaga dalam sempurna dan bermata tajam bagaikan sembilu, Kim Thi sia terkesiap dibuatnya.
Sementara dia masih merasa ragu apakah perkataan itu ditujukan kepadanya, dari arah timur telah muncul kembali tiga sosok bayangan manusia yang bergerak menuju kearah yang sama.
Kim Thi sia dapat melihat dengan jelas, seorang diantara mereka adalah sipedang perak.
Tanpa berkata-kata lagi dia menggendong putri Kim huan, lalu mengejar pula kearah barat.
Sewaktu tiba dijalan raya yang lenggang, secara lamat-lamat terlihat olehnya ada empat sosok bayangan hitam sedang bertarung dengan serunya.
Dibawah sinar rembulan yang redup, ia melihat seorang jago persilatan yang masih muda dan tampan sedang dikerubuti oleh sipedang perak.
pedang besi, dan pedang api.
Rasa dendam kesumat dan jiwa ksatrianya membuat Kim Thi sia segera menurunkan putri Kim huan keatas tanah, kemudian sambil membentak ia terjunkan diri pula kearena pertarungan Sipedang perak mundur selangkah, begitu melihat siapa yang muncul, dengan wajah berubah hebat bentaknya.
"Sute, mau apa kau datang kemari?"
"Hmmm^ siapa sih sutemu? Tak tahu malu"
Sahut Kim Thi sia ketus.
Sambil menghimpun tenaga dalamnya, tiba-tiba dia melepaskan sebuah pukulan yang maha dahsyat kearah sipedang besi So Bun pin-Sejak mengetahui kehadiran Kim Thi sia bersama putri Kim huan, paras muka sipedang besi So Bun pin telah berubah menjadi amat tak sedap dilihat.
Apalagi melihat datangnya serangan tersebut, ia segera mengayunkan pula telapak tangannya untuk melancarkan sebuah pukulan balasan-Dua gulung tenaga pukulan yang amat hebat itu segera bertemu satu dengan lainnya.
"Blaaaaarrrrr^........"
Ditengah benturan keras, kedua belah pihak sama-sama tergetar mundur satu langkah kebelakang.
"Jangan lari, sambut sekali lagi pukulanku ini"
Bentak Kim Thi sia keras-keras.
Seraya berkata, ia mendesak maju kedepan dan secara beruntun melepaskan tiga buah pukulan berantai.
Berubah hebat paras muka sipedang besi So Bun pin, diam-diam pikirnya dengan perasaan kaget.
"Aduh celaka, agaknya bocah keparat ini berhasil melatih tenaga dalamnya."
Dalam waktu singkat dia meraskan tekanan yang amat berat dari lawannya, sehingga tak kuasa lagi tubuhnya tergetar mundur tiga langkah kebelakang.
Pedang api yang melihat gelagat tak menguntungkan segera maju kedepan sambil melepaskan sebuah bacokan kilat, tanyanya dengan gemas.
"Bocah keparat, kaukah Kim Thi sia, murid terakhir dari Malaikat pedang berbaju perlente?"
Cepat-cepat Kim Thi sia melepaskan sebuah pukulan dahsyat untuk menghalau serangan pedang tersebut, sahutnya dingin.
"Benar, apakah kau ingin mencoba kepandaian maha sakti dari Malaikat pedang berbaju perlente?"
Diam-diam pedang api merasa terkesiap tapi api kegusarannya berkobar juga, bentaknya kemudian dengan geram.
"suheng, bocah keparat ini terkutuk. buat apa kita mesti bersungkan-sungkan lagi dengannya?"
Sembari berkata, pedang apinya dicukil sambil membabat, serangannya dilepaskan dengan cepat dan ganas. Inilah jurus serangan "
Kerbau buas membuka gunung"
Dan "
Kerbau merah menginjak rumput"
Dari ilmu pedang kerbau hitam.
"Sute"
Kedengaran pedang perak berkata dengan suara dalam.
"Aku sudah tidak mencampuri urusannya lagi, apa yang hendak kau perbuat, lakukanlah sekehendak hatimu."
Sambil berkata dia memutar telapak tangannya dan langsung mengancam jalan darah Hoat hiat, Hong wi dan Tay ki hiat ditubuh pemuda tampan itu.
Berkat bantuan dari Kim Thi sia, posisi dari pemuda tampan itu seketika berubah.
Melihat datangnya serangan pedang yang ganas dari sipedang perak.
dia tertawa nyaring setelah mundur setengah langkah sebuah pukulan diayunkan kemuka.
Betapa terkesiapnya pedang perak ketika serangannya yang baru mencapai setengah jalan dipaksa untuk berubah gerakan pikirnya.
"orang bilang ilmu pukulan tanpa bayangan bisa membunuh korbannya tanpa wujud setelah menjumpai sendiri hari ini, terbukti kabar tersebut bukan kosong belaka. Nyatanya hanya mengandalkan sebuah jurus serangan dari ilmu pukulan tanpa bayangan aku sudah didesak sangat hebat. Hal ini membuktikan bahwa ilmu silatnya telah peroleh warisan langsung, aku tak boleh bertindak secara gegabah........."
Berpikir sampai disitu, tiba-tiba saja tangannya digetarkan keras-keras sehingga berbunyi gemurutukan aneh, disusul kemudian dua kebasan kilatnya menimbulkan suara deruan angin dan guntur yang memekikkan telinga.
Rupanya dia telah mempergunakan ilmu guntingan pergelangan tangannya yang maha sakti.
Putri Kim huan tidak kuatir Kim Thi sia bertarung melawan siapa saja, sebab dia tahu pemuda tersebut memiliki ilmu silat yang maha sakti bahkan semakin bertarung makin kosen.
Sambil tersenyum diapun berkata.
"Engkoh Thi sia, hari ini aku menyaksikan kepandaian silatmu yang sebenarnya"
Ucapan "
Engkoh Thi sia"
Yang dipergunakan dihadapan umum ini kontan saja membuat Kim Thi sia kegirangan setengah mati.
otomatis tenaganyapun berlipat ganda, terutama dihadapan musuh cintanya, sipedang besi So Bun pin-Boleh dibilang ia telah menempati posisi yang sangat menguntungkan.
Sebaliknya sipedang besi yang terpikat oleh kecantikan wajah gadis tersebut menjadi tak terlukis rasa gusarnya, mencorong sinar tajam dari balik matanya.
Sebagai seorang manusia licik yang berakal busuk.
dia tak mengemukakan amarahnya dengan begitu saja, sekuat tenaga dia mencoba untuk bersabar.
Sementara sepasang telapak tangannya disilangkan kian kemari melepaskan rangkaian bunga pukulan yang segera menyelimuti seluruh tubuh musuh cintanya itu.
Kim Thi sia dengan jurus "menyulut api dibalik batu"
Begitu berhasil mendesak mundur sipedang api, dengan cepat dia memutar satu lingkaran lalu dengan mengeluarkan jurus "kecerdikan menguasahi seluruh jagad"
Dari ilmu Tay goan sinkang, ia berusaha melindungi keselamatan jiwa sendiri.
Sipedang besi So Bun pin semakin terkesiap lagi ketika serangannya yang begitu gencar tak berhasil menembusi pertahanan lawan, pikirnya tanpa sadar.
"Hebat betul bocah keparat ini, jangan-jangan ia sudah menjadi Dewa."
Tiba-tiba terdengar putri Kim huan berseru sambil tertawa.
"Engkoh Thi sia, pakaianmu sudah hampir copot......"
Kim Thi sia segera menundukkan kepalanya memeriksa betul juga, pakaiannya yang kotor lagi compang camping itu memang sudah hampir terlepas, kontan saja paras mukanya menjadi merah padam.
cepat-cepat dia melepaskan dan membuangnya jauh-jauh.
Dengan bertelanjang dada dia melancarkan serangan kembali dengan jurus "Timbul cahaya dimimbar Buddha", selapis cahaya pukulan yang tebal menyerang jalan darah kematian sipedang api dengan gencar.
Pedang api membentak keras dengan memalukan pedangnya membentuk selapis cahaya pelangi.
ia bacok bahu lawan dengan jurus "bacokan beruntun membunuh kerbau."
Siapa tahu belum sampai serangan mana mencapai pada sasarannya, tahu-tahu macam mana sudah terpental balik oleh semacam tenaga pantulan yang maha dahsyat.
Kontan saja paras mukanya berubah hebat, tergopoh-gopoh dia melompat mundur kebelakang.
Sipedang besipun merasakan hatinya menjadi berat sesudah meny aksinya peristiwa ini.
Ia tak berani berayal lagi, secara beruntun dua buah serangan berantai dilontarkan kedepan untuk mengisi kekosongan tersebut.
Dengan begitu, maka posisi pertarunganpun berubah sama sekali, sipedang perak bertarung melawan pemuda tampan, sedangkan sipedang besi dan pedang api mengerubuti Kim Thi sia.
Pemuda berwajah tampan itu kelihatan berterima kasih sekali atas bantuan seorang pemuda asing yang membebaskan dirinya dari ancaman bahaya, menggunakan kesempatan ya ada ia segera berteriak keras.
"cuangsu, boleh aku tahu siapa namamu?"
Kim Thi sia tertawa terbahakbahak.
"Haaah......haaaah........haaaah........sobat tak usah berniat membalas budi, aku bernama Kim Thi sia."
Begitu mendengar nama tersebut, pemuda tampan itu kelihatan tertegun, gerak serangannya menjadi lamban-seketika itu juga ia terkena desakan sipedang perak hingga secara beruntun didesak mundur beberapa langkah kebelakang......
Kim Thi sia menjadi sangat keheranan setelah melihat peristiwa ini, tegurnya cepat.
"Hey sobat, aku lihat pikiranmu bercabang apakah ada sesuatu yang tak beres?"
Sambil bertarung pemuda tampan itu mundur terus kebelakang, gumamnya berulang kali.
"Bukankah dia......dia adalah orang yang dimaksud? Kim Thi sia......ternyata dialah nyinggung manusia semacam ini.......mungkinkah......mungkinkah aku telah salah mendengar?"
Ia berusaha keras untuk mengendalikan pikiran yag mengerikan itu, dengan ilmu pukulan sakti tanpa bayangan dia mencoba mendesak sipedang perak untuk memperlunak serangannya, kemudian teriaknya lagi keras-keras.
"cuangsu, bolehkah kutahu siapa namamu sekali lagi?"
"Aku bernama Kim Thi sia, Kim yang berarti emas, Thi yang berarti besi dan Sia yang berarti kota."
Berubah hebat paras muka pemuda tampan itu, teriaknya tertahan.
"Sungguh tak kusangka, ternyata kaulah orangnya"
Mencorong dua buah sinar tajam yang menggidikkan hati dari balik matanya, dia memandang wajah Kim Thi sia lekat-lekat, Kim Thi sia yang baru berhasil memukul mundur sipedang api menjadi tertegun dibuatnya, kembali dia menegur.
"sobat, kenalkah kau denganku? Aneh, mengapaaku justru tak kenali dirimu?"
Dengan pandangan dingin dan berat pemuda tampan itu melirik sekejap kearah lawan, namun posisinya menjadi bertambah runyam oleh gencetan sipedang perak yang menyerang secara bertubi-tubi.
Dalam keadaan kalang kabut tiba-tiba saja ia membentak keras dan mulai membuka serangan secara bersungguh-sungguh, untuk sementara waktu dia tak ambil perduli diri Kim Thi sia lagi.
"Hey bocah keparat"
Terdengar sipedang api membentak marah.
"Rasain sebuah tusukanku"
Rupanya serangan dahsyat dari Kim Thi sia yang menggetarkan lengannya hingga linu dan kesemutan itu menimbulkan rasa gusar dan sifat buas sipedang api, dengan menghimpun dua belas bagian tenaga dalamnya ia lancarkan sebuah bacokan maut.
Selapis cahaya pelangi memancar keluar secara tiba-tiba membias diatas daun dan bebatuan menyusul cahaya tersebut bergema suara desingan hawa pedang yang menggetarkan sukma.
Kim Thi sia segera berpikir.
"Kematian suhu yang mengenaskan sudah terbukti dengan jelas duduk persoalannya. Apa yang mesti kusangsikan lagi?"
Berpikir begitu iapun meloloskan pedang Leng gwa kiamnya, maka hawa dingin yang menyayat badanpun memancar keempat penjuru dan membiaskan cahaya berkilauan sepanjang empat depa lebih.
Dikala cahaya pelangi telah membabat datang, dia baru mengembangkan serangannya dengan jurus "Buddha memandangi pedang suci"
Dan "pedang menggetarkan Buddha agung"
Dari ilmu pedang panca Buddhanya.
"Sreeeet.......sreeeet......"
Ditengah desingan angin tajam yang menggetarkan sukma, cahaya hijau yang memancar keluar dari pedangnya seketika memancar dan menyelimuti seluruh cahaya pelangi yang dihasilkan oleh pedang sipedang api.
"Traaaaaangggg........"
Benturan kedua bilah pedang tersebut seketika menimbulkan suara dentingan nyaring yang menusuk pendengaran.
Sipedang api segera merasakan tekanan yang meng gencar pedangnya makin lama semakin berat, kenyataan ini sangat mengejutkan hatinya, cepat dia melirik senjata sendiri, ternyata tubuh pedangnya telah gumpil sebesar biji beras.
Sebagai seorang jagoan persilatan yang berprinsip "pedang patah orangnya tewas", sipedang api menjadi terkesiap hatinya melihat kenyataan ini.
Didalam waktu singkat paras mukanya berubah menjadi pucat pias, peluh dingin bercucuran membasahi wajahnya, entah perasaan terkejut atau pedih yang mencekam perasaan hatinya sekarang?
Sementara itu putri Kim huan telah bergumam lirih.
"ooooh pedangku yang indah, tak lama kemudian kau akan berada kembali disampingku."
Sewaktu bergumam, wajahnya yang cantik dihiasi senyuman lembut penuh kebahagiaan, terutama disaat ia merasa gembira, terlihat sepasang lesung pipinya yang sangat menarik hati.
Sebaliknya pemuda tampan itu merasakan hatinya sangat berat bagaikan dibebani dengan besi berat gugamnya pula.
"Tak disangka diapun memiliki sebilah pedang yang bagus........"
Sedang sipedang perak berpikir.
"Tahu begini, tidak seharusnya toa suheng serahkan pedang Leng gwat kiam itu kepada sam sute sehingga saat ini sikeparat itu bisa bergaya dengan sebebasnya."
Dalam pada itu sipedang So Bun pin telah menarik kembali sorot matanya dari wajah putri Kim huan kemudian bentaknya keras-keras.
"Hey keparat, apa sih hebatnya dengan pedang Leng gwat kiam? Lebih baik gorok sendiri lehermu untuk bunuh diri."
Dengan mengeluarkan ilmu pedang delapan dewa mabuk ia berjalan maju dengan langkah sempoyongan bagaikan orang yang kebanyakan minum.
Begitu selisih jarak diantara mereka semakin dekat, tiba-tiba saja dia melancarkan sebuah cengkeraman maut kearah bahunya.
Ilmu pedang delapan dewa mabuk ini merupakan hasil ciptaan si Malaikat pedang berbaju perlente disaat dia sedang mabuk.
Sepintas lalu gerak geriknya kelihatan sangat kacau tak beraturan, padahal diam-diam menganding unsur jurus pembunuh yang mengerikan sekali.
Kim Thi sia tidak mengetahui akan kelihayan tersebut, melihat langkahnya sempoyongan macam orang mabuk.
ia sama sekali tak memandang sebelah matapun atas gerak serangan lawan-Mendadak bentaknya.
"Enyah kau dari sini."
Telapak tangannya diayunkan kemuka dan mendorong kearah dadanya keras-keras.
Dengan suatu gerakan yang sangat cepat sipedang besi So Bun pin menarik kembali pergelangan tangannya disusul kemudian melakukan gerak mencengkeram kebawah.
Perubahan jurus ini dilakukan dengan cepat dan tepat, selain hebatpun ganas sekali.
Mimpipun Kim Thi sia tak menyangka kalau seorang pemabuk ternyata memiliki akal licik sehebat ini, dalam waktu singkat iatak sempat lagi untuk menarik diri, pergelangan tangannya kontan terbabat secara telak.
Tak ampun lagi dia menjerit keras-keras dan melompat ketengah udara.
Sewaktu berada ditengah udara, lengannya sudah terasa linu dan kesemutan, sekarang ia baru menyesal karena kecerobohan sendiri hingga akibatnya dipecundangi oleh sipedang besi So Bun pin.
Sebagai orang jago kawakan yang sangat berpengalaman dalam pertempuran, sudah barang tentu sipedang besi So Bun pin tak akan menyia-nyiakan kesempatan yang sangat baik ini.
ia segera mendengus dingin, sebuah pukulan dengan tenaga serangan yang maha dahsyat langsung dilontarkan kedepan dengan kekuatan yang hebat dan ketajaman bagaikan sambaran gunting....
Kim Thi sia mencoba untuk menangkis, sayang lengannya sudah tak menurut perintah, untuk mengganti jurus tak sempat lagi, tak ampun tubuhnya termakan oleh serangan tersebut dengan telak.
"Plaaaaakkkk........"
Tubuhnya terpelanting keatas tanah dan tak mampu merangkak bangun kembali.
Tak terlukiskan rasa gembira sipedang besi, dia mendadak maju berapa langkah kedepan dan sambil mengerahkan tenaga yang dimilikinya ia lancarkan sebuah bacokan dahsyat.
Dalam keadaan kritis dan sangat berbahaya inilah, tiba-tiba putri Kim huan melompat bangun sambil membentak keras.
"So Bu pin, kalau merasa punya kepandaian ayoh bunuhlah aku"
Sipedang besi So Bun pin jadi tertegun tiba-tiba saja dia memahami arti sebenarnya dari ucapan tersebut.
Rasa cemburupun seketika meluap dan menyelimuti perasaannya, sebuah pukulan dahsyat segera dilontarkan-Putri Kim huan menjerit tertahan, dalam keputus asaan dia menutup matanya dengan kedua belah tangan, ia tak tega melihat kekasihnya dibunuh orang secara kejam.
Dalam detik yang singkat inilah ia merasa menyesal sekali, ia berpekik dihati kecilnya.
"Mengapa aku tidak belajar silat sedari dulu?"
Yaa, andaikata dia pernah belajar silat kemungkinan besarjiwa kekasihnya dapat diselamatkan-Dalampada itu, sipedang pera kpun telah menghentikan pertarungannya sambil menonton detik-detik yang menegangkan hati itu.
Tiba-tiba.......
Tampak sesosok bayangan abu-abu berkelebat lewat dari dalam hutan dan menerkam datang dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat, sebuah pukulan yang dilontarkan kearah sipedang besi memaksa jagoan pedang itu tergetar mundur sejauh dua langkah, menyusul kemudian sebuah tendangan kilat dilancarkan kearah jalan darah Tay ciong hiat ditubuh Kim Thi sia.
Suatu kejadian aneh tiba-tiba saja berlangsung, ketika Kim Thi sia yang berada dalam keadaan pingsan itu termakan oleh tendangannya yang berat, bukan saja lukanya tidak bertambah parah, sebaliknya dia malah berteriak keras dan segera melompat bangun.
Tatkala sorot matanya dialihkan kewajah sipedang, tanpa terasa dia berseru tertahan.
"Kau.......Nirmala nomor tujuh."
Mendengar seruan tersebut, sipedang perak.
pedang besi, dan pedang api serentak mengalihkan sorot matanya kearah orang tersebut.
Benar juga, diatas kepala orang itu mengenakan sebuah gelang emas yang merupakan pertanda khusus bagi Nirmala nomor satu hingga nomor sebelas.
Sungguh tak disangka orang-orang dari Lembah Nirmala yang misterius bak sukma gentayangan itu kembali telah munculkan diri disini.
Setelah tertegun dan terkejut berapa saat sipedang perak segera membentak keras.
"Wahai orang-orang dari Lembah Nirmala, dengarkan baik-baik. Sam sute dan Sip sute telah tewas secara mengenaskan ditangan kalian-Kini setelah kalian datang kembali, jangan harap bisa pergi dengan selamat. Tunggu saja nanti, bila aku telah menlenyapkan keparat ini, akan kutantang dirimu untuk berduel mati-matian-"
Nirmala nomor tujuh segera tertawa dingin.
"Heeeeh.....heeeeh........heeeeeh.......sejak tiga puluh tahun berselang aku si Nirmala nomor tujuh sudah merupakan seorang hohan, memangnya aku mesti takut kepadamu?"
Dalam pada itu putri Kim huan seperti baru mendusin dari impian buruknya cepat-cepat dia lari kesisi Kim Thi sia dan bersandar diatas dadanya, lalu dengan air mata bercucuran karena gembira ia berkata sedih.
"Engkoh Thi sia, ketika melihat jiwamu terancam bahaya tadi, hatiku pedih bagaikan diiris-iris dengan pisau tajam. Waktu itu secara tiba-tiba aku merasa benci kepada diriku sendiri. Aku benci sebagai wanita lemah yang tak mampu membantumu......."
Walaupun beberapa patah kata yang singkat namun mengandung perasaan cinta yang mendalam.
Dengan perasaan jengkel sipedang besi melengos sambil mendengus sebaliknya pedang perak menunjukkan sikap tak senang hati.
Saat ini semua orang telah berhenti bertarung, perhatian mereka semua tertuju kepada mereka berdua.
Mendadak Nirmala nomor tujuh berbisik lirih disisi telinga Kim Thi sia.
"Nak. aku tidak mengira kau telah mempunyai kekasih hati........"
Sesudah menghela napas panjang, kembali terusnya.
"Seandainya Hay jin sampai mengetahui persoalan ini dia tentu akan bersedih hati. Pernahkah kau pertimbangkan perasaan cinta yang tumbuh dalam hati kecilnya terhadapmu.........?"
"Apa?"
Kim Thi sia amat terperanjat. Dengan cepat dia berpikir.
"Aku tak lebih cuma seorang bocah dungu yang miskin, dekil lagi jelek. atas apakah gadis cantik berbaju putih itu bisa menaruh hati kepadaku.........?"
Ia mencoba untuk melirik kearah putri Kim huan, untung gadis itu tidak memperhatikan dirinya. Diam-diam hatinya sedikit merasa lega. Terdengar Nirmala nomor tujuh berkata lagi.
"Kalau toh memang begitu, akupun tak dapat berbicara apa-apa, kuharap kau bisa memperoleh sebuah penyelesaian yang baik dan sempurna hingga kedua belah pihak sama-sama puas dan tidak melukai hatinya."
"Aku benar-benar tak pernah menyangka kalau dia......."
Tiba-tiba Kim Thi sia menghentikan perkataannya, sebab ia melihat sigadis cantik disampingnya mulai memperhatikan ucapan tersebut, mau tak mau dia mesti menghentikan perkataan itu agar tidak melukai hatinya.
Ia memang pernah membandingkan kedua orang gadis tersebut, namun kesimpulan yang diperoleh, kedua-duanya sama-sama cantik dan menawan hati hingga susah baginya untuk menentukan pihak manakah yang lebih dituju.
Mendadak Nirmala nomor tujuh melihat kehadiran sipemuda tampan yang kelihatannya hendak mengucapkan sesuatu tapi kemudian diurungkan itu perasaan hatinya bergetar keras.
Dengan suara lirih ia segera berbisik kepada Kim Thi sia.
"Tahukah kau akan asal usulnya?"
"Siapa yang kau maksud?"
Kim Thi sia balik bertanya dengan wajah tertegun.
"Itu, sipemuda berwajah tampan."
"Yaa, akupun sedang merasa keheranan atas tindak tanduknya yang sangat aneh."
Ucap Kim Thi sia dengan perasaan tak habis mengerti.
"Aku tidak mengetahui siapakah dia dan berasal dari mana, tapi.......buat apa kau menanyakan tentang persoalan ini?"
"Kalau begitu, aku perlu memberitahukan kepadamu cuma kuharap kau jangan membuat permusuhan dengannya, kau tahu pemuda itu tak lain adalah putra yang tunggal si Pukulan sakti tanpa bayangan dari Tiang pek san-"
"ooooh tak heran kalau ia segera menunjukkan sikap yang sangat aneh setelah kuberitahukan namaku tadi"
Kata Kim Thi sia seperti baru memahami akan persoalan itu."Rupanya Hay-jin telah memberitahukan tentang hubungan kami berdua kepadanya"
"Kemungkinan besar Hay jin sibocah perempuan yang berhati baik itu sudah menjalin hubungan yang sangat baik dengannya, meski akupun tidak mengetahui bagaimanakah tabiat orang tersebut, namun kuharap kau jangan bermusuhan dengannya hanya dikarenakan soal muda mudi, sebab kau toh sudah mempunyai kekasih hati"
"Yaa, perkataanmu memang benar"
Kim Thi sia manggut-manggut.
"Aku pasti akan menuruti semua perkataanmu itu."
"Nah, aku tak bisa menemanimu terlalu lama, aku harus segera berangkat ke Tiang Pek san karena suatu persoalan penting, kuharap kau baik-baik menjaga diri"
Kata Nirmala nomor tujuh pelan-Tanpa sadar Kim Thi sia menggenggam tangannya erat-erat dan menjawab dengan perasaan tulus.
"Seandainya Dewi Nirmala telah tewas, apakah empekpun akan peroleh kembali kebebasan?"
"Yaa benar."
"Kalau begitu akan kutantang perempuan itu untuk berduel disaat ilmu silatku telah berhasil nanti, akan kutuntut balaskan sakit hati empek."
"Anak baik, tidak sia-sia pengharapanku selama ini kepadamu........"
Sekulum senyuman ramah tersungging diwajah Nirmala nomor tujuh itu, lalu sambil menepuk bahunya dia melanjutkan-"Nak. kunantikan selalu saat keberhasilanmu."
Setelah memandang sekejap kearahnya dengan perasaan berat, iapun berbisik pelan.
"Sampai jumpa ."
Dengan suara gerakan cepat bak sambaran petir diangkasa, ia beranjak pergi dari situ dan lenyap dalam waktu singkat. Melihat kepergian orang itu, sipedang perak segera mengumpat.
"Bangsat keparat bernyali tikus, kenapa kau tidak berduel dulu sebelum merat dari sini."
Padahal dalam situasi seperti ini dia memang berharap Nirmala nomor tujuh bisa pergi dari situ secepatnya, jadi ucapannya sekarang tak lebih hanya bualan belaka.
Kim Thi sia menjadi tak senang hati setelah mendengar perkataan itu, cepat-cepat dia menjengek.
"Hey pedang perak. manusia macam apa dirimu itu. Hmmm^ berani amat kau mencemooh dia orang tua. Bila punya kemampuan ayoh cari saja diriku...."
Habis berkata dia membentak keras dan melancarkan dua buah pukulan yang maha dahsyat.
Berubah hebat paras muka sipedang perak.
cepat-cepat dia mengayunkan pula telapak tangannya untuk menyambut datangnya ancaman tersebut.
"Blaaaaammmmmm. ......"
Ketika dua gulung tenaga pukulan saling bertumpukkan satu dengan lainnya, terjadilah suara ledakan dahsyat yang mengakibatkan kedua orang itu sama-sama tergetar mundur satu langkah.
Dengan cepat sipedang perak dibuat terperanjat oleh kenyataan yang terbentang didepan mata, pikirnya.
"Aaaaah, tak kunyana kepesatan ilmu silat yang dimiliki bocah keparat ini diluar dugaan-Hmmm bila aku tidak membunuhnya sekarang juga, sudah pasti tiada kehidupan yang tenteram bagiku dikemudian hari......."
Berpikir sampai disitu, dia segera memberi tanda kepada sipedang api, sipedang api yang telah memahami maksudnya itu tiba-tiba saja ia melejit setinggi lima kaki lebih keudara dan pergi meninggalkan arena.
Melihat itu, Kim Thi sia mengejek sambil tertawa dingin.
"IHeeeh.....heeeh.....heeeh.....aku Kim Thi sia adalah seorang lelaki sejati. Hmmm, kau anggap aku takut melihatmu pergi mencari bala bantuan?"
Sambil mengayunkan sepasang telapak tangannya, denganjurus "kelincahan menguasahi empat samudra"
Dan "mati hidup ditangan nasib"
Dari ilmu Tay goan sinkang. Dia melepaskan serangan disertai guntur kearah sipedang perak. Pedang perak sangat gusar, dengan jurus "kepiting raksasa menjepit ketungging"
Dari ilmu guntingan tangan, ia melepaskan sebuah bacokan maut kebawah sementara kakinya melancarkan dua buah tendangan berantai.
Tapi secara mendadak saja ia merasa terpengaruh oleh bunga pukulan yang dipancarkan Kim Thi sia, tanpa disadari gerak serangannya terhenti sama sekali.
Baru saja telapak tangan Kim Thi sia hendak menggempur dadanya sipedang besi yang berada dibelakang punggungnya telah melepaskan sebuah bacokan kilat.
Kim Thi sia sama sekali tidak gentar, sekalipun dia harus menghadapi dua orang musuh sekaligus, bersamaan waktunya telapak tangan kirinya ditarik sambil merubah jurus serangannya dari gerakan "mati hidup ditangan nasib"
Menjadi jurus "kepercayaan menguasahi jagad."
Dengan membawa segulung tenaga serangan yang sangat kuat, serangan tersebut menggempur tubuh sipedang besi.
Dibawah cahaya rembulan yang redup, ditengah lapangan yang sepi berkobarlah suatu pertarungan yang amat seru antara sesama saudara seperguruan itu.
Sementara itu putri Kim huan telah menemukan suatu peristiwa lain yang menimbulkan perasaan amat terkejut baginya.
Ternyata dari balik hutan yang sangat lebat telah muncul seorang gadis cantik berbaju putih.
Gadis itu mempunyai hidung yang mancung, bibir yang mungil, kulit badan yang putih bersih dengan keayuan yang betul-betul sangat menawan hati.
Mimpipun ia tak pernah menyangka kalau didaratan Tionggoan terdapat seorang gadis secantik itu, putri Kim huan merasa tercengang, hampir saja sorot matanya tak beralih lagi dari mukanya.
Disaat gadis cantik itu merasa ada orang sedang memperhatikannya, ia segera berpaling dan balas menatap orang tersebut.
Dalam waktu sekejap.
diapun dibuat tertegun sebab kecantikan wajah orang ini pun bak bidadari dari khayangan-Kedua orang gadis cantik itu segera terbuai dalam jalan pemikiran sendiri-sendiri.
Meski tidak berbicara namun masing-masing telah tercekam oleh jalan pikiran mereka sendiri.
Suara pertarungan dan bentakan yang berlangsung diluar arena seperti tidak dirasakan lagi oleh kedua belah pihak.
mereka masih saling bertatapan muka, saling memandang d engan jalan pikiran sendiri-sendiri.
Agaknya pemuda tampan itu merasa tak senang hati melihat kemunculan gadis cantik berbaju putih itu, segera tegurnya.
"Hay jin, tempat ini berbahaya sekali, lebih baik kau cepat menghindar."
Ketika seruan tersebut tertangkap oleh Kim Thi sia, bagaikan disambar guntur yang sangat keras, cepat-cepat dia melepaskan dua serangan gencar kemudian melirik sekejap kesamping.
Benar juga, dia saksikan gadis cantik itu telah muncul dibawah sinar rembulan-Dengan cepatnya pula dia membayangkan kembali sifat sipedang perak sekalian yang gemar bermain perempuan, sekarang ia dapat menyimpulkan, bentrokan yang terjadi antara orang-orang itu dengan sipemuda tampan tersebut, antara lain sembilan puluh persen disebabkan gadis cantik berbaju putih itu.
Sementara itu sinona berbaju putih itu belum mengetahui akan kehadirannya, dengan mulut cemberut kedengaran ia berseru.
"IHmmm, didalam situ sangat panas dan sumpek, apakah aku tak boleh keluar untuk berganti udara segar?"
"Tentu saja boleh"
Jawab pemuda tampan itu cepat-cepat.
"Tapi kau mesti tahu, bahaya maut mengancam dari empat penjuru. Bila kau bertindak kurang hati-hati bisa menyesal sepanjang masa."
Sewaktu berbicara, wajahnya menunjukkan sikap apa boleh buat. Gadis cantik berbaju putih itu segera berkata lagi.
"Coba kau lihat, cici inipun tak takut bahaya, kenapa aku mesti takut?"
"Aaaaai......mengapa sih kau tak mau menuruti perkataanku?"
Keluh sang pemuda tampan itu sambil menghentak-hentakkan kakinya berulang kali.
"Bila nanti sampai terjadi sesuatu yang membahayakan jiwamu, kau baru tau rasa......"
Kemudian sambil menuding kearah sipedang perak dan pedang besi, lanjutnya.
"Kau masih belum dapat membedakan mana orang baik dan mana orang jahatJangan dilihat dandanan mereka rapi dan menarik. padahal kedua orang itu adalah hidung bangor yang gemar bermain perempuan-"
Paras muka dua orang nona itu seketika berubah memerah. Diam-diam putri Kim huan meludah, pikirnya.
"orang lelaki memang paling jahat, terang-terangan ia kuatir kekasihnya direbut orang lain, tapi ia justru menuduh orang sebagai hidung bangor yang suka bermain perempuan-"
Entah mengapa, tiba-tiba saja diapun ikut merasa tegang, pikirnya lebih lanjut.
"Wajahnya cantik jelita bak bidadari dari kahyangan, seandainya engkoh Thi sia melihatnya, mungkinkah ........"
Semakin dipikir perasaan hatinya makin tak tenang, ketika ia mencoba berpaling tampak Kim Thi sia sedang bertarung seru melawan sipedang perak dan pedang besi.
Setiap serangan yang mereka lancarkan selalu membawa deruan angin dan guntur yang mengerikan hati.
Jelas kedua belah pihak sama-sama telah mengerahkan seluruh kemampuan yang dimilikinya untuk meraih kemenangan-Mendadak terdengar pemuda tampan itu berkata dengan suara rendah.
"coba lihatlah Hay jin, gadis cantik bak bidadari itu adalah kekasih hati Kim Thi sia. Apakah kau bermaksud untuk membicarakan masalah Kim Thi sia dengannya?"
"Benarkah itu?"
Tanya sigadis berbaju putih itu tertegun "Bila kau tak percaya, Kim Thi sia toh berada disini. Kau dapat segera membuktikan akan kebenaran itu."
Gadis cantik berbaju putih itu mengerdipkan sepasang matanya yang bulat besar dengan cepat ia telah menemukan kehadiran Kim Thi sia.
Dalam waktu singkat ia seperti terkena teluh, bagaikan orang tak sadar, tubuhnya maju beberapa langkah kemuka tanpa terasa.
Tapi ia segera menghentikan langkahnya ditengah jalan, dengan suara pelan gumamnya.
"Sungguh tak kusangka......benar-benar tak kukira.......ternyata ia sudah mempunyai kekasih hati secantik itu...... buat apa aku mencarinya lagi."
Ucapan tersebut lebih tepat kalau dibilang rintihan, sebab bersama dengan selesainya perkataan itu, titik air mata jatuh berlinang membasahi wajahnya.
Tiba-tiba saja Kim Thi sia merasakan perasaannya yang tak tenang, seketika itu juga ia didesak mundur berulang kali oleh sipedang perak dan pedang besi.
Putri Kim huan yang amat menguatirkan keselamatan jiwa kekasihnya, tanpa sadar melangkah maju berapa tindak kemuka.
Rupanya pemuda itupun telah mengetahui akan kehadiran gadis cantik berbaju putih itu, terutama sekali disaat gadis tersbeut menghampirinya dengan langkah tergesa-gesa perasaan hatinya kontan saja bergolak sangat hebat.
Apalagi dikala ia melihat gadis tersebut berhenti ditengah jalan, ia segera menemukan sesuatu yang tak beres, kontan saja perasaannya menjadi amat berat.
Dalam keadaan begini untuk mengendalikan perasaan sendiri, selama ini dia selalu mengutamakan putri Kim huan.
Namun setelah bertemu dengan gadis cantik berbaju putih itu, tanpa terasa kenangan manis selama di Lembah Nirmala terlintas kembali didalam benaknya.
Maka dalam keadaan pikiran dan perasaan yang tak tenang, kemampuan ilmu silatnya menjadi bertambah lemah, tak mampu posisinyapun semakin terdesak hebat.
Sebagai seorang pemuda yang kasar diluar cermat didalam, seketika memahami pula apa sebabnya pemuda tersebut tidak bersedia menolongnya setelah menunjukkan perasaan kaget tadi.
Sebagai seorang manusia luar biasa tentu saja dia tak butuh bantuan orang lain, akan tetapi akal licik pemuda tampan itu sangat menyakitkan hatinya.
Diam-diam ia berpikir.
"Demi menyelamatkan jiwamu, aku tak segan-segan bentrok sendiri dengan abang seperguruanku. Siapa tahu, gara-gara seorang wanita, kau justru menunjukkan kemunafikanmu.......hmmmm. Bukankah niat baikku selama ini hanya sia-sia belaka."
Akhirnya gadis cantik berbaju putih itu berjalan menghampiri pemuda tampan tersebut seraya berkata.
"Mari kita anggap saja dia sebagai orang asing....."
Tak terlukis rasa sakit hati Kim This ia sesudah mendengar perkataan itu pikirnya cepat.
"Dalam soal bercinta, memang kita tak bisa terlalu memaksa. Sekalipun kau tak bersedia memberi cinta kasih muda mudi kepadaku, toh hubungan persahabatan masih bisa dijalin-......."
Mendadak........ Tampak sesosok bayangan abu-abu melayang datang seraya membentak.
"Bajingan busuk. kalau memang bernyali ayoh jangan kabur"
Sepasang kepalannya diayunkan berulang kali menghantam tubuh Kim Thi sia dengan mengerahkan tenaga pukulan yang maha dahsyat.
Sejak pikirannya bercabang tadi, Kim Thi sia sudah didesak hebat oleh sipedang perak dan pedang besi hingga susah melindungi diri, apalagi memperoleh gempuran dari orang tersebut, posisinya benar-benar amat kritis dan berbahaya.
Dengan menggunakan jurus "Api muncul dibalik batu"
Dari ilmu pukulan panca Buddha. Dia memukul mundur sipedang perak. kemudian dengan menggunakan serangan "cahaya Buddha memantulkan surya"
Dia sambut datangnya serangan pedang dari serangan sipedang besi. Menyusul kemudian, sambil mengerahkan tenaganya dia mendesak kedepan dan-......."Duuuuukkk"
Ternyata dia menyambut datangnya serangan pendatang tersebut dengan menggunakan bahunya.
Ternyata sipedang itu memiliki posisi kuda-kuda yang sangat mantap bagaikan sebuah bukit karang, tubuhnya sama sekali tak bergeser dari tempat semula.
Sebaliknya Kim Thi sia tak mampu menahan diri lagi, ia roboh terjengkang kesamping dengan sempoyongan-Pedang perak segera manfaatkan kesempatan itu untuk melancarkan sebuah pukulan maut, tapi sebelum tindakan tersebut dilakukan tiba-tiba terdengar seseorang membentak keras.
"Sute jangan tergesa-gesa, aku datang"
Tampak tiga sosok bayangan hitam berkelebat datang dengan kecepatan luar biasa, sebagai orang pertama adalah seorang manusia berkerudung hijau.
Jilid 36 orang itu bukan lain adalah sipedang emas sedangkan kedua orang lainnya adalah sipedang tanah dan pedang air.
Kemunculan sipedang emas yang secara tiba-tiba ini seketika memecahkan perhatian sipedang perak.
Pada saat itu pula telah menfaatkan peluang tersebut dengan sebaik-baiknya, dia melompat bangun untuk menghindari diri dari serangan maut yang mematikan-Walaupun kemudian sipedang perak sempat pula melancarkan sebuah serangan dahsyat, namun berhubung serangan itu agak terlambat maka gagal melukai lawannya.
Kontan saja perasaan hatinya menjadi amat kalut bercampur gembira, dia girang karena kehadiran toa suhengnya berarti menambah kekuatan yang luar biasa bagipihaknya, tapi dia kesal karena Kim Thi sia benar-benar cekatan, ternyata dia telah manfaatkan kesempatan disaat pikirannya sedang bercabang untuk meloloskan diri dari ancaman maut.
Keadaan Kim Thi sia saat ini sungguh berbahaya, dia sudah terkepung oleh sipedang emas, perak.
besi, api, air, dan tanah.
Enam orang pendekar pedang kenamaan, dalam keadaan begini, rasanya sulit baginya untuk meloloskan diri dengan selamat.
Namun Kim Thi sia tak gentar, ia memiliki semangat dan keberanian yang luar biasa, bukan mundur dia malah mengejek sambil tertawa terbahak-bahak.
"Haaaah......haaaah.......haaaaah.......pedang emas, aku pingin bertanya kepadamu. Benarkah Kongci Sin adalah kaki tangan anjingmu?"
Raut muka sipedang emas tertutup dengan kain kerudung sehingga susah bagi orang lain untuk mengetahui mimik wajahnya yang sebenarnya, namun sepasang matanya yang bersinar tajam justru melambangkan roh dan kepandaian silatnya.
Ketika mendengar perkataan tersebut, dia segera membentak dengan suara dingin.
"Yaa benar, Kongci Sin memang pembantu setiaku. Bila kau ingin membalas dendam.hmmm keadaan sudah terlambat."
Dibawah sinar rembulan, terlihat nyata sorot matanya yang penuh diliputi hawa napsu membunuh. Dengan langkah lebar Kim Thi sia mendesak maju kemuka, katanya dengan suara dalam.
"siapa bilang sudah terlambat. HHmmm, aku justru hendak memperhitungkan hutang tersebut dihadapanmu."
Sementara itu paras muka putri Kim huan telah berubah menjadi pucat pias seperti mayat, dengan badan gemetar pelan-pelan dia bergerak maju, tak lama kemudian tubuhnya telah bersandar diatas dada pemuda tadi sambil berbisik.
"Apakah kau mempunyai keyakinan-Bila tak mampu, mari kita berusaha untuk melarikan diri."
"Sebelum musuh mengundurkan diri, aku tak akan mundur lebih dulu"
Jawab Kim Thi sia cepat.
"Justru kaulah yang perlu menjaga diri segera baik-baik agar tak sampai dilukai musuh."
Dipihak lain, sipedang emas masih berdiri tegak bagaikan bukit karang, kain kerudung hijaunya berkibar ketika terhembus angin, tiba-tiba saja suasana disekeliling tempat itu terasa tegang dan membeku.
Dengan langkah lebat dia maju kemuka, lalu serunya sambil tertawa dingin.
"Kim Thi sia mengingat kita berasal dari perguruan yang sama, bila ingin meninggalkan pesan terakhir, sampaikan sekarang juga."
"Hmmmm, kau jangan berbangga dulu"
Seru Kim Thi sia amat gusar.
"Terus terang aku bilang, kemampuanmu yang tak seberapa sama sekali tak kupandang sebelah matapun."
"Bajingan keparat, tutup bacot anjingmu"
Bentak sipedang api dengan penuh amarah.
Ia menerobos maju kedepan, pedangnya yang tajam langsung disodokkan kedepan melancarkan sebuah pukulan kilat.
Kim Thi sia menggetarkan tangannya sekali lagi pedang Leng gwat kiam dipergunakan untuk membendung datangnya ancaman tersebut.
Dalam waktu singkat kedua belah pedang itu sudah saling beradu keras......
"Traaaaangggg........"
Ditengah dentingan nyaring, tiba-tiba saja sipedang api merasakan tangannya menjadi ringan, ternyata senjata andalannya telah terpapas kutung oleh senjata lawan-Dalam terkejut bercampur gusarnya tergopoh-gopoh dia melompat mundur kebelakang.
Namun Kim Thi sia sendiri tidak akan melanjutkan serangannya dia merentangkan sepasang tangannya dan kali ini mengancam iga kiri sipedang emas.
Pedang emas tertawa dingin, jengeknya.
"Bajingan keparat, besar amat nyalimu"
Dimana pedang menyambar dia segera menggeserkan badannya untuk berganti posisi.
Kim Thi sia yang merasa serangannya gagal, segera menyadari kalau gelagat tidak menguntungkan, tergopoh-gopoh dia menggetarkan pedangnya dan melepaskan sebuah bacokan.
Sewaktu dia mencoba untuk melirik kearah lain, ternyata siputra tunggal dari pukulan sakti tanpa bayanganpun tidak berdiri menganggur dia telah diserang oleh sipedang perak.
pedang air dan pedang kayu hingga kalang kabut tak karuan.
cepat-cepat pemuda itu mengeluarkan jurus "tumbuh api dibalik batu"
Untuk menolong posisi sendiri yang berbahaya sementara dalam hatinya diapun mengambil keputusan "Hmmm^ orang ini sinis dan sangat mementingkan diri sendiri, akupun tidak usah menjual nyawa baginya."
Tiba-tiba sipedang emas melepaskan serangan kilat dengan ilmu Tay jiu eng kangnya, begitu dahsyat serangan itu memaksa Kim Thi sia terdesak mundur setengah langkah.
Belum sempat Kim Thi sia berganti napas untuk merubah jurus serangan, putri Kim huan yang berada disisi lain telah dihadang oleh pedang besi.
Untuk menolong jelas tak sempat lagi, dalam gusarnya tiba-tiba melintas satu akal bagus, segera bentaknya nyaring.
"Pedang besi, lihat senjata rahasia"
Menggunakan kesempatan disaat pedang besi masih tertegun, dia melompat maju kedepan dan menghadang dihadapan gadis cantik itu.
"Manusia keparat yang tak tahu diri"
Umpat sipedang besi dengan penuh kebencian-"Berani amat kau menipuku dengan akal busuk. Hmmm, hari ini kau harus mampus"
Mendadak terdengar jeritan lengking bergema memecahkan keheningan-..... Dengan perasaan terkesiap Kim Thi sia segera berpikir.
"Aduh celaka, suara jeritan dari gadis cantik berbaju putih itu........."
Begitu ingatan tersebut melintas matanya pun tak berayal lagi untuk berpaling kearah mana berasalnya suara tadi betul juga, sinona cantik berbaju putih itu sudah dicengkeram oleh pedang kayu.
Saat itu sinona berada dalam keadaan terkejut bercampur takut, paras mukanya berubah hebat.
Kim Thi sia tidak sempat untuk berpikir panjang lagi, segera teriaknya keras-keras.
"Cepat kau bebaskan nona itu, dia adalah putri Dewi Nirmala, kalian bukan tandingannya."
Setelah perkataan tersebut diutarakan, dia baru merasa telah salah berbicara untuk ditarik kembali jelas tak sempat hatinya makin terkesiap.
Ia tahu Dewi Nirmala telah membunuh sipedang tembaga dan pedang bintang, posisi kedua belah pihakpun telah saling bermusuhan bagaikan air api, sekalipun perempuan itu sangat lihay, namun bagi pedang umat persilatan tidak pernah mengenal kata ampun, sudah jelas keselamatan jiwa gadis tersebut menjadi berbahaya sekali.
Baru saja dia hendak bergerak maju untuk memberikan pertolongan, putri Kim huan yang berada dibelakang telah menegur.
"Engkoh Thi sia, nampaknya kau kenal baik sekali dengan gadis tersebut?"
Kim Thi sia tertegun, pikirnya cepat.
"Apa maksud perkataannya itu?"
Belum sempat dia berpikir lebih jauh, gadis cantik berbaju putih itu sudah ditampar sipedang kayu keras-keras.
Selama hidup belum pernah gadis tersebut mengalami penghinaan seperti hari ini saking mendongkol dan sedihnya, air mata jatuh bercucuran dengan derasnya.
Terdengar sipedang kayu mencaci maki dengan penuh kebencian.
"Hmmm, rupanya kau adalah putri siperempuan bangsat itu, dasar perempuan rendah, sepantasnya kau temani bajingan she Kim itu untuk melaporkan diri kepada Raja akhirat.....hmmm....hmmm......."
Kim Thi sia sakit hati mendadak marahnya dilampiaskan kepada putra sipukulan sakti tanpa bayangan, bentaknya keras.
"Hey, terhitung orang gagah macam apa dirimu itu. Hmmm........kalau orang sendiripun tak sanggup dilindungi, kau hanya bikin malu orang lain saja."
Sebetulnya pemuda tampan tersebut bukannya tidak melihat atas peristiwa tersebut namun berhubung serangan yang dilancarkan pedang perak terlalu gencar, dimana untuk melindungi keselamatan diri sendiripun sudah kewalahan-Bagaimana mungkin ia masih mempunyai kesempatan untuk melindungi gadis cantik berbaju putih itu.
Kini, setelah ditegur oleh Kim Thi sia, kontan saja paras mukanya berubah menjadi merah padam, dengan penuh kegusaran dia berpekik nyaring lalu sambil mengerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya dia mulai menyerang lagi dengan mengandalkan pukulan sakti tanpa bayangannya.
Tatkala sipedang perak mencoba menahan serangan tersebut dengan kekerasan, tubuhnya seketika terdorong mundur berapa langkah oleh segulung kekuatan yang maha dahsyat.
Pemuda tampan itu mendengus marah, secara beruntun dia mendesak maju tiga langkah, telapak tangan kirinya menyerang sipedang perak.
sementara tangan kanannya menyerang pedang air.
"Bangsat dari manakah dia?"
Tiba-tiba sipedang emas bertanya.
Rupanya dia dibuat terkejut oleh kesempurnaan tenaga dalam yang dimiliki pemuda tampan itu, bukan saja usianya masih muda belia, bahkan silatnya luar biasa sekali.
Sipedang besi yang berada takjauh darinya buru-buru menjawab.
"Dia adalah putra tunggal dari pukulan sakti tanpa bayangan, ketua Tiang Pekpay."
Pedang emas manggut-manggut, diam-diam ia pertkbangkan sebentar situasi dihadapannya, kemudian baru berkata.
"Tak usah ambil perduli siapakah dia, pokoknya setiap orang yang berani menentang dan memusuhi sembilan pedang dari dunia persilatan, tumpas semua hingga ludas."
"Kau sitelur busuk"
Umpat Kim Thi sia gusar.
Sambil menghimpun tenaga Tay goan sinkangnya dia segera melepaskan sebuah pukulan dahsyat.
Terdengar suara deruan angin dan guntur yang amat memekikkan telinga, pasir dan batu beterbangan diangkasa.
Rupanya sipedang emas pun cukup mengetahui betapa dahsyat dan luar biasanya kekuatan tenaga pukulan itu, cepat-cepat dia pusatkan seluruh pikiran dan kekuatannya sambil memperkokoh kuda-kuda dia mengayunkan telapak tangannya dan menyambut serangan tersebut dengan keras melawan keras.
"Duuuukkkk"
Dikala kedua gulung tenaga pukulan itu saling bertemu satu dengan lainnya, terjadilah suara ledakan dahsyat yang sangat memekikkan telinga.
Akibat dari bentrokan itu, kedua belah pihak sama-sama tergetar mundur satu langkah posisi semula.
Mencorong sinar tajam dari balik mata sipedang emas, teriaknya dengan suara menyeramkan.
"Bagus sekali, tak kusangka begitu cepat kau raih kemajuan dalam ilmu silatmu"
Gerak langkahnya segera berubah dari gerakan lurus menjadi miring, hawa murnipun dihimpun lalu dengan ilmu pukulan Tay jiu eng dia melepaskan sebuah sodokan kedada musuh.
Dalam waktu yang amat singkat dan cepat, kelima jari tangannya sudah menempel didepan dada Kim Thi sia.
Sebagai manusia jujur Kim Thi sia tidak memikirkan akal muslihat lain, dia segera mendengus dan melepaskan sebuah bacokan pedang untuk menghalau ancaman yang datang.
Terlihatlah lapisan bunga pedang yang berlapis-lapis bagaikan air hujan menyelimuti seluruh angkasa, mata pedang yang tajam membiaskan cahaya berkilauan yang menusuk pandangan mata.
Pedang emas tak berani menyambut datangnya serangan tersebut dengan kekerasan-cepatcepat dia batalkan serangannya ditengah jalan dan menarik kembali tangannya.
Dikala sipedang emas melancarkan serangan dengan ilmu Tay jiu eng hoat sekali lagi, ternyata keadaannya sama sekali berbeda, kalau semula serangannya lembek dan lunak maka kini berubah menjadi keras dan penuh bertenaga, adapun jurus serangan yang dipergunakan adalah jurus "
Guntur menggelegar kilat menyambar"
Yang mengutamakan sifat kekerasan-Sebenarnya Kim Thi sia hendak membendung serangan musuh dengan jurus "mati hidup ditangan nasib"
Yang mengutamakan tenaga lembek, namun ketika sampai ditengah jalan, mendadak dia mendapat sebuah akal bagus, segera teriaknya keras-keras.
"Hey, ilmu silat apaan itu?"
Langkah kakinya bergeser kesamping sambil berlagak tak mampu menahan serangan tersebut, secara beruntun dia mundur sampai tiga langkah lebih.
Pedang emasnya tak tahu kalau musuhnya sedang menggunakan siasat untuk menjebak, buruburu dia membuyarkan jurus serangan semula.
Sambil tertawa dingin ia mengejar kemuka dan menggempur lagi dengan menggunakan jurus "Emas rongsok kelama putus".
Sekali lagi Kim Thi sia mundur tiga langkah kebelakang, kini punggungnya telah menyentuh tubuh putri Kim huan-Dalam keadaan cemas bertambah risau, tanpa sadar putri Kim huan segera memeluk pemuda itu sambil berbisik ketakutan.
"Thi sia.......mari kita kabur"
Sesungguhnya pada saat itu sipedang besi, pedang api dan pedang tanah yang berada dibelakang punggung pedang emas telah bersiap sedia memberikan bantuan, namun setelah dilihatnya Kim Thi sia tak sanggup menahan lagi, mereka saling berpandangan sekejap kemudian mengurungkan niatnya.
Dalam saling berpandangan itu, seolah-olah mereka sedang berkata begini.
"Toako telah berhasil menempati posisi diatas angin, biarlah dia seorang yang menghadiri keparat itu"
Dalam pada itu Kim Thi sia telah meronta dan melepaskan diri dari rangkulan putri Kim huan, lalu dengan wajah terkejut bercampur gugup serunya buru-buru.
"Kau cepat lari dulu, aku"
Sipedang emas gembira sekali melihat sikap ngeri diwajah musuhnya, dia tertawa terbahakbahak.
"Haaah.....haaaah.......haaaaah.....bocah keparat, rupanya kau pun menyadari kalau jiwamu berada dalam keadaan bahaya. IHaaah.....haaah.^...haaah.....benar-benar tidak kuduga."
Sebenarnya putri Kim huan enggan meninggalkan tempat tersebut, tapi setelah melihat kerdipan mata dari Kim Thi sia, sebagai seorang gadis yang cerdik, dengan cepat ia memahami maksud hati pemuda tersebut dengan perasaan lebih lega diapun mengundurkan diri kesamping.
Sementara dihati kecilnya dia berpikir.
"Engkoh Thi sia adalah seorang manusia luar biasa, tak mungkin ia bisa dibikin keok dalam berapa gebrakan saja......."
Dalam pada itu, sipedang emas telah melangkah maju dengan tindakan lebar, dengan jurus "angin dan awan berubah-ubah"
Ia melepaskan sebuah pukulan dahsyat yang kuat dan gencar kearah lawan Melihat Kim Thi sia terdesak mundur berapa langkah, kegembiraannya makin meluap tak kuasa lagi dia mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.
Perlu diketahui, saat itu mereka berada ditengah sebuah jalan setapak yang hanya cukup dilalui satu orang, sekeliling jalan setapak tersebut merupakan batang pepohonan yang besar dan kuat.
Ini berarti andaikata sipedang besi, pedang api dan pedang tanah berniat turun tangan bersama untuk mengeroyok Kim Thi sia, mereka harus melewati posisi toa suhengnya lebih dulu.
Namun sipedang emas sedang diliputi perasaan gembira, ia tidak membiarkan para adik seperguruannya memberi bantuan, sebab dia hendak mengandalkan ilmu Tay jiu engnya untuk menghabisi musuh tangguhnya itu seorang diri.
Kim Thi sia mencoba untuk melirik kepihak lain, ketika menjumpai pemuda tampan itu sudah keteter hebat dibawah desakan sipedang perak dan pedang air.
Entah mengapa tiba-tiba pemuda tersebut justru merasa gembira sekali.
Ketika berpaling lagi kearah sinona cantik berbaju putih yang menundukkan kepalanya sambil berdiri kaku ditepi arena, ia segera tahu kalau gadis tersebut telah ditotok jalan darahnya oleh sipedang kayu.
Dengan cepat pikirannya berputar sebentar sebuah keputusanpun segera diambil.
Ketika sipedang emas melepaskan kembali sebuah sapuan kilat, Kim Thi sia segera membendungnya dengan kekerasan, tapi akibatnya dia tergetar mundur satu langkah.
Sementara itu sipedang emaspun merasa terkejut sekali, sewaktu terjadi benturan kekerasan tadi, ia dapat merasakan bahwa musuhnya tidak menggunakan tenaganya sepenuh hati, sekalipun ia tidak habis mengerti apa gerangan yang terjadi, namun ia yakin hal tersebut bukan main-main, siapa tahu dibalik kesemuanya itu masih terselip rencana lain yang sangat lihay dan berbahaya.
Belum habis ingatan tadi melintas lewat, serangannya telah berkelanjutan dengan menggempur jalan darah Hekpek hiat musuh menggunakan jurus "bidikan ketapel mengejutkan burung"
Dari ilmu Tay jiu eng.
Mendadak Kim Thi sia membentak kerasa, sebuah pukulan dahsyat dilancarkan secara tiba-tiba.
Suara bentakannya keras penuh bertenaga, dibalik itu semua terkandung pula luapan rasa gembira yang berkobar-kobar.
Ketika sipedang emas dan para jago pedang lainnya mendengar suara tersebut, diam-diam mereka merasa amat bergidik, terutama sekali sipedang emas, hampir saja dia menghentikan gerak serangannya..
Segulung tenaga pukulan yang kuat menerobos masuk dengan cepat, bukan saja kekuatan dahsyat tersebut berhasil membobolkan pertahanan sipedang emas, bahkan bagaikan air bah yang menjebolkan bendungan langsung menyambar tiba dengan hebatnya.
Tak terlukiskan rasa kaget sipedang emas menghadapi peristiwa yang tak terduga ini.
Tak ampun tubuhnya termakan gempuran tersebut hingga roboh terjengkang keatas tanah.
Sipedang besi, pedang api dan pedang tanahpun nyaris dipecundangi lawan-Serentak mereka membentak keras sambil melejit kemuka, tiga sosok bayangan manusia dengan mengacungkan pedang masing-masing langsung melancarkan bacokan kemuka.
Kim Thi sia tidak sempat melepaskan sebuah pukulan lagi, tergesa-gesa dia berganti posisi sambil mundur kesamping.
Arah dimana ia mundur adalah nona cantik berbaju putih itu, karenanya selalu perhatiannya sekarang tertuju ketubuh sipedang kayu.
Begitu berada dekat dengan musuh, dia segera melepaskan sebuah pukulan dengan jurus "kepercayaan menguasahi seluruh jagad"
Untuk menyergap lawannya.
Sipedang kayu berseru tertahan, dalam keadaan tak siap ia menjadi gugup dan gelagapan, tergopoh-gopoh tubuhnya melompat mundur kebelakang untuk menghindarkan diri.
Dengan suatu gerakan cepat Kim Thi sia menyambar tubuh gadis cantik berbaju putih itu dan menerobos masuk kedalam hutan.
Tapi hanya sebentar saja ia sudah berteriak tertahan, cepat-cepat pemuda itu keluar lagi dari hutan, ternyata apa yang dikuatirkan benar juga, putri Kim huan sudah terjatuh ketangan musuh.
Dengan gemas dia memukul batok kepala sendiri sambil berpikir.
"Aku benar-benar tolol, mengapa kulupakan keselamatan jiwanya.......?"
Dalampada itu sipedang besi telah mencengkeram pergelangan tangan putri Kim huan, sambil tertawa dingin ia menjengek.
"Hey bocah keparat, meski kau berhasil menyelamatkan yang satu namun kehilangan yang lain, tiada keuntungan apa-apa yang bakal kau peroleh, hmmmm sia-sia perjuanganmu selama ini."
Kim Thi sia tidak menggubris sindirannya itu, sambil mengerahkan tenaga dalamnya dia membabat tubuh sipedang besi.
Desiran angin pukulan yang amat dahsyat segera menyambar kedepan dengan hebat.
Pedang perak membentak gusar, dia melompat kesamping sambil menghindarkan diri.
Dengan mundurnya sipedang perak.
pemuda tampan itupun mendapat kesempatan baik untuk meloloskan diri dari gencetan musuh, tanpa peruli lawannya lagi dia balik menerjang kearah Kim Thi sia sambil membentak.
"Bebaskan dia, kau tak usah mengurusi persoalannya."
Dalam terkejut dan herannya Kim Thi sia tak sempat berbuat banyak.
tahu-tahu gadis cantik berbaju putih itu telah direbut kembali oleh pemuda tampan itu.
Tapi begitu ia sadar kembali akan apa yang terjadi, dengan perasaan amat mendongkol teriaknya keras-keras.
"Bagus, bagus sekali perbuatanmu sangat gagah dan hebat......"
Pemuda tampan itu sama sekali tak ambil perduli, cepat-cepat dia membebaskan jalan darah sinona yang tertotok membiarkan gadis itu duduk diatas batu, sementara dia sendiri menjaga disisinya.
Terhadap putri Kim huan yang ditawan serta keadaan musuh yang melakukan pengepungan, bukan saja tak ambil gubris bahkan memperhatikanpun tidak.
Kim Thi sia memperhatikan sekejap wajah orang itu, akhirnya dia berseru lagi dengan mendongkol.
"Baiklah, sekarang kau boleh berbuat begini, tapi tunggu saja nanti saat pembalasanku tiba......"
Dalampada itu sipedang emas telah bangkit berdiri dan berkata pula dengan suara pelan.
"Bocah keparat ini sangat jahat. Sute sekalian, mari kita turun tangan bersama untuk membasminya ...."
Ketika berbicara, napasnya tersengkal-sengkal dan suaranya lemah, jelas isi perutnya telah menderita luka yang cukup parah.
Tiba-tiba terdengar nona cantik berbaju putih itu menghela napas sedih dan berkata.
"Hey, bila kau tidak berusaha untuk menolongnya, akupun tak akan menggubris dirimu lagi."
Ucapan mana ditujukan kepada pemuda tampat tersebut, sedang dia yag dimaksud adalah putri Kim huan. Nampak pemuda tampan itu sangat terperanjat setelah mendengar perkataan itu, buru-buru dia bertanya.
"Hey apa maksud perkataanmu itu?"
"Dia telah menyelamatkan aku, sudah sepantasnya kaupun menyelamatkan dirinya."
"Hmmmm, siapa bilang dia berniat menolongmu? Ia hanya secara kebetulan saja membebaskan dirimu dari pengaruh totoknya karena desakan lawan yang sangat hebat."
"Bagaimanapunjua, dia telah melepaskan budi pertolongan kepadaku, seandainya kau mencintaiku dengan sepenuh hati, budi kebaikan ini harus kau bayar."
"Bila aku pergi, keselamatan jiwamu menjadi sangat berbahaya......."
Kilah pemuda tampan itu. Paras muka sinona cantik berbaju putih itu berubah hebat, sambil menarik muka serunya.
"Apa kau bilang? Apakah orang lain berani berbuat demikian, kau malah tak berani?"
"Aku benar-benar menguatirkan keselamatan jiwamu"
Kata pemuda tampan itu sambil tertawa getir.
"Kau harus memahami kesulitan dihati kecilku kini....."
"Aku tak perduli, aku tak perduli"
Tukas sinona mendongkol.
"Pokoknya bila kau tidak melakukan permintaanku tadi, berarti kau memang tidak mencintaiku sepenuh hati, ini berarti diantara kita pun tak perlu membicarakan persoalan yang lain lagi."
Dengan perasaan apa boleh buat pemuda tampan itu menggelengkan kepalanya berulang kali, dia segera berpaling kearah Kim Thi sia dan berkata.
"Aku akan pergi menolong kekasihmu, ini berarti keselamatan jiwanya akan kuserahkan kepadamu."
Kim Thi sia yang mendengar pembicaraan tersebut segera berpikir.
"Tampaknya gadis itu cukup jelas membedakan mana budi dan mana dendam."
Maka tanpa perduli maksud permintaan pemuda tampan itu lagi ia berkata.
"Tidak usah, terima kasih banyak atas maksud baikmu, meski orang she Kim tidak becus, namun kesulitanku tak ingin merepotkan orang lain, aku yakin masih mampu untuk menyelesaikan persoalan sendiri."
Ia memang berniat menyakiti hati lawannya, melihat wajah pemuda tampan itu sudah berubah menjadi hijau membesi, sambil tertawa terbahak-bahak kembali katanya.
"Perselisihan yang menyangkut pribadi Kim Thi sia tak perlu anda campuri, atau bila kuucapkan dengan perkataan yang tak sedap. apabila anda tiada urusan lagi disini, lebih baik segera angkat kaki."
Baru selesai perkataan itu diucapkan, sipedang perak yang berada dipihak lain telah berteriak keras.
"Jangan harap kalian berdua bisa pergi meninggalkan tempat ini."
Kim Thi sia berkerut kening, teriaknya lantang.
"Kalau begitu aku akan membuat perhitungan lebih dulu denganmu."
Dengan langkah lebar dia maju kedepan dadanya yang bidang membiaskan bayangan yang tinggi besar dibawah sinar rembulan-Tak lama kemudian ia telah berada tepat dihadapan musuhnya.
Dengan suara dalam sipedang perak membentak nyaring, tenaga dalamnya dihimpun kedalam telapak tangannya siap melepaskan serangan maut.
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar putri Kim huan berteriak keras-keras.
"Thi sia, pergilah cepat, tak usah perduli diriku lagi."
Kim Thi sia berpaling, dia saksikan gadis cantik itu sudah berada ditangan sipedang air, pedang tanah dan pedang api, keadaannya mengenaskan sekali.
Melihat adegan tersebut, berkobar api kegusaran didada Kim Thi sia, serunya dengan geram.
"Bagus, bagus sekali. Sekarang kalian boleh bersikap demikian terhadapnya. Tapi ingat, aku pasti akan berterima kasih dan berusaha membalas budi kebaikan kalian itu."
Sedang dihati kecilnya dia berpikir.
"Musuh lebih banyak jumlahnya daripada aku bila tak kugunakan taktik suara ditimur menyerang kebarat untuk menghadapi mereka, nampaknya harapanku untuk membalas dendam akan tipis sekali."
Sesungguhnya ingatan semacam ini tak mungkin akan timbul didalam benak Kim Thi sia kalau berada dihari biasa, namun setelah kekasihnya terjatuh ketangan musuh.
Dalam keadaan murung dan mendongkol, tanpa disadari pikiran tersebutpun muncul dalam benaknya.
Ia segera berjalan mendekati sipedang perak.
bukan untuk menyerang musuhnya tapi dengan sorot mata tajam dia memperhatikan sekejap lebih dulu kesekeliling tempat itu.
Ia tahu diantara mereka semua, kemungkinan besar sipedang kayu yang bakal menyerang lebih dulu, karena tempat dimana ia berdiri sekarang hanya selisih berapa depa dari sipedang perak.
Sedangkan sipedang perak terhitung manusia paling licik jadi kemungkinan besar dialah yang menyerang paling dulu.
Begitu keadaan situasi telah dikuasahi, Kim Thi sia pun berlagak menatap wajah sipedang emas sambil berkata.
"Tenaga dalammu memang cukup hebat sekalipun sudah terkena pukulan Tay goan sinkang nyatanya belum juga mampus, coba kalau berganti orang lain, mungkin sang korban sudah mati muntah darah sedari tadi."
Selesai berkata ia segera tertawa dingin tiada hentinya sambil mencibirkan bibirnya dengan sikap mengejek.
Seperti apa yang diduganya, begitu mendengar perkataan tersebut sipedang emas menjadi sangat gusar bercampur mendongkol hingga kaki tangannya gemetar keras.
Tapi dia pun bukan orang tolol, sudah baran tentu mengerti juga bahwa Kim Thi sia berniat menyakiti hatinya.
Sebagaimana diketahui, sipedang emas adalah pemimpin dari sembilan pedang dunia persilatan, ilmu silat yang dimilikinya jauh melebihi kemampuan kedelapan orang adik seperguruannya, ia merupakan tonggak penyangga dari sembilan pedang dunia persilatan sudah keok ditangan musuh.
Kini, Kim Thi sia memuji kesempurnaan tenaga dalamnya yang dibilang hebat karena tak sampai roboh karena pukulan Tay goan sinkang, padahal tujuannya adalah untuk mengolok dan mencemooh kemampuannya tak heran kalau sipedang emas menjadi mendongkol setengah mati.
Sipedang emas yang tidak menduga lebih-auh, saat ini hanya mengira musuhnya bertujuan mencemooh kemampuannya diam-diam iapun memberi tanda kepada sipedang perak.
Menurut pendapatnya, sipedang perak berdiri paling dekat dengan lawannya, ini berarti dialah yang paling cocok untuk menyerang dan menumpas Kim Thi sia yang dibenci itu dengan sepenuh tenaga.
Siapa sangka sebelum sipedang perak mengartikan tanda tersebut, Kim Thi sia telah manfaatkan kesempatan tersebut untuk bertindak lebih dulu.
Sepasang telapak tangannya segera dilontarkan bersama kemuka, selapis angin pukulan yang hebat pun muncul dari empat arah delapan penjuru untuk mengurung sekeliling arena.
Sipedang perak segera merasakan pandangan matanya menjadi gelap.
ia silau dan untuk sesaat tak tahu apa yang mesti diperbuat.
Menunggu ia sadar akan datangnya ancaman bahaya maut, tahu-tahu bahunya sudah termakan oleh gempuran Kim Thi sia dengan jurus serangan "
Kecerdikan menguasahi seluruh jagad"
Nya, tak ampun tubuhnya terlempar kebelakang dengan sempoyongan-Baru saja Kim Thi sia berniat mengejar lebih jauh tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benaknya, cepat-cepat dia berganti jurus dan kali ini mengancam bagian mematikan ditubuh sipedang kayu.
Ia tahu, sipedang kayu berdiri berpaling dekat dengan pedang perak.
bila sipedang perak menjumpai keadaan yang membahayakan jiwa, sipedang kayulah yang paling diharapkan bantuannya.
oleh sebab itulah disaat serangan berhasil memukul mundur sipedang perak tadi, ia telah mengetahui kalau sipedang kayu bakal melancarkan serangannya.
Berdasarkan dugaan itulah dia menguntungkan maksudnya untuk mengejar musuhnya sebaliknya malah mengancam sipedang kayu.
Betul juga, sipedang kayu dibuat tertegun seketika dan tahu apa yang mesti diperbuatnya.
Menanti tenaga dalamnya sudah dihimpun kedalam lengannya untuk menyerangnya, tahu-tahu Kim Thi sia telah mengalihkan kembali sasaran serangannya kearah sipedang perak yang terpelanting itu.
Maka dalam keadaan tanpa rintangan dan ancaman, Kim Thi sia berhasil menyarangkan pukulannya yang akurat hingga membuat sipedang perak terpental keudara lalujatuh terbanting keatas tanah dan tak mampu merangkak bangun kembali.
Begitu taktik "suara ditimur menyerang dibarat"
Nya membuahkan hasil, rasa percaya diripun semakin tumbuh dihati Kim Thi sia.
Dia membalikkan tangannya dan kali ini menghajar sipedang kayu.
Sesungguhnya musuh yang berada tepat dihadapannya sekarang adalah sipedang api, sedang sipedang besi berada disisi lain-Tapi tindakannya yang menyerang musuh dijarak jauh segera membuat sipedang api amat terkesiap.
belum sempat angin pukulannya yang menyambar datang tergopoh-gopoh dia sudah membuat persiapan dengan melompat mundur sejauh beberapa kaki dari posisi semula.
Sebaliknya sipedang besi telah membuat persiapan yang cukup matang, dikala musuh menyerang datang dengan penuh amarah tadi, ia segera mendorong putri Kim huan hingga terjatuh kedalam pelukan sipedang air.
Serta merta sipedang air menyambar tubuh putri Kim huan dan memeluknya erat-erat, berada dalam keadaan begini sekalipun sinona berteriak keras-keras pun rasanya tak berguna lagi.
Sipedang besi yang berilmu silat sangat tinggi memiliki gerak geriknya yang amat lincah dan cekatan, setelah mengincar sasarannya secara jitu, dia segera melancarkan serangan dengan ilmu guntingan perg elangan tangannya.
Seketika Kim Thi sia terbendung gerak serangannya hingga mesti menghentikan gerak majunya.
Tampaknya memang beginilah tujuan dan harapan Kim Thi sia.
Kalau tidak.
dengan ilmu Tay goan sinkangnya yang sangat hebat dan mampu menggempur musuh dari jarak jauh.
Mustahil ia bisa dihentikan gerak serangannya oleh ilmu guntingan pergelangan tangan lawan-Setelah berhenti bergerak.
tidak menanti sampai sipedang besi berubah gerak serangannya untuk menyerang kembali.
dia telah menerobos maju kehadapan sipedang air dan melancarkan serangan dengan jurus "
Hembusan angin mencabut pohon siong."
Baru pertama kali ini sipedang air bertarung melawan Kim Thi sia, berapapun licik dan banyak muslihatnya dia, kali ini "kedahuluan"
Juga oleh serangan lawan Tergopoh-gopoh dia mengayunkan pedangnya melancarkan sebuah babatan kilat, kemudian tanpa ambil perduli apakah serangan tersebut berhasil mengenai sasaran ataukah tidak.
ia membalikkan badan dan segera melarikan diri terbirit-birit.
Mungkin lantaran ia mundur dengan sepenuh tenaga putri Kim huan terseret pula sehingga menjerit tertahan-Untuk sesaat lamanya Kim Thi sia seperti tertegun dibuatnya hingga menghentikan gerak serangannya sama sekali.
Sipedang kayu yang melihat adanya kesempatan baik segera menerobos maju kedepan sambil mengayunkan pedangnya .
"sreeeeetttt......."
Sebuah sambaran yang amat dahsyat tepat bersarang ditubuh Kim Thi sia menimbulkan luka yang cukup dalam, semburan darah segar segera memancar kemana-mana......
Biar terluka, pemuda itu tidak mengeluh, bahkan tegurnya dengan penuh rasa kuatir.
"Bagaimana keadaanmu, apakah terluka ditangan mereka?"
"Tidak. kau tak usah kuatir"
Sahut putri Kim huan sambil tertawa.
"Aduh......^awas belakang......"
Kim Thi sia bukan orang tolol, mendengar teriakan tersebut ia segera mendapat sebuah akal. Diluaran dia berlagak bodoh dengan tidak mengerti arti teriakan tersebut, malah gumamnya.
"Aaaah......kau tentu sudah terluka, kau tentu sudah terluka........."
Sekalipun diluaran dia bergumam, secara diam-diam telah membuat persiapan yang cukup matang.
Hawa murninya telah dihimpun dari pusat kedalam sepasang tangannya.
Menanti desingan angin serangan telah mencapai belakang tubuhnya, ia baru membentak keras-keras.
"Telur busuk. kau berani membokong toaya mu?"
Ditengah bentakan keras, dan gulung tenaga pukulan yang maha dahsyat bagaikan gulungan ombak ditengah samudra langsung meluncur dan menyambar kebelakang.
Mimpipun orang itu tak mengira akan datangnya ancaman, seketika itu juga tubuhnya terhantam oleh tenaga serangan yang amat hebat itu hingga menjerit keras dan roboh terjengkang keatas tanah.
Kim Thi sia gusar sekali dia benci akan kelicikan orang itu, sambil mengeraskan hati dia menerjang kedepan dan secepat kilat melancarkan sebuah tendangan lagi.
"Duuuukkkk. ......."
Kembali orang itu mencelat sejauh berapa kaki dan bergulingan beberapa kali sebelum berkelejitan dan akhirnya tak pernah bergerak kembali.
Saat inilah Kim Thi sia baru sempat melihat wajahnya dengan jelas, ternyata orang itu adalah sipedang api yang licik dan buas.
Dari sembilan pedang dunia persilatan kembali seorang anggotanya berkorban, dalam keadaan begini sipedang emas tak mampu mengendalikan diri lagi.
ia mendengus dingin berseru.
"Sute sekalian, bila kita gagal membunuhnya hari ini, akhirnya hanya jalan kematian yang kita peroleh."
Sementara perkataan itu bergema, kebetulan berhembus lewat segulung angin yang sangat dingin, semua orang segera merasakan tubuhnya bergidik dan bulu kuduknya pada bangun berdiri.
Dibawah cahaya rembulan, kini Kim Thi sia pun dapat melihat jelas raut wajah sebenarnya dari sipedang emas dibalik kain kerudung hijaunya.
Untuk sesaat ia berdiri terbelalak dengan mulut melongo dan pandangan mata memancarkan sinar kaget bercampur ngeri.
Raut wajahnya boleh dibilang menyerupai sebuah tengkorak yang berserakan ditanah pekuburan, selain penuh dengan lakukan yang tak merata, bekas lukapun memenuhi wajah.
itu.
Ia tak berani membayangkan, iapun tak pernah menyangka kalau didunia saat ini ternyata terdapat manusia yang berwajah begini jelek dan mengerikan hati.
Ia segera berusaha untuk melupakannya, ia tak mau percaya kalau apa yang terlihat merupakan kenyataan-"Tampaknya apa yang dikatakan sisastrawan menyendiri memang benar"
Ingatan tersebut melintas cepat didalam benaknya.
Dari sini terbukti sudah bahwa apa yang pernah dikatakan sastrawan menyendiri memang benar, ini berarti kemunafikan sipedang emas yang dituduh banyak melakukan kejahatanpun tak bakal salah pula.
"Sreeeet.......sreeeet......."
Mendadak terdengar dua kali desingan suara tajam yang memekikkan telinga bergema membelah kegelapan malam, suara tersebut kedengarannya sangat mengerikan hati.
Dengan gerakan cepat Kim Thi sia berpaling, sorot matanya segera saling beradu dengan sorot mata sipedang tanah yang tajam dan licik.
Kedengaran sipedang tanah menjerit keras kemudian mengayunkan pedangnya melancarkan bacokan-Sebelum Kim Thi sia sempat melakukan sesuatu, tiba-tiba berkelebat lewat sesosok bayangan putih, disusul kemudian terasa segulung desingan angin tajam menyambar lewat.
Tusukan pedang dari sipedang tanah seketika terbentur oleh tenaga serangan itu hingga miring dari posisinya semula.
"Mau apa kau datang kemari?"
Kim Thi sia segera menegur dengan tak senang hati.
"Kau tak usah mencampuri urusanku"
Jawab sipendatang singkat.
Selesai berkata, kembali ia menerjang kearah sipedang tanah, dalam beberapa kali gebrakan saja dia telah memaksa pedang tanah mundur setengah langkah dari posisi semula.
Tak terlukiskan rasa mendongkol sipedang tanah menghadapi kejadian seperti ini, dia menggetarkan sepasang tangannya hingga menimbulkan suara gemerutukan nyaring.
Dalam waktu singkat kedua orang itu sudah terlihat dalam pertarungan yang amat seru.
Kim Thi sia yang melihat adegan ini diam-diam berpikir.
"Mana dia? Mengapa ia dibiarkan berada seorang diri?"
Cepat-cepat dia berpaling kian kemari untuk mencari jejak sinona cantik berbaju putih itu, namun sekeliling tempat itu kosong tak nampak sesosok bayangan manusia pun-Termasuk juga sinona cantik yang dicari, ia tak nampak batang hidungnya lagi.
"Sialan"
Segera pikirnya lagi.
"Keparat itu benar-benar hebat, nampaknya ia telah mempersiapkan segala sesuatunya terlatih dulu sebelum melakukan tindakan mana."
Sementara dia masih termenung, sipedang besi So Bun pin telah menerjang datang dengan penuh amarah.
Begitu tiba dihadapannya, ia segera menyerang dada serta lambung pemuda tersebut dengan ilmu guntingan pergelangan tangannya.
Kim Thi sia segera menarik napas panjang-panjang untuk menghindari serangan tersebut namun hatinya segera dibuat terkejut oleh suara tertawa dingin dan cepat-cepat ia menegur.
"Hey, apa yang kau banggakan?"
Rupanya dibalik suara dinginnya terselip kelicikan dan kekejian yang mengerikan hati hingga siapapun yang mendengarkan pasti akan dibuat bergidik dan bulu romanyapada bangun berdiri.
Sekali lagi sipedang besi tertawa dingin.
"Heeeeh......heeeeh......heeeeh.......sebentar kau akan tahu dengan sendirinya, tak berguna kau tanyakan sekarang."
Kim Thi sia segera mencoba untuk berpikir dengan seksama, tapi ia tak berhasil menemukan sesuatu yang tidak menguntungkan bagi dirinya, maka dengan suara lantang dia berseru.
"Kau tak perlu merasa bangga dulu, sebentar lagi akan terbukti bahwa tiada manusia macam kau didunia inipun tak menjadi persoalan-"
Mendengar ucapan mana, sipedang besi segera membungkam, membalikkan badan dan beranjak pergi dari situ.
Kim Thi sia bermaksud melakukan pengejaran namun ia segera dihadang oleh sipedang kayu Gi Yu yong.
Sebuah pukulan seratus langkah Pekpoh siu ciang musuh menghapuskan niatnya untuk melakukan pengejaran, dengan menghimpun ilmu Tay goan sinkangnya ia tangkis datangnya ancaman dengan kekerasan-Ditengah benturan keras yang memekik telinga, tubuh sipedang kayu Gi Yu yong terdorong mundur sejauh berapa langkah.
Kim Thi sia makin bersemangat, secara beruntun dia persiapkan serangan mautnya dengan jurus "
Kejujuran mengalahkan batu emas"
Dan "
Kekerasan menguasahi seluruh jagad"
Dari ilmu Tay goan sinkang. Tapi sebelum serangan dilepaskan, sipedang besi yang mengundurkan diri tadi telah membentak keras.
"Berhenti semua"
Sewaktu bentakan itu bergema, terdengar jeritan lengking seorang wanita bergema tiba.
Jeritan lengking tersebut hampir saja membuat sukma Kim Thi sia terbang meninggalkan raganya, dengan perasaan terkejut ia berpaling.
Ternyata sepasang tangan putri Kim huan telah ditelikung kebelakang oleh sipedang besi kuatkuat.
Ditinjau dari rasa sakit yang mencekam wajah sinona, bisa diketahui betapa kejinya sipedang besi sewaktu turun tangan tadi......
Dengan perasaan gusar yang meluap-luap Kim Thi sia segera membentak keras.
"So Bun pin, ayoh cepat lepas tangan, apa yang hendak kau perbuat hey manusia berhati binatang....."
"^ Sementara itu, pemuda tampan diarena pertarungan lainpun telah menghentikan pertarungannya melawan sipedang tanah, mereka berdiri saling bertatapan tanpa niat mengalah, namun wajahnya sama sekali tidak menunjukkan rasa kuatirnya terhadap keselamatan jiwa putri Kim huan. Betapa tidak. sebab ia memang "dipaksa"
Untuk turun tangan-Terdengar sipedang besi berkata dengan suara pelan.
"Mudah saja bila menginginkan kebebasannya, tapi kau mesti membicarakan dulu syaratnya."
Sekalipun hawa amarah yang berkobar didalam dada Kim Thi sia serasa meluap. akan tetapi ia tak banyak berkutik karena gadis pujaannya sudah terjatuh ketangan musuh dengan suara dalam diapun bertanya.
"Apa syaratmu? katakan saja."
"Aku rasa bila syaratnya amat sederhana lebih baik Kim Tayhiap penuhi saja permintaannya"
Sela sipemuda tampan itu tiba-tiba "daripada kekasihmu menderita siksaan toh lebih baik penuhi saja syarat yang diajukan, bukan begitu?"
"Kau sedang menyindir aku?"
Sela Kim Thi sia tak senang hati.
"Aaaah, tidak berani"
Jawab sang pemuda hambar. Kim Thi sia makin tak senang hati, pikirnya.
"Bila tidak kuperoleh jawaban yang memuaskan hati ini, aku harus bertarung habis-habisan dengan manusia egois ini."
Begitu mengambil keputusan dihati, diapun berkata lagi dengan suara dingin.
"kau masih mencoba membantah? Hmmm, kau anggap aku ini orang tolol........?"
"Aduuuh......Kim Tayhiap. sudah lama kudengar akan nama besarmu itu, hanya selama ini belum berkesempatan untuk mengenalimu, kau adalah orang yang paling kuhormati masa aku berani bersikap kurang ajar kepadamu?"
Kim Thi sia kembali mendengus.
"Hmmm^ kalau begitu apa maksud perkataanmu itu?"
Selama ini rasa mendongkol dan jengkelnya tiada pelampiasan, maka setelah diejek oleh sang pemuda tampan dengan sindiran-sindirannya, seketika itu juga semua rasa jengkel dan tak puasnya dilampiaskan keluar kepadanya.
Ia tidak memperduli So Bun pin dan kembali serunya.
"Apakah anda menganggap cara kerjaku keliru? Apakah aku tidak seharusnya mencari kerepotan buat sendiri dengan membantu orang lain dari ancaman bahaya?"
Semua ucapannya diutarakan dengan nada berapi-api, sehinga siapapun yang mendengar akan tahu bahwa seucap kata saja tak cocok, kemungkinan besar akan terjadi pertarungan yang seru.
Berubah hebat paras muka sipemuda tampan itu, dengan suara lantang ia balik bertanya.
"Jadi Kim Tayhiap menegur siaute yang sudah banyak berbicara?Jadi Kim Tayhiap tidak bersedia menyelesaikan soal keselamatan kekasihmu dalam suasana kedamaian?"
"Soal ini merupakan masalahku dengan So Bun pin, kau tak perlu mencampurinya."
"Baik, anggap saja si sute memang banyak turut campur dalam urusanmu, tetapi....."
Sambil tertawa dingin pemuda tampan itu membetulkan letak bajunya, kemudian sambil mengangkat mukanya yang penuh hawa tantangan, ia berkata lebih lanjut.
"Kalau toh Kim Tayhiap tidak bersedia membicarakan soal syarat dengan pihak lawan, mengapa tidak bertarung saja secara langsung? Buat apa kau hentikan tindakanmu ditengah jalan dengan bersedia mendengarkan syarat lawan? Bukankah persoalan ini menjadi saling bertolak belakang? Benar bukan perkataan siaute ini?"
Kembali Kim Thi sia mendengus.
"Hmmm, ngaco belo tak karuan, aku toh cuma ingin tahu apa gerangan yang sebenarnya telah terjadi. Kau jangan salah menilai watak aku orang she Kim biarpun golok diletakkan diatas tengkukku, biar pedang ditempelkan diatas dadaku, aku percaya orang she Kim tak akan berbuat bodoh."
"Yaa, tentu saja, aku juga tahu kalau nama besar Kim Tayhiap sudah termashur dimana-mana, kekuasaanmu telah mempengaruhi empat samudra, tentu saja kau tak memandang sebelah matapun terhadap sembilan pedang dari dunia persilatan"
Begitu ucapan tersebut diutarakan Kim Thi sia segera berkata.
"Bocah keparat, nampaknya kau sudah bosan hidup? Berani amat kau mengadu domba orang lain-"
Dengan berat mata berkilat sipedang tanahpun berseru pula.
"Sobat, bila kudengar dari ucapan barusan seolah-olah kau anggap sembilan pedang dari dunia persilatan adalah manusia-manusia yang tak berguna saja.
"Hmmmm.......sekalipun kau adalah putra tunggal sipukulan sakti tanpa bayangan dari Tiang pek san. Kendatipun ilmu silatmu sangat luar biasa, akan tetapi kami sembilan pedang dari dunia persilatan masih belum memandang sebelah matapun terhadap dirimu, bila kurang percaya nah sambutlah dulu beberapa jurus serangan ini."
"Baik, baiklah, orang baik memang tak pernah dibalas baik, lebih baik aku tidak turut campur dalam persoalan ini......"
Diapun terhitung seorang manusia cekatan yang pintar dan banyak akalnya, begitu menyadari kalau ucapannya telah salah sehingga menimbulkan amarah orang banyak.
Dengan cepat ia putuskan untuk menahan diri agar tak sampai menimbulkan permasalahan yang justru merugikan dirinya sendiri.
Dengan pandangan dingin Kim Thi sia memandang sekejap kearahnya, kemudian berkata singkat.
"Harap saudara jangan menyingkir dulu, persoalan diantara kita harus diselesaikan nanti."
"oooh, dengan senang hati, dengan senang hati"
Sahut pemuda tampan itu dingin. Kim Thi sia tidak menggubris dirinya lagi dia berpaling kearah sipedang besi dan berseru.
"sekarang kau boleh kemukakan syaratmu."
Sambil tertawa sipedang besi manggut-manggut.
"Nah, begini baru tindakan seorang lelaki jantan"
Setelah berhenti sejenak, lanjutn "Bila kau menginginkan keselamatan jiwa putri Kim huan, pertama pedang Leng gwat kiam harus diserahkan dulu kepadaku."
Kim Thi sia segera berpikir.
"Pedang Leng gwat kiam merupakan benda mestika warisan keluargaku, bagaimana pun jua tak bisa kuserahkan kepada orang lain. Hmmm, nampaknya orang ini sedang mengingau......."
Meski dalam hati berpikir demikian, diluar ia menjawab dengan suara berat dan dalam.
"Sebutkan dulu syarat yang kedua"
"Suruh kongcu tersebut menyerahkan nonanya kepada kami"
Kim Thi sia melengak, serunya dengan cepat.
"Tapi......persoalan ini toh tiada, hubungan denganku?"
"Siapa bilang tak ada? Bila kau tidak mencampuri persoalan ini sejak tadi kami sudah berhasil menangkapnya."
Kemudian setelah berhenti sebentar, terusnya.
"Karenanya kau mesti bertanggung jawab atas persoalan ini dengan menyerahkan nona itu kepadaku."
"Hey bajingan kunyuk"
Umpat Kim Thi sia marah.
"Tak nyana kalian sembilan pedang dari dunia persilatan hanya sekawan bajingan yang suka menculik dan memperkosa wanita. Hmmm perbuatan terkutuk semacam ini."
Belum selesai ucapan itu diutarakan, sipemuda tampan itu menimbrung pula dengan gemas.
"Barang siapa berani mengusik seujung rambutnyapun, kami dari partai Tiang peksan akan bermusuhan dengannya."
Pedang besi tertawa dingin.
"Heeeeh.....heeeeh......heeeeh......terus terang aku bilang, ditempat yang sepi dan terpencil seperti ini. Kami yang tidak kuatir perbuatan ini sampai ketahuan orang"
La melirik sekejap kearah pedang emas melihat pemimpinnya tanpa reaksi, ia semakin lega, terusnya lebih jauh.
"Orang she Kim, kami hanya mempunyai dua buah syarat saja, bila kau enggan menerimanya maka putri Kim huan segera akan tewas secara mengerikan dihadapanmu. Heeeh.....heeeh.....heeeh.....aku tahu cinta kasih kalian berdua telah mendalam, aku yakin kalian tak akan sanggup menerima pukulan batin seberat ini."
Kim Thi sia termenung dan berpikir sebentar, tiba-tiba katanya.
"Lanjutkan kata-katamu."
"Kau maksudkan syarat yang ketiga?"
Tanya sipedang besi dengan perasaan girang, tapi diluar ia tetap bersikap dingin dan hambar.
"Padahal permintaanku ini lebih gampang lagi, kau cukup."
"Orang she Kim, kau berani memenuhi permintaannya......."
Teriak pemuda tampan itu amat besar.
Saking gusarnya sekujur badannya sampai gemetar keras, paras mukanya pucat pias, sorot matanya yang menatap Kim Thi sia penuh dengan pancaran sinar benci dan dendam.
Sesungguhnya ia sudah amat membanci Kim Thi sia, karena ia menganggap pemuda tersebut sebagai "musuh cinta"
Nya, apalagi setelah ada kejadian seperti ini, ia tak mampu lagi membendung semua rasa benci dan dendamnya yang menumpuk selama ini. Dengan geramnya dia berseru.
"orang she Kim, aku telah berupaya untuk mengendalikan diri dengan tidak menganggap sebagai musuh besar, siapa tahu sikapmu sangat mengecewakan hati. Baiklah, sejak kini."
Kim Thi sia hanya memandang sekejap kearahnya dengan pandangan dingin, ia tidak berbicara ataupun menjawab^ Pemuda tampan itu semakin semakin tak tahan teriakannya keras-keras.
"Hey orang she Kim, katakan sebenarnya beranikah kau menerima permintaannya?"
"Mengapa tidak?"
Jawab Kim Thi sia hambar. Sipedang besi tertawa keras, cepat-cepat serunya.
Baca Juga: Pedang Dan Kitab Suci 6
Baca Juga: Beruang Salju Sin Liong