Eps 8 Lembah Nirmala - Khu Lung
Baca online Lembah Nirmala - Khu Lung
Cersil Lembah Nirmala - Khu Lung.
"Siapa pula orang yang satunya? Aaaaai, sayang kegelapan mencekam seluruh permukaan tanah, sehingga sukar bagiku untuk melihat dengan lebih jelas."
Walaupun begitu namun dia bisa menebak secara pasti bahwa orang tersebut tentu bermusuhan dengan Dewi Nirmala.
Kalau tidak, tak mungkin orang kedua itu dibanting keraskeras keatas tanah dengan penuh amarah.
Dewi Nirmala membenahi rambutnya yang kusut dengan tangannya yang putih lembut jari jemarinya yang panjang dan ramping dengan kuku yang terawat rapi, menunjukkan bahwa perempuan ini mempunyai daya tarik yang luar biasa.
Diam-diam siunta menghela napas pikirnya.
"Siapa yang akan menyangka seorang perempuan cantik yang begitu menarik dan mempesonakan hati orang, sesungguhnya memiliki ilmu silat yang begitu hebat dan luar biasa."
Sementara itu Dewi Nirmala telah berkata.
"Selama dua hari terakhir ini orang-orang yang kukirim selalu terbunuh secara aneh, bukan saja tiada kabar beritanya. Bahkan jenasah merekapun dikubur orang secara rahasia. Peristiwa ini sangat menggusarkan hatiku sehingga tak segan-segan aku tinggalkan lembah untuk melakukan penyelidikan sendiri. Sekarang aku baru tahu, rupanya nirmala nomor sembilan, sepuluh dan sebelas telah dibunuh oleh sembilan pedang dari dunia persilatan."
"Siapa membunuh orang dia harus membayar dengan nyawa"
Ucap Nirmala nomor delapan cepat.
"Aku yakin sin cu pasti sudah menemukan sesuatu cara untuk menghadapi sembilan pedang dari dunia persilatan?"
Dewi Nirmala manggut-manggut.
"Yaa, aku sudah mulai melangkah dengan rencanaku itu."
Setelah menuding kearah orang yang tergeletak diatas tanah itu, terusnya.
"Dia adalah pedang bintang, satu diantara sembilan pedang dunia persilatan."
Kedua orang itu tidak berkomentar apa-apa mereka tetap membungkam diri dalam seribu bahasa. Tapi siunta yang menyadap pembicaraan tersebut menjadi sangat terperanjat, pikirnya tanpa terasa.
"HHmmm, kau belum tahu siapakah kesembilan pedang dari dunia persilatan itu. Berani amat kau menjalin tali permusuhan dengan mereka?"
Terdengar Dewi Nirmala berkata lagi.
"Hmmm, ternyata sembilan pedang dari dunia persilatan hanya begitu-begitu saja, buktinya sipedang bintang hanya mampu bertahan sepuluh gebrakan saja ditanganku."
Buktinya sipedang bintang sudah dipecundangi oleh perempuan tersebut, sekarang siunta baru kaget. Dia tak menganggap perempuan tersebut membual lagi. sementara itu Nirmala nomor tujuh telah berkata.
"Ilmu silat sin cu tiada tandingannya dikolng langit, sudah barang tentu sembilan pedang dari dunia persilatan bukan tandinganmu."
"Yaa benar"
Sambung Nirmala nomor delapan.
"Apabila sembilan pedang dari dunia persilatan berani memusuhi sin cu, maka ibaratnya telur diadu dengan batu, tak mungkin mereka bisa meraih kemenangan."
Tampaknya Dewi Nirmala amat senang dipuji dan disanjung orang, ia segera tertawa cekikikan setelah mendengar perkataan itu, katanya kemudian.
"Coba kau bebaskan jalan darahnya aku akan mengajukan beberapa pertanyaan kepadanya."
Nirmala nomor delapan tak berani berayal dengan cepat dia membebaskan sipedang bintang dari totokan-Berkilat sepasang mata sipedang bintang, tiba-tiba dia melompat bangun dari atas tanah dan melancarkan sebuah sapuan kilat kedepan.
Dengan gerakan tangannya yang lincah seperti ular Nirmala nomor tujuh menggulung serangan lawan secara manis, serunya singkat.
"Tenanglah sedikit"
Tahu-tahu sipedang bintang mengeluh dan roboh terjungkal keatas tanah.
Beberapa gerakan itu dilakukan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat yang sepintas, sebelum siunta mengetahui pasti apa yang terjadi, tahu-tahu sipedang bintang sudah roboh terjungkal.
sekarang dia baru menyadari akan kelihayan Dewi Nirmala, pandangan terhadapnyapun berbeda, kewaspadaannya ditingkatkan berapa kali lipat.
Pikirnya dihati.
"Anak buahnya saja sudah memiliki kepandaian silat selihay ini, apalagi dia sendiri? entah sampai dimanakah taraf kemampuan yang dimilikinya itu."
Sipedang bintang yang jalan darahnya telah dibebaskan kini sudah mampu untuk berbicara, sejak ia terhajar oleh Nirmala nomor tujuh hingga separuh badannya kesemutan agaknya dia sadar kalau kepandaian silatnya tak mampu mengungguli lawan, terpaksa dengan kening berkerut karena marah serunya penuh kebencian.
"Baik, baik, anggap saja sembilan pedang dari dunia persilatan telah jatuh pencundang ditangan kalian, bila punya nyali ayolah bunuh diriku. Bila ingin dihina....hmmm, tak nanti harapan kalian bisa terlaksana."
"Kau tak usah banyak ngebacot lagi"
Tukas Nirmala nomor tujuh dengan suara lantang.
"Kau tidak berhak untuk mengumbar kegaranganmu ditempat ini."
Habis berkata kembali tangannya diayunkan kedepan.
"Plaaaakkkkk"
Bekas lima buah jari tangan yang tajam melekat diatas pipi sipedang bintang. Dengan penuh kegusaran sipedang bintang segera berseru.
"Hey sobat, sebetulnya kau tahu aturan dunia persilatan tidak? Beginikah caramu terhadap seorang musuh?"
"plaaaaakkk, plooookkkk"
Kembali Nirmala nomor tujuh menempeleng wajah orang itu keras-keras, lalu serunya.
"suruh jangan banyak bicara, kau berani membangkang? HHmmm, kalau berani berbicara sembarangan lagi, hati-hati dengan wajahmu."
Sipedang bintang tak berani berkutik lagi, ia tahu banyak bertingkah dalam keadaan begini sama artinya dengan mencari penyakit buat diri sendiri, maka setelah melotot sekejap kearahnya dengan penuh amarah, diapun membungkam diri dalam seribu bahasa.
siunta yang menyaksikan semua peristiwa itupun mulai berpikir.
"Dilihat dari kegirangan Nirmala nomor tujuh tampaknya setiap musuh yang terjatuh ketangannya pasti akan mengalami nasib sial delapan keturunannya......."
Berpikir sampai disitu, diapun mulai menguatirkan keselamatan diri sendiri. selang berapa saat kemudian, ketika Dewi Nirmala menyaksikan pemuda itu sudah tenang kembali, dia baru bertanya pelan.
"suhumu?"
Pedang bintang mendongakkan kepalanya dan memandang sekejap kearahnya, lalu menjawab singkat.
"Tidak tahu."
"Apa tidak tahu"
Bentak Nirmala nomor tujuh keras-keras kembali dia menampar korbannya keras-keras. Pedang bintang teramat gusar hingga matanya melorot besar teriaknya lantang.
"Telur busuk, lebih baik bunuhlah aku"
Siunta yang mengikuti peristiwa itupun segera berpikir.
"suhunya sipedang bintang adalah Malaikat pedang berbaju perlente yang amat tersohor namanya didalam dunia persilatan, mungkinkah dia mempunyai ikatan dendam dengan si Dewi Nirmala hingga sekarang dia hendak melampiaskan rasa gusarnya kepada murid-muridnya? Kalau memang begitu perbuatan Dewi Nirmala jelas tak benar......."
Sementara dia masih berpikir, Dewi Nirmala telah berkata lagi.
"Nirmala nomor tujuh, disini tak ada urusanmu lagi, harap kau tinggalkan tempat ini."
Mendengar perkataan tersebut Nirmala nomor tujuh mengiakan dengan hormat kemudian membalikkan badan dan beranjak pergi dari situ.
sepeninggal orang itu, Dewi Nirmala baru berkata kepada sipedang bintang sambil tersenyum manis.
"Tabiatnya memang kurang baik, harap kau sudi memaafkannya."
"sudah cukup sabar aku membiarkan dia bertingkah"
Kata sipedang bintang sambil mendengus.
"Bila kalian menghinaku terus menerus. HHmmm, suatu hati, suheng te kami pasti akan membalaskan dendam bagiku."
Dewi Nirmala sebera tertawa.
"setelah aku berani membekukmu kemari tentu saja kamipun tidak takut dengan segala ancaman, kau tak usah memikirkan suhu balas dendam lebih dulu, paling baik jawablah semua pertanyaanku"
Kemudian setelah berhenti sejenak, ia bertanya lagi.
"sekarang Malaikat pedang berbaju perlente berada dimana?"
"sudah mati"
Sahut sipedang bintang sambil menundukkan kepalanya rendah-rendah.
"Bagus sekali"
Dewi Nirmala tersenyum.
"Kau masih terhitung jujur, padahal akupun sudah mendapat kabar tentang kematiannya, hanya belum berani memastikan-"
Kemudian setelah berhenti sejenak. kembali dia menambahkan-"Padahal manusia semacam dia memang pantas untuk mampus secepatnya."
Sipedang bintang sebera berteriak dengan marah.
"Hey jika kau berani menghina dan mencemooh guruku yang telah meninggal lagi. Jangan salahkan bila aku akan mencaci maki dirimu."
"Baiklah, terlepas dari persoalan tersebut aku ingin mengajukan sebuah pertanyaan lagi, setahuku, kepandaian silat yang paling diandalkan oleh Malaikat pedang berbaju perlente adalah Tay goan sinkang benarkah demikian?"
Mendengar nada pertanyaan perempuan itujauh lebih lembut dan lunak, sambil menahan hawa amarahnya pedang bintang menjawab.
"Benar"
Ilmu Tay goan sinkang tiada taranya dikolong langit, dia orang tua sering mengagumi kehebatan itu."
"Apakah Malaikat pedang berbaju perlente telah mewariskan ilmu Tay goan sinkang nyakepada murid-muridnya? Kau termasuk satu diantara sembilan pedang, apakah kaupun mewarisi kepandaian tersebut?"
"Tidak"
"Tidak......"
Gumam Dewi Nirmala, tiba-tiba nada pembicaraannya berubah lebih keras lagi dan mengandung nada amarah.
"Kenapa tidak? Apakah kalian ini bukan anak muridnya?"
"soal ini darimana aku bisa tahu?"
Sahut sipedang bintang tidak puas.
"Apa yang menjadi pemikirannya, darimana kami sebagai muridnya bisa memahami........"
"Tidak. diantara kalian pasti ada seseorang yang paling disukai, hanya saja persoalan ini tidak pernah diumumkan saja."
"Tebakanmu keliru besar, aku berani memastikan suhu tidak mewariskan ilmu Tay goan sinkangnya kepada siapapun"
"Kalau sampai ada?"
"Kalautoh kau tak mau mempercayai perkataanku, apa pula dayaku.......?"
Seru sipedang bintang tak senang hati. Mendadak timbul satu kecurigaan dihati kecilnya, dengan cepat dia balik bertanya.
"Aku benar-benar tak habis mengerti, pertanyaan yang kau ajukan selama ini selalu berkisar pada masalah ilmu Tay goan sinkang. sebenarnya apa maksud tujuanmu yang sebenarnya.....?"
"Maaf kalau aku tak sanggup menjawab pertanyaan tersebut, sebab aku hanya ingin bertanya, tak ingin menjawab. sudahkan kaupahami maksud hatiku itu?"
"Kalau begitu jangan harap aku memberi jawaban lagi kepadamu"
Seru pedang bintang mendongkol.
"Kini keselamatan jiwamu sudah berada ditanganku"
Ucap Dewi Nirmala hambar.
"Ketahuilah, siapa yang bisa menyesuaikan diri dengan keadaan, dialah seorang manusia pintar. Bila kau bersedia menjawab setiap pertanyaanku sejujurnya maka akan terbuka jalan kehidupan bagimu. Kalau tidak, hmmm, kaupasti bisa menduga bukan. Apa yang bakal dilakukan anak buahku terhadapmu."
Jilid 29
"Kalau begitu tanyalah"
Kata pedang bintang bintang.
Sesungguhnya dia bukan benar-benar "semangat jantan".
tapi terdesak oleh keadaan mau tak mau dia mesti menegur dengan hati panas.
Tapi sekarang, setelah dia dapat berpikir dengan pikiran dingin, ia berpendapat bahwa menyelamatkan jiwa sendiri adalah jauh lebih penting daripada persoalan apapun Begitulah, ketika Dewi Nirmala melihat korbannya telah memberikan tanggapan yang positif, diapun berkata lagi sambil tertawa genit.
"Ilmu Tay goan sinkang merupakan ilmu maha sakti didalam dunia persilatan, Malaikat pedang berbaju perlente sebagai pewaris kepandaian sakti ini sudah pasti tak akan rela ilmunya musnah dengan begitu saja. coba kau pikirkan kembali dengan seksama. Adalah diantara saudara-saudara seperguruanmu yang memiliki ilmu silat jauh lebih hebat dari pada rekan-rekan lainnya?"
Pedang bintang termenung berapa saat lamanya, mendadak seperti teringat akan sesuatu, ia segera berseru tertahan.
"Ya a, teringat aku sekarang, dia pasti Kim Thi sia. Yaa, pasti dia ia memiliki kepandaian silat yang tak mampu dipatahkan oleh siapa saja."
Sebagaimana diketahui, dia pernah bertemu satu kali dengan Kim Thi sia sehingga mengetahui juga kalau pemuda tersebut memiliki kepandaian silat yang amat tangguh, maka setelah berpikir sejenak.
la segera berpendapat bahwa orang itulah yang dimaksudkan.
"siapakah Kim Thi sia itu?"
Seru Dewi Nirmala dengan wajah berseri dan sikap lebih bersemangat.
"Dia adalah pedang yang mana diantara kalian? Kini ia berada dimana?"
"Ia bukan termasuk saudara seperguruan kami, tapi sering kali menyebut diri sebagai murid Malaikat pedang berbaju perlente. Aku sendiripun tidak tahu dimanakah ia berada sekarang, pokoknya dia termasuk orang kenamaan sehingga tak sulit untuk mencarinya."
Dalam pada itu siunta pun sedang berpikir dengan perasaan terkejut.
"Bocah keparat, rupanya kau telah mewarisi kepandaian rahasia dari Malaikat pedang berbaju perlente, tak heran kalau nyawamu begitu panjang dan tak pernah bisa dibikin mampus."
Kemudian pikirnya lagi.
"siapa yang mengira bahwa sesungguhnya dia berada dihadapannya. Aduh.....aku tak bisa memberitahukan soal ini kepadanya. Perempuan itu adalah seorang wanita berhati keji. Aku tak akan salah melihat orang."
Dipihak lain, Dewi Nirmala telah berpaling kearah Nirmala nomor delapan sembari berkata.
"Coba kau carikan manusia yang bernama Kim Thi sia itu, selidiki jejaknya dalam waktu yang paling singkat kalau gagal. Hmmm, akan kuhadapi dirimu dengan peraturan lembah kita."
"Nirmala nomor delapan menerima perintah"
Sahut Nirmala nomor delapan dengan suara dalam. Dewi Nirmala segera berpaling lagi kearah pedang bintang seraya bertanya.
"Kau benar-benar tidak mengetahui jejak Kim Thi sia?"
"Benar-benar tidak tahu."
"Baiklah"
Dewi Nirmala segera tersenyum genit.
"Apa yang ingin kutanyakan telah kutanyakan semua. Kau boleh pergi sekarang."
Pedang bintang menjadi kegirangan setengah mati sesudah mendengar perkataan itu. Namun diluar wajahnya sama sekali tidak menimbulkan perubahan apapun. sesudah manggut-manggut segera katanya .
"Pemberian nona pada hari ini tak pernah akan kulupakan. Dikemudian hari kebaikan anda pasti akan kubalas, selama gunung nan hijau, air tetap mengalir, sampai berjumpa lain saat."
Selesai berkata dia segera beranjak pergi dari situ dengan langkah lebar.
Baru saja berjalan berapa langkah, tampaknya dia sudah tak mampu mengendalikan rasa ngeri dan takutnya lagi mendadak ia berpekik nyaring.
Ditengah pekikan tersebut ujung kakinya segera menjejak tanah dan meluncur kedepan dengan kecepatan luar biasa.
Memandang bayangan punggungnya yang menjauh, Dewi Nirmala mendengus dingin, mendadak dia berkata.
"Manusia bedebah yang tak tahu diri berani meninggalkan kata-kata untuk mencari balas."
Mencorong sinar tajam dari balik matanya selesai mengucapkan perkataan tersebut, tiba-tiba dia mengayunkan telapak tangannya kedepan.
Waktu itu sipedang bintang sudah tiga kaki meninggalkan permukaan tanah sambil berjumpalitan beberapa kali ditengah udara.
Belum jauh dia melarikan diri, tahu-tahu telapak tangan Dewi Nirmala telah diayunkan kemuka.
selisih jarak kedua belah pihak telah mencapai lima kaki waktu itu, tiba-tiba terdengar sipedang bintang mendengus tertahan lalu roboh terjungkal keatas tanah.
Akhirnya setelah berkelejitan berapa kali ia menghembuskan napas panjang dan tidak pernah bangkit kembali.
Dengan sebuah kebutan yang begitu ringan tahu-tahu Dewi Nirmala telah berhasil membinasakan pedang bintang dari sini bisa terlihat betapa sempurnanya tenaga dalam yang dimilikinya.
siunta yang bersembunyi diatas pohon nyaris menjerit tertahan saking kagetnya.
Masih untung dia memiliki ketenangan yang luar biasa, coba bukan begitu niscaya dia akan mengalami nasib strategis sipedang bintang.
"Betul-betul berhati keji bagaikan ular berbisa, keji bagaikan ular berbisa......."
Gumamnya dengan suara gemetar.
sementara itu Dewi Nirmala sudah berjalan mendekat dengan langkah pelan, dia cabut keluar pedangnya dari pinggang lalu diayunkan kedepan kuat-kuat, pedang tersebut segera menembusi batang pohon hingga tinggal gagangnya.
"siapa membunuh orang, dia harus membayar dengan nyawa"
Kata perempuan itu dingin.
"tiga orang anak buahku telah menemui ajalnya, maka kaupun jangan harap bisa pulang dengan selamat"
Walaupun perkataan tersebut diucapkan dengan kata-kata yang manis, namun yang manis hanya diluarnya sementara didalamnya justru mengandung racun jahat yang mengerikan hati.
Dibawah sinar rembulan, terlihat tiga sosok bayangan manusia berkelebat lewat dengan kecepatan luar biasa, dalam waktu singkat bayangan tubuh mereka sudah lenyap dari pandangan mata.
Menanti orang-orang itu sudah pergi jauh, siunta baru menghembuskan napas panjang.
Tapi sekarang dia belum berani turun kebawah, serasa baju terlepas dari cengkeraman harimau, dia merasakan seluruh badannya lemas tak bertenaga.
Menanti awan hitam telah menyelimuti seluruh rembulan, dia baru turun dari atas pohon dengan langkah pelan.
Pertanyaan pertama yang timbul kemudian adalah masih hidupkah Kim Thi sia.
seandainya dia tidak menotok jalan darah pemuda tersebut, paling tidak ia masih memiliki kemampuan untuk memberi perlawanan, mati hidupnya juga merupakan tanda tanya besar.
Kedua, dia kasihan dengan nasib Lu Ci, kemungkinan besar telah menemui ajalnya pula.
sampai lama sekali, siunta tetap berdiri termangu-mangu dengan pikiran serta perasaan yang amat kalut.
Bintang bertaburan diangkasa, angin malam berhembus makin dingin.
Memandang dua sosok mayat yang tergeletak diatas dahan.
siunta merasakan hatinya berdebar keras, perasaan aneh tiba-tiba saja muncul dan menyelimuti perasaannya.
Dengan termangu-mangu dia bersandar diatas dahan pohon, sementara benaknya dipenuhi bayangan Dewi Nirmala yang kejam.
Tak lama kemudian iapun tertidur tanpa terasa, tidur karena letih yang luar biasa.
Ketika fajar mulai menyingingsi dan ia disadarkan dari tidurnya oleh embun yang basah, delapan jam telah dilewatkan tanpa terasa.
Tiba-tiba saja dia merasa gerak geriknya menjadi lamban, bahkan susah untuk digerakkan sekehendak hatinya.
Bagi perasaan seorang jago silat yang tajam, hal mana sangat mengejutkan hatinya.
Dengan cepat ia membuka matanya sambil menengok.
tapi apa yang kemudian terlihat seketika membuatnya amat terkesiap hingga peluh dingin jatuh bercucuran.
Kim Thi sia telah berdiri dihadapannya sambil bertolak pinggang ketika melihat dia sadar dari tidurnya, dengan penuh amarah umpatnya.
"Tua bangka jelek akhirnya kau terjatuh juga ketangan toaya. Nah kalau ingin berkentut sekarang, lekaskan kentutmu secepatnya, daripada toaya mesti banyak bicara."
Dia adalah orang yang pintar, menghadapi pertanyaan tersebut mulutnya tetap membungkam, tapi hatinya segera berpikir.
"Mungkinkah semalam aku bermimpi? sudah jelas orang ini mampus ditangan anak buah Dewi Nirmala, kenapa sekarang bisa hidup kembali? Aaaai....rupanya Lu Ci sitelur busuk inipun belum mati. Hmmm gayanya yang menyebalkan sungguh menjengkelkan hati, tapi........apa yang sebenarnya telah terjadi?"
Biarpun dia cukup berpengalaman, toh kali ini pikirannya dibuat kalut oleh keadaan tersebut.
Rupanya Kim Thi sia menjadi sangat mendongkol melihat kejadian itu dengan geramnya dia menepuk bahunya keras-keras lalu mengumpat.
"Maknya tua bangka celaka, siapa suruh kau geleng-gelengkan kepala? Kalau ada pesan terakhir ayoh cepat utarakan toaya sudah tak sabar lagi menanti."
Melihat tubuh sendiri sudah diikat diatas dahan pohon bagaikan bakcang, jangan lagi bergerak bahkan untuk bernapaspun tak mampu.
Ia segera sadar bahwa tiada kekuatan lagi baginya untuk melawan maka sambil tertawa menyengir katanya.
"Hey bocah kunyuk. apa-apaan kau ini? Kita sebagai sesama saudara toh selalu berhubungan akrab, kenapa kau mempermainkanku tatkala aku sedang tertidur?"
"semalam toaya sudah cukup puas kau permainkan"
Seru Kim Thi sia dengan mendongkol.
"Maka sekarang adalah giliran toaya untuk mempermainkan dirimu nah apa salahnya kalau aku berbuat begitu? Hey tua bangka sialan, tentunya kau tak pernah menduga akan menjumpai peristiwa seperti hari ini bukan?"
Kembali siunta tertawa.
"saudara cilik, kau jangan marah dulu tolong beritahu kepada engkoh tuamu bagaimana caramu untuk mempertahankan hidup?"
"oooh, jadi kau anggap aku sudah mampus?"
Teriak Kim Thi sia berang, kemudian sambil menepuk dadanya dia berseru.
"Hmmm, kalau begitu aku perlu memberitahukan soal ini kepadamu. Ketika orang itu menendang jalan darah siau yau hiat ku tadi, secara kebetulan justru membebaskan diriku dari pengaruh totokanmu. Nah coba kaupikirkan sendiri, kenapa aku tak bisa hidup terus?"
Dengan perasaan tak habis mengerti siunta berkata.
"Dengan mata kepala sendiri aku saksikan tendangannya membuat tubuhmu mencelat sejauh tiga kaki lebih. Aku yakin biar dewapun pasti terluka oleh serangan tersebut, kenapa kau justru tetap sehat walafiat saja?"
"Maknya, apa sih engkoh tua engkoh muda?"
Umpat Kim Thi sia sangat mendongkol.
"Justru karena tendangan orang itu kelewat keras, maka hingga kentongan keempat semalam, kekuatanku sudah pulih kembali. Coba bukan begitu, sedari tadi aku sudah merasakan siksaanmU."
"Yaa benar-benar maknya siunta ini"
Sela Lu Ci.
"Secara diam-diam kau telah menotok jalan darahku, membuat aku tersiksa setengah malaman".
"Terus terang saja, aku tidak berniat mencelakai kalian"
Kata siunta dengan nada minta maaf.
"Tapi kedatangan orang-orang itu kelewat garang, sehingga mau tak mau aku harus menyembunyikan diri lebih dulu. Akibatnya hampir saja kalian berdua kehilangan nyawa. Ya a bicara terus terangnya memang akulah yang bersalah."
Habis berkata dia hendak menunjukkan mimik muka ingin meminta maaf kepada mereka. Kim Thi sia tak mampu menahan diri lagi, dia segera melompat bangun dan berteriak keras.
"Hey situa bangka, kau jangan harap bisa membujuk kami dengan kata-kata manismu. Maknya, hari ini aku wajib memberi pelajaran yang setimpal kepadamu."
Seraya berkata, dia segera mengayunkan kepalanya dan menghantam dada siunta keras-keras.
"Duuuukkkk. Dengan perawakan tubuh siunta yang kecil, bagaimana mungkin dia sanggup menahan pukulan yang keras itu, kontan saja dia menjerit kesakitan dan segera roboh terjungkal keatas tanah. Tapi berhubung tubuhnya terikat kencang, maka biarpun dia ingin merontapun tak ada gunanya. Kontan saja dia mencaci maki kalang kabut.
"sudah, sudahlah, bocah keparat, perbuatanmu ini cepat atau lambat pasti akan dibalas oleh saudara-saudaraku."
"Thi sia, jangan kau percayai perkataannya"
Teriak Lu Ci cepat.
"Dia tak punya saudara, selama ini dia malang melintang seorang diri"
Kim Thi sia tertawa dingin.
"Hmmm, sekalipun dia betul-betul punya saudara yang berkepala tiga lengan enampun aku tak ambil perduli, saudara Lu Ci, tidak sedikit kerugian yang kau alami ditangannya, kenapa kau tidak memanfaatkan kesempatan yang sangat baik ini untuk menghajarnya habis-habisan. Toh biar dipukul sampai mampuspun tidak menjadi masalah."
Lu Ci yang berpikiran sederhana tidak ragu-ragu lagi setelah mendengar perkataan itu, ia segera mengayunkan kepalannya yang besar dan langsung dihantamkan kedada siunta.
Tak ampun siunta terhajar hingga mirip anjing menjilat tahi, dia bergidik sendiri hingga tak mampu berbuat banyak lagi.
sadar kalau orang yang dihadapinya sekarang adalah orang-orang kasar yang tak tahu aturan, dia percaya biar digunakan kekerasanpun tak ada gunanya maka kepada Kim Thi sia rengeknya.
"saudara tua, sekalipun tidak memandang diatas wajah pendeta, hargailah wajah sang Buddha. Jangan lagi diantara kita sudah terjalin hubungan yang cukup akrab, berbicara soal usiapun aku sudah tak mampu menahan gebukan semacam ini, siapa tahu kalau kau menggebuk sekali lagi, akus segera akan mampus? Lote, sudilah memandang pada hubungan kita sebagai sahabat tua, ampuni diriku kali ini. Lain waktu aku tak akan mengganggu lote lagi......"
"Hey unta, panggil aku ayah, akan kuampuni jiwamu."
"Ya betul, betul"
Seru Lu Ci sambil tertawa tergelak.
"Asal kau memanggil ayah kepada kami, kamipun tak akan menggebuki dirimu lagi."
Sembari mengatupkan kelopak matanya siunta menghela napas panjang, katanya.
"Lote, tidak seharusnya kau menyuruhku berbuat begitu, bagaimanapun juga sudah puluhan tahun lamanya aku berkecimpungan didalam dunia persilatan, biar tak becuspun masih terhitung seorang jagoan. Masa kalian menyuruhku melakukan perbuatan yang begini memalukan? Bagaimanapun jua kalian mesti memikirkan masa depanku"
Tampaknya persoalan tersebut amat memedihkan hatinya, dengan air mata bercucuran katanya lebih jauh.
"Lote, apakah aku salah melihat orang. selama ini aku selalu menganggap kalian sebagai sahabat karibku. Tak disangka.....aaaaai, ternyata kalian memaksaku untuk memanggil ayah kepada kalian."
Kim Thi sia paling takut melihat orang melelehkan air mata, sekalipun dia tahu kalau siunta adalah orang licik dan air matanya empat puluh persen hanya tangisan palsu.
Namun setelah menyaksikan adegan tersebut tak urung perasaannya menjadi lemah juga.
sementara itu air mata masih jatuh bercucuran membasahi wajah siunta, dengan suara yang parau dia berkata.
"Lote, bunuhlah aku. Bila kau memaksaku untuk melakukan perbuatan seperti ini, lebih baik aku beristirahat dialam baka saja."
"saudara Thi sia, dia sedang pura-pura nangis, kau jangan sampai dapat terpengaruh olehnya"
Buru-buru Lu Ci memperingatkan.
"Unta"
Kim Thi sia segera berseru.
"kau pun termasuk seorang lelaki sejati, sebagai seorang lelaki tidak seharusnya kau menangis secara begitu mudah, kenapa sih lagakmu macam banci saja?"
Berbicara sampai disini, tiba-tiba dia mendapatkah satu akal, segera serunya.
"Hey unta, aku adalah seorang yang paling suka membalas seseorang dengan mempergunakan cara yang sama. Waktu kau menangkapku tadi, kau bersikeras hendak memerasku untuk membayar uang tebusku sebesar lima ratus tahil perak. Maka sekarang akulah yang telah menangkapmu, karena itu kaupun mesti membayar lima ratus tahil perak sebagai uang tebusannya.."
Mendengar perkataan itu, siunta segera berhenti melelehkan air mata, dengan perasaa terkejut dia berseru.
"Apa? Kau hendak menarik lima ratus tahil sebagai uang tebusan? Waaah.....lagakmu seperti singa yang mementangkan mulut lebar-lebar, kau anggap jiwa miskinku laku lima ratus tahil perak? oooh lote, memandang diatas wajah Thian, ampunilah aku kali ini."
"Maknya, aku sudah tahu kalau kau menganggap uang seperti nyawa sendiri Baru kusinggung soal uang, aku sudah hampir menangis."
Lu Ci segera meludah sambil berkata pula.
"Didalam sakunya tentu banyak uang, sekalipun kita minta lima ratus tahlipun tidak bakal membuatnya miskin saudara Thi sia, aku rasa begininya saja. Kalau toh uang yang berada dalam sakunya diperoleh dengan cara tidak halal, kenapa kita tidak merampoknya habis-habisan agar ia bisa melakukan banyak amal bisa bersama orang miskin dikemudian hari?"
Berubah hebat paras muka siunta sesudah mendengar perkataan itu, kontan saja dia mengumpat.
"Lu Ci, kau sitelur busuk anak kura-kura. Bacotmu bau dan pintar mengada-ngada. Dalam penetisan mendatang kau pasti dijelmakan sebagai seekor anjing budukan."
Sementar itu Kim Thi sia sudah manggut-manggut sambil tertawa, sahutnya.
"Bagus sekali, kalau begitu mari kita turun tangan."
Lu Ci segera berjongkok dan tanpa sungkan-sungkan lagi dia merogoh kedalam saku siunta serta menggerayangi semua benda yang berada disitu.
sepasang mata siunta nampak merah berapi-api.
Giginya saling gemurutukan keras, jelas rasa bencinya telah merasuk sampai kedalam tulang.
Tak selang berapa saat kemudian......
secara beruntun Lu Ci telah mengeluarkan banyak sekali barang, seketika itu juga Kim Thi sia mencoba untuk mengamati dengan seksama, ternyata diantara benda-benda itu terdapat uang perak.
uang kertas mutiara, batu permata, dan aneka macam benda mestika yang tak ternilai harganya.
Menurut penilaian Kim Thi sia sepintas lalu, benda-benda yang berhasil dikeluarkan dari saku siunta mencapai berapa laksa tahil.
sambil tertawa dingin Lu ci segera berseru.
"Aku hanya tahu dia kaya sekali, tak kusangka kekayaannya berlimpah-limpah dan amat mengejutkan hati."
Rasa benci siunta benar-benar sudah merasuk kedalam tulang, ketika mendengar perkataan itu, kembali dia mengumpat.
"Lu Ci, kau dilahirkan oleh kura-kura perbuatan salah apa sih yang pernah kuperbuat terhadapmu? Kenapa kau bersekongkol dengannya merampok hartaku?"
"Hmmmm, kau masih punya muka untuk berkata begini. Aku pingin tahu, dari mana kau dapatkan semua harta kekayaan itu merupakan hasil yang kutabung sepanjang hidupku, kau jangan menduga yang bukan-bukan."
Kim Thi sia mendengus dingin-"Hmmmm, kau masih mencoba untuk membantah?
Dari sikapmu dalam menghadapi Lu Ci.
Aku sudah tahu kalau harta kekayaanmu berasal dari jalan tak halal, bagaimanapun jua, aku tak bakal tertipu oleh tipu muslihatmu........."
Mendadak sorot matanya berhenti diatas hancuran perak milikinya yang berserakan diantara intan permata, kontan saja umpatnya lagi.
"Kau betul-betul kere setengah mati sampai hancuran perak milikkupun menarik minatmu. Hmmmm, dari sini dapat diketahui sampai dimanakah tabiatmu yang sebenarnya."
Merah padam selembar wajah siunta, cepat-cepat dia pejamkan rapat-rapat dan berlagak tidak mendengar perkataannya.
Dengan gerakan cepat Lu Ci membungkus semua harta rampasannya kedalam secarik kain.
setelah diikat kencang-kencang, ujarnya.
"Segala sesuatunya sudah beres, saudara Kim mari berangkat."
"Baik"
Kim Thi sia manggut-manggut.
"Mari kita membawa serta dirinya......."
Seraya berkata tiba-tiba saja dia menotok jalan darahnya, menyusul kemudian melepaskan siunta dari belenggu.
Kemudian satu dari kiri yang lain dari kanan membawanya pergi kearah barat.
sepanjang jalan siunta menunjukkan sikap yang amat tenang, kecuali Kim Thi sia atau Lu ci mengajukan pertanyaan kepadanya diapun tidak banyak berbicara.
orang ini memang cerdik sekali, setelah sadar kalau dirinya terjatuh ketangan lawan, sehingga banyak persoalan tak mungkin bisa dilakukan sendiri, diapun tidak banyak cincong.
Tapi membiarkan kedua orang tersebut berbuat untuknya.
Tiga puluh li kemudian, sampailah mereka bertiga dikota Liong gan sia.
Kota tersebut merupakan pusat perdagangan sehingga kota amat ramai dengan manis ia yang berlalu lalang.
Lu ci sering kali melewati kota ini sehingga dia mengenali sekali seluk beluk kota tersebut, karena waktu itu mereka tak ada urusan penting.
Maka diajaknya Kim Thi sia sekalian pergi menonton sebuah pertunjukkan sandiwara.
Bagi Kim Thi sia, pertunjukkan tersebut dianggap suatu yang aneh sekali, karena perasaan ingin tahu, bersama Lu ci berangkatlah mereka menuju ketempat pertunjukkan itu dan menanti diadakannya tontonan.
siunta duduk pula disisinya dengan tenang, sementara sepasang matanya berputar entah sedang memikirkan akal muslihat apa.
Tapi Kim Thi sia percaya, dia tak akan mampu berbuat apa-apa, karena jalan darahnya sudah ditotok.
Berapa saat sudah lewat, pertunjukkan belum juga dimulai.
sementara penonton yang berdatangan semakin banyak.
sampai akhirnya kursi yang tersedia sudah mulai penuh dan suara hiruk pikuk memekikkan telinga.
saat itulah Kim Thi sia baru menganggap "tontonan"
Ini suatu permainan yang tidak sederhana.
Berapa saat kemudian, seorang yang mengenakan jubah sutera munculkan diri dari balik panggung.
Disusul kemudian suara gembrengan pun dibunyikan ramai sekali, layar kuning selebar berapa kakipun pelan-pelan ditarik kesamping.
Kim Thi sia menyaksikan panggung itu tetap kosong dan tak terlihat seorang manusia pun, tanpa terasa pikirnya.
"Huuuh, apanya yang menarik. mungkinkah yang dinamakan tontonan adalah permainan gembrengan dari orang-orang yang berada ditesi panggung itu."
Sementara itu suara gembrengan dan tambur berkumandang makin keras dan cepat.
suaranya bagaikan ada seribu prajurit yang sedang teriibat dalam suatu pertarungan sengit.
Kim Thi sia mulai mendongkol dan tak sabar, pikirnya.
"Huuuh, berisik amat. Suara gembrengan dan tambur yang dibunyikan macam orang mau berangkat perang. Apakah tontonan begini yang disukai banyak orang? IHmmm, yaaa, aku tahu sekarang. Sudah pasti hanya orang edan yang gemar menonton pertunjukkan semacam ini."
Dia mencoba berpaling kesamping, dilihatnya siunta sedang memperhatikan keatas panggung tanpa berkedip.
Wajahnya amat serius dan kelihatan asyik menonton maka tanpa terasa diapun berpaling kearah panggung.
Entah sedari kapan, ternyata diatas panggung telah muncul seorang lelaki berjubah periente yang bermuka bopeng.
Dengan langkah lebar sibopeng beejalan ketengah panggung dan menjura keempat penjuru, lalu serunya dengan suara parau.
"Selamat datang saudara-saudara sekalian-"
Kemudian dia membalikkan badan dan duduk disebuah kursi sambil mengelus jenggot dan memandang keangkasa, sikapnya angkuh dan acuh tak acuh, membuat Kim Thi sia semakin masgul melihatnya.
Disamping itu, muncul pula kecurigaan didalam hatinya, buru-buru dia bertanya kepada Lu ci.
"Saudara Lu, tenaga dalam yang dimiliki orang ini hebat sekali dari perkataannya barusan, dapat diketahui ia memiliki tenaga yang hebat. Bukankah begitu?"
Sambil tertawa Lu Ci menjawab.
"si bopeng tak pernah belajar silat suaranya nyaring merupajan hasil latihan selama bertahuntahun sedang ucapannya tadi merupakan pembukaan dari tontonan ini, sudah kau jangan mengusik terus."
Setengah mengerti setengah tidak Kim Thi sia manggut-manggut diapun tidak banyak bertanya lagi.
Kuatir dianggap Lu Ci sebagai orang dusun yang bodoh.
selang berapa saat kemudian suara gembrengan dibunyikan makin keras baru saja Kim Thi sia tak sabar menanti, tiba-tiba dari balik panggung muncul kembali dua orang manusia.
Yang berada didepan memakai baju ringkas berwarna merah dengab sepasang pedang tersoren dipunggung langkahnya berat dan mantap.
Kim Thi sia segera berpikir kembali.
"Pemuda ini gagah perkasa dan mantap langkahnya Jelas dia adalah seorang tokoh kenamaan dalam dunia persilatan."
Orang kedua bermuka merah, berambut panjang dan mempunyai dua gigi taring berwarna kuning, ditambah jubahnya hitam ikat pinggangnya merah, membuat dandanannya kelihatan tak genah.
Ia segera bertanya kepada Lu ci.
"Jagoan darimana sih manusia itu, rasanya belum pernah kujumpai dandanan seperti itu"
"Dia adalah panglima andalan dari siperampok kuda ui yang disebut Hek sat koay, siluman bengis bermuka hitam."
Kim Thi sia berpikir sebentar, lalu katanya seraya menggeleng.
"Heran, kalau toh dia berani munculkan diri diatas panggung sudah pasti namanya cukup termashur didalam dunia persilatan mengapa aku belum pernah mendengar nama Hek sat koay tersebut?"
"Siperampok kuda Ui maupun Hek sat koay adalah jago-jago kenamaan pada lima ratus tahun berselang, darimana kau bisa tahu?"
Mendengar perkataan tersebut, Kim Thi sia jadi terkejut dan cepat-cepat melompat bangun, teriaknya.
"Apa? Manusia itu sudah termashur sejak lima ratus tahun berselang? Kalau begitu dia sudah menjadi siluman?"
Lu Ci mengawasi rekannya dengan termangu, dia tidak mengerti apa maksud perkataan itu. Tiba-tiba terdengar orang yang berada dibelakangnya berteriak.
"Hey, duduk. duduk Jangan menutupi penglihatan kami."
Buru-buru Kim Thi sia duduk kembali, sementara benaknya dipenuhi dengan pelbagai pikiran, dia benar-benar tak habis mengerti.
orang yang nampaknya baru berusia lima puluh tahunan, kenapa bisa berubah menjadi Hek sat koay yang telah berusia lima ratus tahun?
Dalam pada itu diatas panggung sudah berlangsung tanya jawab.
sibopeng berkata dengan suara dalam.
"saudara, ada urusan apa anda datang kemari disenja ini?"
Kim Thi sia segera menjadi melongo seingatnya saat ini baru tengah hari.
Kenapa orang dipanggung mengatakan sudah senja?
Mungkinkah mereka hidup kelewat lama didunia ini sehingga suasanapun menjadi kacau dalam pandangan mereka?
Tampak Hek sat koay menjura sambil berkata.
"Secara kebetulan saka aku lewat di Tay goan sehingga sekalian datang berkunjung kemari."
Begitu ucapan diutarakan suara gembrenganpun berhenti berbunyi disusuk kemudian tampak pemuda gagah tadi berlutut sambil berkata.
"Aku yang muda ui liang heng sudah lama mengagumi nama toaya. Hari ini sengaja aku datang mengunjungi cay cu sekalian menyampaikan salam."
Tak lama kemudian terdengarlah suara perempuan berseru keras.
"Ayah, jangan marah. Ananda terpaksa pulang malam.........."
Menyaksikan kesemuanya itu Kim Thi sia menjadi melongo dan kebingungan, dengan mata melotot dia berpikir.
"Aneh, aneh, sesungguhnya mereka yang sudah sinting ataukah aku yang sudah gila? sekarnag baru tengah hari, tapi mereka justru bilang sudah senja. Malah siperempuan itu mengatakan pulang malam.. .....gila......gila semua aku benar-benar tak habis mengerti. Apa ulah silumansiluman berusia lima ratus tahun ini?"
Dia mencoba memperhatikan Lu Ci dan siunta, bahkan hampir semua penonton mengikuti setiap kejadian dipanggang dengan seksama.
seakan-akan mereka kuatir kalau sampai ketinggalan setiap adegan yang terjadi.
"Maknya......."
Umpat Kim Thi sia dihati.
"Hebar betul kesadaran orang-orang itu untuk mengikuti kejadian dipanggang. Huuuh, benar-benar sebuah siksaan hidup."
Tiba-tiba terdengar Lu Ci bergumam.
"Nah, sinona besar telah muncul. sudah pasti dia yang menguasahi seluruh panggung benarbenar asyik. Benar-benar asyik."
Ketika Kim Thi sia memperhatikan kembali keatas panggung, disitu telah muncul seorang nona yang berbaju sutera, berdandan medok dengan usia antara dua puluh delapan tahunan.
Yang paling tak sedap dilihat adalah sepasang matanya yang besar dan jeli justru diberi cat warna dibawah kelopak matanya.
Mukanya dibedaki tebal dan bibirnya diberi gincu tebal.
Hal ini membuat seorang gadis yang sesungguhnya menarik berubah macam perempyan siluman saja.
"Huuuh, tampaknya lebih jelek daripada monyet. Heran siapa yang mendandaninya hingga macam begitu? orang itu mesti dihajar habis-habisan"
Pikir Kim Thi sia.
Tak lama kemudian musik bergema dan perempuan itupun menari sambil menyanyi yang disambut tepuk tangan riuh dari penonton.
Hanya Kim Thi sia seorang menutupi telinga sendiri dengan jari tangan.
Hati masgul dan tak gembira, diam-diam ia menyalahkan Lu Ci yang tidak seharusnya mengajaknya kemari hingga dia mesti merasakan siksaan hidup, Ia mencoba berpaling, melihat Lu Ci pun turut bertepuk tangan dengan gembira, tiba-tiba saja timbul amarah dihatinya.
Dengan suara keras segera bentaknya.
"Hey Lu Ci, kalau kau berani bertepuk tangan lagi, jangan salahkan kalau aku akan menggebukmu"
"saudara Kim apa kau bilang?"
Seru Lu Ci agak tertegun-"Jangan bertepuk tangan atau aku tak akan menganggap dirimu sebagai teman lagi"
Ancaman Kim Thi sia semakin mendongkol.
Lu Ci tidak habis mengerti apa yang terjadi.
Melihat rekannya bermuka macam dia pun tak berani melanggar keinginannya dan segera berhenti bertepuk tangan-Kim Thi sia segera bergumam.
"Lu Ci, perasaanku kurang baik, maafkan diriku."
Selesai berkata, ia segera bersandar dikursi dan tertidur nyenyak.
Entah berapa lama sudah lewat, suara gembrengan yang amat keras mengejutkan dia dari tidurnya.
Ketika membuka matanya kembali, dia saksikan banyak orang sedang mengucurkan air mata.
Apa yang terlihat membuat rasa kantuknya hilang seketika, dengan perasaan terkejut bercampur keheranan dia bertanya kepada Lu Ci.
"Hey, sebenarnya apa yang terjadi, kenapa kalian semua......"
Kata-kata itu tak sanggup dilanjutkan kembali, ternyata wajah Lu Cipun sudah dibasahi oleh butiran air mata.
Lu Ci adalah sahabatnya, tentu saja dia lebih menguatirkan dirinya, dengan suara dalam segera tegurnya dengan nada dalam.
"saudara Lu Ci, siapa yang telah menganiaya dirimu? Biar aku balaskan dendam bagimu."
Sambil berkata dia mencoba memperhatikan keadaan disekitar situ, namun yang tampak hanya wajah-wajah yang sedih, tak seorangpun menunjukkan wajah "bengis"
Atau "buas". sementara dia masih keheranan, Lu Ci telah menunjuk kearah panggung seraya berkata lagi.
"Aaaai, sianak durhaka itu benar-benar kejam, neneknya sudah berusia delapan puluh tahun, lagipula menderita sakit encok yang berat. Tapi dia masih begitu kejam dan tega untuk mencambuki tubuhnya."
Kim Thi sia segera berpaling kearah panggung.
Betul juga dia saksikan seorang lelaki setengah umur sedang mencambuki seorang nenek berambut putih sambil tertawa licik, sementara sinenek memeluki kakinya sambil menangis dan meminta ampun.
Tapi lelaki setengah umur itu benar-benar berhati jahat, sambil tertawa dingin dia mencambuk terus tiada hentinya.
Empat orang centeng dan seorang gadis menangis sambil berdiri ketakutan disisinya.
Ternyata tak seorangpun yang berani melerai.
Melihat adegan itu, timbul hawa amarah didalam hati Kim Thi sia, pikirnya tanpa terasa.
"Kurang ajar, ditengah hari bolong pun terdapat manusia bagaikan binatang yang berani menghajar orang tua semaunya sendiri. Aku sebagai seorang pendekar tak boleh berpeluk tangan saja, akan kuberi pelajaran yang setimpal kepadanya."
Apa yang terpikir dilakukan, tiba-tiba dia melompat bangun dan lari menuju kepanggung.
Lu Ci berniat memanggilnya tapi tak berhasil, terpaksa dia hanya mengawasi bayangan punggungnya dengan termangu.
sementara itu para penontonpun dibuat tertegun oleh peristiwa yang terjadi sangat mendadak dan diluar dugaan itu Kini Kim Thi sia langsung melompat naik keatas panggung dan mencengkeram lelaki setengah umur yang berperan sebagai anak durhaka itu, kemudian tanpa ditanya pa atau bu, ia langsung menghajarnya sampai babak belur.
Dalam waktu singkat orang itu sudah menjerit-jerit kesakitan dan bergulingan diatas tanah.
sampai rasa mendongkolnya sudah mereda, lelaki setengah umur itu telah berada dalam keadaan tak sadar.
suasana menjadi gaduh dan heboh, disusul kemudian dari balik panggung bermunculan aneka ragam manusia, ada pendetanya, tosu siucay, buan, perempuan tua, gadis muda dan aneka ragam lainnya.
sambil munculkan diri, orang-orang itu berteriak.
"Hey, bagaimana sih kamu ini? kenapa memukul orang secara sembarangan?jangan dianggap tiada hukum negara yang berlaku disini sehingga kau boleh memukul orang secara sembarangan-"
"Kentut anjingmu"
Umpat Kim Thi sia marah.
"Kalian sendiri hanya berpangku tangan tanpa menolong melihat kesusahan orang. sekarang berani mencaci maki diriku. Hmmm, kalau toaya sudah marah, akan kubakar gedung kalian sampai ludas."
Tiba-tiba sinenek yang dihajar oleh "anak durhaka"
Itu melompat bangun, lalu sambil menuding kearahnya, dia mengumpat.
"Anak muda yang tak tahu urusan, kenapa kau memukul orang secara sembarangan? Apakah kau tidak takut dengan petugas negara?"
Nenek itu semakin marah.
"Ngaco belo, inikan cuma permainan sandiwara. Dipukul pun bukan dipukul secara sungguhan, kenapa kau justru melukai orang lain? Benar-benar menjengkelkan"
Sambil berkata dia segera menarik rambut sendiri hingga terlepaslah rambutnya yang berubah itu. Ketika Kim Thi sia mengamati dengan seksama dia makin terperanjat lagi, teriaknya amat terkejut.
"Aaaaah, rupanya kau seorang pria?"
"Enyah kau dari sini"
Umpat pria tersebut marah.
"Sedikitlah tahu diri, kau harus mengerti, kami yang mencari sesuap nasi dengan mengadakan pertunjukkan ini bukan manusia yang bisa dipermainkan dengan semaunya."
Mimpipun Kim Thi sia tak pernah menyangka kalau dalam waktu singkat telah terjadi perubahan sebanyak ini, untuk sesaat dia menjadi tertegun dan tak mampu mengucapkan sepatah katapun-Dengan cepat keempat orang lelaki yang berdandan centeng itu mengambil sepikul air dingin dan diguyurkan diatas kepala "sianak durhaka"
Tak lama kemudian si "anak durhaka"
Itupun siuman kembali dari pingsannya. Begitu membuka matanya dan melihat Kim Thi sia masih berdiri tegak dihadapannya si "anak durhaka"
Itu segera menjerit kaget, lalu tanpa banyak bicara dia membalikkan badan dan melarikan diri terbirit-birit keadaannya mengenaskan sekali.
Waktu itu para penonton dibawah panggung tak ada yang melelehkan air mata lagi.
semua orang dibuat tertawa terpingkal-pingkal oleh peristiwa aneh yang tak pernah diduga itu.
Lu Ci yang paling repot, cepat-cepat dia melompat naik keatas panggung dan menjura kepada para pemeran sandiwara sambil berkata.
"Maaf, maaf berhubung saudaraku ini berjiwa ksatria dan selalu ingin tampilkan diri bila melihat kejadian yang tak adil, maka diapun menjadi tak tahan setelah melihat permainan kalian yang begitu sungguh-sungguh atas kelancangan dari saudaraku ini, harap saudara sekalian sudi memaafkan-"
Gelak tertawa yang amat riuh dibawah panggung membuat paras muka Kim Thi sia berubah menjadi merah padam bagaikan kepiting rebus untuk berapa saat lamanya dia tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.
sebagai seorang yang cukup pintar dengan cepat pemuda itu sadar bahwa ia telah salah mengartikan permainan sandiwara sebagai kejadian sungguhan tak heran para penonton dibuat tertawa terpingkal-pingkal.
Untung saja bujukan Lu Ci berhasil meredakan amarah para pemeran sandiwara itu akhirnya Lu Ci mengeluarkan sekeping uang perak dan diserahkan kepada pemimpin rombongan sandiwara sambil katanya.
"Anggaplah uang tak seberapa ini sebagai ongkos untuk merawat mereka yang terluka sedang sahabatku itupun susah untuk diminta mohon maaf untuk itu harap saudara sekalian sudi memaafkan."
Dengan susah payah kehebohan tersebut dapat diredakan.
Meski pertunjukkan dilanjutkan kembali, namun Kim Thi sia tak punya muka untuk berdiam lebih lama disitu.
Bersama Lu Ci dan siunta, tergopoh-gopoh mereka pergi meninggalkan tempat itu.
Ditengah jalan, siunta berkaokkaok marah.
"Lu Ci, kau bisa saja bersikap royal, sedikit-dikit lantas mengambil uangku yang kau gunakan seperti yang pribadimu saja. Hmmm, coba kalau jalan darahmu tidak tertotok, tak nanti kubiarkan kau berbuat semena-mena."
"Toako, uang adalah harta sampingan, sebagai orang persilatan, mengapa sih pikiranmu tak bisa terbuka?"
Ucap Lu Ci.
"Maknya, seandainya pikiranku bisa lebih terbuka, saat ini aku sudah mati kelaparan-"
Lu Ci tahu bahwa usahanya untuk membujuk tak akan berhasil, diapun segera berpikir.
"Gunung mudah dirubah, namun watak susah diganti, kalau dia sudah begitu kokoh dengan pendiriannya yang memandang yang bagaikan nyawa sendiri Rasanya biar aku berbicara sampai lidahku membusukpun tak bakal dapat menggerakkan hatinya."
Sementara itu Kim Thi sia berjalan dengan kepala tertunduk dan langkah yang sangat berat, Lu Ci tahu rekannya dalam keadaan tak senang hati, diapun tidak mengajaknya berbicara.
Mendadak melintas lewat tiga orang lelaki kekar berbaju hitam, terdengar salah satu diantaranya sedang berkata.
"Hey, sudah dengar belum kalian malam ini kita akan bergerak."
Timbul rasa ingin tahu dihati Kim Thi sia setelah mendengar pembicaraan ini, dengan cepat ia membalikkan badan dan mengikuti dibelakang ketiga orang tersebut.
Kedengaran salah seorang diantara mereka berbisik.
"sipenyanyi opera itu sangat bagus. Toako, sudah kuputuskan akan menyerahkan sipenyanyi opera itu untukmu."
"samte memang baik hati"
Kata lelaki ditengah.
"Terus terang saja, aku memang menaruh maksud kepadanya."
"Kalau begitu kita tetapkan begini saja, malam nanti kita bergerak."
Kim Thi sia kuatir jejaknya diketahui ketiga orang itu, selesai mendengar pembicaraan tersebut, dia segera membalikkan badan dan menyusul rombongan sendiri Kepada Lu Ci segera tanyanya.
"Tolong beri penjelasan kepadaku, manusia macam apakah sipenyanyi opera itu?"
"Biasanya penyanyi opera itu adalah seorang perempuan panggung."
"oooh begitu"
Kim Thi sia manggut-manggut.
"Terima kasih buat keteranganmu itu."
Diam-diam dia telah mengambil keputusan, dalam menghadapi persoalan apapun dia tidak ingin memberitahukan kepada Lu Ci lagi, karena memang begitulah wataknya.
Dia lebih senang menanggulangi sendiri masalah yang dihadapi daripada memohon bantuan orang lain.
Tanpa terasa sampailah mereka didepan sebuah rumah penginapan yang memakai merek "Peng bin".
Ketika Kim Thi sia mendongakkan kepalanya untuk memperhatikan cuaca mendadak dia saksikan ada sebuah kain panjang yang tergantung diatas atap rumah, diatas kain tadi terteralah beberapa huruf yang berbunyi.
"Nirmala nomor tujuh menantang sembilan pedang dari dunia persilatan untuk berduel."
Membaca tulisan ini, pemuda Kim segera berpikir.
"Aduh celaka, dengan munculnya tulisan tersebut disini, berarti suhengku sekalian pasti menginap ditempat ini, jejakku tidak boleh sampai diketahui mereka."
Berpikir demikian cepat-cepat dia menarik Lu Ci dan siunta untuk diajak pergi, bisiknya.
"Mari kita pindah kerumah penginapan yang lain saja."
Kemudian dengan gelisah dia berpikir.
"seandainya musuh besar pembunuh suhu bukan saudara seperguruanku, sebagai adik seperguruan mereka, sesungguhnya aku wajib menyumbangkan sedikit tenaga. Ilmu silat dari Nirmala nomor tujuh pasti jauh lebih hebat daripada Nirmala nomor sepuluh apa yang harus kulakukan sekarang?"
"Hey bocah muda, aku ingin menggunakan dua macam rahasia yang sangat penting untuk ditukar dengan kebebasan, bagaimana menurut pendapatmu......?"
Setelah berhenti sejenak, kembali tambahnya.
"Bahkan rahasia tersebut berhubungan erat sekali dengan dirimu. Aku harap kau pertimbangkan masak-masak. sebab aku tak bermaksud memaksamu untuk menerimanya."
Mendengar ia berbicara dengan serius, dengan wajah tercengang Kim Thi sia menghentikan langkahnya lalu berseru.
"Hey unta, apakah kau hendak bermain gila lagi?"
Dengan tak senang hatijawab siunta.
"Jangan kau anggap aku orang yang suka mengingkari janji. Padahal.. ..aaaai, lebih baik tak usah kukatakan, toh aku tidak berniat memaksamu........."
Kemudian setelah berhenti sejenak.
kembali dia melanjutkan-"Sebelum membicarakan persoalan ini, aku perlu menyinggung sedikit tentang masalahnya.
Terus terang saja, kedua rahasia tersebut menyangkut soal perguruanmu."
Kim Thi sia segera merasakan hatinya berdebar keras sesudah mendengar perkataan itu, pikirnya.
"Dia menyebut kalau rahasia itu menyangkut rahasia perguruanku. Jangan-jangan dia maksudkan sebab kematian dari suhuku Malaikat pedang berbaju perlente."
Teringat kembali akan tujuannya berkelana dalam dunia persilatan, perasaan ingin tahunyapun meningkat sepuluh kali lipat tak tahan lagi dia bertanya.
"Apakah kau mengetahui sebab-sebab kematian guru? selain persoalan itu, dalam perguruan kami tidak terdapat rahasia lain. Hey unta, betulkan perkataanku ini?"
Ia seperti bertanya pada diri sendiri, juga seperti bertanya kepada orang lain-Pokoknya dia benar-benar ingin mengetahui rahasia tersbeut.
Melihat pemuda itu sudah tertarik.
siuntapun berlagak makin merahasiakan masalahnya, ia berkata.
"Maaf, setelah perundingan antara kedua belah pihak selesai dibicarakan, aku tak akan menyinggung kembali masalah tersebut."
Kim Thi sia sangat gemas bercampur gelisah. Kalau bisa dia hendak menghajar ornag itu habishabisan, katanya lagi.
"Hey unta, kau benar-benar maknya, aku toh bukan anak kecil. siapa yang tak tahu kalau kau bakal melarikan diri setelah kubebaskan dirimu nanti......."
Sambil menepuk dada si Unta berkata.
"Kujamin dengan harga diriku, seandainya....."
Ia berhenti sejenak dan tertawa dingin, tambahnya.
"Bila kau tak percaya kepadaku, carilah dengan sistim yang lain."
"Dengan cara bagaimana? Coba kau terangkan"
"Kau toh bisa saja tidak membebaskan aku secara keseluruhan. cukup membebaskan saja jalan darahku. sewaktu kubicarakan soal rahasia tadi kalian berdua dapat mengawasi aku dari samping. seandainya aku hendak menipu kalian dengan tipu muslihat, kaupun bisa berusaha mencegahku dengan kekerasan, bukankah ilmu silat kalian berdua sangat hebat, apalagi selisih jarak kita demikian dekat, tak nanti aku bisa melepaskan diri dari tangan kalian berdua."
"Baik, kita penuhi permintaanmu itu"
Ucap Kim Thi sia kemudian. Dia ingin cepat-cepat mengetahui kedua macam "
Rahasia"
Tersebut, maka sekalipun dia berpendapat bahwa cara tersebut tak masuk diakal, namun dia tak ambil perduli.
Ketika Lu ci diberi tanda, ia tak berani berayal dan segera membebaskan si Unta dari pengaruh totokan.
Begitu jalan darahnya bebas, si unta tetap lemas seperti sedia kala karena peredaran darahnya belum menjadi lancar kembali.
Lu Ci segera menyiapkan telapak tangannya diatas ubun-ubun orang tersebut.
Asal siunta menipu mereka, diapun akan segera melancarkan serangan yang mematikan-Dengan suara keras siunta berseru.
"Rahasia pertama adalag tentang kematian sipedang bintang. Anggota termuda dari sembilan pedang dunia persilatan ditangan Dwei Nirmala."
Kim Thi sia berseru tertahan, tapi sebentar kemudian ia telah berseru dengan penuh amarah.
"Ngaco belo tak karuan, selama dua hari belakangan ini kau tak pernah meninggalkan sisi kami. Dari mana kau bisa tahu?Jika kau melihatnya, kenapa aku sama sekali tidak melihatnya?"
Siunta tidak langsung menanggapi pertanyaan itu, dia tertawa dingin kemudian ujarnya.
"Kau masih teringat dengan peristiwa pada malam itu?"
"Yaa masih ingat, malam itu merupakan malam sial bagiku, tapi juga malam sial bagimu."
"Kau masih ingat bagaimana ditendang orang sampai jatuh semaput?"
"Tentu saja masih ingat"
Sahut sang pemuda. Kemudian dia balik bertanya.
"Tapi apa sangkut pautnya peristiwa itu dengan kematian sipedang bintang?"
"Kau tahu orang yang menendangmu waktu itu adalah Nirmala nomor tujuh disaat kau tak sadarkan diri, Nirmala nomor delapan dan Dewi Nirmalapun munculkan diri. Pedang bintang sudah menjadi tawanan Dewi Nirmala waktu itu. setelah semua keterangan berhasil diperoleh dari mulut pedang bintang Dewi Nirmalapun mengayunkan tangannya membunuh dirinya."
Kali ini mau tak mau Kim Thi sia harus percaya dengan keterangannya, dia segera menggigit bibirnya kencang-kencang.
sepasang matanya memancarkan sinar tajam, sementara dihati kecilnya diam-diam ia bersumpah.
"Dewi Nirmala, kau iblis jahat. Aku bersumpah tak akan hidup berdampingan denganmu"
Siunta telah menatap pemuda tersebut lekat-lekat, dengan suara pelan dia berkata kemudian-"Dengarkan baik-baik, aku akan menyinggung persoalan kedua......."
Dengan nada setengah mengejek dia berkata.
"Hey kunyuk muda, katakan terus teran benarkah kau telah mempelajari ilmu Tay goan sinkang dari Malaikat pedang berbaju perleten?"
Kim Thi sia sangat terkejut setelah mendengar perkataan itu, diam-diam pikirnya.
"Heran, aku tak pernah mengungkapkan tentang persoalan ini, darimana dia bisa mengetahui?"
Setelah berpikir sebentar, ia memutuskan untuk tidak mengakui, maka katanya kemudian-"soal ini kau tak perlu tahu, cepat katakan apa rahasia kedua?"
Setelah tertawa terkekeh-kekeh, siunta berkata.
"Hey kunyuk muda, posisimu sekarang berbahaya sekali. Sebelum menemui ajalnya sipedang bintang telah membocorkan segala sesuatunya kau tahu tujuan si Dewi Nirmala tak lain adalah ilmu Tay goan sinkang, sekarang dia telah mengutus orang untuk melacaki jejakmu dimanamana."
"Dewi Nirmala ingin merampas ilmu Tay goan sinkangku?"
Tanya Kim Thi sia agak tertegun-"Aku mendengar kesemuanya itu dengan mata kepala sendiri Aku rasa berita ini tak bakal salah."
Lalu setelah berhenti sejenak, lanjutnya.
"Dewi Nirmala benar-benar sangat hebat, entah dia berasal dari mana, tapi yang pasti dia mampu membunuh sipedang bintang dari jarak lima kaki. Hey kunyuk muda, aku lihat masa depanmu bakal suram."
"Aku tak bakal takut"
Kata Kim Thi sia sambil membusungkan dadanya.
"Ada tentara yang datang kebendung, ada air bah yang menggulung kutahan, biar langit ambrukpun aku tak bakal takut, jangan lagi hanya seorang manusia."
"Entah bagaimanapun juga, yang jelas kau bakal mati, karena itu aku tak berani melakukan perjalanan bersamamu, takutnya bila si Dewi Nirmala tak mau tahu urusan hingga akupun, turut dibantai. waaaah.....bisa berabe jadinya."
Begitu perkataan tersebut diutarakan tiba-tiba saja Kim Thi sia teringat akan suatu persoalan, dengan cepat dia menempelkan telapak tangannya diatas dadanya, hawa murni dipersiapkan, asal kekuatan tersebut dipancarkan niscaya siunta bakal muntah darah dan mati.
"Hey kunyuk tua"
Segera bentaknya.
"Kau pasti seorang mata-mata......."
Memandang wajahnya yang diliputi hawa sesat, siunta menjadi bergidik karena ngeri tapi sekuat tenaga dia berusaha menunjukkan senyuman, katanya cepat.
"Hey bocah muda, atas dasar apa kau menuduhku sebagai mata-mata?"
"Kau melukiskan si Dewi Nirmala sebagai seseorang yang sangat lihay, seakan-akan setiap orang yang menjumpainya pasti akan mati. Kenapa kau siunta yang telah menyadap rahasianya dan tetap saja masih hidup segar bugar? Ayoh katakan terus terang atas dasar apa kau tetap hidup didunia ini?"
"Hey, kalau dibicarakan sebetulnya amat memalukan, sebetulnya aku cuma menyadap pembicaraan mereka dari tempat persembunyianku."
Kata siunta sambil tertawa getir. Dengan gemas Kim Thi sia menarik kembali telapak tangannya, lalu berkata.
"Kecuali itu, apakah kau masih berhasil mendapatkan rahasia lain?"
"seandainya masih ada, kaupun tidak berhak memaksaku untuk mengatakan kecuali kau bersedia membayar dengan sejumlah uang."
Berbicara tentang uang, tiba-tiba saja sepasang matanya bersinar tajam, seakan-akan anjing pemburu yang melihat korban. Ia melirik sekejap kesaku Lu Ci, tapi Lu Ci segera membentak.
"Hey unta disini sudah tak ada urusanmu lagi, cepat enyah dari hadapan kami."
Ternyata ia tidak membiarkan siunta "enyah"
Sendiri, dengan cepat bajunya dicengkeram lalu diangkat keatas, baru saja siunta menjerit karena kehilangan keseimbangan badannya, tahu-tahu tubuhnya sudah dibanting keatas tanah keras-keras.
sambil merangkak bangun dan menggertak gigi menahan sakit, siunta segera mencaci maki kalang kabut.
"Bajingan busuk. kalian berdua berhati-hatilah, suatu ketika toaya pasti akan datang kembali"
Dengan geram Kim Thi sia memburu maju kedepan, lalu sambil mengayunkan kepalannya dia membentak.
"Apa kau bilang?"
Siunta cepat-cepat membalikkan badan dan melarikan diri terbirit-birit.
Dalam waktu singkat bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan mata.
Kim Thi sia balas untuk menggubrisnya lagi, kepada Lu Ci segera tanyanya.
"saudara Lu, aku rasa situasinya sudah kau ketahui dengan jelas, siluman iblis yang bernama Dewi Nirmala telah mengurus orang untuk membekukku, bila kau merasa ancaman ini membahayakan keselamatan jiwamu, lebih baik berpisahlah dari sisiku. Bila kita bersua kembali dikemudian hari, kita masih tetap merupakan sahabat karib."
Ketika mengucapkan kata-kata tersebut, dalam hati kecilnya sudah timbul hasrat untuk beradu jiwa dengan Dewi Nirmala. Dengan nada tak senang hati Lu Ci segera berseru.
"Bila aku tahu saudara Kim bakal mengucapkan kata-kata begini, aku Lu Ci tak bakal bersahabat denganmu."
Meski kata-kata yang singkat namun amat mengharukan perasaan Kim Thi sia. Dia segera berpikir.
"Akhrnya aku berhasil juga menjalin seorang sahabat sejati."
Malam semakin kelam, angin berhembus kencang menerbangkan pasir dan debu, sambil mengangkat tinggi-tinggi bajunya Kim Thi sia beangkat menuju rumah penginapan dengan langkah lebar.
Agaknya dia telah memutuskan untuk beradu jiwa dengan orang-orang Dewi Nirmala.
Lu Ci membungkam diri dalam seribu bahasa, sementara dihati kecilnya dia berpikir.
"Sejak suhu pergi berkelana, hingga kini-jejaknya masih menjadi tanda tanya besar. Ada yang mengatakan dia telah tewas, ada yang mengatakan dia menjadi pendeta. Tapi bagaimanapun juga sepantasnya dia memberi kabar kepadaku."
Sebaliknya Kim Thi sia juga sedang terbenam dalam pemikiran sendiri, pikirnya waktu itu.
"seandainya orang yang berada dirumah penginapan itu sipedang perak. pedang tembaga dan pedang besi, pertemuan saat itu tentu serba rikuh, sebaliknya andaikata mereka adalah pedang kayu, pedang api, pedang tanah dan pedang air, terutama sipedang kayu, dia tentu akan marah kepadaku gara-gara urusan putri Kim huan-Waaaah....rasanya kepergianku kali ini hanya mencari penyakit untuk diri sendiri......."
Setelah termenung sejenak, akhirnya diapun bergumam.
"Lebih baik aku turun tangan secara diam-diam. Yaa.......turun tangan secara diam-diam."
Jilid 30 Dalam kegelapan malam yang mencekam, kembali ia teringat dengan putri Kim huan-ia benarbenar tak habis mengerti, selama masih berada bersama gadis itu, dia tak pernah membayangkan tentang dirinya, tapi begitu meninggalkannya, dia sering merindukan dirinya.
"Mungkinkah aku benar-benar jatuh cinta kepadanya......?"
Ingatan tersebut melintas lewat didalam benaknya. Pengetahuannya tentang "
Cinta"
Masih terlalu tipis, jauh melebihi tentang kesan baik.
Dengan kepala tertunduk ia berjalan menelususri jalanan, ia membayangkan kembali peristiwa pada malam itu.......
Saat itu putri Kim huan sedang berkata kepada sipedang besi.
"Sayang aku tak pandai bersilat hingga merasa diriku lemah dan tak berguna. Kalau tidak. beranikah dia mempermainkan aku?"
Segera bergumam.
"Aaaaai......hanya Thian yang tahu, benarkah aku pernah mempermainkan dirinya......"
Iapun seakan-akan mendengar gadis ini berkata begini.
"Aku berani membunuhnya, percayakah kau?"
Perkataan tersebut ditujukan kepada sipedang besi, waktu itu hatinya terasa amat murka.
Semua kesan baik yang terjalin banyak waktu seketika punah oleh perkataan tersebut.
Hampir saja ia hendak mendobrak pintu untuk menyerbu kedalam serta memaki gadis tersebut.
Hingga kini, dia tetap tak mengerti kenapa gadis tersebut bisa berkata demikian.....
"Aaaai, lebih baik kulupakansaja dirinya. Lupakan saja dirinya......."
Mendadak satu ingatan melintas didalam benaknya ia segera berseru.
"Mengapa aku tidak mengerudungi wajahku dengan kain? Disatu pihak para suheng tak bakal mengenali aku. Dipihak lain akupun bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk mengobrak abrik Dewi Nirmala beserta para begundalnya....."
Dengan watak sekarang, apa yang terpikir olehnya segera pula dilakukan tanpa mempertimbangkan untung ruginya.
Maka dirobeknya secarik kain untuk mengerudungi wajahnya setelah dibuat dua lubang kecil untuk melihat diapun berkata.
"Lu ci, dandananku sekarang, masih kenalkah kau dengan diriku.........?"
Lu ci memperhatikan sekejap dandanan anak muda itu, kemudian menjawab.
"Lebih baik rambutmu dibikin agak kacau sebab model rambutmu macam sarang burung itu merupakan cici khasmu. Biar orang lain tidak melihat wajahmu model rambutmu sudah menjadi ciri khasmu."
"Maknya...... memangnya model rambutmu paling bagus sendiri?"
Umpat Kim Thi sia sambil tertawa. Meski begitu, dia toh menurut juga untuk membuat rambutnya kusut dan membiarkannya terurai kebawah.
"Saudara Lu, bolehkah aku meminjam sebentar senjatamu"
Kata sang pemuda kemudian-"Boleh saja"
Sahut Lu ci sambil menyerahkan tongkat besinya kepada pemuda itu.
"cuma setelah tak terpakai berapa hari, toya itu hampir berkarat. Selesai meminjam, saudara Kim harus menggosokkan senjata itu untukku."
"Tak usah kuatir, cuma........"
Setelah berhenti sejenak. dengan suara dalam ia menambahkan-"Kaupun harus menyanggupi sebuah permintaanku."
"Katakanlah, asal aku mampu melakukannya, pasti tak akan kubuat dirimu kecewa."
"Tinggalkan aku....."
Dengan tanpa sungkan-sungkan Kim Thi sia berseru.
"Kau tak perlu mencampuri urusan pribadi saudara seperguruanku. Saudara Lu, tentunya kau bisa memahami maksud hatiku bukan?"
Lu ci tertegun untuk berapa saat, melihat keseriusan pemuda itu, ia segera memahami bahwa rekannya menjumpai kesulitan, karenanya diapun manggut.
"Tak usah kuatir, aku tak akan mencampuri urusan pribadi orang lain-Kalau begitu kita berpisah dulu disini, akan kunantikan kedatanganmu dirumah penginapan lain-"
Dengan pandangan tajam Kim Thi sia, mengawasi rekannya sekejap. kemudian katanya pula.
"Saudara Lu, seandainya terjadi sesuatu musibah atas diriku, harap kau bisa tinggalkan tempat ini selekasnya. Anggap saja peristiwa ini sebagai impian buruk. Lanjutkan masa depanmu sendiri tanpa mengutusi diriku lagi, mengerti?"
Lu ci merasakan hatinya bergetar keras.
Dia memahami arti perkataan tersebut, karenanya dengan perasaan berat dia melirik sekejap kearahnya.
Kemudian membalikkan badan dan beranjak pergi dari situ.
Sebagai seorang kasar, dia tidak butuh pertanyaan apapun, kendatipun perasaan hatinya berat sekali namun akhirnya toh perasaan tersebut ditahan juga, karena diapun tahu kata-kata perpisahan yang memedihkan hati sama sekali tak ada gunanya.
Mengawasi bayangan punggung rekannya yang menjauh, Kim Thi sia merasakan pikirannya agak kaku, tapi sebentar kemudian ia sudah berpikir.
"Sejak terjun kedalam dunia persilatan, meskipun sudah banyak pekerjaan yang kulakukan, tapi bila diamati sebenarnya, ternyata tak sebuahpun yang meninggalkan kesan dalam bagiku, kali ini musuh yang kuhadapi adalah Dewi Nirmala yang misterius. Aku harus berupaya dengan segala kemampuanku untuk menciptakan sesuatu hasil, sekalipun akhirnya aku harus tewas, rasanya akupun tak usah mati menyesal."
Ditengah hembusan angin malam yang kencang, pemuda itu berjalan terus sambil berpikir lebih jauh.
"Aku harus pergi dulu kerombongan pemain sandiwara, kemudian baru pergi membantu suheng.....hmmmm, sebelum mati bisa meninggalkan sebuah karya besar, rasanya matipun bisa mati dengan meram."
Dengan mempercepat langkahnya dia menuju kerombongan pemain sandiwara.
Untuk membangkitkan semangatnya, sambil berjalan pemuda itupun mengumandangkan suara nyanyian yang keras, lantang dan gagah perkasa.
Agaknya suara nyanyian itu segera mengejutkan seorang pemuda yang berada dalam sebuah hutan disisi jalan, dengan perasaan ingin tahu pemuda itu munculkan diri dari balik pepohonan-Namun ketika dia tiba diluar hutan bayangan punggung Kim Thi sia telah berada dikejauhan sana, pemuda itupun termenung sejenak akhirnya tanpa ragu-ragu dia mengintil dari belakangnya.
Ditengah hembusan malam terdengar orang itu seakan-akan sedang bergumam seorang diri.
"Bila kudengar suara nyanyian yang gagah dan bersemangat, dapat diduga dia adalah seorang lelaki sejati yang hebat, aku harus menjalin tali persahabatan dengannya."
Tak lama kemudian Kim Thi sia telah sampai ditempat tujuan waktu langit sangat gelap sehingga tak nampak kelima jari tangan sendiri, malam itupun tak ada pertunjukkan sehingga keheningan yang mencekam membuat suasana bagaikan dikuburan-Sampai lama sekali ia berdiri termangu-mangu diluar pintu, akhirnya setelah mengambil keputusan dia duduk dipintu muka dan mulai menghimpun tenaga dalamnya...
Selang berapa saat kemudian tiba-tiba muncul seorang berjubah panjang yang berjalan mendekat dengan kepala tertunduk.
Kim Thi sia mengira"
Sasaran-nya telah datang, ia segera melompat bangun-Ternyata orang itu berlagak acuh tak acuh, mula-mula dia memperhatikan sekejap sekeliling ruangan, lalu dengan suara pelan-pelan ujarnya.
"Ooooh, rupanya pada malam ini tiada pertunjukkan, tak aneh kalau setitik cahaya pun tak nampak. mungkin para pemainnya sudah tidur semua."
Mendengar perkataan tersebut, Kim Thi sia segera berpikir.
"Ternyata dia hanya tamu yang hendak menonton pertunjukkan, hampir saja aku bertarung dengannya."
Diam-diam ia tertawa bodoh dan segera duduk kembali. Terdengar orang itu bergumam kembali.
"Aaaai, malam ini udara amat cerah, kenapa aku tidak beristirahat sejenak disini dan baru pergi setelah rembulan muncul nanti?"
Sambil berkata pelan-pelan dia naik keatas panggung dan duduk tidakjauh dari Kim Thi sia sementara itu Kim Thi sia yang dibebani jalan pemikiran sendiripun tetap membungkam serta tidak menggubris dirinya.
Tak selang berapa saat kemudian orang itu bergumam lagi.
"Sungguh aneh, seharusnya rembulan dibulan delapan adalah saat paling purnama. Kenapa sudah kutunggu sekian lama belum nampak juga? Mungkinkah rembulannya sudah ditelan oleh anjing langit........"
Kim Thi sia ingin tertawa, rasanya namun tak mampu tertawa, orang itu memang aneh sekali, sudah jelas disampingnya ada orang, ternyata ia sama sekali tidak menggubris bahkan menengok sekejappun tidak malah seperti orang sinting saja bergumam seorang diri.
"Aneh benar orang ini"
Pikirnya kemudian-"Hari sudah begini malam, kenapa ia belum juga ingin pulang untuk tidur? Apakah diapun seekor "
Kucing malam"?"
Sambil bertopang dagu dia mencoba untuk berpaling, kebetulan orang itupun sedang berpaling menengok kearahnya, kontan saja empat mata mereka saling bertemu satu dengan lainnya.
Sebetulnya Kim Thi sia ingin bertanya.
"Hey, kenapa kau tidak pulang untuk tidur?"
Tapi berhadapan dengan orang asing dia merasa canggung untuk mengajukan pertanyaan tersebut.
Ternyata orang itu memiliki sorot mata yang tajam bagaikan sembilu.
Bagaikan sebilah pedang mestika yang menembusi dadanya saja, membuat Kim Thi sia merasa amat terperanjat dan segera melompat bangun seraya berseru.
"ooooh, ternyata sobat adalah seorang jago silat"
Bertemu dengan seorang jago silat yang tak diketahui asal usulnya ditengah malam buta jelas merupakan suatu peristiwa yang luar biasa, karena itu sewaktu berbicara tadi, tenaga dalamnya telah dihimpun kedalam telapak tangannya siap melepaskan serangan-Asal musuh bertindak mencurigakan maka dia akan menyerang lebih dulu.
Sambil tersenyum orang itu berkata.
"Berbicara yang sebenarnya, sewaktu masih kecil dulu aku memang pernah mempelajari ilmu silat, tapi bila dibandingkan dengan saudara. Waaaah.....masih ketinggalan sukup jauh"
Ucapan yang amat tenang dan datar tanpa sikap permusuhan ini segera mengendorkan kembali rasa tegang Kim Thi sia, otomatis dia pun mengendorkan juga himpunan tenaga dalamnya.
Terdengar orang itu berkata lagi.
"Bolehkah aku tahu siapa nama anda? Aku berharap bisa menjalin tali persahabatan denganmu."
Baru selesai perkataan itu diutarakan, mendadak dari kejauhan sana telah muncul tiga sosok bayangan manusia. Kim Thi sia segera berseru.
"Sobat, cepat bungkukkan badan, jangan membiarkan mereka tahu akan jejak kita"
Seraya berkata dia segera menjatuhkan diri keatas tanah diikuti pula oleh orang tersebut.
Ditengah kegelapan, terlihat ketiga sosok bayangan manusia itu memencarkan diri dan melayang keatas rumah dari tiga arah yang berbeda.
Gerak gerik ketiga orang itu amat lincah dan cekatan, ilmu meringankan tubuhnya sangat lihay, dari situ membuktikan pula bahwa ilmu silat yang mereka milikipun lihay sekali.
Menanti sampai ketiga orang tersebut sudah melompat naik keatap Kim Thi sia berdua baru cepat-cepat bangkit berdiri serta menyembunyikan diri disudut ruangan bisiknya kepada orang itu dengan suara lirih.
"Sobat, cepatlah pulang kerumah, jurusan yang bakal berlangsung ditempat ini sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan dirimu."
Orang itu menyelinap kehadapannya, lalu sambil menatap wajah pemuda itu lekat-lekat serunya.
"Aku paling suka mencampuri urusan orang laun, kau tak usah mengurusi gerak gerikku."
Melihat orang itu berwajah gagah dan perkasa, Kim Thi sia pun tak tega untuk memaksanya pulang, hanya bisiknya.
"Aku tak keberatan bila kau hendak mencampuri urusanku, tapi jangan sekali-kali menghalangi rencanaku."
"Apa rencanamu?"
Tanya orang itu keheranan "Menangkap hidup, hidup"
Jawab Kim Thi sia singkat.
Selesai berkata dia segera mendorong pintu gerbang dan menyelinap masuk, siang tadi ia sudah pernah datang kesitu, maka terhadap keadaan didalamnya, ia mengetahui cukup jelas, dalam beberapa kali lintasan saja ia telah berada ditengah halaman dalam.
Dengan tenaganya dia mendekam dibawah kursi sambil menengok keatas panggung, layar dipanggung sudah diturunkan-Suasana gelap tanpa penerangan, dan tak kedengaran sedikit suarapun-Lama-kelamaan timbul kecurigaan dalam hatinya, dia segera berpikir.
"Jangan-jangan para pemain sandiwara itu mempunyai tempat pemondokkan yang lain-Yaa betul, bagaimana mungkin mereka bisa tidur diatas panggung yang terbuat dari kayu?"
Berpikir begitu dia segera melompat naik keatas panggung tersebut.
Betul juga, dibalik layar tak dijumpai apa-apa, suasana gelap gulita dan tak kelihatan seorang manusiapun, setelah meneliti sebentar, diapun melanjutkan gerakannya menuju kebelakang panggung.
Waktu itu diatas atap rumahpun telah muncul bayangan manusia, entah sejak kapan tampak sesosok bayangan manusia melayang turun kebawah dengan kecepatan tinggi.
Kim Thi sia dapat mendengar dengusan napasnya yang memburu, dia tahu para penjahat sudah siap melakukan perbuatannya, ini terbukti dari perasaan tegang yang mencekam perasaannya.
orang itu berhenti berapa saat disitu tanpa melakukan sesuatu tindakan, agaknya dia sedang menentukan arah sasaran yang tepat sebelum mengambil sesuatu tindakan-Kim Thi sia merasa tempat persembunyiannya amat strategis, seba dengan bersembunyi dibalik layar ini berarti dia berada diposisi gelap dengan musuh berada dipihak terang, tentu saja kedudukannya jauh lebih menguntungkan-Mendadak terdengar penjahat yang muncul pertama kali tadi berbisik dengan lirih.
"Toako, para penyanyi opera sudah pindah rumah"
"Tolol"
Umpat orang yang berada diatas atap rumah.
"Kau toh bukan baru pertama kali ini berkunjung kemari, masa tempat tinggal para pemainnyapun tidak kau ketahui?
IHmmm, kalau beginipun tak becus, buat apa masih memikirkan untuk menangkap sibunga penyanyi itu."
Bersamaan dengan selesainya perkataan itu, kembali terlihat sesosok bayangan manusia melayang turun dari atas atap rumah begitu dua sosok bayangan manusia itu bergabung, salah seorang diantaranya segera mengajak rekannya bergerak menuju keatas panggung.
Dalam keadaan seperti ini, Kim Thi sia semakin tak berani bertindak gegabah, dia segera membungkus diri dibalik kain dan menahan napas sambil melakukan pengintaian, dia ingin tahu permainan busuk apakah yang hendak diperbuat kedua orang itu.
Belum berapa langkah kedua orang itu berada diatas panggung, pemuda kita sudah berhasil melihat dengan jelas keadaan dari musuhnya.
Tampak orang yang disebut "toako"
Itu berbisik secara tiba-tiba.
"Setelah bermain sandiwara siang malam, para pemainnya sudah tertidur nyenyak sekarang. Kau tunggu saja disini, biar aku sendiri yang bekerja."
Selesai berkata ia segera bergerak menuju kebelakang panggung.
Dalam waktu singkat bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan mata.
Kim Thi sia yang menyembunyikan diri kontan saja menyumpah-nyumpah didalam hati.
sebab dengan tertinggalnya seseorang disitu untuk melakukan pengawasan berarti ia semakin tak leluasa untuk melakukan sesuatu tindakan, pikirnya.
"Seandainya aku munculkan diri serta bertarung dengannya, niscaya pertarungan kami akan mengejutkan sitoako tersebut. Dengan begitu, bukankah semua rencanaku bakal berantakan?"
Meski sangat gelisah, akhirnya dia tetap menanti dengan perasaan ditekan-Dengan berhati-hati sekali ia melongok keluar dan mengintip bayangan punggung penjahat itu.
Mendadak satu ingatan melintas dalam benaknya, ia segera berpikir.
"Yaaa benar, seandainya aku dapat membekuknya dengan menggunakan gerak serangan tercepat, tak mungkin toakonya bisa mengetahui perbuatanku ini......."
Diam-diam iapun mulai mempertimbangkan diri, dengan kepandaian yang dimiliki sekarang, rasanya agak mustahil baginya untuk merobohkan musuh dalam sekali gempuran denganjarak tiga kaki.
Tapi seandainya dia menggunakan taktik "Memancing musuh masuk perangkap"
Bisa jadi usahanya akan berhasil dengan sukses.
Jangan dilihat pemuda itu kasar diluar sesungguhnya cekatan dan pintar didalam, begitu pikirnya diputar dalam waktu singkat dia telah berhasil mendapatkan satu akal.
Setelah menarik napas panjang-panjang, sambil mempersiapkan toya besi hasil pinjaman dari Lu ci, dengan langkah lebar dia munculkan diri dari balik tempat persembunyiannya, begitu mendekati diapun berbisik.
"Saudara ku, mana toako? Kenapa belum juga kelihatan, apakah sudah terjadi sesuatu yang tak diinginkan?"
Ketika mendengar teguran tersebut, orang itu segera membalikkan badan dan menengok dengan wajah termangu-mangu. Sambil tertawa kembali Kim Thi sia menegur.
"Mana toako."
Dia tahu bila kesempatan disaat musuh sedang termangu tidak dimanfaatkan dengan sebaikbaiknya.
Banyak kesulitan bisa bermunculan kemudian, karena itu sementara dia masih menegur, sebuah serangan kilat telah dilancarkan dengan hebatnya.
"Duuuukkkk. ....."
Dalam terkejut dan tertegunnya, oran itu tak sempat lagi melakukan tangkisan-Tak ampun ia terkena hantaman toya hingga roboh seketika keatas tanah.
Selesai bekerja, Kim Thi sia menyembunyikan dirinya lagi dibalik tirai sambil menunggu munculnya kembali sang "toako"
Tadi.
Tak lama kemudian dari belakang panggung bergema suara langkah kaki yang sangat ringan-Disusul kemudian dengan munculnya sang toako itu.....
Dia muncul dengan mengempit sesosok bayangan hitam, meskipun Kim Thi sia tak sempat melihat dengan jelas raut mukanya namun dia bisa menduga bahwa bayangan hitam itu tak lain adalah sibunga penyanyi.
Diapun tidak mengira segampang itu sang "toako"
Nya berhasil menculik si bunga penyanyi tersebut, bahkan tindakannya sama sekali tidak mengusik ataupun mengejutkan siapa saja.
Berdasarkan kemampuannya itu bisa diketahui bahwa kemampuannya memang luar biasa.
Setelah munculkan diri, sang toako itu segera berkata sambil tertawa.
"Hiante, sekarang kita bisa tinggalkan pintu gerbang dengan langkah lebar, semua anggota pemain opera ini telah kublus dengan sebuah dupa pemabuk. Dalam empat jam mendatang, jangan harap bisa mendusin kembali. Haaah......haaaaah......."
Sang adik sama sekali tak berbicara, dia hanya berdiri tak bergerak ditempat. sitoako itu menjadi geli, dengan suara keras segera tegurnya.
"coba lihat tampangmu yang begitu tegang hiante, masa sampai wajahpun kau kerudungi? Aku toh tidak menyuruhmu naik kebukit golok atau turun kekuali minyak. Kenapa sih kau mesti melakukan perbuatan yang begini memalukan?"
"Toako"
Akhirnya sang adik berseru.
"Kau memang cukup perkasa tapi sekarang akulah yang harus menunjukkan keperkasaanku kepadamu."
Memanfaatkan kesempatan disaat sang "toako"
Masih termangu, toyanya kembali diayunkan kedepan-Sang "toako"
Segera berseru tertahan dan robih terjungkal keatas tanah, ia tak mampu lagi menunjukkan keperkasaannya. Sambil tertawa dingin Kim Thi sia menyambar tubuh si "bunga penyanyi"
Serta memeluknya, kemudian dengan langkah lebar dia berjalan menuju keluar pintu. Ketika keluar daripintu depan, kebetulan ia berpapasan dengan si "kucing malam", sementara si "kucing malam"
Agak tertegun dan tak sempat berbicara, ia telah berbisik lirih.
"Jangan berisik."
Dengan langkah lebar dia berjalan menuju kebawah panggung, langkah kakinya sengaja diperkeras hingga menimbulkan suara nyaring.
Waktu itu sipenjahat yang bertugas diatas atap rumah sudah mulai gelisah karena tak melihat rekannya munculkan diri, begitu menjumpai Kim Thi sia muncul dibawah panggung sambil membopong seseorang, didalam kegelapan ia mengira toakonya yang munculkan diri, segera omelnya.
"Bagaimana sih toako ini, kalau toh sudah berhasil, kenapa tidak mengucapkan sesuatu aku masih mengira kau telah menemui sesuatu persoalan-"
Dengan langkah cepat dia membantu kesamping.
Kim Thi sia menunggu sampai orang itu dekat dengan dirinya ketika secara tiba-tiba ia membalikkan badan sambil melancarkan cengkeraman kilat.
Mimpipun orang itu tak mengira kalau "toako"
Nya bakal menyergapnya secara mendadak.
didalam tertegunnya, urat nadi pentingnya tahu-tahu sudah kena dicengkeram erat-erat.
Dengan perasaan terkejut bercampur ngeri dia mengawasi sekejap sang "toako"
Nya, sekarang ia baru sadar bahwa toakonya ternyata hanya seorang manusia aneh berkerudung, ia makin terkejut hingga menjerit tertahan-Sementara itu si "
Kucing malam"
Telah melayang datang, meminjam cahaya yang ada dia mengamati sekejap wajah penjahat itu, tiba-tiba serunya sambil tertawa dingin-"Heeeeh.......heeeeeh......heeeeeh.......kukira siapa yang telah datang, rupanya kalian tiga manusia cabul yang memalukan-IHmmm, bila hari ini tidak diberi sedikit pelajaran kalian pasti tak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang jahat."
Kim Thi sia yang mendengar perkataan tersebut, dengan cepatnya berpikir pula.
"Sialan, rupanya dia sudah mengetahui asal usul dari ketiga orang ini."
Berpikir demikian, diapun segera bertanya.
"Siapa sih ketiga orang penyamun ini?"
Si "kucing malam"
Tertawa dingin.
"Heeeeh..... h eeeeh..... heeeeh..... menyinggung tentang ketiga orang ini, rasanya setiap orang persilatan pasti akan mengutuknya habis-habisan-Mereka tak lain adalah "Tiga rase bermuka hitam"
Yang termashur sebagai setan perempuan-Sepanjang hidup mereka entah sudah berapa banyak anak istri orang yang telah diperkosa dan dinodai oleh mereka."
"Kurang ajar. Begitu berani mereka lakukan perbuatan terkutuk seperti ini. IHmmm, aku yakin dibelakang layar pasti ada jago lihay yang menjadi pendukungnya"
Seru Kim Thi sia. si "
Kucing malam"
Segera mendengus.
"Kalau menyinggung soalpendukung dibelakang layarnya. Hmmmm Mungkin saja orang lain tidak tahu, tapi aku mengetahuinya dengan jelas sekali orang itu."
Meski dia tidak bermaksud untuk melanjutkan kata-katanya, namun sorot matanya segera memancarkan cahaya tajam yang menggidikkan hati.
Seakan-akan dia mempunai dendam kesumat dengan si "pendungkung dibelakang layar"
Tersebut.
"Siapa sih orang itu?"
Tanya Kim Thi sia keheranan-"Apakah kau tak berani mengutarakannya? "
"Kurang ajar, kau anggap aku sisastrawan menyendiri adalah manusia penakut yang gampang dipermainkan orang?"
Setelah tertawa dingin berulang kali, dia melanjutkan.
"Bila dibicarakan mungkin saja orang lain tak akan percaya, tapi didalam kenyataannya sipendukung dari tiga rase bermuka hitam tak lain adalah sipedang emas, pemimpin dari sembilan pedang dunia persilatan-"
"Haaaah.......?"
Kim Thi sia amat terperanjat segera pikirnya.
"Mungkinkah abang seperguruanku adalah manusia bengis semacam ini?Jangan-jangan kau sengaka memutar balikkan duduknya persoalan lantaran kau memang mempunyai dendam kesumat dengannya?"
Berpikir sampai disini, sambil menarik muka diapun menegor.
"Apakah kau mempunyai bukti atas perbuatannya itu?"
Dengan penuh kebencian sastrawan menyendiri berkata.
"Biarpun sembilan pedang dari dunia persilatan adalah anak murid dari Malaikat pedang berbaju perlente, padahal mereka bukan manusia baik-baik. Dibalik sepak terjang mereka, sesungguhnya masing-masing anggotanya seringkali melakukan penculikan perampokan maupun perkosaan, hanya saja berhubung ilmu silat mereka sangat lihay, cara kerja merekapun sangat lihay, cara kerja merekapun sangat rapi. Sehingga sulit bagi orang luar untuk mengetahuinya."
Kemudian setelah berhenti sejenak. dia melanjutkan kembali dengan suara dalam.
"Bila tak ingin perbuatannya diketahui orang, kecuali dia sendiri tak pernah melakukannya. Aku sudah terlalu lama berkelana didalam dunia persilatan-Tiada peristiwa apapun yang dapat mengelabuhi diriku. Hmmm, bahkan etrmasuk juga teka teki sekitar kematian Malaikat pedang berbaju perlente. Aku sudah mempunyai suatu gambaran yang cukup jelas tentang peristiwa berdarah ini."
"oooh, kaupun mengetahui jelas sebab kematian Malaikat pedang berbaju perlente?"
Tanya Kim Thi sia terkejut.
"Apa yang menyebabkan kematiannya?"
"Apa yang menyebabkan kematiannya?"
Seru sastrawan menyendiri sangat marah.
"Hmmmm hmmmm.. apalagi kalau bukan mati karena dibokong secara licik dan keji oleh kesembilan orang murid kesayangan itu."
Berbicara sampai disitu tiba-tiba ia berhenti sejenak. lalu sambil menatap Kim Thi sia tajamtajam, ia berkata lebih lanjut.
"Meskipun aku tidak menyaksikan semua peristiwa itu dengan mata kepala sendiri, meski aku menyimpulkan kesemuanya ini berdasarkan pelbagai informasi serta data yang berhasil kukumpulkan, namun aku berani menjamin dengan taruhan batok kepalaku bahwa sebab kematian Malaikat pedang berbaju perlente adalah dikarenakan perbuatan kejam kesembilan orang anak muridnya sendiri."
Kim Thi sia menghembuskan napas panjang, tiba-tiba saja dia merasakan tubuhnya bagaikan balon yang kempes secara tiba-tiba.
Seluruh kekuatan tubuhnya seperti lenyap dengan begitu saja.
Akibatnya orang itu yang berada didalamnya telah bopongannyapun ikut terjatuh keatas tanah hingga merintih kesakitan-Sampai detik ini dia masih belum berani mempercayai kesemuanya itu, kembali gumamnya.
"Tak mungkin sembilan pedang dari dunia persilatan adalah manusia rendah yang berhati binatang serta melakukan kejahatan yang terkutuk."
Sastrawan menyendiri tertawa dingin, tibatiba ia bertanya.
"Tahukah kau apa sebabnya sipedang emas selalu mengenakan selembar kain untuk mengerudungi mukanya?"
"Tidak."
"Sebenarnya dia merupakan seorang lelaki yang tampan sekali, tapi justru karena sewaktu membokong suhunya dia telah kena ilmu Hud thi ciang dari gurunya yang bertenaga dalam persis diatas wajahnya, maka sebagai akibat mukanya menjadi hancur berantakan tak karuan lagi bentuknya. Kecuali sepasang matanya keempat indera lainnya sudah tak berbentuk lagi."
Setelah tertawa dingin kembali lanjutnya.
"Pedang emas sudah termashur karena romantis dan suka bermain perempuan, sejak wajahnya rusak, ia menganggap tak ada harapan lagi baginya untuk merebut hati gadis cantik. Maka diapun menitahkan anak buahnya untuk menculik dan merampas anak gadis orang untuk dijadikan korban pelampiasan napsu birahinya. Tiga rase bermuka hitam tak lain adalah salah satu diantara anak buahnya itu.Jika kau tak percaya, siksalah ketiga rase bermuka hitam itu, niscaya mereka akan menceritakan keadaan yang sebenarnya......."
Kim Thi sia tertawa sedih.
"Katakan kepadaku, apa sebabnya kau membocorkan rahasia ini kepadaku.......?"
"Aku berharap bisa menjalin hubungan persahabatan denganmu, maka semua isi hatiku kuutarakan kepadamu. HHmmm coba berhanti orang lain, aku tak perlu banyak berbicara."
"Jadi kau menganggap aku sebagai sobat karibmu....."
Ucap Kim Thi sia sambil tertawa getir.
"Sejak kudengar suara nyanyianmu yang gagah perkasa, akupun menjadi paham manusia macam apakah dirimu ini. Itulah sebabnya akupun sangat berhasrat untuk menjalin persahabatan denganmu."
"Apakah kau sudah mengetahui siapakah aku?"
"Apakah menjalin persahabatanpun harus diketahui dulu statusnya? Ucapan anda sangat mengecewakan diriku."
Seru sastrawan menyendiri dengan perasaan tak habis mengerti. Dengan cepat Kim Thi sia menggelengkan kepalanya berulang kali dia berkata.
"Aku bukan bermaksud begitu, harap kau jangan salah mengartikan maksudku."
Setelah tertawa rawan, dia melanjutkan.
"Terus terang saja aku adalah murid terakhir dari Malaikat pedang berbaju perlente, sejak selesai mendengar perkataanmu tadi, aku telah mengambil keputusan untuk melakukan uatu pembalasan dendam kesumat terhadap para abang seperguruanku. Coba bayangkanlah astrawan menyendiri, apakah peristiwa itu saling gontok-menggontok antara sesama saudara seperguruan bukan merupakan suatu kejadian yang tragis?"
Metelah berhenti sejenak, kembali dia melanjutkan.
"Kau tentu bisa merasakan bukan bagaimanakah perasaanku sekarang, itulah sebabnya kulihat soal menjalin persahabatan bisa ditunda lain waktu. Sekarang aku harus pergi. Sastrawan menyendiri, terima kasih banyak atas keteranganmu yang berharga itu, ucapanmu telah banyak membuka tabir rahasia yang selama ini mencekam pikiranku, suatu ketika aku pasti akan mengucapkan terima kasih kepadamu........."
"Jadi kau adalah Kim Thi sia......."
Seru sastrawan menyendiri agak tertegun-"Benar"
Kim Thi sia melanjutkan langkahnya menuju kedepan, mendadak ia berpaling seraya berkata lagi.
"Selamat tinggal sobat"
Ditengah kegelapan mencekam jagad, dengan termangu-mangu sastrawan menyendiri menghantar keberangkatan pemuda itu, dia tahu apa yang hendak dilakukan pemuda tersebut.
Tanpa terasa dia menghela napas dan bergumam.
"Aaaai, siapakah yang menyangka kalau sepatah dua patahku tadi bakal menimbulkan badai darah didalam dunia persilatan?"
Sementara itu Kim Thi sia berjalan dengan perasaan sangat berat, disaat dia tiba didepan rumah penginapan yang didiami saudara seperguruannya, bara api telah menyorot keluar dari balik matanya.
Sekuat tenaga dia berusaha menekan pikirannya yang teringat kembali akan kebaikan dari para suhengnya.
Sejak terjun kedalam dunia persilatan, baru pertama kali ini dia menjumpai persoalan serumit ini.
Ia berdiri kaku didepan rumah penginapan sambil berpikir.
"Bagaimana mungkin aku tega turun tangan untuk membunuh para abang seperguruanku."
Namun ia segera teringat kembali dengan pemandangan disaat gurunya hampir menemui ajalnya. Diapun seakan-akan teringat kembali akan pesan gurunya itu.
"Nak, bila kau tak tega untuk turun tangan nyanyikanlah lagu Sembilan dendam kesumat."
"Nak. disaat kau telah berhasil, bawalah tulang belulang dari kawanan binatang itu untuk dipersembahkan didepan kuburanku, ukirlah bait lagu sembilan dendam kesumat diatas batu nisanku. Setiap bulan purnama pada hari Tiong ciu, ambillah segenggam bunga segar dan nyanyikanlah lagu sembilan dendam kesumat untuk mengundang arwahku. Sampai saat ajalpun aku tak dapat melupakan dendam berdarah ini."
"Lagu sembilan dendam kesumat.......lagu sembilan dendam kesumat........"
Kim Thi sia bergumam lirih, pelbagai ingatanpun melintas didalam benaknya. Ditengah kegelapan malam yang mencekam, tiba-tiba ia mendongakkan kepalanya dan bernyanyi dengan suara keras.
"Dendam sakit hatiku, jauh melebihi samudra, Haruskah aku mati dalam keadaan begini?
Biar badan hancur, biar tubuh remuk, Akan kucuci semua sakit hati ini........
Lidahku dipotong, mataku diculik, Rambutku dipapas, tulangku dikunci, Telingaku diiris, ototku dicabut, Lenganku dikuntung dan kakiku ditebas......
Rasa dendam serasa merasuk ketulang.
Aku merasa pedih, aku merasa sedih, Dendam kesumat ini harus kutuntut balas......."
Ketika membawakan lagu itu, Kim Thi sia seolah-olah menyaksikan kembali wajah Malaikat pedang berbaju perlente yang sedang menatap kearahnya dan berbisik sambil menggigit bibir.
"Murid durhaka,aku pertaruhkan sisa hidupku untuk mewariskan ilmu silat kepadamu tak lain karena kuharap kau dapat membalaskan dendam sakit hati ini. Siapa tahu, tulang belulangku belum lagi mendingin, kau sudah berubah pikiran-......"
Paras muka pemuda itu berubah, peluh dingin jatuh bercucuran membasahi wajahnya.
Mendadak ia meraung keras dan berulang-ulang membawakan lagu sembilan dendam kesumat dalam waktu singkat darah panas dalam dadanya serasa bergolak keras, tanpa ragu-ragu dia melanjutkan perjalanannya menuju kearah rumah penginapan-Mungkin karena terpengaruh oleh bait-bait lagu sembilan dendam kesumat didalam waktu singkat dia seakan-akan telah berubah menjadi seseorang yang lain, bagaikan malaikat yang bengis dia berjalan memasuki rumah penginapan tersebut.
Cahaya lampu didalam rumah penginapan telah padam semua kecuali beberapa lampion diberanda samping.
Ia berjalan menelusuri beranda tersebut dan berhenti ditengah sebuah kebun.
Disitu ia berteriak keras-keras.
"Sembilan pedang dari dunia persilatan, kalian keluar semua."
Para tamu penginapan yang sudah tertidur nyenyak seketika terbangun oleh suara teriaknya yang keras dan nyaring itu, dengan perasaan terkejut mereka memasang lentera dan melongok keluar.
Dalam waktu singkat suasana didalam rumah penginapan itu sudah dibuat terang benderang bermandikan cahaya.
Ketika para tamu mengetahui bahwa orang yang berteriak adalah seseorang yang bengis dan buas bagaikan malaikat.
Meski dihati kecilnya merasa tak senang hati, namun tak seorangpun yang berani memberi komentar.
Sementara itu Kim Thi sia menurunkan kain kerudung mukanya, dengan suara keras kembali bentaknya.
"Hey sembilan pedang dari dunia persilatan, apakah kalian tak berani tampilkan diri? Aku adalah Kim Thi sia."
Begitu namanya diutarakan, para tamu penginapan yang melakukan perjalanan dalam dunia persilatan makin ketakutan lagi.
Sekalipun mereka tidak mengetahui secara pasti kemampuan dari orang tersebut, namun merekapun sadar, tidak berapa orang yang berani mencari gara-gara dengan Kim Thi sia yang tersohor itu.
"Maknya"
Dihati kecil mereka menggerutu.
"Rupanya simanusia yang paling susah dilayani yang telah datang membuat gara-gara, tak heran kalau dia berani menantang sembilan pedang dari dunia persilatan untuk berduel."
Mendadak pintu jendela ruangan sebelah timur terbuka disusuk kemudian tampak tiga sosok bayangan hitam berkelebat lewat dengan kecepatan luar biasa.
Begitu melihat kehadiran bayangan hitam tersebut, Kim Thi sia segera melangkah maju kedepan seraya berteriak keras.
"Apakah yang datang adalah sembilan pedang dari dunia persilatan?"
Dengan suatu gerakan yang sangat ringan ketiga sosok bayangan manusia itu berganti napas ditengah udara lalu melayang turun kebawah dengan gerakan "
Burung elang bermain diair."
Ketika Kim Thi sia mencoba mengamati wajah orang-orang tersebut, dia segera mengenali mereka sebagai sipedang perak-pedang tembaga dan pedang besi.
Rupanya sejak putri Kim huan diculik oleh permuda berwajah jelek ditengah jalan, ketiga orang ini merasakan peristiwa tersebut amat merosotkan pamor mereka didepan mata orang persilatan-Karenanya terdorong oleh perasaan tak puas dan terhina, mereka bertekad hendak menemukan jejak pemuda bermuka jelek tersebut.
Ketika mencari tempat penginapan malam ini, secara kebetulan mereka melihat suara tantangan dari pihak "Nirmala", karena itu hingga larut malam mereka belum juga tidur, maksudnya hendak menunggu sampai kemunculan si Nirmala nomor tujuh.
Tak disangka yang datang bukan Nirmala nomor tujuh, melainkan Kim Thi sia manusia yang paling susah dilayani.
Meskipun ketiga orang itu merasakan peristiwa mana sedikit diluar dugaan, namun melihat kedatangan Kim Thi sia yang diliputi perasaan gusar dan rasa dendam yang meluap-luap ini, hati mereka segera terasa berat dan tercekat.
Sementara itu Kim Thi sia telah berteriak keras.
"Hey pedang perak.
pedang tembaga, dan pedang besi.
Dengarkan baik-baik, kedatanganku hari ini tak lain adalah hendak menantang kalian untuk bertarung hingga titik darah yang penghabisan.
cobalah kalian pertimbangkan sendiri, apa sebetulnya hendak tiga melawan satu ataukah satu melawan satu, terserah kalian sendiri yang memilih.
Tapi aku tak bisa menunggu terlalu lama lagi......"
Ketika mengucapkan perkataan itu, dalam hati kecilnya dia membawakan terus lagu "sembilan dendam kesumat".
Dia berusaha membayangkan kembali peristiwa berdarah itu.
Dengan suara dalam sipedang perak segera menegur.
"Kim sute, apakah kau sudah edan?"
Kemudian sambil melangkah maju dengan tak senang hati, dia melanjutkan lebih jauh.
"Dibawah pandangan mata umum, apa jadinya bila sesama saudara seperguruan saling gontokgontokan sendiri? Ayoh ikut aku masuk kedalam kamar, aku hendak menanyakan sesuatu kepadamu."
"Aku sudah melepaskan diri dari ikatan hubungan persaudaraan dengan kalian, pokoknya kecuali berduel hingga titik darah penghabisan, tiada persoalan lagi yang bisa dibicarakan diantara kita."
Sambil tertawa dingin sipedang besi menegur.
"Suheng, sudah kau dengar perkataannya itu? Ia telah mengumumkan pemutusan hubungan persaudaraan dengan kita."
Kemudian setelah mengerling sekejap kearah Kim Thi sia, dengan luapan rasa benci dan dendam yang melumer dia berkata lebih jauh.
"Kalau toh begitu, kitapun tak usah terlalu menghargai dirinya lagi, menurut pendapatku lebih baik hubungan sebagai sesama saudara seperguruan kita putuskan hingga disini saja, kita selesaikan urusan ini dengan kekerasan-"
"Aku memang berharap demikian, nah kalian boleh mempersiapkan diri secepatnya"
Seru Kim Thi sia. Tiba-tiba pedang perak berkata dengan suara dalam.
"Samte, aku lihat kesadarannya agak terganggu, coba kau tangkap orang tersebut."
Pedang tembaga mengiakan dan segera maju kedepan dengan langkah lebar.
Kim Thi sia merasa agak sedikit tegang, meski begitu, ketika teringat kembali dengan dendam sakit hati gurunya, perasaan tegang yang semula mencekam perasaan hatinya seketika hilang lenyap tak berbekas.
"IHey, kita mau bertarung dengan pedang atau tangan kosong saja? Hari ini, kita mesti melangsungkan pertarungan dengan sebaik-baiknya."
Pedang tembaga sama sekali tidak berbicara, dia berjalan hingga kejarak tiga kaki sebelum secara tiba-tiba melancarkan sebuah serangan dengan ilmu "
Bukit tay san menindih kepala", serangannya selain dilancarkan dengan kecepatan luar biasa, lagi pula mengandung hawa pukulan yang sangat mematikan-Kim Thi sia segera membuang toya besinya sambil menyambut datangnya ancaman tersebut dengan jurus "kelincahan menguasahi empat samudra"
Dan "mati hidup ditangan takdir"
Dari ilmu Tay goan sinkang.
Tampaknya ia sadar, bahwa kelihayan dari ilmu Tay goan sinkangnya masih belum cukup untuk mengalahkan musuhnya, maka dari itu begitu kedua jurus serangannya dilancarkan, kakinyapun melancarkan sebuah sapuan dengan sepenuh tenaga.
Dalam satu jurus serangan, ternyata dia selipkan tiga gerakan yang berbeda.
Agaknya sipedang tembagapun melancarkan serangan dengan sekuat tenaga.
Hal ini bisa didengar dari deruan angin serangannya yang tajam dan gencar.
Namun begitu serangannya dilontarkan kedepan, tiba-tiba saja dia rasakan bahwa tenaga pukulannya yang kuat mengapai sasaran yang kosong seakan-akan serangan tersebut terjepit secara diam-diam hingga sasarannya menjadi meleset sama sekali.
Kejadian tersebut kontan saja amat mengejutkan hatinya.
Masih untung dia mempunyai pengalaman yang cukup matang didalam menghadapi serangan musuh.
Kecepatan reaksinya yang sangat mengagumkan-Baru saja angin pukulannya mengenai sasaran yang kosong, ia segera menyadari kalau situasi tidak menguntungkan, dengan gerakan "kuda liar menarik tali"
Dia segera menarik kembali serangannya sambil berusaha dimiringkan kesamping.
segulung desingan angin tajam dengan cepat menyambar lewat dari atas bahunya.
Meskipun tidak sampai termakan oleh serangan yang gencar itu, tak urung peluh dingin bercucuran juga membasahi seluruh tubuh sipedang tembaga.
Begitu Kim Thi sia berhasil meraih keuntungan yang cukup lumayan pada jurus serangan yang pertama, semangat tempurnya pun makin berkobar-kobar.
Berkilay sepasang mata pedang perak setelah menyaksikan peristiwa ini pikirnya kemudian-"jurus serangannya itu kelihatan sederhana sekali tanpa sesuatu keistimewaan, perubahan apapun tidak kelihatan kenapa begitu dan akan bersentuhan dengan lawan, segera terwujudlah perubahan yang begitu pelik hingga susah dihadapi?"
Sementara itu sipedang tembaga tak berani bertindak gegabah lagi, setelah dalam bentrokan yang pertama nyaris dipecundangi musuhnya.
Kini dia berdiri dengan tenang sambil mempersiapkan diri sebaik-baiknya.
Dia berusaha untuk mengamati perubahan gerakan musuhnya.
Mendadak segulung tenaga pukulan yang maha dahsyat dilontarkan kedepan, begitu Kim Thi sia menyambut dengan kekerasan, tubuhnya segera tergetar mundur sejauh dua langkah dari posisi semula.
"Haaaah, rupanya tenaga dalam yang dimilikinya masih selisih jauh dibandingkan dengan kemampuanku......"
Sipedang tembag kegirangan setengah mati, secara beruntun dia melancarkan kembali dua buah serangan yang amat gencar.
Kim Thi sia paling takut mengadu kekuatan dengan musuhnya, dia tidak mampu berdiri tegak dan sekali lagi terdesak mundur sejauh tiga langkah dari posisi semula.
Sementara itu suasana didalam rumah penginapan itu hening dan tak kedengaran sedikit suarapun, semua orang mengikuti jalannya pertarungan tanpa bersuara, karena siapapun tahu, kedua belah pihak yang sedang bertarung sama-sama merupakan jagoan yang susah dihadapi.
Waktu itu Kim Thi sia sedang berkelit kesamping dengan kecepatan tinggi disaat musuh belum sempat melancarkan serangannya yang keempat.
Sipedang tembaga segera mendengus dingin sekali lagi dia memutar telapak tangannya sambil melancarkan serangan-Kali ini Kim Thi sia bukannya mundur sebaliknya malah mendesak maju kedepan, dengan menggunakan jurus "
Kelembutan mengatasi air dan api"
Dari ilmu Tay goan sinkang ia sambut datangnya serangan tersebut sementara tangan kirinya menyerang dengan gerakan "ketenangan akan menimbulkan awan kabut."
Dalam dua gerakan mana, sebuah digunakan untuk membendung angin pukulan sipedang tembaga sedang yang la in justru menyelinap ketengkuk musuh dengan gerakan lincah.
Pedang tembaga merendahkan badannya seraya membentak keras.
"Lihat serangan jari."
"Sreeet, sreeeet."
Dua gulung desingan angin tajam meluncur kedepan dan langsung menyergap jalan darah penting diatas dadanya.
Kim Thi sia segera mundur satu langkah belum sempat melancarkan serangan balasan, sipedang tembaga telah manfaatkan kesempatan tersebut dengan sebaik-baiknya, ia mendesak lebih jauh dan secara beruntun melancarkan tiga buah pukulan dikombinasikan dua buah tendangan kilat.
Pertarungan antara jago lihay, kebanyakan menang kalah ditentukan oleh satu tindakan, begitu pula dengan sipedang tembaga sebagai orang ketiga dari Sembilan pedang dunia persilatan, tentu saja ilmu silat yang dimilikinya luar biasa sekali.
Begitu dia memanfaatkan kesempatan baik utuk meraih kemenangan, Kim Thi sia segera terdesak hebat sehingga mundur berulang kali kebelakang.
Kim Thi sia yang kehilangan posisi baik sehingga terdesak sampai kalang kabut oleh pedang tembaga, apalagi dihadapan orang banyak.
dari malunya dia menjadi gusar.
Mendadak kuda-kudanya dipantekkan keatas tanah dan tidak mundur lagi kebelakang, sementara sepasang telapak tangannya melancarkan pukulan kiri kanan dengan jurus "mengebot baju menghilangkan debu"
Serta "hembusan angin mencabut pohon-"
Angin serangan segera menderu-deru dan menyelimuti seluruh angkasa.
Pedang tembaga tertawa dingin, tanpa menggeser langkah kakinya dia memutar telapak tangannya yang telah terhimpun kekuatan besar itu.
Kedua buah serangan yang dipersiapkan kali ini merupakan himpunan dari segenap kekuatan yang dimilikinya, dalam waktu singkat angin pukulan menderu-deru, pasir dan batu beterbangan keudara, suasana terasa sangat mengerikan hati.
Melihat kedahsyatan tersebut, Kim Thi sia sadar bahwa dia tak sanggup lagi untuk menghadapi ancaman tersebut, dengan wajah berubah hebat segera pikirnya.
"Mungkin kebun ini akan menjadi tempatku menemui ajalnya?"
Tiba-tiba sifat kerbaunya muncul kembali, sekalipun dia tahu kalau bukan tandingan, namun ia justru menghimpun segenap kekuatan tubuhnya dan menyambut serangan tersebut dengan keras melawan keras.
mendadak terdengar sipedang tembaga menjerit kesakitan, disusul kemudian memuntahkan darah segar, tanpa berbicara sepatah katapun pemuda itu membalikkan badan dan melarikan diri.
Kim Thi sia mengira dia sudah berhasil menangkan pertarungan tersebut, dengan cepat pengejaran dilakukan-Tapi hanya sebentar saja ia sudah berhenti kembali dengan wajah termangu, diam-diam pikirnya.
"Aaaah, tidak benar, serangan kami belum saling bertemu. Bagaimana mungkin menang kalah bisa diketahui? Rupanya bukan aku yang telah melukai dirinya"
Dalam kesibukannya dia sempatkan untuk berpaling, betul juga, dibawah sinar lentera tampak tiga orang manusia berkerudung telah berdiri tegak disana dengan angkernya.
Entah sejak kapan ketiga orang itu munculkan diri, jangankah orang yang sedang bertarung tidak mengetahui secara pasti, ternyata para penontonpun tak ada yang mengetahui kehadiran mereka, jelas kejadian ini merupakan suatu peristiwa yang sangat aneh.
Pedang perak segera berkerut kening, sambil memayang tubuh pedang tembaga yang sempoyongan, ia membentak dengan suara dalam.
"Apakah yang datang adalah Nirmala nomor tujuh?"
Salah seorang diantara tiga manusia berkerudung yang bertubuh kecil dan berdiri ditengah segera balik bertanya.
"Kau termasuk urutan keberapa dari sembilan pedang dunia persilatan-.......?"
Begitu buka suara ia segera menegur pedang perak tanpa sungkan-sungkan, bahkan sama sekali tidak mengacuhkan pertanyaan yang diajukan-Jelas hal ini menandakan bahwa orang itu tidak memandang sebelah matapun terhadap musuhnya.
Tapi yang membuat semua terkejut bukan hal ini, melainkan nada tegurannya yang merdu merayu.
"ooooh, rupanya dia adalah seorang wanita"
Pikir semua orang tanpa terasa tapi setelah diperhatikan lebih seksama dan menemukan banyak sekali kejanggalan, mereka segera berpikir lagi.
"Kalau memang wanita, kenapa tidak berdandan sebagai wanita?Jangan-jangan dia adalah seorang banci?"
Sementara itu sipedang perak telah menjawab dengan tak senang hati.
"Akulah sipedang perak, dan kau?"
Perempuan berkerudung itu tertawa merdu, suaranya seperti kelentingan yang berbunyi nyaring membuat orang merasa tertegun dan terpesona dibuatnya.
"Akulah si Dewi Nirmala"
Perempuan itu memperkenalkan diri.
"oooh........sebuah nama yang sangat indah Dewi Nirmala"
Pikirnya banyak orang tanpa terasa.
"Seperti juga nada suaranya yang merdu merayu dengan penuh mengandung kelembutan dan kesucian-...."
Sebaliknya paras muka sipedang perak telah berubah hebat, alis matanya berkenyit kencang, sampai lama kemudian ia baru berkata.
"Dewi Nirmala, berulang kali kau telah menantang sembilan pedang dari dunia persilatan, sebetulnya apa maksud tujuanmu? Harap kau suka memberi penjelasan-...."
Dewi Nirmala tertawa getir.
"Pedang perak. apakah kau kebingungan? Lantas kenapa kau sendiri membunuhi pula anak buahku?"
"Aku hanya membela diri"
Kata pedang perak dengan suara dalam.
"Apakah untuk membela diri maka seseorang boleh membunuh orang semau hatinya sendiri?"
Tanya Dewi Nirmala lagi sambil tertawa genit.
"IHmmm, sebuah alasan yang amat sedap didengar, membela diri? Hmmm, mengapa tidak dibilang kau merasa ketakutan-......?"
Dalam pada itu Kim Thi sia juga lagi berpikir setelah mengetahui perempuan berkerudung itu adalah Dewi Nirmala.
"Kenapa dia mengirim orang untuk mencariku? Aku toh tidak kenal dengannya, tidak seharusnya ia bersikap tak menguntungkan terhadapku"
Setelah berhenti sejenak, kembali dia berpikir.
"Seandainya dia berniat hendak memaksamu untuk menyerahkan ilmu Tay goan sinkang kepadanya, tak nanti akan kuserahkan kepandaian tersebut kepadanya dengan begitu saja."
Makin dipikir dia merasakan hatinya semakin mendongkol, sehingga akhirnya tanpa ragu-ragu lagi dia membentak keras.
"Dewi Nirmala, kau telah turun tangan secara keji membunuh sipedang bintang, kedua belah pihak telah saling berhadap sebagai musuh besar. Apalagi yang bisa dibicarakan diantara kita berdua?"
Begitu perkataan tersebut diutarakan paras muka sipedang perak segera berubah hebat, setelah tertegun sejenak. dia segera menegur kepada si Dewi Nirmala.
"Benarkah perkataan itu?"
Dewi Nirmala tidak menjawab pertanyaan tersebut dengan secara langsung, dengan sepasang matanya yang jeli dia mengerling sekejap kearah Kim Thi sia, lalu tegurnya dengan merdu.
"Hey anak muda, siapa namamu? Dapatkah aku mengetahui namamu?"
Tiba-tiba saja Kim Thi sia merasa agak ragu-ragu pikirnya.
"Seandainya aku menyebutkan namaku bukankah tindakan ini sama artinya dengan menghantar diri kemulut harimau?"
Tapi diapun berpikir lebih jauh.
"Seandainya aku merahasiakan persoalan ini, bukankah hal tersebut berarti aku takut kepadanya? Tidak. tidak bisa, lebih baik kepalaku putus dan darahku bercecera daripada mesti menunjukkan rasa takut terhadap seorang wanita."
Setelah mengambil keputusan dihati diapun berseru dengan lantang.
"Aku bernama Kim Thi sia mau apa kau?"
Sembari berkata diapun mendesak maju kedepan dengan gaya yang ganas seakan-akan sudah siap mencari gara-gara.
Dewi Nirmala mendengarkan pembicaraan tersebut dengan sepasang mata melotot besar.
Tapi begitu mendengar nama "Kim Thi sia"
Tiba-tiba saja mencorong keluar sinar tajam dari balik matanya.
"oooh, rupanya kaulah yang bernama Kim Thi sia......kaulah yang bernama Kim Thi sia....."
Gumamnya lirih. Kemudian setelah tertawa merdu, dia berkata.
"Sahabat Kim, sudah lama kukagumi akan nama besarmu, aku sangat berharap bisa bersua denganmu. Tak disangka kita bersua disini, aku benar-benar amat gembira."
Berbicara sampai disitu, tangannya yang putih bersih tiba-tiba saja digerakan pelan-Gerakan tersebut sangat ringan dan pelan, namun bagi Kim Thi sia ibarat guntur yang membelah bumi disiang hari bolong, tanpa mengeluarkan sedikit suarapun ia roboh tak sadarkan diri keatas tanah.
seketika itu juga suasana menjadi gempar, diantara kegelapan malam terdengar suara ornag menjerit kaget dan berseru tertahan.
"Siapapun tidak menyangka kalau seorang perempuan yang bersuara begitu merdu ternyata sanggup membunuh orang tanpa berkedip jelas kekejaman hatinya melebihi racunnya ular ataupun kalajengking."
Tampaknya Dewi Nirmala dapat menebak suara hati orang banyak. Dia berpaling sekejap dan berkata sambil tertawa getir.
"Kalian tak usah panik, aku tak lebih hanya menotok jalan darahnya saja."
Lalu sambil berpaling kearah manusia berkerudung yang berada disisinya, dia berkata lagi.
"Cepat kau bawa orang ini pulang kelembah dan tunggu keputusan dariku."
Manusia berkerudung itu mengiakan dan segera membopong tubuh Kim Thi sia, lalu tapa mengucapkan sepatah katapun dia berjalan keluar dari rumah penginapan itu dengan langkah lebar.
Menyusul kemudian tubuhnya melejit keudara seperti burung rajawali yang mementang sayap.
Dalam dua kali lemparan saja bayangan tubuhnya sudah lenyap dibalik kegelapan sana.
Sementara itu, sepeninggal manusia berkerudung tadi, Dewi Nirmala berkata lagi.
"Nirmala nomor delapan, bekuk sipedang perak"
Mendengar perkataan tersebut, dengan cepat sipedang perak melangkah mundur satu tindak. kemudian serunya pula.
"Su sute, cepat mundur sambil menjaga sam sute. Biar aku yang hadapi persoalan ini."
Sipedang besi mengetahui akan bahaya maut yang mengancam, buru-buru dia membopong sipedang tembaga dan segera mengundurkan diri dari situ.
Hanya dalam dua tiga patah kata itulah, ternyata Nirmala nomor delapan telah bergerak maju sambil mulai melancarkan serangannya.
Dengan cekatan sipedang perak mundur selangkah kesamping sembari melepaskan serangan balasan untuk menghalau ancaman tersebut.
Lalu bentaknya dengan suara dalam.
"Dewi Nirmala, aku ingin bertanya lagi kepadamu, benarkah sipedang bintang tewas ditanganmu?"
"Siapa yang membunuh orang, dia harus membayar dengan nyawanya. Memangnya aku tak boleh membunuhnya?"
Sahut Dewi Nirmala hambar.
Pedang perak gusar sekali, secara tiba-tiba dia melancarkan dua buah serangan dahsyat yang segera langsung mengancam tubuh Dewi Nirmala serta Nirmala nomor delapan.
Dengan suatu gerakan yang ringan dan sederhana Dewi Nirmala mengebaskan ujung bajunya, serangan dahsyat dari sipedang perak seketika hilang lenyap tak berbekas bagaikan sebutir batu yang tenggelam ditengah samudra luas.
"Nirmala nomor delapan"
Seru perempuan itu kemudian.
"Seandainya kau tak sanggup membekuknya hidup,hidup, aku akan menjatuhkan hukuman membangkang perintah kepadamu. Dengan sikap yang sangat menghormat Nirmala nomor delapan mengiakan, tiba-tiba saja dari balik matanya memancar keluar sinar tajam yang menggidikkan hati, dalam waktu singkat dia telah melancarkan tiga buah serangan berantai yang semuanya disertai dengan kekuatan luar biasa. Menghadapi ancaman yang begitu dahsyat, sipedang perak merasa terkesiap. pikirnya.
Jilid 31
"Celaka, tenaga pukulan dari bangsat ini sangat kuat dan tangguh rasanya kekuatannya mampu meremukkan batu gunung.
ilmu silatnya sudah pasti masih berada diataS kepandaian nirmala nomor sepuluh.
Aku harus menghadapinya dengan berhati-hati."
Berpikir sampai disitu ia segera meloloskan pedang peraknya yang termashur lalu secara beruntun diagunkan kedepan menciptakan bunga pedang yang menyelimuti seluruh angkasa, mengancam jalan darah tay goan cho ciong ya seng dandang seng.
Empat buah jalan darah ditubuh Nirmala nomor delapan, sekali tidak menggeserkan kakinya dariposisi semula, namun gerak serangannya secara beruntun telah diubah sebanyak empat kali.
Hanya anehnya dengan gerakan mata ternyata semua serangan dahsyat yang dilancarkan sipedang perak telah hilang lenyap tak berbekas.
Dari sini terbukti sudah bahwa kepandaian silat yang dimilikinya memang sungguh-sungguh amat tangguh.
Tiba-tiba terdengar Dewi Nirmala bergumam.
"llmu Tay goan sinkang yang dipelajari Kim Thi sia mempunyai hubungan yang erat sekali dengan ilmu silat yang kupelajari. Aku harus selekasnya pulang kedalam lembah untuk mengorek rahasia Tay goan sinkang tersebut......."
Berpendapat begitu, dengan ilmu menyampaikan suaranya dia segera berpesan kepada Nirmala nomor delapan.
"Aku akan pulang kelembah juga, segala urusan disini kuserahkan kepadamu. Kuharap kau dapat memberi jawaban yang memuaskan, mengerti.......?"
Begitu selesai berkata, tanpa berpaling lagi dia melesat kedepan dengan kecepatan luar biasa, dalam waktu singkat bayangan tubuhnya sudah lenyap dibalik kegelapan Dalam pada itu, Kim Thi sia dibopong oleh Nirmala nomor tujuh menempuh perjalanan sangat cepat.
Dia hanya merasakan deruan angin yang kencang.
Seakan-akan dirinya sedang melayang diatas awanpada hakekatnya dia tak tahu Nirmala nomor tujuh hendak menghantarnya pergi kemana.
Akhirnya dia tertidur didalam pelukan nirmala nomor tujuh, kepenatan yang dialaminya selama berhari-hari membuat pemuda itu merasa seakan-akan menderita sakit parah, begitu tertidur sampai lama kemudian ia baru terbangun kembali.
Ketika pemuda itu membuka matanya kembali, dia merasa tubuhnya masih merasakan goncangan yang sangat keras, hal ini membuatnya amat terperanjat......
"Jangan-jangan Nirmala nomor tujuh sudah gila, masa ia tidak merasa penat barang sedikitpun meski sudah menempuh perjalanan siang malam?"
Diam-diam dia membuka matanya sambil melirik sekeliling tempat itu, ternyata saat itu masih tengah hari.
Akhirnya sorot matanya berhenti diatas bibir Nirmala nomor tujuh yang terkatup rapat menjadi satu garis itu, dibalik mulutnya yang terkatup terselip kemurungan yang amat tebal.
Rambut dan jenggot nirmala nomor tujuh sudah memutih semua Jelas dia adalah seorang tua yang sudah lanjut usia, tapi.....
mengapa dia harus bersusah payah membawanya menempuh perjalanan jauh?
Nirmala nomor tujuh mempunyai telinga yang besar wajah empat persegi dengan jenggot yang panjang.
Sebuah tampang yang gagah dan bersih.
Tapi tak disangka dengan wajah segagah ini, ternyata dia begitu menurut dan tunduk terhadap perintah Dewi Nirmala.
Tak lama kemudian matahari pun turun gunung dan suasana senja mencekam seluruh jagad, namun Nirmala nomor tujuh masih melanjutkan perjalanannya tanpa berhenti.
Lambat laun peluh mulai bercucuran membasahi seluruh wabahnya, dengusan napasnyapun berubah makin pendek dan terengah-engah.
Mula-mula Kim Thi sia menaruh rasa simpatik kepadanya, tapi bila teringat nasib jelek yang menimpanya sekarang, rasa simpatik itupun seketika hilang lenyap tak berbekas.
Diam-diam ia mencoba untuk menghimpun tenaga dalamnya, namun sayang semua jalan darahnya serasa tersumbat.
Peristiwa itu kontan saja menimbulkan perasaan tak puas dalam hatinya, setengah menyindir serunya.
"Empek tua, apakah kau memang seorang panglima perang yang terbiasa lari jauh? Apakah kau tak takut lelah?"
Nirmala nomor tujuh membungkam dalam seribu bahasa, dari mulutnya yang terkatup rapatrapat dapat diketahui bahwa dia adalah seorang yang tak suka banyak berbicara.
Melihat itu, Kim Thi sia menyindir kembali.
"Empek tua, kau terlalu bersusah payah coba berganti aku. Sudah sejak tadi aku mencari tempat untuk beristirahat."
Lalu setelah menghela napas panjang, lanjutnya.
"Aaaai, buat apa sih bersungguh-sungguh untuk pekerjaan orang lain?"
Nirmala nomor tujuh sama sekali tidak menggubris, pandangan matanya dialihkan ketempat kejauhan sana sambil meneruskan larinya, ia seperti tidak mendengar sindiran tersebut bahkan sama sekali tidak mengacuhkannya.
Kim Thi sia yang ketanggor batunya semakin tak senang hati lagi dibuatnya.
"Uuuuh......moga-moga saja kau mampus karena kehabisan tenaga....."
Gumamnya kemudian.
Sambil pejamkan matanya, dia tertidur kembali didalam gendongan Nirmala nomor tujuh.
Sampai dia mendengar suara ayam berkokok dikejauhan situ, ia baru tahu bahwa satu malaman kembali telah lewat.
Begitulah perjalanan siang malam ditempuh hampir tiga hari lamanya.
Kim Thi sia sudah merasa kelaparan setengah mati.
Akan tetapi Nirmala nomor tujuh masih terus berlari tanpa berhenti, seakan-akan dia sama sekali tidak merasakan kepenatan.
Menyaksikan keanehan itu, kembali Kim Thi sia bertanya.
"Hey empek tua, sebetulnya kau ini manusia atau setan? cepat katakan......."
"Manusia"
Jawab Nirmala nomor tujuh singkat.
Dengan susah payah akhirnya orang itu berbicara juga, meski hanya sepatah kata namun Kim Thi sia merasa puas sekali.
Suara orang itu sangat parau, tua dan berat mendatangkan kesan seperti menghadapi tibanya musim gugur saja, rasa gersang, tua dan sepi mencekam perasaan tersebut.
"Hey orang tua....."
Teriak Kim Thi sia lebih jauh.
"Setelah menempuh perjalanan selama tiga hari tanpa berhenti, apakah kau tidak merasa kelaparan?"
"Sudah terbiasa"
Kembali jawaban dari Nirmala nomor tujuh teramat singkat.
"Aku tak percaya, sudah pasti kau sudah mencuri makan sewaktu aku sedang tertidur tadi, malahan bisa jadi telah beristirahat sebentar."
Kemudian setelah berhenti sejenak terusnya.
"Aku tak percaya manusia yang terdiri dari darah dan daging bisa bertahan selama tiga hari tanpa makan, minum dan beristirahat, memangnya kau adalah malaikat?"
"Belum tentu begitu"
Akhirnya Nirmala nomor tujuh menanggapi juga perkataan mana.
"Aku mempunyai sejenis obat yang amat mujarab, asal menelan sebutir saja maka kau bisa bertahan seperti sekarang ini."
Karena merasa perutnya amat lapar dengan tebalkan muka Kim Thi sia segera berseru lagi.
"Aku sudah kelaparan setengah mati, bersediakah kau memberi sebutir pil mujarab itu kepadaku?"
Tampaknya Nirmala nomor tujuh menyukai sikap polosnya itu, tanpa ragu-ragu dia mengeluarkan sebuah botol putih dan mengambil sebutir pil yang segera diserahkan kepadanya.
Sambil mengucapkan terima kasih, Kim Thi sia menelan pil itu kedalam perut.
Tak selang berapa saat kemudian segulung hawa panas telah mengembang dalam perutnya dan menjalar keseluruh bagian tubuhnya.
Betul juga, rasa lapar yang semula mencekam perasaannya kini hilang lenyap tak berbekas.
Sesudah rasa laparnya hilang, pemuda itu baru bertanya lagi.
"Empek tua, kau hendak mengajakku pergi kemana?"
"Buat apa kau bertanya, sebentar toh akan tahu dengan sendirinya........?"
"Kenapa kau tak berani mengatakannya?"
"Soal ini....."
Tiba-tiba Nirmala nomor tujuh terbungkam dan tak mampu melanjutkan katakatanya lagi.
"Aaaah, tahu aku sekarang, kau adalah anak buah Dewi Nirmala, sebelum ada perintah dari Dewi Nirmala tentu saja kau tak berani memutuskan sendiri, bukankah begitu empek tua?"
Perkataan tersebut diutarakan dengan ramah, sama sekali tidak menganggapnya sebagai musuh, dalam hal ini Nirmala nomor tujuh merasa amat terharu.
coba kalau ia tidak menjumpai sesuatu kesulitan, niscaya segala sesuatunya sudah diterangkan-Tak lama kemudian senja telah menjelang langkah kaki Nirmala nomor tujuhpun mulai bergelombang seakan-akan sedang melewati jalan berbatu yang tidak rata.
Walaupun Kim Thi sia tak dapat melihat secara nyata, namun dia bisa merasakan gelagat yang aneh itu Dengan penuh kecurigaan ia segera bertanya lagi.
"Empek tua, bukit tinggi menyelimuti sekeliling tempat ini, sebenarnya kita hendak pergi kemana?"
"coba bayangkan sendiri, kalau empat penjuru berupa bukit, seharusnya dibagian tengahnya berupa tempat apa?"
"Sebuah telaga?"
Tanya Kim Thi sia. Nirmala nomor tujuh hanya menggelengkan tanpa menjawab. Kim Thi sia berpikir sejenak, tibatiba serunya lagi.
"Aaaai mengerti aku sekarang, tempat itu kalau bukan sebuah telaga bukit, pastilah sebuah lembah."
"Tebakanmu tepat sekali nak"
Sahut Nirmala nomor tujuh pelan-Kini tubuhnya mulai melompat kian kemari seperti burung yang terbang diangkasa.
Setiap kali melompat lima kaki dicapai dengan gampangnya.
Selama ini Kim Thi sia hanya merasakan angin tajam mendesing disisi telinganya, tanpa terasa dia berpekik didalam hati.
"Ehmmm, ilmu meringankan tubuh yang sangat lihay."
Akhirnya malampun menjelang tiba, kegelapan malam mencekam seluruh jagad, untung rembulan bersinar terang dan bintangpun bertebaran diangkasa.
Meminjam pantulan cahaya rembulan yang redup, diam-diam Kim Thi sia mencoba memperhatikan sekejap keadaan disekitar situ.
Tampak batuan cadas berbentuk aneh tersebut dimana-mana.
Rumput tinggi menyelimuti permukaan tanah, suasana amat menyeramkan.
"Aaaah, ternyata tempat ini benar-benar adalah sebuah lembah....."
Demikian dia berpikir. Belum sempat dia mengajukan sebuah pertanyaanpun, Nirmala nomor tujuh telah berbisik.
"Nak, terus terang saja kubilang, sesungguhnya aku sangat menyukai dirimu, tapi sayang aku bukan orang bebas sehingga tak berani mengambil keputusan secara serampangan. Apalagi membebas merdekakan dirimu, tapi aku amat berharap kau bisa melepaskan diri dari ancaman bahaya serta meninggalkan tempat ini dalam keadaan aman tentram."
Tiba-tiba Kim Thi sia merasakan ada sesuatu dijejalkan kedalam genggamannya, sewaktu diperiksa ternyata benda itu berupa sebutir pil.
Sementara dia masih merasa keheranan, Nirmala nomor tujuh telah berkata lagi.
"Aku tidak mempunyai sesuat barang yang bisa membantumu, kecuali obat ini. Aa aai......telanlah pil tersebut,segala sesuatunya biar takdir yang menentukan-"
Kim Thi sia bisa merasakan makna yang sebenarnya dari perkataan tersebut, diam-diam pikirnya.
"Apa yang kutakuti, serangan tentara datang kuhadang , air bah datang, kubendung."
Meski berpikir begitu, pil tadi ditelannya juga kedalam perut. Nirmala nomor tujuh memandang sekejap kearahnya, kemudian dia berkata lagi.
"Nak terpaksa aku harus menyiksa dirimu."
"Tak apa-apa, aku tahu empek memang terpaksa harus berbuat begini."
"Baiklah"
Kata nirmala nomor tujuh kemudian sambil manggut-manggut.
"Pejamkaniah matamu"
Begitu Kim Thi sia memejamkan matanya dia segera menotok jalan darah tidurnya dan membopong dia kesuatu tempat.
Kim Thi sia tertidur begitu nyenyak lebih kurang empat jam lamanya, ketika ia mendusin kembali, terasa suasana disekelilingnya gelap gulita susah untuk melihat kelima jari tangan sendiri.
Kenyataan tersebut membuatnya amat terkejut.
Masa rembulan sudah bersembunyi dibawah awan sehingga suasana menjadi gelap gulita?
Begitu dia berpikir.
Aaaaah, tak betul kenapa tiada hembusan angin disini?"
Dia mencoba untuk meraba sekeliling tempat itu, tangannya segera menyentuh dinding yang amat kuat, hal mana kontan saja membuat hatinya sangat terkejut.
"Siapa yang telah mengurungku didalam ruangan ini?"
Kembali dia berpikir. Bau lembah yang amat menusuk hidung menyelimuti tempat itu, sekali lagi dia merasakan sesuatu yang tak beres, pikirnya lebih jauh.
"Aaaah, rupanya kau telah disekap didalam sebuah gua kecil yang terdiri dari batu cadas, tak aneh kalau bau lembahnya begitu tebal dan menusuk penciuman-"
Ia mencoba untuk mendorong dengan sepenuh tenaga, dari atas langit gua segera berguguran pasir dan debu yang amat deras, didalam keadaan tak siap.
hancuran tanah dan debu itu seketika mengotori seluruh tubuh dan kepalanya.
Tapi dari sini pula dia dapat menyimpulkan bahwa dirinya memang telah disekap didalam sebuah gua kecil yang tak nampak langit.
"Maknya....."
Dia menyumpah kalang kabut.
"Hey Dewi Nirmala, aku bersumpah tak akan hidup berdampingan denganmu."
Untung saja dengan cepat ia dapat menyesuaikan diri dengan keadaan disekelilingnya, tak selang berapa saat kemudian ia telah bersandar diatas dinding gua dan tertidur kembali.
Menanti dia sadar kembali dari tidurnya disisi kakinya sudah nampak secercah cahaya yang menyorot masuk.
Dengan cepat pemuda itu dapat menyimpulkan bahwa asal cahaya tersebut sudah pasti merupakan mulut gua, dia mencoba untuk meraba sekitarnya, ternyata mulut gua telah tersumbat oleh sebuah batu raksasa yang kerasnya bagaikan besi.
Batu raksasa itu tingginya mencapai satu kaki dengan lebar delapan depa.
Sambil menghimpun seluruh tenaganya Kim Thia sia mencoba untuk mendorong batu cadas tersebut bergerak sedikitpun tidak.
hal ini semakin membuktikan bahwa tepai batu cadas itu bisa mencapai depa lebih.
Meminjam cahaya yang menyorot masuk keruang gua, dia mencoba memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, tapi apa yang terlihat seketika membuat hawa amarahnya memuncak.
Gua itu dalamnya cuma dua kaki, selain tempat yang disediakan untuk tidur, disitu hanya terdapat rumput kering serta kotoran manusia.
Dari sini terbukti juga bahwa sebelumnya kehadirannya, sudah ada orang lain yang berdiam disitu.
Sekalipun kotoran manusia itu sudah mengering dan berubah warna karena terlalu lama berada disana.
Baunya sudah hilang, namun pemandangan semacam ini sungguh memualkan hampir saja isi perut Kim Thia sia muntah keluar semua.
"Semuanya ini merupakan pemberian dari Dewi Nirmala, suatu saat aku harus membalasnya berikut bunga-bunganya......."
Demikian ia bermaksud dalam hatinya.
Perasaan hatinya sekarang tak dapat tenang kembali, dia berusaha celingukan kian kemari mencari peluang baik untuk meloloskan diri, sayang dia segera dibuat kecewa.
Selain batu cadas yang menyumbat mulut gua tersebut, dinding gua lainnya terbuat dari alam.
Jelas tak mungkin bisa dibongkar dengan tenaga manusia.
Dalam keadaan apa boleh buat, terpaksa pemuda itu harus memutar otak berusaha mencarijalan keluar lainnya.
Tiba-tiba saja ingatan melintas didalam benaknya, dia berpikir kembali.
"Setelah menelan pil mujarab pemberian si Nirmala nomor tujuh, kekuatan tubuhku menjadi segar kembali aku menjadi tak lapar tidak pula merasa haus. Kenapa aku tak memanfaatkan kesempatan yang baik ini untuk melatih ilmu Tay goan sinkangku......."
Kemudian setelah termenung sebentar dia berpikir jauh.
"Sejak terjun kedalam dunia persilatan, aku belum pernah melatih ilmu tersebut secara bersungguh-sungguh, sekalipun dalam waktu singkat aku tak bisa lolos dari gua ini, paling tidak dikemudian hari aku masih punya peluang untuk memberi pelajaran yang setimpal terhadap si Dewi Nirmala itu......"
Berpikir sampai disitu, keputusanpun segera diambil.
Tiba-tiba ia menarik napas panjang-panjang lalu dengan mengikuti pelajaran yang pernah diterimanya dari Mala ikat pedang berbaju perlente, dia mulai mengatur napas dan berlatih diri.
Tatkala pikirannya mulai kosong dan seluruh kekuatan tubuhnya terhimpun menjadi satu, dengan sekuat tenaga dia melepaskan sebuah pukulan yang dahsyat keatas batu cadas dimulut gua.
"Blaaaaaar......."
Benturan keras bergema memecahkan keheningan, sekalipun batu cadas itu sama sekali tidak bergeser dari posisinya semula, namun ia dapat merasakan bahwa tenaga dalam yang dimilikinya telah banyak peroleh kemajuan-Dalam girangnya dia melepaskan kemajuan pukulan lagi, begitu seterusnya sepasang telapak tangannya melancarkan pukulan demi pukulan secara bergantian-Dalam waktu singkat peluh sebesar kacang buncis telah jatuh bercucuran membasahi seluruh badannya.
Dengan tubuhnya yang masih berstatus sebagai jejaka untuk berlatih tenaga dalam secara otomatis kemajuan yang diperoleh menjadi berlipat ganda ketimbang orang lain-Tak selang berapa saat kemudian banyak sudah kepandaian serta rahasia ilmu silat yang berhasil dipahami olehnya.
Rupanya pemuda tersebut telah mengerahkan ilmu ciat khi mi khi nya untuk menghisap kembali tenaga pantulan yang dihasilkan dari pukulan demi pukulannya yang terarah keatas batu cadas tersebut.
Ternyata kombinasi dua macam kepandaian yang dilatih bersamaan waktunya ini membuat tenaga dalamnya memperoleh peningkatan yang luar biasa sekali.
Bukan hanya begitu, malahan pukulan demi pukulan yang terarah keatas batu cadas tersebut.
Ternyata kombinasi dua macam kepandaian yang dilatih bersamaan waktunya ini membuat tenaga dalamnya memperoleh peningkatan yang luar biasa sekali.
Bukan hanya begitu, malahan pukulan demi pukulan yang dilancarkanpun makin lama semakin bertambah berat dan dahsyat.
Penemuan aneh yang sama sekali tidak terduga ini tentu saja sangat menggirangkan hatinya.
Semangat berlatihnya yang semakin berkobar, latihan yang dilakukanpun dengan sendirinya makin giat dan tekun dilaksanakan.
Sehari semalam sudah dilewatkan tanpa berhenti berlatih, ketika bajunya mulai basah oleh keringat, dia lepaskan jubah luarnya dan melanjutkan latihannya lebih jauh.
Entah berapa lama sudah lewat, mendadak dari luar gua dia mendengar suara langkah kaki manusia bergema mendekat.
Disusul kemudian ia mendengar suara aneh dari batu raksasa tersebut seakan-akan ada seseorang yang sedang mendorong batu itu dari luar gua itu.
Tak selang berapa saat kemudian, terdengar seseorang menegur dengan suara pelan.
"Nirmala nomor tujuh, benarkah kau telah membebaskan totokan jalan darahnya?"
"Yaaa, aku hanya melaksanakan perintah dari sincu"
Jawab seseorang dengan suara berat.
"Aku rasa dengan dinding gua yang begini kokoh ikut serta persiapan barisan yang begitu banyak disekitar sini, dia tak akan bisa meloloskan diri dari tempat ini. Kalau tidak. tak nanti sincu memerintahkan untuk membebaskan totokan jalan darahnya."
Ketika kedua orang itu selesai berbicara suara gemerincingan aneh tadi berkumandang lagi, lalu terlihat batu raksasa yang menyumbat gua itu nampak bergerak sebentar.
Menyaksikan hal ini, Kim Thia sia segera berpikir.
"Paling tidak. batu raksasa ini beratnya mencapai berapa ribu kati, sudah setengah harian lamanya aku menghantam batu tersebut tanpa bergerak sedikitpun jua, nyatanya orang itu sanggup menggoncangkannya kekiri kanan, waaaah......tenaga dalam yang dimiliki orang itu sudah tentu luar biasa sempurnanya."
Tak selang berapa saat kemudian, batu cadas itu bergeser kesamping dengan menimbulkan gemuruh suara yang keras, cahaya terang yang amat menusuk matapun mencorong masuk kedalam gua, membuat Kim Thia sia tak sanggup melihat apapun.
Dalam keadaan seperti ini, tanpa terasa pemuda itu mundur setengah depa kebelakang.
Mendadak ia merasa lengannya dicengkeram seseorang dengan kekuatan yang sangat besar.
Disusul kemudian terdengar seseoran berseru keheranan.
"Aaaaah, tak disangka kondisi tubuh bocah muda ini masih kelihatan segar dan kuat sekalipun sudah terkurung selama berapa hari disini. coba lihat, ia tak nampak kelaparan ataupun kelelahan-"
Sesungguhnya didalam hati kecil Kim Thia sia telah timbul niat untuk memberi perlawanan-Tatkala lengan kirinya kena dicengkeram, telapak tangan kanannya yang masih bebas telah terhimpun kekuatan penuh dan siap melancarkan pukulan dahsyat.
Tapi sebelum hal itu dilakukan, mendadak terdengar suara Nirmala nomor tujuh berkata.
"Aaaai, sesungguhnya bocah ini tidak bersalah."
Mendengar suara itu, tiba-tiba saja Kim Thia sia mengurungkan niatnya untuk melancarkan serangan, pikirnya.
"Nirmala nomor tujuh bersikap sangat baik kepadaku, mengapa aku harus menyusahkan dirinya?"
Ia mengerti Nirmala nomor tujuh terpaksa harus berpihak kepada Dewi Nirmala karena dipaksa oleh keadaan, oleh karena itulah tenaga dalam yang telah terhimpun pelan-pelan dibuyarkan kembali.
Waktu itu, ia sudah dapat menyesuaikan diri dengan keadaan disekelilingnya, ia melihat orang yang sedang mencengkeram lengannya adalah seorang kakek berwajah dingin.
Dibelakang kakek berwajah dingin itulah berdiri Nirmala nomor tujuh.
Terdengar kakek bermuka dingin itu berkata.
"Anak kecil, sebetulnya kami tiada hubungan sakit hati ataupun dendam kesumat denganmu sehingga tidak seharusnya menganiaya dirimu. Tapi sekarang, kami terpaksa harus melaksanakan perintah atasan kami, untuk itu harap kau sudi memakluminya."
Kim Thia sia segera tersenyum.
"Empek tak usah berkata begitu, aku tak akan menaruh rasa benci atau dendam kepadamu."
Baru selesai perkataan itu diutarakan mendadak dari kejauhan sana terdengar suara nyanyian seorang wanita suara yang merdu merayu bergema dan mengalun diangkasa......
Mendengar suara nyanyian merdu itu Nirmala nomor tujuh segera berpaling kearah kakek bermuka dingin itu seraya berkata.
"Sincu telah melakukan sembahyang paginya, kita tak bisa menunda-nunda lebih lama ayoh selekasnya membawanya pergi kesitu"
Kakek bermuka dingin itu manggut-manggut.
"Anak kecil, kesulitan kami telah kami utarakan sebelumnya, karena itu kuharap kau suka mengikuti kami. Janganlah mempunyai ingatan untuk melarikan diri?"
"Bagi seorang lelaki sejati, berani berbuat berani pula bertanggung jawab, kalian tak usah kuatir"
Jawab Kim Thia sia gagah.
Dengan perasaan kagum kakek bermuka dingin itu tertawa dan manggut-manggut.
Dia tak berbicara lagi, digandengnya pemuda itu dan beranjak pergi dari sana.
Kim Thia sia merasa tegang sekali menghadapi keadaan seperti ini, namun diluarnya dia berusaha menunjukkan sikap yang tenang.
Sepanjang jalan dia mencoba untuk memperhatikan lembah tersebut dengan seksama tampak olehnya hutan yang hijau tumbuh disekitar situ batu aneh berserakan disana sini secara tak beraturan-Namun jelas terlihat batu-batu itu sudah diatur menurut kedudukan sebuah barisan-Tak jauh didepan sana terlihat air terjun yang sangat indah pemandangan alam diseputar situ memang indah menawan-Akhirnya dengan menelusuri sebuah jalan setapak sampailah mereka sebuah tanah lapang yang luas, sejauh mata memandang hanya tulang belulang manusia yang berserakan ditanah lapang itu.
Kim Thia sia mencoba untuk memperhatikan tempat itu dengan lebih seksama, tulang belulang itu hampir berada dalam keadaan utuh.
Hanya anehnya dalam tangan kerangka manusia itu terlihat jelas menggenggam sebuah batu bata.
ketika dihitung jumlahnya mencapai dua ratusan lebih, atau dengan perkataan lain, kerangka manusia yang terkapar disitupun berjumlah dua ratusan lebih.
Dengan perasaan terkesiap ia segera berpikir.
"Jangan-jangan tempat ini merupakan bekas arena pertempuran dijaman kuno dulu......? Tapi....aaai, keliru, nampaknya mereka tertarik karena bongkahan emas itu."
Tanpa terasa diapun berpikir lebih jauh.
"Aaaai, andaikata si unta yang mengetahui bongkahan emas tersebut, entah betapa gembiranya dia."
Tak lama kemudian tibalah mereka ditepi kolam dengan teratai yang tumbuh sangat indah, pepohonan yang rindang dan bunga-bunga yang harum baunya, mendatangkan suasana nyaman bagi siapapun jua.
Untuk berapa saat lamanya Kim Thia sia berdiri terpesona disitu, dia merasakan seakan-akan sedang berada dibawah nirwana saja.
Mendadak kakek bermuka dingin itu berseru.
"Nak, kau tak usah banyak melihat lagi, meskipun keindahan alam disini menawan hati namun tak bisa memberitahukan keindahan kepada sanak keluargamu lagi."
Kim Thia sia tidak memahami maksud perkataan itu, tapi diapun tidak menikmati lebih jauh, dengan mulut membungkam ia meneruskan perjalanannya kedepan. Sementara itu dalam hati kecil dia berpikir.
"Kemanakah aku hendak dibawa?"
Mendadak timbul perasaan tak senang didalam hati kecilnya, dia merasa setiap orang yang berada disitu seperti diliputi kemisteriusan semua, pikirnya lebih jauh.
"Kecuali pergi menjumpai Dewi Nirmala yang pernah kujumpai, rasanya tak seorangpun yang kukenal ditempat ini......."
Belum habis ingatan tersebut melintas lewat, mendadak terdengar kakek bermuka dingin itu membentak dengan suara dalam.
"Kita telah sampai ditempat tujuan"
Dengan perasaan terkejut Kim Thia sia mendongakkan kepalanya, ia merasa matanya menjadi silau, apa yang terlihat membuat matanya terbelalak lebar dan mulutnya melongo.
Rupanya mereka telah sampai didepan sebuah gedung istana yang amat besar dan mentereng, disekeliling aneka bunga dan pepohonan yang amat indah, isi perabot dalam gedung tersebut rata-rata terbuat dari bahan kayu kelas satu.
Yang jelas segala sesuatu yang terlihat disana merupakan barang indah, dan mewah yang rasanya hanya akan ditemui diistana raja.
Mendadak sikap Nirmala nomor tujuh berubah menjadi menghormat sekali, dengan suara rendah dia berkata.
"Nak. jangan berbicara lagi, nanti bila sincu memakimu atau menegurmu, kau tidak boleh perlihatkan kemarahanmu diatas wajah. Kalau tidak. kau bisa dibunuh secara keji. Ingat nak. aku hanya bisa membekali berapa nasehat ini kepadamu, apa yang bakal terjadi hanya nasibmu yang akan menentukan dirimu."
Kakek berwajah dingin itu menggerakkan pula bibirnya seperti hendak mengucapkan sesuatu, namun akhirnya niat tersebut dlurungkan.
Ia berhenti sejenak disitu, tapi akhirnya sambil menjatuhkan diri berlutut menghadap kedalam gedung mewah itu, katanya dengan hormat.
"Tecu ing Goan san menanti dengan hormat kehadiran Sin li."
"Huuuh, Sin li (perempuan suci)? Memangnya ia benar-benar Dewi dari khayangan?"
Pikir Kim Thia sia.
Tanpa terasa ia mendengus dingin, wajahnya nampak sinis sekali.
Kakek bermuka dingin itu melotot sekejap kearahnya, seperti bermaksud menegur sikapnya itu.
Kim Thia sia sama sekali tak menggubris tiba-tiba ia speerti teringat akan sesuatu, sambil berseru tertahan pikirnya lagi.
"Yaa, aku teringat sekarang, bukankah tempat ini adalah lembah Nirmala, lembah yang pernah diceritakan oleh ayahku dulu."
Kemudian gumamnya lebih jauh.
"Yaa, semua bukit, air, batu, bunga, air terjun, dan kolam yang berada disini. Hampir semuanya mirip dengan lembah Nirmala seperti apa yang pernah ayah ceritakan-Ditambah pula dengan gedung dan hiolo kemala itu. Bukankah semuanya ini makin membuktikan kalau tempat ini benarbenar adalah lembah Nirmala?"
Bagaikan mendapat impian buruk, pemuda itu berpikir lagi.
"Ia bernama Nirmala nomor tujuh, bukankah kata Nirmala didepan nomor urutnya menunjukkan tempat dimana ia berdiam? Bukankah hal ini semakin membuktikan kalau yang kuduga memang benar?"
Sambil memukul kening sendiri, dia berpikir lebih jauh.
"Aku benar-benar sangat bodoh, seharusnya aku bisa menyadari persoalan ini sedari tadi, kenapa sampai sekarang baru kupahami? Bukankah sesaat itu menjelang ajalnya, ayahpun pernah menyinggung soal Dewi Nirmala? kenapa aku telah melupakannya."
Sementara dia masih diliputi pelbagai perasaan yang kalut dan tak menentu. Tiba-tiba dari dalam ruangan bergema suara tertawa merdu disusuk seseorang berseru dengan lembut.
"Masuklah, tak usah banyak adat."
Kim Thia sia tak sempat berpikir lebih lajut, tahu-tahu tubuhnya telah digotong oleh kakek bermuka dingin itu dan dibawa masuk kedalam gedung.
Mendadak kakek bermuka dingin itu menghentikan langkahnya sambil menurunkan tubuh kebawah, kemudian bentaknya dengan suara dalam.
"Hayo berlutut"
Kim Thia sia merasakan pikirannya sangat kalut, ketika mendengar perkataan itu tanpa raguragu dia segera menjatuhkan diri berlutut. Namun secara tiba-tiba dia melompat bangun kembali, gumamnya cepat.
"Maknya seorang lelaki sejati tak akan berlutut dihadapan sembarangan orang, atas dasar apa aku mesti berlutut dihadapan orang ini?"
Apalagi setelah melihat keadaan disekitar situ, hawa amarahnya makin memuncak.
Ternyata dihadapannya berdiri empat orang gadis cantik berbaju hijau yang mendampingi seorang gadis cantik jelita.
Waktu itu sinona cantik tersebut sedang duduk bersandar dijendela.
Ia mengenakan baju berwarna putih bersih bagaikan saiju, sepasang matanyaamat jeli dengan hidung mancung dan bibir yang kecil mungil.
Terutama sepasang lengkung pipinya sewaktu tertawa, menambah kecantikan wajah gadis tersebut.
Usianya paling banter baru dua puluh tiga, empat tahunan-Namun memancarkan kematangan yang penuh daya pesona.
Entah mengapa, tahu-tahu saja hawa amarah yang semula berkobar didalam dada Kim Thia sia hilang lenyap dengan begitu saja setelah bertemu dengan gadis cantik itu.
"Gadis ini benar-benar memiliki kecantikan wajah yang tak kalah dari kecantikan putri Kim huan."
Sementara itu Nirmala nomor tujuh dan kakek bermuka dingin itu telah mengundurkan diri dari situ. Kim Thia sia sgeera memusatkan kembali pikirannya dan menegur.
"Kaukah yang bernama Dewi Nirmala? Ada urusan apa kau menculik ku datang kemari?"
Gadis cantik berbaju putih itu menggelengkan kepalanya berulang kali, sahutnya.
"Itu sih urusan ibuku. Aku kurang begitu tahu, sebentar tanyakan sendiri kepadanya."
Dalam benak Kim Thia sia segera terlintas kembali pesan terakhir ayahnya, iapun berpikir.
"Kata ayah, putri Dewi Nirmala naik sekali orangnya, dia pernah menyelamatkan jiwa ayah. Aku harus mengucapkan banyak terima kasih."
Berpikir demikian, dengan nada menyelidik bertanya.
"Hey, apakah kau tidak takut aku melarikan diri?"
Tiba-tiba sekulum senyuman manis tersungging diujung bibir gadis cantik berbaju putih itu, sahutnya pelan-"Ruangan gedung ini dijaga sangat ketat, kau tak akan berhasil untuk meloloskan diri dari sini."
Lalu setelah melirik sekejap kearah empat orang gadis berbaju hijau yang berdiri disisinya, dia melanjutkan.
"Lagipula keempat orang ini memiliki ilmu silat yang sangat hebat, aku tak percaya kau mampu meloloskan diri."
Tanpa terasa Kim Thia sia berpaling dan memperhatikan sekejap wajah keempat orang dayang berbaju hijau itu, tampak sorot mata mereka amat tajam dengan gerak gerik yang mantap.
sudah jelas kepandaian silat yang mereka miliki lihay sekali.
Tanpa terasa pemuda itu berpikir "Hmmm, belum tentu aku akan melarikan diri.
Dewi Nirmala sudah terlalu banyak memberi penderitaan kepadaku, tak nanti aku akan pergi dari sini dengan begitu saja.
Hmmm"
Maka tanyanya lagi kepada gadis berbaju putih itu.
"Sampai kapan ibumu baru akan kembali?"
"Sebentar lagi, begitu ia selesai dengan latihan paginya, dia akan datang kemari."
Kim Thia sia tak berniat mengusik atau mencelakai gadis tersebut, mendengar jawaban tersebut diapun jatuhkan diri duduk bersila diatas tanah sambil katanya dengan suara dalam.
"Biarlah, aku akan menunggu sampai dia kembali."
Berapa saat sudah lewat, namun Dewi Nirmala belum juga menampakkan diri, karena iseng maka Kim Thia sia berkata lagi.
"Pernahkah kau belajar silat?"
Rupanya gerak gerik sinona yang begitu lemah gemulai seakan-akan terhadap hembusan anginpun tak tahan, ia menjadi keheranan hingga mengajukan pertanyaan itu.
Nona cantik berbaju putih itu segera tertawa ringan "Bila belajar silat, berarti kemungkinan bentrok dengan orang lain menjadi bertambah besar, karena itu aku tak ingin mempelajarinya."
"Yaa, perkataanmu memang benar"
Kim Thia sia segera menimpal.
"Padahal aku sendiripun tidak berminat untuk mempelajarinya, tapi berhubung pelbagai tekanan dan keadaan yang memaksa, mau tak mau akhirnya aku mesti mempelajarinya juga, ada kalanya aku merasa iri dengan kehidupan tenteram dari orang-orang awam"
"Mengapa ada kalanya?"
"Tentu saja"
Ucap Kim Thia sia sambil tertawa nyaring.
"Disaat musuh menyerangku secara garang dan buas, ingatan semacam itu seketika hilang tak berbekas. Dalam keadaan begini aku selalu bersyukur karena jerih payahku selama banyak tahun ternyata tidak sia-sia belaka........"
Sementara berbicara, tiba-tiba dia menyaksikan gadis cantik berbaju putih itu berkerut kening, dengan amat perasaan dia berseru.
"oooh maaf, sudah cukup lama aku tidak pernah tukar pakaian-Apakah kau menganggap tubuhku sangat bau?"
Gadis cantik berbaju putih itu segera tertawa.
"Harap kau jangan berkata begitu, aku paling tak suka membicarakan soal kekurangan orang lain-......."
Ketika mengucapkan perkataan tersebut, terlintas perasaan minta maaf diatas wajahnya.
Kembali Kim Thia sia teringat dengan pesan terakhir ayahnya, dia tahu gadis ini sangat baik hati, karenanya diapun tidak menyinggung persoalan itu lagi.
"Aku memang seorang manusia liar yang baru turun dari gunung"
Demikian ia berkata kemudian-"
Karenanya apa yang ingin kukatakan segera kuutarakan keluar, untuk itu harap kau jangan menjadi marah."
Sekali lagi gadis berbaju putih itu tertawa ringan-"Aku tak punya alasan untuk marah kepadamu, mengapa sih kau melukiskan dirimu sebagai orang liar?"
"Terus terang, aku menyebut diriku sebagai orang liar bukanlah suatu kejadian yang keterlaluan-Dalam kenyataan aku memang tak tahu urusan, tak heran semua orang memanggilku begitu"
Selama berada dihadapan gadis cantik ini, dia merasa tak sanggup untuk mendongakkan kepalanya, karena dia mempunyai perasaan rendah diri yang sangat tebal.
"Aaaaah, kau terlalu merendah, padahal aku menganggapmu pintar sekali"
Kata sinona sambil tertawa. Kemudian setelah mengamati dengan seksama raut wajahnya, dia melanjutkan.
"Bahkan aku dapat menilai bahwa kau adalah seorang yang sangat jujur. Biasanya orang jujur paling mudah ditipu dan dianiaya orang itulah sebabnya orang lain memanggilmu begitu."
Ketika selesai mend engar perkataan tersebut, tiba-tiba saja timbul perasaan percaya pada diri sendiri dihati Kim Thia sia, katanya cepat.
"Terima kasih banyak atas pujianmu, bila aku bertekad untuk mempelajarinya secara bersungguh-sungguh, dalam setahun mendatang aku yakin pukulanku pasti akan berubah."
"Itulah sebabnya aku menganggapmu sangat pintar. disinilah alasannya mengapa aku berkata begitu"
Kata sinona tertawa.
Pada saat itulah mendadak terendus bau harum yang sangat aneh berhembus masuk kedalam ruangan-Tampak olehnya seorang gadis berbaju hitam telah berdiri dibelakang tubuhnya.
Ia tak tahu sejak kapan perempuan tersebut munculkan diri, Kim Thia sia hanya menganggap perempuan itu sebagai saudara kandung sigadis cantik berbaju putih itu.
Sebab wajahnya mirip sekali dengan wajah gadis tersebut, sudah pasti dia akan mengiranya sebagai saudara kembar gadis cantik berbaju putih itu.
Dibilang lebih tuaan, perempuan itu sesungguhnya berusia tiga puluh tahunan-Wajahnya yang nampak begitu menawan hati membuat Kim Thia sia secara terbuai dan terpesona dibuatnya.
"Perempuan ini tentu si Dewi Nirmala......"
Pikir Kim Thia sia kemudian-Maka sambil menghimpun kembali semangatnya, dia menegur.
"Kaukah yang bernama Dewi Nirmala?"
Perempuan cantik itu tidak menggubris pertanyaan anak muda itu, sebaliknya malah bertanya.
"Kau sudah lama menunggu?"
Kim Thia sia berkerut kening.
"Kau harus mnejawab pertanyaanku dulu sebelum kujawab pertanyaanmu tadi."
Memang begitulah watak keras kepalanya, sepanjang hidup dia tak sudi tunduk kepada siapapun, apalagi dari sikap perempuan cantik tersebut, timbul perasaan tak senang dihati kecilnya.
Tampaknya perempuan cantik itu tidak menyangka kalau sang pemuda yang berada dalam sarang harimau pun berani bersikap sekasar itu terhadapnya, tanpa terasa ia dibikin tertegun-Sementara itu nona berbaju putih tadi telah memanggil "ibu"
Dan berlarian menubruk kedalam pelukan perempuan cantik tadi. Dengan penuh kasih sayang perempuan cantik itu membelai rambut putrinya sambil bisiknya.
"Anak Jin, kau sudah cukup dewasa. Janganlah selalu bersikap seperti anak kecil."
Dalam pada itu Kim Thia sia telah mengetahui secara pasti siapa gerangan perempuan licik itu, dengan suara lantang dia segera berseru.
"Sudahlah, kaupun tak perlu menjawab pertanyaanku lagi, aku sudah tahu kau adalah Dewi Nirmala."
"Bagus sekali"
Seru Dewi Nirmala sambil mendorong putrinya dari pelukan-"Aku rasa, kaupun tak perlu banyak berbicara lagi. Kim Thia sia, cepat kau utarakan asal usul ilmu Tay goan sinkang yang kau miliki itu."
"Dewi Nirmala, aku tahu ilmu silat yang kumiliki luar biasa sekalil. Bicara juga mati tak berbicarapun sama saja mati. Tapiaku justru enggan berbicara apa-apa, mau apa kau? Hmmm, bila ingin menghukum mati aku, silahkan saja dilaksanakan segera?"
Dewi Nirmala tertawa dingin.
"Heeeeh......heeeeeh......heeeeeh.......kau tak usah congkak dulu. Aku bisa menggunakan siksaan yang terkejut untuk memaksamu mengutarakan semua persoalan ya ingin kuketahui. Ketahuilah, didalam lembah kami terdapat berpuluh-puluh ekor ular berbisa, mereka khusus disiapkan untuk menghadapi orang-orang yang enggan tunduk."
Kim Thia sia segera menarik muka sehabis mendengar perkataan itu, mencorong sinar tajam dari balik matanya, ditatapnya perempuan itu lekat-lekat kemudian jengeknya.
"Hmmm, silahkan saja dicoba."
Dewi Nirmala berkerut kening lalu tertawa dingin.
"Bagus, kalau toh kau berkeras kepala terus, jangan salahkan bila aku tak berperasaan lagi."
Ia bertepuk tangan dua kali, kemudian serunya.
"Mana pengawal?"
Dari luar gedung segera muncul dua orang kakek berambut putih yang menyahut dengan lantang.
"sincu ada perintah apa?"
"Ikat dia kencang-kencang danpaksa dia untuk buka mulut dengan siksaan ular."
Dengan langkah lebar, Nirmala nomor tujuh tampil kedepan, tangan yang satu digunakan unutk mencengkram bahu pemuda itu sementara tangan yang lain merogoh kedalam sakunya mengeluarkan tali dan diikatnya pada tengkuknya.
Sebenarnya Kim Thia sia berniat menghajar roboh orang itu, tapi setelah melihat bahwa orang itu adalah Nirmala nomor tujuh, hatinya menjadi lembek sendiri, pikirnya cepat.
"Aku harus memberi maaf kepadanya, ia terpaksa harus berbuat demikian....."
Sementara itu, Nirmala nomor tujuh telah berbisik lirih menggunakan kesempatan sewaktu mengikat tubuh pemuda tersebut katanya.
"Nak. tak ada gunanya kau berkeras kepala disini, dalam keadaan seperti ini, kau harus menahan rasa aib dan malu untuk menuruti saja segala kemauan hatinya."
Kim Thia sia berlagak tidak mendengar, diawasinya Dewi Nirmala dengan pandangan gusar, kalau bisa dia ingin menghajar mati perempuan keji itu dalam sekali pukulan-"Aku adalah seorang lelaki sejati, kenapa aku harus tunduk dibawah perintah dan ancamannya?
IHmmm, biarpun harus mati, memangnya aku takut untuk menghadapinya"
Terbayang kembali pesan-pesan terakhir ayahnya, sambil tertawa dingin dia segera memejamkan matanya rapat-rapat.
Sekalipun ancaman siksaan berada didepan mata, tak setitikpun rasa takut yang melintas diwajahnya.
Menyaksikan hal ini Nirmala nomor tujuh menghela napas panjang dan tidak banyak berbicara lagi, sementara dihati kecilnya dia berpikir.
"Anak muda, kematianmu ini sama sekali tak berarti........."
Tak selang berapa saat kemudian seluruh badan Kim Thia sia telah diikat dengan tali yang berlapis-lapis, sekujur badannya terasa linu dan kesemutan, dalam keadaan begini diam-diam ia berpikir sambil tertawa getir.
"Untuk kedua kalinya aku dibelenggu, pertama kali karena ulah putri Kim huan dan kedua kalinya oleh Dewi Nirmala, sungguh tak disangka aku Kim Thia sia, seorang lelaki sejati, ternyata harus jatuh pecundang ditangan kaum wanita."
Sementara dia masih termenung, Dewi Nirmala telah berkata lagi.
"Kim Thia sia, kau harus tahu didalam lembah nirmala tidak berlaku hukum negara, yang ada adalah peraturan lembahku sendiri, ini berarti mati hidupmu sudah berada ditanganku, mengingat kau masih muda dan tak tahu urusan, sekali lagi kuberi kesempatan padamu untuk mempertimbangkan persoalan ini dengan sebaik-baiknya."
"Sekali aku bilang tidak. selamanya tetap tidak"
Tukas Kim Thia sia teramat gusar.
"sekalipun kau bertanya sepuluh kali lagi, jawabku akan tetap sama."
Tiba-tiba dia membuka matanya kembali dengan sorot mata yang tajam dia mengawasi sekejap perempuan cantik itu, kemudian ujarnya lebih jauh.
"Bila kau anggap Kim Thia sia adalah manusia yang takut mati, maka anggapanmu itu keliru besar, bahkan bisa kubilang merupakan suatu lelucon yang amat besar."
"Kau tak perlu berkeras kepala aku tahu ilmu Tay goan sinkang merupakan ilmu sakti andalan Malaikat pedang berbaju perlente. Ilmu tersebut tidak akan diwariskan kepada sembarangan orang, tapi kenyataannya dia telah mewariskan ilmu kesayangannya itu kepadamu, hal ini membuktikan bahwa kau telah dianggap sebagai murid kesayangannya. Kalau dibilang sebetulnya, akupun masih terhitung paman gurumu, apakah engkau tidak menganggap bahwa tindakan kurang ajarmu ini sebagai suatu tindakan yang berani menentang angkatan tua perguruan sendiri?"
Kim Thia sia memang sudah tahu kalau Dewi Nirmala adalah paman gurunya, tapi dia segera berseru.
"Kau berbuat semena-mena dalam dunia persilatan, aneka kejahatan telah kau perbuat. Sudah sejak dulu aku tidak mengakui dirimu sebagai paman guruku lagi."
Dewi Nirmala segera tertawa dingin.
"Heeeeh......heeeeh.......heeeeh.......bocah keparat, kau benar-benar manusia tak tahu diri. Baik aku akan menghukummu karena berani menentang angkatan tua dari perguruan sendiri, kemudian baru menghukum tindakanmu yang telah membangkang perintah. Hmmm, akan kulihat apakah kau mampu menanggulangi dua macam hukuman yang ditimpakan kepadamu sekaligus."
"Huuuh, jangan lagi baru dua macam, biar langit ambruk pun aku tak akan ambil perduli"
Sahut Kim Thia sia mendongkol. Sementara itu Nirmala nomor tujuh yang mengikuti tanya jawab tersebut cuma bisa menggelengkan kepalanya berulang kali pikirnya.
"Aaaai, anak muda, anak muda, kenapa kau tidak mengumbar napsumu kepada orang lain saja? Kenapa kau justru bersikap seperti itu disini? Aaaai, delapan puluh persen kau bakal mampus........"
Betul-juga, sambil menarik wajahnya mendadak Dewi Nirmala berseru kepada Nirmala nomor tujuh.
"Angkat dia dan laksanakan siksaan"
Dari kerutan dahinya yang kencang dan wajahnya yang menyeringai seram, sadarlah Nirmala nomor tujuh bahwa atasannya benar-benar sudah dibuat sangat marah. Tanpa terasa ia berpikir.
"Habis sudah riwayatnya kali ini, kasihan benar bocah ini........"
Sementara gerak geriknya agak sangsi, Dewi Nirmala menegur lagi dengan suara ketus.
"Hey Nirmala nomor tujuh, bagaimana sih kamu ini?"
Cepat-cepat Nirmala nomor tujuh membopong tubuh Kim Thia sia, kemudian bersama kakek bermuka dingin itu berjalan menuju keluar gedung. Tiba-tiba gadis berbaju putih itu berseru.
"Eeeeh, tunggu dulu, aku hendak berbicara sesuatu."
Mendengar seruan tersebut, Nirmala nomor tujuh menjadi kegirangan setengah mati. cepatcepat dia membalikkan badan dan sambil berjalan segera bisiknya kepada Kim Thia sia.
"Nak. rupanya nasibmu masih mujur. Asal dia bersedia menuruti semua perkataan gadis ini mungkin dari keadaan berbahaya kau telah beruntung."
Lalu sambil menurunkan pemuda itu keatas tanah, kembali bisiknya.
"Ingat, kau harus dapat menahan diri"
Kim Thia sia berdiri kaku ditempat, namun wajahnya nampak jauh lebih lembut.
Hal ini dikarenakan gadis berbaju putih dihadapannya adalah gadis yang baik dan pernah menyelamatkan ayahnya.
Dengan langkah yang lemah gemulai gadis berbaju putih itu berjalan mendekatinya kemudian bertanya lirih.
"Mengapa sih kau harus menentang maksud hati ibuku?"
"Aku merasa muak dengan sikap memerintahnya."
"ooooh, aku dapat mengerti. Setiap anak muda memang selalu begitu, paling tak tahan kalau diperintah orang, benar bukan perkataanku ini?"
"Yaa benar"
Kim Thia sia mengangguk.
"Apakah kau bisa merasakan bahwa pembicaraan kita saling cocok satu sama lainnya?"
"Benar."
"Kalau begitu, andaikata kuajukan pertanyaan yang sama kepadamu, bersediakah kau memberitahukan kepadaku?"
Tanyanya polos.
Sewaktu berbicara, sekulum senyuman manis tersungging diujung bibirnya seakan-akan dia merasa yakin kalau Kim Thia sia akan menjawab pertanyaan tersebut.
Dalam kenyataannya, Kim Thia sia memang dibuat serba salah, dia tak ingin mengecewakan gadis tersebut dengan pertanyaannya, tapi apakah dia harus mengatakan apa yang sebenarnya?
Menyaksikan kesangsian pemuda itu, mendadak gadis berbaju putih itu seperti menyadari akan sesuatu, kepada Nirmala nomor tujuh segera serunya.
"Empek tolong bebaskanlah ikatan tali dari tubuhnya, dia tentu amat bersedih hati bila tubuhnya berada dalam keadaan terbelenggu."
Nirmala nomor tujuh mengiakan dan cepat-cepat melepaskan ikatan tali dari tubuhnya.
Dalam waktu singkat Kim Thia sia telah dalam kebebasan kembali, bila menurut adatnya, begitu lolos dari belenggu niscaya dia akan mengerahkan seluruh kekuatannya untuk beradu jiwa dengan Dewi Nirmala.
Tapi keadaannya saat ini berbeda, kehadiran gadis cantik berbaju putih itu membuatnya tak sanggup mengambil keputusan apapun-Sementara dia masih termenung, gadis cantik berbaju putih itu telah memohon lagi kepada Dewi Nirmala dengan suara lembut.
"Ibu, bolehkah aku berbicara empat mata dengannya? Aku cukup memahami tabiatnya, aku pasti tak akan membuatmu merasa kecewa."
Dengan perasaan apa boleh buat, Dewi Nirmala mengangguk.
"Anak manis, aku tak akan mengecewakan hatimu."
Meski hanya jawaban yang singkat, namun tercermin perasaan sayangnya yang begitu besar terhadap putri kandungnya itu.
"Ibu"
Kembali gadis berbaju putih itu meminta.
"Aku hendak mengajaknya berbincang-bincang didalam kebun, kau tak usah ikut kami."
Kemudian setelah tertawa manis dia berpaling kearah Kim Thia sia dan katanya.
"Mari kita berangkat"
Angin berhembus sepoi-sepoi dengan termangu Kim Thia sia mengawasi gadis tersebut, dia menaruh simpatik kepadanya, karena itu diapun enggan mengecewakan hatinya.
Tanpa banyak berbicara pemuda itu segera berjalan mengikuti dibelakang tubuhnya.
Melihat hal ini, dengan gemas Dewi Nirmala menghentak-hentakkan kakinya seraya berseru.
"Aaaai, putriku, tidakkah kau merasa bahaya berbicara empat mata dengan musuh merupakan suatu tindakan yang berbahaya sekali?"
"Kautak usah kuatir,anak Jin percaya dia tak akan mencelakai aku"
Sahut gadis cantik berbaju putih itu sambil berpaling dan tertawa, tak setitik rasa takut pun yang melintas diwajahnya. Dengan perasaan cemas Dewi Nirmala berseru lagi.
"Aaaai.......bagaimana mungkin musuh boleh dipercayai....."
Sembari berkata, dia segera menggerakkan tangannya seolah-olah sedang membetulkan letak rambutnya, namun Kim Thia sia yang berada lima kaki dihadapannya segera merasakan jalan darah dipunggungnya menjadi linu dan kesemutan-Sadarlah pemuda kita bahwa jalan darahnya telah dibokong oleh Dewi Nirmala, sambil berpaling dia mendengus kemudian melanjutkan langkahnya.
Gadis cantik berbaju putih itu belum mengetahui apa yang terjadi, dia sempat berpaling sambil bertanya.
"Mungkin kau akan mencelakai aku?"
Saat ini Kim Thia sia bisa berbicara dan bergerak secara normal selain hawa murninya tak mampu dihimpun kembali, mendengar perkataan tersebut, sahutnya sambil tertawa getir.
"oooh, tentu saja tak mungkin?"
Dia tak ingin mengemukakan keadaan yang sebenarnya telah menimpa dirinya, diam-diam pikirnya.
"Sebagai seorang lelaki sejati berani berbuat berani bertanggung jawab. Sudah sepantasnya persoalan ini kuhadapi sendiri, apa artinya menceritakan keadaan yang sesungguhnya kepadanya? Sekalipun akhirnya dia mintakan pengampunan dari ibunya, kemana aku mesti taruh raut mukaku ini?"
Kepadanya dia berkata lagi.
"Kau adalah seorang gadis yang baik hati, tak nanti ada seorang manusiapUn yang ingin mencelakai dirimu."
Sambil tersenyum manis, gadis berbaju putih itu segera berkata kepada Dewi Nirmala.
"Nah ibu, apakah kau sudah mendengar perkataannya?"
"Anak manis, aku lega sekarang, pergilah berbincang dengannya."
Gadis berbaju putih itu mengajak Kim Thia sia menuju kesebuah gardu kecil ditengah kebun yang sangat indah, kepada pemuda tersebut katanya kemudian-"Duduklah disini tak perlu sungkan-sungkan lagi.
Bila ada yang ingin dibicarakan utarakan saja secara blak-blakan."
"Didalam gardu ini hanya tersedia sebuah tempat duduk. silahkan kau saja yang duduk."
"Mengapa kau tidak duduk?"
Tanya sinona sambil mengerdikan matanya, sikap sungkan pemuda itu sangat mencengangkan hatinya.
"Sebab kau adalah wanita"
Sahut Kim Thia sia sambil duduk bersandar diatas tiang.
"Apakah hanya wanita yang boleh menikmati keistimewaan ini?"
Tanya sinona lagi tak habis mengerti. Kim Thia sia sendiripun tidak tahu tentang soal ini, segera jawabnya singkat.
"Mungkin saja kecil kau belum pernah meninggalkan lembah ini, jadi kau tidak memahami tata cara ini. Tapi menurut apa yang kuketahui, didaratan Tionggoan memang berlaku tata cara begini."
"Sebetulnya aku sangat ingin keluar dari lembah ini, akan tetapi.........."
Pelan-pelan dia memejamkan matanya dan melanjutkan dengan sedih.
"ibu tak pernah menyanggupi permintaanku itu, dia selalu bilang persoalan ini dibicarakan lagi setelah aku meningkat dewasa nanti. Hey, coba katakanlah, bukankah sekarang aku telah dewasa?"
"Yaa, kau memang sudah dewasa"
Jawab Kim Thia sia dengan suara berat dan dalam.
Dia memang seorang lelaki kasar yang berbicara apa adanya, sudah barang tentu tak bisa memahami perasaan seorang wanita.
Terdengar dia berkata lebih jauh.
"Aku merasa sayang dengan masa remajamu sesungguhnya masa remaja merupakan masa yang paling indah, tapi kau telah menyia-nyiakannya dengan begitu saja."
"Akupun menyadari bahwa keadaanku sekarang jauh berbeda dengan keadaan masa kecilku, tapi aku selalu menuruti setiap perkataan dari ibuku......."
Kata nona berbaju putih itu sambil menghela napas sedih, wabahnya nampak semakin sayu.
"Aku tak ingin meninggalkan desa kelahiranku. Aku bersedia hidup sampai tua disini."
Menyaksikan kepedihan yang menyelimuti perasaannya, tiba-tiba saja Kim Thia sia merasakan hatinya menjadi kacut, tak tahan lagi ia berseru dengan perasaan menyesal.
Jilid 32
"oooh, maaf kalau perkataanku membangkitkan kepedihan hatimu, aku sangat menyesal."
Gadis berbaju putih itu melirik sekejap kearahnya, kemudian berkata lagi.
"Tampaknya kita tidak seharusnya memperbincangkan persoalan ini bukan?"
Kemudian setelah tertawa lembut, lanjutnya.
"Mari kita kembali kemasalah pokok yang harus dibicarakan, mengapa sih kau menampik untuk mengungkap rahasia dari Tay goan sinkang?"
"suhuku pernah berpesan begitu kepadaku, karenanya aku tak dapat melanggar pesannya."
"Andaikata kau memberitahukan soal itu kepadaku, dan akupun tak akan menyebar luaskan keluar, siapa yang akan mengetahui akan kejadian tersebut?"
"Tidak bisa, ibumu adalah seorang perempuan kejam yang berhati hitam dan buas. Seandainya kuberikan rahasia ilmu Tay goan sinkang kepadanya, maka tindakanku ini sama artinya dengan mencelakai seluruh umat persilatan-"
"Begitu jelekkah nama ibuku didaratan Tionggoan?"
Tanya sinona sambil mengbelalakkan matanya lebar-lebar dan mengawasi pemuda tersebut dengan perasaan ingin tahu.
"Yaa, bagaimana pun juga, dia pantas dikatakan sebagai seorang gembong iblis wanita."
Mendengar perkataan tersebut, nona berbaju putih itu menghela napas panjang katanya kemudian.
"Aku benar-benar tak mengerti, mengapa sih ibu suka melakukan perbuatan jahat?"
Dengan wajah pedih dia mengeluh, kemudian terusnya.
"Banyak penghuni lembah ini yang secara diam-diam memberitahukan persoalan tersebut kepadaku. Kalau satu dua orang yang bilang, mungkin aku tak akan mempercayainya, tapi setelah semua orang berkata begitu, mau tak mau aku harus mempercayainya juga. Hey, lanjutkan katakatamu tadi, aku tak akan marah kepadamu."
"Aku tahu, kau adalah seorang wanita yang sangat mengerti keadaan. Aku merasa amat bangga bisa berbincang-bincang denganmu"
Kata Kim Thi sia dengan suara dalam.
"Sekarang aku akun membeberkan dahulu semua dosa-dosa ibumu. Aku harap kau mendengarkan dengan seksama. Sebab apa yang kukatakan semuanya merupakan kenyataan-"
Setelah berhenti sebentar untuk menarik napas, dia berkata lebih lanjut.
"Kesatu, dia telah berani menentang guru sendiri gurunya adalah Kiam Sianseng, seorang tokoh silat yang amat termashur namanya pada puluhan tahun berselang, semasa dia belajar silat dulu. ibumu telah mempergunakan kecantikan wajahnya untuk memikat kiam Sianseng serta menipunya untuk mengajarkan ilmu Tay yu sinkang kepadanya."
Setelah mengenang kembali apa yang pernah diucapkan malaikat pedang berbaju perlente, dia melanjutkan kembali kata-katanya.
"Kedua, baru berapa bulan dia turun gunung, banyak sudah jago-jago dari golongan lurus yang menjadi korban keganasannya."
"Ketiga untuk kepentingan pribadi ternyata dia telah menjaring banyak sekali jago lihay dari dunia persilatan untuk berkumpul di Lembah Nirmala dan membantunya untuk memulihkan kembali kekuatan ilmu Tay yu sinkangnya, dalam hal ini aku percaya sudah banyak yang kau saksikan, kawanan kakek yang amat memedihkan hati itulah merupakan bukti yang paling jelas......."
Berbicara sampai disitu, Kim Thi sia berhenti sejenak sambil menengok kearahnya, kebetulan gadis itupun sedang memperhatikan kearahnya, ketika empat mata bertemu tiba-tiba saja dua titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya.
Dengan perasaan iba, pemuda itu segera berkata.
"Seandainya kau enggan untuk mendengarkan lebih lanjut, biarlah kuakhiri pembicaraan soal itu sampai disini saja."
"Tidak. kau harus melanjutkan kata-katamu......"
Pinta sinona dengan suara sesenggukan-Kim Thi sia merasa sangat iba, namun dia tak ingin menyia-nyiakan harapan gadis tersebut, dengan suara yang parau segera sambungnya.
"Keempat, dia telah mendesak anak buahnya untuk mencari balas terhadap kesembilan orang murid Malaikat pedang berbaju perlente.
Berapa hari berselang bahkan dia telah turun tangan sendiri membinasakan sipedang bintang, satu diantara kesembilan jago pedang tersebut."
"Kelima, antara aku dengan dia sama sekali tak terjalin rasa sakit hati apapun atau tegasnya tidak saling mengenal, namun dia toh sudah menotok jalan darahku dan menangkapku kemari, kemudian memaksaku untuk menyerahkan rahasia ilmu Tay goan sinkang kepadanya."
Mungkin karena dorongan api kegusaran yang meluap-luap. pemuda itu berbicara dengan lancar sekali tanpa berhenti, terdengar dia meneruskan.
"Adegan yang kualami tadi, tentunya kau telah menyaksikan dengan mata kepala sendiri bukan? Tadi dia berniat menyiksaku dengan siksaan ular, apakah pikiran dan perbuatan kejam seperti ini pantas dilakukan oleh wanita yang seharusnya berhati lembut dan halus?"
"Kalau begitu aku......aku telah menjadi seorang pembantu pembunuh.....^."
Keluh nona berbaju putih itu dengan wajah memucat dan mengeluh lirih, hampir saja ia jatuh pingsan-"Selain apa yang kukatakan tadi, sesungguhnya masih terdapat pula masalah-masalah lain yang lebih kecil, pokoknya aku tidak mengetahui secara pasti berapa banyak kejahatan yang juga pernah dilakukan olehnya.
Aku........."
Tiba-tiba dia tutup mulutnya sambil mengawasi gadis tersebut dengan tertegun, lalu serunya.
"Hey, apakah kau merasa tak enak badan?"
Nona berbaju putih itu memegangi dadanya dengan sepasang tangan, dengan bersusah payah dia bergumam lirih.
"ooooh Thian.....tidak kusangka ibu yang kucintai ternyata adalah manusia seperti ini."
Melihat hal itu, Kim Thi sia segera memukul jidat sendiri seraya berseru.
"Nona, manusia kasar seperti aku ini paling gampang naik darah, tak kusangka aku berbuat begitu bodoh dengan membeberkan semua kejahatan ibumu kepadamu. Aaaai......tindakanku ini keliru besar, sudahlah....kau jangan bersikap begitu lagi.......aku merasa amat sedih........."
Menyaksikan gadis cantik itu dirundung kesedihan yang luar biasa, tiba-tiba saja sikap pemuda itupun mengalami perubahan sangat besar, dengan suara yang parau dan rendah dia berkata lagi.
"Nona, belum pernah aku merasa menyesal seperti ini. Aku tak lebih hanya seorang manusia kasar. Perkataan dari seorang manusia kasar tak lebih hanya kata-kata yang tak berguna, kau jangan percaya dengan perkataanku tadi."
Gadis berbaju putih itu benar-benar memberikan daya pikat yang luar biasa, tatkala dia sedang tertawa, maka bagaikan bunga sedang mekar, segala sesuatunya nampak sedang tertawa dan gembira.
Tapi setelah ia bersedih hati, maka segala sesuatunya nampak menyedihkan dan memilukan hati.
Akhirnya karena rasa sedih yang tak terhingga, gadis itu menjatuhkan diri diatas meja dan tertidur nyenyak.
Entah berapa saat sudah lewat ketika gadis itu sadar kembali dari tidurnya, dia seperti sudah mengambil suatu keputusan yang bulat kepada Kim Thi sia segera serunya.
"Aku sudah mengambil keputusan untuk meninggaikan ibuku, beranikah kau mengajak ku keluar dari lembah ini?"
Kim Thi sia menjadi tertegun dan setengah harian lamanya tak mampu mengucapkan Sepatah katapun sehabis mendengar perkataan tersebut.
Mendadak segulung angin berhembus lewat, pemuda itu segera menggenggam tangan sinona dan bersumpah.
"Asal kau masih bisa hidup akan kuusahakan dengan segala kemampuan yang ada untuk membuatmu meninggalkan lembah ini."
Ia menatap gadis tersebut lekat-lekat dibalik sorot matanya terpancar rasa keyakinan yang besar.
Kim Thi sia kembali disekap dalam gua, karena pemuda itu bersikeras menampik untuk mengungkap rahasia ilmu Tay goan sinkang.
Masih untung sinona berbaju putih itu menaruh simpatik terhadap pemuda kita atas bujuk dan permohonannya yang berulang-ulang, akhirnya Dewi Nirmala mengubah keputusannya dari siksaan ular menjadi siksaan lapar.
Dia menganggap tabiat Kim Thi sia tak lebih hanya tabiat orang kasar, maka dia bermaksud membuat pemuda tersebut menjadi lapar kemudian baru memaksanya untuk mengungkap rahasia ilmu Tay goan sinkang.
Tapi sayang, mimpipun dia tak menyangka kalau Nirmala nomor tujuh telah menaruh kesan baik terhadap pemuda ini sehingga dengan menyerempet bahaya ia telah membantu pemuda tersebut secara diam-diam.
Bukan saja dia telah membebaskan pemuda itu dari pengaruh totokan Dewi Nirmala diapun menyerahkan pil mustika kepada Kim Thi sia untuk menghilangkan rasa lapar yang mencekamnya .
Suasana remang-remang telah menyelimuti seluruh ruang gua, Kim Thi sia tak dapat melihat sinar sang surya, namun dia tak kuatir akan kelaparan yang menggerogoti perasaannya sekarang adalah keselamatan dari nona berbaju putih itu.
Pikirnya didalam hati.
"Sekarang dia telah mengetahui segala kejahatan yang pernah diperbuat Dewi Nirmala, diapun telah memutuskan untuk meninggalkan tempat ini, sayang aku tak becus. Aaaaai.......sekalipun aku seorang lelaki sejatinya hanya aku tak mampu membantunya untuk meninggalkan lembah ini."
Tak selang berapa saat kemudian, kembali dia berpikir.
"Kenapa aku mesti membuang waktu dengan melamun? Kenapa aku tidak mempergunakan kekuatanku sendiri untuk menciptakan suatu peristiwa yang luar biasa?"
Berpikir demikian, dia segera duduk bersila dan mengatur pernapasan, kemudian latihanpun segera dilaksanakan dengan sungguh-sungguh.
Hingga senja menjelang tiba, ia baru selesai dengan latihannya, meski tubuhnya dijumpai basah kuyup oleh keringat, namun pemuda tersebut dapat merasakan bahwa tenaga dalamnya telah peroleh kemajuan setingkat lagi.
Untuk menahan lapar, kembali dia menelan sebutir pil mestika itu, lalu mengayunkan kembali telapak tangannya melepaskan pukulan demi pukulan kearah batu besar dimulut gua.
Berapa pukulan yang dilancarkan secara beruntun segera menggumpikkan batu cadas itu hingga berguguran keatas tanah, sekalipun batu itu belum mampu digerakkan, namun hancura batu yang dihasilkan jelas memperlihatkan kemajuan yang dicapainya.
"Sekarang aku telah berhasil meretakkan batu cadas itu, berarti tenaga dalamku telah memperoleh kemajuan satu tingkat. Ya asal aku mau berlatih lebih tekun, niscaya aku bisa lolos dari tempat ini"
Demikian ia berpikir dalam hatinya.
Akhirnya dia berlatih hingga tubuhnya lelah dan tertidur tanpa terasa dengan menempel diatas dinding.
Keesokkan harinya........
Ketika sinar sang surya sudah mencorong masuk kedalam gua, pemuda itu baru mendusin kembali dari tidurnya.
Kembali dia menelan sebutir pil untuk menghilangkan rasa laparnya, kemudian melanjutkan latihannya dengan tekun.
Siapa tahu saat itulah dia melihat didepan dinding gua tertempel sleembar kertas putih.
Kertas putih itu jelas disusupkan masuk kedalam gua melalui celah gua.
Andaikata ia tidak memperhatikan dengan seksama, rasanya sulit untuk menemukannya.
Dengan cepat Kim Thi sia mengambil kertas tadi dan dibuka, terlihatlah surat itu berbunyi begini.
"Thi sia."
"Pembicaraan kita semalam membuat aku harus berpikir semalam suntuk, hingga kini aku belum juga dapat memejamkan mata. Dari balik cermin kusaksikan sepasang mataku telah merah membengkak, mengapa bisa begini?"
"Sejak kecil aku hidup didiam kegembiraan, awan putih dan burung adalah sahabatku dipagi hari, rembulan dan bintang adalah pelayan dalam impianku. Selama ini aku tak pernah merisaukan ada apa, tapi akhirnya aku paham, rupanya kebahagiaanku dibangun dari kesengsaraan dan penderitaan orang lain-Aaaaai.....ditengah malam yang panjang, aku seakan-akan melihat banyak tangan yang dijulurkan kepadaku dengan penasaran-"
"Aku harus berterima kasih kepadamu meski akibat dari keteranganmu itu membuat kebahagian hidupku selanjutnya ibarat bunga yang layu disiang hari, namun kuhormati dirimu sebagai abangku. Aku malu dan menyesal karena apa yang diberikan ternyata hanya keaiban dan ketidak tentraman. Aku tidak menyatakan apa-apa, bagaimanapun juga, dia toh masih tetap merupakan ibu kandungku."
"Aku gembira karena kau lolos dari perlakuan yang buruk dan keji, tapi aku merasa tak tenteram karena kau disekap dalam gua yang gelap dan pengap. Aku hanya bisa berharap dengan perjuanganmu yang teguh maka nasibmu akan berubah sama sekali, aku percaya masa depanku sudah berada ditanganku. Disaat kau berhasil dengan sukses dikemudian hari, aku pasti akan turut berbangga hati."
"Hanya sampai disini suratku kali ini, pikiranku amat kalut. Moga-moga keberhasilanmu dapat cepat diraih."
"Salam selalu dari, Hay jin-"
Selesai membaca tulisan itu, Kim Thi sia merasakan gejolak hawa panas bergelora didalam dadanya, dengan terharu sekali dia bergumam.
"Ehmmm.......bila ditinjau dari isi suratnya ini, jelas dia sangat mengharapkan keberhasilan dan kesuksesanku, dia terlalu yakin dengan kemampuanku, padahal aku......"
Dengan sedih dia menundukkan kepalanya rendah-rendah, perasaan rendah diri kembali menyelimuti seluruh perasaan hatinya.
Pelan-pelan dia mengalihkan kembali sorot matanya keatas kertas itu, tiba-tiba saja perasaannya menjadi kecut, sedih sekali.
"Aaaaai.....bekas air mata diatas surat ini belum mengering, sewaktu menulis surat ini perasaan hatinya pasti sedih sekali. Dia adalah seorang gadis yang suci bersih dan berhati lembut, mengapa justru memiliki seorang ibu yang begitu kejam, buas dan tak berperikemanusian? Mengapa ibunya justru seorang gembong iblis yang membunuh orang tanpa berkedip? Aaaa i...... mengapa pula dia menulis "masa depannya ibarat bunga layu disiang hari?"
Apakah dia merasa terpukul batinnya oleh kenyataan yang ada....^.?"
Makin dipikir pemuda itu merasa makin pening dan kalut pikirannya. Mendadak pikirnya kembali.
"Aaaah, aku tak boleh terbawa oleh perasaan, sekarang aku harus berupaya untuk mengendalikan perasaan sendiri dan memanfaatkan setiap kesempatan yang ada untuk melatih diri......bukankah gadis itu sedang menunggu saat keberhasilanku?"
Sebagai seorang lelaki kasar, apa yang terpikir segera pula dilaksanakan, dengan membuang segala pikiran dan kekalutan, dia mulai duduk bersila serta melatih diri.
Dalam suasana senja yang hening, mendadak dia mendengar ada suara orang sedang merintih kesakitan-Ketika diamati dengan lebih seksama, ternyata suara rintihan itu bukan berasal dari seorang saja.
Dengan perasaan terkejut dia segera berdiri "Mungkinkah ditempat ini masih ada orang lain yang mengalami nasib setragis diriku?"
Tanpa terasa dia terbayang kembali cerita ayahnya dulu.
"Lambat laun, ayah mendengar banyak sekali suara rintihan yang memilukan hati. Suara rintihan itu tidak terlalu jelas tapi mengandung tenaga yang penuh, rasanya suasana seperti sukar untuk dijumpai dalam dunia persilatan, tak heran rasa ingin tahu ku segera timbul."
"Akhirnya aku berhasil menemukan, rupanya suara rintihan yang bersahut-sahutan itu berasal dri sekawanan kakek yang berada didalam beberapa gua gelap diam-diam akupun mengintip dari balik gua tersebut, tapi apa yang teriihat membuat hatiku terperanjat."
"Ternyata dari balik gua yang gelap gulita itu memencar keluar sepasang mata yang tajam bagaikan bidikan anak panah, buru-buru aku menarik kembali kepalaku dengan perasaan terkesiap. Tapi sejak itu juga aku mengetahui bahwa gua kecil yang gelap itu berdiam seorang kakek yang berilmu silat amat tinggi. Sekalipun ayah pernah menyaksikan dengan mata kepala sendiri, namun dari ketajaman mata mereka, aku salah satu seorang diantara mereka sudah mampu mengobrak abrik dunia persilatan-Andaikata mereka sampai berkelana dalam dunia kangouw."
Terbayang kembali kesemuanya itu, Kim Thi sia segera merasakan hatinya berdebar keras, pikirnya.
"Tak disangka lagi suara rintihan tersebut tentu berasal dari orang-orang yang dibelenggu Dewi Nirmala. HHmmm, bila aku dapat lolos dari gua ini, pasti akan kubantu orang-orang tersebut. Paling tidak Dewi Nirmala akan menghadapi musuh tangguh yang lebih banyak."
Begitulah, selesai melatih diri dengan tekun, kembali pemuda itu tertidur nyenyak.
Keesokkan harinya, kembali ia menemukan secarik surat, dengan perasaan tegang pemuda itu segera mengambil surat tersebut dan dibaca isinya.
"Thi sia."
"Pertama-tama aku hendak menerangkan lebih dulu bahwa suratku kemarin dan hari ini bisa sampai ditanganmu berkat bantuan Nirmala nomor tujuh, kasih sayangnya menimbulkan kehangatan dalam hatiku. Aku rasa budi kebaikan semacam ini pasti akan kubalas dikemudian hari."
"Seharian belakangan ini hatiku selalu murung dan masgul, rupanya kemurungan dan kesedihanku diketahui juga oleh ibu, dengan garang dan galak dia menegur serta mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepadaku. oooh.......sepasang matanya begitu dingin, aku takut sekali."
"Aku tahu, dia telah menugaskan empat orang dayang untuk mengawasi gerak gerikku. Kini keadaanku menjadi bertambah runyam dan bahaya, aku tidak tahu apa yang mesti kuperbuat."
"Keempat orang dayang itu mengawasiku sangat ketat, sampai-sampai kesempatan untuk menulis suratpun tak ada."
Selesai membaca tulisan ini, Kim Thi sia berkerut kening, pikirnya dengan risau.
"Seandainya Dewi Nirmala sampai mengetahui duduk persoalan yang sebenarnya, dengan kekejaman, kebuasan dan kekejiannya sudah pasti gadis itu akan dicelakai. oooh.......aku harus berusaha meninggalkan gua ini lebih cepat lagi."
Berpikir demikian ia segera berusaha untuk mendorong batu raksasa tersebut, namun betapapun dia mengerahkan tenaganya, ternyata benda tersebut sama sekali tak bergeming.
Akhirnya Kim Thi sia menjadi mendongkol sekali hingga menjatuhkan diri duduk dilantai dan bermuram durja.
Sampai lama sekali, dia baru menghentikan rasa mendongkolnya dan melanjutkan latihannya lebih jauh.
Pada hari ketiga, kembali pemuda itu menemukan secarik surat, kali ini surat tersebut berbunyi demikian.
"Thi sia."
"Ketika ibu gagal mengetahui latar belakang masalah yang kuhadapi, akhirnya dia mengurung ku didalam kamar, sekarang gerak gerikku tak bebas lagi. Meski jauh lebih baik daripada keadaanmu, namun keadaan kita sekarang boleh dbilang senasib sependeritaan-"
"Ketika Nirmala nomor tujuh datang membawa makanan bagiku, dia telah berbisik kepadaku. ia berniat mengurungmu selama tujuh hari. Sebab biasanya seseorang tak akan tahan menderita kelaparan selama ini. Aaaa i......aku merasa kuatir sekali, apakah kau sanggup untuk menahan diri?"
"Kemarin perasaanku sangat kalut, tak setetes airpun yang kuminum tak sebutir nasipun yang kutelan, aku merasa amat kalut, pikiranku sangat kacau."
"Entah mengapa, tiba-tiba saja aku merasa menyesal karena tak pernah belajar silat. orang bilang kehidupan orang yang tak mengerti silat tenang dan tenteram, tetapi kenyataannya hidupku bergelombang."
"Salam, Hay jin-"
Kim Thi sia amat terharu, perasaannya dicekam emosi, tiba-tiba saja ia menggigit robek jari tangannya, lalu menulis berapa patah kata dibalik kertas surat tadi. Ia menulis begini.
"Kau tidak usah kuatir, aku tidak bakal mati, aku bersumpah akan membantumu keluar dari lembah ini."
Selesai menulis surat tadi, ia mendongakkan kepalanya dan menghela napas panjang, gumamnya.
"Hay jin-......aku tidak berani memastikan berhasil, tapi aku bersedia untuk berkorban bagimu."
Ia melipat surat tersebut dan dilemparkan keluar gua lewat celah-celah yang ada, dia percaya Nirmala nomor tujuh tentu akan menemukan suratnya itu.
Sekarang perasaan hatinya merasa puas sekali.
Kalau toh harus berkorban, dia tidak akan segan-segan melakukannya, sebab gadis cantik berbaju putih itu telah mengirim tiga pucuk surat kepadanya.
Dengan semangat yang berkobar-kobar kembali pemuda itu melatih ilmu silatnya dengan lebih tekun dan bersungguh-sungguh.
Pada hari keempat.......
Begitu mendusin tidurnya, maka tindakan pertama yang dilaukan adalah memeriksa apakah ada surat untuknya^ Ternyata apa yang diharapkan menjadi kenyataan, kembali sepucuk surat muncul didepan mata.
Kali ini surat tersebut berbunyi begini.
"Thi sia."
"Ketika kubaca suratmu yang kau tulis dengan darah, hatiku merasa terharu disamping sedih, mengapa kau harus membuang darahmu yang berharga secara percuma?"
"Kau tahu setiap kali kupejamkan mata, aku seolah-olah menyaksikan raut mukamu yang murung dan sedih karena sekapan selama empat hari ini, aku rasa kau tentu kurus sekali."
"Pagi tadi, Nirmala nomor tujuh memberitahukan kepadaku bahwa ibuku telah membunuh lagi lima orang yang tak bersalah. Aaaai.......mengapa ibu harus berbuat demikian?"
"Mungkin juga dia berbuat demikian karena perasaan hatinya kurang baik, selama ini diapun tak pernah datang untuk menjengukku. Namun akupun tidak mmebutuhkan kasih sayangnya yang penuh kemunafikan. Aku telah bertekad akan pergi meninggalkannya."
"Bersabarlah, setiap hari aku menulis surat kepadamu, kata-kata tersebut selain mendengung dihatiku, kuharap kaupun dapat berbuat demikian."
"Menurut kabar dari Nirmala nomor tujuh, lusa ibuku hendak pergi ke Tionggoan. Aku merasa gembira sekali setelah mendengar berita ini, dengan kepergiaannya bukankah kaupun akan berkurang dalam penderitaan?"
"Salam, Hay jin-"
Kim Thi sia merasakan perasaannya bergolak keras sehabis membaca tulisan ini, tiba-tiba saja dia berpikir.
"Bila ditinjau dari tulisannya, setiap patah kata semuanya mengandung perasan kuatir serta perhatian yang sangat besar apakah dia menaruh hati kepadaku?"
Tapi perasaan rendah diri segera memotong jalan pemikiran tersebut, pikirnya lebih jauh.
"Aku tak lebih hanya seorang manusia gelandangan yang kasar dan tak tahu sopan santun dari dunia persilatan-Bagaimanapun juga aku bukan tandingannya, sungguh menggelikan kalau aku punya ingatan katak buduk mengharapkan daging angsa. IHmmmm, dia toh cuma berniat menghiburku dengan kata-kata senasib sependeritaan-Masa aku lantas menganggapnya punya minat kepadaku? Huuuuuh, ingatan yang benar-benar tak tahu malu......"
Dengan cepat dia membuang jauh-jauh semua pikiran itu dan meneruskan lagi latihannya.
Pada hari kelima......
Dengan penuh pengharapan dia membuka batunya, tapi ia sangat kecewa, ternyata gadis cantik berbaju putih itu tidak menulis surat untuknya.
Entah mengapa, tiba-tiba saja pemuda itu merasa sangat mendongkol.
Dalam jengkelnya ia segera menghimpun seluruh kekuatan tubuhnya dan melancarkan sebuah pukulan keatas batu cadas itu.
"Blaaaaaarrmm........"
Tiba-tiba saja batu raksasa itu bergoncang keras sambil menimbulkan suara yang angat aneh.
Kim Thi sia hampir saja tak percaya kalau apa yang telah terjadi merupakan suatu kenyataan-Dengan cepat berpikir.
"Mungkinkah berkat latihanku siang dan malam, tenaga pukulan Tay goan sinkang ku telah mencapai puncak kesempurnaan?"
Sekali lagi dia menghimpun segenap kekuatan yang dimilikinya dan melepaskan sebuah pukulan lagi.
"Blaaaaammmmm........"
Ditengah benturan keras, hancuran batu berserakan kemana-mana, kembali batu raksasa itu bergoncang keras.
Kali ini dia sudah makin yakin kalau ilmu Tay goa sinkangnya telah memperoleh kemajuan pesat, meski begitu ia belum berhasil menjebloskannya untuk melarikan diri.
Tapi timbul juga rasa percaya pada kemampuan sendiri, sekalipun batu itu belum berhasil disingkirkan, tapi ia percaya akhirnya apa yang diharapkan dapat tercapai juga.
Maka dengan membuang jauh-jauh segala pikiran, dia melanjutkan kembali latihannya dengan tekun Tengah harinya terdengar suara langkah kaki manusia bergema mendekati gua tersebut, kemudian tampak secarik kertas disisipkan lewat celah gua.
Buru-buru Kim Thi sia mengambil kertas itu dan dibaca isinya.
"Adik Thi sia."
"Hari yang penuh pengharapan akhirnya semakin mendekat, setiap kupandang cuaca, hatiku selalu mengomel mengapa waktu berlalu begitu lambat, mengapa bukan hari ini saja ibuku pergi meninggalkan lembah?"
"Nirmala nomor tujuh telah memberitahukan kepadaku, ibu telah bertekad hendak berangkat kedaratan Tionggoan.
Sepeninggalannya dia akan mengutus Nirmala nomor empat sampai nomor tujuh untuk mengawasi gerak gerik kami."
"Berhubung posisi Nirmala nomor tujuh sekarang sudah lain, dia dilarang meninggalkan jabatannya. oleh sebab itu akupun tak pernah memberitahukan kepadanya tentang rencana kita untuk melarikan diri dari lembah ini. Bagaimana rencanamu selanjutnya? Apakah kau yakin untuk meloloskan diri dari sana?"
"Kudengar setiap hari kau selalu melatih diri dengan tekun, aku yakin akan kemajuan yang pesat pasti tercapai dalam waktu yang begitu singkat.
Nirmala nomor tujuh tidak melaporkan peristiwa ini kepada ibuku.
Katanya bila ada kesempatan dikemudian hari, kau harus berterima kasih kepadanya."
"Perasaan hatiku belakangan ini berangsur membaik, tapi aku tetap merasa kuatir karena ibu telah mengurungku didalam sebuah kamar yang berterali besi. Bila kau tidak memiliki kemampuan untuk merusak terali besi tersebut, bukankah sama artinya usaha dan rencana kita selama berharihari akan sia-sia belaka?"
"Apakah kau telah menyelidiki keadaan medan didalam lembah ini? Bagaimana pula caramu untuk menghadapi orang-orang yang mengawasi kita berdua? Aku benar-benar menyesal mengapa tidak belajar silat dari ibuku dulu. Kalau tidak. aku pasti dapat membantu usahamu."
"Kemudian apakah kau sudah pertimbangkan baik-baik. Kemanakah kita akan pergi setelah meninggalkan lembah ini? Bagaimana untuk melanjutkan hidup?"
"Adik Kim Thi sia, aku percaya kau adalah seorang yang pintar, semua harapanku telah kuserahkan semua kepadamu......"
"Tertanda, Hay jin."
Kim Thi sia termenung sebentar, kemudian dengan darahnya dia membalas surat tersebut, tulisannya.
"Segala sesuatunya kita bicarakan setelah bersua nanti."
Setelah membuang surat itu keluar dari gua dia mempergiat latihan ilmu silatnya.
Waktu sudah semakin mendesak.
berhasil atau gagal akan ditentukan dengan tindakan tersebut, karenanya bagaimanapun jua dia harus mempergiat latihannya.
Pada hari keenam, cuaca sangat buruk.
awan mendung menyelimuti angkasa dan hujan turun dengan derasnya.
Memandang pakaian yang dikenakan olehnya, Kim Thi sia mulai termenung.
"Dengan pakaianku yang compang camping, dengan tubuhku yang bau keringat, mana mungkin aku bisa melakukan perjalanan bersamanya?"
Surat dari gadis berbaju putih itu kembali ditemukan disela-sela gua, ketika dibuka surat tersebut, ditemukan tulisannya sangat kacau dan tergesa-gesa.
Hal ini sangat mengejutkan hatinya.
Terbaca olehnya surat tersebut berbunyi begini.
"Hari ini datang tamu asing, ibu telah menyerahkan diriku kepada tamu asing itu untuk membawanya kedaratan Tionggoan. oooh, pikiranku sangat kalut....."
Surat itu tanpa nama tanpa tanda tangan selain sebaris tulisan yang singkat.
Tapi Kim Thi sia mengenali surat itu ditulis oleh Hay jin, gadis cantik berbaju putih itu, dengan perasaan terkejut segera pikirnya.
"Aneh, siapakah tamu asing itu? Mengapa Dewi Nirmala menyerahkan putri kandungnya kepada orang itu?"
Kemudian ia berpikir lebih jauh.
"Bila ditinjau dari tulisannya yang tergesa-gesa, nampaknya ia seperti dikejar waktu Janganjangan sekarang juga dia akan meninggalkan lembah nirmala?"
Angin dingin yang menghembus masuk melalui celah-celah gua mendatangkan perasaan tak sedap ditubuhnya, tiba-tiba saja ia merasa badannya menggigil, pikirnya.
"Habis sudah kali ini, sudah jelas Dewi Nirmala berniat menyerahkan gadisnya kepada tamu asing itu, bedebah tamu asing itu, entah siapakah dia?"
Dengan sedih ia menggelengkan kepalanya berulang kali, lalu gumamnya lirih.
"Seandainya dia telah meninggalkan lembah nirmala, aku bertekad akan menemukannya kembali. ooooh..... rencana yang telah disusun berhari-hari lamanya, kini sudah hancur berantakan. Ditinjau dari hubungan sitamu asing yang begitu akrab dengan Dewi Nirmala, sudah pasti diapun bukan manusia baik-baik. Bagaimana mungkin ia bisa peroleh kebahagiaan?"
Perasaan yang sangat sedih dan sakit hati bagaikan diiris-iris dengan pisau tajam segera mencekam perasaannya, mendadak dia membentak keras lalu membabat batu raksasa itu dengan sepenuh tenaga.
"Blaaaarrrr......."
Batu raksasa itu hanya bergoncang keras namun sama sekali tidak bergerak dari posisinya semula. Dengan napas terengah-engah ia menjatuhkan diri tertunduk. umpatnya kemudian sambil menggertak gigi.
"Maknya, Dewi Nirmala, kau bedebah terkutuk. manusia keparat"
Dengan susah payah akhirnya ia berhasil juga mengendalikan hawa amarahnya.
Hari itu sepanjang waktu dia tak pernah beristirahat, tiada hentinya dia hajar batu raksasa tersebut dengan sepenuh tenaga.
Menanti tenaganya sudah habis dan tiada bertenaga lagi untuk melepaskan pukulan dan baru tertidur nyenyak.
Mungkin karena rasa lelah yang amat sangat, tidurnya kali ini cukup lama.......
Tatkala mendusin kembali dari tidurnya, hari sudah malam.
Angin dingin yang berhembus masuk melalui celah-celah gua, membuat udara terasa amat dingin membekikan-Dengan cepat dia bersemedi untuk menghimpun kembali kekuatan tubuhnya, tak lama kemudian ia merasakan tenaga yang terhimpun telah penuh, kekuatan yang menyusup keempat anggota badannya terasa lebih kuat dan mantap.
Dengan dicekam perasaan heran dan ingin tahu, pemuda itu segera menghimpun segenap kekuatannya dan melepaskan sebuah pukulan yang maha dahsyat kearah batu raksasa itu.
"Blaaaammmm......"
Diiringi deruan angin puyuh yang sangat mengerikan hati, batu cadas seberat berapa ribu kati itu segera terhajar telak dan mencelat keluar dari mulut gua.
Dengan demikian muncullah sebuah lubang kecil seluas tujuh delapan depa didepannya.
Rasa terkejut bercampur girangnya Kim Thi sia tidak membuang banyak waktu lagi, dengan langkah lebar dia menerobos keluar dari ruangan gua itu.
Ditengah hembusan angin malam yang dingin dan membekukan badan, ternyata ia sama sekali tidak merasa kedinginan sadarlah pemuda kita bahwa kemampuannya telah meningkat berapa kali daripada keadaan semula.
Berdiri ditengah hembusan angin topan pemuda itu merasa hatinya berat dan sedih sebab sekalipun ia berhasil menerobos keluar dari sekapan, namun kemanakah dia harus pergi untuk menemukan jejak gadis cantik berbaju putih itu?
Tiba-tiba ia mendengar suara helaan napas seseorang yang amat lirih, Kim Thi sia segera berpaling dan memperhatikan sekejap sumber dari suara helaan napas itu.
Setelah menemukan arahnya, pelan-pelan dia berjalan mendekati tempat tersebut yang ternyata berupa sebuah gua kecil, lalu dengan suara lirih dia bertanya.
"Siapakah yang berada didalam sana?"
Tiada jawaban dari balik gua, ketika peronda itu makin mendekat gua tadi, seperti apa yang pernah diceritakan ayahnya, ia menyaksikan ada sepasang biji mata yang jeli dan tajam mengawasinya tajam-tajam.
Tak disangka lagi didalam gua itu terdapat penghuninya.
Sekalipun dalam kegelapan Kim Thi sia bisa menyaksikan raut mukanya, namun sorot mata orang itujels berbeda daripada orang biasa.
Dengan perasaan ingin tahu dia segera bertanya.
"Sobat, siapa namamu? Bila kudengar dari helaan napasmu yang begitu sedih, agaknya ada suatu persoalan yang memedihkan dirimu. Bolehkah aku tahu persoalan apakah itu?"
Tanpa bergerak dari posisinya semula, orang itu balik bertanya.
"Kau datang dari mana?"
Begitu ucapan tersebut bergema, Kim Thi sia menjadi sangat terperanjat. Suara jawaban orang tersebut begitu keras dan nyaring hingga menusuk pendengarannya.
"Aku datang dari luar", sahutnya cepat-cepat.
"Tahukah kau akan peraturan dari lembah ini"
"Aku sudah disekap dalam beberapa hari baru saja aku berhasil menjebol gua dan meloloskan diri ketika akan pergi dari sini, kudengar suara helaan napasmu yang amat memedihkan hati, karena terdorong rasa ingin tahulah maka aku balik lagi kemari. Hay kalau toa gua ini tanpa batu raksasa yang menyumbat, kenapa kau tak ingin pergi dari sini untuk mencari kebebasan dan kemerdekaan?"
"omong kosong, siapakah manusia didunia ini yang tak ingin kebebasan dan kemerdekaan-......."
"Lantas mengapa kau tak ingin keluar dari situ?"
"Perempuan jahanam itu telah membelah aliran hawa murniku hingga bercabang. Bagaimana mungkin aku bisa lolos dari sini?"
"oooh, soal ini......."
Kim Thi sia sangat beriba hati.
"Apakah kau bisa berilmu, tidak ada salahnya untuk dicoba"
Kata orang itu gembira.
"Aku sudah hampir dua puluh tahunan berdiam diri disini. sejak aliran hawa murniku terbelah dua, setiap hari aku merasakan siksaan yang tak terlukiskan dengan kata-kata, untung saja kau datang sekarang. Hey sobat, silahkan untuk dicoba, bila akhirnya memang gagal akupun hanya akan pasrah pada nasib."
Sambil berkata ia segera menjulurkan tangannya dari balik goa.
Kim Thi sia melangkah maju kdepan, baru saja dia hendak bertanya bagaimana caranya untuk membantu orang itu, tiba-tiba saja tangan orang itu sudah menyambar kebawah melakukan cengkeraman kilat.
Mimpipun Kim Thi sia tidak menyangka kalau dirinya bakal disergap secara licik, tak sempat lagi untuk menghindarkan diri tahu-tahu jalan darahnya sudah kena dicengkeram.
Serangan dari orang itu sangat berat dan mantap.
jelas ilmu silat ang dimilikinya merupakan ilmu silat tingkat tinggi.
Kim Thi sia menjadi sangat marah, dia tak mengira maksud baiknya justru disalah gunakan orang tersebut.
Dengan wajah hijau membesi, segera bentaknya keras-keras.
"Lepaskan aku, sesungguhnya apa maksud tujuanmu? cepat lepaskan aku........."
Mendadak orang itu tertawa keras, suara tertawanya tak berbeda seperti jeritan kuntilanak ditengah malam.
"akhirnya aku berhasil juga menangkapmu."
Kim Thi sia benar-benar sangat gusar, sekuat tenaga dia meronta, namun gagal melepaskan diri dari cengkeraman, akhirnya dengan perasaan terkejut serunya.
"Maknya, telur busuk, cucu kura-kura, antara toaya dengan dirimu toh tak punya dendam sakit hati apa-apa, mengapa kau membekukku dengan menggunakan akal selicik ini?"
"Demi kebebasanku, terpaksa aku harus menyiksamu sebentar."
"Apa maksud perkataanmu itu?"
Seru Kim Thi sia semakin naik darah.
"Terus terang saja aku katakan, aku terpaksa harus menangkapmu dengan menggunakan akal, tapi aku akan segera menjelaskan apa sebabnya, harap kau tenangkan hatimu lebih dulu."
Setelah berhenti sejenak. dia memandang hujan yang turun diluar gua lalu terusnya.
"Dua puluh tahun berselang, dalam suatu pertarungan ilmu silat aku telah kalah ditangan Dewi Nirmala siperempuan bedebah itu, sesuai dengan perjanjian sebelum pertarungan dilakukan, pihak yang menderita kalah akan menerima kurungan dari pihak yang menang."
Setelah mendengus marah, lanjutnya.
"siapa sangka Dewi Nirmala tidak mengurungku saja bahkan dia menggunakan taktik mengurungku sampai kelaparan untuk memaksaku menyetujui permintaannya yakni memulihkan ilmu Tay yu sinkangnya yang telah menderita kerugian besar. Sebagai pihak yang kalah tentu saja aku harus menuruti perkataannya, maka diapun mengurungku disini dengan tenang bila ingin memulihkan kemerdekaanmu, hanya ada sebuah jalan saja yang tersedia, yaitu membuat pahala untuk menebus kekalahanmu itu......."
"Waktu itu aku segera bertanya, bagaimana yang dimaksud membuat pahala?
Iapun bilang bila aku mampu menangkap lima orang yang berani memasuki daerah terlarang dilembah Nirmala, maka akupun akan peroleh kebebasan."
"Maka akupun menanti dengan sabar, siapa tahu nama besar lembah nirmala sudah kelewat termashur hingga orang ada yang berani berkunjung kemari, dengan sendirinya akupun tak punya pengharapan untuk memperoleh kebebasan. Sekarang aku baru tahu, rupanya perempuan jahanan itu berhati keji dan sengaja menyusahkan aku, tapi aku telah menyanggupi permintaannya.Jadi akupun harus melaksanakan dengan sungguh-sungguh."
"oleh sebab itu aku harus menderita selama dua puluh tahun dengan harapan ada orang yang datang kemari."
"Nah sahabat, tidak mudah bagiku untuk mencari kesempatan guna peroleh kebebasan-Apakah aku akan melepaskan dirimu dengan begitu saja?"
"Hmm, apakah kau mengira dirimu masih hanya harapan untuk memperoleh kebebasanku?"
Dengus Kim Thi sia. Orang itu manggut-manggut.
"Tentu saja, termasuk dirimu, aku telah berhasil menangkap empat orang, bila nasibku masih mujur, dengan muncul seorang lagi bukankah saatku peroleh segera akan tiba?"
Kim Thi sia menjadi gusar sekali setelah mendengar perkataan itu, kontan dia mencaci maki kalang kabut.
"Maknya, aku tak mengira kau sebagai anggota dunia persilatan ternyata begitu tak tahu malu. Gara-gara kepentingan sendiri kau telah mencelakai tiga orang tak berdosa. Hmmm, tahu begitu, sudah dari tadi kuhajar dirimu sampai mampus."
Orang itu balas tertawa dingin.
"Hmmm.....ketiga orang yang terjatuh ketanganku dulupun pernah berkata demikian tapi aku tak pernah memikirkannya didalam hati."
Berbicara sampai disitu, kelima jari tangannya segera mencengkeram dengan lebih bertenaga.
Kontan saja Kim Thi sia kesakitan setengah mati, sambil menggertakkan giginya kencangkencang dia berseru dengan penuh kebencian.
"Maknya, tampaknya didalam lembah Nirmala tak ada seorang manusiapun yang mirip manusia."
Mendadak orang itu bangkit berdiri dan berseru pula.
"Sobat, tidak sedikit manusia yang mati penasaran didalam lembah ini, namun tidak seorangpun diantara mereka yang punya semangat seperti kau."
Kim Thi sia tidak menjawab, ia mengalihkan sorot matanya memperhatikan sekejap sekeliling ruangan, dengan cepat dia saksikan kaki orang itu diikat dengan sebuah rantai besar, diujung rantai merupakan sebuah bola besi yang beratnya mencapai ratusan kati.
Menyaksikan kesemuanya itu, kembali pemuda kita berpikir.
"Tak heran kalau dia tak mampu keluar dari situ, rupanya gerak geriknya telah dibatasi dengan rantai besi."
Menyusul kemudian dia berpikir lebih lanjut.
"Hmmm, untuk menghadapi manusia pengecut yang takut mati seperti dia, sudah sepantasnya kalau dihadapi dengan cara yang paling keji dan buas. HHmmm, moga-moga saja orang yang terakhir tak pernah datang sehingga dia harus mampus disini."
Ketika orang itu melihat korbannya hanya termangu-mangu saja, mendadak serunya.
"Bila kutinjau dari usiamu, paling banter tak sampai dua puluh tahunan, tak disangka kau memiliki keberanian untuk datang kelembah Nirmala ini. Hmmmm......."
"Silahkan menutup bacotmu"
Tukas Kim Thi sia sinis.
"Toaya tak punya waktu untuk mengobrol terus denganmu."
Kembali orang itu tertawa dingin tiada hentinya.
"Hmmm...aku tahu, kaupun tak lebih cuma seorang yang berlagak sebagai seorang hohan-Padahal dihati kecilmu sudah timbul perasaan ngeri dan ketakutan-"
"HHmmmm^ coba kalau aku tidak jatuh pecundang ditanganmu. Sekarang juga aku telah mencincang tubuhmu hingga hancur berkeping-keping"
Seru Kim Thi sia sambil memejamkan matanya.
"Malam ini merupakan malam terakhir kau hidup didunia ini, bila petugas datang besok pagi, kau akan segera menerima hukuman yang setimpal dan nyawamu sudah pasti akan melayang, mengapa sih kau tidak memanfaatkan kesempatan yang terakhir ini untuk berbincang-bincang sepuasnya? "
Tampaknya orang ini sudah kesepian hampir puluhan tahun lamanya sehingga sangat berharap bisa menemukan teman untuk berbicara.
Kim Thi sia tetap membungkam diri dalam seribu bahasa, sementara dihati kecilnya dia berpikir.
"Aku harus menggunakan akalku untuk meloloskan diri dari cengkeramannya, kalau tidak bila aku terjatuh ketangan Dewi Nirmala lagi esok pagi, akibatnya tak akan terbayang dengan katakata."
Berpikir begitu, diapun berlagak menghela napas sambil bergumam.
"Sudah, sudahlah......kalau memang nasib menghendaki begini apa gunanya aku marah kepadamu......."
Orang itu menjadi kegirangan, cepat-cepat dia menimpali.
"Yaa, sesungguhnya akupun tidak berniat mencelakaimu, tapi penderitaan disini benar-benar amat berat, kelaparan, kedinginan hidup menyendiri merupakan siksaan lahir batin yang telah kualami hampir dua puluh tahun lamanya aku tidak mengetahui bagaimanakah perubahan dunia saat ini. Karena itu aku ingin secepatnya mendapatkan kebebasan kembali, aku ingin terjun dan berkelana lagi didalam dunia persilatan-Bila kau bisa memahami kesulitanku ini, setelah bebas nanti, aku pasti akan mendirikan sebuah tugu peringatan untukmu."
"Besok, kemungkinan besar aku akan mati"
Kata Kim Thi sia pura-pura amat sedih.
"Padahal masih banyak tugasku yang belum sempat kuselesaikan-Bila kau bersedia membantuku, sekalipun sudah berada dialam bakapun aku tetap berterima kasih kepadamu."
Orang itu manggut-manggut.
"coba kau katakan, asal aku mempunyai kesanggupan itu, memandang diatas hubungan kita sebagai sesama umat persilatan, sudah sepantasnya bila kubantu dirimu."
Pelan-pelan Kim Thi sia duduk diatas lantai, kemudian katanya.
"Aku adalah seorang anak tunggal, setelah aku mati nanti mungkin orang tuaku tidak ada yang merawat. Aaaa i......percuma dibicarakan, sekalipun sudah kuutarakanpun tidak ada gunanya"
"Bolehkah aku tahu dimana desa kelahiranmu?"
"Desaku berada diluar perbatasan sana, tapi ayahku adalah orang Tionggoan, maka ibuku yang dilahirkan diluar perbatasanpun mengikuti dia orang tua pindah kedaratan Tionggoan."
Sementara berbicara, dengan secara diam-diam tangannya yang lain digeserkan kearah depan lanjutnya.
"Ayahku mempunyai sebuah bidang usaha yang sangat besar, kekayaannya boleh dibilang menguasahi suatu wilayah tertentu. Aaaa i.......setelah aku mati nanti, usaha ayahku itu tentu tak ada yang meneruskan-......"
Sementara itu tangannya sudah tinggal setengah depa dari ujung kakinya, ia merasa tegang sekali, namun diluarnya dia berlagak sangat sedih, lanjutnya.
"Semua sanak keluargaku hampir seluruhnya berambisi untuk menguasahhi harta kekayaan orang tuaku. Bila aku benar-benar tewas besok rencana mereka tentu akan terwujud menjadi kenyataan tanpa bersusah payah barang sedikitpun jua......"
Orang itu mengira apa yang diceritakan merupakan kenyataan, dia turut bersedih hati, tiba-tiba selanya.
"Aku rasa sebelum ayahmu mati, tak mungkin mereka akan memperlihatkan ambisinya itu."
Kim Thi sia segera menghela napas panjang.
"Aaaai, kau tidak tahu kesehatan ayahku sangat jelek......."
Ketika berbicara sampai disitu, telapak tangannya sudah hampir menyentuh ujung kaki orang itu, cepat-cepat dia memanfaatkan kesempatan yang sangat baik itu dengan segera.
Sambil membentak keras, dia mendorong kaki orang itu kuat-kuat.
Mimpipun orang itu tak menyangka kalau Kim Thi sia bakal mempercundangi dirinya dengan cara selicik itu, tak sempat lagi lengannya mengeluarkan tenaga kakinya sudah terhajar telak.
Segulung tenaga besar segera menerjang kakinya membuat orang itu tak mampu berdiri tegak dan mundur kebelakang dengan sempoyongan-Sementara itu, Kim Thi sia yang terlepas dari cengkeraman, buru-buru melompat kebelakang dan mengundurkan diri dari gua tersebut.
Dengan kecepatan tinggi orang itu menekan tubuhnya, tapi sayang Kim Thi sia telah berada diluar gua, dengan rantai yang terbatas panjangnya, sulitlah baginya untuk melakukan pengejaran lebih lanjut.
Bisa dibayangkan betapa gusar dan mendongkolnya orang ketika melihat daging gemuk yang berada didepan mulut seraya terlepas kembali.
Sambil tertawa dinginKim Thi sia segera mengejek.
"IHey sobat, inilah yang dinamakan pembalasan dendam, apakah kau tidak puas?"
Orang itu membungkam dalam seribu bahasa, namun sorot matanya yang tajam mengawasi korbannya lekat-lekat. Dia gusar bercampur mendongkol, kalau bisa dia ingin menelan pemuda tersebut bulat-bulat.
"Sobat"
Baca Juga: Merpati Pedang Purba Kauw Tan Seng
Baca Juga: Pisau Terbang Li 7