Eps 7 Lembah Nirmala - Khu Lung
Baca online Lembah Nirmala - Khu Lung
Cersil Lembah Nirmala - Khu Lung.
Mendengar perkataan itu mendadak Kim Thi sia seperti memahami akan sesuatu segera teriaknya keras-keras.
"Yaa benar, waktu itu suhu sudah menderita pelbagai luka yang parah, kesadarannya kabur, tentu saja apa yang diucapkan tidak muncul dari hatinya yang tulus. Yaa......akhirnya aku berhasil juga memahami akan hal tersebut....."
Ia segera menepuk bahu sipedang perak kuat-kuat, lalu sambil mengawasinya dengan pandangan minta maaf, dia berkata.
"suheng, aku telah salah menuduhmu......."
Dengan cepat sipedang perak menggeleng kepalanya berulang kali, sahutnya.
"Kita adalah sesama saudara sendiri, sekalipun sudah terjadi kesalahan paham, bukan berarti sudah mencapai tahap keretakan-"
Habis berkata begitu, kerisauan yang semula menghiasi wajahnya pun hilang lenyap seketika. Kim Thi sia sebera berseru lagi dengan girang.
"Bagus, bagus sekali, kita bisa bekerja sama secara baik sekarang. Terus terang kubilang, sebelum ini aku selalu merasa curiga dan tak pernah tenteram bila berada bersama suheng sekalian."
"Untung saja sute masih berotak terang"
Seru pedang perak cepat.
"Kalau tidak, bila kau menyerangku secara tiba-tiba dari belakang, aku tak tahu bagaimana mesti menghindarkan diri"
Begitulah, sambil bergurau mereka menelusuri jalan raya dan tiba didepan rumah penginapan Liong pia.
Rumah penginapan Liong pia merupakan rumah penginapan yang terbesar dikota tersebut, selain perlengkapannya sangat bagus dan mewah, banyak pula tamu yang menginap disitu.
Dengan tak bosan-bosannya sipedang tembaga menuturkan asal usul penginapan tersebut kepada putri Kim huan dengan niat menarik simpatiknya, hal ini membuat sipedang besi yang merasa tercampak jadi mendongkol dan timbul kesan jelek terhadapnya.
Kim Thi sia, Nyoo Jin hui serta Nyoo soat hong pun memperhatikan perlengkapan dirumah penginapan Liong pia dengan seksama.
Hanya sipedang perak seorang yang mendongakkan kepalanya mengawasi sesuatu benda tanpa berkedip.
sebetulnya benda itu tidak aneh atau istimewa, karena tak lebih hanya selembar kain yang bertuliskan rumah penginapan Liong pia.
Tapi justru karena kesederhanaan dan kelumrahan itulah membuat orang-orang yang lainpun turut memperhatikan benda tadi.
sipedang besi segera berseru tercengang lebih dulu, disusul semua orangpun dibuat Ternyata diatas kain panjang itu tertera beberapa huruf yang bertuliskan.
"Nirmala nomor sepuluh menantang sembilan pedang dari dunia persilatan untuk berduel."
Oleh karena tulisan itu tertera dibalik kain yang bertuliskan rumah penginapan Liong pia, maka selain sipedang perak yang teliti, lainnya hampir tidak menduga kesitu sambil menarik wajahnya sipedang perak bergumam.
"Nirmala nomor sepuluh......Nirmala nomor sepuluh......rasanya tidak mirip nama manusia, juga tak mirip sesuatu julukan. Lalu sebagai lambang apakah itu?"
Sejak terjun kedalam dunia persilatan, belum pernah ia menjumpai peristiwa seaneh dan serumit hari ini, begitu rahasia dan misteriusnya hingga ia tak mampu memecahkannya.
Dengan senyum dikulum sipelayan muncul dan siap mengatakan "silahkan masuk toaya"
Namun sebelum perkataan mana sempat diutarakan keluar, mendadak sipedang perak melompat maju kedepan, mencengkeram bahunya dan bertanya.
"siapa yang menulis tulisan tersebut?"
Pelayan itu mendongakkan kepalanya dan memandang sekejap kearah tulisan tadi, dia agak tertegun sejenak. lalu sahutnya tergagap.
"Hamba.......hamba sendiripun tidak tahu."
Sipedang perak yang sudah terbiasa menilai seseorang dari perubahan mimik wajahnya segera tahu kalau pelayan itu tidak berpura-pura, maka sambil melepaskan dirinya dia berkata.
"Baiklah, malam ini aku akan menginap disini lekas siapkan tujuh buah kamar kosong dan segera beritahu kepada pembantu lainnya agar menurunkan kain tersebut, mengerti?"
Pelayan itu mengiakan dan segera beranjak pergi, tak lama kemudian ada orang yang mendaki keatas atap rumah serta mengganti kain tersebut dengan kain lainsementara semua orang sudah memasuki kamar masing-masing, hanya sipedang perak seorang dengan perasaan yang begitu berat dan hati yang tidak tenang keluar dari penginapan duduk dirumah makan diseberang jalan sambil memperhatikan setiap orang yang masuk keluar didalam rumah penginapan tersebut.
Tunggu punya tunggu akhirnya muncullah seorang lelaki setengah umur bercambang lebat dari balik rumah penginapan-Begitu keluar dari penginapan orang itu langsung bergabung dengan dua orang lelaki kekar yang muncul dari arah depan-Lalu mereka bersama-sama menuju kejalan raya.
Diam-diam sipedang perak tertawa dingin setelah menanyakan dengan jelas kamar tinggal lelaki setengah umur itu, dia balik kembali kerumah makan diseberang jalan-Dalam pada itu, Kim Thi sia dengan perasaan gembira berbincang-bincang dengan Nyoo Jin hui dikamarnya, sampai dia merasa tak ada persoalan yang dibicarakan lagi, pemuda itu berpamitan untuk kembali kekamar sendiri.
Baru saja pintu kamar dibuka tiba-tiba terendus bau harum semerbak berhembus keluar dari balik kamarnya, sewaktu diperhatikan lebih seksama, ternyata orang itu adalah putri Kim huan-Dia mengira telah salah memasuki kamar, dengan wajah bersemu buru-buru minta maaf sambil berniat meninggalkan tempat tersebut.
Siapa tahu putri Kim huan segera maju kedepan menghalangi jalan perginya seraya berkata.
"Jangan pergi dulu, ada berapa persoalan ingin kutanyakan kepadamu........."
Dengan perasaan apa boleh buat terpaksa Kim Thi sia berkata.
"Katakanlah"
"Kau harus menjawab dengan sejujurnya, aku bisa mengetahui bohong tidaknya perkataanmu dari perbuahan mimik wajahmu itu."
Melihat keseriusan sinona, Kim Thi sia pun berkata dengan wajah sungguh-sungguh.
"aku tak tahu persoalan apakah yang ingin kau tanyakan tapi aku tahu, tak mungkin aku dapat mengelabuhi dirimu."
Agaknya putri Kim huan juga tahu kalau pemuda tersebut adalah orang jujur, dia manggutmanggut setelah mendengar perkataan tersebut, sahutnya.
"Baiklah, aku ingin bertanya kepadamu. Apakah kau ingin menjadi seorang pembesar?"
"Tidak pingin"
"Rupanya kau belum mengetahui keuntungannya menjadi seorang pembesar sehingga tak ingin menjadi pembesar. Padahal setelah menjadi seorang pembesar maka segala keinginan akan terpenuhi seperti misalnya menginginkan rumah tinggal yang berbentuk bagaimana, ingin mencicipi hidangan seperti apa semuanya bisa terpenuhi dalam waktu singkat. Kehidupan seperti itu-jelas jauh berbeda dengan kehidupan sebagai gelandangan yang tiap hari luntang lantung kesana kemari dibawa hujung kilauan senjata........"
Setelah berhenti sejenak, dengan mempertegas ucapannya dia melanjutkan.
"Apalagi jika kau mempunyai banyak anak buah, andaikata kau mempunyai kesulitan maka kau tak perlu maju untuk mengerjakan serta menyelesaikan segala sesuatunya dengan baik, Disamping itu masih banyak lagi kenikmatan yang bakal kau alami, kenikmatan yang mimpipun belum pernah kau bayangkan. Kau........"
Sambil menggelengkan kepalanya, Kim Thi sia memotong perkataannya yang belum selesai diucapkan itu.
"Aku adalah seorang yang bernasib buruk. pada hakekatnya aku tak ingin menjadi seorang pembesar untuk mencari kenikmatan hidup, Terus terang saja aku bilang, kehidupan semacam inipun sudah cukup membuat hatiku puas dan bahagia."
Selesai berkata dia segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.
sikap maupun tingkah lakunya jelas menunjukkan sifat jantannya yang amat perkasa.
Dengan termangu putri Kim huan menikmati pemuda tersebut, mungkin kejantanan serta keperkasaan lelaki inilah yang menjadi daya tarik bagi dirinya.
Lelaki tampan yang lemah lembut sudah sering dijumpai didalam istananya, oleh sebab itu kekasaran dan sifat acuh tak acuh yang diperlihatkan Kim Thi sia segera menimbulkan rasa ingin tahu baginya, perasaan yang membuatnya ingin selalu berada disampingnya.
Ia berkata kemudian-"Aku mengerti, kau adalah seorang silat yang kasar, dari dulu hingga sekarang, orang silat memang susah bergaul dengan orang sastra.
kalau orang satra lebih bercita-cita mencari pangkat dan kehidupan yang tenang, maka orang silat hanya ingin mencari kekuasaan dan daya pengaruhnya terhadap suatu lingkungan-"
Ia berhenti sejenak untuk tertawa genit, lalu sambungnya lebih jauh.
"Aku tebak, aku pasti berkeinginan menjadi seorang jenderal bukan?"
"Diatas jenderal masih ada kaisar, padahal aku paling tak sudi bertekuk lutut dihadapan orang lain. Bagiku, lebih baik kepala dipenggal daripada tunduk dibawah perintah orang lain-......"
Sambil mencibirkan bibirnya dan mengerling gemas kearah pemuda tersebut, putri Kim huan berkata lebih jauh.
"Kau adalah seorang yang bersemangat, sudah barang tentu kau tak sudi bertekuk lutut dihadapan orang lain, tapi bila kutawarkan kedudukan seorang jenderal yang tidak teringat oleh siapa saja, apakah kaupun bersedia untuk menerimanya?"
"Aku tentu akan menyanggupinya secara terpaksa"
Sahut Kim Thi sia cepat. tiba-tiba dia teringat akan sesuatu, sambil tertawa terbahak-bahak lanjutnya.
"Apa sih artinya mengobrol tanpa dasar semacam ini? Apakah kau kelewat menganggur sehingga khusus datang kemari mengajak ku kongkou?"
"Aku tak pernah berbicara tanpa dasar. Kau jangan menuduh orang secara sembarangan"
Seru putri Kim huan. sambil menggelengkan kepalanya berulang kali dan membelalakkan matanya yang lebat, Kim Thi sia kembali berkata.
"Waaah, kalau begitu aku telah salah berbicara? Baik, baik, anggap saja aku memang salah berbicara. Kalau begitu aku ingin bertanya lagi, benarkah didunia ini terdapat seorang jendral berkuasa penuh yang tidak usah tunduk dibawah perintah seorang Kaisar?"
"Asal kau bersedia.......mungkin saja hal seperti ini akan segera terwujud."
"Ooooh......"
Kim Thi sia makin tertegun untuk sesaat dia tak habis mengerti dengan jawaban itu, sehingga tak tahan dia berkata lebih jauh.
"Aku hanya seorang manusia kasar yang bodoh dan tak berguna, bila dibicarakan siapa saja tak akan percaya bahwa manusia goblok semacam aku bisa menjadi seorang jendral. Hey, kau anggap aku seorang bocah berumur tiga tahun yang bisa dibohongi semaunya sendiri?"
"Benarkah kau tidak memahami maksud perkataanku ini? Atau mungkin kau cuma berlagak pilon.......?"
Ucap putri Kim huan kemudian sambil menghela napas sedih.
Dengan perasaan keheranan Kim Thi sia mengawasi dirinya, sampai detik ini dia belum juga memahami apa yang telah terjadi.
Putri Kim huan mempertimbangkan berapa saat, akhirnya dia memberanikan diri berkata.
"Baiklah, kalau toh kau tetap tak mengerti, biar kubuka persoalan ini sejelas-jelasnya. semenjak ketiga orang panglima perak Liong, kau dan aku tewas secara mengenaskan. Aku selalu berharap bisa menemukan seseorang yang pantas untuk melindungi pulang keistana. setelah kulihat ilmu silatmu bagus, orangpun jujur dan setia, maka aku bermaksud hendak mengundangmu..........."
"ooooh, tidak bisa, tidak bisa........"
Bagaikan tersengat tusukan jarum yang tajam, Kim Thi sia melompat keudara sambil berkaokkaok keras.
"Bagus, bagus sekali, rupanya kau hendak menyuruh aku menjadi budakmu, betul-betul menjengkelkan hati. Rupanya setelah berbicara setengah harian lamanya, kau hanya bermaksud menyuruh aku melakukan perbuatan yang memalukan seperti ini?"
"Siapa sih yang akan menyuruhmu menjadi budak? Hmmm, kau jangan sembarangan berbicara"
Seru putri Kim huan tak senang hati. Kim Thi sia mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.
"Haaaaah.....haaaaah......haaaaah......jadi kau belum mau mengaku juga? Kau anggap aku belum cukup paham dengan sikap ketiga orang manusia raksasa dulu terhadapmu? Hmmm, rupanya kau sedang mempermainkan aku selama ini......"
Makin berbicara dia merasa semakin mendongkol, suara pembicaraannya pun makin lama semakin keras, serunya lebih jauh.
"Aku masih mengira didunia ini benar-benar terdapat pekerjaan yang begitu enak. Rupanya kau hendak menyuruh aku menjadi seorang budak......."
Putri Kim huan menjadi tertegun dan membungkam dalam seribu bahasa.
ibaratnya seorang pelajar bertemu tentara, biar ada alasanpun susah diterangkan hingga jelas.
Keadaan Kim Thi sia setelah mengumbar hawa amarahnya tak jauh berbeda seperti seekor kerbau bengis.
Bukan saja hal mana menggetarkan perasaan putri Kim huan bahkan mengejutkan pula segenap penghuni rumah penginapan tersebut.
Mula-mula Nyoo Jin hui bersaudara yang muncul lebih dulu, sambil membujuknya agar meredakan hawa amarahnya, disusul kemudian sipedang tembaga serta pedang besi pun turut melerai.
Dengan suasana semacam ini, tentu saja putri Kim huan yang merasa paling rikuh dan serba susah.
Untung saja sipedang besi berhasil menjadi penengah yang baik dengan meninggalkan sedikit harga diri kepadanya, tapi atas kejadian tersebut gadis itupun mengunci diri didalam kamar dan menangis seorang diri.
Nyoo Jin hui pun tak tega menyaksikan kemurungan dan kesedihan yang mencekam perasaan gadis cantik itu, ia segera maju kehadapan Kim Thi sia dan berkata dengan serius.
"Adik Thi sia, kau benar-benar keterlaluan-Paling tidak kau mesti mengalah terhadap kaum wanita. Coba bayangkan sendiri betapa sakit hatinya dia setelah kau hadapi secara begini kasar, ayoh cepat pergi meminta maaf kepadanya."
Seingatnya, kakak angkatnya ini sejak awal perkenalan hingga sekarang belum pernah membelai orang lain, tapi sekarang ternyata menyalahkan pula dirinya, kejadian tersebut kontan saja mencengangkan hati Kim Thi sia.
Namun dia sudah menganggap Nyoo Jin hui sebagai saudara angkat sendiri, karena itu dia tidak membantak.
tetapi mengiakan berulang kali.
Jilid 25 Pelan-pelan dia berjalan mendekati kepintu kamar putri Kim huan lalu mengetuk pintu sambil menengur.
"Nona, apakah kau sudah tidur?"
Sebetulnya dia ingin memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mengucapkan kata-kata minta maaf namun melihat sampai lama sekali gadis tersebut belum juga menjawab, nada pembicaraannyapun segera berubah.
"Nona"
Katanya kemudian.
"Bila kau tetap mengingat selalu persoalan yang tak menyenangkan hati ini dihati kecilmu, akupun tak dapat berkata apa-apa lagi."
Begitu perkataan tersebut diutarakan dari balik kamar segera bergema suara jawaban. Terdengar gadis itu menjawab dengan suara sedingin es.
"Apa lagi yang hendak kau ucapkan? Perbuatan dan sikapmu telah membuat hatiku pedih sekali"
"Membuat hatimu pedih sekali?"
Kim Thi sia mengulangi kata-kata tersebut berapa kali. Namun ia belum bisa menyesali sampai dimanakah kepedihan itu. Dengan mengeraskan hati diapun berkata lagi dengan suara pelan.
"Aku........aku sengaja datang untuk minta maaf atas.....terjadinya peristiwa tadi. Aku......aku merasa bersalah kepadamu."
Tiada jawaban dari balik kamar putri Kim huan sehingga susah untuk diraba bagaimanakah perasaan gadis tersebut sekarang.
Lama sekali berdiri termangu diluarpintu, tiba-tiba saja dia merasa kejadian seperti ini merupakan suatu penghinaan besar baginya, dia tak tahan lagi segera gumamnya.
"Hmm, toh kau tak ada yang biasa, kalau toh enggan menjawab, akupun tak usah banyak berbicara lagi."
Selama ini, dia selalu beranggapan putri Kim huan lah yang sudah bersalah kepadanya, maka tanpa banyak bicara lagi dia beranjak dan meninggalkan kamar itu Tatkala secara kebetulan dia berpapasan muka dengan sipedang besi so Bun pin, mendadak teringat akan sesuatu, sambil membalikkan badan serta menepuk bahunya, dia bertanya dengan suara lirih.
"suheng, aku tahu kau paling cocok dengannya, kau pasti pula bersedia untuk menghantar pulang keistana. Bukankah begitu? Katakanlah perkataanku tidak salah bukan?"
Paras muka sipedang besi dingin dan sangat hambar, ia sama sekali tidak mengedipkan sebelah matapun sehabis mendengar perkataan tersebut, bahkan menanggapi pun tidak.
Kim Thi sia tahu, pemuda tersebut pasti tak senang hati kepadanya, maka sambil menahan sabar kembali dia berkata.
"sesungguhnya, semenjak dulu aku sudah ingin mencari seseorang untuk menghantarnya pulang. siapa sangka justru dia telah salah pilihan, padahal aku sama sekali tidak berniat untuk menjadi pengawalnya. suheng, aku minta untuk merepotkanmu sebentar guna mengiringi sinona pulang keistana, maklumlah watak seorang nona memang cukup memusingkan kepalaku."
Sampai perkataan tersebut selesai diucapkan, sipedang besi masih belum juga menampakkan perubahan mimik wajahnya.
saat itulah sipedang tembaga munculkan diri, melihat itu buru-buru sipedang besi so Bun pin manggut-manggut dan beranjak pergi dari situ.
Kim Thi sia yang ketanggor batunya merasa sangat tak senang hati, kepada sipedang tembaga segera ujarnya.
"suheng, tolong bantulah aku bersediakah kau untuk menghantarnya pulang keistana?"
"ooooh, tidak menjadi persoalan, menolong orang merupakan perbuatan kebajikan, tapi bagaimana caraku untuk menolongmu? Apakah........."
Walaupun dia telah memberikan persetujuannya, namun dengan sorot mata curiga ditatapnya wajah Kim Thi sia agak sangsi. sambil tertawa getir Kim Thi sia berkata.
"sinona mengira aku berminat kepadanya, maka dia datang mencariku, padahal aku tidak tertarik sama sekali terhadap kaum wanita, apalagi dalam keadaan masa depan yang masih merupakan tanda tanya besar. Aku tak ingin melumat semangat yang berkobar didalam dadaku, oleh sebab itu.......suheng, sanggupilah permintaanku dan hantarlah dia pulang keistananya."
Karena takut sipedang tembaga merasa menyesal, dengan cepat dia menambahkan lagi.
"Dia adalah seorang gadis terhormat, seorang gadis bangsawan. selama aku berada disampingnya, sering kali akupun merasa martabatku turut meningkat. Tapi suheng pasti berbeda, kau tentu tak akan membuat dia kehilangan muka bukan?"
Sipedang tembaga tertawa nyaring, dengan sangat gembira dia menjawab.
"suheng tidak usah kuatir, persoalan kecil seperti ini bukan merupakan kesulitan bagiku."
Selesai berkata dia pun berjalan menuju kekamar tidur putri Kim huan......
Menggunakan kesempatan yang sangat baik ini Kim Thi sia segera ngeloyor keluar dari pintu gerbang dan menghembuskan napas panjang.
Diapun mengerti sekarang bahwa manusia yang paling susah dihadapi dikolong langit sesungguhnya adalah kaum wanita.
Gara-gara urusan yang sepele pun dapat mengakibatkan terjadinya peristiwa berdarah dimana-mana.
Ketika mengalihkan sorot matanya, tiba-tiba ia melihat sipedang perak sedang munculkan diri dari rumah makan diseberang sana sambil menggapai kearahnya.
Buru-buru dia berjalan menghampirinya baru saja akan bertanya, siapa tahu sipedang perak telah mencegahnya untuk berbicara.
"Jangan bertanya dulu"
Bisiknya lirih.
"Mari kita minum arak, sebentar kau bakal mengerti dengan sendirinya."
Kim Thi sia amat kesal, namun ia menurut juga untuk memasuki rumah makan dan minum arak sambil membisu.
Pengunjung kedai arak itu tidak terlalu banyak.
namun sebagian besar pengunjungnya sudah berada dalam keadaan tujuh puluh persen mabuk.
oleh sebab itu suara gurauan dan gelak tertawa mereka membuat suasana dikedai tersebut bertambah ramai.
Diam-diam Kim Thi sia menggelengkan kepalanya berulang kali, pikirnya didalam hati.
"Maknya, benar-benar konyol, tak disangka ji suheng yang tersohor karena kebiasaannya hidup bersih, betah juga berkumpul ditempat semacam ini........."
Mendadak dia melihat sinar mata tajam mencorong keluar dari balik mata sipedang perak.
dia sedang mengawasi dua orang pengunjung yang duduk didekat jendela sebelah timur.
Kim Thi sia segera mengerti, keanehan sikap suhengnya bukan tanpa sebab, tanpa terasa diapun turut mengamati kedua orang tadi.
orang yang duduk disebelah kiri adalah seorang kakek berusia lima puluh tahunan, mukanya cerah, matanya jeli dan rambutnya telah beruban, dia mengenakan sebuah jubah kuning yang longgar.
Disebelah kanannya duduk seorang kakek pula, dia berjenggot panjang, beralis mata tebal dan hitam, mukanya angkuh dan matanya memancarkan sinar tajam, sekilas pandangan dapat diketahui bahwa orang itu sombong dan tinggi hati.
Anehnya, diatas kepala dua orang kakek tersebut masing-masing mengenakan sebuah gelang emas yang tebalnya satu inci.
Diatas gelang terikat dua buah tali berwarna merah bentuk maupun dandanannya istimewa sekali.
Namun biasanya, semakin aneh dandanan seseorang maka semakin aneh pula asal usulnya ditebak walaupun sipedang perak memiliki pengetahuan dan pengalaman yang cukup luas didalam dunia persilatan, toh susah juga untuk menduga asal usul kedua orang itu.
Baik tiga perkumpulan besar, sembilan partai, perkumpulan pengemis maupun jago-jago dari golongan putih serta hitam yang berpetualangan didalam maupun diluar daratan Tionggoan, belum pernah ada yang berdandan semacam itu......
Kim Thi sia sendiripun tak habis mengerti, namun ketika melihat keraguan abang seperguruannya, diapun berlagak sok pintar.
sambil bangkit berdiri, dia lalu berjalan menghampiri kedua orang kakek tersebut dengan langkah lebar.
sipedang perak ingin menghalanginya namun sayang tidak sempat lagi, pemuda tersebut sudah keburu beranjak pergi.
Kim Thi sia langsung menghampiri kedua orang tersebut, lalu tegurnya serunya secara tibatiba.
"Tolong tanya, kalian berdua berasal dari mana?"
Pertanyaan itu muncul secara mendadak dengan suara yang lantang, seketika pengunjung lainnya dibuat terkejut hingga bersama-sama berpaling kearahnya.
Namun dua orang kakek itu tidak menggubris, berpalingpun tidak.
Mereka masih melanjutkan minum araknya dengan pantai.
Tanpa terasa Kim Thi sia berpaling kemeja, disitu ia temukan ada puluhan guci kosong yang tergeletak diatas maupun bawah meja.
Melihat itu, diam-diam ia menjulur lidahnya sambil berpikir.
"Masa perut mereka tak pecah karena kebanyakan minum?"
Baru saja dia hendak berbicara, sipedang perak sudah keburu membentak keras.
"sute, ayoh balik, jangan membuat gara-gara dengan orang lain."
Melihat sikap hambar kedua orang kakek tersebut dimana ia sama sekali tak digubris apalagi dihardikpula oleh abang seperguruannya.
Kim Thi sia kontan saja menjadi tak senang hati.
Walaupun kakinya melangkah mundur kebelakang, namun sepasang matanya mengawasi terus kedua kakek dingin itu tanpa berkedip.
Tiba-tiba ia menemukan berapa ukiran huruf yang tertera diatas gelang emas dikepala kakek tersebut, terdorong rasa ingin tahu, dia pura-pura membungkukkan badannya, tapi menggunakan kesempatan tersebut diamatinya huruf-huruf itu dengan lebih seksama.
Dengan cepat terbaca olehnya bahwa tulisan itu berbunyi.
"Nirmala nomor sepuluh."
Bagaikan menemukan sebuah rahasia yang besar, kontan diapun berteriak keras.
"Bagus sekali, rupanya kaulah si Nirmala sepuluh itu"
Kakek berjubah kuning yang diatas gelang emasnya tertera huruf "
Nirmala nomor sepuluh"
Itu mengerling sekejap kearahnya, lalu mengebaskan ujung bajunya secara tiba-tiba.
Kebasan itu kelihatannya sangat sederhana dan biasa, namun kuda-kuda Kim Thi sia seketika tergempur sehingga secara beruntun dia mundur sejauh lima langkah lebih dari posisi semula.
Atas kejadian ini, segenap pengunjung kedai arak itu kembali dibuat tercengang hingga bersama-sama menengok kearahnya.
Merah padam selembar wajah Kim Thi sia apalagi kehilangan muka dihadapan orang banyak.
Ia menganggap peristiwa semacam ini merupakan suatu penghinaan suatu aib yang besar.
Tak heran kalau watak kerbaunya kembali menggelora, dengan suara menggeledek bentaknya.
"Hey Nirmala nomor sepuluh, setelah indentitasmu kubongkar, lebih baik tak usah berlagak pilon terus, kalau memang punya nyali, mari kita selesaikan persoalan ini diluar sana."
Sementara itu sipedang perak telah muncul pula, katanya sambil tertawa dingin.
"Empek betul-betul seorang tokoh silat yang hebat, dengan ilmu siang sian khikang mu kau berhasil memukul mundur suteku sejauh lima langkah, aku merasa bergembira sekali dapat mencoba kehebatan tersebut."
Nirmala nomor sepuluh tetap membungkam, hanya ujung bajunya kelihatan bergetar tanpa terhembus angin sekalipun, deruan angin yang ditimbulkan ibaratkan angin topan yang sedang mengamuk bila menerpa muka, kulit akan terasa sakit bagaikan disayat.
sipedang perak yang berdiri agak dekat dengannya segera merasakan munculnya tenaga dorongan yang kuat sekali menumbuk dadanya.
terkejut sekali, buru-buru hawa murninya dihimpun untuk memantekkan kakinya keatas tanah.
Kendatipun demikian, ia toh terdorong juga oleh tenaga tekanan yang kuat tadi hingga sekujur tubuhnya terasa sangat tak nyaman.
sambil tertawa tergelak segera serunya.
"Maaf, maaf rupanya ilmu silat yang dilatih empek adalah ilmu Kun goan khikang. Haaaaah......haaaaah...^...haaaaah........"
Sesudah berhenti sejenak. lanjutnya lebih jauh.
"Ilmu khikang semacam ini sudah seratus delapan puluh tahun lamanya punah dari dunia persilatan, sungguh tak kusangka hari ini bisa bersua dengan seorang ahli dalam kepandaian tersebut ditempat seperti ini. Aku benar-benar merasa beruntung sekali. Haaaaah......haaaaah......haaaaah........."
Agak berubah paras muka Nirmala nomor sepuluh ketika melihat sipedang perak sama sekali tak terpengaruh oleh tenaga serangannya mendadak dia bangkit berdiri dan melangkah keluar dari kedai tersebut, disusul pula kakek berjenggot merah dari belakangnya.
sementar itu Kim Thi sia telah menunggu kedatangan mereka berdua ditengah jalan, tatkala empat mata bertemu, tiba-tiba saja Kim Thi sia merasakan hatinya berdebar keras, agaknya sinar mata yang terpancar keluar dari balik mata kakek tersebut kelewat tajam dan menggidikkan hati.
Pedang perak segera berseru cepat.
"Empek. bukankah kau menantangku untuk berduel. Nah, sekarang kau boleh mengeluarkan segenap kemampuan yang kau miliki agar kita bisa bertarung secara memuaskan"
"Kau adalah sipedang emas?"
Tegur Nirmala nomor sepuluh hambar.
Mendengar pertanyaan ini, diam-diam sipedang perak berpekik keheranan, rupanya pihak lawan masih belum mengetahui bentuk wajah lawannya seketika tantangan diberikan sekalipun banyak kejadian aneh sering dijumpai dalam dunia persilatan, namun kejadian seperti inijarang sekali dijumpai.
Akan tetapi bagaimanapun juga pihak lawan memang sengaja berniat mencari gara-gara dengan mereka, sudah barang tentu tantangan tersebut harus dilayani sebaik-baiknya.
Pedang perak sudah lama terjun kedalam dunia persilatan, pengalaman serta pengetahuannya sangat luas.
Diam-diam diapu menduga kedua orang lawannya sebagai musuh yang tak puas dengan nama besar mereka.
sehingga jauh-jauh datang kemari untuk menantangnya berduel.
Kini persoalannya telah berkembang menjadi begini rupa, yang sekalipun dia tahu musuh memiliki ilmu silat yang begitu sangat tangguh namun tak urung dia harus menghimpun kembali semangatnya untuk menghadapi tantangan tersebut, bagaimanapun juga dia tak boleh membiarkan nama besar mereka bersembilan rusuk karena peristiwa ini.
Berpikir demikian, dengan suara lantang diapun berseru.
"Aku adalah pedang perak. bertarung melawanku pun sama saja."
Nirmala nomor sepuluh mendengus dingin.
"Hmmm, Nirmala nomor sebelas, serahkan bocah muda itu kepadaku."
"Baik, kita hadapi cecunguk itu secara terpisah"
Jawab si Nirmala nomor sebelas. selesai berkata, dengan langkah lebar dia segera berjalan menghampiri Kim Thi sia. sementara itu Kim Thi sia sudah berpikir.
"Asal usul kedua orang ini aneh dan misterius sekali. Dia disebut Nirmala nomor sepuluh sedang yang ini menyebut dirinya Nirmala nomor sebelas berdasarkan nomor urut. Bukankah ini berarti diatas kedua orang itu masih terdapat nomor satu hingga nomor sembilan? HHmmmm, bila ditinjau dari gerak gerik mereka, sudah pasti merupakan jago-jago persilatan yang berilmu tinggi, mengapa suheng tidak mengetahui asal usul mereka..........?"
Belum selesai ingatan tersebut melintas lewat, Nirmala nomor sebelas telah bertanya kepadanya.
"Kau adalah pedang apa?"
"Pedang rembulan dingin"
Nirmala nomor sebelas tertegun seketika, lalu gumamnya dengan suara lirih.
"Aneh betul, rasanya diantara sembilan pedang tidak terdapat pedang tersebut. Ehmmm, dia pasti bukan sasaran kami. Aku tak boleh melukainya secara sembarangan."
Bergumam sampai disini, diapun segera berkata.
"Pedang rembulan dingin, silahkan mundur. Yang kami cari adalah sembilan pedang dari dunia persilatan, kau bukan yang termasuk didalam sembilan pedang karenanya kuharap kau jangan mencampuri urusan ini."
"Aku bernama Kim Thi sia pernah mendengar nama tersebut?"
Seru sang pemuda lagi. Jelas dengan perkataan tersebut dia maksudkan begini.
"Kim Thi sia adalah adik seperguruan dari sembilan pedang dunia persilatan maka persoalan dari abang seperguruannya berarti adik seperguruannya berhak untuk mencampurinya juga ."
Namun nirmala nomor sebelas segera manggut-manggut pelan seraya berkata dengan lantang.
"Aku tak peduli siapakah dirimu, asal kau bukan anak murid dari Malaikat pedang berbaju perlente. Akupun tak berhak untuk melukai dirimu, ayoh cepat mundur."
"Jadi kau mempunyai ikatan dendam dengan Malaikat pedang berbaju perlente?"
Tanya Kim Thi sia semakin keheranan.
"sudahlah, kau tak usah mencampuri urusan ini"
Sela Nirmala nomor sebelas habis kesabarannya.
"Kau harus melaksanakan tugas menurut perintah saja.........."
"Ehmmm.......kalau begitu, diatas mereka berdua tentu masih ada jagoan yang lebih hebat lagi"
Pikir Kim Thi sia tanpa terasa.
"Aduh celaka, kedua orang inipun sudah cukup lihay, bisa dibayangkan betapa hebatnya atasan mereka........."
Setelah berhenti sejenak, diapun berpikir lebih jauh.
"Aaaaah, tidak bisa Aku tak boleh digertak oleh ucapannya itu, sekalipun ia mempunyai atasan yang jauh lebih hebat, aku sebagai murid suhu tak boleh putus asa begini. Aku mesti mengempos semangat untuk beradu dengannya........"
Begitu keputusan diambil keberaniannyapun segera meningkat, segera bentaknya singkat.
"Aku adalah murid terakhir dari Malaikat pedang berbaju perlente, kau boleh menyerangku sebisa mungkin."
"sungguhkah ini? Kau berani bersumpah?"
Teriak Nirmala nomor sebelas keras-keras.
"Hey, kalau pingin bertarung ayolah bertarung, apalah artinya main sumpah segala?"
Baru selesai perkataan itu diutarakan, tampak sesosok bayangan manusia berkelebat lewat dengan kecepatan yang luar biasa, belum lagi orangnya tiba dua gulung tenaga pukulan yang sangat dahsyat telah menerjang tiba dengan sangat hebatnya.
Dalam waktu singkat Kim Thi sia telah mengambil keputusan untuk menghadapi musuhnya dengan segala kemampuan yang dimiliki, dia membentak keras dan mengayunkan pula telapak tangannya untuk melepaskan sebuah pukulan balasan.
Empat gulung tenaga pukulan yang maha dahsyat seketika bertumbukkan lebih kurang dua depa dihadapan tubuhnya dan terjadilah suara ledakan yang sangat memekikkan telinga....
"Blaaaammmmmmm."
Kim Thi sia menderita rugi karena tak sempurna dibidang tenaga dalam, tubuhnya seketika tergempur hingga roboh terjungkal keatas tanah.
sekujur badannya seketika terasa linu dan kaku sehingga tak berani bergerak secara sembarangan.
Diam-diam dihimpunnya hawa murni dengan ilmu Ciat khi mi khi untuk memusatkan seluruh kekuatannya didalam dada.
Tak selang berapa saat kemudian, hawa murninya telah berhasil dihimpun kembali dalam pusar dan disalurkan mengelilingi seluruh badan.
Dengan begitu hawa murninyapun meningkat berapa kali lebih hebat, cepat-cepat dia melompat bangun dari atas tanah.
Waktu itu Nirmala nomor sebelas tidak terlalu memperhatikan dirinya lagi, disangkanya pemuda itu tak mampu menahan gempuran sehingga tak berkemampuan lagi untuk melancarkan serangan lebih jauh.
Kemudian sambil bergendong tangan ia bergumam seorang diri.
"siapa suruh kau mengaku sebagai murid Malaikat pedang berbaju perlente. sekarang jangan salahkan kalau aku berhati keji dan bertindak kejam kepadamu."
Secara diam-diam Kim Thi sia menyusup kebelakang tubuhnya, namun musuhnya sama sekali tidak merasa, mungkin saja seluruh perhatiannya sudah tenggelam dalam lamunan.
Tiba-tiba saja Kim Thi sia berteriak keras.
"Hey, mari kita bertarung lebih jauh"
Dengan cepat Nirmala nomor sebelas berpaling, sepasang matanya yang tajam bagaikan sembilu mengawasi pemuda itu berapa saat lamanya, kemudian baru berkata dengan suara dalam.
"sobat kecil, tenaga dalammu sangat sempurna, tak kusangka tenaga pukulanku sebesar enam bagian tak berhasil merobohkan dirimu. Kini akan kutambah dengan dua bagian lagi. Nah, sambutlah dengan berhati-hati."
Sepasang telapak tangan segera digosokan satu dengan lainnya lalu dilontarkan kuat-kuat kemuka.
Tampaklah segulung tenaga pukulan yang sangat kuat, diselingi deruan angin serangan yang maha dahsyat langsung meluncur dan menggempur kedepan......
setelah mengalami pelbagai pertarungan sengit, kini pengalaman Kim Thi sia dalam menghadapi pertempuran sudah cukup matang, dia tahu tenaga dalamnya masih ketinggalan jauh dibandingkan lawannya, ini berarti dia tak boleh menghadapi serangan lawan dengan keras melawan keras.
Maka sambil berkelit kesamping, dia sambut serangan musuh dengan menggunakan jurus "
Kecerdikan menguasahi seluruh jagad".
Nirmala nomor sebelas melejit keudara sambil membabat kebahu musuh, belum lagi serangannya tiba.
segulung kekuatan yang maha dahsyat telah mengancam tiba.
Kim Thi sia segera memutar kaki kirinya setengah langkah lalu sambil melanjutkan gerak serangan "kecerdikan menguasahi seluruh jagad"
Nya dia bendung ancaman musuh kearah luar.
Berubah hebat paras muka Nirmala nomor sebelas ketika melihat tiga ulasan jurus serangannya yang begitu dahsyat berhasil dibendung oleh musuh secara mudah.
Bahkan menghambat sama sekali perkembangan berikut ketiga ulasannya untuk melangsungkan jurus-jurus membunuh yang lebih hebat.
Dengan suara yang amat keras segera bentaknya.
"Hey sobat kecil, beranikah kau mempergunakan jurus serangan tersebut sekali lagi?"
"Kenapa tidak? Aku justru akan menggunakan gerak serangan tersebut sekali lagi"
Sahut Kim Thi sia.
Mendadak Nirmala nomor sebelas melejit ketangah udara, lalu sambil mengincar posisi serta lingkungan yang mungkin dipakai untuk menghindarkan diri, telapak tangan kiri dan jari tangan kanannya mendadak saja melakukan sebuah babatan diudara dengan gerak serangan yang luar biasa cepatnya.
Kim Thi sia sama sekali tidak jeri.
Setelah memuntahkan tenaga pukulannya tiba-tiba dia bertekuk pinggang sambil memutar badan.
Gerak serangannya masih tetap dipakai jurus "kecerdikan menguasahi seluruh jagad".
Nirmala nomor sebelas agak tertegun, tapi dengan cepat dia menemukan sebuah titik kelemahan, telapak tangannya kembali direntangkan menghantam dagu lawan.
sementara kakinya melepaskan tendangan kilat kearah jalan darah Heejut hiat, disusul kemudian serangkaian tendangan berantai sama sekali mengunci kemungkinan serangan lawan.
Kecepatan dalam perubahan jurus serangan orang ini sungguh mengejutkan hati.
Bukan saja dalam waktu singkat dia mampu menemukan titik kelemahan dibalik serangan musuh, bahkan kecepatan dan kerepotan serangannya pun sangat mengagumkan.
Kim Thi sia mulai gugup setelah menghadapi desakan hebat dari musuhnya yang sejak pertama mengeluarkan pukulan dengan ilmu Tay goan sinkang.
langkah dan gerak serangannya menjadi kalut dan gugup, Memanfaatkan kesempatan disaat musuhnya mulai gugup dan kalut.
Nirmala nomor sebelas segera menghimpun kembali tenaga pukulannya dan langsung dihantamkan keatas ubun-ubun pemuda itu.
Kim Thi sia pejamkan matanya rapat-rapat, tanpa ambil perduli bagaimana akibatnya dia mulai melepaskan serangan secara mengawut.
sementara telapak tangan kirinya mengeluarkan jurus "kecerdikan menguasahi empat samudra"
Maka tangan kirinya menyambut serangan musuh dengan jurus "pukulan menguasahi seluruh semesta"
Dari ilmu pukulan panca Buddha.
Rupanya disamping dia mengerahkan tenaga pukulan untuk mendesak lawan, secara diamdiam pun dia persiapkan ilmu Ciat khi mi khi untuk menghisap tenaga murni musuh.
Bayangan manusia yang bertumbuk menjadi satu segera berpisah kembali.
"Blaaaammmmmm......."
Kedua belah pihak telah saling beradu pukulan satu kali. Alhasil kedua belah pihak sama-sama tidak menderita luka apapun. Nirmala nomor sebelas mulai terkesiap pekiknya dihati.
"Sungguh menyesatkan"
Rupanya dalam serangkaian serangan dan gempuran yang nampak nyata hampir berhasil mencapai sasarannya, setiap kali pula telah terjadi perubahan besar ditengah arena.
Dia tak habis mengerti mengapa Kim Thi sia selalu berhasil meloloskan diri dari cengkeraman mautnya setiap kali dia mengira serangannya pasti akan berhasil dengan sukses.
Mungkinkah Kim Thi sia memiliki serangkaian ilmu simpanan yang dapat memusnakan setiap ancamannya.
Dalam keadaan begini dia mulai curiga, jangan-jangan ilmu silat yang dimilikinya telah punah?
sambil menghimpun tenaga dalamnya kembali dia melepaskan sebuah pukulan dengan tangan kirinya keatas sebatang pohon yang tumbuh disisinya, dia ingin membuktikan apakah tenaga dalamnya benar-benar sudah punah?
"Blaaaammmmmmm......."
Ternyata batang pohon tersebut tak mampu menahan gempurannya, batang tadi patah menjadi dua bagian dan segera roboh keatas tanah.
Dari sini terbukti sudah bahwa tenaga dalamnya sama sekali tak punah, malah masih segar dan berkekuatan penuh, tapi mengapa Kim This ia sanggup menahan gempurannya.
Kejadian ini benar-benar mencengangkan hati dan sama sekali tak masuk diakal.
Dalam pada itu, Nirmala nomor sepuluh telah terlibat pula dalam pertarungan yang amat seru melawan sipedang perak, pukulan yang menderu-deru membuat suasana disekeliling situ amat menggetarkan hati.
Ditinjau dari kekuatan kedua belah pihak yang berimbang, rasanya dalam lima puluh gebrakan berikutpun masih sukar untuk diketahui siapa lebih unggul diantara mereka berdua.
Nirmala nomor sebelas segera berpikir.
"Jika aku tak mampu untuk mengunggulinya, aku tentu tak punya muka lagi untuk pulang dan berjumpa dengan "Dewi Nirmala"
Yaa.....nampaknya bila aku gagal membunuhnya hari ini, berarti akulah yang harus mati lebih duluan-........"
Semacam perasaan sedih yang sudah terlalu lama terhimpun didalam dadanya segera bergelora keras, mendadak saja terpancar keluar cahaya merah yang penuh mengandung napsu benci dan amarah yang meluap-luap.
Melihat itu, Kim Thi sia segera berpikir.
"Aneh benar orang ini, masa tak mampu mengungguli orang lain dia lantas marah-marah? Hmmm, tabiat orang ini terlalu jelek."
Terdengar dia berpekik nyaring dengan suara yang melengking, menyusul pekikkan tersebut tampak tubuhnya yang tinggi besar melesat datang dengan kecepatan luar biasa, berada ditengah udara, tubuhnya berjumpalitan berapa kali bagaikan ular kecil, lalu melancarkan tendangan maut ke depan.
Kim Thi sia tidak mengetahui gerak serangan apakah yang digunakan lawan, dia hanya tahu gaya serangan lawan persis seperti gaya menendang bola ditengah udara, kemanapun dia berusaha untuk menghindarkan diri, rasanya sulit untuk meloloskan diri dari tendangan tersebut.
Dalam keadaan begini diapun berdiri tak berkutik sambil mengawasi serangan lawan tanpa berkedip.
tiba-tiba saja terlihat tendangannya dirubah menjadi serangan pukulan, lengannya yang panjang menyapu datang dengan sepenuh tenaga dan tahu-tahu sudah berada hanya setengah depa dihadapan tubuhnya......
Mendadak Kim Thi sia menarik napas panjang, sambil steengah berjongkok ia memaku telapak kakinya diatas tanah lalu bergoyang kian kemari secara kuat-kuat.
Dua gulung tenaga gempuran yang berkekuatan amat dahsyat itupun segera melintas lewat dari sisi badannya.
sesungguhnya gerak serangan semacam ini bukan termasuk suatu ilmu silat yang luar biasa, melainkan hanya ciptaannya sendiri didalam menghadapi situasi tersebut.
Karena dia menganggap hanya berbuat demikian saja baru bisa meloloskan diri dari gempuran lawan, maka diapun berbuat sesuai dengan kehendak hatinya itu.
siapa sangka justru dengan gerakan inilah dia berhasil memusnahkan serangan musuh yang maha dahsyat itu.
Ketika serangannya gagal mencapai sasaran, Nirmala nomor sebelas segera melayang turun keatas tanah, dalam sekejap mata tiba-tiba dia merasa bahwa tenaga serangan musuh ternyata sepuluh kali lipat lebih dahsyat daripada apa yang diduganya semula dia semakin tak berani bertindak gegabah.
sambil bertekuk pinggang, tiba-tiba saja telapak tangan kirinya yang melancarkan bacokan kebawah untuk memancing perhatian Kim Thi sia, sementara tangan kanannya bagaikan selincah seekor ular menggulung kedepan dengan gerakan yang cepat dan tepat, persis menghantam diatas bahu pemuda tersebut.
Kim Thi sia menjerit kesakitan dan segera roboh terjungkal keatas tanah.
Dengan berhasilnya menggempur musuh hingga jatuh terjungkal, perasaan tak puas dihati Nirmala nomor sebelas pun agak terobati.
sebaliknya Kim Thi sia justru naik pitam karena terserang oleh pukulan tersebut dengan cepat dia melompat bangun, lalu balas melancarkan gempuran dengan jurus "
Kekerasan menguasahi semua bumi"
Dan "
Kelembutan mengatasi air dan api".
Nirmala nomor sebelas merupakan jago lihay dunia persilatan yang jarang ditemui dalam dunia persilatan, namun apa yang sedang dialaminya kemudian ternyata tak jauh berbeda seperti apa yang dialami para jago yang pernah bertarung melawan Kim Thi sia.
Dalam keadaan kabur dan bingung tak tahu apa yang terjadi, dia merasa gelagat tidak menguntungkan, akibatnya reaksi yang dilakukan secara tergopoh-gopoh membuat keadaannya mengenaskan sekali.
Manfaatkan kesempatan d isaat musuhnya mundur, dengan cepat Kim Thi sia mengambil suatu keputusan didalam hati.
"Aku harus memanfaatkan kesempatan disaat pikiran musuh sedang kabur untuk melancarkan serangan balasan^"
Kini dia cukup memahami pelbagai tindakan bodoh yang pernah diperbuatnya dimasa lampau, maka pikirnya lebih jauh.
"Aku harus menyerang dengan andalkan keampuhan ilmu Tay goan sinkang yang dikombinasikan dengan jurus serangan ampuh untuk merobohkan musuh. Aku yakin dengan kombinasi kedua macam kepandaian tersebut, betapapun lihaynya seseorang niscaya akan berhasil juga kurobohkan."
Begitu keputusan diambil dia segera membentak keras dan menyerang dengan jurus-jurus serangan "Kedamaian menyelimuti sembilan langit"
Serta "mengebas baju melenyapkan debu".
Nirmala nomor sebelas amat terperanjat ketika pandangan matanya menjadi kabur tapi tanpa berpikir panjang ia segera meloloskan pedang lemasnya dari pinggang dan tanpa membedakan mana utara mana selatan secara ngawur dia memutar senjata untuk melindungi tubuhnya.
Hawa pedang yang berlapis-lapis segera menyelimuti angkasa dan terasa menyayat badan, ternyata Kim Thi sia tak berhasil mendekati tubuhnya.
Baru saja jurus serangan terakhir habis dipakai dan sebelum Nirmala nomor sebelas sempat menentukan posisi musuh secara tepat, dia telah melanjutkan kembali serangannya dengan jurus "hembusan angin mencabut pohon"
Serta "mati hidup ditangan takdir".
Dalam waktu singkat apa yang terlihat oleh Nirmala nomor sebelas cuma selapis bayangan tangan yang amat menyilaukan mata.
Pada hakekatnya dia tak bisa mengetahui secara pasti dimanakah posisi musuhnya sekarang, dalam kagetnya dia segera mengayunkan pedangnya dan menyerang secara mengawur.
Kim Thi sia pun bertindak-jauh lebih pintar, memanfaatkan kesempatan disaat pedang musuh tak berhenti membacok badannya, dia gunakan peluang tadi untuk menendang tubuh bagian bawahnya.
Mimpipun Nirmala nomor sebelas tidak menyangka kalau musuhnya bakal menggunakan jurus serangan tersebut.
Tak ampun lagi dia gagal untuk menghindarkan diri dan segera tersapu jalan darah Mu teng hiatnya oleh tendangan tadi hingga roboh terjungkal diatas tanah.
Pedang lemasnya pun terlepas dari cekalan dan mencelat dikejauhan situ.
Kim Thi sia segera menerkam kedepan dan langsung mengayunkan tangannya menghadiahkan sebuah bacokan.
Pertarungan yang berlangsung cukup lama membuat pikiran dan kesabaran pemuda tersebut turut terpengaruh.
Kini dia tahu bagaimana caranya merobohkan musuh untuk mempertahankan kehidupan sendiri Maka begitu Nirmala nomor sebelas roboh terjungkal keatas tanah ia segera menerjang kemuka dan menyerang dengan segenap kekuatan yang terhimpun.
Gempurannya kali ini persis menghantam diatas jalan darah sang seng hiat yang merupakan jalan darah kematian ditubuh Nirmala nomor sebelas lebih tangguhpun tak urung kepalanya terkulai juga dalam keadaan hampir sekarat.
Mendadak Kim Thi sia melompat bangun seraya berteriak.
"Aduuuh, kenapa aku berbuat sekejam ini."
Ia menyaksikan Nirmala nomor sebelas membelalakkan matanya lebar-lebar.
seperti merasa tak rela menghadapi kematian tersebut, hal mana mebuat pikiran dan perasaan Kim Thi sia bertambah berat, dia merasa hatinya bagaikan dibebani batu besar yang berat sekali, sekujur badannya gemetar keras......
Pemuda itu merasa sepasang mata orang itu merah membara sambil memancarkan kebencian yang luar biasa.
Kim Thi sia tak berani menengok kearahnya dan buru-buru menyingkir kesamping.
Mendadak terdengar Nirmala nomor sebelas berseru dengan suara yang sangat lemah.
"sobat kecil.....ke.......kemarilah."
Dengan cepat Kim Thi sia membalikkan badan, rasa ngeri mencekam seluruh perasaan hatinya.
"Kau sedang memanggilku?"
Dia bertanya ragu. sambil menghela napas Nirmala nomor sebelas mengangguk.
"Yaa.....aku......aku sedang memanggilmu."
"Tidak aku tidak mau kesitu, kau pasti akan manfaatkan kesempatan itu untuk menuntut balas"
Seru Kim Thi sia sambil menggelengkan kepalanya berulang kali. Nirmala nomor sebelas sebera tertawa getir.
"Dengan keadaanku sekarang, masih mampukah bagiku untuk mencelakai orang lain?"
Kim Thi sia tahu, apa yang dikatakan memang merupakan sejujurnya maka sambil menghimpun tenaga dia berjalan kedepan dan menghampiri orang tersebut.
Mendadak Nirmala nomor sebelas tidak mampu menahan diri lagi, pelan-pelan dia menundukkan kepalanya.
Menyaksikan keadaan itu, timbul perasaan iba dihati kecil Kim Thi sia, buru-buru dia maju mendekati serta memeluk tubuhnya dalam rangkulan.
sekarang ia sudah melupakan sama sekali perasaan takut, ragu dan curiganya.
sambil menggoyangkan lengannya dia berseru.
"Empek. pesan apakah yang hendak kau tinggalkan?"
Nirmala nomor sebelas tak mampu bersuara lagi, bagaikan orang mengigau dia berbisik.
"sobat cili......musuh besar kami adalah..... adalah tiga dewa Nirmala. Bu....bukan dirimu....."
Kim Thi sia harus menempelkan telinganya diatas dada orang itu untuk bisa menangkap gumamnya dengan jelas. Terdengar orang itu berbisik lagi.
"Musuh......musuh kita adalah......dewi Nirmala.......musuh kita adalah dewi nirmala."
"Empek. katakan kepadaku, siapakah dewi Nirmala itu?"
Desak Kim Thi sia cepat.
sambil berseru dia menggoyangkan tubuh Nirmala nomor sebelas tiada hentinya tapi sayang Nirmala nomor sebelas telah menghembuskan napasnya yang penghabisan.
Pelan-pelan pemuda itu bangkit berdiri Disekanya air keringat dengan sapu tangan lalu gumamnya keheranan.
"Mungkinkah dewi Nirmala adalah atasan mereka......?^ Mendadak terdengar suara deruan angin pukulan yang tajam dan menderu-deru bergema memecahkan keheningan, ternyata suara tersebut berasal dari arena pertarungan dimana sipedang perak berada. Kim Thi sia segera mengalihkan perhatiannya kearah situ, tampak olehnya langkah kakinya sipedang perak kelihatan berat sekali. setiap langkah kakinya selalu meninggalkan bekas telapak sedalam tiga inci lebih. sebaliknya Nirmala nomor sepuluh pun nampak amat serius, jubah kuningnya berkibar terus mesti tanpa hembusan angin, dia sedang bergerak mengitari tubuh pedang perak. Sorot mata kedua belah pihak yang tajam bagaikan sembilu saling bertatapan tanpa berkedip. jelas pertarungan mereka sudah mencapai pada puncaknya. Kim Thi sia pun mengerti pertarungan antara dua tokoh sakti membutuhkan konsentrasi sepenuhnya, barang siapa bertindak salah saja, niscaya akan berakibat kehilangan nyawa, oleh karena itu dia tak berani mengacau perhatian sipedang pera k diawasinya pertarungan tersebut dari sisi arena tanpa melakukan sesuatu tindakanpun. Pelan-pelan Nirmala nomor sepuluh mengayunkan telapak tangannya dan didorong kehadapan pedang perak. setiap gerakannya dilakukan sangat lamban, tak jauh berbeda seperti permainan kanak-kanak saja. Begitu pula halnya dengan sipedang perak. dia menyambut datangnya serangan tersebut dengan wajah amat serius. Menyusul bentrokan yang terjadi dalam arena terjadi deruan angin puyuh yang mengerikan hati. Kedua orang itu sama-sama terdorong mundur satu langkah kebelakang. Kim Thi sia tahu, angin puyuh tersebut terjadi sebagai akibat bentrokan dari gempuran dua orang tersebut, tentu saja dia semakin tak berani melaporkan berita kematian Nirmala nomor sebelas kepadanya. sementara itu dua orang itu bergerak terus sambil saling menggempur tiga kali, setiap kali bentrokan terjadi, dua orang itu pasti terdorong mundur kebelakang, peluh sebesar kacang kedelai telah bercucuran keluar membasahi wajah mereka. Kim Thi sia yang menyaksikan hal tersebut, diam-diam berpikir.
"Bila aku yang mesti menghadapi pertarungan semacam ini, sudah pasti aku bakal mati kesal."
Dalam waktu singkat, kedua orang itu sudah berubah posisi, kini punggung sipedang perak menghadap kejalan raya, sedangkan punggung Nirmala nomor sepuluh menghadap kerumah penginapan Liong pia.
Dengan gerakan yang lamban sekali sipedang perak melontarkan sebuah pukulan kedepan, bila ditinjau dari sikapnya seakan-akan dia merasa kepayahan sekali karena dibebani dengan besi seberat ribuan kati.
Hal ini membuat Kim Thi sia yang cekatan segera menyadari bahwa suatu badut dahsyat segera akan berlangsung.
Dengan bersusah bayah Nirmala nomor sepuluh melontarkan pula sebuah pukulan peluh dan hawa panas mengembang keluar dari jidatnya dan membasahi seluruh badan.
Mendadak......
Disaat menjelang berlangsungnya angin badai, tiba-tiba dari balik rumah penginapan Liong pia muncul sesosok tubuh manusia dan tanpa mengucapkan sepatah katapun orang itu menyelinap kebelakang punggung Nirmala nomor sepuluh bagaikan sukma gentayangan.
Kim Thi sia dapat melihat dengan jelas bahwa orang itu adalah pedang tembaga tapi sebelum dia sempat mengucapkan sesuatu, terdengar Nirmala nomor sepuluh menjerit kesakitan dengan suara yang memilukan hati, lalu roboh terjungkal keatas tanah.
sewaktu Kim Thi sia memperhatikan lagi dengan seksama, dia saksikan dipunggung Nirmala nomor sepuluh telah tertancap sebilah pedang tembaga yang tajam....
Dengan cepat dia menanggapi perbuatan abang seperguruannya ini sebagai suatu perbuatan bejad yang munafik dan licik memalukan tanpa terasa dia berpaling kearah pedang perak dengan harapan abang seperguruannya ini menegur tingkah laku sipedang tembaga yang terkutuk.
siapa tahu pedang perak tidak memberi teguran atau komentar apapun, seakan-akan baginya peristiwa semacam ini merupakan sesuatu yang wajar.
Tiba-tiba dia menyaksikan Nirmala nomor sepuluh membalikkan badan sambil melompat bangun, lalu serunya sambil menghembuskan napas panjang.
"Aaaai......pembunuh diriku adalah Dewi Nirmala"
Sehabis mengucapkan perkataan tersebut dia segera memuntahkan darah segar dan roboh terjungkal keatas tanah.
Pedang perak menyeka peluh yang membasahi wajahnya, lalu tanpa mengucapkan sepatah katapun ia menjatuhkan diri duduk bersila diatas tanah dan mengatur pernapasan untuk memulihkan kembali kekuatan tubuhnya.
sebaliknya sipedang tembaga segera menjengek sambil tertawa dingini "Menyeramkan betul tampang setan tua ini."
Ia cabut keluar pedang tembaganya, seakan-akan semua perbuatannya memang sudah diatur begitu. sambil membersihkan ujung pedangnya dari noda darah, katanya lebih jauh dengan tenang.
"Biarpun ilmu silat yang dimiliki Nirmala nomor sepuluh sangat tangguh sayang dia cuma seorang diri. Tak mungkin bisa menghadapi percobaan semacam ini."
"Beginikah yang dimaksudkan suheng sebagai suatu percobaan?"
Tanya Kim Thi sia cepat.
sipedang tembaga tidak berkata apa-apa, dia hanya melirik sekejap kearahnya, lalu dengan langkah lebar berjalan masuk kembali kedalam rumah penginapan Liong pia.
Kim Thi sia sangat tak senang hati, terutama terhadap sikap abang seperguruannya yang sama sekali tak mengacuhkan pertanyaanya itu.
sekembalinya kekamar, diapun segera menjatuhkan diri keatas pembaringan dan tidak memikirkan persoalan itu lagi.
Pedang perak menitahkan para pelayan untuk mengbubur jenasah Nirmala nomor sepuluh dan sebelas.
sementara itu benaknya telah dipenuhi oleh masalah tersebut, menurut analisanya dari sebutan nomor sepuluh dan sebelas, bisa ditebak kalau masih ada pula jago-jago yang memakai urutan nomor nirmala nomor satu sampai sembilan, terutama atasan mereka yang disebut Dewi Nirmala, bisa jadi merupakan jago diantara jago.
Nama Dewi Nirmala belum pernah terdengar didalam dunia persilatan, begitu-juga diluar perbatasan, tapi ilmu silatnya bisa dilihat dari kemampuan Nirmala nomor sepuluh, anak buahnya saja sudah begitu hebat, apalagi atasan yang menguasahinya.
Nirmala nomor sepuluh jelas datang kesitu untuk melaksanakan perintah, apalagi kalau ditinjau dari sikapnya menjelang mati, dia bukan saja tidak membenci terhadap pembunuhnya, malahan berteriak "Dwwi nirmalalah pembunuhku", hal ini menjelaskan kalau tantangan dari Nirmala nomor sepuluh bukan timbul dari kemauannya sendiri, melainkan Dewi Nirmalalah yang memaksakan terjadinya peristiwa itu.
Diam-diam pedang perak pun berpikir.
"orang yang disebut Dewi Nirmala itu, sudah pasti merupakan seorang manusia yang gemar membunuh."
Iapun tahu kedatangan nirmala nomor sepuluh adalah untuk mencari gara-gara dengan sembilan pedang.
Padahal seingatnya sembilan pedang tidak memiliki musuh setangguh ini, hal mana bisa disimpulkan bahwa persoalan ini merupakan dendam sakit hati yang dibuat Malaikat pedang berbaju perlente dimasa lalu.
oleh sebab Malaikat pedang berbaju perlente sudah keburu berpulang kealam baka, maka dewi nirmalapun melampiaskan rasa benci dan dendamnya kepada sembilan pedang.
Andaikata sipedang tembaga tidak melancarkan serangan, tak nanti sipedang perak memiliki kemampuan untuk membinasakan Nirmala nomor sepuluh, maka diapun berpendapat bahwa dirinya pasti bukan tandingan si Dewi Nirmala.
Berpikir sampai disitu, kontan saja hatinya terasa berat dan murung sekali.
selama ini sipedang besi menutup diri didalam kamar sambil bersemedi, dia sedang menghimpun tenaganya sambil bersiap-siap untuk menghadapi pertarungannya melawan Pek kut sinkun keesokan harinya.
sebaliknya sipedang tembaga berdiri ditepi jendela, sambil termangu-mangu, sementara sepasang telinganya mendengarkan pembicaraan dari putri Kim huan serta Nyoo soat hong yang berada dikamar sebelah.
Walaupun putri Kim huan merasa tak senang hati atas sikap mesrahnya dengan Kim Thi sia.
Akan tetapi berhubung hanya dia seorang yang wanita, terpaksa mereka harus bergaul sewajarnya.
sebalinya Nyoo soat hong tidak mengetahui jalan pikirannya, dia mengajak gadis itu mengobrol kesana kemari, ketika menyinggung masalah Kim Thi sia tiba-tiba katanya sambil tertawa.
"Dia mirip seorang bocah liar yang tidur disamping jalan bukit, untung saja aku dan abangku secara kebetulan lewat disitu kalau tidak mungkin ia sudah menjadi mangsa serigala atau harimau kelaparan-......."
Melihat putri Kim huan mendengarkan dengan serius, gadis itu makin bersemangat katanya lebih jauh.
"Berapa bulan berselang dia masih merupakan seorang pemuda yang ketolol-tololan, tingkah laku maupun sepak terjangnya sama sekali tak tahu aturan, selama berdia dirumahku, diapun bersantap secara rakus dan bertingkah laku tak sopan. Ketika kuberi petunjuk kepadanya dia malah memusuhi aku waktu itu aku marah sekali, kuanggap dia tak mirip manusia, tapi lebih cocok dibilang harimau liar dari gunung, tapi anehnya ayahku sangat menyukai dirinya. Padahal ayah paling sayang kepadaku, tapi sejak kedatangannya, aku sering menjadi sasaran kegusarannya gara-gara dia. Waaah.....penghidupanku selama itu benar-benar amat menderita dan sedih sekali, tapi sekarang aku baru dapat memahaminya aku mengerti sesungguhnya dia adalah seseorang yang setia, jujur dan amat berperasaan-......"
Putri Kim huan hanya tertawa hambar tanpa memberikan pernyataan apapun, sipedang tembaga pun berpendapat gadis itu mempunyai hubungan yang cukup akrab dengan Kim Thi sia, dia berharap dari mulut gadis itu berhasil dikorek sesuatu keterangan yang berarti.
Namun sewaktu tidak mendengar sesuatu yang berarti dia menjadi kecewa sekali.
Mendadak Nyoo soat hong berkata lagi sambil menghela napas panjang.
"Manusia semacam dia memang paling susah dipahami orang lain, aku rasa semenjak dia meninggalkan rumahku, sudah pasti banyak penderitaan yang dialaminya."
Putri Kim huan segera teringat kembali dan bagaimana dia memerintahkan anak buahnya untuk menghajar pemuda itu habis-habisan, maka segera ujarnya.
"Tulangnya kelewat keras, pada hakekatnya tak takut digebuki, percuma kau kelewat menguatirkan keselamatan jiwanya ."
Merah padam selembar wajah Nyoo soat hong, sambil menundukkan kepalanya dia berkata.
"Antara aku dengan dia sama sekali tak terjalin hubungan apa-apa. Aku tak lebih hanya merasa kagum dan hormat atas kejujuran serta kesetia kawanannya, maka akupun sering menyinggung tentang dia."
Menyelami arti dari perkataan "tak terjalin hubungan apa-apa"
Itu, tergerak perasaan putri Kim huan, dia segera bertanya.
"Jadi dia bukan kekasihmu? Aku lihat hubunganmu dengannya amat mesrah dan hangat. sudah jelas berbeda sekali dengan hubungan orang lain."
"Kau anggap aku cukup hangat bersikap dengannya?"
Berbicara sampai disitu, dia mendongakkan kepala sambil menatap kearahnya lalu berkata lebih jauh.
"Dia adalah kakak angkatku, tentu saja hubungan kami jauh berbeda dengan hubunganku terhadap orang laini"
Putri Kim huan segera tertawa genit, selanya.
"Mari.. kita tak usah membicarakan persoalan itu lagi."
Kemudian setelah berhenti sejenak. sambungnya lebih jauh.
"Aku selalu berpendapat bahwa orang ini memiliki sesuatu cacad, seperti misalnya sewaktu kita bernyanyi sambil menikmati bulan purnama. Dia justru mengusi ketenangan kita secara kasar, pada hakekatnya sama sekali tak mengerti soal seni. Ada katanya dalam gusarku aku mengumpatnya seperti korban........."
Nyoo soat hong segera menghela napas panjang.
"Yaa benar, justru dalam hal inilah dia menimbulkan kesan yang kurang sedap bagi orang lain. Aku pikir situasi dan lingkunganlah yang menciptakan hal tersebut baginya, menurut apa yang dia ceritakan, semenjak dilahirkan didunia ini dia selalu menjalani kehidupan yang terpencil diatas bukit yang jauh dari keramaian dunia. Disitu tiada manusia lain, bahkan sejak kecilpun tak pernah menerima pendidikan yang beradab, itulah sebabnya tingkah lakunya berbeda sekali dengan kita yang jauh lebih majujalan pemikirannya....."
Mendadak seperti teringat akan sesuatu, kembali dia berkata lebih jauh.
"Aku cukup memahami tabiat orang ini, kalau sedang baik maka menurutnya seperti seekor kucing, tapi kalau sudah mengambek jeleknya macam kerbau liar, tak heran harga dirinya merasa tersinggung ketika kau memakinya sebagai kerbau, tentu saja dia gusar sekali."
"Yaa, dia memang membalasku dengan kata-kata yang jauh lebih keras dan menyakitkan hati"
Putri Kim huan manggut-manggut membenarkan-"Bagi mereka yang tidak memahami perasaan hatinya, pasti akan menganggap dia sebagai orang liar yang berangasan, kasar serta tak tahu sopan santun padahal harga dirinya amat lemah hal ini dikarenakan pendidikannya yang kurang beradab.
Terutama setelah turun gunung dan menjumpai apa yang dihadapi dalam masyarakat ternyata jauh berbeda dengan penghidupannya selama ini.
Akibatnya rasa rendah diri membuat dia gampang tersinggung perasaannya."
Putri Kim huan menundukkan kepalanya rendah-rendah, ujarnya pelan.
"Ulasanmu memang tepat sekali, yaaa......seringkali kutemukan hatinya sangat menderita, apalagi disaat dia sedang marah karena sindiran atau ejekanku."
"Hal ini disebabkan rasa harga dirinya yang terluka oleh sindiranmu itu?"
Kemudian setelah berhenti sejenak. lanjutnya.
"orang biasa tak memiliki sifat liar semacam itu, kecuali dia......tapi aku percaya dia adalah seorang lelaki yang jujur terbuka dan berjiwa besar."
Putri Kim huan termenung berapa saat, lalu tanyanya lagi dengan gelisah.
"Nona Nyoo, bagaimana menurut pendapatmu tentang sipedang besi so Bun pin?"
"Bagus juga orang ini, lemah lembut dan terpelajar. Tak ubahnya seperti seorang mahasiswa."
"Bagaimana kalau dibandingkan dengan Kim Thi sia?"
Nyoo soat hong kelihatan agak tertegun tapi dengan cepat dia menghindari pertanyaan tersebut, hanya ucapnya pelan.
"Kelebihannya cukup banyak. jelas Kim Thi sia bukan tandingannya......."
"Bagaimana dengan sipedang tembaga?"
Sementara itu sipedang tembaga yang menyadap pembicaraan tersebut menjadi amat terkesiap setelah mendengar kedua orang gadis tersebut menyinggung tentang dirinya.
Entah mengapa, tiba-tiba saja dia merasakan hatinya sangat tegang.
Nyoo soat hong kelihatan berpikir sebentar, lalu menjawab.
"orang ini gagah dan tampan, gerak geriknya terpelajar dan sangat beraturan, dalam sekilas pandangan saja bisa diketahui bahwa dia adalah seorang pemuda pengalaman yang berpengetahuan luas."
Penilaian ini amat memuaskan hati sipedang tembaga, terutama karena perkataan itu ditujukan untuk putri Kim huan, begitu terbuainya dia hingga untuk berapa saat sampai termangu-mangu disitu.
Tapi dikarenakan ucapan tadi, diapun merasa berterima kasih dan berhutang budi kepada Nyoo soat hong, karena perkataan tersebut, ia berjanji akan membantu gadis tersebut bilamana perlu, bahkan disuruh terjun kelautan apipun dia tak akan menolak.
sesudah termenung sesaat, putri Kim huan bertanya lagi.
"Bagaimana dengan sipedang perak?"
Pertanyaan yang diajukan berulang-ulang ini membuat orang lain tak habis mengerti jangankan sipedang tembaga yang menyadap pembicaraan tersebut menjadi tertegun, sekalipun Nyoo soat hong sendiripun dibuat sangat keheranan sehingga pikirnya tanpa terasa.
"Aneh betul situan putri yang cantik ini mengapa sih dia senang menanyakan persoalan macam begini?"
Namun dia segera menjawab.
"sipedang perak orangnya tenang, tak suka bicara dan sopan santun, dia tak malu disebut seorang kongcu yang jarang ditemui didunia ini........"
"Semua abang seperguruan Kim Thi sia rata-rata merupakan orang yang hebat dengan sifat yang baik pula mungkinkah wataknya juga akan mengalami perubahan besar setelah berapa tahun mendampingi mereka?"
Sipedang tembaga yang mend engar perkataan tersebut menjadi terkesiap segera pikirnya.
"Rupanya kau mengajukan pertanyaan tersebut hanya dikarenakan masalah ini........?"
Sementara dia masih termenung, Nyoo soat hong telah menjawab sambil tertawa.
"Watak Kim Thi sia amat kaku, sifatnya aneh. Aku rasa biar sepuluh tahun bahkan dua puluh tahun lagipun dia masih tetap sebagai seorang persilatan yang kasar, kaku dan tidak tahu adat. Tentu saja sedikit perubahan pasti ada, sebab siapa yang dekat dengan gincu bukankah diapun akan menjadi merah? Apalagi dia toh bukan manusia kayU?"
Mendadak terdengar suara orang mengetuk pintu kamar, disusul putri Kim huan menegur.
"siapa disitu?"
Pintu kamar dibuka orang dan terdengar seorang lelaki berkata dengan suara yang berat dan rendah.
"ooooh, rupanya nona belum tertidur bagus sekali, kebetulan aku memang hendak berbincangbincang denganmu."
Sipedang tembaga yang menyadap pembicaraan tersebut segera berpikir.
"Rupanya sute masih juga tak mau mengerti, ia benar-benar menggemaskan."
Dalam pada itu sipedang besi, so Bun pin telah berkata lagi sambil tertawa.
"Tak lama kemudian pedang mestika rembulan dingin segera akan jatuh ketanganku. Nona, apa yang pernah kuucapkan tak pernah akan kusesali. Perduli bagaimana sikapmu kepadaku, pedang mestika tersebut tetap akan kupersembahkan kepadamu."
"Apa? pedang leng gwat kiam?"
Sela Nyoo soat hong keheranan.
"Bukankah pedang rembulan dingin adalah benda milik Kim Thi sia? Apakah dia telah menghadiahkan kepadamu?"
Saking ingin tahunya, gadis tersebut sampai mengulangi pertanyaan ini berapa kali. Dengan nada hambar sipedang besi so Bun pin menjawab.
"Nona Nyoo, persoalan ini bukan lagi urusan kalian. Tapi bisakah nona Nyoo menyingkir sebentar, karena aku ada urusan penting yang hendak dirundingkan dengan tuan putri?"
Sipedang tembaga merasa amat mendongkol setelah mendengar perkataan itu, terutama sekali atas perkataan "
Urusan penting"
Itu, mendadak timbul satu akal didalam benaknya.
Cepat-cepat dia keluar dari kamarnya dan sengaja berjalan mondar mandir didepan beranda kamar, menanti putri Kim huan yang berada dalam kamar sudah mulai berbincang-bincang dengan sipedang besi, dia sengaja berseru tertahan dan mengetuk pintu kamar seraya menegur.
Jilid 26
"Hey, rupanya sute juga berada didalam? Apakah tuan putri belum tidur?"
Karena gangguan ini, sipedang besi pun tak berminat meneruskan rayuannya, buru-buru dia membukakan tintu.
Tatkala sepasang matanya saling bertemu dengan sorot mata rase srpedang tembaga, tiba-tiba saja wajahnya berubah menjadi amat tak sedap dipandang......
Sipedang tembaga berlagak serius, dia menengok sekejap kearah dalam kamar, lalu sambil menariknya kesamping, sengaja ujarnya dengan wajah serius.
"Sute, saat ini tengah malam sudah menjelang, dan mengapa engkau masih berada didalam kamar seorang gadis? Ketahuilah, musuh kita masih terus mengawasi gerak gerik kita semua. Seandainya sampai terjadi kesalahan paham, kita sembilan pedang benar-benar akan kehilangan muka."
Dalam keadaan mengenaskan sipedang besi manggut-manggut, padahal rasa benci didalam hatinya sudah mencapai pada puncaknya namun diluaran apalagi dihadapan abang seperguruannya.
Dia mau tak mau harus beriagak menerima saran tersebut dan cepat-cepat beranjak pergi dari situ.
Mengawasi bayangan punggungnya yang menjauh sipedang tembaga segera bergumam dengan suara dingin.
"Demi dia, aku tak segan bentrok dengan siapapun. Apalagi hanya kau, So Bun pin"
Lalu sambil sengaja menutupkan pintu kamar putri Kim huan hiburnya dengan lembut.
"Rupanya suteku telah mengusik kenyenyakan tidurmu. Tindakan tersebut memang kurang sopan, harap kau jangan marah."
"Kau memang baik sekali, aku harus berterima kasih kepadamu"
Bisik putri Kim huan "oooh, tidak usah........."
Padahal dalam hati kecilnya merasa gembira sekali.
Hingga kembali kedalam kamarnya, dia masih teringat terus dengan perkataan putri Kim huan yang lembut dan sangat menawan hati itu.
Dalam pada itu, Kim This ia sedang memikirkan soal "Dewi Nirmala".
Dia merasa orang tersebut tentu merupakan seorang jago yang berkuasa besar, karena semua anak buahnya terdiri dari jago-jago persilatan tinggi.
sekalipun secara beruntung dia berhasil mengungguli Nirmala nomor sebelas, namun perasaannya justru amat menyesal dan sedih sekali.
Mungkin juga Nirmala nomor sebelas hanya melaksanakan perintah dari "Dewi Nirmala"
Untuk memusuhi anak murid Malaikat pedang berbaju perlente.
Padahal diantara mereka berdua.
secara pribadi tidak mempunyai permusuhan ataupun persilatan ataupun perselisihan apapun.
sesaat sebelum menemui ajalnya, Nirmala nomor sebelas sama sekali tidak membenci dirinya.
Dia hanya mengeluh sebagai korban dari keganasan Dewi Nirmala, tapi justru semakin begitu.
Kim Thi sia merasa semakin menyiksa batinnya, karena bagaimanapun jua dia telah mencelakai jiwa seseorang yang sama sekali tak berdosa.
semalam suntuk dia tak mampu pejamkan mata, benaknya dipenuhi oleh masalah Dewi Nirmala beserta asal usulnya, namun makin dipikir dia semakin kebingungan.
Hatinya pun semakin masgul, akhirnya dia membuka jendela dan berdiri termangu-mangu disitu.
Malam yang tenang membuat pikirannya bertambah jernih, kalau disiang hari Kim Thi sia tak pernah mau memutar otaknya, maka sekarang dia mulai meragukan watak baik sipedang tembaga seandainya orang itu berjiwa kesatria mengapa tindakannya justru begitu licik dan rendah sehingga membokong orang secara begitu keji?
Bila ditinjau dari sini, maka besar kemungkinan kematian Malaikat pedang berbaju perlente adalah disebabkan terbokong oleh orang-orang tersebut, buktinya sipedang tembaga yang kelihatannya jujur dan berjiwa ksatria pun sanggup melakukan perbuatan yang tak terpuji, bisa dibayangkan bagaimana pula watak sipedang emas sekalian.
Menilai orang jangan menilai dari wajahnya.
Tiba-tiba saja Kim This ia menyelami arti sebenarnya dari perkataan tersebut, tanpa terasa ia bergumam seorang diri.
"sipedang tembaga yang bernama besar pun mampu menurunkan derajat sendiri dengan menusukkan pedangnya dari punggung Nirmala nomor sepuluh hingga tembus kejantungnya, bisa jadi diapun tega membacok kutung tangan dan kaki suhu...."
Dia memukul pahanya sendiri keraskeras sambil bergumam lebih jauh.
"Didalam waktu yang amat singkat, aku telah melupakan sama sekali dendam kesumat serta sakit hati suhu, bila keadaan ini dibiarkan berlarut terus, dapatkah arwah suhu beristirahat dengan tenang dialam baka?"
Darah panas segera menggelora didalam dadanya, diam-diam ia mengangkat sumpah.
"Aku Kim Thi sia bisa memperoleh hasil seperti hari ini, tak lain kesemuanya ini merupakan berkah dari suhu, bila aku sampai melupakan sama sekali sakit hati suhu dan tidak menuntutkan balas baginya, bukankah aku akan lebih rendah daripada binatang?"
Kemudian ia berpikir lebih jauh.
"Lebih baik kutinggalkan suheng sekalian pada malam ini juga, mungkin dengan berbuat demikian maka duduk persoalan yang sebenarnya segera akan kuketahui, dan akupun menuntukan keadilan bagi kematian guruku.
Aku rasa suhu tentu mempunyai teman, tak mungkin orang bisa hidup sebatang kara didunia ini, hanya saja memang sulit untuk menemukan orang yang bisa bergaul dengannya.
Kenapa aku tidak mulai melakukan penyelidikan secara besarbesaran terhadap semua umat persilatan didunia ini?"
Dibawah sinar rembulan yang cerah, dan pikiran yang tenang pemuda tersebut segera mengambil keputusan dan berjalan menuju kekamar sendiri Kemudian diapun membuat sebuah coretan diatas secarik kertas sebelum pergi dari situ.
Diatas kertas tadi, ia menulis begini.
"Suheng sekalian, malam ini aku tidak dapat tidur dan duduk melamun didekat jendela...."
"Tiba-tiba teringat olehku akan pelbagai masalah yang menyakitkan hati, terutama soal kematian suhu yang membuatku amat kecewa."
"Dulu, aku tak lebih hanya seorang pemuda biasa, siapa yang akan mengenali namaku sebagai "Kim Thi sia"? Maka akupun berpendapat bahwa satu-satunya perbedaan antara "Kim Thi sia"
Yang dulu dengan "Kim Thi sia"
Yang sekarang adalah dengan munculnya malaikat pedang berbaju perlente."
"Tiba-tiba saja dalam pandangaku serasa terkenang kembali dengan wajahnya yang kusut, muka yang penuh penderitaan itu serasa terukir dalam-dalam disanubariku."
"Terus terang suheng sekalian, banyak sekali pesan dari suhu menjelang saat ajalnya yang hampir kulupakan. Malam ini, pikiranku menjadi terang dan perasaanku telah sadar kembali. Aku teringat kembali dengan pelbagai perbuatanku dimasa lalu, terkenang pula pesan terakhir dari suhu."
"Aku tak berani memastikan sebab kematian suhu disebabkan seperti apa yang suhu katakan, tapi aku akan berusaha untuk menyelidikinya hingga tuntas. Aku percaya suatu ketika duduknya persoalan akan menjadi jelas kembali."
"suheng, aku percaya kalian adalah manusia yang berjiwa besar, tentunya kalian tak akan menganggap tulisanku ini kelewat kurang ajar bukan?"
"Maafkan kepergianku yang tanpa pamit, sebab bila tidak begini, hatiku tak pernah akan menjadi tenang."
"soal dua bersaudara Nyoo, kuharap suheng sekalian sudi menjaga keselamatan mereka, menurut penilaianku pek kut sinkun bukanlah musuh besar pembunuhan orang tua mereka. Tentang sebab kematian Nyoo lo enghiong, aku pasti akan melakukan penyelidikan pula sampai tuntas. Harap suheng sekalian sudi menyampaikan pesan ini kepada mereka."
"sedang mengenai sinona bangsawan itu, aku percaya suheng sekalian lebih sanggup untuk melindunginya dan menemaninya pulang keistana. Aku tak ingin memberi persyaratan apa-apa. Tapi aku selalu berpendapat bahwa aku tak mungkin cocok dengannya."
"Aku tak lebih hanya manusia kasar yang tak tahu adat, dan selama ini yang akupun hanya ingin menyampaikan sepatah kata saja yaitu "Mohon maaf".
"sebagai akhir kata, aku tetap berharap ia bisa kembali kenegerinya dengan aman dan selamat."
"Soal pedang mestika Leng gwat Kiam, biarlah suheng menyimpankan untuk sementara waktu. Bila ada kesempatan aku tentu akan berterima kasih kepada kalian."
"Tertanda sutemu, Kim Thi sia."
Sekalipun sepintas lalu isi surat itu kacau balau, tapi arti yang sebenarnya sudah cukup jelas.
sebab bagi seseorang yang tak pernah mengecap pendidikan, tulisan semacam ini sudah cukup menyulitkan baginya.
Keesokan harinya, ketika semua orang menemukan kepergiannya yang tanpa pamit dan selesai membaca isi surat tersebut, paras muka masing-masing menunjukkan perubahan yang berbeda.
sipedang perak hanya tersenyum hambar tanpa memberi komentar apa-apa.
Memang begitulah wataknya yang sebenarnya sekalipun ada persoalan besar yang terbentang didepan matapun, dia tak akan menunjukkan perasaan terkejut.
sipedang tembaga menunjukkan setengah girang setengah sedih, ia senang karena kepergian Kim Thi sia itu sama artinya dengan hilangnya duri dari kelopak matanya, tapi dia murung karena dengan kemajuan ilmu silat yang dicapainya, dia takut persoalan yang sebenarnya berhasil diketahui oleh pemuda tersebut......
sipedang besi so Bun pin menunjukkan sikap amat gusar.
sesumbar dengan mengatakan akan mencarinya kembali dan dihukum karena berani menghina abang seperguruan sendiri Dua bersaudara Nyoo sangat sedih, mereka cukup memahami watak "adik angkat"
Nya yang bodoh tapi berkeras hati itu.
Apa yang dipikirkan sanggup pula dilakukan, mereka tak tahu sampai kapan mereka dapat berjumpa kembali.
Putri Kim huan yang paling tak tenang hati, karena kata-kata dalam surat tersebut jelas mengandung sindiran kepadanya.
sepanjang hari dia menutup diri didalam kamar dengan wajah murung.
Begitulah, semua orang terbuai dalam pikiran masing-masing, kecuali sipedang besi so Bun pin yang menunjukkan kegusaran, lainnya sama sekali tidak memberikan komentar apa-apa.
Tiba-tiba sipedang perak keluar dari pintu kamar sambil berkata.
"Aku rasa persoalan ini tiada masalah yang perlu dibicarakan. Kim sute masih muda dan tak tahu urusan, tabiatnya aneh. Kita wajib memaafkan perbuatannya itu."
Kemudian setelah berhenti sejenak. lanjutnya lebih jauh.
"Hari ini merupakan saat pertarungan kita dengan Pek kut sinkun, bisa jadi toa suheng telah membuat persiapan yang matang, ayoh kita segera berangkat untuk bergantung dengannya."
Nyoo Jin hui menyela.
"Adik Thi sia masih muda dan tak tahu urusan, kini dia telah pergo tanpa pamit, meski ilmu silatnya cukup untuk melindungi keselamatan jiwanya namun aku tetap merasa kuatir, karena itu maaf bila kami ingin mohon diri untuk segera berangkat melacaki jejaknya."
"Memang paling baik bila saudara Nyoo mempunyai ingatan begini"
Sahut pedang perak hambar.
"kalau begitu kamipun menyerahkan keselamatan suteku itu kepadamu."
"selamat tinggal"
Kata dua bersaudara Nyoo kemudian.
selesai menjura, merekapun beranjak eprgi meninggalkan tempat itu.
sepeninggal dua bersaudara Nyoo, sipedang tembaga segera berpaling kearah putri Kim huan dan berkata.
"Nona, kau sedang berada dinegeri orang tanpa sanak tanpa keluarga. Aku rasa biar kamilah yang akan bertanggung jawab atas segala keselamatan jiwamu. Terimalah tawaran kami yang tulus ini."
Sebelum putri Kim huan sempat menjawab, sipedang perak telah berkata lebih dulu.
"Nona tak perlu menampik lagi, perkataan prdang tembaga sute memang benar, dengan tulus hati kami bersedia mengiringi kepergianmu, apalagi jika nona tak ada urusan lain, mari kita melakukan perjalanan bersama-sama."
Putri Kim huan sadar, posisinya memang terjepit sehingga dia tak banyak berbicara lagi dengan mulut membungkam mengikuti dibela kang pedang perak sekalian bertiga meninggalkan rumah penginapan^.
sipedang tembaga kuatir si nona tak sanggup melakukan perjalanan jauh, dia sengaja menyewa sebuah tandu kecil dikota dan mendampinginya sepanjang jalan.
Resminya dia melindungi keselamatan gadis tersebut, padahal yang benar adalah mencari kesempatan untuk merayu dan menarik perhatian gadis cantik itu.
Katanya dengan lembut.
"Kim Thi sia adalah seorang yang kasar, pelbagai persoalan yang tidak pantas diungkapkan ternyata telah diungkapkan, untung saja nona adalah seorang gadis yang berpendidikan dan berpengetahuan luas, coba berganti orang lain, mungkin dia akan dibuat marah-marah besar oleh tulisan tersebut."
Tampaknya putri Kim huan masih juga tak habis mengerti katanya.
"Bila ditinjau dari sikap maupun tingkah laku kalian suheng te bertiga, bisa kusimpulkan bahwa keenam orang suheng te yang lain bukan manusia sembarangan. Kenapa diantara kelompok burung hong justru bisa muncul seekor burung gagak?"
Sipedang tembaga segera menghela napas panjang.
"Aaaaai.......kalau dibicarakan yang sesungguhnya, hal ini harus disalahkan pada suhuku, dia orang tua telah dibokong oleh musuhnya secara keji, dalam keadaan sekarat dan tak sadar pikirannya, dia menganggap sakit hati tersebut harus dituntut balas oleh murid perguruannya sehingga dicarinya seorang bocah liar untuk diwarisi ilmu silatnya lalu menitahkan kepadanya untuk menuntut balas."
Setelah berhenti sejenak. sambungnya lebih jauh.
"Jadi murid liar itu diterima suhu dia orang tua didalam keadaan yang terpaksa. Itulah sebabnya dalam soal bakat, watak serta pendidikan jauh berbeda bila dibandingkan orang lain. Aaaaai......maklumlah........"
Sambil berpaling putri Kim huan bertanya lagi.
"Hey, bukankah kalian bersembilan semuanya adalah muridnya? Kenapa tidak mencari orang sendiri justru mencari dirinya?"
"Aaaai, nona tidak tahu......"
Pedang tembaga menghela napas.
"Ketahuilah bahwa suhu sedang berada jauh sekali dari kami, bagaimana mungkin beliau bisa menghubungi kami dalam waktu singkat?"
Putri Kim huan segera manggut-manggut.
"oooh, rupanya begitu."
Setelah termenung sejenak. mendadak katanya lagi dengan polos.
"Hey, dengan peristiwa itu, bukankah dia yang kelewat enak?"
"Yaa, apa boleh buat lagi? sesungguhnya kami enggan melakukan perjalanan bersamanya. Apa daya dia justru selalu mengaku sebagai murid terakhir dari Malaikat pedang berbaju perlente, mengingat kita sebagai sesama saudara seperguruan, mau tidak mau kamipun tak bisa meninggalkan dirinya dengan begitu saja."
Agaknya putri Kim huan sedang memikirkan persoalan yang lain sehingga sama sekali tidak mendengar apa yang dikatakannya, terdengar gadis itu berkata pelan.
"Kim Thi sia memang makhluk aneh, apakah dia benar-benar tidak berperasaan sama sekali?"
"Nona, apa kau bilang? siapa yang tidak berperasaan? "
Seru pedang tembaga keheranan-Dia mengira orang yang dimaksudkan putri Kim huan adalah dirinya, ia menjadi terperanjat sekali, dalam gugupnya dia sgeera menggenggam tangan sinoan yang lembut.
Putri Kim huan segera berkerut kening dan melepaskan diri dari genggamannya, ia menegur.
"Kalian ornag laki-laki memang sama semua, sedikit-sedikit lantas main colek main pegang. Huuuh, sungguh menyebalkan, mengapa sih tidak meniru Kim Thi sia?"
"Bagaimana dengan Kim Thi sia......"
Kata gedang tembaga agak enggan-sementara tangannya terpaksa ditarik kembali dengan perasaan berat. Melihat sikap pemuda itu, putri Kim huan semakin mengambek. katanya dengan dingin.
"Terus terang saja aku bilang, sekalipun dibidang lain Kim Thi sia tak mampu mengungguli kalian-Tapi dalam hal ini dia lebih tangguh daripada kalian-selama melakukan perjalanan bersamanya dalam berapa hari terakhir ini, belum pernah dia melakukan perbuatan yang melanggar sopan santun-"
Sipedang tembaga yang pandai melihat gelagat cepat-cepat menarik kembali tangannya dan berkata sambil menundukkan kepala.
"Entah mengapa, sejak bertemu nona, timbul gejolak perasaan dalam hatiku hingga membuat aku tak mampu untuk mengendalikan diri......"
Putri Kim huan menengok sekejap kearahnya, lalu dengan sikap hambar katanya.
"Bila kau ingin membuatku gembira, tinggalkan aku sejauh mungkin-"
Sipedang tembaga nampak tertegun, tapi akhirnya sambil menahan emosi dengan wajah bersemu merah dia mundur selangkah kebelakang.
Mendadak dari depan situ terdengar suara hirup pikuk yang ramai sekali, satu ingatan segera melintas dalam benak putri Kim huan, tanyanya cepat.
"siapakah yang berada didepan?"
Sambil merendahkan suaranya sahut pedang tembaga.
"Musuh kami Pek kut sinkun telah menyiapkan panggung untuk menerima tantangan kita."
Ketika putri Kim huan melongok keluar tampak dibawah barak bambu yang besar terlihat banyak sekali manusia yang berdesak disitu menonton keramaian.
Menyaksikan hal ini, dengan perasaan kuatir segera tanyanya.
"sanggupkah kalian untuk mengungguli musuh?"
Perkataan itu seketika mengobarkan semangat didada pedang tembaga, dia merasa mendapat kesempatan untuk membuktikan kemampuannya dihadapan gadis cantik.
Maka sambil menggosok kepalanya ia menyahut sambil tertawa.
"Nona tak usah kuatir, biarpun kemampuan Pek kut sinkun terhitung hebat, tapi aku berkeyakinan untuk mengalahkan dirinya."
"Oooh....aku percaya dan tentu akan menang"
Puji putri Kim huan sambil tersenyum manis.
"Aku memang sudah cukup memahami akan kemampuan ilmu silatmu yang hebat itu......."
Sipedang tembaga menjadi sangat girang semangatnya semakin berkobar. Dengan suara lantang bentaknya keras-keras.
"Sembilan pedang dari dunia persilatan datang memenuhi janji. silahkanPek kut sinkun munculkan diri untuk berjumpa."
Suara bentakannya amat nyaring hingga menggema seluruh angkasa.
Jelas dia hendak memperlihatkan kebolehan tenaga dalamnya dihadapan gadis cantik tersebut.
Begitu ucapan tersebut menggelora keluar, suara hiruk pikuk disekitar arena seketika menjadi sepi, hening dan tak kedengaran sedikit suarapun-Beratus-ratus pasang mata serentak dialihkan kearahnya.
Dengan wajah tersipu putri Kim huan segera menyembunyikan diri dibalik tandu.
Perasaannya menjadi amat tegang.
"Haaah.....haaah......haaaah.......rupanya sinkun datang sendiri untuk menyambut, hal ini menunjukkan bahwa aku masih terpandang sebagai seorang manusia dihadapan sinkun.........."
Tampak seorang sastrawan setengah umur berjubah kuning berikat kepala emas berjalan mendekat dengan langkah lebar.
Disekeliling sastrawan setengan umur utu mengikuti empat orang kakek yang rata-rata bermata tajam.
dilihat dari kening mereka yang menonjol keluar dari sorot mata yang tajam bagaikan sembilu, dapat diketahui bahwa keempat orang itu merupakan jago-jago yang berilmu tinggi.
sastrawan setengah umur itu amat gagah dan berwibawa, tak malu menjadi pemimpin suatu perkumpulan, sambil tampilkan diri segera katanya sambil tertawa nyaring.
"Sembilan pedang dari dunia persilatan bernama besar, tentu saja aku tak berani berayal. Haaaah.....haaaah.......haaaah......silahkan masuk. silahkan masuk."
Sambil berkata dia mengulapkan tangannya, dari balik kerumunan orang banyak muncullah serombongan lelaki kekar yang menyambut kedatangan mereka dengan sikap amat menghormat.
sipedang perak berpaling dan memberi tanda dengan kerdipan mata kepada sipedang tembaga, sipedang tembaga segera manggut-manggut, katanya kepada putri Kim huan-"Silahkan nona turun dari tandu untuk bertemu dengan Pek kut sinkun, kami tidak boleh bersikap kelewat sombong.
Ya a, apa boleh buat, terpaksa harus menyiksamu sebentar."
Putri Kim huan paling takut munculkan diri dihadapan umum, keningnya segera berkerut setelah mendengar perkataan itu, tapi terpaksa dia turun juga dari tandunya dengan wajah tersipu-sipu.
Agaknya sastrawan setengah umur itu tak menyangka kalau orang yang berada didalam tandu adalah seorang wanita yang cantik.
Ia kelihatan agak tertegun lalu pikirnya.
"sejak dulu hingga sekarang, kaum wanita jarang sekali keluar pintu, biasanya hanya pendekar wanita yang berilmu tinggi atau mempunyai asal usul besaryang berani keluar rumah. Gadis ini cantik bak bidadari dari khayangan sudah pasti kecerdikannyapun luar biasa, jangan-jangan dia adalah tokoh lihay yang diundang sembilan pedang untuk membantu mereka.........?"
Dia mencoba membayangkan siapa gerangan perempuan ini, namun seingatnya tidak terdapat manusia seperti ini dalam deretan tokoh-tokoh persilatan, hal mana tentu saja semakin meragukan hatinya.
Keempat orang kakek yang berada disisinyapun segera menunjukkan perasaan tercengang, diawasinya gerak gerik putri Kim huan sekejap.
kemudian salah seorang diantaranya berbisik.
"sinkun harus memperhatikan gadis ini secara sungguh-sungguh, jangan dilihat sikapnya begitu tegang, biasanya makin kalem seseorang makin berbahaya pula ilmu silat yang dimilikinya."
Sastrawan setengah umur itu manggut-manggut.
"Aku sudah mengawasinya sejak tadi, nampaknya dia seperti tak pandai bersilat, tapi mungkin saja pandangan mataku belum bisa menembusi lapisan berikutnya. Ya a, aku pasti akan berjagajaga terhadapnya."
Tak lama kemudian, sampailah mereka didalam sebuah barak tamu.
Didalam barak sudah duduk lima orang jago gedang yang masih muda begitu melihat kedatangan pedang perak, serentak mereka bangkit berdiri dan memberi hormat kepadanya, kemudian baru memberi hormat kepada pedang tembaga serta pedang besi.
Putri Kim huan segera merasakan bahwa kelima orang itu sedang mengawasi wajahnya dengan seksama.
seakan-akan sedang mengamati suatu benda mestika saja, rasa malu yang luar biasa membuat hatinya berdebar keras dan kepalanya tak berani didongakkan kembali.
sipedang tembaga segera berkata.
"Harap sute sekalian duduk dulu, biar kuperkenalkan nona itu kepada kalian, dia adalah putri dari kerajaan Kim yang khusus datang kedaratan Tiong goan untuk menikmati keindahan alam, mari kalian saling memberi hormat...."
Kelima orang jago muda itu saling berpandangan sekejap lalu tersenyum, kemudian serentak manggut-manggut tanda hormat.
Dengan tersipu-sipu putri Kim huan pun mengangguk sambil tersenyum sebagai balasan dari anggukan kepala mereka.
Terdengar sipedang tembaga berkata lebih jauh.
"Kita semua adalah orang sendiri, apa yang hendak dibicarakan silahkan dibicarakan, tak usah sungkan-sungkan lagi."
Kemudian diapun membisikkan asal usul sipedang air, pedang ayu, pedang api, pedang tanah danpedang bintang kepada putri Kim huan.
sipedang air segera bangkit berdiri dan menyerahkan tempat duduknya kepada putri Kim huan, sedang sipedang tanahpun menyingkir juga dari situ, maka diatur oleh para sutenya, sipedang tembaga bisa duduk dengan senang disisi putri Kim huan.
Tentu saja kejadian tersebut sangat menjengkelkan hati sipedang besi yang mengawasi terus peristiwa itu sedari tadi.
sementara itu sipedang perak telah mendonggakkan kepalanya melihat sekejap cuaca lalu tanyanya kepada sipedang kayu.
"Apakah toa suheng belum datang?"
"Kemungkinan besar dia datang agak terlambat, kemarin sute bertemu dengannya dan dia hanya berpesan begini......."
Sipedang perak segera menemukan paras adik seperguruannya ini kurang sedap dipandang, pikirnya tanpa terasa.
"Heran, biasanya ngo sute adalah seorang yang selalu riang gembira. Mengapa dia menunjukkan sikap semacam ini? Mungkinkah dia sedang menjumpai persoalan yang tak berkenan dihatinya?"
Sebetulnya dia hendak menanyakan persoalan itu hingga jelas.
Namun sehabis memberi keterangan sipedang kayu segera beranjak pergi ketempat lain dengan sikap yang dingin dan tawar.
sipedang perak tahu, adik seperguruannya pasti sedang menghadapi masalah pelik maka diapun mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih jauh.
sipedang kayu duduk seorang diri ditepi barat, sementara sorot matanya yang tajam mengawasi terus putri Kim huan tanpa berkedip.
Dia masih teringat dengan jelas, dulu putri Kim huan pernah tertawan olehnya, tapi semenjak kedatangan Kim Thi sia, gadis itu telah ditolongnya malah itu banyak sekali jago yang terbunuh ditangan Kim Thi sia.
Hal ini membuat pamornya dihadapan pembesar negeri itu merosot berapa tingkat.
sekalipun semua peristiwa ini menjadi tanggung jawab Kim Thi sia, namun setelah bertemu dengannya tanpa terasa diapun teringat akan semua sakit hatinya itu.
Perintah dari sipembesar pun menyusahkan hatinya, dia pernah menyanggupi permintaannya untuk menemukan kembali putri Kim huan, tapi sekarang putri Kim huan telah berada ditangan sipedang tembaga.
Padahal pedang tembaga adalah abang seperguruannya, bagaimana mungkin dia bisa menculik kekasih hatinya untuk dipersembahkan kepada pembesar itu?
Maka pelbagai masalah yang pelikpun membuat hatinya risau gundah dan tak senang.
Tampaknya putri Kim huanpun telah menemukan raut wajah sipedang kayu yang terasa dikenal olehnya.
Diam-diam ia mencoba kembali pengalamannya dimasa lalu, mendadak ia teringat akan sesuatu, sepasang matanya segera terbelalak lebar-lebar.
Dengan cepat sipedang tembaga menyaksikan rasa kaget yang mencekam wajahnya ia menjadi terperanjat dan segera menegur.
"Nona, mengapa kau?"
Ingin sekali putri Kim huan menceritakan kejadian yang sesungguhnya, namun ketika ucapan tersebut sampai dibibir, ternyata dia tak mampu untuk mengutarakannya keluar, akhirnya sambil menggelengkan kepala dan menghela napas katanya.
"Aaaah, tidak apa-apa"
Meski begitu, sepasang matanya masih menatap wajah sipedang kayu tanpa berkedip. Tergerak perasaan sipedang tembaga, dengan cepat dia bangkit berdiri dan menghampiri sipedang kayu, lalu tanyanya.
"sute, apakah kau kenal dengannya?"
Dengan wajah sungguhsungguh sahut sipedang kayu.
"Mungkin kenal, mungkin juga tidak. siaute hanya merasa raut mukanya agak kukenal, namun lupa dimanakah kami pernah bersua, coba kau bilang kejadian ini aneh tidak?"
"Yaa, memang aneh sekali"
Sahut pedang tembaga. Namun hati kecilnya merasa amat mendongkol, pikirnya.
"Kurang ajar, pedang kayu, kau berani mengelabuhi aku? Hmmm, tunggu saja sampai tanggal mainnya."
Sementar itu suasana dibawah panggung amat hening tak kedengaran sedikit suarapun banyak sekali kawanan jago yang datang karena mengagumi nama besar mereka yang bakal bertarung berdiri berjajar ditepi arena suara bisik-bisik kedengaran disana sini.
sipedang perak yang seksama, sementara itu sudah mengamati berapa kejap suasana disekitar arena .
Diarena mereka yang hadir, dia hanya mengenali beberapa diantaranya seperti si Pukulan berapi.
si tukang besi dari supeng, si kucing bungkuk dan lain sebagainya.
Baginya, jago-jago tersebut bukan merupakan, ancaman yang serius, tapi terhadap wajahwajah asing yang tak dikenalnya, dia justru menaruh perasaan tegang.
sekalipun dia pingin tahu siapa gerangan orang-orang tersebut.
Namun kedudukannya didalam dunia persilatan mencegah dia berbuat begitu, terpaksa dia harus mengandalkan ketajaman matanya untuk menduga-duga kemampuan silat orang-orang itu.
setelah diamati berulang kali, akhirnya dia berkesimpulan hanya keempat kakek yang berada disamping Pek kut sinkun terhitung jagoan paling tangguh, terutama salah seorang diantaranya, sewaktu berbicara dan menggoyangkan telapak tangannya, dia melihat adanya sinar merah dari balik telapak tangan tersebut.
Dengan perasaan terkejut segera pikirnya.
"Hmmmm, sudah jelas orang ini memiliki ilmu Kim cu khikang yang sudah seratus tahun lamanya lenyap dari dunia persilatan. Tidak disangka hari ini bisa muncul ditangannya, aku tak boleh memandang enteng kemampuan orang ini............."
Mendadak terdengar suara gembrengan dibunyikan, lalu muncul seorang lelaki kekar ketengah arena dan berseru dengan lantang.
"Atas perintah sinkun, diharapkan para penonton membuka sebuah lapangan agar mereka yang bakal bertarung mampu mengembangkan segenap ilmu silat yang dimilikinya, atas kesudian kalian, kami ucapkan terima kasih sebelumnya......."
Habis berkata dia memberi hormat keempat penjuru lalu mengundurkan diri dengan langkah lebar.
Terpaksa para penontonpun saling berdesakan untuk mundur kebelakang, dengan susah payah akhirnya siaplah sebuah tanah lapang seluas lima kaki persegi.
Menyusul kemudian suara gembrenganpun kembali dibunyikan keras-keras, seketika suasana menjadi hening dan semua orang mengalihkan perhatiannya kearena.
sipedang tembaga melirik sekejap kearah putri Kim huan, lalu bisiknya pelan.
"Bila suara gembrengan dibunyikan sekali lagi, berarti saat bertarung akan segera dimulai saksikanlah pertarungan ini baik-baik."
Habis berkata dia segera tertawa lebar.
sebelum suara gembrengan ketiga kalinya dibunyikan dari barak sebelah barat telah muncul seorang kakek yang semula berada disisi Pek kut sinkun dia menjura dulu keempat penjuru kemudian baru berkata dengan suara lantang.
"sobat-sobat, para jago dan orang gagah hari ini Pek kut sinkun sengaja menyelenggarakan pertandingan silat untuk memperebutkan dua jenis mestika. Apakah benda mestika itu maaf kalau kami tak bisa sebutkan namun yang jelas tujuan dari pertarungan ini adalah untuk mendapatkan mestika tersebut, siapa menang dia berhak mendapatkannya. Karena itu baik terluka atau bahkan tewas, kami kedua belah pihak sama-sama tak akan menyesali atapun menggerutu. selain itu pertarungan diselenggarakan menurut peraturan. Dilarang mengandalkan jumlah banyak, dilarang juga main bokong dengan cara yang licik..."
Tepuk tangan yang riuh menutup ucapan terakhir kakek tersebut, dengan langkah lebar ia kembali kesamping Pek kut sinkun.
Pelan-pelan sipedang perak memperhatikan sekejap sekitar arena, mendadak dari barat sebelah kiri, dia menyaksikan seorang tosu tua duduk bersila disitu.
Dandanan tosu itu aneh sekali, tubuhnya kurus kering tinggal kulit pembungkus tulang, tulang jidatnya menonjol dan matanya lengkuk kedalam, rambutnya yang kuning nampak kusut.
Disamping tosu tua itu duduk pula seorang pemuda berwajah jelek.
saat itu mereka berdua sedang berbisik-bisik sambil menuding kesana kemari.
Agaknya ada semacam persoalan sedang dibicarakan-Tiba-tiba pemuda bermuka jelek itu kena diterjang oleh seorang lelaki yang sedang bergurau disisinya.
Pemuda jelek itu segera melotot, tidak nampak apa yang dilakukan-Tiba-tiba lelaki itu menjerit kesakitan dan robih tak sadarkan diri.
suasanapun menjadi ribut, beramai-ramai rekanannya menggotong pergi lelaki tersebut dari situ.
Tapi bagi sipedang perak yang bermata tajam, ia telah melihat dengan jelas bagaimana pemuda jelek itu mengayunkan tangannya disusul kemudian lelaki tadipun roboh tak sadarkan diri.
Entah kepandaian apa yang dipergunakan pemuda jelek itu, nyatanya dia sanggup merobohkan orang dari jarak tiga depa tanpa menimbulkan desingan suara.
Dari sini bisa diketahui tenaga dalamnya amat hebat, terutama sekali kekejaman hatinya, sungguh mengejutkan hati siapapun.
selama ini sitosu tua berdandan aneh itu tetap duduk bersila tanpa menggubris tingkah laku pemuda jelek itu.
seakan-akan pikirannya sudah dipisahkan oleh suatu dinding penyekat dengan kejadian dihadapannya.
Diam-diam sipedang perak menghela napas panjang pikirnya.
"Dua orang guru dan murid ini betul-betul manusia tak berperasaan, pembunuh tanpa berkedip. Aaaai.....entah dia musuh atau kawan? Tampaknya akupun harus waspada terhadap mereka."
Suara gembrengan yang amat keras menyadarkan kembali sipedang perak dari lamunan.
Inilah suara gembrengan untuk ketiga kalinya, berarti pertarungan segera akan dilangsungkan.
Mendadak ia bergumam lagi.
"sungguh aneh, mengapa hingga sekarang toa suheng belum datang juga........?"
Dimasa-masa lampau, toa suhengnya selalu menjadi pemimpin rombongan.
segala sesuatunya diputus dan dilakukan toa suhengnya termasuk menitahkan para adik seperguruannya untuk menghadapi lawan.
Tapi hingga sekarang, yang ditunggu-tunggu belum nampak juga, apalagi menghadapi suasana seperti ini, sipedang perak jadi bimbang dan kehilangan pegangan.
Dia tak tahu harus memerintahkan siapa untuk turun tangan lebih dulu.
selang berapa saat kemudian.....
Dari barak sebelah barat pelan-pelan muncul dua orang lelaki kekar, tanpa mengucapkan sepatah katapun mereka langsung saling bertarung dengan serunya ditengah arena.
Mula-mula sipedang perak agak tercengang, tapi setelah dipikir sejenak.
tanpa terasa dia tertawa geli.
Rupanya kedua orang itu hanya bertarung sebagai pembukaan saja, jadi bukan bertarung secara bersungguh-sungguh.....
sorak sorai yang gegap gempita bergema dari bawah panggung, sementara dua orang lelaki kekar tadi masih saling menyerang dengan serunya.
sekalipun pertarungan berjalan sengit, bagi pandangan pedang perak.
ilmu silat semacam itu masih belum berharga untuk ditonton olehnya.
Entah sejak kapan, sipedang kayu Gi Tin yong telah berada disisinadan berkata dengan suara dalam.
"Ji suheng, aku tahu pikiranmi pasti ragu untuk mengambil keputusan, bagaimana kalau sute saja yang turun dalam pertarungan babak pertama ini?"
Kesulitan yang dihadapi sipedang perak seketika hilang lenyap tak berbekas, dengan gembira dia menepuk bahu adik seperguruannya itu dan berkata sambil tertawa.
"Bagus sekali, rupanya sute cukup memahami perasaan hatiku, nah hadapilah musuh dengan berhati-hati."
Sambil tertawa sipedang kayu, mengangguk pelan-pelan dia berjalan menuju ketepi arena.
suara gembrengan kembali dibunyikan, dua orang lelaki yang saling bertarung segera menarik kembali permainannya, memberi hormat kepada penonton dan mengundurkan diri dari situ.
Dari barak sebelah barat segera muncul seorang manusia bermuka hitam yang bertubuh tinggi kekar dan berseru dengan suara keras.
"Sudah cukup lama sembilan pedang dari dunia persilatan malang melintang didalam dunia kangouw, tapi sayang aku si Raja bengis dari seantero jagad paling tak percaya dengan segala tahayul. Boleh aku tahu, siapakah diantara sembilan pedang yang bersedia melayani tantanganku?"
"Hey raja bengis dari seantero jagad, aku sipedang kayu sudah menanti sejak tadi."
Seraya berkata, dengan langkah yang amat santai sipedang kayu beranjak masuk kedalam arena dan berdiri disitu sambil bersiap sedia.
orang ini masih muda namun mempunyai nama besar yang amat termashur, tak heran kemunculannya memancing tepuk tangan yang meriah dari para penonton.
Dengan mengayunkan langkah kakinya yang berat, siraja bengis dari seantero jagad masuk kedalam arena dan berdiri saling berhadapan dengan sipedang kayu.
Pedang kayu tertawa dingin, sejak tadi ia sudah bertekad untuk menangkan pertarungan ini dalam waktu singkat.
secara diam-diam ia segera memberi tanda kepada pedang perak yang berada disisi arena.
Pedang perak segera memahami maksudnya dan berkata sambil tersenyum.
"Ambisi ngo sute tidak kecil. Aku pikir dalam tiga gebrakan saja kau dapat merobohkan musuhmu bukan?"
Dengan sikap acuh tak acuh sipedang tembaga menimpali.
"Yaa, setahuku......raja bengis dari seantero jagad hanya mempunyai tenaga kasar yang besar. Aku percaya dalam tiga gebrakan saja ia dapat dirobohkan oleh ngo sute dengan ilmu guntingan tangannya."
Baru selesai perkataan itu diucapkan, tiba-tiba terdengar siraja bengis dari seantero jagad meraung keras dan roboh terjungkal keatas tanah, tahu-tahu dia sudah jatuh mencium tanah.
Tempik sorak yang gegap gempitapun bergema memecahkan keheningan-Dengan wajah berseri-seri, sipedang kayu balik kembali ketempat duduknya semula.
sipedang kayu memang tidak membual, dia benar-benar berhasil merobohkan musuhnya dengan ilmu guntingan tangannya dalam tiga jurus gebrakan saja.
Bukan hanya begitu, malahan siraja bengis dari seantero jagad belum sempat mengembangkan permainan jurus tangguhnya, ketika nadi darahnya sudah tergores oleh serangan musuh.
Dalam malu dan gusarnya, siraja bengis dari seantero jagad segera berlarian meninggalkan arena.
sepanjang jalan dia menumbuk beberapa puluh orang penonton yang segera menimbulkan gerutuan dari sana sini.
Tiba-tiba terdengar putri Kim huan berbisik.
"Coba kau lihat, dari barak sebelah barat telah muncul seseorang lagi........"
Seorang jago pedang berusia pertengahan yang berwajah dingin menyeramkan pelan-pelan berjalan masuk kedalam arena, lalu berkata.
"Nama besar sembilan pedang memang nyata bukan nama kosong belaka aku si lelaki tampan ular berbisa berniat mencoba kepandaian dari salah seorang diantara sembilan pedang."
Pedang perak segera berpaling dan memperhatikan sekejap sekelilingnya, kemudian berkata.
"orang ini sangat licik, kejam dan banyak jurus pembunuh Ji sute, kau saja yang menghadapinya dengan pedang apimu."
Sipedang api mengiakan dan turun dari barak langsung menghampiri silelaki tampan ular berbisa. sambil tertawa seram Coa longkun segera berkata.
"silahkan anda menyerang lebih duluan"
"Tidak"
Sahut pedang api sambil menggeleng.
"selamanya kami tak pernah mendahului musuh lebih baik anda saja yang menyerang lebih duluan"
"sreeeeetttt......"
Coa longkun segera meloloskan sepasang pit besi dari pinggangnya, dibawah cahaya sang surya, nampak dengan jelas cahaya biru memantul keluar dari ujung senajta tersebut sudah jelas senjatanya telah diolesi dengan racun ganas.
Menyaksikan hal ini, sipedang api segera meningkatkan kewaspadaannya dengan menggeserkan langkahnya setengah tindak kesamping, pikirnya.
"Ngo suheng berhasil merobohkan musuhnya didalam tiga jurus, aku tak boleh menunjukkan kelemahan dihadapan orang banyak."
Hawa murninya segera dihimpun dan pedang api diloloskan dari sarungnya dengan suatu gerakan amat cepat.
Pantulan cahaya api yang kemerah-merahan segera memantulkan sinarnya menyinari wajah Coa longkun yang dingin menyeramkan itu.
Coa longkun memejamkan matanya sebentar lalu dipentangkan kembali secara tiba-tiba.
Dua cahaya tajam yang menggidikkan hati segera menyorong keluar, menyusul suara bentakan keras, dia menerobos maju kemuka dan melepaskan sebuah tusukan dengan jurus "sambil tertawa menunjuk kelangit selatan".
sipedang api mengebaskan ujung bajunya segulung tenaga pukulan yang keras segera membendung datangnya serangan lawan, sementara itu pedangnya berputar kencang dan sambil membawa lapisan cahaya bianglala langsung mengurung tubuh musuh.
Dalam satu gebrakan saja Coa longkun sudah mengetahui kehebatan musuhnya yang bukan bernama kosong saja, cepat-cepat dia menarik kembali senjata pitnya untuk melakukan penangkisan-Kemudian memanfaatkan peluang tadi dia melepaskan satu totokan jari tangan dengan kecepatan luar biasa, segulung desingan tajam langsung menyergap kedada lawan-Pedang api segera memutarkan tubuhnya menggunakan ujung kaki sebagai porosnya dengan suatu gerakan lincah dia mengubah diri keposisi lain guna menghindarkan diri dari ancaman musuh, dari situ dia bersiap melancarkan serangan balasan-Coa longkun menjadi amat terperanjat, cepat-cepat dia melompat kesamping kanan untuk menghindarkan diri sipedang api tertawa dingin, secepat kilat dia menerobos maju kedepan, sekalipun serangannya tak berhasil membacok tubuh musuh, namun berhasil memapas kutung senjata pena lawan-"Traaaaaaanngggg.........."
Kutungan senjata pena itu segera rontok keatas tanah.
Berubah hebat paras muka Coa longkun menghadapi kejadian tersebut, cepat-cepat dia pergunakan kutungan senjatanya sebagai senjata rahasia untuk ditimpukkan kedepan-Sipedang api yang berhasil merebut posisinya diatas angin tidak berdiam diri saja.
Pedangnya segera diayunkan kedepan untuk menangkis sambitan pena itu hingga rontok keatas tanah.
Melihat gelagat tidak menguntungkan, coa longkun cepat-cepat membalikkan badan dan berusaha melarikan diri, tapi pedang api keburu menyusulnya dari belakang, dalam sekali ayunan tangan, tubuh Coa longkun segera terbabat hingga terluka, darah segarpun jatuh bercucuran membasahi seluruh tubuhnya....
Berbicara yang sesungguhnya, selisih kepandaian antar kedua orang itu berbeda jauh sekali, itulah sebabnya sekalipun coa longkun mempunyai akal muslihat yang amat banyakpun tak mampu mengapa-apakan pedang api, dalam keadaan begini terpaksa dia harus melarikan diri dalam keadaan yang mengenaskan sekali.
Kekalahan yang diderita dua kali secara berturut-turut membuat semangat tempur kawanan jago dibarak sebelah barat mengendor.
Pek kut sinkun nampak amat masgul dan tak senang hati.
Cepat dia melirik sekejap kearah kawanan kakek yang berada disampingnya, dengan cepat seorang diantaranya mengerti dan bangkit berdiri seraya berkata.
"Harap sinkun jangan gusar, biar siaute yang turun didalam pertarungan babak ketiga ini."
Dengan tersenyum puas Pek ku sinkun manggut-manggut, katanya.
"sembilan pedang rata-rata berilmu silat sangat hebat, kau mesti menghadapi mereka dengan berhati-hati, usahakan untuk merebut kembali muka kita yang telah ternoda."
Dengan wajah serius kakek itu manggut-manggut.
"sinkun tidak usah kuatir, siaute pasti akan menggunakan segenap kemampuan yang kumiliki untuk berjuang tetapi seandainya saja aku kurang beruntung dan menderita kekalahan, siaute tak akan punya muka untuk bertemu lagi dengan sinkun."
Selesai berkata kakek itu segera berpaling ketengah arena dan berseru dengan lantang.
"wahai sembilan pedang dari dunia persilatan, dengarkan baik-baik. Pihak kami telah dua kali menderita kekalahan secara beruntun hingga semangat bertempur jauh berkurang, karenanya aku hendak mewakili sinkun untuk menantang kalian semoga dari pihak kalian bersedia mengirim dua orang pedang untuk bertarung melawanku. Atas kelancangan ini kumohon kalian sudi memakluminya."
Mendengar ucapan tersebut, pedang perak segera berkata sambil tertawa.
"Sute sekalian, orang ini bermaksud menghadapi kita dengan satu melawan dua entah bagaimana pendapat kalian?"
Dengan penuh kegusaran sipedang besi berkata.
"orang ini kelewat sombong dan tak tahu diri, biar aku seorang yang pergi menghadapinya ."
Begitu selesai berkata, tanpa menunggu jawaban dari sipedang perak lagi segera melompat ketengah arena dan serunya kepada kakek tersebut.
"Maksud baik anda biar kuterima dalam hati saja, tapi aku pikir sebelum anda bisa bertarung satu melawan dua, lebih baik robohkan aku lebih dulu. Entah bagaimana menurut pendapat anda?"
"Begitupun baik juga, sembilan pedang memang merupakan jago-jago kenamaan semua aku sudah menduga kalian tak akan bersedia untuk bertarung satu melawan dua orang."
Setelah maju dua langkah kedepan, tiba-tiba dia memasang kuda-kuda dengan suatu gaya yang aneh sekali katanya lagi singkat.
"Persoalan tak perlu ditunda-tunda lagi, mari kita selesaikan perta rungan ini selekasnya."
"Silahkan"
Kata pedang besi sambil berkerut kening.
Mendadak kakek itu mengayunkan tangan kirinya kedepan kelima jari tangannya yang dipentangkan bagaikan kaitan menyapu kemuka dengan membawa deruan angin serangan yang dahsyat.
Pedang besi tak berani menghadapi musuhnya secara gegabah, sambil memutar badan dia menggeserkan tubuhnya kesamping, menggunakan gerakan tadi, dia balas melepaskan dua buah serangan berantai.
Kakek itu tertawa dingin, bukannya mundur dia malah maju dengan jari tangan yang tajam ia mengancam sepasang mata lawan sementara tangan yang lain disodok sejajar dada.
Pedang besi tidak menduga kalau reaksi musuhnya begitu cepat, dia berkesiap dalam gugupnya tak sempat lagi mendesak mundur musuh, dia berusaha melindungi diri dari ancaman bahaya maut.
Mendadak dia menarik diri sambil menghindar kesamping, dengan membawa desingan tajam.
Kedua jari tangan kakek itu menyambar lewat persis disamping mukanya.
Berhasil meraih posisi diatas angin, kakek itu melejit setinggi tujuh delapan depa ketengah udara dan mengayunkan kembali sepasang tangannya kebawah.
Angin pukulan menderu-deru, kekuatannya betul-betul mengerikan hatisiapapun-Pedang besi sadar bahwa tenaga dalamnya amat sempurna, dia segera beradu kekerasan dengan lawannya.
Namun perubahan jurus sekarang kakek itu kelewat cepat, terdesak dalam posisi yang amat berbahaya, mau tak mau terpaksa dia harus mengayunkan pula sepasang tangannya kedepan untuk menyambut datangnya ancaman tersebut.
"Blaaaaammmmm......."
Begitu sepasang telapak tangannya saling beradu, terjadilah suara ledakan yang amat memekikkan telinga.
ditengah bertebaran abu dan pasir nampak kedua orang itu sama-sama tergetar mundur satu langkah kebelakang.
Dengan bentrokan barusan, kedua belah pihak sama-sama membuktikan bahwa kekuatan mereka ternyata berimbang sipedang besi segera berpikir dengan cepat.
"Tenaga dalamku hanya berimbang dengan kekuatan lawan, ini berarti bila ingin mengalahkan dia, aku harus mengandalkan ilmu pedangku."
Ia bisa berpendapat demikian karena dengan meng andaikan pedangnya, ia sudah malang melintang disepanjang sungai tiang kang tanpa menjumpai musuh tandingan itulah sebabnya dia berharap bisa mengubah pertarungan tangan kosong menjadi pertarungan senjata dengan begitu diapun bisa menunjukkan kebolehannya dalam permainan pedang besinya.
sementara itu sikakek hanya berhenti sejenak.
Tidak memberi kesempatan kepada musuhnya untuk berganti napas dia mendesak lebih jauh.
Ia sadar bila pedang besi tak berhasil dikalahkan berarti dia tak akan mampu menghadapi musuhnya satu melawan dua, ini berarti diapun tak mampu untuk merebut kembali nama baik Pek kut sinkun.
Itulah sebabnya begitu pertarungan berlangsung, dia segera mengerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya.
Dalampada itu sipedang besi telah mengambil keputusan, tanpa mengucapkan sepatah katapun dia menerobos maju ketengah arena sambil melancarkan sebuah bacokan langsung.
Kakek itu tidak menyangka kalau musuhnya berani bersikap memandang rendah terhadap dirinya.
Tiba-tiba muncul perasaan sedih dan gusar dihati kecilnya, bukan mundur dia bahkan mendesak maju kedepan.
Disambutnya ancaman lawan dengan keras melawan keras, sementara kakinya melepaskan sebuah sapuan kilat.
Pedang besi cepat-cepat membuang tubuhnya kebelakang dengan gerakanjembatan gantung, punggung ditekuk kebelakang nyaris menempel diatas permukaan tanah.
Dengan begitu sapuan dari sikakekpun hanya menyambar diatas lambungnya, begitu lolos dari ancaman, dia melejit bangun kembali sambil melancarkan cengkeraman maut.
serangan ini selain ganaspun sangat menyerempet bahaya, tentu saja kakek tersebut cukup mengetahui keadaannya, tapi sayang dia sendiripun berada dalam posisi berbahaya sehingga tak berkekuatan untuk melancarkan serangan balasan.
Dalam situasi semacam ini, sikakek tak berpikir panjang lagi, dia tahu andaikata senjatanya tidak diloloskan maka sulit baginya untuk lolos dari cengkeraman musuh.
Maka disaat tubuhnya menungging kebelakang, sepasang roda besinya segera diloloskan sambil menyodok kemuka.
Tak terlukiskan rasa gembira pedang besi ketika melihat musuhnya masuk perangkap.
sambil membentak dia melejit ketengah udara, dari situ dia meloloskan pedangnya dan langsung membacok kebawah dengan jurus "suara guntur menggetarkan bumi".
Merah padam selembar wajah sikakek setelah dipaksa meloloskan senjatanya tadi, kini diapun tak banyak berbicara lagi, sepasang roda besinya saling dibenturkan keras lalu diputar kencang menciptakan lingkaran-lingkaran cahaya yang amat menyilaukan mata.
Diantara deruan angin serangan yang mengguntur, tampak nyata kekuatan daya serangannya yang menggidikkan hati.
Pedang besi berpekik nyaring, sambil mengerahkan segenap tenaga dalamnya kedalam telapak tangan, tiba-tiba dia menerobos masuk kebalik lingkaran cahaya yang berlapis-lapis itu dan menari kian kemari bagaikan seekor burung hong.
Begitu indah dan manisnya gerakan tubuh pemuda ini sehingga memancing temcik sorak yang gegap gempita diseluruh arena.
Kedua orang itu sama-sama merupakan jago kelas satu didalam dunia persilatan, tak heran kalau gerak serangan mereka takpernah bisa digunakan hingga selesai, hal ini dikarenakan kecepatan perubahan jurus mereka yang luar biasa, kendatipun demikian, asal salah satu pihak bertindak salah, niscaya akan berakibat keadaan yang fatal.
Dalam waktu singkat sikakek telah merasakan bahwa ilmu pedang musuhnya betul-betul sangat hebat, banyak jurus serangannya yang begitu tangguh sehingga susah diduga sebelumnya.
Hal ini membuat perasaan hatinya bertambah terkesiap.
Rasa sedih, gusar dan ngeri seketika itu juga menyelimuti seluruh perasaan hatinya, tanpa berpikir panjang lagi tiba-tiba dia mengeluarkan ilmu langkah tujuh bintang.
senjata roda besinya diputar kencang dengan jurus "anak naga munculkan diri"
Kemudian langsung menyergap jidat musuh dengan membawa desingan angin tajam.
Tampaknya sipedang besipun mempunyai niat yang sama, dia berpekik nyaring.
Pedangnya diputar satu lingkaran ditengah udara dan meluncur kemuka.
"Traaaaaanngggg........"
Dengan cepatnya dua macam senjata itu saling membentur satu sama lainnya ditengah udara hingga menimbulkan percikan bunga api.
Rasa tegang yang semula mencekam perasaan pedang perak.
lambat laun mengendor kembali bersamaan dengan terjadinya perubahan ditengah arena, katanya kemudian.
"su sute telah berhasil mengembangkan jurus serangan tertangguh dari ilmu gedangnya secara lancar, aku yakin musuh tak akan mampu lolos dari ujung pedangnya dalam tiga gebrakan lagi."
Baru selesai dia berkata, terdengar kakek itu menjerit kesakitan dan mundur sejauh satu kaki dari posisi semula.
Ketika semua orang mengalihkan perhatiannya kedepan, tampak darah telah bercucuran membasahi lengannya, jelas sudah kakek itu telah menderita kekalahan total.
Dengan gaya yang dibuat sipedang besi segera menjura kearah lawannya seraya berkata.
"Maaf, maaf........"
Sambil berkata dia melangkah kembali kebaraknya.
sebaliknya kakek itu masih tetap berdiri diposisi semula smbil memandang keangkasa dan menghela napas panjang, entah sejak kapan terlihat titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya .
Melihat sikap sikakek itu, Pek kut sinkun yang berada dibarak sebelah barat segera bangkit berdiri dan berseru.
"Menang kalah dalam suatu pertarungan adalah kejadian yang lumrah. Hiante, harap pikiranmu lebih terbuka, cepatlah kembali kebarak."
Entah karena malu untuk bertemu lagi Pek kut sinkun, entah karena perasaan hatinya sedang dilanda kesedihan, ternyata kakek itu tidak mendengar suara teguran tersebut namun tetap mengawasi awan diangkasa sambil termangu-mangu.
Mendadak ia membentak keras, senjata roda raksasanya yang berat dihantamkan keatas kepalanya secara langsung.
Para penonton yang menyaksikan peristiwa itu kontan saja menjerit ngeri dan serentak melengos kearah lain.
Dalam waktu singkat ditengah arena telah bertambah dengan sesosok mayat yang berada dalam keadaan mengerikan-Tadi bila ditinjau dari perawakan tubuhnya, mayat tersebut jelas merupakan mayat sikakek tadi.
Pek kut sinkun segera meninggalkan baraknya mendekati mayat kakek tadi, lama sekali dia berdiri termangu-mangu didepan mayat, kemudian baru menitahkan orang-orangnya untuk menggotong pergi mayat tersebut.
Selama ini Pek kut sinkun tidak memberi pernyataan apa-apa, namun ketiga orang kakek yang berada disisinya telah mengepal tinjunya siap melakukan serangan.
Hingga sekarang putri Kim huan baru berani membuka matanya, akan tetapi melihat noda darah yang masih berceceran diatas tanah, cepat-cepat dia melengos kembali kearah lain dengan wajah pucat pias.
Entah sejak kapan, Pek kut sinkun telah muncul kembali ditengah arena sembari berkata.
"Aku tak ingin menunda-nunda lagi untuk memperebutkan kedua jenis mestika tersebut. Aku telah memutuskan untuk tampil sendiri mewakili pihakku seandainya terbukti akupun menderita kekalahan maka kedua jenis mestika tersebut akan kupersembahkan kepada kalian, kuharap dari pihak sembilan pedang segera mengirimkan wakilnya untuk bertarung melawanku."
Walaupun perkataan tersebut tidak diucapkan dengan suara keras, akan tetapi setiap orang dapat menangkap pembicaraannya secara jelas, hal ini menunjukkan bahwa tenaga dalamnya amat sempurna.
Jilid 27 Pedang perak tahu kalau Pek kut sinkun telah dibangkitkan amarahnya dan berniat turun tangan sendiri, meski dia sendiri tak takut menghadapi musuhnya itu, namun berhubung suhengnya hingga kini belum-juga munculkan diri, dia tak berani mengambil keputusan secara gegabah.
Perasaannya menjadi amat gelisah, bahkan mengumpat sipedang emas yang tidak menepati janji, menjelang pertarungan yang menentukan mati hidup ternyata dia belum-juga munculkan diri.
Mendadak terdengar putri Kim huan menjerit tertahan sambil melengos kearah lain, sewaktu pedang tembaga berpaling, dia saksikan seorang pemuda jelek berdandan aneh sedang mengerling dan main mata secara cabul kearah sinona.
Kejadian tersebut kontan saja membuat paras mukanya berubah hebat, segera pikirnya.
"Bocah keparat, dengan mengandalkan nama besar sembilan pedang dari dunia persilatan, kau simakhluk jelek pun berani memandang kekasihku dengan cara begitu. IHmmmm tampaknya ia sudah bosan hidup........"
Berpikir demikian dia segera bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju kearah arena. Mendadak sipedang perak melompat kemuka menghalangi jalan perginya, dengan suara dalam dia berseru.
"Sute, jangan bertindak gegabah, sebelum toa suheng datang. Kedudukannya biar kuwakili untuk sementara waktu."
Sambil berkata dia segera beranjak menuju ketengah arena pertarungan.
Dengan wajahnya yang lembut dan sikapnya yang tenang, pemunculan sipedang perak segera memancing tepuk tangan yang meriah dari para penonton bahkan ada pula yang segera berteriak keras.
"Itu dia, sipedang emas telah tampil sendiri kearena, dialah sipedang emas. Cepat kita tengok........"
Baru sekarang sipedang tembaga tahu kalau abang seperguruannya telah salah paham.
Tapi untuk menyaksikan kemampuan suhengnya dalam pertarungan tersebut, terpaksa dia menahan hawa amarahnya dan duduk kembali ketempat semula.
sementara itu pemuda jelek tadi sudah tertawa terkekeh-kekeh mendadak ia menarik ujung baju sitosu tua tadi dan menunjuk kearah sipedang tembaga sambil membisikkan sesuatu, tosu tua itu segera tertawa tergelak.
Wajahnya kelihatan bangga sekali.
Pedang tembaga yang mengikuti semua tingkah laku orang tersebut meski tak mendengar apa yang dikatakan sipemuda jelek kepada tosu tua tersebut, tapi ia bisa menebak kalau ucapannya tak akan lebih merupakan cemoohan.
Kontan saja hawa amarahnya bergelora dan hampir saja mau meledak.
Dengan sorot mata yang tajam bagaikan sembilu, pemuda jelek itu mengawasi terus kearah sinona, baru saja putri Kimhuan berpaling, cepat-cepat pemuda itu menundukkan kepalanya kembali .Jelas dia merasa takut untuk melihat sorot mata sipemuda jelek yang berhawa sesat dan sangat mengerikan itu.
Tampaknya pemuda jelek itu berhasrat besar untuk mendekati gadis terseut, melihat sinona tidak menggubris, sambil tebaikan muka dia segera berjalan mendekat.
Putri Kim huan menjadi terperanjat sekali ketika tiba-tiba dihadapannya muncul wajah jelek dari pemuda tadi, begitu kagetnya dia sampai menjerit tertahan.
Dengan muka cengar cengir pemuda jelek itu langsung duduk dihadapan sinona, bukan cuma begitu, dia malah melongok-longok keatas dengan sikap yang kurang ajar.
Cepat-cepat putri Kim huan merapatkan gaunnya, seakan-akan kuatir kalau pemuda jelek itu mengintip pahanya.
Tingkah laku pemuda jelek itu memang kelewat batas, apalagi dihadapan orang banyak berani mengintip bagian yang rahasia dari seorang gadis.
Pada hakekatnya perbuatan seperti ini merupakan perbuatan yang lebih rendah daripada binatang.
Paras muka sipedang tembaga berubah hebat, dia merasakan hawa panas yang menggelora didadanya mendidih, sambil membentak keras ia melompat turun dari barak dan sambil meloloskan pedangnya langsung membacok orang itu.
Pemuda jelek itu menjerit aneh sambil menhindarkan diri kesamping, dia hanya termangumangu tanpa berniat melancarkan serangan balasan.
Keadaan sipedang tembaga saat itu bagaikan orang yang kerasukan roh jahat.
secara beruntun dia melepaskan tiga buah serangan berantai dan semuanya ditujukan kebagian mematikan ditubuh lawan.
Dengan cekatan sekali pemuda jelek itu berputar kian kemari, dalam beberapa kali gerakan yang amat ringan dan sederhana.
Tahu-tahu saja dia sudah meloloskan diri dari semua sergapan musuh.
selama ini dia hanya berdiri termangu-mangu saja, sedikitpun tidak bermaksud melancarkan serangan balasan.
Pedang tembaga semakin sewot, dia tak ambil eprduli siapakah dirinya dan bagaimana kedudukannya didalam dunia persilatan.
Diapun tak perduli dengan cara apa pemuda jelek tersebut meloloskan diri dari sergapannya.
Dia hanya tahu, setiap kali bertemu dengannya, timbul perasaan muak dan sebal yang tebal dihatinya.
sementara itu putri Kim huan telah berganti posisi duduknya, diapun merasa amat benci dan berniat mencaci maki kebrutalan pemuda tersebut.
Setelah melihat pedang tembaga menyerangnya secara gencar, perasaan tersebut sedikit banyak baru merasa agak lega.
Berapa jurus serangannya yang gagal melukai musuh dengan cepat menyadarkan pula sipedang tembaga dari amarahnya, dengan cepat diapun berpikir.
"Berulang kali orang ini berhasil meloloskan diri dari serangan pedang ku, hal mana membuktikan kalau dia memiliki kemampuan yang luar biasa sekali. Aku harus berhati-hati menghadapi serangan balasannya."
Berpikir demikian, pikirannyapun menjadi lebih tenang, ia segera menegur dengan lantang.
"Sobat, siapa kau dan datang dari mana? Mengapa kau begitu tak tahu malu? Hmmm, apakah kau anggap ilmu silatmu sudah tiada tandingannya lagi didunia ini? Ayoh cepat kemukakan alasannya. Kalau tidak. hari ini aku sipedang tembaga akan membuatmu mampus ditengah genangan darah."
Pemuda jelek itu tertawa bodoh, tanpa mengucapkan sepatah katapun dia segera membalikkan badan dan beranjak pergi dari situ.
Agaknya dia seperti malas untuk melayani pertanyaan itu.
Tak terlukiskan rasa gusar sipedang tembaga, sambil tertawa ringan ia mendesak maju kedepan.
Lalu pedangnya langsung diayunkan kedepan menusuk punggung orang itu.
Pedang tembaga bukan manusia sembarangan, bila tertusuk oleh pedangnya maka besipun pasti berlubang, apalagi hanya tubuh yang terdiri dari darah dan daging.
Namun pemuda jelek itu seperti tidak merasakan datangnya sergapan itu, ia tetap melanjutkan perjalanannya dengan langkah lebar.
Pedang tembaga mendengus dingin, dia segera menghimpun tenaga dalamnya siap melancarkan serangan maut.
Mendadak.......
Disaat yang kritis itulah tiba-tiba dari sisi arena berhembus lewat segulung angin dingin yang tajam bagaikan pisau.
Begitu hebatnya sergapan tersebut membuat pedang tembaga amat terperanjat.
Tak sempat lagi untuk melukai musuhnya cepat-cepat dia melejit kebelakang sejauh satu kaki lebih.
Ternyata orang yang melancarkan sergapan tersebut tak lain adalah tosu tua berambut putih.
Pedang tembaga sadar bahwa musuhnya memiliki kepandaian silat yang sudah mencapai pada puncaknya dan jelas ia bukan tandingannya, untuk sesaat dia menjadi tertegun.
tosu tua berambut kuning itu tertawa cengir lalu mengikuti dibelakang pemuda jelek tadi beranjak meninggalkan tempat tersebut.
sampai lama sekali pedang tembaga berdiri tertegun, seingatnya tiada jagoan semacam ini dalam dunia persilatan.
Akhirnya ia mendepak-depakkan kakinya dengan gemas dan kembali kedalam baraknya.
Dalam pada itu sipedang perak dan Pek kut sinkun yang berada dittngah arena telah saling memberi hormat dan mengambil posisi masing-masing.
Dalam waktu sekejap suasana disekitar situ menjadi sepi sekali hingga tak kedengaran sedikit suarapun.
Pedang perak telah meloloskan pedangnya sambil bersiap sedia melancarkan serangannya.
sementara ituPek kut sinkun telah melepaskan pula kain pengikat kepalanya sehingga membiarkan rambutnya yang panjang terurai dibahunya.
Iapun bersenjata sebilah pedang bercahaya hijau.
Dilihat dari hiasan cahayanya yang menggidikkan, dapat diketahui bahwa senjata yang dipergunakan adalah sebilah pedang mestika.
Mendadak sepasang pedang saling berkelebat lewat lalu terlihatlah dua orang itu bergerak pelan mengitari arena.
Hanya sekarang paras muka sipedang perak telah berubah menjadi amat berat dan serius sekali.
Mendadak......
Tampak sesosok bayangan manusia berkelebat lewat dengan kecepatan yang luar biasa, begitu cepatnya sehingga tak sempat melihat dengan jelas raut mukanya.
Tahu-tahu saja orang tersebut sudah muncul ditengah arena dengan tenangnya, hal ini membuktikan kalau orang tersebut memiliki ilmu meringankan tubuh yang amat sempurna.
orang ini berperawakan tinggi, jangkung, mukanya ditutupi dengan selembar kain berwarna hijau.
sejak kemunculannya ditengah arena, manusia berkerudung itupun tidak mengucapkan sepatah katapun, apa yang hendak diperbuat orang tersebut?
sementara itu sipedang perak sudah mengetahui siapa yang hadir, tiba-tiba ia memberi hormat seraya berkata.
"Toa suheng, mengapa hingga sekarang kau baru datang? Apakah telah terjadi sesuatu?"
Dengan cepat para hadirinpun menjadi sadar, ternyata manusia berkerudung ini adalah pemimpin dari sembilan pedang, sipedang emas.
Tapi mengapakah dia munculkan diri dengan menutup mukanya?
Apa maksud tujuannya?
sementara itu sipedang tembaga, pedang besi, pedang kayu, pedang air, pedang api, pedang tanah, dan pedang bintang telah berhamburan dari barak untuk memberi hormat kepada toa suhengnya.
Dengan cepat sipedang emas membalas hormat adik-adik seperguruannya, kemudian baru berkata kepada Pek kut sinkun.
"sinkun, bolehkah aku berbicara sebentar dengan adik seperguruanku.........?"
"Anda terlalu sungkan"
Sahut Pek kut sinkun cepat, ia segera bergeser dari posisinya semula. sesudah memberi hormat, sipedang emas berkata kepada pedang perak.
"Sekalipun sute tidak berkata apa-apa, namun akupun tahu dihati kecilmu pasti menyalahkan aku yang sudah datang terlambat. Padahal aku bisa tiba disini dengan selamatpun sudah merupakan suatu keberuntungan besar bagiku."
"Apa maksud perkataan itu?"
Buru-buru pedang perak bertanya. Pedang emas memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, lalu katanya lagi dengan suara dalam.
"sampai sekarang aku tetap masih keheranan, padahal antara aku dengan manusia aneh tersebut boleh dibilang tidak saling mengenal. Tapi dia justru selalu mencari gara-gara denganku bahkan mendesakku untuk bertarung dalam keadaan seperti ini, terpaksa aku harus bertarung sebanyak ratusan jurus dengannya sebelum berhasil menaklukkan dirinya. seingatku, tidak banyak jagoan selihay ini didalam dunia persilatan dewasa ini. semestinya dia terhitung manusia kenamaan tapi nyatanya aku tetap tak berhasil mengenali siapakah dirinya."
"Apakah dia telah menyebutkan namanya?"
Tanya pedang perak segera dengan hati berdebar.
"Yaa, namanya aneh sekali....."
Sahut pedang emas dengan suara yang rendah. Belum sempat perkataan itu selesai diucapkan, pedang perak telah berkata lebih duluan.
"Tahu, aku namanya menggunakan kata Nirlama bukan?"
Pedang emas menjadi tertegun segera bertanya.
"sute apakah kaupun berjumpa dengan......."
Dengan perasaan berat pedang perak mengangguk sahutnya sambil menghela napas.
"Ya a, orang yang siaute jumpai adalah Nirmala nomor sepuluh dan Nirmala nomor sebelas bagaimana dengan suheng?"
"Nirmala nomor sembilan-"
Paras muka pedang perak berubah sangat hebat gumamnya.
"Toa suheng, semenjak menemui peristiwa aneh itu siaute selalu memutar otak untuk memecahkan masalah ini, kini setelah toa suheng jelaskan maka siautepun menjadi lebih paham, terbukti sudah bahwa apa yang siaute duga memang benar. Nirmala nomor sepuluh jelas merupakan orang kesepuluh, atau dengan perkataan lain masih ada orang yang bernomor satu sampai sembilan. Aaaai, semula siaute berharap nomor itu bukan nomor urut, sebab ilmu silat mereka kelewat hebat, tapi nyatanya apa ang kukuatirkan akhirnya terjelma juga........."
"Apakah sute mengetahui asal usul orang ini?"
Tanya pedang emas sambil maju selangkah.
"siaute amat menyesal, percuma aku berkelana dalam dunia persilatan selama ini, siaute tak mengetahui asal usul dari Nirmala nomor sepuluh........"
"Tampaknya mereka merupakan sisa musuh besar semasa suhu masih hidup dulu. Tapi siaute tak perlu putus asa, musuh datang kita hadapi, air datang bendung. Asal kita sembilan bersaudara bersatu padu, aku yakin orang-orang dari dewi nirmala bisa kita hadapi."
Mencorong sinar tajam dari balik mata pedang perak setelah mendengar perkataan itu, katanya.
"Perkataan toa suheng memang benar, yang bernama dewi nirmala hanya satu orang, sedang nirmala sepuluh sekalian tak lebih hanya manusia-manusia yang diperalat olehnya. Dengan nama besar kita didalam dunia persilatan, apalagi yang mesti kita takuti?"
"oya, masih ada satu persoalan lagi hampir saja kulupakan....."
Dengan sorot mata yang tajam pedang emas mengawasi adik seperguruannya lekat-lekat.
"Aku dengar situa bangka Malaikat pedang berbaju perlente telah menyerahkan seluruh kepandaian silatnya kepada seseorang yang bernama "Kim Thi sia"
Menjelang saat ajalnya. Benarkah ada peristiwa semacam ini.......?"
Dengan perasaan berat pedang perak manggut-manggut.
"Ya a, memang ada kejadian seperti ini, Kim Thi sia dengan bakat anehnya telah mendapatkan warisan ilmu silatnya, bahlan kemampuannya kian hari kian menonjol. Namun kelemahannya masih banyak bila bertemu lagi lain waktu, aku yakin tidak sulit untuk membereskannya......"
"Bagus sekali, kalau begitu kuserahkan pelaksanaan tugas ini kepadamu........"
Mendadak sipedang perak seperti teringat akan sesuatu, dengan dingin katanya.
"Toa suheng, masih ada satu persoalan lagi yang mungkin tidak kau ketahui, belakangan ini sam sute telah jatuh cinta kepada seorang gadis cantik, segala tingkah lakunya hampir boleh dibilang dikendalikan gadis tersebut, peristiwa ini menimbulkan perasaan tak puas bagi sute lainnya. Menurut pendapatmu apa yang harus kita lakukan?"
Tanpa terasa sipedang emas mendongakkan kepalanya menengok sekejap kearah pedang tembaga, lalu beralih kewajah putri Kim huan, setelah itu tanyanya pelan.
"Kau maksudkan nona bergaun panjang itu. Dia berasal dari mana?"
"Berbicara soal indentitasnya, dia mempunyai asal usul yang luar biasa, dia adalah putri Kesayangan raja negeri Kim dan bernama putri Kim huan. Hal ini disebabkan rambutnya selalu digulung dengan gelang emas, justru karena dia berasal dari keluarga bangsawan. wajahnyapun amat cantik, pedang tembaga tergila-gila olehnya dan rela takluk dibawah gaunnya."
"sungguh memalukan"
Ucap gedang emas tak senang hati.
"kalau orang ini memang sudah tergila-gila oleh perempuan, jangan serahkan tugas-tugas penting kepadanya......."
Jelas sudah, sipedang emas berniat menyingkirkan atau mengucilkan sipedang tembaga dari pergaulan mereka.
Pedang perak tertawa dingin, melihat toa suhengnya sudah naik darah, diapun tak banyak berbicara lagi.
Pedang emas berkata kemudian.
"sekarang kau boleh kembali dulu kebarak biar aku yang membereskan Pek kut sinkun-"
Habis berkata dia segera berjalan menuju kehadapan Pek kut sinkun dengan langkah lebar, katanya kemudian sambil tertawa sungkan.
"sinkun, maaf kalau terpaksa harus menunggu agak lama. sekarang kita boleh mulai bertarung."
Melihat sipedang emas yang bernama besar tidak menggunakan senjata, Pek kut sinkun segera menyimpan kembali pedang mestikanya, sambil menjura ia berkata.
"Aku dengan anda mempunyai suatu pertarungan yakni tak akan menyerang lebih dulu benarkah begitu?"
"silahkan sinkun melancarkan serangan lebih dulu"
Ucap sipedang emas sambil tertawa.
sewaktu berbicara hawa murninya telah dihimpun kedalam telapak tangannya.
Pek kut sinkun tidak sungkan-sungkan lagi ditengah pekikan nyaring telapak tangan kirinya segera diayunkan kedepan melancarkan sebuah pukulan dahsyat.
Dalam serangan tersebut sama sekali tak nampak deruan angin pukulan, tapi pedang emas yang berpengalaman cukup mengetahui akan kelihayan ancaman tersebut.
Tiba-tiba dia berpekik nyaring, menggunakan kesempatan tersebut hawa murninya segera dipancarkan keluar dari seluruh tubuhnya.
Melihat pihak lawan tanpa menggeser kaki sudah berubah arah, Pek kut sinkin segera mengetahui kalau musuhnya memiliki ilmu langkah silang yang sakti.
Maka sebelum serangan tangan kirinya itu selesai dilontarkan tiba-tiba dia menyapu kekanan, segulung tenaga pukulan yang dahsyat pun meluncur kedepan.
Pedang emaws sedikitpun tak gentar, tiba-tiba tubuhnya yang tinggi besar melejit ketengah udara dan berhenti berapa detik disitu.
Disaat itulah dia telah menghimpun kembali kekuatannya.
Dalam waktu singkat dia telah beberapa kali menggerakkan kakinya untuk berubah posisi.
sedemikian cepatnya tersebut dilakukan sehingga sukar untuk diikuti dengan mata telanjang.
Pek kut sinkun segera merasakan munculnya sebuah tangan yang lincah bagaikan seekor ular menembusi dan menerjang lingkaran angin serangan yang dipancarkan olehnya.
Dia tahu inilah hasil dari ilmu langkah menyilang yang amat dahsyat itu.
Dalam keadaan begini dia tak sempat berganti jurus lagi sehingga mendengus keras-keras.
Padahal waktu itu tangan sipedang emas sudah hampir menempel diujung bahu, tapi begitu Pek kut sinkun mendengus, tahu-tahu serangan tadi telah memental balik kebelakang bahkan bergetar mundur dua langkah kesisi kiri siapapun tak akan menyangka kalau dibalik dengusan Pek kut sinkun sesungguhnya terkandung daya kekuatan yang luar biasa, bahkan boleh dibilang keberhasilan Pek kut sinkun mengangkat nama didalam dunia persilatanpun dikarenakan kehebatan tenaga khikang dengusannya itu.
Pedang emas terkesiap.
baru sekarang dia tahu kalau musuhnya memiliki kepandaian mendengus yang luar biasa.
Dengan cepat Pek kut sinkun memanfaatkan kesempatan yang sangat baik ini untuk mendengus beberapa kali, seketika sipedang emas terdesak mundur terus berulang kali.
Delapan jago pedang dibarak sebelah barat mulai merasa tegang ketika melihat pedang emas terdesak hebat, serentak mereka bangkit berdiri dari tempat duduk masing-masing dan menguatirkan keselamatan toa suhengnya.
Pedang emas yang berulang kali didesak hingga mundur sejauh delapan langkahpun mulai naik darah dibuatnya, kali ini dia tak mundur lagi, tiba-tiba ia mendongakkan kepalanya dan berpekik nyaring, suaranya keras membumbung tinggi keangkasa.
Tampak dia bertekuk lutut membuat tubuhnya lebih pendek separuh bagian, tetapi serangan Pek Kut sinkun dengan ilmu mendengusnya bagaikan mercon yang meledak secara beruntun meluncur keluar tiada hentinya menghantam diatas dadanya hal ini membuat tubuhnya gontai kian kemari tiada hentinya.
Peluh sebesar kacang kedelai telah jatuh bercucuran membasahi jidat pedang emas akan tetapi sinar matanya justru kelihatan bertambah tajam menggidikkan hati.
Pek kut sinkun segera mendesak maju lebih kedepan, walaupun ilmu dengusannya berhasil mencabik-cabik pakaian yang dikenakan lawan, namun ia sendiripun merasakan akibatnya.
Bagaikan kerbau kesakitan, gerakannya semakin lamban dan berat.
Mendadak ia melejit ketengah udara setinggi tiga kaki lebih, tindakan tersebut tentu saja mencengangkan hati semua orang, mengapa Pek kut sinkun tidak memanfaatkan kesempatan itu untuk mendesak musuhnya habis-habisan?
Mengapa dia justru melejit ketengah udara dan memberi kesempatan kepada musuhnya untuk mengatur napas.
Namun baru saja tubuhnya mencapai tengah udara, mendadak Pek kut sinkun seperti kehilangan seluruh kekuatan tubuhnya, bagaikan layang-layang yang putus tali tubuhnya terjatuh dari tengah udara dan roboh terguling diatas tanah.
Yang lebih aneh lagi, Pek kut sinkun yang semula nampak gagah perkasa dan lincah bagaikan naga, kini sudah tak sanggup untuk merangkak bangun kembali.
sipedang emas sama sekali tidak menggubrisnya lagi, dia mendongakkan kepalanya dan menarik napas panjang-panjang, kemudian duduk diatas tanah dengan letihnya, terhadap urusan disekelilingnya boleh dibilang dia tidak memperdulikan lagi.
Diantara semua yang hadir mungkin hanya kawanan jago berilmu tinggi yang mengetahui duduk persoalan yang sebenarnya .Jelas Pek kut sinkun sudah menderita kekalahan karena menderita tenaga pantulan yang dihasilkannya sendiri, bahkan kemungkinan besar isi perut Pek kut sinkun telah menderita luka yang amat parah.
Dengan cepat tampak bayangan manusia berkelebat lewat, muncul seorang jago yang segera memeriksa napas Pek kut sinkun, disusul kemudian dari barak sebelah timur.
Muncul lagi delapan orang jago pedang yang bersama-sama menyebarkan diri disekitar arena dan membentuk jaring manusia disitu, namun tak seorangpun diantara mereka yang berani mengusik sipedang emas.
Peristiwa ini dinilai sangat janggal oleh para penonton-Rata-rata mereka dibuat tercengang dan tak habis mengerti, ada pula yang berpikir dalam hatinya.
"Mungkinkah menang kalah sudah diketahui hasilnya? Tapi siapa yang menang dan siapa yang kalah?"
Tak selang berapa saat kemudian Pek kut sinkun telah digotong kembali kebarak sebelah timur. Kemudian seorang kakek berjenggot pendek munculkan diri dan berkata dengan suara dalam.
"Menang kalah antara Pek kut sinkun melawan sembilan pedang dari dunia persilatan telah ditetapkan. Aku harap bagi mereka yang tiada persoalan lagi disini untuk segera meninggalkan tempat serta kembali kerumah masing-masing."
Mendengar perkataan tersebut, para penontonpun beramai-ramai membubarkan diri dari situ.
Ketika datang mereka muncul bagaikan air bah, waktu pergi merekapun menyusul lebih cepat dari air.
Dalam waktu singkat semua orang telah meninggalkan tempat tersebut.
Menanti para hadirin telah mengundurkan diri, kakek berjenggot pendek itu baru berkata lagi kepada sipedang perak.
"sinkun telah menemui ajalnya, hutang piutang pun kita akhiri sampai disini saja. Barang yang anda harapkan akan segera kuurus orang untuk mengambil, harap kalian menunggu sebentar."
Ketika selesai mengucapkan perkataan itu, air mata nampak jatuh bercucuran membasahi wajah kakek tersebut.
Jelas terlihat ia amat sedih hanya saja rasa sedihnya tak sampai diutarakan keluar.
tak selang berapa saat kemudian muncul dua orang lelaki kekar yang membawa dua bungkusan.
sebuah adalah pedang mestika sepanjang empat depa, sedang yang lain adalah sebuah kotak yang dibungkus dengan kain sutera......
sipedang perak tampilkan diri mewakili toa suhengnya untuk menerima hasil kemenangan mereka, saat itu juga dia periksa kedua benda tadi.
setelah terbukti benda tersebut bukan barang palsu, dia baru berkata kepada sikakek sambil tertawa.
"Bagi pertarungan antara jago-jago lihay, menang kalah memang tak bisa ditentikan secara aman dan selamat. Nasib buruk yang menimpa Pek kut sinkun amat memedihkan hati kami semua. Kami hanya bisa berharap arwahnya beristirahat dengan tenang dialam baka. Lo enghiong, kaupun tak usah sedih, toh manusia tentu akan mati pada akhirnya biar sekarang tak mati, siapakah yang bisa lolos dari simaut?"
Kakek itu tidak berkata apa-apa, ia membalikkan badan dan pergi meninggalkan tempat tersebut, tak lama kemudian para jago yang berkumpul dibarak sebelah timur pun bubaran semua.
Kini ditengah arena yang luas hanya tinggal putri Kim huan serta sembilan pedang dari dunia persilatansementara itu sipedang tembaga telah menarik putri Kim huan kesamping serta bisiknya lirih.
"Aku rasa nona tentu menyukai pedang Leng gwat kiam tersebut bukan? sebentar akan kumintakan benda tersebut dari toa suheng, pasti akan kuberikan pedang itu kepadamu."
Menyaksikan pedang leng gwat tersebut, tanpa terasa putri Kim huan teringat pula akan kesalahan pahamnya dengan Kim Thi sia.
sebetulnya dia ingin menampik, tapi entah mengapa ketika ucapan hendak meluncur dari ujung bibirnya, satu ingatan aneh melintas didalam benaknya.
Ia segera manggut-manggut dan berkata.
"Kau benar-benar baik sekali kepadaku, bila ada kesempatan aku tentu akan berterima kasih kepadamu."
"ooooh, tidak usah. Nona tak usah sungkan-sungkan terhadap diriku"
Jawab sipedang tembaga cepat.
sedang dihati kecilnya dia mengulangi kembali apa yang terdengar tadi, rasa hangat dan mesrah menyelimuti perasaanku, membuat dia berseri dan gembira sekali.
Dipihak lain, sipedang emas telah pulih kembali kesehatannya sesudah bersemedi sebentar, sambil bangkit berdiri dia berkata.
"Apakah mestikanya sudah diperoleh?"
"Yaa, semuanya berada disini"
Jawab pedang perak.
sambil berkata dia menyodorkan pedang Leng gwat kiam dan kotak sutera itu kehadapannya.
Tanpa sungkan-sungkan sipedang emas mengambil kotak tersebut dan dimasukkan kedalam saku, tapi pedang Leng gwat kiam tidak diambilnya, sambil tertawa ia berkata.
"Kesembilan pedang mestika kita sudah cukup termashur dalam dunia persilatan, aku rasa pedang tersebut tidak kita butuhkan lagi, bila diantara kalian ada yang tertarik dengan pedang Leng gwat kiam ini, ambillah saja....."
Dengan cepat sipedang besi berseru.
"Pedang mestika ini cukup berguna bagiku. Toa suheng, bagaimana kalau dihadiahkan saja kepadaku?"
Belum sempat sipedang emas memberikan-jawabannya, sipedang tembaga telah menampilkan diri seraya berseru pula.
"siaute juga menginginkan pedang mestika itu........"
Dengan pandangan dingin sipedang emas melirik sekejap kearahnya lalu berkata.
"Ilmu silat yang dimiliki sam sute jauh lebih hebat daripada sute, aku rasa pedang leng gwat kiam lebih berguna bagi sute"
Putri Kim huan yang mendengar perkataan itu dengan cepat berpikir.
"Diberikan kepada siapapun sama saja, toh akhrirnya akan diberikan juga kepadaku."
Maka diapun mengerlingkan senyuman genit kepada sipedang besi membuat pemuda tadi kontan saja terpesona. sementar itu pedang perak telah berkata pula.
"Perkataan toa suheng memang benar kalau begitu serahkan saja gedang leng gwat kiam ini untuk adik keempat."
Dengan wajah berseri-seri karena gembira sipedang besi segera menerima pedang tersebut tentu saja kejadian ini menggusarkan hati pedang tembaga.
Diam-diam dia mencaci maki ketidak adilan toa suhengnya sehingga membuat dia kehilangan muka dihadapan gadis pujaan hatinya.
Perasaan murung, masgul dan tak senang hati yang mencekam perasaannya membuat dia segera melimpahkan semua rasa benci itu kepada sipedang besi pikirkan lagi.
"Hmmm, sekarang kau jangan keburu berkenang hati, suatu saat aku pasti akan memberi pelajaran yang setimpal kepadamu."
Sipedang besi telah menggantungkan pedang Leng gwat kiam dipinggangnya tentu saja dia enggan menyerahkan pedang tersebut kepada putri Kim huan dihadapan orang banyak.
Dia ingin mencari kesempatan yang baik dikemudian hari sekalian mencurahkan isi hatinya kepada gadis tersebut.
Pedang emas telah beranjak berapa langkah ketika mendadak berhenti lagi seraya berkata.
"sekarang aku masih ada urusan penting yang harus diselesaikan. sementara ini aku hendak mohon diri dulu kepada sute sekalian, harap kalian bisa menjaga diri baik-baik sepanjang jalan."
Sebelum berangkat, dia memanggil pedang tembaga untuk menghadap lalu dengan wajah serius berkata.
"Aku dengar belakangan ini sam sute sedang tergila-gila oleh wanita cantik hingga menimbulkan hubungan yang kurang menggembirakan diantara sesama saudara seperguruan. Apakah benar demikian?"
Tidak menanti sipedang tembaga membentak kembali dia berkata lebih lanjut.
"Walaupun putri Kim huan memiliki kecantikan wajah yang melebihi bidadari dari khayangan sehingga siapapun akan terpesona bila melihatnya, tapi sam sute harus ingat puluhan tahun kemudian dia toh akan berubah menjadi seonggokan tulang belulang janganlah dikarenakan terburu oleh napsu sehingga melupakan pendidikan yang pernah diterimanya dimasa silam."
Pedang tembaga menundukkan kepalanya rendah-rendah, tanyanya agak tergagap.
"Toa suheng mendengar kesemua ini dari siapa?"
"Kau tak usah tahu siapa yang mengatakan, aku hanya minta kepadamu untuk mengingat baikbaik semua perkataanku ini."
Setelah berhenti sejenak. kembali dia menambahkan.
"Kau harus membayangkan kembali asal usulmu, kau tak lebih hanya putra siraja laba-laba atau lebih tegasnya ayahmu tak lebih cuma pentolan perampok disuatu wilayah berbicara kedudukanmu sekarang maka kau tak bakal serasi untuk mendampingi gadis tersebut dalam perkawinan yang bahagia daripada hidup sengsara dikemudian hari mengapa kau tidak melepaskan diri dari kemelut cinta mulai sekarang juga. Apa salahnya bila kau curahkan semua perhatianmu untuk menggalang sesuatu usaha besar?"
"Toa suheng tak usah salah paham, aku tidak menaruh harapan apa-apa terhadapnya."
"Hmmm, tak nyana kau mampu berkata begitu"
Bentak sipedang emas.
"Apakah kau bermaksud mempermainkan orang lain?"
Sipedang tembaga terbungkam dalam seribu bahasa, sampai lama kemudian dia baru berkata.
"Toa suheng, kau jangan marah kepadaku lagi, aku akan teringat selalu dengan perkataanmu itu."
Selesai berkata dia segera membalikkan badan dan meninggalkan tempat tersebut tanpa memperdulikan sipedang emas lagi.
Pedang emas tahu kalau adik seperguruannya pergi dtngan perasaan mendongkol.
Walaupun ia merasa tak senang hati akan tetapi tak ingin bentrok pula dengannya, maka setelah berhenti sejenak.
sambil menahan rasa gusarnya, diapun beranjak pergi meninggalkan tempat tersebut.
sepeninggal pedang emas, pedang kayu, pedang air, pedang tanah dan pedang bintang sekalianpun berpamitan dan pergi untuk melakukan kesibukan masing-masing.
sedang rombongan semulapun kini berlalu pula dalam rombongan yang tak berbeda, seperti sipedang perak.
pedang tembaga dan besi, mereka tetap bergabung dalam satu rombongan tanpa kurang satu kelebihan seorangpun......
sepanjang jalan sipedang perak menunjukkan sikap yang dingin dan hambar, dia tak mengucapkan sepatah katapun sehingga menimbulkan perasaan yang susah diraba oleh orang lain.
Pedang tembagapun dicekam oleh perasaan yang tak menentu, dia tak habis mengerti siapa yang telah membocorkan persoalan tersebut kepada toa suhengnya, perasaan tak senang membuat diapun segan banyak berbicara.
sipedang besi menganggap kesempatan baik telah tiba, ia segera mendekati putri Kim huan dan berbisik pelan.
"Apa yang pernah kujanjikan kepadamu selamanya tak pernah kuingkari kembali. Coba lihat, bukankah pedang leng gwat kiam telah kembali ketanganmu lagi?"
Putri Kim huan segera tertawa merdu.
"Dugaankupun tak keliru, aku tahu kau adalah seseorang yang amat menepati janji."
Pedang besi kegirangan setengah mati, kembali dia berkata.
"Aku tahu suheng menaruh minat yang amat besar kepadamu. Karenanya sepanjang hari hatiku tak gembira, tahukah kau apa yang sebetulnya membuat hatiku risau dan murung?"
Putri Kim huan tidak menjawab, dia adalah gadis yang cerdik, sejak kecilpun sudah sering bergaul dengan putra-putra bangsawan.
sudah barang tentu diapun memahami lain dari perkataan sipedang besi.
Terdengar sipedang besi berkata lagi.
"Antara aku dengan Kim Thi sia sesungguhnya tak pernah terikat dendam sakit hati Tapi tahukah kau kenapa aku sering menganiaya serta mencemooh dirinya?"
"Aaaaai......."
Putri Kim huan menghela napas panjang.
"Aku tahu kau menaruh simpatik terhadap musibah yang menimpa diriku, maka saban kali melihat ada orang hendak menganiaya diriku, kau jadi berang dan timbul keinginan untuk membelaiku."
Jawabannya amat diplomatis dan tepat sekali membuat sipedang merasa tak perlu untuk melanjutkan kata-katanya lagi.
Padahal sipedang besipun tahu bahwa sinona sengaja hendak memotong pembicaraannya, tapi dia tidak ambil perduli.
Baginya asal nona itu tidak mengacuhkan dirinya hal ini sudah lebih dari cukup baginya.
Tiba-tiba sipedang tembaga mendengus dingin dan maju mendekat, katanya sambil mengulurkan tangannya.
"su sute, bolehkah kupinjam sebentar pedang leng gwat kiam tersebut........?"
Jawab sipedang besi sambil tertawa getir.
"siaute telah menghadiahkan pedang leng gwat kiam kepada nona, bila suheng ingin meminjam, pinjamlah langsung kepada nona."
Secara manis sekali dia telah memutar balikkan persoalan untuk menghadapi abang seperguruannya, dengan tindakan tersebut boleh dibilang sekali tepuk mendapat dua hasil.
Bukan cuma pedang tersebut telah diberikan kepada putri Kim huan, diapun dapat menjatuhkan abang seperguruannya dihadapan gadis tersebut.
Mimpipun sipedang tembaga tidak menyangka kalau adik seperguruannyapun begitu licik dan cerdik, saking mendongkolnya ia mengumpat kalang kabut dihati kecilnya.
Mendadak ditengah jalan didepan situ muncul seseorang yang berdiri menghalangi jalan pergi mereka tatkala keempat orang itu mendongakkan kepalanya, mereka segera kenali orang tadi sebagai sipemuda jelek berdandan aneh yang tak mengenal rasa malu itu.
Melihat kemunculan orang tersebut, putri Kim huan merasa amat terkesiap bagaikan disengat ular berbisa, tubuhnya kontan gemetar keras, tanpa sadar dia mundur berapa langkah hingga berdiri berjajar disamping sipedang perak.
Mengendus bau harum yang tersiar keluar dari tubuh sinona pedang perak merasakan hatinya terangsang.
Namun dia adalah seorang yang berperhitungan luas, perasaan tersebut sama sekali tak diperlihatkan diluar wajahnya....
"Kenapa nona ketakutan?"
Ia berbisik kemudian.
"Apakah kau kenal dengan dirinya?"
Belum selesai perkataan itu diucapkan terdengar sipedang tembaga sudah membentak keras sambil menerjang kearah pemuda jelek itu.
sebaliknya paras muka putri Kim huan berubah menjadi merah padam bagaikan kepiting rebus, dia teringat kembali apa yang belum lama dialaminya dengan pemuda jelek tersebut.
Mendadak tampak sesosok bayangan manusia melayang turun dari atas pohon sambil melepaskan sebuah pukulan.
Angin serangan yang menyambar dengan hebatnya seketika memaksa sipedang tembaga tergetar mundur satu langkah.
Begitu hebatnya kepandaian silat sipendata ng membuat pedang perak yang berilmu tinggipun dibuat terperanjat sekali, apalagi sipedang besi.
Ketika berhasil memukul mundur sipedang tembaga, orang itu menerjang pula sipedang perak.
Agaknya sipedang perak cukup mengetahui akan kelihayan musuhnya.
Dia melepaskan sebuah pukulan dahsyat disusul kemudian pedangnya diloloskan dari sarung.
Pendatang tersebut hanya berhenti sejenak untuk menyambut serangan sipedang perak dengan keras melawan keras.
Kemudian meneruskan terkamannya kearah putri Kim huan, beberapa gerakan ini dilakukan olehnya dalam waktu singkat dengan kecepatan yang mengerikan hati.
Pedang perak sadar kalau telah bertemu musuh tangguh, sejak permulaan pertarungan dia telah mengeluarkan ilmu pukulan Hud tim ciangnya untuk menghadapi serangan musuh.
Pendatang tersebut segera tergetar mundur satu langkah, dengan begitu maka wajahnyapun terlihat jelas, ternyata dia adalah sitosu tua berambut kuning itu Berhasil memukul mundur musuhnya dengan dahsyat, pedang perak segera membentak keras.
"Hey tosu tua, kau sungguh tak tahu adat, kenapa kau tidak mencari berita dulu siapakah diriku ini?"
Tosu tua berambut kuning itu tertawa lebar tanpa menjawab.
Pedang perak semakin gusar, tiba-tiba dia menerjang maju kemuka sambil melepaskan sebuah pukulan dahsyat.
Tosu tua berambut kuning itu menyambut datangnya serangan dengan keras melawan keras, tapi sesaat sebelum keempat tangan saling beradu, mendadak ia melejit ketengah udara dan berkelebat lewat melalui atas kepala pedang perak.
Dengan suatu gerakan yang cepat sekali tosu tua itu menyambar tubuh putri Kim huan kemudian kabur ke depan dengan kecepatan tinggi.
Tampak bayangan kuning berkelebat lewat, hanya didalam berapa kali kelebatan saja tubuhnya sudah lenyap dibalik pepohonan sana.
Sekujur badan putri Kim huan gemetar keras, dia hampir pingsan saking kaget dan paniknya, beberapa kali dia mencoba untuk meronta dengan sepenuh tenaga, akan tetapi dalam pelukan tosu tua berambut kuning itu, dia tak mampu berkutik barang sedikit pun Menggunakan kesempatan disaat ketiga orang pemuda itu berdiri tertegun, dengan cepat pemuda jelek itu menyelinap pula kedalam hutan.
Menanti ketiga orang itu berpaling bayangan tubuhnya telah lenyap pula daripandangan mata.
Melihat kekasih hati mereka diculik orang tanpa sempat menolongnya pedang tembaga danpedang besi menjadi gusar sekali.
Mereka berpekik nyaring dengan penuh amarah.
Pedang perakpun menghentakkan kakinya keatas tanah seraya berseru.
"Kegagalan kita untuk melindungi nona tersebut hakekatnya merupakan pecundang besar untuk kita bertiga. Bila nona tersebut tak bisa dikejar balik, kita bakal kehilangan muka dikemudian hari. Ayoh cepat kita bertiga melakukan pengejaran secara terpisah."
Karena keraguan itu, sitosu tua berambut kuning tadi sudah kabur jauh beberapa li dari posisi semula. Disuatu tempat dia menurunkan putri Kim huan dari bopongannya lalu mengancam.
"Bocah perempuan, kau jangan mencoba melarikan diri, ketahuilah ilmu meringankan tubuhku ibarat burung yang terbang diangkasa kemanapun kau mencoba untuk melarikan diri aku akan tetap bisa membekukmu kembali dan waktu itu. Heeeeeh.....heeeeeh........tidak sedikit jago lihay didalam dunia persilatan yang berubah menjadi iblis ditanganku apalagi dia hanyalah seorang bocah perempuan seperti kau."
Putri Kim huan ketakutan setengah mati, tubuhnya gemetar keras, dengan kecantikan wajahnya dia nampak begitu mengenaskan sekali.
Tosu tua berambut kuning itu menjadi tak tega melihat gadis tersebut bercucuran air mata, cepat dia menghibur.
"Padahal kaupun tak usah takut, walaupun wajahku jelek dan tak sedap dipandang, namun orangnya ramah sekali. Asal kau tidak melakukan perbuatan yang bertentangan dengan perasaan hatiku, sudah barang tentu akupun tak akan mencelakaimu."
Sementara itu pemuda jelek tadi salah muncul diri, bertemu dengan putri Kim huan dia tak berkata apa-apa, tapi seperti perbuatannya tadi, ia mengamati gadis tersebut dari atas hingga kebawah lalu tertawa terkekeh-kekeh dan menggigit ujung telunjuknya dengan bangga.
Putri Kim huan ngeri sekali bertemu dengan pemudaini, begitu ngerinya seperti bertemu degan ular berbisa saja, dia tak ingin bersua dengannya, tapi ia sudah terjatuh ketangan lawan sekarang.
Mati hidunya sudah berada ditangan orang, karenanya mau tidak mau dia harus bersabarkan diri Kedengaran tosu tua berambut kuning itu berkata.
"Hey bocah muda, pengharapanmu sudah menjadi kenyataan sekarang, mulai sekarang aku tak akan melakukan perbuatan jahat begitu lagi. Kaupun tak usah merecoki diriku terus menerus, hatihati kalau aku tidak senang hati, aku bisa menghajar pantatmu."
Pemuda jelek itu tertawa terkekeh-kekeh.
"sekalipun suhu tidak berbicara, tecupun tak berani lagi mengajukan permintaan yang kelewat batas, asal dia berada disampingku maka segalanya telah terpenuhi. Akupun tuk ingin mencampuri persoalan macam apapun."
Sambil berkata, kembali ia masukkan jari telunjuknya kedalam mulut, seakan-akan sedang menikmati paha ayam yang lezat.
"Benar-benar manusia tak becus"
Umpat tosu tua berambut kuning itu sambil tertawa.
"setiap kali melihat tampangmu, hatiku terasa mendongkol sekali."
Dalam pada itu putri Kim huan berusaha keras untuk menghindari beradu pandangan dengan pemuda jelek itu sekarang hatinya terkejut, gelisah dan tak tentram.
Tiba-tiba saja dia teringat akan Kim Thi sia, bahkan sangat berharap pemuda itu bisa muncul diri untuk menolongnya dari ancaman bahaya.
Mau tak mau dia harus berpendapat bahwa ilmu silat yang dimiliki Kim Thi sia adalah tertinggi diantara kakak adik seperguruan tersebut, sebab selama beberapa hari dia bersamanya, belum pernah ditemui mara bahaya seperti apa yang dialaminya hari ini.
Tapi begitu berpisah dengan pemuda tersebut, ternyata ia terjerumus lagi dalam situasi yang begitu gawat.
sungguh menggelikan sipedang perak, pedang besi tembaga dan pedang besi yang dihari-hari biasa mengunggulkan diri sebagai tokoh paling top dalam dunia persilatan, kenyataan d isaat bencana menjelang tiba mereka tak mampu menanggulanginya dia telah diculik orang tanpa berhasil melakukan sesuatu.
Mendadak terdengar pemuda jelek itu memuji.
"Ehmmm, harum, harum sekali baunya......."
Lalu sambil tertawa kepada sinona, ujarnya lebih jauh.
"Wajah cici amat cantik, selama hidup baru pertama kali kujumpai nona secantik ini. Itulah sebabnya sejak bersua denganmu, aku telah berharap bisa menjalin hubungan persahabatan denganmu. Aku rasa.....oya, aku lupa menanyakan nama cici. Benar-benar patut mati benar-benar pantas mati........"
Keadaannya saat ini takjauh berbeda dengan badut yang sedang membanyol diatas panggung, sayang putri Kim huan segan menggubris dirinya, bahkan bersikap acuh tak acuh seakan-akan tak pernah melihatnya .
Pemuda jelek itu benar-benar bermuka tebal, dia merecoki gadis tersebut tak henti-hentinya.
Lama kelamaan putri Kim huan menjadi sangat mendongkol.
Tiba-tiba dia berkerut kening sambil membentak.
"Enyah kau dari sini, manusia yang memuakkan"
Pemuda jelek itu sama sekali tidak gusar, sambil tetap cengar cengir dia berkata.
"Mungkin nona menganggap wajahku terlalu jelek sehingga tak sudi menggubris aku. Padahal setelah bergaul cukup lama denganku, kaupasti akan tahu bahwa aku adalah seorang yang amat menarik."
"Hey bocah kunyuk. kau benar-benar tak tahu malu"
Umpat tosu tua berambut kuning itu.
"Kalau toh orang lain enggan menggubrismu kau harus berusaha mencari akal untuk menggembirakan hatinya buat apa kau merecokinya terus dengan cara-cara yang menyebalkan-....."
Sambil garuk-garuk kepalanya yang tak gatal dan tertawa getir, pemuda jelek itu berkata.
"suhu, tecu tidak mengetahui bagaimana caranya untuk menarik perhatiannya serta membuat hatinya gembira."
"Hmmm, kalau dibilang kau bodoh, nyatanya memang goblok seperti baki dungu"
Seru tosu tua berambut kuning itu tak senang hati.
"Masa perbuatan semacam inipun masih membutuhkan pengajaran dariku?"
Pemuda jelek itu berpikir sebentar, tiba-tiba dia bertepuk tangan sambil berteriak.
"Yaa, yaa.......aku tahu sekarang, aku tahu sekarang......."
Tergopoh-gopoh dia berjalan menuju kehadapan putri Kim huan, lalu bagaikan seekor monyet berjumpalitan kian kemari sehingga membuat pasir dan debu beterbangan kemana-mana.
Cepat-cepat putri Kim huan memejamkan matanya rapat-rapat, dia mendengar pemuda jelek itu masih berjumpalitan tiada hentinya sembari memperdengarkan suara mencicit yang aneh.
Menyaksikan adegan tersebut, tampaknya tosu tua berambut kuning itu menjadi mendongkol sekali, setelah menghentakkan kakinya berapa kali dia menyingkir dari situ.
Tak lama kemudian pemuda jelek itu sudah bermandi keringat busuk.
ketika dilihatnya putri Kim huan belum-juga nampak gembira, ia menjadi amat gelisah dan buru-buru berjumpalitan kembali diatas tanah dan berjalan dengan sepasang kaki diatas.
Putri Kim huan sama sekali tak menyangka kalau didunia ini masih terdapat manusia sedungu itu, meski tidak sampai diutarakan keluar, diam-diam dia mengumpat pemuda tersebut sebagai "keledai dungu".
Sementara itu pemuda jelek tersebut sudah menengok sekejap kearahnya, ketika dilihatnya gadis itu tidak tergerak hatinya, dengan gelisah dia melompat bangun lalu berteriak keras-keras.
"Nona apa yang mesti kulakukan untuk membuatmu gembira? katakanlah yang jelas, jangan membuat aku bermain joget ketek secara percuma......."
Putri Kim huan tidak tahan, hampir saja dia menggampar wajahnya keras-keras, dengan gemas serunya.
"Aku akan gembira bila melihat kau sudah mampus"
Pemuda jelek itu tertegun, lalu serunya cepat.
"Waaah, tidak bisa Jika aku mati, kau pasti akan menjadi bininya orang lain-"
Berubah hebat paras muka putri Kim huan baru saja dia hendak mengumpatnya dengan berapa patah kata, tiba-tiba saja satu ingatan melintas dalam benaknya, dia segera berpikir.
"orang ini goblok sekali, mengapa aku tidak memperalat dirinya bagi kepentinganku?"
Berpikir demikian, ia segera berkata dengan suara dingini "Kalau begitu akan kuberitahukan kepadamu, didalam dunia persilatan terdapat seseorang yang paling kubenci, asal kau sanggup menangkapnya, aku pasti akan merasa amat gembira."
"sungguh?"
Tanya pemuda jelek itu gelisah.
"siapakah namanya?"
"Dia she Kim bernama Kim Thi sia, aku ingin sekali menampar wajahnya berapa kali."
Sementara berbicara, diam-diam dia berpikir.
"Seandainya dia bisa terpancing datang, berarti akupun punya harapan untuk meloloskan diri dari bahaya, kenapa aku tidak memberikan janji yang muluk-muluk kepadanya?"
Berpikir demikian, dia berlagak tersenyum manis dan berjanji.
"Asal kau bisa menangkap Kim Thi sia serta membawanya kehadapanku, akupun akan menjadi milikmu."
Pemuda jelek itu kegirangan setengah mati buru-buru teriaknya kepada sitosu tua berambut kuning itu.
"suhu, sudahkah kau mendengar? Asal aku dapat menangkap orang itu, dia bersedia pula kawin denganku."
Merah padam selembar wajah putri Kim huan, kepalanya ditundukkan rendah-rendah.
sikap dan tingkah laku demikian spontan membuat pemuda jelek itu terpesona dan tergiur seperti terbang diatas awan saja.
Terdengar tosu tua berambut kuning itu mendengus dingin.
"Hmmm, apa urusannya denganku?"
"Baik"
Kata pemuda jelek itu kemudian.
"Kita tetapkan dengan perkataan tersebut, dan siapapun tak boleh menyesal."
Untuk sementara waktu baiklah kita tinggalkan dulu putri Kim huan yang dilarikan pemuda jelek.
Sementara itu Kim Thi sia yang pergi tanpa pamit dari rumah penginapan Liong pia pada malam itu telah berangkat menuju kebarat menurut petunjuk dari ranting pohon yang dilemparkan kearahnya.
suasana gelap gulita disepanjang jalan membuat Kim Thi sia yang semula dibekap gelora emosi menjadi agak mereda.
Dia menengok sekejap kekiri kanan lain sambil mempercepat langkahnya dia melanjutkan perjalanannya menuju kedepan.
Angin malam yang berhembus lewat disisi telinganya menimbulkan suara gemerisik aneh.
Mendadak Kim Thi sia menghentikan langkahnya seraya bergumam.
"Kenapa aku harus berjalan dengan langkah cepat? Padahal saat ini aku tidak ada urusan penting, mungkinkah aku takut dengan setan.......?"
Bergumam sampai disitu, dia segera tertawa geli, pikirnya lagi.
"Seandainya memang begini, nyata sekali kalau nyaliku memang rada kecil."
Pelan-pelan dia berjalan menelusurijalan mendadak pikirnya lagi.
"Suheng sekalian tentu akan gusar sekali setelah membaca suratku, terutama putri Kim huan, sengaja aku menyebutnya siputri bangsawan dengan niat menyindirnya. Bisa jadi dia akan menangis sedih saking gusar dan mendongkolnya."
Tanpa terasa bayangan cantik sinonapun terlintas kembali didalam benaknya, dia merasa seakan-akan gadis itu sedang memandangnya dengan sorot mata penuh cinta.
Rasa kuatir dan sedih yang tak terlukiskan dengan kata-kata.
Tanpa terasa dia menghela napas sambil bergumam lagi.
"Aaaai, selama ini aku selalu sedang menipu diri sendiri. sudah jelas dia menaruh kasih sayang kepadaku bahkan berusaha untuk merahasiakannya. Kenapa aku hanya berani membayangkan dirinya disaat suasana sunyi atau menyendiri.......?"
Terbayang kembali pengalamannya selama ini, tanpa terasa dia manggut-manggut seraya bergumam.
"Yaa benar, dia adalah putri raja negeri Kim. Kedudukannya amat terhormat, maka manusia liar seperti akujadi merasa rendah diri. Tak berani membayangkan apa yang tak mungkin bisa diharapkan......."
Perasaan rendah diri segera mencegah dia berpikir lebih jauh, dengan menundukkan kepalanya pelan-pelan dia melanjutkan kembali perjalanannya kedepan.
Mendadak dari jarak lima kaki dihadapan situ muncul sesosok bayangan manusia yang tinggi besar.
Kim Thi sia amat terperanjat, dengan suara rendah dan dalam ia segera menegur.
"siapakah sobat yang berada didepan sana?"
Bayangan manusia yang tinggi besar itu berdiri tak bergerak ditengah jalan, keadaannya tak berbeda seperti sukma gentayangan saja, bila seseorang tidak memperhatikan secara serius, mungkin dia akan dianggap sebagai batang ranting kering.
Kim Thi sia tak senang hati, tapi keberaniannya makin meningkat, sambil maju lagi sejauh berapa langkah, dia membentak keras.
"sobat, harap menyinkir dari situ, semua orang boleh melalui jalan raya ini, atas dasar apa kau menghalangi jalan pergiku?"
Bayangan manusia itu masih tetap berdiri tak bergerak. dengan suara yang parau rendah dan berat ia tertawa dingin tiada hentinya, kemudian ujarnya.
"Gampang sekali untuk dapat melalui hambatanku, tapi kau mesti meninggalkan tiga puluh tahil perak sebagai ongkos lewat, kalau tidak. heeemmm......heeemmm.......lebih baik memilih jalan lain."
Kim Thi sia agak tertegun, serunya cepat.
"Apakah jalanan ini milikmu?"
"Benar"
Jawab orang yang tinggi besar itu sambil tertawa dingin.
"Aku meminjam jalanan ini untuk membiayai hidup sejumlah saudara, jadi sudah sepantasnya kalau kupungut biaya bagi setiap orang yang melewati jalanan ini. Nah tak usah banyak bicara lagi, cepat serahkan ketiga puluh tahil perak itu kepadaku."
Sambil berkata dia segera mengulurkan tangannya yang besar, kasar dan bertenaga itu keluar. sesudah mengetahui duduknya persoalan Kim Thi sia segera tertawa terbahak-bahak katanya.
"Haaaah.....haaaah......haaaah......bagus sekali. Sungguh beruntung aku orang she Kim bisa bertemu dengan raja gunung macam kau."
Berhenti tertawa dia maju dua langkah kemuka, dan katanya lebih jauh dengan suara dalam.
"Sesungguhnya jumlah yang sobat tuntut tidak terhitung banyak. tapi kebetulan sekali akupun berasal dari aliran yang sama bagaimanapun juga aku toh tak bisa hitam maka hitam, apalagi kulihat kau adalah seorang lelaki rudin begitu juga dengan diriku kalau toh kita sama-sama mencari sesuap nasi dari sokongan orang banyak. daripada ribut sendiri apa salahnya kalau menjalin tali persahabatan saja."
"Tidak bisa"
Tukas orang yang tinggi besar itu kaku.
"Aku tak bisa melanggar peraturan sendiri lantaran perkataanmu itu. Apalagi kaupun tak usah beralasan yang macam-macam, bila aku mesti melepaskan sama seporsi, bukankah sepanjang tahun kami bakal kekurangan uang dan hidup kelaparan. sudah, tak usah banyak bicara lagi, pokoknya kau harus menyerahkan tiga puluh tahil perak dulu sebelum pergi dari sini?"
"Baik"
Dengan kening berkerut Kim Thi sia berkata.
"kalau memang begitu, akupun tak usah bentrok denganmu gara-gara tiga puluh tahil perak ini dia uangnya ada disini ambillah sendiri"
Sambil berkata diapun meroboh kedalam sakunya dan mengeluarkan uangnya yang tinggal tiga tahil itu, kemudian pelan-pelan berjalan kedepan-"Berhenti"
Kembali orang itu membentak keras.
"Letakkan uang itu keatas tanah lalu menyingkir jauh-jauh. Kalau tidak aku akan tetap melarangmu melewati-jalanan ini."
Jilid 28 Kim Thi sia tidak banyak berbicara lagi, dia meletakkan uangnya keatas tanah dan menyingkir dari situ.
Bagaikan seekor harimau kelaparan orang itu segera menerkam kedepan dan langsung menyambar uang tersebut.
Mungkin pengalaman segera memberitahukan kepadanya bahwa uang tersebut masih jauh dari nilai yang sebenarnya, tiba-tiba dia membentak gusar dengan wajah berubah hebat.
"Telur busuk, yang kuminta adalah tiga puluh tahil perak. Kurang ajar, rupanya kau sengaja hendak mempermainkan aku?"
"Sesungguhnya aku sendiripun seorang miskin"
Kata Kim Thi sia pelan-"Uang yang adapun sebetulnya kusiapkan untuk bersantap nanti, tapi karena kulihat kau kelewat rudin sehingga hampir edan, timbul rasa iba dihatiku untuk memberikan uang tersebut kepadamu lebih dulu.
Masa kau malah menuduh aku sedang mempermainkan dirimu?"
Mendengar ucapan ini, orang tersebut menjadi mencak-mencak karena gusarnya, dia membentak keras.
"Yang kuminta adalah tiga puluh tahil perak, setahilpun tak boleh kurang. Bila kau tak punya maka tubuhmu harus dijadikan sandera sampai kau lunas membayar sisanya. Ayoh berdiri saja disitu."
Habis berkata dia segera mendesak maju kedepan dan memeluk dengan sepasang tangan yang besar kuat. Dengan cekatan Kim Thi sia berkelit kesamping, lalu katanya sambil tertawa terbahak-bahak.
"Hey raja gunung, dengarkan baik-baik. Bila tenaga untuk melanjutkan hidup saja sudah tak kau miliki, lebih baik pergilah bersamaku. Buat apa sih kau menjual harga diriku hanya disebabkan berapa tahil perak?"
Tiba-tiba lelaki yang tinggi besar itu mengurungkan gerakannya lalu bergumam seorang diri.
"Rupanya sobatpun seorang jago silat, tak heran kau berani mempermainkan aku, baiklah sudah cukup lama aku hidup menyendiri disini. Tanganku juga sudah mulai gatal, hari ini akan kucoba sampai dimanakah kemampuan yang kau miliki."
Telapak tangannya segera diayunkan kedepan melepaskan sebuah pukulan dahsyat.
Kim Thi sia menyambut serangan tadi dengan kekerasan pula.
Akibat bentrokan tersebut tubuhnya tergetar mundur satu langkah.
Hal ini tentu saja sangat mengejutkan hati.
"Tunggu dulu"
Dia berteriak kemudian.
"Dari kepandaian silatmu yang cukup hebat, aku yakin kau mempunyai asal usul yang luar biasa. sungguh heran manusia semacam kau mengapa rela menjadi begal digunung?"
"Maknya, siapa bilang aku begal gunung?"
Teriak orang itu marah.
"Bocah keparat, kau jangan salah menilai orang."
Berbicara sampai disini, dia baru sadar kalau telah salah berbicara, cepat-cepat ujarnya lagi.
"Bocah keparat, kau tak usah banyak berbicara lagi, lebih baik kita selesaikan persoalan ini dengan pertarungan."
Kim Thi sia bukan orang tolol mendengar perkataan itu dengan cepat dia berpikir sejenak.
Cepat-ceepat ia bisa menarik kesimpulan bahwa orang ini bukan begal sungguh, atau mungkln juga dia terpaksa berbuat begini karena mempunyai kesulitan yang tak bisa diungkapkan.
Berpikir demikian, dia sengaja melompat mundur sejauh satu kaki lebih dari posisi semula dan berteriak keras.
"Tenaga pukulan san tayong memang sangat hebat, aku sadar bukan tandinganmu, baiklah kita rundingkan lagi harga yang kau minta tadi."
"Tak bisa ditawar-tawar lagi, sekali membuka harga, aku tetap menuntut tiga puluh tahil perak. kokoknya bila kau tidak menyerahkan jumlah tersebut kepadaku sejak kini biar sampai diujung langitpun aku tak akan melepaskan dirimu dengan begitu saja."
Tergerak pikiran Kim Thi sia, kembali dia bertanya.
"Benarkah sobat membutuhkan tiga puluh tahil perak?"
"Kau jangan mengira aku memandang tiga puluh tahil perak?"
"Kau jangan mengira aku memandang uang bagaikan nyawa sendiri, sesungguhnya.......... hmmmm........"
Mendadak ia tergagap dan tak mampu melanjutkan perkataannya lagi, tampaknya ada sesuatu yang sulit baginya untuk diutarakan keluar.
Kim Thi sia yang mengamati perubahannya semakin yakin kalau apa yang diduganya memang benar, maka dengan nada menyelidik dia berkata.
"Kulihat sobat adalah seorang yang berjiwa ksatria, jujur dan polos. Akupun tahu sobat bukan manusia yang kemaruk harta serta menganggap uang seperti nyawa sendiri, aku tahu pasti ada orang yang memaksamu untuk berbuat demikian atau mungkin disebabkan alasan lain sehingga memaksamu mau tak mau harus mengingkari suara hatimu sendiri membegal harta kekayaan orang lain."
Ketika mendengar perkataan tersebut, lelaki tinggi besar itu seperti tersengat lebah saja, ia melompat bangun dan berteriak keras.
"Maknya, serahkan uang itu, aku tak punya waktu untuk ribut terus denganmu."
"siapa yang memaksamu berbuat demikian? Cepat katakan?"
Nada suaranya kali ini mengandung nada perintah.
Meski hanya sepatah kata yang singkat ternyata mendatangkan daya pengaruh yang besar.
Lelaki tinggi besar itu seketika dibuat tertegun lalu tanpa disadari jawabnya.
"Maknya, telur busuk itu bernama si Unta, mukanya tampang rudin, andaikata aku bukan kalah dalam taruhan, siapa yang kesudian melakukan perbuatan seperti ini."
Menyinggung soal "unta", semua rasa mangkel dan gusarnyapun turut diutarakan keluar, umpatnya.
"Maknya siunta keparat itu, tampaknya perbuatan macam apapun dapat dia lakukan padahal aku hanya kalah dalam taruhan, dia telah memaksaku menjadi begal untuk memeras uang orang lain, bahkan suruh aku bilang bahwa uang tadi dipakai untuk membiayai hidup saudara-saudaraku. Maknya, tak kusangka perbuatan terkutuk yang memalukan seperti inipun bisa dia pikirkan. Tahu begitu, aku tak sudi berkenalan dengannya, bukan saja hidup tersiksa, malah harus menyandang gelar sebagai begal."
Begitu mendengar nama orang itu adalah si "unta", Kim Thi sia segera tahu bahwa orang ini telah dibodohi olehnya, dia cukup memahami keadaan serta sifat siunta, terutama tampang kerenya yang menyebalkan itu.
Dia tak menyangka kalau dirinya akan dijadikan korban lagi oleh ulahnya.
Baru saja dia hendak mengucapkan sesuatu, tampaknya lelaki tinggi besar itu telah sadar kembali, tahu kalau rahasia hatinya sudah terbongkar, dengan wajah berubah hebat bentaknya.
"Bagaimana, kenapa belum nampak uangnya diserahkan? Apakah kau hendak bermain gila lagi denganku?"
"sobat"
Kata Kim Thi sia dengan perasaan lebih tenang.
"Akupun kenal dengan manusia yang bernama Unta itu. orang tersebut licik, berhati busuk dan berbahaya sekali. Aku yakin sobat telah dibodohi olehnya. Bila kau tak menampik aku bicara terus terang, lebih baik jangan kau gubris manusia rendah seperti itu. Kalau tidak kau akan mengalami lagi nasib yang sama, dan akhirnya kau akan konyol sendiri"
"Kau kenal dengannya?"
Tanya lelaki kekar itu tertegun-Melihat Kim Thi sia mengangguk. ia segera tertawa terbahak-bahak sambil berkata lebih jauh.
"Haaaah......haaaah......haaaah........bagus sekali, aku yakin setiap orang yang pernah berkenalan dengannya pasti pernah menderita kerugian pula ditangannya. Itu berarti kita senasib sependeritaan-"
Orang ini benar-benar berjiwa terbuka dan periang, ketika selesai berkata dia telah menganggap pemuda itu sebagai sahabat sendiri, malah menepuk bahunya kuat-kuat.
Kim Thi sia pun segera berpendapat bahwa jalan pemikiran maupun watak orang ini persis seperti dirinya, tanpa sadar timbul pula kesan baiknya terhadap utang inu sambil tertawa terbahak-bahak diapun turut berkata.
"Haaaah......haaaah......haaaah.......perkataan loheng memang betul tak sedikit kerugian yang pernah kualami dari tangannya."
"Aku bernama Lu Ci, dan kau?"
"Aku Kim Thi sia"
Tiba-tiba Lu Ci membelalakan matanya lebar-lebar teriaknya tanpa terasa.
"Kau adalah orang yang tersohor sebagai manusia yang paling susah dilayani......."
Tampaknya dia rikuh untuk melanjutkan kata-katanya sehingga terhenti ditengah jalan. Kim Thi sia sama sekali tidak tersinggung sahutnya sambil manggut-manggut.
"Yaa benar, setiap orang mengatakan aku adalah manusia yang paling susah dihadapi. Padahal dalam kenyataannya aku sangat pakai aturan. saudara Lu Ci, kita sama-sama adalah manusia kasar yang tidak mengurusi segala persoalan tetek bengek. bagaimana kalau kita jalin persahabatan yang akrab?"
Lu Ci menganggukkan kepalanya berulang kali, sahutnya sambil tertawa.
"Akupun mempunyai keinginan tersebut. Haaaah.......haaaah.......haaaaah........mulai hari ini kita sudah terhitung bersahabat karib."
Dia seakan-akan merasa bangga sekali karena dapat menjalin persahabatan dengan manusia yang bernama Kim Thi sia, setelah meminta maaf berulang kali mendadak dia seperti teringat akan sesuatu.
sambil bermuram durja, katanya kembali.
"saudara Thi sia. Aku.......aku.......kau punya tiga puluh tahil perak?"
Lu Ci tidak menjawab secara langsung tapi menghela napas panjang. Kim Thi sia ingin mengetahui duduk persoalan yang sebenarya dengan nada bergurau dia segera berkata.
"saudara Lu, dari orang asing kita telah menjadi sahabat karib, apakah kau masih tetap menuntut tiga puluh tahil perak sebagai ongkos lewat? Waaaah.....kau benar-benar kebangetan"
Sebagai orang kasar, Lu Ci tidak terbiasa dengan gurauan seperti itu, dia mengira ucapan tersebut sungguhan, dengan wajah merah padam karena cemas dan gelisah, serunya berulang kali.
"Bukan begitu Bukan begitu saudara Thi sia jangan salah paham, sebenarnya aku telah kalah taruh dengan siunta sebesar tiga puluh tahil perak karena itu aku ingin meminjamnya dari loheng. Apakah loheng tidak merasa keberatan?"
"Waaah.....maaf, sesungguhnya seluruh harta kekayaanku sudah berada ditanganmu sekarang. Yang tersisa kini cuma kantung yang kosong....."
Paras muka Lu Ci semakin memerah, ternyata tiga tahil perak masih berada dalam genggamannya erat-erat.
seandainya Kim Thi sia tidak mengingatkan hampir saja dia melupakannya.
Dengan wajah tersipu-sipu dia mengembalikan hancuran perak itu kepada Kim Thi sia.
Kim Thi sia sendiripun mengerti bahwa uang sejumlah itu tak mungkin bermanfaat apa-apa.
Dalam keadaan apa boleh buat diapun menerima kembali.
Ketika menyaksikan Lu Ci masih bermuram durja dan tak gembira, sambil tertawa dingin katanya segera.
"saudara Lu Ci, bukanku menuduhmu tak becus. sesungguhnya dalam menghadapi manusia rendah seperti siunta, lebih baik kita anggap setiap perkataannya sebagai kentut busuk, tak usah digubris lagi. Dengan berbuat demikian niscaya tiada kesulitan yang akan membebani pikiranmu."
Dengan cepat Lu Ci menggelengkan kepalanya berulang kali, dia berkata.
"sepanjang hidup aku paling menepati janji. setiap perkataan yang sudah diutarakan keluar tak pernah kupungkiri kembali, aku tak bisa mengingkari janji."
"Untuk menepati janjipun kita wajib melihat dulu dengan siapa kita berbicara"
Seru Kim Thi sia dengan nada tak senang.
"Kalau tyerhadap siunta si telur busuk itu. Hmmm, kenapa kita mesti pegang janji? Dia orangnya licik dan sering menggunakan akal muslihat untuk menjebak orang. Bila kita mesti menepati janji terhadapnya, ibarat memetik harpa didepan kerbau saja."
Kemudian setelah berhenti sejenak, dia menambahkan.
"Kau harus berpikir kembali, seandainya dia yang kalah, kujamin dia tentu akan angkat kaki mengambil langkah seribu, tapi manusia hebat macam dia tak pernah akan kalah, sebab dia tak akan melakukan perbuatan yang belum diyakini seratus persen keberhasilannya, justru kaulah yang suda ditipu habis-habisan."
"Aku ingin menyesali kejadian tersebut dan tidak menepati janji, namun liang simku berkata lain, aku merasa batinku amat tersiksa."
"Begini saja, kaupun tidak usah menjadi begal, serahkan saja siunta kepadaku, asal kau tidak menampilkan diri, urusan toh bakal beres."
Tergerak hati Lu Ci selesai mendengar perkataan itu, tergesa-gesa dia berkata.
"Caramu itu bagus sekali, hanya saja......hanya saja.......apakah kau yakin bisa meloloskan diri darinya?"
"Bila kau tak mau tahu keadaan, akan kutaklukkan dirinya dengan menggunakan kekerasan-"
Sejak mengetahui siapakah pemuda yang dihadapinya, kepercayaan Lu Ci terhadapnya semakin bertambah besar.
Dia percaya walaupu ilmu silat yang dimiliki siunta cukup hebat, tak mungkin ia mampu menandingi Kim Thi sia yang sudah termashur sebagai manusia yang paling susah dilayani itu.
Maka diapun segera berkata.
"sekarang ia sedang tidur dibalik semak belukar sana, pergilah kesitu seorang diri. Aku akan menunggumu didepan sana."
Begitulah, dua orang kasar itu berbicara kesana kemari namun tak berhasil menemukan cara yang lebih baik lagi, maka keputusanpun diambil.
sesuai dengan petunjuk dari Lu ci tadi, Kim Thi sia segera berangkat kebalik semak belukar.
sedangkan Lu Ci menuju keujung jalan sana dengan langkah lebar.
Waktu itu rembulan yang berbentuk sabit mulai menampakkan diri dari balik awan tebal.
suasana yang semula gelappun lambat laun diterangi sedikit cahaya.
Meminjam cahaya rembulan yang redup dengan lancar Kim Thi sia tiba ditempat yang dimaksud Lu Ci.
Ia cukup mengerti bahwa siunta adalah manusia licik yang sangat berbahaya, dia menganggap kecerdasan otaknya melebihi siapapun, maka sejak memasuki kawasannya, diapun meningkatkan kewaspadaannya untuk berjaga-jaga atas segala kemungkinan yang tidak diinginkansetelah berjalan berapa jauh dengan langkah berhati-hati, mendadak ia temukan seseorang sedang berbaring dibawah pohon dikejauhan sana.
sinar yang redup sukar untuk dipakai melihat lebih jelas, tapi ia bisa melihat bahwa orang itu berperawakan kurus kecil dengan sepasang kaki yang pendek.
Ciri khas dari siunta.
Ia berhenti lebih kurang lima kaki dibelakang siunta, karena dia kuatir musuhnya yang licik itu bakal bermain gila dengannya.
Akan tetapi siunta masih tetap tertidur amat nyenyak.
dia seakan-akan tidak merasakan akan kehadiran orang lain.
sebagai seorang lelaki berjiwa ksatria, sudah barang tentu Kim Thi sia enggan melakukan bokongan disaat orang lain tak siap.
dengan suara keras segera tegurnya.
"Hey setan tua, sobatmu telah datang."
Unta tetap membungkam, seakan-akan tidak mendengar, ia tetap tidur dengan amat nyenyaknya.
Kim Thi sia mulai curiga, dia cukup mengerti bahwa siunta bukan manusia sederhana, tapi kenyataannya orang itu tidak menunjukkan reaksi apapun, atau mungkin hal ini disebabkan dia menganggap ditempat yang terpencil ini tidak bakal terjadi peristiwa yang tak diinginkan?
Dengan menyabarkan diri Kim Thi sia mencoba menegur lagi, kali ini dia menegur dengan suara lebih keras sehingga burung-burung diatas pohonpun berterbangan lantaran kaget, tapi siunta tetap tidur amat nyenyak.
Tak tahan lagi pemuda kita malu kedepan, baru empat langkah dia menghentikan kembali perjalanannya seraya berpikir.
"siunta licik dan banyak akal muslihatnya jangan-jangan dia sedang mengatur perangkap untuk menjebakku."
Dengan cepat dia mencari akal lain, tiba-tiba ia membungkukkan badan dan memungut sebutir batu, lalu disambitnya kearah depan.
"Blaaakkk......."
Dengan cepat batu tersebut menimpuk diatas sesuatu yang lembek dan sama sekali tiada tenaga pantulannya.
Mendengar suara pantulan yang dihamilkan, paras muka Kim Thi sia segera berubah hebat, pikirnya.
"Aaaaah, ternyata dugaanku tak salah, bayangan manusia itu hanya tumpukkan rumput."
Belum habis ingatan tersebut melintas lewat, tiba-tiba saja ia merasa jalan darah Gi siang hiatnya menjadi kesemutan, disusul kemudian terdengar seseorang menjengek sambil tertawa dingin.
"Hey bocah kunyuk. sudah lama kita tak bertemu, aku benar-benar merindukan dirimu."
Mimpipun Kim Thi sia tidak mengira kalau tindakannya yang sudah begitu berhati-hati akhirnya masih terperangkap juga oleh ulah siunta, ia merasa peristiwa ini merupakan suatu penghinaan baginya.
Dengan amarah yang berkobar-kobar segera bentaknya keras-keras.
"Maknya, tak kusangka kau situa bangka benar-benar lihay, akhirnya aku terpecundang kembali ditanganmu, tapi kau tak usah keburu senang hati. sanya masih mempunyai cara lain untuk menghadapi dirimu."
Siunta tertawa dingin dan berkata lagi.
"Hey bocah kunyuk, seandaiknya aku tidak memandang pada hubungan kita dimasa lampau mungkin caramu untuk menghadapi diriku itu baru dapat kau laksanakan sesudah tiba diakhirat nanti. sudahlah, tak usah banyak berbicara lagi, aku ingin bertanya kepadamu, antara kita berdua sesungguhnya tak pernah terjalin perselisihan apa-apa mengapa kau justru selalu merusak dan mengacaukan transaksiku? Apakah kau bermaksud membalas dendam ataukah merasa iri dengan cara kerjaku ini......."
"Kau tak usah mengaco belo"
Teriak Kim Thi sia amat mendongkol.
"Terus terang saja aku bilang, aku merasa tak terbiasa menyaksikan ulah serta tingkah lakumu itu."
"Hanya dikarenakan alasan ini?"
Si unta sama sekali tidak mendongkol, setelah tertawa aneh lanjutnya.
"Kau merasa tak terbiasa dengan ulah dan tingkah lakuku? Hmmm.......lantas bagaimana pula dengan sekian banyak manusia didunia ini yang tak senang dengan tingkah lakuku? Apakah merekapun berbuat yang sama denganmu, selalu memusuhi diriku?"
"Maknya"
Umpat Kim Thi sia gusar.
"Hey tua bangka jelek. Sebetulnya aku yang datang mencarimu ataulah kau yang datang mencariku?"
"Hmmmm, Lu Ci sidungu itu betul-betul goblok dan bebal otaknya, dia selalu mencari urusan denganku. Kalau tidak diberi sedikit ganjaran hal ini mana boleh jadi? Apalagi apa sih salahnya kalau kau memberi sedikit ongkos jalan kepadanya? Bukankah sinona cantik itu banyak uang? Kau adalah gondaknya, sudah pasti kaupun tak akan miskin membagi sedikit uang kepadaku rasanya juga merupakan perbuatan amal, siapa tahu kau lebih pelit daripada seekor anjing."
"Tua bangka celaka, jika kau berani mengaco belo lagi, toaya akan segera beradujiwa denganmu."
Kemudian dengan amat gusar dia mengeluarkan tiga tahil perak tadi dari sakunya dan dibanting keatas tanah sambil berkata lebih jauh.
"Kau jangan menganggap aku terpesona oleh uangnya. Coba kau lihat, hanya inilah harta kekayaanku, bila kau menganggap uang melebihi nyawamu, ambillah. Tetapi jangan mencoba mencemooh diriku lagi dengan kata-kata yang tidak senonoh. Kalau tidak. jangan salahkan bila aku berbuat nekad."
Dengan sikap yang amat hambar siunta menarik kembali pandangan matanya dari atas uang tersebut, katanya.
"oooh, tak kusangka kau sibocah kunyuk masih punya semangat kelakian, maaf......maaf......"
Sembari berkata dia segera melepaskan kaki sebelahnya dari sepatu, lalu menjepit uang perak tadi dengan kelima jari kakinya setelah itu baru dia ambil dan dimasukkan kedalam saku.
"Hey tua keparat"
Kim Thi sia segera berseru nyaring.
"Sekarang aku sudah terjatuh ketanganmu, apa yang hendak kau perbuat cepat katakan, bila terlambat hingga saudara Lu datang kemari, kau pasti akan dikuliti olehnya........"
Si unta sebera mendengus dingin.
"Lu Ci tak akan tahan menghadapi seujung jariku, kau tak usah menggunakan namanya untuk mengertak orang"
Kemudian setelah meludah, dengan nada memeras dia berkata.
"Setiap orang tahu kalau belakangan ini Kim Thi sia sedang ketimpa nasib mujur, terutama setelah kusaksikan dengan mata kepala sendiri Kau tidak usah menyangkal lagi, aku tahu sigadis cantik itu begitu terpesona kepadamu sehingga rela berkorban bagimu. sekarang kau sudah terjatuh ketanganku, bila kau tidak menjumpainya lagi maka dia pasti sangat gelisah. Nah manfaatkan kesempatan yang sangat baik ini aku harus mengaduk untung sebesar-besarnya. Kau tahu aku sudah hidup miskin separuh hidupku, maka aku selalu berusaha untuk memperbaiki nasibku ini......"
Kemudian setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan.
"Aku rasa, apa yang menjadi maksud hatiku sudah cukup jelas bukan?"
Sambil menunjukkan kelima jari tangannya dia berkata lagi.
"Nah bocah kunyuk. kau tentu jelas bukan berapa angka ini? Ya, aku hanya membutuhkan lima ratus tahil perak."
"Tua bangka celaka, kau hendak memeras?"
Teriak Kim Thi sia teramat gusar. siunta segera tertawa terkekeh-kekeh.
"Haaaaah.......haaaaah.......haaaaah...... saudaraku, kenapa sih menggunakan istilah yang begitu tak sedap? Sesungguhnya aku cuma minta ongkos penebusan, kalau dulu ongkos pertolongan belum kau bayar aku masih bisa memaklumi, karena kejadian itu hanya kebetulan-Apalagi kaupun berhasil meloloskan diri sendiri dari bahaya, tapi kali ini kau mesti membayar ongkos penebusan. Hmmmm...... mataku sudah kupentang lebar-lebar. Aku seperti melihat kegelisahan dari sinona cantik yang tak melihat kekasihnya kembali kesamping tubuhnya.........."
Tiba-tiba saja Kim Thi sia berhasil menenangkan kembali pikirannya, dia mendengus dingin.
"Tua bangka busuk. Perhitunganmu kali ini kelewat bagus, tapi sayang aku sudah bentrokan dengan gadis itu. Dia bahkan bersorak gembira jika mengetahui kesulitanku sekarang."
"Sungguh?"
Teriak siunta sambil membelalakkan matanya lebar-lebar.
"Kau benar-benar sudah bentrok dengannya..... kau benar-benar sudah bentrok dengannya......"
Kim Thi sia tertawa terbahak-bahak.
"Haaaah.....haaaah......haaaah.....siunta yang kalah bukan aku, melainkan kau sendiri."
"Tak mungkin"
Ucap si unta meyakinkan-"Bila sinona cantik itu menerima pemberitahuanku, kujamin dia pasti tak akan tenang dan tergesa-gesa akan datang kemari.
Bila kau tak percaya mari kita bertaruh.
Heeeeh....heeeeh......bertaruh seratus tahil perak saja, jadi kalau dijumlahkan semuanya, jadi enam ratus tahil heeeeh.....heeeeh......"
Kim Thi sia paling benci dengan sikap tamak dan mata duitan dari orang ini.
Ucapan tersebut kontan saja menggusarkan hatinya, tanpa banyak berbicara dia memutar telapak tangannya dan melepaskan sebuah pukulan dahsyat kearah depan.
Reaksi dari siunta ternyata cukup cepat baru saja dia menggerakkan tubuhnya, jari tangannya yang mencengkeram diatas jalan darah telah ditambahi dtngan tenaga sebesar dua bagian.
seketika itu juga Kim Thi sia merasakan punggungnya kesemutan, segenap kekuatan tubuh nyapun punah tak berbekas.
sambil tertawa terkekeh-kekeh siunta segera berkata.
"Hey bocah keparat, sekarang kau sudahjutuh ketanganku, buat apa sih bersikap segarang itu?"
Dengan penuh kebencian Kim Thi sia berseru.
"seorang lelaki sejati dapat menyesuaikan keadaan. Hari ini anggap saja nasibku lagi sial hingga terjatuh ketanganmu, tapi lihat saja nanti bila suatu ketika kaupun terjatuh ketanganku.Jangan harap kau bisa melewati masa tersebut dengan gembira."
"Lebih baik persoalan seperti itu dibicarakan dikemudian hari saja"
Tukas siunta tak senang hati.
"sekarang mari kita berbicara tentang masalah pokok. Kau harus tahu bahwa aku siunta bukan manusia yang sama sekali tak berperasaan, terutama sekali terhadap orang yang berjodoh denganku. Begitu saja kunyuk cilik. Transaksi yang terjadi kali ini merupakan untuk pertama kalinya. Akupun merasa rikuh untuk mengajukan permintaan kelewat tinggi. setelah melalui pemikiran dan pembahasan yang serius, aku pikir biarlah ongkos tebusanmu kukurangi seratus tahil perak lagi. Nah sobat karib, tentunya kabar ini merupakan kabar baik bukan?"
"Percuma kalau cuma minta uang tebusan kuanjurkan kepadamu, lebih baik jual saja diriku. Coba kita lihat aku laku berapa tahil perak?"
"sahabat, kau memang sangat pintar"
Seru siunta tertawa.
"Baiklah aku akan menurut kehendakmu itu dengan menawarkan dirimu kepada sinona cantik itu tolong tanya dia berada dimana sekarang?"
"Tua bangka celaka, kuperingatkan kepadamu agar tidak menjumpai dirinya, aku tak sudi bertemu dengannya lagi. Bila kau bermaksud memancingnya kemari karena uang, mulai sekarang jangan salahkan bila kupandang dirimu sebagai musuh besar."
"ooooh tentu saja, tentu saja"
Kata siunta sambil tertawa licik.
"selama ini aku selalu berdagang atas dasar kesempatan kedua belah pihak. kalau toh kau enggan bersua dengannya, akan kuberitahukan kepadanya melalui surat, kau bisa menulis dalam surat itu agar menyiapkan seribu tahil perak untuk ongkos tebusan, bila urusan telah beres maka kita akan sama-sama tidak saling berhutang dan boleh pergi menurut kehendak masing-masing ."
Berbicara sampai disitu mendadak sepasang telinganya digerakkan berapa kali. Kemudian umpatnya.
"Sialan betul sikeparat Lu Ci, siang tak datang malam tak tiba, kenapa justru disaat toaya sedang membicarakan transaksi besar ini malah datang mengacau. Benar-benar menjengkelkan-Hey, kita sudahi dulu pembicaraan di sampai disini apakah kau masih punya usul lain?"
"Lepaskan tanganmu"
Teriak Kim Thi sia keras-keras dengan mata melotot serunya lagi.
"Apakah kau senang melihat aku kehilangan muka dihadapan sahabat baruku?"
"Yaa, betul, betul, kalau pohon memerlukan kulit, manusia memerlukan muka. Itu memang lumrah, tapi sebelum pembayaran berlangsung aku tak bisa membebaskan dirimu. Kalau kau sampai kabur, waaah......bukankah akupun gagal mendapatkan uang tebusannya?"
"Telur busuk. kau anggap aku Kim Thi sia macam apa?"
Umpat pemuda itu sambil menyumpahnyumpah . Kemudian dengan amarah yang meluap-luap dia duduk diatas tanah dan berseru lagi sambil bertolak pinggang.
"Toaya justru bersikeras tak mau pergi, akan kulihat dengan cara apa kau bisa menggerakkan diriku."
Siunta sebera tertawa terbahak-bahak.
"Haaah....haaaah......sederhana sekali, dalam gusarnya aku bisa membuangmu diatas gunung, biar ular dan binatang buas menerkam dirimu, melalap dagingmu dan menggerogoti tulangmu, tetapi yang sial adalah sinona cantik, harta lenyap orangpun hilang. Haaaah....haaaah....."
Setelah menunjukkan muka setan dia melanjutkan.
"Dan akhirnya, sinona cantik akan bersedih hati, membuat akupun turut beriba hati."
Baru saja Kim Thi sia hendak mengumpat, tahu-tahu jalan darahnya sudah ditotok kembali, otomatis semua umpatannya tak mampu diutarakan keluar.
sementara itu siunta sudah mendehem pelan dan berkata kembali dengan suara lebih lembut.
"Kita sudah berkenalan cukup lama, namun selama ini tak punya kesempatan untuk berbincang-bincang denganmu, mumpung malam ini udara cerah dan angin berhembus sepoisepoi, apa salahnya kalau kita berbicara sampai sepuasnya?"
Berbicara sampai disini dia berhenti sejenak. lalu sambil berpaling teriaknya.
"Lu Ci betul bukan apa kuucapkan?"
Dengan wajah tersipu-sipu Lu Ci munculkan diri dari balik sebatang pohon, sahutnya agak tertegun.
"Aku.......aku tidak mendengar terlalu jelas apa yang kau bicarakan, maka aku tidak berani memberikan pendapat apa-apa."
Siunta sebera tertawa dingin.
"Bocah dusun, ilmu membohongmu masih ketinggalan jauh, bukankah kau sudah sekian lama menyadap pembicaraan kami? masa duduknya persoalan masih belum kau ketahui?"
Lu Ci tidak menjawab pertanyaaannya itu, dengan wajah bersemu merah dia menghampiri Kim Thi sia, lalu ujarnya.
"saudara Thi sia, aku sudah lama menunggu dengan gelisah, aku kira kau sudah menjumpai sesuatu peristiwa, tak tahunya sedang berbincang-bincang disini."
Kim Thi sia tak mampu berbicara, terpaksa dia mengerdipkan matanya berulang kali sebagai kode rahasia.
Lu Ci adalah seorang lelaki kasar yang berpikiran sederhana, dia cuma merasa keheranan tanpa berhasil memahami maksudnya, bahkan tanyanya lebih jauh.
"saudara Thi sia, mengapa kau tak berbicara? Apakah aku telah salah berbicara?"
"Lu ci"
Siunta segera menyela.
"saudara Thi sia mu sedang terserang penyakit, biarkan ia beristirahat sebentar."
"Terserang penyakit?"
Lu ci sangat terkejut.
"Penyakit apa yang dideritanya? seriuskah keadaannya?"
"Tidak terlalu serius, hanya tak mampu berbicara lagi, kau jangan mengusiknya dulu. Biarkan dia beristirahat sebentar."
Lu Ci termenung berapa saat tanpa berbicara, sementara dihati kecilnya berpikir.
"Aaaah, ada yang tak beres. Kim Thi sia termashur sebagai manusia baja, bagaimana mungkin ia bisa terserang penyakit secara tiba-tiba? sudah pasti ada sebab musabab lainnya."
Melihat timbulnya kecurigaan diwajah Lu Ci, dengan cepat siunta dapat menebak isi hatinya, maka sambil tertawa dingin ia segera berkata.
"Lu Ci, aku ingin bertanya kepadamu. Bersediakah kau menemani saudara Thi sia?"
"Apa maksudmu?"
Tanya Lu Ci tertegun-sambil maju selangkah kata siunta.
"Bila kau bersedia menemaninya, akupun dapat membuatmu terserang penyakit"
"Dia dapat membantuku terserang penyakit?"
Lu Ci segera berpikir.
"Kalau begitu penyakit yang diderita saudara Thi sia adalah penyakit hasil ulahnya."
Dengan cepat dia menyadari apa yang terjadi dengan wajah berubah hardiknya.
"Keparat unta, rupanya kau yang telah melukai saudara Thi sia. Hmmm, bila penyakit itu tak segera kau obati akan kubantai dirimu secara keji."
Tapi sayang, baru selesai perkataan tersebut diutarakan, jalan darah dipinggangnya sudah terasa kesemutan disusuk kemudian segenap kekuatan tubuhnya hilang lenyap tak berbekas.
Tak ampun lagi tubuhnya roboh terjengkang keatas tanah.
Rasa sedih, malu dan benci yang mencekam perasaannya sekarang tak terlukiskan dengan kata-kata, hampir saja dia berteriak keras.
siunta segera menginjak dadanya kuat-kuat, kemudian serunya sambil tertawa lengking.
"Kalian berdua selalu mengatai diriku dengan ucapan tak sedap. sekarang kurasa kalian tentu lelah sekali, mumpung lagi tak enak badan, beristirahat dulu disini sepuasnya."
Dari depan sana dia mengangkat sebuah atu besar lalu sambil duduk diatasnya dia berkata lantang.
"Lu Ci, kau masih berhutang 30 tahil perak kepadaku. Bagaimanapun juga hutang tersebut mesti kau bayar, mumpung sekarang ada kesempatan untuk beristirahat, pikir cara membayar hutang itu. Pokoknya kalau sampai besok pagi nampak uangnya tersedia, akan kupatahkan bahumu. Hmmm......."
"Unta kunyuk"
Umpat Lu Ci didalam hati.
"Sekarang kau boleh bergaya, tapi suatu ketika nanti. Hmmm akan kusuruh kau saksikan kelihayanmu."
Mendadak dari atas ranting pohon kedengaran suara burung mencicir disusul terbang kearah laini siunta segera mendongakkan kepalanya sambil memperhatikan sekejap, kemudian gumamnya.
"Tanpa sebab burung malam bercicit, delapan puluh persen ada orang datang kemari."
Dengan gerakan selincah tikus ia segera membungkukkan badannya keatas tanah sambil merangkak maju kedepan, sepasang matanya celingukan kian kemari dengan tajam.
sementara gerak geriknya sama sekali tidak menimbulkan sedikit suarapun.
Melihat hal ini, Kim Thi sia segera berpikir.
"Cekatan benar manusia keparat ini, tak heran aku selalu menderita kerugian ditangannya."
Gerak geriknya saat itu selain lincahpun amat kocak.
hampir saja Kim Thi sia dan Lu Ci tertawa terbahak-bahak saking gelinya.
selang berapa saat kemudian, siunta sudah melompat naik keatas pohon dan menyembunyikan diri dibalik dedaunan yang rimbun, bahkan berulang-ulang ia perdengarkan suara cicitan burung, bagi mereka yang tidak mengetahui, mimpipun mereka tidak akan menyangka kalau suara cicitan tersebut bukan suara burung asli.
Mendadak tampak sesosok bayangan manusia melintas lewat dengan kecepatan luar biasa dan sama sekali tak menimbulkan sedikit suarapun, jelas ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya telah mencapai puncak kesempurnaan.
Baru saja orang itu munculkan diri, terdengarlah suara bentakan keras bergema memecahkan keheningan.
"Nirmala nomor delapan, apakah Dewi Nirmala telah datang?"
Begitu teguran bergema, dari depan situ muncul kembali sesosok bayangan manusia. Bayangan tersebut berputar lincah ditengah udara kemudian melayang turun diatas tanah dengan manis sekali.
"Atas perintah Dewi Nirmala, arena harus dipersiapkan lebih dulu."
Orang yang datang pertama tadi manggut-manggut, dia maju kedepan dan menendang jalan darah siau yau hiat ditubuh Kim Thi sia.
Pemuda Kim memejamkan matanya rapat-rapat, seketika ia terpental sejauh tiga kaki lebih dan terjatuh dibalik semak belukar.
sekujur badannya kontan terasa kaku, linu dan kesemutan.
Kepalanya pusing tujuh keliling, hampir saja napasnya putus saking kesakitan.
sementara itu orang tadi telah menendang pula jalan darah siau yau hiat dipinggang Lu Ci, tanpa menimbulkan sedikit suarapun Lu Ci terpental juga sejauh tiga kaki dan roboh tak sadarkan diri sementara itu siunta sama sekali tak berani berkutik, dia adalah seorang yang pintar dan cekatan-Begitu menyadari bahwa orang tersebut memiliki tenaga dalam yang sempurna tak tahu kalau dirinya bukan tandingan, diapun segera memutar haluan dengan niat "
Melarikan diri". Dengan sorot mata yang tajam bagaikan kilat Nirmala nomor delapan mengamati sekejap wajah Lu Ci, lalu serunya keheranan.
"Hey, mengapa orang itu tidak mengeluarkan sedikit suarapun? Mungkinkah dia telah menjadi sesosok mayat? Hey Nirmala nomor tujuh, apakah kau tidak turun tangan kelewat berat?"
"Tendanganku tadi kuserangkan diatas jalan darah siau yau hiatpun aku percaya biar dewa pun tak akan lolos dari kematian, apalagi kedua orang itu sudah tergeletak tak bergerak. aku yakin delapan puluh persen mereka adalah mayat."
Jalan darah siau yau hiat merupakan satu diantara tiga puluh enam buah jalan darah penting lainnya.
Bila tersentuh pelan akan berakibat tertawa bila terlampau keras akan menyebabkan kematian, kedua orang itu tergeletak tak bergerak ditengah hutan ditengah malam buta begini jangan-jangan mereka adalah mayat yang dibuang orang.
Aku rasa seranganmu tadi amat berat, sehingga tertawa pun tak sempat mereka sudah putus nyawa semua......."
"Yaa benar, akupun berpendapat demikian"
Nirmala nomor tujuh manggut-manggut tanda membenarkan. sementara itu Kim Thi sia yang tergeletak dibalik semak belukar segera berpikir dengan perasaan kacau.
"Aaaai kali ini aku bakal mati, sungguh menggemaskan perbuatan siunta yang telah menotok jalan darahku. Kalau tidak. aku pasti masih memiliki sisa tenaga untuk melakukan perlawanan."
Tiba-tiba Nirmala nomor tujuh melangkah maju kedepan menghampiri kembali Lu ci, kemudian dia membungkukkan badannya memeriksa dengan napas orang tersebut, setelah itu katanya sambil manggut-manggut.
"orang ini sudah putus napas, sekarang kecurigaanku sudah hilang. Nah Nirmala nomor delapan, kaupun tak usah kuatir rahasia ini sampai bocor keluar lagi."
"Hey, sungguh aneh"
Seru Nirmala nomor delapan tiba-tiba.
"Rembulan sudah persis diatas awan, mengapa Dewi Nirmala belum juga menampakkan dirinya......?"
"Menurut dugaanku, kemungkinan besar Dewi Nirmala telah menjumpai suatu kejadian yang diluar dugaan."
Nirmala nomor delapan segera mendengus.
"HHmmm, omong kosong, siapa yang dapat meloloskan diri dari tangan kejinya?"
Walaupun dengusannya pelan, namun dapat didengar siunta dengan jelas sekali, sudah jelas orang itu memiliki tenaga dalam yang amat sempurna.
Diam-diam siunta merasa terkesiap.
dia semakin tak ebrani bergerak lagi, malah napaspun cepat-cepat ditahan.
Angin dingin yang berhembus lewat serasa menusuk tulang, siunta merasakan wajahnya membeku karena kedinginan sementara hatinya berdebar keras dicekam kekuatiran, semenjak terjun kedalam dunia persilatan belum pernah dia merasakan ketegangan seperti ini.
Ia sadar bahwa tenaga dalam yang dimilikinya masih selisih jauh bila dibandingkan dengan kedua orang tersebut, seandainya jejaknya sampai ketahuan dapat dipastikan dia akan mengalami nasib yang tragis.
Menghadapi ancaman bahaya maut seperti ini, mau tak mau dia harus bertindak dengan lebih berhati-hati lagi.
Dalam pada itu Nirmala nomor tujuh telah berkata.
"Nirmala nomor delapan, selama banyak tahun ini, apakah kau telah merasakan sesuatu?"
Nirmala nomor delapan menghela napas panjang, tiba-tiba dia merendahkan suaranya seraya berkata.
"Terus terang kubilang, seandainya dalam hati kecilnya tiada setitik harapan, aku benar-benar ingin melepaskan diri dari kesengsaraan dengan mengakhiri sisa hidupku. Aaai.....menjalankan penghidupan yang sama sekali tak menarik serta tidak menggembirakan hati begini, aku merasa tubuhku seperti digerogoti secara pelan-pelan-"
Sekalipun orang ini tak berani mengemukakan isi hatinya secara berterus terang, ditinjau dari napasnya, dapat ditangkap banyak kedukaan dan kepedihan yang mencekam perasaan hatinya.
"Yaa benar"
Terdengar nirmala nomor tujuhpun mengeluh.
"Kaupun merasakan diriku seperti sudah dijual sebagai seorang budak. selain tak berpendirian, akupun tak bisa bergerak secara bebas serta mengambil keputusan menuruti kehendak hatiku sendiri"
Pelan-pelan Nirmala nomor delapan memejamkan matanya.
Dua titik air mata nampak jatuh berlinang membasahi pipinya.
setelah termenung sejenak, tiba-tiba dia mengangkat kepalanya dan memandang sekejap sekeliling tempat itu kemudian ujarnya dengan suara dalam dan berat.
"sudahlah, lebih baik kita tak usah memikirkan persoalan semacam itu, sebentar lagi Dewi Nirmala bakal datang."
Menyaksikan sorot mayanya yang sangat tajam bagaikan sembilu itu, siunta yang bersembunyi dibalik dedaunan merasakan hatinya bergetar keras dan tubuhnya gemetaran suatu perasaan seram dan ngeri yang entah datang darimana tahu-tahu telah menyelimuti seluruh perasaan hatinya.
Ia dapat merasakan bahwa sepasang mata orang itu tajam seperti bintang, dingin melebihi saiju.
seakan-akan dia sedang menghadapi seorang algejo yang siap menghabisi nyawa korbannya.
Tiba-tiba Nirmala nomor tujuh membungkukkan badan memberi hormat seraya berseru.
"Menyambut kedatangan sincu"
Siunta mencoba mengintip dari balik dedaunan yang rimbun, dibawah sinar rembulan ia saksikan sesosok bayangan hitam berkelebat lewat bagaikan kilat menyambar belum sempat dia mengerdipkan matanya tahu-tahu orang yang disebut sebagai "sin cu"
Itu sudah muncul ditengah arena.
selama hidup belum pernah dia menyaksikan ilmu meringankan tubuh selihay ini bahkan mendengarpun belum pernah, begitu terkesiapnya dia sampai lidahpun tidak bisa ditarik kembali.
sin cu tersebut berperawakan gemuk, walaupun demikian kegemukan badannya sama sekali tidak mempengaruhi kelincahan serta kegesitannya didalam menggerakkan badan.
siunta tak berani mengamati wajah orang itu dengan seksama dia hanya dapat merasakan bahwa orang itu mengenakan baju yang perlente dari bahan mahal, namun wajahnya dikerudungi dengan selembar kain.
Sinar mata orang itu jauh lebih tajam daripada rembulan, persis seperti dua butir batu permata yang membiarkan sinar tajam bila bergerak pelan.....
Betapapun rapatnya siunta menyembunyikan diri, ia selalu berpendapat bahwa tempat persembunyiannya itu seakan-akan telah diketahui lawan.
Pelan-pelan sudah terlihat bayangan manusia bergerak.
ternyata sin cu yang semula dikira gemuk sesungguhnya bertubuh kurus.
Dia nampak gemuk karena disampingnya berdiri pula seseorang yang lain baru sekarang siunta tahu bahwa orang yang munculkan diri barusan terdiri dari dua orang yang berdiri berjajar rapat.
sementara orang yang kedua telah melepaskan ilat kepalanya hingga berurailah rambutnya yang panjang, mimpipun siunta tak mengira kalau orang yang disebut Dewi Nirmala ternyata adalah seorang perempuan cantik.
sementara itu Dewi Nirmala telah berkata sambil tertawa ringan-"Gara-gara sesuatu persoalan aku telah datang agak terlambat, tentunya kalian berdua sudah menunggu cukup lama bukan?"
Buru-buru Nirmala nomor tujuh menjura seraya menjawab.
"Karena ada urusan lain, tentu saja sin cu datang agak terlambat. Kami berdua tak berani menyalahkan-"
Sekali lagi siunta dibuat tertegun, dia merasakan nada pembicaraan si Dewi Nirmala amat merdu bagaikan burung nuri yang berkicau.
setiap patah katanya selalu menimbulkan daya pesona yang luar biasa bagi mereka yang mendengarkan.
Diam-diam diapun berpikir.
"Dengan suaranya yang begitu merdu merayu, wajahnya pasti cantik bak bidadari dari khayangan-Tak kusangka orang yang disebut Dewi Nirmala adalah perempuan yang begini menarik."
Menyusul kemudian dia berpikir lebih jauh.
Baca Juga: Kilas Balik Merah Salju 5
Baca Juga: Pendekar Baja 2