Eps 6 Lembah Nirmala - Khu Lung
Baca online Lembah Nirmala - Khu Lung
Cersil Lembah Nirmala - Khu Lung.
"Yaa benar, ayahnya adalah seorang perampok kenamaan, sejak kecil akulah yang memelihara dan mendidik bocah ini dengan harapan setelah ia dewasa nanti bisa melanjutkan pekerjaan ayahnya itu"
Putri Kim huan membelalakkan matanya besar-besar. sambil berpaling ia segera bertanya.
"Bukankah sekarang ia sudah meningkat dewasa? Kalau begitu diapun seorang perampok kenamaan?"
Si unta tidak mengakui secara langsung namun katanya pelan.
"Itulah sebabnya kau mesti bersikap lebih hati-hati."
"Hoy, kau jangan percaya dengan omongan setannya"
Buru-buru Kim Thi sia berseru cepat. Putri Kim huan tidak menanggapi, dia berkata lebih jauh.
"Aku tak takut kepadanya, ayahku adalah kaisar dari negeri Kim..........."
Gadis ini memang paling suka mempertunjukkan identitasnya yang luar biasa itu untuk menarik sikap hormat orang lain terhadapnya.
Kim Thi sia bermaksud menghalangi perbuatannya itu namun tak sempat, sementara si unta tertegun dibuatnya.
Berapa saat kemudian dengan sikap seorang kakak memberi nasehat kepada adiknya dia berseru keras.
"Hoy bocah keparat, kali ini kau telah berbuat kesalahan besar. Nona ini adalah putri kaisar negeri Kim, ia berkedudukan tinggi, anggun dan mulia, maka kau........aaaai, kau kelewat tolol, kelewat pikun-"
Mendengar perkataan tersebut, tanpa terasa putri Kim huan ikut menaruh curiga, dia mengira Kim Thi sia benar-benar adalah seorang perampok yang banyak melakukan kejahatan sehingga tanpa sadar dia menganggap dirinya sedang berada dalam sarang harimau.
Hatinya berdebar keras, merasa tegang hingga tangannya berulang kali menyeka peluh dingin yang membasahi jidatnya.
Kim Thi sia sadar, dia tak mampu mengungguli kecerdikan serta kelicikan orang itu, maka ujarnya langsung kepada putri Kim huan.
"Hoy coba kau bayangkan sendiri, seandainya aku benar-benar adalah.........manusia........ manusia macam begitu, mengapa aku hendak menghantar dirimu untuk dilindungi orang lain?"
Kemudian setelah berhenti sejenak, katanya lagi.
"sicebol ini licik dan banyak akal muslihatnya, dia senang membuat berita sensasi, coba kau tak hadir disini, pasti sudah kugaplok wajahnya."
Lalu dengan wajah bersemu merah, katanya tergagap.
"Terus terang saja, aku......aku belum tahu bagaimana cara kerja seorang perampok........"
"Kenapa kau tak menggaploknya karena aku berada disini?"
Tanya putri Kim huan seraya berpaling.
"Karena kau hadir disini, aku merasa rikuh untuk berbuat kasar."
"Mengapa ia tak rikuh membuat berita sensasi?"
"Sebab mukanya memang tebal seperti dinding."
Mendengar perkataan itu, si unta segera berlagak mengukur ketebalan kulit muka sendiri, lalu semakin melihat Kim Thi sia berbicara kelewat kasar, ia segera melotot seraya berseru.
"Maknya, kita boleh mengukur ketebalan muka sendiri, coba lihat pipi siapa yang lebih tebal........"
Putri Kim huan berkerut kening, kenapa Kim Thi sia segera serunya.
"Dia selalu berbicara kotor, apakah kau merasa senang untuk mendengarnya terus?"
Dari perkataan ini bisa disimpulkan kalau dia lebih condong berpihak Kim Thi sia dan menganggap si unta kurang pendidikan sehingga delapan puluh persen perkataannya tak dapat dipercaya.
Kim Thi sia segera menjawab.
"Bila kau sudah tak ingin mendengarkan obrolannya lagi, sekarang juga aku akan menghajarnya "
"Aku memang paling benci mendengar perkataan kotor seperti itu."
Meskipun nadanya angkuh namun merupakan ucapan yang sejujurnya. Kim Thi sia segera berpaling kearah si unta dan membentak keras.
"Kuharap kau menggelinding pergi sejauhnya dari sini, kalau tidak aku segera akan menghajarmu."
"Maknya, kau anggap aku tak punya kepalan dan tak berani menghadapimu...........?"
Seru si unta marah juga.
sambil berkata segera menggulung lengan bajunya dan siap melakukan perlawanan-Kim Thi sia tak berpikir panjang lagi, tiba-tiba ia mendesak maju kemuka dan segera mengayunkan kepalannya melepaskan serangkaian pukulan berantai.
sesungguhnya si unta hanya berniat gertak sambal untuk melindungi muka sendiri dari rasa malu, dia tak menyangka pemuda itu benar-benar akan menyerangnya.
Melihat datangnya serangan tersebut, dengan cekatan dia menyelinap lewat bawah ketiak musuh dan melarikan diri terbirit-birit sambil berteriak keras.
"Aduh celaka, ada perampok hendak mencabut nyawaku, tolong..........."
Melihat tindak tanduknya yang lucu, putri Kim huan segera tertawa cekikikan karena geli.
Kim Thi sia tak sungkan-sungkan lagi, dia mengejar kedepan dan tiba-tiba menyerang dengan jurus "mati hidup ditangan takdir"
Dan "cahaya terang diempat samudra"
Dari ilmu Tay goan sinkang.
Betapapun lincah dan cekatannya si unta bagaimana mungkin ia bisa menghindarkan diri dari serangan yang dahsyat itu...?
Tak ampun bahunya terhajar telak sambil menjerit kesakitan tubuhnya segera roboh terjungkal keatas tanah dan tidak bergerak lagi mungkin jiwanya sudah melayang.
Agaknya hawa amarah Kim Thi sia belum mereda kembali bentaknya dengan suara keras.
"Hoy situa, jangan berlagak macam bangkai anjing karena tak mampu mengungguli lawan, terhitung orang gagah macam apakah dirimu itu?"
Namun ketika jari tangannya menyentuh hidung si unta, paras mukanya berubah secara tibatiba, dengan wajah tertegun serunya.
"Haaaah, sudah mati? Masa dia mati dengan begitu saja?"
Walaupun orang ini sangat menjengkelkan namun bagaimanapun juga tiada hubungan dendam sakit hati dengannya sekarang dia telah melukainya, bagaimanapun juga sebagai pemuda berhati lembut, kejadian ini membuatnya menyesal sekali.
sampai lama kemudian dia baru berpikir dengan hati tak karuan.
"Aaaah, siapa suruh dia menggangguku terus menerus? Coba ia tak menggodaku, akupun tak akan tega melukainya......."
Setelah mengawasi sekejap mayat siunta diapun berseru kepada putri Kim huan.
"Mari kita pergi."
Agaknya pengalamannya selama berapa hari terakhir membuat putri Kim huan mulai terbiasa dengan kejadian seperti ini.
Tanpa membuang banyak waktu ia segera mengikuti dibelakang pemuda itu.
Tiba didalam kota, tiba-tiba mereka saksikan ada banyak orang persilatan yang berkecamuk dalam kerumunan rakyat biasa.
sekalipun mereka hanya memakai baju biasa dan tidak menggembel senjatanya namun dari sorot matanya yang begitu tajam dan langkah yang tegap Kim Thi sia segera mengetahui bahwa mereka adalah orang-orang persilatan yang sedang menyaru.
Terdorong rasa ingin tahu pemuda itu mencoba mencari berita dari sana sini.
Akhirnya dia berhasil mengetahui suatu rahasia.
"Murid pertama dari malaikat pedang berbaju perlente, sipedang emas telah bentrok dengan seseorang."
"siapakah orang itu?"
Tak seorangpun tahu, namun bila ditinjau dari suasana dalam kota saat ini, bisa disimpulkan bahwa orang itu bukan jago sembarangan.
Konon bentrokan itu terjadi gara-gara sebuah mestika, tapi apakah mestika itu?
Kim Thi sia tak berhasil menyelidiki secara jelas.
Ia cuma tahu tempat berlangsungnya pertarungan dan waktu berlangsungnya kejadian ini, tapi ia tahu delapan orang sutenya pasti tak akan berpeluk tangan belaka.
Kim Thi sia merasakan hatinya berdebar keras, pikirnya.
"Lewat dua hari lagi aku bakal bertemu dengan seluruh abang seperguruanku, apa yang mesti kuperbuat?"
Kim Thi sia mendampingi putri Kim huan memasuki rumah makan terbesar dikota itu yang memakai merek Eng pia lo.
Baru masuk kepintu gerbang, empat orang lelaki kekar telah menghampiri mereka seorang diantaranya segera menjura dengan hormat seraya bertanya.
"Sobat, siapakah namamu? Bolehkah kami mendapat tahu?"
"Aku Kim Thi sia."
Habis berkata dia mendorong lelaki itu kesamping kemudian masuk dengan langkah lebar, buru-buru putri Kim huan mengikuti dari belakang.....
Empat lelaki kekar itu berpandangan sekejap dengan wajah tertegun, Tapi dengan cepat memaafkan sikap ketidak sopannya, sambil tertawa tergelak katanya.
"Haaaah......haaaaah......haaaaah......rupanya kau, maaf kami telah berbuat kasar......."
Dengan lagak yang angkuh Kim Thi sia mengambil tempat duduk dan tidak menggubris keempat orang itu lagi, ia berteriak memesan sayur kemudian bersantap dengan lahap.
Ketika putri Kim huan mendongakkan kepalanya, ia melihat semua tamu diruangan tersebut telah tertuju kearahnya.
Seakan-akan sedang menikmati suatu benda mestika.
Hal ini membuatnya mendongkol ia segera berhenti bersantap dan menarik tangan Kim Thi sia.
Dengan keheranan pemuda itu segera bertanya.
"Ada apa?"
"Mereka pada mengawasi diriku"
Tatkala Kim Thi sia berpaling betul juga, dia melihat banyak orang sedang mengawasi putri Kim huan dengan mata terbelalak besar.
Ada yang segera berbisik-bisik ada pula yang mengawasinya makin melotot.
jelas bahan pembicaraan mereka adalah gadis tersebut.
Kim Thi sia segera berpikir.
"Apanya yang aneh? Siapa suruh wajahmu cantik sekali."
Melihat pemuda itu tanpa reaksi, kembali putri Kim huan berkata.
"Kalau mereka mengawasi diriku terus, aku benar-benar tak mampu bersantap........"
"Cobalah untuk menyesuaikan diri dengan keadaan"
Kata Kim Thi sia sambil tertawa.
"Mata kan milik mereka, bagaimana mungkin aku bisa mencampuri urusan ini?"
Putri Kim huan menggigit bibirnya kencang-kencang dan membungkam tanpa menjawab. sementara dalam hati kecilnya memaki kegoblokan Kim Thi sia yang tak memahami jalan pikiran seorang wanita, pikirnya.
"Coba kalau ia mau memaki orang-orang itu, setibanya dinegeriku, pasti akan kumohon kedudukan yang tinggi dari ayah baginda."
Tapi sayang Kim Thi sia bukan seorang pelindung yang memahami perasaan wanita.
Hal ini membuat putri Kim huan mendongkol sekali, tangannya dikepal kencang-kencang seakan-akan hendak menelannya bulat-bulat.
Makin dipikir gadis itu makin mendongkol, matanya menjadi merah.
Coba disitu tak ada orang, ia pasti akan menangis sepuas hati.
Akhirnya sambil menggebrak kakinya keatas tanah, dia berseru.
"Ayoh kita pergi saja dari sini"
"Tidak. aku masih ingin berdiam sebentar lagi. Disini, ingin kulihat apakah ada perempuan lain yang baru."
Ia menyeka mulutnya lalu membuka jendela lebar-lebar, ketika angin berhembus lewat ia pun berseru.
"oooh, nyaman amat......."
Putri Kim huan makin mendongkol, sambil berkerut kening dia membungkam dalam seribu bahasa.
Lama kelamaan tampaknya Kim Thi sia tak tahan melihat gadis itu selalu bermuram durja, dia segera melompat bangun dan tanpa berpikir panjang teriaknya keras-keras.
"Sobat sekalian, maaf kalau aku ingin numpang berbicara sebentar, bagaimanapun juga dia adalah seorang nona yang sedang melakukan perjalanan diluar rumah sudah merasa amat tak leluasa, apalah artinya kalian berbisik-bisik membicarakan tentang dirinya atau lebih tak sedap lagi untuk dikatakan, kita semua adalah manusia. Meski ia seorang perempuan toh bukan manusia ajaib yang memiliki tiga kepala enam lengan, apakah yang bagus untuk ditonton-Karena itu kuharap sobat sekalian memakluminya sebagai seorang wanita dan bersikaplah lebih sopan-"
Dasar tak pandai berbicara, ucapan tadi membuat suasana bertambah runyam dan memancing gelak tertawa orang banyak.
Putri Kim huan malu bercampur marah, seandainya disana ada gua, niscaya ia telah menerobos masuk untuk menyembunyikan diri dari suasana yang serba merikuhkan ini.
Dengan kening berkerut dan hawa amarah yang membara, Kim Thi sia berseru lagi.
"Kalian tak usah mentertawakan barang siapa mereka tak puas. silahkan mencari urusan dengan aku Kim Thi sia."
Begitu namanya disebutkan, seketika menggemparkan beberapa orang tamu yang mengetahui identitasnya, maka berita ini segera tersebar luas.
Ketika semua orang mendapat tahu kalau pemuda ini adalah manusia yang paling susah dilayani, merekapun berhenti mentertawakan.
Melihat suasana kembali menjadi hening dan tak seorang pun berani berkaok-kaok lagi.
Kim Thi sia menyapu sekejap sekeliling ruangan, lalu sambil tertawa dingin duduk kembali ketempatnya semula.
Dengan terjadinya peristiwa itu, Kim Thi sia merasa semakin murung, ia sadar melakukan perjalanan bersama gadis tersebut yang benar-benar suatu pekerjaan yang merepotkan dan memusingkan kepalanya, ia mulai mencari akal bagaimana caranya melepaskan diri dari gadis tersebut.
Putri Kim huan yang tidak mengetahui akan hal itu kembali mengambek.
tiba-tiba katanya.
"Bagaimanapun juga, aku hendak pergi dari sini."
"Kalau ingin pergi, pergilah"
Putri Kim huan bangkit berdiri, mendadak ia merasa perkataan tersebut ada yang tidak beres, segera tanyanya lagi.
"Bagaimana dengan kau? Apakah tidak pergi?"
"Tidak Aku ingin mengetahui apa yang telah terjadi disini, aku harus menanti sebentar lagi."
Dengan gemas putri Kim huan berpikir.
"Baik, kalau kau tak mau pergi, biaraku pergi sendiri. Hmmm, siapa yang membutuhkan pengawalanmu? "
Tanpa terasa dia berjalan menuju kepintu gerbang.
Namun setibanya didepan pintu kembali dia merasa ragu sehingga tanpa terasa berpaling kembali kedalam ruangan, untuk sesaat dia tak tahu apa yang mesti diperbuatnya.
Kebetulan dari seberang jalan sana muncul serombongan berandal, ketika melihat ada seorang nona cantik berdiri sendirian didepan pintu rumah makan.
Kontan saja mereka bersiul sambil mengawasi dengan cengar cengir, malah seorang diantaranya segera berseru.
"Nona cilik, wajahmu benar-benar cantik lagi manis bagaikan bidadari dari khayangan. Apakah kau sudah punya suami? Kalau belum punya pasangan, pasti akan kusuruh mak comblang untuk pergi melamarmu........."
"Hey nona cantik, kau datang dari mana?"
Seru seorang berandal lagi.
"Kecantikanmu sungguh luar biasa, dandananmu pun sangat aneh. Hmmm, sibopeng mari kita segera turun untuk memeluknya.........."
Putri Kim huan mundur berapa langkah kebelakang, rasa percaya pada diri sendirinya hancur total tanpa berpikir panjang lagi dia lari masuk kembali kedalam rumah makan dan duduk kembali disisi Kim Thi sia dengan kepala tertunduk.
sambil tertawa Kim Thi sia segera berkata.
"Aku tahu kau tak bakalan pergi jauh, orang perempuan memang sangat tak leluasa untuk berjalan seorang diri didaratan Tionggoan-"
Sebenarnya putri Kim huan sudah duduk kembali, tapi perkataan itu membuat dia mengambek lagi, sambil melotot gemas serunya.
"Hmmm, apa sih hebatnya kaum pria, apalagi macam kau dungu seperti kerbau........"
"Apa? Kau memakiku seperti kerbau? Kau sendiri macam apa?"
Teriak Kim Thi sia sambil melompat bangun-Suara teriakannya amat nyaring membuat setiap orang dalam rumah makan itu mendengarnya dengan jelas, serentak mereka berhenti berbicara dan mengalihkan perhatiannya kearah mereka.
setengah menahan isak tangisnya putri Kim huan berkata.
"Kau jangan menganiaya aku dihadapan umum. Aku.......aku........."
Dia adalah seseorang yang suka akan gengsi dan nama baik, ketika harga dirinya dirusak orang dihadapan orang lain, maka rasa sedihnya melebihi dibunuh.
Kata-kata selanjutnya pun sulit baginya untuk diutarakan lebih lanjut.
Kim Thi sia cukup memahami perasaan hatinya, oleh sebab itu dia merasa tak tega sendiri, sambil menahan diri katanya.
"Eeeei, kau mesti memaafkan aku, toh kau sudah tahu aku bukan orang yang bisa menahan emosi. Bila kau memakiku maka akupun kehilangan kendali......."
"Bila engkau tidak mau pergi dari sini, biarlah aku yang mati saja ditempat ini, aku tak tahan ditertawakan orang lain terus menerus"
Seru putri Kim huan sambil menangis.
"Baik, kita segera tinggalkan tempat ini."
Dengan kepala tertunduk putri Kim huan berjalan meninggalkan rumah makan, setibanya diluar gedung dia baru menghembuskan napas panjang. Kim Thi sia segera bertanya dengan lembut.
"Apakah kau lelah? Apakah ingin beristirahat sebentar?"
Putri Kim huan manggut-manggut tanpa menjawab.
Kim Thi sia segera mengajak gadis itu memasuki sebuah rumah penginapan yang memakai merek Hok lok.
Putri Kim huan kelihatan murung dan amat bersedih hati, setibanya didalam kamar, dia segera membaringkan diri diatas pembaringan dan tertidur dengan nyenyak sekali.
Kim Thi sia sebagai seorang lelaki sejati yang jujur, biarpun dia berada dihadapan seorang nona cantik yang sedang tertidur nyenyak.
hatinya tak tergoda, malah dengan penuh perhatian dia menyelimuti badannya, merapatkan pintu kamar lalu berjongkok diluar kamar sambil beristirahat.
Hingga menjelang matahari terbenam dilangit barat, putri Kim huan baru mendusin dari tidurnya, dia baru saja mendapat impian buruk hingga peluh dingin membasahi tubuhnya.
Ketika tidak melihat Kim Thi sia hatinya semakin berdebar keras.
Tergopoh-gopoh dia membentulkan letak bajunya lalu keluar dari kamar, Tapi dalam pandangan mata pertama ia telah melihat Kim Thi sia sedang berjongkok diluar pintu sambil tertidur.
Kejadian ini kontan saja menghancurkan hatinya.
Jilid 21 Meski sipedang besi So Bun pin sangat romantis dan mengerti tata cara pergaulan, namun bila dibandingkan dengan Kim Thi sia yang terbuka, jujur dan perkasa maka So Bun pin sudah jelas tertinggal jauh sekali.
Sebagai seorang gadis yang cerdik, dalam waktu singkat ia sudah dapat menentukan hasil perbandingannya, dia sadar Kim Thi sia yang kasar tapi polos dan jujur ini jauh lebih dapat dipercaya.
Kecabulan dan perbuatan sipedang besi So Bun pin yang berbuat kurang senonoh kepadanya membuat gadis ini amat membenci dirinya, sebaliknya Kim Thi sia meski selalu bentrok dengannya, namun pemuda itu tak pernah menunjukkan sikap kurang ajar, itulah sebabnya dia merasa Kim Thi sia jauh mengungguli So Bun pin-Setelah berpikir sebentar gadis itupun menggoyang-goyangkan badan dipemuda.
Kim Thi sia membuka matanya dengan terkejut, dia mengira musuh telah datang hingga sambil mengucak matanya dia bertanya.
"Sudah jam berapa sekarang?"
"Mendekati luhur"
"Aaaah, aku benar-benat pikun."
Kata Kim Thi sia sambil melompat bangun.
"Tak nyana aku sudah tertidur senyenyak ini, coba kalau ada musuh mengusirku, aku pasti akan menjadi orang yang berdosa, untung saja........"
Sambil mengucak matanya kembali dia tertawa tergelak.
"sudahlah, matamu jangan digosok terus. sudah cukup merah, bisa-bisa akan buta nanti......."
Seru putri Kim huan sambil tertawa. Nampaknya gadis itu merasa hatinya agak cerah hingga gelak tertawanya pun lebih terbuka dan merdu.
"Mataku sudah cukup merah......"
Kim Thi sia tertegun.
"sudah tentu disebabkan kurang tidur. Aaaah, kau bikin hatiku terperanjat saja."
Sambil tertawa diapun mengangkat kepalanya tiba-tiba melihat sepasang matanya yang jeli sedang mengawasinya tanpa berkedip. dengan keheranan ia segera bertanya.
"Hey, apa yang sedang kaupikirkan?"
"Aaah......tidak apa-apa......."
Sinona tertawa.
Mendadak paras mukanya berubah menjadi merah dadu, seakan-akan rahasia hatinya sudah terbongkar.
Kim Thi sia tak ingin menyelidiki perkataan dari seseorang sampai sejelasnya karena gadis itu begitu enggan menjelaskan, diapun tidak bertanya lebih jauh setelah membetulkan letak bajunya, sambil tertawa katanya.
"Daripada menganggur didalam kamar, ayoh kita jalan-jalan saja."
"Bagus, tapi aku tak akan pergi lagi kerumah makan Eng pin lo tersebut"
Seru sinona. Kim Thi sia tertegun, lalu katanya dengan nada minta maaf.
"Aaaah.....betul, aku menyesal sekali dengan peristiwa ditengah hari tadi.........."
Sepeninggal dari penginapan Hoi lok. mereka berdua berjalan menelusuri jalan raya. Ditengah jalan mendadak Kim Thi sia berpikir dengan rasa kaget.
"Hey, apa yang terjadi, kenapa kawanan manusia cecunguk itu belum juga membubarkan diri? Memangnya siang malam mereka bertugas mengawasi gerak gerik orang?"
Karena curiga diapun memperhatikan sekelompok manusia diujung lorong dengan lebih seksama lagi.
Mereka terdiri dari tujuh, delapan orang lelaki kekar yang sedang berjongkok diatas tanah sambil bermain dadu.
satu ingatan segera melintas dalam benak Kim Thi sia, kepada putri Kim huan bisiknya kemudian-"Perlahan sedikit jalannya, coba kita sadap apa pembicaraan mereka."
Dengan langkah yang amat santai, selangkah demi selangkah mereka mendekati kelompok manusia tersebut.
Terdengar salah seorang lelaki yang didepannya terlihat setumpuk uang sedang bergumam dengan nada gembira.
"Huuuh, perduli amat dengan segala macam tugas, aku rasa main dadu paling asyik, selalu bisa mengantongi berapa tahil perak-tak usah menyerempet bahaya pula."
"Maknya si ong tua"
Seri seorang gemuk yang berjongkok disisinya.
"Baru menang bicara tak karuan, hati-hati kalau sampai ketahuan pemimpin kita, semua orang bisa dimaki habis-habisan. Eeeei sian ong, kau yang menang hari ini, sepantasnya kau juga yang bertanggung jawab bila dimaki nanti."
"ssstt....kalau bicara jangan keras-keras"
Seru seorang lelaki yang lain-"Kita mendapat tugas mengawasi gerak gerik musuh, bila lawan sampai mendengar teriakanmu itu, bukan kita yang mengawasi orang lain, bisa jadi orang lain yang akan mengawasi kita.
Apalagi pemimpin kita kan sudah berpesan, sewaktu bekerja jangan malas, masa kalian tidak mendengarnya.........?"
Sementara itu Kim Thi sia sudah lewat dari lorong tersebut, dia merasa amat kecewa karena tak berhasil menyadap pembicaraan apapun, saat itulah mendadak terdengar seseorang berbisik.
"Kalian jangan ribut dulu, bicara terus terang selain sipedang emas bangsat muda itu, konon diapun masih membawa banyak orang untuk memusuhi pemimpin kita.
Aku lihat lebih baik kita hentikan permainan pada hari ini, mari kita lakukan pengawasan disegala pelosok kota."
"Benar"
Timbrung si ong tua.
"Kita harus melakukan pemeriksaan, andaikata tidak menemukan sesuatu apapun yang penting tugas kita sudah selesai dikerjakan."
Kim Thi sia tahu semua orang akan bubaran, cepat ia menarik ujung baju putri Kim huan smabil berbisik.
"Cepatan sedikit jalannya, mereka segera akan berhambur keluar."
Belum berapa langkah mereka berjalan, ketika Kim Thi sia berpaling kembali, betul juga ia melihat dari lorong tersebut muncul tujuh, delapan orang lelaki kekar yang segera berhamburan keempat penjuru jalanan.
Kini terbukti sudah sipedang emas memang telah bermusuhan dengan pemimpin dari suatu perkumpulan besar dalam dunia persilatan, bahkan telah berjanji akan melangsungkan pertarungan disuatu tempat.
Maka diam-diam pemuda kitapun memutuskan akan pergi ketempat tersebut guna membantu abang seperguruannya.
Entah berapa lama sudah lewat, mendadak terdengar putri Kim huan berseru.
"Hey, kemana perginya pedang Leng gwat kiam mu?"
Menyinggung masalah pedang Leng gwat kiam, wajah gadis itu berubah menjadi amat tegang, sebab gara-gara pedang inilah diantara mereka berdua pernah terjadi bentrokkan yang tak menyenangkan-Kim Thi sia agak tertegun, kemudian sahutnya singkat.
"Hilang"
Sementara dalam hati kecilnya berpikir.
"Pertanyaanmu ini benar-benar sebuah pertanyaan yang tidak pintar, mengapa sih diantara kita berdua mesti terjadi bentrokkan lagi gara-gara urusan pedang itu?"
"Apakah orang yang mengambil pedangmu itu berilmu silat sangat tinggi?"
Kembali gadis itu bertanya.
"Belum tentu begitu"
"Lalu kenapa bisa hilang?"
"Pedang itu dicuri orang tanpa kurasakan sama sekali, ilmu mencopet orang itu sangat lihay sekali."
"Waaaah.....kalau begitu pedang tersebut tak bisa diperoleh kembali untuk selamanya?"
"Belum tentu begitu, asal sipencurinya sudah kutangkap. paling tidak pedang itu akan ketahuan kemana perginya."
"Diantara kita berdua sesungguhnya tak pernah terjalin permusuhan apapun, tetapi kita selalu bentrok gara-gara pedang tersebut bukan?"
"Ehmmmmmm.........."
"Bila pedang Leng gwat kiam tidak pernah ditemukan kembali, berarti diantara kita berduapun tak pernah akan terjadi bentrokkan yang tak menyenangkan bukan?"
"Benar."
Tiba-tiba Kim Thi sia menambahkan-"Tapi hal ini tak mungkin, coba bayangkan saja pedang Leng gwat kiam ibarat ayah dan anak bagiku, mana mungkin kubiarkan orang lain mengangkanginya dengan begitu saja?
Aku telah bersumpah selama hayat masih dikandung badan, aku tetap akan mendapatkannya kembali."
"oooooh........begitu akrabnya hubunganmu dengan pedang leng gwat kiam?"
"Aku ingin bertanya lagi manusia macam apakah yang mempunyai hak untuk menyuruhmu mempersembahkan pedang Leng gwat kiam tersebut secara rela?"
"Kecuali kedua orang tuaku........."
Kim Thi sia menjawab sedih.
"Tapi mereka berdua telah meninggal dunia, jadi tiada orang didunia ini yang bisa membuat aku persembahkan pedang Leng gwat kiam dengan begitu saja........?"
"Apakah hanya terbatas pada kedua orang tuamu saja? Misalnya saja abangmu, cicimu atau mungki adik,adikmu.......istrimu."
Mendadak paras muka Kim huan berubah menjadi merah padam setelah berhenti sebentar lanjutnya.
"Apakah mereka semua tidak berhak untuk menerima pedang leng gwat kiam tersebut?"
Kim Thi sia agak tertegun serunya.
"Pertanyaanmu terlalu banyak. aku tak dapat menjawab pertanyaanmu itu. Tapi heran, mengapa kau menanyakan persoalan itu?"
"Aku ingin tahu sampai dimana kemesrahan hubunganmu dengan pedang leng gwat kiam tersebut, belum pernah kujumpai orang yang mengajakku ribut hanya gara-gara sebilah pedang."
"Tapi kenyataannya kau telah menjumpai manusia semacam itu bukan?"
"Ya a, kau memang manusia aneh."
"Mari, kita jangan membicarakan persoalan ini lagi, apakah kau merasa lapar?"
Putri Kim huan menggeleng kepala, keningnya berkerut kencang. Tampaknya ia merasa tak senang karena belum memperoleh jawaban yang memuaskan hati.
"Baiklah"
Kata Kim Thi sia kemudian-"Kalau toh kau merasa tak lapar, akupun tak ingin bersantap."
Putri Kim huan mengangkat kepalanya dan menatap pemuda tersebut dengan matanya yang jeli kemudian bertanya.
"Mengapa? bila gara-gara aku tak lapar menyebabkan kaupun hilang napsu makan-Kuanjurkan kepadamu lebih baik jangan berbuat sebodoh itu........."
Kim Thi sia menghindarkan diri dari tatapan matanya, lalu menjawab dengan geli.
"Bukan, bukan begitu, sesungguhnya aku memang tida terlalu lapar........"
Untuk berapa saat kemudian suasana menjadi hening, kedua belah pihak sama-sama tidak berbicara mereka belok disebuah tikungan dan menuju kearah jalan raya teramai dikota itu.
sementara putri Kim huan masih celingukan kian kemari.
Tiba-tiba ia berseru tertahan dan mengawasi seseorang dengan perasaan terkejut bercampur keherananorang itu sedang mabuk.
mukanya merah darah bagaikan kepiting rebus, langkahnya santai seakan-akan hendak roboh oleh hembusan angin.
seperti menjumpai iblis jahat saja, putri Kim huan bergumam lagi.
"Mana mungkin orang itu....? bukankah........ bukankah dia sudah mati.........?^ Kim Thi sia berpaling mengikuti arah yang dilihat gadis tersebut diapun turut mengamati lelaki tersebut namun matanya segera terbelalak lebar, ternyata lelaki pemabuk itu tak lain adalah si unta, situa bangka yang selalu merecoki dirinya itu. Bertemu dengan si unta, Kim Thi sia merasa seperti bertemu ular berbisa saja cepat-cepat dia menarik putri Kim huan untuk bersembunyi dibelakang pohon lalu serunya cemas.
"Jangan bersapa dengan orang itu dia licik mulutnya tajam, paling suka menyindir dan memperolok orang lain, aku paling benci dengan orang ini..........."
"Kalau begitu dia telah pura-pura mati?"
Tanya putri Kim huan lirih. Kim Thi sia mengangguk.
"Yaa, dia memang pandai berbuat apa saja....."
"Kau takut kepadanya?"
Kembali putri Kim huan bertanya sewaktu melihat pemuda tersebut gelagapansambil mengepal tinjunya pemuda Kim menjawab.
"Yaa paling kutakuti adalah mukanya yang tebal seperti kulit badak itu........"
Putri Kim huan tertawa cekikikan karena geli, serunya manja.
"Jadi kau paling takut dengan orang yang bermuka tebal?"
"Yaa, orang semacam ini memang paling memusingkan kepala."
Hubungan antara kedua orang itupun terasa makin dekat berlangsungnya pembicaraan ini.
Putri Kim huan sadar sudah percuma dia menjual lagak dihadapan pemuda ini.
Malah sebaliknya dengan pembicaraan yang santai, hubungan mereka terasa lebih bebas, santai dan menggembirakan.
Mendadak terdengar Kim Thi sia berbisik sambil menuding kearah si unta tersebut.
"Coba kau lihat, ada orang sedang menguntil dibelakangnya........"
Putri Kim huan melihat juga, orang tersebut mempunyai perawakan tubuh yang tinggi besar, bermuka bengis dan bermata tajam.
orang tadi menguntil terus dibelakang si unta dari jarak tertentu.
Putri Kim huan segera berbisik dengan suara murung.
"Coba kau lihat, senyumannya amat tak sedap dipandang, mungkinkah jiwanya bakal terancam? Aku kuatir dia dibokong orang sampai tewas dalam keadaan mabuk seperti itu."
Kim Thi sia merasa pendapat tersebut ada benarnya juga, maka sahutnya kemudian-"Kalau begitu mari kita ikuti."
Dengan cepat mereka berdua mengikuti pula dibelakang lelaki kekar tadi.
Agaknya lelaki tersebut telah memusatkan seluruh perhatiannya untuk menguntil dibelakang si unta, dia tak sadar kalau dibelakangnya justru ada orang lain yang menguntil pula sambil mengawasi gerak geriknya.
Ketika melalui sebuah hutan, tiba-tiba si unta berjalan masuk kebalik pepohonan yang rimbun itu, sambil tertawa seram lelaki tadi segera menyusul dari belakangnya.
Kim Thi sia segera merasa keadaan semakin gawat, tanpa berpikir panjang lagi dia menyambar tubuh putri Kim huan lalu dibawanya lari kemuka.
"Hey, mau apa kau?"
Tegur putri Kim huan dengan wajah tersipu-sipu.
Kim Thi sia tak sempat menjawab, dengan menyelinap dibalik pepohonan dia bergerak lebih cepat melewati didepan si unta.
Kasihan si unta, ternyata dia masih belum sadar kalau ancaman bahaya maut sudah muncul dibelakang tubuhnya, dengan langkah sempoyongan dia masih berjalan seenaknya memasuki hutan dan bersenandung pelansementara itu, lelaki kekar tadi telah memperhatikan sekejap sekeliling tempat tersebut dengan sorot mata yang tajam, ketika dia melihat ada orang lain yang menguntil, dia segera mengerahkan gerakan tubuhnya yang lincah untuk mendekati korbannya.
Jangan dilihat orang itu memiliki perawakan tubuh yang tinggi besar, ternyata gerak geriknya sangat lincah bagaikan seekor kucing.
"Aaaah.....ternyata dugaanku tak meleset, orang ini memang berniat jahat terhadap situa bangka"
Pikir Kim Thi sia dengan cepat.
"Baiklah memandang diatas wajah Thian maha pengasih, biar kuselamatkan jiwanya sekali ini......."
Baru saja dia hendak turun tangan untuk memberi bantuan, si unta yang nampak sempoyongan karena mabuk tadi tahu-tahu sudah membalikkan badan dan menegur sambil tertawa seram.
"Hey lo toako, aku sudah menunggumu cukup lama, tolong tanya ada urusan apa kau menguntilku hingga disini?"
Lelaki itu nampak terperanjat sekali, sekali ia menghentikan gerak terjangannya dan berdiri mematung, agaknya rasa kaget yang luar bisa membuat dia kehilangan pikiran dan tak tahu apa yang mesti diperbuat.
sambil melotokan matanya bulat-bulat, kembali si unta mengumpat.
"Lo toako, maknya kamu sudah kau dengar pertanyaanku tadi?"
Menyaksikan adengan tersebut, diam-diam Kim Thi sia menghembuskan napas lega, pikirnya.
"Sialan betul orang ini, percuma aku menguatirkan keselamatan jiwanya selama ini. Rupanya dia sudah tahu akan kehadiran orang tersebut namun masih berlagak pilon-"
Berpikir begitu, segera bisiknya kesisi telinga putri Kim huan-"Tak nyana bangsat ini lebih licik daripada seekor rase, kita semua sudah tertipu."
"Ya a, tadi aku masih mengira dia mabuk oleh arak"
Sahut putri Kim huan setengah berbisik.
"Hmmm, biarpun dia sudah minum arak seguci besar, nampaknya pikiran orang ini masih tetap jeli. Mari kita pergi saja, bajingan ini tak gampang dihadapi, dia pandai berlagak mati, bisa jadi sebentar lagi dia akan berlagak jadi setan-......"
"Tunggu dulu, aku ingin melihat bagaimana caranya berlagak menjadi setan."
Sementara pembicaraan masih berlangsung, lelaki kekar tadi telah mendusin dari rasa tertegunnya, dengan bengis dia segera berseru.
"Tua bangka celaka, tak usah banyak bicara, kau berani memusuhi pemimpin kami, berarti kau harus mampus secepatnya."
"Maknya"
Kembali si unta mengumpat.
"Justru manusia macam dirimu itu yang pantas untuk mampus."
Kemudian katanya lagi.
"Hmmm, padahal aku cuma memaki pemimpinmu dengan beberapa patah kata, masa kalian menganggap serius persoalan ini? Maknya, apa sih hebatnya dengan memaki orang. Aku sudah terbiasa hidup dengan memaki orang. Manusia macam apa pun sudah pernah kuumpat, memangnya cuma pemimpin kalian macam telur busuk itu yang tak boleh dimaki? Maknya....... kau tak usah sok"
"Tutup bacot anjingmu bangsat hari ini saat ajalmu bakal tiba"
Teriak lelaki itu gusar.
"Maknya.......memang beginilah watakku, sampai menjelang matipun aku tetap akan memaki orang, apalagi dihadapan manusia macam kerbau dungu semacam dirimu. Apa sih yang kau miliki? Bukan cuma kau, dua ekor udang busuk yang bersembunyi dibelakang pohon pun akan kumaki juga, melihat orang terancam bahaya tanpa menolong, terhitung manusia busuk macam apakah mereka......."
Berubah hebat paras muka Kim Thi sia setelah mendengar perkataan ini, dengan gemas dia berbisik.
"silahkan, benar-benar menggemaskan orang ini, rupanya dia sudah mengetahui akan kehadiranku tapi berlagak pilon, sialan-....."
"Hey dia memaki kita sebagai udang busuk"
Putri Kim huan menimpa h dengan suara mendongkol.
"Aku sudah mengatakan sedari tadi, orang ini bukan manusia sembarangan, tapi kau justru ingin menonton ulahnya, tentu saja kita yang dimaki oleh bajingan tua itu."
"Tapi dia kau sudah mengetahui jejak kita sedari tadi?"
Bantah putri Kim huan cepat. sementara itu lelaki kekar tadi sudah celingukan kian kemari, ketika tidak menjumpai dua orang yang dimaksud, ia segera tertawa terbahak-bahak sambil berseru.
"Telur busuk. toaya tak akan tertipu oleh akal muslihatmu, ayoh cepat serahkan nyawamu"
Sambil berkata dia segera mendesak maju kedepan dan melepaskan dua buah serangan berantai. Dengan cekatan si unta berkeliat kesamping, belum lagi berdiri tegak dia telah mengumpat lagi.
"Sialan-....sialan-..... kau si cucu kura-kura berani menyerang yayamu........? Hmmm, perbuatanmu ini merupakan pelanggaran besar, raja akhirat pasti tak akan mengampuni dirimu"
Lelaki kekar itu bertambah gusar, gagal dengan serangan pertama, ia segera meloloskan ruyungnya dan melepaskan serangkaian serangan yang gencar sekali mengurung seluruh badan si unta.
Menghadapi ancaman yang datang bertubi-tubi, ternyata si unta tidak mengeluarkan ilmu silatnya untuk melawan, sebaliknya dia justru melompat kesana kemari untuk menghindari diri dari sergapan musuh.
Begitu ada kesempatan baik, diapun berkaok-kaok sambil mengejek.
"Hey lelaki busuk. kau memang manusia busuk. manusia beruang yang goblok dan dungu......kau manusia tak berontak. raja akhirat pasti akan mengutukmu........oooh.....raja akhirat, tolong aku......cepat cabut nyawa beruang dungu ini"
Kim Thi sia yang menyaksikan kejadian tersebut kembali mengomel dengan suara mendongkol.
"Dasar manusia tak berpendidikan, makin lama makin macam-macam ulahnya........"
Ketika melihat putri Kim huan sedang menutup mulutnya sambil tertawa karena geli, tanpa terasa tegurnya lagi.
"Apanya sih yang lucu, jangan lupa, barusan dia masih memaki kita sebagai udang busuk"
Putri Kim huan segera menatap pemuda itu lekat-lekat, lalu tegurnya.
"Mengapa sih kau selalu mengganggu kegembiraan orang?"
"Asal kau tidak tertawa, hatikupun akan merasa lebih lega....."
Ucap Kim Thi sia cepat. setelah berhenti sejenak, kembali ujarnya.
"Tentu saja kau dapat tertawa sekarang, sebab kau belum pernah menderita kerugian ditangannya, belum mengetahui kejahatan orang tersebut, coba kalau kau pernah tertipu olehnya, tanggung kau tak bisa tertawa sekarang.........."
"Baiklah"
Ucap putri Kim huan kemudian sambil menunduk.
"Bila kau melarangku untuk tertawa akupun tak akan tertawa."
Ucapannya lembut dan sikapnya amat menurut, jauh berbeda dengan sikapnya dihari-hari biasa, kontan saja Kim Thi sia dibuat tertegun oleh perubahan sikapnya ini.
Dalam pada itu, pertarungan yang berlangsung diarena telah memasuki tahap tegang, sekalipun posisi nampak berimbang dan kedua belah pihak tak berhasil meraih keuntungan apaapa namun Kim Thi sia tahu siunta belum mengeluarkan ilmu simpanannya sedangkan lelaki kekar tadi telah mengeluarkan segenap kemampuannya.
Atau dengan perkataan lain, seandainya si unta berniat merobohkan musuhnya, hal ini bisa dia lakukan semudah membalikkan telapak tangan namun nyatanya ia tak berbuat begitu, sebaliknya menggunakan kesempatan tadi untuk mengejek dan menggodanya habis-habisan Akhirnya habis sudah kesabaran lelaki kekar itu, dalam gusar dan mendongkolnya mendadak ia membuang senjata ruyungnya, lalu sambil merentangkan lengannya lebar-lebar, ia menerjang kedepan bagaikan harimau kelaparan yang menerkam kambing.
Dengan cekatan si unta berkelit kesamping, dengan begitu lelaki kekar tadi menerkam tempat yang kosong, dalam gusarnya lelaki itu berteriak nyaring dan sekali lagi melancarkan terkaman-"Hey lo toako, buat apa kau terburu-buru macam monyet kena terasi?"
Ejek si unta lagi dengan suara sinis.
"memangnya kau sudah bosan hidup karena kelewat lama hidup membujang......."
Setelah meloloskan diri dari tubrukkan lawan, si unta mengejek lebih lanjut.
"Lo toako jangan salah mengerti, aku bukan perempuan, kalau pingin mencari gadis yang hangat carilah yang bermata agak gedean, tapi sekarang......waaah, napsu mu kelewat besar, masa tanpa membedakan laki atau perempuan, kau main terjang saja.........aku mah geli kalau kena dipeluk lelaki macam kau."
Kim Thi sia tidak tahan mendengar ejekan-ejekan semacam ini, kontan saja ia menyumpah.
"Monyet busuk ini kelewat batas, mulutnya kotor dan cabul..... ..biar mampus pun raja akhirat tak bakal menerima nyawanya."
Kemudian sambil berpaling kearah putri Kim huan, katanya pula.
"Hey, aku sudah tak sanggup mendengarkan lebih jauh ayoh kita pergi saja....."
Sementara itu paras muka putri Kim huan telah berubah pula menjadi merah padamu karena jengah tanpa banyak berbicara dia segera mengikuti dibelakang yang pemuda dan pergi meninggalkan hutan-Belum jauh mereka pergi, tiba-tiba muncul empat orang lelaki kekar yang menghadang jalan perginya, seorang diantara mereka membentak nyaring.
"Berhenti."
"Kalian ada urusan apa?"
Tanya Kim Thi sia tertegun "Jangan bergerak, kami hendak melakukan pemeriksaan-"
"Pemeriksaan apa?"
Tanya Kim Thi sia lagi. Dengan wajah tak sabar lelaki kekar itu menarik wajahnya seraya membentak nyaring.
"Sudah kau jangan banyak bicara, pokoknya kami hendak melakukan pemeriksaan terhadap kalian-"
"Akutoh bukan penyamun, kalian juga bukan pejabat pengadilan, kenapa kalian hendak memeriksa diriku?"
Seru sang pemuda tak senang hati. Lelaki itu mendengus dingin, ancamnya.
"Bila kau tak terima, silahkan saja melawan dengan kekerasan?"
"Melawan, yaa melawan, memangnya aku takut kepada kalian?"
Sahut Kim Thi sia dengan kening berkerut kencang.
"Haaaah.....haaaah.....haaaah......sobat betul-betul seorang lelaki berkeras hati, aku sangat kagum....."
Belum habis berkata tiba-tiba dia mengayunkan kepalannya melepaskan sebuah pukulan kedepan-Dalam keadaan tak terduga, Kim Thi sia tak sempat menghindarkan diri hingga tubuhnya terhajar telak dengan badan sempoyongan dia terdorong mundur sejauh dua langkah lebih.
Kim Thi sia menjadi gusar sekali, sambil membentak keras dia melepaskan sebuah serangan balasan Dalam waktu singkat keempat orang itu sudah tertawa dingin dan masing-masing meloloskan senjata andalannya, tampak cahaya tajam menyelimuti seluruh angkasa dan mengurung tubuh anak muda itu dari empat penjuru.
Kim Thi sia tidak gentar, dia menghindar kesamping meloloskan diri dari bacokan lalu serunya sambil tertawa keras.
"Bagus sekali, kau lihat justru kalian yang tak tahu aturan, kalianlah berandal busuk. Hmmm, lebih baik majulah bersama-sama."
Sebuah sambaran kilat menyingkirkan sapuan ruyung yang tertuju kebadannya, kemudian sebuah sapuan dilontarkan kedepan.
serangan itu datangnya cepat sekali, karena tak menyangka orang yang berada dipaling depan tersapu telak hingga senjatanya terlepas dari genggaman dan tubuhnya mencelat sejauh berapa puluh kaki dari posisi semula.
Mendadak terasa desingan tajam menyambar datang dari belakang dengan cepat Kim Thi sia berpaling.
Ternyata entah sejak kapan disitu telah muncul lagi tiga orang lelaki asing yang langsung melancarkan serangan kearahnya tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Dalam gusarnya Kim Thi sia mengeluarkan ilmu Tay goan sinkangnya untuk melepaskan serangan balasan.
Kontan saja ketiga orang penyergapnya terdesak hebat hingga mundur berulang kali kebelakang dan berkaok-kaok marah.
Mendadak kilatan cahaya tajam menyambar tiba, ternyata sebuah bacokan pedang langsung mengarah batok kepalanya.
Cepat-cepat Kim Thi sia menghimpun tenaga dalamnya kedalam telapak tangan.
Kemudian sambil memutar tangannya dia menangkis ancaman tersebut.
"Traaaaanggg....."
Diiringi dentingan nyaring, pedang tersebut tertangkis hingga mencelat kearah lain.
Berhasil dengan tangkisan tersebut, Kim Thi sia merasa kegirangan setengah mati dia segera mengerahkan kembali tenaganya untuk menyerang seorang lelaki bersenjata toya yang datang dari kiri.
Belum sempat mendekat, lelaki itu sudah termakan serangan dahsyat tersebut hingga jubahnya mencelat pula kebelakang.
Agaknya kawanan lelaki itu tak mengira kalau musuhnya amat hebat, seorang lelaki bercodet yang rupanya menjadi pemimpin rombongan tersebut, segera berteriak memperingatkan.
"Awas, bangsat ini memiliki tenaga pukulan yang hebat........."
Dengan memutar ruyung tujuh ruasnya, lelaki bercodet itu segera melepaskan serangkaian serangan dengan gencarnya.
Kim Thi sia mendengus dingin, dia tahu untuk menghadapi kerubutan orang-orang tersebut, paling baik kalau dia membekuk pemimpinnya lebih dulu.
Dengan jurus mengebas baju menghilangkan debu ia melepaskan babatan kedepan, sementara kaki kirinya menyapu bagian bawah tubuh musuh.
Baru saja lelaki itu mengayunkan ruyungnya menghajar bahu Kim Thi sia, tahu-tahu sapuan pemuda itu sudah bersarang telak ditubuh bagian bawahnya.
orang itu menjerit kesakitan, sambil berteriak ngeri badannya roboh terjungkal ketanah.
Kim Thi sia segera menyambar badannya lalu dicengkram bagaikan burung elang menangkap ayam kecil, setelah digaplok beberapa kali bentaknya keras.
"Barang siapa berani bergerak lagi secara sembarangan, aku segera akan membunuh orang ini."
Betul juga, kawanan lelaki kekar itu serentak mengundurkan diri kebelakang dan mengawasi lawannya dengan wajah tertegun-"Sekarang katakan segera, apa maksud kalian melakukan pemeriksaan-Kalau tidak dijawab, hati-hati kalau kubunuh bangsat ini."
Belum habis perkataan tersebut, mendadak terdengar putri Kim huan berteriak keras.
"Hey, cepat menyingkir"
Kim Thi sia sadar, tentu ada sesuatu yang tidak beres, dengan cepat dla berpaling.
Ternyata seorang lelaki setengah umur berbaju ringkas warna hijau dan berwajah licik telah berdiri dibelakang tubuhnya, dari kehadirannya yang sama sekali tidak terasa, dapat disimpulkan bahwa ilmu meringankan tubuhnya benar-benar amat sempurna.
Baru saja Kim Thi sia hendak menegur.
"Mau apa kau?"
Mendadak orang itu sudah mengancam dengan suara dingin-"Jangan bergerak sobat, kalau tidak akupun tak akan mengampuni jiwamu."
Tahu-tahu pinggangnya telah disentuh semacam benda keras membuat tenaganya punah secara tiba-tiba, otomatis lelaki yang berada dicengkeramannyapun terlepas dari genggaman dan jatuh keatas tanah.
"Pengawal, bekuk dulu perempuan itu"
Terdengar jago pedang setengah umur itu berseru kembali. Kim Thi sia gusar sekali, teriaknya.
"siapa berani menyentuh, aku tak akan mengampuninya........"
Tapi sebelum perkataan itu selesai diucapkan, tahu-tahu pinggangnya terasa kaku, disusul kemudian terdengar jago pedang setengah umur itu berkata dengan suara dingin.
"sobat, nyawamu sudah berada ditanganku, lebih baik bersikaplah lebih tenang."
Kim Thi sia tertunduk sedih, apalagi melihat putri Kim huan sudah ditangkap dua orang lelaki kekar, dengan rasa pedih pikirnya.
"Biarpun harus menyerempet bahaya, aku harus membalas sakit hati ini."
Diapun mengambil keputusan untuk menyerang secara mendadak, sekalipun selembar jiwanya dibuat pertarungan.
siapa tahu, belum sempat dia melakukan sesuatu tindakan, mendengar suara gelak tertawa yang sangat aneh berkumandang datang.
Menyusul gelak tertawa terdengar suara si unta berteriak pula dengan nada khasnya.
"Hey toako, jangan terburu napsu, aku segera akan mengirimmu untuk pulang ke see thian-"
Dengan gusar jago pedang setengah umur itu membentak.
"Hey sobat, bila kedatanganmu untuk mencari gara-gara. Hmmmm, tindakanmu itu kelewat bodoh......"
Si unta segera meludah, lalu jengeknya lagi sambil tertawa cengar cengir.
"Eeei toako, buat apa sih kau bersikap galak kepadaku? Aku tak suka diperlakukan dengan kasar, bersikaplah lebih lunak kepadaku......"
Kemudian setelah berhenti sejenak. lanjutnya.
"Hey bocah kunyuk. nona manis, kita bersua lagi. Haaaah.....haaaah......walaupun kalian berdua benci kepadaku, tapi sekarang aku telah menjadi tuan penolong kalian berdua. Masa kalian tidak berterima kasih kepadaku? Haaaah....haaaah.......haaaah........"
Jago pedang setengah umur itu tak kuasa menahan amarahnya lagi, kembali bentaknya keraskeras.
"Hey sobat, bila kau tidak tahu diri terus menerus, jangan salahkan kalau aku tak berlaku sungkan-sungkan lagi."
"Eeeei loko, sekarang jalan darah tertawa dan menangis mu sudah berada dibawah kekuasaan-Bila kusuruh kau menangis, kau segera akan menangis, bila suruh tertawa, kau pun segera akan tertawa, karena itu bila kau tak pingin menjadi orang edan, lebih baik kurangi gertak sambalmu yang menyebalkan itu"
Teriak si unta keras-keras.
Jago pedang setengah umur itu sangat murka, mendadak ia melepaskan sebuah gempuran sedikit suarapun-Kim Thi sia mendengus tertahan, dengan cepat dia melepaskan pula sebuah serangan balasan-"Blaaammmmm............"
Ketika dua gulung tenaga saling bertemu, terjadilah suara bentrokan keras yang menyebabkan tubuh kedua orang itu sama-sama bergoncang keras.
Hampir pada saat yang bersamaan, enam tujuh orang lelaki kekar yang berada diseputar arena serentak meloloskan senjata masing-masing sambil menerjang maju kemuka.
Saat itulah si unta telah mencengkram ujung baju lelaki setengah umur tadi sambil membetotnya kebelakang.
Jago pedang setengah umur itu jadi sempoyongan dan mundur terhuyung kebelakang.
Kembali si unta berteriak keras.
"Toako sekalian tak perlu gelisah, setiap perkataanku pasti akan kujalankan sebaik-baiknya, kalau kuberjanji akan mengirim dia ke see thian, sudah pasti dia akan kuhantar ke see thian-Kalian tunggu saja dengan sabar, jangan mendesakku terus-terus an......."
"Dan sekarang......"
Si unta melirik sekejap kearah putri Kim huan, kemudian melanjutkan-"Kuharap lo toako suka tertawa lucu, agar sinona cantik merasa agak terhibur hatinya."
Putri Kim huan merasa amat sebal melihat tampangnya yang tengik itu, dengan gemas dia cemburu dan melengos kearah lain.
Mendadak jago pedang setengah umur itu tertawa tergelak.
seakan-akan telah bertemu dengan suatu kejadian yang lucu sekali.
Ia tertawa terpingkal-pingkan sampai air matanya bercucuran-Putri Kim huan yang menyaksikan peristiwa ini menjadi tertegun, pikirnya keheranan-"Hebat benar kepandaian orang ini, masa disuruh tertawa dia lantas tertawa?"
Tentu saja sinona yang tak mengerti ilmu silat ini tak tahu kalau jalan darah tertawa orang itu sudah tertotok sehingga tertawapun bukan muncul atas kemauannya sendiri sebaliknya Kim Thi sia berpikir dengan tak senang hati.
"Musuh besar didepan mata, ia masih berminta untuk bergurau dengan musuh. Hmmm, kalau hal ini sampai menarik perhatian komplotan lainnya, bisa berabe jadinya......lebih baik aku kabur saja dari sini."
Maka sewaktu melihat putri Kim huan masih berada dalam cengkeraman musuh, diapun menyusun rencana untuk menyelamatkan gadis tersebut.
sementara itu semua orang masih tertegun dibuatnya menyaksikan pemimpin mereka dipermainkan si unta, untuk sesaat mereka tak tahu bagaimana mesti berbuat untuk mengatasi kejadian itu.
Karenanya sewaktu Kim Thi sia bergerak mendekati mereka, ternyata tak seorangpun yang mengetahuinya.
Dengan cepat Kim Thi sia memberi kerdipan mata kepada putri Kim huan, sinona memahami maksudnya dan tiba-tiba meronta dengan sekuat tenaga.
Ternyata rontaannya kali ini berhasil melepaskan diri dari cengkeraman lelaki itu, begitu bebas seperti anak kecil yang ketakutan saja cepat-cepat dia lari menuju kesamping Kim Thi sia.
Dengan cepat pemuda itu menyambut kedatangan sinona dan menyembunyikannya dibelaka tubuhnya.
Paras muka putri Kim huan nampak pucat pias seperti mayat, sekalipun sudah lolos dari cengkeraman musuh namun rasa kagetnya belum juga hilang.
Ia menghembuskan napas panjang dan bergumam.
"Hmmm.....sungguh berbahaya, coba kalau dia tidak menarik perhatian orang lain untuk dialihkan kearah lain......."
"Sudah, kau jangan menyinggung dia lagi, orang itu jahat sekali"
Tukas Kim Thi sia cepat.
Dalam pada itu gelak tertawa jago pedang berusia pertengahan itu telah berubah menjadi isak tangis yang amat memedihkan hati, yang begitu sedihnya suara tangisan tersebut, seperti orang yang kematian orang tua saja...
Putri Kim huan sangat keheranan oleh kejadian ini, tak tahan segera tanyanya.
"Apa sih yang dia lakukan?"
"Mengapa orang itu sebentar bisa menangis sebentar bisa tertawa?"
"Coba kau perhatikan tangannya "
Ketika putri Kim huan mencoba memperhatikan tangan si unta, benar juga tangannya yang kurus kering itu sedang menempel dipinggang jago pedang setengah umur itu sementara jari telunjuk dan jari tangannya mencengkeram diatas pinggang orang itu.
Agaknya putri Kim huan belum juga mengerti, dengan wajah keheranan dia bertanya lebih jauh.
"Dengan berbuat begitu saja, mengapa dia bisa membuat orang itu tertawa dan menangis?"
"Tentu saja, sebab disitulah letak suara tertawa dan menangis. Kalau tak percaya coba buktikan atas dirimu."
Putri Kim huan yang terpengaruh rasa ingin tahunya segera meniru letak jari tangan si unta dan mencengkeram pinggang Kim Thi sia.
Tiba-tiba saja pemuda itu nampak bergetar keras menyusul kemudian tertawa terbahak-bahak dengan suara yang amat nyaring.
Putri Kim huan sangat terkejut dan buru-buru melepaskan tangannya, dengan cepat Kim Thi sia pun berhenti tertawa.
Melihat hal ini, putri Kim huan merasa gembira sekali, katanya kemudian dengan bersemangat.
"Benar-benar menarik sekali, tiba-tiba saja aku ingin belajar silat, bersediakan kau?"
Kim Thi sia mengetahui maksud hatinya, cepat dia menggeleng seraya berkata.
"Percuma kau belajar silat, engkau adalah putri kesayangan kaisar negeri Kim, dihari-hari biasa kaupasti dikawal banyak orang sehingga boleh dibilang tidak perlu engkau bersusah payah untuk mempelajari sendiri Apalagi belajar silat itu berat dan mesti mengalami berbagai penderitaan, kau tak bakal tahan menghadapi penderitaan tersebut."
"Buat apa kau mengajukan alasan sebanyak ini? Katakan saja kalau keberatan, aku tog segera paham maksudmu."
"Kalau kau menyuruh aku berkata demikian yaa terpaksa aku harus berkata demikian."
Putri Kim huan semakin tak senang hati, dia menundukkan kepalanya tanpa berkata lagi, namun keinginannya untuk belajar silat justru makin membara pikirnya.
"Banyak orang pandai didarata n Tionggoan, dimana-mana orang gagah bermunculan. HHmmm, sekalipun kau enggan memberi pelajaran kepadaku, memangnya aku tak bisa belajar dari orang lain?"
Sementara itu, sijago pedang berusia pertengahan itu sudah berhenti menangis, dengan napas tersengkal-sengkal dia berkata.
"Sobat, mau dibunuh, bunuhlah mau dicincang silahkan, tapi bila kau mempermainkan aku terus menerus dengan cara begini aku akan memaki nenek moyang tiga generasimu."
Tampaknya dia sudah cukup menderita oleh siksaan si unta sehingga nada pembicaraannya tidak segarang tadi lagi.
Dengan suara melengking si unta segera berteriak "Lo toako, terus terang saja kubilang, seandainya kuinginkan nyawamu maka semenjak tadi kau sudah mampus aku sengaja bermesrahan denganmu selama ini tak lain karena kuharap kau pergi dengan tenang bersama semua benggolmu, dan sampaikan kepada pemimpin kalian bahwa aku sudah terbiasa memaki siapa saja, termasuk juga dirinya, bila dia merasa tak boleh dimaki, maka aku pingin tahu apakah dia memang berwajah lain daripada yang lain sehingga tak boleh dimaki orang, atau mungkin pendidikannya kelewat rendah sehingga tidak tahan dimaki orang"
"Kalau kau jantan tinggalkan namamu"
Seru jago pedang setengah umur itu dengan penuh kebencian-"Aku disebut orang kuda berbisul dipunggung"
Setengah mengerti setengah tidak jago gedang berusia pertengahan itu manggut-manggut, tanpa banyak bicara lagi dia segera beranjak pergi dari tempat itu.
Menanti bayangan punggung orang-orang itu sudah lenyap dari pandangan, si unta baru berjalan mendekat sambil tertawa terkekeh-kekeh, lalu setelah memberi hormat, dia menyodorkan telapak tangannya kedepan bersikap meminta sesuatu.
"Eeei apa yang kau minta?"
Kim Thi sia menegur keheranan.
"Anak muda, kau benar-benar tidak tahu diri"
Ucap si unta sambil cengar cengir.
"kalau sudah bersantap dirumah makan, bukankah kau mesti membayar? setelah menginap dirumah penginapan tentu membayar? Nah, apa salahnya bila akupun memungut ongkos pertolongan setelah kutolong jiwa kalian berdua barusan."
Kim Thi sia mendongkol sekali, tanpa sungkansungkan dia berkata.
"Itukan atas kehendakmu sendiri, aku juga tidak menyuruh kau menolong kami berdua, lantas apa hubungannya denganku?"
Bagaikan awan hitam yang terhembus angin, dalam waktu singkat air muka si unta telah berubah menjadi amat tak sedap. umpatnya keras-keras.
"Maknya kau sibocah kunyuk. jangan berusaha main sabun denganku, jadi kau anggap ikan dan udang ditangkap untuk sayurpun kehendak mereka sendiri untuk ditangkap?"
Putri Kim huan yang berasal dari keluarga terpandang, nampaknya segan ribut dengan orang lain gara-gara uang, dengan penampilan yang menyaksikan dia bertanya.
"Katakan saja, berapa ongkos pertolongan yang kau minta?"
Kembali senyuman menghiasi wajah si unta, sambil memperlihatkan ketiga jari tangannya dia berkata sambil tertawa terkekeh-kekeh.
"Heeeeh......heeeeeh........tidak banyak. tidak banyak. cuma seangka ini saja"
Steelah berhenti sejenak. mungkin takut putri Kim huan enggan memberi jumlah tersebut, buru-buru dia menambahkan.
"Terus terang saja kubilang, selama hidup aku paling benci dengan segala bentul pemerasan, berapa banyak pekerjaan yang kuselesaikan, berapa banyak pula ongkos kutarik, setelah dibayarpun aku tak bakal minta bayangan......maka.........."
"Tiga puluh tahil perak yang kau inginkan?"
Tukas putri Kim huan tanpa berpikir. si unta tertegun, setelah memandang sekejap kearah si nona dia berpikir.
"Aku kira tiga tahilpun kau enggan membayar, eeeh.......siapa tahu kau malah menawarkan tiga puluh tahil, ini yang kubilang pucuk dicinta ulam tiba, kebenaran bagiku."
Sambil tertawa yang dibuat-buat, dia segera menyahut.
"Betul, betul tiga puluh tahil perak. Harap nona sudi memaklumi aku memang hidup berkelana dalam dunia persilatan, kebetulan bekalku habis, tanpa sandang tanpa pangan toh mustahil bagiku untuk hidup karenanya kuharap."
"Tidak mengapa"
Sela putri Kim huan lagi. ia segera merogoh kedalam sakunya mengeluarkan selembar uang kertas kemudian ujarnya lebih jauh.
"ambillah seratus tahil perak ini, kembalinya tak usah kau serahkan lagi kepadaku"
Sikap seorang nona bangsawan memang berbeda dengan orang biasa, biarpun seratus tahil sudah cukup untuk biaya hidup satu keluarga kecil selama tiga tahun penuh, namun gadis itu menyodrokan uang kertas dilihat lagi.
Si unta nampak agak tertegun, lalu sambil tertawa cengar cengir ia memburu kedepan untuk menerimanya.
Mendadak Kim Thi sia menyerobot maju kedepan dan merampas uang tadi sambil mengumpat.
"Hey tua bangka, katanya saja seorang jago kenamaan dari dunia persilatan-Hmmm, masa perbuatan memalukan seperti inipun kau lakukan? Aku sungguh merasa malu untukmu."
Sambil mengembalikan uang tadi kepada putri Kim huan, dia berkata lebih jauh.
"Kalau ingin melakukan perbuatan yang memalukan, lakukanlah terhadap bangsa sendiri, kau tak boleh menjual muka bangsa kita dihadapan suku asing. Hey tua bangka, bila kau berani buka suara lagi, jangan salahkan kalau aku akan mengajakmu bertarung habis-habisan-"
"Telur busuk jelek. nampaknya kau memang selalu bermaksud main gila denganku"
Teriak si unta pula.
"Mulutmu memang berbicara sangat merdu, padahal siapa tahu apa yang kau pikirkan? Hmmm, bukan kau takut uang yang mengalir keluar terlalu banyak akan mengurangi jatah-jatah yang bekal kami terima sendiri......."
Kim Thi sia gusar sekali, sambil mengepal tinjunya dia membentak penuh amarah.
"Tua bangka celaka, kau berani menfitnah orang dengan perkataan yang tak senonoh? Aku akan menuntut keadilan darimu."
Baru saja si unta hendak mengucapkan sesuatu lagi, mendadak dari kejauhan sana terdengar seseorang berteriak keras.
"Ayoh cepatan sedikit, mereka belum pergi"
Pada jarak sepuluh kaki didepan sana, tampak bayangan manusia berkelebat lewat dan muncullah serombongan manusia yang bergerak mendekati arena.
Gerak g erik mereka sangat ringan bagaikan burung elang yang terbang diangksa, dalam berapa kali lompatan saja tubuh mereka sudah berada didepan mata.
Dengan penuh rasa gemas si unta segera berseru.
"Siapa suruh kau sikura-kura kecil enggan membayar ongkos pertolongan? sekarang musuh telah datang lagi, maaf kalau aku tak punya semangat untuk mengurusi lagi."
Selesai berkata ia segera menjejakkan kakinya keatas tanah dan melejit setinggi empat lima kaki ketengah udara, kemudian dengan kecepatan luar biasa menyusup masuk kebalik hutan-Sementara itu kawanan musuh telah menyebarkan diri keempat arah delapan penjuru, jelas mereka berniat menangkap Kim Thi sia dalam keadaan hidup-hidup.
Dalam keadaan demikian, Kim Thi sia pun sadar kalau situasinya berbahaya sekali, dalam paniknya satu ingatan tiba-tiba melintas dalam benaknya, dengan cepat dia menyambar segenggam pasir lalu diayunkan kedepan-Kemudian menggunakan kesempatan disaat semua orang lagi panik mengucak mata, pemuda itu menyambar pinggang putri Kim huan dan diajak kabur masuk kedalam hutan-Bagi umat persilatan sebetulnya beriaku pantangan memasuki hutan yang gelap, tapi kawanan manusia itu tak ambil perduli, dengan mengandaikan jumlah yang lebih banyak mereka melakukan pengejaran masuk kedalam hutan-Sementara itu Kim Thi sia sudah merasa agak lega setibanya dalam hutan, meski rembulan bersinar cerah namun sukar menembusi setiap kegelapan yang mencekam sekeliling tempat itu, suasanapun amat sepi.
sambil memeluk tubuh putri Kim huan, pemuda itu bersembunyi dibalik pohon sambil mengintip kemuka dan mengawasi gerak gerik musuh.
Rupanya pihak lawan berjumlah delapan orang yang terbagi dalam dua kelompok, kelompok pertama terdiri dari empat orang dan berjalan didepan, mereka membabat ranting dengan pedangnya sambil bergerak kedepanorang-orang itu semuanya memakai baju ringkas dan bermata tajam, dalam sekilas pandangan saja dapat diketahui bahwa mereka adalah jagoan yang bertenaga dalam sempurna.
Diam-diam Kim Thi sia amat terkejut, andaikata putri Kim huan tak berada disini, dia pasti akan melakukan perlawanan tapi...
"Mana dia?"
Tiba-tiba putri Kim huan berbisik. Menyinggung soal si unta, Kim Thi sia mengerutkan dahinya kencang-kencang sambil menjawab singkat.
"Sudah kabur."
"Bagaimana dengan kita?"
Tanya putri Kim huan lagi mulai tegang.
"Apakah kau sanggup menghadapi mereka?"
"Aku tidak yakin, yang pasti lebih banyak bahayanya daripada keberuntungan-"
"Apakah mereka akan membunuhmu?"
"Mungkin........."
"Kau takut?"
"Dan kau?"
Kim Thi sia balik bertanya.
Putri Kim huan segera menghela napas panjang sambil membenamkan kepalanya dalam pelukan pemuda itu, lamat-lamat sang pemuda dapat mendengar detak jantungnya yang keras.
selang berapa saat kemudian.......
Mendadak putri Kim huan mendongakkan kepalanya lagi dan menatap pemuda tersebut dengan matanya yang terbelalak lebar, tanyanya lagi dengan suara lirih.
"Apakah kita akan mati bersama?"
Kim Thi sia tak berani menatap pandangan gadis tersebut, sengaja dia mengalihkan perhatiannya mengawasi gerak gerik musuh kemudian menjawab.
"Hal ini tak mungkin akan terjadi, sebab bila kau yang tertangkap maka musuh akan menyekapmu serta memperlakukan dirimu secara baik, sebaliknya bila kau yang tertangkap maka hanya jalan kematian yang kuperoleh........"
"Mengapa bisa begitu?"
"sebab kau adalah wanita."
"Apakah bangsa Han kalian tidak akan menganiaya kaum wanita?"
"Bukan begitu, wajahmu amat cantik, mereka tak akan tega mencelakai jiwamu"
"ooooh....."
Setelah menghela napas putri Kim huan berkata.
"Mungkin seandainya mungkin, aku bersedia mempunyai wajah lebih jelek."
"Hal itu tidak mungkin terjadi. Hey, mengapa sih kau senang membicarakan persoalan yang tak mungkin akan terjadi."
Jelas Kim Thi sia sudha habis kesabarannya, musuh tangguh berada didepan mata, kini ia butuh waktu untuk berpikir dan berusaha mencari jalan keluar untuk keluar dari kepungan tersebut.
Putri Kim huan jadi mengambek.
dia menarik kembali tangannya serta menjaga jarak sejauh satu depa lebih dari pemuda itu.
Kim Thi sia kembali tertegun, dia tidak habis mengerti kenapa gadis tersebut bersikap begini, namun diapun tidak banyak komentar.
Dalam pada itu dua orang jago lihay telah mendekati kearah tempat persembunyian mereka, pedang yang diayunkan berulang kali membabat habis semua ranting yang menutupi pandangan, andaikata mereka meneliti lebih seksama lagi, sebenarnya tidak susah menemukan jejak lawannya.
Kini, selisih jarak tinggal tiga kaki diam-diam Kim Thi sia mengambil sebutir batu dan memerintahkan putri Kim huan untuk tahan napas, lalu dia menghimpun tenaga siap melakukan serangan-Mendadak........
Disaat yang amat kritis inilah putri Kim huan berteriak keras.
"Ular.......ular.........."
Kim Thi sia sangat gusar, tak sempat menjawab lagi lengannya segera diayunkan kedepan, batu itu segera meluncur kedepan dengan membawa desingan angin tajam dan langsung menyerang lelaki berbaju ringkas yang berada dipaling muka.
Tampaknya kedua orang jago itu cukup cekatan, serentak mereka menghentikan langkahnya dan menangkis dengan pedangnya.
"Traaaaangggg..........."
Dimana cahaya hijau berkelebat lewat.
Batu itu sudah tertangkis hingga mencelat kesamping.
Menggunakan kesempatan inilah Kim Thi sia menendang ular berbisa itu hingga mencelat jauh.
ketika memandang lagi kearah putri Kim huan, tampak gadis itu berdiri dengan badan gemetar dan wajah pucat pias seperti mayat, ia menjadi tak tega dan segera memaafkannya.
Ular berbisa yang tertendang tadi nampak bergulingan diatas tanah lalu bangkit kembali secepat kilat binatang itu menyambar kedepan dan kali ini menyerang Kim Thi sia.
Anak muda ini memang tak malu disebut lelaki jantan, dia panik menghadapi bahaya, tiba-tiba kakinya menendang ular tersebut sementara tangannya menyambar lehernya.
Ular berbisa itu berpekik aneh, ekornya mendadak menggulung sambil menyapu balik.
Kontan saja pemuda itu tak mampu berdiri tegak lagi dan jatuh terjerembab keatas tanah.
Untung saja ia sudah lama hidup diatas gunung dan cukup menguasai watak binatang berbisa itu, begitu berguling ditanah sepasang tangannya yang mencengkram leher siular segera membetotnya dengan sekuat tenaga.
"Kraaaaaaakkkkk.........."
Tulang leher ular itu seketika terlepas dari persendiannya, dengan begitu tak punya tenaga lagi untuk menyerang pemuda kita.
Kim Thi sia membentak keras, sambil melompat bangun dia melemparkan bangkai ular berbisa sepanjang satu kaki itu kearah dua orang musuhnya yang sementara itu menerjang tiba.
Kedua orang itu segera merasakan pandangan matanya jadi gelap.
buru-buru pedang mereka dibabat kemuka.
Percikan darah segar menyembur kemana-mana membuat dua orang tadi terkejut.
Cepatcepat mereka melompat mundur kebelakang sekalipun tindakan mereka cukup cekatan, tak urung darah ular sempat menyembur mengotori wajah serta badan mereka.
Kim Thi sia tidak membuang waktu, dia menyambar tubuh putri Kim huan dan diajaknya kabur lagi kedalam hutan.
Kali ini baru lari sejauh berapa kaki, mendadak dari arah depan muncul kembali dua orang musuh yang menghadang jalan pergi mereka.
Tanpa mengucapkan sepatah katapun Kim Thi sia melontarkan serangan gencar kedepan-Dua orang jago itu tertawa dingin serentak mereka lancarkan serangan balasan yang tak kalah hebatnya.
"Blaaaammmmmmm. ........"
Benturan nyaring bergema memecahkan keheningan, tubuh kedua orang yang jago itu nampak bergetar keras, sebaliknya Kim Thi sia terdorong mundur sejauh lima langkah dan hampir saja jatuh terjungkal.
"Aku lihat.......aku lihat kita menyerah saja"
Bisik putri Kim huan tiba-tiba dengan suara gemetar karena kaget.
"Tidak bisa"
Tampik Kim Thi sia cepat.
"sikap seperti itu bukan tindakan seorang gagah, aku tak sudi melakukannya."
Dalam waktu singkat penggeledahan telah dihentikan, semua jago pun telah berkumpul disitu serta mengepung Kim Thi sia berdua ditengah arena. Dengan gusar pemuda itu berseru.
"Lebih baik kalian maju bersama-sama, siapa yang takut kepada kalian, dia bukan seorang lelaki jantan."
Ketika mendengar perkataan itu, sijago pedang bertubuh jangkung yang berdiri dipaling muka segera tertawa seram, dengan sinar matanya setajam sembilu jengeknya.
"Bocah keparat, kau salah alamat bila menganggap dirimu sebagai seorang lelaki sejati. Hmmm, kulihat lebih baik kau menyerah saja."
Sambil berkata, tiba-tiba dia mendesak maju kedepan dan melancarkan sebuah cengkraman maut.
Kim Thi sia segera melakkukan tangkisan, tiba-tiba dia berteriak kesakitan dibawah sinar yang redup tampaklah sebuah mulut luka sepanjang satu inci telah muncul diatas lengannya, darah segar jatuh bercucuran membasahi seluruh badannya.
Kejadian ini kontan saja menggusarkan hatinya dnegan geram dia berteriak keras.
"Hmmm, kalau melukai orang dengan menggunakan akal busuk bukanlah perbuatan seorang gagah bila memang bernyali, ayoh kita lakukan pertarungan secara blak-blakan."
Orang itu tertawa keras, sepasang telapak tangannya direntangkan lebar-lebar sementara kesepuluh jari tangannya itu dengan luka yang berapa inci panjangnya mencuat persis seperti mata pisau yang tajam, tak heran kalau pemdua tersebut terluka oleh sambaran kukunya.
Terdengar dia berkata sambil tertawa dingin-"Bocah keparat, siapa suruh kau tak tahu diri.
Hmmm, jangan harap kemampuanmu itu mampu untuk menahan ilmu Ci ka sikang ku"
Kim Thisia gusar sekali, sambil membentak keras dia melancarkan sebuah pukulan kedepan
Jilid 22 orang itu membalik pergelangan tangannya sambil melancarkan cengkeraman maut lagi kebawah, begitu mendadak datangnya serangan tadi membuat Kim Thia sia amat terkesiap dan buru-buru membuyarkan serangannya sambil mundur dengan tertegun-Tapi sayang gerakan itu teria mbat, tahu-tahu saja lengannya sudah kena dicengkeram musuh hingga sama sekali tak berkutik.
Terdengar orang itu tertawa terbahak-bahak seraya berseru.
"Haaaah.......haaaaah.......haaaaah.......Ngo te, Lakte, bekuk bangsat ini"
Dua orang jago pedang berbaju ringkas yang berada dibelakang orang itu serentak mengiakan, kemudian tanpa mengucapkan sepatah kata pun mencengkeram tubuh Kim Thia sia.
Putri Kim huan yang melihat kejadian ini segera berteriak keras.
Dua orang itu tertegun dan serentak menghentikan langkahnya.
Sambil menuding kearah manusia bertubuh jangkung yang berada dihadapannya, putri Kim huan berseru.
"Sebenarnya kesalahan apa yang telah kami perbuat? cepat katakan-........."
"Siapa suruh bocah keparat ini enggan diperiksa sebaliknya malah melukai anak buah kami? Hmmm, kesalahannya sudah setinggi bukit dan tak terampuni lagi."
"Atas dasar apa kalian hendak memeriksa kami? Memangnya kalian adalah opas atau petugas pengadilan?"
Orang itu mendengus dingin.
"Hmmm, pertanyaan nona kelewat tak tahu sopan, kami hanya tahu berprinsip "siapa melawan dia harus mati"
Dan tak mengerti apa dasarnya."
Orang ini berbicara dengan tegas dan keras jelas sudah merupakan pemimpin dari rombongan tersebut. Dengan perasaan tak senang hati putri Kim huan segera berkata.
"Hmmm, mengandalkan jumlah yang banyak untuk mempermainkan orang baik, kami tak akan tunduk kepada kalian."
Mendengar itu, orang tersebut segera tertawa terbahak-bahak.
"Haaaah.....haaaaah.....haaaaah......nona tak usah banyak bicara, kami tak mempersoalkan mengandalkan jumlah yang banyak atau tidak. yang penting tujuan kami dapat tercapai."
Mendadak Kim Thia sia menyela.
"Hey, buat apa kau mengajak kawanan manusia yang tak tahu aturan itu berbicara?"
Sambil menempelkan bibirnya disisi telinganya, putri Kim huan berbisik.
"Aku bermaksud menyuruh mereka menangkap aku seorang dan membebaskan dirimu, entah usahaku ini akan berhasil atau tidak?"
Ucapan tersebut seketika mengharukan perasaan Kim Thia sia, setelah tertegun berapa saat dia baru bertanya.
"Mengapa kau harus berbuat demikian?"
"Aku tahu aku merupakan beban bagimu membuatmu menderita dan sengsara, coba kalau tak ada aku, mungkin kau sudah kabur amat jauh dari sini. Maka setelah kau tertangkap hatiku menjadi amat gelisah dan tak tenang, itulah sebabnya aku ingin-......."
"Tak usah kuatir, aku tak pernah berpendapat demikian, apalagi kawanan cecunguk itu adalah kawanan manusia yang tak tahu diri, aku Kim Thia sia bukan manusia lemah, aku tak sudi menerima perintahnya dengan begitu saja."
Kemudian sambil membusungkan dada, dia berteriak kepada sijago pedang berbaju hitam itu.
"Hey kawanan cecunguk. bila kalian hendak turun tangan silahkan turun tangan sekarang juga. Aku perlu mengucapkan sepatah kata yang tak sedap didengar. Hari ini aku terjatuh ketangan kalian maka kubiarkan kalian berbuat apa saja terhadap diriku, tapi selewatnya satu masa, andaikata kalian yang terjatuh ketanganku, maka jangan harap akan menerima kebaikan dariku."
"Bagus, bagus sekali, perkataanmu memang tepat sekali. Tapi sayang bila aku tak ganas, percuma diriku berkelana dalam dunia persilatan, karenanya apa yang menjadi harapanmu mungkin baru akan terwujud dua puluh tahun kemudian, disaat kau telah menitis kembali sebagai manusia."
Mendadak Kim Thia sia meronta keras hingga terlepas dari cengkeraman musuh, kemudian sambil membalikkan badan, tangan kirinya melepaskan sebuah serangan dengan jurus "kecerdikan mencapai langit"
Dari ilmu Tay goan sinkang, yang menjadi angin pukulan yang menderu langsung menyambar kedepan menghantam tubuh dua orang musuhnya.
Bersamaan waktunya, secara tiba-tiba dia melancarkan kembali serangan kedua dengan jurus "kelincahan menyelimuti empat samudra."
Dalam waktu singkat dua orang manusia berbaju hitam itu menjadi kabur pandangan matanya dan buru-buru membuyarkan serangan sambil mundur sejauh satu kaki lebih dari posisi semula.
"Hiante, kenapa kau?"
Manusia berbaju hitam itu segera menegur. Dengan wajah tertegun sahut dua orang jago pedang berbaju ringkas itu.
"Entah gerakkan tubuh apa yang dipergunakan bocah keparat ini, tahu-tahu saja bayangan tubuhnya telah lenyap dari pandangan."
"Hiante, apa kau bilang? Bukankah dia masih tetap berdiri diposisinya semula?"
Seru manusia berbaju hitam itu makin tertegun.
"Aneh benar"
Dua orang itu menggelengkan kepalanya.
"Mengapa kami berdua tidak melihatnya?"
Kim Thia sia yang mengikuti tanya jawab itupun merasa bingung tertegun, tapi setelah dipikir sebentar tiba-tiba saja satu ingatan melintas dalam benaknya, diam-diam ia berseru.
"Aaaaah, mungkinkah hal ini berkat keampuhan dari Tay goan sinkang ajaran guruku? Yaa, mungkin juga kepandaianku sudah mencapai tingkat kesempurnaan?"
Pikir punya pikir, hatinya terasa makin girang sehingga wajahnyapun berseri-seri. Melihat gadis itu berseri mukanya, putri Kim huan segera bertanya dengan keheranan.
"Hey, apa yang membuatmu gembira?"
"sekarang akupunya keyakinan untuk mengalahkan mereka"
Bisik sang pemuda lirih.
"sungguh?"
Seru putri Kim huan sambil membelalakkan matanya lebar-lebar.
Melihat keyakinan sang pemuda dan keseriusannya, gadis itu menjadi amat gembira hingga tanpa terasa dia menggenggam tangannya kencang-kencang.
sementara itu terdengar manusia berbaju hitam tadi sedang bergumam dengan suara dalam.
"Masa ada kejadian begini aneh didunia ini? Baiklah biar kucoba sendiri.........."
Seraya berkata, dia segera mendesak maju kedepan dan mengendap-ngendap seperti seekor kucing lalu secepat sambaran petir melancarkan terkaman kedepan.
Kim Thia sia tahu, musuhnya memiliki ilmu silat yang sangat lihay, dia tak berani gegabah, sambil menghimpun tenaga dalamnya, dengan cepat dia melepaskan dua serangan kilat dengan jurus "mati hidup menjadi pertanyaan"
Serta "kejujuran bagaikan batu emas".
Dua gulung bayangan pukulan segera menyebar bagaikan sebuah jaring yang ketat dan menutup rapat seluruh pukulan dari musuh.
seperti apa yang dialami dua orang rekannya tadi, manusia berbaju hitam itupun merasakan pandangannya silau dan kehilangan jejak lawannya, dalam keadaan begini cepat-cepat dia membuyarkan setengah langkah kebelakang.
Ketika dia mencoba memperhatikan lagi dengan seksama, ternyata Kim Thia sia masih tetap berdiri diposisi semula, hal ini kontan saja membuat perasaannya sangat bergetar.
Dengan sorot mata yang tajam dia mengawasi Kim Thia sia tanpa berkedip.
lalu jari tangannya disentilkan kembali kedepan.
"criiiingggggg......."
Ditengah dentingan nyaring, telapak tangan yang lain diayunkan juga kemuka sekuat tenaga, sekilas cahaya tajam yang menyilaukan mata diiringi desingan suara aneh langsung menyergap jalan darah penting didada pemuda tersebut.
Kim Thia sia mundur selangkah, ditengah pekikkan nyaring kembali dia melancarkan serangan dengan jurus "kepercayaan menguasai jagad"
Serta "
Kekerasan mencekam bumi".
Belum sempat dari tangan manusia berbaju hitam itu mencapai pada sasarannya, tahu-tahu ancaman tersebut sudah meleset dan tergelincir kearah samping.
Dengan begitu, jurus serangan "
Kekerasan mencekam bumi"
Yang dilancarkan Kim Thia sia langsung saja menghajar diatas lengannya secara telak.
Rupanya kejadian ini membuat manusia berbaju hitam itu merasa amat ngilu, wajahnya berubah menjadi merah padam.
Tanpa mengucapkan sepatah katapun, dia langsung melancarkan sergapan ketubuh putri Kim huan.
Waktu itu putri Kim huan berdiri bersanding dengan Kim Thia sia, mimpipun dia tak menyangka kalau manusia berbaju hitam itu dari malu menjadi gusar hingga tanpa memperdulikan kedudukannya lagi langsung menyergap dirinya secara keji.
Akibat dari serangan tersebut, Kim Thia sia menjadi gelagapan setengah mati, melihat putri Kim huan segera akan terluka ditangan lawan, dalam gugupnya terpaksa ia mendorong gadis itu keraskeras hingga jatuh terguling diatas tanah.
Dengan begitu maka serangan dari manusia berbaju hitampun mengenai sasaran yang kosong.
Bukan hanya begitu, akibat terjangannya yang tak mencapai sasaran, pertahanan tubuh bagian depannya terbuka sama sekali.
Kim Thia sia tidak menyia-nyiakan kesempatan yang sangat baik ini dengan begitu saja, dengan jurus "kekerasan mencekam bumi"
Dia melontarkan sepasang kepalanya kepada lawan.
"Duuuuuukkkkkkkk. .........."
Manusia berbaju hitam itu menjerit kesakitan dan mundur tiga langkah kcbelakang, hawa darahnya terasa bergolak keras dan susah sekali dikendalikan kembali.
sementara itu Kim Thia sia telah membangunkan putri Kim huan dari atas buru-buru tanyanya.
"Apakah kau terluka?"
Putri Kim huan menghembuskan napas panjang sahutnya lirih.
"Yaa, lenganku terasa agak sakit."
Dengan cepat Kim Thia sia menengok.
benar juga lengannya terasa robek satu jalur panjang, darah nampak meleleh keluar membasahi tubuhnya.
Cepat-cepat dia merobek baju sendiri dan membalut luka tadi dengan amat berhati-hati, kemudian tanyanya lagi.
"Masih terasa sakit?"
Putri Kim huan menggeleng.
"Terima kasih atas bantuanmu, sekarang sudah terasa agak baik........"
Dalam pada itu, manusia berbaju hitam tadi sedang duduk bersila sambil berusaha mengatur pernapasan, serangan Kim Thia sia yang tepat menghajar jalan darah Ho hek hiatnya membuat ia menderita luka dalam yang cukup parah, dengan luka seperti ini, mustahil baginya untuk memulihkan kembali kekuatannya didalam waktu singkat.
sebaliknya kawanan jago pedangnya lainnya telah dibuat tertegun oleh kelihayan ilmu silat Kim Thia sia.
Untuk sesaat mereka hanya bisa saling berpandangan tanpa berbicara, tak seorangpun berani bertindak secara sembarangan.
Kim Thia sia berkata demikian-"siapa suruh kau mencari gara-gara untuk diri sendiri Hmmmm Jangan salahkan kalau aku tak mengenal kasihan........."
Dengan perasaan benci manusia berbaju hitam itu membuka matanya dan melotot sekejap kearah lawan, tapi hanya sebentar dengan cepat dia pejamkan matanya kembali.
Walaupun hanya sekejap saja, namun semua orang dapat melihat bahwa sorot matanya jauh lebih lemah ketimbang semula.
Mendadak.......
satu diantara tujuh orang musuh yang tersisa memberanikan diri maju kedepan sambil membentak.
"Bocah keparat, sambutlah seranganku ini"
Menyusul bentakkan tersebut, sebuah pukulan yang amat dahsyat dilontarkan kedepan-Kim Thia sia tidak berpeluk tangan saja, dia menggetarkan pula telapak tangannya dengan jurus "
Kelembutan mengatasi air dan api", sementara sepasang kakinya tidak diam diri, dengan mengerluarkan ilmu san tong tui dia lepaskan juga sapuan ketubuh bagian bawah lawan-Ketika serangan orang tadi bersarang diatas bahu Kim Thia sia, orang itupun terhajar oleh sebuah tendangan hingga mencelat sejauh satu kaki lebih dari posisi semula.
Kim Thia sia merasakan bahunya panas sakit dan sangat linu, tapi ia sudah terbiasa menderita kesakitan semacam ini maka setelah mendengus tertahan, rasa sakitpun segera teratasi.
Dala mperkiraan kawanan jago lainnya, Kim Thia sia yang terkena serangan itu pasti akan tewas atau paling tidak terluka parah, siapa tahu pemuda itu masih tetap tegap tanpa bergerak.
bahkan tanda-tanda terlukapun tak ada, mereka mulai kaget dan berpikir "jangan-jangan kepandaian pemuda ini sudah mencapai tingkatan yang luar biasa?"
Makin pikir mereka makin ngeri, untuk sesaat lamanya suasana menjadi hening dan tak seorangpun berani bergerak.
selang berapa saat kemudian, putri Kim huan tak dapat menahan sabar lagi, diam-diam bisiknya.
"Ayoh kita pergi saja"
Kim Thia sia menganggap anjuran itu memang benar, kalau tidak angkat kaki pada saat ini, mereka harus menunggu sampau kapan lagi? Dengan suara rendah ia segera menjawab.
"Tak usah terburu-buru, biar kutakut-takuti mereka lebih dulu."
Kemudian setelah memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, dia berkata dengan lantang.
"Terus terang kukatakan, kalian bukan tandinganku, tapi sebagai orang persilatan dari golongan lurus, akupun tak ingin membunuh orang secara sembarangan-Meski demikian, bila kalian masih tak puas, akan kusediakan sedikit waktu untuk bermain-main dengan kalian, cuma perlu kuperingatkan dulu pedang dan golok tak bermata, bila sampai tewas jangan salahkan diriku. sehingga setelah kejadian nanti, kalian akan menuduh aku manusia she Kim berhati kejam."
Orang-orang itu segera menunjukkan sikap mendongkol dan marah, namun tak seorangpun diantara mereka yang berani bergerak.
sebagai seorang gadis yang cerdik, dengan cepat putri Kim huan mengetahui apa yang terjadi tujuan pemuda tersebut, sambil tertawa dia segera turut menimbrung.
"Kalian tahu, engkoh ku adalah murid dari manusia kenamaan dikolong langit, ia mulai belajar silat sejak berumur enam tahun hingga kini sudah dua puluhan tahun coba bayangkan sendiri apakah kalian mampu menandingi kemampuannya?"
Ketika menyebut "
Engkoh ku"
Tanpa terasa gadis tersebut mengerling sekejap kearah Kim Thia sia. Pemuda tersebut segera manggut-manggut, wajahnya nampak berseri dan perasaannya merasa hangat. sesaat kemudian ia berkata kembali.
"sekarang aku hendak pergi, tolong kalian sampaikan kepada pemimpin kamu semua, katakan bahwa perselisihan kita cepat atau lambat pasti akan diselesaikan, kalianpun tak usah mengirim orang banyak untuk memusuhi diriku ketahuilah pedangku tak bermata, kalau sampai banyak korban yang berjatuhan, sayang bukan?"
Rupanya pemuda inipun telah melihat bahwa kawanan manusia tersebut tergabung dalam suatu organisasi, maka dia menirukan logat si unta mengucapkan perkataan tersebut.
Kawanan jago itupun segera berpikir setelah mendengar ucapan mana.
"Rupanya orang ini adalah musuh pemimpin kami, tak heran ilmu silatnya begitu hebat, tampaknya hanya pemimpin sendiri yang dapat meringkus dirinya..........."
Ketika Kim Thia sia mengetahui bahwa gertak sambalnya berhasil, dia segera menggandeng tangan putri Kim huan dan diajak berlalu dari situ.
Ternyata tak seorangpun yang turun tangan menghalangi perjalanannya........
setelah jauh meninggalkan orang-orang itu, putri Kim huan dengan perasaan ngeri dan peluh dingin membasahi tubuhnya segera bisiknya.
"Hey, apakah kalian sebagai orang persilatan akan sering kali menjumpai ancaman bahaya maut seperti ini?"
"Betul, itulah sebabnya kuanjurkan kepadamu agar jangan belajar ilmu silat."
"asal kubelajar silat dan hidup damai dengan siapapun, siapakah yang akan datang mencari gara-gara denganku?"
"oooh, jadi kau menganggap aku kurang ramah, kurang suka berdamai sehingga sering kali mendatangkan kesulitan bagi diri sendiri?"
"Aku toh tidak menuduhmu? Kenapa kau mesti membayangkan yang bukan-bukan-......?"
"Tapi aku tahu, maksud perkataanmu tadi tak akan sederhana itu, bukan demikian?"
"Ngaco belo, atas dasar apa kau menuduh begitu?"
"Atas dasar perkataanmu."
"Heran, mengapa sih kau suka ribut denganku?"
"siapa suruh kau senang menyindir orang?"
Tak lama kemudian mereka telah kembali kerumah penginapan dengan terjadinya peristiwa tadipun hubungan kedua orang tersebut makin dekat dan rapat.
Begitu masuk kedalam kamar, putri Kim huan merasa lelah sekali, dia menguap pelan dan serunya.
"Hey, tolong kau berjaga-jaga, aku ingin tidur sebentar."
Kemudian seperti teringat akan sesuatu, kembali katanya.
"Apakah kau tak merasa tersiksa dengan saban hari tidur diluar pintu?"
"Mengapa tidak menyewa sebuah kamar lagi dikamar sebelahku? Bukankah tidurmu akan terasa lebih nyaman?"
Sambil merapatkan pintu kamar dan berjongkok diluar pintu, sahut Kim Thia sia.
"Tak usah menyewa kamar lagi, aku sudah terbiasa tidur dilantai."
"sudah terbiasa.........?"
Putri Kim huan tak percaya ada orang didunia ini yang tak sayang dengan kesehatan sendiri "Hey, apakah kau miskin sehingga tidak mampu membeli rumah dan cuma bisa tidur dilantai?"
"sudah, tidurlah, tak usah banyak bertanya lagi"
Tukas sang pemuda cepat.
"Mengapa kau begitu miskin?"
Kembali sinona bertanya.
"Nona, kau tak usah bertanya lagi, pokoknya aku sudah terbiasa tidur dihutan dan lantai, cepatlah tidur....."
"ooooh, kau benar-benar kasihan-.......padahal digunung banyak ular berbisanya, apakah kau tidak takut............?"
Teringat soal ular berbisa, putri Kim huan teringat kembali dengan pengalamannya dalam hutan tadi, segera serunya lagi.
"Eeei, aku belum berterima kasih kepadamu, kau telah selamatkan jiwaku. sebagai balas jasanya aku wajib membelikan sebuah rumah untukmu."
Waktu itu Kim Thia sia sudah merasa lelah sekali, tak sampai perkataan putri Kim huan selesai diucapkan ia sudah tertidur nyenyak.
selang sesaat kemudian, tiba-tiba gadis itu merasa tak tega, dia mengambil selimut dan keluar dari kamar, melihat Kim Thia sia tertidur didepan pintu, dia menghela napas dan menyelimuti tubuhnya.
Entah berapa saat sudah lewat.
Dalam tidurnya mendadak Kim Thia sia mendengar suara orang ribut didalam kamar putri Kim huan, ia segera terjaga dan memasang telinga untuk mendengarkan dengan seksama.
Terdengar suara seorang lelaki sedang berkata dengan nada rendah tapi bertenaga.
"sudah lama aku mencarimu, selama ini aku merasa makan tak enak. tidurpun tak nyenyak. setiap kali pejamkan mata aku selalu teringat akan dirimu, apakah kau begitu keji dan tak berperasaan?"
"Tiada persoalan yang baik dibicarakan antara kita berdua........."
Suara putri Kim huan bergema dengan nada tak senang hati.
"Kalau kau menderita, hal ini sebagai akibat mencari penyakit buat diri sendiri, toh aku tak mempunyai perasaan begitu........."
Kim Thia sia terperanjat sekali, diam-diam pikirnya.
"siapa gerangan lelaki tersebut? mengapa dia mengganggu gadis tersebut? Tampaknya kedua orang itu sudah pernah mengenal......tapi, bukankah nona itu bangsa asing? Masa dia punya kenalan disini...........?"
Dicekam pelbagai kecurigaan, pemuda kita tidak langsung menyerbu kedalam kamar tapi menyadap pembicaraan tersebut secara diam-diam. Terdengar lelaki tadi berkata lagi.
"Nona, aku adalah seorang lelaki yang berperasaan lembut, sekali aku jatuh cinta kepadamu maka aku sendiripun gagal untuk menguasahi sendiri. Nona, bagaimanapun juga kau tak boleh bersikap dingin dan hambar kepadaku..........."
"Cukup, kau tak usah mengutarakan ucapan-ucapan yang memuakkan laga, terus terang saja aku bilang, aku sudah tak berminat lagi untuk berhubungan denganmu"
Jawaban putri Kim huan kedengaran sangat dingin dan kaku, nada pembicaraannya pun tak sabar. Kim Thia sia segera berpikir lagi.
"Aneh, sejak kapan orang itu masuk kedalam kamar? Padahal didepan pintu, bila dia lewat sini, aku pasti akan terjaga dari tidurku? Ehmm.........tahu aku sekarang, dia pasti masuk lewat jendela."
Iapun merasa nada pembicaraan pria tersebut amat dikenal, seakan-akan pernah terdengar disuatu tempat, hanya saja dia tidak bisa mengingatnya kembali.
"Nona"
Terdengar pria itu merengek lagi.
"Untuk menemukan jejakmu, aku telah menelusuri setiap ujung dunia coba kalau bukan gara-gara urusan genting hingga kebetulan aku masuk kekota ini dan mendengar banyak orang membicarakan tentang dirimu mungkin seumur hidup aku tak dapat menemukan dirimu kembali."
"Nona, aku mencintaimu dengan tulus hati mengapa kau justru bersikap dingin dan hambar kepadaku? tahukah kau, betapa sakit hatiku.........."
Suasana menjadi hening sesaat, agaknya putri Kim huan tak mampu menjawab perkataan tersebut.
"sekembalinya kerumah aku telah menceritakan tentang dirimu kepada kedua orang tuaku. setelah mendengar penuturanku ini dia orang tuapun berharap bisa bertemu denganmu. Nona, kau harus turut aku pulang kerumahku........"
Kembali Kim Thia sia mendengus dingin, pikirnya dengan sinis.
"Lelaki ini benar-benar tak becus, perbuatan hanya akan memalukan setiap orang lelaki. HMmm kalau berjumpa nanti, aku harus mennyindirnya habis-habisan-"
Kemudian dia berpikir lagi.
"Aku tak percaya kalau seorang gadis cantik memiliki kedudukan yang begitu penting dalam kehidupan seorang pria, kecuali orang itu gemar main perempuan-Hmmm coba kalau aku, tak nanti aku mampu mengucapkan kata-kata seperti ini."
Sementara dia masih berpikir, pria tadi telah berkata lagi.
"Terus terang kubilang, aku telah berhasil mendapat kabar tentang jejak pedang leng gwat kiam tersebut, asal kau bersedia mengucapkan sepatah kata saja kepadaku, pedang tersebut pasti akan kupersembahkan kepadamu......."
"Dimanakah benda itu sekarang?"
Tanya putri Kim huan cepat, agaknya dia menaruh perhatian besar. Kim Thia sia segera merasakan hatinya bergetar keras, pikirnya pula.
"Entah siapakah orang ini? Darimana dia bisa mengetahui jejak pedang leng gwat kiam? Ehmmm..........bila ditinjau dari garis besarnya perhatian putri Kim huan atas benda tersebut, nampaknya dia masih berkeinginan besar untuk mendapatkan senjataku itu. Ehmmm.....aku harus mulai bersiap sedia."
Tiba-tiba saja timbul keinginannya untuk menyerbu kedalam serta membongkar kedok orangorang itu tapi sebelum dilakukan ingatan telah melintas pula dalam benaknya.
"Tidak boleh, aku harus menunggu sampai putri Kim huan memberikan jawabannya, aku tak boleh menggebuk rumput mengejutkan sang ular. Hal ini bisa merugikan diriku sendiri"
Terdengar pria tadi berkata lagi dengan suara rendah dan dalam.
"Harap nona sudi memaafkan, rahasia ini tak bisa kukatakan kepadamu. Gara-gara benda tersebut serta sebuah mestika yang lain, kami bakal melangsungkan suatu pertarungan yang sengit karenanya sebelum menang kalah ketahuan, aku tak bisa membocorkan rahasia tersebut kepadamu."
"Hmmm, bicara pulang pergi tak ada gunanya semua"
Dengus putri Kim huan dengan nada tak senang hati.
"Kau toh mengatakan sendiri, asal aku menginginkan benda itu maka kau akan mempersembahkan kepadaku, sekarang mengapa kau katakan juga bahwa rahasia ini tak boleh dibocorkan sebelum menang kalah ditentukan?"
"Nona, walaupun menang kalah belum ketahuan, namun aku berani mengatakan bahwa pedang leng gwat kiam serta benda mestika yang satunya lagi sudah menjadi benda dalam saku kami yang setiap saat bisa diambil. Betul musuh memiliki pengaruh yang sangat besar, namun mereka bukan tandingan dari kami bersaudara, sedang akupun sudah mengatakan kepada abang seperguruanku, ternyata abang seperguruanku setuju untuk menyerahkan pedang leng gwat kiam kepadaku, itulah sebabnya aku berani mengatakan bahwa pedang leng gwat kiam pasti akan menjadi milikmu."
"Hmmm, kau tak perlu mengajak aku bergurau, sampai sekarang pedang leng gwat kiam masih berada ditangan orang lain, tapi kau sudah berani bicara takabur. Hmmm aku paling benci mendengar kata-kata kosong itu, lebih baik kau angkat kaki saja."
Sementara itu Kim Thia sia merasakan hatinya amat berat sekali, dia tak menyangka pedangnya sudah terjatuh ketangan orang lain-sekalipun ia mampu mengalahkan orang tersebut, belum tentu senjatanya dapat direbut kembali.
Dalam gelisahnya, timbul keinginan untuk mengintip siapa gerangan orang yang membujuk dan merayu putri Kim huan tersebut.
Diam-diam ia membuka pintu kamar dan mengintip kedalam, ternyata orang itu adalah seorang pemuda tampan, dan tak lain adalah abang seperguruannya sendiri, sipedang besi so Bun pin.
Untuk sesaat pemuda kita dibuat tertegun akhirnya sambil menghela napas sedih, pikirnya.
"Betulkan abang seperguruan adalah manusia yang tak berguna?"
Ketika ia merapatkan kembali pintu kamar tersebut, ternyata orang didalam kamar tidak mengetahui perbuatannya. Terdengar sipedang besi soBun pin merendahkan suaranya dan berbisik secara tiba-tiba.
"Aku tahu kau sangat benci dengan bajingan itu, mumpung dia masih tertidur nyenyak sekarang, bagaimana kalau kumanfaatkan ini untuk membunuhnya........?"
"Kau tak usah repot-repot, aku bisa melakukannya sendiri"
"Kau tidak mengerti ilmu silat, bagaimana mungkin kau bisa melakukannya......?"
"siapa bilang aku tak bisa? Dia pernah mewariskan berapa jurus ilmu silat kepadaku"
Kata putri Kim huan tak senang hati.
"Tempat ini sudah tidak membutuhkan dirimu lagi, kau boleh segera angkat kaki."
Hening untuk berapa saat lamanya, jelas sipedang besi so Bun pin telah dibuat gusar oleh pengusiran tersebut.
"Hey...heeeey......kau hendak berbuat apa?"
Tiba-tiba terdengar putri Kim huan menjerit kaget.
"Coba bayangkan sendiri, bagaimana sikapmu terhadapku bila dibandingka sikapku terhadap dirimu?"
"Enyah kau dari sini, kalau ebrani berbuat lagi aku akan berteriak keras-keras."
"silahkan berteriak. kecuali bocah cecunguk itu, tak seorangpun akan mencampuri urusanmu dan lagi akupun tak pandang sebelah matapun terhadap bocah keparat itu, percuma kau berteriak sekalipun tenggorokanmu sampai serakpun.........."
Suara langkah kaki yang kacau dan tamparan nyaring berkumandang dari dalam kamar, lalu terdengar putri Kim huan berseru dengan gemas.
"Manusia tak tahu malu, kau berani mempermainkan aku?"
"Siapa suruh kau tak mau turuti kehendakku? Hmmm, jangan salahkan aku bila bermain kasar......."
Seru sipedang besi so Bun pin sambil tertawa dingin.
"Asal kau menyanggupi permintaanku, maka apa pun yang kau minta akan kupenuhi, kalau tidak......Hmmmm, lihat saja apa jadinya nanti."
"Tolong......."
Gadis itu segera menjerit keras.
Jeritan itu mengejutkan Kim Thia sia, juga menggemparkan para tamu lainnya, sebagai pemuda yang pintar, Kim Thia sia segera mengetahui apa yang terjadi, kontan umpatnya.
"Bajingan busuk so Bun pin, perbuatanmu sangat memalukan-"
Dengan cepat dia mendorong pintu dan melangkah masuk kedalam.
Pemandangan yang segera terlihat didepan mata segera mengobarkan hawa amarah didalam dada pemuda tersebut, ia saksikan sipedang so Bun pin dengan wajah yang bengis sedang memeluk pinggang putri Kim huan dan memaksa untuk mencium wajahnya.
sebaliknya putri Kim huan dengan wajah terkejut bercampur gusar sedang mendorong tubuhnya dengan sekuat tenaga.
Dengan langkah lebar Kim Thia sia menyerbu masuk kedalam kamar, lalu tegurnya sambil mendengus dingin-"Hey pedang besi, kau sebetulnya manusia atau binatang?"
Begitu sipedang besi melepaskan pelukannya, dengan cepat putri Kim huan lari kedepan seraya berseru.
"Hey, dia jahat......cepat kau usir orang itu dari sini."
Dengan pandangan dingin Kim Thia sia memandang sekejap kearahnya, melihat gadis itu pucat pias karena ketakutan, tiba-tiba saja timbul perasaan girang dihati kecilnya.
Dengan nada ketus jawabnya cepat.
"Benar, dia memang jahat, tapi kau sendiripun tidak berbeda jauh dengannya."
"Apa kau bilang?"
Seru putri Kim huan tertegun. Kim Thia sia sama sekali tak menggubris dirinya lagi, kepada sipedang besi so Bun pin kembali ujarnya.
"Perempuan ini tak punya perasaan Kau tak perlu mencintainya, sedang aku telah menyanggupi untuk melindungi keselamatannya, karena itu tak bisa mengingkar janji. sebagai seorang yang pintar, kuharap kau sudi memandang pada hubungan persaudaraan kita untuk segera angkat kaki dari tempat ini....."
Sipedang besi sama sekali tak memandang sebelah matapun terhadap lawannya, ia segera tertawa dingin.
"Kau berulang kali mengaku sebagai adik seperguruanku. Hmmmm Apakah perkaraanmu itu tidak keliru besar? Aku heran, mengapa kau masih bertebal muka mengajak berbicara."
"Mau percaya atau tidak terserah padamu sendiri, yang jelas aku adalah murid terakhir dari simalaikat pedang berbaju perlente. Coba kalau suhu masih hidup, kau pasti akan percaya dengan perkataanku ini."
"Bocah keparat, kau berani berbicara sembarangan dan mengaku-ngaku sebagai murid malaikat pedang berbaju perlente. Hmmm manusia macam kau wajib diberi pelajaran."
Begitu selesai bicara tiba-tiba sipedang besi so Bun pin bergerak maju kedepan melepaskan sebuah pukulan dahsyat.
Angin pukulan yang menderu-deru dengan hebatnya seketika memaksa Kim Thia sia mundur selangkah kebelakang.
"Pedang besi, kau kelewat memojokkan posisimu. Hmmmm, jangan salahkan kalau aku akan berlaku kasar kepadamu........"
Seru Kim Thia sia mulai sewot dibuatnya.
Mendadak ia melancarkan sebuah sapuan sementara telapak tangan kirinya melontarkan sebuah pukulan yang tak kalah dahsyatnya.
Dalam waktu singkat dua gulung tenaga cukulan saling beradu satu sama lainnya.
Kim Thia sia segera merasakan datangnya tenada dorongan yang kuat membuat badannya gontai dan mundur selangkah.
Cepat-cepat putri Kim huan memburu kedepan serta memayang tubuhnya, sewaktu Kim Thia sia berpaling, hampir saja kepalanya saling beradu dengan wajah gadis itu.
Kontan paras muka gadis itu berubah menjadi merah padam, namun ia tersenyum manis sebaliknya pemuda kita jadi tertegun.
Hanya sebentar saja, Kim Thia sia telah mendorong tubuh gadis itu sambil berseru dingin.
"Hmmm, siapa yang suruh kau mencampuri urusanku..........."
Kemudian setelah berhenti sejenak. kembali dia menambahkan.
"Kau tak usah berlagak lagi, aku tahu sikap baikmu selama ini hanya sikap berpura-pura saja."
Mendadak terdengar sipedang besi membentak keras.
"Keparat, lihat serangan"
Sambil menyerobot maju kedepan, serangkaian pukulan dilontarkan secara bertubi-tubi. Kim Thia sia segera berpikir.
"Berulang kali sipedang besi melancarkan serangan dengan jurus-jurus keji, tampaknya dia memang berhasrat membinasakan diriku. Hmmm Bila tak kuberi sedikit pelajaran, ia pasti menganggap diriku sebagai kaum lemah yang dapat dipermainkan semaunya."
Mendadak ia teringat kembali dengan dendam sakit hati gurunya, dengan mata merah membara ia membentak keras, secara beruntun berapa jurus serangan dari ilmu Tay goan sinkang dilontarkan kedepan-Ilmu Tay goan sinkang dan Ngo hud kiam hoat merupakan dua jenis ilmu simpanan dari Malaikat pedang berbaju perlente yang belum sempat diwariskan kepada kesembilan orang muridnya, bila dibandingkan dengan ilmu silat yang dipelajari kesembilan orang jagoan selama ini, tentu saja kedua macam ilmu tersebut jauh lebih hebat.
Baru dua gebrakan, sipedang besi sudah dibuat kalang kabut dan gelagapan setengah mati.
sejak terjun kedalam dunia persilatan, belum pernah so Bun pin mengalami kejadian setragis hari ini, tentu saja dia tak mampu menahan diri, dengan cepat pedang besinya dicabut keluar.
Pada saat itulah mendadak terlihat sesosok bayangan manusia berkelebat masuk kedalam ruangan dengan kecepatan tinggi.
Putri Kim huan yang melihat kedatangan orang itu kontan saja menjerit kaget.
"Hey, kalian jangan berkelahi dulu, ada orang......"
Ketika sipedang So Bun pin melihat jelas pendatang itu, ia menghentikan segera gerak serangannya dan menegur dengan keheranan.
"sam suheng, dari mana kau bisa tahu kalau aku berada disini?"
Orang itu tersenyum, dia melepaskan kain kerudungnya membiarkan rambutnya tergantung kebawah, ternyata orang itu adalah seorang pemuda berhidung mancung dan berbibir sangat tipis, dibalik senyuman terselip kebuasan yang menggidikkan hati.
Diam-diam Kim Thia sia berpikir.
"sipedang besi menyebutnya sebagai sam suheng, kalau begitu orang ini adalah sipedang tembaga."
Pedang tembagapun merupakan seorang pemuda yang tak kalah tampannya dari pedang besi, terutama disaat rambutnya dibiarkan terurai dibelakang punggungnya, terasa pancaran kegagahan yang mengerikan.
Tanpa terasa Kim Thia sia memperhatikan pedang tembaga itu berapa kejap.
makin dipandang dia merasa pemuda itu makin tampan sehingga tanpa terasa timbul perasaan rendah diri pada dirinya.
sementara itu sipedang tembaga tidak berbicara dengan pandangan tercengang dia mengawasi putri Kim huan.
Berapa kejap seakan-akan diapun dibuat terpesona oleh kecantikan wajah gadis itu.
Berapa saat kemudian dia baru berkata.
"Gerak gerik sute telah berada dibawah pengawasan musuh, andai kata kawanan serigala dungu yang memuakkan itu tidak mengawasi rumah penginapan ini. Mungkin akupun tidak tahu kalau kau berada disini."
Kemudian setelah berhenti sejenak. sambil menuding kearah putri Kim huan tanyanya sambil tertawa.
"Apakah nona ini yang sering kali sute singgung-singgung?"
"Benar"
Pedang tembaga segera tertawa nyaring, pujinya.
"sute memang tak mau memiliki ketajaman mata yang mengagumkan, nona ini boleh dibilang merupakan gadis paling genit yang pernah kujumpai sepanjang hidupku. Haaaah.....haaaah......"
Dengan kening berkerut sipedang besi bertanya.
"Apakah suheng telah berhasil menghajar buyar kawanan serigala yang memuakan itu?"
Pedang tembaga tertawa.
"Untuk membunuh ayam, buat apa mesti memakai golok pembunuh kerbau? Ketika melihat aku memasuki rumah penginapan ini, kawanan gentong nasi tak berguna itu sudah kabur terbirit-birit untuk menyelamatkan diri."
"Ya a, siapa tahu keadaan dan menyelamatkan diri selekasnya memang merupakan tindakan tepat dari seorang lelaki cerdik."
"Haaaah......haaaaah......"
Sipedang tembaga tertawa nyaring ketika alis matanya melentik keatas tampaknya wajahnya yang lebih tampan dan perkasa. Pelan-pelan dia berkata lagi.
"selama ini kita masuk keluar dunia persilatan sambil mempertaruhkan nyawa nama besar yang diraih bukan hanya nama kosong belaka. sudah barang tentu kawanan cecunguk dan badut itu tak berani mencari penyakit buat diri sendiri......"
Sementara berbicara, sepasang matanya yang jeli tiada hentinya mengawasi wajah putri Kim huansipedang besi segera menuding kearah Kim Thia sia dan berkata lagi.
"sam suheng, mari siaute perkenalkan kalian, orang inilah pemuda yang mengaku sebagai murid terakhir dari si Malaikat pedang berbaju perlente Kim Thia sia."
Pedang tembaga agak tertegun, lalu setelah mengamati pemuda itu sekejap. serunya.
"Jadi pemuda inilah orang yang sering sute bicarakan?"
"Benar........benar........"
Berbicara sampai disini, sipedang besi segera tertawa terbahak-bahak.
"Aku rasa orang ini lebih pantas dianggap sebagai orang sinting.....haaaah........haaaaah......."
"Kau jangan mengaco belo tak karuan"
Teriak Kim Thia sia dengan wajah berkerut dan tak senang hati.
"Aku bukan orang sinting kalau tak percaya tanyalah nona ini, ia adalah orang yang paling mengetahui tentang diriku."
"Yaa betul"
Sahut putri Kim huan cepat.
"Cara berbicara maupun tindak tanduknya normal, dia memang tak pernah berbohong."
Sambil tersenyum sipedang tembaga berkata.
"Aku tak ambil perduli kau sinting ataukah tidak tahu yang jelas kau mencabut nama besar orang dan mengaku sebagai murid seorang jago kenamaan memang bisa terjadi, bila kulihat tampangmu yang gagah dan tubuhmu yang kekar. sesungguhnya tak miri^ seorang cecunguk. heran mengapa kau justru melakukan perbuatan yang rendah dan hina seperti ini?sayang......sungguh teramat sayang......."
"Tapi......aku benar-benar adalah murid terakhir dari Malaikat pedang berbaju perlente, aku........aku berani bersumpah...."
"Baik"
Sipedang tembaga segera menarik muka dan menatap pemuda itu dengan sorot mata yang tajam.
"Asli atau gadungan, sebentar lagi akan ketahuan hasilnya."
Baru selesai perkataan itu diutarakan, tiba-tiba dia bergerak amat cepat.
sepasang tangannya secepat ular berbisa mengayunkan kedepan melancarkan dua serangan gencar yang mengancam jalan darah sang seng hiat, Pek hui hiat, Hong wi hiat dan Hoat hiat empat buah jalan darah penting ditubuh lawansemua serangan tersebut dilancarkan dengan kecepatan luar biasa dan sama sekali tidak membawa deruan angin, menanti Kim Thia sia sadar kalau dirinya sedang disergap.
Tahu-tahu jalan darah sang seng hiat nya yang sudah tak terasa kaku dan kesemutan-Untung saja Kim Thia sia tidak gugup dalam keadaan segawat ini, tiba-tiba saja dia menghimpun tenaga dalamnya dan menyonsong datangnya serangan itu dengan jurus "kecerdikan menguasai jagad", sementara tangan yang lain menyerang musuh dengan jurus "kelincahan menyelimuti empat samudra."
Tampak bayangan pukulan berlapis-lapis dan menyelimuti seluruh angkasa, sipedang tembaga segera merasakan pandangan matanya menjadi kabur, apa yang dilihat adalah disekeliling situ bermunculan begitu banyak musuh yang mengancam dirinya dari mana-mana.
Ia merasa serangan lawan ibarat jaring ikan yang mengurung badannya dari empat penjuru, membuat dirinya susah meloloskan diri...
Dalam keadaan demikian, seandainya Kim Thia sia mengerahkan sedikit tenaga saja untuk mengancam lawannya, niscaya pedang tembaga akan menderita kekalahan.
Namun Kim Thia sia yang bijaksana dan berhati mulia enggan berbuat demikian, ketika serangannya mencapai setengah jalan, tiba-tiba dia buyarkan jurus serangan tersebut dan melompat mundur kebelakang.
Dalam saat itu juga sipedang tembaga sadar kembali dari lamunannya, baru saja Kim Thia sia menarik sebagian dari serangannya dan belum sempat mengundurkan diri, tenaga pukulannya yang kuat telah menyambar tiba.
Kim Thia sia sangat terkesiap.
sekuat tenaga dia melemparkan tubuhnya kesamping untuk menghindarkan diri.
Dengan gerakan tersebut, walaupun dia berhasil melepaskan diri dari serangan utama, toh tak urung gagal meloloskan diri dari sambaran angin cukulan yang datang dari samping, akibatnya dia tergetar keras hingga mundur dengan sempoyongan.
Belum sempat tubuhnya berdiri tegak mendadak muncul kembali sebuah pukulan yang cepat bagaikan sambaran kilat dari sisi arena dan langsung mengancam diubun-ubunnya.
Ternyata sipenyergap licik itu tak lain adalah sipedang so Bun pin-.....
Menghadapi kejadian seperti ini, Kim Thia sia sgeera berpikir.
"Hmmm, betapa kejamnya hati orang ini, bukan hanya menyergap secara licik, bahkan diapun tanpa menuruti peraturan persilatan berusaha menghabisi nyawaku........."
Dalam keadaan begini tak sempat lagi baginya untuk menghindarkan diri, terpaksa disambutnya serangan yang maha dahsyat itu dengan mempergunakan bahunya.
"Blaaaaammmmmmm."
Ditengah benturan yang sangat keras, pemuda itu merasakah bahunya kesakitan, sementara badannya terjungkal kebelakang dan berjumpalitan beberapa kali, matanya terasa berkunangkunang dan dadanya terasa sesak sekali......
Pelan-pelan dia merangkak bangun, tampak olehnya sipedang besi sedang mengawasinya sambil tertawa bangga, senyum dinginpun menghiasi ujung bibirnya, seakan-akan tindakan sergapannya barusan bukan suatu perbuatan yang memalukan-Kim Thia sia menjadi teramat berang, hawa amarah serasa membara didalam dadanya, sambil membentak nyaring sebuah pukulan dahsyat segera dilontarkan kedepan-"Tunggu sebentar"
Tiba-tiba sipedang tembaga yang berhasil menenangkan hatinya membentak nyaring. Kemudian katanya lebih jauh setelah berhenti sebentar.
"Kepandaian silatmu sangat tangguh perbuatanmu tidak mirip perbuatan kaum berandal kampungan-Mengapa sih kau bersikeras mengaku sebagai adik seperguruanku?"
"Aku tak berhasrat membicarakan persoalan ini"
Tukas Kim Thia sia ketus.
"Bila ingin bertarung mari kita segera bertarung. Kalau enggan bertarung lebih baik kalian berdua cepat-cepat tinggalkan tempat ini........"
Merah padam selembar wajah pedang tembaga, katanya kemudian-"Kalau dugaanku tak salah, kau berniat mencatut nama besar dari Malaikat pedang berbaju perlente untuk meng katrol namamu hingga menjadi begal, sekalipun sesungguhnya kau tak ingin mengaku-ngaku, tapi keadaan yang memaksamu untuk menyerempet bahaya ini, bukan demikian?"
"Benar, benar, terserah apapun yang hendak kau bilang......."
Sahut Kim Thia sia tak senang hati.
Ketika sorot matanya dialihkan kembali kesisi ruangan, paras mukanya kembali berubah hebat.
Entah sejak kapan, ternyata dalam ruangan tersebut telah bertambah lagi dengan seseorang.
orang itu berperawakan tinggi dan berbaju putih keperak-perakkan, sepasang matanya tajam bercahaya sehingga sekilas pandang ia mirip sekali dengan sebuah arca.
Dia berusia tiga puluh tahunan, berwajah tampan, alis mata yang tebal dan berbibir merah dengan sebaris gigi yang putih bersih, namun sikapnya agaknya angkuh memberi kesan keren bagi yang memandang.
Ketika melihat kehadiran orang itu, sipedang tembaga dan sipedang besi serentak menghentikan perbuatan mereka dan bersama-sama hormat seraya berkata.
"Rupanya ji suheng telah berkunjung kemari, terimalah salam hormat dari siaute."
"sute sekalian tak usah banyak adat"
Sahut sipedang perak sambil mengebaskan ujung bajunya.
suaranya nyaring dan tajam, jelas terlihat bahwa dia memiliki kepandaian silat yang sangat tangguh.
Dengan sikap yang sangat angkuh sipedang perak memandang sekejap kesekeliling ruangan.
Namun selama ini ternyata tak sampai memperhatikan putri Kim huan barang sekejappun, sikapnya mantap dan mencerminkan kegagahan seorang lelaki sejati.
Kim Thia sia paling kagum dengan manusia berhati dingin seperti ini, tanpa terasa dia maju kedepan dan memberi hormat.
Dengan wajah tercengang gedang gerak segera menegur.
"siapakah cuangsu? Rasanya kita belum pernah bersua muka........"
"Aku bernama Kim Thia sia, seorang dusun yang tak mengerti urusan"
Jawab pemuda itu cepat. Mendengar perkataan ini, putri Kim huan segera tertawa cekikikan sambil mendesis.
"Kau memang mirip sekali."
Suara tertawanya ibarat burung nuri yang berkicau, sangat mempesonakan hati pria.
Tak kuasa sipedang besi danpedang tembaga dibuat termangu-mangu untuk berapa saat lamanya.
Namun sipedang perak seperti tak terpengaruh oleh godaan tersebut, dengan sikap yang tetap tenang dia berkata.
"Walaupun Kim Thia sia sauhiap belum lama terjun kedalam dunia persilatan, nama besarmu telah termashur diseantero jagad, benar-benar seorang jago muda yang luar biasa.
Nona, bila kau menyindirnya dengan perkataan begitu, sikapmu benar-benar kurang tahu hormat."
Dari nada pembicaraan itu, jelas sudah dia senang menegur ketidak sopanan putri Kim huan-Kim Thia sia semakin kagum dibuatnya cepat-cepat dia menjura seraya berkata lagi.
"saudara kelewat memuji, padahal siaute memang tak becus dan tak lebih hanya seorang dusun yang tak tahu urusan."
Pedang perak tertawa-tawa.
"Aku dengar Kim sauhiap masih mempunyai hubungan perguruan dengan kami bersaudara, apakah hal ini benar?"
"Betul, aku adalah murid terakhir dari malaikat pedang berbaju perlente, tapi tak seorangpun yang mau percaya, padahal aku berbicara dengan jujurnya."
Kemudian sambil menatap sekejap kearah pedang besi dengan amarah yang berkobar katanya lebih jauh.
"Mengapa aku mesti mengaku-ngaku, sekalipun Malaikat pedang berbaju perlente adalah seorang tokoh dunia persilatan yang luar biasa. Namun aku, Kim Thia sia bukan seorang manusia pengecut yang bisanya hanya membonceng ketenaran orang lain."
"Sute kesepuluh, kau jangan marah"
Sipedang perak segera berkata sambil tertawa.
"Dari pancaran wajahmu yang gagah dan keren, aku tahu bahwa kau bukan manusia kurcaci yang suka mencatut nama besar orang lain, aku percaya dengan pengakuanmu itu."
Berbicara sampai disini dia segera berpaling kearah sipedang tembaga dan pedang besi sambil bertanya lagi.
"Sute berduapun tak usah menaruh curiga lagi. Ayoh cepat saling menghormat sebagai sesama saudara seperguruan."
Dengan perasaan tak senang hati kedua orang itu memanggil "sute"
Kepada Kim Thia sia, sebaliknya Kim Thia sia pun memanggil kedua orang itu sebagai "suheng"
Dengan nada tak senang.
Dengan demikian, maka hubungan sebagai sesama saudara seperguruan pun telah diresmikan oleh sipedang perak.
setelah suasana hening berapa saat, sipedang perak baru berkata lagi.
"Besok adalah hari yang ditentukan untuk berlangsungnya pertarungan penentuan antara kita bersaudara seperguruan dengan Pek kut sinkun, tokoh kenamaan dari kawasan Kang lam. sebagai jago pilihan yang diandalkan pihak Kanglam sudah jelas Pek kut sin kun bukan manusia sembarangan yang boleh dipandang secara gegabah. Apakah sute berdua telah melakukan persiapan yang matang...........?"
"Semua persiapan telah selesai"
Jawab pemuda tembaga dan pedang besi serentak. Kim Thia sia segera teringat kembali dengan kematian murid-murid Empat naga dari Tionggoan ditangan si "manusia dengki"
Dalam peristiwa tersebut Pek kut sinkun merupakan orang yang paling dicurigai, maka timbullah niat untuk menyelidiki persoalan tersebut didalam hatinya.
sementara dia masih termenung, sipedang perak telah berkata lagi sambil tertawa.
"Sute, apabila kau berniat, mari bergabung dengan kami untuk bersama-sama menggempur Pek kut sinkun bersama anak buahnya."
Kim Thia sia memang sangat berharap akan kesempatan tersebut, dengan cepat dia menjawab.
"Aku terima tawaran ini dengan senang hati, bagaimana kalau kita berangkat sekarang juga?"
Sipedang perak segera manggut-manggut.
"Yaa, undangan Pek kut sin kun adalah esok pagi, tapi kita harus membuat persiapan mulai sekarang juga."
Sebagai seorang pemuda yang pintar, dengan cepat Kim Thia sia dapat menangkap bahwa kata "persiapan"
Yang diucapkan orang itu mengandung arti yang mendalam sekali, ia segera berpikir.
"Andaikata kawanan jago persilatan yang tanpa sebab musabab mencari gara-gara denganku tadi adalah pengikut Pek kut sinkung. HHmmmm, kawanan manusia macam begitu memang pantas dibunuh. seorang lebih sedikit berarti lebih besar kebahagian hidup rakyat"
Berpikir demikian, diapun menjawab.
"Perkataan suheng memang benar, mari kita membuat persiapan sekarang juga."
"Bagaimana dengan gadis ini?"
Tanya sipedang perak sambil tersenyum.
"Biarlah dia menempuh perjalanan bersama kami, tapi apakah hal ini akan merintangi atau menghalangi kerja kita?"
Sebelum pedang perak memberikan jawabannya, sipedang besi telah berkata duluan.
"Sute terlalu curiga walaupun kemampuan kita belum bisa dibilang tiada tandingannya lagi dikolong langit, paling tidak masih termasuk jago pilihan. Apa artinya dengan kehadiran nona ini bersama kita semua?"
Tiba-tiba saja nada pembicaraan sipedang besi berubah menjadi lebih lembut dan ramah seakan-akan sedang berbicara dengan saudara sendiri saja.
sebagai seorang lelaki yang berjiwa terbuka, tentu saja Kim Thia sia tak akan mengingat-ingat persoalan lama, dengan cepat sahutnya.
"Baiklah, kalau begitu terpaksa suheng harus membuang tenaga lebih banyak lagi."
"Aaaaah, tak terhitung seberapa, tak terhitung seberapa........."
Jawab sipedang besi sambil tertawa nyaring. Kemudian sambil berpaling kearah putri Kim huan katanya lebih jauh.
"Setelah aku melindungi keselamatanmu maka kau tak akan terancam bahaya apa-apa lagi."
"Terima kasih atas maksud baik kalian"
Ucap putri Kim huan dengan suara lirih.
"Tapi aku.....aku tak ingin pergi........."
Pedang besi jadi tertegun, untuk sesaat lamanya dia tak mampu mengucapkan sepatah katapun.
Iapun tahu bahwa keseganan gadis itu berangkat bersama mereka tak lain dikarenakan ulahnya, dalam waktu singkat perasaan cinta dan benci bercampur aduk dalam benaknya.
Air mukanya pun turun berubah hebat.
Melihat abang seperguruannya dibuat tersipu-sipu, Kim Thia sia segera membentak nyaring.
"Kalau kau tak mau pergi, lantas apa yang hendak kau lakukan? Apakah kau tidak tahu kalau sekeliling penginapan ini sudah berjaga-jaga pihak musuh? Apakah kau ingin mencari jalan kematian buat diri sendiri........?"
Putri Kim huan sedih sekali, teguran yang pedas membuat air matanya hampir saja jatuh bercucuran, sambil menundukkan kepalanya la berkata kemudian.
"Bila kau memaksa untuk pergi, terpaksa aku hanya akan menuruti perkataanmu."
Diam-diam Kim Thia sia mendengus dingin, dia maju dua langkah kedepan dan berbisik disisi telinganya sambil tertawa dingin.
"Kau anggap aku berbuat begini karena kehendak hati kecilku? Hmmmm.... ...seandainya bukan atas usul suhengku, buat apa aku mesti memelihara harimau untuk mencelakai diri sendiri?"
Rupanya sejak dia mendengar putri Kim huan bermaksud melakukan perbuatan keji terhadapnya, sikapnya terhadap gadis itupun mengalami perubahan 180 derajat.
Kalau semual dia masih menaruh perasaan iba atas nasibnya yang tragis, maka sekarang ia justru membencinya hingga merasuk ketulang sumsum.
Putri Kim huan bukan gadis yang bodoh, tentu saja dia mengerti apa maksud memelihara harimau untuk mencelakai diri sendiri tersebut.
Paras mukanya kontan saja berubah hebat, tapi hanya sebentar saja telah pulih kembali seperti sedia kala, gumamnya lirih.
"Kau telah menaruh salah paham kepadaku, tadi aku sengaja berkata begitu tak lain hanya ingin melepaskan diri dari orang tersebut."
Dengan kepala tertunduk dan rasa sedih yang luar biasa, pelan-pelan dia beranjak meninggalkan ruangan dan mengikuti dibelakang keempat orang tersebut.
Ditengah jalan, Kim Thia sia tak bisa menahan diri lagi, tiba-tiba tanyanya.
"Suheng, apakah kau mengetahui kabar berita tentang pedang Leng gwat kiam itu?"
Merah padam selembar wajah sipedang besi, dengan cepat dia segera mengerling sekejap kearah putri Kim huan, ia sedih dan serba salah untuk sesaat pemuda ini tak tahu apa yang mesti diperbuatnya.
Tapi selang berapa saat kemudian, sahutnya juga.
"Pedang itu berada ditangan Pek kut sinkung.........."
Mendadak dari kejauhan sana muncul lima orang lelaki kekar yang berjalan mendekati kearah mereka, sambil tertawa sipedang tembaga segera berkata.
"Kelima orang itupun merupakan lawan tangguh dari Pek kut sinkun. suheng, sudah seharusnya kita bersekongkol dengan mereka."
"Benar"
Jawab pedang perak.
"Sejak pianpacu mereka mati secara misterius dibukit terpencil, lima orang gagah dari Kian an memang sedang menyusun rencana untuk melakukan pembalasan dendam."
Kim Thia sia yang mendengar perkataan tersebut segera teringat kembali dengan pertemuannya bersama Ciang sianseng tempo hari.
Kematian Pianpacu tersebut waktu itu adalah disebabkan ia mendapat titipan dari Pek kut sinkun untuk menyerahkan kotak Hong toh kepada Ciang sianseng, tapi akhirnya mati ditangan orang yang mengincar mestika tersebut.
Mendadak ia seperti teringat akan sesuatu, segera gumamnya.
"Aaaaah tidak benar, tidak benar, kalau toh Pek kut sinkun telah menyerahkan kotak Hong toh kepadanya untuk disampaikan kepada Ciang sianseng, berarti ia tidak mempunyai maksud untuk membunuh Pianpacu tersebut, sudah pasti dalam peristiwa ini terjadi kesalahan paham. pek kut sin kunlah dituduh tanpa dasar oleh lima orang gagah dari Kian an.
Jilid 23 Sementara itu Kian an ngo hiong sudah berjalan semakin dekat, sipedang perak segera maju kedepan menyapa kelima orang tersebut, katanya sambil tertawa.
"Aku dengar sebab kematian plan pacu kalian ada sangkut pautnya dengan ketua dari Tiang pek san, benarkah begitu?"
"Benar, benar"
Sahut kelima orang itu sambil tertawa.
"Semula kami memang mencurigai kematian plan pacu kami sebagai ulah dari ketua Tiang pek san, kemudian setelah dilakukan penyelidikan yang seksama dapat kami ketahui bahwa disaat terjadinya peristiwa ini, ketua Tiang pek san menutupi diri bahkan selama berapa bulan sebelum dan sesudah peristiwa itu tak pernah meninggaikan bukit Tiang pek san, maka kamipun menaruh perhatiannya terhadap Pek kut sinkun. Aku rasa kecuali dia seorang kedua yang ada sangkut pautnya dengan peristiwa itu lagi."
"Benar, benar apakah kalian sudah menyelidiki sebab musabab terjadinya peristiwa itu?"
Sela Kim Thi sia.
"Kalau toh Pek kut sinkun telah menyerahkan kotak Hong toh kepada pian pacu kalian, berarti dia tidak mempunyai kemungkinan untuk membunuhnya, aku rasa sipembunuh tersebut adalah orang yang berniat merampas mestika itu."
Lima orang gagah dari Kian an mengalihkan perhatiannya kewajah pemuda itu. Salah seorang diantaranya segera berkata.
"Ooooh rupanya sauhiap. Maaf, maaf, apakah ciang sianseng baik-baik saja?"
Begitu perkataan tersebut diutarakan, sipedang perak bertiga menjadi tertegun dibuatnya. Kim Thi sia segera menjawab.
"aku baru berpisah satu bulan lamanya, jadi tidak kuketahui bagaimana keadaannya belakangan ini."
Rupanya dia pernah bersua dengan kelima orang ini, sewaktu berjumpa Ciang sianseng pun hadir disisinya. Karena itu kelima orang tersebut kenal juga dengan dirinya.
"Perkataan sauhiap memang benar"
Sahut Kian an ngo hiong kemudian.
"Kami memang bermaksud melakukan penyelidikan lagi dengan lebih seksama."
"Kalian mesti lebih waspada......."
Pesan Kim Thi sia.
Mendadak ia melihat salah satu diantara kelima orang tersebut sedang mengawasi putri Kim huan dengan wajah penuh kegusaran.
sebaliknya putri Kim huan melengos kearah lain dengan mulut dicibirkan dan wajah menghina.
Kim Thi sia tahu pasti ada sesuatu yang tak beres, cepat dia menegur.
"sobat, apakah kau mempunyai sakit hati dengannya?"
Merah membara paras muka orang itu. Agaknya dia sedang berusaha mengendalikan gejolak hawa amarahnya, sepatah demi sepatah kata ujarnya kemudian.
"Budak cilik ini tak tahu aturan, setengah bulan berselang dia pernah menitahkan anak buah raksasanya untuk......."
Berbicara sampai disitu mendadak ia menjadi tergagap dan tak mampu melanjutkan perkataannya, jelas peristiwa yang memalukan itu sulit diutarakan keluar olehnya.
Tiba-tiba putri Kim huan berpaling, kemudian balas berseru dengan wajah gusar.
"Kau mengatakan siapa yang budak kecil? Hmmm, seandainya kau mau menuruti perkataanku, tak mungkin dirimu digaploki oleh anak buahku. Kalau sudah tahu bersalah, buat apa banyak bicara lagi?"
Dengan hati mendongkol orang itu mendesak maju kedepan, lalu bentaknya lagi.
"Budak kecil, justru kau yang tak mau membedakan mana yang benar dan mana yang salah.......hmmm, setelah kutemukan hari ini, akan kutuntut keadilan darimu."
Kim Thi sia cukup mengetahui tabiat putri Kim huan yang gemar membuat gara-gara dimanamana, dengan wajah masam dia segera maju kedepan dan menegur dengan suara dingin.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Cepat katakan, coba kupertimbangkan siapa yang benar dan siapa yang salah."
"Waktu itu tanduku sedang melalui sebuah jembatan kecil, jembatan tersebut amar sempit dan hanya bisa dilewati tandu saja. saat itulah dia datang dari arah seberang ketika aku suruh dia menyingkir. Hmmm, dia jahat sekali, bukan saja tidak menyingkir bahkan sambil tertawa tergelak malah melompat setinggi dua kaki dan melangkahi tanduku. Aku jadi sangat mendongkol maka kusuruh Hon ciangkun memberi hajaran kepadanya."
"Hanya dikarenakan alasan tersebut?"
"Benar"
Dengan kening berkerut Kim Thi sia segera membentak.
"Hmmm, ulahmu benar-benar kelewat batas, kau bukan sri baginda, apa salahnya kalau dia melompati tandumu? Atas dasar apa kau menyuruh anak buahmu menghajarnya? Hmmm, sudah kuduga kesalahan pasti berada dipihakmu. Ayoh sekarang minta maaf kepadanya. Kalau tidak aku akan menghajarmu sampai babak belur."
Buru-buru sipedang perak maju melerai, katanya sambil tertawa.
"sute, buat apa kau mesti marah-marah? Yang sudah lewat biarkan saja lewat, kesalahan toh berada dikedua belah pihak. apa salahnya bila didamaikan secara baik-baik. Apalagi dia toh seorang wanita yang menjadi lelaki pantas mengalah kepadanya."
Walaupun perkataan ini enak kedengarannya, namun siapa saja bisa mendengarkan kalau ia sedang mengumpat kepicikan hati orang tersebut, tak heran paras muka orang itu menjadi merah padam.
Putri Kim huan pun merasa amat sedih, apalagi ditegur oleh Kim Thi sia dihadapan umum.
Ia merasa harga dirinya telah diinjak-injak sehingga tak kuasa lagi air matanya jatuh bercucuran.
selang berapa saat kemudian, ia baru berkata dengan sedih.
"sekarang anak buahku telah mati semua, kau boleh saja menganiaya diriku sesuka hatimu. Akupun tahu, kau adalah orang yang suka menganiaya diriku kaum lemah........."
"Kau tak usah menilai rendah diriku, aku hanya bekerja sesuai dengan permasalahannya, aku tak takut kau sindir."
"Tapi perkataan nona ini memang benar?"
Pedang besi segera menyela.
"Aku melihat sute sering kali menganiaya dirinya..........."
"Yaa betul"
Sambung s ipedang tembaga.
"Mungkln sute sudah menaruh kesan lain kepadanya, sehingga urusan yang kecil pun kau sengaja besar-besarkan........."
Ditegur oleh dua orang suhengnya, Kim Thi sia menjadi termangu dan bungkam diri dalam seribu bahasa. Diam-diam iapun berpikir benarkah dia sudah menaruh "kesan buruk"
Terhadap gadis tersebut?
sewaktu ia terbangun dari tidurnya diluar pintu kamar tempo hari, hatinya sempat dibuat terharu ketika putri Kim huan menyelimuti tubuhnya, tapi kemudian kesan itu berubah menjadi buruk setelah ia mendengar pembicaraannya dengan pedang besi.
Dalam pada itu salah satu diantara lima orang gagah dari Kian an telah dibuat rikuh juga oleh suasana tersebut, terutama setelah menyaksikan keadaan putri Kim huan yang mengenaskan, pikirnya kemudian.
"Aaaai, sudah, sudahlah akupun tak tega memperlakukan gadis secantik ini secara kasar."
Maka tanpa berkata-kata lagi berlalulah lima ornag gagah itu dari hadapan mereka.
Tak selang berapa saat kemudian sampailah mereka didepan sebuah kuil, mendadak pedang perak menghentikan langkahnya sambil memperhatikan permukaan tanah dengan sorot mata yang tajam.
Rupanya diatas tanah yang becek bekas tertimpa air hujan, terlihat bekas telapak kaki yang banyak sekali, sekilas pandangan bekas telapak kaki itu nampak kacau, tapi bila diperhatikan seksama, rasanya jejak itu rapi dan teratur sekali.
seakan-akan terdapat serombongan manusia yang baru lewat dari sana.
"Su sute"
Ujar pedang perak kemudian.
"Coba kau hitung, berapa orang yang baru lewat dari sini?"
Dengan seksama pedang besi memperhatikan tanah, lalu jawabnya serius.
"Semuanya berjumlah dua belas orang, diantara mereka delapan orang memiliki ilmu meringankan tubuh yang agak sempurna agaknya kemampuan mereka sudah mencapai sepuluh bagian kesempurnaan."
Sipedang perak segera tertawa dingin.
"Heeeeh.....heeeeh......heeeeh......ternyata dugaanku memang benar. Pek kut sinkun memang memiliki delapan orang jagoan yang memiliki kepandaian silat cukup tangguh."
Setelah berhenti sejenak, kembali ujarnya.
"Coba kalian tunggu sebentar, aku segera akan balik kemari."
Selesai berkata dia segera melejit keudara bagaikan seekor burung walet.
Ditengah udara dia berjumpalitan secara indah dan menutulkan ujung kaki kirinya pada punggung kaki kanan.
Kemudian badannya melejit setinggi satu kaki lebih dan melayang turun diatas atap kuil bagaikan seekor rajawali raksasa.
Entah disengaja atau tidak-demonstrasi ilmu meringankan tubuh yang dilakukannya ini segera mendatangkan pujian dari semua yang hadir disana.
Kuil itu nampaknya begitu kuno tapi bila diperhatikan lebih seksama bangunannya selain berlubang sesungguhnya sudah mempunyai sejarah seratus tahunan.
Dengan gerakan yang sangat ringan sipedang perak bergerak kesana kemari sehingga boleh dibilang seluruh permukaan atap sudah dijelajahi, tapi entah apa yang dibuatnya.
Tak lama kemudian mendadak wajahnya sudah mandi peluh langkahnya tidak seringan tadi lagi.
Bagaikan diatas bahunya sudah diberi beban yang sangat berat.
Melihat kejadian ini sipedang tembaga segera berseru.
"Heran, mengapa ji suheng mengerahkan tenaga dalamnya diatas atap rumah secara percuma......?"
"Yaa, sungguh mengherankan"
Sambung sipedang besi.
"Padahal selama ini ji suheng amat sayang dengan tenaga dalam sendiri......"
Belum selesai dia bergumam, sipedang perak telah melayang turun kembali keatas tanah dan berdiri didepan pintu kuil tanpa berbicara.
semua orang dapat melihat dengan jelas wajahnya nampak pucat pias, keringat bercucuran amat deras sedang napasnya tersengkal-sengkal.
Mendadak terdengar suara gemuruh yang sangat memekikkan telinga, perasaan terkejut semua orang berpaling, ternyata atap bangunan kuil tadi telah roboh sama sekali keatas tanah.
Debu dan pasir yang berterbangan segera mengotori seluruh wajah pedang perak.
akan tetapi ia tetap berdiri tak bergerak, seakan-akan ia tidak merasakan akan hal itu Pedang perak tak bisa menahan diri lagi, segera teriaknya.
"Ji suheng cepat mundur, berbahaya sekali."
"Tak usah kuatir"
Sahut sipedang perak sambil berpaling.
"Aku cukup mengetahui keadaan."
Sambil berkata dia maju kedepan berapa langkah, lalu dengan wajah menyeramkan tertawa dingin tiada hentinya, seakan-akan ia sedang menantikan sesuatu.
Betul juga, dari balik kuil mendadak bergema dua kali jeritan kesakitan yang memilukan hati, disusul kemudian terdengar suara benturan yang keras.
Pintu kuil telah didobrak orang dan muncullah serombongan manusia berbaju ringkas yang berdesak-desakan lari keluar dari pintu.
Pedang perak yang sudah menantikan sejak tadi segera bertindak cepat, sepasang telapak tangannya diayunkan berulang kali.
"Blaaaam, blaaaammmm, blaaaammmmmmm"
Tiga pukulan bersarang telak ditubuh tiga orang lelaki kekar yang kabur paling depan.
Jeritan ngeri yang menyayat hatipun segera bergema memecahkan keheningan, tahu-tahu ketiga orang itu sudah terhajar oleh pukulan yang maha dahsyat itu hingga mencelat sejauh satu kaki lebih dari posisi semula dan tewas seketika.
suasana menjadi sangat gaduh, disusuk kemudian kawanan lelaki kekar yang berebut keluar dari pintu pun berlarian menghindar kesamping.
sambil tertawa dingin sipedang perak segera berpaling seraya membentak keras.
"sute bertiga, cepat halangi perjalanan mereka, jangan biarkan orang-orang itu melarikan diri"
Kecuali putri Kim huan, ketiga orang pemuda tersebut segera memahami maksud hati sipedang perak.
mereka tak berani berhayal lagi dan serentak memecahkan diri dalam tiga penjuru dan menghadang jalan lari orang-orang itu.
Tampaknya kawanan lelaki kekar itupun sudah memiliki disiplin yang keras, mereka hanya kalut sebentar untuk kemudian dapat menguasahi kembali keadaan disitu.
serentak mereka meloloskan senjata dan membentuk barisan untuk bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan yang diinginkan.
sementara itu sipedang perak sudah bertarung melawan empat orang jago berbaju hitam yang memiliki kepandaian silat tangguh.
Angin pukulan menderu-deru menyelimuti angkasa, namun keempat lelaki berbaju hitam itu bukan manusia lemah.
Mereka mengurung sipedang perak ditengah arena dalam barisan su siu tin hoat yang tangguh.
sipedang tembaga menghadang dihadapan tiga orang jago, agaknya dia berniat mendemontrasikan kebolehannya, dengan pukulan yang amat dahsyat ia gempur ketiga orang musuhnya habis-habisan sehingga mereka hanya mampu menangis saja.
Tapi keadaan yang menguntungkan itu hanya berlangsung sebentar saja, sepuluh gebrakan kemudian tiba-tiba ketiga orang itu berpekik nyaring kemudian melancarkan pukulan bersamasama.
Enam gulung tenaga pukulan yang maha dahsyat seketika mendesaknya mundur sejauh satu langkah.
Dalam waktu singkat ketiga orang itu telah berubah arah kembali, kini mereka terbagi dalam tiga arah dan membentuk barisan sam huan tin hoat yang menyerang maupun menarik diri secara bersama-sama.
Kerja sama mereka amat sempurna membuat serangan sipedang tembaga meski amat gencar, untuk sesaat pun sulit untuk menghalau musuhnya.
sipedang besi menghadang dua orang musuh, posisinya jauh lebih menguntungkan, apalagi setiap serangannya selalu berhasil mendesak mundur musuhnya sampai berapa langkah.
Namun seperti juga jalan pikiran sipedang tembaga dia tidak terburu-buru untuk memberesi musuhnya, tapi justru mendesak mereka yang sampai kalang kabut dan selalu terancam bahaya.
sedang musuh yang bertarung melawan Kim Thi sia adalah manusia berbaju hitam yang berperawakan jangkung.
Kim Thi sia kenali orang ini sebagai orang yang mengepungnya didalam hutan malam itu dan menyerang dirinya dengan kukunya yang tajam.
oleh sebab itulah sepanjang pertarungan berlangsung, dia selalu bertindak sangat hati-hati, asalkan musuh menggunakan kukunya yang tajam maka buru-buru dia menghindarkan diri lebih jauh.
sementara itu putri Kim huan hanya mengawasi jalannya pertarungan dari sisi arena, dia sangat memperhatikan setiap gerakan jurus yang dipergunakan pedang perak dalam menghadapi musuhnya, kadang kala ia nampak termenung tapi sebentar kemudian berseri, jelas sekali dia sedang mencuri belajar ilmu silat orang itu.
Dalam pada itu, diam-diam sipedang besi sedang menghitung jumlah musuhnya, termasuk tiga orang yang telah tewas, jumlahnya tiga belas orang.
sebagai pemuda yang cerdik ia tahu bahwa diantara sekian orang, ada seorang diantaranya yang menguasahi ilmu meringankan tubuh sebangsa menginjak salju tanpa bekas.
semula dia tak tahu siapakah orang itu, tapi setelah diperhatikan lebih jauh, jawabnya segera ditemukan.
Ia tahu orang itu pastilah si jago gedang setengah umur yang sedang bertarung melawan Kim Thi sia.
Entah mengapa, disaat dia mengetahui kalau musuh yang paling lihay telah menjadi tandingan Kim Thi sia.
Tiba-tiba saja timbul perasaan gembira dihati kecilnya, dia berharap orang itu bisa membunuh atau melukai atau bahkan membuat Kim Thi sia menjadi cacad seumur hidup.
orang tersebut memang lihay sekali, terutama ilmu Ci ka sian kangnya yang sangat lihay, dalam keadaan terpaksa Kim Thi sia harus mengeluarkan ilmu tay goan sinkangnya untuk menghadapi serangan-serangan tersebut.
Dalam waktu singkat, mereka berdua telah bertarung hampir dua puluh gebrakan lebih.
Baru saja Kim Thi sia mengeluarkan dua jurus serangan dari ilmu Tay goan sinkangnya, manusia berusia setengah umur itu seketika sudah didesaknya hingga mundur tiga langkah lebih.
Hal ini membuat keheranannya semakin bertambah.
Baru saja dia hendak menggunakan jurus serangan yang ketiga, tiba-tiba pemuda itu jadi terperanjat sekali hingga gerak serangannya tak berani digunakan lebih jauh.
Ternyata secara diam-diam putri Kim huan sedang mencuri belajar ilmu silatnya.
Kim Thi sia bukan takut ilmunya tercuri orang, tapi dia tak ingin gadis itu mempelajari silatnya hingga menyusahkan dirinya dikemudian hari....
Begitu pikirannya bercabang, manusia berbaju hitam itu segera manfaatkan kesempatan yang sangat baik itu untuk melancarkan serangan balasan, tiga buah pukulan dan dua serangan jadi tangannya yang dilancarkan secara beruntun memaksa tubuhnya mundur sejauh tiga langkah lebih.
sementara itu putri Kim huan sudah mulai menirukan gerakan yang dicuri lihatnya tadi, tapi dia seperti mengalami sesuatu kesulitan, tahu-tahu gerakan tersebut terhenti sampai ditengah jalan.
sampai lama sekali ia termenung, namun kesulitan tersebut tak berhasil juga dipecahkan, maka dia memperhatikan kembali kearah arena pertarungan.
Dengan cepat ia melihat bahwa Kim Thi sia sudah tidak mengeluarkan jurus-jurus tangguhnya lagi.
Ia sadar, sudah pasti pemuda itu tidak membiarkan dirinya mencuri belajar jurus ampuhnya itu, tentu saja peristiwa mana membuat hatinya menjadi tak senang.
sebagai seorang jago yang berpengalaman manusia berbaju hitam itupun sadar bahwa kesempatan yang sangat baik ini tak boleh disia-siakan dengan begitu saja.
Dalam waktu singkat dia menyerang dengan jurus "
Menuding kearah Peng ho"
Serta "sambil tertawa menunjuk langit selatan"
Dari ilmu jari Ci ka sian kangnya.
Desingan angin tajam yang menderu-deru menyelimuti angkasa dan seketika mengurung Kim Thi sia ditengah arena.
Kim Thi sia berhasil meloloskan diri dari serangan tangan kiri, namun gagal menghindarkan diri dari serangan jari tangan kanan-"sreeeetttt......."
Kontan saja bajunya tersambar robek hingga lengannya menderita luka memanjang, dengan perasaan terkejut bercampur gusar ia segera membentak keras dan sekali lagi mengeluarkan ilmu Tay goan sinkangnya.
Manusia berbaju hitam itu segera mendengus tertahan dan mundur selangkah kebelakang, menggunakan peluang itu Kim Thi sia melirik kembali kearah putri Kim huan.
Ketika dilihatnya gadis itu memusatkan perhatiannya lagi untuk mencuri belajar ilmu silatnya dengan hawa amarah yang meluap segera teriaknya keras-keras.
"sudah kubilang jangan mencuri belajar ilmu silatku mengapa sih kau nekat terus Jangan sampai bikin hatiku marah, hmmm? Aku bisa tak acuh kepadamu sepanjang hidup,"
Putri Kim huan menjadi terkejut sekali, pikirnya menjadi kaku dan jurus serangan yang baru saja diingatnya menjadi kacau kembali.
sipedang besi yang mengikuti pembicaraan itu segera tertawa nyaring, tiba-tiba dia mendesak mundur dua orang musuhnya, kemudian berkata dengan lantang.
"Nona, perhatikanlah permainanku ini, ilmu pukulan yang kugunakan adalah ilmu-ilmu silat maha sakti."
Sembari berseru dia bergeser kesamping lalu memutar dirinya kebelakang, ketika serangan dari kedua orang lawannya sudah menyebar lewat, ia segera memutar telapak tangannya yang menghajar salah seorang musuhnya hingga sempoyongan-"
Inilah jurus pertama, menangkap naga dibalik pintu"
Menanti orang itu sudah berdiri tegak.
mendadak tangannya menyapu kembali kebawah dengan kecepatan luar biasa, ketika dua orang musuhnya membentak keras gusar sambil melancarkan serangan balasan, sipedang besi sedikitpun tidak gugup, Ia menunggu sampai serangan musuhnya hampir mengena diatas badannya, mendadak napas ditarik dalam-dalam dan tubuhnya berjongkok kebawah.
Menanti serangan kedua orang musuhnya sudah menyambar lewat dari sisi badannya, dengan secepat kilat dia melompat bangun kembali sementara itu telapak tangan kirinya membabat keluar membendung serangan musuh sedangkan tangan kanannya melepaskan serangan yang dahsyat.
serangan tersebut dilancarkan dengan cepat dan luar biasa, sasarannyapun.
terarah secara jitu, tak ayal bahu salah seorang musuhnya terhajar secara telak.
Diiringi jeritan kesakitan, orang itu segera jatuh berjumpalitan diatas tanah.
Terdengar ia berseru lagi sambil tertawa nyaring.
"Inilah jurus yang kedua, lengan merah menaklukkan harimau"
Putri Kim huan sangat gembira, sambil tertawa merdu serunya berulang kali.
"Benar-benar serangan ilmu pukulan yang amat hebat, dalam satu gebrakan saja dapat merobohkan seorang musuh........."
"Cepat lihat nona, inilah jurus yang ketiga."
Menyusul seruan itu, jerit kesakitan kembali bergema memecahkan keheningan.
Kasihan dua orang lelaki tersebut, hakekatnya mereka dijadikan bulan-bulanan oleh sipedang besi.
Pukulan kiri kanannya membuat kepala mereka pening tujuh keliling dan mengeluh kesakitan tiada hentinya.
"Hey, kau harus mengajarkan ilmu pukulan itu kepadaku"
Teriak putri Kim huan tiba-tiba.
"Tentu saja nona, asal kau mau belajar. Akupun rela mewariskan segenap kepandaian silatku kepadamu."
"Tidak. tak usah semuanya, yang jelek tak usah diajarkan sebab aku segan mempelajari ilmu silat yang tak berguna."
"Waah, nona terlalu memandang rendah kemampuanku, kau tahu ilmu pukulan maupun ilmu pedang yang kupelajari rata-rata merupakan ilmu silat pilihan yang amat hebat......."
"Berapa lama yang dibutuhkan untuk mempelajari semua kepandaian tersebut.....?"
"soal itu......soal ini mah tergantung pada kecerdasan serta daya tangkapmu."
"Bagaimana menuruti pendapatmu tentang diriku?"
Sambil berkata gadis itu segera memperlihatkan sekulum senyumannya yang sangat menawan hati.
si pedang besi segera merasakan hatinya berdebar ker sampai lama sekali dia termangu, kemudian baru katanya.
"Nona adalah gadis tercantik dan terpintar yang pernah kujumpai selama hidupku. Aku yakin dalam hal mempelajari ilmu silatpun kau tak perlu membutuhkan waktu yang cukup lama."
Sementara itu Kim Thi sia telah berhasil pula melukai manusia berbaju hitam itu, sambil memegangi perutnya orang itu berjongkok diatas tanah sambil berkerut muka menahan rasa kesakitan yang luar biasa.
Melihat orang itu mengerang kesakitan, Kim Thi sia yang berhati bajik tak tega melanjutkan serangannya, ia segera menarik kembali pukulannya dan mengundurkan diri dari situ.
sipedang besi yang menyaksikan kejadian ini tidak berbicara sepatah katapun, mendadak ia melejit dua kaki ketengah udara lalu dari situ dia lepaskan sebuah pukulan yang dahsyat sekali kebawah.
Manusia berbaju hitam yang pada dasarnya sudah terluka parah itu kontan saja mengeluh kesakitan, darah segar menyembur keluar dari mulutnya dan ia jatuh pingsan seketika itu juga.
sipedang besi yang segera melayang turun keatas tanah kembali melepaskan dua buah pukulan gencar kearah kedua orang musuhnya.
Dua orang manusia berbaju hitam lawannya itu sesungguhnya sudah kepayahan, apalagi kena diterjang serangan dahsyat tersebut, mereka tak mampu menahan diri lagi dan tewas seketika.
Kim Thi sia merasa sangat tak puas, dia tak mengira sipedang besi begitu kejam dan tak berperi kemanusiaan sehingga orang yang sudah terlukapun masih digempur secara kejam.
Dalam keadaan begini dia berpura-pura melengos kearah lain dan berlagak tidak melihat kejadian tersebut.
sipedang tembaga pun sudah berhasil meringkus musuhnya, namun dia menderita sedikit kerugian, terutama terjadi dihadapan putri Kim huan, nampaknya ia merasa kehilangan muka sehingga selama ini hanya berdiri membungkam bagaikan patung.
Putri Kim huan memandang sekejap kearahnya tiba-tiba ia berseru keheranan.
"Hey, kau terluka?"
Merah padam selembar wajah pedang tembaga, sambil tertawa getir dia menggelengkan kepalanya seraya berkata.
"Aaaah, tidak apa-apa, tidak apa-apa hanya luka sekecil ini kenapa mesti dirisaukan?"
Pelanpelan putri Kim huan berjalan mendekatinya, kemudian menegur dengan lembut.
"Coba lihat, darah telah meleleh keluar masa keadaan beginipun dibilang tidak apa-apa?"
Dari sakunya dia mengambil sapu tangannya yang putih bersih lalu membalut luka tadi dengan lembut.
Ketika lengan sipedang tembaga tergenggam oleh tangannya yang lembut itu.
Hampir saja pemuda tersebut tak percaya kalau hal tersebut merupakan suatu kenyataan.
Rasa sakit pada lengannya seketika hilang tak berbekas, diawasinya nona itu dengan termangu-mangu sementara perasaan dalam hatinya terasa bergolak keras.
Ia merasa biarpun harus mengorbankan selembar jiwanyapun dia rela, asal keadaan seperti ini bisa terulang kembali atas dirinya.
Dengan suara terharu bisiknya kemudian.
"Aku......aku tak tahu bagaimana mesti berterima kasih kepadamu. Aku.......biarlah aku lakukan sendiri...."
"sudahlah, jangan bergerak dulu, coba lihat, darahnya mengalir makin lama semakin banyak."
Dengan lemah lembut dan penuh perhatian kembali dia menyeka darah yang mengalir keluar itu dengan sapu tangannya.
"Kalian orang laki-laki memang senang berlagak jantan"
Ia berbisik lembut.
"Coba lihat, sudah terluka pun masih tak diurus......aaai, benar-benar."
Sekali lagi sipedang tembaga menatap wajah nona itu lekat-lekat, kecantikan wajahnya, kelembutannya dan kecerdikannya tiba-tiba saja membangkitkan suatu ambisi yang tak terkendali dalam hati kecil pemuda ini.
"cukup, cukup,......kau jangan bergerak lagi, coba lihat, darah bisa mengalir makin deras....."
Kedengaran gadis itu berseru lagi.
"Terima kasih......terima kasih......."
Sekali demi sekali sipedang tembaga mengulangi perkataan tersebut, sementara pikirannya melayang memikirkan kesoal lain.
Dalam pada itu pedang besi merasa sangat tak senang hati setelah menyaksikan putri Kim huan merawat luka suhengnya dengan begitu lembut dan mesra .
Dia sangat berharap bisa mengalami keadaan seperti abang seperguruannya itu.
Coba tahu bakal begini, dia pasti akan membiarkan tubuhnya dilukai musuh dalam pertarungan tadi, agar dia pun memperoleh kesempatan untuk merasakan kelembutan tangan gadis tersebut.
sipedang perak yang berhasil menghajar musuhnya jalan mendekat dengan wajah berseri, serunya sambil tertawa.
"Haaaaah.....haaaaah......haaaaah.......dengan tindakan kita ini, Pek kut sinkun pasti akan dibuat keder lebih dulu........."
Kim Thi sia yang telah mengubur mayat-mayat musuhpun telah berkumpul kembali dengan rekan-rekan lainnya. Baru saja dia muncul, putri Kim huan telah berjalan menghampiri sambil berbisik.
"so Bun pin bersedia mengajarkan ilmu silatnya kepadaku, gembirakah kau..........?"
Kim Thi sia tertegun, namun melihat wajah gadis itu berseri-seru, diapun tak ingin menghilangkan rasa gembiranya, dengan singkat sahutnya.
"Bila ia bersedia mengajarkan ilmunya kepadamu, pergilah belajar, kenapa mesti bertanya lagi kepadaku?"
Mendadak terdengar pedang tembaga berteriak keras.
"Ayoh kita segera berangkat, jangan ngobrol terus membuang waktu."
Agaknya perkataan itu sengaja ditujukan kepada Kim Thi sia.
Ketika pemuda tersebut mendongakkan kepalanya terlihat wajah pemuda itu masam dan amat tak senang hati.
Dia tak tahu apa sebabnya abang seperguruannya itu mendongkol kepadanya, terpaksa dia hentikan pembicaraan dan menempuh perjalanan kembali dengan langkah lebar.
Berapa li kemudian dari depan situ tiba-tiba muncul sesosok bayangan manusia yang bergerak dengan kecepatan tinggi.
sipedang perak segera menengok sekejap kedepan, lalu katanya sambil tertawa.
"ooooh, rupanya hanya seorang nona, kukira Pek kut sinkun yang telah datang kemari."
Kim Thi sia berjalan dipaling depan, ia tidak mendengar perkataan dari sipedang perak. Disaat "nona"
Itu melintas lewat dari sisi tubuhnya, ia seperti mengendus bau harum yang tipis.
Merasa keheranan, pemuda itu segera berpaling dan mengawasi bayangan manusia itu dengan seksama.
Tampaknya sinona itupun seperti menemukan sesuatu, tiba-tiba dia menghentikan langkahnya seraya berpaling.
"Aaaaaah......."
Dengan perasaan bergetar keras Kim Thi sia seegra berseru tertahan-"Bukankah kau......kau adalah nona Nyoo soat hong?"
Gadis itupun kelihatan agak tertegun, lalu berseru pula keheranan.
"Kau adalah Kim Thi sia......."
Dibalik nada seruan tadi terselip luapan rasa gembira yang amat sangat, seakan-akan tanpa disengaja telah bersua dengan seorang sahabat kentalnya.
Gadis ini memang tak lain adalah Nyoo soat hong, gadis pertama yang dikenal Kim Thi sia ketika baru turun dari gunung.
Dia terhitung adik angkatnya pula sebab dengan kakak gadis tersebut, mereka adalah saudara angkat.
Kedua orang itu sama-sama dicekam rasa gembira yang meluap, meski ada beribupatah kata ingin disampaikan, namun pada saat perjumpaan tersebut ternyata taksepatah katapun sanggup diutarakan.
sampai lama kemudian Nyoo soat hong baru berbisik.
"Waaaah, sekarang kau sudah menjadi seorang manusia yang luar biasa......."
"Aaaah, siapa yang bilang? Manusia sebesar diriku ini tak becus dan tak mampu melakukan apa-apa........"
Merah padam selembar wajah Kim Thi sia.
"Bagaimana dengan keadaanmu sendiri? Mana kakak angkatku? Apakah dia sehat-sehat saja......."
"Aaaai, segala sesuatunya bagaikan impian....."
Keluh sinona yang dulunya berhati keras tapi kini nampak mengalami perubahan yang besar sekali. setelah tertawa getir terusnya.
"Aku dan abangku sudah berupaya kesana kemari dengan mengerahkan segenap kemampuan yang dimiliki, namun bukan saja tak berhasil menyelidiki musuh besar pembunuh ayahku, hampir saja nyawa kami turut melayang. Kalau dulu aku seorang periang, maka sekarang.....aaai."
Kim Thi sia dapat melihat kemurungan dan bekas penderitaan yang membekas diwajah nona yang cantik.
Dia tahu selama ini mereka pasti sudah banyak merasakan pahit getirnya penghidupan, kalau tidak mustahil gadis tersebut akan berkeluh kesah.
"Mana abangmu? Kau belum mengatakan hal ini kepadaku"
Seru Kim Thi sia kemudian setelah termangu sejenak.
"Dia berada dikota, aku memang hendak bertemu dengannya, tak disangka disini telah bersua denganmu lebih dulu."
"Haaaah......haaaah......haaaah.......kalau begitu aku segera akan bersua kembali dengan abang angkatku."
Tiba-tiba sipedang tembaga menyela.
"Sute, kau memang pandai bergaul sehingga siapa saja kau kenal, nona ini sangat hebat dalam ilmu meringankan tubuh, aku percaya dia pastilah seorang pendekar wanita dari perguruan kenamaan, mengapa kau tidak perkenalkan kepada kami semua?"
"ooooh, tentu saja, tentu saja......."
Secara ringkas Kim Thi sia pun mencerirakan asal usul Nyoo soat hong kepada semua orang.
sementara itu Nyoo soat hong segera maju kedepan dan memberi hormat kepada sipedang perak, peang tembaga serta pedang besi.
Tatkala ia menyaksikan disitu hadir pula seorang gadis yang cantik jelita bak bidadari dari khayangan, perasaannya segera bergetar keras.
Melihat itu buru-buru Kim Thi sia menerangkan.
"Dia bukan bangsa Han.....kau tahu, dia mempunyai asal usul yang hebat. Dia masih terhitung putri dari kaisar negeri Kim saat ini."
Nyoo soat hong nampak terkejut bercampur keheranan, segera katanya.
"Belum pernah kutemui seorang putri raja kecuali mendengarnya dari kisah cerita. Waaah.......tak disangka kecantikan seorang putri raja benar-benar luar biasa........"
Sipedang tembaga segera menyela.
"Nona, kau tentu teman intim suteku bukan? Bila tak keberatan mari kita masuk kota bersamasama, dengan begitu sutepun punya teman."
Merah padam selembar wajah Nyoo soat hong, kata "intim"
Terasa berbau porno untuk diartikan dalam hubungan antara laki dan perempuan, tapi diapun tidak menyangkal sebab sebagai adik angkatnya, hubungan mereka boleh dibilang intim sekali.
sementara itu putri Kim huan telah mengamati pula gadis tersebut berapa kejap.
Terasa olehnya walaupun nona itu penuh berdebu namun tak kehilangan kecantikan wajahnya, terutama hubungannya yang begitu akrab dengan Kim Thi sia, diam-diam ia merasa amat tak senang hati.
Nyoo soat hong sendiri merupakan gadis yang tahu diri, selama berada dihadapan orang banyak.
ternyata ia tak pernah menyinggung masalah keluarganya.
Namun ketika ia mendapat tahu kalau Kim Thi sia hendak bertarung melawan Pek kut sinkun, gadis tersebut segera menyatakan kesediaannya untuk turut serta bersamanya.
sebab sedikit banyak kematian ayahnya memang melibatkan pula tokoh persilatan tersebut.
Bukan cuma begitu, malah kedatangan mereka kekota itupun berniat untuk menyambangi pek kut sinkun.
Entah mengapa, sejak kehadiran Nyoo soat hong dalam rombongan itu, sipedang tembaga kelihatan gembira sekali, dia sering mencari alasan untuk berbincang atau bergurau dengan putri Kim huan.
Hanya sipedang besi seorang yang merasa tak senang hati, agaknya dia sudah merasakan bahwa sam suhengnyapun menaruh minat yang besar atas diri putri Kim huan.
Hanya pedang perak sendiri yang membungkam dalam seribu bahasa, memang begitulah wataknya, sekalipun menghadapi masalah yang besarpun, perasaan hatinya tak pernah diungkapkan keluar.
Tiba didalam kota, kehadiran empat pria dan dua wanita ini segera menggemparkan disekeliling lorong jalanan.
Tak lama kemudian berita kedatangan mereka sudah disampaikan kepada Pek kut sinkun, maka menjelang magrib, muncullah serombongan manusia persilatan lagi kekota tersebut.
Kawanan jago persilatan yang muncul kemudian ini memiliki perbedaan yang menyolok dari kawanan jago lainnya, dari sorot mata mereka yang tajam menggidikkan hati dapat disimpulkan kalau mereka semua memiliki kepandaian silat yang sangat tangguh.
setibanya didalam kota, rombongan tersebut segera membaurkan diri dengan masyarakat lain beristirahat dalam rumah makan-Ketika sipedang perak sekalian memasuki sebuah rumah makan, sipedang besi segera merasakan akan hal ini, sambil tertawa dingin ia segera berkata.
"Ji suheng, rupanya kakek panca bisa yang kita paling benci pun telah datang kemari. Rupanya perencanaan Pek kut sinkun cukup sempurna."
"sute tak perlu kuatir"
Sahut pedang perak cepat.
"Walaupun kelima manusia cebol itu punya sedikit nama didalam dunia persilatan, namun mereka tak ada nilainya dihadapan kami, bila mereka berani menyerang datang, malam ini juga kita habisi mereka semua."
Sementara pembicaraan berlangsungl kebetulan disisi mereka lewat dua orang jago persilatan yang bertubuh kekar dan berwajah penuh tahi lalat, agaknya mereka sempat mendengar pembicaraan tersebut hingga tanpa terasa mendengus dingin.
Mendengar dengusan itu, dengan kening berkerut sipedang perak segera tertawa dingin, jengeknya.
"Keparat busuk. rupanya kalian adalah sepasang pedang langkah sakti........"
Kemudian setelah berhenti sejenak. terusnya.
"Bukankah sepanjang pedang langkah saktipun terhitung manusia kenamaan? Kenapa sewaktu lewat disamping kami harus tundukkan kepala? oooh, rupanya kalian tak berani mencabut kumis harimau....haaaah....haaaah...haaaaaah......."
Ketika mengucapkan perkataan tersebut, dia sengaja berbicara dengan suara keras sehingga dua orang lelaki itucun ikut mendengar dengan jelas sekali.
seketika itu juga sepasang pednag langkah sakti menghentikan langkahnya dan berpaling sambil melotot penuh kegusaran.
"Ada apa?"
Sipedang besi segera menjengek sambil tertawa dingin.
"Apakah kalian tidak terima dengan perkataan suhengku itu?"
Sambil berkata, dia menerjang maju kedepan dan langsung melancarkan sebuah pukulan dahsyat.
Dengan gerakan cepat dua orang itu memencarkan diri kekiri dan kanan sambil beruntun melepaskan tiga buah tendangan dan sebuah pukulan.
sipedang besi segera membungkukkan badan, dari bacokan dia merubah jurus serangannya menjadi dorongan dan melepaskan dua buah pukulan berantai.
sepasang pedang langkah sakti menjengek dingin, mereka membalikkan telapak tangannya lalu menyambut ancaman tersebut dengan keras melawan keras.
"Blaaaammmmmm. ......"
Ditengah benturan keras, kedua belah pihak sama-sama tergetar mundur sejauh tiga langkah dari posisi semula.
Pedang besi segera berkerut kening, baru saja dia akan melancarkan serangan lagi, mendadak dari depan pintu sana muncul lima orang kakek ceking yang bertubuh cebol.
"Hey pedang besi, kau jangan bertindak keterlaluan"
Bentakan keras segera bergema memecahkan keheningan.
"Hmmmm, tunggu saja sampai esok pagi, akan datang orang yang menuntut keadilan darimu."
Jangan dilihat kelima orang itu bertubuh cebol pun kecil, ternyata suara bentakannya keras bagaikan suara guntur.
sipedang perak segera tampil kedepan menghadang dihadapan sipedang besi, sahutnya kemudian dengan suara dalam.
"Baik, sampai jumpa esok pagi."
Dalam pada itu, Nyoo soat hong dengan sorot matanya yang tajam ikut mengawasi pula gerak gerik kelima orang itu, mendadak ia seperti menemukan sesuatu, dengan wajah terkejut bercampur gugup dia mendekati Kim Thi sia lalu berbisik dengan cemas.
"Aduh celaka saudara Thi sia, kakak ku telah ditangkap orang-orang itu, ayolah kau cepat selamatkan dia"
Kecemasan dan kegugupan yang menyelimuti wajah sinona seketika membuat Kim Thi sia turut terkejut, serunya kebingungan.
"Apa kau bilang? Adik Hong, apa kau bilang? saudara Jin hui ditangkap orang......?"
Nyoo soat hong segera menunjuk kearah seorang manusia berbaju putih yang duduk bersama serombongan jago, lalu serunya.
"Coba lihat, bukankah orang itu adalah abangku? Lihatlah, dia sama sekali tak bergerak, sudah pasti jalan darahnya telah ditotok."
Kim Thi sia segera menengok kearah yang ditunjuk.
betul juga, ia segera kenali pemuda berbaju putih itu sebagai kakak angkatnya, Nyoo jin hui yang sudah berpisah dengannya selama berapa waktu.
Perasaan hatinya yang semula tenang kontan saja bergolak keras, katanya kemudian-"Waaaah celaka, bila Nyoo jin hui sampai terjatuh ketangan mereka, dia pasti akan menderita siksaan-Adik Hong, kau tak usah cemas, aku pasti akan berusaha untuk menyelamatkan jiwanya ."
Kedua orang itu berbicara dengan suara lirih, karenanya sipedang perak sekalian sama sekali tidak mendengar.
sedang Kim Thi sia pun tidak mengatakan persoalan ini kepada mereka, ia membalikkan badan lalu lari mendekati orang-orang tersebut.
Buru-buru Nyoo soat hong menyusul kedepan, ditengah jalan ia sudah meloloskan pedangnya siap menyerang.
Tiba dihadapan pemuda berbaju putih itu Kim Thi sia segera mengamati orang tersebut dengan seksama, kebetulan orang berbaju putih pun mendongakkan kepalanya, begitu empat mata bertemu, nampak bibirnya bergetar ingin mengucapkan sesuatu namun tak sepatah katapun yang sanggup diutarakan.
Dengan cepat Kim Thi sia berpikir.
"Aaaah, saudara Jin hui, sudah lama kita tak bersua, tak disangka kita akan bersua kembali dalam suasana begini."
Sementara itu kawanan jago persilatan yang duduk semeja dengan pemuda berbaju putihpun sudah merasakan akan kehadiran Kim Thi sia yang diliputi kebengisan itu, mereka saling berpandangan sekejap.
kemudian tiga orang diantaranya bangkit berdiri dan mendekati pemuda kita sambil menegur.
"Sobat, ada urusan apa kau?"
Agaknya orang-orang itupun tahu bahwa Kim Thi sia bukan manusia sembarangan yang bisa dihadapi dengan begitu saja, apalagi ia berada satu rombongan dengan sipedang perak sekalian.
Karena itu meski diluar mereka tak berkata apa-apa, namun secara diam-diam sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan.
Kim Thi sia yang bernyali besar sama sekali tak gentar menghadapi kawanan jago tersebut, dengan angkuh katanya.
"Tanpa urusan aku tak akan datang kemari, terus terang saja, tujuanku kemari adalah untuk meminta orang"
"Meminta orang?"
Seorang lelaki bercodet yang berdiri disisi paling kiri segera menjengek.
"Siapa yang kau minta? Tentunya sobat tak akan mengatakan batok kepalaku yang diminta bukan?"
Melihat sikap menjengek dari orang tersebut, Kim Thi sia menjadi sangat mendongkol, segera sahutnya dingini "Bila kalian tidak menyerahkan orang yang kuminta, kemungkinan besar harus meminta batok kepalamu lebih dulu."
Seraya berkata dia segera bertolak pinggang dan mengawasi lawannya dengan sikap menentang.
Lelaki itu sebetulnya berasal dari golongan perampok, dia sudah terbiasa melakukan segala kejahatan, maka sambil menarik wajahnya dia berseru dengan buas.
"Manusia keparat, bila kau memang pingin mampus, jangan salahkan bila aku bertindak kejam."
Lalu sambil menjengek sinis bentaknya keras-keras.
"Bocah keparat, lihat serangan-"
Sebuah telapak tangan yang besar dan dahsyat langsung menyambar kedepan dengan sangat hebatnya. Kim Thi sia membentak nyaring lalu melancarkan sebuah bacokan pula kedepan.
"Blaaaammmmmm. Ditengah benturan keras, kedua belah pihak sama-sama tergetar mundur sejauh tiga langkah lebih. Merasa bertemu dengan tandingannya, lelaki utu semakin berang kembali teriaknya.
"Maknya, aku tak percaya sibabi hutan sakti tak mampu mengungguli dirimu........"
Kembali sebuah pukulan dahsyat dilontarkan dengan tangan kanannya.
Kim Thi sia memang paling ahli dalam sistim pertarungan semacam ini, melihat gerak serangan yang digunakan lelaki itu amat sesuai dengan keinginan hatinya, ia menjadi kegirangan setengah mati.
sambil memperkokoh kuda-kudanya dia pun tidak menghindarkan diri, sebaliknya sambil maju setengah langkah dia sambut datangnya ancaman tersebut dengan kekerasan-Dalam waktu singkat tangan lelaki tersebut sudah menyambar pinggangnya serta memeluk dengan kencang, pikirnya dengan geram.
"Bocah keparat yang tak tahu diri, dengan jurus "babi hutan mencabut pohon"
Ku ini, akan kuhancur lumatkan tubuhmu menjadi perkedel."
Dia ingin mendemonstrasikan kebolehannya didepan rekan-rekan lainnya maka begitu tangannya berhasil merangkul pinggang lawan-dia segera membetotnya kencang-kencang dengan maksud mematahkan pinggang musuh kemudian telapak tangan yang lain diayunkan untuk menghajar ubun-ubunnya.
sayang seribu kali sayang perhitungannya meleset sama sekali, sejak terjun kedunia persilatan Kim Thi sia memang tersohor karena pertarungan kerasnya, bila dibandingkan dengan si babi hutan sakti ini, entah tenaganya berpa kali lebih hebat.
sekarang dia memang sengaja tak menghindar dan membiarkan lawannya merangkul pinggangnya, tapi begitu musuh mulai membetot pinggangnya, tiba-tiba saja dia meronta serta meloloskan diri dari cengkeraman lawan, disusuk kemudian bentaknya keras-keras.
"Telur busuk. kau anggap Kim toaya bisa dipermainkan semau hati sendirinya.......?"
Telapak tangannya segera diayunkan dan menghajar kebawah.
sibabi hutan sakti merupakan seorang manusia kasar yang tak pernah memakai otaknya, selama ini dia kelewat percaya dengan keampuhan jurus "babi hutan mencabut pohon"nya dimana ia sudah berulang kali meremukkan tulang pinggang musuh.
Tapi sayang kali ini dia salah perhitungan, menanti tenaga pukulan musuh terasa sudah mengancam punggungnya, untuk menghindarkan diri jelas sudah tak sempat lagi.
Kim Thi sia yang mempamerkan kekuatannya hingga mengagetkan lawannya segera menambahi kekuatannya dengan dua bagian-"Kraaaaakkkk......"
Begitu tenaga pukulannya menghantam dipunggung sibabi hutan sakti, orang segera menjerit kesakitan dengan suara yang memilukan hati.
Tulang punggungnya seketika hancur berapa bagian dan pingsanlah orang itu.
Bagaikan bukit karang yang ambruk, tubuh sibabi hutan sakti yang tinggi besar roboh terjengkang keatas tanah, kontan saja peristiwa itu menggemparkan semua jago.
Padahal semua orang tahu bahwa sibabi hutan sakti memiliki tenaga yang luar biasa dengan daya tahan yang mengagumkan, siapa tahu hari ini dia telah dibuat keok oleh seorang pemuda tak dikenal, tentu saja mereka tak mengira kalau pemuda tak dikenal itu sesungguhnya adalah Kim Thi sia yang termashur karena paling susah dihadapi.
Ketika berhasil merobohkan musuhnya, Kim Thi sia segera memberi tanda kepada Nyoo soat hong agar jangan bertindak gegabah, kemudian teriaknya dengan lantang.
"Kalian semua harus tahu, aku datang kemari untuk minta orang karena orang itu mempunyai hubungan denganku, kalian harus membebaskannya.
Kalau tidak......hmmm, sibabi hutan ini merupakan contoh yang paling jelas."
Kelima kakek cebol yang duduk disekitar situpun tidak bergerak dari posisi semula, lama sekali mereka awasi pemuda tersebut lekat-lekat, kemudian salah seorang yang berada dipaling ujung sebelah timur bertanya dengan lantang.
"Aku ingin bertanya kepadamu, sebetulnya persoalan ini atas prakara dirimu sendiri ataukah atas suruhan dari sipedang perak."
"Aku sudah lama kenal dengan orang itu, tentu saja atas prakarsa diriku sendiri"
Jawab Kim Thi sia cepat. Mendengar jawaban itu, sikakek segera tertawa dingin.
"Heeeeh......heeeeeh.......heeeeeh.......aku tahu, kau satu komplotan dengan sipedang perak. aku lihat lebih baik akui saja bahwa niat meminta orang tadi merupakan prakarsa dirinya, bukankah kalian hendak menggunakan alasan ini untuk mencari gara-gara dengan kami?"
"Ngaco belo"
Teriak Kim Thi sia makin gusar.
"Persoalan ini sama sekali tak ada hubungannya dengan sipedang perak. hey tua bangka, kau tak usah banyak berbicara lagi, katakan saja kau bersedia membebaskan orang itu atau tidak?"
Kembali kakek itu tertawa dingin-"Baik, anggap saja aku memang ngaco belo......"
Kemudian sambil berpaling kearah sipedang perak sekalian, teriaknya lagi dengan lantang.
"Hey pedang perak, katakan saja, bukankah hal ini atas prakarsamu yang ingin mengajukan pertarungan? sebenarnya apa maksud tujuanmu yang sebenarnya?"
Ketika Kim Thi sia berpaling dia menyaksikan sipedang perak sekalian telah balik kembali kesana dan mengikuti jalannya peristiwa dengan tenang. Tiba-tiba saja pemuda itu merasa menyesal, pikirnya.
"Aaaai, jelas akulah yang membuat gara-gara dalam peristiwa ini, aku telah mendatangkan kerepotan baginya."
Tapi teringat akan makian kakek cebol itu, amarahnya seketiak meluap. tiba-tiba dia mendesak maju kedepan, lalu dnegan menggunakan jurus "kecerdikan menyelimuti jagad"
Dari ilmu Tay goan sinkang, ia lancarkan sebuah serangan yang dahsyat kedepan-Berubah hebat paras muka kakek itu sambil membentak keras dia melompat bangun dari tempat duduknya, lalu dari tengah udara dia membentangkan telapak tangannya langsung menghajar keatas ubun-ubun pemuda tersebut.
Begitu ia mulai bertindak keempat orang kakek ceking lainnya pun turut bangkit dari tempat duduknya dan berhubungan keluar rumah makan-Agaknya sipedang perak pun sadar bahwa situasi memaksa mereka untuk melangsungkan pertarungan, ia segera memberi tanda kepada sipedang besi dan pedang tembaga lalu masingmasing mengancam posisi yang berbeda untuk mengamati gerak gerik musuh.
sementara itu Kim Thi sia telah terlibat dalam pertarungan sengit melawan orang ketiga dari kakek panca bisa.
Kepandaian silat yang dimiliki kakek ceking tersebut benar-benar sangat hebat, tenaga pukulan hawa panasnya yang menderu-deru mengurung Kim Thi sia ditengah arena.
Namun Kim Thi sia pun tidak lemah, sambil mengerahkan ilmu Tay goan sinkangnya dia lancarkan serangan berulang kali untuk menjebolkan pertahanan musuh yang berusaha mengurungnya itu.
Dalam waktu singkat mereka sudah terlibat dalam suatu pertarungan yang amat seru.
Ketiga Nyoo soat hong mengayunkan pedangnya ikut menyerbu kedepan, ia segera dihadang oleh seorang pelajar berambut panjang, dengan cepat mereka berduapun terlibat dalam pertarungan sengit.
Dalam pada itu sipedang perak telah berkata kepada putri Kim huan-"Nona, aku tahu kau tak mengerti ilmu silat, akupun takut kau akan terluka dalam pertarungan masal nanti, karenanya kuminta nona suka mempertimbangkan bagaimana kalau berada disisiku saja, sebab dengan berbuat begitu maka kemungkinan terluka akan menjadi kecil.......apakah nona bersedia menerima tawaranku ini?"
Putri Kim huan memutar biji matanya sebentar, dengan cepat dia memahami maksud hati sipedang perak.
maka dengan langkah lebar dia berjalan kesisi pemuda tersebut.
sambil tersenyum sipedang perak segera berkata kepada pedang tembaga serta pedang besi.
"sam sute, coba kau hadapi lotoa dan loji dari kakek panca bisa, sedang losu dan longo dihadapi su sute, yang lainnya serahkan saja kepadaku untuk dibereskan, entah bagaimana pendapat sute berdua?"
Sipedang tembaga melirik sekejap kearah putri Kim huan, lalu sahutnya dengan suara dalam.
"Aku turur perintah"
Kemudian bersama sipedang besi so Bun pin, mereka mendekati musuh-musuhnya dan segera terlibat dalam pertarungan seru.
Menanti kedua orang adik seperguruannya telah pergi, sipedang perak baru berpaling kearah putri Kim huan sambil bertanya.
"Nona, benarkan kau menaruh minat yang besar terhadap ilmu silat?"
"Yaa, sejak dua tiga hari berselang, aku mulai tertarik dengan kepandaian silat"
Sahut putri Kim huan sambil tersenyum.
"Dulu aku sudah mengabaikan kebaikannya, tapi sekarang, setelah berada diluaran seorang diri Aku baru sadar bahwa ilmu silat merupakan bekal yang sangat penting."
Sambil tertawa pedang perak segera berseru.
"Aaaah, rupanya nona bisa tertarik pada ilmu silat karena sudah memahami arti penting dari kepandaian tersebut......."
Mendadak terdengar suara bentakan keras dari Kim Thi sia memotong pembicaraan mereka berdua, tampak pemuda itu dengan rambut kusut sedang mendekati kakek bermuka hitam dihadapannya selangkah demi selangkah.
Mendadak oemuda itu melancarkan serangan dengan jurus "mengebas baju membersihkan debu"
Ditangan kirinya dan jurus "
Angin menyambar merobohkan pohon-ditangan kanannya memaksa kakek bermuka hitam itu mundur sampai sejauh satu kaki lebih terlihat jelas pukulan yang dilancarkan kakek bermuka hitam itu nyata tak mampu membendung gerak majunya.
melihat akan kejadian ini, sambil menghela napas panjang sipedang perak berkata.
"Ilmu pukulan yang dimiliki Kim sute benar-benar sangat hebat dan mengagumkan sekali."
Mendadak putri Kim huan mendongakkan kepalanya, lalu bertanya.
"Bukankah kau adalah abang seperguruannya? sepantasnya kaupun menguasahi ilmu pukulan tersebut, masa kau tidak bisa?"
Sipedang perak nampak tertegun sejenak lalu dengan sorot matanya yang tajam bagaikan sembilu dia mengawasi Kim Thi sia sekejap, seakan-akan ada sesuatu perkataan yang hendak diutarakan, namun akhirnya niat tersebut diurungkan-"Apakah aku telah salah berbicara??"
Tanya putri Kim huan kemudian. sambil menggelengkan kepalanya sipedang perak menghela napas panjang, katanya.
"Nona, jangan salah paham, aku sedang berpikir apa sebabnya adik seperguruanku ini bisa menguasahi ilmu pukulan yang begitu aneh dan sakti."
Putri Kim huan segera tertawa.
"Padahal masalahnya sangat gampang sekali, bisa jadi suhumu hanya mewariskan ilmu tersebut kepadanya dan tidak diajarkan kepadamu......"
Mendadak ia merasakan perubahan aneh pada wajahnya, tanpa terada gadis ini berhenti berbicara dan mengawasinya dengan termangu, pikirnya lebih lanjut.
"sungguh aneh orang ini, lagaknya seakan-akan sudah tiada orang yang dipercayai lagi didunia ini, tak heran kalau suhunya hanya mewariskan ilmu silat simpanan tersebut kepada Kim Thi sia seorang."
Padahal waktu itu sipedang perak sedang mengenang kembali suatu peristiwa yang tak pernah terlupakan olehnya...
Dia merasa dihadapannya seakan-akan terdapat segumpal darah segar, diatas genangan darah terkapar tiga sosok mayat perempuan mereka semua adalah anak keluarga Malaikat pedang berbaju perlente.
Tak lama kemudian gurunya pulang, mereka kakak adik seperguruan yang berjumlah sembilan orangpun bersembunyi dibalik kegelapan lalu disaat gurunya tak siap.
sembilan bilah pedang mestika pun menyerang secara serentak ketubuhnya, kemudian toa suheng dan dia mengerahkan segenap kekuatan yang dimiliki melancarkan bacokan dahsyat kemuka.....
Gurunya tak mampu menahan diri dan segera roboh terkapar diatas tanah, maka merekapun bersepakat untuk memotong lidahnya, mencukil matanya, memotong rambut, tulang, telinga, otot nadi, lengan dan kakinya.
Jilid 24
"Apakah gurunya itu....... belum mati juga?"
Maka diapun berpikir lebih jauh.
Bisa jadi gurunya yang hampir sekarat dan duduk dikuda kurusnya telah bertemu dengan Kim Thi sia ditengah jalan, kecerdikan dan kegagahan Kim Thi sia segera menimbulkan rasa terharu dihati gurunya itu hingga sebagai balas jasanya dia wariskan ilmu silat simpanannya itu kepada pemuda tersebut.
Ini berarti Kim Thi sia pasti mengetahui perbuatan mereka yang terkutuk itu, dia pasti mendapat pesan dari Malaikat pedang berbaju perlente untuk berpura-pura mengikat tali hubungan dengan mereka, kemudian setelah kesempatan yang baik tiba, dia akan melaksanakan harapan si Malaikat pedang berbaju perlente itu....
Dengan termangu-mangu diawasinya Kim Thi sia tanpa berkedip, dia merasa seakan-akan Malaikat pedang berbaju perlente telah berdiri dihadapannya.
Tiba-tiba saja dia merasa bergidik dan mendusin kembali lamunannya.......
Makin dipikir sipedang perak merasakan persoalannya semakin gawat, dengan wajah berubah hebat akhirnya dia membatin.
"Sudah jelas aku sedang memelihara harimau untuk mencelakai diri sendiri. Mungpung sayapnya belum tumbuh secara utuh, kenapa aku tidak berupaya untuk melenyapkan sekarang juga sehingga akibat yang lebih fatal bisa dihindari?"
Lain gumamnya lebih jauh.
"Yaa betul, aku mesti memakai akal untuk memancingnya agar dia membeberkan dulu rahasia ilmu silat andalannya itu. Kemudian baru membungkamkan mulutnya untuk selamanya. Atau paling tidak nama serta pamorku harus meningkat lebih tenar dan tersohor."
Lambat laun sekulum senyuman yang susah diduga artinya tersungging diujung bibirnya, dia mengepal tinjunya kencang-kencang sambil melirik sekejap kearah Kim Thi sia, agaknya sebuah keputusan besar telah diambil.
Mendadak segulung desingan angin tajam menyambar lewat dari belakang punggungnya.
Ia segera menarik kembali senyumannya seraya membalikkan badan seraya tiba-tiba sambil melepaskan sebuah gempuran balasan.
orang itu segera mendengus tertahan dan berjongkok keatas tanah dengan napas terengahengah.
sipedang perak tertawa dingin, tiba-tiba bentaknya lagi dengan suara keras.
"Kaupun harus roboh"
Ditengah bentakan keras sebuah serangan jari tangannya mendadak disodokkan kearah seseorang yang sedang menyergap datang dari belakang tubuhnya........
Desingan angin tajampun menderu-deru ditengah udara, belum sempat ruyung penjang orang itu dipergunakan, tahu-tahu jalan darahnya sudah tersambar serangan jari tangan itu, sepasang lututnya menjadi lemas lalu roboh terjungkal keatas tanah.
Pada saat itulah terdengar Kim Thi sia membentak keras.
"Kena"
Ketika putri Kim huan mendongakkan kepalanya ia saksikan kakek bermuka hitam pekat macam pantat kuali itu sudah jatuh terjungkal keatas tanah dan roboh terkapar.
Wajahnya yang hitam kini berubah jadi pucat pias seperti mayat.
napasnya terengah-engah dan tak sanggup lagi untuk merangkak bangun.
sambil tertawa Kim Thi sia segera berkata kepada sipedang perak.
"suheng, kemampuanku betul-betul tidak becus, masa setengah harian lamanya baru bisa merobohkan dia"
Sipedang perak segera tersenyum.
"Kemampuanmu tak jelek kau tahu, kepandaian silat orang ini kelewat tangguh. sute yang bisa merobohkan dia dalam setengah jam saja sudah terhitung sangat hebat."
Sementara dihati kecilnya dia berpikir.
"Bocah keparat ini betul-betul menggidikkan hati, bila keadaan seperti ini dibiarkan berlangsung terus, tak sampai setengah tahun kemudian niscaya dia telah berhasil melampaui kemampuanku."
Tiba-tiba kakek bermuka pantat kuali yang sudah roboh terkapar ditanah itu melompat bangun, kemudian dengan mengerahkan seluruh kemampuan yang dimilikinya melepaskan babatan maut kelambung anak muda tersebut.
Gerak serangannya ini dilancarkan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat, itulah sebabnya disaat Kim Thi sia tidak sadar akan datangnya sergapan tersebut.
Ujung telapak tangan lawan sudah berada empat inci didepan perutnya, dalam keadan begini jelas ia tak berkesempatan lagi untuk menghindarkan diri, terpaksa sebuah pukulan dilontarkan secara tergesa-gesa untuk membendung datangnya ancaman tadi.
"Blaaaaammmmmm........"
Ditengah benturan dahsyat, kakek itu mencelat kebelakang dan tewas seketika, sebaliknya Kim Thi sia mundur dengan sempoyongan lalu jatuh berjumpalitan diatas tanah.
Dengan wajah berubah hebat buru-buru putri Kim huan memburu maju kemuka.
Tiba-tiba.......
"Jangan bergerak"
Sipedang perak yang berada dibelakangnya membentak keras.
Disusul kemudian tampak sesosok bayangan manusia berkelebat lewat diikuti munculnya bayangan manusia lain dari arah yang berlawanan.
Kedua sosok bayangan manusia itu bertemu satu dengan lainnya hampir pada saat yang bersamaan.
"Blaaaaammmmmm......."
Benturan dahsyat segera bergema memecahkan keheningan, kedua belah pihak sama-sama jatuh keatas tanah.
Untuk berapa saat lamanya putri Kim huan berdiri termangu-mangu saking kagetnya, menanti kesadarannya pulih kembali sipedang perak telah memayang tubuh Kim Thi sia, sementara diatas tanah telah bertambah dengan sesosok mayat.
Putri Kim huan menjumpai mayat itu tewas dalam keadaan yang mengerikan, ia tak tega melihat lebih jauh dan buru-buru berjalan menghampiri sipedang perak.
Ia sadar, orang tersebut berniat menyergapnya dari belakang, untung sipedang perak tiba pada saatnya dan membinasakan orang tersebut.
Dalam pada itu, paras muka Kim Thi sia kelihatan agak pucat, peluh dingin bercucuran bagaikan air hujan, sewaktu berbicarapun nampak agak kepayahan.
"Terima kasih suheng, aku......aku tidak apa-apa."
Baru saja sipedang perak hendak berbicara, sorot matanya telah menangkap sesuatu ditengah arena, buru-buru dia melejit ketengah udara sambil berseru cepat.
"Kim sute, perhatikan nona baik-baik, jangan sampai musuh melukai dirinya."
Ternyata posisi sipedang besi sangat gawat, musuhnya dari dua kini telah berubah menjadi empat bahkan semuanya merupakan jago-jago kelas satu dari dunia persilatan yang menyerang dan mendesak terus menerus secara gencar.
sipedang besi jadi kelabakan dan keteter sangat hebat, posisinya kritis sekali.
Untung saja keadaan tersebut segera diketahui sipedang perak hingga dengan cepat dia mengambil keputusan untuk memberi bantuan.
"Terima kasih suheng"
Bisik sipedang besi kepayahan.
sambil berkata dia lepaskan sebuah tendangan kilat ketubuh seorang musuhnya, diasaat lawan berkelit, diapun manfaatkan peluang tersebut dengan mengayunkan pedang besinya membacok dua orang musuh yang berada disisi kiri sipedang perak yang melihat keadaan tersebut segera berpikir.
"Kalau dilihat tenaga dalamnya yang makin melemah, agaknya ia sudah tidak sanggup lagi untuk mempertahankan diri"
Ia menjadi tak tega, maka sesudah melepaskan dua buah pukulan dahsyat untuk mendesak mundur si lo su dan lo ngo setengah langkah, buru-buru bisiknya kepada sipedang besi.
"sute, pergilah beristirahat, biar aku yang menghadapi mereka disini........."
Sipedang besi tak sungkan-sungkan, dia segera mengundurkan diri dari arena pertarungan dan mencari tempat sepi untuk mengatur pernapasan.
Kepandaian silat dari sipedang perak ternyata jauh melampaui kemampuan sipedang besi, begitu ia terjun kearena pertarungan, situasipun seketika berubah.
serangan musuh yang gencar seketika terdesak balik, maka suatu pertarungan snegitpun segera berkobar.
Tampaknya Pek kut sinkun cukup mengetahui bahwa sipedang perak beserta rombongannya bakal muncul disitu, sadar akan ketangguhan ilmu silat musuh, maka jago-jago yang dikirim kesitupun boleh dibilang merupakan jago-jago pilihan yang sangat tangguh.
sementara itu Nyoo soat hong sudah tak sabar lagi menghadapi musuhnya setelah tiga macam ilmu pedang yang digunakan belum berhasil juga mengalahkan sipelajar tersebut.
Dalam jengkelnya ia segera membentak nyaring, lalu dengan mengeluarkan ilmu pedang simpanannya Ya li kiam hoat dia menegur musuhnya habis-habisan.
Betul juga, pelajar setengah umur itu segera terdesak mundur selangkah dari posisi semula.
Namun Kim Thi sia segera mendapatkan kalau gelagat tak beres, sebab ia saksikan pelajar setengah umur itu sejak awal hingga sekarang bolak balik cuma memakai semacam ilmu pukulan saja untuk membendung serangan pedang sinona yang gencar.
Ini berarti kepandaian sesungguhnya dari orang tersebut belum digunakan sama sekali.
Jangan dilihat Kim Thi sia orangnya kasar, sesungguhnya dia berhati tajam dan teliti, walaupun hanya melihat sekejap kepandaian lawan, namun ia tahu kalau kungfu yang sesungguhnya dari orang tersebut mungkin masih lima kali lipat lebih hebat dari sekarang.
Menyadari kalau keadaan sangat gawat pelan-pelan dia pun berjalan mendekati Nyoo soat hong.
Mendadak putri Kim huan berteriak sambil menarik muka.
"Hey, apakah kau tidak akan menuruti perintah abang seperguruanmu?"
"Dia perintahkan apa?"
Tanya Kim Thi sia sambil berhenti.
"Bukankah dia menyuruh kau menjaga aku?"
Setelah berhenti sejenak dan menatap pemuda itu tajam-tajam desaknya lebih jauh.
"seandainya aku sampai dilukai mereka, apa jadinya?"
"suruhlah sipedang besi, dia pasti lebih tertarik dengan tugas memacam ini ketimbang aku."
Tiba-tiba putri Kim huan berlarian menghampiri sipedang besi so Bun pin, kemudian dengan wajah berseri-seri serunya.
"so Bun pin, cepat katakan, dalam hal manakah nona itu jauh lebih bagus ketimbang aku?"
Pertanyaan yang muncul secara tiba-tiba ini kontan saja membuat sipedang besi jadi tertegun, dengan perasaan tak mengerti dia gelengkan kepalanya sambil berkata.
"soal ini......maaf kalau aku tak bisa menjawab pertanyaanmu itu, sebab belum pernah kupikir kesitu serta melakukan uji perbandingan."
Putri Kim huan mendongkol sekali, serunya kemudian.
"Baiklah, kalau tak sanggup menjawab menyingkirlah agak jauhan, tunggu sampai kau bisa menjawab pertanyaanku itu baru datang mencari aku lagi....."
Ketanggor batunya sipedang besi so Bun pin jadi sangat terkejut, segera pikirnya.
"Waaaah, rupanya tabiat putri Kim huan belakangan ini telah mengalami perubahan yang besar sekali, sedikit-sedikit dia lantas marah, sebetulnya apa yang terjadi?"
Tapi untuk menarik simpatik gadis tersebut, sambil tertawa segera katanya lagi.
"Terus terang kubilang, tak setitikpun nona Nyoo bisa menandingi kecantikanmu."
Mendengar ucapan tersebut, paras muka putri Kim huan yang semula cemberut seketika dihiasi dengan senyuman kembali.
"Benarkah itu? Kau tidak berbohong?"
Tegurnya genit.
"Kecantikan nona tiada tandingannya dikolong langit, kalau ada orang mengatakan kau tak cantik, orang itu pasti buta matanya buat apa mesti berbohong? Tapi........"
Setelah berhenti sejenak. terusnya lagi.
"Aku sungguh tak habis mengerti, kenapa nona bertanya begitu? Apakah kau sendiripun tak tahu bahwa bidadari dari khayanganpun tak bisa menandingi kecantikanmu?"
Putri Kim huan kembali tersenyum lembut membuat sipedang besi so Bun pin tak mampu menahan diri lagi dan pelan-pelan berjalan mendekatinya. Tampak gadis itu menggelengkan kepalanya seraya berkata.
"Aku sendiripun tak bisa mengemukakan apa alasannya, tapi yang jelas hanya dengan bertanya begitu, hatiku baru merasa nyaman sekali........"
Mendadak terdengar Kim Thi sia berteriak dengan suara nyaring.
"Adik soat hong, jangan bertindak gegabah orang itu lihay sekali, cepat mundur....aduh......."
Ketika putri Kim huan mendongakkan kepalanya, dia menyaksikan Kim Thi sia sedang menarik tangan Nyoo soat hong sambil melepaskan sebuah pukulan untuk membendung serangan pelajar setengah umur itu.
Menyaksikan adegan tersebut, entah mengapa tahu-tahu muncul perasaan kesal dalam hati putri kim huan, segera pikirnya.
"Betul-betul tak tahu malu, baru bertemu sikapnya sudah begitu mesra-, huuuh betul-betul manusia biadab yang tidak mengenal tata kesopanan."
Pelan-pelan dia tundukkan kepalanya dan tak mau menengok kearah Kim Thi sia dan Nyoo soat hong lagi.
Melihat kekesalan dan kesedihan yang menyelimuti wajah gadis tersebut, pelan-pelan sipedang besi so Bun pin menghampirinya dan menggenggam tangannya yang putih halus itu sambil berbisik.
"Nona tak usah marah lagi, aku tahu hatimu tak gembira......."
"so Bun pin, hampir saja air mata kujatuh bercucuran......"
Ucap putri Kim huan sedih.
Ternyata ia tidak melepaskan diri dari genggaman pemuda tersebut, bahkan membiarkan pemuda itu menggenggamnya dengan mesra.
sebaliknya sipedang besi yang sudah ketanggor batunya dulu, kali inipun tak berani bersikap kelewat batas.
sambil menggenggam mesrah tangan sinona, hiburnya.
"Nona adalah bidadari yang anggun sedang dia....dia tak lebih cuma lelaki miskin yang hidup bergelandangan dalam dunia persilatan."
"Yaa benar"
Putri Kim huan mengangguk.
"Dia cuma seorang gelandangan, kenapa aku harus marah kepadanya?"
Sipedang besi hendak mengucapkan sesuatu lagi, namun tiba-tiba dia merasa ada sepasang mata yang dingin menyeramkan sedang mengawasinya tanpa berkedip.
Maka diapun berlagak tetap berbincang-bincang dengan gadis itu secara santai.
Padahal secara diam-diam ia mulai melepaskan genggamannya pada tangan sinona.
Ternyata orang yang mengawasinya tidak lain adalah sipedang tembaga, abang seperguruannya, betapapun hatinya tak senang hati, namun dia tidak berani kemukakan diluar, sengaja tegurnya sambil tertawa.
"Apakah suheng kelelahan? Bagaimana kalau aku menggantikan kedudukanmu?"
Sambil menggempur mundur seorang musuh, sipedang tembaga segera menjawab dengan suara dalam.
"Bila sute mempunyai kegembiraan, tak ada salahnya menggantikan kedudukanku ini."
Sipedang besi adalah pemuda cerdik, mendengar perkataan tersebut ia merasa makin tak senang hati, namun diluarnya mau tak mau dia mesti berlagak wajar.
Padahal sikap permusuhannya pun dari Kim Thi sia sekarang sudah beralih pada sipedang tembaga, pikirnya.
"Jelas sudah suheng menaruh maksud tertentu terhadapnya, aku harus berusaha menyusun rencana agar ia membenci dirinya."
Dalam pada itu sipelajar setengah umur itu sudah berpekik nyaring, suara pekikannya melengking dan mengalun tiada hentinya ditengah udara.
Mendengar pekikan tersebut sipedang perak segera berpaling, lalu serunya sambil tertawa dingin.
"sobat, hebat juga tenaga dalammu, mungkin tiada orang yang bisa menandingi dirimu saat ini. sayang kau selalu menyembunyikan kepandaianmu sesungguhnya. Hmmmm, coba kalau bukan begitu, aku pasti akan minta pelajaran berapa jurus darimu."
Buru-buru Kim Thi sia melompat mundur selangkah kebelakang, la lu pikirnya pula.
"orang ini sengaja menyembunyikan kepandaian saktinya, coba kalau suara pekikannya tidak membongkar kemampuannya itu, mungkin sipedang perakpun tak akan mengetahuinya. Boleh dibilang orang ini berbahaya sekali. Aku sebagai orang yang harus menghadapinya mesti bersikap lebih berhati-hati."
Sementara itu pelajar setengah umur itu mengira Kim Thi sia sudah dibuat terkejut oleh suara pekikannya tadi sehingga mundur tanpa sebab.
Tanpa terasa dia mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.
"Haaaah.....haaaaah......haaaaah......bukankah kau adalah Kim Thi sia, manusia yang paling susah dilayani? Bila dipertimbangkan menurut berita yang tersebar dalam dunia persilatan, bukankah aku pantas untuk kau hadapi......"
Berbicara sampai disitu, kembali dia tertawa terbahak-bahak. Kim Thi sia terkejut sekali, pikirnya.
"Belum pernah kujumpai orang tersebut, dari mana dia bisa mengetahui asal usul serta identitasku sejelas ini?"
Berpikir sampai disini, dia semakin menganggap orang ini tak gampang dihadapi diam-diam hawa murninya yang dihimpun dalam telapak tangannya mencapai sepuluh bagian, maksudnya untuk menghajar mundur musuhnya dalam sekali pukulan kalau bisa.
sementara itu, diluarnya dia berkata dengan tenang.
"Benar, akulah Kim Thi sia, darimana kau bisa tahu?"
Pelajar setengah umur itu tertawa terbahak-bahak.
"Haaaaaah.......haaaaaah........jangan harap ada persoalan didunia ini yang bisa lolos dari sepasang mata saktiku, bukankah saat ini kau sudah menghimpun tenaga pukulanku dalam ujung telapak tangan?"
"Kalau benar kenapa?"
Sahut Kim Thi sia dengan kening berkerut.
Tiba-tiba dia melontarkan sebuah pukulan dahsyat kedepan, tujuannya adalah untuk mencoba kemampuan lawan.
Namun dalam melepaskan serangan tersebut gerakan sama sekali tidak menunjukkan titik kelemahan.
Pelajar setengah umur itu melirik sekejap kearahnya, tiba-tiba dia berseri sambil tertawa tergelak.
"Haaaah.....haaaah.......haaaah.......bukankah kau ingin mengetahui kekuatan tenaga pukulanku yang sebenarnya? Hmmm, hmmmm, coba saksikanlah......."
Sembari berkata ia membungkukkan badan sambil melepaskan sebuah pukulan dahsyat keatas batu cadas.
"Blaaaammmmmm.... ^ Batu cadas yang kuat dan berat itu seketika pecah menjadi dua bagian oleh tenaga pukulan tersebut, bukan cuma begitu bahkan seluruh bagian batu cadas tersebut tidak meperlihatkan bekas celah yang besar, seakan-akan tanpa sebab batu itu patah sendiri menjadi dua bagian. Perlu diketahui, orang yang mampu membelah batu cadas menjadi dua bagian tak sedikit jumlahnya dalam dunia persilatan. Tapi untuk bisa membelah batu tanpa celah dan retakan, rasanya hanya berapa gelintir manusia saja yang mampu melakukannya. oleh sebab itu jagoan yang berpengalaman seperti pedang perak. pedang tembaga serta pedang besi seketika dibuat terperanjat sekali oleh kejadian ini. Tapi sayang dia bermaksud mempertontonkan kepada Kim Thi sia, justru Kim Thi sia adalah manusia yang kurang berpengalaman. ia hanya manggut-manggut sambil berkata.
"Ehmmmm, tenaga pukulanmu masih terhitung hebat juga, cukup untuk menghadapi kawanan manusia biasa, tetapi keyakinanku untuk menangkan dirimu tak menjadi luntur karena perbuatanmu itu, ayolah silahkan mulai menyerang........"
Diam-diam pelajar setengah umur itu merasa terkesiap. pikirnya.
"Ternyata Kim Thi sia memang manusia yang punya pamor, kenyataannya demonstrasi, ilmu hancurkan bunga melumat batu ku sama sekali tak membuatnya keder, mungkin saja ia berilmu jauh lebih hebat dariku?"
Karena pendapat tersebut, tanpa terasa diapun menilai Kim Thi sia dua tiga kali lipat lebih hebat, ia tak berani memandang enteng musuhnya lagi, sambil mendengus serunya.
"Lebih baik kau duluan"
Hawa murninya segera dihimpun dan bersiap-siap melancarkan serangan mematikan.
Melihat musuhnya menunjukkan sikap yang begitu serius, dengan cepat Kim Thi sia menirukan pula lagaknya dengan bersikap serius dan menarik napas panjang sembari menantikan datangnya serangan musuh.
sikap maupun tingkah lakunya ini kebetulan memang mirip sekali dengan sikap seorang tokoh sakti didalam menghadapi pertarungan sengit, maka pelajar setengah umur itu semakin mengira musuhnya adalah tokoh silat yang betul-betul tangguh.
Ia semakin tak berani bertindak secara geggbah, bahkan mengambil taktik "musuh tak bergerak, aku tak bergerak, musuh bertindak, aku bertindak duluan".
Akhirnya Kim Thi sia tak sabarlagi untuk menunggu lebih lama, segera teriaknya keras-keras.
"Hey, bagaimana sih kamu ini? Memangnya merasa takut?"
Karena berbicara, otomatis perhatiannya pun menjadi bercabang.
Pelajar setengah umur itu yang segera manfaatkan kesempatan tersebut dengan sebaikbaiknya, mendadak ia membentak keras lalu secara beruntun melancarkan tiga buah serangan dahsyat yang seketika menyelimuti seluruh angkasa.
Dalam waktu singkat Kim Thi sia terjerumus dalam posisi yang berbahaya sekali.
salah sedikit saja dalam keadaan demikian bisa berakibat hilangnya selembar nyawa.
Untunglah disaat yang kritis ia tak gugup, dengan cepat pemuda itu melancarkan serangan dengan jurus "kecerdikan menyelimuti empat samudra"
Serta "mati hidup ditangan takdir"
Dari ilmu Tay goan sinkang.
Walaupun dalam keadaan tergesa-gesa dia tak sempat menghimpun tenaga dalamnya, namun dengan mengandalkan daya pengaruh dari ilmu Tay goan sinkang yang maha sakti, seketika itu juga pelajar setengah umur itu dibuat terperanjat sehingga buru-buru menarik kembali serangannya sambil melompat mundur.
Kim Thi sia sendiripun tidak menyangka kalau ilmu Tay goan sinkang mampu untuk menghadapi pelbagai serangan maut yang maha dahsyat, sekarang dia mulai memahami rahasia jurus silatnya sehingga keberaniannya pun makin besar.
sebaliknya pelajar setengah umur itu sudah menganggap Kim Thi sia sebagai musuh yang amat tangguh, begitu mundur kebelakang.
Pelan-pelan ia mulai bergeser mengitari arena, setiap satu langkah, gerak langkahnya selalu berubah-ubah bentuknya.
sebentar langkahnya menyerupai langkah harimau, sebentar berubah lagi menjadi langkah elang.
Hanya sepasang matanya yang menatap wajah Kim Thi sia tanpa berkedip.
Melihat sikap musuhnya itu, sambil tersenyum Kim Thi sia segera berkata.
"Kau tak usah menatap wajahku lekat-lekat, ketahuilah aku bukan seorang pria yang berwajah tampan."
Lalu sambil menuding kearah sipedang besi, lanjutnya.
"Coba kau lihat, bukankah wajahnya jauh lebih tampan dari wajahku? Mengapa kau tidak mengawasi wajahnya saja?"
Banyolan yang konyol ini cukup membuat orang lain menangis tak bisa tertawapun tak dapat.
Pelajar setengah umur itu makin terperanjat, apalagi melihat sikap musuhnya yang begitu santai walaupun sedang menghadapi musuh tangguh didepan mata segera pikirnya.
"Dia pasti mempunyai suatu andalan yang meyakinkan, aku harus bersikpa lebih hati-hati......"
Tanpa terasa serangan dahsyat yang sudah siap dilancarkan pun diurungkan kembali pikirnya agak tertegun.
"Aku sungguh tak habis mengerti, gerak serangan apakah yang telah digunakan untuk memusnahkan jurus "lima elang mematuk"
Bersama ku tadi?
Bila dilihat dari sikapnya yang begitu santai, jelas sudah ia memiliki ilmu andalan yang hebat, aku tak boleh membiarkan ilmu elangku yang sudah termashur banyak tahun harus hancur ditangannya."
Semakin dipikir dia makin ragu-ragu untuk melancarkan serangan, sebab meski nama Kim Thi sia cukup termashur, namun bila ilmu elangnya sampai berantakan ditangan musuh, bisa jadi selama hidup ia tak mampu mengangkat kepala lagi.
sebaliknya Kim Thi sia segera membentak ketika ketika dilihatnya pihak lawan sampai sekian lama belum melancarkan serangan juga.
"Hey, kalau toh kau bersungkan-sungkan, biar aku saja yang menyerang duluan, kalau tidak begini, sampai besokpun pertarungan belum tentu bisa dilangsungkan"
Sambil bertekuk pinggang dia melejit kedepan secepat anak panah yang terlepas dari busurnya, sementara dengan jurus "kekerasan menguasahi jagad"
Dia hajar tengkuk musuh.
setelah melalui pelbagai pertarungan dan pengalaman, tenaga dalam yang dimilikinya sekarang boleh dibilang sudah meningkat satu tingkatan, tak heran kalau angin pukulan yang dilancarkan menderu-deru kencang.
Dalam pada itu telapak tangan kanannya telah mengancam pula lambung musuh dengan jurus "kelembutan bagaikan air dan api"
Jurus serangan ini sangat ganas dan mematikan.
seketika membuat pelajar setengah umur itu terdesak mundur satu langkah.
Nyoo soat hong yang menonton jalannya pertarungan itu kontan saja berseru nyaring.
"Bagus sekali"
Dengan cepat teriakan ini membangkitkan hawa amarahnya pelajar setengah umur ditengah pekikan nyaring, tangannya yang tergenggam dirubah bagaikan paruh elang, lalu sambil melejit keudara bagaikan seekor rajawali raksasa, dia menerkam kebawah sambil melancarkan patukan maut.
Kim Thi sia terlambat menarik kembali tangannya, termakan patukan tersebut seketika dia merasakan lengan itu bagaikan terkena pukulan martil raksasa, hampir saja dia menjerit keras.
Kerugian kecil yang dideritanya ini mengakibatkan amarahnya berkobar pula, alis matanya berkenyit, dengan jurus "
Ketenangan menimbulkan awan kabut"
Yang kemudian disusul dengan jurus "
Kedamaian membahagiakan sembilan langit"
Dia terobos masuk kebali bayangan patukan pelajar setengah umur itu.
Dengan pengalaman berapa kali pertarungan seru, ilmu Tay goan sinkang boleh dibilang sudah dikuasahi penuh oleh pemuda kita.
Tanpa persiapanpun serangan yang dilancarkan bisa memancarkan kekuatan hingga mancapai sepuluh bagian.
Ditambah pula tenaga dalamnya telah peroleh peningkatan, ibarat harimau tumbuh sayap.
pada hakekatnya susah bagi pelajar setengah umur itu untuk meraba gerak serangannya secara pasti.
Dalam suasana bingung itulah cepat-cepat dia mengundurkan diri kebelakang dan menghindar sampai sejauh satu kaki lebih.
sambil tertawa nyaring Kim Thi sia segera berseru.
"Hey, jangan lari dulu, coba sambut dua buah seranganku lagi"
Belum habis ucapannya diutarakan, sekali lagi dia mengeluarkan jurus "kedamaian membahagiakan sembilan langit"
Untuk memancing perhatian pelajar setengah umur itu.
sementara kepalan kanannya secara tiba-tiba disodokkan kedepan dengan jurus "hembusan angin mencabut pohon".
Pelajar setengah umur yang terdesak hingga mati kutunya itu menjadi nekad tiba-tiba bentaknya nyaring.
"Bajingan cilik, kau berani mempermainkan aku? Hmmm, aku akan beradu jiwa denganmu."
Sambil mengembangkan jurus teratngguh dari ilmu patukan elang kemalanya secara beruntun dia melancarkan empat buah serangan gencar yang menyelimuti seluruh angkasa.
Dengan cepat Kim Thi sia melompat keluar dari arena pertarungan sambil teriaknya keraskeras.
"Hey, apakah kau benar-benar hendak mengajakku untuk beradu jiwa?"
"Tak usah banyak bicara"
Tukas pelajar setengah umur itu sambil mempersiapkan serangan lagi.
"satu nyawa dibayar satu nyawa, aku toh tidak mencari keuntungan apa-apa buat apa kau menyalak terus macam anjing gila......."
"Baik"
Seru Kim Thi sia dengan gusar.
"Bila ingin beradu jiwa, mari kita beradu jiwa, ketahuilah Kim Thi sia bukan manusia yang takut mampus."
Sambil mengayunkan telapak tangannya dia maju menyongsong datangnya ancaman tersebut.
Agaknya kedua belah pihak telah menggunakan selembar nyawa mereka sebagai barang taruhan-Tiba-tiba Nyoo soat hong menjerit lengking sambil menutupi wajahnya.
"ooooh......kau, kau tak boleh berbuat begitu......."
"Apa kau bilang?"
Tanya Kim Thi sia segera teringat kembali dengan pesan ayahnya maka dengan cepat dia berubah pikiran, katanya kemudian.
"Ucapanmu memang betul, aku memang masih banyak pekerjaan yang belum diselesaikan, aku tak boleh beradu nyawa secara begini tolol."
"sute"
Tiba-tiba sipedang besi berseru sambil menarik muka.
"Bila kau enggan beradu jiwa, biar aku saja yang beradu jiwa dengannya...."
"Kenapa?"
Tanya Kim Thi sia tertegun.
"Apakah suheng berharap aku beradu jiwa dengannya?"
"Sute tak usah menuruti perkataannya, dia lagi kheki"
Sela sipedang perak cepat-cepat.
Kim Thi sia berpaling, ia saksikan semua orang sudah berhenti bertarung, entah sejak kapan ternyata pihak musuh berhasil dipukul mundur, tanpa terasa dia tertawa geli, pikirnya.
"Tampaknya aku benar-benar tolol. masa aku tidak merasa kalau semua orang sedang menonton aku seorang bertarung?"
Kemudian dia berpikir lagi.
"Mengapa sipedang besi harus mengucapkan perkataan semacam ini? Apakah ia benar-benar enggan memaafkan aku? Atau mungkin dia mempunyai maksud tujuan tertentu dengan perkataan itu.......?"
Pelan-pelan sorot matanya dialihkan sekejap sekeliling arena, lalu berhenti pada sipedang tembaga serta putri Kim huan.
Tampak olehnya kedua orang itu sedang berdiri berdampingan sambil bergurau tiada hentinya, secara jelas dia memahami duduknya persoalan, pikirnya kemudian.
"Yaa betul, rupanya sipedang besi menaruh minat terhadap sinona, ia menjadi tak senang hati setelah melihat suhengnya bermesrahan dengan pujaan hatinya itu."
Setelah memahami perasaan sipedang besi yang kalut, seketika itu-juga dia memaafkan dirinya. Menanti dia membalikkan badan, sipelajar setengah umur itu sudah berkata kepadanya.
"Sobat, terus terang kukatakan, akulah si Raja cakar elang. Pemberianmu hari ini tak akan kulupakan untuk selamanya, sebulan kemudian aku pasti akan mencarimu lagi untuk membayar kebaikanmu ini. Maaf kalau aku harus mohon diri lebih dulu sekarang."
Selesai berkata, dia segera membalikkan badan dan beranjak pergi dari situ. Tiba-tiba sipedang perak berseru keras.
"Hey, rupanya kau adalah Raja cakar elang yang termashur itu Aku benar-benar tak habis mengerti kenapa anda bisa berkomplotan dengan Pek kut sinkun? Bila tidak keheranan bolehkah kau menjelaskan duduk persoalan sebenarnya?"
"sudah lama kukagumi nama besarmu, aku bersedia untuk mengikat tali persahabatan denganmu."
Tanpa berpaling pelajar setengah umur itu menjawab secara ketus.
"Nama besar pedang perak kelewat tersohor sehingga aku tak berani menerima tawaran itu. Ketahuilah aku bersedia bekerja untuk Pek kut sinkun karena lima tahun berselang aku pernah menerima bakti kebaikan darinya, karena itu untuk membalas budi kebaikannya akupun bersedia membantunya satu kali. Coba kau pikirkan sendiri apakah perbuatanku ini salah?"
"Anda tidak bersalah, baiklah apa salahnya kalau kita bersahabat?"
Pedang perak bentak pelajar setengah umur itu sambil berpaling.
"Kaupun seorang yang cerdik, apakah kau menginginkan aku si Raja cakar elang sekali lagi mendapat malu?"
Selesai berkata, tanpa memperdulikan orang-orang lagi dia beranjak pergi dari situ dengan langkah lebar.
Dalam waktu singkat bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan-Menunggu sampai bayangan punggung orang itu lenyap sipedang perak baru berkata sambil menghela napas.
"sute, kau telah membuat suatu bencana besar."
"Apa?"
Kim Thi sia melompat bangun sambil berseru.
"Aku telah membuat bencana besar? Aneh, masa dengan mengalahkan dirinya maka aku telah membuat bencana? Lantas bila aku mengalahkan orang lain, apakah hal inipun merupakan perbuatan yang mendatangkan bencana?"
"Raja cakar elang merupakan tokoh nomor wahid dalam dunia persilatan, ia sangat membedakan antara budi dan dendam, bila hutang budi dibayar budi, hutang sakit hati dibayar dengan keji. sute, diapun seorang yang amat menepati janji, satu bulan kemudian dia pasti akan datang mencarimu lagi untuk membuat perhitungan-"
Dengan nada tak senang hati Kim Thi sia berseru.
"Aku Kim Thi sia bukan manusia yang takut urusan, bila semua orang berhati-hati macam begitu, apalah artinya berkelana didalam dunia persilatan?"
Kemudian sambil membusungkan dada dia melanjutkan lebih jauh.
"suheng, kau kelewat mengada-ngada, sekalipun nasibku kurang mujur dan tewas dalam pertarungan itu, toh urusannya bukan luar biasa, paling banter aku hanya minta bantuan suheng untuk menguburkan mayatku........."
Sementara itu Nyoo soat hong sudah menyerbu masuk ke dalam rumah penginapan dan menolong kakaknya Nyoo Jin hui.
Berpisah selama beberapa bulan, Nyoo Jin hui nampak agak kurusan, tapi wajahnya tidak nampak letih, malah sebaliknya menambah banyak pengalaman yang berharga baginya.
Kim Thi sia saling berangkulan dengannya, kejut dan gembira membuat mereka tidak sanggup berkata-kata.
Akhirnya Nyoo Jin hui berkata.
"Adikku sudah meningkat dewasa, dulu dia berwatak kurang baik tapi sekarang semuanya telah berubah. Adik Thi sia, kau mesti baik-baik menjaganya karena berbuat begitu sama artinya dengan baik kepada kakak angkatmu ini, mengerti?"
Kim Thi sia hanya manggut-manggut tanpa mengartikan lain, sebaliknya Nyoo soat hong justru telah menganggap keledai sebagai kuda.
Dia mengira Kim Thi sia bersedia memperistri dirinya, malu dan gembira membuat paras mukanya berubah menjadi merah padam.
Menyusul kemudian Kim Thi sia pun memperkenalkan semua orang dengan Nyoo Jin hui.
Mendengar nama sipedang perak.
tembaga dan besi, kontan saja Nyoo Jin hui dibuat terbelalak.
saat inilah mendadak Kim Thi sia teringat kembali akan Malaikat pedang berbaju perlente, air mukanya segera berubah menjadi tak wajar, dia merasa bagaimanapun juga peristiwa tragis yang menimpa gurunya harus diselidiki sampai tuntas.
Berpikir begitu, diapun segera menarik sipedang perak kesamping dan bertanya dengan suara rendah.
"suheng, kau pasti lebih mengetahui tentang sebab-sebab kematian suhu, harap kau menceritakan segala sesuatunya kepadaku secara jelas."
Perkataan ini diucapkan dengan nada memerintah.
Dengan pandangan tercengang sipedang perak balas menatap pemuda tersebut melihat matanya yang terbelalak lebar, ia segera mengetahui apa gerangan yang telah terjadi sahutnya sambil tersenyum.
"Sute, mengapa kau berkata demikian? Apakah sute curiga kalau kematian suhu disebabkan perbuatanku.......?"
"Tentu saja"
Pikir Kim Thi sia didalam hati.
"Kalau tidak, mengapa aku tidak bertanya kepada orang lain?"
Namun mulutya tetap membungkam dalam seribu bahasa. Dari perubahan mimik muka pemuda tersebut, sipedang perak segera dapat meraba jalan pikirannya, sambil menarik muka segera katanya lagi.
"Aku tak tahu siapa yang membuat berita yang bohong ini, benar-benar kejam dan jahat. sute, coba kaupikirkan sendiri, suhu dia orang tua telah mewariskan kepandaian silat kepada kita semua, budi kebaikannya lebih besar dari bukit. Apakah kita tega untuk mencelakainya? "
Perkataan tersebut diutarakan dengan nada keras membuat Kim Thi sia susah untuk menilai benar salahnya persoalan ini dari perubahan mimik wajahnya.
Dengan kepala tertunduk ia berpikir sebentar, tiba-tiba katanya lagi.
"Terus terang saja watak suheng memang terbuka dan bisa membedakan mana benar dan mana salah. Mustahil kau bisa melakukan perbuatan biadab seperti itu, tapi....."
Setelah ragu sejenak, katanya lebih jauh.
"suheng, bila aku salah berbicara apakah kau bakal marah?"
Dengan cepat sipedang perak menggelengkan kepalanya berulang kali, ujarnya.
"sute tak usah ragu-ragu untuk mengutarakan semua persoalan yang ingin kau katakan, dengan begitu kita bisa membuktikan mana yang betul dan mana yang salah. Justru dengan perkataanmu ini aku bakal sangat gembira, masa harus marah kepadamu?"
"sebetulnya perbuatan seorang sute yang mencurigai tingkah laku seorang suheng memang merupakan tindakan yang tak sopan-Tapi semua persoalan ini diutarakan sendiri oleh suhu, sehingga mau tak mau aku harus mempercayainya juga."
Sipedang perak tersenyum senang, sambil menepuk bahunya dengan penuh persahabatan dia bertanya.
"Apakah dia orang tua menuduh kami kakak adik seperguruan yang menyebabkan kematiannya? "
Kim Thi sia manggut-manggut, mendadak ia mundur selangkah dengan cekatan sekali, kemudian katanya lagi dengan suara dalam.
"Kata suhu, semua luka cacad yang dideritanya merupakan hasil karya dari suheng sekaliansuheng, benarkah hal ini telah terjadi?"
Sembari berkata, dia telah menghimpun segenap tenaga dalam yang dimilikinya kedalam telapak tangan.
Asal sipedang perak menunjukkan perubahan sikap, maka dia akan segera melancarkan serangan lebih dulu.
siapa sangka, sama sekali diluar dugaannya sipedang perak sama sekali tidak menunjukkan perubahan apapun setelah mendengar perkataan tersebut.
Ia kelihatan tenang sekali tanpa perubahan, yang nampak malah rasa sedih yang dalam, seakan-akan kematian suhunya tiada hubungan sama sekali dengannya dan ia merasa amat sedih karena sudah dituduh tanpa dasar.
Bukan cuma begitu, Kim Thi sia malah sempat melihat sepasang matanya berkaca-kaca, seakan-akan sedih sekali.
Meski dia berusaha untuk mengendalikan rasa sedih itu, namun karena luapan yang kelewat besar membuat perasaan tadi tidak terkendali lagi.
Menyaksikan keadaan seperti ini Kim Thi sia menjadi beriba hati, walaupun diluar tak berkatakata, namun dia merasa pertanyaan yang diajukan terlalu berlebihan.
Tak mungkin suhengnya melakukan perbuatan serendah itu.
selang berapa saat kemudian, senyuman hambar kembali pulih diwajah sipedang perak, tapi Kim Thi sia amat menyesal.
Terdengar ia berkata.
"Kecurigaan sute memang tanpa dasar, walaupun aku tidak melakukan perbuatan terkutuk itu namun akupun tidak menyalahkan dirimu. sebab kesadaran suhu waktu itu kabur, sehingga apa yang diucapkanpun akan kabur pula kedengarannya, bukankah begitu sute?"
Bila seseorang sudah mulai kabur kesadarannya, seringkali apa yang diucapkan memang tanpa berpikir secara sungguh-sungguh.
Baca Juga: Bunga Pedang Embun Hujan Kanglam 3
Baca Juga: Imbauan Pendekar 1