Eps 7 Naga Merah - Khu Lung
Baca online Naga Merah - Khu Lung
Cersil Naga Merah - Khu Lung.
Tan Chiang Bin meski membenci Tan Liong yang terlalu kepala batu, tapi bagaimana juga masih ada hubungan darah antara ayah dan anak maka saat itu ia juga merasa sedih.
Ia lalu ajak Siao hun lie dan Koan Beng sama-sama pergi ketempat tahanan.
Ketika tangan Tan Chiang Bin meraba tubuhnya Tan Liong, benar saja bahwa sekujur tubuh anaknya sudah dingin seperti es.
Perasaan sedihnya semakin meluap hingga air matanya mengalir keluar, membasahi bajunya.
Siao hun lie berkata sambil ketawa dingin.
"Baiknya sudah mati hingga kita tidak usah repot memikirkan caranya untuk mengirim dia ke akherat, sekarang suruh orang angkat bangkainya dan lemparkan kebelakang gunung saja! "
Tapi Tan Chiang Bin tidak menyetujui usul isterinya, sambil ketawa getir ia berkata.
"Jangan, ia ada ketua partai Ciong lam pay, kita tidak boleh berlaku terlalu kejam padanya. Kita boleh merasa benci semasa hidupnya, tapi setelah meninggal dunia, tidak seharusnya kita masih dendam kebencian. Kita harus memasukkan bangkainya dalam peti mati dan kubur secara baik-baik! "
"Baiklah, kuburlah dengan peti mati."
Habislah sudah pengharapan Tan Liong jikalau bukan karena Tan Chiang Bin tidak tega bangkai anaknya dilemparkan kebelakang gunung untuk umpan binatang ia tentu akan lolos dari malapetaka.
Tapi Tan Chiang Bin karena mengingat Tan Liong ada anaknya sendiri, maka ia tetap hendak mengubur jenasah anaknya itu secara sepantasnya hingga dengan demikian membuat ludes pengharapannya Tan Liong untuk bisa hidup lagi!
Diwaktu lohor pada hari itu juga sebuah peti mati warna merah telah diletakkan didepan pintu ruangan pekumpulan Thian seng hwee.
Tan Chiang Bin dengan perasaan sedih memondong mayat anaknya sambil kemak kemik.
"Anak, maafkan diriku ...... tapi kau telah kukubur secara sepantasnya di akherat harap kau sampaikan penyesalanku kepada ibumu ...."
Dengan perlahan ia letakkan tubuh Tan Liong kedalam peti mati hampir semua anak buah Thian seng hwee tujukan matanya kepada peti mati itu.
Dengan menekan rasa sedihnya yang hebat Tan Chiang Bin akhirnya mengeluarkan perintahnya.
"Tutup dan pantek peti itu! "
Perintah itu tidak ubahnya sebagai satu putusan mati bagi dirinya Tan Liong."
Begitu mendengar perintah ketuanya, dua anak buahnya Thian seng hwee segera menjalankan perintah tersebut.
Mereka lalu menutup peti mati dan memakukannya dengan paku besar.
Tan Liong telah mempertaruhkan nyawanya supaya dapat keluar dari Thian seng hwee dan kini pertaruhannya itu telah mengalami kekalahan besar.
Ini disebabkan karena Tan Chiang Bin dengan kecualian telah memerintahkan anak buahnya agar mengubur Tan Liong dengan PETI MATI.
Sudah tentu, karena Tan Chiang Bin masih mengingat perhubungan darah antara Ayah dan anak, hingga ia tidak tega untuk melemparkan jenasah anaknya keatas gunung dijadikan umpan binatang buas.
Kalaulah ia tahu bahwa perbuatannya itu telah merupakan suatu kesalahan besar!
Suara desingnya paku yang dipukul oleh palu seolah olah bunyi lonceng kematian, yang setiap ketokan telah mengetuk hati Tan Chiang Bin.
Benarkah Tan Liong akan binasa begitu saja?
Apakah tak akan meninggalkan bayangannya yang tampan, bagi kenangan lima atau enam gadis rupawan yang mencintai dirinya?
Dimasa hidup, Tan Liong tidak mempunyai sesuatu, kini ketika mati ia telah membawa semua pengharapannya dan penasarannya kedalam kubur.
Andaikata benar, kejadian ini benar benar akan merupakan kejadian yang sangat mengesankan bagi lima atau enam gadis yang mencintainya!
Dimasa hidupnya, ia pernah mempunyai pengharapan bagi hari depannya, tapi ia kecewa, satu satunya wanita yang menjadi idamannya sudah menjadi isteri orang.
Sehingga ia menelan pil Leng hun wan yang sangat ajaib itu hatinya masih hampa ......
Satu-satunya hal hal yang membuat pikirannya ialah, apabila ia benar-benar mati, hal ini akan mengecewakan banyak orang terutama anak murid partai Ciong lam pay.
Entah bagaimana gelisahnya menantikan kedatangannya.
....
Dimaktu malam yang gelap dan sunyi.
Gunung Ciong lam san, yang tampak hanya kabut tebal yang menyelubungi tubuhnya dan Kuil tua yang merupakan pusatnya partai Ciong lam pay.
Dalam Kuil itu, kadang-kadang terdengar suara tindakan kaki dari beberapa orang yang sedang meronda, kecuali itu keadaan kembali sunyi.
Pada saat itu, tampak lima sosok tubuh berpakaian warna kuning, setelah mendapat pesan Tan Liong, mereka segera kembali kegunung Ciong lam san.
Di dalam ruangan pertemuan Tiang gie tian masih terang benderang, wakil ketua
KANG ZUSI com oey bwee Cian, dengan wajah muram sedang memikirkan nasib Tan Liong, andaikata malam itu Yo lie lu datang menyatroni lagi, bagaimana harus berbuat?
Lima orang berpakaian kuning itu setiba di Tiang gie tian dan setelah memberi hormat Oey Bwee Cian lalu menanyakan tentang penyelidikan mereka terhadap Tan Liong.
Seorang tua yang memegang tongkat, yang menjadi ketua dari tujuh jago menceritakan bagaimana mereka telah berjumpa dengan Tan Liong dan bagaimana Tan Liong telah terjatuh dalam tangan orang Thian seng hwee.
Kemudian ia berkata.
"Teecu telah menerima pesan dari Ciang bun jin, apabila Yao lie lu berani menyatroni gunung lagi, segera bunuh saja, tidak perlu dikasihani lagi."
"Kalau Ciang bun jin sudah berada ditangan ketua Thian seng hwee, apakah mungkin bisa terjadi apa-apa yang diluar dugaan kita? "
Berkata Oey Bwee Cian.
"Tentang ini, teecu tidak berani memberi jawaban yang pasti."
Oey Bwee Cian sangat kuatir Tan Liong akan mengalami kejadian tidak enak, hingga alisnya dikerutkan lama sekali.
Ia baru berkata lagi sambil menghela napas.
Segera ia perintahkan kepada dua anak muridnya, untuk mencari kabar tentang diri Ciang bun jin nya, juga semua muridnya Ciong lam pay, supaya mengadakan penjagaan keras disekitar gunung jika dapat melihat Yao lie lu yang berani datang naik gunung lagi, segera bunuh mati padanya."
Orang tua itu setelah menerima perintah tersebut lantas undurkan diri dan segera ia perintahkan Say phoa an dan San hwa chiu supaya pergi ke Thian seng hwee untuk mencari keterangan tentang diri Tan Liong.
Malam semakin larut, diatas gunung Ciong lam san, seolah olah sedang menghadapi musuh kuat.
Jika Yao lie lu benar-benar berani datang lagi, maka orang-orang Ciong lam pay pasti akan menghadapinya dengan semua kekuatan mereka yang ada.
Pada waktu itu, dibawah gunung kembali terdengar suara tanda bahaya.
Oey Bwee Cian dengan cepat lari keluar, dari bawah gunung ia dapat lihat sesosok bayangan orang sudah lari mendatangi.
Yao lie lu akhirnya muncul lagi.
Gadis cantik tapi ganas ini, begitu dalam cintanya terhadap Tan Liong dengan tanpa hiraukan segala bahaya ia datang menyatroni gunung Ciong lam san lagi maksudnya semata-mata ingin menjumpai Tan Liong.
Dalam perpisahannya cuma beberapa hari saja ia telah merasa seolah-olah ditinggalkan untuk selama-lamanya oleh Tan Liong apalagi setelah ia melihat Oey Bwee Cian yang cantik manis semakin besar anggapannya bahwa apa yang ia duga itu tidaklah salah.
Tan Liong pasti sudah tergila-gila kepada Oey bwee Cian oleh karenanya maka ia lantas umbar amarahnya diatas gunung Ciong lam san.
Kini gadis yang mabuk asmara itu telah muncul lagi Oey bwee Cian dan anak murid Ciong lam pay yang menantikan kedatangannya, sedang mengawasi semua gerak geriknya dengan mata beringas.
Selagi Yao lie lu hendak mendekati tembok pekarangan kuil Ciong lam pay tiba-tiba terdengar suara orang tertawa dingin beberapa sosok bayangan orang lantas muncul menghadang perjalanan Yao lie lu.
Yao lie lu yang mendadak berhadapan dengan orang banyak itu lantas mundur satu tindak.
Ketika ia memandang kepada orang orang itu parasnya berubah seketika.
Orang-orang itu bukan lain daripada orang-orang lihai dari Thian seng hwee.
Hal ini benar benar merupakan suatu hal diluar dugaannya Yao lie lu.
Ia tidak mengira bahwa orang-orang itu akan muncul digunung Ciong lam san.
Congcu Lie Chun Hiong, salah satu orang lihai Thian seng hwee lantas berkata sambil ketawa dingin.
"Yao lie lu, dalam keadaan sunyi dan gelap gulita seperti ini akan berjumpa dengan kau, benar-benar aku merasa sangat beruntung! "
Orang-orang yang datang kegunung atas perintah ketua Thian seng hwee itu telah ditugaskan supaya menangkap Yao lie lu, tentang ini sudah tentu diluar pengetahuannya Yao lie lu.
Sebaliknya dengan orang-orang Ciong lam pay yang juga telah mengetahui munculnya orang-orang dari Thian seng hwee tentu mereka membiarkan Yao Lie lu berhadapan dengan orang-orang itu sambil berpeluk tangan.
Yao lie lu tahu bahwa kedatangan orang-orang Thian seng hwee ke gunung Ciong lam san secara mendadak itu sudah tentu sedang menantikan dirinya.
Setelah Lie Chun Hiong mengucapkan perkataan tadi, yang lain-lainnya segera maju dan mengambil sikap mengurung kepada Yao lie lu.
Yao lie lu nampaknya tenang-tenang saja sambil ketawa hambar ia berkata.
"Bukankah kedatangan tuan-tuan ini ditujukan kepadaku? "
"Tidak salah."
jawabnya Lie Chun Hiong.
"Tidak nyana, aku Yao lie lu yang tidak berhasil menarik perhatian Thian seng hwee sehingga menitahkan beberapa puluh anak buahnya yang terlihai, kalau begitu ini sesungguhnya merupakan satu kehormatan besar bagiku."
Berkata Yao lie lu sambil tertawa panjang.
"Yao lie lu, kau sesungguhnya ada satu perempuan bermuka tebal dengan tanpa pikirkan akibatnya kau telah mengkhianati perkumpulan, melepaskan dirinya Ciang bun jin partai Ciong lam pay. Sekarang aku tanya padamu apakah kau sanggup pikul dosamu yang sebesar itu? "
"Kalau begitu kalian tentunya hendak mengangkap aku untuk dibawa kembali? "
Yao Lie lu kembali berubah parasnya, kekuatan tenaga dalamnya dikerahkan dikedua tangannya, matanya menyapa orang orang Thian seng hwee lain sambil ketawa dingin ia berkata pula.
"Boleh coba! Nonamu akan melayaninya."
Yao lie lu bukan tidak tahu bahwa malam itu keadaannya sendiri sesungguhnya ada sangat berbahaya.
Orang-orang yang kini berada didepannya itu semua merupakan orang-orang pilihan dari Thian seng hwee, sekalipun ada lain orang semacam Yao lie lu belum tentu sanggup menghadapinya, hanya satu Lie Chun Hiong saja sudah cukup membuat ia repot.
Tapi orang yang sedang menghadapi ancaman maut biar bagaimana tokh harus melawan apakah harus mandah begitu saja?
Lie Chun Hiong wajahnya berubah ketika mendengar jawaban sombong Yao lie lu itu seketika itu juga lantas mengeluarkan perintahnya.
"Tangkap padanya! "
Beberapa puluh anak buah Thian seng hwee lantas bergerak menyerang Yao lie lu.
Yao lie lu coba melawan mati-matian tapi percuma saja usahanya.
Satu serangan tangan mengenakan dadanya dengan telak hingga mulutnya menyemburkan darah.
Dalam keadaan sangat berbahaya itu mendadak terdengar suara orang tertawa dingin, suara itu begitu tajam dan menyeramkan hingga membuat berdiri bulu roma.
Dan apa yang mengherankan?
Suara ketawa itu seolah-olah mengandung semacam kekuatan yang membuat orang yang mendengarkannya lantas kehilangan seluruh tenaga dalamnya.
Maka orang-orang Thian seng hwee yang mendengar suara itu mendadak merasa bergidik dan lantas berhenti bergerak.
Ketika mereka pasang mata disuatu tempat kira-kira tiga tombak jauhnya berdiri bayangan seseorang.
Bayangan orang itu memperdengarkan suara ketawanya yang menyeramkan kemudian berkata ...
"Beberapa puluh laki-laki mengeroyok satu orang perempuan, kalau hal ini tersiar diluar apakah kalian tidak malu kalau sampai menjadi tertawaan sahabat-sahabat dunia Kangouw? "
Orang yang datangnya secara mendadak itu nada suaranya juga begitu ketus dingin seolah-olah bukan keluar dari mulut manusia hingga orang-orang Thian seng hwee pada merasa heran ....
Tongcu Lie Chun Hiong lantas menyahut sambil ketawa dingin.
"Sahabat dari mana? Ada urusan apa datang kemari? "
"Aku hendak menolong anak perempuan itu"
Jawabnya bayangan itu sambil ketawa pula.
Jawaban itu membuat semua orang Thian seng hwee semakin heran siapakah orang aneh itu?
Tidak perduli ia siapa biar bagaimana kedatangannya itu tokh tidak mengandung maksud baik maka Lie Chun Hiong setelah memeriksa orang-orangnya sendiri lalu berkata dengan suara perlahan.
"Kalian semua jaga orang itu lindungi aku supaya dapat membawa Yao lie lu keluar dari sini."
Berbareng dengan itu dengan kecepatan bagaikan kilat Lie Chun Hiong sudah bergerak menyambar tubuh Yao lie lu yang sudah menggeletak ditanah.
Tapi selagi orang she Lie itu bergerak sebuah benda warna hijau melesat dan menyerang jalan darah Ma hiat dibadan Lie Chun Hiong.
Lie Chun Hiong yang didalam Thian seng hwee terhitung salah satu orang lihai ternyata tidak dapat mengelakkan serangan senjata rahasia aneh tersebut.
Sesaat itu badannya dirasakan kesemutan dan lantas rubuh ditanah.
Hal ini membuat tercengang semua orang-orangnya Thian seng hwee sebab benda yang digunakan oleh orang itu untuk menyerang Lie Chun Hiong tidak lain daripada selembar daun untuk melukai orang betapa tingginya ilmu silat orang itu dapat dibayangkan sendiri.
Tidak satupun orang dari Thian seng hwee itu yang tidak merasa jeri hingga tidak satupun yang berani bergerak.
Orang itu kembali perdengarkan suara ketawanya yang menyeramkan kamudian berkata.
"Bawa kawanmu pulang ke Thian seng hwee dan lekas enyah dari sini! "
Perkataan itu seolah-olah mengandung perintah dan wibawa. Satu diantara orang-orang Thian seng hwee sambil membimbing Lie Chun Hiong telah menanya.
"Tuan tentunya ada seorang ternama didunia Kang-zsouw bolehkah kiranya memberi tahukan namamu yang mulia? "
"Kalau memang kalian ingin tahu baiklah, aku beritahukan kepadamu. Kalian mungkin pernah dengar nama julukan Tok gan Lo Koay (si tua aneh mata satu)? "
Mendengar disebutnya nama itu bukan saja membuat orang-orang Thian seng hwee semakin kaget dan jeri sekalian orang-orang Ciong lam pay yang dapat mendengar juga pada tekejut.
Orang tua aneh mata satu itu berdiam di gunung Kwa leng san, ia telah melatih ilmunya yang mujijat Bangkai berapi mengapa mendadak muncul?
Kembali si orang tua aneh mata satu itu berkata.
"Kalau boleh beritahukan kepada ketua kalian, asal ilmuku bangkai berapi sudah selesai kulatih, dalam waktu beberapa bulan aku akan pasti mencari dia. Kalau kalian masih belum mau enyah, aku akan pergi dulu...."
Belum habis perkataannya bayangannya sudah bergerak dan tahu-tahu tubuhnya Yao lie lu yang menggeletak di tanah juga ikut lenyap.
Kecepatannya bergerak orang aneh itu benar-benar membuat kagum semua orang Thian seng hwee dan Cong lam pay.
Karena kedatangan orang itu sangat mendadak dan berlalunya juga begitu cepat, maka tiada seorangpun yang dapat lihat dengan tegas bagaimana macamnya orang itu.
Mengapa Tok gan Lokoay membawa kabar dirinya Yao lie lu?
Dalam hal ini sudah tentu ada sebabnya.
Sudah beberapa puluh tahun lamanya Tok gan Lokoay melatih ilmunya "bangkai berapi"
Dengan menggunakan bangkai manusia.
Bangkai itu dapat bergerak menyemburkan api maka ia namakan bangkai berapi.
Tapi selama itu ia belum dapat menggunakannya dengan sebaik-baiknya sebab bangkai itu sifatnya terlalu bandel tidak mudah dikendalikan.
Jika tidak menggunakan kotoran wanita bangkai itu untuk selama-lamanya akan terus bandel.
Oleh karena itu ia memerlukan dirinya Yao lie lu untuk kepentingan tersebut.
Ketika Tok gan Lokoay turun kebawah gunung Ciong lam san tiba-tiba ia dapat lihat bayangan orang yang berjalan sempoyongan.
Bayangan itu agaknya menggendong satu anak bayi.
Tapi oleh karena ia perlu lekas lekas balik ke gunung Kwa leng san maka ia cuma mengawasi sejenak lantas kabur lagi.
Bayangan orang itu adalah Cu Lian yang hendak memberi kabar kepada Ciong lam pay tentang nasib yang dialami oleh Tan Liong.
Cu Lian sebetulnya sedang luka parah, tapi karena kuatirkan nasib Tan Liong yang telah tertangkap oleh Tan Chiang Bin maka dengan menempuh jalanan begitu jauh ia perlukan datang ke gunung Ciong lam san untuk memberi kabar.
Karena rasa sakit didadanya membuat jalannya tidak tetap ia harus menahan sakitnya yang begitu hebat jika terdorong oleh hasrat dan kemauannya yang begitu kuat mungkin ia sudah roboh ditengah jalan.
Tapi untuk kepentingan orang yang ia cintai, ia harus bertahan supaya bisa sampai kegunung Ciong lam san.
....
Rasa sakit yang begitu hebat, membuat ia kadang-kadang hentikan tindakannya dan merintih, ia mengerti paling lama ia cuma bisa hidup tiga hari lagi, tiga hari kemudian, yah, tiga hari lagi ia akan membawa segala pengharapannya, meninggalkan anaknya berlalu dari dunia yang fana.
Tangan kanannya memegang dada, air matanya mengalir dengan deras.
Ia melanjutkan perjalanannya dengan kaki tidak tetap.
Mendadak ujung kakinya menginjak sebuah batu hingga badannya kehilangan keseimbangan dan akhirnya jatuh terlentang.
Ia menarik napas panjang, ia mencoba merayap bangun, tetapi kekuatannya sudah tidak ada ....
Sakit letih .....
membuat ia dengan tanpa terasa telah tertidur.
...
Mendadak bau harum menusuk hidung perlahan-lahan ia tersadar.
...
Ia membuka matanya yang sayu.
Dihadapannya samar-samar terbayang dua tubuh orang, dengan suara terputus-putus ia menanya.
"Siapa ...? "
Satu suara berat menjawab.
"Nyonya, apa nyonya terluka? "
"Ya ... aku ... sudah ... hampir ... mati. Numpang Tanya ... kegunung Ciong lam san masih berapa jauh? "
"Kau hendak ke gunung Ciong lam san? "
"Ya ......"
Yang lain menanya sambil ketawa getir.
"Ada urusan apa nyonya hendak ke gunung Ciong lam san?"
"Aku hendak mencari ... orang ... Ciong lam pay ..."
"Aku adalah murid Ciong lam pay. Ada urusan apa? Kau bertahukan saja kepadaku! "
"Ciang bun jin ... kalian telah terluka ... ia dibawa oleh orang-orang ... Thian seng hwee."
jawaban itu mengejutkan dua orang tersebut, mereka itu bukan lain dari pada San hwa chiu dan Say phoa an.
Mereka telah dapat perintah untuk pergi kegunung Kiu kiong san dengan secara kebetulan telah menemukan Cu Lian yang jatuh karena tak sanggup menahan luka-luka.
Ketika mereka mendengar keterangan Cu Lian.
San hwa Chiu lantas pondong padanya dibawa kegunung Ciong lam san, sedang Say phoa an dengan seorang diri pergi ke gunung Kiu kiong san untuk menyelidiki berita tertangkapnya Tan Liong oleh orang-orang Thian seng hwee.
Dengan seorang diri Say phoa an memasuki lembah Lui in kok.
Ia bersembunyi di dalam hutan lebat.
Saat itulah Tan Liong sedang dimasukkan ke dalam peti oleh orang-orang Thian seng hwee atas perintah ketuanya.
Say phoa an yang kemudian dapat dengar kabar itu segera balik kegunung Ciong lam san.
Beberapa hari kemudian di kalangan Kangouw lantas ramai tersiar kabar tentang matinya ketua Chiong lam pay di tangan orang-orang Thian seng hwee.
Mari kita balik kepada Tan Chiang Bin yang setelah memberi perintah pula agar mengubur jenasah anaknya itu kekuburan umum di belakang gunung.
Empat laki-laki anak buah Thian seng hwee lantas mengangkat peti jenasah yang terisi jenasahnyaTan Liong itu ke belakang gunung untuk dikubur.
Tan Liong dikubur dengan memakai peti mati hal ini sesungguhnya di luar dugaan Thio bin Iehiap.
Kalau ia tahu dengan jalan itu sebaliknya malah mencelakakan padanya ia pasti tak suruh Tan Liong menelan pil mujijat Leng hun wan.
Tanpa terasa malam telah tiba, seluruh gunung diliputi oleh kegelapan.
Di tanah kuburan yang letaknya di belakang gunung Kiu kiong san, Cuma tertampak gundukan tanah serta kelap kelipnya sinar binatang kunang-kunang, empat laki-laki itu setelah memasukkan peti mati Tan Liong ke dalam lubang tanah lantas berlalu.
Tan Liong akhirnya dikubur dalam tanah.
Pengharapannya untuk hidup kembali boleh dikata tipis sekali.
Tapi apakah betul riwayatnya akan putus sampai disitu saja?
...
Hari kedua diwaktu malam ...
Cuaca gelap di tanah kuburan di belakang gunung itu, tiba-tiba muncul sesosok bayangan manusia.
Bayangan itu bagaikan setan, mundar-mandir ditanah kuburan itu agaknya tengah mencari apa-apa.
Tiba-tiba bayangan orang itu berdiri dihadapan kuburan Tan Liong, orang itu cuma mendengarkan suara tawanya yang dingin dan menyeramkan.
Siapapun tak akan menduga bahwa bayangan itu merubah nasibnya Tan Liong yang sudah berada didalam tanah itu!
Bayangan itu berdiri sekian lama didepan kuburan Tan Liong kemudian ia mengulur tangannya dan mengorek tanah yang masih baru itu dan ...
peti warna merah telah tertampak didepan matanya.
Bayangan orang itu kembali perdengarkan suara ketawanya yang menyeramkan kemudian dengan secara tiba-tiba, dengan jari tangannya ia telah membuka peti mati warna merah itu.
Kemudian terdengar suaranya bayangan orang itu yang berkata kepada dirinya sendiri.
"Ah! Lagi-lagi seorang laki-laki, ini bagiku tak ada gunanya, biarlah ia rebah disini saja ..."
Baru saja habis perkataan orang itu tubuh Tan Liong yang terletak dalam peti mendadak bergerak-gerak ....
sebab waktunya untuk hidup telah tiba lagi.
Bayangan orang itu tampak terperanjat, ia bertanya-tanya kepada diri sendiri.
"Apakah aku bertemu setan? "
Satu hari satu malam telah berlalu, Tan Liong akhirnya hidup kembali.
Apa yang sudah lalu bagaikan impian saja, ia tidak tahu dirinya sendiri pada saat itu berada di mana?
Ia gerakkan badannya dan duduk didalam peti matinya, dengan perasaan bingung ia mengawasi keadaan disekitarnya lalu ia berkata kepada dirinya sendiri.
"Apakah aku benar-benar belum mati? "
Matanya tiba-tiba menatap peti mati dengan sendirinya, ia lantas melompat bangun diluar peti sejarak kira-kira tiga kaki ia dapat lihat bayangan seseorang.
Ia terkejut ia mulai mengingat ingat apa yang sudah terjadi atas dirinya tapi otaknya seperti kosong melompong.
Mengapa ia bisa berada didalam peti mati.
Dan kini hidup kembali?
Ia tidak tahu.
Tapi satu hal yang sudah pasti bahwa ia masih hidup dan belum mati.
Bayangan orang yang berdiri dihadapannya itu agaknya bikin kesima oleh Tan Liong yang mendadak bangun dari peti mati.
Lama sekali baru suaranya yang menanya dengan nada dingin.
"Kau manusia ataukah setan? "
Tan Liong tercengang sekian lama barulah ia menjawab.
"Kemarin aku adalah setan, tapi hari ini adalah manusia. Aku akhirnya terlolos dari kematian! "
Orang itu tertawa geli lalu berkata pula.
"Tidak disangka bahwa didalam waktu beberapa puluh tahun saja aku benar-benar telah menyaksikan kejadian langka, orang yang sudah dimasukkan dalam peti mati dikubur dalam tanah tapi tokh tidak mati ... aneh ... aneh! "
Tan Liong juga terperanjat, ia bertanya.
"Aku sudah dimasukkan dalam peti mati? "
"Tidak salah, karena aku menggali kuburan orang mati, aku telah menggali kau."
Mendengar keterangan itu Tan Liong mengerti bahwa orang itu didalam keadaan tak terduga-duga telah menolong dirinya, maka ia lantas menyatakan terima kasihnya.
"Barangkali belum waktunya aku dipanggil pulang oleh Yang Maha Esa jika bukan karena Locianpwee mungkin aku benar-benar telah mati maka disini boanpwee mengucapkan banyak-banyak terima kasih.
Setelah itu ia lantas menjura dalam-dalam.
Orang itu ketawa bergelak-gelak lalu berkata.
"Ini benar-benar ada satu kejadian yang sangat aneh. Bagaimana kau setelah mati dimasukkan kedalam peti mati dan dikubur didalam tanah ternyata masih bisa hidup? "
"Aku kini ingat, aku seperti minum obat."
Demikian Tan Liong menerangkan. Orang itu terdiam sejenak, lalu berkata kepada dirinya sendiri.
"Mungkin Tuhan membantu usahaku hingga aku menjumpai kau."
Tan Liong tergerak hatinya ia lalu menanya.
"Bolehkah Locianpwee memberitahukan nama Locianpwee yang mulia? "
Orang itu tidak menjawab pertanyaan Tan Liong lama kemudian baru ia berkata.
"Aku mesti tidak sengaja menolong kau, tapi kalau dipikir-pikir masih terhitung telah menolong jiwamu juga, jika tidak karena aku kau tentunya tidak luput dari kematian. Oleh karena itu apakah kau ada minat hendak membalas budi?"
"Walaupun harus terjun kelautan api boanpwee juga takkan menolak! "
"Kalau begitu kita kubur lagi peti kosong ini ... dan selanjutnya tentu tidak seorangpun kecuali aku yang mengetahui bahwa kau masih hidup. Mereka akan menganggapnya kau sudah mati."
Tan Liong juga tak tahu siapa adanya orang yang berada didepannya itu tapi orang itu bisa menggali peti mati dari dalam tanah mencari bangkai-bangkai manusia pastilah ada sebabnya.
Namun saat itu ia juga tidak perlu menanyakan soal itu.
Tidak antara lama peti kosong itu sudah ditanam kembali.
Kuburan itu sudah balik kembali seperti semula, di atas batu nisan masih tetap terdapat tulisan-tulisan dengan huruf besar.
TEMPAT BERSEMAYAM UNTUK SELAMA-LAMANYA.
Tan Liong memandang batu nisan itu dengan ketawa getir kemudian ia berkata pada dirinya sendiri.
"Yah, Tan Liong sudah mati siapapun tidak akan tahu ... bahwa ia masih hidup. ..."
Pada saat itu dari sebelah kiri tempat kuburan itu mendadak muncul dua sosok tubuh bayangan manusia yang langsung lari menuju ke tanah pekuburan itu.
Orang yang berada didepan Tan Liong lantas berkata dengan suara perlahan.
"Mari kita lekas pergi. Thian seng hwee mungkin akan kirim orang-orangnya datang kemari."
Tan Liong anggukkan kepala.
Orang itu lalu mengajak Tan Liong berjalan menuju kedepan sebuah kuburan kuno yang besar bentuknya sebentar terampak olehnya orang itu menjejak sebuah batu kemudian terdengar suara berkeresekan dan batu nisan kuburan itu mendadak amblas hingga terdapat sebuah lubang.
Orang itu lompat lebih dulu.
Tan Liong tampak bersangsi sejenak kemudian ia juga terjunkan diri ke dalam.
Setelah berada didalam tampak keadaan didepan matanya membuat ia terpesona!
Sungguh ia tak mengira bahwa dalam kuburan kuno ini keadaannya tak ubahnya seperti istana kerajaan.
Untuk sekian lama ia berdiri terpaku ditempatnya.
Ia sungguh tidak mengira bahwa dalam kuburan itu ada bangunan demikian megahnya.
Selain dari pada itu, ia kini juga sudah dapat melihat dengan tegas wajah orang itu.
Ternyata ia ada orang tua berusia kira-kira enam puluhan.
Rambut dan jenggotnya sudah putih seluruhnya.
Meski usianya sudah tidak muda lagi tapi dari potonan raut mukanya dapat diduga bahwa orang tua itu dimasa mudanya pasti ada seorang pemuda yang tampan dan gagah.
Mengapa orang itu berada dalam kuburan?
Berapa lama ia telah berdiam disitu?
Dan apa sebabnya ia harus menggali bangkai-bangkai manusia?
Ini ada serentetan pertanyaan yang kala itu mengaduk dalam otaknya.
Orang tua itu ajak Tan Liong masuk disatu ruangan tamu yang sangat mewah.
Ketika meliwati sebuah kaca kuningan besar, Tan Liong terkejut melihat wajahnya telah rusak!
Wajahnya yang semula begitu cakap tampan, hingga menggiurkan banyak kaum wanita, kini telah berubah demikian rupa, daging dikedua pipinya hancur, darah matang masih membeku, hingga seketika itu ia lantas menjadi kalap dan menanya.
"Apakah itu aku? ... Mengapa aku bisa berubah menjadi begini rupa? "
Suaranyapun sudah seperti orang gila ....
mendadak ia menangis seperti anak kecil, ia bekap mukanya sendiri yang sudah jelek tak karuan macamnya.
Ya, wajah buruk yang terlihat dalam kaca memang bukanlah wajahnya, karena wajah aslinya ada begitu tampan, cakap, ganteng, bagaimana Tan Liong kini telah berubah paras demikian buruk?
Orang tua itu ketika menyaksikan Tan Liong begitu kalap, lalu memberikan nasehat padanya."
Bocah, untuk apa kau berduka? Apa bedanya antara bagus dan jelek? Asal hatinya baik, wajah jelek apa salahnya? ..."
"Tapi selanjutnya bagaimana aku dapat menemui mereka? "
Jawabnya Tan Liong dengan suara sedih.
"Mereka? Siapakah dia? "
"Sahabat-sahabat perempuanku! "
"Perempuan? "
Demikian orang tua itu menanya sambil tersenyum.
"Orang perempuan, dalam penghidupan manusia, cuma merupakan satu hiasan hidup saja, mungkin orang-orang dalam dunia yang semua menganggap kau sudah mati. Mengapa kau tidak membiarkan anggapan salah itu tetap bersalah? Perempuan ... ah! Apakah mereka itu benar-benar mencintai dirimu? Perlu apa kau serahkan dirimu terjerat asmara? "
Perkataan orang itu membuat Tan Liong terbuka pikirannya, memang benar, mengapa ia harus mandah dijerat oleh asmara?
Apakah mereka benar-benar cinta?
Siapapun tak dapat menjawabnya kecuali si wanita itu sendiri.
Ia ketawa kecut.
"Locianpwee, mereka itu dahulu telah mencintai aku demikian sungguh-sungguh! "
"Asmara itu ada syaratnya, sekarang dengan wajahmu yang sedemikian buruk, nanti apabila dilihat oleh mereka, kalau mereka itu tidak ketakutan setengah mati saja sudah terhitung satu perempuan baik."
Tan Liong pikir memang benar, asmara cuma merupakan selingan dalam penghidupan manusia perlu apa harus memberikan dirinya dijerat oleh asmara?
Ia dulu pernah mempunyai wajah cukup tampan, tapi wajahnya yang cakap tampan itu telah membuat sengsara hatinya Chie Peng dan Chie Cui berdua saudara, karena ia telah rusak keberuntungan seumur hidupnya, maka wajah buat ia apa gunanya?
Memikir sampai disitu ia ketawa sendiri.
selanjutnya orang-orang dalam dunia Kangouw akan melupakan ia, gadis-gadis yang melihat wajahnya akan merasa jijik, jemu, tapi dengan demikian ia dapat hidup dengan tenang, hingga dapat menyusun rencana hendak menuntut dendam sakit hatinya.
"Locianpwee, bolehkah locianpwee beritahukan sebutan locianpwee yang mulia? "
Demikian ia menanya. Orang tua itu tersenyum, kemudian balas menanya.
"Di dalam dunia Kangouw apakah kau pernah dengar sebutan nama orang Im yang Ie su? "
Tan Liong terkejut, semangatnya lantas terbangun.
"Locianpwee Im yang Ie su sendiri? "
"Benar, lohu adalah Im yang Ie su itu sendiri."
jawabnya si orang tua sambil tertawa tergelak.
Tan Liong diam-diam merasa heran, ia sungguh tidak mengira bahwa orang tua didepan matanya itu adalah Im yang Ie su, yang pada tigapuluh tahun berselang pernah terpukul jatuh dilembah Pek kut gam, kini ternyata masih hidup.
"Kau pernah dengar namanya orang itu? "
Menanya orang tua itu sambil tersenyum.
"Pernah."
"Sudah berapa lama kau berkelana di dunia Kangouw? "
"Setengah tahun."
"Mengapa bisa bermusuhan dengan Thian seng hwee? "
Tan Liong merasa sedih, ia lalu beritahukan riwayatnya sendiri ....
dan maksud Thian seng hwee hendak menguasai Ciong lam pay.
Bukan kepalang kagetnya Im yang Ie su setelah mendengar penuturan Tan Liong.
Ia sungguh tidak sangka bahwa bocah yang masih bau pupuk bawang ini ternyata ada Ciang bun jin atau ketua partai Ciong lam pay, maka seketika itu ia lantas memberi hormat dan berkata.
"Ciang bun jin, maafkan lohu tidak mempunyai mata, dahulu Yo Sui Peng pernah menolong jiwaku, sesungguhnya tidak sangka kalau kau adalah muridnya, kalau begitu tingkatanmu masih lebih tinggi dariku."
"Budi locianpwee seolah-olah orang yang telah menghidupkan aku kembali, perlu apa locianpwee berlaku demikian sehingga membuat aku merasa sulit saja."
"Apa kau pernah melihat Hiat liong cu, si Naga merah? "
Orang tua itu mendadak menanya tentang Naga Merah.
"Tidak salah! "
"Ia terkurung di dalam goa? "
"Benar."
"Terkurung oleh siapa? "
"Lam kek siang ong."
Im yang Ie su kerutkan keningnya, agaknya sedang memikirkan sesuatu, lama baru ia membuka mulut.
"Asal-usul Naga Merah (Hiat liong cu) merupakan teka-teki besar, tapi teka-teki ini akhirnya tokh akan terbuka juga, jika ia muncul lagi di dunia Kangouw, entah berapa banyak jiwa lagi yang akan binasa ditangannya ....? "
Perkataan yang mengandung arti dalam ini membuat Tan Liong tidak dapat menjajaki apa artinya perkataan Im yang Ie su itu.
Im yang Ie su tertawa dingin, ia berkata pula seperti ditujukan kepada dirinya sendiri.
"Meski aku sudah berdiam dalam kuburan kuno ini selama tiga puluh tahun, tapi semua urusan dalam dunia Kangouw, aku dapat mengetahuinya dengan jelas, didunia Kangouw akan timbul lagi pertikaian hebat, banyak orang rimba persilatan akan terlibat dalam pertikaian itu! "
Tan Liong tergerak hatinya, mendadak ia menanya.
"Apa sebab locianpwee berdiam dalam kuburan kuno ini? Dan apa pula sebabnya harus menggali bangkai-bangkai manusia? "
Belum lagi Tan Liong menutup mulutnya dipermukaan tanah tiba-tiba terdengar tangisan orang perempuan.
Suara itu begitu halus hingga hampir tidak dapat didengar oleh telinga manusia!
Tan Liong juga tidak dengar suara itu, tapi Im yang Ie su sebaliknya dapat mendengar suara yang menyayat hati itu.
Ia lalu kerutkan keningnya, dalam hatinya berpikir.
"Dalam kuburan kuno ini, dari mana ada tangisan seorang wanita?"
Tan Liong agaknya dapat lihat perubahan sikap Im yang Ie su itu, maka ia lantas menanya.
"Locianpwee, apakah yang telah terjadi? "
"Di permukaan tanah ada suara tangisan orang perempuan ... bahkan sangat memilukan hati."
Tan Ling melongo, ia hanya dapat mengatakan.
"Oh,"
Lantas menanya kepada diri sendiri.
"Apakah ada orang mati lagi? "
"Tidak."
Jawabnya Im yang Ie su yang mendengar perkataan itu.
"Ditanah kuburan kuno ini sudah tiga puluh tahun lamanya belum pernah dengar suara tangisan manusia, hari ini nampaknya sangat ganjil."
"Mengapa aku tidak dengar? "
Im yang Ie su pasang telinganya, suara yang menyayatkan hati itu ternyata masih terdengar. Ia lalu mengawasi Tan Liong sejenak kemudian berkata.
"Ciang bun jin, kau duduk dulu sebentar, aku akan keluar untuk melihat apa sebetulnya yang telah terjadi, aku segera kembali ....."
Sehabis berkata ia lalu menekan kenop rahasia disatu ujung lalu terbuka satu lubang.
Im yang Ie su keluar melalui lubang tersebut.
Im yang Ie su begitu tiba di luar kuburan suatu tangisan orang perempuan yang menyayatkan hati lantas menusuk telinganya.
Ketika ia pasang matanya segera dapat lihat di depan kuburan Tan Liong ada berdiri dua bayangan wanita!
Im yang Ie su seperti tersadar, dengan satu gerakan tubuh yang luar biasa cepatnya dari satu tempat kuburan yang sepi ia merayap naik.
Sebentar saja sudah sampai disuatu tempat sejarak tiga tombak di depan kuburan Tan Liong.
Ia lalu sembunyikan diri di belakang sebuah kuburan tua ketika ia pasang mata benar saja segera dapat lihat dua wanita yang masih muda belia berdiri di depan kuburan Tan Liong.
Dua wanita muda itu satu memakai pakaian warna merah yang lain mengenakan pakaian warna putih.
Wanita berpakaian putih itu menangis sedih sekali.
Kedua tangannya membekap wajahnya, ia menangis sambil mengeluh dengan suaranya menyayat hati.
"Sudah mati ...., ia benar-benar sudah meninggal, bagaimana aku bisa hidup lagi .... ? "
Wanita baju merah itu lantas berkata.
"Nona Hoan, kau jangan bersedih, dia sudah meninggal. Kau menangis juga tidak ada gunanya."
Dua wanita muda itu bukan lain daripada Hoan Giok Hoa dan si nona baju merah Teng Chun Kiok!
Hoan Giok Hoa dan Teng Chun Kiok sebetulnya hendak pergi ke gunung Tiong lam san, mereka tidak menduga bahwa di tengah perjalanan telah berjumpa dengan Say phoa an yang telah mengabarkan tentang kematiannya Tan Liong.
Si nona baju merah Teng Chun Kiok karena hendak membuktikan kabar itu betul atau tidak lalu bersama-sama Hoan Giok Hoa pergi ke tanah kuburan itu.
Hoan Giok Hoa yang menyaksikan kuburan Tan Liong dengan mata kepala sendiri, sudah tidak dapat menahan rasa sedihnya, begitulah lantas menangis.
Dalam perutnya ada darah dagingnya Tan Liong atau tidak, meski dia sendiri tidak mengerti, tapi jika benar ada, bagaimana ia dapat hidup terus.
Tidak disangka bahwa pertemuannya tempo hari, telah merupakan perpisahan untuk selama lamanya!
Bagi beberapa wanita yang mencintakan Tan Liong, kematiannya sudah tentu merupakan satu kejadian yang sangat kejam.
Si nona baju merah yang diam-diam juga terpikir hatinya oleh si anak muda, hatinya juga merasa pilu, diam-diam ia juga mengucurkan air mata.
Tapi yang paling sedih adalah Hoan Giok Hoa, karena sejak peristiwa kejadian menyedihkan hati itu ia sudah anggap Tan Liong sebagai suaminya, dan kini laki-laki yang menjadi suaminya belum resmi itu sudah meninggal dunia.
Bagaimana ia tidak sedih?
Ia menangis sampai kering air matanya mendadak ia berkata seperti sudah pikirannya.
"Aku tidak dapat hidup lagi .... enci Teng, aku tidak ingin hidup lagi."
Ia jatuhkan diri didepan kuburan Tan Liong.
Dalam keadaan setengah melamun, ia seperti berada dalam pelukannya Tan Liong.
Bagaimana ia tahu kalau pada saat itu Tan Liong masih dalam keadaan hidup?
Ia menangis begitu sedih, sehingga ingatannya hampir hilang seluruhnya, sekujur badannya mulai kaku, ia sesungguhnya mencintakan Tan Liong dengan setulus hati, tapi orang yang dicinta itu telah meninggalkan padanya untuk selama-lamanya, bagaimana ia tidak sedih?
Seluruh harapannya seolah-olah telah musnah mengikuti Tan Liong ke liang kubur.
Si nona baju merah perlahan-lahan mengusap air matanya, ia berkata dengan suara perlahan.
"Nona Hoan, kau jangan terlalu berduka, sebaiknya kita pikirkan daya upaya untuk menuntut balas. Aku kira inilah tugas kita yang utama."
"Tidak ... tidak ... Enci Teng ..., aku sudah berada dalam pelukannya, Oh! Ia kata padaku, ia kata ... ia cinta padaku untuk selama-lamanya ..."
Si nona baju merah itu tahu bahwa Hoan Giok Hoa pada saat itu pikirannya sudah tidak karuan karena terlalu berduka.
Ia tidak dapat sesalkan dirinya nona itu.
bukankah ia sendiri juga berduka?
Cuma karena ia hatinya kuat ia sanggup kendalikan perasaannya, sehingga tidak unjukkan kesedihannya didepan umum.
Kini setelah mendengar perkataan Hoan Giok Hoa itu, hatinya merasa seperti diiris-iris ...
Namun ia masih teguhkan hatinya, ia coba berkata pula.
"Nona Hoan, mungkin kau benar dalam pelukan Tan Liong, tapi itu bukannya dia melainkan kuburannya. Kau harus tahu ..."
Ia tidak dapat melanjutkan kata-katanya, air matanya mengalir membasahi bajunya.
Adegan yang memilukan hati itu membuat Im yang Ie su yang menyaksikan ditempat sembunyinya juga turut meneteskan air mata!
Ia menghela napas perlahan, kemudian berkata-kata kepada dirinya sendiri.
"Tidak nyana di dalam dunia ini masih ada anak dara yang begitu fanatik cintanya terhadap kekasihnya, Tan Liong sesungguhnya boleh merasa bangga ..."
Sehabis berkata, ia lantas lompat keluar dari tempat persembunyiannya, seolah-olah bayangan setan, menghilang dari permukaan bumi dan balik lagi ke dalam kuburan tempat kediamannya.
Ia segera dapat melihat Tan Liong berdiri di samping, seperti sedang memikirkan apa-apa.
Im yang Ie su tersenyum dan menanya padanya.
"Ciang bun jin, kau sedang memikirkan apa? "
Tan Liong terperanjat, dan menjawab.
"Aku sedang memikirkan jiwaku, apakah benar sudah hidup lagi? "
Setelah itu ia menatap wajah Im yang Ie su kemudian menanya.
"Siapa yang menangis? "
"Dua anak perempuan."
"Kenapa? "
"Karena kekasih mereka telah meninggal dunia."
jawabnya Im yang Ie su sambil tertawa getir. Jawaban yang tidak langsung ini membuat Tan Liong terkejut. Buru-buru ia menanya.
"Mereka itu siapa? "
"Satu she Teng, yang lain she Hoan. Dua gadis itu mungkin kau kenal."
Bukan kepalang kagetnya Tan Liong, kepalanya seperti disambar petir.
"Benarkah mereka? "
"Ya, mereka menangis dikuburanmu."
"Jadi yang menangis itu mereka berdua? "
"Ya, tangisannya sangat memilukan hati."
"Locianpwee, aku ingin keluar untuk menemui mereka."
"Baiklah, kau boleh keluar, tapi kau harus kembali lagi ke tempat ini."
Hati Tan Liong sangat gelisah.
Ia sesungguhnya tidak sangka bahwa Teng Chun Kiok dan Hoan Giok Hoa telah datang kemari.
Ia keluar dari kuburan kuno, setiba diluar ia lalu pasang mata, benar saja dihadapan bekas kuburannya ada berdiri seseorang.
Perasaannya mulai gemetar.
Hoan Giok Hoa cintakan dirinya, ini ada satu hal tak dapat dibantah.
Ia kini perlu memberitahukan kepada mereka bahwa ia sebenarnya belum binasa.
Dengan kecepatan bagaikan kilat ia lompat ke arah gadis itu.
Sebentar kemudian, ia sudah berada kira-kira lima kaki dibelakang mereka, perasaannya yang berkobar, untuk sesaat lamanya membuat ia tidak tahu harus bagaimana membuka mulut!
Si nona baju merah agaknya merasa bahwa dibelakang ada orang.
Dengan mendadak ia membalikkan badannya, tapi ketika ia menyaksikan wajah orang berada dihadapannya seketika lantas menjerit ketakutan dan mundur beberapa langkah!"
Parasnya nampak pucat bagaikan mayat!
Diatas tanah kuburan yang sepi sunyi itu suasananya memang sudah cukup menyeramkan dan kini dalam keadaan gelap itu mendadak muncul seorang dengan rupa yang penuh darah matang dan dagingnya yang hancur bagaimana ia tidak kaget dan menjerit ketakutan?
-o0o0dw0o0o-
Jilid ke .
23 Suara jeritan itu membuat Tan Liong dengan tanpa sengaja meraba wajahnya sendiri.
Mendadak ia merasakan sakit begitupun hatinya juga merasa pedih maka tanpa sadar lantas mundur beberapa langkah!
Si nona baju merah itu setelah kuatkan hatinya ia coba menanya dengan suara gemetar.
"Kau manusia atau setan? "
Pertanyaan itu seolah-olah pedang tajam yang menusuk ulu hati Tan Liong, ia menjawab dengan bingung.
"Manusia ...... setan? ......"
Si nona baju merah itu kini sudah mulai tenang pikirannya, kini ia berani menanya lagi.
"Ya, kau manusia atau setan? "
Apa yang terjadi dalam beberapa detik itu di dalam hati Tan Liong seperti telah berakar dalam, untuk selama lamanya ia tidak akan lupa pertanyaan si nona baju merah ini manusia atau setankah?
Mengingat sampai disitu, kembali dengan tanpa sadar telah meraba wajahnya lagi, ia menggigit bibir dengan hati pilu ia berdiri ditempatnya.
Si nona baju merah menanya pula dengan suara bengis.
"Kalau kau tak menjawab, jangan sesalkan jika aku berlaku tak sopan padamu! "
"Aku adalah manusia, manusia! "
Jawabnya getir.
"Kau manusia? Kenapa berwajah seperti setan? "
Kembali satu jawaban yang menusuk hati. Mendengar itu, Tan Liong perdengarkan suara tawa yang mengharukan, sedang dalam hatinya berpikir.
"Ya, apa yang sudah lalu, biarlah tersimpan dalam hati kita untuk selama-lamanya."
Suara tawa seperti orang gila yang mengharukan seolah-olah hendak melampiaskan semua isi hati dan perasaannya. Suara tawa itu sebaliknya membuat si nona baju merah tercengang.
"Kenapa kau tertawa? "
Demikian ia bertanya. Tan Liong hentikan ketawanya. Dalam waktu beberapa detik itu ia telah mengerti apa yang ia harus perbuat.
"Aku tertawakan kau karena kau mengatakan aku setan! "
Demikian jawabnya.
"Karena wajahmu seperti setan! "
Tan Liong tertegun badannya mulai menggigil.
"Ya, memang wajahku jelek."
Ia berhenti sejenak kemudian menanya.
"Nona-nona berdua disini sedang menangisi siapa?"
Si nona baju merah itu tidak berani menatap muka Tan Liong, ia benar-benar merasa takut dan mual melihat wajahnya yang tidak karuan, ia hanya menjawab sambil tundukkan kepala.
"Ya, kita sedang menengok kuburan seorang sahabat! "
Tan Liong mengawasi Hoan Giok Hoa yang sedang mendekam dikuburan, hatinya pilu ia menanya pula.
"Apa masih terhitung keluarga dekat dengan kalian? "
"Ya, family dekat .... oh, bukan, bukan, bukan family melainkan kekasih! "
Jawabnya si nona baju merah Teng Chun Kiok.
"Kekasihnya .... ? "
"Ya, kekasih dalam hati kita ....."
"Kalian cinta padanya? "
"Kalau kita tidak cinta padanya bagaimana kita bisa berada di sini? "
Jawaban ini hampir saja membuat Tan Liong tidak mampu kendalikan perasaannya lagi, ia kepingin sekali segera memberi tahukan kepada nona dihadapannya itu bahwa ia sendiri adalah Tan Liong.
Tapi ia tahu ia tidak boleh berbuat demikian.
Perlu apa ia harus meninggalkan kesan buruk dalam lubuk hati orang lain sehingga menambah kedukaan mereka?
Dengan matanya yang sudah tidak bersemangat ia mengawasi Teng Chun Kiok sejenak kemudian berkata.
"Kalau arwah dia dialam baka mengetahui ini dia harus merasa bangga.
Tapi kalian juga sudah waktunya untuk pulang, aku telah menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana kekasihmu itu dikubur dalam kuburan ini."
"Kau lihat waktu dikubur? "
"Ya, aku melihat dengan mataku sendiri, sebab aku sendiri sudah tiga atau empat tahun berdiam disalah satu kuburan kuno disini."
Teng Chun Kiok seolah-olah mendapat sesuatu firasat ia lalu menanya.
"Kau kenal dengan kekasihku itu? "
Tan Liong tercengang cepat ia menjawab.
"Kenal, bukankah ia bernama Tan Liong? "
"Tidak salah, ia bernama Tan Liong. Cara bagaimana kau kenal padanya? "
Tan Liong diam-diam terperanjat tapi ia tak kekurangan akal.
"Sebab kita sama-sama pernah disekap dalam kamar tawanan dibawah tanah."
"Kalau begitu apa dia pernah memberi tahukan sesuatu padamu? "
Tan Liong gelengkan kepala.
"Tidak! "
Si nona baju merah itu dengan sinat mata yang tajam mengamat-amati diri Tan Liong dari atas sampai kebawah mendadak alisnya dikerutkan.
"Apa kau bukan Tan Liong?"
Demikian ia menanya tiba-tiba. Pertanyaan itu membuat Tan Liong hampir saja jatuh pingsan, apakah si nona baju merah ini kenal dirinya? "Bukan, aku bukan Tan Liong."
Demikian ia menjawab gugup.
"Tapi, suaramu mirip benar dengan dia."
"Suara belum dapat digunakan untuk memastikan bahwa aku adalah kekasihmu yang bernama Tan Liong, lagi pula apa dia juga mempunyai potongan muka seburuk aku? "
Si nona baju merah itu menghela napas sedih.
"Ya, memang dalam hal itu ia tidak mirip dengan kau. Dia ada mempunyai potongan muka yang amat menarik yang menggiurkan hati setiap wanita yang melihatnya. ....."
Berkata sampai disitu dara manis itu mendadak ketawa kecut atau lebih tepat kalau dikatakan dari seorang yang sedang patah hati! Tan Liong mengawasi paras si nona yang mengharukan itu seraya berkata.
"Nona, kau harus ajak pulang sahabatmu itu, malam sudah tiba jangan sampai ia masuk angin! "
Si nona baju merah ketawa getir, lalu mengawasi Hoan Giok Hoa yang masih mendekam didepan kuburan, ia terpaksa gigit bibir untuk menahan mengalirnya air mata.
Ia berjongkok dan berkata sambil mengusap rambut Hoan Giok Hoa.
"Adik Hoan, mari kita pulang! "
Hoan Giok Hoa yang sudah keletihan telah tertidur diatas kuburan ketika mendengar perkataan Teng Chun Kiok, lalu menjawab dengan suara sedih.
"Kita pulang kemana? Aku tidak mau pulang, tidak. Aku hendak menunggu engko Tan! "
Mendengar suara yang menyedihkan itu, Tan Liong tak tahan lagi hingga mengucurkan air mata.
"Adik Hoan, orang yang sudah mati tak bisa hidup lagi. Arwah engko Tan di alam baka yang mengetahui perasaanmu ini, ia pasti akan merasa bersyukur padamu sekali kau sendiri mati juga tidak ada faedahnya!"
Berkata pula si nona baju merah dengan suara parau.
"Tidak, aku tidak dapat berpisah dengannya."
"Adik Hoan, jika engko Tan mengetahui kau tidak dengar kata seperti ini, ia juga tidak merasa senang, lebih baik kita pulang memikirkan caranya untuk menuntut balas."
"Tidak, aku tidak mau pulang, aku tidak mau pergi dari sini untuk selamanya! "
Si nona baju merah itu agaknya merasa kewalahan tapi masih sabar membujuknya.
"Adik Hoan, jika kau tidak dengar kata-kataku, selanjutnya aku tidak mau perdulikan dirimu lagi, apakah engkau tidak memikirkan menuntut balas bagi engko Tan? "
Paras Hoan Giok Hoa yang masih agak kekanak-kanakan, saat itu sudah penuh air mata, ketika mendengar perkataan si nona baju merah yang terakhir itu, mendadak ia angkat mukanya, perasaannya mendadak menjadi tegang dengan suara tegas ia menanya.
"Siapa yang membunuh mati engko Tan? "
"Tan Chiang Bin, ketua Thian seng hwee."
"Ya, aku harus menuntut balas untuk engko Tan ...."
Mendadak ia merayap bangun, ketika matanya menatap wajah Tan Liong ia lantas menjerit.
"Enci Teng, setan ! "
"Dia bukan setan, tapi sahabat baiknya engko Tan ...."
Jawabnya si nona baju merah.
"Engko Tan mengapa mempunyai sahabat begitu jelek ...."
Kemudian dengan secara mendadak ia berkata dengan suara keras.
"Enci Teng, aku hendak bunuh mati Tan Chiang Bin, aku hendak menuntut balas untuk engko Tan."
Setelah itu ia lantas kabur ke arah Thian seng hwee .... Si nona baju merah terkejut. Ia segera lompat melesat menghadang dihadapan Hoan Giok Hoa.
"Adik Hoan, kau gila? "
"Aku hendak menuntut balas! "
"Menuntut balas? Dengan seorang diri kau mampu menuntut balas? Apa kau hendak antarkan jiwa? "
Hoan Giok Hoa tercengang, ia jatuhkan kepalanya di pundak si nona baju merah lalu menangis tersedu-sedu.
"Enci Teng, bagaimana aku harus berbuat? "
Sambil mengelus-elus rambut Hoan Giok Hoa, si nona baju merah itu menjawab.
"Adik Hoan, kau jangan menangis lagi, hati encimu nanti akan hancur luluh, mari kita pulang."
Dalam suasana yang gelap gulita dan menyeramkan, dua wanita yang hatinya hancur luluh itu, perlahan-lahan menghilang ...
Tapi seorang lagi yang hatinya juga hancur berantakan, masih tetap berdiri ditempatnya bagaikan patung.
Ia seakan-akan kehilangan sesuatu .....
Memang, ia telah kehilangan cahaya dalam hidupnya, oleh karena wajahnya yang sudah rusak ia tidak berani mengakui dirinya sendiri adalah Tan Liong.
Ia anggap Tan liong yang dulu adalah cakap tampan dan gagah, perlu apa ia harus meninggalkan bayangan yang menakutkan dalam hati sanubari mereka?
Sekalipun ia sendiri mengakui bahwa ia adalah Tan Liong, apakah Teng Chun Kiok dan Hoan Giok Hoa mau percaya?
Bukankah mereka telah mengatakan padanya mirip dengan setan?
Kini mereka telah pergi.
Ia berdiri sambil mengawasi berlalunya dua bayangan itu kelopak matanya sudah penuh dengan air mata.
Kebahagiaan semur hidupnya telah dirusak oleh Koan Beng.
Ia yakin bahwa selanjurnya siapa saja yang akan berjumpa dengan dirinya semua pasti akan menganggap padanya setan.
Dari mulutnya Teng Chun Kiok dan Hoan Giok Hoa dapat dipakai sebagai ukuran tentang bentuk wajahnya.
Dalam hidupnya selanjutnya ia akan kehilangan dua wanita itu.
Diam-diam ia berkata kepada dirinya sendiri.
"Semua yang telah lalu biarlah terkubur dalam lubuk hatiku,"
Karena wajahnya yang tampan sudah ada dua wanita telah menjadi korban dan ludas semua keberuntungannya.
Ia balikkan badannya dihadapannya lapat-lapat melihat satu bayangan orang.
Ia tahu bahwa ia sedang menangis maka segera pesut air matanya dan berkata sambil menatap bayangan orang itu.
"Locianpwee ...."
"Mengapa kau tidak mengatakan bahwa kau adalah Tan Liong? "
Im yang Ie su balas menanya.
"Apa guna aku harus meninggalkan bayangan yang menakutkan hati mereka? Tan Liong yang cakap dan ganteng sudah terkubur dalam tanah."
"Kau dapat melupakan mereka? "
"Tidak ! "
"Apa kau cuma lantaran takut meninggalkan bayangan yang menakutkan dalam hati mereka hingga kau tidak berani memberitahukan keadaanmu yang sebenarnya? "
"Ya."
"Kau masih ada kemungkinan untuk memulihkan wajah aslimu."
"Tapi aku lebih suka seperti keadaanku sekarang ini. Locianpwee mungkin tidak tahu karena wajah tampanku dua gadis telah mengorbankan kehormatannya dan merusak keberuntungan seumur hidupnya! "
"Apa kau senang seperti keadaanmu sekarang ini? "
"Ya, bukankah locianpwee sendiri yang telah berkata, bagus atau jeleknya wajah tidak berarti apa-apa? "
"Tapi bagi wanita yang mencintakan dirimu hal ini sangat penting sekali. Sekarang begini saja, sebelum kembali pada wajah asalmu semula, anggaplah dirimu telah mati."
Tan Liong hanya ketawa getir.
Ia tidak menjawab, dalam jiwanya seakan-akan sudah kehilangan musim seminya.
Kini ia hidup seperti hidup dalam musim dingin yang tiada bercahaya.
Im yang Ie su ajak Tan Liong balik ke dalam kuburan kunonya setelah itu lalu berkata.
"Ciang bun jin, tahukah kau, dalam dunia rimba persilatan pada dewasa ini siapa yang namanya paling menonjol? "
"Hiat im cu! "
"Dan siapa yang paling jahat? "
Tan Liong gelengkan kepala. Im yang Ie su kerutkan keningnya, Ia menghela napas dalam-dalam.
"Berbicara tentang kepandaian ilmu silat, kepandaiannya Lam kek Sian ong, sudah tentu tidak dibawahnya Hiat im cu.
Jika aku berhasil melatih ilmuku Im yang thiantee ciang, maka kepandaianku tentunya di atas Lam kek Sian ong dan Hiat im cu."
Ia tersenyum. Kemudian berkata pula.
"Thian seng hwee mengapa ingin menjagoi rimba persilatan? Dalam hal ini ada mengandung suatu hal rahasia, dan rahasia ini hanya si Naga Merah yang dapat menerangkan. Lagi tentang dirimu, sebetulnya tidak begitu sederhana, seperti apa yang kau bayangkan."
Sinar mata Tan Liong menatap Im yang Ie su. perkataan orang tua ini agaknya mengandung arti penting tentang dirinya.
"Locianpwee, bagaimana dengan diriku? "
Setelah berpikir sejenak, Im yang Ie su baru menjawab.
"Ibumu Cui hwa Sian cu, masih mempunyai seorang kakak, mereka berdua kakak beradik, berbareng telah mencintakan Tan Chiang Bin.
Kabarnya diantara tiga orang itu pernah terjadi percintaan segi tiga.
Yang dicintai oleh Tan Chiang Bin bukan Cui hwa Sian cu, melainkan kakaknya Say song go.
Kabarnya ia dengan Say song go pernah mengadakan perhubungan rahasia."
Mendengar perkataan itu hati Tan Liong berdebar keras.
"Apa bukan diriku dilahirkan oleh Cui hwa Sian cu? "
"Aku tidak berani mengatakan demikian, sebab peristiwa ini terjadinya pada dua puluh tahun berselang. Sementara itu, bagaimana tentang dirimu dilahirkan oleh Cui hwa Sian cu atau bukan dan Tan Chiang Bin dengan Cui hwa Sian cu ada mempunyai hubungan suami isteri yang sesungguhnya atau tidak, orang luar tidak dapat mengetahuinya" . Dengan mata kesima Tan Liong memandang Im yang Ie su. Dari keterangan orang tua ini apa ia telah dapatkan sesuatu ... ia sendiri juga tidak tahu. Kembali Im yang Ie su berkata.
"Karena kau sendiri menyebutkan Tan Chiang Bin adalah ayahmu.
maka aku baru ingat kejadian itu sementara benar atau tidaknya kecuali hanya si Naga Merah yang mungkin mengetahui sedikit buat orang lain barangkali Kiu cie Sian kow yang berdiam di gunung Soat hong san juga mengetahuinya.
Tapi bagaimanapun halnya kejadian ini kau juga tidak perlu buat pikiran.
Karena kau sudah berada di sini, aku minta kau melakukan sesuatu."
"Urusan apa Locianpwee perintahkan saja."
"Kitab ilmu silat peninggalan si pengemis sakti pada seratus tahun berselang serta mangkoknya yang dapat digunakan untuk kendalikan bangkai, berarti sekarang bukankah berada ditangannya Hiat im cu? "
"Benar, semua berada dalam tangannya."
"Kau begitu kau harus ambil kembali."
Tan Liong anggukkan kepala.
"Sekalipun Locianpwee tidak mengatakan demikian aku juga akan ambil kembali."
"Ilmu silat yang tertera dimangkok itu, jika diyakinkan oleh Hiat im cu betapa hebatnya bencana yang akan menimpa dunia Kangouw tidak dapat dibayangkan oleh kita semua."
Tan Liong terperanjat.
"Apa Hiat im cu orang jahat dalam dunia Kangouw? "
Im yang Ie su tersenyum.
"Baik atau jahatnya manusia lama kelamaan pasti ketahuan, tapi apa yang aku dapat beritahukan padamu ialah Hiat im cu ada seorang yang susah dimengerti.
Tentang ini nanti kita boleh bicarakan lagi perlahan-lahan, bagaimanapun juga masih ada persoalan rumit sedang berlangsung dan apa yang kau akan lakukan masih banyak sekali."
Dalam otaknya Tan Liong seperti teringat sesuatu maka ia lantas menanya.
"Locianpwee, Hiat im cu itu laki-laki ataukah wanita? "
"Tentang ini siapapun tidak tahu, sekarang aku hendak mengajak kau untuk melihat sesuatu benda, mari kita jalan! "
Im yang Ie su lalu ajak Tan Liong memasuki sebuah kamar yang dibuat secara kusus.
Dalam kamar kuno itu keadaannya seram sekali, disebelah kanannya dan terdapat sebuah kuali besar.
Kuali itu lebar garis tengahnya kira-kira lima tombak.
Tan Liong menyaksikan benda luar biasa itu diam-diam menanya pada diri sendiri apakah yang terdapat didalam kuali itu?
Mendadak ia dengar Im yang Ie su berkata.
"Ciang bun jin, kau terka apa isi dalamnya? "
Tan Liong menggelengkan kepalanya.
"Aku tak dapat menerkanya."
"Kau raba-raba saja sudah cukup."
Tan Liong lantas ulurkan tangannya seketika itu ia terperanjat.
Hawa dingin luar biasa menyerang dirinya.
Hawa dingin itu bukan saja luar biasa dinginnya tapi juga ada mengandung daya membikin berdiri bulu roma hingga seketika itu keringat dingin membasahi dahinya.
Im yang Ie su menanya sambil ketawa.
"D i n g i n ? "
"Ter... la ... lu dingin! "
Jawabnya Tan Liong dengan tubuh menggigil. Im yang Ie su tertawa terbahak-bahak.
"Ini masih belum terhitung dingin, aku nanti perlihatkan padamu, apa isinya kuali ini."
Sehabis berkata ia letakkan sebuah tangga dipinggir kuali besar itu, lalu ia suruh Tan Liong naik untuk melihatnya.
Tan Liong dengan hati bimbang naik ke atas anak tangga dan ketika berada di atas, ia lalu membuka tutup kuali itu, dan ketika ia melongok ke dalam kuali itu ia hampir saja jatuh dari atas tangga.
Kembali badannya menggigil, bayangan yang menakutkan timbul dalam hatinya untuk sesaat lamanya ia berdiri kesima.
Im yang Ie su menanya sambil tertawa.
"Apa isinya? "
"Mayat wanita dan beberapa potong es."
"Tidak salah, dalam kuali ini isinya melulu bangkai orang perempuan, tapi beberapa potong es itu adalah biang es yang usianya sudah ribuan tahun, coba kau hitung berapa jumlahnya bangkai itu" . Dengan menahan rasa dingin yang membuat badannya menggigil dan sambil kertakkan gigi Tan Liong mulai menghitung bangkai-bangkai yang diletakkan dalam kualai besar itu, ternyata yang diletakkan dalam kuali besar itu, ternyata jumlahnya ada 49 buah.
"Semuanya ada empat puluh sembilan buah."
Demikian ia berkata sehabis menghitung.
"Benar, kau turunlah! "
Tan Liong seperti seorang pesakitan yang mendapat ampun, buru-buru ia turun dari anak tangga.
Ia tidak habis mengerti untuk apa Im yang Ie su ini mengumpulkan begitu banyak bangkai orang perempuan.
Im yang Ie su berkata.
"Bangkai-bangkai dalam kuali besar ini kurang satu orang lagi, jumlahnya akan genap menjadi lima puluh. Kalau jumlah itu cukup maka hawa dingin yang menghembus keluar itu kau tidak akan sanggup tahan .... aku ingin engkau setelah nanti keluar dari kuburan kuno ini, meski kepandaianmu belum tentu dapat menandingi kepandaiannya Hiat im cu atau Lam kek Sian ong, tapi setidak-tidaknya bisa berendeng dengan mereka. Tentang ini adalah sekedar untuk membalas budiku terhadap Yo Swie Peng yang dahulu pernah menolong jiwaku. Sekarang kau lihat lagi lain barang" . Seketika itu Im yang Ie su ajak Tan Liong memasuki kamar lain. Dalam kamar itu dibuat sebuah dapur, diatas dapur ada sebuah kuali besar, kuali ini tingginya ada serupa dengan kuali yang pertama. Terdengar pula suaranya Im yang Ie su.
"Coba kau raba lagi."
Tan Liong kembali ulur tangannya, kali ini ia rasakan hawa panas, hingga buru-buru tarik kembali tangannya, hawa panas itu benar-benar luar biasa, maka ia lantas menanya.
"Locianpwee, apa dalam kuali ini juga terdapat bangkai wanita? "
"Bukan, didalamnya cuma terdapat lima puluh bangkai laki-laki, dibawah dapur ada menyala api murni yang keluar dari belerang ribuan tahun lamanya, hawa panas ini kau tak sanggup tahan."
"Hawa panas dan hawa dingin ini apa gunanya? "
"Aku hendak melatih ilmu Im yang thiantee ciang, hawa panas untuk kekuatan Im, masih kurang bangkainya seorang wanita.
Untuk mengumpulkan seratus bangkai manusia aku berdiam dalam kuburan kuno ini sampai tiga puluh tahun lamanya.
bangkai orang perempuan tidak mudah didapatkan, sebab orang-orang yang dibunuh mati oleh orang-orang Thian seng hwee kebanyakan orang laki-laki."
"Adakah karena hendak mencari mayatnya seorang perempuan maka locianpwee menggali kuburanku? "
"Benar."
"Bagaimana kekuatannya ilmu pukulan Im yang thiantee ciang itu? "
Im yang Ie su tertawa bangga katanya.
"Tangan kiri mengandung kekuatan tenaga hawa Im, tangan kanan mengandung kekuatan tenaga hawa Yang, kalau menyerang dengan tangan kiri hawa dingin yang menghembus keluar dari tangan membuat yang diserangnya tak sanggup tahan, sedang hawa panas yang keluar dari tangan kanan hampir dapat membakar hangus diri orang. Jika hawa dingin dan panas dikeluarkan berbareng maka orang yang terkena serangan tersebut dalam waktu setengah jam pasti akan binasa! "
Mendengar keterangan itu Tan Liong terperanjat, katanya.
"Apa benar ada sedemikian hebat? "
"Dikemudian hari kau akan tahu sendiri. Sekarang perlu apa dibicarakan banyak-banyak, yang penting sekarang aku harus mencari lagi mayatnya seorang wanita, agar hawa Im dapat diperkuat dan menjadi berimbang dengan kekuatannya hawa Yang" . Tan Liong diam-diam merasa girang, ia bukan saja lolos dari bencana, bahkan akan mendapat kepandaian ilmu silat luar biasa, hingga dikemudian hari ia boleh mengangkat dada. Pada hari ketiga Im yang Ie su benar-benar telah dapatkan mayatnya seorang wanita, ia lalu memasukkan mayat itu kedalam kuali besar, untuk menggenapi lima puluh buah mayat. Im yang Ie su benar-benar mempunyai hasrat besar untuk menjadikan Tan Liong seorang terlihai dalam dunia Kangouw agar ia menjagoi dunia Kangouw, dan dapat menindas huru hara yang akan timbul di rimba persilatan. Pada hari ke lima belas, Im yang Ie su membuat lubang didinding kuali besar itu menyuruh Tan Liong masukkan tangan kirinya kedalam kuali. Ketika tangan kiri Tan Liong belum sampai kedalamnya, sekujur badannya sudah dibikin menggigil oleh hawa dingin yang keluar dari lubang itu, hingga giginya bercatrukan, tapi ia keraskan hati tangan kiri itu dimasukkan juga. Hawa dingin menyerang ulu hati. Wajahnya menjadi pucat hampir saja ia tidak tahan, hingga tangannya hendak ditarik keluar. Im yang Ie su yang dapat menduga perasaan Tan Liong lalu berkata padanya dengan suara perlahan.
"Jangan tarik keluar tanganmu, sekalipun harus mati kedinginan, juga harus bertahan. Ingatlah siapa yang tahan sengsara, barulah menjadi orang besar."
Ketika hawa dingin itu masuk kedalam tubuhnya, ia cuma merasakan sekujur badannya perlahan-lahan mulai kaku, perasaannya perlahan-lahan mulai hilang ....
Beberapa jam kemudian, seluruh akal budi Tan Liong telah musnah.
Mendadak bau harum menusuk hidung hingga membuat semangatnya terbangun, suaranya Im yang Ie su mendengung ditelinganya.
"Sedotlah bau harum itu, persatukan dengan hawa Im dan Yang setelah kau bikin berputaran sampai tiga puluh enam kali hawa Im lalu kau kumpulkan ke Cit seng-ceng meh."
Setelah Tan Liong menyedot bau harum itu hawa dingin yang masuk ke dalam tubuhnya mendadak berubah menjadi aliran dingin lalu bersatu dengan kekuatan obat yang berbau harum itu memancar kesekujur tubuhnya.
...
Tan Liong lalu menggerakkan kekuatannya ia kumpulkan aliran hawa dingin itu kedalam Cit seng-ceng meh.
Im yang Ie su ketika menyaksikan wajahnya Tan Liong ia lantas berkata sambil ketawa.
"Benar saja tidak tersia-sia semua usahaku. Sekarang hawa Im sudah berhasil kau kumpulkan maka mulailah masukkan hawa Yang."
Tan Liong tarik keluar tangannya, ia hapus peluh yang membasahi dahinya lalu menanya dengan suara terharu.
"Locianpwee, apakah aku sudah berhasil dengan ilmuku Im-ciang? "(tangan dengan kekuatan hawa Im).
"Tidak salah. Im ciangmu sudah berhasil dan sekarang mulailah melatih Yang ciang."
Cara untuk mendapatkan hawa Yang itu sama halnya dengan mendapatkan hawa Im, bedanya cuma hawa panas itu hampir saja membuat hangus padanya sehingga Im yang Ie su memberikan padanya sebungkus obat barulah hawa panas yang luar biasa itu terkumpul dalam Cit seng ceng meh.
Dalam waktu kurang dari satu hari Im yang Ie su telah berhasil merubah Tan Liong menjadi seorang luar biasa dalam rimba persilatan.
Kalau nanti ia muncul lagi kedunia Kangouw orang-orang golongan jahat yang menganggap dirinya lihai pasti akan dibikin kuncup nyalinya.
Im yang Ie su menatap wajah Tan Liong kemudian berkata sambil tersenyum.
"Im yang thian tee ciang sudah kau pelajari dengan baik, sekarang kau duduk aku hendak lihat sampai dimana kekuatan tenaga dalammu. Kau boleh gerakkan tenaga murnimu seputaran saja cukuplah" . Tan Liong menurut, ia lakukan seperti apa yang diminta oleh Im yang Ie su sedang kedua tangan Im yang Ie su diletakkan dibagian dua urat nadi yang bergerak di tubuh Tan Liong. ... Tatkala kekuatan tenaga murni bergerak Im yang Ie su terperanjat.
"Numpang tanya Ciang bun jin, apa kau pernah makan obat mujijat? "
"Aku hanya pernah makan lima tangkai tumbuhan Leng-ci yang sudah ribuan tahun usianya."
"Apa? "
Im yang Ie su terheran-heran.
"Lima tangkai Leng-ci? "
"Ya, secara kebetulan saja aku makan tumbuhan itu."
Im yang Ie su anggukkan kepala dan berkata.
"Benar-benar diluar dugaanku setangkai Leng-ci saja sudah berarti mengandung kekuatan latihan dua puluh tahun dan kau sampai lima tangkai, sungguh hebat. Pantas dalam salah satu bagian dalam tubuhmu ada mengalir kekuatan tenaga murni yang amat kuat, sayang tidak berhasil menembus batas kehidupan dan kematian, kalau tidak kekuatan dan kepandaianmu tiada seorangpun yang mampu menandinginya."
"Apa locianpwee tidak dapat membantu aku untuk menembus batas itu? "
Im yang Ie su geleng gelengkan kepala.
"Kekuatan tenaga dalamku, meski sudah mempunyai latihan seratus tahun lebih tapi tidak berdaya menghadapi kekuatan tenaga murni dalam tubuhmu itu yang ditimbulkan oleh khasiatnya Leng-ci karena kekuatan itu sama dengan kekuatan latihan seratus lima puluh tahun keatas.
Jika tidak ada orang yang kekuatannya seimbang dengan kekuatanmu yang dapat menyalurkan tenaga murni yang amat dahsyat itu ketempatnya yang benar."
"Jika kekuatan tenaga murni yang terhambat disatu bagian itu nanti berhasil melakukan tugasnya serta menggabung dengan hawa Im dan Yang ini apakah kekuatannya bisa berubah semakin hebat? "
"Sudah tentu apabila demikian halnya dalam kolong langit ini mungkin sudah tiada seorangpun yang mampu menandingi kekuatanmu.
Namun demikian dengan kepandaian dan kekuatan yang kamu punyai sekarang juga sudah cukup untuk menghadapi Hiat Im cu.
Nah, sekarang kau boleh pergi."
Tan Liong mendadak merasa berat.
Dalam perkenalan yang tidak cukup satu bulan itu kesannya baik sekali terhadap orang tua aneh itu.
Im yang Ie su agaknya dapat menebak hati Tan Liong, maka ia lantas berkata sambil ketawa getir.
"Ciang bun jin, apa yang kau pikirkan?
Dalam seumur hidupku juga Cuma mempunyai sahabat kau saja seorang, yang boleh dikatakan sahabat yang sebenarnya.
Dalam dunia ini tiada perjamuan yang tidak bubaran, kita berkumpul sudah 19 hari.
Waktu 19 hari itu meski tidak panjang tetapi dikemudian hari tokh kita masih bisa berkumpul lagi.
Selama ini siapa yang dapat menduga kalau tidak terjadi sesuatu dengan Ciong lam pay?
Kau sebagai ketua Ciong lam pay, jaya atau runtuhnya partai itu berada di dalam tanganmu maka kau harus pergi melihatnya kemudian carilah kembali mangkok aneh itu."
"Kekuatan dan kepandaianku cuma seimbang dengan Hiat im cu, tidak dapat mengalahkan padanya, bagaimana aku dapat minta kembali mangkok itu? "
Im yang Ie su tampak berpikir kemudian berkata.
"Mangkok ajaib yang luar biasa itu besar sekali hubungannya dengan keselamatan atau keruntuhannya dunia Kangouw.
Hiat im cu merampas mangkok ajaib itu sudah tentu ada maksudnya, maka biar bagaimana kau harus ambil kembali."
"Dengan cara bagaimana? "
"Kau boleh mencari padanya untuk bertaruh.
Kepandaian Hiat im cu kecuali Lam kek Sian ong, barangkali tiada orang lain lagi yang mampu menandingi kepandaiannya terhadap tingkatan orang-orang muda seperti kau ini.
Ia tak akan pandang mata, kau boleh menggunakan perkataan untuk memancing dia barangkali bisa berhasil."
Tan Liong anggukkan kepala. Im yang Ie su berkata pula.
"Si Naga Merah biar bagaimana kau harus tolong keluarkan padanya, Dalam dirinya orang ini mungkin mengandung rahasia yang menjadi huru-hara didunia Kangouw.
Ada kemungkinan aku sendiri nanti akan cari padanya hanya untuk omong-omong kejadian yang lampau."
"Kalau begitu boanpwee sekarang hendak pergi."
"Ya, pergilah harap kau baik-baik bawa diri nampaknya tugas dan kewajiban untuk menegakkan kebenaran dan keadilan dalam dunia Kangouw, seluruhnya akan jatuh diatas pundakmu."
Ia berhenti sejenak kemudian berkata pula.
"Ada semacam rumput yang dinamakan Seng-kie-co yang dapat menyembuhkan dan memulihkan wajahmu, kau ingat baik-baik rumput itu."
Dengan hati dan perasaan sangat berat Tan Liong meninggalkan tempat yang sangat mengesankan itu.
Ketika ia melangkah keluar dari liang kubur, air matanya mengalir keluar.
Orang tua yang baru dikenal secara tidak terduga itu telah memberikan banyak sekali ilmu.
Dengan mengendalikan perasaannya yang meluap-luap, ia angkat kaki dari situ dalam waktu sekejap mata sudah menghilang di tempat gelap.
Tan Liong tahu bahwa dalam perjalanannya ini pasti akan melalui gunung Ciong lam san.
Selama 19 hari itu, di atas gunung itu mungkin telah terjadi sesuatu.
Keesokan harinya ketika ia jalan dikota Kay-hong tiba-tiba ia lihat tiga bayangan orang yang agaknya tidak asing baginya maka ia lantas menyusul.
Pada saat itu tiga orang itu sudah masuk ke dalam rumah makan.
Tan Liong nampak bimbang sejenak kemudian ia juga masuk.
Semua tamu yang berada dalam rumah makan itu, ketika menyaksikan kedatangan seorang muda yang wajahnya tak mirip dengan manusia itu pada menjerit dan kaget ketakutan.
Tan Liong unjukkan ketawa hambar, ia tak mau ambil pusing.
Semua orang memandang padanya dengan sinar mata terheran-heran, ia hanya mengawasi ke arah tiga orang tadi, mereka bukan lain daripada Cong hay Seng kun, si Pendekar Kalong dan Yan san It hiong.
Cong hay Seng kun bertiga ketika melihat wajah Tan Liong yang menakutkan, juga terperanjat.
Tan Liong lalu mengambil tempat duduk tak jauh dengan tempat duduk tiga orang itu.
Cong hay Seng kun bertiga ketika mengawasi potongan belakang Tan Liong, rasanya seperti kenal tapi mereka tak dapat menyangka bahwa pemuda wajah jelek itu adalah Tan Liong.
Bahkan mereka masih membicarakan dirinya pemuda yang saat itu berada di sampingnya.
Terdengar suara Cong hay Seng kun yang diucapkan dengan perlahan.
"Sungguh tak disangka ketua ciong lam pay telah binasa ditangan ketua Thian seng hwee Tan Chiang Bin nampaknya walaupun partai Ciong lam pay tidak musnah rasanya juga tidak dapat pertahankan kedudukannya lagi."
Suara itu meski halus sekali tapi dalam telinganya Tan Liong kedengarannya jelas sekali. Dalam dunia kangouw semua orang telah anggap ia sudah mati hingga diam-diam ia merasa geli.
"Benar, partai Ngo bie pay juga sudah menggabungkan diri dengan Thian seng hwee tampaknya maksud dan pengaruh Thian seng hwee yang ingin menjagoi dunia Kangouw sudah nyata sekali. Partai kedua yang menerima surat rahasia adalah partai Tiam chong pay bahkan diberi waktu cuma tiga hari harus menggabungkan diri dengan Thian seng hwee, kalau tidak partai itu akan dihancurkan."
Berkata si pendekar Kalong.
"Partai Ciong lam pay hanya tinggal namanya saja, kabarnya orang-orang lihai Thian seng hwee boleh keluar masuk secara bebas diatas gunung Ciong lam san. Dengan sejujurnya Ciong lam pay juga tidak mampu menghadapi Thian seng hwee maka mereka juga tidak berdaya dan terpaksa menahan sabar. Andaikata ketuanya masih ada barangkali tidak sampai mendapat perlakuan demikian."
Katanya Cong hay Seng kun. Pembicaraan dua orang itu telah mengejutkan Tan Liong, betulkah Ciong lam pay musnah ditangan Thian seng hwee? Terdengar suaranya Yan san It hiong.
"Salah satu dari Bu lim San cu ialah Pek lek cu oleh karena kalah taruhan dengan ketua Ciong lam pay ia harus pergi kelautan Pak hay untuk mengambil pedang Hian peng kiam kabarnya telah tertangkap oleh perkumpulan Hian peng kauw. Pek lek cu meski adatnya berangasan tapi sifatnya jujur jika tidak ada orang memberi pertolongan barangkali ia akan binasa ditangannya orang-orang Hian peng kauw" . Ucapan jago dari gunung Yan san itu juga mengejutkan Tan Liong sungguh tidak disangka Pek lek cu telah tertangkap oleh orang-orang Hian peng kauw. Jika terjadi sesuatu atas dirinya Pek lek cu setidak-tidaknya ia harus turut bertanggung jawab juga. Maka ia harus pergi ke Pak hay untuk menolong diri Pek lek cu. Pembicaraan Cong hay Seng kun bertiga kini telah beralih ke lain soal. Tan Liong mendadak teringat bahwa tugas yang diberikan oleh Hiat liong cu masih belum selesai. Orang terakhir yang harus dibunuh, menurut daftar si Naga Merah ialah Cong hay Seng kun ini. Berpikir sampai disitu timbullah minatnya hendak membunuh orang tua itu, sebab kalau tidak berbuat demikian bagaimana ia nanti memberikan laporannya kepada si Naga Merah? Karena itu maka seketika itu dalam hatinya meluap-luaplah napsunya hendak melakukan pembunuhan. Apakah ini ada merupakan permainan tindakannya setelah ia muncul lagi di dunia Kangouw? Untuk si Naga merah ia harus memenuhi janjinya yang terakhir. Tan Liong meraba sakunya, tusuk konde berukir Naga Merah yang diambil dari tubuh Cong hay Seng kun ternyata masih ada dalam sakunya. Tan Liong mengerti ia harus pergi lagi untuk menolong diri si Naga Merah, sebab ia kini telah mengetahui bahwa asal-usul mengenai dirinya sendiri, sebetulnya tidak sedemikian sederhana seperti apa yang ia bayangkan. Menurut keterangan Im yang Ie su dalam dirinya itu ada mempunyai banyak rahasia. Pada saat itu Cong hay Seng kun bertiga sudah selesai makan, mereka bangun dari tempat duduknya, ketika berlalu sengaja lewat disampingnya Tan Liong. Dalam saat itulah, Tan Liong dengan kecepatan bagaikan kilat, selagi Cong hay Seng kun lewat disampingnya, ia sudah tancapkan tusuk konde Naga merah di atas baju sang korban. Tatkala Cong hay Seng kun turun dari atas loteng, kembali terdengar suara tindakan kaki perlahan sekali .. Tan Liong yang duduk dan minum seorang diri teringat beberapa kejadian yang membuat pusing kepalanya. Ciong lam pay yang Cuma tinggal namanya saja hal ini mengecewakan arwah Yo Swie Peng di alam baka, yang telah menyatakan kedudukan ketua kepada dirinya. Ia juga teringat dirinya beberapa gadis cantik yang mencintakan dirinya dan sekarang mereka semua telah menganggap dirinya sudah menjadi setan, sudah tentu tidak dapat mencintai dirinya lagi. Dalam otaknya kini terbayang itu wanita yang tidak beruntung .... Cui Lian. Dengan tanpa sadar ia menggumam sendiri.
"Semua seperti impian ... impian yang sangat kejam."
Ia ketawa kecut, lalu dongakkan kepala dan minum araknya.
Karena lahir dan batinnya menderita ia hendak menggunakan pengaruhnya arak untuk meringankan penderitaannya tapi arak ternyata tak mampu meringankan deritanya.
Mendadak ......
Suara merdu halus bagaikan merayu telah masuk kedalam telinganya.
"Tuan, bolehkah kita duduk disini? "
Tan Liong terperanjat, ia mengangkat kepala dalam pandangannya yang sudah agak kabur terbayang dua bayangan merah ....
Tiba-tiba selagi Tan Liong mengangkat kepalanya, terdengar suara jeritan.
Itu sudah tentu mengagetkan semua tamu yang berada dalam rumah makan itu hingga semua mata ditujukan pada dua wanita muda berparas cantik yang mengenakan pakaian berwarna merah itu.
Ketika mata Tan Liong menatap paras wanita itu pengaruh araknya lenyap seketika.
Ia hampir lompat jatuh dari anak kursinya.
Dua wanita berbaju merah itu ternyata adalah Chie Peng dan Chie Cui!
Ini benar-benar mengagetkan dan mengherankan Tan Liong, bukankah dua wanita itu sudah dilemparkan oleh Lam kek Sian ong kelaut untuk umpan ikan?
Bagaimana mendadak bisa muncul disini?
Bahkan kaget, ia telah memandang dua kakak beradik itu dengan mata kesima tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Chie Cui bisik-bisik ditelinga encinya.
"Enci, orang ini mirip atau tidak dengan ...."
Si adik itu hendak mengeluarkan perkataan setan, tapi sebelum keluar dari mulutnya, Chie Peng sudah mencegah sambil goyangkan tangannya, kemudian ia berkata kepada Tan Liong.
"Tuan, diloteng ini sudah penuh, tiada tempat duduk lagi, bolehkah kita duduk di sini? "
Tan Liong anggukkan kepalanya.
Chie Peng dan Chie Cui lalu duduk di meja Tan Liong.
Dalam otak Tan Liong, pada saat itu kembali terbayang pertemuan-pertemuannya dengan dua kakak beradik itu dirumah makan Thay pek Khek cau, kala itu antara mereka juga duduk berhadapan.
Dan kini, mereka kembali duduk berhadapan satu sama lain.
Semua kejadian yang sudah lalu seperti dalam impian, terhadap wanita yang pernah terjerumus ini, bagaimana meninggalkan satu goresan luka dalam hatinya yang tidak dapat dihapus untuk selama-lamanya.
Dengan hati pilu dan perasaan mendelu ia mengawasi mereka, seolah-olah dari paras mereka hendak mencari kembali semua kenangan yang sudah lalu.
Mengapa mereka belum mati, bahkan muncul disini?
Dan kini duduk berhadapan, tapi walaupun jarak mereka sangat dekat namun diantara mereka seperti terpisah dengan jurang yang sangat dalam.
Diantara mereka bertiga seolah-olah tak kenal satu sama lain.
Seketika itu hati Tan Liong seperti ditusuk oleh pedang tajam.
Ia tidak berani memandang terlalu lama.
Ia seperti lakunya satu pencuri yang sedang dikejar-kejar.
Ia merasa perlu untuk segera meninggalkan tempat tersebut jikalau tidak menghadapi dua wanita yang pernah terjerumus oleh karena dirinya ia akan mati karena tidak sanggup menahan rasa duka.
CHIE PENG dan Chie Cui sudah tentu tidak bisa tahu bahwa pemuda jelek di depan matanya itu adalah Tan Liong.
Sekujur badannya Tan Liong menggigil, karena hampir tidak sanggup kendalikan perasaannya.
Apa yang masih ada dalam hatinya hanya tinggal satu keinginan untuk lari.
Ia ingin segera angkat kaki dari tempat itu makin cepat makin baik.
Tetapi ia tidak dapat berbuat demikian karena goncangan hatinya yang begitu hebat, sehingga kedua kakinya gemetaran.
Chie Peng menyaksikan sikap Tan Liong yang agaknya sedang mengalami penderitaan hebat dalam hatinya merasa tidak enak.
Sedikitpun ia tidak menaruh curiga bahwa pemuda jelek didepan matanya itu adalah Tan Liong yang ia dan adiknya pernah cintakan padanya begitu besar.
Apa sebabnya Chie Peng dan Chie Cui bisa mendadak muncul di kota Khay Hong?
Hal ini nanti akan dituturkan dilain hal.
Karena menganggap pemuda jelek itu mungkin merasa malu terhadap dirinya sendiri maka Chie Peng lantas berkata.
"Tuan, apa dengan adanya kita disini tidak akan mengganggu ketenangan tuan? "
Tan Liong terperanjat ia menjawab dengan suara gugup.
"O, .... tidak .... tidak ...."
Suara Tan Liong itu mengejutkan Chie Peng.
Suara yang tidak asing baginya itu seolah-olah pernah didengarnya tapi ..
ya ..
entah dimana ......
Dengan bingung ia memandang pemuda jelek didepan matanya itu ......
Tan Liong yang dipandang demikian rupa oleh Chie Peng dalam hati merasa malu hingga buru-buru tundukkan kepala dan dahar hidangannya tapi tangannya yang memegang alat sumpit untuk makan telah gemetaran!
Chie Cui meski pernah melakukan perbuatan nyeleweng terhadap kaum kaum laki-laki muda karena terdorong oleh perasaan benci dan gusar yang melampaui batas, tapi biar bagaimana ia ada satu gadis yang bersifat baik dan suci bersih hatinya.
Ia tak berani memandang muka Tan Liong yang jelek dan menyeramkan sebab ia takut muka itu akan memberi kesan buruk padanya.
Chie Peng lalu berkata pula sambil kerutkan kening.
"Jika tuan anggap akan mengganggu ketenangan tuan, sekarang disana sudah ada tempat kosong, biarlah kita pindah saja."
Tan Liong mendadak merasa serba salah, semula ia ingin jauhkan diri dari dua saudara Chie itu tetapi kini setelah dua saudara itu hendak jauhkan diri dari padanya sebaliknya merasa tak enak hati.
Dalam hati kecilnya mengisiki padanya, dan kakak beradik itu tak mungkin kenali dirinya apalagi diingat, mereka telah berkorban untuknya sehingga segala pengharapan dan kebahagiaannya telah musnah, maka adalah menjadi tugasnya untuk melindungi atau memberi bantuan apa saja yang diperlukan oleh meraka.
Seolah-olah tergugah dari mimpinya, hingga seketika itu ia telah mengambil keputusan tepat, Ia ketawa menyeringai kemudian baru menjawab.
"Tidak, aku tidak merasa terganggu. Jika nona takut dengan wajahku yang jelek serta menakutkan ini, boleh saja nona-nona pindah ke lain meja."
Chie Cui lantas berkata kepada encinya.
"Enci, mari kita pindah kesana! "
Chie Peng mendadak seperti dapat melihat ssuatu, dengan tegas ia menyahut.
"Tidak, biarlah kita duduk disini saja."
Pikiran Tan Liong kini sebaliknya menjadi tenang, ia diam-diam telah bersumpah selanjutnya ia akan membantu mereka, untuk menebus dosanya terhadap dua anak perawan yang mengalami nasib buruk itu.
Pelayan rumah makan mengantarkan barang hidangan yang dipesan oleh Chie Peng.
Selagi dahar, Chie Peng mendadak mengajukan pertanyaan kepada adiknya.
"Adik, apa kau masih ingat, dulu ketika kita dirumah makan Thay pek dikota Lok yang, juga pernah duduk berhadapan dengan seorang pria? "
Pertanyaan Chie Peng itu memang sengaja hendak memancing-mancing tapi bagi yang mendengar reaksinya sangat berlainan. Chie Cui merasa heran, sedang Tan Liong hatinya seperti terpukul ....
"Benar, aku masih ingat, tapi .... dia kini sudah meninggal."
Mengapa Chie Peng mendadak mengajukan pertanyaan demikian kepada adiknya?
Karena ia barusan mendengar suara Tan Liong mirip benar dengan suaranya Tan Liong yang ia dulu pernah cintai, maka sengaja ia majukan pertanyaan demikian untuk melihat bagaimana reaksinya, setelah mendengar perkataannya.
Andaikata bukan Tan Liong, ia juga dapat gunakan sebagai bahan pembicaraan.
Ketika mendengar jawaban adiknya itu, ia lantas tersenyum dan berkata.
"Adik, apa kau masih memikiri dirinya? .... Apa kau tidak melihat dirimu sendiri, kini sudah menjadi apa? ...."
Benar juga perkataan sang enci itu, Ia sendiri kini bukan gadis suci lagi, moralnya pernah bobrok, dosanya bertumpuk-tumpuk.
Mengingat dirinya sendiri, matanya merah seketika dan air matanya mengalir turun.
"Enci, kita jangan bicarakan soal itu lagi!"
Demikian katanya sedih. Jantung Tan Liong tergoncang keras ketika mendengar pembicaraan itu. Perkataan sang enci itu ternyata telah melukai hati Tan Liong. Ia lalu pura-pura menanya.
"Apa kalian kematian seorang sahabat? "
"Mungkin masih belum mati ...."
Jawabnya Chie Peng.
"Tidak enci, ia sudah mati. Orang-orang dunia Kangouw semua sudah mengatakan bahwa dia sudah mati bahkan ada orang yang melihat padanya ketika dimasukkan dalam peti mati dan dimasukkan ke dalam kuburan, ini tidak bisa bohong."
Chie Peng tahu bahwa sang adik itu tidak faham maksud yang terkandung dalam perkataannya, maka ia lantas tersenyum dan berkata pula.
"Mungkin ia benar-benar sudah mati."
Tan Liong dengan sikap wajar dan tenang unjukkan ketawanya lalu berkata.
"Sahabatmu itu sungguh tidak beruntung, kalau tidak ia benar-benar sangat bahagia."
"Bolehkah kita menanyakan nama tuan yang mulia? "
Chie Peng mendadak menanya.
"Nama hanya merupakan satu tanda saja, perlu diketahui atau tidaknya, tidak berarti apa-apa, sebaiknya kita jangan bicarakan soal itu sebaliknya aku ingin tanya siapakah nama sahabatmu itu? "
"Ia bernama Tan Liong."
"Tan Liong? Nama sahabat kalian itu bernama Tan Liong? "
Demikian Tan Liong pura-pura kaget.
"Benar. Apa tuan kenal padanya? "
"Kenal, kenal, dalam kamar tahanan kita berada bersama sama, ia benar-benar sudah binasa."
Chie Cui berseru.
"Oh! "
Kemudian menanya.
"Ia pernah berkata apa kepadamu? "
Tan Liong mendadak mendapat satu akal, ia pura-pura menanya.
"Adakah nona-nona seorang she Chie? "
"Benar, dia .... apa dia pernah bicarakan tentang diri kita? "
"Oh!
Pernah ia berkata, satu kejadian yang membuat ia menyesal dan tidak dapat dilupakan untuk seumur hidupnya ialah pengorbanan yang diberikan oleh dua saudara itu kepadanya.
Mereka berdua karena hendak membela keselamatannya telah mengorbankan keberuntungan seumur hidupnya.
Sebetulnya ia masih bisa kabur, tapi ia tidak mau berbuat demikian ia kata, dua saudara Chie itu tidak mau memaafkan dirinya, ia masih banyak menanggung hutang kasih yang ia tidak mampu membayarnya terhadap banyak gadis-gadis maka ia telah mengambil keputusan mati saja untuk membebaskan dirinya dari kesengsaraan batin."
Berkata sampai di situ ia pura-pura menghela napas lalu berkata pula. -o0o0dw0o0o-
Jilid KE . 24
"Laki-laki tampan sama halnya dengan perempuan cantik yang selalu bernasib buruk maka ada lebih baik berwajah buruk seperti aku ini barangkali tiada seorang wanita pun yang menyukai aku dan aku juga tidak dapat seperti sahabatmu itu sehingga meninggalkan penyesalan dalam hidupnya."
Chie Peng berkata.
"Cinta itu adalah suci jika tidak lantaran Yao lie lu diantara kita bertiga sudah tentu tidak akan terjadi peristiwa yang menyedihkan ini.
Tan Liong juga tidak akan mati dengan membawa penyesalan, jika pada kala itu kita mengerti bahwa cinta itu sifatnya adalah memberi bukan mengangkangi barangkali tidak akan timbul kebencian justeru karena benci itu hingga kita telah melakukan banyak perbuatan yang tidak dapat dimaafkan olehnya dan kita sendiri juga merasa menyesal terhadap dirinya."
Ketika berkata demikian bulu matanya yang panjang nampak bergerak dan tetes airmata mengalir turun membasahi pipinya. Hati Tan Liong sangat terharu ia kata.
"Nona tak usah bersedih, aku dengar Tan Liong pernah kata bahwa kalian berdua sudah meninggal bagaimana kini masih hidup? "
Chie Peng menyeka air matanya ia berkata dengan suara sedih.
"Kalau bukan Lam kek Sian ong yang menolong kita mungkin benar kita akan binasa.
Ia telah membawa kita pergi dan tindakannya ini telah membuat kita seolah-olah orang yang tersadar dalam impiannya yang buruk, tapi kesadaran itu datangnya sudah terlambat.
Ebook by .
Dewi KZ, Aditya, aaa, Budi S, Nico kangzusi.com Kita tahu bahwa kita sudah kehilangan segala-galanya, hidup kita sudah tidak ada artinya.
Kalau bukan Lam kek Sian ong asal usul diri kita mungkin kita tidak mempunyai keberanian untuk hidup lagi.
Mulai saat itu ia telah berikan pelajaran ilmu silat kepada kita, ia suruh kita turun gunung untuk menuntut balas."
Tan Liong baru mengerti bahwa Lam kek Sian ong bukan bermaksud hendak membinasakan mereka melainkan hendak menjadikan mereka orang-orang berguna .... Hatinya merasa terhibur, sedihnya mulai berkurang.
"Andaikata arwah sahabatmu itu mengetahui ini juga tidak akan membuat pikiran selama-lamanya."
"Tapi kita sudah tidak dapat minta maaf lagi padanya."
"Asal kalian tidak membenci, maafkan padanya, ia tentu akan merasa senang."
Untuk sesaat ketiga-tiganya terdiam. Setelah hening cukup lama tiba-tiba Chie Peng berkata.
"Harap tuan tidak tertawakan aku, suaramu mirip sekali dengan sahabatku itu."
"Benar? "
Tan Liong pura-pura terperanjat.
"Bukan saja suaranya, bahkan gerak gerikmu mirip sekali, tapi kita yakin kau bukannya dia, karena dia, ...... dia sudah mati."
"Yah, dia sudah meninggal dunia ......, Tan Liong sudah dikubur di dalam tanah.
"Mereka bertiga tenggelam dalam pikiran masing-masing, tapi masing-masing agaknya ingin menemukan apa-apa diatas dirinya.
Tan Liong sekali-kali mengawasi dua bersaudara itu sejenak, lalu berkata dengan suara hambar.
"Nona Chie, aku hendak pergi, semoga kalian selalu bahagia! "
Chie Peng dengan penuh perhatian mengawasi bayangan belakang Tan Liong yang mulai turun dari loteng.
Memang mirip benar dengan Tan Liong.
Ia menghela napas panjang, dalam lubuk hatinya mendadak seperti kehilangan sesuatu.
"Enci, orang itu wajahnya sangat menakutkan."
Chie Cui berkata padanya.
Chie Peng seperti sedang melamunkan sesuatu ketika mendengar perkataan itu, ia cuma anggukkan kepalanya.
Tidak antara lama, tangga loteng tiba-tiba terdengar suara berisik lalu muncul tiga orang dengan sikap gugup.
Dengan acuh tak acuh Chie Peng mengawasi tiga orang itu, hatinya tercekat.
karena mereka itu bukan lain daripada Cong hay Seng kun, si pendekar Kalong dan Yan san It hiong.
Tiga orang itu sikapnya tampak bingung, agaknya sudah dapat lihat tusuk konde Naga Merah yang berada dibajunya Cong hay Seng kun.
Ketika tiba diatas loteng mata Cong hay Seng kun langsung ditujukan ke arah bekas Tan Liong duduk tapi seketika itu ia lantas melongo.
Si pendekar Kalong lantas berkata.
"Barangkali bukan dia! "
Cong hay Seng kun sekujur dahinya penuh keringat.
Ia sungguh tidak menyangka bahwa tusuk konde tanda maut itu berada di badannya untuk kedua kalinya.
Mereka mendadak dapat lihat Chie Peng dan Chie Cui yang dulu pernah menyaru menjadi Naga Merah, dengan serentak dugaannya lantas terjatuh diatas diri mereka.
Tapi Cong hay Seng kun kemudian berpikir pula, Mungkin bukan pebuatan dua perempuan ini sebab tadi aku tidak melihat mereka ....
Biar bagaimana munculnya kembali tusuk konde Naga Merah itu benar-benar sudah mengejutkan tiga orang lihai itu, mereka merasa curiga pemuda wajah buruk yang tadi duduk didekat mereka, Si pendekar Kalong berkata.
"Coba aku tanya kepada dua bocah perempuan ini."
Ia lalu berjalan menghampiri tempat duduk Chie Peng dan Chie Cui.
Chie Peng yang memangnya kenal dngan si pendekar Kalong bertiga maka ketika menampak jago tua itu menghampiri dua duanya tampak terkejut.
Sambil tersenyum si pendekar menanya.
"Nona, numpang tanya apa kalian melihat si pemuda yang berwajah buruk tadi? "
"Dia sudah pergi."
jawabnya Chie Peng sambil ketawa hambar.
"Sudah pergi? Kapan? "
"Kira-kira setengah jam berselang."
"Oh, tapi biarlah kita bicara terus terang, ada sesuatu hal lohu ingin tanya pada kalian berdua."
"Ada urusan apa, kau katakan saja."
"Bukankah kalian berdua pernah memiliki tusuk konde naga merah? "
Chie Peng dalam hati diam-diam merasa heran, lama ia baru menjawab.
"Benar, apa kedatangan kalian bertiga hendak menuntut balas? "
Si pendekar Kalong gelengkan kepala.
"Harap nona jangan salah paham, cuma ada satu hal, kita ingin menanya nona, tidak perduli ya atau tidak, harap nona suka menjawab kita dengan sejujurnya."
Mendengar perkataan itu Chie Peng segera dapat menduga terjadi sesuatu peristiwa luar biasa.
"Jika kita tahu kita pasti akan beritahukan kepada kalian."
"Apa nona berdua menggunakan tusuk konde naga merah lagi? "
Chie Peng diam-diam terperanjat, ia balas menanya.
"Tusuk konde naga merah? "
"Benar"
Paras Chie Peng tampak berubah.
"Apa kalian melihat tusuk konde itu lagi? "
"Benar."
"Kapan? "
"Beberapa jam berselang."
Kejadian diluar dugaan itu, juga mengejutkan dua saudara Chie itu, mereka sungguh tidak mengira kalau tusuk konde tanda maut itu telah muncul lagi.
"Tidak."
Jawabnya Chie Peng tegas.
"Sekarang antara kita dengan tusuk konde naga merah yang dulu kita punya itu sudah diminta kembali oleh Hiat hun Koay po."
"Kalau begitu, itu bukan perbuatan nona berdua? "
"Bukan."
Pendekar Kalong itu tampak berpikir sejenak kemudian berkata.
"Kalau demikian halnya, mungkin ada perbuatan pemuda wajah buruk itu."
Perkataan itu mengejutkan hati Chie Peng serta merta ia menanya.
"Betulkah pemuda wajah buruk itu? "
"Kemungkinan ini memang ada, sebab ketika kita berlalu dari sini, kita lewat disampingnya ia dapat menggunakan kesempatan itu dengan kecepatan luar biasa, menancapkan tusuk konde itu diatas baju Cong hay Seng kun."
"Tapi siapakah sebetulnya dia? Tusuk konde naga merah itu cuma ada dua buah, sebuah berada di dalam tangan Cong lam pay tapi kini dia sudah meninggal dunia, dari mana datangnya tusuk konde naga merah lagi?"
"Aneh, tapi kemungkinan besar perbuatan itu adalah pemuda wajah buruk itu yang melakukan."
"Dia memang ada sedikit aneh."
Munculnya kembali tusuk konde tanda maut itu dengan cepat tersiar luas dikalangan Kang-zsouw, dalam waktu dua hari saja sudah menggemparkan orang-orang rimba persilatan!
Kota Khay hong menjadi gempar, semua partai persilatan telah mengutus orang-orangnya yang terlihai, datang ke kota Khay hong untuk menyelidiki munculnya tusuk konde naga merah itu, entah siapa yang menyematkan diatas dada bakal korbannya?
Waktu malam pada hari kedua, orang-orang dari berbagai partai persilatan sudah tiba semua.
Cong hay Seng kun yang mendapat kehormatan tanda maut untuk kedua kalinya itu nampaknya semakin gelisah.
Chie Peng dan Chie Cui yang berada di dalam kamar rumah penginapannya, juga tidak dapat menduga tusuk konde itu entah siapa yang menyematkannya.
Malam itu cuaca gelap.
Chie Peng melihat cuaca gelap itu, lantas menanya kepada adiknya.
"Adik, apa kita juga perlu pergi menonton? "
"Menyelidiki orang yang menyematkan tusuk konde Naga Merah? "
"Ya, mengapa .....? "
Baru saja ia menjawab mendadak ia dapat lihat berkelebatnya satu bayangan orang diluar jendela, maka dengan cepat ia segera melesat lompat keluar.
Berada di luar, Chie Peng mencari kesana kemari tapi kecuali gelap tak tampak apa-apa.
Pada saat itu, Chie Cui juga sudah memburu sampai dekat jendela.
"Sungguh gesit gerakan orang itu, entah siapakah dia? "
Kedua kakak beradik ini celingukan sebentar.
Chie Peng lantas balik lagi kekamarnya.
Begitu tiba dalam kamar Chie Peng terperanjat, karena entah sejak kapan, diatas mejanya ada terdapat sepotong kertas!
Sungguh hebat, dalam waktu beberapa detik saja orang itu sudah memancing keluar dirinya dan meletakkan kertas diatas mejanya.
Ia lalu ambil kertas itu, diatas kertas itu terdapat tuliasan yang bunyinya seperti ini, Nona Chie, Harap supaya berlaku hati-hati, Hiat hun Koay po dan beberapa orang jagoan Thian seng hwee sudah berada di kamar sebelah.
Tertanda Si Manusia Wajah Buruk.
Isinya singkat saja, tapi cukup mendebarkan hati Chie Peng maka seketika itu juga parasnya lantas berubah.
Bukan kepalang kagetnya, Hiat hun Koay po dan orang-orang Thian seng hwee ternyata tinggal bersama-sama dalam satu rumah penginapan dengannya lagi!
Orang yang mengaku dirinya manusia wajah buruk itu memberi peringatan padanya, sudah tentu dengan maksud baik.
Ia tertawa sendiri, tawanya itu agaknya mengandung sesuatu, tapi ketika ia ingat wajah pemuda yang amat buruk dan menakutkan itu, tertawanya itu lantas lenyap, mendadak ia merasa bergidik.
Ia menghela napas perlahan, dalam hatinya berkata.
"Jelek apa artinya?
Laki-laki tampan bukankah tidak boleh dipercaya hatinya?
Seperti Tan Liong umpamanya ......
asal hatinya baik sudah cukup ......
Berpikir sampai disitu ia ketawa geli sendiri, ia sendiri juga tidak tahu, mengapa bisa memikirkan soal yang demikian.
Chie Cui dengan perasaan heran menanya encinya.
"Enci, kau ketawain siapa? "
Chie Peng merasa jengah mukanya merah. Cepat ia berpaling dan elakkan jawabannya kelain soal.
"Adik, bukankah Lam kek Sian ong telah beritahukan kepada kita, bahwa Hiat hun Koay po itu adalah musuh besar kita? "
"Ya."
"Apakah kau sudah melupakannya? Dia sudah datang"
"Sudah datang? Dimana? "
Chie Cui belum dapat jawaban, dari belakangnya tiba-tiba terdengar suara menyahut.
"Disini ...."
Mendengar suara yang datangnya secara mendadak itu, paras dua dara itu berubah seketika.
Dengan serentak Chie Peng balikkan badan dan ayunkan tangan kanannya, kekuatan tenaga dalam yang amat dahsyat meluncur ke luar dari tangannya menyerang kearah musuhnya tadi ......
Serangan Chie Peng itu sudah cukup dan hebat, ia kira Hun Koay po benar-benar berada dibelakangnya, tapi setelah meluncurkan serangannya tadi terdengar pula suara dibelakangnya.
"Nona Chie, seranganmu ini benar-benar aku tidak sanggup menyambuti."
Suara itu lalu disusul oleh berkelebatnya satu bayangan merah yang lompat menyingkir dari belakangnya. Chie Peng segera dapat lihat siapa orangnya. Dengan sikap dan suara dingin ia berkata.
"Entah ada keperluan apa nona malam-malam datang kemari? "
Orang itu bukan lain daripada si nona baju merah Teng Chun Kiok. Ditegur dengan secara dingin oleh Chie Peng, Teng Chun Kiok lantas mengawasi Chie Peng sambil tersenyum.
"Apa nona Chie masih mengandung maksud permusuhan terhadap aku? "
Pertanyaan yang mengandung dan maksud itu membuat tercengang Chie Peng memang ia pernah membenci nona baju merah ini sebab ia selalu berada disampingnya Tan Liong.
Itulah sifatnya kaum wanita perasaan cemburu yang mengeram dalam kalbu mereka sewaktu waktu bisa meledak apabila kedapatan laki-laki yang dicinta berada bersama sama dengan lain wanita.
Walaupun pada saat itu antara Chie Peng dan Tan Liong sudah merupakan kejadian yang telah lampau tapi perasaan cemburu dan dengki itu tidak dapat dihapus atau dilupakan untuk selama-lamanya.
Begitulah maka ketika Chie Peng dapat lihat Teng Chun Kiok lantas unjukkan sikap dan wajah dingin ....
Si nona baju merah itu ketika menyaksikan Chie Peng berdiri terpaku tidak menjawab pertanyaan lantas ketawa menyeringai dan berkata pula.
"Apa kalian berdua masih belum melupakan dia .... ? "
"Tidak dapat melupakan"
Jawabnya Chie Peng.
"Ya, kita semua tidak dapat melupakan padanya, tapi kini dia sudah meninggal."
"Sudah meninggal ...."
Diwaktu malam yang gelap dibawah sinar lampu yang suram pemandangan itu nampak mengharukan ....
Mereka semua sedang memikir ....
sedang mengenangkan kembali ....
apa yang telah terjadi ....
tapi semua itu sudah lalu ....
seperti halnya dengan setiap kejadian yang pergi datang silih berganti....
apa yang tinggal dalam hati mereka cuma bekas atau bayangannya saja.
....
Mereka saling memandang meski apa yang sudah berlalu itu tetap berlalu dan laki-laki yang mereka cintai itu kini sudah tiada tapi beberapa kejadian yang sudah lalu itu juga membawa kenang-kenangan hangat dalam hati mereka.
Hanya apa yang mereka pikirkan satu sama lain agak berbeda.
Lama sekali baru terdengar suara tarikan napas Teng Chun Kiok yang kedengarannya sangat menyedihkan ....
kemudian ia berkata sambil tertawa getir.
"Kita kecuali mengenangkan dia mengigat-ingat bayangannya sudah tidak dapat berbuat apa-apa lagi, untuk selanjutnya kita sudah tidak dapat lihat wajahnya lagi. Urusan yang sudah lalu, biarlah kita tak usah bicarakan lagi, perlu apa kita membicarakan kejadian yang menyedihkan? Betul tidak? "
"Ya, apa yang sudah lalu biarlah ia berlalu untuk selamanya. Nona ada keperluan apa? "
"Ada sesuatu yang aku ingin menanya kalian berdua."
"Apakah urusan yang menyangkut dengan tusuk konde naga merah? "
"Benar."
"Apa nona anggap itu ada perbuatan kita? "
"Aku justeru berpikir demikian karena itu tusuk konde hanya ada dua buah, satu dalam tangan kalian ...."
"Kita memang pernah mempunyai sebuah tapi sudah diambil kembali oleh Hiat hun Koay po."
"Oh, kalau begitu tusuk konde itu bukan kalian yang menyematkan? "
"Bukan."
Si nona baju merah itu kerutkan keningnya lalu berkata sendiri.
"Aneh, tusuk konde bukan kalian yang menyematkan, dan siapa yang menyematkan? Hiat hun Koay po? Atau si Naga Merah sendiri? "
Tapi ia percaya bahwa kemungkinan dua orang tersebut belakangan ini sedikit sekali sebab si Naga Merah masih dikurung dalam gua sedang Hiat hun Koay po justeru karena mendengar kabar munculnya lagi tusuk konde naga merah itu, baru datang ke kota Khay hong sudah tentu bukan mereka berdua saja.
Dalam tangan Tan Liong ada sebuah tapi kini ia sudah meninggal dunia.
Chie Peng berkata pula.
"Kita juga merasa heran, apakah Tan Liong tak binasa? "
Si nona baju merah gelengkan kepala dan menyahut.
"Ini tak mungkin, Say phoa an dari Ciong lam pay telah menyaksikan dengan mata kepala sendiri bahwa Tan Liong sudah dikubur. Kita juga pernah datang ziarah ke kuburannya, oh, tak mungkin kalau bohong."
"Kalau begitu siapakah pemuda berwajah buruk itu? "
Perkataan itu membangunkan semangat Teng Chun Kiok dengan serentak ia majukan pertanyaannya ....
"Pemuda wajah buruk? "
"Benar, ada satu pemuda berwajah buruk dan menakutkan."
"Kalian pernah berjumpa dengan pemuda berwajah buruk itu? "
"Ya, kita pernah bertemu dengannya bahkan sudah meninggalkan surat peringatan."
Jawabnya Chie Peng dan segera memberikan surat peringatan yang ditinggalkan oleh orang yang mengaku dirinya pemuda berwajah buruk itu.
Setelah membaca isinya surat itu, Teng Chun Kiok kerutkan keningnya lalu berkata.
"Aku juga pernah bertemu dengannya."
"Oh!"
Berseru Chie Peng dengan sinar mata tajam menatap paras Teng Chun Kiok.
"Gerak gerik dan suara orang itu mirip benar dengan Tan Liong, mungkin tidak bohong."
Demikian Teng Chun Kiok berkata.
"Kita semua mengharap dia itu adalah Tan Liong .... tapi bukan dengan wajah yang demikian buruk dan menakutkan."
Mendengar itu semua pada ketawa. Teng Chun Kiok hentikan ketawanya dan berkata.
"Siapa sebetulnya yang menyematkan tusuk konde naga merah itu? Kita harus menyelidikinya. Besok adalah hari ketiga sejak munculnya tusuk konde maut itu."
"Apa dia akan muncul? "
"Sudah tentu, kalian boleh mengaso dulu aku juga hendak pergi."
Si nona baju merah lompat keluar dari jendela, kira-kira satu tombak jauhnya.
Dibawah pohon Yang liu, ia dapatkan Hoan Giok Hoa masih menantikan dirinya.
Selama dua puluh hari itu, gadis yang tak beruntung itu nampak kurus kering dan lesu.
Sejak Tan Liong dikabarkan meninggal dunia setiap hari ia melamun sendiri, lupa makan lupa tidur, apa yang dipikirkan hanya Tan Liong seorang.
Tan Liong mengambil kegadisannya dan kini Tan Liong telah meninggal dunia, bagaimana dia tidak sedih?
Teng Chun Kiok lalu menghampiri dan berkata padanya.
"Adik Hoan, mari kita pulang! "
"Pulang? Kemana? "
Balas menanya Hoan Giok Hoa seperti orang linglung. Teng Chun Kiok merasa pilu, katanya pula dengan suara perlahan.
"Aku juga tidak tahu harus pulang kemana, tapi kita tokh tidak mungkin akan terus berdiri disini, mari kita pulang kerumah penginapan."
"Apa kita sudah tidak cari engko Tan Liong lagi? .... ow! .... ia tidak akan pulang untuk selamanya ...."
Air matanya berlinang, mengalir turun membasahi bajunya. Menyaksikan keadaan yang mengenaskan itu Teng Chun kiok juga mengucurkan air mata.
"Ya, ia tidak akan pulang lagi untuk selama-lamanya, jalan yang menuju ke akhirat itu jauh sekali ....
dalam hidup kita ini selain melihat rumput hijau yang tumbuh diatas tanah kuburannya sudah tidak dapat melihat wajahnya lagi.
...."
"Seharusnya ia menunggu aku, kenapa? Ya, kenapa? Ia musti jalan lebih dulu? Apakah kerajaan di akhirat itu indah? "
"Mungkin juga indah .... tidak, Mungkin sepi .... mari kita pulang ke penginapan."
Sehabis berkata Teng chun Kiok membimbing Hoan Giok Hoa, tapi dia menolak dan berkata.
"Aku tidak mau pergi! Aku hendak menunggu dia ...."
Suara itu ada demikian memilukan, siapa saja yang mendengarkannya pasti akan turut mengucurkan airmata.
Dengan susah payah, si nona baju merah akhirnya dapat membujuk Hoan Giok Hoa pulang ke penginapannya.
Setelah dua wanita muda itu berlalu, seorang pemuda bermuka jelek, yang tidak kalah dukanya dengan wanita tadi, telah berdiri seperti patung mengawasi berlalunya dua wanita itu.
Pemuda muka jelek itu bukan lain daripada Tan Liong.
Paras Hoan Giok Hoa yang pucat pasi terbayang dalam otaknya ....
airmatanya mengalir bercucuran ....
Diam-diam ia berkata kepada dirinya sendiri.
"Nona Hoan, aku akan dapat kembali lagi disampingmu. asal kau cinta aku tapi sekarang aku tidak memberitahukan padamu, bahwa aku masih hidup. ...."
Katanya orang laki-laki tidak mengucurkan airmata?
Itulah bohong, kalau orang laki-laki tidak mengucurkan air mata itu karena belum mengalami kedukaan terlalu hebat, tapi kalau ia sudah menangis lebih sedih daripada orang perempuan.
Tan Liong menangis.
Ia menangis demikian sedih, hatinya seorang gadis putih bersih telah hancur remuk karena dia, bagaimana ia tak sedih?
Perlahan-lahan ia telah meninggalkan tempat yang menyedihkan itu ....
Tindakan kakinya yang berat dan tidak teratur membuat dirinya seperti orang limbung.
Bayangan Tan Liong akhirnya ditelan kegelapan.
.....
Malam berakhir ....
Pagi menyingsing ....
Tapi, pagi itu dengan cepat telah berlalu, cuaca kembali diliputi oleh kegelapan ....
Satu peristiwa yang menakutkan, akan terulang lagi diwaktu malam yang gelap ini.
...
Orang yang menyematkan tusuk konde naga merah, yang menggemparkan dunia rimba persilatan, malam ini akan muncul lagi!
Beberapa bayangan orang yang tidak terhitung jumlahnya, berkumpul dakam pekarangan belakang rumah penginapan Khi Ing, sedang orang yang kedua kalinya mendapat kehormatan mendapat tanda maut itu ....
Cong hay Seng kun tampak sangat cemas, didahinya penuh air peluh.
....
Dengan berlalunya sang waktu suasana makin lama makin gawat.
....
Orang-orang Kangouw yang berkumpul di pekarangan belakang rumah penginapan tampak bergerak perlahan-lahan, semua mata ditujukan ke atas jendela salah satu kamar yang masih terbuka hingga sinar lampunya menyorot keluar.
Semua orang ingin tahu siapakah sebetulnya itu orang yang menyematkan tusuk konde maut yang ke 19 kalinya ini?
Malam itu luar biasa gelapnya kecuali sinar mata dari beberapa orang Kangouw yang berkumpul dalam pekarangan belakang rumah penginapan itu tidak terlihat apa-apa lagi.
Mendadak ......
Suara siulan yang menyeramkan dan menakutkan telah memecahkan suasana sunyi itu, suara itu ada begitu tajam hingga membuat berdiri bulu roma bagi siapa yang mendengarnya.
Setelah suara itu sirap, dari kamar yang masih terbuka jendelanya itu masih tertampak satu bayangan orang melesat keluar dan berdiri dalam kegelapan.
Cong hay Seng kun lantas berkata dengan suara lantang.
"Sahabat darimana sudah datang kemari perlu apa aku main sembunyi? Aku Cong hay Seng kun sudah lama menantikan kedatanganmu."
Suara itu sebentar kemudian sudah ditelan oleh suasana kesunyian.
Keadaan itu hampir serupa ketika Naga Merah tiruan hendak unjukkan diri diselat Bu Siang hiap suasana tetap diliputi oleh keanehan ketakutan dan ketegangan.
Seputar tiga tombak diluar tempat berdirinya Cong hay Seng kun telah dipagari oleh barisan orang-orang Kang-zsouw bagaikan barisan betis, mereka semua ingin dapat menyaksikan bagaimana macamnya orang yang menyematkan tusuk konde tanda maut itu.
Ketegangan membuat semua orang seolah olah susah bernapas.
Tiba-tiba terdengar pula suara siulan yang menyeramkan, suara itu lebih dekat kedengarannya dari yang pertama agaknya berada dibelakang diri setiap orang.
Cong hay Seng kun berkata sambil ketawa.
"Sahabat, perlu apa menakut-nakuti orang kalau kau ada muka ......"
Belum habis ucapan Cong hay Seng kun suara tindakan kaki berkeresekan telah memutuskan ucapannya.
Orang yang menyematkan tusuk konde Naga Merah akhirnya muncul.
Semua orang yang berada disitu pada tujukan matanya kearah datangnya suara gerakan kaki itu.
....
Dari tempat gelap samar-samar terbayang satu bayangan warna merah....
Warna merah dalam gelap nampaknya lebih menyeramkan, bayangan merah itu sesungguhnya penuh keanehan ....
Bayangan merah yang muncul ditempat gelap itu sudah tentu Tan Liong.
Ia ketawa dingin dan berkata.
"Cong hay si setan tua, sebelum kau mati ada perkataan apa yang perlu kau tinggalkan."
Dari antara orang banyak tiba-tiba terdengar suara seseorang.
"Aku ingin lihat kau sebetulnya siapa? Mengapa berani menggunakan Naga Merah? "
Berbareng dengan itu satu bayangan melesat kearah Tan Liong ....
"Hiat hun Koay po kau enyah dari sini!"
Demikian bentak Tan Liong dengan suara yang menggeledek.
Suara bentakan itu mengejutkan Hiat hun Koay po, benar sajalah ia lalu mundur ke belakang.
Suara riuh terdengar dari orang-orang Kangouw yang berada disitu.
Pertunjukan dari suatu pertandingan yang tiada taranya, pasti sangat menarik sebab iblis wanita yang terkenal keganasannya itu juga sudah muncul.
Tan Liong berkata pula dengan nada dingin.
"Hiat hun Koay po kau tahu dirilah sedikit, antara kau dan aku seolah-olah air sumur dan air sungai satu sama lain tak saling mengganggu persahabatan kita."
Hiat hun Koay po ketawa terbahak-bahak.
"Kau sungguh jumawa, aku justeru ingin tahu bagaimana macamnya orang yang berani menyaru sebagai Naga Merah ...."
Belum lagi ia menutup mulutnya tongkatnya sudah digerakkan untuk menyerang Tan Liong. Dicecar oleh serangan Hiat hun Koay po, Tan Liong lantas membentak dengan suara keras.
"Hiat hun Koay po hentikan seranganmu! "
Suara itu seolah-olah mengandung pengaruh besar sekali, Hiat hun Koay po benar saja tarik kembali serangannya.
"Hiat hun Koay po, apakah kau ingin aku membuka rahasiamu, didepan banyak sahabat dari dunia Kangouw ini?"
Tegurnya Tan Liong sambil ketawa dingin.
Perkataan Tan Liong itu seolah-olah air dingin mengguyur kepalanya sehingga iblis wanita itu menggigil seluruh badannya.
Kalau benar orang ini mengetahui rahasianya antara ia dan Naga Merah dan diumumkan dihadapan orang banyak bagaimana ia bisa masih tancap kaki dikalangan Kangouw?
Memikir sampai disitu amarahnya lenyap seketika dan lantas berkata sambil ketawa.
"Baiklah! Pasti ada satu hari Hiat hun Koay po nanti akan mencari kau untuk minta pelajaran darimu! "
Setelah itu ia kembali ketempatnya semula dan berdiri berendeng dengan Ciok Eng Cay dan Lie Cun Hiong, dua orang lihai dari partai Thian seng hwee.
Kedatangan ini benar-benar mengejutkan semua orang yang berada di situ.
Orang dengan pakaian merah itu ternyata dengan mudah dan tanpa mengeluarkan tenaga sedikitpun juga, telah berhasil membikin kuncup nyalinya Hiat hun Koay po.
Tan Liong kembali perdengarkan suara ketawa dinginnya, ia berjalan menuju ketempat Cong hay Seng kun berdiri ....
Tindakan kakinya menimbulkan suara keresekan yang dapat membuat berdiri bulu roma.
Cong hay Seng kun sudah siap sedia menghadapi segala kemungkinan, matanya memandang pakaian merah yang menempel dibadan Tan Liong dengan tanpa berkedip.
...
Tan Liong hentikan tawanya, ia berkata dengan suara dingin.
"Setan tua, sebelum kau berangkat ke akhirat, masih ada urusan apa yang kau perlu tinggalkan kepada keluargamu? "
Pada saat itu si Pendekar Kalong dan Yan san It hiong yang berdiri di belakang Cong hay Seng kun dengan berbareng maju ke depan berdiri berendeng dengan Cong hay Seng kun.
"Sahabat dari mana? Entah ada permusuhan apa dengan Cong hay Seng kun? "
Demikian si Pendekar Kalong menanya. Melihat Pendekar Kalong campur tangan, Tan Liong kerutkan keningnya.
"Tentang ini, sebaiknya tuan jangan tanya. Naga Merah membunuh orang tidak mungkin secara serampangan. Cong hay Seng kun, kau nanti setelah tiba di akhirat, kau akan tahu sendiri sebab musababnya."
Demikian jawabnya Tan Liong dingin.
"Apa tuan-tuan ada pembantu yang diundang oleh Cong hay si setan tua? "
Cong hay Seng kun menjawab sambil ketawa dingin.
"Kalau ya bagaimana, kalau tidak kau mau apa? "
"Kalau ya kau akan dapat dua kawan dalam perjalananmu ke akhirat, kalau tidak, lebih baik kau menyingkir saja.
Sudah, kau tidak perlu banyak bicara, kau ingin meninggalkan pesan apa, kau sebutkan saja jika aku menghitung sampai jumlah tiga, kau masih belum membuka mulut, aku nanti akan suruh kau segera menggeletak di tanah."
Setelah itu ia mulai menghitung, Satu ....
Cong hay Seng kun ketawa dingin, matanya mengawasi Tan Liong yang berdiri terpisah kira-kira setombak dihadapannya.
Ia tetap membungkam, tidak perdulikan Tan Liong.
Tan Liong menyebutkan angka, Dua ....
Susana semakin tegang.
Jika angka tiga sudah keluar dari mulut Tan Liong, sedangkan Cong hay Seng kun masih belum membuka mulut maka Tan Liong segera akan turun tangan akan membinasakan padanya.
Selagi Tan Liong melesat mendekat Cong hay Seng kun, mendadak satu bayangan merah berkelebat menerjang Tan Liong dan melakukan serangan mendadak.
Tan Liong ketika dapat lihat berkelebatnya bayangan merah dan diserang secara mendadak diam-diam juga terkejut.
Dengan cepat ia putar tubuhnya, tangan kirinya bergerak melancarkan satu serangan, sedang mulutnya mengeluarkan bentakan keras.
"Enyah dari sini."
Kali ini Tan Liong menggunakan ilmunya Im ciang, serangannya yang mengandung hawa dingin luar biasa itu, dengan cepat meluncur ke arah bayangan merah itu.
Tidak ampun lagi bayangan merah itu badannya lantas menggigil dan duduk numprah ditanah.
"Dengan kepandaianmu ini kau juga ingin coba mengadu kekuatan dengan Naga Merah sesungguhnya ......"
Demikian Tan Liong berkata tapi sebelum habis ucapannya ia terperanjat ketika matanya dapat lihat wajah orang yang mengenakan pakaian warna merah itu hingga perkataan selanjutnya tidak dikeluarkan lagi.
Ia berdiri kesima karena orang itu bukan lain daripada si nona baju merah Teng Chun Kiok.
Teng Chun Kiok parasnya pucat pasi, jidatnya mengeluarkan keringat dingin badannya menggigil ......
giginya berketrukan ......
Semua orang yang menyaksikan itu terheran-heran tiada seorangpun yang tahu Teng Chun Kiok terkena serangan ilmu apa?
Jika tidak diberi pertolongan dengan cepat si nona baju merah itu pasti akan binasa karena hawa dingin yang menyerang ulu hatinya.
Jika Tan Liong mengetahui bayangan merah itu adalah Teng Chun Kiok tidak mungkin menyerang padanya dengan kekuatan enam bagian.
Namun semua itu sudah terjadi maka ia harus bertindak dengan cepat.
"Setan tua, tahun depan malam ini, adalah ulang tahun kematianmu."
Demikian bentakan Tan Liong.
Cong hay Seng kun, yang masih dikejutkan oleh kejadian tadi mendadak mendengar bentakan Tan Liong itu terkejut hatinya sebentar mendadak gelap matanya, mulutnya menyemburkan darah lalu rubuh ditanah.
Semua itu berlangsung dengan cepat sekali, hingga si pendekar Kalong dan Yan san It hiong yang berdiri disampingnya sudah tidak keburu memberi pertolongan mereka bisa menyaksikan kawannya dibinasakan orang baju merah itu dengan perasaan heran.
Setelah Cong hay Seng kun binasa Tan Liong menghilang lagi kedalam kegelapan.
Si nona baju merah masih dalam keadaan menggigil ia tahu pasti terkena serangan yang mengandung hawa dingin luar biasa maka buru-buru mengeluarkan sebutir pil dimasukkan ke dalam mulutnya kemudian ia bersemedi untuk mengeluarkan hawa dingin dari dalam.
Pil itu ada perbuatan Hiat im cu merupakan salah satu obat mujarab yang dibuat oleh Hiat im cu sendiri.
Dalam waktu sebentar saja hawa dingin itu perlahan-lahan terusir keluar dari dalam badannya.
....
Kita tengok dulu Tan Liong.
Dengan membawa hati dan perasaan berat ia berlalu dari situ, sebentar saja sudah berada disuatu tempat kira-kira setengah lie jauhnya.
Ia kendorkan gerak kakinya, hatinya merasa perih, ia sungguh tak mengira dengan tanpa disengaja sudah melukai dirinya Teng Chun Kiok.
Ia gigit bibirnya, ia sesalkan tindakannya yang terburu napsu, mengapa ia tak melihat tegas lebih dulu barulah turun tangan!
Ia seperti anak kecil yang berbuat kesalahan sedemikian perih dan menyesal perasaannya, sebab Teng Chun Kiok pernah melepas budi padanya.
Dalam hatinya lalu berpikir kecuali pergi menolong padanya sudah tak ada jalan yang lebih baik lagi.
Ia lalu membuka pakaiannya yang berwarna merah dan selagi membuka pakaiannya medadak terdengar suaranya seorang wanita.
"Oh, beginilah kiranya keadaan tuan kiranya, keadaan tuan kiranya yang sebenarnya ......"
Mendengar suara itu wajah Tan Liong berubah ketika ia memandang ke arah datangnya suara itu, dibawah pohon besar terpisah kira-kira satu tombak dihadapannya ada berdiri bayangan seorang berpakaian warna hijau.
Diwajahnya Tan Liong terlintas napsunya ingin membunuh, karena sebagai orang kedua yang muncul didunia Kangouw dengan samaran Naga Merah.
Jika diketahui oleh orang baju hijau ini apa akibatnya?
Maka ia lalu menegur dengan nada suara dingin.
"Kau siapa? Memang benar inilah wajahku yang sebenarnya, tapi sekarang aku hendak bunuh kau ...."
Perkataan yang terakhir itu ia ucapkan dengan suara agak keras dan orang baju hijau itu yang ternyata ada seorang wanita, ketika mendengar perkataan Tan Liong itu, lantas menyahut sambil ketawa hambar.
"Apakah karena aku dapat melihat wajahmu, maka kau hendak bunuh mati aku? "
"Tidak salah! "
Wanita itu dengan suara lemah lembut berkata pula.
"Ah, perlu apa? Aku bersumpah tak akan beritahukan kepada siapapun juga."
"Perkataan kaum wanita, selamanya tidak boleh dipercaya ...."
"Belum tentu tuan, dan lagi pula kita kan sama-sama senasib yang harus mengasihani satu sama lain."
Mendengar perkataan terakhir itu wajah Tan Liong agak berubah, sayang ia tidak dapat lihat dengan tegas wajah wanita itu sebab ia berdiri membelakangi dirinya.
Hanya tangannya saja yang dapat dilihat olehnya, kulit tangannya itu ternyata ada putih halus bagaikan batu kumala.
Selagi Tan Liong masih bingung memikirkan dirinya wanita itu terdengar pula suaranya.
"Tuan jangan kaget, aku hendak pergi ....."
Rasanya masih berkumandang suaranya tapi ternyata orangnya sudah lenyap dalam kegelapan.
Dengan hati mendelu Tan Liong berdiri ditempatnya, kejadian itu terlalu mendadak.
Siapakah wanita baju hijau itu?
Ia ada merupakan orang pertama yang mengetahui dirinya jika ia membocorkan rahasia itu ia nanti akan membinasakan dirinya.
Tan Liong lalu lepaskan pakaian merahnya dan diletakkan dalam alat-alat lebar kemudian berkata kepada dirinya sendiri.
"Selanjutnya aku tidak akan memakai pakaian ini lagi ...."
Tan Liong akhirnya melaksanakan pesan Naga Merah yang terakhir.
Mendadak ia ingat bahwa ia harus segera menolong dirinya Teng Chun Kiok apabila terlambat hawa dingin itu akan membinasakan dirinya.
Selagi hendak berlalu tiga bayangan orang mendadak lari mendekati kejurusannya.
Tiga orang itu ternyata adalah Hiat hun Koay po bersama dua orang lihai Thian seng hwee.
Dengan kecepatan bagaikan kilat Tan Liong segera sembunyikan dirinya ke belakang sebuah pohon.
Pada saat itu tiga orang itu justeru lewat dibawah pohon tersebut.
Sambil membentak keras Tan Liong keluarkan serangannya dari tangan kanan kearah Ciok Eng Cay.
Serangan secara mendadak itu diluar dugaan tiga orang tersebut, mereka sama sekali tidak menduga bahwa dibelakang pohon itu ada sembunyi orang.
Begitu mereka mengetahui Ciok Eng Cay sudah rubuh ditanah dengan mandi darah.
Tidak kecewa Hiat hun Koay po menjadi orang kuat meski menghadapi kejadian hebat secara tiba-tiba tapi ia masih bisa mengelakkan diri bahkan balas menyerang dengan tongkatnya.
Namun Tan Liong sudah mundur sejauh dua tombak selagi Hiat hun Koay po hendak memburu Tan Liong ternyata lebih gesit dari padanya dengan sekali enjot kakinya, orang sudah berada ditempat sejauh sepuluh tombak lebih hanya terdengar suaranya yang mengejek..
"Pulanglah dan beritahukan kpada ketua Thian seng hwee, mulai malam ini dan sekanjutnya, setiap tiga hari aku akan membunuh satu orang Thian seng hwee ...."
Setelah itu ia lantas menghilang ....
Peristiwa yang menggemparkan tentang pembunuhan yang dilakukan oleh Naga Merah telah berakhir.
Tapi tiada seorangpun yang tahu siapa sebetulnya Naga Merah itu?
Ketika Tan Liong balik lagi ketempat terjadinya peristiwa tadi, orang-orang yang datang hendak menyaksikan munculnya Naga Merah, kini sudah berlalu semua, kecuali si pendekar Kalong dan Yan san It hiong yang masih berdiri tegak mengawasi jenasah Cong hay Seng kun.
Tan Liong tercengang, ia tidak lihat dirinya Teng Chun Kiok, mungkin sudah pulang ketempat penginapan.
Ia memandang jenazah Cong hay Seng kun sejenak, lalu menarik napas panjang.
Ia tidak mengerti, apa sebabnya Naga Merah suruh ia membunuh orang tua itu.
Ia menantikan sampai si pendekar Kalong dan Yan san It hiong berlalu, dengan diam-diam mengambil kembali tusuk konde Naga Merah yang berada di dada Cong hay Seng kun, kemudian meninggalkan tempat tersebut untuk pergi mencari Teng Chun Kiok.
Dalam waktu dua hari, Tan Liong sudah berhasil mendapat tahu tempat penginapan nona baju merah itu.
Pada malam harinya, ia lompat masuk ke pekarangan belakang rumah penginapan tersebut ternyata dalam kamar nona itu lampunya masih menyala.
Dengan perasaan tidak tenang, Tan Liong menanya.
"Apa di dalam kamar ada orang ..... ? "
Mendadak jendela terbuka, dari dalam melesat keluar bayangan merah. Tan Liong terkejut dia menanya kepada dirinya sendiri.
"Mengapa dua saudara Chie juga berada disini?"
Seketika itu lantas ia menyapa sambil ketawa hambar.
"Nona Chie, masih kenalkah dengan aku? "
Munculnya Tan Liong secara tiba-tiba diluar dugaan membuat terperanjat dua saudara itu, maka mereka lantas pada mundur dua langkah.
Orang jelek yang aneh ini datangnya seperti hantu malam, sudah tentu mengejutkan mereka.
Wajahnya yang buruk brocelan dan menakutkan, bukankah seperti hantu?
Melihat dua saudara itu berdiri terpaku, Tan Liong lalu menanya lagi.
"Nona nona terkejut karena wajahku yang buruk atau kedatanganku secara mendadak? "
Chie Peng mengawasi wajah Tan Liong sejenak, lantas menjawab sambil kerutkan keningnya.
"Tuan, ingin mencari siapa? "
"Bukankah kalian ada satu sahabat yang terluka? "
Paras Chie Peng nampak berubah.
"Bagaimana kau tahu? "
"Aku lihat ia terluka ditangan Naga Merah."
Chie Peng diam diam berpikir.
"Orang ini benar-benar aneh. Semula kita tidak dapat lihat dirinya, bagaimana ia bisa tahu Teng Chun Kiok terluka ditangan Naga Merah? "
"Kalau begitu, kau hendak berbuat apa?"
Demikian tanyanya.
"Aku pikir jika nona Teng tidak keberatan dengan kepandaianku yang terbatas aku ingin menolong padanya."
"Kebaikanmu ini kita terima dengan banyak terima kasih, tapi ia kini sudah sembuh."
"Sudah sembuh? "
"Ya, sudah sembuh."
Tan Liong gelengkan kepala dan berkata pula.
"Tidak mungkin, paling banter ia cuma bisa mengusir sebagian hawa dingin yang mengeram dalam tubuhnya. Hawa dingin yang sebenarnya ia tidak mampu mengeluarkannya."
Dengan sinar mata tajam Chie Peng menatap wajah Tan Liong.
"Bagaimana kau tahu begitu jelas? "
Bingung juga hati Tan Liong ketika mendengar pertanyaan itu, ia menyesal telah kelepasan omong, tapi ia dapat berpikir cepat, maka ia lantas menjawab.
"Aku lihat ia kedinginan begitu hebat hingga badannya menggigil. Kalau pandanganku tidak salah, dia justeru terkena pukulan Im ciang yang paling lihai diantara berbagai pukulan dalam rimba persilatan."
Dari dalam kamar tiba-tiba terdengar suaranya Teng Chun Kiok.
"Tidak salah, aku memang terkena ilmu pukulan Im ciang. Sahabat ini kalau benar memang bisa mengerti, silahkan masuk! "
Chie Peng lantas berkata sambil tertawa.
"Kita tidak takut tuan akan main gila! "
Setelah itu ia lebih dulu masuk ke dalam, Tan Liong hanya tertawa saja, lalu ikut masuk.
Dalam kamar, ia dapatkan si nona baju merah rebah dipembaringan dengan paras pucat.
Mendadak ia tertegun, matanya dapat lihat Hoan Giok Hoa yang duduk disamping pembaringan sambil menangis.
Jantung Tan Liong terguncang keras.
Ia hampir tak dapat dikendalikan penjelasannya terhadap gadis bernasib malang itu, tapi akhirnya ia kuatkan hatinya, sambil kertak gigi ia tundukkan kepala.
Gerak-gerik Tan Liong ini mengherankan empat wanita itu.
Mereka tidak dapat mengetahui perbuatan pemuda wajah buruk ini agak aneh, tapi mereka tidak dapat mengetahui dengan pasti kalau pemuda itu adalah Tan Liong.
"Tuan kenal dengan Tan Liong?"
Demikian si nona baju merah menanya sambil tersenyum.
"Ya, aku kenal padanya."
"Benarkah dia sudah meninggal? "
Tan Liong berpikir sejenak barulah menjawab.
"Bukankah kalian sudah melihat kuburannya? "
Si nona baju merah itu menghela napas.
"Ya, kita sudah lihat kuburannya, tetapi kita seperti mendapat firasat bahwa ia belum mati dan masih hidup dalam dunia."
"Akupun mengharap semoga dia belum mati."
Pembicaraan telah berhenti, suasana duka meliputi empat gadis jelita, yang masing-masing pernah jatuh CINTA kepada Tan Liong.
Satu kenyataan yang tak dapat dibantah, mereka telah pertaruhkan keberuntungan untuk pemuda itu, tapi akhirnya mereka telah mengalami kekalahan yang mengenaskan.
Satu-satunya pengharapan bagi mereka tidak perduli Tan Liong sudah mati atau masih hidupkah, didalam perjalanan hidup mereka untuk selanjutnya akan tetap mengenangkan cinta mereka dimasa yang silam.
Lama sekali baru terdengar pula suara helaan napas Tan Liong dan kemudian berkata.
"Dia sudah meninggal. Tapi dalam perjalanannya ke alam baka, ia pasti tetap memikirkan kalian."
Ia ketawa getir kemudian berkata pula.
"Nona ini apa terluka di tangan Naga Merah? "
"Tidak salah! "
Jawabnya Teng Chun Kiok sambil menghela napas.
"Aku ingin menyembuhkan lukamu."
Si nona baju merah ketawa hambar.
"Terima kasih atas kebaikanmu tapi Teng Chun Kiok tidak berani menerima budimu."
"Kenapa? "
"Sebab antara wanita dan pria tak dapat bersentuhan."
jawaban ini membangkitkan rasa sedih Tan Liong.
Jika ia tak rusak wajahnya, si nona itu pasti tidak mengucapkan perkataan demikian.
Mendadak ia merasa bahwa ketampanan wajah seorang laki-laki besar sekali artinya bagi kaum wanita.
Entah berapa banyak orang berwajah buruk dalam dunia ini, yang terhina tidak terpandang mata dan mengabaikan kebaikan hati dan tingkah lakunya.
Wajah tampan cuma memberikan perasaan suka bagi orang lain, tetapi laki-laki wajah tampan cuma merupakan penggoda bagi kaum wanita.
Tapi suka duka itu memang sudah menjadi kodratnya wanita, walaupun demikian tidak seharusnya hanyalah menggunakan dari kebagusan atau keburukan untuk mengukur diri seseorang.
"Pada suatu hari aku nanti akan pulih wajahku semula, aku ingin lihat bagaimana kalian nanti perlakukan diriku! ...."
Demikian Tan Liong berkata pada diri sendiri. Lalu ia berkata dan ketawa menyeringai.
"Ya, itu memang benar.
Laki-laki dan wanita tak baik bersentuhan, tetapi bagi kita orang-orang dunia Kangouw, yang kita harus utamakan ialah kejujuran, keadilan dan kebenaran.
Lagi pula meski nona berhasil mengeluarkan sebagian hawa dingin dari dalam tubuh nona, tapi hawa yang sebenarnya masih mengeram dalam bagian terpenting dalam tubuhmu.
Jika dalam waktu sepuluh hari hawa itu tak dikeluarkan dari dalam tubuh kau pasti akan binasa karena hawa itu akan menyerang jantung."
"Oh! Kalau begitu, aku ucapkan terima kasih padamu. Bagaimana caranya mengobatinya? "
"Caranya harus menggunakan hawa murni Goan yang dari laki-laki yang harus disalurkan melalui ...."
Bicara sampai disitu mendadak terdiam ia tak tahu bagaimana harus memberi tahukan caranya si nona baju merah itu.
Si nona mendengar perkataan Tan Liong cuma diucapkan separuhnya lantas mendadak bungkam diam-diam merasa heran.
"Melalui apa? "
Demikian tanyanya.
"Aku .... aku tak dapat menjelaskan! "
Si nona parasnya lantas berubah.
"Kau tak dapat menjelaskan bagaimana harus menobati aku? "
Tan Liong mengerti bahwa nona itu salah paham terhadap dirinya, ia merasa sulit tidak tahu bagaimana harus membuka mulut.
Dengan demikian maka nona baju merah itu lantas anggap pemuda wajah jelek itu ada mengandung maksud jahat terhadap dirinya.
"Kalau begitu silahkan tuan pulang saja."
Demikian si nona berkata pula. Sinar mata Teng Chun Kiok yang dingin, membuat Tan Liong bergidik tapi ia masih coba keraskan hati dan berkata pula, -o0o0dw0o0o-
Jilid KE . 25
"Nona salah paham terhadap niatku, aku bukan tidak mampu menyembuhkan luka nona, hanya caranya tidak dapat menjelaskan terhadap nona."
"Apa caranya ada begitu aneh? "
"Tidak mengandung rahasia apa-apa, cuma harus menggunakan kekuatan hawa murni seorang laki-laki."
Ia berhenti sejenak tapi akhirnya ia menjelaskan juga.
"Harus melalui jalan darah di bawah buah dada dan pusar."
Teng Chun Kiok parasnya berubah seketika.
"Sudah! Apa itu caranya? "
"Tidak salah."
"Terima kasih, tapi aku tidak sanggup menerima kebaikanmu."
"Kenapa? "
"Apa aku harus menyerahkan diriku ditanganmu? "
Perkataan itu seolah-olah sebilah pedang tajam menusuk ulu hati Tan Liong. Sambil kertak gigi ia berkata.
"Nona, jangan salah paham, kedatanganku ini hanya untuk menolong jiwa orang, sedikitpun tidak mengandung maksud jahat. Aku tadi sudah katakan, orang-orang dunia Kangouw harus mengutamakan kejujuran, keadilan dan kebenaran."
"Perlu apa tuan banyak bicara, kau tidak .... pantas ! "
Katanya si nona sambil ketawa dingin.
"Kenapa ....? "
"Lihatlah wajahmu sendiri didalam cermin."
Tan Liong merasa seperti disambar geledek ....... sekujur badannya gemetaran. ....
"Kau lihat wajahmu sendiri pantas atau tidak ....? "
Kata pula si nona baju merah sambil ketawa dingin. Tan Liong seperti diguyur air dingin .... ia menggigil, hatinya remuk .... Dalam telinganya seolah-olah mendapat kisikan.
"Pergilah .... wajahmu ini memang tidak pantas ...."
Ia ingin gerakkan kakinya, tapi kakinya gemetar tidak mau dengar kata. Dalam hati pilu ia menggerutu.
"Ya, aku tidak pantas, hanya Tan Liong yang tepat."
Lalu ia balikkan tubuhnya, ia mengerti harus meninggalkan tempat itu.
Empat pasang mata itu seolah-olah sinar pedang mengancam dirinya.
Ia pilu bukan karena tidak mendapat cintanya si nona baju merah melainkan penghinaan terhadap dirinya.
....
Setelah berada diluar kamar airmata mengalir bercucuran.
Ini ada merupakan satu kejadian yang paling kejam selama hidupnya juga merupakan satu kejadian yang tidak dapat dilupakan untuk selama-lamanya satu penghinaan yang diberikan oleh seorang wanita.
Dan karena kejadian itu ia telah ambil keputusan hendak pulihkan wajahnya semuanya, harus mencari rumput Seng kie co seperti apa yang dikatakan oleh Im yang ie su.
Setelah itu ia lalu ambil keputusan pergi ke gunung Ciong lam san.
....
Peristiwa yang menggemparkan dunia Kangouw sudah berakhir tapi ternyata masih ada ekornya, reaksi yang pertama keluar dari pihak Thian seng hwee.
Menurut dugaan orang-orang Thian seng hwee orang yang membunuh Cong hay Seng kun pastilah orang yang membunuh mati Ciok Eng Cay.
Apa yang mengejutkan orang-orang Thian seng hwee ialah orang itu telah berani mengeluarkan omongan besar bahwa dalam setiap tiga hari pasti akan membunuh mati seorang Thian seng hwee.
Dan orang itu sudah dapat membinasakan Ciok Eng Cay secara mudah, betapa tinggi kepandaiannya, sudah tidak dapat dipandang remeh.
Pada hari kedua ketua Thian seng hwee telah mengutus orang-orangnya yang terlihai untuk menyelidiki orang-orang yang dicurigai didunia Kangouw juga pada hari kedua itu Tan Liong tiba digunung Ciong lam san.
Tan Liong sudah ambil putusan bahwa dalam perjalanannya ke gunung itu merupakan kunjungannya yang terakhir karena ia hendak serahkan jabatan ketua kepada nona Oey Bwee Cian.
Setelah ia menuntut balas Yo Swee Peng ia akan keluar dari partai Ciong lam pay.
Diwaktu senja ketika ia tiba digunung itu mendadak ia ingat ucapannya si pendekar Kalong, Ciong lam pay hanya tinggal namanya saja ....
Apakah ini berarti bahwa diatas gunung itu benar-benar ada orang-orang lihai dari Thian seng hwee?
Jika demikian halnya maka ia hendak sapu bersih orang-orang Thian seng hwee yang berada digunung Ciong lam san satupun ia tidak akan ditinggalkan.
Dengan darah mendidih ia percepat gerak kakinya sekali enjot ia lompat menuju ke pekarangan belakang kuil.
Tatkala ia berada di luar tembok pagar pekarangan ternyata di dalam kuil tampak sunyi senyap.
Satu firasat buruk terkilas dalam otaknya.
Selagi hendak lompat masuk seorang baju kuning menghadang didepannya.
Tan Liong urungkan maksudnya, matanya menatap orang tersebut lalu menanya sambil tersenyum.
"Numpang tanya, adakah paman anak murid Ciong lam pay? "
Orang setengah tua baju kuning itu mengawasi Tan Liong, ia terperanjat dan lompat mundur lantas menanya dengan suara gugup.
"Kau .... kau manusia atau setan? "
Pertanyaan serupa itu sudah biasa dalam pendengaran Tan Liong maka ia tidak merasa heran seketika itu lantas menjawab sambil tersenyum.
"Aku manusia."
"Ada urusan apa tuan datang kemari? "
"Tolong sampaikan kepada wakil pejabat ketuamu, katakan saja ada orang yang berkunjung."
Orang baju kuning itu tampak bersangsi.
"Sangat menyesal pejabat ketua kami tidak menerima tamu."
"Kenapa? "
"Tuan bukan orang dari partai kita tidak berhak menanya."
Tan Liong tercengang benarkah Ciong lam pay sudah dikuasai oleh Thian seng hwee hingga wakil pejabat ketuanya dilarang menemui orang? "Kalau begitu, paman tidak dapat menyampaikan perintahku ini? "
"Bukankah aku tadi sudah katakan, wakil pejabat ketua kami tidak menerima tamu? "
"Kalau begitu, kapan baru dapat menerima? "
"Tentang ini belum ada ketetapannya."
Tan Liong lantas wajahnya berubah.
"Aku perintahkan kau untuk mencari wakil pejabat ketua supaya menemui aku."
Pertanyaan itu sebaliknya membuat orang baju kuning itu terperanjat, seketika itu lantas menyahut sambil ketawa dingin.
"Tuan sesungguhnya terlalu sombong, dengan hak apa kau perintahkan ketua kita untuk menemui kau? "
Tan Liong tertawa terbahak-bahak, dari dalam sakunya dikeluarkan panji tanda kepercayaan Ciong lam pay, lalu berkata dengan suara dingin.
"Dengan ini apa kau berani tidak menurut? "
Orang baju kuning itu ketika dapat lihat panji partainya, bukan kepalang kagetnya. Ia buru-buru berlutut dan berkata.
"Teecu hunjuk hormat, mohon ampun dosa teecu."
Tan Liong ketawa hambar.
"Karena kau tidak tahu, maka kuberi ampun padamu, bangunlah."
Orang baju kuning itu lalu bangun dan sekali lagi memberi hormat kepada Tan Liong, kemudian berdiri disamping. Keadaan sangat berbeda dengan sebelum ia mengetahui panji partai itu.
"Kau menjabat jabatan apa dalam partai? "
Tanya Tan Liong.
"Teecu Kwe Yam San, dalam partai cuma memegang jabatan mengurus anak murid Ciong lam pay yang keluar masuk di atas gunung."
"Aku adalah sahabat ketua partaimu Tan Liong."
"Benarkah ketua kami itu sudah meninggal dunia? "
"Ya, dia sudah meninggal."
Ia ketawa getir, setelah hening sejenak, ia menanya lagi.
"Aku ingin menanya kepadamu, apa kau suka menjawab dengan sejujurnya?"
"Selama beberapa hari ini, ada kejadian apa dalam partai? "
"Sejak ketua partai kita meninggal dunia, karena akibat bentrokan dengan partai Ngo bie pay, sehingga kehilangan banyak tenaga kuat maka partai kita tinggal namanya saja yang masih garang, sebetulnya sudah tidak ada kekuatan.
Ketua partai kita Tan Liong karena bentrok dengan Thian seng hwee membuat partai kita mengalami malapetaka yang terbesar dalam sejarah, seratus jiwa lebih telah melayang.
Setelah ketua kita binasa ditangan orang Thian seng hwee, perkumpulan itu mengirimkan surat ancaman lagi kepada partai kita, apabila tidak menyerah mereka akan menggempur partai kita sehingga rata dengan tanah.
Wakil pejabat ketua kita karena mengingat dalam pertempuran yang lalu sudah kehilangan jiwa seratus orang lebih, kalau harus bertempur lagi pasti akan hancur, dan partai Ciong lam pay selanjutnya akan lenyap dari rimba persilatan!
Maka lantas mengadakan pertemuan kilat, untuk sementara semua murid muridnya disingkirkan dan mengutus beberapa anak murid yang kuat untuk mencari orang pandai, supaya dapat membangun kekuatan lagi dan kemudian mengadakan perhitungan dengan Thian seng hwee.
"Kalau begitu, dalam partai kini masih ada mempunyai berapa banyak orang? "
"Barangkali seratus lebih."
"Wakil pejabat ketua Oey Bwee Cian apa masih ada didalam partai? "
"Masih ada akan tetapi Thian seng hwee telah mengutus seorang lihai yang masih muda belia mengurus semua urusan partai dan memegang hak kekuasaan penuh atas partai Ciong lam pay, hingga ketua kita tidak berdaya sama sekali."
"Apa Chit hiong masih ada? "
Kwee Yam Sian gelengkan kepala.
"Hanya Say phoa an yang masih ada."
"Berapa banyak orang Thian seng hwee di atas gunung Ciong lam pay, maka aku mewakili Tan Liong memerintahkan kau."
"Teecu bersedia menjalankan perintah."
"Urusan ini ada bertalian mati hidupnya partai Ciong lam pay, kalau kau tidak melakukan sebaik-baiknya, Ciong lam pay tak akan bisa bangun lagi untuk selama-lamanya. Nasib Ciong lam pay yang seperti hari ini semua itu ada salahnya Tan Liong, tapi soal ini baik jangan bicarakan lagi. Soal yang penting pada dewasa ini ialah kau jangan bicarakan kepada siapa saja tentang diriku, jika ada orang menanya katakan saja bahwa aku adalah sahabatmu. Selain dari pada itu kau perintahkan Say phoa an untuk menjumpaiku secara rahasia, aku hendak bunuh mati semua orang Thian seng hwee yang diutus untuk menguasai Ciong lam pay."
"Apa? kau hendak bunuh mati semua orang Thian seng hwee? "
Bukan kepalang kagetnya orang she Kwee itu. Ia menatap wajah Tan Liong seketika lamanya.
"Tidak salah, aku hendak bunuh mati itu empat puluh orang namun jangan sampai diketahui oleh Thian seng hwee."
Kini diwajah Tan Liong tampak tegas kemarahannya sehingga orang she Kwee itu diam-diam keluarkan keringat dingin.
"Ingat pesanku! "
Kata pula Tan Liong.
"Kepada siapa saja kau jangan mengatakan bahwa aku adalah sahabat ketua kalian, jikalau tidak, aku nanti akan bunuh mati kau lebih dulu, ingatlah itu baik-baik."
"Teecu menurut! "
"Nah, mari kita masuk."
Kwee Yam Sian lalu mengantarkan Tan Liong masuk kedalam kuil.
Sepanjang jalan Tan Liong menyaksikan keadaan sunyi senyap.
Menyaksikan keadaan demikian Tan Liong merasa pilu.
Ciong lam pay telah mengalami nasib sedemikian rupa, bagaimana ia merasa enak terhadap Yo Swie Peng?
Kini anak murid Ciong lam pay yang masih belum meninggalkan gunung Ciong lam pay juga cuma kaum wanita dan anak-anak.
Pada saat itu sesosok bayangan orang mendadak lari dan mendatangi.
Kwee Yam Sian yang menyaksikan itu, lantas berhenti dan berkata dengan suara perlahan.
"Ada orang Thian seng hwee datang! "
Orang itu sebentar saja sudah berada dihadapan Tan Liong.
Dengan menggigit bibir Tan Liong mengawasi orang tersebut, ternyata adalah seorang lelaki brewokan.
Lelaki brewokan itu mengawasi Kwee Yam Sian sejenak, kemudian mengawasi Tan Liong.
Ia kaget dan lompat mundur setindak lalu menanya kepada Kwee Yam Sian.
"Siapa dia? Mengapa kau tidak memberi laporan lebih dulu sudah ajak masuk kedalam secara lancang? "
Kwee Yam Sian menjawab sambil senyum.
"Dia adalah kemenakanku, yang datang dari jauh untuk menengok aku, karena soal kecil yang tak berarti aku tidak berani merepotkan tuan."
Mungkin merasa muak melihat wajah Tan Liong yang menakutkan maka ia tidak ambil tindakan apa-apa.
"Selanjutnya tidak perduli siapa saja yang naik keatas gunung harus lapor lebih dulu! "
Setelah itu lalu ia meninggalkan mereka, masuk menuju ke ruangan pertemuan Tiang gie tian. Tan Liong berkata sambil ketawa dingin.
"Malam ini orang pertama yang kubunuh ialah lelaki brewok tadi! "
Kwee Yam Sian ajak Tan Liong masuk ke dalam sebuah kamar rahasia.
Tan Liong lalu perintahkan supaya memanggil Say phoa an untuk menjumpai padanya.
Kwee Yam Sian terima baik perintah itu, ia pergi keruangan "Tiang gie tian".
Beberapa jam kemudian Kwee Yam Sian balik kembali.
Tan Liong yang tak lihat Say phoa an lalu menanyakan kepadanya.
"Bagaimana dengan dia? "
"Say phoa an pada saat ini tak dapat melepaskan diri! "
Jawab Kwee Yam Sian sambil kerutkan keningnya.
"Kenapa? "
"Sebab, wakil ketua Thian seng hwee Siao hun lie hari ini tiba disini, sekarang ada di dalam Tiang gie tian, ia tidak ijinkan Say phoa an berlalu, bahkan paksa padanya masuk kamar rahasia. ...."
Kwee Yan Sian mendadak tutup mulut, ia telah dapat lihat mata Tan Liong mengeluarkan sinar menakutkan.
"Apa benar Siao hun lie berada di atas gunung? "
"Tidak salah, ia paksa Say phoa an melakukan perbuatan tidak senonoh. ..."
"Seorang perempuan tak tahu malu, kalau aku tak bunuh mati padanya bagaimana dapat melenyapkan kebencianku? "
Ia mengawasi Kwee Yan Sian sejenak lalu menanya pula.
"Oey Bwee Cian sekarang berada dimana? "
"Di ruangan Tiang gie tian."
"Dia juga berada di Tiang gie tian? "
"Ya, itu pemuda dari Thian seng hwee yang memegang hak atas pimpinan partai Ciong lam pay telah paksa Oey Bwee Cian agar menikah dengannya."
"Pemuda itu siapa namanya? "
"Koan Beng."
"Koan Beng? "
Wajah Tan Liong pucat seketika ia sungguh tidak mengira bahwa orang yang berkuasa atas partai Ciong lam pay ternyata adalah Koan Beng.
"Aku hendak bunuh padanya. Ia telah merusak wajahku ...."
Demikian Tan Liong berkata kepada diri sendiri.
"Aku hendak bunuh mati mereka berdua."
Demikian katanya kepada Kwee Yam Sian.
Tatkala keluar dari kamar sembunyinya, cuaca sudah gelap, ia lompat melesat dengan kecepatan bagaikan kilat lari ke ruangan Tiang gie tian.
Saat itu baru waktu orang-orang dahar malam, hingga Tan Liong dapat bergerak dengan leluasa.
Ia mengenal baik keadaannya dalam Tiang gie tian, dengan cepat menuju ke pekarangan belakang, tempat itu keadaannya tampak sunyi sekali.
Dalam sebuah kamar disamping kiri, tampak lampu menyala.
Tan Liong bersangsi sejenak kemudian lompat ke atas , dengan gesit sekali melayang turun keatas jendela.
Dari dalam kamar tiba-tiba terdengar suara orang ketawa cekikikan, suara itu adalah suaranya Siao hun lie.
Tiba-tiba terdengar pula suaranya Say phoa an.
"Aku mau .... aku ...."
Seketika wajah Tan Liong berubah pucat.
Ia tahu Say phoa an pasti sudah diberi makan obat Siao hun san oleh Siao hun lie hingga berada dalam keadaan mabuk ....
Sambil menahan napas dan kertak gigi, ia membuat lubang di kertas jendela, ketika matanya melihat ke dalam ia lantas berdiri terpaku.
Suatu pemandangan memualkan berada di depan matanya.
Melihat wajahnya Say phoa an ia segera tahu bahwa pemuda itu sudah makan obat mabok Siao hun san buatan Siao hun lie.
"Perempuan cabul ini harus disingkirkan."
Demikian ia berkata kepada diri sendiri.
Tapi ia sadar bahwa pada saat itu ia tidak boleh bertindak sembarangan, kalau tidak Say phoa an nanti akan mati konyol.
Mendadak dalam otaknya terlintas suatu persoalan yang sangat penting.
Soal ini ada bertalian dengan mati hidupnya partai Ciong lam pay.
Dengan cepat ia sudah dapat suatu pikiran, bagaimana ia harus bertindak.
Dalam kamar terdengar suaranya Siao hun lie dan ketawanya yang genit.
Setelah itu terdengar suaranya wanita genit itu lagi.
"Manis, kau mengasolah sebentar, tentu kau masih letih ...."
Tidak antara lama lalu terdengar suara pintu terbuka, Siao hun lie berlalu.
Dengan kecepatan bagaikan kilat Tan Liong lompat masuk dari jendela dan menyambar tubuh Say phoa an yang kemudian dibawa keluar lagi.
Kwee Yam Sian kuatir akan terjadi apa-apa atas diri Tan Liong, ia mencari kemana-mana.
Ketika ia dapat lihat Tan Liong berlari-larian sambil memondong tubuh Say phoa an seketika berdiri kesima.
Tan Liong lalu berkata padanya dengan suara perlahan.
"Mari, lekas balik ke kamar rahasia! "
Kwee Yam Sian mengikuti Tan Liong balik kekamarnya. Say phoa an karena makan obat mabuk Siao hun san, bukan saja sudah kehabisan tenaganya, juga masih belum sadar akan dirinya.
"Dia telah makan obat Siao hun san buatan Siao hun lie hingga kehabisan tenaga.
Sungguh tidak disangka seorang yang begitu bersetia kepada partai Ciong lam pay telah mengalami nasib sedemikian rupa ...."
Berkata Tan Liong kepada Kwee Yam Sian. Karena hatinya merasa pilu hampir saja ia mengucurkan air mata. Tapi ia dapat menindas perasaannya, akhirnya ia berkata pula.
"Tapi segalanya sudah terjadi, sesal juga tidak berguna. Sekarang kau lekas sadarkan padanya, ada sesuatu hal yang aku perlu harus beritahukan padanya."
Dengan cepat Kwee Yam Sian memberi pertolongan yang diperlukan. Tidak antara lama Say phoa an sudah mulai segar kembali.
"Siauw Hiantee, apa kau merasa baikan? "
Tanyanya Kwee Yam Sian perlahan.
Say phoa an yang sudah kena pengaruhnya obat mabuk, ia sendiri sudah tidak tahu apa yang terjadi atas dirinya.
Ketika mendengar pertanyaan itu dengan mata sayu ia memandang Kwee Yam Sian lama baru menyahut.
"Apa sebetulnya yang terjadi atas diriku? "
"Kau sudah menjadi korbannya Siao hun lie."
Jawabnya Tan Liong. Say phoa an lalu berpaling ke arah Tan Liong mendadak ia terperanjat hampir lompat dari tempat tidurnya .... lalu dengan suara gugup ia menanya.
"Kau .... kau ada."
Kwee Yam Sian lalu nyeletuk sambil tersenyum.
"Lotee, kau jangan kaget, tuan ini adalah sahabat ketua kita, kalau bukan dia, mungkin kau masih dalam kekuasaan Siao hun lie."
Say phoa an mulai hilang kagetnya. Ia lantas berkata sambil ketawa.
"Maafkan kesalahanku."
"Tidak perlu banyak peraturan."
jawabnya Tan Liong sambil tersenyum, kemudian ia berpaling dan berkata kepada Kwee Yam Sian.
"Kau carikan pakaian untuk ia pakai! "
Say phoa an segera mengerti apa yang telah terjadi atas dirinya. Ia lalu lompat bangun dan berkata dengan suara gusar.
"Aku harus bunuh mati wanita yang tidak tahu malu itu."
Saat itu Kwee Yam Sian sudah kembali dengan membawa pakaian warna kuning.
Setelah memakai pakaiannya, Say phoa an tampak semakin kalap, seolah olah sudah hilang kesadarannya, dengan tanpa pamit lagi ia sudah lompat keluar.
"Say phoa an, kembali! "
Demikian Tan Liong berseru. Seruan itu agaknya berpengaruh. Say phoa an benar-benar sudah hentikan kakinya dan lalu menanya.
"Ada apa kau suruh aku balik? Aku hendak bunuh wanita cabul itu."
"Sekalipun kau tidak bunuh mati, padanya aku juga hendak ambil jiwanya, tapi sekarang aku suruh kau kembali."
"Dengan hak apa kau perintah aku? "
"Dengan panji partai Ciong lam pay ini! "
Jawabnya Tan Liong yang segera mengeluarkan panji dari dalam sakunya. Ia angkat tinggi panji kecil itu, Say phoa an pucat seketika. Ia buru-buru berlutut dan berkata.
"Teecu hunjuk hormat."
"Apa kau berani melawan perintah? "
Tanya pula Tan Liong dingin.
"Teecu tidak berani! "
"Kalau begitu bangunlah! "
Tan Liong simpan kembali panjinya. Say phoa an lantas bangun dan berdiri disamping dengan sikap menghormat. Dengan suara sungguh-sungguh Tan Liong berkata.
"Aku adalah sahabat Tan Liong, ketua kalian sebelum menutup mata. Ia telah meninggalkan pesan padaku, maka aku harus penuhi janjiku untuk melaksanakan pesannya. Partai Ciong lam pay kini hanya tinggal namanya saja, kalau tidak diurus baik-baik Ciong lam pay selanjutnya tidak akan bangun lagi...."
Ia berdiam sejenak, lalu berpaling dan berkata kepada Kwee Yan Sian."
Segera perintahkan kepada murid-murid partai kita, dalam waktu tiga hari, harus menyediakan empat puluh buah peti mati."
Kwee Yan Sian terperanjat, tanyanya.
"Empat puluh buah peti mati? "
"Tidak salah, empat puluh buah peti mati tapi urusan ini kalian harus pegang keras rahasianya! "
Kwee Yam San tidak mengerti, apa maksudnya pemuda itu suruh menyediakan empat puluh buah peti mati, dan untuk apa sebetulnya?
Tapi ia tidak berani membantah, maka lantas anggukkan kepala terima baik perintah itu.
"Kau perintahkan orang-orang itu setelah selesai membuat peti mati itu, lalu kirim murid-murid kita sebanyak mungkin, supaya pergi ke perbagai tempat, untuk menyampaikan perintah, agar semua anak murid partai kita dalam waktu sepuluh hari harus balik ke gunung."
"Mencari kembali anak murid partai kita? "
Tanya Kwee Yam Sian kaget.
"Ya, hal ini jangan sampai bocor rahasianya! "
Kwee Yam Sian anggukkan kepala.
"Nah, pergilah! "
Perintah Tan Liong.
Kwee Yam Sian memberi hormat kepada Tan Liong lantas undurkan diri untuk melakukan tugasnya.
Setelah Kwee Yam Sian berlalu, Tan Liong lantas berkata kepada Say phoa an sambil tersenyum.
"Tidak kecewa tuan mendapat gelar Phoa an pantas Siao hun lie sampai tergila-gila padamu."
Digoda demikian Say phoa an merah mukanya. Ia lantas menanya.
"Entah Ciang bun jin hendak memberi perintah apa pada teecu? "
"Aku bukan Ciang bun jin karena Ciang bun jin kalian sudah meninggal. Untuk selanjutnya aku tidak ijinkan kau sebut aku Ciang bun jin. Aku hanya sahabat Ciang bun jinmu, tahu tidak? "
"Teecu tahu! "
"Say phoa an, di dalam partai kau ada menjabat jabatan apa? "
"Teecu sebagai tiancu atau pengurus ruang pertemuan."
"Kalau begitu kau ingin lihat Ciong lam pay bangun lagi dari tanganmu atau tidak? "
"Teecu adalah anak murid Ciong lam pay sudah tentu merasa bertanggung jawab atas nasibnya Ciong lam pay, sekalipun harus korbankan jiwa juga tak sayang."
"Itu bagus. Ciong lam pay akan tetap berdiri atau tidak tergantung pada kau!"
"Tergantung padaku? "
"Ya! Kecuali kau, orang lain tidak mampu melakukannya! "
"Ciang .... eh, tuan hendak memberi perintah apa, silahkan aku si orang she Siauw sekalipun harus mati juga tidak akan menolak! "
"Kau cinta Siao hun lie atau tidak? "
Say phoa an wajahnya berubah seketika, katanya sambil ketawa dingin.
"Tuan tidak perlu main-main."
"Aku bukan main-main, aku menanya padamu? "
"Aku hendak bunuh mati padanya! "
"Tapi, sekarang kau tidak bisa bunuh padanya! "
"Kenapa? "
Tan Liong berpikir sejenak, baru menjawab.
"Aku minta kau mencintainya ...."
Kembali Say phoa an wajahnya berubah lalu berkata dengan suara keras.
"Kalau kau berani mengoceh tidak karuan lagi, jangan sesalkan kalau aku berlaku tidak sopan padamu."
"Kau jangan salah paham, dalam urusan ini aku minta sedikit pengorbanan darimu, untuk kepentingan Ciong lam pay. Kau harus berpura-pura cinta padanya, sebab kau diperlukan harus bisa memasuki pusat perkumpulan Thian seng hwee, untuk menolong dirinya seseorang! "
"Siapakah dia? "
Tan Liong tidak menjawab pertanyaan Say phoa an, ia berkata pula.
"Saat ini Siao hun lie sedang membutuhkan kau, maka kau harus ingat, sedapat-dapatnya kau harus pura-pura hendak mengkhianati Ciong lam pay.
Cari kesempatan untuk memberitahukan maksudmu hendak ke lembah Lui in kok.
Dan setelah kau berada di sana, kau mencari kesempatan untuk menanyakan padanya dimanakah tempat tawanan Chio bin Ie hiap?
Kalau kau sudah tahu, maka berusahalah kau bebaskan padanya.
Say phoa an terperanjat.
"Chio bin Ie hiap juga disekap oleh Thian seng hwee? "
"Maka itu kau harus korbankan dirimu, untuk kepentingan Chiong lam pay kau harus pura-pura unjukkan sikap membenci kepada Chiong lam pay, dan berdaya upaya mendapat kepercayaan orang-orang Thian seng hwee.
Setelah berhasil membebaskan Chio bin Ie hiap, lalu minta padanya obat peledak."
"Obat peledak? "
"Tidak salah, obat peledak, disini aku ada sepucuk surat, kau berikan padanya."
"Untuk apa obat peledak? "
"Nanti kau akan tahu sendiri sekarang jangan banyak tanya, urusan ini kau sanggup lakukan atau tidak? "
"Sanggup! "
"Hari ini tanggal berapa? "
"Tanggal sepuluh bulan sepuluh."
"Dalam waktu lima hari kau harus sudah dapat ambil obat peledak itu, dan segera pulang ke gunung.
Pada tanggal sembilan bulan sembilan nanti, adalah upacara Ciang bun jin kalian untuk terima jabatan itu."
"Upacara serah terima jabatan Ciang bun jin? "
"Tidak salah, nona Oey Bwee Cian akan menerima jabatan Ciang bun jin yang ke 8 dari partai Ciong lam pay, maka itu sebelum tanggal lima, kau harus pulang ke gunung dengan membawa obat peledak, jangan salah, kalau tidak orang pertama yang aku akan bunuh mati bukannya Siao hun lie melainkan kau."
Say phoa an terima baik tugas itu. Tan Liong lalu menulis suratnya, setelah diberikan kepada Say phoa an lalu menanya.
"Nona Oey Bwee Cian sekarang berada dimana? "
"Mungkin ia disekap dalam kamar tawanan. Koan Beng paksa ia menikah padanya tapi ia menolak keras."
"Apa kamar tawanan itu dijaga oleh orang-orangnya Thian seng hwee? "
"Ada enam orang yang menjaga."
"Dimana? "
"Di sebelah kiri ruangan hukum."
"Kalau begitu, kau pergilah ingat pesanku mati atau hidupnya Ciong lam pay, tergantung ditanganmu seorang."
Say phoa an undurkan diri.
Tan Liong juga lantas keluar dari kamarnya, segera lari menuju ke tempat tawanan.
Malam telah larut, tiba ditempat tawanan Tan Liong lalu pasang mata, ia lihat enam laki-laki yang ditugaskan menjaga kamar tawanan itu sedang berkumpul dan main judi.
Tan Liong tertawa dingin, ia berkata kepada dirinya sendiri.
"Kalian disini hendak berlaku gagah-gagahan, apa gunanya dikasih hidup! "
Dengan cepat tangan kanannya bergerak menyerang enam orang itu.
Enam orang itu masih belum tahu kalau jiwa mereka terancam maut, masih berjudi dengan asiknya, ketika serangan itu sampai maka hanya merasakan hawa panas saja yang luar biasa, lalu pada muntah darah dan lantas rubuh semuanya.
Serangan Tan Liong itu ada menggunakan ilmunya Yang ciang, tidak heran kalau enam orang itu lantas binasa seketika itu juga dengan tanpa mengetahui siapa yang menyerangnya.
Ia lalu singkirkan enam mayat itu.
Dari badan salah satu mayat ia dapatkan anak kunci kamar tawanan.
Kamar tawanan itu kurang lebih lima puluh buah banyaknya, ia mencari setiap kamar tapi tidak menemukan dirinya Oey Bwee Cian.
Selagi masih dalam keadaan terheran-heran mendadak terdengar suara tangisan anak bayi keluar dari salah satu kamar tawanan.
Bagaimana ada suara anak menangis?
Ia lalu mencari anak kuncinya dan membuka kamarnya, apa yang ia saksikan telah membuat ia kesima.
Dalam kamar tawanan itu seorang wanita pucat pasi, rebah menggeletak di tanah.
Disampingnya satu anak bayi sedang menangis.
Wanita itu bukan lain daripada Cu Lian.
Seketika itu seperti disambar petir otaknya kosong melompong, sedang hatinya perih hingga air matanya mengalir keluar dari matanya.
....
Wanita yang merupakan kekasihnya yang pertama itu, kini telah mengalami nasib demikian mengenaskan.
Bagaimana ia tidak sedih?
Dengan suara serak ia memanggil-manggil.
"Adik Lian ...."
Setelah itu ia lantas menubruk dirinya wanita tersebut ....
CU LIAN tidak dengar suara Tan Liong.
Kalau ia dengar entah berapa banyak air mata yang ia harus kuras lagi ....
Pernapasannya sudah lemah, ia masih tidak tahu bahwa pemuda yang pernah dicinta selama hidupnya kini sudah berada disampingnya.
Tan Liong meraba, mendadak rasa dingin tersentuh olehnya, ia terkejut, hampir saja berteriak.
Lalu terdengar suaranya yang ditujukan kepada dirinya sendiri.
"Adik Lian, kau tidak boleh mati, aku akan tolong kau ...."
Memang ia tidak boleh membiarkan Cu Lian mati, ia pernah cinta wanita itu, meskipun kini sudah menjadi isteri orang lain tapi ia juga harus bantu padanya, tolong padanya supaya jangan sampai mati.
Tiba-tiba terdengar suaranya seorang wanita.
"Tuan, kau sedih apa? "
Dengan cepat Tan liong berpaling terlihat bentuk belakang seorang wanita berbaju hijau, mendadak berada didepan matanya.
Tan Liong tercengang.
Bukankah wanita baju hijau itu yang pernah ia lihat di kota Khay hong?
Bagaimana ia juga berada digunung Ciong lam san?
Siapakah dia?
Sementara pertanyaan ini mengaduk dalam otaknya.
Wanita itu masih tetap berdiri membelakangi Tan Liong, hingga ia tak dapat lihat tegas bagaimana bentuk rupanya?
Apa maksudnya wanita itu mengikuti jejaknya?
Untuk sekian lamanya Tan Liong memandang wanita itu dengan hati bingung.
"Tuan, adakah dia itu kekasihmu? "
Demikian wanita itu menanya.
"Dulu pernah .... tapi itu semua sudah lalu."
"Kau masih cinta padanya? "
"Ya, aku tidak dapat melupakan padanya."
"Tapi dia sudah hampir mati."
"Tidak, tidak, aku tidak dapat membiarkan dia mati .... aku harus menolong padanya ...."
Baca Juga: Peristiwa Merah Salju 4
Baca Juga: Pendekar Cacad 6