Eps 6 Naga Merah - Khu Lung
Baca online Naga Merah - Khu Lung
Cersil Naga Merah - Khu Lung.
"Sekarang dimana mereka? Apa terlalu payah luka mereka?"
"Say phoa an yang kelihatan parah.
Napasnya cuma tinggal satu-satu barangkali ....
sudah tak dapat ketolongan .....
Biasa sampai kemari digendong terus oleh San hoa chiu yang juga tidak ringan luka-luka yang dideritanya."
"Mereka apa ada kata siapa yang melukai? "
"Mereka belum mengatakan apa-apa."
"Obat? sudah didapat belum? "
"Belum! "
Singkat Lie Tiauw Yang menyahut.
"Kebanyakan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya mungkin karena terlalu gugup."
Akhirnya dia membuat Oey Bwee Cian tidak sabaran. dengan suara agak tergetar dan nada setengah memerintah berkata.
"Bawa menghadap kemari! "
Lie Tiauw Yang mengangguk mengatakan "Ya."
Dan berlalu.
Oey Bwee Cian mengawasi si gadis baju merah.
Bibirnya tampak bergerak-gerak seperti ingin mengatakan apa-apa namun akhirnya tidak jadi bicara.
kejadian yang mendadak itu agaknya mengejutkan juga hati si gadis baju merah.
betapalah tidak tabib Cio bin Iehiap pada waktu biasa-biasanya selalu memenuhi setiap permintaan tolong orang-orang kepadanya, sekali orang-orang Ciong lam pay baru dua yang diutus suruh meminta sedikit obat mengapa bukan diberi malah mereka pulang dengan membawa badan terluka begitu hebat?
Dan tatkala mata si wakil pejabat ketua melirik Tan liong didapatinya si pemuda sedang membimbing Hoan Giok Hoa bangun dengan perlahan-lahan dan berhati-hati sekali.
Pucat paras Hoan Giok Hoa, namun tidak sepucat wajah Tan Liong.
Muka pemuda itu sudah putih kertas, matanya yang mendelong memandang terus kemuka tanpa sedikitpun berkedip.
Si gadis baju merahpun melihat keadaan demikian, diam-diam menghela napas dan berkata seolah olah kepada dirinya sendiri.
"Kasihan! Janganlah kejadian seperti ini terulang lagi."
Ia lalu masukkan tangannya ke dalam saku bajunya, mengambil sebutir pil yang segera dimasukkan kedalam mulut Hoan Giok Hoa seraya katanya dengan suara perlahan sekali.
"Nona Hoan, lukamu tidak seberapa berat, cukup setelah makan obat ini lukamu akan sembuh. Dan .."
Ia melirik Tan Liong, dengan suara agak keras berkata pula.
"Tan Ciang bun jin, mengasolah! "
Tan Liong masih memperlihatkan wajah ketolol-tololan.
Mulutnya menganga, matanya terus mendelik.
Ditegurpun ia bagai tak mendengar.
Kemudian, enam orang berpakaian seragam kunng itu sudah kembali pula dengan membawa dua buah urusan.
Tidak salah lagi yang digotong mereka itu mestilah tubuhnya San hoa chiu dan Say phoa an yang terluka parah.
Setelah tiba dimuka pintu, mereka tundukkan kepala dan berdiam diri, Lie Tiauw Yang berkata dengan suara nyaring bercampur sedih.
"Telah datang kemari Liok hiong dan Cit Thiong."
Gadis baju merah dan Oey Bwee Cian jalan keluar menghampiri Say phoa an dan San Hoa Chiu mereka mengadakan pemeriksaan.
ternyata benar mereka lihat dengan sepintas saja wajah Say phoa an yang pucat bagai tak ada darah lagi, dengan napas yang tinggal satu-satu bagai akan segera kehabisan napas.
Sedang yang lainnyapun terlentang dalam keadaan tidak ingat orang.
San hoa chiu tidak seberapa berat lukanya daripada luka-luka Say phoa an.
namun demikian tetap namanya terluka parah.
Ditambah kembalinya ke Ciong lam san ia merasa lebih perlu menggendong kawannya, tenaganya tentu jadi terhambur banyak.
Hingga ketika dibawa datang kesitu ia sudah pingsan tidak ingat orang.
Oey Bwee Cian lalu perintahkan orang-orangnya itu membaringkan Say phoa an dan San hoa chiu di dalam kamar Yang sin thian.
Tan Liong masih berdiri bagaikan orang linglung tidak bergerak.
Ia bagai bukan Tan Liong yang kemarin atau yang tadi sebelum Han Giok Hoa terluka.
Juga sebagai orang yang sudah ditinggalkan rohnya sendiri!
Sebab penderitaan dan luka hati yang dideritanya mungkin tidak setiap orang dapat atau sanggup menerimanya.
Seorang gadis yang mencintainya setulus hati telah korbankan keremajaan jiwanya untuknya.
Apa yang lebih kejam dan mengenaskan daripada itu?
Soal itu telah berkesan dalam sekali dalam hati sanubarinya.
Tak mungkin terhapus, tidak dapat dilupakan.
Bagimana budi sebesar itu kalau ditusuk senjata tajam atau disengat binatang berbisa.
Ingin hatinya untuk segera mati dan meninggalkan dunianya yang kejam!
Tapi ada daya?
Pernah dimimpikan olehnya suatu mimpi yang buruk.
Beberapa orang gadis yang ingin mendekat kepadanya, tiada seorangpun yang dapat menjamahnya.
Dalam hal itu termasuk juga Cui Lian.
Mengingat Cui Lian gadis pertama yang pernah menempati hatinya Tan Liong jadi menyengir dan mesem mesem bagai orang kesengsem dalam alam dunia yang muluk.
Hoan Giok Hoa sementara itu setelah tadi mendapat pil dari si gadis baju merah kini telah sembuh sebagian lukanya, wajahnya semu merah dan badannya tidak begitu lesu lagi.
Ketika ia menyaksikan Tan Liong tertawa seorang diri seperti seorang gendeng lalu bertanya.
"Engko Tan apa kau merasa tidak enak dengan enci Chie tadi? "
"Mungkin ya! "
"Apa kau tidak menyukai dia? "
"Mungkin ya! "
"Apa yang sedang kau pikirkan? "
"Mungkin ya! "
"Eh? "
Tercengang sekali Hoan Giok Hoa mendengar penyahutan ngelantur semacam itu.
"Engko Tan, aku menanyakan kau apa? "
Tan Liong tersentak bangun.
"Oh ouw! Kau tanya apa? "
"Tadi kutanyakan padamu apa yang sedang kaupikirkan."
"Aku sedang memikir suatu impian seorang kaummu."
Tan Liong akhirnya dapat menjawab benar tapi sikapnya tetap tak berubah. Hoan Giok Hoa yang mendengar seperti tidak mengerti lalu bertanya pula.
"Impian apa itu? dan orang sekaumku yang bagaimana yang kau maksud? "
Tetapi Tan Liong seperti tidak mendengar lagi perkataan dan pertanyaan pertanyaan itu, mengoceh seorang diri.
"Ya! satu impian kejam! Dia perempuan tidak beruntung. Tidak! Tidak! Dia sungguh beruntung! Mendapatkan suami seperti itu, sungguh beruntung? Bagaimana aku? Cuma impian... impian kosong ...."
Lalu, tertawa lagi ia sendiri dan berlonjak lonjakan seperti anak kecil. Hoan Giok Hoa terkejut. Berkata dengan suara keras.
"Engko Tan! Kau kenapa? "
Tan Liong berhenti tertawa, lama ditatapnya wajah Hoan Giok Hoa, lama baru berkata dengan suara yang hampir tak terdengar.
"Bukankah baik-baik saja aku kau lihat? "
"Engko Tan, barusan katamu memimpikan seorang wanita. Cobalah katakan sekali lagi."
Tan Liong mengangguk angguk dan tertawa kemudian berkata.
"Ya! Aku bermimpi seperti bertemu seorang perempuan, tapi sekejap dia menghilang! "
Hoan Giok Hoa tentu saja tidak mengerti apa yang dimaksud oleh perkataan Tan Liong tadi dengan perasaan ingin tahu bertanya pula.
"Engko Tan, bagaimana mimpimu? Aku sering mimpi serupa itu, memimpikan seorang pria, tapi segera setelah kusadarkan diri diapun tiada! "
Hanya gadis baju merah yang mengerti bahwa perempuan yang disebut Tan Liong itu tentunya Cui Lian, kekasih kawan mainnya sejak kanak-kanak yang tak dapat terlupakan olehnya!
Gadis baju merah itu merasa duka hatinya, melihat Hoan Giok Hoa belum mengerti juga dengan memperlihatkan air muka yang seperti anak ingin mewek.
Untuk mencari pasangan yang tulus dan seperti kekanak-kanakan bagai Hoan Giok Hoa, sungguh sulit!
Ia unjukkan ketawa getir dan menegur Hoan Giok Hoa.
"Nona Hoan bawalah Tan Ciang bun jin kekamar ......"
Hoan Giok Hoa menunduk dan berkata sambil menuntun lengan Tan Liong.
"Engko Tan marilah masuk! "
"Kita mau masuk ke pintu mana? "
Tan kembali seperti mengigau menanya bagai sekenanya.
"Lukamu masih belum sembuh betul, marilah kita masuk kedalam dan banyaklah kau ambil waktu istirahat"
"Apa? Aku sakit? "
"Lukamu berat sekali, engko Tan! "
"Apa Chie Peng tadi yang melukai? "
"Bukan! Siao hun lie yang bikin kau jadi begini? "
"Oh? Siao hun lie? Kenapa kau sebut sebut namanya? Dia kenapa? "
Gadis baju merah mendengar tanya jawab itu sedih hatinya.
Ia tahu pada saat itu Tan Liong sudah linglung atau hilang pikiran waras.
Tentu karena itupun ia tak ingat sesuatu apa yang telah terjadi atas dirinya.
Maka ia lantas berkata kepada Hoan Giok Hoa.
"Jangan ajak dia bicara terlalu banyak, bawa sajalah dia masuk."
Hoan Giok Hoa mengangguk membimbing tangan Tan Liong masuk keruangan Yang sin thian.
Oey Bwee Cian dan si gadis baju merah mendekati pembaringan dimana telah dibaringkan Say phoa an dan San hoa chiu.
Mereka lihat kedua orang itu masih pejamkan mata lebih pucat wajah mereka.
Gadis baju merah melirik Oey Bwee Cian dan berkata.
"Melihat begini dua orangmu ini terkena serangan berat lawannya. Biar kucoba lagi kasihkan pil ini, selanjutnya kita pikir-pikir lagi untuk sembuhkan luka-lukanya."
Oey Bwee Cian merasa berterima kasih sekali tetamunya begitu baik hati suka menolong.
Ditatapnya wajah penolong itu dengan wajah penuh harap, bibirnya bergerak-gerak pula tapi tiada dapat berkata-kata.
Gadis baju merah menghela napas perlahan berpaling dan mengawasi Tan Liong.
Si pemuda juga sudah rebahan disuatu pembaringan yang terletak di sudut.
Obat pil yang sudah berada dalam tangannya lalu dijejalkan dalam mulut Say phoan an dan San hoa chiu masing-masing sebutir.
Dengan diberikannya obat pil dan setelah itu mendapat pula perawatan si gadis baju merah secukupnya, sembuh jugalah luka lukanya Say phoa an dan San hoa Chiu.
San hoa chiu lebih dulu buka matanya, begitu melihat Oey Bwee cian, lantas bergerak gerak bibirnya bagai kebingungan lama juga baru bisa berkata benar.
"Maafkan teecu yang tidak bisa mengurus tugas ...."
Oey Bwee Cian mengulap ulapkan tangannya.
"Mengapa kalian terluka sebelum mendapatkan obatnya? Dengan siapa sebetulnya kalian berkelahi? "
"Begini Ciang bunjin, kami sebetulnya sudah dapatkan obat itu."
San hoa chiu terputus putus menerangkan, tapi sebelum habis berkata sudah dipotong lagi.
"Dan kenapa tidak lantas kalian bawa kemari? "
"Di tengah jalan dirampas ......"
"Oleh siapa? "
"Kami masih belum tahu siapa perampas itu."
"Cobalah tenang-tenang kau tuturkan bagaimana terjadinya perampasan itu."
San hoa chiu tampak terdiam lama juga, agaknya ingin menhubung-hubungkan semua kejadian lebih dulu, baru kemudian bisa berkata demikian.
"Begini terjadinya.
setelah teecu dengan Say phoa an tinggalkan gunung, langsung kami masuk kekota Khay hong.
Menjelang senja hari itu, kami menemukan berita tentang adanya dua peristiwa yang menggetarkan dunia persilatan ......"
Sampai disitu Oey Bwee Cian tidak dapat menahan mulutnya untuk tidak memotong.
"Peristiwa apa itu? "
tanyanya.
"Didalam kota Khay hong beberapa hari sebelum hari itu mendadak terjadi serentetan peristiwa pembunuhan.
Menurut kabar yang belum terang ada seorang muda yang berkepandaian amat tinggi membunuh tiga perempuan muda berturut turut.
Dan korban korban itu adalah orang-orang yang terkenal dalam kalangan persilatan Soat lie hong (burung Hong dari daerah salju).
Lie Tin dari perguruan bu tong pay dintaranya Ceecu dari Thian Kong cee dan Tiauw Siok Wan puteri Chung cu dari Pek hoa San chung ..."
Oey Bwee Cian menyelak lagi dengan nada ingin sekali mengetahui berkata.
"Kalian lalai tugas karena perkara tadi? "
San hoa chiu buru-buru geleng-gelengkan kepala dan menentang.
"Tidak! Tidak."
Katanya.
"Kami hanya dengar-dengar berita saja, tiga perempuan itu katanya mati berbareng di kota Khay hong.
malah ada setengah berita yang menyatakan sebelum mati pernah dikotori dulu mereka oleh si pemuda yang berkepandaian amat inggi itu.
Keadaannya mengerikan sekali dengan bagian badan banyak mengeluarkan darah.
Peristiwa lainnya, lebih-lebih menggemparkan.
Sesudah tiga perempuan itu kedapatan mati berbareng di kota Khay hong tiba-tiba juga tersiar kabar adanya lima pemuda yang mengerti silat mati dan pembunuh mereka adalah seorang perempuan muda."
"Korban-korban itu termasuk tiga anak muridnya tiga partai besar.
Dan dua lainnya adalah jago muda Thian seng hwee.
Lima korban pemuda-pemuda itu serupa pula kabarnya dengan tiga perempuan yang duluan.
semua jadi korban begitu katanya karena selagi berkobar-kobar napasnya tertotok jalan darahnya hingga mati seketika.
Matinya lima pemuda itu juga mengeluarkan cerita.
Semuanya dalam keadaan telanjang bulat tanpa selembar kain nempel pada mereka.
Sudah pasti mereka pernah mengadakan hubungan gelap dengan perempuan muda itu."
Si gadis baju merah tenang-tenang mendengarkan seluruh cerita. Ia yang sejak tadi bungkam mulai tertarik.
"Apa benar ada kejadian serupa itu? "
San hoa chiu terus menjawab dengan sikap sungguh-sungguh.
"Aku yang rendah selamanya belum pernah berbohong.
Semua peristiwa-peristiwa tadi cuma dalam tiga hari.
Baik si pemuda berkepandaian tinggi maupun si wanita yang dikabarkan itu sudah berubah sifat kelakuannya.
Di Khay hong menimbulkan dua macam peristiwa pembunuhan dan delapan orang muda angkatan persilatan telah menjadi korban.
Ini tersiar luas di kota itu sehingga anak-anak mudanya pada merasa tidak aman.
Sebetulnya kami tidak mau percayai berita itu.
Ketika kami berangkat kegunung Im kui san pada malam itu kembali ada dua perempuan muda mati, Juga oleh lelaki itu."
Gadis baju merah yang mendengar demikian, wajahnya memperlihatkan perubahan dan bertanya.
"Kalau begitu itu perempuan muda yang sudah berubah pikirannya diwaktu kapan membunuh orang? "
"Kejadiannya terjadi hari-hari kemarin dan kemarin dulu.
Perempuan yang sudah berubah pikirannya itu melakukan pembunuhan terhadap semua pemuda-pemuda sesudah terjadi pembunuhan atas diri perempuan-perempuan yang dibunuh oleh lelaki muda itu."
"Lalu selanjutnya bagaimana? "
"Selanjutnya karena kami anggap soal demikian tidak berhubungan dengan kami malam itu juga naik ke gunung Im kui san.
Peristiwa pembunuhan yang aneh itu benar-benar dalam sekejap menggetarkan semua penduduk.
Selagi kami berangkat di kota Khay hong benar saja kami lihat banyak orang-orang dari berbagai partai masuk kesitu.
Menjelang pagi hari kami sudah diatas gunung dan beruntung sekali dapat mencari rumah tabib Thio bin Ie hiap.
Kami terangkan maksud kedatangan kami kesitu dan kami diberikan sebutir pil Im hiat Kui yang wan.
Maka kami segera juga minta diri dari tuan rumah dan kami tidak ingin buang buang waktu lagi terus berjalan maksud kami terus pulang."
"Pada waktu tengah hari dihari kedua, sewaktu kami melewati rimba belantara di daerah Khay hong kami menyaksikan sendiri suatu kejadian yang menakutkan ......"
Ketika bicara sampai disitu diwajah San hoa Chiu terlihat roman tegang dengan ketakutannya.
Agaknya terbayang lagi rasanya segala kejadian yang menyeramkan yang pernah dilihatnya.
Si gadis baju merah ingin sekali mengetahui halnya yang benar lalu bertanya.
"Kejadian apa itu? "
San hoa chiu bagai sedang mencoba menenangkan pikirannya agak lama baru menjawab.
"Selagi kami melalui hutan itu tiba-tiba dari kejauhan kami dengar jeritan seorang perempuan yang mengerikan."
Seterusnya dia menuturkan sebagai berikut, ***d*w*** Kami yang mendengar suara jeritan ngeri itu terkejut sekali dan buru buru lari ke tempat kejadian tentu maksud kami ingin menolong.
Dan apa yang kami saksikan membuat hampir kami menjerit tak tahan.
Satu perempuan dalam keadaan setengah telanjang kami lihat ......
darah sekujur badannya mengucur tidak berhentinya ......
lelaki buas itu terang yang menganiaya.
Aku dengan Say phoa an melihat lalu berbalik pikir dan berlalu tidak menolongi memikir tugas kami yang amat berat ....
Tapi pada saat itu tiba-tiba kami dengar disebelah sana ada suara saling bentak beberapa orang yang bertempur.
Kami terkejut lagi dan menuju kesitu.
Apa yang kami saksikan?
Ceecu dari Thian Kong cee yakni To pek wan kera lengan banyak Kan Ho sedang memimpin anak buahnya bertempur sengit dengan seorang pemuda.
Pemuda itu sebetulnya memang tampan sekali wajahnya cuma nyata napsu membunuhnya amat besar.
Kami duga dia adalah itu pembunuh lima perempuan muda.
Benar saja yang membunuh lima perempuan muda itu adalah dia.
Kita tidak mengerti tadinya mengapa pemuda itu begitu buas dan tega sekali memperkosa dan membunuh bunuhi perempuan-perempuan muda yang cantik-cantik.
Saat itu terdengar suaranya si pemuda yang berkata sambil ketawa dingin.
"Kong cee bu!
Adalah puterimu sendiri yang sukai aku maka aku berani buat main dia.
Dia pernah kata merasa untung dan senang sekali kuperbuat begitu, maka ku ingin lebih banyak berikan dia kepuasan tapi belakang begitu apa kau mau susulkan aku?"
Ceecu itu berubah wajahnya, dengan suara bengis berkata!
"Perbuatanmu sungguh terkutuk dan buas!
Anak perempuan apa musuhmu?
Kenapa setelah kau goda habis-habisan lantas kau bunuh sekali?
Lihat!
Jika aku tidak bisa hancur leburkan badanmu aku sumpah tak mau jadi orang!"
Sehabis berkata lalu bersama delapan anak buahnya si Ceecu maju berbareng.
Pada saat itu juga datang pula dua imam dari Bu tong san setelah itu menyusul Chungcu dari Pak hua San chung Tok heng khee ......
Tiauw Bun Tat serta tujuh yang lain.
Pemuda itu berhasil mendesak mundur Thian Kong ceecu dan orang-orangnya, kemudian ia lompat beberapa tombak matanya menyapu orang-orang yang baru datang itu sembari berkata.
"Tidak nyana bahwa kedatangan tuan tuan ini adalah hendak mencari aku sesungguhnya serasa beruntung sekali."
Chungcu dari Pak hua San chung lantas dongakkan kepala ketawa bergelak gelak dan berkata.
"Kau membunuh lima anak perawan orang setelah kau cemarkan kehormatannya. Perbuatan itusesungguhnya terlalu kejam dan biadab. Perempuan-perempuan muda tidak berdosa yang kau bunuh mati itu, sebetulnya ada permusuhan apa dengan kau? "
Pemuda itu menjawab dengan seenaknya sambil tertawa.
"Permusuhan? tidak ada! Cuma, mereka semuanya rela binasa setelah menikmati kesenangannya, maka ...... aku terpaksa mengikuti kehendaknya."
Thian-ong Ceecu tidak dapat menahan amarahnya lagi, dengan suara keras ia membentak;
"Bangsat, tidak tahu malu, lihat serangan! "
Dengan kecepatan bagaikan kilat ia sudah lancarkan serangan tangannya. Tapi pemuda itu dengan tenang menyambuti serangan tersebut, malah masih bisa berkata sambil tertawa dingin.
"Kalian datang mencari mampus sendiri maka jangan sesalkan aku."
Baru saja menutup mulutnya mulutnya, pedangnya sudah berada ditangannya, dan setelah tangannya bergerak, tampak berkelebat sinar pedang, lalu disusul oleh suara jeritan ngeri.
Ternyata sudah ada dua orang yang jatuh rebah menjadi korban!
Kepandaian dan kegesitannya itu telah mengejutkan orang-orang yang hendak mengepung dirinya dan hampir saja pada lompat mundur.
Mereka sesungguhnya tidak menduga bahwa pemuda itu ada mempunyai kepandaian demikian tinggi!
Pemuda itu tertawa bergelak-gelak dan berkata.
"Siapa yang tidak takut mampus boleh maju coba-coba sendiri."
Perkataannya itu diucapkan dengan sikapnya yang amat sombong sekali.
Orang-orang yang datang yang hendak membikin perhitungan padanya itu meski merasa bahwa kepandaiannya pemuda itu ada tinggi sekali, tapi toh tidak bisa tinggal diam begitu saja.
Maka mendengar suara jengekan demikian semuanya lantas maju menyerang berbareng.
Beberapa puluh orang yang maju menyerang berbareng itu, sesungguhnya cukup hebat, tapi pemuda itu kepandaiannya betul-betul sudah mahir sekali.
Dalam waktu sekejap saja sudah ada tiga orang lagi yang jatuh binasa di ujung pedangnya.
Walaupun demikian, karena yang datang mengepung padanya kebanyakan ada orang Kangouw kelas satu, apalagi jumlahnya terlalu banyak, naka akhirnya ia sendiri juga merasa kewalahan dan sudah mulai keteter.
Tepat pada saat itu, mendadak ....
dibelakang terdengar suara orang ketawa dingin.
Aku dengan Say phoa an sama sama terkejut.
Ketika berpaling segera dapat lihat dibelakang kami kira-kira tiga tombak jauhnya ada berdiri seorang wanita muda.
Wanita itu sesungguhnya cantik sekali, ketika biji matanya menyapu kearah kami aku bersama Say phoa an pada tercengang!
Kami tidak tahu apa maksud kedatangan wanita cantik itu maka lantas alihkan pandangan kami ke arah medan pertempuran.
Tiba-tiba terdengar suara ketawanya, lagi-lagi wanita cantik itu yang amat merdu sekali hingga kami lantas berpaling lagi kearahnya.
Wanita cantik itu bukan saja merdu suara ketawanya, tapi juga sangat menggiurkan hati.
Aku bersama Say phoa an sampai tergoncang.
Wanita cantik itu lantas hentikan ketawanya, dengan sikapnya yang menggiurkan ia jalan lambat-lambat menghampiri kami ......
Untuk sejenak lamanya aku bersama Say phoa an pada terkesima!
-o0o0dw0o0o-
Jilid ke .
19 Bayangan yang menakutkan tiba-tiba terlintas didalam otak kami, mungkinkah perempuan cantik itu adalah itu perempuan yang membunuh mati lima pemuda dari dunia Kangouw itu?
Ketika kami ingat peristiwa itu kita lalu mundur setindak dan menarik napas.
Tapi kalau dilihat dari parasnya yang masih kekanak kanakan dan sedikitpun tidak mengunjukkan tingkah lakunya yang genit rasanya tidak mungkin kalau dia.
Belum hilang perasaan kami, perempuan cantik itu sudah tertawa dan berkata.
"Apakah tuan berdua menonton keramaian?"
Sambil mengucapkan perkataan-perkataan demikian matanya terus ditujukan kepada Say phoa an.
Say phoa an yang belum pernah diperhatikan perempuan seperti itu seketika wajahnya lantas merah tak dapat menjawab.
Aku terpaksa menalangi dia menjawab.
"Cuma kebetulan lewat disini saja, bukan maksudnya sengaja menonton keramaian."
Lalu kuawasi Say phoa an sambil beri isyarat aku berkata.
"Mari kita pergi."
Say phoa an mengangguk, ia memandangku sejenak.
selagi akan pergi tiba-tiba perempuan cantik tadi berkata, menanyakan kami ada urusan apa, penting atau tidak.
Aku lihat perempuan itu membuka lebar-lebar matanya, mulutnya yang lucu memperlihatkan senyumnya yang menggiurkan hingga pikiran kami agak mulai tentram.
Dia bertanya sambil tertawa.
Kataku benar, kami harus segera pulang.
dan mendadak mendengar perkataanku begitu si perempuan terlihat kecewa, berkata lagi sambil tersenyum yang dipaksakan.
"Tidak sayangkah tuan-tuan begitu lekas lantas ingin pergi lagi? "
Dan matanya dengan lekas menatap mata Say phoa an lagi kemudian mendadak bertanya.
"Kau ini she Lay kah? "
Dijawab oleh Say phoa an dengan gelagapan.
"Bukan! Bukan! She ku Siauw bukan she Lay! "
Perempuan cantik itu bagai kecewa tampaknya, lalu bertanya lagi menegaskan.
"Kau she Lauw? apa kau bukan engko Lay? "
Aku yang terus mendengarkan pembicaraan mereka lalu ingin menduga tentu perempuan itu mempunyai saudara laki-laki atau kenalan seorang she Lay dan kawan atau saudara lelakinya itu tentu mempunyai wajah mirip Say phoa an maka aku lantas menanyakan yang sesungguhnya, mengatakan Say phoa an bukan she Lay dengan tegas.
Perempuan itu merah matanya sambil menangis dia memperkenalkan dirinya katanya dia bernama May Yu Lan.
Lalu diterangkan sebabnya bahwa telah lama dia mencari apa yang dikatakannya "Engko Lay"
Yang belum ketemu-ketemu.
Dan memaksa supaya Say phoa an mengaku benar itu orang yang sedang dicarinya katanya badan dan perawakan orang yang dicarinya itu mirip sekali dengan Say phoa an.
mendengar begitu aku jadi serba salah dan ikut merasa pilu.
Sesudah berpikir sebentar kukatakan padanya begitu.
"Dia sungguh bukan engko Lay mu. Dan seandainya disuatu hari kujumpai itu orang yang sedang kau cari-cari nanti pasti kupertemukan dengan kau nona! "
"Di mana kalian tinggal dan bolehkah selanjutnya kami mencari tuan? "
Pertanyaan yang beruntun membuat aku berpikir lalu akhirnya kujawab juga begini.
"Aku tinggal di gunung Ciong lam san! "
Si perempuan ingin minta penjelasan bertanya.
"Apa kalian orang-orang dari Ciong lam pay?"
Dan kusahut dengan menyebut ya saja. Wanita itu tertawa bergelak-gelak lalu tanyanya kenapa kami lekas-lekas mau pulang?, Kujawab.
"Sebab Ciang bun jin kami sedang luka parah kami harus lekas pulang! "
Dia berkata pula.
"Ciang bun jin kalian luka parah? Apa hubungannya dengan kalian? Menonton sebentar lagi toh tak mengapa? "
Ini terus kujawab singkat bahwa aku harus mengambil obat.
dia seperti tidak percaya mengulangi perkataanku sekali lagi.
Aku meyakinkan dia lalu meneruskan kata-kataku bahwa aku ingin waktu itu juga pulang.
Dan selagi kami hendak berlalu perempuan itu mendadak menghadang didepan kami.
Sudah barang tentu cegatannya itu membikin Say phoa an kaget sekali begitu juga aku.
Aku mendahului bertanya.
"Kenapa tidak boleh pulang dan harus tinggal? "
Dijawab olehnya sebab Say phoa an mirip engko Laynya dan tetap dia maksa Say phoa an tinggal tidak boleh pergi. Say phoa an lalu berkata.
"Tapi aku kan bukan dia."
Ini dijawab oleh si perempuan.
"Aku tahu, tapi tetap kau tidak boleh berlalu! "
Dengan begitu aku dan Say phoa an jadi merasa serba sulit.
Perempuan cantik itu sungguh tidak tahu aturan demikian dalam hati kami membatin.
Sebab mengapa dia menahan orang yang belum dia kenal betul?
Maka waktu itu dengan hati dongkol sekali aku menegurnya dengan kata-kata pedas.
"Apa hubunganmu dengan engko Laymu? Dia menjawab, engko Laynya cinta padanya, setelah mempermainkan dia lalu meninggalkan dia. Dan seterusnya dia berkata.
"Maka setiap aku jumpai orang yang mirip dengan dia aku juga ingin permainkan dia sepuasku."
Dalam otakku medadak ingat sesuatu aku ingin jawaban yang benar dari dia.Yang membunuhi laki-laki dikota Khay Hong itu kutanyakan kepadanya apakah itu perbuatan dia.
Dan yang mengejutkan aku mengatakan benar.
Begitu juga dengan Say phoa an yang terlebih-lebih kagetnya dariku hingga tanpa merasa dia lebih dulu mundur setindak.
Ya Allah!
Kalau begitu perempouan cantik didepan mata kami itukah si perempuan cabul?
Kami yakin, didepan kami tidak kami lihat dia sebagai perempuan genit yang cabul, bukan sebagai manusia buas juga tidak menyerupai orang jahat, maka semula agak meragukan hati kami juga.
Aku ingin mendapatkan penjelasan yang pasti darinya lalu bertanya lagi.
"Apa nona tidak main-main dalam kata-katamu? "
Dia menjawab sebelum tertawa.
"Perlu apa kalian kubohongi? Aku berkata begitu ya begitu! Kalau dulu laki-laki permainkan aku sebagai wanita lemah, setelah aku kuat mau putar balik dunia! Kau pikir aku bersalah dalam hal ini? Dia juga seorang yang akan kupermainkan, karena mukanya mirip benar dengan engko Layku itu! "
Aku jadi merasa cemas, dalam ragu-ragu dan cemasku, lalu aku berkata.
"Nona tak usahlah kau lantaran perbuatan lelaki yang kau sebut engko Lay lantas ingin mempermainkan orang laki-laki lain, kau berbuat keliru, nona! Dan kawanku ini sekali kali tak kuperbolehkan nona tahan! "
Tapi dia begitu memaksa, katanya ingin memaksa kalau juga aku tak memperbolehkan.
Aku juga mengotot tak membolehkan dan dia memaksa lagi.
Perempuan cantik yang tadinya mempesonakan kami, kala itu berbayang menakutkan wajahnya.
Kami lihat dia bagai telah berubah jadi setan perempuan yang jelek menakutkan.
Waktu itu juga dia dengan suara beringas berkata.
"Kalau dia tidak kutahan secara baik-baik, coba kalian lihat aku mampu tidak, tahan dia secara paksa! "
Aku tentu jadi naik darah, dan lantas juga menjawab tawar.
"Coba saja! "
Kataku menghardik dia.
Setelah itu kuajak Say phoa an bersama-sama menubruk dia, tapi si perempuan bukannya mundur malah terus menghampiri Say phoa an!
Serangan dia begitu mendadak keluarnya juga dikeluarkan cepat sekali.
Say phoa an waktu itu sebenarnya sudah cabut pedang dan sudah juga menikam dada perempuan itu.
Aku sendiri juga sudah menjambret lengan wanita itu dari belakang.
Sama sekali tak kami duga tinggi sekali kepandaian dia!
Hampir disaat yang dia lebih dulu mengelakkan tikaman pedang Say phoa an dan mengelit jambretan tanganku malah setelah kami lihat badannya cepat sekali, Say phoan an sudah diserangnya!
Sungguhpun pertempuran dilakukan sekejap itu, Say phoa an sudah terkena salah satu tipu nona itu dan rubuh ditanah dengan luka parah sekali.
Aku melihat kawanku dalam keadaan begitu mengenaskan lantas timbul tekadku ingin menuntut.
Tapi baru tiga jurus melayani dia akupun terkena serangannya tapi tak seperti kawanku, lukaku mendingan sedikitlah.
Sebisa-bisanya kutahan luka diatas pundakku tapi aku akhirnya harus juga mengakui keunggulan dia karena habis tenagaku aku rebah tak ingat orang.
Saat sadarku yang pertama kulihat tentu diriku sendiri, disampingku merapat tubuh Say phoa an.
Pada waktu itu hari terang seterangnya.
Kucoba mengatur pernapasan dan mencoba tenagaku, sukur masih bisa bergerak.
Maka dengan susah payah kugendong Say phoa an yang masih tak ingat orang, sampai disini ....
***d**w*** San hoa chiu bicara sampai disini, menghela napas panjang.
peristiwa itu agaknya menyesakkan sekali dadanya.
Sampai Oey Bwee Cian si gadis baju merah, Tan Liong semua tertarik sekali sampai lupa memotong barang sepatah perkataan penuturan San hoa chiu.
Mereka hanya menebak nebak siapa adanya wanita yang demikian sifatnya itu.
Gadis baju merah baru saat inilah bertanya.
"Dan kenapa pil Im hiat Kui wa bisa lenyap? "
Dijawab oleh San hoa Chiu.
"Itu sedikitpun tidak bikin aku sadar. Waktu kami pulang masih kuingat pil itu masih dalam kantonganku tapi setibanya dikaki gunung kuperiksa lagi sudah tidak ada."
Tan Liong bagai sudah sembuh dari sakit bertanya.
"Perempuan muda itu pakai baju bagaimana warnanya? "
San hoa chiu mendongak sebentar lalu berkata.
"Warna pakaiannya hitam! "
"Hitam? Kau tidak salah lihat? "
"Sedikitpun tidak! "
Tan Liong mengangguk angguk tapi sikapnya terang menyatakan keragu-raguan dalam artinya atas keterangan San hoa chiu. Sementara itu kedengaran si gadis baju merah mendehem lalu disusul dengan katanya.
"Apa ji-wie kira pil yang kalian dapatkan dicuri perempuan itu? "
"Mungkin juga begitu. Sebab kami rasa-rasa mungkin juga."
Si gadis baju merah tampak kerutkan alis lama baru berkata lagi demikian.
"Perempuan itu bukankah pernah katakan ingin menahan Say phoa an? Tapi akhirnya kenapa dia dilepaskan? "
"Justeru inilah yang bikin pikiran dalam hatiku."
Gadis baju merah kelihatan bagai sedang berpikir keras, selang agak lama berkata lagi.
"Perempuan baju hitam itu kalau betul dia yang membunuh lima lelaki yang telah kau ceritakan, tentu juga tidak bisa tanpa sebab.
Dan rasanya juga terpaksa aku sendiri yang harus pergi sekali lagi ke Khay Hong."
Oey Bwee Cian lalu berkata.
"Perlu apa pergi ke kota Khay Hong?"
"Untuk minta obat lagi kepada tabib Chio bin Ie hiap, sekalian mencari keterangan siapa sebenarnya sepasang muda mudi yang sudah berubah sifatnya itu? "
"Apakah Ciang bun jin kita perlu pergi bersama-sama? "
"Itu memang paling baik! "
"Tapi ia sekarang masih belum pulih kewarasannya, mungkin tidak dapat melakukan pejalanan yang begitu jauh."
"Boleh minta nona Hoan yang membimbing atau menggendong."
Oey Bwee Cian angguk anggukkan kepalanya serta berkata.
"Kalau begitu aku tak usah pergi sendiri."
Gadis baju merah segera nyeletuk.
"Sebaiknya kau jangan pergi, sebab dalam partai perlu ada orang seperti kau yang mengurus pekerjaan partai sehari-hari."
"Kapan kalian akan berangkat? "
"Besok pagi"
Begitulah pada esok pagi-pagi sekali, gadis baju merah, Tan Liong dan Hoan Giok Hoa bertiga lantas meninggalkan gunung Ciong lam san, melakukan perjalanannya ke Khay Hong.
Apa yang dikatakan oleh San hoa chiu sedikitpun tidak salah.
Di kota Khay hong benar-benar kejadian dua peristiwa menggemparkan ini.
Dalam semalaman saja kembali ada tiga orang lelaki dan wanita yang kedapatan mati oleh itu lelaki dan wanita yang kejam.
Maka selama beberapa hari itu pula orang-orang lihai dari berbagai tempat pada muncul di kota Khay hong.
Gadis baju merah Hoan Giok Hoa dan Tan Liong bertiga menjelang senjapun sudah memasuki kota tersebut.
Setelah dahar malam disitu pula, lalu meneruskan perjalanan mereka ke gunung Im kui san.
Selagi enak-enaknya mereka berjalan, tiba-tiba dari jauh terdengar suara orang ramai seperti cekcok mulut, setelah itu sejenak sunyi kembali.
Gadis baju merah berhenti, maksudnya ingin menegaskan suara tadi datang dari arah mana, dan selagi baru mau berjalan lagi mendadak sesosok tubuh manusia lompat ke arahnya!
Orang itu tanpa menerbitkan sedikitpun suara sudah menjogrog didepan gadis baju merah membuat wanita itu terperanjat dan mundur setindak.
ketika ditegasi olehnya yang dihadapannya tadi adalah seorang tua berambut putih semua, lengannya mencekal senjata berupa kebutan.
Orang tua mana dilihat sekelebatan dapat membuat siapa melihatnya akan merasa kagum karena wajahnya masih merah seperti anak meskipun rambutnya telah beruban penuh.
Orang tua itu tersenyum sedikit lalu memandang Tan Liong dalam pondongan Hoan Giok Hoa, kemudian matanya dialihkan ke arah si gadis baju merah kepadanya ia lalu berkata.
"Anak kau inikah muridnya Hiat Im ek? Tan cun Kiok namamu? Kaukah yang mendapatkan gelar Ang hiang lie dalam dunia Kangouw? "
Ang hiang lie adalah Wanita benang merah.
si gadis baju merah yang mendengar demikian tampak terperanjat.
Saat itu parasnya memperlihatkan sikapnya yang kaget berkuatir.
Sebab tidak pernah disangkanya sampai si orang tua rambut putih baru melihat sudah dapat menyebut nama dan gelarnya.
Maka ia lantas menjawab.
"Benar! Siapa adanya Locianpwee sendiri? Bagaimana menyebut Locianpwee? "
Orang tua muka merah rambut putih itu kembali tersenyum berkata sambil ulapkan kebutan pada tangannya.
"Dalam kau gunakan matamu rasanya tak sukar kau menebak aku ini siapa."
Dalam otak Ang hiang lie sebagai ganti sebutan gadis baju merah saat itu kemasukan nama seseorang seketika juga parasnya berubah.
"Locoanpwee kau ....."
"Kau sudah tahu cukuplah! Jangan banyak bicara! "
Orang tua itu bicara demikian dan kembali tersenyum. Kemudian pandangan matanya ditujukan kearah Tan Liong berkata pula.
"Apa Ciang bun jin ini dipondong demikian karena terluka lantaran perempuan? "
"Dan maksud kalian mencari Cio bin Ie hiap? "
"Ya! "
"Aku merasa berjodoh dengan Ciang bun jin ini akan kutolong dia menyembuhkan sakitnya."
"Apa dapat Locianpwee menolong dia? "
"Bukan cuma aku yang bisa menolong, gurumu sendiripun dapat!"
Kembali orang tua itu tersenyum dan tertawa bergelak-gelak.
"Tapi tak berani kumintai tolong suhu! "
"Aku tahu, karena ini urusanmu pribadi. Cuma legakanlah hatimu segala apa yang kau perbuat apa kira diketahui suhumu pikirmu."
Sehabis berkata demikian dari dalam sakunya dia mengeluarkan sebutir pil warna hitam yang diberikan kepada Ang hian lie seraya katanya.
"Sesudah nanti dimakannya pil ini akan segera pulih kembali kewarasannya. Sekarang berikan cepat padanya."
Jelas tampak riang wajah si wanita benang merah dia mengawasi orang tua didepannya sejenak lalu masukkan pil warna hitam itu kedalam mulut Tan Liong.
Tiba-tiba suatu pikiran agaknya mendorong-dorong dia bertanya.
"Adakah Locianpwee pernah beberapa hari belakangan ini berkali-kali ada peristiwa berdarah yang aneh."
"Apa kau mau cari keterangan siapa perempuan dan siapa lelaki yang pegang rol kejahatan serupa itu? "
"Ya! "
Bernapsu sekali si wanita benang merah menanti jawaban, namun si orang tua rambut putih tidak segera menjawab, mulai menghela napas sejenak baru berkata.
"Ah!
Biasa gelombang asmara selalu menerbitkan apa-apa yang akibatnya tidak bisa bikin manusia lain merasa enak.
Dalam soal sekali inipun ada sangkut pautnya dengan Ciang bun jin itu.
Dan sebab itu juga seperti apa kata pepatah orang yang harus buka tali kelenengan itu ada itu orang yang mengikatnya.
Maka untuk selanjutnya harus dilihat bagaimana dia akan bertindak."
Perkataan si orang tua dalam ucapannya dibagian akhir membuat si wanita benang merah mengetahui kalau urusan yang wang tak ada hubungannya denan Tan Liong. Ia lalu bertanya.
"Apa dalam soal ini betul-betul ada hubungan dengan Ciang bun jin Ciong lam pay ini? "
Orang tua itu mengangguk-angguk.
Sementara itu Tan Liong yang tadi menelan pil warna hitam si orang tua setelah keluar keringat berbau busuk di badannya orangnyapun segera siuman.
Pertama dilihat gadis baju merah lalu mengalih pandangannya dan melihat si orang tua wajah merah rambut putih.
Orang tua itu tersenyum lagi dan berkata.
"Apa Ciang bun jin masih mengenal siapa aku? "
Tan Liong mengangguk.
"Ya, kukenal. Sekali pernah kita bertemu. Bukankah kau juga yang memberitahukan padaku tentang ketua Thian seng hwee itu padaku? "
"Sungguh tajam ingatanmu! Benar."
Si wanita benang berah ikut campur bicara.
"Ciang bun jin. selembar jiwamu ditolong oleh orang tua ini tidakkah kau merasa perlu berterima kasih dulu? "
Tan Liong terperanjat. Selekas itu juga dia berkata!
"Ow! Kiranya Locianpweekah yang menolong selembar jiwa boanpwee? Disini boanpwee ucapkan banyak-banyak terima kasih."
Sehabis berkata ia menjura dalam-dalam. Orang tua rambut putih itu ketawa bergelak-gelak, sebentar dia berhenti dan berkata dengan suara sungguh-sungguh.
"Ciang bun jin padamu kau banyak berhutang asmara. Kalau tidak berhati-hati nama Ciong lam pay bisa ternoda karena kau."
Orang tua itu memandang wanita benang merah sejenak, kepada siapa ia berkata.
"Sudah waktunya kau pulang, nona! Gurumu wanti-wanti berpesan kepadaku suruh menyampaikan perintah pulang ini padamu."
Wanita benang merah itu merenung, dalam hatinya timbul banyak perasaan yang tidak karuan, dalam hati ia diam-diam membatin.
"Ya! Dia sudah sembuh, seharusnya aku juga pulang ......"
Diparasnya tertampak rasa kecewanya, memandang Tan Liong sekian lama baru bisa buka mulut.
"Ciang bun jin barusan kau ...... sampai ketemu lagi! "
Dalam hatinya sebenarnya banyak perkataan yang ingin diucapkan kepada Tan Liong tetapi entah karena apa ia tak berani mengeluarkan semua isi hatinya.
Maka akhirnya ia hanya dapat mengatakan "Sampai ketemu lagi"
Saja. Hoan Giok Hoa giliran terkejut, bertanya.
"Enci, benarkah kau ingin tinggalkan kami? "
"Ya! Aku ingin pulang, lukanya sudah sembuh ......"
Nona Hoan melirik Tan Liong, kepadanya ia berkata.
"Engko Tan, kenapa kau tidak berusaha agar enci ini tidak buru-buru pergi? "
Pada saat itu Tan Liong sendiri sebenarnya sedang berduka.
Ia merasa gegetun yang dia ditinggal pergi oleh si gadis baju merah.
Karena dalam membela kepentingan dan keperluan-keperluannya si gadis baju merah naik ke Ciong lam san.
Dan kalau ia tak keburu sampai di Ciong lam pay tepat pada waktunya mungkin Ciong lam pay sudah hancur lebur karena perbuatan orang-orang Thian seng hwee.
Sewaktu menderita luka, wanita baju merah itu selalu mendampinginya, apakah sebabnya?.
Setiap kali matanya terbentur dengan pandangan si gadis baju merah yang begitu agung, lantas timbul dalam hatinya perasaan tidak mengerti mengapa begitu.
Manusia memang bukan batu.
Meski perhubungan antara Tan Liong dan si gadis baju merah kelihatan cuma biasa-biasa saja akan tetapi sikap dan perhatian gadis baju merah itu terhadap dirinya Tan Liong berkesan sangat dalam sekali di dalam hati sanubarinya anak muda itu.
Dan sekarang, mendadak dengar sang sahabat yang berkesan dalam hatinya itu hendak pergi, bagaimana ia tidak gegetun?
Maka tatkala ditegur oleh Hoan Giok Hoa, ia lantas membuka mulutnya.
"Anda! Bolehkah kau tinggal dulu untuk sementara? "
"Manusia, hidup matinya ditangan Yang Maha Esa, berpisah atau berkumpul tergantung dengan jodoh. Didalam penghimpunan manusia berpisahan merupakan satu intermeso dalam penghidupan saja. Apakah dilain waktu sudah tidak ada kesempatan untuk berjumpa lagi? "
Tan Liong anggukkan kepala dengan sikap lesu, kemudian berkata.
"Ya, dilain waktu kita bisa berjumpa lagi. Ada satu hari nanti aku akan datang ke lembah Hong hwee kok."
Gadis baju merah itu unjukkan ketawa getir, sambil mengawasi Hoan giok Hoa ia berkata.
"Nona Hoan, aku hendak pergi, sampai berjumpa lagi."
Hoan giok Hoa mendadak berseru.
"Enci baju merah, bolehkah aku ikut kau pergi bersama-sama? "
"Kau hendak ikut aku? Apakah kau tidak akan pulang bersama-sama dengan dia? "
"Dia tadi bukankah berkata bahwa ada satu hari dia akan kunjungi kau dilembah Hong hwee kok? "
Gadis baju merah itu anggukkan kepalanya dan berkata.
"Baiklah, tapi engko Tanmu barangkali tidak mengijinkan kau pergi bersama-sama dengan aku."
"Boleh saja, engko Tan toh masih akan banyak urusan yang harus dibereskan. Jika aku berada disampingnya malah merepotkan dia saja, aku kata betul tidak? "
Perkataannya yang terakhir ini ditujukan kepada Tan Liong. Tan Liong anggukkan kepala. Hoan Giok Hoa berkata pula sambil ketawa.
"Enci baju merah! Kau lihat, engko Tan Liong tidak keberatan."
"Kalau begitu, marilah kita berangkat! "
Setelah berkata demikian, sebentar kemudian dua nona cantik itu sudah menghilang di dalam kegelapan.
Tan Liong berdiri menjublek sambil menghela bapas panjang.
sekarang ia mendadak merasa bahwa dirinya kesepian, seperti anak piatu yang sudah berayah dan beribu.
Ia berpaling kepada orang tua rambut putih yang tadi berdiri dibelakangnya, juga entah sejak kapan sudah berlalu.
Ia dongakkan kepalanya memandang ke langit yang gelap gulita.
Apa yang dilihat hanya kelak keliknya bintang yang bertebaran dilangit.
Ia lalu terkenang semua apa yang telah terjadi atas dirinya.
Sejak ia muncul didunia Kang-zsouw, bukan saja tidak mendapat hasil apa-apa, bahkan hampir saja mengantarkan jiwanya.
Suhunya, Yo Swie Peng suruh ia mencari Sam gan Mo kun atau si iblis mata tiga dan Thian liong lie untuk menuntut balas dendam sakit hati, tapi ia tidak berhasil melaksanakan tugas itu.
Hiat liong itu atau si Naga Merah suruh ia mencari Ong Khim San yang bergelar Lam kek Sian ong, untuk meminta kunci yang digunakan mengurung dirinya, juga tidak berhasil.
Pesan ibunya yang suruh ia membunuh ayahnya Tan Chiang Bin dan juga gundiknya Cie Bun bun.
Ia menghela napas berulang-ulang dan menggeleng gelengkan kepalanya lalu mulai melakukan perjalanan yang tidak bertujuan.
Dari jauh, terdengar suara saling bentak yang memecah suasana sunyi senyap itu.
Ia ketawa sendiri, lalu berkata kepada dirinya sendiri.
"Permusuhan didalam dunia Kangouw ......
ah!
hidup manusia seperti impian, apa perlunya harus berebutan nama dan kekayaan?
Suara saling bentak makin tegas kedengarannya.
Disamping itu, juga terdengar suara beradunya senjata tajam.
Hingga membuat suasana malam yang sunyi bertambah seram!
Tan Liong tidak mau perdulikan itu semua ia hendak menggunakan otaknya untuk memikirkan hari depannya secara tenang.
Bayangannya yang berjalan seorang diri perlahan-lahan telah menghilang keluar rimba!
Ia sendiri masih belum tahu harus berjalan menuju kemana.
Didalam rimba dari arah kirinya terdengar suara ngeri ia terpaksa hentikan tindakan kakinya berjalan menuju ke arah suara tersebut.
Sebentar saja Tan liong sudah berada di tempat dimana tadi terdengar suara jeritan ngeri.
Dan apa-apa yang ia saksikan?
Seorang pemuda rebah terlentang di tanah dalam keadaan tidak karuan macam pemuda itu mungkin sudah putus nyawanya.
Tan Liong mengawasi sejenak, hawa amarahnya lantas meluap.
Perbuatan wanita itu terlalu kejam.
Suara saling bentak kini sudah sirap.
Beberapa bayangan orang sudah mulai meninggalkan rimba lebat itu.
Tan Liong selagi hendak melanjutkan perjalanannya lagi, mendadak ..
Sesosok bayangan orang dengan kecepatan laksana anak panah yang terlepas dari busurnya meluncur ke depan.
Dengan tanpa banyak pikir lagi Tan Liong lantas mengejar.
Sebentar kemudian bayangan orang itu sudah berdiri dibawah Ebook by .
Dewi KZ, Aditya, aaa, Budi S, Nico kangzusi.com sebatang pohon besar.
Nampaknya celingukan kesana kesini seperti menantikan kedatangannya seseorang kemudian terdengar pula suara ketawa merdu dan sesosok bayangan orang telah telanjang turun disampingnya bayangan orang yang duluan.
Suara seorang wanita yang amat merdu terdengar ditelinganya.
"Sudah lama kau menunggu? "
"Tidak, tidak! Aku juga baru saja tiba, adakah nona ada urusan apa-apa? "
Demikian terdengar suara jawaban dari bayangan orang yang datang duluan. Terdengar pula suara wanita sambil ketawa cekikikan.
"Aku ajak kau datang kemari apa perlunya? Masak kau tidak tahu? "
Sehabis berkata, badannya dijatuhkan kedalam pelukannya orang yang datang duluan tadi.
Perbuatan yang dilakukan secara tiba-tiba itu agaknya membuat terkejut orang itu, hingga menjadi gelagapan dan berkata dengan suara terputus-putus.
"Nona .... ini .... ini ...."
"Kenapa? Apa kau takut? "
Demikian jawabnya wanita itu.
Orang itu ketika mendengar jawaban demikian lantas ketawa, kemudian memeluk erat-erat tubuhnya wanita itu.
Tan Liong yang menyaksikan keadaan demikian, wajahnya lantas berubah.
Jika ia tidak unjukkan diri, laki-laki itu pasti akan mati konyol ditangannya wanita cabul itu.
Setelah mengambil keputusan demikian ia lalu membentak dengan suara keras.
"Hai perempuan cabul! Kau tidak boleh hidup lebih lama lagi! "
Berbareng dengan itu, ia lantas maju menerjang.
Gerakan Tan Liong itu dilakukan cepat sekali namun wanita itu agaknya mengetahui kalau perbuatannya sudah kepergok orang.
Dengan mendadak ia lepaskan dirinya dari dalam pelukan laki-laki itu, dan lantas lompat mundur dengan gerak badannya yang gesit sekali!
"Perempuan tidak tahu malu!
Akan kubunuh kau!"
Demikian Tan Liong membentak yang lantas dibarengi dengan serangannya yang amat dahsyat.
Wanita itu agaknya tidak menduga kalau ada orang yang memergoki perbuatannya.
Dalam kagetnya, ia buru-buru lompat mundur lagi untuk menghindarkan serangan Tan Liong .....
Melihat sudah dua kali serangannya telah mengenakan tempat kosong Tan Liong diam-diam juga merasa kaget.
Ketika itu ia lantas membentak pula dengan suara keras.
"Nona, usiamu masih muda jelita .... mengapa .... kau ...."
Seketika ia lantas menjadi gelagapan, karena ketika matanya menatap paras wanita tersebut, segera dapat mengenali paras cantik yang tidak asing lagi.
Dalam kagetnya dengan tanpa terasa kakinya lantas mundur dua tindak .....
Wanita itu juga terkejut, ia mundur dua tindak, dengan suara gelagapan ia berkata.
"Kau .... kau .... kau ...."
Untuk sesaat lamanya, kedua-duanya saling pandang, masing-masing agaknya tidak percaya matanya sendiri! Sambil membuang ludah Tan Liong berkata.
"Kau .... kau adalah Chie Cui? "
"Tidak salah, aku adalah Chie Cui dan kaukah Tan Liong! "
Jawabnya perempuan itu yang bukan lain adalah Chie Cui sambil ketawa mengejek.
Tan Liong tiba-tiba merasakan dingin dan gemetar sekujur badannya.
Ya Allah seorang gadis suci murni kenapa bisa berubah menjadi seorang wanita cabul dan iblis yang membunuh setiap orang lelaki tanpa berkedip?
Seketika itu hatinya dirasakan hancur remuk dan tenggelam berkeping-keping kedasar lautan .....
Kalau bisa ia kepingin segera meninggalkan tempat seperti neraka itu ....
Hatinya sesaat merasa sangat pilu, dua butir air mata tiba-tiba merasa keluar membasahi kedua pipinya!
Ya, itu semua karena gara-garanya ia sendiri sehingga membuat dirinya seorang gadis yang masih suci murni kejeblos kedalam neraka.
Jika dulu ia tidak dengar dan membantu Yao lie lu apakah sekarang ia bisa berubah menjadi demikian?
Tan Liong mendadak merasakan dirinya seolah olah berubah menjadi seorang pancuri yang dihadapkan didepan meja hijau.
Sekujur badannya gemetar, kepalanya seperti diketok dengan godam ....
Chie Cui kembali unjukkan ketawanya yang merdu kemudian berkata.
"Tan Liong, sungguh tidak nyana kita hari ini bisa berjumpa disini."
Ia hentikan ketawanya parasnya mengunjukkan sikap gusar kemudian berkata pula.
"Tan Liong, kau telah merusak kesenangan orang, aku sekarang hendak bunuh mati dirimu! "
Tan Liong yang masih seperti seorang yang kehilangan semangat menjawab secara ngawur.
"Benarkah kau bisa berbuat demikian? Kau .... benarkah itu? "
"Ya, aku yang berbuat! "
Tan Liong bergidik wajahnya pucat seperti kertas, hampir saja ia jatuh terlentang ditanah. dengan kertak gigi ia menahan kepedihan hatinya kemudian berkata dengan suara perlahan.
"Kenapa kau harus berbuat demikian? "
"Sebabnya kau telah memberikan terlalu banyak sekali kepadaku."
"Sekalipun aku berlaku tidak baik terhadap dirimu kau juga tidak seharusnya demikian! "
Chie Cui parasnya lantas berubah dengan suara bengis ia berkata.
"Tan Liong ...., ha-ha-ha apakah aku berubah?
Tahukah kau apa sebabnya aku berubah begini?
Kalau aku hendak membunuh orang laki-laki itu adalah hendak minta kembali dari mereka apa yang aku telah kehilangan dalam tanganmu ....
laki-laki apa yang patut dibanggakan?
....
Aku permainkan satu persatu lalu aku bunuh satu persatu ...."
Ia lalu ketawa seperti orang gila yang membuat berdiri bulu roma setiap orang yang mendengarkannya.
Ya, ia telah berubah, ia telah berubah sebagai wanita yang menakutkan.
Dengan paras pucat, setindak demi setindak ia menghampiri Tan Liong seraya berkata sambil ketawa terbahak-bahak.
"Tan Liong, enciku oleh karena kau telah korbankan kesuciannya, tapi apa yang kauberikan kepadanya? Ya, hanya kehinaan dan kehinaan kau anggap ia sebagai perempuan rendah martabatnya. Tapi kenapa ia harus berbuat begitu? Dan apakah sebabnya? "
Setiap perkataan Chie Cui itu seolah-olah pedang tajam yang menusuk sangat dalam sekali kena hatinya Tan Liong, darah mulai keluar. Dengan paras merah padam, Chie Cui berkata pula dengan suara bengis.
"Tan Liong, bagus sekali perbuatanmu terhadap diriku, ha-ha-ha! Tan Liong, kau telah dengar perkataannya Yao lie lu yang manisnya seperti madu, tapi apa yang kau dapatkan dari padanya? Ketenangan? Kebahagiaan? Coba kau jawab! Tan Liong, aku hanya permainkan orang laki-laki saja, sebagai pembalasan terhadap hati orang laki-laki yang napsu dan tidak boleh dipercaya seperti kau ini."
"Kau, kau jangan melanjutkan perkataanmu lagi."
"Kenapa? Apa kau merasa menyesal? "
Hati Tan liong merasa perih sekali.
Chie Cui bisa berubah demikian, siapakah yang bersalah?
Dalam anggapannya, cuma sedikit saja kesalahannya, siapa nyana bisa berakibat demikian menakutkan.
Kala itu apabila ia bisa menghibur dengan baik barangkali tidak sampai terjadi perubahan demikian.
Tan Liong setelah menderita hebat hatinya, sebaliknya malah berobah menjadi tenang sambil kertak gigi ia berkata.
"Nona Chie, semula aku benar-benar tidak tahu kalau encimu benra-benar telah ...."
"Apa kau anggap kita kakak beradik ada manusia rendah? "
"Nona Chie, aku tahu bahwa aku sudah bersalah, tapi kau tidak seharusnya berubah demikian menakutkan."
"Apa yang dibuat takut? Laki-laki permainkan kita, dan kita balas permainkan laki-laki apa salahku."
"Urusan yang sudah lalu kita tidak perlu bicarakan lagi, sekarang aku hendak bunuh mati kau."
jawabnya Chie Cui sambil ketawa dingin, dan kemudian badannya bergerak dengan senjata mendadak tangannya menyerang Tan Liong. Tan Liong berkelit sambil berseru.
"Nona Chie dengar dulu perkataanku"
Tapi Chie Cui tidak hiraukan padanya, ia masih tetap menyerang dengan kalap.
"Siapa yang membikinku sampai menjadi begini? Ya, itu semua adalah gara-garamu, maka aku tidak bisa melepaskan kau begitu saja, aku hendak makan hatimu .... hirup darahmu."
Tan Liong yang diserang beruang-ulang oleh Chie Cui, terus terdesak mundur tidak mau membalas. Akhirnya ia berkata dengan suara cemas.
"Nona Chie, kau harus maafkan diriku."
Chie Cui terus menghujani serangan tanpa hiraukan perkataan Tan Liong.
Selama berpisah dengan Tan Liong, Chie Cui agaknya sudah berubah segala-galanya.
Dulu ia masih kekanak-kanakan, aleman dan suci murni.
tapi sekarang semua sifatnya itu telah lenyap tanpa bekas.
Ini seperti juga selembar kertas putih yang kena tetes tinta hitam, tidak dapat dihapus untuk selamanya!
Tiba-tiba dari jauh terdengar suara siulan nyaring seolah-olah memekakkan telinga kemudian disusul oleh munculnya satu bayangan merah yang meluncur turun ketengah kalangan.
Kedatangan bayangan merah itu ada cepat sekali.
Dalam kagetnya Chie Cui lantas tarik mundur dirinya dan tatkala mengetahui siapa adanya bayangan merah itu, Tan Liong dan Chie Cui pada terperanjat!
Bayangan merah yang muncul secara tiba-tiba itu adalah Chie Peng, encinya Chie Cui.
Ketika melihat encinya, Chie Cui lantas berseru.
"Enci! "
Chie Peng cuma tertawa hambar dan berkata.
"Adik, beberapa peristiwa dikota Khay hong yang sangat menggemparkan itu benarkah ada perbuatanmu? "
"Ya, enci. Itu adalah perbuatanku! "
Mendengar jawaban terus terang itu, Chie Peng lantas ketawa terbahak-bahak seperti orang gila kemudian ia berkata.
"Adik, ternyata kau seorang pemberani .... tapi encimu inilah yang mencelakakan dirimu! "
"Tidak! Tan Lionglah yang mencelakakan kita."
"Ya, memang dia."
Ia kertak gigi dengan mata beringas memandang Tan Liong sejenak kemudian menatap paras adiknya seraya berkata.
"Adik lekas pergi, kalau tidak, sudah tak keburu lagi."
Tapi belum habis perkataannya ia sudah menarik tangan adiknya dan lompat melesat keluar dari dalam rimba.
Tan Liong tercengang , ia dapat menduga pasti ada terjadi sesuatu yang amat gawat.
Dugaan tan Liong benar saja tidak meleset.
Baru saja Chie Peng dan adiknya berlalu dari situ, dari jauh mendadak terdengar suara orang tertawa dingin, dan ketika Tan Liong melihat lebih jauh, wajahnya lantas berubah ....
Beberapa bayangan orang telah menghadang perjalanannya Chie Peng dan Chie Ciu.
Dan orang-orang itu ternyata adalah orang-orangnya Thian seng hwee!
Apa yang membuat Tan Liong kaget dan terheran-heran adalah pemimpinnya rombongan orang-orang Thian seng hwee itu bukan lain daripada si nenek Hiat hun Koay po.
Chie Peng dan Chie Cui parasnya pada berubah seketika.
keduanya pada mundur satu tindak!
Dalam rombongan orang-orang Thian seng hwee terdapat dirinya Ciok Eng Cay dan lain-lainnya orang-orang lihai, semuanya berjumlah 8 orang.
Mereka telah mengurung Chie Peng dan Chie Cui ditengah-tengah kalangan.
Chie Peng menimbang-nimbang keadaan didepan matanya ia tahu bahwa malam itu ada merupakan hari akhir baginya dan adiknya.
Sebab rombongan orang tua itu telah dipimpin oleh suhunya sendiri.
Mau tidak mau ia harus keraskan kepala, kedua-duanya menghadap Hiat hun Koay po sambil memanggil.
"Suhu."
Hiat hun Koay po delikkan matanya sambil ketawa yang menyeramkan ia berkata.
"Nyali kamu berdua benar-benar besar sekali dengan berani telah menolong dirinya ketua partai Ciong lam pay dan menghianati perguruannya sendiri. Kalau aku tidak dapat membinasakan kalian si budak hina ini percuma saja aku mendapat gelar nama Hiat hun Koay po! "
Sehabis berkata setindak demi setindak ia berjalan menghampiri kedua muridnya! "
Chie Peng terpaksa berlaku nekad ia berkata pula ....
"Hunjuk beritahu kepada suhu."
"Kalau kau masih berani memanggil aku suhu lagi aku nanti akan beset mulutmu."
"Suhu, muridmu karena saat itu sedang gelap pikiran, sehingga melakukan itu perbuatan gila. Harap suhu suka memberi ampun kita berdua ...."
"Omong kosong! Jika dimata kamu masih pandang aku si nenek sebagai suhu, apakah kamu bisa berbuat demikian? "
Berbareng dengan itu, tongkat didalam tangannya lantas menyambar dirinya Chie Cui. Sambil berseru.
"Suhu ...... ! "
Chie Cui buru-buru lompat jauh.
Tapi gerakannya itu meski sudah cepat, tapi tongkatnya Hiat hun Koay po ternyata lebih cepat.
Setelah terdengar suara beleduk tongkat itu sudah mampir dibadannya Chie Cui.
Tak ampun lagi darah segar lantas menyembur keluar dari mulutnya Chie Cui sementara itu badannya juga lantas jatuh rubuh ditanah!
Tan Liong pejamkan matanya.
gebukan tongkatnya Hiat hun Koay po itu seolah-olah mengenakan badannya, hingga dirasakan sakit sekali dan hampir saja tak bisa bernapas.
Tatkala ia membuka matanya lagi, kejadian yang mengenaskan telah terjadi pula untuk kedua kalinya!
Hiat hun Koay po setelah menghajar Chie Cui lalu memutar tongkatnya lagi seraya mmbentak pada Chie Peng.
"Budak hina, serahkan jiwamu! "
Dan tongkat itu kembali menghajar tubuhnya Chie Peng.
Ilmu kepandaiannya Chie peng jauh lebih tinggi daripada adiknya, gebukan tongkat yang pertama ia berhasil mengelakkan tapi dalam waktu sekejap serangan kedua sudah sampai.
Dengan tidak ampun lagi tubuhnya Chie peng dibikin terpental sejauh satu tombak lebih oleh serangan suhunya sendiri dan lantas jatuh rubuh sambil menyemburkan darah.
Tan Liong sudah tidak dapat menahan kesabarannya lagi, sebab dua bersaudara itu sampai mengalami nasib buruk seperti malam itu adalah disebabkan karena dirinya.
Saat itu Hiat hun Koay po sudah maju dan berdiri disamping tubuhnya Chie peng dan Chie Cui lalu berkata sambil tertawa dingin.
"Biarlah aku antar kamu ke akhirat menjadi setan-setan romantis."
Setelah berkata demikian lalu putar tongkat ditangannya dan hendak digunakan untuk mengemplang kepala Chie Peng. Tan Liong yang menyaksikan kejadian itu lantas lompat melesat sembari berseru.
"Hiat hun Koay po tahan dulu! "
Hoat hun Koay po yang dibentak secara mendadak benar saja lantas tarik kembali tongkatnya dan mundur beberapa tindak sambil mengawasi Tan Liong ia berkata dengan suara dingin.
"Kiranya adalah kau! "
Tan Liong matanya menyapu ke arah Chie Peng dan Chie Cui yang menggeletak di tanah ia menyahut dengan tenang.
"Urusan kedua muridmu ini telah timbul karena boanpwee, jika Locianpwee sudi membebaskan kedua muridmu ini boanpwee bersedia menerima hukuman yang Locianpwee hendak jatuhkan atas diri mereka."
Hiat hun Koay po delikkan matanya dan berkata dengan suara keras.
"Kematianmu juga sudah berada didepan mata, apa kau ada mempunyai dua jiwa? "
Sementara itu Ciok Eng Cay yang sangat benci sekali terhadap Tan Liong sudah maju menghampiri sambil goyang-goyangkan kipas besinya dengan suara dingin ia membentak.
"Chiang bun jin telah membinasakan anggota perkumpulan kita sebanyak lima enam puluh lebih, rekening ini sekarang kita harus adakan perhitungan" . Tujuh orang lainnya lantas turut maju sehingga Tan Liong terkurung di tengah kalangan. Meraka asal mendapat perintah Ciok Eng Cay segera turun tangan berbareng mengeroyok Tan Liong. Tan Liong yang menyaksikan keadaan demikian diam-diam terkejut. Saat itu bom Pek lek tannya sudah terpakai habis semuanya. Jika orang-orang itu turun tangan semuanya terhadap dirinya sudah tentu agak sukar dilawannya. Namun ia tidak kekurangan akal, dengan cepat tangan kananya dimasukkan kedalam sakunya, kemudian membentak dengan suaranya keras.
"Jika kalian sudah tidak sayang dengan jiwa sendiri, boleh coba-coba sambuti bom Pek lek tanku! "
Bom Pek lek tan benar-benar besar sekali pengaruhnya sebab sudah banyak orang-orang Thian seng hwee yang binasa dibawa ledakan bom itu.
Orang-orang itu lantas pada mundur satu tindak.
Tan Liong lalu berkata pula sambil mengawasi Hiat hun Koay po.
"Locianpwee, kedua muridmu ini meninggalkan perguruannya sebetulnya disebabkan oleh karena boanpwee maka aku tidak dapat membiarkan mereka binasa ditanganmu jika sekiranya Locianpwee sudi membebaskan mereka boanpwee bersedia menerima hukumanmu."
"Benarkah itu? "
Tanya Hiat hun koay po sambil ketawa dingin.
"Semua perkataanku kuucapkan dengan sejujurnya asal Locianpwee sudi membebaskan mereka ......"
Hiat hun Koay po wajahnya lantas berubah dengan suara bengis ia berkata.
"Kalau begitu, kau berangkatlah menghadap kepada Giam lo ong! "
Tongkatnya lalu diangkat pelahan lahan dan hendak mengemplang kepalanya Tan Liong.
Tan Liong diam-diam pejamkan matanya.
ia tidak ingin berkelit, ia sudah bertekad hendak mati untuk menebus dosanya terhadap dirinya Chie peng dan Chie Cui.
Sebab sekalipun ia tidak binasa ia juga tidak tega menyaksikan kedua bersaudara itu mengalami nasibnya yang lebih sengsara lagi.
Sekalipun Tan Liong hendak berkelit ia juga tidak dapat menyingkir dari serangan tongkatnya Hiat hun Koay po.
....
Tapi .....
Selagi tongkat Hiat hun Koay po melayang turun tiba-tiba terdengar suara bentakan yang berat.
"Hiat hun Koay po, kau tidak boleh bunuh mati kepadanya !"
Hiat hun Koay po mendadak merasakan bahwa tongkat ditangannya seperti terlibat oleh sesuatu benda sedang dirinya sendiri terdorong mundur beberapa tindak ....
Tatkala ia dongakkan kepalanya entah sejak kapan dihadapannya ada berdiri seorang tua muka merah dengan rambut dan berjenggot putih seluruhnya.
Hiat hun Koay po terperanjat.
Orang tua itu bisa berada dihadapannya dengan tanpa menerbitkan suara serta dengan gerakan secepat kilat bisa menggunakan kebutannya untuk melibat tongkatnya ini benar-benar ada suatu kepandaian sangat luar biasa.
Setelah Tan Liong menegasi orang tua rambut putih muncul tiba-tiba lantas berkata.
"Locianpwee, ini urusan antara kami sendiri sukakah kiranya Locianpwee tidak ambil bagian? "
Orang itu tersenyum kemudian berkata.
"Ciang bun jin, kau terlalu percaya kepada orang lain. Hiat hun Koay po bukan seorang yang boleh dipercaya mulutnya. Sekalipun kau binasa. dia juga tidak nanti melepaskan kedua muridnya itu."
Tan Liong pikir perkataan orang tua muka merah itu juga ada benarnya.
Sekalipun dia sendiri akhirnya mati, apa tidak mungkin Hiat hun Koay po lantas membunuh sendiri dua orang muridnya yang sudah tak berdaya itu?
Meskipun dalam hatinya berpikir demikian, tetapi diluar masih bisa unjuk senyumannya dan berkata.
"Hiat hun Koay po rasanya bukan seorang semacam itu! "
Orang tua muka merah itu lantas ketawa terbahak-bahak kemudian berkata.
"Ciang bun jin! Kau tak usah bersangsi lagi. Manakah lebih tua usiamu atau usiaku? Percayalah cepat atau lambat Hiat hun Koay po pasti membunuh kedua muridnya itu! "
Berubah lantas wajah Hiat hun Koay po.
"Kau mana mampu? Hmm! "
"Sudah tentu! "
"Kalau begitu coba-cobalah disini! "
Dibarengi dengan kata-katanya tubuhnya melayang tinggi menerjang kearah Chie Peng dan Chie Cui.
Sementara itu tongkatnya juga terputar akan membabat kedua orang muridnya sendiri itu!
Orang tua muka merah itu terus tersenyum hanya terlihat kebutannya menyambar keluar tenaga dalam yang tidak ada taranya menggulung pada sasarannya.
Maka baru saja tongkat Hiat hun Koay po terangkat, badannya sudah dipentalkan sejauh lima tindak hasil kebutan orang tua muka merah itu.
Dengan demikian tongkat si nenek mengenai tempat kosong.
Kepandaian orang tua muka merah itu sesungguhnya sangat mengejutkan hatinya Hiat hun Koay po yang sudah lama malang melintang didunia Kang-zsouw.
Tan Liong kesima.
Hampir tidak dipercayainya matanya sendiri.
Adakah dalam dunia seorang yang memiliki ilmu tinggi sedemikian?
Hiat hun Koay po terang terkejut wajahnya pucat seketika.
Betapalah tidak dengan kepandaian dan kekuatannya sendiri yang hampir tidak pernah menemui tandingan yang setimpal dengan cara begitu mudah dibikin terpental mundur?
Sungguh kepandaian otang tua itu menjadikan dia sendiri tidak percaya!
Dengan kedudukan Hiat hun Koay po didunia persilatan pada waktu itu sekalipun Hiat im cu sikepala dari tiga "cu" (sam cu) juga masih sedikit turun hormat kepadanya.
Siapa tahu hari itu dia merasa dihinakan oleh orang tua itu!"
Sikapnya masih tenang wajahnya masih memperlihatkan senyuman, orang tua itu berkata lagi.
"Hiat hun Koay po. Apa kiranya kepandaian seburuk ini bisa dipakai olehku untuk menolong kedua muridmu? "
Kesima sekali Hiat hun Koay po.
Dengan wajah keheran-heranan dia mengawasi orang tua muka merah itu sedang atas pertanyaan yang ditujukan kepadanya terang tidak didengarnya.
Mendadak berubah wajah si orang tua.
Dengan suara keras dia membentak.
"Apa kalian masih belum mau berlalu dari sini? " -o0o0dw0o0o-
Jilid ke .
20 SUARA itu seperti geledek.
Membuat semua orang Thian seng hwee yang ada disitu terkejut semua.
Semua mereka tanpa menunggu ulangan perintah menggeser kaki masing masina tiga tindak.
Hiay hun Koay po sendiri agaknya masih ingin mencoba.
Dengan suara acuh tak acuh berkata.
"Tua bangka sungguh hebat kau! Coba sebutkan dulu namamu! "
Orang tua yang ditanya, hanya tersenyum sambil ulap-ulapkan kebutan ditangannya akhirnya menjawab juga.
"Kau benar-benar seperti orang buta melek! Siapa adanya aku masa tidak teringat lagi olehmu? "
Ditegur secara demikian, mendadak Hiat hun Koay po pucat lagi wajahnya. Agaknya telah teringat ia kepada seseorang. Dengan suara gemetar coba buka mulut.
"Kau .. kaulah."
"Kalau sudah tahu ya sudah! Tak usah banyak bicara! Dua muridmu ini suka menolong, jangan ganggu mereka!"
Tanpa sadar Hiat hun Koay po mundur dua tindak, diparasnya jelas terlihat roman kaget dan ketakutan.
Orang tua muka merah itu kembali buka mulutnya, dengan suara keras mengebutkan kebutannya kearah orang-orang Thian seng hwee.
"Kalian belum pergi? Jangan sampai tunggu aku turun tangan sendiri ya! "
Hiat hun Koay po tenangkan perasaannya, diam-diam dalam hatinya bertanya mengapa orang itu mendadak bisa muncul disitu.
"Baiklah! Lain waktu aku bisa berusaha menuntut balas."
Setelah berpikir demikian, ia lantas berkata sambil ketawa dingin.
"Baik! Selama gunung menghijau dan tinggi lain waktu bisa kulihat dan kuinjak-injak!"
Setelah berkata demikian matanya mengawasi ke arah orang-orang Thian seng hwee lalu berseru.
"Pergi! "
Dan mendahului orang-orangnya itu, ia sendiri menghilang ketempat gelap.
Ciok Eng Cay dengan beberapa orang lihai Thian seng hwee lainnya ketika melihat Hiat hun Koay po mendadak tinggalkan mereka, tentu tahu apa yang harus mereka lakukan.
Begitulah secara beruntun berlalulah semua orang Thian seng hwee itu dari dalam rimba tadi.
Orang tua muka merah itu ketawa menyeringai, sambil mengawasi Tan Liong yang masih bagai orang kesima dia berkata.
"Ciang bun jin! Apa yang sedang kau pikirkan? Jiwamu sudah kutolong! Apa kau tidak bisa mengatakan terima kasih?"
Tan Liong dikejutkan. Selagi mau menjura memberi hormat, orang tua itu mendadak ketawa tergelak-gelak dan kemudian katanya.
"Tidak perlu! Tidak perlu! Mana aku sanggup terima penghormatan dari seorang Ciang bun jin? "
Untuk sesaat lamanya Tan Liong menjadi bingung, tidak tahu bagaimana harus berbuat. Sementara itu siorang tua rambut putih muka merah dengan sikap sungguh-sungguh berkata.
"Ciang bun jin, padamu telah bertumpuk tumpuk hutang asmara. Kau pikir bagaimana baiknya."
Tan Liong terkejut.
"Mohon petunjuk Locianpwee."
Tan Liong rangkap kedua tangannya membungkam dalam-dalam.
"Dua perempuan ini jika tidak lantaran kau juga tidak sampai terjadi begini seperti apa yang kau saksikan."
"Locianpwee, boanpwee tahu ...."
Tan Liong menunduk lebih dalam perasaan dukanya lebih hebat.
"Kalau sudah tahu itulah yang paling baik. Sekarang tolonglah dulu mereka supaya siuman dulu."
Sehabis berkata dia mengangsurkan dua butir pil hitam kepada Tan Liong.
Dan si pemuda menerima lalu menghampiri Chie Peng dan Chie Cui yang masih menggeletak tak sadarkan diri.
Ketika matanya menatap paras kedua nona itu yang sudah pucat laksana kertas, perasaan lantas timbul dalam hatinya.
Ia dapat menangis kalau tidak dipaksakannya mengeraskan hatinya.
Dipaksanya memasukkan pil pil itu kemulut Chie Peng dan Chie Cui, kemudian menotok jalan darah sadar kedua nona itu Pil warna hitam pemberian orang tua wajah merah itu sebenarnya adalah suatu obat penyembuh segala macam penyakit dan khasiatnya tinggi sekali.
Selang beberapa saat sesudah Chie Peng dan Chie Cui diberikan obat maka luka mereka benar-benar sembuh.
Bagi mereka yang ketika itu bisa lepas dari maut yang menanti sekian lama sudah tentu merasa heran dan semua itu diluar dugaan mereka.
Tetapi tatkala terbentrok mata mereka kewajah Tan Liong, berubah mereka terperanjat dan maklum.
Chie Cui segera lompat bangun.
Lama menatap wajah Tan Liong lalu dengan suara tawar bertanya.
"Tan Liong! Kau yang tolongi kami? "
Tan Liong mengangguk perlahan, selagi ingin mengatakan yang sebenarnya mendadak didengarnya Chie Cui tertawa nyaring lalu disambung dengan kata-katanya.
"Kami mati tidak ada sangkut paut dengan kau! Apa maksudmu menolong kami? "
"Kalau begitu tidak baikkah seseorang menolong orang lain yang dalam kesusahan?"
Tan Liong mengucapkan kata-katanya sedang dalam hatinya merasa pilu. Chie Cui lalu bergerak menghampirinya dengan suara dingin berkata.
"Apa kiramu sesudah berhasil tolongi kami segala dosa dosamu tertebus habis? Hmmm! Aku benci padamu! Mau kutelan kau bulat-bulat kalau tidak mulutku kecil! "
"Nona Chie, harap jangan berkata demikian didepan ...."
"Lalu apa perlu menolongi kami? "
Tangannya bergerak dan menampar pipi Tan Liong.
Tamparan Chie Cui ini dikeluarkan mendadak Tan Liong yang tak menduga duga sedikitpun jadi gelagapan dan harus mandah menerima gaplokan dengan akhirnya mengusap-usap pipinya yang sudah merah.
Ia merasa kesakitan tentunya tetapi tidak bisa gusar.
Dengan suara gugup terputus-putus berketa.
"Kau pukul aku? "
"Salah aku memukul kau?
Tan Liong!
Banyak sekali derita yang kau berikan kepada kami!
Kalau kami bisa kau jadikan seperti orang semacam sekarang ini, siapa yang menyebabkan perubahan kami itu?
Terus terang kukatakan padamu.
"Akan kubunuh kau disini! "
Dan dengan kelakuan macam orang kalap ia menyerang lagi. Mendadak terdengar suara bentakan keras.
"Budak perempuan, tahan! "
Berbareng dengan datangnya suara yang macam geledek itu, seorang tua berwajah merah sudah berdiri ditengah-tengah antara Tan Liong dan Chie Cui.
Chie Cui agaknya sudah tak mau perdulikan siapa yang datang itu, setelah mengawasi si orang tua sejenak, lalu berseru.
"Tua bangka! kau juga mau tahu urusan kami? "
Perkataan ‘tua bangka’ itu bukan saja cuma membuat merubah wajah Tan Liong, orang tua itu sendiri juga seperti agak gusar. Dongkol juga rupanya dia tetapi masih tersenyum dan berkata.
"Budak perempuan, kau menjemukan, rendah sekali martabatmu! "
Chie Cui perlihatkan sikap menantang.
"Eeeh tua bangka! Kami kakak beradik tak pernah mengganggu kau kenapa bolehnya mengatakan kami rendah martabat? "
Perkataan yang sangat kasar itu bisa keluar dari mulut seorang dara muda yang dianggap masih belum kenal dosa seketika membuat si orang tua berubah wajahnya.
Tangannya bergerak, plok!
Chie Cui digamparnya.
Chie Peng mengawasi adiknya ditampar orang, tentu lantas gusar.
"Tua bangka! Kau berani berani menampar adikku? Aku tak mau diam! "
Lalu cepat bagai kilat diterjangnya si orang tua dengan mengeluarkan kuku kukunya ingin mencengkeram wajah si orang tua yang merah seperti kepiting direbus.
Siapa nyana belum lagi tangannya sampai kepada sasaran orang tua itu juga sudah menampar pipinya.
"Kau ini juga! Perlu dikasih sedikit ajaran! "
Tamparan yang belakangan ini tedengar lebih nyaring, jelas lebih berat dari yang diterima Chie Cui, sebab seketika itu dari mulut Chie Peng tampak darah keluar.
Chie Cui membekap mukanya takut ngeri, Chie Peng melongo.
Orang tua muka merah itu dengan hambar berkata.
"Semula kukira kalian dapat kuseret kejalan yang benar, siapa sangka sifat buruk yang kalian pupuk sudah terlalu mendalam. Cuma hanya karena lantaran seorang lelaki kamu bukan saja sudah merusak diri sendiri malah berani sekali melakukan pembunuhan besar-besaran kepada orang-orang tak bersalah. Semua itu guna melampiaskan napsumu? Apa maksud kalian menggegerkan suasana dunia yang sedang tenang?"
Tan Liong yang melihat dihajarnya Chie Peng dan Chie Cui sebenarnya merasa tidak senang dalam hati tetapi tidak berani bertindak apa-apa. Akhirnya dengan memberanikan diri ia berkata.
"Locianpwee semua adalah gara-garaku."
Tetapi orang tua muka merah itu bagai tak mendengar apa yang dikatakan Tan Liong masih meneruskan dampratannya.
"Kamu terlalu!
Chian bun jin, ini sudah minta mati yang keluar dari hatinya yang jujur bukan kamu maafkan kenapa juga hendak membunuh dia?
Apa cuma seorang dia kamu mau jadikan diri kamu begitu rendah?
Hmm.
Memalukan sekali.
terutama kau bikin noda nama kaummu.
Kaum wanita sebangsamu!
Sekarang kuberi peringatan eh, masih berani berlaku kurang ajar juga!
Rasanya tidak perlu orang-orang yang mengkhianati dunia Kang-zsouw seperti kamu semua di biarkan tinggal hidup."
Sementara dia mengatakan kecaman-kecamannya tadi dia masih berseri-seri tetpi mendadak wajahnya beringas setelah berakhirnya kata-katanya.
membuat Tan Liong yang terus memperhatikan perubahan sikap semua orang kaget sekali.
Ia tahu kesan orang tua muka merah itu sudah marah benar, Iapun merasa perlu turun tangan mendahului atau mencegah atau meredakan kegusarannya orang tua itu.
Maka seketika itu ia lantas membungkuk bungkuk dan memohon-mohon cemas.
"Locianpwee, mohon sukalah sekali ini perbuatan mereka di ampuni atas nama boanpwee."
"Kau tahu apa? Ampuni orang-orang semacam beginian? Dibiarkan dua budak hina seperti ini merajalela dikalangan umum? Tidak gampang-gampang. Akan kubawa mereka kelaut luas kuceburkan dan jadikan mereka makanan ikan Hiu!"
Setelah menutup kata-katanya, badan siorang tua itu bergerak dan tahu-tahu sudah mengempit badan Chia Peng dan Chia Cui dengan kedua tangannya.
Tan Liong bertambah tambah cemasnya kaget bercampur takut.
"Locoanpwee, ampuni sekali ini, mereka! "
"Dua budak hina tidak bisa dibiarkan begitu saja. Akan kulemparkan mereka keluar."
Dan sambil menenteng dua wanita muda itu badannya mencelat tinggi sampai dua tombak. Tan Liong mengejar sambil berseru-seru.
"Locianpwee .... Locianpwee ......! Tan Liong melejit mengejar orang tua berjenggot putih itu sembari berkata.
"Locianpwee, ampunilah diri mereka ......"
Orang tua berjenggot itu lantas berpaling kemudian berkata dengan suara dingin.
"Apa gunanya dua budak hina ini dibiarkan hidup? Jika aku tidak lemparkan mereka ke dalam lautan untuk umpannya ikan, apakah harus membiarkan mereka mengacau didunia Kangouw? "
"Semua ini adalah salahku sehingga membuat mereka berubah demikian. Locianpwee, ampunilah mereka, seperti juga locianpwee telah mengampuni diriku ......"
Wajah si orang tua itu segera berubah, sikapnya nampak agung sekali.
"Tan Liong, dengan watakmu yang lemah itu, apakah kau masih mampu memangku jabatan Chiang bun jin? Dalam hatimu tidak tega menyaksikan dirinya dua budak ini dicemplungkan dalam laut, namun tahukah kau jika dua budak hina ini dibiarkan gelandangan didunia Kangouw, entah berapa banyak jiwa manusia yang akan menjadi korban mereka? Moralnya sudah bejat demikian rupa bagaimana kita harus tinggal diam? Kau tak usah banyak bicara lagi! "
Demikian katanya si orang tua jenggot putih itu, matanya menatap wajah Tan Liong yang nampak guram. Kemudian berkata pula.
"Sudah lama kau mencari aku, biarlah aku sekarang memenuhi keinginanmu, benda ini aku berikan padamu? "
Sehabis berkata dari dalam sakunya ia mengeluarkan sebuah anak kunci, lalu diserahkan kepada Tan Liong. Setelah menerima anak kunci itu Tan liong nampak terkejut dan lantas berkata.
"Locianpwee adakah Lam khek Sian ong, Ong Khin San cianpwee? "
"Tidak salah dan sekarang aku hendak pergi! "
Dengan tanpa menghiraukan Tan Liong lagi, orang tua itu lantas gerakkan tubuhnya dan sebentar sudah berada ditempat sejauh lima tombak!
Dengan mulut menganga Tan Liong berdiri ditempatnya.
sungguh tidak nyana bahwa orang tua tadi itu ternyata Lam khek Sian ong, Ong Khim San yang namanya sudah tersohor di dalam dunia persilatan.
Tan Liong mengerti bahwa ia tidak akan mampu mengejar orang tua tersebut, dan iapun maklum, bahwa orang tua mana pasti tidak akan melepaskan pada Chie Peng dan Chie Cui begitu saja.
Siapakah sebetulnya yang membuat kedua kakak beradik itu mengalami nasib tifak beruntung semacam itu?
Itu adalah ia sendiri.
Chie Peng karena mencintakan Tan Liong telah korbankan kesuciannya demi kepentingan pemuda idamannya.
Apakah ada pengorbanan yang terlebih besar dari seorang wanita yang diberikan kepada seorang lelaki seperti perbuatan Chia Peng itu?
Akan tetapi karena kesalah pahaman, membuat mereka kakak beradik berubah segala-galanya.
Perubahan itu malah demikian menakutkan dan kesemuanya itu siapakah yang harus menanggung dosanya?
Bukan lain daripada Tan Liong sendiri.
Mengingat sampai disitu tanpa merasa air mata menitik keluar dari kelopak matanya.
Betapa tidak?
Chie Peng dan Chie Cui akhirnya telah menjadi korban kelemahan hatinya Tan Liong.
Dengan apa harus ditebus dosanya terhadap mereka?
Tiba-tiba ia ingat seseorang wanita lain.
Itu adalah Yao lie lu.
Jikalau bukan karena gara-garanya wanita yang licik dan kejam itu sudah tentu tidak akan terjadi kesalah pahaman.
Memikir demikian wajah Tan Liong berubah pucat.
Berkata kepada dirinya sendiri sambil kertak gigi.
‘Yao lie lu!
Aku akan mengambil jiwamu!
Kau hampir saja membuatku menyesal seumurku.’ Tetapi ketika ia merasa menyesal dengan rasa menyesal yang datangnya terlambat itu ternyata jauh dari terlambat.
Chie Peng dan Chie Cui sudah menjadi wanita-wanita yang bernasib malang yang sebagai kembang sedang mekar-mekarnya mendadak tertiup angin kencang hujan deras sehingga menjadi rontok berantakan, Dengan tindakan lambat-lambat Tan Liong mulai mengangkat kakinya berjalan menuju kedalam rimba yang sunyi senyap.
Berjalan terus ia berjalan tanpa tujuan.
Sinar rembulan menyinari badannya yang tinggi jangkung bayangannya seorang diri memperlihatkan kesunyian dalam hatinya.
Ia merasa seperti pernah mendapatkan banyak dari gadis-gadis remaja yang begitu banyak tetapi semuanya itu sudah lenyap lagi dalam waktu singkat!
Sekarang apapun tidak ada padanya.
Yang tinggal hanya hatinya yang kosong dan sedih.
Kecuali itu sudah tiada ada apa lagi.
Ia mengulur tangannya menyusut air mata yang bertitik jatuh di kedua pipinya lalu menyengir dan menggumam seorang diri.
"Impian ....
manusia hidup bagai mengimpi!
Cinta dan kasih bagai hanya terdapat dalam impian saja ....
Segalanya merupakan impian.
Oh!
impian ....
Perempuan ....
ada apakah pada diri wanita?
....
tidak lain daripada bayangan dalam impian ...."
Kemudian ia bertanya-tanya kepada dirinya sendiri.
Kemana seharusnya jalan yang mesti kutempuh?
Lalu pertanyaan itu dijawab olehnya sendiri pula.
Oh ya!
Aku mesti pergi menolong Hiat liong cu Naga Merah keluar dari penjaranya.
Setelah mengambil putusan demikian tampak Tan Liong melayang jauh sebentar kemudian menghilang dari rimba itu.
Pada saat Tan Liong meninggalkan rimba tadi jauh-jauh disebelah sana terdengar pekik seorang wanita yang dapat membangunkan bulu roma.
Tan Liong yang masih dapat membedakan suara yang lembut bagaimanapun diam-diam merasa terperanjat sedikit.
Dalam otaknya tiba-tiba timbul pula suatu kejadian yang menakutkan.
Apakah perempuan itu mati karena perbuatan itu pemuda yang sudah berubah sifatnya?
Memikir demikian Tan Liong merasakan panas hatinya.
Siapakah sebetulnya anak muda itu?
Dan apa pula sebabnya dia membunuh bunuhi perempuan muda dari kalangan persilatan?
Dengan tidak berayal dan tanpa berpikir panjang pula Tan Liong lantas membelokkan arah larinya mendekat tempat dimana suara jeritan tadi didengarnya.
Sesaat itu tampak hanya sesosok bayangan hitam melesat diangkasa sunyi.
Tan Liong hentikan kakinya secara tiba-tiba.
Apa yang dilihatnya?
Seketika itu dia berdiri melongo!
Apa yang semula diduganya, sedikitpun tidak meleset.
Kembali ada seorang wanita muda berbaju kuning kedapatan mati menggeletak ditengah rerumputan.
Keadaan wanita mana demikian mengenaskan, membuat berubah wajah Tan Liong yang melihatnya.
Ia berkata kata kepada dirinya sendiri, kertak gigi.
"Kalau tidak kucingcang tubuhmu hai manusia serigala tukang bunuh wanita! Aku bersumpah tidak akan jadi orang! "
Sengit sekali Tan liong mengeluarkan kata-kata dan lompat melesat mengejar kesuatu arah, dari mana tadi dilihat ada bayangan lenyap.
Dalam waktu sekejap saja bayangan yang tadi lenyap itu sudah kelihatan didepan matanya.
Saat Tan Liong tak dapat menahan sabarnya membentak dengan suara keras.
"Sahabat, jangan lari dulu! "
Berbarengan saatnya pada detik mana, suara terbahak-bahak terdengar dari arah rimba.
Ketika Tan Liong menoleh dan melihat kenyataan adalah banyak bayangan yang pada lompat lompat melesat kearah bayangan hitam yang sedang dikejarnya tadi.
Lain halnya dengan bebrapa kali lompatan Tan liong mendahului berada disuatu tempat sejarak kira-kira satu tombak dibelakang bayangan hitam tadi.
Suasana mulai tegang.
Agaknya orang banyak dari rimba tadi itupun adalah orang-orang rimba persilatan yang sengaja datang kesitu hendak mencari jejak pemuda perusak kehormatan wanita itu.
Di antara riuhnya suara orang tertawa panjang dan pendek, terdengar suara seseorang lantang.
"Tuan-tuan benar seperti roh setan bergelandanan! "
Itu adalah si bayangan hitam yang berkata, selanjutnya mengatakan.
"Tuan-tuan selalu mengikuti aku, dan kali ini dapat belajar kenal dengan tuan-tuan sekalian sesungguhnya merupakan suatu kebanggan buatku."
Sifat dan kesombongan orang itu tertampak tegas dari rupa dan sikapnya.
ketika Tan Liong mengawasi ke arah rombongan orang banyak itu dilihatnya mereka maju dengan berebutan dan saling mendahului.
Maka ia berkata.
"Tuan-tuan mundurlah dulu! Biar aku yang rendah ingin mengetahui bajingan cabul ini sebenarnya seorang macam bagaimana."
Orang-orang yang ada disitu ketika mendengar Tan Liong berkata demikian lantas mundur. Orang itu mendadak memutar badan. Melihat rupa orang itu, Tan Liong lantas berseru kaget.
"Kau .... ! Kau .... ! "
Dengan seruannya itu Tan Liong berubah parasnya pucat, hampir ia roboh di tanah.
Orang itupun melihat Tan Liong wajahnya berubah dan tanpa merasa lantas mundur dua tindak.
Keadaan serupa demikian tentu sangat mengherankan bagi setiap orang yang tadi datang berduyun-duyun.
Pemuda baju abu-abu itu yakni Tan Liong sendiri sejak tadi malah terus dapat mendahului mereka yang mengejar pemuda yang dikatakan cabul tadi.
Tetapi mengapa setelah saling berhadapan, kedua-duanya kelihatan begitu kaget dengan masing-masing mundur beberapa tindak?
Dengan suara gemetar Tan Liong berkata.
"Kau .... bukankah kau ini Koan Beng? "
Yang ditanya segera menjawab dengan nada menyindir.
"Tidak salah akulah Koan Beng sahabatmu yang paling akrab!"
Tan Liong berdiri dengan badan gemetaran, jidatnya nampak mengeluarkan keringat berketel-ketel. Dalam batinnya itu berseru.
"Oh Allah! Tidak tahunya pemuda cabul inilah Koan Beng suami bekas kekasihku, Cu Lian! "
Ia berdiri terpaku.
Sesuatu kejadian yang kejam kembali telah timbul diotaknya.
Sekujur badannya dirasakan dingin jiwanya serasa telah meninggalkan badannya sehingga pada saat itu apabila ia ditowel orang sedikit saja pastilah akan rubuh.
Perbuatan Chie Cui yang merusak dan membunuh-bunuhi laki-laki muda telah timbul justeru karenanya.
Dan sekarang perbuatan Koan Beng yang merusak kehormatan perempuan-perempuan muda dia yang bikin heboh dunia Kangouw adalah juga disebabkan karenanya.
Memikirkan itu semua badannya semakin gemetar.
Dalam pada saat itu cuma mempunyai satu pikiran saja ialah.
"Kabur .... kabur .... kabur .... meninggalkan tempat itu! "
Wajah Koan Beng tiba-tiba berubah menjadi beringas dengan suara dingin ia berkata.
"Tan Liong, sungguh tidak dinyana kita bisa saling berjumpa lagi! "
Tan Liong kuatkan hatinya ia gertak gigi dalam hatinya beroikir, Koan Beng pasti menganggap bahwa isterinya Cu Lian mengkianati dirinya, maka ia hendak permainkan dirinya kaum wanita muda untuk membalas dendam terhadap dirinya Cu Lian.
Namun antara aku dengan Cu Lian perhubungannya memang bersih, ia toh tidak boleh timbul pikiran demikian.
Karena anggap bahwa dirinya tidak bersalah maka ia lantas menjawab sambil ketawa dingin.
"Koan Beng, sungguh tidak nyana kau telah berubah sedemikian menakutkan. Apakah sebab yang sebenarnya? "
"Sebabnya ialah karena istriku tidak setia kepadaku! "
"Kau jangan menuduh orang yang bukan-bukan. Ia adalah seorang istri yang putih bersih."
"Putih bersih? ...."
Berkata Koan Beng sambil ketawa terbahak-bahak, namun suara ketawanya itu sangat menyeramkan apalagi diwaktu malam yang sunyi seperti malam itu.
Setelah merasa puas dengan ketawanya, ia lalu berkata pula.
"Tan Liong, aku telah diberaki oleh isteriku, aku dibikin seperti kuya, kau Tan Liong telah membikin perhubungan gelap dengan isteri
KANG ZUSI ku, apakah kau masih anggap dirimu sebagai manusia? "
"Koan Beng, kau terlalu jahat, diantara isterimu dengan aku, memang betul pernah terjalin percintaan yang mesra namun hal itu terjadi sebelum ia menjadi isterimu. Kau harus mengerti, tuduhan dan perbuatanmu ini bukan saja dapat menimbulkan panas hati orang tapi juga menyakiti hati isterimu sendiri! "
"Tan Liong, urusan antara isteriku dengan kau untuk sementara kita tak usah bicarakan dulu, kau harus ingat malam itu kau pernah memukul diriku dan dendam sakit itu, kini aku hendak membuat perhitungan! "
Dengan cepat ia menghunus pedangnya dan menusuk kedada Tan Liong!
Tan Liong merasa penasaran, karena sampai pada saat itu Koan Beng masih menganggap bahwa isterinya ada mempunyai hubungan yang tak wajar dengan dirinya.
Padahal dirinya sendiri atau Cu Lian sama-sama putih bersih.
Ia sebetulnya hendak bunuh mati Koan Beng, tapi mendadak suatu pikiran timbul dalam otaknya, ia tak boleh membunuh pemuda itu sebab kalau hal itu terjadi, Cu Lian tak akan mau mengerti.
Oleh karena pikirannya itu, maka setelah mengelakkan serangan Koan Beng, ia buru-buru mundur 8 tindak.
Sementara itu Ceecu atau kepala dari Thian liong cee, Cungcu dari Pek hoa San chung yang berada diantara orang banyak itu lantas maju menghampiri sambil keluarkan bentakan keras.
"Penjahat cabul, terimalah bagianmu! "
Keduanya lalu menyerang berbareng dengan senjata masing-masing kepada Koan Beng.
Koan Beng sambuti serangan mereka sambil ketawa dingin, setelah itu lantas balas serang dengan sengit.
Kepandaian yang dikeluarkan oleh Koan Beng itu membuat Tan Liong tercengang.
Pada beberapa bulan berselang Koan Beng masih belum mempunyai kepandaian setinggi itu.
Ia tak habis mengerti Koan Beng karena salah paham terhadap Cu Lian, telah berubah sifatnya menjadi bajingan besar tukang merusak diri kaum wanita.
Ia lalu balikkan badannya berlalu meninggalkan tempat itu.
Selagi berjalan sambil memikirkan persoalannya Koan Beng mendadak didepannya terlihat suatu bayangan orang, ia hentikan kakinya.
Ia goyang-goyangkan kepalanya yang seolah-olah kosong melompong lalu pasang matanya mengawasi bayangan orang yang terpisah tidak jauh dihadapan matanya.
Mendadak kedua matanya dibuka lebar-lebar.
Ia segera menyongsong bayangan orang itu sambil berseru.
"Adik Lian."
Memang benar bahwa bayangan orang di depan matanya itu adalah kawan sejak masih anak-anak dan yang kemudian saling mencinta.
Ia itu adalah Cu Lian!
Begitu melihat Tan Liong, Cu Lian tampak semakin sedih akhirnya ia membiarkan tubuhnya dipeluk erat-erat oleh Tan Liong.
Suara saling bentak dari tempat yang agak jauh, terdengar lapat-lapat ditelinganya, perempuan muda yang bernasib malang itu akhirnya muncul ditempat yang sepi sunyi itu.
Tan Liong tak dapat menahan emosinya yang meluap, ia berkata sambil memeluk tubuh Cu Lian.
"Adik Lian .... kita seperti berada dalam impian."
Cu Lian dengan perlahan mendorong dirinya Tan Liong. Dengan air mata meleleh ia berkata sambil ketawa getir.
"Ini bukan impian ....
sebetulnya penghidupan itu bukankah merupakan satu impian besar juga?
Engko Liong ....
aku datang untuk mencari dia, benar-benar dia telah melakukan perbuatan yang menakutkan itu."
Tan Liong anggukkan kepala dan menjawab.
"Ya, ia telah melakukan perbuatan yang terkutuk itu.
Ia sudah membunuh dan merusak kehormatannya tak kurang dari 5 atau 6 orang gadis remaja dari kalangan Kangouw mungkin itu semua karena gara-gara kita...."
Diparasnya Cu Lian tampak tegas diliputi oleh kedukaan yang hebat.
Ia menatap wajahnya Tan Liong agaknya hendak menyelami pikirannya pemuda yang pernah menjadi kekasihnya sejak masih anak-anak itu.
Bagi Tan Liong paras Cu Lian agaknya rada asing ....
Dibanding dengan pertama kali ia jumpa padanya, paras itu kini seolah-olah kembang yang sudah layu.
Ya selama beberapa waktu lamanya ia telah hidup dalam kesengsaraan dan kedukaan hebat ....
Meski ia masih selalu ingat dirinya Tan Liong itu pemuda yang merupakan kekasihnya yang pertama tapi biar bagaimana itu adalah kejadian yang sudah lalu tidak akan kembali lagi.
Suatu pengalaman yang paling pahit dalam hidupnya yang setengah hampa itu adalah kesalah pahaman suaminya terhadap dirinya Tan Liong yang dianggapnya ada mempunyai hubungan tidak wajar.
Kesalah pahaman itu tidak dapat dicuci bersih sebab Koan Beng tidak percaya kepada dirinya lagi.
Suatu penderitaan batin yang menindih dirinya lagi adalah terjadinya beberapa kali perkara perkosaan dan pembunuhan terhadap dirinya gadis-gadis muda yang telah terjadi dalam kalangan Kangouw pada belakangan ini ternyata ada perbuatan suaminya sendiri Koan Beng!
Dan kini ia telah menimbulkan seluruh kenangan hidupnya yang pahit getir.
Semua kejadian yang sudah lalu seolah-olah merupakan suatu impian buruk baginya perubahan hidup manusia sesungguhnya bisa terjadi setiap saat dalam waktu begitu cepat.
Kenapa?
Yah!
Kenapa?
Dalam pikirannya yang sudah mulai tenang, Tan Liong seolah-olah melemparkan sebutir batu secara yang tidak terduga-duga sehingga menimbulkan suatu tragedi dalam rumah tangganya....
Adakah ini takdir?
....
Mereka berdua berdiri berhadap-hadapan sinar mata mereka yang sudah sayu telah penuh kenangan manis dimasa masih kanak-kanak.
Mereka pada mengenangkan kembali saat-saat mesra yang sudah terbang seolah-olah asap tertiup angin.
Kini hanya air mata yang mewakili mulut mereka untuk berbicara atau mengeluarkan isi hati mereka satu sama lain hakekatnya diantara mereka berdua juga sudah tiak ada perkataan apa-apa yang bisa dikeluarkan dari mulutnya.
Suara saling bentak tiba-tiba memecahkan kesunyian dan membuyarkan impian mereka.
Tan Liong ketawa sinis dengan tanpa sadar mulutnya mencetuskan suatu kata kata yang memilukan hati.
"Apa yang sudah lalu .... tidak dapat dicari kembali."
"Ya, apa yang sudah lalu .... cuma tinggal bekasnya saja yang tertanam dalam hati nurani kita masing-masing, bekas-bekas itu tidak dapat dihapus untuk selama-lamanya ...."
Sahutnya Cu Lian. Tan Liong mengawasi bayi dalam gendongannya Cu Lian berkata pula smbil tertawa getir.
"Adik Lian! Apa kedatanganmu ini hanya semata-mata untuk mencari dia? "
"Ya, sungguh tidak kusangka bahwa perbuatan terkutuk itu adalah perbuatan dia, aku tidak bisa memaafkan padanya."
"Semula aku juga tidak percaya kalau hal itu ada perbuatannya."
"Dia telah berubah! "
"Ya, sudah berubah, bahkan berubah menjadi tidak karuan!? "
Jawabnya Tan Liong sambil angguk-anggukkan kepala.
Baru saja menutup mulutnya, sesosok bayangan orang tiba-tiba melayang turun ditengah-tengah antara mereka berdiri!
Tatkala Tan Liong mengawasi orang tersebut.
wajahnya berubah dengan mendadak, kerena orang yang baru muncul itu bukan lain daripada Koan Beng sendiri!
Dengan mata beringas Koan Beng mengawasi Tan Liong mungkin saat itu ia masih belum lihat Cu Lian maka ia berkata kepada Tan Liong dengan nada suara sangat dingin.
"Tan Liong, kau hendak lari kemana? Peroalan antara kita harus dibereskan dahulu baru kau boleh pergi! "
Tan Liong dengan tanpa terasa mundur dua tindak selagi hendak menjawab Cu Lian tiba-tiba menyelak dan berkata.
"Engko Beng, ......"
Dan lalu menubruk dirinya Koan Beng.
Koan Beng agaknya dikejutkan oleh perkataan yang datangnya secara tak terduga itu ia lantas berpaling dan segera lihat wajahnya Cu Lian.
Untuk sesaat lamanya ia tertegun!
Dari jauh ada beberapa bayangan orang lari menuju kearah berdirinya Koan Beng.
Cu Lin yang berada dalam dadanya Koan Beng berkata pula sambil menangis.
"Engko Beng, kau melakukan perbuatan apa .... ? "
Pada saat itu beberapa puluh bayangan orang sudah mengurung rapat dirinya Koan Beng dan Tan Liong bertiga.
Koan Beng tiba-tiba tertawa terbahak-bahak lalu mendorong dirinya Cu Lian kemudian berkata dengan suara bengis.
"Perempuan hina, tidak tahu diri kau lekas enyah dari sini! "
Cu Liong didorong oleh Koan Beng mundur sempoyongan sampai sepuluh tindak lebih hampir saja ia jatuh terjengkang.
Tan Liong yang menyaksikan kejadian demikian hatinya sangat pilu.
Koan Beng dengan wajah pucat pasi dan sinar mata buas menatap wajah Tan Liong lalu berkata dengan suara keras.
"Tan Liong, tidak kusangka bahwa kalian berdua ada datang bersama-sama, ha-ha sungguh pasangan merpati hutan yang tidak tahu malu ...."
"Koan Beng, kau jangan sembarangan memfitnah orang, kedatanganku kita sesungguhnya tidak sengaja begitu pula dengan pertemuan dengan Cu Lian ...."
"Tidak disengaja? Sungguh enak didengar alasan ini. Kalian selalu berjumpa secara kebetulan, ini sangat mengherankan. Semua dalih ini boleh kau pakai untuk membohongi orang lain, tapi buat aku tidak berlaku! "
Dengan badan gemetar karena gusar, Tan Liong membentak dengan suara keras.
"Koan Beng, kau dengar dulu perkataan orang jangan kau asal mementang bacot saja! "
"Kau merebut isteriku tidak halangan. berapa sih harganya seorang wanita? Cuma, kau telah memberi hadiah satu tamparan kepadaku, sekarang aku juga hendak balas dengan tusukan pedang padamu! "
Sehabis mengucapkan perkataannya, ujung pedangnya lantas bergerak menusuk dirinya Tan Liong. Berbareng dengan itu, tiba-tiba terdengar suara bentakannya Cu Lian.
"Koan Beng, tahan! "
Dan lantas menubruk dirinya Koan Beng. Koan Beng benar saja lantas tarik kembali serangannya dan berkata dengan nada mengejek.
"Kenapa? Kau merasa kasihan bukan? "
Cu Lian parasnya pucat seketika, kemudian dengan merah padam dan suara bengis ia berkata.
"Koan Beng, kau anggap aku ini orang macam apa? "
"Perempuan cabul! "
Cu Lian tidak marah mendapat jawaban demikian.
sebaliknya malah ketawa terbahak-bahak, suara ketawanya itu telah mengejutkan oroknya yang digendong dibelakang punggungnya, sehingga menangis jejeritan.
Sepasang suami isteri yang bernasib malang itu, masing-masing agaknya hendak umbar kemarahannya dengan suatu keputusan mati atau hidup, hingga membuat rimba yang sunyi tenteram itu seolah-olah diliputi oleh awan gelap dari suatu tragedi yang mengenaskan itu.
Cu Lian hentikan suara ketawanya dan berkata pula.
"Tidak apa kau maki aku sebagai perempuan cabul. Kau mau katakan aku perempuan genit juga tidak halangan! Tapi aku tetap ada seorang perempuan dan seorang isteri yang putih bersih. Koan Beng, kau ada satu laki-laki kejam, buas dan seorang suami yang tidak mempunyai liangsim. bagaimana aku perlakukan dirimu? Tapi sebenarnya kau telah menghina dan menganiaya aku, kau katakan aku ada mempunyai hubungan gelap dengan Tan Liong, sehingga kau tidak segan-segan laksanakan perbuatan terkutuk terhadap kaum wanita lainnya yang tidak berdosa dan tidak ada hubungannya dengan persoalan kita, semata-mata hendak melampiaskan kemarahanmu apakah kau masih mengaku sebagai manusia? Bukan! Kau adalah binatang yang berkedok manusia! "
Dengan tindakan lambat-lambat ia menghampiri Koan Beng seraya berkata.
"Sejak aku menikah dengan kau, aku setia dan mencintai dirimu dengan jujur.
Tan Liong adalah sahabatku sejak masih kanak-kanak dan sebelum aku dinikahkan dengan kau.
Pertemuan tidak sengaja pada malam itu memang ada suatu hal yang kebetulan saja, tapi kau telah anggap bahwa antara kita berdua ada mempunyai hubungan yang tidak wajar, kau manusia macam apa?
Daripada mendiamkan kau berbuat sesukamu dan merupakan bencana bagi dunia Kangouw lebih baik aku bunuh mati padamu."
Setelah itu ia lantas melesat dan menyerang dirinya Koan Beng.
Cu Lian pada saat itu benar-benar sudah kalap disakiti hatinya, kejahatannya Koan Beng yang agaknya sudah sangat mendalam sesungguhnya tidak dapat diampuni.
Sekalipun tidak disebabkan ketidak setiaannya sang isteri terhadap dirinya, ia toh tidak patut melakukan perbuatan yang terkutuk semacam itu manusia begituan apakah masih ada perasaan perikemanusiannya?
Oleh karena dalam keadaan murka Cu Lian telah melancarkan serangan secara kalap terhadap suaminya sendiri.
Tan Liong yang menyaksian itu semua hatinya seperti ditusuk oleh pisau tajam ....
suatu tragedi yang mengenaskan akhirnya telah berlangsung dihadapan matanya.
Jikalau ia tidak berjumpa dengan Cu Lian apakah suami isteri itu bisa saling baku hantam sendiri sehingga menimbulkan tragedi yang sangat mengenaskan ini?
....
Ia tidak berani memikir lagi, ia pejamkan matanya, tidak sanggup menyaksikan adegan yang memilukan hati itu.
Suara bentakan, suara beradunya kepalan ....
seolah-olah bunyi geledek yang mendengung dalam telinganya apa yang dalam pikirannya saat itu ia sendiri juga tidak tahu.
.....
Mendadak ia dikejutkan suara bentakannya Koan Beng, tatkala ia membuka matanya segera dapat dilihat bahwa pemuda itu sedang menyerang isterinya sendiri dengan hebat.
Kepandaian ilmu silatnya Cu Lian memang bukan tandingannya Koan Beng apa lagi ia berkelahi dalam keadaan murka sudah tentu menghamburkan banyak sekali tenaga dalamnya, maka pada saat itu keadaan Cu Lian sudah sangat berbahaya sekali sedangkan ujung pedang Koan Beng setiap saat bisa menembus tubuhnya.
Tan Liong yang menyaksikan keadaan demikian sangat terperanjat.
Ia tidak tahu sampai lima jurus lagi Cu Lian pasti akan binasa ditangan suaminya sendiri.
Kembali ia dengar suaranya Koan beng.
"Budak hina, rebahlah .... ! "
Segera terlihat berkelebatnya sinar pedang kemudian disusul suara jeritan Cu Lian yang lantas lompat mundur.
Tan Liong dapat lihat Cu Lian terluka pada lengannya yang saat itu sedang mengeluarkan banyak darah.
Pada waktu Cu Lian mundur dalam keadaan terluka itu, kembali terdengar suara bentakan Koan Beng.
"Budak hina, kalau aku tidak bikin mampus dirimu didalam hutan ini, aku bersumpah tak mau jadi orang lagi."
Pedangnya segera bergerak pula hendak menikam dada isterinya! Dalam keadaan sangat kritis itu tiba-tiba Tan Liong melompat dan membentak.
"Koan Beng! Kau sungguh kejam ! "
Dengan gerak tipu pukulan yang dinamakan gelombang air laut mendampar pantai, tangan kanannya melancarkan serangan hebat terhadap Koan Beng.
Koan Beng tak menduga Tan Liong akan melakukan serangan terhadap dirinya secara mendadak demikian maka ia lantas urungkan maksudnya hendak menikam diri isterinya hingga dengan demikian ia sendiripun terhindar dari serangan mautnya Tan Liong.
Sambil ketawa dingin Tan Liong berkata padanya."
Perkataan Cu Lian memang benar Koan Beng! Daripada membiarkan kau keluyuran dikalangan Kangouw melakukan kejahatan dan perbuatan terkutuk itu ada lebih baik aku bunuh mati dirimu."
Wajah Koan Beng segera berubah sangat menakutkan dengan mata beringas ia menatap Tan Liong, lalu berkata dengan suara ketus.
"Kalau aku tak bisa membinasakan kamu berdua diujung pedangku aku bersumpah tak mau jadi orang lagi."
Dengan cepat ia lalu melakukan serangan hebat terhadap Tan Liong.
Tan Liong tak dapat kendalikan kemarahannya lagi, setelah menghindarkan diri dari serangan Koan Beng, ia lantas balas menyerang dengan hebat.
Cu Lian yang terluka lengannya, darah masih mengucur deras, hingga parasnya pucat pasi, jidatnya mengeluarkan banyak keringat, sepasang matanya dengan beringas memandang Koan Beng.
Ia kertak gigi, tiba-tiba lompat melesat menyerang belakang punggungnya Koan Beng.
Kepandaiannya Koan Beng tampak mendapat kemajuan tidak sedikit.
Dalam sepuluh jurus Tan Liong ternyata masih belum mampu merubuhkan padanya.
Dengan turun tangannya Cu Lian yang membantu Tan Liong itu berarti menguatkan tuduhannya Koan Beng terhadap diri isterinya yang dianggapnya ada hubungan gelap dengan Tan Liong namun semua itu tidak diperdulikan lagi oleh Cu Lian, yang saat itu seolah sudah gelap pikirannya.
Demikan pula dengan Koan Beng, ia lalu timbul pikirannya hendak adu jiwa dengan Tan Liong, maka ia segera rubah tipu-tipu silatnya dengan secara sengit dan hebat ia menghujani serangan pedang kedada Tan Liong.
Tan Liong diam-diam juga terkejut, ia tahu benar bahwa ilmu pedangnya sekarang pasti mendapat didikan dari satu guru ternama, jikalau tidak, tidak mungkin ia bisa mendapat kemajuan demikian pesat.
Pertarungan antara kedua pemuda itu telah menarik perhatiannya orang banyak yang semula hendak mengambil jiwanya Koan Beng.
Mendadak terdengar suara bentakan Koan Beng, ujung pedangnya membabat diri Tan Liong.
Tan Liong berkelit dan lompat mundur kesamping beberapa tindak.
Tapi serangan Koan Beng masih tidak berhenti disitu saja.
Dengan cepat ia memutar tubuhnya, dan sebelah tangan kirinya menyerang Cu Lian.
Tanpa ampun lagi, tubuhnya Cu Lian lantas terpental jatuh karena serangan Koan Beng yang tidak terduga-duga itu, hingga untuk kedua kalinya Cu Lian menyemburkan darah dari mulutnya.
Oroknya yang digendong dibelakang punggungnya mungkin karena goncangan dan rasa sakit hingga menangis keras dalam jiwanya mungkin juga turut merasa sedih menyaksikan nasib orang tuanya yang menyedihkan itu.
Sambil kertak gigi ia membentak.
"Koan Beng, sekarang aku hendak bunuh mati dirimu!....."
Ia sekarang rupa-rupanya sudah tidak segan-segan lagi untuk membinasakan dirinya Koan beng.
maka ia lantas kerahkan seluruh kekuatan tenaga dalamnya untuk melakukan serangannya.
Pertarungan antara kedua jago muda itu berlangsung terus semakin seru masing-masing sudah berekad bulat hendak membinasakan lawannya.
Dibawah sinar rembulan dan bintang-bintang tidak jauh ditempat mereka bertempur ada rebah menggeletak dirinya Cu Lian yang sudah tidak berdaya.
Semua cita-citanya yang muluk gadis ini telah ludes seluruhnya.
Ia tidak dengar suara tangisan anaknya yang berada didalam gendongannya, jiwanya seolah-olah sudah meninggalkan raganya .....melayang kelain dunia.
Ini ada merupakan suatu tragedi rumah tangga yang mengenaskan.
Pengalaman hidup yang paling sengsara buat seorang wanita muda belia yang masih berusia begitu muda!
Darah merah terus mengalir keluar dari mulutnya yang kecil mungil menyirami tanah didalam hutan belantara.
Sinar rembulan menyinari parasnya yang pucat pasi agaknya memberi hiburan dan kehangatan bagi jiwanya yang hampa, tapi ia sudah tidak dapat merasakan iu semua!
Suara saling bentak masih berlangsung terus, lapat-lapat masuk ke dalam telinganya.
satu kali ia dengan suara bentakannya Tan Liong yang ternyata sedang melakukan serangannya dengan sepenuh tenaga, dan kemudian terdengar suara jatuhnya tubuh Koan Beng, yang dibikin terpental oleh serangan Tan Liong yang sangat hebat tadi.
Kiranya Koan Beng yang diserang demikian hebat, ia tahu bahwa kalau ia tidak menyambuti dengan kekerasan pula serangan tersebut, ia akan tidak berdaya untuk menghadapi serangan selanjutnya, maka terpaksa ia harus menyambuti serangan hebat itu, sekalipun dengan menghadapi resiko besar.
Bukan main hebatnya serangan Tan Liong itu.
Koan Beng setelah terpental lantas rubuh ditanah dalam keadaan tidak ingat orang.
Tan Liong sendiri juga terpental mundur lima tindak dan dadanya dirasakan bergolak.
Sambil kertak gigi ia tahan rasa sakit di dadanya lalu menghampiri Koan Beng yang sudah tidak berdaya sama sekali.
Baru saja angkat tangannya hendak menyerang tubuh Koan Beng tiba-tiba suatu pikiran terlintas dalam otaknya.
Seolah-olah ada suatu suara yang halus mengisiki telinganya,’Tan Liong!
Kau tidak boleh bunuh mati dia, sekalipun dia berlaku tidak pantas terhadap kau tapi kau sendiri juga tidak boleh melakukan perbuatan yang akan membikin Cu Lian lebih sengsara lagi.’ Ia segera tarik kembali tangannya yang sudah akan diturunkan, ia mundur sempoyongan sampai beberapa tindak dan kemudian numprah ditanah.
Pada saat itu orang banyak yang semula berdiri sebagai penonton kini mendadak pada berseru dan menyerbu kearah Koan Beng hendak menyerang pemuda yang sudah tidak berdaya itu dengan rupa-rupa senjata.
Koan Beng yang sudah tidak ingat orang sudah tentu tidak tahu kalau dirinya terancam bahaya.
Tapi Tan Liong yang menyaksikan keadaan itu lantas menghardik.
"Tahan ....! "
Kemudian secepat kilat ia lompat bangun dan berdiri disamping Koan Beng. Thian liong cee, Teecu segera tarik kembali serangannya, dengan suara dingin ia berkata.
"Bocah, kau tadi hendak membinasakan dirinya dia kenapa sekarang kau melarang kita turun tangan?
Apalagi bangsat itu ada merupakan satu penjahat besar yang menodakan dan membunuh wanita-wanita muda dikalangan Kangouw sudah seharusnya kalau disingkirkan dari dunia ini."
Dengan sorot mata tajam, Tan Liong menyapa orang-orang banyak itu lalu tersenyum sinis sepatahpun tidak menjawab perkataan Thian liong Teecu.
Karena orang lain tokh tidak mengerti kesulitan hatinya!
Koan Beng memang sudah sepatutnya mendapat ganjaran hukuman mati tapi ia tidak boleh turun tangan langsung kepadanya, apabila itu terjadi Cu Lian nanti tidak akan memaafkan dirinya.
Kesulitan dalam hati Tan Liong itu sesungguhnya tidak setiap orang yang sanggup memikul.
Setelah berdiam agak lama ia baru menjawab.
"Aku dapat membinasakan dirinya, tapi bantuan tuan-tuan tidak bisa."
Pek hoa San chung lalu nyeletuk dengan suara kaku.
"Apa artinya perkataan tuan itu? "
"Jika masih ada aku disini kalian tidak boleh membinasakan dirinya."
"Tapi, kita tidak boleh tidak harus kirim padanya ke akhirat!"
Mendengar ucapan Pek hoa San chung itu orang banyak itu segera menghampiri dirinya Tan Liong.
Tan Liong menyaksikan keadaan demikian dalam hatinya diam-diam juga merasa cemas karena saat itu luka dalamnya masih belum sembuh bagaimana bisa melawan orang-orang lihai yang jumlahnya begitu banyak?
Tapi ia segera dapat suatu akal, ia sengaja masukkan tangannya kedalam saku kemudian berkata dengan suara dingin.
"Sekiranya tuan-tuan tidak takut bom Pek lek tan silahkan tuan-tuan segera turun tangan."
Dengan disebutkannya bom Pek lek tan itu benar-benar membawa hasil yang tidak terduga.
Sebab orang-orang lihai yang berada dihadapannya itu mendadak ingat dirinya seseorang hingga seketika itu lantas pada gemetar, Pek hoa San chung lalu menanya dengan suara agak gemetar!"
Tuan adakah itu orang kuat yang berturut-turut membinasakan orang-orangnya Thian seng hwee dengan bom Pek lek tan? "
"Tidak salah! "
Jawabnya Tan Liong singkat. Semua orang yang mendengar jawaban itu wajahnya pada berubah dan segera mundur beberapa tindak. Tan Liong berkata pula sambil ketawa dingin.
"Aku tidak menentang perbuatan tuan-tuan yang hendak membinasakan dirinya.
Tapi jika aku tidak berada disini bagaimana tuan-tuan hendak perlakukan padanya itu terserah kepada tuan-tuan sendiri.
-o0o0dw0o0o-
Jilid ke . 21
"Namun sekarang aku ada disini aku tidak mengijinkan tuan-tuan ganggu seujung rambutnya saja. Itulah pesanku dan sekarang tuan-tuan boleh pergi."
Orang banyak itu karena takut bom Pek lek tannya Tan Liong tak satupun yang berani bergerak. Thian liong lie Ceecu lalu berkata sambil ketawa dingin.
"Baiklah dikemudian hari kita pasti hendak mencari padanya untuk membuat perhitungan" . Ceecu itu lalu memberi isyarat kepada kawan-kawannya dan lantas undurkan diri hingga dalam waktu sekejap saja orang-orang itu sudah berlalu dari hutan belantara itu. Dengan hati pilu Tan Liong menghela napas panjang perlahan-lahan ia berjalan menghampiri dirinya Cu Lian yang pucat pasi. Ia tidak dapat lagi menahan rasa sedihnya sehingga air matanya mengalir terus dikedua pipinya. Suara tangisan orok masih terdengar nyaring. hati Tan Liong seperi ditusuk-tusuk oleh pisau belati. Ia berdiri menjublak laksana patung. Wanita muda yang merupakan kekasihnya yang pertama ini kini telah mengalami nasibnya begitu buruk. Siapa yang bersalah? Mungkin itu sudah kemauan takdir namun biar bagaimana ia sendiri tokh tidak boleh tidak turut betanggung jawab sebagian atas terjadinya tragedi itu. Lamanya berdiri menjublak akhirnya ia sadar bahwa ia harus menyadarkan Cu Lian terlebih dulu apa mau ia sendiri sedang terluka hingga belum mempunyai kekuatan untuk menolong diri bekas kekasihnya
KANG ZUSI itu.
Maka ia harus pulihkan kekuatan tenaga dalamnya dulu baru bisa menyadarkan dirinya Cu Lian.
Ia lantas duduk bersemedi untuk memulihkan kekuatan tenaga dalamnya.
....
Cara menyembuhkan luka itu telah menggunakan waktu satu jam lebih.
Saat itu Koan Beng sudah mulai siuman, ia merasakan sekujur badannya sakit sekali hampir saja ia tidak bisa bangun.
Sambil kertak gigi ia paksakan dirinya untuk bangun, ia mengawasi Tan Liong yang sedang bersemedi untuk menyembuhkan lukanya.
Diwajahnya terkilas hawa napsunya hendak membunuh, tapi sebentar kemudian napsunya itu lantas lenyap kembali, sambil ketawa dingin ia berlalu meninggalkan tempat tersebut.
Ia tahu bahwa dirinya sendiri juga sedang terluka parah, sudah tidak mempunyai kekuatan untuk bertanding lagi dengan Tan Liong.
Ia mengerti, pada saat itu perlu merawat dirinya dulu dikemudian hari tokh masih ada waktu untuk menuntut balas dendam itu.
Setelah Koan Beng berlalu, Tan Liong juga sudah sembuh luka lukanya., ia mengawasi berlalunya Koan Beng sambil menghela napas.
Orok dalam gendongannya Cu Lian mungkin sudah kelewat lelah, akhirnya berhenti menangis.
Tan Liong memandang wajah bekas kekasihnya yang pertama itu pikirnya terasa tidak karuan!
Dengan kedua jari tangannya ia menotok jalan darah di beberapa bagian pada tubuhnya Cu Lian kemudian tangan kanannya diletakkan di atas kepalanya untuk menyalurkan kekuatan tenaga dalamnya.
Menyembuhkan penyakit atau luka-luka dengan kekuatan tenaga dalam ini sebetulnya memerlukan kekuatan tenaga dalam dari seorang yang sudah sempurna kekuatannya.
Tan Liong meski sudah termasuk dari golongan orang demikian, tidak urung toh merasa lelah juga sehingga jidatnya mengucurkan banyak air keringat.
Perlahan-lahan Cu Lian membuka matanya.
Ia sudah mulai siuman tapi sekujur badannya dirasakan sakit sekali, kedua matanya dapat melihat bayangan wajah samar-samar.
Bibirnya tampak bergerak-gerak agaknya hendak mengatakan sesuatu tetapi masih belum mampu membuka mulutnya.
Tan Liong yang menyaksikan keadaan demikian lalu berkata padanya dengan suara perlahan.
"Adik Lian, lekas gunakan kekuatanmu untuk menyambut kekuatanku yang disalurkan keseluruh tubuhmu."
Suara itu dikenal benar oleh Cu Lian, seolah-olah suatu kekuatan yang sangat mujijat membuat Cu Lian dalam waktu sekejap saja merasa sangat terhibur dan bersyukur.
Ia lalu berbuat seperti apa yang diminta oleh Tan Liong.
Sebentar kemudian ia kelihatan tersenyum gembira dan semangatnya tampak segar.
Tapi ia mengerti bahwa luka dalam tubuhnya sangat berat, kesembuhan sementara itu hanya mengandalkan atas bantuan kekuatan tenaga dalam dari Tan Liong.
Biarpun demikian, ia masih belum mau memberitahukan kepada Tan Liong tentang keadaan sakitnya.
Pada tiga tahun berselang, ia pernah mendapat penyakit aneh penyakit itu akan membuat pendek umurnya.
Ia pernah mencari tabib Chio bin Ie hiap yang terkenal kepandaiannya itu, meskipun kala itu sudah sembuh tapi ia masih percaya bahwa jiwanya sendiri cuma bisa hidup dalam waktu beberapa tahun saja.
Dan kini setelah teluka parah hingga waktunya semakin pendek lagi.
Tan Liong tampaknya masih begitu perhatian dan cinta padanya seperti sedia kala hal itu merupakan suatu hiburan bagi jiwanya yang hampa.
Takdir telah mempermainkan kedua kekasih itu sehingga membuat mereka mengalami penderitaan lahir batin dalam gelombang asmara.
Setelah hening sekian lama akhirnya Tan Liong membuka mulut.
"Adik Lan, apa kau sudah merasa enakan? "
Cu Lian anggukkan keplanya dan menjawab.
"Yaa, aku sudah banyak baikan, engko Liong kau masih begitu baik tehadap aku, tidak tahu bagaimana harus membalas budi kebaikanmu ini? "
"Buat apa kau mengucapkan demikian? Akulah yang merasa tak enak terhadap kau sebab kalau bukan karena aku. Bagaimana kau bisa mengalami nasib seperti ini? ......"
Cu Lian memandang wajah bekas kekasihnya yang tampan, semua kenangan manis dimasa yang lampau telah terbayang kembali dalam otaknya.
.....
Ia membuka mulutnya unjukkan ketawa getir kemudian berkata dngan suara perlahan.
"Apa yang sudah lalu baiklah kita jangan bicarakan lagi."
Perlahan-lahan ia bangkit dan berkata pula sambil ketawa getir.
"Apa yang sudah lalu membuat kita terlalu berduka. Oh ya! Kemana dia sekarang? "
"Sudah pergi! "
"Sudah pergi? Begitu pun baik, marilah kita juga pergi....."
Tapi mendadak rasa nyeri timbul dalam tubuhnya, parasnya pucat dan jidatnya mengucurkan keingat ... Ia menekan dadanya dan menarik napas. Tan Liong menyaksikan itu tampak terkejut.
"Adik Lian, kau kenapa? "
Tanyanya.
Cu Lian kerutkan keningnya sambil gelengkan kepalanya ia tahu bahwa ajalnya sendiri mungkin sudah akan tiba.
Dalam penghidupnanya yang begitu pendek apa yang ia akan tinggalkan?
Tak ada sedikitpun tak ada.
Ia unjukkan ketawa getir dalam hatinya berpikir, memang sebaiknya aku lekas mati saja!
Didalam dunia yang fana ini aku sudah kehilangan semua orang yang aku cintai, aku tak akan menyesali mati dalam usia yang begitu pendek.
Satu-satunya hal yang dpat menghibur hatinya yalah Tan Liong, itu bekas kekasihnya sejak kanak-kanak masih tetap mencintakan dirinya kecuali itu sudah tak ada apa-apa lagi dihatinya.
Lama sekali rasa nyeri itu akhirnya hilang sendiri.
Suatu pikiran mendadak terlintas dalam otaknya.
Ia berkata kepada Tan Liong.
"Engko Liong, aku ingin minta sesuatu bantuan kepada kau apakah kau sudi terima? "
"Ada urusan apa? Kau sebutkan saja! "
Jawabnya Tan Liong hatinya sepeti diremas-remas. Cu Lian tersenyum.
"Tolong kau lepaskan anakku Ie Liong ini dari gendonganku, aku minta supaya kau dalam waktu tiga hari membawa padanya ke puncak Thia ku hong di gunung Tiang pek san. Disana kau cari seorang gadis she Lie, kau katakan saja padanya bahwa aku yang minta kau sampaikan padanya, apakah kau suka terima baik permintaanku ini? "
Perkataan Cu Lian itu benar-benar diluar dugaan Tan Liong, maka untuk sekian lamanya tertegun, kemudian baru balas menanya.
"Adik Lian, kenapa kau hendak berikan anakmu kepada orang lain? Lagi pula karena aku masih banyak urusan yang harus dibereskan, menyesal aku tidak dapat melakukan perjalanan begitu jauh. ......"
"Kau tidak sudi bantu? "
"Bukan itu maksudku karena aku masih banyak urusan."
Cu Lian menghela napas lama tidak berkata apa-apa, Tan Liong menngira ia salah paham maka buru-buru memberi penjelasan.
"Adik Lian, percayalah kepadaku dengan sebenar-benarnya aku ada banyak urusan yang akan kuselesaikan maka tidak bisa memenuhi permintaanmu lagi pula apa maksudnya kau harus serahkan anakmu kepada orang lain? "
Cu Lian dengan tertawa hambar berkata.
"Kalau begitu aku juga tidak akan memaksa kau sekarang aku hendak pergi."
Dengan perlahan ia coba gerakkan kakinya kemudian berkata pula sambil menghela napas.
"Perpisahan hari ini barangkali merupakan perpisahan yang penghabisan untuk selanjutnya barangkali kita sudah tidak bisa saling berjumpa lagi."
Setelah meninggalkan ucapannya yang terakhir itu ia pergi meninggalkan Tan Liong.
Sudah tentu Tan Liong tidak tahu apa yang dipikir dalam hatinya Cu Lian dengan sebenarnya perpisahan mereka pada hari itu mungkin tidak akan bertemu lagi.
Tan Liong mengawasi berlalunya Cu Lian dengan hati mendelu setiap tindakan kakinya Cu Lian seolah olah menginjak hatinya.
Cuaca mulai terang disebelah timur langit sudah tampak sinar emas kemerah-merahan.
Jagad pulih kembali dalam ketenagannya sinar matahari pagi telah memisahkan mereka makin lama makin jauh.
Pada saat itu kelihatan lima bayangan sedang lari menuju ketempat dimana Tan Liong berdiri, sebentar saja lima orang itu sudah tepisah kira-kira sejarak satu tombak dihadapan Tan Liong.
Tan Liong mengawasi kelima orang itu ternyata mereka ada murid-murid dari partai Ciong lam pay.
Lima orang berbaju kuning itu ketika berhadapan dengan Tan Liong segera berlutut untuk memberi hormat satu diantaranya lantas berkata dengan sikap menghormat.
"Teecu menghaturkan selamat pagi kepada Ciang bun jin! "
Tan Liong yang melihat kedatangan lima anak murid Ciong lam pay itu dalam hatinya lantas dapat menduga bahwa digunung Ciong lam san pasti telah timbul urusan lagi maka ia lantas buru-buru menanya.
"Kalian tidak usah memakai banyak aturan bangunlah! "
Lima anak murid Ciong lam pay itu lantas bangkit dan mengucapkan terima kasih lalu berdiri disamping dengan sikap sangat menghormat.
"Saudara-saudara berilmu mengapa tidak menjaga gunung Ciong lam san sebaliknya datang kekota Khay hong apakah digunung Ciong lam san terjadi pula suatu peristiwa? "
Tanyanya Tan Liong.
"Benar! "
Salah satu dari mereka menjawab dengan segera. Dalam hati Tan Liong terkejut.
"Apakah pekumpulan Thian seng hwee mengirim orang-orangnya lagi untuk membuat onar? "
"Bukan! "
"Habis, apakah yang telah terjadi? "
"Numpang Tanya Ciang bun jin, adakah Ciang bun jin ada kenal seorang wanita muda yang bernama Yao lie lu? "
"Yao lie lu? "
"Benar! Ia mengatakan dirinya bernama Yao lie lu! "
"Dia? .... Dia kenapa? "
"Dia telah mengganas di gunung Ciong lam san! "
"Mengganas? Bagaimana dia bisa datang kegunung untuk mengganas? "
"Duduknya perkara adalah begini.
Kemarin setelah Ciang bun jin meninggalkan gunung Ciong lam san tiba-tiba kedatangan tetamu seorang wanita muda cantik katanya hendak mencari Ciang bun jin.
Karena Ciang bun jin memang sudah keluar maka kita beritahukan kepadanya bahwa Ciang bun jin tidak ada.
Ia kira bahwa kita membohongi padanya, katanya; Kalian tidak mengijinkan aku menemui padanya apa kalian kira aku tidak bisa mencari sendiri ...., setelah berkata demikian ia lantas menerjang masuk kedalam ruangan pendopo kangzusi dengan kekerasan.
Oleh karenanya, terpaksa kita turun tangan.
Dan karena ia ada sahabat Ciang bun jin, kita tidak berani menurunkan tangan kejam, akhirnya wakil pejabat Ciang bun jin nona Oey bwee Cian lantas keluar dan memberitahu padanya bahwa Ciang bun jin memang benar tidak ada disitu.
Siapa kira ketika Yao lie lu melihat nona Oey, lantas berkata sambil ketawa dingin."
Sudah mempunyai kawan wanita baru yang begini cantik jelita, sudah tentu tidak mau menemui aku lagi.
Cuma, dia juga tidak boleh berkata demikian, mentang mentang sudah mempunyai kawan baru, lantas melupakan kawannya yang lama ...."
Mendengar perkataan yang tidak senonoh itu, nona Oey lantas menjadi gusar, hingga berkelahi dengannya.
Sungguh tidak disangka bahwa Yao lie lu itu ada mempunyai kepandaian ilmu silat demikian tingginya, perbuatannya juga sangat kejam.
Ia melakukan serangan begitu hebat, hingga nona Oey mungkin terbinasa ditangannya."
Alisnya Tan Liong berdiri ketika mendengar penuturan itu dan lantas berkata sambil kertak gigi.
"Yao lie lu, kalau aku tidak bisa mencincang dirimu aku bersumpah tidak mau jadi orang...."
Anak murid Ciong lam pay itu berkata pula.
"Kemudian, ia lantas berlalu sambil sesumbar bahwa malam ini atau besok malam pasti akan datang lagi.
Oleh karena itu maka nona Oey lantas utus kita-kita untuk mencari Ciang bun jin, minta Ciang bun jin segera pulang kegunung.
Gusar sekali Tan liong ketika mendengar keterangan itu, semua perbuatan Yao lie lu hampir saja membuat menyesal seumur hidupnya dan kini kembali berani mengaduk dan mengganas di gunung Ciong lam san.
Rumah tangganya Cu lian dan Koan Beng sampai menjadi perantakan demikian rupa, bukankah karena gara-gara Yao lie lu?
Chie Peng dan Chie Cui sampai mengalami sengsara dan akhirnya diceburkan dalam laut oleh Lam-kek Sian ong, bukankah karena perbuatannya Yao lie lu juga?
Mengingat sampai disitu, ia ingin segera dapat menjumpai perempuan cantik yang sangat berbisa itu supaya bisa dihajar sampai binasa!
Ia pentang lebar kedua matanya dan berkata sambil kertak gigi.
"Aku hendak membunuh mati perempuan yang berhati cupat itu! "
Satu diantara anak murid Ciong lam pay itu lantas menyahut.
"Apakah Ciang bun jin hendak segera pulang ke gunung? "
"Aku hendak segera pulang kegunung untuk membunuh niat perempuan berbisa itu, marilah kita berangkat."
Baru saja Tan Liong hendak berlalu meninggalkan itu tempat tiba-tiba terdengar suara orang ketawa dingin dan dari dalam rimba muncul keluar beberapa bayangan orang!
Tan Liong terperanjat ia merasa heran entah sejak kapan mereka berada di dalam rimba itu dan kini telah muncul secara mendadak.
Terdengar suara orang yang menegur padanya.
"Ciang bun jin! Tidak nyana kita telah berjumpa lagi disini sebagai manusia, benar saja dimana saja kita bisa berjumpa ha-ha ! "
Tan Liong berpaling le arah datangnya suara itu wajahnya berubah seketika sebab orang yang menegur padanya itu bukan lain daripada Tan Chiang Bin, ayahnya sendiri.
Ia sungguh tidak menduga bahwa ayahnya bisa muncul ditempat itu.
Tan Liong meninjau keadaan dihadapan matanya dalam hatinya diam=diam merasa kaget kedatangan ayahnya secara tiba-tiba itu sudah tentu ada mengandung maksud tidak baik !
Tapi ia masih bisa tenangkan pikirannya sambil ketawa dingin ia berkata.
"Tan Hweethio, ada urusan apa sebaiknya kau bicarakan dengan terus terang!"
Dalam kedudukannya sebagai ketua pemimpun Bong bin Sin kiam, Tan Chiang Bin telah datang sendiri untuk menjumpai Tan Liong hal ini sesungguhnya merupakan suatu peristiwa penting!
Pikir saja Thian seng hwee yang mempunyai anggota tidak sedikit dan mempunyai pula banyak jago-jago yang lihai ia bisa kirim beberapa orang-orangnya yang pilihan sudah cukup untuk menangkap Tan Liong tapi ia kini telah datang sendiri sudah tentu ada sebab lainnya.
Sebetulnya Tan Chiang Bin sejak membentuk Thian seng hwee jarang sekali muncul di dunia Kangouw kecuali jika ada urusan penting ia belum pernah meninggalkan tempat kediamannya di lembah Lui in kok.
Pada saat itu lima anak murid Ciong lam pay sudah berbaris dengan rapi siap setia hendak menghadapi segala kemungkinan!
Apa yang lebih mengherankan ialah keluarnya ketua Thian seng hwee malam itu agaknya dengan kekuatan sepenuhnya banyak orang-orang lihai dari perkumpulan itu yang mendampingi padanya.
Orang-orang itu dengan kecepatan bagaikan kilat sudah bergerak mengurung dirinya Tan Liong dan lima murid Ciong lam pay.
Sambil ketawa dingin Tan Chiang Bin berkata pula.
"Ciang bun jin, benar-benar hebat diatas gunung Ciong lam san bukankah membinasakan tiga puluh lebih anggota kita-kita dengan bom Pek lek tan? "
Tan Liong menjawab sambil tersenyum.
"Itu memang benar! Dan kau mau apa? "
"Hebat!
Hatimu kejam, perbuatanmu sungguh tidak kecewa kau memangku jabatan ketua dari satu partai besar.
Tapi kau harus mengerti.
Thian seng hwee bukan satu perkumpulan yang kau boleh perlakukan secara sembarangan."
"Sudah tentu, jikalau tidak, Thian seng hwee juga tidak nanti hendak menelan partai kecil dan menjagoi dikalangan Kang-zsouw."
"Ciang bun jin, aku bertahukan padamu, Ciong lam pay cepat atau lambat akan hancur dalam tanganku itu hanya soal waktu saja.
Sekarang karena aku sudah datang sendiri, maka aku minta supaya Ciang bun jin suka ikut aku ke lembah Lui in kok ....."
Lima anak murid Ciong lam pay tampak kerutkan keningnya mengawasi Tan Liong, mereka dapat lihat bahwa ketua mereka pada saat itu wajahnya pucat, matanya beringas mengawasi orang-orang Thian seng hwee.
mereka segera mengerti bahwa ketua mereka berada dalam keadaan bahaya, maka lantas pada maju menghampiri Tan Chiang Bin.
Tan Liong diam-diam terperanjat, apa maksudnya perbuatan ayahnya itu sudah tentu ia dapat menduganya, tapi diluarnya ia tidak mengunjukkan perubahan apa-apa, dengan tenang ia berkata.
"Tan Hweethio, kau tidak dapat memaksa aku dari tempat ini."
Setelah mengucapkannya itu, matanya Tan Liong menyapu orang-orangnya sejenak, hatinya mendadak tergerak, maka ia lantas berkata kepada mereka."
Saudara berlima, aku minta segera pulang ke gunung, jika Yao lie lu berani datang lagi, bunuh mati saja habis perkara."
Lima anak murid Cong lam pay itu mengawasi orang-orangnya Thian seng hwee, sikapnya tampak bersangsi. Tan Liong parasnya berubah dengan suara sungguh-sungguh ia berkata pula.
"Apakah kalian berlima hendak menentang perintah ketua?"
Lima orang itu lantas menjawab dengan berbareng.
"Teecu sekalian tidak berani! "
"Kalau begitu, lekas pulang kegunung! "
Tan Liong suruh pulang orang-orangnya, sudah tentu ada maksudnya ia tidak ingin lima orang dari Ciong lam pay itu turut binasa didalam rimba itu.
Lima orang Ciong lam pay itu baru saja bergerak, beberapa puluh orang-orangnya Thian seng hwee juga lantas bergerak dan mengurung lebih rapat, hingga suasana menjadi sangat gawat, suatu pertempuran sengit agaknya tidak dapat dielakkan lagi!
Tan Liong diam-diam kerahkan kekuatan kedalam sepasang tangannya, sebab keadaan dihadapan matanya telah memaksa padanya berlaku nekad.
Tiba-tiba terdengar ketawanya Tan Chiang Bin, ketua Thian seng hwee itu setelah ketawa dingin, lalu keluarkan perintah kepada anak buah.
"Biarkan mereka pergi! "
Ucapan itu didalam telinganya lima orang dari partai Ciong lam pay tidak ubahnya sebagai putusan bebas dari hakim.
Sedangkan Tan Liong sendiri juga merasa heran.
Benar saja, anak buah Thian seng hwee itu setelah mendengar perintah ketuanya, lantas pada mundur.
Tan Chiang Bin berkata pula sambil ketawa dingin.
"Ciang bun jin, apakah Yao lie lu berada digunung Ciong lam san? "
"Maaf, aku tidak dapat memberi keterangan."
jawabnya Tan Liong dingin. Pada saat itu lima orang murid partai Ciong lam pay sudah bergerak dan lari meninggalkan tempat tersebut. Terdengar pula suaranya Tan Chiang Bin.
"Lie Tongcu, dengar perintah! "
Dari rombongan anak buah Thian seng hwee lantas muncul seorang kakek tua yang memegang tongkat dengan laku sangat hormat kakek itu menjawab.
"Teecu dengar perintah! "
Tan Chiang Bin berkata pula.
"Aku perintahkan kau segera bergerak kegunung Ciong lam saan dengan semua orang-orang Thian seng hwee yang sekarang berada disini jika dapat lihat dirinya Yao lie lu segera tangkap saja hidup-hidup dan bawa pulang ke lembah jangan sampai ada kesalahan! "
Lie Tongcu setelah mendapat perintah dari ketuanya matanya mengawasi orang-orangnya Thian seng hwee yang ada disitu sejenak kemudian menanya kepada ketuanya.
"Hweethio! Apakah kita harus berangkat sekarang juga? "
"Ya, tapi kalian tidak boleh bertempur dengan orang-orangnya Ciong lam pay asal dapat menangkap dirinya Yao lie lu dalam keadaan hidup dan lantas bawa pulang ke lembah Lui in kok itu berarti kalian sudah memenuhi tugas kalian! "
Beberapa puluh anak buah Thian seng hwee dibawah pimpinan Lie Tongcu setelah memberi hormat kepada ketua mereka lalu bergerak menuju kegunung Ciong lam san.
Sekarang hanya tinggal Tan Chiang Bin dan Tan Liong itu ayah dan anak yang berkepala batu berhadapan satu sama lain dengan saling dendam.
Tan Liong yang mulai membuka mulut ia menanya sambil ketawa dingin.
"Tan Hweethio, kau hendak mengadakan permainan apa lagi? "
"Tan Liong! Kau ada satu manusia yang berhati binatang, apakah kau pantas menjabat kedudukan Ciang bun jin? Kalau aku tidak bunuh mati kau aku masih belum merasa puas! "
Perkataan manusia berhati binatang itu membikin Tan Liong melongo untuk sesaat lamanya dengan wajah pucat dan merah padam balas mengejek.
"Tan Chiang Bin, kau ada mempunyai anak tapi anakmu itu tidak mau membahasakan ayah terhadap dirimu, apa kau masih ada muka hidup dialam dunia? "
Ia ketawa dingin sejenak, lalu berkata pula.
"Sekarang aku hendak tanya padamu, ibuku ada salah apa terhadap kau?
Sampai ia meninggal dunia karena kau?
Apakah kau masih pantas disebut manusia?
Kau sendirilah yang merupakan manusia berhati binatang ...."
"Tutup mulut ! "
Bentaknya Tan chiang Bin dengan penuh kegusaran.
"Tan Liong, sungguh tidak nyana dalam usiamu yang masih begini muda, sudah berani melakukan perbuatan yang sangat memalukan."
"Perbuatan apa yang kau katakan sangat memalukan itu? "
"Mengapa kau hendak memperkosa dirinya Hu hweethio (ketua muda)? "
"Apa? Apa katamu? "
"Hu Hweethio selagi memimpin anak buahnya ke gunung Ciong lam san kau telah binasakan anak buah kita itu dengan bom Pek lek tan, hal ini tak perlu diungkit lagi.
Tapi suatu hal yang sangat jahat ialah perbuatanmu yang begitu berani mati hendak memperkosa dirinya Hu Hweethio ...."
Mendengar perkataan ayahnya Tan Liong mendadak naik darah hingga badannya sampai gemetaran ia sendiri yang hampir saja dirusak perjakanya dan badannya dibawah pengaruh obat jakni Siao hun san tidak mengira perempuan jahat itu telah berani memutar balikkan duduknya perkara dan mengatakan kepada suaminya bahwa dirinya hendak diperkosa oleh Tan Liong!
Lidah wanita genit itu sesungguhnya sangat berbisa.
Tan Chiang Bin yang dihasut secara demikian, bagaimana tidak gusar?
Maka setelah mendengar pengadaan isterinya esok harinya dengan tanpa menunda waktu lagi lantas memimpin anak buahnya untuk mencari Tan Liong.
Ia ingin bakar mati hidup-hidup untuk melampiaskan kegusarannya.
Tan Liong tidak menduga bahwa perempuan genit sangat berbisa itu bisa berbuat demiian sudah tentu ia lantas naik darah.
"Tan hweethio apakah hal itu ia sendiri yang memberitahukan padamu? "
"Tidak salah. Tan Liong, kau terlalu menghina aku apa kau kira aku takut padamu. Sudah beberapa kali kau datang mencari onar, jika aku tidak memandang ibumu apa kau kira bisa hidup sampai hari ini? Perkara kelakuanmu yang hendak memperkosa dirinya Hu Hweethio ini sesungguhnya ada sangat keterlaluan bagaimanapun juga aku sudah tidak memberi ampun dirimu lagi! "
"Aku tidak percaya dia bisa mengeluarkan ucapan demikian dihadapanmu perempuan itu sesungguhnya sangat bejat moralnya dan sudah tidak tahu apa artinya malu! "
Jawabnya Tan Liong suaranya agak gemetar.
"Sudah sepatutnya ia memberitahukan kepadaku apakah ia suruh aku terus kau kelabuhi. Kau anak kurang ajar binatang yang tidak tahu malu ......"
Bukan kepalang gusarnya Tan Liong, wajahnya Nampak merah padam badannya gemetaran.
Siao hun lie bukan saja sudah berbuat tidak tahu malu terhadap dirinya bahkan memutar balikkan duduknya perkara sehingga ayahnya menganggap dirinya ada satu manusia yang rendah martabatnya.
Sambil kertak gigi menahan kemarahannya ia berkata.
"Tan Hweethio tidak perduli apa yang diucapkan Siao hun lie dihadapanmu, aku Tan Liong tetap masih putih bersih. Ada satu hari aku Tan Liong pasti akan merobek-robek mulutnya! "
"Dia juga ada disini, aku tidak kuatir kau nanti tidak akan akui perbuatanmu itu! "
Setelah itu ia lantas memanggil dengan suara nyaring.
"Hu hweethio, kau kemari! "
Sesosok bayangan orang lalu melayang dan turun disampingnya Tan Chiang Bin, orang itu bukan lain daripada Siao hun lie Chie Bun bun !
Tan Liong dengan mata beringas memandang wanita genit itu, kalau ia belum binasakan wanita genit itu, rasanya ia masih penasaran.
Siao hun lie dengan lagak yang dibikin-bikin dan sangat aleman sekali berkata kepada suaminya sambil tersenyum.
"Ada urusan apa Hweethio panggil aku kemari? "
"Sebenarnya dia ada melakukan perbuatan yang tidak senonoh itu kepada dirimu atau tidak? "
Ditanya demikian Siao hun lie berlagak ketakutan dengan paras berubah dan pura-pura mau menangis ia menjawab.
"Hweethio, aku minta supaya kau bisa pegang keadilan kesucianku hampir saja dirusak olehnya kalau aku tidak menggunakan akal untuk meloloskan diri mungkin aku sudah ...."
Sehabis berkata benar saja ia telah mengucurkan air matanya.
Wanita genit itu benar-benar pandai bersandiwara sikapnya sungguh-sungguh sehingga membuat orang percaya akan obrolannya.
Menampak paras isterinya yang patut dikasihani itu, Tan Chiang Bin merasa kasihan maka ia lantas berkata.
"Legakan hatimu aku pasti akan balaskan sakit hatimu ini."
Setelah itu matanya beralih kearah Tan Liong dan berkata padanya dengan suara dingin.
"Tan Liong, apa katamu sekarang? "
Dengan wajah penuh gusar Tan Liong unjukkan ketawa dingin.
"Tidak ada apa-apa yang aku perlu katakan, aku hanya ingin membunuh mati perempuan yang tidak tahu malu ini dan membeset-beset mulutnya yang berbisa."
Hampir bersamaan waktunya pada saat ia menutup mulutnya Tan Liong segera bergerak menerjang dirinya Siao hun lie dan melancarkan serangan hebat.
Meski gerakan Tan Liong itu sudah cukup cepat dan gesit tapi Tan Chiang Bin ternyata lebih cepat dari padanya, sambil keluarkan bentakan keras ayah itu membentak.
"Tan Liong, kau berani ....
"Diantara suara bentakannya lalu disusul oleh berkelebatnya satu bayangan yang bergerak cepat dan sebentar kemudian tangan kanan Tan Liong sudah tercekal oleh Tan Chiang Bin!
Tan Chiang Bin dalam waktu sekejap sudah berhasil mencekal pegelangan tangan Tan Liong hal ini membuat pemuda itu sangat terkejut dengan tanpa banyak pikir lagi ia lantas menyerang bagian muka Tan Chiang Bin dengan tangan kirinya.
Tan Chiang Bin lantas miringkan kepalanya hingga serangan Tan Liong mengenakan tempat kosong.
Tan Chiang Bin lantas menampar dua kali dengan tangan kirinya kepada kedua pipinya Tan Liong!
Tamparan itu membuat Tan Liong merasa sakit dan puyeng kepala hingga matanya dirasakan berkunang-kunang dan mulutnya lantas menyemburkan darah ....
Dengan paras seperti seorang yang sudah kehilangan semangat Tan Liong mengawasi ayahnya, kemudian berkata dengan suara menggerendeng.
"Kau pukul aku lagi? ..... Ouw, ini adalah pukulan yang kedua kalinya kau sudah memnukul aku sampai dua kali, aku ingat! "
"Aku bukan saja hendak menghajar dirimu juga hendak bakar dirimu hidup-hidup! "
Tan Liong benar seperti orang yang sudah kehilangan seluruh ingatannya dalam keadaan setengah sadar, setengah tak sadar, lapat-lapat bayangan ibunya terbayang dalam benaknya.
Dulu ibunya penah meninggalkan pesan padanya.
"Anak, kau harus berusaha agar menjadi orang kuat .... kematianku ini adalah sebab oleh ayahmu sendiri ialah Tan Chiang Bun, jika kau tak dapat menuntut balas terhadap dendam sakit hati ibumu ini, sekalipun aku mati juga tak bisa meram! "
Mengingat pesan ibunya ini perasaan gusar mengalir disekujur tubuhnya sehingga ia tak mampu mengendalikan lagi, ia hendak membunuh orang yang membunuh orang yang membuat ibunya binasa itu.
Sambil kertak gigi ia membentak dengan suara keras.
"Tan Chiang Bin, kecuali jika kau bunuh mati aku, jikalau tidak aku nanti pasti akan membunuh dirimu ...."
Perkataan itu yang dikeluarkan dari mulutnya telah membuat siapa yang mendengarnya merasa jeri dan berbareng dengan suara bentakannya ia telah mengerahkan seluruh kekuatannya untuk melepaskan tangannya yang dicekal oleh ayahnya, sedang tangan kirinya kembali mengirim serangan.
Tan Liong yang saat itu sudah bertekad bulat hendak mengadu jiwa dengan ayahnya biar bagaimana ia tak sudi dihina oleh ayahnya.
Tan Chiang Bin tak menduga kalau anaknya hendak berlaku nekad demikian, dalam kagetnya serangan Tan Liong sudah tiba.
Sambil kertak gigi Tan Chiang Bin terpaksa menyambuti serangan anaknya itu dengan kekerasan.
Tan Liong yang sudah terluka sudah tentu tak sanggup menyambuti belasan serangan ayahnya, maka sebentar kemudian ia lantas menyemburkan darah dari mulutnya dan segera tak ingat orang lagi.
Sesaat kemudian setelah Tan liong rubuh mendadak ada sesosok bayangan orang menerjang Tan chiang Bin sambil berseru.
"Tan Hweethio, kau sangat keterlaluan, mengapa kau turun tangan begitu kejam terhadap anakmu sendiri? Sekarang terimalah seranganku! "
Orang itu adalah Cu Lian, yang sedianya hendak berlalu tetapi ketika melihat Tan liong diperlakukan begitu kejam oleh ayahnya lantas ia balik lagi dan menyerang Tan Chiang Bin secara tiba-tiba!
Tan chiang Bin tak menduga ada orang lain akan menyerang padanya secara mendadak, dalam kagetnya ia lantas putar tubuhnya menghindarkan serangan Cu Lian.
Cu Lian yang masih dalam keadaan luka setelah serangannya mengenakan tempat kosong dadanya dirasakan nyeri dan lantas jatuh rubuh ditanah.
Ia sebetulnya sedang menderita luka parah, bagaimana boleh mnggunakan kekuatan tenaga untuk melakukan pertempuran lagi?
Tapi oleh karena ia sangat kuatirkan keselamatannya Tan Liong dalam keadaan sangat berbahaya, ia lantas kerahkan semua tenaga dalamnya yang masih ada untuk menyerang Tan Chiang Bin tapi akhirnya ia sendiri yang rubuh.
Tan Chiang Bin setelah mengetahui siapa orangnya yang hendak membokong dirinya lantas tertawa dingin, dan setelah mengetahui bahwa Cu Lian sudah rubuh dalam keadaan tak ingat orang ia lantas bawa dirinya tan Liong serta berlalu bersama-sama Siao hun lie!
Lama sekali Cu Lian baru siuman kembali ia tahu bahwa Tan Liong sudah dibawa pergi oleh Tan Chiang Bin, jika ia tidak berusaha untuk memberi pertolongan pasti tak ada harapan pemuda itu bisa hidup lagi!
Ia segera ingat partai Ciong lam pay, Tan Liong sebagai ketua partai itu maka satu-satunya jalan ialah harus memberitahukan kepada Ciong lam pay...
Entah berapa lama telah berlalu, Tan Liong baru mulai siuman ia rasakan sekujur badannya amat sakit mulutnya sangat dahaga ia coba gerakkan badannya tapi sedikitpun tak bisa bergerak!
Ia baru mengetahui bahwa dirinya telah diikat pada sebuah tiang besar, seluruh tubuhnya tubuhnya diikat dengan rantai besi.
Ia mengenangkan kembali apa yang telah terjadi atas dirinya tapi semua itu agaknya sangat samar-samar.
Dalam iangatannya tempat itu seolah-olah ada ruangan pusat Thian seng hwee, kalau itu ada besar, pasti ia sudah dibawa kesitu oleh Tan Chiang Bin ialah lembah Lui in kok!
Tempat itu ada gelap hingga matanya tidak melihat apa-apa.
Ia menghela napas panjang.
Ia teringat kepada tugasnya yang belum diselesaikan.
Kalau benar Ebook by .
Dewi KZ, Aditya, aaa, Budi S, Nico kangzusi.com ia nanti harus binasa disitu, ia akan mengecewakan pengharapannya banyak orang, disini termasuk ibunya sendiri.
Hiat liong cu (Naga Merah) Yo Swie Peng dan orang-orang partai Ciong lam pay.
Selagi otaknya sedang berpikir keras, tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka, sinar lemah menyorot masuk melalui sela-sela daun pintu, ia sekarang baru tahu bahwa dirinya berada didalam sebuah rumah papan.
Berbareng dengan tebukanya pintu, terlihat olehnya ada masuk tiga sosok tubuh manusia suara jalannya kaki makin lama makin mendekat dan akhirnya berhenti!
Tiga orang itu berhenti dihadapannya Tan Liong siapa merasa sangat sebal terhadap orang-orang itu maka perlahan lahan lantas pejamkan matanya agaknya tidak mau perdulikan kedatangan mereka.
Mendadak telinganya dengar suara orang berkata.
"Tan Liong, tidak disangka kita saling berjumpa lagi disini."
Mendengar suara itu Tan liong terperanjat bukankah suara itu ada suaranya Koan Beng?
Ia lalu dongakkan kepalanya dan benar saja orang yang berdiri dihadapannya adalah Koan Beng.
Diluar dugaannya Koan Beng ternyata sudah menjadi anggota Thian seng hwee semula ia sangsikan kepandaian ilmu pedangnya Koan Beng mengapa mendapat kemjuan begitu pesat.
kiranya telah mendapat petunjuk dari Bong bin Sin kiam Tan Chiang Bin, yang memang ada satu ahli ilmu pedang ternama.
Komplotan manusia jahat itu, pasti akan membawa bencana hebat bagi dunia Kang-zsouw, dan kini dirinya sendiri yang sudah terjatuh dalam tangan mereka, nasibnya hanya diserahkan saja kepada Tuhan Yang Maha Esa!
Ia gigit bibirnya, tidak menjawab!
Orang yang berdiri disampingnya Koan Beng adalah Siao hun lie dan Ciok Eng Cay.
Sambil ketawa dingin Koan Beng berkata pula.
"Tan Liong, sebelum kau mampus kau masih ada perkataan apa yang kau ingin ucapkan? "
Tan Liong tetap membisu.
"Tan Liong, hari ini kau sudah terjatuh dalam tanganku, aku hendak menuntut balas dendam sakit hatiku atas perbuatanmu yang sudah berjina dengan isteriku! "
Tan Liong hanya gigit bibirnya mulutnya masih tetap membungkam! Koan Beng berkata pula sambil ketawa mengejek.
"Banyak perempuan telah tergila-gila terhadap dirimu, aku sekarang kepingin lihat apakah parasmu yang tampan ini untuk selanjutnya bisa tergila-gila kaum wanita atau tidak? "
Belum habis perkataan sudah terdengar suara ‘tar!’ wajahnya Tan Liong dirasakan sakit dan ternyata pecut kulit ditangannya Koan Beng sudah bersarang diwajahnya Tan Liong!
Perbuatan itu sesungguhnya ada amat keji, kiranya Koan Beng sudah bertekad hendak merusak wajahnya Tan Liong!
Rasa sakit diwajahnya membuat Tan Liong hampir saja tidak ingat orang, darah mulai mengalir turun membasahi bajunya.
...
Ia mengeluh, hatinya merasa sedih, ia sungguh tidak nyana Koan beng bisa berbuat begitu kejam terhadap dirinya.
Suara Tar, tar, tar, kembali terdengar berulang-ulang, dan kali ini pecut Koan Beng itu mengenai mata kanan tan Liong, hingga matanya itu juga mengucurkan darah.
....
Suara pecut yang membuat berdiri bulu roma itu masih tetap berlangsung, agaknya Koan Beng sedang umbar semua kegusarannya di atas dirinya Tan Liong yang sudah tidak bisa berdaya sama sekali.
Setelah merasa puas, Koan Beng hentikan pecutnya dan berkata sambil ketawa dingin.
"Tan Liong, untuk selanjutnya aku kepingin tahu apakah masih ada kaum wanita yang tergila-gila kepada parasmu atau tidak?"
Tan Liong yang sudah berada dalam keadaan setengah pingsan, sudah tentu tidak bisa menjawab, tapi ia mengerti bahwa parasnya sudah rusak!
Siao hun lie mengawasi Ciok Eng Cay sejenak, lalu berkata dengan suara dingin.
"Ciok Tongcu, bawa padanya kedalam tahanan dibawah tanah, besok pagi bakar dalam keadaan hidup-hidup! "
Ciok Eng Cay terima baik perintah wakil ketuanya, ia membuka rantai dibadannya Tan Liong.
Setelah terbuka rantai yang mengikat tubuhnya.
Tan Liong lantas roboh terkulai.
Samar-samar Tan Liong merasakan dirinya sedang dibawa pergi oleh orang.
Lama sekali, ia baru dilemparkan ke tanah, kemudian ia dengar suara pintu besi ditutup!
Sekarang ia berada didalam kamar gelap lagi!
Tan Liong mengerti bahwa hasil ini ia benar-benar akan binasa di dalam lembah Lui in kok pusat kedudukan pekumpulan Thian seng hwee yang diketuai oleh ayahnya sendiri.
Dulu masih ada Yao lie lu yang menolong dirinya, tapi sekarang siapa yang akan memberi pertolongan padanya?
Dalam keadaan gelap, ia coba meraba wajahnya tapi rasa sakit telah menusuk hatinya dan apa yang tersentuh oleh tangannya itu hanya potongan daging dari kulitnya!
Ia benar-benar sudah berubah sama sekali.
Dengan sendirinya ia tarik kembali tangannya, jari tangannya ada benda kental yang menempel.
Ia tahu bahwa itu ada darahnya sendiri yang mulai kering.
Perlahan-lahan ia mulai ingat apa yang telah terjadi atas dirinya.
Diam-diam ia mengeluh ia tidak tahan rasa nyeri dan sakit di wajahnya!
Ia gertak gigi dengan perasaan gemas ia berkata pada dirinya sendiri, ''Koan Beng, kau terlalu kejam.
Ada satu hari aku pasti akan cincang tubuhmu menjadi berkeping-keping, andaikata aku harus mati aku juga .....
'' Belum habis perkataan Tan Liong dari sebelah kiri tiba-tiba terdengar suara orang berkata, ''Siapa disana yang menghela napas panjang pendek?
'' Mendengar suara itu semangatnya Tan Liong mendadak terbangun , suara itu sudah tentu keluar dari kamar sebelah kamarnya sendiri.
Untuk sesaat ia tertegun kemudian ia menjawab, ''Siapakah yang berada dikamar sebelah?
Apakah kau juga ditawan dalam kamar dibawah tanah?
'' ''Tidak salah!
Dua hari berselang aku dimasukkan dalam kamar tawanan ini aku merasa kesepian.
Sekarang dengan adanya kau kita boleh saling mengobrol.
'' Tan Liong menarik napas panjang, pikirnya orang sudah dekat ajalnya masih mengobrol apa lagi?
Pada saat itu dalam otaknya tiba-tiba terbayang beberapa gadis Ang hiang lie ( Dewie si gadis baju merah) dengan sifatnya yang agung dan pendiam ..
Hoan Giok Hoa yang suka ketawa riang dan sifatnya yang masih kekanak-kanakan.
Sikap dan paras Chie Peng dan Chie Cui kalau sedang marah.
Bayangan beberapa gadis itu seolah-olah sebuah roda yang berputaran di dalam otaknya tapi ia tahu bahwa semua itu ibarat impian untuk selanjutnya ia akan kehilangan mereka buat selama-lamanya!
Ia ketawa seorang diri dan dari kamar sebelahnya kembali suaranya orang tadi yang menanya padanya, ''Tuan tidak usah mengeluh atau menghela napas panjang pendek, mati atau hidupnya seseorang tergantung di tangan Tuhan.
Kalau didengar dari suaramu kau agaknya masih sangat muda, beberapa puluh tahun kemudian bukankah kau nanti akan menjadi seorang gagah lagi?
'' Tan Liong menyahut sambil tertawa getir, ''Locianpwee dari mana?
Bolehkah memberitahukan nama besarmu yang mulia?
'' Terdengar suara ketawa bergelak-gelak kemudian disusul oleh ucapan yang agaknya ditujukan kepada dirinya sendiri.
''Tidak mengira dalam usiaku yang sudah lanjut dan sudah mendekati lubang kubur masih mendapat sahabat di dalam penjara ha-ha-ha, Siancay!
Siancay ...
'' berhenti sejenak lalu berkata pula, ''Tentang namaku sebentar aku boleh beritahukan padamu semula aku dengar suara rintihanmu apakah kau disiksa oleh mereka?
'' ''Tidak salah!
Tapi siksaan ini lebih kejam dari siksaan biasa, mereka telah membikin rusak wajahku!
'' ''Ow!
Kalau begitu cobalah kau kemari, aku nanti akan berikan obat penahan rasa sakit dan nanti akan merasa enakan!
'' Meski Tan Liong sudah tahu bahwa dirinya akan mati, tapi toh masih tidak suka diganggu oleh rasa sakit dari wajahnya maka dengan jalan meraba-raba ia mendekati kamar sebelahnya.
Tangannya telah menyentuh ruji besi, ia lalu menanya, ''Locianpwee, kau ada dimana?
'' ''Aku ada dihadapanmu, tempat ini gelap sekali kalau kau tidak datang aku rasanya seperti benar-benar berada di dalam neraka ha-ha-ha ....
'' Sehabis berkata kembali ia tertawa terbahak-bahak!
Satu tangan yang dingin telah menyentuh tangan Tan Liong hingga Tan Liong mengetahui bahwa dibalik ruji besi itu adalah kamar tawanannya si orang tua itu!
''Setelah kau makan obat ini kau nanti akan merasa enakan.
sebelum mati dapat melakukan suatu kebajikan terhadap sesama manusia nanti dalam dunia akherat juga akan tambah satu kawan boleh juga!
'' Kembali terdengar suara ketawanya bergelak-gelak.
Setelah itu orang itu memberikan sebungkus obat ketangannya Tan Liong.
Dengan tanpa ragu-ragu Tan Liong menyambuti obat itu sekalipun ada obat beracun ia juga akan makan!
Obat bubuk itu segera dimasukkan ke dalam mulutnya, sebentar kemudian rasa sakit diwajahnya benar saja telah lenyap sama sekali.
Dengan hati bersyukur ia mengucapkan terima kasih kepada si orang tua.
''Terima kasih apa jika kita sama-sama bukan berada didalam kamar tahanan aku berikan sebungkus obat ini setidak-tidaknya harus minta kau ngobrol atau untuk minum beberapa arak.
Tapi sekarang kita sama-sama sudah mendekati ajal perlu apa mengucapkan terima kasih segala?
'' ''Locianpwee, kenapa kau dipenjarakan dalam kamar dibawah tanah ini?
'' ''Aku telah menolong jiwanya satu orang entah bagaimana telah diketahui oleh perempuan siluman Chie Bun Bun yang kemudian lantas menangkap dan membawa aku kemari.
'' ''Siapa orangnya yang Locianpwee tolong itu?
'' ''Ciang bun jin partai Ciong lam pay!
'' Tan Liong terperanjat mendengar jawaban itu.
''Ciang bun jin Ciong lam pay?
'' ia menegaskan.
''Benar!
'' Tan Liong diam-diam merasa heran orang tua itu katanya pernah menolong dirinya tapi entah siapa?
Dalam iangatannya tidak pernah ada seorang tua yang pernah menolong dirinya maka ia kantas menanya pula.
''Dengan cara bagaimana Locianpwee menolong jiwanya ketua Ciong lam pay itu?
'' ''Duduknya perkara adalah begini.
Beberapa hari berselang ada dua orang murid Ciong lam pay telah datang ditempat kediamanku digunung Im kui san minta aku sebungkus obat ''Im hiat kui yang san''.
Dalam urusan ini entah ....
'' Dengan perasaan dan tercampur girang Tan Liong lantas memotong, ''Locianpwee bukankah Chio bin Ie hiap?
'' Orang tua itu tampaknya juga merasa kaget dengan suara agak heran ia balas menanya.
''Bagaimana kau bisa tahu?
'' ''Aku adalah orang yang kau hendak tolong jiwanya itu.
'' ''Apa?
Kau adalah ketua partai Ciong lam pay?
'' ''Benar, aku adalah Ciang bun jin partai Ciong lam pay!
'' Chio bin Ie hiap itu lantas ketawa bergelak-gelak.
''Tidak disangka kita bisa saling berjumpa didalam tempat tawanan ini sesungguhnya merupakan suatu hal yang sangat menggembirakan.
Ciang bun jin, kabarnya kau telah membom dua puluh lebih orang-orangnya Thian seng hwee apakah itu benar?
'' ''Benar!
Bagaimana Locianpwee bisa tahu?
'' ''Kabarnya Bong bin Sin kiam masih ada hubungan dengan kau?
'' ''Ya, ia ayahku.
'' Chio bin Ie hiap terperanjat.
''Ayahmu?
Tapi kenapa dia turun tangan begitu kejam terhadap kau?
'' ''Dia sudah tidak mempunyai perikemanusiaan lagi!
'' Chio bin Ie hiap berpikir sejenak lalu menanya pula.
''Bukankah Ciong lam pay sudah jatuh ditangannya Thian seng hwee?
'' ''Belum, hanya aku yang tertangkap.
'' ''Sebetulnya ayahmu itu bukannya seorang yang sudah rusak benar martabatnya, dia masih bisa ditolong.
Dia itu kecuali kepala batu dan tinggi hati tidak melakukan kejahatan lain."
Baru pertama kalinya Tan Liong mendengar ada orang yang mengatakan baik tentang diri ayahnya tapi ia tidak percaya bahwa ayahnya itu benar-benar ada seorang baik.
Chio bin Ie hiap berkata pula, ''Ayahmu meski menjabat kedudukan ketua Thian seng hwee, tapi orang yang memegang kekuasaan dan berpengaruh dalam Thian seng hwee sebetulnya adalah Siao hun lie.
Kalau ayahmu mandah dan menurut segala kemauannya Siao hun li dalam hal ini kabarnya ada lain sebab yang tidak diketahui oleh orang luar.
Bagaimana duduk perkara yang sebenarnya orang luar sudah tentu tidak bisa mengetahui dengan jelas.
'' Tan Liong hanya tertawa dingin tidak berkata apa-apa.
Chio bin Ie hiap berkata pula, ''Ciang bun jin, jika kau ada merupakan orang terpenting partai Ciong lam pay, hidup atau hancurnya partai itu semua berada ditanganmu aku pikir kau harus berusaha untuk keluar dari sini.
'' ''Keluar?
'' Tan Liong ketawa, ''Tahun depan hari ini adalah peringatan hari wafatku.
'' ''Cian bun jin, aku hendak menolong kau.
'' katanya Chio bin Ie hiap dengan sungguh-sungguh.
''Menolong aku?
Locianpwee, bukankah kau sedang bersendau gurau denganku?
Kenapa kau sendiri tidak mau keluar dari sini?" -o0o0dw0o0o-
Jilid ke . 22
"Ciang bun jin, aku adalah seorang tua yang sudah mendekati lubang kubur selamanya belum pernah membohong. Aku kata hendak menolong kau sudah tentu aku mempunyai jalan untuk menolong dirimu, perlu apa aku harus membohongi kau. Jika kau bukan Ciang bun jin Ciong lam pay siapa yang kesudian menolong?"
Tan Liong mendengar ucapan sungguh-sungguh dari orang tua itu agaknya bukan main-main maka lantas berkata.
"Locianpwee, dengan cara bagaimana kau hendak menolong aku? "
"Ini adalah satu tindakan yang sangat berbahaya dan besar risikonya, kau bisa lolos dari bahaya kematian atau tidak tergantung nasibmu sendiri tapi bagaimanapun juga ada lebih baik dari pada menunggu mati secara konyol! "
"Kalau Lo cianpwee benar-benar bisa menolong aku keluar dari sini, entah bagaimana aku harus ucapkan terima kasih padamu? "
"Kalau ini tak usah kau bicarakan lagi, apakah kau berani atau tidak untuk menempuh jalan ini aku masih belum tahu."
"Menempuh jalan apa? "
"Dalam penghidupanku sehari-hari terus menerus mempelajari ilmu obat-obatan selama 50 tahun aku mempelajari serupa obat yang kuberi nama ‘Leng hun wan’ obat ini setelah dimakan sekujur badan orang yang makan akan menjadi dingin seperti pernapasannya berhenti tidak ubahnya dengan orang yang sudah mati benar-benar.
Tapi obat itu setelah bekerja dua hari dua malam orang yang makan itu bisa sadar kembali.
Cuma apabila orang yang makan obat itu dimasukkan kedalam peti mati serta dikubur sebagaimana biasa maka orang itu sudah tidak ada harapan untuk bisa hidup kembali."
Tan Liong berpikir cara demikian meskipun belum tentu jiwanya bisa terlolos dari kematian tapi setidak-tidaknya ada lebih baik daripada menunggu kematian dengan tanpa berdaya."
Lo cianpwee, aku suka menempuh bahaya itu asal aku bisa keluar dari tempat tahanan ini aku nanti pasti akan berdaya untuk menolong dirimu.
". Demikian akhirnya ia mengambil keputusan dan terima baik usul orang tua itu.
"Tentang itu kau tak usah banyak pikiran. Sekarang kau segera makan obat ini semoga Tuhan melindungi kau bisa terlolos dari bencana! "
Berkata si orang tua itu sambil menghela napas dalam.
Ia lalu mengeluarkan obat pil yang dimakan Leng hun wan itu dan diberikan kepada Tan Liong.
Tatkala tangan Tan Liong menerima pil itu benar saja sangat dingin seperti butiran es.
Karena perasaannya sangat tegang hingga kedua tangannya tampak gemetar.
Diam-diam ia berdoa.
"Ibu! Lindungilah diri anakmu ini! "
"Locianpwee, selamat tinggal! "
"Manusia baik selalu dilindungi Tuhan! Semoga kau terhindar dari malapetaka! "
Dengan hati tabah Tan Liong menelan pil Leng hun wan.
Setelah pil itu masuk kedalam perutnya hawa dingin lantas mengalir disekujur badannya sampai menggigil!
Tan Liong cuma merasakan sekujur badannya amat dingin, makin lama makin susah bernapas dan akhirnya ia telah pertaruhkan jiwanya tapi dalam pertaruhannya ia akan kalah atau menang?
Masih merupakan satu pertanyaan.
Di luar tempat tahanan, hari sudah mulai terang.
Suara tindakan kaki terdengar menuju kekamarnya Tan Liong.
Seorang penjaga mengantarkan makanan untuk Tan Liong sambil mengetok-ngetok pintu besi dan berkata.
"Hei ! Bangun ! Makan pagi dulu baru nanti kau pergi menghadap Giam lo ong! "
Chio bin Ie hiap yang mendengar suara itu lalu menyahuti sambil tertawa.
"Dia sudah binasa! "
"Mati? "
Penjaga tempat tahanan itu terperanjat, makanan ditangannya lantas jatuh berantakan.
Ia buru-buru membuka pintu dan ulur tangannya meraba tubuh Tan Liong, benar saja sekujur badannya dingin agaknya sudah meninggal dunia dalam waktu lama.
Penjaga itu lantas balikkan tubuh dengan cepat memberitahukan kejadian ini kepada ketuanya.
Tan Chiang Bin ketika mendengar berita itu hampir saja terjatuh dari tempat duduknya.
Untuk sesaat lamanya ia tertegun kemudian menanya.
"Sudah mati? Apa kau tak salah lihat? "
"Tidak! "
Siao hun lie dan Koan Beng yang berdiri dikedua sampingnya Tan Chiang Bin juga pada terperanjat.
Baca Juga: Sarang Perjudian Gu Long
Baca Juga: Hong Lui Bun 6