Eps 5 Naga Merah - Khu Lung
Baca online Naga Merah - Khu Lung
Cersil Naga Merah - Khu Lung.
"Harap Ciok Tongcu jangan main-main, pos penjagaan yang paling penting inilah yng tidak bisa dilewati sembarangan oleh orang-orang. Burung terbang saja masih susah melewati tempat ini, siapa yang berani melalui tempat ini? "
Ciok Eng Cay diam-diam berpikir dalam hatinya.
"Sungguh heran. Koancu dari pos penjagaan kedua terluka. Ada orang lihat mereka berdua kabur kearah pos kesatu ini. Kenapa Ho Koancu ini bilang tidak pernah lihat ada orang lewat? "
Memikir demikian, selang sesaat berkata lagi.
"Apa Ho Koancu tidak salah."
"Apakah Ciok Tongcu pun tidak salah? "
Demikian balas tanya Giok bin Lohan. Ciok Eng Cay benar-benar merasa bingung. dengan suara gemas bertanya sekali lagi.
"Ho Koancu, aku hanya ingin bertanya soalnya begini. Ada orang yang pernah melalui pos ini atau tidak? "
"Orang mana yang kau maksud? "
"Ho Koancu, jika urusan ini tidak bereskan dan aku semua tidak akan luput dari bencana kematiannya."
"Sebetulnya urusan apa sampai begitu hebat rupanya? "
"Ciang bun jin partai Ciong lam pay dan Yao lie lu sudah ditolong dan dibawa lari keluar oleh Chie Peng dan adiknya.
Dan enci adik ini sekalian sudah melalui tiga Koancu dari pos penjagaan.
Kabarnya mereka sudah sampai ke pos terdepan ini."
"Ciok Tongcu, benarkah ada kejadian serupa itu? "
Begitu Giok bin Lohan yang masih pura-pura kaget.
"Siapa yang membohongi kau? "
"Semula ketika aku menerima perintah dari ketua kita, aku masih mengira bahwa Ciok Tongcu pernah melakukan suatu perbuatan yang melanggar hukum dan ingin keluar melalui pos penjagaan ini. apakah benar Chie Peng dan Chie Cui nyalinya begitu besar? "
Ciok Eng Cay benar-benar tidak mencurigai perbuatan pura-pura Giok bin Lohan Cuma berpikir demikian.
"Ini sungguh aneh kalau benar mereka tidak lewati pos terdepan ini, kemana kaburnya mereka? "
Sementara itu Giok bin Lohan sudah berkata lagi.
"Ciok Tongcu, jikalau benar Chie Peng dan saudaranya itu ada berbuat begitu maka kita harus berusaha untuk menangkap kembali.
Mereka barangkali juga tidak berani secara terang-terangan melalui pos terdepan ini.
Dan barangkali mereka sedang sembunyi ditempat yang sepi.
Ciong Tongcu bolehlah adakan penyelidikan dulu disekitar gunung ini, pos ini biar aku yang jaga terus pasti tidak bisa ada orang lolos dari sini.
" -o0o0dw0o0o-
Jilid ke .
15 CIOK ENG CAY menganggap benar ucapan Giok bin Lohan itu, cukup beralasan kalau dia mengatakan Chie peng dan Chie Cui tidak berani terang-terangan melalui pos penjagaan terdepan itu, barangkali juga masih bersembunyi di dalam lembah itu.
Maka seketika lantas berkata.
"Kalau begitu, aku sudah menggerecok disini.
Harap kau sukalah jaga baik-baik posmu ini, larang siapapun yang mau keluar dari dalam pusat.
Aku sekarang mau adakan penyelidikan di dalam lembah Lui in kok ini."
"Tentang ini harap tidak usah kuatirkan Tongcu tidak nanti aku bisa terlantarkan kewajibanku."
Ciok Eng Cay hanya mengangguk rupanya tidak suka banyak bicara lagi.
Dengan memimpin serombongan anak buah bawaannya balik lagi kelembah Lui in kok.
Giok bin Lohan tertawa nyengir lalu balik badan dan berjalan menuju ke dalam gua dimana Chie Peng rebah dalam keadaan tak berdaya.
Tan Liong meskipun sudah terlolos dari lembah Lui in kok tetapi ada seorang gadis yang masih putih bersih akan ternoda oleh karena menolongnya.
Kebahagiaan gadis itu seakan-akan telah terkubur di dalam lembah tersebut.
Begitulah setelah Tan Liong mengetahui kejadian itu ......
Didalam lembah Lui in kok mendadak diliputi oleh kabut tebal seakan-akan itu adalah pertanda bahwa setangkai bunga mawar yang masih segar rontok dihirup sang kumbang di dalam lembah Lui in kok .....
Rontok bunga itu tiada yang tahu ....
pun tak ada orang yang mengasihani.
Chie Cui kala itu masih menenteng Tan Liong dan Yao lie lu air matanya menitik terus langkahnya selalu dipanjangkan, tidak berani berhenti meski hanya sejenak.
Gadis ini merasa pedih hatinya.
Buat kepentingan dan kebahagiaannya enci yang begitu baik itu telah korbankan segala-galanya hanya sekedar sebagai penukar tiga jiwa.
dalam dunia ini berapakah jumlah orang yang berani mengorbankan diri sendiri begitu agung?
Setibanya Chie Cui disuatu rimba kira-kira satu lie terpisahnya dari lembah Lui in kok gadis itu hentikan langkahnya membaringkan perlahan badan orang ditangan kanannya, Tan Liong.
Juga yang dikiri Yao lie lu.
Perasaan gusar dan sedih yang melampaui batas, membuat romannya berubah bagai orang linglung.
Tan Liong yang kala itu telah siuman, seakan-akan mendapat firasat tidak baik.
Paras serta sikap dara didepannya, yang beda daripada biasa-biasanya, membuat tergoncang hati nurani pemuda ini.
Tetapi karena jalan darah gagunya tertotok tidak dapat menanyakan apapun.Chie Cui lantas ulur tangannya dan membuka totokan gagu Tan Liong.
Pemuda itu lantas lompat berdiri, dengan perasaan cemas bertanya.
"Nona Chie, sebetulnya apa yang telah terjadi? "
Chie Cui yang ditanya demikian oleh Tan Liong merasa bertambah sedih lagi.
Ditubruknya anak muda itu, memeluk serta merangkul leher si pemuda menangis meraung-raung bagai anak kecil.
Tan Liong mengerti kalau kejadian luar biasa pastilah sudah menimpa atas diri Chie Peng.
Ucapan Chie Peng yang mengharukan saat itu masih mengiang-ngiang dalam telinganya.
Ucapan yang tak dapat dilupakan, adalah itu perkataan yang sebagai berikut.
" ..... perpisahan seperti ini, mungkin dikemudian hari sudah tak ada waktu bisa bertemu kembali."
Mengingat ini Tan Liong terlompat bagai dipagut ular.
Hatinya berdebaran keras.
Apa Chie Peng sudah korbankan jiwanya di dalam lembah Lui in kok oleh karena cuma ingin menolong adik serta kekasih adik itu?
Memikir demikian hatinya bertambah keras goncangannya.
"Nona Chie, dimana encimu? "
Demikian tanyanya tiba-tiba. Chie Cui yang ditanya demikian menangis semakin keras.
"Enciku."
Katanya sambil menangis.
"Karena mau tolong kita dia ......"
Perkataan selanjutnya tidak dapat diteruskan karena dia sudah menangis demikian sedihnya.
"Nona Chie, sebetulnya pernah kejadian apakah atas diri encimu? "
Begitu Tan Liong bertanya akan tetapi sebagai jawaban, Chie Cui hanya keluarkan gerungannya semakin keras.
Maka mana dapat hatinya menyuruh mengatakan soal sebenarnya kepada Tan Liong?
Itu merupakan suatu perkataan yang sulit dikatakan dihadapan seorang pemuda.
Hati serta pikiran Tan Liong dirasakan pepat.
Masih teringat manakala dipos itu dia diserahkan oleh Chie Peng kepada adiknya, serta bagaimana enci itu berkata-kata kepada adiknya maupun untuk dia dengar sendiri.
"Nona Chie, apa encimu masih di dalam lembah? "
Begitu Tan Liong mendesak terus.
Chie Cui hanya mengangguk dengan hati pedih.
Ratap tangis dara itu demikian menyayat hati, hampir-hampr membuat butiran-butiran dalam mata Tan Liong tidak dapat ditahan untuk turun keluar.
Pemuda itu menahan sedih sebisa-bisanya mengelus-elus rambut dari dalam pelukan didadanya seraya katanya menghibur.
"Nona Chie, kau jangan terlalu bersedih. Apa yang terjadi sebenarnya seharusnya beritahukanlah saja padaku."
Chie Cui pikir permintaan itu ada benarnya memang harus juga diutarakan pikiran yang memepat otaknya itu, sebab kalau tidak demikian bagaimana sang enci akan dapat menghilangkan rasa penasarannya?
Berpikir demikian hatinya jadi tabah lagi.
Disusutnya air mata dengan ujung bajunya, mengawasi pemuda didepannya sejenak begini mula-mula dia bertanya!
"Tan Siangkong, apa kau benci kita kakak beradik?"
Tan Liong merasa hatinya tergetar bercekat hatinya. namun masih dicobanya untuk menjawab juga.
"Yah, dulu aku memang pernah benci kalian."
Chie Cui perlihatkan senyum getir berkata pula.
"Apa sebabnya kau begitu benci kepada kami? "
"Karena kalian pernah gunakan nama Naga Merah!
Melakukan pembunuhan dimana-mana.
Selain itu jikalau bukan karena encimu, tiga puluh orang-orang lihainya Thian seng hwee pasti tidak bisa tinggalkan lembahnya, pergi ke gunung Ciong lam san."
"Selain dari itu kau masih punya alasan apa lagi membenci kami? "
"Sudah tak ada lagi."
"Kalau begitu sekarang aku boleh memberikan penjelasan padamu."
Nona itu tertawa getir, selang sesaat berkata pula.
"Kau tidak tahu kami kakak beradik sebenarnya mempunyai riwayat hidup yang tidak beruntung. Tentang riwayat kami yang sangat tidak baik ini, aku tidak suka banyak cerita dihadapanmu. Dan mengenai penggunaan nama Naga Merah melakukan pembunuhan itu adalah rencana suhu. Tentang ini rasanya kau tidak bisa salahkan kami, bukan? "
"Apa sebab suhumu suruh kalian memakai nama Naga Merah membunuh orang? "
"Tentang ini aku tidak tahu jelas."
"Kalau begitu apa sebabnya encimu mau cegah sewaktu aku mau menyergap orang-orangnya Thian seng hwee yang mau pergi ke gunung Ciong lam san? "
"Sebetulnya enci juga tidak ada maksud cegah kau, sebaliknya adalah kau sendiri yang terlalu cemas sampai enci tanpa sengaja sudah turun tangan.
Jikalau dia benar-benar maui jiwamu, dia sudah tidak mau tolongi kau lagi."
Tan Liong memandang Chie Cui sejenak, agaknya ingin menanyakan sesuatu, tetapi kemudian tidak jadi. Sementara itu Chie Cui telah berkata pula.
"Ya, enci sesungguhnya terlalu tidak beruntung.
Oleh karena mau menolongmu dengan susah payah dan banyak akal sudah dikeluarkan, semua melulu untuk kepentinganmu.
Kita sudah menerjang tiga pos penjagaan dan membinasakan orang-orangnya Thian seng hwee tidak sedikit.
Apa maksud sebenarnya dari itu?
Apa kau mengerti?
Betapa besar cinta enci terhadapmu, rasanya hanya Tuhan saja yang tahu."
Tan Liong tertegun, diam saja dia tidak dapat mengeluarkan perkataan sepatahpun juga.
"Kau juga tidak akan tahu, bahwa sekarang ini dia sudah mengalami nasibnya yang paling buruk."
Kata pula Chie Cui tapi ia tidak dapat melanjutkan perkataannya, karena hatinya terlalu sedih, hingga air matanya mengalir keluar. Tan Liong hatinya sangat gelisah, buru-buru menanya pula.
"Nona Chie, sebetulnya apa yang telah terjadi, lekas kau jelaskan! "
Chie Cui sedapat mungkin kendalikan perasaan sedihnya, lama sekali ia baru bisa berkata lagi sambil menangis sesenggukan! "
Oleh karena hendak menolong jiwa kita bertiga, ia telah korbankan kesuciannya sebagai syarat supaya penjaga pos pertama itu melepaskan kita."
"Apa? Apa kau kata?"
Tan Liong mendelu, hatinya tergoncang keras.
"Kau tidak perlu kaget, pos penjagaan pertama itu ada merupakan pos terpenting bagi Thian seng hwee. Disitu terjaga keras oleh orang-orang terlihai dari Thian seng hwee. Koancu adalah Giok bin Lohan. Oleh karena enci hendak menolong jiwa kita, ia lebih suka korbankan kesuciannya. Dengan Giok bin Lohan mengadakan perjanjian supaya tidak membikin susah kepada kita."
Demikian Chie Cui memberi penjelasan.
Tan Liong yang mendengar keterangan itu seolah disambar petir matanya berkunang-kunang.
Kepalanya dirasakan puyeng sehingga hampir saja jatuh, lama sekali ia baru membuka mulut lagi.
"Apakah itu benar? ..... benarkah ia sampai berbuat demikian? ......"
Saking terharunya air matanya telah mengalir keluar membasahi kedua pipinya dengan tanpa dirasa.
Ya Tuhan, seorang gadis yang masih putih bersih, oleh karena dirinya telah korbankan kesuciannya sekedar hendak menolong jiwanya, bagaimana ia tidak terharu?
"Dia ......
mengapa ia harus berbuat demikian?"
Berkata Tan Liong yang seolah-olah ditujukan kepada dirinya sendiri.
"Karena di cinta kau, dia tidak sayang korban dirinya sendiri."
"Tapi selanjutnya suruh aku bagaimana bisa jadi orang lagi? Aku tidak bisa membiarkan dia berbuat demikian, aku hendak menolong padanya ......"
Setelah mengucapkan perkataannya itu Tan Liong mendadak kabur ke arah lembah Lui in kok. Chie Cui yang menyaksikan keadaan demikian bukan kepalang kagetnya, ia buru-buru berseru.
"Tan Siangkong, kau balik .....! "
Berbareng dengan itu orangnya juga lompat melesat untuk mencegah berlalunya Tan Liong. Dengan pikiran kusut Tan Liong berkata.
"Tidak!
Kau jangan mencegah aku, aku tidak dapat menyaksikan seorang perempuan yang mencintakan diriku telah korbankan hari depannya yang gilang gemilang oleh karena aku, maka harus aku menolong padanya, aku tidak bisa ....."
Sukar ia melampiaskan kata-katanya ia menekap mukanya dan menangis, benar-benar telah menangis seperti anak kecil.
Dalam jiwanya biar bagaimana tidak dapat melupakan perbuatan Chie Peng yang dilakukan karena ia.
Sungguh ia tidak nyana kalau Chie Peng ada mencintakan padanya begitu dalam.
Jika benar bahwa oleh karena ia Chie Peng sampai mengorbankan kesuciannya, bagaimana ia bisa melupakan nasib celaka yang dialami oleh gadis malang itu?
Dalam seumur hidupnya tidak dapat ia menghapus bayangan gelap itu, ia juga akan merasa malu buat selama-lamanya terhadap dirinya gadis itu!
Dengan perasaan mendelu ia memandang Chie Cui yang menghadang dihadapannya kemudian ia berkata.
"Nona Chie, aku hendak menolong encimu."
"Sudah terlambat, mungkin ia sudah ....."
Jawabnya Chie Cui sambil menangis sesenggukan kemudian ia menanya sambil ketawa getir.
"Tan Siangkong, benarkah kau juga mencintai enciku? "
"Ya, dia mencintai diriku, aku tidak boleh tidak mencintai padanya."
"Jikalau kau mencintai dia, seharusnya dia merasa sangat bersukur kepadamu, jika kau balik lagi kesana bukan saja kau tidak mampu menolong dirinya, sebaliknya malah tersia-sia segala usahanya."
Ia kertak gigi mendadak sikapnya berubah dan dengan tandas ia berkata pula.
"Dia pernah berkata, hidup apa senangnya mati apa yang ditakuti?
Hanya yang menjadi kenangan bagi manusia tidak ada yang lebih hebat daripada tidak mencapainya pengharapan dimasa hidupnya.
Benar enci memang pernah mempunyai pengharapan hari depan yang gilang gemilang, tapi ia telah gagal oleh karena cintanya kepadamu, cintanya kepadaku telah merusak dan korbankan semua pengharapan dan kebahagiaan hidupnya untuk ditukarkan dengan nasib yang paling buruk dan kejam."
Ia berhenti sejenak dan kemudian berkata pula sambil ketawa getir.
"Kau harus percaya padanya, percaya cintanya yang suci murni terhadap dirimu.
Dia tidak segan-segan menghadapi musuh lihai, melanggar peraturan perguruan.
Dengan segala daya upaya ia berdaya untuk menolong dirimu asal kau cinta padanya, ingat dirimu ia sudah merasa puas.
Disamping itu kau juga harus memikirkan untuk dirimu sendiri, nasibnya partai Ciong lam pay berada di dalam tanganmu.
Jika kau balik lagi kelembah Lui in kok itu berarti kau telah mensia-siakan semua jerih payah enci, juga akan membuat kau kehilangan segala-galanya termasuk nasibnya partai Ciong lam pay."
Uraian panjang lebar Chie Cui telah membuat Tan Liong yang tadinya begitu kusut pikirannya menjadi sadar.
Apa yang diucapkan oleh Chie Cui memang benar sekalipun ia sekarang balik lagi ke lembah Lui in kok mungkin juga sudah tidak berhasil menolong nasibnya Chie Peng.
Tapi bagaimana ia dapat melupakan dirinya itu gadis yang mencintakan dirinya begitu dalam dan sudah mengorbankan kehormatannya semata-mata untuk menolong dirinya?
Ia tidak bisa lupa, juga tidak bisa terhapus dari otaknya.
Ia berdiri bengong sekian lama seolah-olah jiwanya sudah tiba dibabakan yang paling suram.
"Tan Siangkong, sebaiknya kau lekas pergi ke gunung Ciong lam san untuk menengok keadaannya partai Ciong lam pay."
Demikian ia dengar pekataannya Chie Cui.
"Ya, aku harus lekas pergi ke gunung Ciong lam san tapi bagaimana aku bisa melupakan nasibnya setangkai bunga segar yang telah runtuh di lembah Lui in kok karena aku? "
"Bisa sang waktu nanti perlahan-lahan akan membikin buyar semua kenang-kenanganmu dimasa yang lampau."
"Tidak mungkin aku dapat melupakan, aku tidak dapat melupakan untuk seumur hidupku ......"
Dengan tindakan kaki berat, ia berjalan lambat, pada saat itu ia sudah berdiri lagi ditempat dimana Yao lie lu ada rebah terlentang.
Dengan perasaan murung ia mengawasi dirinya Yao lie lu, sejenak kemudian menghela napas.
"Tan Siangkong, lukanya Yao lie lu ada sangat berat, lekas kau tolong padanya."
Berkata Chie Cui. Tan Liong anggukkan kepala dan berkata.
"Ya, aku harus tolong dia."
Ia lalu kerahkan seluruh kekuatan tenaga dalamnya kepada kedua tangannya, lalu disalurkan ke 36 jalan darah dirinya Yao lie lu.
Tidak antara lama, Yao lie lu perlahan lahan mulai siuman dengan pandangan sayup ia mengawasi keadaan diseputarnya, kemudian menanya dengan suara seperti orang yang sedang mengigau.
"Tan Siangkong apa kita belum mati? "
"Ya, enci Tio. kita belum mati apa kau sudah merasa enakan? "
Berkata Chie Cui. Yao lie lu yang mendengar suaranya Chie Cui perasaan dengkinya mendadak timbul lalu berkata dengan suara dingin.
"Kenapa kau juga ada di sini? "
"Enci Tio, apa salahnya aku berada di sini? "
Yao lie lu lalu lompat bangun dan berkata pula dengan nada suaranya yang masih tetap dingin ketus.
"Begitu melihat kau, aku lantas merasa tidak enak pikiran."
Chie Cui parasnya berubah seketika. tidak nyana, dengan menempuh bahaya maut ia berdaya menolong jiwanya Yao lie lu dan kini pembalasan demikian ketus, maka ia lantas berkata dengan suara dingin juga.
"Ada apa pada diriku yang membuat kau merasa tidak enak? "
Tan Liong yang menyaksikan keadaan demikian, lantas berkata kepada Yao lie lu .
"Nona, jangan berlaku begitu tidak sopan jika bukan nona Chie yang menolong kita saat ini barangkali kita juga sudah binasa semuanya di pusat perkumpulan Thian seng hwee!? "
Yao lie lu yang sampai pada saat itu masih bisa bernapas, ia sendiri juga merasa heran dan benar-benar ada diluar dugaannya.
Ketika mendengar keterangan Tan Liong ia segera mengerti duduknya pekara, ialah atas petolongannya dan saudara Chie itu.
Tapi, ia ada seorang wanita yang mempunyai perasaan dengki hati melebihi derita keras ia cinta dirinya Tan Liong, tapi cintanya itu terlalu egoistis, hanya untuk kepentingannya diri sendiri, sekalipun ia harus korbankan jiwanya wanita sendiri, ia juga tidak akan membiarkan lain wanita mendapatkan dirinya pemuda yang dicintainya itu.
Ia juga bisa menggunakan segala rupa akal muslihat yang terlalu keji, untuk merintangi perempuan lain mendekati dirinya Tan Liong.
Maka, meskipun ia dalam hatinya merasa terima kasih atas perbuatannya kedua saudara Chie yang sudah menolong jiwanya, tapi napsu dan perasaan cintanya yang bersifat serakah, telah membikin gelap pikirannya.
Cintanya itu terlalu egoistis hatinya terlalu picik dan sempit.
Semua itu telah membuat ia mata gelap, menyerang segala orang yang dianggap sebagai saingan dalam asmara merusak nama baik gadis gadis yang masih suci yang dikira hendak merebut kekasihnya.
Semua itu dilakukan dengan tanpa memandang bulu dan bicara, semata-mata hanya untuk kepentingan diri sendiri, untuk memenuhi pengharapannya agar mendapatkan dirinya Tan Liong.
Maka ketika mendengar perkataan tersebut ia lantas berkata dengan nada suara dingin serta bersifat mengejek.
"Huh! Dia telah menolong diriku? Hal ini sesungguhnya diluar dugaanku."
"Jikalau bukan nona Chie Peng yang korbankan kehormatannya sebagai syarat tukar menukar dengan jiwa kita bertiga, kita tidak berdaya keluar dari lembah Lui in kok."
Berkata Tan Liong dengan wajah murung.
"K e n a p a ? "
Tan Liong lalu menceritakan apa yang dituturkan oleh Chie Cui kepada Yao lie lu!
Tapi Yao lie lu setelah mendengar keterangan ini, bukan saja tidak tergerak hatinya, bahkan telah ketawa tergelak-gelak!
Chie Cui yang menyaksikan kelakuan Yao lie lu itu wajahnya lantas berubah dan menanya padanya dengan sikap gusar.
"Enci Tio, kau ketawai apa? "
Tapi Yao lie lu tidak menjawab pertanyaan Chie Cui itu sebaliknya menghampiri dirinya Tan Liong serta berkata padanya.
"Tan Siangkong, apa kau kira semua itu ada benar? "
"Apa bisa jadi semua itu ada bohong? "
Tan Liong balas menanya dengan wajah berubah.
"Urusan ini tidak begitu hebat seperti apa yang kau duga. Perbuatan Chie Peng itu seolah-olah mendorong perahu mengikuti alirannya sungai dan sekedar untuk mendapat perasaan simpatimu saja."
Tan Liong tercengang.
"Apa artinya perkataanmu ini? "
Demikian ia menanya.
"Chie Peng bukan seorang tolol, sebaliknya ada seorang wanita yang amat cerdik.
Apa kau kira dia bisa berbuat demikian terhadap seorang lelaki yang dia tidak cintai?
Apa lagi mengorbankan kehormatannya."
Chie Cui yang mendengar perkataan Yao lie lu yang sudah kelewatan itu sudah tidak dapat kendalikan kemarahannya hingga parasnya menjadi pucat pasi.
"Yao lie lu, kau ? ......"
Demikian ia menggeram. Tetapi Yao lie lu sudah memotong sambil ketawa dingin.
"Apa yang aku ucapkan tadi, adalah sebenarnya Tan Siangkong, aku beritahukan padamu. Chie Peng dengan kepala penjaga pos pertama itu sebelumnya memang sudah mempunyai hubungan luar biasa. Oleh karena dia takut dikemudian hari kau nanti akan menuntut balas dendam maka dia sengaja mengarang segala cerita kosong itu untuk mendapat perasaan simpatimu, jikalau tidak coba kau pikir saja sendiri apakah Giok bin Lohan ada begitu gampang membiarkan kita lolos dari tangannya hanya mengandal sepatah perkataan Chie Peng saja? "
Perkataan Yao lie lu yang sangat berbisa itu mau tidak mau telah membikin goncang hatinya Tan Liong.
Kalau tadinya ia merasa sangat terharu dan simpati terhadap perbuatannya Chie Peng yang telah korbankan kehormatannya untuk menolong dirinya kini setelah mendengar perkataan si wanita dengki dianggapnya memang masuk diakal juga maka ia lantas berkata.
"Cuma dia telah menolong jiwa kita itu memang ada satu hal yang sebenarnya! "
"Tapi aku tadi tokh tidak kata kalau dia tidak menolong jiwa kita hanya perbuatan dia dengan mengorbankan kehormatannya sebagai syarat untuk menukar jiwa kita, semua itu adalah bohong belaka,......."
Chie Cui yang mendengar perkataan itu benar-benar sudah tidak dapat kendalikan perasaan gusarnya lagi dengan suara keras ia membentak.
"Yao lie lu, kau terlalu keji, aku hendak bunuh mati kau ......"
Berbareng dengan itu badannya lantas bergerak menerjang dirinya Yao lie lu dengan beruntun ia menyerang sampai tiga kali.
Kebenciannya Chie Cui terhadap Yao lie lu sudah memuncak.
Ia sungguh tidak nyana bahwa pengorbanan suci dari encinya yang semata-mata hendak menolong jiwa mereka telah dituduh oleh Yao lie lu sebagai suatu perbuatan hina yang katanya sudah mempunyai hubungan luar biasa dengan Giok bin Lohan.
Orang yang tidak perduli seperti Yao lie lu itu biar bagaimana ia tidak dapat memberi ampun lagi.
Maka serangannya yang dilakukan dalam gusar dan sengit itu ia sudah menggunakan tenaga sepenuhnya.
Kepandaian dan kekuatan Yao lie lu yang memang masih bukan tandingannya Chie Cui tidak heran kalau dalam waktu sekejapan saja sudah terdesak mundur dan tidak mampu melawan!
Tan Liong yang menyaksikan kejadian demikian, jika ia biarkan perkelahian itu berlangsung terus Yao lie lu akan binasa ditangannya Chie Cui, maka ia terpaksa turun tangan untuk memisah seraya membentak.
"Nona Chie tahan dulu! "
Tapi Chie Cui tidak hentikan serangannya.
Ia sudah merasa sangat benci sekali terhadap Yao lie lu jika ia belum membinasakan dirinya perempuan berbisa itu ia belum merasa puas dan lenyap perasaan mendongkolnya.
Maka dari pada hentikan serangannya ia tambah gencar melakukan serangan sampai Yao lie lu kepayahan.
Dengan paras semakin pucat dan gigi berkertakan bahwa gusarnya yang sudah melewati takaran, ia menyerang lawannya semakin hebat.
Tan Liong yang menyaksikan semua perubahan itu hatinya berdebaran, ia tahu bahwa Chie Cui pada saat itu sudah benar-benar kalap.
"Nona Chie, apakah kau tidak mau dengar perkataanku? "
Demikian ia membentak pula.
"Kalau aku belum membunuh mati perempuan sundel ini, aku masih belum merasa puas! "
Yao lie lu menjawab dengan suara dingin.
"Nona Chie, apakah karena aku telah membuka rahasia encimu. maka kau membenci diriku begini rupa? "
Saking gusarnya badan Chie Cui sampai gemetaran dan dadanya dirasakan seolah-olah hendak meledak.
"Kau perempuan beracun yang tak kenal budi orang. kau tak boleh dibiarkan berkeliaran terus didunia Kangouw! "
Kata Chie Cui sengit.
Perasaan gusar, napsu membunuh, semua telah tertumpuk nyata diparasnya Chie Cui.
Memang, caranya menghadapi saingan dalam soal asmara yang diambil oleh Yao lie lu dengan semuanya itu, sesungguhnya ada sangat keterlaluan!
Sekali lagi Tan Liong menengok ke dalam kalangan ia tahu, tidak sampai lima jurus lagi Yao lie lu pasti akan binasa didalam tangannya Chie Cui.
Biar bagaimana kedua wanita itu pernah sama-sama menolong jiwanya maka ia tidak dapat peluk tangan begitu saja untuk menyaksikan terjadinya peristiwa berdarah.
Oleh karena itu maka ia lantas membentak pula.
"Nona Chie, hentikan dulu seranganmu! "
Tapi Chie Cui tidak mau menurut, sebab saat itu hawa amarahnya sedang meluap, jika ia belum membinasakan dirinya perempuan berbisa itu, belum merasa puas dan tidak dapat menyingkirkan perasaan bencinya terhadap Yao lie lu.
Tan Liong yang melihat Chie Cui tidak mau menurut perkataannya, merasa agak mendongkol.
Dalam anggapannya setidak-tidaknya Chie Cui harus hentikan dulu serangannya untuk mendengarkan keterangannya.
Dalam mendongkolnya ia membentak pula dengan sengit.
"Nona Chie, benarkah kau sudah tak mau dengar keteranganku? "
"Aku akan robek dulu mulutnya perempuan berbisa ini nanti baru dengar keteranganmu. Rasanya masih belum terlambat."
jawaban Chie Cui.
Perkataannya itu dibarengi oleh serangannya yang lebih hebat, yang dilancarkan terhaap dirinya Yao lie lu.
Tan Liong yang menyaksikan kejadian itu terpaksa ia harus turun tangan Yao lie lu pasti akan binasa.
Dalam gemasnya ia sudah tidak memikir akibatnya lagi dengan cepat ia menyerbu kedalam medan pertempuran, tangan kanannya bergerak untuk menahan serangannya Chie Cui sedang tangan kirinya menyambar dirinya Yao lie lu !
Perubahan yang terjadi dengan tidak diduga-duga itu, sesungguhnya diluar dugaan Chie Cui ia juga tidak nyana kalau dalam keadaan demikian Tan Liong masih bisa membantu fihaknya Yao lie lu hingga saat itu otaknya seperti dihantam oleh martil matanya menjadi berkunang kunang dan badannya sempoyongan.
Mendadak ia merasakan seolah-olah dirinya terjatuh kedalam lubang gua yang sangat dalam dan gelap gulita, semua pengharapannya telah ludas, jiwanya seolah-olah sudah terbang keluar dari raganya!
Air matanya mengalir deras hingga membasahi kedua pipinya!
Parasnya pucat pasi dan menakutkan, pipinya yang montok telah diliputi oleh kesuraman kedukaan yang sangat hebat.
Ia telah dapatkan bahwa dirinya sudah dihadapkan dengan suatu kenyataan yang sangat kejam dan mengerikan.
Tan Liong bukan saja tidak memberi bantuan kepada dirinya sebaliknya malah membantu fihaknya Yao lie lu!
Pengorbanan suci yang dilakukan oleh encinya telah dibayar dengan nasib yang paling buruk.
Dalam hal ini sebetulnya tidak boleh terlalu menyalahkan kepada dirinya Tan Liong karena ia tak ingin melihat jatuhnya korban jiwa lagi diantara kedua wanita yang sudah sama-sama memberi pertolongan kepada dirinya itu, maka ia terpaksa turun tangan tapi dalam anggapannya Chie Cui perbuatannya Tan Liong itu ada merupakan satu pukulan paling hebat bagi dirinya.
Dalam waktu sekejap itu Chie Cui telah berubah menjadi orang yang hilang ingatan.
Ia tidak tahu lagi kalau dalam dunia yang fana ini masih ada dirinya, satu-satunya perasaan yang masih ada, ialah perasaan mengalirnya air mata dikedua pipinya.
Parasnya yang pucat pasi bagaikan mayat membuat Tan Liong merasa sangat haru.
"Nona Chie, kau kenapa? Ada urusan apa kau boleh bicarakan dengan sabar dan tenang! "
Demikian ia berkata.
Chie Cui mendengar teguran Tan Liong itu seolah-olah tergugah dalam dunianya yang gelap.
Hatinya yang putih bersih bagaikan kertas yang baru dibuka dari bungkusannya, tiba-tiba dikotori oleh cipratan tinta.
Ia cuma bisa kertakkan gigi, sorot matanya berubah menjadi berbahaya dalam waktu sekejap itu ia seolah-olah sudah berubah menjadi seorang gadis yang berlainan sifat dan coraknya.
Ia kini sudah tidak berduka lagi.
Tiba-tiba terdengar suara tawanya yang menyeramkan, suara ketawanya itu seolah-olah keluar dari mulut seorang gila yang sudah kehilangan ingatan, sangat memekakkan telinga, seolah olah suara ratapan atau tangisan binatang kera atau burung hantu diwaktu malam, tetapi kalau kita dengarkan dengan seksama.
suara itu seperti suara tangisan hantu diwaktu malam yang bisa membuat berdiri bulu roma itu.
Tan Liong yang menyaksikan itu semua, wajahnya berubah seketika, ia lantas menegur.
"Nona Chie, kau ...... kau kenapa? "
Dan secepat kilat dia sudah berdiri dihadapannya Chie Cui.
Chie Cui mendadak hentikan ketawanya degan sorot mata gusar menatap wajahnya Tan Liong, kemudian ayun tangannya sebentar lalu terdengar suara "plak"
Yang amat nyaring baru terdengar jawabannya yang diucapkan dengan nada suara tajam.
"Tan Liong, kau manusia yang tidak tahu malu, lekas enyah dari depan mukaku! "
Tan Liong setelah mendapat "persenan"
Satu tamparan dari Chie Cui pipinya dirasa panas dengan tanpa sadar ia sudah mundur dua tindak, matanya mengawasi Chie Cui.
Dengan paras pucat dan sambil kertak gigi Chie Cui berkata dengan suara bengis.
"Tan Liong, kuberitahukan kepadamu. Kita berdua bukannya wanita bangsa rendah yang suka menjual dirinya. Enciku. oleh karena kau telah mengorbankan kehormatannya sebagai ganti untuk menolong jiwamu. Tapi kau sekarang ternyata sudah dengar mulutnya Yao lie lu yang telah pandang enciku sebagai wanita yang tidak ada harganya. Apakah kau masih anggap dirimu sebagao manusia? Apakah kau masih pantas mengaku satu laki-laki sejati atau Enghiong? Padahal kau tidak lebih dari satu binatang anjing buduk! "
Dimaki-maki secara demikian Tan Liong wajahnya pucat seketika, ia lalu menjawab dengan perasaan cemas.
"Aku toh tidak dengar mulutnya Yao lie lu! "
Chie Cui lalu berkata kepada Yao lie lu sambil ketawa dingin.
"Yao lie lu, ada satu hari aku nanti tidak akan melepaskan kau begitu saja oleh karena aku tahu kau ada mencintakan dirinya Tan Liong maka aku tolong jiwamu sekalian tapi kau sebaliknya yang hendak memuaskan keserakahan hatimu telah menuduh enciku sebagai perempuan rendah! " . Sambil kertak gigi ia berkata pula kepada Tan Liong.
"Tan Liong, sekarang aku baru mengerti, kau adalah satu manusia rendah, manusia goblok yang tidak dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Kuberitahukan padamu pasti ada satu hari aku tidak akan membiarkan kau begitu saja, seperti juga aku tidak dapat membiarkan setiap laki-laki busuk dalam dunia ini! "
Mendadak ia tertawa bergelak dan kemudian berkata pula.
"Tan Liong, pergilah dengan membawa wanita sundel itu! Kau tak usah kuatir Chie Cui tidak nanti akan menghabiskan jiwanya sendiri. Sedikit penggodaan dan penderitaan yang tidak ada artinya ini aku masih sanggup terima."
Sambil tertawa bergelak-gelak dengan tindakan lambat-lambat ia berlalu dari hadapannya Tan Liong.
Tan Liong berdiri terpaku, ia tidak dapat berbuat apa apa terhadap nasib yang malang itu.
Dan setelah Chie Cui berlalu jauh dari depan matanya ia mendadak merasa tidak adil terhadap nona itu, ia merasa telah berdosa terhadap dirinya satu gadis yang masih suci murni!
Apapun juga maksud dan tujuan dua bersaudara itu menolong jiwanya, toh ada satu hal yang sebenarnya, bukan suatu kebohongan.
Ia merasa menyesal atas perbuatannya sendiri yang tadi sudah menolong dirinya Yao li lu maka ia lantas mengejar dirinya Chie Cui dan berkata padanya.
"Nona Chie, kau seharusnya dengar dulu penjelasanku."
Tapi Chie Cui menjawab dengan suara dingin.
"Kau telah menolong dirinya Yao lie lu, itulah penjelasanmu."
"Nona Chie, kau jangan kata begitu, aku cuma .."
"Tan Liong, aku minta kau jangan banyak bicara, juga minta supaya kau berlaku sedikit sopan, jangan menghalang-halangi perjalananku.
Jikalau tidak nanti apabila sampai kejadian saling cakar, itu berarti merusak persahabatan kita."
Yao lie lu mendadak menyelak.
"Tan Siangkong, perempuan yang tidak tahu malu ini perlu apa kau ladeni padanya? "
Chie Cui yang mendengar perkataan-perkataan Yao Lie lu itu parasnya berubah seketika, sorot matanya mengunjukkan perasaan bencinya yang meluap-luap dengan sorot mata beringasan mengawasi Yao lie lu, tapi itu hanya sepintas lalu saja, kemudian ia berkata sambil ketawa dingin.
"Tidak salah, Chie Cui memang ada satu perempuan yang tidak tahu malu."
Sehabis mengucapkan perkataan demikian ia lantas ketawa bergelak-gelak.
Tapi perkataannya Chie Cui itu benar-benar telah menusuk ulu hatinya Tan Liong.
Ia merasa sangat terharu, ia terbengong!
Sehingga cuma bisa berdiri melongo.
"Tan Liong, kau mau menyingkir atau tidak? "
Tegur Chie Cui dengan sikap dingin.
Tan Liong menghela napas, ia minggir beberapa tindak untuk memberikan jalan kepada Chie Cui.
Dengan memandang bayangan belakang dirinya Chie Cui, Tan Liong mendadak seperti kehilangan benda yang paling disayang, pikirannya melayang sampai jauh sekali!
Tiba-tiba terdengar suaranya Yao lie lu.
"Tan Siangkong ...... apa guna kau berduka. Dia sudah pergi toh masih ada aku! "
Dengan sikap yang dibikin-bikin, perempuan genit itu jatuhkan dirinya kedalam pelukannya Tan Liong. Tapi Tan Liong lantas dorong padanya seraya berkata.
"Kau juga harus pergi, aku hendak balik ke gunung Ciong lam san."
Yao lie lu yang didorong oleh Tan Liong nampaknya tercengang kemudian ia berkata.
"Kau suruh aku pergi? "
"Ya, semua urusan sudah berlalu, kau sudah seharusnya juga pergi dari sini."
Mendengar putusan itu hati Yao lie lu merasa sedih, dengan air mata berlinang-linag ia berkata.
"Tan ...... Tan koko, kau suruh aku pergi kemana? "
"Kau boleh pergi kemana saja yang kau suka."
"Tidak, engko Tan. Aku sudah menghianati dan meninggalkan Thian seng hwee, kau toh tidak bisa meninggalkan aku demikian saja."
Parasnya yang dihiasi air mata meleleh dikedua pipinya yang montok memang bisa merubuhkan hatinya setiap kaum pria yang kurang teguh.
Tan Liong yang masih muda belia sudah tentu tidak dapat menghindarkan gangguan pikiran semacam itu.
Maka dalam hatinya lantas berpikir memang betul, ia sudah meninggalkan Thian seng hwee, kemana ia harus pergi?....
Oleh karena itu, maka untuk sesaat lamanya ia menjadi bingung sendiri, tapi kemudian ia berkata pula sambil kerutkan keningnya.
"Bukan maksudku untuk meninggalkan kau tapi kau harus mengerti, kalau aku sekarang ini hendak pulang kegunung Ciong lam san..."
Tan Liong lantas menjawab sambil geleng kepala.
"Kau tidak bisa ikut ke sana.
Dalam perjalanan ke gunung Ciong lam san ini ada mempunyai hubungan sangat penting dengan diriku, dengan kau pergi kesana tidak ada gunanya sama sekali.
Sekarang begini saja baiknya, nanti setengah bulan kemudian, kau boleh kesana mencari aku."
"Benarkah kau tidak mengijinkan aku turut pergi? "
"Setengah bulan kemudian kau boleh pergi ke sana, tapi sekarang tidak. Nah, sekarang aku harus pergi."
Demikian jawabnya Tan Liong sambil anggukkan kepala.
dan setelah itu ia lantas lompat melesat dan menghilang ke dalam rimba.
Dengan hati dan perasaan berat, Tan Liong menghitung-hitung waktunya, orang-orangnya Thian seng hwee yang hendak menggempur Ciong lam san sudah satu malam melakukan perjalanannya.
Ia sendiri juga sudah membuang waktunya satu malam, kalau nanti ia sampai digunung Ciong lam san, disitu mungkin sudah terjadi pertumpahan darah hebat, bangkai manusia bergelimpangan diseluruh gunung.
...
Mengingat sampai disitu ia merasa kuatir sendiri jika benar-benar partai Ciong lam pay sampai hancur ditangannya orang-orang Thian seng hwee bagaimana perasaannya terhadap Yo Sui Pang yang sudah bersemayam di alam baka?
Begitu dalam rasa bencinya terhadap dirinya Bong bin Sin kiam Tan Ciang Bin yang sebetulnya ada ayahnya sendiri.
Ia sudah bertekad bulat pasti ada satu hari ia akan ubrak-abrik perkumpulan Thian seng hwee sampai menjadi berantakan baru ia merasa puas.
Malam itu juga, Tan Liong tiba di gunung Ciong lam san.
Hatinya merasa sangat gelisah, karena ia sudah membuang waktunya satu malaman entah apa yang terjadi di gunung itu?
Di atas gunung Ciong lam san memang benar sedang berlangsung suatu pertempuran mati-matian yang sangat hebat.
Tan Liong terus lari ke atas gunung.
Di dalam sebuah rimba benar saja ia menemukan beberapa puluh bangkai manusia yang berpakaian seragam berwarna kuning, apakah itu bukannya orang-orang atau anak buahnya partai Ciong lam san?
Wajahnya Tan Liong berubah seketika, ia percepat larinya, kini gedung partai Ciong lam pay sudah nampak di depan matanya dari situ lapat-lapat terdengar suara beradunya senjata tajam dan bentakan orang.
Dengan hati panas dan mata beringas, sepanjang jalan Tan Liong menemukan bangkainya orang-orang yang memakai pakaian seragam warna kuning!
Dari jarak yang masih agak jauh, Tan Liong sudah keluarkan bentakannya.
"Kalian orang-orang dari Thian seng hwee ini semua harus dibunuh mampus."
Dalam waktu sekejap saja, ia sudah tiba kira-kira sejarak lima tombak ditembok gedung Ciong lam pay.
Dua puluh lebih orang-orangnya Thian seng hwee, sedang mengepung dan bertempur sengit dengan tujuh orangnya Ciong lam pay yang berpakaian warna kuning.
Dilain sudut, ada terlihat dirinya si pendekar Kalong, Chiang hay Sin kun dan Yau san It hiong yang juga sedang bertempur sengit dengan lima orang-orangnya Thian seng hwee.
Diatas tembok pekarangan gedung Chiang lam pay ada berdiri seorang gadis jelita berbaju merah yang dulu pernah mengambil sepotong pecahan mangkok dari tangannya Tan Liong.
Gadis itu dengan paras penuh kegusaran sedang berusaha mencegah masuknya orang Thian seng hwee kedalam gedung Chiong lam pay.
Diatas tanah nampak bergelimpangan bangkainya orang-orang berpakaian warna kuning yang tidak terhitung jumlahnya.
Wakil ketua Thian seng hwee Cie Bun Bun nampak berdiri disamping menyaksikan pertempuran itu sambil ketawa dingin.
Hati Tan Liong merasa sakit pedih terharu dan murka menyaksikan semua pemandangan itu tiba-tiba ia mengucurkan air mata.
Karena perasaan sedihnya yang sangat, ia sampai berdiri menjublek seperti seorang yang sudah kehilangan ingatan!"
Suara keras mendadak menyadarkan ia.
Orang-orangnya Ciang seng hwee yang sedang mengepung tujuh orang-orangnya Chiong lam pay diantaranya mendadak ada yang menyerbu ke dalam gedung Ciong lam pay.
Gadis baju merah yang melihat ada orang hendak menerjang masuk kedalam gedung perkumpulan lantas membentak dengan suara bengis.
"Kalian mencari mampus ! ........"
Bentakannya itu dibarengi oleh serangannya yang meluncur keluar dari kedua tangannya yang putih halus.
Gadis baju merah yang tindak tanduknya sangat misteri itu dengan mendadak bisa muncul diatas gunung Ciong lam san benar-benar diluar dugaannya Tan Liong.
Gadis itu ada mempunyai kepandaian ilmu silat yang sukar dijajaki sampai dimana tingginya.
Jikalau tidak ada ia Ciong lam pay barangkali siang-siang sudah dihancurkan oleh orang-orangnya Thian seng hwee.
Ia berdiri tegak di tembok pekarangan bagaikan penjaga gawang dari kesebelasan yang kokoh kuat yang sukar dilalui.
Tempat dimana ia berdiri ada merupakan satu-satunya jalan bagi setiap orang yang hendak masuk ke dalam gedung partai Ciong lam pay.
Beberapa orang-orangnya Thian seng hwee yang terhitung lihai telah beberapa kali coba menyerbu, tapi semua telah terpukul mundur oleh gadis baju merah itu.
Dengan adanya gadis baju merah yang sangat misteri itu orang-orang Thian seng hwee merasa sangat sukar menembusi penjagaan itu hingga untuk beberapa saat lamanya gadis baju merah dalam keadaan nganggur sebagai penonton dari orang-orang yang sedang bertempur sengit itu.
Dan kini ketika dengan tiba-tiba ada tiga orang Thian seng hwee coba hendak menyerbu dengan kontan disambut oleh serangannya yang maha dahsyat.
Tiga orang-orangnya Thian seng hwee itu sebetulnya sudah merasakan pahitnya tangan gadis baju merah itu tapi kini rupa-rupanya masih merasa penasaran maka untuk kedua kalinya mereka coba menyerbu lagi.
Dan tatkala kedatangannya itu disambut oleh serangan begitu hebat mereka lantas pada lompat kesamping untuk menghindarkan serangan tersebut.
Gadis baju merah itu dengan sikap dan paras dingin berseru.
"Siapa yang tidak takut mati boleh coba maju lagi.
"Kalau orang-orangnya Thian seng hwee yang berhadapan dengan baju merah itu masih merasa ragu-ragu untuk maju menyerbu lagi dilain pihak tiba-tiba terdengar suara jeritan ngeri.
satu diantara tujuh orangnya Ciong lam pay seorang tua baju kuning yang bersenjata tongkat telah rubuh binasa ditangannya orang Thian seng hwee.
Tujuh orang tua berpakaian seragam warna kuning itu ada merupakan tujuh jagonya partai Ciong lam pay.
Dalam partai Ciong lam pay mendapat gelar nama Ciong lam Cit hiong.
Sudah sepuluh jam lebih mereka bertempur mati-matian mempertahankan nama dan kedudukan Ciong lam pay, tapi karena jumlahnya kalah banyak akhirnya kehabisan tenaga, hingga sudah tidak dapat keluar dari kepungan orang-orang Thian seng hwee yang jumlahnya lebih dari dua puluh orang Orang tua baju kuning itu begitu rubuh, keadaan lantas menjadi kalut.
Orang-orang Thian seng hwee yang anggap sudah tidak perlu menggunakan begitu banyak tenaga lagi untuk melawan enam orang tua yang lainnya, maka lima diantaranya lantas mundurkan diri dan membantu kawannya yang hendak menyerbu penjagaan gadis baju merah itu.
Jika ditilik keadaannya, enam orang tua yang masih melawan mati-matian itu, tidak sampai setengah jam lagi, barangkali akan mati semua ditangan lawannya.
Keadaan sudah terlalu gawat, naibnya partai Ciong lam pay hanya tinggal beberapa jam lagi sudah dapat ditentukan.
Dalam keadaan demikian bayangan orang tiba-tiba melayang turun sembari perdengarkan suara bentakannya yang sangat hebat.
Bayangan orang itu secepat kilat sudah menyerbu kepada rombongan orang-orangnya Thian seng hwee yang hendak menamatkan riwayatnya orang tua baju kuning itu.
"Aku hendak cincang kalian menjadi berkeping-keping! "
Demikian ia keluarkan bentakannya yang lalu disusul oleh serangan tangannya yang amat dahsyat.
Kedatangan bayangan orang secara mendadak itu membuat terkejut semua orang yang sedang bertempur, baik pihaknya Thian seng hwee maupun pihaknya Ciong lam pay terutama orang-orangnya Thian seng hwee yang sedang mengepung orang tua baju kuning itu.
Karena serangannya yang begitu hebat mereka terpaksa pada lompat mundur.
Bayangan orang yang menyerbu secara tiba-tiba itu bukan lain daripada Tan Liong sendiri.
Dengan sikap keren dan mata beringas Tan Liong berdiri ditengah-yengah kalangan orang-orangnya Thian seng hwee yang menyaksikan itu pada merasa jeri!
Wakil ketua Thian seng hwee Cie Bun bun begitu lihat Tan Liong muncul dimedan pertempuran secara mendadak parasnya lantas berubah seketika.
Sedangkan gadis baju merah itu ketika melihat Tan Liong lantas unjukkan senyumnya yang manis perlahan-lahan menarik napas lega.
Semua orang dibikin terpaku oleh kedatangannya Tan Liong yang tibanya seperti malaikat turun dari langit hingga dalam medan pertempuran itu keadaannya lantas menjadi sepi sunyi.
Beberapa puluh pasang mata semua ditujukan kepada dirinya anak muda itu.
Tiba-tiba terdengar suaranya Tan Liong yang berkata sambil mengejek.
"Bagus, bagus ! Thian seng hwee telah membinasakan banyak sekali anak murid partai kita. Hutang darah ini kalian harus bayar dengan darah juga. Sekarang aku ingin tahu apakah kalian bisa keluar dari gunung Ciong lam san ini dalam keadaan utuh? "
Baru saja ia menutup mulutnya enam orang tua baju kuning itu sudah pada maju menghampiri dan berlutut dihadapannya sembari berkata.
"Teecu, Ciong lam Cit hiong disini menjumpai Ciang bun jin ....."
"Sudahlah, silahkan kalian bangun! "
ENAM orang tua baju kuning itu lantas bangun dan berdiri di samping.
Gadis baju merah juga lompat turun dari tembok pekarangan dan menghampiri Tan Liong kemudian berkata padanya dengan nada suara dingin.
"Kau pergi ke lembah Lui in kok bukan saja tidak berhasil melakukan suatu pekerjaan sebaliknya malah terlantarkan urusan besar. Tahukah kau bahwa partai Ciong lam san hampir saja musnah di dalam tanganmu sendiri? "
Tan Liong yang ditegur secara demikian wajahnya merah seketika.
memang sebenarnya ia sendiri yang pergi ke lembah Lui in kok hendak menyatroni Thian seng hwee, bukan saja tak berhasil dalm usahanya, sebaliknya malah menelantarkan urusan besar.
Dengan mulut membungkam ia mengawasi gadis baju merah itu sejenak, kemudian mengawasi Cie Bun bun seraya berkata.
"Hu Hweethio, hari ini aku suruh kau tinggalkan bangkaimu di gunung ini."
Cie Bun bun unjukkan ketawanya yang dibuat-buat kemudian menjawab.
"Ciang bun jin, aku beritahukan padamu nasibnya Ciong lam pay hanya tinggal beberapa detik saja."
Tan Liong lalu berkata pada enam orang tua baju kuning.
"Semua anak murid partai kita, suruh mereka seluruhnya mundur ke dalam gedung perkumpulan, jangan ada yang ketinggalan."
Enam orang tua baju kuning itu dengan sikapnya yang menghormat menerima baik perintah itu lalu berjalan menuju ke medan pertempuran untuk menyampaikan perintah itu kepada semua kawan-kawannya.
Siapa tahu selagi enam orang tua itu balikkan badannya sudah ada sepuluh lebih orangnya Thian seng hwee yang menghadang perjalanan mereka, satu diantaranya lantas berkata dengan sikap yang congkak.
-o0o0dw0o0o-
Jilid ke . 16
"Sahabat, kalian ingin pergi? Tidak begitu gampang he!?"
Keadaan sekarang menjadi tenang lagi. Tan Liong wajahnya lantas berubah matanya memandang kearah Pendekar Kalong bertiga kemudian berkata kepada mereka.
"Silahkan samwi Locianpwe bersama anak murid partai kita mundur kedalam gedung perkumpulan."
Chiang hay Sin kun pendekar Kalong dan Yau san It hiong pada anggukkan kepala sebagai jawaban, dengan perlahan menghampiri dan kemudian berdiri berendeng dengan 6 orang tua baju kuning itu.
Tatkala Chiang hay Sin kun bertiga baru saja bergerak, kembali ada 8 orang-orangnya Thian seng hwee yang coba merintangi dengan mata melotot.
Gadis baju merah yang menyaksikan itu semua keadaan, agaknya teringat sesuatu, ia lantas membentak dengan suara keras kemudian ayun tangannya dan menyerang orang-orang Thian seng hwee yang hendak merintangi perjalanan orang orang Ciong lam pay dan rombongan pendekar Kalong, Serangan secara tidak terduga-duga yang dilakukan oleh gadis baju merah itu ada mengandung kekuatan tenaga dalam demikian hebat karena ia melakukan serangannya itu dengan tenaga sepenuhnya.
Sembari melancarkan serangannya gadis baju merah itu barseru .
"Tuan tuan lekas jalan ..."
Mendengar seruan gadis baju merah itu rombongan pendekar Kalong dan Ciong lam Cit Hong juga lantas bergerak melancarkan serangan mereka.
Serangan itu ada demikian hebat.
18 orang-orangnya Thian seng hwee yang tadi hendak merintangi perjalanan mereka terpaksa pada lompat mundur untuk menghindarkan serangan itu.
Dalam waktu sekejap Chiong lam Cit hiong dan rombongan pendekar Kalong sudah berhasil membikin jebol rintangan orang-orang.
Ketika orang-orangnya Thian seng hwee mengetahui itu semua orangnya Ciong lam pay tarnyata sudah berada dibawah tembok pekarangan.
Sambil keluarkan suara geraman hebat, orang orangnya Thian seng hwee itu dengan serentak maju menyerbu dan lari menuju kegedung perkumpulan.
Gadis baju merah ita lantas balikkan badannya dan menghadang didepan mereka, kemudian membentak dengan suara keras.
"Apakah kalian benar benar sudah bosan hidup? "
Ia lalu ayun tangannya dengan beruntun melancarkan serangaanya.
Orang orangnya Thian seng hwee itu tidak menduga kalau gadis baju merah itu mendadak turun tangan dan melancarkan serangannya yang begita dahsyat dan aneh.
Mereka masih mencoba hendak menyingkir tapi sudah tidak keburu, dua diantara mereka yang berada dipaling depan sudah lantas menjadi korban hingga seketika itu juga lantas roboh sembari mengeluarkaa jeritan ngeri !
Gadis baju merah ita berkata pula sambil ketawa dingin .
"Siapa yang sudah tidak sayangi jiwanya boleh coba-coba maju !"
Di balik parasnya yang cantik ayu laksana bidadari, lapat-lapat ada diliputi napsu pembunuhan yang sangat menakutkan hingga orang orangnya Thian seng hwee yang menyaksikan itu dengan tanpa sadar pada mundur dua tindak.
Siao hun lie Cie Bun bun diam-diam juga terperanjat tapi itu hanya sebentar saja kemudian ia keluarkan perintahnya dengan suara keren.
"Semua anak buah Thian seng hwee dengar baik-baik. Siapa yang takut mati dan tidak berani maju nanti akan dihukum menurut peraturan perkumpulan!"
Mendengar perintah wakil ketuanya semua anak buah Thian seng hwee semangatnya bangun lagi, satu diantaranya lantas maju dan berkata kepada gadis baju merah.
"Kita justru hendak coba coba kepandaian nona "
Tan Lioag lantas maju kedepan dan berdiri berendeng dengan gadis baju merah kemudian ia membentak.
"Siapa yang ingin mampus boleh maju saja jangan malu-malu ..... !"
Siapa nyana ketika mendengar suara bentakan Tan Lioag itu semua anak buahnya Thian seng hwee yang tadi sudah pada bergerak mendadak lantas berhenti bertindak.
Tan Liong yang berdiri di sampingnya gadis baju merah saat itu dengar suaranya gadis itu yang diucapkan sangat perlahan sekali.
"Ciang hun jin kau masih mempunyai bom Pek lek tan atau tidak ? "
Suara itu ada demikian halus dan perlahan sekali hingga orang-orangnya Thian seng hwee tidak ada satupan yang dengar.
"Masih ada sebuah !"
Jawaban Tan Liong yang juga dengan perlahan sekali.
"Sekarang ini jika tidak menggunakan bom Pek lek tan barangkali mereka akan terus membandel "
"Aku tadi suruh Ciong lam Cit hiong dan rombongan pendekar Kalong menyingkir dari medan pertempuran maksudku ialah hendak menggunakan bom itu "
"Nanti kalau orang-orangnya Thian seng-hwee itu sudah mulai turun tangan kau harus mencari kesempatan yang paling baik sambitkan bom itu kearah mereka asal kau dengan perkataan "
Berhenti dulu!"
Aku nanti akan pura-pura hentikan seranganku.
aku juga yakin bahwa mereka nanti setelah mendengar seruanmu itu, tentunya pada terkejut dan hentikan serangannya, saat itulah ada merupakan saat yang paling baik, hingga kau boleh sambitkan bommu yang amat dahsyat itu.
Tan Liosg anggukkan kepala.
tapi pembicaraan mereka ita tidak dapat didengar oleh orang orangnya Thian seng hwee.
mereka cuma heran mengapa kedua muda mudi itu pada kasak kusuk dan tidak segera bergerak melakukan serangan?
Cie Bun-bun yang menyaksikan Tan Liong berdiri bahu membahu dengan gadis baju merah itu, dalam batinya mendadak timbul perasaan jelus, perasaan jelus itu mengapa timbul secara mendadak ketika ia menyaksikan kelakuan Tan Liong dan gadis baju merah yang tampaknya begita intim, ia sendiri juga tidak mengerti.
Diam-diam ia kertak giginya sendiri, sedang dalam hatinya berpikir!
Kalau dibanding dengan ayahnya, dia kelihatannya lebih tampan dan romantis, jika mau berkenalan dengan dia.
tidak percaya hidupku ini !.
Perempuan ini sesungguhnya terlalu gila ia sama sekali tidak pikir, bahwa Tan Liong adalah anak Tan Chiang Bin, yang sekarang ada merupakan suaminya sendiri.
Bagaimana ia bisa memikir yang bukan-bukan?"
Dan oleh karena pikirannya yang gelo itu maka timbullah napsu hendak membawa kabur dirinya Tan Liong dalam waktu secepat mungkin.
Sambil unjukkan ketawanya yang di bikin-bikin setelah matanya menyapu orang-orangnya sejenak, kembali ia mengeluarkan perintahnya.
"Siapa-siapa yang tidak berani maju aku akan hukum dengan menggunakan peraturan perkumpulan "
Perintah ita benar benar telah berhasil dua puluh lebih orang-orangnya Thian seng hwee lantas menyerbu dengan serentak !
Tan Liong juga membentak keras, tangan kanannya diayun.
sedang tangan kirinya dengan kecepataa bagaikan kilat sudah menggenggam bom Pek lek tan yang tinggal satu satunya itu.
Perbuatan Tan Liong yang dilakukan sedemikian cepatnya itu, jangan kata orang-orangnya Thian seng hwee dapat mengetahui sekalipun Cie Bun bun sendiri juga tidak dapat lihat.
Tan Liong setelah melancarkan serangannya segera disusul oleh gadis baju merah itu yang dengan sekaligus sudah melancarkan dua kali serangannya.
Disamping itu Tan Liong juga sudah siap dengan bomnya yang setiap saat bisa meluncur keluar dari lengannya.
Pembunuhan besar-besaran segera akan terulang lagi diatas gunung Ciong lam san.
Gadis baju merah itu setelah melancarkan dua kali serangannya kembali lompat maju dan melancarkan serangannya yang lebih hebat dua puluh lebih orang-orangnya Thian seng hwee yaag masih belum sadar kalau diri mereka sedang menghadapi bahaya maut juga dengan serentak menyambuti serangan kedua muda-mudi itu, Tiga jari tangan kiri Tan Liong sudah menjepit bom Pek lek tannya, lalu berseru dengan suara keras.
"T a h a n ! ...."
Dan berbareng dengan itu bom Pek lek tan sudah melesat keluar dari tangannya dan meluncur kearah orang oraagnya Thian seng hwee ...
Hampir berbarengan pada saat Tan Liong meluncurkan bomnya dan ia sendiri melesat keluar kalangan bersama gadis baju merah.
Siao hun lie Cie Bun bun juga sudah lompat melesat mengejar Tan Liong.
...
Orang-orangnya Thian seng hwee yang sedang bertempur sengit tadi ketika mendengar seruan Tan Liong dan kemudian melihat Tan Liong melesat keluar bersama si gadis baju merah untuk sesaat pada melongo mereka masih tidak tahu apa yang ditakutkan oleh kedua muda-mudi itu.
Satu diantaranya bahkan memaki .
"Hei kalian hendak berbuat apa?... ."
Tapi belum lagi menutup mulutnya, tiba tiba terdengar suara ledakan bebat, itu adalah bom Pek lek tan yang sudah tiga kalinya beraksi dan kali ini diatas gunung Ciong lam san.
Ledakan bom yang amat dahsyat itu telah menggoncangkan seluruh gunung, tanah, batu-batu pada beterbangan ditengah udara, pohon-pohon besar pada tumbang!
Tembok pekarangan gedung perkumpulan Ciong lam pay juga turut ambruk!
Diantara suara ledakan bom itu diselingi oleh suara jeritan mengerikan dari orang-orangnya Thian seng hwee yang dijadikan sasaran dari bom tersebut.
Suatu pemandangan yang mengerikan di mana daging dan darah manusia pada berterbangan dan berhamburan di tanah, seperti apa yang telah terjadi di pusatnya perkumpulan Thian seng hwee, kini telah terulang kembali digunung Ciong lam san!
Dua puluh lebih orang-orangnya Thian seng hwee yang termasuk orang-orang pilihan, tidak ada satupun juga yang terluput dari bencana tersebut.
Hanya wakil ketua mereka Cie Bun bun yang tidak turut bertempur dapat meloloskaa diri dari bahaya maut itu.
Suara ledakan sudah sirap....
Suasana dipegunungan Ciong lam san kembali pada asalnya yang sunyi senyap!
Bangkai dan potongan kaki tangan manusia berserakan di tanah, darah mengundang suatu pemandangan yang sangat mengerikan.
Sebuah bom Pek lek tan kembali membuat Thian seng hwee kehilangan 20 lebih anggotanya yang terpilih kuat.
Orang-orang itu yang semua ditugaskan untuk menaklukkan partai Ciong lam san kini ludes seluruhnya!
Semua kejadian ini mungkin Bong bin Sin kiam sendiri juga dibikin terkejut.
Setelah suasana tenang kembali gadis baju merah balik lagi ke tempat bekas ledakan bom.
ketika menyaksikan semua pemandangan itu hatinya juga merasa terharu.
Pada saat itu dari dalam Ciong lam pay ada berjalan keluar Chiang hay Sin kun Yau san It hiong dan pendekar Kalong.
Ketika mereka menyaksikan pemandangan yang mengerikan itu juga pada pejamkan matanya.
Suara tindakan kaki yang sangat ramai telah terdengar dari gedung Ciong lam pay kemudian nampak 12 orangnya Ciong-lam pay yang menggiring seorang gadis jelita baju kuning dengan tindakan lambat-lambat berjalan menuju keluar.
Gadis baju merah begitu melihat munculnya gadis baju kuning itu segera mengetahui bahwa gadis baju kuning ita adalah Oey Bwee Cian yang pada saat itu mewakili kedudukan Ciang bun jin partai Ciong lam pay yang masih lowong !
Gadis baju kuning itu meski usianya masih muda sekali, tapi sudah memegang tampuk pimpinan satu partai besar, sesungguhnya ada amat berat baginya.
Gadis itu mempunyai kecantikan paras yang jarang ada timpalannya diatas potongan wajahnya yang tirus bagai telur, dihiasi oleh alis hitam lentik.
sepasang mata jeli hitam mulut kecil bagaikan buah delima serta hidung mancung dan pipi merah montok bagai buah apel.
Menyaksikan kecantikan dan jalannya gadis itu yang sangat luwes.
sampai gadis baju merah yang juga tergolong wanita cantik menjadi kesima.
Jika ia tidak melihat dengan mata kepala sendiri, ia benar-benar tidak akan percaya bahwa didalam dunia ada wanita yaag begitu cantiknya.
Kecantikannya Yao Lie lu boleh dibilang sudah cukup menggegerkan dunia Kang-zsouw tapi kecantikannya Oey Bwee Cian ada sepuluh kali lipat dari kecantikanya Yao lie lu?
Chiang hay Sin kun cs yang melihat Oey Bwee Cian diam-diam juga pada tercengang semua pada memuji kecantikannya.
Gadis baju merah itu setelah sekian lama berdiri kesima lalu maju memberi hormat dan berkata kepada Oey Bwee Cian .
"Nona ini barangkali yang pada saat ini mewakili memegang tampuk pimpinan partai Ciong lam pay ?"
Gadis baju kuning itu tersenyum, satu senyuman yang sangat menggiurkan! "
Nona tidak perlu memakai banyak peradatan partai kita sangat berterima kasih atas bantuan tenaga nona dan ketiga Locian pwee sehingga tak sampai musnah.
Oey Bwee Cian atas nama Ciang lam pay di sini banyak mengucapkan terima kasih.
Tiba tiba ia berhenti sejenak, matanya nampak berputaran dan kemudian menanya.
"Nona, numpang tanya dimana Ciang bun jin kita?"
Gadis baju merah terkejut, benar saja saat itu ia baru tahu kalau Tan Liong tidak ada disitu. Maka ia lantas berkata .
"Hai! Kemana dia pergi?"
Ucapan gadis baju merah itu telah mengejutkan semua orang.
Mengapa Tan Liong mendadak menghilang?
Gadis baju merah itu matanya berputaran ia telah mendapat kenyataan bahwa Cie Bun bun juga tidak ada disitu, ia agaknya ingat sesuatu maka lantas berkata.
"Celaka! ......"
Demi didengarnya pertanyaan gadis baju merah itu berubah wajah semua orang.
"Adakah mungkin Ciang bun jin Ciong lam pay kalian tewas di antara ledakan bom Pek lek tan tadi?"
Demikian si Pendekar Kalong bertanya.
Dan si wakil Ciang bun jin -Ciong lam pay yakni nona Oey Bwee Cian serta anggota partai Ciong lam pay lainnya rata-rata sedang tujukan pandangan mata mereka ke arah gadis baju merah yang berdiri pula di situ.
"Tidak mungkin dia gugur kalau cuma bom Pek lek tan meledak sekali atau dua kali. Menurut dugaanku ada kemungkinan besar dia sudah tertawan oleh Siao hun lie Cie Bun Bun."
Ini adalah jawaban si gadis baju merah atas pertanyaan si Pendekar Kalong, mewakili orang-orang Ciong lam pay itu, Chiang hay Sin kun, Pendekar Kalong dan Yau san It hiong serta lainnya waktu itu tampak celingukan mencari-cari apa yang ingin dilihatnya adalah si genit wakil ketua Thian seng hwee yang benar saja waktu bayang-bayangnya sajapun tidak kelihatan.
Sementara itu gadis baju merah sudah melanjutkan pula katanya.
"Harap nona wakil ketua suka memberi perintah semua anak murid Ciong lam pay supaya selekasnya mengadakan penyelidikan didaerah sekitar Ciong lam san sini. Masih mungkin Ciang bun jin kalian itu belum lagi dibawa jauh dari Pegunungan ini, Wanita baju merah itu berpesan demikian dengan dia sendiri yang sudah lantas gerakkan badan dan lompat lebih dahulu mengambil arah dimana Tan Liong tadi dilihatnya mengejar Siao hun lie. Begitu melihat gadis baju merah sudah bertindak Oey Bwee Cian juga keluarkan titahnya. Semua anak murid Ciong lam pay yang ada disitu dimintanya snpaya segera berpencar dan mencari jejak Tan Liong dan semua lalu bubaran setelah mengatakan "
Teecu sekalian terima titah."
Sesaat lamanya suasana diatas bukit dan tegang orang-orang yang ditugaskan mencari masing-masing membawa perasaan hatinya sendiri-sendiri kuatir dan gelisah.
Jika Tan Liong benar-benar tertawan atau binasa oleh si centil Siao hun lie Cie Bun Bun bagaimana akibatnya nanti akan segera runtuhkan Ciong lam pay?
Akan segera hapuskan nama partai besar itu dari rimba persilatan.
Apa yang akan dialami oleh gunung Ciong lam san dalam menerima algojo-algojonya yang kejam?
Semenjak si gadis baju merah melihat Tan Liong mengejar Siao hun lie dengan jangka waktu sekian lama tanpa kembalinya pemuda itu.
wakil ketua Thian seng hwee yang centil genit itu telah dapat menguasai hidup matinya ketua Ciong lam pay tersebut.
Adapun maksud Siao hun lie Cie Bun Bun dengan memancing Tan Liong itu adalah semata-mata dari dorongan nafsu iblisnya yg hendak melampiaskan kegairahan dalam dirinya terhadap anak muda tampan gagah sebagai Tan Liong itu.
Sebagai seorang cabul sudah tentu dengan sendirinya dia tidak suka melepaskan mangsa yang sudah lama di "incar"
Nya itu saja, Semua orangpun umum tahu kalau Siao hun lie Cia Bun bun adalah seorang wanita yang centil genit lagi cabul.
Ebook by .
Dewi KZ, Aditya, aaa, Budi S, Nico kangzusi.com Sejak menyaksikan Tan Liong berdiri bahu membahu dengan gadis baju merah sebenarnya telah ada perasaan cemburunya bahkan berahinya telah meluap sedemikian rupa hingga apabila ada sedikit kesempatan saja mau dia segera melaksanakaa nafsu binatangnya.
Dia sudah tidak kenal apa arti kata "malu", Pendeknya Tan Liong adalah putera Tan Chiang Bin yakni suamiaya sendiri.
Agaknya dia sudah tidak mau ambil peduli iagi.
Apa peduli pntra kandung apa kek anak tiri kalau sudah ku "naksir"
Harus dan kudapatkan.
Begitu mungkin pendapat orang cabul doyan laki laki.
Nafsu berahinya sudah membikin butek pikirannya yang waras sudah membuat dia mata gelap sudah lupa dia akan tegala galanya.
Dia maui Tan Liong dia harus dapatkan Tan Liong.
Begitu cuma jalan pikirannya.
Menilik kembali kejalan cerita yang semula adapun sewaktu Tan Liong bergerak hendak menyerang ibu tirinya Cie Bun Bun tadi, begitu dia meledakkan bom Pek lek tannya, Siao hun lie pun telah siapkan rencananya akan menjalankan peranannya sebagai perempuan pengambil sari laki laki, Sebenarnya apa pun perbandingannya kepandaian Tan Lioag jauh lebih tinggi di atas kebisaan Siao hun lie Cie Bun Bun.
ibu tirinya itu akan tetapi ketidak beresan kala itu menguasai kepalanya.
Ia sendiripan agaknya tidak mengetahui mengapa setiap kali didekati wanita itu kakinya selalu melangkah ke belakang.
Siao hun lie yang mengetahui kesempatan sebaik itu tentu tidak disia-siakannya lebih lama, Cepat luar biasa tangannya mengulur maksudnya ingin menotok jalan darah Ma hiat dibadan Tan Liong.
Kegesitan Siao hun lie dalam pergerakannya kala ita memang diluar dugaan Tan Lioag.
Mungkin terdorong oleh hawa nafsunya yang telah meluap-luap wanita itu jadi dapat mengadakan penyerangan sehebat itu.
Sampai-sampai dengan kepandaian tinggi yang dimiliki pemuda Tan Lioag pada waktu itu ternyata masih tidak berhasil dia yang niat mau menghindarkan serangan tersebut.
Anak muda ini tahu-tahu cuma merasakan padanya baal, kaku, otaknya bagaikan terputar-putar dan kepala pusing ....
Pada waktu itulah Siao hun lie menyambar tubuh Tan Liong dia perdengarkan ketawa puasnya lalu lari memasuki rimba.
Di dalam rimba dia bagai mencari apa-apa, tidak selang berapa lama melompat dia ke bawah yakni kesebuah lembah yang didepannya nampak berdiri megah sebuah tebing.
Di sebelah kanan dari tebing tersebut terdapat satu lubang gua dan Siao hun lie yang telah sampai dilembah terus mengempit tubuh Tan Liong memasuki gua tersebut.
Dengan demikian nasib Tan Liong waktu itu sudah ketahuan akan bagaimana dia kini berada dalam pondongan hangatnya Cie Bun Bun.
Tepat pada detik dikala Siao hun lie melangkahi mulut gua setindak dari kejauhan terampak satu bayangan berkelebatan tubuh langsing itupun tengah berlari mengambil arah kegua tersebut.
Namun bahaya kadangkala tak dapat dicegah.
Pada saat itulah ketika baru saja bayangan langsing tersebut tiba dilembah didepannya tahu-tahu ada tiga orang berseragam kuning yang mencegat jalanan.
Orang-orang yang belakangan disebut ini tiga laki-laki baju kuning itu ternyata adalah orang-orangnya Ciong lam pay yang dapat tugas dari Oey Bwee Cian wakil mereka untuk pergi mencari jejak Tan Liong.
Mereka sampai kelembah sesudah Siao hun lie berada di depan mulut gua.
Mereka tidak sengaja menghadang bayangan langsing tadi, dengan sendirinya kalau mereka terkejut sekali ketika satu bayangan mendadak muncul didepan mata.
Seorang diantara mereka setelah menatap paras orang didepannya, lalu dengan suara dingin bertanya demikian.
"Apa maksud nona tengah malam buta rata seperti ini memasuki tempat penting di daerah kekuasaan kami? "
Bayangan itu agaknyapun sama terperanjatnya seperti tiga orang Ciong lam pay itu, tetapi cuma sesaat lain detik sudah dapat menjawab pertanyaan orang baju kuning itu dibalikkan dengan pertanyaannya sekalian.
"Untuk suatu keperluan. Adakah ketiga locian pwee ini semuanya dari Ciong lam pay? "
"Benar."
"Bolehkah aku numpang bertanya, sudah pulang kembalikah Ciang bun jin kalian ke pusat perkumpulan? "
"Ciang bun jin? "
"Ya! "
Tiga murid Ciong lam pay itu rupanya segera mengetahui kalau dengan Ciang bun jin yang dimaksud oleh orang yang menanya itu seorang gadis dia, pasti tidak lain daripada Tan Liong adanya.
Maka setelah berpikir antara sesaat lamanya lalu balik bertanya.
"Dan nama nona yang mulia? Ada hubungan apa nona denngan Ciang bun jin partai kami? "
Ketus suara orang itu, namun segera dia mendapat jawabannya.
"Namaku Hoan Giok Hoa, hubungan ...... aah! Cuma ada sedikit keperluan buat cari dia."
"Nona kenal dengan Ciang bun jin partai kami itu? "
Demikian tanya pula salah satu orang baju kuning itu, yang dijawab oleh Hoan Giok Hoa dengan satu anggukan kepala saja, diapun lantas unjuk senyumnya yang menggiurkan, satu senyuman kekanak-kanakan.
"Sungguh amat menyesal nona, Ciang bun jin kami meski betul sudah kembali, tapi ada kemalangan menimpa dia mungkin waktu ini ketua kami itu sudah dibawa kabur oleh wakil ketua Thian seng hwee, Siao hun lie yang centil cabul itu.
Kami sekarang justeru sedang mencari jejak mereka berdua."
Sesaat dia berhenti lalu meneruskan.
"Eh nona, bagaimana kalau nona untuk sementara menunggu di pusat? Kami akan mengantarkan kau kesana nona, tunggulah sampai ketua kami kembali."
Di paras Hoan Giok Hoa yang masih kekanakan nampak kegelisahannya, tak menunggu habis uraian atau ajakan orang tua itu, bertanya.
"Dia dibawa kabur orang. Begitu maksudmu? "
"Ya, boleh jadi begitu. Mungkin juga dibikin celaka oleh perempuan cabul itu! "
"Dia dalam bahaya! Aku ingin bantu kalian cari dia apa boleh? Aku kuatir atas keselamatannya ditangan perempuan genit itu! "
Perasaan gelisah, kuatir serta perhatian nona itu untuk Tan Liong yang begitu besar, tiada luput dari sasaran mata ketiga orang baju kuning itu, yang mengetahui itu dari pembicaraannya, parasnya yang jujur dan sikapnya yang begitu sungguh-sungguh.
Semua apa yang mereka lihat itu adalah dari atas satu paras yang cantik manis tapi masih kekanakan.
"Tentu saja boleh bantu kami cari jejak mereka."
Demikian jawab ketiga orang itu serntak dan setelah mana tanpa menantikan jawaban Hoan Giok Hoa lebih lanjut lantas berpencaran dalam usaha yang tetap sama mencari Tan Liong.
Hoan Giok Hoa sesaat nampak berdiam diri dan melongo, lalu pergi mencari juga.
Tapi siapapun sebenarnya tidaklah mengetahui kalau Siao hun lie pada saat itu telah lama masuk didalam gua.
Di dalam gua, Siao hun lie setelah ketawa sepuasnya, meletakkan tubuh Tan Liong ke tanah.
Ditatapnya wajah cakap tampan orang yang rebah tak sadarkan diri itu diam-diam berkata kepada dirinya sendiri.
"Satu wajah yang amat tampan!
Sekalipun Phoa An dijaman dulu barangkali cuma nempil sepucuk hidungnya saja.
Pantas banyak perempuan tergila-gila padanya.
....
Wanita ini berpikir demikian, napas birahinya lantas berkobar tanpa terkendali lagi.
Keua pipinya merah membara, hatinya memukul kuat.
Perlahan-lahan dia membungkukkan badan diciumnya pipi pemuda itu lalu berkata seolah-olah orang tengah mengigau.
"Ah manisku, aku bisa mati di dalam pelukanmu."
Wanita itu sebetulnya terlalu genit sekali.
Tan Liong yang pada saat itu sudah tertotok jalan darahnya tak mengetahui apa yang terjadi atas dirinya sudah tentu mandah saja diperlakukan demikian olehnya.
Dengan tingakah laku seperti orang kalap Siao hun lie mencium pipi dan bibir Tan Liong berulang-ulang sekali dan lagi, sekali lagi rupanya dia tak tahan lagi membendung napsu birahinya yang kian berkobar, napasnya tersengal-sengal.
Dia tahu benar apabila saat dia membuka totokan pada jalan darah Tan Liong untuk membebaskannya sudah tentu pemuda tersebut takkan sudi menuruti kehendaknya.
Jika menggunakan obat yang dapat menimbulkan napsu birahi buat ciptaannya sendiri yang diberi nama Siao hun san ia merasa tak tega.
Sebab obat Siao hun san itu adalah satu obat penimbul napsu birahi yang amat ganas dan jahat.
Siapapun yang pernah menelan obat tersebut harus bersetubuh dengan lain kelamin baru dapat melampiaskan hawa napsunya.
Dan pengaruhnya atas kekuatan badan kaum pria demikian besar sekalipun apabila telah makan obat tersebut harus makan obat pemunahnya serta beristirahat setengah bulan lamanya baru dapat pulih kembali kesehatannya.
Siao hun lie Cie Bun bun nampak bersangsi sejenak.
sebenarnyalah dia merasa tak tega mempergunakan obat ampuhnya tersebut, tetapi terpengaruh oleh napsunya yang kian menghebat, merasa kecuali dengan jalan demikian tak ada jalan lain pula yang dapat ditempuhnya.
Demikianlah sebentar kemudian dikeluarkannya juga sebungkus obat Siao hun san yang lantas juga dicekokkan ke dalam mulut Tan Liong setelah itu barulah dibukakannya totokan yang menutup jalan darah Tan Liong.
Tan Liong yang sudah terbuka totokannya segera siuman.
Pada saat itu pikirannya masih waras, maka begitu cepat merasa sadar dia melompat bangun dan berdiri.
Ia mengawasi keadaan sekitarnya ketika matanya itu berhenti pada satu wanita.
wajahnya berubah seketika.
"Kau! .... kau mau bikin apa? "
Tan Liong membentak Siao hun lie demikian, namun wanita itu cuma tertawa terkekeh-kekeh dan dengan ayal-ayalan menjawab.
"Astaga! Mengapa kau begitu galak sih? Aku cuma mau mencari kesenangan saja dengan dikau wahai pujaanku ......"
Tan Liong memucat selembar pipinya.
"Kau berani! "
Begitu cuma teriaknya.
"Mengapa tidak? Kau sudah membunuh 30 lebih orang-orang perkumpulan Thian seng hwee kami. Jikalau kau baik-baik suka menuruti kehendakku, rekening ini bolehlah dibilang habis semua."
Tan Liong gusar sekali badannya sampai gemetaran keras. Dengan bengis dia lalu membentak.
"Kau perempuan cabul tak bermalu! Akan kuambil jiwamu! "
Membarengi perkataan terakhirnya pemuda ini menerjang Siao hun lie!
Siapa tahu serangan itu belum lagi mengenai pada sasarannya, otaknya dirasakan pusing, hawa panas dengan cepat mengalir disekujur badannya sampai terus kebagian bawah.
Tan Liong manalah pernah akan sadar obat Siao hun san yang diberikan oleh Siao hun lie itu meski bekerjanya tak cepat, akan tetapi apabila orang yang diberikan obat itu bergerak terlalu melampaui batas apalagi hamburkan tenaga dalamnya, bekerjanya obat jadi lebih cepat, pengaruhnya akan luar biasa hebat!
Saat itu Tan Liong merasa seperti mendusin lantas memaki.
"Kau .... Kau pernah berikan aku obat apa? "
"Wahai anak manis, aku pernah berikan kau makanan yang lejat bukankah berarti aku suka padamu? "
Demikian Siao hun lie menjawab sambil ketawa genit.
Tan Liong buru-buru atur pernapasannya tetapi dengan demikian tidak bedanya bagai api ditambah minyak nertambah hebat napsu berahinya, pikiran warasnya perlahan-lahan mulai buyar dan sebagai gantinya adalah napsu berahi timbul yang sukar dikendalikan.
Napsu jahat itu membakar seluruh hatinya mempengaruhi segala budi pekertinya, wajahnya nampak merah membara, napasnya tersengal-sengal, matanya beringas.
Hawa napsunya itu akhirnya telah memusnahkan semua pikiran waras serta segala akal murninya.
Ia memandang paras Siao hun lie dengan mata membara.
Kemudian, dengan secara mendadak bagaikan kerbau gila dengan satu gerakan ‘macan lapar menerkam kambing’ ditubruknya ibu tirinya itu.
Itu memang yang diharap harapkan Siao hun lie.
Dia mandah saja ditubruk demikian bahkan lantas merangkulnya dengan erat sekali.
Suatu perbuatan mesum yang terkutuk segera akan terjadi didalam gua yang gelap menakutkan itu, tiba-tiba ......
Diluar gua mendadak terdengar suara kaki orang menindak masuk, disusul pula kemudian dengan suara orang perempuan yang berkata.
"Benarkah nona Hoan pernah lihat orang masuk kemari? " . Dan segera pula terdengar jawaban dari pertanyaannya itu, pun suara perempuan yang nada dan suaranya lain dari yang semula.
"Aku memang pernah melihat sekelebat bayangan orang, tapi mereka itu adakah siao hun lie yang sedang membawa engko Tan atau bukan masih belum tahu."
Siao hun lie yang mendengar percakapan diluar berubah parasnya seketika.
Ia maklum kalau jejaknya telah diendus orang.
Waktu itulah dia sedang ditubruk Tan Liong, hingga lantas didorongnya tubuh pemuda itu dengan kuat, setelah rapihkan pakaiannya dia bangkit.
Diluar gua keadaan sunyi senyap.
Sebentar kemudian terdengar pula suara perempuan yang buka suara mula-mula.
"Kalau begitu, biarlah aku yang masuk untuk memeriksa. Barangkali benar ada disini."
Baru saja wanita itu mengucapkan perkataannya sampai disitu, mendadak terdengar suaranya Tan Liong didalam yang berkata.
"Aku mau ...... aku mau ...... aku mau ...... lekaslah ...... ! "
Dua wanita yang datang dan bercakap-cakap itu ternyata adalah gadis baju merah dengan Hoan Giok Hoa!
Ketika mereka mendengar Tan Liong begitu bernafsu mereka mengeluh dalam hati.
Tetapi tak ayal mereka lekas-lekas masuk kedalam gua.
Begitu melihat gadis baju merah itu sudah masuk kedalam gua, Hoan Giok Hoa juga segera lompat menyusul.
Kedatangan kedua gadis yang belakangan ini, membikin buyar segala hawa nafsu yang mengeram ditubuh Siao hun lie.
Si genit cabul ini buru-buru pergi tinggalkan Tan Liong sendirian dan menerjang keluar.
Gadis baju merah itu sewaktu melihat ada satu bayangan menerjangnya secara mendadak, sesaat dia terperanjat.
Selagi dalam keadaan demikian itu, serangan Siao hun lie sudah ditujukan kearah dadanya.
Gadis baju merah itu tahu hebatnya serangan tiba-tiba itu tidak berani menyambuti secara sembarangan, cepat bagai kilat dia lompat mundur.
Sekalipun demikian, tak urung dia merasakan darahnya bergolak, badannya bergoyang-goyang.
Siao hun lie tahu bahwa serangannya yang mapuh itu tidak berhasil membuat lawannya rubuh binasa, maka lantas berseru dengan suara keras.
"Budak hina! Serahkan jiwamu! "
Dan untuk kedua kalinya bagai banteng mengamuk diterjangnya si gadis baju merah! Sementara itu, dalam gua terdengar suara seseorang berkata.
"Kau dimana .. aku mau ......"
Yang kemudian disusul dengan mundurnya lagi sesosok bayangan yang lari keluar dengan badan sempoyongan ......
Dialah tidak lain daripada pemuda Tan Liong pemuda yang terpengaruh keras obat pelesir yang jahat tadi.
Dia orang tak mampu mengendalikan perasaannya sendiri, apa yang dikehendakinya adalah cuma melampiaskan hawa nafsunya saja.
Apabila dalam waktu setengah jam kemudian dia tidak dapat melampiaskan hawa nafsunya itu maka hawa nafsu itu akan menyerang balik badannya yang akan membawanya kelubang maut.
Marilah kita tengok Siao hun lie yang sengit menerjang si gadis baju merah.
Gadis ini yang telah diserang dua kali, hanya mengelit atau mengegos saja, dia maklum datangnya serangan-serangan itu terlampau amat dahsyat.
Diapun mengerti, kalau hanya mengandalkan kekuatan dan tenaganya sendiri belum dapat menandingi kekuatan Siao hun lie.
Itulah sebabnya dia hanya mengelit dan mundur-mundur saja.
Sementara itu Hoan Giok hoa sudah dapat melihat Tan Liong yang lari sempoyongan keluar gua, secepat itu pula ia maju menyongsong sambil berseru memanggil.
"Engko Tan ......"
Dengan air mata bercucuran ditubruknya pemuda yang masih sempoyongan itu.
Tan Liong yang saat itu tak dapat menguasai pikirannya karena nafsu birahinya sedang meluap-luap, ketika Hoan Giok Hoa maju menubruknya dia tidak tahu jelas siapa adanya orang yang menubruknya itu.
Dia hanya tahu dialah pasti perempuan, dia memeluk dan mencabik-cabik pakaian gadis itu.
Hoan Giok Hoa amat terkejut, dalam kagetnya ia berteriak.
"Engko Tan !! "
Tetapi Tan Liong dengar suara itu, dia hanya mengatakan perkataan, mengulangi dan mengulangi lagi perkataan.
"Aku mau ......"
Nya itu.
Selanjutnya dia lantas rubuh bergulingan dengan tangannya masih tetap merangkul Hoam Giok Hoa dengan erat.
Gadis baju merah yang menyaksikan keadaan tan Liong demikian seketika itu parasnya berubah pucat pasi.
dengan suara bengis dia menegur Siao hun lie.
"Perempuan cabul! Apa kau yang kasih obat Siao hun san padanya? "
Siao hun lie yang sudah mendongkol yang merasa usahanya digagalkan oeh dua saingannya itu dengan suara gwram segera menjawab.
"Benar! Kau berani menghalang-halangi maksudku? Sekarang akan kuambil dulu jiwamu! "
Setelah itu kembali dia bergerak, lagi-lagi menerjang gadis baju merah itu, beruntun sampai lima kali.
Serangan itu dilakukan begitu bernapsu membuat gadis baju merah itu dengan perasaan terpaksa harus mundur berulang-ulang.
Apabila tidak karena cukup tinggi ilmunya, barangkali saat itu dia sudah roboh jadi bangkai oleh wanita cabul itu.
Dalam keadaan demikian, mendadak terdengar suara Hoan Giok Hoa didalam yang meraung keras saat itu seluruh pakaian gadis itu sudah terkoyak oleh tangan-tangan kuatnya Tan Liong.
Hoan Giok Hoa benar-benar katakutan setengah mati.
Namun apalah daya?
Dia seorang lemah dalam al demikian, hanya air matanya saja yang mengucur deras mulutnya saja yang keluarkan kata-katanya.
"Engko Tan tidak boleh berbuat begitu! ...... Aku takut ......"
Namun demikian keluhan gadis itu cuma tinggal ratapan, keluhan yang tak dapat menggoyahkan atau menggerakkan Tan Liong dari pengaruh kuasa obat jahat itu maka demikianlah akhirnya dengan air mata berlinang-linang gadis ini harus mandah diperlakukan bagaimana saja oleh Tan Liong.
Gadis baju merah itu yang menyaksikan kejadian merasa jengah sendiri dengan suara bengis lalu menerjang.
"Siao hun lie. cabul! Tidak beda seperti binatang saja perbuatanmu! "
Dia sudah menyerang hebat walaupun tahu dia bukan tandingan wanita centil itu.
Pada saat itulah tertampak lima bayangan orang yang lari menuju kegua tersebut.
Gadis baju merah yang melihat kedatangan mereka itu mendadak terbangun semangatnya dia menerjang lebih hebat lagi hingga dalam waktu sekejap sudah balas menyerang lima kali.
Pada saat itu lima bayangan itu sudah sampai di mulut gua.
Merekalah orang-orangnya Ciong lam pay.
Lima orang ini mendapatkan gadis baju merah sedang bertempur sengit sekali dengan Siao hun lie, menjadi terkejut.
Lebih-lebih terperanjatnya mereka dilain sudut mereka melihat suatu pemandangan yang demikian mesum ....
Seketika itu mereka melongo.
Lama dalam keadaan demikian ......
mendadak mereka dengar suara gadis baju merah berkata.
"Tuan-tuan kemari! Kalian boleh bunuh perempuan cabul yang tidak tahu malu ini."
Lima orang Ciong lam pay itu begitu mendengar panggilan jadi kaget, mereka segera sadar.
Demikianlah dengan adakan kerjasama yang baik mereka menyerang Siao hun lie dari berbagai jurusan.
Siao hun lie gusar dan cemas gatinya.
Dia tahu dalam keadaan demikian bagaimanapun sudah sukar melepaskan diri dari kurungan enam lawan yang lihai-lihai itu.
Kini maunya ialah untuk kabur saja, setelah berpikir demikian dia lalu membentak.
"Budak hina! Kau dengar ada satu hari nanti Siao hun lie akan cari kau buat bikin perhitungan hari ini! Tan Liong sudah makan obat Siao hun sanku, kalau tidak dapatkan pemunahnya tidak akan ada harapan buat dia hidup lebih lama! "
Setelah berkata demikian tubuhnya melesat keluar gua. Lima orang Ciong lam pay lantas memburu sambil berteriak-teriak.
"Perempuan tak tahu malu! Perempuan cabul! Mau lari kemana? "
Tetapi gerakan mereka itu nyatanya lambat sedikit.
Dalam waktu sekejap itu tiada tampak lagi bayangannya Siao hun lie, dia sudah kabur jauh!
Gadis baju merah itu mengawasi Tan Liong dan Hoan Giok Hoa.
Dia menghela napas, tiba-tiba merasakan bahwa dalam hatinya sendiri seperti kehilangan sesuatu.
Juga seolah-olah seluruh pengharapannya ludes buyar seketika itu juga.
Dia ketawa menyengir, dengan roman malas-malasan dia membereskan rambutnya yang awut-awutan dan kemudian berjalan keluar meninggalkan dua orang yang masih berguling-gulingan itu.
Setibanya diluar gua kepada dirinya sendiri dia berkata.
"Ya, sudah waktunya aku pergi meninggalkan tempat ini dan ...... dia ......
"Dia tertawa lagi seorang diri tetapi tertawanya itu memperlihatkan tertawanya seorang yang patah hati.
Selagi dia hendak berlalu mendadak ingat pula dia kepada sesuatu hal, dia merasa tidak boleh pergi begitu saja.
Apabila dia pada saat itu juga pergi meski Tan Liong telah melampiaskan hawa nafsunya, kalau tidak ditolong pada waktunya yang tepat tentu dia akan mati.
Mengingat ini, pikirannya mulai bercabang dua.
Dengan cara bagaimana dia bisa balik kembali ke dalam goa untuk menyaksikan adegan mesum itu, sedang dia sendiri adalah satu gadis yang masih suci?
Pada saat itu lima orang Ciong lam pay telah balik kembali dengan tangan kosong.
Seorang diantaranya sedang hendak membangunkan Tan Liong.
Bukan kepalang kagetnya gadis baju merah menyaksikan tindakan orang itu.
Dia lantas membentak.
"Locianpwee, apa kau sudah tidak sayangi lagi jiwa Ciang bun jinmu? Apa kau tidak ingin ketuamu itu hidup lagi? "
Orang tua dari Ciong lam pay itu mendengar teguran gadis baju merah, segera urungkan maksudnya, mundur kembali. Sambil mengawasi gadis baju merah dia bertanya.
"Nona, apa artinya semua ini? Apa yang terjadi? "
"Locianpwee, Ciang bun jin kalian sudah diberi makan obat Siao hun san oleh perempuan cabul yang lari tadi. Kalau dia tidak diberi kesempatan sebebas bebasnya melampiaskan hawa napsunya, dia akan mati! "
Dia berhenti sejenak kemudian berkata pula.
"Jikalau hawa napsunya sudah dilampiaskan habis, dia masih lagi memerlukan obat pencegahan mengalirnya terus hawa nafsunya itu.
Kalau tidak begitu dia pasti akan mati kehabisan tenaga.
Locianpwee sekalian tentu sudah tahu bukan?
Bagaimana hebat dan jahatnya pengaruh kerjanya Siao hun san itu."
Seorang diantara kelima orang tua itu segera bertanya.
"Kalau begitu, bagaimana harus kita buat sekarang? "
"Locianpwee sekalian boleh pulang saja dulu, urusan disini serahkan sajalah padaku."
Semua orang Ciong lam pay itu mengangguk sementara gadis baju merah itu sudah meneruskan berkata.
"Mengenai urusan ini, harap Locianpwee sekalian suka bisa simpan rahasia jangan sampai tersiar diluaran.
Bahaya dari tersiarnya berita keluar kalangan orang sendiri tentu akan merosotkan nama baik Ciong lam pay sendiri."
Meskipun merasa berat dan malu, gadis baju merah itu terpaksa menunggu terus menanti sampai Tan Liong sadar kembali.
Mendadak terdengar suara Tan Liong bagai orang kehabisan napas seakan-akan balon melembung besar yang mendadak kempis.
Gadis baju merah itu segera sadar, kalau tidak segera dia turun tangan akan cepat pula tamatnya riwayat Tan Liong.
Dengan cepat dia melompat mendekati, tangan kanannya menampar pipi pemuda itu dengan sekuat tenaga!
Tan Liong yang merasa kesakitan seketika lantas tersadar.
Dia mendekam diatas badan Hoan Giok Hoa seperti tidak ingat apa-apa.
Gadis baju merah itu tercengang dengan perasaan apa boleh buat dia keraskan hati tanpa memperdulikan apa yang akan terlihat kemudian segera mendorong badan pemuda itu hingga menggelinding turun dari atas badan Hoan Giok Hoa.
Hoan Giok Hoa kedengaran merintih-rintih dia merasa kesakitan, sedih dan malu ....
Gadis baju merah itu sambil kerutkan keningnya, menepuk jalan darah Beng-bun dan Hoan-bun di badan Hoan Giok Hoa.
Hoan Giok Hoa segera sadar dari kenyeriannya dengan pandangan mata sayu diawasi gadis baju merah didepannya, dia tidak berani bergerak.
Mendadak dari kelopak matanya keluar butiran air bening dia menangis.
Gadis baju merah itu turut merasa pilu dan sedih hatinya, dengan suara sember berkata.
"Nona Hoan ......"
Tetapi tak dapat diteruskan perkataannya karena dia merasa perlu menahan lebih dahulu air matanya sendiri yang sudah akan mengalir keluar dari kedua matanya yang jeli.
Hoan Giok Hoa dalam keadaan masih menjublek tanpa bergerak barang sedikitpun seakan-akan telah terbang sukmanya dari jiwa raganya, matanya kelihatan mendelong.
....
Keadaan disitu demikian berlangsung cukup lama, kemudian secara tiba-tiba Hoan Giok Hoa lompat bangun dan lantas menangis sedih sekali.
....
Dia menubruk gadis baju merah dengan suara terisak isak diantara tangannya berkata.
"Enci, aku tidak kepingin hidup lagi ...... Engko Tan telah menghina aku."
Dalam keadaan demikian gadis baju merah sudah tidak dapat mencegah lagi menalirnya air mata. Akhirnya dia yang biasa berhati keras pun telah mengucurkan air mata dengan suara menyayat diapun berkata.
"Nona Hoan ..... Kau mesti bisa memaafkan kelakuannya. ....."
Hoan Giok Hoa mengawasi pemuda yang masih terlentang itu sejenak lalu berkata sambil kertak gigi.
"Tidak sudi aku maafkan dia. Sekarang apa yang bisa kuperbaiki? Dia cuma seorang laki-laki berhati binatang ...... !"
Sehabis megucapkan kata-katanya wanita ini hendak menyerang Tan Liong.
Gadis baju merah yang menyaksikan pemandangan demikian di depan mata, dalam terkejutnya mengangkat tangan ingin dia mencegah supaya Hoan Giok Hoa tidak turun tangan lebih lanjut.
Sementara itu dia pun sudah berkata.
"Nona Hoan, perlu kau dengar dulu keteranganku! "
Hoan Giok Hoa urung bertindak dia mengawasi paras si gadis baju merah lalu menangis pula seperti anak kecil. Lama juga barulah dapat dia buka mulut lagi berkata.
"Aku mau bunuh dia, biarkan dia mati ...... Enci, lepaskan tanganmu, dia terlalu menghina padaku! Bagaimana selanjutnya aku bisa jadi orang? "
"Perbuatannya tadi bukan dilakukan dia dengan sengaja! "
Demikian si gadis baju merah mencoba menenteramkan.
"Apa!? Dia... dia kau kata tidak sengaja? "
"Ya,! Dia tidak sengaja! "
Begitu tandas diucapkannya kata-katanya membuat Hoan Giok Hoa mau tidak mau harus percaya. Dia ini lalu melompat keluar sambil berseru.
"Aku tidak mau hidup lagi! Aku mau mati! "
Dia lari dan lari terus keluar.
Demikian kalap kelakuan Hoan Giok Hoa bagai orang gila, benar-benar dia telah lari dan lari trus tanpa berpakaian tanpa memilih arah dan jurusan mana yang harus ditempuh.
Gadi baju merah terkejut menyaksikan keadaan demikian, dia mengerti dan maklum bahwa perasaan Hoan Giok Hoa sebagai seorang gadis yang suci murni merasa kehormatannya telah terinjak-injak oleh perbuatan Tan Liong yang dikerjakan dalam waktu di tak sadarkan diri itu.
penderitaan batinnya itu sesungguhnyalah terlalu amat hebat.
Apabila tidak dicegah selanjutnya mungkin benar-benar akan kejadian.
Hoan Giok Hoa akan menghabisi jiwanya sendiri.
Maka diapun secepat itu pula lompat melesat memburu keluar mengejar Hoan Giok Hoa yang sudah bagai orang gila.
"Nona Hoan, apa kau benar-benar tidak mau dengar lagi keteranganku? "
Demikian dia sekali ini membentak. Hoan Giok Hoa tercengang. Dia lalu berkata sambil menangis.
"Engko Tan pandang aku terlalu rendah, dia menghinaku dimana bisa aku taruh mukaku lagi?"
"Nona Hoan, apa kau cinta padanya? "
Demikian si gadis baju meah bertanya sambil ketawa getir.
"Ya, aku cinta padanya. sungguh tidak kusangka dia bisa berbuat begitu di depan umum."
"Kalau benar kau cinta padanya, sudah seharusnya bisa juga kau memaafkan perbuatannya.
Dia sudah dikasih makan obat Siao hun san dari sicabul itu.
Itulah yang menyebabkan dia seperti mata gelap dan memperlakukan kau demikian.
Aku pikir semua itu dilakukan bukan atas kemauan sendiri, sudah tentu diapun tidak tahu apa yang telah diperbuatnya."
"Dia sudah makan obat pelesir? "
Kaget sekali Hoan Giok Hoa ketika menanyakan demikian dia hanya mendapat jawaban dari anggukan kepala si gadis baju merah. Dia mngulangi sekali lagi pertanyaannya tadi bagai tak percaya.
"Ya, dia telah makan obat Siao hun san si cabul itu! "
Menegasi si gadis baju merah yang tahu Hoan giok Hoa setenagh tak percaya.
"Apa kau tak suka beri maaf padanya?
Sebetulnya akupun bisa cegah dia supaya kau tidak dihinanya tapi aku juga tahu kalau dia tidak diberi kesempatan untuk melampiaskan nafsunya itu, dia pasti lebih cepat mati karena rangsngan obat yang amat ganas itu."
Hoan Giok Hoa dengan mata kesima memandang gadis baju merah kemudian ia bertanya.
"Apa itu betul semuanya? "
"Kukira aku tidak perlu membohongi kau, lagipun Tan Liong bukanlah satu orang pemuda rendah atau pemogoran."
"Kalau benar seperti apa katamu, aku bisa memaafkan dia. Tapi apa dia masih suka padaku yang sudah dihinanya itu? "
"Jikalau dia tidak cinta padamu, boleh segera kau bunuh dia! "
Mendengar perkataan si gadis baju merah, hati Hoan Giok Hoa malah menjadi lunak. Sambil terus mengamati gadis itu dia bertanya pula.
"Apa perlu dia dengan pertolongan kita sekarang? "
"Kau bereskanlah dulu pakaiannya, nanti aku yang akan membikin dia siuman. Sesudah itu aku seterusnya bisa tanyakan apa dia suka padamu atau tidak. Jikalau dia berani mengatakan tidak, disini ada belati tajam, boleh lantas kau bunuh dia! " -o0o0dw0o0o-
Jilid ke . 17 Si Baju Merah lalu mengeluarkan sebilah pisau yang lantas diberikan kepada Hoan Giok Hoa.
"Ya kalau dia nanti tidak meladeni aku, aku akan segera bunuh dia! "
Gadis baju merah itu menghela napas dalam, alam pikirannya yang kusut saat itu agaknya diliputi oleh perasaan orang yang putus asa ......
Dia mengerti apa yang terkandung dalam pikirannya sendiri.
Pada detik itu diapun tahu bagaimana hancur luluh hatinya dia seolah-olah menyesali dirinya sendiri mengapa tidak dapat berbuat sesuatu untuk mencegah perbuatannya Tan Liong tapi semua telah terjadi atas maunya takdir dan hal itu diapun telah maklum.
Dengan sikap acuh tak acuh kini dia tertawa, begitu hambar ketawanya itu, dia menengadah memandangi langit, matanya memandang kelak keliknya bintang-bintang yang bertaburan dialam bebas.
Rembulan sabit yang masih menyinarkan sinarnya yang sedikit menyinari wajah gadis baju merah itu yang begitu ayu, pun menyinari kedua bola matanya yang telah berkaca-kaca karena air mata.
Selagi gadis baju merah itu berada dalam keadaan melamun seorang diri mendadak terdengar suara Hoan Giok Hoa.
"Enci, lekas kemari sudah kubereskan pakaian dia."
Gadis baju merah bagai dikejutkan dari lamunannya perlahan-lahan dia mengangkat tangannya yang begitu halus, disusutnya air mata yang masih mengalir itu dan dengan tindakan lambat-lambat lalu memasuki mulut gua dan mendekati Tan Liong.
Si pemuda yang kena dipengaruhi kerjanya obat yang ganas jahat itu, telah musnah tenaga lelakinya.
Kalau itu dalam keadaan lemas tak ingat orang, apabila tidak mendapatkan obat pemunah buatan Siao hun lie sendiri dalam waktu paling lambat setengah bulan, semua kekuatan tenaganya akan habis musnah oleh pengaruh obat pelesir yang jahat sifatnya itu sampai dia mati.
Gadis baju merah dengan menahan kegelisahan hatinya, sambil kertak gigi mengerahkan tenaganya kekedua belah tangannya.
Tangan kanannya menekan jalan darah Beng bun hiat dibadan Tan Liong, sedang tangan kirinya menekan urat darah Thian leng kay, disini dia menyalurkan tenaga murninya ke dalam tubuh anak muda itu.
Dalam waktu setengah jam, Tan Liong yang mendapat kekuatan baru dari si gadis baju merah, akhirnya siuman kembali.
Kala itu dia hanya merasakan sekujur badannya lemas dan ngilu, pandangan matanya tampak tidak bercahaya.
Dalam pandangan mata yang kabur itu, lapat-lapat dia melihat bayangan dua wajah manis....
Dia menggeleng-gelengkan kepalanya yang seperti orang mabuk lalu kedip-kedipkan matanya namun masih tetap tak dapat melihat tegas siapa gerangan adanya dua bayangan langsing yang samar-samar didepan matanya itu.
Terdengar suara helaan napasnya dia mencoba menggunakan pikirannya untuk mengingat-ingat kembali semua kejadian yang telah lalu ......
Agaknya masih teringat dia kepada hal-hal terdahulu, bagaimana dia dibawa masuk ke dalam gua .......
betapa waktu di dalam itu sang napsu berahi yang maha dahsyat merangsang dirinya.
.......
Mengingat sampai disitu, badannya gemeteran bagai orang kedinginan.
Dalam hatinya dia berpikir, apakah pernah dia melakukan perbuatan yang tidak diinginkan itu dengan si cantik genit Siao hun lie.
Memikir demikian, jidatnya tertampak penuh dengan keringat sebesar-besar kacang namun dia coba membantah kepada dirinya sendiri berkata.
Tidak.
Tidak bisa terjadi, itu tidak mungkin!
Jikalau pada saat itu badannya masih bertenaga dapat pula mengadakan gerakan secara leluasa dia pasti bisa lelompatan seperti orang gila.
...
Semua kejadian itu dalam penglihatan Hoan Giok Hoa merupakan suatu pertunjukan yang menarik hati dengan sebisa-bisa ditahannya gelora hatinya dengan suara memanggil Engko Tan.
Tan Liong yang mendadak mendengar panggilan itu tidak segera bisa mengenali suara tersebut dengan perasaan pilu dia bertanya.
"Kau ...... kau siapa .....? Oh! Nona Hoan? ...... Kenapa kau juga bisa berada di sini? ......
"Aku datang buat tengoki kau."
"Ow! Nona Hoan ada kejadian apa yang menimpa diriku? "
Pilu hatinya Huan Giok Hoa mendengar pertanyaan itu dia tidak segera menjawab dengan ga ga gu gu hanya dapat mengeluarkan perkataan.
"Kau ...... Kau ......"
Kemudian tenggorokannya dirasakan seperti tersumbat hingga begitu banyak perkataan yng sedianya hendak dilontarkan sampai tidak mampu diucapkan sama sekali. Tan Liong agaknya merasa heran bertanya.
"Nona Hoan, aku ada disini. Apa sih sebetulnya yang telah terjadi atas diriku? Beritahukanlah terus terang kepadaku. Dan disampingmu, seperti masih ada satu orang lagi siapa dia? "
Orang yang ditanya tetap membungkam kelu itu dia sudah menunjuk, sementara air matanya telah mengguyur deras sekali ..... Gadis baju merah menolonginya, dengan suara hambar berkata.
"Ciang bun jin, saat ini kau sedang terluka parah, sebaiknya jangan terlalu banyak bicara, tunggu sampai tenagamu nanti pulih kembali. Jangan terburu napsu."
Tan Liong yang mendengar perkataan itu rupanya terperanjat dengan suara orang, kaget dia bertanya.
"Apa kau Siao hun lie si perempuan hina? Kau mau apa berada terus di sini? "
Gadis baju merah menyeringai, dengan suara hambar menjawab.
"Jangan cemas aku bukan Siao hun lie. Dia sudah pergi! "
"Sudah pergi? "
"Ya."
"Apa aku tidak diganggunya? ...... Mungkinkah tidak? "
"Tidak! Cuma, nona Hoan yang sudah menggantikan Siao hun lie hingga sekarang ini dia bukan gadis suci lagi."
"Apa? ...... Apa katamu ? "
"Keperawanan nona Hoan telah kau curi."
"Ouw! "
Seru Tan Liong kaget, sedih dan ketakutan. Lalu dengan suara terputus-putus perlahan dia bertanya.
"Nona Hoan, ... apa ... itu ... be ....benar? ...."
Hoan Giok Hoa tidak segera menjawab dia menangis begitusedih agak lama juga baru bisa menjawab.
"Ya! Kau menghina aku! "
Sambil kertak gigi dia mencabut pisau belati kemudian dengan suara mantap berseru "Engko Tan ! Sekarang aku akan bertanya padamu. Cinta atau tidak kau padaku? "
Pisau belatinya telah terangkat tinggi, hingga apabila Tan Liong berani mengatakan ‘tidak’ tentu dia akan benar-benar turun tangan membunuh pemuda itu.
Tan Liong sendiri sesungguhnya tak menduga sama sekali urusan telah meningkat hebat sedemikian rupa.
Kiranya dia benar telah melakukan perbuatan terkutuk, telah mencuri keperawanan seseorang gadis yang suci bersih, bagaimana dia bisa merasa masih ada muka untuk menjabat ketua Ciong lam pay?
Mengingat hal demikian dia menangis, menangis tanpa suara, dia menjerit cuma di dalam hati, hanya air matanya yang memperlihatkan kemenyesalannya, dia berpikir kalau saat itu sajalah dia mati.
Tiba-tiba terdengar pula suara Hoan Giok Hoa.
"Engko Tan, jawab cepat pertanyaanku tadi? "
Mendadak timbul pikiran dalam otaknya pemuda itu untuk mati saja, merasa tak ada muka untuk hidup terus. Dalam hati dia berpikir.
"Kesalahan toh sudah terlanjur begini rupa, biar aku mati sekalian saja."
Sebelum menjawab dia tersenyum tetapi lebih dulu bertanya.
"Nona Hoan ..... kalau aku mengatakan aku tidak cinta padamu apa kau bisa lantas bunuh aku?"
"Akan lantas kuambil jiwamu! "
"Nona Hoan, ..... aku tidak cinta padamu."
Jawaban itu sesungguhnya jauh diluar dugaan Hoan Giok Hoa.
Begitu lekas didengarnya jawaban itu dia berseru kaget, parasnya berubah pucat mendadak, sementara itu pisau belati yang telah siap ditangan mengayun menikam dada Tan Liong dengan geram dia berseru.
"Aku bisa bunuh kau sekarang juga."
Akan tetapi sebelum pisau belati tajam mengenai sasarannya gadis baju merah telah keluarkan kegesitannya.
Tangan kanannya telah menyekal pergelangan tangan Hoan Giok Hoa.
Hoan Giok Hoa yang merasa tindakannya ditahan orang, sesaat terperanjat, lalu berkata.
"Kau ......! Kau kiranya juga membantunya? Kau juga menghina aku?"
Sementara itu terdengar suara Tan Liong.
"Nona Hoan, kenapa tidak lekasan kau turun tangan? "
Gadis baju merah gusar, dengan suara keras membentak.
"Tan Liong! kau sungguh-sungguh mau mampus? "
Tangannya mengayun, ditamparnya pipi pemuda itu! Setelah terdengar suara Plak yang amat nyaring, terdengar lagi suara gadis baju merah itu berkata.
"Nona Hoan, sudahlah. Aku tahu dia tentu cinta juga padamu."
"Dia cinta padaku? "
"Ya, Dia tentu cinta padamu. kau tidak tahu apa yang dipikir dalam hatinya pada waktu begini."
"Dia pikir bagaimana? "
"Dia mau mati."
"Kenapa dia ingin mati? "
"Dia cinta padamu, tapi dia menyesalkan perbuatannya atas dirimu. Begitulah karena dia cinta padamu, takut kau sesalkan pebuatannya dia mau mati dalam tanganmu."
"Dia ...... dia ...... dia ...... apa benar dia cinta padaku? "
"Jikalau dia tidak cinta padamu tentu dia takkan ingin dibunuh orang. Itulah kuserahkan membunuh dia kalau dia mengatakan tidak cinta apa kau masih belum mengerti? "
Hoan Giok Hoa dengan paras kebingungan memandang wajah si gadis baju merah rupanya dia tidak mengerti tidak dapat menyelami kata-kata gadis baju merah itu.
Si gadis baju merah tidak memperdulikan Hoan Giok Hoa, ditatapnya wajah Tan Liong sesaat kemudian dia mendadak bertanya.
"Tan Liong, benar kau mau mati? "
Yang ditanya tiada menjawab. Setelah ditunggu agak lama gadis baju merah berkata pula.
"Tan Liong! Sungguh tidak malu orang semacam kau! Apa kau yang telah menodai kesucian orang, lalu akan mengulangi lagi kesalahanmu membiarkan nona Hoan menyesal seumur hidup? "
Dia berhenti sejenak, lalu berkata pula setelah menelan ludah.
"Apalagi kau adalah seorang berjiwa besar, seorang ketua dari satu perkumpulan besar, apa karena sedikit kesalahan saja lantas mau cari mampus tidak mau pikirkan lagi nasib Ciong lam pay dihari kemudian? "
Perkataan-perkataan gadis baju merah agaknya membukakan hati Tan liong yang telah pepat, memang benarlah seseorang yang telah berbuat salah seharusnya tidak mengulangi lagi kesalahannya itu.
Mana boleh dia membiarkan Hoan Giok Hoa menyesal seumur hidup mempunyai anak tidak berbapak dan meninggalkan begitu saja urusan-urusan dalam partai Ciong lam pay?
"Aku ......apa sekarang aku masih bisa menjabat kedudukan ketua dalam partai itu?"
Demikian kemudian dia bertanya setelah memikir dan menimbang nimbang sampai masak ......
"Mengapa tidak? "
"Karena aku bukan cuma sudah melakukan perbuatan jelek, melainkan sudah membikin rusak nama baik Ciong lam pay."
Gadis baju merah tidak menunggu Tan liong habis berkata telah menyelak.
"Semua itu toh bukan atas kemauanmu sendiri? Itu semata-mata disebabkan karena obat cabul si perempuan jahat itu! Siapa juga tidak bisa salahkan perbuatanmu itu! Betulkah begitu? Dan kau nona Hoan, bagaimana? Bagaimana pikiranmu? "
"Engko Tan, aku cuma butuh jawaban atas pertanyaanku mula-mula tadi asal kau tidak mengatakan tidak suka, aku bisa memaafkan kau."
Tan Liong tersenyum, namun dalam senyumnya itu tampak perasaan hatinya yang amat berduka. Gadis baju merah yang menyaksikan semua kejadian itu tertawa getir dan berkata selang sesaat.
"Sudahlah!
Mari kita pulang.
Kekuatanmu jauh merosot karena terganggu oleh pengaruh obat jahat itu.
Sedang aku masih perlu suruh orang pergi ke Kay hong buat carikan tabib Chio bin Iehiap.
Kepada tabib itu maksudku aku mau minta obat."
Tetapi Tan Liong merasa saat itu dia sudah tak dapat bergerak, lemas tak lagi bertenaga.
Mungkin kecuali digendong dia tak dapat meninggalkan gua itu.
Gadis baju merah mngerti keadaan pemuda itu maka dia berkata.
"Nona Hoan,kau gendonglah dia."
Hoan Giok Hoa menurut memondong tubuh Tan Liong dan kemudian terlihat mereka berjalan pulang menuju ke pusat Ciong lam pay.
Pada saat itulah tertampak satu bayangan kuning yang lari-lari mendatangi.
Gadis baju merah merandek menegur orang baju kuning itu.
"Locianpwee, ada keperluan apakah? "
Seseorang tua berbaju kuning telah berhadapan dengan gadis baju merah.
Sikap orang tua itu tampak gugup, kikuk.
Dia mengawasi gadis baju merah itu terus, lama tak dapat juga berkata-kata.
Gadis baju merah yang menyaksikan keadaan demikian mengerti dalam hati, tentulah dalam Ciong lam pay telah terjadi sesuatu apa-apa yang menggemparkan, sebab kalau tidak demikian mana mungkin orang tua itu sampai begitu gugup dan gemetaran, maka dengan suara cemas dia bertanya kembali mengulangi pertanyaannya yang tadi.
Orang tua itu lama baru bisa menjawab.
"Ada orang, ada orang datang ke perkampungan kami ......"
"Ada orang datang ke Ciong lam san? Dia bikin ribut di sana? "
Demikian si gadis baju merah dalam terkejutnya bertanya.
"Ya! Sekarang disana masih ada orangnya, dia memang mau cari setori."
"Dia itu orangnya Thian seng hweekah? "
Orang tua itu hanya mengangguk membuat paras sigadis baju merah jadi berubah pucat dan merah bergantian. Dengan suara agak kuatir dia berkata kemudian.
"Mari lekas pulang! "
Kemudian lagi dengan mendahului yang lain-lainnya gadis baju merah itu lompat melesat naik keatas gunung yang kemudian disusul oleh Hoan Giok Hoa.
Demikianlah sebentar kemudian mereka telah sampai didalam pusat perkumpulan Ciong lam pay.
Kini mereka berada diluar pekarangan gedung perkumpulan partai Ciong lam pay.
Dari sini terlihat seorang nenek-nenek yang kelihatan loyo sedang bertempur dengan lima orang Ciong lam pay.
Gadis baju merah terkejut segera menghampiri dan menegur nenek itu.
"Locianpwee, orang kuat darimanakah? Mengapa mencari setori di sini? "
Bentakan gadis baju merah itu membuat orang-orang yang sedang bertempur berhenti semuanya, dan saat itu juga gadis baju merah bersama Hoan Giok Hoa telah berdiri di antara mereka.
gadis baju merah agaknya telah mengenali siapa adanya nenek-nenek loyo itu, wajahnya tampak berobah tanpa sadar mundur sampai dua tindak.
Nenek tua yang kelihatan loyo badannya itu, tidak lain daripada Hiat hun Koay po yang namanya pernah menggetarkan dunia Kang-zsouw!
Kaget tak kepalang si gadis baju merah.
nyatalah se nenek Hiat hun Koay po telah menjadi anggota Thian seng hwee, malah kini mendadak bisa muncul di gunung Ciong lam san sudah tentu dengan maksud tidak baik.
Hiat hun Koay po si nenek yang tampak loyo memandang si gadis baju merah dengan sorot mata dingin kemudian mengawasi Hoan Giok Hoa dan Tan Liong yang masih dalam pondongan Hoan Giok Hoa.
Pada saat itu beberapa puluh orang Ciong lam pay sudah mengurung si nenek Hiat hun Koay po ditengah tengah kalangan.
Hiat hun Koay po kelihatan begitu murka parasnya, perlahan-lahan mendekati orang yang menggendong Tan Liong itu.
Gadis baju merah terkejut dengan hati berdebaran cepat menghadang di depan Hoan giok Hoa sambil ketawa berkata.
"Menurut kabar, Locianpwee sudah mengasingkan diri beberapa puluh tahun. Entah ada urusan apakah hari ini bisa mendadak mengunjungi Ciong lam san? "
Hiat hun Koay po hanya tampak tertawa nyengir sambil kebaskan tongkat bambu ditangannya berkata.
"Budak! Minggir kau! "
Gadis baju merah selagi mau melayani bicara seseorang tua baju kuning sudah mendahuluinya mencegat nenek itu maju terus dengan suaranya yang menyatakan dia tak senang berkata.
"Nenek tua! Kau tanpa sebab dan tiada alasan datang-datang ingin memaksakan orang apa maksudmu? "
Hiat hun Koay po mendelikkan matanya dengan suara mendengus berseru.
"Kau tidak mau ke pinggir, kau cari mampus! "
Gadis baju merah menyelak lagi kedepan dengan suara merendah berkata.
"Locianpwee mempunyai kedudukan tinggi sudah dengan sendirinya kalau bicara bisa memakai aturan sepantasnya."
Hiat hun Koay po Nampak tercengang, wajahnya yang beringas itu tampak terkejut.
"Apa aku perlu bicara dengan aturan terhadap kalian bocah cilik-cilik ini?"
"Sudah tentu ......"
"Tingkatanmu terlalu kecil. Belum lagi pantas kau bicara banyak dengan aku."
"Kalau begitu, siapa yang Locianpwee anggap pantas boleh bicara? "
"Ciang bun jin Ciong lam pay! "
Gadis baju merah itu ketawa dingin matanya yang jeli menyapu orang-orang Ciong lam pay itu sejenak lalu berkata.
"Tuan-tuan sekalian silahkan masuk, disini tidak ada lagi urusan tuan-tuan."
Orang-orang Ciong lam pay yang mendengar kata-kata usiran halus menjadi gusar, dengan sorot mata berapi mereka mengawasi Hiat hun Koay po namun tidak urung ikut memasuki gedung perkumpulan.
Gadis baju merah itu tahu benar dari kepandaian nenek yang tampak seperti loyo itu jangan kata cuma dia sendiri, sekalipun Ciong lam pay mengerahkan seluruh kekuatannya pasti tak berdaya merintangi nenek itu.
Itulah tadi dia menyuruh atau minta orang-orang Ciong lam pay masuk dulu maksudnya ialah untuk menghindarkan pertumpahan darah yang tidak mungkin tidak tentu akan merugikan pihak tuan rumah juga, Hiat hun Koay po ketawa dingin berkata.
"Jikalau Ciang bun jin kalian tidak mau serahkan orang itu, lihat bisa atau tidak aku si Hiat hun Koay po bikin Ciong lam san ini rata dengan bumi! "
Gadis baju merah yang mendengar perkataan nenek itu mengetahui bahwa kedatangan Hiat hun Koay po itu hanya hendak mencari seseorang maka segera dia bertanya.
"Kalau begitu kedatangan Locianpwee untuk mencari orang bukan? "
Hiat hun Koay po delikkan lagi matanya. Dengan suara seram dia berkata.
"Aku toh sudah kata! Aku cuma mau bicara dengan Ciang bun jin Ciong lam pay! "
"Tapi Ciang bun jin kini sedang terluka, bolehkah Locianpwee bicara dengan aku saja? "
"Kentut! Pernah apa kau dengan Ciang bun jin? "
Gadis baju merah itu jengah mendengar pertanyaan itu merah selebar pipinya, selang sesaat baru bisa menjawab.
"Meskipun aku bukan atau tidak pernah tersangkut apa-apa dengan dia tapi aku adalah sahabat karibnya! "
"Sahabat karib? "
Demikianlah Hiat hun Koay po tertawa bergelak-gelak.
"Budak tidak tahu malu! "
Gadis baju merah terkejut berubah wajahnya.
"Locianpwee harap suka hargakan ketuaanmu sedikit. Dalam hal mana kau bisa kata aku tidak tahu malu? "
"Kalian suka bikin rendah derajat sendiri. Maka boleh kau bilang kau sahabat karib Ciang bun jin? Apa Ciang bun jin suka pajang mukamu atau cinta padamu? "
Perkataan-perkataan si nenek itu membuat selebar wajah si gadis baju merah jadi merah padam lantaran jengah. Dengan suara ketus dia lalu berkata.
"Apa Locianpwee anggap mencintakan seseorang itu suatu perbuatan rendah? "
"Apa kalau bukannya perbuatan rendah! "
Gadis baju merah itu lantas ketawa mengejek dan kemudian berkata.
"Kalau begitu kau sendirilah seorang perempuan yang paling rendah! "
Berubah lagi paras nenek itu dengan suara bengis membentak.
"Coba kau jelaskan pekataanmu tadi! Kalau kau tidak becus terangkan yang sebenarnya kurobek-robek mulutmu yang bagus itu! "
"Apa sebab kau masuk Thian seng hwee dan kemudian suruh muridmu menggunakan nama Naga Merah melakukan pembunuhan dimana-mana? "
"Tidak ada urusanmu disini! "
"Meski kau kata tidak ada hubungan itu dengan aku, tapi aku perlu tahu apa sebabnya."
"Jikalau kau tidak megatakan apa sebabnya kau mengatakan aku perempuan rendah, lantas kusobek-sobek mulutmu! "
"Boleh saja, tapi aku mau tanya dulu, apa kau kenal dengan si Lo sat wajah dingin Pang Giok Yan? "
Pucat wajah Hiat hun Koay po. Dengan sorot mata keheran-heranan dia terputus-putus berseru.
"Kau! .... kau! .... kau! ....
" , tetapi hanya itu itu saja yang bisa keluar dari mulutnya, perkataan selanjutnya agaknya tidak mampu diucapkannya. Sementara itu gadis si baju merah telah berkata pula.
"Lo cianpwee. kau tidak usah berseru kaget. Perkataanku belum habis semua."
Dengan matanya yang jeli tajam, gadis baju merah ini memandang wajah si nenek, lalu dengan suara kuat-kuat berkata lagi.
"Kau yang mencintakan Naga Merah telah keluarkan pura-pura daya upaya merusak perhubungan dan percintaan Naga Merah dengan si Lo sat wajah dingin itu.
Tapi apa kiramu Naga Merah waktu itu cinta padamu?
Hmmm!
Tidak!
Dan kau, karena tidak mendapat balasan kasih daripadanya jadi berjanji padanya, memakai obat perangsang birahi dan membikin si Losat wajah dingin itu tercemar oleh seorang laki-laki lain, sekalian namanya Chie Thian Jin.
Perbuatanmu itu coba bilanglah, rendah atau yang paling bagus."
Uraian panjang lebar yang dikeluarkan dari mulut si gadis baju merah itu membuat si nenek merah padam wajahnya.
perasaan cemas, takut dan kuatir tertampak tegas di wajah tuanya yang sudah keriputan itu.
Lama sekali barulah ia menjawab.
"Tapi, biar bagaimana aku dengan dia pernah berkenalan walau dalam waktu yang tidak panjang."
Itu memang tidak salah, sebab sewaktu Pang Giok Yan sudah kawin dengan Chie Thian Jin, Naga Merah karena ingin mengisi hatinya yang kosong terpaksa menerima kau yang mengajak dia bergaul.
Tapi kau bisa katakan atau tidak, dapatkah kau cintanya?"
Mendengar pertanyaan terakhir ini paras nenek yang sudah keriputan itu jadi berubah begitu menakutkan, matanya mendelik dan wajahnya beringas.
Meskipun dia bisa terus melotot, tapi mulutnya terus bungkam tak dapat mengatakan apa-apa.
Gadis baju merah itu berkata pula.
"Kau setelah merasa berhasil dengan akalmu menodai kesucian Pang Giok Yan dengan Chie Thian Jin bisa memang mendapatkan sebentar Naga Merah, tapi akhirnya toh Naga Merah telah tahu juga hal itu. Sebetulnya jauh lebih cocok kalau dikatakan. Naga Merah sampai waktu itu belum bisa melupakan Pang Giok Yan kekasihnya itu. Dan bagaimana dengan kau? Kau yang ketakutan terbongkarnya rahasiamu turun tangan lebih dulu memburu Chie Thian Jin dan Pang Giok Yan sekalian. Apa perbuatanmu begitu itu tidak terlalu amat rendah dan melampaui batas kekejaman yang ada? "
Hiat hun Koay po lompat melesat kedepan. dengan ketawa iblisnya dia terbang menerjang si gadis baju merah.
"Kau tahu jelas sekali urusanku, kau harus mati ditanganku! "
Tongkat ditangannya cepat bagaian kilat membabat dan menyapu kemana saja si gadis baju merah berkelit.
Cepat dan ganas melayangnya senjata itu, membuat si gadis baju merah yang telah beberapa kali mengelit jadi terkejut.
Dia lompat menjauhi ....
luput dia mendapatkan sasaran tongkat yang mengamuk ganas itu.
Karena serangan itu mengenai tempat kosong, Hiat hun Koay po tampak terkejut.
Beberapa serangan beruntunnya semua terhindar.
"Bagus! Bagus! "
Demikian katanya.
"Kalian dari tingkatan muda, yang mampu mengelakkan beberapa kali seranganku, boleh dibilang cuma kau orang yang pertama."
Gadis baju merah menyeringai dengan suara dingin berkata.
"Hiat hun Koay po! Jangan lupa kau dengan perkataanmu sendiri, tidak akan menyerang seseorang dari tingkatan muda! "
"Benar, tapi untukmu harus kubikin kecualian! "
"Kalau begitu, dengan derajat dan tingkatanku, apa aku ada harganya turun tangan terhadapmu? "
"Tidak perduli bagaimana rendah juga tingkatanmu .... sebab kau sudah tahu urusanku terlalu banyak, aku tidak bisa biarkan kau hidup didunia ini! "
Sehabis berkata demikian mendadak si nenek melompat lagi.
Tongkat bambunya kembali diputar, menyerang gadis baju merah!
Si Baju Merah yang mendapat serangan sengit begitu rupa, juga dengan kecepatan bagaikan kilat adakan serangan balasan.
Siapa tahu nenek itu begitu tinggi kepandaian bersilatnya, serangan si gadis baju merah yang telah menggunakan seluruh tenaganya dianggapnya sepi saja atau seperti dia tidak merasakan sama sekali kalau diapun sedang diserang.
Dia terus menyerampang dan membabat, sekarang meluncurkan serangannya yang ketiga kali.
Kecepatan dan kegesitan Hiat hun Koay po dalam bersilat, sesungguhnya jarang tandingannya.
Apabila pertempuran yang janggal itu berlangsung terus, dalam waktu tak lama gadis baju merah itu pasti akan mati atau setidak-tidaknya akan terluka parah dihajar tongkat si nenek yang kalap ditelanjangi rahasianya.
Tetapi dalam keadaan demikian, mendadak sesosok bayangan merah yang meluncur laksana kilat sampai ketengah-tengah antara Hiat hun Koay po dan si gadis baju merah namun sebentar kemudian bayangan itu telah lenyap kembali.
Meluncurnya bayangan merah itu benar-benar tak dapat dilihat oleh mata manusia.
Orang yang kepandaiannya begitu tinggi seperti Hiat hun Koay po sekalipun tak dapat juga mengetahui siapa adanya bayangan baju merah itu.
Dia terkejut bukan main hingga tanpa merasa mundur beberapa tindak.
Dan tatkala diperiksa ketempat dimana bayangan itu melayang pergi, ternyata disitu tidak terlihat sesuatu apapun.
Hiat hun Koay po tidak percaya ada orang yang berkepandaian begitu tinggi.
Masa dengan ilmunya yang begitu tinggi dia tak dapat melihat atau menangkap orang yang menghalau serangannya yang begitu mendadak?
Dan apa yang lebih mengejutkan bayangan merah itu dapat menerobos ditengah-tengah antara dia dengan si gadis baju merah yang sedang sengitnya bertarung!
Kalau benar ada orangnya, kepandaian dan kecepatan orang itu barangkali sudah tak ada yang menandingi.
Si nenek seperti mencoba tenangkan pikirannya yang kalut tergoncang, kembali dia melihat si gadis baju merah, lalu ketawa dingin.
Diwajahnya kembali nafsunya yang begitu berkobar-kobar hendak membunuh, tongkat bambunya kembali naik keatas.
Tetapi selagi dia mau menyerang lagi, dia jadi kesima!
Didapatkan olehnya dibaju depan dadanya entah sejak kapan ditaruh orang secarik kertas itu disematkan dengan semacam jarum halus, hingga tampak masih berkibaran tertiup angin.
Sesaat lamanya si nenek berdiri melongo.
Diparasnya tiba-tiba terbayang perasaan kaget, heran dan takutnya ......
pada saat itulah dia yang melihat didepan dada si gadis baju merah, sama juga dengan apa yang ada didadanya, secarik kertas putih.
Gadis baju merah juga melongo, saat itu dia sadar membuka sematan jarumnya.
Diatas kertas putih itu dia membaca.
"Sudah waktunya kau harus pulang."
Gadis baju merah sehabis membaca tulisan diatas kertas putih itu pelahan lahan menghela napas.
Sebabnya dia telah mengetahui siapa orangnya yang menempelkan ketas itu didepan dadanya.
Sedang didepan gadis itu tampak Hiat hun Koay po yang tangannya gemetaran.
Dia benar-benar merasakan telah terjungkal dari kedudukannya yang tinggi.
Sebenarnya amat ganjil kiranya kalau dengan kepandaiannya Hiat hin Koay po yang begitu tinggi sampai bisa diselomoti begitu tanpa dia mengetahui.
Dia kala itu baru mengambil kertas itu yang ternyata diatasnya juga terdapat tulisan yang berbunyi sebagai berikut.
"Nenek tua!
Adatmu ternyata tidak kurang berangasannya dari masa masa dahulu.
Caramu turun tangan terhadap tingkatan muda begitu garang, apa tidak takut menodakan mukamu sendiri?
Pandanglah mukaku, bagaimana kalau tidak dilanjutkan pertempuran itu?.
Tertanda .
Hiat im cu."
Bukan kepalang kagetnya Hiat hun Koay po, itu terlihat dari mukanya yang sebentar merah sebentar tampak pucat itu.
Bayangan merah menerobos di antara orang-orang yang sedang bertempur hebat itu, ternyata adalah Hiat im cu, si Cu kepala dari Bu-lim sam-cu.
Setelah agak tenang pikiran nenek itu, baru dia mau buka mulut, sudah didului oleh Tan Liong yang ada dalam pondongan Hoan Giok Hoa "Nona Hoan ......
Siapa yang sedang bicara itu?"
Hoan Giok Hoa menjawab.
"Ada satu orang yang datang ke Ciong lam san mencari setori."
Tan Liong terkejut, bertanya pula.
"Ada orang? .... Datang mencari setori? .... Siapa dia? ... Hiat hun Koay po menyambuti kata-kata itu dengan suara dingin.
"Ciang bun jin, apakah masih mengenali suaraku? "
"Kau .... kau siapa? ...."
Gadis baju merahlah sekarang yang menyelak.
"Ciang bun jin, kau masih luka berat, lebih baik jangan banyak bicara."
Hiat hun Koay po tampak memperhatikan perubahan wajah, dia membelalakkan matanya, dengan suara dingin lalu berkata.
"Kalau tidak kupandang suhumu, kalau tidak kurobek mulutmu jangan bilang aku orang lagi. Aku bicara dengan Ciang bun jin, ada hubungan apa dengan kau? "
Nenek itu berhenti sejenak, dia berpaling dan memandang Tan Liong. Dengan suara tetap dingin meneruskan berkata.
"Ciang bun jin bisa keluar dari lembah Lui in kok, benar-benar diluar dugaan orang. Aku si nenek tua lebih dulu menghaturkan "
Selamat kepadamu"
Nenek itu berhenti lagi tertawa sebentar dan berkata lagi.
"Perbuatan Ciang bun jin sebetulnya terlalu ganas.
Di Thian seng hwee kan sudah membunuh hampir empat puluh orang anggota anggota perkumpulan itu dan sekarang diatas gunung Ciong lam san ini kembali kau membunug tiga puluh orang orangnya Thian seng hwee yang terpilih paling lihai.
Sungguh tidak nyana hari ini kau juga bisa terluka begitu parah.
..."
Tan Liong gelisah, takut kalau-kalau si nenekpun mengetahui urusannya. Dengan suara cemas pemuda ini berkata.
"Nona Hoan, apa Lo cianpwee ini ... orangnya Thian seng hwee juga? "
"Aku tidak tahu, mungkin ya. Tapi kita rasa-rasanya pernah melihat dia di kota Khay-hong barangkali."
"Dia adalah Hoat hun Koay po! "
Begitu si gadis baju merah tiba-tiba menyelak.
"Hoat hun Koay po? "
Demikian Tan Liong mengulangi nama itu.
"Sewaktu di Khay-hong aku pernah bertemu dengan dia ......"
Tan Liong yang masih terluka parah, masih dalam keadaan setengah sadar setengah tiada, lapat-lapat hanya mendengar perkataan-pekataan orang-orang itu.
"Ya betul, kalian dikota Khay-hong pernah saling nertemu malah pernah juga membicarakan soal derajat. Dia kata bahwa derajatnya masih kalah setingkat dari kau, itulah dia! "
Nona Hoan berkata, seolah-olah mengingatkan Tan Liong pada pertemuan tempo hari itu. Tan Liong terkejut, sementara si nenek Hiat hun Koay po sudah berkata dengan suara dingin.
"Ciang bun jin, itu semua memang benar. Kita pernah bicarakan soal derajat dan tingkat. Sekarang aku mau tanya.
"Kemana kau bawa kedua muridku itu? "
Tan Liong jadi lebih kaget.
"Siapa ? ...."
"Chie Peng dan Chie Cui"
Mendengar disebutnya nama-nama itu Tan Liong bagai melonjak dalam pondongan Hoan Giok Hoa.
Dia merasa, sewaktu terjeblos dalam lembah Lui in kok, tanpa pertolongan dua dara manis itu, dia sudah tak bernyawa lagi..
Halnya Chie Peng telah mengorbankan kesuciannya kepada orang yang tidak disukai demi untuk membela keselamatan orang yang dikasihi itulah yang diingatnya untuk selama lamanya.
Sedang Chie Cui oleh karena adanya sedikit kesalah pahaman telah berlalu daripadanya dalam keadaan gusar.
Maksud Hiat hun Koay po hari itu mengunjungi Ciong lam san tentulah untuk mencari Chie Peng dan Chie Cui.
Sudah terang guru itu pasti beranggapan bahwa kedua orang muridnya itu mengikuti Tan Liong ke gunung Ciong lam san, karena siapapun juga yang menjadi guru Chie Peng dan Chie Cui pasti akan beranggapan demikian oleh karena dua orang murid itu dengan mati-matian membela seseorang malah seorang bakal ketua partai Ciong lam sudah barang tentu akan menyangka keras kalau murid muridnya itu pasti berada di gunung Ciong lam san.
Tan Liong yang mengingat demikian hatinya risau.
Merasa tidak enak kepada dua saudara itu.
Hiat hun Koay po yang melihat Tan Liong diam saja dengan suara yang bengis bertanya lagi.
"Ciang bun jin! Kalau kau tetap tidak mau lepaskan kedua orang muridku yang kurang ajar itu, awas! Aku bisa bikin rata gunung Ciong lam san ini dengan bumi. Tan Liong sadar menjawab.
"Apa Locianpwee anggap mereka sekarang ada di gunung ini? "
"Sungguh tidak kunyana murid-murid durhaka itu bisa jatuh hati kepadamu!
Malah lebih berani mereka berkhianat meninggalkan peraturan sendiri cuma karena niat menolongmu.
Didalam dunia ini ada begitu banyak perempuan yang cinta padamu kau harus merasa bangga.
Cuma aku tidak bisa lepaskan dua murid kurang ajar itu begitu saja.
Kalau kau juga tidak mau serahkan budak budak hina itu aku juga bisa ubrak abrik sarang Ciong lam pay mu ini."
"Mereka .... memang benar pernah menolongku, tapi kemudian sudah pergi lagi ...."
"Dusta! Kalau kau tidak sembunyikan dua budak itu dalam gunungmu ini mereka bisa lari kemana? "
Gadis baju merah yang mendengar pembicaraan antara mereka lantas berkata sambil tertawa.
"Aku boleh jadi sukai Ciang bun jin ini. Kedua muridmu itu memang benar tidak pernah naik keatas gunung Ciong lam san."
Berubah wajah Hiat hun Koay po. Dia segera memotong.
"Ciang bun jin, apa bukan karena kau mengatakan tidak suka pada mereka dan suruh pergi? "
"Tidak! Tidak! ...... Mereka ......"
"Mereka kenapa! Lekas jawab ! "
Tan Liong sebetulnya tidak dapat menjawab secara sejujurnya sebab mana mungkin dia membeberkan rahasia besar ialah urusan Chie Peng yang telah berkorban dengan memberikan kehormatannya sendiri kepada orang lain demi membelanya itu kepada gurunya sendiri.
Gadis baju merah yang menyaksikan keadaan pemuda itu gugup, mengetahui tentu anak muda itu mempunyai kesulitannya sendiri dalam mengatakan atau memberikan jawabannya.
Sekalipun didesak dan dipaksanya barangkali dia takkan mau memberikan keterangan dari sebab-sebab mengapa kedua murid Hiat hun Koay po tidak menyertainya sampai ke Ciong lam san.
Apa yang dikatakan oleh Hiat hun Koay po tentang banyak gadis yang menyukai Tan Liong memang ini ada hal sebenarnya.
Dalam hal itu termasuk juga Cui Lian Hoan Giok Hoa, Yao lie lu, Chie Peng, tidak terkecuali Chie Cui adiknya dan pula .....
Gadis baju merah itu memikir demikian jadi tertawa sendiri dia lalu berkata.
"Kau jangan terlalu mendesak dia.
Kedua muridmu itu memang tidak pernah mengikuti Chiang bun jin ke gunung Ciong lam san.
Kemana mereka sekarang memang aku juga tidak tahu.
Berikan batas waktu sepuluh hari kepadaku, aku yakin bisa bawa kedua muridmu itu kepadamu."
"Baiklah, dengan memandang mukamu aku beri batas waktu sepuluh hari jika didalam waktu sepuluh hari itu kau tidak menyerahkan kedua muridku itu lihat aku nanti akan mengubrak-abrik Chiong lam pay atau tidak? "
Setelah berkata demikian dengan tanpa pamit lagi si nenek sudah menghilang dari depan mata......
Gadis baju merah mengawasi berlalunya Hiat hun Koay po perlahan-lahan menghela napas tapi dalam hatinya sendiri juga lantas timbul suatu perasaan gegetun seolah olah kehilangan apa-apa ....
Pada saat itu dari dalam perkumpulan Ciong lam pay ada keluar beberapa puluh orang baju kuning dengan berjalan lambat-lambat mengiring wakil pejabat ketua mereka ialah nona Oey Bwee Cian.
Setibanya di depan gadis baju merah dan Hoan Giok Hoa, Oey Bwee Cian lantas berhenti dan orang-orangnya itu berbaris disampingnya.
Oey Bwee Cian lalu berkata kepada Tan Liong yang masih berada digendongannya Hoan Giok Hoa.
"Teecu Oey Bwee Cian, wakil pejabat ketua partai Ciong lam pay. Dengan para Tiang lo sekalian, mengundang Ciang bun jin supaya suka masuk kedalam pendopo Tiong gie thian."
Gadis baju merah lantas berkata.
"Ciang bun jin kalian sekarang sedang terluka. Kalau bisa biarkanlah mengaso dulu dan nona dengan Cianpwee sekalian jangan terlampau banyak menggunakan peradatan."
Sehabis berkata demikian bersama Hoan Giok Hoa gadis baju merah terus berjalan menuju kegedung perkumpulan Ciong lam pay Oey Bwee Cian memandang Tan Liong sesaat alisnya nampak berkerut kemudian bersama sama beberapa puluh Tiang mengikuti gadis baju merah dan Hoan Giok Hoa kependopo Tiong gie thian.
Pendopo Tiong gie thian adalah suatu tempat yng dipergunakan khusus untuk upacara peresmian atau timbang terima jabatan ketua baru partai Chiong lam pay.
Pendopo itu dihias dengan hiasan-hiasan serba mewah hingga gadis baju merah yang melihat apa yang dipandang serba indah demikian jadi kagum.
"Nona Oey, Ciang bun jin kalian sedang terluka berat upacara timbang terima jabatan dapatkah kiranya diundurkan sampai dia sembuh benar dari sakitnya? "
Oey Bwee Cian tampak bagai berpikir selang tak lama berkata sambil mengangguk-angguk.
"Kalau begitu baiklah! Mari bawa Ciang bun jin kekamar Yang sin thian."
"Nona, sukakah nona memberitahukan Ciang bun jin kami terluka karena apakah? "
Gadis baju merah yang mendapat pertanyaan demikian jadi merah padam mukanya lama baru dapat menjawab.
"Dia ......"
Katanya "dia ...... nanti saja kuberitahukan padamu."
Oey Bwee Cian mendengar jawaban itu terpaksa membawa Hoan Giok Hoa dan si gadis baju merah kekamar Yang sin thian.
Kamar Yang sin thian adalah suatu tempat yang diperuntukkan bagi tiap-tiap Ciang bun jin yang ingin merawat diri atau terluka.
Perawatan dalam kamar tersebut teramat bersih tenteram tenang keadaan disekitarnya terletak digedung Ciong lam pay yang paling belakang dikelilingi oleh hutan lebat rupanya cocoklah buat tempat istirahat.
Begitu masuk dalam kamar Yang sin thian, Tan Liong dibaringkan disuatu pembaringan yang dihiasi mewah juga.
Saat itu cuaca sudah mulai terang.
Gadis baju merah mengawasi Oey Bwee Cian dan semua tokoh-tokoh Ciong lam pay yang berkerumun diluar kamar itu, katanya.
"Nona, sukalah kau keluarkan titah untuk menjaga kuat dari orang-orang Thian seng hwee yang datang kemari menuntut balas."
Saat itu juga Oey bwee Cian menitahkan seluruh orang-orangnya menyuruh kerahkan semua kekuatan yang ada dan mengurung sekitar kamar tersebut dengan sebaik-baiknya.
Tan Liong yang meskipun badannya seluruhnya lemas tak bertenaga tetapi pikirannya masih jernih.
Ini disebabkan karena dahulu ia pernah menelan buah lengcie yang sudah ribuan tahun usianya.
Buah mujijat itulah yang membuatnya dapat tahan segala derita.
Gadis baju merah tampak mengeluarkan sebuah pil yang terus dimasukkan ke mulut Tan Liong dan dia perlahan berkata.
"Ciang bun jin, harap suka telan obat ini. Obat ini meskipun tidak dapat menghilangkan sisa sisa racun yang mengeram dalam badanmu tapi bisa dipakai buat menyemarakan perasaan buat bikin segar badan."
Tan Liong biarkan saja pil masuk kemulutnya, tidak antara lama dia merasakan badannya tambah lama tambah segar dan nyaman.
Matanya tampak lambat-lambat dibuka bibirnya tampaknya tersungging satu senyuman berarti kemudian dia memejamkan lagi matanya.
"Ya, aku merasa tambah kuat badanku."
"Engko Tan, apa kau merasa sedikit enak."
Kembali Tan Liong membuka mata mengawasi si gadis baju merah sejenak dan berkata pula.
"Kau juga berada disini? Atas bantuanmu kepada Ciong lam pay, aku atas nama segenap penduduk gunung Ciong lam san dan Cow su ya Cong lam pay, megucapkan banyak terima kasih."
Hoan Giok hoa sementara itu berkata.
"Engko Tan, jikalau tidak ada enci baju merah ini kau barangkali sudah lama mati karena perbuatan si cabul Siao hun lie itu."
"Tentang ini aku tahu."
Demikian jawab Tan Liong.
"Aku ingin bicara denngan nona Oey."
Oey Bwee Cian menyahut.
"Teecu Oey Bwee Cian ada disini, suka menanti titah Ciang bun jin."
Tan Liong mengawasi Oey Bwee Cian yang datang bersembah dia takkan percaya kalau dalam dunianya masih ada seorang wanita yang demikian cantiknya.
Oey Bwee Cian melihat kelakuan ketuanya bersenyum lalu bertanya.
"Ciang bun jin ingin perintahkan apa kepada Teecu? "
Tan Liong buru-buru tarik pandangannya lalu menjawab agak gelagapan.
"Kau, kau ...... kaukah yang mewakili Ciang bun jin partai kita? "
Gadis baju merah nyeletuk sambil tertawa.
"Apa kauanggap wakil pejabat Ciang bun jin ini terlalu cantik? "
Perkataan-perkataan yang mengandung sifat menggoda itu membuat wajah Tan Liong dan Oey Bwee Cian sama-sama memerah. Setelah agak lama mereka dalam keadaan membisu, Tan Liong kembali buka suara.
"Nona Oey sudah berapa lama ayah nona meninggal? "
"Dua tahun."
"Partai kita seluruhnya mempunyai berapa banyak anggota? "
"Lima ratus tujuh puluh delapan orang."
"Kali ini Thian seng hwee datang menyerbu kemari anggota kita berapa yang gugur? "
"Belum dihitung, kira-kira 100 orang."
"Apa?!, Seratus orang?! ......"
Tan Liong terperanjat sekali.
"Ya, kira-kira 100 orang."
Tan Liong tertawa dingin berkata pula.
"Aku juga akan suruh Thian seng hwee kembalikan 100 orang sekalian bunganya."
Pemuda ini sesudah berkata lantas tertawa, suara tertawa yang mengandung napsu membunuh. Gadis baju merah lantas berkata.
"Badanmu masih lemah, sebaiknya jangan terlalu banyak cakap."
"Enci."
Kata Hoan Giok Hoa.
"Tadi bukankah kau pernah katakan mau suruh orang pergi carikan obat untuk dia? "
"Ya! "
Gadis baju merah itu menyahut, lalu berpaling dan kepada Oey bwee Cian berkata lagi.
"Nona Oey, sukalah kau perintah lagi dua orang yang cerdik masuk kemari."
Oey bwee cian lalu suruh meneruskan permintaannya mencarikan dua orang terlihai dalam Ciong lam san, yakni Ciong lam Cit hiong.
Satu San hoa chiu, yang dalam Ciong lam Cit hiong menduduki tempat keenam.
Seorang lagi, yakni Say phoa an menduduki tempat ketujuh supaya segera mendatangi kamar Yang sin thian.
San hoa chiu dan Say phoa an meskipun termasuk orang-orang terlihai tetapi usia mereka masih muda, kira-kira antara 24 – 25 tahunan.
Badan kedua pemuda ini tegap kekar, pun mereka adalah pemuda pemuda tampan.
Kala itu gadis baju merah berkata sambil tersenyum.
"Kami minta kalian berdua datang kemari perlu bantuan kalian untuk mencari obat kekota Khay hong."
Say phoa an lalu menyahut lebih dulu.
"Ada urusan apa, supaya nona peritahkan saja."
Gadis baju merah lalu berkata.
"Urusan ini ada erat sekali hubungannya dengan jiwa Ciang bun jin kalian.
Harap kalian suka berhati-hati.
Di daerah gunung In kui san di kota Khay hong, ada berdiam seorang rahib Kang-zsouw yang digelar orang Chio bin Iehiap.
Locianpwee itu adatnya baik sekali.
Siapapun membutuhkan apa-apa dari padanya, dia bisa sediakan bantuannya, Kalian asal mau minta padanya sebutir obat ‘Im hiat Kui yang wan’ namanya dan segera pulang kembali kegunung Ciong lam san selesailah tugas kalian berdua."
San hoa chiu dan Say phoa an menyatakan terima baik tugas tersebut dan segera mengadakan perjalanan ke kota Khay hong.
Tan Liong yang melihat cara gadis itu bertitah, tahu kalau gadis baju merah itu sangat memperhatikan kepentingannya.
Dan kala matanya menatap Hoan Giok Hoa hatinya menjadi pilu.
Dia benci kepada Siao hun lie.
Kalau nanti dia sembuh dari sakitnya, dia akan menangkap dan mencincang badan wanita cabul itu.
Gadis baju merah itu mengawasi Hoan Giok Hoa sejenak yang dia sendiri agaknya tidak mengerti.
Dia mengingat akan pesannya sendiri, hingga diam-diam mengatakan pada dirinya sendiri.
Apa yang dikatakan oleh suhu memang benar.
Sudah saatnya aku kembali ......
Dia tertawa tawa segan, lalu berkata kepada Hoan Giok Hoa.
"Adik Hoan, disini tidak ada lagi urusanku, aku ingin pulang ...."
Hoan Giok Hoa tampaknya terkejut.
"Enci"
Serunya.
"Apa kau mau pergi? "
"Ya, aku mau pulang."
"Kenapa kau mendadak mau pulang? "
"Bukankah aku harus pulang? "
"Apa kau tidak suka dengan engko Tan? "
Gadis baju merah itu terkejut.
"Nona Hoan, apa arti perkataanmu? "
Tanyanya.
"Jikalau kau suka kepada engko Tan kau tentunya tidak akan pergi. Dia sakit begitu berat, apa kau tega hati tinggalkan dia begitu saja? "
Gadis baju merah itu tersenyum maklum dalam hatinya berpikir sendiri.
"Justeru karena aku sangat suka padanya, aku jadi mesti tinggalkan dia."
Tetapi dimulutnya dia berkata.
"Aku pergi tidak ada halangan apa-apa, dia bisa segera sembuh."
"TIDAK!"
Demikian Hoan Giok Hoa berseru.
"Enci, tunggulah sementara engko Tan belum sembuh dari sakitnya."
Gadis baju merah tampak kerutkan alis, lama baru menjawab permintaan Hoan Giok Hoa! "Baiklah! Aku berdiam disini tiga hari lagi. Dalam waktu itu barangkali mereka berhasil bawa kemari obatnya."
Hoan Giok Hoa tersenyum girang.
"Enci, kau sungguh baik! Kau mau berdiam tiga hari lagi disini ....."
Tapi siapa tahu dalam waktu tiga hari yang amat singkat itu apa yang akan terjadi digunung Ciong lam san itu. Malam hari ketika ...... -o0o0dw0o0o-
Jilid ke .
18 Diatas gunung Ciong lam san mendadak muncul sesosok bayangan merah.
Bayangan ini melesat laksana kilat, dalam waktu sekejap saja sudah berada diluar kamar Yang sin thian.
Bayangan merah itu dapat mengelakkan setiap penjagaan, dapat mengelabui orang-orang penjaga pos Ciong lam pay yang demikian banyak dan bisa sampai kamar Yang sin thian bukti betapakah tingginya kepandaian orang tersebut.
Kini bayangan tersebut telah berada diluar kamar Yang sin thian, dia perdengarkan suaranya yang dingin lalu ayun tangannya menyerang pintu kamar Yang sin thian.
Bagaimana bayangan merah itu bisa mendadak menyerang pintu Yang sin thian yang tertutup rapat?
Sesungguhnya diluar dugaan semua orang!
Setelah terdengar suara yang amat nyaring, pintu besar itu terpentang.
Selagi si bayangan ingin masuk ke kamar Yan sin thian, tiga sosok bayangan orang sudah berada di depan bayangan merah tersebut, sementara si bayangan merah membentak.
"Siapa menghalangi mampus, tapi yang membiarkan aku masuk akan hidup!"
Lalu, dengan beruntun dia mengeluarkan dua kali serangan.
Gadis baju merah yang melihat bayangan merah itu dapat menghancurkan pintu Yang sin thian, sudah barang tentu kagetnya tak alang kepalang.
Pada saat itulah terdengar suara Oey Bwee Cian yang menegur keluar.
"Siapa yang berani bertindak kurang ajar disini?! "
Dia inilah salah seorang dari ketiga pencegat bayangan merah itu, mengayun tangannya menyambuti serangan si bayangan merah. Tapi secepat kilat nona baju merah mencegah dengan seruannya.
"Nona tahan! "
Mendengar seruan gadis baju merah itu, Oey Bwee Cian dan bayangan merah itu, benar-benar menahan serangan mereka.
Tatkala si gadis baju merah dapat mengamati bayangan merah itu, seketika dia kesima.
Karena bayangan merah yang mengenakan pakaian serba merah itu ternyata adalah itu orang yang baru-baru ini muncul dan bikin geger dunia Kang-zsouw dalam samarannya sebagai Naga Merah, yaitu Chie Peng adanya.
Chie Peng nampak gusar, wajahnya merah membara.
Dia ketawa dingin dan berkata dengan suara tawar.
"Tidak disangka kau pun ada disini! Aku Chie Peng merasa beruntung bisa ketemu kau disini."
Gadis baju merah berkata.
"Nona Chie datang ke gunung Ciong lam san dan menghancurkan pintu kamar Yang sin thian, entah ada urusan apa yang kelihatannya begitu penting? "
"Apa ada Tan Liong di dalam kamar ini? "
Bentak Chie Peng.
"Nona Chie ada keperluan apa cari dia kemari? "
Tampak berubah wajah Chie Peng, dengan suara bengis berkata.
"Aku mau bunuh dia! "
"Kau mau bunuh dia? Apa sebab? "
"Sebabnya aku mau bunuh dia? Ha, ha, ha ....."
Dia menjawab sambil tertawa. Tertawa itu terdengar makin lama makin menyeramkan, hingga dapat membikin berdiri bulu roma orang yang mndengarnya. Setelah puas dia tertawa, berkata lagi.
"Aku bukan cuma mau bunuh dia! aku juga mau ambil nyalinya buat kujadikan barang makanan! "
Kelakuan yang luar biasa itu benar-benar mengejutkan Hoan Giok Hoa, gadis baju merah dan Oey Bwee Cian.
Gadis baju merah itu menyaksikan semua keadaan di depan matanya.
Dari sikap pembicaraan Chie Peng serta mengingat-ingat pula perkataan-perkataan Hiat hun Koay po tahulah kini dia kalau tentu saat itu Chie Peng terpukul hebat batinnya.
Karena pikirannya demikian dia lantas bertanya.
"Nona Chie, bukankah kau pernah menolong dia? "
Pertanyaan itu agaknya telah menusuk ulu hati Chie Peng.
Dia yang sama sekali tidak menyangka, oleh karena niat menolong Tan Liong rela korbankan kesuciannya sebagai gantinya jiwa anak muda itu.
Tetapi bagaimana akhirnya?
Kiranya Tan Liong sudah tidak ingat akan budinya bahkan bisa membiarkan Chie Cui adiknya pergi dengan membawa luka dihati.
Tatkala Chie Cui dalam keadaan gusar meninggalkan Tan Liong itulah waktunya Chie Peng meninggalkan Lui in kok setelah korbankan kesuciannya kepada Giok bin Lohan.
Setelah keduanya kemudian saling bertemu, Chie Cui lalu memberitahukan kepada encinya itu yang dia tidak diperhatikan lagi oleh Tan Liong dikatakan juga bahwa pemuda itu membantu Yao lie lu.
Keterangan itu sudah barang tentu sangat memukul batin Chie Peng dia mana mengerti yang dia setelah berkorban demikian rupa pengorbanannya diabaikan begitu saja?
Begitulah dia sekarang datang dengan niatnya, mengganyang si pemuda yang tak berhati.
Maka tatkala mendengar pertanyaan si gadis baju merah dia menyahut.
"Kalian tidak akan tahu! Dan juga tidak akan dapat menduga! Aku telah menolong dia, telah berkorban buat dia dengan memberikan kesucianku tapi apa yang dia berikan kepadaku sebagai pembalasannya sekarang? Bukan dia mengatakan terima kasih, tidak dia mengurusi adikku! Oleh karena itu apa bisa aku berpeluk tangan membiarkan terus dia berbuat sesuka sukanya kepada kaum perempuan? Tidak!! "
Sehabis berkata dia tertawa bergelak-gelak ketawanya seperti orang gila.
Perkataan-perkataan Chie Peng itu yang kemudian keluar pula uraiannya membuat berubah wajah gadis baju merah.
Dia samasekali tidak menyangka begitu sampai hati Tan Liong perlakukan orang yang pernah melepas budi kepadanya.
Terdengar pula suara Chie Peng.
"Jika kalian tidak ijinkan aku bunuh mati orang semacam itu aku akan korbankan jiwaku disini! Sekarang aku sudah terangkan semua maksudku. Kalian mau beri aku jalan atau tidak!? "
Perasaan gusar dan napsunya ingin membunuh tegas pada parasnya yang beringas itu. Oey Bwee Cian sementara itu telah menyelak.
"Nona Chie, kita satu sama lain baru saling bertemu hari ini.
Bagaimana sikap dan kelakuan Ciang bun jin kami terhadapmu aku tidak berani banyak bertanya, cuma saja nona dengan caramu yang lancang masuk kedaerah gunung kami dan menghancurkan pintu Yang sin thian, dalam hal ini nona rupanya tak pandang kami bukan?
Tetapi setelah mengetahui bahwa kau kenal baik dengan Ciang bun jin kami, aku minta supaya kau segera tinggalkan tempat ini.
Kalau tidak aku akan segera keluarkan perintah suruh orang-orangku tangkap kau."
"Kau berani? "
Demikian Chie Peng membentak.
"Mengapa tidak? "
"Kecuali Tan Liong sudah kugusur keluar sebagai mayat. lain dari itu aku tidak bisa keluar dari sini! "
"Coba saja asal bisa."
Chie Peng tidak menjawab sambil unjuk roman bengis dia melesat, sebentar saja sudah masuk kedalam kamar.
Oey Bwee Cian lalu ayun tangan menyerang Chie Peng.
kedua orang ini lalu saling serang, serangan mereka meluncur sama-sama cepat.
Kalau ditilik dari kepandaian dan kekuatan mereka, jauh lebih rendah kebisaan Oey Bwee Cian dari lawannya.
Sewaktu Oey bwee Cian melancatkan serangannya, Chie Peng menyerukan.
"Kau cari mampus!"
Lalu menyambuti dengan tangannya.
Serangan Chie Peng itu demikian hebat, membuat Oey Bwee Cian yang meski telah dapat didikan asli dari ketua Ciong lam pay tidak ungkulan menahan terus serangan Chie Peng.
Sementara itu si gadis baju merah tidak ikut campur tangan.
Sebabnya ialah adanya goncangan hati dalam dirinya.
Perkataan perkataan Chie Peng tadilah yang menggerakkan hatinya.
Anggapannya karena Tan Liong yang bersalah, dia merasa tidak perlu turut campur tangan.
Belum lama pertempuran berlangsung terdengar satu seruan tertahan yang lantas disusul dengan rubuhnya tubuh Oey Bwee Cian ketanah.
Itu terjadi hanya dalam dua jurus saja Oey Bwee Cian sudah terluka.
Kepandaian Chie Peng sungguh diluar dugaannya.
Gadis baju merah juga terkejut.
Sementara dalam waktu sekejap itu Chie Peng telah lompat pula memasuki kamar Yang sin thian itu lebih ke dalam.
Hoan Giok Hoa memburu.
"Kau terlalu kejam! Rasakan tanganku! "
Seruannya itu disusulkan dengan serangannya yang berat menyambar ke badan Chie Peng.
Chie Peng yang diserang mendadak demikian merasa apa boleh buat dan menyingkir tiga tindak kemudian dia tertawa dan berkata.
"Kau juga rupanya sudah bosan hidup."
Ucapannya itu lalu disusul dengan serangan tangannya yang dilakukan secara beruntun.
Sewaktu Chie Peng menyerang Hoan Giok Hoa si gadis baju merah mengeluarkan sebutir obat dimasukkan ke mulut Oey Bwee Cian sembari berkata.
"Nona Oey, telanlah obat ini. Kau atur pernapasanmu sebentar, barangkali bisa lekas sembuh."
Oey Bwee Cian tertawa, disambutinya obat itu ditelan dan dia duduk bersila memejamkan matanya serta mengatur pernapasan ......
Dilain tempat terdengar suara bentakan berulang ulang, Hoan Giok Hoa telah terdesak oleh serangan Chie Peng barangkali tak sampai tiga jurus kemudian nona itu sudah akan terluka.
Dalam kedaan amat kritis itulah mendadak, terdengar suara bentakan amat keras.
"Tahan semua! "
Suara itu kedengarannya begitu mendadak, membuat Chie Peng dan Hoan Giok Hoa mundur tanpa terasa.
Kini mereka melihat dari dalam kamar muncul seseorang dengan baju kelabu dengan berjalan dan tindakannya yang sempoyongan.
Hoan Giok Hoa menghampiri dan menubruk orang itu seraya katanya.
"Engko Tan"
Tan Liong yang cukup istirahat selama tiga hari itu telah dapat turun dari pembaringan dapat pula berjalan jalan.
Ketika mendengar suara ribut-ribut diluar mengetahui siapa adanya yang datang yakni Chie Peng yang lantas bikin pertempuran dengan Oey Bwee Cian, Hoan giok Hoa tahu kalau kedatangan Chia Peng kesitu tentu tidak akan begitu saja.
Maka dengan paksakan dirinya yang masih terluka dia berjalan dengan tindakan sempoyongan.
Munculnya Tan Liong yang tiba-tiba itu membuat si gadis baju merah sendiripun terperanjat.
Chie Peng yang melihat Tan Liong muncul mendadak tambah membakar hatinya yang duka.
Dia cepat menghampiri pemuda itu dengan bengis menegur duluan.
"Tan Liong! Apa kau masih kenal padaku? "
Tan Liong yang ditegur demikian terdengar menghela napas kemudian terdengar lagi jawabannya.
"Aku kenal padamu ......"
"Kalau kau kenal sungguh amat baik. Hanya ...... Aku kira kau sudah lupa padaku Tan Liong! Sekarang aku datang buat ambil jiwamu! "
Dengan wajah beringas dan ketawa seram kembali Chie Peng bergerak mengayun tangan menyerang Tan Liong!
Apabila serangan ini mengenai sasaran barangkali yang di arah akan binasa seketika itu juga.
Hoan Giok Hoa yang tahu bahaya besar lantas gerakkan tangan menyambuti serangan.
Sementara itu terdengar Tan Liong berteriak.
"Nona Chie, tunggu! dengarlah dulu keteranganku! "
Chie Peng ketawa bergelak gelak.
"Keterangan?! Tan Liong! Kau tidak perlu beri keterangan. Untuk menolong jiwamu aku telah korbankan diriku, mengkhianati Thian seng hwee dan perguruanku sendiri supaya kau dapat keluar dari bahaya. Apa sebabnya? Apa kau tahu? "
Chie Peng mengaduh, lalu tertawa bergelak gelak. Lalu dia meneruskan berkata.
"Setibanya di pos pertama dalam penjagaan di lembah Lui in kok kita terkurung. Dan untuk menolongmu aku telah mengorbankan kehormatanku. Sudah kuberikan kesucianku kpada Giok bin Lohan. ......"
"Benarkah kau sudah berbuat demikian?"
Terkejut sekali Tan Liong, ketika menanya itu badannya sempat gemetaran keras. Chia Peng berubah wajahnya.
"Benar!"
Jawabnya.
"Apa kau tidak percaya? Tidak halangan! Tan Liong! Apa kau ingin bukti?"
Sehabis berkata, wanita ini sudah mengulur tangannya ingin membuka bajunya.
Perbuatan itu benar-benar mengejutkan sekalian orang yang berada di situ, tetapi Chie Peng agaknya sudah terpukul beban batinnya sehingga dia tidak mengenal lagi apa arti kata malu.
Untunglah sebelum dia berbuat dengan kelakuan itu lebih lanjut si gadis baju merah telah berseru.
"Nona Chie, jangan kau berbuat begitu ......"
Dari sela-sela tangannya itu tampak air mata. Sambil tertawa seperti orang gila Cie Peng berkata.
"Bagus! Kau sudah percaya?"
Ia kertak giginya, menandakan gusar sekali dia pada waktu itu, kemudian berkata pula.
"Tan Liong! dengan kesuciannya seorang gadis dan kebahagiaan untuk seumur hidupku aku telah tukarkan dengan jiwamu. Apa yang kau berikan kepadaku? Dan apa yang kuminta kepadamu? Ha-ha-ha .... Apa dengan begitu kau katakana aku satu perempuan rendah? Kau bukan saja menerima budi orang bahkan sudah menghina dan menista adikku! Yao lie lu, malah pernah kutolong dan bersama-sama kaua waktu itu apa kau masih tidak cukup mengerti, bagaimana perbuatanku kepadamu? Ha-ha ... Didepan Yao lie lu kau hinakan Chie Cui! Kau mendengar perkataan Yao lie lu yang berbisa, aku tahu dia katakan padamu bahwa aku dan Koancu pos satu itu berhubungan jelek.Apa kau kira kau masih boleh dianggap sebagai manusia? Apa kau kira kau masih boleh disebut laki-laki jantan? Dan sebagai ketua satu partai besar? tidak! Kau cuma seperti anjing yang selalu menggonggong tulang! "
Ia menghampiri Tan Liong pula dengan wajah pucat pasi.
Tan Liong menekap mukanya dengan lengan bajunya.
hampir ia tidak percaya semua kenyataan yang benar-benar telah terjadi itu.
Untuknya Chie Peng korbankan dirinya dan untuknya Chie Peng melepaskan suatu bahaya besar baginya.
Jikalau Yao lie lu tidak jadi gara-garanya, tidak nanti ia memperlakukan Chie Cui dan Chie Peng demikian.
Ia lalu berkata sendirian dengan suara gemas sekali.
"Yao lie lu! Kau kejam sekali, kau membuat aku menyesal seumur hidup."
Ia dikejutkan oleh suara Chie Peng yang keras.
"Tan Liong! Perkataanku sudah habis, sekarang akan kuambil jiwamu! "
Baru saja dia hendak bergerak, Tan Liong menggoyang-goyangkan tangannya dan berkata.
"Nona Chie, tunggu dulu! Ada sedikit kata-kata yang ingin kutanyakan kepadamu."
"Apa itu lekas katakan! "
"Aku tahu sudah melakukan kesalahan menyesali adikmu. Jikalau tidak ada Yao lie lu yang mulutnya berbisa tidak nanti kejadian sampai begini. Jika kau suka dengar penjelasanku ......"
"Penyesalan tidak perlu! "
Tan Liong terpaksa bungkam tertawa menyeringai.
Ia telah maklum yang hatinya wanita dihadapannya itu telah sakit.
Karena kesalahan besar dirinya, mana Chie peng mau maafkan dia?
Maka akhirnya ia berkata.
"Ya, aku tidak boleh jadi ketua Ciong lam pay! Juga tidak pantas jadi laki-laki yang berjiwa jantan! Aku memang satu laki-laki rendah dan tak berpendirian."
Setelah berkata demikian, ia lalu memanggil.
"Bwee Cian, kemarilah! "
Tan Liong memanggil Oey Bwee Cian sesungguhnya diluar dugaan siapapun. Oey Bwee Cian dengan lakunya yang sangat menghormat datang menghadap kedepan Tan Liong dan berkata.
"Ciang bun jin, ada urusan apakah? "
"Urusan dengan nona Chie hendaknya jangan kau campuri, juga semua orang yang ada di sini! "
Matanya lalu mengawasi Hoan Giok Hoa sejenak dan berkata kepadanya.
"Begitupun dengan kau, tidak terkecuali! "
Oey Bwee Cian dan Hoan Giok Hoa pada mengangguk angguk, sementara Tan Liong sudah berkata pula.
"Apa yang nona katakan tadi semua adalah benar, memang tak pantas aku jadi ketua Ciong lam pay yang besar! Bwee Cian, karena sudah dua tahun kau memimpin Ciong lam pay, tentu terhadap urutan kepartaian sudah mengerti semua, bukan? Sekarang kuserahkan semua urusan partai ini kepadamu, dan untuk selanjutnya kaulah ketua Ciong lam pay! "
Setelah berkata demikian Tan Liong lalu mengeluarkan bendera kepartaian Ciong lam pay yang segera diberikan kepada Oey Bwee Cian.
Tetapi Oey Bwee Cian yang gemetaran badannya tidak berani menyambuti, Katanya.
"Ciang bun jin! Mana boleh begini? Tidak boleh begini? tidak berani ...... tidak berani ......"
Berubah wajah Tan liong.
"Apa kau kata? Ini perintah! "
Katanya.
"Teecu rela melanggar perintah dan binasa untuk sekali ini ......"
"Bwee Cian! Kau jangan persulit lagi kedudukanku! Aku sekarang bukan lagi manusia jantan, tidak pantas menduduki kekuasaan digunung ini! Tambahan lagi sekarang adanya nona Chie ini yang menuntut atas kesalahanku mana mau gampang berlalu? Maka sebelum aku mati akan kuserahkan dulu semua urusan di sini sebaik-baiknya! Kau tidak mau bantu aku? "
"Ciang bun jin, teecu hanya seorang wanita yang lemah lagipun umur teecu masih terlalu muda, rasanya tidak sanggup memikul jabatan Ciang bun jin yang seharusnya Ciang bun jin sendiri yang memegang. Kali ini teecu menolak dan tak berani terima sekalipun mesti jadi binasa! "
Mendengar jawaban tegas menolak mentah-mentah demikian. Tan Liong hanya dapat menghela napas panjang. Kemudian ia mengawasi Hoan giok Hoa dan berkata.
"Nona Hoa antara nona Chie ini denganku ada urusan pribadi. Siapapun tak terkecuali kau tak boleh ikut campur! Yang kuharapkan nanti, jika kau melahirkan anak harap kau pelihara dengan baik, sekali kali tidak boleh ia menuntut balas buatku. kau mengerti, bukan? "
Hoan Giok Hoa berdiri tegak seperti patung, air matanya mengucur deras sekali. Tan Liong menahan sebisa-bisanya semua kedukaan dalam hatinya, berkata kepada Chie Peng.
"Nona Chie!
Dengan menggunakan liang-simku aku masih tak mampu mengucapkan kata-kata dan perasaan menyesalku yang amat besar dihadapanmu.
Mengapa kau ingin menggunakan kebahagiaanmu sendiri menolongku?
Dengan apa harus kubayar hutangmu ini?
Memang!
Barangkali selain harus mati tidak lain jalan buatku tunjukkan perasaanku untuk balas budimu.
Maka silahkan nona turun tangan."
Sehabis berkata begitu ia menutup matanya, sikapnya kelihatannya amat tenang! Chia Peng ketawa dingin dan berkata.
"Apa kiramu aku tidak berani turun tangan, coba lihat! "
"Orang seperti ini, tentu kau harus bisa turun tangan! Bagaimana hutangku ini dapat kulunasi selain dari kematian? "
Chie peng kembali ketawa menyeramkan dan berkata seakan-akan pada dirinya.
"Ya! Aku harus tagih hutang ini."
Setelah itu lalu ia mengangkat tangannya menyerang Tan Liong.
Hoan Giok Hoa yang sejak tadi mengawasi gerak gerik Chie Peng, ketika melihat wanita itu mengayun tangannya untuk turun tangan, lalu menghadang didepan Tan Liong guna melindungi.
Dan ketika terdengar suara serangan dari pihak Chie Peng, Tan Liong maupun Hoan Giok Hoa bersama-sama terlontar keatas sampai lebih dari setombak!
Semua orang yang ada disitu merasa kaget.
Dan yang lebih menerbitkan rasa heran dihati setiap orang itu.
Begitu berani sekali perbuatan Hoan Giok Hoa tadi mandah tanpa memberi perlawanan menerima gebug dari Chie Peng.
Chie Peng melongo dan berdiri menjublek.
Pada saat itu Oey Bwee Cian kelihatan seperti orang kalap.
Dengan suara keras berseru.
"Hai, kejam sekali hatimu ......! "
Membarengi kata katanya tubuhnya juga melesat tinggi keatas mengarah Chie Peng dengan beruntun mengeluarkan dua kali serangannya.
Chie Peng waktu itu sedang berdiri menjublek.
Mendadak diserang oleh Oey Bwee Cian dan hebat lagi serangan wanita muda itu tidak berani menyambuti hanya berusaha lompat menyingkir.
Serangan Oey Bwee Cian tak mengenai sasaran!
Waktu itu tiba-tiba terdengar suara si gadis baju merah.
"Nona Oey ! Tahan ...."
Dicegah oleh gadis baju merah itu Oey Bwee Cian terpaksa hentikan gerakannya.
Hanya dengan sorot mata penuh tanda tanya karena keheranan ia mengawasi orang yang mencegah tindakannya, sepatahpun tidak keluar dari mulutnya.
Gadis baju merah itu berkata bagai acuh tak acuh.
"Nona Oey, apa pesan Ciang bun jinmu tadi? Bukankah dia pernah berikan pesan supaya kau tidak turun tangan? Baiknyalah tidak kau langgar kata-katanya, kata-kata Ciang bun jinmu! Apa kau mau ditertawakan orang luar dengan kata Ciong lam pay tidak mengenal aturan kepartaian? "
Pada saat itu Chie Peng perlahan-lahan sudah berjalan pula mendekati Tan Liong dan Hoan Giok Hoa yang terjatuh celentang.
Tan Liong terlindung oleh Hoan Giok Hoa sedikitpun tidak menderita suatu apa.
Tidak demikian dengan orang yang harus menyambuti pukulan berat itu.
Hoan Giok Hoa sudah berdarah banyak mulutnya.
Tan Liong mengawasi paras Hoan Giok Hoa yang sudah pucat seperti kertas, perasaannya mendadak mulai berontak ingin menuntut.
Ia merasa giris, dalam hatinya timbul pertentangan hingga sejenak itu hatinya bagai tercabut dari dadanya ia tidak merasa apa yang dihadapinya selama itu ......
Hoan Giok Hoa membuka matanya yang sudah tak memancarkan sinar, mengawasi Tan Liong yang berjongkok didekatnya dan berkata dengan suara pelahan.
"Engko Tan ...... kau tidak terluka bukan? "
Cinta murni sampai pada saat dirinya sendiri hampir mati juga tidak lupa akan luka di badan kekasihnya.
Perasaan cinta kasih yang demikian murninya cukuplah sudah menggerakkan hati Tan Liong mungkin sekalipun dia mati saat itu tidak menyesal lagi.
Ia sangat berduka.
Perasaannya saat itu sebagai hilang jiwanya dari raganya.
Ia sudah tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya disitu, lupa kepada dirinya lupa kepada segala-galanya.
Hoan Giok Hoa mendadak buka mulut dan berkata dengan suara perlahan.
"Engko Tan .... kau tidak kenapa-kenapa? "
Tan Liong masih bagai orang linglung menjawab.
"Ya, tidak apa-apa, kau yang luka."
"Tidak jadi soal, asal kau tidak terluka, aku puas! "
Pada saat itu Chie Peng yang berada dekat dengan mereka, lama sekali dipandangi oleh Hoan Giok Hoa. Kepadanya ia lalu berkata, perlahan sekali.
"Apa kau inikah enci Chie? Kau yang menghendaki jiwa suamiku?..."
Chie Peng merasa giris hatinya bagai tetusuk-tusuk sembilu, dengan air mata berlinangan deras menjawab.
"Aku tidak sengaja melukai kau, sukalah kau memaafkan aku."
Hoan Giok Hoa tersenyum.
"Aku dengan senang hati ingin mendahului atau menggantikan engko Tan sekalipun! Masih tetapkah kau ingin membunuhnya?"
Demikian tanyanya dengan suara terputus-putus.
"Tentu! Aku musti bunuh dia! Dia menghinakanku sangat. Dia terlalu anggap aku rendah sekali! "
"Enci .... kau tahu dia salah .... apa tidak bisa maafkan untuk sekali ini saja .... ?"
Chie Peng terbungkam sejenak, kemudian sambil kertak gigi menjawab.
"Mengingat kau terluka karena aku, biarlah sekali ini kuberikan dia kelonggaran untuk hidup! "
Semua orang yang berada disitu melihat saja berlalunya Chie Peng tanpa ada seorangpun yang bisa menahan atau memanggil kembali.
Semua membiarkan dia berlalu sambil berlari-lari membawa luka dalam hatinya.
Pada waktu itu ada lima enam orang berpakaian seragam warna kuning tergesa-gesa mendatangi arah kamar Yang sin thian.
Salah seorang diantara mereka berlutut duluandidepan pintu dan berkata dengan suara nyaring.
"Teecu Thian-cu bagian hukum Lie Cauw. Yang menghadap membawa suatu berita yang tidak menggembirakan."
Oey Bwee Cian yang mengetahui ada orang-orangnya datang lekas keluar dan menegur.
"Lie siok siok, janganlah terlalu gunakan aturan disini, ada kabar apa? Bangunlah! "
"Kabar tentang kembalinya San hoa chiu dan Say Phoa an yang ..."
"Mengapa? "
"Yang terluka kedua-duanya, parah sekali luka yang mereka derita."
Berita demikian barang tentu membuat terkejut hati setiap orang.
Sudah tiga hari lamanya Say phoa an dan San hoa chiu pergi kekota Khay Hong guna mencari dan minta obet, kini dikabarkan telah datang dengan membawa luka, bagaimana tidak mengejutkan mereka?
Dengan wajah dan paras berobah, cemas sekali Oey Bwee Cian memotong.
Baca Juga: Pendekar Bayangan Setan 6
Baca Juga: Tengkorak Maut 2