Eps 2 Tengkorak Maut - Khu Lung Tjan Id
Baca online Tengkorak Maut - Khu Lung Tjan Id
Cersil Tengkorak Maut - Khu Lung Tjan Id.
Ucapan ini tanpa sadar telah memperingat-kanpula diri Han siong Kie bahwa sebelum tengah hari nanti dia musti sudah sampai dikuil Boe Hoo dipantai Pek swie Tham untuk menyelesaikan persoalan dari pengemis dari selatan, dengan cepat iapun mengambil keputusan.
Terdengar kedua orang dayang cilik itu mengiakan dan segera menerjang maju ke depan, empat buah telapak serentak mencengkeram tubuh sianak muda she Han itu.
Dari gerakan tubuh yang didemontrasikan oleh Han siong Kie barusan, kendati pengemis cilik itu tahu bahwa kepandaian sianak muda ini sudah memperoleh kemajuan tapi ia tak tahu sampai dimanakah kemajuan yang berhasil diperolehnya, ia kuatir kepandaiannya masih belum sanggup menandingi kedua orang dayang itu maka sambil geserkan badan ia ayun telapak tangannya siap menyambut datangnya serangan dari kedua orang dayang itu.
"Mundur"
Bentakan nyaring bergema memekikkan telinga, sambil menerjang maju ke muka Lie In Hiang melancarkan pula sebuah babatan menghantam tubuh pengemis cilik itu...
Hampir pada saat yang bersamaan dua kali jeritan ngeri berkumandang memenuhi angkasa, tampaklah dua sosok bayangan manusia mencelat ke angkasa dan blaaam blaaam segera terbanting tiga tombak dari kalangan, darah segar muntah dari mulut kedua orang itu.
Pengemis cilik itu jadi tertegun dengan cepat ia meloncat mundur kebelakang.
si Kupu2 warna warni Lie In Hiang sendiri juga tertegun dan berdiri melongo dibuatnya.
Bagaimana caranya Han siong Kie menghantam tubuh kedua orang dayangnya hingga mencelat ke tengah udara??
ia tak sempat untuk melihatnya.
siapa yang percaya kalau seorang pemuda yang belum mampu apa2 pada tiga bulan berselang, sekarang telah memiliki kepandaian silat yang demikian dahsyatnya??
Ilmu silat yang dimiliki kedua orang dayang itu boleh dibilang cukup menandingi kepandaian silat yang dimiliki jago lihay kelas satu didalam dunia persilatan, tetapi mereka tak sanggup untuk menahan sebuah pukulannya pun..
Apakah tempo dulu ia hanya sengaja menyembunyikan kepandaiannya??
Kupu2 warna Warni Lie In Hiang adalah Tongcu utama dari perkumpulan Thian chee Kau, sebagai seorang jago lihay yang banyak pengalaman serta pengetahuan, setelah tertegun sejenak.
la segera pulih kembali dalam ketenangan, dengan sepasang mata yang genit ia melirik beberapa kati wajah si pemuda itu..
Pemuda ganteng dengan ilmu silat yang lihay, hal itu merupakan suatu keserasian yang sulit ditemukan keduanya dikolong langit.
Pikiran dan hati perempuan genit ini mulai terpengaruh oleh ketampanan wajahnya, ia mulai merasakan jantungnya berdebar keras hingga tanpa sadar sepasang pipinya berubah jadi merah padam.
Han song Kie sendiri boleh dibilang sama sekali tidak terpengaruh oleh apa yang sedang dihadapinya saat ini, karena dalam hatinya ia pernah membenci semua perempuan yang ada dikolong langit, terutama sekali terhadap perempuan yang berada dihadapannya, boleh dibilang rasa bencinya berlipat2 ganda.
Pengemis cilik Tonghong Hwie sambil mementangkan sepasang biji matanya yang jeli berdiri mematung ditempat semula, tubuhnya sedikitpun tak berkutik sementara wajah nya tetap tidak berubah, hanya matanya saja berputar tiada hentinya sebentar memandang kesana sebentar lagi memandang kemari.
"Lie In Hiang"
Terdengar Han siong Kie menegur dengan suara dingin.
"Tempo hari kau sudah menempeleng aku sebanyak dua kali, ini hari aku hendak hadiahkan empat buah tempelengan kepadamu" .
"oooh begitu?? bagaimana kalau di coba2 dulu?? mampu tidak??"
Jengek perempuan itu sambil mengerutkan alisnya.
Han siong Kte mendengus dingin, sepasang telapaknya berputar dan menggurat kedepan, dengan suatu gerakan yang cepat tapi aneh ia lancarkan sebuah serangan dahsyat..Inilah salah satu jurus dari tiga jurus sakti "Leng Koe sam si "
Peninggalan dari Leng Koe sangjien.
Dari gerakan tangan musuhnya yang aneh dan cepat si kupu2 warna warni Lie In Hiang segera merasakan keadaan tidak menguntungkan, belum pernah ia jumpai serangan macam ini, karena itu terpaksa badannya berkelit sebisanya kesamping sambil ayunkan tangannya coba menangkis..
"Plak Ploook...
dua kali gaplokan nyaring berkumandang diangkasa, dengan sempoyongan si kupu2 warna warni Lle In Hiang mundur beberapa langkah kebelakang, diatas wajahnya nampaklah dua buah bekas telapak yang amat nyata, darah segar mengucur ke luar dari bibirnya.
seperti baru mendusin dari impian, sipengemis cilik Tonghong Hwie segera berseru keras.
"Bagus sekali hajar yang lebih keras lagi...".
"Ehmm masih ada dua kali..."
Seru Han siong Kie dengan nada yang tetap dingin dan ketus. Begitu ucapan terakhir meluncur keluar dari bibirnya, sang badan telah berkelebat lagi kemuka.
"Ploook.. Ploook.."
Untuk sekian kalinya terdengar dua kali gaplokan nyaring berkumandang diangkasa diiringi dua kali dengusan kesakitan.
Dengan mulut berlumurkan darah Lie In Hiang si kupu2 warna warni itu mundur ke belakang dengan sempoyongan, wajahnya berubah jadi menyeringai seram bagaikan setan, teriaknya dengan penuh kebencian.
"Manusia berwajah dingin hatimu terlalu keji, suatu hari aku pasti akan menyuruh kau rasakan pembalasan sepuluh kali lipat lebih dahsyat dari apa yang kau lakukan terhadap diriku saat ini" .
"Hmm kau tidak akan memperoleh kesempatan untuk melakukan pembalasan.."
Jengek Han siong Kie sambil menggertak giginya.
Telapak tangan segera berkelebat dan menghantam keatas ubun2 perempuan itu.
seketika itu juga Lie In Hiang merasakan sukmanya bagaikan melayang tinggalkan raganya teriaknya dengan suara seram.
"Manusia berwajah dingin, sekalipun berubah jadi setan aku tak akan mengampuni dirimu sekarang turun tanganlah"
Dengan cepat Han siong Kie putar otak nya dan berpikir didalam hati.
Ketika aku terhantam masuk kedalam sungai oleh pemilik Benteng Maut Go siauw Bielah yang telah menolong jiwa ku, sedang ayah gadis itu pangcu dari perkumpulan pat Gie Pang Go YoeToo beserta rekan2nya Kanglam Jit Koay telah mati binasa semua ditangan perempuan yang berhati kejam bagaikan kala itu.
aku telah berjanji menyerahkan perempuan ini kepada Go siauw Bie sebagai balas budi kepadanya, bila kubunuh dirinya sekarang juga maka bagaimana dengan hutang budiku dengan perempuan tersebut??
...aaah.
baiknya untuk sementara waktu kulepaskan dulu dirinya, tak urung hari ini aku sedang repot dan tak mungkin menghantarnya kepada gadis itu.
Karena berpikir demikian diapun urungkan niatnya untuk mencabut jiwa Lie In Hiang sementara itu, ketika dinanti2kannya namun telapak Han siong Kie tak kunjung tiba, si kupu2 warna warni segera salah mengira pemuda itu sudah tertarik oleh kencatikan wajahnya dan tak tega untuk turun tangan.
Maka sambil mementangkan matanya lebar2 ia berseru.
"Eeei.. manusia berwajah dingin, ayoh turun tangan".
"Hei hari aku tak akan membinasakan dirimu "
Seru Han siong Kie sambil menarik kembali telapaknya.
"Tapi kalau aku sampai berjumpa lagi dengan dirimu dikemudian hari, aku tak akan melepaskan dirimu dengan begini gampang, ingatlah akan perkataanku tadi" .."
Engkoh Kie.."
Buru2 pengemis cilik itu berseru tatkala dilihatnya sianak muda itu ada maksud hendak melepaskan korbannya.
"Kau.. apakah kau hendak melepaskan perempuan yang berhati kejam bagaikan ular ini.."
Dengan pandangan benci dan mendendam si kupu2 warna warni Lie In Hiang melirik sekejap kearah pengemis cilik, kemudian dengan pandangan yang kalut menyapu sekejap pula ke atas wajah Han siong Kie, ujarnya sambil mundur dua langkah kebelakang.
"Manusia berwajah dingin, kau tidak menyesal berbuat begitu?? "
"Hmmm cepat enyah dari sini, telah kukatakan bahwa untuk sementara waktu kulepaskan dirimu ini hanya sementara mengerti?"
Mimpipun sikupu-kupu warna warni Lie In Hang tidak menyangka kalau kekalahan yang dideritanya hari ini begini mengenaskan, hampir saja selembar jiwa tak bisa diselamatkan terutama sekali kekalahannya di tangan seorang pemuda yang sama sekali tiada nama didalam dunia persilatan.
Makin dipikir, ia merasa makin benci dan dendam tapi ketika sinar matanya sekali lagi bertemu dengan raut wajahnya yang tampan, ia jadi tertegun dan berdiri termangu2 tak bisa ia bedakan apakah itu benci ataukah cinta.
"Aku harus berhasil menguasai dirinya, menaklukkan mempermainkan kejantanan-nya sampai puas kemudian aku hendak menghancurkan hidupnya agar sepanjang hidup ia tersiksa dan menderita"
Sumpah perempuan itu di dalam hati, diluaran ia masih tetap tenang sedang di hatinya tersenyum, perempuan yang berhati kejam bagaikan kala ini mulai merencanakan suatu rencana yang paling busuk.
Tanpa banyak bicara lagi, ia putar badan dan segera kabur dari tempat itu diringi oleh kedua orang dayangnya.
Diam2 Han siong Kie bergidik juga hatinya menghadapi perempuan yang berhati licik itu.
memandang bayangan punggungnya yang menjauh diam2 ia menghela napas lega.
Pada saat itulah sipengemis cilik baru menegur dengan nada menggerutu.
"Engkoh Kie, sejak berpisah ditepi sungai tempo dulu kau telah pergi kemana saja??? sungguh amat menderita aku mencari jejakmu oooh bukankah kau pernah berjanji kepadaku bahwa selamanya tak akan meninggalkan diriku?? tetapi" .
"Adik Hwie, bukankah sekarang aku telah datang kemari?? "
"seandainya kau tidak terpancing datang kemari oleh pertempuran sengit ini, tentu kau..".
"Aku sama saja akan pergi mencari dirimu"
"Engkoh Kie, kiranya kau adalah seorang jagoan yang tidak mau mengunjukkan diri?"
"Kepandaian silat yang kau miliki amat lihay sekali siauwte mengakui bahwa aku tak bisa menandingi dirimu tetapi sewaktu tempo hari berada ditepi sungai kau..."
"Ooooh adik Hwie saat ini aku masih ada urusan penting yang harus segera diselesaikan sebelum tengah hari nanti aku harus sudah sampai dikuil Boe Hoo dipantai Pek swie Tham, mengenai persoalan itu baiklah kuceritakan kepadamu dikemudian hari saja, lain kali kita akan bertemu dimana???"
"Urusan penting apa silih???"
Sela Tonghong Hwie si pengemis cilik itu dengan manja.
"Sekarang aku tak sempat menerangkan kepadamu, aku harus segera melanjutkan perjalanan"
"Tidak. Aku ikut beserta dirimu kemanapun kau hendak pergi aku akan berada disampingmu"
"Adik Hwie kau..."
Saking cemasnya air muka Han siong Kie berubah jadi merah padam.
"Engkoh Hwie, bukankah antara kita sudah pernah angkat sumpah untuk sehidup semati?? mengapa sekarang hendak tinggal-kan diriku???.."
"Aku bukan ingin meninggalkan dirimu, aku harus pergi karena ada urusan penting yang harus diselesaikan, lagipula urusan amat berbahaya sekali, Bagaimana kalau kita berjanji saja untuk bertemu tiga hari lagi?? kau yang akan cari aku atau aku yang akan mencari dirimu???..."
"Tidak... tidak bisa jadi kalau toh kita sudah angkat sumpah untuk sehidup semati maka ada bencana kita harus tanggulangi bersama ada kesenangan kira nikmati bersama, semakin kau mengatakan bahaya aku semakin bertekad untuk ikut"
Di desak terus menerus oleh adik angkatnya ini, lama kelamaan Han siong Kie jadi kewalahan juga akhirnya sambil mendepak2 kan kakinya ia mengangguk.
"Baiklah ayo kita berangkat"
"Hmm. kau mengajak aku bukan muncul dari dasar hati yang tulus, kau berbuat begini tentu terpaksa... tidak... aku tidak jadi ikut"
"ooooh saudaraku yang baik kau toh bukan seorang perempuan, kenapa sih berpikiran begitu picik?? ayolah mari kita segera berangkat"
Dari balik sorot mata pengemis cilik itu mendadak terlintas suatu cahaya yang sangat aneh, ia melirik sekejap kearah saudara angkatnya dan mendadak bertanya.
"Engkoh Kie, kau pernah bilang kepadaku bahwa kau paling benci kaum wanita benarkah itu??"
"Benar, sudahlah jangan banyak membicarakan persoalan yang tak berguna, ayoh kita segera berangkat"
"Engkoh Kie, seandainya,... seandainya...."
"seandainya kenapa??."
"seandainya aku benar2 adalah seorang gadis bagaimanakah sikapmu terhadap diriku???"
"Aduuuh saudaraku yang baik, perduli kau laki atau perempuan aku mohon kepadamu marilah kira segera melanjutkan perjalanan, ada suatu persoalan maha besar yang harus segera kuselesaikan, bila sampai terlambat aku bisa menyesal selama hidup,"
Tapi pengemis cilik itu masih saja mengomel.
"Engkoh Kie, katakan dulu kepadaku andaikata aku adalah seorang gadis kau tak akan membenci diriku katakanlah "
Saking mangkel dan dongkolnya Han siong Kie mendepakkan kakinya berulang kali diatas tanah.
"Tidak mungkin tidak mungkin kau ini cuma pandainya bikin gara2 saja ayoh berangkat"
Kali ini ia sambar tangan pengemis cilik itu dan ditariknya untuk segera melakukan perjalanan.
Dalam perjalanan itulah secara ringkas Hansiong Kie mengisahkan pengalaman aneh yang ditemuinya didalam rimba belantara beserta tujuan dalam perjalanan kali ini.
Tonghong Hwie yang mendengarkan dengan seksama sebera menjulurkan lidahnya beberapa kali.
Dengan mengerahkan kekuatan yang dimilikinya, Han song Kie melakukan perjalanan cepat kearah depan, sepanjang perjalanan ia menggenggam terus tangan Tonghong Hwie sebab ia takut pengemis itu tak sanggup mengikuti langkah kakinya bila ia lepaskan.
Tengah hari sudah hampir tiba, namun tujuan belum juga sampai .hal ini membuat sianak muda itu cemas bercampur gelisah.
Itu dia didepan sana adalah pasti Pek Sam Tham mendadak terdengar Tonghong Hwie berteriak sambil menuding kearah sebuah pantai berpasir putih yang mementang ditempat kejauhan.
Semangat Han Siong Kie segera berkobar kembali, tanyanya.
"Lalu dimanakah letaknya kuil Boa Hoo?"
"Itu didalam hutan yang berada ditepi pantai" . Beberapa saat kemudian mereka berdua sudah tiba di depan hutan yang terletak ditepi pantai, tampaklah sebuah bangunan rumah bertembok merah muncul dari balik hutan, tetapi yang aneh ternyata tak nampak sesosok bayangan manusiapun. Perlahan2 Han Siong Kie memperlambat gerakan tubuhnya dan memperhatikan sekejap suasana di sekitar sana, lalu serunya.
"Ayoh kita masuk kedalam" . Tiba2.. Tonghong Hwie menjerit lengking, dengan cepat ia melengos kesamping. Han siong Kie yang menjumpai keadaan itu jadi ikut terperanjat, ia tangkap tangan saudara angkatnya dan bertanya dengan nada kaget.
"Adik Hwie, apa yang telah kau temukan?"
Dengan badan gemetar keras Tonghong Hwie mundur kebelakang beberapa langkah, sorot matanya memancarkan rasa ketakutan yang hebat, dari atas jidat, hidung dan pipi mengucur keluar keringat sebesar kacang kedelai, ia segera menuding kearah sebuah batu besar ditepi hutan.
Mengikuti arah yang ditujukan Han siong Kie segera menoleh, terlihatlah sebuah benda berwarna merah darah tergeletak di atas batu cadas, ketika benda itu diperhatikan dengan lebih seksama lagi hatinya seketika terjelos.
Mendadak satu ingatan berkelebat didalam benaknya, pikiran itu membuat darah dalam tubuhnya mengembang cepat, pandangan matanya jadi berapi-api dan dengan perasaan bergolak serunya.
"Aaah....betul tidak salah lagi itulah Tengkorak maut, lambang dari si iblis tua itu"
Tengkorak maut dapat muncul ditempat itu, kejadian ini benar2 merupakan suatu hal yang diluar dugaan.
Tengkorak maut sekali lagi Han siong Kle berbisik dengan suara yang serak dan lirih..
-ooodw0kzooo-BAB "Eng..engkoh Kie..
maa..
mari ki...
kii .
kita perr..
pergi saja"
Seru Tonghong Hwie dengan suara terpatah2. Napsu membunuh dan rasa dendam telah menyelimuti seluruh benak Han siong Kie, sambil menatap lambang Tengkorak darah itu dengan penuh kebencian teringatnya.
"Kenapa kita musti pergi??".
"Apakah kau sudah bosan hidup???"
Seru Tonghong Hwie dengan wajah berubah jadi hijau membesi.
"Tidak aku tak boleh membiarkan kau mati, sebab kalau kau mati akupun tak ingin hidup lagi dikolong langit"
"Adik Hwie, tenangkaniah hatimu jangan panik.."
"Tidak. Engkoh Kie, aku mohon kepadamu berlalulah dari sini.... Tengkorak maut tiada tandingannya dikolong langit, tiada seorang manusiapun yang sanggup untuk menandingi dirinya"
"Aku tidak perduli sampai manakah kelihayannya, kebetulan sekali akupun sedang mencari dirinya".
"Kau, mengapa kau mencari dirinya??".
"Aku benci kepadanya, Tengkorak Maut telah melenyapkan keluargaku.. aku mempunyai dendam berdarah sedalam lautan dengan dirinya, selama aku masih hidup aku bersumpah hendak membinasakan dirinya" . Tonghong Hwie tersentak kaget dan secara beruntun ia mundur tiga langkah kebelakang dengan sempoyongan bagaikan seorang yang kehilangan semangat rintihnya lirih.
"Kau... kau mempunyai ikatan dendam dengan Pemilik Benteng Maut??..." .
"sedikitpun tidak salah"
"Keee.. kenapa.. kenapa kau amat membenci dirinya??? "Karena dia sudah membasmi seluruh keluargaku"
Sahut Han siong Kie sambil menggertak gigi keras2. secara beruntun Tonghong Hwie mundur lagi beberapa langkah kebelakang dengan sempoyongan, gumamnya.
"oooh Thian kenapa?? kenapa...".
"Adik Hwie kau cepat berlalu dari tempat ini "
"Aku??? tidak aku tak mau tinggalkan dirimu seorang diri sampai matipun aku ingin mendampingi dirimu"
Han siong Kie merasa amat terharu, hampir saja dia ikut mengucurkan air mata. setelah berdiri ter-manggu2 beberapa saat lamanya tiba2 Tonghong Hwie berteriak lagi.
"Tidak mungkin tidak mungkin... hal ini tidak mungkin terjadi... ooooh hal ini bukan kenyataan bukan."
Han siong Kie jadi melongo menyaksikan tingkah polah adik angkatnya yang mendekati gila itu, buru2 ia genggam tangannya kencang2 dan berseru.
"Adik Hwie, tenangkanlah hatimu, kau maksudkan apanya yang tidak mungkin."
Tonghong gelagapan sendiri lama sekali ia baru berkata.
"Maksudku... maksudku Tengkorak maut tak mungkin bisa munculkan diri ditempat ini"
"Kenapa tak mungkin?"
Apa alasanmu berkata begitu.?? "Tentang soal ini... tentang soal ini... aku selalu merasa bahwa kejadian ini bukanlah suatu peristiwa yang sungguhan .."
"Tetapi kenyataan toh sudah terbentang didepan mata kita?? "
"Engkoh Kie, kumohon kepadamu tinggalkanlah tempat ini"
Sekali lagi Tonghong Hwie meminta.
"Tidak "jawaban dari si anak muda itu tegas sekali.
"Tetapi kau tidak boleh mati"
"Apakah kau yakin bahwa akupun bakal mati?? "
Dengan telapak tangannya Tonghong Hwie menyeka air mata yang jatuh membasahi pipinya, lalu sahutnya.
"Hal itu bukan bisa terjadi siapapun tak akan menang bila berani memusuhi Tengkorak Maut"
"Mungkin ucapanmu memang benar"
Sahut Han siong Kie sambil menggertak giginya kencang2 sinar mata penuh kebencian memancar keluar dari balik matanya.
"Tetapi aku telah bersumpah tak akan hidup berdampingan dengan Tengkorak Maut, mungkin aku yang bakal mati tapi mungkin juga dia yang bakal mampus, selama aku masih bisa hidup dikolong langit aku bersumpah akan memukul rata Benteng Maut..."
Sinar mata Tonghong Hwie jadi pudar, badannya mundur makin terhuyung, gumamnya.
"ooooh engkoh Kie kejadian ini terlalu menakutkan"
Han siong Kie tidak menggubris adik angkatnya lagi, ia mendongak memandang cuaca lalu berseru.
"Tengah hari sudah tiba aku harus masuk kedalam kuil Boe-Hoo dan menyelesaikan tugas yang dibebankan pengemis dari selatan kepadaku.."
Habis berkata ia sebera melangkah masuk kedalam hutan.
"Engkoh Kie, apakah kau bertekad untuk masuk kedalam???"
Teriak Tonghong Hwie sambil menarik tangannya kencang2.
"Tentu saja, engkoh tua telah menyerahkan tugas ini padaku, sebagai seorang Bu lim yang telah memberikan kesanggupannya aku harus melaksanakan tugas itu hingga selesai, kendati badan harus hancur dan jiwa harus melayang, adik Hwie kau tak usah membujuk diriku lagi"
Tonghong Hwie angkat kepalanya memandang sekejap kearah tengkorak darah yang bertengger diatas batu cadas seolah2 sedang memikirkan sesuatu, ia termenung beberapa saat lamanya.
Kemudian sambil mengendorkan cekalan-nya dia mengangguk.
"Baiklah, mari kita ber sama2 masuk ke dalam"
"Tidak adik Hwie, kau harus tinggalkan tempat ini dengan segera, aku tidak ingin kau ikut menempuh bahaya karena persoalanku, aku tidak ingin kau ikut konyol bersama diriku" .
"Engkoh Kie, kau tak usah banyak bicara lagi, mari kita segera berangkat"
"Baik"
Seru Han siong Kie kemudian sambil menggertak gigi.
Kedua orang itu menerobos ke dalam hutan dan bergerak mendekati kuil yang berdiri dengan angkernya didalam hutan, baru saja mereka berjalan sejauh dua puluh tombak.
tiba2 Tonghong Hwie menjerit kaget dan berteriak kembali dengan ketakutan.
"Engkoh Kie, kedatangan kita sudah terlambat, coba kau lihat."
Sambil berkata ia segera menuding kearah depan.
Dengan cepat Han siong Kie alihkan sinar matanya, bulu kuduknya kontan bangun berdiri dan ia bersin beberapa kali.
Tampaklah mayat manusia bergelimpangan ditengah hutan tersebut, satu..
dua..
tiga..
ternyata ada puluhan sosok banyaknya, bahkan mereka semua terdiri dari anak murid perkumpulan Kay pang.
Keadaan dari mayat2 itu kesemuanya mengerikan sekali, mata melotot keluar dan darah kental mengucur keluar dari tujuh buah lubang indranya.
Kalau ditinjau sepintas lalu, rupanya mereka semua mati diujung sebuah pukulan yang amat beracun sekali.
"Hmm mereka semua pasti mati ditangan Tengkorak Maut "
Dengus pemuda kita dengan gusar.
"Tidak aneh kalau tiada seorang manusia yang munculkan diri di tempat ini, kiranya mereka sudah mati binasa semua"
Peristiwa yang sedang berlangsung pada saat ini benar2 di luar dugaan siapapun, pihak kay pang didalam rapatnya memilih pangcu baru bukan saja telah dicampuri urusannya dengan kehadiran para jago lihay dari perkumpulan Thian chee Kauw, bahkan Tengkorak Maut pun ikut mencampurikan diri dalam persoalan itu.
Han siong kie sendiri walaupun menerjang masuk kedalam dengan mempertaruhkan keselamatannya, tetapi dalam hati siapapun merasa tidak tenang, keringat dingin mengucur keluar tiada hentinya membasahi seluruh pakaian yang ia kenakan.
Bagaimana kelanjutan dari peristiwa itu??
hingga detik ini masih sulit diduga, tapi yang nyata puluhan jiwa anak murid Kay pang telah menemui ajalnya.
suasana dalam hutan itu sebera dirasakan jadi tebang dan tercekam oleh keseraman serta kengerian yang mencekat hati.
Pada saat itulah..
Tiba2 dari dalam kuil Boe Hoo berkumandang datang suara gelak tertawa yang amat nyaring, begitu keras suara tertawa itu hingga menusuk telinga setiap orang yang mendengar.
Han siong Kie serta Tonghong Hwie jadi amat terperanjat setelah mendengar gelak tertawa yang menyerupai auman binatang aneh itu.
Blaaaam Blaaaam benturan2 dahsyat bergelepar diangkasa diikuti sebuah sudut dinding bangunan ambrol dan runtuh keatas tanah.
Air muka Han siong Kie seketika berubah hebat.
"Aduuuh celaka"
Teriaknya "Pastilah si Tengkorak maut sedang melangsungkan pembunuhan massal terhadap perkumpulan Kay pang"
"siaw sicu jangan gegabah"
Mengikuti datangnya seruan tersebut meluncur tiba sesosok bayangan abu2 dari sisi kalangan, angin pukulan yang kencang dan dahsyat segera memaksa badan sianak muda itu melayang kembali keatas permukaan.
Terlihatlah seorang hweesio tua beralis putih berjubah abu2 tahu2 sudah berdiri menghadang dihadapannya.
Han siong Kie merasakan jalan perginya terhadang, ia segera ayunkan telapak tangan-nya melancarkan sebuah pukulan kedepan.
"Engkoh Kie, jangan bertindak gegabah, dia adalah padri dari utara ......"
Mendengar peringatan tersebut, sianak muda itu menarik kembali serangannya dengan meloncat mundur ke belakang.
Menanti ia awasi wajah padri itu dengan lebih seksama dengan cepat diapun kenali kembali orang itu sebagai Pak Ceng yang pernah dijumpainya sewaktu berada ditepi sungai depan Benteng maut.
Buru2 ia menjura dan mohon maaf katanya.
"oooh cianpwe maafkanlah kalau boanpwee bertindak terlalu ceroboh terhadap diri mu..."
Padri dari utara tidak menggubris ucapannya itu, ia melirik sekejap kearah kuil Boe Hoe dengan sinar ketakutan kemudian serunya cemas.
"Ayoh kila cepat berlalu dari sini"
"Berlalu???"
Seru Han siong Kie tertegun "Tapi boanpwee telah mendapat tugas dari pengemis Lam kay untuk..."
"Aku sudah tahu, ayoh cepat berlalu kalau kita terlambat mungkin tak akan sempat lagi setelah tinggalkan tempat ini kita bicarakan persoalan lain"
"Tapi urusan mengenai Kay pang..." . sepasang tangan Padri dari utara bergerak cepat, laksana kilat ia cengkeram tangan Han siong Kie serta Tonghong Hwie kemudian kabur keluar dari hutan tersebut. Han siong Kie yang diseret terus jadi melongo dan kebingungan sendiri, ia tak tahu apa maksud tujuan dari Pak Ceng berbuat begini, kalau ditinjau dari kepandaian silat yang dimiliki jelas tak mungkin tangannya berhasil dicengkeram oleh padri dari utara dalam sekali sambaran. Tetapi berhubung kesatu ia tidak menyangka dan kedua ia tahu bahwa Pak Ceng maupun Lam Kay sama2 merupakan manusia aneh dari dunia Persilatan, lagipula hubungannya dengan mereka tidak jelek. maka setelah mengetahui bahwa lawannya mengandung maksud mendalam, iapun tidak memberikan perlawanan barang sedikitpun juga. Dalam pada itu mereka sudah keluar dari hutan, tapi padri dari utara masih menarik tangan kedua orang itu tiada hentinya, gerakan tubuhnya cepat bagaikan terbang, sesudah berjalan sejauh puluhan li dan tiba dibalik sebuah celah bukit akhirnya ia berhenti. si Padri dari utara melirik sekejap ke arah Tonghong Hwie, kemudian tegurnya.
"Apakah kau anggota dari Kay pang?"
Tonghong Hwie memandang sekejap ke arah padri tua itu kemudian tertawa cekikikan.
"Hiiih.. hiiiih hiiih..bukan boanpwe adalah seorang pengemis gelandangan"
"Apa maksudmu pengemis gelandangan?"
"Kesatu, aku tidak pernah minta2 makan kedua aku tak pernah minta2 sedekah uang ketiga, aku tidak punya guru dan keempat aku tak punya perkumpulan, luntang lantung ke sana kemari dengan bebas dan merdeka tanpa ikatan dari manapun, itulah yang disebut pengemis gelandangan aneh bukan??..."
Sepasang alis padri dari utara segera berkerut kencang, namun ia tidak bisa bicara lagi.
Dalam pada itu Han song Kie sudah tak dapat menahan mangkel dan dongkolnya didalam hati, dengan cepat ia berseru.
"Loocianpwee sebetulnya apa yang telah terjadi???" -000dw000-
Jilid 5 MENDAPAT pertanyaan ini air muka Padri dari Utara segera berubah jadi keren dan serius, sahutnya "siauw sicu, tahukah kau manusia2 macam apakah yang sedang bertempur didalam kuil Boe Hoe??"
"Tengkorak maut".
"Dan siapakah tandingannya?".
"Tentang soal ini, apakah Loocianpwe tahu??". Padri dari utara segera mengangguk.
"Ehmm, dia adalah si malaikat berhawa Im. Mi sioe Ing".
"Apa?? si malaikat berhawa Im Mo sioe Ing??"
Jerit Han song Kie dengan hati terperanjat.
"secara bagaimana ia telah datang ke situ dan bertempur melawan Pemilik dari Benteng Maut??"
"Kejadian ini hanya suatu kebetulan saja. Mungkin si malaikat berhawa Im Mo sioe Ing sedang melakukan perjalanan lewat pantai Pek swie Tham, ketika menyaksikan disisi jalan terdapat lambang Tengkorak Maut maka timbullah napsunya untuk bertempur melawan manusia paling menakutkan dari kolong langit ini, untung terjadi peristiwa ini kalau tidak seandainya kalian masuk ke dalam hutan sekalipun memiliki kepandaian yang lihay apakah kau mampu untuk mempertahankan hidupmu??."
"Malaikat berhawa Im, Mo sioe Ing berani menantang pemilik dari Benteng Maut untuk bertempur, aku pikir kepandaian silat yang dimilikinya pasti mengerikan sekali, beberapa hari berselang si pengemis dari selatan pun harus menderita luka dalam yang sangat parah didalam tiga buah gebrakan saja."
"Loocianpwee "
Terdengar Tonghong Hwie berseru dengan nada gemetar.
"Apakah kau berhasil menjumpai raut wajah dari Tengkorak maut itu?"
"Bertemu sih tidak. cuma selama ini loolap selalu bersembunyi di sudut ruangan sambil menanti, ketika pemilik dari Benteng Maut itu sedang memencilkan dirinya ....."
Tiba2 padri ini berhenti sejenak untuk tukar napas kemudian tambahnya "Tetapi menurut penglihatan loolap. kejadian ini agak sedikit mencurigakan..."
"Apakah keadaan dari Tengkorak Maut itu agak tidak beres ...."
Tukas Tonghong Hwie cepat. Padri dari utara segera alihkan sinar matanya kearah pengemis cilik itu dan menatap wajahnya tajam2.
"siauw sicu, apakah kau tahu bagaimanakah raut wajah serta potongan badan dari pemilik Benteng Maut??"
"Kudengar dari orang lain yang mengatakan katanya dia adalah seorang manusia berkerudung abu2 berjubah lebar warna abu2 dengan telapak kanan berwarna putih bersih bagaikan kumala serta bertelapak kiri warna hitam bagaikan tinta bak..."
Mendadak seluruh tubuh padri dari utara tergetar keras tanpa sadar ia mundur satu langkah lebar ke belakang, sepasang matanya menatap wajah pengemis cilik itu tanpa berkedip membuat Tonghong Hwie yang dipandangi terus jadi malu dan tundukkan kepalanya dengan ter sipu2.
Beberapa kemudian padri itu baru berkata kembali.
"Siauw sicu kau dengar dari siapa??? menurut sepengetahuan loolap si pemilik dari Benteng Maut belum pernah unjukan dirinya dihadapan orang asing????"
"Boanpwee hanya sempat mendengar pembicaraan itu tanpa sengaja, apa loocianpwee jumpai apakah persis seperti apa yang boenpwee katakan barusan...??? "
"Tentang apa ini... tentang soal ini... loolap sendiripun kurang begitu jelas, tapi yang pasti bayangan tubuhnya memang abu2.."
"Loocianpwee apakah kau telah berjumpa dengan pengemis dari selatan?"
Tiba2 Han Siong Kie menyela.
"Belum"
"Lalu dari mana loocianpwee bisa tahu kalau mereka akan berkumpul disini??"
"Dari mulut seseorang loolap mendapat tahu bahwa perkumpulan Kay-pang sedang melakukan pertemuan besar di tempat ini, maka loolap segera berangkat kemari untuk menghalangi niat sementara dari penghianat untuk merebut kedudukan kursi ketua"
"oh, siapakah yang menyampaikan berita ini kepada cianpwee??"
"seorang lisicu menyebut dirinya sebagai Yoe Sim Jien...."
"Yo Sim Jien??? kembali perempuan itu?? sungguh aneh"
Teriak Han Siong Kie dengan hati terkeiut.
"Apakah siauw sicu kenal dengan li sicu yang menyebut dirinya Manusia yang ada maksud ini???".
"Tidak kenal, cuma dia pernah...." . Berbicara sampai disini mandadak ia merandek dan tidak dilanjutkan lagi, karena ia tidak ingin mengutarakan tentang masalah asal usulnya serta apa yang diperingatkan "Yoe Sim Jien"
Kepadanya. Pengemis cilik Tonghong Hwie jadi tegang segera desaknya.
"Dia pernah kenapa???".
"ooooh.. dia pernah menyampai pesan dari mendiang leluhurku kepada diriku "
Sahut sianak muda itu sambil tertawa rikuh. Karena ia takut saudara angkatnya mendesak lebih jauh, cepat2 ia alihkan pokok pembicaraan kesoal lain dan ujarnya.
"Loocianpwee, bagaimana caranya kita akan menyelesaikan persoalan yang meliputi perkumpulan Kay-pang??" .
"Setelah Loolap tiba disitu tadi, aku segera membubarkan kesembilan tiang loo serta ratusan anggota Kay pang untuk segera tinggalkan tempat itu, sebab kalau tidak akibatnya sukar dibayangkan dengan otak. seperempat jam setelah semua anggota Kay pang bubar Tengkorak Maut telah munculkan diri ditempat itu, puluhan orang anggota Kay pang yang tidak sempat kabur dari situ telah mendapat binasa ditangannya, aku rasa kalian tentu sudah menyaksikan sendiri bukan mayat mereka yang bergelimpangan didalam hutan..."
Han siong Kie mengiakan. Terdengar Pak Ceng melanjutkan kembali.
"Seandainya simalaikat berhawa Im secara kebetulan tidak lewati ditempat itu, mungkin baik kau maupun aku tak akan sanggup menghadapi iblis tua yang berhati keji itu."
"Aaah.. Locianpwee, masa si malaikat berhawa Im begitu berani untuk bergebrak melawan pemilik dari benteng maut?"
Seru Tonghong Hwie.
"Ehmm menurut penilaian loolap yang mencuri lihat jalannya pertarungan dari tempat persembunyian, paling banter simalaikat berhawa Im hanya bisa bertahan sampai lima puluh jurus lagi, lama kelamaan dia pasti akan menderita kalah"
Han siang Kie tetap sangat menguatirkan persoalan dalam tubuh Kaypang, ia harus mencari keterangan duduk perkara yang sebenarnya untuk memberikan pertanggungan jawab kepada engkoh tuanya, maka kembali katanya kepada sipadri utara.
"Locianpwee, dapatkah kau memberi keterangan dengan lebih jelas lagi?? agar dikemudian hari boanpwee pun bisa memberikan pertanggungan jawabku terhadap Pengemis dari selatan" . Padri dari Utara mengangguk.
"Kemarin selagi Loolap melakukan perjalanan tiba2 perjalananku dihadang oleh seorang li sicu yang memakai kain kerudung putih, ia mengaku bernama "
Yoe Sim Jien " , menurut li sicu tadi katanya si pengemis bintang langit Jien Jiet yang telah menduduki jabatan Tongcu dari perkumpulan Thian chee Kauw telah mendapat dukungan dari kaucunya untuk merebut kursi jabatan sebagai ketua perkumpulan Kay pang, bahkan diapun membawa tanda pengenal bambu hitam milik pengemis dari selatan, Li sicu itu minta kepada lolap untuk datang kekuil Boo Hoo dipantai Pek swie Than sebelum tengah hari untuk merintangi jalannya rencana tersebut, kemudian melaporkanpula duduknya perkara kepada para Tiangloo..."
"Lhoo. sipengemis bintang langit toh seorang Tongcu dari perkumpulan Thian chee Kaw kenapa dia bisa ..."
Sela Toanhong Hwie. Belum habis ia berkata, sipadri dari utara telah menukas kembali.
"Pengemis bintang langit adalah suheng Te dengan ciangbunjin yang telah meninggal, berhubung ia telah melanggar pertarungan maka diusir dari perkumpulan tersebut dimana kemudian ia telah menggabungkan diri dengan pihak perkumpulan Thian chee Kauw, kali ini dengan mendapat dukungan yang penuh dari perkumpulannya ia diwajibkan merebut kursi jabatan ketua Kay pang dari rekan2nya, apa tujuan mereka?? tentu saja mereka ingin menggabungkan anak murid kay pang yang tersebar disegala penjuru kolong langit itu dibawah komando Thian chee Kauw. ."
"Kalau memang pengemis bintang langit sudah diusir dari perkumpulan, apakah dia berhak menduduki jabatan sebagai pangcu?"
"Pertama, ia sudah bersiap sedia menggunakan kekerasan untuk mencapai tujuannya, dan kedua ia membawa bambu hitam milik pengemis dari selatan yang merupakan lambang tertinggi dari Kay pang, maka kesempatannya teramat besar untuk berhasil merebut kursi pangcu" .
"Hmm urusan justru terjadi dikala pengemis dari selatan sedang menderita luka ditangan malaikat berhawa Im Mo Sioe Ing, kalau tidak rencana busuk dari pengemis bintang langit Jien Jit pasti akan kocar kacir tak karuan, dengan andaikan kepandaian dari Lam kay..."
"Itu sih belum tentu "
Sela Pak ceng dengan alis berkerut, Thian chee Kauw sangat bernapsu untuk menyukseskan rencana besarnya ini, mereka tidak sayang untuk mengerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya untuk menunjang usaha Jien Jit, kejadian yang telah berlangsung hanya suatu kejadian yang kebetulan saja, membuat rencana busuk mereka dapat terwujud dengan gampang..."
"Apa yang masih aku tidak pahami adalah dari mana Yoe sim Jien bisa tahu akan duduknya persoalan itu dengan jelas??"
"Tentang soal ini mungkin hanya dia sendiri yang tahu"
"Yang bikin kepala orang pusing dan tidak habis mengerti justru adalah kemunculan si Tengkorak Maut dipantai Pek swie Tham, ia muncul disaat yang sama serta turun tangan terhadap anggota perkumpulan Kay pang???..."
"Loolap sendiripun tak habis mengerti, apa sebabnya bisa terjadi seperti ini???"
"Tiga hari kemudian pengemis dari selatan akan datang sendiri ditempat ini untuk menyelesaikan persoalan itu"
"Tentang persoalan ini Loolappun sudah mendengar dari mulut Yoe sim Jien .."
Hampir saja Han song Kie mencelat ketengah udara saking kagetnya setelah mendengar perkataan itu teriaknya dengan suara keras.
"Darimana dia bisa tau akan pesoalan ini?? ucapan itu pengemis dari selatan hanya sampaikan kepada boanpwee seorang, dari mana dia bisa tahu akan hal ini???"
"sedikitpun tidak salah peristiwa ini memang membuat orang jadi bingung dan tak habis mengerti"
"suatu hari aku pasti akan membongkar teka teki ini"
Sambil gelengkan kepalanya padri dari utara menghela napas panjang.
"Aaai... peristiwa yang menimpa perkumpulan Kay-pang kali ini, walaupun untuk sementara waktu bisa ditunda, tapi pokok persoalannya belum dapat diselesaikan sama sekali, karena pihak Thian chee Kauw secara terang2an sudah membuka kedoknya untuk mengangkangi perkumpulan tersebut, sebelum tujuan mereka tercapai jelas pihak mereka tak akan lepas tangan dengan begitu saja "
Anak murid perkumpulan Kay pang tersebar luas diseluruh kolong langit, apakah mereka tak becus semua?? ".
"Persoalan tak bisa dikatakan demikian, Kay pang adalah suatu wadah yang menyerupai sarang naga gua harimau, cukup andaikan kesembilan orang Tianglonya masing2 memiliki kepandaian silat yang maha dahsyat, tetapi pihak Thian chee Kauw yang yang berhasil pula menjaring seluruh iblis dikolong langit untuk bergabung dengan mereka bukanlah suatu pertempuran berdarah, cepat atau lambat tak bisa dihindari lagi, persoalan yang paling membingungkan hati serangan ini adalah kehadiran si Tengkorak maut yang memusuhi pula pihak Kay pang, entah perbuatan ini disertai dengan suatu maksud atau hanya secara kebetulan saja" .
"Jadi kalau begitu persoalannya hanya terletakpada si tengkorak maut??...".
"Tidak salah, karena itu walaupun sipengemis tua mengejar kemari juga tak ada gunanya" .
"Benarkah si tengkorak maut tiada tandingannya dikolong langit??"
"Dewasa ini memang demikian adanya"
Han song Kie menghembuskan napas panjang dan tidak berbicara lagi, otaknya ssgera beralih memikirkan pusaka sarung Buddha "Hoed Jiu Poo Jit"
Yang diperolehnya, asal ia berhasil menemukan sarung tangan yang sebelah lain, itu berarti ilmu see Mie sinkang akan berhasil dilatihnya...
Mendadak....
terdengar suara bantakan keras berkumandang datang dari tempat kejauhan.
Ketiga orang itu sama2 terperanjat dengan wajah serius Han siong Kie segera berkata.
"Biar aku pergi memeriksanya"
Habis berkata ia enjotkan badannya bagaikan segulung asap segera melayang kearah mana berasalnya suara tadi.
Tampaklah diatas jalan raya bayangan mausia berseliweran, bentakkan2 keras bergema tiada hentinya dari balik gerombol manusia itu...
Bagaikan sukma gentayangan tanpa menimbulkan sedikit suarapun Han siong Kie melay turun kurang lebih lima tombak dari kalangan pertempuran..
Tampaklah sesosok bayangan merah berdiri diantara kerumunan banyak orang, warna bajunya amat menusuk pandangan.
Dia bukan lain adalah kupu2 warna warni Lle In Hiang, Tongcu dari perkumpulan Thian chee Kauw atau dengan perkataan lain sebagian besar manusia yang berada disitu bukan lain adalah anggota dari perkumpulan Thian chee Kauw.
Dengan pandangan yang tajam sianak muda itu alihkan matanya dari perempuan jalang itu ke arah kalangan pertempuran, tetapi dengan cepat ia berdiri tertegun di tempat itu.
Terlihatlah olehnya delapan orang kakek tua berbaju hijau sedang bertempur sengit melawan pengemis dari selatan.
Bukankah pengemis dari selatan telah terluka di tangan malaikat berhawa Im Mie Sioe Ing???
kemudian terhajar pula oleh pengemis bintang langit Jien Jiet yang berhianat hingga menderita luka parah dan jiwanya terancam bahaya??
kenapa secara tiba2 ia bisa muncul disini dan bertempur melawan orang???, selangkah demi selangkah siong Kie berjalan mendekati kalangan pertempuran.
Tampak olehnya belasan sosok mayat menggeletak diatas tanah, jelas mereka mati ditangan pengemis dari selatan.
Han siong Kie alihkan sinar matanya ke arah lain, diantara gerombolan manusia ia jumpai seorang pengemis berusia pertengahan yang berwajah burik.
berhidung alang dan bermata tikus sedang mengawasi jalannya pertarungan dengan seksama, satu ingatan dengan cepat berkelebat didalam benaknya, ia berpikir.
"orang itu pastilah sipengemis bintang langit Jien Jiet adanya, heboh yang terjadi dalam tubuh perkumpulan Kay pang kali ini sebagian besar adalah timbul karena gara2 penghianat ini, aku harus mewakili engkoh tua untuk menghajar mati srigala ini."
Berpikir sampai disitu, badannya segera melesat ketengah udara, laksana kilat ia tubruk ke arah pengemis berusia pertengahan itu Mimpipun pengemis tadi tak pernah menyangka kalau ada orang turun tangan terhadap dirinya dikala ia sedang memperhatikan jalannya pertarungan dengan penuh perhatian, ketika mendengar ada desiran angin tajam menyambar datang ia segera berpaling untuk melihat apa yang sebenarnya telah terjadi, tapi ingatan kedua belum sempat berkelebat lewat, tahu2 urat nadi pergelangan tangannya sudah kena dicengkeram oleh orang diikuti sebuah telapak lain telah menekan diatas jalan darah Beng bun hiatnya, ia jadi mati kutu dan tak berani berkutik lagi.
suasana seketika berubah jadi gempar, semua jago yang ada disitu pada berteriak kaget dan melompat mundur ke belakang.
si kupu2 warna warni Lie In Hiang pun tak kalah kagetnya di bandingkan dengan orang lain melihat siapakah yang telah datang, ia segera menjerit lengking.
"Manusia berwajah dingin" -ooodw0kzooo BAB 10 BERHUBUNG dengan jeritan lengking dari Cie In Hiang, maka sinar mata semua orangpun dialihkan keatas wajah Han siong Kie. sampai sipengemis dari selatan serta kedelapan orang kakek berbaju hijau yang sedang bertempur seng itpun tanpa terasa sudah menghentikan pertarungannya. Manusia berwajah dingin, usianya belum mencapai dua puluh tahun, lagipula didalam dunia persilatan belum pernah mendengar disebutnya nama orang ini, maka air muka para jago lihay perkumpulan Thian chee Kauw rata2 menunjukkan kesangsian dan bingung. Dengan andalkan kepandaian silatnya, mungkin sianak muda yang masih muda belia ini berhasil menghajar Lie In Hiang si kupu2 warna warni yang menjabat sebagai pimpinan Tongcu dari perkumpulan Thian chee kauw hingga muntah darah dan hampir saja jiwanya tercabut?? kejadian ini benar2 membuat orang tak habis percaya. Didalam hati diam2 Han siong Kie merasa geli, tak disangka olehnya julukan "
Manusia berwajah dingin"
Yang diberikan saudara angkatnya secara bergurau kini mulai dikenal oleh kawanan jago Bu-lim.
Bagaimana gerangan si manusia berwajah dingin munculkan diri dan membekuk batang leher pengemis bintang langit??
tak seorang pun yang tahu.
si Pengemis bintang langit Jien Jit sendiri yang urat nadi pada pergelangan tangannya dicekal orang, sedikitpun tak berani bergerak ataupun melawan, keringat dingin sebesar kacang kedelai mengucur keluar tiada hentinya membasahi seluruh badan.
Han siong Kie melirik sekejap kearah Lie In Hiang, dengan pandangan dingin lalu tegurnya.
"Hey Lie In Hiang, sungguh tak nyana dengan begitu cepat kita telah saling berjumpa kembali" . selapis napsu membunuh melintas diatas wajah Lie In Hiang yang berubah hebat, ia tertawa dingin.
"Manusia berwajah dingin"
Sahutnya, akupun tak pernah menyangka kalau begitu cepat kau telah datang kemari untuk menghantar kematianmu."
Han siong Kie mendengus dingin ia tidak berbicara lagi. Dalam pada itu si pengemis Bintang la ngit Jien Jit sudah berteriak pula dengan suara keras.
"Manusia berwajah dingin, tahukah engkau siapakah pun Tongcu???"
"Huuuuh kau adalah si pengemis bintang langit Jien Jit yang menghianati perguruan dan murid buangan dari Kay pang, bukankah begitu???."
Sekujur badan pengemis bintang langit gemetar keras, setelah mengumpulkan kembali keberaniannya ia membentak kembali.
"Manusia berwajah dingin, apa maksudmu menangkap diriku????"
Han siong Kie mendengus dingin, ia segera menoleh ke arah pengemis dari selatan yang berdiri ter manggu2 ditengah kalangan dan bertanya.
"Engkoh tua, apa rencanamu terhadap manusia laknat ini???".
"Hmm sedari dulu ia sudah diusir dari Kay-pang, ia tidak terhitung anak murid perkumpulan kami lagi"
Sahut Pengemis dari selatan dengan penuh kegusaran "Baginya tak perlu di hukum menurut peraturan perguruan lagi, saudara cilik, terserah pada mu apa yang hendak kau lakukan, aku sipengemis tua sih tiada pendapat" .
"Kalau memang begitu, biar kumusnahkan dirinya sebagai penebus dosa atas kesalahannya terhadap Kay pang"
Pucat pias seluruh wajah pengemis bintang langit setelah mendengar ancaman itu, dengan mata terbelalak lebar dan tubuh gemetar keras teriaknya.
"Manusia berwajah dingin, kalau kau bunuh diriku maka kau sendiripun tak akan lolos dari sini dalam keadaan selamat"
"Bisa selamat atau tidak itu urusan lain, kau tak perlu menguatirkan diriku mengerti??"
Pengemis bintang langit jadi putus asa, ia segera alihkan sinar matanya yang penuh dengan belas kasihan itu ke arah delapan orang kakek berbaju hijau yang ada dikalangan.
"Manusia berwajah dingin, kau berani membunuh dirinya??"
Bentak si kupu2 warna warni Lie In Hiang dengan gusar.
"Hmmm kenapa aku tidak berani?? setelah menjagal dirinya maka giliran akan tiba pada dirimu cepat kau telah datang kemari untuk menghantar kernatianmu"
Han Siong Kie mendengus dingin ia tidak berbicara lagi. Dalam pada itu si pengemis Bintang Langit Jien Jit sudah berteriak pula dengan suara keras.
"Manusia berwajah dingin tahukah engkau siapakah Pun Tongcu???"
"Huuuuh! kau adalah si pengemis bintang langit Jien Jit yang menghianati perguruan dan murid buangan dari Kay pang bukankah begitu???"
Sekujur badan pengemis bintang langit gemetar keras setelah mengumpulkan kembali keberaniannya ia membentak kembali.
"Manusia berwajah dingin apa maksudmu menangkap diriku????"
Han Siong Kie mendengus dingin segera menoleh kearah pengemis dari selatan yang berdiri termanggu2 ditengah kalangan dan bertanya.
"Engkoh tua apa rencanamu terhadap manusia laknat ini??".
"Hmm! sedari dulu ia sudah diusir dari kay pang ia tidak terhitung anak murid perkumpulan kami lagi"
Sahut pengemis dari selatan dengan penuh kegusaran "Baginya tak perlu dihukum menurut peraturan perguruan lagi, saudara cilik, terserah pada mu apa yang hendak kau lakukan, aku sipengemis tua sih tiada pendapat " '.
"Kalau memang begitu, biar kumusnahkan dirinya sebagai penebus dosa atas kesalahannya terhadap Kay pang" . Pucat pias seluruh wajah Pengemis bintang langit setelah mendengar ancaman itu, dengan mata terbelalak lebar dan tubuh gemetar keras teriaknya . 'Manusia berwajah dingin, kalau kau bunuh diriku maka kau sendiripun tak akan lolos dari sini dalam keadaan selamat! "
"Bisa selamat atau tidak itu urusan lain, kau tak perlu menguatirkan diriku! mengerti?" . Pengemis bintang Langit jadi putus asa, ia segera alihkan sinar matanya yang penuh dengan belas kasihan itu kearah delapan orang kakek berbaju hijau yang ada dikalangan.
"Manusif berwajah dingin, kau berani membunuh dirinya??!"
Bentak si kupu2 warna warni Lie In Hiang dengan gusar.
"Hmmm! kenapa aku tidak berani?? setelah menjagal dirinya maka giliran akan tiba pada dirimu"
Air muka Lie In Hiarig seketika berobah jadi hijau membesi dengan sorot mata berapi api ia melotot kearah sianak muda itu.
Dengusan gusar segera berkumandang pula diantara kawatan jago cari perkumpulan Thian Che Kauw tujuh orang segera muncul kan diri dan mendesak kedepan mendekati tuduh Han Siong Kie.
Ketegangan dan napsu membunuh dengan cepat meliputi seluruh kalangan tersebut.
"Manusia berwajah dingin! "
Seru salah seorang diri delapan kakek berbaju hijau itu dengan suara menyeramkan "Kalau engkau berani turun tangan terhadap Jien Tongcu maka perkumpulan Kay pang akan merasa pula pembalasan dendam yang hebat dari kami darah akan berceceran menodai seluruh perkumpulan tersebut!"
Ancaman ini betul2 hebat dan seketika menggidikkan hati Han Siong Kie ia sadar bahwa perkumpulan Thian-Chee Kauw adalah perkumpulan terbesar dikolong langit dewasa ini dengan jago lihay yang amat banyak seandainya mereka melakukan pertempuran terbuka dengan pihak Kay pang maka akibatnya sukar dibayangkan dengan kata-kata.
Tetapi sebagai seorang pemuda yang berhati dingin, sekalipun berada dalam keadaan terdesak dan bingung, sikapnya diluaran masih tetap hambar dan tak pandang sebelah matapun terhadap semua orang.
Ia tak ingin mendatangkan kesulitan bagi pihak Kay pang, maka sinar matanya perlahan lahan dialihkan kearah Pengemis dari selatan maksudnya agar engkoh tuanya yang mengambil keputusan.
Dalam pada itu ketujuh orang jago lihay tersebut sudah berada dua tombak dihadapan serangan dahsyat telah siap dilancarkan Suasana jadi semakin tegang dan menyesakkan napas, semua orang merasakan hatinya berdebar keras.
Lima puluh orang lebih jago lihay dari perkumpulan Thian Chee Kauw sama2 alihkan sorot matanya menatap musuh2nya dengan tajam.
Seluruh rambut pengemis dari selatan yang berwarna keperak perakan itu sudah pada berdiri semua bagaikan kawat, kegusaran yang bergelora dalam memang sukar dikendalikan lagi, tetapi untuk beberapa waktu tak berani mengambil keputusan sebab ia tahu anggota Kay pang tersebar di mana2 seandainya pihak Thian chee Kauw sungguh melakukan pembunuhan maka akibatnya tentu hebat sekali.
Melihat musuhnya ragu2, sikakek berbaju hijau menjadi semakin bangga.
sambil tertawa seram jengeknya .
"Hey, pengemis rudin, bukankah kau adalah seorang pimpinan tiang loo dari Kay Pang, kau harus tahu bahwa mati hidup perkumpulanmu tergantung pada keputusan yang akan kau ambil" .
"Apa yang siap kalian lakukan terhadap kami??"
Hardik si pengemis dari selatan dengan mata melotot.
"Biarlah Jien Tongcu yang menjabat kursi ketua dari perkumpulan Kay-pang, maka perkumpulan kami akan hidup berdampingan secara damai dengan pihak Kay pang dalam cita2nya merajai Bu-lim serta pemimpin seluruh umat manusia yang ada dikolong langit."
Ucapan ini sangat menggusarkan hati pengemis dari selatan, sekujur badannya gemetar keras, sambil menggigit bibir teriaknya.
"Permintaanmu tak bisa kami kabulkan, kecuali kau bisa melangkahi mayat dari aku si pengemis tua"
"sekalipun kau modar belum tentu persoalan ini bisa diselesaikan".
"Hmmm kau tak usah banyak bacot lagi, pihak Kay pang kami akan berjuang menentang kekerasan Thian chee Kauw sampai di manapun juga,"
Dia kemudian kepada Han siong Kie bentaknya.
"Bunuh bangsat itu" . Serentetan teriakan ngeri yang mengerikan bulu roma berkumandang memecahkan kesunyian, si pengemis bintang langit muntah darah segar dan menggeletak mati dalam keadaan mengerikan diatas tanah. Pada saat yang bersamaan tujuh orang jago lihay serentak melancarkan pukulan dahsyat menggencet tubuh Han siong Kie, sementara delapan orang kakek berbaju hijan itu sekali lagi mengerubuti pengemis dari selatan. Dua sosok bayangan manusia berkelebat lewat dan menerjang masuk kedalam kalangan pertempuran, mereka adalah sipadri dari utara serta pengemis cilik Tonghong Hwie. seketika itu juga puluhan orang jago lihay menggerakkan tubuhnya menghadang jalan pergi padri itu, suatu pertarungan sengitpun dengan cepat berkobar. si kupu2 warna warni Lie In Hiang paling benci terhadap pengemis cilik itu, melihat kehadiran Tonghong Hwie disitu ia segera membentak nyaring dan melancarkan satu babatan dari tempat kejauhan. suatu pertempuran yang maha seru dan maha dahsyatpun segera berkobar ditempat itu, bentakan keras bergeletar memecahkan kesunyian, angin pukulan men-deru2, bayangan manusia berseliweran... Tiba2 terdengar jeritan kesakitan berkumandang diangkasa, darah segar muncrat di udara dan sesosok tubuh manusia roboh tak bernyawa lagi. Pengemis cilik Tonghong Hwie dengan andalkan ilmu kebalnya yang tahan pukulan bergebrak seru melawan si kupu2 warna warni Lie In Hiang, untuk sementara waktu sulit untuk menentukan siapa menang dan siapa kalah. Delapan orang kakek berbaju hijau yang mengerubuti sipengemis dari selatan, walau pun semuanya memiliki ilmu silat yang sangat lihay tapi berhadapan dengan jago kawakan yang sudah kenyang makan asam garam ini dibikin kewalahan juga. sebaliknya kawanan jago yang mengerubuti padri dari utara merupakan kawanan jago di bawah kedelapan orang kakek berbaju hijau itu, korban yang berjatuhan kian lama kian bertambah banyak. Di tengah pertarungan yang sedang berkobar itu ilmu silat yang dimiliki Han siong Kie boleh dikata paling tinggi dan paling hebat, ilmu pukulan Leng Koe sam sie nya betul2 hebat dan mengerikan, setiap kali serangan yang dilancarkan pasti membawa korban yang berjatuhan dalam waktu singkat empat belas sosok mayat sudah bertumpuk di hadapan tubuhnya. Kenyataan segera menunjukkan bahwa posisi Han siong Kie sekalian jauh lebih unggul daripada kekuatan lawan, bilamana beberapa orang jago lihay itu bersatu padu dan turun tangan secara berbareng niscaya semua jago lihay yang tergabung dalam perkumpulan Thian Chee Kauw bakal musnah. Mendadak... suitan nyaring yang amat memekikkan telinga berkumandang datang dari kejauhan. Disusul sebuah benda berdarah yang amat menyolok mata meluncur datang dari tengah udara dan menggeletak di tengah kalangan.
"Aaah..! tengkorak maut ."
Jeritan kaget segera bergema diseluruh penjuru, semua jago yang sedang bertempur dengan cepat menghentikan gerakannya.
Sesosok tengkorak yang belumuran darah menggeletak ditengah kalangan, suasana yang menyeramkan dan menggidikkan bati segera menyelimuti seluruh angkasa...
Pemilik dari Benteng Msut ternyata munculkan diri ditempat itu pada saat dan keadaan seperti itu, kejadian ini benar2 merupakan suatu kejadian yang sama sekali di diluar dugaan siapapun.
Tanpa sadar pengemis dari selatan, padri dari utara.
Han Siong Kie serta Tong hong Hwie bergabuog jadi satu.
Sedangkan para jago lihay dari perkumpulan Thian Chee Kauw-pun berkumpul menjadi satu.
Dalam sekejap mata suasana ditengab kalangan berubah jadi hening...sunyi sekali hingga suara napas sendiripun kedengaran nyata.
Sepasang mata semua orang dingin memancarkan sinar kaget dan ketakutan serentak ditujukan kearah tengkorak berlumuran darah yang menggeletak ditengah kalangan, hanya seorang yang terkecuali, dia adalah Han Siong Kie.
Dengan sorot mata yang memancarkan rasa benci, penuh dendam dan dilapisi napsu membunuh ia menyapu seluruh kalangan dengan pandangan tajam.
Apakah tujuan dari kemunculan sipemilik benteng maut itu??
siapapun tak tahu.
tapi mereka menyadari bahwa kemunculan siiblis yang mengerikan itu berarti ancaman kematian yang mnrggidikkan hati bagi setiap orang yang hadir di situ.
Tengkorak berlumuran darah dibawah sorot cahaya sang surya yang tajam memantulkan cahaya darah yarg mengerikan.....
Bayangan maut..kematian ...
menyelimuti seluruh kalangan.
Tiba2 Han Siong Kie mendengus dingin selangkah demi selangkah ia mendekati tengkorak berlumuran darah itu.
Tongrorg Hwie jadi amat terperanjat, ia berteriak kaget dan segera menarik ujung baju sianak muda itu sambil berseru penuh ketakutan.
"Engkoh Kie, apa ...apa yang hendak kau lakukan??" . Pengemis dari selatan serta padri dari utara dengan sorot mata yang memancarkan rasa kejut bercampur tercengang tanpa terasa dialihkan pula kearah pemuda itu. Terdengar Han siong Kie mendengus dingin, lalu jawabnya dengan nada penuh kebencian.
"Aku hendak musnahkan dulu benda yang menyebalkan hati ini."
"Jangan "
Seru pengemis diri utara hampir berbareng..
Dalam pada itu para jago dari perkumpulan Thian Chee Kauw telah selesai berunding, mereka segera membimbing yang luka dan diam2 ngeloyor pergi dari situ, dalam sekejap mata bayangan tubuh mereka sudah lenyap tak berbekas.
Di tengah kalangan hanya tertinggal puluhan sosok mayat yang bergelimpangan diatas tanah.
Sesaat sebelum tinggalkan tempat itu, si kupu2 warna warni Lie In Hiang sempat melotot sekejap kearah Hansiong Kie dengan penuh kebencian sayang sianak muda itu sama sekali tidak menoleh.
Sepeninggalnya jago2 dari perkumpulan Thian Chee Kauw, si padri dari utara segera berbisik dengan suara lirih.
"Rupanya kedatangan si pemilik dari benteng maut adalah mencari satroni dengan pihak kita."
"Darimana kau bisa tahu?"
Tanya pengemis dari selatan dengan nada tercengang.
"Sewaktu berada dikuil Boe Hoo ditepi pantai Peks wie-Than tadi beberapa orang anak murid Kay pang telah menemui ajalnya ditangan iblis ini, dan sekarang para jago lihay dari perkumpulan Thian chee Kauw berhasil meninggalkan tempat ini dalam keadaan selamat, hal ini menunjukkan bahwa tujuannya adalah terhadap kita orang" .
"Lalu apa tujuannya mencari kita???."
"Darimana aku bisa tahu???."
Tonghong Hwie rupanya merasakan pula situasi yang amat tidak menguntungkan bagi pihaknya, ia segera berseru.
"Engkoh Kie, cianpwee berdua, kenapa kita tidak lekas tinggalkan tempat ini???".
"Tak mungkin bisa lolos dari sini"
Sahut padri dari utara sambil gelengkan kepala.
Mendadak Han song Kie melepaskan diri dari cekalan Tonghong Hwie, ia segera enjotkan badannya dan meluncur kearah tengkorak berlumuran darah itu .....Lam kay serta Pak Ceng amat terperanjat menyaksikan tindakan nekat dari pemuda itu, untuk mencegah sudah tak sempat lagi, sedang Tonghong Hwie menjerit lengking dan ikut menubruk ke depan.
"Tengkorak Maut"
Terdengar Han siong Kie berteriak keras.
"Ayoh tunjukkan dirimu."
Sambil berseru telapaknya langsung diayun membabat kearah tengkorak yang menggeletak diatas tanah...
Belum sempat angin pukulan yang dilancarkan pemuda itu mengenai sasarannya, mendadak dari balik batu cadas kurang lebih lima tombak dari sisi kalangan meluncur keluar sesosok bayangan warna abu2, telapaknya segera berputar mengejar batok kepala Han siong Kie.
Merasakan datangnya ancaman, pemuda itu jadi gusar, pukulan yang ditujukan kearah tengkorak tadi segera berubah arah dan ganti membabat bayangan abu2 tadi.
Blaam..
termakan oleh angin pukulan yang maha dahsyat dari pemuda itu, gerakan luncur bayangan abu2 tadi segera tertahan sejenak.
Han Siong Kie bertambah kalap.
telapaknya berputar dan siap melancarkan sebuah serangan lagi
"Blaam."
Tiba2 menggulung datang suatu angin pukulan yang maha dahsyat menekan tubuhnya erat2.
si anak muda itu jadi terperanjat, sulit baginya untuk menghindarkan diri dari datangnya ancaman itu dalam gugupnya sang badan segera bergeser kesamping.
Tapi sayang gerakannya itu agak terlambat, angin pukulan yang maha dahsyat tadi dengan telak bersarang ditubuhnya..
pemuda itu menjerit tertahan dan tubuhnya segera mencelat kebelakang tepat terjatuh didalam pelukan Tonghong Hwie yang sedang memburu ke muka.
Lam kay serta Pak Ceng berseru kaget serentak mereka gerakan tubuhnya menubruk kemuka.
Bayangan abu2 itu mendengus dingin, perlahan2 ia maju menghampiri beberapa orang itu, dia adalah seorang manusia aneh berkerudung warna abu2 dengan perawakan tubuh yang tinggi kekar.
Se-olah2 tak pernah terjadi suatu apapun ia maju ketengah kalangan lalu menyimpan kembali tengkorak berlumuran darah yang menggeletak diatas tanah itu.
"Tengorak Maut"
Pengemis dari selatan segera menegur dengan penuh kegusaran "sebenarnya apa maksudmu datang kemari?"
"Heeeh heeeha heeeh..
"tengkorak maut tertawa seram "
Kalian berdua akan menyelesaikan dirimu sendiri, ataukah ingin menunggu sampai aku yang turun tangan sendiri."
Padri dari utara mengerutkan dahinya, ia maju kedepan dan menegur.
"Omimobud bukankah sicu telah berjanji akan rnelepaskan kami dalam keadaan hidup mengapa sekarang kau ingkar janji apa......"
"Sewaktu berada dibenteng maut tempo dulu, bukankah kau......."
Tengkorak maui tertawa seram, belum sempat padri itu menyelesaikan kata2nya ia telah menukas.
"Kau tak usah banyak bicara lagi, selamanya aku bertindak menuruti kemauanku sendiri, Hmm! siapa kesudian menggubris ingkar janji atau tidak kalian berdua lebih baik sedikitlah tahu diri dan segera bunuh diri dihadapanku."
Dalam pada itu Tonghong Hwie beberapa kali hendak maju kedepan. tetapi setiap kali memandang wajah Han Siong Kie yang berada dalam keadaan tak sadarkan diri ia selalu urungkan kembali niatnya itu.
"Tengkorak maut!"
Terdengar pengemis dari selatan membentak gusar.
"Kau toh seorang pemilik benteng maut yang terhormat, sungguh tak nyana manusia semacam kau bisa mengucapkan kata2 seperti ini.
Aku si pengemis tua serta hweesio tua itu memang sudah tua, matipun tak usah di sayangkan, tetapi kau harus terangkan dulu dengan alasan apa kau menghendaki jiwa kami berdua??"
"Alasan??? haaah.,..haaah ...haaah selama nya aku si Tengkorak maut bertindak tanpa memperdulikan alasan atau tidak!."
"Kalau begitu, silahkan kau mulai turun tangan!."
"Hmmm! jadi kau paksa aku untuk turun tangan?."
"Aku serta pengemis tua memang menyadari bahwa ilmu silat yang kami miliki terlalu cetek sekalipun harus mati ditanganmu juga tak bisa dibicarakan lagi tapi kalau suruh kami bunuh diri,....Hmm! jangan bermimpi di siang hari bolong."
Mendengar perkataan itu Tengkorak maut segera tertawa seram.
"Baik, aku akan kabulkan keinginanmu itu."
Sambil berseru selangkah demi selangkah ia mendesak maju kedepan.
"Tunggu sebentar,"
Tiba2 pengemis dari selatan berseru.
"Apa yang hendak kalian katakan lagi??"
"Apakah kedua orang bocah yang berada disitu bisa dilepaskan dalam keadaan hidup?"
Tanya pengemis itu sambil menuding ke arah Tonghong Hwie serta Han siong Kie yang berada kurang lebih tiga tombak dari situ.
"Tentang soal ini..."
Tengkorak maut termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, kemudian mengangguk.
"Baiklah"
Pengemis dari selatan segera berpaling dan serunya kepada Tonghong Hwie.
"Cepat bawa dia meninggalkan tempat ini."
Tonghong Hwie melirik sekejap kearah Tengkorak maut, tubuhnya bergetar seperti mau mengucapkan sesuatu, tapi akhirnya niat itu dibatalkan...
Melihat pengemis cilik itu masih tetap sangsi, Lam-Kay segera meloncat kepadanya sambil membentak.
"Apakah kau ingin mati bersama ditempat ini???". Tonghong Hwie jadi terkesiap.
"Loocianpwee, aku...aku..."
"Kau kenapa???"
"saudaraku telah terpukul oleh iblis tua itu, isi perutnya sudah terluka parah, andaikata tenaga dalamnya tidak sempurna sejak tadi ia sudah bakal muntah darah dan mati"
"pernahkah kau mendengar akan kekejian dari ilmu pukulan Han Pok Ciang serta Pek Yang Kang."
Belum habis sipengemis dari selatan berkata Tonghong Hwie seperti telah teringat akan sesuatu, tiba2 ia menjerit.
"Aduuuh celaka ...."
Sambil membopong tubuh Han siong Kie buru2 dia enjotkan badan dan kabut dari situ.
Memandang bayangan punggungnya yang lenyap dari pandangan, pengemis dari selatan menghela napas panjang, selangkah demi selangkah ia balik lagi ke tempat semula "Hey, bersiaplah kalian menyambut kematianmu"
Terdengar Tengkorak maut berseru sambil tertawa seram.
"Aku akan mulai turun tangan" . Wajah Lam Kay serta Pak Ceng berubah jadi murung dan diliputi kesedihan, segenap tenaga lwekang yang dimilikinya segera di himpun kedalam telapak. siap menghadapi serangan maut dari lawannya. Mereka sadar bahwa dengan kekuatan minim yang dimiliki mereka berdua masih bukan tandingan dari iblis sakti itu, tetapi mereka berdua tak mau menyerah kalah dengan begitu saja, sekalipun tahu bukan tandingan namun dengan paksakan diri mereka berusaha untuk melawan.
"Ayoh, silahkan kau mulai turun tangan"
Seru mereka berdua hampir berbareng.
Tengkorak Maut tertawa seram, per lahan2 sepasang telapaknya dikeluarkan dari balik jubah, telapak kirinya bewarna hitam pekat bagaikan tinta bak, sedang telapak kanannya putih bersih bagaikan kumala.
inilah ilmu pukulan Han Pok ciang serta Pak Yang Kang yang maha dahsyat itu.
Lam Kay serta Pak Ceng sama2 bergidik, mereka sadar bahwa kematian semakin dekat dengan mereka berdua..
Mendadak Tengkorak maut membentak keras, sepasang telapaknya bergerak cepat membabat kedepan, segulung angin pukulan berhawa panas dan segulung angin pukulan berhawa dingin segera meluncur kedepan menghamtam tubuh kedua orang jago itu.
Lam Kay seta Pak Ceng tidak ambil diam, merekapun membentak keras dan balas melancarlan sebuah babatan dengan mengerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya.
"Blaam."
Dua gulung angin pukulan saling membentur satu sama lainnya menimbulkan ledakan dahsyat yang menggeletar dimuka bumi, pasir dan debu berterbangan memenuhi seluruh angkasa, Lam Kay serta Pak ceng terdorong mundur delapan langkah kebelakang.
Darah panas terasa bergelora dalam dada masing2, namun tidak sampai membuat kedua orang itu muntah darah segar.
Pengemis dari selatan saling berpandangan sekejap dengan padri dari utara, agaknya kejadian ini jauh berbeda diluar dugaan meraka berdua, siapapun tidak menyangka kalau serangan pertama dari Tengkorak Maut ternyata tidak sedahsyat apa yang di bayangkan semula.
Belum sempat mereka berpikir panjang, tengkorak maut telah mendengus dingin.
serangan kedua telah dilancarkan lebih dahsyat lagi.
Angin pukulan bagaikan tindihan bukit Tay-san menghantam tubuh kedua orang jago itu.
Laksana kilat pengemis dari utara bergeser lima depa ke samping lalu putar badan sambil melancarkan sebuah pukulan.
Sepasang telapak Tengkorak Maut yang diluncurkan kedepan mendadak berpisah ke arah kiri serta kanan kemudian menyerang kedua orang itu dengan dahsyatnya.
Blaam Blam kembali terjadi bentrokan keras yang menggetarkan telinga, tubuh Lam Kay serta Pak ceng terpukul mundur lima langkah ke belakang, hampir saja darah segar muncrat keluar dari mulutnya.
Ditengah suitan tajam tubuh si Tengkorak maut mendesak lebih ke depan.
Laksana kilat ia menyerang sipengemis dari selatan kemudian putar badan dan melepaskan kedua serangan ke arah padri dari utara.
Dua dengusan tertahan bergema di angkasa, kedua orang jago lihay itu muntah darah dan roboh keatas tanah.
Tengkorak maut tertawa seram, dengan wajah menyeringai perlahan-lahan ia maju ke depan, selangkah dua langkah kian lama tubuh iblis tua itu semakin mendekat.
Pengemis dari selatan segera mengepos tenaga, tapi darah segar kembali muntah ke luar dari mulutnya, diam2 ia membatin.
"Habis sudah riwayat aku sipengemis tua."
Padri dari utara yang menyaksikan rekannya terancam bahaya maut dan jiwanya hampir melayang ditangan orang tak bisa berbuat apa2, sebab ia sendiripun sudah kehabisan tenaga dan tak sanggup melancarkan serangan lagi, hweesio ini sadar bahwa jiwanya sebentar lagi pasti akan menyusul rekannya, sebab gembong iblis itu tak akan melepaskan dirinya dengan begitu saja.
Maut setiap saat mengancam jiwanya setiap detik jiwanya bisa melayang tinggalkan raganya.
Ting.
Ting ..
Ting.
Mendadak dari tempit kejauhan berkumandang datang suara dentingan tongkat besi membentur tanah, suaranya nyaring dan bergetar dalam hati.
Air muka pengemis dari selatan segera berubah, sorot matanya berkilat dan rasa girang terlintas diatas wajahnya tapi hanya sebentar saja lalu lenyap kembali.
sesosok bayangan muncul dari kejauhan.
"Ting Ting"
Suara dentingan tadi kian lama kian bertambah dekat kian lama kian menggetarkan telinga...
setiap dentingan itu berbunyi, bayangan hitam itu bergerak semakin dekat hingga beberapa saat kemudian tampaklah orang yang baru saja munculkan diri itu hanya memiliki sebuah kaki.
"Pengemis tua kiranya dia yang datang kiranya betul2 dia..."
Terdengar padri dari utara berseru sambil kerutkan alisnya.
Pengemis dari selatan sendiri agaknya juga sudah melupakan keadaannya yang berbahaya serta terancam bahaya maut itu semangatnya segera berkobar kembali.
"ooooh dia adalah susiokku song Thiat Koay dia dia.... benarkah dia orang tua masih hidup dikolong langit??" . sementara itu si Tengkorak Maut telah menghentikan gerakan tubuhnya, ia tertawa ringan lalu putar badan dan kabur dari situ dalam beberapa kali enjotan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan seorang pengemis tua berkaki tunggal yang kurus kering tinggal kulit pembungkus tulang muncul dari tempat kejauhan, dalam genggamannya ia mencekal sebuah tongkat bambu yang memancarkan cahaya kilat. kepalanya tinggal ditumbuhi beberapa lembar rambut putih, sepasang matanya cekung tapi memancarkan cahaya yang menggidikkan. sambil menahan rasa sakit dibadan, sipengemis dari selatan paksakan diri untuk bangkit berdiri dan jatuhkan diri berlutut dihadapan orang itu, sapanya.
"Tio Hoei mengunjuk hormat kepida susiok." . Padri dari utarapun segera maju memberi hormat sambil menyapa pula.
"song sicu, sudah empat puluh tahun lamanya jejakmu lenyap tak berbekas, sungguh tak nyana kesehatanmu masih tetap seperti sedia kala"
Pengemis tua yang baru datang itu bukan lain adalah song Thiat Koay, paman guru dari pengemis Lam Kay, usianya sudah berada diatas seratus tahun, jejaknya pada empat puluh tahun berselang lenyap tak berbekas, sungguh tak nyana pada saat ini telah munculkan diri kembali disitu bahkan mengejutkan si Tengkorak Maut hingga kabur.
Pada empat puluh tahun berselang berhubung suatu persoalan kecil yang menyangkut perebutan nama dengan tongkat Tah Kauw Pang nya, si song Thiat Koay pernah menantang ketua dari delapan partai besar untuk bertempur seru diatas puncak gunung Thay san, alhasil dari delapan partai besar empat orang telah tewas dan empat orang terluka, peristiwa ini sangat menggemparkan dunia persilatan hingga kini masih tetap merupakan kebanggaan dari pihak Kay pang tetapi tidak lama setelah terjadinya peristiwa ini jejak pengemis tua itupun secara mendadak lenyap tak berbekas.
sementara itu dengan sorot mata yang tajam song Thiat Koay menyapu sekejap wajah Lam Kay lalu tegurnya.
"Apakah kau yang bernama Tio Hoei??"
"Betul tecu adalah Tio Hoei"
"Haahh haahhh haahhh kaupun sudah tua, untuk bertempurpun sudah tidak mampu lagi. Dimana gembong iblis itu??"
"Ketika mendengar akan kehadiran susiok ia sudah kabur dari sini"
"Hmmm ia begitu berani mengulurkan tangan iblisnya terhadap perkumpulan kami, aku song Thiat Koay tak akan mengampuni jiwanya"
"Kemunculan susiok dalam keadaan segar bugar merupakan suatu keberuntungan bagi perkumpulan Kay pang kita"
"Ehmmm sebenarnya aku tak mau mencampuri urusan keduniawian lagi tetapi di sebabkan tempat tinggalku terkena bencana alam dan longsor maka aku harus berpindah tempat, tanpa sengaja aku telah mendengar perkumpulan kita telah mengalami peristiwa besar karena itulah maka aku segera munculkan diri kembali. sekarang cepatlah kau kembali ke markas dan kembali segera pilih seorang pangcu..."
"susiok kau orang tua hendak pergi kemana???...
"Aku hendak berangkat ke Benteng Maut untuk bikin perhitungan dengan gembong iblis itu. Nah terimalah dua biji obat dan telanlah seorang satu"
Sambil berkata ia keluarkan diserahkan ketangan pengemis dari selatan kemudian..
Tiiing di tengah suara dentingan nyaring tubuhnya sudah melayang dua puluh tombak lebih dari tempat semula, dan beberapa saat kemudian bayangan tubuhnya telah lenyap tak berbekas.
Sepeninggalnya Song Thiat Koay, pengemis dari selatan dan padri dari utara saling berpandangan sekejap sambil tertawa getir, masing2 menelan sebutir pil mujarab peninggalan pengemis pincang tadi lalu duduk bersemedi diatas tanah.
seperminum teh kemudian kekuatan tubuh mereka telah pulih kembali seperti sedia kala, hal ini menunjukkan betapa mujarabnya obat tersebut.
Tiba2 terdengar Padri dari utara berseru.
"Eeei pengemis tua, aku merasa kejadian yang barusan berlangsung rada aneh dan mencurigakan" .
"Kejadian apa??" -0000000-BAB 11
"KITA toh sudah pernah menjajal sampai dimanakah kelihayan ilmu silat yang dimiliki si Tengkorak Maut, aku rasa agaknya kekuatan yang dimilikinya barusan jauh lebih lemah beberapa bagian dari apa yang pernah kita temui tempo dulu. Berulang kali ia menyatakan hendak menghabisi jiwa tua kita berdua, sudah tentu serangannya harus hebat dan mematikan, tapi dalam kenyataan ia sudah mengalah tiga gebrakan kepada kita."
"Betul, aku sipengemis tuapun mempunyai perasaan demikian"
Sahut pengemis dari selatan sambil berseru tertahan.
"ucapannya permulaan tidak sesuai dengan perkataan belakangan, bahkan nada suaranya tidak benar."
"Lagipula dengan tenaga lweekang yang dimilikinya semestinya ia sanggul untuk bergebrak melawan susiokmu, apa sebabnya sebelum bertemu dengan bayangan tubuhnya, ia sudah kabur tak berbekas??"
"Benar, kalau kau tidak mengungkapkan pun tak sampai berpikir sampai disitu, peristiwa ini benar2 mencurigakan sekali" . setelah merandek sejenak, mendadak pengemis dari selatan berseru tertahan.
"Aduuuh celaka.. saudara cilikku telah terluka oleh pukulan Im kang dari iblis tua itu, kalau lukanya tidak segera disembuhkan niscaya jiwanya akan terancam bahaya, entah pengemis cilik itu sudah membawa dirinya pergi kemana.."
"Pengemis tua, aku lihat dewasa ini lebih baik kau kembali dulu kemarkas besar perkumpulanmu untuk menyelesaikan persoalan yang sedang kau hadapi, mengenai saudara cilikmu itu biarlah aku si hweesio yang mewakili dirimu untuk mencari jejaknya sekalipun obat mujarab yang kumliki tidak sehebat obat yang kau miliki, rasanya aku masih sanggup untuk mengatasinya" .
"Baik, kalau begitu mari kita segera berangkat."
Pengemis dari selatan segera bongkokkan badan menggeledah saku dari mayat pengemis bintang langit dan ambil kembali tanda kebesaran bambu hitam yang telah direbut penghianat tersebut, kemudian bersama padri dari utara segara melakukan perjalanan.
Dalam pada itu Tong hong Hwie sambil membopong tubuh Hansiong Kie yang terluka lari menuju ketempat yang sunyi.
setelah melakukan perjalanan beberapa saat lamanya sampailah di sebuah hutan yang lebat, Tonghong Hwie segera meletakkan tubuh sianak muda itu keatas tanah dan memeriksa denyutan nadinya.
Dengan cepat ditemuinya ada delapan buah jalan darah penting dalam tubuhnya tidak tembus, andaikata jalan darah tadi tidak cepat dibebaskan dari sumbatan niscaya jiwanya bakal melayang atau paling sedikit tubuhnya akan berubah jadi cacad.
Berada dalam keadaan begini Tonghong Hwiejadi amat panik, keringat dingin mengucut keluar membasahi seluruh tubuhnya.
Hawa murni yang dimilikinya dengan cepat disalurkan kedalam tubuh pemuda itu, ia berusaha untuk melancarkan kembali jalan darah Han siong Kie yang tersumbat.
satu jam telah lewat ....
dua jam telah lewat.
seluruh pakaian yang dikenakan Tonghong Hwie telah basah kuyup oleh keringat tenaganya terasa habis diperas tetapi keadaan Han song Kie masih tetap seperti sedia kala, sadarpun tidak Pengemis cilik itu jadi lemas bercampur kuatir akhirnya tak tahan lagi ia menangis ter sedu2.
Mendadak..
sebuah tangan dengan enteng menepuk diatas bahunya.
Tonghong Hwie jadi terkejut dan berseru tertahan, ia segera meloncat bangun dan melayang satu tombak jauhnya dari tempat semula, ketika ia berpaling tampaklah seorang gadis berbaju putih yang berkerudung kain hitam bagaikan sukma gentayangan telah berdiri dihadapan Han siong Kle.
"Kau. siapa kau??".
"Yoe sim Jien"
"orang yang ada maksud ??".
"sedikitpun tidak salah"
Dengan hati tercekat Tonghong Hwie menatap wajah gadis misterius itu tanpa ragu2 mengucapkan sepatah katapun, dari mulut Han siong Kie serta padri dari utara ia pernah mendengar akan manusia misterius ini, tak nyana pada saat seperti ini orang tersebut telah munculkan diri dihbadapan mukanya.
Tampak Yoe sim Jien berjongkok dan memeriksa denyutan nadi Han song Kie, tiba2 ia berseru tertahan.
sementara itu Tonghong Hwie sedang mengharap Yoe sim Jien semoga dapat menyelamatkan selembar jiwa sianak muda itu, tapi begitu mendengar seruan tertahan orang, hatinya kontan terjelos, serunya dengan nada terperanjat.
"Keee kenapa dia??? dia... dia..."
"Delapan buah jalan darah pentingnya telah tersumbat"
"Nona kau... kau... menurut pendapatmu apakah dia masih bisa tertolong"
"Bisa... cuma . ."
"cuma kenapa???"
Tukas Tonghong Hwie dengan cepat...
"Tenaga yang kumiliki masih belum mampu untuk menolong jiwanya"
Air mata yang mengucur keluar dari kelopak mata Tonghong Hwie semakin deras, wajahnya berubah jadi amat kesal.
"Terpaksa aku.. aku harus menempuh bahaya untuk membawanya pergi".
"Pergi kemana??"
"Mencari seseorang untuk meogobati lukanya."
"Apakah kau mempunyai keyakinan di dalam dua jam orang yang hendak kau cari itu berhasil kau temukan??"
"Tentang soal ini..."
Yoe sim Jien tertawa kembali ujarnya.
"Meskipun aku tak sanggup untuk menyelamatkan jiwanya, tetapi aku bisa membawanya pergi berobat."
"Nona akan membawanya pergi kemana??"
Tanya Tonghong Hwie dengan wajah cemas.
"Eeei, kenapa?? kau merasa kuatir??"
"Bukannya kuatir, cuma... cuma..."
"Cuma merasa berat untuk meninggalkan engkoh Kie mu bukan"
Sambung Yoe sim Jien sambil tertawa cekikikan. Tonghong Hwie melengah kemudian dengan tersipu serunya.
"Nona pandai amat kau bergurau..."
"Bergurau?? aku toh mengatakan yang sesungguhnya, bukankah kau sangat mencintai dirinya ?? Hiih... hiih hiih... jangan kuatir, aku tak akan merebut engkoh Kie mu itu."
Dengan hati terkesiap Tonghong Hwie mundur dua langkah kebelakang, katanya dengan suara gemetar.
"Nona, apa yang kau katakan???"
"Aku bilang bahwa aku tak akan merebut dirinya dari tanganmu"
"saudara angkatku ini selama hidupnya tidak punya jodoh dengan kaum wanita, kalau kau bisa menaruh rasa simpatik terhadap dirimu, hal ini betul2 suatu kejadian yang aneh."
"Aaah belum tentu begitu?"
"Kalau tidak percaya, apa salahnya kalau nona mencoba??"
"oooh jadi kau merasa cemburu??"
Sekali lagi si pengemis cilik itu mundur satu langkah ke belakang, sepasang matanya terbelalak lebar2.
"Aku sama sekali tidak mengerti akan perkataan dari nona", serunya.
"Benar2 tidak mengerti atau pura2 tidak paham??"
"Nona kau tegaskan sekali lagi sebenarnya apa maksud tujuanmu."
"Menyelamatkan jiwanya ."
"Dari mana nona bisa tahu kalau ia terluka dan kau bisa tiba disini tepat pada waktunya??"
"Tentang soal ini kau tak usah tahu."
"Nona akan membawa dirinya pergi kemana??"
"Tentang soal ini kaupun tak usah tahu."
Tonghong Hwie segera tertawa dingin.
"Apakah kau rela menyaksikan dia menderita serangan panas dingin dan akhirnya mati pada dua jam kemudian??"
Seru Yoe sim Jien pula dengan suara dongkol.
"Apa?? kau telah mengetahui semuanya?"
"tahukah kau luka apa yang diderita olehnya?"
"Hmm, ilmu pukulan Han Pok ciang serta Pek Yang Kang, cuma sayang orang yang melancarkan serangan tersebut belum berhasil melatih kepandaiannya hingga mencapai puncaknya, kalau tidak sejak tadi jiwanya tentu sudah melayang meninggalkan raganya."
"Kau..kau... sebenarnya siapakah kau??"
"orang yang ada maksud?"
Tonghong Hwie adalah orang yang cerdik dan pandai menebak orang, tetapi pada saat ini dibuat melongo hingga tak sanggup mengucapkan sepatah katapun, mungkin ucapan serta tindak tanduk Yoe sim Jien telah mengejutkan hatinya hingga hatinya tergentar mungkin..
"Eeei bukankah kau yang bernama Tonghong Hwie?"
Kembali Yoe Sim Jien menegur sambil tertawa ringan.
"sedikitpun tidak salah"
"Oooh kalau begitu sepantasnya kalau aku memanggil dirimu sebagai Nona Tonghong bukan begitu???"
Saking terperanjatnya Tonghong Hwie sampai tergentar mundur ke belakang dengan sempoyongan, punggungnya menempel diatas pohon dan mulutnya melongo tanpa sepatah katapun yang diucapkan keluar.
Perkataan lawannya bagaikan guntur yang membelah bumi disiang hari bolong, membuat hatinya bergetar keras dan tercekat.
Yoa siem Jien"
Simanusia misterius ini ternyata sanggup membongkar rahasia kegadisannya dengan tepat, membuat ia jadi tertegun dan tidak habis mengerti. Kembali terdengar Yoe Sim Jien tertawa enteng, katanya.
"Nona Tonghong, waktu sudah tidak banyak lagi, kau tak usah kuatir aku tak akan menceritakan rahasia ini kepada siapa pun, termasuk engkoh Kie mu sendiri. Tetapi ada sepatah kata aku yang hendak memberitahukan kepadamu, lebih baik kau merahasiakan asal usulmu lebih ketat lagi. Nah selamat tinggal" . Selesai mengucapkan perkataan itu, ia mengempit tubuh Han Siong Kie yang tidak sadarkan diri dan berlalu dari situ. Tonghong Hwie masih tetap berdiri kaku ditempat semula, setelah rahasianya dibongkar orang, ia merasa pikirannya jadi buntu dan hatinya bergetar keras, tindak tanduk orang yang ada maksud itu betul2 membuat kepalanya jadi pusing tujuh keliling Lama... lama sekali ia baru mendusin dari impian segera jeritnya.
"Engkoh Kie"
Tubuhnya dengan cepat meluncur kearah mana lenyapnya bayangan tubuh Yoe Sim Jien tadi, tapi hutan yang lebat tetap sunyi, bayangan tubuh gadis misterius itu lenyap tak berbekas.
Ia merasa murung dan kesal...
hatinya jadi bimbang dan kacau ..
tanpa terasa air mata jatuh berlinang membasahi wajahnya.
Dengan tanpa tujuan ia berputar dalam hutan itu mencari dan mengejar secara membuta se-olah2 baru saja kehilangan suatu benda yang disayanginya, seperti orang bodoh Tonghong Hwie berputar kesana kemari.
sambil berlari telinganya mendengung tiada hentinya kata2 dari Yoe sim jien tadi.
"Bukankah kau amat mencintai dirinya??"
"Aku tak akan merebut dirinya"
"Kau tidak cemburu dan iri hati"
Suatu perasaan bergidik yang tak tahu dari mana munculnya tiba2 menyerang hatinya, ia semakin kalap dan jeritnya.
"Tidak bisa, aku tak dapat kehilangan dirinya, aku tak bisa hidup tanpa dia.."
"Nona Tonghong sedari dulu terlalu romantis akan membawa bencana bagi diri sendiri mengapa kau tidak bertindak cerdik dan memutuskan tali itu"
Serentetan suara yang dingin tapi membawa kasih sayang berkumandang dari sisi tubuhnya.
Dengan hati terperanjat Tonghong Hwie melongok kesana kemari, tetapi tiada seorang pun yang ditemukan, dari suara pembicaraan orang itu jelas dia adalah seorang perempuan tapi bukanlah Yoe Sim Jien yang barusan berlalu.
Lalu siapakah dia??
dari mana pihak lawan bisa tahu akan persoalan yang sedang dipikirkan dalam hatinya?"
Belum sempat ingatan kedua berkelebat dalam benak pengemis cilik itu, suara tadi berkumandang datang.
"Nona Tonghong, sekarang dia masih belum tahu kalau kau adalah seorang gadis, cintamu hanya sepihak lebih baik mundurlah lebih dahulu sebelum masuk jurang, kalau tidak akibatnya sungguh menakutkan sekali"
Suara itu seolah2 muncul dari tempat dekat namun dalam kenyataan jauh sekali, membuat orang sukar untuk meraba dengan tepat dari mana asalnya suara tadi.
Tanpa terasa seluruh bulu kuduk ditubuh Tonghong Hwie berdiri, tegurnya dengan suara gemetar.
"sii. .siapa ...siapa siapakah kau??".
"Aku adalah Sun Han Jin".
"siapa ??? manusia yang kehilangan sukma??"
"Benar, aku adalah si manusia yang kehilangan sukma "
Tonghong Hwie semakin ketakutan, ia merinding dan merasa hatinya tercekat. Baru saja perempuan misterius "Yoe sim Jin"
Orang yang kehilangan sukma, bahkan orang itu mengetahui begitu jelas mengenai asal usul serta seluk beluknya, ia tak percaya kalau hal ini adalah suatu kenyataan sebab peristiwa ini sangat aneh dan diluar dugaan.
Ia merasa rahasia asal usulnya belum pernah diceritakan kepada siapapun, terhadap Han siong Kie saudara angkatnya pun ia cuma mengatakan namanya saja, disamping itu iapun merasa andaikata ia tidak mengatakan kepada siapapun maka tak seorang manusia didunia kangouw akan mengetahui tentang asal usulnya.
Tapi sekarang Yoe sim Jin serta su HanJin berhasil mengetahui tentang kegadisannya, serta berhasil menebak pula dengan jitu akan rahasia hati yang sedang dipikirkan, kejadian ini membuat gadis itu tidak habis mengerti dan merasa seram.
Akhirnya sambil mengeraskan kepala ia bertanya.
"Kenapa kau dinamakan orang yang kehilangan sukma??"
"sebab aku adalah seorang manusia yang sudah kehilangan sukmaku".
"sudah kehilangan sukma bukankah itu berarti bahwa kau sudah jadi setan".
"Tidak aku masih mempunyai badan kasar dan jantungku masih berdenyut aku tetap seorang manusia"
"Kalau manusia yang sedang berbicara mengapa tau tidak unjukkan diri??"
"Aku tidak merasa berkepentingan untuk unjukkan diri"..
"Lalu barusan apa yang kau katakan??".
"Menasehati dirimu, janganlah masuk jurang secara nekad sebelum hancur total lebih baik mundur secara teratur" .
"Kau suruh aku hapus bayangan Han siong Kie dari dalam benakku?? dan tidak lagi memikirkan dirinya?" .
"Tidak. aku cuma berharap agar kau bisa menguasai rasa cintamu dengan pikiran yang sehat andaikata kau tak mau mendengarkan nasehatku, maka suatu hari kau akan hanyut dan tenggelam ditengah samudra cinta, sedang orang yang kau cinta ipun akan mengalami nasib yang sama"
"Sekujur badan Tonghong Hwie gemetar keras, dengan penuh penderitaan ia berseru.
"sebetulnya apa tujuanmu?? dalam hidupku terasa hambar tanpa kehadiran dirinya."
"Nona Tonghong, apa yang kau alami sekarang itu baru taraf pertama dari suatu penderitaan, kau harus menerimanya dengan keberanian yang paling besar. sekarang yang harus merasakan penderitaan itu hanya kau seorang, tapi dikemudian hari kalian berdualah yang akan mengalaminya bersama."
"Tapi. ..kenapa?""
"Perkawinanmu dengan dirinya akan merupakan suatu tragedi yang paling menyedihkan."
"Aku bertanya, kenapa??"
"Penjelasanku hanya bisa diberikan sampai disini saja, soal lain maaf kalau tak bisa kujawab"
"Tidak bisa aku tak dapat kehilangan dirinya"
Teriak Tonghong Hwie sambil menggertak gigi.
"Cinta adalah suatu pengorbanan bukan suatu penjajahan."
Tonghong Hwie tertegun, tiba2 sambil tertawa dingin serunya.
"Tidak salah cinta adalah pengorbanan, tetapi bukan pengorbanan yang membabi buta, kalau ucapanmu memang benar dan merupakan kenyataan, setelah menemui diriku mengapa kau tak berani unjukkan diri? dan mengapa kau tidak mengutarakan alasannya, aku menganggap kau "
Su Hun Jin"
Orang yang kehilangan sukma mempunyai maksud2 lain."
"Kukatakan kepadamu, apa yang kau harapkan tak nanti akan kulakukan"
"Dikemudian hari kau bakal menyesal."
"selamanya aku tak akan merasa menyesal."
Diluar Tonghong Hwie berkata begitu, dalam hati diam2 bergidik.
Tiba2 satu ingatan berkelebat didalam benaknya hingga membuat gadis itu tanpa terasa tercekat dan gemetar keras.
Apakah maksud ucapan yang diutarakan su Hun Jin adalah tentang soal itu??
benar, akibatnya memang mengerikan sekali..Terdengar orang yang kehilangan sukma ini menghela napas panjang, katanya.
"Nona Tonghong, kejadian yang berlangsung dikolong langit kadang kala jauh berbeda diluar dugaanmu."
"Bolehkah aku mengajukkan beberapa buah pertanyaan kepadamu??"
Tanya Tonghong Hwie kemudian dengan nada suara yang jauh lebih lembut.
"Boleh, tetapi hanya dalam batas2 lingkungan saja, aku tak akan membuat kau merasa kecewa."
"Kau mengatakan, bahwa Han Siong Kie amat membenci kaum wanita, maka kau melarang aku mengadakan hubungan dengan dirinya."
"Tidak. kau keliru"
Tukas su Han Jin dengan cepat.
"Rasa bencinya terhadap kaum wanita hanya suatu gejala yang sementara saja, tatkala penyebab dari rasa bencinya itu sudah lenyap maka ia dapat merubah pandangannya yang keliru itu, sebab dia adalah manusia yang terdiri dari darah dan daging, ia tetap memiliki perasaan benci maupun cinta"
Tonghong Hwie merasakan jantungnya berdebar keras, ia terpengaruh oleh emosi dan hatinya terasa amat tergetar, gadis itu tak berani mengajukan pertanyaan selanjutnya karena ia takut oleh jawaban yang bakal didengarkan, tapi...
akhirnya ia tak tahan dan bertanya juga.
"Apakah disebabkan karena dendam??? "
"Bukan".
"Maksudmu bukan karena soal dendam??"
Hampir saja Tonghong Hwie tidak mempercayai perkataan itu tetapi si Hun Jin telah mengulangi kembali jawabannya "Bukan soal dendam". -ooodw0kzooo-
Jilid 6 JAWABAN ini benar2 berada diluar dugaannya dengan perasaan tajamnya sebagai seorang wanita tercetus kembali satu pertanyaan dari mulutnya.
"Apakah disebabkan karena soal cinta?? ia sudah ada yang punya "
"juga bukan."
Ketegangan yang mencekam hati Tonghong Hwie mulai mengendor, tapi dengan nada bimbang dan tidak habis mengerti kembali ia bertanya .
"Lalu apa sebabnya???"
"Bukankah sudah kukatakan tadi bahwa kadangkala kejadian yang berlangsung dikolong langit jauh diluar dugaan orang"
"Jadi maksudmu kejadian ini adalah suatu kejadian diluar dugaan."
"Bukan kejadian diluar dugaan tapi sudah merupakan suatu kenyataan yang tak dapat dibantah2 lagi dan kenyataan inilah yang mungkin berada diluar dUgaanmu"
"Aku tidak percaya "
Jerit Tonghong Hwie keras2.
"Tentu saja pada saat ini kau tidak percaya, tapi menanti kau mempercayai akan kejadian ini, tragedi yang menyedihkan sudah terjadi" .
"Kau maksudkan suatu tragedi?? "
Tanya Tonghong Hwie dergan suara gemetar.
"Tidak salah, suatu tragedi yang paling mengenaskan sepanjang sejarah manusia"
"Kau.. dari mana kau bisa tahu?? "
"Aku tak akan beritahu kepadamu.. soal ini tak mungkin kuberi tahukan kepadamu"
Air muka Tonghong Hwie berkerut kencang, dengan wajah penuh penderitaan ia bergumam.
"ooooh tidak tidak mengapa?? mengapa ini musti terjadi?? tidak tak mungkin hal itu jadi kenyataan, tidak mungkin, aku tak dapat kehilangan dirinya" .
"Nona Tonghong, seandainya pada saat ini dia sudah mati diujung telapak Tengkorak Maut, bagaimanakah sikapmu??"
Tonghong Hwie tercekat setelah berdiri tertegun beberapa saat lamanya ia menjawab dengan nada sedih.
"Aku tak akan hidup seorang diri dikolong langit "
"Aaaai terkutuk"
Suara itu mendadak sirap dan lenyap tak terbekas.
"Eeeei... su Hun Jin, aku masih ada pertanyaan hendak diajukan kepadamu. su Hun Jin. ..su.Hun Jin...."
Teriak Tonghong Hwie keras keras.
Tapi tiada jawaban yang kedengaran lagi, orang yang kehilangan sukma telah pergi tanpa pamit tapi bayangannya justru sudah menanamkan suatu bayangan gelap yang paling menakutkan didasar hati kecil gadis cilik ini.
Dengan badan lemas tak bertenaga Tonghong Hwie bersandar disisi pohon, bagaikan baru saja mengalami suatu mimpi yang ngeri dan menyeramkan, ia mengenang kembali setiap patah kata dari su Hun Jin, ia membayangkan kembali kegantengan serta kegagahan saudara angkatnya Han Siong Kie ...kemudian membayangkan pula bahwa suHun Jin adalah seorang wanita, agaknya ia sejalan dengan perempuan misterius yang mengaku sebagai Yoe sim Jim.
Maka iapun mengambil kesimpulan didalam hatinya, jelas kesemuanya ini adalah suatu rencana yang paling tak tahu malu, dan jelas hendak merebut Han Siong Kie dari tangannya.
Tetapi.
..kembali muncul persoalan dalam hatinya, mengapa Yu sim Jin serta su Hun Jin bisa mengetahui rahasianya dengan begitu jelas??
disamping itu mengapa kemunculan Yu sim Jin bisa begitu kebetulan dan tepat pada saatnya untuk menolong Han Siong Kie?
suatu tanda tanya besar suatu teka teki yang diliputi misteri dan amat memusingkan kepala.
Malam yang gelap telah mencekam seluruh jagat, cahaya bintang muncul dari balik celah-celah daun memancarkan sinarnya yang redup.
Dalam keadaan begini yang dipikirkan Tonghong Hwie hanyalah engkoh Kie-nya, ia tidak memperdulikan malam yang gelap, pakaian yang robek terkait ranting dan udara yang dingin.
Gadis itu berjalan..berjalan terus untuk menemukan jejak kekasih hatinya.
Sementara itu Han Siong Kie yang terhajar luka prah oleh pukulan maut si Tengkorak Maut seketika jatuh tak sadarkan diri, ia merasa bahwa jiwanya pasti akan lenyap pada saat itu.
Menanti ia mendusin kembali dari pingsannya, pemuda itu menemukan bahwa dirinya sedang berbaring di dalam sebuah gua, rasa sakit yang menyiksa tubuhnya telah lenyap tak berbekas.
Ingatan pertama yang segera berkelebat di dalam benaknya adalah.
"Aku masih hidup!"
Sementara bau wangi yang tawar berhembus masuk ke dalam hidungnya..
Perempuan!
Oooh...kembali aku sudah ditolong oleh seorang perempuan!
Pertama kali ketika ia terhajar masuk kedalam sungai oleh Tengkorak Maut, Go Siau Bie telah menyelamatkan jiwanya, hal ini membuat hatinya sangat menderita sebab ia membenci kaum wanita tapi justru wanitalah yang telah menyelamatkan jiwanya.
Dan kini, kejadian tersebut kembali terulang!
Dengan cepat ia meloncat bangun dan bangkit berdiri....
oooOOOooo BAB 12 PADA Jarak kurang lebih beberapa tombak dimulut gua berdiri sesosok bayangan putih yang membelakangi dirinya.
Pelbagai ingatan segera berkelebat di dalam benak Han Siong Kie, akhirnya ia tak tahan dia buka suara.
"Apakah nona yang telah menolong diriku??"
"Boleh dibilang begitu, boleh dibilang pula bukan"
Jawab gadis itu dengan suara yang merdu, bahkan nada suara itu amat dikenal olehnya.
"Apa maksud ucapanmu itu?? "
Tanya Han Siong Kie dengan nada tertegun.
"Kau telah diselamatkan adik angkatmu Tonghong Hwie dari medan pertarungan, kemudian akulah yang membawa dirimu datang kemari, setelah itu seseorang yang lain mengobati luka yang kau derita"
Sepasang alis Han Siong Kie kontan berkerut, ia tidak menyangka kalau urusan itu diliputi oleh liku2 yang begitu banyak. sesudah berpikir sebentar kembali ia bertanya.
"siapakah yang dimaksudkan oleh nona?"
"Orang yang kehilangan sukma"
"Orang yang kehilangan sukma??"
Ulang pemuda itu dengan hati keheranan.
"Sedikitpun tidak salah"
"Apakah dia adalah seorang angkatan tua didalam dunia persilatan?"
"Boleh dibilang begitu"
"sekarang dimanakah tokoh sakti itu?"
"sudah berlalu sedari tadi"
"Nona, kau adalah...."
Gadis berbaju putih itu lambat2 putar badan dengan jari tangannya yang halus ia tarik kain kerudung cutihnya lebih kebawah lalu tertawa merdu dengan suara yang lengking.
"Hiihh...hiihhh... hiihhh... kau benar2 seorang pelupa bukankah kita pernah bercakap-cakap?? "
Diungkap tentang persoalan itu Han Siong Kie segera teringat kembali siapakah gerangan gadis ini, jantungnya segera berdebar keras serunya dengan penuh emosi.
"Kalau dugaanku tidak salah maka nona pastilah Yu sim Jin siorang yang ada maksud???"
"Dugaanmu tepat sekali"
Dalam hati kecil Han Siong Kie sebera muncul kembali tingkah laku Yu sim Jin yang mencurigakan itu dia ingin membuktikan serta kesangsian yang menyelimuti dalam benaknya, pertama kali ia berjumpa muka dengan gadis misterius ini yang terlihat hanyalah bayangan punggung yang samar dan didalam perjumpaannya kali ini mereka hanya dihalangi oleh selapis kain kerudung yang tipis.
Apakah cantik atau jelek raut wajah dibalik kain kerudung itu ia tak ingin menebak maupun menduga sebab dalam pandangannya perempuan adalah racun dunia ia benci dan mendendam terhadap setiap perempuan yang ada dikolong langit.
setelah hening beberapa saat lamanya, iapun bertanya kembali.
"orang yang kehilangan sukma itu pria atau wanita??".
"Wanita".
"Oooh..."
Han Siong Kie berseru tertahan, suatu perasaan yang sangat tak enak menyelimuti benaknya, untuk kedua kalinya ia telah berhutang budi bahkan berhutang budi terhadap seorang wanita.
"Darimana nona bisa tahu kalau aku terluka hingga membawa aku datang kemari untuk mendapat pengobatan dari orang yang kehilangan sukma??..."
"oooh, tentang soal ini?? dikemudian hari kaubakai tahu sendiri"
"Nona, rupanya dalam segala persoalan apapun kau tidak ingin memberitahukan kepadaku?..".
"Dikemudian hari mungkin akan kukatakan kepadamu, tapi sekarang hal itu tak mungkin kulakukan, sebab hal itu hanya akan merugikan dirimu dan sama sekali tak ada manfaatnya"
"Bukankah nona pernah menyampaikan berita tentang terjadinya penghianatan dalam tubuh Kay-pang kepada si padri dari utara?"
"Tidak salah, bahkan akupun telah menyembuhkan luka yang diderita pengemis dari selatan ketika ia menggeletak didalam kuil bobrok."
Sekarang Han Siong Kie baru mengetahui apa sebabnya luka yang diderita pengemis selatan secara tiba2 telah sembuh seperti sedia kala, tapi dengan adanya kejadian ini persoalan yang membingungkan hatinya makin menebal, hingga akhirnya tak tahan lagi ia berkata.
"Bolehkah aku mengajukan beberapa pertanyaan kepadamu??"
"Aku hanya melaksanakan tugas atas perintah orang lain, mungkin aku tak dapat banyak memberikan keterangan kepadamu."
"Kau lakukan tugas atas perintah siapa?"
"Orang yang kehilangan sukma."
"Jadi kalau begitu, semua perkataan yang nona sampaikan kepadaku tempo dulu juga atas perintah dari orang yang kehilangan sukma??"
"sedikitpun tidak salah."
"Bolehkah aku berjumpa dengan orang yang kehilangan sukma?"
"Tidak boleh"
"Kenapa??? kenapa aku tak boleh bertemu dengan orang yang kehilangan sukma??"
"Sebab belum tiba saatnya"
Han Siong Kie semakin di buat sangsi dan tuk habis mengerti sebenarnya apa hubungan antara dia dengan orang yang kehilangan sukma?
kenapa ia begitu jelas mengetahui sebala sesuatu mengenai dirinya, apakah maksud tujuannya?.
Ia merasa andaikata jejak seorang yang kehilangan sukma berhasil diketahui mungkin ia akan berhasil meraba atau mendapatkan sedikit keterangan sebab persoalan itu bisa ditanyakan kepada sipengemis dari selatan dengan pengalaman serta pengetahuannya yang luas mungkin banyak keterangan yang berhasil ia peroleh.
sesudah termenung beberapa saat lamanya maka iapun bertanya lagi.
"Tahukah nona bagaimanakah basil pertarungan antara pengemis dari selatan serta padri dari utara melawan si Tengkorak Maut"
"Tahu, mereka berhasil lolos dari lobang jarum"
"Apakah si Tengkorak Maut telah melepaskan mereka."
"Tidak kemunculan seorang dedengkot dari Kay pang secara mendadak telah mengejutkan si Tengkorak maut hingga gembong iblis itu kabur"
Han Siong Kie amat terkejut, jago lihay macam apakah dari Kay pang itu hingga si Tengkorak maut yang tersohor akan kelihayannyapun bias kabur terbirit2.
siapakah jago lihay itu??
iapun segera bertanya.
"Song chiat Koay yang telah lenyap sejak empat puluh tahun berselang, dia adalah paman guru si pengemis selatan.
"Oooh. bukankah jago lihay itu telah berusia diatas ratusan tahun??"
"Dugaanmu iitu tepat sekali"
Tiba2 satu ingatan aneh muncul didalam benaknya.
kalau memang song Thiat Koay sanggup membuat kabur si Tengkorak Maut sebelum munculkan diri, berarti tenaga lwekang yang dimilikinya tentu sangat lihay, andaikata ia dapat mengangkat dirinya sebagai guru.
sejak ia berhasil mendapatkan hawa murni yang disalurkan kura2 sakti kedalam tubuhnya lalu memperoleh pula ilmu silat peninggalan Leng Koe siangjien, seharusnya kepandaian silat yang dimilikinya sudah terhitung sangat lihay, tapi dalam kenyataan ia masih belum sanggup untuk menerima sebuah pukulan dari si Tengkorak maut.
Dari sini bisa dibayangkan kekuatan tubuh yang dimiliki manusia ampuh dari Kay pang itu pastilah sudah mencapai puncak yang tak terhingga.
Pemuda ini menyadari bahwa Yu sim Jin orang yang ada maksud tak nanti memberitahukan apa2 kepadanya, tetap berada disitu berarti cuma membuang waktu dengan percuma, ia segera mengambil keputusan untuk mencari jejak pengemis dari selatan lebih dahulu setelah itu baru mencari tahu asal-usul dari "orang yang kehilangan sukma"
Berpikir sampai disini iapun segara memberi hormat sambil berkata.
"Budi kebaikan nona akan kuingat selalu di dalam hati, nah... sampaijumpa lagi dikemudian hari."
"Kau .... kau hendak pergi?"
"Benar oooh... masih ada satu pertayaan lagi, sekarang adik angkatku Tonghong Hwie berada dimana???"
"Mungkin dia masih menunggu kedatanganmu di tepi hutan sebelah depan sana"
Han Siong Kie merasa amat terharu oleh sikap adik angkatnya Tonghong Hwie yang begitu memperhatikan dirinya, cinta kasih yang melebihi saudara sendiri ini membuat si anak muda tersebut ingin sekali cepat2 menemukan dirinya..
"saudara, tunggu sebentar"
Si orang yang ada maksud itu berseru.
"Masih ada perkataaa apa lagi yang hendak nona sampaikan kepadaku???"
"Bukankah didalam sakumu terdapat separuh dari sarung tangan Buddha Hoed Jiu Poo Jit.."
Air muka Han Siong Kie berubah hebat, dengan hati terperanjat ia mundur satu langkah ke belakang, bentaknya.
"Dari mana kau dapatkan benda mustika itu??? "
"Kau ingin berbuat apa??".
"Tak usah tebang dan jangan kuatir kalau aku ada maksud menginginkan benda itu, sewaktu kau masih tak sadarkan diri tadi benda tersebut telah kudapatkan. Ketika si orang yang kehilangan sukma sedang mengobati lukamu tadi, secara kebetulan saja ia menemukan bahwa kau membawa benda mustika dari dunia persilatan"
"Kalau memang begitu kuberitahukan kepadamu, benda itu adalah hadiah dari mendiang guruku"
"Siapakah gurumu???"
"Tentang soal ini maaf kalau aku tak dapat memberitahukan kepadamu"
"Baiklah kalau kau tidak ingin mengatakan, akupun tak akan memaksa. Cuma ada satu hal yang hendak kukatakan kepadamu, janganlah membiarkan benda mustika itu diketahui oleh orang Bu lim, sebab hal itu akan memancing datangnya pertikaian didalam dunia persilatan"
"Kalau nona tidak mengatakan kepada orang lain, tentu saja tak seorangpun yang akan mengetahui akan peristiwa ini"
"Orang yang kehilangan sukma suruh aku menyampaikan pula sepatah kata kepadamu"
"Apa yang dia katakan??? "Dia minta kau segera pergi mengunjungi pemilik dari Benteng maut"
"Apa?? dia suruh aku pergi ke benteng Maut?? Orang yang ada maksud mengangguk tanda membenarkan.
"Bukankah nona pernah menyampaikan pesan kepadaku, bahwa ia melarang aku menuntut balas benteng maut ??"
Seru Han Siong Kie "Aku bukan maksudkan menuntut balas, ia minta kau pergi berkunjung kepada pemilik Benteng Maut"
"Berkunjung sih pasti akan kulakukan, cuma tidak akan kulakukan pada saat ini."
"Kenapa?? "
"Aku harus menanti sampai aku memiliki kekuatan untuk menghancurkan benteng Maut, saat itulah aku pasti akan pergi kesana"
"Ia minta kau sekarang juga pergi berkunjung kesitu, kunjunganmu akan mendatangkan manfaat yang besar bagi usahamu untuk membalas dendam" .
"Apakah ia memberikan penjelasan2nya?"
"Tidak"
"Kalau begitu maaf, aku tak bisa menuruti keinginanmu itu."
"Tahukah kau bahwa orang yang terlalu keras kepala akan mengakibatkan suatu mala petaka bagi dirimu sendiri"
"Selamanya aku melakukan pekerjaan menuruti keinginan hatiku, orang lain tak usah terlalu pusing kepala memikirkan diriku"
Seru Han Siong Kie dengan suara dingin, habis berkata ia enjotkan badan dan menerobos keluar lewat sisi tubuh orang yang ada maksud yang sedang berdiri di mulut gua.
"Budi kebaikan atas pertolongan yang telah kau berikan kepadaku suatu ketika aku pasti akan membalasnya"
Dengan gerakan tubuh yang sangat cepat laksana kilat ia berlalu dari situ.
"Heei...Han Sionng Kie"
Teriak orang yang ada maksud dengan suara keras.
"Aku masih ada perkataan yang hendak kusampaikan kepadamu Han Siong Kie, kau jangan pergi dulu"
Tapi anak muda itu tetap tidak menggubris, tububnya semakin cepat meluncur kearah hutan tidakjauh dari situ.
Dalam hutan disisi sebuah pohon besar duduk melingkar bayangan manusia yang kecil mungil, Han Siong Kie yang melihat bayangan tubuh itu hatinya segera bergerak tubuhnya semakin cepat berkelebat menuju ke arah itu.
Tampaklah Tonghong Hwie adik angkatnya duduk bersandar dipohon dengan mata terpejam rapat, titisan darah kental masih menodai ujung bibirnya...
Han Siong Kie amat terperanjat buru2 ia berjongkok kesisi tubuhnya sambil berseru dengan nada kuatir.
"Adik Hwie... adik Hwie... kenapa kau?"
Mendengar teriakan itu Tonghong Hwie membuka matanya kembali setelah mengetahui siapakah yang berdiri dihadapannya ia jadi sangat kegirangan.
"Engkoh Kie, akhirnya engkau kembali juga ke sisiku, aku mengira selamanya tak akan bertemu lagi dengan diri mu.."
"Apa??? kau bilang apa???..."
"Apakah luka yang kau derita telah sembuh??"
"sudah, aku telah sehat kembali seperti sedia kala"
"Apakah si orang yang ada maksud yang telah menyembuhkan lukamu?."
"Bukan, si orang yang kehilangan sukma yang telah mengobati lukaku"
"Apa??? orang kehilangan sukma??"
Jerit Tonghong Hwie amat terkejut. Tiba2 ia menyadari akan kekhilapannya hingga tak sanggup membendung golakan dalam hatinya, cepat pengemis cilik ini berusaha untuk menenangkan hatinya.
"Dia...dia... apa yang telah dia katakan kepadamu?"
Tanyanya kembali setelah merandek beberapa saat.
"Tidak. aku sama sekali tidak bertemu dengan dirinya, bahkan bayangan tubuhnyapun tak sempat kulihat. orang yang ada maksudlah yang telah mengatakan kepadaku."
"Ooooh..."
Sampai disini Tonghong Hwie baru dapat menghembuskan napas lega.
"Adik Hwie, apakah kau kenal dengan orang kehilangan sukma??"
Mendadak Han Siong Kie bertanya.
"Tidak... tidak kee.. kenal. cuma. cuma..."
Teringat akan perkataan yang telah disampaikan orang yang kehilangan sukma kepadanya, tanpa terasa seluruh bulu kuduk di tubuh Tonghong Hwie pada bangun berdiri, ia tak berani mengingatnya kembali sebab gadis ini merasa ngeri terhadap akibatnya.
sementara itu Han Siong Kie yang melihat sikap Tonghong Hwie yang gelagapan dan tidak tenang jadi tercengang bercampur keheranan, buru2 serunya.
"Adik Hwie, cuma apa???"
"Tidak apa2, setelah kau dibawa pergi orang yang ada maksud, ia telah menyampaikan pesan kepadaku agar tetap menanti dirimu disini tanpa menunjukkan dirinya, karena itu aku sendiripun tak tahu macam apakah manusia yang menyebut dirinya sebagai orang yang kehilangan sukma itu."
Mendadak pemuda itu teringat kembali akan darah kental yang menodai bibir adik angkatnya itu, ia lantas bertanya.
"ooh adik Hwie, apakah kau terluka?"
Tonghong Hwie mengangguk.
"Kau terluka ditangan siapa?? kembali pemuda itu bertanya.
"Malaikat berhawa dingin Mo siu Ing"
"Apa?? kau dilukai oleh si malaikat berhawa dingin Mo siu Ing?? seru Han Siong Kie terperanjat.
"Benar...".
"Hmm suatu hari aku pasti akan menghajar dirinya sampai muntah darah untuk melampiaskan rasa sakit hatimu, kemudian akan kubunuh dirinya guna membasmi bibit bencana dari muka bumi"
Tonghong Hwie tersenyum.
"Engkoh Kie, apakah kau sanggup menangkan dirinya??"
Ia bertanya. Mula2 Han Siong Kie tertegun, lalu dengan alis berkerut jawabnya.
"Pokoknya suatu saat aku pasti akan berhasil oooh... benar, adik Hwie."
"Aku sudah beberapa kali menyaksikan kau bertarung melawan orang, pukulan telapak maupun tusukan senjata sama sekali tak dapat melukai dirimu, sebenarnya ilmu silat sakti apakah yang kau miliki?"
"Tentang soal itu... aku... aku.."
Bicara sampai disitu ia segera menyingkap pakaiannya yang robek hingga nampak kaos putih yang berada dibalik bajunya.
"Aku telah andalkan benda inilah hingga kebal terhadap pukulan maupun tusukan senjata"
"Benda apa sih itu?? "
"Kaos mustika pelindung badan tapi jangan kau katakan kepada siapapun lho kalau aku memiliki benda mustika ini"
"Aduuh aku hendak mengatakan kepada siapa?? lalu apakah kaos mustika pelindung badan itu mempunyai kegunaan yang lebih besar ?"
"Tentu saja "
Jawab Tonghong Hwie sambit tersenyum.
"Aah kau sedang membohongi diriku?? "
"Tidak dari mana kau bisa mengatakan begitu ??"
"Aku memang memiliki kaos mustika pelindung badan, mengapa saat itu kau bisa terluka ditangan si Malaikat berhawa dingin Mo siu Ing??"
"Ooooh, kiranya soal itu, kau musti tahu bahwa tenaga dalam yang ia miliki sangat lihay sekalipun kaus mustika pelindung badan yang kumiliki dapat kebal terhadap pukulan maupun tusukan senjata tetapi kegunaannya pun ada batasnya, andaikata aku bertemu dengan orang yang memiliki senjata mustika atau orang mememiliki tenaga dalam yang amat sempurna tentu lain ceritanya tetapi bicara sesungguhnya andaikata aku tidak andalkan kaus mustika pelindung badan ini mungkin sedari tadi jiwaku telah melayang diujung telapak si Malaikat berhawa dingin"
"Aku dengar katanya si Malaikat berhawa dingin Mo siu Ing selamanya cuma bergebrak sebanyak tiga jurus saja melawan orang lain, bilamana lawannya sanggup menerima tiga buah pukulannya tanpa menemui ajalnya itu berarti bahwa ia telah lolos dari malaikat elmaut??"
"Tidak salah, dan akupun sanggup menerima tiga buah pukulannya"
"Apakah kau ada permusuhan dengan dirinya?? kenapa ia turun tangan terhadap dirimu???"
"Setiap tahun si Malaikat hawa dingin pasti satu kali munculkan diri didalam dunia persilatan, ia baru akan berhenti membunuh bila korbannya telah mencapai seratus orang, setiap orang Bu lim yang berjumpa dengan dirinya berarti maut baginya"
Sambil berkata Tonghong Hwie berusaha untuk bangkit berdiri, tetapi baru saja tubuh bagian atasnya di angkat separuh ia sudah menjerit kesakitan dan berbaring kembali diatas tanah.
Han Siong Kie yang menyaksikan kejadian itu jadi kaget, buru2 serunya.
"Adik Hwie, biarlah aku periksa dulu keadaan lukamu kemudian baru kubantu dirimu untuk menyembuhkan luka dalammu itu"
Sambil berkata tangannya segera bekerja hendak melepaskan pakaian yang dikenakan Tonghong Hwie. Gadis itu jadi panik, buru2 ia halangi tangan Han Siong Kie sambil katanya "Tak usah Tak usah ....."
"Heei.. adik Hwie, apa maksudmu?? tanya Han Siong Kie dengan wajah tertegun. Tonghong Hwie tertawa jengah, dengan ter sipu2 katanya.
"Aku mempunyai kepandaian untuk menyembuhkan lukaku sendiri.."
"Tapi tiada halangan toh kalau kuperiksa dulu keadaan lukamu itu?? memangnya kau adalah seorang gadis."
"Tidak"
Seru Tonghong Hwie.
Ucapan ini sangat menyakitkan hatinya, membuat jantungnya berdebar keras dan wajahnya berubah jadi merah padam tapi berhubung gadis itu memakai obat penyaru yang tebal lagipula tertutup oleh lemak maka perubahan wajahnya ini tidak sampai di ketahui oleh Han Siong Kie.
sebenarnya gadis ini bersifat polos dan supel, ia pandai bergaul dan pandangannya luas.
sejak bergaul dengan Han Siong Kie sikapnya semakin bebas dan tidak terhadang oleh sesuatu ganjalan apapun.
Tapi sejak rahasia kegadisannya dipecahkan oleh orang yang ada maksud, lalu "orang yang kehilangan sukma"
Pun mengatakan macam2, hal itu membuat sifatnya sama sekali berubah, perasaannya jadi amat halus dan mudah tersinggung.
Tentu saja pada saat ini ia tak dapat membocorkan rahasianya, sebab Han Siong Kie amat membenci kaum wanita, andaikata pemuda itu mengetahui bahwa dia adalah seorang gadis mungkin saja ia akan kabur dari sisinya..Bila hal ini sampai terjadi maka ia akan sangat menderita, pikirannya akan tersiksa, sebab sejak pertemuannya pertama kali gadis ini telah jatuh cinta kepadanya, ia telah mengambil keputusan untuk mempersembahkan dirinya untuk pemuda itu.
Tetapi, bayangan gelap lain yang amat menakutkan selalu menyelubungi hatinya, ucapan dari "
Orang yang kehilangan sukma masih mendengung terus disisi telinganya.
"Kau harus tahu diri dan mundur teratur sebelum terjerumus kedalam jurang kehancuran,selamanya terlalu romantis banyak akan mendatangkan penyesalan."
"Kenapa???"
Tanpa sadar ia berseru keras. Han Siong Kie jadi melongo, ia segera menatap wajah adik angkatnya sambil bertanya dengan nada tercengang.
"Adik Hwie apa yang kau katakan??"
"oooh tidak apa2."
Sahut Tonghong Hwie terpatah-patah "sekarang aku akan mulai menyembuhkan luka dalamku dengan simhoat ajaran perguruanku, tolong kau suka melindungi keselamatanku."
"Mari biar kubantu dengan begitu bukankah kau tidak akan terlalu payah..???"
"Tidak bisa jadi, andaikata ada orang datang kemari, bukankah kemudian kita bakal celaka??"
Han Siong Kie tidak bisa berkata lagi, terpaksa ia mengangguk.
sambil menggertak gigi Tonghong Hwie sebera bangkit dan duduk bersila, kemudian ia salurkan hawa murninya mengelilingi seluruh badan untuk menyembuhkan luka yang sedang dideritanya.
Dengan tenang Han Siong Kie duduk menanti disamping, bayangan tubuh "orang yang ada maksud"
Gadis misterius itu terlintas kembali semua perkataan yang telah dia sampaikan "orang yang ada maksud"
Kepadanya, tetapi semakin dipikir ia merasa semakin bingung dan tak habis mengerti.
"Orang yang ada maksud mengatakan, bahwa ia mendapat perintah dari orang yang Kehilangan sukma, untuk menyampaikan kata2 itu kepadanya, berarti persoalan "orang yang kehilangan sukma, tapi "su Hun Jin"
Suatu nama yang sangat aneh, siapakah dia??
Mengapa ia mengetahui seggla sesuatu mengenai dirinya dengan begitu jelas??
Mengapa orang itu secara sukarela datang mengobati luka yang sedang ia derita.
Mengapa orang itu selalu memperingatkan dirinya agar jangan menuntut balas terhadap Pemilik dari Benteng Maut.
Mengapa secara tiba2 ia minta dirinya pergi mengunjungi s ipemilik dari Benteng Maut??"
Sebenarnya apa latar belakang dari kesemuanya ini???
Semuanya merupakan tanda tanya yang besar baginya, teka teki yang memusingkan kepalanya.
Sementara Han Siong Kie masih termenung memikirkan persoalan itu, tiba2...
sreet sreet suara langkah kaki manusia berkumandang dari tempat kejauhan.
si anak muda itu segera tersentak bangun dari lamunannya, dengan sorot mata yang tajam ia awasi arah dimana berasalnya suara itu, tapi hutan tersebut terlalu lebat, sulit baginya untuk dilihat.
Kian lama suara langkah manusia itu kian mendekat.
Han Siong Kie segera bangkit berdiri, tapi ketika dilihatnya dari ubun2 Tonghong Hwie mulai mengepulkan asap putih yang berarti semedinya telah mencapai pada puncaknya.
ia segera batalkan niatnya untuk menengok asal mulanya suara tadi.
"Keparat cilik itu sudah terluka parah dan keadaannya payah sekali, setelah dibawa kabur oleh pengemis cilik itu jejaknya mendadak lenyap tak berbekas, padahal semua kantor cabang telah diperintahkan untuk melakukan penjagaan, masa ia bisa terbang ke langit."
"Aaah kebanyakan orang itu bersembunyi didalam hutan."
"Tapi kita toh sudah setengah harian lamanya melakukan pencarian tanpa hasil??"
"Baik atau buruk lebih baik kita geledah dulu seluruh hutan ini, kemudian baru pulang memberi laporan"
"Si manusia berwajah dingin telah membinasakan Jin Tongcu serta menggagalkan rencana kita .."
Dari pembicaraan tersebut Han Siong Kie segera mengenali sebagai suara dari antek2 perkumpulan Thian chee Kauw, lagi pula kedatangan mereka untuk menggeledah hutan dan mencari adik angkatnya, napsu membunuh seketika bergelora dalam tubuhnya ia berpikir.
"Sewaktu aku terluka di tangan Tengkorak Maut bukankah para jago lihay dari perkumpulan Thian chee Kauw telah berlalu, dari mana mereka bisa tahu akan terjadinya ini.
sreeet sreeet sreeeet suara langkah kaki manusia kian lama bergerak kian mendekat, jaraknya tinggal sepuluh tombak dari tempat semula dan secara lapat2 dari kerumunan hutan nampak bayangan manusia bergerak mendekat.
satu ingatan berkelebat dalam benak pemuda she Han itu pikirnya.
"Aku tak boleh membiarkan mereka mendekati sekitar ini, adik Hwie tak boleh terganggu konsentrasinya hingga buyar..."
Begitu teringat sampai disitu, badannya segera siap meloncat keluar dari tempat persembunyiannya .
Mendadak..
terdengar suara jeritan lengking yang ngeri dan menyayatkan hati berkumandang memenuhi seluruh angkasa, membuat siapapun yang mendengar jadi ikut bergidik dan bulu romanya pada bangun berdiri satu jeritan disusul oleh jeritan yang lain, bergema saling susul menyusul hingga sepuluh kali banyaknya..
kemudian suasana pulih kembali dalam kesunyian serta keheningan yang mencekam..
Han Siong Kie merasa amat terperanjat, cepat2 ia enjotkan badannya meluncur ke arah mana berasalnya suara jeritan ngeri tadi..
Tapi metelah melihat pemandangan yang terbentang dihadapannya, pemuda itu tertegun dan untuk beberapa saat lamanya tak sanggup mengucapkan sepatah katapun -0000000-BAB 13 TAMPAKLAH empat belas sosok mayat menggeletak malang melintang diatas permukaan tanah, keadaan mayat2 tersebut mengerikan sekali pada ubun2 masing2 korban nampaklah beras cengkeraman yang menghancurkan isi benak, ada yang menggeletak diatas genangan darah, ada pula yang bercampur baur dengan isi otak yang berhamburan di atas permukaan, keadaannya sangat menyeramkan hingga membuat pemuda kita jadi ngeri dan tercekat hatinya.
Lama sekali Han Siong Kie tertegun gumamnya seorang diri.
"Aaaah.. malaikat berhawa dingin Mo siu Ing pastilah perbuatannya.."
Dalam benaknya segera terlintas kembali pemandangan ngeri dihutan bunga Tho yang pernah dijumpainya belum lama berselang.
Membunuh orang begini kejam boleh dibilang sangat brutal dan melanggar perikemanusiaan..Para jago lihay dari perkumpulan Thian chee Kauw sebenarnya datang kehutan ini untuk mencari serta meringkus Tonghong Hwie bersama dirinya, siapa tahu mereka sudah dibunuh duluan oleh malaikat berhawa dingin.
Yang lebih aneh lagi ternyata tak nampak bayangan tubuh malaikat berhawa dingin Mo Siu Ing muncul ditempat itu, padahal jaraknya dengan tempat kejadian cuma terpaut sepuluh tombak belaka, tidak mungkin kalau jejaknya tak ketahuan olehnya.
Dengan kekejian serta ketelengasan perempuan itu masa ia bisa dilepaskan begitu saja, suatu kejadian yang tak masuk diakal.
Mendadak kembali terdengar desiran angin tajam menyambar datang memecah angkasa.
Han Siong Kie terkesiap dan segera menghimpun hawa murninya siap menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan Sreeeet Sreeett Sreeet empat sosok bayangan hijau dengan kecepatan yang sukar dilukiskan dengan kata 2 melayang turun di tengah kalangan mereka bukan lain adalah empat orang diantara kakek tua berbaju hijau dari perkumpulan Thian chee Kauw yang belum lama berselang mengerubuti saudara angkatnya pengemis dari selatan.
Air muka Han Siong Kie seketika berubah jadi dingin membeku dengan sorot mata memancarkan cahaya buas ia tatap wajah ke empat orang kakek berbaju hijau itu tajam tajam.
Sementara itu ke empat orang kakek berbaju Hijau tadi sudah menyapu sekejap mayat mayat yang bergelimpangan diatas tanah kemudian sama2 menjerit kaget wajah mereka unjukkan rasa ngeri dan keder yang hebat.
Beberapa saat kemudian salah satu diantara ke empat orang kakek itu tiba2 menuding kearah Han Siong Kie sambil berseru.
"Manusia berwajah dingin sungguh tak kusangka kau adalah ahli waris dari malaikat berhawa dingin Mo siu Ing"
Han Siong Kie melengak tapi dengan cepat ia dapat memahami maksud ucapan pihak lawan, pastilah keempat orang kakek itu menaruh curiga bahwa dialah yang telah turun tangan keji membasmi anak buahnya.
Dengan nada ketus ia segera bertanya.
"Apa katamu??"
"Sungguh brutal dan kejam perbuatanmu tak nyana hatimu sekeji serigala.."
"Oooh, ulangi sekali lagi perkataanmu itu, kubacok kalian sampai modar.."
Keempat orang kakak berbaju hijau tadi serentak mendengus gusar, dengan tangkas mereka menyebarkan diri ke empat penjuru dan masing2 menempati satu posisi untuk mengepung si anak muda itu di tengah kalangan.
Terdengar si kakek berwajah segi tiga tadi berkata kembali.
"manusia berwajah dingin, hutang darah yang telah kau perbuatan pada hari ini..."
"Kentut busuk makmu"
Tukas Han Siong Kie sangat marah.
"Pentang mata kalian lebar2 dan periksa dulu dengan jelas, siapa yang telah melakukan pembunuhan keji ini"
"Hmm kecuali kau, masa ada oraag lain yang mampu melakukan pembunuhan semacam ini??"
"Oooh, jadi kau bersikeras menuduh akulah yang telah menjagal cecunguk itu?"
"Bagus sekali kalau sudah berani membunuh orang, kenapa musti takut untuk mengakuinya"
Saking gusar dan mendongkolnya Han Siong Kie mendongak dan tertawa terbahak-bahak.
"Haah haah....haah... kalau begitu anggap saja memang akulah yang melakukan pembunuhan itu, kalian mau apa??"
"Hutang darah bayar darah. Hutang nyawa bayar nyawa serahkan jiwa anjingmu"
"Huuh kalau memang kalian sudah bosan hidup, ayoh majulah berbareng..."
Kakek berwajah segi tiga itu membentak keras, sepasang telapaknya diayun kedepan secara berbareng, dua gulung angin pukulan yang maha dahsyat segera meluncur kearah depan.
Han Siong Kie menyadari bahwa kekuatan hawa murni yang dimiliki ke empat orang kakek berbaju hijau ini rata2 jauh lebih besar daripada sikupu2 warna warni Lie In Hiang, dalam dunia persiatan mereka biasa dianggap sebagai jago lihay kelas satu.
Maka dari itu melihat datangnya ancaman, pemuda she Han tak berani bertindak gegabah, dia segera menghimpun delapan bagian hawa murninya, sambil membentak keras.
"Bangsat ? kau memang sudah bosan hidup "
Angin cukulan bagaikan gulungan ombak ditengah hembusan badai menggulung kedepan menyambut datangnva ancaman tersebut.
"Blaaam.
ditengah ledakan dahsyat suara dengusan berat berpekik membumbung di tengah angkasa, dengan wajah pucat pias kakek berwajah segitiga itu mundur ke belakang dengan sempoyongan ....
Hampir pada saat yang bersamaan tiga gulung angin pukulan yang sangat mengerikan laksana guntur yang membelah angkasa meluncur ke depan dan mengancam tubuh pemuda itu dari tiga arah yang berbeda..
Rupanya sejak semula Han Siong Kie telah menduga kalau pihak musuh pasti akan turun tangan secara berbareng, karena itu sehabis memukul mundur si kakek berwajah segitiga, bagaikan sukma gentayangan dengan tangkas ia berkelit ke samping dan berdiri di tempat kakek berwajah segitiga tadi berada.
Tindakan yang sama sekali tak terduga ini membuat ketiga orang musuhnya jadi melongo, angin pukulan yang dilancarkan secara berbareng itupun segera mengenai sasaran kosong.
Han Siong Kie tidak berpeluk tangan belaka bersamaan dengan gerakan tubuhnya yang berkelit kesamping, sebuah pukulan yang maha dahsyat sekali lagi dilancarkan kearah depan.
Blaam....
kembali terdengar dengusan tajam berpckik di angkasa, kakek berbaju hijau yang tepat berada dihadapannya sebelum sempat tarik kembali pukulannya sudah termakan oleh dorongan angin puyuh yang melanda datang dari arah depan, tidak ampun lagi tubuhnya mencelat sejauh delapan depa kebelakang, darah segar muncrat keluar dari mulutnya, jelas ia sudah menderita luka dalam yang amat parah.
Menyaksikan kejadian ini, dua orang kakek yang lain jadi ngeri dan tercekat hatinya, dari serangan yang dilancarkan barusan mereka sudah tahu bahwa tenaga dalam yang dimiliki Manusia berwajah dingin jauh lebih tinggi satu tingkat daripada kekuatan dari pengemis Lam Kay.
Untuk beberapa saat lamanya mereka tak berani berkutik, apalagi turun tangan secara gegabah.
Pada dasarnya Han Siong Kie sudah menaruh rasa sentimen dan bencinya terhadap perkumpulan Thian chee Kauw, karena ibunya si siang Go cantik ong cui Ing telah kawin lagi dengan Thian chee Kauwcu ditambah pula rencana busuk mereka untuk mengangkangi perkumpulan Kay pang, membuat kebenciannya makin lama semakin menebal.
Dalam keadaan begini ia tak sudi mengampuni kedua orang korbannya, dengan kemarahan yang memuncak ia membentak keras.
"Kalian berduapun harus menerima sedikit pelajaran, agar di kemudian hari bisa tahu membawa diri"
Ditengah bentakan nyaring, sepasang telapaknya dibabat ke depan secara berbareng, secara terpisah dua gulung desiran tajam itu menyerang kedua orang kakek baju hijau itu.
Melihat datangnya ancaman yang demikian dahsyatnya, kedua orang kakek baju hijau itu tak berani menyambut dengan keras lawan keras...
sreet.
masing2 orang bergeser delapan depa ke arah samping, kemudian putar badan dan balas menyerang dari arah kiri dan kanan.
"Blaam Blaam"
Dua benturan keras bergeletar ditengah angkasa, kedua orang kakek itu sama2 terpukul mundur sejauh satu tombak lebih, keringat dingin mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya.
Han Siong Kie putar badan menubruk ke arah si kakek yang ada di sebelah kiri, jurus pertama dari ilmu pukulan kura2 sakti laksana kilat dilancarkan...
"Modar kau"
Ditengah jeritan ngeri yang memekikkan telinga, kakek baju hijau yang berada di sebelah kiri sebera menggeletak ke atas tanah.
Kakek baja hijau yang ada di sebelah kanan jadi ketakutan setengah mati, ia merasakan sukmanya se akan2 terlepas dari raganya.
Dengan sebat Han Siong Kie putar badan ganti menyerang kakek baju hijau yang berada di sebelah kanan, jurus kedua dari ilmu pukulan kura2 sakti kembali dilancarkan.
"Blaam.."
Ditengah benturan keras terselip jeritan ngeri karena kesakitan, sebelum kakek baju hijau itu sempat melihat jelas dengan cara apakah pihak lawanya turun tangan, tahu2 badannya sudah mencelat ke belakang sejauh satu tombak lebih.
Tidak ampun ia muntah darah segar Dalam waktu singkat ke empat orang kakek baju hijau itu telah diberesi oleh Han Siong Kle dengan gampang, hal ini membuat mereka jadi keder dan tak berani banyak bertingkah lagi.
Terdengar si kakek berwajah segi tiga berseru dengan wajah menyeringai seram.
"Manusia berwajah dingin, suatu ketika perkumpulan kami akan menuntut balas sakit hati ini kepada kalian guru dan murid"
Dengan gusar Han Siong Kie mendengus.
"Hmm kalau kau berani menjejerkan lagi namaku dengan si malaikat berwajah dingin, saat ini juga aku akan bereskan kalian berempat hingga menggeletak di atas genangan darah"
Tiba2... serentetan suara yang dingin dan merdu berkumandang datang dari arah belakang.
"Manusia berwajah dingin, apakah nama dari malaikat berhawa dingin Mo siu Ing terlalu memalukan dirimu"
Han Siong Kie amat terkejut ketika mendengar seruan itu dengan cepat ia berpaling ke belakang kemudian dengan kaget mundur dua langkah lebar kebelakang.
Pada jarak kurang lebih dua tombak dihadapannya berdirilah seorang perempuan cantik berusia setengah baya, begitu cantik raut wajah perempuan itu bagaikan bunga botan yang sedang mekar, ketika itu ia sedang memandang kearahnya dengan senyum dikulum.
Terhadap kaum wanita boleh dibilang pemuda ini merasa mang kesal dan benci, tetapi kecantikan wajah perempuan itu cukup membuat jantungnya berdebar keras dan wajahnya bersemu merah.
Wajahnya terlalu cantik dipandang, begitu cantik bagaikan bidadari yang baru turun dari kahyangan, terutama sekali sepasang biji matanya yang bening dan jeli sungguh menawan hati.
siapakah perempuan ini???
Betapa lihaynya orang ini, ternyata ia sanggup mendekati tubuhnya hingga jarak dua tombak tanpa dirasakan olehnya.
Sementara itu dengan wajah pucat pias bagaikan mayat, keempat orang kakek berbaju hijau itu melingkari disisi kalangan dengan penuh ketakutan, tubuh mereka nampak agak menggigil menahan perasaan hatinya.
Perempuan cantik berusia setengah baya itu kembali tersenyum manis, begitu indah dan cantik bagaikan bunga yang baru mekar, untuk kesekian kalinya Han Siong Kie merasakan jantungnya berdebar keras.
Kalau ditinjau dari nada suaranya tadi, semestinya orang itu adalah seorang gadis muda belia, sungguh tak nyana usianya telah mencapai tiga puluh tahunan.
Dengan cepat Han Siong Kie berusaha keras untuk menenangkan hatinya, dengan wajah yang dingin segera tegurnya.
"siapakah kau??"
"Aku?? perempuan cantik itu tertawa cekikikan.
"Akulah si malaikat berhawa dingin Mo siu Ing"
Han Siong Kie amat terperanjat hingga untuk beberapa saat lamanya ia berdiri menjublak dan tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.
seorang iblis perempuan yang tersohor namanya dikolong langit ternyata adalah seorang perempuan cantik bagaikan bidadari, sungguh suatu kejadian yang tak dapat dipercaya.
"Benarkah kau adalah malaikat berhawa dingin Mo siu Ing??? sekali lagi pemuda itu menegaskan.
"Ooooh...
kau anggap aku sedang berbohong??.
Perkataan ini seketika membungkamkan mulut Han Siong Kie, ia semakin menjublak.
sementara itu keempat orang kakek berbaju hijau itu telah saling berpandangan sekejap.
kemudian putar badan dan siap meninggalkan tempat itu..."
Ayoh kembali bentak Mo siu Ing tajam.
Suaranya lengking, tajam lagi merdu tetapi bagi pendengaran ke empat orang kakek tua itu tidak lebih bagaikan jeritan malaikat elmaut, masing2 bergidik.
dan tanpa sadar menghentikan langkahnya, dengan pandangan ngeri bercampur takut mereka sama2 awasi wajah malaikat perempuan itu.
"Hiih..hiiih..hiiih.. Thian chee sat sia delapan bintang dari perkumpulan Thian chee Kauw, kenapa cuma datang empat orang?? mana yang lain??"
Tegur Malaikat hawa dingin sambil tertawa merdu.
Sekarang Han Siong Kie baru tahu kalau ke empat orang kakek baju hijau yang berada dihadapannya sekarang adalah empat orang diantara delapan bintang dari perkumpulan Thian chee Kauw.
Sementara itu perempuan tadi merandek sejenak.
lalu berkata lagi.
"Sebelum memperoleh ijin dari aku si malaikat hawa dingin, kalian berani tinggalkan seenaknya... Hmm..."
Dengusan berat yang diperdengarkan membawa pengaruh yang amat besar, ke empat orang kakek itu semakin ketakutan hingga keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya.
"Tetapi... anggap saja nasib kalian semua masih rada baik menurut kebiasaan aku tak akan membunuh lebih dari seratus orang, ke empat belas sosok mayat yang menggeletak diatas tanah kebetulan sudah genap mencapai angka seratus, itulah rejeki serta nasib baik untuk kalian..."
Sekarang Han Siong Kie baru tahu apa sebabnya ia bisa lolos dari tangan maut perempuan ini kiranya malaikat berhawa dingin telah membunuh korbannya genap sebanyak seratus orang.
"Tetapi "
Kembali perempuan itu meneruskan. Ke empat orang kakek berbaju hijau itu tersentak kaget, rupanya perempuan itu belum selesai berbicara... Sambil menuding ke arah Han Siong Kie ia meneruskan.
"Selamanya aku tidak suka mengganggu kesenangan orang, apakah engkoh cilik ini suka melepaskan dirimu atau tidak aku tak berani memutuskan"
Ke empat orang kakek itu sama2 alihkan sorot matanya ke arah Han Siong Kie, sekarang mereka baru tahu bahwa manusia berwajah dingin bukanlah anak murid dari malaikat hawa dingin.
Han Siong Kie mendengus dingin, bentaknya.
"Cepat enyah dari sini "
"Kalian boleh pergi tinggalkan tempat ini"
Sambung malaikat hawa dingin.
"Cuma aku ingin titip perkataan buat ketua kalian, katakan saja seratus jiwa korban pada tahun mendatang akan kuselesaikan dari tubuh anggota2nya, karena tadi kalian telah berkata bahwa kamu semua hendak menagih hutang darah, ucapanmu tadi merupakan pantangan terbesar bagiku"
Han Siong Kie yang ikut mendengarkan perkataan itu diam2 merasa ngeri, ucapan yang mengerikan semacam itu ternyata diutarakan oleh perempuan cantik ini dengan nada yang enteng, se-akan2 dia tidak anggap membunuh manusia adalah suatu perbuatan yang mengerikan.
Empat orang kakek berbaju hijau itu tak berani membantah, dengan wajah pucat dan jantung berdebar keras mereka putar badan dan se-cepat2nya tinggalkan tempat itu.
Menanti bayangan tubuh mereka berempat telah lenyap dari pandangan, malaikat berhawa dingin Mo siu Ing baru menoleh ke arah Han Siong Kie sambil tegurnya.
"Manusia berwajah dingin, siapakah pengemis cilik yang sedang menyembuhkan luka dalamnya di situ??"
"Dia adalah adik angkatku"
Jawab pemuda itu cepat, sementara dalam hati diam2 merasa terperanjat, kiranya iblis perempuan itu sudah tahu kalau mereka berdua berada disitu.
"Ehmm, hebat juga saudaramu itu, ia sanggup menerima tiga buah pukulanku tanpa menemui ajalnya"
Ucapan ini seketika membangkitkan rasa dendam dan gusar dalam hati pemuda she Han itu, serunya ketus.
"Terima-kasih bunt hadiah yang telah kau berikan kepada saudara angkatku..."
"Kenapa sih??"
"Dan terima kasih pula atas hadiahmu untuk engkoh tua ku itu??".
"Pengemis dari selatan?"
Tiba2 Malaikat berhawa dingin Mo siu Ing tertawa cekikikan hingga sekujur tubuhnya bergetar keras.
"Hiiih..hiiih..hiiih.. pengemis tua adalah engkohmu, pengemis cilik adalah adik angkatmu, jadi kalau begitu kaupun seorang gembel tukang minta2???"
Han Siong Kie mendongkol bercampur gusar, ia mendengus dingin.
"Hmm aku telah menyanggupi permintaan mereka, tahukah kau permintaannya itu? "
"Apa coba katakan "
"Dengan cara yang sama akan kuhantam dirimu sehingga muntah darah segar.."
Mula2 malaikat hawa dingin Mo Siu Ing nampak melengak kemudian mendongkol dan tertawa seram.
"Haaah haaah haaah manusia berwajah dingin kau yang hendak melakukannya? dengan andalkan kekuatan apa kau hantam diriku hingga muntah darah segar???? "
"soal itu kau tak usah tahu pokoknya, akan kuhajar dirimu sampai muntah darah kemudian kucabut jiwamu untuk membasmi seorang iblis pembunuh berdarah dingin dari muka bumi"
"Hiiih hiih hiiih manusia be^ajah dingin rupanya kau sedang mengigau disiang hari bolong???"
"Hmmm kalau kau tidak percaya silahkan untuk menjajal sendiri."
Napsu membunuh semakin tebal menyelimuti wajah perempuan itu, namun dengan suara yang lembut ia berkata lagi.
"Manusia berwajah dingin, janganlah kau anggap setelah aku genap membunuh seratus orang lantas aku tak bisa membunuh orang lagi, kau musti tahu bilamana perlu aku masih tetap sanggup membunuh seseorang"
"Perempuan berhati siluman gertak sambalmu tak akan membuat hatiku jadi jeri "
"Bocah muda aku kagum atas keberanianmu, dikolong langit dewasa ini hanya kau seorang yang berani bersumbar hendak menghajar aku si malaikat hawa dingin hingga muntah darah segar tapi mampukah kaupenuhi harapanmu itu sekarang masih merupakan suatu tanya besar"
Ia merandek sejenak kemudian tambahnya.
"Aaaah aku teringat sekarang masih ada seorang lagi yang berani mengatakan kata sesumbar seperti dirimu"
"Siapakakah orang itu??? Han Siong Kie cepat bertanya.
"Tengkorak Maut pemilik dari benteng Maut"
"Oooh..jadi kaupun pernah dihajar sampai muntah darah oleh tengkorak maut??? "
"Siapa yang bilang"
"Kau sendiri "
"Kapan aku pernah bicara begitu??"
"Ooooh.. sekarang aku sudah tahu, tentunya sewaktu kau bertarung melawan tengkorak maut didalam kuil Bu.Hoo ditepi pantai Pek swie Tan tempo dulu, kau sudah menderita kekalahan"
"Eei.. dari mana kau bisa tahu kalau aku pernah bertempur melawan tengkorak maut? "
"Aku memperoleh kabar sewaktu tiba diluar kuil tersebut "
"Hmmm Kalau begitu dugaanmu keliru besar.."
Han Siong Kte melengak dibuatnya mendengar ucapan itu.
"Aku salah? kenapa? "
Tanyanya.
"Tengkorak maut yang bertarung dengan diriku itu hari bukanlah tengkorak Maut yang sesungguhnya"
"Ooooh.. jadi maksudmu dia Tengkorak Maut gadungan??"
"Sedikitpun tidak salah"
Dengan hati tertegun, sangsi dan kebingungan Han Siong Kie mundur dua langkah lebar kebelakang, ia tak pernah mengira kalau Tengkorak Maut ternyata ada yang gadungan, sungguh suatu kejadian yang sangat aneh.
Lalu siapakah yang sebenarnya jadi musuh besar pembunuhan keluarganya??
Tengkorak maut yang sesungguhnya?
ataukah tengkorak maut gadungan??...
Mengapa orang yang kehilangan sukma serta orang yang ada maksud melarang ia menuntut balas terhadap benteng maut?
dan mengapa pula susioknya sitangan naga beracun Thio Lien sesaat membunuh diri melarang pula dirinya untuk membalas dendam??
sebetulnya latar belakang apa yang terselip dibalik peristiwa ini???
"Manusia berwajah dingin, apa yang sedang kaupikirkan?"
Tiba2 malaikat hawa dingin menegur.
"Aku . , .aku sedang berpikir, ucapanmu itu patut dipercayai ataukah tidak"
"Terus terang kuberitahukan kepadamu, ilmu silat yang dimiliki Tengkorak maut asli sangat lihay, pada delapan belas tahun berselang kami suami istri berduapun hanya mampu menahan tiga buah pukulannya belaka, andaikata berduel satu lawan satu mungkin hanya satu jurus yang mampu kami terima. sebaliknya Tengkorak Maut yang kutemui dalam kuil Bu Hoo tempo hari bisa kutahan serangannya hingga mencapai ratusan jurus dalam keadaan seimbang, akhirnya diapun yang ngeloyor pergi sendiri, karena itu aku berani mengatakan dengan tegas bahwa tengkorak maut itu adalah tengkorak gadungan. Disamping itu tengkorak maut yang sebenarnya sejak puluhan tahun berselang sudah tak pernah muncul kembali dalam dunia persilatan."
Han Siong Kie semakin kebingungan dibuatnya, tapi apa yang didengar adalah suatu kenyataan, baik yang asli maupun yang gadungan ia masih belum mampu untuk menandangi mereka.
Malaikat hawa dingin sendiripun mengakui bahwa dirinya hanya sanggup bergebrak sebanyak ratusan jurus dengan Tengkorak maut gadungan dalam keadaan seimbang, itu berarti pula bahwa dirinya sama sekali bukan tandingan lawan.
Berpikir sampai disini ia baru merasa menyesal kenapa bicara terlalu sesumba beberapa saat berselang.
Sementara itu itu senyuman manis telah tersungging kembali diujung bibir Malaikat hawa dingin tegurnya lirih.
"Manusia berwajah dingin, sungguhkah kau hendak ajak aku berkelahi??? ......"
Han Siong Kie yang sudah terlanjur bicara dengan wataknya yang tinggi hati tentu saja tak mau menunjukkan kelemahan dihadapan orang, dengan dingin ia mengangguk.
"Tentu saja"
Jawabnya.
"Apakah kau hendak mengajar diriku hingga muntah darah kemudian bunuh diriku untuk melenyapkan bibit bencana bagi dunia persilatan??"
"Sedikitpun tidak salah, sekalipun aku belum mampu suatu hari aku dapat mewujudkan cita2ku ini"
"Bagus punya semangat, cuma seandainya hari ini kau tak dapat tinggalkan tempat ini dalam keadaan hidup lalu bagaimana??"
Dalam hati Han Siong Kie merasa hatinya tercekat, tapi diluaran ia tetap memandang sinis.
"Andaikata sampai terjadi begitu, anggaplah nasibku yang kurang mujur..."
"Manusia berwajah dingin "ujar Mo siu Ing dengan wajah serius.
"aku berhasil menemukan jejakmu jauh sebelum berjumpa dengan wajah ke empat belas orang anggota perkumpulan Thian chee Kauw, bahkan aku sempat mendengar pula ucapan sombongmu terhadap si pengemis cilik itu, tapi tahukah kau mengapa aku tidak turun tangan membinasakan dirimu??"
"Kenapa?? "tanya Han Siong Kie dengan wajah dingin.
"Sebab potonganmu, kegagahanmu pada dua puluh tahun berselang, oleh sebab itu aku telah melanggar kebiasaan dan tidak turun tangan terhadap dirimu"
"Sayang sekali aku tak sudi menerima kebaikanmu"
"Hmm siapa yang senang menerima kebaikan?? jadi kau sudah bulatkan tekad untuk turun tangan terhadap diriku pada hari ini??..."
"Sedikitpun tidak salah, aku sangat mengharapkan petunjuk darimu..."
"Bergebrak sih mudah, cuma aku ada sebuah syarat yang harus kau setujui lebih dulu"
"Apa syaratmu itu??"
"Kalau kau mampu menyebut tiga jurus seranganku, maka sejak ini hari aku si malaikat hawa dingin kecuali membunuh mereka yang telah mencelakai suamiku, aku tak akan membunuh orang lain lagi"
Satu ingatan dengan cepat berkelebat dalam benak si anak muda itu, pikirnya.
"Engkoh tuaku pun sanggup menerima tiga buah pukulanmu, masa aku tak mampu untuk berbuat demikian??? "
Ia segera balik bertanya.
"Seandainya aku tak mampu untuk menyambut ketiga buah seranganmu itu??..."
"Kau harus angkat aku jadi gurumu"
"Aku tidak setuju "
Kontan Han Siong Kie berteriak dengan wajah berubah hebat.
"Kenapa?? apa kau punya keyakinan bahwa kau tak akan sanggup menerima tiga jurus seranganku?."
"Perduli apapun yang kau katakan, aku orang she Han telah bersumpah, tak akan mendekati kaum wanita. Apalagi mengangkat dirimu jadi guruku?? Hmm... tak usah yaah"
"Jadi kau tak mau menerima taruhan ini?"
"Tidak mau"
"Seandainya aku menggunakan kekerasan?"
"Kau tak akan mampu berbuat begitu"
"Oooh, kau yakin aku tak bisa memaksa dirimu untuk menerima syarat tersebut?"
Han Siong Kie mendengus dingin dan tidak memberikan tanggapan atas pertanyaan itu.
"Baiklah. kalau kau tidak percaya, cobalah sendiri kelihayanku ini.."
Bersamaan dengan selesainya ucapan itu, Malaikat hawa dingin Mo siu Ing segera enjotkan badannya meloncat ke depan, telapak tangannya yang halus diayun menghantam ubun2 pemuda itu.
sekarang yang dilancarkan ini nampaknya amat lambat, padahal cepatnya sukar dilukiskan dengan kata2, lagi pula arah yang di tuju sangat aneh, membuat orang merasa bingung untuk menghadapinya.
Ingatan kedua belum sempat berkelebat didalam benaknya, bayangan telapak tahu2 sudah berada di depan mata.
seandainya serangan ini bersarang telak di ubun2nya niscaya bakal hancur berantakan.
Dalam gugup dan kagetnya pemuda itu segera ayunkan telapaknya kedepan, tanpa ia sadari ayunan tersebut telah disertai pula dengan salah satu jurus ampuh dari ilmu kura2 sakti.
"Aaah...
ditengah jeritan kaget malaikat hawa dingin Mo siu Ing tarik kembaci serangannya sambil bertukar gerakan, untuk kedua kalinya ia menghantam lagi ubun2 orang dengan kecepatan yang jauh lebih hebat.
Han Siong Kie silangkan sepasang telapaknya membendung datangnya pukulan tersebut, pada saat yang bersamaan badannya bergeser kearah belakang dengan suatu gerakan yang manis iapun berhasil meloloskan diri dari ancaman kedua.
"Manusia berwajah dingin"
Seru Mo siu Ing tajam.
"Kau betul2 sangat hebat, terimalah serangan yang terakhir"
Ditengah bentakan keras, malaikat hawa dingin Mo siu Ing mendorong sepasang telapaknya secara berbareng kearah depan, ketika sampai ditengah jalan mendadak serangan pukulan itu berubah jadi serangan mencengkeram, dari tangannya bagaikan burung elang laksana kilat mencekal pergelangan lawan.
Han Siong Kie segera memutar telapak kirinya melindungi badan, telapak kanan membabat dari atas kearah bawah, sementara tubuhnya ikut meloncat kearah belakang..
"Breeet..
ditengah suara robeknya pakaian, terselip jeritan kaget yang amat keras.
Pakaian bagian dada yang dikenakan Han Siong Kie tersambar robek oleh jari tangan lawan, sarung tangan mustika HudJiu Poo Pit yang disimpan dalam sakupun segera terjatuh keatas tanah.
"Apa ?? sarung tangan mustika Hud Jiu Poo Pit " -jerit malaikat hawa dingin dengan suara terperanjat laksana kilat tangannya menyambar keatas tanah. Han Siong Kie sendiri jadi luar biasa kagetnya setelah melihat kejadian itu, ia merasa tiada kesempatan lagi baginya untuk merampas balik sarung tangan mustika tadi dalam gugupnya ia lancarkan sebuah babatan maut keatas tanah. Tapi sayang seribu kali sayang.. walaupun serangan itu dilancarkan dengan kecepatan penuh, namn gerakannya tetap terlambat satu tindak. Tahu2 malaikat hawa dingin Mo siu Ing sambil mencengkeram sarung tangan mustika itu telah meloncat mundur sejauh beberapa tombak dari tengah kalangan.
"Aaah sarung tangan Hud Jiu Poo Pit, kitab pusaka tangan buddha."
Malaikat hawa dingin Mo siu Ing jadi lupa daratan dan bergumam tiada hentinya. sesudah diperiksa sejenak kembali ia bergumam seorang diri.
"ooh. tidak betul, tidak betul sarung ini cuma tangan kanannya saja.."
Sekujur badan Han Siong Kie gemetar keras, keringat sebesar kacang kedelai mengucur keluar tiada hentinya, dengan sorot mata berapi ia menatap tajam perempuan itu.
Sarung tangan Hud Jiu Poo Pit ini adalah benda peninggalan dari Leng Ku sanjin, seandainya benda itu sampai hilang dari tangannya, maka pemuda itu merasa malu terhadap arwah gurunya yang ada dialam baka.
Apalagi ia sudah tumpukan harapannya dalam membalas dendam diatas sarung tangan mustika itu, asal ia berhasil menemukan sarung tangan yang lain, dia baru berhasil mempelajari ilmu si Mi sinkang maka usaha nya untuk membalas dendam pasti bisa tercapai.
Dan kini setelah melihat benda mustika itu terjatuh ketangan orang lain, sudah tentu ia tak mau berpeluk tangan dengan begitu saja.
-ooo0ooo-
Jilid 7 BAB 14
"MALAIKAT hawa dingin kembalikan benda itu kepadaku ..."
Bentak pemuda itu keras keras.
"Kembalikan kepadamu??"
Ejek Mo siu Ing tanpa berpaling.
"Huuuh gampang amat ucapanmu itu??"
"Kau benar2 tidak mau mengembalikan kepadaku??? "
"Kenapa?? apa yang hendak kau lakukan?"
"Aku akan beradu jiwa dengan kau"
Tubuhnya melesat maju ke depan tiga jurus ilmu pukulan kura2 sakti segera dilancarkan dengan kecepatan bagaikan kilat, agaknya si anak muda ini benar2 ada maksud untuk beradu jiwa..
Dengan tangkas malaikat hawa dingin Mo siu Ing berkelit kesamcing dengan enteng dan mudah tahu2 ia sudah melepaskan diri dari ancaman pukulan maut itu, tegurnya dengan suara dingin.
"Kalau bicara soal berkelahi kau masih belum pantas untuk bertempur melawan diriku "
Han siong Kin tarik kembali serangannya dan berdiri kaku, seluruh badannya bergetar keras ucapannya memang benar untuk merampas benda pusaka itu dari tangan malaikat hawa dingin jauh lebih sukar daripada memanjat kelangit, tapi ia tidak rela benda mustika perguruannya lenyap dengan begitu saja.
Air muka Malaikat hawa dingin mendadak berubah jadi sedih dan amat murung, ujarnya lagi dengan suara lirih.
"Manusia berwajah dingin, kau tak usah kuatir aku tidak tertarik oleh benda mustika tersebut, tetapi kau musti melakukan pembicaraan secara blak-blakan dengan diriku"
"Apa yang hendak kau bicarakan?"
Tanya sianak muda itu dengan hati rada lega.
"Pertama kau harus bercerita lebih dahulu dari mana kau dapatkan sarung tangan Buddha Hud Jiu Poo Pit ini?"
"Benda mustika itu adalah benda warisan perguruanku."
"Lalu siapakah gurumu??"
"Dia adalah Leng Ku sang jin"
"Apa?? coba kau ulangi sekali lagi..."
"Leng Ku sangjin."
"Haah haah haah... kau anggap aku si malaikat hawa dingin adalah seorang bocah berusia tiga tahun yang dapat kau bohongi seenaknya."
"Apa maksudmu??"
"Nama besar Leng Ku sangjin sudah tersohor sejak seratus tahun berselang, masa.."
"secara kebetulan aku berhasil menemukan jenasah dari dia orang tua, mengikuti surat wasiat yang tertinggal aku angkat dia sebagai guruku, masa begitu tak boleh disebut sebagai pengangkatan guru?"
"oooh, kiranya begitu, tahukah kau bahwa sarung tangan Buddha Hud Jiu Poo Pit semuanya terdiri dari sepasang??"
"Aku tahu, sarung tangan ini adalah sarung sebelah kanan, sedang yang lain adalah sarung sebelah kiri"
Wajah malaikat hawa dingin Mo siu Ing berubah semakin murung, titik air mata jatuh berlinang membasahi wajahnya, tiba2 ia bergumam seorang diri.
"Tangan kiri oooh.. tangan kiri."
Seketika Han siong Kie merasakan jantungnya berdebar keras, apakah malaikat hawa dingin mengetahui jejak dari sarung tangan sebelah kiri itu? tanpa sadar dengan suara gemetar ia berseru.
"Kenapa dengan sarung tangan sebelah kiri???"
"Benda itu telah merampas kebahagian hidupku"
"Apa aku boleh tahu tentang duduknya perkara??"
Tanya Han siong Kie dengan hati bergidik. Perempuan itu menyeka air mata yang berlinang membasahi wajahnya, deagan suara murung ia bertanya.
"Pernahkah kau mendengar tentang malaikat hawa panas Ko so Khio??.."
"Pernah, bukankah dia adalah suamimu?"
"Betul, pada delapan belas tahun berselang tanpa disengaja kami suami istri berdua berhasil menemukan salah satu dari sarung tangan Buddha Hud Jiu Poo Pit tersebut, setelah melakukan penyelidikan seksama kami berhasil menemukan bahwa sarung tangan itu semestinya sepasang. Maka setelah mengadakan perundingan akhirnya secara terpisah kami melakukan pencarian, aku menuju ke utara dan dia menuju keselatan dengan janji satu tahun kemudian baik berhasil maupun tidak akan berkumpul kembali dirumah..."
"Akhirnya suamimu tidak kembali?"
Sela Han siong Kie tak tahan.
"Sedikitpun tidak salah, ia tidak pernah kembali lagi. satu tahun dua tahun tiga tahun aku telah menunggu selama lima belas tahun lima belas tahun yang penuh kesedihan serta penderitaan manusia berwajah dingin, lima belas tahun bukan suatu jangka waktu yang amat pendek bukan??"
"Aah"
Han siong Kie tak dapat menahan rasa kagetnya lagi, ia menjerit tertahan.
"Yaah... lama kelamaan aku tak dapat menahan diri lagi"
Perempuan itu melanjutkan kembali kisahnya.
"Aku segera munculkan diri dalam dunia persilatan dan mulai mencari jejaknya, suatu ketika secara tiba2 aku dengar orang berkata bahwa suamiku telah mati terbunuh dan kebetulan akupun mempunyai pikiran yang sama. Dalam keputus asaanku menemukan jejak pembunuh tersebut maka akhirnya..."
"Akhirnya kau lantas melakukan pcmbunuhan, setiap tahun sekali dan tiap kali seratus jiwa manusia??"
"Tidak salah, tujuanku adalah menggunakan kesempatan ini untuk memancing kemunculan pembunuh sadis tersebut"
"Apakah kau tak merasa bahwa perbuatanmu itu terlalu kejam?? terlalu brutal??"
"Terlalu brutal??, haah haah haah... kebahagiaan hidupku sudah dirampas secara kejam, apakah itu tidak kejam?? apakah itu tidak brutal??"
"siapa tahu kalau suami masih hidup di kolong langit adalah suatu kenyataan, sepantasnya kalau kau kerahkan segenap kemampuan yang kau miliki untuk menemukan jejak pembunuh itu, apa gunanya kau lakukan pembunuhan massal?? lagipula seandainya pihak lawan bukan berasal dari jago kalangan lurus, kendati kau sudah bunuh habis seluruh orang Bu-lim yang ada dikolong langit, belum tentu ia sudi munculkan diri"
"selama aku masih bisa hidup dikolong langit, tak sedikitpun aku akan berhenti berusaha"
Teriak Mo siu Ing dengan penuh kebencian. Bergidik hati Han siong Kie melihat kekerasan hati perempuan itu, sesaat kemudian katanya lagi "Lalu dimanakah sarung tangan sebelah kiri itu??"
"Bersama dengan lenyapnya suamiku, benda itupun ikut musnah tak berbekas"
"Oooh... Han siong Kie merasa hatinya jadi kecewa dan badannya jadi lemas, ia merasa se olah2 kepalanya diguyur dengan sebaskom air dingin.
"Eeei manusia berwajah dingin perempuan itu menegur lagi.
"Aku lihat kau punya minat yang amat besar untuk mendapatkan sarung tangan Buddha Hud Jiu Po Pit tersebut??"
"Aku memang punya maksud demikian"
"Kalau begitu marilah kita mengadakan satu perjanjian"
"Perjanjian yang bagaimana maksudmu??"
"Dengan batas waktu selama satu tahun, mari secara terpisah kita lakukan pencarian atas jejak suamiku yang hilang itu, kalau kau berhasil mendapatkan keterangan yang jelas tentang keadaan suamiku itu. maka ia sarung tangan Buddha Hud Jiu Poo Pit itu semuanya akan menjadi milikmu"
"seandainya kau sendiri yang berhasil menyelidiki jejak suamimu itu??"
Tanya si anak muda itu dengan semangat yang berkobar kembali.
"Tetap sama saja, kuhadiahkan sarung tangan tersebut bagimu"
"Kalau suamimu sudah terbunuh dan benda itu terjatuh ketangan orang lain.."
"Setelah aku berhasil membalas dendam, sarung tangan itu kuhadiahkan semua untuk mu"
"Bagaimana kalau sarung tangan yang ini dikembalikan lebih dahulu kepadaku??"
"Tidak"
Jawab Mo siu Ing tegas. Air muka Han siong Kie berubah hebat.
"Kenapa ??"
Tanyanya.
"Untuk sementara waktu akan kusimpan lebih dahulu bilamana dalam satu tahun tiada kabar berita apapun yang berhasil kau dapatkan, maka benda ini akan kumusnahkan"
"Ben.... benda itu toh milik pribadiku, dengan dasar apa kau hendak memusnahkannya??"
"Membiarkan benda itu tetap berada dikolong langit, mungkin hanya akan mendatangkan tragedi yang menyedihkan saja bagi umat manusia"
"Eeei... kau tidak boleh berbuat begitu..."
"Tidak. aku sudah memutuskan demikian".
"Kalau kau berani memusnahkan benda mustika itu, aku bisa mencabut jiwa anjingmu"
"Hmmm .... setiap saat dan setiap waktu aku si malaikat hawa dingin akan menantikan kunjunganmu"
Sepasang mata Han siong Kie berubah jadi merah berapi api, tapi ia tak bisa berbuat lain kecuali mendongkol dan gusar, ia tahu bahwa tenaga dalamnya masih ketinggalan jauh kalau dibandingkan dengan kelihayan lawannya.
setelah tertegun beberapa saat lamanya, pemuda itu sambil menggertak gigi segera bertanya.
"Andaikata aku berhasil menemukan kabar berita tentang suamimu itu, aku harus pergi kemana untuk mencari jejakmu?"
"Datang saja kegunung Kou Lou san"
"Baik kita tetapkan demikian saja, tetapi ada sepatah kata akan kuucapkan lebih dahulu kepadamu, hadiah yang telah kau berikan kepada adik angkat serta engkoh angkatku, suatu hari pasti akan kutagih beserta rentenya"
"setiap saat kunantikan kunjunganmu"
Malaikat hawa dingin Mo siu Ing menatap sekejap wajah Han siong Kie tajam2, kemudian menghela napas sedih.
"Manusia berwajah dingin,"
Ujarnya lagi.
"semoga tidak lama lagi kita bisa saling berjumpa, semoga kau berhasil menangkan taruhan ini..."
"Asal aku peroleh kemenangan, kaupun akan mendapatkan keputusan pula..."
"Tidak salah, menang kalah kita berdua sama2 tidak menderita kerugian "
Bicara sampai disitu tubuhnya segera berkelebat tinggalkan tempat itu, cuma sekejap mata bayangan tubuh perempuan itu sudah lenyap dari pandangan.
Han Siong Kie sambil memandang bayangan punggung Mo Siu Ing yang makin menjauh berdiri ter mangu2, semula ia mengira setelah berhasil mendapatkan hawa murni dari Leng Ku sangjin, maka usahanya untuk membalas dendam segera akan terlaksana, siapa tahu kepandaiannya masih terpaut jauh bila dibandingkan dengan musuh besarnya, bahkan dibandingkan dengan malaikat hawa dingin yang cantik jelita inipun dia masih ketinggalan beberapa tingkat.
Tanpa terasa pamuda itu bergumam seorang diri.
"Benar aku harus kerahkan segenap kekuatan yang kumiliki untuk mencari tahu kabar berita tentang malaikat hawa panas Ko su Khie, sebab hanya dari sepasang sarung tangan Buddha HudJiu Poe Pit itulah aku bisa mempelajari iimu silat yang lihay dan menuntut balas atas sakit hati terbunuhnya keluargaku Tapi...
malaikat hawa panas sudah delapan belas tahun lamanya lenyap tak berbekas, jejaknya sudah lenyap dari permukaan bumi.
Mencari berita tentang dirinya bukankah sama halnya deagan mencarijarum didasar samudra.
Teringat akan dendam berdarahnya, membuat pemuda itu teringat pula ucapan malaikat hawa dingin yang mengejutkan hati...
Tengkorak Maut itu adalah tengkorak maut gadungan...
Bagian 10
"Seandainya apa yang terjadi adalah kenyataan, apa sebabnya tengkorak maut asli yang jauh lebih lihay itu cuma berpeluk tangan belaka membiarkan orang lain mempergunakan namanya untuk berbuat keonaran??"
Orang yang ada maksud pernah berkata kepadanya.
"Song Thiat Koay yang sudah lama mengasingkan diri dari perkumpulan Kay pang secara tiba2 munculkan diri dan mengederkan hati Tengkorak Maut sehingga iblis itu melarikan diri.."
Ditinjau dari kejadian ini, sudah cukup jelas membuktikan bahwa tengkorak gadungan dugaan malaikat hawa dingin tepat dan bisa dipercaya.
Lalu siapa yang bernyali begitu besar berani menyaru sebagai Tengkorak Maut gadungan dan berbuat keonaran dikolong langit???
Kembali suatu teka teki yang sukar dipecahkan Mengapa orang yang kehilangan sukma suruh dia pergi menyambangi pemilik dari Benteng Maut??
dengan kemampuan yang dimilikinya sekarang, berkunjung kesitu bukankah berarti menghantar kematian sendiri?
Sementara Han Siong Kie sedang terbenam dalam lamunannya...
Mendadak beberapa kali jeritan ngeri yang menyayatkan hati bergema memecahkan kesunyian.
Mendengar jeritan itu Han siong Kie merasa mulai terperanjat, segera pikirnya.
"Aku benar2 amat tolol, bukankah Tonghong Hwie sedang bersemedi untuk menyembuhkan lukanya?? kenapa kau sudah melupakan keselamatannya??"
Tanpa berpikir panjang tubuhnya segara berkelebat diangkasa dan meluncur kearah saudara angkatnya berada tadi.
Tapi pemuda itu segera berdiri menjublak.
sukmanya terasa melayang tingalkan raganya.
Disitu ia tidak jumpai bayangan tubuh saudara angkatnya lagi.
Maka perkumpulan Thian Chee Kauw mengirim jago2 lihaynya untuk mencari jejak Tonghong Hwie serta dirinya, rombongan yang ikut dalam aksi penggeledahan itu tentu saja tidak terbatas pada para jago yang terbunuh ditangan malaikat hawa dingin saja.
Andaikata Tonghong Hwie benar2 tertawan oleh para jago perkumpulan Thian Chee Kauw, atau menjumpai kejadian diluar dugaan.
Bukankah dirinya bakal menyesal selama hidup karena keteledorannya itu??
semakin dipikir Han siong Kie merasa hatinya semakin bingung, andaikata Tonghong Hwie berlalu sehabis melakukan semedinya, paling sedikit adik angkatnya itu tentu akan memanggil dan mencari dirinya lebih dahulu, tak mungkin dia ngeloyor pergi tanpa pamit.
Disamping itu, dari mana pula datangnya jeritan ngeri yang memekikkan telinga itu?
Tergopoh2 pemuda itu berlarian disekitar hutan dengan harapan bisa menemokan suatu titik terang.
Tiba2...
pada jarak kurang lebih lima puluh tombak dari tempat dimana Tonghong Hwie bersemedi tadi, ia temukan lima sosok mayat yang bergelimpangan diatas tanah.
Pada batok kepala bagian belakang masing2 korban tertancaplah selembar daun yang menembusi tulang batok kepala mereka, jelas benda itulah yang telah merenggut jiwa mereka berlima.
Memetik daun melukai orang, menyambit bunga menghancurkan batu.
Ilmu kepandaian semacam ini boleh dibilang merupakan suatu ilmu yang bertaraf sangat tinggi.
siapakah yang telah melakukan pembunuhan itu?
jelas Tonghong Hwle adik angkatnya tidak memiliki tenaga dalam kesempurnaan itu, mungkinkah kematian dari kelima orang itu ada hubungannya dengan lenyapnya Tonghong Hwie dari situ??
Untuk beberapa saat lamanya Han siong Kie jadi kelabakan bingung dan tak tahu musti berbuat apa.
Tonghong Hwie adalah adik angkatnya yang sangat erat hubungannya dengan dia, perhatian serta rasa sayangnya terhadap adik angkatnya yang satu ini jauh melebihi rasa sayang terhadap diri sendiri Pada saat itulah...
Ting Ting Ting dari tempat kejauhan secara lamat2 berkumandang datang suara dentingan besi membentur permukaan tanah, suara itu agaknya sedang menjauhi hutan tersebut.
Andaikata Han siong Kie tidak memiliki tenaga dalam yang amat sempurna, tak mungkin ia bisa menangkap suara lirih tersebut karena munculnya suara tadi amat mendadak.
pemuda kita jadi tertarik.
ia tak berani bertindak ayal lagi dengan cepat badan nya berkelebat menuju kearah mana berasal nya suara tadi.
Hutan makin lama semakin menjauh, jalan rayapun nampak terbentang didepan mata.
Tampak seorang pengemis tua berkaki tunggal dengan mencekal sebuah tongkat pemukul anjing sedang bergerak menuju kearah jalan raya, setiap kali tubuhnya meloncat kedepan, berbunyilah suara dentingan yang nyaring ..
...
Han siong Kie segera salurkan segenap kemampuan yang dimilikinya untuk melakukan pengejaran, sungguh aneh sekali kendati dia sudah kerahkan semua kemampuannya, namun belum juga berhasil mengejar pengemis tua itu, jarak mereka masih tetap terpaut sejauh lima tombak lebih.
setengah harian sudah kejar mengejar itu dilakukan, tetapi jarak yang memisahkan kedua belah pihak masih juga bertahan seperti semula.
Dengan adanya kejadian ini segera menimbulkan rasa ingin menang dalam hati kecil Han siong Kie ilmu meringankan tubuh cahaya kilat lintasan bayangan dikerahkan hingga mencapai pada puncaknya, bagaikan segulung asap ringan badannya meluncur laksana kilat kearah depan.
Pengemis tua itu tetap berlagak pilon, cuma suara dentingan yang terpantul ditengah udara semakin santar kedengarannya..Han siong Kie amat terperanjat, ia tak bisa menebak jago lihay manakah yang berada dihadapannya saat ini.
bila ditinjau dari kekuatan hawa murninya jelas ia jauh melebihi kehebatan saudara angkatnya pengemis dari selatan.
Mendadak satu ingatan berkelebat dalam benaknya.
Han siong Kie teringat kembali akan ucapan dari orang yang ada maksud ketika ia sedang terluka tempo dulu, mendadak muncul seorang tokoh Kaypang yang sudah empat puluh tahun lamanya mengasingkan diri, kemunculan jago lihay itu telah menakutkan Tengkorak Maut dan menyelamatkan jiwa pengemis dari selatan serta padri dari utara.
Mungkinkah tokoh sakti yang berada dihadapannya saat ini adalah song Thiat Koay paman guru dari kakak tuanya itu???
Berpikir sampai disitu, ia segera berteriak keras.
"Yang berada didepan sana betulkah soat Thiat Koay Locianpwee?? harap berhenti sejenak"
Sedikitpun tidak salah, pengemis tua berambut putih yang sedang berlari didepan itu segera menghentikan larinya dan menoleh.
Han siong Kie segera memburu kedepan, sambil memberi hormat katanya.
Pengemis tua itu amat kurus dan tinggal kulit membungkus tulang, sepasang matany cekung kedalam tapi memancarkan sorot mata yang amat tajam.
sungguh amat sempurna tenaga lweekangnya batin pemuda kita dalam hati kecilnya.
sementara itu pengemis tadi telah menyahut.
"Tak usah banyak adat, kau bocah yang disebut manusia berwajah dingin??.."
"sedikitpun tidak salah"
"Ada maksud apa kau kejar aku sipengemis tua??"
"Aku mempunyai hubungan yang sangat erat dengan pengemis dari selatan ketua tian dari perkumpulan Kay Pang"
"Kalau ada hubungan lantas mau apa??"
Kembali Han Song Kie tertegun, keketusan serta kesombongan pengemis tua ini ternyata tiga kali lipat melebihi dirinya. sebelum dia sempat berbicara, pengemis tua itu telah berkata lagi.
"Bocah cilik, apa tujuanmu hendak mengikat tali persahabatan dengan aku si pengemis tua?.?"
"Benarkah locianpwee adalah song Thiat Koay yang amat tersohor dikolong langit??"
"Darimana kau bisa tahu akan julukanku??"
"Aku pernah mendengar dari orang lain "
"Apa tujuanmu yang sebetulnya?? ayoh cepat katakan"
"Apakah loocianowee barusan muncul dari hutan sebelah belakang sana?? ..."
"Kau toh sudah menyaksikan sendiri, kenapa musti bertanya lagi??"
"Adik angkatku telah lenyap tak berbekas ketika sedang bersemedi didalam hutan, apakah ......."
"Kau anggap aku si pengemis tua telah menelan adik angkatmu itu??"
Tukas song Thiat Koay ketus.
Mengingat diatas wajah Pengemis dari selatan Han siong Kie masih berusaha untuk menahan diri tetapi perkataan lawan kian lama kian tak sedap didengar, tak urung nada suaranya ikut berubah juga, serunya.
"Aku cuma ingin bertanya kepada cianpwee, apakah kau melihat ada seseorang memasuki hutan tersebut?"
"Tidak pernah tidak pernah aku si pengemis tua tiada waktu lagi untuk berbicara dengan dirimu"
Selesai berkata ia putar badan dan siap berlalu.. Dengan sebat Han siong Kie enjotkan badannya menghadang dihadapan pengemis tua itu.
"Eeei.. bocah cilik, kau hendak menghadang jalan pergi dari aku si pengemis tua?"
"Menghadang sih tidak berani aku cuma berharap agar loocianpwee suka memberi keterangan kepadaku."
"Apa yang ingin kau ketahui"
"Kabar berita dari adik angkatku"
"Aku sipengemis tua tidak pernah melihatnya"
"Didalam hutan sebelah sana menggeletak lima sosok mayat, mereka semua mati tersambit oleh daun yang menembusi batok kepalanya, apakah loocianpwee ...."
"omong kosong, aku si pengemis tua sudah empat puluh tahun lamanya tak pernah melakukan pembunuhan"
Ucapan ini membuat Han siong Kiejudi murung dan sedih, dilihat dari nada ucapan pengemis tua itu rupanya ia benar2 tak tahu tentang jejak adik angkatnya, maka dari itu ia lantas menjura.
"Kalau memang begitu aku ingin mohon diri lebih dahulu"
"TUnggu sebentar"
"Apa yang hendak loocianpwee katakan lagi?? "
"Dilihat dari kecepatan gerakmu dikala mengejar aku sipengemis tua tadi rupanya tenaga dalammu sudah mencapai kesempurnaan, kau berasal dari perguruan mana??
Han Siong Kie sangat menguatirkan keselamatan dari adik angkatnya Tonghong Hwie, ia tidak ingin mengulur waktu lebih jauh lagi dengan singkat ia menjawab.
"Secara kebetulan saja aku menemukan suatu penemuan aneh dan mendapatkan sisa hawa murni dari Leng Ku Sangjin!'.
"Aaah. ! pengemis tua itu berseru kaget. Mendadak Han Siong Kie teringat akan sesuatu, segera tanya nya .
"Aku pernah mendengar orang berkata bahwa locianpwee telah menggebah pergi Teng korak Maut yang amat liehay itu...' "
Aaai.
tak usah kau ungkap kembali kejadian tersebut'' tukas Song Thiat Koay tiba2 dengan wajah sedih, Sejak ini hari aku sipengemis tua tidak ingin muncul kembali didalam dunia persilatan, julukan Song Thiat Koay pun sejak kini sudah terhapus dari muka jagad!'.
Air mukanya berubah hebat, sambil tertawa seram tambahnya .
"Benar2 omong kosong persoalan macam ini kenapa musti diungkap oleh seorang angkatan muda!"
Tiiing!..
tubuhnya melejit keangkasa dan tahu2 sudah meluncur sejauh puluhan tombak dari tempat semula.
Han Siong Kie jadi keheranan menyaksikan kejadian itu, namun tubuhnya tetap berdiri tegak ditempat semula.
Tiiing...!
Tiiing...!
Tiiing...!
beberapa saat kemudian tubuhnya sudah tinggil sebuah titik hitam diujung jalan dimana akhirnya lenyap dari pandangan.
Han Siong Kie tahu bahwa percuma baginya untuk, menyusul tokob lihay tersebut, maka diapun urungkan niatnya untuk mengejar.
Tapi pada saat ini dalam hatinya terbeban kembali satu pertanyaan yang membangunkan hatinya.
Menurut orang yang ada maksud, sebelum Song Thiat Koay munculkan diri Tenakorak Maut telah melarikan diri terbiritbirit, tapi kalau ditinjau dari ucapannya barukan di mana ia bersumpah tak akan muncul kem a li didalam dunia persilatan jelas menunjukkan bahwa ia sudah jatuh kecudang ditang-an gembong iblis tersebut.
Lalu apa yang sebenarnya telah terjadi??
Pikirannya teralih kembali pada'keselamat an saudara angkatnya Tonghong Hwie ia berpikir keras untuk memecahkan teka teki yang menyelimuti lenyapnya pemuda she Tonghong itu.
Lama sekali....
akhirnya ia berhasil menarik satu kesimpulan, kemungkinan besar Tonghong Hwie telah ditemukan jejaknya oleh para jago lihay yang dikirim perkumpulan Thian chee Kauw untuk mencari jejaknya itu.
"Aku harus menyerbu kedalam markas besar perkumpulan Thian chee Kauw...."
Ingatan ini berkelebat didalam benaknya. Maka pemuda itupun segera mencari tahu jalan menuju ke tempat itu, siang malam ia melakukan perjalanan untuk menyerbu ke "Lian HoanTo"
Markas besar perkumpulan Thian chee Kauw Untuk sementara baiklah kita tinggalkan dahulu diri Han siong Kie yang sedang melakukan perjalanan.
sementara itu Tonghong Hwie yang duduk bersemedhi untuk menyembuhkan lukanya, tidak lama kemudian sudah berada dalam keadaan "
Tenang"
Dan lupa akan segalagalanya, terhadap peristiwa yang terjadi disekitar tubuhnya ia sama sekali tak tahu.
Menanti semedinya telah selesai dan membuka matanya, saat itu bayangan tubuh dari Han siong Kie sudah lenyap tak berbekas.
Hatinya jadi sangat keheranan, Pada waktu itu Han siong Kie sedang berdiri tertegun setelah ditinggalkan malaikat hawa dingin, karena itu tiada sedikit suara pun yang kedengaran.
sementara Tonghong Hwie akan berteriak memanggil saudara angkatnya itu, mendadak dari dalam hutan ia saksikan munculnya bayangan manusia.
Gadis itu tak berani berayal lagi, buru2 ia enjotkan badan dan mengejar dari belakang.
Kiranya bayangan manusia itu bukan lain adalah kawanan para jago perkumpulan Thian chee Kauw yang ditugaskan mencari jejak Tonghong Hwie serta Han siong Kle.
sedari permulaan mereka telah menemukan bahwa Tonghong Hwie sedang duduk bersemedi ditempat itu, tapi merekapun menemukan bahwa malaikat hawa dingin Mo siu Ing berada kurang lebih sepuluh tombak dari mereka berada, karena itulah mereka tak berani turun tangan secara gegabah takut gerakannya itu mengejutkan sang iblis perempuan.
Ketika Tonghong Hwie telah menyelesaikan semedinya dan mengejar bayangan manusia yang terlihat olehnya, para jago dari perkumpulan Thian Chee Kauw jadi kegirangan.
mereka segera memancing gadis itu hingga keluar dari hutan tersebut.
Disanalah lima sosok bayangan manosia segera menghentikan gerakan tubuhnya, tan pa mengucapkan sepatah katapun mereka me nerjang Tonghong Hwie habis2an.
Pengemis cilik yang tidak tahu duduknya perkara mendadak mendapatkan serangan jadi amat kaget, sekuat tenaga ia melakukan perlawanan.
Kelima orang itu adalah jago2 kelas dua dari perkumpulan Thian Chee Kauw, kemudian mereka terhitung sangat hhay dan sempurna.
Karena takut gerakannya itu mengejutkan malaikat hawa dingin, ditambah pula mere ka sudah tahu bahwa pengemis cilik ini mempunyai kepandaian aneh yang tak mempan ditotok maupun dihantam, maka beberapa orang itu tak berani bertindak gegabah serangan2 gencar dilancarkan secara bertubi2 dengan harapan pertarungan ini bisa dapat diselesaikan.
Empat orang kakek baju hijau yang berada di sisi kalanganpun tidak berdiam diri belaka setelah saling berpandangan sekejap me reka ikut terjunkan diri kedalam kalangan.
Delapan bintang dari partai Thian-Chee-Kauw adalah jago lihay kelas satu, dibawah kerubutan begitu banyak jago lihay, Tonghong Hwie jadi keteter hebat dan nampaknya sejenak lagi ia bakal tertawan.
--ooo0dw0ooo--BAB 15 DISAAT yang amat kritis itulah..
mendadak kelima orang jago lihay yang sedang melancarkan serangan maut itu sama menjerit kesakitan, sambil terjungkal diatas tanah, tubuh mereka terguling sekarat.
sejenak kemudian tubuh mereka sudah meninggal tak tak bernapas lagi.
Kejadian yang muncul secara tiba2 ini sangat mengejutkan sisa jago yang sedang melakukan pertarungan termasuk pula Tonghong Hwie sendiri yang tertegun saking kagetnya.
setelah mengetahui bahwa kelima korban itu mati karena tersambit oleh selembar daun yang menembusi batok kepalanya, empat orang kakek berbaju hijau itu jadi keder, mereka tahu bahwa disitu telah muncul seorang tokoh yang maha dahsyat, tanpa banyak berbicara lagi mereka putar badan dan kabur dari situ.
Tonghong Hwie sendiri setelah berhasil menenangkan hatinya segera berpaling kearah mana berasalnya serangan tadi, sambil memberi hormat teriaknya.
"Aku sipengemis cilik mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan yang telah diberikan"
Lama sekali ditunggu namun tiada jawaban yang terdengar, pengemis cilik ini tahu bahwa orang itu sudah pergi, maka iapun segera alihkan pandangannya untuk mencari jejak saudara angkatnya Han siong Kie.
Mendadak ia berpikir.
"Ke empat orang kakek itu adalah jago lihay dari Thian chee Kauw, si kupu2 warna warni Lie In Hiang pun kesemsem terhadap engkoh dia, Jangan2 ia sudah terjatuh ketangan pihak lawan??.."
Makin dipikir ia merasa semakin kuatir, sehingga akhirnya ia mengambil keputusan untuk menyatroni perkumpulan Thian chee Kauw.
Maka..
Tonghong Hwie pun berangkat menuju ke Lian Hoan To markas besar Thian chee Kauw untuk mencari jejak saudara angkatnya..selangkah terpaut membuat urusan semakin berabe, dengan waktu yang terpaut sedikit kedua orang itu sama2 menuju ketujuan yang sama...
Dalam pada itu Han Siong Kie dengan hati yang amat gelisah mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya secepat mungkin melakukan perjalanannya.
Ketika tengah hari ketiga, sampailah pemuda itu diluar Lian Hoan To.
Lian HanToo adalah sebuah daerah yang terbentuk dan deretan enam belas puncak bukit, dibalik gunung terdapat gunung, dibalik selat terdapai selat.
Bagi orang yang tak tahu letak jalan yang sebenarnya akan tersesat dan sukar untuk lolos lagi dari tempat itu.
Lama sekali Han Siong Kie berdiri diluar selat, setelah sangsi beberapa saat lamanya akhirnya ia mengambil keputusan untuk menyusup masuk lewat sebuah selat sempit yang diapit oleh dua buah dinding bukit.
Yang aneh ternyata tak seorang anggota perkumpulan Thian Chee Kauw pun yang nampak menghalangi jalan perginya, Tidak lama kemudian pemuda itu sudah masuk kedalam selat itu sejauh satu lie mendadak dihadapannya muncul sebuah bukit terjal yang menghadang jalan perginya, dalam hati ia lantas berpikir.
"Eeei... aneh sekali, Kenapa tempat ini merupakan sebuah selat buntu?? bukankah diluar selat sudah jelas tertulis bahwa tempat ini merupakan Lian Hoa To?"
Menanti ia sudah didepan dinding bukit itu tampaklah pada sisi kanan mau pun sisi kiri muncul pula sebuah selat sempit yang menjorok jauh kedalam.
Sekarang Han Siong Kie baru tahu apa sebenarnya yang telah terjadi sambil manggut-manggut pikirnya.
"Ooooh..! kiranya yang dimaksud Lian-Hoan Too adalah permainan semacam ini dalam selat terbagi dalam dua cabang aku harus pilih jalan yang mana??"
Belum habis ia berpikir dari kedua belah sisi dinding mendadak muncul delapan orang pria berbaju hitam, empat orang berjajar jadi satu baris dan tepat menyumbat jalan masuk selat sempit itu.
Terdengar salah seorang diantara empat pria yang berada disebelah kanan menegur dengan suara dingin.
"Siapa yang datang?? sebutkan namamu!"
"Manusia berwajah dingin!"
Sahut Han Siong Kie sambil menyapu sekejap wajah kedelapan orang itu.
Mendengar disebutkannya nama ini, air muka kedelapan orang pria tadi seketika berubah hebat masing-masing mundur satu langkah kebelakang dan orang yang paling ujung segera bersuit nyaring.
Dari dalam lembah berkumandang pula suitan balasan yang mana saling sambung menyambung hingga ketempat kejauhan.
"Kaukah si manusia berwajah dingin yang belum lama berselang baru terjun kedalam dunia persilatan ?"
Seru pria tadi kembali.
"Sedikitpun tidak salah !"
"Tolong tanya apa maksud tujuanmu berkunjung kemari ?"
"Minta orang !"
"Minta orang ???"
"Ehmmm. bila kalian tahu diri capatlah laporkan kedatanganku kedalam lembah, aku hendak menemui ketua kalian !"
"Bertemu dengan ketua kami ? Huuu! dengan andalkan pangkat apa sih kau hendak bertemu dengan ketua kami??"
"Bagus kalau begitu ayoh kalian menyingkir kesamping!"
Delapan orang pria berbaju hitam itu mendengus dingin mereka segera kerahkan tenaga dalamnya siap menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan "Ooooh... kalian tak mau memberi jalan?"
Jengek Han Siong Kie kembali dengan suara sinis.
"Hey manusia berwajah dingin, siapa bsrani menerjang kedalam lembah dia harus dihukum mati !"
Dengan gusar Han Siong Kie membentak keras, telapaknya diayun kemuka menghajar empat orang pria yang berada disebelah kiri, serangannya dilancarkan amat cepat bagaikan kilat kehebatannya luar biasa sukar dilukiskan deagan kata kata.
Tanpa banyak bicara keempat orang pria itu sama-sama menjerit kesakitan bagaikan bola mereka menggelinding sejauh dua tombak dari tempat semula dan tak berkutik lagi Dalam pada itu empat orang pria yang berada disebelah kanan telah bergerak kedepan, masing2 melancarkan sebuah babatan maut kearah sianak muda itu.
Tanpa berpaling Han siong Kie putar telapak kanannya satu lingkaran kemudian ditepuk kemuka tubuhnya ikut melesat kedepan mendekati keempat orang pria tersebut.
Melihat musuhnya menerjang kearah mereka, keempat orang pria itu jadi ketakutan, buru2 mereka mengundurkan diri kearah ke dua belah samping.
Han siong Kie tertawa dingin sambil melewati keempat orang itu badannya segera menerjang kearah selat sebelah kanan.
Lorong selat itu amat sempit dan menjorok jauh kedalam setelah melewati tiga buah tikungan sampailah pemuda she Han ini disebuah tanah lapang yang luasnya mencapai setengah hektar, empat buah mulut selat terbentang pula disekitar tanah lapang tadi.
Bayangan manusia berkelebat lewat, dua puluhan orang pria berbaju hitam bermunculan dari mulut keempat buah selat tersebut, mereka dipimpin oleh seorang kakek bercambang yang memiliki wajah amat bengis.
Terdengar kakek itu membentak keras.
"Bajingan cilik dari mana yang begitu besar nyalinya, berani mencari satroni dalam markas besar kami. Hmmm ayoh sebutkan dulu siapa namamu ???.."
"Hmmm kau sendiri manusia macam apa..? "
"Kurangajar, bajingan cilik rupanya kau sudah bosan hidup,"
Ditengah bentakan nyaring kakek bercambang itu silangkan telapaknya didepan dada lalu sambil menerjang kemuka melancarkan dua babatan kilat yang maha dahsyat.
Han siong Kie mendengus dingin, kelima jarinya laksana kilat meluncur kedepan, ditengah dengusan berat tahu kelima jarinya sudah berhasil mencengkeram urat nadi kakek bercambang itu erat-erat.
"Ayoh bawa aku pergi menjumpai ketua kalian"
Bentak Han siong Kie dengan suara lantang.
Dua puluh orang pria baju hitam yang berdiri disamping kalangan segera membentak keras, bagaikan gulungan air bah mereka menerjang kemuka, cahaya senjata berkilauan membuat suasana terasa amat teggng dan mengerikan.
Han siong Kie tetap berdiri tak berkutik ditempat semula, ditunggunya hingga pihak lawan sudah hampir tiba dihadapannya, telapak kiri segera berputar membentuk satu lingkaran melingkar lalu didorong kemuka dengan hebatnya.
segulung angin desiran tajam bagaikan sapuan ombak ditengah hujan badai menghantam orang2 dengan dahsyatnya ....
dengusan berat segera berkumandang memecahkan kesunyian, bayangan manusia membuyar ke samping dan para jago itupun tercerai berai ke empat penjuru dalam keadaan yang mengenaskan.
Hingga detik itu pemuda she Han masih belum ada minat untuk melukai orang, maka serangannya masih ringan dan tidak sampai membinasakan.
suitan nyaring yang amat santer kembali berkumandang di tengah udara .....
Empat sosok bayangan hijau meluncur datang dari tempat kejauhan, dalam waktu singkat mereka sudah tiba didepan mata, begitu cepat gerakan tubuh mereka hingga bisa disimpulkan bahwa keempat orang itu pastilah jago lihay kelas satu.
Dalam pada itu setelah mengetahui siapakah musuh dihadapanny a, keempat orang itu nampak agak tertegun, kemudian sambil tertawa dingin terdengar salah satu diantaranya berseru sambil menyeringai seram.
"Manusia berwajah dingin, inilah yang di katakan orang mau ke sorga tak mau kau tempuh, jalan keneraka kau cari Hmmm rupanya kau sudah bosan hidup dan ingin mencari penyakit bagi diri sendiri"
Rupanya empat orang jago yang baru saja muncul itu bukan lain adalah empat orang diantara Thian che Pat siok delapan bintang dari perkumpulan Thian che kau.
"Kalian segera mundur kebelakang"
Kembali kakek itu berseru kepada anak buahnya.
Para pria baju hitam yang semula memenuhi kalangan segera membubarkan diri ke belakang, sementara keempat orang kakek baju hijau itu segera membentuk pos isi setengah lingkaran dan mengurung pemuda itu rapat2.
"Manusia berwajah dingin"
Kakek pertama tadi menegur.
"Sekarang posisimu sudah terjepit, kau hendak menyerah dengan begitu saja ataukah hendak paksa kami untuk turun tangan"
"Haaaah...hahaaaaa...haaah...kalian lempar lembar gombal jelek pun berani omong besar dihadapanku. Hmmm! Betulbetul tak tahu diri"
Sambil membentak keras pemuda itu segera msngerahkan tenaganya dan melempar tubuh kakek bercambang yang ada didalam genggamannya itu ketengah udara.
Keempat orang kakek baju hijau itu jadi semakin naik pitam, mereka membentak berbareng .
"Bangsat cilik, rupanya kau sudah bosan hidup !"
Empat gulung hawa pukulan yang maha danysat, disertai bunyi guntur yang memekikkan telinga segera meluncur kedepan menghajar tubuh Han Siong Kie.
Menghadapi datangnya serangan gabungan itu pemuda she Han sama sekali tidak menghindar, segenap kekuatan tubuhnya dihimpun kedalam telapak kemudian menyambut datangnya serangan itu dengan keras lawan keras.
"Blaaaaaam..!"
Ditengah benturan keras yang memekikkan telinga pasir dan debu beterbangan memenuhi angkasa, gulungan hawa murni berdesir menyebar keempat penjuru oleh desakan tenaga yang dahsyat itu keempat orang kakek baju bijau itu tergetar mundur empat langkah dengan badan sempoyongan sedangkan Han Siong Kie sendiri hanya mundur satu langkah kebelakang.
Delapan bintang dari perkumpulan Thian che kau adalah jago jago kelas satu didalam dunia persilatan ternyata tenaga gabungan mereka berempat tidak mampu msrobohkan Manusia berwajah dingin kejadian ini membuat puluhan anggota perkumpulan yang mengikuti jalannya pertarungan itu dari sisi kalangan jadi tercekat hatinya air muka mereka berubah hebat.
Keempat orang kakek baju hijau itu merasa penasaran setelah bsrhenti sebentar mereka menerjang kembali kedepan telapak dan totokan jari beterbangan memenuhi angkasa dengan gencar mereka terjang dan kurung si anak muda itu rapat-rapat.
Han Siong Kie bukanlah bocah ingusan kemarin sore, badannya segera melesat kedepan merobos masuk lewat celah2 bayangan telapak serta desiran angin serangan yang mengurung tubuhnya, ilmu sakti "
Leng ku-it sih "
Laksana kilat dilancarkan.
Tiga jurus ilmu Kura2 sakti merupakan hasii ciptaan Leng ku sangjin yang makan waktu banyak tahun bukan saja sakti bahkan terkandung pula unsur2 kehebatan yang ada diluar dugaan Dengan tenaga dalam yang dimiliki Han siong Kie dewasa ini, meskipun kepandaian tersebut masih belum mampu untuk menandingi Tengkorak Maut, serta malaikat hawa dingin beberapa orang gembong iblis, tapi kekuatan itu masih lebih dari cukup kalau digunakan untuk menghadapi jago2 silat biasa.
Disaat Han siong Kie melepaskan serangan yang maha dabsyat itulah, terdengar dua dengusan berat bergema memecahkan kesunyian, dua orang kakek baju hijau itu sambil menutupi dada sendiri mundur kebelakang dengan sempoyongan, jelas kedua orang itu masing2 telah termakan oleh sebuah pukulan dahsyat.
Menyaksikan keadaan tersebut, dua orang kakek lainnya jadi amat terperanjat, cepat2 mereka loncat mundur kebelakang dan memandang kearah lawannya dengan pandangan tertegun.
Dengan pandangan dingin Han siong Kie menyapu sekejap seluruh kalangan tersebut, kemudian kepada pemimpin dari keempat orang kakek baju hijau itu katanya.
"Saudara, mumpung dalam hatiku belum timbul napsu untuk membinasakan kalian, lebih baik Janganlah terlalu banyak bertingkah dihadapanku, bawalah aku pergi menjumpai kaucu kalian"
"Hmm manusia berwajah dingin, Lian huantam kami belum pernah dimasuki orang secara jumawa macam kau, dan belum pernah pula melepaskan korbannya dalam keadaan hidup,"
"Jadi kau tak sudi membawa aku masuk kedalam selat ini??"
Sela Han siong Kie dengan wajah berubah hebat, napsu membunuh mulai menyelimuti mukanya.
"Tidak kau mau apa??"
Napsu membunuh yang menyelimuti wajah sianak muda itu kian lama kian bertambah tebal, tapi sebelum ia bertindak sesuatu, kembali satu ingatan berkelebat dalam benaknya.
Ia merasa tidak seharusnya terlalu memburu napsu sebelum jejak adik angkatnya Tonghong Hwie ketahuan.
Maka sambil tertawa dingin katanya.
"Kalau kalian tak mau membawa aku untuk menemui kaucu kalian, ayoh pada menyingkir ke samping, lihatlah aku akan mencari sendiri"
Belum habis ia berkata, dari dalam selat mendadak bergema datang suara bentakan nyaring.
"Hmm! besar amat bacot anjingmu itu... kau ingin menerjang kedalam?? sungguh seorang manusia yang tak tabu diri!"
Bersamaan dengan berkumandangnya suara bentakan itu, tampaklah sesosok bayangan manusia meluncur keluar dari mulut selat.
Melibat kehadiran orang itu, Han Siong Kie segera berdiri tertegun, sedang pihak lawan pun agaknya melengak juga dibuatnya.
Ternyata orang yang baru saja munculkan diri itu adalah seorang pemuds berusia tujuh delapan belas tahun, wajahnya tampan dengan mata yang jeli dan hidung yang mancung hanya sayang diantara kegantengannya itu terselip sifat licik yang meoyeramkan.
Melihat kemunculan pemuda itu, Empat orang kakek baju hijau serta dua puluh satu orang pria baju hitam sama2 bongkokkan badan memberi hormat, sikap mereka begitu hormat dan jeri hal ini menunjukkan bahwa kedudukan itu pasti amat tinggi.
"Kaucu muda!"
Terdengar mereka menyapa lalu menyingkir kesamping untuk membuka jalan. Pemuda itu ulapkan tangannya lalu maju kedepan dengan langkah lebar, tegurnya sambil tertawa seram.
"Hmmm.. Hmm... jadi kaulah yang bernama Manusia berwajah dingin...??' "
Sedikitpun tidak salah, ada apa?"
"Ayahku pernah kirim orang untuk mengundang kehadiranmu dalam markas kami sungguh tak nyana hari ini kau telah datang menghantar diri sendiri... bagus. bagus sekali ! kedatanganmu memang sangat kebetulan lalu apa tujuanmu datang kesini??"
Han Siong Kie mendengus dingin.
"Hmm! aku datang untuk meminta orang!"
"Minta orang?? sungguh aneh! siapa yang hendak kau minta dan manusia macam apakah dia?"
"Seorang pengemis cilik!"
"Oooh ..! kau maksudkan pengemis cilik yang sering kali jalan bersama dirimu dan setiap kali memusuhi perkumpulan kami itu?"
"sedikitpun tidak salah, memang dia yang kucari"
"Apakah kau yakin bahwa temanmu itu berada disini??"
""Aku rasa dugaanku tak bakat salah lagi "
"Haaah.. haaah... haaah..."
Pemuda itu angkat kepala dan tertawa ter bahak2.
"Manusia berwajah dingin tekebur amat ucapanmu itu, sejak perkumpulan kami didirikan belum pernah ada orang yang berani secara terang-terangan datang kemari minta orang, tahukah kau bahwa perbuatanmu itu merupakan suatu dosa yang amat besar?? Nah kini kau hendak menyerah secara sukarela untuk menantikan hukuman atau hendak paksa aku untuk turun tangan sendiri??"
Air muka Han siong Kie berubah jadi adem serunya dengan suara dalam.
"Jawab dulu pertanyaanku, benarkah orang yang sedang kucari berada didalam perkumpulan kalian??"
"Kalau ada kenapa??"
"Harap kau serahkan kembali orang itu kepadaku"
"Kalau aku bilang tak ada disini??"
Han siong Kie mendengus dingin, dari nada suara lawannya ia menduga Tonghong Hwie pasti sudah tertawan oleh mereka, napsu membunuh seketika berkecamuk kembali dalam dirinya, ia berteriak.
"Bila tidak kau serahkan orang itu kepadaku, Hmm kubunuh kalian semua..."
Pemuda itu sekali lagi angkat kepala dan tertawa terbahak2..
"Haaah... haaah... haaah... manusia berwajah dingin kau telah terkurung dalam pengepungan kami keadaanmu bagaikan burung dalam sangkar, apa yang kau gonggongi lagi? Hmm rupanya sebelum memilih peti mati kau tak akan melelehkan air mata, baiklah aku akan memenuhi harapanmu itu..."
Sebagai penutup dari kata2nya itu segulung angin pukulan yang maha dahsyat segera dilancarkan ke arah depan.
Han siong Kie menggertak gigi, diapun ayunkan pula telapaknya menyongsong datangnya serangan tersebut.
"Blaaam...."
Ditengah benturan keras yang menimbulkan ledakan dahsyat, kaucu muda itu tergetar mundur satu langkah lebar kebelakang dengan sempoyongan, sedangkan Han Siong Kie sendiri cuma bergoyang sedikit badannya Terkesiap hati Kaucu muda itu setelah menyaksikan kehebatan lawannya, ia tidak menduga kalau tenaga dalam yang dimiliki pihak tawan ternyata jauh lebih sempurna daripada dirinya, ia sadar bila pertarungan adu kekerasan diteruskan lebih jauh maka dirinya niscaya akan menderita kekalahan total.
Mengingat keadaan yang tidak menguntungkan itu, dengan cepat badannya menerjang ke arah depan, sepasang telapaknya bekerja cepat melancarkan serangan bertubi2, bayangan telapak berlapis2 ibarat hujan deras meluncur memenuhi seluruh angkasa.
Han siong Kie tertawa dingin, sambil ayun telapaknya kearah depan, ia menerobos masuk lewat kepungan bayangan telapaknya yang ber lapis2 kemudian jurus pertama dari ilmu kura2 sakti dilancarkan.
Kaucu muda itu semakin terperanjat lagi, dari gerak tubuh lawan yang begitu aneh dan luar biasa, ia tahu jurus serangan sendiri tak mungkin bakal berhasil membendung datangnya ancaman tersebut, saking takutnya buru2 ia mengundurkan diri sejauh lima depa kearah belakang, Han siong Kie tidak mau memberi kesempatan bagi lawannya untuk bertukar napas, melihat ia loncat mundur kebelakang, dengan cepat tubuhnya menerjang maju kemuka, jurus pertama dari ilmu kura2 saktipun segera dilepaskan...
Untuk kedua kalitnya Kaucu muda itu meloncat mundur delapan depa kebelakang dengan gerakan seperti kilat...
sreet ujung bajunya tersambar desiran angin tajam yang di lancarkan lawan hingga robek sebatas bahu dan rontok keatas tanah.
Dalam pada itu Han Siong Kie sendiripun tercekat hatinya setelah melihat dua buah serangan mautnya ternyata hanya berhasil menyambar robek ujung baju sipemuda itu, hal ini membuktikan bahwa ilmu silat yang dimiliki kaucu muda inijauh berada diatas kepandaian silat yang dimiliki delapan bintang dari perkumpulan Thian chet Kau.
Melihat dirinya dibikin malu dihadapan anak buahnya, kaucu muda itu jadi semakin sengit, napsu membunuh menyelimuti seluruh wajahnya, dengan suara menyeramkan bentaknya.
"Manusia berwajah dingin, bila dalam tiga jurus kemudian aku tidak berhasil mencabut jiwa snjingmu, seketika itu juga aku akan bunuh diri dihadapanmu! "
Han Siong Kie terkesiap, ia sadar pihak lawan berani omong besar itu berarti bahwa orang itu memiliki ilmu simpanan yang luar biasa.
Belum habis ingatan tersebut berkelebat dalam benaknya, nampak kaucu muda itu sudah berdiri mematung dihadapan mukanya, sepasang telapak ditepukkan satu sama lain didepan dada kemudian perlahan2 didoroog kearah depan.
Segulung desiran angin pukulan berhawa dingin meluncur keluar berbareng dengan gerakan tepukan itu.
Menyaksikan kaucu mudanya menunjukkan kelihayan, para jago perkumpulan Thian che kau yang berada disisi kalangan segera pusatkan seluruh perhatiannya ketengah kalangan sepaseng mata mereka terbelalak lebar dengan hati berdebar mereka menantikan perkembangan selanjutnya.
Dalam pada itu ketika Han Siong Kie merasa bahwa dibalik angin pukalan yaog dilancarkan pihak lawan terkandung sesuatu yang aneh, buru2 ayunkan telapaknya untuk memotong, tapi sayang tindakannya itu terlambat satu tindak, ia rasakan angin pukulan yang dilancarkan pihak lawan telah bersarang diatas tubuhnya membuat seluruh kekuatan tubuh yang dimilikinya lenyap tak berbekas, sedikit tenaga pun tak mampu disalurkan kembali, kejadian ini membuat hati nya terkejut serasa sukma melayang tinggalkan raganya.
"Kepandatan apakah itu?"
Pikirnya didalam hati,"Tak nyana serangan tersebut mampu menjebolkan pertahanan hawa murniku!"
Melihat musuhnya dibikin terkejut, kaucu muda itu tarik kembali serangannya dan menyeringai seram, setelah mendengus dingin perlahan2 ia mendesak maju kedepan.
Han Siong Kie semakin terkesiap ia tak tahu apa yang musti dilakukan pada keadaan seperti ini.
"Apakah aku mandah digebuk dan dibekuk lawan tanpa melawan??"
Pikirnya didalam hati.
Dalam gelisahnya ia berusaha keras untuk mengerahkan kembali tenaga dalamnya, sekali dicoba...
gagal, dua kali kembali gagal...
tapi ketika ia mencoba untuk ketiga kalinya..
akhirnya dia berhasil..
hawa murninya segera terkumpul kembali.
Rasa girang yang menyelimuti hatinya sukar dilukiskan lagi dengan kata2, sepasang telapak segera diayun ke depan dengan sepenuh tenaga.
tampaklah segulung angin pukulan yang luar biasa dahsyatnya meluncur ke depan menghantam kearah sianak muda itu.
Mimpipun kaucu muda itu tak pernah menyangka kalau pihak lawan yang hawa murninya berhasil dipecahkan olehnya dengan ilmu sakti Ho Ho sinkang ternyata masih sanggup untuk melancarkan serangan balasan, untuk sesaat ia jadi gelagapan dan tak tahu apa yang musti dilakukan olehnya.
"Bruuk..
ditengah dengusan berat, tubuhnya terlempar beberapa tombak jauhnya dari tempat semula, darah segar muncrat keluar lewat celah2 bibir Keempat orang kakek baju hijau serta para jago lainnya sama menjerit kaget, mereka tak menyangka kalau kaucu mudanya bakal terluka ditangan musuh..Haruslah diketahui tenaga dalam yang dimiliki Han siong Kie berasal dari Leng Ku Sangjin yang disalurkan lewat kura2 saktinya, tanpa disadari tenaga tersebut telah mengandung suatu tenaga yang amat mukjijat, ditambah pula tubuhnya telah berendam selama tiga hari didalam air mustajab yang berasal dari bawah permukaan tanah, hal ini membuat tulang dan kulitnya se-akan2 berganti yang baru.
oleh sebab itulah meskipun hawa murninya telah dibikin buyar oleh serangan lawan, namun dengan cepat pula hawa yang telah membuyar tadi menghimpun kembali.
Napsu membunuh menghiasi seluruh wajah Han Siong Kie, dikala semua orang masih tercekam oleh rasa kejut bercampur tercengang, tubuhnya laksana kilat menerjang maju kedepan, setibanya dihadapan kaucu muda itu telapaknya segera diangkat siap dibacokkan keatas tubuh musuhnya...
"Tahan"
Suatu bentakan nyaring berkumandang memecahkan kesunyian, sekali pun suaranya tidak terlalu keras namun cukup memekikkan telinga setiap orang.
Han Siong Kie segara tarik kembali telapaknya dan loncat mundur delapan depa kebelakang, sorot matanya dialihkan ke arah mana berasalnya suara tadi.
Seorang perempuan berusia setengah baya yang cantik jelita bagaikan bidadari berdiri tegap disisi pemuda tersebut, dengan pandangan yang aneh ia sedang memandang pula kearahnya.
Han Siong Kie terkejut, sungguh cantik perempuan ini pikirnya didalam hati, ia merasa kecantikan wajahnya jauh lebih hebat ber kali2 lipat kalau dibandingkan dengan kecantikan si malaikat hawa dingin.
Siapakah dia?..
Jangan2 dia adalah..
"ibu"
Terdengar kaucu muda itu berpaling dan memanggil.
"Nyonya."
Keempat orang kakak baju hijau serta kedua puluh satu orang pria baju hitam itupun sama2 memberi hormat sambil menyapa.
Han siong Kie berdiri menjublak, dadanya terasa se akan2 dihantam oleh sebuah martil berat membuat badannya mundur kebelakang dengan sempoyongan dan hampir saja roboh terjengkang keatas tanah.
Dia...
ternyata...
dia adalah nyonya kaucu ..."
Dia...
ternyata perempuan itu adalah ibunya sendiri si siang go cantik ong cui Ing adanya.
Dialah perempuan yang telah meninggalkan putranya, melupakan dendam keluarganya serta kawin lagi dengan Thian che kaucu.
Pertemuan antara ibu dan anak bukan saja tidak menggirangkan hatinya, bahkan ia merasa hatinya sakit bagaikan di iris2 dengan pisau belati...
Air mukanya per lahan2 berubah jadi pucat pias bagaikan mayat, pandangan matanya ber kunang2 dan kepalanya pusing tujuh keliling, dadanya terasa jadi sesak dan hampir saja membuat pemuda itu muntah darah segar ....
"Dia bukan ibuku... dia bukan ibuku... aku tidak mempunyai ibu seperti ini.."
Jeritnya didalam hati.
Tetapi kenyataan sudah berada didepan mata, tak mungkin lari dari kenyataan tersebut, ia ingin lari keluar dari selat tersebut, namun sepasang kakinya sudah tak mau mendengar perintahnya lagi, kakinya seolah2 ditumbuhi akar yang kuat.
Rasa hinaa..
malu..
menyelimuti seluruh perasaannya, ia merasa peristiwa tersebut merupakan suatu lembaran hitam bagi kehidupan keluarganya, ia merasa martabat keluarganya ternoda..
siang-go berwajah cantik ong Cui Ing yang berada dihadapannya hanya membungkam terus dengan pandangan yang aneh, siapapun tak tahu apa yang sedang ia pikirkan pada saat itu.
Untuk beberapa saat lamanya suasana diseluruh kalangan diliputi keheningan serta kesunyian yang mencekam, begitu sepi..
sunyi hingga napas setiap orang dapat terdengar dengan nyata.
Akhirnya Kaucu muda itu melotot sekejap kearah Han siong Kie dengan penuh kebencian, lalu sambil berpaling kearah ibunya ia berseru.
"lbu, orang itulah yang disebut Manusia berwajah dingin"
"Aku sudah tahu anakku"
Perempuan itu mengangguk.
"Ibu, aku telah menyerang dirinya dengan ilmu Ho Ho sinkang, namun ilmu tersebut kehilangan kesaktiannya"
"oooh, sudah terjadi keadaan semacam itu?? kalian coba mundurlah dahulu.."
Pemuda itu tidak berani membantah, bersama para jago lainnya mereka sama2 mengundurkan diri kearah belakang.
siang go berwajah cantik ong Cui Ing mendengus dingin, sekali loncat ia sudah berada beberapa tombak jauhnya dari tempat semula, dengan sorot mata tajam ia awasi pemuda dihadapannya tanpa berkedip.
sekujur tubuh Han siong Kie gemetar semakin keras, ia gigit bibirnya keras2, benarkah ibunya begitu kejam dan akan turun tangan keji terhadap dirinya??
atau mungkin ia tidak tahu siapakah dirinya???
Pelbagai macam pikiran berkecamuk dalam benaknya.
"Tidak"
Akhirnya ia menjerit didalam hati.
"susiok pernah berkata bahwa beliau pernah membawa aku pergi menemui dirinya, tapi dia malah turun tangan keji hendak membinasakan diriku serta susiok.. tapi kenapa?? kenapa hatinya begitu kejam melebihi binatang??? kenapa ia hendak membunuh putra kandungnya sendiri????.."
Siang-go berwajah cantik sendiripun berdiri sambil menggigit bibir, rupanya diapun sedang menahan emosi yang bergelora didalam dadanya.
Akhirnya Han siong Kie tak dapat menahan diri lagi, ia buka suara dan berseru, ternyata suaranya begitu aneh dan mengerikan hingga ia sendiripun tak dapat mengenali sebagai suara sendiri "Kau...
kau...
kau adalah ..."
"Aku adalah nyonya kaucu"
Jawab ong cui Ing dengan suara dingin. Han siong Kie mendongak dan tertawa seram, nadanya mengerikan bagaikan seseorang yang hampir kalap.
"Nyonya..... nyonya kaucu..... nyonya kaucu.... haah.... haaah..... haaah......"
Semua jago yang hadir dalam kalangan tertegun, mereka heran dan tercengang menyaksikan sikap serta tingkah laku musuhnya yang sangat aneh itu.
Air muka siang-go berwajah cantik ong cui Ing nampak berubah hebat, tapi sebentar kemudian ia telah bersikap dingin kembali bentaknya.
"Manusia berwajah dingin, kau tak usah berlagak sok dihadapanku Hmm Berani main gila kuhabisi nyawamu saat ini juga"
"Nyonya kaucu"
Teriak Han siong Kie sambil menggertak gogo.
"Kau siap berbuat apa terhadap diriku?"
"Bagi setiap manusia yang berada didalam Lian huan tan, bila dia bukan sahabat tentulah orang itu adalah musuh kami, selamanya kami tidak akan membiarkan musuh2 kami tinggalkan tempat ini dalam keadaan hidup.."
Han siong Kie semakin sedih rasanya melihat sikap ibunya itu, hatinya jadi hancur dan matanya jadi makin ber kunang2.
"Nyonya yang terhormat"
Teriaknya."Kau kenal tidak dengan seorang manusia yang bernama Telapak naga beracun Thio Llen..."
"Tutup mulut anjingmu manusia berwajah dingin, takdir telah menentukan bahwa usiamu hanya sampai disini saja, ber siap2lah menyambut saat kematianmu"
Han siong Kie gemetar keras, tanpa disadari ia melangkah mundur satu langkah ke belakang..
-0000000-BAB 16 HAMPIR saja ia tidak percaya dengan telinga sendiri, ia tidak percaya kalau di kolong langit benar2 terdapat seorang ibu yang berhati begitu keji dan sama sekali tidak mempunyai rasa sayang antara seorang ibu dengan anaknya, benarkah dia masih belum mengetahui siapakah dirinya??
mungkinkah ia belum tahu bahwa dia adalah putra kandungnya??
Dengan suara serak dan tersendat kembali ia berpekik nyaring.
"Nyonya Kaucu yang terhormat, masih ingatkah kau dengan seorang bocah cilik yang ada ber sama2 sitelapak naga beracun..."
Air muka si siang-go berwajah cantik ong cui Ing berubah semakin hebat, napsu membunuh menyelimuti wajahnya, tidak menunggu sampai sianak muda itu menyelesaikan kata2nya ia sudah menerjang maju kedepan, telapak tangan laksana kilat menghantam ke depan.
Han siong Kie jadi tertegun dan berdiri menjublak.
dalam waktu singkat pemuda itu berubah jadi orang bodoh.
orang yang kehilangan kesadarannya...
Apa yang diutarakan sudah terlalu jelas sekali bagi pendengaran siapapun juga, siapa pun akan memahami maksud dari perkataannya itu, tetapi perempuan itu atau tegasnya ibu kandungnya ternyata pura2 tidak mengerti, bukan begitu saja, bahkan diapun tega turun tangan keji terhadap dirinya..
putra kandung sendiri Hancurlah perasaan hati Han siong Kie, tubuhnya jadi lemas dan lunglai ia tak mampu menghindarkan diri lagi dan serangan maut yang sudah tiba didepan mata.
"Blaaam ditengah jeritan kesakitan yang memilukan hati, tubuh pemuda she Han itu termakan telak oleh serangan yang maha dahsyat itu hingga mencelat jauh beberapa tombak dari tempat semula dan jatuh kembali keatas tanah.
Rasa benci dan kecewa berkecamuk dalam hatinya, rasa sakit hati membuat si anak muda itu berusaha untuk mempertahankan diri, dengan cepat ia loncat bangun dan..
Uuuuaaah darah segar muntah dari mulutnya, menyembur sejauh dua tombak lebih dan menodai pakaian yang dikenakan ong cui Ing.
Kaucu muda yang selama ini berpeluk tangan belaka disisi kalangan segera menerjang kemuka setelah dilihatnya pemuda lawannya itu roboh terluka..
siang go berwajah cartik sang cui Ing mengerutkan alisnya, tiba2 diapun menerjang kembali kedepan sambil lancarkan sebuah totokan kilat.
Kenyataan yang mengenaskan ini membuat kesadaran Han siong Kie semakin pudar, ia sudah tak mampu menghindarkan diri lagi, dalam keadaan begitu secara ngawur ia segera kirimkan satu pukulan dahsyat untuk menyongsong datangnya ancaman dari pihak lawan.
"Blaaam..."
Dalam keadaan terluka parah serangan yang dilancarkan pemuda itu ternyata masih cukup ampuh.
Dalam satu bentrokan keras, tubrukan dari ong cui Ing berhasil ditahan untuk sesaat tapi sebuah totokan dengan cepat pula telah bersarang diatas tubuhnya.
Han siong Kie menjerit tertahan, tak ampun lagi tubuhnya tertotok dan roboh terjengkang diatas tanah.
Menyaksikan musuh tangguh telah berhasil dibekuk.
empat kakek baju hijau itu segera berkelebat maju kedepan, serunya setelah memberi hormat.
"Nyonya, bagai mana dengan bangsat cilik ini??"
Siang go berwajah cantik ong cui Ing melirik sekejap ke arah tubuh Han siong Kie yang menggeletak tak sadarkan diri diatas tanah, kemudian jawabnya dingin.
"Kirim dia kedalam penjara maut, besok ber-sama2 kelima puluh dua orang hukuman lainnya bunuh habis"
"Terima perintah"
Keempat orang kakek baju hijau itu segera mengangguk.
"ibu, apakah tidak perlu serahkan bangsat itu keruang penyiksaan??.."
Sela kaucu muda itu mendadak.
"Tidak perlu, bangsat cilik ini tidak lebih hanya seorang pemuda yang jumawa dan latah, aku rasa dia tak akan mengandung maksud2 tertentu" . Demikianlah, salah seorang diantara keempat orang kakek baju hijau itu segera mengepit tubuh Han siong Kie dan siap berlalu dari tempat itu. Mendadak ong cui Ing nyonya dari kaucu perkumpulan Thian chee kau itu ulapkan tangannya sambil berseru.
"Tunggu sebentar "
Ia melayang mendekati kesisi tubuh Han siong Kie, sambil lancarkan beberapa totokan lagi ia berkata.
"Ilmu silat yang dimiliki si manusia berwajah dingin sangat lihay, lebih baik sekarang juga kupunahkan dahulu ilmu silat yang dimilikinya daripada sampai terjadi hal yang tidak diinginkan dibelakang hari. Beri tahu kepada pengurus penjara maut, mereka tak usah menotok jalan darah cacadnya lagi cukup bebaskan jalan darah tidurnya"
Keempat orang kakek baju hijau itu segera mengangguk dan bersama2 mengundurkan diri dari tempat itu. -0000000-
Jilid 8 SEPENINGGALNYA keempat orang kakek tadi, Ong Cui Ing sambil menggandeng putra kesayangannya pun ikut berlalu menuju kedalam selat.
Kakek bercambang berserta kedua puluh satu orang pria baju hitam itu dengan sikap yang hormat menghantar keberangkatan nyonya kaucu mereka..
Tidak lama setelah sesosok bayangan manusia yang kecil ramping.
Dia bukan lain adalah Tonghong Hwie yang menyaru sebagai seorang pengemis cilik.
Kalau tadi Han Siong Kie menaruh curiga kalau dia sudah tertawan oleh para jago yang dikirim perkumpulan Thian chee Kau untuk mencari jejaknya, maka Tonghong Hwie pun mengira saudara angkatnya telah tertawan pula oleh para jago dari perkumpulan Thian chee kau.
Sungguh sayang kedatangan mereka berdua hanya terpaut beberapa waktu saja hingga, kedua belah pihak tak dapat saling bertemu satu sama lainnya.
sekalipun tujuan yang mereka datangi adalah sama, dan maksud tujuan merekapun tak berbeda, namun rupanya takdir telah menentukan yang lain.
Tonghong Hwie adalah seorang jago yang amat cerdik, dia tahu wilayah Lian Hong tan tidak lebih bagaikan sarang naga gua harimau, jago lihay pihak perkumpulan Thian chee kau yang ditugaskan menjaga di sekitar tempat itu banyak sukar dihitung dengan jari, bila ia berani menerjang masuk secara gegabah niscaya jejaknya akan ketahuan.
oleh karena itu dengan amat sabar pengemis cilik itu menuggu diluar daerah tersebut, ia tunggu hingga kentongan kedua sudah menjelang tiba, dengan gerakan yang sangat enteng danpenuh kewaspadaan, selangkah demi selangkah dijelajahinya tempat itu.
Dengan kecerdasan yang dimilikinya, ternyata dengan amat mudah sekali ia berhasil melewati beberapa buah pos penjagaan yang banyak tersebar disekitar tempat itu.
Namun tidak lama setelah berada didalam selat tersebut, dengan cepat Tonghong Hwee menemukan bahwa keadaan tidak beres, ia temukan begitu banyak persimpangan yang bermunculan ditempat itu, meskipun sudah setengah malam ia ber-putar2 ditempat itu, namun yang ditemui hanyalah tebing2 curam yang menjulang tinggi ke angkasa, bukan begitu saja bahkan iapun menemukan banyak sekali lorong sempit yang telah dilaluinya bukan hanya satu kali saja.
Tonghong Hwie jadi amat panik, menurut perhitungannya didalam beberapa jam lagi fajar bakal menyingsing, namun jalan lorong yang dilewatinya kian lama kian bertambah membingungkan hati, bukan saja jalan keluar tidak berhasil ditemukan, bahkan untuk mundur kembali kejalan yang semula pun tak mampu dia lakukan.
Sadarlah pengemis cilik itu bahwa dirinya telah terkurung didalam sebuah barisan yang maha sakti, dalam keadaan begini kendati ia cerdik dan banyak akal, tak urung dia akan kelabakan juga.
Fajar telah menyingsing, lorong2 sempit yang membujur dalam selat itu perlahan2 menjadi terang benderang.
Keadaan dari Tonghong Hwie pada saat ini ibarat semut yang berada diatas kuali panas, rasa panik yang menyelimuti hatinya sulit dilukiskan dengan kata2.
Mau maju tak dapat, mau mundurpun tak bisa, sedangkan kabar berita tentang kakak angkatnya Han Siong Kie tidak berhasil diketahui, bisa dibayangkan betapa cemasnya hati pengemis ini.
Terpikir olehnya hendak mencari tempat persembunyian terlebih dahulu untuk melepaskan diri dari pengamatan para jago dari perkumpulan Thian chee kau.
Setelah itu baru berusaha untuk mencarijalan keluar dari barisan ini, siapa tahu sekeliling tempat itu yang terlihat hanyalah tebing2 curam yang menjulang tinggi keangkasa.
Dengan tenaga dalam yang dimilikinya tak mungkin baginya untuk melayang naik ketempat itu.
Disaat hatinya sedang bingung bercampur panik itulah, mendadak dari arah belakang berkumandang datang suara tertawa seram yang amat mengerikan..
Dengan hati terkesiap Tonghong Hwie berpaling kebelakang, tanpa terasa ia tarik napas dingin dan bergidik.
Terlihatlah seorang kakak baju kuning yang bermata tunggal telah berdiri kurang lebih satu tombak dibelakang tubuhnya, sedari kapan orang itu munculkan diri ternyata sama sekali tak diketahui olehnya.
Dalam pada itu sikakek baju kuning bermata tunggal tadi telah menatap wajahnya sambil tertawa seram, serunya.
"Hey bangsat cilik, rupanya kau sudah kepayahan semalam suntuk. bagaimana kalau sekarang beristirahat dulu??"
Tonghong Hwie merasa amat terkejut, jantungnya terasa berdebar keras, ia tak menyangka kalau perbuatannya selama semalam suntuk ternyata sudah berada didalam pengawasan orang, dengan hati tercekat segera serunya.
"si. .siapa ..siapa kau??"
"Hmm..hmm kau ingin tahu siapakah aku? aku bukan lain adalah Koan thian sin atau malaikat pengamat langit Ci Chong"
"Malaikat Pengamat Langit??."
"Sedikitpun tidak salah"
Kakek baju kuning itu mengangguk.
"Aaah aku rasa julukan itu kurang tepat bagimu, seharusnya engkau lebih cocok kalau dinamakan si mata tunggal pengamat langit"
Baca Juga: Hong Lui Bun 3
Baca Juga: Rahasia Mo Kau Kaucu 3