Eps 1 Tengkorak Maut - Khu Lung Tjan Id
Baca online Tengkorak Maut - Khu Lung Tjan Id
Cersil Tengkorak Maut - Khu Lung Tjan Id.
Tiraikasih Website
http.//kangzusi.com
Tiraikasih Website
http.//kangzusi.com Tengkorak Maut Karya . Khu Lung Saduran . Tjan ID
Jilid 1 Bab 01 BENTENG MAUT!!
Dalam pandangan orang2 dunia persilatan, tempat itu merupakan sebuah istana yang mendatangkan maut bagi siapa yang berani mendekatinya.
Benteng kuno itu dibangun diatas sebidang tanah berbatu karang yang dikelilingi oleh tiga buah aliran sungai.
Pintu depan benteng yang menghadap ke arah daratan selalu terbentang lebar dan memperlihatkan sebuah pintu yang gelap gulita di atas dinding tembok tertera dua huruf besar yang cukup membetot hati siapapun yang menyaksikan.
Benteng Maut Dibawah dua huruf besar tadi terdapat pula sebuah tengkorak merah darah yang nampak menyeramkan.
Itulah lambang maut dari pemilik benteng kuno itu.
Selama hampir tiga puluh tahun lamanya di dunia persilatan tercekam dalam ketakutan, kengerian yang seolaholah hari kiamat hampir tiba, sebagian besar jago2 dari kalangan Bu lim banyak yang mati binasa dalam keadaan penasaran, banjir darah melanda dimana-mana.
Semua peristiwa berdarah yang terjadi selalu diakhiri dengan tertinggalnya lambang Tengkorak maut disisi setiap korban..
Kebrutalan serta kekejaman Tengkorak maut membuat orang jadi ketakutan dan menjuluki dirinya sebagai malaikat elmaut.
Tetapi...
lima belas tahun berselang, tiba-tiba pintu benteng itu tertutup rapat Tengkorak maut tak pernah muncul kembali di dalam dunia persilatan, seluruh Bu lim pun terlepas dari cekaman rasa takut dan ngeri.
sementara orang menduga tengkorak maut telah menghembuskan napasnya yang terakhir tetapi kenyataan membuktikan lain, sebab setiap rombongan orang Bu lim yang berangkat menyelidiki rahasia Istana maut tak seorangpun yang kembali dengan selamat.
Teka teki...
peristiwa itu merupakan suatu tanda tanya besar bagi semua orang.
Malam mencekam seluruh jagad, udara gelap gulita tidak nampak cahaya bintang maupun rembulan...
begitu pekat hingga melihat ke lima jari sendiripun susah.
Kilat menyambar2 diiringi suara gemuruh guntur yang bergeletar membelah bumi, kilatan tajam mendatangkan kilatan cahaya yang menerangi seluruh jagad.
Angin berhembus kencang mengiringi desiran yang menusuk pendengaran, menyapu seluruh benda di sekitar nya ....
ranting, daun dan debu berterbangan memenuhi angkasa...
Didalam sebuah dusun yang kecil nampak sesosok bayangan manusia sedang melaku-kan perjalanan dengan cepat menyeberangi jalan.
Kilat kembali menyambar...
kali ini terlihat lebih jelas lagi, kiranya bayangan tadi adalah dua sosok tubuh yang saling berpanggulan, seorang pemuda berusia tujuh delapan belas tahunan dengan membopong seorang pria berusia pertengahan sedang melakukan perjalanan cepat..
Sang pemuda berwajah tampan berperawakan kekar, sedang sang pria berusia pertengahan itu kurus kering tinggal kulit pembungkus tulang, napasnya kempas kempis dan rupanya sedang menderita sakit parah.
"Ayah ...."
Terdengar pemuda itu bergumam "Rupanya sebetar lagi akan turun hujan badai yang amat deras"
Pria berusia pertengahan yang ada didalam dukungannya mendengus lalu mengangguk.
"Benar, hujan bakal turun dengan deras nya.... inilah suatu saat yang paling bagus bagi kita".
"Apa??? saat yang paling bagus ???."
"Ehmm. sedikitpun tidak salah"
"Ayah, ananda tidak paham dengan maksudmu "
"setelah tiba ditempat tujuan nanti, kau akan segera mengerti"
"Ayah, mengapa kau harus memilih disaat yang paling jelek untuk keluar rumah???, sakit mu."
"Nak. sebentar lagi kau akan paham dengan sendirinya, ayoh cepat berangkat" . Guntur membelah bumi menggetarkan seluruh permukaan bumi, kilat kembali menyambar dan hujan deras mulai membasahi seluruh tempat...
"Ayah, hujan telah tiba .. bagaimana kalau kita ketempat berteduh ???".
"Tidak. tidak usah, cepatan dikit.."
"Tapi ayah.... sakitmu..."
"Justru karena aku, aku sakit. Aaai anakku. tak usah banyak bicara lagi, masih jauh kah, perkampungan keluarga Han??"
"Kita akan segera tiba ditempat tujuan, setelah belok tikungan bukit sana"
Kilat menyambar menerangi jagad, guntur bergeletar menerangi angkasa.
Hujan deras diiringi hembusan angin puyuh melanda seluruh jagad, begitu dahsyat hujan yang turun membuat tanah jadi berlumpur dan sangat becek.
setelah membelok sebuah tikungan bukit, akhirnya terlihatlan bayangan sebuah perkampungan muncul di hadapan mereka.
"Kita sudah...saam..saampai...nak .."
Pemuda itu mempercepat langkahnya masuk kedalam pintu perkampungan.
setibanya dalam ruangan, pemuda itu menurunkan pria berusia pertengahan tadi keatas tanah, lalu diapun duduk bersandar disisinya.
Dibawah kilatan cahaya petir, tampak pintu perkampungan itu sudah lapuk dan bobrok, sarang laba2 bergelantungan dimana2, debu yang menempel diatas lantai sangat tebal.
"Ayah, apakah perkampungan ini sudah lama tidak dihuni orang ??".
"Benar."
Dengan lemas pria berusia pertengahan itu menyandarkan diri ditepi pintu, napasnya tersengkal dan wajahnya berubah jadi pucat pias. bagaikan mayat.
"Ayah...kau...kenapa kau??"
Jerit pemuda tadi.
"Nak...mari mari kita, masuk ke dalam .."
"Tapi ayah...keadaanmu bertambah payah, kita lebih baik beristirahat dulu sejenak"
"Masuk."
Dari balik mata pria berusia pertengahan itu mendadak memancar keluar sorot cahaya yang sangat aneh, wajahnya berkerut kencang, dengan kerahkan segenap kekuatannya ia menghardik keras.
Pemuda itu bergidik dan berdiri menjublak tapi sejenak kemudian ia sudah mendukung kembali tubuh ayahnya masak ke dalam perkampungan.
Hujan badai telah berhenti, gunturpun telah sirap.
dengan perasaan ragu, sangsi dan penuh tanda tanya pemuda itu perlahan2 berjalan masuk kedalam perkampungan, ia tidak mengerti apa sebabnya siorang tua itu tidak mempedulikan sakitnya yang parah, di tengah hujan badai yang amat deras mengajak dia mengunjungi perkampungan yang sudah usang dan terbengkalai ini.
Bayangan hitam yang seram dan mengerikan segera mencekam perasaan si anak muda itu.
Jendela yang lapuk berbunyi gemericikan nyaring terhembus angin yang kencang, bayangan hitam dari tiang penglari, sudut ruang di balik pintu se akan2 berubah jadi bayangan setan yang mendirikan bulu roma.
"Ayah..."
Seru pemuda itu tak tertahan..
"Bu...bukankah kau...kau merasa taa..takut nak???"
"Tiiii ..tidak ..aku tidak . merasa takut"
Awan hitam perlahan2 membuyar, rembulan muncul dari balik kegelapan yang mencekam seluruh jagad dan memancarkan sinarnya menerangi perkampungan yang terbengkalai itu hingga mirip dengas sarang hantu.
Mendadak...
pemuda itu merasakan kakinya tersentuh sesuatu benda hingga hampir saja ia jatuh tertelungkup, , cepat ia tunduk kan kepalanya untuk memeriksa..
"Aaaaah..."
Ia menjerit tertahan, badannya jadi merinding dan bulu roma pada bangun berdiri sesosok tengkorak putih menbujur diatas lantai.
Diikuti dari balik semak belukar, sudut ruangan, beranda...
semuanya nampak tengkorak yang berceceran di-mana2.
Dua...tiga...empat...seluruh ruangan penuh berisikan tulang tengkorak manusia yang bergelimpangan di mana2..
Pemuda itu segera menghentikan langkah kakinya, sekujur badan gemetar keras, giginya saling bergemerutukan nyaring.
Kegelapan yang mencekam perkampungan yang terbengkalai..
serta tulang tengkorak manusia yang berserakan di mana2.
Api setan yang seakan2 datang dari arah yang tak diketahui ujung pangkalnya ini menciptakan suatu pemandangan yang menyeramkan, mengerikan hati...
"Ayah apa yang terjadi..."
Seru pemuda itu.
"Jaa...jangan banyak bertanya, masuk ke dalam ruangan tengah..." . si anak muda itu ragu2 untuk melanjutkan langkah kakinya, ia tak berani membayangkan pemandangan ngeri apa lagi yang akan ditemui diruang tengah, dalam benaknya telah dipenuhi dengan be ratus2 macam pertanyaan tetapi tak sebuahpun yang sanggup diutarakan keluar. Tapi secara lapat2 iapun dapat merasakan bahwa peristiwa yang dialaminya matam ini bukan kejadian biasa. Ayahnya tidak nanti tanpa alasan mengajak ia datang kedalam perkampungan bobrok yang penuh dengan tulang berserakan ditengah malam hujan badai yang deras.
"Ce...cepat masuk keruang tengah". terdengar pria berusia pertengahan itu ter batuk2 dan membentak.
"Kalau tidak kau...kau se lama hidup akan menyesal".
Dengan perasaan bergidik bercampur kaget pemuda itu mengiakan dan segara meneruskan langkahnya masuk kedalam ruangan.
Ruang tengah gelap gulita, sarang laba2 bergantungan dimana2, debu sangat tebal dan menyiarkan bau busuk yang sangat tak enak dibadan.
sekilas cahaya rembulan sempat menerobos masuk kedalam ruangan lewat celah2 dinding yang retak.
menerangi sedikit ruangan yang gelap dan apek itu.
Kembali ia saksikan tengkorak manusia berserakan ditengah ruangan tersebut.
Tak tahan lagi si anak muda itu berseru terperanjat, ia semakin bingung dan tak habis mengerti kenapa ayahnya mengajak dirinya mengunjungi rumah hantu semacam ini.
"Tuu turunkan aku" , seru pria berusia pertengahan itu. Pemuda tadi mengiakan dan menurunkan ayahnya keatas lantai, tapi tatkala ia berpaling pemuda itu segera berdiri menjublak. terasa olehnya bahwa ia sedang bermimpi jelek. Untuk pertama kalinya ia saksikan sang ayah yang bewajah ramah dan penuh kasih sayang itu menunjukkan mimik yang menakutkan, suatu perubahan air muka yang menjijikkan..
"Ayah...kau.."
Jeritnya keras2.
"Aku...aku bukan ayahmu "
Teriak pria tadi. Dengan hati terkesiap si anak muda itu mundur satu langkah ke belakang, dalam pikiran nya mungkin sang ayah berada dalam keadaan tak sadar, mungkin pikirannya tidak jernih.
"Nak"
Terdengar pria berusia pertengahan itu berkata lagi.
"Berikan separuh .... separuh Jin som itu kepadaku..."
Dengan wajah kebingungan pemuda itu mengambil keluar sebuah bungkusan kecil dari sakunya lalu diserahkan kepada pria tadi.
setelah menerima bungkusan tersebut, pria itu membuka bungkusan tadi lalu mengambil jin som dan ditelannya kedalam perut.
sesaat kemudian semangat serta kesegaran nya telah pulih kembali.
"Ayah bukankah sejak tadi telah kunasehati untuk menelan separuh buah jinsom tersebut, mungkin penyakitmu tidak akan berubah jadi separah ini..." . Pria berusia pertengahan itu tidak menggubris perkataan putranya, dengan wajah berkerut kencang dan menunjukan mimik yang mengerikan ia alihkan pandangannya ke arah sesosok tulang tengkorak manusa yang membujur disisinya penuh rasa hormat. sang pemuda yang menyaksikan tingkah laku ayahnya makin lama semangkin bingung.. kian lama kian bertambah terperanjat. sehabis menyembah kearah tengkorak tadi, titiktitik air mata nampak mengucur keluar membasahi pipinya yang kurus dan peot.
"Ayah .."
Kembali pemuda itu berseru.
"Aku bukan ayahmu!".
"Kau ..kau orang tua ..."
"sekarang dengarkanlah baik2"
Terdengar pria berusia pertengahan itu dengan wajah hijau membesi dan sorot mata menggidikan menatap sianak muda itu tajam2.
"Aku bukan ayahmu, aku adalah paman gurumu yang disebut orang si telapak naga beracun Thio Lien".
"Ayah ..."
Jerit pemuda itu dengan suara gemetar dan hati bergetar keras. sepasang mata pria berusia pertengahan itu melotot besar, tukasnya dengan suara seram.
"Aku bukan ayahmu, aku adalah paman gurumu sitelapak naga beracun Thio Lien".
"Paaaa...paman guru???".
"Tidak salah".
"Kalau begitu, keponakan bukan she Tio?"
"Tidak kau she Han".
"Aku she Han??"
Badan sianak muda itu mulai gemetar keras.
"Benar. kau she Han. Ingat baik2, namamu adalan Han siong Kie..."..
"Han siong Kie???".
"Ehm ayahmu bernama Han Hoei, dia adalah Jie suko ku ".
sekilas bayangan hitam berkelebat dalam benaknya, Han siong Kie merasa hatinya bergidik dan bulu roma pada bangun berdiri "Lalu ayahku..."
"Dialah tulang tengkorak dari jie suhengku dialah tulang tengkorak dari ayahmu "
Seru sitelapak naga beracun sambil menuding kearah tulang membujur disisi tubuhnya.
Bagaikan disambar petir disiang hari bolong Han siong Kie merasa dadanya jadi sesak.
pandangan matanya jadi gelap dan tak tahan lagi ia berteriak keras.
"Ayah..."
Tubuhnya menubruk keatas tulang tengkorak tadi dan jatuh tak sadarkan diri Dengan susah payah si telapak naga beracun Thio Lien menyalurkan jari tangannya dan menotok beberapa buah jalan darah di atas tubuh pemuda she Han tersebut.
Perlahan-lahan Han siong Kie tersadar kembali dari pingsannya, ia menyembah beberapa kali dihadapan tulang tengkorak ayahnya lalu dengan suara keras ia menjerit.
"susiok apakah perkampungan ini adalah rumah kediamanku??"
"Tidak salah"
"Tulang tengkorak manusia yang berse-rakan diseluruh perkampungan ini ...."
"Mereka anggota keluarga serta anggota perkampunganmu, semuanya berjumlah dua ratus jiwa" .."siapakah yang melakukan pembunuhan brutal ini????"".
"Dengarkan dulu ceritaku. pada hari Tiong Yang lima belas tahun berselang, aku dengan membawa sutemu datang mengunjungi ayahku, waktu itu kau masih berusia tiga tah sutemu adalah sebaya dengan usiamu hanya dia lebih muda dua bulan. Disaat kami sedang berbicara dan bercerita dengan riang gembira itulah tiba2 bencana datang dari atas langit,jie suheng segara melemparkan dirimu kepadaku sambil berpesan. sute, tolong, selamatkanlah keturunan keluarga Han kami.."
Mendengar sampai disini Han siong Kie merasakan pandangannya jadi ber kunang2, sambil menggertak gigi kencang2 ia berusaha menahan golakan emosi dalam hatinya.
"Waktu itu aku telah bertekad untuk berjuang sampai titik darah penghabisan"
Terdengar sitelapak naga beracun Thio Lien melanjutkan kembali kisahnya."
Tetapi pesan terakhir dari ayahmu tak dapat kutampik, maka disaat terakhir, aku membopong tubuh mu dan meloncat kedalam sebuah sumur kering ditengah halaman ...
"Lalu dimanakah sute???".
"Dia ..dia telah mati konyol mewakili dirimu"
Sahut Thlo Lien dengan mata melotot besar. Han siong Kie tak kuasa menahan diri, ia muntah darah segar. si telapak nega beracun Thio Lien melirik sekejap kearahnya, lalu melanjutkan.
"Ketika aku membawa kau merangkak ke luar dari sumur tua itu, seluruh isi perkampungan telah porak poranda ..tak seorang manusiapun berada dalam keadaan hidup,"
Han siong Kie menjerit keras, sekali lagi ia muntah darah segar dan badannya mundur dengan sempoyongan.
"Dimanakah ibuku??".."Ibumu??"
Thio Lien menggigit giginya.
"Kenapa dengan ibuku???"
Satu ingatan jelek kembali berkelebat dalam benak sianak muda itu "Ibumu bernama Say Siang Go, si siang Go cantik ong coei Ing, pada lima belas tahun berselang merupakan wanita tercantik didalam dunia persilatan"
"Apakah ia tidak mati didalam peristiwa berdarah itu???".
"Tidak "
"Kenapa ???".
"Kejadian itu merupakan suatu teka teki hingga kini hanya dia seorang yang masih hidup dalam keadaan segar bugar" .
"sekarang ibuku berada dimana??? susiok apakah kau tahu??"
"Aaaai..."
Sitelapak naga beracun Thio Lien menghela napas sedih.
"Nak .... lebih baik kau tak usah menanyakan persoalan ini"
"Tidak ...."
Jerit Han siong Kie sambil gelengkan kepalanya berulang kali.
"Aku ingin tahu susiok aku ingin tahu nasib yang dialami ibuku".
"Dia sudah menikah lagi"
"Apa??? ibuku menikah lagi ????"
Sekujur tubuh pemuda she Han ini menggetar keras, hampir saja ia tak sanggup menahan golakan hati yang terasa amat berat itu.
"sedikitpun tidak salah".
"Apakah dia tahu kalau aku masih di dunia dikolong langit ?"
"Ia Tahu".
"Kenapa ia tidak datang mencari diriku?"
"Aku pernah membawa dirimu pergi mencari dirinya, tapi hampir saja kita berdua mati konyol diujung telapak tangannya, berulang kali dia memperingatkan diriku, katanya apabila lain kali sampai bertemu lagi, maka jiwa kita berdua pasti akan dicabut. oleh sebab peristiwa inilah selama lima belas tahun lamanya aku tak berani munculkan diri didalam dunia persilatan"
Han siong Kie menjerit keras dan sekali lagi muntah darah segar, ia tidak menyangka kalau dirinya ternyata memiliki seorang ibu yang begitu kejam bagaikan kalajengking...
Blaam pemuda itu tak sanggup berdiri tegak lagi dan segera jatuh terduduk diatas tanah.
"Apakah ia tidak mempunyai rencana untuk membalas dendam kematian bagi keluarganya??"
"Anak kandung sendiripun sudah tidak mau, apa lagi membicarakan soal pembalasan dendam"
"Suatu hari aku... aku mau membinasakan dirinya."
"Apa? kau headak membunuh ibumu sendiri??? "
Han siong Kie menutupi wajahnya dengan sepasang tangan lalu menangis ter-sedu2.
"Ya a h Allah kenapa kau bisa mempunyai seorang ibu macam begini.??..".
"Nak bagamanapun juga akhirnya kau telah tumbuh jadi dewasa, tetapi karena terikat oleh sumpah aku tak dapat mewariskan segenap kepandaian silat yang kumiliki kepadamu, namun dalam lima belas tahun belakangan ini kau sudah memiliki dasar tenaga lweekang yang cukup kuat, asal kau dapat bertemu dengan guru pandai tidak sulit untuk memperoleh kemajuan yang pesat Nah sekarang kau boleh pergi" .
"Susiok. kau bilang apa???"
Seru Han siong Kie dengan hati terkesiap. matanya terbelalak dan mulutnya melongo.
"Aku minta kau segera tinggalkan tempat ini "
"Aku disuruh tinggalkan tempat ini??".
"Benar."
"Lalu bagaimana dengan susiok???".
"Aku sudah mencuri hidup selama lima belas tahun lamanya, tugas yang dititipkan jie suheng kepadakupun sudah selesai sekarang aku sudah sewajarnya untuk menyusul diri Jie suhengku"
"susiok, kau..."
Seru Han siong Kie dengan hati sedih, ia sebera merangkak kehadapan telapak naga beracun Thio Lien dan berlutut di hadapannya.
"Nak, tindakan ini merupakan peraturan dari perguruan, kau tak bakal mengerti"
"Tidak susiok. kau tak boleh..."
"Nak, itu namanya nasib"
"Bagaimanapun juga kau harus mengerti dan memahami "
"susiok kau telah mengorbankan jiwa sute demi menyelamatkan jiwaku, selama lima belas tahun kaupun telah mendidik dan memelihara aku, budi kebaikan yang sedalam lautan ini meski badan titjie harus hancur lebur pun tak akan terbalas" .
"Omong kosong kesemuanya itu cuma omong kosong."
"Tidak susiok. aku tidak akan membiarkan dirimu. ."
"Apakah kau hendak memaksa aku untuk menghianati perguruan?? kau hendak paksa aku melanggar peraturan?? "
"Tetapi.. .susiok bagaimanapun juga kau harus mengatakan dulu alasan2nya".
"Tidak bisa, ini adalah perintah dari perguruan yang tak dapat dibangkang..."
Makin dipikir Han Siong Kie merasa semakin bimbang dan tidak habis mengerti, ia tak dapat menangkap maksud perkataan dari susioknya barang sepatah katapun.
"Susiok, lalu siapakah musuh besar kita.??"
Akhirnya ia bertanya lagi setelah termenung beberapa saat lamanya.
"Kau tak usah tahu siapakah musuh besar kita.."
"Kenapa?? apakah..."
"Ingat"
Seru si telapak naga beracun Thio Lien dengan mata bercahaya tajam.
Pertama kau tidak diperkenankan membicarakan atau mengungkap asal usulmu kepada siapapunjuga.
Kedua.
dilarang mengubur tulang belulang yang berserakan ditempat ini.
Ketiga, Dilarang membalas dendam"
"Susiok, kau sedang mengatakan soal apa?"
Jerit sianak muda itu pedih.
"Ini perintah dari paman gurumu, kau tak boleh melanggar."
"Susiok, ingatanmu mungkin tidak..."
"Omong kosong, aku segar bugar otakku jernih dan tidak melantur"
"Lalu kenapa aku tak boleh membalas dendam??".
"Kau tak usah bertanya mengapa, ayahmu yang ada diakhirat pasti mengerti dan memahami keadaan sebenarnya dan ia pasti dapat menyetujui tindakan yang telah kuambil ini."
"Kalau begitu tit-jie tolong tanya nama dari perguruan kami??".
"Masa yang sudah silam tak usah dibicarakan lagi, lebih baik kau tak usah tahu tentang hal itu lagi" .
"Lalu ibuku yang berhati kejam bagaikan kala itu telah kawin lagi dengan siapa?".
"Kauwcu dari perkumpulan Thian Che Kauw"
"Macam apakah Thian Che Kauwcu itu???"..
"Persoalan ini mungkin jarang ada orang yang bisa menjawab Thian Chee Kauwcu adalah pemimpin dari suatu perkumpulan terbesar di kolong langit dewasa ini, kedudukan nya tinggi dan kekuasaannya meliputi seluruh dunia persilatan" .
"susiok. titrjie selama ini tak pernah mendengar susiok membicarakan tentang diri susiokbo."
Sinar kebencian dan penuh rasa dendam memancar keluar dari telapak naga beracun Thio Lien..
sesaat kemudian dengan nada sedih ia menjawabi "Apa yang telah terjadi persis seperti peristiwa berdarah yang dialami oleh keluargamu, hanya kejadian itu berlangsung tiga hari setelah aku tinggalkan rumah."
Dalam sedihnya yang kelewat batas Han siong Kie masih sempat merasakan hatinya bergetar keras setelah mendengar perkataan itu, ia hampir saja tidak mempercayai apa yang dikatakan susioknya sitelapak naga beracun Thio Lien terhadap dirinya, sebab apa yang terdengar olehnya hampir mendekati tidak masuk diakal.
Mengapa keluarga Han dan keluarga Thio mengalami peristiwa berdarah hampir bersamaan waktunya??
dan dia mengapa di larang untuk membalas dendam serta mengubur tulang belulang yang berserakan diseluruh perkampungan usang itu???
Dalam pembicaraannya, setiap kali sang susiok menegaskan bahwa itu perintah perguruan, apa yang dia maksudkan??
Apakah peristiwa berdarah ini mempunyai hubungan yang erat dengan dendam berdarah dari perguruan angkatan sebelumnya??
Kenapa susioknya tak mau menerangkan tentang perguruannya???
selama belasan tahun mereka hidup berdampingan sebagai ayah dan anak...
hubungan itu demikian rapat dan eratnya..
Belum habis dia berpikir, terdengar si telapak naga beracun Thio Lien telah menjerit sedih.
"Suhu, tecu sudah mencuri hidup lima belas tahun lamanya, ini hari aku baru berhasil menyelesaikan perintahmu" . Plooook diiringi dengusan napas barat, tampaklah darah segar berhamburan keempat penjuru, siorang tua she Thio itu telah menghantam ubun2 sendiri hingga hancur berantakan, otak bermuncratan ke mana2 dan jiwanya segera melayang meninggalkan raganya. Dengan perasaan tertegun... kaku. Han siong Kie menyaksikan drama seram itu berlangsung dihadapan matanya, ia tidak menangis pun tidak bersuara. seakan2 segala sesuatunya sudah jauh meninggalkan dirinya.. seolaholah ia sudah bukan termasuk didalam dirinya, yang terlihat saat itu hanyalah kegelapan yang kelabu serta kegirangan yang menyelubungi seluruh tubuhnya. Ia merasa se akan2 dirinya sudah berada didunia yang lain, disuatu tempat yang hampa ... kosong... Thio susiok telah bunuh diri dan ia berkata bahwa kesemuanya itu adalah perintah perguruan, kenapa?? Ia dilarang membicarakan soal asal usulnya, dilarang mengubur tulang belulang yang berserakan, dilarang membalas dendam Kenapa?? kenapa demikian???? apa yang sebenarnya sudah terjadi ??? Malam semakin kelam udara semakin dingin ia berdiri seorang diri ditengah kesunyian. -000dw000-BAB FAJAR telah menyingsing, sang surya perlahan2 muncul diufuk sebelah timur dan memancarkan sinarnya menembusi celah2 jendela, menerobos ruang yang luas dan menyinari mayat Thio Lien serta tulang berulang yang berserakan di mana2. Han song kie mendusin dan sadar kembali dari kesedihan yang kelewat batas, kengerian yang terbentang dihadapan wajahnya membuat hatinya layu ... perih.. bercampur dendam. Mendadak...ia temukan bayangan bewarna merah diatas dinding tembok. cahaya itu seperti lukisan sebuah lambang, maka didekatinya dinding tadi dan membersihkannya dari kotoran debu, sesaat kemudian terlihatlah sebuah lukisan tengkorak darah diatas dinding tadi..Tengkorak darah itu melambangkan apa?? Mungkinkah tanda pribadi dari musuh besarnya? ataukah lukisan dari mendiang ayahnya???...
"Aku harus membalas dendam aku harus menyelidiki peristiwa ini hingga jelas ...." . sambil menjerit-jerit ia lari keluar perkampungan, bagaikan sukma gentayang berkeliaran dijalan raya.... Mimpipun ia tak pernah menyangka kalau dirinya menpunyai asal usul yang begitu mengerikan .... begitu memedihkan hati. Ia teringat kembali keluarganya yang musnah dalam keadaan mengerikan, ia teringat pula budi pertolongan Thio susiok nya yang telah memeliharanya dan mendidik dirinya selama lima belas tahun, budi kebaikan ini selamanya tak akan bisa dibalas.... Ibunya....si siang Go cantik ong Coei Ing menurut Thio susioknya adalah perempuan tercantik diseluruh kolomg langit, tetapi diapun merupakan wanita paling kejam paling berbisa hatinya dikolong jagat, bukan saja ia tak mau mengakui anak kandungnya sendiri, tak mau membalaskan dendam atas peristiwa berdarah itu bahkan malah kawin lagi dengan orang lain.... Ia merasa sakit hati, merasa dendam dan malu... malu karena mempunyai seorang ibu semacam itu. Dalam semalam suntuk, la telah berubah jadi seorang manusia yang lain Benci, dendam, marah dan malu telah bercampur aduk didalam benaknya, mencair dan menjadi satu dengan darahnya. Diatas raut wajahnya yang tampan terlintas perasaan dingin yang menyeramkan membuat siapapun yang memandang merasa bergidik dan ngeri. sorot matanya memancarkan cahaya tajam penuh kebencian, penuh perasaan dendam yang mendalam. Bagaikan sukma gentayangan ia berjalan, ia berjalan terus tanpa arah tujuan Mendadak... suara.. bentakan nyaring berkumandang disisi telinganya.
"Hey, kalau jalan kau pakai matamu atau tidak?? ngawur saja seenaknya..." .. Bagaikan baru sadar dari impian Han siong Kie tersentak kaget, lalu angkat kepala nya, tampaklah dua orang dayang berwajah cantik telah berdiri dihadapan matanya sementara empat orang pria kekar yang menggotong sebuah tandu kecil mangikuti di belakang dayang tadi. Disaat sianak muda itu mendongak itulah mendadak kedua orang dayang tersebut melenggak. lalu sambil menutupi mulutnya tertawa cekikikan, empat biji mata yang bening berseliweran memperhatikan sekujur tubuhnya. Dengan dingin dan ketus, Han siong Kie melirik sekejap lawannya, kemudian putar badan dan meneruskan perjalanannya lewat sisi jalan.
"Kembali ", serentetan suara bentakan yang mengandung besi semberani berkumandang keluar dari dalam tandu.
Han song Kie sama sekali tidak menggubris tanpa berpaling barang sekejappun ia meneruskan perjalanannya menuju ke depan.
Angin berbau harum berkelebat lewat, mendadak sianak muda itu merasakan pandangannya nanar.
sesosok bayangan manusia tahu-tahu sudah menghadang dihadapannya.
Han siong Kie tanpa sadar telah menghentikan langkah kakinya dan mendongak, tampaklah seorang perempuan muda, berbaju merah yang amat cantik telah menghadang dihadapan mukanya.
perempuan itu kira-kira dua puluh tahunan wajahnya menunjukkan kegenitan serta kejalangan yang tebal.
"Hey kau dengar tidak. perkataanku??.."
Suaranya merdu dan enak didengar.
Begitu melihat perempuan muda berbaju merah ini, HanSiong Kie segera teringat kembali akan ibunya, rasa benci dan mendendam seketika muncul didalam hatinya, tanpa sadar mendengus dingin dan melengos ke samping...
Perempuan itu jadi tercengang menyaksikan tingkah laku lawannya, belum pernah ia berjumpa dengan seorang pria yang sama sekali tidak ambil perduli terhadap dirinya, disamping itu perempuan itupun merasa tertarik akan ketampanan wajah lawan, jarang sekali ia menjumpai pria tampan semacam ini.
Maka sambil tertawa ter-kekeh2 tegurnya.
"Heeei, saudara cilik, aku sedang mengajak kau berbicara, kau tidak mendengar??".
"Cayhe tidak punya kegembiraan untuk menemani kau bicara"
Sahut Hansiong Kie ketus.
"Aduuuh mak. .sombong amat kau, tahukah kan siapa aku??"
"Perduli amat siapa kau, apa sangkut paut nya dengan diriku?? "
Merah jengah sekitar wajah perempuan muda itu, tapi sedetik kemudian telah pulih kembali seperti sedia kala.
"saudara cilik, kau..."
"Huuuh, siapa yang sudi jadi saudaramu".
"siapakah namamu?? boleh toh diberitahu kan kepadaku??" .."Aku merasa tiada berkewajiban dan berke-harusan untuk memberitahukan namaku ke padamu".
"Jadi kau benar2 tidak pingin tahu siapakah aku??".
"Tidak"
Habis berkata ia putar badan dan segera berlalu dari situ...
"Tidak gampang pemuda tampan kau tinggalkan tempat ini" . Diiringi seruan nyaring tahu2 perempuan muda berbaju merah itu telah menghadang di depan tubuhnya, gerakan ilmu meringankan tubuh yang diperlihatkan sungguh lihay dan cukup membuat Han siong Kie merasa amat terperanjat.
"Apa yang siap hendak kau lakukan??"
Teriaknya.
"Aku hendak paksa kau untuk menjawab pertanyaanku".
"Kalau aku tak mau menyahut???".
"Mungkin kau tak bisa menuruti keinginan hatimu itu".
"Hmmm"
Si anak muda itu kontan mendengus dingin "Apa yang kau dengusi??".
"Aku benci...".
"Apa yang kau benci ???".
"Aku benci terhadap kalian kawanan perempuan"
Seru Han siong Kie dengan wajah menghina dan sinar mata penuh kebencian. Mendengar sahutan tersebut perempuan muda berbaju merah itu tertegun, beberapa saat kemudian ia baru berseru.
"Kau membenci semua perempuan yang ada dikolong langit???".
"Tidak salah" . Dua orang dayang yang berada disisinya tak tahan segera tertawa cekikikan, kejadian ini benar2 merupakan suatu peristiwa yang sangat aneh, sungguh tak nyana seorang pemuda tampan bisa mengutarakan kata2 semacam ini.
"Mengapa kau benci semua perempuan yang ada dikolong langit??..."
Tanya perempuan muda berbaju merah itu dengan wajah tercengang.
Han siong Kie tidak menjawab pertanyaannya, sekali enjot badan ia menerobos lewat sisi tubuh perempuan itu.
Perempuan muda berbaju merah tadi segera tersenyum, sepasang lengannya di rentangkan ke samping dan seketika terasalah segulung tenaga hisapan yang amat kuat menarik tubuhnya hingga mentah2 terdesak balik ke tempat semula.
Han siong Kie benar2 merasa amat terperanjat, ia tidak mengira kalau tenaga lweekang yang dimiliki lawannya telah mencapai puncak yang demikian sempurna nya.
"Ayoh jawab dulu pertanyaanku, maka aku akan memberi jalan lewat bagimu"
Seru perempuan muda berbaju merah itu sambil tertawa ringan. Dengan biji mata yang memancarkan perasaan penuh kebencian, Han siong Kie menatap wajah lawannya tajam2, lalu seru nya dengan nada gusar.
"Kau tak usah bermimpi disiang hari bolong, tidak nanti aku akan mengabulkan permintaanmu itu".
"Huuuh dengan mengandalkan kekuatanmu semacam itupun berani berlagak jumawa di hadapanku?? "
"Hmmm perempuan yang tak tahu malu"
Kurang-ajar, kami siapa yang tidak tahu malu ???"
Bentak wanita muda berbaju merah itu dengan wajah dingin membesi, suara tertawa dingin berkumandang tiada hentinya.
"Aku sedang memaki dirimu mau apa?"
Perempuan muda berbaju merah itu kontan naik pitam, tiba2 di atas wajahnya yang cantik terlintas napsu membunuh yang sangat tebal, ia mendengus dingin "Manusia yang tidak tahu diri tangkap bangsat cilik ini"
Perintahnya.
Dua orang dayang yang berdiri di sisinya segera enjotkan badannya menubruk ke arah Han siong Kie, empat buah cakar mautnya laksana kilat meluncur ke arah depan.
Han siong Kie benar2 merasa amat gusar, begitu marahnya sampai perut terasa mau meledak.
sepasang telapaknya secara terpisah membabat keluar dan mengancam tubuh musuh musuhnya.
siapa tahu belum sampai serangan tadi mengenai sasarannya, sepasang pergelangan terasa jadi kaku dan tahu2 tangannya sudah kena dicengkeram lawannya erat2.
Melihat kelemahan tubuh lawannya, perempuan muda berbaju merah itu tak bisa menahan diri lagi dan tertawa cekikikan dengan kerasnya.
"Hiiih..hiiih.... hiiih.... kiranya kau hanyalah sebuah bantal yang bersulam bunga"
Selama lima belas tahun lamanya Han siong Kie mengikuti diri telapak naga beracun Thio Lien, didalam tenaga lweekang ia memiliki dasar yang sangat kuat, tetapi jurus serangannya teramat biasa tiada keanehan apapun, karena si telapak naga beracun pernah bersumpah ia tak boleh mewariskan jurus serangan perguruannya kepada pemuda ini kecuali jurus-jurus serangan yang sederhana.
Begitulah sambil mencengkeram sepasang pergelangan Han siong Kie dengan tenang kedua orang dayang cilik itu menantikan keputusan dari perempuan berbaju merah.
Han Song Kie benar-benar merasa naik pitam sehingga tujuh lubang inderanya terasa keluar asap panas, tetapi apa daya ia tak sanggup berbuat sesuatu terpaksa dengan mata melotot penuh kebencian ia awasi lawannya..
Dengan sikap yang genit dan kerlingan mautnya perempuan berbaju merah itu selangkah demi selangkah berjalan mendekati sianak muda itu, serunya merdu.
"saudara cilik, sekarang kau boleh menjawab pertanyaanku bukan??...".
"Tidak.."
Teriak Han siong Kie dengan mata melotot.. Perempuan muda berbaju merah itu tertawa cekikikan, ia raba pipi Han siong Kie dengan manja dan berkata lagi.
"Justru aku paling suka dengan lelaki berhati keras dan bersikap gagah macam dirimu".
"Cuuuuh"
Han siong Kie menyemburkan ludahnya ke arah wajah perempuan muda itu.
Tindakan tersebut sungguh jauh di luar dugaan perempuan berbaju merah itu, lagi pula jarak diantara mereka amat dekat sekali, semburan ludah ini tak berhasil menghindari lagi dan mengena dengan telak di atas wajahnya.
sepasang alis perempuan berbaju merah itu kontan berkerut kencang, telapak tangan nya langsung diayun ke depan menghadiahkan sebuah tempelengan keras ke atas pipinya.
"Ploook!"
Han siong Kie merasakan pipi kirinya jadi amat sakit, dan segera muncullah sebuah telapak tangan yang berwarna merah dengan bekas yang nyata.
"Perempuan sialan yang tak tahu malu"
"Ploook.."
Kembali sebuah tempelengan keras bersarang di atas pipi kanannya, tempelengan kali ini jauh lebih keras dari tamparan semula membuat si anak muda itu merasakan matanya berkunang2 dan cairan darah menyembur keluar dari mulutnya.
Begitu sakitnya sampai2 ia merintih kesakitan.
sepasang mata Han siong Kie seketika mendelik besar, dengan cahaya penuh kebencian dan hawa amarah yang ber kobar2 jeritnya sambil menggertak gigi.
"Ingatlah baik2 suatu hari aku bisa mengembalikan kesemuanya ini kepadamu bersama rentenya"
"Hmmm kau tidak akan mempunyai kesempatan untuk berbuat begitu.."
Seru perempuan berbaju merah itu dengan wajah hijau membesi, suaranya dingin dan ketus.
Han siong Kie mendengus gusar, sepasang lengannya segera direntangkan ke samping.
Meskipun ilmu silatnya biasa dan tidak lihay tetapi didalam hal tenaga lweekang pemuda ini mempunyai hasil latihan selama lima belas tahun, rentangan tersebut tak bisa dipandang enteng.
Perempuan berbaju merah itu tertawa menjengek, telapak tangannya perlahan2 di angkat keatas, serentetan angin desiran segera meluncur keluar menghajar tubuh lawan.
Han siong Kie berseru tertahan dan segera roboh terjengkang ke atas tanah setelah termakan oleh serangan jari itu.
"Angkut dan masuk ke dalam tandu"
Perintah perempuan itu Kedua orang dayang tersebut sebera mengiakan, yang seorang membohong tubuh Han siong Kie dan seorang yang lain membuka horden di depan tandu segera menyusupkan tubuhnya ke belakang tempat duduk.
Perempuan berbaju merah itu sendiri berkelebat masuk ke dalam tandu, empat orang pria kekar itupun menggotong tandu tadi dan meneruskan kembali perjalanannya.
setelah tubuhnya disusupkan ke belakang tempat duduk.
Han siong Kie segera merasakan bau harum semerbak yang menusuk hidung berhembus lewat tiada henti nya, membuat ia merasakan kepalanya pusing tujuh keliling dan terasa muak.
tetapi pendapatnya yang sudah berakar didalam hatinya membuat si anak muda ini kecuali membenci perempuan yang dianggap berbisa bagaikan kala, tiada ingatan lain lagi.
Ia tidak tahu apa tujuannya perempuan baju merah itu bersikap demikian terhadap dirinya??
Ia teringat pula akan hasil latihannya selama lima belas tahun, ternyata tak sanggup untuk menahan satu jurus serangan dari seorang dayang cilik itu, apa lagi mencari musuh besarnya untuk membalas dendam, bukankah hal itu bagaikan impian orang tolol??"
Asalkan aku tidak mati, aku bersumpah harus mempelajari kepandaian silat yang maha lihay berulang kali ia bergumam di dalam hati kecilnya.
Entah sudah beberapa lamanya telah lewat dan beberapa jauh telah mereka tempuh..
Mendadak....
tandu itu telah berhenti, diikuti desiran angin tajam berseliweran di depan tandu.
"siapa yang menghadang pergi kita??"
Bentak perempuan muda berbaju merah itu nyaring.
"Lapor Thongcu, Kang Lam Chit Koay telah datang mencari setori dengan kita"
"suara salah seorang dayang itu berkumandang datang.
"Oooh, kiranya perempuan yang tak tahu malu ini adalah seorang thongcu..."
Pikir Han Siong Kie didalam hatinya.
"Entah ia berasal dari perkumpulan mana dan siapa pula ke tujuh manusia aneh dari Kang lam itu?...".
"Lie In Hiang"
Terdengar serentetan suara bentakan berat berkumandang keluar.
"Ayoh gelinding keluar dari dalam tandu, dan jawab pertanyaan kami" . Dari ucapan tersebut, sianak muda she Han pun lantas tahu bahwa perempuan berbaju merah itu bernama Lie In Hian. Perempuan berbaju merah itu segera mendengus dingin, sambil melangkah keluar dari tandunya ia menyahut "Kang lam chiet Koay, ada urusan apa kau menghadang jalan pergi pun Thongcu???" . Suara dengusan gusar berkumandang beberapa kali, orang yang buka suara pertama tadi segera berseru kembali dengan suara berat.
"Lie In Hiang kau tak usah pura-pura edan dan berlagak pilon, apa salahnya Go Yoe Too pangcu dari perkumpulan Pat Gle Pang sehingga kau bunuh dengan begitu mengerikan???"
"Lalu apa maksud tujuan cuwi sekalian?."
"Hutang nyawa bayar nyawa, hutang darah bayar darah".
"HiiihHiih Hiiih aku si kupu-kupu warna-warni Leng In Hiang merasa mendapat kehormatan untuk menerima kunjungan kalian semua, tapi tolong tanya keadilan yang kalian inginkan itu hendak kalian tagih cara apa ??" .
"Kau sudah larikan batok kepala Go Yoo Too kemana??" ..
"Kini masih didalam tanduku, sayang aku buru-buru harus kembali untuk memberi laporan hingga tak bisa melayani kalian lebih lanjut" .
"Lie In hiang "teriak seseorang dengan suaranya yang kasar."
Permusuhan apakah yang terikat antara Go Yoe Too dengan perkumpulan Thian chee Kauw??"
Han siong Kle segera merasakan hatinya bergetar keras, ia teringat kembali bahwa ibunya yang berhati kejam bagaikan kala si siang Go cantik ong Coei Ing telah kawin lagi dengan Thian che Kauwcu, darah panas segera bergelora didalam dadanya.
Dalam pada itu terdengar si kupu2 warna warni Lle In Hiang telah berseru sambil tertawa genit.
"Go Yoe Too berani memandang hina perkumpulan kami, maka dari itu dia harus di bunuh sampai mati".
"secara bagaimana ia menghina dan memandang rendah perkumpulan Thian chee Kauw??".
"Pada ulang tahun Kauwcu kami sebulan berselang, semua wakil dari partai serta perkumpulan yang ada di dunia persilatan telah berkunjung untuk memberi hormat, hanya dia seorang yang tidak hadir, maka dia musti dibunuh sampai mati " . Beberapa bentakan nyaring serentak bergeletar memenuhi seluruh angkasa ....
"Perkumpulah Thian Chee Kauw hendak mengangkang seluruh kolong langit, hendak melenyapkan keadilan serta kebenaran di dalam Bu-lim, dia harus dibunuh sampai mati."
Desiran angin pukulan segera men deru2, rupanya kedua belah pihak telah saling bertarung dengan serunya.
suara menjerit ngeri yang menyayat hati bergema mengiringi gelak tertawa yang merdu, jelas diantara tujuh manusia aneh ada seorang telah menemui ajalnya.
Pertarungan berjalan semakin seru dan jeritan-jeritan ngeri pun tiada hentinya bergema memecahkan kesunyian.
setiap kali jeritan berkumandang memenuhi angkasa, suara tertawa cekikikan dari kupu-kupu warna warni Lie In Hiang segera bergema mengiringinya.
Meskipun Han siong Kle tak dapat mengikuti pertarungan itu dengan mata sendiri, tetapi dari suara yang bergema diangkasa ia dapat menduga betapa seram dan ramainya pertempuran tersebut dan membuktikan pula betapa lihay tenaga lwekang yang dimiliki Lie In Hiang serta kekejian hatinya.
suara gaduh kian lama kian bertambah sirap dan akhirnya sebuah jeritan keras mengakhiri pertempuran sengit itu.
Kang lam chit Koay tujuh manusia aneh dari Kang lam telah mati binasa semuanya dalam keadaan mengerikan.
sedang si kupu-kupu warna warni Lie In Hiang dengan penuh senyuman dan seakan akan tak pernah terjadi sesuatu apapun, kembali masuk kedalam tandunya.
"Sungguh kejam hati perempuan ini"
Pikir Han song Kie didalam hati kecilnya.
Suatu hari aku pasti bisa membinasakan dirimu Tandu kembali melanjutkan perjalanannya menuju ke depan, tidak lama kemudian terdengarlah suara gemuruh air yang amat santar, rupanya mereka telah tiba di tepi sungai, suara pembicaraan manusia bergema tiada hentinya, mungkin di atas jalan raya itu banyak orang sedang melanjutkan perjalanan.
secara lapat-lapat terdengar suara beberapa orang manusia sedang membicarakan sesuatu.
"Selama Benteng Maut tidak dibasmi, dunia persilatan selamanya akan dirundung malang..."
"Pemilik benteng maut sudah puluhan tahun lamanya menjajah dunia persilatan, berapa ribu orang telah mati diujung telapak nya."
"Aaaah, mungkin makhluk aneh yang misterius itu sudah lama tak ada dikolong langit, entah dia mempunyai ahli waris atau tidak???" .
"Yang paling dikuatirkan pelbagai perkumpulan dan partai justru adalah persoalan ini, maka atas nama perkumpulan Thian chee Kauw yang menyebar surat undangan Bu-lim.
Tiap semua jago yang ada dikolong langit diundang untuk berkumpul disini dan bersama2 membasmi benteng maut ini "".
"Aaah, mungkin saja pemilik Benteng Maut itu masih hidup dikolong langit??..".
"Tetapi pintu benteng sudah lima belas tahun lamanya tertutup rapat, Bu-lim pun sudah tenang selama lima belas tahun lamanya, apakah mungkin...."
"oooh, akibatnya sungguh menakutkan sekali".
"Kali ini jago2 lihay dari lima partai besar, It-kauw Jie-Pang serta Jio hwie ikut hadir semua dalam pertemuan besar ini, bahkan Lam Kay si pengemis dari selatan serta Pak Ceng sipendeta dari utara yang amat tersohor nama nya didalam Bu limpun katanya akan ikut munculkan diri.."
Suara pembicaraan itu makin lama semakin jauh dan katakata selanjutnya tak sempat ditangkap lagi, tetapi Han siong kie telah dapat menangkap garis besar dari kejadian yang sebenarnya Jelas jago2 Bu lim dari kalangan Hek to serta Peksto telah mengerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya untuk menghadapi Benteng Maut.
Tetapi ia tak tahu, apa sebetulnya "Benteng Maut"
Itu dan macam apakah si pemilik Benteng Maut itu sehingga dilukiskan begitu mengerikan dan menyeramkan sampai2 seluruh umat Bu-lim bersatu padu untuk menghadapinya.
Tandu telah berhenti dan si kupu2 warna warni Lie In Hiang pun meloncat keluar dari tempat duduknya.
Angin berhembus amat kencang dan menyingkap kain horden yang menutupi tandu tersebut, Han siong Kle yang menggeletak di dasar tempat duduk sempat mengintip keluar dari tempat berbaringnya, terlihat sebuah sungai besar dengan ombak yang besar terbentang dihadapannya, beratus2 orang jago Bu lim sama2 berkumpul ditepi sungai.
Di tengah sungai berdiri dengan angkernya sebuah benteng kuno, di depan benteng terdapat sebuah jembatan batu yang menghubungkan benteng tersebut dengan tepi seberang.
sebuah tonggak batu yang besar dengan tulisan "Benteng Maut"
Berdiri dengan angker nya di sisi Benteng kuno tersebut.
satu ingatan segera berkelebat dalam benak Han siong Kie, ia segera putar kepalanya dan memandang lebih jauh ....
Mendadak ia berdiri menjublak, sekujur badannya bergetar keras bagaikan kena aliran listrik, disisi pintu benteng yang lain terlihatlah sebuah tengkorak berwarna merah darah, bentuk tengkorak itu persis seperti lukisan yang terdapat di atas dinding ruangan perkampungan keluarganya.
sekarang ia baru paham peristiwa berdarah yang menimpa keluarga Han serta keluarga Thio pada lima belas tahun berselang kiranya adalah hasil karya dari pemilik "Benteng maut".
Ia teringat akan larangan susioknya si telapak naga beracun Thio Lien yang tidak memperkenankan dirinya membalas dendam serta mengubur tulang belulang keluarganya ini disebabkan karena musuh besar mereka yang terlampau tangguh.
Tetapi kalau ditinjau dari kematian susioknya, jelas ia tidak kesal atau murung dan berulang kali mengatakan bahwa hal itu merupakan perintah dari perguruannya, kenapa??
kenapa begiiu??
ia tak mengerti dan tak habis mengerti .....
sepasang matanya dengan tajam menatap di atas tengkorak darah itu tanpa berkedip.
kobaran napsu dendam dan hati bergelora didalam hatinya.
Tetapi setelah ia teringat akan kepandaian silat yang dimilikinya, si anak muda itu jadi lemas....
ilmu silatnya sama sekali tak becus, sedangkan musuh besarnya adalah seorang gembong iblis amat lihay serta harus dihadapi dengan penggabungan segenap kekuatan golongan Pak to maupun Hek to.
Membalas dendam ....
baginya mulai kabur dan tipis harapannya.
Tetapi, apakah sakit hati ini tak usah di balas???...
Belum habis ingatan tersebut berkelebat didalam benaknya, terasalah bulu kuduknya ditabok orang, ia segera berpaling dan terlihatlah seorang pengemis cilik yang berwajah dekil sedang memandang ke arah nya sambil tertawa bodoh..
Dalam keadaan jalan darah tertotok.
ia sulit untuk buka suara, badanpun tak dapat berkutik, hatinya jadi terperanjat bercampur heran, ia tak tahu secara bagaimana si pengemis cilik itu dapat menerobos masuk ke dalam tandunya.
Terdengar si pengemis cilik itu tertawa cekikikan, lalu katanya.
"Heng-thay, ada keramaian besar segera akan berlangsung, kenapa kau malah bersembunyi didalam tandu.??" . Ia mengerutkan hidungnya dan mencium beberapa kali lagi, kemudian katanya lagi.
"Ehmm... masih tercium sisa bau harum di sini, Heei Heng thay kau betul2 amat hok kie"
Han siong Kie yang digoda macam begitu hanya bisa tertawa nyengir saja, matanya mendelik besar tapi mulutnya bungkam dalam seribu bahasa, sepatah katapun tak sanggup diutarakan keluar.
setelah mengamati wajah Han siong Kie beberapa waktu lamanya, pengemis cilik itu berkata lagi.
"Tidak aneh kalau si kupu2 warna warni bisa tertarik hatinya, wajah Heng thay memang betul2 amat ganteng"
Han siong Kie mengerti bahwa ia sedang digoda dan dimainkan, tetapi apa boleh buat, jalan darahnya tertotok membuat dia tak sanggup untuk berbuat apa2.
"oooh, aku benar2 teramat tolol"
Tiba2 pengemis cilik itu berseru sambil menepuk batok kepalanya sendiri "Rupanya jalan darah heng thay tertotok. aku sungguh teledor sekali"
Sambil berkata jari tangannya segera menyentil beberapa kali ke tengah udara dan bebaslah jalan darahnya yang tertotok.
-000dw000-BAB HAN SIONG KIE diam2 dibuat terkesiap juga oleh kelihayan lawan, ia tak pernah menyangka kalau pengemis cilik itu memiliki kepandaian untuk membebaskan jalan darah lawan lewat sentilan udara, sambil meloncat bangun segera serunya dengan penuh kemarahan.
"Kemana perginya perempuan busuk itu?"
"Hiiih...hiiih...hiiih.. Heng-thay, kau bukan tandingannya sekarang lebih baik kau menahan diri saja"
Seru pengemis cilik itu sambil tertawa cekikikan. Ucapan ini memang kenyataan, maka air muka Han siong Kio seketika berubah jadi merah padam, setelah merandek sejenak katanya lagi.
"Atas bantuan yang telah kau berikan, cayhe di sini mengucapkan banyak2 terima kasih".
"Heng thay, kau tak usah banyak adat, siapakah namamu?".
"Cay.... .. cayhe...."
"Ooouw, tentunya heng-tay mempunyai rahasia yang sukar dikatakan bukan? kalau begitu lebih baik tak usah dikatakan" . Karena keringat akan budi pertolongan yang telah diberikan oleh pengemis cilik, pemuda she Han tersebut merasa tidak enak hati untuk merahasiakan she nya, maka tanpa sadar ia berseru.
"...Cayhe she Han".
"Oooouw, Han heng siaute she Tonghong, kita boleh mengikat tali persahabatan bukan".
"Jadi sahabat??"..
"Tidak salah, toh, tujuan serta jalan pikiran kita, hampir bersama?.."
Han siong Kie tertegun, kedua belah pihak sama2 tidak saling mengenal, berkena la npun barusan berlangsung setengah perminum teh berselang, dari mana ia bisa tahu kalau tujuan serta aliran mereka sama?
hampir saja sianak muda itu tertawa gelak saking gelinya.
"Waah... lucu amat orang ini, sifat ke kanak-kanakan serta polosnya belum hilang juga. pikirnya didalam hati, sambil tertawa segera katanya.
"Kau bilang satu tujuan serta aliran yang sama??"
"Benar bukankah kau amat membenci kaum wanita yang ada dikolong langit??"
Han siong Kie merasakan hatinya bergetar keras, dari mana ia bisa tahu perkataan serta tanya jawabnya antara dia dengan sikupu2 bewarna Lie In Hiang???? "Tidak salah "sahutnya dengan nada tercengang.
"Dari mana kau bisa tahu kalau cayhe amat membenci semua perempuan yang ada dikolong langit??? "
"Bukankah kau yang mengatakannya sendiri? "
"Aku memang pernah mengatakannya tetapi dari mana kau bisa tahu??" . Pengemis itu mengedipkan suaranya dan tertawa.
"sepanjang perjalanan aku selalu mengikuti dirimu".
"ooouww begitu?? "Han siong Kie berseru tertahan. Pengemis cilik itu tersenyum.
"Akupun sangat membenci seluruh kaum wanita yang ada dikolong langit, terutama mereka yang berwajah cantik..." . Diam-diam Han siong Kie berpikir didalam hatinya.
"Aku membenci kaum wanita yang ada di kalang langit berhubung aku mempunyai seorang ibu yang berhati kejam bagaikan kala, entah apa alasannya sehingga diapun membenci kaum wanita???" . Karena berpikir demikian maka diapun lantas menukas.
"sungguhkah perkataanmu itu?".
"Tentu saja hanya perkataan di bibir saja memang tiada berguna, lain kali kenyataan akan membuktikan bahwa ucapanku bukanlah hanya perkataan kosong belaka sudahlah mari sekarang kita cari tempat untuk menonton keramaian dulu " .
"Menonton keramaian apa??".".
"Melihat kawanan manusia yang tak tahu diri menghantarkan kematian mereka".
"Apa maksudmu???".
"Ilmu silat yang dimiliki pemilik Benteng Maut tiada tandingannya dikolong langit, mereka berani memusuhi dirinya sama artinya dengan kunang2 menubruk ke dalam kobaran api" . Han siong Kie yang teringat akan lambang tengkorak berdarah yang dimana menurut perkiraannya si pemilik Benteng Maut mungkin adalah musuh besar yang membinasakan keluarganya, tanpa sadar telah mendengus dingin..
"Eeh, apakah heng thay tidak percaya??"
Tegur si pengemis cilik itu cepat. Han siong Kie tidak ingin menunjukkan perasaan hatinya yang sebenarnya, setelah berpikir sejenak sahutnya.
"Bukannya tidak percaya, cuma ilmu silat luasnya bagaikan samudra, tak mungkin ada orang yang dapat menyebut dirinya nomor wahid dikolong langit" .
"Huuuh"
Pengemis cilik itu segera mencibirkan bibirnya.
"Kita tak usah ribut lagi, ayoh berangkat"
Habis berkata ia sebera berkelebat keluar dari dalam tandu.
Han siong Kie ikut berkelebat keluar dari tandu, tampaklah bayangan manusia berkumpul memenuhi tepi sungai sementara tandu tadi digeletakkan di bawah sebuah pohon yang rindang jauh dari keramaian.
Ia segera teringat kembali akan kejadian si kupu-kupu warna warni Lie In Hiang terhadap dirinya, tanpa terasa hawa gusar nya berkorbar dan sang telapak dengan cepat di angkat ke atas .....
"Heng-thay, apa yang hendak kau lakukan???"
Pengemis cilik itu segera menegur.
"Aku hendak menghancurkan tandu ini"
"Kenapa mesti repot-repot turun mangan sendiri?? siauw-te punya akal bagus untuk menyelesaikannya "
Sembari berbicara ia segera mendekati tepi tandu dan menekan sekeliling dinding tandu itu sebentar kemudian sambil mengerdipkan matanya ia berkata.
"sudah beres nanti akan kau saksikan sesuatu pertunjukan yang amat menyenangkan hati, ayoh kita mendaki dulu ke atas puncak tebing batu karang itu" . sambil menarik tangan Han siong Kie bagaikan burung walet yang meluncur ketengah angkasa pengemis cilik itu segera melayang beberapa tombak ke depan dan meluncur ke atas puncak tebing karang tersebut. Melihat kelihayan orang, dalam hati kecilnya diam diam Han siong Kie merasa menyesal, sudah belasan tahun dirinya belajar silat tapi tiada sesuatu hasilpun yang berhasil diperoleh. Beberapa saat kemudian kedua orang itu sudah mencapai puncak bukit karang dan duduk berjajar diatas sebuah batu. Tampaklah orang-orang yang ada di tepi pantai mengurung benteng kuno itu dalam satu lingkaran, diantara gerombolan manusia-manusia lihay tadi diantaranya terdapat seorang hweesio tua serta seorang pengemis tua berambut putih disamping itu masih terdapat pula seorang manusia aneh berkerudung hitam, mereka sedang meributkan sesuatu dengan ramainya, seakan-akan sedang merundingkan bagaimana caranya menyerbu ke dalam benteng Maut. Dengan pandangan termangu mangu Han siong Kie memperhatikan benteng maut itu tanpa berkedip. ia sadar bahwa dalam keadaan seperti ini tak mungkin baginya untuk melakukan pembalasan dendam, tetapi seandainya gabungan jago2 kangouw dari kalangan hek to maupun Pek to ini berhasil melenyapkan benteng maut dari muka bumi, maka itu dendam berdarahnya akan ikut tenggelam ke dasar samudra... Tiba2 pengemis cilik itu menyikut perutnya sambil berbisik.
"Han heng. antara dirimu dengan aku sebenarnya tidak pernah saling mengenal tapi kini kita bisa bertemu satu sama lainnya, itu namanya jodoh, andaikata kau tidak memandang rendah diriku sebagai seorang pengemis yang rudin lagi dekil..."
"Kalau aku tidak memandang rendah dirimu, kau mau apa??"
"Bagai mana kalau kita mengikat tali persaudaraan??. apakah kau mau??..."
"Bagus"
Seru Han siong Kie menyatakan setuju.
"Baik, kalau begitu kita musti tahu urutannya dulu, siauw-te Tonghong Hwie tahun ini berusia enam belas tahun"
"Apa?? kau bernama Tonghong Hwie?"
"Benar ada apa? apakah namaku kurang sedap didengar^?"
"Bukannya begitu, aku cuma merasa bahwa nama tersebut sedikit mengandung nama kaum wanita".
"Aaah, nama toh cuma suatu perlambang bagi seseorang belaka, perduli amat persis nama perempuan atau lelaki, bukan begitu saudara Han??"
"Hhmm, memang masuk diakal, siauw-heng Han siong Kie, tahun ini berusia delapan belas tahun".
"Bagus, mari kita bersama-sama angkat sumpah".
"ooouw... apa musti angkat sumpah segala??"
"Tentu saja kalau tidak menuruti aturan lalu apa gunanya kita angkat saudara"
"Baiklah.
"Han Siong Kie segera jatuhkan diri berlutut di atas batu dan berdoa.
"Atas nama Thian yang ada di langit, cayhe Han siong Kie sejak hari ini akan angkat saudara dengan Tonghong Hwie. sepanjang persaudaraan ini masih terikat maka bila ada kesenangan akan kita cicipi bersama, kalau ada kesusahan kita akan tanggulangi bersama, apabila aku melanggar sumpah ini, Thian akan mengutuk diriku. Thian akan mengutuk diriku"
Tonghong Hwie yang berlutut disisinya segera ikut mengulangi pula isi sumpah tadi dengan seksama dan penuh kesungguhan.
Menanti kedua orang itu telah duduk bersanding kembali dengan wajah berseri-seri si pengemis cilik itupun berkata.
"Mulai sekarang aku harus menyebut dirimu sebagai Engkoh Kie ".
"Aku akan menyebut kau sebagai adik Hwie cuma aaaai aku yang jadi engkoh mu merasa malu sekali" .
"Kenapa ?? apa yang kau malukan ???"
"Kalau berbicara mengenai tenaga lweekang serta ilmu silat, keadaanku bagai kan langit dengan bumi kalau dibandingkan dengan dirimu coba bayangkan masa aku tidak merasa malu ?."
"Aaaah itu toh urusan kecil, kesempatan di kemudian hari bagi engkoh Kie untuk berlatih masih panjang, lagi pula aku lihat dasar tenaga lweekang mu sudah amat kuat "
"Benar, aku sudah belasan tahun lamanya berlatih ilmu tenaga dalam"
"Apa??? belasan tahun lamanya?? apakah kau hanya berlatih ilmu tenaga dalam belaka??"
"Benar ".
"Engkoh Kie, apakah kau dapat menyebutkan asal usul perguruan mu??."
"Dia...dia sudah tak ada dikolong langit lagi, maafkanlah kalau aku tidak akan menyebutkan namanya".
"Baiklah omong kosong tiada gunanya, aku ada beberapa patah kata hendak kukatakan kepadamu"
"Katakanlah, asal aku bisa menjawab pasti akan kuberitahukan kepada dirimu"
"Di kemudian hari, bagaimanapun juga keadaannya kau tak boleh meninggalkan diriku lho".
"Tentu saja, bukankah kita sudah mengangkat sumpah??? ucapanmu itu bukan kah sama sekali tak ada gunanya??? "
"Bukannya begitu, cuma perkataan ini harus kukatakan lebih dahulu" . Dalam pada itu para jago yang mengurung di sekeliling tepi sungai telah menyebarkan diri dan perlahan lahan mulai menyerbu ke dalam benteng Maut. Suasana hening sunyi.. tak kedengaran sedikit suarapun hal ini menunjukkan bahwa mereka akan bersiap sedia melakukan suatu tindakan terhadap Benteng Maut, tetapi berhubung Benteng Maut sudah puluhan tahun lamanya memberikan kemisteriusan, kengerian serta keseraman bagi setiap umat Bu-lim yang ada dikolong langit, maka pada saat itu hati setiap orang merasa kebat-kebit tidak keruan. Terdengar pengemis kecil itu sambil menuding ke arah tepi sungai, katanya.
"Pengemis tua yang berdiri paling depan itu adalah Pak Ceng padri dari utara, dan manusia berkerudung hitam itu bukan lain adalah Kauwcu dari perkumpulan Thian chee Kauw" ..-000dw000-
Jilid 2 MENGUNGKAP tentang diri Thian chee Kauwcu hati Han siong Kie seketika bergolak kencang, ia teringat kembali akan ibunya yang kawin lagi dengan manusia aneh itu.
Belum habis pikirannya berlalu, terdengar pengemis cilik itu telah melanjutkan kembali kata2nya.
"Ketiga orang itu adalah jago2 yang paling lihay didalam dunia persilatan dewasa ini"
"Diantara mereka bertiga, siapakah yang terhitung paling kosen dan paling ampuh?"
"Hal ini sulit untuk dikatakan ilmu silat yang dimiliki lam Kay serta Pak ceng katanya seimbang, sedangkan kepandaian yang dimiliki Thian chee Kauweu menurut berita yang tersiar amat lihay sehingga sukar diukur dengan kata2, tetapi tak seorang pun yang pernah bergebrak melawan dirinya dan tak seorangpun yang pernah menyaksikan raut wajah yang sebenarnya" .
"Bagaimana kalau dibandingkan dengan Pemilik dari Benteng Maut tersebut...??"
"Huuuh mereka tak akan kuat menahan sebuah pukulannya"
"Eeei. adik Hwie, darimana kau bisa mengetahui akan hal ini??".
"Tentang soal ini... tentang soal ini... akupun hanya mendengar dari berita yang tersiar belaka"
"Adik Hwie coba lihat, mereka sudah mulai bergerak maju "
"Itu berarti suatu drama berdarah yang sangat mengerikanpun segera akan mulai berlangsung" . Han Siong Kie mengepal tangannya kencang-kencang, tanpa berkedip ia menatap ke arah para jago yang berada ditepi sungai. Puluhan sosok bayangan manusia telah menggerakkan tubuhnya melewati jembatan batu dan tiba didepan pintu besar benteng maut. Pada saat itulah... serentetan suara suitan aneh yang amat nyaring serta memekikkam telinga berkumandang keluar dari dalam ben-teng maut, begitu keras suaranya sehingga menusuk pendengaran siapapun juga. Han siong Kie yang berada diatas bukit sebera merasakan telinganya bagaikan di tusuk2 dengan belasan bilah pisau tajam, buru2 ia menutupi sepasang telinganya dengan tangan, sementara jantungnya berdebar keras se-olah2 hendak meloncat keluar dari rongga dadanya..Puluhan jago lihay yang telah tiba didepan pintu besarBenteng Maut itu segera menghentikan langkah kakinya begitu mendengar suara suitan tersebut, air muka mereka berubah hebat. Kegaduhan yang amat hebatpun terjadi ditepi pantai. Beberapa saat kemudian suara suitan nyaring yang amat memekikkan telinga itu mendadak sirap. diikuti pintu benteng Maut yang bewarna hitam pekat lambat2 membentang lebar dan muncullah sebuah gua yang besar dan gelap gulita. Dengan hati terkesiap puluhan orang jago lihay Bu lim yang ada didepan pintu mundur tiga tombak ke belakang dengan tergesa2. seketika itu juga suasana di sekeliling tempat itu berubah jadi tegang dan diliputi oleh napsu membunuh. setelah perminuman teh sudah lewat. tetapi suasana di dalam Benteng Maut itu masih tetap tenang dan tidak nampak suatu gerakan apapun juga... Puluhan orang jago lihay yang berdiri di depan pintu benteng mulai berteriak keras kemudian bagaikan gelombang samudra yang menghantam pantai mereka menyerbu masuk kedalam benteng tersebut...
"Hmm "Terdengar pengemis cilik itu men-dengus dingin.
"Rombongan pertama yang menghantar kematiannya telah berangkat" . Han siong Kie melirik sekejap kearahnya lalu arahkan kembali sinar matanya kebawah. Tiga puluh orang lebih jago lihay Bu lim yang termasuk didalam rombongan kedua mulai melewatijembatan batu sambil berteriak keras menyerbu pula kedalam pintu benteng dengan dahsyatnya.
"Rombongan kedua yang menghantar kematiannya kembali sudah berangkat ...."
Terdengar pengemis cilik itu bergumam lagi.
Baru saja sipengemis cilik itu menyelesai kan kata2nya, mendadak terlihatlah bayangan manusia satu persatu terlempar ke luar dari dinding benteng dan meluncur ke arah luar.
Ada diantaranya yang tercebur ke dalam sungai, ada pula yang terbanting ke atas lantai tepat didepan Benteng Maut tersebut.
Dalam sekejap mata seluruh jago lihay Bu lim yang baru saja menyerbu masuk kedalam benteng maut itu sudah terlempar ke luar semua dari balik benteng dalam keadaan mati tanpa bernyawa lagi.
Menyaksikan pembunuhan massal tersebut, para jago lihay yang masih tersiksa di luar benteng jadi gaduh, suara bisikan lirih mulai kedengaran berkumandang memecah kesunyian.
Han siong Kie, menyaksikan jalannya pembunuhan brutal itu dari atas bukit hanya bisa memandang dengan mata mendelong dan mulut melongo belaka, sekujur tubuhnya gemetar keras dan tak sepatahpun yang sanggup diucapkan keluar.
sebenarnya pemilik Benteng maut itu seorang manusia ataukah iblis??
ternyata ia memiliki kepandaian silat yang demikian dahsyatnya???
Belum habis sianak muda itu berpikir, tampaklah jago lihay Bu lim rombongan kedua yang belum lama berselang menyerbu masuk kedalam benteng, kini sudah terlempar pula semuanya keluar dari dinding tembok.
Tak seorangpun berada dalam keadaan hidup, tak seorangpun yang masih bernapas..
Mereka musnah dan lenyap dengan begitu saja.
Napsu membunuh yang mengerikan pun mulai menyelimuti seluruh kalangan.
Ratusan jago lihay yang berkumpul ditepi sungai semakin gaduh lagi, tetapi tak seorangpun berani tampil kedepan untuk membentuk rombongan ke tiga pergi mengantar kan kematiannya.
Beberapa saat kemudian, tampaklah lam Kay serta Pak ceng selangkah demi selangkah mulai menyebrangi jembatan batu.
Han siong Kie tak dipat menahan rasa tegang yang menyelimuti hatinya, ia merasa dari telapak tangannya mulai mengucurkan keringat dingin, dengan hati bergejolak tanyanya kepada sipengemis cilik itu "Adik Hwie, menurut penglihatanmu bagaimana kesudahannya setelah pengemis dari selatan serta sipadri dari utara menyerbu masuk kedalam benteng maut???"
"Mungkin mereka dapat mengundurkan diri dalam keadaan selamat"
Jawab pengemis cilik itu setelah termenung sejenak.
Mendadak...terdengar pengemis dari selatan dan padri dari utara bersama sama membentak keras, kemudian badannya melesat ketengah udara dan laksana dua ekor burung elang raksasa mereka meluncur kearah tembok benteng, bukan pintu benteng yang mereka lalui justru tembok setinggi delapan tombak itulah yang mereka arah.
setelah tiba diatas dinding benteng tersebut dengan suatu gerakan yang sangat manis kedua orang itu berjumpalitan beberapa kali ditengah udara dan langsung menyerbu kedalam benteng.
Para jago lihay yang menyaksikan demonstrasi ilmu peringin tubuh tersebut sama sama bersorak memuji, teriakan keras dan suara tepuk tangan bergema memecah kan kesunyian.
Han siong Kie sendiripun tak dapat menahan diri, la segera berseru memuji.
"suatu ilmu kepandaian yang sangat bagus"
Disaat tubuh pengemis dari selatan danpadri dari utara hampir saja menyusup kedalam benteng maut itulah, tiba-tiba badan mereka terpental keluar bagaikan sebuah bintang yang jatuh dari langit dengan cepatnya tubuh kedua orang itu terpental kebelakang dan melesat ke arah tengah sungai, jelas kedua orang itu sudah termakan oleh sebuah angin pukulan yang maha dahsyat.
Para jago lihay yang berdiri ditepi sungai sama sama menjerit tertahan, air muka mereka berubah hebat dan hati orang-orang itu sama-sama terkesiap.
Kepandaian silat yang dimiliki Pemilik Benteng Maut ini benar-benar sangat mengerikan hati sehingga dua orang jago terlihay dari dunia persilatan dewasa itupun tak sanggup melewati garis perbatasan benteng tersebut barang satu langkahpun.
"Yaaah, kalau mereka tahu diri seharusnya pada detik itu juga mereka segera mengundurkan diri ", terdengar pengemis cilik itu bergumam seorang diri.
"Adik Hwie"
Han siong Kie segera mengerling sekejap ke arahnya.
"Apa maksud ucapanmu itu???? "
Maksudku seharusnya sipengemis dari selatan serta sipadri dari utara mengerti keadaan sendiri dan segera mengundurkan diri dari kalangan tersebut.."
"Aku lihat rupa rupanya kau menaruh rasa simpatik yang sangat mendalam terhadap Benteng Maut?? "
"Aku hanya berbicara sesuai dengan kenyataan yang terbentang didepan mata, apa perdulinya dengan rasa simpatik atau tidak."
"Apa sih kedudukannya sipengemis dari selatan, didalam perkumpulun Kaypang??"
"Pemimpin dari para tiang loo perkumpulan tersebut"
"Kau toh seorang anggota Perkumpulan kay-pang juga, mengapa bukannya membantu tiangloomu, justru malah sebaliknya" .
"Aku sih tidak termasuk dalam anggota perkumpulan mereka, aku hanya seorang pengemis gelandangan belaka."
"Pengemis gelandangan?? apa itu pengemis gelandangan??."
"Tidak terikat oleh peraturan perkumpulan manapun, berkeliaran kemana-mana menurut kehendak hatinya sendiri" .
"ooouw, sungguh aneh sekali, belum pernah aku dengar ada kejadian semacam ini"
Baru saja ia menyelesaikan kata2nya, terlihatlah sipengemis dari selatan serta si padri dari utara telah menubruk keatas dinding benteng maut untuk kedua kalinya.
Pengemis cilik itu sebera tertawa cekikikan.
Tubrukan mereka yang pertama kali tadi boleh dibilang sudah berhasil mencapai puncak dinding benteng tersebut, tetapi hanya sekejap mata saja tubuh mereka sudah mencelat dan terpukul roboh kembali kebawah.
Yang tidak dimengerti oleh semua orang adalah tiada munculnya sesosok bayangan manusiapun, kenapa kedua orang jago lihay itu bisa termakan oleh angin pukulan hingga rontok kebawah??
satu ingatan berkelebat didalam benak Han siong Kie, ia segera berpaling dan ujarnya kepada sipengemis cilik itu.
"Adik Hwie, bukankah kau pernah mengatakan bahwa tenaga lweekang yang dimiliki Thian chee kauwcu jauh di atas kepandaian silat yang dimiliki sipengemis dari selatan serta si padri dari utara???" .
"Menurut berita yang tersiar didalam dunia persilatan, memang demikian keadaannya"
"seandainya mereka bertiga mau turun tangan bersama, bukankah keadaannya mungkin akan mengalami perubahan besar???" .
"Aaah, belum tentu begitu".
"Kenapa ??"
"Selama sepuluh tahun lamanya entab sudah berapa ratus kali terjadi peristiwa semacam ini, tetapi mereka yang bisa mengundurkan diri dalam keadaan selamat boleh dibiltang amat jarang sekali, oleh sebab itu aku merasa bahwa keadaan pada saat inipun tidak bakal jauh berbeda dari keadaan yang sudah2"
"Kenapa Thian chee Kauwcu tidak ikut turun tangan???".
"soal ini harus ditanyakan kepada dirinya pribadi"
Han song Kie menghembuskan napas panjang dan membungkam dalam seribu bahasa, ia tidak habis mengerti mengapa Thian chee Kauwcu tidak mau turun tangan sendiri, padahal sewaktu dia masih berada dalam tandu tadi dengan jelas mendengar bahwa dalam gerakannya kali ini untuk menghadapi Benteng Maut perkumpulan Thian chee Kauw lah yang menduduki sebagai pucuk pimpinan, tapi dalam kenyataan Thian cheo Kauwcu sendiri sama sekali tidak ikut campur didalam penyerbuan tersebut.
kejadian benar2 membingungkan orang.
Apakah Thian chee Kauwcu telah mempunyai rencana lain??
Dalam pada itu..si Pengemis dari selatan serta si Padri dari utara yang berada didepan benteng Maut, untuk ketiga kalinya telah menubruk ke arah Benteng tersebut.
Suatu kejadian diluar dugaan telah barlangsung, kali ini tubrukan mereka berhasil dan tubuh kedua orang jago lihay dari dunia persilatan dewasa itupun lenyap dibalik dinding tembok benteng Maut.
Para jago yang berada di tepi sungai segera bersorak sorai dengan ramainya, sebagian besar diantara mereka segera berebutan menyebrangi jembatan batu dan menyerbu ke dalam pintu Benteng...
Han siang Kie segera merasakan jantungnya berdebar keras, ia tak bisa membayangkan bagaimanakah perasaan hatinya pada waktu itu.
Dia berharap serbuan dari gabungan para jago lihay itu bisa berhasil menghancurkan Benteng Maut yang ditakuti seluruh umat Bu lim dan si pemilik benteng bisa dilenyapkan dari permukaan bumi.
Tetapi, diapun berharap bahwa serbuan para jago itu tidak mendapatkan hasil, sebab bila usaha mereka memperoleh keberhasilan maka itu berarti bahwa ia akan kehilangan kesempatan untuk membalas dendam sakit hatinya...
Sipengemis cilik itupun dengan tegangnya segera bangkit berdiri.
Dikala serbuan para jago Bu lim gelombang ketiga hampir mencapai pintu depan Benteng maut itulah.
Mendadak tampaklah dua sosok bayangan manusia dengan langkah perlahan dan wajah layu selangkah demi selangkah berjalan keluar dari balik pintu benteng.
Seluruh jago Bulim segera berdiri tertegun.
Kiranya kedua sosok bayangan manusia itu bukan lain adalah sipengemis dari selatan serta si padri dari utara.
Pengemis cilik itu segera tersenyum dan duduk kembali keatas batu.
Sedangkan Han Siong Kie dengan perasaan tercengang segera bertanya.
"Eeei, mereka sudah keluar??"
"Inilah pengecualian yang terjadi selama puluhan tahun lamanya, untuk pertama kalinya ada orang yang bisa ke luar dari Benteng Maut dalam keadaan hidup rupanya mereka berdua sudah menderita kerugian yang amat besar, bisa juga sipemilik Benteng Maut menaruh rasa kagum dan hormat terhadap kedua orang ini maka ia tidak tega untuk turun tangan keji" .
"Adik Hwie. rupanya tidak sedikit yang kau ketahui?"
"Hiih..Hiiih. ..Hiiiih.. aku hanya menduga menurut keadaan yang terbentang didepan mata saja" . Disaat sipengemis dari selatan serta sipadri dari utara telah meninggalkan pintu benteng itulah, kedua pintu raksasa yang hitam pekat itu perlahan-lahan menutup kembali. Pengemis dari selatan serta padri dari utara tidak memperdulikan para jago Bu lim yang mengurung di sekeliling tubuhnya, tidak menjawab semua pertanyaan yang mereka ajukan, setelah menyeberangi jembatan batu dan tiba ditepi pantai, dengan mulut membungkam mereka berlalu dari situ. Para jago lihay lainnya jadi tertegun dan tidak habis mengerti, tapi akhirnya mereka pun mengumpulkan semua jenasah yang berserakan diluar benteng dan ikut bertalu dari situ. Suatu hujan badai yang amat mengerikan pun mulai reda.. Thian chee Kauwcu sendiri dibawah iringan para anak buahnya tanpa mengucap kan sepatah katapun ikut berlalu dari situ. Akhirnya si kupu2 warna warni Lie In Hian dengan membawa kedua orang dayangnya serta ke empat orang tukang tandu nya kembali kearah tandunya di bawah pohon itu Han song Kie tak kuat menahan rasa dongkolnya, ia mendengus dan bergumam seorang diri.
"Perempuan busuk suatu hari aku akan mencari dirimu untuk membereskan hutang piutang pada hari ini " .
"Engkoh Kie, kau jangan marah dulu"
Bisik sipengemis cilik sambil tertawa cekikikan.
"suatu pertunjukkan bagus segera akan berlangsung didepan mata" . Tampaklah si kupu2 warna warni Lie in Hiang menyingkap horden dan melangkah masuk ke dalam tandu, tapi secara mendadak ia mundur tiga langkah ke belakang, rupanya perempuan itu telah menemukan bahwasanya Han siong Kie lenyap tak berbekas, setelah ditengoknya sejenak ke kiri dan ke kanan akhirnya ia menyusup ke dalam tandunya. 000dewi000 BAB "ENGKOH KIE, cepat lihat"
Seru pengemis cilik itu dengan penuh kegirangan.
Tampaklah ke empat orang pria kekar itu sambil menggotong tandu berjalan beberapa langkah ke depan, mendadak..
Braak terdengar suara ledakan keras, tandu itu merekah dan hancur berkeping2, dalam keadaan yang mengenaskan sekali si kupu2 warna warni Lie In Hiang jatuh mendeprok di atas tanah.
Han siong Kie yang menyaksikan kejadian itu jadi ikut merasa geli, pikirnya.
"Adik Hwie benar2 pandai sekali menggoda orang, kiranya sebelum meninggalkan tandu tadi ia sudah melakukan sesuatu disekeliling tandu tersebut..."
Pengemis cilik itu tak bisa menahan diri lagi, ia sebera berteriak keras.
"Bagus sekali" . Teriakan ini cukup keras dan segera memancing perhatian dari si kupu2 warna warni Lie In Hiang, dengan cepat sinar mata nya dialihkan ke arah tebing batu tersebut.
"Aduuuh Celaka"
Bisik Han siong Kie terperanjat.
"Kali ini habis sudah riwayat ku" . Dalam pada itu sipengemis cilik itu telah mendorong tubuh si anak muda itu sambil berseru.
"Engkoh Kie, cepat lari, biar akulah yang menghadapi mereka".
"Tidak. aku tak mau pergi"
"Kalau kau tidak lari, mereka akan menggasak dirimu sampai peyot".
"Tidak. tidak bisa. masa aku akan tinggalkan dirimu seorang diri ditempat ini??"
"Haaahhaaahhaaah tolol amat kau, berangkatlah duluan, sebentar lagi aku akan menyusul dirimu" .
"Tidak. aku tak akan meninggalkan tempat ini seorang diri".
"Engkoh Kie, si kupu2 warna warni Lie In Hiang adalah Thongcu nomor satu dari perkumpulan Thian chee Kauw, kepandaian silatnya cukup ampuh dan hebat, sekali pun kedua orang dayangnya serta ke empat orang tukang tandu itupun mempunyai kepandaian silat yang sebanding dengan jago Bu lim kelas satu. Siapapun diantara mereka berenam tak nanti bisa kau tandingi... maka dari itu berlalulah lebih dahulu. selama kau masih berada disini, justru malahan memecahkan perhatianku "
Merah jengah selembar wajah Han long Kie sehabis mendengar perkataan itu, dengan terputus2 katanya.
"Aaa...adik Hwie aa...apakah kau sa... sanggup untuk menghadapi mee...mereka ?"
"Tidak menjadi soal, dari belakang batu karang itu larilah ke arah depan, maka kau akan tiba didalam sebuah hutan, aku segera akan memancing kepergian mereka??" . Sementara itu perlahan-lahan si kupu-kupu warna warni Lie In Hiang telah munculkan diri di atas tebing karang tersebut.
"cepat lari..."
Seru sipengemis cilik itu dengan hati cemas.
"Kalau terlambat akan tidak sempat lagi"
Han Siong Kie tidak berani berayal lagi, ia segera menjejakkan kakinya dan meloncat turun kebawah tebing batu itu kemudian lari masuk ke dalam hutan.
Menanti bayangan punggung si anak muda itu sudah lenyap dari pandangan, pengemis cilik itu baru meloncat turun dari atas tebing dan sambil tertawa cengar-cengir disongsongnya kedatangan kupu2 warna warni Lie In Hiang.
Dengan wajah penuh napsu membunuh dengan mata melotot sadis selangkah demi selangkah si kupu2 warna warni Lie In Hiang maju ke depan, ke dua belah pihak menghentikan langkahnya pada jarak dua tombak.
Ketika dilihatnya orang yang mengejek dan mempermainkan dirinya bukan lain adalah seorang pengemis muda, perempuan itu langsung naik pitam, bentaknya dengan penuh kemarahan.
"Pengemis edan, kau berani mempermainkan aku si nenek tua hah??"
"Apa?? aku mempermainkan apa mu??"
Sahut sipengemis dengan alis berkerut.
"Bukankah kau yang bermain setan dengan tanduku ini??"
"Berdasarkan alasan apa kau mengatakan bahwa aku yang mempermainkan tandumu?"
"Hmm ayoh jawab, kau telah membawa kemana orang yang berada di dalam tanduku itu??.."
"Apa?"
Pengemis cilik itupura2 berlagak kaget.
"pria atau wanita yang kau maksud kan?."
Selapis napsu membunuh yang sangat mengerikan memancar di atas wajah perempuan itu, jengeknya ketus.
"Pengemis edan, tahukah kau siapa diriku?"
"Aku si peminta-minta tak pernah mengadakan hubungan dengan kaum perempuan, percayakah kau "
"Bangsat, kaupingin hidup atau mati? "
"Eeei.. apa maksud ucapanmu itu ? "
"Kalau pingin hidup maka katakanlah ke mana perginya bangsat cilik itu, sebaliknya kalau kepingin mati..."
"Kenapa??"
""Pun Thongcu seketika ini juga akan kirim nyawamu kembali ke akhirat"
Pengemis cilik itu tundukkan kepalanya dan berpikir sebentar kemudian menjawab.
"Aku pingin mati saja"
Si Kupu2 warna warni Lie In Hiang yang mendengar perkataan itu jadi tertegun, kemudian serunya.
"Hm, kau sungguh pingin mati?? "
"Sesungguhnya tidak salah, aku sudah terlalu muak sebagai pengemis kecil, maka dari itu aku tidak pingin hidup lebih lanjut di kolong langit ini.."
Si Kupu2 warna warni Lie In Hiang bukanlah seorang bocah kemarin sore yang gampang dipermainkan, sekilas memandang ia sudah tahu kalau pengemis kecil itu memang sengaja hendak memperolok-olok serta mempermainkan dirinya, napsu membunuh seketika itu juga muncul di dalam benaknya, sambil tertawa dingin katanya.
"Kalau pingin mati sih gampang, Pun Thongcu bisa memberikan kematian yang paling lambat dan paling nikmat bagimu" . sembari mengulapkan tangannya ia berkata lebih jauh "Tangkap bajingan cilik ini" . Kedua orang dayang yang berada di sisi mereka itu segera maju kedepan, satu dari kiri dan yang lain dari kanan laksma kilat mencengkeram tubuh si pengemis cilik itu.
"Eeei eeeit . nanti dulu"
Teriak pengemis eilik iiu berulang kali sambil goyang goyang kao tangannya.
Seorang pria sejati tak akan melayani kaum perempuan untuk bermain-main.
Sembari berkata ia segera enjotkan badan nya.
tahu2 sang tubuh sudah berada kurang lebih saiu tembok jauhnya dari tempat semula.
Gerakan tubuh ini sangat indah dan lihay sekali, bukan saja membuat kedua orang da yang itu menjulurkan lidahnya, bahkan si-kupu2 warna warni Lie In Hiang pun merasakan hatinya bergetar keras, sadarlah perempuan ini bahwa pengemis cilik itu bukan lah seorang munusia yang sederhana.
Sementara itu setelah tertegun beberapa saat lamanya kedua orang dayang itu segera maju kembali kearah depan, secara terpisah mereka lancarkan serangan gabungan yang amat dahsyat, telapak dan jari dilancarkan secara serentak.
"Aduuuh mak!"
Teriak pengemis itu keras keras bukannya mundur ia malah maju lebih kedepan badannya menerobos masuk ke dalam lingkaran bayangan cakar serta deruan angin pukulan.
Suara dergusan berat berkumandang memecahkan kesunyian, tahu tahu kedua orang dayang itu jatuh terpelanting dan roboh ke-atas tanah.
Air muka sikupu kupu warna warni Lie In Hiang kontan berobah hebat, tenaga lwee-kang yang dimiliki pengemis cilik itu ternyata sudah mencapai keadaan yang sangat mengerikan, bukan saja gingkangnya diluaf dugaan bahkan iapun memiliki kepandaian menotok jalan darah lewat sentilan udara, dalam sekali gebrakan saja ia telah berhasil merobohkan kedua orang dayang andalan nya.
Suara bentakan keras segera bergeletar memecahkan kesunyian, empat orang pria peng golong tandu yang semula berdiri tegak di sisi kalangan, kini sudah menubruk maju secara serentak, masing masing pihak mengirim satu babatan yang amat dahsyat.
Empat gulung desiran angin tajam menggulung jadi satu membentuk suatu gulungan tenaga yang amat mengerikan, laksana ambruk nya sebuah bukit tinggi angin serangan tersebut langsung menyapu ke depan.
Melihat datangnya ancaman tersebut, pengemis cilik itu segera tertawa cekikikan.
"Hiiih..hiiih....hiiiih bagus bagus beginilah baru sangat berarti" . sepasang telapak diayun kedepan dan diapun melancarkan sebuah babatan dahsyat yang menimbulkan gulungan angin serangan yang amat mengerikan hati. Blaaaam suara ledakan keras bergelegar menggoncang kan permukaan bumi, pasir dan debu berterbangan memenuhi angkasa, pusaran angin pukulan yang kencang menggetarkan ke empat orang pemandu itu dan memaksa mereka menyebarkan diri ke empat penjuru.
"Kalian lebih baik mundur saja"
Tiba-tiba si kupu-kupu warna warni Lie In Hiang berseru sambil mengulapkan tangannya. Dengan wajah lesu dan badan lemas ke empat orang pria kekar itu buru buru mengundurkan diri ke belakang.
"Hei, pengemis cilik. laporkan asal usul perguruanmu"
Seru perempuan itu kemudian.
"Aku tidak punya perguruan".
"Kau termasuk cabang dari kota mana di dalam keanggotaan perkumpulan Kay Pang?"
"Hmmm .. Hmmm aku sipengemis cilik adalah seorang pengemis gelandangan".
"Pengemis gelandangan???".
"sedikitpun tidak salah".
"Apa itu pengemis gelandangan?? Belum pernah aku mendengar nama seperti itu??"
"oooh pengemis gelandangan adalah pengemis luntang lantung diempat penjuru sesuka nya yang gentayangan, tidak tergabung dalam partai maupun perkumpulan, bebas merdeka melayang kesana kemari" .
"Bangsat, kau kepingin modar??".
"Aduuuhnyonya bawel, mungkin lubang telingamu terlalu banyak kotorannya, apa kau tidak dengar?? sedari tadi toh aku sudah berkata bahwa aku tidak pingin hidup, cuma sayang" .
"sayang kenapa?" . ''Sayang dengan andalkan kekuatanmu masih tidak pantas untuk menghantar aku sipengemis cilik untuk masuk keliang kubur."
Si kupu2 warna warni Lie In Hiang jadi sangat gusar, saking mendongkolnya sampai sekujur tubuhnya gemetar keras, dengan kedudukannya yang terhormat sebagai seorang Thongcu kelas satu didalam perkumpulan Thian Chee Kauw ternyata sudah diolok-olok dan dipermainkan cleh seorang pengemis cilik yang tidak diketahui asal usulnya, ia segera membentak keras.
"Bangsat. Pun thongcu akan bunuh dirimu! " . Sepasang telapak tangannya dengan suatu gerakan yang sangat aneh segera menyapu ke depan, secara terpisah ia cengkeram pergelangan kiri serta bahu kanan pengemis itu gerakan cengkeraman tersebut dilancarkan dengan kecepatan laksana sambaran kilat, bahkan bayangan cakar berlapis lapis seakan akan terdapat berpuluh puluh buah tangan yang bersamaan waktunya mencengkeram ke luar. Menyaksikan kehebatan lawannya pengemis cilik itu terkesiap buru-buru tubuhnya meleset kesamping untuk menghindar... tetapi gerakan tubuhnya terlambat satu tindak, tahu2 bahunya terasa amat kencang dan bahu kanannya sudah kena dicengkeram oleh lawannya. Napsu men bunuh yang menyelimuti wajah si kupu2 warna warni Lie In Hiang semakin menebal, sambil tertawa dingin serunya .
"Keparat cilik! sekarang ayoh jawab, apakah Pun Thongcu pantas untuk menghantar kematianmu???".
"Tidak pantas! mau apa kau??".
"Kalau kau berani mengatakan sekali lagi, kucengkeram bahumu ini biar hancur berantakan".
"Tidak pantas!
tidak pantas!
Tidak pantas!'.
Si Kupu2 Warna wirni Lie Ia Hiang benar2 naik pitarn, jari tangannya yang mencekeram bahu pengemis cilik itu segera ditambahi dengan beberapa lipat tenaga dalam, maksudnya tulang bahu sipengemis cilik itu akan dicengkeram sampai hancur lumat, siapa tahu baru saja cakarnya menggencet tubuh lawan, segera terasalah tangannya se-olah2 memegang sesuatu benda yang sangat licin batinya jadi amat terperanjat.
"Kepandaian silat apakah ini??? "
Pikirnya di dalam hati. Belum habis ia berpikir, bagaikan seekor ikan belut sipengemis cilik itu sudah meloncat mundur sejauh satu tombak lebih, jengeknya sambil tertawa cekikikan.
"Hiiih...hiiih...hiih... Lie In Hiang perempuan bermuka tebal yang tak tahu malu, maaf kalau aku tak sudi melayani dirimu lebih jauh ....
"Dia enjotkan badannya dan segera meleset ke arah dalam hutan.
Air muka si kupu2 warna warni Lie In Hiang berubah jadi pucat pias bagaikan mayat, mimpipun ia tak pernah menyangka kalau dirinya bakal jatuh kecundang di tangan seorang pengemis cilik.
setelah tandunya tak dapat digunakan lagi, dengan perasaan gemas ia berpaling ke arah mana lenyapnya bayangan sipengemis cilik itu sambil makinya.
"Anak sialan cucu monyet, hati2 kau suatu hari aku bisa membeseti kulit tubuhmu dan mencabuti otot2 didalam badanmu" . setelah mendepak-depakan kakinya ke atas tanah, ia segera membebaskan jalan darah dari kedua orang dayangnya yang tertotok kemudian berlalu dari situ. Kedua orang dayangnya serta keempat orang pria kekar itu tak berani berayal, merekapun segera enjotkan badannya dan menyusul dari belakang tubuhnya. -000dewi000-Ombak dan memecah d itepi pantai. Benteng Maut yang berdiri dengan angkernya diatas tebing karang telah pulih kembali dalam kesunyian serta keheningan yang mencengkam seluruh jagat. Pengemis cilik yang sangat menghawatir-kan keselamatan kakak angkatnya Han siong Kie, tidak ingin berdiam terlalu lama disitu, setelah melepaskan diri dari kurungan si perempuan she Lie tadi ia segera menerobos masuk kedalam hutan dan menyusul si anak muda itu. Tetapi, walaupun ia sudah mencari kesana kemari dan keluar masuk hutan, bayangan tubuh Han siong Kie masih juga belum ditemukan, ia jadi tercengang dan tidak habis mengerti.
"Kemana perginya engkoh Kie?? "pikir pengemis cilik ini didalam hati kecilnya.
"Tadi aku toh sudah menerangkan dengan jelas kepadanya agar langsung masuk kedalam hutan?? entah ia sudah tersesat sampai dimana???"
Makin lama hatinya merasa semakin gelisah sehingga tak tahan lagi sambil menerobos masuk kedalam hutan Thonghong Hwie sipengemis eilik itu berseru tiada hentinya 'Engkoh Kie engkoh Kie..."
Namun tiada sesuatu jawabanpun yang kedengaran, pikirnya lebih jauh.
"Aaah mungkin dia sudah langsung keluar dari hutan dan melanjutkan perjalanannya!' Karena berpikir demikian maka iapun segera enjotkan badannya dan meluncur kearah depan. Sementara itu Han Siong Kie setelah masuk kedalam hutan perasaan hatinya makin lama kian terasa semakin tidak enak, ia merasa sebagai seorang lelaki sejati ternyata harus minta perlindungan orang, bahkan di dalam keadaan bahaya harus melarikan diri, sikap angkuhnya segera muncul. Pikirnya di dalam hatii ''Apabila aku tidak berhasil melatih serangkaian ilmu silat yang mengejutkan hati orang, aku tidak akan berjumpa lagi dengan adik angkatku Tonghong Hwie !" ' Karena berpiKir demikian maka ia tidak menuruti petunjuk dari sipengemis cilik itu untuk masuk kedalam hutan, sebaliknya malah membelok meiuju kearah timur. Semakin berjalan menuju kedepan ia merasa hutan belukar yang mengelilingi sekitar tempat itu semakin lebat dan tinggi, begitu rimbunnya dedaunan sampai cahaya mata hari tak dapat menyorot kedalam. suasana gelap gulita dan sianak muda itupun dengan mata membuta berjalan kesana kemiri sekenanya. Beberapa saat kemudian suasana semakin gelap gulita sehingga susah melihat kelima jari tangan sendiri, arah tujuanpun semakin kabur.dalam keadaan begini wajahnya berubah jadi bengkak dan hijau sebab besar karena berulang kali harus mencium pohon atau ranting, pakaiannya koyak dan hancur tak karuan. Sekarang sianak muda itu baru sadar bahwa ia telah memasuki sebuah hutan belantara yang sangat mengerikan. Tetapi menyesalpun sadah terlambat, ia tak sanggup untuk menemukan kembali arah yang benar untuk lolos dari cengkeraman hutan belantara yang sangat lebat itu. Suara ular dan auman binatang buas bergema silih berganti menambah seramnya suasana disekitar hutan tersebut, dalam keadaan begitu pemuda she-Han itupun berpikir.
"Habis sudah riwayatku! .. rupanya aku Han Siong Kie harus menemui ajalnya ditempat seperti ini... aaai, cepat atau lambat aku pasti dicabut ular berbisa atau diterkam binatang buas"
Tetapi ia tidak berhenti sampii disitu saja, ia tidak putus asa dan meneruskan petualangannya menjelajahi hutan belantara iru secara buta.
Rasa lapar, haus, lelah, ditambah rasa nyeri dan sakit dari mulut luka yang menganga disekujur tubuhnya akibat duri serta ranting membuat tulang belulangnya terasa hancur berantakan, badannya lemas tak bertenaga, perjalanan terasa semakin berat lagi.
Tapi sianak muda itu tak mau menghentikan usahanya sampai disana.
tak bisa berjalan diapun mulai merangkak dan merayap diatas tanah..
kesadarannya...
pikirannya kian lama kian bertambah kabur.
Entah berapa saat sudah lewat, mendadak pemuda itu merasakan segulung hawa dingin yang sangat aneh menyerang ulu hatinya, ia segera membuka matanya.
Tampaklah ia telah berbaring ditepi sebuah kolam kecil, separuh tubuhnya terbenam didalam air tersebut.
Hal ini membuat hati nya bergetar keras, pikirnya .
"Sungguh berbahaya, setengah depa lagi aku maju kedepan niscaya tubuhku sudah tenggelam didasar kolam ini dan jiwaku tentu sudah melayang..." . Tiba2 satu ingatan berkelebat didalam be naknya, ia berpikir lebih jauh .
"Aaaah.
tidak benar apakah aku sudah keluar dari hutan belantara tersebut???''.
Dengan Cepat ia mengerangkak bangun dari atas tanah dan melongok keempat penjuru, tampaklah sekeliling situ hanya berubah pepohonan yang sangat lebat, lebih jauh dari itu yang hanya kegelapan yang mencekam, dimana ia berdiri saat ini merupakan sebidang tanah kosong yang luas dan persis di-tengah tanah kosong tadi terdapat sebuah kolam kecil seluas lima tombak.
Satu pikiran dengan cepat berkelebat di dalam benaknya dan pemuda itu pun kembali berdiri tertegun.
mengapa pada saat ini ia tidak merasa lapar maupun dahaga??
bahkan rasa sakit yang dideritanya tadi sekarang lenyap tak berbekas, ia segera tundukkan kepalanya dan memeriksa.
Tampaklah kulit tubuh yang telah terendam air kini sudah sembuh sama sekali dari lukanya, bahkan luka2 itu telah merapat dan sedikitpun tidak terasa sakit, kejadian ini tentu saja mencengangkan hatinya.
Mendadak...
sinar matanya terbentur dengan sebuah tonggak batu yang berdiri tegak disisi tubuhnya, diatas tonggak tadi tertulislah beberapa huruf yang kurang lebih berbunyi demikian.
"sumber air kulit bumi, Mencopot kulit berganti tulang" . setelah membaca tulisan itu, sadarlah si anak muda itu apa sebenarnya yang telah terjadi, pikirnya.
"Aaaah, benar, pastilah air didalam kolam ini adalah sumber air mujarab yang berasal dari kulit bumi seperti apa yang sering tersiar diluaran, tidak aneh kalau luka diseluruh tubuhku telah sembuh kembali setelah tercebur didalam air... perduli amat aku bisa keluar dari hutan ini atau tidak, pokoknya akan kucoba kembali"
Berpikir demikian iapun segera loncat ke dalam kolam dihadapannya, terasa air tersebut dingin menusuk tulang hingga membuat giginya saling beradu dengan kerasnya.
sekujur tubuhnya direndamkan kedalam air kecuali batok kepalanya yang menongol diluaran, dikala hatinya mulai lega dan pikiran mulai mengendor itulah kejadian masa lampau kembali berkelebat didalam benak nya.
Ia teringat kembali akan beratus ratus sosok tulang tengkorak yang berserakan didalam perkampungan keluarga Hari itulah rumah keluarganya.
susiok sitelapak naga beracun Thlo Lien setelah mengutarakan asal usulnya segera bunuh diri, apa sebabnya???..suatu misteri Benarkah si pembunuh keji yang telah membasmi keluarga Han serta keluarga Thio adalah si Pemilik dari Benteng Maut??
sebab lambang tengkorak berdarah yang ia temukan diatas dinding ruangan tengahnya persis seperti lambang dari si pemilik Benteng Maut tersebut.
Kalau benar apa sebabnya ia melakukan pembunuhan tersebut?
kembali merupakan satu misteri ...
Diikuti pelbagai ingatanpun berkelebat di dalam benaknya.
susioknya, sitelapak naga beracun Thio Lien kenapa tidak memperkenankan dia untuk membalas dendam??
kalau dilihat sikap paman gurunya tadi jelas dia sudah tahu siapakah pembunuh keji tersebut, tapi ia tidak mau mengatakannya keluar, bahkan tidak memperkenankan pula dirinya untuk mengubur tulang tengkorak yang berserakan itu, apa sebabnya?
Dengan mempertaruhkan jiwa putranya, sang paman guru telah menyelamatkan dia dari kematian dan mendidiknya hingga dewasa, tetapi apa yang kemudian diwaris kan kepadanya hanya dasar berlatih ilmu tenaga dalam belaka, sedang jurus silatnya tak sepotongpun yang diwariskan kepadanya, sang susiok mengatakan bahwa ia terikat oleh sumpah, apakah isi sumpah tersebut??
seluruh keluarganya mati binasa dalam peristiwa berdarah itu kecuali ibunya seorang yang masih hidup, mengapa???
Iapun teringat kembali akan kesadisan serta kekejian yang terlihat sewaktu berada didepan Benteng Maut.
Diikuti terbayang kembali wajah adik angkatnya si pengemis cilik Tonghong Hwie, mungkinkah ia masih ada kesempatan untuk saling berjumpa muka?...
Mendadak....
ia merasakan sekujur badan nyajadi amat panas hingga sukar ditahan, bukan saja air kolam..
yang itu tidak terasa dingin lagi bahkan makin lama terasa semakin panas bagaikan air mendidih.
Hatinya jadi amat terkesiap.
jangan2 air kolam ini mengandung racun yang awat jahat??
tapi ia tidak merasakan tanda2 keracunan.
Buru2 tubuhnya merangkak naik keatas tepian.
namun...
rasa panas yang menyengat badannya kian lama kian menjadi dan makin lama bertambah hebat...
bagaikan sekujur badannya dibakar oleh api besar hingga terasa amat sakit.
Hampir saja sianak rnuda itu jadi gila, ia tak kuat menahan siksaan serta penderitaan yang menyerang tubuhnya.., pemuda itu segera bergelindingan ditepi kolam, meronta kesana menekuk kemari.
Tidak lima kemudian ia jatuh tak sadarkan diri.
Entah berapa lama sudah lewat, ketika ia siuman kembali diri pingsannya terasalah sekujur tubuhnya segar dan nyaman, rasa sa kit telah hilang lenyap tak berbekas dengan hati sangsi bercampur curiga segera tanyanya pada diri sendiri.
"Mungkin aku sudah berganti kulit bertukar tulang?? " . Ia bangkit berdiri dan terasalah suasana disekeliling tubuhnya terasa lebih terang, sinar matanya dapat mencapai pindangan sejauh ratusan tombak, hatinya jadi amat kegirangan, setelah ia dapat melihat ditengah kegelapan berarti keluar dari hutan belantara tersebut bukanlah satu persoalan yang menyulitkan. Sinar matanya segera menyapu sekeliling tempat itu, mendadak beberapa tombak dan ia berdiri saat ini, tepatnya ditepi sebuah pohon tua pemuda itu menemukan sesosok bayangan manusia sedang duduk bersila disitu-batinya jadi amat kegirangan, ia tak mengira kalau ditempat semacam ini bisa bertemu dengan seseorang, laksana kilat tubuhnya meloncat kedepan. Sekali enjot badan ia segera merasakan tubuhnya enteng bagaikan burung walet, hampir saja badannya menumbuk diatas tubuh bayangan manusia itu yang bukan lain adalah seorang kakek tua berambut putih. Sianak muda ini jadi terperanjat, sekarang ia baru sadar bahwa tubuhnya bisa enteng pastilah disebabkan kasiat dari sumber air mujarab dari kulit bumi. Buru2 dia mundur tiga langkah kebelakang dan menjura untuk memberi hormat, kata nya .
"Loocianpwee! berhubung boanpwee tersesat jalan hingga sampai disini, maka mohon sudilah kiranya loocianpwee memberi petunjuk jalan bagi diriku untuk lolos dari tempat ini!" . Perkataan itu diulangi sampai tiga kali namun tiada jawaban, ia segera memperhatikan wajah orang itu lebih seksama.
"Aaah "
Han siong Kie berseru tertahan, bulu kuduknya pada bangun berdiri dan hatinya jadi amat bergidik.
ternyata kulit badan si kakek tua itu sudah mengering dan layu, yang tersisa hanya sekerat kerangka manusia belaka, rupanya kakek tua itu sudah banyak tahun menghembuskan napasnya yang terakhir disitu.
Beberapa saat kemudian rasa kaget dan bergidiknya baru agak reda, pikirnya.
"Apa yang musti aku takuti?? kalau aku tak bisa keluar dari hutan belantara ini maka keadaan pun tidak akan jauh berbeda dengan dirinya..." . Ketika dipandangnya mayat itu lebih jelas, maka si anak muda itu menemukan sekujur tulang kakek tua itu sudah penuh ditumbuhi lumut hijau yang amat lebat sehingga sepintas lalu nampaknya seolah2 dia memakai pakaian. Menyaksikan keadaan itu timbul rasa kasihan didalam hatinya, iapun lantas bergumam seorang diri.
"Loocianpwee, daripada tulang belulang mu terlantar diatas bumi, baiklah biar aku kubur secara baik2" . sambil berkata dengan tangannya ia lantas membersihkan lumut hijau yang tumbuh disekeliling mayat tersebut, tapi kembali hatinya merasa terperanjat sebab diatas kulit didepan mayat itu ternyata terukir beberapa huruf dengan amat jelas.
"Air mujarab melindungi badan, kulit dan tulang tak akan membusuk."
"Bila beberapa tahun kemudian ada orang yang sampai ditempat ini, tolong kebumikanlah jenasah loohu dibawah pohon jati bercabang tiga yang tumbuh disebelah timur kolam" . Membaca tulisan tersebut, dalam hati Kiepun lantas berpikir.
"Baiklah, aku akan kabulkan keinginanmu itu agar sukmamu dialam baka bisa jadi tenang" . Di sebelah timur kolam ternyata benar2 terdapat sebuah pohon jati yang bercabang tiga, maka sianak muda itu sebera mematah-kan sebuah ranting dan mulai menggali liang kubur dibawah pohon tadi, satu depa... dua depa... tiga depa... empat depa. Mendadak.... ujung rantingnya seolah-olah menyentuh suatu benda yang amat keras.
"Aaaah. mungkin benda keras itu adalah batu karang atau sebangsanya... biarlah, empat depa pun rasanya sudah cukup dalam"
Pikir Han Siong Kie didalam bati.
Belum habis pikiran itu berkelebat didalam benaknya, tiba tiba permukaan tanah yang dipinjamnya mulai bergerak dan bergetar keras diikuti benda keras yang berada-didalam tanah itu mulai munculkan diri dari permukaan tanah can menyeret tubuhnya ke arah depan.
Kejadian ini tentu saja amat mengejutkan hati sianak muda itu, matanya jadi terbelalak dan sukmanya terasa hampir melayang meninggalkan ragarya, Benda tadi kian lama kian bertambah naik keatas sehingga akhirnya permukaan tanah mereka dan muncullah seekor kura kura raksasa yang amat besar sekali sambil menggoyangkan kepalanya makhluk besar itu perlahan-lahan merangkak kemuka.
Meskipun kura kura tak dapat melukai orang tetapi makhluk aneh berbentuk raksasa yang demikian besarnya ini jarang sekali di dalam kolong langit, hal itu tentu saja membuat siapapun yang menyaksikan merasakan hatinya bergidik.
Mendadak...kura-kura itu membentangkan mulutnya dan....
wessssss...
segulung hawa tekanan yang amat dahsyat segera menggulung kearah tubuhnya.
Mimpipun Han Sions Kie tak pernah menyangka kalau mahluk raksssa tersebut dapat memuntahkan hawa tekanan yang demikian dahsyatnya, dalam keadaan tanpa siap siaga barang sedikitpun badannya segera terroboh diatas tanah, sementara kura kura tadi segera merangkak kearah depan dan menindihi diatas tubuhnya....
Tindihan tersebut benar benar sangat kuat terryata sianak muda itu tak sanggup meloloskan diri, tanpa sadar sukmanya terasa melayang meninggalkan raganya, ia tak mengira kalau maksud baiknya hendak mengubur tulang belulang sikakek tua itu mendatangkan bencana yang demikian anehnya.
Dalam pada itu sikura kura tadi sudah membentangkan mulutnya yang besar dan menggigit batok kepala Han Siong Kie.
"Aduuuuh .... mati aku habis sudah nyawaku kali ini ..."
Teriak si anak muda itu dengan hati terjelos.
Tapi sungguh aneh sekali, walau sudah lama ia menunggu namun batok kepalanya sama sekali tidak digigit hancur, sebaliknya kepala yang berada didalam mulut kura-kura itu terasa sangat tidak enak badan.
Ketika ia berada dalam keadaan sangat takut menghadapi kematian yang sealiran hawa panas mengalir masuk lewat jalan darah Thian Leng Hiat diatas ubun-ubunnya menyebar keseluruh badan.
Han siong Kie sudah merasa yakin bahwa dirinya bakal mati, mimpipun ia tak pernah mengira kalau bakal terjadi peristiwa aneh semacam ini, ia mulai merasa sangsi apakah dirinya masih hidup dikolong langit?
kalau tidak maka ia pastilah sedang mendapat satu impian yang jelas yang sangat menakutkan.
sementara itu aliran panas yang menyusup keluar dari mulut kura kura itu makin lama, semakin deras bahkan akhirnya deras bagaikan gulungan ombak ditengah samudra.
sejak kecil Han siong Kie mempelajari bagaimana caranya mengatur pernapasan dan kini tanpa dia sadari dengan kepandaian yang pernah dipelajari itulah ia menyambut datangnya aliran hawa panas tersebut.
kemudian mengatur melewati urat nadi dan mengelilingi sekujur badan.
Tetapi aliran panas tadi kian lama kian bertambah deras bagaikan air terjun yang membelah bumi, daya tekanannya makin lama bertambah makin dahsyat setelah mengelilingi sekujur tubuhnya hawa panas tadi mulai menerjang kearah Jen serta Tok dua nadi terpenting.
Han siong Kie merasakan sekujur badannya bergetar keras dan akhirnya diapun jatuh tak sadarkan diri Entah berapa saat sudah lewat, perlahan-lahan sianak muda itu siuman kembali dari pingsannya, ia merasa pandangannya jadi jernih dan terang, ketika berpaling kesamping tampaklah si kura-kura tadi sudah meninggalkan dirinya dan berbaring kurang lebih delapan depa disisi kalangan.
Ia mengucak-ucak sepasang matanya untuk membuktikan bahwa apa yang dilihatnya bukanlah impian belaka.
ia coba mengatur pernapasan, terasa hawa murni yang bergelora didalam badannya menggulung-gulung bagaikan ombak samudra, bahkan kedua buah urat nadi penting Jien serta Tok meh yang dimilikipun sudah tertembusi.
Ia jadi tertegun, sianak muda itu tak berani mempercayai bahwa apa yang telah terjadi merupakan suatu kenyataan, kura2 ternyata dapat mengerahkan hawa murni untuk disampaikan kepada manusia.
Kurang lebih seperminum teh kemudian ia baru sadar kembali dari lamunan, pelahan-lahan sianak muda itu bangkit berdiri dan berjalan mendekati sikura-kura tadi.
Ditemuinya kura2 tersebut telah menemui ajalnya, sementara diatas punggung kura2 itu di terukir serangkaian tulisan yang kecil rapat dan lembut sekali.
Diatas kulit punggung ternyata masih ada tulisannya.
hal ini benar-benar jauh berada diluar dugaan Hansiong Kie, buru2 ia bersihkan punggung makhluk raksasa tadi dari lumpur serta kotoran sehingga tulisan tadi dapat terlihat dengan lebih jelas.
serangkaian kata2 pertama yang terbaca olehnya adalah berbunyi demikian.
"Leng Koe sinkang, dihadiahkan bagi mereka yang berjodoh" . Han siong Kie merasakan jantungnya berdebar amat keras, ia merasa bahwa kejadian ini merupakan titik tolak dari sejarah kehidupannya dan iapun merasa bahwa dirinyalah orang yang berjodoh dengan tenaga murni tersebut. Dengan perasaan bergolak keras ia membaca tulisan tersebut lebih jauh.
"Aku adalah Leng Koan sangjien, berhubung mengalami keadaan jalan api menuju neraka pada tahun Jien Boe maka akhirnya aku menemui ajal ditempat ini..."
Menggunakan jari tangannya Han siong Kie mulai menghitung jarak tahun Jien Boe hingga saat itu yang ternyata sudah terpaut enam puluh lima tahun, dus berarti Leng Koe sangjien telah enam puluh tahun lebih lamanya meninggal dunia ditepi sumber air mujarab dari kulit bumi ini, seandainya tiada kemustajaban air tersebut, mungkin jenasahnya sudah hancur lebur semenjak dulu kala.
Diapun membaca lebih jauh .
"Kura kura ini sudah enam puluh tahun lamanya mengikuti diriku, sifatnya jinak dan sudah mendekati kepintaran manusia, disaat aku hendak menghembuskan napas yang terakhir, seluruh hawa murni yang ku miliki telah kusalurkan kedalam lambung kura2 ini. bagi mereka yang berjodoh memperloleh hawa sakti ini, mala ia berarti akan memiliki tenaga lweekang bagaikan hasil latihan selama seratus tahun lamanya...." . Sekujur badan Ha"
Siong Kie gemetar semakin keras, gumamnya seorang diri .
"Aku mungkin sedang bermimpi?? aku. ..aku telah rremperoleh tenaga lweekang bagai kan seratus tahun hasil latihan?? Kura2 sakti itu telah menyalurkan segenap hawa murninya kedalam tubuhku??Ooooh!! mulai sekarang aku mendapat kesempatan untuk membalas dendam sakit hatiku!" . Diapun membaca lebih lanjut .
"Setelah menyalurkan hawa murninya, kura kura ini pasti akan mati karena kehabisan tenaga, akan boleh mengubur bangkainya didalam satu liang bersama diriku! dibelakang ini aku wariskan pula serangkain ilmu gerakan serta ilmu pukulan yang merupakan inti sari dari seluruh kepandaian yang kumiliki sepanjang hidup, setelah berhasil menguasahi kepandaian tersebut meskipun belum dapat menjagoi dunia persilatan tanpa tandingan, tetapi kawanan Bu Lim dari golongan biasa tidak akan dapat mengalahkan dirimu, setelah rahasia ilmu itu berhasil dihapalkan. ambillah sebuah kantong kecil yang terikat dibelakang ekor kura kura ini. isi kantong merupakan sebutir pil penghancur yang dapat menghapus seluruh tulisan yang tertera diatas punggung kura kura ini. daripada rahasia kepandaian Sakti tersebut terkisar luas didalam dunia persilatan"
Han Siong Kie tarik napas panjang-panjang ia membaca lebih jauh dimana yang tertera merupakan rahasia untuk melatih ilmu gerakan tubuh, tiga jurus ilmu telapak serta ilmu Koe Sie Toa Hota yang khusus untuk mengendalikan hawa darah yang bergerak di dalam tubuhnya.
Koe sie Toa Hoat merupakan kepandaian sakti yang sudah lenyap dari peredaran Bulim, sungguh tak nyana ia mempunyai jodoh untuk mempelajarinya, semangat segera berkobar2 dan rasa girang yang bergelora di dalam dadanya sukar dilukiskan dengan kata2.
Han siong Kie cerdik dan berontak encer, setelah membaca tiga kali seluruh rahasia ilmu tersebut telah hapal diluar kepala.
Ilmu gerakan tubuh tersebut bernama "Hoe Keng Keng-im "
Atau Cahaya Kilat Lintasan Bayangan, sedangkan ketiga jurus ilmu pukulan tersebut bernama Leng Koe sam sie, setiap jurus mengandung sembilan gerakan perubahan, meski untuk sesaat tak dapat memahami intisari yang sedalamnya, tetapi sekilas memandang dapat diketahui bahwa kepandaian tersebut merupakan ilmu pukulan yang sangat ampuh.
Akhirnya diujung paling bawah tertera pula beberapa baris tulisan kecil yang berbunyi demikian.
"selesai mengerjakan sesuatunya kau boleh tinggalkan tempat ini . belok tiga kearah timur kemudian putar empat kearah selatan maka kau telah lolos dari hutan belantara ini?" . Lama sekali sianak muda itu termenung memikirkan maksud dari belok tiga ketimur putar empat selatan... beberapa waktu kemudian akhirnya ia berseru tertahan.
"Aaaah, mengerti aku sekarang, yang di maksudkan pastilah berjalan tiga li ke arah timur kemudian putar ke arah selatan dan berjalan sejauh empat li, maka aku akan lolos dari hutan ini ...... setelah merandek sejenak, pikirnya lebih jauh.."
Kalau aku bisa melayang dari puncak pohon, pemandangan ke arah depan akan terasa lebih luas, kenapa aku musti menerobos kesana kemari didalam hutan ini???
" .
Berpikir sampai disini ia segera meloncat ke atas, terasalah badannya enteng bagaikan burung walet, loncatannya itu ternyata berhasil mencapai ketinggian sejauh puluhan tombak.
hal ini malah sebaliknya mengejutkan hatinya, ia segara melayang keatas dahan dan memandang ke depan.
Tampaklah pepohonan amat rapat dan lebat, walaupun dari tempat ketinggian, tetapi pemandangan yang terlihat tak dapat mencapai tempat kejauhan, sekarang dia baru menyadari akan luasnya hutan belantara tersebut.
Kata-kata peninggalan dari Leng Koe sangjien ternyata memang sangat beralasan sekali, kalau tidak sumber air yang amat mustajab ini jauh sebelumnya tentu sudah ditemukan orang kangouw.
setelah melompat turun dari pohon, iapun berpikir.
"seluruh tenaga Iwekang yang ditinggalkan Leng Koe sangjien telah aku dapatkan semua, meskipun didalam surat wasiatnya ia berkata bahwa kepandaian tersebut diwariskan kepada berjodoh, tetapi didalam kenyataan aku sudah terikat dalam hubungan antara guru dan murid dengan sikakek tua ini, Tata cara tak boleh dikesampingkan, aku harus menjalankan penghormatan lebih dahulu didepan layon guruku kemudian baru menuruti pesan terakhirnya untuk mengebumikan layannya bersama-sama bangkai kura-kura itu"
Berpikir sampai disitu diapun maju ke depan dan dengan hormat menjalankan penghormatan besar sebanyak delapan kali dldepan jenasah Leng Koe sangjien, bisiknya.
"Tecu Han siong Kie menghunjuk hormat untuk la yon In soe" . selesai berdoa ia bangkit berdiri dan melirik sekejap kearah liang kubur yang telah dipersiapkan, kemudian membopong jenasah Leng Koe sangjien dari atas tanah untuk dipindahkan kearah liang kubur tadi. Tetapi secara mendadak ia temukan suatu papan batu dibawah jenasah gurunya itu di atas papan batu terukir pula beberapa huruf kecil yang berbunyi demikian.
"seandainya kau menganggap saat tadi sudah memperoleh tenaga lweekang yang tinggi serta ilmu silat yang lihay, kemudian tinggalkan jenasah diriku tetap terlantar diatas bumi, maka seratus hari kemudian apa yang kau peroleh saat ini bakal lenyap tak berbekas .." . Tanpa sadar Han siong Kie merasakan badannya bergidik keras, diam2 ia bersyukur kepada diri sendiri bahwa ia tak mempunyai maksud untuk berbuat demikian, kalau tidak niscaya bencana akan menimpa dirinya.
"singkap papan batu ini, di bawah merupakan ruang bawah tanah"
Han siong Kie angguk-anggukkan kepala-nya dan berpikir.
"Leng Koen sangjien telah mengatur segala-galanya, baiklah aku laksanakan menurut pesan terakhirnya" . Maka tanpa banyak komentar ia buka papan batu itu kesamping hingga muncullah sebuah mulut gua, serangkaian anak tangga batu menjorok kebawah, suasana dalam gua terasa terang benderang bagaikan disiang hari, jelas di sekeliling situ telah dipasang batu permata atau mutiara serta benda2 berharga sejenisnya. sesudah ragu2 sejenak. pemuda itu membopong jenasah dari Leng Koe sangjien dan menuruni undak-undakan batu itu Pada ujung undak-undakan batu tadi merupakan sebuah ruangan batu, dalam ruangan hanya tersedia bangku, meja serta sebuah pembaringan, sedang pada atap ruangan terdapat sebutir mutiara besar yang memancarkan cahayanya menerangi seluruh ruangan, pada ujung dinding terdengar suara rintikan air yang memancar ke bawah dan mengalir keluar gua. Han siong Kle segera membaringkan jenasah dari Long Koe sangjien diatas pembaringan batu yang disisinya terukir beberapa hurup yang berbunyi demikian.
"Disinilah manusia dan kura kura bersemayam"
Kemudian pemuda itu keluar lagi dari ruangan untuk membopong masuk bangkai kura-kura tadi untuk kemudian di baringkan di sisi jenasah Leng Koe sangjien.
setelah itu barulah ia mengambil butiran obat diekor kurakura tadi, telah dicampur dengan air segera di usapkan diatas punggung kura-kura, tulisan yang yang tertera diatas kulit makhluk itupun seketika lenyap tak berbekas.
Mendadak....
terdengar suara gemerisik yaag amat nyaring bergema memecahkan kesunyian secara tiba-tiba pembaringan batu itu bergerak turun ke arah bawah.
Han siong Kie yang menjumpai keadaan itu jadi amat terperanjat, dengan termangu-mangu ia awasi pembaringan batu tadi turun kebawah hingga mencapai lima depa dan berhenti, kemudian sebuah papan baru perlahan-lahan muncul dari arah samping dan tepat menutupi liang bekas tempat pembaringan batu tadi Keadaan ruanganpun dengan cepat pulih kembali seperti sedia kala, kecuali kurang selembar pembaringan.
"Aaaah... sungguh suatu persiapan yang amat masak "
Seru sianak muda itu tanpa sadar. Belum ia berkata tampak selembar kertas melayang jatuh dari atas atap ruangan, ia segera pungut kertas tadi dan membaca isinya .
"Hati jujur dan tulus ikhlas, bocah cilik, kau memang mengembirakan hatiku." . Membaca sampai disini Han siong Kie tak tertahan tertawa geli, pikirnya.
"Apakah pada enam puluh tahun berselang Leng Koe sangjien telah dapat menduga kalau orang yang bakal tiba disini adalah seorang pemuda yang masih muda belia seperti aku??? atau adalah seorang kakek tua, ucapan si "
Bocah cilik"
Itu bukanlah bisa dijadikan suatu lelucon yang sangat menggelikan???". Bepikir sampai disini, iapun meneruskan kembali membaca surat tersebut.
".... Sumber air didalam batu merupakan sumber utama dari air mujarab, siapa yang minum air tersebut dapat menghilangkan rasa lapar dan rasa dahaga. Meskipun kau telah berendam didalam sumber air hingga berganti kulit tulang dan memperoleh pula hawa murni yang disalurkan kura-kura sakti, tetapi kau harus merendamkan diri lagi selama tiga hari didalam sumber mata air yang ada di dalam ruangan ini, dengan begitu hawa murni yang didapatkan baru bisa bergabung jadi satu dengan hawa murni didalam badan. sedangkan untuk melatih ilmu Koe sie Toa Hoat kaupun harus mengandalkan kekuatan dari sumber mata air ini, seratus hari kemudian bisa diharapkan suatu hasil yang gemilang, kemudian dengan segenap tenaga hantamkan ke arah sumber mata air ini sebanyak tiga kali, apa bila tidak menemukan suatu pertanda apapun, berlatihlah kembali selama seratus hari..."
" . Berbicara sampai disini Han Siong Kia pun sudah mengerti apa yang dimaksudkan oleh Leng Koe sangjien, maka diapun mengikuti petunjuk tersebut dan mulai berlatih diri didalam ruang batu itu. Seratus hari dalam sekejap mata sudah lewat, terhadap kepandaian silat yang diwariskan Leng Koe sangjien di atas punggung kura-kuranya pun sianak muda itu sudah hapal di luar kepala. Dengan perasaan hati yang bergolak keras ia menatap dinding batu dimana terdapat sumber mata air tajam2, lama sekali ia memandang namun belum juga mengerti apa yang dimaksudkan gejala aneh oleh gurunya, ia harusnya merasa bahwa semua persiapan itu diatur dengan amat sempurna dan misterius. Maka diapun menghimpun segenap tenaga-nya kedalam telapak kemudian melancarkan tiga buah serangan dahsyat ke arah dinding batu dimana terdapat sumber mata air itu Suara ledakan dahsyat segera menggeletar memekikkan telinga, dinding batu dimana terdapat sumber mata air tadi setelah termakan oleh pukulan yang amat dahsyat tadi mendadak bergerak tiga depa kedalam dan lenyaplah sumber mata air tadi. 000dewi000 BAB DENGAN wajah tertegun Han siong Kie berdiri menjublak ditempat semula, ia tidak habis mengerti apa yang dimaksudkan mendiang gurunya untuk berbuat begitu. criiing... tiba2 terdengar suara gemerincingan bergema disisi tubuhnya diikuti terasalah sebuah benda yang memancarkan cahaya berkilauan secara tiba2 terjatuh dari atas dinding gua tersebut. Ia segera mendekati benda tadi mau mengambilnya yang ternyata bukan lain adalah sebuah telapak tangan terbuat dari tembaga hitam, diikuti secarik kertaspun melayang jatuh kebawah. Dengan hati tercengang dipungutnya pula kertas tadi, tapi dengan cepat si anak muda itu sudah berteriak keras dengan sekujur badan bergetar keras.
"Aaaah. Hoed Chiu Poo Pit... kitab pusaka Tangan Buddha ...." . Ia teringat kembali akan ucapan dari susioknya si telapak naga beracun Thio Lien yang pernah menceritakan kepadanya akan kisah benda pusaka yang tak ternilai harganya itu, sungguh tak nyana akhirnya benda tadi ditemukan olehnya. Di atas Hoed Chiu Poo Pit tersebut termuat serangkaian ilmu silat yang maha sakti yang disebut tlmu "sie Mie sinkang"
Kepandaian ini begitu dahsyat sehingga ilmu"
Toan Yoe sinkang"
Dari partai siauw limpun tak sanggup untuk menandingi, hanya jarang sekali ada orang yang pernah menyaksikan sendiri kehebatan ilmu tersebut.
sepasang tangannya mulai gemetar keras, ia pejamkan matanya rapat-rapat dan berusaha keras menenangkan hatinya yang bergolak keras.
Ia terbayang kembali akan suasana di dalam perkampungan keluarga Han, tulang tengkorak berserakan dimana-mana...
dua ratus jiwa ditambah jiwa susioknya si telapak naga beracun Thio Llen sekeluarga, semua-nya telah musnah ditangan si Tengkorak darah.
Dendam kesumat seperti ini lebih dalam dari samudra, rasa bencinya lebih besar dari langit, Bagaimanapun juga sakit hati ini harus dituntut balas.
Tengkorak darah...
si Pemilik Benteng Maut, tak dapat membayangkan sampai di manakah lihaynya ilmu silat yang dimiliki pihak lawan, sebab si pengemis dari selatan serta si padri dari utara pun bukan tandingannya semua, tetapi seandainya ia berhasil mempelajari ilmu see Mi ciang?
sinar matanya dialihkan kembali keatas kertas itu dan membaca lagi isinya.
"Hod Chiu Poo Pit berhasil aku dapatkan pada tiga puluh tahun berselang, tetapi didalam melatih kepandaian tersebut ternyata aku menderita jalan api menuju neraka, saat itulah aku baru sadar bahwa kitab pusaka ini semestinya terdiri dari kiri dan kanan, tapi keadaan sudah terlambat dan menyesalpun tak ada gunanya, Kitab yang ku dapatkan adalah bagian yang kanan, dimanakah yang sebelah kiri aku sendiripun tak habis mengerti, kejadian itu merupakan suatu hal yang patut disesalkan sepanjang hidupku, bagi mereka yang berjodoh apabila berhasil memenuhi harapanku dengan menggabungkan sepasang telapak tangan itu hingga berhasil melatih ilmu yang sangat dahsyat tanpa tandingannya dikolong langit ini, akupun akan ikut tersenyum dialam baka" . Han siong Kie merasakan hatinya terjelos, kalau memang Hoed Chiu Poo Pit terdiri dari sepasang, lalu yang separuh dia harus pergi cari dimana.? Jagad begini luas dan lebar, untuk menemukan separuh belah benda pusaka sudah tentu merupakan suatu kejadian yang amat sulit. seandainya telapak Budha yang lain tidak berhasil ditemukan, bukankah yang sebelah ini sama artinya dengan benda yang tak berharga?? Leng Koe sangjien yang begitu lihaypun, hanya kurang hati-hati mengakibatkan kematian yang disesalkan untuk selama nya, apalagi dia? -000dewi0kz000-
Jilid 3 LAMA sekali ia termenung... akhirnya pemuda itu jatuhkan diri berlutut ke arah pembaringan batu yang telah lenyap di bawah tanah itu, katanya dengan suara lirih.
"suhu, walaupun kau telah meninggal dunia tetapi budi pemberian tenaga lwekang tak akan pernah lenyap dari benakku, selama tecu masih hidup dikolong langit pasti akan berusaha keras untuk menyelesaikan harapan dari suhu ini sampai mati baru berhenti "
Habis berdoa ia bangkit berdiri, memasukkan tangan Buddha berwarna hitam itu ke dalam sakunya dan keluar dari ruang batu, kemudian tutup pula mulut gua dengan papan batu dan menutup papan batu tadi dengan tanah sehingga siapapun tak akan menduga kalau dibawah tanah masih terdapat ruangan batu.
Menanti ia berpaling kearah sumber air mujarab, pemuda itu jadi tertegun, kiranya kolam air mujarab telah mengering, setitis airpun tidak nampak.
yang tersisa hanyalah sebuah liang tanah yang luas.
Hal ini mungkin disebabkan oleh karena tersumbat-nya sumber air didalam gua.
Memandang langit yang biru diangkasa, Han Siong Kie merasa bagaikan baru saja mendusin dari suatu impian yang aneh.
Dalam seratus hari ia telah berubah jadi seorang manusia yang lain, seorang jago dengan tenaga lweekang yang amat semcurna serta rangkaian ilmu silat yang sakti.
Pertama, ia teringat kembali akan saudara angkatnya yang nakal sipengemis cilik Tonghong Hwie, entah saat ini ia telah berkelana sampai dimana??
ia merasa bahwa dengan kepandaian yang dimilikinya sekarang mungkin sudah cukup untuk menjadi toakonya.
Ia tertawa bangga dan sebera kerahkan ilmu meringankan tubuhnya keluar dari hutan itu.
suasana dalam hutan itu sudah tidak segelap waktu ia datang semula, karena pandangan matanya dapat melihat di tempat kegelapan.
sesuai dengan pesan dari Leng Koe sangjin, setelah berjalan tiga li ke arah timur kemudian putar kearah selatan sejauh empat li, ia benar2 sudah lolos dari hutan belantara tersebut.
Setelah melewati sebuah hutan kecil, di hadapan matanya terbentanglah sebuah bukit yang tak begitu tinggi.
Dari puncak itu dia memandang ke bawah, tampaklah di suatu bagian adalah sebuah kota kecil, arah lain merupakan sungai dengan sebuah benteng kuno yang berdiri dengan angkernya ditengah sungai, itulah Benteng Maut tempat angker bagi seluruh umat Bu lim.
Han siong Kie merasakan darah panas dalam dadanya bergelora keras, api dendam berkobar dengan hebatnya membuat sorot mata yang memancar ke luar nampak begitu mengerikan dan menakutkan.
Membalas dendam ingatan ini berkelebat dalam benaknya, sambil menggertak gigi ia mengirim satu pukulan udara kosong ke depan.
Tiba2 ia temukan bahwa pakaian yang di kenakan olehnya sudah kumal dan hancur tak karuan, perutpun terasa lapar.
dalam hati segera pikirnya.
"Lebih baik aku membeli pakaian dulu di kota sebelah depan sana, setelah perut terasa kenyang barulah pergi ke Benteng Maut untuk mencari setori ...."
Berpikir demikian ia lantas turun gunung dan langsung menuju kearah kota terdekat.
sekonyong2...
terdengar desiran angin tajam berkumandang memecahkan kesunyian, disusul munculnya beberapa sosok bayangan manusia di tempat itu.
Tujuan Han siong Kie pada saat ini adalah pergi ke kota untuk ganti pakaian dan menangsel perut kemudian pergi ke Benteng Maut untuk mencari balas, terhadap orang2 tadi ia malas untuk memperdulikannya, melihat datangnya beberapa sosok bayangan manusia, badannya segera menyingkir kesamping untuk memberi jalan.
"Berhenti"
Suara bentakan keras bergetar memekikkan telinga, tujuh sosok bayangan manusia dengan cepatnya meluncur datang dan menghadang jalan perginya.
Pemuda she Han ini terpaksa berhenti dan angkat kepalanya memperhatikan orang2 itu.
Tampaklah diantara mereka bertujuh ada tiga orang adalah kakek tua dan empat orang lainnya merupakan pria kekar, wajah mereka menunjukkan rasa takut dan jeri yang tak terkirakan.
Begitu masing2 pihak saling berjumpa, ketujuh orang itu sama2 berseru tertahan, rupanya mereka dibikin terperanjat oleh keadaan Han siong Kie yang mengenaskan itu.
Terdengarlah salah seorang kakak tua itu dengan alis berkerut sebera menegur.
"Engkoh cilik, apakah kau terluka?"
Dengan sikap hambar Han siong Kie gelengkan kepalanya, mulut tetap membungkam dalam seribu bahasa.
"Engkoh cilik kau hendak pergi ke mana?"
Kembali kakek tua itu bertanya.
"Aku mau pergi ke kota"
"Aduh... jalan ini tak bisa dilewati, lebih baik kaupilih jalan yang lain saja."
"Kenapa?? apa salahnya aku lewat sini."
Dengan wajah menunjukkan kengerian serta keseraman yang tebal, kakak tua itu menyahut.
"Janganlah bertanya mengapa, dengarkanlah perkataan dari aku orang tua pasti tak akan salah lagi, cepatlah putar badan dan tinggalkan tempat ini."
"Hmm terima kasih petunjukmu "
Sahut Han siong Kie ketus, begitu selesai berbicara ia segera melayang sejauh tiga tombak dari tempat semula.
Melihat sikap si anak muda itu, si kakek tua yang lain diantara ketujuh orang itu segera berseru.
"Kalau memang keparat cilik itu pingin menghantar kematiannya sendiri, perduli amat kita mesti mengurusi dia, ayo berangkat. janganlah memancing api membakar tubuh sendiri"
Sebetulnya dari pembicaraan beberapa orang itu Han siong Kie sendiripun dapat menangkap akan suatu keadaan yang tidak beres, tetapi sebagai seorang pemuda yang berjiwa panas terutama baru saja memiliki kepandaian silat yang maha sakti, disamping itu dalam benaknya kecuali memikirkan bagaimana caranya membalas dendam terhadap Benteng Maut tidak memperhatikan persoalan lain, maka walaupun sudah diperingatkan tetapi ia tetap nekad meneruskan perjalanannya.
Beberapa saat kemudian sampailah pemuda itu di dalam sebuah hutan To yang luas dan rimbun, daun dan ranting tumbuh dengan suburnya, sebuah jalan kecil terbentang menembusi hutan tersebut.
Belum jauh ia berjalan memasuki hutan tadi, terciumlah bau amis darah yang amat menusuk penciuman berhembus lewat dari sisi kiri kanannya.
Han siong Kie terperanjat dan segera memperhatikan gerakan tubuhnya, begitu ia berpaling bulu kuduknya segera pada bangun berdiri, ia bersin beberapa kali dan berdiri terbelalak.
Terlihatlah di tepi jalan berserakan beberapa puluh sosok mayat yang menggeletak di atas genangan darah segar, keadaan mayat2 itu mengerikan sekali, batok kepala mereka hancur berantukan dan otak berserakan di empat penjuru, bau busuk yang memuakkan tersiar di empat penjuru membuat perut orang jadi mual.
Ia berdiri menjublek.
siapakah yang telah melakukan pembunuhan kejam diluar perikemanusiaan ini???
Tiga orang kakek serta empat orang pria kekar tadi melarang dirinya maju lebih ke depan bahkan mengajak ia ber sama2 melarikan diri dari situ, apakah hal itu disebabkan karena peristiwa pembunuhan sadis ini?
lama sekali ia berpikir tapi tak sesuatu apapun yang berhasil dipecahkan olehnya.
setelah berdiri tertegun beberapa saat lamanya, si anak muda itupun meneruskan kembali perjalanannya menerobos Hutan, sepanjang jalan kembali ia temukan mayat manusia yang menggeletak di tepi jalan, keadaan dari mayat2 tidak jauh berbeda dengan apa yang dilihatnya di tepi hutan tadi, batok kepalanya hancur remuk serta otak yang berceceran di atas lantai.
Makin melibat Han siong Kle merasa semakin terperanjat, pembunuhan brutal Benar-benar merupakan suatu peristiwa berdarah yang mengerikan hati.
Pada saat itulah...
sesosok bayangan manusia berkelebat lewat di dalam hutan itu, langkahnya ter-buru2 dan sempoyongan.
sekilas memandang Han siong Kle merasakan hatinya tergetar keras, bukankah orang itu adalah sipengemis dari selatan salah satu diantara dua tokoh lihay dunia persilatan??
kalau dilihat dari keadaannya diapun menderita luka parah.
Jangan2 diapun terluka ditangan pembunuh yang membinasakan korbannya dengan menghajar remuk batok orang??
atau mungkin...
Diam2 sianak muda ini bergidik juga hatinya, ia tahu si pengemis dari selatan serta si Padri dari Utara adalah tokoh2 sakti di dalam dunia persilatan, tetapi mereka dapat jatuh kecundang ditangan orang, hal ini bisa membuktikan betapa dahsyatnya serta sempurna nya tenaga lwekang yang dimiliki orang itu.
Berpikir demikian, buru2 ia maju menyongsong kedatangan si pengemis itu sambil menjura.
"Locianpwe harap tunggu sejenak" . si Pengemis dari selatan menghentikan gerakan tubuhnya dan memperhatikan sekejap seluruh tubuh si anak muda itu, kemudian dengan wajah terkejut bercampur sangsi serunya.
"Kau...kau..."
"Cayhe she Han bernama siong Kie"
"Apakah kau telah bergebrak melawan perempuan iblis itu???"
"Perempuan iblis?? siapa???"
Tanya Han siong Kie setelah tertegun beberapa saat lama nya, ia tidak mengerti apa yang dimaksudkan si pengemis tua itu.
"Im sat si Malaikat berhawa lm kang, Mo sioe Ing"
"siapakah orang itu?? cayhe sama sekali tidak mengenal atau bertemu dengan dirinya"
"Apakah engkau benar2 tidak kenal dengan iblis perempuan itu?? kalau begitu aku si pengemis tua sudah salah melihat... Tapi kenapa keadaanmu begini mengenaskan???"
Han siong Kie tundukkan kepalanya dan memperhatikan sekejap pakaian yang dikenakan, sebenarnya dia ingin menceritakan pengalaman selama berada di dalam hutan belantara tapi ingatan lain dengan cepat berkelebat dalam benaknya "Haah, lebih baik aku merahasiakan pengalaman aneh itu saja"
"oh kemarin malam cayhe telah bertemu dengan kawanan serigala liar habis sudah pakaianku di koyak2 oleh makhluk sialan itu"
"Hey bocah keparat berada didepan Budha lebih baik tak usah pura2 pasang hio"
Tukas si pengemis dari selatan dengan mata melotot "Meskipun kawan serigala itu ganas aku rasa mereka takkan bisa mengapa-apakan, aku si pengemis tua yakin bahwa sepasang mataku belum buta dengan kesengsaraan serta ketajaman pandangan matamu, aku percaya bahwa tenaga lwekangmu sudah mencapai pada taraf yang tak tercapai oleh kawanan Bu lim biasa" .
Merah jengah selembar wajah Han Siong Kie.
"Sungguh tajam penglihatan si pengemis tua ini"
Pikirnya di dalam hati, sementara di luaran ia menyahut dengan nada ketus.
"Percaya atau tidak terserah pada diri locianpwe sendiri, yang pokok aku memang mengalami kejadian tersebut" .
"Baik, omong kosong tiada gunanya"
Seru si pengemis dari selatan sambil mengetukkan tongkat bambunya ke atas tanah.
"Kemungkinan besar si iblis perempuan itu akan balik lagi setelah berlalu dari sini, cepat2lah kau meninggalkan tempat ini" .
"Huuh Si iblis Im Sat Mo Sioe Ing paling banter hanya seorang perempuan, sampai di mana sih keganasan serta kepandaiannya? aku pingin tahu..."
"Hey Bocah cilik, kau betul2 seorang manusia yang tak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi, apakah kau tidak menyaksikan tumpukan mayat yang bergelimpangan diluar hutan sana???"
"sudah lihat, kenapa??"
"Kalau kau tidak ingin batok kepalamu ikut hancur berantakan terhajar oleh pukulan mautnya, lebih baik cepat2lah tinggalkan tempat ini ". Han siong Kie segera tertawa hambar.
"Hmm cayhe ingin sekali menjajal kepandaian yang dimiliki si iblis Im Sat Mo sioe Ing, aku pingin tahu malaikat iblis itu terdiri dari manusia yang bagaimana macam raganya" . seluruh rambut dan jenggot si pengemis dari selatan bergetar keras dan menegang bagaikan kawat, sambil tertawa keras serunya "Haaahhh...haaahhh.. haah... bocah cilik kau memang sangat bernyali dan cocok sekali dengan selera aku si pengemis tua, tetapi aku perlu memberitahukan kepada-mu.. jangan di bilang kau, sekalipun aku si pengemis tua juga bukan tandingannya"
"Apakah locianpwe terluka ditangannya??".
"Ehmm aku si pengemis tua memang tidak becus, untuk kesekian kalinya telah jatuh kecundang ditangan orang."
Hati Han siong Kie jadi bergerak, ia tahu yang dimaksudkan si pengemis selatan sebagai ke sekian kalinya.
pastilah dimaksudkan tiga bulan berselang ia telah jatuh kecundang ditangan pemilik Benteng Maut dan sekarang jatuh kecundang kembali ditangan Im Sat si malaikat hawa Im.
Kendati begitu ia tidak mengatakannya ke luar, sambil alihkan pokok pembicaraan tanyanya.
"Kenapa sih si malaikat hawa im Mo sioe Ing suka membunuh orang?"
"Haah.....haah... haah... bocah cilik, pertanyaanmu ini memang paling tepat kalau diajukan kepadaku, sebab pertanyaan tersebut kecuali aku si pengemis tua mungkin jarang sekali ada orang yang dapat memberikan jawaban yang tepat bagimu."
Timbul rasa ingin tahu dalam hati si anak muda itu, semangatnya berkobar kembali dan serunya.
"Benarkah locianpwe adalah satu2nya orang yang mengetahui kejadian sebenarnya."
"Maksudku bukan begitu, cuma saja aku sipengemis tua adalah salah satu diantara sekian banyak korban yang berhasil meloloskan diri dari tangan keji si malaikat Im sat Mo siau Ing karena aku dapat menerangkan sedikit gejala yang berhasil kuketahui."
"silahkan cianpwee memberi keterangan "
"Baik, aku memang merasa berjodoh setelah bertemu dengan dirimu, di situ ada hutan mari kita kesana saja, aku sipengemis tua agak haus dan ingin minum dulu."
Berangkatlah kedua orang itu menuju hutan, setelah ambil tempat duduk si pengemis dari selatan segera melepaskan cupu2 araknya dan meneguk isinya dengan lahap kemudian ia berkata.
"Arak ini adalah Tan Cau arak paling bagus di daerah sini hei bocah ayo minumlah setegukan" . sambil berkata ia segera angsurkan cupu2 arak itu ke depan Han siong Kie menerima dan ikut meneguk satu tegukan.
"Hmm tidak salah memang arak bagus"
Serunya kemudian sambil mengangguk tiada hentinya. Pengemis dari selatan menyambut kembali cupu2nya dan meneguk hingga isinya ludes, setelah itu sambil menyeka mulut katanya.
"Bocah cilik, sekarang dengarkanlah baik-baik dua puluh tahun berselang di dalam dunia persilatan telah muncul sepasang muda mudi yang masih muda belia, yang lelaki punya wajah tampan sedang yang perempuan berwajah cantik jelita tetapi ilmu silat yang mereka miliki sangat lihay sekali, hati mereka kejam dan tindak tanduknya telengas, pria itu oleh orang kangouw disebut Yan Sat si malaikat hawa Yang, Ko soe Kie, sedang yang wanita" .
"Yang perempuan pastilah Im sat Mo sioe Ing, bukan begitu?? "
"sedikitpun tidak salah, kau jangan menimbrung terus, dengarkanlah kisahku ini, kedua orang tersebut adalah sepasang suami istri yang saling cinta mencintai, disamping itu kedua orang muda mudi itupun mempelajari semacam ilmu silat yang keji dan luar biasa ngerinya disebut "
Hian lm Koei Jiauw ". Cakar setan pukulan dingin, tidak sampai satu tahun mereka muncul di dalam dunia persilatan sudah ada ratusan orang jago lihay yang menemui ajalnya di ujung cakar setan "
Hian Im Koei Jiau "
Tersebut, kejadian ini segera menggemparkan seluruh dunia persilatan, semua jago baik dari kalangan Hek-to maupun Pek to sama2 keder terhadap mereka sedang badai darah masih saja melanda di mana2 ....."
"Masa di dalam dunia persilatan yang begitu luasnya tak ada seorang manusia pun yang sanggup menandingi Im Yang siang Sat sepasang malaikat Im dan Yang...? "
"Boleh dibilang begitu".
"Bagaimana kalau dibandingkan Tengkorak maut??".
"Kau maksudkan si pemilik benteng maut??"
Tanya pengemis selatan setelah tertegun sejenak. Han siong Kie mengangguk tanda membenarkan.
"Bagaimanakah raut wajah yang sebenarnya diri si Tengkorak Maut hingga kini masih merupakan suatu teka-teki yang sulit untuk dijawab, tetapi kalau menurut penilaian dari aku si pengemis tua jelas tenaga dalam yang dimiliki tengkorak maut dari Benteng Maut jauh lebih dahsyat dari Im Yang siang sat, tetapi berhubung mereka belum pernah saling bergebrak maka pertanyaan itu sulit untuk dijawab. sekarang dengarkanlah dulu kisah lebih lanjut..."
"Hmm, bukankah kau serta si padri dari utara telah dilempar ke luar dari benteng sebanyak dua kali oleh pemilik Benteng Maut ??"
Pikir Han siong Kie di dalam hati."
Bahkan terakhir kalinya kalian ke luar dalam keadaan mengenaskan sekali, kalau dikata-kan raut wajah pemilik Benteng Maut belum pernah diketahui, ucapan ini bukankah suatu pembohongan secara besar2an???
mungkin di balik kesemuanya ini masih terkandung latar belakang lain."
Belum habis ia berpikir, terdengar si pengemis dari selatan telah mendehem dan memutuskan kembali kata2nya.
"Tindak tanduk dari Im Yang siang Sat segera memancing kegusaran umat Bu lim, sebanyak tiga kali para jago dari kalangan Hek to serta Pek to berkerja sama untuk menumpas mereka berdua, soal hasil bukan saja usaha itu gagal total bahkan lebih banyak orang yang jadi korban."
"Locianpwejuga termasuk salah satu diantara pengeroyok..."
"Tidak, berhubung ada urusan lain aku si pengemis tua tidak hadir di dalam peristiwa itu"
"Waah, kalau begitu bukankan umat Bu lim terpaksa membiarkan Im Yang siang Sat meraja lela di dalam dunia persilatan??"
Beberapa tahun pengalaman memang demikian, tetapi pada sepuluh tahun berselang mendadak Yang Sat si malaikat hawa Yang, Ko see Kie lenyap tak berbekas, menurut kabar berita yang tersiar katanya ia telah dibasmi oleh seorang Bu lim cianpwee yang misterius, Im Sat yang gagal menemukan musuh besarnya segera melampiaskan kegusarannya di atas tubuh orang2 Bu lim, setiap tahun ia muncul dirinya satu kali dan setiap kemunculannya pasti membunuh seratus orang banyaknya."
"Aduh mak "teriak Han siong Kie sambil menjulurkan bibirnya.
"Kalau begitu selama sepuluh tahun bukankah ia telah membinasakan seribu orang??"
Si pengemis dari selatan menghela napas panjang.
"Itu sih tidak. sebab kemunculan si iblis perempuan itu membunuh orang baru berlangsung sejak tiga tahun berselang "
Katanya.
"Kalau begitu kejadian ini benar2 membingungkan orang".
"kenapa??? "
Kalau dikatakan Yang sat si malaikat hawa Yang, Ke see Khie adalah mati karena di basmi seorang tokoh sakti persilatan, mengapa tokoh sakti tadi tidak sekalian membasmi Im sat si malaikat hawa Im dari muka bumi??
sehingga mengakibatkan si malaikat hawa Im yang sakit hati melampias-kan amarahnya kepada umat Bu lim "
"Aai bocah cilik, perkataanmu memang betul, yang jelas peristiwa itu hingga kini masih tetap merupakan suatu teka teki" .
"Apakah orang2 yang ada di dalam Bu lim adalah manusia2 kurcaci yang hanya mementingkan diri sendiri??? "
Seru Han siong Kie dengan hati mendongkol."
Ucapanmu tepat sekali "
Pengemis dari selatan mengangguk.
"Kalau tidak si malaikat hawa Im sat Mo sioe Ing tidak akan selatan dan sejumawa ini".
"Hmm kalau ada kesempatan aku hendak menemui iblis perempuan itu".
"Bocah, semangat serta keberanianmu patut dipuji, kau anak murid dari perguruan mana??"
"Leng Koe sangjien!"
"Apa??? coba kau ulangi satu kali lagi!"
"Leng Koe Sangjien!".
"Haaaaah,..haaaah...haaaah bocah cilik kau jangan mengibul terlalu gede hati2 kalau mulutmu ditampar orang Tahun ini kau kau berusia berapa??? Leng Koe Sangjien adalah seorang tokoh sakti yang sudah tersohor namanya sejak seratus tahun berselang..."
"Aku adalah anak muridnya yang mendapat ilmu silat dari peninggalannya siorang tua itu !".
"Ooooh jadi kau telah mendapat kitab ilmu silat peninggalannya??..."
"Sedikitpun tidak salah!"
"Tidak aneh kalau omonganmu begitu gede dan jumawanya luar biasa kiranya kau sudah mendapatkan warisan ilmu silat dari tokoh sakti itu kalau memang demikian adanya kau boleh saja untuk coba bergebrak melawan simalaikat berhawa Im!' ' Satu ingatan berkelebat dalam benak Hao Siong Kie segera serunya.
"Locianpwee..."
"Tunggu sebentar! "
Tukas sipengemis selatan sambil goyangkan tangannya mencegah sianak muda itu berbicara lebih lanjut.
"Kalau memang kau adalah ahli waris dari Leng Koe Sangjieo, maka kalau dibicarakan dan soal tingkatan maka aku sipengemis tua masih kalah satu tingkat darimu, demikian saja kau boleh panggil aku sebagai engkoh tua sedang aku panggil kau sebagai adik kecil setuju?? "
Soal ini ... eeei ., mana boleh jadi "seru Han Siong Kie dengan gugup
"Locianpwee".
"Siau loote, kau tak usah pura2 banyak jual lagak lagi, aku sipengemis tua paling benci dengan perbuatan semacam itu!
' Mimpipun Han Siong Kie tak pernah menyangka kalau seorang tokoh silat Bu lim yang mempunyai kedudukan sangat tinggi di dalam Bu lim memaksa dirinya untuk menyebut dalam satu tingkatan yang sama dengan dirinya, bila kejadian ini berlangsung pada tiga bulan berselang...pada saat itu macam apakah keadaan dirinya??
tanpa terasa merah jengah selembar wajahnya.
"Yaaah... yaaah... sudahlah daripada aku tampik lebih baik aku menurut saja, siaute akan merasa bangga dengan peristiwa ini."
"Tak usah banyak ngomong yang tak sedap didengar, kau ada urusan apa hendak di katakan??, sekarang katakanlah"
Sekilas rasa sedih gusar dan penuh rasa dendam terlintas diatas wajah Han siong Kie yang tampan dengan sorot mata memancar-kan kebencian serunya dengan suara berat.
"Engkoh tua, apakah engkau pernah memasuki Benteng Maut???"
"Kau maksudkan Benteng maut?"
Ulang sipengemis dari selatan dengan hati tergetar keras.
"sedikitpun tidak salah"
"Aku pikir dikolong langit dewasa ini mungkin tak seorangpun yang bisa keluar dari istana maut dengan selamat setelah memasuki tempat itu"
"Tetapi pada tiga bulan berselang bukankah engkoh tua serta padri dari utara memasuki tembok dinding benteng maut??"
Mendapat pertanyaan itu sipengemis dari selatan tertawa getir.
"Tidak salah aku memang mengalami kejadian seperti itu"
"Bukankah waktu itu engkoh tua seperti padri dari utara berhasil keluar dari benteng dalam keadaan hidup???"
"sedikitpun tidak salah, kami memang berhasil keluar dari benteng dalam keadaan hidup, tetapi keberhasilan kami itu bukanlah disebabkan karena kami andalkan ilmu silat yang kami mliki ...."
"Lalu mengandalkan apa??? "
"saudara cilik, rahasia ini hanya kuberitahukan kepada dirimu seorang, harap jangan kau ceritakan kepada orang lain, kami bisa lolos keluar dari benteng itu dalam keadaan selamat adalah lantaran sipemilik benteng maut telah melepaskan kami keluar"
Tercekat hati Han Siong Kie sehabis mendengarkan perkataan itu, dengan kepandaian silat yang dimiliki sipengemis dari selatan serta padri dari utara pun ternyata mereka masih membutuhkan belas kasihan orang untuk dilepaskan, bisa dibayangkan sampai dimanakah kedahsyatan serta kesempurnaan ilmu silat yang dimiliki pendiri Benteng maut.
Tetapi ingatan tersebut hanya sekilas saja berkelebat didalam benaknya, rasa benci dan dendam telah mengalahkan se-gala2 nya, menghilangkan rasa takut yang mencekam hatinya.
segera ia bertanya lebih jauh.
"Engkoh tua, tolong tanya tengkorak maut dari benteng maut itu sebenarnya macam apa sih bentuk wajahnya??.
"Mau apa kau tanyakan persoalan ini ?"
Seru pengemis dari selatan dengan hati tercekat.
Dalam benak Hansiong Kie segera terlintas kembali pemandangan dikala susioknya sitelapak naga beracun Thio Lien membawa dirinya masuk kedalam perkampungan keluarga Han ditengah malam yang basah oleh hujan deras, pemandangan yang mengerikan kembali terlintas didalam benaknya, dua ratus jiwa anggota keluarga Han telah berubah jadi tulang tengkorak manusia yang berserakan di mana2, hingga kini jenasah mereka belum dikuburkan .
Meskipun susioknya melarang dia untuk mengubur jenasahjenasah tersebut dan melarang dirinya untuk membalas dendam, tetapi hidup sebagai putra manusia, dapat-kah ia menelan rasa dendam dan sakit hati atas terbunuhnya segenap anggota keluarga Han???
Dengan mata berapi2 dari mimik wajah menunjukkan penuh kebencian dan rasa dendam teriaknya.
"Antara aku dengan si Tengkorak maut terikat dendam sakit hati sedalam lautan, bagaimanapun juga aku harus membalas dendam atas sakit hati ini"
"Apa? Kau ada dendam dengan pemilik dari Benteng Maut??" -000dw0kz000-BAB "SEDIKITPUN tidak salah, aku bersumpah, aku hendak menghancur lumatkan tubuh-nya, menginjak rata Benteng Mautnya dan menghirup darah segarnya... kalau tidak dihatiku tidak puas, rasa dendamku tak akan padam"
"Jadi kau ada maksud untuk menuntut balas terhadap si Tengkorak Maut???"
Tanya si pengemis dari selatan dengan mata terbelalak.
"Benar sahut Han siong Kie dengan tegas. Tentang soal ini aku kira..".
"Kenapa?? apa salahnya aku menuntut balas??".
"saudara cilik, maafkanlah aku sipengemis tua hendak mengucapkan kata2 yang kurang sedap didengar, aku rasa niatmu itu mungkin sulit untuk dilaksanakan" . Han siong Kie angkat kepalanya memandang ke angkasa dan berpekik sedih, serunya.
"Aku tidak akan memperdulikan semua masalah yang tak berguna, begitu hanyalah ada satu prinsip yaitu kalau bukan aku Han siong Kie yang menemui ajal, tengkorak mautlah yang akan menemui ajalnya di tanganku. ."
"Hebat, punya semangat.. tapi kau harus ingat adikku kecil, korban yang berjatuhan ditangan Tengkorak Maut banyaknya melebihi bulu kerbau, rasanya aku sipengemis pun tak usah menerangkan kenyataan2 yang telah terjadi bukan..."
"Engkoh tua, sebenarnya si tengkorak maut adalah seorang mahluk aneh macam apa? "
"Tentang soal ini... mm maaf kalau aku tak dapat terangkan untukmu "
"Kenapa?? "
"Bagi orang Bu-lim janji adalah berat bagaikan gunung Thay-san, aku serta sipadri dari utara boleh dibilang merupakan satu2-nya orang yang berhasil lolos dari Benteng Maut dalam keadaan hidup selama puluhan tahun terakhir ini dan merupakan satu2aya orang yang berhasil menjumpai wajah yang sebenarnya dari Tengkorak Maut, tetapi disaat kami hendak dilepaskan keluar telah berjanji pula kepada pemilik Benteng Maut bahwa kami selamanya tak akan menceritakan api yang kami lihat ini kepada orang lain "
"Kalau memang begitu, engkoh tua selamat tinggal "
Seru Han Siong Kie dengan hati sedih bercampur gusar habis berkata ia segera bangkit berdiri dan siap berlalu .
"Tunggu sebentar"
Pengemis dari selatan segera berseru "Engkoh tua apa yang hendak kau katakan lagi !! "
"Kau harus memahami kesulitan hati dari aku sipengemis tua didalam dunia persilatan aku pengemis tua boleh dibilang mempunyai sedikit nama juga aku tak boleh mengingkari janjiku sendiri walaupun begitu siTengkorak maut adalah musuh umum selama aku sipengemis tua masih mempunyai napas didalam dada aku pasti akan berusaha untuk memperjuangkan keadilan serta kebenaran bagi umat BuLim ! "
"Kalau begitu anggaplah Siauwte telah salah bicara harap kau suka memaapkan ..!!"
"Sekarang kau hendak pergi kemana??"
"Setelah bertukar pakaian, aku langsung hendak pergi ke Benteng Maut untuk menagih hutang!"
"Saudara cilik, segala persoalan tak bisa dilaksanakan tanpa didasari oleh rencana yang matang, bagaimana kalau kau undurkan dahulu rencanamu itu dan menanti hingga para enghiong hoohau yang ada ditolong langit bersatu padu"
"Aku merasa amat berterima kasih bagi perhatian serta bantuan engkoh tua, tapi sayang siawte tidak ingin menggunakan tenaga orang lain untuk membalas dendam sakit hatiku ini!" .
"Sayang pada saat ini aku sipengemis tua sedang merderita luka parah "
Seru Pengemis dari selatan dengan terharu.
"Kalau tidak aku pasti akan menemani dirimu pergi kesana!".
"Apa?? jadi engkoh tua menderita luka parah??"
Tanya Han Siorg Kie dengan alis berkerut.
"Sedikitpun tidak salah, aku termakan oleh sebuah pukulan dari Im sat si malaikat berhawa Im Mo Sioe Ing isi perutku telah menderita luka dan aku harus beristirahat selama beberapa bulan untuk mengobati luka ku ini!! " .
"Jadi kalau begitu tenaga lwekang yang dimiliki malaikat hawa Im tidak sampai lebih tinggi berapa banyak jika dibandingkan dengan engkoh tua ??" .
"Bagaimana kau bisa berkata demikian?? "
"Bukankah engkoh tua pernah mengatakan bahwa dibawah telapak tangan simalaikat hawa Im tak pernah melepaskan korban nya dalam keadaan hidup??" .
"Kau keliru besar"
"Aku keliru? bagaimana kelirunya?? "
"Tenaga lweekang yang dimiliki si malaikat berhawa Im Mo sioe Ing jauh tebih tinggi berapa kali lipat daripada diriku si pengemis tua tetapi ia mempunyai sebuah peraturan yang aneh, barang siapa yang sanggup menghadapi dirinya sebanyak tiga gebrakan, maka ia akan melepaskan orang itu dengan selamat, serangan yang keempat tidak nanti akan dilepaskan."
"Oooooh.. kiranya begitu"
Saking kagetnya Han song Kie menjerit tertahan, hatinya bergidik dan bulu kuduknya pada bangun berdiri, walau begitu tekadnya untuk bertempur melawan si malaikat berhawa Im pun semakin besar.
Dalam pada itu sipengemis dari selatan telah tundukkan kepalanya dan berpikir sebentar, kemudian katanya dengan perasaan bergolak.
"Saudara cilik, maukah kau menunggu aku selama satu bulan??."
"Menunggu dirimu selama satu bulan?? "
Nantikanlah setelah luka dalamku sembuh dan menyerahkan persoalan didalam perkumpulanku kepada orang lain, akan kuiringi kehendakmu untuk menyerbu ke dalam Benteng Maut.
"Engkoh Tua, terima kasih banyak atas perhatian serta kesediaanmu, biarlah aku terima didalam hati saja. Nah, siauwte mohon diri terlebih dahulu.." . Habis berkata dia enjotkan badan menembusi hutan dan meneruskan perjalanannya lewat jalan raya, sepanjang perjalanan suasana sepi dan tak nampak sesosok bayangan manusiapun, mungkin hal itu disebabkan karena si malaikat berhawa Im Mo sioe Ing sedang melakukan pembunuhan disekitar tempat itu.. setibanya didalam kota, Han siong Kie segera membeli seperangkat pakaian baru dan menukar pakaiannya yang kumal, dengan begitu tampangnya kelihatan semakin ganteng dan gagah, cuma diantara kerutan alisnya terlihat lapisan napsu membunuh yang tebal, membuat orang yang memandang jadi bergidik hatinya. selesai berdandan ia sebera berangkat menuju kearah Benteng Maut. Ilmu meringankan tubuh "Hoe Keng Keng-im"
Atau Cahaya Kilat lintasan bayangan memang suatu kepandaian yang sangat dahsyat, dalam waktu singkat sianak muda itu lelah tiba ditepi sungai.
Benteng Maut dengan angker dan misteriusnya berdiri kokoh ditegah batu karang yang dikelilingi sungai.
Pintu Benteng tertutup rapat, lambang tengkorak darah yang seram dan menggidik-kan hati bertengger di depan pintu benteng.
Memandang bangunan seram itu Han siong Kie merasakan pandangan matanya berapi2, darah panas bergelora dalam dadanya, dendam berdarah atas kematian dua ratus jiwa keluarga Han dan Thio membuat ia lupa akan kelihayannya..Ia memperhatikan sejenak Benteng Maut yang dianggap orang sebagai istana kematian, ia kertak giginya kencang2 dan melayang kearah depan, melewati jembatan batu dan tiba didepan pintu benteng .
Tiga bulan berselang, ketika para jago dari kalangan Hek to serta Pek to menyerbu kedalam Benteng Maut, ia berserta adik angkatnya sipengemis cilik Tong hong Hwie telah menonton jalannya pertarungan itu dari atas bukit, waktu itu kendati didalam hati ada niat untuk membalas dendam tetapi tidak memiliki kemampuan untuk berbuat demikian.
Dan sekarang tanpa disangka2 ia telah menemukan suatu peristiwa aneh yang mana telah merubah dirimya menjadi sese-orang yang lain.
Dimana ia sanggup untuk datang mencari balas tanpa bantuan orang lain.
Pikirnya didalam hati.
"Kedatanganku kemari adalah untuk menuntut balas, kehadiranku terang2an dan ter buka, kenapa aku tidak berteriak dahulu melakukan penantangan??...
Berpikir demikian ia lantas mengepos tenaga dan berteriak dengan suara penuh kebencian.
"Tengkorak Maut orang yang datang untuk menuntut hutang darah telah datang."
Berturut2 ia telah berteriak sebanyak tiga kali, namun tiada suara sahutan dari dalam benteng.
Han siong Kie mendengus dingin, sepasang telapaknya bergerak cepat dan segera melancarkan sebuah babatan dahsyat kearah pintu benteng tadi.
sejak memperoleh tenaga kekuatan dari Long Koe sangjlen, tenaga lweekang yang di miliki telah mencapai pada taraf seratus tahun hasil latihan, bisa dibayangkan sampai dimanakah hebatnya serangan yang diguna-kan dengan segenap tenaga itu Disaat tenaga pukulannya yang dahsyat itu hampir mengenai didepan pintu Benteng Maut itu, mendadak pintu tadi terbuka kesamping diikuti segulung angin pukulan yang dingin menggulung keluar dari balik pintu Benteng.
Begitu hebat angin serangan tadi hingga serangannya yang dilancarkan dengan menggunakan segenap tenaga itu mendadak tersapu lenyap tak berkekas.
Han siong Kie jadi amat terperanjat, tanpa sadar ia mundur beberapa langkah ke belakang.
Ketika berpaling kembali terlihat-lah pintu Benteng yang gelap dan lembab itu telah terbentang lebar, begitu gelapnya suasana didalam benteng itu sehingga dengan kekuatan pandangan matanya tidak berhasil juga untuk melihat keadaan di dalamnya.
"Aku harus menerjang kedalam"
Ingatan tersebut tiba2 muncul didalam benaknya.
Ditengah bentakan keras, Han siong Kie sambil mendorong sepasang telapaknya kedepan melancarkan sebuah pukulan yang maha dahsyat bagaikan gulungan ombak di tengah samudra, sekali lagi ia menghantam pintu benteng tersebut, disusul badannya laksana kilat berkelebat masuk kedalam benteng.
Blaaam..
ditengah suara ledakan keras.
segulung desiran angin tajam yang sangat kuat meluncur keluar dari dalam benteng, begitu tajam angin serangan tersebut ketika menyentuh dibadan terasa dingin dan merasuk ketulang sum sum.
Tanpa melihat siapakah pihak lawannya tubuh Han siong Kie segera terpental mundur kebelakang sejauh lima tombak lebih, ketika kakinya menginjak permukaan bumi dengan sempoyongan badannya tergetar mundur kembali beberapa sebelum akhirnya berhasil berdiri tegak, tawa dingin segera menyerang kedalam badan membuat tubuhnya bergidik dan bersin beberapa kali.
"Eeei???"
Seruan kaget secara lamat2 berkumandang keluar dari dalam benteng.
Mungkin sanggulnya Han siong Kie menyambut datangnya serangan angin cukulan berhawa dingin itu tanpa terluka telah mengejutkan hati orang yang berada didalam benteng itu.
Menuntut balas atas sakit hatinya terhadap Benteng Maut adalah pikiran pertama yang menyelimuti benak sianak muda itu.
sambil memandang pintu benteng yang seram, mengerikan serta penuh diliputi kemisteriusan itu, Han siong Kie berdiri termangu2.
Tenaga lwekang yang dimiliki Benteng Maut benar2 sukar dilukiskan dengan kata2.
Didalam Benteng Maut, kecuali sipemilik Benteng itu si Tengkorak maut, apakah masih ada orang lain??
suatu tanda tanya besar.
Tengkorak darah adalah lambang dari pemilik benteng maut, sedangkan sipemilik benteng sendiri masih merupakan suatu teka teki pula bagi umat Bu lim karena belum pernah ada orang yang pernah menjumpai raut wajahnya yang sebenarnya.
Kalau dikatakan ada, maka orang2 itu telah dibunuhnya dan mati semua...
satu2nya orang yang berhasil lolos dari benteng Maut dalam keadaan hidup hanyalah si pengemis dari selatan serta si padri dari utara, mungkin mereka pernah menyaksikan wajah yang sebenarnya dari Tengkorak Maut.
tetapi mereka sudah terikat oleh sumpah dan janji, jelas tak mungkin rahasia itu akan bocor dari mulut mereka berdua.
Dalam pada itu tekad untuk membalas dendam dari Han siong Kie sama sekali tidak berkurang karena menyaksikan kelihayan lawannya, setelah berdiri tertegun beberapa saat lamanya per lahan2 ia maju kembali masuk kedalam benteng..
Gelak tertawa yang amat keras dan sangat memekikkan telinga berkumandang keluar dari balik benteng...
Han siong Kie tergetar keras hatinya, dengan tanpa disadari olehnya langkah yang sedang maju kedepan telah berhenti di tengah jalan.
suara tertawa itu makin lama semakin keras dan semakin tajam, bagaikan ber-puluh2 bilah pisau belati ber sama2 dihujamkan ke dalam lubang telinganya.
Han siong Kie merasakan darah panas di dalam rongga dadanya bergolak kencang, ia kaget dan sebera mengerti akan mara bahaya yang sedang mengancam, hawa murninya dengan cepat disalurkan dari pusar menuju keseluruh penjuru badan.
Bentaknya dengan suara yang keras laksana geledek.
"Tengkorak maut ayoh menggelinding ke luar dan serahkan nyawamu"
Suara tertawa itu mendadak berhenti, suasana seketika diliputi keheningan serta kesunyian, sama seperti tidak nampak sesuatu gerakan apapun.
Han siong Kie dibawah pengaruh kobaran api dendam dan rasa benci yang meluap tak sanggup untuk bersabar lebih jauh, sekali lagi ia membentak keras.
"Tengkorak maut siauw ya datang kemari untuk menginjak rata benteng setanmu ini."
Suara tertawa dingin yang sinis dan penuh perasaan memandang rendah bergema keluar dari dalam benteng diikuti serentetan suara yang dingin menyeramkan berkumandang keluar.
"Bangsat cilik, kau adalah orang pertama yang berani menantang Benteng maut untuk menuntut balas, memandang diatas keberanianmu yang terpuji ini aku suka mengampuni selembar jiwa kecilmu. Nah ayo cepat enyah dari sini"
Suara peringatan itu se akan2 muncul dari daerah sekeliling sana namun tak sesosok bayangan manusiapun yang kelihatan muncul di tempat itu. Dengan gusar Han siong Kie mendengus ketus.
"Hmmm? Tengkorak maut mengapa kau tidak berani unjukkan dirimu ??"
"Heeeh... heeeeah dikolong langit belum ada orang yang berhak untuk memaksa lohu unjukkan diri"
"Tengkorak maut, hutang darah harus bayar darah, hari kiamatmu telah tiba."
"Tutup mulutmu Hardik suara tadi dengan ketus.
Bocah cilik yang tak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi, sepanjang hidupku loohu sudah banyak membunuh orang tetapi semua orang yang kubunuh adalah manusia2 yang patut dibasmi dari muka bumi."
"Kentut busuk makmu keluarga Han...."
"Bicara tidak sopan Hmmm itulah artinya mencari kematian buat diri sendiri, hey bocah tak tahu diri jangan salahkan kalau loohu akan bertindak keji"
Bersamaan dengan selesainya ucapan itu bergelegar disisi telinga, segulung angin pukulan berhawa dingin segera menggulung keluar dari balik pintu benteng.
Han siong Kie pernah merasakan kelihayan dari angin pukulan berhawa dingin, wajahnya segera berubah hebat sambil menghimpun segenap tenaga yang dimiliki-nya ia balas melancarkan sebuah babatan ke arah depan ....
Blaaaaam...
angin pukulan saling membentur satu sama lainnya, terasalah hawa pukulan yang dilancarkan pihak lawan begitu hebat dan mantap.
bahkan mengandung hawa dingin yang menusuk tulang membuat orang susah bernapas dan dada terasa jadi sesak.
Ditengah ledakkan dahsyat, Han siong Kie merasakan badannya bagaikan tersambar guntur darah panas bergolak dalam dadanya membuat kepalanya pusing tujuh keliling dan pandangan matanya ber-kunang2 dengan sempoyongan badannya mundur delapan depa ke belakang kemudian setelah berhasil berdiri tegak dari mulutnya muntah keluar darah segar.
"Keparat cilik"
Suara si Tengkorak maut yang dingin dan menyeramkan itu kembali berkumandang keluar "Tidak aneh kalau kau begitu jumawa dan tekebur, kiranya kau masih punya sedikit simpanan juga.
Hmm..
kau adalah satu2nya orang yang sanggup menerima datangnya angin pukulan "Han Pok Ciang"
Dari loohu tanpa menemui ajalnya tetapi...
walaupun begitu masih terpaut jauh kalau kau ingin mengandalkan kepandaian-mu itu untuk membalas dendam, sekarang aku akan memberikan kesempatan yang paling akhir bagimu untuk mengundurkan diri dari sini, cepat enyah "
Air muka Han siong Kie berubah jadi merah padam bagaikan darah, dengan pandangan nanar dan wajah menyeringai seram ia mendengus dingin, teriaknya.
"Tengkorak Maut, beranikah kau unjukan diri untuk bertempur mati-matian melawan siau-ya??"
"Kau belum pantas untuk berbuat demikian."
Api dendam dan rasa benci membakar dada Han siong Kie, ia telah melupakan akan keselamatannya. Dengan suara serak teriak.
"Tengkorak maut, pada suatu hari aku akan datang untuk menginjak rata Benteng maut-mu ini, akan kuhancur leburkan tempat mu ini agar kau tiada tempat untuk bermukim.."
"Heeeh... heeeh... heeeh... apakah kau mempunyai kesempatan untuk berbuat begitu??".
"Asal aku tidak mati, aku bisa datang kemari untuk berbuat demikian..".
"Tetapi sayang seribu kali sayang, saat kematianmu telah tiba loohu sudah dua kali mengampuni jiwamu tetapi kau masih saja tak tahu diri dan kini" .
"Sekarang bagaimana??"
"Mengingat kau adalah seorang angkatan muda yang berdarah panas, kuhadiahkan sebuah bangkai yang utuh" . Bersamaan dengan selesainya ucapan itu, sebuah angin pukulan yang maha hebat laksana gulungan ombak ditengah samudra meluncur datang kembali.. begitu dahsyat serangan yang dilancarkan itu hingga siapa pun yang melihat hatinya pasti akan ikut merasa bergidik. Dalam keadaan sehat belum tentu Han siong Kie dapat menyambut datangnya serangan yang sangat hebat itu, apalagi didalam keadaan terluka parah...di tengah jeritan ngeri yang menyayatkan hati, tubuhnya terpental ketengah udara dan meluncur ke arah tengah sungai. Pluung.. ombak menggulung dan bunga air bermuncratan ke empat penjuru, dalam sekejap mata bayangan tubuh si anak muda itu sudah tertelan ditengah ombak dan lenyap tak berbekas. Pintu depan Benteng Maut yang hitam pekat dan berat per lahan2 menutup kembali. suasana di sekeliling tempat itu pulih kembali dalam kesunyian dan keheningan, seakan2 tak pernah terjadi suatu peristiwa apapun ditempat itu... Dalam pada itu Han siong Kie yang terlempar kedalam sungai segera jatuh tak sadarkan diri Menanti ia sadar kembali dari pingsannya dan membuka sepasang matanya, terasalah bau harum semerbak berhembus lewat di sekitar tempat itu, rupanya ia sedang berbaring diatas sebuah pembaringan yang jangat indah dengan kelambu yang tipis dan sprei bersulamkan bunga. Ditinjau dari keadaan disekeliling sana, jelas kamar itu adalah tempat tidur dari seorang wanita. Ingatan pertama yang muncul didalam benaknya adalah.
"Aku telah tertolong, jiwaku masih tetap hidup didalam tubuhku dan aku tidak sampai terkubur diperut ikan... harapanku untuk membalas dendam masih ada. Tanpa sadar ia bergumam seorang diri.
"Aku belum mati, aku belum mati..."
"Benar siangkong, kau belum mati "
Serentetan suara yang merdu menyambung dari sisi tubuhnya, Han siong Kie terperanjat dan segera alihkan sinar matanya kes isi pembaringan, tampaklah di depan toilet duduk seorang gadis muda, rupanya ucapan tadi adalah berasal dari mulutnya.
Dalam benaknya segera timbul ingatan kedua.
"Aku telah tertolong oleh seorang gadis, oooh perempuan... perempuan..."
Hatinya terasa amat sedih sekali, sebab dalam benaknya ia merasa amat benci dan muak terhadap kaum wanita karena ibunya si siang Goo cantik ong coei Ing tanpa memikirkan dendam kesumat keluarganya yang sedalam lautan telah kawin lagi dengan Thian chee kauwcu, oleh sebab itu ia amat membenci seluruh perempuan yang ada di kolong langit.
si anak muda itu sebera mendengus dan bangun dari tidurnya.
terasa seluruh tulang dan persendian tubuhnya amat sakit bagaikan patah, hawa dingin yang menggidikkan menyusup keluar dari balik jalan darah menyebar keseluruh tubuhnya.
Ia sadar bahwa racun dingin dari angin pukulan "Han Pok Ciang"
Yang dilancarkan pemilik benteng Maut telah bersarang didalam tubuhnya.
Ia tak tahu bahwa berkat tenaga lweekang yang diperolehnya dari kura2 sakti serta sumber air mujarab yang telah mengganti tulang dan kulitnya, ia baru selamat lolos dari bahaya maut kendati harus menerima dua buah pukulan yang maha dahsyat, berganti orang lain niscaya sedari dulu jiwanya telah melayang meninggakan raganya.
"siangkong, kau tak boleh bangun"
Gadis itu kembali berseru dengan nada merdu. Han siong Kie tidak ingin menerima belas kasihan lawannya, sambil berkeras kepala ia berusaha untuk bangkit dari tempat tidurnya.
"Nona, apakah kau yang telah menolong cayhe?? "
Tegurnya ketus.
"Bukan bukan aku yang menolong..".
"Lalu siapa??..".
"Nona kami yang telah menyelamatkan selembar jiwamu".
"ooooh siapakah nama nonamu itu?? bolehkah kau beritahukan kepadaku.".
"Nonaku bernama.... Aaah, itu dia telah datang"
Terlihatlah horden disingkap orang disusul munculnya sesosok bayangan tubuh yang ramping melangkah masuk ke dalam kamar.
Han siong Kie segera merasakan jantungnya berdebar keras, ia merasa wajahnya berubah jadi merah padam dan rikuh sekali, andaikata disana ada lubang ingin sekali ia menerobosnya kedalam.
"Swi siang, bagaimana keadaan siangkong itu "
Terdengar gadis ramping yang barusan masuk itu menegur. Dayang yang bernama swie siang dan selama ini berada didalam kamar itu sebera menyahut.
"Siangkong telah sadar kembali ia sedang menanyakan diri nona..."
"Ehmm, sudah tahu, cepat ambillah kuah bunga teratai dan berikan kepada siangkong"
Mendengarkan ucapan yang merdu bagaikan kicauan burung nuri itu Han siong Kie merasakan jantungnya berdebar semakin keras, saking gelisahnya keringat dingin mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya tanpa memperdulikan rasa sakit yang menyerang tubuhnya lagi ia sebera merangkak bangun dari atas pembaringan.
Mendadak pandangan matanya terasa cerah dihadapan mukanya berdirilah seorang gadis muda berbaju hijau yang amat cantik, sepasang biji matanya yang jeli dengan kemalu2an sedang menatap kearahnya tanpa berkedip.
Han siong Kie merasa hatinya bergetar semakin keras, buru2 ia tundukkan kepala-nya rendah2, Terlihatlah pakaian yang dikenakan olehnya telah ditukar dengan seperangkat pakaian baru.
Untuk kesekian kalinya sianak muda itu berdiri tertegun, akhirnya sambil menggertak gigi tanyanya.
"Apakah nona yang telah menolong cayhe???"
"Sedikitpun tidak salah, kejadian itu hanya berlangsung secara kebetulan saja, harap siangkong tak usah memikirkannya didalam hati.
""Tolong tanya siapakah nama nona??".
"Aku bernama Go siauw Bie, dan siangkong?? siapa namamu???"
Teringat bahwa gadis yang berada dihadapannya adalah orang yang telah menyelamatkan jiwanya, terpaksa Han siong Kie menjawab sejujurnya.
"Cayhe she Han bernama siong Kie"
"ooooh, kiranya Han siangkong? kenapa sih kau tercebur kedalam sungai???"
"Tentang soal ini, tentang soal ini cayhe telah bertempur melawan seseorang dan kurang beruntung aku menderita kalah dan terluka lalu dilemparkan kedalam sungai... untung jiwa cayhe berhasil diselamatkan oleh nona, dikemudian hari cayhe pasti akan membalas budi kebaikan ini, dan sekarang.. cayhe ingin mohon diri terlebih dahulu.." . Belum habis ia berkata, dayang tadi dengan wajah berseriseri telah muncul kembali didalam kamar sambil membawa semangkok kuah bunga teratai, ujarnya sembari meletakka mang kok tadi keatas meja.
"siangkong, silahkan."
Han siong Kie merasakan wajahnya semakin panas membara, jantungnya berdebar keras setelah gelagapan beberapa saat lamanya ia baru berseru.
"Cayhe masih ada urusan lain yang harus dikerjakan dengan cepat, karena itu. karena itu aku ingin mohon diri terlebih dahulu"
Mendengar perkataan itu GosiauwBits tertawa hambar.
"Han siangkong, lukamu belum sembuh betul dan tidak baik untuk dibuat melakukan perjalanan, beristirahatlah beberapa hari dulu disini kemudian baru berangkat."
"Tidak Tidak maksud baik nona biarlah cayhe terima didalam hati saja, dikemudian hari aku akan membalas budi kebaikanmu itu"
"Han siangkong, kenapa kau mesti membicarakan soal balas budi segala macam persoalan yang tak berguna??? apakah kau tidak merasa terlalu pandang rendah diriku?? Tempat ini adalah pesanggrahan yang dimiliki mendiang ayahku, orang asing tak akan berani masuk ketempat ini aku rasa disinilah merupakan tempat yang paling cocok untuk merawat luka sudahlahkau tak usah memikirkan yang bukan2 lagi" .
"Ayahmu adalah....".
"Ketua dari perkumpulan Pat Gie Pang. Go Yoe Too"
Sahut Go siauBie dengan wajah sedih. Mendadak Han siong Kie teringat kembali akan peristiwa yang dijumpainya sewaktu ia berada didalam tandu tiga bulan berselang, tanpa sadar segera serunya.
"Apakah ayahmu dibunuh oleh si kupu2 warna warni Lie In hiang sang Tongcu dari perkumpulan Thian chee kauw??" .
"Dari mana siangkong bisa mengetahui akan hal ini??"
Tanya Go siauw Bie dengan hati terkesiap. badannya tanpa sadar mundur selangkah kebelakang, sepasang biji matanya terbelalak lebar2.
"Tiga bulan berselang cayhe telah menyaksikan sendiri Kang lam Ciet Keay tujuh pendekar aneh dari Kang lam menuntut balas terhadap diri si kupu2 warna warni Lie In hiang, dari pembicaraan mereka cayhe dengar bahwa ketujuh orang pendekar itu sedang menuntut keadilan bagi mendiang ayahmu, sungguh celaka..."
"Benar, Kanglam Chiet Keay adalah sahabat karib dari mendiang ayahku"
Seru Go siauw Bie sambil menggertak giginya.
"Sungguh tak nyana mereka mati berceceran ditengah jalan raya, dendam kesumat berdarah yang dalamnya melebihi samudra ini aku Go siauw Bie bersumpah hendak menuntut balas, Kalau tidak bagaimana aku bisa menghibur sukma ayahku serta ketujuh orang paman yang telah berada dialam baka" . Mendengar sampai disini, satu pikiran dengan cepat berkelebat didalam benak Han siong Kie, batinnya.
"si kupu2 warna warni Lie In Hiang pernah menangkap diriku bahkan memerseni pula dua kali tempelengan dipipiku, bagaimana-punjuga hutang piutang ini harus kutuntut balas, ketapa aku tidak berusaha untuk menangkap dirinya kemudian diserah-kan kepada Go siauw Bie?? hitung-hitung kubalas budi pertolongannya menyelamatkan jiwaku, dengan demikian bukankah antara kami tidak saling hutang?? Benar ini adalah suatu ide yang sangat bagus, aku harus selekasnya melakukan tindakan ini"
Setelah mengambil keputusan didalam hatinya terasalah pikiran dan perkataan pemuda itujauh lebih enteng beberapa bagian.
"Siangkong, kuah teratai itu sudah hampir dingin"
Tiba2 terdengar swie sian si dayang menyela.
"Cepatlah dimakan untuk mengisi perut, kau sudah dua hari tidak makan tidak minum."
"Dua hari?? aku telah berbaring dua hari disini??"
Seru Han siong Kie tertegun.
"Sedikitpun tidak salah "
Sambung Go siauw Bie dengan cepat.
Han siong Kie merasa hatinya semakin sedih lagi, ia sangat membenci kaum wanita, tetapi justru perempuanlah yang telah melepaskan budi kebaikan kepadanya, ia merasa kepalanya pusing tujuh keliling dan seolah2 duduk di atas jarum, sedetikpun tidak terasa tenteram.
Buru2 ia bangun berdiri dan menjura.
"Nona Go, cayhe hendak mohon diri"
Katanya.
"Han siangkong, mengapa kau ter buru2 hendak meninggalkan tempat ini??..."
Tanya Go siauw Bie dengan sedih, sekilas perasaan aneh berkelebat diatas wajahnya.
"Cayhe masih ada urusan penting hendak dikerjakan..".
"Tetapi luka dalam yang kau derita toh belum sembuh sekali??..".
"Tidak mengapa luka kecil yang kuderita bukan merupakan satu persoalan yang penting. Budi kebaikan nona di kemudian hari pasti akan kubalas" . Habis berkata ia segera putar badan dan berlalu. Bibir Go siauw Bie bergetar seperti mau mengucapkan sesuatu, tetapi ia merasa tidak enak untuk menghalanginya, maka dengan rada sedih segera ujarnya.
"Han siangkong, apakah kita dapat saling berjumpa lagi??".
"Mungkin bisa "jawab sianak muda itu sekenanya.
"Nona, baik2lah berjaga diri, selamat tinggal."
Ketika ucapan terakhir diutarakan keluar, tubuhnya sudah berada didepan pintu kamar.
"Swie Sian, hantar Han Siangkong keluar."
"Baik"
Swie Sian mengiakan dan segera berialu dari ruangan.
Dengan berjalan didepan Han siong Kie, dayang itu membawa pemuda tersebut melewati serambi panjang dan menuju ketempat luar.
Dari arah belakang terdengar Go siauw Bie menghela napas panjang.
Han Siong Kiepura2 tidak mendengar, dengan kepala tertunduk ia berjalan mengi-kuti dibelakang dayang tadi, tidak selang beberapa saat kemudian sampailah dia diluar pintu.
Tampaklah diluar pintu terpancang sebuah papan nama yang bertulisan beberapa huruf.
Pesangrahan "Teng To Siauw coe"
Segera pikirnya didalam hati.
"Sungguh indah nama pesangrahan ini."
Iapun berpaling dan berkata.
"Nona, silahkan kembali tak usah menghantar lebih jauh lagi..."
"Huuuh "Swie Siam mencibirkan bibirnya.
"Han siang kong, kau telah mengecewakan nona kami...."
Tergetar keras hati Han Siong Kie, buru tukasnya.
"cayhe masih mampu untuk membedakan mana budi dan mana dendam, siapa yang pernah melepaskan budi kepadaku suatu ketika pasti akan kubalas. Selamat tinggal" . Sambil enjotkan badannya, laksana kilat yang bergeletar diangkasa badannya segera meluncur kearah depan. Tidak jauh dari luar pintu artalah sungai besar, rupanya pesanggrahan "Teng To Siauw coe "
Ini didirikan ditepi sungai yang berdekatan dengan jalan raya.
Sepanjang perjalanan mengikuti tepi sungai, benak Han Siong Kie diliputi oleh pelbagai persoalan yang merumitkan otaknya.
-ooodw0kzooo-BAB 07 KEPANDAIAN silat yang dimiliki Tengkorak Maut luar biasa dahsyatnya, untuk membalas dendam kecuali ia berhasil menemukan kitab pusaka sarung tangan Budha "Hoed Chiu Poo Pit"
Sebelah lain yang ditinggalkan Leng Koe sangjlen dan berhasil melatih ilmu sakti see Mi sinkang.
Tetapi kejadian ini sukar ditemui dan harapannya tipis sekali.
sepuluh tahun berselang ketika keluarga-nya menghadapi bencana, hanya ibunya yang tidak mati, inipun merupakan suatu teka-teki yang belum terpecahkan hingga kini, apa sebabnya Tengkorak Maut hanya meninggalkan dia sendiri untuk melanjutkan hidup,nya?
Thio susiok rela mengorbankan jiwa putranya untuk menyelamatkan selembar jiwanya, budi kebaikan ini tinggi bagaikan gunung Thay san sedang dia sendiri ikut menemui bencana dan mati.
sesaat sebelum membunuh diri Thio susiok telah berkata bahwa kesemuanya itu adalah perintah gurunya, bahkan ber kali2 peringatkan dirinya agar jangan membalas dendam dan tak boleh mengubur tengkorak manusia itu apa sebabnya??..
apa sebabnya??..
apakah dia menganggap bahwa musuhnya terlalu lihay dan tipis sekali harapannya untuk membalas dendam??"
Makin dipikir kepalanya terasa semakin pusing hingga sakit sekali dan mau meledak rasanya.
sesosok bayangan yang ramping dengan raut wajah yang cantik terlintas didalam benaknya.
itulah bayangan tubuh dari GosiauwBie.
Tanpa terasa ia men-depak2 kakinya ke atas tanah, gumamnya seorang diri.
"Mengapa aku bisa memikirkan dirinya?? oooh perempuan, perempuan.. makhluk yang paling kejam dikolong langit Tidak... tidak aku harus melupakan dirinya, aku harus secepatnya menemukan musuh besar-nya dan membalas budi kebaikan yang telah ia lepaskan terhadap diriku, agar kita masing2 tidak saling berhutang"
Iapun teringat kembali akan saudara angkatnya si pengemis cilik Tong hong Hwie.
sisi jalan raya terbentang sebuah hutan yang amat lebat.
Dalam pusingnya Han siong Kie segera meluncur masuk kedalam hutan itu dan duduk beristirahat disuatu tempat yang sunyi guna mengobati luka dalam yang diderita-nya.
Dengan mengandalkan tenaga lweekang hasil latihan seratus tahun yang diperolehnya dari Leng Koe siangjin ditambah pula sumber air mujarab yang telah cuci darah pengganti tulang tubuhnya tidak sulit bagi sianak muda itu untuk mengobati luka dalamnya yang sudah separuh sembuh itu.
Kurang lebih sepertanak nasi kemudian ia telah menyelesaikan latihannya, luka yang dideritapun sudah sembuh kembali seperti sedia kala.
Han siong Kie pun bangkit berdiri siap berlalu.
Mendadak serentetan suara teguran berkumandang datang dari belakang tubuhnya.
"Jangan bergerak"
Diikuti sebuah telapak tangan telah ditempelkan diatas jalan darah "GiokJan-hiat"
Pada batok kepalanya.
suara bentakan itu nyaring dan merdu jelas berasal dari mulut seorang wanita.
Betapa terkejutnya hati Han siong Kle sehingga sukar dilukiskan dengan kata2, rupanya perempuan itu sudah lama mengincar dan mengawasi gerak geriknya, tetapi apa maksud sebenarnya dari pihak lawan?
Dirinya belum lama terjunkan diri kedalam dunia persilatan, tak pernah mengikat dendam sakit hati dengan siapapun, andaikata perempuan itu ada maksud mencelakai jiwanya bukankah ketika ia sedang menyembuhkan lukanya tadi merupakan kesempatan yang paling baik untuk turun tangan??
asal sebuah jari tangannya ditotokkan keatas tubuhnya niscaya ia bakal putus nyawa dan mati.
Terdengar perempuan itu tertawa terkekeh-kekeh, kemudian menegur.
"Apakah kau bernama Han siong Kie ???"
Si anak muda itu merasa amat terperanjat, segera pikirnya.
"sungguh aneh, dari mana ia bisa tahu akan namaku??? "
Berpikir demikian iapun lantas menyahut dengan suara dingin lagi ketus.
"Kalau benar mau apa??"
"Apakah ayahmu bernama Han see Wie??"
Han siong Kie merasa hatinya terkesiap. jelas asal usul perempuan ini mencurigakan sekali maka bentaknya keras2.
"siapa kau??? "
"Aku?? Hiiih hiih hiih , ..aku bernama Yon sim Jien."
"Apa?? namamu orang yang ada maksud? "
"sedikitpun tidak salah".
"Kau bohong nama itu tidak mirip dengan nama seorang manusia."
"Percaya atau tidak, terserah pada diri sendiri"
"Apa yang siap hendak kau lakukan?? "
"Jawab semua pertanyaan yang kuajukan kepadamu, benarkah ayahmu bernama Han see Wie??"
Dalam benak Han siong Kie kembali terlintas pemandangan seram dalam perkampungan Keluarga Han.
dimana ayahnya menggeletak mati didalam ruang tamu.
Dua ratus orang anggota keluarganya kecuali ibunya tak seorangpun yang lolos dalam keadaan hidup.
Peristiwa tragis itu sudah terjadi belasan tahun berselang dan kalau didengar dari nada suara perempuan itu jelas masih muda, tapi dari mana ia tahu dari mana ia bisa tahu asal usulnya??Jangan2 dia adalah...
Berpikir sampai disitu tanpa terasa hatinya bergidik dan bulu kuduknya pada bangun berdiri sambil menggertak gigi sekali lagi bentaknya.
"Sebenarnya siapa kau ??? "
"Yoe sim Jien si manusia yang ada maksud.."
"Kalau kau berani bohongi lagi aku"
"Kau ingin apa??? "
"Kubunuh kau saat ini juga "
"Hiiih hiiiih hiiiih mampukah kau berbuat begitu?? sekarang selembar jiwamu telah di ujung telapakku "
Tanpa sadar Han siong Kie tarik napas dingin, serunya dengan nada gemas.
"Utarakan maksud tujuanmu aku ingin tahu apa yang kau kehendaki terhadap diriku"
"Aku ingin tahu apakah kau keturunan dari Han see Wie??"
"sedikitpun tidak salah kau mau apa??"
"Bagus sekali aku hendak memerintahkan dirimu janganlah sekali2 mencari pemilik Benteng Maut untuk membalas dendam"
"Hmm kenapa aku tak boleh membunuh bajingan itu??"
Dengus Han siong Kie dengan penuh bencian.
"sebab pemilik Benteng Maut bukanlah musuh besarmu"
Jantung Han siong Kle terasa berdebar dengan kerasnya, kalau ditinjau dari nada ucapan itu rupanya Yoe simJiem si manusia yang ada maksud ini kemungkinan besar adalah anak buah Benteng Maut yang sengaja membohongi dirinya agar mengurungkan niatnya untuk membalas dendam.
-000Dewi0kz000-
Jilid 4 BERPIKIR akan hal itu dia segera tertawa dingin "Heeeh..heeeh..heeeh... dari mana kau bisa tahu kalau si pemilik Benteng Maut bukanlah musuh besarku??"
"Aku mendapat titipan dari seseorang untuk menyampaikan kabar berita ini kepadamu."
"Kau mendapat titipan dari siapa??"
"Dikemudian hari kau bakal mengetahui sendiri"
"Omong kosong aku Han Siong Kle selama masih bisa bernapas dikolong langit tak nanti ada orang yang sanggup untuk menghalangi niatku untuk menuntut balas terhadap Benteng Maut" .
"Kurang ajar jadi kau pingin mati???".
"silahkan turun tangan jangan kau angap aku jeri menghadapi kematian..."
Teriak si anak muda itu dengan angkuh. Menyaksikan keteguhan serta kekerasan hati pemuda she Han itu akhirnya Yoe sim Jien menghela napas panjang.
"Aaaai Han siong Kie percayalah perkataanku apa yang kuucapkan adalah yang sebenarnya"
Untuk beberapa saat lamanya Han siong Kie merasakan pikiranannya jadi kalut dan kacau tak menentu ia tak habis mengeti tentang asal usul dari perempuan yang menyebut dirinya "Yoe sim Jien"
Ini.
Jie susioknya Thio Lien sesaat sebelum bunuh diri juga berpesan padanya agar ia jangan membalas dendam, dua orang yang berbeda mengapa mengucapkan kata2 yang sama??
Mengapa???
Mengapa???...
, Bukankah diatas dinding ruang tamunya dengan jelas tertera sebuah lukisan tengkorak darah???
bukankah tengkorak darah itu adalah lambang dari pemilik Benteng Maut???
Kesemuanya toh sudah jelas dan kenyataan membuktikan bahwa si pemilik Benteng Maut adalah musuh besarnya, mengapa Yoe sim Jien mengatakan bukan???
Teka-teki suatu teka teki yang amat sulit dipecahkan.
"Han siong Kie"
Terdengar perempuan itu berkata kembali.
"Perkataan tersebut telah kusampaikan padamu, mau percaya atau tidak itu terserah pada dirimu sendiri"
"Nona kalau kau tidak mengutarakan kenyataan yang sesungguhnya, sulit bagi cayhe untuk mempercayai perkataanmu itu" .
"Aku hanya mendapat perintah untuk menyampaikan ucapan ini kepadamu, tentang soal yang lain maafkanlah diriku sebab aku tak dapat menyampaikannya kepadamu"
"Hmmm Yoe sim Jien, apakah kau hendak mencabut selembar jiwa cayhe??...".
"Aku rasa tiada perlunya kucabut selembar jiwamu"
"Kalau memang begitu mengapa kau tidak lepaskan ancamanmu dan mari kita berbicara dengan saling berhadapan muka?? "
"Aku masih ada pertanyaan yang hendak diajukan kepadamu"
"Kalau begitu cepatlah diutarakan keluar "
"Benarkah kau amat membenci kaum wanita???" . Tanpa sadar untuk kesekian kalinya Han siong Kle merasakan hatinya bergetar keras, kejadian ini benar2 aneh dan tak masuk di akal, darimana ia bisa tahu dengan begitu jelas akan sifat2nya??? sianak muda itu masih teringat bahwa perkataan semacam itu hanya pernah diucapkan satu kali terhidap diri adik angkatnya Tonghong Hwie, darimana diapun bisa tahu akan hal ini??? "sedikitpun tidak salah"
Tanpa sadar ia menyahut dengan tegas.
"Mengapa ??".
"setiap orang mempunyai tabiat dan kesukaan yang berbeda2, buat apa kau tanyakan kepadaku mengapa aku membenci kaum wanita yang ada di kolong langit" .
"Tetapi tabiatmu ini boleh dibilang tidak masuk diakal, kecuali kalau kau pernah mengalami suatu kejadian yang amat menyakitkan hati karena perempuan atau mungkin karena hati sanubarimu tergores luka oleh seorang wanita Tetapi walau begitu tidaklah pantas kalau kau membenci semua perempuan yang ada dikolong laagit" .
"Cayhe tidak ingin membicarakan tentang persoalan ini".
"Tetapi nonamu merasa suka sekali membicarakan tentang masalah ini??..".
"Kalau begitu bicarakanlah seorang diri".
"Jangan lupa bahwa selembar jiwamu saat ini masih berada di dalam kekuasaanku".
"Cayhe tidak suka digertak apalagi dengan di ancam oleh seseorang untuk melakukan sesuatu".
"Ini kenyataan bukan gertak sambal belaka, jangan lupa nama nonamu adalah "
Yoe sim Jien"
Seseorang yang mempunyai maksud tertentu, atau dengan perkataan lain kehadiranku kemari adalah disebabkan ada maksud2 tertentu, aku rasa kau pasti mengerti bukan arti dari perkataanku " .
Han siong Kiejadi gusar dan gemas sehabis mendengar perkataan itu, deagan sikap jumawa dan congkak serunya.
"Kalau memang begitu, utarakanlah maksud tujuanmu datang kemari". Dengan bangga Yoe sim Jien tertawa ringan.
"Pertama, aku mendapat titipan dari seseorang untuk menyampaikan kabar kepadamu bahwa kau dilarang mencari balas terhadap si Tengkorak Maut, ke " ..
"sudah kukatakan kepadamu tak mungkin aku penuhi keinginanmu itu kecuali..."
Bicara sampai disini mendadak sianak muda itu membungkam.
"Kecuali kenapa??"
"Ceritakan keadaan yang sebenarnya telah terjadi dan tunjukanlah siapakah pembunuh yang sebenarnya"
"Dewasa ini tak mungkin hal itu kukatakan padamu tetapi dikemudian hari kau akan menjadi paham sendiri"
"Kalau memang begitu lebih baik kau jangan banyak bicara lagi dengan diriku"
"suka mendengarkan atau tidak itu urusanmu sendiri tetapi aku tidak memperi-ngatkan dirimu gerak gerik yang gegabah dan ngawur kadang kala bisa membuat dirimu merasa menyesal"
"Haaaah...haaah...haah... tindakan gegabah dan ngawur??? aku orang she Han selamanya tak akan merasa menyesal"
"Baik kalau begitu dengarkan persoalan yang kedua selama kau melakukan perjalanan didalam dunia persilatan janganlah sekali2 kau membicarakan tentang asal usulmu kepada orang lain"
Han siong Kie berdiri tertegun, jantungnya berdebar keras dan matanya terbelalak lebar.
Perkataan tersebut pernah diucapkan pula oleh susioknya si telapak naga beracun Thio Llen terhadap dirinya, sayang pada waktu itu ia tak sempat menanyakan alasannya, dan sekarang "
Yoe sim Jien"
Mengulangi kembali perkataan itu, ia jadi bimbang dan ragu. Bagaimanapun juga otaknya diputar namun selalu tak berhasil menemukan jawaban yang tepat, Hingga akhirnya tak tahan lagi ia berteriak keras.
"Katakanlah kepadaku, siapakah sebenar-nya kau???"
"Yoe sim Jien, simanusia yang ada maksud".
"Bukan"
Teriak sianak muda itu.
"Eeei... aneh benar kau ini, dengan andalkan apa kau bisa mengatakan bahwa aku tidak bernama itu??"
Han siong Kie terbungkam dalam seribu bahasa, dalam hati ia merasa jengkel dan benci hingga giginya gemerutukan keras.
"Han siong Kie, ingat baik2"
Kata Yoe sim Jien dengan suara berat.
"sekali lagi kuulangi perkataanku, pertama, janganlah mencari balas terhadap diri si Tengkorak maut. Kedua, janganlah kau ceritakan asal-usulmu kepada siapapun juga. Nah sampai jumpa lain waktu" . Han siong Kie merasakan telapak tangan yang menempel diatas batok kepalanya tiba2 menggeser, buru2 ia meloncat bangun dan putar badan, tampaklah sesopok bayangan manusia bewarna putih sedang menyusup kedaLam pepohonan yang lebat.
"Hey, Yoe sim Jien. ..tunggu sebentar"
Segera teriaknya.
Dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuh yang lihay cepat2 ia melayang kedepan melakukan pengejaran, tetapi ketika ia tiba ditengah hutan bayangan manusia berbaju putih tadi telah lenyap tak berbekas.
Dengan hati murung dan kesal ia berhenti mengejar, dan mulai memikirkan kembali apa yang barusan dikatakan oleh "Yoe sim Jien".
sebenarnya siapakah dia??
dan berasal dari mana???
Ia telah mendapat pesan dari siapa untuk menyampaikan kata2 itu kepada nya???
Mengapa ia bisa begitujelas mengetahui akan asal usulnya??
sianak muda itu tak sanggup untuk memecahkan rahasia ini, atau boleh dibilang tak sedikit keteranganpun yang terdapat dibenaknya, semua kejadian dirasakan berlangsung terlalu aneh hingga mendekati suatu keadaan yang hampir saja tak dapat dipercaya olehnya.
Benarkah Yoe sim Jien menyampaikan kata-kata tersebut padanya karena memperoleh pesan dari orang lain?
atau dia memang mempunyai rencana tertentu????
Andaikata dia adalah seorang sahabat maka perkembangan dari persoalan ini cukup membuat orang bingung dan tak habis mengerti, sebaliknya kalau dia adalah seorang musuh..
kedudukannya jadi menakutkan sekali.
Yoe sim Jien manusia yang punya maksud sudah jelas nama ini hanyalah nama samaran yang menunjukan bahwa kedatangannya memang membawa maksud2 tertentu.
Aaah bagaimanapun yang akan terjadi dendam sakit hati tersebut harus dituntut balas.
sampai keujung langit kedasar samudrapun ia harus temukan sarung tangan yang sebelah lain dari Hoed Chiu Poo Pit tersebut, kalau tidak maka rencananya untuk membalas dendam sudah pasti akan menemui kegagalan total sebab kepandaian silat yang dimiliki pemilik Benteng Maut jauh lebih tinggi beberapa kali lipat daripada dirinya.
Tetapi...
kemanakah ia harus mencari sarung tangan budha yang merupakan benda mustika dunia persilatan yang di idam2kan oleh setiap umat Bu-lim itu????
Dengan ter-manggu2 ia berdiri mematung disitu, lama...
lama sekali baru menggerak-kan badannya menembusi hutan belukar dan berjalan tanpa arah tujuan.
Langit perlahan2 menjadi gelap malam yang sunyi telah menyelimuti jagad.
Kegelapan mulai mencengkam hutan belukar itu hingga sukar untuk melihat ke lima jari sendiri, pekikan burung hantu menambah seramnya suasana ditengah malam buta.
Dengan mengandalkan kesempurnaan tenaga dalamnya Han siong Kie meneruskan perjalanannya menembusi hutan yang amat lebat itu.
Ucapan dari Yoe simJim tiada hentinya berkecamuk didalam benaknya membuat ia semakin kesal dan pusing.
Habis gelap terbitlah terang, fajar telah menyingsing dan cahaya sang surya mulai mucul diufuk timur.
Akhirnya hutan itu tiba juga sampai diujungnya diluar hutan tampak berdiri sebuah kuil yang telah lapuk dimakan usia.
saat itulah ia mulai merasa lapar dan haus, segera pikirnya didalam hati.
"Coba aku cari sedikit makanan didalam kuil itu, mungkin disana ada kaum padri yang suka menolong..." . siapa tahu ketika ia tiba didepan kuil, terlihatlah pintu rumah berhala itu terkunci rapat, sebuah gembok besi yang sudah karatan tergantung didepan pintu, hal ini membuktikan kalau kuil tersebut sudah lama tidak dihuni orang. Dengan kecewa ia gelengkan kepalanya, sementara ia putar badan hendak berlalu mendadak... suara dengusan berat secara lapat2 berkumandang keluar dari balik ruang kuil..
"Aaah, bukankah kuil ini sudah jelas merupakan sebuah kuil kosong yang tak berpenghuni?? kenapa ada orang mendengus berat didalam ruangan tersebut???"
Pikir sianak muda itu. Dengan cepat ia pasang telinga untuk mendengarkan dengan lebih seksama, tetapi suara tadi telah berhenti.
"Jangan jangan aku sudah salah mendengar??"
Kembali Han siong Kie berpikir dengan perasaan sangsi "Tapi...
tak mungkin salah dengan jelas aku dengar bahwa suara-nya itu berkumandang dari mulut seseorang yang sedang menderita luka parah...
Dibawah desakan rasa ingin tahu yang makin menebal akhirnya diambil keputusan untuk mengintip kedalam, tanpa berpikir panjang lagi si anak muda itu enjotkan badannya melayang masuk kedalam kuil.
Tumbuhan ilalang memenuhi seluruh lantai setinggi manusia, keadaan dari ruangan kuil telah porak poranda membuat siapapun yang berada disitu ikut merasa bergidik dan seram.
suara dengusan berat kembali berkumandang datang memecahkan kesunyian kali ini kesadarannya lebih jelas lagi dan rupanya muncul dari ruangan sebelah timur.
Dengan cepat Han siong Kie enjotkan badannya melayang keruang sebelah timur, baru saja kakinya melangkah masuk ke dalam ruangan tak tertahan lagi ia menjerit kaget.
Tampaklah diatas lantai ruang kuil menggeletak sesosok tubuh manusia yang penuh berlepotan darah, ketika ia memandang lebih seksama lagi siapakah orang yang terluka itu air mukanya segera berubah hebat.
si pengemis tua berambut putih yang menggeletak dalam keadaan terluka parah itu bukanlah si pengemis dari selatan yang belum lama berselang berpisah dengan dirinya??
Kenapa ia terluka didalam kuil yang bobrok ini??
siapakah yang berhasil melukai seorang tokoh silat yang sangat lihay didalam dunia persilatan ini???
Buru2 Han siong Kie memburu maju kedepan, serunya dengan nada gelisah.
"Engkoh tua kenapa kau???".
Tiada jawaban yang muncul.
Cepat ia memeriksa napas si pengemis tua itu, terasa denyutan nadinya sudah amat lemah dan jaraknya menuju kematian sudah tak jauh lagi, hatinya jadi amat gelisah sekali.
"Aku harus sebera menyelamatkan jiwa engkoh tua dengan hawa murni yang ku-miliki."
Belum habis ingatan tarsebut berkelebat lewat didalam benaknya, terdengarlah dari luar ruangan berkumandang datang suara bentakan dingin.
"siapa disitu??" . Dengan cepat Han siong Kie putar badan, tampaklah tiga orang pengemis berusia pertengahan dengan berdiri berjejer didepan pintu sedang mengawasi dirinya dengan pandangan seram. Tanpa terasa ia berdiri tertegun, pikirnya.
"Mungkin kettga orang ini adalah anak murid perkumpulan Kay pang yang bertugas menjaga serta melindungi keselamatan engkoh tua"
Karena berpikir begitu ia lantas maju beberapa langkah kedepan sembari menjura.
"Maaf, caybe telah mengganggu kalian bertiga..".
"Bocah keparat terdengar seorang pengemis yang berambut awut2an dan berusia paling tua diantara ketiga orang itu menegur dengan suara seram.
"Mau apa kau datang kedalam ruangan ini???".
Air muka Han Siong Kie berubah hebat setelah mendengar teguran yang ketus dan sama sekali tidak bersahabat ini, tetapi teringat akan hubungannya yang akrab dengan sipengemis dari selatan, ia menahan rasa dongkol dalam hatinya dan menjawab.
"Cayhe hanya secara kebetulan saja lewat disini berhubung aku dengar engkoh tua".
"Apa?? engkoh tua??? bocah keparat kau panggil anjing tua ini sebagai engkoh tua?"
Dari ucapan ini Han siong Kie segera merasakan keadaan yang kurang beres, harus di ketahui peraturan didalam perkumpulan Kay-pang amat ketat, lagipula kedudukan sipengemis dari selatan didalam Kay pang amat tinggi dan terhormat, tetapi ketiga orang pengemis itu telah memaki saudara tuanya sebagai anjing tua, jelas dibalik kejadian ini masih ada rahasia besar lainnya.
Dengan wajah dingin membeku ia sebera menegur.
"Apakah kalian bertiga adalah anak murid dari perkumpulan Kay pang?? ....".
"Kalau benar mau apa???"
Jawab ketiga orang pengemis itu dengan wajah berubah.
"Tahukah kalian apa kedudukan sipengemis dari selatan didalam perkum-pulan??"
"Ketua dari para Tiang loo perkumpulan kay pang".
"Kalau sudah tahu begini, mengapa kalian sebut dia sebagai anjing tua???..".
"ooooh, keparat cilik jadi kedatanganmu disebabkan karena dia?? Bagus, ini hari kau pun jangan harap bisa keluar dari ruangan ini dalam keadaan selamat"
"Ayoh jawab secara bagaimana Tiang loo kalian menderita luka parah???"
Bentak Han siong Kie.
"Heeeh heeeh heeeeh anjing cilik setelah kau modar sianjing tua itu akan menceritakan semua kejadiannya padamu..."
Dengan cepat otak sianak muda itu bekerja, sekarang ia baru sadar bahwa sipengemis dari selatan pasti sudah terluka ditangan ketiga orang pengemis ini.
Tentulah dalam keadaan terluka karena terhajar oleh si malaikat berhawa Im Mo sioe Ing engkoh tua nya telah berjumpa dengan ketiga orang pengemis ini.
Dan dikarenakan ketiga orang itu mempunyai suatu rencana tertentu dia gunakanlah kesempatan yang sangat baik ini untuk menghabisi nyawa Tiangloonya.
Membayangkan kesadisan serta kekejaman hati ketiga orang penghianat dari perkumpulan Kay pang itu, diatas wajah Han siong Kie yang tampan seketika terlintas selapis hawa napsu membunuh yang tebal, dengan pandangan menggidikkan hati ia menyapu sekejap wajah ketiga orang itu.
Dipandang semacam itu tanpa sadar ketiga orang pengemis itu sama2 mundur satu langkah ke belakang, terdengarlah salah seorang pengemis yang berhidung mancung bagaikan paruh elang menegur dengan wajah menyeringai seram.
"Anjing cilik, sebutkan siapa namamu".
"Huuuh manusia terkutuk semacam kau belum pantas untuk mengetahui nama sauw-ya mu"
"Bangsat aku si orang tua akan hantarkan pulang ke rumah nenek moyangmu.." . sambil berteriak keras ia menyerbu kedalam ruangan, telapak tangannya disertai angin pukulan yang dahsyat segera dihantam keatas tubuh sianak muda itu.
"Hmm rupanya kau sudah bosan hidup.
"Ditengah dengusan ketus, tahu2 pergelangan tangan pengemis tua berhidung elang itu sudah dicengkeram oleh Han siong Kie hingga sama sekali tak berkutik. Menyaksikan kelihayan lawannya, kedua orang pengemis yang lain jadi terkesiap. air muka mereka berubah hebat. Mimpipun mereka tak pernah menyangka kalau seorang pemuda yang demikian mudanya ternyata memiliki kepandaian silat yang maha sakti, dibawah penglihatan sepasang mata mereka tak seorangpun yang tahu rekannya sudah jatuh kecudang ditangan lawan dengan gerakan apa. setelah berdiri ter-manggu2 beberapa saat lamanya, kedua orang itu segera membentak nyaring, bagaikan harimau kelaparan mereka terjang tubuh sianak muda itu dengan segenap tenaga. Angin tajam menderu2, bagaikan sayatan pedang mustika dua gulung angin pukulan yang maha dahsyat meluncur kemuka mengancam tubuh pemuda she Han itu. Han siong Kie amat menguatirkan keselamatan dari engkoh tuanya, dia ingin cepat mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi, tangannya segera diayun kemuka dan segulung angin pukulan laksana gumpalan ombak meluncur kemuka menghantam tubuh musuhnya. Kedua orang pengemis itu tak sanggup menahan diri, badan mereka terpental kebelakang menumbuk dinding ruangan dan seketika itu juga jatuh tak sadarkan diri "
Ayoh bicara, kenapa kalian berkianat kepada perguruan dan hendak membinasakan guru sendiri"
Pada saat itulah sipengemis dari selatan yang menggeletak diatas tanah mendadak membuka matanya dan berseru dengan segenap kekuatan yang dimilikinya.
"sau.. daa..dara...cilik ..bunuh."
Han siong Kie mendengus pergelengannya, segera digetarkan dan salah seorang pengemis yang berada didalam cengkeramannya itu sebera meluncur kearah pintu ruangan bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya, jeritan ngeri berkumandang memenuhi angkasa batok kepalanya segera hancur berantakan otak dan darah berceceran memenuhi seluruh lantai..Dua orang pengemis lainnya yang sementara itu telah mendusin dari pingsannya jadi hilang semangat setelah melihat kejadian itu, baru saja badan mereka hendak bergerak Han siong Kie enjotkan badannya meluncur kemuka tahu2 dia sudah menghadang di hadapan kedua orang itu, tanpa mengucapkan sepatah katapun sepasang telapaknya serentak dibabarkan kemuka dari samping kiri maupun kanan.
Cepat laksana sambaran kilat, belum sampai ingatan kedua berkelebat dalam benak pengemis dari selatan pukulan maut sudah mengancam tiba.
Jeritan ngeri seketika meluncur dari balik mulut mereka tapi baru saja separoh jalan badan mereka sudah mengejang dan roboh binasa diatas tanah.
selesai membereskan ketiga orang pengemis itu Han siong Kie berjalan menghampiri kakak tuanya sipengemis dari selatan lalu tegurnya dengan hati bergejolak.
"Engkoh tua, sebetulnya apa yang telah terjadi?? "
Raut wajah pengemis dari selatan berkerut kencang, sepasang matanya melotot keluar bagaikan batu kelereng, jelas ia merasakan golakan batin yang amat berat. Lama sekali baru ia berkata.
"Saudara cilik, kedatanganmu sangat kebetulan sekali, inilah artinya tidak mengijinkan perkumpulan Kay pang kami musnah di tangan orang..."
"Engkoh tua lukamu..."
"sekarang waktu sudah amat mendesak, tiada waktu lagi bagiku untuk menerangkan persoalan ini Tapi aku tahu bahwa tabiatmu amat cocok dengan diriku maka kuserahkan tugas yang maha berat ini keatas pundak mu" .
"Aaai partai Kay pang kami sungguh lagi sial, tiga hari berselang pangcu telah memilih ahli warisnya atas persetujuan para tiang loo, mendengar kabar itu aku segera datang kemari untuk mengikuti jalannya upacara tersebut, siapa tahu aku sudah bertemu dengan murid penghianat sipengemis bintang langit Jien Jit, ketika ia menjumpai aku berada dalam keadaan luka parah maka timbullah niat jahatnya untuk melenyapkan aku dari muka bumi, ia telah merampas tanda pengenal bambu hitam milikku untuk pergi menerima jabatan pangcu baru, maka aku harap kau bisa segera berangkat untuk menghalangi niatnya itu.."
"Aku??..."
"sedikitpun tidak salah, sebelum tengah hari nanti kau harus sudah tiba ditempat tujuan.."
"Dimana?? tanya Han siong Kle agak sangsi.
"Kuil Boe Hoo pantai Pek see Than, jaraknya dari sini masih ada dua ratus li dan letaknya disebelah timur sungai" . -000dw000-BAB "KuilBoe Hoo dipantai Pek see Tham? "
"Betul tidak salah lagi."
"Bagaimana caraku unfuk mencegahnya?".
"Bilamana perlu lenyapkan pengkhianat itu dari muka bumi, sampaikan pesanku dan suruh mereka menunggu selama tiga hari" .
"Bicara tanpa bukti tiada gunanya, apakah anak murid perkumpulan kalian suka mempercayai perkataanku?? " .
"sekarang urusan telah amat mendesak, terserah kepadamu mau mengatasinya dengan cara apa, yang penting kau ketahui adalah si pengemis bintang langit Jien Jit telah menjabat sebagai Tongcu bagian luar dari perkumpulan Thian chee Kauw, bila niat busuknya berhasil, maka Kay pang akan musnah dari muka bumi" .
"Yaa... engkoh tua, bagaimana dengan lukamu??"
"Aku tak bakal modar, ayoh cepat berangkat tiga hari kemudian aku pasti sudah sampai di situ"
Dengan perasaan apa boleh buat Han siong Kie mengangguk.
ia segera melayang ke luar kuil dan melakukan perjalanan dengan mengikuti jalan raya ditepi sungai.
Ilmu meringankan tubuh cahaya Kilat lintasan memang luar biasa dahsyatnya, pemuda itu meluncur ke muka bagaikan segulung asap ringan tidak sampai satu jam kemudian ia sudah berada ratusan li jauhnya dari kuil tersebut.
Mendadak suara bentakan keras berkumandang dari tempat kejauhan, suara itu nyaring dan gegap gempita.
Suatu ingatan dengan cepat berkelebat dalam benaknya pemuda she Han itu, sinar matanya dengan tajam menyapu sekejap sekeliling tempat itu.
Tampaklah di atas pantai pasir ditepi sungai bayangan manusia saling bergerak tiada hentinya seolah2 terdapat banyak orang sedang melangsungkan pertarungan disitu.
Ia segera mempercepat gerakan tubuhnya meluncur ke muka dalam sekejap mata ia sudah berada disekitar kalangan, kini ia dapat melihat lebih jelas lagi ditepi sungai kurang lebih dua puluh tombak dari sisi jalan raya terlihatlah ditepi sungai orang sedang bertempur jadi satu, bentakan keras teriakan tajam bergema tiada hentinya dari dalam kalangan.
Pemuda itu hendak meneliti lebih jauh apa sebetulnya yang sudah terjadi tapi secara mendadak ia teringat kembali akan pesan penting dari engkoh tuanya maka pemuda inipun lantas berpikir.
"Aaah lebih baik aku tak usah mencampuri urusan orang lain, waktu bagiku sudah terlalu mendesak bila urusan engkoh sampai terlantar waah bisa berabe"
Belum jauh ia berlalu mendadak ia menangkap seruan seseorang yang amat dikenal olehnya berkumandang keluar dari balik kalangan pertempuran.
"Hmm sekalipun kalian andaikan jumlah yang banyak untuk mengerubuti diriku, aku sipengemis cilik tak akan mengambil perduli. Hey perempuan bajingan, kau..."
Cepat Han siong Kie menghentikan tubuhnya dan berseru.
"Aduuuh celaka, bukankah suara itu adalah suara dari adik Hwie??" . Badannya segera putar balik dan meluncur kembali ke tepi sungai, dari atas sebuah batu besar dia sebera melongok kebawah.. sedikitpun tidak salah, tampaklah sipengemis cilik Tonghong Hwie sedang bertempur melawan empat orang kakek tua, pertempuran itu sedang berlangsung dengan seru dan ramainya. Disisi kalangan pertempuran berdirilah seorang bayangan manusia berbaju merah, dia bukan lain adalah Tongcu dari perkumpulan Thian chee Kauw, si kupu2 warna warni Lie In Hiang adanya, dua orang dayangnya berdiri di belakang perempuan itu Ditinjau dari keadaan tersebut, tak usah ditanyakan sudah terlihat jelas sekali, mereka semua bukan lain adalah jago2 dari perkumpulan Thian chee Kauw. Musuh besar saling berjumpa muka, sepasang mata sianak muda itu segera berubah jadi merah berapi-api, ia teringat kembali akan penderitaan serta penghinaan yang diterimanya selama ia dibekuk oleh Lie In Hiang dan dijejalkan dibawah tandunya itu, terutama sekali dua kali tamparan yang dihadiahkan kepadanya. Rasa dendam dan perasaan ingin membalas dendam dengan cepat muncul dari balik hatinya.
"Roboh kau"
Terdengar suara bentakan keras berkumandang datang dari tengah kalangan. seorang kakek tua ayunkan jari tangannya menotok jalan darah Hong Hu Hiat di atas tubuh Tonghong Hwie.
"Aduuh celaka "
Jeritan Han siong Kie di dalam hati, untuk memberi pertolongan jelas sudah tak sempat lagi, nampaknya..
Tak nyana dikolong langit ternyata terdapat juga peristiwa aneh, kejadian yang kemudian berlangsung kiranya jauh diluar dugaan siapapun.
serangan totokan yang sebenarnya dengan telak telah bersarang diatas jalan darah "Hong Hoe Hiat"
Ditubuh Tonghong Hwie itu ternyata sama sekali tidak memberikan reaksi apapun juga, bahkan dengan menggunakan kesempatan baik itu dia malah memerseni sebuah pukulan dahsyat yang mementalkan badan sikakek tua tadi hingga mencelat keluar dari kalangan.
Kejadian ini benar2 merupakan suatu peristiwa yang sangat aneh, mungkinkah Tonghong Hwie telah berhasil mempelajari ilmu menggeserkan jalan darah sehingga ia tak mampu di totok???
Pada saat tubuh sikakek tua tadi mencelat keluar dari kalangan pertempuran itulah tiga orang pria kekar lain segera terjunkan diri kedalam kalangan.
Dengan demikian posisinya jadi enam lawan satu.
Pengemis cilik Tonghong Hwie jadi berkaok kaok dan berteriak teriak keras, tusukan, totokan jari serta hantaman telapak seringkali bersarang diatas tubuhnya namun keadaan pengemis tersebut masih tetap kokoh seperti sedia kala.
Han siong Kie yang menyaksikan kejadian itu jadi melongo dibuatnya.
Ditengah bentakan gusar tiba2 terdengar jeritan ngeri bergema memecahkan kesu-nyian seorang pria kekar terhajar oleh babatan telapak Tonghong Hwie tepat mengenai dadanya hingga muntah darah dan mundur dengan sempoyongan.
Dua orang pria serta ketiga orang kakek tadi segera membentak nyaring, serangan mereka semakin diperketat hingga angin puyuh menggulung keluar tiada hentinya.
Dibawah desakan serta titiran musuh yang begitu gencarnya sipengemis cilik Tonghong Hwie sudah kewalahan dan kelabakan tidak keruan posisinya semakin terjepit dan terancam oleh bahaya.
sekalipun begitu dengan andalkan kekuatan yang dimiliki, kelima orang itu masih belum mampu merobohkan Tonghong Hwie dalam waktu singkat terutama sekali ilmu gaibnya yang kebal terhadap pukulan serta bacokan membuat beberapa orang jago itu jadi pusing kepala.
"Tahan"
Ditengah bentakan keras bayangan manusia saling berpisah dan mengundurkan diri ke belakang si kupu2 warna warna Lie In Hiang dengan gayanya yatsg genit segera masuk kalangan.
"Kalian segera berangkat meneruskan perjalanan,"
Perintahnya kepada kawanan jago Thian chee Kauw tersebut.
"Pun Tongcu sebentar lagi segera akan menyusul"
"Terima perintah"
Bayangan manusia berkelebat lewat, para jago dari perkumpulan Thian chee Kauw itu segera menggerakkan badannya meninggal-kan tempat itu dalam sekejap mata di tengah kalangan hanya tinggal si kupu2 warna Warni Lie In Hiang beserta kedua orang dayangnya.
Han siong Kie sebagai seorang pemuda yang cerdik segera dapat menangkap kehendak perempuan itu, pikirnya.
"Engkoh tua pernah berkata bahwa murid penghianat Kay pang, sipengemis Bintang Langit,jien Jit saat ini menjabat sebagai Tongcu perkumpulan Thian chee Kauw, kalau ditinjau dari tindakan mereka yang tergesa2 jelas para jago dari perkumpulan tersebut sedang merangkap untuk membantu dirinya merebut jabatan sebagai pangcu ".
Dalam pada itu si kupu2 warna warni Lie In Hiang telah berseru sambil tertawa cekikikan .
"Hihh..hiiih..hiih.. pengemis cilik, sungguh tak nyana kalau kepandaianmu lumayan jUga"
Tonghong Hwie tertawa mengejek.
"Perempuan busuk. kau tak usah berlagak centil di hadapanku percuma deh...sebab selama hidupnya aku si pengemis cilik paling muak dengan kaum perempuan macam kau"
"cisss sudah hampir modarpun bisa2nya ngoceh dan ngebacot terus tiada hentinya"
"oooh aku sipengemis cilik sih punya usia yang panjang, tak bakal modar ditanganmu"
"Hey pengemis cilik, aku ingin bertanya padamu si bocah lelaki yang tempo hari kau lepaskan, sekarang ada dimana?? kalau kau tak menjawab sejujurnya Hmm hari ini jangan harap bisa berlalu dalam keadaan selamat"
Tonghong Hwie tertawa cekikikan.
"Hiiih...hiiih...hiiih kau maksudkan saudara angkatku si Leng Bin Jlen manusia berwajah dingin?"
"Haaaah haaaah haaaah apa?? diapun bernama Leng Bin Jien?? dan kau adalah saudara angkatnya??? Ehmm sikapnya memang amat dingin bagaikan es..."
Hampir saja Han slon Kie tertawa geli setelah mendengar perkataan itu tak di-sangka olehnya Tonghong Hwie telah menjulukinya begitu aneh padanya. sementara itu terdengar Tonghong Hwie telah bertanya.
"Apa kau telah jatuh cinta padanya???."
Si kupu2 warna warni Lie In Hiang mengerdipkan matanya lalu menjawab hambar.
"Eeeei pengemis cilik, pun tongcu tidak punya waktu yang banyak untuk bergurau dengan dirimu ayoh cepat jawab Leng BinJin sekarang berada dimana?? "
"Hiiih hiiiih biiiih aku pengemis cilikpun masih ada urusan lain, kalau begitu kita ber-cakap2 lagi dilain waktu saja"
Habis berbicara ia putar badan dan hendak berlalu...
"Pengemis cilik, kalau kau tidak menjawab maka meskipun kau punya sayap hari ini jangan harap bisa lolos dari sini dalam keadaan selamat "
"Aaaah masa iya??? belum tentu"
"Kau tidak percaya boleh coba kelihayanku,"
Pengemis cilik itu segera enjotkan badannya meluncur kedepan, gerakannya cepat dan enteng...
Ia cepat, sayang si kupu2 warna warni Lie In Hiang jauh lebih cepat darinya, tampak bayangan merah berkelebat lewat, tahu2 perempuan itu telah menghadang jalan perginya, sebelum badan berdiri tegak sepasang telapak telah meluncur kedepan, secara beruntun melancarkan delapan buah serangan berantai.
Kedelapan buah serangan itu dilancarkan dalam waktu singkat, arah yang ditujupun tak menentu dan semuanya berada diluar dugaan.
Dititir oleh serangan yang begitu gencar, pengemis cilik itu jadi terdesak dan segera mundur kembali ketempat semula.
"Hey pengemis cilik"
Tegur Lie In Hiang dengan wajah adem.
"Pun Tongcu tidak punya waktu untuk mengajak kau bergurau lagi, ayoh bilang sebetulnya kau ingin bicara atau tidak??? "^ "Sekalipun kukatakan juga tiada guna-^nya".
"Kenapa??".
"Sebab saudara angkatku itu bukan saja berwajah dingin bahkan hati dan perasaannya pun sangat dingin melebihi es."
"Sudah, kau tak usah ngebacot terus ayoh jawab, sebetulnya kau mau bicara atau tidak???".
"Kalau aku pilih tak mau bicara, kau mau apa??? "Kubunuh dirimu".
"Hiiih.. Hiiih.. Hiiih.. masa kau mampu untuk membunuh diriku?? ngimpi aah..".
"Bangsat rupanya kau cari mati..."
Hardik si kupu-kupu warna warni Lie In Hiang dengan gusar.
Badannya menerjang kedepan, sepasang telapak laksana kilat meluncur ke depan mengirimkan beberapa pukulan berantai yang dahsyat.
Bayangan telapak segera menggunung, desiran angin tajam menderu2 bagaikan guntur yang membelah bumi, dalam waktu singkat seluruh tubuh pengemis cilik itu sudah terkurung rapat dibawah ancaman telapak lawan.
Dengan gesit dan lincah pengemis cilik itu berkelit ke samping menghindar kebelakang bagaikan seekor ikan lei hi badannya bermuncratan kesana kemari diantara gulungan ombak yang mengganas keadaannya, sangat berbahaya sekali.
"Tahan mendadak terdengar bentakan dingin berkumandang datang, begitu adem suara tadi hingga membuat hati orang tercekat.
si kupu-kupu warna warni Lie In Hang merasakan hatinya bergetar keras sambil menarik kembali serangannya ia segera meloncat mundur kebelakang.
si pengemis sendiri dengan hati terkesiap pun segera alihkan sinar matanya ke arah di mana berasalnya suara tadi.
Tampaklah sesosok bayangan manusia turun dari tengah angkasa dengan gerakan yang enteng dan sedikitpun tidak menimbulkan suara .
"ooooh engkoh Kie..."
Dengan wajah ber-seri2 dan nada penuh kegirangan pengemis cilik itu berteriak namun diatas wajahnya terlintas pula rasa kaget dan tercengang yang tebal ia tak mengira perpisahannya selama beberapa bulan telah membuat tenaga dalam yang dimiliki saudara angkatnya ini memperoleh kemajuan yang amat pesat.
Begitu mengetahui siapakah yang telah datang wajah Lie In Hiang si kupu2 warna warnipun berubah jadi berseri, lirikan maut dan senyuman merayu segera terpancar dari wajahnya.
Han siong Kie mengangguk sekali kearah pengemis cilik itu kemudian berpaling ke arah Lie In Hian wajahnya penuh diliputi oleh napsu membunuh yang tebal.
Dua orang dayang cilik di belakang majikannya segera tertegun melihat wajah si anak muda itu tanpa sadar mereka telah beralih kesisi tubuh Lie In Hiang.
"oooh, saudaraku sungguh kebetulan sekali kedatanganmu ini"
Terdengar perempuan she Lie itu berseru genit.
"Lie In Hiang, kau tak usah bertebal muka dan tak tahu malu, siapa yang sudijadi saudaramu??"
Tukas Han siong Kie dengan wajah yang dingin lagi ketus.
"Addduh manusia berwajah dingin masa begitu kasar sikapmu terhadap diriku??? apa kau tidak kasihan padaku ini??"
"Lie In Hiang kau tak usah melantur kesoal yang lain, masih ingatkah kau akan hadiah yang telah kau berikan kepadaku tempo hari??? ini hari adalah saatnya bagiku untuk mengembalikan persenanmu itu berikut rente-rentenya."
Terjelos hati Lie In Hiang mendengar ancaman lawannya, dengan wajah berubah ia segera ulapkan tangannya kepada dua orang dayang yang berada disisinya.
"Waktu sudah tidak pagi lagi ringkus bocah itu"
Baca Juga: Dendam Sejagad Legenda Kematian 1
Baca Juga: Misteri Kapal Layar Pancawarna 10