Ceritasilat Novel Online

Telapak Setan 9

Eps 9 Telapak Setan - Khu Lung Tjan Id

Baca online Telapak Setan - Khu Lung Tjan Id

Cersil Telapak Setan - Khu Lung Tjan Id.

"Engko Ling. sekarang kita akan pergi ke-mana ?"

"Orang-orang ini harus dibereskan dahulu"

"Bagaimana kalau suruh mereka kembali Lam-hay ?"

"Jangan, lebih baik kita basmi dahulu perguruan rahasia dari Tibet, mereka berjumlah banyak dan kitapun harus punya anak buah."

"Engkau tidak akan membalas dendam ?"

Paras muka Gak In Ling tiba-tiba berubah, riang gembiranya lenyap tak berbekas, deugan sedih jawabnya.

"Kalau dendam tak dibalas, aku bukan terhitung seorang manusia, tetapi musuh-musuh besarku sekarang bergabung semua kepada pihak Tibet, maka dari itu aku harus membasmi dahulu komplotan dari Tibet itu."

Dewi burung hong tahu bahwa ia salah bicara sehingga membuat pemuda itu menjadi sedih, tanpa berpikir panjang lagi ia segera berseru.

"Engko Ling, ayo berangkat, kita turun ke-bawah dan lepaskan Thian-hong pangcu Sekalian"

Tidak menanti jawaban ia segera menarik tangan pemuda itu untuk diajak berlalu.

Baru saja mereka keluar dari ruangan, empat orang dayang segera menyongsong kedatangan mereka, sambil memberi hormat tanya mereka.

"Pangcu akan pergi kemana?"

"Kalian tak usah ikut, aku hanya akan pergi sebentar saja "

Empat orang dayang itu memberi hormat itu segera mengundurkan diri, kedua orang itu pun melanjutkan perjalanan menuju ke-depan.

"oooohh rupanya majikan muda berada disini "

Serentetan suara yang keras bagaikan gemuruhnya guntur bergema memecahkan kesunyian.

Dari suara teguran tersebut, Gak In Ling mengetahui siapakah yang telah datang, ia berpaling dan tampaklah Malaikat raksasa bermuka merah sedang menyusul datang.

"Kim-kong ?"

Kata Dewi burung hong sambil tertawa merdu.

"kami akan turun tangan ke bukit, engkau ikut tidak ?"

Sementara itu Malaikat raksasa bermuka merah sudah tiba dihadapan Gak In Ling, sambil menarik tangan pemuda itu katanya.

"Makanya ketika berada didalam gua cecunguk itu, hampir saja meledak dadaku karena jengkelnya ?"

"Ayo kita sambil berjalan sambil bercerita,"

Seru sang dara sambil tertawa.

Berangkatlah ketiga orang tersebut menuruni bukit.

Sepanjang perjalanan Malaikat raksasa bermuka merah menceritakan semua kejadian ya dialaminya ketika berada dalam gua dekat benteng Hui-in-cay dari pancaran wajahnya bisa dibayangkan betapa dongkol dan gemasnya hati sang jago ini.

Ketika tiba dibawah tebing cui-wi-hong, tiba-tiba Malaikat raksasa bermuka merah berteriak.

"Eeeeii..... coba lihatlah, Hweesio dan bertiga orang itu nampaknya bukan berasal dari perkumpulan Thian hong pang ?"

Mendengar seruan tersebut Dewi burung hong dan Gak In Ling segera berpaling, akan tetapi karena tertutup oleh pepohonan mereka tidak berhasil melihat sesuatu.

Dewi burung hong tidak malu disebut sebagai seorang pendekar wanita, ia segera bertanya.

"Mereka telah pergi kemana ?"

"Gerak-gerik mereka sangat mencurigakan, agaknya sedang menuju kelembah Pek-cho-kok."

Dalam hati Dewi burung hong mendengus dingin, serunya kemudian-"Kim kong, Cepat jongkok, mari kita lihat apa yang hendak mereka lakukan ?"

Malaikat raksasa bermuka merah sangat penurut, ia segera berjongkok dan menyembunyikan diri.

Dengan cepat tiga orang itu telah bersembunyi dibalik semak-semak belukar yang lebat, untuk menantikan kedatangan beberapa orang itu.

Tidak selang beberapa saat kemudian, di-tengah jalan muncullah empat orang manusia, tiga orang berjubah merah dan seorang hwesio, dilihat dari gerak-gerik mereka saat ini, seakan-akan sedang melewati tempat yang tak berpenghuni.

Malaikat raksasa bermuka merah menjadi keheranan, bisiknya.

"Baru saja gerak-gerik mereka mencurigakan, mengapa sekarang malahan bersikap terbuka dan blak-blakan ? Sungguh aneh "

Begitu mengetahui siapakah hwesio itu, hawa amarah kontan berkobar dalam benak Gak In Ling, bahkan sekujur badannya kelihatan agak gemetar kerena menahan emosi.

Dewi burung hong yang berada disamping-nya dapat merasakan perubahan itu, dengan cemas ia segera menegur.

"Engko Ling, kenapa engkau ??"

"Hweesio itu adalah Budha antik "

Bisik Gak In Ling dengan nada menyeramkan. Ketika sorot mata Dewi burung hong membentur dengan pandangan matanya, ia merasa bergidik, pikirnya.

"Sungguh msnakutkan sorot matanya "

Berpikir sebentar diapun bertanya.

"Engko Ling, perlukah kita bekuk orang-orang itu ?"

"Kita coba melihat dahulu apa yang hendak mereka lakukan ?"

Jawab pemuda itu sambil menekan hawa amarah yaag berkobar dalam dadanya.

Kebetulan sekali dari bawah tebing telah berloncatan keluar lima orang jago dari Lam-hay sambil menghadang jalan pergi mereka serunya.

"Kalian berempat harap berhenti "

"Kalian berlima tentu sengsara sekali..."

Ujar Buddha antik sambil tertawa hambar.

"Engkau datang darimana dan akan pergi kemana ?"

Dari sakunya buru-buru Buddha antik ambil keluar sebuah tanda pengenal yang terbuat dari emas, kemudian katanya.

"Kami mendapat perintah dari siancu untuk melakukan pemeriksaan dalam lembah Pek-cho tok."

Orang yang berada disebelah tengah menerima tanda pengenal itu dan diperiksanya sebentar kemudian katanya.

"Silahkan lewat "

Dewi burung hong mengikuti jalannya peristiwa itu segera mendengus dingin, gumamnya.

"Bagus bagus sekali ternyata kalian datang menghantar diri untuk masuk kedalam jebakan."

Memandang bayangan punggung empat orang yang menjauh, dengan keheranan Malaikat raksasa bermuka merah bertanya.

"Siancu, darimana mereka dapatkan tanda pengenal emas itu ?"

"Hmm Salah seorang murid kami yang sedang bertugas pasti telah menemui ajalnya di-tangan mereka."

Sambil menarik tangan Gak In Ling serunya lebih jauh.

"Mari kita kejar mereka "

Dengan mengikuti sepanjang dinding batu, ketiga orang itu menyusul kedepan.

Buddha antik mimpipun tak pernah menyangka kalau pada saat itu secara kebetulan Jejaknya ketahuan oleh Dewi burung hong sekalian, sesudah masuk kedalam lembah ia menghembuskan napas lega dan berkata dengan bangga.

"Mula-mula aku khawatir kalau budak itu bakal mengganti tanda perintah ini dengan yang palsu, sungguh tak kusangka ternyata ia begitu toloL"

"Meskipun pos penjagaan ini berhasil dilewati, bagaimana dengan pos penjagaan berikutnya ?"

Seru seorang yang berbaju merah yang berada disebelah kanan.

"Tak usah khawatir, tiada manusia yang tak takut mati, sekalipun Thian-hong pangcu-tidak sudi tunduk kepala, aku rasa anak buahnya belum tentu bersedia untuk mati konyol ditempat ini."

"Tak usah kuatir "

Hibur Buddha antik.

"belakangan ini pikirannya kalut dan tak tenang karena terpikat oleh Gak In Ling bocah keparat itu, kecerdasannya tak dapat dihimpun 830 menjadi satu, kita tokh berjumlah banyak sekali, kenapa mesti takut kepadanya ?"

"Jadi kalau begitu rencana kita ini pasti berhasil?"

Tanya seorang yang berbaju merah itu "Kita harus pukul rontok kekuatan mereka satu demi satu, setelah dia rontok maka kita harus berusaha untuk memancing bentrokan langsung antara Dewi burung hong budak sialan itu dengan Gadis suci dari Nirwana, dalam keadaan demikian bukankah seluruh dunia persilatan bakal menjadi wilayah kekuatan dari tiongcu kita?"

Sementara itu mereka sudah keluar dari selat, tanpa terasa mereka membungkam dan meneruskan perjalanannya dengan langkah lebar.

"Engko Ling,"

Bisik Dewi burung hong dengan suara lirih.

"apakah engkau sudah mendengar apa yang mereka bicarakan ?"

"Mereka hanya omong kosong."

"Mereka mengatakan kalau punya mata-mata disitu, siapa bilang omong kosong...? Aku rasa apa yang mereka katakan pasti benar. Aaaaii engko Ling, aku adalah seorang perempuan maka aku dapat menyelami perasaan seorang wanita, kalau ia memikirkan dirimu maka aku yakin hal ini sudah tentu pasti benar."

Gak In Ling menghela napas berat, katanya.

"Kalau begitu aku tidak akan pergi kesana, engkau tak usah membinasakan si keparat Buddha antik, lepaskan dia keluar dan biar aku yang menjagalnya disini."

"Engko Ling "

Ujar Dewi burung hong dengan serius.

"meskipun aku tidak menginginkan gadis lain berada bersama disisimu, akan tetapi aku bukanlah seorang manusia yang tak pandai melihat gelagat, Jika engkau mengharapkan dunia persilatan menjadi tenang maka satu-satunya jalan adalah 831 melenyapkan kami bertiga lebih dahulu kemudian baru membasmi perkumpulan rahasia dari Tibet, sebab kecuali engkau, kami bertiga tak mungkin bisa berada bersama-sama. Nah Mari kita berangkat."

"Baik, mari kita berangkat "

Jawab Gak In Ling dengan matanya memancarkan cahaya aneh. Dewi burung hong merasakan hatinya bergetar keras, serunya tanpa sadar.

""Engko Ling, apa yang kau pikirkan?"

"Tidak ada apa-apa "

"Kalau engkau tinggalkan diriku lagi, aku tak akan membawa pasukan uatuk mengacau daratan tionggoan lagi, karena aku tak akan bisatak ada dirimu kecuali kalau aku mati saat ini juga "

"Adik Siang "

Seru Gak In Ling dengan hati bergemetar keras.

"Engko Ling, percayalah kepadaku, asal mereka mau mengerti tentang diriku, akupun dapat mengerti keadaan mereka."

Gak In Ling semakin tak tenang, tanpa sadar ia menghentikan langkah kakinya. Tiba-tiba Dewi burung hong tertawa merdu, ujarnya.

"Engkau tak usah ragu-ragu lagi, kalau sangsi lagi mungkin gadis cantik itu benar-benar akan tertimpa musibah yang tidak diinginkan, coba lihat begitu banyak orang yang berlarian menuju kemulut lembah."

Gak In Ling menengadah, ia benar-benar melihat banyak orang sedang berlarian menuju ke dalam lembah, dengan gelisah segera serunya.

"Ayo berangkat, kita cepat lihat apa yang telah terjadi."

Ia menarik tangan Dewi burung hong dan berlari menuju kedalam lembah.

Malaikat raksasa bermuka merah yang melihat kejadian itu segera bergumam seorang "Semoga saja mereka benar-benar berkhianat agar aku bisa membunuh beberapa orang diantaranya."

Dengan langkah lebar ia memburu kedepan. Dalam beberapa loncatan Dewi burung hong telah berhasil menyusul kesisi Gak In Ling, sambil menarik tangannya ia berseru sambil tertawa.

"Bagus sekali, tadi masih mengatakan tidak mau bertemu dengan dia. sekarang saja larinya begitu cepat kau. Hmm Banyak akal busuk dalam perutmu."

Merah padam selembar wajah Gak In Ling, omelnya.

"Adik Siang, engkau memang nakal sekali"

Bwee Giok Siang menjulurkan lidahnya dan memperlihatkan muka setan, lalu membungkam dalam seribu bahasa.

Sejak ia berhasil mendapatkan Gak In Ling, perasaan hatinya boleh dikata telah memperoleh kepuasan, kekosongan dikala kehilangan pemuda itu membuat ia dapat menyadari betapa sengsaranya perasaan orang lain yang tidak berhasil mendapatkannya, pikiran yang cupat berhasil dilemparkan, selama Gak In Ling masih mendampingi dirinya terus maka ia tidak akan mempersoalkan yang lain, karena menurut pendapatnya lebih baik ada daripada sama sekali tidak ada.

Tidak selang beberapa saat kemudian sampailah mereka berdua diluar lingkar kepungan yang dilakukan oleh anak buah perkumpulan Thian-hong-pang atas sebuah rumah kecil, Dewi burung menempelkan bibirnya di samping telinga Gak In Ling dan berbisik lirih.

"Engko Ling Bagaimana caranya kita untuk kedalam ?"

Gak In Ling menowel pinggangnya dan memberi tanda agar dia jangan berbicara kemudian dengan langkah yang 833 enteng ia mendekati ke samping seorang nenek tua itu lalu bisiknya lirih.

"Nenek. apa yang terjadi ditempat ini ?"

Nenek tua itu berpaling, sesudah memperhatikan sekejap wajah Gak In Ling dan Dewi burung hong, dengan nada heran tegurnya.

"Siapakah kalian ?"

Dewi burung hong adalah seorang gadis yang cerdik, ia tahu Jika asal usulnya diketahul maka mereka harus membuang banyak waktu untuk memberi penjelasan, bahkan malah akan merusak suasana, buru-buru sambil tertawa jawabnya.

"Aku adalah adik Perempuan dari pangcu kalian, dia... dia adalah suamiku."

Berbicara sampai disini merah padam selembar wajahnya, dengan gemas ia melirik sekejap ke arah si anak muda itu. Gak In Ling menjadi melongo, pikirnya di dalam hati.

"Tokh bukan aku yang suruh engkau mengakui diriku sebagai suamimu, kenapa setelah mengaku sendiri lantas melotot kepadaku ? heran ?"

"Pangcu kami tidak punya adik perempuan, siapakah engkau ?"

Seru Nenek tua itu dengan sorot mata penuh curiga. Dewi burung hong merasa jantungnya berdebar keras, namun diluar ia tetap bersikap lain, sambil tertawa merdu jawabnya.

"Siapa bilang tidak ada, mungkin ia tak pernah mengungkapkan persoalan ini kepadamu. Bukankah dia she-In bernama Hong im?"

Nenek tua itu tertegun, kembali pikirnya didalam hati.

"Nama asli dari pangcu kami hanya diketahul oleh beberapa orang tongcu dan kepala komandan, dari mana dia bisa tahu ?Jangan-jangan memang betul adalah adik pangcu?"

Berpikir sampai disini ia mulai percaya beberapa bagian, ia segera menengadah dan menjawab.

"Sedikitpun tidak salah, siapa nama nona?"

"Aku adalah yang bernama In Hong Siang"

Sambil berkata gadis itu ambil keluar sebuah Giok-bei dan berkata.

"Pangcu kalian juga memiliki sebuah Giok-bei seperti ini, coba lihatlah Bukankah dialasnya terukir sebuah burung siang dan seekor burung hong ? Milik pangcu kalian terukir dengan huruf Im sesuai dengan nama akhirannya "

Gak In Ling yang mendengar perkataan itu diam-diam ia merasa geli, terhadap kecerdikan Dewi burung hong pun merasa kagum sekali, pikirnya.

Giok bei tersebut terang-terangan hanya ada sebuah miliknya itu dari mana muncul sebuah lagi ?

Budak ini benar-benar banyak akalnya.

Nenek tua itu bukan orang yang selalu dekat dengan Thian-hong pangcu, tentu saja ia tak akan mengetahui sampai sedalam-dalamnya, ketika dilihatnya sikap Dewi burung hong tenang sekali, dianggapnya ucapan tersebut adalah benar, maka sambil memberi hormat katanya.

"Aku orang tua tidak tahu akan kedatangan nona, apabila kurang hormat harap sudi di maafkan, biarlah aku akan memberi kabar dahulu ke-dalam "

Dalam hati Bwee Giok Siang merasa geli, pikirnya.

"Kalau engkau masuk untuk memberi khabar, bukankah rencanaku bakal gagal total?"

Berpikir sampai disini, buru-buru ujarnya.

"Kedatangan kami adalah untuk mengejar Hweesio tersebut, dia mempunyai tujuan yang tidak beres, sebentar lagi kalian akan mengetahui dengan sendirinya apa yang sudah terjadi, sekarang kepung sekitar tempat ini rapat-rapat, jangan biarkan seorangpun diantara mereka berhasil kabur dari tempat ini."

Selesai berkata dia menarik tangan Gak In Ling dan mengajak masuk kedalam lingkaran kepungan-Nenek tua itu mempercayai seratus persen akan perkataannya, ia segera memerintahkan anak buahnya untuk memberi jalan.

Setelah masuk kedalam lingkaran kepungan kurang lebih sepuluh tombak di hadapan mereka tampak sebuah rumah kecil.

Sambil tertawa Gak In Ling berkata.

"Adik Siang, engkau benar-benar sangat hebat "

"Hmm Kesemuanya ini tidak lain hanya untuk kau si busuk. kalau dikemudian hari hubunganmu dengan dirinya sudah erat, jangan lupa akan jasa-jasaku pada hari ini."

Gak In Ling tidak menjawab, dia hanya menggenggam tangan gadis itu erat-erat, hubungan bathin membuat rasa sedih yang mencekam dalam hati Bwee Giok Siang tersapu lenyap.

Dalam pada itu mereka berdua sudah berada kurang lebih lima tombak dari bangunan rumah kecil itu, dari balik ruangan terdengar seseorang sedang berkata dengan suara tajam.

"Pangcu, aku rasa lebih baik kita damai saja, dewasa ini mana bahaya mengancam dan empat penjuru, kitapun terkepung rapat oleh Dewi burung hong si keparat yang gemar membunuh orang, tidak mungkin ia bersedia untuk melepaskan kita dengan begitu saja "

"Terus terang saja kuberi tahu kepada nona."

Sambung Buddha antik dengan cepat, saat itu Gadis suci dari Nirwana telah terkena jebakan yang dipasang oleh Malaikat suci dari lima bukit, mungkin sekarang ia sudah mampus tertimbun longsoran-salju dalam lembah cupu-cupu, tiongcu sendiripun telah mengirim jago-jagonya untuk membasmi sarangnya, meskipun Dewi burung hong bisa bertahta untuk sementara waktu namun kekuasaan berada ditangan siapa, sekali memandang siapapun akan tahu, Jika pangcu bersedia untuk 836 bekerja sama dengan pihak perguruan rahasia dari Tibet, maka setelah dunia persilatan terjatuh kepada kita, maka kita akan menikmati-nya bersama, bagaimana pendapatmu ?"

Thian-hong pangcu segera tertawa dingin, jawabnya.

"Buddha antik, aku dengar engkau salah seorang pembunuh yang telah membinasakan ayah-nya Gak In Ling ?"

Sementara itu Dewi burung hong dan Gak In Ling telah berada diluar bangunan rumah itu, Bwee Giok Siang segera menarik tangan pemuda itu sambil berbisik lirih.

"Engko Ling, coba lihat betapa mendalamnya rasa cinta dara itu kepadamu...."

Dalam hati kecilnya Gak In Ling sendiripun merasa sangat berterima kasih, sambil menghela napas panjang katanya.

"Antara aku dengan dirinya hanya bertemu beberapa kali saja."

"Aku sendiri baru berjumpa beberapa kali dengan dirimu ? Akan tetapi engkau Huuuh..Tahu-tahu sudah..."

Dengan muka merah jengah ia mencubit lengan Gak In Ling. Dalam pada itu, Buddha antik yang berada dalam ruangan sedang tertawa seram dan berkata.

"Hutang piutang tersebut sudah dibuat sejak banyak tahun berselang, apa gunanya kita bicarakan persoalan itu ? Bukankah antara pangcu dengan Gak In Ling pun mempunyai perasaan dendam?"

"Antara cinta dan benci hanya terpisah oleh sebuah garis yang tipis "

Sahut Thian-hong pangcu dengan dingin.

"Apakah pangcu mencinta dirinya ?"

Dalam anggapan banyak orang, kendatipun Thian-hong pangcu benar-benar mencintai Gak In Ling, tak mungkin dia 837 akan mengakuinya dalam keadaan seperti ini karena disitu hadir banyak sekali anak muridnya.

Tetapi apa yang kemudian terjadi sama sekali berada diluar dugaan siapapun juga , dengan Suara tawa Thian-hong pangcu menjawab.

"sedikitpun tidak salah, nonamu memang mencintai dirinya "

Walaupun Dewi burung hong telah menduga sampai kesitu.

akan tetapi sekarang setelah mendengar pengakuan dari Thian-hong pangcu sendiri tak urung hatinya merasa bergetar juga .

Suara jeritan kaget dan seruan tercengang berkUmandang memenuhi seluruh ruangan, diikuti seorang perempuan dengan suara yang serak dan berat rendah berseru.

"Pangcu, engkau tak boleh bergurau, engkau tokh mengetahui bahwa Gak In Ling telah mati diatas tebing Wan-ciu-gay ?"

"Gak In Ling mempunyai musuh tangguh dimana-mana,"

Ujar Buddha antik pula.

"bagaimanakah tingkah lakunya aku rasa tak usah diterangkanpun semua orang sudah tahu, nona sebagai seorang pangcu sudah sepantasnya kalau pandai melihat gelagat, aku rasa tidak berharga bagimu untuk mengambil tindakan yang sama sekali tidak menguntungkan itu,"

Thian-hong pangcu tertawa dalam.

"Aku berani menyatakan bahwa aku cinta kepadanya, itu berarti sampai matipun aku tak akan padam rasa cinta ku ini,justru karena ia telah mati maka aku ingin semua orang dikolong langit mengetahui bahwa aku mencintai dirinya agar semua orang yang mempunyai dendam dengan-dirinya tahu bahwa masih ada manusia yang mencintai dirinya, kematian Gak In Ling hanya mati dalam badan dan raganya, semangat serta rohnya masih tetap hidup dan mendampingi beberapa orang untuk melakukan pembalasan dendam baginya."

Gak In Ling yang mendengar ucapan tersebut merasa terharu sekali, dia ingin menerjang masuk kedalam ruangan dan memeluk tubuhnya.

Dewi burung hong yang ada disampingnya segera menarik pemuda itu dengan suara terisak.

bisiknya.

"Engko Ling, jangan terburu napsu, mari kita dengarkan lebih jauh siapa saja yang tersangkut didalam penghianatan ini, setelah itu kita baru turun tangan dan sekalian membasmi para penghianatan dalam tubuh Thian-hong pangcu itu dari muka bumi."

Dalam pada itu Buddha antik telah tertawa terbahak-bahak dan berkata.

"Haaaaha... haaah.... haaaahh.... nona, aku rasa hanya engkau seorang yang hendak mewujudkan cita-cita semacam itu ?"

"Tidak, Pek Giok ji dan Bwee Giok Siang adalah dua orang diantaranya..."

Jawab Thian hong pangcu sambil tertawa dingin. Perempuan yang bernada lengking tadi kembali berkata.

"Kalau Bwe Giok Siang hendak membalas dendam bagi kematian Gak In Ling itu berarti ia satu tujuan dengan pangcu. heeehh heeeehh heeseeehh kenapa sekarang dia malahan mengepung nona ditempat itu ?"

Thian-hong pangcu tertawa seram.

"Ia mengurung aku disini karena hendak melaksanakan perintah dari cian-pwe nya, sedang aku tak mau tunduk kepadanya karena perkumpulan Thian-hong pangcu, Jika aku In Hong Im melepaskan perkumpulan dan pergi menjumpai Bwee Giok Siang kemudian mengajak dirinya untuk bersama-sama membalaskan dendam bagi kematian Gak In Ling, aku percaya bukan saja dia akan menyetujui bahkan Pek Giok jiupUn akan menyetujuinya pula."

"Hmm Tindakanmu ini memang cukup mengejutkan hati,"

Kata Buddha antik dengan nada kaget.

"tapi sayang nona, tidak akan menjumpai kesempatan semacam ini."

"Buddha antik, hanya mengandalkan kalian berempat ?"

Ejek Thian-hong pangcu sambil tertawa dingin.

"Heeeeehh... heeeeeehh... heeeehh..... tidak. masih ada tiga orang pelindung hukum dan seorang tongcu dari perkumpulan nona "

Thian-hong pangcu nampak sangat terperanjat, sorot matanya menyapu sekejap kesekeliling tempat itu, kemudian dengan suara dalam seru-nya.

"Sungguhkah perkataanmu itu ?"

"Pangcu, kami harap engkau suka melihat gelagat dan menyesuaikan diri dengan keadaan "

Seru empat orang anak buahnya hampir berbareng.

"Pangcu "

Kata Buddha antik kembali sambil tertawa bangga.

"dalam ruangan kecil itu semuanya ada sembilan orang, akan tetapi sayang posisi kita adalah delapan lawan satu, pangcu pasti menyadari bukan sampai dimanakah kesempatan hidup yang kau miliki."

"Hmm Tidak aneh kalau kalian bersikeras untuk hanya membawa kalian belaka,"

Seru Thian-hong pangcu dengan gemas.

"bahkan membuat siasat dengan suruh Tiat Bin Popo menembusi kepungan untuk memberi kabar, rupanya kalian memang sudah mempunyai rencana untuk berkhianat, menyesal aku terlalu mempercayai diri kalian-"

Buddha antik tertawa dingin.

"Andaikata arwah Gak In Ling benar-benar melindungi dirimu... heeeehh..., dia pasti akan tunjukkan diri untuk melindungi calon isterinya .."

Ucapan itu penuh mengandung sindiran dan kecabulan yang amat rendah.

Baru saja ia menyelesaikan kata-katanya mendadak dari luar ruangan berkumandang dalang suara seruan seseorang dengan nada yang menyeramkan sehingga mendirikan bulu roma.

"Budha antik, mungkin ini hari adalah perjumpaan kita untuk terakhir kalinya "

Budha antik mengenal sekali akan suara tersebut, sebab suara tersebut pernah didengarnya, ia kelabakan setengah mati, setiap hari mesti kabur dan menyembunyikan diri sehingga makan tak enak tidurpun tak tenang, sungguh tak nyana setelah hatinya sedang gembira.

Thian-hong pangcu sendiripun masih ingat dengan suara itu, karena suara tersebut meninggalkan kesan yangamat mendalam dan membuat ia menjadi murung dan sedih selama ini.

Hampir bersamaan waktunya dikala Budha antik putar badan dan dengan pandangan ketakutan, diapun angkat kepala dan memandang orang dihadapannya dengan sorot mata penuh rasa cinta.

Tetapi perasaan tersebut hanya berkelebat sebentar saja, karena dengan cepat ia sempat melihat kehadiran seorang gadis cantik berbaju merah dan orang itu dikenalnya sebagai Dewi burung hong atau Bwee Giok Siang.

Dengan pandangan dingin ia menyapu sekejap dua orang yang berada didepan pintu, kemudian ujarnya.

"Kedatangan kalian berdua sungguh tepat pada waktunya "

Dari sorot matanya yang dingin dan penuh permusuhan Gak In Ling tahu bahwa gadis itu menaruh perasaan salah paham, akan tetapi Ia tak dapat menerangkan sebab dari sorot matanya yang berapi-api telah dialihkan keatas wajah budha antik.

Budha antik sendiri adalah seorang manusia yang licik, meskipun hatinya merasa terperanjat namun tidak kehilangan 841 daya pikirannya, laksana kilat ia tinjau situasi didepan matanya dan tertawa seram, katanya.

"Pangcu, enteng beratnya dengan nyata tertera didepan matanya, coba lihatlah engkau akan berpihak kemana ?"

Dewi burung hong segera tertawa dengan merdu, selanya.

"Budha antik, engkau tak usah buang pikiran dengan percuma dan engkaupun tak usah menghasut orang, tentu saja dia akan bekerja sama dengan siau-moay karena pada akhirnya dia tokh akan hidup berdampingan untuk selamanya dengan diriku, sedangkan kau ? Engkau adalah kaki anjing dari Tibet, seorang budak yang sedang melaksanakan perintah majikannya, suatu saat engkau pasti akan melepaskan dirinya, bukankah begitu?"

Dengaa perkataan itu gadis tersebut dengan jelas telah memberitahukan kepada Thian-hong pangcu bahwa ia bersedia mengalah, asal Thian hong pangcu mau bekerja sama maka selamanya mereka akan hidup secara damai.

Thian-hong pangcu bukanlah orang yang bodoh, dari sikap Dewi burung hong yang berada disamping Gak In Ling, tentu saja ia tahu bahwa orang lain telah mendahului dirinya selangkah lebih dahulu.

Tetapi dia pun merupakan seorang perempuan yang tinggi hati, ia tak sudi tundukkan kepala dengan begitu saja kepada Dewi burung hong, setelah termenung sebentar sambil tertawa dingin katanya.

"Selesai urusan disini, bagaimana kalau kita berdua kembali untuk menentukan siapa yang akan menang dan siapa yang kalah ?"

"Tentu saja, cuma kita tak mungkin bisa berduel dengan taruhan nyawa sebab kekuatan kita adalah seimbang, rasanya kalau mau adu kepandaian maka kita beradu dalam soal jurus serangan saja."

Pada saat ini dalam hati kecil Thian-hong pangcu merasakan suatu kegembiraan yang sukar dilukiskan dengan kata-kata, sebenarnya kemunculannya Gak In Ling sudah cukup menggembirakan hatinya, dan sekarang menyaksikan Dewi burung hong yang selamanya tak sudi tundukkan kepala kepada Siapapun ternyata menawarkan hidup bersama kepadanya, Sebagai seorang yang cerdik tanpa berpikir panjang ia segera mengetahui apa yang terjadi.

Dengan sorot mata memancarkan rasa kegembiraan tiba-tiba ia mengangguk dan menjawab.

"Engkau telah melepaskan satu kesempatan baik untuk membinasakan diriku "

"Sekalipun engkau sendiri, rasanya juga akan berbuat seperti apa yang kulakukan sekarang."

"Apakah engkau tidak merasa bahwa perkataan itu berlebihan ?"

Bwee Giok Siang melirik sekejap kearah Gak In Ling, kemudian sambil tertawa katanya.

"Hatimu belum tentu sedingin hatiku, sudah kukatakan sedari tadi, aku hanya selangkah lebih duluan daripada dirimu."

Paras muka Thian-hong pangcu seketika itu juga berubah menjadi merah padam, ia tahu bahwa apa yang diucapkan tadi telah kedengaran oleh mereka berdua, akan tetapi ia tidak gusar hanya perasaan hatinya menjadi hangat, tak sepatah katapun mampu diucapkan keluar.

Dewi burung hong tidak berhenti sampai di situ saja, sambil mencibirkan bibirnya yang kecil mungil sambungnya lebih jauh.

"Kenapa engkau tidak berbicara lagi ?"

Sepasang biji mata Budha antik mulai berputar, ia menyadari akan situasi yang sedang di hadapinya pada saat ini.

dalam keadaan seperti ini Thian-hong pangcu tak mungkin akan bekerja sama dengan pihaknya.

Thian-hong pangcu menengadah dan memperlihatkan pandangan mata yang dingin namun tiada rasa permusuhan, kemudian ujarnya.

"Mencuri dengar pembicaraan orang, apakah engkau tidak merasa kehilangan gengsimu?"

Mendadak Dewi burung hong merogoh ke dalam sakunya lalu membentak nyaring.

"Aku harap kalian bertiga sedikitpun tidak tahu diri, terhadap pagar makan tanaman, musuh dalam selimut yang berkhianat untuk mencari pahala semacam kalian, tiada perkataan lain bagi aku Dewi burung hong kecuali mati "

Diantara bergetarnya telapak.

tampaklah dalam genggamannya telah bertambah dengan tiga batang jarum beracun yang kecil dan lembut.

Thian-hong pangcu mengeluarkan telapaknya dari balik pakaiannya, dan berkata sambil tertawa.

"Terima kasih atas perhatianmu "

Perlahan-lahan ia maju kesamping Dewi burung hong dan menatap tajam tiga orang nenek tua berwajah keriput dan seorang nenek berambut putih, ujarnya lebih lanjut.

"Ini hari aku tak akan minta bantuan orang luar untuk menumpas kalian tiga orang pengkhianat yang menjual perguruan kepada orang lain-.. mari mari mari.,... kalian keluar semua "

Empat orang nenek itu menyadari betapa lihaynya ilmu silat yang dimiliki ketua mereka, ikan tetapi persoalan telah berkembang menjadi begitu, terpaksa sambil keras kan kepala mereka mengerling sekejap kearah Budha antik sekalian lalu berjalan keluar.

Dari balik mata Budha antik terpancar ke luar sorot mata tajam, ia segera menyusul dari arah belakang.

Gik ln Ling tertawa dingin, katanya.

"Budha antik, lebih baik simpanlah tenaga mengurusi diri sendiri, urusan orang lain tak perlu kau campuri."

Suaranya penuh keseraman membuat orang menjadi bergidik rasanya.

Bwee Giok Siang diam-diam memutar badan dan mengawasi empat orang pengkhianat itu.

Diluar ruang, ketika ratusan anggota perkumpulan Thian-hong pang melihat ketuanya munculkan diri, semua orang segera memberi hormat sambil menyapa, suaranya gegap gempita dan menggetarkan udara.

Thian-hong pangcu tidak membalas hormat ia melirik sekejap kearah empat orang pengkhianat tersebut lalu ulapkan tangannya.

Suasana dalam kalangan seketika itu juga berubah menjadi sunyi senyap tak kedengaran sedikitpun, setelah menyapu sekejap sekeliling kalangan, gadis itu lalu berkata.

"Sejak perkumpulan Thian-hong pang didirikan dan turun temurun hingga sekarang ini dalam menghadapi setiap masalah yang menyangkut mati hidup perkumpulan kita, selalu diputuskan keputusan bersama dari semua anggota perkumpulan-Ini hari meskipun semua anggota perkumpulan kita tidak hadir disini akan tetapi masalah yang kita hadapi sekarang tidak dapat ditundukkan lagi, karena itu aku harap saudara-saudara sekalian bersedia mempertimbangkan dan memikirkan dengan hati tenang."

Belum pernah dua tiga ratus orang angggota perkumpulan Thian-hong pang yang hadir pada waktu itu belum pernah menyaksikan sikap menyeramkan dari pangcu yang dihari-hari biasa selalu ramah tamah, mereka saling berpandangan dengan penuh tanda tanya, tak seorangpun yang tahu sebenarnya apa yang telah terjadi.

Dewi burung hong yang menyaksikan kejadian itu diam-diam merasakan hatinya bergetar juga.

pikirnya.

"Tindakan yang diambil orang ini jauh berbeda dengan diriku, kalau aku yang menghadapi kejadian seperti ini, sejak tadi keempat orang pengkhianat itu telah kubasmi dan kuhancurkan menjadi abu."

Terdengar Thian-hong pangcu melanjutkan kembali kata-katanya sesudah menyapu sekejap sekeliling tempat itu.

"Ini hari Perkumpulan kita sudah terjerumus dalam kepungan, aku mengakui akan kelemahanku sehingga membuat kalian terjerumus dalam mara bahaya, sekarang ada tiga orang pelindung hukum dan seorang Tongcu mengusulkan untuk bekerja sama dengan perguruan rahasia dari Tibet untuk kemudian merajai kolong langit, dalam bahaya inipun termasuk suatu cara yang bagus, karena itu aku mohon kepada kalian semua uutuk menentukan pilihan"

Dewi burung hong yang mendengar perkataan itu diam-diam merasa keheranan, pikirnya.

"Apa maksudnya mengucapkan kata-kata seperti itu? Bukankah kepungan oleh pihakku sudah bubar? Masih ada bahaya apa lagi?"

Suasana diliputi kesunyian beberapa saat kemudian terdengarlah nenek tua yang menghadang jalan pergi Gak In Ling berdua tadi berseru lantang.

"Hamba akan mengikuti suara hati dari pangcu "

Diikuti para jago lainpun mengutarakan maksud yang sama. Thian-hong pangcu tertawa tawa, ujarnya kembali.

"Pada saat ini semua orang berhak untuk menentukan pilihan, kalian tak akan terpengaruh oleh siapapun, aku sebagai seorang ketua hanya berharap bisa berada bersama perkumpulanku, akan tetapi keadaan kalian berbeda, kalian-.."

Belum habis ia berkata, nenek tua itu telah berseru kembali.

"Hamba rela mendampingi pangcu. sampai matipun tak akan pergi."

"Kami bersedia mendampingi pangcu..."

"Kami sebagai anggota Thian-hong pang tak sudi berubah pikiran dikala perkumpulan menghadapi bahaya, hanya binatang yang berpikiran sedemikian..."

Teriakan yang gegap gempita berkumandang memenuhi seluruh angkasa, paras muka tiga orang pelindung hukum dan seorang tongcu itu mulai berubah, mereka tak menyangka kalau orang-orang yang dihari biasa berkedudukan jauh lebih rendah dari mereka, dalam menghadapi bahaya ternyata jauh lebih setia daripada mereka.

Thian-hong pangcu membentak keras untuk menghentikan hiruk pikuk yang memenuhi angkasa ujarnya lebih jauh.

"Baik Sekarang bagi siapa saja yang bersedia mengikuti diriku harap bergeser sebelah kanan, yang ingin bekerja sama dengan pihak perguruan rahasia dari Tibet harap bergeser kekiri "

Mendengar seruan itu semua orang segera bergeser kekanan, meskipun ada tiga lima orang yang tak dapat mengambil keputusan, akan tetapi setelah dilihatnya oleh semua orang bergeser kekanan mereka pun ikut kekanan-Dengan sorot mata berkilat Thian-hong pang cu segera berpaling kearah empat orang pengkhianat itu, ujarnya.

"Bersekongkol dengan musuh, mengkhianati perkumpulan merupakan dosa yang tak terampuni, Jika para anggota-anggota perkumpulan condong pada jalan pikiran kalian mungkin aku masih bisa mempertimbangkan kembaii, akaa tetapi keadaan sudah tertera didepan mata, pilihan mereka jauh bertolak belakang dengan pendapat kalian, rasanya 847 tuduhan berkhianat bukanlah tuduhan yang terlalu di buat-buat bukan ?"

Diatas wajah nenek tua barambat uban yang berwajah pucat terlintas rasa menyesal, tetapi hanya sebentar saja telah lenyap kembali, ia membantah.

"Berkhianat ? Apakah tuduhan itu bukan sengaja kau lontarkan untuk mempertahankan kekuasaan..."

Thian-hong pangcu tertawa dingin.

"Banyak bicara tak ada gunanya, ini hari aku akan punahkan ilmu silat yang kalian miliki, akan kusuruh kalian saksikan dengan mata kepala sendiri setelah aku turun dari jabatan akan kubunuh kalian, Jika kamu hendak melawan bersiap-siaplah mulai sekarang."

Tanpa sadar ke-empat orang itu berpaling dan pemandang sekejap arah belakang akan tetapi ketika dilihatnya Dewi burung hong dan Gak In Ling berjaga didepan pintu, sadarlah mereka bahwa untuk minta bantuan Budha antik sekalian jelas tidak mungkin, akan tetapi mereka tak habis mengerti, apa sebabnya tiga orang musuh yang saling bertentangan mendadak bisa bekerja sama.

Keempat orang itu saling berpandangan sekejap kemudian semua perhatian orang dipusatkan arah biji mata Thian-hong pangcu yang dingin.

Perlahan-lahan gadis itu maju mendekati ke empat orang itu, katanya dengan dingin.

"Apa yang kalian berempat menantikan lagi ?"

Pada anggota perkumpulan yang bergeser ke kanan sementara itu sudah membuat lingkar kepungan, mereka semua loloskan senjata dan siap bertempur, keadaan mereka seakan-akan sedang menghadapi musuh besar.

Sudah tentu keempat orang mengetahui bahwa mereka bukan tandingan ketuanya, apalagi menyaksikan sikap 848 permusuhan dari semua jago, hati mereka semakin kederZ.

Terdengar nenek tua berambut uban itu berseru.

"Kami tak usah melakukan perlawanan"

"Mengapa ?"

"Musuh yang banyak sukar dihadapi "

Sahut seorang nenek bermuka kuning salah satu diantara tiga pelindung hukum..Thian-hong pangcu mengenyitkan alis matanya, dengan napsu membunuh menyelimuti seluruh wajahnya ia mendengus dingin, kepada semua anak buahnya ia berseru.

"Aku harap kalian semua simpan kembali senjata tajam dan menyingkir agak kebelakang."

"Pangcu "

Seru nenek tua itu.

"untuk menghadapi pengkhianat, setiap anggota memiliki kewajiban untuk membasminya, kami sebagai anggota perkumpulan Thian-hong pang walaupun menyadari bahwa ilmu silat yang kami milik masih amat cetek. akan tetapi kami bukanlah manusia-manusia yang takut mati."

"Kalian anggap aku akan lepaskan mereka pergi? Ayo menyingkir kebelakang ?"

Tiga orang yang berani membangkang perintah pangcu mereka yang berhati ramah ini, meskipun dalam hati mereka merasa keberatan namun tak seorangpun yang berani membangka perintah.

Untuk kesekian kalinya Thian-hong pangcu putar badan, katanya.

"Apa yang hendak kalian perbuat katakan lagi "

Dengan kecewa nenek tua berambut uban itu gelengkan kepala nya.

"Kalau pangcu mau bunuh aku sekalian rasanya gampang sekali seperti membalikkan telapak tangan, kami sadar bahwa kekuatan kami belum memadahi untuk melakukan perlawanan, melawan berarti mencari penyakit sendiri, kalau pangcu telah ambil keputusan, silaukan turun tangan "

"Haaaahh haaaaahh haaaaahh sekarang, mengapa kalian berempat menjadi begitu sungkan ?"

Ejek Thian-hong pangcu sambil tertawa terbahak-bahak.

"bukankah ketika berada didalam ruangan tadi, kalian berempat telah mengajukan tantangan untuk bertempur kepadaku.."

"Hmm, benar.... tadi kalian tentunya mengandalkan kehebatan dari Budha antik sekalian bukan ?" -oo0dw0oo-

Jilid 25

"TERSERAH apa yang hendak pangcu katakan, kami sudah pasti tak akan melakukan perlawanan-"

Dengan pandangan tajam Thian-hong pang cu menyapu sekejap keempat orang itu kemudian katanya.

"Memang benar diantara kita pernah mempunyai hubungan selama banyak tahun dan banyak pula jasa yang telah kalian berikan selama berkembangaya perkumpulan Thian-hong pang, akan tetapi menghubungi musuh dikala menghadapi bahaya telah menghapuskan semua pahala yang pernah kalian perbuat apalagi bersengkongkol dengan musuh untuk berkhianat dan lenyapkan perkumpulan Thian hong pang yang didirikan cou-su kita selama beberapa generasi, dosa seperti ini tidak terampun lagi. Kendatipun kalian berempat tidak melawan, akupun akan tetap melaksanakan ucapan yang telah aku utarakan tadi."

Rupanya keempat orang itu menyadari bahwa mereka sudah tak ada harapan lagi, timbullah ingatan untuk melakukan perlawanan terakhir.

Satu ingatan jahat berkelebat dalam benak nenek tua berambut uban, tiba-tiba sambil menuding kearah belakang tubuh Thian-hong pangcu serunya.

"Kalian tokh sudah menyanggupi untuk tidak melakukan pengerubutan, kenapa sekarang kamu semua menghadang jalan pergiku ? "

Dewi burung hong adalah seorang gadis yang cerdik, ia segera menyadari akan siasat busuk yang terselip dibalik ucapan tersebut, baru saja dia akan memberi peringatan kepada rekannya, mendadak teringat olehnya bahwa sia-sia kuatirkan keselamatan gadis itu, pikirnya.

"Kenapa aku harus banyak urusan ? Ia dapat menjadi seorang ketua, aku rasa kecerdasan otaknya sudah pasti tak akan berada dibawahku."

Thian-hong pangcu sendiri bukanlah orang bodoh, napsu membunuh seketika berkelebat diatas wajahnya, sambil berpura-pura menoleh kebelakang serunya.

"Siapa berani melanggar perintahku?"

Baru saja ia berpaling kebelakang, mendadak terdengar empat orang itu membentak keras.

"Roboh kamu "

Bersamaan dengan berkumandangnya bentakan keras itu, empat gulung angin pukulan maha dahsyat dengan cepat meluncur kedepan. Tanpa berpaling Thian hong pangcu mengejek dingin.

"Perhitungan kalian keliru besar.."

Jari tangannya diayun kebelakang, sepuluh gulung desiran angin tajam laksana kilat menembusi angin pukulan mereka dan langsung menyerang jalan darah Kie-hay-hiat yang merupakan jalan darah cacad ditubuh musuh-musuhnya.

Dewi burung hong yang menyaksikan kejadian itu diam-diam merasa terperanjat, pikirnya.

"Ilmu silat yang dimiliki perempuan ini tidak berada dibawah kepandaianku, jangan-jangan hutang dan dendam yang terikat oleh guru kami berempat dimasa lampau tak dapat dibereskan pula pada generasi kami ?"

Empat orang nenek tua itu semuanya merupakan jago kawakan yang berpengalaman luas sekali ketika merasa datangnya angin desiran yang menembusi pukulan mereka, sadarlah mereka bahwa bahaya telah mengancam dengan cepat mereka buyarkan serangan dan loncat mundur kebelakang.

dalam satu gebrakan saja Thian-hong pangcu berasil merebut kembali posisi yang terdesak ia segera membentak nyaring dengan jurus burung hong menari diangkasa, ia meloncat keangkasa dan menyerang keempat orang itu.

Keempat orang itu sudah ada empat lima tahun lamanya berkumpul dengan pangcunya.

meskipun mereka tak menguasai penuh kepandaian dari ketuanya akan tetapi sedikit banyaknya mengetahui juga , karena itu siapapun tak berani bertindak gegabah, mereka hanya berusaha untuk melindungi keselamatan diri belaka.

Empat gulung angin pukulan saling menyambar tiada hentinya, meskipun kadang kala mereka melancarkan pula satu dua jurus balasan, akan tetapi itu pun bila keadaan mengizinkan.

Lain halnya dengan Thian-hong pangcu, ia menyerang terus tiada hentinya bagaikan harimau ditengah kum pulan kambing, gerakannya cepat dan enteng membuat musuh-musuh kewalahan.

Dengan pandangan tajam Dewi burung hong mengikuti terus semua gerakan tubuh dari Thian hong pangcu, ia tahu gadis itu pasti menang tapi ia ingin tahu jurus serangan terakhir apakah yang akan ia pergunakan-852 Keadaan Gak In Ling dalam ruangan jauh berbeda, sejak mendengar perkataan dari Thian-hong pangcu hatinya selalu merasa tak tenang, dahulu dia hanya merasa bahwa gadis itu alim sekali dan ia merasa simpatik terhadap dirinya dan sekarang dia mulai merasakan bahwa ia sebenarnya sedang mencintai gadis tersebut.

Akan tetapi pada saat itu, ia sedang berhadapan muka dengan musuh besar pembunuh ayahnya, ia tak dapat memecahkan perhatiannya, bisa dibayangkan bagaimana gelisahnya perasaan pemuda itu.

Budha antik lebih-lebih cemas lagi, diapun tahu kalau keempat orang itu bukan tandingan dari Thian-hong pangcu, sekalipun dia sendiri turut campur paling banter hanya bisa bertahan sebentar saja untuk kemudian menderita kekalahan.

Diam-diam ia melirik sekejap kearah tigaorang Tibet yang datang bersama dirinya, kemudian dalam hati berpikir.

"Empat dewa pelindung hUkum dari perkumpulan rahasia mUngkin membutuhkan beberapa waktu lagi untuk tiba disini, kalau ditinjau dari keadaaan di depan mata sebentar lagi mereka berempat pasti akan kalah dan kalau mereka sudah kalah maka aku akan terpojok mulai sekarang aku harus mulai susun rencana untuk menghadapi keadaan tersebut."

Berpikir sampai disitu, dengan bahasa Tibet segera ujarnya kepada ketiga orang itu.

"Kalau dilihat keadaan pada saat ini, mungkin sebelum empat dewa pelindung hukum tiba disini, kita bakal menderita kerugian lebih dahulu, agar Tiongcu tidak kecewa bila aku katakan serbu nanti, laksana kilat kalian harus turun tangan untuk menangkap pemuda itu.

Salah seorang Tibet yang beralis merah segera tertawa dingin, katanya.

"Kenapa engkau tidak pergi menangkap sendiri, sebaliknya suruh kami yang menangkap ?"

"Tujuanku suruh kalian menangkap pemuda ini adalah untuk menggertak dua orang bocah perempuan itu, ilmu silat yang mereka miliki tidak berada dibawah kepandaian Tiongcu kita, tak mungkin kalian bisa menandingi mereka, kalian tak mengerti bahasa Han, setelah kalian tangkap dirinya maka aku akan menggertak dua orang gadi itu agar menghentikan serangannya "

"Siapakah bocah itu ?, Kenapa dua orang gadis itu dapat kita gertak dengan menangkap bocah tersebut ?"

Melihat perangkap yang dipasang sudah termakan, Budha antik meneruskan kembali ucapannya.

"Bocah keparat itu adalah kekasihnya dua orang gadis tersebut mereka mencintai dirinya, bagaikan mencintai jiwa sendiri, kalau kita berhasil menangkap pemuda itu maka mereka tidak akan berani bertindak secara sembarangan."

"Kekasihnya ? Satu orang mana mungkin bisa mempunyai dua orang istri...?"

Hampir persamaan waktunya tiga orang itu menjerit kaget.

Rupanya diwilayah Tibet yang ada adalah seorang isteri dengan suami yang banyak, satu suami dengan banyak isteri belum pernah terjadi disana, karena itulah tiga orang Tibet itu merasa heran bercampur kagum..Tiga pasang mata sama-sama dialihkan keatas wajah Gak In Ling dan menatapnya tajam-tajam, kecuali wajahnya tampan mereka tak dapat menemukan keistimewaan apakah-ya dimilikinya sehingga ia bisa mempunyai begitu banyak kekasihnya.

Budha antik yang melihat kejadian itu, diam-diam tertawa geli, pikirnya.

"Makanya tempat ini bukanlah tempat gersang yang kekurangan perempuan seperti tempat kalian itu. apanya yang perlu diherankan ?"

Lama sekali tiga orang Tibet itu termenung kemudian salah satu diantaranya baru bertanya.

"Bagaimana dengan ilmu silatnya ?"

"Huuhh tentu saja jauh lebih dahsyat daripada kalian bertiga,"

Pikirnya Budha antik dalam hatinya.

"kalau tidak, kenapa hud-ya menghadiahkan kepada kalian ?"

Dihati ia berpikir demikian, diluaran jawabnya.

"oooohh , enteng sekali, coba lihat tampangnya yang lembek dan lemah, masa masih belum tahu ?"

Tiga orang Tibet itu segera mengangguk, gumam mereka.

"Tidak punya kepandaian akan tetapi bisa disenangi oleh begitu banyak perempuan yang berwajah cantik, keadaan disini jauh berbeda dengan tempat disana, kalau kami bisa bidup disini... ooohh Betapa senangnya."

Dalam hati Budha antik tertawa dingin, kembali pikirnya.

"Dalam penitisan kalian yang akan datang, mungkin kalian bisa dilahirkan disini."

Gak In Ling tidak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan, akan tetapi ia mengetahui dengan pasti apa yang sedang mereka rencanakan diam-diam ia pertingkat kewaspadaannya dan menghimpun segenap kekuatan tubuhnya dalam telapak.

Sementara itu pertarungan diluar gelanggang telah berlangsung mendekati lima puluh jurus, Thian-hong pangcu masih tetap ganas bagaikan singa, sedang empat orang lawannya kian lama kian bertambah payah dan mulai tak sanggup mempertahankan diri.

Nenek tua berambut uban diam-diam melirik sekejap kearah belakang, ketika melihat dirinya tepat berada dimulut jalan keluar yang sengaja dibuat para jago, dalam hati kecilnya ia ambil keputusan, pikirnya.

"Dalam keadaan yang menentukan antara mati dan hidup, aku tak dapat memikirkan keselamatan kalian lagi."

Berpikir sampai disitu, mendadak ia membentak keras.

"Aku akan mengadu jiwa dengan dirimu"

Sepasang telapak diayun kedepan, namun tiada angin pukulan yang meluncur keluar, tubuh-nya merandek dan segera meluncur kearah belakang.

Thian-hong pangcu yang memegang posisi telah lebih menguntungkan tidak ambil peduli mau mengadu jiwa atau tidak.

napsu membunuh terlintas diatas wajahnya, sepasang telapaknya diayun kedepan dengan jurus menjaga naga dari ribuan li lima gulung angin desiran tajam langsung menerobos kearah depan.

pada saat yang besamaan telapak kirinya laksana kilat melancarkan tiga pukulan yang memaksa tiga orang musuh lainnya mau tak mau harus kerahkan segenap kekuatan tenaga yang dimilikinya untuk melindungi diri.

Dua serangan dilancarkan bersamaan dan sedikitpun tidak terlihat mana lebih dahulu mana lebih belakangan, dari sini dapat diketahui betapa dahsyatnya tenaga dalam yang dimiliki perempuan ini.

Satu jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang memecah kesunyian.......Plookk Mengerti tenaga dorongan kedepan nenek berambut uban itu roboh terjengkang sejauh tujuh tombak kedepan, ia muntah darah segar berulang kali, badannya lemas tak bertenaga dan segenap tenaga dalamnya punah tak berbekas.

Dengan susah payah ia merangkak bangun, gumamnya dengan suara pedih.

"Dari pada hidup sengsara lebih baik mati "

Dengan kekalahan yang diderita nenek berambut uban itu, tiga orang rekannya menjadi amat terperanjat, jurus serangan mereka semakin kalut dan tidak karuan, sejak permulaan tadi mereka sudah menyadari bahwa kepandaiannya bukan tandingan lawan, apa lagi sekarang setelah seorang rekannya roboh, semakin tipis harapan mereka untuk merebut kemenangan.

Baru saja jeritan ngeri dari nenek berambut uban itu sirap.

serentetan jeritan ngeri telah bergema memecahkan kesunyian, salah seorang diantara tiga pelindung hukum roboh pula keatas tanah dengan ilmu silatnya punah tak berbekas.

Pada waktu itulah....

mendadak dari dalam ruangan berkumandang tiga kali jeritan ngeri disusul sesosok bayangan manusia berkelebat melewati atas kepala Dewi burung hong dan laksana kilat kabur kearah mulut lembah.

Reaksi Dewi burung hong cukup cepat, akan tetapi untuk beberapa saat lamanya ia dibuat tertegun juga .

Tiba-tiba terdengar Gak In Ling membentak keras.

"Budha antik, sekalipun engkau kabur ke ujung langit atau kedasar lautan, ini hari jangan harap engkau bisa lolos dari cengkraman siau-ya mu...?"

Mengikuti seruan tersebut, sesosok bayangan hitam menembusi angkasa dan mengejar keluar.

"Engko Ling "

Teriak Dewi burung hong diapun enjotkan badan dan menyusul dari belakang.

Thian-hong pangcu paling gelisah, ia rela melepaskan jabatannya sebagai ketua kesemuanya ini bukan lain karena Gak In Ling, telapaknya berkelebat berulang kali dan tiba-tiba ia mengeluarkan jurus naga sakti burung hong indah, 857 segumpal bayangan menyelimuti seluruh angkasa, dua jeritan ngeri berkumandang saling susul menyusul.

Thian-hong pangcu sama sekali tidak memandang sekejappun kearah empat orang lawannya, dia melayang keudara dan berseru.

"Jaga mereka baik -baik "

Sementara itu Budha antik telah berada beberapa ratus tombak didepan, Gak In Ling yang harus membinasakan tiga orang Tibet lebih dahulu-agak lambat menyusul pendeta itu lagi, karenanya ia ketinggalan lima puluh tombak lebih dari Budha antik.

Dewi burung hong berada dua puluh tombak dibelakang si anak muda itu, sedangkan Thian hong pangcu berada dibarisan paling belakang.

Sementara itu Budha antik sudah hampir mendekati sebuah hutan lebat diluar lembah, Gak In Ling yang menyaksikan hal itu menjadi amat gelisah.

Pada saat itulah, tiba-tiba dari mulut lembah muncul Malaikat raksasa bermuka merah yang tingginya beberapa tombak itu, dua puluh tombak dibelakangnya mengikuti manusia bertato sembilan naga, rupanya manusia bertato itu sedang mengejar malaikat raksasa.

Dewi burung hong menjadi sangat kegirangan, segera teriaknya.

"Heeii, Malaikat raksasa bermuka merah, cepat hadang hwesio itu untuk maJikan mudamu!"

Malaikat raksasa bermuka merah segera menengadah keatas, ia melihat kurang lebih dua puluh tombak dihadapannya benar-benar berkelebat datang seorang hwesio gundul.

Tanpa berpikir panjang lagi ia menjulurkan tangannya kedepan, bagaikan sedang mengusir ayam kecil serunya.

"Sssstt sssttt... Hweesio, ayo kembali kamu "

Sementara hu Budha antik sedang melarikan diri terbirit-birit bagaikan seekor anjing yang kena digebuk, ketika melihat seorang manusia raksasa menghadang jalan perginya, napsu membunuh segera timbul dalam hatinya, dalam hati ia berpikir.

"Maknya manusia tolol seperti itupun bisa hidup sampai ini hari ?"

Sementara otaknya masih berputar, ia sudah tiba kurang lebih satu tombak dihadapan Malaikat raksasa bermuka merah, ia segera membentak keras.

"Bocah keparat, rupanya kau ingin mampus "

Dengan jurus menghancur ratakan lima buki, dia hajar dada Malaikat raksasa bermuka merah. Malaikat raksasa bermuka merah itu tertegun, bathinnya.

"Hweesio, kau keliru kalau menghantam dadaku "

"Blaaamm.."

Ditengah benturan keras, debu dan pasir beterbangan memenuhi angkasa. Malaikat raksasa bermuka merah terdorong mundur lima langkah kebelakang, dengan mata melotot, makinya.

"Keledai gundul, toaya mu tokh tak pernah terikat hubUngan dendam atau sakit hati dengan dirimu, kenapa baru saja bertemu tanpa pikir panjang engkau Ia ntas pukul orang ? Kau mengerti peraturan atau tidak?"

Sementara itu Manusia bertato sembilan naga telah menyusul datang, ia memperhatikan Malaikat raksasa bermuka merah beberapa waktu lamanya, kemudian menyambung.

"Engkau sendiri tidak tahu aturan, inilah yang dinamakan kalau tidak bertempur tak akan mengenal "

Budha antik sendiri yang menyaksikan serangannya bukan saja gagal untuk merobohkan lawannya, malahan telapak sendiri terasa amat sakit, hatinya menjadi terkesiap pikirnya.

"Aaaahh Benarkah dikolong langit terdapat orang yang berkepandaian semacam ini..."

Berpikir sampai disitu, ia tidak berani maju dan cepat-cepat melayang kearah samping kanan.

Siapa tahu baru saja ia menggerakkan tubuhnya, tiba-tiba terdengar serentetan suara teguran yang amat dingin berkumandang datang.

"Budha antik, nyonya mudamu sudah lama menantikan dirimu disini "

Budha antik merasa amat terperanjat, ia menengadah keatas dan terlihatlah orang yang menghadang jalan perginya bukan lain adalah Dewi burung hong atau Bwee Giok Siang.

Ia menyadari akan kelihayan musuhnya, tanpa berpikir panjang tubuhnya segera berganti arah dan kabur dari sebelah kiri, akan tetapi ini segera menemukan disamping manusia bertato sembilan naga kini telah bertambah dengan Thian-hong pangcu yang berkain cadar diatas wajahnya.

Tiga penjuru telah dihadang oieh lawan, tangguh, terpaksa ia harus mengundurkan diri kebelakang.

"Budha antik,"

Serentetan suara teguran yang amat menyeramkan berkumandang memecahkan kesunyian.

"Apakah engkau tidak ingin melihat jalan terakhir yang masih ada ?"

Budha antik tahu Gak In Ling lah yang berada diarah belakang, kini dia benar-benar berada dalam kepungan lawan bahkan musuh-musuh yang mengurung dirinya diempat penjuru rata-rata memiliki tenaga dalam yang jauh berada diatas kepandaiannya.

Untuk pertama kalinya Budha antik merasa bahwa kesempatan hidup baginya terlalu tipis, karena dalam hal 860 tenaga dalam maupun kecerdasan, semua orang musuhnya jauh lebih ampuh daripada dirinya.

"Aku harus beradu jiwa."

Pikir Budha antik didalam hati.

"bisa membunuh seorang berarti aku dapat menarik kembali sebagian modalku"

Setelah ingatan tersebut berkelebat dalam benaknya, dia segera ambil keputusan keji, kepada Gak In Ling ujarnya dengan suara menyeramkan sekali.

"Bocah keparat she Gak kalian boleh maju bersama "

"Hmm Budha antik, engkau menganggap dirimu pantas untuk menghadapi kami bersama ?"

"Haaaahh haaaaabh haaaaabh tidak pantas-? Kalau tidak tidak pantas mengapa engkau gunakan begitu banyak orang untuk mengepung diriku ?"

"Kalau engkau tidak kabur, mungkin orang segan untuk memandang sekejappun kepadamu."

"Gak In Ling, apa yang hendak kau lakukan terhadap diriku ?"

"Menghukum mati engkau secara perlahan-lahan "

Suaranya dingin menyeramkan membuat bulu kuduk semua orang-orang pada bangun berdiri.

Tanpa sadar Budha antik mundur dua langkah kebelakang, sorot matanya yang mengerikan menatap wajah musuhnya tanpa berkedip.

Sementara Dewi burung hong berdua dengan rasa ngeri memandang wajah pemuda itu, seolah-olah mereka tak percaya kalau perkataan tersebut diutarakan dari mulutnya.

Budha antik tarik napas panjang, katanya dengan suara berat.

"Hmm Belum tentu engkau dapat melakukannya."

Sambil berbicara, dengan keraskan hati ia maju selangkah kedepan-Gak In Ling tertawa dingin, ejeknya.

"Ayo... Silahkan turun tangan-.."

"Duel diantara kita berdua ?"

Seru Budha, antik sambil menyapu sekejap kearah dua orang gadis disampingnya.

"Hmm Engkau belum pantas untuk menerima pengerubutan dari kami..."

Budha antik menyadari bahwa pertarungan sengit tidak dapat dihindarkan lagi, ia segera membentak keras.

"Aku akan mengadu jiwa dengan dirimu "

Menggunakan jurus guntur dan petir saling menyambar, laksana kilat ia menghantam tubuh Gak In Ling, kecepatan geraknya menyerupai suatu serangan sergapan.

Napsu membunuh telah menyelimuti seluruh angkasa, kedahsyatannya benar-benar mengerikan.

Sejak semula Budha antik sudah mengetahui bahwa Gak In Ling memiliki ilmu telapak maut yang maha dahsyat, akan tetapi dia tahu kalau kepandaian tersebut belum berhasil mencapai kesempurnaan, karenanya dalam hati ia tidak begitu merasa takut dengan dirinya, akan tetapi sekarang setelah menyaksikan datangnya pukulan itu, ia merasa amat terperanjat.

Tatkala racun keji masih bersarang dalam tubuh Gak In Ling, telapak mautnya hanya bisa digunakan dalam lima bagian tenaga saja, warna merah belum menyelimuti ujung jari, akan tetapi sekarang seluruh telapaknya telah berubah menjadi merah darah.

Untuk menghadapi tenaga pukulan sebesar lima bagian pun Budha antik sudah tak tahan apa lagi saat ini Gak In Ling telah mempergunakan tenaga pukulannya sehingga mencapai 862 sepuluh bagian, bisa dibayangkan betapa terperanjatnya hati padri itu.

Thian-hong pangcu sendiripun merasa amat terperanjat, ditengah kekagetan ia juga merasa gembira, sebab dari kedahsyatan angin pukulan dari Gak In Ling dia mengetahui bahwa racun keji yang mengeram dalam tubuhnya telah lenyap tak berbekas.

Dan sekejap mata dua orang itu sudah saling bergebrak sebanyak lima jurus, semua serangan dilakukan dengan gerakan cepat bagaikan sambaran kilat, rupanya dia ingin cepat-cepat menyelesaikan pertarungan tersebut .

Perasaan takut yang muncul dalam hati kecilnya ditambah tenaga dalam yang bukan tandingan memaksa permainan jurus Budha antik kian lama kian bertambah kalut, wajah ramah yang semula menghiasi mukanya kini sudah lenyap tak berbekas, sorot mata yang saleh berubah menjadi sorot mata penuh kelicikan dan kekejian seringkali dan menyapu sekitar tempat itu berusaha untuk mencari titik kelemahan dan meloloskan diri dari sana.

Dewi burung hong yang meyaksikan tingkah laku padri itu, segera tertawa dingin dan memperingatkan.

"Budha antik, lebih baik engkau tak usah memikirkan rencana busuk. aku siap menghadapi setiap rencana busukmu itu!!"

Melihat rahasianya ketahuan, Budha antik semakin terperanjat, rasa bencinya terhadap gadis itu merasuk hingga tulang sumsum, akan tetapi meskipun ia merasa benci tapi rencana untuk meloloskan diri belum lenyap dari dalam benaknya.

Secara beruntun Gak In Ling melancarkan tiga buah pukulan berantai, lalu sambil tertawa seram, ejeknya.

"Budha antik, siau-ya akan melihatjantung dan hatimu berwarna merah atau hitam "

Budha antik melancarkan tiga buah pukulan berantai untuk memunahkan datangnya ancaman tersebut, sambil berusaha menenteramkan hatinya ia menjawab.

"Jantungku berada dalam dada, kalau engkau punya kepandaian, silahkan periksa sendiri "

Sepasang alis mata Gak In Ling tiba-tiba berkenyit, jurus serangannya berubah dan bentaknya keras-keras.

"Lihat serangan "

Bayangan manusia berkelebat lewat, tiba-tiba ia menerobos masuk ketengah lapisan bayangan telapak dari Budha antik.

Dewi burung hong berdua yang menyaksikan kejadian itu menjadi amat terperanjat, tanpa sadar mereka masing-masing maju selangkah kedepan-Pada saat itu, dari tengah gelanggang berkumandang suara-jeritan Budha antik yang menyayatkan hati.

Jeritan itu menghentikan langkah kaki dari dua gadis tersebut, mereka menengadah keatas dan merasa kan hatinya bergetar keras.

Tampaklah Gak In Ling mencekal sebuah lengan kanan Budha antik yang mengucurkan darah.

sorot matanya memancarkan sinar kebengisan.

Sepasang alis matanya berkenyit dan tampangnya mengerikan sekali.

Budha antik mundur tiga tombak kebelakang mukanya yang merah padam memancarkan rasa kesakitan yang luar biasa, kian lama paras mukanya kian bertambah pucat, mungkin ia masih merasa berat hati untuk meninggalkan dunia yang fana ini, maka dengan sorot mata yang bulat besar dan memancarkan sinar ketakutan ia menatap wajah Gak In Ling tanpa berkedip.

ia lupa untuk mengerahkan tenaga dalamnya guna menyumbat aliran darah dari mulut lukanya.

Tiada perasaan kasihan atau iba terpancar diatas wajah Gak In Ling, pada saat ini perasaan hatinya seolah telah berubah menjadi kaku dan membesi, dengan penuh kebengisan serunya.

"Budha antik, aku rasa tujuanku sudah hampir tercapai."

Budha antik tak dapat menguasai diri lagi ia mundur lagi, ia mundur tiga langkah kebelakang dan berseru dengan gugup.

"Gak In Ling. seorang persilatan baru saja mulai mempercayai akan hati kependekaranku, tetapi..."

"Tetapi sekarang aku hendak melepaskan engkau dengan tanganku sendiri, bukankah begitu"

Sindir Gak In Ling sambil tertawa seram.

"Tidak salah "

Jawab Budha antik sambil mengangguk,"

Aku merasa sayang untuk itu."

Suara tertawa panjang yang nyaring dan keras bergema menembusi angkasa, ditengah gelak tertawa tersebut meliputi rasa sedih yang kelewat batas, membuat siapapun yang mendengar dapat ikut merasakan ketidak enakan nada tersebut.

Lama.......

lama sekali Gak In Ling menghentikan gelak tertawa nya, dengan suara tajam ia menyindir.

"Budha antik, mengapa engkau mengkhawatirkan keselamatanku ?"

Budha antik tidak malu disebut sebagai seorang pemimpin persilatan, mendengar sindiran tersebut dengan berterus terang ia menjawab.

"Demi kehidupan mau tak mau aku harus memperingatkan dirimu, kalau orang yang hendak kau bunuh adalah orang lain dan bukan diriku, aku akan lebih suka melihat engkau membunuh beberapa orang lagi agar manusia dikolong langit daripada membenci dirimu,"

Perlahan-lahan Gak In Ling maju kedepan, mendekati Budha antik katanya dengan nada menyeramkan-"Tahukah engkau perasaan hati apakah yang kubawa ketika meninggalkan lembah oh-liong-kok?"

"Aku tahu, tetapi aku tidak mengharapkan untuk tahu"

Gak In Ling tertawa terbahak-bahak.

"Haaaaahh... haaaaaahh haaahh... perduli engkau mengharapkan atau tidak pokok-nya aku telah munculkan diri, ketika masih berada dalam lembah oh-liong-kok aku telah menelan racun untuk berlatih kepandaian aku telah memandang enteng soal mati hidup, kalau mati hiduppun sudah kukesampingkan, hey keledai bangsat, yang berpura berbudi seperti engkau, dapatkah aku lepaskan dirimu hanya dikarenakan soal nama ?"

Satu-satunya harapan Budha antik untuk hidup ikut lenyap bersama dengan ucapan tersebut.

Sekarang dia hanya dapat memilih bagaimana caranya untuk menerima kematian tersebut.

Dengan pandangan dingin diliriknya sekejap kearah Gak In Ling, tiba-tiba telapak kirinya laksana kilat diayun keatas ubun-ubun sendiri, tidak salah, inilah caranya kematian yang paling bersih.

Tetapi sayang seribu kali sayang ia cepat, Gak In Ling jauh lebih cepat, baru saja dia ayunkan telapaknya tiba-tiba terdengar Gak In Ling membentak nyaring.

"Huuuh... Tidak akan semudah itu "

Bayangan manusia berkelebat lewat, tahu-tahu lengan kiri Budha antik telah berpindah tangan-Mimpipun Budha antik tak pernah menduga kalau Gak In Ling bakal bersikap begitu kejamterhadap dirinya, dari putus asa ia menjadi naik pitam, bentaknya keras-keras.

"Gak In 866 Ling, kau apa yang hendak kau lakukan atas diri Hud-ya mu ?"

Gak In Ling tertawa seram.

"Heeeehh. heeeeehh heeeehh andaikata engkau masih beruntung, maka akan ku suruh kau Saksikan sendiri apakah warna jantung mu yang sebenarnya ?"

Dengan sorot matanya yang ngeri Dewi burung hong berdua memandang kearah Gak In Ling tanpa berkedip mereka sama sekali tak menduga kalau si anak mudaitu secara tiba-tiba dapat berubah menjadi begitu kejamnya, dalam waktu yang amat singkat itu seakan-akan ia telah berubah menjadi seorang manusia lain-Lengan kiri Budha antik telah terjatuh ketangan orang, dalam gelisahnya tiba-tiba satu ingatan berkelebat dalam benaknya, ia tundukkan kepalanya dan menggigit lidahnya sendiri.

Gerakan ini tak mungkin bisa dihadang dengan cara apapun, napsu membunuh seketika memancar keluar dari balik mata Gak In Ling mendadak tangan kirinya laksana kilat menusuk keatas dada Budha antik, gerakannya amat cepat dan sukar dilukiskan dengan kata-kata.

Belum sempat Budha antik menggigit putus lidah sendiri, mendadak ia menjerit ngeri, Sekujur badannya gemetar keras dan perlahan-lahan ia roboh terkapar diatas tanah.

Tangan kiri Gak In Ling masih tetap menancap diatas dada lawan, darah segar mengucur keluar membasahi seluruh tubuh pemuda itu dan menetes keatas tanah.

Sekuat tenaga Gak In Ling menarik kembali tangannya, dua orang gadis itu segera menjerit kaget dan putar badannya.

Dalam genggaman si anak muda itu telah bertambah dengan sebuah jantung manusia yang masih mengucurkan darah, sorot matanya yang merah darah menatap tajam wajah 867 Budha antik yang kaku dan hijau membesi itu, ujarnya dengan suara berat.

"Budha antik, lihatlah Jantungmu juga berwarna merah, seperti halnya dengan jantung orang lain, akan tetapi dalam detak jantung tersebut semasa dalam tubuhmu, kau... kau secara kejam telah membinasakan seseorang yang sama sekali tidak ada sangkutpautnya dengan dirimu."

Budha antik tidak dapat berbicara lagi, dengan kaku ia memandang kearah jantung sendiri perlahan-lahan matanya terkatup dan binasalah padri gadungan yang sudah banyak melakukan kejahatan itu.

Perlahan-lahan Gak In Ling membuang jantung itu keatas dada jenazah dari Budha antik dengan kaku ia menengadah keatas memandang awan yang tergerak diangkasa, seakan-akan ia sedang berdoa.

Malaikat raksasa bermuka merah menghembuskan napas panjang, seakan-akan dia akan membuang semua kengerian yang dilihatnya selama ini dalam hembusan tersebut.

Dewi burung hong pun putar badannya kembali, ia tidak berani memandang kearah jenazahnya Budha antik, buru-buru ia menghampiri Gak In Ling sambil ujarnya dengan lembut.

"Engko Ling, ayo jalan, kita cuci tangan dulu "

Sambil berpaling lalu memerintahnya.

"Kim-kong, seret mayat itu dan kubur disini disuatu tempat "

Pada saat yang persamaan, Thian-hong pang cu pun sedang memerintahkan.

"Manusia bertato sembilan naga, seret mayat itu dari sini "

Baru saja Malaikat raksasa bermuka merah maju selangkah kedepan, Manusia bertato sembilan naga telah keburu berseru.

"Hey Bocah gede,jangan usik-usik mayat itu, akulah yang mendapat perintah untuk mengurusinya."

"omong kosong,"

Teriak Malaikat raksasa bermuka merah dengan mata melotot besar.

"terang-terangan akulah yang mendapat perintah, siapa yang suruh engkau?"

"Kurang ajar, engkau hendak ajak aku untuk berkelahi ?"

Teriak Manusia bertato sembilan naga dengan dahi berkerut.

"Berkelahi ? Kenapa, engkau mau berkelahi ?"

"Aku muak melihat tampangmu itu."

Dengan pandangan mata yang tajam Malaikat raksasa bermuka merah memperhatikan pula lawannya beberapa saat, kemudian berteriak.

"Aku sendiri pun makin lihat tampangmu semakin muak, memandang ketololanmu yang kelewat batas aku menjadi kheki, mari mari mari siapa yang menang dialah yang berhak mengubur mayat ini."

Gak In Ling memutar badan, pikirnya didalam hati dengan perasaan keheranan.

"Belum pernah kutemui ada orang yang berkelahi dengan taruhan mengubur mayat, mereka berdua memang sama-sama tololnya "

Dewi burung hong mengerutkan dahinya, ia hendak menghardik dua orang manusia tolol itu, buru-buru Gak In Ling menarik tangannya sambil berbisik.

"Adik Siang, jangan urusi dia Biar mereka berdua berkelahi dulu, kalau tidak mereka-tidak akan puas dengan pihak yang lain, Jika sampai bertemu dengan musuh tangguh maka mereka tak bisa bekerja sama untuk bertempur kalau sampai begitu bukankah kita yang bakal-repot."

Gak In Ling yang menarik tanganBwee Giok Siang dapat terlihat pula oleh Thian-hong pangcu, ia merasa sedih dan pikirnya didalam hati.

"Bagaimanapun juga Gak In Ling jauh lebih menaruh perhatian terhadap dirinya daripada terhadap diriku, aaaii. Kalau aku tidak menjabat sebagai pangcu saatu perkumpulan, mungkin pada saat ini aku telah berada bersama dirinya."

Berpikir sampai disini ia lantas menengadah kebetulan sekali terbentur dengan sorot mata dari Gak In Ling, tampaklah pemuda itu gelengkan kepalanya mencegah dia untuk buka suara.

Thian-hong pangcu merasakan hatinya menjadi hangat, tanpa sadar diapun mengangguk.

"Baik, kalau begitu kita lakukan secara demikian saja,"

Terdengar Manusia bertato sembilan naga anggukan kepala dan siap untuk turun tangan.

"Tunggu sebentar,"

Tiba-tiba Malaikat raksasa bermuka merah berteriak keras.

"aku akan lepas pakaian lebih dahulu,"

"Sekalipun pakai pakaian pukulanku juga bisa menembusi tubuhmu, kenapa mesti dilepas?"

"Engkau tahu apa ?"

Maki Malaikat raksasa bermuka merah dengan mata melotot besar.

"pakaianku ini tak mempan dipukul atau dibacok aku tak sudi mencari keuntungan dari situ."

Sementara masih berbicara, ia telah melepaskan pakaian warna hitamnya sehingga tampaklah dadanya yang bidang.

"Baik, akupun tak akan mencari keuntungan dengan senjataku ini,"

Seru Manusia bertato sembilan naga sambil membuang toyanya.

"katakanlah Bagaimana kalau engkau hantam diriku tiga kali lebih dahulu kemudian baru aku menghantam tiga kali kepadamu?"

"Baik Berdirilah yang tegak."

Ia tarik napas panjang dan segera membentak keras.

"Sambutlah pukulan menyapu rata lima bukit ini "

Sambil maju ke depan dia lancarkan satu pukulan kearah dada lawan-"Blaaaamm "

Benturan keras menggeletar diangkasa, pasir dia debu beterbangan di seluruh permukaan. Malaikat raksasa bermuka merah hanya terdorong mundur dua langkah kebelakang, gumam nya.

"Hmm Lumayan juga , masih ada tenaga nya."

Manusia bertato sembilan naga sendiri hanya merasakan telapaknya menjadi linu dan kaku gerutunya didalam hati.

"Keparat ini mempunyai ilmu simpanan juga , pukulan tadi telah menggunakan tenaga sebesar tujuh bagian, kenapa dia hanya terdorong mundur sejauh dua langkah saja?"

Berpikir sampai disitu ia membentak keras lagi, dengan jurus yang sama yakni menyapu rata lima bukit akan tetapi dengan tenaga pukulan sebesar sembilan bagian ia menghantam dada lawan-Kali ini Malaikat raksasa bermuka merah terdorong mundur lima langkah kebelakang.

dadanya terasa sakit, ini mengejutkan hatinya.

"Aaaaah.Jadi didalam pukulan pertamanya tadi ia belum menggunakan tenaga penuh. Hmm. booah ini pandai juga melepaskan budi,"

Pikirnya dihati.

Manusia bertato sembilan naga sendiri pun merasa kaget, ia tahu kendatipun menggunakan tenaga sebesar sepuluh bagian belum tentu lawannya bisa dirobohkan.

Biji matanya yang besar berputar tiada hentinya, tiba-tiba ia berseru.

"Hey keparat gede, ayo maju beberapa langkah kedepan, terlalu jauh disana "

"Apa bedanya berdiri dihadapanmu "

Sambil berseru Malaikat raksasa maju kedepan dengan langkah lebar.

Siapa tahu baru saja ia maju kedepan, tiba-tiba Manusia bertato sembilan naga membentak keras, menggunakan kesempatan dikala kuda-kudanya belum teguh ia maju menyerang dengan jurus "menjepit bukit mengaduk samudra."

Malaikat raksasa bermuka merah merasa amat terperanjat, untuk menahan diri sudah tak sempat lagi Duuukk Ia terhantam Sehingga mundur tuju delapan langkah ke belakang dan jatuh terjungkal keatas tanah.

Manusia bertato sembilan naga merasa amat bangga katanya.

"Bagaimana ? Mengaku kalah tidak ?"

"Keparat setan,"

Maki Malaikat raksasa bermuka merah sambil loncat bangun.

"Aku masih mengira engkau cukup bersahabat ?

Rupanya engkau sedang menipu orang.

Keparat, toa-ya mutak akan mengaku kalah, bersiap-siaplah akan kuhajar pula dirimu dua kali sebelum menjungkir balikkan badanmu,."

Manusia bertato sembilan naga tarik napas panjang-panjang dan menghimpun segenap kekuatannya diatas dada, lalu sambil mengangguk kata nya.

"Marilah "

Malaikat raksasa bermuka merah membentak keras, tiba-tiba telapaknya yang besar melancarkan serangan dahsyat kedepan dengan jurus menjerat bukit menguruk samudra, Manusia bertato sembilan naga adalah seorang manusia bodoh, meskipun tadi ia mendapat akal untuk menipu lawannya sehingga roboh terjengkang keatas tanah, akan tetapi dia tak menyangka kalau Malaikat bermuka merah bakal membohongi pula dirinya.

Kali ini kerugian yang diderita olehnya jauh lebih besar dari pada kerugian yang diderita Malaikat raksasa bermuka 872 merah sebelumnya, ia terhantam sampai mencelat sejauh dua tombak lebih dan mencium tanah.

"Bagus bagus.......^. bagus Ini namanya satu diganti satu,"

Teriak Malaikat raksasa bermuka merah sambil tertawa.

"engkau membohongi aku satu kali sekarang akupun membohongi dirimu satu kali marilah Sekarang sambutlah kembali dua buah pukulan berikutnya."

Manusia bertato sembilan naga merangkak bangun dari atas tanah, dari pukulan yang diterimanya tadi ia tahu bahwa tenaga dalam yang di miliki Malaikat raksasa bermuka merah jauh di atas kepandaiannya dengan muka masam segera serunya.

"Tunggu sebentar, urusan pribadi harus di selesaikan secara pribadi, urusan dinas harus di selesaikan secara dinas, kalau mau berkelahi tunggulah sampai aku menyelesaikan urusan dinas lebih dahulu..."

Berbicara sampai disitu ia lantas maju ke hadapan Thian-hong pangcu dan berkata setelah memberi hormat.

"Lapor pangcu, Tongcu burung hong emas Liu Yau Kim dengan membawa para anak buahnya telah mendirikan perkemahan diluar lembah, harap pangcu memberi perintah."

"Suruh mereka masuk "

Sahut Thian-hong pangcu dengan hati girang.

"Kalau mereka masuk. bukankah kita semua bakal terkepung ?"

Thian-hong pangcu melirik sekejap kearah Dewi burung hong, kemudian sahutnya.

"Dia adalah seorang ketua dariperguruan Lam-hay-pay, dan sekarang dia tak akan bertempur melawan dirimu lagi."

"Kalau memang begitu, harap pangcu mengutus orang lain saja, aku masih harus bertempur melawan keparat gede itu."

"Engkau bukan tandingannya.."

Sementara itu Dewi burung hong sendiri dengan ilmu menyampaikan suara telah berkata kepada Malaikat raksasa bermuka merah.

"Kim-kong, bawalah pergi mayat itu, kalau nanti Manusia bertato sembilan naga mengejar dirimu, engkau tak boleh sucgguh-sungguh melukai dirinya, sebab inilah maksud dari maJikan muda"

"Aku mengerti "

Sambil menyeret mayat Budha antik dengan langkah lebar ia berlalu dari sana.

Manusia bertato sembilan naga yang melihat lawannya sudah kabur sambil membawa mayat tersebut dan diatas tanah hanya tinggal sebuah jantung dan segumpal darah, buru-buru menyambar jantung tersebut dan mengejar dari belakang.

"Hey bocah keparat, engkau belum menang,"

Teriaknya keras-keras.

Dewi burung hong yang menyaksikan hal itu tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali gelengkankan kepalanya dan tertawa.

Sementara itu dari luar lembah berkelebat datang seorang nyonya setengah baya yang berbaju hijau, wajahnya cantik dan gerakan tubuhnya enteng sekali, setiba dihadapan Thian-hong pangcu ia segera memberi hormat dan berkata.

"Hamba menghunjuk hormat kepada pangcu "

"Hm Tadi Manusia bertato sembilan naga telah menyebut tentang dirimu..."

Sahut Thian hong pangcu sambil mengangguk.

"Lapor pangcu. berhubung hamba merasa tak tega maka setelah selesai mengatur persiapan hamba sengaja masuk lebih dahulu kedalam lembah untuk berjumpa dengan pangcu, musuh yang mengepung lembah ini banyak sekali jumlahnya, aku melihat mereka ada rencana untuk mengepung kita sampai mati."

Dewi burung hong yang mendengar perkataan itu diam-diam merasa geli, namun ia tak banyak bicara.

"Tempat ini sud ah tak bakal terjadi pertempuran sengit lagi,"

Sahut Thian-hong pangcu sambil gelengkan kepalanya.

"kedatanganmu sungguh kebetulan sekali, sekarang kumpukan mereka semua ditempat ini, aku ada urusan hendak disampaikan kepada mereka."

"Pangcu..."

Seru perempuan setengah baya itu dengan wajah tertegun.

"Tak usah banyak tanya, sebentar lagi engkau akan tahu sendiri."

"Hamba Liu Yau Kim terima perintah,"

Habis berkata ia buru-buru berlalu.

"Liu Tougcu, sambutlah benda ini "

Tibatiba Dewi burung hong berseru.

Tangannya diayun dan sebuah tanda perintah kumala putih dengan cepat meluncur kearah Tongcu burung hong emas Liu Yau Kim.

Perempuan itu miringkan badannya dan menangkap tanda perintah tersebut, setelah dia mati sebentar mula-mula ia nampak tertegun, kemudian seperti memahami akan sesuatu serunya.

"Liu Yau Kim mengucapkan banyak terima kasih "

Sepeninggalnya perempuan itu Thian-hong pangcu melirik sekejap kearah Dewi burung hong kemudian ujarnya dengan hambar.

"Nona Bwee, apakah siau-moay dapat menyelesaikan dahulu persoalan dalam tubuh perkumpulan sebelum kita menentukan siapa menang dan siapa kalah ?"

"Tentu saja, cuma dimanakah ada air dalam lembah ini ? Kita harus mencuci bersih lebih dahulu tangannya."

"Tak usah terburu-buru,"

Jawab Gak In Ling sambil menggeleng kepala kepada Thian -hong pangcu ujarnya lebih jauh.

"Apakah nona akan menyerahkan kedudukan ketua kepada orang lain ?"

Untuk pertama kalinya Thiaa-hong pangcu mendengar Gak In Ling menyebut dirinya dengan sebutan itu, dalam hati kecilnya timbul suatu perasaan yang sukar dilukiskan dengan kata-kata meskipun tidak terhitung mesra akan tetapi kedengarannya jauh lebih akrab Jika dibandingkan dengan panggilan "pangcu."

"Benar "jawab gadis itu setelah mengawasipemuda tersebut beberapa saat lamanya.

"Aku rasa, nona sudah sepantasnya berpikir demi kepentingan umum, janganlah bertindak menuruti emosi."

Thian-hong pangcu menyapu sekejap kearahnya, kemudian dengan tegas gelengkan kepalanya.

"Aku telah ambil keputusan dalam persoalan ini, lagi pula urusan ini adalah masalah perkumpulan kami sendiri, kongcu "

Mendadak ia merasa tak tenang dan buru-buru tutup mulutnya kembali. Gak In Ling diam-diam merasa terperanjat, segera ujarnya.

"Kalau begitu, akulah yang terlalu banyak urusan."

Saking gelisahnya hampir saja Thian-hong pangcu menangis, ia segera berteriak.

"Aku.. aku... kongcu, kau... kau jangan salah paham."

Sedari permulaan Dewi burung hong atau Bwee Giok jilang telah menganggap gadis tersebut sebagai adiknya, melihat kejadian itu, sambil tertawa merdu segera ujarnya.

"Engko Ling, masa engkau masih tak dapat melihatnya? Menghadapi persoalan yang ada dikolong langit, yang bisa 876 dilakukan, lakukanlah, kalau tidak bisa melakukan janganlah dilakukan kita tak boleh tak tahu gelagat, lagi pula bagi seorang perempuan tokh tak dapat selama hidup sampai tua selalu berada dalam perkumpulan."

Untuk pertama kalinya dari pancaran mata Thian-hong pangcu memperlihatkan rasa terima kasin-yang amat mendalam terhadap diri Bwee Giok Siang, namun tak sepatah kata pun yang diutarakan.

Seperti telah memahami akan sesuatu Gak In Ling segera tertawa, tertawanya penuh kepahitan karena ia teringat kembali akan dua orang gadis lainnya "Mari kita pergi "

Seru Bwee Giok Siang memecahkan kesunyian, tiga orang itu segera berangkat menuju kedepan bangunan rumah itu.

Empat pengkhianat telah dibekuk oleh anak buah perkumpulan Thian-hong pang, ketika semua yang menyaksikan kedatangan ketuanya, sorot mata mereka segera ditunjukan keatas wajah Thian-hong pangcu untuk menantikan keputusannya yang terakhir.

Dengan pandangan dingin Thian-hong pang cu menyapu sekejap kearah empat orang nenek tua itu, mulutnya tetap membungkam dalam seribu bahasa.

Sementara itu dari mulut lembah telah muncul tujuh delapan puluh orang banyaknya, orang yang berjalan dipaling depan bukan lain adalah Tongcu burung hong emas Liu Yau Ki.

Setibanya di tengah gelanggang dan ketika menyaksikan keadaan yang mengenaskan dari tiga orang pelindung hukum serta seorang tongcunya, dengan perasaan terjeblos katanya.

"Kemana perginya Tongcu burung hong kemala, Tiat-bin Popo?"

"Ia pergi mencari dirimu "

Jawab Thian-hong pangcu sambil menggeleng hambar.

Dari sakunya dia ambil keluar sebuah tanda perintah kumala yang berdasarkan merah dengan ukiran seekor burung hong putih, sambil diberikan kepada Liu Yau Kim katanya.

"Liu Tongcu, terimalah benda ini "

Melihat bendaitu, dengan terperanjat Liu Yau Kim segera jatuhkan diri berlutut diatas tanah, katanya.

"Pangcu, hamba tak berani menerimanya "

"Thian-hong pang sejak didirikan selalu bersatu padu menghadapi mara bahaya, ada senang dirasakan bersama ada bencana ditanggung berbareng, akan tetapi setelah terjatuh ketanganku ternyata ada oknum-oknum yang berani berkhianat serta bersekongkol dengan musuh, ini membuktikan bahwa aku memang tak mampu menduduki jabatan sebagai ketua, karena itu bagaimanapun juga kedudukan pangcu ini harus kuserahkan kepada orang lain-.."

Semua anggota perkumpulan Thian-hong pang yang mendengar perkataan itu menjadi ketakutan dan sama-sama jatuhkan diri berlutut diatas tanah, para anggota lainnya yang baru datang dan tak tahu urusan, ketika melihat rekan-rekannya pada berlutut dengan muka murung, mereka segera ikut jatuhkan diri berlutut.

Dengan air mata bercucuran Liu Yau Kim berkata.

"Sejak kecil pangcu sudah dianugerahi untuk mengepalai perkumpulan Thian-hong pang, garis kebijaksanaan pangcu selama ini adalah menolong kaum lemah dan menyayangi semua anggota perkumpulan bagaikan menyayangi diri sendiri, akan tetapi pangcu pun harus tahu dikolong langit banyak sekali terdapat manusia-manusia yang tak kenal budi, kalau kita mengambil mereka sebagai patokan, entah berapa banya manusia yang sungguh-sungguh baik-dikolong langit? Karena itu hamba harap pangcu suka menyayangi jerih payah cou-su kita dalam mendirikan perkumpulan kita dimasa lalu 878 dan mengasihani pula dalam perkumpulan kita, belum ada orang yang mampu meneruskan jabatan tersebut, sekalipun teCu sekalian harus menerima penderitaan dan siksaan, teecu semua tak akan berani melupakan budi kebaikan dari pangcu."

Semua anggota perkumpulan Thian-hong pang sama-sama mengucurkan air mata karena merasa terharu.

Gak In Ling merasa kagum sekali atas kebijaksanaan gadis itu, kendatipun ia belum pernah menyaksikan raut wajah aslinya, akan tetapi sekarang ia merasa betapa menariknya gadis itu.

Dua titik air mata jatuh berlinang membasahi pipi Thian-hong pangcu, ia menghela napas panjang dan ujarnya.

"cou-su generasi yang lampau terluka dan mati karena ada orang yang mengkhianati dirinya, sebelum ia menghembuskan napas terakhir beliau telah berpesan kepadaku akan sepatah kata, kalian tak akan tahu tentang hal itu."

Ia menyeka air matanya yang saat itu jatuh berlinang, sesudah memandang sekejap kearah semua anggota perkumpulannya dengan perasaan kasihan, ia berkata dengan sedih.

"Beliau berkata, pada saat orang lain mengkhianati dirimu, itulah waktunya bagimu untuk meninggalkan perkumpulan-"

"Pangcu kau kau tidak boleh mempercayai seratus persen, pesan terakhir dari Lo-pangcu yang dipengaruhi emosi "

Kata Liu Yau Kim dengan suara terisak.

"Tidak. aku mempercayai perkataannya seratus persen, sebab perkumpulan Thian-hong pang bukan harta kekayaan dari keluarga In kami, aku... aku sudah seharusnya cepat-cepat tinggalkan perkumpulan ini."

"Keluarga In ?"

Seru Liu Yau Kim dengan hati tertegun.

Tiba-tiba Thian-hong pangcu melepaskan kain cadar yang menutupi wajahnya, selembar wajah yang cantik jelita terpancang didepan mata semua orang, membuat para anggota perkumpulan Thian-hong pang menjadi tertegun dan termangu-mangu.

Diam-diam Dewi burung hong melirik sekejap kearah Gak In Ling, dengan ilmu menyampaikan suara katanya.

"Engko Ling, engkau sangat hok-ki, coba lihat Betapa cantiknya wajah gadis itu "

"Adik Siang,"

Tegur sang pemuda dengan alis mata berkenyit.

"Kenapa tidak kau lihat dulu dalam situasi apakah kita sekarang ini ? Kenapa sih engkau masih begitu nakal ?"

Melihat Gak In Ling tak senang hati, Bwee Giok Siang tidak berani banyak bicara, sambil mencibirkan bibirnya ia mengomel.

"Aku bicara demi kebaikanmu, sebaliknya engkau malah memaki aku.. IHmm Tak tahu diri..."

Dalam pada itu, dengan pandangan dingin Thian-hong pangcu telah menyapu sekejap Sekeliling tempat itu, katanya.

"Benar, Lo-pangcu adalah ibuku, aku In Hong Im menerima jabatan sebagai ketua tujuannya adalah untuk membalaskan dendam bagi kematiannya, kini dendam sakit hati sudah terbalas perkumpulan Thian-hong pang sudah bukan merupakan tempat tinggalku lagi, Liu Tongcu Sesaat sebelum ibuku meninggal dunia, ia telah berpesan bahwa perkumpulan kita hanya dapat diwariskan kepadamu, kendatipun aku telah mengundurkan diri dari perkumpulan Thian-hong pang, akan tetapi asal aku punya kesempatan dan perkumpulan kita mengalami musibah, setiap saat aku dapat membantumu dirimu. Nah terimalah bendaitu "

"Pangcu "

"Liu Tongcu, aku telah memperlihatkan wajah alisku dan menerangkan dulu duduknya persoalan, kenapa engkau masih belum menerima jabatan ini ? Sebenarnya apa maksudmu ?"

Liu Yau Kim dibuat apa boleh buat, terpaksa dia menjalankan penghormatan besar sebanyak Sembilan kali dan menerima tanda perintah tertinggi dari perkumpulan Thian-hong pangcu.

"Mulai hari ini perkumpulan Thian-hong pang akan dipimpin oleh Liu Pangcu,"

Ujar In Hong Im dengan Suara datar.

"Siau-moy ucapkan banyak terima kasih atas kecintaan dan kesetiaan saudara sekalian selama banyak tahun ini..."

Habis berkata ia memberi hormat keempat penjuru, lalu sambil berpaling katanya kepada Bwee Giok siang. Nona Bwee, mari kita berangkat "

"Aku melihat-disana ada air "

Kata gadis she-Bwee sambil tertawa.

"Benar, disitulah sumber air dari perkumpulan kita,"

Sahut In Hong im sambil mengangguk, kepada empat pengkhianat tambahnya.

"Kalian berempat telah melihat dengan mata kepala sendiri ?"

"Nona, engkau boleh bunuh diriku,"

Kata nenek berambut uban. In Hong Im tertawa dingin.

"Hmm Kalau aku bunuh kalian pada saat ini, tentu kalian akan mengatakan bahwa aku sedang bermain sandiwara, setelah kalian mati maka tampuk pimpinan akan kupegang kembali, karena itu aku tidak ingin membinasakan kalian, akan kusuruh kalian menyaksikan semua perkembangan ini dengan mata kepala sendiri."

Dengan rasa menyesal dan malu, empat orang penghianat tersebut tundukkan kepalanya rendah-rendah. Tanpa banyak bicara lagi In Hong Im berpaling kearah Bwee Giok Siang dan berseru.

"Mari kita berangkat "

Dia segera enjotkan badan dan berlalu dari situ.

Dewi burung hong atau Bwee Giok Siang serta Gak In Ling menyusul dari belakang, dalam sekejap mata tiga orang itu sudah lenyap dibalik hutan yang lebat diujung lembah itu.

Sepeninggalnya ketua mereka, Liu Yau Kim menghela napas panjang, serunya kepada semua anggota perkumpulan Thian-hong pang yang masih berdiri termangu-mangu.

"Pangcu telah pergi jauh, inilah ketidak beruntungan bagi perkumpulan kita."

Setelah berhenti sebentar, sambil berpaling kearah empat pengkhianat itu sambungnya lebih jauh dengan suara dingin.

"Setelah pangcu mengampuni jiwa kalian, akupun tak akan menyusahkan kamu berempat, akan tetapi selama kalian masih hidup dikolong langit dan dihati kalian masih ada perasaan seorang manusia aku harap kalian bisa bertobat dan banyaklah melakukan kebaikan-Nah Sekarang pergilah"

Bicara sampai disitu, ia tidak memperdulikan keempat orang itu lagi dan berlalu untuk menyelesaikan persoalan sendiri Sementara itu in Hong im yang berlalu dengan cepat, tidak selang seperti minum teh kemudian telah tiba disebuab tebing bukit, batu berserakan dimana-mana daripohon yang tinggi besar tumbuhlah tumbuhan lebat disekitar tempat itu.

Diatas tebing merupakan sebuah tanah datar, luarnya beberapa ratus tombak dengan sebuah kolam ikan yang besar berada ditengah lapangan-Sambil menuding air kolam itu, In Hong Im berkata dengan suara dingin kepada pemuda she Gak.

"Kalau mau cuci tangan, cucilah disana "

Dewi burung hong yang menyaksikan sikap gadis itu, dalam hati segera berpikir.

"Pada saat ini hatinya diliputi kesedihan, kalau sampai bertempur nanti ia pasti akan bertarung dengan sengit dan mengeluarkan segenap kemampuan yang dimilikinya, dalam keadaan begitu salah satu diantara kita pasti akan ada yang mampus ditempat itu, aku harus menunggu sampai hatinya tenang baru melangsungkan pertarungan, dengan demikian dia tak akan bertindak nekad "

Berpikir sampai disitu, ia lantas berkata.

"ooohh yaah Aku telah melupakan suatu masalah penting "

Sambil berpaling kearah In Hong Im serunya.

"Nona, barusan aku telah bersabar menunggu ketika engkau menyelesaikan persoalan perkumpulanmu, sekarang akupun ada urusan penting yang harus segera diselesaikan, dapatkan engkau menunggu aku sebentar ?"

"Silahkan "

Dewi burung hong tidak memperdulikan lagi diri Gak In Ling, Ia segera enjotkan badan dan berlalu dengan tergesa-gesa, seakan-akan ia benar-benar sedang menghadapi suatu urusan yang sangat penting.

In Hong Im mendengus dingin, ia berpaling dan terlihatlah Gak In Liog baru saja cuci tangan dan putar badannya,alis matanya kontan berkenyit setelah memandang sekejap kearah sekeliling tempat itu.

Dalam hati In Hong Im mendengus dingin, ujarnya dengan cepat.

"Bwee Giok Siang ada urusan penting yang hendak diselesaikan lebih dahulu."

"Dia pergi kemana ?"

"Urusan kalian sendiri dari mana aku bisa tahu ?"

Mendengar nada ucapannya tidak bersahabat alis mata Gak In Ling semakin berkenyit.

"Nona In "

Tegurnya.

"Kalau bicara kenapa tidak jelas ? Aku..."

"Tidak jelas ? Siapa suruh engkau banyak bertanya ?"

"Aku tokh tidak melihat kemana perginya, apa salahnya kalau kutanyakan kepada nona ?"

Bantah Gak In Ling dengan perasaan tidak puas.

In Hong Im.

merasakan pikirannya kalut dan tidak karuan, menyaksikan pula sikap Gak In Ling yang begitu dingin dan ketus terhadap dirinya, pikirannya yang sudah kalut semakin kacau, matanya kontan melotot besar, bentaknya.

"Aku tidak bersedia memberitahukan kepadamu "

Gak In Ling adalah seorang pemuda yang tinggi hati, melihat kesombongan gadis itu, ia segera tertawa dingin dan menjawab^ "Kalau begitu aku akan pergi mencari sendiri."

Sambil berkata ia segera menggerakkan tubuhnya dan berlalu.

Mula mula In Hong Im merasa tertegun, tiba-tiba ia putar badan dan menangis terisak dengan sedihnya.

Gak In Ling sendiri baru saja berjalan beberapa langkah, mendadak satu ingatan berkelebat dalam benaknya.

"Ia bersedih hati karena terkenang masa lampau, bisa dimaklumi kalau perkataan dan gerak geriknya kurang lebih menyenangkan hati, seandainya aku pergi dan dalam sedihnya ia ambil keputusan pendek. apa dayaku?"

Berpikir sampai disitu dia segera berpaling, tampaklah seluruh tubuh In Hong Im gemetar keras karena sedang menangis dengan sedihnya, namun sedikitpun tidak kedengaran suaranya..

Tanpa sadar Gak In Ling menghentikan langkahnya dan kembali kesisi In Hong Im, tegurnya dengan lembut.

"Nona In "

"Siapa yang suruh engkau memanggil diriku ?"

"Aku sendiri yang surah aku memanggil, karena aku tahu perasaan hatimu terhadap diriku."

In Hong Im merasa agak lega, akan tetapi Ia tetap berkata dengan suara dingin.

"Pada waktu itu aku mengira engkau sudah mati, karena itu aku berkata begitu."

Gak In Ling perlahan-lahan alihkan sorot matanya ketengah kolam, ia berkata dengan hambar.

"Mungkin Thian mengasihani diriku karena sakit hatiku belum terbalas, oleh sebab itu dia telah membiarkan aku hidup beberapa hari lagi."

"Beberapa hari lagi ?"

In Hong Im tak dapat menguasai diri lagi, mendadak ia putar badan dan menatap wajah pemuda itu dengan tajam.

Gak In Ling tarik kembali sorot matanya yang sayu, ketika pandangan matanya terbentur dengan sorot matanya yang hangat dan penuh rasa cinta itu, mendadak hatinya tercekat, buru-buru dia melengos kesamping.

"Jangan alihkan sorot matamu kearah lain-"

Seru In Hong Im dengan hati terasa pedih.

"kenapa kenapa engkau tidak sudi meresapi perasaan hatiku melalui pandangan mataku ini?"

Gak In Ling tidak jadi mengalihkan sorot matanya, ia menjawab dengan suara berat.

"Ketika pertama kali aku berjumpa dengan dirimu, aku telah dapat meresapinya."

"Apa yang berhasil kau resapi ?"

"Kebaikan hati dan ..."

"Dan apa ?"

Gak In Ling mundur selangkah kebelakang lalu menjawab.

"Engkau tidak ingin berpisah kembali dengan diriku "

"Tapi engkau... engkau telah meninggalkan aku "

Ujar In Hong Im dengan terisak.

"Benar, karena aku harus meninggalkan diri mu "

"Mengapa ?"

Perlahan-lahan Gak In Ling menengadah dan menatap wajah In IHong Imtajam-tajam, jawabnya.

"Pada waktu itu aku datang dengan hati penuh perasaan benci, aku mengetahui tentang usiaku sendiri karena itu aku tidak mengharapkan ada satu manusiapun yang merasa kasihan kepadaku, apa lagi mencintai diriku "

"Bagaimana mungkin engkau bisa mengetahui perasaan hatiku?"

"Karena akulah yang menciptakan benci "

"Tetapi, makin kau ciptakan kebencian, aku semakin mencintai dirimu,"

Ujar in IHong Im dengan lembut.

"sampai akhirnya sewaktu berada dibenteng Hui-in-cay, aku baru tahu..."

Mendadak paras mukanya berubah menjadi merah padam dan membungkam dalam seribu bahasa.

"Engkau baru benar-benar membenci diri ku ?"

Sambung Gak in Ling. Entah darimana datangnya keberanlan, tiba-tiba In Hong im berseru lirih dan menjatuhkan diri kedalam pelukan pemuda itu, bisiknya dengan suara cemas.

"Tidak Aku tidak membenci dirimu... aku hanya tahu mencintai engkan, cinta yang sedalam-dalamnya.."

Ia peluk pemuda itu semakin erat dan menempelkan bibirnya yang kecil mungil diatas bibir pemuda pujaan hatinya.

Gak In Ling merasa agak bimbang, ia belai rambutnya yang halus dengan penuh rasa sayang.

Apakah cinta ?

Atau kasihan ?

Untuk beberapa saat lamanya ia sendiripun tak tahu.

Mendadak In Hong Im melepaskan ciumannya dan merintih.

"Peluklah aku rangkullah aku kencang-kencang ooohh In Ling....... In Ling..."

Suaranya begitu lirih...

seakan-akan ia sedang berada ditengah kegelapan yang sunyi dan secara tiba-tiba berhasil menangkap seseorang.

Pada dasarnya dalam hati kecil Gak Ia Ling sendiripun telah muncul perasaan cintanya terhadap gadis itu, hanya saja selama ini dia belum dapat mengutarakannya, kini setelah In Hong Im merintih lirih, kobaran api cinta nyayang selama ini tersembunyi dalam hatinya segera menyala dengan hebatnya.

Ia peluk gadis itu kencang-kencang sahutnya.

"Enci In enci In...apakah aku harus menyebut dirimu sedemikan-..?"

Dalam waktu singkat In Hong Im merasa dunia seakanakan menjadi miliknya, dengan lembut dan lebih ia berkata.

"Tidak jangan memperdulikan aku lebih tua atau mudadari pada dirimu, panggil saja aku adik... ooohh engko Ling, panggillah ayo panggillah "

"Adik In-..,.. jangan menangis.. engkau tak usah menangis "

Bisik Gak In Ling samb il mencium pipinya .

"Aku tak dapat menguasahi diri, aku hendak mengeluarkan seluruh air mata yang kusimpan selama ini untukmu, dalam air mata itu penuh terdapat rasa cinta dan murung...."

"Adikku, kesemuanya telah berlalu "

Ujar Gak In Ling sambil mencium air matanya yang mengalir keluar.

"mulai hari ini, mungkin untuk selamanya aku tak akan meninggalkan dirimu lagi meskipun ilmu silatmu jauh lebih bagus daripada kepandaianku, akan tetapi aku merasa bahwa aku berkewajiban untuk melindungi engkau."

"Engkau tak boleh mengatakan mungkin, jawabanmu harus pasti, aku ingin engkau mengatakan kepadaku dengan yakin bahwa selamanya engkau tak akan meninggalkan diriku lagi."

Gak In Ling mengangguk, jawabnya dengan lembut.

"Baiklah untuk selamanya aku tak akan meninggalkan dirimu, asal engkau menurut dan tidak nakal."

In Hong Im menyusupkan kepalanya kedalam pelukan Gak In Ling, ia berbisik lirih.

"Selamanya aku akan menuruti perkataanmu, selamanya aku tak akan nakal "

"Kalau begitu janganlah menangis "

In Hong Im mengangguk. ia menyeka air matanya dengan ujung baju dan gadis itu benar-benar tidak menangis lagi. Gak In Ling merangkul tubuhnya dan duduk diatas sebuah batu besar, tanyanya lirih.

"Adik In, benarkah engkau sudah tidak mau mengurusi persoalan dari perkumpulan Thian-hong pang lagi ?"

"Menurut engkau, aku harus mengurusi atau tidak ?"

In Hong Im balik bertanya tanpa pikir panjang.

"Tentu saja harus mengurusi, sebab pihak perguruan rahasia dari Tibet sedang berusaha keras untuk melenyapkan perkumpulan Thian-hong pang dari muka bumi, pada saat itu 888 kalau tak ada orang yang memberi pertolongan, dari mana mereka mampu mempertahan diri ?"

"Apakah kau juga ikut mengurusi ?"

"Tentu saja "

"Tidak akan terpisah dengan aku ?"

"Berpisah pun untuk sementara waktu "

"Tidak Sementarawa ktu pun tidak diperkenankan."

"Paling lama juga cuma satu dua hari."

"Satu dua jam pun tidak boleh,"

Seru In Hong Im sambil mencibirkan bibirnya. Gak In Ling dibuat apa boleh buat, ia terpaksa ia menyanggupi.

"Baiklah Selamanya engkau boleh mengikuti diriku."

In Hong Im menjadi amat kegirangan, ia cium bibir Gak In Ling dan berseru.

"Hmm Kalau begitu mari kita urus bersama."

Pada saat itulah mendadak dari atas puncak tebing muncul Bwee Giok Siang, dengan wajah serius ia berseru.

"cepat Kalian Cepat datang kemari, empat Dewa telah datang..."

Buru-buru In Hong Im meninggalkan pelukan Gak In Ling, dengan wajah tersipu ia tundukan kepalanya rendah-rendah.

Dalam perkiraan Gak In Ling, gadis yang nakal itu pasti akan menggoda mereka, siapa tahu ia saksikan air muka Bwee Giok Siang berubah menjadi serius sekali, hatinya menjadi terperanjat, segera tanyanya.

"Empat Dewa dari manakah yang kau maksudkan ?"

"Dari perguruan rahasia "

Gak In Ling menjadi amat terperanjat, ia segera tarik tangan In Hong Im dan diajak berlalu dan situ.

"Ayo berangkat "

Tiga sosok bayangan manusia berkelebat lewat dengan Cepatnya meluncur kebawah tebing.

Untuk menuruni bukit hutan lebat itu bukan persoalan yang sulit bagi tiga orang jago lihay itu, daiam sekejap mata mereka sudah tiba disebuah bukit, sambil melepaskan Cekalannya di genggaman dua orang gadis itu, Gak In Ling seru.

"Ayo cepat, Adik In,, Engkau harus memberi petunjuk kepada semua anggota perkumpulan Thian-hong pang untuk menghindarkan diri, para jago dari perguruan rahasia memiliki ilmu sesat yang dahsyat, aku rasa mereka masih susah untuk menandingi, Liu Yau Kim baru saja memangku jabatan, belum tentu semua anak buahnya tunduk pada perintahnya, cepat ayo cepat pergi."

"Engko Ling "

Seru In Hong Im ragu-ragu.

"aku..."

"Asal hati kita bersih bagaikan bulan dan bintang, kenapa engkau mesti gengsi ?"

Tukas Gak In Ling dengan tegas. In Hong Ira menggigit bibirnya, seakan-akan telah ambil keputusan yang berat ia berseru.

"Baik Aku akan pergi dulu."

Setelah menatap sekejap dua orang itu tajam, ia segera enjotkan badannya dan berlalu dari situ.

Walaupun tiada ucapan lain yang diutarakan keluar, akan tetapi biji matanya yang jeli seakan-akan sedang memberitahukan kepada Gak In Ling agar jangan lupa dengan janji yang telah diberikan kepadanya.

Situasi yang mereka hadapi ketika itu memang amat serius dan tegang, namun Dewi burung hong atau Bwee Giok Siang 890 yang menyaksikan kejadian itu timbullah sifat nakalnya, sambil tertawa merdu godanya.

"Aduuuh... perkembangan dari nona ke adik, sungguh cepatnya bukan kepalang "

Merah padam selembar wajah Gak In Ling bentaknya.

"Sejak kapan sih engkau mulai nakal ? Ayo cepat kumpulkan orang-orangmu, tak mungkin pihak perguruan rahasia hanya mengirim keempat orang Pelindung hukumnya saja, mungkin pasukan besar mereka telah disiapkan di belakang!"

Bwe Giok Siang memperlihatkan muka setan dan menjulurkan lidahnya, kemudian menyahut.

"Baik, Lo-toa, masih ada perintah lain?"

Gak In Ling benar-benar dibikin apa boleh buat oleh kenakalan gadis tersebut, terpaksa sambil tertawa ujarnya.

"Tidak ada perintah lainnya. Hmm! Benar, lebih baik orang-orangmu jangan diperbolehkan masuk ke dalam lembah itu, jangan memberi kesempatan kepada pihak perguruan rahasia untuk mengirimkam bala bantuannya."

"Bagaimana dengan aku sendiri?"

Tanya Bwee Giok Siang dengan wajah serius.

"Perlukah aku masuk ke dalam...?"

Gak In Ling gelengkan kepalanya berulang kali.

"Engkau harus memimpin mereka, tentu saja tak boleh ikut masuk kedalam.."sahutnya.

"tidak, aku tidak ambil perduli, aku akan masuk ke dalam"

Jawabnya amat tegas dan menunjukkan betapa besarnya perhatian gadis itu atas keselamatan kekasihnya. Gak In Ling menjadi amat gelisah sekali, serunya.

"Bagaimana dcngan orang -orangmu itu? Bukankah mereka akan menjadi suatu rombongan yang tak berpemimpin !"

"Tentu saja aku dapat menemukan penggantinya yang akan mewakili diriku daiam memberi perintah, engkau tak usah kuatir, aku boleh masuk kedalam bukan ?"

Gak In Ling meoguatirkan pertaruogan bakal terjadi dalam Lembah dan tak berani ribut lebih jauh dengan gadis itu terpaksa berpesan.

"Baiklah! Lakukanlah sebaik-baiknya, akan tetapi engkau barus menemukan seseorang yang benar-benar punya kemampuan !"

Mendengar persetujuan dari pemuda itu, dengan wajah berseri-seri Bwee Giok Siang segera berlalu dari lembah itu, kecepatan gerakannya luar biasa, dalam sekejap mata bayangan tubuhnya telah lenyap tak berbekas, Gak In Ling gelengkan kepalanya berulang kali dan bergumam seorang diri.

"Meskipun racun yang mengeram dalatn tubuhku telah dipunahkan dan ilmu silatku memperoleh kemajuan yang pesat. akan tetapi jika dibandingkan dengan kepandaian mereka boleh dibilang masih selisih jauh sekali.."

Mendadak....dari tempat kejauhan berkumandang datang suara gelak tertawa dari Malaikat raksasa bermuka merah.

"Haaaahh....... haaaaahh.. haaaaahh siapa yang bilang begitu, selama hidup aku Malaikat raksasa paling pandang remeh orang yaog tak punya keberanian, meskipun engkau tahu bahwa kepandaianmu bukan tandinganku akan tetapi engkau berani menantang aku, dari sini aku sudah cukup merasa kagum terhadap dirimu.."

Diikuti terdengarlah suara Manusia bertato sembilan naga menyambung.

"Sungguh tak nygna engkau dapat mengagumi diriku akan teiapi juga terhadap dirimu Gak In Ling yang mendengar pembicaraan itu segera meloncat tujuh depa ke depan, dalam sekejap mata ia telah berjumpa muka dengan kedua orang jago itu.

Mereka berdua nampak tertegun sewaktu berjumpa dengan Gak In Ling, kemudian memberi hormat tegurnya.

"Kongcu, engkau hanya seorang diri berada disini ?"

"Dua orang nona telah pergi lebih dahulu dalam lembah "Apakah dalam lembah kedatangan musuh?"

Tukas Manusia bertato ssmbilau naga dengan cepat.

"Sedikitpun tidak salah, yang datang adalah empat pelindung hukum dari perguruan rahasia."

"Biarlah aku yang menemui mereka dan jagal bangsat-bangsat itu,"

Bentak Manusia bertato sembilan naga dengan alis berkenyit, Dengan langkah lebar ia segera berlalu ke luar lembah.

Malaikat raksasa bermuka merah sendiri mula-mula berubah hebat paras mukanya sesudah mendengar berita itu, kemudian hardiknya keras-keras.

"Tunggu sebentar, aku pernah bertemu dengan empat orang itu, engkau tak boleh pergi kesitu."

"Kenapa aku tak boleh pergi kesitu ?"

Tanya Manusia bertato sembilan naga sambil menghentikan langkah kakinya.

"Engkau tak akan mampu menandingi dirinya"

Kaia Malaikat raksasa bermuka merah dengan muka serius. Manusia bertato sembilan naga menjadi amat gusar.

"Engkau jangan pandang rendah diriku, kau ingin tahu buktinya ayo ikutilah aku !"

Habis berkata ia berlalu dengan langkah lebar.

Gak In Ling tahu bahwa Malaikat raksasa bermuka merah adalah seorang pria berjiwa ksatria yang tak sudi tunduk atau taklu kepada siapapun, sekarang ia bersikap begitu serius ini menunjukkan bahwa urusan bukanlah persoalan yang gampang, cepat-cepat ia menghardik.

"Manusia bertato sembilan naga, tunggu sebentar, siapa yang tahu akan keadaan lawan maka semua pertarungan akan dimenangkan, dengarkanlah dulu penjelasan dari Malaikat raksasa bermuka merah tentang asal-usul keempat orang itu, kemudian kita baru kesitu,"

Setelah berhenti sebentar ia berpaling ke arah Malaikat raksasa bermuka merah dan lalu berkata.

"Marilah, sambil berjalan kita sembari berbicara !"

Sejak mendengar akan diri empat orang pelindung hukum tersebut.

paras mnka Malaikat raksasa selalu diliputi keseriusan, sambil melanjutkan perjalanan dengan langkah lebar, ujarnya "Aku tidak tahu tentang asal-usul dari empat pelindung hukum tersebut, akan tetapi aku pernah menyaksikan senjata yang mereka gunakan."

"Senjata apa yang mereka gunakan ?"

"Setiap orang membawa sebuah tabung bambu besar yang berbeda warnanya, tabung itu panjangnya lima depa dengan tebal tiga cun."

Mendengar sampai disitu, Manusia bertato sembiilan naga segera tertawa terbahak-bahak.

"Haaaahh.. haaaaahh.. haaaaahh..rupanya engkau takut digebuk !"

Gak In Ling justru sebaliknya menjadi tercekat, ia tahu meskipun bambu adalah termasuk benda keras akan tetapi bukanlah baja, bila tidak ada alat rahasia yang menakutkan 894 tak mungkin Malaikat raksasa bermuka merah bakal jeri terhadap empat orang itu.

"Manusia bertato sembilan naga !"

Tegurnya.

"jangan mencela, dengarkan dahulu perkataannya !"

"Sewaktu aku sedang berjaga ular berjengger dulu, empat orang itu telah datang kelembah Ban-ku-kok dan menghadap ketua perguruan rahasia, mereka mengaku sebagai orang Tibet yang bersedia bekerja dibawah panji mereka, dan orang-orang itu mohon diberi kedudukan yang setimpal"

"Tiongcu dari perguruan rahasia segera menanyakan keistimewaan mereka dan dipersilahkan untuk mendemontrasikan dihadapannya, sebelum itu Tongcu tersebut telah menerangkan jia mereka berempat bersedia untuk mendengarkan perintah disalah satu bagian maka mereka tak usah menempuh bahaya, kalau tidak maka jika sampai mampus disitu janganlah menyalahkan orang. Ternyata keempat orang itu memilih jalan untuk menempuh bahaya."

"Bagaimana akhirnya ?"

Sela Manusia bertato sembilan naga tidak sabaran.

"apakah mereka mampus atau tidak ?"

"Kalau mampus tak mungkin mereka bisa datang kemari."

"Kehebatan apa sih yang dimiljki mereka dalam tabung bambu tersebut?"

Tanya Gak In Ling kemudian.

"Pada waktu itu aku hanya sempat menyaksikan kehebatan seorang Manusia berjubah merah dengan tabungnya yang berwarna merah, dibawah serangan kawanan mahluk beracun, bambunya di sapu kearah depan dan mernancarlah segumpal minyak yang diikuti menyalanya api hijau diempat penjuru, dalam sekejap mata beratus-ratus ekor binatang beracun telah mati terkapar, ketika perguruan rahasia yang melihat kehebatan itu telah mengangkat mereka sebagai pelindung "

Kalau lawan yang sedang dihadapi adalah seorang manusia yang memiliki tenaga dalam sangat tinggi, dan sekali pukul menghajar balik minyak tersebut, bukankah dia bakal mati karena senjata makan tuan...?"

Empat orang ini bukan saja memiliki senjata yang jahat, tenaga dalam yang mereka milikipun luar blasa sekali, kalau tidak.

ketua perguruan rahasia yang berhati licik, apakah tidak berpikir pula sampai kesitu ?"

"Perkataan ini masuk diakal juga .."

Sahut Gak in Ling sambil mengangguk.

"ayo segera kita kesana, mungkin mereka semua mati belum tahu akan kelihayan musuhnya...."

Ia sangat mengkhawatirkan keselamatan in Hong im, habis berkata ia bergerak lebih dulu masuk kedalam lembah.

Malaikat raksasa bermuka merah menyusul dibelakangnya, Manusia bertato sembilan naga segera lari disampingnya dan bertanya.

"Engkau tidak takut ?"

"Mati hidup apa perlunya mesti digirang atau disedihkan ? Aku hanya takut Gak kongcu tak tahu diri dan terkena dikecundangi kalau sampai ia terluka siapa yang akan mengurusi cewek-ceweknya ?"

"Huuuuhh.. Tak kusangka engkau tahu juga tentang soal cinta."

"Kalau aku mengerti soal cinta, sekarang aku tak akan hidup sebebas ini..."

Mereka sambil bicara sambil melanjutkan perjalanan, tanpa sadar Gak In Ling telah puluhan tombak jauhnya meninggalkan mereka berdua.

Setelah melewati semak belukar sampailah Gak in Ling ditengah lembah Ia melihat anak murid perkumpulan Thian-hong pang sedang mengepung seorang kakek berjubah merah, berambut merah dan berwajah bengis, ketika itu kakek tersebut sedang bertempur sengit melawan in Hong im, dari 896 gerak-geriknya sudah dapat diketahui bahwa ia adalah seorang tokoh silat yang luar biasa.

Tidak jauh dari gelanggang pertarungan berdirilah tiga orang kakek tua yang berusia sebaya, diantaranya terdapat seorang kakek berjubah hitam yang bermata cekung kedalam dan menyerupai tengkorak yang baru keluar dari kuburan.

Disamping kanan kakek itu berjubah hijau dan bercambang lebat, wajahnya mirip monyet,, sebaliknya kakek disebelah kiri memakai jubah jabu-abu, berwajah pucat dan badannya tinggi kurus seperti bambu.

Dalam genggaman mereka masing-masing mencekal sebuah tabung bambu yang sesuai dengan jubah mereka.

Walaupun mereka berada dalam kepungan namun air muka beberapa orang itu tetap tenang, matanya memancarkan sinar bengis dan jelas mereka tak pandang sebelah matapun terhadap musuh-musuhnya.

Gak In Ling mendekati garis depan, Ia melihat permainan telapak in Hong Im telah berhasil memaksa kakek berjubah merah itu terdesak hebat, akan tetapi dalam tiga empat jurus kekalahan tersebut masih sukar menjadi kenyataan.

Dipihak lain, Giok-hong tongcu yang kini menjabat sebagai ketua perkumpulan Thian-hong pang sedang pusatkan perhatiannya mengawasi tiga orang musuhnya untuk mencegah terjadinya sergapan.

Tiba-tiba kakek berjubah merah itu merobah gerakan tubuhnya, lalu membentak keras.

"Beranikah engkau mengadu tenaga dengan aku ?"

Meskipun In Hong im merasa tabung merah ditangan musuhnya mencurigakan dan kewaspadaannya telah ditingkatkan akan tetapi Ia masih belum mengetahui kegunaan dari senjata itu.

mendengar tantangan ia balaS membentak.

"Kalau memang begitu, Sambutlah dahulu pUkulan dari nonamU ini "

Dengan jurus angin berpusing menggoyangkan pohon Liu, telapak kanannya dengan menggunakan tujuh bagian tenaga dalam, ia kirim Satu pukulan ke depan, Sementara telapak kirinya melakukan Sergapan.

Rupanya Manusia aneh berjubah merah itu mempunyai tujuan yang lain, teriaknya keras-keras.

"Bagus sekali datangnya serangan itu ?"

Tabung merah bagaikan laksana kilat yang dialihkan ketangan kiri, tangan kanannya diayun ke depan melancarkan satu pukulan dengan tenaga sebesar dua belas bagian.

"Blaaaamm Ditengah benturan keras pasir dan debu beterbangan memenuhi angkasa.

In Hong im tergetar mundur dua langkah ke belakang, sedangkan manusia baju merah pun terdorong mundur dua langkah kebelakang.

Melihat kelihayan musuhnya, diam-diam kakek baju merah merasa bergidik, pikirnya.

"Perempuan ini memang sangat lihay. terutama sekali tenaga dalamnya yang begitu sempurna, jika harus bertempur satu lawan satu, aku masih bukan tandingannya...."

Berpikir sampai disini, rasa iri dan dengki muncul dalam hatinya, napsu membunuh semakin tebal menyelimuti wajahnya, Sengaja ia tertawa dingin menghina.

"Aku masih mengira Thian-hong pangcu memiliki kepandaian ilmu silat yang sangat mengejutkan hati ? Hmm. Tak tahunya cuma begitu saja, kalau begitu berita kosong dalam dunia persilatan tidak boleh dipercaya dengan begitu saja."

Berada dihadapan anak buahnya yang berjumlah begitu banyak, In Hong Im sudah merasa sangat malu, apa lagi setelah mengetahui kekasihnya berada disitu, dengan alis berkenyit ia membentak keras.

"Kurang ajar, kalau begitu sambutlah kembali sebuah pukulanku ini "

Dengan jurus memadam sungai menggali bukit, sepasang telapaknya sekuat tenaga didorong kearah musuhnya.

Manusia berjubah merah itu memang menghendaki lawannya berbuat begitu, melihat siasatnya termakan, ia menjadi sangat girang, bentaknya.

"Hmm Engkau anggap aku jeri kepadamu "

Telapak kanan didorong kedepan dengan tenaga yang seolah-olah penuh, dalam kenyataan serangan tersebut hanya suatu pukulan kosong belaka, tujuannya adalah agar In Hong Im mengerahkan segenap kekuatannya sehingga tidak memiliki tenaga untuk melindungi diri kembali.

Mimpipun Gak In Ling tak mengira kalau In Hong Im sebagai ketua suatu perkumpulan yang berpengalaman luas, kini bisa terpengaruh oleh emosi, dengan gelisah bentaknya.

"Adik Hong, tenangkanlah hatimu "

Akan tetapi semuanya telah terlambat, tampak bayangan merah berkelebat lewat, tabung merah itu sudah melayang ditengah udara, sambil mengayunkan tabung bambunya.

"Budak ingusan, engkau anggap aku bisa dipermainkan dengan begitu saja ?"

Segumpal minyak memancar dari empat penjuru dan mengurung sekujur badan in IHong lm, jelas minyak tadi dilepaskan oleh tenaga dalam yang kuat.

Ketika minyak itu terhembus angin berkobarlah jilatan api hijau yang mengurung selurus bumi seluas tujuh tombak.

membuat orang menjadi sukar untuk menghindarkan diri.

Ketika dihardik oleh Gak in Ling tadi, pikiran in Hong im segera menjadi tenang, akan tetapi tenaga pukulan sudah dilepaskan dan tak mungkin lagi baginya untuk mengempos tenaga dan menghindarkan diri, dalam hati ia menghela napas panjang dan berpikir.

"Sudahlah, sungguh tak kusangka aku In Hong Im bakal mendapat nasib yang begini jelek."

Disaat yang kritis itulah mendadak in Hong im merasakan pinggangnya menjadi kencang diikuti tubuhnya melayang tujuh delapan tombak ke tengah udara, jeritan-jeritan ngeri berkumandang tiada hentinya dari arah belakang.

In Hong Im segera menenteramkan hatinya ia mendengar Gak in Ling sedang mengomel.

"Engkau tokh seorang jago kawakan yang sudah sering menghadapi pertempuran, kenapa hari ini engkau gampang terpengaruh oleh emosi ? coba lihat, gara-gara engkau banyak orang yang kena dilukai, kalau aku tidak cepat-cepat turun tangan, mungkin engkaupun bakal terluka."

Meskipun ucapannya bernada keras, akan tetapi penuh mengandung rasa perhatiannya yang besar.

In Hong im berpaling kebelakang, tampaklah tujuh delapan orang anak buah perkumpulan Thian-hong pang sedang bergulingan diatas tanah dengan api membakar sekujur badannya, keadaan benar-benar mengerikan sekali.

Dengan rasa kecewa dan menyesal In Hong im berpaling dan memandang sekejap kearah ke arah Gak In Ling, mendadak ia menangis terisak-isak.

Sebenarnya dia adalah seorang gadis yang lembut dan gampang menimbulkan rasa iba bagi orang lain, setelah menangis keadaannya makin mengenaskan sekali.

Gak In Ling tahu dalam keadaan demikian ia tak boleh menegur secara kasar, sambil menyeka air matanya dengan ujung pakaian, ia berbisik lirih.

"Jangan menangis, disini terdapat banyak sekali anak murid perkumpulanmu, mereka bakal mentertawakan dirimu."

"Engkau tidak marah?"

Tanya Im Hong im dengan suara sesengguk. Gak In Ling gelengkan kepalanya berulang kali.

"Aku memang tidak marah, janganiah menangis, asal dikemudian hari engkau bisa tenangkan hati menghadapi musuh itu sudah lebih dari cukup, kalau tidak mungkin jiwamu akan selalu terancam oleh mara bahaya..."

"Aku tentu akan mendengarkan perkataan dari engko Ling "jawab in Hong Im sambil mengangguk.

"Nah Sekarang tunggulah disini, biarlah aku yang pergi menghadapi dirinya"

"Kita hadapi bersama ?"

Gak In Ling gelengkan kepalanya, dengan-tegas ia berkata.

"Dia hanya seorang, engkau boleh bayang-bayangi aku dari samping kalangan, ikutilah perkataanku "

Dengan lembut In Hong im mengangguk, bisiknya dengan penuh perhatian-"Engkau harus berhati-hati."

Gak In Ling mengangguk, ia kembali ke hadapan manusia aneh baju merah dan berdiri kurang lebih delapan depa dihadapannya, ia berkata dengan suara dingin.

"Saudara, engkau benar-benar seorang manusia yang licik "

"Hmm Terima kasih... terima kasih engkau terlalu memuji "

"Aku ingin sekali meminta petunjuk akan api racunmu yang sangat lihay itu "

"Siapa namamu ?"

Gak In Ling tertawa dingin,jawabnya.

"Aku bernama Gak In Ling "

"Apa ? Engkau adalah yang bernama Gak In Ling "

Seru Manusia aneh baju merah dengan wajah tertegun.

"keparat.

"engkaulah yang menjadi bibit gara-gara. membuat empat perempuan aneh dari daratan Tionggoan saling bertengkar, sudah lama aku punya maksud untuk membinasakan dirimu, mari mari mari aku tidak akan membuat engkau menjadi kecewa."

Menggunakan kesempatan dikala manusia aneh sedang berbicara, Gak in Ling menghimpun segenap kekuatan tubuhnya kedalam telapak.

ia tahu manusia aneh baju merah itu pasti tidak akan menduga kalau ia berani menyerang dengan sekuat tenaga tanpa meninggalkan sisa kekuatan untuk melindungi diri mendadak bentaknya.

"Sambutlah sebuah serangan dari siau-ya mu ini "

Denran jurus darah mengalir setinggi bukit secepat kilat ia melancarkan satu pukulan dahsyat kedepan.

Manusia aneh baju merah itu tidak menyangka kalau Gak In Ling berani melancarkan serangan dengan sekuat tenaga kendatipun ia mengetahui akan kelihayan api racunnya, tangan kanan segera diayun kemuka dan serunya sambil tertawa tergelak.

"Sudah lama aku dengar orang berkata bahwa tenaga dalam yang dimiliki Gak In Ling masih memadahi kelihayan dari empat orang gadis, aku pikir ucapan tersebut pasti tidak akan keliru aku tak akan jeri menghadapi dirimu."

Sehabis berkata demikian dengan jurus angin puyuh membuyarkan awan, dia balas melancarkan satu pukulan kearah Gak In Ling.

"Blaaamm "

Ditengah getaran keras pasir dan debu beterbangan memenuhi seluruh angkasa.

Manusia aneh baju merah itu terpental sejauh tiga depa lebih dari tempat semula, dada menjadi sesak dan darah bergolak kencang, sambil menahan rasa sakit pada lengan kananya ia berseru didalam hati .

"Aku sudah tertipu oleh si keparat cilik itu "

Gak In Ling sendiripun terpukul mundur satu langkah kebelakang, diam-diam ia merasa terperanjat, tetapi setelah berhasil merebut kedudukan diatas angin ia tak sudi memberi kesempatan kepada musuhnya uatuk ganti napas kembali bentaknya.

"Sambutlah lagi sebuah pukulan siau-ya "

Secara beruntun ia melancarkan tujuh buah pukulan berantai, bayangan telapak memenuhi angkasa membuat manusia aneh baju merah tidak memiliki kesempatan untuk melepaskan serangan balasan-Tiga orang jago lainnya sewaktu menyaksikan Lo-toa mereka menderita kerugian besar, hawa amarah dan rasa cemas menyeliputi perasaan dalam hatinya, tanpa sadar mereka bergeser maju kedepan, seakan-akan mereka telah siap untuk turun tangan-Tiba-tiba terdengar suara bentakan nyaring berkumandang datang.

"Apakah kalian bertiga masih kenal dengan aku Bwee Giok Siang ?"

Tiga orang manusia aneh itu menengadah ke atas, paras muka mereka tiba tiba berubah hebat.

"Engkau mau apa ?"

Seru manusia aneh baju hitam.

Dewi burung hong atau Bwee Giok Siang melirik sekejap kearah Gak in Ling yang sedang bertempur, setelah mengetahui bahwa ia berhasil menguasai keadaan dan untuk sementara tidak terancam bahaya, dengan lega hati katanya.

"Untuk sementara waktu nonamu tak akan berbuat apa-apa, akan tetapi akupun berharap agar kalian bertiga jangan sembarangan bergerak."

Baru saja Bwee Giok Siang menyelesaikan kata-katanya, mendadak terdengar manusia berjubah merah itu mendengus dingin.

"Hmm Siapakah yang melepaskan jarum beracun ?"

"Duuukk Blaaaamm Manusia aneh berjubah merah itu menjerit keras, tahu-tahu tubuhnya mencelat sejauh satu tombak lebih karena terhajar oleh pukulan dahsyat dari Gak in Ling.

Tiga orang manusia aneh lainnya menjadi naik pitam dan gusar sekali setelah menyaksikan kejadlan itu, serunya dengan penuh marah.

"Kalian manusia-manusia kurcaci yang tidak tahu diri, berani benar bertindak kurangajar kepada kami.... IHmm Rasakanlah kehebatan kami ini.. kujagal kalian semua"

Tiga batang tabung bambupada saat yang bersamaan menyapu kearah tiga penjuru yang jauh berbeda satu sama lainnya, pancaran air berwarna hitam, kabut berwarna abu-abu dan bubuk berwarna hijau dengan bercampur baur menjadi satu bersama-sama meluncur kearah depan-Dewi burung hong atau Bwee Giok Siang yang menyaksikan kejadlan itu menjadi amat terperanjat, segera teriaknya.

"cepat mundur, air racun, kabut abu-abu dan makhluk beracun itu amat keji, siapa terkena dia bakal mampus "

Tetapi sayang gerak-gerik para jago dari perkumpulan Thian-hong pang tidak begitu cepat tenaga dalamnya yang mereka miliki pun tidak mampu menandingi ketiga orang jago mereka, jeritan-jeritan ngeri yang menyayatkan hati segera berkumandang tiada hentinya, tiga empat puluh orang sama-sama roboh bergelimpangan diatas tanah dalam keadaan tak bernyawa lagi.

Hawa amarah yang berkobar dalam dada tiga manusia aneh tersebut sukar dikendalikan lagi, tatkala dilihatnya masih ada jago-jago yang berhasil lolos dari cengkeraman mereka, 904 ditengah teriakan dan bentakan-bentakan yang memekikan telinga mereka siap melancarkan serangan mematikan kembali untuk membasmi musuh-musuhnya.

Suasana menjadi amat tegang dan disetiap saat maut akan mencabut kembali nyawa-nyawa manusia tak berdosa Disaat yang amat kritis dan mengerikan itulah, mendadak terdengar suara gelak tertawa yang memekikkan telinga berkumandang memecahkan kesunylan.

"Haaaahh.... haaaahh.. haaaaah.. kalau kalian bertiga tidak menghentikan serangan, jangan salahkan kalau aku akan kirim kalian semua untuk pulang ke akhirat "

Empat manusia aneh itu asalnya adalah saudara sekandung, akan tetapi berhubung watak mereka aneh dan eksentrik, meskipun jarang bicara akan tetapi hubungan bathin mereka akrab sekali.

Mendengar teguran tersebut semua orang menjadi amat terperanjat dan segera mengalihkan sorot matanya kearah mana berasalnya suara teguran tersebut.

Tiba-tiba, tiga orang manusia aneh itu menjerit tertahan karena kagetnya.

"Siapakah yang telah datang sehingga mengejutkan hati tiga manusia aneh yang berarti kejam itu ?"

Bagaimana nasib Gak In Ling, Bwee Giok Siang, In Hong Im dan segenap anak murid perkumpulan Thian-hong pang yang berada dalam ancaman maut?

Untuk mengetahui kisah selanjutnya, ikutilah.

Telapak Setan bagian kedua.

TAMAT

Tiraikasih WEBSITE

http.//kangzusi.com

Tiraikasih WEBSITE

http.//kangzusi.com

Baca Juga: Ular Belang Putih 2

Baca Juga: Bara Maharani Khu Lung

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert