Ceritasilat Novel Online

Telapak Setan 8

Eps 8 Telapak Setan - Khu Lung Tjan Id

Baca online Telapak Setan - Khu Lung Tjan Id

Cersil Telapak Setan - Khu Lung Tjan Id.

"Bila Tiongcu ingin memberi pahala, maka aku hanya mengharapkan pengampunan bagi jiwa ku."

"Aku rasa bukan itu saja. Nah Sekarang engkau boleh keluar dengan mengikuti jalan rahasia tersebut, kalau ada jalan lewat tembusi saja terus, maka akhirnya engkau akan sampai ditempat yang kumaksudkan."

"Setelah bertemu dengan mereka, apa yang harus kukatakan ?"

Nafsu membunuh melintas diatas wajahnya, dengan seram ia menjawab.

"Katakan saja bahwa Gak In Ling telah di kurung diatas tebing Wa-cu-gay "

"Tiongcu sudah membuat persiapan disana?"

"Aku percaya baik engkau maupun mereka kurasa jauh lebih paham daripada aku sendiri, buat apa mesti banyak bertanya lagi ?"

"Kalau begitu aku mohon diri lebih dahulu "

Dengan langkah lebar ia berlalu dari situ. Sepeninggalnya Ngo-gak Siu-kun, Perempuan dari Tibet membopong Gak In Ling kedalam pelukannya dan berjalan menuju kepintu, sambil berjalan ujarnya tertawa.

"Sungguh tak kusangka engkau mempunyai kegunaan yang begitu besar."

Ia berhenti sebentar, kemudian berseru tertahan dan tertawanya.

"Aaaahh Rupanya wajahmu benar-benar sangat tampan, tidak aneh kalau Dewi burung hong begitu kesemsem dengan dirimu,"

Sambil tertawa cekikikan ia segera cium pipi pemuda itu, dengan penuh bernafsu.

Gak ln Ling mendongkol bercampur gemas, namun pada saat ini ia tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menahan rasa dongkolnya didalam hati....

-oo0dw0oo-Batu hitam menonjol tinggi keatas, bersusun dan bertumpuk-tumpuk sehingga menyelimuti seluruh jagad, disitu tak ada pohon, juga tak ada rumput, semuanya tandus dan menyeramkan.

Awan putih bergerak diudara.

kabuttipis bagaikan asap menyelimuti bawah tebing, di-tengah kesunyian terasalah penuh mengandung nafsu membunuh yang tebal.

Inilah yang dinamakan tebing Wan-ciu-gay, seperti namanya monyet-monyetpun sukar untuk mendaki keatas bukit tersebut, dapat dibayangkan betapa berbahayanya tempat itu.

Diatas puncak tebing terdapat sebuah tonjolah batu yang menjulang ketengah udara, dengan tenang Gak In Ling duduk disana, empat buah rantai besi yang amat besar masing-masing merantai lengan dan kakinya, membuat pemuda itu mampu mengerahkan tenaga.

Padahal rantai itu sama sekali tak ada gunanya, kerena sejak untuk kedua kalinya Gak In Ling menggunakan jurus Hujan darah menggenangi jagad, tenaga dalam yang dimilikinya masih belum pulih kembali.

Sengatan hawa panas seharian penuh membuat wajah Gak In Ling yang putih terbakar menjadi hitam kemerah-merahan.

Memandang sang surya yang mulia tenggelam diufuk barat, diam-diam Gak In Ling berdoa dalam hatinya.

"Semoga Thian mengasihani umatnya dan jangan dibiarkan mereka datang kemari...."

Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki manusia berkumandang datang, serentetan suara yang kasar segera berteriak.

"Hei.. keparat cilik,.engkau lapar tidak ?"

Gak In Ling menengadah dan memandang sekejap kearah dua orang pria kekar itu, kemudian sambil tertawa dingin jawabnya.

"Kalau aku iapar, aku bisa memanggil dirimu "

"Hmm Apakah kami khusus melayani kebutuhanmu ?"

Seru pemuda yaag ada disebelah kanan.

"Kalau begitu kalian tak usah mengurusi diriku lagi."

"Tapi kami hendak mengawasi dirimu."

Teriak pria yang ada disebelah kiri dengan gusar. Gak In Ling segera tertawa dingin.

"Apakah kalian percaya mempunyai kemampuan untuk berbuat begitu?"

Dua orang pria itu segera maju selangkah kedepan, katanya.

"Jadi engkau hendak mencoba?"

"Haaaahh haaaaahh haaaaahh.... meskipun aku sudah dirantai disini, namun aku masih tetap tak pandang sebelah matapun terhadap kalian berdua."

Mendengar ucapan ini, dua orang pria tersebut menjadi gusar sekali, mereka membentak keras dan bersama-sama menerjang kedepan, tangan mereka secepat kilat menyambar rantai yang membelengu kaki pemuda itu.

Dalam keadaan seperti itu, walaupun ilmu silat Gak In Ling terganggu dan tak bisa dipergunakan, akan tetapi jurus serangannya masih utuh.

Melihat datangnya ancaman, sepasang kaki segera ditarik kebelakang, lalu dengan jurus burung hong mematuk ular ia tendang dada kedua orang pria itu sehingga menjerit kesakitan, namun mereka masih tetap mencekal rantai kakinya Seorang memegang sebuah rantai, dua orang pria itu tertawa seram dan berseru.

"Tiongcu telah berpesan, agar ketiga orang dayang itu merasa kasihan terhadap dirimu, terpaksa kita harus memberi sedikit pelajaran kepadamu. Nah Lo-Thio. mari kita tarik kakinya"

Dua orang itu segera rentangkan kaki pemuda she Gak itu dan siap menariknya.

"Hm-m Kalian masih belum pantas untuk berbuat begitu,"

Serentetan suara dingin berkumandang datang.

Dua orang pria itu segera berpaling mereka rasakan matanya menjadi silau dan tahu-tahu dihadapan mereka berdua telah berdiri seorang perempuan berusia empat puluh tahunan yang berdandan kraton, agung dan cantik sekali.

"Siapa engkau?"

Tegur pria tersebut.

"Hmm Tanya saja kepada raja akhirat..."

Sambil berkata perempuan cantik itu ayunkan telapaknya dan tanpa mengeluarkan sedikit suara pun dua orang pria tersebut mencelat kedalam jurang.

Serangan itu benar-benar luar biasa dan membuktikan bahwa kepandaiannya lihay sekali sebab kedua orang pria tadi tidak sempat menjerit kesakitan sebelum ajalnya tiba.

Gak In Ling sendiri dengan termangu-mangu memandang keatas wajah perempuan cantik yang bermuka dingin itu, ia tak tahu apa yang hendak dilakukan perempuan tadi atas dirinya hal ini membuat dia merasa amat tidak tenteram.

Perlahan-lahan Perempuan cantik berdandan kraton itu maju kedepan, setelah memutuskan tantai yang membelenggu kaki tangan Gak ln Ling, ujarnya dengan dingin.

"Berdiri"

Perlahan -lahan Gak In Ling bangkit berdiri, ujarnya dengan hambar.

"Kalau kulihat dari sikap nyonya, dapat ku ketahui bahwa maksud kedatanganmu bukanlah untuk menyelamatkan jiwaku."

Wajah perempuan cantik itu agak berubah akan tetapi segera lenyap kembali, tegurnya dengan dingin.

"Kenalkah engkau dengan seorang perempuan yang bernama Bwee Giok Siang...?"

Gak In Ling tertegun.

"Kenapa engkau ajukan pertanyaan itu?"

"Oooh....jadi engkau kenal dengan dirinya ?"

Seru Perempuan cantik itu dengan napsu membunuh menyelimuti seluruh wajahnya. Gak In Ling mengangguk.

"Bukan saja kenal, dia adalah isteriku "

"Bagus,jawabanmu itu sama artinya dengan kau mengumumkan kematian bagi dirimu sendiri"

"Siapakah engkau ?"

Tanya Gak In Ling dengan hati bergetar keras.

"Suhunya Bwee Giok Siang "

Jawab perempuan cantik itu sambil melancarkan sebuah pukulan kearah depan.

Ketika mendengar bahwa orang ini bukan lain adalah gurunya Dewi burung hong Bwee Giok Siang, Gak In Ling semakin tertegun, pikirnya dengan hati keheranan.

"Bukankah Bwee Giok Siang mengatakan bahwa gurunya telah meninggal. Sekarang mengapa hidup kembali? Dibalik persoalan ini pasti ada hal-hal yang tidak beres, atau mungkin ia mengetahui urusanku dengan Bwee Giok Siang.."

Tatkala Perempuan cantik itu menyaksikan wajah Gak In Ling menunjukan kebingungan, ia mendengus dingin, katanya kembali.

"Urusanmu dengan anak Siang itu telah ku ketahui semua "

"Tapi aku rasa kedatangan Locianpwee bukanlah untuk menyelamatkan jiwa boanpwe "

"Sedikitpun tidak salah, aku datang kemari untuk membinasakan dirimu "

"Membunuh aku ? Antara aku orang she Gak dengan Locianpwee tokh tak pernah terikat oleh dendam ataupun sakit hati ?"

"Gara-gara engkau maka anak Siang telah kehilangan semangat untuk melakukan perintah yang kuserahkan kepadanya, selama engkau belum mati itu berarti selamanya pula ia tak akan melakukan perintahku, oleh sebab itu aku rasa harus melenyapkan dirimu dari muka bumi."

Satu ingatan berkelebat dalam benak Gak In Ling, ia tertawa dan menjawab.

"Adik Siang amat mencintai diriku, bila aku mati diapun akan mengiringi kematianku, pada saat itu bukanlah Locianpwee akan mengalami kerugian yang jauh lebih besar ?"

Perempuan cantik itu segera tertawa dingin..

"Heeehh.... heeeeehh heeeeehh seandainya kukatakan bahwa engkau mati ditangan para jago dari daratan Tionggoan, bisakah kau bayangkan apa yang hendak dia lakukan ?"

Serunya.

Mendengar perkataan itu Gak In Ling merasa amat terperanjat, ia tahu bahwa Bwee Giok siang atau Dewi burung hong adalah seorang gadis berwatak keras dan berangasan, seandainya ia mendengar bahwa dirinya mati ditangan para jago dari daratan Tionggoan, niscaya dia akan bersumpah untuk membalas dendam bagi kematiannya dan akibatnya pasti sukar dibayangkan, -oo0dw0oo-Gak In Ling termenung, waktu berlalu dengan cepatnya dalam keheningan dari bawah bukit berkelebat pula bayangan tandu dari Tionggoan Tibet, akan tetapi dalam sekejap mata telah lenyap kembali.

Tampak Perempuan cantik itu menengadah dan bertanya sambil tertawa.

"Bagaimanakah dengan siasatku ini ?"

"Locianpwee, rencana itu jauh berada diluar dugaanku akan tetapi sekali pun engkau tidak berbuat demikian,"

"akupun tak dapat hidup lebih dari tujuh hari lagi, adik Siang pun mengetahui juga akan hal ini."

"Maksudmu, engkau sudah tidak memiliki daya kekuatan untuk melawan?"

Seru Perempuan cantik itu sambil maju kedepan.

"Demikianlah kenyataannya "

Dalam hati Perempuan cantik itu segera berpikir.

"Paras muka orang ini benar-benar memikat hati, tidak aneh kalau anak Siang begitu mencintai dirinya, untung usianya tinggal tujuh hari lagi, sekalipun aku tidak membinasakan dirinya, diapun bakal mampus sendiri, dengan begitu aku pun tak usah malu terhadap anak Siang."

Berpikir sampai disitu ia lalu segera berkata.

"Loncatlah sendiri kebawah tebing dibelakang tubuhmu "

Dengan pandangan tawa Gak In Ling menyapu sekejap kearah belakang tubuhnya, kecuali kepedihan tiada perasaan takut yang tercermin diatas wajahnya, ia menengadah dan menjawab.

"Locianpwee, apakah engkau bersedia mengabulkan sebuah permintaanku?"

"Engkau hendak mengulur waktu ?"

Perempuan cantik itu melotot besar. Gak-In Ling gelengkan kepalanya, putar badan dan berjalan menuju ketepi tebing, sambil berjalan katanya.

"Kalau memang begitu-ya sudahlah " . Tubuhnya dengan cepat mencapai tepi tebing dan siap loncat turun kedalam jurang. Perempuan cantik itu merasakan hatinya tercekat, tiba-tiba bentaknya keras.

"Berhenti, katakanlah"

Tanpa berpaling Gak In Ling menjawab dengan tawa.

"Aku hanya berharap Locianpwee berdiri sebagai seorang angkatan tua agar bersedia menyampaikan kepada dirimu serta dua orang gadis lainnya bahwa Malaikat suci dari lima bukit Yap Thian Leng tak bisa dipercaya "

Tiba-tiba ia enjotkan badan dan meloncat turun kedalam jurang.

Tiada ada jeritan kaget, juga tiada kata yang menyesal, semuanya berlalu dalam keheningan dan kesunyian.

Perempuan cantik itu berdiri menjublak, ia bergumam seorang diri.

"Dikemudian hari anak Siang pasti tidak dapat memaafkan diriku, selama-lamanya takkan memaafkan diriku seperti pula aku-selalu merindukan dirinya, selama hidup tak dapat melupakan dirinya."

Dibawah tebing berkelebat lewat seekor burung hong tanpa mengeluarkan sedikit suarapun, burung hong itu adalah milik Gadis suci dari Nirwana..

Rupanya burung hong itu-dikendalikan seseorang dan rupanya orang yang berada diatas punggung burung hong tadi telah mengetahui bahwa diatas tebing hadir seorang tokoh sakti yang memiliki ilmu silat sangat lihay, burung hong itu tidak langsung terbang keangkasa, melainkan menyelinap dari bawah tebing dan menjauhi tempat itu, dalam sekejap mata lenyap diujung Langit.

Tiba-tiba Perempuan cantik itu yang berwajah agung itu menengadah keatas, mula-mula ia nampak terperanjat lalu girang, setelah itu dengan penuh kegusaran gumannya.

"Keparat dari mana yang begitu bernyali berani mencari gara-gara dengan diriku... Hmmnn"

Ia segera enjotkan badannya siap mengejar kearah mana bayangan burung hong itu melenyapkap diri. Pada saat itulah dari atas tebing berkumandang datang suara seruan seseorang dengan suara yang merdu.

"Adik Lin, buat apa engkau mesti bersitegang dengan anak-anak ?"

Suaranya lembut dan sedap didengar.

Paras muka perempuan berdandan agung itu berubah hebat dan segera berpaling, tampaklah seorang sastrawan berusia empat puluh tahunan berdiri kurang lebih lima depa dihadapannya..

"Engkau belum mati?"

Teriak perempuan itu girang bercampur gusar. Sastrawan berusia setengah baya itu tertawa.

"Hahaha, kalau aku telah mati maka salah paham yang terjadi pada empat puluh tahun berselang selamanya tak bisa dyelaskan oleh siapapun."

Pada saat ini Perempuan cantik itu sudah dapat mengatasi perasaan emosinya, ia tertawa dingin dan berseru.

"Salah paham? Engkau hendak membohongi siapa ? Dalam peristiwa yang terjadi empat puluh tahun berselang, bukan hanya engkau seorang yang mengetahuinya, buat apa engkau jual mahal?"

"Sedikitpun tidak salah, pada waktu itu dalam kalangan hadir pula engkau serta tuan rumah tempat itu."

Berbicara sampai disitu matanya menyapu sekejap kebawah tebing, seakan-akan sedang menciri sesuatu.

"Mungkin masih ada satuorang yang tidak kau perhitungkan pula."

Seru Perempuan cantik itu dengan ketus.

"Orang itu sudah mati, buat apa mesti diperhitungkan lagi?"

"Apa ?"

Perempuan cantik itu terperanjat.

"engkau katakan bocah berusia belasan tahun yang hadir di kalangan pada waktu itu telah dibunuh mati ?"

"Benar, ia tidak seharusnya melihat peristiwa itu dan tidak seharusnya punya nama besar dalam dunia persilatan, karena orang itu takut kalau sampai ia menyiarkan apa yang dilihatnya kedalam dunia persilatan, maka mau tak mau dia harus melenyapkan pula dirinya dari muka bumi."

Dari balik mata Perempuan cantik yangjeli memancar keluar sorot mata yang sangat tajam gumamnya.

"Kwee Cay In.? engkau benar keji"

"Tetapi ia tidak sekeji dirimu "

Tertegun perempuan cantik itu, mendadak ia tertawa seram dan menyambung.

"Sedikitpun tidak salah, aku memang keji, engkau mau apa ?"

"Ia membinasakan sang ayah dan engkau membunuh sang anak "

Merah padam wajah perempuan cantik itu, mendadak bentaknya.

"Rupanya engkau cari mampus "

Dengan jurus Hong-wu-cing-beng atau burung hong menari ditengah cahaya hyau, ia lancarkan satu pukulan kearah sastrawan berusia pertengahan itu.

Serangan itu meluncur datang secepat sambaran kilat namun sedikitpun tidak menimbulkan suara, segulung tenaga tekanan yang tak berwujud langsung menghantam dada sastrawan tadi.

Rupanya sastrawan berusia penengahan itu tahu lihay, wajahnya berubah dan buru-buru melayang empat tombak jauhnya dari tempat semula, tidak menunggu perempuan itu buka suara, ia telah berseru lebih dahulu.

"Benarkah, aku tokh tidak salah berbicara?"

"Sejak kapan kau punya anak ?"

Bentak perempuan cantik itu sambil menghentikan serangannya. Sastrawan berusia pertengahan itu gelengkan kepalanya.

"Sejahat-jahatnya harimau tak akan menerjang anaknya sendiri, yang kumaksudkan tentu saja bukan puteranya sendiri melainkan putera dari bocah cilik yang pada saat itu hadir dikalangan."

"Sungguhkah perkataanmu iiu ?"

Teriak Perempuan cantik tadi dengan hati terperanjat. Hawa gusar lenyap tak berbekas, mengikuti terlintasnya rasa kaget diatas wajahnya.

"Haaaaahh haaaaaahh haaaah......cuma saja, engkau membunuh dirinya, sedang aku telah menyelamatkan jiwanya "

Perempuan cantik itu merasa agak lega, ia segera tertawa dingin dan berkata.

"Engkau tokh sudah mencari pahala, akan tetapi belum membayar harganya "

"Membayar apa ?"

"Membayar ini"

Sambil berkata mendadak Perempuan ini melancarkan sebuah serangan dahsyat dengan sepasang telapaknya.

Sastrawan berusia pertengahan tahun itu menyapu sekejap kebawah tebing, mendadak paras mukanya berubah hebat, sambil tertawa seram serunya.

"Aku tidak punya kegembiraan untuk menemani engkau bermain kasar.... selamat tinggal"

Sambil berseru, dia enjotkan badan dan meluncur dua puluh tombak dari tempat semula.

Dengan tabiat sang perempuan cantik yang berangasan, ia tentu saja tak mau berpeluk tangan dengan begitu saja sambil membentak dengan cepat ia mengejar sastrawan berusia pertengahan tahun itu Belum lama setelah dua orang tokoh silat itu tinggalkan puncak tebing, mendadak...

"Blaaam "

Ditengah ledakan dahsyat yang sangat memekikkan telinga, puncak itu sudah meletus dan menghamburkan pecahan batu karang yang memenuhi seluruh angkasa, keadaan benar-benar mengerikan sekali.

-ooo0dw0ooo-Cahaya sang surya yang sangat menyoroti bukit Tiang-pek-san yang putih terlapis salju, air bekas cairan salju mengalir dari atas puncak membasahi lambung dan kaki bukit.

Dalam sebuah ruangan besar di tengah bangunan mega yang berdiri diatas puncak, duduklah belasan orang jago persilatan.

Gadis suci dari Nirwana duduk dikursi utama, kedua belah sisinya berdirilah para anak buahnya termasuk pula Perempuan naga percma sakti serta su-put-san sekalian.

Kurang lebih dua tombak dihadapan Gadis suci dari Nirwana duduk membungkam seorang pemuda baju hitam, dia bukan lain adalah Gak In Ling.

Mukanya yang tampan kini diliputi kepucat-pucatan, alis matanya berkenyit seakan-akan sedang memikirkan sesuatu persoalan.

Suasana dalam ruangan itu sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun, semua orang membungkam dalam seribu bahasa.

Suatu ketika, Gadis suci dari Nirwana menengadah dan melirik sekejap kearah Gak In Ling, kemudian ujarnya.

"Gak In Ling, kali ini adalah untuk kedua kalinya engkau menginjakkan kaki ditempat ini."

"Tapi kedatanganku kali ini bukan atas kehendak hatiku sendiri."

Jawab Gak In Ling sambil angkat muka. Gadis suci dari Nirwana mengerutkan dahinya, dengan perasaan tidak puas pikirnya.

"Aku telah selamatkan jiwamu, bukan saja engkau tidak berterima kasih kepadaku malahan mengira akulah yang membawa dirimu kesini secara paksa, Hmm Tak kusangka dikolong langit terhadap manusia yang tak kenal budi seperti dia."

Diikuti gadis itu berpikir lebihjauh.

"Seandainya saat ini ia mohon kepadaku, akan kuserahkan segala sesuatu yang kumiliki kepadanya bahkan kedudukan Lengcu pun aku boleh berikan kepada orang lain."

Mengikuti munculnya ingatan yang aneh itu, selapis rasa murung dan sedih berkelebat diatas wajahnya, ia tahu bahwa Gak In Ling tak mungkin akan mohon kepadanya karena ketika untuk pertama kalinya dia hendak berbuat begitu telah ditolak olehnya, kendatipun akhirnya ia menyesal akan tetapi pemuda itu tokh tak tahu kalau ia menyesal ?

Sut-put-siang adalah seorang perempuan berwatak berangasan, melihat Lengcu nya lama sekali tidak buka suara, tak tahan lagi ia mendengus dingin dan ujarnya.

"Hm.m Gak In Ling, apakah engkau sedikitpun tidak berperasaan ?"

"Aku tidak mengerti apa yang kau maksud kan?"

Sut-put-siang menjadi amat gusar, mendadak ia bangkit berdiri sambil teriaknya.

"Aku tidak tahu, kenapa sampai sekarang engkau masih bisa hidup "

Gak In Ling mengerutkan dahinya dan rupanya dia hendak mengumbar hawa amarah, akan tetapi secara tiba-tiba perasaan itu ditahan kembali, mungkin dia merasa tidak ada gunanya berbuat begitu, bagaimanapun juga orang lain telah menyelamatkan jiwanya.

Ia tertawa tawa dan berkata.

"Lengcu kalianlah yang telah menyelamatkan diriku, akan tetapi ia hanya menyelamatkan sesosok mayat belaka."

Suaranya mendatar dan hambar sekali, ditengah kehambaran terselip pula kemurungan dan kekesalan.

Gadis suci dari Nirwana yang mendengar perkataan itu merasakan hatinya bergetar keras.

tiba-tiba dia angkat kepala dan menatap tajam wajah pemuda itu, bibirnya bergerak seperti mau mengucapkan sesuatu namun tak sepatah kata pun yang mampu diutarakan keluar.

Su-put-siang segera tertawa dingin dan berseru.

"Dalam lembah ini tersedia banyak tempat untuk mengubur mayat, kau..."

Buru-buru Perempuan naga peramal sakti menarik ujung baju Su-put-siang, bisiknya dengan dingin.

"Sudah kau pertimbangkan akibatnya atas perbuatanmu itu?"

Suaranya lirih namun mempunyai kekuatan yang amat besar untuk menggetarkan hati orang.

Walaupun Su-put-siang menjadi orang terlalu menuruti emosi, akan tetapi ia pun dapat menyadari sampai dimana pentingnya masalah perkumpulan mereka, mendengar perkataan itu dia berpikir sebentar kemudian paras mukanya berubah hebat, dengan sorot mata tidak tenang ia melirik sekejap kearah Gadis suci dari Nirwana.

Lengcu nya itu tidak memandang kearahnya juga tidak menunjukkan sikap menegur, akan tetapi matanya yangjeli terlampis cahaya air mata.

"Lengcu, hamba tahu salah "

Bisik Sut-put siang dengan suara tidak tenang. Dengan sedih Gadis suci dari Nirwana gelengkan kepalanya.

"Demi gengsi dan kehormatan kita, sudah sepantasnya kalau engkau berbuat demikian."

"Tapi Engkau tak usah banyak bicara lagi"

Tukas Gadis suci dari Nirwana sambil goyangkan tangannya. Bicara sampai disitu, sorot matanya yang tajam dialihkan ke atas wajah Gak In Ling, kemudian ujarnya dengan tegas.

"Eagkau pasti tahu bukan, beberapa hari lagi engkau sanggup untuk mempertahankan diri?"

"Tidak sampai lima hari "jawab Gak In Ling sambil menghindari pandangan mata nya.

"Apakah engkau tidak ingin untuk mendapatkan obat pemunahnya ?"

"Lengcu tak akan menolong seorang pembuat bencana bagi umat persilatan bukan "

Ejek Gak In Ling sambil tertawa.

"Tapi saudara Gak,"

Sela Perempuan naga peramal sakti.

"aku rasa keselamatan hidup jauh lebih berharga dari segala-galanya bukan?"

Dengan tawa Gak In Ling gelengkan kepalanya.

"Bagi aku orang she Gak tidaklah demikian,jiwaku telah kutitipkan diatas-banyak jiwa orang lain, asal aku bisa menebus jiwa-jiwa mereka itu barulah kehidupanku ada artinya."

"Engkau yakin sekali dengan pendapatmu itu ?"

"Tentu saja pada saat ini Lengcu masih mempunyai cukup kekuatan untuk menghalangi niatku ini."

"Aku rasa, aku tidak usah berbuat demikian "

Bagaimanapun juga ia merasa tak kuat menahan keputusan sikap Gak In Ling, sebab diapun seorang gadis yang angkuh dan tinggi hati.

"Benar"

Jawab Gak ln Ling sambil tertawa.

"asal sudah lewat lima hari, engkau memang tak usah berbuat demikian."

"Gak In Ling, engkau benar-benar tak mau mohon kepadaku ?"

Seru Gadis suci dari Nirwana dengan paras muka berubah hebat. Gak In Ling tertegun, tiba-tiba ia tertawa dan menjawab.

"Lengcu, orang yang hendak mohon kepadamu sudah terlalu banyak, aku tokh tidak lebih hanya seorang manusia yang hampir mati, kenapa aku harus mohon kepadamu ?"

Setelah berhenti sebentar, tiba-tiba seakan-akan sesuatu katanya kembali..

"Baik, kita tak usah membicarakan persoalan ini, bagaimanapun juga Lengcu telah menyelamatkan jiwaku, perduli apakah kehidupanku ini hanya sementara waktu dan amat singkat, sudah sepantasnya kalau kuucapkan banyak terima kasih atas budi pertolonganmu itu."

Gadis suci dari Nirwana merasakan katinya menjadi hangat, dia baru untuk pertama kalinya mendengar Gak In Ling mengucapkan kata-kata yang begitu hangat terhadap dirinya.

Sepasang matanya yang lembut dan jernih menatap tajam wajah pemuda itu tanpa berkedip.

Perempuan naga peramal sakti yang menyaksikan kejadian itu, segera ia berpikir didalam hatinya.

"Kehidupan adalah sesuatu yang sangat berharga, aku masih mengira kau Gak In Ling sudah tidak memperdulikan soal mati hidupmu lagi ? Rupanya engkau memohon dengan cara lain."

Terdengar Gak In Ling dengan suara berat berkata.

"Oleh karena itu aku ingin memberitahukan kepada Lengcu, akan seseorang durjana yang licik, bahaya dan tak boleh dihubungi."

"Siapa ?"

Walaupun kecewa namun Gadis suci dari Nirwana masih mencoba untuk menenangkan hatinya.

"Malaikat suci dari lima bukit Yap Thian leng, ia telah menggambungkan diri dengan perkumpulan rahasia dari Tibet."

Perempuan naga peramal sakti yang mendengar nama orang itu mula-mula tertegun, kemudian seakan-akan menyadari akan sesuatu pikirnya.

"Sungguh keji caramu ini, rupanya kau hendak meminjam kekuatan kami untuk membereskan dendam sakit hatimu. Hmm Gak In Ling engkau terlalu memandang rendah perkumpulan Yau-ti-leng "

Sementara itu Gadis suci dari Nirwana telah berseru tertahan, tiba-tiba ujarnya.

"Aku rasa engkau punya dendam sakit hati dengan Yap Thian Leng, bukan begitu ?"

Dalam hati Gak In Ling menghela napas panjang, tetapi diluaran dia menjawab.

"Benar, dia adalah musuh besar pembunuh ayahku "

Gadis suci dari Nirwana bangkit berdiri dengan tegas ia berkata.

"Gak In Ling, asal engkau bersedia untuk memohon kepadaku, maka akupun bersedia-menggunakan segenap kemampuan yang kumiliki untuk membereskan dendam sakit hatimu itu."

Semua anggota perkum pulan Yau-ti-leng menjadi terperanjat setelah mendengar perkataan itu, dari sorot mata Lengcu mereka yang tajam menggidikkan mereka semua tahu bahwa perkataan itu bukan gurauan belaka, akan tetapi mereka tak ada yang tahu kenapa secara tiba-tiba Leng cu mereka berubah menjadi begitu bengis.

Perlahan-lahan Gak In Ling bangkit berdiri, dengan sedih ia gelengkan kepalanya lalu ia berkata.

"Aku hanya berharap kepada Lengcu agar memperhatikan orang ini saja, Lengcu sendiri tak usah berbuat demikian."

Setelah menghela napas panjang, sambungnya lebihjauh.

"Aku Gak Ling tak dapat membalas dendam dengan tanganku sendiri, itu berarti bahwa takdir telah digariskan, kenapa aku mesti merepotkan orang lain ? Lengcu, aku hendak memohon diri lebih dahulu."

Dengan langkah lebar ia berjalan keluar dari ruangan tersebut.

"Apakah ucapanmu itu adalah kata-kata terakhirmu ?"

Seru Gadis suci dari Nirwana dengan suara gemetar. Gak ln Ling sama sekali tidak berpaling, hanya dengan nada hambar jawabnya.

"Dugaan Lengcu sedikitpun tidak salah, sejak kini dalam dunia persilatan telah berkurang lagi dengan seorang manusia yang menghambat usaha Lengcu "

"Eeceii Apa maksudmu ?"

Sementara itu Gak In Ling sudah berjalan keluar dari ruangan tengah, menjawab hambar.

"Dalam kenyataan memang begitulah keadaannya "

Perempuan naga peramal sakti diam-diam menarik tangan Su-put-siang. bisiknya.

"Bersediakah engkau membuat pahala untuk menebus dosamu karena berbicara lancang tadi?"

Su-put-siang sedari tadi sudah kehabisan akal sewaktu dilihatnya Lengcu mereka menunjukkan wajah sedih, mendengar pertanyaan itu buru-buru jawabnya.

"Tentu saja bersedia, tentu saja bersedia..."

Perempuan naga peramal sakti segera menuding kearah bayangan punggung Gak In Ling yang telah berada kurang lebih lima tombak jauhnya, dan bisiknya kembali.

"Hadang jalan pergi Gak In Ling"

"Hanya aku seeorang "

Tanya Su-put-siang tertegun.

"Hmm Ia sudah tak dapat mengerahkan tenaga lagi."

Suput-siang merasakan hatinya tergerak, mendadak ia membentak keras dan segera menerjang kearah Gak In Ling.

Ilmu silat yang dimiliki si anak muda itu benar-benar sudah punah, sekali menyambar Su-put-siang telah berhasil mencengkram urat nadinya dan menyeret dirinya kembali keruang tengah.

"Apa yang hendak kau lakukan ?"

Tegur Gadis suci dari Nirwana dengan wajah kebingungan.

"Lengcu."jawab Perempuan naga peramal sakti dengan serius.

"maafkanlah, kalau hamba buat lancang "

Tidak menunggu jawaban dari Gadis suci dari Nirwana, dia memberi tanda kepada Su-put siang dengan kerlingan mata dan berkata lagi dengan suara berat.

"Kurung dia dalam kamar baca dikebua bunga sebelah belakang "

Kali ini Su put-siang bertindak cerdik, ia 739 membungkam dalam seribu bahasa dan segera bekuk Gak In Ling dan dibawanya kekebun bunga belakang.

Sepeninggalnya dua orang itu, dengan sedih Gidis suci dari Nirwana memandang sekejap kearah Perempuan naga peramal sakti, katanya.

"Cici, aku tahu engkau berbuat begitu karena bermaksud baik, akan tetapi apa gunanya ? Aaaii."

"Lengcu, biarlah Gak In Ling berpikir selama tiga hari tiga malam disitu secara baik-baik, kalau dia adalah seorang manusia maka setelah pikirannya menjadi tenang, kadangkala ia dapat membuang jalan pikiran yang semula membekas dalam benaknya di kala dia sedang dilimuti dengan emosi."

"Sepantasnya kalau engkau memahami tabiatnya,"

Kata Gadis suci dari Nirwana sambil menggelengkan kepala dan mukanya penuh kesedihan.

"Tidak salah, wataknya memang amat keras kepala akan tetapi bagi kita kecuali berbuat demikian rasanya sudah tiada jalan lain lagi. Kalau sekarang kita biarkan Gak In Ling pergi, kemungkinan besar ia bakal mati kedinginan sebelum turun dari gunung Tiang-pek-san ini."

"Tapi dia membenci diriku "

"Lengcu, cinta dan benci adalah sebuah senjata yang amat tajam, kedua-dua nya dapat membinasakan orang dan hasilnya pun tidak jauh berbeda, hanya namanya saja tak sama. Siapakah yang dapat mengatakan apakah itu cinta, apakah itu benci ? Lengcu, engkau terlalu lelah, cepatlah pergi beristirahat"

Gadis suci dari Nirwana mengangguk, ia bangkit berdiri dan menuju keruangan dalam, akan tetapi belum beberapa jauh ia telah berhenti dan bergumam kembali.

"Oooohh yaa aku belum bersantap "

Ia putar badan dan berjalan menuju keruang lain. Perempuan naga peramal sakti tidak menghalangi jalan perginya, ia hanya menghela napas berat dan bergumam.

"Jika Gak In Ling mati, mungkin perkumpulan Yau-ti-leng pun akan ikut hancur. Aaaii.... cinta... cinta engkau benar-benar sangat menakutkan...."

Semua orang tercekam dalam kemurungan dan kesedihan, suasana hening dan tak seorangpun yang buka suara.

Dalampada itu Gak In Ling yang dikurung dalam kamar baca merasa amat mendongkol sekali, apalagi tenaga dalamnya telah punah dan tak mampu menjebol pintu untuk lari keluar, serta merta hawa amarahnya disalurkan dengan mencari barang yang ada dalam ruangan itu untuk dihancurkan.

Akan tetapi ketika ia saksikan benda-benda dalam kamar baca itu bersih dan teratur rapi, pemuda itu batalkan maksudnya dan bergumam seorang diri.

"Kamar ini pastilah kamar bacanya, tidak pantas kalau aku menghancurkan barang-barang yang ada disini."

Maka ia mencari kursi dan duduk, Beberapa waktu kemudian, seorang dayang muncul menghidangkan makanan, sebenarnya Gak In ling tidak ingin makan, akan tetapi iapun merasa tak baik untuk berpuasa, maka hidangan itu dimakannya sedikit.

Ketika hidangan dihantar kedalam kamar untuk kedua kalinya, hari sudah gelap, setelah mengundurkan sang dayang, Gak In Ling pun mencari sebuah bangku untuk duduk, Ia melirik sekejap kearah pembaringan yang teratur rapi, meskipun dalam hati kecilnya ingin berbaring disana akan tetapi suatu kekuatan lain mencegah dia untuk berbuat demikian, karena dia tahu bahwa pembaringan tersebut adalah pembaringan seorang gadis.

Diatas meja tiada lampu lentera, pemuda itu membutuhkan kegelapan, agar ia dapat memikirkan banyak persoalan ditengah kegelapan itu.

Mungkin terlalu lelah, entah sejak kapan tahu-tahu pemuda itu sudah tertidur pulas dengan bersandar ditepi dinding.

Pintu kamar baca perlahan-lahan terbuka, seorang gadis berbadan Langsing menyelinap masuk kedalam ruangan, memandang Gak In Ling yang tertidur nyenyak, gumamnya dengan sedih.

"Engkau tak akan menyangka bukan bahwa aku sudah lama berada disisimu ? Makanan yang kubuat sendiri hanya kau makan sedikit sekali, kenapa? Tidak cocok dengan seleramu? Ataukah karena membenci diriku? Aku... aku sampai kapan aku baru dapat menebak teka-teki yang membingungkan hatiku ini? Beritahulah kepadaku Gak In Ling katakanlah kepadaku"

Dua baris air mata jatuh berlinang membasahi pipinya.

Tiba-tiba Gak In Ling membalikkan tubuhnya, membuat gadis itu menjadi terperanjat, menanti ia sudah yakin bahwa pemuda itu tidak mendusin didekatinya pembaringan dan mengambil selimut untuk menutupi badannya, kemudian dengan wajah sedih ia berlalu dari ruangan itu.

Tiga hari bagi orang biasa tidaklah berapa, akan tetapi bagi Gak In Ling bagaikan melewatkan waktu selama tiga ratus tahun lamanya, karena ia tahu bahwa saat ajalnya sudah hampir tiba, namun masih banyak persoalan yang belum diselesaikan olehnya.

Sang surya baru saja tenggelam dibalik bukit, pintu kamar terbuka dan masuklah seseorang, namun Gak In Ling tidak berpaling, ia masih tetap memandang keluar jendela dengan termangu-mangu.

"Gak Siongkong "

Teguran lirih berkumandang. Gak In Ling terperanjat, karena suara itu bukan suara dayang, tapi dengan mulut membungkam ia putar badan, kemudian sapanya dengan perasaan tidak tenang.

"Lengcu"

Gadis itu membawa sebuah nampan kumala, diatas nampan tampaklah beberapa macam sayur kenamaan yang nampak lezat, meskipun nampak wajahnya tersungging senyum namun tak dapat menutupi kesedihan dibalik biji matanya.

Gak In Ling buru-buru maju kedepan menyambut nampan tersebut, katanya dengan perasan tak tenang.

"Lengcu, sikapmu ini membuat aku orang she Gak merasa tak enak untuk menerimanya."

Gadis suci dari Nirwana tundukkan kepalanya rendah-rendah, ia duduk didekatnya dan berkata dengan sedih.

"Karena itu selama ini engkau selalu makan sedikit untuk menyampaikan rasa ketidak tenanganmu itu bukan ?"

Gak In Ling meletakkan nampan itu keatas meja, lalu menengadah dan bertanya dengan terperanjat.

"Makanan selama beberapa hari ini apakah hasil masakanmu sendiri?"

"Tentunya tidak Cocok dengan seleramu bukan ?"

Tanya gadis itu dengan sedih.

"Tidak... akulah yang tidak punya selera untuk makan."

"Karena aku telah mengurung dirimu dalam kamar ?"

"Tidak, karena aku tidak punya keberanian untuk menghadapi kematian yang makin mendekat."

Gadis suci dari Nirwana merasakan hatinya agak bergerak, pikirnya.

"Perempuan naga peramal sakti benar-benar memiliki kecerdasan otak yang melebihi orang lain, semula aku tak pernah memikirkan untuk menggunakan kata-kata semacam ini untuk menghadapi dirinya."

Berpikir sampai di situ ia lantas bertanya.

"Engkau takut mati ?"

"Siapapun takut mati "

"Aku tokh bisa menyelamatkan jiwamu."

"Dan aku telah mempertimbangkannya masak-masak."

"Sudah ambil keputusan "

"Benar"

Dari balik sorot mara Gadis suci dari Nirwana memancar keluar cahaya yang amat tajam, segera serunya.

"Aku dapat segera ambil obat pemunah itu untukmu "

"Harap Lengcu jangan salah paham..."

Gak ln Ling gelengkan kepalanya.

"Jadi engkau tidak menerimanya ?"

"Benar, dan itulah keputusan yang kuambil setelah mempertimbangkannya masak-masak,"

Gadis suci dari Nirwana merasa putus asa dan kecewa, dua titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya, dengan hampir sesenggukan katanya.

"Apakah engkau selalu membenci diriku, dan sampai matipun, tidak bersedia menerima kebaikan hatiku?" -oo0dw0oo-

Jilid 22 DALAM hati Gak In Ling menghela napas sedih, dengan serius jawabnya.

"Harap Lengcu suka memaafkan atas jawabanku yang tak tahu diri ini, soal benci, kecuali terhadap orang-orang yang menghancurkan keluargaku, aku tak pernah membenci kepada siapapun, karena itu selama aku masih hidup aku harus membunuh orang, membunuh sampai orang-orang itu lenyap semua dari muka bumi."

Gadis suci dari Nirwana dengan hatinya lega ia angkat kepalanya dan tertawa, wajahnya yang cantik kelihatan bertambah memikat hati.

Dengan termanggu-manggu Gak In Ling memandang senyumannya yang-polos dan manis-sementara dalam hati berpikir.

"Mengapa ia tertawa dengan begitu manisnya."

"Aku dapat membantu dirimu untuk membunuh habis orang-orang itu."

Kata Gadis suci dari Nirwana sambil tertawa.

"Engkau"

"Benar"

Dengan wajah bersungguh-sungguh Gadis suci dari Nirwana mengangguk.

"asal engkau tidak membenci diriku, aku akan menyembuhkan penyakit yang kau derita, selama berapa hari ini engkau berpikir akupun ikut berpikir, aku adalah manusia.....engkau harus tahu, aku adalah manusia, aku tak mau hidup menuruti segala tata cara yang serba tetek bengek, aku punya hak untuk merasakan kebahagiaa hidup sebagai manusia, aku dapat meninggalkan segala sesuatu yang kumiliki."

"Mengapa ?"

Tanya sang pemuda keheranan.

"Karena kau "jawab Gadis suci dari Nirwana dengan wajah bersemu merah.

"Karena aku ?"

"Benar, karena engkau Sejak semula aku sudah tidak ingin menjabat sebagai Lengcu lagi, sekarang kau... kau dalam hatimu hanya dendam dan sakit hati, karena itu engkau tidak tahu kecuali dendam dan benci sebenarnya masih ada kesepian."

Gak In Ling merasa makin tidak tentram, ia bukan seorang pemuda tolol, iapun mempunyai dayapikir yang tajam dan cerdas.

Dengan pandangan bersungguh ditatapnya wajah gadis itu dengan sekejap kemudian berkata.

"Lengcu, engkau pasti bakal menyesal"

"Jangan panggil aku Lengcu, aku bernama Pek Giok Ji, engkau harus tahu bilamana seorang manusia hendak mengejar apa yang dipikirkan dan diharapkan dalam hati kecilnya. kendatipun harus mati karena itu, diapun merasa rela dan ikhlas."

Gak In Ling menjadi sangat terperanjat, serunya tanpa terasa.

"Lengcu ooh tidak, nona Pek, kau..."

"Engkau tak usah banyak bicara lagi,"

Kata Pek Giok Ji sambil gelengkan kepalanya.

"aku sudah ambil buah pemunah racun tersebut."

Ia bangkit dan berjalan menuju keluar pintu.

Memandang bayangan punggungnya yang berlalu dari ruangan, Gak In Ling duduk melongo, ia tak tahu harus merasa girang atau berduka.

Pada saat itu, mendadak sesosok bayangan manusia berkelebat lewat dari depan pintu seorang gadis berpakaian ringkas melayang turun tepat dihadapan Pek Giok Ji, dengan napas tersengal-sengal serunya.

"Lapor Lengcu, celaka aduh celaka..."

"Ada apa ?"

Tanya Gadis suci dari Nirwana Pek Giok Ji dengan alis mata berkenyit. Perempuan itu tarik napas panjang-panjang dan menjawab.

"Barusan diatas bukit telah kedatangan dua orang musuh, Nenek seruling perak tongkat emas dan belasan murid penjaga pintu telah terluka semua ditangan mereka, sekarang Tiga tua pelindung gunung beserta Lan In Lojin dan Ciangliong-sian sekalian sedang mengurung mereka berdua, namun posisi masih tetap tidak seimbang, oleh karena itu peramal sakti Cianpwee menitahkan teecu untuk melaporkan kejadian ini kepada Lengcu."

Gak In Ling yang mendengar laporan itu merasakan hatinya bergetar keras, pikirnya.

Jago lihay dari manakah yang telah datang menyatroni bukit ini ?

Kenapa sampai tiga jago pelindung bukit pun tidak mampu menahan serbuan mereka berdua ?

Sebenarnya siapakah kedua orang ini ?"

Berpikir sampai disitu, tanpa terasa sorot matanya dialihkan keatas wajah Gadis suci dari Nirwana.

Napsu membunuh yang amat tebal menyelimuti wajah Gadis suci dari Nirwana yang tenang,jelas setelah mendengar anak buahnya banyak yang terluka, hawa amarahnya telah berkobar.

Dengan sorot mata berkilat segera tegurnya.

"Macam apakah kedua orang itu ?"

"Yang seorang adalah gadis muda berparas cantik sedang yang lain adalah Nenek tua bermuka penuh keriput sehingga jeleknya seperti setan yang paling lihay adalah gadis tersebut, belum sampai dua gebrakan Cianpwee seruling perak sudah roboh terluka ditangannya."

Mendengar laporan itu Gadis suci dari Nirwana merasa semakin terperanjat, pikirnya lagi.

"Ilmu silat yang dimiliki orang ini kemungkinan besar tidak berada dibawah kepandaianku, aku harus segera pergi kesana."

Berpikir sampai disitu ia lantas berpaling dan memandang sekejap kearah Gak In Ling, tampaklah pemuda itu berdiri kaku disitu seakan-akan sedang memikirkan satu persoalan sehingga tidak mengetahui apa yang sedang mereka bicarakan.

Sesudah tertegun sejenak, gadis she Pek itu lantas bertanya kembali.

"Apakah mereka terangkan apa maksud kedatangannya ?"

"Mereka berkata hendak mencari Lengcu "

Gadis suci dari Nirwana tidak ragu-ragu lagi, ia berpaling kearah Gak In Ling dan berseru.

"Tunggu saja disini, aku sebentar saja akan kembali"

Tidak menunggu jawaban dari si anak muda itu lagi, dia segera enjotkan badannya dan berlalu dari sana.

Gak In Ling sama sekali tidak mendengar apa yang diucapkan gadis tersebut, benaknya masih juga berputar memikirkan kejadian itu.

Suatu ketika, seakan-akan telah menyadari akan sesuatu ia bergumam seorang diri.

"Pasti dia pasti dia, satu bulan sudah hampir lewat, ia pasti telah berhasil meyakinkan ilmu silatnya jauh lebih cepat dari waktu yang ditentukan, aku harus segera 747 pergi kesana, kalau tidak maka kedua belah pihak pasti sama sama akan menderita kerugian besar "

Ketika dilihatnya gadis pelapor tadi masih berada disitu, buru-buru serunya.

"Nona, dapatkah aku minta tolong kepada mu untuk menghantar aku pergi ketempat kejadian itu ?"

Rupanya gadis itu merasa jauh lebih lega setelah menyaksikan Lengcunya berangkat kesitu, mendengar permintaan itu segera jawabnya.

"Kalau memang begitu, mari kita segera berangkat "

"Bagaimana kalau aku minta tolong kepada nona untuk membantu diriku?"

Ujar pemuda itu lagi dengan muka berubah menjadi merah padam. Gadis itu kelihatan tertegun, kemudian dengan wajah merah, tegurnya.

"Bukankah engkau adalah yang bernama Gak In Ling?"

"Sedikitpun tidak salah ?"

"Siapa yang tidak tahu kalau Gak ln Ling memiliki ilmu silat yang maha dahsyat, aku tidak berani unjuk kejelekan dihadapanmu."

Sekali lagi paras muka Gak In Ling berubah menjadi merah padam, katanya dengan tawa.

"Dikolong langit siapa yang tidak tahu kalau Gak In Ling sudah mendekati saat ajalnya ?"

"Ooooh Jadi ilmu silatmu telah punah ?"

Seru gadis itu dengan wajah tertegun. Gak In Ling mengangguk, sambil tertawa sahutnya.

"Kalau tidak begitu, aku tidak akan berani merepotkan diri nona."

Gadis itu melirik sekejap kearah Gak In Ling, sementafa dalam hati kecilnya berpikir.

"Paras muka pemuda ini memang luar biasa tampannya, tidak aneh kalau Lengcu begitu terpikat hatinya kepada dirinya, tetapi sikap orang ini terlalu angkuh dan tinggi hati, sekalipun sedang memohon bantuan orang lain namun perkataannya sama sekali tidak mengandung nada memohon, sea kau-akan orang lain pasti akan membantu dirinya."

Walaupun dalam hati berpikir demikian, mau tak mau tak urung juga dia ulurkan tangannya untuk menggandeng tangan Gak ln Ling, katanya.

"Baiklah, aku akan unjuk kejelekan dihadapanmu."

Sambil enjotkan badan ia meluncurkan kearah depan.

Ilmu silat yang dimiliki anak murid dibawah panji Yau-ti-leng rata-rata lihay semua.

walaupun gadis ini hanya seorang jago kelas tiga namun kecepatan gerak tubuhnya tidak bisa dibandingkan dengan jago-jago persilatan pada umumnya.

Dalam sekejap mata mereka telah tiba didepan sebuah hutan lebat, tampaklah diatas tanah berbaris belasan orang jago perempuan dari panji Yau-ti-leng, sementara gadis suci dari Nirwana Pek Giok Ji sendiri sedang berdiri saling berhadapan dengan seorang dara cantik, Ketika berada sepuluh tombak dari kalangan, Gak In Ling sudah dapat melihat jelas paras muka gadis itu, hatinya segera teejelos dan gumamnya seorang diri.

"Ooohh rupanya benar-benar dia "

Gadis itu bukan lain adalah Hoa Yan Hun beserta Kui Bin Popo. Tatkala gadis she Hoa itu menyaksikan kemunculan Gak In Ling, dengan riang gembira ia segera berseru.

"Engko Ling, ternyata engkau benar-benaK berada disini "

Sementara itu Gak In Ling telah maju ke depan, setelah memandang sekejap kearah dara itu tegurnya.

"Adik Hun, mengapa tanpa sebab musabab engkau telah melukai begini banyak orang ?"

Hoa Yan Hun tertegun.

"Aku telah mengetahui bahwa engkau berada disini, tetapi mereka tidak memperkenankan ku masuk kedalam "

Serunya. Sementara itu Kui Bin Popo yang berada disisinya telah berseru dengan nada dingin.

"Gak In Ling, aku lihat gerak gerikmu di tempat ini bebas sekali ?"

"Benar, Popo"

"Jadi kalau begitu engkau rela datang kemari ?"

Tanya Kui Bin Popo lagi dengan sorot mata berkilat. Gak In Ling takut, kalau mereka menaruh rasa salah paham, buru-buru ia mengangguk membenarkan.

"Benar"

Sahutnya. Paras muka Hoa Yan Hun berubah bebat dengan gusar ia lalu berteriak.

"Kenapa eugkau tidak menunggu aku keluar dahulu baru datang kemari ?"

"Mungkin, ia sudah sama sekali melupakan dirimu,"

Sambung Kui Bin Popi dari sisinya.

Kui Bin Popo bukanlah seorang manusia yang tidak mengerti urusan, akan tetapi dari gerak gerik Gak In Ling yang dibawa ketengah gelanggang oleh murid perempuan dibawah panji Yau-ti-leng, telah salah menganggap bahwa pemuda itu sudah lama sekali berdiam disana, atau dengan perkataan lain telah melupakan Hoa Yan Hun.

Meskipun cantik dan manja, sebenarnya Hoa Yan Hun adalah seorang gadis yang berwatak berangasan, mendengar perkataan itu paras mukanya berubah hebat, sepasang matanya yang jeli menatap wajah pemuda itu tanpa berkedip serunya.

"Sungguhkah itu ?"

"Enci Hoa."

Tegur Gadis suci dari Nirwana Pek Giok Ji dengan suara dingin.

"jangan lupa bahwa tempat ini adalah daerah kekuasaan Siau-moay "

Hoa Yan Hun tertawa dingin.

"IHeeeeh heeeeeh heeeehh.. engkau anggap dengan kekuatanmu sang gup untuk melindungi dirinya ?"

Gadis suci dari Nirwana segera maju dua langkah dan berdiri didepan Gak In Ling, sambil tertawa dingin serunya pula.

"Hmm Aku rasa engkau masih beium mampu untuk melukai dirinya..."

Dalam keadaan seperti ini Gak In Ling dibikin kebingungan setengah mati, ia tak tahu apa yang harus dilakukan dalam keadaan seperti ini, mimpipun tak pernah menyangka kalau Hoa Yan Hun yang masih polos dan hijau dapat berpikir sejauh ini, tentu saja pemuda itu tak tahu bahwa kehadiran Gadis suci dari Nirwana telah menimbulkan suatu perasaan tertentu dalam hati Hoa Yan Hun.

Ssmentara itu ketika dilihatnya Gadis suci dari Nirwana melindungi pemuda itu mati-matian sedang Gak In Ling sama sekali tidak menampik perlindungannya itu, dalam hati kecilnya Hoa Yan Hun merasa semakin percaya bahwa Gak In Ling telah melupakan dirinya, api cemburu berkobar dalam dadanya mengobarkan napsu membunuh dalam benaknya.

Dengan pandangan dingin ia memandang sekejap kearah si anak muda itu, kemudian serunya.

"Gak In Ling, aku telah salah menilai dirimu "

"Adik Hun,jangan salah paham "

Seru pemuda itu sambil melangkah maju setindak kedepan.

"Salah paham"

Ejek Hoa Yan Hun sambil tertawa dingin,"

Gak In Ling engkau masih ingin cari alasan ?"

Ciang-liong-sian yang berada disisi kalangan tak dapat menahan diri lagi, ia segera menimbrung.

"Sebenarnya setiap manusia mempunyai pilihannya sendiri-sendiri, bagaimanapun juga Leng cu ini jauh lebih bagus daripada engkau si budak liar."

Karena hampir saja jatuh kecudang di tangan gadis itu,jago tua ini ingin melampiaskan rasa mendongkolnya lewat ucapan yang tajam.

Tapi ia lupa bahwa Gak In Ling pada saat itu berada kurang lebih lima depa dihadapan gadis tersebut.

Paras muka Hoa Yan Hun kembali berubah hebat, tegurnya ketus.

"Gak In Ling, benarkah begitu ?"

Sianak muda itu menghela napas panjang.

"Aaaii.... Adik Hun, engkau anggap mungkinkah aku bisa berubah sebanyak itu ?"

Hoa Yan Hun tertawa terkekeh-kekeh, mendadak dia ayun tangan kanannya sambil berseru.

"Mungkin saja kalau engkau telah berubah."

Segulung angin pukulan yang menyesakkan napas langsung meluncur kedepan menghajar dada pemuda itu.

Air muka Gadis suci dari Nirwana berubah menjadi dingin, tiba-tiba dia ayunkan telapaknya pula untuk menyambut datangnya serangan tersebut.

Gak In Ling menggertak gigi kencang-kencang, ia lalu loncat maju kedepan menghadang diantara kedua orang gadis itu, di tengah kesunyian yang mencekam seluruh jagad berkumandanglah dua kali jeritan kaget.

Kedua orang gadis itu sama sekali tidak menyangka kalau Gak In Ling bakal melakukan tindakan seperti itu.

Serangan yang dilancarkan Hoa Yan Hun tadi walaupun kelihatan ringan dan sederhana sekali, namun dalam kenyataan telah mempergunakan segenap kekuatan tubuh yang dimilikinya, karena dia tahu bahwa Gadis suci dari Nirwana pasti akan turun tangan dan tidak membiarkan pemuda itu terluka ditangannya.

Gadis suci dari Nirwana sendiripun dapat menebak isi hati lawannya, tentu saja dalam serangannya tadi diapun telah mengerahkan segenap kekuatan yang dimiliki.

Sepintas lalu gerakan yang dilakukan kedua orang gadis itu sama-sama enteng dan ringannya, dalam kenyataan mereka berdua sama-sama merasa tegang sehingga sukar dilukiskan 752 dengan kata-kata, sebab kedua belah pihak sama-sama telah menyadari akan kemampuan yang dimiliki lawannya.

Ikut sertanya Gak In Ling secara tiba-tiba tadi sama sekali berada diluar dugaan dua orang gadis itu, karena mimpipun mereka tak pernah mengira kalau Gak In Ling bisa menyambut datangnya ancaman tersebut dengan tubuhnya.

Tenaga dalam yang dimiliki dua orang gadis itu sama-sama telah mencapai pada puncak kesempurnaan, akan tetapi tenaga dalam dari Gak In Ling telah punah, gerak-geriknya lambat sekali, menanti tubuh nya menerjang kedepan, tenaga pukulan dari dua orang gadis tersebut telah dilepaskan.

Di tengahjeritan kaget, terdengarlah Gak In Ling mendengus berat kemudian suasana dalam gelanggang pulih kembali dalam kesunyian dan keheningan, sorot mata semua orang sama-sama ditujukan keatas wajah Gak In Ling yang terkena pukulan.

Wajah pemuda she Gak yang pada dasar-nya sudah pucat, kini berubah menjadi hijau membesi, darah segar bagaikan air bah mengucur keluar tiada hentinya dari ujung bibir yang terkatub rapat, namun ia sama sekali tidak roboh keatas tanah.

Mungkin hal ini dikarenakan dua orang gadis itu sempat menarik kembali sebagian besar tenaga dalamnya, kalau tidak dengan kedahsyatan tenaga pukulan dari dua orang itu, jangan dibilang Gak In Ling sudah tak bertenaga dalam lagi, sekalipun kemampuannya masih utuhpun beium tentu sanggup uutuk mempertahankan diri.

Dengan sorot mata kaku dua orang gadis itu menatap wajah Gak In Ling tanpa berkedip, paras muka mereka berubah menjadi pucat, bibirnya terbuka lebar namun tak mampu mengucapkan sepatah katapun karena rasa terkejut yang kelewat batas.

Dengan sedih Gak In Ling menyapu sekejap sekeliling tempat itu, kemudian sambil menatap wajah Hoa Yan Hun katanya.

"Adik Hun, aku selamanya tak pernah melupakan dirimu "

"Gak In Ling,"

Teriak Kui Bin Popo dengan sedih.

"jangan berbicara lagi cepatlah kau duduk"

Ia lalu menghampiri si anak muda itu. Ciang-liong-sian yang menyaksikan tingkah laku nenek itu, segera membentak keras.

"Kui Bin Popo, apa yang hendak kau lakukan ?"

Sambil berseru dengan cepat ia menghalang jalan pergi nenek tua bermuka setan itu.

Pada saat ini Kui Bin Popo merasa benci bercampur menyesal, ditambah lagi dengan wataknya yang aneh, tak sudi ia memberi penjelasan, melihat jalan perginya dihadang ia segera membentak penuh kegusaran.

"Engkau tak usah mencampuri urusanku, enyah kau dari sini"

Dengan gerakan kapak setan pekerjaan ajaib laksana sambaran petir ia bacok tubuh Ciang-liong-sian.

Sejak pertama kali tadi Ciang-liong-sian sudah mengenal akan kelihayan nenek tua itu, ia tak berani menyambut dengan keras lawan keras, tubuhnya berputar dan melayang mundur tiga depa kebelakang, dengan gerakan mendorong bukit membongkar neraka ia membalas melancarkan satu pukulan.

Dengan pandangan tawa Gak In Ling menyapu sekejap pertarungan yang sedang berlangsung itu, kemudian sambil mengepos tenaga terakhir yang dimilikinya ia berseru keras.

"Berhenti"

Meskipun suaranya tidak keras namun mempunyai daya pengaruh yang cukup membetot hati, dua orang ini yang sedang melangsungkan pertarungan ditengah kalangan tanpa sadar sama-sama menghentikan gerakan tangannya dan memandang kearah si anak muda itu dengan wajah termangu-mangu.

Gak In Ling gelengkan kepalanya berulang kali, dengan sedih ia berkata.

"Aku tahu kalian berdua berbuat demikian demi kebaikanku, akan tetapi usaha kalian itu hanya akan menjadi sia-sia belaka, terhadap luka yang kuderita aku sudah mempunyai perhitungan sendiri, mungkin aku sudah tak dapat hidup lebih dari tiga jam lagi."

Mendengar perkataan tersebut, semua orang menjadi amat terperanjat, dahulu semua orang tidak merasa bahwa pemuda yang hidup sebatang kara ini mempunyai sesuatu arti yang penting, akan tetapi sekarang mereka merasa seakan-akan telah kehilangan pegangan, tanpa sadar rasa kuatir dan cemas terpancar keluar diatas wajahnya.

Mendadak terdengar Hoa Yan Hun berseru merdu.

"Engko Ling, engkau tak boleh..."

Ia menubruk kedalam pelukan si anak muda itu dan mulai menangis tersedu-sedu. Dengan halus Gak In Ling membelai rambutnya yang panjang kemudian berbisik lirih.

"Adik Hun, janganlah bersedih hati, bukankah engkau telah berjanji akan memperdengarkan perjanjianku ?"

Suaranya begitu halus dan lembut, seakan-akan seorang kakak sedang menghibur adiknya.

Gadis suci dari Nirwana perlahan-lahan maju kedepan, sorot matanya yang memancarkan sinar kedengkian dan cemburu telah lenyap tak berbekas, sebagai gantinya linangan air mata membasahi kelopak matanya.

Hoa Yan Hun menengadah ke atas dan kebetulan menyaksikan wajahnya yang basah oleh air mata, kali ini ia tidak mengumbar hawa amarahnya lagi, cuma dengan hambar berkata.

"Engkau boleh membinasakan kami berdua, agar lenyaplah bibit bencana dikemudian hari."

"Kenapa aku harus berbuat begitu?"

Tanya Gadis suci dari Nirwana Pek Giok Ji sambil tertawa tawa.

"Sebab tenaga dalam yang kita miliki berada dalam keadaan seimbang, sedang aku mempunyai irama membetot sukma yang dapat menundukan dirimu "

"Aku sudah menduga sejak tadi, bahwa engkau adalah ketua perkumpulan rahasia dari Tibet."

Begitu ucapan tersebut diutarakan keluar, paras muka ssmua jago berubah hebat, tanpa sadar mereka maju kedepan dan mengurung Hoa Yan Hun rapat-rapat, nampaknya suatu penyerbuan secara massal akan dilancarkan.

Hoa Yan Hun menyapu sekejap kesekeliling tempat itu, lalu ujarnya dengan hambar.

"Bagaimana pun juga engkau harus membinasakan diriku, sebab engkau adalah pemimpin mereka semua."

Gadis suci dari Nirwana Pek Giok Ji menyapu sekejap sekeliling tempat itu, untuk beberapa saat lamanya ia bungkam dalam seribu bahasa.

"Lengcu "

Tiba -tiba Gak In Ling buka suara setelah menghela napas berat.

"Hmm, ada apa ?"

"Selama tiga hari ini aku tokh tak pernah memohon sesuatu kepada diri Lengcu bukan ?"

Dengan kaku Gadis suci dari Nirwana mengangguk.

"Benar, dan tak pernah sudi menerima budi kebaikanku."

Gak In Ling menengadah dan menyapu sekejap sekeliling tempat itu, kemudian berkata.

"Seandainya pada saat ini aku hendak memohon sesuatu kepada Lengcu, apakah Lengcu bersedia untuk menyanggupi ?"

Gadis suci dari Nirwana tertawa sedih.

"Akhirnya engkau memohon juga kepadaku "

"Benar"

"Aku dapat mengabulkan permintaanmu itu, bahkan sekalipun engkau menghendaki kematianku!!"

"Kenapa ?"

Tanya Hoa Yan Hun tersentak kaget.

"Sebab apa yang kurasakan persis seperti apa yang kau rasakan saat ini."

Tentu saja Hoa Yan Hun mengerti apa yang dimaksudkan oleh gadis tersebut, namun sorot mata kedengkian dan rasa cemburu telah lenyap dari balik mata nya, ia tertawa sedih dan menjawab.

"Sejak permulaan tadi aku sudah mengetahui akan hal ini, akan tetapi pada waktu itu pikiranku tidak terbuka seperti saat ini."

"Engkau tidak menyesal mengucapkan kata-kata seperti itu ?"

Tiba-tiba Pek Giok Ji bertanya dengan hati bergetar keras, Hoa Yao Hun menyapu sekejap kearah Gak In Ling lalu tertawa, sahutnya.

"Tidak, selamanya tidak Sebab sekarang ia sedang memeluk diriku."

Sewaktu mengucapkan kata-kata ini, tiada perasaan main yang terlintas diatas wajah nya mungkin ia tidak merasa bahwa selain Gadis suci dari Nirwana masih ada banyak orang lainnya yang hadir disitu.

"Kalau begitu aku harus mengucapkan banyak terima kasih kepadamu "

Kata gadis she Pek sambil tertawa.

"Apakah engkau tidak merasa bahwa tindakanmu itu telah menurunkan derajatmu ?"

"Sekarang aku berbicara menurut keadaan diriku sebagai seorang manusia biasa."

"Tapi bagaimanapun juga tokh engkau telah merupakan Lengcu dari perkumpulan Yau-ti-leng"

"Seandainya dia mati."

Kata Pek Giok Ji sambil menuding kearah Gak ln Ling.

"mungkin kedudukan Lengcu harus diganti dengan orang lain "

"Maksudmu, ia masih dapat diselamatkan jiwanya ?"

Seru Hoa Yan Hun secara tiba-tiba sesudah tertegun sebentar. Gadis suci dari Nirwana mengangguk.

"Sebagai ketua dari perkumpulan rahasia di Tibet, engkau pasti memiliki obat mujarab untuk menyembuhkan luka dalam yang diderita oleh nya, sedang racun yang berada dalam tubuhnya dapat pula kupunahkan, bukankah itu berarti bahwa jiwanya masih dapat ditolong?"

Hoa Yan Hun menjadi kegirangan setengah mati setelah mendengar perkataan itu, kembali serunya.

"Dari mana engkau bisa tahu kalau aku adalah ketua dari perkumpulan rahasia yang berada dari Tibet?"

"Karena engkau pernah mengatakan bahwa engkau dapat mempergunakan irama membetot sukma."

"Tapi orang yang bisa menggunakan ilmu tersebut tokh bukan cuma aku seorang?"

"Orang itu bukanlah ketua perkumpulan rahasia yang sebenarnya,jika dugaan Siau-moay tidak keliru, musuh yang paling utama hendak kau cari bukanlah diriku melainkan orang yang telah menyaru sebagai ketua perkumpulan rahasia dari itu, bukankah begitu?"

Hoa Yan Hun tidak menjawab pertanyaan tersebut, ia melirik sekejap kearah Gak In Ling lalu alihkan pokok pembicaraan kesoal lain, kata nya.

"Sekarang, terpaksa kita harus bekerja sama untuk menyelamatkan jiwanya "

"Mungkin enci Hoa merasa tidak puas dengan cara ini?* "

Tak ada yang perlu bagiku untuk merasa tidak puas, tokh dengan tenaga kita seorang, siapapun jangan harap dapat menyelamatkan jiwanya ? "

"Benar, dan sekarang bagaimana kalau aku membawa jalan bagimu ?"

Hoa Yan Hun segera membopong tubuh Gak In Ling dan berjalan mengikuti dibelakang Pek Giok Ji, akan tetapi si anak muda itu segera meronta bangun, serunya.

"Adik Hun, lepaskan aku, biarlah aku berjalan seorang diri "

Terkejutlah hati Hoa Yan Hun mendengar perkataan itu, ia menyapu sekejap sekeliling tempat itu dan sekarang ia baru menyadari bahwa disekitar sana hadir banyak orang, dengan muka memerah buru-buru pemuda itu diturunkan dari bopongannya.

Dalam pada itu Perempuan naga peramal nakti telah mengejar kedepan, serunya.

"Lengcu..."

Tidak sempat ia melanjutkan kata-kata nya. Gadis suci dari Nirwana telah keburu memotong lebih dahulu.

"Enci, aku mengerti akan maksudmu, para korban yang menggeletak ditempat ini pimpinlah untuk pengobatan dan perawatan, besok kumpulkan orang-orang kita, aku ada perkataan yang hendak kusampaikan kepadanya."

Air muka Perempuan naga peramal sakti agak berubah, sesudah tertegun sebentar katanya.

"Lengcu, untuk mendirikan perkumpulan Yau-ti-leng bukanlah suatu pekerjaan yang gampang."

"Aku tahu, dan aku tiada maksud untuk membubarkan perkumpulan ini."

"Jika Lengcu pergi, maka perkumpulan ini niscaya akan bubar"

Kata Perempuan naga peramal sakti lagi dengan sedih. Dengan hati sedih Gadis suci dari Nirwana gelengkan kepalanya berulang kali, katanya.

"Aku adalah seorang manusia, bukannya dewa atau malaikat, maafkanlah aku"

Sesudah menghela napas sedih, ia berangkat menuju ke dalam lembah.

Dalam kalangan hanya tertinggal keheningan 759 dan kesunyian yang mencekam seluruh jagad, mungkin mereka semua telah mendapatkan satu firasat yang tidak baik, Mendadak terdengar Ciang-liong-sian berkata kepada Lan In Loojin dengan suara dingin.

"Tua bangka, engkau mengatakan hanya Gak In Ling yang mampu menyelamatkan dunia persilatan dari ancaman bahaya, sekarang cobalah lihatlah.. Bukan saja ia tak mampu menguasahakan kedamaian, malahan Gadis suci dari Nirwana kena diseret untuk melepaskan diri dari tugas."

Lan In Loojin tertawa.

"Jangan lupa ia telah berhasil menarik menjadi satu, dua orang tokoh silat berkepandaian sakti yang semula tak dapat hidup bersama, lagi pula Gadis suci dari Nirwana pun belum tentu sungguh-sungguh tinggaikan tempat itu, asal sebelum penyakit yang diderita Gak In Ling sembuh ia tidak mengumpulkan segenap orang-orangnya, urusan pasti akan beres."

Bicara sampai disitu berangkatlah ia tinggaikan tempat itu untuk mencari Perempuan naga peramal sakti guna merundingkan persoalan ini.

Tiga hari telah berlalu tanpa terasa, dibawah perawatan yang seksama dari dua orang gadis tersebut, bukan saja Gak In Ling berhasil sembuh dari luka dalam yang dideritanya, bahkan racun yang mengidap dalam tubuhnya selama banyak tahun pun ikut lenyap tak berbekas.

Dua orang gadis yang semula tak dapat hidup berdampingan itu pun karena diri Gak In Ling berhasil menghilangkan rasa permusuhan mereka, bahkan kian hari hubungan mereka kian bertambah erat sehingga bagaikan saudara sekandung sendiri, Suatu hari dalam kamar baca yang selama ini dihuni oleh Gak In Ling, Hoa Yan Hun sedang bersandar dalam pelukan Pek Giok Ji, dengan suara yang-polos tiba-tiba ia bertanya.

"Cici, tegakah engkau tinggaikan tempat ini?"

"Adikku, maukah engkaujangan bicarakan tentang soal ini "

Jawab Pek Giok Ji dengan alis mata berkenyit. Gak In Ling yang berdiri didepan jendela segera putar badan dan berkata dengan serius.

"Menurut pendapatku. lebih baik enci Pek Giok Ji tetap tinggal ditempat ini karena sekarang musuh yang harus kita hadapi terlalu banyak, seperti orang-orang dari Tibet, dan..."

Tiba -tiba ia membungkam. Satu ingatan berkelebat lewat dalam benak Gadis suci dari Nirwana, ia menyambung.

"Dan Malaikat suci dari lima bukit bukan ?"

Perlahan-lahan Gak In Ling berpaling kearah lain, ujarnya dengan tawa.

"Orang itu adalah musuh pribadiku sendiri "

"Dia menjadi musuhmu.. Apakah bukan berarti menjadi musuhku juga ?"

Seru Pek Giok Ji dengan mata menjadi merah. Kembali Gak In Ling menggelengkan kepalanya.

"Kalian sama sekali tidak tahu akan kejahatan yang pernah dilakukan olehnya, sikap kalian tak akan dipercaya orang lain, sebaliknya aku..."

Belum sempat ia menyelesaikan kata-katanya, mendadak dari pintu depan beljalan masuk Su-put-siang, telah menyapu sekejap ketiga orang itu, ujarnya kepada Pek Giok Ji.

"Lengcu, Malaikat suci dari lima bukit dengan membawa banyak orang telah datang menyambangi diri Lengcu."

Nafsu membunuh memancar keluar dari balik mata Pek Giok Ji, serunya dengan cepat.

"Pergilah lebih dahulu, aku akan segera datang "

Su-put-siang kembali memandang sekejap ke arah Lengcu nya. kemudian putar badan dan berlalu.

"Adik Ling, engkau ikut kesana atau tidak?"

Tanya gadis she Pek itu kemudian. Gak In Ling tarik napas panjang untuk menekan pergolakan emosi dalam dadanya, lalu menjawab.

"Enci Pek. pergilah sendiri. Jangan katakan aku ada disini, aku rasa sekarang sudah tiba saatnya untuk membongkar kejahatannya, apa yang ia suruh engkau lakukan atau mengusulkan sesuatu lakukan saja seperti apa yang dia katakanakan tetapi setiap saat, engkau harus berhati-hati terhadap dirinya, jangan biarkan ia mendekati tubuhmu, aku serta adik Hun akan membantu secara diam-diam, setelah kejahatannya diketahui umum kita baru sikat dia dari muka bumi."

Sebenarnya Gadis suci dari Nirwana akan segera turun tangan untuk melenyapkan Yap Thian Leng si Malaikat suci dari lima bukit itu dari maka bumi, akan tetapi sesudah dipikir lebih jauh ia merasa seandainya jago tua itu dibunuh, maka para jago persilatan akan merasa tidak puas terhadap dirinya, bahkan anak buah sendiripun akan merasa tak puas, karena itulah setelah ada cara-cara yang lebih bagus, diapun menggunakan cara tersebut.

"Baiklah, akan kulakukan menurut caramu itu,"

Ujarnya kemudian sambil mengangguk. Setelah berhenti sebentar, dengan suara rendah bisiknya.

"Mari, aku akan membawa kalian menuju kesuatu tempat yang sangat rahasia, dengarkanlah apa yang hendak ia katakan sehingga kalianpun bisa mempersiapkan diri lebih dahulu."

Tidak menanti jawaban dari Gak In Ling, ia berlalu lebih dahulu dari sana.

Gadis suci dari Nirwana membawa Gak In Ling serta Hoa Yan Hun memasuki sebuah kamar rahasia dibelakang ruang tengah tersebut, kemudian buru-buru ia pergi dari sana.

Antara ruang rahasia dengan ruang tengah dihalangi oleh sebuah horden yang terbuat dari bambu yang tergantung sehingga keatas lantai, di atasnya tergantung sebuah lukisan sehingga dari dalam bisa melihat keluar, sebaliknya dari luar tak dapat melihat kedalam.

Gak In Ling menyapu sekejap keseluruh ruang tengah itu, tampakiah Malaikat suci dari lima bukit duduk dimeja tamu, dua tiga puluh orang pengikut berdiri ditengah ruangan dan suasana sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun.

Hoa Yan Hun segera menempelkan bibirnya kesisi telinga Gak In Ling, tanyanya.

"Engko Ling, makhluk itukah yang bernama Malaikat suci dari lima bukit ?"

"Benar, memang itulah orang nya "

Sementara itu Gadis suci dari Nirwana telah masuk kedalam ruang tengah, Malaikat suci dari lima bukit segera bangkit berdiri dan memberi hormat.

"Aku siorang tua ingin menjumpai Lengcu "

Semua orang yang berada disisinyapun ikut memberi hormat dengan wajah serius.

Sedari kecil Hoa Yan Hun telah hidup di dalam gua bersama-sama Kui Bin Popo seorang, belum pernah ia menjumpai keadaan seperti ini menyaksikan hal tersebut ia segera menjulurkan lidahnya dan berbisik.

"Waahh enci Pek benar-benar hebat "

"Ssstt "

Gak In Ling tarik tangannya dan memberi tanda kepadanya agar jangan berbicara. Dalam pada itu, Gadis suci dari Nirwana telah balas memberi hormat, jawabnya.

"Tidak berani, Sin-kun terlalu merendah "

"Aaaaii...."

Malaikat suci dari Nirwana menghela napas panjang.

"sungguh tak kusangka kali ini para jago kita dari daratan Tionggoan harus menelan kekalahan secara begini mengenaskan, andaikata aku tidak ditolong orang secara 763 kebetulan, mungkin tubuhku sudah harus dikubur didalam lembah Bau-ku-kok,"

"Akupun berhasil diselamatkan jiwanya oleh seorang jago persilatan yang maha sakti"

Mendengar perkataan itu paras muka Ngo gak Sin-kun berubah hebat, tiba-tiba ia bertanya.

"Apakah Lengcu mengetahui kabar berita tentang Gak In Ling?"

Dalam hati Gadis suci dari Nirwana tertawa dingin, sedang diluaran ia sengaja menghela napas panjang dan berkata.

"Setelah tokoh sakti itu menyelamatkan, ia telah suruh aku berangkat ketebing Sau-ciu-gay untuk menyelamatkan jiwanya, tapi sayang kedatanganku agak terlambat dan ia sudah keburu terjatuh kedasar jurang."

Setelah berhenti sebentar, ia menengadah dan menambahkan.

"Agaknya ia kurang begitu cocok dengan diri Sin-kun ?"

Dengan pura-pura ia memperlihatkan wajah sedih dan kasihan, Ngo-gak Sin-kun berkata.

"Dahulu aku sering kali membunuh orang, kemungkinan besar pada dahulu kala ayahnya telah melakukan kesalahan dan berhasil diketahui diriku, ketika itu watakku berangasan sekali, mungkin karena tak tahan maka terikatlah dendam sakit hati ini."

"Aku dengar Sin-kun tidak membereskan sekalian dirinya,"

Sela seorang kakek tua diantara pengikutnya secara tiba-tiba. Ngo-gak Sin-kun mengangguk.

"Setelah membunuh ayahnya, aku tak tega untuk melukai pula putranya..."

"Melepaskan harimau pulang gunung tokh hanya meninggalkan bibit bencana dikemudian hari."

"Sekalipun Gak In Ling berlatih sepuluh tahun lagi, belum tentu ia bisa menandingkan Sin-kun,"

Ujar Gadis suci dari Nirwana dengan wajah amat serius.

"Tidak, kemungkinan besar Gak In Ling mempunyai sesuatu penghadang didalam tubuhnya, kalau tidak aku benar-benar tak mampu untuk menandingi Telapak mautnya."

"Suatu penjelasan yang amat licik,"

Pikir Gadis suci dari Nirwana dalam hatinya. Berpikir sampai disitu, ia lantas berkata.

"Kedatangan Sin-kun kemari entah ada rencana apa ?"

"Ingin minta pimpinan dari Lengcu "

"Sinkun tentu ada sesuatu rencana besar ?"

"Benar, aku berhasil menemukan sesuatu kesempatan baik,"

Satu ingatan berkelebat dalam benak Gadis suci dari Nirwana, pikirnya didalam hati.

"Orang ini bicara amat tenang dan mantap, kalau dikatakan ada sesuatu rencana jahat semestinya sukar untuk membuat orang menjadi percaya, tetapi adik Ling telah berpesan kepadaku untuk berhati-hati, apa salahnya kalau kuperiksa jalan pikirannya ?"

Berpikir sanpai disitu, sambil tertawa segera tanyanya.

"Entah rencana bagus apakah yang berhasil ditemukan oleh Yap Cianpwee ...."

"Sejak menderita kegagalan dalam usaha dibenteng Hui-in-cay tempo hari. pihak perkumpulan rahasia dari Tibet rupanya sudah menduga bahwa Lengcu pasti akan memimpin anak buahnya untuk melakukan pembalasan dendam, pokoknya ia hendak turun tangan terlebih dahulu, inti kekuatannya sudah dipindahkan kelembah cupu-cupu dibukit Tiang-pek-san ini."

"Lembah cupu-capu ?"

Sela Perempuan naga peramal sakti dari samping kalangan, ketua dari perkumpulan rahasia yang berasal dari Tibet amat licik dan banyak akalnya, masa ia menyebarkan kekuatannya perkumpulan didalam lembah mati yang hanya bisa bertahan dan tak dapat melakukan penyergapan itu ?"

"Tentang hal ini aku kurang begitu tahu tentang maksud tujuannya,"

Jawab Yap Thian Leng sambil gelengkan kepalanya.

"Tetapi aku yakin Lengcu menarik keuntungan yang lebih besar mengenai keadaan medan tempat ini, karena itu aku merasa inilah kesempatan yang baik bagi kita untuk turun tangan."

"Bagaimana menurut pendapat Sinkun ?"

"Menurut pendapatku,"jawab Yap Thian Leng tanpa ragu-ragu.

"meskipun pihak perkumpulan rahasia dari Tibet tidak begitu memahami keadaan dibukit Tiang-pek-san, akan tetapi setelah ia berani mempergunakan lembah buntu itu sebagai pangkalannya, jelas ia mempunyai maksud-maksud tertentu, siapa tahu kalau ini adalah siasat tentara semunya ?"

Perempuan naga peramal sakti yang mendengar perkataan itu segera mengangguk, jawabnya.

"Yang semu adalah nyata, yang nyata adalah semu, perduli semu atau nyata tak mungkin dia benar-benar menghimpun kekuatannya dalam lembah buntu tersebut."

Gadis suci dari Nirwana Pek Giok Ji tidak memberi komentar lebih lanjut, ia bertanya kembali.

"Menurut pendapat Sinkun, tindakan macam apakah yang harus kita ambil untuk menghadapi situasi semacan ini?"

Diam-diam Malaikat suci dari lima bukit merasakan hatinya bergetar keras-keras, pikirnya dengan cepat.

"Selamanya nona ini cepat ambil keputusan dalam menghadapi setiap masalah yang sedang dihadapinya, kenapa 766 ini hari ia bertanya dan bertanya terus seperti hendak menyelidiki saja ? Aku harus lebih berhati-hati...."

Berpikir sampai disitu, mendadak satu ingatan berkelebat dalam benaknya, ia segera menengadah dan berpaling kearah Perempuan naga peramal sakti, tanyanya.

"Menurut pendapat perempuan naga peramal sakti, apa yang harus kita lakukan untuk mengatasi persoalan ini ?"

Perempuan naga peramal sakti tidak tahu duduk perkara yang sebenarnya, setelah termenung dan berpikir beberapa saat lamanya ia lalu menjawab.

"Menurut pendapat Siau-li, sebelum kenyataan tertera dengan nyata alangkah baiknya kalau kita kirim orang lebih dahulu untuk menjaga-jaga dimulut lembah cupu-cupu,jika orang-orang dari perkumpulan rahasia tersebut berani keluar maka ada satu kita bunuh satu, lama kelamaan niscaya kita akan tahu bagaimanakah kenyataannya."

Gadis suci dari Nirwana merasa amat girang setelah mendengar perkataan itu, pikirnya.

"Kali ini akau kulihat bagaimana caramu untuk menghadapi usul tersebut ?"

Malaikat suci dari lima bukit sendiripun merasa kegirangan, namun perasaan tersebut tidak sampai diutarakan diluaran, sesudah termenung sebentar katanya.

"Sahabat-sahabat persilatan yang datang bersama diriku telah kutempatkan dimulut lembab tersebut, urusan tak boleh ditunda-tunda lagi, bagaimana menurut pendapat Lengcu?"

Gadis suci dari Nirwana merasa sangat kecewa, ia tak habis mengerti setelah Malaikat suci dari lima bukit berpihak kepada perkumpulan rahasia dari Tibet, apa sebabnya ia tak memiliki rencana yang masak sebaliknya malahan mendengarkan keputusannya ?"

Tetapi ketika itu sorot mata Malaikat suci dari lima bukit serta parajago sedang ditujukan semua keatas wajahnya, membuat gadis itu tak dapat mengulurkan waktu lagi, jawabnya.

"Baiklah sekarang juga kita berangkat "

"Terhadap tempat ini apakah Lengcu telah melakukan sesuatu persiapan...?"

Maksud dari perkataan itu sudah jelas mengharapkan Pek Giok Ji lebih mementingkan garis depan daripada garis belakang.

Dalam hati kecilnya Pek Giok Ji tertawa dingin, sebentara diluaran sambil tertawa jawabnya.

"Sinkun tak usah kuatir, Siau-te tentu saja telah mengadakan persiapan."

Malaikat suci dari lima bukit adalah manusia yang amat licik, mendengar perkataan itu buru-buru ia tertawa dan menjawab.

"Aaahh . Aku telah berbuat lancang, kalau begitu biarlah aku berangkat lebih dahulu dan menantikan kehadiran Lengcu dimulut lembah."

Tidak menunggu jawaban dari gadis itu lagi, bersama anak buahnya ia berlalu lebih dahulu. Gadis suci dari lima bukit tertawa dingin sepeninggalnya jago-jago persilatan itu ujarnya kepada Su Put Siang.

"Pergilah siapkan sekelompok anak murid kita, tiga tua pelindung gunung tak usah ikut, empat pelindung hukum mengiringi kita."

Su Put Siang mendapat perintah dansegera berlalu, kepada Perempuan naga peramal sakti kembali tanyanya.

"Apakah cici bersedia untuk ikut serta ?"

"Bagaimana dengan Gak In Ling sekalian ?"

"Tentu saja mereka tak boleh turut serta"

"Apa yang hendak Lengcu lakukan terhadap mereka ?"

"Akan kuserahkan benda ini kepadanya"

Jawab Gadis suci dari Nirwana sambil ambil keluar sebuah tanda perintah kumala putih Pek-giok-leng. Paras muka Perempuan naga peramal sakti berubah hebat, serunya tanpa sadar.

"Lengcu, tanda pengenal tersebut merupakan tanda paling berkuasa dalam perkumpulan kita.."

"Cici, keputusanku telah bulat,"

Tukas Gadis suci dan Nirwana dengan muka serius.

"Dalam perjalanan kita kali ini, aku harap cici suka memperhatikan dengan seksama setiap perkataan dan gerak-gerik dan Yap Thian Leng, sebab keselamatan kita semua kemungkinan besar harus bergantung pada perhitungan cici yang tepat."

Terjelos hati Perempuan naga peramal sakti mendengar ucapan tersebut pikirnya.

"Cinta memang sesuatu yang menakutkan sekali, sungguh tak kusangka dengan kecerdasan dari Lengcu ternyata kali ini ia tak dapat merasakan akan siasat, pinjam golok membunuh orang dari Gak In Ling."

Berpikir demikian buru-buru ia jawabnya.

"Hamba terima perintah "

Perlahan-lahan ia mengundurkan diri dari ruangan tersebut.

Sementra itu dalam ruang tengah hanya tinggal Gadis suci dari Nirwana beserta keempat orang dayangnya, gadis itu berjalan menuju ketepi dinding menggulung lukisan antik dan serunya.

"Adik Ling, silahkan keluar "

Gak In Ling dan Hoa Yan Hun secara beruntun berjalan keluar, Gadis suci dari Nirwana segera serahkan tanda perintah ini kepada pemuda tersebut, pesannya.

"Adik Ling, segala sesuatunya ditempat ini harap kau atur bersama adik Hun, aku segera akan berangkat."

"Cici, benarkah engkau mempercayai kami berdua ?"

Seru Hoa Yan Hun dengan alis melentik, Gadis suci dari Nirwana tertawa.

"Engkau adalah musuh besarku "

Katanya.

"Benar cici. karena itu..."

"Tapi tanda perintah-itu adalah benda yang..."

Hoa Yan Hun tak dapat menahan rasa harunya lagi, ia berseru dan menubruk kedalam pelukan gadis tersebut, teriaknya.

"Cici.... cici.. aku., aku pernah berhasrat membinasakan dirimu..."

"Aku tahu,"jawab Gadis suci dari Nirwana sambil membelai rambutnya yang halus.

"adik Hun, aku tahu akan hal ini karena dahulu akupun pernah mampunyai jalan pikiran yang sama seperti dirimu, kita semua tahu, bukan aku yang dapat memahami dirimu juga bukan engkau yang dapat memahami diriku, melainkan kita pada saat yang bersamaan dapat saling mengalah lantaran seseorang."

Berbicara sampai disitu dengan pandangan kosong dia melirik sekejap kearah Gak In Ling.

"Benar,"

Ujar Hoa Yan Hun dengan tertawa.

"cici semoga saja mulai saat ini kita tidak akan saling berpisah kembali."

"Adikku, semoga saja demikian, aku harus berangkat lebih dahulu,"

Ia mendorong tubuh Hoa Yan Hun dan tanpa menanti jawaban diiringi keempat orang dayangnya segera berlalu dari situ. Sepeninggal gadis tadi, Hoa Yan Hun berpaling kearah Gak In Ling sambil bertanya.

"Engko Ling, apa yang harus kita lakukan?"

Sambil acungkan tanda perintah yang berada ditangannya pemuda itu menjawab.

"Yap Thian Leng bajingan tua itu tidak tahu kalau aku masih hidup, lebih-lebih tidak tahu kalau kita berada disini, karena itu kita boleh memimpin anak buah dari Yau-ti-leng dan menyusul dari belakang."

"Kemungkinan besar Perempuan naga peramal sakti tidak percaya dengan kita, aku kuatir kalau ia membeberkan rencana tersebut kepada bajingan tua itu, kalau sampai begitu bukankah kita bakal celaka ?"

"Tidak mengapa, menanti bajingan tua itu mendapat kabar, kita sudah tiba disana cepat. Persoalan ini tak bisa ditunda lagi."

Selesai berkata bersama dengan Hoa Yan Hun berangkatlah mereka tinggalkan ruangan tersebut.

Lembah cupu-cupu letaknya kurang lebih lima ratus li disebelah barat markas besar perkumpulan Yau-ti-leng, tempat itu dikelilingi bukit yang menjulang tinggi ke angkasa dan terjal, sepanjang tahun selalu dilapisi oleh salju yang tebal.

Tempat itu berada diatas markas besar perkumpulan Yau-ti-leng, sekilas memandang dapat diketahui bahwa tempat itu merupakan tempat yang paling bagus untuk menyergap markas besar tersebut.

Lembah cupu-cupu, sesuai dengan namanya berbentuk bagaikan cupu-cupu yaitu mulut kecil dengan lambung yang besar, mulut lembab merupakan tebing-tebing dilapisi salju tebal, setiap saat kemungkinan besar dapat terjadi longsor salju.

Ada satu tempat lain lagi yang tidak mendapat perhatian orang, yakni bukit-bukit yang mengitari lembah tersebut, bila salju digugurkan dari arah atas niscaya lembah tadi akan rata dengan tanah.

Rombongan yang dipimpin Gadis suci dari Nirwana menerjang turun dari mulut bukit sebelah Timur, baru saja berbelok suatu tebing mendadak mereka temukan ada belasan orang sedang bertempur dengan serunya dimulut selat itu.

"Saudara-saudara sekalian jangan gugup, aku datang membantu "

Sambil berseru ia menerjang maju sehingga mencapai empat puluh tombak lebih.

Para jago yang datang bersama-sama Yap Thian Leng semuanya merasa amat gusar dan sama-sama menerjang kedepan, semua jago ganas.

771 bagaikan harimau terluka, keadaaanya benar menyeramkan sekali.

Perempuan naga peramal sakti melirik sekejap kearah Gadis suci dari Nirwana kemudian tanyanya.

"Lengcu, mari kita maju bersama "

Gadis suci dari Nirwana tertawa dingin, katanya.

"Malaikat suci dari lima bukit luar biasa juga, sebelum tiba badannya suara bentakan telah dipancarkan lebih dahulu, bukankah itu sama halnya telah memberikan kesempatan yang sangat besar bagi musuhnya untuk melarikan diri ?"

Perempuan naga peramal sakti telah menaruh curiga kalau Pek Giok Ji terpengaruh olehnya, mendengar perkataan itu ia segara berkata.

"Lengcu mungkin sudah menarah kesalahan paham"

Gadis suci dari Nirwana adalah yang cerdik, dari perubahan wajah orang ia sudah mengetahui apa yang dipikirkan lawannya, sambil tertawa tawa segera jawabnya.

"Perhitungan cici tersohor karena tepatnya, mungkin akulah yang sok pintar dan salah memahami orang lain, mari kita serang "

Sambil ulapkan tangannya, ia pimpin anak buahnya menerjang maju kearah depan.

Orang yang sedang melangsungkan pertarungam bukan lain adalah antara jago-jago dari perkumpulan rahasia dengan para jago yang ditugaskan Malaikat suci dari lima bukit untuk menjaga mulut lembah, pihak Tibet yang dipimpin oleh dua orang lama baju merah disertai empat lima orang jago kelas tiga.

Dari pihak para jago Tionggoan semula terdiri dari belasan orang, akan tetapi pada waktu itu ada empat orang yang terluka ditangan lhama baju merah itu apa lagi dengan 772 serangannya yang berat dan tak kenal ampun, para korbannya tak seorangpun berada dalam keadaan hidup.

Dalam pada itu Malaikat suci dari lima bukit telah menerjang kedepan, ditengah bentakan keras ia terjang seorang lhama baju merah yang bermata besar, berhidung singa, bentaknya dengan penuh kegusaran.

"Sambutlah sebuah pukulanku"

Rupanya lhama tersebut telah menyaksikan datangnya serbuan musuh dalam jumlah lebih besar, ia berseru dan melayang masuk kedalam lembah sejauh tiga tombak lebih, begitu tubuh nya mencapai tanah dengan jurus menampik tamu datang dari jauh, ia serang telapak baja orang she Yap tersebut sambil bisiknya.

"Yap Thian Leng, apakah gadis rupawan yang ada dibelakang adalah Gadis suci dari Nirwana ?"

Sambil putar telapak melancarkan serangan balasan, Malaikat suci dari lima bukit membenarkan.

"Tidak salah, memang dialah orang nya, sekarang kalian berdua harus segera mengundurkan diri dari sini"

Dari balik sorot mata lhama tersebut memancar keluar sinar kecabulan, ujarnya kembali.

"Aku ingin menjumpai dirinya lebih dahulu "

"Hal ini mana boleh jadi, rencana besar dari Tiongcu tak boleh di rusak dengan begitu saja"

Seru Ngo-gak Siw-kun dengan gelisah.

Sementara itu Su Put Siang telah menyambut kedatangan lhama yang lain, pertarungan berjalan amat seru dan tak kalah sengitnya dengan pertarungan tipu-tipuan dari Yap Thian Leng.

Rupanya lhama tersebut sudah terpikat hatinya oleh kecantikan wajah gadis itu, ia tak mau tahu apa artinya rencana besar, sambil membentak serunya.

"Huuuuhh. Engkau manusia macam apa, berani benar mencampuri urusan toaya mu ? Rupanya sudah ingin mati ?"

"Demi suksesnya besar dari Tiongcu kita engkau tidak sepantasnya kalau bertindak sesuka hatimu,"

Kata Yap Thian Leng dengan penuh kegusaran.

"kendatipun kedudukanku tidak memadahi engkau, tetapi engkau jangan mencoba untuk menakut-nakuti diri, kalau engkau hendak usiki gadis itu maka terlebih dahulu robohkan dulu aku."

Lhama itu melirik sekejap kearah Gadis suci dari Nirwana, ketika melihat jaraknya hanya terpaut tujuh tombak daripada dirinya, diam-diam ia merasa amat girang, bentaknya dengan gusar.

"Yap Thian Leng, apa susahnya untuk merobohkan dirimu ? Sambutlah seranganku ini"

Gerakan serangannya segera berubah, bagaikan hembusan angin puyuh ia serang lawannya habis-habisan.

Malaikat suci dari lima bukit menyadari bahwa dua orang-lhama yang ditugaskan datang kemari untuk memimpin rencana tersebut mempunyai kepandaian silat yang sangat tinggi dan jauh diatas kepandaian sendiri, melihat serangan tersebut dengan ketakutan ia loncat mundur dua tombak kebelakang untuk menghindarkan diri.

Diam-diam Gadis suci dari Nirwana yang mengikuti jalannya pertarungan itu tertawa dingin, pikirnya.

"Paham amat dirimu atas ilmu silat yang dimilikinya "

Baru saja ingatan tersebut berkelebat dalam benaknya, tiba-tiba bayangan merah berkelebat lewat, lhama yang gemuk besar itu bagaikan seekor burung raksasa tahu sudah menerjang datang dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.

Buru-buru Pek Giok Ji tarik kembali senyumannya, akan tetapi ia tidak menghindar, sorot matanya dengan tajam menatap datangnya serangan dari lhama baju merah itu tanpa berkedip.

Lhama baju merah ituamat sombong, melihat gadis itu tidak melawan, ia segera tertawa terbahak-bahak.

"Haaaahh haaaaahh.... haaaahh, orang cantik, engkau tak usah takut, aku tak akan melukai tubuhmu."

Sepasang Telapaknya yang besar bagaikan kipas dengan cepat telah menyambar ke-bawah dan tahu-tahu sudah berada kurang lebih tiga cun diatas bahu gadis itu.

Saat yang amat kritis itulah, tiba-tiba terdengar Pak Giok Ji membentak keras.

"Enyah kau dari sini "

Telapaknya berkelebat kemuka dan tahu-tahu sudah ditarik kembali.

"Blaaamm "

Ditengah benturan keras, terdengarlah lhama tersebut menjerit ngeri, segulungan bayangan merah mencelat kebelakang dan kebetulan sekali jatuh terjungkal kurang lebih 2 depa dihadapan Malaikat suci dari lima bukit.

Yap Thian Leng yang menyaksikan kejadian itu menjadi amat terperanjat, pikirnya.

"Kenapa begitu persis ia roboh dihadapannya? Apa yang harus kulakukan?"

Untuk beberapa saat lamanya ia berdiri tertegun.

Lhama baju merah itupun bukan manusia sembarangan, tadi ia jatuh kecundang hanya didalam satu jurus belakang, sadarlah ia bahwa gadis itu merupakan musuh yang amat tangguh, pikirannya menjadi terang kembali dan tanpa memperdulikan akan luka dalam yang dideritanya, lhama tersebut tarik napas panjang kemudian dengan gerakan ikan lehi melenting, ia loncat jauh dua tombak lebih dari tempat semula, teriaknya.

"Musuh amat tangguh, mundur "

Tanpa berpaling buru-buru ia putar badan dan kabur masuk kedalam lembah buntu itu.

Lhama lainnya sewaktu melihat rekannya kabur, ia tak berani berdiam lebih lama lagi disana.

sambil menjerit buru-775 buru badannya berputar dan kabur pula masuk kedalam lembah.

Sementara itu diantara empat orang jago kelas tiga yang ikut serta bersama lhama tadi, sekarang hanya tinggal tinggal satu orang, melihat pemimpinnya telah kabur, tanpa memperdulikan diri lagi buru-buru ia ikut kabur masuk ke dalam lembah.

Malaikat suci dari lima bukit segera sadar kembali apa yang telah terjadi, ia membentak keras dan maju kedepan, dengan jurus Lek-peng ngo-gi atau menghancur ratakan lima bukit ia hajar punggung orang itu Jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang memecahkan kesunyian, orang itu mencelat sejauh empat tombak kedepan dan roboh binasa.

Pek Giok Ji memburu kedepan, ujarnya sambil tertawa.

"Ngo-gak Sin-kun, sungguh dahsyat tenaga pukulanmu itu "

Malaikat suci dari lima bukit tak berani menatap wajah gadis itu karena dalam hati ada setannya, sambil tertawa ia menjawab.

"Aaaahh... Mana... mana........ Lengcu terialu memuji, sayang sekali lhama itu berhasil melarikan diri."

"Andaikata pada waktu itu Ngo-gak Sin kun menambahi dengan sebuah pukulan lagi, niscaya bangsat gundul itu sudah pulang keakherat."

Dalam hati Malaikat suci dari lima bukit merasa amat terperanjat, namun perasaan tersebut tidak sampai diperlihatkan diluaran, ia sengaja menghela napas panjang dan berkata.

"Aaaaii pada waktu itu tidak sepantasnya kalau aku memikirkan banyak persoalan."

"Sin-kun hidup sebagai pendekar yang berhati suci, tentu saja engkau tidak ingin membokong orang dikala orang 776 sedang susah, sudahlah tak usah kita persoalkan hal itu lagi, yang penting sekarang adalah bagaimana caranya kita hadapi keadaan yang berada didepan mata."

Legalah hati Yap Thian Leng mendengar ucapan itu, katanya dengan cepat.

"Kecerdasan perempuan naga benar-benar melebihi orang lain, apa yang kupikirkan didalam hati ternyata berhasil kau tebak."

Gadis suci dari Nirwana tertawa dingin.

"Haaaaahh haaaaahh haaaahh dibandingkan dengan perbuatan Sin kun menghajar seorang manusia kelas tiga dari belakang, bukankah perbuatan tersebut jauh lebih tidak berharga?"

Paras muka Malaikat suci dan lima bukit berubah hebat, diam-diam pikirnya.

"Ucapan ini tak mungkin tanpa sebab, jangan-jangan-.."

Berpikir sampai disitu ia segera menjawab.

"Aaaaii.... aku sendiripun tak tahu apa sebabnya bisa berbuat demikian."

Dengan perasaan tidak puas Perempuan naga peramal sakti melirik sekejap kearah Lengcu nya, sementara dalam hati gerutunya.

"Hanya disebabkan Gak in Ling seorang engkau telah melupakan masalah besar, bukankah tindakkan seperti ini jauh lebih tidak berharga ?"

Walaupun dalam hati merasa tidak puas, namun perasaan tersebut tidak sampai diutarakan keluar. Dalampada itu Gadis suci dari Nirwana telah menyapu sekejap sekeliling tempat itu, kemudian ujarnya.

"Bukit salju disekeliling tempat ini sangat tinggi, andaikata longsor kebawah maka kita semua pasti akan terkubur ditempat ini, bagaimana menurut pendapat Sinkun ?"

Dalam hati Malaikat suci dari lima bukit tertawa dingin, pikirnya.

"sekarang baru merasakan akan hal ini, apakah tidak terialu lambat ?"

Berpikir demikian, sambil tertawa segera jawabnya.

"Keadaan disini memang demikian, pada mulanya aku tidak pernah berpikir sampai disitu..."

Dengan gerakan yang santai ia bergendong tangan dan perlahan-lahan bergeser kurang lebih satu tombak kearah mulut lembah. Gadis suci dari Nirwana kembali tertawa dingin, ujarnya.

"Perkataan dari Sinkun benar-benar sukar bikin hati orang menjadi percaya, dalam kolong langit siapa yang tidak tahu akan kecerdasan Sin kun melebihi orang lain dan selama hidup belum pernah tertipu oleh orang lain."

"Apakah Lengcu menaruh curiga terhadap diriku ?"

Tanya Yap Thian Leng dengan hati tercekat. Melihat keadaan semakin tegang, buru-buru Perempuan naga peramal sakti melerai, katanya.

"Sin kun jangan salah paham "

Dengan perasaan tidak puas para jago yang datang bersama Malaikat suci dan lima bukit memandang kearah Pek Giok ji. Kembali Gadis suci dari Nirwana tertawa-dingin, katanya. -oo0dw0oo-

Jilid 23

"BUKAN saja aku telah mencurigai dirimu, bahkan mengetahui pula bahwa engkau telah menggabungkan diri dengan perkumpulan rahasia dari Tibet "

"Mana buktinya ?"

Teriak Yap Thian Leng dengan paras muka berubah hebat.

"Gak In Ling sama sekali tidak mati, Sin kun harus tahu racun yang mengeram dalam tubuhnya hanya bisa disembuhkan oleh obat mujarab yang kumiliki, dan sekarang ia telah sembuh."

"Haaaahh... haaaaahh... haaahh... Lengcu tidak sepantasnya membiarkan orang itu berdiam disini "

"Mengapa ?"

Malaikut suci dari lima bukit mundur dua langkah kebelakang, sambil tertawa seram kembali serunya.

"Karena perbuatanmu itu. maka kalian harus berpisah untuk selama-lamanya."

Para jago yang mendengar perkataan itu sama-sama berdiri tertegun, mereka tidak mengerti apa yang dimaksudkan-Sebaliknya Gadis suci dari Nirwana tertawa dingin, sahutnya.

"Heeeehh heeeeehh hseeeeh aku rasa belum tentu demikian"

Malaikat suci dari lima bukit tertawa seram.

sambil kabur masuk kedalam lembah ia memperdengarkan suara sultan nyaring yang amat memekikkan telinga.

Bersama dengan adanya berkumandang suara pekikan tersebut tiba-tiba dari atas tebing disekitar lembah tersebut berkumandang suara jeritan ngeri yang menyayatkan hati, dengan suara gemuruh yang amat dahsyat tumpukan salju diatas lembah cupu-cupu mendadak longsor kebawah dan menimbun permukaan tanah dibawahnya.

Siapapun diantara para jago yang hadir di situ tak pernah mengira kalau Malaikat suci dari lima bukit yang selalu dianggap sebagai pemimpin persilatan bisa menghianati para 779 jago dan bekerja sama dengan pihak Tibet untuk mencelakai mereka semua.

Gadis suci dari Nirwana sendiri kendatipun sudah memperoleh peringatan dari Gak In Ling akan tetapi dalam hatinya masih setengah percaya setengah tidak.

selama ini ia bersikap tidak sungkan terhadap Yap Thian Leng hal ini dikarenakan ujud cintanya pada pemuda itu dan ia berharap bisa lenyapkan para jago tua tersebut agar bisa membalaskan dendam bagi kekasihnya.

Karena itu tatkala ia saksikan Yap Thian Leng memperlihatkan muka aslinya, rasa kaget yang tercekam dalam hatinya sukar dilukiskan dengan kata-kata, ia menjadi kelabakan dan tak tahu apa yang mesti dilakukan.

Suara gemuruh akibat longsornya salju menyadarkan para jago dari lamunan, semua orang tercekat hatinya dan berusaha mencari perlindungan yang dapat menyelamatkan nyawanya dari ancaman.

Disaat yang kritis dan tegang itulah, tiba-tiba dari atas tebing berkumandang datang suara seruan Gak In Ling yang lantang.

"Saudara-saudara sekalian tak usah gugup atau gelisah, semua cecunguk perkumpulan rahasia dari Tibet yang bersembunyi disekitar tempat ini telah berhasil dibasmi oleh anggota perkumpulan Yau-ti-leng, sekarang semua situasi dan keadaan telah berada ditangan kami. cukup kalian perketat penjagaan dimulut lembah saja dan membasmi setiap orang yang berusaha untuk melarikan diri dari situ."

Mendengar seruan tersebut para jago merasa terkejut dan alihkan sorot matanya ke atas, tampaklah seorang pemuda berbaju hitam dengan gagah dan angkernya berdiri diatas puncak tebing.

Diantara para jago yang hadir didalam lembah, terdengar seorang berseru lantang.

"Diantara anggota perkumpulan Yau-ti-leng tidak terdapat orang -orang pria pun, siapa engkau ?"

"Aku adalah Gak In Ling "

"Waaah....... Gak In Ling "

Jerit para jago dengan hati terperanjat.

sementara itu bayangan pungung Gak In Ling telah lenyap dari pandangan, mungkin ia sedang memberi petunjuk kepada para jago dari perkumpulan Yau-ti-leng.

Dengan sedih Pek Giok ji menghela napas panjang, katanya.

"Sekarang, apakah kalian merasa bahwa ia adalah seorang manusia yang kejam dan sadis?"

Merah padam selembar wajah para jago sesudah mendengar ucapan tersebut, karena sebelum itu mereka pernah membenci pemuda itu dan mengira dia adalah seorang gembong iblis yang gemar membunuh orang.

Diantara para jago muncul seseorang dan berkata.

"Lengcu. sekarang duduk perkara telah diketahui, dahulu para jago dari daratan tionggoan telah dipergunakan oleh Yap Thian Leng, tetapi dosa dan kesalahannya telah ketahuan, sekarang sudah tiba saatnya bagi kita untuk menebus dosa, mari kita jaga mulut lembah ini sebaik-baiknya."

Seruan itu mendapat sambutan yang meriah semua orang menggosok kepalan menyebarkan diri untuk menjaga mulut lembah tersebut.

"Aku harap kalian baik-baik menjaga disini."

Kata Pek Giok ji kemudian.

"kalau ada yang muncul biarkan dulu, tunggu mereka semua telah keluar barulah kita sekali turun tangan dan membasmi habis semua."

Para jago mengiakan dan segera menyebarkan diri untuk membuat jebakan, sedangkan sisanya mengundurkan diri sejauh kurang lebih dua puluh tombak dan tempat semula.

Dalampada itu salju yang longsor didalam lembah cupu-cupu kian lama kian bertambah dahsyat, dan suasanapun makin mengerikan sekali.

Tiba-tiba dari balik lembah muncul belasan orang manusia baju merah, mereka semua bewajah kaget dan gugup, dengan paras muka pucat pias, mereka melarikan diri terbirit-birit untuk mencari selamat, namun diantara mereka tidak nampak beberapa orang lhama tersebut maupun Yap Thian Leng.

Dalam pada itu salju yang gugur dan longsor kebawah hampir menimbun seluruh lembah cupu-cupu, sehingga tersisalah sebuah jalur sempit yang amat panjang.

Tiba-tiba dari tengah udara berkelebat lewat sosok bayangan manusia, sekali berkelebat tubuhnya sudah berada dipuncak tebing diikuti jeritan-jeritan ngeri berkumandang memecahkan kesunyian, rupanya diatas jalur sempit itu tersembunyi pula para jago dari Tibet.

Bayangan hitam yang barusan berkelebat lewat itu bukan lain adalah Gak In Ling jago kita.

Setelah membereskan penyamun-penyamun tersebut, si anak muda itu duduk diatas sebuah batu besar, tampaklah Yap Thian Leng serta tiga orang lhama berhenti ditengah selat sempit.

Terdengar salah seorang lhama itu menggerutu.

"Huuuuhh semuanya ini gara-gara engkau yang tidak bisa bekerja dengan hati-hati, coba lihatlah rahasia kita ketahuan lawan dan seluruh rencana dari Tiongcu menemui kegagalan total, ketahuilah dosa ini tak mungkin bisa ditanggung orang lain-"

Bagaimanapun juga Malaikat suci dari lima bukit Yap Thian Leng termasuk juga seorang pemimpin persilatan karena keadaan yang memaksa ia harus takluk kepada perguruan rahasia dari Tibet, mendengar ucapan tersebut ia menjadi naik pitam dan segera berseru.

"Siapa suruh Tiongcu tak mau membinasakan Gak In Ling ?"

"Kurang ajar Engkau berani menista Tiongcu ?"

Bentak seorang lhama dengan wajah merah padam.

Yap Thian Leng merasa amat terperanjat, buru-buru sahutnya dengan suara lirih^ "Aku tidak mempunyai keberanian sebesar itu, meskipun rencana kita yang pertama mengalami kegagalan, asal kita tetap bertahan diri dan jangan keluar dari selat sempit ini sehingga memberi kesempatan bagi Tiongcu untuk menghancurkan markas besar perkumpulan Yau-ti leng, rasanya tindakan kita inipun merupakan sebuah pahala besar."

Gak In Ling yang mendengar perkataan itu menjadi amat terperanjat, segera pikirnya didalam hati.

"Untung aku hanya membawa Kui Bin Popo, adik Hun, Lan in Loojin serta ciang-liong san beberapa orang, dan tidak membawa serta tiga Tianglo dari perkumpulan Yau-ti-leng, kalau tidak siapakah yang akan menahan serangan mereka ?"

Sementara otaknya masih berputar, beberapa jeritan ngeri berkumandang dari luar lembah, ada beberapa orang bandit yang berusaha melarikan diri telah berhasil dirobohkan.

Gak In Ling mendongak keatas, ia melihat Hoa Yan Hun dan Kui Bin Popo sekalian sedang menuju ke lembah depan, ia tahu pastilah mereka salah paham dan mengira orang-orang dalam lembah telah keluar semua.

Gak In Ling tak berani berayal lagi, ia segera membentak keras.

"Bajingan tua she Yap. lihat Siau-ya mu berada dimana ?"

Mendengar bentakan itu Malaikat suci dari lima bukit menjadi terperanjat ia menengadah... Blaaamm. Tiba-tiba segumpal besar salju longsor kearah bawah, dengan hati tercekat jeritnya .

"cepat kabur "

Ketika ketiga orang lhama itu menjumpai Gak In Ling yang berada diatas puncak bukit, sadarlah sekarang bahwa suara jeritan yang terdengar tadi bukan berasal dari orang yang sedang melarikan diri, melainkan para muridnya yang ada diatas tebing telah mati dibunuh.

Sejak melihat munculnya Gak In Ling, mereka sudah tidak memiliki pendirian, apalagi mendengar jeritan dari Yap Thian Leng, tanpa banyak bicara lagi mereka kabur kemulut lembah.

Yap Thian Leng tidak malu disebut sebagal seorang pemimpin persilatan, menghadapi ancaman bahaya maut, hatinya sama sekali tidak kaCau, deagan cepat satu ingatan berkelebat dalam benaknya.

"Kalau empat orang mengundurkan diri melalui arah yang sama, jalan mundurnya tentu akan dipotong Gak In Ling danpada saat itu tiada jalan mundur lagi bagiku, lebih baik menggunakan kesempatan dikala mereka sedang lari kedepan, aku bersembunyi dahulu kemudian baru kabur lewat jalan belakang..."

Setelah mengambil keputusan ia segera lari kedepan, kemudian setengah jalan ia tempelkan badannya ditepi dinding lembah sehingga bayangan tubuhnya tidak terlihat oleh Gak In Ling.

Selama ini pemuda she Gak itu selalu memperhatikan gerak-gerik dari Yap Thian Leng, melihat ia kabur kedepan, disangkanya penjahat tersebut lari menuju kemulut lembah, dalam hati ia mendengus dingin dan segera mengejar kebawah.

Gerak tubuh Gak In Ling cepat bagaikan sambaran kilat, tidak selang berapa saat kemudian ia sudah tiba diatas puncak lembah tersebut, ketika menengok kebawah maka tampaklah Gadis suci dari Nirwana sekalian sedang bertarung seru melawan tiga orang lhama, sedangkan bayangan dari Yap Thian Leng sama sekali tidak kelihatan.

Hatinya terperanjat, pikirnya.

"Jangan-jangan bajingan tua itu belum keluar ?"

Mendadak satu ingatan berkelebat dalam benaknya, ia berpikir lebih jauh.

"Aduh celaka, aku telah terkena siasat suara timur berada dibarat dari bajingan tua itu.."

Makin dipikir ia merasa makin yakin, maka dengan ilmu menyampaikan suara ujarnya kepada Gadis suci dari Nirwana.

"Enci Pek. setelah urusan disini selesai, cepat-cepatlah kembali kelembah To-hoa-kok, pemimpin dari Tibet telah membawa anak buahnya menyerang kesana, adik Hun biar berada bersama engkau untuk memecahkan irama pembetot sukmanya sedang aku akan mengejar bajingan tua itu."

Tidak menunggu jawaban dari Gadis suci dari Nirwana lagi, ia putar badan dan segera berlalu dari situ.

Gadis suci dari Nirwana yang mendengar ucapan tersebut menjadi amat terperanjat, buru-buru ia mendongak keatas, maka terlihatlah bayangan tubuh pemuda itu berkelebat lewat dan lenyap dibalik tebing.

Dalam hati ia segera ambil keputusan, pikirnya.

"Sekembalinya kelembah To-hoa-kok dan berhasil memukul mundur Tiongcu dari Tibet, aku tak sudi menjadi Lengcu lagi, kalau tidak maka selamanya aku tak dapat mendampingi disisinya."

Untuk sementara waktu baiklah kita mengikuti perjalanan dari Gak In Ling, baru saja ia tiba didaratan lembah yang datar, maka terlihat kurang lebih lima puluh tombak 785 dihadapannya Yap Thian Leng bagaikan seekor anjing yang kena gebuk sedang melarikan diri terbirit-birit.

Diam-diam si anak muda itu mendengus dingin, langkah kakinya dipercepat dan laksana petir menyambar ia meluncur sejauh dua puluh tombak lebih kearah depan.

Yap Thian Leng yang berada didepan sudah mendaki kepuncak tebing, tempat itu merupakan salah satu pos-pos yang semula dipertahankan oleh para jago dari perguruan rahasia, kini mayat bergelimpangan dimana-mana dengan cairan darah yang telah kental mengotori permukaan bumi.

Ia memperlambat gerakan tubuhnya, dalam hati pikirnya.

"Sungguh tak kusangka Gak In Ling bocah keparat itu lihay sekali, hampir saja seluruh rencanaku mencapai sasaran yang kosong, bahkan jiwakupun nyaris mampus dilembah cupu-cupu."

Setelah berhenti sebentar, dengan bangga ia berpikir lebih jauh.

"Kendatipun kecerdasannya melebihi orang lain, ia tak akan menyangka kalau aku bisa kabur dari tempat tersebut. Haaahh.... haaahh... haaaah.... inilah yang dinamakan kalau takdir belum menghendaki kematianku, dimanapun merupakan jalan keluar."

Baru saja Malaikat suci dari lima bukit merasa bangga, mendadak dari arah belakang berkumandang datang suara bentakan yang amat keras.

"Bajingan tua she Yap. serahkan nyawamu"

Suara itu muncul dari jarak kurang lebih dua puluh tombak dibelakang tubuhnya.

Mendengar seruan tersebut, Malaikat suci dari lima bukit menjadi amat terperanjat, ia berpaling, tatkala melihat hanya Gak In Ling seorang yang menyusul dirinya, ia agak lega, pikirnya.

"Bagaimanapun juga dia adalah panglima perang yang pernah kalah ditanganku, kenapa aku mesti takut kepadanya ? Biarlah kupancing dia untuk lebih jauh tinggalkan tempat ini, setelah itu baru turun tangan membasmi bibit bencana dikemudian hari."

Berpikir sampai disini, ia tertawa dingin dan semakin cepat kabur kearah depan-Dalam anggapan Yap Thian Leng, tenaga dalam yang dimiliki Gak In Ling masih kalah satu tingkat Jika dibandingkan dengan kepandaiannya, karena itu ia tak berani kabur secepatnya takut pemuda itu tak mampu menyusul sehingga melepaskan niatnya untuk menyusul.

Siapa tahu, belum jauh mereka kejar-mengejar, tiba-tiba terdengar Gak In Ling membentak keras.

"sekalipun engkau kabur keujung langitpun Siau-ya tidak akan melepaskan dirimu."

Malaikat suci dari lima bukit yang mendengar seruan tersebut saking kagetnya hampir saja ia menjerit keras, sebab suara itu berasal kurang lebih lima tombak dibelakang tubuhnya, ia tak berani banyak bicara lagi, sambil mengepos tenaga sekuat tenaga ia kabur kearah depan.

Sepertanak nasi kemudian mereka sudah berada kurang lebih seratus li jauhnya dari tempat semula, dari permukaan salju kini mereka telah tiba ditengah sebuah bukit berumput.

Mendadak dari tengah udara menggema datang suara bentakan keras.

"Bajingan tua she Yap. engkau hendak kabur kemana ?"

Walaupun hati Yap Thian Leng selalu tenang, namun sesudah mendengar bentakan itu tak urung ketakutan juga sehingga sukmanya terasa melayang tinggalkan raganya, tidak memperdulikan gengsinya lagi ia jatuhkan diri dan bergelinding sejauh satu tombak lebih dari tempat semula.

Menanti ia berdiri kembali, tampaklah Gak ln Ling dengan muka dingin telah berdiri kurang lebih dua tombak dihadapannya.

Hampir saja Yap Thian Leng tidak percaya dengan pandangan mata sendiri, karena pertama kali ia bermusuhan dengan seorang muda itu, lawannya begitu tak becus sehingga tak mampu menahan sebuah pukulannya, sedang sekarang ilmu meringankan tubuhnya membuktikan bahwa ia adalah jauh lebih lihay yang memiliki ilmu silat jauh diatas kepandaiannya.

Gak In Ling tertawa seram, katanya.

"Hey orang she Yap. tempat ini tak ada seorang manusiapun, aku rasa inilah tempat yang cocok bagi kita untuk bikin perhitungan."

"Heeehh heeeeeh heeeeehh.... ilmu meringankan tubuh yang kau miliki hebat sekali."

"Apa sangkut pautnya dengan dirimu ?"

Jengek Gak In Ling tertawa dingin.

"Tentu saja besar sekali hubungannya, kalau engkau tak mampu menangkan aku maka engkau masih bisa kabur "

"Aku kuatir engkaulah justru yang akan kabur "

"Pukulan yang kau terima di benteng Hui-in-cay, anggaplah sebagai pelajaran yang setimpal bagimu."

"Tak usah banyak bicara, silahkan turun tangan-"

Sambil berseru pemuda itu maju selangkah kedepan-"

Aku rasa lebih baik engkau duluan yang turun tangan, kalau tidak dari mana aku bisa tahu berapa bagian tenaga dalamku yang sanggup kau terima .?

Bila sampai salah perhitungan, bukankah aku bakal kehilangan seorang sahabat macam dirimu ?"

Orang ini licik sekali, ia hendak membangkitkan hawa gusar dari pemuda itu sehingga konsentrasinya menjadi buyar.

Berhadapan dengan pembunuh ayahnya sejak semula hawa amarah dalam dada Gak In Ling sudah berkobar, sekarang dipanasi pula oleh ucapan yang tidak tak enak didengar, ia semakin marah.

"Keledai tua, sambutlah seranganku ini "

Bentaknya. cahaya merah berkelebat lewat, dengan jurus hujan darah angin amis dia lancarkan sebuah pukulan kearah depan. Girang hati Yap Thian Leng menyaksikan pemuda itu gusar, pikirnya.

"Biarlah kusambut dahulu pukulannya kemudian baru turun tangan secara tiba-tiba membinasakan dirinya, dari pada aku mesti selalu memikirkan tentang ancamannya. ..."

Berpikir sampai disitu, seluruh tenaga dalam yang dimilikinya segera dihimpun kedalam telapak, kemudian bentaknya.

"Bocah keparat, rupanya kau sudah pingin mampus "

Dengan gerakan dorong bukit menguruk samudra, ia balas melancarkan satu pukulan kedepan-Kedua orang itu sama-sama menggunakan segenap kekuatan yang dimilikinya, jarak diantara mereka pun dekat sekali, bisa dibayangkan betapa dahsyatnya benturan yang bakal terjadi.

"Blaaaaamm "

Ditengah benturan keras yang memekikan telinga, pasir dan debu beterbangan memenuhi seluruh angkasa, pusaran angin kencang menggulung sehingga ketinggian sepuluh tombak.

Ditengah berhembusan angin kencang, tubuh Yap Thian Leng terdorong mundur empat langkah kebelakang, dada terasa amat sesak.

sepasang lengannya linu tak bertenaga 789 dan terkulai kebawah, hatinya merasa amat terperanjat, pikirnya.

"Mungkin bocah keparat itu telah menggunakan segenap tenaga kekuatannya yang dimiliki, akupun terdorong mundur empat langkah kebelakang, mungkin bangsat itu belum sempat bersuara, nyawanya sudah mencelat kembali keakhirat...."

Sambil berpikir sepasang matanya yang tajam memandang kearah depan, namun ditengah gulungan pasir ia tidak menemukan sesuatu.

Jago tua itu dapat berpendapat demikian karena dalam pertarungannya dibenteng Hui-in-cay tempo hari, hanya dalam satu pukulan saja ia berbasil menghantam Gak In Ling sehingga mencelat sangat jauh, kini dia sendiripun terdorong mundur empat langkah, tentu saja pemuda itu sudah mampus.

Ada satu hal telah dilupakan olehnya, Gak In Ling datang dari lembah To-hoa-kok dan disana terdapat obat yang dapat menyembuhkan racun dalam tubuhnya.

Segulung angin dingin berhembus lewat membuyarkan pasir dan debu, ketika ia mendongak kembali, bulu kuduknya pada bangun berdiri.

"Tak mungkin-.. tak mungkin-.."

Bisiknya tanpa terasa. Ternyata Gak In Ling sama sekali tidak terdorong mundur ke belakang, kendati hanya satu langkahpun. Dengan wajah menyeramkan pemuda itu maju kedepan, serunya.

"Bajingan tua, kalaupunya kepandaian sambutlah kembali sebuah pukulanku "

Mengikuti langkah kakinya yang berat, selangkah demi selangkah Yap Thian Leng mulai mundur kebelakang, tanpa ia 790 sadari nyalinya telah pecah dan mukanya berubah menjadi pucat pias bagaikan mayat.

Yang satu maju yang lain mundur, waktu berlarut dalam keheningan dan kesepian, segulung hawa pembunuh yang tebal menyelimuti seluruh angkasa membuat suasana bertambah tegang.

Malaikat suci dari lima bukit mulai gemetar, ditengah kesunyian yang mencekam dan ditanah perbukitan yang jauh dari keramaian, kecuali mengandalkan kekuatan sendiri tiada yang bisa diandalkan lagi, sebab Jika ia kalah maka untuk laripun tak mampu.

Untuk beradu kepandaian iapun keder sebab ia mulai sadar bahwa kepandaian silatnya masih bukan tandingan si anak muda itu.

Satu reaksi yang muncul dengan sendirinya membuat jago tua itu tanpa sadar meloloskan pedang yang tersoren dipunggung, dengan senjata ditangan ia berusaha untuk mempertahankan keberaniannya .

Gak In Ling sendiri, ketika melihat musuhnya mencabut senjata, iapun segera merogoh sakunya dan ambil keluar pedang pendek miliknya, dengan sorot mata penuh nafsu membunuh ujarnya kepada Yap Thian Leng.

"Bajingan tua, ayolah turun tangan, ini hari Siau-ya mu ingin membinasakan dirimu secara perlahan-lahan."

Yap Thian Leng memperkencang genggamannya pada pedang pendek itu, dalam hati pikirnya.

"Dia menguasai ilmu telapak mautnya, ilmu pukulan sudah jelas merupakan kepandaian andalannya, kini Jika bertempur dengan pedang maka akulah yang bakal menarik keuntungan, apa lagi pedang yang ia pergunakan begitu pendek.."

Keberanian muncul kembali dalam benaknya, ia segera membentak keras.

"Lihat serangan " . Dengan jurus bianglala mengitari sang surya ia tusuk dada pemuda she Gak itu. cahaya perak berkilauan diangkasa, bagaikan seekor ular lincah dalam waktu singkat tahu-tahu sudah tiba didepan sasaran. Gak ln Ling segera ayunkan pedang pendeknya membabat senjata lawan dengan jurus menguruk tanah membuat perbatasan, sementara tangan kirinya laksana kilat menghantam dada orang she Yap itu dengan jurus darah mengalir setinggi tiang. Ditengah bayangan berwarna merah. Ular perak berkelejit kedepan membuat orang itu susah menarik pedangnya untuk melindungi badan, karena Jika pedangnya ditariknya niscaya tubuhnya akan termakan oleh pukulan dahsyat itu. Mimpipun Yap Thian Leng tak menyangka kalau Gak In Ling bakal melancarkan serangan dengan menggunakan pedang serta telapaknya. Lingkaran pengaruh angin pukulan amat luas. Yap Thian Leng tak berani menarik pedangnya untuk melindungi badan, terpaksa ia gunakan senjata tersebut untuk balas membabat pedang pendek lawan-Criiiing Dentingan nyaring bergema diangkasa, Yap Thian Leng merasakan tangannya menjadi ringan, ia merasa gelagat tidak menguntungkan, dalam gugupnya ia sempat melihat pedang bajanya telah terpapas sepanjang beberapa depa, dengan hati terkesiap pikirnya.

"Walaupun pedangku ini tidak termasuk pedang mustika, namun terbuat diri pada baja murni, kenapa ia mampu memapas kutung ? Jangan-jangan pedang pendek yang dia pergunakan adalah sebilah pedang mustika."

Setelah serangannya berhasil, semangat Gak -In Ling semakin berkobar, disaat musuhnya masih tertegun dengan ketakutan, tiba-tiba ia membentak keras.

"Bajingan tua, sambutlah kembali sebuah seranganku "

Pedangnya berputar lincah, dengan gerakan Rantai baja melintang disungai, bagaikan kilat ia sapu tengkuk musuhnya sementara telapak kiri melancarkan serangan dengan gerakan banjir darah mayat membukit.

Setelah pedangnya terpapas, semangat tempur Yap Thian Leng jauh berkurang, mendengar bentakan itu, ia makin gugup dan tak tahu apa yang harus dilakukan, dengan serta merta ia jejakkan kakinya keatas tanah dan loncat dua tombak kesamping kanan, pedang kutungnya berputar kencang dengan jurus pohon kuno mengakar ditanah, dalam pikirannya pemuda itu pasti akan mundur kebelakang.

Siapa tahu apa yang kemudian terjadi, sama sekali diluar dugaannya, ketika Gak In Ling menyaksikan musuhnya mundur, dengan jurus yang tak berubah ia menyusul kedepan, bahkan gerakan tubuhnya jauh lebih cepat daripada lawannya.

Yap Thian Leng ketakutan setengah mati sehingga terasa sukma melayang tinggalkan raganya, walaupun ia tahu bahwa pedangnya bakal kutung lagi Jika membentur senjata lawan, akan tetapi untuk menyelamatkan diri mau tak mau terpaksa harus berbuat demikian-"Criiing Criiiiiing..."

Dua kali dentingan nyaring, pedangnya kembali kutung menjadi dua bagian dan anehnya kutungan itu persis pada batas gagang pedangnya, jelas pemuda itu sengaja berbuat demikian-Dengan penuh ketakutan Yap Thian teng terdiri menjublak diatas tanah, ia menjadi gugup tak tahu apa yang mesti dilakukan-Gak In Ling tertawa dingin, katanya.

"Bajingan tua, engkau tak menyangka kalau menjumpai keadaan seperti ini hari bukan ?"

Perlahan-lahan dia masukan kembali pedangnya kedalam saku.

Paras muka Yap Thian Leng mulai berubah menjadi pucat kehijau-hijauan, mungkin rasa takut itu muncul menjelang kematiannya.

Dalam pada itu kurang lebih lima puluh tombak disamping mereka berdua tiba-tiba muncul seorang Nenek tua berambut putih, ketika sorot matanya yang tajam mengenali bahwa orang yang berada dihadapannya adalab Yap Thian Leng dengan kegirangan segera teriaknya.

"oooohh rupanya Ngo-gak Sin-Sin-kun berada disini. sudah lama aku mencari dirimu..."

Yap Thian Leng merasa agak lega ketika mendengar seruan itu, ia segera berpaling akan tetapi sesudah tahu siapa yang datang, dengan perasaan kecewa pikirnya.

"Aaaahh Dia adalah Tiat Bin Popo, sekarang tenaga dalam yang dimiliki Gak In Ling telah memperoleh kemajuan pesat, mungkin dengan kerja sama kami berdua masih bukan tandingannya, juga apa yang harus kulakukan sekarang.. ..,? Aaaahh Ada akal...."

Tiba-tiba dari balik matanya terpancar keluar sorot mata yang amat mengerikan.

Sementara itu Tiat Bin Popo telah berada kurang lebih dua puluh tombak dihadapan mereka.

Gak In Ling segera tertawa dingin, katanya.

"Bajingan tua, bala bantuan telah datang.."

"Huuuhh Aku masih belum membutuhkan bantuannya, sambutlah seranganku ini "

Sambil berkata tangan kanannya diayun ke depan, gagang pedang dengan diiringi cahaya perak laksana kilat meluncur kearah dada Gak In Liag, sementara itu tubuhnya dengan cepat lari kearah Tiat Bin Popo.

Mimpipun Gak In Ling tak menyangka kalau ia bakal menggunakan kutungan pedang sebagai senjata rahasia, dalam gugupnya tak sempat dirinya untuk menghindarkan, ia segera membentak keras dan dengan gerakan hujan darah angin amis ia hajar gagang pedang tersebut.

pada saat yang bersamaan, kurang lebih sepuluh tombak dihadapannya tiba-tiba berkumandang pula suara benturan keras disusul seorang mendengus keras.

Gak In Ling terperanjat dan segera berpaling, tampaklah Tiat Bin Popo telah roboh terkapar diatas tanah, sedangkan Yap Thian Leng entah sudah kabur kemana.

Gak In Ling tertegun dan berdiri termangu-mangu, memandang tubuh Tiat Bin Popo yang terkapar diatas tanah, ia tak tahu apa yang mesti dilancarkan olehnya.

Tiat Bin Popo yang berada diatas tanah dengan susah payah berusaha merangkak bangun terdengar ia bergumam seorang diri.

"Yap Thian Leng, tidak seharusnya aku terialu mempercayai dirimu "

"Aku lihat luka yang kau derita tidak ringan ?"

Seru Gak In Ling sambil maju dua langkah kedepan-Tiat Bin Popo cukup tangguh hatinya, mendengar pertanyaan tersebut ia tertawa dingin dan menjawab.

"Isi perut telah hancur, tiada kesempatan untuk hidup lebih jauh."

Gak In Ling merasa iba, ia maju menghampiri kedepan, Tiat Bin Popo yang tak tahu maksud pemuda itu dikiranya si anak muda itu hendak mencelakai jiwanya, dengan gusar ia membentak.

"Gak In Ling, apa yang hendak kau lakukan ?"

"Hendak menyelamatkan dirimu "

Tiat Bin Popo tertegun tiba-tiba ia tertawa bergelak.

"Haaaaahb haaaahh haaaah menolong aku ?n Haaaaahh........ haaaaaahh... haaaaaah banyak urusan yang kupercayai, namun hanya dalam urusan ini aku tak dapat mempercayainya."

"Diantara kita berdua tokh tak pernah terikat hubungan musuh atau sakit hati."

"Dahulu memang tidak ada "

Jawab Tiat Bin Popo sambil tertawa dingin.

"sekarang juga tak ada "

"Engkau pasti belum melupakan peristiwa diluar benteng Hui-in-cay bukan?"

Ujar Tiat Bin popo dengan wajah bersungguh-sungguh.

"Lebih baik kita tak usah mengungkap kembali persoalan itu "

Tiat Bin Popo tertawa dingin, kembali ujarnya.

"Kalau aku menjadi engkau, tanpa melakukan perbuatan cabul namun difitnah orang sebagi penjahat cabul maka sekalipun badan harus hancur, aku pasti akan membalas dendam sakit hati ini, dengan tabiatmu aku percaya engkau tak akan melepaskan diriku dengan begitu saja."

Gak In Ling tidak banyak bicara, ia merogoh kedalam sakunya dan ambil keluar sebuah botol kumala keCil, benda itu adalah hadiah dari Bwee Giok Siang Dewi burung hong kepadanya dikala ia terluka parah tempo hari, akan tetapi sehingga kini belum pernah dipergunakan olehnya.

Dengan pandangan tawa Gak In Ling melirik sekejap kearah Tiat Bin Popo, kemudian berkata.

"Ketika berada di lembah Ban-ku-kok, aku pernah menyelamatkan mereka..."

Paras muka Tiat Bin Popo berubah hebat, serunya tanpa terasa.

"ooohh...Jadi engkau yang memberi petunjuk jalan? kesalah pahaman itu..."

"Pakailah sendiri obat ini "

Ujar Gak In Ling sambil angsurkan botol kumala tersebut kepadanya. Tiat Bin popo menerimanya obat itu.

"Kenapa engkau tidak gunakan tanganmu untuk berikan kepadaku ? Tidak takut aku gunakan terlalu banyak ?"

Gak In Ling tertawa sedih.

"Isi botol itu hanya sebutir, aku takut tanganku sendirilah yang beracun."

"Haaaahh.-haaaahh haaaahh perduli tanganmu beracun atau tidak, perduli apa tujuan kau menolong pangcu kami, yang jelas engkau sudah menyelamatkan jiwanya, aku tahu bahwa aku pasti mati Jika dapat kumakan obat racunmU itu sehingga bisa lenyapkan rasa benci didalam hatimU, matipUn berharga.."

"Sambil berkata ia membUka tutup botol itu dan mengeluarkan obat tersebut dari tempatnya.

Tiba-tiba...

Tiat Bin Popo nampak tertegun, tangannya yang kurus mulai gemetar keras, cahaya air mata mengembang dikelopak matanya terdengar ia bergumam seorang diri.

"Pil mustika Ci-liong-cu.. Ci-Ilong-cu..."

Mendengar seruan itu Gak In Ling menjadi tertegun, ia lihat didalam genggaman Tiat Bin popo terdapat dua butir pil merah darah, dalam sekejap mata ia memahami apa yang sebenarnya telah terjadi.

Wajah Dewi burung hong yang cantik kembali tertera didepan mata, tak tahan ia bergumam seorang diri.

"Adik siang adik siang.. engkau hanya memikirkan diriku, kenapa engkau tidak pernah memikirkan dirimu sendiri ?"

Tiat Bin Popo masukkan kembali dua butir pil ci-hong-cu kedalam botol kumala itu dan menutupnya kembali, kemudian dikembalikan kepada Gak In Ling, katanya.

"Gak siauhiap, terimalah kembali obat ini"

"Pil itu bukan racun."

Seru pemuda itu dengan pikiran kalut. Tiat Bin Popo tertawa sedih.

"Benar, aku tahu kalau obat itu adalah racun maka sedari tadi telah kutelan."

Dua titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya yang berkeriput, dengan perasaan minta maaf ia memandang kearah Gak In Ling lalu berkata.

"Yang sudah lewat aku percaya engkau benar-benar tak akan mempersoalkan kembali.."

Ketika dilihatnya paras muka Nenek itu dari pucat telah berubah menjadi kehijau-hijauan, Gak In Ling merasa amat gelisah, serunya keras keras.

"Aku dengan tulus ikhlas menghadiahkan obat ini kepadamu "

"Benar dan aku tahu,"

Sahut Tiat Bin Popo sambil mengangguk.

"akan tetapi obat itu adalah obat yang paling mujarab dikolong langit, banyak orang yang membutuhkan obat itu untuk melanjutkan hidup, apa gunanya obat mujarab yang begitu berharganya harus dibuang dengan sia-sia diatas tubuh seseorang yang hampir mampus?"

Gak In Ling menjadi amat gelisah, buru-buru serunya.

"Mungkin luka dalam yang kau derita tidak begitu parah "

"Tidak, engkau keliru, menanti darah sudah mengusur keluar dari ujung bibirku itu berarti saat ajalku telah tiba, aku memahami sekali akan ilmu silat yang dimiliki Yap Thian Leng."

Berbicara sampai disitu. mendadak wajahnya berkerut kencang. Gak In Ling makin terperanjat, teriaknya keras-798 keras.

"Cepatlah telan obat itu cepatlah telan obat itu "

Air muka Tiat Bin Popo semakin mengencang, katanya.

"Waktu sudah tidak banyak lagi Gak In Ling. Sekarang aku baru mengetahui bahwa engkau adalah seorang manusia berwajah dingin berhati hangat, walaupun memiliki telapak maut yang membunuh seseorang akan tetapi memiliki hati pendekar yang suci bersih dan gemar menolong orang, karena itu sebelum ajalku tiba ada satu persoalan aku hendak minta tolong kepadamu ?"

"Cobalah telan sebutir lagi,"

Desak Gak in Ling. Tiat Bin Popo gelengkan kepalanya.

"Kalau begitu engkau telah mengabulkan permintaanku, cepatlah turun kebawah dan pergilah kelembah Pek-cho-kok, selamatkanlah jiwa pangcu kami, ia telah dikurung oleh orang-orang-nya Dewi burung hong."

"Apa ?"

Sero Gak In Ling dengan hati terperanjat. Napas Tiat Bin Popo mulai tersengal-sengal jalannya kembali.

"Dewi burung hong berada diatas puncak pui-wi-hong dalam lembah Pek-cho-kok.jangan naik keatas puncak itu, semua kekuatan inti Thian hong-pang berada dalam lembah itu, aku... percaya engkau tak akan mengingat ingat akan dendam sakit hati dimasa lampau."

Bicara sampai disini, tiba-tiba darah kental mulai mengucur keluar membasahi ujung bibir-nya.

"Kau..."

Gak In Ling makin terperanjat.

"orang muda, kau... kau menyanggupi permintaanku bukan?"

Gak In Ling tak dapat menahan rasa sedihnya lagi, dengan air muka bercucuran dia mengangguk.

"Benar... benar... aku pasti akan melakukannya "

Dengan hati lega tiat Bin Popo tertawa, ia sandarkan tubuhnya diatas sebuah batu besar, dengan susah payah ujarnya kembali.

"Dari sini menuju kelembah Pek-cho-kok hanya empat lima li, bergeraklah menuju ke Tenggara, orang muda, aku... pangcu kami ti... tidak salah memilih orang."

"Beristirahatlah lebih dahulu,"

Bisik pemuda she Gak sambil berjongkok disisi tubuhnya. Tiat Bin Popo menyusupkan botol porselin itu ketangan Gak In Ling dan menjawab.

"Benar, aku aku sudah sepantasnya ber... beristirahat, lagi... lagi pula. ber... beristirahat untuk selamanya, oooh orang muda, aaaku aku hen... hendak terus-tee.. terang beritahu kepadamupaa...pangcu kami se... seetiap....... hari seelalu meriiin...dii... dirimu..."

Tiba-tiba kepalanya terkulai dan nenek tua itu menghembuskan napasnya yang terakhir.

Selama hidupnya ia menderita kesepian, hatinya selalu diliputi kebencian terhadap semua kejahatan, sungguh tak nyana pada akhirnya bukan mati ditangan musuh besar, sebaliknya menemukan ajalnya ditangan seorang manusia durjana yang di anggap sebagai seorang pendekar sejati.

Dengan kaku Gak In Ling memperhatikan wajah mayat itu beberapa saat lamanya ia tidak menangis, hanya bergumam dengan air mata jatuh bercucuran-"Setiap manusia paling akan melewati jalan ini, akan tetapi tidak sepantasnya kalau saat keberangkatannya ditentukan oleh orang lain, popo beristirahatlah dengan hati tenang, aku tak akan melepaskan dirinya dengan begitu saja.."

Gak In Ling mencari sebuah gua batu kecil dan meletakan jenazah Tiat Bin Popo di dalam gua tadi kemudian dengan batu besar menyumbat mulut gua tersebut, diluar diberi tanda 800 kemudian dia baru berangkat menuju kearah Tenggara.

Lima enam li bukan suatu jarak yang terlalu jauh bagi Gak In Ling, tidak selang sepertanak nasi kemudian ia sudah mencapai tempat tersebut.

Tidak jauh berlarian, dari depan mata muncullah sebuah bukit tinggi yang berwarna hijau segar, sekelilingnya merupakan bukit bersusun-susun yang penuh ditumbuhi pohon siong.

Gak In Ling berlari menuju kedepan bukit tersebut sesudah berpikir sebentar pikirnya.

"Adik Siang rupanya adalah seorang manusia yang lain dimulut lain di hati, bukankan secara terang-terangan Ia telah menyanggupi permintaanku agar tidak melakukan penjajahan lagi terhadap wilayah persilatan didaratan tionggoan, sekarang mengapa ia kurung Thian Hong pangcu beserta para anak buahnya ditempat ini? Jika aku langsung menyerbu kedalam lembah, suatu pertempuran sengit pasti akan berkobar, sudahlah Lebih baik aku mendaki keatas cu-wi-hong lebih dahulu "

Sesudah ambil keputusan, Ia siap melanjutkan perjalanannya. Mendadak dari arah belakang berkumandang datang suara seruan yang sangat menyeramkan.

"Keparat cilik, ternyata engkau belum mampus "

Meskipun suaranya tidak begitu keras, namun Cukup menggetarkan hati siapapun yang mendengarnya .

Gak In Ling amat terperanjat, namun ia tidak memberikan sesuatu reaksi apapun juga , lama sekali perlahan-lahan Ia baruputar badan.

Kurang lebih dua tombak dihadapan-nya, berdirilah seorang perempuan Cantik berusia setengah umur dengan wajah ketus dan dingin.

Begitu mengetahui siapakah yang berada 801 dihadapannya, sekali lagi si anak muda itu merasa terperanjat.

"oooohh engkau ?"

Serunya. Perempuan cantik berusia tengah umur itu tertawa dingin.

"Heeeeehh heeehh... heeeeehh... aku mengira engkau sudah mampus dibawah tebing Wan-ciu-gay."

Ternyata Perempuan cantik berusia setengah umur itu bukan lain adalah gurunya Dewi burung hong atau Bwee Giok Siang.

dalam hati Gak In Ling merasa amat gelisah, namun mau tak mau dia harus keraskan hati untuk menghadapi kenyataan didepan mata, dengan tawar ia menjawab.

"Sungguh beruntung Boanpwee tidak sampai mampus, bahkan racun keji yang mengidap dalam tubuhku juga berhasil dipunahkan."

"Engkau hendak pergi kemana ?"

Tegur Perempuan cantik itu dengan suara menyeramkan.

"Mencari murid cianpwee "

Mendengar jawaban tersebut, tiba-tiba dari balik mata Perempuan cantik itu memancar keluar sorot mata yang mengerikan, Ia segera membentak keras.

"Budak itu telah menghianati diriku dan sekarang aku sedang mendidik dirinya agar bertobat. Hmm Engkau hendak mengusik ketenangannya lagi ? Engkau anggap aku bisa dipermainkan dengan gampang ?"

Tertegun hati Gak In Ling mendengar ucapan tersebut, dengan gelisah serunya.

"Bagaimana caranya cianpwee mendidik adik Siang ?"

"Aku mengatakan engkau telah mampus bahkan membawa dirinya pergi ketempat kejadian, untuk membuktikan kebenaran ucapanku, aku telah menangkap beberapa orang 802 murid perguruan rahasia dan menyuruh mereka menerangkan sendiri, setelah mendengar kesemuanya itu dia baru percaya."

"Kemudian cianpwee suruh dia membawa anak buahnya untuk menyusahkan kaum persilatan didaratan tionggoan-?"

"Hmm Kenapa aku mesti banyak bicara ? Karena mencintai dirimu timbullah rasa bencinya terhadap umat persilatan didaratan Tionggoan, dia sendiri juga yang mengambil keputusan hendak bikin.keonaran diseluruh kolong langit."

"Lalu kenapa cianpwee mengatakan sedang mendidik dirinya ?"

"Karena ia telah berjanji sendiri kepadaku setelah bikin keonaran dalam dUnia persilatan dan menangkap pemimpin perguruan rahasia dari Tibet untuk bersembahyang dihadapan arwahmu, selanjutnya dia akan mengundurkan diri dari keramaian dunia dan menjadi pendeta."

"ooohh adik Siang,"

Pikir Gak In Ling didalam hati dengan perasaan kasihan.

"rasa cintamu terlalu mendalam..."

Berpikir sampai disini dia segera bertanya.

"Perbuatannya ini tokh tak bisa dihitung Sebagai suatu penghianatan terhadap diri cianpwee"

"Siapa bilang bukan suatu penghianatan? Aku suruh dia menguasai seluruh kolong langit dan berganti dengan dandanan lama, akan tetapi ia tidak mau menuruti perkataanku."

"Berganti dengan dandanan lama ?"

Dengan gemas perempuan cantik itu berseru.

"Sejak ia mendengar akan kematianmu, ia mengatakan bahwa dia telah menjadi isterimu, seharian penuh ia selalu berkabung, aku ogah dan muak melihat dandanannya itu, dan suruh dia ganti pakaian tetapi dia tidak mau menuruti perkataanku, bukankah ini termasuk suatu penghianatan ?"

Makin mendengar Gak In Ling merasa hatinya semakin sakit, dengan perasaan tidak tenang tanyanya.

"Bagaimana caranya cianpwee mendidik dirinya ?"

"Pertama kali aku mengurung dirinya, kemudian kupimpin sendiri suatu pengepungan atas Thian Hong pangcu beserta anak buahnya dalam lembah Pek-cho-kok. kunasehati dirinya Sedikit demi sedikit, akan tetapi ia tak sudi mendengarkan nasehatku. dalam gusarnya aku telah menghajar dirinya sehingga menderita luka parah."

"Luka parah ?"

Teriak Gak In Ling dengan paras muka berubah hebat.

"Tetapi aku tahu kalau dia mempunya obat ci-liong-cu, ia tidak bakal mampus karena lukanya itu."

Mendengar perkataan itu hampir saja Gak In Ling merasakan jantungnya berhenti berdetak, tanpa banyak bicara lagi dia segera putar badan dan lari menuju keatas puncak.

Siapa tahu baru saja ia putar badan, tahu-tahu perempuan cantik itu telah menghadang dihadapannya dengan sorot mata memancarkan napsu membunuh yang sangat tebal.

"Keparat cilik, engkau hendak pergi kemana ?"

Tegurnya.

"Menolong adik siang "

"Hmm Engkau masih belum berhak untuk berbuat demikian."

Gak In Ling merasakan hatinya sangat kalut, ia tidak mau ambil perduli apa yang bakal terjadi terhadap dirinya, kembali dia berseru.

"Murid cianpwee telah menghadiahkan obat ci-liong-cu tersebut kepadaku, maka dari itu...."

"Apa ? Dia telah berani menghadiahkan obat mustika itu kepada orang lain ? Hm Dasar memang ingin mampus "

Gak In Ling ambil keluar obat ci-liong-cu tersebut dari sakunya kemudian-diangsurkan kedepan, katanya.

"Boleh saja kalau engkau melarang aku naik ke atas puncak. asal cianpwee bersedia membawa obat ini untuk diberikan kepadanya. Perempuan cantik itu tertawa dingin.

"Ia telah menghadiahkan obat itu kepadamu, aku segan untuk merampasnya kembali dari tangan seorang angkatan muda, kalau engkau masih tahu diri cepat-cepatlah berlalu dari sini, kalau tidak jangan salahkan kalau aku hendak hajar mampus dirimu ditempat ini juga ."

Gak In Ling semakin gelisah, tak tahan lagi dia membentak keras.

"cianpwee, aku harap engkau jangan terlalu mendesak diriku sehingga kelewat batas"

Perempuan cantik itu tertegun, kemudian tertawa terbahak-bahak.

"Haaaaa...... haaaaaahh.. ..... haaaaahh... apakah kau hendak adu kepandaian dengan aku?"

"Aku menyadari bahwa ilmu silat yang kumiliki masih bukan tandingan cianpwee "

"Kalau tahu begitu, cepat enyahlah dari sini "

"Tidak Aku hendak menghantarkan obat ini untuk adik Siang."

"Engkau yakin dapat melaksanakan rencana mu itu ?"

Mendadak satu ingatan berkelebat dalam benaknya Gak In Ling. pikirnya didalam hati.

"Ditinjau dari kemampuannya yang dimilikinya pada saat itu, meskipun pada saat ini segenap kekuatan tubuhku telah pulih, rasanya belum tentu mampu bergebrak sebanyak beberapa jurus dengan dirinya, apa salahnya kalau aku menipu dirinya kemudian menyusup dari dalam hutan dan menghantarkan obat ini buat adik Siang ?"

Setelah mengambil keputusan tiba-tiba katanya.

"Terima kasih atas bantuan dari saudara itu."

Sambil berseru matanya menatap tajam tubuh di bagian belakang dari perempuan cantik itu. Satu ingatan berkelebat dalam benak perempuan cantik itu, ia ganti berpikir.

"Bocah ini tersohor karena kecerdasannya melampaui orang lain, karena paras mukanya begitu tenang dan mantap ?"

Meskipun demikian, ia pura-pura tidak tahu dan berpaling kearah belakang.

Menyaksikan siasatnya termakan, Gak In Ling merasa amat kegirangan, ia tidak berani berayal lagi, kakinya menjejak tanah dan segera menyusup masuk kedalam hutan-Siapa tahu baru saja ia tiba di tepi hutan, mendadak dari balik pepohonan berjalan keluar seorang perempuan, dan dia bukan lain adalah suhunya Dewi burung hong, ditinjau dari sikapnya yang begitu tenang,jelas perempuan itu sudah tiba berapa saat lamanya disana.

Terpaksa Gak In Ling menghentikan gerak tubuhnya, didalam hati ia berpikir.

"Dari sana sehingga tiba disini paling sedikit ada empat lima puluh tombak jauhnya, ternyata ia dapat tiba disini lebih dahulu tanpa sepengetahuan diriku, nampaknya tenaga dalam yang kumiliki masih selisih jauh kalau dibandingkan dengan dirinya."

"Gak In Ling, permainan setan apa lagi yang hendak kau perlihatkan dihadapanku?"

Ejek perempuan cantik itu dengan suara dingin.

"Aku tahu bahwa kepandaianku masih selisih jauh kalau dibandingkan dengan kepandaian yang cianpwee miliki..."

"Kalau begitu cepat enyah dari sini "

Gak In Ling gelengkan kepalanya berulang kali.

"Sebelum bertemu dengan adik Siang, aku tidak akan berlalu dari sini."

Sesudah berhenti sebentar, lanjutnya.

"Adik siang adalah satu-satunya murid cianpwee, apakah cianpwee hendak membiarkan dia mampus tanpa ditolong ?"

Perempuan cantik itu tertawa dingin-"Apakah engkau hendak menolong dirinya?"

Dia balik bertanya.

"Sedikitpun tidak salah "

"Engkau mampu untuk melewati penghadangan dari diriku ?"

"Boanpwee rela berangkat kealam baka selangkah lebih dahuluan dari pada adik Siang."

Perempuan cantik itu kembali tertawa dingin.

"Sebenarnya dia itu apamu ? Kenapa engkau bersedia berkorban dengan dirinya ?"

"Dia adalah isteri kesayanganku "

Mendengar jawaban tersebut, perempuan cantik itu mendadak menengadah keatas dan tertawa terbahak-bahak^ "Haaaaahh. haaaahh haaaaahh... bagus, bagus, aku akan mewujudkan atas keinginan kalian berdua."

Setelah berhenti sebentar, sambUngnya lebih jauh.

"Sekarang aku akan mengajukan dua jalan kepadamu, terserah engkau hendak pilih yang mana?"

"Sebelum aku berhasil bertemu dengan adik Siang, tidak nanti kuturuni bukit ini "

Seru Gak In Ling menegaskan.

"Jalan pertama lewatlah penghadangan dari diriku ini, mari kita bertempur secara adil dan masing-masing menggunakan 807 segenap kepandaian yang dimilikinya, sebelum salah seorang mampus pertarungan tak boleh dihentikan."

"Jalan yang kedua ?"

Tanya Gak In Ling sambil gelengkan kepalanya.

"Menyambut tigapuluh pukulanku dangan kekerasan "

Mendengar usul itu Gak In Ling berpikir dengan hati sedih.

"Bila tiga puluh pukulan itu dilancarkan dengan sepenuh tenaga, bukankah nyawaku bakal melayang ?"

Beberapa saat lamanya ia termenung dan berpikir keras, tak sepatah kata pun sanggup diutarakan keluar.

Menyaksikan keadaan si anak muda itu, nafsu membunuh memancar keluar dari balik mata perempuan cantik tersebut, akan tetapi diluaran ia tertawa dan berkata.

"Andaikata engkau merasa tidak mampu untuk mempertahankan diri, sekarang masih ada kesempatan bagimu untuk mengundurkan diri."

Diam-diam Gak In Ling menggertak gigi keras-keras, dengan tegas jawabnya.

"Aku bersedia untuk menyambut tiga buah pukulan dari cianpwee dengan kekerasan."

"Engkau yakin bisa menerima pukulanku tanpa mampus ?"

Ejek perempuan cantik itu sambil tertawa dingin. Gak In Ling gelengkan kepalanya berulang kali.

"Hal ini tidak mungkin terjadi, aku hanya berharap bisa mempertahankan hidupku selama setengah jam dan bertemu dengan adik Siang lebih dahulu untuk terakhir kalinya."

"Agar dia selalu terkenang akan dirimu ?"

"Tidak, akan kusuruh dirinya untuk mencari kekasih lain-"

"Sungguh tebal rasa cinta bocah ini, pilihan anak siang ternyata tidak keliru,"

Pikir perempuan cantik itu dalam hati kecilnya dengan perasaan girang. Dengan suara ketus ia segera berseru.

"Engkau telah mempersiapkan diri baik-baik."

"cianpwee silahkan turun tangan "

"Sambutlah seranganku ini "

Seru perempuan cantik itu sambil ayunkan telapaknya ke depan.

Segulung angin pukulan yang maha dahsyat dengan cepat menekan keatas dadanya.

Sewaktu berada diatas tebing Wan-ciu-gay, si anak muda ini pernah merasakan kelihayan dari ilmu silat orang ini, ia tidak berani berayal lagi, seluruh perhatiannya dipusatkan kcdepan, dengan sepenuh tenaga dia balas lancarkan sebuah pukulan kedepan diikuti ia mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya untuk setiap saat berusaha mundur kebelakang dan mengurangi daya tekanan diatas dadanya.

"Ploookk "

Ditengah benturan keras terdengar Gak In Ling mendengus berat.

Pasir dan debu beterbangan diangkasa, ditengah pusaran angin kencang tubuh Gak In Ling secara beruntun terdorong mundur sejauh lima enam langkah kebelakang namun akhirnya tak mampu menguasai diri dan roboh terjengkang diatas tanah, dadanya terasa sesak dan sepasang lengannya linu kaku sukar diangkat, ia sadar bahwa isi perutnya telah teriuka.

Perempuan cantik itu sendiri diam-diam merasa terperanjat juga setelah menyaksikan keadaan pemuda lawannya, dalam hati ia berpikir.

"Sungguh tak kusangka tenaga dalam yang dimiliki bocah ini luar biasa dahsyatnya, anak Siang sendiripun paling banter hanya begitu saja."

Gak In Ling dengan paksakan diri mengepos tenaga lalu loncat bangun dari atas tanah hawa murninya disalurkan mengeliling seluruh badan menggerakkan kembali lengannya yang kaku kemudian ia berjalan kembali ketempat semula.

"Berapa waktu yang kau butuhkan untuk beristirahat ?"

Ejek perempuan cantik itu dengan nada dingin. Gak In Ling tertawa tawa.

"Kalau beristirahat terlalu lama cianpwee pasti tak sudi untuk menantikannya, sebaliknya kalau beristirahat terlalu pendek tiada manfaatnya bagiku, lebih baik cianpwee lanjutkan kembali seranganmu, Boanpwee telah bersiap sedia untuk menyambutnya."

"Haaaaahh. haaaaahh..... haaaaah aku takut engkau tak mampu untuk menerima seranganku ini."

Seru perempuan itu lagi sambil tertawa dingin.

"Sekalipun mati aku tidak akan menyesal "

Tiba-tiba perempuan cantik itu menggertak gigi dan membentak keras.

"Sambutlah kembali seranganku ini "

Sepasang telapaknya didorong berbareng kedepan, segulung daya tekanan yang menyesakkan napas bergulung kedepan menekan dada lawannya dalam serangan ini nampaknya ia telah mengerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya.

Gak In Ling merasa amat terperanjat menyaksikan datangnya ancaman tersebut, ia kertak gigi dan menghimpun segenap kekuatan yang dimilikinya untuk menyambut datangnya ancaman tersebut.

"Blaaam.."

Benturan keras kembali bergema diangkasa, pasir dan debu yang beterbangan diangkasa nampak lebih berbahaya dan mengerikan dari pada keadaan pertama kali tadi, tiada suara dengusan berat yang terdengar hanya suara 810 tubuh yang roboh ketanah kemudian suasana pulih kembali dalam kesunyian.

Dengan wajah hambar perempuan cantik itu berdandan keraton memandang tubuh Gak In Ling yang roboh terkapar diatas tanah, pikirnya didalam hati.

"Sungguh tak disangka dalam keadaan terluka parah dia masih mempunyai kekuatan tenaga pukulan yang demikian dahsyatnya."

Gak In Ling meronta bangun dari atas tanah, dengan susah payah ia duduk dilantai, darah segar memancar keluar dari bibirnya, bisa dibayangkan betapa parahnya luka dalam yang dia derita.

Sambil menahan rasa kasihan didalam hatinya, perempuan cantik itu mengejek dengan suara dingin.

"Gak In Ling, berapa pukulan lagi yang mampu kau terima ?"

"Gak In Ling loncat bangun dari atas tanah sesudah mengepos tenaga ia maju beberapa langkah kedepan-jawabnya.

"cianpwee, perjanjian kita adalah tiga buah pukulan, kini tinggal sebuah pukulan lagi, kenapa cianpwee mengatakan masih ada beberapa buah pukulan lagi ?"

"Maksudku adalah setengah pukulan atau satu pukulan ? Aku rasa sebuah pukulanpun engkau sudah tak mampu untuk menyambutnya kembali."

"Kita tokh sudah berjanji masih ada sebuah pukulan lagi, akan aku sambut pukulan yang terakhir ini."

"Engkau yakin mampu untuk menerimanya pukulanku ?"

"Sudah boanpwe katakan, sekalipun aku harus mati diatas puncak cui-wi-hong, hatiku tak akan merasa menyesal, kenapa cianpwee mesti banyak bertanya lagi ?"

Perempuan cantik itu sama sekali tidak menjadi gusar, ia tertawa dan menjawab.

"Gak In Ling, engkau benar-benar, sedikit tak tahu diri "

"Apa sih yang dimaksud tak tahu diri ?"

"Kalau engkau tahu diri maka sudah sepantasnya kalau menggunakan kesempatan yang ada untuk melarikan diri, aku tohk sudah mengatakan bahwa kedua biji obat ci-liong-cu tersebut kuhadiahkan padamu, meskipUn luka dalam yang kau derita pada saat ini sangat para namun masih gampang untuk menyembuhkannya kembali, Jika engkau bersikeras hendak naik keatas, aku takut engkau benar-benar akan berangkat keakhirat selangkah lebih dahulu dari anak Siang "

"Hmm cianpwee anggap aku adalah seorang manusia yang takut menghadapi kematian ?"

"Mati hidup memang tiada suatu yang perlu digembirakan atau ditakuti akan tetapi kematian ada yang berat bagaikan gunung Tay-san, ada pula yang ringan bagaikan kapas, kalau engkau mati dengan Cara begini aku rasa kematianmu itu ringan bagaikan kapas."

"Haaaahh haaaahh haaaaahh... ringan bagaikankan kapas ?"

Seru Gak In Ling sambil tertawa bergelak^ "aku rasa pendapat cianpwee keliru besar, sebagai suami isteri sudah sepantasnya kalau sehidup semati, sekarang aku harus menyaksikan sang isteri menghadapi kematian tanpa menolong, apa harganya aku hidup dikolong langit ?"

"Kalau engkau sama sekali tidak mencintai dirinya, bukankah engkau mati lantaran sepatah kata belaka ?"

"Justru kenyataannya merupakan kebalikan dari ucapanmu itu, aku sangat mencintai dirinya."

"Jadi engkau telah ambil keputusan untuk memilih jalan kematian ?"

Gak In Ling tertawa angkuh.

"Silahkan cianpwee turun tangan, meskipun boanpwse tahu bahwa didalam serangan ini lebih banyak kematian daripada kehidupan bagiku, akan tetapi aku tak sudi bekerja kepalang tanggung, meskipun mati juga tak akan menyesaL"

Ia tarik napas panjang-panjang, sambil mengepos sisa tenaga yang dimilikinya, ia siap menantikan serangan terakhir dari perempuan cantik berdandan keraton itu.

Melihat keteguhan iman pemuda itu, dalam hati kecilnya perempuan cantik itu merasa sangat girang, pikirnya.

"Sungguh tak kusangka dikolong langit masih ada orang yang berwatak seperti ini, bagaimanapun juga anak Siang tidak salah memilih, baiklah. Dalam serangan yang terakhir ini aku akan melancarkan pukulan tangan kosong agar mereka Suami isteri dapat berjumpa muka "

Ingatan tersebut berkelebat lewat dalam sekejap mata, diluaran ia sengaja tertawa dingin dan berkata.

"Baiklah, aku akan mewujudkan apa yang kau inginkan, sambutlah seranganku ini "

Telapaknya segera diayunkan kedepan, hanya kali ini dia cuma menggunakan empat bagian tenaga pukulan belaka.

Gak In Ling pejamkan matanya rapat-rapat sepasang telapaknya didorong kedepan untuk menerima datangnya pukulan tersebut.

"Blaaaamm..."

Gak In Ling tak mampu mempertahankan diri lagi, tubuhnya tergetar mundur tujuh langkah kebelakang, darah segar memancar keluar dari mulutnya, tubuhnya gontai dan hampir saja roboh terjengkang keatas tanah.

Meskipun dalam serangannya ini perempuan cantik tersebut hanya menggunakan empat bagian tenaga dalam, akan tetapi bagi Gak In Ling yang terluka parah serangan tersebut boleh dikatakan cukup berat.

Perempuan cantik itu 813 berpikir didalam hatinya.

"Aaaahh.... terlalu berat seranganku kali ini "

Diluaran ia sama sekali tidak menampilkan perasaan hatinya itu, dengan dingin ia hanya berseru.

"Pergilah..."

"Terima kasih atas kebaikan hati cianpwee untuk mengampuni jiwaku "

Kata Gak In Ling setelah melirik sekejap kearah lawannya dengan pandangan kaku.

"Heeeehh....... heeeeehh , heeeehh.. sungguh tak kusangka engkau Gak In Ling dapat berterima kasih kepada orang lain " -oo0dw0oo0

Jilid 24

"INILAH untuk pertama kalinya, dan mungkin untuk terakhir kalinya"

Periahan-lahan ia putar badan dan selangkah demi sSiangkah berjalan naik ke atas puncak, gerakan tubuhnya begitupayah sehingga memilukan hati siapapun juga memandang.

Sambil menatap bayangan punggung Gak In Ling yang mulai menghilang dari penglihatan, perempuan cantik itu bergumam seorang diri.

"Aku telah serahkan anak Siang kepadamu, mulai sekarang aku tak akan memerintahkan dirinya untuk menjagoi dunia persilatan lagi. Aaaai, anak perempuan bagaimanapun juga engkau tetap anak perempuan sudah sepantasnya kalau dia kembali pada pasangannya."

Baru saja perempuan cantik itu menyelesaikan kata-katanya, mendadak dan arah belakang berkumandang suara seorang yang begitu lembut.

"Adik Hong, apakah engkau merasakan kerugian yang kau derita terlalu besar?"

Sikap dingin dan ketus seketika lenyap dari wajah perempuan cantik itu dengan sedih "Engko Ling, kembali engkau menyindir diriku "

Perlahan-lahan ia putar badan, kurang lebih dua depa dihadapannya berdirilah seorang sastrawan berusia kira-kira setengah umur. Jawabnya.

"Adik Hong engkau jangan salah paham."

Terdengar sasterawan itu berseru dengan hati kaget.

"aku tidak maksud untuk menyindir dirimu."

"coba lihat tampangmu yang serius dan tegang...."

"Adik Hong, engkau benar-benar tidak salah paham ?"

"Kita adalah orang yang telah lanjut usia. Engkau anggap aku masih mengumbar watakku semasa muda ? Aaaaii Aku teringat dimasa lampau, hanya dikarenakan urusan keCil kita harus menyia-nyiakan waktu selama tiga puluh tahun dengan percuma, tiga puluh tahun bukan suatu saat yang pendek "

Titik air mata jatuh berlinang membasah pipinya, sambil jatuhkan diri kedalam pelukan sasterawan tersebut, bisiknya dengan setengah berbisik.

"Engko Ling, engkau tak akan meninggalkan diriku lagi bukan ?"

Sasterawan burusia setengah umur itu tidak menjawab, ia merangkul perempuan cantik itu erat-erat, bibirnya dengan cepat menempel diatas bibir lawannya yang kecil mungil dan mencium dengan penuh kemesraan-Perempuan cantik itu meronta sebentar tetapi segera berhenti dan membiarkan dirinya dicium, bahkan tangannya membalas merangkul sasterawan tersebut.

Inilah ciuman pertama bagi mereka, ciuman yang telah saling dinantikan oleh kedua belah pihak hampir tiga puluh tahun lamanya.

Kesalahpahaman yang terjadi antara seorang perempuan iblis pembunuh manusia dengan pendekar sejati pembela keadilan yang terjadi pada tiga puluh tahun berselang lenyap tak berbekas dalam ciuman tersebut.

Lama...

lama sekali perempuan cantik itu baru saja melepaskan diri dari ciuman kekasihnya, sambil bersandar ditubuh sastrawan itu bisiknya dengan lembut.

"Engko Ling, sejak kini kita akan pergi ke mana ?"

"Terserah pada kemauanmu "

"Tentu saja engkau yang harus menentukan "

"Engkau menurut ?"

"Kapan sih aku mengatakan kalau tidak menuruti perkataanmu ?"

Dengan penuh kasih sayang sastrawan itu membelai tubuh kekasihnya, lalu berkata.

"Persoalan dimasa lampau lebih baik usah di bicarakan lagi, sewaktu berada ditebing wan-ciu gay tempo hari bila aku tidak lari dengan cepat mungkin nyawaku sudah kabur dtujung telapakmu begitu masa dibilang penurut ?"

"Aku tokh tidak bermaksud untuk membinasakan dirimu ?"

"Sejak pelajaran yang kuterima tempo hari aku belum berani mempercayai seratus persen-"

Tiba-tiba perempuan cantik itu menghela napas sedih, katanya.

"Aaaaii mungkinkah engkau masih mengingat-ingat kejadian dimasa lampau ?"

Suaranya amat sedih. Sastrawan berusia setengah umur itu menjadi amat terperanjat buru-buru jawabnya.

"Aaaaaaa, tidak. aku cuma bergurau saja "

Habis berkata kembali dia cium pipi perempuan cantik tersebut. Perempuan cantik itu segera meronta-ronta dan melepaskan diri dari pelukannya, ia berseru manja.

"Hmm engkau jahat, aku tak mau "

Kelincahannya tidak kalah dengan seorang gadis berusia dua puluh tahunan-"Sudah, sudahlah mari kita lihat bagaimana keadaan dari Gak In Ling."

Ia tarik tangan kekasihnya dan bergerak menuju ke dalam hutan.

"Engkau sangat menaruh perhatian terhadap dirinya "

Bisik perempuan cantik itu sambil bersandar dalam pelukan sastrawan itu.

"Benar, entah kenapa aku merasa punya jodoh dengan bocah itu, ketika aku melihat ia sedang menerima pukulan dari Ngo-gak Sin-kun dengan nekad sewaktu berada dibenteng Hul-in-cay tempo hari hampir saja aku akan mUnculkan diri untuk membantu dirinya "

"Kemudian apakah engkau telah munculkan diri ?"

"Tidak, aku hanya berkata kepadanya bahwa dalam tubuhnya mengidap sejenis racun, sebelum tenaga dalamnya pulih harus berpikir panjang, ternyata ia menurut sekali."

Sambil berkata mereka sudah memasuki ke dalam hutan-Sementara itu Gak In Ling sepeninggalnya dari tempat pertarungan melawan perempuan cantik itu, ia segera berangkat menuju keatas puncak bukit, apa yang dipikirkan olehnya pada saat ini hanyalah bagaimana secepatnya bertemu dengan Dewi burung hong, sebelum ajalnya tiba ia harus serahkan obat ci-liong-cu itu kepada gadis tersebut.

Dengan sempoyongan dan susah payah Gak In Ling mendaki keatas bukit, entah beberapa kali ia harus jatuh tersungkur keatas-tanah namun ia berjuang dan berusaha terus untuk mendaki keatas.

Setelah bersusah payah akhirnya ia berhasil keluar dari hutan siong dan tiba disebuah lapangan rumput yang luas.

Gak In Ling menghela napas panjang, memandang sang surya yang telah tenggelam dibalik bukit tanpa terasa ia bergumam seorang diri.

"Hanya beberapa li lagi, sangat dekat, entah beberapa lama aku harus menempuhnya ?"

Baru saja ia hendak meneruskan langkahnya tiba-tiba dariarah belakang berkumandang datang suara benturan keras.

"Hey keparat kecil, engkau hendak pergi kemana ?"

Dari hadapan mukanya loncat turun dua orang manusia aneh berdada bidang dan wajah penuh keriputan. Gak In Ling tertegun, kemudian sambil tertawa tawa tegurnya.

"Apakah kalian berdua adalah anak murid dari Dewi burung hong ?"

"Katakan saja apa maksud dan tujuanmu datang kemari "

Tukas dua orang pria itu dengan ketus.

"Aku datang untuk berjUmpa dengan Siancu "

Pria sebelah kanan dengan pandangan sinis memperhatikan rambut Gak In Ling yang kusUt, paras mukanya yang pucat dan noda darah di ujung bibirnya, dengan perasaan tak percaya ia tertawa dingin dan berseru.

"Hmm Kenapa engkau tidak bercermin dahulu, dengan tampang semacam itu engkau hendak bertemu dengan pangcu kami."

"Pangcu ?"

Seru Gak In Ling tertegun.

"sedari kapan ia telah menjadi pangcu ?"

Pria yang berada disamping kiri tertawa dingin, jawabnya.

"Bukankah engkau hendak bertemu dengan pangcu kami ? Ayo berangkat "

"Harap kalian berdua jalan didepan "

"Haaaaahh haaaaahh haaaahh tentu saja, bukan saja kami akan membawa jalan bahkan akan menggotong dirimu "

Dari nada ucapannya yang tidak bersahabat Gak ln Ling tahu bahwa mereka tidak bermaksud baik, sambil tertawa dingin segera ujarnya.

"Aku tak berani merepotkan kalian untuk menggotong diriku,"

Sambil berseru ia lanjutkan perjalanannya kedepan-Baru saja beberapa langkah ia maju, dari arah belakang berkumandang suara benturan keras.

"Roboh kamu "

Dua gulung angin pukulan yarg maha dahsyat dengan telak bersarang diatas jalan darah cian-keng-hiat dibahu oleh si anak muda itu membuat ia kehilangan daya pertahanan tubuhnya.

Pria yang ada disebelah kiri segera berseru kearah dalam hutan-Dari dalam hutan muncul empat orang pria kekar berusia tiga puluh tahunan, tanpa banyak bicara mereka gotong Gak In Ling menuju keatas puncak.

Tidak selang beberapa saat kemudian sampailah mereka didepan sebuah gua batu, didepan gua berdiri pula dua orang gadis berkain Cadar melakukan penjagaan.

Empat orang pria kekar tadi segera meletakkan tubuh Gak In Ling diatas tanah, salah satu diantaranya memberi hormat dan berkata.

"Nona berdua harap memberi kabar kepada pangcu, bahwa kami berhaSil menawan seorang mata-mata."

"Kalian tunggu sebentar "

Tidak selang beberapa saat kemudian dari dalam gua berjalan keluar empat orang dayang cilik, diikuti Bwee Giok Siang dengan pa kaian berkabung...

"Di mana orangnya ?"

Terdengar gadis itu membentak.

"Inilah orangnya "

Ke empat pria itu buru-buru menjatuhkan diri berlutut diatas tanah. Dewi burung hong alihkan sorot matanya, iba-tiba ia menjerit kaget.

"Aaaahh dia ?"

Untuk beberapa saat lamanya ia berdiri tertegun dan tak tahu apa yang harus dilakukan.

Terhadap perubahan sikap Dewi burung hong yang tibatiba ini, semua orang merasa amat terperanjat, siapapun tak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi.

Tiba-tiba Dewi burung hong berseru keras dengan nyaring.

"Oooohh , Engko Ling, siapa siapa yang telah-menghajar dirimu hingga jadi begini, siapa? Beritahukan kepadaku beritahu padaku."

Ia lari keluar dari gua, memeluk pemuda itu erat-erat dan membebaskan jalan darahnya yang tertotok. Gak In Ling tarik napas panjang-panjang, dengan tawa ia menegur.

"Adik Siang, engkau tidak terluka ??"

"Tidak, aku tak pernah teriuka."

Gak In Ling merasa amat terharu ketika menyaksikan gadis itu memakai pakaian berkabung, ia belai rambut gadis itu dengan penuh kasih sayang, lalu berkata dengan suara berat.

"Kenapa engkau memakai pakaian semacam ini? Aaai. ..."

"Suhu mengatakan bahwa engkau telah mati,"

Sahut dewi burung hong sambil menangis terisak. Gak In Ling gelengkan kepalanya, dengan sedih ia tertawa.

"Tempo dulu aku pura pura mati tapi sekarang mungkin aku akan mati sungguhan."

Sementara berbicara, darah mulai mengalir keluar dari bibirnya, darah kental yang bercampur dengan gumpalan hitam. Dewi burung hong merasa amat gelisah. ia menyeka bibir pemuda itu dan menghibur.

"Tidak mungkin-.. selamanya tidak mungkin, tegakah engkau tinggalkan diriku ? oooohh engko Ling "

"Adik siang aku aku tidak ingin tinggalkan dirimu, se.... sebab, sebab engkau adalah isteriku."

Suaranya makin lama makin lirih dan lemah, akhirnya pemuda itu berhenti berbicara.

Bwee Giok siang menjadi amat gelisah sehingga kelabakan setengah mati, ia tak tahu apa yang mesti dilakukan kecuali menangis.

pada saat itulah serentetan suara bislkan yang nyaring berkumandang disisi telinga gadis itu.

"Anak siang, dalam tubuhnya terdapat dua biji pil ci-liong-cu, cepat berikan kepadanya, kalau terlambat jiwanya tak dapat diselamatkan."

Bwee Giok siang tidak ambil peduli suara itu berasal dari mana, ia bopong tubuh pemuda itu dan lari masuk kedalam gua.

Empat orang dayang serta para pria lainnya dibikin melongo dan tertegun, mereka tak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi.

Dalam gua merupakan sebuah ruangan batu yang kecil tapi bersih dan penuh bau harum-haruman, luas ruangan hanya tujuh delapan tombak, disudut sebelah kanan terdapat sebuah pembaringan dengan kelambu dan seprei yang bersih dan disisi pembaringan terdapat sebuah meja batu yang tingginya tiga depa, pada saat itu seorang gadis cantik berbareng disamping meja tersebut dari napasnya yang teratur dapat diketahui bahwa ia sudah tertidur pulas ....

Pembaringan bergerak.

perlahan-lahan Gak in Ling membuka matanya kembali, ia pegang pipinya dengan kaku dan bergumam seorang diri.

"Jangan-jangan aku belum mati..."

Sorot matanya beralih kearah lain-ia melihat Dewi burung hong yang tertidur pulas, sekarang ia yakin bahwa dirinya masih hidup dikolong langit.

Ketika tangannya merogoh kedalam saku, botol berisi ci-liong-cu telah lenyap.

menanti ia mengatur pernapasan terasa darah berjalan lancar bahkan tenaga dalamnya telah memperoleh kemajuan yang pesat.

Dengan perasaan berterima kasih ia melirik sekejap kearah Dewi burung hong, gumamnya.

"Dia pasti lelah sekali "

Gak in Ling menyapu sekejap sekeliling ruangan itu, kecuali Dewi burung hong, ia tidak melihat orang lain, sadarlah pemuda itu bahwa selama ini dialah yang telah merawat dirinya.

Perlahan-lahan Gak in Ling merangkak bangun, setelah membereskan pakaiannya ia turun dan menyelimuti tubuh gadis itu dengan selimut.

Meskipun Bwee Giok Siang lelah sekali, namun sebagai gadis yang berkepandaian tinggi tentu saja ia akan merasa bila ada orang menyentuh tubuhnya, akan tetapi kali ini ia tidak memberikan reaksi apapun.

Gak In Ling mengira gadis itu terlalu lelah, tanpa berpikir panjang ia bopong tubuhnya dan membaringkan diatas pembaringan.

Bwee Giok Siang tetap tak bergerak.

namun dalam hati ia merasa hangat dan gembira.

Setelah membaringkan tubuhnya, Gak in Ling melepaskan sepatunya dan menutupi badannya dengan selimut kemudian sambil menghembus napas panjang ia awasi paras mukanya yang menawan hati.

Pipinya yang merah nampak agak pucat, ini membuktikan betapa risaunya perasaan hati gadis itu selama ini.

Makin memandang Gak in Ling merasa makin cinta, ia tak tahan lagi ia membungkukkan badannya dan menciumi bibirnya yang kecil mungiL Sejak Gak in Ling menyelimuti tubuhnya, Dewi burung hong telah mendusin dari tidurnya, akan tetapi ia tak berkutik sama sekali karena ingin tahu apa yang hendak dilakukan oleh kekasihnya.

Tetapi sekarang ia tak kuat menahan diri lagi, sambil berseru lirih ia peluk tubuh pemuda itu dan menjulurkan lidahnya kedalam bibir Gak In Ling.

Waktu berialu ditengah kesunyian, kedua belah pihak dapat mendengar detak jantung lawannya, rasa rindu selama ini terbayar lunas oleh ciuman mesra tersebut.

Lama lama sekali akhirnya Gak In Ling melepaskan bibir gadis itu sambil berkata dengan suara lembut.

"Adik Siang, selama beberapa hari ini engkau pasti lelah sekali bukan ?"

"Berbaringlah disini."

Bisik gadis itu manja.

"ada banyak persoalan yang hendak kukatakan kepadamu."

"Ini..?"

"Mereka tak akan masuk kemari, aku telah berpesan sebelum mendapat panggilan siapapun dilarang masuk."

Akan tetapi Gak In Ling masih tetap tak tenang, ujarnya.

"Adik siang..."

Paras muka Dewi burung hong berubah hebat, dengan sedih ia berkata.

"Kita tokh sudah menjadi suami isteri, apa yang kau ragukan lagi ? Apakah engkau..."

Gak In Ling tahu bahwa gadis itu salah paham, buru-buru ia melepaskan sepatu dan berbaring disisinya.

"Adik Siang, jangan berpikir yang bukan-bukan..."

Dewi burung hong tertawa puas, ia menutupi tabuh pemuda itu dengan selimut dan bersandar dalam pelukan pemuda itu, katanya dengan manja.

"Engko Ling, setelah aku mendengar berita tentang kematianmu di tebing Wan-ciu-gay dari guruku, kemudian aku merasa harus melampiaskan dahulu rasa dendam dalam hatiku, maka.."

"Maka engkau hendak membalas dendam terhadap semua umat persilatan dikolong langit?"

"Tapi sekarang aku tak akan berbuat begitu."

Dengan penuh kasih sayang Gak In Ling memeluk gadis itu kedalam rangkulannya, ia berbisik lirih.

"Adik siang, engkau sangat penurut "

"Hmm Aku hanya akan mendengarkan saja, karena karena engkau adalah..."

"Aku adalah apamu ? Adik siang "

Merah padam selembar wajah Dewi burung hong.

"Engkau jahat... aku tak mau..."

"ooohh.... Aku tahu sekarang, bukankah engkau adalah isteriku"

Bwee Giok-Siang tertawa merdu, ia benamkan kepalanya dalam pelukan si anak muda itu, dan tidak berbicara lagi.

Gak In Ling pun mulai beroperasi menggerayangi sekujur tubuhnya, kemudian melepaskan pakaiannya satu demi satu sehingga akhirnya gadis itu berada dalam keadaan telanjang bulat.

Dewi burung hong tidak melawan, ia berdiam diri dan membiarkan kekasihnya berbuat sekehendak hatinya, ia hanya menanti dan menerima dengan penuh kasih sayang...

Dari kesunyian suasana berubah menjadi hangat dan akhirnya mencapai pada puncaknya..

Dari kehangatan pulih kembali dalam keheningan, waktu yang dibutuhkan tidaklah terlalu lama.

Dalam keletihan setelah melepaskan rasa rindu dan cinta dalam perpaduan kasih antara dua insan yang berbeda jenis, sepasang muda-mudi itu saling berpelukan dan terlelap dalam tidur yang nyenyak.

Entah betapa waktu sudah lewat mendadak suara berisik diluar ruangan membangunkan mereka dari tidurnya, Bwee Giok Siang segera membereskan rambutnya yang kusut dan ingin bangun, namun Gak in Ling segera menariknya kembali.

Merah padam selembar wajah Dewi burung hong, serunya manja.

"Kau... kenapa sih engkau tidak mau melepaskan diriku ?"

Gak In Ling mencium bibirnya dengan penuh kasih sayang, bisiknya.

"Masa engkau akan mengenakan pakaian semacam itu lagi ?"

Ia melirik tumpukan pakaian berkabung yang tercerai berai diatas lantai, Dewi burung hong segera tertawa.

"Engko Ling, engkau suka aku memakai pakaian seperti apa?"

"Tentu saja yang berwarna merah menyala itu."

Dewi burung hong tertawa dan segera lari menuju kepeti pakaiannya, kemudian sambil berpaling kearah Gak In Ling serunya.

"Kenapa sih lihatin tubuhku terus ? Ayo berpaling kesana "

Gak In Ling tertawa dan segera berpaling. Tidak selang beberapa saat kemudian, Bwee Giok Siang telah berjalan kembali serunya.

"Ayo bangun, aku mau memberesi pembaringan ini dahulu."

Gak In Ling bangun dan berpakaian, sementara Dewi burung hong membenahi seprei yang kusut, lalu sambil menyuruh pemuda itu duduk tanya.

Baca Juga: Lencana Pembunuh Naga 1

Baca Juga: Kekaisaran Rajawali Emas 4

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert