Eps 3 Tengkorak Maut - Khu Lung Tjan Id
Baca online Tengkorak Maut - Khu Lung Tjan Id
Cersil Tengkorak Maut - Khu Lung Tjan Id.
Air muka kakek baju kuning itu seketika berubah hebat, ia tidak mengira dalam keadaan bahaya, pihak lawannya masih sempat untuk menggoda dirinya, sambil tertawa seram ia segera berseru.
"Bajingan busuk. kematian sudah berada diambang pintu, kau masih juga tak tahu diri dan berani mempermainkan diriku ..Hmm rupanya kau benar2 sudah bosan hidup, Heeeh... heeeh... heeeh... bangsat kedatanganmu apakah disebabkan karena manusia berwajah dingin itu??"
Terkejut Tonghong Hwie mendengar ucapan tersebut, dari situ ia bisa menarik kesimpulan bahwa delapan puluh persen kakak angkatnya sudah tertangkap.
oleh para jago perkumpulan Thian chee Kau.
Dengan suara agak gemetar segera serunya.
"Jadi jadi... manusia berwajah dingin telah kalian lukai ?"
"Ehmmm... sedikitpun tidak salah, selamanya orang yang berani memasuki wilayah Lian huan tau tak bakal ia bisa tinggalkan tempat ini dalam keadaan hidup"
"Apa?? jadi..jadi ia sendiri yang datang mencari satroni ketempat ini???"
"sedikitpun tidak salah, dia yang sudah bosan hidup dan datang mencari penyakit sendiri"
"Sekarang... sekarang dia berada dimana?"
"Kau maksud simanusia berwajah dingin? sekarang dia berada didalam penjara maut dan sebentar lagi kau bakal bertemu dengan dirinya"
Sekujur badan Tonghong Hwie gemetar semakin keras, ia tak tahu dimanakah letaknya penjara maut tersebut, tetapi bila ditinjau dari namanya jelas tempat itu merupakan suatu tempat yang luar biasa.
sebelum ingatan kedua berkelebat didalam benaknya, terdengar si malaikat pengamat langit Ci chong telah berkata kembali.
"Dia hanya akan hidup sampai fajar menyingsing nanti, berarti jiwanya masih akan hidup selama setengah jam belaka"
"Dia.... kenapa dia?"
"Dia akan dijatuhi hukuman mati dan akan melaksanakan hukumannya sejenak lagi"
Tonghong Hwie seketika itu juga merasakan pandangan matanya jadi gelap dan berkunang2, tubuhnya dengan sempoyongan mundur beberapa langkah kebelakang.
"Engkoh Kie hanya akan hidup setengah jam lagi??"
Pikirnya didalam hati "Benarkah dia akan dijatuhi hukuman mati??
bukankah ilmu silat yang dimilikinya sangat lihay, kenapa ia bisa tertawan??
bila engkoh Kle benar2 bakal mati, lalu apa artinya bagiku untuk hidup seorang diri, akan lebih baik biarkan diriku ditawan saja hingga bisa bertemu muka dengan dirinya atau paling sedikit aku bisa bertemu dengan dirinya sebelum menghembuskan napas yang terakhir, banyak sekali perkataan yang hendak kusampaikan kepadanya, aku hendak beri tahu asal usulku kepadanya ..."
Makin berpikir ia merasa makin kalut, hingga akhirnya sambil menjerit pengemis cilik itu putar badan dan lari menuju kedalam lembah..
"Bangsat cilik, kau hendak pergi kemana?
terdengar malaikat pengamat langit membentak keras.
Sambil berseru tubuhnya laksana kilat berkelebat ke depan dan menghadang jalan pergi pengemis itu.
Jago tua ini merupakan salah satu diantara empat pelindung hukum yang amat lihay didalam perkumpulan Thian chee kau, ilmu silatnya terhitung kelas satu dibawah kaucu mereka sendiri, bisa dibayangkan betapa dahsyatnya serangan yang dia lancarkan.
Dengan tangkas Tonghong Hwie berkelit kesamping, cengkeraman yang telah berhasil bersarang diatas bahunya itu segera berhasil diloloskan kembali, menggunakan kesempatan itu dia loncat mundur delapan depa ke arah belakang.
Melihat musuhnya berhasil melepaskan diri dari serangan yang dia lancarkan itu, malailat pengamat langit Ci Chong berseru kaget, ia tak tahu ilmu silat apakah yang dimiliki pengemis cilik itu sehingga cengkeraman yang telah berhasil mengenai sasaran itu dapat dilepaskan dengan begitu gampang..
Tonghong Hwie sendiri yang memiliki baju sakti pelindung badan meskipun berhasil melepaskan diri dari cengkeraman musuh, tak urung ia rasakan bahunya terasa amat sakit, diam2 ia kaget akan kesempurnaan tenaga dalam yang dimiliki musuhnya itu.
Dalam pada itu si malaikat pengamat langit Ci Chong setelah tertegun beberapa saat lamanya segera tertawa seram, ia menerjang kembali kedepan sambil melancarkan serangan.
"Ci, Hu hoat, tahan"
Mendadak terdengar suara bentakan nyaring berkumandang datang dari arah belakang.
Bersamaan dengan selesainya ucapan itu, dari balik bukit muncullan seorang perempuan berusia setengah baya.
Dari suata teguran itu rupanya malaikat pengamat langit Ci chong sudah mengetahui siapakah yang telah datang, buru2 ia tarik kembali telapaknya dan meloncat mundur ke belakang.
"Hamba terima perintah, apakah nyonya masih ada perintah lain??"
Serunya dengan serius.
"Waktu untuk melaksanakan hukuman mati segera akan berlangsung, harap kau segera berlalu dan melakukan pengawasan yang ketat disekitar tempat ini, sedang bangsat cilik ini serahkan saja kepadaku"
"Hamba terima perintah"
Setelah memberi hormat malaikat pengamat langit Ci Chong segera putar badan segera berlalu dari situ.
Tonghong Hwie merasa semakin sedih setelah mengetahui bahwa saat dilaksanakannya hukuman mati segera akan berlangsung, sambil menjerit keras ia enjotkan badan dan siap mengejar dibelakang kakek baju kuning tadi.
"Berhenti"
Di tengah bentakan nyaring Tonghong Hwie segera merasakan adanya segulung angin pukulan yang amat kuat menerjang kearah tubuhnya hingga memaksa dia harus membatalkan niatnya untuk mengejar kakek baju kuning tadi dan melayang kembali keatas tanah.
Perempuan berusia setengah baya yang bukan lain adalah siang go berwajah cantik Ong Cui Ing itu, ia tidak banyak bicara tubuhnya laksana kitiran angin puyuh segera menerjang maju kedepan, telapak tangannya yang sukar dilukiskan dengan kata2 mencengkeram pergelangan tangan Tong hong Hwie.
Pengemis cilik itu meronta keras, ia berusaha melepaskan diri dari ancaman itu, namun rupanya Ong Cui Ing sudah mempunyai perhitungan yang masak, bersamaan dengan dilancarkan serangan cengkeraman itu, tangannya segera mengirim pula sebuah totokan kearah bagian dalam tubuh pengemis itu.
Tonghong Hwie terkesiap.
sukmanya terasa melayang tinggalkan raganya, untuk menghindarkan diri tak sempat lagi, sebelum ingatan kedua sempat berkelebat dalam benaknya, ia sudah jatuh tak sadarkan diri Bagaimana keadaan si pengemis cilik ini selanjutnya??
baiklah untuk sementara waktu kita tinggalkan dahulu.
Dalampada itu Han Siong Kie yang di hajar ibunya sendiri Ong Cui Ing hingga muntah darah segar, kemudian jalan darahnya tertotok hingga kesadarannya lenyap segera digotong masuk kedalam penjara bawah tanah.
Menanti pemuda itu sadar kembali dari pingsannya, ia temukan dirinya berbaring di suatu tempat yang berbau lembab, busuk dan sangat memuakkan, begitu baunya hingga untuk bernapaspun terasa amat sulit.
Perlahan-lahan ia membuka matanya dan berusaha memandang sekeliling tempat itu, namun yang terlihat hanyalah kegelapaa yang mencekam seluruh jugad.
Tempat manakah ini ?
ingatan tersebut dengan cepat terlintas dalam benaknya.
Lama kelamaan sinar matanya dapat menembusi kegelapan dan mulai bisa melihat pemandangan disekitar tempat itu meskipun masih samar dan buram.
"Apakah aku sudah mati??"
Ingatan itu dengan cepat berkelebat pula dalam benaknya, ia lihat dirinya berada dalam sebuah ruang batu yang luasnya hanya lima tombak persegi, udara menyiarkan bau busuk dan bayangan manusia bergerak kesana kemari dihadapan matanya, suara rantai bergemerincingan sementara manusia dengan wajah seram layu dan rambut yang kusut berkeliaran disekitar situ.
"Aaah mungkinkah aku telah berada di dalam neraka yang penuh dengan manusia hukuman.??"
Pikiran itu seketika membuat hatinya tercekat dan bada nj adi merinding.
Buru2 ia berusaha meronta dan loncat bangun dari atas tanah namun suara gemerincingan segera mengejutkan pula hatinya.
Ternyata kaki serta tangannyapun diborgol dengan sebuah rantai besi yang besar dan kuat, sebuah jepitan besi yang diikat dengan rantai pula memborgol tenggorokannya membuat dia sama sekali tak dapat bergerak dengan bebas.
Kurang lebih tiga puluhan orang hukuman dengan keadaan yang tak jauh berbeda dengan dirinya duduk lesu dan lemas di sekitar situ, suasana terasa hening namun mencekamkan.
"Aku telah mati aku telah mati"
Jerit Han Siong Kie dengan suara mengenaskan.
"aku mati dalam keadaan yang konyol, kematianku sungguh tidak berharga. oooh, kenapa aku harus mati ditangan ibu kandungku sendiri??? "
Jeritan ini segera memancing perhatian para hukuman yang lain, mereka sama2 angkat kepala dan memandang kearahnya, tetapi tak seorangpun diantara mereka yang buka suara, mungkin mereka sendiri sudah terbiasa menyaksikan kejadian seperti ini.
Pemuda itu men-jerit2 seperti orang gila sambil berteriak ia terbayang kembali kejadian-kejadian dimasa silam.
Ia teringat kembali ketika paman gurunya si Telapak naga beracun Thio Lien disuatu malam yang gelap dan hujan turun dengan derasnya telah membawa ia pergi mengunjungi perkampungan keluarga Han yang penuh dengan tulang manusia yang berserakan, membuat ia mengetahui asul usul yang sebenarnya "
Setelah paman gurunya memberitahukan asat usulnya, ternyata ia telah bunuh diri disisi tulang tubuh ayahnya.
Dua ratus sosok tulang manusia termasuk tulang ayahnya masih berserakan dalam perkampungan tersebut tanpa seorang manusia pun yang mengurus...
ia bersumpah akan menuntut balas atas peristiwa berdarah itu...
dia akan mencincang tubuh musuhnya agar bisa membalaskan sakit hati ayah serta keluarganya.
Ia tahu orang yang telah melakukan penjagalan secara besar2an itu telah meninggalkan suatu lambang diatas dinding rumahnya, lambang itu berupa sebuah tengkorak yang berlumuran darah...
itulah perlambang dari pemilik benteng Maut.
Kemudian ia teringat kembali sewaktu berkenalan dengan Tonghong Hwie, mereka angkat saudara kemudian ikut memperoleh penemuan aneh di dalam hutan, menyerbu ke dalam Benteng Maut Dalam peristiwa itu ia telah dihantam masuk sungai oleh Tengkorak Maut hingga akhirnya ditolong oleh seorang gadis, hal ini membuat dia berhutang budi dengan Go Siauw Bi, putri dari ketua perkumpulan Pat Gopang.
Terbayang pula wajah ibunya yang cantik tapi berhati kejam melebihi ular beracun, bukan saja ia telah kawin dengan orang lain, bahkan begitu tega untuk turun tangan keji terhadap dirinya.
Otak terasa penuh dengan pikiran2 yang mengalutkan, sekali lagi ia menyapu ruang disekelilingnya, ia tetap neraka dihadapannya dengan pandangan sayu.
Rasa seram ngeri membuat tubuhnya menggigil, dan bulu romanya pada bangun berdiri Gumamnya kembali seorang diri.
"Aku tak boleh mati dengan begitu saja, bila aku mati siapa yang akan menuntut balas bagi sakit hati keluargaku? siapa yang akan mengubur tulang2 dalam perkampungan keluarga Han?? aku tak boleh mati, aku tidak ingin mati, Aaah Thian mengapa kau atur kesemuanya ini bagiku??.. oooh Thian kau terlalu kejam kau tidak adil.."
Semakin berpikir badannya semakin kaku linu dan sakit sekali.
Mendadak Kraaaak terdengar suara gemerincing yang amat nyaring berkumandang memecahkan kesunyian, disusul serentetan cahaya yang amat tajam memancar masuk menerangi seluruh ruangan tersebut.
Dari lubang terbuka itulah Han Siong Kie menemukan seurat wajah yang amat dikenal olehnya sedang melongok kedalam.
Kraaak terdengar suara nyaring kembali berkumandang, liang tadi menutup kembali, suara helaan napas sayup2 terdengar dari ruangan.
"Aaah Dia.... dia.. adalah si kupu2 warna warni Lie In Hiang "
Pemuda itu segera berteriak keras "Aku belum mati, aku belum mati, tempat ini pastilah penjara dalam tanah didalam markas perkumpulan Thian chee kau"
Hampir saja pemuda itu meloncat bangun dari atas tanah saking girangnya, harapan untuk hidup segera muncul kembali didalam hatinya.
Maka dengan cepat ia berusaha merangkak bangun, ia berusaha untuk duduk bersila dan mengatur penapasan.
Ia coba untuk bangkit berdiri.
"Duduklah nak, jangan bergerak jangan terlalu banyak bergerak dulu"
Serentetan bisikan yang lembut bagaikan bisikan nyamuk bergema masuk dalam telinganya.
Han Siong Kie terkesiap dia yakin ucapan itu sengaja ditujukan kepadanya, tapi meskipun sorot matanya telah berputar menyapu setiap sudut ruang penjara itu, namun tak seorang manusiapun yang berhasil ditemukan, ia tidak berhasil menemukan sesuatu apapun, sungguh aneh sekali, siapakah yang telah mengirim padanya didalam penjara yang mirip dengan neraka ini.?????
"Manusia berwajah dingin, duduklah dan jangan bergerak"
Sekali lagi bisikan itu berkumandang datang. Han Siong Kie terkejut dan tanpa sadar telah duduk kembali keatas tanah, dengan ilmu menyampaikan suara pula ia balas berbisik.
"siapakah kau?? "Aku?? masa kau sudah tidak kenali lagi suaraku??"
"Aku merasa suaramu seperti kukenal, cuma aku lupa siapakah dirimu itu??"
"Aku adalah orang yang ada maksud"
Han Siong Kie semakin terperanjat, jantungnya berdebar semakin keras.
Kembali manusia yang ada maksud muncul dihadapannya dikala ia sedang menemui kesulitan.
suatu harapan untuk melepaskan diri dari tempat itu segera muncul didalam benaknya, disamping itu dia pun merasa heran bercampur kaget.
Kenapa manusia yang ada maksud bisa munculkan diri didalam penjara perkumpulan Thian Chee Kau??
dari mana ia bisa muncul disitu tanpa diketahui oraang??"
"Benarkah kau adalah manusia yang ada maksud?"
Sekali lagi Han Siong Kie bertanya.
"Sedikitpun tidak salah."
Orang yang ada maksud menjawab.
"Sekarang nona berada dimana?"
"Di ruang sebelah penjara maut itu!".
"Apa? penjara maut? tempat ini bernama penjara maut.?"
"Tidak salah. sekarang kau berada didalam penjara maut dari perkumpulan Thian Chee Kau"
"Bagbaimana caranya nona bisa sampai disini?"
"Belum waktunya kuberitahukan kepadamu"
Han Siong Kie tarik napas panjang2. sebenarnya ia ingin bertanya kepada orang yang ada maksud mengapa dia datang untuk menolong dirinya, tetapi watak yang tinggi hati telah mengurungkan niatnya itu.
"Nona siapa2 saja yang ditawan didalam penjara ini? apakah kau tahu?"
Akhirnya dia bertanya kembali.
"Para hukuman yang sedang mananti untuk menjalankan hukuman mati."
Untuk kesekian kalinya Han Siong Kie tarik napas dingin. ia terkesiap dan tak pernah menyangka kalau dirinya pun telah dijatuhi hukuman mati oleh pihak lawan. Tanpa sadar ia segera berseru lirih.
"Apa?? kau katakan mereka adalah orang hukuman yang sedang menantikan saat untuk menjalani hukuman mati?"
"Ssdikitpun tidak salah. orang2 itu ada yang merupakan musuh besar dari perkumpulau Thian chee kau. ada pula anggota perkumpulan yang telah melanggar peraturan perkumpulan mereka. sekarang orang2 itu sedang menikmati sisa hidupnya yang tak akan lama lagi. sebentar lagi mereka akan menjalani hukuman mati"
"Apakah termasuk diriku juga akan menjalani hukuman mati?"
"Tentu saja!"
"Lalu apa maksud nona datang kemari?"
"Aku datang demi dirimu, sekarang janganlah bergerak secara sembarangan. kau harus pura-pura menunjukkan bahwa kau adalah seseorang yang telah kehilangan seluruh ilmu silatmu!"
"Kenapa??"
"Setiap orang sebelum dijebloskan kedalam penjara maut. oleh pengurus penjara ilmu silatnya pasti akan dimusnahkan terlebih dahulu."
"Tapi aku merasa bahwa ilmu silatku masih utuh"
"Benar, ilmu silatmu memang masih utuh, sedang apa sebabnya sampai begini dikemudian hari kau bakal mengetahui dengan sendirinya kesemuanya ini, orang yang kehilangan sukmalah yang mengaturnya. aku tak dapat menjelaskan kepadamu"
"Orang yang kehilangan sukma?? jadi kedatangan nona adalah sedang menjalankan tugas yang diperintahkan orang yang kehilangan sukma??"
"Dugaanmu tepat sekali, aku memang sedang menjalankan tugas yang diperintahkan oleh manusia yang kehilangan sukma"
"Nona, bolehkah aku mengajukan satu pertanyaan kepadamu??"
"Selama pertanyaanmu itu dapat kujawab, aku pasti akan memberikan jawaban yang memuaskan"
"Adik angkatku Tonghong Hwie sekarang berada dimana?? bagaimana pula nasibnya?? dia masih hidup atau sudah mati?? "
Manusia yang ada maksud termenung beberapa saat lamanya, kemudian menjawab.
"Keselamatannya untuk sementara waktu tak ada bahaya."
"Sekarang dia berada dimana? "
"Masih berada dalam wilayah Lian huan tau, cuma ia sudah berada dibawah perlindungan orang yang kehilangan sukma"
Legalah hati Han Siong Kie setelah mendengar perkataan tersebut.
"Apakah orang yang kehilangan sukma juga telah tiba ditempat ini?"
Ia bertanya kembali.
"Lebih baik kau tak usah tanyakan hal yang sama sekali tak berguna, tahukah kau masih berapa lama kau dapat hidup di kolong langit??"
"Berapa lama? seru sianak muda itu dengan hati terkejut.
"Hanya dua jam, sebentar lagi ketiga puluh satu orang hukuman yang ada didalam penjara ini termasuk tiga puluh dua orang akan melaksanakan hukuman matinya"
Han Siong Kie jadi kecewa bercampur sedih, rasa benci dan sakit hatinya muncul kembali menyelimuti benaknya, ia kertak gigi keras2 dan menyumpah.
ia benci ibunya yang kejam melebihi ular berbisa itu, ia benci kepada siang-go berwajah cantik Ong Cui Ing...
perempuan itulah yang telah menghantar dirinya kedalam penjara maut, ibu kandungnya yang hendak merenggut selembar jiwanya lewat hukuman mati.
"Bagaimana cara mereka untuk membereskan jiwaku nanti."
Serunya dengan suara berat.
"Menurut peraturan yang berlaku bagi perkumpulan Thian chee kau, untuk tetap mempertahankan prikemanusiaan mereka hanya membunuh orang tanpa mengucurkan darah, mereka akan cekoki para hukuman dengan obat racun yang keji, setelah korbannya mati keracunan mayatnya baru dikubur diluar wilayah Lian Huan tan"
"Dibunuh dengan racun??"
"Sedikitpun tidak salah kau jangan harap bisa meloloskan diri dari tempat ini, sebab setiap orang hukuman yang telah mati keracunan sebelum diangkat keluar akan diperiksa lebih dahulu dengan teliti, semboyan mereka adalah hanya mayat saja yang dapat ke luar dari penjara maut tersebut"
"Ooh..."
Han Siong Kie hanya bisa berkata begitu saja, kemudian membungkam dalam seribu bahasa. Terdengar orang yang ada maksud melanjutkan kembali kata2nya.
"Penjara maut ini didirikan dibawah tanah, pintu masuk dan pintu keluar diatur oleh alat rahasia yang ber lapis2, kurang lebih seratus orang jago lihay menjaga disetiap lapisan alat rahasia tersebut, bukan begitu saja bahkan setelah orang itu mati keracunan, sebelum dikubur kedalam tanah oleh petugas hukuman akan ditotok pula jalan darah kematiannya sehingga siapapun yang coba pura2 mati tak akan lolos pula ditangannya.."
"Nona, apakah kedatanganmu kesini hanya ingin memberi tahukan beberapa patah kata itu saja??"
Akhirnya sianak muda itu tak dapat menahan diri dan berseru.
"Bukan hanya itu saja, akupun datang untuk menolong dirimu.."
"Mati dan hidup semuanya diatur oleh takdir, aku sama sekali tidak jeri menghadapi semua kenyataan yang ada didepan mata."
"Kau memang bisa ambil tak perduli, tapi orang lain tidaklah mengharapkan kau terjadi sesuatu.."
"Siapakah orang itu?? "
"Orang yang kehilangan sukma"
"Dia? kenapa?".
"Dikemudian hari kau akan mengetahui dengan sendirinya, sekarang ia sedang berusaha keras untuk menolong dirimu tetapi diapun harus mengeluarkan suatu pengorbanan yang tak terhingga besarnya"
"Untuk menyelamatkan jiwaku, siorang yang kehilangan sukma telah memberikan pengorbanan yang tak ternilai besarnya?"
"Sedikitpun tidak salah"
"Kenapa ia berbuat demikian??"
"Sekarang aku belum dapat memberitahukan kepadamu, suatu ketika kau akan mengetahui dengan sendirinya"
Han Siong Kie membungkam dan tidak berbicara lagi, peristiwa ini betul2 sangat aneh dan sukar diraba arah tujuannya.
Mendadak satu ingatan berkelebat dalam benaknya hingga hampir saja ia berteriak ketus dengan suara gemetar segera serunya.
"Nona? bukankah tadi kau berkata bahwa hanya orang mati yang dapat keluar dari penjara ini??"
"Ehmm sedikitpun tidak salah kenapa?".
"Aku punya suatu cara yang bagus untuk meloloskan diri dari sini..."
"Benarkah itu?? kau benar2 mempunyai cara untuk meloloskan diri dari tempat ini? "
Seru orang yang ada makkud deagan suara penuh emosi.
"sedikitpun tidak salah "
"Apakah caramu itu?? cepat katakan"
"Bukankah kau mengatakan bahwa orang mati saja yang dapat keluar dari penjara maut ini??"
"Ehmm ? sedikitpun tidak salah??"
"Cara baikmu itu justru terletak pada kematian itu"
"Bagaimana maksudmu??? aku tidak mengerti apa yang kau ucapkan itu.."
"Aku pernah belajar ilmu pernapasan kura2 saktL, aku bisa berpura-pura mati tanpa diketahui oleh mereka.."
"Apa?"
Terdengar Orang yang ada maksud menjerit tertahan.
"Kau pernah mempelajari ilmu kura2 sakti yang sudah lama lenyap dari permukaan bumi itu?"
"Sedikitpun tidak salah"
Pemuda itu membenarkan. oooodOwoooo Bab 17
"AAh-aku sudah mengerti akan maksud mu, bukankah kau hendak menggunakan ilmu kura2 sakti untuk menutup seluruh pernapasanmu dan memutar balikkan urat2 nadi serta jalan darah yang ada didalam tubuh hingga orang akan menganggap dirimu sebagai sesosok mayat??"
"Benar, coba lihatlah apakah cara ini bisa digunakan ateu tidak?"
"Boleh sih boleh. hanya saja..."
"Hanya kenapa?"
"Setelah mayat itu digotong keluar dari penjara biasanya oleh petugas penjara pasti akan dilakukan pemeriksaan kembali dengan seksama dan kemudian menotok jalan darah kematiannya, bila sampai kau sungguh-sungguh celaka bukankah urusan jadi berabe?"
"Nona, mungkin kau belum begitu memahami akan kehebatan serta kesaktian dari ilmu kura2 sakti ini, bila seorang telah menggunakan ilmu tersebut maka seluruh peredaran darahnya akan berhenti jantUngnya berhenti berdetak dan keadaannya tidak jauh berbeda dengan orang mati biasa kecuali mayatku dipotong2 atau ditusuk atau mungkin aku bakal celaka ditangan orang lain"
"Lalu ilmu kura2 sakti yang kau miliki itu bisa bertahan berapa lama??"
"Ilmu tersebut belum lama kulatih, paling banter aku hanya bisa bertahan selama sepuluh hari saja"
"Itu lebih dari cukup, asal kau bisa bertahan selama tiga hari maka tengah haripada hari ketiga aku akan menggali kuburanmu serta menolong kau keluar dari situ."
"Atas kebaikan nona akan kuingat selalu, untuk itu sebelumnya kuucapkan banyak2 terima kasih, tiga hari kemudian aku pasti akan bangun dengan sendirinya" .
"Sekarang aku harus kembali untuk memberi laporan kepada orang yang kehilangan sukma, baiklah kita berjanji seperti yang kau katakan tadi, bila ada orang menghidangkan masakan janganlah sekali2 kau makan sebab dalam makanan itulah telah terkandung obat racun yang mematikan, disamping itu kau harus berpura2 seperti orang yang kehilangan ilmu silat, jangan sampai rahasia ini ketahuan orang kalau tidak... akibatnya sukar untuk dibicarakan"
"Aku akan ingat selalu perintahmu ini, sebelum itu ada satu persoalan ingin kutanyakan kembali"
"Apa yang ingin kau tanyakan??"
"Benarkah orang yang kehilangan sukma adalah gurumu???"
"Tentang soal ini ...."
Agaknya orang yang ada maksud sedang mempertimbangkan apakah perlu baginya untuk menjawab pertanyaan dari Han Siong Kie tadi atau tidak beberapa saat kemudian ia baru menjawab.
"Tentang pertanyaanmu ini, aku bisa memberitahukan kepadamu dia adalah ibuku"
"Ooooh jadi orang yang kehilangan sukma adalah ibumu??"
"Sedikitpun tidak salah"
"Sudah terlalu banyak aku berhutang budi dengan kalian ibu dan anak. Aku jadi tak tahu bagaimana budi kebaikan sebanyak itu harus kubalas dikemudian hari.. hanya aku tidak mengerti, mengapa kalian selalu memperhatikan diriku."
"Dikemudian hari kau akan mengetahui dengan sendirinya, sekarang waktu amat mendesak. aku harus segera berlalu dari sini"
Bersamaan dengan selesainya ucapan itu, suasana pulih kembali dalam keheningan, jelas perempuan misterius itu telah berlalu.
Han Siong Kie benar2 merasa terharu, ia tak tahu apa sebabnya orang yang kehilangan sukma serta orang yang ada maksud begitu memperhatikan dirinya, begitu cintanya mereka terhadap dirinya sehingga melebihi cinta kasib seorang ibu terhadap anaknya..
Tidak lama setelah orang yang ada maksud berlalu dari tempat itu, dari dinding ruangan berkumandanglah suara gemerincing yang amat nyaring, pintu penjara yang tebal dan berat perlahan2 bergeser kearah samping, diikuti muncullah sebelas orang memasuki ruangan itu.
Dua obor besar dipasang diatas dinding penjara membuat suasana ditempat itu jadi terang benderang, cahaya api yang berkilauan memancar diatas wajah setiap orang hukuman yang meringkuk disitu.
menambah suasana jadi semakin menyeramkan.
Tempat itu benar2 tak ubahnya bagaikan neraka didalam dunia.
Dengan pandangan yang tajam Han Siong Kie mengawasi orang2 yang baru saja muncul didepan pintu penjara itu, ia lihat orang pertama adalah pemuda beraja h licin yang bukan lain adalah Kaucu muda dari perkumpulan Thian chee kau, di belakangnya mengikuti dua orang pria bertubuh kekar sedang dibela kang kedua orang itu adalah delapan orang pria baju hitam yang membawa nampan berisi makanan.
Setelah berada didalam ruangan penjara, kedelapan orang pria baju hitam itu segera menyiapkan tiga puluh dua mangkok besar yang berisi sayur dan nasi di atas tanah, bau harum yang amat lezat tersiar keluar dari sayuran tersebut.
Bergidik sekujur badan Han Siong Kie menyaksikan mangkuk-mangkuk berisi nasi dan sayur itu, tanpa sadar bulu kuduknya pada bangun berdiri, pikirnya.
"Aa i. ..waktunya telah tiba, ketiga puluh satu orang itu sebentar lagi akan menyelesaikan kehidupannya yang penuh penderitaan serta siksaan, sungguh kejam perbuatan orang2 dari perkumpulan Thian chee Kau . bila suatu hari aku orang she Han bisa lolos dari sini dalam keadaan hidup, aku bermaksud akan membasmi habis semua manusia laknat itu"
Dalam pada itu, dengan sorot mata yang tajam Kaucu muda itu menyapu sekejap seluruh ruangan penjara itu.
dan akhirnya berhenti di atas wajah Han Siong Kie, cahaya buas dan bengis terpancar keluar dari balik matanya Terkejut sianak muda itu melihat perbuatan orang, ia tahu bahwa kaucu muda itu bermaksud jelek terhadap dirinya.
"Apa yang hendak ia lakukan?"
Pikirnya didalam hati, apakah dia hendak membalas dendam atas kekalahan serta penghinaan yang dialaminya?? "
Belum habis ia berpikir, kaucu muda itu sudah berjalan mendekati ke arahnya. Tampak kaucu muda itu tertawa seram dengan kakinya ia sepak tubuh Han Siong Kie keras2 lalu ejeknya.
"Bajingan cilik, kau tak pernah menyangka bukan kalau kau akan mengalami nasib sejelek ini?? sekarang aku hendak menggunakan cara yang sama seperti perbuataamu itu untuk menghajar kau hingga muntah darah segar"
Sambil berkata telapaknya laksana kilat segera didorong kedepan.
Han Siong Kie naik pitam mendengar ejekan itu, darah panas segera bergelora didalam dadanya, ia siap mengerahkan tenaganya untuk menghantam tubuh orang itu tapi...dengan cepat ia teringat kembali akan pesan yang disampaikan orang yang ada maksud kepadanya.
" ... kau harus pura2 berlagak seperti seseorang yang kehilangan ilmu silat ... kalau tidak maka akibatnya sukar dibayangkan mulai sekarang"
Hatinya jadi terkesiap. dengan cepat la mengendalikan kembali napsu marahnya dan melengos kesamping.
"Bangsat cilik, pendekar berwajah dingin .... ayohlah"
Terdengar Kaucu muda itu mengejek.
Han Siong Kie benar2 merasa amat mendongkol, ingin sekali ia memberi sebuah pelajaran yang hebat kepadanya.
tapi ia teringat kembali akan bahaya yang sedang mengancam dirinya, dia ingin melanjutkan hidup sebab banyak persoalan yang harus ia selesaikan.
Pemuda itu berusaha keras untuk menahan gusarnya, ia tidak ingin hanya disebabkan urusan kecil membuat urusan yang lebih besar jadi terbengkalai, sambil menahan rasa dongkol dan gusar yang tak terkirakan per-lahan2 ia berpaling.
"Ploook ploook baru saja sianak muda itu menoleh, dua gaplokan yang amat nyaring telah bersarang diatas pipinya membuat ia jadi pusing dan pandangan matanya jadi berkunang2.
"Bangsat"
Teriaknya dengan penuh kebencian.
""suatu hari aku pasti akan membinasakan dirimu"
"Ploook"
Kembali sebuah tamparan yang lebih keras bersarang diatas wajahnya.
Han Siong Kie tak berani mengerahkan tenaga dalamnya untuk menahan rasa sakit yang menyerang tubuhnya itu, dia takut rahasianya ketahuan lawan, hal ini membuat tamparan tersebut hampir saja ia membuat jatuh tak sadarkan diri, darah segar segera muncrat keluar dari bibirnya, membasahi seluruh pakaian yang dia kenakan.
Dengan bangga kaucu muda itu tertawa ter-bahak2.
"Haah...haah haah.. bangsat, kau berani ulangi kembali perkataanmu itu?"
Dengan penuh kebencian Han Siong Kie melotot sekejap kearahnya, namun ia tetap membungkam dalam seribu bahasa.
Ia merasa penderitaan serta siksaan yang dialaminya saat ini jauh lebih hebat daripada menghadapi kematian.
"Manusia berwajah dingin."
Seru kaucu muda itu dengan suara penuh penghinaan.
"Bila aku hendak bunuh dirimu maka hal itu akan kulakukan dengan gampang sekali. Hmm..Hmm.. kau bilang mau bunuh aku?? haahh haahh haahh... sayang sekali untuk selamanya kau tak akan mendapatkan kesempatan itu."
Tentu saja Han Siong Kie dapat memahami apa yang dimaksudkan oleh kaucu muda itu sebab algojo sebentar jagi akan melaksanakan hukuman mati terhadap dirinya.
sementara itu dua orang pria kekar tadi telah mengulapkan tangannya, delapan orang pria baju hitam itu segera membagi-bagikan mangkuk berisi sayur dan nasi itu kedepan setiap orang hukuman.
Dengan sorot mata memancarkan kerakusan dan kelaparan orang2 hukuman itu memandang kearah mangkuk yang berada di hadapannya, kemudian bagaikan harimau kelaparan mereka sambut mangkuk2 tadi dan menyikat isinya dengan lahap.
Menyaksikan kesemuanya itu, Han Siong Kie hanya bisa menghela napas didalam hati.
Perlahan2 diapun mengambil pula mangkuk yang berada dihadapannya.
Detik demi detik berlalu dalam keheningan serta kesunyian yang mencekam.
Mendadak terdengar jeritan ngeri berkumandang bersahutan, semua orang hukuman yang berada didalam penjara itu mengerang kesakitan lalu ber guling2 diatas tanah sambil merintih, hanya sedetik saja mereka sekarat untuk kemudian menggeletak tak berkutik lagi.
Han Siong Kiepun dengan gerakan yang cepat membuang isi mangkuknya kearah belakang, kemudian jatuhkan mangkuknya ke atas tanah dan menggeletak kaku pura2 mati.
Melihat semua orang hukuman telah mati dengan seksama Kaucu muda itu melakukan pemeriksaan yang sama, setelah itu dia baru mengundurkan diri dari situ.
Delapan orang pria berbaju hitam segera menggotong keluar empat buah usungan besar dari sudut penjara, berarti empat usungan dengan tiga puluh dua sosok mayat.
Dibawah petunjuk dua orang pria kekar itu, berangkatlah delapan orang dengan empat usungan itu keluar dari pintu penjara.
Sepanjang perjalanan mereka lewati beberapa lorong batu yang sempit dan ber liku2, tidak lama kemudian muncullah orang2 itu dari atas permukaan tanah dan tiba disebuah ruangan besar.
Terdengar salah seorang diantara dua pria kekar itu berseru dengan suara lantang.
"Dipersilahkan tuan pengurus untuk memeriksa mayat2 ini"
Seorang baju kuning muncul dari balik pintu ruangan, ia dekati mayat mayat diatas usungan itu dan secepat kilat menotok jalan darah Mia-bun-hiat ditubuh mayat2 tersebut, setelah itu baru katanya.
"Sekarang gotong mayat2 ini keluar dari sini dan kubur diwilayah kita"
"Terima perintah "
Jawab pria kekar tadi maka berangkatlah beberapa orang itu keluar dari ruangan tersebut, Diluar wilayah Lian huan tan terdapat sebuah hutan yang lebat, pada waktu itu disitu telah siap sebuah liang kubur yang amat besar.
Ketika rombongan orang2 itu tiba disitu mereka segera bekerja keras melempar mayat-mayat tadi kedalam liang kubur itu, kemudian menutup kembali liang tadi dan berlalu dari sana.
sementara orang2 itu bekerja nun diluar hutan diatas sebuah bukit kecil duduklah sesosok bayangan tubuh yang kecil dan ramping.
siapa dia????
orang itu bukan lain adalah Tonghong Hwie si pengemis cilik yang secara nyaris berhasil lolos dari kematian.
Sudah hampir dua jam lamanya ia duduk terpekur seorang diri di tempat itu, sepasang matanya telah berobah jadi merah membengkak.
dengan pandangan sayu ia memandang keangkasa tanpa berkedip.
benaknya terasa kosong bagaikan selembar kertas putih, ia merasa se-olah2 alam semesta yang berada disekelilingnya sudah tiada artinya lagi bagi dirinya.
Sang surya telah jauh tinggi diangkasa, bagaikan sedang menggigau ia bergumam tiada hentinya.
"Oooh hari telah siang, habis sudah riwayat engkoh Kie, aaah dia pasti sudah mati."
Ia bangkit berdiri dan berteriak sekeras2nya.
"Ooooh engkoh Kie, kau berada dimana, engkoh kie sayang engkau berada dimana, mengapa kau tega meninggalkan diriku."
"Apakah kau sedang mencari engkoh Kiemu"
Tiba2 serentetan suara yang nyaring berkumandang disisinya "Dia sekarang berada di..."
Tonghong Hwie merasa amat terkejut, ia merasa suara itu seperti pernah dikenal olehnya, matanya celingukan memandang ke sana kemari namun tak terlihat sesosok bayangap manusiapun disitu, yang terlihat hanya rumput yang gersang serta batu yang berserakan.
"Siapa kau??"
Segera bentaknya.
"Bukankah kita pernah bercakap2 belum lama berselang??"
"Aaaah kau..kau adalah orang yang kehilangan sukma??"
"sedikitpun tidak salah"
Tonghong Hwie makin terkesiap. mendadak ia teringat kembali akan perkataan dari orang yang kehilangan sukma belum lama berselang, orang itu pernah memperingatkan dirinya.
"Nona, putuskanlah tali cintamu itu dengan otak yang jernih, selamanya orang yang terlalu romantis akan berakhir dengan tragis bagi sendiri bila kau tak mau dengarkan peringatanku ini, maka dikemudian hari kau bakal musnah ditelan oleh samudra cinta yang tiada tara dalamnya itu."
"Benarkah ia bisa meramalkan hal2 yang akan datang? benarkah ia bisa mengetahui lebih dahulu kenyataan yang bakal dia alami dikemudian hari??.."
"Orang yang kehilangam sukma"
Ia segera menanyai.
"Aku teringat bahwa diriku tertawan oleh Ong Cui Ing dari perkumpulan Thian chee kau, eng kaukah yang menyelamatkan diriku??" .
"Tidak salah"
Sahut orang yang kehilangan sukma dengan suara perlahan.
"Kalau begitu aku orang she Tonghong mengucapkan banyak terima kasih terlebih dahulu"
"Nona tak usah berterima kasih kepadaku"
"Bolehkah aku ajukan sebuah pertanyaan kepadamu?"
"Katakanlah, asal persoalan yang kau tanyakan itu aku ketahui pasti akan kukatatan kepadamu"
"Kakak angkatku si Manusla berwajah dingin sekarang berada dimana.. apakah kau bisa memberi petunjuk kepadaku? "
"Oooh... dia??.. dia.."
Sebuah bayangan yang tidak baik terlintas dalam benak Tonghong Hwie, sekujur badannya tiba2 berubah jadi dingin danpeluh membasahi seluruh tubuhnya, buru2 serunya kembali.
"Apakah kau tahu dia.. dia berada dimana"
"Tahu sih tahu dia berada dimana pada saat ini "
"sekarang dia berada dimana?"
"Dia... dia sudah mati."
"Apa??"
Tonghong Hwie menjerit keras, tubuhnya mundur kebelakang dengan sempoyongan.
"engkoh Kie sudah mati?"
"Benar nona Tonghong janganlah terlalu emosi dan mengumbar kesedihan dia memang telah mati"
Tonghong Hwie jadi limbung, dia rasakan tubuhnya seakan2 terjerumus didalam sebuah samudra yang tak ada tara dalamnya, pandangan matanya jadi ber-kunang2 dengan sempoyongan tubuhnya mundur beberapa langkah kebelakang, lalu jatuh tertunduk diatas tanah, sukmanya seolah2 terbang meninggalkan raganya.
Dia tak pernah menduga bahwa kekasih hatinya, orang yang paling disayang olehnya ternyata telah mati tinggalkan dunia yang fana ini.
"Tidak"
Ia mengigau seorang diri "Dia belum mati.. engkoh Kie belum mati, dia tak mungkin akan mati"
"Aaah.. tapi sayang, dia benar2 telah mati"
Sahut orang yang kehilangan sukma sambil menghela napas panjang.
"Apakah kau manyaksikan semua peristiwa itu dengan mata kepala sendiri??"
"Benar "
"Kenapa kau tidak berusaha untuk menyelamatkan jiwanya??"
"Aku sama sekali tak berdaya untuk menolong dirinya"
Kembali sekujur badan Tonghong Hwie gemetar keras, wajahnya berubah jadi pucat pias bagaikan mayat, hatinya hancur lebur dan air mata bagaikan hujan gerimis mengucur keluar membasahi seluruh wajahnya.
Ia merasa sudah tiada berarti lagi hidup seorang diri dikolong langit, ia kecewa dan tak ingin hidup lebih jauh .
Tak tahan menangislah pengemis cilik itu tersedu2, suara tangisannya begitu memilukan hati membuat siapapun yang mendengar jadi beriba hati.
Melihat keadaan dari gadis itu, si orang yang ada maksud segera menghela napas panjang dan berkata.
"Nona Tonghong, manusia yang telah mati tak akan hidup kembali, kau harus baik2 menjaga kesehatanmu sendiri"
Perlahan2 Tonghong Hwie angkat kepalanya memandang ke angkasa, lalu berbisik dengan suara yang serak.
"Dia telah mati.. berarti api kehidupan dalam tubuhku telah ikut padam, aku tidak ingin hidup lebih jauh lagi.. hidupku sudah tak berarti lagi.."
"Nona Tonghong, pandangan mu itu keliru besar"
"Aku.. aku keliru besar?? "
"Betul"
Orang yang kehilangan sukma mengangguk tanda membenarkan.
"kau harus menerima kenyataan yang berada didepan matamu, itulah takdir yang telah diatur Thian terhadap manusia, kau tak bisa menolak ataupun meminta takdir yang ditentukan itu dan siapapun tak bisa mencegah takdir.. sadarlah kenyataan tersebut, dan baik2lah menjaga kesehatan badanmu sendiri"
Tonghong Hwie termenung beberapa saat lamanya, kemudian dia mengangguk.
"Baiklah, aku akan menerima kenyataan yang berada didepan mata, sekalipun semasa hidup aku tak dapat hidup berdampingan dengan dirinya, setelah mati aku ingin selalu berada ber-sama2 dirinya "
"Nona Tonghong, kembali pandanganmu keliru besar "
"Kembali pandanganku keliru??? "
Tonghong Hwie berdiri dengan pandangan melongo.
"Benar kau hendak menggunakan kematianmu untuk mendampingi dirinya, hal ini membuktikan betapa mendalamnya rasa cintamu terhadap dirinya, tapi pernahkah kau bayangkan bahwa tindakanmu itu sebenarnya sama sekali tak berarti?? pernahkah kau bayangkan bahwa perbuatanmu itu adalah suatu perbuatan yang salah dan membabi buta??."
"Kenapa ?? ."
"Selama masih hidup Han Siong Kie hanya menganggap dirimu sebagai adik angkatnya, hingga mati dia tetap tidak tahu bahwa kau sebetulnya adalah seorang gadis, semakin tidak tahu bahwa kau telah mencintai dirinya secara diam2, itu berarti bahwa cintamu hanya sepihak saja, bila kau ambil keputusan pendek maka berarti pula sepak terjangmu itu adalah membabi buta"
Tonghong Hwie serasa semakin sedih lagi setelah mendengarkan perkataan itu, ia merasakan hatinya bagaikan diiris2 dengan sebilah pisau yang tajam, apa yang diucapkan orang yang ada maksud sedikitpun tidak salah dan kesemuanya itu merupakan kenyataan yang tak terbantah, selama ini engkoh Kie nya memang tidak tau bahwa dia adalah seorang gadis yang menyaru sebagai pria, diapun tak tau bahwa dirinya amat cinta serta menyayangi dirinya.
Sekarang dia merasa menyesal kenapa tidak jelaskan rahasia itu sejak permulaan??
kenapa ia tidak menyatakan rasa cintanya semasa pemuda itu masih hidup?
dan kini semuanya telah terlambat Sementara itu ketika orang yang ada maksud melihat Tonghong Hwie bungkam terus tidak berbicara lagi, segera buka suara dan menegur.
"Nona Tonghong, menurut pendapatmu betulkah apa yang telah kuucapkan barusan??"
"Benar sekali"
Jawab Tonghong Hwie sambil mengangguk lirih.
"tapi apa yang telah kuputuskan tak akan kurubah lagi, aku sudah bertekad untuk melaksanakan niatku ini, siapapun tak akan berhasil menghalang-halangi niatku ini"
"Tadi kau sudah berniat untuk mengorbankan jiwamu demi cinta ??"
"Benar"
Gadis itu mengangguk.
"Bila sukma Han Siong Kie mengetahui akan perbuatanmu ini, bisakah ia menyetujui nya??"
"Semua perbuatan yang kulakukan hanya bertujuan mententramkan hatiku sendiri, apa yang kulakukan adalah urusan pribadiku, aku merasa sudah seharusnya kalau berbuat demikian"
"Nona Tonghong Hwie, menurut apa yang kuketahui kau masih mempunyai seorang ayah yang telah tua, dia memandang dirimu bagaikan sebagian dari kehidupannya, bila kau berbuat nekat ...."
Ucapan ini sangat mengejutkan hati pengemis cilik itu, hingga tak tertahan lagi ia meloncat kaget.
Darimana orang yang kehilangan sukma bisa mengetahui akan asal usulku ....??
pikirnya didalam hati apakah dia bukan manusia tapi malaikat?
malaikat yang bisa mengetahui urusan semua orang??
sungguh kejadian ini merupakan Suatu peristiwa yang sama sekali tak terduga.
Gadis ini merasa bahwa selamanya tak ada seorang manusiapun yang mengetahui asal usulnya, belum pernah dia menceritakan asal usulnya kepada siapapun termasuk pula terhadap kakak angkatnya Han Siong Kie, tapi sekarang si orang kehilangan sukma berhasil memecahkan rahasia itu, suatu kejadian yang aneh sekali.
"Darimana kau bisa mengetahui akan urusan keluargaku?"
Akhirnya ia berseru. orang yang kehilangan sukma tertawa ringan.
"Apa yang berhasil aku ketahui mungkin lebih banyak daripada apa yang kau bayangkan sekarang, kini lebih baik kau tak usah menanyakan tentang persoalan itu lagi, sebab sebagaimanapun juga aku tak akan memberi tahukan pada mu. Persoalannya sekarang adalah tegakah kau tinggalkan ayahmu yang telah memelihara kau hingga dewasa?? bila kau mati lalu bagaimana dengan ayahmu?? "
Aku adalah seorang anak yang tidak berbakti"
Ujar Tonghong Hwie dengan hati pedih.
"aku tak bisa membataikan niatku itu sebab keyakinanku sudah bulat."
"Baiklah, untuk sementara waktu kita jangan membicarakan persoalan ini, sekarang masih ada satu tugas yang maha penting yang harus kau laksanakan sendiri"
"Urusan apa?? aku orang she Tonghong merasa tiada pekerjaan apapun yang harus kulakukan"
"Tapi pekerjaan yang kumaksudkan ini hanya dapat kau lakukan sendiri, orang lain tak akan berhasil melakukannya."
"Katakanlah pekerjaan apa itu??"
"Membalaskan dendam bagi kematian engkoh Kie mu"
Tonghong Hwie terkesiap. sekujur badannya gemetar keras, perkataan ini segera menyadarkan dirinya dari impian, membuat gadis itu sadar kembali dari sedihnya.
"Aaaah sedikitpun tidak salah"
Pikirnya didalam hati, aku harus teringat akan persoalan ini, bila dendam sakit hati ini tidak kubalas, engkoh Kie pasti akan mati tidak meram..
aku harus melaksanakan pembalasan dendam lebih dahulu sebelum pergi menyusul dirinya"
"Bagaimana?? betul bukan ucapanku itu?"
Orang yang kehilangan sukma menegur sambil tersenyum.
"Aku...aku seharusnya persoalan itu kuingat sendiri, sejak semula terima kasih atas peringatanmu, tapi untuk itu dapatkah aku mengajukan tiga pertanyaan kepadamu??"
"Katakanlah, apakah pertanyaanmu itu??"
"Pertama, tempo dulu kau pernah memberi peringatan kepadaku agar segera memutuskan hubungan cintaku dengan dirinya, kalau tidak maka hubungan itu akan berakhir dengan keadaan yang tragis, yang kau maksudkan sebagai kajadian yang tragis apakah peristiwa yang terjadi sekarang ini??"
"Bukan"
"Bukan? Lalu apa yang kau maksudkan.."
"Apa yang terjadi saat ini hanya merupakan peristiwa diluar dugaan, yang kumaksudkan sebagai peristiwa yang tragis tempo dulu adalah kejadian lain dan kejadian itu tak bisa dihindari walau dengan cara apapun juga, sekarang ia sudah mati dan peristiwa yang tragis itupun mungkin tak akan terjadi lagi"
"Mungkin? dia toh sudah mati kenapa masih ada kata2 mungkin."
Seru Tonghong Hwe dengan cepat.
"Oooh aku .. aku telah salah berbicara tapi kejadian yang ada dikolong langit kadang kala memang sukar diduga, siapapun tak berani memastikan segala Suatu persoalan yang terjadi dan berlangsung dikolong langit ini"
"Ucapanmu itu sangat membingungkan hati orang, rupanya kau telah menyimpan sesuatu dibalik ucapanmu itu??"
"Sekarang mungkin benar tapi kemudian hari sama sekali tidak"
Jawaban ini kembali merupakan suatu perkataan yang sukar ditangkap artinya, Tonghong Hwie ingin sekali mengetahui tempat pers embuyiannya pihak lawan tapi terasalah olehnya suara yang terpancar datang itu sebentar kedengaran berasal dari tempat jauh sebentar lagi kedengaran dari dekat, sebentar timur sebentar barat membuat orang sulit untuk menduga, dimanakah sebetulnya orang itu memancarkan suaranya.
Setelah gagal untuk menemukan tempat persembunyiannya orang yang kehilangan sukma, akhirnya Tonghong Hwie berkata kembali.
"Pertanyaanku yang kedua ini apakah pembunuh yang telah membimasakan engkoh Kie ku itu??"
"Tentang persoalan ini tentu saja Kaucu dari perkumpulan Thian chee kau adalah pembunuh utamanya sedang kuku garuda anak buahnya merupakan pembantu pembunuh"
"Macam apa sih raut wajah yang sebetul nya dari Thian chee kaucu itu? apakah kau dapat memberi petunjuk padaku?? "
"Tentang pertanyaanmu ini, maafkanlah aku karena tak dapat menjawab pada saat ini aku rasa orang2 didalam dunia persilatanpun belum ada yang tahu siapakah sebenarnya orang itu, lebih baik ajukanlah pertanyaan yang ketiga."
"Ketiga, jenasah engkoh Kie sekarang berada dimana??"
"Bila kaujumpai gundukan tanah baru di dalam hutan belantara sebelah depan sana, itulah kuburannya, ia berserta ketiga puluh satu orang tawanan yang lain telah dibunuh dan di kubur menjadi satu ditempat itu"
Tonghong Hwie mundur kebelakang dengan sempoyongan, tiada air mata yang membasahi pipinya lagi, sebab air matanya telah mengering hanya dengan suara yang lemah ia berseru.
"Ditengah hutan sebelah depan sana? "
"Sedikitpun tidak salah"
"Apakah ia mati dalam keadaah yang sangat mengerikan??"
"Tidak. justru keadaanya kebalikan dari yang kau duga, ia mati dalam keadaan yang sangat tenang, ia mati karena keracunan. sebab untuk mewujudkan pertanda bahwa perkumpulan Thian chee-kau masih mengerti akan perikemanusiaan, selamanya orang yang dijatuhi hukuman mati dalam perkumpulan itu selalu menjalankan hukumannya tanpa mengucurkan darah dan tanpa mengurangi satu2 anggota badannya"
"Aku ingin pergi kesitu dan memandang wajahnya lagi"
"Aku rasa tidak perlu, toh engkoh Kie mu itu sudah menutup mata untuk selama-lamanya "
"Tidak aku tetap ingin memandang wajahnya untuk terakhir kalinya, sebab inilah kesempatan terakhir bagiku untuk bertemu dengan dirinya"
"Nona Tonghong, kau harus lebih menitik beratkan pada soal pembalasan dendam, janganlah mati konyol karena persoalan yang sama sekali tak ada gunanya itu"
"Tentang soal ini aku mengerti"
"Akupun hendak menasehati dirimu bahwa dengan ilmu silat yang kau miliki sekarang masih belum mampu untuk menghadapi lawan2 mu itu, jangan dikata hendak membalas dendam, untuk menandingi seorang jago baju kuning pihak merekapun kau masih belum mampu, maka dari itu aku menganjurkan kepadamu lebih baik pulanglah dulu kerumah dan berlatihlah ilmu silatmu dengan lebih giat dan rajin"
"Pulang kerumah?? aku bisa mempertimbangkan anjuranmu itu secara baik2"
"Baiklah, kalau kau bisa berpandangan lebih luas, sekarang boleh pergi dari sini sebab akupun hendak pergi"
"Cianpwee, budi kebaikan yang telah kau limpahkan kepada diriku mungkin tak bisa kubalas dalam kehidupan saat ini, biarlah kesemuanya itu kubalas dalam penirisan yang akan datang"
Seru Tonghong Hwie keras-keras.
Tetapi tiada jawaban yang kedengarah lagi, suasana disekitar situ sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun, rupanya orang yang kehilangan sukma telah berlalu dari tempat itu.
Melihat orang misterius itu sudah berlalu, Tonghong Hwie menghela napas panjang, dengan membawa hati yang hancur perlahan2 ia bangkit berdiri dan berjalan menuruni bukit tersebut.
Tidak lama setelah Tonghong Hwie berlalu, dari balik sebuah batu cadas kurang lebih lima tombakjauhnya meloncat keluar sesosok bayangan manusia, orang itu menghela napas panjang dan bergumam seorang diri.
"Aaaai.. benarkah tindakanku ini Tidak sekalipun perbuatanmu ini untuk sementara waktu akan menyakiti dan menghancurkan perasaan hatinya, tapi keadaan toh jauh lebih baik daripada dikemudian hari terjadi peristiwa yang lebih tragis lagi"
Bagaikan sukma gentayangan orang itu gelengkan kepala lalu berkelebat pula tinggalkan tempat itu.
-000d0w000-BAB 18 DALAM pada itu Tonghong Hwie yang memasuki hutan segera menemukan sebuah gundukan tanah baru dihadapannya, kuburan itu luasnya mencapai tiga tombak dan jelas baru saja didirikan disitu.
"Aaah..
jenasah engkoh Kie dikubur ditempat ini jeritan didalam hati, ia rasakan pandangan matanya jadi gelap dan tak ampun lagi tubuhnya jatuh terjungkal diatas gundukan tanah baru itu.
Lama..
lama sekali...
ia baru sadar kembali dari pingsan, segera ia segera menjerit .
"Engkoh Kie, perpisahan hanya beberapa hari, sungguh tak nyana akan berubah menjadi suatu perpisahan untuk selama2nya.. ooh, begitu tega kau tinggalkan aku seorang diri. engkoh Kie kenapa kau tidak menunggu diriku???."
Angin berhembus lewat menerbitkan suara gemerisik diantara semak belukar, isak tangis yang memedihkan hati itu berkumandang diangkasa dan tersiar hingga ketempat kejauhan.
Begitu sedih dan pedihnya hati gadis itu hingga membuat Tonghong Hwie terkapar di atas gundukan tanah baru itu dengan badan yang lemah tak bertenaga, tubuhnya terasa bagaikan lumpuh dan tak bisa bergerak lagi.
Hatinya hancur dan sakit seperti di iris2 dengan pisau, ia tidak menangis lagi, hanya teriak dan jeritnya dengan suara yang mengenaskan.
"Engkoh Kie, oooh.. engkoh Kie dengarkah kau akan jeritanku ini?? lihatkah kau bahwa aku berdiri didepan pusaramu? engkoh Kie jawablah jeritan hatiku ini.."
Suaranya semakin memilukan hati.
"Engkoh Kie, aku hendak memandang wajahmu untuk terakhir kalinya, aku ingim memandang wajahmu agar raut mukamu itu selalu terukir dan terbayang dalam benakku, aku hendak mendirikan kuburan bagimu."
"Oooh tidak kuburan bagi kita berdua, tunggulah aku setelah dendam sakit hatimu berhasil kutuntut balas, aku pasti akan menyusul dirimu"
Dengan sempoyongan dia bangkit berdiri, setelah berdiri tertegun beberapa saat lamanya gadis itu mulai bekerja dan menggali gundukan tanah itu..
Satu depa, dua depa..
ketika ia menggali mencapai kedalam lima depa, tampaklah mayat manusia berserakan dimana2, tumpuk menumpuk menjadi satu.
Ia membalik-balikkan setiap mayat itu..
mayatnya yang merah dan membengkak hampir saja membuat dia salah memilih jenasah tadi..
tapi akhirnya ia berhasil juga menemukan jenazah yang dicarinya..
sesosok tubuh yang masih utuh dengan wajah yang tenang, hanya tubuh itu sudah tak bernapas lagi.
Ia belai wajah mayat itu dengan penuh kasih sayang, air mata bercucuran membasahti wajahnya yang dingin dan kaku.
"Engkoh Kie.. 0ooh engkoh Kie, mengapa kau tidak menjawab pertanyaanku?? engkoh Kie.. ooooh.."
"Engkoh Kie, tahukah kau bahwa secara diam2 tanpa sepengetahuanmu aku telah jatuh cinta kepadamu??, tahukah kau, bahwa dalam hati aku berharap kau sedia menjawab pertanyaanku ini engkoh Kie, mengapa kau selalu membungkam??"
"Tahukah kau engkoh Kie, bahwa aku adalah seorang gadis?? oooh.. engkoh Kie, aku telah jatuh cinta kepadamu sejak pada pandangan yang pertama dahulu.. tahukah kau bahwa aku sangat mencintai kau??" -000d0w000-
Jilid 9
"OOH... Engkoh Kie bile aku tahu apa yang sebetulnya kau tentu akan menerima diriku bukan?? aku tahu bahwa kau membenci kaum wanita tapi aku mohon pada mu janganlah membenci aku Janganlah kau tinggalkan diriku, Engkoh Kie sewaktu kita angkat saudara didepan benteng maut diatas bukit batu karang, bukankah kau telah mengabulkan permintaanku?? tak akan tinggalkan aku walau dalam keadaan apapun juga?? tapi sekarang kita harus berpisah antara langit dan bumi, kita harus berpisah untuk beberapa saat lamanya."
"Engkoh Kie aku menyesal sekali. Menyesal mengapa tidak kau beri tahu tentang kegadisanku sejak dulu maafkanlah daku, aku takut.... aku takut bila kau tahu bahwa aku adalah seorang gadis maka kau akan meninggalkan driku, aku takut kehilangan engkau."
"Engkoh Kie aku tidak ingin banyak berbicara lagi, pokoknya aku cinta kepadamu, sampai kemanapun aku tetap mencintai dirimu."
Wajah Han Siong Kie tetap kaku dingin dan hambar, raut mukanya kelihatan pucat pias dan menyeramkan.
Tonghong Hwie memeluk mayat Han Siong Kie itu dengan penuh kasih sayang, bibirnya yang pucat tak berdarah dikecup dan diciumnya dengan penuh cinta.
"Engkoh Kie, dahulu aku pernah membayangkan pada suatu hari kita bisa duduk berdampingan dengan penuh kemesrahan, kau belai rambutku yang hitam dan aku bersandar dalam pelukanmu yang hangat.. tapi sekarang semuanya telah buyar. Dan kau .. kau tak akan membuka matamu kembali, kau tentu akan merasa kedinginan tanpa ada yang mendampingi serta menghangatkan tubuhmu."
Seperti orang yang sinting, tak waras otaknya gadis itu memeluk mayat Han Siong Kie yang dingin dan kaku, ia keluar dari liang kubur tersebut, kemudian menutup kembali liang tadi dengan tanah.
Setelah itu selangkah demi selangkah ia berjalan tinggalkan tempat itu dengan langkah yang berat dan gontai, gadis itu berjalan menuju kearah bukit dimana ia berada beberapa waktu berselang.
Dicarinya sebuah tempat yang datar dengan pemandangan yang indah, lalu membaringkan jenasah itu keatas tanah.
"Engkoh Kie, lihatlah tempat ini indah bukan?? apakab kau puas dengan tempat ini sebagai tempat peristirahatanmu yang terakhir??"
Ia lepaskan rambut palsunya yang kotor dekil dan awut2an itu hingga terurailah rambutnya yang panjang halus dan berwarna hitam, kemudian membersihkan pula salep obat yang menutupi mukanya, dalam waktu singkat muncullah seraut wajah yang cantik jelita bagaikan bidadari dari nirwana, ia melepas kan jubah luarnya yang dekil dan bertambal sulam itu hingga munculah potrongan badan yang ramping dan padat berisi.
"Engkoh Kie, inilah aku inilah adik angkatmu Tonghong Hwie"
Bisiknya dengan suara lirih.
"Lihatlah engkoh Kie, pandanglah engkoh Kie inilah diriku ini, mengapa kau tidak membuka mata yang jeli itu? dahulu, bukankah kau pernah berkata bahwa namaku mirip sekali dengan nama seorang perempuan? ooh Engkoh Kie, tahukah kau bahwa aku sebenarnya adalah seorang gadis muda."
Gadis itu berhenti sebentar untuk menarik napas panjang2, lalu lanjutnya kembali.
"Engkoh Kie, sejak detik ini pengemis cilik sudah mati, dikolong langit sudah tak ada lagi manusia yang bernama Pengemis cilik Tonghong Hwie, aku akan muncul didalam dunia persilatan dengan wajah asliku, aku hendak melanjutkan hidupku demi untuk membalas dendam sakit hatimu, aku hendak basmi semua penjahat yang tergabung dalam perkumpulan Thian chee kau, aku hendak suruh mereka memberikan ganti rugi yang tak ternilat besarnya"
"Seluruh manusia yang ada dikolong langit tak seorangpun yang mengenali diriku.. karena untuk pertama kalinya aku akan berkelana didalam dunia persilatan dengan wajah yang asli."
"Sekarang apa sebutanku setelah kau tinggalkan?? istri yang ditinggalkan? Benar, aku adalah istri yang kau tinggalkan."
Setelah melampiaskan seluruh rasa sedih yang berkecamuk dalam benaknya, Tonghong Hwie mulai menggali sebuah liang kubur ditempat itu dengan ilmu pukulannya yang sempurna tak lama kemudian muncullah sebuah liang sedalam beberapa tombak ditempat itu, kemudian sambil membaringkan jenaSah Han Siong Kie disudut kiri ia tinggalkan sebuah liang lain disisinya.
"Engkoh Kie, liang disebelah sini adalah untuk tempat penguburan bagi tubuhku"
Bisiknya.
Dengan pandangan yang tajam ia menatap wajah Han Siong Kie yang tampan dan kaku itu, sekejappun ia tak berkedip.
Inilah pandangan yang terakhir kalinya, dikemudian hari wajah ini akan rusak, membusuk dan akhirnya tinggal tulang2nya saja yang berwarna putih.
Senja telah tiba, sang surya tenggelam dibalik gunung ....
malam haripun menjelang tiba.
Untuk yang terakhir Tonghong Hwie mencium bibir si anak muda itu dengan penuh rasa cinta kemudian ia mulai bekerja menguruk liang tadi dengan tanah.
"Selamat tinggal engkoh Kie"
Bisiknya untuk sementara waktu kita akan berpisah dahulu, setelah dendammu berhasil kutuntut balas, aku segera akan menyusul dirimu, aku akan mendampingi dirimuuntuk selamanya.
Diatas kuburan tadi dipancangnya sebuab batu nisan, dengan ilmu jarinya yang sakti ia segera mengukir beberapa patah kata diatas batu itu.
Disinilah bersemayan manusia berwajah dingin Han Siong Kie serta pengemis cilik Tonghong Hwie Memandang tulisan itu ia tertawa, tertawa yang sedih dan memilukan "Engkoh Kie, selamat tinggal semoga sukmamu dilangit bisa memahami perasaanku, semoga aku bisa cepat membalaskan dendam bagimu hingga aku bisa mengiringi dirimu berbaring dalam satu liang."
Setelah memberi hormat kearah kuburan tadi, ia putar badan dan berlalu dari situ Dalam sekejap mata tubuhnya telah lenyap dibalik kegelapan.
Suatu tengah hari, didepan kuburan Han Siong Kie tiba2 muncul dua orang perempuan misterius, kedua orang itu mengenakan kain kerudung putih di atas wajahnya, dilihat dari potongan tubuh kedua orang itu terlihati bahwa mereka berdua adalah seorang gadis muda dengan seorang perempuan berusia setengah baya.
Pertama2 gadis muda itulah yang buka suara lebih dahulu, ujarnya.
"Ibu, Tonghong Hwie boleh dianggap seorang gadis yang terlalu kabur pengertiannya mengenai cinta, coba lihat dia telah mengukir nama mereka berdua di atas batu nisan, entah apa maksudnya??"
"Dia telah ber siap2 setelah menyelesaikan tugasnya untuk membalas dendam, ia akan mati pula didepan kuburan ini sehingga dia dikubur dalam sebuah liang yang sama"
"Ibu, mengapa kau tidak menceritakan keadaan yang sebenarnya??"
"Tidak bisa, kita tak boleh menceritakan keadaan yang sebenarnya kepada gadis itu."
"Sekarang keadaan demikian mungkin saja peristiwa tragis yang tidak diinginkan bisa dihindari, sebaliknya kalau kita ceritakan keadaan yang sebetulnya. oooh.. akibatnya sukar kita dugg mulai sekarang.."
"Tapi.. bukankah dia hendak menuntut balas bagi kematiannya.."
"Nak. ia tak mungkin bisa menyelesaikan tugas untuk membalas dendam..usahanya pasti akan mengalami kegagalan "
"Kenapa??"
"Dengan ilmu silat yang dimilikinya saat ini, bila digunakan untuk berkelana didalam dunia persilatan mungkin masih lebih dari cukup tetapi kalau digunakan untuk menuntut balas, oooh masih terlampau jauh sekali satu jalan yang bisa dia tempuh hanyalah pulang kerumah dan berlatih ilmu silat lagi asal dia sudah berada dirumah maka sulitlah baginya untuk melepaskan diri lagi dari situ"
"Ia melarikan diri dari rumah tanpa sepengetahuan ayahnya, setelah pulang kerumah, tentu saja ayahnya tak akan membiarkan dia untuk pergi lagi tanpa pamit."
"Dengan kejadian tersebut mungkinkah bakal terjadi hal2 yang mengenaskan lagi?? "
"Semoga saja tidak"
"Ibu dengan perkatanmu itu bukankah berarti bahwa masih ada kemungkinan untuk terjadi suatu peristiwa yang tidak diinginkan"
Seru gadis muda itu.
"Kemungkinan memang selalu ada, hanya kemungkinan tersebut tipis sekali "
"lbu, apa sebabnya kau berbuat begitu??, dapatkah kau beritahukan kepadaku?"
"Gampang sekali, aku berbuat demikian agar bisa mencegah terjadinya suatu peristiswa yang lebih tragis lagi daripada kejadian sekarang ini"
Gadis muda itu gelengkan kepalanya berulang kali, suaranya tiba2 berubah aneh katanya.
"Ibu kau berbuat demikian tentu disebabkan karena mempunyai suatu maksud yang lain bukan."
"sedikitpun tidak salah"
"Mengenai asal usul dari nona Tonghong Hwie serta Han Siong Kie, dapatkah aku mengetahuinya lebih jelas lagi?"
"Tidak nak. sampai waktunya aku pasti akan menceritakan keseluruhannya kepadamu."
Jawaban ini diutarakan perempuan setengah baya itu dengan nada penuh kepedihan.
Rupanya gadis muda tadi merasa tidak puas dengan sikap ibunya yang serba misterius itu, dia tidak buka suara lagi dan membungkam dalam seribu bahasa.
Untuk beberapa saat lamanya suasana disekitar kuburan itu sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun.
"Nak, bongkarlah kuburan itu "
Akhirnya perempuan berusia setengah baya itu buka suara memecahkan kesunyian.
"Ibu secara tiba2 aku merasa agak takut"
"Apa yang kau takuti ??"
"Seandainya ia tak berhasil menyadarkan diri kembali, bukankah jiwanya akan berkorban dengan percuma?, bukankan dia bakal mati secara konyol."
Rupanya perempuan berusia setengah baya itu merasakan hatinya bergetar keras, segera sahutnya.
"Itu tak mungkin terjadi, ilmu pernapasan kura2 sakti adalah suatu kepandaian aneh yang diwariskan sejak jaman kuno, tak mungkin terjadi hal2 yang diluar dugaan dengan dirinya"
"Sekalipun begitu, aku tetap merasa bahwa tindakan yang kulakukan pada masa yang lalu terlalu menyerempet bahaya "
"Bukan kau saja, akupun mempunyai perasaan yang sama dengan dirimu, tetapi bila aku harus melakukan pertolongan tanpa memikirkan segala akibatnya bisa kau bayangkan betapa hebatnya akibat yang kita terima, bukankah jerih payahku selama puluhan tahun lamanya, dendan menahan malu dan hina, bakal hancur berantakan??"
"Ibu mengapa terhadap putrimu kau bersikap rahasia sekali, apa saja yang perlu kau rahasiakan??"
"Nak suatu hari kau bakal mengetahui dengan sendirinya, sekarang bila kukatakan kepadamu maka hal itu akan merugikan dirimu saja, kau tak akan mendapatkan keuntungan apa2"
"Ibu coba kamu lihat, orang She Han ini kenapa dia?"
"Dia.... dia ibaratnya naga sakti diantara manusia."
"Nak apakah kau telah jatuh cinta padanya"
Tiba2 perempuan itu bertanya. Mendengar pertanyaan itu gadis muda itu segera menundukkan kepalanya dengan ter-sipu2 dan mempermainkan ujung bajunya..
"Nak. hal itu jangan sekali kau lakukan "
Bentak orang berusia setengah baya itu secara tiba2.
"Ingatlah baik2, kau tidak boleh jatuh cinta kepadanya, janganlah kau tanyakan mengapa, pokoknya kau tak boleh punya perasaan senang atau cinta kepada pemuda ini, dikemudian hari kau akan mengetahui dengan sendirinya mengapa aku melarang kau berbuat begitu, dan sekarang laksanakanlah segala sesuatunya menurut perintahku.."
Dengan tubuh yang bergetar per lahan2, gadis itu berjalan mendekati kuburan tadi, telapak tangannya bekerja cepat..
dalam beberepa buah pukulan gencar pasir dan batu beterbangan memenuhi angkasa, sekejap mata muncullah tubuh Han Siong Kie dari balik permukaan tanah.
"Nak, sekarang boponglah tubuhnya dan keluarkan dari liang kubur itu."
Kembali perempuan setengah baya itu memerintahkan..
"ibu, aku..aku tidak mau?? Aku tidak mau mambopong tubuhnya"
"Belum lama berselang, ketika ia sedang terluka bukankah kau pernah membopong tubuhnya?"
Gadis muda itu tidak menjawab, ia loncat keluar dari dalam liang kubur itu dan sebera berdiri disisi liang tadi.
Mengapa ia tak mau membopong tubuh Han Siong Kie??
karena ibunya melarang dia mencintai pemuda itu maka ia merasa hatinya tersinggung.
Melihat tindakan putrinya itu, perempuan berusia setengah baya tadi terpaksa menghela napas panjang, ia loncat masuk kedalam dan membopong sendiri tubuh pemuda itu, kemudian perintahnya lagi kepada gadis muda itu "sekarang tutuplah kembali liang tersebut dengan tanah"
"Mengapa harus kita timbun lagi liang itu?, toh jenasah Han Siong Kie telah kita ambil??"
"Mungkinpada suatu ketika Tonghong Hwie bakal datang kemari untuk menjenguk kuburan itu, kita tak boleh membangkitkan rasa curiganya hingga rahasia ini terbongkar"
"Tetapi... bukankah dikemudian hari Han Siong Kie munculkan diri kembali didalam dunia persilatan.."
"Aku telah memiliki rencana yang masak mengenai persoalan ini. oooh.. nak aku telah melakukan suatu kesalahan besar"
"Kesalahan apa??"
"Aku tak seharusnya menyuruh Tonghong Hwie pulang ke rumah"
"Kenapa??"
"Bisa jadi hal ini akan menghancurkan seluruh rencana besarku .. aku harus mencari akal untuk menghalangi dia pulang kerumah"
Rupanya gadis itu tahu sekalipun bertanya, ibunya belum tentu mau menerangkan kepadanya maka dengan mulut membungkam dia segera bekerja cepat menimbun kembali liang itu dengan tanah.
Dalam pada itu perempuan setengah baya tadi telah membaringkan tubuh Han Siong Kie di bawah sorot cahaya sang surya, dengan hati yang gelisah bercampur cemas kedua orang itu duduk disisinya sambil menanti perubahan selanjutnya.
suasana sangat hening dan sunyi, kesunyian yang penuh ketegangan...
Beberapa waktu sudah lewat dengan cepatnya, namun tubuh Han Siong Kie masih menggeletak kaku diatas tanah, sama sekali tidak memperlihatkan gejala atau pertanda bahwa dia akan sadar dari pingsannya.
"Ibu, coba lihat.."
Dikala keputus-asaan sedang menyelimuti hati mereka berdua, gadis muda itu menjerit tertahan.
Desiran angin tajam berkumandang membelah angkasa, dengan cepat kedua orang perempuan itu bangkit dari atas tanah dan berpaling kearah mana berasalnya suara tadi.
Tampaklah beberapa sosok tubuh manusia dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat sedang berlarian menuju keatas bukit tersebut, orang yang berlari dipaling depan adalah seorang gadis muda dengan pedang terhunus, sedang dibelakangnya menyusul lima orang pria berbaju hitam.
Rupanya gadis itu sedang melarikan diri dari kejaran orang2 dibelakangnya.
Perempuan berusia pertengahan itu segera menyambar jenasah Han Siong Kie dari atas tanah sambil buru2 serunya.
"Mari kita bersembunyi untuk sementara waktu"
Dengan gerakan tubuh yang cepat kedua orang itu segera berkelebat menyembunyikan diri dibelakang sebuah batu cadas.
Agaknya gadis muda yang sedang melarikan diri itu sudah kehabisan tenaga, baru saja tubuhnya mencapai puncak bukit tersebut ia sudah kena disusul oleh kelima orang pengejarnya, dengan cepat kedua belah pihak terjerumus dalam suatu pertarungan yang sengit.
Diantara kelima orang pengejar itu terdiri dari seorang kakek tua berwajah buruk dengan empat orang pria kekar berbaju hitam.
Raut wajah gadis muda tadi cantik jelita, tetapi pakaiannya telah kusut dan tidak keruan, tusuk kondenya terlepas hingga rambutnya terurai kebawah, keadaannya mengenaskan sekali.
Terdengar kakek berwajah buruk itu membentak keras.
"Budak busuk. berani betul kau datang mengintai wilayah Lian huan tan kami...Hm kau betul-betul sudah bosan hidup, aku mau lihat kau hendak lari kemana lagi??"
Ditengah bentakan keras secara beruntun ia lancarkan tiga jurus serangan kilat yang mana seketika membuat gadis itu terdesak hebat dan mundur kebelakang dengan sempoyongan.
Sementara itu empat orang pria kekar berbaju hitam lainnya segera menyebar diri ke empat penjuru dan bersiap2 menghalangi maksud dara itu untuk meloloskan diri "Bajingan busuk.
nonamu akan beradu jiwa dengan dirimu"
Bentak gadis itu gusar.
Pedangnya bekerja dengan cepat melancarkan serangan ber-tubi2, desiran angin tajam bagaikan hembusan taufan dan gulungan ombak menyapu dan mengurung musuhnya habis2an.
Kakek berwajah jelek itu seketika terdesak hebat, ia mundur tiga langkah kebelakang dan cepat2 putar telapaknya untuk memunahkan serangan gencar tersebut.
Sekalipun serangan itu hebat tapi sayang tusukan2 pedang itu dilancarkan dalam keadaan nekat, setelah serangan itu lewat, napasnya jadi ter-sengkal2 dan peluh membasahi seluruh tubuhnya.
Kakek tua itu menyeringai seram, ia sudah merasakan bahwa musuhnya telah kehabisan napas, sembilan pukulan berantai segera di lancarkan kembali kedepan, setiap pukulan mengandung tenaga penghancur yang maha dahsyat...
Jeritan ngeri bergema memancarkan kesunyian, sebuah pukulan yang maha dahsyat itu sempat bersarang ditubuh gadis itu, membuat badannya terlempar sejauh delapan depa kebelakang, ia muntah darah segar dan tak tertahan lagi tubuhnya jatuh terduduk diatas tanah.
"Bangsat tua "
Jeritnya dengan rasa dendam.
"sekalipun nonamu sudah mati dan jadi setan, aku akan mencari dirimu untuk menuntut balas"
Kakek berwajah jelek itu tertawa seram.
"Hmm.. budak ingusan, aku ingin lihat dengan cara apa kau hendak balas dendam terhadap diriku"
Selangkah demi selangkah ia berjalan mendekati gadis itu, telapak tangannya diayun ke udara dan siap menghajar batok kepala musuhnya.
Melihat keadaan yang amat berbahaya itu, perempuan berusia pertengahan yang bersembunyi dibela kang batu itu segera berbisik kepada putrinya.
"Binasakan kelima orang itu, jangan biarkan seorangpUn diantara mereka lolos dalam keadaan hidup,"
"Membinasakan mereka semua??"
Jerit gadis itu dengan terperanjat.
"Benar, bunuh semua tanpa kecuali "
"Kenapa? apa gunanya kita bunuh mereka semua??"
"Kau tak usah bertanya, gunakanlah jurus yang hebat untuk membinasakan mereka semua "
"Tetapi mereka toh..."
"Jangan banyak bicara lagi, cepat laksanakan"
Sementara itu si kakak berwajah jelek itu sudah mengayunkan telapak tangannya mengarah ubun2 gadis itu. nampaknya sesaat lagi gadis itu akan mati dalam keadaan yang mengerikan.
"Tahan "
Suatu bentakan keras berkumandang memecahkan kesunyian, disusul berkelebat datangnya sesosok bayangan manusia.
Kelima orang itu tersentak kaget, tanpa sadar kakek berwajah jelek itu menarik kembali serangannya sambil loncat mundur kebelakang.
Tapi sebelum dia sempat melihat jelas siapakah pendatang itu.
segulung angin pukulan yang maha kuat dan dahsyat telah menyerang datang, hal ini membuat kakek tersebut terkesiap hatinya, sadarlah dia bahwa musuh yang baru saja munculkan diri itu memiliki tenaga dalam yang sangat hebat..Dalam keadaan tidak siap.
ter gopoh2 ia enjotkan tubuhnya bergeser lima depa kesamping untuk melepaskan diri dari ancaman itu.
seorang perempuan muda berkerudung putih segera munculkan diri di hadapannya.
Kakek itu jadi teramat gusar, bentaknya.
"Perempuan sialan, siapakah kau?? berani betul...."
Gadis berkerudumg itu sama sekali tidak berbicara, tidak menunggu hingga pihak lawan menyelesaikan kata2nya, sepasang telapak kembali bekerja cepat meluncurkan serangan yang maha dahsyat dengan kecepatan yang sukar dilukiskan dengan kata kata.
Kakek tua, itu ingin mengundurkan diri ke belakang, namun sudah tak sempat lagi, dalam keadaan terdesak terpaksa ia mengepos tenaga dan menghimpun segenap kekuatannya untuk menyambut datangnya serangan itu dengan keras lawan keras.
"Blammm"
Ditengah jeritan ngeri yang menyayat hati, kakek tua itu terpukul mencelat sejauh beberapa tombak kemudian roboh terjengkang diatas tanah, darah segar muncrat keluar dari bibirnya.
Melihat pemimpin mereka berhasil dilukai lawan, empat orang pria baju hitam yang selama ini hanya berdiri tegak ditepi kalangan segera membentak keras, serentak mereka menerjang kearah gadis itu.
Dara berkerudung putih itu mendengus dingin jengeknya.
"Hmm manusia2 yang tak tahu diri, rupanya sudah bosan hidup,"
Tubuhnya herkelebar kesana kemari bagaikan gerakan sukma, telapaknya diayun dengan kecepatan penuh, bersama dengan menggemanya empat jeritan ngeri tampaklah keempat orang pria itu sudah roboh keatas tanah dalam keadaan tak bernyawa lagi.
Pecahlah nyali kakek tua itu, ia merasa sukmanya se-akan2 sudah terbang meninggalkan raganya, dengan suara keras ia berteriak.
"Budak bangsat, besar benar nyalimu, kau berani memusuhi perkumpulan Thian chee Kau kami?"
Mendengar ucapan itu, dara berkerudung putih itu terdiri tertegun, kemudian secepat kilat ia menerjang kemuka dengan gerakan yang kuat ia babat tubuh kakek itu.
"Duuk diiringi jeritan kesakitan yang mendirikan bulu roma, kakek berwajah jelek itu termakan oleh bacokan itu hingga batok kepalanya hancur berantakan, darah segar segera muncrat memenuhi empat penjuru.
Melihat musuh2nya berhasil dipunahkan oleh seseorang yang tak dikenal, dara yang terluka itu segera maju kedepan dan memberi hormat ujarnya.
"Go Siauw Bie mengucapkan banyak terima kasih atas budi pertolongan yang telah cici berikan kepadaku, bolehkah aku mengetahui siapakah nama cici?"
"Aku bernama orang yang ada maksud"
Go Siauw Bi tertegun.
Sungguh aneh nama ini?
benarkah itu adalah nama aslinya?
ia membatin didalam hati.
Meskipun dalam hati merasa sangsi namun perasaan itu tidak sampai diutarakan keluar.
Rupanya orang yang ada maksud bisa membaca pikiran orang, terdengar ia tertawa riang sambil tegurnya.
"Bukankah kau merasa bahwa namaku ini sangat aneh dan tidak sebagaimana mestinya?"
Go Siauw Bi tertawa jengah setelah mengetahui rahasianya diketahui lawan, maka dia pun tidak membantah.
Orang yang ada maksud tersenyum, dari sakunya dia ambil keluar sebutir pil mujarab dan segera diserahkan ketangan gadis she Go itu, katanya.
"Pil ini adalah pil mujarab, cepat telanlah agar luka dalam yang kau derita cepat sembuh"
Go Siauw Bi mengucapkan banyak terima kasih, ia terima pil itu dan segera dimasukkan kedalam mulut. Menanti pil tadi sudah ditelan, orang yang ada maksud baru berkata lagi dengan suara dalam.
"Nona Go, apa sebabnya kau sampai di kejar2 oleh para durjana dari perkumpulan Thian chee kau??"
Air mita GoSiauw Bi berubah jadi amat sedih, jawabnya dengan suara gegetun.
"Aku datang untuk menuntut balas atas sakit hatiku.. sungguh tak kusangka dendam gagal kutuntut, hampir saja selembar jiwaku pun ikut melayang.. kalau bukan cici yang menolong diriku tepat pada saatnya, entah apa yang terjadi dengan diriku pada saat ini.."
"Menuntut balas?? sakit hati apa yang terikat antara dirimu dengan pihak perkumpulan Thian chee kau??"
"Mendiang ayahku adalah Go Yu Too ketua dari perkumpulan Pat Gie pang, karena pada saat kaucu dari perkumpulan Thian chee kau mengadakan pesta ulang tahun tidak ikut hadir untuk menyampaikan selamat, maka pada suatu hari pihak perkumpulan itu mengirim Tongcunya si kupu2 warna warni Lie In Hiang untuk membinasakan ayahku, Kanglam Jit koay sahabat karib ayahku yang mengetahui kejadian ini segera datang mencari balas, siapa tahu merekapun dibunuh mati semua oleh Lie In Hiang. Karena itulah, ini hari aku sengaja datang kemari untuk menuntut balas"
"Jago lihay yang berada dalam perkumpulan Thian chee kau tak terhingga jumlahnya, wilayah Lian huan tau pun merupakan suatu daerah yang amat berbahaya, bila kau ingin menuntut balas atas sakit hatimu itu alangkah baiknya bila tindakan itu kau lakukan dengan penuh waspada serta rencana yang masak sebab kalau tidak maka perbuatanmu itu tak lebih hanya pergi menempuh bahaya saja. Menurut pendapatku lebih baik untuk sementara waktu tinggalkan dulu tempat ini, bila jejakmu sampai diketahui oleh anggota perkumpulan itu, akibatnya sungguh amat sulit untuk diharapkan mulai sekarang"
"Terima kasih atas petunjuk cici, akupun menyadari babwa tenaga dalam yang kumiliki cetek sekali, untuk membalas dendam hal itu masih merupakan suatu angan2 yang amat muluk2. Tetapi bagaimanapun juga aku hidup sebagai putra seorang manusia, dapatkah aku menahan diri untuk tidak melakukan pembalasan dendam itu??? baiklah untuk sementara waktu aku orang she Go akan menuruti nasehat cici, aku hendak mengunjungi guru yang pandai untuk memperdalam ilmu silatku setelah itu aku baru akan datang lagi untuk menuntut balas."
"Bagus sekali nona, bila engkau masih mempunyai pikiran yang terbuka hal ini merupakan suatu hal yang menggembirakan, jarak tempat ini dengan wilayah Lian Huan Nau tidak terlalu jauh, demi keselamatan lebih baik segeralah berangkat tinggalkan tempat ini"
Go Siauw Bi mengangguk, tapi sebelum dia berlalu dari situ mendadak sinar matanya terbentur dengan batu nisan yang terpancang tidak jauh dari hadapannya, dengan wajah berubah hebat ia segera berseru keras.
"Han Siong Kie aah.. masa Han Siang-kong yang telah mati??"
"Apakah kau kenal dengan dirinya??"
Tanya orang yang ada maksud dengan hati bergetar.
"Aku kenal dengan siangkong itu, sebab belum lama berselang ketika ia tercebur kedalam sungai, akulah yang menolong dirinya."
"Ooh jadi kau pernah menyelamatkan jiwanya"
"Benar, dia.. mengapa jenasahnya dikubur ditempat ini?? dan siapa pula sipengemis cilik Tong hong Hwie?"
"Dia adalah sahabat perempuannya, dengan kematiannya dia hendak menggunakan rasa cintanya kepada pemuda itu"
Go Siauw Bi maju beberapa langkah kedepan dengan sempoyongan air matanya jatuh berlinang membasahi wajahnya dengan sedih ia bergumam lirih.
"Sungguh tak kusangka ia telah mendahului diriku, sungguh tak kunyana usianya begitu pendek, cici tahukah kau, dia telah menemui ajalnya ditangan siapa??"
"Tentang soal ini aku kurang begitu tahu, apakah nona juga pernah jatuh cinta kepadanya??"
"Aku telah menyelamatkan jiwanya dari dalam sungai, selama merawat lukanya itu ia telah beristirahat selama tiga hari didalam kamar tidurku."
Go Siauw tai tak dapat membendung rasa sedihnya lagi, airnya bagaikan hujan dimusim kemarau berjatuhan membasahi pipinya.
Mendengar perkataan itu orang yang ada maksud ikut merasa beriba hati, tiba2 ia merasa ada suatu perasaan yang sangat aneh muncul dari dalam hatinya, apakah perasaan itu dia sendiripun tak dapat melukiskan dengan kata2.
Go Siauw Bi berdiri tertegun ditempat kuburan itu, ia tidak menyangka pria yang pernah menarik hatinya telah pergi meninggaikan dunia untuk selama2nya, iapun tak pernah menduga masih ada seorang gadis lain yang ikut mengorbankan diri demi cintanya yang murni.
Teringat bahwa kenangan selama ini ternyata hanya hampa dan kosong belaka, gadis itu menghela napas panjang.
sesudah memberi hormat kepada orang yang ada maksud, ia segera enjotkan badan dan berlalu dari situ.
Memandang hingga bayangan punggung gadis itu lenyap dari pandangan, orang yang ada maksud segera balik kembali kebalik batu cadas, disitu ia saksikan ibunya orang yang kehilangan sukma sedang membopong jenasah Han Siong Kle sambil duduk termangu-mangu, air mata telah membasahi bagian bajunya.
"Ibu apa yang telah terjadi???"
Orang yang ada maksud segera menegur. -000dw000-BAB 19
"Nak. mungkin... mungkin dia.... dia tak ada harapan lagi, aku bakal menyesal sepanjang masa"
Orang yang ada maksud membungkam dalam seribu bahasa, ia tidak mengerti mengapa ibunya begitu menaruh perhatian terhadap diri Han Siong Kie, perhatiannya begitu mendalam hingga melebihi kasih sayangnya terhadap darah dagingnya sendiri, ia heran kenapa ibunya bisa bersikap begitu?
mungkinkah dibalik semuanya ini masih tersembunyi sesuatu yang aneh.
Tiba2 terdengar orang yang kehilangan sukma berseru dengan penuh emosi.
"Cepat lihat, dia hampir sadarkan diri... oooh terima kasih langit dan bumi ia selamat... ia selamat"
"Benarkah itu ibu, betulkah dia hampir sadar ?"
"Benar coba rasakan tubuhnya mulai hangat kembali, aku merasa jantungnya mulai berdetak kembali"
Dengan penub ketegangan ibu dan anak itu mencurahkan seluruh perhatiannya kearah Han Siong Kie, mereka lihat tubuh anak muda yang kaku dan dingin itu perlahan2 menjadi lemas, dengusan napasnya mulai kedengaran dan air mukanya per lahan2 berubah jadi semu merah..
Orang yang kehilangan sukma menghembuskan napas panjang dan letakkan tubuh Han Siong kie ke atas tanah lalu mencium keningnya dengan hangat dan sayang.
Tingkah Liku ibunya yang aneh ini kembali mencengangkan hati orang yang ada maksud, ia berdiri melongo.
"Nak, kuserahkan dirinya padamu"
Tiba perempuan setengah baya itu berkata.
"Serahkan kepadaku???"
"Sedikitpun tidak salah"
Dari dalam sakunya dia ambil keluar sebuah bungkusan dan diserahkan ketangan orang yang ada maksud kemudian ia membisikkan sesuatu disisi telinganya dan setelah itu berlalu.
Belum lama orang yang kehilangan sukma berlalu dari tempat itu, terdengar suara helaan napas panjang bergema memecahkan kesunyian.
Han Siong Kle membuka sepasang matanya lalu meloncat bangun dari atas tanah.
Ketika dijumpainya orang yang ada maksud berada disitu, buru2 ia memberi hormat sambil ujarnya.
"Aku mengucapkan banyak terima kasih atas budi pertolongannya yang telah nona berikan kepadaku, semoga dilain waktu budi kebaikan sempat kubalas."
Orang yang ada maksud tertawa cekikikan.
"Dengan cara apa kau hendak membalas budi kebaikanku ini? "
Serunya cepat. Han Siong Kle tertegun, wajahnya berubah jadi merah, lama sekali ia baru bisa berkata.
"Dewasa ini tentu saja aku tak sanggup mengatakannya keluar, tapi kemudian hari aku pasti akan berusaha untuk membalas budi kebaikan itu."
"Seandainya sepanjang masa kau tidak memperoleh kesempatan itu, apa yang hendak kau lakukan??"
"Tentang soal ini aku pikir tak mungkin terjadi"
"Baiklah"
Kata orang yang ada maksud kemudian.
"sekarang ibuku suruh aku menyampaikan sesuatu kepadamu."
"Lalu sekarang dimanakah ibumu??"
"Baru saja meninggaikan tempat ini"
"Apakah ia tak sudi bertemu dengan diriku lagi??"
"Bukan, bukan begitu, dia masih ada urusan lain maka terpaksa harus tinggaikan dahulu tempat ini, dia suruh aku menyampaikan pesan kepadamu, katanya mulai sekarang Manusia berwajah dingin Han Siong Kle telah tiada lagi dikolong langit, kau tak boleh membuka rahasia asal usulmu kecuali kepada ...."
"Kecuali kepada siapa??"
Tanya Han Siong Kle dengan suara heran bercampur terkejut.
"Kecuali kepada pemilik Benteng Maut"
Air muka si anak muda itu berubah hebat secara beruntun ia mundur selangkah kebelakang, serunya.
"Apa maksud yang sebenarnya??"
"Entahlah, aku sendiripun kurang begitu mengerti, ibuku hanya berpesan agar kau suka pergi mengunjungi benteng maut."
"Berkunjung? hal itu pasti akan kulakukan, pada suatu hari aku akan mengobrak-abrik benteng maut dan melenyapkan Tengkorak Maut dari permukaan bumi."
"Kau keliru besar"
Seru orang yang ada maksud sambil menggeleng.
"Ibuku menyuruh kau berbuat demikian karena ia mengandung maksud2 tertentu."
Sorot mata Han Siong Kie per lahan2 dialihkan kearah lima sosok mayat yang menggeletak tidak jauh dari tempat itu, serunya dengan nada terkesiap "Mayat siapakah yang menggeletak disitu??"
"Anak buah perkumpulan Thian chee kau"
"Apakah mereka terluka di ujung telapak nona??"
"Sedikitpun tidak salah, mereka sedang mengejar seorang gadis dan kebetulan tiba ditempat ini, karena gadis itu terancam jiwanya maka aku segera turun tangan membereskan orang itu. 0oh. Ya a Apakah kau kenal dengan seorang gadis yang bernama Go Siauw Bi?"
"KenaL"
Jawab Han Siong Kle dengan suara terperanjat.
"Kenapa dengan dirinya?"
"Cintakah kau kepadanya??"
Tidak menjawab orang yang ada maksud malah balik bertanya. Pertanyaan ini seketika membuat hati Han Siong Kie tertegun, serunya.
"Nona, apa maksudmu mengajukan pertanyaan semacam ini??"
"Tiada maksud apa2, karena aku lihat sikapmu amat gelisah bercampur cemas, maka aku ajukan pertanyaan ini"
"Dia adalah gadis yang pernah menyelamatkan jiwaku, aku masih berhutang budi kepadanya."
"Ia sudah berlalu dari sini, dia tahu bahwa kau sudah tiada lagi dikolong langit"
"Apakah nona yang memberitahukan kejadian ini kepadanya??"
"Tidak. ia sendiri yang lihat dan melihat dengan matanya sendiri ...."
Han Siong Kle berpaling, tiba2 ia temukan sebuah gundukkan tanah baru tak jauh dari situ segera didekatinya kuburan ini dan terbacalah olehnya batu nisan yang terpancang didepan kuburan itu.
"Disinilah bersemayan manusia berwajah dingin Han song Kie serta pengemis cilik Tonghong Hwie."
Jantungnya seketika herdebar keras, apa yang terjadi?
mungkinkah adik angkatnya Tonghong Hwie juga..
berpikir sampai disini ia bersin beberapa kali, sambil berpaling kearah orang yang ada maksud serunya.
"Nona, kuburan ini?"
"Pengemis cilik yang mendirikannya bagimu."
"Kenapa diatas batu nisan itu terukir nama kami berdua."
"Sebab dia mau hidup bersama mati berbareng dengan dirimu"
"Apa?? dia..dia..."
"Jangan tegang dan tak usah gelisah, dia belum mati, dia mau membalaskan dendam sakit hatimu lebih dahulu kemudian baru datang kemari untuk mati bersama dirimu satu liang."
Han Siong Kie tidak memperhatikan bahwa dibalik ucapan orang yang ada maksud mengandung arti yang lebih mendalam, kalau tidak tentulah dia akan menemukan sesuatu gejala yang aneh.
Mendengar perkataan tadi, ia jadi sangat terharu sehingga tak tertahan lagi titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya.
"Oooh.. sungguh tak kusangka adik Hwieku itu demikian setia kawan dan menaruh perhatian kepadaku, aku orang she Han sungguh beruntung dapat berkenalan dan angkat saudara dengan dirinya. sekarang dimanakah orangnya??.."
"Bukankah sedari tadi sudah kukatakan bahwa ia telah tinggalkan tempat ini?"
"Secara bagaimana ia bisa mendirikan kuburan dan batu nisan bagiku??."
"Ia datang agak belakangan, sewaktu memasuki wilayah Lian huan tau jejaknya kepergok oleh nyonya kaucu hingga tertawan, untung ibuku berhasil menyelamatkan jiwanya. Ketika ia menjumpai jenasahmu yang sudah tak bernyawa itu hatinya jadi sedih dan hancur.."
"Oooh.. dia mengira aku benar2 telah mati??"
"Tentu saja jangan dibilang dia, orang lainpun pasti akan mengira kau sudah mati, sebab tubuhmu sudah mendingin dan kaku"
"Mengapa nona tidak memberitahukan kejadian yang sesungguhnya kepada saudara angkatku itu??"
Seru Han Siong Kie gegetun.
"Aku tidak memberitahukan keadaan yang sesungguhnya tentu saja didasarkan oleh alasan2 tertentu. lebih baik persoalan ini kita bicarakan dikemudian hari saja."
"Aku ingin mengetahui sekarang juga"
"Maaf, aku tak dapat menuruti keinginanmu itu"
Han Siong Kie menelan air ludah dan berdiri menjublak, terhadap tingkah laku ibu dan anak yang serba misterius itu ia merasa gemas bercampur jengkel, tapi pihak lawan adalah tuan penolongnya, hal itu membuat ia tak mampu berbuat sesuatu.
Terpaksa sambil menahan diri ujarnya.
"Aku dapat mencari dirinya, sekalipun harus mencari sampai diujung langit atau di dasar samudra, aku harus menemukan dirinya"
Dari dalam sakunya orang yang ada maksud ambil keluar sebuah bungkusan kecil dan dilemparkan kearah pemuda itu, pesannya.
"Saudara, mulai sekarang manusia berwajah dingin Han Siong Kie sudah tak ada lagi dikolong langit, benda itu akan membantu dirimu untuk merubah wajahmu serta menutupi raut mukamu yang sebetulnya"
Han Siong Kie menyambut benda itu, sedang dimulut ia mengomel.
"Aku toh seorang lelaki sejati, kenapa raut wajah asliku harus disembunyikan??"
"Bila kau ingin berhasil dalam usahamu untuk membalas dendam, lebih baik lakukanlah seperti apa yang kukatatakan.."
"Tetapi bukankah ibumu siorang yang kehilangan sukma memerintahkan aku untuk berkunjung ke Benteng Maut serta menceritakan asal usulku yang sebenarnya?? musuh besarku adalah pemilik dari benteng maut itu, kenapa aku musti banyak bertingkah dengan segala macam hal yang tak berguna??"
"Sedikitpun tidak benar perkataanmu itu, dikemudian hari kau akan mengerti dengan sendirinya mengapa ibuku suruh kau berbuat demikian, sekarang lebih baik pergilah mengunjungi benteng maut"
"Mengunjungi musuh besarku??"
"Kau tak boleh mengatakan demikian, sekali lagi kuberitahukan kepadamu, ibuku sangat menaruh perhatian kepadamu, beliau suruh berbuat demikian tentulah didasarkan oleh maksud-maksud tertentu, bila kau tidak melakukan seperti apa yang dikatakan ibuku mungkin dendammu itu selamanya tak akan berhasil kau laksanakan"
Han Siong Kie jadi serba salah, bila ditinjau dari orang yang kehilangan sukma serta orang yang ada maksud dimasa yang lampau, anjuran perempuan itu pastilah mengandung maksud tertentu, tapi ia tak mengerti dan tak paham apa sebenarnya maksud orang itu??
"Han Siong Kie"
Orang yang ada maksud berkata kembali "Mau percaya atau tidak itu terserah pada dirimu sendiri sekarang aku mau pergi."
Selesai berkata dia segera enjotkan badan dan berlalu dari situ dalam sekejap mata bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan.
Han Siong Kie berdiri menjublak diatas tanah dan tak sanggup mengucapkan sepatah katapun, perkembangan yang berlangsung selama ini membuat ia jadi bingung, perbuatan orang yang ada maksud serta ibunya memang begitu misterius hingga terasa amat menyeramkan.
"Baiklah akan kujajal perkataan mereka, aku hendak berkunjung ke benteng Maut serta melihat perobahan aneh apakah yang bakal terjadi."
Setelah mengambil keputusan didalam hati, ia segera membuka bungkusan kecil yang diberikan orang yang ada maksud itu, disitu ia temukan rambut palsu serta selembar topeng kulit manusia.
Setelah mengenakan rambut palsu itu serta topeng kulit manusia berangkatlah pemuda itu turun dari puncak bukit ketika bercermin diatas permukaan air nampaklah seorang pemuda yang berpenyakitan, ia jadi geli pikirnya.
"Aku harus mempunyai sebuah nama yang sesuai dengan potongan wajah serta badanku penyakitan..."
Malaikat penyakitan"
Benar nama ini bagus sekali, baiklah mulai sekarang aku akan munculkan diri didalam dunia persilatan dengan nama malaikat penyakitan "
Ia bersuit nyaring, tubuhnya dengan cepat berkelebat menuruni bukit itu, mendadak satu ingatan berkelebat dalam benaknya pikirnya.
"Aku harus berusaha keras untuk menemukan adik angkatku Tonghong Hwie lebih dahulu, ia selalu menganggap aku telah tiada lagi di kolong langit, aku harus temukan dirinya sebelum terjadi peristiwa yang tidak diinginkan. Tapi dunia begini luas, aku musti pergi kemana untuk menemui jejaknya."
Setelah termenung beberapa saat lamanya, ia lantas bergumam seorang diri.
"Aaaah benar perkumpulan Kaypang tersohor karena banyaknya anggota yang tersebar di mana2, asal aku berhasil temukan engkoh tuaku pengemis dari selatan, niscaya pencarian ini lebih mudah dilakukan. Perjalananku menuju keb enteng Maut lebih baik kutunda lebih dahulu"
Setelah mengambil keputusan, berangkatlah pemuda itu menuju arah selatan.
Entah sudah beberapa lama ia sudah berjalan, mendadak dari tempat kejauhan berkumandang datang suara suitan aneh yang amat memekikan telinga, tanpa sadar Han Siong Kie menghentikan gerakan tubuhnya.
Suitan tajam yang amat keras hingga memekikan telinga itu kembali bergema dari tempat kejauhan, kali ini juaranya lebih tajam dari suitan yang pertama, si anak muda itu sangsi sejenak setelah menentukan arah asalnya suara itu, ia segera meluncur kearah sebelah kanan dari hutan dihadapannya.
Beberapa puluh tombak sudah dia memasuki hutan tersebut, tapi sungguh aneh, disekeliling sana ternyata tak nampak sesosok bayangan manusiapun, sedang suara suitan tajam yang memekikkan telinga itupun tidak kedengaran lagi.
Pemuda itu jadi sangsi dan curiga, mungkinkah ia telah salah mendengar?
ataukah memang ada seseorang lihay yang sedang mempermainkan dirinya??
Makin direnung pemuda itu semakin bingung, akhirnya ia mengambil keputusan untuk menyelesaikan pekerjaan sendiri "Perduli amat dengan orang yang bersuit tajam itu."
Pikirnya didalam hati. Ia segera putar badan dan siap berlalu dari situ ...
"Bocah cilik, jangan pergi dulu..."
Suara itu dingin seakan akan muncul dari gua salju yang menggidikkan hati.
Han Siong Kie terkejut dan segera menoleh.
Tapi..
tak nampak sesosok bayangan manusiapun berada disekitar tempat itu, tidak terasa ia segera berseru.
"siapa kau??"
"Aku?? haaah..haaah.haaah..."
Suara itu se-olah2 dipancarkan dari suateu tempat sejauh sepuluh tombak dari hadapannya, yang aneh ternyata hanya suaranya saja yang kedengaran sedang bayangan manusianya sama sekali tak terlihat.
Bergidik hati sianak muda itu menjumpai keadaan tersebut, bulu kuduknya pada bangun berdiri, pikirnya.
"Jangan2 aku telah bertemu dengan setan? kalau tidak mengapa tak nampak sesosok bayangan manusiapun ditempat ini?"
Sekali lagi ia membentak keras.
"sebenarnya siapakah kau??"
"Haaah .haaah .haaaah... aku mengira aku bakal mati dengan menahan rasa sesal sepanjang masa, sungguh tak nyana sebelum ajalku tiba ternyata bisa bertemu dengan kau si bocah cilik. aaai.. inilah yang dikatakan Thian maha adil dan Thian punya mata, bocah cilik kau jangan pergi dari sini.."
Selama pihak lawan berbicara, Hansaong Kie pusatkan perhatiannya coba menemukan arah berasalnya suara itu, tapi ia kecewa.
sebab usahanya itu gagal dan tidak berhasil menemukan orang itu.
Akhirnya dengan perasaan heran bercampur sangsi, sekali lagi ia menegur.
"Sebenarnya siapakah kau"
"Aku adalah Mo-Mo cungcu Rasul dari segala iblis"
Sedikitpun tidak salah, Rasul dari segala iblis atau disebut pula Mo tioan ci-mo atau Iblis diantara iblis "
"Kalau ditinjau dari juluknya itu, terang dia bukan manusia aliran lurus"
Pikir Han Siong Kie didalam hati.
"Lebih baik aku kabur saja dari sini, toh persoalanku sendiri terlalu banyak. kenapa musti banyak ribut dengan manusia yang disebut Mo-Tiong ci-mo itu??"
Berpikir demikian ia lantas berkata dengan suara dingin.
"Aku masih ada urusan penting yang harus dikerjakan, selamat tinggai.."
"Eeeeei bocah cilik kau jangan pergi dari sini "
Han Siong Kie tidak menjawab ia lanjutkan gerakannya berlalu dari tempat itu..
"Bocah cilik masa kau tak mau menolong orang yang sedang kesusahan???"
Ucapan yang menegunkan hati Hanslong Kle, tubuhnya yang sedang meluncur pergi segera mendadak diudara dan melayang kembali keatas tanah pikirnya didalam hati.
"Melihat orang kesusahan tidak menolong, apakah maksudnya??? apakah manusia yang bernama iblis diantara iblis itu masih membutuhkan bantuan orang lain???"
Ia segera menegur.
"Hei manusia yang bernama iblis diantara iblis, apa maksud perkataanmu itu??"
"Sulit untuk aku menceritakan dalam sepatah dua patah nanti saja kuceritakan kepadamu sedikit demi sedikit, sekarang singkirkan dahulu batu cadas yang amat besar itu"
"Batu cadas besar??"
"Sedikitpun tidak salah"
Han Siong Kie segera alihkan sinar matanya menyapu sekejap sekeliling tempat itu, sedikitpun tidak salah pada jarak kurang lebih enam tombak dihadapannya terlihatlah sebuah batu cadas yang besarnya mencapai beberapa tombak.
"He, kau berada dimana?"
Teriak pemuda itu.
"Aku berada dibawah batu cadas itu"
"Kenapa kau bisa tertindih dibawah batu cadas itu??"
"Eeei.. si bocah cilik, kenapa sih begitu cerewet dan banyak omong?? singkirkan dahulu batu cadas itu kemudian kita baru berbicara lagi"
Han Siong Ktejadi murka, hawa pitamnya segera berkobar memenuhi benaknya, sambil mendengus dingin serunya.
"Luar biasa amat tabiatmu itu. Hmm kalau memang kau hebat dan lihay, kenapa tidak berusaha untuk menyingkirkan sendiri batu cadas itu?? maaf.. aku tak punya banyak waktu untuk bercanda dengan dirimu"
Mendengar sianak muda itu hendak berlalu, Iblis diantara iblis jadi sangat gelisah, buru2 serunya.
"Eeei..eeei.. bocah, kau jangan pergi dulu, kalau kau pergi dari sini niscaya aku bakal mati konyol"
Han Siong Kie jadi geli bercampur mendongkol, dengan perasaan apa boleh buat serunya.
"Apakah cukup bagimu hanya menggeserkan batu cadas itu saja??"
"Ehmm bocah cilik mampukah kau hancurkan batu cadas itu hanya didalam tiga buah pukulan belaka??"
"Heeeh..beeeh..heeeh.. rupanya kau sengaja hendak menguji tenaga dalamku??"
Jengek Han Siong Kie sambil tertawa dingin.
"Aku sama sekali tak ada maksud menguji kekuatanmu, aku berbicara demikian karena mengandung maksud tertentu, katakan saja mampu tidak kau lakukan pekerjaan itu??"
"Coba saja nanti"
Per-lahan2 sianak muda itu berjalan mendekati batu cadas tersebut, setelah diamatinya sebentar, ia segera menghimpun segenap tenaga dalam yang dimilikinya kedalam telapak.
serunya kemudian dengan suara berat.
"Saudara. hati2lah... aku segera akan melancarkan pukulan keatas batu cadas itu."
Sebagai penutup kata sepasang telapaknya segera didorong kedepan dengan hawa murninya yang amat hebat serangan itu bisa dibayangkan sampai dimanakah kehebatannya.
"Blaaam..."
Terdengar benturan keras yang memekikan telinga, bumi tergetar laksana di landa gempa dahsyat, batu cadas yang besar itu terhajar remuk jadi empat lima bagian dan mencelat ke empat penjuru, dari bawah hatu cadas itu muncullah sebuah mulut gua yang gelap.
Sesosok kepala manusia yang sangat aneh segera menongol keluar dari mulut gua itu.
Dengan hati terkesiap bercampur kaget Han song Kie mundur tiga langkah kebelakang setelah diamati lebih seksama lagi maka tampaklah olehnya bahwa manusia aneh itu adalah seorang kakak tua yang bercambang lebat dengan rambut terurai kebawah, sepasang mata yang besar memancarkan cahaya tajam yang menggidikkan hati jelas tenaga dalam yang dimiliki Mo Mo Cuncu telah mencapai puncak kesempurnaan.
"Haah haah haah... takdir takdir"
Seru kakek aneh itu sambil tertawa tergelak.
"Bocah cilik, pukulan yang barusan kau lancarkan mengandung kekuatan tenaga dalam sebesar seratus tahun hasil latihan, hal ini sungguh berada diluar dugaanku. Rupanya takdir telah menentukan demikian dan aku memang mendapat pertolongan."
Habis berkata kembali ia tertawa terbahak2, begitu keras suaranya hingga Han Siong Kie merasakan kendang telinganya terasa amat sakit.
"Apakah kau yang bernama Mo Mo Cuncu rasul dari segala Iblis? "
"Masa masih ada yang gadungan??"
"Dengan tenaga dalam yang kau miliki rasanya kau masih mampu untuk menyingkirkan batu itu bukan? kenapa hal itu tidak kau laksanakan sendiri"
Rasul dari segala Iblis tidak menjawab pertanyaan itu, hanya serunya.
"Bocah cilik, mari masuk kedalam gua"
Habis berkata kepalanya menyusup lebih dahulu masuk kedalam gua itu.
Melihat kesemuanya yang serba aneh itu Han Siong Kiejadi tercengang dan ingin tahu, dia ragu2 kemudian sebentar masuk kedalam gua itu.
Luas gua tersebut tidak begitu lebar, hanya dua tombak lebih sedikit, setelah berada diatas permukaan ia menyusup sejauh tiga tombak kesebelah kanan disitu dijumpainya seorang manusia aneh dalam keadaan bugil sedang duduk bersila, sepasang matanya dengan sorot mata tajam sedang mengawasi pemuda itu tanpa berkedip.
"Bocah, duduklah kemari"
Kakek aneh itu berseru. Bulu kuduk diseluruh tubuh Han Siong Kie pada bangun berdiri, tapi ia lanjutkan pula langkahnya menuju kedalam dan duduk dihadapan kakek itu.
"Hey bocah cilik, aku lihat wajahmu berpenyakitan."
"Sedari dilahirkan aku memang memiliki raut wajah semacam ini"
"Siapakah namamu?? "
"Aku bernama malaikat penyakitan"
"Malaikat penyakitan?? Ha ah haah haah sungguhkah kau bernama malaikat penyakitan??"
"Mau percaya atau tidak terserah padamu"
"Baik, perduli kau adalah malaikat apa aku tak ada sangkut pautnya dengan diriku, bertemu denganmu itulah takdir, maukah kau membantu untuk menyelesaikan suatu keinginan hatiku??"
Sambil berkata dengan pandangan yang mengharapkan dia menatap tajam wajah Han Siong Kie.
"Keinginan hati apa??"
Tanya pemuda itu tercengang.
"Menantang seseorang untuk berduel"
"Oooh ... maksudmu mewakili dirimu pergi menantang seseorang untuk diajak berduel?"
"Sedikitpun tidak "
"Kenapa kau tidak melakukan sendiri?? bukankah tenaga lweekang yang kau miliki sangat tinggi"
Rasul dari segala iblis tertawa sedih.
"Coba lihatlah sendiri"
Ia berkata.
Mengikuti arah yang dituding orang itu Han Siong Kle segera alihkan sorot matanya, dia lihat sepasang kaki dari kakek aneh itu sudah mengering dan menyusut kecil, kaki itu telah cacad dan tak dapat dipergunakan lagi untuk berjalan.
Timbullah perasaan iba bercampur kasihan didalam hati pemuda itu, tapi ia belum begitu paham mengenai watak kakek aneh yang bernama Rasul dari segala Iblis ini, maka pemuda itu tak mau mengabulkan permintaannya secara gegabah.
"Hei orang tua, aku ingin memahami lebih dahulu asal usulmu serta perbuatan2mu dimasa lampau."
"ooh. rupanya kau adalah seorang bocah cilik yang belum lama terjun kedalam dunia persilatan"
Han Siong Kie merasa tidak senang hati, sahutnya dengan suara dingin "Tidak salah, aku memang terjun kedunia persilatan belum seberapa lama"
"Tidak aneh kalau begitu, bila kau sudah lama terjun di dalam dunia persilatan, niscaya akan mengetahui namaku meskipun aku bergelar Mo mo cuncu Rasul dari segala Iblis, tetapi orang2 Bu-lim pada menyebut diriku sebagai Mo tiong ci mo Iblis di antara Iblis"
"Kalau memang demikian adanya, maka itu bukankah membuktikan bahwa perbuatanmu semasa masih berkelana didalam dunia persilatan dahulu lebih busuk dan keji daripada kawanan kaum iblis lainnya??"
"Benar atau salah yang terjadi didalam dunia persilatan sulit untuk dibedakan satu sama lain misalnya saja Tengkorak Maut.."
"Apa?? Tengkorak Maut???"
"Tidak salah, pemilik dari Benteng Maut itu"
"Kenapa dengan orang itu??"
Tanya Han Siong Kie sambil menahan emosi yang bergolak didalam dadanya.
"Setiap orang didalam dunia persilatan menganggap dia sebagai seorang iblis yang luar biasa kejinya, padahal dalam kenyataan belum tentu ia berwatak kejam"
Takkala sianak muda itu mendengar kakek aneh itu menyebut tentang musuh besar pembunuh keluarganya emosi bergelora dalam dadanya, ia merasa denyutan jantungnya bergerak lebih kencang, api dendam berkobar2 dan wajahnya berubah hebat.
Namun berhubung diatas wajahnya merupakan selembar topeng kulit manusia maka diluar golakan perasaannya itu sama sekali tidak kelihatan dengan setengah mendesak ia berseru kembali.
"Dari mana kau bisa tahu kalau ia tidak kejam?"
""Meskipun Tengkorak Maut membunuh manusia2 dalam jumlah yang tak terbatas tetapi ia sendiripun mempunyai kesulitan yang tak bisa diutarakan kepada orang lain."
Terbayang dua ratus jiwa lebih keluarganya yang mati terbunuh hingga tinggal tulang yang berserakan memenuhi perkampungan keluarga Han, Han Siong Kie segera mendengus dengan kebencian.
"Masa membunuh orangpun mempunyai kesulitan??"
Jengeknya.
"Hmmm... sebagian besar orang yang dibunuh olehnya adalah orang2 yang sudah sepantasnya dibunuh, tentu saja diantaranya terdapat pula mereka2 yang telah dibunuh tetapi hal ini tak bisa menyalahkan dirinya, bagaimanapun juga itulah bencana yang dicari sendiri oleh sang korban"
Sebenarnya Han Siong Kle ingin menanyakan pula kematian keluarganya sebanyak dua ratus jiwa merupakan suatu pembunuhan yang pantas terjadi ataukah salah membunuh, tapi akhirnya ia menahan diri dan tak sampai mengutarakan asal usulnya, pikirnya didalam hati.
"Rupanya iblis diantara iblis ini bila bukan setali tiga uang dengan Tengkorak Maut, dia pastilah mempunyai hubungan yang erat dengan iblis itu, kalau tidak kenapa selalu membela dirinya???"
Menggunakan kesempatan baik itu ia berusaha untuk mengorek keterangan mengenai si Tengkorak Maut segera ujarnya.
"Kalau kulihat ucapanmu, rupanya kau mengetahui amat jelas tentang keadaan dari Tengkorak Maut??"
"Sedikitpun tidak salah"
Iblis diantara iblis mengangguk "aku berani berkata bahwa dikolong langit kecuali aku seorang tiada orang kedua yang mengetahui latar belakang peristiwa berdarah yang selalu menimpa dunia persilatan itu."
"Apakah kau bisa menerangkan kepadaku? seru Han Siong Kia dengan pikiran bergerak. -000d0w000-BAB 20
"TENTANG soal ini eeei bocah maafkanlah aku karena rahasia ini tak dapat kuterangkan padamu"
"Kenapa??"
"Aku sudah berjanji lebih dulu padanya, bahwa selama hidup rahasia itu tak akan kubocorkan kepada orang lain, sebagai pria sejati aku harus pegang janji itu erat2"
"Kalau memang kau tidak ingin mengatakannya, tentu saja tiada alasan untuk memaksa dirimu lebih jauh"
Ujar Han Siong Kie dengan hati kecewa "baiklah kalau begitu aku ingin mohon diri lebih dahulu "
"Eeeei..eeeei.... bocah kau tak boleh pergi."
Sambil berseru segulung tenaga hisap yang maha kuat menarik tubuh Han Siong Kie sehingga mundur tiga langkah kebelakang, begitu hebat daya hisap tadi hingga sianak muda itu tak mampu untuk bergeser kembali dari tempat itu.
Terkesiap hati Han Siong Kie menyaksikan tenaga yang maha sakti itu, peluh dingin mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya, tapi sebagai seorang pemuda yang sombong dari kaget jadi gusar bentaknya.
"Eeei.. sebenarnya apa maksudmu?"
"Bocah, kau tak boleh pergi dari sini"
"Kenapa aku tak boleh pergi dari sini?? aku toh tak terikat oleh janji apapun dengan dirimu??"
"Kau harus mewakili diriku untuk mewujudkan suatu keinginanku, kau harus mewakili diriku untuk bertempur melawan seseorang"
"Aku tak mempunyai waktu yang begitu banyak bagimu"
"Bocah cilik, janganlah jual mahal. ..kau harus melakukan pertarungan itu mewakili diruku"
Han Siong Kie mendengus dingin.
"Hmmm aku toh berhak untuk menampik permintaan itu, kenapa kau memaksa terus??"
"ooooh... jadi kau tidak setuju deagan permintaan tolongku ini??"
"Maaf aku tak dapat memenuhi keinginanmu itu"
"sekalipun tidak mau kau harus melakukannya bagiku"
"Hmmm tidak bisa"
Han Siong Kie mendengus lagi dengan suara berat.
Kembali tubuhnya bergerak kedepan, kali ini ia telah mengerahkan tenaga dalamnya sebesar sepuluh bagian, langkahnya enteng dan gerakannya cepat laksana sambaran kilat.
Siapa tahu ternyata tenaga hisapan yang dipancarkan Momo cuncu luar biasa hebatnya, meskipun ia sudah berusaha dengan sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari tenaga h isapan tadi tetapi tubuhnya masih tetap berdiri di tempat semula.
"Bocah ayoh jawab kau sanggup melakukan pertarungan itu bagiku atau tidak??"
"Tidak setuju kau mau apa???"
"Kalau kau berani tampik lagi permintaanku ini, sekali hantam kubabat tubuhmu sampai hancur"
Han Siong Kie jadi naik pitam mendengar ancaman itu, saking gusar dada terasa mau meledak dengan sombong ia berseru.
"Tidak setuju tidak setuju kau mau apa?"
"Blaaam."
Segulung angin pukulan yang maha dahsyat segera menghajar kedepan menimpa dada sianak muda itu.
Han Siong Kie berseru tertahan, tubuhnya terpental sejauh beberapa depa dari tempat semula, setelah termakan oleh pukulan itu, sekujur tubuhnya langsung terasa sakit bagaikan patah tulang, darah panas bergolak dalam dadanya sedang matanya ber kunang2 dan kepalanya pusing tujuh keliling, tapi sambil tahan diri per lahan2 ia bangkit berdiri "Bocah, ayoh jawab setuju atau tidak?"
Seru Iblis diantara iblis lagi dengan suara geram..
"Tidak setuju"
"Eeei.. rupanya kau tidak takut mati??"
"Ehmm jangan harap kau bisa menggertak aku si malaikat penyakitan dengan kata mati aku bukanlah seorang pengecut yang takut menghadapi kematian..."
Melihat kekerasan hati lawannya, Mo tiong ci mo jadi kewalahan sendiri, ia menghela napas panjang dan berkata.
"Bocah, kau memang seorang pria sejati, kau memang seorang jago gagah yang tidak takut menghadapi kematian, aku kagum atas keberanianmu itu mari.. kemarilah, bagaimana kalau kila bicarakan lagi persoalan ini secara baik2"
"Aku rasa sudah tiada persoalan yang bisa kita bicarakan lagi, aku tak mau melakukan pekerjaan apapun bagimu, lebih baik carilah orang lain saja."
Sahut Han Siong Kie dengan suara dingin.
"Bocah begini saja, bila kau suka melakukan tugas yang kubebankan kepadamu itu maka akan kuwariskan ilmu silatku yang maha sakti itu kepadamu, akan kuciptakan dirimu sebagai seorang jago Bu lim yang sangat lihay dan disegani orang, bagaimana?? kau tentu bersedia bukan??"
"Aku tidak tertarik oleh ilmu silatmu itu, aku tak sudi menerima tawaranmu itu"
"Hmm sekalipun kau tidak ingin belajar, aku akan paksa kau untuk mempelajarinya juga."
"Dikolong langit belum ada peraturan semacam ini, Hmm kau ingin menggunakan kekerasan untuk memaksa diriku??,jungan bermimpi di siang hari bolong.. aku si malaikat penyakitan tidak gentar menghadapi siapapun juga"
"Apakah kau tidak ingin jadi seorang jago silat yang sangat lihay dan disegani oleh setiap umat dunia??"
"Meskipun aku ingin jadi jagoan, tapi aku tak sudi angkat guru kepadamu Aku bisa mencari orang lain dan belajar darinya"
"Eeei bocah, kau keliru besar"
Seru Iblis diantara iblis dengan suara dalam.
"Aku sama sekali tiada maksud untuk menerima dirimu sebagai muridku, tujuanku mewariskan ilmu silatku itu kepadamu bukan lain adalah sebagai balas jasa atas kesediaanmu untuk memahami satu keinginanku itu, anggaplah perbuatanku itu sebagai jasa dari timbal balik atas kesedianmu itu"
"Tapi sayang aku tidak punya kegembiraan untuk menerima tawaranmu itu, maaf lebih baik cari saja orang lain."
"Bocah"
Seru Iblis diantara iblis akhirnya dengan nada geram "
Ini hari aku tak akan melepaskan kau untuk berlalu dari tempat ini, aku tidak ingin mati dengan membawa penyesalan.
Disamping itu akupun merasa kecuali kau seorang dikolong langit sulit untuk menemukan seseorang yang sanggup berduel melawan Tengkorak Maut."
Terkesiap hati Han Siong Kie mendengar perkataan itu, tanpa terasa ia maju beberapa langkah kedepan dengan nada penuh emosi serunya.
"Apa??? kau hendak suruh aku pergi menantang Tengkorak maut untuk berduel??"
"Sedikitpun tidak salah apa kau takut??"
"Aku terima tawaranmu itu"
Jawab sang pemuda dengan cepat tanpa berpikir panjang lagi.
Mo Tiong ci-mo atau iblis diantara iblis jadi tercengang untuk beberapa saat ia berdiri melongo.
Ia tak habis mengerti apa sebabnya pemula itu segera menyanggupi permintaannya setelah ia mengatakan bahwa orang yang dituju adalah Tengkorak Maut...
Dengan sepasang biji matanya yang tajam ia awasi wajah Han Siong Kie beberapa saat lamanya, lama...
lama sekali tetapi tak sesuatu apapun yang berhasil ia temukan.
-000d0w000-
Jilid 10 DIATAS wajahnya yang berpenyakitan kecuali penuh kerutan bekas sakit sama sekali tidak tertampak perubahan perasaan apapun, wajah itu dingin dan menggidikkan hati.
"Malaikat penyakitan"
Akhirnya tak tahan lagi ia berseru.
"Kau boleh dibilang merupakan satu2nya orang paling jumawa dan sombong yang pernah kujumpai selama ini, kau adalah seorang manusia yang paling dingin dan paling menyeramkan."
Han Siong Kie menenangkan hatinya talu tertawa hambar.
"Sejak dilahirkan demikianlah sudah watakku, sampai tuapun tabiat ini tak akan berubah"
"Baiklah, kita tak usah bicarakan soal yang tak berguna lagi, sekarang kau boleh duduk dengan hati tenang, marilah kita bicarakan lagi persoalan ini dari permulaan."
Han Siong Kle tidak banyak berbicara, ia segera duduk dihadapan kakek itu dan membungkam dalam seribu bahasa.
Iblis diantara iblis termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, kemudian dengan nada kuatir ia bertanya kembali.
"Bocah. benarkah kau bersedia mewakili diriku untuk bertempur melawan pemilik Benteng Maut??"
"Sedikitpun tidak salah, kau tidak percaya"
"Dan kau juga menerima tawaranku untuk belajar silat dariku."
"Tentang soal iTu."
"Kau tak usah ini itu lagi"
Tukas Iblis di antara iblis dengan suara berat.
"Dengan andalkan tenaga dalam yang kau miliki sekarang, bertarung melawan Tengkorak Maut sama artinya dengan telur membentur batu kau tak mungkin bisa menangkkan dirinya."
Diam2 Han Siong Kie membenarkan juga perkataannya itu, sebab apa yang dikatakan merupakan suatu kenyataan, tanpa terasa terbayang kembali dalam benaknya akan peristiwa yang baru saja terjadi, ketika belum lama berselang ia mengunjungi Benteng Maut ternyata sebelum berhasil melihat jelas bayangan tubuh lawannya, hanya satu pukulan berhawa dingin telah berhasil menggulung tubuhnya hingga mencelat keluar dari benteng dan tercebur kedalam sungai.
Akhirnya dengan nada berat pemuda itu mengangguk.
"Baiklah akan kuturuti perkataanmu"
Katanya. Iblis diantara iblis segera angkat kepala dan tertawa ter bahak2.
"Haaah... haaah.. haaah... bocah, bila kau sanggup memenuhi harapanku ini, sampai matipun aku merasa amat berterima kasih kepadamu"
"Kau tak usah berterima kasih kepadaku, anggap saja kesanggupanku ini sebagai semacam jual beli."
"Hmmm...kau memang terlalu jumawa dan tinggi hati luar biasa, baiklah, mari kita teruskan pembicaraan kita..."
"Cepat katakan "
"Hanya disebabkan karena rasa tak puas aku telah terkurung selama empat puluh tahun lamanya didalam gua bawah tanah ini."
"Empat puluh tahun?? "
Seru Han Siong Kie sambil menjulurkan lidahnya.
"Sedikitpun tidak salah, sepuluh hari lagi berarti genap aku terkurung selama empat puluh tahun"
"Sebenarnya apa yang telah terjadi?? kenapa kau sampai terkurung didalam gua bawah tanah?? "
Tanya pemuda itu dengan perasaan ingin tahu.
"Empat puluh tahun berselang, ia membunuh orang bagaikan membabat rumput, ilmu silatnya lihay dan tiada tandingan membuat dunia persilatan se akan2 sedang menemui saat untuk kiamat, jangan dikata orang Bu lim tak mampu untuk memberikan perlawanan, bahkan raut wajah yang sebenarnya pun tak diketahui orang.."
"Oooh.."
Han Siong Kie berseru tertahan.
"Aku terjun kedalam dunia persilatan sepuluh tahun lebih duluan darinya dan berhasil merebut julukan sebagai "
Mo Mo cungcu "
Raja dari segala iblis, tetapi sebagian besar orang menyebut aku sebagai Mo tiong ci Mo atau Iblis diantara segala iblis, sejak Tengkorak Maut munculkan diri dalam dunia persilatan tersebar berita yang mengatakan satu Iblis muncul, satu iblis lenyap.
"Apakah arti perkataan itu???"
Tanya sang pemuda.
"Artinya setelah kemunculan Tengkorak maut berarti aku si Rasul dari segala Iblis bakal lenyap."
Han Siong Kie jadi semakin tertarik, ia merasa cerita ini merupakan satu kejadian Bu-lim yang luar biasa serunya kemudian.
"Lalu bagaimanakah dalam kenyataan??"
"Kau jangan gelisah, dengarkanlah ceritaku ini lebih jauh, kau musti tahu bukan bahwa orang Bu-lim mengandung soal "
Nama"
Sebagai suatu hal yang lebih penting daripada jiwa sendiri, setelah mendengar ucapan itu aku jadi teramat gusar, maka suatu ketika aku ambil keputusan untuk menantang Tengkorak maut untuk berduel."
"Bagaimana kemudian??"
"Jejak Tengkorak maut bagaikan setan tanpa bayangan, ia ibaratnya naga sakti nampak kepala tak nampak ekornya, mau cari jago itu benar2 tidak gampang.."
"Kenapa kau tidak langsung menuju ke benteng Maut untuk mencari dirinya..?? kembali Han Siong Kie menyela.
"Waktu itu aku masih belum tahu bahwa Tengkorak Maut sebenarnya bukan lain adalah pemilik Benteng maut"
"Bukankah didepan pintu benteng Maut tertera sebuah lambang kepala tengkorak yang berlumuran darah?? apa kau tak bisa menduga kalau benda itu menandakan dirinya??"
"Kesemuanya itu adalah urusan belakangan, waktu itu yang diketahui umum hanya Benteng Maut dua patah kata.. Dengarkan dulu ceritaku lebih jauh, setelah tiga tahun lamanya aku menguber jejaknya kesana kemari akhirnya pada suatu kesempatan aku berhasil juga bertemu dengan dirinya, kami berdua segera berduel dengan serunya hingga beribu2 jurus telah berlalu.."
"Bagaimana akhirnya?? siapa yang berhasil menangkan pertarungan itu?? tanya Han Siong Kle dengan mata terbelalak.
"Akhirnya pada suatu kesempatan sebuah pukulannya berhasil menghajar telak ditubuhku hingga membuat aku muntah darah segar.."
Diam2 Han song Kie terkesiap juga mendengar kisah itu, ia tak menyangka kalau Iblis diantara iblis sanggup bertanding sebanyak ribuan jurus melawan Tengkorak Maut, hal ini membuktikan bahwa tenaga dalam yang dimiliki kakek aneh ini benar2 sangat tinggi.
sambil menghembuskan napas panjang, serunya kemudian.
"Jadi akhirnya kau yang menderita kekalahan??"
"Tidak salah, tetapi aku tak mana mengaku kalah dengan begitu saja dalam hati aku tetap merasa tidak puas dengan hasil pertarungan tersebut.."
"Tidak mau mengaku kalah??"
Hampir saja Han Siong Kle tertawa tergelak karena kegelian, dengan nada ingin tahu ia berseru.
"Apa maksudmu berkata demikian??"
"bukankah kau sudah jelas kalah?? kenapa kau tidak puas..??"
"Bila berbicara tentang soal jurus serangan, maka boleh dibilang kepandaian kita berdua setali tiga uang "
Ujar Iblis diantara iblis dengan nada emosi.
"Tapi celakanya ia berhasil melatih sejenis ilmu sakti yang disebut Kim kong sinkang, dengan ilmu saktinya itu tubuhnya jadi kebal terhadap serangan telapak. totokan jari maupun bacokan senjata tajam."
"Maka dari itu seranganmu sama sekali tidak berguna? "
Sambung pemuda itu cepat.
"Ehmm setelah menderita kekalahan aku segera bersumpah akan menciptakan sejenis ilmu sakti yang mampu menghancurkan pertahanan ilmu Kim kong sinkangnya."
"Dan sekarang apakah kau telah berhasil menciptakan kepandaian sakti tersebut??"
"Jangan menyela perkataanku, dengarkan kisahku lebih jauh"
Omel Iblis diantara iblis dengan mata melotot "setelah terjadi pertarungan itu, kami malah jadi sahabat secara terus terang ia menceritakan segala sesuatu tentang dirinya kepadaku."
"Jadi kau telah mengetahui semua rahasia pribadinya?? "
Sela Han song Kie kembali dengan kegirangan..Iblis diantara iblis melirik sekejap kearah pemuda itu, lalu menjawab.
"Kau tak usah keburu gembira, aku tak akan memberitahukan semua rahasia itu kepadamu, bila ada kesempatan selidikilah sendiri dengan andalkan otak serta kecerdasanmu. Begitulah.. setelah berhasil maka aku sebera menggali gua dibawah tanah ini dan bersumpah sebelum berhasil menciptakan ilmu semacam itu tak akan tinggalkan tempat ini lagi, siapa tahu sekali mendekam aku telah menghabiskan waktu selama empat puluh tahun lamanya, aku berhasil dengan kepandaianku, tapi akupun habis sudah riwayatnya sampai disini"
Selesai berkata ia menghela napas dalam2.
Diam2 Han Siong Kie merasa amat kagum dengan kebulatan tekad Iblis diantara iblis yang begitu kokoh melebihi batu karang, dengan sebutan yang lebih menghormat ia berkata.
"Locianpwee, semangat serta perjuanganmu yang tak kenal lelah itu membuat boanpwee merasa amat kagum"
"Hei, bocah, kenapa kau malah bersikap menghormat kepadaku?? "
Goda Mo-tiong ci-Mo sambil tersenyum.
"Setelah boanpwee dapat memahami duduk perkara yang sebetulnya, ialah sepantasnya kalau aku berubah sebulanku" . Mo Tiong ci Mo termenung beberapa saat lamanya, kemudian setelah menghembuskan napas panjang ujarnya "Kepandaian sakti yang berhasil kuciptakan itu adalah sebuah ilmu jari yang kuberi nama "
Tong Kim Ci.."
""Tong Kim ci??.."
"Sedikirpun tidak salah, dalam jarak lima tombak dari sekeliling tubuhmu bila kau gunakan ilmu jari itu, maka emas akan berlubang batu akan hancur jadi bubuk. aku percaya dengan kepandaian sakti ini aku akan berhasil menghancurkan pertahanan tubuh "
Kim kong sinkang"
Milik Tengkorak Maut, tapi sayang..
aaai dikala aku sedang melatih ilmu sakti itu, aku telah mengalami jalan api menuju neraka hingga mengakibatkan sepasang kakiku jadi cacad, maka tak mungkin lagi aku dapat memenuhi harapanku untuk memenuhi janji duel tersebut..
dan kini, kian hari sepasang kakiku telah semakin kaku, perasaan itu kian lima kian membumbung ke atas, aku sadar bahwa jiwaku sudah tak akan tahan berapa lama lagi..
oleh sebab itulah aku berharap bisa berjumpa dengan orang yang punya jodoh serta dapat mewakili diriku untuk memenuhi harapan yang telah kupendam selama empat puluh tahun lamanya ini..."
"Locianpwee, seandainya Tengkorak Maut memang ada janji dengan diri cianpwee, kenapa ia tak datang kemari untuk memenuhi janji"
Tanya Han Siong Kle dengan nada tercengang..
"Ia tidak tahu kalau aku menyembunyikan diri didalam gua bawah tanah sudah tentu tak mungkin datang sendiri kemari..."
"Oooh... jadi locianpwee bersuit nyaring adalah bermaksud...."
"Benar, maksudku adalah untuk memancing kedatangan orang2 yang kebetulan lewat disini"
"Masa selama banyak tahun tak seorang manusiapun yang mendengar suara sultanmu itu???"
"Tentu saja ada, bahkan banyak... banyak sekali, hanya sayang mereka bukanlah manusia2 yang punya bakat untuk berlatih ilmu maha sakti ini"
"Kalau begitu darimana pula locianpwee bisa mengetahui bahwa boanpwee berbakat"
"Dari celah2 mulut gua aku telah menyaksikan gerakan tubuhmu sewaktu memasuki hutan, aku lihat tenaga dalammu cukup sempurna dan juga usianya masih muda maka lantas aku bersuara memanggil kedatanganmu kesini, setelah dekat aku semakin jelas mengetahui bahwa kau berbakat bagus, karena itu aku sengaja suruh kau menghancurkan batu cadas itu dalam tiga pukulan, tujuanku adalah untuk menjajal sampai dimanakah taraf tenaga dalam yang kau miliki... sungguh tak kusangka meskipun usiamu masih muda namun kesempurnaan tenaga dalam yang kau miliki sudah sedemikian sempurnanya. bila dugaanku tak keliru maka kemungkinan besar kau pernah mendapat bantuan obat2 mujarab atau buah yang langka, kalau tidak darimana munculnya hawa murni sebesar seratus tahun hasil latihan??"
"Dugaan Loocianpwee tepat sekali, aku memang telah mangalami penemuan aneh"
"Baik, aku tak ingin tahu asal asul perguruanmu, aku cuma inginkan agar kau mewakili diriku guna memenuhi apa yang kuharapkan selama ini."
"Nah kini aku akan wariskan lebih dulu ilmu "Mo mo ciang hoat"
Ku lebih dahulu, kepandaian tersebut merupakan ilmu andalanku yang terampuh, setelah engkau berhasil menguasai barulah kuwa riskan pula ilmujari Tong Kim ci itu ...."
"Berapa lama yang dibutuhkan untuk mempelajari kepandaian tersebut??"
"Bagi dirimu yang telah memiliki kemampuan yang cukup kuat, aku rasa tiga hari sudah cukup"
Begitulah, sejak hari itu dengan tekun dan giat Han Siong Kie berlatih ilma silat di bawah pimpinan Iblis diantara iblis...
Waktu berlalu dengan cepatnya tanpa tetasa tiga hari sudah lewat, selama beberapa hari yang amat singkat itulah Han Siong Kie telah berhasil menguasai seluruh kepandaian Mo mo ciang hoat serta Tong kim ci yang diwariskan kakek Iblis diantara iblis kepadanya.
Ilmu telapak Mo mo cianghoat merupakan suatu jenis ilmu pukulan yang terdiri dari menghisap.
menggetar menyerang serta bertahan empat bagian diantaranya bagian menyerang serta bertahan merupakan dua bagian pelajaran yang dipenuhi oleh jurus2 aneh yang maha sakti.
Kalau menyerang maka kehebatannya bagaikan sambaran kilat yang menggugurkan bukit, sedang kalau bertahan kokoh bagaikan benteng berlapiskan emas sekalipun menghadapi serangan yang bagaimana dahsyatpun sulit untuk memaksa mundur barang selangkahpun.
Selama tiga hari berkumpul dan berlatih silat atas petunjuk Iblis diantara iblis, tanpa terasa dalam hati kecil Han Siong Kie muncul suatu perasaan berat yang sangat aneh.
Tentu saja ia tak tahu bahwa sebelum mengasingkan diri, lblis diantara lblis mempunyai nama besar yang disegani orang, begitu tersohor namanya sebingga tidak berada dibawah nama besar Tengkorak maut, bahkan musuh2 besarnya tersebar di mana2.
Han Siong Kie amat menguatirkan keselamatan adik angkatnya Tonghong Hwie, disamping itu diapun hendak mengunjungi Benteng Maut, dengan mendapat tugas dari lblis diantara iblis, dia merasa tugas itu kebetulan sekali kepadanya.
Maka pada hari keempat ia lantas berkata.
"Locianpwee, aku ingin mohon diri terlebih dahulu, aku pasti akan melanjutkan tugas yang cianpwee bebankan kepadaku, aku tak akan bikin hatimu kecewa"
Iblis diantara iblis termenung dan berpikir sebentar lalu berkata.
"Bocah meskipun ilmu jari Tong Kim ci berhasil kau pelajari namunnya sayang tenaga dalam yang kau miliki masih amat cetek, empat puluh tahun bukanlah suatu jangka waktu yang terhitung pendek siapa tahu sampai dimanakah kemajuan yang tercapai si Tengkoraak Maut didalam hal tenaga dalamnyaa... setelan kupikir pulang balik akhirnya aku berkesimpulan bahwa aku harus ulurkan tangan untuk membantu dirimu..."
Han Siong Kie sebagai seorang jago tentu saja dapat memahami perkataan itu, buru2 ia goyangkan tangannya berulang kali.
"Locianpwe jangan... jangan sekali kau lakukan hal itu atas diriku"
Iblis diantata iblis mendengus dingin, ia tak ambil peduli terhadap ucapan dari Han Siong Kie, sepasang telapaknya bekerja cepat dan terasalah segulung angin pukulan yang maha dahsyat sebera menekan tubuh sianak muda itu sehingga sama sekali tak berkutik.
Ketika tangannya ditekan kebawah, maka tak dapat dikuasai lagi Han Siong Kie jatuh tertunduk, jatuh diatas tanah, pada waktu itulah telapak yang lain laksana kilat ditempelkan diatas ubun2 pemuda itu.
"Bocah, pusatkalah perhatianmu dan pejamkanlah matamu rapat2"
Serunya dengan tiada serius "
Gunakanlah hawa murni yang ada dalam tububmu untuk menerina aliran hawa murni yarg kusalurkan ini"
Sambil berkata segulung aliran hawa panas yang menyegarkan hati segera mengalir masuk kedalam tubuh Han Siong Kie lewat jalan darah Hoa kay hiat diatas ubun2.
Han Siong Kie menyadari hebatnya ancaman bahaya bila dia tidak segera pusatkan perhatiannya dalam keadaan begini sekalipun dia tak mau terpaksa harus menerima pemberian aliran hawa panas tersebut, terpaksa ia pusatkan perhatiannya dan salurkan hawa tenaga dalam untuk mengiringi masuknya aliran hawa murni dari luar.
Ia pernah ganti tulang karena pengaruh air mukjijat dari bawah permukaan tanah kemudian mendapat pula saluran hawa murni lewat kura2 sakti, jalan darah penting disekujur tubuhnya boleh dibilang telah menembus semua, kini setelah mendapatkan saluran tenaga dalam dari Iblis diantara iblis, dengan amat lancar sekali hawa murni tadi melebur bersama hawa murni yang sudah di milikinya tadi.
Dalam sekejap mata Iblis diantara iblis telah menyelesaikan pekerjaannya menyalurkan hawa murni kedalam tubuh pemuda tersebut.
Telapak tangannya segera digeserkan dari atas ubun2 menunggu pemuda itu sudah menyelesaikan semedinya dan bangkit berdiri Iblis diantara iblis dengan tubuh bergetar keras sedang duduk disudut goa itu.
Timbul perasaan tidak tega didalam hati kecil Han Siong Kie, rasa menyesal berkecamuk didalam hatinya, andai kata pemilik dari benteng maut bukan musuh bebuyutannya, tak mungkin dia akan menerima permintaan dari Iblis diantara iblis.
Dan kini pihak lawan telah membayar kesanggupannya itu dengan suatu balas jasa yang tak ternilai harganya, ia telah mendapat saluran hawa murni dari kakek itu, hingga membuat Han Siong Kie merasa dirinya terlalu serakah, ia terlalu memahami diri sendiri.
Per lahan2 Iblis diantara iblis membuka matanya, sinar matanya telah pudar dan badannya nampak lemah sekali, dengan suara ter sengkal2 ujarnya .
"Bocah cilik, sekarang didalam tubuhmu telah terdapat hawa murni bagaikan hasil latihan selama dua ratus tahuni kejadian ini merupakan suatu peristiwa besar yang belum pernah dialami oleh orang Bu lim sebelumnya, perduli sampai dimanakah kemajuan tenaga lweekang yang dimiliki Tengkorak Maut, tak mungkin dia sanggup melampaui keampuhanmu sekarang"
"Locianpwee, aku merasa menyesal sekali karena selama ini telah merahasiakan satu persoalan terhadap dirimu"
Bisik Han Siong Kie dengan wajah amat sedih.
"Rahasia apa..."
"Sebenarnya boanpwee mempunyai dendam kesumat dengan pemilik dari benteng maut itu, karena itulah aku dengan senang hati menerima tawaran dari lociaopwee "
"Oooh jadi kaupunya dendam dengan Tengkorak Maut??"
"Benar tapi Loocianpwee tak usah kuatir, aku berani bersumpah tak akan menggunakan ilmu sakti hasil pelajaran dari loocianpwee untuk melaksanakan tujuanku didalam membalas dendam"
Iblis diantara tblis tertegun sebentar kemudian tertawa terbahak2.
"Haaah... haaah.. haaah bocah cilik, aku kagum kejantananmu, kupuji dirimu sebagai seorang pendekar sejati di dalam dunia persilatan, dari perkataan itu akupun bisa membuktikan bahwa kau berjiwa besar dan berhati jujur, tak sia2 kusalurkan seluruh hawa murniku kedalam tubuhmu"
Tiba2 Han Siong Kie jatuhkan diri berlutut diatas tanah.
"Eeeei... bocah, apa yang hendak kau lakukan??"
Tegur Iblis diantara iblis dengan wajah tertegun.
"Sekalipun boanpwee telah memperoleh warisan ilmu silat dari Leng ku Siang-jin terlebih dulu hingga semestinya dalam peraturan aku harus mengakui dirinya sebagai guruku, tapi dalam kenyataan boanpwee sama sekali tidak terikat oleh perguruan manapun juga. Ini hari berkat baik hati dari locianpwee aku telah berhasil lebih mrnyempurnakan diriku, karena aku harap cianpwee suka meagijinkan diriku uatuk mengangkat cianpwee sebagai guruku !"
"Tentang soal ini., tentang soal ini,!"
Untuk beberapa saat lamanya iblis diantara iblis tidak berbicara, ia nampak termenung dan memandang keatas langit2 gua tanpa berkedip.
"Apakab cianpwee tak mau mengabulkan permitaaaku ini?"
Pinta Han Siong Kie kembali. Iblis diantara iblis ragu2 sejenak, akhirnya dia mengangguk.
"Baiklah, aku terima kau sebagai muridku"
Han Siong Kie segera menjalankan penghormatan besar untuk mengangkat kakek itu sebagai gurunya.
kemudian baru bangkit berdiri.
Rupaoya lblis diantara iblis merasa amat terharu sekali, sekujur tubuhnya tampak gemetar keras sedang air mata jatuh berlinang membasahi pipinya yang telah kusut.
mimpi pun ia tak pernah menyangka pada saat akhir masa hidupnya ia telah menerima ahli waris yang begitu bagus.
"Muridku, aku sudah tak dapat hidup lebih lama lagi "
Ujar Iblis diantara iblis setelah termenung beberapa saat.
"Aku barap didalam sepulub hari kau sanggup menyelesaikan apa yang menjadi idam2anku itu, berduellah dengan pemilik Benteng Maut lalu berilah kabar baik kepada gurumu!"
"Tecu akan melaksanakan keinginan suhu, apakah masih ada lain pesan?"
"Persoalan yang lain kita bicarakan setelah kau kembali lagi kesini dan sekarang kau boleh segera berangkat melakukan sebaik baiknya. Pertama, setelah tiba didepan Benteng Maut kau harus segera bersenanduag! Satu Iblis muncul, satu Iblis lenyap, Iblis diantara Iblis bertemu dengan raja langit"
Maka Tengkorak maut akan menyambut kedatanganmu secara baik2, sebab selamanya Benteng Maut amat benci bila ada orang berkunjung kesitu."
Dengan perasaan tak habis mengerti Han Siong Kie mengangguk.
"Apakah pesanmu yang kedua?"
Tanyanya kemudian.
"Kedua pertarungan ini hanya terbatas untuk bertanding belaka, kedua belah pihak tiada dendam atau sakit hati maka aku larang kau gunakan ilmu sakti itu untuk melukai dirinya sebelum bertanding, kau musti jelaskan lebih dahulu bahwa pertarungan yang bakal berlangsung hanya terbatas sampai saling menutul belaka.
"Tecu akan mengingat selalu pesan suhu, dan apakah pesan yang ketiga itu"
"Ketiga aku melarang kau gunakan kesempatan ini untuk menuntut balas bagi sakit hati mu sendiri"
"Suhu tak usah kuatir,"
Sahut Han Siong Kie dengan wajah serius.
"tecu masih sanggup untuk membedakan mana budi mana dendam, mana tugas dan mana kesempatan untuk pribadi" -000d0w000-Bab 21
"KALAU kau memang bisa berpandangan jauh kedepan, akupun dengan lega hati akan menantikan kabar gembira darimu"
Ujar Iblis diantara Iblis sambil mengangguk "
Ingat didalam sepuluh hari kau harus segera kembali kemari, aku masih ada persoalan yang hendak disampaikan kepadamu, ingat hanya sepuluh hari, selewatnya sepuluh hari mungkin aku sudah tak dapat bertemu lagi dengan dirimu "
Han Siong Kie merasa terharu sekali hingga tanpa terasa air mata jatuh berlinang membasahi pipinya, ia tahu bahwa suhunya hanya mampu hidup selama sepuluh hari lagi karena ia telah menyalurkan seluruh hawa murni yang dimilikinya kedalam tubuh sendiri, tentu saja gurunya berbuat demikian karena melihat ia bisa mewakili dirinya untuk pergi ke Benteng maut dan berduel melawan Tengkorak maut.
"Suhu"
Ujarnya kemudian dengan suara sedih "tecu tak akan membiarkan kau orang tua merasa kecewa"
"Baiklah, sekarang kau boleh sebera berangkat setelah keluar dari gua ini carilah batu besar yang lain sebellah mulut gua ini"
"Tapi bagaimana dtngan makanan serta minuman kau orang tua?? sekarang keadaanmu sudah...."
Pemuda itu tak tega melanjutkan kata2nya dan segera membungkam. Iblis diantara iblis tertawa keras.
"Haahhh...haahhh...haaahhh.. maksudmu dengan keadaanku sekarang yang lemah tak bertenaga, aku sudah tak mampu lagi untuk makan?? tentang soal ini kau tak usah kuatir, aku masih punya persediaan ransum selama sepuluh hari, pergilah dengan hati tenang. Ingat jangan lupa dengan apa yang telah kukatakan"
"Tecu tak berani melupakannya, didalam sepuluh hari pasti aku akan kembali kemari"
Selesai memberi hormat ia keluar dari gua kemudian mencari batu besar untuk menyumbat mulut gua itu dan berlalu dengan sedih.
Perintah dari guru lebih penting untuk dilaksanakan lebih dulu, terpaksa Han Siong Kee harus singkirkan dahulu niatnya untuk mencari Tonghong Hwie, dia langsung berangkat menuju kebenteng maut.
Setelah memperoleh tenaga dalam sebesar seratus tahun hasil latihan milik Leng Ku siangjin dan sekarang mendapatkan pula seluruh tenaga dalam dari Iblis diantara iblis berarti sekarang ia telah memiliki tenaga dalam sebesar dua ratus tahun hasil latihan penemuan semacam ini boleh dibilang jarang sekali ditemui siapapun.
Ilmu meringankan tubuh Cahaya kilat lintasan cahaya yang digunakan pada saat ini jauh berbeda keadaannya dangan tempo dulu, kecepatannya pada saat ini sudah melebihi kecepatan sambaran kilat, seandainya bukan seorang jago lihay sukar untuk menemukan gerakan tubuhnya itu.
Sepuluh hari...
ia harus berhasil balik kembali kedalam gua bawah tanah itu dalam sepuluh hari, karena Iblis diantara iblis hanya mempunyai waktu hidup hanya sepuluh hari saja Setelah melintasi jalan gunung yang terjal dan berliku, ia tiba disebuah jalan raya.
Sebuah sungai besar terbentang didepan mata.
sambil melakukan perjalanan menyelusuri pantai sungai itu ia berlari kencang.
ia hendak mencapai Benteng Maut didalam sehari semalam.
Han Siong Kie tahu bahwa seandainya di dalam sepuluh bari ia tak dapat kembali maka hal itu merupakan suatu dosa yang tak dapat diampuni, sebab satu2nya harapan dari gurunya telah dititipkan diatas pundaknya, disamping itu dia harus berhasil menangkan pemilik dari Benteng Maut, kalau tidak gurunya akan mati dengan mata tidak meram!
Ilmu silat yang dimiliki pemilik Benteng Maut membuat hatinya bergidik, ia tak tahu dengan andalkan ilmu jari Tong kim ci tersebut mampukah ia menjebolkan pertahanan ilmu kebal Kim kong sinkarg yang dimiliki lawan?
Dalam hatinya terselip satu harapan.
ia berharap didalam pertarungannya mewakili Iblis diantara Iblis ini ia berbasil membongkar raut wajah yang sebenarnya dari Tengkorak maut, disamping itu diapun bisa mengira-ngira sampai taraf yang bagaimana hebatnya ilmu silat dari musuh besar pembunuh keluarganya ini.
Tiba2..
dari depan mata muncul dua sosok bayangan hijau berkelebat memotong jalan raya dan lenyap dibalik hutan ditepi jalan, diantara bayangan hijau itu kelihatan mengempit sesosok benda putih yang mirip sekali dengan tubuh seorang gadis muda.
Satu ingatan dengan cepat berkelebat dalam benak pemuda ini.
ia menghentikan gerakan tubuhnya dan berpikir .
"Kedua orang itu pasti bukan manusia baik2, coba akan kuintil perjalanan mereka"
Berpikir demikian ia segera belok kesisi jalan dan melayang pula masuk kedalam hutan. Baru saja tubuhnya mencapai hutan yang cukup lebat tadi, terdengar suara seseoraog yang serak tua sedang berkata .
"Turunkan dia keatas tanah, lepaskan seluruh pakaian yang ia kenakan!"
"Suhu, perempuan ini...!"
Ujar orang kedua dengan nada tinggi melengking.
"Ada apa?"
"Tecu harap suhu suka menghadiahkan gadis ini..!"
"Bocah keparat, kau lihat apakah wajahnya terlalu cantik sehingga kau merasa keberatan bila kulalap??"
Jengek suara setan2 tua itu lagi sambil tertawa seram.
"Tentang soal ini.."
"Sudahlah, tak usah ini itu lagi, ayoh cepat lepaskan seluruh pakaiannya, aku akan segera mengisap sari kegadisannya"
Han Siong Kie kontan merasakan darah panas dalam didadanya bergolak keras, napsu membunuh menyelimuti seluruh wajahnya dan sepasang mata melotot bulat2, ia tak menyangka kalau disiang hari bolong itu ternyata ada orang yang berani melakukan perbuatan terkutuk semacam ini.
Ia merasa setelah kejadian ini ditemui olehnya, sebagai seorang pendekar penegak keadilan sudah seharusnya ia bunuh manusia2 itu.
Dalam pada itu terdengar pemuda tadi telah berkata kembali.
"Suhu, bagaimana kalau kau hadiahkan gadis ini kepadaku saja?? aku akan carikan sepuluh orang gadis yang lain untuk kau siorang tua..."
"Sudah, kau tak usah banyak bicara lagi, perawan ini mempunyai tulang yang amat bagus dengan dasar tenaga dalam yang cukup sempurna, jarang sekali perempuan semacam ini ditemui dalam dunia persilatan, kau hendak pergi kemana untuk mencari gadis macam begini untukku?? ayoh cepat turun tangan lepas seluruh pakaiannya"
"Suhu, kau toh hanya ingin menghisap sari kegadisannya belaka, kenapa tidak kau hadiahkan kepadaku saja agar aku bisa mengawini dirinya."
"Bocah keparat, aku masih belum ingin modar, mengerti?? kalau kau berani banyak ngebacot lagi, jangan salahkan kalau kubacok dirimu lebih dahulu."
Han Siong Kie mendengus dingin, perlahan ia munculkan diri dari tempat persembunyiannya .
Pada saat yang hampir bersamaan terdengar suara pakaian yang ditarik hingga robek, diikuti dua jeritan kaget bergema memecahkan kesunyian.
Dihadapan mereka terlihatlah seorang kakek berjubah hijau yang berwajah menyeramkan sedang berdiri berdampingan dengan seorang pemuda berdandan busu warna hijau, seorang gadis baju putih yang bagian-bagian dadanya telah robek menggeletak diatas tanah, sepasang buah dadanya yang putih padat berdiri menongol keluar dari balik pakaian yang robek itu Napsu membunuh menyelimuti wajah Han Siong Kie makin tebal, sorot mata ber api2 memancarkan cahaya yang amat tajam perlahan2 ia sapu kedua orang itu sambil tertawa dingin tiada hentinya.
Kakek tua itu sebera tertawa seram.
"Bocah keparat, rupanya kau datang untuk mencari kematian buat dirimu sendiri"
Jengeknya. Sedang pemuda busu tadi dengan cepat menggerakkan tubuhnya siap melancarkan serangan.
"Bagus sekali perbuatan kalian berdua"
Dengus Han Siong Kie sambil tertawa dingin.
Di siang hari bolongpun berani melakukan perbuatan terkutuk semacam ini.
Hmm ini hari setelah bertemu dengan aku si malaikat penyakitan, jangan harap kalian berdua bisa tinggalkan tempat ini dalam keadaan hidup "
"Keparat cilik. siapa namamu??"
"Malaikat penyakitan"
"Malaikat penyakitan?? Haah haah haah. sebentar lagi kau akan berubah jadi malaikat elmaut. Muridku bunuh dia."
Pemuda itu mengangguk dan segera menerjang kedepan sambil melancarkan satu pukulan dahsyat.
Han Siong Kie mendengus dingin, ia geser tubuhnya satu langkah kesamping lalu mengirim pula satu pukulan kearah depan.
"Blaaam"
Ditengah ledakan keras, pasir dan debu beterbangan memenuhi angkasa, tubuh pemuda busu itu tergetar keras dan mundur sejauh delapan depa dengan sempoyongan.
Air muka kakek jubah hijau itu kontan berubah hebat, ia tak menyangka pemuda berwajah penyakitan yang menyebut dirinya sebagai malaikat penyakitan ini memiliki ilmu silat yang sangat lihay, tapi aneh sekali kenapa dalam dunia persilatan belum pernah terdengar munculnya seorang pemuda yang demikian lihaynya??
Dalam malunya pemuda busu itu jadi teramat gusar, ia membentak keras dan sekali lagi menerjang kedepan.
telapak kiri melancarkan pukulan, telapak tangan kanan mengancam dengan ilmu cengkeraman secara terpisah dari atas dan tengah mengancam dua bagian penting diatas tubuhnya.
Semua jurus dan gerakan dilakukan sangat aneh dan luar biasa, jauh berbeda dengan kepandaian silat aliran Tionggoan.
"Menghadapi manusia2 durjana semacam ini kenapa aku tidak coba mengguoakan ilmu jari Tong Kim Ci?"
Pikir Han Siong Kie didalam hati.
Berpikir demikian ia segera menghimpun tenaga dalamnya dan ayun tangan kearah depan.
Suara jeritan ngeri yang amat menyayatkan hati bergema memecahkan kesunyian.
pemuda busu itu roboh terjengkang diatas tanah dengan darah segar menyembur keluar setinggi beberapa tombak.
dadanya seketika berlubang besar sekali.
Diikuti "Kraak!"
Sebuah pohon besar yang berada dibelakang tubuh busu muda itu bergoncang keras serta muncul sebuah lubang pula sebesar ibu jari.
Rupaeya serangan jari yang dilancarkan oleh Han Siong Kie seketika berhasil melubangi tubuh pihak lawan.
siapa tahu tenaganya masih cukup besar maka telah menembusi tubuh busu muda itu sisa tenaga segera melubangi pula sebuah pobon yang berada pada jarak tiga tombak dari kalangan.
Kejadian ini sangat mengejutkan hati si anak muda itu ia tak mengira kalau kekuatap ilmu jari Tong kim ci yang dipelajari itu bisa sedemikian hebatnya.
Kakek jubah hijau itu lebih2 ketakutan selama hidup belum pernah ia mendengar ilmu jari semacam ini seorang jago yang dapat menotok jalan darah orang dari jarak jauh pun sudah terhitung kelas satu apalagi ilmu jari yang bisa menembusi tubuh lawan bahkan melobangi pula pohon jauh dibelakang sang korban.
Saking takutnya kakek itu mundur beberapa langkah kebelakang sambil serunya;
"Malaikat penyakitan tahukah engkau siapakah aku?"
"Coba kau katakan sendiri"
"Aku adalah pengawal istana terlarang dibawah kekuasaan Thian Lam Tee kun yang disebut orang pengawal baju bijau Pit Lee"
Han Siong Kie melongo ia tak tahu manusia macam apakah yang dimaksudkan sebagai Thian Lam Tee Kun itu tetapi ditinjau dari sebutan itu jelas orang itu merupakan seorang jagoan dari wilayah Thian Lam maka dengan nada seenaknya ia berkata.
"Kalau Thian-lam lantas kenapa???"
Pengawal baju hijau tertawa seram.
"Hmmm.... hmmmm... kau berani menghalang-halangi pekerjaan dari pihak kami, berani pula melukai anggota perguruan kami berarti bahwa kau hendak memusuhi golongan Thian lam kami"
Sorot mata Han Siong Kie perlahan2 dialihkan kearah gadis yang menggeletak diatas tanah itu, ia begitu melihat wajahnya terkejut tubuhnya seketika gemetar keras hampir saja dadanya meledak karena kegusaran Kiranya gadis baju putih itu bukan lain adalah Go Siauw Bi gadis yang pernah menyelamatkan jiwanya .
"Anjing tua, kau harus modar"
Bentaknya keras. Dengan nada terkesiap Pengawal baju hijau mundur satu langkah kebelakang.
"Malaikat penyakitan"
Teriaknya "Kau betul2 memusuhi golongan Thian lam kami?"
"Bangsat tua, kau tak usah banyak ngebacot lagi lihat serangan"
Secara beruntun ia lancarkan tiga jurus pukulan yang maha dahsyat.
Ternyata ilmu silat yang dimiliki pengawal baju hijau Pit Lee cukup tangguh, dengan gesit ia menghindar kesana kemari dengan gerakan yang cukup manis ia berhasil meloloskan diri dari tiga serangan maut yang dilancarkan Han Siong Kie itu.
Melihat tiga buah jurus mengenai sasaran kosong, Han Siong Kie semakin naik pitam, ditengah berkelebatnya bayangan telapak yang ber-lapis2 kembali ia lancarkan sebuah pukulan.
Pecahlah nyali pengawal baju hijau Pit Lee melihat kelihayan lawan dalam keadaan begini ia tak berani melancarkan serangan balasan, sambil melompat mundur sejauh satu tombak teriaknya dengan suara gemetar.
"Tahan Apa hubunganmu dengan iblis diantara iblis??"
Han Siong Kie jadi amat terkejut ketika melihat lawannya berhasil menebak permainan jurus Iblis diantara iblisnya yang sudah empat puluh tahun lamanya menyembunyikan diri dibawah tanah tetapi orang ini sekilas memandang berhasil menebaknya secara jitu, hal ini menunjukkan bahwa orang yang berada dihadapannya saat ini bukanlah manusia sembarangan.
Dengan cepat ia menjawab "Bangsat tua, kau belum berhak mengajukan pertanyaan ini.."
"Apakah kau adalah ahli warisnya??? "
"Kalau benar mau apa???"
"Ooooh jadi Iblis diantara iblis masih hidup di.. kolong langit??"
"Tentang persoalan ini lebih baik kau tak mengurusinya"
Air muka pengawal baju hijau Pit-Lee berubah jadi sangat hebat tiba2 ia putar badan kabur dari situ Tentu saja Han Siong Kie tak akan membiarkan musuhnya berhasil kabur dengan begitu saja sambil tertawa dingin bentaknya.
"Bangsat tua, kalau pingin kabur tinggalkan dulu selembar jiwa anjingmu"
Sambil membentak segulung angin tajam laksana kilat meluncur kearah depan.
Jeritan ngeri yang mendirikan bulu roma kembali berkumandang memecahkan kesunyian, hujan darah muncrat keempat penjuru dan pengawal baju hijau Pit Lee yang telah berhasil lari sejauh tiga tombak lebih itu roboh terjengkang keatas tanah ..sesaat sebelum menemui ajalnya ia sempat menjerit sekeras kerasnya.
"Iblis diantara iblis..."
Han Siong Kie mendengus dingin, ia tendang mayat kakek baju hijau itu hingga mencelat kedalam hutan lalu putar badan dan mendekati tubuh Go Siauw Bi sebelum ia sempat berbuat sesuatu mendadak...
Dari belakang tubuhnya terdengar suara desiran angin bergema datang tanpa beraling ia menegur.
"Jago lihay dari mana yang telah datang kemari??"
"Haaah haaahh haaah sungguh tidak tahu malu jadi ahli waris dari Iblis diantara iblis."
Per-lahan2 Han Siong Kie putar badan, terlihatlah pada jarak lima tombak dibelakang tubuhnya berdiri berjejer dua orang kakek baju kuning, dalam hati segera pikirnya.
"Mereka berdua pasti terpancing datang kemari oleh jeritan keras bangsat tua itu sesaat sebelum modar.."
Dalam pada itu kedua orang kakek baju kuning itu nampak berdiri tertegun untuk beberapa saat lamanya, mungkin mereka tak pernah menyangka kalau ahli waris dari iblis diantara iblis ternyata adalah seorang pemuda berwajah penyakitan, bila kenyataan tak ada didepan mata siapapun tak akan percaya kalau pemuda dihadapannya saat ini adalah seorang jago yang amat lihay.
Dengan pandangan dingin Han Siong Kie menyapu sekejap kearah dua orang kakek baju kuning itu, lalu untuk kedua kalinya ia menegur.
"Kalian berdua adalah jago lihay dari mana??"
Salah seorang kakek yang punya tahi lalat merah diatas jidatnya itu segera menjawab.
"Pengawal baju kuning dari istana Huan mo-kiong dibawah pimpinan Thian lam kun"
"Istana Huan Mo Kiong??"
"Sedikitpun tidak salah"
"Ooooh ..jadi kalian adalah satu aliran dengan bangsat tua baju biru itu??"
"Kalau sudah tahu kenapa mesti tanya lagi?? "
"Jadi kedatanganmu kedaratan Tionggoan juga khusus untuk memetik sari kegadisan orang2 Tionggoan??"
Air muka kedua orang kakek baju kuning itu seketika berubah hebat, dengan sorot mata bengis mereka maju dua langkah kedepan Han Siong Kie sendiri juga amat gusar dengan nada membunuh menyelimuti wajahnya ia mendengus dingin.
"Kalian berdua jangan harap bisa berlalu dari tempat ini dalam keadaan hidup,"
Tubuhnya melesat kearah depan sepasang telapak secara terpisah menyerang kedua orang pengawal baju kuning itu secara berbareng, serangannya dilancarkan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat bukan begitu saja bahkan ganas dan luar biasa.
Siapa tahu kedua orang pengawal baju kuning itu dengan gampang sekali berhasil meloloskan diri dari ancaman itu kearah samping.
Diam2 Han Siong Kie terkesiap juga melihat kenyataan itu, kelihayan dari kedua orang kakek baju kuning ini ternyata beberapa tingkat lebih hebat dart kakek baju hijau yang telah menemui ajalnya diujung ilmu jari Tong kim ci itu ..
Terdengar salah satu diantara pengawal baju kuning itu berseru tertahan.
"Aaaah.. sedikltpun tak salah, ilmu pukulan yang dipergunakan bangsat ini bukan lain adalah ilmu telapak Mo mo ciang hoat"
Bersamaan dengan selesainya ucapan ini, tiba2 kedua orang ini meloncat mundur beberapa tombak ke belakang lalu kabur dari situ secepat-cepatnya.
Han Siong Kle amat terkejut, ia hendak mengejar namun sudah tak sempat, terpaksa sambil menarik nafas ia cuma geleng2 kepala berulang kali, dalam hati ia berpikir.
"Sungguh aneh sekali, ilmu pukulan yang kulancarkan barusan amat lihay dan hebat, bagi orang biasa jelas sulit menghindar diri, tapi kenyataan mereka berdua dapat meloloskan diri dari ancamanku dengan begitu mudah, jangan2 guruku iblis diantara iblis mempunyai hubungan yang erat dengan istana Huan mo kiong di Thian lam??.."
Ia termenung beberapa saat lamanya, kemudian pikirnya lagi.
"Kenapa aku musti pikirkan persoalan itu?? asal dalam sepuluh hari aku datang pulang kembali, bukankah persoalan ini dapat kutanyakan langsung kepada suhu??"
Berpikir demikian ia lantas putar badan dan dengan kembali sorot matanya kearah Go Siauw Bie, nampak matanya terpejam dan mulutnya terkatup rapat, tatkala sinar matanya terbentur dengan dadanya yang terbuka, jantungnya segera berdebar keras.
Tetapi hal itu hanyalah suatu perasaan spontan yang muncul dari dalam hati seorang pria yang normal, rasa bencinya terhadap kaum wanita segera menekan kembali perasaan tersebut kedalam hati.
Sekarang yang harus segera dilakukan adalah menyadarkan Go Siauw Bie serta memeriksa apakah ada jalan darahnya yang tertotok, tetapi sudah setengah harian lamanya ia periksa namun belum juga ditemukan sesuatu jalan darah yang tersumbat.
Dalam keadaan begini terpaksa ia keraskan hati untuk memeriksa jalan darah di bagian lain yang sensitip.
Dengan jantung berdebar keras pemuda itu periksa jalan darah disekitar dada, lambung, perut serta perut bagian bawah dari gadis itu..
tapi aneh sekali, ternyata tak sebuah jalan darahpun yang tertotok.
"Mungkinkah ia sudah terkena semacam obat pemabok yang bikin kesadarannya jadi lenyap??"
Pikirnya didalam hati.
Dengan cepat pemuda itu mendekati mayat kakek baju hijau itu dengan harapan berhasil menemukan obat pemunah yang sanggup menyadarkan gadis ini, siapa tahu usahanya tetap sia2 belaka, saku orang itu kosong melompong tak terdapat sesuatu benda apapun.
Han Siong Kie jadi amat gelisah, ia tutupi dahulu pakaian Go Siauw Bie yang robek dengan jubah luarnya, kemudian duduk disisinya sambil putar otak.
Pada saat ini ia buru2 hendak berangkat kebenteng maut untuk berduel melawan Tengkorak maut yang disegani setiap jago dari dunia persilatan, sebab itulah harapan dari suhunya Iblis diantara iblis, ia merasa dirinya tak bisa membuang waktu dengan percuma lagi karena gurunya hanya bisa hidup sepuluh hari lagi.
Disamping itu diapun merasa amat benci terhadap kaum wanita terutama sekali peristiwa di Lian huan tau baru2 ini dimana ia tertangkap oleh ibunya si Siang-go berwajah cantik Ong Cui Ing yang kejamnya melebihi ular yang menyebabkan hampir saja ia kehilangan jiwanya .
Andainya bukan orang yang ada maksud serta ibunya berusaha menyelamatkan dia, mungkin ia sudah mati sejak semula, maka dari itu rasa bencinya terhadap kaum wanita semakin berlipat ganda.
Tetapi Go Siauw Bie yang berada dihadapannya saat ini adalah tuan penolong yang pernah menyelamatkan jiwanya.
Ketika ia dihantam masuk kedalam sungai oleh Tengkorak Maut tempo dulu, andaikata bukan Go Siauw Bie yang menolong jiwanya, tak mungkin ia bisa hidup sampai sekarang bahkan pihak lawan dengan begitu kasih sayang telah merawat serta menempatkan dirinya dalam kamar pribadinya.
Han Siong Kle merasa budi kebaikan semacam ini bagaimanapun juga harus dibalas.
Untuk beberapa saat lamanya ia jadi bingung dan tak tahu apa yang musti dilakukan, berusaha untuk menyadarkan gadis ini, ataukah meninggalkan dirinya dengan begitu saja.
Setelah kebingungan beberapa waktu lamanya, terakhir pemuda itu ambil keputusan untuk membawa gadis ini pergi kekota terdekat guna mendapat pengobatan, sebab kecuali berbuat demikian sudah tak ada alasan lain yang bisa dilakukan.
Maka dengan perasaan berat ia bopong tubuh Go Siauw Bie kemudian berkelebat menuju kearah kota..
Belum sampai sepuluh li ia berjalan, tiba2 terdengar suara bentakan keras berkumandang dari tempat kejauhan, suara itu makin lama semarin mendekat hingga akhirnya tampaklah seorang gadis muda sedang bertempur di kerubuti oleh empat orang pria baju hijau..
Satu ingatan dengan cepat berkelebat dalam benak sianak muda itu, pikirnya.
"Jangan2 mereka adalah manusia-manusia terkutuk dari istana Huan Mo kiong yang hendak melakukan perbuatan tercela lagi."
Tanpa terasa ia menghentikan perjalanannya dan menyaksikan jalannya pertarungan itu dari sisi kalangan.
Terlihatlah keadaan dari gadis itu ketitir hebat, posisinya terjepit dan berada dibawah angin, nampaknya sebentar lagi ia bakal tertawan oleh musuh2nya.
Empat orang pria baju hijau yang melakukan pengeroyokan itu ternyata memakai baju serta dandanan yang mirip sekali dengan pengawal baju hijau Pit Le yang berhasil dibinasakan itu, atau dengan perkataan lain keempat orang itupun merupakan pengawal baju hijau dari istana Huan Mo Kiong.
"Tahan"
Dengan suara keras Han Siong Kle segera membentak keras, tubuhnya dengan sebat melayang masuk kedalam kalangan.
Keempat orang kakek baju hijau itu segera menghentikan serangannya dan meloncat mundur kebelakang.
Dengan pandangan dingin Han Siong Kie melirik sekejap kearah orang-orang dihadapannya, ia lihat keempat orang baju hijau itu mempunyai usia diantara enam puluh tahunan, sedang sang gadis mempunyai wajah yang amat cantik jelita, sekuntum bunga putih menghiasi sanggulnya, pakaian yang dikenakan adalah pakaian berkabung, walau dengan keringat bercucuran dan napas ter-sengkal2 ia berdiri disisi kalangan sambil memandang kearah pemuda itu tanpa berkedip.
Sementara itu ketika keempat orang kakek baju hijau itu melihat orang yang membentak meresa ternyata adalah seorang bocah muda berwajah penyakitan yang membopong seorang gadis, setelah tertegun sejenak mereka segera tertawa ter bahak2 salah satu diantara keempat orang itu segera maju dua langkah kedepan sambil ujarnya.
"Hey bocah penyakitan, rupanya kau sengaja datang untuk memberi hadiah buat kami??"
Sambil berkata sorot matanya dengan tajam melirik sekejap kearah Go Siauw Bi yang berada dibopongan pemuda itu.
Han Sioag Kie mendengus dingin, dia kempit Go Siauw Bi dibawah ketiak kirinya, lalu dengan tangan kanan yang kosong ia tuding keempat orang itu, bentaknya.
"Apakah kau juga pengawal2 baju hijau dari istana Huan mo Kiong.???"
Sekilas rasa kaget berkelebat diatas wajah keempat orarng kakek itu, kakek yang maju kedepan tadi segera menjawab.
"Sedikitpun tidak salah bocah keparat siapa namamu???? dari mana kau bisa tahu kalau kami adalah ...."
"Hmmm, bagus sekali"
Dengus Han Siong Kie singkat "Ingat baik aku bernama Malaikat penyakitan, sekarang aku akan kirim kalian untuk pulang kerumah nenekmu"
Bersamaan dengan selesainya ucapan itu telapak tangannya diayun kedepan.
Dalam anggapan kakak baju hijau itu ilmu silat pihak paling2 tidak seberapa lihaynya mereka bermaksud akan turun tangan bila serangan dari musuhnya itu sudah hampir mengenai sasaran, siapa tahu belum sempat ingatan lain berkelebat didalam benaknya, segulung desiran angin tajam telah tiba didepan dadanya, kakek itu jadi terkesiap dan terasalah sukmanya bagaikan melayang tinggalkan raganya..
Jeritan ngeri berkumandang memenuhi seluruh angkasa, semburan darah menyebar ke empat penjuru, dengan dada berlubang hingga tembus pada punggungnya kakek itu roboh binasa diatas tanah.
Melihat kelihayan musuhnya, ketiga orang kakek baju hijau lainnya jadi terkejut, air muka mereka berubah jadi pucat pias bagaikan mayat, rupanya mereka tahu bahwa keadaan tidak menguntungkan, buru2 ketiga orang itu putar badan dan siap melarikan diri.
Han Siong Kie menjengek sinis, telapak kanannya diayun berulang kali..
Kembali terdengar tiga kali jeritan ngeri berkumandang diangkasa, ketiga orang kakek tersebut dengan punggung berlubang hingga tembus pada dadanya roboh diatas tanah.
Dalam waktu singkat empat jago lihay dari Istana Huan Mo Kiong telah mati terbunuh semua dibawah serangan ilmU jari Tong Kim Ci tanpa sanggup melakukan perlawanan.
Gadis cantik berbaju berkabung itu berdiri melongo disisi kalangan karena kaget, ia merasa belum pernah menjumpai ilmu jari selihay ini.
Dengan pandangan dingin Han Siong Kie melirik sekejap kearah gadis cantik itu, kemudian tanpa mengucapkan sepatah katapun ia putar badan dan berlalu dari situ.
"Saudara harap tunggu sebentar"
Seru gadis berbaju kabung itu sambil menghadang jalan pergi Han Siong Kie. sambil memberi hormat ujarnya kembali.
"Aku yang rendah Istri yang ditinggalkan mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan dari saudara."
Han Siong Kie tertegun.
"Isteri yang ditinggalkan?? apakah nama yang dipergunakan juga sebuah julukan belaka??"
Pikirnya. Tanpa terasa ia ulangi kembali ucapan itu setengah bergumam.
"Isteri yang ditinggalkan??"
"Sedikitpun tidak salah, dan saudara apakah bergelar malaikat penyakitan??"
"Eeei.darimana nona bisa tahu akan julukan itu?? "
"Bukankah kau yang menyebutnya sendiri?"
"Ooh yaah.. aku memang pelupa, maaf"
Habis berkata ia putar badan siap berlalu lagi dari situ.
"Bolehkah aku mengetahui siapakah namamu?"
Seru istri yang ditinggalkan dengan suara nyaring.
"Malaikat penyakitan"
"Itu bukan namamu yang sebenarnya.."
"Nama yang sebenarnya atau bukan rasanya tiada sangkut pautnya dengan dirimu, aku rasa sudah seharusnya nona segera tinggalkan tempat ini..."
"Budi pertolongan yang telah kau berikan kepadaku, suatu ketika pasti akan kubalas"
"Tidak perlu kau balas, bantuan yang kuberikan bukanlah sengaja kulakukan, aku hanya turun tangan karena tidak senang melihat tingkah laku mereka.."
Gadis yang mengaku bernama istri yang ditinggalkan itu segera mengerutkan sepasang alisnya, ia merasa sikap maupun ucapan pihak lawan begitu dingin dan ketus hingga bikin hati orang gemetar keras, terutama sekali raut wajahnya yang penyakitan itu, andaikata pihak lawan bukan tuan penolong yang telah menyelamatkan jiwanya mungkin sedari permulaan ia sudah berlalu dari situ.
Setelah tertegun beberapa saat, ia berkata kembali.
"Gadis yang berada dalam boponganmu itu adalah..."
"Dia senasib dengan dirimu hanya gadis ini jatuh ditangan pihak lawan yang berbeda."
Selesai berbicara tanpa menunggu jawaban lagi ia putar badan dan berlalu dari situ dalam sekejap mata bayangan tubuhnya lenyap dari pandangan mata.
Memandang bayangan punggungnya yang menjauh diam2 gadis Istri yang ditinggalkan menjulurkan lidahnya bukan saja malaikat penyakitan memiliki sikap yang dingin menggidikan bahkan tenaga dalam yang dimiliki benar2 telah mencapai puncak kesempurnaan.
Kiranya gadis yang mengaku sebagai Istri yang ditinggalkan bukan lain adalah Tonghong Hwie yang sudah ganti rupa dengan wajah aslinya, mimpipun gadis ini tak pernah menduga kalau malaikat penyakitan yang barusan berdiri dihadapannya bukan lain adalah engkoh Kie nya yang dikira sudih mati itu...
Tentu saja Han Siong Kie juga tak pernah menduga kalau istri yang ditinggalkan itu bukan lain adalah adik angkatnya Tonghong Hwie yang selalu dikuatirkan keselamatannya.
Tanpa saling mengenal satu sama lainnya ternyata sesudah berjumpa mereka saling berpisah kembali.
Dengan tenaga dalam yang dimilikinya sekarang boleh dibilang Han Siong Kie pada saat ini jauh berbeda dengan keadaan dahulu, hingga dalam suara pembicaraanpun mengalami sedikit perubahan, bila tidak tentu saja Tonghong Hwie segera akan menaruh curiga.
Sebaliknya Tonghong Hwie ketika muncul dalam bentuk pengemis cilik, sengaja ia memyerakkan nada suaranya didalam ber-cakap2, dan sekarang ia bicara dengan suara sebenarnya, tentu saja hal ini membuat kedua belah pihak sama2 menganggap asing pihak lawan..
Sementara itu dalam sekejap mata Han Siong Kie telah menempuh jarak sejauh lima puluh li lebih, akhirnya sampailah dia disebuah kota besar dan menginap disebuah rumah penginapan yang memakai merek "Gwat-lay", kepada sang pelayan ia berpesan untuk carikan seorang tabib.
Beberapa saat kemudian pelayan muncul kembali sambil membawa seorang kakek tua, begitu melangkah masuk kepintu dengan pandangan tajam ia awasi wajah Han Siong Kie beberapa kejap.
lalu serunya dengan suara terkejut.
"Aduuuh... siangkong, sungguh tidak enteng penyakit yang kau derita.. bila tidak cepat diobati tentu jiwamu terancam..."
Han Siong Kie tersenyum dan gelengkan kepalanya.
"silahkan sianseng masuk kedalam, yang sedang sakit bukan aku melainkan adalah.."
"Oooh. bukan siangkong yang sakit? bila pandangan mataku belum melamur, aku lihat air muka siangkong rada sedikit kurang beres.."
"Siangseng tak usah kuatir, sejak kecil wajahku sudah demikian keadaannya..."
"oooh.. kalau begitu yang sakit adalah...."
"Istri dari siangkong ini"
Seru sang pelayan dengan cepat. Han song Kie jadi menyengir kuda, dalam keadaan begini, tentu saja ia tak leluasa untuk membantah, terpaksa jawabannya.
"Harap sianseng suka periksa keadaan sakitnya."
Tabib tua itu mendekati pembaringan dan memeriksa denyutan nadinya, setelah termenung beberapa saat ia segera menggeleng.
"Sakit yang diderita istri siangkong disebabkan oleh perjalanan jauh yang terlalu melelahkan, baiklah aku akan beri obat pelemas otot."
Setelah makan beberapa kali, sakitnya pasti akan sembuh dengan sendirinya...
" -oood0wooo-BAB 22 HAN SIONG KIE jadi tertegun dan menyengir kuda, ia tahu penyakit semacam ini hanya bisa disembuhkan oleh orang Bulim saja, dengan andalkan kepandaian kaum Tabib semacam ini tak mungkin penyakitan itu bisa disembuhkan, lama setelah mengiakan dan menerima resep ia beri lima tahil perak untuk tabib itu. Menunggu sang tabib telah berlalu, dengan kesal ia robek resep obat tadi lalu berjalan mondar mandir dalam kamar dengan kepala pusing tujuh keliling. Go Siauw Bie masih tetap berada dalam keadaan tidak sadar, selembar wajahnya berubah jadi semu merah dan mengerikan sekali. Dalam pikirannya sedang kalut dan tak tahu apa yang musti dilakukan, mendadak dari luar halaman berkumandang datang suara ketukan nyaring disusul teriakan keras.
"Kami ahli dalam mengobati segala penyakit aneh, bila tidak manjur kalian tak usah bayar mari2 siapa yang sedang menderita penyakit aneh cobalah undang kami... penyakit segera akan sembuh seperti sediakala."
Han Siong Kie jadi amat tertarik mendengar teriakan itu, ia segera mengintip.
tampak seorang nenek tua beserta seorang gadis berusia delapan sembilan belas tahunan sambil membawa kain panjang yang bertuliskan Ahli penyakit menyaingi Hua Tuo kepandaian sakti tiada tandingan dijagad sedang berjalan melewati penginapan itu.
"Sungguh tekebur ucapan nenek itu "
Pikir Han Siong Kie didalam hati "Baiklah akan kujajal kepandaiannya siapa tahu."
Berpikir demikian ia berteriak keras.
"Eeeei.. nenek silahkan mampir sebentar kemari??"
Nenek tua itu alihkan sorot matanya yang tajam mengawasi wajah Han Siong Kie sekejap kemudtan sapanya.
"Apakah kek koan yang memanggil aku?"
"Benar"
Diluar menjawab dalam hati pemuda itu tercekat hatinya sebab dari sorot mata yang tajam dari nenek itu jelas ia merupakan seorang jago lihay yang memiliki tenaga dalam yang amat sempurna.
Setelah nenek tua itu masuk kekamar dan ambil tempat duduk gadis berwajah hitam itu menggulung kain panjangnya dan diletakkan diujung kamar lalu mengundurkan diri dari situ.
"Apakah Kek koan yang merasa kurang enak badan??"
Tegur nenek tua itu setelah suasana hening beberapa saat lama nya.
"Buu... bukan bukan"
"Lalu siapa yang menderita sakit??"
"Adik perempuanku"
"sekarang adikmu berada dimana??"
"Diatas pembaringan"
Han Siong Kie mendekati pembaringan dan segera menyingkap kelambu yang menutupi tempat itu.
Nenek tua itu berjalan mendekati sisi tubuh Go siau Bi, setelah memeriksa beberapa saat lamanya, tiba2 dengan suara terkesiap ia berseru.
"Aaah, adik perempuanmu ini sudah terkena bubuk Jit bisan yang merupakan bubuk tercabul dikolong langit"
Han Siong Kie jadi amat terkejut, serunya dengan nada tercengang.
"Bubuk cabul Jit bie san??" -"Sedikitpun tidak salah"
"Apa yang dimaksudkan dengan bubuk Jit bi-san?"
"Barang siapa yang terkena bubuk tersebut dan didalam tujuh jam belum memperoleh pengobatan, maka sekalipun ada dewa yang turun dari kahyangan puncak akan dapat menyelamatkan jiwanya "
Han Siong Kie bergidik, bulu romanya pada bangun berdiri sebentar keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Terdengar nenek tua itu berkata lebih jauh.
"Adik perempuanmu sudah terkena racun keji tersebut kurang lebih lima jam lamanya, bila paras mukanya telah berubah jadi semu merah, itu berarti bahwa jiwanya tak dapat tertolong lagi"
"Cianpwee, Engkau toh sakti dan berilmu tinggi, mohon sudi kiranya cianpwee ringan tangan dan menyembuhkan sakitnya yang parah itu, atas kesediaan cianpwee ku ucapkan banyak2 terima kasih"
Nenek tua itu gelengkan kepalanya berulang kali.
"Bukannya aku tidak bersedia memberi pertolongan, dalam kenyataan aku memang sama sekali tak berdaya untuk menyelamatkan jiwanya"
"Cianpwee engkau berhati mulia dan baik terhadap sesama umatnya, tolonglah jiwanya dan sembuhkan luka tersebut..."
Pinta sang pemuda lebib jauh dengan hati gelisah.
"Sulit... sulit... aaaii terus terang saja kukatakan sulit sekali..."
"Cianpwee, bukankah engkau telah mengatakan sendiri bahwa segala macam penyakit aneh dapat engkau sembuhkan."
"Tidak salah, tapi yang diderita saudaramu ini bukan suatu penyakit aneh, engkau harus bisa membedakan"
"Jadi...jadi sudah tak tertolong lagi?"
"Bukannya tidak tertolong lagi cuma..."
"Cuma kenapa??"
Nenek itu melototkan sepasang matanya bulat2 dengan suara dalam ujarnya.
"Sungguhkah gadis itu adikmu??"
Han Siong Kle terperangah.
"Maksud cianpwee... kalau lantas.. bukan adikku...."
"Hmm menurut pendapatku, gadis itu bukan adik perempuanmu"
Diam2 Han Siong Kie merasa amat terperanjat, ia berusaha membantah.
"Darimana engkau mengatakan demikian?"
"Paras muka adik perempuanmu itu sama sekali tidak mirip dengan paras muka kek koan"
Han Siong Kie menghembuskan napas lega, ia segera membantah..
"Aaah.. paras muka mana bisa dijadikan suatu dasar? naga beranak sembilan, toh wajahnya juga tak bisa berbeda satu sama lainnya?"
"Bukan begitu saja, aku bahkan kenal pula dengan gadis ini dan belum pernah kutemui dirimu"
"Oooh? engkau kenal dengan dirinya?"
"Tidak salah, bukankah ia bernama Go siauw Bi??"
Mendengar jawaban tersebut rasa terperanjat yang dialami Han Siong Kie tak dapat dilukiskan dengan kata2, ia tak mengira kalau nenek tua itu bisa kenal dengan gadis tersebut bahkan mengetahui pula kalau dia bernama Go siau Bi.
Terdengar nenek tua itu tertawa serak.
kemudian berkata lagi.
"Jika engkau tidak inginkan dirinya mati secara mengenaskan, sepantasnya kau jawab pertanyaanku dengan jujur, sebenarnya apa hubunganmu dengan dirinya?"
"Tiada hubungan apa2, aku hanya secara kebetulan saja menjumpai dirinya ditengah jalan, dan berhasil selamatkan jiwanya dari tangan orang2 durjana"
"Dari tangan orang bejad istana Huan-mo-kiong dari wilayah Thian lam?"
"Darimana cianpwee bisa tahu akan persoalan ini??"
"Pihak istana Huan mo kiong telah mengutus para jago lihaynya untuk masuk kedaratan Tionggan guna mencari gadis2 perawan yang akan diambil sari perawannya bagi Thian lam Te kun melatih ilmu si hun toa-hoan, peristiwa ini telah menggemparkan seluruh daratan Tionggoan dan banyak gadis telah jatuh korban, tentu saja aku mengetahui akan hal itu, disamping itu bubuk Jit bi san merupakan obat cabul yang sering kali dipergunakan oleh kaum durjana dari Thian lam pay, bukankah itu berarti bukti sudah tertera didepan mata??"
Han Siong Kie merasakan darah panas mendidih dalam dadanya, ia berseru dengan lantang.
"Apakah dari daratan Tionggoan tidak ada seorang pendekarpun yang munculkan diri guna mencegah terjadinya peristiwa2 biadab itu.?"
"Tak bisa dikatakan tak ada, tapi pihak lawan mungkin telah menyelesaikan tugasnya dan kembali kesarang mereka sekarang kita tak usah membicarakan soal itu lebih dahulu, yang penting adalah menolong orang lebih dahulu, aku nenek tua tidak percaya kalau engkau katakan bahwa kalian sama sekali tak ada hubungan apa2, dan pertolongan itu kau berikan secara kebetulan" -oood0wooo-
Jilid 11 DENGAN perasaan apa boleh buat Han Siong Kie berkata.
"Beberapa waktu berselang aku pernah mendapat budi kebaikan dari nona Go karena itu...."
"Karena itu engkau hendak membalas budi kebaikannya itu, kalau tidak tak nanti sikapmu begitu gelisah bercampur cemas"
Dengan mulut membungkam Han Siong Ki mengangguk diam2 ia merasa kagum atas ketajaman mata nenek tua ini serta kecermatannya untuk menilai keadaan.
"Kek koan apakah engkau dengan tulus ikhlas hendak menyelamatkan jiwanya?"
Terdengar nenek tua itu bertanya kembali.
"Tentu saja"
""Engkau sudah menikah belum?"
"Tentang soal itu... bertunanganpun belum masa sudah menikah apa maksud cianpwee mengajukan pertanyaan itu?"
"Tentu saja aku punya alasan2 tertentu untuk mengajukkan pertanyaan2 tersebut, engkau sudah punya kekasih atau belum?"
"Cianpwee, terus terang saja kukatakan terhadap orang perempuan ehmm sebetulnya saja aku tak tertarik, bahkan boleh dibilang mendekati kata benci"
Sebetulnya pemuda itu mau mengatakan perasaan batinya itu dengan kata2 yang jauh lebih tajam, tetapi secara tiba2 ia teringat bahwa pihak lawan juga merupakan seorang perempuan karena itu terpaksa ia harus memperlunak perkataannya.
"Ooooh jadi kalau begitu engkau belum punya istri maupun kekasih??"
Sela sang nenek menegaskan. Han Siong Kie mengangguk tanda membenarkan.
"Waahh kalau begitu persoalan ini gampang sekali diselesaikan"
"Gampang diselesaikan?? apa maksudmu?? "
Tanya sang pemuda keheranan.
"Bukankah engkau hendak membalas budi kebaikannya itu??"
"sedikitpun tak salah, aku memang ada maksud untuk menyelamatkan jiwanya"
"Bagus, kamu memang baik hati tapi untuk menyelamatkan selembar jiwanya apakah engkau bersedia mengorbankan segala sesuatunya??"
"Mengorbankan segala sesuatu??"
"Benar "
"Pengorbanan dalam bentuk apa??"
"Menjadi suami istri dengan dirinya."
Sekujur badan Han Siong Kie gemetar keras, ia mundur tiga langkah kebelakang dengan tindakan lebar se-akan2 pemuda itu tak percaya dengan pendengarannya sendiri.
"Cianpwee apa... apa yang kau katakan?"
Serunya dergan hati terkesiap.
"Menjadi suami istri dengan dirinya pada saat ini juga"
Tegasnya dalam satu jam ini.
"Kee... kee... kenapa ha... harus begitu??"
"Untuk menyelamatkan jiwanya "
"Aku sama sekali tidak mengerti akan perkataanmu itu."
"Barang siapa terkena racun Jit bin san kecuali berbuat begitu tiada obat lain yang dapat menyelamatkan jiwanya apakah engkau bersedia menolong jiwanya?"
Bagaikan disengat kala sekujur badan Han Siong Ki gemetar keras badannya merinding dan bulu kuduknya pada bangun berdiri.
"Aku... aku... tak. tak mungkin akan melakukbn perbuatan yang tolol itu!"
"Kalau begitu maafkanlah daku, aku tak bisa membantu dirimu untuk menyelamatkan jiwanya lagi "
Kata sang nenek dengan dingin "mulai sekarang bersiap21ah untuk mengatur soal memakamkan jenasahnya"
Habis berkata ia bangkit berdiri dan siap berlalu, Keringat dingin sebesar kacang hijau mengucur keluar tiada hentinya membasahi tubuhnya yang gemetar pemuda itu tak sudi menikah dengan gadis tersebut tapi ia adalah tuan penolong yang pernah menyelamatkan jiwanya ia tak tega gadis itu mati dalam keadaan mengenaskan.
"Cianpwe tunggu sebentar ...kau..kau.. jangan pergi dulu!"
Akhirnya pemuda itu berseru.
"Jadi engkau telah menyanggupi?"
"Selain melakukan perbuatan tersebut, apakah ada cara lain yang bisa digunakan untuk menolong jiwanya? aku bersedia untuk mengorbankan segala apapun!"
"Ada!"
Han Siong Kie amat kegirangan, buru2 dia barseru .
"Bagaimanakah caranya?"
"Kalau engkau merasa tega hati, sekarang juga carilah seorang pria lain yang memiliki tenaga dalam sebesar seratus tahun latihan untuk menggantikan kedudukanmu !"
Han Siong Kie terbungkam dalam seribu bahasa, bicara menurut perasaan hati kecilnya dan jiwa sebagai seorang pendekar.
ia merasa keberatan untuk berbuat demikian.
disamping itu dalam waktu singkat dia harus pergi kemana untuk mencari seseorang yang memiliki tenaga dalam sebesar seratus tahun tenaga latihan?
bersediakah orang ini untuk melakukan perbuatan semacam itu?
Dalam pada itu paras muka Go Siau Bie dari semu merah telah berubah jadi kehitam2an, napasnya mulai memburu dan agak tersengkal.
Dengan suara dalam nenek tua itu berkata kembali.
"Bagaimanakah keputusanmu aku harap engkau segera menetapkan, mungkin tidak sampai satu jam kemudian ia bakal mati secara mengenaskan, aku tahu diantara kalian memang tak ada dasar cinta, peristiwa ini mungkin dilakukan terlalu ter-gesa2, tapi engkau musti ingat bahwa tindakan ini dilakukan untuk menyelamatkan jiwanya, untuk membalas budi kebaikan yang pernah kau hutang darinya, disamping itu dia toh putri dari ketua perkumpulan pat gi pang, paras mukanya tidak termasuk jelek, apakah engkau merasa bahwa gadis itu tak pantas jadi bini mu?"
Han Siong Kie merasakan hatinya amat sakit bagaikan di tusuk oleh pisau yang amat tajam, mimpipun ia tak menyangka bakal terjadi peristiwa semacam ini...
Untuk menyanggupi permintaan tersebut?
hati kecilnya merasa tak bersedia, untuk menampik, ia merasa kasihan melihat tuan penolongnya sebentar lagi harus mati secara mengenaskan.
Sementara ia masih bingung dan tak tahu apa yang musti dilakukan, untuk kesekian kalinya nenek tua itu mendesak kembali.
"Waktu telah mendesak sekali, apakah engkau telah mengambil keputusan?"
Han Siong Ki putar otaknya keras2, ia memandang sekejap kearah wajah Go siau Bi yang telah berubah jadi merah menghitam akhirnya timbullah kasihan, ia ambil keputusan untuk berkorban demi keselamatan gadis tersebut.
"Baiklah"
Ia berseru sambil mengangguk.
Secepat kilat nenek itu merogoh sakunya dan ambil keluar sebuah botol porselen kecil, dari botol itu ia tuangkan tiga butir plt berwarna hijau dan dimasukan kedalam mulut Go siau Bi kemudian jari tangannya menari serta melepaskan delapan belas totokan kilat, semua totokan dilakukan dengan kecepatan yang sukar diikuti dengan pandangan dan ketetapan yang mengagumkan.
Selesai melakukan kesemuanya itu dengan muka serius pesannya kepada sianak muda itu.
"Ingatlah baik2, saat inilah kesempatan yang paling baik bagimu untuk membalas budi kebaikan yang pernah kau peroleh dari dirinya dan mulai hari ini engkau tak boleh melakukan perbuatan2 yang menyakitkan hatinya lagi sebab ia sudah menjadi istrimu, jika engkau tidak melaksanakan kesemuanya itu maka akulah yang menanggung semua dosa dan kesalahan ini"
"Cianpwee bolehkah aku tahu siapa namamu?"
"Tentang soal ini"
Nenek tua itu ragu sejenak "aku she Ong orang2 persilatan menyebut diriku nenek ong engkau boleh memanggil aku dengan sebutan itu saja"
Han Siong Kie mengambil setahil perak dan diangsurkan kedepan katanya dengan halus.
"Cianpwee jumlah yang sangat kecil ini harap diterima sebagai biaya pengobatan"
"Haaahhh...haaahhh... haaahhh tidak usah pengobatan yang kulakukan saat ini akan kuanggap sebagai batuan sukarela"
Seru sang nenek sambil tertawa nyaring "semoga kalian berdua hidup rukun dan damai hingga akhir hayat nanti, selamat tinggal dan jangan lupa kalau waktu sudah tak banyak lagi."
Habis bicara dia ambil gulungan kain di ujung ruangan dan berlalu dari ruangan tersebut.
Diluar pintu kamar seorang gadis baju hitam telah menanti kedatangannya, ia melihat kemunculan nenek tua itu, dengan suara setengah berbisik segera tanyanya.
"Ibu, apakah semua urusan telah beres ??"
"Hmm beres..."
"Perbuatanmu ini apakah tidak terlalu..."
"Nak, terpaksa aku harus berbuat demikian, aku kuatir jika sampai terjadi hal yang tak kuinginkan itu."
"Tapi apakah mereka bisa bahagia??"
"Aku rasa bisa"
Suara itu kian lama kian lirih akhirnya lenyap dari pendengaran.
Han Siong Kie sebagai seorang pemuda yang memiliki tenaga dalam sebesar dua ratus tahun latihan memiliki ketajaman mata dan pendengaran melebihi siapapun, kendati bisikan yang dilakukan ibu dan anak diluar pintu itu dilakukan dengan suara lirih namun semua pembicaraan berhasil didengar dengan amat jelas, sekujur badannya kontan gemetar keras.
Tiba2 satu ingatan berkelebat dalam benaknya, ia merasa amat kenal sekali dengan suara itu, bukankah suara itu adalah suara dari "Yo sim jim"
Orang yang ada maksud beserta ibunya "su hun jin"
Orang yang kehilangan sukma??
mengapa mereka berdua harus mengatur kesemuanya ini...??
Ia berkelebat kearah pintu dan mengejar keluar, namun bayangan orang yang kehilangan sukma berdua telah lenyap tak berbekas.
Dengan perasaan bimbang bercampur curiga akhirnya sianak muda itu harus balik kembali kedalam kamar.
"Apakah aku harus melakukan perbuatan seperti apa yang dianjurkan oleh orang yang kehilangan sukma??"
Ingatan tersebut berulang kali berkecamuk dalam benaknya.
Butiran keringat sebesar kacang kedelai mengucur keluar tiada hentinya, pelbagai pikiran yang saling bertentangan berkecamuk dalam seluruh benaknya.
Ketika sorot matanya berpapasan dengan wajah Go siau Bi yang berbaring diatas pembaringan, hampir saja pemuda itu bersorak kegirangan, ia temukan paras muka yang berwarna merah semu ke hitam-hitaman itu sudah lenyap tidak berbekas, hal ini membuktikan bahwa tiga butir obat yang diberikan orang yang kehilangan sukma telah menunjukkan reaksinya.
Dengan hati berdebar keras ia duduk di samping pembaringan sambil menantikan perubahan selanjutnya, pemuda itu ambil keputusan untuk menunda pelaksanaan "
Niat"
Nya tersebut sambil menunggu perkembangan lain.
Pelbagai ingatan berkecamuk dalam benaknya, ia mulai berpikir apa sebabnya orang yang kehilangan sukma membohongi dirinya serta mengatur siasat agar dia kawini Go siau Bi??
Suatu persoalan yang rumit dan diliputi oleh suatu tanda tanya besar...
Mengapa orang yang ada maksud mengatakan.
"... Untuk menjaga segala kemungkinan.."
Kemungkinan apakah yang bakal terjadi?
Diam2 pemuda itu bersyukur karena ia belum mengawini gadis itu secara gegabah, kalau tidak entah bagaimanakah akibatnya?.
Seperminum teh kemudian, Go siau Bi mulai menggerakkan tubuhnya dan membuka sepasang matanya kembali.
"Nona Go, akhirnya engkau sembuh juga."
Seru Han Siong Kie tanpa sadar.
Per-tama2 Go siau Bi temukan dirinya di atas pembaringan, ketika ia berpaling kesamping maka ditemuilah seorang pemuda asing yang berwajah penyakitan duduk dihadapannya tanpa terasa ia menjerit lengking dan loncat bangun dari atas pambaringan dengan rasa terkesiap curiga bercampur tak habis mengerti, ia tatap pemuda dihadapannya itu tanpa berkedip.
"Kau.. kau.. siapakah kau?"
"Malaikat penyakitan"
"Apa? malaikat penyakit? "dengan hati terkesiap Go Siau Bi mundur satu langkah kebelakang.
"Sedikitpun tidak salah."
"Lalu... lalu dimanakah kita berada saat ini?"
"Rumah penginapan"
Sekujur badan Go siau Bi gemetar keras suatu perasaan halus seorang gadis dara itu tanpa sadar memeriksa pakaian yang dikenakan olehnya sewaktu menyaksikan pakaian bagaian dadanya telah terbuka, pandangan matanya jadi gelap dan hampir saja ia roboh tak sadarkan diri Rasa malu dan gusar berkecamuk jadi satu dalam dadanya, tiba2 ia membentak keras.
"Bajingan keparat, aku akan beradu jiwa dengan dirimu"
Han Siong Kie terperangah.
"Blaammm"
Sebuah pukulan yang amat keras bersarang diatas bahu pemuda itu dan "Blaamm"
Kembali pukulan lain menghajar dadanya.
Dalam keadaan tertegun bercampur kaget sianak muda itu sama sekali lupa untuk mengerahkan tenaga guna melawan hajaran2 yang dilontarkan keatas tubuhnya itu tanpa dapat dikuasai ia terdorong mundur sejauh tiga langkah kebelakang.
sementara itu, ketika Go siau Bi melihat pihak lawan sama sekali tidak melakukan pembelaan terhadap serangannya, ia jadi terperangah dan hentikan serangannya setelah membereskan pakaiannya bagian dadanya yang terbuka, ia tatap wajah lawannya tajam2 kemudian sambil menuding kemuka teriaknya keras.
"Malaikat penyakit, aku bersumpah tak akan hidup berdampingan dengan dirimu"
Butiran air mata jatuh berlinang membasahi pipinya, ia mengira kesucian tubuhnya telah ternoda ditangan lawan.
Han Siong Kie sendiri sebetulnya hendak melepaskan topeng kulit manusia yang dikenakan olehnya, tapi setelah berpikir sebentar ia segera batalkan niatnya itu sebab "orang yang ada maksud"
Pernah berpesan kepadanya bahwa manusia berwajah dingin sudah mati.. Sambil tertawa getir ujarnya.
"Nona Go, duduklah dahulu dan mari kita perlahan berbicara persoalan ini"
"Apa? darimana engkau bisa tahu kalau aku she Go?"
"Nona, pikirlah kembali.. apa yang kau alami setengah hari berselang?"
Rasa sangsi dan bingung terlintas diatas wajah Go siau Bi, ia dapat merasakan bahwa Malaikat penyakit yang berada dihadapannya tidak mirip seorang pemuda yang bermoral bejad, maka setelah mendengar perkataan itu, dara tersebut mulai duduk tenang dan mengingat kembali kejadian yang telah dialaminya beberapa waktu berselang.
Ia masih ingat ketika dirinya dikejar kejar oleh seorang kakek baju hijau dan seorang busu baju hijau, setelah tertawan tiba2 hidungnya mencium bau harum yang sangat aneh dan kesadarannya seketika lenyap tak berbekas.
Gadis ini mulai berpikir kenapa ia berada ditempat ini dan dari mana pula pemuda berwajah penyakitan itu bisa tahu kalau dia she Go?
Dalam pada itu dara tersebut sudah merasa yakin bahwa tubuh bagian bawahnya tidak menunjukan gejala kelainan atau rasa sakit, bahkan gaun yang dia kenakan masih utuh sama sekali ini membuat hatinya agak lega.
Dari perubahan wajah Go Siau Bi sianak muda itupun sudah tahu bahwa dara tadi mulai mengenang kembali peristiwa yang telah menimpa dirinya ia lantas berkata.
"Ketika aku sedang melakukan perjalanan kutemui nona sedang diculik oleh para durjana dari istana Huan mo kiong karena itu ... ."
"ooooh jadi siangkong yang telah menyelamatkan diriku?"
"Benar, aku kasihan melihat nona menderita ditangan lawan maka aku telah menyelamatkan dirimu"
"Waah... kalau begitu akulah yang telah salah menuduh diri siangkong dengan pikiran yang bukan2, bila aku telah melakukan kekerasan kepadamu harap siangkong bersedia memberi maaf"
Habis berkata ia memberi hormat. Dengan cepat Han Siong Kie menyingkir ke samping.
"Nona tak usah banyak adat"
Serunya.
Pemuda itupun segera menceritakan bagaimana ia telah membawa gadis itu kesitu untuk mencari pengobatan tentu saja ia telah merahasiakan persoalan tentang permintaan dari orang yang kehilangan sukma untuk mengawini gadis itu.
Selesai mendengarkan kisah tersebut Go siau Bi merasa amat berterima kasih sekali, kembali ia memberi hormat sambil berkata.
"Budi kebaikan siangkong suatu ketika pasti akan kubalas terimalah penghormatanku ini"
"Tak usah kau lakukan kesemuanya itu"
Buru2 Han song Ki goyangkan tangannya berula kali "anggaplah kesemuanya ini sebagai takdir dan justru karena peristiwa ini juga akupun bisa membalas kebaikan budi yang pernah kau lepaskan beberapa waktu yang lalu"
Go siau Bi terperangah, ia membelalakkan matanya lebar2 dan berseru dengan hati tercengang.
"Siangkong, apa... apa yang kau ucapkan?"
Han Siong Kie merasa bahwa ia telah salah berbicara, buru2 serunya kembali.
"Nona, apakah engkau kenal dengan manusia berwajah dingin Han Siong Kie?"
Pucat pasi selembar wajah Go siau Bi mendengar nama itu, tubuhnya mundur dengan sempoyongan, jawabnya dengan sedih .
"Kenal, tapi dia.... dia telah mengalami nasib yang jelek dan meninggal dunia"
Han Siong Ki merasa tak habis mengerti, ia tak tahu kenapa Go Siau Bi begitu terpukul hatinya mendengar ucapan tersebut karena pandangan yang sempit dia merasakan anti perempuan yang berkecamuk dalam dadanya membuat pemuda itu tak mampu meresapi perasaan antara pria dan wanita.
Dengan nada dingin katanya.
"Benar, nasibnya memang jelek dan kematian yang menimpa dirinya hampir boleh dibilang sama sekali diluar dugaan siapapun" -000d0w000-BAB 23
"SIANGKONG apa hubunganmu dengan dirinya?"
Tanya dara itu.
"Saudara sehidup semati"
"Oooh.. jadi dia... dia.. adalah saudara angkatmu?"
Han Siong Kie mengangguk dingin, ujarnya kembali.
"Sudah lama berselang ketika ia dihantam oleh musuhnya hingga tercebur kedalam sungai, aku dengar jiwanya ditolong oleh seorang nona atas peristiwa itu saudaraku selalu mengingat dan mengenangnya dan sering kali membicarakan dengan diriku, sekarang ia telah mati maka sudah sepantasnya kalau akulah yang membayar budi pertolongan yang kau lepaskan kepadanya"
Dengan sedih Go siau Bi menghela napas panjang.
"Aaai.. siangkong keliru besar, aku melepaskan budi bukannya mengharapkan pembalasan, lagipula aku bisa menolong jiwamu hal itu hanya terjadi karena kebetulan, karenanya tak dapat dikatakan sebagai budi atau hutang, justru hari ini akulah yang telah berhutang budi terhadap diri siangkong.."
"Oooh... Bukannya aku bermaksud begitu, sahabat karibku itu paling mengutamakan membedakan mana budi mana dendam, sedang aku.."
Belum habis ia berkata, tiba2 dari halaman luar berkumandang datang suara gelak tertawa yang amat keras dan menggetarkan seluruh angkasa, diikuti seseorang dengan suara yang berat berteriak.
"Malaikat penyakit, ayoh keluar untuk berbicara"
Sekujur badan Han Siong Kie bergetar keras, segera pikirnya didalam hati.
"Kurang ajar manusia darimanakah yang telah mengejar diriku sampai kesinii?"
Go siau Bi pun kelihatan agak tercekat hatinya, ia segera berseru.
"Siangkong, ada orang menantang dirimu"
Han sioag Kie mengangguk dan sebera melangkah keluar dari ruangan..Ditengah halaman ia temukan seorang imam berjubah abu2 yang mempunyai perawakan badan setinggi delapan depa berdiri sambil melotot gusar kearahnya, sepasang matanya melotot bagaikan biji gundu, tampangnya bengis dan menyeramkan.
sianak muda itu jadi keheranan, pikirnya.
"Heran aku sama sekali tak kenal dengan hidung kerbau ini, kenapa ia datang mencari gara2 dengan aku??"
Dalam pada itu imam tersebut dengan suara yang keras bagaikan geledek telah berseru kembali.
"Apakah engkau adalah Malaikat penyakit yang baru saja munculkan diri di dalam dunia persilatan??"
"Tidak salah, tolong tanya siapakah diri totiang??"
"Aku adalah Malaikat raksasa Leng Bengcu dari partai Khong-tong."
"Bolehkah aku tahu ada urusan apa totiang datang mencari diriku??"
"Aku harap engkau bersedia menuju ke pantai sungai kurang lebih lima li diluar kota"
Han Siong Kie tercengang bercampur tidak habis mengerti, ia tak tahu apa sebabnya partai Khong-tong mengutus jago lihaynya untuk mencari gara2 dengan dirinya.
"Apakah aku boleh tahu ada urusan apa kau mencari aku?"
Tegurnya dengan suara dingin-Malaikat raksasa Leng Beng cu tertawa seram.
"Heehh..heehh..heeehh.... sampai waktunya engkau akan tahu sendiri, sekarang maafkanlah kalau terpaksa pintu akan jalan lebih dahulu."
Tanpa banyak bicara ia putar badan dan berlalu dari situ, diatas lantai bekas tempat yang dilalui olehnya tersisalah bekas2 telapak kaki sedalam satu cun.
Han Siong Kie tertawa dingin, sekarang ia telah menduga babwa pihak lawan datang untuk mencari balas, hanya ia tak habis mengerti darimana munculnya dendam tersebut.
"Kini luka yang diderita Go siau Bi telah sembuh, aku memang sudah sepantasnya untuk menerus kan perjalanan"
Pikirnya dihati. Tapi sebelum ia berangkat tinggalkan tempat itu, dari arah belakang telah berkumandang suara teguran dari Go Siau Bi.
"Siangkong, apa yang telah terjadi?"
"Ooh tak apa2, hanya suatu perjanjian yang harus segera kupenuhi"
"Menurut penglihatanku, imam tersebut mengandung suatu maksud yang tidak benar, lebih baik tak usah kau gubris"
Han Siong Kie tertawa tawa.
"Aku rasa kejadian ini hanya suatu kesalah pahaman belaka, nona maafkan daku, sekarang aku ada urusan penting yang harus segera diselesaikan, selamat tinggal nona dan sampai jumpa kembali lain waktu"
Bicara sampai disitu ia segera memanggil pelayan dan membereskan rekening kamarnya.
Go Siau Bi seperti mau mengucapkan sesuatu, wajahnya sedih sekali namun tak sepatah katapun yang meluncur keluar, setelah tertegun beberapa saat akhirnya dia berkata.
"Siangkong, benarkah engkau adalah saudara sehidup semati dengan Han Siong Kie?"
"Sedikitpun tidak salah"
"Tentunya siangkong mengetahui juga bukan asal usulnya?"
"Tentu soal ini kenapa sih nona menanyakan persoalan itu?"
Air mata mengembang dalam kelopak mata Go siau Bi dengan sedih jawabnya lirih.
"Terus terang kukatakan siangkong aku telah serahkan hatiku kepadanya"
Bagaikan disambar petir disiang hari bolong Han Siong Kie merasa amat terperanjat sekali untuk beberapa saat lamanya ia terpaku dan berdiri ter-mangu2
"Sedari kapan bibit cinta itu mulai bersemi apakah sejak ia beristirahat selama tiga hari dikamar tidurnya itu? Nona engkau telah serahkan hatimu kepadanya?"
Pemuda itu berseru tertahan-"Benar sejak aku selamatkan jiwanya dari dalam sungai dan merawat dirinya selama tiga hari dikamar tidurku, aku telah bersembahyang didepan meja abu ayahku dan menyerahkan hatiku padanya."
Han Siong Ki merasakan jantungnya berdebar keras, persoalan ini betul2 merupakan suatu persoalan yang memusingkan kepalanya, diam2 ia bersyukur karena ia telah berubah wajahnya danpihak lawanpun sudah menyaksikan sendiri liang kubur yang digunakan untuk mengubur jenasahnya, kalau tidak pemuda itu tak dapat membayangkan sampai dimanakah kesulitan yang bakal dia alami Andaikata gadis yang mengutarakan isi hatinya adalah gadis lain, mungkin pemuda itu hanya tersenyum belaka tapi pihak lawan pernah melepaskan budi kebaikan kepadanya urusan jadi tambah rumit.
Dengan suara dalam segera ujarnya.
"Sungguh tak beruntung, ia sudah mati"
"Benar. Ia telah mati, tapi aku telah serahkan seluruh jiwa ragaku kepadanya, karena itu aku hendak mengorbankan seluruh kehidupanku untuk berbakti kepada keluarganya"
Air mata yang mengembang dalam kelopak mata, akhirnya menetes juga membasahi pipinya.
Han Siong Kie terharu dan badannya gemetar keras, dia paling benci kepada kaum wanita tapi perasaan cinta yang begitu suci dan murni yang diutarakan gadis itu telah mencair dihatinya, hampir saja ia hendak lepaskan topeng kulit manusia yang dikenakan diwajahnya, tapi setelah berpikir sebentar akhirnya ia batalkan niatnya itu.
Dengan nada suara setenang mungkin dia berkata.
"Cinta suci yang nona perlihatkan benar2 mengagumkan, sukma yang ada didalam baka pasti akan tersenyum setelah mengetahui akan hal ini.. sayang rasa cinta nona yang begini murninya aku tak dapat disalurkan sesuai dengan apa yang nona harapkan"
"Kenapa?"
"Sebab dia tak punya rumah dan tak punya keluarga, dikolong langit hanya hidup sebatang kara"
Go siau Bi tak dapat menahan rasa sedihnya lagi, ia menangis terisak. ujarnya.
"oooh aku tak menyangka kalau asal usulnya begitu menyedihkan dan patut dikasihani, sekarang akupun hidup sebatang kara, ibuku telah lama meninggal, ayahku juga mati ditangan orang sampai2.. impianku yang terakhirpun ikut lenyap dan musnah"
Han Siong Kie merasakan tenggorokannya tersumbat dan seakan-akan hendak menangis, ia berharap segera tinggalkan gadis itu karena ia takut terlalu lama berdiam, ia takut ia tak dapat menahan pergolakan perasaan dalam hati kecilnya, disamping itu diapun berharap cepat2 membuka tabir rahasia yang menyelimuti tantangan dari pihak Khong tong pay itu..
Dengan cepat ia alihkan pembicaraan kesoal lain dan berkata.
"Nona Go, tahukah engkau bahwa Han Siong Kie mempunyai sesuatu rahasia hati yang amat besar?"
"Rahasia apa?"
"sepanjang hidupnya dia paling.. paling.. benci berhubungan dengan kaum wanita, atau bicara dengan kata yang lebih tak sedap didengar, ia paling benci dengan kaum wanita"
"Kenapa? "
Tanya Go siau Bi terperangah.
"Mungkin ia pernah menderita sesuatu macam pukulan batin yang hebat, dan pukulan batin yang amat parah itu datangnya dari kaum wanita, bagaimanakah duduk persoalan yang sebenarnya aku tak begitu jelas, tapi aku menguasahi penuh akan wataknya ini"
"Sungguhkah hal ini?"
"Aku tidak akan membohongi diri nona"
Mau tak mau Go siau Bi harus mempercayai perkataan itu, ia masih ingat dengan jelas sikap dan nada ucapan Han Siong Kie sewaktu meninggalkan pesanggrahan Teng to siau cu tempo hari, semuanya menunjukkan sikap yang begitu dingin hingga menggidikkan hati.
Ia sebera mengangguk dan menjawab.
"Mungkin apa yang kau ucapkan memang benar2 merupakan kenyataan, tapi sekarang dia telah mati, rasa cintaku kepadanya-pun hanya selalu kusimpan dalam hati, aku tak pernah menunjukkan perasaanku itu di hadapannya, mungkin disinilah letak keberuntunganku, hingga tak usah dipandang dan dihadapi dengan sikap dingin"
"Ucapan nona sangat mengharukan hatiku, semoga engkau bisa baik2 jaga diri selamat berpisah"
"Budi kebaikan siangkong tak akan kulupakan untuk selamanya"
"Nona terlalu serius"
Ditengah pembicaraan tersebut tubuhnya dengan cepat telah berlalu dari rumah penginapan itu.
Setelah keluar dari rumah penginapan dengan cepat Han Siong Kie berangkat menuju ketepi sungai kurang lebih lima lie dari kota, perasaan hatinya kalut dan bingung, cinta suci dari Go siau Bi telah mengharukan perasaan hatinya, dan rasa bencinya terhadap kaum wanita tanpa terasa per-lahan2 jauh lebih menipis.
Beberapa saat kemudian, ia telah berada ditepi sungai, dari tempat kejauhan ia lihat ada tujuh orang telah menanti kedatangannya ditepi sungai yang berpasir, ketujuh orang itu berdandan sebagai imam semua, salah satu diantaranya bukan lain adalah malaikat raksasa Leng Beng cu.
Tujuh pasang mata yang tajam menyambut kedatangannya, dibalik cahaya yang tajam itu terpancarlah rasa benci, dendam yang amat tebal.
Dengan suatu gerakan yang manis Han Siong Kie melayang turun dihadapan ketujuh orang itu dan berhenti kurang lebih dua tombak dihadapannya.
seorang imam tua berambut ke perak2an yang berdiri dipaling depan segera buka suara dan menegur.
"Apakah sicu yang disebut orang sebagai malaikat penyakitan?"
"Sedikitpun tidak salah"
Jawab sang pemuda sambil mengangguk.
"Pintu adalah Kui Goan cu dari partai Khong tong, kami dengar orang berkata bahwa sicu adalah ahli waris dari Mo tiong ci mo. iblis diantara iblis, apakah berita ini benar?"
Han Siong Kie merasa amat terperanjat, ia tak menyangka kalau berita tersebut begitu cepat sudah tersiar dalam dunia persilatan-Ketika terjadi pertarungan sengit melawan pengawal istana Huan mo kiong,jurus serangan yang dipergunakan olehnya berhasil diketahui asal usulnya oleh pihak lawan, dan sungguh tak nyana baru satu hari setengah telah muncul musuh2 tangguh yang mencari gara2 dengan dirinya.
Ia sendiripun tak tahu sebelum gurunya Mo tiong ci mo mengasingkan diri, perselisihan apa saja yang pernah dilakukan olehnya dengan orang persilatan, tapi setelah ia menerima pelajaran ilmu silat darinya itu berarti diapun harus bertanggung jawab pula atas resiko yang harus dihadapi.
Setelah berpikir sebentar dengan suara ketus dia segera menjawab.
"Sedikltpun tidak salah, aku memang ahli waris dari dia orang tua"
Paras muka ketujuh orang imam itu berubah hebat, rasa benci dan dendam yang menghiasi wajah merekapun semakin menebal.
Kui Goan cu dengan sorot mata memancarkan cahaya kilat berseru dengan paras serius.
"Kalau memang begitu pinto akan mengajukan satu pertanyaan lagi, pinto harap siau sicu bersedia menjawab pertanyaanku dengan sejujurnya"
"Ajukanlah pertanyaanmu itu"
"Apakah gurumu masih hidup dikolong langit?"
"Masih ada apa?"
"Sekarang ia berada dimana?"
"Harap tootiang terangkan dahulu maksud kedatangan kalian"
"Tak ada gunanya kami terangkan padamu, asal engkau bersedia mengatakan dimanakah gurumu berdiam maka pinto tanggung kami tak akan menyusahkan dirimu"
"Seandainya aku tidak bersedia menjawab apa yang hendak kau lakukan?"
Ejek Han Siong Kie ketus.
Paras muka ketujuh orang imam itu kembali berubah hebat, ditengah perasaan benci yang teriintas diatas wajah mereka hawa amarah mulai berkobar membakar hati mereka.
Dengan suara beratpenuh kemarahan Kui Goan cusegera menjawab.
"siau sicu, kami tak akan membiarkan engkau bertindak sesuka hatimu, kalau engkau tidak bersedia menjawab maka ia berarti engkau sudah bosan hidup dikolong langit"
"Aaah belum tentu kalian mampu mengapa-apakan aku"
Ejek Han Siong Ki sambil mendengus sinis. Malaikat raksasa Leng Beng cu yang berdiri dibelakang imam tua itu kontan berteriak dengan suara yang keras bagaikan guntur membelah bumi.
"Belum tentu?. Huuh akan kusuruh engkau rasakan kelihayan kami.."
Sambil berseru ia segera menerjang maju kedepan sambil melepaskan satu pukulan. Kun Goan cu yang berada disampingnya segera menghadang jalan pergi rekannya itu sambil berseru.
"Jangan terburu napsu."
Kemudian kepada Han Siong Kie ia menambahkan.
"siau sicu, aku anjurkan kepadamu lebih baik jawablah dengan sejujurnya semua perkataan yang kuajukan"
"Maaf aku tak dapat memberitahukan kepadamu"
"Jadi siau sicu tetap keras kepala dan tak mau menjawab pertanyaanku itu?"
"Apa salahnya kalau tootiang terangkan dahulu maksud kedatanganmu itu?"
"setelah kuutarakan kelUar, apakah siau sicu dapat memberi pertanggunganjawabnya?"
"Mungkin "
Tiba2 diatas paras muka Kun Goin cu yang penuh keriputan terlintas rasa sedih, yang amat tebal ujarnya dengan penuh emosi.
"Empat puluh tahun berselang gurumu telah membinasakan cin siu Toojin, ketua ke sembilan belas dari partai kami beserta tiga puluh orang anggota perguruan"
Dengan hati terperangah Han Siong Kle mundur satu langkah kebelakang, ia tak menyangka gurunya pada empat puluhan tahun berselang telah membinasakan ketua ke sembilan belas dari partai Khong tongpay beserta tiga puluh orang muridnya, ia tahu peristiwa tersebut merupakan suatu peristiwa besar yang luar biasa sekali tanpa sadar serunya.
"Benarkah telah terjadi peristiwa semacam ini?"
"Pinto tak akan sengaja mengarang cerita bohong untuk mencari gara2, setiap umat persilatan dikolong langit mengetahui akan kejadian ini"
"Apakah tootiang tahu apa sebabnya hingga terjadi peristiwa berdarah itu?"
"Dahulu suhumu gemar membunuh manusia, ia membunuh orang bagaikan membabat rumput, apa sebabnya dia melakukan peristiwa yang biadab itu mungkin hanya dia seorang yang tahu"
"Jadi maksud tootiang engkau hendak mencari guruku untuk menuntut balas atas peristiwa berdarah itu?"
"Bu liang siu hud peristiwa berdarah ini sudah dipeti es kan selama empat puluhan tahun lebih, tentu saja sekarang harus diselesaikan sebagaimana mestinya"
Tentu saja Han Siong Ki tidak akan mengerti apa sebabnya gurunya Mo-tiong ci-mo, membunuh cing siu toojin beserta ketiga puluh lima orang anggota perguruannya pada masa silam tapi pada saat ini tentu saja ia tak bersedia menerangkan dimanakah gurunya sebab masa hidupnya masih tinggal sepuluh hari bahkan seluruh tenaga dalam yang dimilikinya telah diberikan padanya membuat kakek itu jadi loyo dan sama sekali tak bertenaga.
Pemuda itu merasa dia sebagai ahli warisnya sudah menjadi kewajiban untuk menyelesaikan setiap persoalan yang diwariskan gurunya pada dia.
Maka dengan suara lantang ia bertanya.
"Jadi maksud tootiang bagaimana caranya hendak menyelesaikan persoalan ini?"
"Apakah siau sicu dapat mengambil keputusan mengenai masalah tadi?"
"Aku akan menyelesaikan semua tanggung jawab dengan segala kemampuan yang kumiliki"
"Haaahh.... Haaahhh... haaahhh bocah cilik, engkau benarbenar tak tahu diri"
Seru Kui Goan cu sambil tettawa seram "lebih baik katakan saja dimana gurumu berdiam, pinto akan pergi mencari dirinya dan menyelesaikan sendiri persoalan ini dengan dirinya"
"Maaf, aku tak dapat memenuhi keinginanmu"
"Bocah keparat yang tak tahu tingginya langit tebalnya bumi, lebih baik tutup bacot anjingmu itu dan tak usah berlagak sok di tempat ini...."
Bentak Malaikat rakrasa Leng Beng-cu dengan penuh kegusaran.
Sambil membentak keras ia maju kedepan, telapak tangannya yang lebar bagaikan kipas segera diayUn kedepan mencengkeram tubuh Han Siong Kie, serangan ini bUkan saja dilancarkan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat, bahkan disertai pula tenaga pukulan yang maha dahsyat.
Dengan cekatan Han Siong Kle berkelit ke samping, tegurnya dengan suara ketus.
"Aku anjurkan lebih baik persoalan ini diterangkan dahulu sampai selesai sebelum main kekerasan"
Tatkala menyaksikan cengkeramannya mengenai sasaran yang kosong, malaikat raksasa Leng Beng cu semakin naik pitam, dengan gusar bentaknya .
"Tutup bacot anjingmu, tooya akan beri pelajaran lebih dahulU kepadamU sebelum pembicaraan diteruskan"
Sepasang telapak dilancarkan berbareng, segulUng hembusan angin pUyuh segera menggulUng kemUka bagaikan amukan ombak yang menghajar tepian pantai, kedahsyatannya benar2 sesuai dengan julukannya sebagai malaikat raksasa.
Diam2 Han Siong Kle terkesiap juga menghadapi serangan dahsyat itu, buru2 dia ayun telapak kanannya dan melancarkan satu pukulan dengan tenaga sebesar tujuh bagian.
"Blaamm..
ditengah getaran keras yang menggelegar diangkasa, pasir dan batu beterbangan memenuhi di angkasa, malaikat raksasa mundur delapan langkah kebelakang dengan sempoyongan.
Paras muka semua imam yang bordiri di tepi gelanggang sama2 berubah hebat, rasa bergidik timbul dalam hati mereka semua, mereka tak menyangka kalau sebuah pukulan lawan yang dilakukan dengan tangan sebelah berhasil memukul mundur Leng Beng cu yang tersohor akan kekuatan alamnya itu, peristiwa ini benar2 mengejutkan.
Buru2 Kui Goan cu maju ke depan dan berkata dengan suara dalam.
"Siau sicu, tenaga dalam yang engkau miliki benar2 luar biasa sekali, tapi peristiwa berdarah ini sudah sepantasnya kalau diselesaikan sendiri oleh gurumu.."
Sementara itu Han Siong Kle telah mengambil keputusan dalam hatinya untuk menangani persoalan itu, dengan suara dingin menyeramkan ia segera menjawab.
"Maaf, sudah kukatakan tadi bahwa persoalan ini tak bisa kupenuhi"
Air muka Kui Goan cu berubah hebat, per-lahan2 ia mundur tiga langkah kebelakang.
Sekali lagi malaikat raksasa Leng Beng cu membentak keras kemudian bagaikan banteng terluka menerjang kedepan.
Han Siong Kle berdiri tegak bagaikan sebuah bukit karang, sepasang telapaknya berputar satu lingkaran dengan suatu gerakan yang sangat aneh, kemudian melepaskan satu pukulan mendorong balik tubuh malaikat raksasa, inilah gerakan bertahan yang tercantum dalam ilmu pukulan Mo mo ciang hoat, kesaktiannya luar biasa dengan perubahan yang sukar diikuti dengan kata2, meskipun hanya suatu gerakan yang sangat gampang namun tubuh lawan seketika terpental kebelakang.
Dalam hati kecilnya kendatipun Leng Beng-cu merasa amat terperanjat, namun ia tak sudi menelan kekalahan tersebut dengan begitu saja, setelah mundur, ia maju kembali kedepan, telapaknya yang besar bagaikan raksasa dengan menciptakan bayangan telapak bagaikan bukit segera melepaskan pukulan balasan, kedahsyatannya sukar dilukiskan dengan kata2.
Han Siong Kie memutar telapaknya dengan kencang, badannya tetap tegak bagaikan bukit Thay san, kendatipun Leng Beng cu telah melepaskan serangkaian pukulan yang mematikan, namun tetap gagal untuk menembusi pertahanan lawan, ini mengakibatkan ia jadi penasaran dan membentak keras tiada hentinya.
Lima orang imam yang berdiri dibelakang Kui Goan cu rupanya sudan kehabisan sabar, sambil membentak mereka segera terjunkan diripula kedalam gelanggang pertarungan.
Dalam sekejap mata hawa pukulan menderu2, bayangan telapak berkelebat memenuhi angkasa bagaikan bukit.
Enam sosok bayangan manusia saling melepaskan pukulan berantai secara kalap dan menggila, mereka berusaha merobohkan musuhnya secepat mungkin..
Han Siong Kie sendiri makin bertempur ia merasa semakin mantap hatinya, dengan jurus pertahanan yang tercantum dalam angin pukulan Mo mo ciang hoat, kendatipun keempat orang imam tersebut berusaha melontarkan jurus serangannya dari sudut yang manapun, usaha mereka selalu mengalami kegagalan total.
Kadangkala mereka berhasil menemukan titik kelemahan yang dalam pikiran mereka pasti akan menghasilkan suatu pukulan yang mantap.
tetapi setelah pukulan dilontarkan ternyata dengan suatu gerakan yang sangat enteng dan seperti tak disengaja pukulan tersebut tertangkis kembali, hal ini membuat ketujuh orang jago lihay daripartai Khong-tong jadi kelabakan setengah mati.
suatu ketika Han Siong Kie berseru lantang.
"Totiang, ketahuilah bahwa kesabaran orang ada batas2nya, apakah engkau hendak paksa aku untuk melukai orang??"
Serangan yang dilancarkan ketujuh orang imam itu semakin membabi buta, ibaratnya hujan badai mereka hamburkan semua pukulan yang rasanya dapat mendatangkan hasil untuk meneter dan mendesak lawan.
Diam2 Kiu Goan cu mengerutkan dahinya, ia telah menyadari bahwa ilmu silat yang dimiliki ahli waris dari Mo tiang ci mo ini sudah berhasil mencapai kesempurnaan bagaikan gurunya, jika pertarungan itu dilanjutkan, maka akhirnya toh pihak merekalah yang akan mengalami kerugian besar, karena itu setelah termenung sebentar dia segera berseru.
"Kalian semua segera mundur"
Keringat sebesar kacang kedelai telah mengucur keluar membasahi seluruh tubuh tujuh orang imam itu.
napas mereka tersengkal2 bagaikan kerbau, mendengar perintah itu dengan cepat mereka tarik kembali serangannya dan mengundurkan diri kebelakang.
Dengan paras muka amat serius Kui Goan cu maju beberapa langkah kedepan, ujarnya.
"Siau sicu apakah engkau tetap keras kepala dan tidak bersedia mengatakan tempat tinggal gurumu?"
"Sudah beberapa kali toh kuterangkan, permintaan kalian itu tak mungkn bisa kupenuhi"
"Kalau memang begitu, terpaksa pinto harus berbuat kasar kepada dirimu..."
"Silahkan"
Kiu Goan cu mengibaskan sepasang ujung bajunya, angin pukulan yang tajam bagaikan gunting segera menghantam tubuh Han Siong Kie.
Ku Goan cu adalah pemimpin dari Khong-tong sam tiang lo, tenaga dalam yang dimilikinya amat sempurna bisa dapat dibayangkan kedahsyatannya serangan yang dilancarkan olehnya ini.
Han Siong Kie scndiri diam2 merasa kagum juga melihat sikap imam tua yang tetap menjaga kesopanan kendatipun ia telah berhadapan muka dengan ahli waris musuh besarnya, Pemuda itu tak mau melukai orang sebelum mengetahui jelas duduk perkara yang sebenarnya.
Ketika menyaksikan datangnya guntingan angin pukulan yang tajam dengan cekatan tubuhnya berkelebat delapan langkah kesamping guna meloloskan diri, serunya dengan suara dalam.
Baca Juga: Dendam Iblis Seribu Wajah 10
Baca Juga: Legenda Bulan Sabit 3