Ceritasilat Novel Online

Tengkorak Maut 4

Eps 4 Tengkorak Maut - Khu Lung Tjan Id

Baca online Tengkorak Maut - Khu Lung Tjan Id

Cersil Tengkorak Maut - Khu Lung Tjan Id.

"Tootiang, apakah engkau bersedia mendengarkan penjelasanku??"

"Katakanlah "

Ujar Kui Goan cu sambil menarik kembali serangannya.

"Aku sama sekali tidak mengerti dengan duduk persoalan yang mendasari terjadinya peristtwa berdarah itu, sementara tootiang sendiripun tidak bersedia menerangkan, hal ini membuat urusannya jadi makin kabur dan membingungkan hati..."

Malaikat raksasa Leng Beng cu yang berada disamping segera menyela dengan gusar.

"Mo tiong ci mo membunuh manusia bagaikan membabat rumput, masih ada perkataan apa lagi yang harus diucapkan?"

Dengan sorot mata berkilat Han Siong Kie segera berpaling kearah Leng Bengcu, katanya.

"Jadi menurut maksudmu, apa yang harus dilakukan?"

Leng Beng cu merasa amat terperanjat, ia ngeri sekali melihat sorot mata la wan yang begitu tajam, bulu kuduknya tanpa terasa pada bangun berdiri Kui Goan cu segera maju kedepan dan balik bertanya.

"Lalu apa pula maksud siau sicu? apa yang hendak kau lakukan untuk menyelesaikan persoalan ini?"

"Dewasa ini aku masih ada urusan penting yang harus diselesaikan lebih dahulu, aku tak ada kesempatan untuk menemani kalian lebib jauh, sepuluh hari kemudian setelah berhasil mengetahui jelas duduk persoalan ini, setiap saat kunantikan petunjuk dari kalian dalam dunia persilatan, cara bagaimana kalau tootiang yang menentukan waktu dan tempat untuk menyelesaikan persoalan ini?"

Sebelum Kui Goan cu sempat menjawab Leng Beng cu berseru lebih dahulu.

"Hmm engkau anggap bisa lolos dari sini dangan alasan begitu gampang??"

Han Siong Kie mengejek sinis.

"Kalau aku mau pergi siapa yang mampu menghalangi kepergianku?"

"Cobalah untuk kabur dari sini"

Han Siong Kie tak lagi menunda waktu terlalu lama lagi, karena dia harus segera melaksanakan perintah gurunya untuk adu kekuatan dengan pemilik Benteng Maut.selain itu sebelum duduk perkara dibikin jelas ia tak tahu tindakan apa yang harus dilakukan olehnya, maka ujarnya kemudian dengan dingin.

"Perkataanku sudah kuutarakan cukup jelas, setiap saat kunantikan petunjuk dari kalian maaf"

Tubuhnya meluncur kedepan dengan gerakan tubuh cahaya kilat lintasan bayangan, didalam sekejap mata tubuhnya sudah berada sejauh sepuluh tombak dari tempat semula kemudian dalam beberapa enjotan tubuhnya telah lenyap diujung jalan.

Tujuh orang jago lihay dari partai Khong tong itu hanya bisa berdiri saling berpandangan, mereka tahu bahwa gerakan tubuh pemuda itu terlalu cepat sehingga tak mungkin bagi mereka untuk menyusulnya.

Dalam pada itu Han Siong Kie sendiri sambil melakukan perjalanan cepat otaknya berputar terus tiada hentinya.

Ia berusaha menemukan alasan yang kuat untuk menerangkan apa sebabnya partai Khong tong beserta ketiga puluh lima orang muridnya dibunuh habis oleh gurunya dimasa silam??.

Ditinjau dari pembicaraan tersebut, sedikit banyak pemuda itu dapat merasa bahwa gurunya gemar sekali membunuh manusia atau dengan perkata an lain musuh besarnya tersebar luas di seluruh kolong langit.

Sekarang asal usulnya telah diketahui orang, berarti pula setiap langkahnya kemungkinan besar mengundang banyak kesulitan bagi dirinya.

Tiga hari kemudian tatkala fajar baru menyingsing ia telah berada kurang lebih seratus li dari benteng maut ditepi pantai, dibalik pepohonan bambu berdirilah sebuah bangunan mungil, tanpa terasa Han Siong Kie menghentikan langkahnya disitulah letak pesanggrahan Teng to siau cu tempat tinggal Go siau Bi, ia tak akan melupakan tempat itu, sebab ketika tubuhnya dihajar oleh pemilik benteng maut hingga tercebur kedalam sungai ditempat itulah jiwanya tertolong.

Dengan sedih pemuda itu memandang pesanggrahan Teng to siau cu, kenangan lama terlintas lagi dalam benaknya.

Tiba2 jeritan ngeri berkumandang datang dari arah pesanggrahan Teng to siau cu diikuti jilatan api membubung tinggi ke angkasa -000d0w000-BAB 24 HAN SIONG KIE berhenti sebentar kemudian dengan satu loncatan lebar ia meluncur kearah pesanggrahan Teng to siau cu.

Dibawah jilatan api terlihatlah beberapa bayangan manusia berkelebat lewat, dari dalam pesanggrahan itu menuju keluar.

Han Siong Kie segera meluncur kemuka sambil membentak keras.

"semuanya berhenti?"

Beberapa sosok bayangan manusia itu segera menghentikan gerakan tubuh mereka, orang yang berjalan dipaling depan adalah seorang pria setengah baya yang berwajah bersih dibelakangnya mengikuti delapan orang pria baju hitam.

Tatkala kesembilan orang itu menyaksikan orang yang menghadang jalan pergi mereka adalah seorang pemuda berwajah penyakitan, suara tertawa dingin berkumandang tiada hentinya.

Pria setengah baya itu dengan nada yang sinis segera menegur.

"Keparat cilik, apa maksudmu menghadang jalan perginya kami?."

Sambil menuding kearah pesanggrahan Teng to siau cu yang sedang dimakan api Han Siong Kie menegur.

"Apakah kalian yang membunuh orang dan melepaskan api untuk membakar pesanggrahan tersebut?"

"Sedikitpun tidak salah engkau mau apa?"

Napsu membunuh terlintas diatas wajah Han Siong Kie, katanya kembali.

"Aku ingin tahu apa alasannya sehingga kalian melakukan pembunuhan dan pembakaran rumah itu?"

Setelah tertawa seram tiada hentinya pria setengah baya itu menjawab dengan nada menghina.

"Bocah keparat, rupanya engkau sengaja mencari gara2 dengan kami, tahukah engkau siapakah toayamu"

"Sebutkan siapa nama mu?"

"Heehh... heeehhh... heeehhh keparat aku hendak menerangkan lebih dahulu setelah toaya menyebutkan namanya itu berarti saat kematian bagimu sudah tiba, kami berasal dari perkumpulan Thian che kau"

"Apa? perkumpulan Thian che kau??"

"Sedikitpun tidak salah, engkau takut?"

Han Siong Kie terbayang kembali pemandangan sewaktu ia hampir menemui ajalnya ditangan orang perkumpulan Thian che-kau, napsu membunuh yang amat tebal segera berkelebat diatas wajahnya, dengan suara menyeramkan ia berkata.

"Engkau tak usah menyebutkan namamu lagi, sebab dengan dasar kaki tangan perkumpulan Thian che-kau sudah lebih dari cukup bagiku untuk melimpahkan sesuatu kepada kalian"

"Melimpahkan apa?"

"Kematian"

"Haahh..haahhhahh.. keparat cilik, benar engkau pentang bacot bicara yang bukan2, ketahuilah justru karena ucapanmu yang tidak keruan, kematian akan tiba lebiih cepat atas dirimu"

"Perlahan2 Han Siong Kie maju tiga langkah kedepan, sepatah demi sepatah ujarnya dengan dingin.

"Membunuh orang membakar rumah, tujuannya untuk membabat rumput seakar2nya, sayang orang yang kalian cari tak berada di sini, bukankah begitu???"

Paras muka pria berusia pertengahan itu berubah sangat hebat.

"Keparat cilik, apa hubunganmu dengan budak sialan dari perkumpulan pat gi pang tersebut??"

Tegurnya.

"Hmm tentang soal ini lebih baik engkau tak usah tahu"

Delapan orang pria baju hitam itu mendengus dingin, salah satu dlantaranya dengan gusar berkata.

"Hiangcu, lebih baik kita musnahkan saja bangoat ini, buat apa kita banyak bicara lagi ...."

Dengan sorot mata yang tajam bagaikan sambaran kilat Han Siong Kie menyapu sekejap kearah pria baju hitam iltu, membuat pria tersebutjadi bergidik dan bulu romanya pada bangun berdiri, sebelum ucapan nya diutarakan hingga selesai, ia telah menelan kembali katanya.

Pria setengah baya yang dipanggil sebagai Hiang cu itu mendengus dingin, nafsu membunuh yang amat tebal menyelimuti seluruh wajah nya, dengan nada seram ia berseru.

"Bajingan cilik, dengarkanlah baik2, toa-yamu adalah Hiang cu bagian urusan luar dari perkumpulan Thian che kau yang disebut Lauseng dengan begitu setelah mampus engkau tak akan jadi setan kebingungan"

Han Siong Ki mendesis penuh penghinaan.

"Huuh bagus sekali Lau Seng engkaupun harus ingat baik2 namaku orang menyebut diriku sebagai malaikat penyakitan"

"Apa? malaikat penyakitan? "

"Sedikitpun tidak salah"

Tiba2 dari balik hutan bambu tidak jauh dari gelanggang berkumandang datang suara seruan yang amat merdu.

"Lao hiangcu, kalian cepat mengundurkan diri dari situ dia.. dia adalah..."

Sembilan orang jago lihay dari perkumpulan Thian che kau itu nampak terperangah dan tak tahu apa yang musti dilakukan.

Han Siong Ki melirik sekejap kearah hutan bambu itu, kemudian sambil berpaling kearah Lau Seng ujarnya.

"Lao hiangcu, aku melihat kamu bersembilan lebih baik bereskan nyawa kalian sendiri daripada aku musti repot2"

"Lao hiangcu,"

Suara merdu tadi kembali berkumandang datang.

"dia adalah ahli waris dari Mo tiong ci mo iblis diantara iblis"

Begitu mendengar akan sebutan Mo tiong ci-mo paras muka sembilam orang yang ada dalam gelanggang berubah hebat, keringat dingin mengucur keluar membasahi seluruh badan, Mereka tak menyangka kalau pemuda ingusan yang menyebut diri bernama malaikat penyakitan itu ternyata bukan lain adalah ahli waris dari Mo-tiong ci mo seorang tokoh sakti yang angkat nama ber-sama2 pemilik benteng maut.

Bersama dengan berakhirnya suara peringatan tadi tampaklah sesosok bayangan tubuh manusia yang berbadan ramping melarikan diri dari balik hutam bambu.

Sembilan orang jago lihay dari perkumpulan Thian che kau itu saling bertukar pandangan sekejap sebelum sempat kabur, Han siong Ki mendengus dingin dan berseru.

"Lao seng engkau saja yang musti mampus lebih dahulu"

Telapak tangan terayun, segulung desiran angin tajam laksana kilat meluncur kedepan.

Jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang memecahkan kesunyian, sebelum ingatan kedua sempat berkelebat lewat dalam benak Lau seng, dadanya sudah berlubang dan selembar jiwanya melayang tinggal kan raga kasarnya.

Delapan orang pria baju kitam lainnya jadi ketakutan setengah mati, mereka rasakan sukma serasa melayang tinggalkan raganya, tanpa banyak bicara orang2 itu putar badan dan kabur ter birit2.

Napsu membunuh telah membakar hati Han Siong Kie, tentu saja ia tak akan membiarkan musuh2nya melarikan diri dengan begitu saja, badannya meluncur kedepan dan laksana kilat berputar membentuk setengah lingkaran busur.

Delapan orang pria baju hitam itu merasakan pandangan matanya jadi kabur dan tahu2 segulung deruan angin pukulan yang maha dahsyat menghantam datang, memaksa tubuh mereka tergulung kembali ketempat semula.

"Disinilah mayat2 kalian akan dikuburkan"

Serentetan suara teguran yang dingin bagaikan es bergema diangkasa.

Meyusul ucapan tersebut, gulungan angin puyuh yang maha dahsyat bagaikan ambruknya sebuah bukit segera menindih tubuh kedelapan orang pria baju hitam itu.

Jeritan2 ngeri yang mendirikan bulu roma bergema saling susul menyusul, darah segar berhamburan membasahi seluruh lantai, delapan sosok mayat roboh bergelimpangan diatas tanah.

Han Siong Kie menghembus kan napas lega, sorot mata nya dialihkan kearah pesanggrahan Tang to siau cu, meskipun api telah padam namun bangunan tersebut sudah tinggal puing yang berserakan, ia segera menghela napas panjang dan berpikir.

"Kecepatan gerak tubuh Go siau Bi jauh ketinggalan jika dibandingkan dengan kecepatan gerakku, mungkin ia masih belum kembali kesini.."

Setelah berdiri termangu beberapa saat, akhirnya dia gantung kesembilan sosok mayat itu diatas bambu, kemudian dengan darah ia menulis beberapa huruf diatas sebuah batu besar, tulisan itu berbunyi demikian.

"Membunuh orang melepaskan api adalah perbuatan dosa yang tak dapat diampuni, kaki tangan Thian chee kau sampai habis. Tertanda. malaikat penyakitan"

Tujuannya meninggalkan tulisan itu adalah berharap andaikata Go siau Bi telah kembali kesitu, maka ia dapat membaca peringatan yang ditinggalkan kepadanya itu sehingga kewaspadaannya dipertingkatkan dan tidak sampai terjatuh ketangan orang2 perkumpulan Thian che kau.

Sejak Go siau Bi gagal membalas dendam diwilayah Lian huan tau dan nyaris dibunuh kalau bukan tertolong oleh orang yang ada maksud "

Tentu saja orang2 dari perkumpulan Thian che kau tak akan melepaskan dirinya dengan begitu saja.

Han Siong Kie menyapu sekejap seluruh gelanggang, sebelum ia tinggalkan tempat itu, mendadak anak muda itu menemukan sesosok bayangan manusia muncul pada jarak kurang lebih delapan depa dibelakang tubuhnya, ia sangat terperanjat dan secepat kilat ia putar tubuh kearah belakang.

Kurang lebih satu tombak dihadapannya berdirilah seorang sastrawan berusia setengah baya yang mengenakan jubah berwarna abu2.

orang itu bisa mendekati tubuhnya hingga jarak satu tombak tanpa diketahui jejaknya, dari sini bisa diketahui betapa dahsyat dan sempurnanya tenaga dalam yang dimiliki orang itu.

"Siapakah engkau??"

Tegur Han Siong Kie dengan perasaan hati amat terperanjat. Bukannya menjawab, sastrawan berusia setengah baya itu malahan balik bertanya.

"Apakah engkau adalah malaikat penyakitan yang belum lama munculkan diri didalam dunia persilatan??"

"Sedikitpun tak salah "

"Benarkah engkau ahli waris dari Mo-tiong ci mo iblis diantara iblis??"

"Saudara ada urus an apa menanyakan soal ini??"

"Sejak kapan Mo tiong ci-mo menerima engkau sebagai ahli waris nya??"

"Apakah engkau tak merasa bahwa pertanyaan yang kau ajukan itu keterlaluan??"

"Ehmm guru harimau murid pasti harimau, watak keras kepalamu tak jauh berbeda dengan watak gurumu, apakah ia berada dalam keadaan baik2??"

Han Siong Kie tak segera menjawab, diam-diam pikirnya didalam hati.

"Guruku sudah empat puluh tahun lama nya mengasingkan diri didalam gua bawah tanah dan tersohor pada lima puluh tahun berselang, sedangkan engkau sipelajar rudin paling2 baru berusia empat puluh tahunan, huuh.. buat apa pura2 berlagak kenal? sungguh suatu lelucon yang menggelikan sekali."

Dengan suara dingin ia segera bertanya.

"Apakah engkau kenal dengan guruku?"

"Haahh... haahh..haahh. sedikit banyak kami masih mempunyai sedikit hubungan"

Sahut sastrawin setengah baya itu sambil tertawa ter-bahak2.

"Tolong tanya tahun ini engkau telah berusia berapa tahun?"

"Ooooh tentang soal itu lebih baik tak usah kau tanya kan, gurumu akan memberitahukan sendiri kepadamu"

Han Siong Kie segera tertawa dingin.

"Saudara, apakah engkau masih ada perkataan lain ang hendak diutarakan keluar? maaf aku takpunya waktu senggang"

"Waktu seng gang? haahh..haahh..haah... bocah, engkau dapat bercakap cakap dengan aku, itu berarti bahwa engkau punya rejeki yang amat besar"

"Siapakah sebenarnya dirimu??"

"Engkau tak akan tahu siapakah diriku sebab pengalamanmu masih terlalu cetek eeei .. sampai dimanakah kesempurnaanmu mempelajari ilmu telapak Mo mo ciang hoat."

Diam2 Han Siong Kie merasa keheranan, mungkinkah sastrawan setengah baya itu punya hubungan dengan gurunya dimasa lampau?

tapi hal ini rasanya tak mungkin bisa terjadi, kalau ditinjau dari wajah nya maka paling tinggi ia berumur empat puluh tahunan, sewaktu gurunya mengasingkan diri mungkin ia baru dilahirkan dikolong langit, jangan2 orang ini sedang mempermainkan dirinya??"

Dengan nada gusar bercampur mendongkol sianak muda itu berseru kembali.

"Sebenarnya apakah tujuanmu yang sebenarnya??"

"Jawab dulu pertanyaan2 yang kuajukan dengan sejujurnya ...."

"Jika aku menolak untuk memberijawaban, engkau mau apa??"

"Gurumu sendiri tidak akan berani bicara selancang dan sekasar itu, berani benar engkau bersikap kurang ajar kepadaku"

Hawa amarah berkobar dalam benak Han Siong Kie, dengan suara ketus ia berseru kembali.

"Oooh... jadi engkau memang ada maksud untuk menghina dan mempermainkan guruku?"

"Tak dapat dikatakan menghina"

"Kalau begitu selamat tinggal"

Pemuda itu enjotkan badannya dan melayang sejauh sepuluh tombak dari tempat semula, mendadak pandangan matanya jadi kabur dan sastrawan berusia pertengahan itu sudah berdiri kurang lebih satu tombak dihadapan muka nya.

Han Siong Kie jadi terkejut bercamput terkesiap.

ia mulai menyadari bahwa ilmu silat yang dimiliki pihak lawan jauh lebih tinggi dari kepandaian sendiri.

Kendatipun begitu, sebagai seorang pemuda yang berwatak angkuh dan tinggi hati, sekalipun hati merasa kaget akan tetapi di luaran ia tetap bersikap angkuh.

"Hmm saudara, sebenarnya apa maksudmu?"

Tegurnya sambil mendengus dingin.

"Aku ingin berbicara tentang sesuatu dengan dirimu"

"Maaf, aku tak punya waktu senggang"

"Sekalipun engkau tak punya waktu senggang, pembicaraan tetap harus dilangsungkan, jika aku tidak mengijinkan engkau pergi maka sekalipun engkau bisa terbang juga tak akan dapat lolos dari sini"

Hawa amarah berkobar makin memuncak dalam benak Han Siong Kie, bentaknya keras2

"Aku tak sudi mendengarkan peringatanmu."

Sekali lagi dia enjotkan badandan meluncur kedepan.

Tapi baru saja tubuhnya mencapai setengah jalan, se-akan tubuhnya menumbuk diatas sebuah dinding baja, yang tak berwujud, badannya terpental kembali keatas tanah.

"Aku toh sudah bilang bahwa engkau tak nanti bisa lolos dari sini, bagaimana??"

Ejek sastrawan setengah baya itu.

Han Siong Kie merasa makin terperanjat, kobaran api amarah yang berkecamuk dalam benaknya sukar dikendalikan lagi, sepasang telapaknya diayun kedepan dan secara beruntun dia lepaskan sembilan jurus pukulan berantai.

setiap jurus serangan yang dipergunakan adalah jurus2 pukulan aneh yang maha sakti dan maha dahsyat, mungkin dikolong langit dewasa ini jarang ada orang yang mampu menghadapi serangan berantai itu.

Si sastrawan setengah baya itu silangkan telapaknya dan dengan suatu gerakan yang sangat enteng dia punahkan ke sembilan jurus pukulan berantai yang maha dahsyat itu dengan nada tercengang serunya.

"Hey bocah, jurus serangan yang kau gunakan bukan saja mirip dengan ilmu pukulan Mo mo ciang hoat bahkan lebih mirip dengan langkah kura2 dari Leng ku siangjin"

Han song Kie tersentak kaget dan mundur tiga langkah kebelakang dengan hati terkesiap.

seratus tahun berselang Leng ku siangjin telah mati ditengah hutan belantara bahkan jenasah nya dialah yang menguburkan ketanah, dari mana sastrawan setengah baya itu bisa mengenali semua gerakan pukulanny a dengan begitu jelas?

"Akan kucoba lagi, apakab dia benar2 lihay atau tidak..."

Pikir pemuda itu dalam hati.

Tanpa mengucapkan sepatah katapun telapaknya berputar melancarkan kembali serangan serangan dahsyat.

dengan gerakan yang cepat bagaikan sukma gentayangan sastrawan setengah baya itu menyingkir kesamping kemudian katanya.

"Hei bocah sungguh tak nyana engkau telah mewarisi segenap kepandaian silat yang dia miliki, jurus Mo hwee liau -coan atau api setan membakar ladang yang kau gunakan saat ini sedikitpun tak ada bedanya dengan jurus serangan yang dilakukan oleh Mo tiong ci mo sendiri dimasa lampau tapi secara bagaimana pula engkau bisa memperoleh warisan ilmu silat dari Leng ku sangjin?"

Han Siong Kie benar2 merasa amat terperanjat, ia tak dapat menduga asal usul dari sastrawan setengah baya yang berada dihadapannya, untuk beberapa saat ia cuma bisa berdiri dengan mata terbelalak dan mulut membungkam.

Lama sekali ia baru berkata.

"Bolehkah aku mengetahui namamu?"

"Haaahhh haahhh haaahhh sudah puluhan tahun lamanya aku tak pernah menggunakan namaku lagi, baiklah kuberitahukan kepadamu, aku bernama Put lo sianseng (tuan awet muda)"

"Tuan awet muda?"

"Tidak salah, apakah gurumu tidak pernah mengungkap soal ini?"

Diam2 Han Siong Kie mengulangi kembali nama "Put li sianseng"

Itu sampai beberapa kali, berapa puluh tahun tak pernah menggunakan namanya lagi? bukankah itu berarti bahwa ia sudah berusia amat lanjut namun memiliki wajah yang awet muda.

"oooh jadi aku harus panggil locianpwce kepadamu?"

Serunya tanpa terasa.

"Hh mm panggilan itu boleh juga"

"Bolehkah aku tahu tahun ini locianpwee berusia berapa?"

"Aku? Hoohh hoohh hoohh seratus lima tahun"

"Berapa? seratus lima tahun"

"Sedikitpun tidak salah" -00d000w00-

Jilid 12 TAK kuasa lagi Han Siong Kie menghembuskan napas dingin, berita ini benar2 sukar dipercaya olehnya.

Seorang sastrawan setengah baya yang sekilas pandangan belum mencapai empat puluh tahun, ternyata adalah seorang jago persilatan yang telah berusia seratus tahun lebih.

Dengan serta merta timbul perasaan kagUm dan menghormat dalam hati kecil pemuda itu, tanpa sadar secara terus terang ia ceriterakan bagaimana dia sudah mendapatkan warisan ilmu silat diri Leng ku siangjin kemudian bagaimana berjumpa dengan Mo tiong ci mo yang telah wariskan tenaga dan kepandaian silatnya kepadanya.

Selesai mendengar kisah tersebut, Put to sianseng atau tuan awet muda menghela napas panjang, katanya.

"Aaai yaa memang kawan2 lamaku di masa lampau sebagian besar telah reyot dimakan usia aku yang tidak mati2pun sudah ingin cepat2 tinggalkan dunia ini Eaei bocah engkau memang amat hok ki secara beruntun telah mewarisi ilmu silat dari beberapa orang jago2 lihay dunia persilatan masa depanmu benar2 amat cemerlang!"

Han Siong Kie ter-sipu2 ia cuma bisa mengucapkan kata2 merendah untuk memberi tanggapan. Beberapa waktu kemudian terdengar Put-lo sianseng menegur.

"Eei bocah apakah engkau tidak menyesal mengangkat Mo tiong ci mo sebagai gurumu?"

"Menyesal? kenapa aku musti menyesal?"

"Engkau toh tahu musuh bebuyutan terdapat di mana2 seantero jagad?"

"Setelah aku bersedia menerima pelajaran yang diwariskan beliau kepadaku sudah sepantasnya kalau aku bertanggung jawab atas semua perbuatannya yang dilakukan tempo dulu sudah menjadi kewajibanku untuk menanggulangi semua resiko yang ada kenapa musti aku menyesal?"

"Bagus, anak muda! engkau memang bersemangat..!"

"Ada suatu persoalan hingga kini aku kurang tahu, apa aku boleh bertanya kepada locianpwee?"

"Coba katakan dulu apa yang ingin kau tanyakan?"

"Sewaktu guruku sering kali melakukan pembunuhan dalam dunia persilatan tempo hari apakah ia selalu membedakan mana yang lurus dan mana yang sesat?"

Put-lo sianseng termenung dan berpikir sebentar, kemudian menjawab .

"Ditinjau dari beberapa kejadian yang kuketahui, pihak korban memang sangat beralasan untuk dibunuh. tapi mecgenai soal selanjutnya aku kurang begitu tahu, sebab korban yang mati ditangannya banyak tak terhitung jumlahnya, mereka terdiri dari pibak kaum lurus maupun kaum sesat, kalau tidak kejam tak mungkin orang persilatan memberi julukan iblis diantara iblis kepadanxa.. tapi . masa ia tidak mengatakan sesuatu kepadamu?"

Han Sioog Kie menggeleng.

"Sama sekali tidak..!"

"Ooh yaa, engkau toh baru tiga hari mengingat hubungan guru dan murid dengan dia kenapa.."

"Sekarang aku sedang melaksanakan sebuah perintah dari guruku, dan tugas itu harus diselesaikan dalam waktu sepuluh hari!"

"Kenapa harus diselesaikan dalam sepuluh hari?"

"Sebab guruku dia orang tua hanya mempunyai waktu selama sepuluh hari untuk hidup di kolong langit!"

"Kerapa?"

Tanya Put-lo sianseng dengan muka berubah hebat.

"Ketika sedang melatih suatu jsnis ilmu silat, beliau mengalami musibah yakni jalan api menuju neraka yang mengakibatkan kedua belah kakinya lumpuh, setelah itu beliau pun wariskan segenap tenaga dalamnya kepadaku, maka.."

Bicara sampai disini, ia menghela napas dan membungkam. Put-lo sianseng pun menghela napas sedih.

"Aku ingin bertemu muka untuk terakhir kalinya dengan gurumu, sekarang ini berada dimana?"

Katanya. Sebenarnya Han Siong Kie hendak menjawab, tapi ingatan lain dengan cepat berkelebat dalam benaknya .

"Aku tak boleh bicara, aku masih belum tahu Put-lo sianseng adalah seorang yang dapat dipercaya atau tidak, andaikata ucapannya hanya merupakan suatu jebakan bukankah berabe? keadaan suhu pada saat ini sudah cacad, lemah dan keadaannya tak jauh berbeda dengan msnusia biasa aku harus bersikap lebih ber-hati2,"

Berpikir sampai disini diapun lantas ber kata.

"Bagaimana kalau kuhantar engkau sehabis kulaksanakan tugasku? tempat itu sukar ditemukan!"

"Oooh! engkau kuatirkan keselamatan gurumu, engkau tak percaya dengan kepribadianku? Haahh.. haahh.. haahh.. untuk mewujudkan rasa baktimu aku ingin turuti keinginanmu, tugas apa sih yang hendak kau lakukan?"

"Mencari pemilik benteng maut dan adu kepandaian dengan dirinya untuk memenuhi cita2nya ini guruku telah mengasingkan diri dan berlatih tekun selama empat puluh tahun lamanya!"

"Apa? engkau hendak adu kepandaian dengan mahluk aneh itu? gila.. sudah kau pikir masak2 tindakanmu itu?"

"Apa? mahluk aneh kau maksudkan?"

Seru Han Siong Kie dengan psrasaan agak tergerak.

"Benar dia adalah mahluk aneh dikolong langit"

"Kenapa tidak disebut saja iblis keji nomor satu dikolong langit?"

Sela sang pemuda Put to sianseng menggeleng.

"Dia cuma tabiatnya dalam kenyataan sama sekali tidak keji"

"Tindak tanduk tengkorak maut membawa dunia persilatan mendekati jurang kehancuran, setiap orang diliputi perasaan ngeri dan takut se akan2 menghadapi hari kiamat, darah membanjiri permukaan bumi mayat bergelimpangan di mana2, apakah perbuatan ini tidak termasuk perbuatan seorang iblis keji?"

"Apa? tengkorak maut??"

"Benar lambang tunggal dari pemilik benteng maut"

"Sudah puluhan tahun lamanya aku tak pernah muncul dalam dunia persilatan, kali inipun baru beberapa hari turun gunung karena itu banyak persoalan yang tidak kuketahui benarkah telah terjadi peristiwa berdarah seperti itu?"

"Betul? setiap orang persilatan tentu akan berubah muka jika membicarakan persoalan tentang tengkorak maut"

"Jadi makhluk aneh itu berani menggunakan tengkorak maut sebagai lambangnya untuk melakukan pembantaian secara menggila? "

"Benar dan beberapa waktu belakangan ini ia telah dua kali munculkan diri??"

"Tentang persoalan ini aku pasti akan lakukan penyelidikan duduknya perkara jadi jelas Nah sekarang marilah kita bicara pada pokok pembicaraan semula, apa hubunganmu dengan pemilik dari pesanggrahan Tong to siau cu ini?"

Han Siong Kie tidak langsung menjawab, ia termenung dan berpikir sebentar kemudian diambilnya keputusan untuk tidak menjawab sejujurnya ia menjawab.

"Seorang sahabat karibku yang bernama Han Siong Kie pernah menerima budi pertolongan dari Go siau Bi pemilik pesanggrahan ini, karena sahabatku telah meninggal maka aku mewakili sahabatku itu untuk membalas budi kebaikan ini"

"Ehmmm rasa setia kawanmu patut dipuji, tapi tahukah engkau apa sebabnya pihak perkumpulan Thian che kau berusaha membinasakan Go Yu Toe ketua dari perkumpulan Pat gi pang"

"Aku dengar katanya peristiwa berdarah itu berlangsung karena Go Yu Toe tak sudi menghadiri upacara ulang tahun dari ketua perkumpulan Thian cbe-kau?"

"Keliru, itu cuma alasan mereka yang sengaja di buat2"

Sahut Put to sianseng dengan cepat. Han Siong Kie terperangah mendengar jawaban tersebut.

"Lalu apa sebabnya yang utama?"

Ia bertanya. Put to sianseng menghela napas panjang lalu dengan suara berat ia bertanya.

"Peristiwa itu terjadi karena sebuah benda mustika dunia persilatan-.."

"Benda mustika dunia persilatan ? benda mustika apakah itu? aku kok belum pernah mendengar?? "

"Aaaai... benda mustika itu adalah se

Jilid kitab pusaka ilmu silat yang dinamakan Thian tok pit liok.

"ooooh... kitab pusaka Thian tok pit liok"

Ulang Han Siong Kie dengan perasaan kaget bercampur tercengang.

"Benar, engkau pernah dengar nama kitab itu??"

Han Siong Kie mengangguk.

"Sebenarnya apa saja isi kitab pusaka itu? apakab loocianpwee mengerti???"

"Selain ilmu silat yang maha sakti, terdapat pula ilmu menyaru muka yang amat sempurna"

"Ooooh kalau toh ketua perkumpulan pat gi-pang memiliki kitab pusaka selihay itu, bukankah ilmu silat yang dimilikinya sudah mencapai puncak kesempurnaan? kenapa ia bisa dibunuh oleh seorang tongcu dari perkumpulan Thian chekau? bukankah kejadian ini aneh sekali?"

"Yaa kalau kalau kitab pusaka itu benar2 dimiliki olehnya tentu saja urusan akan beres, apa lacur kitab itu justru tak pernah dimiliki olehnya"

"Lalu berdasarkan alasan apa ketua perkumpulan Thian che kau hendak merampas benda mustika itu dari tangannya? "

Kakeknya pernah memiliki kitab pusaka itu hanya saja kitab itu tak pernah diwariskan kepada keturunannya atau dengan perkataan lain ketua perkumpulan Thian che kau telah salah taksir "

Makin mendengar kisah itu Han Siong Kie merasa semakin keheranan-bukankah Put to sianseng sudah puluhan tahun lamanya tak pernah muncul dalam dunia persilatan, darimana dia bisa tahu seluk beluk duduknya persoalan ini sehingga demikian jelasnya?

Karena rasa ingin tahu dan keheranan dia pun bertanya.

"Locianpwee, darimana engkau bisa tahu duduknya persoalan ini hingga begitu jelas?"

Put lo sianseng tertawa tawa.

"Kalau dibicarakan mungkin malah membingungkan hatimu, anggap saja kejadian ini hanya suatu kebetulan saja"

Han Siong Kie membungkam setelah orang lain tak mau bicara, tentu saja diapun tak dapat bertanya lebih jauh, sambil memberi hormat segera ujarnya.

"Locianpwee, kalau engkau tak ada urusan lagi, aku hendak mohon diri lebih dahulu"

"Jadi engkau tetap akan akan berangkat kebenteng maut?"

"Benar, sampai ini hari masih tinggal waktu selama delapan hari saja, aku harus segera menyelesaikan tugasku dan kembali untuk memberi kabar kepada guruku"

"Baik, kalau begitu berangkatlah lebih dahulu memang sayang pesanggrahan Teng too siau cu terbakar oleh karena kedatanganku yang agak terlambat, tapi aku merasa amat berterima kasih kepadamu karena engkau telah mewakili aku untuk menyingkirkan badut-badut dan manusia kurcaci itu dari muka bumi... sebelum engkau berangkat kebenteng maut, aku harap engkau bersedia mendengarkan nasehatku"

"Harap loocianpwee memberi nasehat"

"Lebih baik temuilah pemilik benteng maut dengan wajah aslimu dari pada terjadi hal2 yang tak diinginkan, makhluk aneh itu benar2 seorang manusia yang sangat aneh sekali.

"Muka asli...."

Dengan hati terkesiap Han Siong Kie mundur dua langkah kebelakang.

"Benar, lepaskan topeng kulit manusia yang kau kenakan itu dan berangkatlah dengan muka aslimu"

Sekujur badan Han Siong Kie bergetar keras karena terperanjat, ia tak mengira kalau Put lo sianseng bisa mengetahui jika ia mengenakan topeng kulit manusia untuk menutupi wajah aslinya, ketajaman mata semacam ini benar2 mengerikan sekali sebab dia yang sudah bergaul selama beberapa hari dengan Mo tiong ci mo pun bisa mengelabuhi mata gurunya, tak nyana jago tua tersebut bisa menebak jitu dalam sekali pandangan-Tanpa sadar dengan perasaan tak puas ia menegur.

"Locianpwee, ketajaman matamu memang luar biasa mengagumkan, tapi bagaimana caranya engkau mengetahui .."

"Gampang sekali untuk mengetahui penyamaranmu itu, dari nada ucapanmu aku bisa tahu kalau engkau memang adalah seorang manusia yang angkuh dan ingin menang sendiri tapi wajahmu kaku dan sama sekali tak berperasaan se-akan2 orang gobiok, padahal biji matamu jeli dan lincah, dari situlah aku lantas ambil kesimpulan kalau engkau mengenakan topeng untuk menutupi wajah aslimu."

"Cianpwee memang lihay, aku merasa amat kagum "

Akhirnya pemuda itu mengakui kelihayan lawan.

Setelah memberi hormat berangkatlah pemuda itu meneruskan perjalanan.

Dua jam kemudian Benteng Maut yang penuh rahasia, seram dan mengerikan itu sudah nampak dari kejauhan.

-000d0w000-BAB 25 GULUNGAN ombak sungai kejar mengejar dan memecah ditepian batu karang yang berserakan disana sini.

Diatas Seluruh tebing batu karang yang kokoh, bertenggerlah Sebuah bangunan kuno yang antik, kokoh dan diliputi kegelapan, itulah Benteng Maut yang disegani dan ditakuti Setiap umat persilatan.

Dengan darah mendidih dan rasa dendam yang ber-kobar2 Han Siong Kie berdiri di tepi sungai memandang bangunan megah di hadapannya tanpa berkedip.

pemilik benteng itu bukan lain adalah musuh besar yang telah membantai seluruh anggota keluarganya dan ini hari ia dengan kedudukan sebagai ahli waris dari Mo tiong Ci mo datang untuk mengadakan adu kepandaian-Ia telah berjanji kepada gurunya untuk tidak membalas dendam dengan kepandaian sakti ajarannya, karena itu terhadap masalah balas dendam ia masih mempunyai pandangan yang samar ....

Sekarang ia sedang mempertimbangkan satu masalah, haruskah ia jumpai pemilik benteng maut dengan wajah asli atau wajah samaran??

Tidak akhirnya sianak muda itu mengambil keputusan, ia bertekad untuk masuk ke dalam benteng dengan wajahnya sebagai malaikat penyakitan, ia akan muncul dengan wajah aslinya jika hendak membalas dendam nanti.

orang yang kehilangan sukma pernah menganjurkan kepadanya agar menyambangi benteng maut dan menceritakan asal usulnya, tapi kenapa??

sampai sekarang ia tak dapat menjawab pertanyaan itu, dan barusan put to sianseng pun menganjurkan kepadanya agar berkunjung kebenteng itu dengan wajah aslinya, lalu kenapa ??

soal inipun ia tak dapat menjawab.

Tapi..

ia telah ambil keputusan untuk melaksanakan tugas yang dibebankan gurunya dengan muka yang palsu.

Apakah ilmu jari Tong kim ci dapat menundukkan ilmu kebal kim koan sin kang yang dimiliki lawan?

hingga kini ia tak berani meramaikan, dan apakah ilmu pukulan Mo mo ciang hoat dapat mengalahkan jurus serangan lawan, ia sendiripun tak tahu.

Pemuda itu berpikir, andaikata ia tak mampu mengalahkan pihak lawan, bagaimana caranya untuk memberi jawaban dihadapan gurunya?

Mo tiong ci-mo sudah empat puluh tahun lamanya mengasingkan diri untuk melatih diri, jika ia kalah mampukah orang tua itu menahan rasa sesal serta pukulan batin yang sangat hebat itu?

Tidak.

kekalahannya hanya bisa dikatakan sekali, keputusasaan bagi gurunya, sebab rasanya mempunyai kesempatan hidup selama sepuluh hari saja, dia akan mati dengan hati menyesal dan kecewa..

Berpikir sampai disitu, pemuda tersebut segera mengepos tenaga, rasa ingin menang dan harus menang timbul dalam benaknya, ia berusaha menguasahi golakan batinnya yang ber kobar2..

seperminum teh kemudian, per-lahan2 ia baru melangkah keatas jembatan batu, ketika tiba didepan pintu gerbang, rasa dendam, harapan dan ingin menang berkecamuk makin keras, dan kali ini bertambah pula dengan rasa ngeri seram yang amat tebal.

Put-lo sianseng selalu menyebut pemilik benteng maut bagai makhluk aneh, makhluk aneh macam apakah dia?

Tengkorak maut berwarna merah darah yang tergantung menyeringai diatas pintu gerbang membuat darah panas Han Siong Kie kembali mendidih, ia teringat kembali dengan lambang tengkorak maut yang ditinggaikan diatas dinding perkampungan Han oleh sang pembunuh selesai melakukan pembantaian.

Lambang itu menandakan kekejaman kesadisan, darah yang mengalir mayat yang bertumpuk serta pembantaian brutal..

Tiba2 satu ingatan lagi berkelebat dalam benaknya, ia teringat kembali dengan janjinya bersama malaikat dingin Mo siu Ing, jika ia berhasil menemukan kabar berita tentang malaikat panas Kosu Ki maka dia akan menangkan seluruh kitab pusaka tangan Buddha dan dapat melatih ilmu si mi sinkang yang maha sakti itu kemudian membalas dendam dan menghancurkan benteng maut.

Begitu kesengsem dengan lamunannya, hampir saja Han Siong Kie lupa kalau ia sedang berada ditempat bahaya.

Dalam pada itu dari atas daratan ditepi sungai dari tempat yang tersembunyi muncullah berpuluh2 pasang mata yang mengawasi setiap gerak gerik dari Han Siong Kie dengan pandangan tak berkedip.

sorot mata mereka memancarkan sinar kaget, heran, tercengang dan dendam..

Nun jauh dari bukit karang itu terdapat pula sepasang mata yang sedang mengintai gerak geriknya, hanya saja sorot mata orang itu penuh mengandung rasa kuatir dan penuh perhatian-Tentu saja Han Siong Kie tidak merasakan kesemuanya itu, ia tak sadar kalau gerak geriknya dibawah pengawasan orang lain.

Bagaikan sebuah patung area sianak muda itu berdiri kaku didepan pintu benteng.

seperminum teh kemudian Han Siong Kie baru tarik kembali lamunannya dan kembali dalam kenyataan..Pemuda itu segera menghimpun hawa murninya, seperti apa yang dipesan oleh Mo tiong ci mo dengan suara lantang ia bersenandung nyaring.

"Satu iblis muncul satu iblis lenyap. iblis diantara iblis bertemu dengan langit sakti"

Terhadap isi dari senandung tersebut Han Siong Kie sendiripun agak kurang paham, ia cuma menduga sebutan "langit sakti"

Kemungkinan besar adalah menggantikan nama pemilik benteng maut atau mungkin juga mempunyai maksud tertentu, namun ia tak sudi untuk putar otak memikirkan persoalan itu.

Setelah bersenandung satu kali dia ulangi untuk kedua kalinya...

tiga kali.

suara gemericingan yang amat mencekat hati bergema memekakkan kesunyian pintu benteng maut yang misterius per-lahan2 bergeser kearah samping dan muncullah sebuah lubang gelap yang dalam dan sukar ditembusi dengan pandangan mata.

Han Siong Kie merasakan jantungnya bergetar keras, ia hendak menghadapi suatu keadaan yang sukar dibayangkan dengan kata2 Meskipun tenaga dalamnya amat sempurna, wataknya angkuh dan ketus tapi sekarang musuh tangguh yang harus dihadapi olehnya adalah Tengkorak maut yang mendatangkan kengerian serta keseraman bagi umat persilatan selama puluhan tahun belakangan ini, hal tersebut membuat pemuda itu tak mampu menguasahi ketegangan, kengerian serta keseraman yang menyelimuti perasaannya.

Benteng maut dianggap sementara orang sebagai istana kematian tempat tingal malaikat elmaut dan sekarang dia hendak memasuki benteng iblis yang selama puluhan tahun tak seorang umat persilatanpun berani mendekat atau memasukinya.

Ia rasakan napasnya jadi sesak, sekujur badannya bergetar keras dan tanpa sadar bulu kuduknya pada bangun berdiri Ia segera memikirkan tujuan dari kedatangannya sekarang, ia datang untuk menantang pemilik benteng maut sedang orang yang hendak ditantangnya ini bukan lain adalah musuh besar pembunuh keluarganya.

Maka sambil membusungkan dada berjalanlah sianak muda itu memasuki pintu benteng.

Segulung angin dingin berhembus lewat dari balik lorong yang dingin membuat ia bersin dan merinding.

Diam2 pemuda itu berpikir didalam hatinya, benarkah pertarungannya kali ini adalah suatu tantangan terhadap malaikat elmaut.

Dua kali Put to sianseng memperingatkan bahwa pemilik benteng maut adalah seorang makhluk aneh, hal ini menunjukkan bahwa Put to sianseng merupakan salah seorang di antara beberapa orang yang mengetahui latar belakang mengenai pemilik benteng maut tersebut.

sebelum ia berangkat gurunya Mo tiong ci mopun pernah berpesan kepadanya.

".... engkau tak boleh melukai dirinya, pertarungan harus diakhiri bila telah saling menutul... engkau tak boleh menggunakan kesempatan ini untuk membalas dendam.."

Mungkinkah gurunya sudah merasa yakin bahwa ilmu jari Tong kim-ci nya mampu mengalahkan ilmu kim kong milik lawan?

sampai dimanakah kedahsyatan ilmu jari Tong kim ci tersebut, sewaktu berada ditengah jalan ia telah menjajalnya dan kenyataan membuktikan bahwa ilmu tersebut benar-benar merupakan suatu kepandaian ampuh yang maha dahsyat.

Tapi ingatan lain berkelebat dalam benaknya, menurut berita yang tersiar dalam dunia persilatan ilmu silat yang dimiliki pemilik benteng maut sukar dilukiskan dengan kata2, berita itu sangat mengurangi kepercayaannya pada kekuatan sendiri Empat puluh tahun bukan suatu jangka waktu yang pendek, siapa tahu kalau ilmu silat yang dimiliki pemilik benteng maut telah peroleh kemajuan yang pesat??

Lorong dibalik pintu gerbang terdiri dari lapisan batu cadas yang telah ditumbuhi lumut hijau, hawa lembab dan suasana yang gelap gulita menambah keseraman disitu.

Baru saja Han Siong Kie melangkahkan kakinya kedalam pintu benteng, serentetan suara yang tua dan seram bergema dari balik bangunan kuno tersebut..

"Hey bocah, hentikan langkahmu ?"

Han Song Kie terkesiap dan tanpa sadar hentikan langkahnya, ia dapat menangkap kalau ucapan tersebut disampaikan dengan ilmu cian li coan im atau menyampaikan suara seribu lie, suatu kepandaian ilmu menyampaikan suara tingkat tinggi.

Sementara ia masih termenung, suara itu kembali berkumandang datang.

"Bocah cilik, nyalimu benar2 amat besar berant benar menyaru sebagai Mo tiong ci mo untuk menipu diriku"

Dari perkataan itu tak dapat diragukan lagi bahwasanya orang yang barusan berbicara bukan lain adalah pemilik benteng maut pribadi.

Setelah berhasil menguasahi pergolakan hatinya, Han Siong Kie menghimpun tenaga dalamnya kedalam pusar lalu berseru lantang.

"Apakah engkau adalah pemilik benteng ini?"

"Benar ada apa?"

Han Siong Kie seketika merasakan darah panas dalam dadanya mendidih, sekarang ia baru yakin bahwa orang yang sedang diajak bicara bukan lain adalah musuh besar pembantai keluarganya.

Tapi bocah muda itu berusaha untuk menahan sabar, maksud tujuan dari kedatangannya kali ini adalah untuk menyelesaikan tugas yang dibebankan Mo tiong ci mo kepadanya.

Dengan suara dingin dan ketus ia segera menegur.

"Poocu berdasarkan apa engkau menuduh aku menyaru sebagai Mo tiong ci mo?"

"Heeehhh heeehhh heeehhh tahukah engkau akan peraturan dari benteng ku ini?"

"Peraturan soal apa??"

"Barang siapa berani ngintip benteng maut dia akan dijatuhi hukuman mati."

"Dari mana engkau bisa menduga aku mencuri lihat bentengmu??"

"Mengapa engkau berani menyaru sebagai iblis diantara iblis untuk memasuki..."

Han Siong Kie segera mendengus dingin.

"Hmm benarkah Begitu?"

Ejeknya. Pemilik benteng maut tertawa seram.

"Heeehh heeehh heeeehhh bocah cilik, aku ingin tahu darimana engkau bisa tahu akan kode rahasia yang telah kujanjikan dengan iblis diantara iblis pada empat puluh tahun berselang??"

"Hmm..poocu, kenapa engkau tak menduga kalau aku datang sedang melaksanakan perintah seseorang??"

"Melaksanakan perintah siapa??"

"Perintah guruku"

"Siapakah gurumu??"

"Iblis diantara iblis."

"Apa? bocah cilik, kau jangan membohong, masa engkau adalah ahli waris dari iblis diantara iblis?"

"Benar, engkau tak percaya?"

"Kalau begitu dapat utarakan maksud tujuan dari kedatanganmu ini..."

Laksana kilat Han Siong Kie putar otaknya, ia teringat akan anjuran dari Manusia yang kehilangan sukma, dua kali perempuan itu anjurkan dirinya agar berkunjung kebenteng maut serta mengutarakan asal usulnya kenapa ia anjurkan dirinya berbuat begitu?

Andaikata ia hendak turuti anjuran tersebut, maka sekarang juga anjuran itu bisa dilaksanakan tapi setelah berpikir lebih jauh akhirnya dia ambil keputusan untuk tidak berbicara.

Tentu saja ia merasa bahwa perbuatannya yang menceriterakan asal usul sendiri dihadapan musuh besarnya adalah suatu perbuatan yang tolol, apalagi pihak lawan adalah iblis nomor satu dikolong langit, bagaimana akibatnya tentu saja siapapun dapat menduga.

Maka dengan suara dingin ia berkata.

"Selama empat puluh tahun lamanya guruku tak pernah melupakan kekalahan yang dideritanya dimasa silam, dan sekarang aku hendak menuntut balas atas kekalahannya itu"

"Haahh...haahh..haahh... dalam suatu adu kepandaian, siapa menang siapa kalah sudah menjadi suatu kejadian yang jamak. apalagi kemenanganku diperoleh dengan andalkan kepandaian yang asli, heehh haahh haahh.., ia benar2 seorang yang berperasaan halus, bagaimana..? apakah ia tak mau datang sendiri untuk meneruskan pertarungan tempo hari?"

"Guruku tak mungkin akan datang kemari"

"Kenapa? tanya pemilik benteng maut keheranan.

"Jiwanya sudah hampir melayang"

"Apa? jiwanya sudah hampir melayang?"

"Benar, untuk melampiaskan rasa dongkolnya karena kekalahan tersebut, ia masih ada waktu selama beberapa hari untuk menantikan jawabanku"

Suaranya yang menyeramkan kian lama kian merendah dan memberat, seakan2 ucapan tersebut bukan muncul dari mulut seorang manusia hidup. Dengan nada sedih dan bertambah lirih ia berkata .

"Aku tak paham dengan maksud ucapan mu itu!"

"Guruku sedang menanti kabar dariku, empat puluh tahun komudian ilmu silat siapakah yang jauh lebih unggul!"

"Jadi makscdmu..!"

"Aku datang mewakili dirimu untuk memenuhi janjinya pada empat puluh tahun berselang, aku hendak adu kepandaian dengan diri poo-cu dan mari kita buktikan kepandaian silat siapakah yang jauh lebih lihay!"

"Oooh ! jadi engkau datang mewakili dirinya untuk memenuhi janji tersebut?"

"Dugaanmu tepat sekali!"

"Dan engkau akan menantang aku uttuk berduel?"

"Tepat ucapanmu!"

"Haaah..haaah.,haaaah.."

Gelakan tertawa yang keras bagaikan gulungan ombak di tengah samudra bergema susul menyusul, suaranya keras, nyaring dan amat memekikkan telinga, membuat pikiran orang jadi kalut dan hatinya kacaau.

Suara tertawa iiu penuh mengandung hinan rasa pandang rendah dan sikap yang sombong.

Gelak tertawa itu kian lama kian meninggi, golakan darah dalam dada Han Siong Kie pun ikut bergolak naik turun tiada hentinya, ia sadar bahwa gelagat tidak menguntungkan.

buru2 hawa murninya disalurkan keseluruh badan guna melawan pengaruh suara tertawa yang tak sedap didengar itu..

Menanti gelak tertawa itu sirap, seluruh jidat dan tubuhnva telah basah oleh air keringat, ia mulai sadar bahwa tenaga dalam yang dimiiiki pemilik benteng maut benar2 sukar dijajaki.

Suara dari pemilik benteng maut berkumandang kembali, kali ini suaranya penuh mengandung rasa kaget dan terkesiap.

"Bocah cilik, sungguh tak nyana engkau sanggup menerima gelak tertawa ombak menggulungku yang lihay, engkau memang hebat !"

Han Siong Kie makin terkesiap, bukankah pihak lawan sama sekali tak bergerak dari tempatnya semula?

darimana ia bisa tahu kalau isi perutnya sama sekali tidak terluka oleh pengaruh gelak tertawa itu?

apakah ia memiliki ilmu memandang jauh yang l1bay?

Meskipuo hatinya tercekat dan jantungnya berdebar keras, namun diluaran ia tetap bersikap tenang.

"Aku sama sekali tidak kenal dengan apa yang dimaksudkan sebagai gelak tertawa ombak menggulung, aku cuma heran apa sebabnya poocu tertawa tergelak?"

"Ternyata iblis diantara iblis memerintahkan seorang bocah yang masih bau titik untuk memenuhi janjinya, ia benar-benar bermimpi di siang hari bolong. suatu perbuatan yang menggelikan.."

Mendengar ucapan tersebut hawa amarah segera berkobar dalam benak Han Siong Kie. ia tertawa dtngin.

"Poocu, engkau tidak msrasa bahwa ucapanmu itu terlalu sombong dan tekebur?"

"Tekebur? engkau mengatakan aku tekebur? haahh haahh..haahh.. bocah! nyalimu yang besar sangat mengagumkan hatiku, di samping itu memandang diatas wajah iblis diantara iblis, engkau boleh segera tinggalkan tempat ini, karena engkau aku bersedia melanggar pantanganku yang telah kupegang teguh selama puluhan tahun lamaya."

"Tak usah, poocu tak perlu melanggar pantanganmu sendiri!"

Tukas sang pemuda ketus.

"Oooh...lalu apa yang hendak kau lakukan?"

"Aku tak ingin mengabaikan perintah suhuku."

"Jadi engkau bersikeras akan menantangku untuk berduel?"

"Itulah tujuan dari kedatanganku."

"Heeeh heeehh heeehhh engkau benar2 tak tahu diri."

"Tahu diri atau tidak, itu urusan pribadiku"

"Bocab cilik yang masih ingusan, engkau masih belum pantas untuk berduel melawan Aku!"

Han Siong Kie semakin gusar, keberaniannya makin memuncak, tiba2 hardiknya.

"Jadi.. poocu hendak mengingkari janji?"

"Mengingkari janji apa? aku tak pernah m;ngikat janji dengan engkau?"

"Kalau memang begitu kenapa enggkau tak berani menerima tantanganku untuk diajak berduel?"

"Menantaag untuk berduel? heeehh heeehh heeebbh kalau iblis diantara iblis datang sendiri, mungkin saja aku bisa mempertimbangkan kembali...."

"Aku datang mewakili guruku, apa bedanya dengan kehadiran ia pribadi?"

"Tak usah banyak bicara lagi, ayoh segera tinggalkan tempat ini ! Mumpung aku masih belum berubah pikiran, kalau tidak ...."

"Kalau tidak kenapa?"

"Engkau akan menyesal untuk selamanya."

Kegusaran yang berkobar dalam benak Han Siong Kie tak dapat dikendalikan lagi. ia lupa kalau musuhnya amat lihay, segera bentaknya dengan tegas.

"Aku tak sudi menuruti kemauanmu kau mau apa?"

"Tak mau? heh heeeehh heeehhh selama hidup baru pertama kali ini kudengar ada orang berani berbicara sekasar itu dengan diriku!"

"Hmm ! Siapa tahu kalau lebih dari itu"

Jengek Han Siong Kie dengan bangga.

"Bocah keparat engkau benar2 tak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi rupanya engkau sudah bosan hidup dikolong langit?"

"Hmm! jadi engkau tak berani menerima tantangan untuk berduel? tak nyana pemilik benteng maut yang tersohor tak lebih hanya seorang manusia pengecut!"

"Heehh...heehh..heeebh... bukan pengecut atau tidak yang pokok engkau masih belum pantas untuk berduel melawan aku!"

"Pantas atau tidak apa salahnya kalau poo-cu coba dulu?"

"Bocah keparat kalau engkau memang sudah bosan hidup ayo masuklah kedalam, aku menantikan kedatanganmu disini!"

Han Siong Kie mendengus dingin tanpa ragu2 ia berjalan masuk kedalam istana tersebut.

Pantulaa suara langkah kakinya dalam lorong batu yaog kosong menimbuikan suara yang menyeramkan seakan-akan ada beberapa orang yang jalan bersama.

Setelah melewati lorong batu itu dua kerat bangunan batu tsrbentang didepan mata, semua bangunan terbuat dari lapisan batu karang yang gelap.

bangunan itu tak ada jendela, yang ada cuma sebuah pintu besi yang hitam dan telah berkarat, pintu itu tertutup rapat dan tak dapat melihat apa isinya.

Lumut hijau tumbuh dengan suburnya diatas bangunan rumah batu itu, sarang laba2 tergantung disana sini.

Udaranya lembab dan busuk mendatangkan rasa muak bagi siapapun yang mencium, lapisan batu diatas tanah sebagian besar telah tertutup oleh rumput ilalang.

Walaupun waktu menunjukkan tengah hari, namun suasana dalam benteng maut tetap gelap gulita bagaikan berada dineraka.

Han Siong Kie merasakan jantungnya yang berdebar, berdetak makin keras, ia tak tahu pemilik benteng maut mengandung maksud2 tertentu terhadap dirinya.

sunyi..

sepi..

keheningan yang mencekam bagaikan berada dikuburan menyelimuti seluruh benteng.

Han Siong Kie merasa dirinya seakan2 sedang memasuki sebuah kuburan kuno yang besar dan gelap.

sedikitpun tak ada hawa manusia hidup..

Mendadak..

sesosok bayangan manusia berkelebat lewat dihadapan mukanya.

Dengan cekatan Han Siong Kit meng hentikan gerakan tubuhnya, dengan cepat sorot matanya dialihkan kearah orang itu.

Mendadak bulu kuduknya pada bangun berdiri, dengan badan merinding tanpa sadar ia mundur dua langkah ke belakang, tangannya disilangkan didepan dada siap menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan.

sesosok makhluk aneh yang sukar dilihat paras mukanya, dengan rambut panjang yang terurai menutupi seluruh kepalanya, selangkah demi selangkah maju mendekat.

Manusiakah?

atau setankah makhluk aneh itu?

Jelas dia adalah manusia karena terdengar suara langkah kakinya yang berat.

"Berhenti"

Bocah muda itu segera membentak keras.

Makhluk aneh itu tetap tidak menggubris, selangkah demi selangkah ia lanjutkan perjalanannya maju kedepan.

Satu ingatan dengan cepat berkelebat daiam benak pemuda itu,jangan2 makhluk aneh ini adalah..

Hatinya makin tegang dengan suara berat ia segera menegur.

"Engkau adalah pemilik benteng maut?."

Makhluk aneh itu tidak menjawab, ia maju kedepan dengan langkah lambat.

Han Siong Kie mulai memghimpun segenap tenaganya dalam telapak ia siap melancarkan serangan apabila keadaan terlalu memaksa, sekali lagi tegurnya.

"Siapa engkau?"

Suaranya keras bagaikan guntur yang membelah bumi ditengah hari bolong.

Terhadap bentakan atau pun teguran dari Han Siong Kie itu makhluk aneh tersebut sama sekali tidak menggubris, kembali badannya menerjang kedepan.

Kegusaran yang berkobar dalam dada Han Siong Kie sukar dilukiskan dengan kata2, sepasang telapaknya laksana kilat melancarkan serangan kedepan, serangan tersebut di lancarkan dengan kecepatan bagaikan kilat.

Makhluk aneh itu segera mengegos kesamping dan membentuk gerakan setengah lingkaran keatas permukaan dengan gerakan yang lincah ia meloloskan diri daya serangan tersebut.

Dari kelihaian yang dilakukan orang itu, semakin besar membuktikan bahwa makhluk aneh itu adalah manusia yang memiliki ilmu silat sangat lihay, tanpa sadar Han Siong Kie melanjurkan lidahnya.

Dengan menggunakan tangannya yang kurus, makhluk aneh itu menyingkap rambutnya yang kusut dan menutupi wajahnya itu, sepasang biji matanya yang tajam dan memancarkan sinar berkilauan melirik sekejap kearah Han Siong Kie, kemudian ber kaok2 aneh.

Suaranya aneh dan menyeramkan, tidak mirip tertawa tidak mirip pula suara menangis, membuat bulu kuduk semua orang tanpa terasa pada bangun berdiri Dengan tar manggu2 Han Siong Kie memandang makhluk aneh yang tiba2 putar badan serta mengundurkan diri dari hadapannya, dalam sekejap mata manusia aneh itu sudah lenyap dari pandangan, ia merasakan suatu perasaan yang tak sedap.

Terutama pandangan dari manusia aneh itu, sorot matanya penuh memancarkan sinar dingin, seram dan menggidikkan, membuat perasaan hatinya tak tenang.

Beberapa saat kemudian ia melanjutkan kembali perjalanannya menuju kelorong sempit yang terbentang di antara bangunan rumah berbatu itu.

Tujuh delapan langkah baru saja lewat dua sosok bayangan manusia laksana kilat tiba2 menerjang keluar dari kedua belah sisinya, desiran angin tajam men-deru2 dan serasa menyayat badan.

Han Siong Kie merasa amat terperanjat, dia ayunkan telapaknya melancarkan dua buah pukulan yang amat dahsyat menyongsong datangnya ancaman dari kiri maupun kanan itu.

Benturan keras menggelegar diangkasa, dua sosok bayangan manusia itu terpental dan berhenti ditengah jalan.

sekarang Han Siong Kie dapat melihat jelas wajah dari dua sosok bayangan manusia itu, ternyata mereka adalah setan2 jelek yang bermulut lebar dan bergigi taring, begitu menyeramkan wajahnya hingga membuat bocah muda itu seakan2 kehilangan sukma.

Semua kejadian itu berlangsung dalam sekejap mata, setelah tertahan oleh pukulan lawan, dua sosok bayangan manusia berwajah setan itu melancarkan tubrukan kembali kearah depan, cakar setannya yang tajam langsung menyerang bocah muda itu habis2an..

Han Siong Kie amat terkesiap, buru2 ia keluarkan ilmu pukulan Mo-mo.ciang hoat untuk mempertahankan diri.

Dua orang setan jelek itu menyerang terus dengan gerakan2 yang nekad, mereka tak ambil peduli sampai dimana ketatnya pertahanan dari pemuda itu, terjangan demi terjangan dilancarkan terus dengan hebatnya.

"Blamm Blamm"

Dua benturan nyaring menggelegar diangkasa memecahkan kesunyian yang mencekam sekeliling tempat itu.

Han Siong Kie merasakan tulang telapaknya amat sakit seperti maupatah, ternyata pihak lawan memiliki tubuh yang keras bagaikan baja, baik pukulan maupun serangannya sama sekali gagal untuk merobohkan ke dua orang lawannya itu.

Dengan perasaan hati yang tercekat dan kaget, serta merta ia melayang mundursejauh tiga depa ke belakang dengan gerakannya yang tiba2 itu maka serangan cakar setan dari kedua orang setan itupun mengena disasaran yang kosong.

Ingatan kedua belum sempat berkelebat lewat, kedua orang setan jelek itu sudah saiing bertukar tempat dan sekali lagi melancarkan terjangan maut.

Kecepatan gerakannya, keanehan dari serangannya sangat jarang ditemui dikolong langit.

Kesalahan bukan terletak pada ketidak becusan Han Siong Kie, andaikata kedudukannya diganti dengan seorang jago lihay persilatan lainnya, niscaya orang itu sudah akan roboh ditangan sepasang manusia setan itupada serangannya yang pertama.

Belum sempat pemuda itu berdiri tegak, sekali lagi sepasang manusia setan itu melancarkan terjangan maut, dalam keadaan terburu napsu cepat2 dia himpun tenaganya hingga sebesar sepuluh bagian, secara terpisah didorongnya satu kekiri yang lain ke kanan-"Blaamm..

benturan dahsyat kembali bergeletar diangkasa, dalam benturan itu ke empat buah cakar setan dari sepasang setan jelek itu tertahan kurang lebih satu depa dari tubuh Han Siong Kie oleh getaran tenaga dalamnya, kedua belah pihak sama-sama berdiri kaku dan siapapun tidak melakukan pergerakan lagi.

Diam2 sianak muda itu mengucurkan keringat dingin saking terperanjatnya, ia hendak tarik kembali telapaknya untuk mengganti jurus, tapi ia sadar jika telapaknya ditarik kembali niscaya kedua orang setan jelek itu akan memanfaatkan kesempatan itu se-baik2 nya untuk mencengkeram tubuhnya.

Karena itulah terpaksa ia kerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya untuk bertahan sedapat mungkin.

Sepasang setan jelek itu menerjang makin hebat daya tekanan yang terpancar keluar berat bagaikan be ribu2 kati baja.

Han Siong Kie mengerahkan segenap kekuatannya untuk melawan serangan musuh di samping itu diapun mulai mempertimbangkan situasi disekelilingnya.

suatu ketika mendadak ia temukan sesuatu, ternyata dua orang setan jelek yang sedang melancarkan serangan kearahnya itu bukan lain adalah setan2an yang terbuat dari baja murni, tak aneh kalau kekuatan daya tekanannya begitu hebat bagaikan bukit kecil.

Setelah mengetahui keadaan yang sebenarnya, keberaniannya semakin memuncak tapi daya tekanan yang terpancar keluar dari manusia besi itu kian lama sudah kian bertambah hebat.

pada saat itulah gelak tertawa pemilik benteng maut bergema datang disusul ia berseru.

"Haahh... haaahh... haaahh keparat cilik, akan kulihat engkau bisa bertahan sampai berapa lama kali ini aku akan memberi kesempatan kepadamu jika engkau bersedia undurkan diri dari sini maka aku tak akan mencelakai engkau lagi, katakan saja kepada gurumu kalau pemilik benteng maut masih sehat walafiat seperti sedia kala"

"Terima kasih atas maksud baikmu"

"Oooh jadi engkau sudah bertekad untuk tidak keluar dari benteng maut ini dalam keadaan hidup lagi?"

Han Siong Kie tertawa dingin tiada hentinya.

"Heehh heeehh heeehhh belum tentu begitu, sebelum kulaksanakan tugas yang di bebankan guruku, aku tak nanti akan mengundurkan diri dari sini"

"Kalau memang begitu, andaikata engkau bertemu dengan gurumu dialam baka nanti jangan salahkan kalau aku tak kenal kasihan"

Teringat kembali akan budi kebaikan gurunya yang telah salurkan hawa murni miliknya kedalam tubuhnya, dan teringat pula kalau usia gurunya sudah amat terbatas, timbul kembali semangat yang berkobar dalam dadanya, tiba2 ia himpun segenap kekuatan yang dimilikinya kedalam telapak, kemudian dengan gerakan "

Menggetar"

Dari ilmu telapak Mo mo ciang hoat ia lancarkan suatu tolakan yang amat keras.

Keampuhan dari ilmu telapak Mo mo ciang hoat ditambah pula dengan dua kali penemuan aneh yang dialami Han Siong Kie membuat tenaga dalam yang dimilikinya saat ini telah mencapai dua ratus tahun hasil latihan, tolakan yang dilancarkan dengan sepenuh tenaga ini benar2 luar biasa sekali.

-oood0wooo-Bab 26

"BLAAAMM Blaaamm"

Dua ledakan keras menggoncangkan seluruh permukaan bumi, sepasang iblis jelek yang terbuat dari baja itu terpental kesamping, alat kontrol yang mengendalikan kedua buah boneka itu hancur berantakan-Ditengah percikan bunga api dan gugurnya pasir dan debu, dua buah dinding bangunan rumah tertunduk hingga roboh tak karuan-Ditengah suara gemuruh yang amat keras terdengar dua jeritan ngeri bergema memenuhi seluruh ruangan-Han Siong Kie merasa amat terperanjat mungkinkah dibalik ruangan batu itu terdapat jago silat yang disekap disitu??

sorot matanya segera dialihkan kearah dua deret bangunan batu yang terbentang didepan mata, ia lihat pintu besi tertutup rapat mungkinkah dibalik setiap pintu besi itu tersekap jago persilatan?

mungkinkah mereka adalah jago2 persilatan yang melakukan penyelidikan terhadap benteng maut dan lenyap tak berbekas itu?

atau mungkin mereka terdiri dari anak buah benteng maut??

"Heehh heeehh heeehhh keparat cilik, kau memang sangat hebat"

Seruan dari pemilik benteng maut bergema diangkasa, rupanya engkau lebih unggul satu tingkat di bandingkan dengan iblis diantara ibis dimasa lampau, tak kusangka engkau mampu menghancurkan sepasang malaikat pelindung benteng ku, meskipun begitu engkau masih belum....."

"Belum kenapa?"

Tukas sang pemuda cepat.

"Engkau masih belum pantas untuk mengajak aku berduel"

Han Siong Kie jadi mendongkol sekali, hingga menggertak gigi rapat2. Teriaknya dengan nada penasaran.

"Hmm kau anggap dengan andalkan beberapa patah katamu yang tekebur serta beberapa kepingan besi rongsokanmu itu maka aku lantas pecah nyali menyerah kalah dan undurkan diri dari sini??"

"Haahh..haahh..haahh... undurkan diri? engkau tak memiliki kesempatan untuk berbuat demikian lagi, rumah2 batu itu akan menjadi tempat tinggalmu untuk selamanya"

Han Siong Kie makin penasaran dalam pikirnya.

"Jangan sombong dulu, lihatlah kelihayanku akan kuobrak abrik sarang kura2mu dan akan kulihat engkau si kura2 akan kabur kemana..??"

Sekali enjot badan ia menerjang masuk kedalam lorong tempat yang menembusi rentetan bangunan batu itu, dalam beberapa pusaran saja ia sudah berada ditengah lingkaran bangunan tadi.

Tampaklah bangunan batu berjajar disana sini, lorong besar kecil bersimpang siur tak menentu, meskipun ia sudah berlarian selama seperminum teh lamanya, namun tubuhnya masih tetap berputar2 dalam lingkungan rumah batu tadi.

Lama kelamaan pemuda itu sadar, ia pasti sudah terjebak dalam sebuah barisan "ki bun tin"

Yang lihay dan ampuh.

Dalam keadaan begini, ia enjotkan badan melayang naik keatas atap bangunan batu itu, sekilas memandang ketempat kejauhan pemuda itu tertegun dan berdiri kaku, hati nya terjelos.

Rupanya yang terlihat sepanjang pandangannya cuma bangunaa batu yang ber-deret2, tembok benteng telah lenyap bahkan suara gulungan ombak sungai pun sudah tak kedengaran lagi.

Sadarlah pemuda itu bahwa ia terjebak Ia tak menyangka gerakannya selama ini lari kesana kemari sama sekali tak ada hasilnya, malahan tenaga dalamnya jauh berkurang karena perbuatan tersebut, ia loncat turun dari atap rumah batu dan ditemuinya ia masih berada ditempat semula.

Han Siong Kie jadi mendongkol sekali, dengan muka merah darah karena marah ia membentak keras.

"Huhh. mentang2 seorang pemilik benteng maut, tak tahunya cuma kura2 busuk yang andalkan kelihayan ilmu barisan untuk melindungi keselamatan jiwanya."

"Heeehh heeehh heeehh bocah muda, tak ada gunanya engkau mengonggong seperti anjing, bukankah suhumu iblis diantara iblis belum sempat mewariskan kepandaian semacam itu kepadamu? heehh heeeehhh heeehhh..."

Gelak tertawanya amat sombong dan takebur sekali, membuat Han Siong Kie makin gusar bercampur mendongkol, hampir saja dadanya meledak saking tak tahannya.

Ia sama sekali tak mengira kalau pemilik benteng maut tak mau unjukkan diri untuk menerima tantangannya.

tentu saja kejadian ini sama sekali berada diluar dugaan iblis diantara iblis, kalau tidak ia pasti akan memberitahukan rahasia serta cara untuk memasuki benteng maut tersebut.

Bagaikan seekor burung elang yang terkurung kabut tebal, Han Siong Kie menerjang kesana kemari secara membabi buta, walau bagaimanapun juga ia berusaha ternyata usahanya selalu gagal dan ia tak mampu meloloskan diri dari kepungan barisan tersebut.

Tiba2 satu ingatan aneh muncul dari dasar hati kecilnya, ia merasa bahwa benteng maut luasnya cuma beberapa puluh tombak belaka, apa salahnya kalau ia rusak bangunan rumah batu itu?

jika bangunan tersebut ambrol bukankah barisan itu dengan sendirinya bakal hancur berantakan?

Teringat akan sistim tersebut tenaga murninya segera dihimpun dalam telapak lalu dengan sepenuh tenaga dibabat kearah bangunan batu yang berada dihadapannya.

Angin pukulan men-deru2 dan dengan dahsyatnya meluncur kedepan, tapi bagaimana hasilnya?

se-akan2 menghantam udara kosong sama sekali tiada reaksi apapun yang di temuinya.

Rasa terperanjat yang dialami Han Siong Kie kali ini sukar dilukiskan lagi dengan kata2, barisan tersebut memang luar biasa dan membuat orang sukar untuk menduga mana yang nyata dan mana yang maya.

Dia menerjang maju semakin kedepan dengan tangannya ia meraba bangunan batu itu terasa dingin dan karat sedikitpun tidak palsu..

tapi apa sebabnya pukulan yang dilancarkan dengan begitu dahsyat sama sekali tidak mendatangkan reaksi apapun?

Untuk kedua kalinya ia himpun segenap kekuatan murninya kedalam telapak baru saja ia bersiap sedia melancarkan pukulan dahsyat kearah bangunan rumah batu itu.

Mendadak sebuah telapak tangan tahu2 sudah menempel diatas bahunya.

Han Siong Kie amat terperanjat sekujur badannya gemetar keras baru saja dia akan bergerak.

"Jangan bergerak"

Teguran dingin dan ketus yang membuat bati orang bergeridik bergema dari arah belakang, pemuda itu kenal suara itu sebagai suara teguran dari pemilik benteng maut.

"Apa maksudmu berbuat curang?"

Pemuda itu segera menegur.

"Kau mau takluk tidak??"

"Takluk haaahhh haaahhh haahhh hanya mengandalkan permainan setan yang sama sekali tak ada harganya itu??"

"Oooh.. jadi engkau tidak takluk??"

"Tidak"

"Bocah muda, engkau adalah manusia paling tekebur yang pernah kujumpai selama hidupku, apa yang harus kulakukan sehingga kau benar2 merasa takluk? tahukah engkau bahwa menurut peraturan benteng kami barang siapa telah memasuki benteng ku ini, dia selama hidup akan disekap dalam rumah batu dia harus mengakui sendiri kalau hati nya merasa takluk"

Han Siong Kie merasa agak tercengang, peraturan macam apakah itu tanpa terasa ia bertanya.

"Siapa sih yang disekap dalam rumah2 batu itu? apakah mereka adalah jago2 persilatan yang pernah menerjang masuk kedalam benteng ini?"

"Benar tapi sekarang mereka harus disebut sebagai manusia2 tolol yang tekebur dan tak tahu diri"

"jadi mereka telah menyatakan takluk seratus persen serta rela disekap sepanjang masa??"

"Tentu saja"

"Tapi sayang aku tak mau takluk kepadamu"

"Hmm engkau tak dapat menentukan pilihanmu sendiri"

"Jadi engkau hendak menggunakan cara yang begins rendah dan memalukan untuk paksa orang menyerah kalah?"

Teriak Han Siong Kie dengan penuh kegusaran-"Memaksa Hmm, terhadap aku sih tak perlu terhadap orang persilatan macam apapun aku tak pernah menggunakan cara memaksa"

"Lalu bagaimana penjelasanmu tentang perbuatan yang kau lakukan pada saat ini?"

"setelah kuajukan beberapa buah pertanyaan akan kuberi kesempatan padamu untuk bertanding secara adil"

"Kalau begitu cepatlah bertanya"

"Benarkah engkau ahli waris dari iblis diantara iblis??"

"Benar"

"Sebutkan siapa namamu?"

"Malaikat penyakitan"

"Apa? engkau bernama Malaikat penyakitan??"

"Tepat sekali ucapanmu itu"

"Aku ingin mengetahui nama aslimu"

Pelbagai ingatan berkelebat dalam beriak Han Siong Kie, ia teringat kembali anjuran dari orang yang kehilangan sukma dimana ia berkunjung kebenteng maut dan menceritakan asal usulnya kenapa harus berbuat begitu?

apakah sekarang juga harus membeberkan asal usulnya??

Tidak sekarang bukan saatnya yang tepat sekarang sedang melaksanakan tugas dari gurunya lain kali jika ia hendak menuntut balas bukan saja asal usulnya akan dibeberkan bahkan diapun akan menuntut balas dengan wajah aslinya.

setelah berpikir sampai disini iapun lantas menjawab dengan nada dingin.

"Aku tak punya selamanya aku menggunakan malaikat penyakitan sebagai julukanku"

"Heehh... heeehhh heehhh kalau engkau tak mau menjawab akupun tak akan memaksa, tahun ini kau berumur berapa?"

"Aku rasa tiada kepentingan bagiku untuk memberitahukan usiaku padamu"

"Bocah muda engkau terlalu keras kepala, sekarang putarlah tubuhmu"

Han Siong Kie merasakan bahunya jadi kendor dan telapak yang semula menempel diatas bahunya kini sudah dialihkan, laksana kilat ia putar badan-Kurang lebib satu tombak dihadapannya berdirilah seorang manusia aneh berbaju hijau dan berkain cadar warna hijau, telapak kanannya nampak putih mulus bagaikan pualam sedangkan tangan kirinya hitam pekat bagaikan tinta bak.

Han Siong Kie seketika itu juga merasakan darahnya mendidih, ia kenali Telapak itu pernah menghajar tubuhnya sampai terluka parah, meskipun hanya sekilas pandangan namun ia tak akan melupakan untuk selama-lamanya.

Api dendam yang membakar dadanya hampir saja membuat pemuda itu tak dapat menguasahi diri, hampir saja ia menyebut nama aslinya untuk menuntut balas tapi akhirnya ia dapat menguasahi diri, sekarang belum tiba saatnya untuk membalas dendam, ia harus menyelesaikan dulu tugas yang dibebankan iblis diantara iblis kepadanya.

Jikalau ia tidak menggunakan ilmu sakti warisan dari gurunya dan hanya andalkan jurus serangan dari Leng ku sianjin belaka sudah jelas ilmu silatnya masih bukan tandingan lawan-Bergerak secara gegabah berarti mendatangkan penyesalan yang tak terkirakan sepanjang masa, ia mengerti akan teori tersebut, jika usahanya untuk membalas dendam menemui kegagalan dan malahan mengakibatkan kematian bagi dirinya, bagaimana mungkin ia bisa bertanggung jawab terhadap dua ratus lembar jiwa keluarganya yang mati di bantai orang, serta kematian dari susioknya Telapak naga beracun Thio Lin-.

Kematian yang menyangkut keluarga Han dan keluarga Thio kecuali telah diketahui bahwa pembunuhannya adalah Tengkorak maut, masih ada sebuah teka teki yang menyelimuti peristiwa tersebut, dan teka teki itu kemungkina besar ada sangkut pautnya dengan tengkorak maut.

Sewaktu susioknya telapak naga beracun Thio Lin bunuh diri, ia menyatakan bahwa perbuatannya itu dilakukan karena melaksanakan perintah perguruan, ia berpesan kepadanya agar jangan menuntut balas, jangan mengebumikan jenasahnya, tapi kenapa??

kenapa harus begitu?

apakah dalam permusuhan ini menyangkut soal dendam perguruan dari generasi yang lampau..?

Yang patut disayangkan ia sama sekali tak akan tahu perguruan dari ayahnya, kalau tidak dengan tanda terang itu mungkin saja duduknya persoalan dapat diketahui.

Mendadak..

ia teringat kembali akan orang yang kehilangan sukma, manusia misterius itu se-akan2 mengetahui semua persoalan yang menyangkut tentang kehidupannya, bahkan dia tahu dengan begitu jelas.

Diam2 ia pun mengambil keputusan, seandainya bisa lolos dari benteng maut dalam keadaan selamat, maka pekerjaan pertama yang akan dilakukan olehnya adalah mencari orang yang kehilangan sukma untuk membongkar rahasia itu, tapi jejak orang yang kehilangan sukma amat sukar diikuti, kemana ia harus menemukan dirinya??

Pemuda itu merasa murung dan risau sekali.

sementara itu Pemilik benteng maut telah berkata kembali.

"Bocah cilik, sekarang aku akan memberi kesempatan kepadamu untuk bertanding secara adil"

"Kesempatan untuk berduel??"

Seru Han Siong Kie sambil pusatkan kembali pikirannya.

"Heeehh... heeehh... heehh... engkau belum berhak untuk mengatakan berduel, anggap saja sebagai suatu percobaan ilmu"

"suatu percobaan ilmu??"

"Ehmm tepat sekali ucapanmu itu"

"Bagaimana caranya melakukan percobaan ilmu itu???"

"Kita saling mengadu jurus sebanyak tiga gebrakan-jika engkau berhasil menang maka kau boleh keluar dari benteng ini dengan bebas..."

"Andaikata kalah??"

"Engkau akan menjadi penghuni tetap dalam deretan rumah batu ini"

Diam2 Han Siong Kie merasakan hatinya terkesiap.

"Maksudmu selamanya tiada kesempatan lagi bagiku untuk keluar dari benteng ini?"

"oooh... itu sih tidak, selama disekap engkau bebas melatih ilmu silatmu, bila engkau sudah mampu memecahkan tiga jurus seranganku, maka pada saat itulah engkau bebas berlalu dari benteng ini, cuma aku perlu beritahu kepadamu, selama puluhan tahun terakhir ini belum pernah ada orang yang bisa keluar dari benteng ini dalam keadaan hidup"

Han Siong Kie tarik nafas panjang, ia rasakan hatinya bergidik dan bulu romanya pada bangun berdiri, dari ucapan tersebut dapat diambil kesimpulan kalau tenaga dalam yang dimiliki pihak lawan telah mencapaipada taraf yang tiada tandingannya lagi.

"Andaikata seri??"

Tanya sianak muda itu beberapa saat kemudian.

"Engkau tetap dipersilahkan berlalu dari sini dalam keadaan hidup,"

"Andaikata kedatanganku di kemudian hari tetap ada maksud tertentu dan memaksa engkau untuk berduel???"

Rupanya Pemilik benteng maut sama sekali tak mengira kalau Han Siong Kie Begitu berani mengajukan pertanyaan seperti itu, setelah terperangah beberapa saat ia berkata.

"Bocah cilik, jadi engkau akan datang lagi dengan maksud2 tertentu??"

"Aku cuma mengatakan seandainya saja, tentu saja dalam keadaan seperti itu sering kali bisa muncul keadaan2 yang istimewa"

Ujar Han Siong Kie dengan nada hambar.

"Kalau memang demikian keadaannya, maka hal itu harus ditentukan dari maksud hatimu itu."

Han Siong Kie mengangguk, pikirnya.

"Suatu ketika aku pasti akan datang lagi kesini."

Dengan suara berat dia lantas berseru.

"Kalau begitu bagaimana kalau sekarang juga kita mulai dengan pertarungan tersebut??"

Pemilik benteng maut mengangguk.

"Bocah muda, selama puluhan tahun belakangan ini baru pertama kali ini aku mengecualikan pantanganku"

"Mengecualikan pantangan begitu??"

Tanya sang pemuda dengan perasaan kurang paham.

"Ehmm benar"

Pemilik benteng maut mengangguk.

"Poocu telah mengecualikan pantangan apa begitu??"

"Pertama, engkau tidak bersedia menyebutkan nama aslimu serta usiamu, dan aku tidak menuntut lebih jauh.."

"Aku toh bergelar Malaikat penyakitan dan merupakan ahli waris dari iblis diantara iblis, apa itu tidak cukup??"

"Selain itu..."

"Apa lagi?"

Sela sang pemuda cepat.

"Engkau mengenakan topeng kulit manusia, tapi aku tidak punya niat untuk melepaskan kedokmu serta melihat paras aslimu, apakah tindakan ini bukan suatu keringanan bagimu?"

Dengan perasaan amat terperanjat HanSiong Kie mundur tiga langkah lebar kebelakang, setelah Put lo sianseng kali ini merupakan kedua kalinya ada orang mengetahuinya kalau dia mengenakan topeng kulit manusia, ketajaman mata manusia semacam ini memang benar2 mengerikan sekali.

"Hey bocah cilik sekarang lancarkanlah serangan"

Terdengar pemilik benteng maut berseru dengan suara berat.

Han Siong Kie terkesiap.

ia merasakan hatinya jadi tegang sekali sebab jika ia tak sanggup melakukan perlawanan dalam tiga jurus serangan tersebut, maka akibatnya sukar dilukiskan dengan kata-kata.

Bukan saja ia akan disekap dalam ruang batu, harapannya untuk balas dendam akan musnah dan sepuluh hari kemudian gurunya iblis diantara iblis akan mati dengan membawa penyesalan.

Tugas dari gurunya, dendam berdarah membuat semangat jantannya ber-kobar2, ia himpun segenap kekuatan yang dimilikinya kedalam sepasang telapak.

Ia akan menggunakan jurus serangan yang terampuh dan terdahsyat dari ilmu pukulan Mo mo ciang hoat untuk melancarkan serangan tersebut.

suasana diliputi keseraman, ketenangan membuat pemuda itu bergidik rasanya.

"Hati2 poocu menghadapi serangan ini"

Teriak Han Siong Kie tiba2.

Ditengah bentakan keras ia gunakan jurus Mo ciang ciang liong atau telapak iblis menundukan naga melepaskan pukulan yang pertama, kedahsyatan angin serangannya benar-benar mengerikan.

Pemilik benteng maut menyilangkan telapaknya kemudian dengan menggunakan sebuah jurus serangan yang sangat aneh menyapu bersih datangnya ancaman yang amat hebat itu.

Han Siong Kie amat terperanjat, ingatan kedua belum sempat lewat hawa panas dan dingin tahu2 bagaikan guntingan pisau telah membabat pukulannya hingga lenyap.

bahkan sisa tenaga bagaikan tindihan bukit karang menghantam dadanya.

Buru2 sianak muda ttu melepaskan pukulannya dan silangkan telapak untuk membendung datangnya ancaman tadi.

Blaamm benturan keras bergeletar di angkasa, pemuda itu rasakan darah panas dalam dadanya bergolak keras, tak kuasa lagi tubuhnya tergetar mundur lima langkah lebar kebelakang.

"Hey bocah muda, dalam gebrakan ini engkau telah kalah"

Seru pemilik benteng maut dengan suara lantang.

Han Siong Kie mendengus dingin, tubuhnya menerjang maju kedepan, dengan jurus yang lebih ampuh yakni raja iblis menyambangi neraka, laksana kilat ia lancarkan serangan kedua.

Jurus raja iblis menyambangi neraka merupakan salah satu jurus terampuh diantara tiga jurus sakti ilmu pukulan Mo mo ciang hoat, setelah dikembangkan kedahsyatannya mengerikan hati.

"suatu serangan yang amat bagus"

Puji pemilik benteng maut tanpa sadar. Bukan mundur, ia malah maju kedepan, sepasang telapaknya diayun menyambut datangnya ancaman tersebut.

"Duuukk"

Serangan yang dilancarkan Han Siong Kie kali ini dengan telak berhasil menghantam dada lawan, ia rasakan telapaknya se akan2 membabat diatas sebuah dinding baja yang amat keras, telapaknya secara lapat2 terasa sakit sekali, ini membuat hatinya amat terperanjat.

Bukan begitu saja pada saat yang bersamaan diapun merasakan adanya pantulan tenaga yang balik menghantam tubuhnya dengan kecepatan bagaikan kilat begitu kerasnya hampir saja membuat pemuda itu muntah darah segar.

Di tengah dengusan berat tubuhnya mundur empat lima depa kebelakang dengan sempoyongan hampir saja ia roboh terjengkang di atas permukaan tanah.

Pada waktu yang bersamaan jari tangan kanan pemilik benteng maut tiba2 nyelonong masuk kearah jalan darah Tiong tong hiat di atas dada pemuda itu.

Gerakannya cepat bagaikan bayangan, mengikuti gerakan maju mundurnya, sang ujung jari selalu menjaga pada jarak tiga cun.

Han Siong Kie merasakan sekujur badannya gemetar keras, otaknya mendengung dan pandangannya berkunang2.

Terdengar pemilik benteng maut berkata dengan suara dingin.

"Dalam gebrakan kali ini, engkau kembali menderita kalah"

Habis berkata ia tarik kembali jari tangannya dan mengundukan diri sejauh satu tombak dari tempat semula.

Tentu saja andaikata pertarungan tersebut merupakan suatu duel kepandaian, sejak semula Han Siong Kie telah terkapar di atas tanah dalam keadaas tak bernyawa lagi.

-oood0wooo-

Jilid 13 DENGAN kepandaian sakti yang dimiliki pemilik benteng maut, asal jari tangannya dikerahkan sedikit tenaga saja, pemuda itu pasti mampus.

sebelum Han Siong Kie mengucapkan sesuatu, terdengar pemilik benteng maut berkata kembali.

"Bocah muda, engkau adalah orang pertama yang dapat menyarangkan pukulannya secara telak dibadanku, meskipun engkau kalah tapi aku akan menganggap pertarungan yang kedua ini berakhir dengan seri"

Han Siong Kie merasakan hatinya amat sedih dan sakit bagaikan di iris2 dengan pisau belati, rasa putus asa, kecewa muncul dari dasar hatinya. Kendatipun begitu, ia masih tetap ngotot serunya.

"Menang yaa menang, kalah yaa kalah, kau tak usah pura2 berlagak baik hati kepadaku "

"Hmm!"

Pemilik benteng maut mendengus dingin "sekarang kita sampai pada jurus yang terakhir engkau masih mempunyai kesempatan sebesar sepertiga!"

Tiba2 Han Siong Kie teringat kembali akan ilmu jari Tong kim ci yang diyakinkan gurunya Iblis diantara iblis selama empat puluh tahun lamanya tanpa terasa semangatnya bangkit kembali.

Ilmu jarj Tong-kim ci adalah sejenis kepandaian yang sangat ampuh, setiap benda yang berada dalam jarak lima tombak jika terkena serangan itu pasti akan tembus dan hancur.

Pikirnya dalam hati.

"Kalau aku sisipkan ilmu jari Tong-kim ci dalam seranganku yang tak terduga olehnya kendati pun tengkorak maut memiliki tubuh yang kebal serangan pasti ia tak akan lolos dari serangan mautku ini."

Beberapa saat kemudian, pikiran lain berkelebat pula dalam benaknya.

"Tapi..perbuatan itu bukan perbuatan dari seorang lelaki sejati yang pantas dipuji sebagai seorang manusia dari golongan lurus aku tak boleh menyergap orang secara menggelap, aku harus berterus terang dan bersikep jantan"

Berpikir sampai disitu dengan nada serius ia lantas bertanya.

"Poocu, apakah engkau andalkan ilmu Kim kong sinkang untuk melindungi badanmu?"

"Dugaanmu tepat sekali!"

"Aku hendak mengeluarkan sejenis kepandaian ilmu jari yang sangat ampuh. aku harap poocu suka bertindak hatihati"

"Haaahh haaahh haaahh, Ilmu jari apakah itu? coba katakana!"

"Ilmu jari Tong kim ci!"

Tiba2 pemilik benteng maut merasakan sekujur badannya gemetar keras, dengan nada terperanjat ia mengulangi.

"Apa kau bilang ? ilmu jari Tong kim ci ?"

"Tepat sekaii."

"Haaahh haaahh hhaaahh sungeuh tak nyana empat puluh tabun kemudian Iblis di antara iblis berhasil melatih ilmu jari yang telah lama lenyap dari dunia persilatan itu kejadian ini sama sekali diluar dugaanku, bagus..bagusss..bagus..bagus, aku akan menyambut serangan ilmu jari Tong kim cimu itu"

"Kalau begitu ber hati2lah poocu"

"Tak usah kuatir seranglah"

Han Siong Kie segera mengayunkan telapak tangan kanannya, segulung desiran angin tajam laksana kilat meluncur kedepan dan menghajar pemilik benteng maut.

Tengkorak maut sama sekali tidak menghindar ataupun berkelit dari serangan tersebut.

"Duukkk"

Benturan nyaring bergema di angkasa tubuh pemilik benteng maut mundur satu langkah kebelakang dan mulutnya memperdengarkan suara dengusan tertahan-Han Siong Kie merasakan sekujur badannya dingin bermandikan keringat, diluar dugaan ilmu jari Tong kim-ci yang paling di andalkan ternyata tidak mempan untuk merobohkan lawannya.

Lama...

lama sekali..

pemilik benteng maut baru tertawa ter bahak2

"Haahh haahhh haahhh bocah muda, kali ini anggap engkau yang menang"

"Tapi... tapi poocu toh tidak menghindar ataupun melancarkan serangan balasan?"

Seru Han Siong Kie agak sangsi.

"Memang benar aku tidak menghindar atau membalas, tapi serangan jarimu itu hampir saja membuyarkan tenaga sakti pelindung tubuhku, dalam kolong langit dewasa ini kecuali engkau seorang, mungkin tiada orang lain yang mampu melakukan hal seperti ini, oleh sebab itulah engkau ku anggap menang"

Han Siong Kie merasa sedih sekali, tentu saja keadaan seperti itu tak bisa dikatakan sebagai suatu kemenangan, bagaimana caranya ia ceritakan kejadian ini kepada gurunya..

Walaupun begitu, diam2 pemuda itu masih bersyukur karena pihak lawan hanya akan beradu tiga gebrakan belaka, dan di dalam pertarungan tersebut dialah yang berada di pihak pemenang, dus berarti dia mempunyai kesempatan untuk keluar dari benteng itu, jika ia bisa lolos dari benteng itu berarti pula dia masih mempunyai kesempatan untuk menuntut balas.

Pada saat itulah..

tiba-tiba pintu besi sebelah kanan memperdengarkan suara gemerincingan yang amat nyaring, suara ramai yang muncul dari sustu tempat ibarat neraka ini kedengaran seram sekali, sebelum pemuda itu berbuat sesuatu.

kembali berkumandang suara gelak tertawa yang mendirikan bulu roma.

Dengan hati terkesiap Han Siong Kie memandang kearah pintu besi yang telah berkarat itu.

dia ingin tahu manusia macam apakah yang telah memperdengarkan gelak tertawa seram itu.

Dalam pada itu, pemilik benteng maut telah berpaling kearah pintu besi itu kemudian mengancam dengan suara berat .

"Hati2 kalau sampai kupunahkan seluruh ilmu silatmu!"

Gelak tertawa itu sama sekali tidak mereda, kurang lebih sepeminum teh kemudian orang itu baru berhenti tertawa dan berseru .

"Hey bocah muda, ditinjau dari nada suaramu aku yakin kalau usiamu belum melampaui dua puluh tahun. sungguh tak nyana pemilik benteng maut yang gagah perkasa telah mengaku kalah kepadamu, haahh haahh haahh peristiwa ini benar2 merupakan berita aneh yang belum pernah kujumpai selama puluhan tahun belakangan ini!"

Han Siong Kie tegurnya dengan cepat.

"Siapa engkau?"

Sebelum orang yang berada diruangan batu itu sempat menjawab pemilik benteng maut sudah tertawa dingin tiada hentinya sambil berseru.

"Heee heehh heeehhh orang sbe Ko engkau telah melanggar psraturan benteng kami yang melarang setiap penghuni ditempat ini mengajak bicara dengan orang asing ilmu silatmu harus dipunahkan sama sekali"

Satu ingatan dengan cepat berkelebat dalam benak Han Siong Kie pikirnya.

"Oooh rupanya orang yang ditawan ini sbe Ko tapi peraturan macam apa itu? masa cuma bicara sepatah dua patah kata dengan orang asing ilmu silatnya ia lantas dipunahkan? peraturan ini terlalu semena2 bukankah orang persilatan lebih baik dibunuh daripada dihina? peraturan ini sungguh teramat keji..."

Sementara itu terdengarlah orang yang berada dalam ruang batu itu telah berseru dengan suara keras.

"Tengkorak maut aku Ko Sun Ki sudah delapan belas tahun lamanya dikurung di tempat ini masa.."

Sekujur badan Han Siong Kie bergetar keras setelah mendengar nama orang itu bagaikan kena listrik secara beruntun ia mundur tiga langkah kebelakang.

"Ko su Ki.... Ko su Ki "serunya berulang kali "engkau adalah malaikat hawa panas Ko su Ki??"

"Haahhh... haaahhh... haaahh tebakanmu tepat sekali hey bocah cilik, tebakanmu sangat tepat, aku memang salah satu diantara sepasang malaikat panas dingin yang disebut orang malaikat panas Ko su Ki sungguh tak nyana orang persilatan masih mengenal nama serta julukanku ini"

Tanpa sadar Han Siong Kie teringat kembali akan perbuatan2 kejam yang dilakukan malaikat dingin Mo siu Ing selama ini karena suaminya lenyap tak berbekas ia telah limpahkan semua kemarahannya pada umat persilatan, setiap tahun ia harus membantai seratus orang jago persilatan untuk melampiaskan amarah dan dendamnya itu.

Disamping kesemuanya itu, pemuda tersebutpun teringat kembali akan janjinya dengan Malaikat hawa dingin Mo siu Ing, andaikata ia dapat mencari tahu jejak dari Malaikat hawa panas Kosu Ki, maka dia akan menangkan sarung tangan pusaka Hud jiu poo pit yang sebelah lain-Tak nyana apa yang semula dianggap sebagai suatu pekerjaan yang sangat berat, kini berhasil didapatkan dengan gampang, ternyata malaikat hawa panas Ko su Ki disekap dalam istana maut.

Saking emosi dan terpengaruh oleh keadaan, sekujur badan pemuda itu gemetar keras, ia tak tahu benarkah sarung tangan Hud jin Poo pit yang sebelah kiri masih berada dalam sakunya..

Tak tahan lagi ia berseru dengan suara keras.

"Ko cianpwee, istrimu.."

"Tutup mulut"

Mendadak pemilik Benteng Maut membentak keras, suaranya amat dahsyat bagaikan guntur yang membelah bumi ditengah hari bolong membuat seluruhruangan bergetar keras dan pantulan suaranya memekikkan telinga.

"Kraaakk..! kraaakk..!"

Bunyi gemurutukan yang nyaring bergema tiada hentinya dari dalam ruangan batu itu tak terdengar suara dari Ko Su Ki lagi, jelas ada orang lain telah menggerakkan alat rahasia yang terpasang dalam ruang batu itu sehingga menggeserkan kedudukan malaikat hawa panas kearah sebelah lain.

Menyaksikan keadaan tersebut, dengan cepat Han Siong Kie putar badan, kemudian serunya kepada pemilik benreng maut .

"Poocu, apa yang telah kau lakukan terhadap dirinya?"

Pemilik benteng maut tertawa seram tiada hentinya.

"Heehh..heehh..heehh . bocah muda, perbuatanmu itu sama artinya sedang menggali liang kubur buat diri sendiri!"

"Poocu. apa masudmu mengucapkan kata2 seperti itu?"

Tegur Han Siong Kie dengan hati bergetar keras.

"Engkau telah kehilangan hakmu untuk tinggalkan benteng ini dalam keadaan selamat"

"Kenapa musti begitu?"

"Sebab rahasia benteng kami selamanya tidak diijinkan untuk bocor kedalam dunia persilatan"

Hawa amarah segera berkobar dalam dada Han Siong Kie membuat paras mukanya berubah jadi merah padam, ia mendengus dingin.

"Hmmm! apa yang hendak poocu lakukan terbadap diriku?"

Tantangnya kemudian.

"Akan kumusnahkan segenap ilmu silat yang kau miliki dan selama hidup disekap dalam istana ini."

Sorot mata penuh kemarahan dan kebengisan terpancar keluar dari balik mata Han Siong Kie andaikata pihak lawan benar2 akan memusnahkan ilmu silat yang dimilikinya maka ia bersiap sedia untuk melakukan perlawanen hingga titik darah penghabisan.

00000dOw00000 BAB 27 DENGAN langkah yang tegap dan sikap yang gagah, sianak muda itu maju kedepan beberapa langkah, serunya dengan penuh kegemasan-"Jadi poocu telah mengambil keputusan untuk menghadapi diriku dengan cara tersebut??"

"Hmm setiap perkataan yang kuucapkan keluar berat laksana bukit karang, selamanya aku tak akan merubah perkataan yang telah diucapkan keluar"

"Kalau begitu akupun akan beritahu kepada mu, jangan mimpi perbuatanmu itu dapat terlaksana"

"Heeeh heehh heeehhh"

Pemilik benteng maut tertawa seram tiada hentinya "buat aku tengkorak maut, tak ada perbuatan yang tak mungkin bisa kukerjakan"

Han Siong Kie menggertak giginya kencang2, segenap tenaga dalam yang dimilikinya dihimpun menjadi satu dan siap untuk melakukan pertarungan terakhir yang akan menentukan mati hidupnya ....

"Bocah muda, engkau masih coba akan melewati?? "

Jengek pemilik benteng maut sambil mendengus dingin.

"Tepat sekali selama hayat dikandung badan aku akan melakukan perlawanan yang gigih hingga titik darah penghabisan-"

"Kau anggap masih ada kesempatan bagimu untuk melakukan kesemuanya itu ?"

"Aku tak sudi mandah dibunuh dan dijagai orang tanpa melakukan perlawanan"

"Kalau memang engkau merasa punya kemampuan, apa salahnya kalau mencobanya lebih dahulu??"

Begitu ucapan terakhir meluncur keluar dari mulutnya, Pemilik Benteng maut segera menggosokkan sepasang telapaknya satu dengan yang lain, kemudian didorong kearah depansegumpal angin pukulan yang sangat tajam dan aneh segera meluncur keluar dengan dahsyatnya.

Han Siong Kie tak berani bertindak gegabah menghadapi serangan musuh yang begitu dahsyat, tatkala pihak lawan melepaskan pukulan mautnya, diapun segara ayunkan sepasang telapaknya kearah depan-.

Gulungan angin pukulan yang tajam dengan cepat meluncur kearah depan, namun sewaktu bertemu dengan gulungan angin aneh yang enteng seakan2 tiada benda itu ternyata ibarat saiju bertemu dengan api, setelah lenyap tak berbekas..

Si anak muda itu jadi amat terperanjat hingga merasa sukma melayang tinggalkan raganya, dari serangan telapak ia segera merubah ilmu jari sakti Tong kim ci untuk menghajar mundur serangan lawan-.

siapa tahu tenaga murninya sama sekali tak dapat dihimpun kembali, pemuda itu rasakan badannya lumpuh total.

Sementara itu dari balik sepasang telapak Pemilik benteng maut yang didorong keluar, gulungan angin serangan yang aneh masih meluncur keluar tiada hentinya.

Rasa kaget dan terkesiap yang dirasakan Han Siong Kie saat itu benar2 sukar dilukiskan dengan kata2, dalam hati kecilnya ia mengeluh.

"Habis sudah riwayatku .... entah ilmu aneh apa yang digunakan pihak lawan?? kenapa tenaga murniku tak dapat dihimpun kembali??"

Tapi sianak muda itu tak mau menyerah kalah dengan begitu saja, sekali dua kali secara beruntun ia telah mencoba sampai delapan kali banyaknya, akan tetapi hawa murninya masih tetap buyar dan sama sekali tidak dapat dihimpun kembali...

Akhirnya dengan lunglai dan putus asa ia turunkan telapaknya kebawah.

Tiba2 satu ingatan berkelebat dalam benaknya, ia merasa pernah menjumpai ilmu sakti yang sangat aneh itu, belum lama berselang ia pernah mengalami nasib sama seperti hari ini dengan cepat berputar ia berpikir keras.

Akhirnya pemuda itu ingat, ketika berada diwilayah Liao hian tan pusat markas besar perkumpulan Thian che kau, ketua muda dari perkumpulan itu pernah menggunakan pula ilmu silat yang sangat aneh itu, membuat dia dalam waktu singkat mengalami kemacetan dalam pengerahan tenaga dalam, tapi itu hanya berlangsung sebentar saja untuk kemudian hawa murninya pulih kembali seperti sedia kala.

Waktu itu tenaga dalam yang dimilikinya hanya separuh dari apa yang dimiliki saat ini, dari sini dapat diketahui bahwa pengetahuan ketua muda perkumpulan Thian che-kau terhadap ilmu aneh tersebut masih cetek sekali, sedang pemilik benteng maut benar2 telah menguasahi segenap keampuhan ilmu tadi.

Tapi kenapa ketua muda perkumpulan Thian che kau bisa menggunakan pula kepandaian aneh itu.?

jangan2 antara perkumpulannya dengan Benteng maut terikat hubungan yang erat?

Kenangan lain yang memilukan hati, dengan cepat menyelinap kembali dalam benaknya..

Ibunya siang-go cantik ong cui Ing telah menerima sebuah pukulan dahsyatnya sebelum ia mendapat celaka, namun perempuan itu sama sekali tidak menderita luka apapun jua, jangan2 ilmu yang dipergunakan olehnya adalah ilmu Kim kong sinkang dari pemilik benteng maut?

Ditinjau dari kedua tanda tersebut dapatlah ditarik kesimpulan bahwa perkumpulan Thian che kau mempunyai ikatan hubungan yang erat dengan pemilik benteng maut.

Berpikir sampai disini dengan penuh emosi ia berseru.

"Apa hubungan benteng maut dengan perkumpulan Thian che kau?"

"Apa?? perkumpulan Thian che kau"

Seru pemilik benteng maut tercengang.

"Benar perkumpulan paling besar dikolong langit dan daya pengaruhnya melampaui perkumpulan serta partai2 lainnya"

"Belum pernah aku dengar yang dinamakan perkumpulan Thian che kau itu"

Han Siong Kie terperangah mendengar jawaban tersebut tapi dengan cepat la tertawa dingin tiada hentinya.

"Heeahh..heehh..heehh... bocah cilik dan kaum wanitapun kenal apa yang dinamakan perkumpulan Thian che kau, masa engkau sebagai pimpinan persilatan sama sekali tak kenal nama itu, omong kosong ucapan yang cuma bisa membohongi anak kecil"

"Omong kosong..? HHmm aku bukan seorang manusia yang suka omong kosong, bocab muda kau anggap dengan mengada-ada pembicaraan maka engkau dapat meloloskan diri dengan menggunakan kesempatan itu? HHmm ... kalau engkau punya jalan pikiran semacam itu, maka terus terang kukatakan kepadamu, pikiran semacam itu hanya suatu impian disiang hari"

Pemilik benteng maut segera rentangkan sepasang telapaknya, jari tengah kiri dan kanannya di sentil kearah muka, dua desiran tajam laksana kilat meluncur kearah depan.

Dalam keadaan hawa murni yang sama sekali buyar, Han Siong Kie sama sekali tak mempunyai kemampuan untuk menangkis ataupun menghindarkan diri dari datangnya anca tersebut, ia rasakan badannya jadi kaku dan enam buah jalan darahnya tahu2 sudah tertotok semua hingga segenap hawa murninya buyar sama sekali.

Ditengah gelak tertawa yang membetot sukma, pemilik benteng maut enjotkan badan berlalu dari situ, dalam sekejap mata bayangan tubuhnya sudah lenyap tak berbekas.

Han Siong Kie segera merasakan tubuhnya seakan2 terjerumus kedalam sebuah jurang yang tiada tara dalamnya, sukma serasa melayang tinggalkan raganya, ia merasa tubuh kasar itu sudah bukan menjadi miliknya lagi, ia merasa hatinya tercekam dalam suasana yang berat..

ia merasakan pukulan batin yang keras..

Dalam suatu sentilan jari yang sangat ringan, Pemilik benteng maut telah membuyarkan tenaga dalam hasil latihan selama dua ratus tahun yang dimiliki olehnya..

Pemuda itu menjublak dengan mata terbelalak lebar, badannya mulai sempoyongan bagaikan orang mabuk.

Setelah tenaga dalamnya punah berarti semua harapan, budi, dendam, cinta dan segala perasaan hatinya ikut lenyap tak berbekas.

Dua titik air mata tanpa terasa menetes keluar membasahi pipinya..

Lama..

lama sekali, ia baru berseru dengan nada serak.

"Tengkorak maut, hari kiamat bagimu tak akan terlalu jauh.. suatu saat pasti akan tiba saat sialmu itu.."

Pemuda itu temukan suaranya begitu lirih dan lemah, paling banter hanya bisa berkumandang sampai sepuluh tombak jauhnya dari tempat semula.

Pada saat itulah..

dari belakang tubuhnya berkumandang suara aneh yang mendirikan bulu roma, dengan kaku Han Siong Kie berpaling kebelakang, makhluk aneh setengah manusia setengah setan yang berambut panjang dan pernah ditemui sewaktu masuk kedalam benteng tadi tahu2 telah berdiri tiga langkah dihadapan mukanya.

Sorot matanya yang begitu dingin, menyeramkan dan membuat orang selama hidup tak dapat melupakannya kembali itu terpancar keluar lewat sela2 rambut dan menatap wajahnya tanpa berkedip.

Tanpa terasa pemuda itu kembali merasakan hatinya bergidik dan bulu romanya pada bangun berdiri, sorot mata yang terpancar keluar dari balik mata makhtuk aneh itu, sama sekali tiada pancaran hawa manusia barang sedikltpunjua.

Setelah menatap Han Siong Kie beberapa saat lamanya, mahluk aneh itu putar badan dan berjalan kearah ruang batu disisinya diruang malaikat hawa panas Ko Su Ki mula-mula disekap.

Ia membuka rantai besi didepan pintu, membuka pintu baja yang berat kemudian menggape kearah Han Siong Kie dan menuding kearah dalam ruangan batu itu..

Tentu saja Han Song Kie mengerti apa yang dimaksudkan makhluk aneh itu, ia akan dijadikan tawanan dalam benteng maut dan selamanya tinggal disana.

Api kegusaran dan rasa dendam seketika berkobar dalam dadanya, ia tak menyangka kalau akhirnya dia bakal musnah ditangan musuh besar pembunuh keluarganya, dia ingin sekali membinasakan makhluk aneh itu kemudian musnahkan ruang batu dan akhirnya mencari tengkorak maut dan beradu jiwa dengan dirinya.

Namun sianak muda itu mengerti apa yang dibayangkan olehnya itu tak mungkin bisa dilaksanakan untuk selamanya sebab tenaga dalam yang ia miliki sama sekali telah punah.

Untuk kedua kalinya Makhluk aneh itu memberi tanda kepadanya, agar Han Siong Kie masuk kedalam ruangan.

Pemuda itu menggertak gigi kencang2, sorot matanya memancarlan api kegusaran dan rasa penasaran, sekujur badannya gemetar sangat keras.

Dengan perasaan putus asa ia menengadah memandang langit yang berwarna abu2, gumamnya seorang diri.

"Sungguh tak nyana aku bakal musnah dalam keadaan begini, dendam berdarah belum sempat kutuntut balas perintah guruku belum sempat kulaksanakan, sekalipun mati aku tak bakal mati dengan mata terpejam."

Belum habis dia bergumam, tubuhnya telah maju dengan sempoyongan, lengannya terasa jadi kencang dan sepasang kakinya sudah terangkat tinggalkan permukaan, bagaikan anak ayam disambar elang, tahu2 badannya sudah diangkat makhluk aneh itu dan dilemparkan kedalam ruang batu itu.

"Blaaamm.. badannya mencium tanah keras2, sekujur badannya terasa amat sakit bagaikan tulangnya sudah patah semua begitu terhempas keatas tanah pemuda itu sama sekali tak dapat berkutik lagi.

"Kraakk Kraakk "

Pintu baja tertutup rapat kemudian dikunci dari luar.

seketika itu juga suasana dalam ruangan itu jadi gelap gulita, begitu gelapnya hingga susah untuk melihat kelima jari tangan sendiri, hawa lembab yang dingin dan menyayat badan menyelimuti seluruh ruangan membuat badan jadi sakit bagaikan ditusuk2 jarum.

Dengan tenang dan sama sekali tak berkutik ia berbaring diatas papan batu yang dingin dan keras, benaknya serasa kosong melompong tiada ingatan apapun juga.

Dalam waktu singkat, ia tak mempunyai pikiran lagi, ingatan apapun tak tersisa dalam benaknya, pemuda itu merasakan dirinya seolah2 sudah mati .

Waktu telah kehilangan arti dan manfaatnya dalam ruang baja yang gelap itu.

Ketika matanya sudah biasa dengan kegelapan dan ia sudah dapat membedakan setiap benda yang ada disekelilingnya, kesadaran perlahan2 pulih kembali seperti sedia kala, pertama-tama ia saksikan lebar ruang batu itu tiga tombak.

empat penjuru merupakan dinding batu yang keras kecuali itu tiada sesuatu apapun yang tertinggal disana.

Hal ini membuktikan bahwa malaikat hawa panas Ko su Ki telah dipindahkan ketempat lain, bagaimanakah nasibnya sukar di duga dan sekarang ia telah menggantikan tempat kedudukannya itu serta menjadi penghuni tetap dalam ruang batu itu.

Malaikat hawa panas Ko su Ki sudah di sekap selama delapan belas tahun lamanya disana tapi tenaga dalamnya sama sekali belum punah, ia masih ada harapan untuk bisa meloloskan diri dari tempat terkutuk ini sedang dia sendiri?

setengah dari harapan yang mereka milikipun tak ada, kehidupannya akan berakhir disana.

Pemuda itu bangkit dan duduk bersandar disisi dinding teringat kembali kenangan masa lampau hatinya terasa amat sakit bagaikan di iris2.

Dendam berdarah atas kematian dua ratus jiwa anggota keluarganya tak mungkin bisa dituntut balas untuk selamanya.

Keluarga paman gurunya telapak naga beracun Thio Lin ikut musnah dari muka bumi dan mereka hanya akan merana dan penasaran dialam baka.

sepuluh hari kemudian jika gurunya Mo tiong ci mo tidak dijumpai kemunculannya sesaat sebelum meninggal ia mesti sedih gusar dan penasaran, pukulan batin yang diterimanya waktu itu pasti sulit dilukiskan dalam kata2, cita2 serta harapannya yang terkandung sejak empat puluh tahun berselang akan musnah bagaikan kabut ditempa sinar matahari dan pasti akan mati tak tenang.

Budi kebaikan yang dilimpahkan orang yang kehilangan sukma dan orang yang ada maksud selama hidup tak mungkin bisa dibalas.

Adik angkatnya Tonghong Hwei selama ini menganggap dia sudah mati bahkan mendirikan tugu untuk memperingati kematiannya tak lama kemudian dia pasti akan bunuh diri untuk menyusul dirinya, meskipun aku tak membunuh Pak-jin tapi Pak jin mati lantaran aku..

Hampir saja pemuda itu otaknya jadi sinting, dosa karena tidak berbakti, tidak setia kawan-tidak setia pada perguruan, semuanya menimpa dirinya.

Kematian, belum tentu bisa membebaskan semuanya itu dari dalam benaknya.

Ia merasa hatinya tersayat, terluka, dan akhirnya mengucurkan darah.

"Apa yang harus kulakukan untuk mengatasi semua kesulitan ini?

ingatan tersebut hampir merampas seluruh perhatian serta pikirannya.

Apakah dia harus hidup lebih jauh dalam keadaan yang lemah dan sama sekali tak berguna?

apakah dia harus menerima keadaan tersebut hingga akhir hidupnya?

Mungkinkah dia harus menyelesaikan sendiri kehidupannya yang penuh kegagalan serta kekecewaan itu?

Ia sama sekali tidak mempunyai pikiran untuk berusaha meloloskan diri dari situ, sebab segenap tenaga dalam yang dimilikinya telah musnah, sekalipun masih utuh, untuk meloloskan diri dari cengkeraman Pemilik benteng maut boleh dibilang ibaratnya bermimpi disiang hari bolong.

Cukup andalkan barisan rumah batu yang aneh dan sakti, tipis sudah harapannya untuk melarikan diri.

Rasa putus asa, bagaikan sebilah pisau tajam yang menyayat hatinya.

Rasa ingin mati, kian lama kian tebal menyelimuti benaknya.

Mendadak...

jari tangannya menyentuh suatu benda, serta merta ia ambil benda tadi dan diperiksanya dengan seksama.

Ternyata benda itu adalah sebuah bungkusan kain kecil, ketika diangkat terasa berat sekali, dengan cepat ia buka kain tadi.

Apa yang terlihat??

ternyata isi bungkusan itu adalah sebuah telapak tangan yang terbuat dari tembaga.

Ledakan rasa girang tak terbendung lagi, gumamnya seorang diri.

"Hud jiu Poo pit. Kitab pusaka tangan Buddha... kitab pusaka..."

Tak dapat diragukan lagi, benda itu pasti sudah tertinggal tatkala malaikat hawa panas Ko su Ki dipindah dari tempat itu.

Jika sepasang sarung tangan itu digabungkan menjadi satu, maka dia akan berhasil mempelajari ilmu sakti see mi sinkang, bila ilmu sakti itu sudah diyakinkan olehnya maka ia tak usah jeri terhadap keampuhan Tengkorak maut lagi.

Tapi..

ketika ia teringat kembali bahwa tenaga dalam yang dimilikinya telah musnah dan harapannya untuk meloloskan diri telah punah, bagaikan kepalanya diguyur air dingin, ia berdiri terbelalak dan tak mampu berbuat sesuatu apapun-Apa gunanya kitab pusaka tangan Buddha jika ia tak dapat melatihnya?

benda itu ibaratnya barang yang tak berguna..

"Criing"

Tangannya jadi kendor dan benda mustika yang diincar setiap umat persilatan itu terlepas dari cekalannya dan jatuh kembali keatas tanah.

seluruh ingatan dan pikirannya kembali tersita untuk memikirkan soal kematian-Ia tak sudi hidup dalam keadaan cacad dan tak bertenaga, pemuda itu merasa lebih baik mati daripada menanggung derita dan kekecewaan-.

sementara ia sedang putus harapan dan siap untuk bunuh diri "criing criing"

Sentilan jari yang menyentuh permukaan pintu baja berkumandang tiada hentinya. Han Siong Kie sama sekali tak mendongak ia segan untuk melakukan segala sesuatunya.

"Malaikat penyakitan, malaikat penyakitan"

Serentetan suara perempuan yang pernah di kenal olehnya berkumandang disisi telinga.

Sekujur tubuh Han sing Kie bergetar keras siapakah perempuan itu?

mengapa ia muncul dalam benteng maut, dari mana ia tahu kalau dirinya disekap disitu?

"Malaikat penyakitan "

Untuk kedua kalinya suara panggilan itu berkumandang. Han Siong Kie segera mendekati pintu baja itu dan tak tahan lagi dia bertanya.

"Siapakah engkau?"

"Aku? engkau tak perlu tahu dulu, aku ingin tanya apakah engkau benar2 adalah malaikat penyakitan ahli waris dari Mo tiong ci mo?"

"Benar"

"Apakah engkau masih ingat dengan seorang gadis yang pernah kau tolong dari tangan empat pengawal baju hijau dari istana Huan mo kiong?"

Han song Kie termenung dan berpikir sebentar lalu menjawab.

"Akulah gadis yang kau maksudkan itu"

"Engkau??"

"Betul, aku adakah istri yang ditinggalkan"

"Ooooh jadi nona adalah gadis yang menyebut diri sebagai istri yang ditinggalkan? sekarang aku ingat sudah"

Setelah berhenti sebentar, dengan rasa sangsi ia bertanya kembali.

"Kenapa nona bisa sampai disini ? dan darimana pula engkau tahu kalau aku disekap ditempat ini??"

"ooooh... soal itu engkau tak usah tahu"

"Apa nona adalah anggota benteng ini ??"

"Sudah kukatakan tadi, lebih baik tak perlu banyak bertanya, pernahkah engkau mendengar cerita tentang seorang sahabat yang membalas jasa atas budi yang pernah diterima olehnya???"

"Ada apa ? apakah nona..."

Sebelum pemuda itu sempat menyelesaikan kata2nya, gadis itu telah menanggapi.

"Dugaanmu tepat sekali, aku memang hendak membalas jasa baik yang pernah kuterima dari tanganmu, sekarang aku hendak tolong engkau untuk keluar dari benteng ini."

Sekujur badan Han Siong Kie gemetar keras hampir saja ia tidak percaya dengan telinga sendiri serunya dengan suara gemetar.

"Nona hendak menolong aku lolos dari benteng ini"

"Betul tunggulah sebentar disitu aku segera akan muncul dalam ruangan batu itu"

Begitu mengucapkan kata2 tersebut suaranya seketika lenyap tak berbekas.

Han Siong Kie merasakan hatinya bergejolak keras hampir saja tak dapat menahan pergolakan emosi yang luar biasa itu, gumamnya seorang diri.

"suatu pertemuan aneh benar2 kejadian ini merupakan suatu pengalaman aneh membuat orang bingung dan sama sekali tak habis mengerti"

Sesudah berpikir beberapa saat lamanya diam2 ia berpikir lebih jauh.

"Aaah tidak betul gadis yang menyebut dirinya sebagai istri yang ditinggalkan ini pastilah anggota benteng maut ini, kalau tidak dengan tenaga dalam yang dimilikinya tak mungkin ia bisa pergi kesana kemari dalam benteng tersebut dengan leluasa tapi apakah hubungannya dengan tengkorak maut, kalau toh dia anggota istana maut, kenapa tenaga dalam yang dimilikinya begitu biasa? bikin kepala jadi pusing."

"Kraaakrk kraaakkk "

Sebuah dinding batu per lahan2 bergeser kesamping dan muncullah sebuah pintu kecil.

Han Siong Kie rasakan jantungnya berdebar keras dengan pandangan tajam dia awasi terus pintu kecil itu.

sesosok bayangan tubuh yang ramping dan mulus per lahan2 muncul dalam ruangan itu, dia bukan lain adalab "Istri yang ditinggalkan"

Mendadak pelbagai pikiran dan ingatan berkecamuk dalam benak sianak muda itu pikirnya.

"Dewasa ini tenaga dalam yang kumiliki sama sekali telah buyar, sekalipun aku berhasil ditolong oleh "

Istri yang ditinggalkan"

Hingga lolos dari benteng maut tapi tugas yang dibebankan guruku belum terlaksana dengan muka apa aku harus berjumpa dengan guruku Mo tiong ci mo?

disamping itu musuh bebuyutan yang punya dendam dengan aku terlalu banyak.

sekalipun muncul dengan muka asliku atau dengan wajah malaikat penyakitan orang lain sudah pasti tak akan lepaskan diriku, kenapa aku musti menerima uluran tangannya sehingga berhutang budi kepada gadis yang bernama istri yang di tinggalkan ini??

Berpikir sampai disini dengan nada dingin ia lantas berkata.

"Apakah nona hendak tolong aku untuk keluar dari benteng ini?"

"Benar, dengan menempuh bahaya aku melakukan hal ini, maksudku tidak lain adalah guna membalas budi atas pertolongan yang pernah engkau berikan padaku"

"Maksud baik nona biarlah kuterima dalam hati saja, nona tak usah menempuh bahaya ini demi diriku"

Istri yang ditinggalkan tertegun mendengar jawaban tersebut, dengan nada tercengang bercampur tak habis mengerti ia berseru.

"Jadi engkau rela mengorbankan dirimu untuk dikubur dalam benteng ini??"

"segenap tenaga dalam yang kumiliki telah punah, keadaanku tidak jauh berbeda dengan seorang manusia cacad, apa arti hidup bagiku??"

"Ooooh tentang soal itu terus terang kuberitahukan kepadamu, tenaga dalam yang kau miliki masih utuh, hanya jalan darahmu tertotok mengakibatkan urat dan nadi mu jadi kacau balau, oleh sebab itulah hawa murnimu tak dapat dihimpun kembali"

Setelah mendengar keterangan tersebut, timbullah harapan untuk hidup dalam hati kecilnya, rasa putus asa yang semula menyelimuti hatinya kini tersapu lenyap dari benaknya, dengan penuh emosi ia berseru.

"Sungguhkah apa yang nona ucapkan itu??"

"Aku rasa tiada kepentingan apa2 bagiku untuk membohongi dirimu"

"Lalu kepandaian apakah yang telah digunakan oleh pemilik benteng maut untuk melukai diriku ??"

"Suatu kepandaian rahasia yang tak pernah diwariskan kepada siapa2 dari Benteng Maut"

"Nona dapat memunahkannya?"

"Tentu saja dapat"

Sahut gadis itu sambil mengangguk "tapi aku tak dapat membebaskan jalan darahmu itu, sebab untuk melepaskan engkau dari sini aku telah menempuh suatu jalan yang amat berbahaya, jika aku bebaskan pula jalan darahmu yang tertotok itu berarti kematian yang tak bisa ditawar lagi bagiku, sebab itulah peraturan dari benteng maut ini"

"jadi nona adalah anggota benteng maut? "

Tegur Han Siong Kie dengan suara dalam.

"Benar, ucapanmu itu sama sekali tak keliru"

"Apa hubunganmu dengan pemilik benteng maut ini??"

"Maaf untuk sementara waktu aku tak dapat memberitahukan soal ini kepadamu"

"Tapi aku harus mengetahuinya lebih dahulu"

Rasa serba salah dan keberatan terlintas diatas wajah istri yang ditinggalkan, setelah ragu2 beberapa saat lamanya, ia tetap gelengkan kepalanya berulang kali.

"Aku tak dapat beritahukan rahasia ini kepadamu"

Katanya. Melihat keputusan gadis itu, Han Siong Kie segera berpikir dalam hati.

"Kalau ditinjau dari sikapmu itu, sudah pasti ia mempunyai hubungan yang luar biasa dengan Tengkorak maut, sebaliknya antara aku dengan Tengkorak maut terikat oleh dendam sedalam lautan, darimana aku boleh menerima budinya ? tapi...Aaaai kalau aku tetap berdiam disini mana mungkin dendamku bisa terbalas?"

Harapan untuk pulihkan kembali kekuatan tubuh yang dimilikinya mendorong sianak muda itu untuk cepat2 tinggalkan benteng yang mirip neraka ini.

Dalam keluarga bakti kepada gurunya...

serta masalah lain yang pelik kembali berkecamuk dalam benak pemuda itu, akhirnya tak tahan lagi ia bertanya.

"Siapakah orang2 dalam persilatan yang sanggup membebaskan aku dari pengaruh totokan ini?"

"Sulit untuk dikatakan? dunia persilatan amat luas, banyak keanehan yang terlingkup didalamnya, soal ini harus dilihat dari rejekimu sendiri, kalau ada jodoh aku rasa gampang untuk temukan manusia seperti itu, sebaliknya kalau tidak berjodoh...apa mau dikata lagi?"

Dengan mulut membungkam Han Siong Kie mengangguk. pikirnya didalam hati.

"Guruku Mo tiong ci mo sangat hapal dengan ilmu silat yang dimiliki Tengkorak maut, mungkin ia bisa bebaskan pengaruh totokan ini, selain itu bukankah masih ada orang yang kehilangan sukma, serta Put to sianseng beberapa orang jago misterius yang berkepandaian lihay? siapa tahu.."

Terdengar gadis itu berkata lebih jauh.

"Setelah engkau keluar dari benteng ini, aku harap engkau bersedia merahasiakan apa yang pernah kau saksikan dalam benteng ini sehingga tidak sampai bocor kedalam dunia persilatan?"

"Tentang soal ini aku bisa memenuhinya, tapi sebelum itu akupun hendak mengutarakan dua hal lebih dahulu"

"Katakanlah cepat"

"Pertama aku punya janji dengan malaikat hawa dingin Mo siu In untuk mencarikan jejak suaminya yakni malaikat hawa panas Ko su Ki untuk mencegah malaikat hawa dingin melakukan pembantaian lagi. terhadap orang persilatan terpaksa aku harus bocorkan jejak suaminya itu kepada perempuan tersebut"

"Tentang soal itu sih boleh saja, jika malaikat hawa dingin berani mencari gara2 kemari itu berarti dalam benteng kami ini akan bertambah dengan seorang penghuni lagi"

"Kedua jika tenaga dalamku telah pulih kembali maka aku akan menyatroni kembali benteng maut ini.."

"Apa engkau akan datang lagi?"

"Betul"

"Kenapa?"

"Untuk membalas dendam"

"Oooh engkau punya dendam dengan poocu benteng ini?"

"Benar, dendamku lebih dalam dari pada samudra, jikalau nona menyesal untuk melepaskanku pergi dari sini sekarang juga engkau masih sempat menarik kembali tawaranmu itu"

Paras muka gadis yang bernama istri yang ditingalkan itu berubah hebat, akhirnya dengan sedih ia berkata.

"Baik, engkau boleh terhitung sebagai seorang pendekar jujur yang jarang ditemui dalam dunia persilatan, hari ini kulepaskan dirimu karena ingin membalas budi pertolongan yang pernah kau berikan kepadaku sedangkan mengenai rencanamu untuk menuntut balas dalam benteng maut ini, hal itu boleh dianggap masalah lain"

"Dan nona tak akan menyesal dengan perbuatanmu itu?"

"Tiada alasan menyesal bagiku untuk perbuatan yang telah kulakukan dengan penuh kesadaran."

"Kalau begitu kuucapkan banyak terima kasih lebih dahulu atas bantuanmu itu"

"Engkau tak usah berterima kasih kepadaku, kita satu bayar satu, budi diantara kita sama sekali telah terhapus, dan sekarang kitapun harus segera berangkat"

"Bagaimana caranya kita keluar dari sint?"

Tiba2 gadis itu melancarkan sebuah totokan kilat keatas tubuh Han Siong Kie..

sianak muda itu seketika merasakan badannya merasa gemetar keras, sebelum ingatan kedua sempat berkelebat dalam benaknya, ia sudah roboh terkapar diatas tanah.

Ketika ia sadar kembali dari pingsannya, terasa angin dingin berhembus lewat menggidikkan badan-suara gulungan ombak terdengar kembali dengan jelas, ketika ia buka matanya tampaklah bintang bertaburan diangkasa, dinding benteng yang hitam pekat berdiri mentereng dihadapannva, ternyata ia sudah berada diluar benteng maut.

"Saudara, sekarang engkau boleh segera tinggalkan tempat ini Nah, inilah benda milikmu yang ketinggalan, baik2lah kalau menyimpannya."

Begitu ucapan tersebut selesai diutarakan, sebuah buntalan terjatuh disisinya sedang gadis itu sudah lenyap dari pandangan.

Han Siong Kie bangkit berdiri, dalam hati ia merasa bersyukur karena isi buntalan itu adalah sebagian dari Hud jiu Poopit yang diidamkan setiap umat persilatan, semula benda itu merupakan benda milik malaikat hawa panas yang tinggalkan disana, tapi gadis istri yang ditinggalkan mengira sebagai miliknya, kini benda itu dibawa keluar dan diserahkan kembali kepadanya.

Bukankah itu berarti bahwa benda mustika itu berjodoh dengan dirinya??

andaikata masih ketinggalan dalam benteng maut, bukankah semua harapannya ikut lenyap?

setelah menyimpan buntalan itu baik2, pemuda itu melirik sekejap kearah Benteng maut yang bercokol bagaikan iblis raksasa itu, kemudian putar badan dan berlalu dari sini.

setelah tenaga dalamnya punah, keadaan Han Siong Kie tidak jauh berbeda dengan manusia biasa, selangkah demi selangkah berjalan tinggalkan benteng itu.

Ia merasa dirinya seperti baru sadar dari suatu impian buruk, dalam sehari belaka dari seorang jago persilatan yang ampuh telah berubah jadi manusia biasa yang lemah tak bertenaga.

Dan satu hal yang mimpipun tak pernah disangka olehnya, ia telah berjumpa kembali dengan Tonghong Hui yang dirindukan olehnya selama ini...

Jika Tonghong Hui tahu kalau malaikat penyakitan yang telah ditolongnya olehnya bukan lain adalah engkoh Kie yang dianggap sudah mati dibunuh oleh orang2 perkumpulan Thian che kau, serta ia bersumpah hendak balaskan dendam sakit hatinya itu, mungkin ia bisa mengerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya untuk bebaskan sianak muda itu dari pengaruh totokan.

Sedangkan Han Siong Kie sendiri, andaikata ia tahu kalau "istri yang ditinggaikan"

Adalah adik angkatnya Tonghong Hui, mungkin iapan akan membuka rahasianya hingga apa yang kemudian terjadipun bisa dibayangkan setiap orang.

Sayang, Takdir telah menentukan lain, sepasang merpati itupun harus melewatkan kesempatan baik itu dengan Begitu saja..Dengan susah payah Han Siong Kie menyeberangi jembatan batu dan tiba ditepi pantai berpasir, seCara lapat2 ia merasa se akan2 melihat adik angkatnya Tonghong Hui sedang duduk diatas batu cadas dimana mereka berjumpa untuk pertama kalinya, rasa sedih menyelimuti seluruh wajah pemuda ini.

Dengan langkah yang ling lung ia naik ke atas daratan dan per-lahan2 meneruskan perjalanannya lewat jalan raya.

Ingatan pertama yang berkelebat dalam benaknya saat ini adalah bagaimana caranya tiba ditempat tinggal gurunya dengan gerak badan paling cepat dia harus tiba disitu sebelum sepuluh hari lewat karena gurunya pernah berkata bahwa ia masih ada pesan lain yang hendak disampaikan.

sementara itu dari tempat2 tersembunyi tidak jauh dari jalan raya berpuluh2 pasang mata dengan sorot mata penuh rasa kejut dan tercengang sedang mengamati gerak gerik dari Han Siong Kie..

Dengan mata kepala sendiri mereka saksikan pemuda itu masuk kedalam benteng dan sekarang mereka saksikan pula ia muncul dari dalam benteng dalam keadaan selamat.

Meskipun dari langkah kaki Han Siong Kie yang berat dan lambat menimbulkan perasaan heran dan tak habis mengerti dalam hati kecil mereka, namun siapapun tak berani mencabut kumis harimau secara gegabah kelihatannya dan kedahsyatannya Malaikat Penyakitan sudah amat tersohor dikolong langit.

-00d000w00-BAB 28 SECARA diam2 mereka terus menguntit dibelakangnya, jauh dibelakang dan sangat hati2 sekali hingga sedikitpun tak menimbulkan suara, mereka takut jejaknya ketahuan oleh pemuda lihay itu.

Tentu saja mimpipun ia tak mengira kalau Malaikat penyakitan yang mereka takuti dan segani, kini sudah merupakan seekor harimau ompong.

segenap ilmu silatnya punah tak berbekas.

sebaliknya Han Siong Kie sendiripun tak menyangka kalau ia dikuntit dan diawasi gerak geriknya oleh para jago silat.

Dengan cepat berita itu disiarkan oleh para jago persilatan yang berjaga disekitar benteng Maut kesegala penjuru dunia dengan cara yang paling cepat.

Malaikat penyakitan, ahli waris dari Mo-tiong ci-mo setelah masuk kedalam benteng maut ternyata telah muncul kembali dari benteng itu dalam keadaan selamat.

Begitu kabar itu tersiar dikolong langit sebagian besar orang persilatan segera menganggap pemilik benteng maut atau yang dikenal sebagai Tengkorak maut,pastilah hasil penyaruan dari Mo tiong ci mo, sebab pada empat puluh tahun berselang, Tengkorak maut dan iblis diantara iblis tak pernah munculkan diripada saat yang bersamaan.

Dengan tersiarnya kabar itu, maka Han Siong Kie menjadi sasaran dari perhatian segenap umat persilatan.

terutama sekali mereka2 yang pernah merasakan kelihayan dan menderita kerugian ditangan Tengkorak maut serta iblis diantara iblis..

Fajar telah menyingsing ....

sang surya memancarkan cahaya ke emas2an dari ufuk sebelah timur.

Han Siong Kie merasa lapar, dahaga bercampur penat ...

perjalanan yang ditempuh semalam suntuk hanya berhasil melampaui jarak sejauh enam puluh li, ia mempunyai tujuan untuk menuju kota yang terdekat, makan hingga kenyang kemudian membeli kuda untuk melanjutkan perjalanan.

Sebuah hutan lebat terbentang di depan mata, nun jauh diseberang hutan ia temukan sebuah dusun kecil penemuan itu membuat semangatnya bangkit kembali, ia segera percepat langkahnya menuju dusun tersebut.

Tiba2 desiran ujung baju tersampok angin berkumandang datang dari arah depan.

Han Siong Kie terkesiap.

serentak ia menghentikan langkah kakinya dan berpaling ke arah mana berasalnya suara itu.

Tiga sosok manusia meluncur datang dari depan dan secepat kilat mengepung sianak muda itu dalam posisi segi tiga.

Diikuti...sreet sreeet desiran tajam bergema tiada hentinya beb erapa puluh sosok bayangan manusia muncul dari arah empat arah delapan penjuru, diantara mereka terdapat aneka ragam manusia, dari padri, imam sampai kaum pengemis dari kay-pang jumlahnya diantara seratus orang..

Han Siong Kie merasa amat terkejut menghadapi pemunculan jago yang Begitu banyaknya, ia sadar bahwa orang2 itu muncul untuk mencari gara2 dengan dirinya, padahal tenaga dalam yang ia miliki telah punah, bukankah itu berarti hanya jalan kematian yang bakal diterima olehnya?

Dalam keadaan Begitu, Han Siong Kie tidak dapat berbuat lain kecuali mengawasi tiga orang jago yang berada disekelilingnya.

orang pertama adalah seorang imam tua yang rambut maupun alisnya telah putih, sekilas memandang ia segera kenali imam tua tersebut sebagai Kui Goan cu, ketua Tiangloo dari partai Khong tong yang pernah cari tahu jejak gurunya, ia tercekat dan jantungnya berdebar keras.

orang kedua adalah seorang padri tua bermuka merah, sedangkan orang ketiga adalah seorang nenek tua bermuka jelek.

berwajah keriput dan membawa tongkat kuning berwarna ke emas2an.

Enam buah sorot mata yang tajam, laksana kilat menatap wajah Han Siong Kie tanpa berkedip.

setelah hening beberapa saat lamanya, per-tama2 Kui Goan cu dari partai Khong tong yang buka suara lebih dahulu tegurnya.

"siau sicu, kembali kita berjumpa muka"

Han Siong Kie tahu bahwa ia tak dapat lolos dari kepungan lagi, sambil bulatkan tekad ia balas menegur dengan suara dingin.

"Ada urusan apa kalian datang mencari aku?"

"Bu liang siu hud"

Seru Kui Goan cu sambil rangkap sepasang telapaknya "sebelum kita berbicara marilah aku perkenalkan dahulu dua orang jago ini, yang satu ini adalah Seng Gong taysu dari gereja siau lim si, sedang yang itu adalah Kim ciang popo dari gunung Yan san selain itu hadir pula umat persilatan dari pelbagai penjuru, adapun kehadiran kami semua adalah mengandung satu tujuan"

"Apa tujuan kalian?"

"Kami sangat berharap dapat mengetahui jejak dari gurumu Mo tiong ci mo"

Mendengar ucapan tersebut, diam2 Han sioag Kie mengeluh dalam hatinya.

"Habis sudah riwayatku ini hari, pasti aku akan menemui ajalnya ditempat ini."

Manusia apabila jiwanya terancam oleh bahaya maut, ia sudah putus asa kadangkala malah akan pasrah dan jauh lebih tenang sikapnya dari pada siapapun.

Demikian juga keadaan Han Siong Kie pada saat itu, bukannya jeri atau pecah nyali dia malahan berseru dengan nada angkuh.

"Kalau aku tidak bersedia menjawab kalian mau apa?"

Paras muka tiga orang jago lihay itu seketika berubah hebat. Seng Gong taysu dari gereja siau lim si segera mendengus dingin.

"Hmm aku rasa siau sicu tak dapat ambil keputusan dengan seenak hatinya sendiri"

Kim ciang popo dari gunung Yao sanpun menepuk tongkat emasnya berulang kali, kemudian sambil menatap pemuda itu dengan pandangan tajam hardiknya.

"Hey bocah muda, aku harap engkau bersedia menjawab beberapa buah pertanyaanku secara jujur"

Han Siong Kie menyapu wajah Kim ciang po dengan pandangan dingin kemudian katanya.

"Aku bisa menjawab dengan sejujurnya asal pertanyaan yang kau ajukan pantas kujawab dengan jujur?"

"Hmm aku ingin tahu apakah Me tiong ci mo adalah hasil penyamaran dari pemilik benteng maut yang disebut Tengkorak maut"

Mendapat pertanyaan tersebut, Han Siong Kie malah terperanjat dibuatnya.

"Darimana engkau bisa berkata demikiam?"

Serunya.

"Bukankah engkau adalah ahli waris dari iblis diantara iblis??"

"Tentu saja aku toh tak pernah menyangkal akan kebenaran tersebut?"

"Dan engkau .... bukankah baru saja keluar dari Benteng maut??"

Satu ingatan dengan cepat berkelebat dalam benak Han Siong Kie, ia tahu tindakannya memasuki benteng maut serta lolosnya dia dalam keadaan selamat pasti sudah diawasi oleh kawanan persilatan, sehingga dalam waktu singkat Begitu banyak umat persilatan yang telah berkumpul disana.

Dengan nada gamblang ia segera mengangguk tanda membenarkan-"Benar, aku memang baru saja keluar dari benteng maut itu"

"Kenapa engkau bisa keluar dari benteng tersebut dalam keadaan selamat?"

Desak Kim ciang popo lebih jauh.

"Aku rasa persoalan ini sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan dirimu, jadi aku harap lebih baik engkau tutup mulut saja"

Paras muka Kim ciang popo yang jelek seketika berubah sangat hebat, rambutnya yang telah beruban bergetar keras, serunya lagi dengan nada menyeramkan-"sebenarnya lblis diantara iblis adalah penyaruan dari Tengkorak maut atau bukan?"

"Berdasarkan alasan apa engkau ajukan pertanyaan yang ngawur seperti itu?"

"Berdasarkan kedudukanmu serta tingkah lakumu yang dapat keluar masuk Istana maut secara bebas"

Meskipun tenaga dalam yang dimilikinya telah punah, kecongkakan dan kejumawaan dalam sikap Han Siong Kie sama sekali tidak berkurang, kontan ia tertawa dingin tiada hentinya.

"Heehh heehh heehh.. apakah engkau tidak merasa terlalu brutal ucapanmu itu?"

"ooh.. jadi engkau tidak bersedia untuk bicara?"

"Jangan paksa aku untuk bicara kalau kau ingin tahu dudukperkara yang sebenarnya kenapa tidak berkunjung sendiri kedalam Istana maut untuk melakukan penyelidikan?"

Ucapan yang kasar dan sangat mengena di hati itu seketika membuat paras muka tiga orang jago persilatan itu berubah hebat.

Beberapa waktu kemudian seng Gong taysu dari gereja siau lim si berseru kembali.

"Kami akan berkunjung sendiri kesana untuk melenyapkan bibit bencana bagi umat persilatan, segenap umat Bu-lim akan bersatu padu untuk menghancurkan benteng maut dari muka bumi, tapi bagi siau sicu sendiri aku rasa lebih baik bicara terus terang saja sebab kalau tidak.."

"Kalau tidak kenapa?"

"segenap umat persilatan yang hadir dalam gelanggang hari ini mungkin tak akan melepaskan siau sicu dengan begitu saja"

"Termasuk taysu sendiri?"

"omintohud mau tak mau terpaksa aku harus ikut serta dalam pergerakan ini"

Dalam hati timbullah keinginnan bagi Han Siong Kie untuk menerangkan bahwa Tengkorak maut bukanlah hasil penyaruan dari Mo tiong ci mo, tapi sebelum ia sempat berbicara, Kim ciang popo telah tak sabar lagi dan segera membentak keras.

"Bocah keparat, ayoh bicara"

Mendengar bentakan itu, Han Siong Kie merasa gusar sekali, ia tahu seratus orang jago persilatan yang berkumpul disana waktu itu, semuanya merupakan lawan2 dari Tengkorak maut ataupun iblis diantara lblis.

bicara atau tidak baginya sama saja tak ada artinya, maka dengan ketus pula dia menjawab "Aku tak mau bicara engkau mau apa?"

Sejak lama Kim ciang popo, yang beradat keras sudah ada keinginan untuk mencoba kelihayan Malaikat penyakitan yang dikatakan sangat lihay itu, toya emasnya segera direntangkan didepan dada lalu berseru.

"Bocah dungu, engkau anggap dengan andalkan beberapa ilmu silat sesatmu itu maka engkau sudah dapat malang melintang dikolong langit tanpa tandingan?"

Han Siong Kie sadar jika lawannya turun tangan maka dia pasti tak akan lolos dari cengkeraman mautnya tapi bagi sianak muda itu tak ada jalan lain kecuali menerima kematian tersebut dengan pasrah.

Rasa sedih murung dan kesal berkecamuk dalam benaknya, ia tak menyangka setelah nyaris mati dalam benteng maut akhirnya toh harus menerima kematian ditangan para jago persilatan-Sambil menggertak gigi segera serunya.

"Engkau tak usah mengancam, aku tak terbiasa dengan gertak sambal macam itu"

"Anak iblis sialan mulutmu benar2 sangat tajam akan kujajal dirimu lebih dahulu"

Bentak Kim ciang popo dengan penuh kegusaran.

Cahaya emas berkelebat lewat, toya emas itu secepat kilat meluncur kearah depan.

suasana dalam gelanggang seketika diliputi ketegangan, semua orang ingin tahu apa yang terjadi setelah nenek toya emas melepaskan serangan gencarnya.

Ditengah jeritan yang amat nyaring tubuh Han Siong Kie tersapu telak dan mencelat keangkasa, darah segar muncrat keluar dari bibirnya.

Tiga orang jago yang ada ditengah gelanggang kontan jadi tertegun dibuatnya.

Para jago yang ada disekeliling gelanggangpun memperdengarkan jeritan kaget bercampur nada heran.

"Blammm..."

Badan Han Siong Kie terlempar sejauh tiga tombak dari tempat semula dan roboh tak berkutik lagi diatas tanah.

Meskipun tenaga dalam masih dimiliki olehnya, tapi karena urat2 penting dalam tubuhnya ditotok oleh pemilik benteng maut maka hawa murni yang dimilikinya tak dapat dihimpun menjadi satu, kendatipun Begitu berkat tenaga dalam sebesar dua ratus tahun hasil latihan yang masih terkandung di dalam tubuhnya, ia selamat dari luka yang lebih parah akibat hantaman toya tersebut.

Peristiwa itu sama sekali berada diluar dugaan setiap orang, malaikat penyakitan yang dua hari berselang masih malang melintang tanpa tandingan dikolong langit, ternyata pada saat ini tak mampu menghadapi sebuah serangan dari Kim ciang popo.

"Apa yang sebenarnya telah terjadi?"

Per-tama2 Seng Gong taysu menegur lebih dulu dengan muka tercengang dan perasaan tidak habis mengerti. Dengan perasaan bimbang dan ragu Kui Goan cu dari partai Khong tong ikut gelengkan kepalanya.

"Aku sendiripun tak dapat menjelaskan persoalan itu, sebab ketika untuk pertama kalinya aku berjumpa dengan bocah itu, jelas kuketahui bahwa ia memiliki ilmu silat yang sangat lihay."

"Hei hidung kerbau, engkau yakin tak salah melihat?"

Tegur Kim ciang oopo dengan marah. sebutan "

Hidung kerbau"

Itu dirasakan tajam dan pedas dalam hati Kui Goan cu, merah padam selembar wajahnya, dengan terbata2 ia lalu menjawab.

"Bukankah ia telah mengakui sendiri akan hal itu??"

"Tapi kenyataan membuktikan kalau ia sama sekali tidak berkepandaian silat, bagaimana penjelasanmu tentang soal ini??"

Dalam pada itu dengan sempoyongan perlahan2 Han Siong Kie bangkit berdiri dari atas tanah, para jago yang hadir dalam gelanggang kembali dibuat gempar oleh kejadian tersebut.

Sambil mengenyitkan alisnya yang tebal, Seng Gong taysu segera berkata.

"Kalau dikatakan ia sama sekali tak berilmu silat, hantaman toya tadi sudah cukup untuk mematahkan tulang punggungnya, tapi.. kenapa ia tidak mampus?"

Kim ciang popo termenung beberapa saat lamany a, kemudian menjawab.

"Perduli bagaimanapun juga, duduk persoalan yang sebenarnya hanya bisa kita ketahui dari mulutnya sendiri"

Ia enjotkan badan dan melayang kehadapan Han Siong Kie.

Pada waktu itu pemuda she Han tersebut berdiri dengan sempoyongan, sekujur badannya terasa amat sakit, tenaganya ludas dan untuk berbicarapun tak kuat lagi, dengan pandangan sayu ia balas menatap wajah lawannya.

Mendadak..

Kim ciaog popo melihat sesuatu diatas tanah, ia temukan sebuah benda hitam menggeletak ditanah, ketika diambil ternyata benda itu adalah sebuah sarung tangan terbuat dari tembaga, diatas punggung dan telapak sarung tangan itu penuh terukir tulisan2 yang lembut.

Dengan hati berdebar perempuan itu, mengawasi lebih seksama lagi, tiba2 ia menjerit kaget.

"Aaaah kitab pusaka Hud jiu Poo pit"

Rupanya sewaktu tubuh Han Siong Kie terhantam oleh toya tadi dan mencelat keudara, tanpa disadari olehnya kitab pusaka tangan Buddha itu sudah terjatuh keatas tanah.

Betapa terperanjatnya sianak muda itu setelah mendengar seruan itu, tapi jiwanya pada saat ini terancam bahaya, tentu saja tidak sempat baginya lagi memikirkan benda itu lagi, maka melirikpun ia tidak.

Kui Goan cu dari partai Khong tong serta seng Gong taysu dari gereja siau lim si memiliki ketajaman pendengaran yang luar biasa, kedua oraog itu menerjang kedepan ketika dilihatnya benda yang berada dalam genggaman Kim ciang popo ternyata bukan lain adalah kitab pusaka Hud jiu Poopit yang sudah tersohor namanya didalam dunia persilatan sejak seratus tahun berselang, mereka sama2 berdiri terperangah dibuatnya.

Baik Kui Goan cu maupun Seng Gong taysu sama2 merupakan orangZ beribadah yang beriman tinggi namun setelah menjumpai benda mestika yang tak ternilai harganya itu tak urung mereka unjukan pula rasa tamak dan napsU serakahnya.

Tiba2 antara gerombolan jara jago yang hadir disisi gelanggang terdengar seseorang dengan suara yang aneh dan berseru.

"Kitab pusaka telapak Buddha dari mana anak iblis ini bisa dapatkan benda mustika itu??"

Begitu teriakan tersebut keluar dari mulutnya seketika itu juga suasana jadi gempar dan para jago persilatan yang berada disekeliling gelanggang sama2 menerjang kedepan bagaikan gulungan air bah.

Buru2 Kim ciang popo masukan kitab pusaka telapak Buddha itu kedalam sakunya kemudian enjotkan badannya dan melayang keluar gelanggang dalam dua tiga kali loncatan saja tubuhnya sudah berada tiga puluh tombak jauhnya dari tempat semula.

Ditengah suara bentakan dan hiruk pikuk yang amat memekikkan telinga, semua jago persilatan yang berada disekeliling tempat itu sama2 mengerahkan segenap kekuatannya untuk melakukan pengejaran.

Gerakan tubuh Kim ciang popo cepat bagaikan sambaran kilat, dengan kepandaian silat yang dimilikinya untuk meloloskan diri bukaniah suatu pekerjaan yang terlalu sulit, tapi ketika untuk ketiga kalinya ia melayang keudara, mendadak segulung angin pukulan yang amat dahsyat dan santar menerjang kearah badannya dan memaksa perempuan itu mau tak mau harus meluncur kembali keatas tanah.

seorang kakek tua yang cebol dan gemuk bagaikan ibis, ibarat sukma yang melayang saja tahu2 sudah munculkan diri dihadapannya.

Begitu melihat siapa yang munculkan diri, diam2 Kim-ciang Popo tarik napas dingin, dengan hati terkesiap segera tegurnya.

"Tee heng sian Dewa berjalan dalam tanah apa maksudmu datang kemari?"

Orang yang barusan munculkan diri itu bukan lain adalah "

Tee heng sian"

Dewa berjalan dalam tanah Tok Kun yang dikenal sebagai manusia paling sulit dilayani, jarang ada orang yang mengetahui akan asal usulnya, tiada orang pula yang mengetahui sampai dimanakah kelihayan tenaga dalam yang dimilikinya.

sementara itu dewa berjalan dalam tanah telah tertawa cekikikan sambil berkata.

"Hiihhh hiiihhh hiiiihhh Oei Cio Kiok siapa yang melihat ia mendapat bagian, masa engkau hendak mengangkangi benda mustika itu untuk kepentinganmu seorang diri?"

Dalam waktu yang amat singkat itulah semua jago persilatan yang mengejar dari belakang telah tiba disana dan mereka segera membentuk lingkaran kepngan yang berlapislapis. -00d000w00-

Jilid 14 KARENA kemunculan harta mustika tadi, perhatian semua orang ditujukan kearah sarung tangan Hud jiu poo pit itu, dan Han Siong Kie untuk sementara waktu terlupakan.

Nenek bertoya emas Oei Ciu Kiok yang jalan perginya dihadang, hatinya merasa mendongkol bercamcur gusar, sambil menggertak gigi dan melototkan matanya bulat2 ia berseru.

"Dewa berjalan dalam tanah, apakah engkau hendak merampas barang milik orang lain? terus terang kuberitahukan kepadamu, aku oei ciu Kiok bukanlah lampu lentera yang kehabisan minyak, orang lain mungkin jeri kepadamu, tapi aku nenek tua sama sekali tidak memperdulikan akan soal itul"

Dewa berjalan dalam tanah menggerakkan badannya yang gemuk dan cebol hingga maju beberapa depa kedepan, sambil picingkan matanya jadi kecil ia menjawab.

"Ooooh tidak berani aku tidak berpikiran begitu, cuma kedatangan kita orang2 persilatan pada saat ini toh dikarenakan satu tujuan? tidak sepantasnya kalau engkau lupa kawan dan pergi dengan begitu saja"

Suara bisikan dan kegaduhan menyelimuti seluruh gelanggang, berpuluh2 pasang mata yang memancarkan keserakahan sama2 ditujukan kearah kitab pusaka Hud ji Poo pit yang berada dalam saku nenek bertoya emas, semua orang mengilar dan ingin mendapatkannya.

Rupanya nenek bertoya emas mengetahui akan kekuatan sendiri, ia sadar asal manusia cebol itu turut campur dalam perebutan ini, maka semua perhitungannya akan meleset, rasa benci dan dendam segera menyelimuti hatinya, sambil silangkan toyanya didepan dada ia berseru.

"Cebol sialan, aku nenek tua mohon beberapa petunjuk ilmu silat darimu"

"ooooh ..... jangan salah paham, aku bukan datang kesini untuk ajak engkau berkelahi"

Sahut Dewa berjalan dalam tanah sambil mengebaskan ujung bajunya.

"seorang pria sejati tak akan berkelahi dengan kaUm wanita sekalipun menang juga tak bisa dibanggakan."

"Kentut busuk"

Cahaya ke emas2an berkelebat lewat, toya emas itu bagaikan beribu2 ekor ular emas secepat kilat meluncur kedepan dan menghantam sekujur badan Dewa berjalan dalam tanah.

Merasakan datangnya ancaman tersebut, Dewa berjalan dalam tanah segera menggerakan tubuhnya dan meloloskan diri dari kurungan bayangan toya lawan ia menghardik.

"Tahan-."

Cahaya emas jadi lenyap tahu2 ujung toya emas tersebut sudah kena dicengkeram oleh Dewa berjalan dalam tanah.

Demontrasi kepadaian yang amat luar biasa ini seketika membuat para jago persilatsn yang berada disisi gelanggang jadi amat terkesiap dan berubah wajah mereka, sama sekali tak mengira kalau ilmu silat yang di miliki Dewa berjalan dalam tanah begitu lihaynya sehingga dalam sekali gebrakan saja toya emas lawannya berhasil digenggam.

Paras muka Nenek bertoya emas yang pada dasarnya sudah jelek, kini berubah makin jelek lagi.

sorot mata penuh kebencian dan perasaan dendam memancarkan keluar dari mata nenek tua, rambutnya yang telah beruban pada bangkit berdiri bagaikan landak.

Tiba2 Dewa berjalan dalam tanah mengendorkan cekalannya, Nenek bertoya emas segera mundur tiga langkah kebelakang.

Kenyataan dengan jelas membuktikan bahwa suatu persekongkolan untuk menghadapi ahli waris dari iblis diantama iblis, kini sudah berubah jadi suatu perebutan benda mustika yang melibatkan setiap umat persilatan dari segala penjuru kolong langit.

Dengan sorot mata yang tajam Dewa berjalan dalam tanah menyapu sekejap wajah semua jago yang hadir disana, kemudian tertawa terbahak2.

"Haahh haahh..haahh.. tujuan dari kehadiran rekan persilatan semua pada saat ini adalah untuk menghadapi anakan iblis tersebut, kemudian mencari tahu jejak dari iblis tua serta membalas dendam berdarah dari masing2 perguruan, oleh karena itu kita tak boleh merobah tujuan kita hanya disebabkan karena kemunculan benda pusaka yang sama sekali tak terduga ini"

Semua orang anggukkan kepalanya tanda menyetujuinya namun sorot mata yang memancarkan kerakusan masih belum tergeser dari tubuh nenek bertoya emas.

Setelah berhenti sebentar Dewa berjalan dalam tanah melanjutkan kembali kata2nya.

"Dewasa ini kita harus bereskan dahulu persoalan kita yang terpenting, sedangkan mengenai pusaka yang muncul secara tak terduga ini Hiiihhh biiihhh hilihhh setiap orang yang hadir disini berhak untuk memperoleh bagian, penyelesaian boleh kita lakukan belakangan saja cuma ..."

Bicara sampai disini ia lantas berpaling kearah Nenek bertoya emas dan menambahkan-"oei ciu Kiok.

sekali lagi kuperingatkan kepadamu jikalau engkau hendak mengangkangi benda mustika tersebut seorang diri maka orang pertama yang akan dicari oleh iblis diantara iblis atau Tengkorak maut adalah engkau, percayakah engkau bahwa dengan kekuatanmu kamu bisa lolos dari bencana itu?"

Ucapan yang tajam dan tepat itu segera mengena dihati Nenek bertoya emas, membuat bulu kuduknya tanpa terasa pada bangun berdiri, ia gelagapan dan tak mampu mengucapkan sepatah katapun Dipihak lain..

setelah berdiri termangu2 beberapa saat lamanya, Han Siong Kie tersadar kembali dari lamunannya, sambil menahan rasa sakit yang tak terkirakan selangkah demi selangkah ia berjalan menuju keujung hutan, mempertahankan kehidupan adalah suatu tindakan yang jamak sebagai umat manusia, pemuda itu sadar bahwa jiwanya pada hari itu terancam bahaya, tapi sepenuh tenaga ia berusaha untuk mencoba selamatkan jiwanya dari ancaman tersebut.

Terdengar Dewa berjalan dalam tanah berkata kembali.

"sekarang lebih baik saudara sekalian menangkap bocah muda itu lebih dahulu. janganlah biarkan dia lolos dari tempat ini, siapa tahu kalau bocah muda itu sengaja menggunakan siasat untuk menipu kira dengan pura2 tak berkepandaian, karena melihat jumlah kita yang terlalu banyak dan sadar kalau tak mampu melakukan perlawanan, kita tidak boleh termakan oleh tipu muslihatnya itu..."

Kobaran semangat tersebut segera membangkitkan kembali semangat para jago untuk menangkap Han Siong Kie, tapi sebelum sempat berbuat sesuatu, mendadak ....

Nenek bertoya emas dengan suara yang keras dan nyaring bagaikan geledek berseru.

"Bagus... bagus sekali... manusia cebol berani benar engkau gunakan ilmu mencopet untuk mencuri benda mustika Hud jiu Poo pit dari sakuku, ayoh cepat serahkan kembali kepadaku"

Begitu bentakan tersebut diutarakan keluar, sorot mata semua orangpun tanpa sadar sama2 dialihkan keatas badan Dewa berjalan dalam tanah.

Paras muka Dewa berjalan dalam tanah sama sekali tak berubah, deagan nada dingin ia menjawab.

"Heemmm hheeemmm engkau tak usah ribut2 terus untuk sementara waktu biarlah benda mustika aku yang simpan lebih dahulu" . Rasa benci dan dendam Nenek bertoya emas terhadap Dewa berjalan dalam tanah sudah mendarah daging, ia kontan mendengus dingin.

"Hmm engkau tak usah berlagak sok. perkataan semacam itu hanya bisa membohongi bocah berumur tiga tahun, kalau aku nenek tua tidak percaya dengan pribadimu lantas bagaimana??"

Ucapan ini seketika membungkamkan mulut Dewa berjalan dalam tanah, dari malu ia jadi gusar dan segera teriaknya.

"Anggap saja aku telah merampasnya dari tanganmu engkau mau apa?"

Suasana dalam gelanggang kontan berubah jadi hening sunyi dan sedikiteun tak kedengaran apa2, semua orang tahu sampai dimana kelihayan ilmu silat yang dimiliki Dewa berjalan dalam tanah, oleh karena itu tak seorang pun ingin turun tangan lebih dahulu kendatipun begitu tak seorang manusiapun yang tinggalkan gelanggang.

Kesunyian yang mencekam seluruh jagad mendatangkan napsu membunuh yang berlapis2 dalam benak setiap orang.

Dalam pada itu, Han Siong Kie dengan tubuh sempoyongan telah berjalan, kurang lebih seratus tombak dari tempat semula..

Mendadak bayangan manusia berkelebat lewat, tujuh orang imam dan lima orang padri tahu2 menghadang jalan perginya.

Ketujuh orang imam tersebut adalab rombongan jago lihay partai Khong-tong yang dipimpin oleh Kui Goan cu, sedangkan lima orang padri adalah Seng Gong taysu dari gereja siau limsi serta empat orang hweesio muda lain yang bertubuh kekar.

Dengan paras muka membesi Kui Goan cu menegur.

"Siau sicu, aku harap engkau bersedia menjawab dengan sejujurnya, benarkah gurumu adalah penyaruan dari Tengkorak maut.?"

"Hmm aku tak dapat menjawab pertanyaanmu itu"

Sahut Han Siong Kie dengan suara lemah.

"Pinto datang kemari karena sedang melakukan perintah guruku,jika siau sicu tak bersedia menjawab pertanyaanku ini, bagaimana kalau kuundang kedatangan sicu keatas gunung Khong tong untuk menemui guruku??"

Walaupun sudah putus asa dan tak mempunyai kekuatan untuk melawan, keangkuhan dan kejumawaan Han Siong Kie masih menguasahi benaknya, ia menggeleng dengan ketus.

"Aku tidak mau"

"Kui Goan too heng"

Sela Seng Gong taysu dari samping "

Lebih baik biar pinceng bawa dulu sicu ini pulang ke gunung Siong san, bila urusan kami telah selesai barulah kami undang kehadiran para wakil dari pelbagai perguruan untuk menyelesaikan persoalan ini, entah bagaimanakah pendapat kalian?"

Malaikat bertenaga raksasa Leng Beng cu yang beradat keras dan berangasan tak dapat menahan sabar lagi, terutama ia pernah mengalami kerugian besar ditangan Han Siong Kie, dengan suara keras segera bentaknya.

"Kenapa musti ribut terus? ayoh, kita bekuk dulu bangsat cilik ini"

Bersamaan dengan selesainya perkataan itu, telapak yang besar bagaikan kipas langsung dibabat kearah dada si anak muda itu.

Ia tak tahu kalau kepandaian silat Han Siong Kie telah punah, dalam serangannya itu ia gunakan tenaga sebesar dua belas bagian, sebelum serangan tiba angin pukulan sudah cukup membuat pemuda itu sempoyongan, agaknva Han song Kie bakal mampus terhajar oleh serangan dahsyat itu..

Disaat yang kritis dan amat mencekam perasaan itulah..

tiba2 jeritan ngeri berkumandang memecahkan kesunyiantubuh malaikat raksasa Leng Beng cu yang tinggi besar mencelat keudara, kemudian roboh terkapar diatas tanah.

Darah kental..

perlahan2 meleleh keluar dari batok kepala bagian belakang.

Enam imam dan lima padri lainnya yang menyaksikan peristiwa itu, sama2 merasa tercekat hatinya dan tanpa terasa bulu kuduk pada bangun berdiri.

Dengan sempoyongan Han sing Kie mundur beberapa langkah kebelakang.

"Blaam"

Ia roboh keatas tanah dan jatuh tak sadarkan diri Sementara itu enam imam dari partai Khong-tong dan lima padri dari gereja siau lim si masih memandang kearah mayat malaikat raksasa Leng Beng cu dengan pandangan terkesiap.

mata mereka terbelalak dan mulut mereka melongo, sementara badannya gemetar keras, rupanya diatas batok kepala imam raksasa itu tertancap selembar daun yang tipis.

Membunuh orang dengan sambitan daun, kepandaian ampuh semacam itu jarang sekali ditemui dalam kolong langit.

sesosok bayangan manusia laksana menyambar kilat berkelebat lewat dari sisi badan lima padri enam imam tersebut, semua orang merasa terperanjat, diantaranya Kui Goancu dan seng Goan taysu yang merupakan jago lihay kelas satu dalam dunia persilatann, ternyata tak sempat melihat jelas paras muka bayangan tersebut, bukan begitu saja, mereka pun tak tahu apakah orang itu seorang pria atau wanita.

Malaikat penyakitan yang menggeletak di atas tanah, kini lenyap tak berbekas.

Melukai orang, menyelamatkan orang rupanya dilakukan oleh seorang yang sama dan dalam waktu yang bersamaan, tapi siapakah orang lihay itu?

Bentakan keras, benturan nyaring berkumandang datang dari samping gelanggang.

Tidak jauh dari tempat kejadian itu, beberapa ratus orang jago persilatan sedang melangsungkan suatu pertarungan yang paling seru dan paling dahsyat untuk memperebutkan kitab pusaka Hud jiu Poo pit.

sekali lagi seng Gong taysu menyapu sekejap mayat Leng Beng cu yang terkapar diatas tanah, kemudian dengan badan ngeri ujarnya kepada Kui Goan-cu.

"Too heng, mungkinkah perbuatan ini dilakukan oleh Iblis diantara iblis."

Sebelum padri dari gereja siau lim si itu menyelesaikan kata2nya imam tua itu cepat-cepat menukas.

"Apabila kenyataan sesuai dengan berita yang tersiar dalam persilatan dan Tengkorak maut bukan lain adalah penyaruan dari iblis diantara iblis, itu berarti persoalan ini sudah mencapai keadaan yang paling serius dan kritis, pinto harus segera pulang ke gunung untuk minta petunjuk ketua kami"

Seng Gong taysu mengangguk.

"Betul, akupun mempunyai maksud untuk berbuat demikian."

Begitulah, salah satu diantara enam orang imam tersebut segera membopong jenasah dari Leng Beng-cu, kemudian tanpa membuang waktu lagi mereka segera berangkat untuk kembali kegunung Khong tong guna memberi laporan kepada ketua mereka.

Dipihak lain, pertarungan sengit untuk memperebutkan kitab pusaka Hud jiu Poo pit masib berlangsung dengan serunya, semua pihak mengerahkan segala kemampuan yang dimilikinya untuk merampas benda mestika ttu dari tangan orang lain, belum selang seperminum teh, sudah belasan orang jago lihay persilatan yang menemui ajalnya ditempat tersebut..

-oood0wooo-BAB 29 SEMENTARA itu, dipihak lain ketika Han Siong Kie sadar kembali dari pingsannya, ia temukan tubuhnya berbaring di tengah sebuah hutan belantara yang gelap hingga sinar matahari tak mampu menembus sampai kebawah.

Rasa sakit bagaikan di tusuk dengan jarum membuat pemuda itu tak dapat dikuasahi lagi mendengus berat.

"Nak, engkau telah sadar?"

Teguran itu dirasakan Han Siong Kie amat mengetuk perasaan hatinya. dari suara itu pula dia segera mengetahui siapakah yang telah menolong jiwanya dari ancaman maut.

"Kau..kau.. adalah orang yang kehilangan sukma? bisiknya dengan suara gemetar.

"Benar"

"Kau.. untuk sekian kalinya telah menolong aku, budi kebaikan sebesar ini tak akan kulupakan untuk selamanya"

"Nak,jangan pikir yang bukan2 sekarang makanlah dahulu obat ini,pengaruh obat tersebut akan mengurangi penderitaan dalam tubuh.."

Baru saja Han Siong Kie akan menyatakan rasa terima kasihnya, sebutir obat dengan cepat telah meluncur masuk kedalam mulutnya dan tertelan kedalam perut.

Beberapa saat kemudian rasa nyeri dan sakit dalam tubuhnya semakin berkurang, buru2 ia merangkak bangun dan duduk diatas tanah, sepasang matanya terbelalak lebar2, namun suasana disekitar situ sunyi senyap tak terlihat sesosok bayangan manusia pun, ia tak tahu dimanakah orang yang kehilangan sukma menyembunyikan diri.

"Cianpwe, kenapa engkau tidak unjukkan diri untuk berjumpa dengan diriku?"

Ujarnya dengan perasaan tulus .

"sekarang masih belum tiba waktunya"

"Dari mana cianpwae bisa tahu kalau aku ...."

"Untuk sementara waktu engkau tak usah bertanya soal itu lebih dahulu, bukankah engkau telah masuk dalam benteng maut??"

"Benar aku telah berkunjung kedalam benteng tersebut"

"Dan engkau sudah bertemu dengan pemilik benteng maut?."

"sudah dia adalah seorang manusia berkain cadar dimuka yang amat misterius, bertemu atau tidak sama sekali tak ada bedanya"

"Sudah kau ceritakan tentang asal usulmu?"

"Tidak. aku belum menceritakan apa2 kepadanya"

Mendengar jawaban tersebut orang yang kehilangan sukma menghela napas panjang.

"Aaaai .. nak mengapa engkau tidak turuti perkataanku?"

"Sebab aku masih belum mengerti apa sebabnya cianpwee suruh aku berbuat begitu"

Jawab Han Siong Kie dengan perasaan minta maaf.

"Aaai.. nak engkau sudah salah, kini berbuat kesalahan yang jauh lebih besar, aku suruh engkau berbuat begitu tentu saja dengan disertai maksud-maksud tertentu, sedangkan mengenai apa sebabnya untuk sementara waktu aku tak dapat beritahu padamu, bukannya aku berlagak sok rahasia, dalam kenyataan aku tak dapat beritahukan persoalan ini langsung dengan mulutku sendiri aaai .. sekarang..."

Han Siong Kie merasa tak habis mengerti terhadap ucapan orang yang kehilangan sukma ia tak paham apa sebabnya perempuan itu tak dapat beritahukan persoalan itu kepadanya dengan mulut sendiri?

suatu teka-teki yang membingungkan hatinya.

Terdengar orang yang kehilangan sukma berkata kembali.

"Nak. kalau toh engkau tak mau berbuat seperti apa yang kupesankan kepadamu, mengapa engkau mengunjungi benteng maut dan bisa lolos dalam keadaan selamat?"

"Aku sedang melakukan tugas yang dibebankan guruku"

"Jadi engkau benar2 sudah angkat iblis diantara iblis sebagai gurumu?"

"Perkataan cianpwee sedikitpun tak salah"

"Boleh aku tahu kisahnya hingga engkau berjumpa dengan iblis diantara iblis serta angkat sebagai gurumu?"

Han Siong Kie mengangguk secara gamblang dan tidak merahasiakan sesuatu apapun ia menceritakan semua kejadian yang dialaminya selama ini.

Selesai mendengar kisah tersebut dengan penuh emosi orang yang kehilangan sukma berseru.

"Kau maksudkan seorang gadis yang menyebut diri sebagai istri yang ditinggalkan telah selamatkan engkau dari dalam benteng"

"Benar, ia bersedia menolong aku karena akupun pernah selamatkan selembar jiwanya"

"Sungguh tak nyana dia.."

Mendadak orang yang kehilangan sukma teringat akan sesuatu dan perkataan yang belum sempat di selesaikanpun terpotong ditengah jalan "Ciancwee kenal gadis yang bernama istri yang ditinggalkan itu?"

Tanya Han Siong Kie cepat dengan perasaan tercengang.

"oooh... tidak... tidak aku tidak kenal, saat ini tenaga dalam yang kau miliki masih belum dapat dihimpun kembali"

Buruburu orang yang kehilangan sukma mengalihkan pokok pembicaraan ke soal lain.

Dengan penuh panasaran dan rasa jengkel Han Siong Kie mendengus dingin-"Hmm Benar, tenaga dalamku tak dapat dihimpun kembali, menurut gadis yang bernama Istri yang ditinggalkan, asal jalan darahku yang tertotok bisa dibebaskan maka tenaga dalamku masih tetap utuh seperti sedia kala"

"Maksudmu???"

"Mungkin dalam dunia persilatan tak ada orang lagi yang bisa bebaskan jalan darahku yang tertotok dengan kepandaian khusus benteng maut itu."

Orang yang kehilangan sukma termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, kemudian dengan nada yang sedih ia menjawab.

"Ucapanmu memang tidak keliru, dikolong langit dewasa ini memang jarang sekali ada orang yang mampu membebaskaa totokan jalan darah yang dilakukan secara khusus itu."

"Apakah cianpwee dapat membebaskan pengaruh totokan tersebut?"

Tanya sang pemuda dengan penuh harapan.

"Aku?"

"Aku hanya menduga begitu, sebab dengan tenaga dalam yang cianpwee miliki kemungkinan besar..."

"Dugaanmu tepat sekali, aku memang dapat membebaskan totokan tersebut"

Mendengar jawaban tersebut Han Siong Kiejadi amat terperanjat dan merasakan jantungnya berdebar keras, ia dapat merasakan bahwa perkataan yang diucapkan oleh orang yang kehilangan sukma diutarakan dengan perasaan hati tertekan, tak tahan lagi dia berseru.

"Cianpwee....kau..."

"Aku tak apa2 nak. aku akan bebaskan jalan darahmu yang tertotok"

Ujar orang yang kehilangan sukma lagi dengan suara lebih tenang dan datar.

Han Siong Kie merasa amat terharu sekali hingga seluruh badannya gemetar keras, ia tak menyangka kalau orang yang kehilangan sukma menyanggupi untuk bebaskan jalan darahnya yang tertotok.

setelah jalan darah itu bebas maka tenaga dalam yang dimilikinya akan pulih kembali seperti sedia kala dan pertama2 dia akan mengunjungi suhunya lebih dahulu meskipun kedatangannya akan mendatangkan kekecewaan bagi gurunya tapi keadaan jadi jauh lebih baik dari pada sama sekali tak dapat berjumpa dengan dirinya.

Kedua dia akan merampas kembali sarung tangan Hud jiu Poo pitnya dan mengunjungi malaikat hawa dingin sehingga sepasang benda mustika itu dapat bersatu kembali dan..

Belum habis dia berpikir suara dari orang yang kehilangan sukma telah berkumandang.

"Nak, aku ada satu pertanyaan hendak kuajukan kepadamu"

"Katakanlah yang hendak kau tanyakan?"

"Kau... kau... apakah engkau sangat membenci ibumu?"

Han Siong Kie tak menyangka kalau pihak lawan akan mengajukan pertanyaan tersebut, mendengar pertanyaan itu bagaikan di pagut ular berbisa sekujur tubuhnya bergetar keras.

Ucapan terakhir dari paman gurunya Telapak naga beracun Thio Lin sesaat sebelum meninggal dunia kembali berkumandang dalam sisi telinganya.

"...aku pernah membawa engkau untuk menemui ibumu, tapi ia hendak membinasakan kita berdua secara keji."

Selain itu, iapun teringat kembali dengan adegan ketika ibunya Siang Go cantik ong cui Ing turun tangan secara keji terhadap dirinya, ketika ia berada diwilayah Lian huan tan pusat kekuasaan perkumpulan Thian che kau.

Makin diingat perasaan hatinya makin sakit bagaikan di iris2, dengan penuh penderitaan ia mendengus berat.

"Aku... aku tak punya ibu"

Sahutnya kemudian.

"Kebencianmu kepadanya sudah mencapai ketingkat itu??"

Tanya orang yang kehilangan sukma lebih jauh. Han Siong Kie menggigit bibirnya kencang2.

"Aku tak mau mengungkap soal dirinya lagi."

"Tapi dikolong langit toh tak ada orang tua yang tidak menyayangi putra kandung sendiri???"

"Benar, bagi orang lain mungkin saja perkataan itu benar... tapi bagi diriku tidak"

"siapa tahu kalau ia mempunyai kesulitan yang memaksa dirinya terpaksa harus berbuat begitu??"

"Kesulitan? haaahh haaahh haaah"

Dengan kalap dan penuh ledakan perasaan emosi, Han Siong Kie tertawa keras, diantara gelak tertawanya penuh mengandUng rasa sedih, gusar, saklt hati serta perasaan lain yang mengacaukan pikirannya, ia benci kepada ibunya yang berhati kejam bagaikan seekor ular beracun itu "Nak, cinta kasih orang tua terhadap anaknya tiada berbeda dikolong langit, suatu ketika engkau akan paham dengan sendirinya"

Nasehat orang yang kehilangan sukma lebih jauh.

"Hmm sekarangpun aku sudah mengerti"

Jawab pemuda itu penuh kebencian. Melihat kekerasaa hati pemuda itu, orang yang kehilangan sukma menghela nafas panjang.

"Aaaai nak, suatu hari engkau akan merasa menyesal atas Cara berpikir serta pandangan yang kau kemukakan pada saat ini"

Han Siong Kie tercengang dan tidak habis berpikir terhadap ketepatan orang yang kehilangan sukma menebak latar belakangnya, siapakah orang itu?

kenapa ia bisa tahu akan asal usulnya dengan begitu tepat?

kenapa ia begitu menaruh perhatian terhadap dirinya?

Dari pertolongan yang diberikan perempuan ini setiap kali ia sedang mengalami kesulitan atau mara bahaya, hal ini sudah jelas membuktikan bahwa pertolongan itu bukan diberikan secara kebetulan saja, se-akan2 ia selalu mengikuti kemanapun dia pergi, kenapa ia berbuat demikian??

suatu teka teki yang tak terjawab?

sejak kemunculan orang yang ada maksud hingga saat ini, teka-teki tersebut selalu membelenggu perasaan hatinya.

Berpikir sampai disitu tak tahan lagi ia bertanya.

"sekali lagi aku mohon bertanya, siapakah name cianpwee??"

"Nak, waktunya belum tiba, lebih baik janganiah kau tanyakan lebih dahulu tentang soal itu"

"Agaknya cianpwee merasa paham sekali dengan semua asal usulku..?"

"Betul, dan mungkln apa yang kuketahui jauh melebihi apa yang kau bayangkan sekarang"

Satu ingatan dengan cepat berkelebat dalam benak Han Siong Kie, jangan2 orang yang kehilangan sukma adalah sanak keluarga sendiri atau saudara saperguruan dari ayahnya, sebab perguruan dari ayahnya hingga saat ini masih merupakan teka teki besar, andaikata ia berhasil mendapat keterangan dari mulut perempuan ini mengenai sebab musabab bunuh dirinya sang paman guru Telapak naga beracun Thio Lin, siapa tahu kalau ia bakal memperoleh tanda2 yang bakal menguntungkan penyelidikannya?

Berpikir sampai disitu, dengan nada menyelidik ia segera bertanya.

"Cianpwee, ada satu persoalan yang sampai kini tidak kupahami, aku harap apa yang membingungkan hatiku itu dapat kuketahui dari keterangan cianpwee, apakah engkau bersedia untuk menjawab?"

"Apa yang ingin kau tanyakan? coba utarakan lebih dahulu"

"Mengenai perguruan dari ayahku"

"ooooh tentang soal itu"

Orang yang kehilangan sukma sangsi sebentar "kali ini engkau bakal kecewa lagi sebab aku masih belum dapat memberitahukan soal ini kepadamu."

Mendengar jawaban tersebut Han Siong Kie dibuat apa boleh buat oleh kemisteriusan orang yang kehilangan sukma hatinya terjelos dan ia segera berseru.

"Kalau begitu anggaplah aku telah banyak bertanya"

Orang yang kehilangan sukma sama sekali tidak gusar oleh sindiran tersebut, beberapa saat kemudian ia berkata.

"Nak, sekarang engkau boleh bangkit berdiri"

Han Siong Kie menurut dan bangkit berdiri "Jangan bergerak, jangan berpaling kebelakang"

Kembali orang yang kehilangan sukma berkata.

Han Siong Kie merasakan hatinya jadi amat tegang, jantungnya terasa berdebar keras, ia tahu orang yang kehilangan sukma akan membebaskan jalan darahnya yang tertotok.

Desiran angin tajam menggulung, tiba2 dari tempat yang tak jauh dari sana "

Duukk duuk duuk secara beruntun bersarang di atas beberapa jalan darah penting sianak muda itu, sekujur badannya gemetar keras, dan ia merasakan hawa murni yang mulai bergerak dalam tubuhnya, dengan cepat pemuda itu coba menyalurkan hawa murninya, ia merasakan tenaga dalamnya dapat dihimpun kembali dengan cepatnya.

Rasa girang yang menyelimuti hati pemuda itu sulit dilukiskan dengan kata2, ia segera berteriak.

"Aku berhasil pulihkan kembali tenaga dalamku aku segar kembali..."

"Benar anakku, meskipun tenaga dalammu telah pulih seperti sedia kala, namun akibat hantaman toya emas tadi luka dalam yang kau derita cukup parah, sekarang semedilah dahulu dan salurkan hawa murninu mengelilingi seluruh badan sebanyak sepuluh kali dengan pengerahan tenaga itu maka daya kerja obat yang kau telan tadi akan menunjukkan kasiat yang lebih besar."

Han Siong Kie menurut dan segera pejamkan matanya rapat2 berdiri ditempat itu juga dia salurkan hawa murninya mengelilingi seluruh badan sebanyak sepuluh kali setelah itu dia rasakan badannya jadi segar bugar kembali dan rasa sakit yang semula menyelimuti badannya kini sudah lenyap tak berbekas.

"Nak"

Rintihan lirih berkumandang datang dari balik hutan belantara.

Tenaga murni yang dimiliki Han Siong Kie saat itu telah pulih kembali seperti sedia kala, rintihan yang bagaimana lirihnya tak mungkin bisa mengelabuhi pendengarannya, ia terperangah mendengar suara aneh tersebut.

"Cianpwee kee ..kenapa engkau.."

Ia segera menegur "Sambutlah bends ini"

Sebuah bungkusan berwarna putih tiba2 meluncur ke arahnya.

Dengan cepat Han Siong Kie terima benda itu dan diperiksanya dengan seksama, seketika itu juga sekujur badannya gemetar keras dengan bulu kuduk pa da bangun berdiri matanya terbelalak lebar bagaikan disambar geledek di siang hari belong dengan jantung berdebar keras secara beruntun ia mundur lima langkah ke belakang keringat dingin mengucur keluas membasahi seluruh badannya.

Ternyata benda yang dilemparkan orang yang kehilangan sukma barusan bukan lain adalah sebuah telapak tangan manusia yang ditebas sebatas pergelangan, darah masih mengalir dari bekas kutungan tersebut, jelas telapak tangan itu ditebas belum lama berselang atau mungkin disaat ia mendengar suara rintihan lirih tadi.

Dengan badan gemetar keras karena terkesiap bercampur kaget Han Siong Kie berdiri menjublak tanpa sanggup mengucapkan sepatah katapun lama...

lama sekali ia baru berseru.

"cianpwee kau... kau..."

"Nak engkau tak usah kaget, akulah yang telah menebas kutung telapak tangan sendiri"

Han Siong Kie mundur dengan sempoyongan, hampir saja ia tak sanggup berdiri tegak dengan amat terperanjat ia menegur.

"Kenapa cianpweee.... kenapa engkau berbuat begitu??"

Orang yang kehilangan sukma menghela napas panjang, suaranya agak gemetar.

"Nak baik2lah simpan telapak tanganku itu, dikala engkau berkunjung kembali kedalam benteng maut dan bertemu dengan pemilik benteng maut, seandainya ia bertanya siapakah yang telah bebaskan jalan darahmu yang tertotok maka serahkanlah potongan telapak ini kepadanya"

Han Siong Kie merasakan telinganya mendengung keras dan pandangan matanya jadi gelap.

hampir saja roboh tak sadarkan diri "Cianpwee jadi engkau telah mengutungi telapak tanganmu karena telah membebaskan jalan darahku yang tertotok?"

Jeritnya dengan suara amat serak.

"Betul tapi engkau tak usah sedih ataupun memikirkan persoalan itu didalam hati"

Air mata jatuh berlinang membasahi seluruh wajah Han Siong Kie, ternyata orang yang kehilangan sukma mengutungi telapak tangan sendiri karena ia telah bebaskan jalan darahnya yang tertotok tapi apa sebabnya ia berbuat demikian?

Bukan saja berulang kali ia telah berutang budi kepadanya, sekarang iapun berutang budi yang jauh lebih besar dari pada budi2 lainnya sebab orang itu telah mengorbankan lengannya untuk selamatkan jiwanya, bagaimana mungkin budi sebesar ini dapat dibalas??

saking terharunya pemuda itu menangis terisak.

serunya dengan suara ter-bata2.

"cianpwee kau... kau... kenapa kau berbuat demikian untukku?? kenapa??"

"Dikemudian hari engkau akan mengerti dengan sendirinya kenapa aku rela berkorban demi dirimu"

"Kalau sejak permulaan tadi aku sudah tahu begini, aku lebih rela tak punya kepandaian silat daripada harus mengorbankan telapak tangan cianpwee"

"Nak masih banyak pekerjaan dan tugas yang harus kau kerjakan, dalam keadaan begini engkau tak boleh kehilangan ilmu silat sebab hal itu sangat penting bagimu untuk menyelesaikan semua pekerjaan tersebut"

"Kendatipun begitu tiada alasan bagi cianpwee untuk berkorban sebesar ini demi diri ku"

"Siapa bilang tak beralasan? alasan tentu ada dan dikemudian hari engkau akan paham sendiri apa sebenarnya alasan itu"

"Tapi bagaimana mungkin aku bisa hidup tenteram akibat peristiwa ini?"

"Aku toh sudah suruh engkau tak usah pikirkan kejadian ini didalam hati?"

Sela orang yang kehilangan sukma dengan cepat, Han Siong Kie menghela napas panjang.

"Aaai budi yang cianpwee lepaskan kepadaku ibaratnya sang surya di angkasa bagaimana mungkin aku dapat membalas budi kebaikan sebesar ini"

"Nak. kejadian ini toh sudah berlalu kenapa musti engkau pikirkan terus?, sekarang ini kita masih berada didaerah pertempuran, sementara pertarungan seru masih terus berlangsung dengan hebatnya"

"Pertarungan sengit?? siapa yang sedang bertempur?"

Tanya sang pemuda keheranan.

"orang2 persilatan yang datang kemari karena kehadiranmu"

"Lalu apa sebabnya mereka saling bertempur sendiri?"

"Mereka sedang memperebutkan kitab pusaka Hud jiu Poo pit yang terjatuh dari sakumu."

"oooh"

Han Siong Kie berseru tertahan, perasaan hatinya merasa bergetar kertas.

Kitab pusaka Hud jiu Poo pit sangat mempengaruhi rencana pembalasan dendamnya, tapi kini manusia2 tamak sedang memperebutkan benda miliknya itu secara memalukan sekali, tanpa terasa darah panas bergelora dalam benak pemuda ini.

sementara dia masih melamun, tiba2 terdengar orang yang kehilangan sukma berkata.

"Nak. aku hendak pergi dari sini, ada sebuah permintaan aku harap bagaimanapun juga harus kau sanggupi, apakah engkau bersedia??"

"Harap cianpwee katakan keluar, aku bersumpah pasti akan melaksanakannya"

"Kunjungilah Benteng maut sekali lagi, Ceritakanlah asal usulmu yang sebenarnya"

Tercekat hati Han Siong Kie mendengar permintaan itu, pikirnya didalam hati.

"Baiklah kusanggupi saja permintaan ini, tapi terlebih dahulu aku harus berhasil merampas kembali kitab pusaka Hud jiu Poo pit kemudian berangkat kebukit Kou lou san untuk menjumpai Malaikat hawa dingin dan memberitahukan jejak malaikat hawa panas, setelah sepasang sarung tangan itu berhasil aku memepelajari ilmu sakti sie mi sinkang akan kukunjungi kembali benteng maut.

Berpikir sampai disini ia lantas menjawab.

"Aku turuti permintaan cianpwee"

"Apakah sekarang juga engkau akan berangkat kesitu?"

Pemuda itu menggeleng.

"Aku masih ada dua persoalan penting yang harus diselesaikan lebih dahulu, kemudian baru kukunjungi kembali benteng maut"

"Baiklah kalau begitu, tapi ingat, engkau harus ceritakan asal usulmu yang sebenarnya, selain itu asal usulmu hanya boleh kau ceritakan kepada pemilik benteng maut seorang, janganlah sampai ada orang kedua yang mengetahui rahasia ini"

Walaupun dalam hati kecilnya sangsi dan bercampur curiga, namun diluaran ia menyahut juga.

"Akan kuingat selalu di dalam hati"

Mendadak satu ingatan berkelebat dalam benaknya, buru2 melanjutkan kembali kata2nya.

"Cianpwee, belum lama berselang ketika berada dalam sebuah rumah penginapan, aku telah bertemu dengan seorang cianpwee yang menyebut diri sebagai ong Popo, ia berhasil menemukan racun cabul Jit bi san yang mempengaruhi seorang gadis, apakah cianpwee itu adalah..."

"Dugaanmu tidak keliru, orang itu memang aku"

Satu ingatan kembali berkelebat dalam benak Han Siong Kie, segera pikirnya.

"Jangan2 paras muka itu adalah paras muka yang asli dari orang yang kehilangan sukma??"

Sementara itu perempuan tersebut telah berkata kembali.

"Nak, apakah engkau telah melaksanakan perkataanku dan berbuat.."

"Maaf cianpwee, ketika kutemukan bahwa racun yang mengeram dalam tubuh nona Go siau Bi telah punah, maka aku tidak melakukan petunjuk dari cianpwee"

"Apa?? engkau tidak melakukan seperti apa yang kuucapkan?."

Orang yang kehilangan sukma termenung beberapa saat lamanya, kemudian ia menghela napas sedih.

"Aaaai .. perhitungan manusia toh akhirnya tak dapat menangkan perhitungan takdir."

Terperangahlah sianak muda itu mendengar keluhan tersebut, dengan nada tercengang ia berseru.

"cianpwee, apa yang kau katakan??"

"oooh...tidak....tidak apa-apa, Nak Aku tak dapat berdiam terlalu lama disini, selamat tinggal"

Han Siong Kie berdiri membungkam ditempat semula seakan2 baru sadar dari suatu mimpi yang aneh, sesaat kemudian ia baru enjotkan badan dan meluncur kearah luar hutan.

Beberapa saat kemudian hutan belantara sudah ditinggalkan dan suara bentakan keras dan bentrokan senjata mana lapat2 mulai terdengar dari kejauhan-Pemuda itu segera mempercepat gerakan badannya meluncur kearah gelanggang, sementara itu pertarungan diantara para jago persilatan masih berlangsung dengan sengitnya, korban yang terluka dan mati terkapar dimana2..

Pada saat itu Nenek bertoya emas sambil memegang toyanya sedang berdiri disisi kalangan.

seorang kakek tua bermuka lebar bertelinga besar sedang terlibat dalam suatu pertarungan yang amat seru melawan Dewa yang berjalan dalam tanah.

Kedua belah pihak sama2 merupakan jago lihay dunia persilatan, pertarungan yang sedang berlangsung waktu itu benar2 seru sekali hingga membuat orang jadi tertegun dan berdiri menjublak.

Desiran angin puyuh disertai gulungan pasir dan debu beterbangan diseluruh angkasa, begitu tajam serangan2 yang mereka lancarkan sehingga membuat para jago yang mengikuti jalannya pertarungan darijarak lima tombakpun merasakan tajamnya desiran angin pukulan tersebut.

Tiba2..

Nenek bertoya emas menghentakkan toyanya keatas tanah, kemudian terjunkan diri kedalam gelanggang pertarungan, bersama sama dengan kakek bermuka lebar bertelinga besar ia mengerubuti Dewa berjalan dalam tanah habis2an Berbicara tentang ilmu silat, kepandaian yang dimiliki Dewa berjalan dalam tanah seimbang dengan kepandaian kakek bermuka lebar bertelinga besar itu,jika dibandingkan dengan kepandaian Kim ciang Popo atau nenek bertoya emas maka kepandaian mereka setingkat lebih tinggi, bila satu lawan satu tentu saja keadaan seimbang, tapi setelah main kerubut maka situasi dalam gelanggang pertarungan pun kembali mengalami perubahan besar.

Nenek bertoya emas sangat benci kepada Dewa berjalan dalam tanah setelah menyergap dari samping, semua serangan yang dilepaskan olehnya merupakan serangan2 keji yang luar biasa dahsyatnya.

Dalam waktu singkat Dewa berjalan dalam tanah terdesak pada posisi dibawah angin.

Tiga puluh gebrakan kemudian, Dewa berjalan dalam tanah telah terancam oleh bahaya, ia mulai terdesak hebat dan tak mampu membela diri, setiap saat kemungkinan besar jiwanya terancam.

Pada saat itulah Nenek bertoya emas dengan nada mengejek segera menyindir.

"Hei orang cebol katanya kamu lihay? kenapa tak becus begitu...?? kalau engkau bersedia serahkan kitab pusaka Hud jiu Poo pit itu kepadaku, maka urusan diantara kita mudah dirundingkan"

"oei Ciu Kiok"

Seru Dewa berjalan dalam tanah dengan nafas tersengkal2

"Engkau benar2 tak tahu malu, hutang ini dikemudian hari pasti akan kutagih sendiri kepadamu"

"Huuhh... cebol, pentang dulu matamu lebar2 dan coba lihat dulu, apakah engkau mampu untuk meloloskan diri dari kurungan kami. ..???"

"Hmm siapa bilang tak mampu???"

"Kalau begitu, lihat saja bagaimana hasilnya nanti."

Dalampada itu, kakek tua bermuka lebar bertelinga besar sekaligus telah melancarkan dua puluh empat buah serangan berantai yang memaksa Dewa berjalan dalam tanah sekali lagi terdesak mundur berulang kali.

Menggunakan kesempatan yang sangat baik itulah, Nenek bertoya emas segera membentak keras, toya emasnya membentuk selapis tembok emas yang amat rapat menyumbat mati jalan mundur Dewa berjalan dalam tanah Dalam keadaan demikian, asal Dewa berjalan dalam tanah mundur dua langsah lagi kebelakang, niscaya tubuhnya akan menumbuk diatas dinding emas tersebut.

Tiba2 suara benturan keras yang amat memekikan telinga berkumandang, dari tengah udara bayangan manusia saling berpisah satu sama lainnya dan cahaya emaspun seketika lenyap tak berbekas dari pandangan..

Perawakan badan Dewa berjalan dalam tanah yang dasarnya sudah gemuk lagi cebol kini telah menggembang hingga bulat bagaikan sebuah bola udara.

sementara nenek bertoya emas dan kakek bermuka lebar bertelinga besar berdiri kurang lebih satu tombak dihadapannya dengan muka terkesiap bercampur ngeri.

Dari antara jago lihay yang hadir dalam gelanggang, segera terdengarlah ada orang yang menjerit kaget.

"Aaah ilmu sakti Tee tan-kang"

Ilmu sakti Dewa berjalan dalam tanah yang tak pernah digunakan selamanya.

sekonyong2..

Sesosok bayangan manusia bagaikan burung elang menyambar turun ketengah gelanggang dengan kecepatan bagaikan sambaran petir.

"Malaikat panyakitan."

"Mala ikat penyakitan."

Jeritan2 kaget berkumandang diantara para jago persilatan, sasaran utama mereka yang hampir saja terlupakan ini ternyata muncul kembali ditengah gelanggang dalam kondisi segar, peristiwa ini benar2 berada diluar dugaan setiap orang.

-00d000w00-BAB 30 ADA SATU hal yang tidak dimengerti oleh para jago persilatan, bukankah Malaikat penyakitan sudah kena dihajar oleh hantaman toya emas Kim ciang Popo sehingga luka parah?

kenapa saat ini dia bisa munculkan diri dengan gorakan tubuh yang begitu cepat hingga menggidikkan hati?

Tentu saja, diantara para jago persilatan itu Kim ciang Popo lah yang merasa paling terperanjat dan bergidik.

Ketika musuh besar saling berjumpa muka, sorot mata kedua belah pihak sama2 berubah jadi merah berapi2.

Begitu mencapai permukaan tanah, dengan sorot mata yang tajam laksana kilat Han Siong Kie menatap wajah Kim ciang Popo tanpa berkedip.

membuat nenek itu jadi merinding dan bulu kuduknya tanpa terasa pada bangun berdiri Benarkah iblis kecil bermuka penyakitan yang berada dihadapannya sama sekali tak becus dalam ilmu silat seperti apa yang dialaminya belum lama berselang?

atau mungkin ia sengaja sedang ber-pura2 berbuat begitu untuk mengibuli pandangan orang banyak terhadap dirinya??

Dalam pada itu Dewa berjalan dalam tanah telah tarik kembali ilmu sakti Tee tan kangnya, sambil picingkan matanya mengawasi ahli waris dari iblis diantara iblis itu dalam hati kecilnya diam2 ia mengambil pertimbangan, haruskah tinggalkan tempat ini?

atau..

Suasana ditengah gelanggang seketika berubah jadi sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun setelah lama sekali menatap wajah Nenek bertoya emas tanpa berkedip.

dengan suara dingin ia menegur.

"Bawa kemari"

"Apanya yang bawa kemari??"

Seru nenek bertoya emas pura2 tak mengerti.

"Nenek siluman, engkau tak usah berlagak pilon dihadapanku, ayoh bawa kemari".

seruan 'nenek siluman' yang bernada tak sedap didengar itu kontan membuat paras muka nenek bertoya emas yang pada dasarnya sudah jelek makin nampak jelek barupada kali ini ada orang berani memaki kejelekannya tepat dihadapan mukanya.

Begitu marah dan geramnya nenak tua itu sehingga sambil tertawa seram ia berseru.

"Bocah bangsat kemplangan toya ku tadi tidak berhasil mengirim engkau pulang ke rumah nenekmu sekarang.."

Belum habis ia berkata secepat sambaran petir Han song Kie telah meluncur kedepan dan tahu2 sudah kembali ketempat semula, dalam genggamannya kini telah bertambah dengan sejenis benda dan benda itu bukan lain adalah toya emas senjata andalan dari nenek bertoya emas tersebut.

Ditengah jeritan kaget yang berkumandang memecahkan kesunyian dengan hati terperanjat dia pecah nyali secara beruntun nenek bertoya emas mundur tiga langkah lebar ke belakang.

Demontrasi kepandaian sakti yang dilakukan Han Siong Kie ini dengan cepat membuat gempar seluruh gelanggang, paras muka semua jago persilatan yang hadir disitu sama2 berubah hebat, diam2 hati mereka terasa amat tercekat.

sekali lagi dengan suara yang dingin dan amat ketus Han Siong Kie menegur.

"sebetulnya engkau mau serahkan kepadaku atau tidak??"

Bagaimanapun juga nenek bertoya emas adalah seorang jago persilatan yang sudah lama tersohor akan kelihayannya dikolong langit, sudah tentu ia tak mau menelan penghinaan tersebut dengan begitu saja, dengan muka merah membara karena gusar ia membentak keras.

"Bocah bangsat, rupanya engkau pingin mampus???"

Sepasang telapak disilangkan satu sama lainnya, kemudian badannya menerjang ke depan sambil melancarkan serangan.

Han Siong Kie masih teringat terus dengan dendam sebuah pukulan toyanya, melihat datangnya serangan tersebut, ia segera mendengus dingin.

"Hmm sebuah pukulan toya dibalas dengan sebuah pukulan toya, itu baru dinamakan adil"

Cahaya emas berkelebat lewat, diiringi jeritan kesakitan yang mengerikan, sambil muntah darah segar tubuh Nenek bertoya emas mencelat sejauh tiga tombak dari tempat semula.

Jeritan kaget bergema diseluruh kalangan, setiap jago merasakan bulu kuduknya pada bangun berdiri Dengan tenaga dalam yang dimiliki Kim ciang popo, ternyata ia tak mampu menahan sebuah seranganpun dari musuhnya, kepandaian ampuh semacam ini benar2 membuat hati orang terkesiap.

mungkin dalam gelanggang saat ini tak seorang manusiapun yang merupakan tandingannya .

Dengan sorot mata memancarkan kebengisan selangkah demi selangkah Han Siong Kie berjalan menghampiri nenek bertoya emas yang terkapar diatas tanah, langkah kakinya yang berbunyi gemirisik menimbulkan napsu membunuh yang makin lama semakin tebal, begitu tegang suasananya membuat setiap ortang terpukau dan berdiri menjublak.

Dengan sekuat tenaga Nenek bertoya emas berusaha untuk meronta bangun dari atas tanah tapi baru bangkit setengah jalan dengan lemas ia roboh kembali diatas tanah, hal ini menunjukkan bahwa luka dalam yang di derita olehnya cukup parah.

suasana dalam gelanggang tercekat dalam keseraman dan kengerian, hawa nafsu membunuh menyelimuti seluruh udara membuat jantung semua orang berdebar keras.

Tiba2 Dewa berjalan dalam tanah yang gemuk dan cebol itu meloncat maju kedepan dengan suara keras ia berteriak.

"Hei bocah muda benda yang kau inginkan berada ditanganku."

Sambil berkata dia ambil keluar sarung tangan Hud jiu Poo pit itu kemudian di acungkan keudara setelah itu buru2 benda itu dimasukan kedalam sakunya.

Dengan cepat Han song Kie putar badan, toya emas yang berada dalam gengamannya dibuang keatas tanah.

TindakanDewa berjalan dalam tanah yang ksatria dan jantan ini mendapatpujian dari setiap jago yang hadir digelanggang, sebab dengan perbuatannya itu dia tidak kehilangan jiwa jantan seorang jago persilatan, sebab justru dengan perbuatannya itu maka dengan selembar jiwa dari nenek bertoya emas berhasil diselamatkan.

Dengan berlangsungnya peristiwa ini, dengan cepat memandang pula tujuan semula dari kehadiran jago persilatan ditempat itu.

Mula pertama tampaklah kakek bermuka lebar bertelinga besar itu menggeserkan tubuhnya kesisi Dewa berjalan dalam tanah, diikuti semua jago persilatan yang berada disekeliling tempat itupun berbareng maju satu tombak kedepan, dengan begitu gelanggangpun semakin diperciut hingga empat tombak belaka luasnya.

suatu pertempuran sengit rupanya segera akan berlangsung..

Dengan sorot mata yang tajam bagaikan sambaran kilat, Han Siong Kie menyapu sekejap seluruh gelanggang, kemudian dengan nada dingin tegurnya kepada dua orang yang berada dihadapannya.

"siapakah kalian berdua ??"

"Aku adalah Dewa berjalan dalam tanah, bocah muda engkau pernah mendengar nama ku?"

Han Siong Kie menggeleng.

"Belum pernah kudengar nama itu"

Katanya, sorot matanya segera dialihkan kearah kakek bermuka lebar bertelinga besar tadi. sebelum buka suara orang itu sudah memperkenalkan diri lebih dahulu.

"Aku adalah Heng sang Pedagang pejalan kaki Ku It Hui..."

"Hmm baru pertama kali ini kudengar nama mu itu"

Mendengar ejekan tersebut baik Dewa berjalan dalam tanah maupun Pedagang perjalan kaki Ku It Hui sama2 tertawa dingin tiada hentinya.

sekali lagi Han Siong Kie maju beberapa langkah kedepan sambil menatap wajah Dewa berjalan dalam tanah tajam2 serunya.

"Benda itu toh berada ditanganmu ayoh cepat serahkan keluar"

Dewa berjalan dalam tanah tertawa seram.

"Heeehh...heehhh...heehhh... bocah muda, kenapa tidak kau tanyakan dulu kepada semua sahabat yang hadir dalam gelanggang pada saat ini, apakah mereka setuju kalau kuserahkan kembali benda itu kepadamu atau tidak??"

Han Siong Kie segera naik darah, dengan muka merah membara ia mendengus dingin.

"Hmm? sebenarnya engkau mau serahkan kembali benda itu kepadaku atau tidak??"

"Bukannya tak mau, cuma aku tak dapat berbuat demikian"

"Heeebh... heeehh heeehhh kalau memang begitu, jangan salahkan kalau aku tak akan berlaku sungkan2 lagi terhadap dirimu"

Begitu ucapan terakhir diutarakan keluar sepasang telapaknya disertai tenaga dalam yang luar biasa dahsyatnya langsung membacok badan Dewa berjalan dalam tanah.

Menyaksikan datangnya ancaman tersebut, hampir pada saat yang bersamaan Dewa berjalan dalam tanah serta Pedagang pejalan kaki Ku It Hui melancarkan serangan secara berbareng untuk menyambut datangnya ancaman tersebut.

"Blammm"

Bentrokan dahsyat yang amat memekikan telinga berkumandang di seluruh angkasa, Dewa berjalan dalam tanah serta Pedagang berjalan kaki Ku It Hui samasama tergentar hingga mencelat sejauh satu tombak dari tempat semula itupun badan mereka masih sempoyongan tiada hentinya.

Han Siong Kie tak sudi memberi kesempatan lebih jauh kepada musuhnya untuk berganti napas tubuhnya sekali lagi menerjang kedepan telapak kirinya menghajar tubuh Pedagang berjalan kaki Ku It Hui sedangkan tangan kanannya dengan lima jari dipentangkan bagaikan kuku garuda langsung mencengkeram Dewa berjalan dalam tanah.

Dalam satu jurus terbagi menjadi dua gerakan yang secara terpisah mengancam dua orang jago lihay dari dunia persilatan bukan saja pukulan yang dilepaskan berat bagaikan tindihan sebuah bukit karang, cengkeramanpun cepat lakana kilat.

Pedagang pejalan kaki Ku It Hui segera melayang delapan depa dari permukaan tanah, ia melepaskan sebuah serangan balasan yang tidak kalah hebatnya..

sedangkan Dewa berjalan dalam tanah menghindar kesamping dengan suatu gerakan yang cekatan ia meloloskan diri dari sambaran kilat tersebut..

Hampir pada saat yang bersamaan, delapan buah pedang pusaka disertai delapan buah desiran angin tajam menyergap tubuh Han Siong Kie dari arah belakang.

Dengan sigap Han Siong Kie meluncur ke udara dan melepaskan diri dari ancaman angin pukulan serta desiran pedang lawan, ketika dia berpaling kebelakang maka terlihatlah orang yang menyergap tubuhnya dengan serangan delapan bilah pedang tadi ternyata bukan lain adalah delapan orang pria setengah baya yang memakai jubah warna biru.

Dengan pandangan mata yang tajam pemuda itu menyapu sekejap wajah kedelapan orang jago pedang baju biru tersebut, lalu dengan suara adem tegurnya.

"siapakah kalian berdelapan? sebutkan dahulu siapa nama kamu semua.."

"Kami adalah delapan pendekar pedang dari kota Tiong ciu"

Jawab salah seorang diantara delapan jago pedang itu dengan suara ketus dan dingin.

"Apa maksud kalian datang kemari?"

"Tujuan kedatangan semua umat persilatan yang berkumpul dalam gelanggang saat ini adalah sama yakni menuntut balas serta menagih hutang2 lama dari Mo tiong cimo."

Han Siong Kie terperangah dibuatnya, dari sini jelas sudah memperlihatkan bahwa musuh besar dari gurunya tersebar dikolong langit yang diketahui olehnya adalah jago2 dari partai Khong tong, gereja siau lim si serta Thian lam pay ditambah pula jago2 persilatan yang hadir dalam gelanggang dewasa ini...

Itu berarti dalam perjalanannya dikemudian hari ia telah memikul suatu tanggung jawab yang sangat berat pembalasan dendam pasti akan ditemuinya selama ini tapi dendam sakit hati apakah yang terikat diantara mereka?

dia sendiripun tak tahu.

Berpikir sampai disitu diam2 dia ambil keputusan untuk merampas kembali kitab pusaka Hud jiu poo-pit lebih dahulu kemudian pulang ketempat tinggal gurunya untuk memberi laporan sebab batas waktu sepuluh hari sudah bakal habis, ia tak ingin gurunya mati dengan membawa penyesalan hingga gurunya mati tak pejamkan mata.

setelah ambil keputusan dihati, dengan suara dingin segera katanya lantang.

"Pada waktu ini aku tak punya banyak waktu luang, dikemudian hari kalian pasti akan memperoleh penyelesaian yang adil dari persengketaan ini."

"Malaikat penyakitan, omong kosong tak ada gunanya, kau anggap dengan mengucapkan kata2 tersebut maka urusan dapat diselesaikan dengan begitu saja??"

"Lalu apa yang kalian kehendaki??"

"Katakanlah tempat persembunyian dari iblis diantara iblis"

"Andaikata aku tak mau bicara???"

Paras muka delapan pendekar pedang dari kota Tiong-ciu berubah hebat, pemimpin mereka segera berseru dengan nada kasar.

"Hmm aku rasa engkau tak mungkin bisa membungkam terus menerus"

"Huuhh... dengan andalkan kalian beberapa orang hendak paksa aku untuk bicara?, jangan mimpi disiang hari bolong"

Dihina dan dimaki dengan kata kata yang begitu memandang rendah terhadap mereka, delapan pendekar pedang dari kota Tiong ciu tak mampu menahan hawa amarahnya lagi, ditengah bentakan keras delapan bilah pedang dengan menciptakan selapis cahaya tajam yang berkilauan langsung mengurung badan Han Siong Kie, hawa pedang mendesir dan memancar keempat penjuru membuat para jago yang berada lima tombak disekitar tempat itupun ikut merasakan desiran angin tajam tadi.

Dikolong langit tidak terlalu banyak manusia yang mampu menghadapi serangan gabungan dari delapan pendekar pedang itu sekalipun belum sampai tarap tiada tandingan namun jarang sekali ada jago yang berani beradu kepandaian dengan mereka berdelapan sekaligus.

Menyaksikan datangnya ancaman yang begitu dahsyat, diam2 Han Siong Kie merasa amat tercekat hatinya, sepasang telapak diayun berulang kali dan sekaligus melancarkan lima buah serangan berantai.

Kelima buah pukulan yang dilepaskan itu cepat sekali hingga se-akan2 merupakan suatu penggabungan satu jurus serangan belaka, bukan begitu saja bahkan tenaga murni yang disertakan dalam serangan tersebut merupakan tenaga hasil latihan selama dua ratus tahun yang maha dahsyat, bisa dibayangkan betapa dahsyat dan ngerinya serangan maut itu.

Dikala para jago persilatan yang hadir ditempat itu masih dibikin bingung dan tercengang oleh situasi yang mengerikan itu "Bluumm .."

Suatu ledakan dahsyat yang sangat memekikkan telinga bergelegar diangkasa, jeritan ngeri berkumandang saling susul menyusul, tiga sosok bayangan manusia mencelat ketengah udara dan lima kilatan cahaya tajam menggaris ditengah angkasa.

Suasana jadi gaduh dan kacau balau, bayangan manusia terpencar kesana kemari diantara delapan pendekar pedang dari Tiong-ciu, lima orang jago diantaranya kehilangan senjata, sedang tiga orang lainnya terpental sejauh dua tombak lebih dari tempat semula.

Paras muka mereka semua pucat pias bagaikan mayat, tubuh mereka gemetar keras dan untuk beberapa saat lamanya tak seorangpun diantara mereka yang buka suara ataupun meugucapkan sepatah kata.

Berhasil dengan serangannya yang pertama, Han Siong Kie tak mau buang tempo lebih jauh, secepat sambaran kilat ia menerjang kearah Dewa berjalan dalam tanah.

Pedagang pejalan kaki Ku It Hui yang berada disampingnya tanpa mengucapkan sepatah katapun tiba2 melancarkan sebuah pukulan yang mengerikan.

Han Siong Kie tak menduga kalau Pedagang pejalan kaki Ku It Hui bisa menyergap dari sisi gelanggang, waktu tidak mengijinkan baginya untuk berpikir panjang, berada ditengah udara tubuhnya segera berputar kearah mana berasalnya serangan itu, sepasang telapak didorong kedepan menyambut datangnya ancaman tersebut.

"Blaamm.."

Benturan nyaring kembali bergelegar diangkasa, Pedagang pejalan kaki Ku It Hui menjerit kesakitan, badannya mencelat sejauh empat tombak dari tempat semula dan terkapar diantara kerumunan para jago lainnya.

Dewa berjalan dalam tanah mengerti kalau gelagat tidak menguntungkan baginya, dalam detik terakhir itulah ia himpun tenaga sakti Tee tan kang miliknya, sekujur badan jadi bergelembung bagaikan bola angin.

Han Siong Kie yang menyaksikan keadaan aneh tersebut jadi tertegun untuk beberapa saat lamanya.

Dewa berjalan dalam tanah menggeram aneh sepasang telapaknya didorong keluar.

"Blaaammm "

Suatu ledakan hebat dahsyat meluncur kedepan langsung menghantam tubuh Han Siong Kie.

Sianak muda itu amat terperanjat, sepasang telapaknya segera didorong kedepan untuk menyambut datangnya ancaman itu, ketika dua jenis tenaga bertemu satu sama lainnya segera terjadi suatu ledakan dahsyat yang memekikkan telinga kedua belah pihak sama tergentar mundur satu langkah kebelakang sementara sisa2 tenaga benturan itu bagaikan gulungan ombak segera memancar keempat penjuru.

Pada waktu itulah hujan senjata rahasia yang amat rapat bagaikan hujan gerimis tersebar diseluruh angkasa mengurung sekujur badan Han Siong Kie.

Pemuda itu membentak keras, sepasang telapak didorong kedepan secara beruntun, gelombang hawa murni selapis demi selapis memancar keluar dan mementalkan senjata2 rahasia yang mengancam kearahnya itu, tapi senjata rahasia tersebut berhamburan tiada hentinya bagaikan hujan gerimis, membuat siapapun yang memandang jadi terkesiap dan bergidik rasanya.

Menggunakan kesempatan yang sangat baik itulah delapan pendekar prdang dari kota Tiongciu mengundurkan diri dari gelanggang demikian juga dengan Dewa berjalan dalam tanah serta Pedagang pejalan kaki Ku It Hui kedua jago lihay ttu cepat2 mundur kebelakang.

Diantara senjata rahasia yang berhamburan diangkasa terdapat pula jarum2 halus yang sangat beracun, serangan lembut seperti itu terang tak mungkin ditangkis dengan pukulan telapak, untuk beberapa saat Han Siong Kie dibikin kalang kabut dan kelabakan tiada hentinya, kejadian ini dengan cepat memancing timbulnya hawa napsu membunuh dalam hatinya.

Sepasang telapak berputar membentuk lingkaran, senjata rahasia yang berhamburan segera terpental keempat penjuru, kemudian sepuluh jari tangannya tiba2 dibentangkan lebar2.

sepuluh gulung desiran angin tajam, secepat sambaran kilat memancarkan keluar..

Ilmu jari Tong kim ci adalah sejenis ilmu sentilan yang luar biasa dahsyatnya, emas dalam jarak lima tombak pun akan berlubang jika termakan oleh serangan tersebut.

Jeritan ngeri yang menyayatkan hati bergema saling susul menyusul, begitu seramnya hingga menggidikkan hati semua orang.

seluruh jari berkelebat kesana kemari tiada hentinya, setiap penjuru dijelajahi secara merata dan tak ada yang kelewatan.

Jeritan ngeri berkumandang saling susul menyusul, seluruh hutan belantara itu tercekam dalam suasana yang betul2 mengerikan, se-akan2 dunia persilatan sedang menghadari hari kiamat.

Hujan senjata rahasia segera terhenti, sementara jeritan ngeri makin lama semakin banyak dan makin melengking..

Diatas permukaan tanah tertambah dengan mayat2 yang bergelimpangan disana sini, kurang lebih lima puluh sosok mayat terkapar di atas tanah dalam keadaan yang mengerikan, dada atau batok kepala mereka berlubang, darah kental mengucur keluar tiada hentinya.

Pembantaian yang keji seperti ini, boleh dibilang jauh lebih mengerikan danjauh lebih menyeramkan daripada tindak tanduk Mo tiong ci mo dimasa lampau.

Semua jago persilatan yang hadir digelanggang tercekat semua dibuatnya, paras muka mereka pucat pias bagaikan mayat dan sukma seraya melayang tinggalkan raganya karena ketakutan.

Bau amis darah..

kebrutalan...

kekejian menyelimuti seluruh gelanggang.

-oood0wooo-

Jilid 15 MENDADAK...

seorang kakek cebol berbadan gemuk munculkan diri dari barisan para jago, setibanya ditengah gelanggang ia merogoh kedalam sakunya dan ambil ke luar sebuah benda, setelah diletakkan diatas tanah sambil tertawa seram katanya.

Inilah sarung tangan Hud jiu Poo pit, aku Dewa berjalan dalam tanah tidak ingin mencicipi harta kekayaan ini, sekarang benda ini kuserahkan kembali kepada rekan2 persilatan semua.

Habis berkata ia enjotkan badandan buru-buru tinggalkan tempat celaka itu.

sarung tangan tembaga hitam memancarkan Cahaya yang menyilaukan mata, semua sorot mata para jago dengan pandangan serakah ditujukkan keatas benda tersebut.

Siapapun ingin mendapatkan benda mustika yang diidamkan oleh setiap orang itu, siapapun ingin memilikinya, tindakan dari Dewa berjalan dalam tanah benar2 berada diluar dugaan setiap jago yang hadir digelanggang.

Han Siong Kie malahan dibuat terperangah oleh sikap lawannya, ia tak mengira kalau Dewa berialan dalam tanah secara suka rela bersedia serahkan benda mustika itu kepadanya, mungkin juga manusia cebol itu sudah mengerti andaikata ia tidak serahkan benda itu maka sulitlah baginya untuk meloloskan diri dari sana, selain itu mungkin diapun sudah dibuat ngeri oleh pemilik benda itu..

Sementara masih berpikir, pemuda she Han itu siap maju kedepan untuk memungut sarung tangan Hud jiu Poo pit itu..

Segulung desiran angin yang sangat aneh menggulung lewat dan mendorong sarung tangan Hud jiu Poo pit segera menggelinding sejauh dua tombak dari tempat semula, di ikuti seorang kakek tua berjubah hitam dan bermuka merah bagaikan darah tampil ditengah gelanggang.

Han Siong Kie merasa amat terkesiap, dengan cepat ia berpaling kebelakang, ketika sepasang mata saling bertemu pemuda itu merasakan hatinya tercekat, dari pancaran mata kakek baju hitam itu ia dapat merasakan hawa sesat yang membikin hati orang jadi bergidik.

Suasana jadi gaduh dan rata2 para jago persilatan yang hadir disana sama2 menunjukkan paras muka ngeri bercampur takut.

"Siapakah engkau? tegur Han Siong Kie dengan nada dingin. Kakek tua berjubah hitam itu mengerutkan wajahnya, lalu dengan seram ia menjawab.

"Aku adalah Dewa racun Yu Hoat"

Dewa racun Yu Hoat tersohor karena ilmu racunnya yang sangat lihay dan tiada tandingan dikolong langit.

setiap orang persilatan yang mendengar namanya pasti akan berubah wajah dan ketakutan, tak nyana iblis tua tersebut telah munculkan diri di tempat itu.

Han Siong Kie berpengalamau cetek dan tak kenal banyak jago persilatan, tentu saja ia tak tahu siapakah manusia yang menyebut diri sebagai Dawa racun Yu Hoat ini, ia segera mendengus dingin.

"Apa maksudmu datang kemari ?"

Tegur Han Siong Kie. Dewa racun Yu Hoat tertawa seram tiada hentinya.

"Heehhh..heehhh..heehhh . Malaikat penyakitan aku telah tertarik sekali dengan sarung tangan tembaga milikmu itu, aku harap engkau bersedia menghadiahkan kepadaku"

"Hmm engkau jangan mimpi disiang hari bolong"

Teriak Han Siong Kie dengan nada menghina Pada waktu itu dua sosok bayangan manusia laksana kilat menerjang kedepan dan menyambar sarung tangan mustika Hud jiu Poo pit yang berada kurang lebih dua tombak jauhnya itu.

"Cari mampus"

Hardik Dewa racun Yu Hoat dengan geram, telapaknya langsung di ayun kedepan membabat tubuh kedua orang itu.

Ditengah jeritan ngeri yang menyayatkan hati dua sosok bayangan manusia itu mencelat kebelakang dan roboh terkapar diatas tanah, setelah berkelejit sebentar mereka tak berkutik lagi, darah hitam mengalir keluar dari ketujuh lubang inderanya.

Diam2 Han Siong Kie merasa bergidik juga menghadapi kelihayan musuhnya yang amat luar biasa itu, ia tak mengira kalau kekejian racun Dewa racun Yu Hoat sudah mencapai taraf yang tak terkirakan-Dewa racun Yu Hoat sendiri sama sekali tidak memandang sekejappun kearah dua sosok mayat yang mati akibat keracunan itu, sekali lagi dengan nada menyeramkan ia berseru.

"Malaikat penyakitan, apakah engkau bersedia hadiahkan benda itu kepadaku?"

Han Siong Kie mendengus dingin.

"Hmm kalau engkaupunya kepandaian, silahkan ambil sendiri dari atas tanah"

Air muka Dewa racun Yu Hoat berubah sangat hebat, ia menggerakkan tubuhnya dan meluncur dua tombak kedepan, baru saja ia hendak ambil benda itu...

Mendadak tanpa angin tanpa puyuh sarung tangan mustika Hud jiu Poo-pit tersebut melayang sendiri ketengah udara.

Ia menjerit kaget dan segera mengikuti ke arah mana sarung tangan itu meluncur, ternyata Malaikat penyakitan dengan tenangnya sedang memegang sarung tangan mustika tadi.

Kiranya pada saat yang terakhir Han Siong Kie telah menggunakan unsur "mengisap"

Dari ilmu telapak Mo-mo ciang hoat untuk mengisap pusaka Hud jiu Poo pit itu sehingga melayang kearahnya.

Kepandaian mengisap benda yang didemonstrasikan sianak muda itu seketika mencengangkan hati para jago yang hadir dalam gelanggang.

Mungkin kejadian ini merupakan kejadian yang pertama bagi Dewa racun Yu Hoat dimana ia jatuh kecundang ditangan orang, paras muka yang semula sudah pucat karena gusar kini berubah jadi kehijau2an, sepasang matanya memancarkan dua gulung cahaya yang menggidikkan hati.

"Bocah keparat"

Geramnya dengan penuh kemarahan.

"Engkau sendiri yang sudah ogah hidup, jangan salahkan kalau aku bertindak keji kepadamu"

"ooh.. kalau memang lihay, silahkan mencoba sendiri untuk merampas benda tersebut dari tanganku"

Han Siong Kie masukkan sarung tangan mustika Hud jiu Poo pit itu kedalam sakunya kemudian himpun tenaga dan bersiap siaga menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan, perasaan hatinya kaku dan tawar sementara hati kecilnya kebat kebit, sebab ia tahu bahwa ilmu racun yang dimiliki pihak lawan amat dahsyat dan tak mungkin bisa dilawan dengan andalkan tenaga dalam belaka.

Dalam pada itu Dewa racun Yu Hoat maju selangkah kedepan.

Suasana dalam gelanggang tercekam dalam ketegangan, setiap orang merasakan hatinya kebat kebit tak karuan-Seorang makhluk racun tua yang sudah tersohor akan kelihayannya akan berhadapan dengan seorang ahli waris iblis sakti yang pernah menggetarkan kolong langit.

Berpuluh2 pasang mata tidak sakejappun beralih dari tengah gelanggang, mereka ingin tahu siapakah yang bakal menang diantara kedua orang itu.

Han Siong Kie putar otak tiada hentinya, ia menganggap siapa menyerang lebih dulu dialah yang menang posisi, mendadak serangan telapak ditangan dan serangan jari tangan kanan dilancarkan secara berbareng....

Ditengah gulungan angin pukulan yang maha dahsyat terselip desingan totokan jari yang tajam dan luar biasa.

Dewa racun Yu Hoat tertawa dingin, secepat kilat tubuhnya menyingkir lima depa kesamping, setelah menghindarkan diri dari gempuran yang maha dahsyat itu, disaat sang badan berkelebat lewat sepasang telapaknya diluncurkan kedepan secara berbareng, kecepatannya luar biasa sekali.

Baru saja Han Siong Kie merasakan serangan jari dan telapaknya mengena disasaran yang kosong, segumpal angin pukulan berbau amis telah meluncur tiba.

Ia tahu bahwa angin pukulan tersebut mengandung sari racun yang amat jahat, barang siapa terkena pasti akan mati, tapi untuk meloloskan diri dari ancaman tanpa tersentuh oleh pukulan itu bukanlah suatu pekerjaan yang mudah.

Dalam keadaan gelisah cepat2 jalan darahnya ditutup, sepasang telapakpun mendadak melepaskan pukulan.

"Bluumm"

Dentuman keras bergelepar diudara, Dewa racun Yu Hoat tergetar mundur lima langkah kebelakang dengan sempoyongan-Han Siong Kie sendiri merasakan kepalanya nanar dan agak berkurang, kulit badan diluar pakaiannya terasa panas bercampur gatal, ia tahu bahwa tubuhnya sudah terkena racun keji, dalam terkesiapnya hawa napsu membunuh menyelimuti wajahnya, sepasang telapak diayun berbareng dan sepuluh desiran angin pukulan segera meluncur kedepan.

Dewa racun Yu Hoat amat terperanjat setelah mengetahut angin pukulan beracun yang berhasil menyapu tubuh lawan, ternyata sama sekali tidak dirasakan oleh musuhnya, mungkinkah Mala ikat penyakitan telah berhasil melatih tubuhnya sehingga kebal terhadap serangan pukulan beracun-.

Disaat pikiran tersebut masih berkelebat dalam benaknya, desiran angin totokan telah meluncur datang dengan hebatnya, jika terkena serangan tersebut niscaya tubuhnya akan berlubang dan mampus.

Dalam keadaan terkesiap bercampur gelisah, dewa racun itu tidak ambil perduli soal gengsi lagi, cepat2 ia jatuhkan diri ke atas tanah dan bergelinding sejauh delapan depa lebih dari tempat semula...

Jeritan ngeri kembali berkumandang tiada hentinya, delapan orang jago persilatan yang berdiri disekitar tempat kejadian tersambar oleh serangan tersebut dan segera roboh terkapar diatas tanah.

Dewa racun Yu Hoat sendiri saking terkejutnya keringat dingin sampai mengucur keluar tiada hentinya, ia tahu berdiam terus ditempat itu tak akan menguntungkan dirinya, dengan cepat ia enjotkan badan dan melarikan diri terbirit2.

Han Siong Kie sendiripun menyadari bahwa persoalan penting yang dibebankan di atas pundaknya masih banyak yang belum terselesaikan, ia tak ingin buang waktu lebih jauh, setelah menyapu sekejap kearah para jago yang hadir ditempat itu, dengan langkah lebar ia segera berlalu dari gelanggang tersebut.

semua jago lihay baik dari golongan hitam maupun dari golongan putih tak ada yang berani tampil kedepan untuk menghadang jalan perginya, mereka semua membungkam dalam seribu bahasa.

Desiran angin menembusi angkasa bergema dari kejauhan, beberapa sosok bayangan manusia tiba2 dengan kecepatan bagaikan kilat meluncur masuk kedalam gelanggang.

Dengan cepat Han Siong Kie menghentikan langkah kakinya, begitu tahu siapa yang datang ia merasa amat girang dan hampir saja menyapa, tapi dengan cepat ia teringat kembali dengan penyaruannya pada waktu itu, ucapan yarg hampar meluncur keluar segera tertelan kembali kedalam perut.

Orang yang barusan datang bukan lain adalah saudara angkatnya yakni Lam kay pengemis dari selatan, dibelakangnya mengikuti pula empat orang pengemis berusia lima puluh tahunan yang semuanya membawa sebuah toya penggebuk anjing.

Pengemis dari selatan dan Padri dari utara, adalah jago2 lihay yang amat tersohor namanya dikolong langit pada waktu itu, kecuali beberapa orang gembong iblis jarang sekali ada orang yang mampu menandingi dirinya, kemunculan jago tua ini segera merubah suasana dalam gelanggang itu.

Berada dibadapan orang banyak.

tentu saja Han Siong Kie tak dapat membongkar rahasia sendiri, ia segera maju selangkah kedepan dan memberi hormat.

"Locianpwee, tolong tanya ada urusan apa engkau datang mencari aku?"

Tanyanya.

sikap yang sopan dari Han Siong Kie seketika membnat para jago terperangah dibuatnya, mungkinkah nama besar pengemis selatan telah menggetarkan hati Malaikat penyakitan sehingga ia bersikap begitu menghormat.

Tentu saja termasuk pengemis dari selatan sendiripun tak tahu apa sebabnya musuh mereka bersikap hormat.

Dengan sorot mata yang sangat tajam pengemis dari selatan mengawasi wajah Han Siong Kie beberapa saat lamanya, kemudian ia menegur.

"Engkau yang bernama Malaikat penyakitan??"

"Betul, itulah aku"

"Dan engkau adalah ahli waris dari Mo tiong-ci mo iblis diantara iblis??"

"Dugaanmu tak keliru"

"Engkau baru saja keluar dari dalam benteng maut??"

"Benar"

"Benarkah tengkorak maut bukan lain adalah iblis diantara iblis?"

"Keliru besar pendapatmu itu"

"Keliru besar?"

"Benar, keliru besar sekali"

"Baik"

Kata Pengemis dari selatan kemudian setelah termenung sebentar.

"aku tak mau ambil perduli apakah berita itu benar atau tidak-aku pengemis tua hanya ingin mengajukan satu pertanyaan kepadamu.."

"Katakanlah, apa yang ingin kau tanyakan?"

"Sekarang gurumu ada dimana?"

Diam2 Han Siong Kie terkejut, tentu saja tak dapat menerangkan dimanakah gurunya berada, setelah berpikir sebentar ia balik bertanya ..

"Ada urusan apa locianpwee mencari guruku?"

"Empat puluh tahun berselang guru iblismu itu telah membantai seorang ketua cabang, tiga orang hiangcu, dua belas orang kepala regu dan lima puluh orang murid perkumpulan kay-pang kami dari kantor cabang sam siang, ini hari kami datang kemari untuk menagih hutang berdarah itu?"

Han Siong Kie jadi kelabakan dibuatnya, untuk beberapa saat lamanya ia tak tahu bagaimana musti menjawab.

Empat orang pengemis tua dibelakang pengemis dari selatan dengan nyata menunjukkan perasaan sedih bercampur gusar.

Pelbagai ingatan berkelebat dalam benak Han Siong Kie, ia berusaha mencari akal untuk mengatasi masalah pelik yang memusingkan kepalanya ini.

-oood0wooo-BAB 31 SETELAH termenung beberapa saat lamanya, pemuda itu berpikir dalam hatinya, menurut perkataan gurunya orang2 yang dibunuh adalah mereka2 yang pantas dibinasakan, sedang menurut keterangan yang pernah diberikan put lo sianseng, seorang jago kawakan dari persilatan, gurunya tak pernah membunuh orang tanpa sebab.

Bagi dia sendiri, boleh dibilang tak sepotong keteranganpun yang diketahui olehnya mengenai dendam permusuhan yang terikat selama puluhan tahun belakangan ini, tapi sebagai ahli waris dari gurunya sudah menjadi kewajiban babinya untuk memikul tanggung jawab itu.

Apa yang harus ia terangkan kepada engkoh tuanya ini ?

Dalam pada itu pengemis dari selatan dengan muka memancarkan kegusaran telah menegur kembali dengan suara berat.

"Bocah keparat, sudah kau pertimbangkan masak2 persoalan ini??"

"sepuluh hari kemudian, bagaimana kalau aku berkunjung sendiri kemarkas besar locianpwee untuk memberikan keterangan?"

"Itu sih tak perlu, aku hanya ingin tahu jejak dari gurumu"

"Tapi aku tak mungkin bisa menerangkan soal ini kepada locianpwee"

"Bocah keparat, janganlah banyak main akal muslihat di hadapanku, bicaralah terus terang kemudian masing2 menempuh jalannya sendiri"

"Andaikata aku tidak bersedia untuk menjawab, apa yang hendak locianpwee lakukan?"

Empat orang pengemis tua dibelakang pengemis dari selatan segera mendengus dingin, dari sikap mereka jelas menunjukkan bahwa beberapa orang jago itu siap untuk melancarkan serangan-Pengemis dari selatan sebera menengadah dan tertawa terbahak2.

"Haaah haaahh haaahhh bocah muda, engkau tak dapat ambil keputusan dengan seenaknya sendiri"

"Jadi locianpwee ada maksud untuk turun tangan??"

"Andaikata engkau tidak bersedia untuk bicara terus terang, apakah aku pengemis tua harus pulang dengan tangan hampa?"

Diam2 Han Siong Kie mengerutkan dahinya setelah mendengar perkataan itu, dalam kenyataan ia sungkan untuk turun tangan dan bertarung melawan kakak angkatnya sendiri, lagipula bertempur dengan kekerasan belum tentu dapat menyelesaikan persoalan yang sedang dihadapi.

Untuk meloloskan diri tentu saja sangat mudah sekali baginya, perbuatan itu dapat dilakukan ibarat membalik telapak sendiri, sebab termasuk pengemis dari selatan sendiri, seorang manusiapun yang dapat mengejar jalan perginya.

"Hmm, tentu saja tak sudi pergi dengan cara begitu, sebab demi nama besarnya dan nama besar gurunya ia tak boleh berbuat begitu, kalau mau pergi maka dia harus pergi secara gagah dan terang2an-"

Rupanya empat orang pengemis tua dibelakang pengemis dari selatan sudah tak sabar menahan diri lagi, mereka silangkan tongkat penggebuk anjingnya didepan dada, kemudian salah satu diantaranya berseru.

"Tiangloo, buat apa engkau banyak bicara dan bersilat lidah terus dengan bangsat itu?"

Dengan pandangan yang dingin dan menyeramkan, Han Siong Kie menyapu sekejap empat orang pengemis tua itu, mulutnya tetap membungkam dalam seribu bahasa.

Menyaksikan tingkah laku anak buahnya, buru2 pengemis dari selatan goyangkan tangannya mencegah mereka turun tangan, serunya.

"Jangan bertindak gegabah kalian masih bukan tandingannya..."

Kemudian sambil berpaling kearaa Han Siong Kie sambungnya lebih lanjut.

"Bocah muda, aku pengemis tua paling segan untuk mengulur waktu lebih baik bertindaklah lebih terus terang dan terbuka "

Baru saja Han Siong Kie hendak menjawab.

tiba2...

Pada saat itulah dari tempat kejauhan berkumandang datang suara pekikan setan yang amat membetot hati, suara itu begitu nyaring dan melengking diangkasa membuat semua jago persilatan yang hadir dalam kalangan sama2 merasakan bulu kuduknya pada bangun berdiri Bersamaan dengan makin mendekatnya pekikan setan yang tajam dan memekikkan telinga itu, sesosok bayangan merah meluncur dari tengah udara dan jatuh ketengah gelanggang.

Benda itu bukan lain adalah sebuah tengkorak kepala yang penuh berlepotan darah, dengan angker dan seramnya benda tersebut bercokol digelanggang.

"Tengkorak maut"

Tak kuasa lagi Han Siong Kie menjerit lengking dengan nada terperanjat.

Baca Juga: Pendekar Kembar 4

Baca Juga: Renjana Pendekar 1

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert